Pendekar Pemetik Harpa 5

Eps 5 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

Huwan Liong yang berdiri paling dekat keterjang lebih dulu, sekujur badan dari kepala muka sampai ke tubuhnya basah kuyup, lekas dia pejam mata terus melompat mundur.

Empat guci arak dihabiskan berarti ada empat puluhan kati, sekali ditekan dengan tenaga dan menyembur keluar, sungguh derasnya bagai hujan lebat.

Karuan Huwan bersaudara menjadi kalang kabut, memutar pedang meninju menimbulkan deru angin sambil berlompatan kian kemari, tapi hujan arak tetap berjatuhan di atas mereka.

Kejadian memang aneh, mereka berempat semuanya ada meyakinkan kekebalan badan, tapi air arak itu mengenai tubuh rasanya ternyata pedas dan sakit seperti ditusuk jarum.

Lebih celaka lagi pakaian mereka sama berlobang-lobang kecil kena semprotan arak mirip sarang tawon.

Bila lwekang mereka sedikit rendah lagi, pasti kulit dagingpun terluka dan berdarah.

Yang dikuatirkan Huwan bersaudara hanyalah mata maka mereka sama memejam kencang tidak berani main ngintip, karuan satu dengan yang lain jadi saling tumbuk.

Semula Tan Cioksing terkepung di tengah mereka, anehnya arak Khu Ti seperti punya mata dan memilih sasaran, meski ada yang menyiprat ke arahnya, tapi ilmu pedangnya dimainkan sekencang kitiran, setetespun dia tidak kecipratan.

Karena memejam mata, Huwan bersaudara hanya mengandal ketajaman pendengaran, sambil berkelit mereka harus mainkan pedang pula.

Sejauh ini meski mereka orang dungu juga sudah tahu bahwa pemilik kedai ini kiranya juga seorang jagoan Kungfu yang memendam diri apa lagi dalam pandangan Huwan Liong sebagai kawakan Kangouw?

Lekas dia memberi aba-aba pada adik-adiknya.

"Angin kencang, lekas menyingkir."

Khu Ti berteriak.

"Wah, kasihan arak wangi seperut ini, sungguh sayang. Tapi rasanya segar juga, perutku tidak sakit lagi,"

Mendadak tangannya mencengkeram ke baju kuduk Huwat Pau yang lagi lari keluar pintu. Bentaknya.

"Perabotanku yang rusak belum kalian ganti, mau lari? Tadi kan sudah kubilang, kalian harus mengganti kerugianku,"

Dicengkram kuduknya ternyata Huwan Pau mati kutu tak kuasa berontak. Huwan Liong sudah lari keluar pintu, lekas dia putar balik seraya menusuk ke belakang, bentaknya.

"Lepaskan adikku,"

Kepandaiannya memang paling tinggi, Khu Ti tidak berani memandang rendah, sedikit menggunakan tenaga dia dorong dan putar Huwan Pau ke suatu arah sehingga tubuhnya menerjang ke ujung pedang Huwan Liong yang sedang menusuk tiba, bentaknya.

"Tidak kau ganti, aku tidak akan lepas tangan,"

Maka terdengarlah suara membrebet yang panjang, pakaian Huwan Pau tertusuk sobek sehingga isi kantong bajunya berantakan kocar-kacir di lantai.

Untung Huwan Liong bertindak cukup sigap, sembari menarik pedang, dia tarik adiknya itu ke samping.

Cepat sekali Tan Ciok-sing juga sudah memburu tiba seraya menusuk dengan pedang, serangan tetap menggunakan jurus Samcoan-hoat-lun, seorang diri sudah tentu Huwan Liong tidak kuasa melawan, sekali pelintir dan sendai kedua pedang saling tindih terus mencelat terbang dan "Trap"

Pedangnya menancap di atas belandar. Tapi Huwan Liong berhasil menolong adiknya terus diseret lari keluar. Khu Ti berteriak.

"Biar kuperiksa dulu, apakah uang-uang yang tercecer ini cukup untuk mengganti kerugianku, wah masih kurang sedikit."

Entah takut dikejar oleh Khu Ti, atau karena tidak membawa senjata rahasia, kontan dia ayun tangan menyambitkan sekerat uang perak seharga sepuluh tahil ke arah Khu Ti yang tengah berdiri di samping pintu.

Uang perak ini meluncur dengan menderu kencang, tapi Khu Ti hanya menggape sekali terus ditangkapnya, serunya tertawa riang.

"Ketambah uang perak ini, kira-kira cukuplah uang ganti kerugianku, nah lekaslah kalian enyah dari sini."

Kuatir dikejar dan dihajar babak belur sudah tentu Huwan bersaudara seperti berlomba melarikan diri naik kuda.

Sementara Liong Seng-bu sejak tadi sudah ngacir lebih dulu.

Memunguti pecahan uang yang berserakan di lantai Khu Ti gelak tertawa, katanya.

"Tak kira hari ini aku bisa ketiban rejeki nomplok. Perabotku yang sudah bobrok ini paling seharga dua tahil, tapi aku memperoleh ganti dua puluh tahil, wah menyenangkan."

Kejut dan girang Tan Ciok-sing, lekas dia memberi hormat, katanya.

"Maaf Wanpwe punya mata tidak melihat tingginya gunung Taysan, harap Lopek tidak berkecil hati, dan banyak terima kasih akan bantuan Lopek."

"Kau kan tamuku, tamu mengalami kesulitan, adalah jamak kalau aku sebagai tuan rumah membantu, kenapa harus terima kasih? Hehe, sekarang sudah beres, segala persoalan tidak perlu diperdebatkan, tadi kau hendak mentraktir aku, ini kau sudah memperoleh rejeki, nah minumlah sepuasmu, tanggung gratis tak usah bayar."

"Mungkin mereka akan kembali pula,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"Lopek, kedaimu ini salah-salah bisa bangkrut karena kedatanganku."

"Memangnya sudah lama aku pingin menutup kedai ini, ongkos pindahku juga sudah tersedia sekarang, apa pula yang kukuatirkan? Lebih baik aku cari tempat mengasingkan diri. Sebetulnya aku tidak akan buru-buru pindah, apa kau tidak perhatikan, mereka lari balik ke arah datangnya semula?"

"Pemuda itu adalah putra Kiu-bun-tek-tok yang berkuasa di kota raja, sejak dari Tay-tong mengejarku sampai disini. Nyali mereka sudah pecah oleh kegagahan paman tadi, yakin dia pasti pulang membawa pasukan pemerintah untuk menggerebekmu."

"Sedikitnya dua hari baru mereka akan tiba disini, maka kau boleh tak usah buru-buru, hayolah temani aku minum sepuasnya."

Tan Ciok-sing mengiakan, dalam hati dia memang ada sebuah tanda tanya, kalau ada kesempatan sebentar dia ingin tanya kepada Khu Ti biar jelas.

"Kalau ilmu pedangmu tidak seliehay itu, arak yang semayam dalam perutku tadi juga tidak akan kuasa membubarkan barisan pedang mereka. Oh ya, tadi belum sempat kutanya, harpa antikmu ini..."

"Untung tidak apa-apa."

"Syukurlah. Meja kursi rusak tidak jadi sesal, tapi harpamu ini sudah barang antik yang tak ternilai harganya. Terus terang, tadi aku terpaksa ikut turun tangan bukan lantaran kau ini adalah tamuku saja, sebab yang utama adalah karena harpa antik ini."

"Maaf Lopek, untuk ini belum sempat tadi aku memberitahu padamu, Ki Harpa atau guru harpa yang diceritakan Lopek tadi, beliau adalah kakekku."

Khu Ti terbahak-bahak karanya.

"Memangnya sejak tadi sudah kuduga kau pasti cucu Tan Khim ang, kecuali keturunan Tan Khim-ang, memangnya siapa lagi yang mahir memetik harpa sebagus itu? Nah, mari, mari, lekas bantu aku membereskan rumah yang berantakan ini, nanti kita minum lagi sampai mabuk."

Meja kursi yang patah dan remuk segera disingkirkan ke pinggir, Tan Ciok-sing segera menyapu bersih ruang kedai, sementara Khu Ti masuk kedalam membawa keluar seguci arak pula, katanya tertawa.

"Inilah arak tua yang sudah kusimpan selama 30 tahun. Tapi aku katakan empat guci terakhir, maksudku hendak ngapusi mereka,"

Mangkok piring dia singkirkan kedalam lalu membawa mangkok besar untuk minum arak bersama Tan Ciok-sing. Setelah menenggak dua cawan, Khu Ti berkata.

"Dua puluh tahun sudah aku berpisah dengan kakekmu, selama ini tak pernah kudengar beritanya, beberapa tahun ini, dia..."

"Sejak aku dilahirkan, aku diasuh dan dibimbing kakek sampai sebesar ini, bertempat tinggal di Cit-sing-giam di Kwilin. Empat tahun yang lalu kakek sudah mangkat."

"O, lalu ayah bundamu?"

"Sejak dilahirkan aku sudah yatim piatu, ayah malah meninggal sebelum aku lahir. Karena sukar melahirkan ibu juga meninggal. Mungkin dosaku terlampau besar sehingga ayah bunda menjadi korban..."

Khu Ti mendadak menggebrak meja, katanya keras sambil menghela napas.

"Sayang, sayang sungguh kasihan, sungguh menyebalkan."

Tan Ciok-sing kaget, tanyanya hambar.

"Khu-losiansing, apa maksudmu?"

Kalau Khu Ti merasa sayang karena kematian ayah bunda Tan Ciok-sing sejak dia masih kecil, ini dapat dimaklumi, tapi kenapa pula harus dibuai kasihan dan menyebalkan? Khu Ti melengak, katanya.

"Apa kakekmu selamanya tak pernah menerangkan padamu?"

Semakin bingung Tan Ciok-sing dibuatnya, tanyanya.

"Menerangkan soal apa?'"

Diam-diam dia mereka dalam hati.

"Memangnya ayah bundaku juga mati dicelakai orang?"

Sejak kecil dia hidup bersama sang kakek, jarang kakeknya bicara soal ayah bundanya, dia kira karena sejak kecil dia tidak pernah melihat ayah bundanya, maka kakek tidak ingin dia bersedih hati.

Kini mendengar omongan Khu Ti barulah timbul rasa curiganya.

Seperti tahu isi hatinya, Khu Ti berkata.

"Mungkin ayah bundamu tidak langsung dicelakai orang, tapi jikalau bukan lantaran pengalaman pahit yang pernah mereka alami itu, aku yakin mereka takkan mati semuda itu."

"Pengalaman pahit apakah yang pernah dialami ayah bundaku, kakek tak pernah menerangkan, Apakah Lopek boleh memberitahu padaku?"

"Kejadian sudah dua puluh tahun berselang, bahwa kakekmu tidak mau menerangkan padamu pasti ada alasannya sendiri. Orang yang menjadikan keluargamu berantakan dan mengalami bencana itupun sudah lama mati, maka kupikir kaupun boleh tak usah mengusut soal ini."

Tan Ciok-sing berdiri lalu berlutut di hadapan Khu Ti, katanya.

"Meski urusan sudah lama berselang, sebagai seorang putra yang harus berbakti terhadap orang tua, adalah menjadi hak dan kewajibanku untuk tahu duduknya persoalannya, kalau tidak betapa hatiku bisa tenang..."

Lekas Khu Ti memapahnya berdiri, katanya menghela napas.

"Memang sudah kebacut kubicarakan, kau tahu sedikit adalah logis kalau ingin tahu sejelasnya. Baiklah sebentar kututurkan padamu,"

Sampai disini dia mengisi secawan penuh lalu ditenggaknya habis, lalu katanya pula.

"Dengan ayahmu aku hanya pernah bertemu sekali, tapi persahabatan kami sungguh teramat kental dan keliwat intim. Tadi kau tanya padaku mengapa mengasingkan diri di desa yang sepi dan terpencil ini, kejadiannya sebetulnya juga ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang menyangkut kakek dan kedua orang tuamu."

Kejadian yang dibicarakan Khu Ti separoh di antaranya sudah direka oleh Tan Ciok-sing, tapi separoh kelebihannya benar-benar diluar dugaannya.

Yang sudah diduga adalah Khu Ti pasti pernah berkenalan dan berhubungan yang intim dengan kakeknya, tapi bahwa Khu Ti juga ada sangkut pautnya dengan kedua orang tuanya, ini sungguh amat mengejutkan hatinya, lekas dia tanya tentang seluk beluknya.

Mengenang masa lalu perasaan Khu Ti kelihatan masgul, setelah menghabiskan secangkir lagi, perlahan-lahan dia bicara.

"Dua puluh tahun yang lalu, adalah seorang perwira dari pasukan Gi-lim-kun. Orang sering bilang kalangan pejabat kerajaan merupakan sumber kantong yang paling subur, demikian pula dalam kalangan kemiliteran. Orang yang berwatak nyentrik sepertiku ini, ternyata dapat hidup dan berkecimpung sekian tahun lamanya disini. Lote mungkin kaupun takkan pernah menyangkanya?"

Tan Ciok-sing ikut menghabiskan secangkir arak, katanya.

"Ya, memang tak terduga."

Khu Ti melanjutkan.

"Waktu itu kakekmu sudah tersohor sebagai guru harpa nomor satu di dunia ini, tahun itu kebetulan dia berada di kota raja, tetapi sebelumnya aku tidak tahu."

"Aku punya seorang kawan, bicara soal kedudukan dan Kungfu dia jauh lebih tinggi dari aku, untungnya pambek dan hobi serta sepak terjangnya ternyata selaras dengan watakku, dalam kalangan militer hanya dia seoranglah terhitung temanku yang paling dekat. Kalau kubicarakan kemungkinan kau pun sudah tahu siapa orang ini."

"Aku terlambat dilahirkan, tokoh-tokoh gagah generasi yang dahulu banyak yang tidak kukenal. Entah siapa yang Lopeh maksudkan?"

"Dia adalah In Jong. Bu-conggoan yang amat tersohor di masa lalu. Umumnya tiga tahun sekali diadakan pemilihan Buconggoan, tapi jabatan Bu-conggoan yang digondol In Jong lain dari yang lain. Bukan saja dia pernah membebaskan Baginda Raja yang terdahulu dari tawanan bangsa Watsu, diapun mendorong ke Ie Kiam untuk angkat senjata melawan serbuan pasukan besar Watsu sehingga negara terhindar dari jajahan bangsa asing, betapa besar pahala yang direbutnya tapi belakangan dia membuang pangkat menyibak harta benda, meletakkan jabatan mengundurkan diri kembali ke kampung halaman terima hidup bercocok tanam sampai akhir hayatnya."

Senang dan kaget hati Tan Ciok-sing, serunya.

"Bukankah In-conggoan yang Lopeh ceritakan ini adalah ayah In Tayhiap In Hou dari Tay-tong?"

"Betul. Kuduga kau pasti kenal dengan keluarga In, ternyata tidak meleset,"

Demikian ujar Khu Ti lebih lanjut.

"Pada suatu malam tiba-tiba In Jong datang ke rumahku, dia bilang apakah aku sudi melakukan suatu hal bagi seorang yang belum pernah kukenal, resiko tugas yang kukerjakan kemungkinan bisa mengakibatkan aku kehilangan jabatan dan pangkatku di kalangan pemerintah?"

Waktu itu aku bilang tugas yang kau serahkan padaku pasti kerja yang harus ditegakkan kebenarannya, jangan kata hanya kehilangan pangkat dan kedudukan, umpama kepalaku harus berkorban juga tidak jadi soal.

Tapi boleh kau beritahu kepadaku, siapa orang yang harus kubantu itu?"

Sampai disini pun Tan Ciok-sing pun sudah mengerti, katanya.

"Orang yang dimaksudkan oleh In-conggoan pasti kakekku adanya."

"Betul, memang kakekmu."

Tan Ciok-sing heran, katanya.

"Kakek hanya guru harpa, kesulitan apa yang melibatkan dirinya di kota raja, sampai Inconggoan harus menampilkan diri minta bantuan orang lain?"

"Kalau peristiwa ini menyangkut diri orang lain, malahan merupakan urusan baik yang sukar diperoleh, tapi bagi kakekmu justeru kesulitan yang paling sulit. Waktu itu ada seorang thaykam Ong Ceng, tentunya kau juga pernah dengar cerita orang-orang tua tentang dorna jahat itu?"

Tan Ciok-sing berkata.

"Konon dialah biang keladinya yang paling berdosa atas kekalahan besar peristiwa To-bok-po dulu itu, Karena mendengar hasutannya maka Baginda yang berkuasa waktu itu hampir saja tewas dan negara hancur."

"Betul, karena katanya berbuat salah terhadap dorna yang berkuasa ini sehingga kakekmu mengalami kesulitan."

"Kakek adalah guru harpa yang kelana di Kangouw, memangnya ada sangkut paut apa dengan dorna durjana itu, kenapa kesulitan bisa nomplok pada dirinya."

"Setiba kakekmu di kota raja, entah bagaimana kedatangannya diketahui Ong Ceng. Mendengar dia adalah ahli harpa nomor satu di dunia ini, maka Ong Ceng mengundangnya ke rumah pribadinya ingin mendengar permainan harpanya."

"Kakek paling benci kalangan berkuasa, apalagi pejabat korup dan dorna, dia pasti menolak undangan Ong Ceng.

"Dugaanmu memang tidak meleset, kakekmu sembunyi di sebuah hotel kecil, karena tidak berhasil mengundang kakekmu, maka dia lantas mengutus Kim-ih-wi hendak menangkapnya. Malahan ayah bundamu juga hendak ditangkapnya pula. Begitu dia mengeluarkan perintah Kim-ihwi segera melaksanakan tugas. Berita ini bocor diketahui oleh In Jong, kedudukan ln Jong amat tinggi, setiap tindak tanduknya selalu di awasi dan menjadi perhatian orang banyak, maka tidak leluasa dia bertindak atau bergerak untuk memberi kabar kepada kakekmu."

Sampai disini Tan Ciok-sing sudah paham katanya.

"O, kiranya begitu, maka In-conggoan minta tolong kepada Lopek."

"Betul, sebetulnya In Jong juga tidak kenal kakekmu. Tapi dia mengagumi watak keras kakekmu yang patriotik pula maka dia merasa simpati dan tidak tega melihat kakekmu menjadi bulan-bulanan Ong Ceng."

Haru hati Tan Ciok-sing, katanya.

"Betapa perkasa dan baik hati In-conggoan dan Lo Pek, sungguh merupakan teladan bagi kaum muda."

Setelah menenggak arak Khu Ti berkata pula.

"Waktu itu sudah mendekati kentongan ketiga, urusan tidak boleh ditunda, maka aku berkata pada In Jong, baik soal ini kau serahkan padaku untuk kukerjakan, lekas kau pulang saja, supaya kaki tangan Ong Ceng tidak mengetahui jejakmu."

"Setelah In Jong pergi, secara buru-buru aku menulis sepucuk surat yang kutujukan kepada kakekmu, maksudnya bahwa Ong Ceng hendak menangkap dia, supaya dia lekas melarikan diri. Waktu aku tiba di hotel kecil itu kakekmu sedang duduk melamun menyanding dian agaknya dia tidak bisa tidur. Maka aku gunakan kebiasaan orang Kangouw mengirim kabar dengan sambitan belati, surat kutusuk di ujung belati terus kusambitkan kedalam menancap di atas meja?"

"Setelah melihat suratku, kakekmu tampak kaget dan raguragu, lekas dia membangunkan ayah bundamu, mereka lantas berunding. Mereka menempati dua kamar yang berdampingan, ada pintu penghubung. Ayahmu bilang Ong Ceng jahat telengas, siapapun tahu akan keganasannya. Soal ini lebih baik dipercaya dari pada kapiran. Syukurlah ada pendekar yang sudi memberitahu dan menolong kesulitan kita ini adalah lebih baik kalan kita melarikan diri saja."

"Tapi kakekmu bilang kesehatan isterinya sedang terganggu, harapan semula kalian bisa beristirahat disini, kini harus pergi secara tergesa-gesa pula, mungkin dia bisa terserang penyakit yang lebih parah."

"Tapi ayah bundamu tahu gelagat urusan harus dibedakan yang gawat dan yang ringan, jikalau masih ragu, bila kaki tangan Ong Ceng datang hendak menangkap mereka, kita bertiga jelas takkan sudi dihina, memangnya jiwa raga terima dikorbankan secara percuma, bagaimana kita bisa menyelamatkan diri pula?"

"Kakekmu menghela napas, katanya.

"Apa boleh buat, baiklah segera kita berangkat."

"Melihat mereka pergi, legalah hatiku. Tak nyana baru saja kaki mereka melangkah keluar dari pintu belakang, kaki tangan utusan Ong Ceng juga telah melangkah masuk dari pintu depan."

"Pimpinan kaki tangan Ong Ceng ternyata seorang yang sudah punya kedudukan tinggi dan berkepandaian Iiehay, dia adalah pimpinan barisan Kim-ih-wi bernama Ciang Thi-hu, meyakinkan Thi-sa-ciang, dia terhitung salah satu jago kosen di antara anak buah Ong Ceng. Dua orang laki yang dibawanya juga pandai menggunakan senjata rahasia.

"Kupikir bila mereka mendapatkan kakek dan ayah bundamu melarikan diri, apalagi kakekmu belum lari jauh, pasti bisa terkejar, menolong orang harus menolongnya sampai selamat, supaya kakek dan ayah bundamu bisa lolos dengan selamat, maka aku perlu mengulur waktu. Maka secara diam-diam aku menyusup masuk ke kamar kakekmu, kupakai baju kakekmu yang tidak sempat dibawanya lalu merebahkan diri di atas ranjang, seluruh tubuh kututup kemul dan pura-pura tidur menggeros. Ciang Thi-hu ternyata termakan muslihatku, begitu datang dia menjebol pintu terus membentak.

"Tan Khim-ang, diberi arak suguhan tidak mau, memangnya kau minta dihukum pancung. Hayo bangun, menyerahkan diri dan ikut aku."

Begitu dia menyingkap kemul, kontan aku memberinya sebuah pukulan.

"Thi-sa-ciang yang diyakinkannya ternyata memang liehay, tapi dia terpukul juga sampai jungkir balik keluar pintu, kepalanya bocor hidungnya ringsek."

Tan Ciok-sing keplok tangan seraya berjingkrak senang, segera dia isi arak penuh dua cangkir, mereka sama-sama tenggak habis, teriaknya.

"Sungguh menyenangkan."

Khu Ti bercerita pula.

"Sungguh menggelikan, dua anak buah Ciang Ti-hu ternyata berani mati turun tangan serempak menyerangku dengan senjata rahasia ini. Terpaksa kugunakan cara mereka untuk menghajar mereka, senjata rahasia mereka kupukul balik, bukan aku yang terluka, tapi senjata rahasia itu makan tuannya malah. Tanpa pedulikan mereka mati atau hidup segera aku tinggalkan hotel itu. Waktu itu merekapun tak berhasil menemukan jejak kakekmu."

"Apa mereka tahu akan perbuatanmu?"

Tanya Tan Cioksing.

"Malam gelap gulita, hakikatnya mereka tidak melihat dan tidak tahu akan diriku, tapi aku tahu Ciang Ti-hu seorang ahli, bahwa Thi-sa-ciangnya terpukul pecah olehku, cepat atau lambat pasti dia tahu akan perbuatanku,"

Sampai disini Khu Ti tertawa tergelak-gelak, lalu menambahkan.

"Begitulah, dari seorang perwira Gi-lim-kun akhirnya aku berubah jadi pemilik kedai minum di dusun yang sepi dan terpencil ini, setiap hari aku minum arak buatanku sendiri, senang dan bebas juga kehidupanku disini."

"Demi keluargaku sampai Khu-lopek kehilangan jabatan dan masa depan yang gemilang, meski kau menanam budi tanpa pikirkan balasannya, betapapun Wanpwe merasa rikuh dan hutang budi."

Khu Ti mengerutkan kening, katanya.

"Kenapa kau bicara demikian, masa depan apa segala, hidup dalam kalangan pemerintahan yang serba kotor itu, memangnya bisa mengembangkan bakat, pambek dan cita-citaku? Melakukan kerja yang melanggar hukum Tuhan? Memang sejak lama aku sudah ingin meletakkan jabatan. Kehidupan sekarang yang kurasakan ini, ternyata jauh lebih menyenangkan, bebas dan wajar dari pada menjadi perwira Gi-lim-kun. Hanya satu yang masih kusesalkan, aku tidak sempat pamitan kepada In Jong. Malam itu juga secara diam-diam aku meninggalkan kota raja."

"Sayang sekali kehidupan serba sederhana dan bebas ini hari menjadi berantakan pula lantaran diriku."

"Kau tidak usah menguatirkan diriku, walau aku tidak membuka warung minuman, arak bikinanku sendiri setiap hari tetap bisa kuminum dan kujual."

Lain katanya lebih lanjut.

"Sejak itu tak pernah aku bertemu dengan In Jong. Tapi diluar dugaanku, belum ada setengah tahun, aku malah bertemu dengan kakekmu."

Seperti sedang mengingat-ingat kejadian masa lalu, beruntun dia menghabiskan tiga cangkir lagi, baru meneruskan ceritanya.

"Belum lama setelah aku membuka kedai minum ini, hari itu datang tiga tamu yang bicara dengan logat daerah lain, mereka minta arak, selintas pandang lantas aku mengenali kakekmu. Waktu di hotel dulu aku tidak sempat melihat wajahnya, tapi dia memanggul harpanya itu. Dua pengikutnya adalah sepasang suami istri yang masih muda, merekapun membawa peralatan musik. Adik cilik, entah kau tahu tidak bahwa ibu kandungmu sebenarnya juga seorang ahli musik yang pandai memetik harpa. Dan kau, dulu sebetulnya pernah kemari, cuma kau tak tahu."

Tan Ciok-sing melenggong, katanya.

"Dua puluh tahun yang lalu, akukan belum lahir,"

"Betul, kau memang belum lahir, tapi kau sudah berada dalam kandungan ibumu."

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Betul, usiaku tahun ini memang sembilan belas."

"Hari itu, mereka datang bersama dan minta arak, aku betul-betul dibuat kaget."

"Kenapa?"

"Kakek dan ayahmu kelihatan kurus, pucat dan lesu aku dapat melihat keadaan mereka, ayahmu malah terluka dalam yang cukup parah. Demikian pula ibumu sudah mengandung tiga bulan, wajahnya juga kelihatan berpenyakitan."

Sedih hati Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Mereka diburu-buru oleh menteri dorna itu, meski dunia ini cukup luas, tapi mereka pasti kehilangan akal dan tak tahu kemana mereka harus menyingkir, adalah jamak kalau mereka patah semangat dan putus asa, badan sehat dan kekarpun akhirnya pasti jatuh sakit karena kurang tidur, kurang makan, kurang istirahat, hati selalu was-was lagi. Ai, tak nyana sebelum aku lahir, ayah bunda ternyata sudah harus menderita sedemikian rupa."

"Adik cilik, rakyat jelata masa itu, memangnya siapa yang tidak merasa ditindas oleh kaum penguasa, kejadian sudah berselang dua puluh tahun, kau tidak perlu bersedih karenanya,"

Setelah menghela napas panjang, kembali dia menuang secawan penuh lalu ditenggak habis, katanya pula.

"Aku silakan mereka duduk, dalam hati diam-diam aku menjadi bimbang, apakah perlu aku memperkenalkan diri dan menjelaskan duduk persoalannya? Tak kira sebelum aku sempat bicara, ternyata kakekmu sudah mengenali siapa aku ini."

Tan Ciok-sing melengak, katanya.

"Malam itu kakek kan tidak melihatmu, dari mana dia bisa tahu akan dirimu?"

"Dari seorang perwira Gi-lim-kun aku berubah jadi menjual minuman, adalah jamak kalau aku sering petingkah. Waktu aku membuka kedai ini, aku sendiri menulis sebuah syair dari pujangga Liok Yu untuk hiasan tempel dinding."

Tan Ciok-sing lantas tahu, katanya.

"P, kakek mengenali gaya tulisanmu?"

"Betul, pandangan kakekmu ternyata tajam dan liehay, surat peringatan yang kutulis itu selama ini dia simpan baikbaik, padahal berapa huruf saja surat peringatan itu, namun dia sudah begitu paham dan mengenal gaya tulisanku. Setelah asal-usul diriku terbongkar, terpaksa aku mengaku terus terang."

"Waktu di kota raja malam itu, hakikatnya kami tidak pernah bertemu, baru sekarang kami berkenalan secara akrab. Begitu kenal seperti sahabat lama saja layaknya, kami terus mengobrol panjang lebar."

"Dalam percakapan itu baru aku tahu, ternyata kakekmu sekeluarga, bukan saja tak kuasa tinggal di kota raja karena diburu oleh Ong Ceng, ingin kelana di Kangouw juga selalu mengalami kesukaran, dua hari sebelumnya, mereka kepergok pula oleh anak buah Ong Ceng yang masih terus mengejarngejar mereka."

"Jadi ayahku terluka dalam karena bertempur melawan anak buah Ong Ceng,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"Untung mereka bukan kepergok jagoan Kim-ih-wi, dia hendak membekuk kakekmu, ayahmu segera melabraknya, akhirnya dia terluka, tapi musuh dapat digebah pergi. Tapi karena peristiwa ini ibumu kaget dan jatuh sakit. Sebetulnya ingin aku menahan mereka untuk menetap beberapa hari, setelah kesehatan pulih baru berangkat pula. Tapi mereka kuatir bila anak buah Ong Ceng memburu datang pula, apapun mereka tidak mau membuat susah aku lagi, maka hari itu kami hanya makan minum sepuasnya, sebelum berpisah kakekmu memetikkan sebuah lagu untukku."

Diam-diam Tan Ciok-sing membatin.

"Tak heran ayah bunda meninggal di masa muda, kiranya gara-gara Ong Ceng si durjana itu penyebabnya."

"Setelah peristiwa To-bok-po, tak lama kemudian Ong Ceng sendiri juga mampus. Mungkin karena kejadian sudah lama berselang, maka kakekmu tidak pernah menyinggung soal ini terhadapmu."

"Sayang menteri dorna itu sudah lama mati, aku tidak bisa menuntut balas sakit hati orang tua dengan tanganku sendiri. Lalu bagaimana dengan Ciang Thi-hu?"

"Sampai sekarang Ciang Thi-hu masih hidup. Tapi konon dia sudah berganti seorang majikan lain. Majikannya yang sekarang adalah Kiu-bun-te-tok Liong Bun-kong."

Tan Ciok-sing berkata geram.

"Liong-kongcu yang datang barusan, bukan lain adalah keponakan Liong Bun-kong. Sayang kali ini dia hanya membawa Huwan bersaudara, mending kalau Ciang Thi-hu."

Khu Ti menghela napas, katanya.

"Orang baik di dunia ini takkan habis dibunuh, orang jahatpun takkan habis diberantas. Adalah pantas kalau selanjutnya kau berkelana sambil mendarma baktikan dirimu bagi kepentingan umum, jangan selalu kau dirundung sakit hati orang tuamu melulu. Ai, pamor kerajaan yang semakin guram, pemerintahan yang kacau balau ini, tak ubahnya seperti dua puluh tahun yang lalu?"

Setelah menghela napas, dia melanjutkan.

"Sebelum kakekmu pergi, diapun pernah menulis sebuah syair sebagai kenang-kenangan, apa kau mau melihatnya?"

"Dimana?"

Tanya Tan Ciok-sing.

Maka Khu Ti menurunkan sebuah lembar kain sutra yang sudah luntur warnanya, di atas kain sutra ini bertuliskan syairsyair Liok Yu yang lain pula, gayanya kuat tulisannya tegas Tan Ciok-sing kenal betul akan tulisan kakeknya ini.

Khu Ti berkata.

"Waktu itu kakekmu sudah terpengaruh oleh air kata-kata, pernah ia menyatakan ingin mencari suatu tempat untuk mengasingkan diri, seperti makna dalam syair Liok Yu ini, bahwa akhirnya dia bersemayam di bawah Citsing-giam, agaknya sudah terlaksana juga keinginannya,"

Sampai disini dia lantas tanya.

"Tan-siheng, ada sebuah hal yang masih belum jelas bagiku, mohon penjelasanmu."

"Lopek tak usah sungkan, entah soal apa yang ingin kau tanyakan?"

"Ilmu pedangmu amat liehay dan menakjubkan. Agaknya bukan ajaran keluarga bukan?"

"Ilmu pedangku memang kupelajari dari seorang guru ahli, pujian paman tak berani kuterima."

"Belakangan In Jong juga meletakkan jabatan mengasingkan diri, entah dia pernah bertemu dengan kakekmu tidak?"

"Seingatku, mereka tak pernah bertemu,"

Demikian sahut Tan Ciok-sing, dalam hati dia membatin.

"In Tayhiap In Hou adalah putra In Jong, kematian kakek justru disebabkan oleh In Hou."

Seperti ada sesuatu yang dipikirkan sesaat lamanya baru Khu Ti berkata pula.

"Aneh kalau begitu."

"Soal apa yang paman rasakan aneh?"

"Entah betul tidak rabaanku, ilmu pedangmu itu bukankah kau pelajari dari Thio Tayhiap Thio Tan-hong? Thio Tayhiap adalah adik ipar In-conggoan aku pernah menyaksikan ilmu pedangnya itu."

"Pandangan Lopek memang jitu aku memang mendapat pelajaran dari Thio Tayhiap."

"Ha, jadi Thio Tayhiap masih hidup?"

Tanya Khu Ti terbelalak girang.

"Suhu sudah meninggal bertepatan dengan pengangkatanku sebagai muridnya,"

Lalu Tan Ciok-sing menceritakan kematian In Hou dan Thio Tan-hong serta pesan-pesan mereka kepada dirinya. Khu Ti menenggak pula secangkir arak katanya.

"Dulu In Jong tidak kenal kakekmu demi menolong kakekmu dia rela mengorbankan kedudukan melawan menteri dorna yang berkuasa, kakekmu juga tidak kenal putranya In Jong, tapi sama-sama pula demi orang yanq tidak dikenalnya rela berkorban sehingga keluarga hancur berantakan. Walau tidak berhasil menolong orang tapi jiwa patriot dan keperkasaan mereka patut dipuji."

"Khu-lopek, kau sendiri juga seorang lain yang tidak tahu apa-apa ikut terjerumus kedalam pertikaian ini, sepak terjangmu yang gagah dan budiman ini, Wanpwe patut kagum dan memujamu. Bukan lantaran paman pernah menanam budi untuk keluargaku baru Wanpwe bilang demikian."

"Memangnya kau sendiri tidak demikian?"

Ujar Khu Ti tertawa.

"Kau membantu kesulitan yang menimpa keluarga In, sebelum ini kau kan tidak tahu bahwa In Jong pernah menanam budi keluargamu. Hehehe, kalau dibicarakan lebih jauh, jadi saling mengumpak belaka. Hayo minum, minum."

"Aku sudah tak kuat minum. Waktu amat berharga, aku harus segera melanjutkan perjalanan."

"Tunggu lagi sebentar. Aku ingin mencari tahu seseorang padamu."

"Siapa?"

"It-cu-king-thian Lui Tin-gak adalah penduduk Kwi-lin, tentunya kau tahu?"

"Tahu Kakek pernah punya hubungan cukup baik dengan dia. Apa Khu-lopek kenal dia?"

"Sudah lama kukenal namanya, tapi belum pernah ketemu. Tapi aku tahu dia seorang gagah yang suka royal merogoh kantong, maka aku merasa sedikit heran."

"Apa yang mengherankan?"

"Tadi kau bilang kakekmu berhubungan baik dengan dia, kini baru kuingat, dulu kakekmu bilang tidak mau mencari perlindungan pada keluarga Toan di Tayli, dia lebih percaya pada kawan-kawan Kangouw, kawan yang dia maksud mungkin adalah It-cu-king-thian Lui Tayhiap. Waktu kalian kebentur peristiwa yang menimpa In Hou itu, kenapa kalian tidak minta pertolongannya?"

Tawar jawaban Tan Ciok-sing.

"Mungkin kakek tidak ingin merembet orang lain."

"Bicara soal Lui Tayhiap, aku jadi ingat akan janjiku yang belum terlaksana dulu, selama ini amat gegetun menyesal sekali."

"Bukankah Khu-lopek tidak pernah mengenalnya?"

"Betul, aku memang tidak pernah bertemu muka dengan dia, tapi pernah aku berjanji untuk membantu sesuatu hal baginya, selama ini belum bisa aku menepati janjiku itu."

"Maaf kalau Siautit kurang hormat, mohon tanya soal apakah itu?"

"Dua puluh tahun yang lalu, waktu itu Lui Tin-gak belum lama keluar kandang, di kalangan Kangouw dia masih terhitung angkatan muda. Sudah tentu niasa itu diapun belum memperoleh julukan It-cu-king-thian. Pada suatu ketika dia pernah membantu Kim-to Cecu Ciu Kian (ayah Ciu San-bin, Kim-to Cecu yang sekarang) menghadang serbuan pasukan Watsu menjaga sebuah selat penting, seluruh laskar rakyat berjuang bersamanya semuanya gugur, seorang diri dengan golok emas dia membunuh delapan belas busu musuh, terus bertahan sampai titik darah penghabisan, sehingga bala bantuanpun tiba sehingga musuh berhasil dipukul mundur, sejak itulah dia terangkat namanya. Julukan (t-cu-king-thian pun dia peroleh sejak pertempuran besar itu."

"O, kiranya demikian. Semula kukira hanya memujikan dirinya ibarat Tok-siu-hong yang terkenal di daerah Kwi-lin itu."

"Boleh juga dikata demikian. Sejak dia berdiam di Kwi-lin, karena kedermawanannya tidak sedikit orang-orang yang tak kuasa berdiam pula di Tionggoan dan lari di Kwi-lin mendapat perlindungannya, maka tidak sedikit pula yang berpandangan sepertimu tadi menjulukinya It-cu-king-thian. Tapi asal mula julukan itu sendiri jelas dari pertempuran besar melawan pasukan Watsu itu.

"Kira-kira tiga bulan setelah pertempuran besar itu, aku memperoleh tugas untuk menyelesaikan urusan dinas di Tantong karena selama ini aku amat mengagumi Kim-to Cecu, setelah aku menunaikan tugas dinasku secara diamdiam aku lari ke Gan-bun-koan menemuinya. Hubungan In Jong amat intim dengan Kim-to Cecu, dari In Jong Kim-to Cecu sudah tahu akan diriku meski baru pertama kali bertemu hubungan kami sudah seperti saudara lama, tiada persoalan yang tidak menjadi topik pembicaraan kami.

"Waktu itu Lui Tin-gak sudah lama meninggalkan markas Kim-to Cecu, tak urung kami memperbincangkan soal dirinya juga. Kim-to Cecu bilang Lui Tin-gak punya sesuatu keinginan dia mengharap suatu ketika dapat berkenalan dengan Thio Tan-hong yang memperoleh gelar jago pedang nomor satu di dunia. Dia tidak berani mengharapkan Thio Tan-hong sudi menerimanya sebagai murid dia hanya ingin mohon sedikit petunjuk beberapa jurus ilmu pedang dari Thio Tan-hong."

"Setelah mendengar hal ini aku lantas bilang kepada Kim-to Cecu, bahwa cita-citanya yang luhur ini, kemungkinan aku bisa membantu dia. Waktu itu aku berpikir begini, Thio Tanhong adalah suami dari adik perempuan In Jong, mengingat hubungan baikku dengan In Jong, mohon bantuannya supaya dia membantu kemungkinan bisa memohon pada Thio Tanhong untuk menerimanya sebagai murid."

"Tak kira setiba aku di kota raja dan menemui In Jong, baru tahu bahwa Thio Tan-hong sudah menghilangkan jejaknya di Kangouw. In Jong sendiri juga tidak tahu dimana sekarang Thio Tan-hong berada. Walau aku tidak pernah berjanji kepada Lui Tin-gak secara langsung, tapi aku sendiri pernah berjanji kepada Kim-to Cecu sampai sekarang aku belum bisa melaksanakan janjiku itu, maka terasa olehku masih merasa hutang terhadap It-cu-kingthian,"

Sampai disini Khu Ti menenggak habis secawan arak terakhir katanya.

"Lote, aku mohon bantuanmu."

Tan Ciok-sing sudah dapat meraba beberapa bagian tapi dia tetap berkata.

"Lopeh adalah tuan penolong keluargaku, adakah sesuatu tugas yang perlu Siautit lakukan, boleh silahkan perintahkan saja. Kalau Lopeh main sungkan. Siautit jadi rikuh dan tak enak memikulnya."

"Kelak bila kau bertemu dengan It-cu-king-thian sukalah kau mendemontrasikan ilmu pedang ajaran Thio Tan-hong ini di hadapannya, supaya keinginannya itu terkabul."

Kakek Tan Ciok-sing adalah sahabat baik It-cu-king-thian, tapi Tan Ciok-sing sendiri, hakikatnya tidak pernah kenal dan tidak tahu liku-liku kehidupannya.

Kini setelah mendengar kisah masa lalu It-cu-king-thian dari Khu Ti, hatinya jadi bingung, pikirannya ruwet.

"Ternyata dia pernah berjuang berdampingan dengan Kim-to Cecu, seorang pahlawan bangsa yang patriotik lagi, mungkin aku salah mencurigainya. Tapi hati manusia siapa bisa menduga, seorang gagah atau pahlawanpun mungkin saja melakukan kesalahan. Sesuai apa yang diceritakan paman Khu, Lui Tin-gak gemar belajar silat, cita-citanya yang terbesar adalah memperoleh ajaran ilmu pedang suhu. Kejadian itu bukan mustahil lantaran dia tahu bahwa ln Hou membawa Kiam-boh karya Suhu sementara In Tayhiap menyembuhkan luka-lukanya di rumahku, karena ingin merebut Kiam-boh maka mengatur tipu daya sehingga kakekpun ikut menjadi korban? Biarlah aku menyelidiki soal ini lebih dulu, kalau betul dia adalah musuhku, akan kutantang dia berduel setelah kukembangkan pelajaran ilmu pedang Suhu di hadapannya baru kubunuh dia, berarti aku telah menunaikan permintaan paman Khu."

Khu Ti menggulung kain centel yang bertulisan syair-syair Liok Yu itu terus diserahkan kepada Tan Ciok-sing, katanya.

"Seguci arak terakhir telah habis kuminum tiada sesuatu benda dalam kedai ini yang perlu kubawa lagi. Setelah kuserahkan padamu, aku boleh pergi dengan lega hati."

Mereka beranjak keluar bersama, Tan Ciok-sing bersiul panjang, lekas sekali kuda putih itu sudah berlari mendatangi. Khu Ti memuji.

"Kudamu ini bagus sekali, cerdik pula."

"Kemana selanjutnya paman akan mengasingkan diri, semoga Siautit masih ada kesempatan mohon petunjukmu."

"Di belakang gunung aku membangun sebuah gubuk, semoga aku dapat melewatkan sisa hidupku ini di tengah lebatnya awan."

Segera Tan Ciok-sing menjatuhkan diri menyembah berulang kali setelah pamitan cemplak kuda putih terus melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan tiada kejadian apa-apa, tujuh hari kemudian dia sudah memasuki propinsi Kwi-siu, hari itu dia memasuki sebuah kota kecil, pemandangan kota seperti sudah amat dikenalnya, ternyata di sinilah letak kampung halaman Liong Seng-bu, waktu pertama kali dia datang dulu, pernah bentrok dengan kawanan penjahat hampir saja dia terlantar di perantauan, untung waktu itu dia bertemu dengan Liong Seng-bu.

Waktu hari sudah malam, sebetulnya Tan Ciok-sing tidak ingin menginap di kota ini, terpaksa dia mencari hotel.

Liong Seng-bu keparat itu masih ada di Tay-tong, kukira tidak akan terjadi kesulitan atas diriku, apa salahnya kalau aku pergi ke tempat dulu yang pernah kudatangi, coba apa mereka masih mengenalku!"

Demikian pikir Tan Ciok-sing.

Dia menginap di hotel dimana dulu dia menginap, pemilik hotel ternyata masih mengenalnya.

Begitu melihat kedatangannya, sekilas pemilik hotel melongo tapi lekas sekali dia sudah berseri tawa sambil menyambut dengan mundukmunduk.

"Bukankah kau Tan-siangkong yang tahun lalu menginap di hotel kami? Angin apa yang meniupmu kemari, sungguh tamu agung, silahkan, silahkan,"

Seperti ketiban rejeki dari langit saja, sikap hormatnya yang berkelebihan ini membikin Tan Ciok-sing merasa risi malah.

Tan Ciok-sing yang sekarang sudah tentu jauh berbeda dengan empat tahun yang lalu, naiknya kuda jempolan, meski pakaian yang dia kenakan tidak mewah, warnanya masih baru dan model mutahir lagi, tapi perubahan sikap dan pelayanan pemilik hotel ini justru jauh lebih berbeda dari dulu, ini sungguh membuatnya heran dan diluar dugaan.

Diam-diam dia tertawa geli dan merasa kasihan pula, katanya.

"Terima kasih, ternyata kau masih ingat diriku, apa kau tidak kuatir aku tak mampu membayar rekeningku."

Kikuk dan menyengir kuda pemilik hotel, katanya tersipusipu.

"Beruntung Tan-siangkong sudi mampir pula, memohonpun belum tentu dapat diterima. Semoga Tansiangkong mengizinkan kami menyuguhkan hidangan yang paling kami banggakan, berapa lama Siangkong suka menetap disini, boleh tak usah bicara soal rekening segala."

"Lha, kan aku ini jadi buaya yang suka makan tidur gratis? Mana boleh?"

"Ah, mungkin pelayanan kami tidak memuaskan sehingga Siangkong marah. Terserahlah berapa Siangkong suka bayar."

Dasar anak pegunungan, Tan Ciok-sing tidak suka main nakal, maka dia berkata.

"Baiklah, berikan sebuah kamar yang bersih pendek kata aku tidak akan makan minum gratis."

Pemilik hotel mengiakan munduk, segera dia bawa Tan Ciok-sing ke sebuah kamar, katanya.

"Inilah kamar kelas satu yang paling baik dari hotel kami, entah mencocoki selera Tansiangkong?"

"Baiklah. Tak ada urusan lagi untukmu, kau boleh keluar."

Tapi pemilik hotel tidak segera berlalu, katanya malu-malu.

"Tan-siangkong maaf kalau hamba cerewet, mohon tanya apakah Siangkong pulang sendirian?"

Tan Ciok-sing melengak, katanya.

"Kau kira dengan siapa aku akan kembali?"

"Waktu Siangkong menginap di hotel kami tahun lalu, maaf kalau kami punya mata tidak bisa membedakan orang, kami tidak tahu kalau kau adalah sahabat Liong-kongcu. Sejak hari itu Liong-kongcu meninggalkan desa bersamamu, sampai sekarang belum pulang. Kami duga, dalam dua hari ini dia pasti sudah kembali."

"Oo, kau kira aku pulang bersama Liong-kongcu. Bagaimana kau bisa menerka kalau dalam dua hari ini dia bakal pulang?"

Tanya Tan Ciok-sing. Pemilik hotel agaknya jadi heran, katanya.

"Apakah Tansiangkong belum tahu bahwa Liong-tetok Liong-lotayjin sedang cuti dan kembali ke kampung halaman?"

Selama beberapa tahun ini pengalaman dan pengetahuan Tan Ciok-sing sudah banyak maju maka dengan tawar dia berkata.

"O, kiranya Liong-tayjin sedang cuti, aku tidak menduga kalau dia sudah tiba di kampung halaman. Kira-kira setengah bulan yang baru lalu aku bertemu dengan Liongkongcu, jadi belum tahu bahwa pamannya sudah meninggalkan kota raja."

Berkata pemilik hotel setelah berpikir sejenak.

"Konon karena bahaya Tay-tong sudah lenyap maka Liong-tayjin sengaja pulang ke desa untuk membersihkan pusara leluhurnya. Tan-siangkong kau adalah teman baik keponakan Liong-tayjin, perlukah kuutus orang pergi ke rumah keluarga Liong."

"Kalau aku mau mencari Liong-tayjin, aku akan pergi sendiri,"

Demikian tukas Tan Ciok-sing.

"tak usah kau mencapaikan diri,"

Sampai disini dia merogoh keluar dua butir kacang emas dan berkata pula.

"Malam ini aku ingin tidur sepuasku, jangan ada siapapun yang mengganggu aku. Jikalau ada orang mencari tentang diriku, jangan kau katakan kalau aku ada disini."

Setelah menerima pembayaran kedua butir kacang emas, sudah tentu pemilik hotel kesenangan, usaha Tan Ciok-sing membungkam mulutnya memang berhasil, sementara pemilik hotel sendiri memang juga tidak ingin mencampuri urusan orang lain.

Setelah mandi dan makan malam, Tan Ciok-sing lantas tutup pintu kamarnya.

Kuatir sesuatu terjadi, dia tidak berani tidur.

Kirakira kentongan kedua didengarnya derap lari kuda berhenti di depan pintu hotel.

Ban Liong-tin yang kecil ini penduduknya tidak banyak, bukan kota penting yang menjadi pusat perdagangan lagi, penduduknya serba sederhana saja, begitu petang mendatang semua lantas tutup pintu, tapi malam sudah selarut ini siapa pula yang datang ke kota kecil ini?

Demikian batin Tan Ciok-sing.

Kamar yang di tempati kebetulan membelakangi sebuah taman, maka, pembicaraan orang di ruang tamu luar tak bisa didengarnya, namun diamdiam dia bersiaga.

Tapi tak lama kemudian, derap lari kuda terdengar pula, ternyata tamu penunggang kuda itu sudah pergi puia, hal ini betul-betul diluar dugaannya, agaknya sang tamu hanya bertanya beberapa patah kata saja dengan pemilik hotel.

Karuan Tan Ciok-sing keheranan, di saat dia kebingungan, didengarnya pintunya diketuk dari luar, suara pemilik hotel berkata.

"Tan-siangkong tolong buka pintu."

Begitu Tan Ciok-sing membuka pintu, pemilik hotel berkata.

"Maaf aku mengganggu, kulihat masih ada sinar pelita dalam kamar, kukira Tan-siangkong belum tidur, maka berani aku mengetuk pintu."

"Apa ada urusan?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Ingin kulaporkan suatu hal. Memang seperti yang diduga Siangkong, tadi ada seorang yang mencari tahu tentang diri Siangkong."

"Siapa dia?"

"Logatnya luar daerah, seorang asing yang belum pernah kulihat."

"Orang luar daerah?"

"Betul, aku jadi heran, semula kukira utusan keluarga Liong yang hendak menjemputmu. Tapi aku yakin orang yang dia cari pasti Siangkong adanya."

"Bagaimana bentuk dan wajah orang itu, apa dia menyebut namanya?"

"Seorang pemuda sebaya dengan Siangkong, dia tidak memberitahu namanya. Tapi kuda putih yang dia naiki itu, eh aneh juga kalau dikatakan, kudanya itu mirip sekali dengan kuda tunggangan Siangkong."

Tan Ciok-sing terperanjat, serunya.

"masa begitu kebetulan?"

"Dia tanya padaku, adakah tamu she Tan yang sebaya dengan dia, menunggang kuda putih yang menginap di hotelku? Dia bilang hendak mencari temannya itu."

"Bagaimana kau menjawab?"

"Semula aku jadi serba susah, jikalau dia betul-betul temanmu, kalau aku tidak bicara sejujurnya, mungkin kau akan menyalahkan aku."

"Kan sudah kupesan padamu, peduli siapa yang datang, malam ini aku takkan menemuinya. Maka jangan kau katakan kalau aku menetap disini."

Mendengar ini pemilik hotel lega dan bersyukur bahwa apa yang dilakukan memang betul, lekas dia bersikap mengumpak, katanya sembari tawa.

"Memangnya, mana aku melupakan pesanmu. Maka..."

"Maka kenapa?"

Tanya Tan Ciok-sing dalam hati dia merasa was-was.

"Maka kukatakan padanya bukan saja aku tidak pernah melihat orang yang dia cari, juga kukatakan hotel kami sudah penuh, sehingga dia tidak jadi menginap disini. Entah betul tidak tindakanku ini?"

"Bagus, tindakanmu memang tepat,"

Lalu dirogohnya dua butir kacang emas pula.

"nah uang ini untuk persen jasamu."

Dengan cengar-cengir pemilik hotel berkata.

"Ah, rikuh juga untuk menerimanya,"

Tapi mulut-bicara tangan sudah disodorkan untuk menerima kedua butir kacang emas itu.

"Siangkong masih ada pesan lainnya?"

"Kuingat dalam kota ini ada dua hotel bukan?"

"Betul-Ingatan siangkong memang tajam. Masih ada sebuah lagi adalah Hun-lay-khek-tiam, letaknya di pojokan jalan di seberang sana. Siangkong apakah kau ingin mencari tahu siapa pemuda tadi, besok pagi bisa kucari tahu pada pemilik hotel Hun-lay, mungkin dia menginap disana."

Berkerut alis Tan Ciok-sing, katanya.

"Tidak jangan kau lakukan itu."

"Baiklah, silahkan Siangkong istirahat, aku mohon diri."

Setelah pemilik hotel pergi, Tan Ciong-sing menutup pintu kamarnya.

Hatinya menjadi bingung dan resah.

Siapakah pemuda dengan logat luar daerah, menunggang kuda putih?

Kalau di mulut pemilik hotel pemuda itu dianggapnya 'asing' tapi dalam benak Tan Ciok-sing sudah terbayang bentuk wajah seseorang yang sudah amat dikenalnya baik.

Bentuk wajah In San yang menyamar jadi laki-laki.

Pelan-pelan dia membuka daun jendela, bulan sabit bergantung di atas langit, sinarnya redup, bintang kelap-kelip tersebar tidak menentu.

Kini sudah mendekati kentongan ketiga.

Cuaca seperti ini memang mencocoki selera orang untuk berjalan malam.

"Biar aku pergi menengoknya, apakah dia In San adanya?"

Tak kuasa Tan Ciok-sing menahan gejolak hatinya, akhirnya dia berpakaian ketat, terus berangkat.

"Kalau betul In San, lalu bagaimana baiknya? Ai, cukup asal aku melihatnya sekali saja, lebih baik kalau dia tidak sampai melihatku,"

Hati Tan Ciok-sing gundah pikiran ruwet, sulit dia berkeputusan, dalam keadaan apa boleh buat ini, sementara dia tidak berkesimpulan, biarlah bekerja melihat gelagat saja.

Di bawah cahaya bulan yang remang, diam-diam dia ngeluyur keluar hotel, segera dia kembangkan ginkang langsung lari menuju ke hotel yang lain di pojok jalanan sana.

Baru saja dia tiba di pengkolan jalan di seberang hotel, tiba-tiba didengarnya suara lambaian pakaian orang, sebagai seorang yang sudah berpengalaman, sekali dengar Tan Ciok sing lantas tahu banwa seorang pejalan malam segeia akan muncul.

Lekas dia sembunyi ke tempat gelap, tapi pejalan malam itu tidak melihat dirinya.

Kesiur angin lekas sekali berkelebat di atas kepalanya.

Gerakan pejalan kaki ini ternyata sebat dan enteng sekali, hanya sekejap saja dia sudah melayang jauh melampaui beberapa wuwungan rumah penduduk.

Namun dalam sekejap itu Tan Ciok-sing yang bermata jeli sudah melihat jelas.

Walau dia tidak melihat wajah orang, tapi dari bayangan punggung orang, Tan Ciok-sing yakin dia bukan lain adalah In San yang menyamar laki-laki.

Hampir saja Tan Ciok-sing menjerit tertahan, untung dia sempat mengerem suaranya.

"Aneh,"

Demikian pikirnya.

"kenapa dia lari ke hotel tempatku menginap itu? Memangnya dia tidak percaya jawaban pemilik hotel, aku kemari mencarinya, diapun kesana mencariku?"

Maka secara diam-diam Tan Ciok-sing lantas menguntitnya, ginkangnya jauh lebih tinggi dari In San, jaraknya dipertahankan seratusan langkah maka In San tidak tahu dan tidak menyadari bahwa dirinya dibuntuti.

Setiba di hotel dimana Tan Ciok-sing menginap, In San lantas berhenti, Tan Ciok-sing kira orang akan melompat masuk, t.?k kira hanya berhenti sebentar, tiba-tiba dia angkat langkah pula berlari lebih kencang, ke arah depan.

Hal ini betul-betul berada diluar dugaan Tan Ciok-sing pula.

"Kemana dia mau pergi?"

Waktu dia mendongak, rembulan sudah bercokol di tengah langit, sementara bayangan In San sudah jauh ratusan langkah di depan. Tergerak hati Tan Cioksing, tiba-tiba dia teringat.

"Bukankah rumah keluarga Liong terletak di sebelah barat kota ini?"

Dan In San kini jelas berlari ke arah barat.

Yang satu berlari kencang mengejar waktu, yang lain menguntit dengan ketat, tanpa terasa keduanya sudah keluar kota, akhirnya tiba di bawah sebuah bukit.

Di bawah keremangan cahaya rembulan, tampak pagar tembok yang berliku-liku di kejauhan depan sana, memang itulah bentuk bangunan rumah keluarga Liong seperti yang pernah dilukiskan oleh pemilik hotel.

Baru sekarang Tan Ciok-sing mengerti, kiranya tujuan In San ke rumah keluarga Liong.

"Pulangnya Liong Bun-kong ke kampung halaman pasti merupakan berita besar untuk kota kecil ini In San tentu sudah mendapat tahu dari berita orang di hotelnya. Liong Bun-kong adalah musuh besarnya, tak heran kalau dia meluruk kemari hendak menuntut balas,"

Demikian batin Tan Ciok.sing.

"Sebagai Kiu-bun-te-tok, betapa banyak jago kosen Liong Bun-kong? Seorang diri nona In hendak menutut balas, apakah dia tidak terlalu-menyepelekan kekuatan lawan?"

Tengah dia mereka-reka dilihatnya dari arah hutan lebat sana tiba-tiba muncul sesosok bayangan kebetulan mencegat jalan In San, kontan dia ulur cakar tangannya terus mencengkram pundak.

Dalam pada itu Tan Ciok-sing sudah mempercepat langkahnya, lalu sembunyi di balik pohon tak jauh di belakang In San, begitu melihat orang itu melancarkan Kim-na-jiu-hoat, dia tahu meski In San tidak bakal kalah, tapi orang itu akan melibatnya cukup lama juga, bukan mustahil jejak kedatangan In San bisa konangan.

Maka timbul keinginan Tan Ciok-sing untuk membantu secara diam-diam, sekenanya dia meraih ke tanah menjemput sebutir krikil terus dijentik ke depan.

Orang itu ternyata terlalu membanggakan kepandaiannya,, dia kira sekali cengkram lawan pasti berhasil dibekuknya.

Dia pikir dengan berhasil membekuk mata-mata musuh, setelah dikompres baru diserahkan pada majikan, supaya pahalanya tidak direbut orang lain, maka dia diam saja tidak bersuara memanggil teman.

Tak nyana cengkramannya meleset, tahu-tahu golok In San sudah mengancam mukanya, cahaya golok yang kemilau menyilaukan matanya, tapi kepandaian orang ini memang lumayan juga, dalam keadaan kritis ini, lekas dia menekuk pinggang sambil membungkuk seperti petani yang bercocok tanam di tengah ladang, cuma gerakannya terbalik ke belakang sehingga mirip jembatan besi, secara kekerasan dia hindarkan dirinya dari bacokan golok, terpaut serambut hidungnya terpapas hilang.

Sebat sekali kaki orang ini kembali berkisar serta menendang, begitu golok lawan berkelebat tubuhnyapun sudah melejit, ujung kakinya tahu-tahu menggantil berbareng sebelah tangannya menjojoh ketiak kiri In San dari arah yang tak terduga.

Kepalan lawan belum lagi mengenai tubuh In San, demikian pula golok In San juga belum membelah tubuh orang itu, tibatiba tubuh orang itu sempoyongan dan "Bluk"

Jatuh tersungkur. Kuatir orang main tipu, kontan In San layangkan kakinya, tanpa bersuara lagi orang itu terguling, tak bangun lagi. Sudah tentu In San menjadi heran dan curiga, pikirnya.

"Menilai kepandaian orang ini, kenapa pada detik yang genting tadi tahu-tahu bisa roboh sendiri?"

Dia tidak berani menyalakan api untuk memeriksa keadaan orang, terpaksa dia tambahi sekali tutukan pula, memangnya sudah semaput, ditutuk lagi sudah tentu keadaan orang itu lebih parah lagi.

Padahal tanpa tutukannya ini jelas orang ini takkan mampu bergerak karena terkena tutukan sambitan krikil Tan Ciok-sing, maka pada detik-detik yang genting tadi tahu-tahu dia roboh tak berkutik.

Setelah memilih arah In San menggeremet maju lewat kebon belakang, dilihatnya di depan pintu kebon ada dua orang penjaga yang berjalan mondar-mandir, tapi kepandaian kedua orang ini ternyata jauh lebih rendah dari seorang yang tadi, tiba-tiba In San melompat keluar dari tempat sembunyinya pada waktu yang tepat, di kala kedua orang berjalan saling berhadapan, sekaligus dia gunakan kiri kanan membentang gendewa, dengan gerakan secepat kilat menyambar sehingga sang korban tak kuasa menutup telinga, dia tutuk hiat-to kedua orang ini.

Sebat sekali tanpa hiraukan kedua korbannya dia melesat masuk laksana seekor burung melampaui pagar tembok.

Setiba didalam baru In San insaf bahwa dirinya menilai situasi di depannya terlalu ringan.

Kebon bunga ini ternyata luas dan besar sekali, gardu, bangunan loteng serta menara pemandangan dibangun secara tersebar laksana pion-pion catur entah berapa banyak?

Bangunan didalam pagar ternyata jumlahnya lebih banyak dan mentereng dibanding rumah penduduk didalam kota.

Karuan In San menghirup napas dingin, di antara sekian banyak bangunan rumah hendak mencari jejak seseorang, betapa sukarnya?

Jikalau satu demi satu menggeledahnya, mungkin tiga hari tiga malam juga takkan selesai.

Di kala dia kebingungan dan tak tahu dari mana dia harus mulai bekerja tiba-tiba didengarnya langkah kaki orang di sebelah sana.

Lekas In San sembunyi di belakang gununggunungan, dilihatnya dua dayang cantik jelita yang membawa keranjang sedang mendatangi.

Keranjang bambu itu ada tutupnya, dibuat oleh seorang ahli kerajinan sehingga kelihatan bagus dan antik, biasanya keranjang macam itu diperuntukkan mengisi makanan bagi kaum bangsawan, agaknya dayang-dayang cantik ini malam ini bertugas menyediakan sarapan tengah malam.

Terdengar seorang dayang berkata.

"Jay-ci, bikin susah kau saja. Terus terang, aku agak takut, begini besar kebon ini, jauh lebih luas dari taman bunga kita di kota raja, siang hari saja terasa seram, apa lagi malam hari bikin jantung orang dak dik duk saja, kalau tidak ditemani, seorang diri aku takkan berani mondar mandir disini."

Dayang yang dipanggil Jay-ci berkata.

'Kita kan kakak adik sendiri, kenapa harus bicara sesungkan ini.

Bukan mustahil besok malam menjadi giliranku untuk menyediakan sarapan malam seperti kau ini, memangnya aku tidak akan menyeretmu ke mari juga?"

"Loya memang keterlaluan, tengah malam buta rata masih minta dibuatkan kuah Jinsom segala, celaka adalah kaum rendah seperti kita ini?"

Jay-ci itu menghela napas, katanya.

"Siapa suruh kita dilahirkan sebagai budak? Tapi Loya setiap malam harus minum kuah Jinsom, ini memang ada sebabnya, apa kau tahu?"

"Sebab apa?"

Kebetulan kedua orang ini lewat di bawah gununggunungan, Jay-ci berbisik.

"Semula Hujin juga tinggal di rumah tua ini, kedatangan Loya kali ini konon hendak menjemputnya pulang ke kota raja,"

Sampai disini temannya itu menyeletuk.

"Selamanya belum pernah aku melihat Hujin, kabarnya sejak lima tahun yang lalu dia sudah pulang kesini, apa betul?"

Jay-ci mengiakan. Dayang yang satu berkata.

"Kenapa setiba kita disini, seluruh penghuni rumah ini tak ada seorangpun yang pernah menyinggung Hujin? Sudah sekian lamanya, belum juga pernah kulihat nyonya besar itu?"

Jay-ci berkata lirih.

"Setengah bulan yang lalu, sebelum Loya tiba disini, Hujin sudah meninggalkan rumah seorang diri."

Dayang itu kaget, katanya.

"Jadi Hujin minggat?"

"Betul, maka tiada orang yang berani bicara soal ini."

"Kenapa Hujin minggat?"

"Mana aku tahu, kalau dia sudah minggat, tentu karena persoalan yang memalukan."

Dayang itu tertawa dingin, jengeknya.

"Siapa nyana kaum bangsawan juga ada yang melakukan perbuatan yang memalukan."

"Ssssstt. Jangan sembarang omong, kalau didengar orang, celakalah kau."

"Tempat ini begini sepi mana ada orang? Penjaga malam juga berada diluar sana."

"Lebih baik hati-hati, siapa tahu di balik dinding atau di bawah semak-semak bunga sana ada orang pasang kuping,"

Demikian kata Jay-ci.

"karena kejadian minggatnya Hujin inilah maka Loya amat marah dan jatuh sakit, kesehatannya jauh menurun dibanding waktu di kota raja, malam tidak bisa tidur, maka setiap malam kitalah yang harus menyiapkan kuah Jinsom."

Bahwa mendengar kedua dayang ini membicarakan ibunya, sudah tentu tak karuan perasaan In San, tapi dia memperoleh hasil diluar dugaan juga, kini dia yakin "Loya"

Yang dimaksud dalam pembicaraan kedua dayang ini pasti adalah musuh besarnya Liong Bun-kong.

Maka In San lantas melompat keluar, dia tutuk hiat-to Jayci baru mencengkram kuduk dayang yang lain, tajam goloknya yang kemilau dibuat ngancam di tenggorokan orang, katanya mendesis rendah.

"Berani kau berteriak, kugorok lehermu."

Saking ketakutan serasa arwah terbang, kaki si dayang sampai lemas lunglai hampir tak kuat berdiri kalau tidak dijinjing In San, tapi dia masih kuasa bersuara.

"Boleh kau membunuhku saja. Cuma mohon kau tidak melaporkan diriku." -dia kira In San adalah penjaga malam dalam gedung ini yang mencuri dengar pembicaraan mereka, kini dirinya diringkus dan hendak diserahkan kepada Loya untuk terima hukuman, derita siksaan yang cukup berat pernah dia saksikan, maka dia pilih jalan pendek saja. In San tahu watak dayang cilik ini lebih keras dan tegas dari pada Jay-ci, diapun menaruh rasa dendam dan kurang senang terhadap sang Loya, maka tak tega dia menggertaknya, golok segera dia turunkan, katanya.

"Bukan aku ingin membunuhmu, aku hendak membunuh Loyamu itu."

Bukan main kaget si dayang, sekian lama dia melongo mengawasi In San, tanpa kuasa mengeluarkan suara. In San lantas berbisik di pinggir telinganya.

"Jangan takut, kau tidak akan kerembet. Tapi kau harus menunjukkan jalan, setiba di tempat tinggal Loyamu, kau akan kubebaskan. Tidak jadi soal kau agak terlambat membawa kuah Jinsom itu, supaya Loyamu tidak curiga terhadapmu. Tapi kalau kau tetap hendak melindungi Loyamu, tidak mau menunjukkan tempatnya, terpaksa aku membunuhmu."

Bingung juga si dayang, akhirnya dia berkeputusan, katanya mengertak gigi.

"Kenapa aku harus melindungi Loya, ayahku mati karena dia tekan dan dihajar sampai luka parah karena tak kuat membayar pajak. Setelah ayah meninggal, aku diseretnya kemari untuk melunasi hutang-hutang pajak ayah. Baiklah, mari kutunjukkan tempatnya."

Jalanan didalam kebon berliku-liku dan berputar-putar kian kemari, agaknya dayang ini sudah hapal betul akan seluk beluk kebon besar ini, tanpa banyak mengeluarkan suara mereka sudah tiba di bilangan kebon yang lain.

Tampak gunungan yang dibangun cukup besar terdiri dari batu-batu karang lautan menjulang di depan sana, di sekeliling gunungan dipagari batu-batu beraneka ragam, sehingga bentuk bangunan gedung di sebelah dalam tidak kelihatan, agaknya didalam kebon besar ini ada pula taman kembang yang lain, setelah berada di sebelah dalam baru ketahuan bahwa disini lain pula bentuk dan corak bangunannya.

Di tengah taman didalam kebon ini terdapat sebuah bangunan gedung berloteng, di pojok sana, jendela yang dihiasi kain paris tampak sinar lampu menyorot keluar.

Tak jauh di samping gedung berloteng tampak sepucuk pohon besar menjulang tinggi ke angkasa, daunnya lebat, dahandahannya yang bercabang menjulur jauh ke arah loteng, sehingga pandangan In San teraling karenanya.

Dayang cilik itu berkata lirih.

"Loya bertempat di atas loteng yang ada lampunya itu."

In San mengangguk, katanya.

"Baiklah, kau keluar dulu dan sembunyi sebentar. Aku akan bertindak, setelah kau mendengar suara ribut-ribut di atas loteng, baru kau boleh keluar."

Pohon tua yang rimbun itu kebetulan cocok untuk tempat sembunyi, In San segera kembangkan ginkangnya yang tinggi, melompat naik ke atas pohon, dahan tidak bergeming, daun tidak goyang.

Orang didalam loteng ternyata sedikitpun tidak tahu.

Memandang kedalam melalui jendela yang terbuka, tampak seorang laki-laki tua kurus tengah sibuk membalik-balik dan membaca surat-surat di bawah penerangan lampu.

Sesaat lamanya In San melongo, hampir-hampir dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya, dia kira dirinya salah mengenali orang.

Belasan tahun yang lalu, waktu In San baru berusia lima enam tahun, dia ikut ibunya tinggal di rumah neneknya.

Waktu itu meski ayah bundanya hidup berpisah, tapi belum cerai.

Liong Bun-kong masih berkedudukan rendah, belum menjabat Kiu-bun-te-tok.

Demi mempersunting ibunya, dua tiga hari sekali dia pasti datang, usia Liong Bun-kong kira-kira sebaya dengan ayahnya, waktu itu baru dua puluh tahun, boleh dikata adalah pemuda cakap ganteng yang romantis.

Usianya masih kecil dan tidak tahu apa-apa pernah juga dia merasa senang dan punya kesan baik terhadap paman Liong yang satu ini.

Tak nyana pemuda ganteng dan gagah serta romantis yang dulu dikenalnya, kini sudah berubah jadi kakek reyot yang buruk rupa lagi.

Terdengar Liong Bun-kong menghela napas,' katanya seorang diri.

"Belasan tahun sebagai suami isteri, ternyata selama ini tak pernah aku memiliki hatinya."

In San sudah menggenggam sebatang Toh-kut-ting, entah kenapa hatinya tidak tega turun tangan, dia akan lebih senang bila musuh besarnya ini adalah laki-laki kasar yang jahat dan berwajah bengis, tapi kenyataannya orang adalah kakek kurus yang lemah dan takkan kuat sekali tonjok.

Tapi rasa tidak tega ini hanya sebentar saja terbayang olehnya akan keluarga si dayang yang ditindas dan diperas oleh kakek kurus kering she Liong yang jahat ini, pikirnya.

"Musang berbulu ayam akan lebih keji dan telengas dari pada musang yang menyeringai buas dan liar, bahwa dayang cilik itu saja sedemikian dendam terhadapnya, memangnya penderitaanku dan petaka yang menimpa keluargaku tidak lebih parah dari dayang itu, mana boleh aku mengampuni jiwanya, sehari dia masih hidup, orang lain akan ketimpa bencana oleh perbuatan jahamya."

Sambil kertak gigi dia sudah siap menyambitkan Toh-kutting (paku penembus tulang), tiba-tiba sebuah suara serak yang lain terdengar berkata.

"Liong-tayjin tidak usah gelisah, nanti setelah Kongcu keponakan kembali dari Tay-tong pasti bisa diperoleh sedikit berita."

Ternyata di kamar itu masih ada seorang lain, karena dia duduk di pinggir sebelah sana tanpa bersuara, dari arah In San tidak kelihatan.

Maka In San urungkan niatnya, didengarnya Liong Bun-kong berkata.

"Ciang-suhu, kemarilah kau, nih kutunjukan sesuatu padamu."

Orang itu duduk di depan Liong Bun-kong, baru sekarang In San dapat kelihatan jelas, dia adalah laki-laki tua berusia enam puluhan, tapi perawakannya jauh lebih gagah dan kekar dari Liong Bun-kong, meski usianya lebih tua tapi paras dan semangatnya kelihatan lebih muda dari Liong Bun-kong.

Orang itu bermata juling berhidung elang, Thay-yang-hiat di kedua pelipisnya tampak menonjol, suara perkataannya mirip kicauan burung kokok beluk, sehingga risi bagi pendengaran orang lain.

Tersirap batin In San pikirnya.

"Orang ini agaknya ahli lwekang yang tangguh. Tapi ilmu yang diyakinkan pasti ajaran lwekang dari aliran sesat, sudah mencapai taraf yang cukup tinggi."

Liong Bun-kong menarik laci, dari dalamnya mengeluarkan sebatang golok yang sudah terkutung jadi tiga, katanya.

"Inilah golok pusaka yang pernah dipakai Raja Golok Ie Cunhong semasa hidupnya."

In San tahu raja golok Ie Cun-Hong adalah salah seorang yang pernah mencelakai ayahnya, keruan hatinya kaget pula.

"Ternyata Ie Cun-hong sudah mampus, julukannya Raja Golok meski belum tentu betul-betul raja golok, tapi ilmu goloknya yakin sudah amat tinggi dan liehay, namanya sudah cukup terkenal di Kangouw. Entah siapa yang membunuhnya?"

Agaknya dia belum tahu bahwa Tan Ciok-singlah yang telah membunuh Raja Golok ini, Sayang waktunya bergaul dengan Tan Ciok-sing terlalu pendek sehingga peristiwa ini belum pernah dia dengar.

"Selama beberapa tahun ini,"

Demikian Liong Bun-kong bercerita lebih lanjut.

"Ie Cun-hong adalah salah satu pembantuku yang paling setia dan banyak pula jasanya, jarang orang tahu asal-usul dan kedudukannya sebagai pembantuku, malah banyak orang mengira dia adalah tokoh persilatan yang sudah lama mengasingkan diri. Tak nyana tahun lalu dia terbunuh di Ciok-lin."

Ciang-suhu itu tampak terkejut, katanya.

"Dia terbunuh di Ciok-lin?"

"Betul, maka aku ingin bantuan pandangan matamu yang tajam,"

Ujar Liong Bun-kong.

"Golok pusakanya ini tertabas kutung oleh pedang lawan, kemarin dulu sudah kuutus seorang pergi ke rumahnya menyelidiki hal ini, kabarnya putranya yang mengambil pulang jenazah ayahnya tiga hari setelah peristiwa itu terjadi, menurut cerita putranya, di tubuh Ie Cun-hong terdapat tujuh luka-luka, dilihat bentuk lukalukanya, jelas terluka oleh sejurus ilmu pedang lawan yang teramat cepat gerakannya. Coba kau periksa apakah senjata lawan bukan sebilah pedang pusaka yang tajam luar biasa? Dalam jurus permainan dapat melukai tujuh tempat di tubuh musuhnya, memangnya ilmu pedang apakah itu?"

Semakin kaget Ciang-suhu mendengar penuturan Liong Bun-kong, katanya.

"Kabarnya Thio Tan-hong mengasingkan diri di Ciok-lin untuk menghabiskan masa tuanya. Walau belum pernah aku melihat ilmu pedangnya, tapi dia adalah jago pedang nomor satu di kolong langit ini, menurut apa yang kutahu dia memang memiliki sebilah pedang pusaka yang dapat mengiris besi memotong emas."

"Jadi kau berkesimpulan bahwa yang membunuh Ie Cunhong adalah Thio Tan-hong?"

Ciang-suhu manggut, katanya.

"Kecuali Thio Tan-hong, yakin tiada tokoh kosen lainnya yang mampu membunuh Ie Cun-hong semudah itu."

"Ciang-suhu, konon Gun-goan-it-cu-kang yang kau yakinkan sudah berhasil. Pada hal Thi-sa-ciang yang kaulatih itu sudah terhitung nomor satu di dunia, kini ketambahan Gun-goan-it-cu-kang, boleh dikata kau sudah sempurna diluar dan didalam, keduanya sama-sama mencapai tarap tertinggi pula. Tentunya kau tak perlu gentar menghadapi Thio Tanhong?"

Karena diumpak, kakek she Ciang ini menjadi girang mendapat muka, seketika dia' menyeringai senang seperti kera yang memperoleh buah manis.

Tapi In San yang mencuri dengar diluar betul-betul kaget dan luar biasa, batinnya.

"Ciang-suhu ini bukankah yang dulu sekolega dengan kakekku dulu, namanya Thi-hu? Kukira dia sudah mati, ternyata dia masih hidup dan kini menjadi pengawal pribadi Liong Bunkong."

Terkaan In San menang tidak keliru, laki-laki tua ini memang bukan lain adalah Ciang Thi-hu yang pernah digenjot oleh Khu-Ti.

Setelah Ong Ceng ambruk, dia kehilangan Cukong, maka terpaksa dia mencari Liong Bun-kong sebagai majikannya yang baru.

Walau Ciang Thi-hu senang diumpak, tapi dia masih sadar dan dapat mengukur kekuatan awak sendiri.

Setelah lenyap rasa senangnya, diam-diam hatinya merasa jeri juga.

Yang ditakutkannya adalah bila Liong Bun-kong menyuruhnya pergi menghadapi Thio Tan-hong.

"Takut sih tidak,"

Demikian kata Ciang Thi-hu.

"Tapi ilmu pedang Thio Tan-hong tiada tandingannya di kolong langit ini, walau aku sudah berhasil menyakinkan Gun-goan-it-cu-kang, belum tentu dapat mengalahkan dia. Kalau Tayjin ingin membunuhnya, sukalah kau bersabar beberapa waktu lamanya pula, biar kucari beberapa orang untuk membantu."

Liong Bun-kong tertawa, katanya.

"Kau tak usah kuatir, Thio Tan-hong sudah meninggal?"

Ciang Thi-hu terbelalak senang, katanya.

"Jadi bukan Thio Tan-hong yang membunuh Ie Cun-hong?"

"Sudah tentu bukan. Aku sudah mendapat berita yang positif, empat tahun yang lalu Thio Tan-hong sudah mati, padahal kematian Ie Cun-hong belum ada satu tahun."

Lega hati Ciang Thi-hu, segera dia menyeka keringat dingin, katanya.

"Selama belasan tahun aku mendampingi Tayjin, belum pernah aku keluar dari kota raja, ternyata sudah empat tahun Thio Tan-hong mati, tapi aku masih belum tahu,"

Sampai disini timbul rasa ingin tahunya, tanyanya.

"Lalu siapakah yang membunuh Ie Cun-hong? Tentunya Tayjin juga sudah berhasil menyelidikinya?"

Seperti tertawa tidak tertawa Liong Bun-kong berkata.

"Ciang-suhu, jikalau kau menghadapi Thio Tan-hong mungkin kau tidak punya keyakinan, tapi bagaimana kalau kau harus menghadapi murid Thio Tan-hong?"

Kembali Ciang Thi-hu kaget dibuatnya, katanya.

"Murid Thio Tan-hong bernama Toh Thian-tok, sekarang adalah cikal bakal yang menjadi Ciang-bunjin Thian-san-pay..."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Liong Bun-kong.

"Konon Toh Thian-tok mencipta sendiri Thian-san-kiamhoat, kemungkinan belum mencapai tingkatan seperti gurunya, tapi dia tak boleh dipandang ringan. Apalagi Toh Thian-tok jauh berada di Thian-san, jika Tayjin ingin menuntut balas sakit hati Ie Cun-hong, kukira bukan satu pekerjaan yang mudah,"

Dia kira setelah Toh Thian-tok tahu gurunya meninggal, tahun lalu dia berziarah ke Ciok-lin, kebetulan Ie Cun-hong si Raja Golok juga tiba disana, maka jiwanya melayang.

Tapi sebagai Ciang-bunjin Thian-san-pay, jelas Toh Thian-tok takkan lama lagi tinggal di Ciok-lin, maka dapatlah diduga bila sekarang dia pasti sudah pulang ke Thian-san.

Melihat orang begitu takut terhadap Thio Tan-hong, hal ini masih dapat dimaklumi oleh Liong Bun-kong, tapi Ciang Thi-hu juga jeri menghadapi Toh Thian-tok, hal ini membuat dia kurang senang.

Katanya tawar.

"Bukan Toh Thian-tok yang membunuh Ie Cun-hong."

"Memangnya siapa pula?"

Tanya Ciang Thi-hu melenggong.

"Seorang murid Thio Tan-hong yang lain."

"O, Thio Tan-hong masih punya seorang murid lagi? Kenapa aku tidak tahu?"

"Hal ini sudah kuselidiki, dia bernama Tan Ciok-sing, usianya kukira belum genap dua puluh, dia adalah murid penutup Thio Tan-hong."

Ciang Thi-hu menghela napas lega, batinnya.

"Kiranya bocah ingusan yang masih berbau pupuk bawang, kenapa aku harus jeri padanya. Umpama bocah itu sudah memperoleh ajaran murni Thio Tan-hong, memangnya dia kuat menghadapi lwekangku yang sudah kuyakinkan puluhan tahun ini."

"Bahwa bocah itu dapat membunuh Ie Cun-hong, kukira dia juga bukan lawan enteng. Ciang-suhu, kau..."

Liong Bun-kong gunakan cara mengumpak lalu menghasut, dia yakin hasilnya akan lebih mantap, meski dia merasa kurang senang, betapapun Ciang Thi-hu adalah salah satu anak buahnya yang berkepandaian paling tinggi.

Betul juga Ciang Thi-hu segera berseru.

"Ah, hanya bocah yang masih ingusan jikalau aku tidak mampu membekuknya, betapa malunya untuk menghadap Tayjin lagi,"

Sembari bicara tangannya menjemput salah satu kutungan golok di atas meja, begitu kedua telapak tangan terangkap lalu pelan-pelan dia menggosok naik turun, lekas sekali dia sudah membuka kedua telapak tangannya, tampak kutungan golok itu sudah menjadi bubuk di telapak tangannya dan jatuh berhamburan di lantai.

"Kukira batok kepala bocah itu tidak akan lebih keras dari besi ini,"

Demikian ucap Ciang Thi-hu. In San yang mencuri dengar diluar ikut terkejut, batinnya.

"Kiranya Tan-toako yang membunuh raja golok Ie Cun-hong. Tua bangka ini memiliki tenaga tangan yang begini liehay, mungkin Tan-toako bukan tandingannya? Semoga selekasnya aku dapat menemukan Tan-toako supaya dapat kuberitahu hal ini padanya sehingga dia dapat bersiaga,"

Diluar tahunya bahwa Tan Ciok-sing kini juga berada di tempat itu. Setelah melihat Ciang Thi-hu mendemonstrasikan ilmunya, barulah Liong Bun-kong berseri tawa, katanya tergelak-gelak.

"Ciang-suhu ternyata memang belum kropos karena usia yang tua. Apakah itu Gun-goan-it-cu-kang yang baru berhasil kau yakinkan? Mataku betul-betul melek hari ini."

Ciang Thi-hu tersenyum senang dan bangga, katanya sambil membusung dada.

"Kepandaian yang biasa saja, harap Tayjin tidak mentertawakan. Entah dimana bocah she Tan itu sekarang, biar segera kucari dia menuntut balas kematian Loie."

"Tak perlu terburu-buru,"

Ujar Liong Bun-kong tertawa.

"masih ada yang ingin kubicarakan dengan kau."

Ciang Thi-hu mengiakan.

"Silakan Tayjin jelaskan."

"Ada berita dari Tay-tong?"

Ciang Thi-hu tahu "berita"

Yang dimaksud Liong' Bun-Kong adalah persoalan yang menyangkut keponakannya. Maka dengan munduk-munduk segera dia menjawab.

"Berita sih belum ada. Tapi Tayjin tidak usah kuatir, Ciok Khong-goan dan Sa Thong-hay juga berada di Tay-tong, belakangan kuutus Huwan bersaudara menyusul pula kesana, kukira Titsauya (tuan muda keponakan) takkan kurang suatu apa. Sudah kupesan wanti-wanti kepada mereka, begitu ada perobahan harus segera mengirim berita kilat kepada Tayjin."

"Kerjamu memang amat rapi,"

Puji Long Bun-kong.

"bukan aku menguatirkan keselamatan dan tugas yang kubebankan kepada Seng-bu, betapapun tinggi kepandaian budak she In itu, memangnya tarafnya bisa melebihi bapaknya --In Hou, kalau Huwan bersaudara sudah membantu Seng-bu, pastilah budak jelita itu dapat dibekuknya dan digusur kemari."

Diam-diam In San menyeringai dingin.

"Kau kira aku tak kuasa lolos dari tangan mereka, sekarang aku justeru sudah lari ke mari. Hm, kini jiwamu sendiri yang berada di tanganku." --Tadi begitu melihat Liong Bun-kong yang kurus kering pernah dia merasa iba, kini setelah melihat tindak tanduknya yang keji dan jahat, berkobar pula rasa dendamnya.

"Lalu soal apa yang Tayjin kuatirkan?"

Liong Bun-kong menghela napas, katanya.

"Aku tidak tahu bagaimana maksud Seng-bu sebenarnya, dia justru kepincut budak keluarga In itu, pada hal dia tahu itu putri musuh besar kita."

"Tapi nona In belum tentu tahu kalau ayahnya mati di tangan Tayjin."

"Ya, tapi kertas takkan bisa membungkus api, bila Seng-bu kejadian mengawini budak she In itu, lama kelamaan, bukan mustahil rahasia ini terbongkar olehnya. Bukankah itu berarti menyimpan bibit bencana bagi keluargaku sendiri?"

Gemeratak gigi In San, pikirnya.

"Kau kira aku tidak tahu? Hm, aku justru sudah tahu sejak beberapa waktu lamanya. Keponakanmu ibarat kodok buduk yang kepingin mencaplok burung bangau, ingin rasanya aku dapat membelek hatinya, hm, kau malah kuatir bila aku kawin dengan keponakanmu,"

Pada hal paku penembus tulang sudah disiapkan sejak tadi, sayang Ciang Thi-hu berdiri di depan Liong Bun-kong, terpaksa dia menunggu kesempatan.

Agaknya Ciang Thi-hu tidak mau mencampuri urusan pernikahan Liong Seng-bu, maka dia hanya berdiri diam saja tanpa memberi komentar.

Setelah menghela napas, Liong Bun-kong berkata pula.

"Sudah tentu aku tidak akan membiarkan budak she In itu menjadi menantu keponakanku, tapi aku tidak punya keturunan, aku jadi kuatir tiba suatu ketika Seng-bu dicelakai oleh budak she In itu. Tapi persoalan keponakan tak mungkin aku terlalu banyak campur. Maka apa yang kubisa lakukan hanya berusaha sekuat mungkin untuk melenyapkan bibit bencana di kelak kemudian hari. Ciang-suhu, ingin aku mohon bantuanmu, sukalah kau berangkat ke Kwi-lin."

"Pergi ke Kwi-lin?"

Ciang Thi-hu menegas agaknya dia merasa diluar dugaan.

"Bocah she Tan yang membunuh Ie Cun-hong itu, asalnya kelahiran Kwi-lin."

"Apakah bocah itu sekarang tetap ada di rumah?"

"Itu aku tidak tahu. Tapi Kwi-lin adalah tempat kelahirannya, cepat atau lambat dia pasti akan pulang."

"Tidak sukar menangkap bocah itu, tapi jikalau nasibku jelek, entah kapan baru bisa pulang memberi laporan kepada Tayjin."

"Waktu tidak akan kubatasi. Apalagi tugasmu bukan melulu membekuk bocah itu saja."

Kembali Ciang Thi-hu melengak, tanyanya.

"Masih ada orang lainnya?"

"In Hou masih punya seorang teman, konon kedatangan In Hou ke Kwi-lin dulu itu adalah atas undangan pertemuan temannya itu. In Hou sudah mati, tapi orang itu lolos dari pengejaran kita."

"O, jadi yang Tayjin maksudkan adalah Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun?"

"Betul, Kungfu orang ini amat tangguh, tidak lebih asor dari In Hou. Kalau dia tidak dilenyapkan, makan tidur aku tidak akan tentram."

"Tapi Tam Pa-kun kan bukan penduduk asli Kwi-lin?"

"Aku tahu. Tapi takkan lama lagi dia pasti akan datang ke Kwi-lin."

In San yang mencuri dengar diluar diam-diam terperanjat, pikirnya.

"Paman Tam hendak ke Kwi-lin, bagaimana dia bisa mendapat kabar ini begitu cepat?"

Bahwa dirinya bertugas pula menghadapi Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun, diam-diam perasaan Ciang Thi-hu tidak tentram, diam-diam dia membatin.

"Konon 72 jurus Kim-na-jiu-hoat dan 64 jalan Phoan-liong-tonya amat liehay, walau aku sudah meyakinkan Gun-goan-it-cu-kang, tidak yakin aku dapat mengalahkan dia."

Walau hati merasa kebat-kebit, tapi lahirnya dia tetap bersikap mengumpak kepada Liong Bun-kong, katanya.

"Berita yang diterima Tayjin memang cepat dan tajam, meski jarang keluar pintu, tapi kejadian di dunia Kangouw dapat diketahui jelas. Tayjin tak usah kuatir, asal dia berada di Kwilin, dia takkan lolos dari cengkramanku."

Liong Bun-kong tersenyum sambil mengelus jenggot kambingnya, katanya.

"Tak usah kau pergi seorang diri mengadu jiwa, akupun sudah mempersiapkan untukmu,"

Lalu dia mengeluarkan secarik kertas daftar, katanya lirih.

"Yang terdaftar di sebelah kanan ini adalah orang-orang kita, yang terdaftar di sebelah kiri adalah musuh-musuh kita. Kali ini tugas pimpinan kuserahkan kepadamu, mumpung ada kesempatan, babatlah seluruh musuh-musuh kita itu. Kirimlah kabar kepada orang-orang kita dalam daftar ini supaya bantu mencari jejak bocah she Tan itu. Nah periksalah dulu daftar ini, coba berapa banyak yang sudah kau kenal? Atau siapa kiranya yang kau curigai?"

Terbakar dada In San, pikirnya.

"Kau bangsat tua ini, bukan saja membuat keluargaku berantakan, orang lain yang tidak berdosa juga akan kau celakai."

Mumpung mendapat kesempatan baik ini, di kala Ciang Thihu menunduk memeriksa daftar itu, sekali ayun tangan menimpuk paku yang digenggamnya sejak tadi ke arah jendela, sasarannya adalah Thay-yang-hiat Liong Bun-kong.

In San yakin paku penembus tulangnya itu pasti akan menamatkan jiwa Liong Bun-kong, tak nyana belakang kepala Ciang Thi-hu seakan tumbuh mata, tanpa menoleh begitu merasa angin kesiur di belakang kepala, segera dia menjentik balik, ke belakang.

"Cring"

Tepat dia selentik paku yang menyamber tiba mencelat balik keluar jendela, dan meluncur kembali ke arah In San pula.

In San menggelantung di atas pohon, ujung kakinya menggantol dahan pohon, sehingga tubuhnya jungkir balik dan mendekat ke jendela sambil menimpuk senjata rahasianya.

Lekas In San kerahkan tenaga di ujung kakinya sehingga dahan dimana dia bergelantung tak kuat menahan berat badannya begitu tubuhnya anjlok ke bawah dahan pohon itupun patah seketika, pada hal tindakan In San inipun hanya untung-untungan belaka, dia sendiri tidak tahu apakah cara yang ditempuhnya ini dapat dihindarkan samberan paku yang menyerang balik ini, tapi keadaan memang sudah mendesak, tiada cara lain terpaksa dia gunakan akalnya ini.

Begitu dahan patah paku itupun sudah menyambar tiba dan menyerempet di atas kepala In San, tapi sasarannya menceng ke samping In San selamat tidak kurang suatu apapun.

Cepat sekali Ciang Thi-hu sudah menubruk keluar, bentaknya.

"Pembunuh bernyali besar, masih ingin lari?"

Ginkang In San memang sudah tinggi, di kala tubuhnya meluncur lurus ke bawah dan hampir menyentuh tanah, mendadak dia gunakan gerakan Burung Dara Jumpalitan, dengan enteng dan tanpa mengeluarkan suara kakinya hinggap di muka bumi.

Begitu pukulan Ciang Thi-hu menyerang tiba, golok pusaka In San juga sudah tercabut, dengan jurus Ki-hwe-lau-thian, dia memapak kedatangan lawan serta menyerang pergelangan tangannya.

Deru angin yang kencang menyapu jatuh topi di atas kepala In San sehingga rambutnya yang panjang terurai, melihat dia seorang gadis jelita, mau tidak mau Ciang Thi-hu tertegun.

Sudah tentu In San sendiri juga tidak kurang kagetnya, bukan saja golok pusakanya tak mampu menabas musuh, malah topi sendiri tersapu oleh angin pukulan lawan, untung dia sudah cukup mahir menggunakan golok ini, lekas dia memelintir pegangan goloknya berputar setengah lingkaran, tapi hampir saja dia tergores luka oleh golok sendiri.

Gerakan golok In San yang lincah dan gesit ini juga membuat Ciang Thi-hu heran pikirnya.

"Aneh, permainan golok ini agaknya pernah aku melihatnya?"

Dan lebih mengherankan lagi lwekang In San ternyata jauh lebih rendah dari pada sebelum dia tahu bahwa In San adalah perempuan tadi, kiranya paku yang dijentiknya balik itu di tengah jalan dipukul jatuh oleh timpukan sebutir lempung orang lain, In San tidak tahu akan kejadian ini, tapi Ciang Thi-hu tahu.

Tadi dia kira penimpuk lempung tadi pasti adalah jagoan bulim yang kosen dan jago kosen ini pasti juga seorang laki-laki, betapapun tinggi kepandaian seorang perempuan, tak mungkin memiliki lwekang setangguh ini.

"Haya, celaka, diam-diam Ciang Thi-hu mengeluh dalam hati setelah teringat masih ada seorang kosen lagi disekitar sini, secara diam-diam telah membantu In San. Setelah berhamil meyakinkan Gun-goan-it-cu-kang, Ciang Thi-hu yakin dirinya boleh mencalonkan diri dalam deretan 10 jago tangguh di masa ini, bahwa orang itu dapat memukul jatuh jentikan paku besinya hanya dengan sebutir lempung kecil, jelas lwekangnya tidak rendah, tapi diapun yakin orang belum tentu dapat mengalahkan dirinya. Bahwa dia mengeluh bukan karena takut menghadapi orang itu, tapi bila orang itu ada di sekitar gelanggang, betapapun dia harus hati-hati dan waspada, karena itu, mending bagi In San, dia masih kuat bertahan untuk beberapa kejap lamanya. Lekas sekali belasan jurus telah berlalu, taraf kepandaian Ciang Thi-hu betapapun memang berlipat ganda lebih tinggi dari In San, meski hati merasa was-was dan harus pasang mata kuping terhadap jago lain yang sembunyi, In San toh sudah kepayahan dan terdesak oleh rabuannya yang gencar. In San tetap mengandalkan ketajaman goloknya, sekuatnya dia bertahan membela diri. Di saat-saat genting itu, '"wut"

Mendadak Ciang Thi-hu memukul pergi golok In San, diluar dugaan dia memperlambat gerakannya lalu menghentikan gerakannya, bentaknya.

"Kau ini putri In Hou bukan? Lekas bicara terus terang, supaya aku tidak kesalahan tangan."

Hanya belasan jurus Ciang Thi-hu sudah meraba permainan golok In San, maka dia lantas tahu asal-usul In San.

Maklum selama beberapa tahun dia pernah sekolega bersama In Jong didalam Gi-lim-kun maka ajaran ilmu golok keluarga In jelas takkan bisa mengelabui matanya.

Tapi lantaran sudah terlalu lama, baru sekarang dia teringat.

Sebaliknya In San sudah berlaku nekad hendak mengadu jiwa, bentaknya.

"Betul, malam ini hendak kutuntut balas kematian ayah, kau rela menjadi antek Liong Bun-kong si anjing itu, biar kubunuh kau dulu."

Setelah tahu asal-usul In San, Ciang Thihu malah tidak berani membunuhnya, gerak serangannya pun diperhitungkan. Setelah In San didesaknya mundur dua langkah, dia berseru lantang.

"Liong-tayjin, pembunuh gelap ini adalah putri In Hou, bagaimana aku harus membereskan dia, harap Tayjin memberi petunjuk."

Suara Liong Bun-kong kumandang dari atas loteng.

"Bujuklah dia supaya mau menyerah. Beritahu padanya, aku tetap akan memandangnya sebagai putri kandungku sendiri."

Ciang Thi-hu segera menekan suaranya, katanya.

"Nona In, jangan kau tidak tahu kebaikan. Bila kau ikut Liong-tayjin, kalian ibu beranak akan hidup berkumpul, bukankah itu lebih baik?"

Dia kira In San belum tahu bila ibunya sudah minggat dari rumah keluarga Liong.

Diluar tahu Ciang Thi-hu pula bahwa In San sudah bertemu dengan ibunya, malah ibunya sudah mangkat di malam pertemuan yang menyedihkan dan memilukan itu.

Kalau Liong dan Ciang tidak menyinggung ibunya masih mending, seolah-olah bara yang disiram minyak, karuan berkobar amarah In San dengan jurus Hing-to-it-hong, goloknya bergerak secepat kilat terus membacok, bentaknya.

"Kalau aku tidak berhasil membunuh keparat she Liong itu, jadi setanpun aku tetap akan menuntut balas,"

Serangan golok yang ganas dan nekat ini diluar dugaan Ciang Thi-hu, walau tidak sampai melukai dirinya, tapi dia kaget dan berjingkrak mundur.

Ciang Thi-hu cukup mengeluarkan tiga bagian tenaga Gungoan-it-cu-kang, kembali dia sampuk golok In San lalu berteriak.

"Liong-tayjin, budak ini tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, dia tegas menolak kebaikan Tayjin, bagaimana baiknya?"

Liong Bun-kong tidak berani membuka jendela, sembunyi didalam kamar dia tarik suara.

"Lebih baik kau bekuk dia hidup-hidup, kalau tidak bisa membekuknya hidup, kau bunuh diapun aku tidak akan salahkan kau."

Setelah mendapat persetujuan hilang keraguan Ciang Thihu, maka serangannya lantas bertambah gencar dan kuat, begitu menyelinap maju jari tangannya segera mencengkram.

Gerak cengkraman ini adalah tipu liehay dari Hun-kin-joh-kutjiu, dilandasi tiga puluh persen kekuatan Gun-goan-it-cu-kang, maka perbawanya lebih dahsyat lagi, jikalau sasarannya kena telak, tulang pundak In San pasti teremas hancur.

Umpama memiliki kepandaian setinggi langit, bila tulang pundak sudah diremas hancur, berarti Kungfunya sudah punah dan selanjutnya takkan bisa bermain silat lagi.

Tapi Ciang Thi-hu masih kuatir bila dirinya disalahkan oleh keponakan Liong Bunkong, maka dia pikir hanya ingin memunahkan ilmu silatnya saja, kalau tidak bila dia tambah tenaga serangannya, jiwa In San sudah bisa ditamatkan sejak tadi.

Cengkraman ini kelihatan ganas, tapi daya kerjanya ternyata lamban.

Dia pikir hendak menggertak In San supaya dia takut dan mundur teratur bukan mustahil akan merubah haluannya, mau menyerah dan tunduk pada keluarga Liong.

Hun kin-joh-kut yang diyakinkan ini sudah mencapai taraf sempurna, walau gerakan kelihatan lamban, jelas In San takkan bisa berkelit.

Pada hal golok In San sudah terkunci oleh telapak tangan kirinya, untuk menangkis atau balas menyerang jelas tidak mungkin, di saat-saat kritis dimana jarijari tangan Ciang Thi-hu sudah dekat tulang pundak In San.

Ciang Thi-hu masih sempat membujuk.

"Nona In, urusan sudah kebacut sejauh ini, kenapa kau masih kukuh pendapat? Semutpun ingin hidup, lekas kau minta maaf kepada Liong-tayjin dan memanggil Liong-tayjin..."

Sebelum dia menyebut "ayah", sesosok bayangan orang mendadak melompat keluar dari balik gunungan.

Semula tujuan Tan Ciok-sing hanya akan membantu secara sembunyi, tapi setelah menyaksikan beberapa jurus, dia lantas tahu bahwa kepandaian Ciang Thi-hu benar-benar tinggi, tanpa menggunakan ilmu pedang gabungan, kalau dirinya hanya membantu secara menggelap, bantuannya tidak akan berarti bagi In San.

Di kala cengkraman tangan Ciang Thi-hu hampir menyentuh pundak In San itulah Tan Ciok-sing dipaksa untuk menerjang keluar.

Karena tahu ada musuh tangguh lain yang berada di sekitar gelanggang, Ciang Thi-hu selalu pasang mata kuping, sejak tadi dia sudah bertindak waspada dan penuh perhitungan, begitu merasa angin kesiur menyambar dari belakang, dia tahu bahwa musuh tangguh yang tersembunyi itu tengah membokong dirinya, kuatir dirinya kecundang, mana berani dia meremas tulang pundak In San?

Lekas dia gunakan Ih-sing-hoan-wi berkelit sambil melancarkan serangan susulan lainnya, kedua telapak tangan tergabung menimbulkan suatu rumpun tenaga tiga tambah tiga berarti enam puluh persen tenaga Gun-goan-it-cu-kang terhimpun dalam serangan tangannya ini.

Maka terdengarlah suara "Cret", lengan baju Ciang Thi-hu tertusuk bolong oleh Pek-hong-po-kiam Tan Ciok-sing, tapi ujung pedang Tan Ciok-singpun menceng dan tergetar pergi oleh pukulan Gun-goan-it-cu-kang lawan, hanya terpaut dua mili hampir menusuk hiat-to Ki-ti-hiat.

Diam-diam Tan Cioksing merasa sayang akan kegagalan serangan ini.

Sudah tentu bukan kepalang senang dan kaget In San, seketika dia menjublek di tempatnya.

Padahal pertempuran jago-jago silat kelas tinggi, mana boleh berlaku lena.

Walau Gun-goan-it-cu-kang yang dilontarkan Ciang Thi-hu bukan ditujukan ke arahnya, namun dia terserempet juga oleh gelombang angin pukulannya.

Seketika dia keterjang mundur sempoyongan, golok yang dipegang sampai jatuh berkerontang di atas batu.

"Tan-toako, ternyata kau. Tahukah kau, aku sedang mencarimu,"

Saking girang In San tidak pikirkan hendak menjemput goloknya. Dengan ujung kakinya Tan Ciok-sing menjungkit golok serta ditangkapnya, tapi tidak dia berikan kepada In San, teriaknya.

"Lekas cabut Ceng-bing-po-kiam."

In San tersentak sadar serunya.

"Betul, menghadapi keparat tua ini, memang pantas kita menghadapinya dengan Siang-kiam-hap-pik."

Begitu Siang-kiam-hap-pik dijalankan, situasi seketika banyak berubah.

Ciang Thi-hu seketika terkurung di tengah kilatan sinar pedang, gerak-geriknya yang lincah tak ubahnya seperti tikus yang terjebak didalam kurungan dan lari kian kemari.

Insaf akan keadaan dirinya yang semakin terdesak, demi keselamatan sendiri sudah tentu Ciang Thi-hu tidak sudi mati konyol, maka diapun bermain tidak kenal kasihan lagi.

Tiba-tiba dia berputar ke kiri, In San langsung dihadapinya.

Kedua telapak tangan bergerak membundar seperti gelang, lalu dirubah gaya seorang pemusik yang memeluk gitar, telapak tangan kiri pura-pura mencengkeram, sementara telapak tangan kanan membelah miring Gun-goan-it-cu-kang dia tambah sampai lima puluh persen kekuatannya sendiri.

Kalau dia tahu diri sejak tadi melancarkan kekuatan Gungoan-it-cu-kang untuk menghadapi In San, umpama tidak mati In San pasti terluka parah, tapi kini keadaan sudah berubah tambah kekuatanpun sudah terlambat.

Bukan saja permainan Siang-kiam-hap-pik teramat serasi dan tepat serta ketat, perbawa yang dikembangkanpun tiga lipat lebih besar dari pada permainan secara individu.

Maka lima bagian kekuatan Gun-goan-it-cu-kang yang dilancarkan Ciang Thi-hu paling hanya mampu menggeser sedikit ujung pedang In San, sehingga dirinya tidak sampai tertusuk, tapi pedang lawan tak mampu diputarnya terlepas apalagi hendak balas melukainya.

Maka Bu-bing-kiam-hoat Tan Ciok-sing segera menyelinap masuk arena, sudah tentu dia takkan memberi peluang bagi Ciang Thi-hu untuk melancarkan serangan susulan untuk melukai In San?

Dalam sekejap itu dua larik sinar pedang tahu-tahu tertabur menjadi selarik cahaya pelangi, untung Ciang Thi-hu lekas mengundurkan diri, terlambat sedetik saja tubuhnya sudah terbabat menjadi dua.

Lekas Ciang Thi-hu kerahkan tenaga terus mendorong, Gun-goan-it-cu-kang mencapai tujuh bagian, gerakan Tan Ciok-sing berhasil dibendungnya sebentar, bentaknya.

"Anak bagus siapa kau? Kalau pemberani sebutkan namamu."

Tan Ciok-sing tertawa dingin, jengeknya.

"Kalau tidak kukatakan, mungkin kau mati takkan meram. Seorang laki-laki tak perlu takut menyebutkan namanya, aku bukan lain adalah duri dalam kulit daging kalian Tan Ciok-sing adanya. Hehehe, bukankah Liong Bun-kong menyuruhmu ke Kwi-lin untuk menghadapi aku? Sekarang aku datang kemari, tak usah tuan besar macam tampangmu ini susah payah mencari jejakku."

Keruan Ciang Thi-hu kaget, tanpa merasa bulu kuduknya berdiri, pikirnya.

"Ternyata bocah inilah murid penutup Thio Tan-hong, tak heran ilmu pedangnya begini liehay,"

Cepat sekali gerakan kedua pedang gabungan Tan dan In sudah merabu kembali Ciang Thi-hu terkurung didalam libatan cahaya pedang.

Ciang Thi-hu dipaksa mengerahkan seluruh kemampuannya, namun dia tetap bertahan saja tak mampu balas menyerang, diam-diam dia mengeluh, pikirnya.

"Kalau aku tidak nekad menguras hawa murni, mungkin aku bisa kecundang oleh pedang bocah-bocah keparat ini,"

Akan tetapi meski dia terkurung seperti binatang dalam perangkap, tapi kekuatan pukulannya masih kelihatan dahsyat dan mengejutkan, setiap kali pukulan dilontarkan, sayup-sayup terdengar gemuruh seperti guntur menggelegar di kejauhan, deru anginnya yang kencang seperti amukan angin lesus, dalam arena pertempuran seluas beberapa tombak, debu pasir beterbangan.

Lekas sekali beberapa busu sudah diundang datang oleh suara keributan disini, sekitar gedung berloteng dimana Liong Bun-kong tinggal telah dijaga ketat, tidak sedikit di antara para busu itu yang berkepandaian cukup lumayan, tapi mereka hanya mampu menonton tiga tombak diluar kalangan, berdiripun tak tegak, sering terdesak mundur sempoyongan.

Kilatan pedang menyambar simpang siur menyilau mata, deru angin pukulan juga laksana bunyi guntur yang memekak telinga.

Kalau bukan jago silat kelas tinggi, mana mampu menerjunkan diri kedalam arena?

Para busu itu lambat laun didesak mundur semakin jauh dari kalangan pertempuran, mereka hanya menyaksikan dengan pandangan mendelong dan kesima.

Tiba-tiba terdengar suara genta bertalu-talu ternyata dari tempat sembunyinya Liong Bun-kong memerintahkan seorang busu membunyikan genta tanda bahaya.

Maklum dia kuatir Ciang Thi-hu seorang diri bukan tandingan kawanan penyatron, maka diam-diam dia sudah melarikan diri melalui jalan rahasia di bawah tanah.

Tak lama kemudian, taman kembang yang luas ini sudah benderang disinari cahaya obor, bayangan orang tampak berlari berbondong-bondong mendatangi.

Sambil kertak gigi Tan Ciok-sing membentak.

"Bunuh dulu bangsat tua ini,"

Tibatiba Pek-hong-kiam menuding ke timur menusuk ke barat, sekaligus dia melancarkan tujuh jurus serangan mematikan.

Begitu mengembangkan Siang-kiam-hap-pik hati In San dan Tan Ciok-sing bersatu padu, pikiran sejalan gerakanpun serasi.

Begitu Tan Ciok-sing mempergencar serangan, serta merta In Sanpun segera mengimbangi.

Dalam sekejap mata lingkaran pertahanan Ciang Thi-hu ditekan sedemikian rupa menjadi semakin menciut.

Dalam keadaan terdesak ini Ciang Thi-hu sudah maklum, sebelum jago silat tangguh dari pengawal Liong Bun-kong datang tubuhnya pasti sudah dihiasi tusukan pedang kedua musuhnya ini.

Seperti serigala yang mengamuk dalam kepungan, bola mata Ciang Thi-hu sudah melotot membara, napasnya mendengus saperti banteng mengamuk, bentaknya.

"Bocah bagus, kau ingin membunuhku, memangnya segampang keinginanmu. Hem, rasakan keliehayan Gun-goan-it-cu-kang,"

Berbareng kedua telapak tangannya menari turun naik, membalik ke kiri memutar ke kanan.

Sekonyong-konyong segulung tenaga dahsyat terlontar keluar dari kibasan kedua telapak tangannya sedahsyat gugur gunung.

Perbawa Siang-kiam-hap-pik memang aneh, semakin dahsyat menghadapi serangan semakin hebat pula daya tahan dan perlawanannya, di kala menghadapi rangsangan hebat dari serangan Gun-goan-it-cu-kang Ciang Thi-hu ini, Siangkiam-hap-pik pun memperlihatkan perbawanya yang paling dahsyat.

Maka terdengarlah rentetan suara keras dan memekak, tampak sepasang lengan baju Ciang Thi-hu koyakkoyak beterbangan seperti kupu-kupu yang menari di tengah udara, sehingga kedua lengannya yang kurus legam kelihatan telanjang.

Pedang yang tajam memang tidak mampu melukai tubuhnya, tapi hawa pedang yang simpang siur menggencet dan mengoyak hancur lengan bajunya.

Dalam gebrak ini kedua pihak sama-sama mengerahkan puncak kekuatannya, bahwa keadaan Ciang Thi-hu kelihatan , serba mengenaskan, tapi In San sendiripun sedikit menderita oleh getaran angin pukulan lawan sehingga langkahnya sempoyongan.

Kebetulan ada beberapa busu berlari tiba, melihat kesempatan yang menguntungkan ini, mereka hendak menyerang In San dari belakang.

Tak nyana belum lagi In San turun tangan beberapa busu itu sudah sama roboh gedebukan sambil mengeluh kesakitan.

Ternyata pada gebrak terakhir ini Ciang Thi-hu sudah kerahkan sepuluh bagian kekuatan Gun-goan-it-cu-kang, perbawa Siang-kiam-hap-pik memang masih mampu menahannya.

Tapi beberapa busu yang masih rendah Kungfunya ini mana kuat menahan getaran dahsyat ini?

Seperti diketahui Gun-goan-ii-cu-kang yang diyakinkan Ciang Thi-hu baru saja berhasil dilatihnya sempurna, jikalau sekaligus sekarang dia harus kerahkan setaker kemampuannya, akibatnya pasti menguras habis hawa murni dan itu berarti luka dalam yang cukup parah.

Oleh karena inilah, dalam pertempuran tadi dia hanya menambah kekuatan setahap demi setahap, tak berani sekaligus mengerahkan kekuatannya sampai sembilan bagian tenaga sendiri.

Kini terpaksa Ciang Thi-hu lontarkan serangan sepenuh tenaga meski berhasil meloloskan diri dari kepungan cahaya pedang lawan, tapi dia sendiri juga sudah lemas lunglai kehabisan tenaga.

Lekas dia memutar tubuh membelakangi musuh.

"Huuuaaah"

Tanpa kuasa dia menyemburkan sekumur darah segar, tapi dia tidak berani memperlihatkan kepada Tan Cioksing bahwa dirinya sudah terluka.

Situasi semakin tidak menguntungkan, Tan Ciok-sing juga tak berani bertempur terlalu lama di sarang musuh, lekas dia memburu ke samping In San, katanya.

"Adik San, bagaimana kau?"

Sebelum dia memapahnya In San sudah dapat berdiri tegak pula, katanya lirih.

"Tidak apa-apa, sayang gelagat agaknya tidak bisa mengijinkan hari ini kita menuntut balas."

"Syukurlah kalau tidak apa-apa,"

Ujar Tan Ciok-sing.

"seorang laki-laki menuntut balas sepuluh tahun belum terlambat. Hayolah kita pergi."

Meski banyak jumlah busu dari keluarga Liong, mana mampu menahan atau merintangi mereka?

Apalagi beberapa busu sudah roboh dan menjadi contoh, mana mereka berani berkorban pula.

Pada hal mereka tidak tahu bahwa kawankawannya itu roboh karena Gun-goan-it-cu-kang yang dilancarkan Ciang Thi-hu, mereka menyangka kedua penyatron ini memiliki kepandaian tinggi semacam Can-ih-cappwe-tiat yang aneh, serta menakjubkan.

Di tengah teriakan para busu yang hanya berkaok-kaok tanpa bertindak ini, dengan leluasa Tan dan In berdua melesat terbang ke atas wuwungan terus lari meninggalkan gedung keluarga Liong.

Setelah jauh berada diluar, Tan Ciok-sing menoleh ke belakang, melihat musuh tidak mengejar baru legalah hatinya, katanya.

"Nona In mimpipun aku tidak menduga bahwa kau bisa berada disini."

In San menghela napas, katanya.

"Tan-toako aku justru yang tidak menyangka, di saat kritis, di waktu jiwaku terancam bahaya, mendadak kau muncul dari atas langit."

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Mana aku bisa membiarkan kau masuk ke sarang harimau seorang diri? Kalau kau sudah kemari, memangnya aku harus berpeluk tangan? "Semalam aku pernah mampir ke hotel dimana kau nginap untuk mencari kau, pemilik hotel mengatakan tiada tamu macam kau ini, ternyata dia ngapusi aku."

"Jangan kau salahkan dia, akulah yang suruh dia begitu, aku tidak tahu kalau kau bakal datang. Menurut perhitunganku semula, ingin menghilangkan jejak supaya orang-orang keluarga Liong tidak tahu akan kedatanganku."

"Aku tidak menyalahkan dia, tapi aku menyalahkan kau malah. Kalau kau tahu aku sudah datang, kenapa kau tidak mau menemui aku? Tahukah kau aku sengaja hendak mencarimu?"

"Justru karena itu, mimpi juga aku tidak sangka kalau kau yang datang."

"Ibu sudah tiada. Aku tahu kau pulang ke Kwi-lin hendak menuntut balas, musuhmu adalah musuhku juga, memangnya aku boleh berpeluk tangan membiarkan kau menempuh bahaya."

"Terima kasih akan perhatianmu, tapi aku tetap tidak duga kau bakal menyusulku."

"Kenapa tetap tidak menduga? Nasib kita sudah terjerat menjadi satu. Kau kira aku bisa berpeluk tangan menyaksikan usaha penuntutan balasanmu dan mengharap kau yang menuntut balas bagiku?"

"Bukan, bukan begitu maksudku..."

"Lalu apa maksudmu? Katakan."

Ruwet pikiran Tan Ciok-sing, tak tahu dengan alasan apa dia harus menjelaskan. Sementara itu mereka sudah mulai memasuki kota kecil.

"Mari kita ambil kuda kita dan segera meninggalkan kota ini. Nanti bicara saja di tengah jalan,"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

"Baik. Nanti kita bertemu di perjalanan. Tempatnya di gardu pinggir jalan diluar kota sana, siapa tiba lebih dulu dia harus menunggu. Tapi watakku kau sudah tahu, kau tadi berjanji hendak memberi penjelasan, jangan kira setelah kau mengulur waktu lantas anggap persoalan ini tiada begitu saja."

Fajar sudah hampir menyingsing, di ufuk timur cahaya mentari sudah mulai menongol dengan secercah cahayanya yang remang-remang, namun toko-toko dalam kota belum ada yang buka.

Setelah mengambil kudanya Tan Ciok-sing terus mengepraknya kencang, baru saja terang tanah dia sudah tiba di gardu diluar kota.

Ternyata In San sudah menunggunya disana.

"Nah katakan, kenapa kau bilang tidak menduga kalau aku sengaja mencarimu kemari?"

In San betul-betul menuruti adatnya, begitu bertemu lantas mengajukan pertanyaan ulang. Apa boleh buat, terpaksa Tan Ciok-sing melontarkan isi hatinya.

"Kukira kau pergi ke Tayli lebih dulu."

"Untuk apa aku ke Tayli?"

In San tahu maksud orang, tapi sengaja dia bertanya. Karena didesak sedemikian rupa, tak mungkin Tan Cioksing menghindar lagi, katanya kemudian.

"Bukankan Siauongya dari keluarga Toan dari Tayli menginginkan kau mengungsi kesana. Ibumu sudah meninggal, kukira..."

"O, kau kira setelah aku yatim piatu, tiada orang yang menjadi tulang punggungku, tidak punya rumah lagi, adalah pantas kalau aku mencari pelindung di rumah keluarga Toan begitu?"

"Bukan begitu maksudku. Keluarga kalian sudah turun temurun punya ikatan yang intim, Toan-toako juga sudah kangen padamu."

Tegak alis In San, katanya.

"Jadi dalam pandanganmu, aku ini perempuan yang tidak bisa melihat gelagat dan tidak punya martabat?"

"O, tidak, nona In, kau adalah pahlawan gagah kaum wanita, mana berani aku memandang rendah dirimu?"

"Kenapa kau punya kesan seburuk itu padaku? Memang Toan-toako baik terhadapku, kalau aku tidak punya kerja, setelah peperangan ini berakhir mungkin aku bisa kesana menengoknya. Tapi sekarang, jangan kata aku harus menuntut balas kematian ayah bunda, umpama tidak, aku juga takkan sudi pergi ke Tayli. Bukankah tenagaku lebih bermanfaat di markas besar Ciu-pepek yang memerlukan bantuan dan tenaga kaum muda seperti kita?"

Lama Tan Ciok-sing bungkam seribu basa, akhirnya dia tertawa menyengir.

"Aku memang lugu, mungkin aku salah omong, harap maaf dan jangan kau berkecil hati."

Tiba-tiba In San berkata'dengan suara lirih.

"Toan-toako baik terhadapku, tapi kau lebih baik lagi terhadapku. Aku menghargai Toan-toako, aku lebih menghormatimu. Jangan karena asal-usul kelahiranmu sebagai rakyat biasa lantas kau merasa rendah diri, memang Toan-toako, keturunan bangsawan, tapi ketahuilah didalam sanubariku, martabatmu kuanggap lebih tinggi dan lebih agung dari dia, kau tidak akan asor dibanding dia."

Pertama kali ini In San mencurahkan sikap dan isi hatinya, meskipun belum boleh dianggap sikap dan penuangan rasa cintanya, tapi hal ini sudah cukup membuat jantung Tan Cioksing berdetak dan jengah mukanya, tapi hatinya juga senang luar biasa.

Lama sekali baru Tan Ciok-sing angkat kepala dan berbicara.

"Nona In, terima kasih akan penghargaanmu terhadapku."

In San tersenyum, katanya.

"Tan-toako, kita senasib sepenanggungan, aku sudah memanggilmu Toako, kenapa kau masih begitu sungkan kepadaku? Anggaplah aku sebagai adikmu?"

"Adik San, semalam aku mencuri dengar diluar, tidak jelas kudengar seluruhnya, kalau tidak salah Liong Bun-kong pernah menyinggung Tam Pa-kun dengan Ciang Thi-hu?"

"Betul, Liong bangsat itu sudah tahu bahwa Tam Pa-kun pergi ke Kwi-Iin, dia menyuruh Ciang Thi-hu kesana untuk membekuknya."

"Adakah dia juga menyinggung It-cu-king-thian?"

"Agaknya tidak. Tapi, ya, ada suatu hal sekarang kuingat, sayang aku terburu nafsu turun tangan."

"Soal apa?"

"Liong bangsat itu menyerahkan secarik daNar kepada Ciang Thi-hu, didalam daftar itu tercantum nama-nama kawan dan lawan mereka yang ada di Kwi-lin."

"O, daftar itu amat berguna bagi kita. Kawan mereka adalah musuh kita, bila kita bisa merebut daftar itu, kita bisa berhati-hati dan sikat mereka satu persatu."

In San berkata.

"It-cu-king-thian adalah tokoh kenamaan di Kwi-lin, kukira nama It-cu-king-thian Lui Tin-gak pasti tercantum didalam daftar itu. Waktu itu Ciang Thi-hu sedang memeriksa daftar itu, sayang aku buru-buru turun tangan, kalau tidak mungkin dia bisa menyinggung It-cu-king-thian."

"Kalau Ciang Thi-hu sudah menerima tugas itu dari Liong bangsat, cepat atau lambat pasti akan mengikuti jejak kita mengejar ke Kwi-lin, semoga daftar itu tidak dibuang, kelak bila ketemu dia, masih ada kesempatan kita merebutnya,"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

"Setelah melontarkan serangannya terakhir semalam, agaknya Ciang Thi-hu kehabisan tenaga dan luka cukup parah, kalau dia berani datang ke Kwi-lin juga, dia pasti bukan tandinganmu."

Sunguh-sungguh sikap Tan Ciok-sing, katanya.

"Gun-koanit-cu-kang yang diyakinkan Ciang-Thi-hu tidak boleh diremehkan. Dengan taraf latihannya sekarang, meski lwekangnya menurun tiga bagian, aku tetap belum pasti dapat mengalahkan dia. Tapi bila kita tetap Siang-kiam-hap-pik, kurasa lain pula persoalannya."

Lirih suara In San.

"Lalu apa pula yang kau kualirkan, aku tidak akan berpisah dengan kau. Kapan saja, dimana saja Siang-kiam-hap-pik tetap boleh kita kembangkan."

Bukan kepalang rasa senang dan terhibur hati Tan Cioksing, tanpa merasa mulutnya menyeletuk.

"Setelah berhasil menuntut balas, apakah kau juga takkan berpisah denganku?"

Jengah muka In San, sahutnya.

"Ilmu pedangku masih kuharap petujukmu, kalau kau tidak mengusirku, aku akan tetap ikut padamu."

Kuda tunggangan mereka adalah kuda yang dapat menempuh ratusan li sehari, kira-kira 10 hari kemudian, mereka sudah mulai memasuki perbatasan Ouw-lan dan Khong-say, setelah berada di karisidenan Hing-an, berarti mereka sudah berada di propinsi Khong-say.

Tampak aliran sungai besar disini mulai bercabang dua, pemandangan nan permai dengan hawa nan sejuk.

Setelah menempuh perjalanan sekian hari, maka mereka turun di pinggir sungai, membiarkan kuda minum air dan makan rumput sepuasnya.

Tan Ciok-sing dan In San juga duduk di tanah berumput melepas lelah.

Dua hari lagi Tan Ciok-sing akan tiba di tempat kelahiran entah bagaimana perasaannya sekarang, senang, duka tapi juga lega, kalau dulu dia seorang diri meninggalkan kampung halaman, sekarang kembali berduaan, maka untuk melepas rasa rindu akan kampung halaman dan melimpahkan perasaan hati nan suka dan duka ini, dia memetik harpanya.

In San asyik mendengarkan sambil menunduk kepala, wajahnya tampak merah dan malu.

"Petikan harpa yang bagus,"

Tiba-tiba terdengar seorang memuji.

Waktu Tan Ciok-sing angkat kepala, dilihatnya dua ekor kuda dicongklang pesat di jalan raya ke arah sini.

Kedua penunggang kuda ini adalah Hwesio dan Tosu.

Hwesio itu yang berseru memuji.

In San bersuara heran, katanya lirih.

"Hwesio ini dapat menikmati keindahan petikan harpamu, kiranya dia juga seorang seniman."

Jarak masih cukup jauh, begitu mendengar irama harpa Tan Ciok-sing, kedua orang ini segera mengeprak kuda lebih pesat untuk mendengar lebih jelas dari jarak dekat. Terdengar Hwesio itu berseru pula.

"Anak muda, petikan harpamu amat bagus, coba petiklah sebuah lagu lagi."

Tapi si Tosu malah mengerutkan kening, katanya.

"Kita harus menempuh perjalanan. Kukira cukup kau menikmati sebuah lagu ini untuk dijadikan kenangan. Bukankah lebih baik?"

Hwesio itu tertawa, katanya.

"Kata-katamu ini mirip filsafat saja, Betul, anak muda ini belum tentu sudi memetikkan sebuah lagu lagi, hayolah lanjutkan perjalanan."

Sambil mencongklang kudanya si Hwesio agaknya masih menikmati irama harpa dengan asyiknya, malah di punggung kuda kaki tangannya menari berjingkrak-jingkrak.

Pada hal kuda itu sedang lari pesat di jalan pegunungan yang naik turun.

Mendadak tubuhnya itu mencelat mumbul seperti dilempar ke atas.

Karuan In San menjerit kaget, teriaknya.

"Aduh, celaka."

Dengan gaya burung dara jumpalitan si Hwesio dengan enteng meluncur turun dan duduk pula di punggung kuda. Katanya tertawa.

"Terima kasih akan perhatianmu nona, Toa Hwesio takkan bisa jatuh."

Tan Ciok-sing berdua berada di pinggir sungai, sementara mereka mencongklang kuda di jalan raya jarak di antara mereka ada satu li, tapi gelak tawa dan perkataan si Hwesio dapat didengar In San sejelas orang bicara berhadapan, malah terasa pekak telinganya, karuan In San kaget, pikirnya.

"Latihan lwekang Hwesio ini, mungkin tidak lebih asor dari Kim-to Cecu."

Tan Ciok-sing juga tertawa, katanya.

"Pandangan si Hwesio juga tajam, dia hanya lewat sambil lalu di jalan raya, ternyata selintas pandang lantas tahu kalau kau perempuan menyamar laki-laki."

Sayup-sayup mereka masih sempat mendengar si Tosu berkata dengan tertawa.

"Memangnya kau ini orang beribadat macam apa, orang beribadat macammu ini seharusnya lepas dari segala urusan duniawi, tapi kau justru terbius oleh irama harpa, bermulut besar menganggulkan diri takkan bisa jatuh lagi?"

Hwesio itu tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Memangnya aku ini Hwesio sontoloyo, doyan arak suka daging, siapa bilang aku ini Hwesio agung yang tulen?"

Lekas sekali bayangan merekapun sudah tidak kelihatan lagi. Tan Ciok-sing berkata.

"Hwesio dan Tosu ini agaknya tokoh-tokoh yang punya bobot, kalau Hwesio itu mau menunggu beberapa lama, aku sih sudi memetikkan sebuah lagu untuk dia."

In San berkata.

"Bukankah kau dengar mereka harus memburu waktu untuk menyelesaikan urusan penting? Sudah cukup kita beristirahat, sudah saatnya kita berangkat."

Setelah berada di punggung kuda lambat-lambat mereka congklang kudanya ke arah depan, belum jauh mereka menempuh perjalanan, tiba-tiba dilihatnya dua ekor kuda dicongklang cepat mendatangi dari depan.

Kedua penunggangnya gendut kurus, yang gendut tinggi lima kaki, perawakannya tambun seperti semangka.

Yang kurus, tingginya ada tujuh kaki lebih, kepala kecil leher panjang, tubuhnya mirip genter.

Melihat pasangan manusia yang lucu dan menggelikan ini tanpa terasa mereka tertawa geli.

Si gendut segera berkata.

"Apa yang kau tawakan, geli karena aku segendut ini?"

"Karena geli aku tertawa, tiada sangkut pautnya dengan kau,"

Sahut In San.

"Hm. kau bohong."

"Kak gendut, hayolah tak usah cari perkara,"

Tukas si kurus. Si gendut tiba-tiba berkata.

"Kuda mereka jauh lebih baik dari tunggangan kita, waduh, kuda yang begitu jempol, belum pernah aku melihat kuda sebagus ini."

Cepat sekali kedua kuda itu mendatangi dan kedua pihak sudah saling berhadapan, diam-diam Tan Ciok-sing bersiaga, betul juga begitu jarak kedua pihak semakin dekat, di kala kedua penunggang kuda itu hampir melewati mereka, si gendut mendadak mengulur tangan hendak merintangi lari kuda Tan Ciok-sing.

Begitu kepala kuda tunggangan Tan Cioksing tertekan, seketika dia meringkik dan berdiri dengan kaki belakangnya, Namun dengan sigap Tan Ciok-sing sudah memukul dengan daya dorongan yang kuat, serunya.

"Apa kehendakmu?"

"Tidak apa-apa,"

Seru si gendut tertawa tergelak-gelak.

"ingin aku mencoba kekuatan daya terjangan kudamu,"

Di tengah gelak tawanya, kudanya itu sudah mencongklang pergi. Si kurus tetap berada di sampingnya, omelnya.

"Kak gendut, kenapa selalu kau mengumbar tabiatmu yang jelek ini, suka mencari gara-gara. Memangnya kau lupa kita sedang menunaikan tugas penting."

Si gendut tertawa, katanya.

"Tenaga pukulan bocah itu memang hebat, sayang kita sedang bertugas, kalau tidak ingin aku berkenalan dan bersahabat dengan mereka,"

Lekas sekali merekapun telah pergi jauh. Diam-diam In San melelet lidah, katanya.

"Besar sekali tenaga orang itu, dengan sekali tekanan di punggung kuda, dia mampu menahan daya lari seekor kuda. Tan-toako, kau tidak apa-apa bukan?"

Telapak tangan Tan Ciok-sing masih kesemutan dan linu, katanya.

"Tidak apa. Tapi kalau mengadu tenaga pukulan, jelas aku bukan tandingannya. Tapi permainan tenaga dalam orang ini ternyata sudah terkendali baik sekali, bisa bekerja sesuai keinginan hati."

"Darimana kau bisa tahu, kulihat tubuhnya juga tergeliat di punggung kuda."

"Telapak tangannya menekan kuda, sehingga kuda yang lagi lari berhasil ditekannya berhenti, tapi kudaku ini sedikitpun tidak terluka, kepandaian semacam ini jelas tidak mampu kulakukan."

In San sekarang juga cukup berpengalaman, diam-diam diapun kaget, katanya.

"Sungguh aneh dan janggal, dalam jangka waktu belum ada sejam, beruntun kita bersua empat jagoan silat kosen."

Dengan rasa ragu dan curiga mereka terus melanjutkan perjalanan ke depan.

Beberapa kejap lagi, terdengar ringkik kuda di kejauhan sana, tampak dua ekor kuda lari mendatangi pula penunggang kudanya juga orang-orang aneh yang menimbulkan rasa heran dan kaget.

Dikatakan "aneh"

Bukan lantaran tampang kedua orang ini terlalu istimewa, tapi adalah dandanan mereka.

Kedua orang ini mengenakan pakaian rombeng, seorang memanggul kampak, seorang lagi membawa kepis yang terikat di pinggang, tangannya memegang joran, joran di tangannya sering digunakan sebagai pecut.

Kalau kedua orang ini tidak menunggang kuda umumnya orang akan mengira mereka adalah tukang kayu dan pencari ikan yang pulang dari gunung dan sungai.

Selintas pandang orang juga akan tahu bahwa kuda tunggangan mereka pilihan, malah pelananya tampak mewah dan tersulam indah sekali, jelas penebang kayu dan pengail ikan biasa takkan mungkin memilikinya.

Bahwa tukang penebang kayu dan seorang pengail menaiki kuda jempolan lagi, bukankah ini agak janggal dan aneh.

Setelah agak dekat dan melihat jelas mereka, pengail ikan itu bersuara heran dan kaget, katanya.

"kuda yang bagus dan gagah, penunggangnyapun lebih tampan lagi,"

Serta merta matanya melirik ke arah In San, kembali mulutnya bersuara aneh, katanya seperti untuk didengar sendiri.

"Kulihat bocah ini agak janggal,"

Agaknya dia juga melihat penyamaran In San, tahu bahwa dia adalah anak perempuan. Diam-diam In San menggerutu dan mengumpat dalam hati.

"Memangnya kau sendiri yang janggal,"

Baru saja dia pernah merasakan pelajaran dari pengalaman yang terdahulu, maka kali ini dia tidak berani banyak usil. Tapi jawaban penebang kayu justru merupakan jawaban dalam hati In San juga.

"Dalam pandangan orang lain, kau dan aku justru dipandangnya sebagai mahluk aneh. Kenapa kau peduli mereka itu gagah, tampan atau buruk rupa, hayolah."

"Kau tidak usah kuatir,"

Ucap pengail.

"aku tidak akan seperti Bui samko (kak gendut ketiga) yang suka mencari perkara itu."

Diam-diam Tan Ciok-sing membatin.

"Kiranya mereka serombongan dengan kedua orang gendut dan kurus yang jalan duluan tadi,"

Walau pengail ini sudah berkata tidak akan mencari gara-gara tapi Tan Ciok-sing berlaku waspada.

Cepat sekali kedua pihak sudah mendatangi semakin dekat, celakanya Tan dan In berdua kebetulan tiba di jalan pegunungan yang sempit, hanya cukup tiba untuk jalan seekor kuda.

Baru saja Tan Ciok-sing hendak menyingkir ke gundukan tanah yang lebih tinggi, kedua penunggang kuda ini sudah mencongklang datang lebih dulu.

Agaknya mereka juga punya maksud yang sama, kuatir saling bertumbukan dengan Tan Ciok-sing berdua.

Tan Ciok-sing menghela napas lega, tapi waktu dia memandang ke depan, diam-diam dia merasa kuatir bagi kedua orang itu.

Di lereng bukit di sepanjang jalan sempit itu tumbuh deretan pohon pendek yang rimbun dan dahannya bercabang simpang siur, seakan-akan banyak lengan orang sengaja diulur keluar untuk merintangi jalan orang, jelas peluang untuk lewat amat sempit.

Dalam keadaan seperti ini, jalan kaki masih leluasa lewat, tapi menunggang kuda salah-salah bisa terjungkel jatuh karena kesabet dahan, paling ringan muka cecel dowel, celaka kalau leher putus atau kepala bocor, maka cara yang paling baik adalah turun dari punggung kuda, menyibak dahan-dahan pohon serta menuntun kuda, Tapi kedua penunggang kuda ini bukan saja mencongklang kudanya, merekapun tidak mau turun.

Di kala Tan Ciok-sing merasa kuatir, tiba-tiba dilihatnya penebang kayu mengayun kampak yang dipanggulnya, angin menderu kampak bekerja laksana baling-baling, sementara sang kuda masih terus membedal kencang.

Dahan-dahan pohon yang melintang jalan tampak protol beterbangan, setelah kudanya mencongklang lewat baru dahan-dahan yang terbabat beterbangan itu berhamburan jatuh, karuan Tan Ciok-sing melongo menyaksikan pertunjukan yang menakjubkan ini.

Kalau penebang kayu membuka jalan dengan caranya yang lucu secara kekerasan ini, adalah pengail ikan juga menggunakan caranya pula yang aneh.

Terdengar mulutnya mengeluh terus berteriak.

"Aku berada di belakangmu, kutungan dahan yang berhamburan ini, memangnya sengaja kau ingin kepalaku bocor?"

Mendadak tubuhnya melejit jumpalitan di atas punggung kuda, joran di tangannya yang panjang itu mendempel sebatang pohon setinggi beberapa tombak, tubuhnya segera terayun seperti pemain akrobatik bermain ayunan, secara beruntun dia berjumpalitan turun naik ke depan, lekas sekali tubuhnya sudah melesat ke depan melampaui daerah yang berbahaya ini, sementara kudanya tetap mencongklang ke depan.

Begitu dia menarik jorannya, di tengah udara dia jumpalitan sekali lagi lalu melayang turun dan duduk tegak pula di punggung kudanya.

In San berkata lirih.

"Joran itu adalah senjatanya yang ternama, benang pancingnya itu entah terbuat dari apa, punya daya tahan sekuat itu."

"Kau tahu siapa mereka?"

Tanya Ciok-sing.

"Entah,"

Sahut In San.

"tapi waktu kecil pernah aku mendengar cerita ayah. Di pinggir sungai Wi-cui terdapat seorang pengail dan penebang kayu, mereka adalah tokoh pengasingan dari bulim, ayah juga tidak tahu siapa nama mereka, mungkin kedua orang inilah."

"Wi-cui berada di Kam-siok yang mengalir masuk ke Siamsay. Kalau mereka tinggal di pinggir Wi-cui, kalau penduduk Kam-siok pasti kelahiran Siam-say. Untuk apa mereka berada di tempat nan jauh ini?"

In San tertawa, katanya.

"Mana aku bisa tahu Tapi satu hal dapat kuduga."

"Hal apa?"

"Kira kira sebelum dua jam lagi, di tengah jalan nanti kita bakal ketemu dua orang kosen pula?"

"Lho, dari mana kau bisa tahu?"

"Kena tidak tebakanku, biarlah sebentar lagi kita buktikan, tunggu saja."

Tan Ciok-sing setengah percaya, tapi hatinya masih raguragu, mereka terus melanjutkan perjalanan ke depan.

Betul juga belum ada setengah jam, dari depan tampak mendatangi pula dua penunggang kuda.

Penunggangnya adalah laki perempuan, usianya masih muda baru dua puluhan.

Pakaian perlente kudapun jempolan, yang laki-laki gagah dan tampan, yang perempuan ayu jelita.

Diam-diam Tan Ciok-sing memuji dalam hati.

Kalau Tan Ciok-sing memperhatikan mereka, merekapun memperha-tikan Tan Ciok-sing.

Waktu itu mereka sama berjalan di jalan raya, kuda kedua pihak juga dilarikan sesuka hati.

Setelah jarak semakin dekat, kedua muda mudi tampak memperlambat lari kudanya, setelah lewat di samping mereka ternyata tidak menunjukkan aksi apa-apa.

Kira-kira dalam jarak sepanahan kemudian, terdengar lakilaki itu berkata lirih.

"Harpa yang dipanggul pemuda itu kemungkinan adalah barang antik."

Tergerak hati Tan Ciok-sing, lekas dia tarik kendali memperlambat jalan kudanya, diam-diam dia pasang kuping mendengarkan percakapan mereka.

Setelah meyakinkan lwekang ajaran Thio tan hong pendengaran kupingnya tajam luar biasa, dalam jarak seratus tangkah, meski orang bicara bisik-bisik juga sayup-sayup dapat didengarnya.

Pada hal jarak kedua pihak sekarang belum ada seratus langkah.

"Darimana kau tahu?"

Tanya yang perempuan. Yang lelaki berkata.

"Kotak itu terbuat dari kayu cendana yang sudah berusia ribuan tahun, warnanya memang sudah butut dan luntur, bagi yang tidak tahu mungkin disangka kayu busuk, bagi pecinta seni baru akan tahu bahwa kotak itu betul-betul antik dan tak ternilai harganya. Coba kau pikir, kalau kotaknya saja sebagus itu maka harpa di dalamnya pasti lebih antik lagi. Jikalau rekaanku tidak meleset, kemungkinan yang berada didalam kotak itu adalah Kiau-bwe-khim peninggalan Coa Pah di jaman dynasti Tang-han dulu."

Harpa warisan keluarga Tan Ciok-sing ini memang Kiaubwe-khim, demikian pula kotak itu memang terbuat dari kayu cendana yang sudah ribuan tahun.

"Pemuda ini ternyata pandai menilai barang, seorang ahli barang-barang antik,"

Diam-diam Tan Ciok-sing membatin. Perempuan itu tertawa, katanya.

"Aku tahu maksudmu, bukankah kau ingin mendengar suara petikan harpa antik ini? Sayang kita harus menempuh perjalanan."

"Memang,"

Ujar si pemuda.

"orang yang bisa memiliki harpa sebagus itu, pasti dia bukan orang sembarangan, sayang kita sedang bertugas, tiada kesempatan berkenalan dengan dia."

Sampai disini jarak mereka sudah lebih dari seratus langkah, pembicaraan selanjutnya sudah tidak terdengar lagi.

Maka terdengarlah alunan tiupan suara seruling dari kejauhan, suaranya yang melengking tajam laksana pekik bangau di angkasa raya, lembut dan jernih laksana bergema di udara.

Bayangan kedua orang itu sudah tidak kelihatan, tapi mereka masih mendengar alunan seruling nan merdu.

Dapatlah diduga, karena mereka bicara soal harpa antik, maka timbul hasrat si pemuda meniup serulingnya, mungkin juga karena atas permintaan gadis seperjalanan itu.

"Tiupan seruling pemuda itu bagus bukan?"

Ucap In San.

"Bagus sekali. Pengetahuannya mengenai harpa, kurasa belum pernah kutemui seorang ahli seperti dia."

"Belajar harpa lebih sukar dari seruling, mungkin dia tidak berhasil belajar harpa lalu belajar meniup seruling. Sayang masing-masing pihak punya urusan sendiri, kalau tidak harpa dan seruling kalian dapat berpadu."

"Pengetahuan pemuda itu mengenai harpa cukup mengejutkanku, tapi kaupun mengejutkan aku pula. Adik San dari mana kau pernah belajar meramal?"

"Kedua orang itu terhitung jago kosen tidak?"

Tanya ln San.

"Jago kosen itu luas artinya, beragam pula macamnya, walau aku tidak tahu berapa tinggi rendah Kungfu kedua orang ini, tapi aku yakin mereka memiliki kepandaian yang cukup baik. Tapi lepas dari soal Kungfu, bahwa pemuda itu selayang pandang saja lantas mengenali Kiau-bwe-khim milikku ini dia sudah termasuk kosen dalam bidang ini. Adik San, kenapa setengah jam sebelumnya tadi kau sudah lantas dapat menduga bahwa kita bakal bertemu lagi dengan kedua orang kosen ini?"

"Apakah kau tahu adanya peradatan yang dinamakan Patsian-ing-khek?"

"Maaf pengetahuanku tentang peradatan terlalu cetek, apa itu Pat-sian-ing-khek?"

"Itulah suatu upacara besar yang agung dan terhormat bagi penyambutan seorang tamu yang sering terjadi di kalangan Kangouw. Tuan rumahnya kalau bukan Ketua dari suatu Pay, Pang atau Hwe, pasti seorang angkatan tua yang tersohor dan mulia. Tapi pamor sang tamu yang diundang adalah lebih terhormat dan kedudukannya lebih tinggi dari tuan rumah sendiri. Peradatan seperti ini kadang kala dinamakan Pat-sian-sau-ing sam-pek-li (delapan dewa menyambut tamu tiga ratus li)."

Tan Ciok-sing manggut, katanya.

"O, jadi delapan jago kosen yang pernah kita pergoki tadi kiranya adalah delapan dewa yang diartikan dalam peradatan Pat-sian-ing-khek ini? Entah mereka mewakili tokoh besar mana untuk menyambut tamu agung ini?"

"Betul, delapan orang ini adalah petugas yang. menyambut tamu agung itu. Menurut peraturan mereka terbagi empat pasang dari tempat jauh untuk menyambut tamu. Kita sudah bertemu enam orang, kuduga masih ada dua lagi di belakang."

Diam-diam Tan Ciok-sing kaget, katanya.

"Delapan orang ini semua adalah jago-jago kosen, lalu siapakah tuan rumahnya, begini banyak jago kosen yang rela menjadi pembantunya?"

"Kau salah. Delapan orang ini belum tentu pasti anak buah sang tuan rumah itu, apalagi kau artikan ditugaskan, itu tidak benar."

"Memangnya apa hubungan mereka dengan si tuan rumah?"

"Kemungkinan merekapun para tamu yang datang, demi menunjukkan rasa hormat dan mau memberi muka kepada si tuan rumah dan tamu yang harus disambut itu, maka mereka suka rela menampilkan diri sebagai penyambut tamu."

"Adik San, banyak juga urusan yang kau ketahui,"

Puji Tan Ciok-sing.

"Bukan aku yang tahu banyak, semua ini kudengar dari cerita ayah. Dulu waktu aku berusia tiga tahun, di rumahku pernah juga terjadi keramaian adanya peradatan Pat-sian-ingkhek (delapan dewa menyambut tamu) ini. Tahun itu kakek merayakan ulang tahunnya yang ke 61, murid tertua Thio Tayhiap Thio Tan-hong yaitu cikal bakal Thian-san-pay Toh Thian-tok juga datang, Kim-to Cecu juga pernah mewakili ayah menjadi salah satu dari delapan dewa itu menyambut kedatangannya. Sayang, waktu itu aku masih kecil, tahunya hanya suka melihat keramaian. Lika liku sebenarnya dari tata cara itu baru kuketahui dari cerita ayah setelah aku menanjak dewasa,"

Sampai disini mendadak dia cekikikan. Tan Ciok-sing melongo, tanyanya.

"Adik San, apa yang kau tertawakan?"

"Thio Tayhiap adalah famili yang lebih tua dua angkatan dari aku, kau adalah muridnya, jadi kau lebih tinggi seangkatan dari aku. Ciangbunjin Thian-san-pay Toh Thian-tok adalah Suhengmu. Kalau dahulu untuk menyambut kedatangan Toh Thian-tok, keluargaku menggunakan upacara Pat-sian-ing-khek, pada hal kau adalah Sutenya, kedudukan setingkat, sayang sekali waktu kau datang ke rumahku, waktunya tidak tepat, bukan saja tiada yang menyambutmu, malah hampir saja kau dihajar habis-habisan."

Tan Ciok-sing tertawa geli, katanya.

"Masa aku dibanding Toh-suheng? Aku adalah murid penutup Suhu, jauh sebelum aku berguru Toh-suheng sudah menjadi cikal bakal dari suatu perguruan besar."

"Untung peraturan Kangouw memang cukup bebas dan menurut kondisi masing-masing, kalau tidak..."

"Kalau tidak kenapa?"

Merah muka.In San, tapi dia tidak mau bicara lagi. Ternyata dia berpikir begini.

"Kalau harus menurut adat dan perbedaan angkatan, selanjutnya aku takkan boleh bergaul lagi dengan kau."

Tan Ciok-sing juga tidak mendesak lebih lanjut, dia diam saja sambil menunduk, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

"Eh, apa yang sedang kau pikirkan?"

Tanya In San.

"Tadi kau bilang delapan dewa menyambut tamu tiga ratus li? Dari Kwi-lin sampai Ling-kik kira-kira dua ratus li, bila diteruskan memasuki daerah Ouw-lam, kira-kira memang mencapai tiga ratusan li."

"O, jadi maksudmu mau bilang bahwa si tuan rumah itu kemungkinan bertempat tinggal di Kwi-lin?"

"Aku hanya menduga saja. Tapi tokoh besar di Kwi-lin yang setimpal menggunakan peradatan Pat-sian-ing-khek hanya Itcu-king-thian Lui Ting-gak saja."

"Aku tahu maksudmu. Dahulu Lui Tin-gak membakar rumah lalu tinggal pergi, pasti ada sebabnya. Kini berita tersebar luas bahwa dia akan kembali, tapi kuduga kedatangannya kembali ke rumah ini pasti tidak ingin disiarkan. Kalau tidak buat apa dahulu dia harus menghilang secara misterius?"

"Maka itu, mau tidak mau aku jadi curiga siapakah si tuan rumah ini, sungguh aku tidak habis mengerti."

"Besok juga kita tiba di Kwi-lin, teka teki ini pasti terjawab disana."

Dirundung berbagai pertanyaan itu kedua orang ini melanjutkan perjalanan, memang setelah kejadian Pat-sian ini, selanjutnya mereka tidak pernah bertemu dengan "jago kosen"

Lagi.

Kuda mereka lari kencang, kira-kira menjelang lohor hari kedua, kota Kwi-lin yang megah dan paling tersohor di bilangan selatan ini sudah kelihatan di kejauhan.

Sebelum matahari terbenam mereka sudah tiba di Kwi-lin.

Kata Tan Ciok-sing.

"Kita cari penginapan diluar pintu timur bagaimana? Rumahku dulu terletak di bawah Cit-sing-giam diluar pintu timur itu."

"Kau tidak usah tanya aku, kembali ke kota kelahiranmu, kau adalah tuan rumah, segalanya terserah kau yang mengatur."

Tan Ciok-sing menemukan sebuah hotel kecil yang terletak di samping Hoa-kio diluar pintu timur, empat tahun yang lalu, setiap hari Tan Ciok-sing pasti lewat di depan hotel ini memanggul kepis, dia masih kenal baik pemilik hotel ini, tapi dia sudah tidak mengenalnya lagi, maklum dulu dia hanyalah bocah kampung yang kecil dan berpakaian rombeng, sudah tentu pemilik hotel ini tak pernah memperhatikan dirinya.

Dengan berseri tawa pemilik hotel ini menyambut kedatangan mereka, In San minta dua kamar yang berdampingan.

Setelah makan malam, haripun sudah petang.

Tan Cioksing ajak In San jalan-jalan ke Hoa-kio (jembatan kembang) terus menuju ke Po-tho-san.

Cit-sing-giam terletak di kaki Potho-san.

Sementara rumah tinggalnya dulu berada di bawah Cit-sing-giam.

Setiba di letak rumahnya dulu, tampak puing-puing rumahnya sudah tak karuan, rumput liar menjadikan halaman rumahnya semak-semak belukar.

Menghadapi puing-puing rumahnya, terbayang dahulu kakeknya mengajarkan memetik harpa, tanpa terasa hati duka nestapa, tanpa kuasa air mata bercucuran.

Dengan pilu In San berkata lirih.

"Rumahmu hancur, rumahkupun berantakan. Tapi kita masih bisa membangun lagi sebuah rumah, aku amat suka tempat ini, kelak kita bisa mendirikan pula sebuah rumah di tempat yang lama ini."

Berdebur jantung Tan Ciok-sing, katanya.

"Apa betul kau punya keinginan itu?"

In San manggut-manggut.

"Baiklah kalau begitu,"

Teriak Tan Ciok-sing tertawa.

"Adik San, banyak terima kasih padamu?"

"Terima kasih apa?"

"Terima kasih bahwa kau sudi membangun sebuah rumah pula bersamaku."

Merah muka In San selanjutnya dia bungkam.

"Patah tumbuh hilang berganti, yang lama rusak baru akan diganti yang baru, tak perlu kita terlalu berkeluh kesah di tempat ini."

Baru saja dia hendak ajak pergi, tiba-tiba In San berkata.

"Eh, tempat aku berdiri ini, kenapa tanahnya terasa lunak."

Waktu Tan Ciok-sing menyingkirkan pecahan genteng dan sisa kayu terbakar, tampak disitu, ada bekas-bekas galian.

Setelah diperiksa dengan teliti, bekas-bekas galian itu ternyata ada beberapa tempat.

Sejenak Tan Ciok-sing menepekur, katanya.

"Agaknya dalam dua tiga hari yang lalu, ada orang pernah datang kemari."

Waktu In San membongkar tanah bekas galian, di dalamnya ternyata memang berlobang, agaknya setelah menggali tanah orang itu hanya menguruknya dengan pecahan genteng dan sisa-sisa tanah di sekitarnya, supaya kelihatan tertutup saja, hatinya heran, katanya.

"Orang itu menggali tanah di bekas puing-puing ini apa sih kerjanya?"

Sesaat pula Tan Ciok-sing berpikir, katanya kemudian.

"Jelas dia sedang mencari kotak milik ayahmu itu, didalam kotak itu tersimpan ajaran ilmu goloknya dan Kiam-boh karya Suhuku."

"Buku pelajaran ilmu golok itukan sudah kau kembalikan kepadaku."

"Tapi orang itu tidak tahu."

"Kalau begitu dia bukan utusan bangsat she Liong itu? keponakan keparat she Liong itu pernah merebut kotak itu, dia kan tahu akan hal ini."

"Betul, kemungkinan rombongan orang lain. Kemungkinan mereka tidak tahu bahwa rumah ini aku sendiri yang membakarnya. Mereka kira aku ikut mati terbakar didalam rumah."

"Kalau demikian, aku yakin mereka pasti akan datang pula. Karena mereka hanya menggali beberapa tempat ini, belum lagi membongkar puing-puing didalam rumah itu."

"Marilah kita pergi ke pusara ayahmu dan kakekku, setelah kita memindahkan tulang belulang beliau, nanti kentongan ketiga kita kemari lagi."

Tan Ciok-sing sudah siapkan dua guci ukuran sedang untuk tempat abu.

"Betul, setelah selesai mengerjakan urusan ini, kembali dulu ke hotel. Kentongan ketiga nanti diam-diam kita kemari dan menunggu disini. Aku ingin tahu siapa mereka."

Hari sudah semakin gelap.

Tan Ciok-sing mempercepat langkah membawa In San ke belakang gunung, di suatu tempat yang sepi dan sembunyi, sekelilingnya adalah batu karang yang berserakan, kebetulan di tengah-tengah lingkaran batu-batu karang ini terdapat sebidang tanah datar dan kosong, hanya Ciok-sing saja yang tahu akan tempat ini.

Kata Tan Ciok-sing.

"Malam itu secara tergesa-gesa aku mengebumikan kakek dan ayahmu di tempat ini, tak lama kemudian lantas kudengar Tam Tayhiap dikejar oleh kawanan berandal."

Hati sedih air matapun bercucuran, In San berkata.

"Kematian ayah terlalu mengenaskan, tapi aku tidak tahu. Baru sekarang aku dapat kemari bersembahyang. Tan-toako, banyak terima kasih padamu. Lebih menyedihkan lagi kakekmu ikut ajal karenanya."

"Jenazah mereka kukebumikan di satu tempat, tapi aku ada memberi tanda, takkan bisa keliru, lalu dia memasuki sela-sela batu, lompat sana putar sini turun naik sekian lamanya, sembari jalan dia memberi petunjuk kepada In San, tak lama kemudian merekapun tiba di tempat tujuan. Begitu tiba di tanah lapang, pandangan kedua orang seketika sama terkesima. Hari memang sudah petang, tapi mentari yang terbenam masih memancarkan sisa cahayanya, maka jelas sekali kelihatan di tanah lapang ini terdapat dua gundukan tanah sebagai kuburan. Tan Ciok-sing hampir tidak percaya pada apa yang disaksikan ini, lekas dia memburu maju serta melihat lebih jelas, ternyata betul kedua kuburan ini memang adalah pusara kakeknya dan ayah In San. Kedua pusara ini dibangun dan dipelihara baik sekali, di depannya malah dipasang batu nisan lagi, batu nisan di sebelah kiri bertuliskan "Pusara pendekar besar In Hou"

Sementara batu nisan sebelah kanan berukir huruf-huruf "Pusara ahli harpa Tan Hou-lu."

Malam itu Tan Ciok-sing mengebumikan jenazah kedua orang secara sederhana tanpa layon pula, karena tergesagesa dia hanya memberi tanda tertentu saja terus melarikan diri.

Tanda yang dibuat dulu sudah tiada, tapi kuburan disini telah dibangun sebaik ini.

"Siapakah yang berhati sebaik ini, sudi membangun pusara ini? Memangnya aku sedang mimpi?"

Waktu dia gigit jari rasanya sakit, jelas ini bukan mimpi. In San bertanya dengan suara lirih.

"Nama Tan Hou-lu yang terukir di atas nisan itu, apakah kakekmu?"

"Ya, kakek menamakan dirinya Khim-ang (Ki Harpa), tapi orang lain memanggilnya Sian-khim (Dewa Harpa) tapi nama aslinya adalah Hou-lu. Nama ini dipakai di waktu masih muda, jarang yang tahu akan nama ini. Akupun tidak diberi tahu. Suatu hari aku membalik buku pelajaran memetik harpa karya kakek, kulihat di atas buku ada tertera cap namanya, setelah kutanyakan baru aku tahu itulah nama aslinya yang sudah lama tak terpakai."

"Kalau demikian, orang yang membangun pusara ini pasti adalah kawan dekat kakekmu."

"Betul, kalau tidak bisa tahu nama asli kakekku."

"Lalu siapa gerangan orang itu menurut rekaanmu?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu kakek punya seorang kenalan lama bernama Khu Ti. Khu Thi ini dulu pernah sekolega bersama kakekmu didalam pasukan Gi-Iim-kun."

"Aku juga tahu akan orang ini, ayah pernah bicara tentang dia kepadaku. Tapi dia sudah lama menghilang dari kalangan Kangouw."

Tan Ciok-sing lantas ceritakan pertemuannya dengan Khu Ti di kedai minum serta pertolongan orang akan dirinya waktu dikeroyok Huwan bersaudara.

Sebetulnya dalam benaknya sudah membayangkan seseorang, tapi orang ini sejauh ini masih merupakan tanda tanya bagi sanubarinya, entah dia kawan atau lawan, karena itu hal ini tidak ingin dia bicarakan dengan In San.

In San berkata.

"Semula aku sudah ingin memindah tulang belulang ayah kembali ke kampung halaman, tapi rumahku di Tay-tong terbakar habis, syukur ada orang yang baik hati membangunkan pusara ini, biarlah beliau selanjutnya beristirahat selamanya disini saja. Tan-toako, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Semasa -hidup kakek senang tinggal di tempat ini, aku kembali hanya ingin memperbaiki pusaranya ini dan sembahyang saja. Lebih baik kalau kita tidak usah bcrsusah payah lagi."

"Sayang kita tidak tahu siapa orang itu, sukar kita menyampaikan terima kasih padanya, hal ini biar kita tunda dulu untuk membalas kebaikannya,"

Teringat ayah bunda sudah tiada, tanpa kuasa In San berlutut dan menyembah di depan pusara ayahnya serta menangis gerung-gerung.

"Ayah, ada satu hal perlu kuberitahu kepadamu, ibu sudah insaf dan mengakui kesalahannya dan kembali ke rumah keluarga In kita. Dia meninggal dalam pelukan putrimu, sayang jaraknya jauh, maka penguburan bersama kemari biar kutunda untuk beberapa lama lagi. Tapi ayah, inilah kejadian yang menimbulkan penyesalan paling besar di masa hidupmu, kini segalanya sudah kujelaskan, semoga di alam baka hatimu terhibur dan tentram,"

Begitulah sambil terisak-isak In San memanjatkan doa kepada ayahnya.

Tan Ciok-sing tidak menangis, tapi rasa duka takkan terlampias meski dia menangis gerung-gerung.

Dia berlutut di depan pusara kakeknya lalu harpa warisan dia keluarkan katanya.

"Kek, sebelum mangkat, engkau mengajarkan Khong-ling-san kepadaku, sekarang biarlah kupetik lagu itu untuk kau dengar."

Waktu itu hari sudah betul-betul petang, kaum pelancongan jelas sudah sama-sama pulang tak mungkin ada orang masih berada di sekitar situ.

Maka Tan Ciok-sing tidak perlu kuatir bila petikan harpanya didengar orang, setelah menyetem senarnya, mulailah dia memetik lagu Khong-lingsan.

Lagu bagian depan dari Khong-ling-san adalah irama yang riang gembira, perasaan Tan Ciok-sing diliputi rasa kenangan di masa kecilnya yang hidup senang, maka pantulan irama harpanya seperti menggambarkan makna kebahagiaan keluarga, seolah-olah sekeluarga berkumpul menari menyanyi dengan suka ria sambil bertepuk dan bersorak.

In San yang masih sesenggukan tanpa terasa menyeka air mata serta mendengarkan dengan seksama.

Di kala dia mendengarkan dengan penuh perhatian, di kala irama Khong-ling-san hampir berganti nada, mendadak terdengar suara "Crang creng"

Dari petikan senar gitar yang menusuk pendengaran, sehingga ritme-ritme Khong-ling-san yang dibawakan oleh petikan harpa Tan Ciok-sing menjadi kacau.

Keruan Tan Ciok-sing kaget, segera dia menghentikan mainannya.

Terdengar suara seorang yang seperti dikenalnya berkata.

"Eh mungkin Tan Khim-ang belum mati. Kecuali Ki Harpa itu siapa pula yang bisa memetik harpa sebagus ini?"

Seorang lagi berkata.

"Para saudara Tok-liong-pang ada yang menyaksikan sendiri kematian Khim-ang, hal ini jelas takkan salah,"

Suara orang ini juga seperti pernah didengarnya entah dimana. Orang ketiga malah membentak.

"Siapa memetik harpa disini, hayo lekas keluar,"

Suaranya juga seperti sudah dikenal.

Ternyata dihadapan mereka hanya tampak batu-batu gunung yang berserakan serta berlapis-lapis, hakikatnya mereka tidak tahu bila di antara sela-sela batu yang berserakan itu ada jalanan yang bisa tembus kedalam, sudah tentu tak terbayang juga oleh mereka kalau di tengah batu berserakan itu berbeda pula keadaannya.

Orang keempat terdengar berkata.

"Kau bilang kuburan Tan Khim-ang dan In Hou ada disini, kenapa tidak kelihatan?"

Orang kelima menjawab.

"Aku dengar dari mulut seorang sanak keluarga Lui, tapi dia juga tidak tahu letaknya yang tepat, dia hanya tahu berada di sekitar daerah ini."

Suara kedua orang masih asing bagi pendengaran Tan Ciok-sing. Orang yang bicara pertama tadi berkata pula.

"Suara harpa kumandang dari arah sini maka pemetik harpa itu pasti ada di sekitar sini, hayo kita geledah."

Seketika Tan Ciok-sing teringat akan suara orang ini, serta merta matanya mencorong membayangkan nafsu membunuh.

"Siapakah mereka?"

Tanya In San lirih. Tan Ciok-sing berbisik di pinggir telinganya.

"Musuh-musuh kita. Dua orang terakhir aku tidak tahu siapa dia. Yang bicara pertama tadi adalah Thi-bi-pa Siang Po-san, bersama Le Khong-thian, hari itu mereka menjebak dan membokong ayahmu di Cit-sing-giam. Tiga tahun lalu Le Khong-thian sudah mati di tangan Suhu. Orang kedua adalah Thi-ciang Siansu, murid murtad dari Siau-lim, gelarnya yang semula adalah Ciau-khong. Orang ketiga adalah kepala brandal yang pernah kulabrak di Ang-wa-poh, bernama Phoa Lat-hong, Kuda putih milik Kanglam Lihiap Ciong Bin-siu dulu pernah dibegal olehnya, belakangan berhasil kurebut kembali."

Terdengar orang keempat tadi membentak.

"Kusuruh kau menunjuk jalan, kenapa masih berdiri saja?"

Dengan suara gemetar dan tergagap orang kelima menjawab.

"Thi pangcu, kau, ada yang tidak kau ketahui..."

Yang dipanggil Thi-pangcu berkata.

"Apa yang tidak kuketahui?"

"Menurut cerita orang tua dari keluarga Lui itu, It-cu-kingthian pernah mengeluarkan perintah larangan, siapa berani merusak atau membongkar kuburan In Hou dan Tan Khimang, dia bersumpah akan membunuhnya. Siapa saja sebelum memperoleh izinnya dilarang berada di sekitar sini, kalau sampai diketahui kedua kaki orang itu akan dipatahkan. Jangan kata aku memang tidak tahu dimana letak kuburan itu, umpama tahu, aku, aku..."

Thi-pangcu itu menjengek.

"Kau tidak berani menunjukan tempatnya kepada kami, begitu?"

Orang kelima itu menjawab takut-takut.

"Kau orang tua tahu, kepandaianku macam cakar ayam ini betapa berani mencari perkara kepada It-cu-king-thian. Aku hanya bisa membawa kalian sampai disini, kalau mau menggeledah dan mencari silakan cari sendiri. Aku belum menginjak lingkaran kuburan itu, berarti aku belum melanggar larangan It-cu-kingthian."

"Gentong nasi,"

Damprat Thi-pangcu itu.

"Baiklah, kau tidak berani cari perkara pada It-cu-king-thian, lekas kau kembali saja, tak perlu kau bantu kami. Aku justru ingin cari gara-gara pada It-cu-king-thian. Hm, It-cu-king-thian dan Tam Pa-kun telah membunuh Engkohku, dendam sakit hati ini aku bersumpah akan membalasnya."

Mendengar sampai disini Tan Ciok-sing lantas paham, katanya lirih.

"Orang keempat ini adalah pejabat Pangcu baru dari Tok-liong-pang. Pangcu yang lama bernama Thi Ou. Waktu Tam Tayhiap datang terlambat dalam perjanjiannya dengan ayahmu, dia terjebak dan dibokong oleh kawanan Tok-liong-pang di Cit-sing-giam, waktu itu It-cu-king-thian bersama mereka. Kejadian lebih lanjut waktu itu tidak kusaksikan, tapi dari nada Thi-pangcu yang satu ini, agaknya Thi Ou malah dibunuh oleh It-cu-king-thian dan menolong Tam Tayhiap."

"It-cu-king-thian adalah pendekar besar yang dipercaya oleh ayah bundaku, kini kau dengar sendiri pembicaraan mereka, tentunya rasa curigaku terhadapnya tidak beralasan lagi?"

Lalu dia menambahkan pula.

"Jadi orang kelimapun sudah dapat diterka, dia penduduk setempat yang kebetulan kenal dengan seorang tua dulu membantu kerja di rumah keluarga Lui."

"Agaknya mereka mulai bergerak ke arah sini,"

Demikian bisik In San.

"Batu-batu gunung berserakan disini berlapis dan bersusun, tak ubahnya Pat-tin-toh ciptaan Cukat Liang yang tersohor di jaman Sam Kok dulu tanpa seorang petunjuk jalan yang tahu seluk beluk daerah ini, untuk menemukan tempat ini kukira memakan waktu cukup lama, tapi kita tetap harus berjagajaga."

Terdengar Thi-pangcu itu berkata pula.

"Tan Khim-ang jelas takkan hidup kembali dari liang kuburnya, tapi pemetik harpa pasti punya sangkut paut yang erat dengan Tan Khimang itu, kalau tidak salah terkaanku, tadi dia sedang memetik harpa di depan pusara Tan Khim-ang."

"Konon It-cu-king-thian sudah pulang ke Kwi-lin secara diam-diam, aku terima kabar dari rumah keluarga Liong, yakin kabar ini tidak akan salah,"

Demikian timbrung Thi-ciang Siansu. Phoa Lat-hong ikut menyeletuk.

"Kalau orang itu memetik harpa di depan kuburan Tan Khim-ang, dia bisa menemukan letak kuburan itu, maka dia pasti tahu dimana sekarang It-cuking-thian menyembunyikan diri?"

"Betul,"

Ucap Thi-pangcu.

"maka itu kita harus bekuk dulu bocah itu."

"Sayang tadi kita keburu nafsu, sekarang bocah itu tak berani memetik harpanya lagi,"

Demikian kata Thi-ciang Siansu.

"Aku punya akal untuk memancingnya keluar,"

Demikian timbrung Siang Po-san.

Kembali dia petik senar gitarnya.

Suara gitar ini menusuk telinga dan tidak enak didengar, kontan In San merasa hati tidak karuan rasanya seakan-akan sukmanya hendak tersedot keluar dari raganya.

Karuan dia kaget, lekas mengerahkan lwekang serta menghimpun semangat, katanya.

"Kenapa petikan gitar orang ini begini jelek."

Karena Tan Ciok-sing meyakinkan lwekang ajaran Thio Tan-hong maka dia tidak merasa apa-apa, katanya.

"Inilah ilmu tunggal dari Gitar Besi, waktu berhadapan dengan musuh, dengan petikan gitarnya itu dia berusaha menggoyahkan pikiran dan meruntuhkan semangat lawan. Tapi kepandaian dari aliran sesat ini, asal kau sendiri menenangkan hati dan pikiran, anggap saja tidak mendengarnya, dia tidak akan mempengaruhi dirimu."

"Walau demikian, amat menyebalkan juga,"

Kata In San.

"Memang tidak boleh dibiarkan,"

Demikian kata Tan Cioksing.

"beruntung musuh datang sendiri, memangnya kita harus biarkan mereka lari? Marilah kau ikut aku, kita berputar dari arah lain mencegat jalan mundur mereka, lalu disergap sebelum mereka siaga,"

Mereka lalu menggeremet keluar dari arah belakang melalui semak dan sela batu terus berputar satu lingkaran, kini keempat gembong iblis ini sudah berada di depan mereka, walau kepala mereka celingukan kian kemari, tapi masih belum juga menemukan jejak mereka.

Adalah laki-laki penunjuk jalan tadi masih ragu-ragu berdiri di tempatnya, mundur maju susah dia mengambil keputusan.

Dia tahu Thi-pangcu sudah marah, tapi dia juga tidak berani melanggar larangan It-cu-king-thian, terpaksa dia tetap berdiri saja di kejauhan, maka waktu Tan dan In berdua muncul, dia lantas melihatnya lebih dulu?

Karuan laki-laki ini amat kaget, tanpa sadar mendadak dia menjerit.

In San lebih cermat, segera dia pikir hendak menawan lakilaki ini untuk dimintai keterangannya, lekas dia menjentikan jari menimpuk sekeping uang.

Kepandaian orang ini jelas amat rendah, mana dia mampu menghindar dari serangan senjata gelap In San?

Belum lagi mulutnya terkatup, hiat-tonya telah tersambit telak, kontan dia jatuh terus menggelundung ke bawah sana.

Tapi jeritannya tadi telah mengundang perhatian keempat gembong iblis itu, serempak mereka menoleh dengan kaget.

Phoa Lat-hong kepala berandal itu segera mengenali Tan Cioksing bentaknya.

"Bagus sekali, kiranya kau bocah ini."

Tan Ciok-sing kenal Siang Posan tapi sebaliknya dia tidak kenal Ciok-sing, tanyanya kepada Phoa Lat-hong.

"Siapa bocah ini?"

"Bocah yang merebut kuda putihku di Ang wa-poh itu,"

Sahut Phoa Lat-hong. Agaknya peristiwa itu sudah diceritakan kepada teman-temannya ini. Diam-diam Siang Po-san kaget, tapi mulutnya bergelak tawa, katanya.

"Tapi kebetulan malah dia kemari, sekarang dia tidak membawa kuda, jangan harap dia bisa lolos dari tangan kita."

In San tertawa dingin, katanya.

"Apa betul kuda putih itu milikmu? Tidak tahu malu. Hihi, kau takut kami melarikan diri, sebaliknya kami yang kuatir kau melarikan diri."

Ternyata Thi-ciang Siansu juga sudah mengenali Tan Cioksing, tiga tahun yang lalu perjalanan Tan Ciok-sing menuju ke Ciok-lin, pernah dia kebentur Raja Golok Ie Cun-hong yang membentuk barisan golok mengepung Hek-pek-moko seperti diketahui Thi-ciang Siansu ini adalah pembantu Ie Cun-hong yang paling diandalkan, tapi kejadian sudah tiga tahun yang lampau, kini Tan Ciok-sing sudah dewasa, pakaiannyapun tidak sebutut dulu, tapi dia memperhatikan harpa antik yang digendong Tan Ciok-sing, maka segera dia mengenalnya.

Begitu mengenali dia, Thi-ciang Siansu seperti ketiban rejeki nomplok, serunya tertawa riang.

"Tuhan memang Maha pemurah, agaknya kita bakal diberi hadiah barang pusaka."

Thi-pangcu bertanya.

"Masakah bocah ini membawa pusaka apa?"

"Dia membawa golok In Hou, bukan mustahil buku pelajaran ilmu goloknya itu juga berada padanya. Dan lagi harpa kuno yang digendongnya itu, menurut apa yang kuketahui, dulu Hek-pek-moko juga pernah mengincarnya. Benda yang dapat menarik perhatian Hek-pek-moko, dapatlah dibayangkan pasti barang pusaka yang berharga."

Siang Po-san berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Tan Khim-ang memang punya seorang cucu, setelah Tan Khim-ang mati, jejaknya menghilang entah kemana. Kalau kuburan Tan Khim-ang ada disini, bocah ini membawa harpanya pula, kebetulan tadi memetik lagu pula di depan kuburannya, mungkin dia inilah cucunya itu."

"Lalu apa pula yang kita tunggu,"

Seru Thi-pangcu.

"hayo bekuk bocah ini,"

Lalu beramai mereka memburu ke bawah, jarak mereka semakin dekat. Thi-ciang Siansu berlari paling depan, tongkat besinya sebesar mulut mangkok itu lantas diayunnya sambil menghardik.

"Anak bagus, lekas serahkan golok pusaka milik In Hou, nanti jiwamu kuampuni,"

Tongkatnya itu segera menjojoh ke dada Tan Ciok-sing.

"Jangan kau salah mencari orang,"

Tukas In San tertawa.

"golok In Tayhiap berada padaku. Tapi, aku tak boleh serahkan padamu."

In San masih berpakaian laki-laki, dasar goblok dan kasar Thi-ciang Siansu masih belum dapat membedakan dirinya, bentaknya.

"Siapa kau? Hm, hm, peduli siapa kau, golok berada di tanganmu, lekas serahkan, kalau tidak kusikat nyawamu."

"Bicara memang gampang, coba saja kalau mampu,"

Tantang In San tertawa.

Thi-ciang Siansu memang Hwesio buas yang suka membunuh korbannya, karuan dia berjingkrak gusar, segera dia menubruk maju seraya mengayun tongkat terus mengemplang ke batok kepala In San.

Siang Po-san lebih hati-hati, lekas dia berteriak.

"Thi-ciang Suheng, jangan kau membunuhnya, kulihat anak perempuan ini punya asal-usul,"

Kiranya dia sudah tahu akan samaran In San.

Belum habis dia bicara mendadak dilihatnya dua larik cahaya pelangi melambung bersama.

Ternyata kuatir In San kecundang tanpa berjanji Tan Ciok-sing berebut maju hendak bantu menangkis lawan.

Bentaknya.

"Kalian maju bersama saja, berapa jumlah kalian, kita tetap akan bersatu padu,"

Karena dia harus bergabung dengan In San, maka dia memberi suara dulu supaya tidak melanggar aturan Kangouw. Thi-pangcu tertawa besar, katanya.

"Dua bocah yang masih berbau bawang juga berani ugal-ugalan di hadapanku,"

Dia kira tongkat baja Thi-ciang Siansu seberat enam puluhan kati itu sudah lebih dari cukup untuk menghancur leburkan kedua bocah ingusan ini?

Tak nyana akibatnya justru jauh berada diluar perhitungannya.

Dalam sekejap itu sebelum perkataan Thi-pangcu lenyap suaranya, terdengar dering nyaring benturan senjata keras, kembang apipun berpijar.

Terdengar In San berkata dengan tertawa.

"Golok pusaka tidak akan kuberikan, biarlah kau rasakan dulu keliehayan pedang pusaka ini, asal kau mampu boleh kau mengambilnya dari tanganku."

Walau Thi-ciang Siansu jago kosen yang memperoleh ajaran mumi dari Siau-lim, betapapun dia takkan kuat menghadapi perbawa gabungan permainan sepasang pedang.

Di tengah pijaran kembang api, tampak dia tergetar mundur beberapa langkah, waktu menunduk dilihatnya tongkatnya tergores dan gumpil sedikit.

Kalau Thi-ciang Siansu gusar, kaget dan malu, Tan dan In juga sama-sama terkejut.

Maklum pedang pusaka mereka mampu mengiris besi seperti merajang sayur, kalau tenaga dalam Thi-ciang Siansu tidak lebih unggul dari mereka, tongkatnya itu pasti sudah kutung.

Telapak tangan In San kesemutan dan linu, pikirnya.

"Masih ada tiga gembong iblis belum lagi terjun ke arena, mungkin aku takkan kuat melawan secara kekerasan."

Thi-pangcu berada di belakang Thi-ciang Siansu, melihat kesudahan gebrak pertama ini diapun terkejut, sekali timpuk dia lepaskan tiga batang Tok-liong-cui.

Sebagai adik kandung Thi Ou, Pangcu terdahulu dan pendiri Tok-liong-pang, dia bernama Thi Khong, tapi kepandaiannya ternyata jauh lebih tinggi dari sang Engkoh.

Tiga batang Tok-liong-cui yang meluncur datang ini ternyata membawa kesiur angin yang berbau amis memualkan.

Tan Ciok-sing gusar, serunya.

"Senjata rahasia yang ganas, kami tidak mau, nih kukembalikan,"

Begitu Siang-kiam-happik, jalan pikiran dan maksud hati mereka cocok satu sama yang lain, serempak mereka sama mengembangkan jurus Hing-hun-toan-hong, di bawah libatan dua larik pelangi yang menggulung dan menolak, ketiga batang Tok-liong-cui itu seketika patah jadi enam potong, celaka adalah ke enam potongan senjata rahasia ini diritul kembali ke arah pemiliknya.

Karuan kejut Thi Khong bukan main, lekas dia menjatuhkan diri sambil menggelundung kesana beberapa tombak.

Meski keadaannya amat lucu dan mengenaskan, tapi masih untung karena tidak terluka oleh senjata rahasia sendiri.

Permainan pedang Tan Ciok-sing memang amat menakjubkan, tenaga yang dikerahkan juga diperhitungkan, begitu tiga senjata yang diritul balik itu jatuh di tanah, sisa lagi kutungan yang lain tiba-tiba terbang membelok di tengah udara, mendadak melesat ke muka Thi-ciang Siansu.

Lekas Thi-ciang Siansu menyembunyikan kepala sambil mengkeret leher seperti bulus, berbareng tongkat dia angkat tegak berdiri.

"Tring, tring, iring"

Ketiga kutungan senjata rahasia itu beruntun dapat ditangkisnya jatuh.

Tak urung hidungnya mengendus bau amis, hampir saja dia tumpah-tumpah, keringat dingin membasahi jubahnya.

Sesuai dengan namanya Tok-liong-pang ternyata pandai menggunakan racun, sebagai Pangcu maka senjata rahasia yang dipergunakan Thi Khong ternyata dilumur racun jahat, Tok-liong-cuinya ini malah dilumuri tujuh jenis racun yang jahat.

Baru saja pertempuran di mulai, Siang Po-san yang cukup cerdik tak mau terjun langsung ke arena, diluar kalangan segera dia memetik gitarnya, suaranya yang jelek dan menusuk perasaan ini memang maksudnya hendak mengaburkan pertahanan lawan.

Lwekang Ciok-sing tinggi, dia mahir teori musik menguasai permainan, keadaannya masih baik, tapi lain dengan In San, dia sudah hampir tidak kuat lagi, hatinya menjadi kalut.

Sehingga permainan Siang-kiam-happik terganggu dan kurang serasi, menunjukkan beberapa titik kelemahan, kembali senjata rahasia Thi Khong menyusul masuk kedalam lingkaran, kali ini dia menimpuk dengan tiga batang paku penembus tulang.

Dengan jurus Khong-ciok-kay-ping Pek-hong-kiam menggaris ke tengah udara, ketiga paku beracun itu seketika hancur berhamburan di tengah pelintiran cahaya pedang.

Tapi permainannya ini hanya membantu In San menangkis senjata rahasia, sehingga gerakan pedang In San tak bisa kerja sama dengan baik.

Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh Siang Po-san, lekas gitarnya diayun membelah ke tengah sehingga kedua orang ini dipisahkan.

Serempak Thi-ciang Siansu dan Phoa Lat-hong menyergap maju dari kiri kanan, yang dicecar adalah In San.

"Sret"

Pedang Tan Ciok-sing menusuk kesana, tapi pedangnya tertangkis oleh gitar Siang Po-san.

Karena terganggu oleh suara gitar sehingga pikiran kacau permainan In San pun ikut terganggu.

Untung Tan Ciok-sing cukup siaga dan bertindak tepat, mendadak dia melancarkan dua jurus permainan pedang dari ajaran Bu-bing-kiam-hoat untuk menambal lobang kelemahan yang diperlihatkan In San.

"Adik San, jangan hiraukan suara gitarnya,"

Tan Ciok-sing memperingatkan.

Tapi In San sendiri memang belum punya ketenangan itu, tak mungkin tak mendengarnya, meski dia sudah berusaha, tapi suara senar gitar yang jelek itu justru menyusup ke telinganya.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, Ciok-sing membatin.

"Sayang aku tidak bisa memetik harpa di waktu melayani musuh, kalau tidak tentu bisa kupecahkan irama petikan gitar gembong iblis ini."

Bu-bing-kiam-hoat memang hebat, tapi perbawanya jelas tidak sehebat Siang-kiam-hap-pik.

Karena pikiran In San tak terpusatkan, dalam gebrak sepuluh jurus, ada dua tiga jurus permainan mereka pasti tidak serasi, itu berarti seperti mereka bertempur secara individu.

Untuk sementara mungkin tidak jadi soal bagi Tan Ciok-sing, malah sering membantu In San, tapi kalau pertempuran ini berkepanjangan, jelas pihaknya pasti akan kecundang.

Manusia umumnya timbul akalnya di kala kepepet atau di saat gugup, mendadak tergerak pikiran Tan Ciok-sing.

"Aku tidak bisa memetik harpa, tapi kan bisa juga mengganggu nada dan not permainan gitar orang,"

Segera dia mulai bersiul, siulan yang dilandasi tenaga dalam ini ternyata bisa berbunyi panjang dan naik turun sesuai lagu yang dia bawakan.

Usahanya memang berhasil, petikan gitar Siang Po-san menjadi kacau, karuan dia kaget.

Tapi In San justru terbangkit semangatnya, perbawa Siang-kiam-hap-pik seketika berlipat ganda pula, bukan saja pulih seperti semula malah jauh melebihi sebelumnya.

Seperti diketahui permainan Siang-kiam-hap-pik ini hakikatnya tidak menggunakan gerak permainan yang ada tata laksananya, tapi disesuaikan gaya pedang, bergerak secara wajar dan serasi sehingga kedua pedang cocok dan ketat tanpa lobang sedikitpun.

Dasar otaknya encer Tan Cioksing lebih berbakat lagi, permainannya lebih berkembang dan penuh variasi, bergerak sesuai kebutuhan dan dapat berubah mengikuti situasi, sehingga intisari Bu-bing-kiam-hoat dapat dia kembangkan dengan sempurna.

Sementara (n San tetap menggunakan ilmu pedang yang pernah dia pelajari, menurut teori ilmu pedang maju mundur secara teratur.

Tidak lama kemudian cahaya pedang seperti meledak semakin besar dan luas arena lingkungannya, dari pihak yang diserang kini berbalik dan musuh dicecarnya di bawah angin.

Tiga lawan tangguh ini lama-kelamaan didesak mundur.

Tongkat besar di tangan Thi-ciang Siansu berdiri tegak terus jempalitan badan, dengan jurus Naga hitam melilit pohon, ujung tongkatnya mendadak menggulung balik, tujuannya menyapu kedua kaki In San.

Mendadak In San melejit mumbul setinggi satu tombak lebih, dimana sinar pedang berkelebat, tahu-tahu pundak kiri Thi-ciang Siansu sudah terluka, jubah Hwesionya yang memang merah semakin merah dan basah oleh darah yang merembes keluar.

Tapi tusukan pedang yang melukai pundaknya ini bukan serangan In San.

Di kala tubuh In San melambung ke udara, gerak pedang Ciok-sing yang belakangan tapi tibanya lebih dulu, mendadak dari posisi yang tak terduga menusuk tiba.

Perhatian Thi-ciang ditujukan kepada In San yang menukik dari atas, sungguh tak pernah diduganya bahwa Tan Ciok-sing mendadak menyerang tiba pula, untung gitar Siang Po-san segera mengepruk tiba sehingga gerakan pedang itu sedikit terhalang, kalau tidak tulang pundaknya pasti sudah tertusuk patah, betapapun tinggi ilmu silatnya akan punah seketika.

Di tengah udara In San menggunakan gerakan Burung Dara Jumpalitan.

Phoa Lat-hong yang berada di samping Thiciang Siansu belum lagi sempat menyingkir, tusukan pedang In San dengan jurus naga kik-ting-hong tahu-tahu sudah menuding tenggorokannya.

Ternyata secara reflek mereka telah berganti posisi dan merobah kedudukan untuk menyerang musuh yang berbeda, inilah salah satu jurus liehay dan manunggal dari Siang-kiam-hap-pik itu.

Pada detik-detik antara hidup dan mati, di kala elmaut sudah mengancam ini, jelas Phoa Lat-hong takkan mampu berkelit lagi, terpaksa dia nekat dan tidak hiraukan keselamatan lagi melancarkan ilmu Tay-cui-pit, dengan tangan kosong dia menangkis pedang secara keras.

"Cras"

Dua jari Phoa Lat-hong tertabas buntung.

Tapi In San sendiri juga tergentak mundur dua langkah.

Untung perlawanan Phoa Lat hong yang nekat secara keras ini sehingga kedua tangannya tidak putus tertabas pedang.

Lwekang Phoa Lat-hong cukup tangguh, tapi dia tak kuat juga menahan rasa kesakitan karena dua jari kutung, kontan dia menjerit sekeras-kerasnya terus putar tubuh melarikan diri.

Bahwa tulang pundaknya nyaris tertusuk patah, karuan keringat dingin gemerobyos, sudah tentu Thi-ciang Siansu menjadi keder dan tak berani bertempur lebih lama.

"Mau lari kemana,"

Bentak Tan Ciok-sing, sinar pedangnya bagai selarik lembayung terus menusuk kesana.

Lekas Siang Po-san angkat gitarnya menangkis, tapi Ceng-bing-kiam In San juga menusuk tiba, begitu Siangkiam berpadu, perbawanya berlipat ganda.

Gitar Siang Po-san dibuat dari besi baja yang mengandung sembrani, tapi terserang sepasang pedang pusaka ini mana kuat menahannya, di tengah suara gaduh yang memekak telinga, perut gitar yang gelembung kosong itu tahu-tahu sudah tergores lobang panjang.

Baru saja Tan Ciok-sing hendak menambahi dengan serangan mematikan, tak nyana di tengah dering beradunya benda keras terdengar pula selingan suara mencepret, mendadak bintik sinar bintang gemerdep, seperti diketahui dalam perut gitar Siang Po-san yang kosong ini di dalamnya ada dipasang alat-alat rahasia untuk menyimpan senjata rahasia, bila menghadapi bahaya sekali dia tekan tombol, senjata rahasia didalam perut gitar akan segera menyambar keluar.

Demikian pula sekarang ini, Siang Po-san menggunakan serumpun Bwe-hoa-ciam selembut bulu kerbau, disusul tujuh batang To-kut-ting yang dilumuri racun.

Karuan Tan Ciok-sing kaget, teriaknya.

"Celaka,"

Lekas dia menolak ke depan menggunakan tenaga lunak mendorong pergi In San.

Untung Tan Ciok-sing memperoleh ajaran lwekang Thio Tan-hong, ilmu pedang juga memperoleh ajaran murni, meski latihannya baru tiga tahun tapi taraf latihannya sudah cukup hebat, reaksinya cekatan lagi, dalam sedetik itu.

sebelah tangan mendorong In San, lengan bajunya sekaligus mengebut pula menggulung jarum-jarum lembut yang menyerang datang.

Pek-hong-kiam di tangan kanan dengan jurus Hing-hun-toan-hong merontokan lima paku penebus tulang, lalu jari tangan kiri menjentik.

"Creng"

Paku ke empat ditutulnya kembali.

Pada hal Tan Ciok-sing sudah kerahkan segala kemampuannya, tak urung paku ke tujuh masih lolos juga.dari penjagaannya, untung dia lekas menunduk sehingga paku beracun itu meluncur lewat hampir menyerempet jidatnya.

Dengan gusar Ciok-sing kebutkan pula lengan bajunya, jarum-jarum yang dijaringnya ini dia persembahkan kembali kepada pemiliknya.

Pada hal Siang Po-san melesat beberapa tombak jauhnya, jarum-jarum lembut itu terang tak mampu melukainya lagi, celaka adalah Tok-liong-pang Pangcu yang sejak tadi membantu dari luar kalangan dengan serangan senjata rahasia beracun tiba-tiba menjerit kesakitan.

Ternyata paku ke enam yang dijentik balik oleh Tan Cioksing sasarannya adalah Tok-liong pangcu yang main licik membokong dengan senjata rahasia beracun.

Paku beracun itu sebenarnya melesat balik mengincar Thay-yang-hiat di pelipisnya.

Perubahan yang tak pernah diduga ini, karuan membikin Thi Khong berjingkrak kaget seperti disengat kala, pada hal dia cukup tangguh dalam permainan senjata rahasia, tapi toh tak kuasa berkelit lagi, untung karena berjingkrak kaget ini sasaran Thay-yang-hiat tidak terkena telak, tapi paku beracun itu tak urung amblas kedalam pundaknya.

Thi Khong adalah ahli pengguna racun, karena terluka oleh paku beracun ini, bukan saja sakit tapi arwah serasa terbang ke awan-awan, lekas dia berkaok minta obat pemunah kepada Siang Po-san, Siang Po-san membentak.

"Lekas lari. Nanti kuberi obat di bawah gunung."

Tan Ciok-sing tidak mengejar, lekas dia memburu ke samping In San, dilihatnya In San pucat pasi wajahnya, tanyanya gugup dan kuatir.

"Apa kau tidak terluka?"

"Sungguh kebetulan, paku itu meruntuhkan tusuk kondaiku, untung tidak sampai luka. Sayang aku kurang cekatan, hingga musuh lari semuanya."

"Untung sebelumnya kau sudah membekuk seorang tawanan. Sekarang kita bisa mengompres tawanan itu,"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

Tak nyana, tawanan yang tertutuk hiat-tonya oleh timpukan mata uang In San sudah lenyap Setelah tertimpuk mata uang tadi orang itu jatuh menggelundung ke bawah lereng sana, semak rumput tampak tertindih dan awutawutan, ceceran darah juga tampak di antara daun-daun pohon kecil yang tumbuh di sekitar situ, mungkin waktu tubuhnya menggelundung ke bawah badannya terluka oleh benturan batu-batu gunung yang runcing sehingga mengeluarkan darah.

Ciok-sing berdua mengikuti jejak ceceran darah menginjak semak belukar, tapi bayangan orang itu tetap tidak kelihatan, tapi mereka belum putus asa, daerah sekitarnya mereka obrak-abrik hingga ke bawah gunung, bayangan tawanan itu tetap tidak kelihatan.

"Aneh, jelas hiat-to pelemasnya tadi tertutuk oleh timpukan mata uangku. Ilmu tutuk jalan darah tunggalku ini, baru akan bebas setelah dua belas jam berselang. Dalam waktu sesingkat ini, jelas dia takkan bisa bergerak."

"Orang itu hanya menunjuk jalan ke empat gembong iblis itu, kepandaiannya rendah, jelas tak mungkin mampu membebaskan sendiri tutukan hiat-tonya itu."

"Umpama ada yang menolongnya, orang itu pasti mahir menggunakan ilmu tutuk dari keluargaku. Kalau tidak kecuali dia jago silat kosen dari bulim, lwekangnya sudah mencapai taraf tinggi, dengan tenaga murni dia bisa bantu menjebol tutukan hiat-to itu. Em, aneh sekali."

Sembari bicara mereka berjalan balik ke kota, tanpa terasa mereka sudah tiba di Hoa-kio, tampak sinar pelita sudah terpasang di empat penjuru kota, bulan sabit tampak bergantung di cakrawala.

Setiba mereka di hotel, pemilik hotel segera memburu maju menyambut mereka dengan seri tawa lebar, katanya.

"Aku memang sedang mengharap Siangkong berdua lekas pulang."

"Temanku ingin melihat pemandangan Po-tho-san nan permai, maka aku menemaninya, sayang hari sudah petang, kita tak sempat melancong ke Cit-sing-giam, terpaksa besok saja* Maaf bikin kau lama menunggu kami."

Pemilik hotel tidak hiraukan keterangan ini, katanya.

"Sayang kalian terlambat pulang, baru saja ada dua orang teman kalian kemari."

Ciok-sing kaget, pikirnya.

"Baru saja aku tiba di Kwi-lin, dari mana datangnya orang bisa mencariku? Siapa yang punya berita secepat ini?"

"Siapakah kedua orang itu? Begitu masuk kota aku lantas menginap disini, tiada teman yang kuberitahu, dari mana mereka bisa tahu aku menginap disini? Apa tidak keliru mereka mencari orang?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Tidak mungkin salah,"

Sahut pemilik hotel.

"mereka menggambarkan wajah, usia dan kuda tunggangan kalian, demikian kotak panjang yang dibawa Tan Kongcu, setiap hal dapat dilukiskan dengan jelas, yakin dia pasti teman kalian. Tentang dari mana mereka bisa tahu kalian tinggal disini, wah aku tidak bisa menjelaskan."

"Sudah panjang lebar kau bicara, kenapa tidak kau sebut siapa nama mereka?"

"Sudah kutanya mereka, mereka bilang bila Siangkong berdua kembali, asal kau katakan kedatangan kami, dia akan tahu siapa kami,"

Berarti kedua orang itu tidak mau menyebut atau meninggalkan namanya.

"Baiklah, coba kau terangkan, berapa usia mereka, bagaimana pula tampangnya?"

Tanya In San.

"Yang datang pemuda dan pemudi, usianya kira-kira sebaya dengan kalian. Pakaiannya cukup perlente, agaknya keturunan dari orang berada,"

Ternyata pemuda yang berpakaian perlente ini ringan tangan untuk mencari tahu diri Tan Ciok-sing berdua dia sudah menyogok 10 tahil perak kepada pemilik hotel ini.

Tiba-tiba Tan Ciok-sing ingat sesuatu tanyanya.

"Apakah pemuda itu ada membawa sebatang seruling?"

"Betul,"

Sahut pemilik hotel.

"selama ini belum pernah kulihat seruling sebagus itu. Waktu bicara dia memang memegang dan mengelus serulingnya itu. Jadi sudah jelas, bahwa kedua orang itu adalah teman kalian bukan?"

"Belum lama berselang kami memang pernah melihatnya, tapi belum menjadi kawan karib. Mereka tidak menyebut nama, apakah meninggalkan alamat? Supaya kami pergi menyambangi mereka?"

"Tadi bicaraku belum selesai, karena kalian belum kembali, mereka tampak agak kecewa. Pemuda itu pinjam pinsil dan minta kertas kepadaku, dia ada meninggalkan sepucuk surat. Aku tidak berani membukanya, mungkin dalam suratnya ada meninggalkan pesan."

Setelah menerima sampul surat Tan Ciok-sing berkata.

"Baiklah, terima kasih akan bantuanmu melayani temanku. Kupikir besok saja aku balas menyambangi mereka, malam ini kami ingin tidur sepuasnya, jikalau ada orang mencari kami, jangan katakan bahwa aku ada disini,"

Lalu dia persen sekeping uang perak nilainya kurang lebih 10 tahil. Sekembali dalam kamar Tan Ciok-sing berkata.

"Kedua orang itu, kemungkinan adalah dua orang terakhir dari delapan Pat-sian yang bertemu kita di tengah jalan kemarin."

In San mengangguk, katanya.

"Betul, kedua orang itu pemuda pemudi, sang pemuda membawa seruling. Mungkin karena ingin menikmati petikan harpamu maka dia ingin berkenalan dengan kau, apa kau ingin menyambangi mereka?"

"Coba periksa dulu apa yang dia tulis dalam surat ini,"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

Waktu dia buka surat itu, di dalamnya menyatakan kekagumannya terhadap Tan Ciok-sing berdua serta mohon berkenalan, dan dijanjikan supaya tiga hari yang akan datang bertemu di Lian-hoa-hong bersama-sama menikmati matahari terbit.

Surat ini tertanda nama Kek Lam-wi.

Di bagian bawahnya ditambahkan pula pesan yang berbunyi.

"Orang yang ingin saudara temui, di puncak Lian-hoa-hong akan anda temukan pula. Harap dimaklumi,"

Setelah membaca tulisan tambahan ini, seketika Tan Ciok-sing melenggong.

"Lho, kenapa kau melongo malah?"

Tanya In San. Segera Tan Ciok-sing menyerahkan surat itu padanya, katanya.

"Lihatlah sendiri, bukankah amat aneh?"

"Em, gaya tulisannya memang bagus. Betul tidak, dia ingin bersahabat dengan kau."

"Aku sih tidak perhatikan tulisannya, yang kuherankan adalah dari mana dia bisa tahu siapa yang-akan kucari? Apa kau pernah mendengar nama Kek Lam-wi itu?"

In San geleng-geleng, katanya.

"Waktu ayah masih hidup, banyak juga tokoh-tokoh silat yang pernah dia sebutkan padaku, tapi orang she Kek ini usianya kira-kira sebaya dengan kita, ayah pasti tak pernah memberi tahu, bagaimana aku tahu asal-usulnya. Tapi dari nada surat ini dapat disimpulkan bahwa dia sudah tahu siapa kau adanya, diapun tahu siapa orang yang hendak kau temui. Tapi aku duga yang dimaksud kalau bukan It-cu-king-thian Lui Tin-gak, pasti Tam Pa-kun. Apakah Lian-hoa-hong jauh dari sini?"

Lian-hoa-hong adalah gunung yang kenamaan di daerah Yang-siok, tak ubahnya Tok-siu-tong yang kenamaan di daerah Kwi-lin.

Yang-siok tiada seratus li dari Kwi-lin, kuda lari cepat dapat ditempuh satu hari pulang pergi."

"Dari surat ini dapat kusimpulkan bahwa Lui Tayhiap dan Tam-siok-siok mungkin berada dan bertemu di Lian-hoa-hong, jadi bukan mengadakan pertemuan di Kwi-lin."

"Menurut pendapatmu, apakah suratnya ini dapat dipercaya?"

"'Kek Lam-wi adalah salah satu dari Pat-sian yang kemarin kita temukan di tengah jalan itu, hal ini sudah dapat dipastikan. Bahwa dia mengundangmu ke Lian-hoa-hong, mungkin akan ada pertemuan besar di Lian-hoa-hong. Jadi bolehlah diduga kalau It-cu-king-thian Lui Tayhiap dan Kim-tothi-ciang Tam Pa-kun pasti hadir dalam pertemuan besar ini."

"Betul, Pat-sian yang kita temui di tengah jalan itu semuanya adalah jago-jago silat yang jarang kita temui di Kangouw, maka dapatlah dibayangkan bahwa tuan rumahnya pasti adalah tokoh besar yang tersohor pula. Hanya tokoh besar yang mampu mengerahkan peradatan Pat-sian-ing-khek baru setimpal mengundang kehadiran Tam Tayhiap dan Lui Tayhiap dalam pertemuan besar yang akan datang itu."

"Bukan mustahil Lui Tayhiap adalah tuan rumahnya."

"Baiklah, undangan ini akan kuterima dan aku pasti hadir dalam pertemuan itu. Untung Yang-siok tidak jauh dari sini, hari terakhir baru kita berangkat juga belum terlambat. Malam ini kita tetap bekerja sesuai rencana semula, menyelidiki siapakah yang membongkar puing-puing rumahku dulu. Mumpung masih ada sisa waktu dua jam, marilah kita menghimpun semangat dan tenaga,"

In San segera kembali ke kamarnya.

Tan Ciok-sing duduk bersimpuh, memejam mata memusatkan pikiran menghimpun hawa murni, mulailah dia bersamadi, kira-kira menjelang kentongan ketiga dengan lirih dia menjentik ke arah dinding, kamar mereka berdampingan, segera In San mempersiapkan diri lalu membuka jendela melompat keluar.

Mereka memiliki ginkang tinggi tanpa diketahui siapapun cepat sekali mereka sudah meninggalkan hotel.

Kira-kira setengah jam kemudian mereka sudah tiba di puing-puing rumah Tan Ciok-sing dulu, cuaca masih gelap suasana sunyi senyap yang terdengar hanya suara jangkrik.

"Agaknya tiada orang pernah kemari,"

Bisik In San.

"Memangnya kita umpama menjaga lobang menunggu kelinci, belum tentu kelinci liar itu bakal datang malam ini, walau harapan nihil umpamanya kita tetap menunggu dengan sabar."

"Ya, marilah kita cari tempat untuk sembunyi."

Untung banyak batu besar dimana-mana, kebetulan tidak jauh dari puing-puing rumah Tan Ciok-sing terdapat dua batu besar seperti pasangan orang yang lagi berpelukan, di tengah kedua batu ini ada celah-celah yang kebetulan cukup untuk sembunyi.

Menunggu sesaat lamanya, In San berbisik di pinggir telinga.

"Aih, agaknya ada orang datang."

"Jangan berisik, saksikan saja siapa yang kemari."

Tak lama kemudian muncul sesosok bayangan orang di tengah puing-puing sana.

Cahaya bulan sabit remang-remang sehingga dari kejauhan sukar dibedakan bentuk dan tampangnya, tapi orang ini sudah cukup dikenal oleh Tan Ciok-sing, waktu dia menegas segera dia kenal siapa orang itu.

Setelah tahu siapa orang yang datang ini, tanpa merasa dia melengak heran dan kaget.

"Siapa?"

Tanya In San berbisik. Agaknya dia merasakan sikap dan mimik Tan Ciok-sing yang agak aneh, seperti sudah tahu siapa orang datang ini. Tan Ciok-sing menjawab dengan bisikan pula.

"It-cu-kingthian Lui Tin-gak."

Bahwa yang datang adalah It-cu-king-thian Lui Tin-gak, bukan saja Tan Ciok-sing tak habis mengerti, In San sendiri juga tidak pernah menduganya. Tanyanya lirih.

"Apakah perlu menemuinya?"

"Jangan terburu nafsu. Lihat dulu apa kerjanya disini?"

Sebetulnya rasa curiga Tan Ciok-sing terhadap It-cu-kingthian sudah tawar, tapi dia tidak menduga yang datang kali ini adalah dia, sesaat dia jadi ragu-ragu curiganya timbul lagi dan malah lebih tebal.

"Khu Ti pernah bilang, bahwa It-cu-king-thian gemar belajar silat, saking getolnya umpama orang gila saja layaknya. Semasa mudanya dia punya keinginan mengangkat guru kepada Thio Tayhiap. Jelas dia tidak tahu kalau buku pelajaran ilmu golok milik In Tayhiap dan Kiam-boh Thio Tayhiap itu sudah diserahkan kepadaku..."

Tengah dia menduga-duga, dilihatnya Lui Tin-gak sudah memegang sebuah sekop dan sedang menggali tanah di tengah puing-puing rumahnya. Diam-diam Tan Ciok-sing membatin.

"Nah, konangan sekarang. It-cu-king-thian memang laki-laki munafik, pendekar palsu, manusia rendah. Apakah benar dia sekongkol dengan Siang Po-san mencelakai kakek belum dapat kubuktikan tapi bahwa dia mengincar ilmu golok dan Kiam-boh itu kini sudah menjadi kenyataan, bukankah perbuatannya ini terlalu hina dan rendah. Kalau dia betul manusia yang bermartabat rendah, bukan mustahil bahwa dia pula yang mencelakai kakek,"

Tapi sebelum dia berkeputusan tindakan apa yang harus dia lakukan, tiba-tiba dilihatnya It-cu-king-thian sudah menghentikan kerjanya.

Di keremangan cahaya rembulan, tampak It-cu-king-thian sedang berjongkok seperti mengeduk tanah atau mengorekngorek dengan tangannya.

In San berbisik di pinggir telinga Ciok-sing.

"Tempat itu tadi pernah kita gali, mungkin dia sudah tahu bila kita sudah pernah kemari. Aneh kelakuannya malam ini..."

"Apa sulitnya menduga perbuatan ini. Jelas hendak mencari buku pelajaran ilmu golok dan Kiam-boh itu."

"Umpama benar, kukira di belakang persoalan pasti ada sebab musababnya. Aku yakin It-cu-king-thian Lui Tin-gak pasti takkan sudi mengincar barang orang lain."

"Apa, kau masih percaya kalau dia orang baik?"

"Tak usah kita main teka teki sendiri. Saksikan saja apa yang akan dia lakukan lebih lanjut?"

Tampak It-cu-king-thian sudah berdiri lagi, mulutnya seperti menggumam.

"Memangnya aku kuatir kalian tidak akan datang,"

Lalu dia menengadah seperti pasang kuping mendengarkan sesuatu suara. Tan Ciok-sing kaget, batinnya.

"Siapa yang dia maksud dengan 'kalian'? Apakah dia sudah tahu kalau aku bersama adik San berada di Kwi-lin. Atau dia sudah menemukan jejak dan percakapan kami?"

Mendadak It-cu-king-thian Lui Tin-gak berlari keluar dari lingkungan puing-puing Tan Ciok-sing kaget, dia kira jejaknya sudah diketahui orang cepat dia bersiaga memegang gagang pedang.

Tapi In San berbisik.

"Jangan sembrono."

Ternyata sekali berkelebat It-cu-king-thian menyelinap kesana sembunyi di belakang sebuah batu besar, letak batu besar ini tidak jauh dari puing-puing rumah, jaraknya hanya beberapa tombak dari tempat persembunyian Tan dan In.

Sesaat lagi baru Tan Ciok-sing mendengar suara langkah orang, yang datang adalah dua orang berpakaian hitam, tangan masing-masing menjinjing sebuah pacul dan sekop.

Baru sekaraug Tan Ciok-sing mengerti, ternyata It-cu-kingthian mendengar kedatangan kedua orang ini, jadi "kalian"

Yang dikatakan tadi yang dimaksud adalah kedua orang ini. Tak urung Ciok-sing merasa heran dan menyesal pula.

"Setelah kedua orang ini dekat baru aku tahu kedatangan mereka, jelas kepandaian dalam hal ini aku masih kalah jauh dibanding It-cu-king-thian. Entah siapa gerangan kedua orang ini? Dari gelagatnya, dia bukan komplotan It-cu-king-thian."

Di saat dia membatin, dilihatnya kedua orang baju hitam itu sudah melangkah ke arah puing-puing tanpa berjanji keduanya sama bersuara kaget dan heran.

"Dilihat keadaan ini agaknya barusan ada orang sudah datang,"

Kata seorang.

"Kita harus hati-hati, entah kenapa, beberapa hari ini jagojago silat kosen dari berbagai tempat berbondong-bondong datang ke Kwi-lin. Di antaranya ada Wi-cui-hi-kiau, Siangkang-siang-hiap, Sek-in-jin-tok dan Ui-yap Tojin, malah ada juga yang bilang It-cu-king-thian juga datang,"

Demikian kata orang yang lain.

"Wah, jadi jago-jago kosen dari aliran sesat dan golongan lurus sama tumplek kemari."

"Maka itu, kita harus hati-hati. Peduli yang mana diantara mereka, semua lebih hebat dari pada kita."

"Justru karena itu pula kita harus bekerja cepat menemukan pusaka itu. Kalau sampai orang lain tahu akan tempat ini, celakalah kita."

Kedua orang ini segera mengerjakan pacul dan sekop mulai menggali tanah di dua tempat, sembari kerja mulut mereka masih terus mengoceh seperti berunding entah apa.

Mendadak It-cu-king-thian melompat keluar dan anjlok di depan mereka.

Karuan kedua orang itu berjingkrak kaget sambil menyusut mundur.

"Siapa, siapa kau?"

Pacul dan sekop sudah diangkat tapi tidak berani turun tangan.

"Aku Lui Tin-gak, Tan Khim-ang adalah teman baikku, untuk apa kalian gali tanah dan membongkar puing-puing disini? Lekas katakan,"

Demikian bentak Lui Tin-gak.

"Hah, kiranya kau orang tua adalah It-cu-king-thian Lui Tayhiap, sungguh kami kurang hormat. Kami dari Hek-houpang (serikat macan hitam), dengan pihak Tok-liong-pang kami ada sedikit hubungan."

"Aku tidak peduli kalian dari Hek-hou-pang atau Tok-liong-pang, tiada tempo aku ngobrol dengan kalian, Lekas jawab pertanyaanku."

"Lui Tayhiap, bolehkah kami tanya untuk apa kau kemari? Bukan mustahil tujuan kita..."

It-cu-king-thian mendengus.

"kalian barang macam apa, berani mengurus aku? Sekarang aku yang tanya kalian, lekas kalian jawab, barang apa yang kalian gali? Siapa pula yang menjadi tulang punggung kalian?"

"Baik, baik, biar kujelaskan seluruhnya Lui Tayhiap, harap kau bersabar mendengar laporan kami,"

Kedua orang ini bersikap munduk-munduk supaya It cu-king-thian tidak bersiaga.

Mendadak keduanya angkat pacul dan sekop masing-masing terus mengepruk ke batok kepala lt-cu-kingthian.

Bukan lantaran mereka tidak takut terhadap It-cu-kingthian, tapi sebaliknya bila mereka bicara sejujurnya, jiwa mereka malah celaka di tangan It-cu-king-thian, maka mereka nekat bertindak secara membokong, syukur berhasil membunuh It-cu-king-thian, nama mereka akan lekas tersiar dan diagulkan di dunia persilatan.

Maka terdengarlah suara "Trang"

Yang keras sekali It-cu-king-thian menggentak kedua tangan, pacul dan sekop itu seketika tertangkis terbang ke udara.

Gentakan keras kedua lengan It-cu-king-thian ternyata bukan hanya menyebabkan pacul dan sekop itu terbang ke udara, tapi kedua laki-laki itupun seperti digenjot dengan martil dada masing-masing, darah kontan menyembur dari mulutnya dengan menjerit mereka bergulingan di tanah.

Berdebar jantung Tan Ciok-sing menyaksikan dari tempat sembunyinya, pikirnya.

"It-cu-king-thian tidak bernama kosong. Entah dia kawan atau lawan?"

Dia tahu meski dirinya sudah berhasil meyakinkan Bu-bing-kiam-hoat, dirinya mungkin masih belum mampu mengalahkan dia.

Pada saat itulah, mendadak tampak pula sesosok bayangan orang laksana seekor burung besar melejit turun ke tengah puing-puing, gerakan tubuhnya gesit dan tangkas, dibanding It-cu-king-thian tadi mungkin lebih dari pada kurang.

Kedua laki-laki dari Hek-hou-pang seperti mendapat bintang penolong, lekas mereka merangkak bangun terus memburu kearah orang itu seraya berteriak bersama.

"Ciangsuhu, tolong."

Pendatang ini bukan lain adalah jago nomor dua dalam kalangan Gi-lim-kun, sekarang terima menjadi Cong-kiau-thau di rumah keluarga Liong yaitu Ciang Thi-hu adanya.

Agaknya It-cu-king-thian tidak mengenalnya, tanpa berhenti dia melangkah maju sambil ulur tangan hendak mencengkram kedua laki-laki itu, bentaknya.

"Orang lain minggir saja, kalau tidak jangan salahkan kalau aku bertindak kasar."

Ciang Thi-hu terloroh-loroh, katanya.

"Kau hendak membunuh menutup mulut mereka?"

Di tengah loroh tawanya kedua telapak tangan terbalik terus menghantam, empat telapak tangan beradu menimbulkan benturan keras laksana guntur menggelegar, Tan Ciok-sing berdua yang sembunyi puluhan langkah di sanapun merasa pekak telinganya.

Agaknya kekuatan kedua pihak setanding, badan It-cuking-thian tampak limbung dua kali.

Sementara Ciang Thi-hu terdorong mundur tiga langkah baru bisa berdiri tegak.

"Toako,"

Kata In San.

"apa pula yang masih kau ragukan? Kita harus keluar membantu It-cu-king-thian."

Tan Ciok-sing masih bimbang, katanya lirih.

"It-cu-kingthian tidak akan kalah, kita saksikan saja nanti bertindak menurut gelagat,"

Tak nyana dalam sekejap itu situasi di depan mata ternyata mendadak berubah.

Kedua orang tadi sembunyi di belakang Ciang Thi-hu, pikirnya ada tameng untuk sembunyi, tak kira Ciang Thi-hu mendadak mengayun tangan ke belakang, kedua laki-laki itu dikepruknya mati dengan kepala pecah.

Jeritan yang menyayat hati menjelang ajal kedua orang ini membuat In San merinding dan mengkirik.

"Bagus,"

Bentak It-cu-king-thian.

"kiranya kau hendak menutup mulut mereka. Siapa kau?"

"Lui Tayhiap, aku bukan turun tangan membantu kau,"

Ucap Siang Thi-hu.

"yang terang kedua orang ini sudah terluka dalam oleh getaran tenaga dalammu, jiwanya takkan tertolong lagi. Kenapa kau biarkan mereka tersiksa lebih lama?"

"Keji juga caramu ini,"

Jengek It-cu-king-thian.

"orang she Lui masih ingin menjajalmu,"

Di tengah deru angin pukulannya, debu dan pasir beterbangan.

Dalam sekejap kedua pihak telah mengadu tiga kali pukulan, tapi akhir pukulan tidak bentrok secara keras karena Ciang Thi-hu menghindar sambil miringkan tubuh, sehingga dua gelombang pukulan berbareng menyapu ke satu arah.

"Biang"

Batu besar di sebelah kanan sana terpukul remuk.

Baru saja In San buka mulut mau mendesak Tan Ciok-sing keluar membantu, ternyata pertempuran tiba-tiba berhenti.

Ciang Thi-hu tampak melompat jauh kesana sambil tertawa tergelak-gelak.

"Apa yang kau tawakan-'' hardik It-cu-king-thian.

"Sudah lama kudengai kebesaran nama It-cu-king-thian yang mahir main golok dan ilmu pukulan telapak tangan, beruntung hari ini bersua disini, kenyataan memang tidak bernama kosong. Tapi kalau kau ingin mengadu pukulan dengan aku, kukira kau kurang pandai memilih lawan."

It-cu-king-thian mendengus.

"kau kira aku tidak mampu mengalahkan kau?"

"Bukan begitu maksudku. Kita sudah mengadu empat pukulan, kukira kau sudah tahu siapa diriku bukan? Kalau pertandingan dilanjutkan, mungkin aku bukan tandinganmu. tapi untuk mengalahkan aku, sedikitnya memakan tiga ratusan jurus. Bukankah dua hari lagi kau hadir dalam pertemuan besar di Lian-hoa-hong. Dalam pertemuan itu mungkin ada kejadian yang akan mempersulit dirimu. Tapi terhadapmu aku tidak bermaksud jahat, kenapa kau harus menguras tenagamu kepadaku?"

Sekilas It-cu-king-thian melengak, katanya.

"Gun-goan-itcu-kang yang tuan yakinkan memang jarang kusaksikan, kau terlalu sungkan, bila bertempur tiga ratus jurus mungkin aku yang kau kalahkan malah. Pada jaman ini orang yang memiliki Gun-goan-it-cu-kang sehebat ini hanya ada seorang, jadi kau inilah Ciang Thi-hu salah satu jagoan kosen dari Gi-lim-kun yang sejajar dengan Khu Ti pada dua puluh tahun yang lalu."

"Terima kasih akan pujian Lui Tayhiap, sebetulnya tak berani aku menerimanya. Sekarang boleh kita bicara secara santai bukan? Terus terang saja, dua puluh tahun yang lalu, aku sudah ingin berkenalan dengan kau, sayang tiada kesempatan."

"Terima kasih akan penghargaanmu, soal apa yang ingin kau bicarakan dengan aku?"

In San heran katanya.

"Kenapa Lui Tayhiap kelihatan semakin sungkan?"

"Tayhiap apa, kukira mereka memangnya sekomplotan,"

Demikian jengek Tan Ciok-sing.

In San geleng-geleng, agaknya dia masih tidak percaya bahwa It-cu-king-thian sekomplotan dengan Ciang Thi-hu, tapi kenyataan di depan mata ini sukar pula untuk dijelaskan.

Didengarnya Ciang Thi-hu berkata.

"Kau pasti curiga untuk apa aku datang kemari?"

"Betul,"

Ucap It-cu-king-thian.

"aku memang ingin tanya kepadamu?"

"Lui Tayhiap, kau sendiri apa pula kerja disini?"

"Kau sudah tahu sengaja tanya?"

"Jadi Lui Tayhiap mengaku akan maksud kemari, setujuan dengan kedua orang Hek-hou-pang ini?"

"Kaupun punya maksud yang sama bukan?"

"Kau keliru Lui Tayhiap,"

Ujar Ciang Thi-hu tertawa tergelak-gelak.

"Agaknya kau belum tahu."

"Tahu apa?"

Tanya It-cu-king-thian tertegun.

"Ilmu pedang Thio Tan-hong sudah ada pemiliknya, tapi kau masih main gali disini, umpama setiap jengkal tanah disini kau keduk juga tiada gunanya."

"Siapa yang memilikinya?"

Tanya It-cu-king-thian kaget.

"Seorang pemuda berusia likuran tahun."

"Pemuda berusia likuran tahun. Apakah dia she Tan?"

"Aku yakin kau sudah tahu siapa dia. Tapi akupun baru dua hari yang lalu tahu bahwa dia adalah cucu dari sahabatmu."

"Darimana kau tahu kalau dia yang memilikinya?"

"Kira-kira belasan hari yang lalu, aku pernah bergebrak dengan dia."

"O, jadi kedatanganmu ke Kwi-lin kali ini, tujuannya hendak mencari anak itu?"

"Bukan seluruhnya lantaran dia,"

"O ya, kabarnya kau memperoleh banyak keuntungan dari Liong-tayjin."

Ciang Thi-hu tertawa tergelak-gelak, tawa yang puas dan bangga, tapi dia tidak menjawab pertanyaan It-cu-king-thian, katanya sesaat kemudian.

"Lui Tayhiap, kau denganku bukan kawan dari segolongan, tapi ada sebuah urusan, bila kita bisa kerja sama secara jujur, pasti menguntungkan untuk kedua pihak. Apa kau sudi membicarakan soal itu denganku?"

"Baik, silakan menjelaskan."

"Sudah lama aku dengar betapa nikmatnya Sam-hoa-cui buatan Kwi-lin, sudikah kau mentraktirku "O ya, disini bukan tempat bicara. Kau datang ke Kwi-lin sebagai tuan rumah adalah pantas aku menjamumu, boleh silahkan kau ajak teman-temanmu datang ke tempatku."

"Lui Tayhiap, kau memang cerdik, sekali tebak lantas tahu bahwa persoalan ini memang masih perlu minta bantuan teman yang lain. Baiklah, mari sekarang kita berangkat."

Setelah bayangan mereka tidak kelihatan baru Tan Cioksing menghela napas, katanya.

"Tahu orangnya tahu mukanya tidak tahu hatinya, pepatah ini memang betul. Adik San, coba katakan apa salah aku mencurigai It-cu-king-thian!"

"Ya, aku masih tidak percaya bahwa Lui Tayhiap sebobrok itu, mustahil ada maksud-maksud tertentu yang tidak kita ketahui."

"Maksud apa?"

"Aku tak bisa menjelaskan. Tapi dari nada pembicaraan Ciang Thi-hu tadi sudah terbukti bahwa Lui Tayhiap hakikatnya belum pernah janji atau sekongkol dengan keluarga Liong. Bukankah dia bilang dia dan Lui Tayhiap, bukan kawan dari segolongan?"

"Tapi mereka hendak berintrik untuk mencelakai aku."

"Lho, merekakan tidak bicara begitu?"

"Urusan dagang apa yang Memangnya masih ada persoalan lain?"

"Walau aku saksikan sendiri dan mendengar percakapan mereka, kulihat mereka pergi bersama pula, tapi aku tak mau percaya bahwa It-cu-king-thian sudi berkomplot dengan Ciang Thi-hu untuk mencelakai kita. Untung masih ada waktu tiga hari, urusan ini bakal dibereskan."

"Maksudmu pertemuan di Lian-hoa-hong yang akan diadakan tiga hari lagi itu?"

"Keng Lam-wi bilang, kau akan bertemu dengan orang yang ingin kau temui di Lian-hoa-hong, aku yakin orang yang dimaksud adalah It-cu-king-thian, mungkin paman Tam juga disana. Boleh nanti kau langsung tanya padanya."

Tan Ciok-sing menghela napas, katanya.

"Ya, bagaimana juga baik dan bajik hati kita, apa salahnya kalau kita waspada dan siaga terhadap siapapun."

Sebetulnya In San mempercayai It-cu-king-thian, soalnya dia sendiri juga tidak bisa memberi penjelasan dan memecahkan kejadian yang baru saja disaksikan, apa lagi Tan Ciok-sing teramat kukuh akan pendapatnya, mau tidak mau keyakinannya menjadi goyah.

Sesaat kemudian baru dia bersuara.

"Lalu apakah kita harus menghadiri pertemuan Lianhoa-hong itu?"

"Hadir sih harus. Tapi kita harus lebih hati-hati. Bagaimana Kek Lam-wi sebetulnya, orang macam apa dia sebetulnya, hakikatnya masih terlalu asing bagi kita. Walau sepak terjangnya kelihatan lebih mendekati kaum pendekar."

In San termenung beberapa saat lamanya, katanya kemudian.

"Kau kuatir bila Kek Lam-wi kemungkinan sekomplotan dengan It-cu-king-thian?"

"Semoga tidak demikian."

"Bila betul mereka sekomplotan, bukankah kedatangan kita kesana berarti masuk perangkapnya?"

"Memang aku sedang berpikir dan mencari akal cara bagaimana kita harus memecahkan persoalan rumit ini."

In San tidak berani mengganggunya lagi, setelah menempuh perjalanan beberapa lamanya, tanpa terasa mereka sudah tiba di Hoa-kio, tak lama lagi mereka sudah akan tiba di hotel, baru In San bertanya.

"Sudah kau temukan caranya."

"Besok saja kujelaskan kepadamu,"

Sahut Tan Ciok-sing tertawa. Kontan In San merengut, dengusnya.

"Em, jual mahal segala?"

"Bukan jual mahal, apa akalku dapat terlaksana, harus kutunggu sampai besok pagi baru bisa kuketahui."

Tanpa diketahui siapapun mereka kembali ke kamar masing-masing, saat mana sudah menjelang kentongan kelima.

In San langsung tidur, tapi rasanya hanya sekejap saja, tahu-tahu dia waktu siuman mentari sudah menyorot masuk lewat jendela.

Setelah membersihkan badan dan berdandan In San lalu keluar dan mengetok pintu kamar Tan Ciok-sing, tapi tiada penyahutan.

Lekas pemilik hotel sudah lari mendatangi, katanya dengan tertawa.

"Sejak pagi-pagi tadi Tan-siangkong sudah keluar, katanya sebentar dia akan kembali. Dia bilang suruh kau sarapan pagi lebih dulu."

Setelah makan In San masuk kamar dan menunggu dengan sabar, kira-kira setengah jam kemudian baru Tan Ciok-sing kembali.

"Heh, kemana kau?"

Tanya In San.

"Aku pergi menyewa perahu, sebentar kita berangkat ke Yang-siok, rekening hotel sudah kulunasi seluruhnya. Lekas kau bereskan buntalanmu."

"Segera berangkat? Kenapa tidak lewat jalan darat?"

Tanya In San heran. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Dari Kwi-lin ke Yang-siok, perahu berlaju mengikuti arus air, sepanjang perjalanan kau dapat menikmati pemandangan alam nan permai sepuas hatimu. Kalau naik kuda lewat jalan darat, bukan saja kecapaian, tak mungkin kau menikmati kehidupan tentram sepanjang jalan."

"Jangan kau kira aku ini anak dogol yang ceroboh, aku tahu maksudmu,"

Demikian ucap In San.

"Kek Lam-wi mengundangmu bertemu di Lian-hoa-hong tiga hari lagi, kalau kita lewat jalan darat, kemungkinan jejak kita dikuntit kaki tangannya. Kau kuatir akan hal ini bukan?"

"Otakmu memang encer, sekali tebak kena sasaran. Kalau kita naik perahu lebih dini, mungkin mereka tidak akan menduga. Apalagi perahu bisa langsung tiba di bawah Lianhoa-hong. Waktunya sudah kuperhitungkan, kira-kira hari ketiga malam kita akan tiba di tempat tujuan. Kita bisa naik ke gunung tanpa diketahui siapapun."

"Kuda kita bagaimana?"

Tanya In San.

"Tinggalkan saja di Kwi-lin."

"Titipkan kepada pemilik hotel? Berani kau mempercayainya?"

Lirih suara Tan Ciok-sing.

"Pemilik perahu adalah teman karibku sejak kecil, waktu anak-anak dulu sering kami bermain di sungai menangkap ikan,"

Lalu dengan tertawa dia menambahkan.

"waktu melihatku tadi semula dia masih raguragu tapi rasanya seperti sudah kenal, akhirnya setelah aku memanggil dengan nama kecilnya, baru dia berjingkrak girang. Temanku ini seratus persen dapat dipercaya."

"Jadi kedua ekor kuda kita hendak kau titipkan ke rumahnya? Kuda itu kita pinjam dari Kanglam Sianghiap, jikalau hilang bagaimana?"

"Kita harus berani bertaruh. Bicara terjadi sesuatu, umpama kita ke Yang-siok naik kuda, bukan mustahil persoalan yang akan kita hadapi di tengah jalan mungkin lebih banyak dan ruwet,"

Akhirnya In San setuju saja, maka Tan Ciok-sing lantas mengajaknya keluar.

Setiba di bawah Hoa-kio, temannya tukang perahu itu memang sudah menunggu mereka.

Melihat In San berpakaian sebagus dan berwajah setampan ini, tukang perahu kelihatan heran dan kesima, tapi dia cukup cerdik, apalagi tadi Tan Ciok-sing sudah jelaskan padanya, maka dia tidak banyak tanya, sikapnya wajar, sewajar dia melayani tamu-tamu yang lain.

Tan Ciok-sing serahkan kedua ekor kudanya kepada sanak keluarga tukang perahu untuk dibawa pulang, segera mereka naik ke perahu terus berangkat.

Setelah perahu berlaju di tengah sungai si tukang perahu baru bersuara dengan tertawa.

"Tan-toako, sudah beberapa tahun kita berpisah, kini kau sudah kaya, selama beberapa tahun ini kemana dan apa saja usahamu? Baru hari ini kau pulang ke kampung halaman?"

"Usaha apa? Pulang dengan kaya segala? Selama beberapa tahun ini aku hanya mengandal harpaku untuk mencari sesuap nasi di Kangouw. Siau-cu-cu, terus terang, aku amat kagum dan kepingin hidup setenang dan setentram kau. Kau memiliki perahu sendiri, kerja tak usah diperintah orang dan tidak perlu jengkel dan malu dimarahi orang, mencari sesuap nasi secara halal berdasar cucuran keringat sendiri. Berkecimpung di Kangouw, siksa deritanya luar biasa."

"Betul juga omonganmu, aku sih mengandal gunung dan air disini untuk mencari sesuap nasi. Ada saja ikan atau udang yang dapat kutangkap di sungai, meski agak sengsara, namun kita tetap hidup sederhana dan bersahaja, Siau-ciok-cu, tahun itu waktu rumahmu habis terbakar, kabarnya kakekmu meninggal, kucari kau kemana-mana, aku tidak tahu akan mati hidupmu, betapa sedih hatiku. Syukurlah hari ini mendadak kau muncul, legalah hatiku. Siau-ciok-cu, peduli kau berduit atau kantongmu kempes, sikapku terhadapmu tetap seperti dahulu. Kembalilah keharibaan kampung halaman, kita bersaudara tetap bisa hidup berdampingan menangkap ikan di sungai, mencari kayu bakar di gunung, bukankah lebih baik? Akupun ingin belajar memetik harpa padamu,"

Katanya diucapkan dengan tulus, tanpa terasa berkaca-kaca kelopak mata Tan Ciok-sing haru.

"Bukankah sekarang aku sudah kembali? Kelak aku memang hendak membangun pula rumahku itu, seperti kakek untuk selamanya aku akan hidup di bawah Cit-sing-giam. Bukan aku saja yang akan menetap seumur hidup disini, temanku ini pun akan menemaniku tinggal disini selamanya."

"Apa betul? Em, siapakah nama besar temanmu ini, kenapa tidak kau perkenalkan padaku?"

Ujar tukang perahu. In San segera menyebut sebuah nama palsu katanya.

"Sudah lama aku kepingin menikmati panorama nan indah dan molek di desamu ini. Aku memang ingin menetap di Kwi-lin saja. Untuk itu aku harus pulang dulu ke desa baru akan kemari lagi."

Tukang perahu tertawa, katanya.

"Baik juga kau nikmati dulu pemandangan sepanjang Kwi-lin ke Yang-siok ini, yakin kau akan lebih mantap tinggal disini. Kau adalah teman Siauciok-cu, maka aku amat senang menyambut kedatanganmu."

"Siau-ciok-cu (si krikil cilik), em, Tan-toako baru sekarang aku tahu akan nama kecilmu,"

Demikian kelakar In San.

"Sejak kecil dengan Tan-toako kami saling memanggil nama kecil. Dia bernama Tan Ciok-sing, maka aku memanggilnya Siau-ciok-cu. Namaku Lauw Tui-cu, maka dia memanggilku Siau-cu-cu (si jagak cilik)."

"Siau-cu-cu,"

Tukas Tan Ciok-sing.

"beberapa hari ini adakah pelancongan dari luar daerah yang menyewa perahumu pergi Yang-siok?"

"Ya, kemarin dulu ada beberapa orang berlogat utara hendak menyewa perahuku, jumlah mereka terlalu banyak, perahu kecil, akhirnya mereka menyewa perahu Hou-losam."

"Di Yang-siok adakah tokoh besar yang diagungkan? Maksudku orang ternama seperti It-cu-king-thian Lui Tin-gak dan lain-lain."

"Betul, kini kuingat,"

Ujar Siau-cu-cu.

"Di Yang-siok memang ada seorang gagah yang kaya raya, kabarnya dalam gedungnya memelihara banyak busu, kepandaian kungfunya sendiri juga tinggi. Memang namanya tidak tersohor sebanding Lui Tayhiap, tapi daerah sekitarnya dia cukup terkenal dan disegani. Kabarnya beberapa hari lagi dia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 60, bukan mustahil tamu-tamu luar daerah itu semua hendak memberi selamat kepadanya."

"Siapakah orang itu? Kok belum pernah kudengar adanya orang gagah macam itu."

"Orang itu she Nyo bernama Hou Hu. Kabarnya rumahnya berada di atas Bik-lian-hong. Dua tahun terakhir ini aku sering ke Yang-siok baru kudengar perihal dia."

Dalam hati Tan Ciok-sing berpikir.

"Belum pernah kudengar nama Nyo Hou-hu di kalangan Kangouw, mungkin hanya raja tanah di sekitar Yang-siok saja? Apakah pantas dia mengerahkan delapan dewa menyambut tamu segala? Mungkin aku masih cetek pengalaman, setelah tiba di Yang siok akan kucari tahu saja,"

Lalu dia bertanya.

"Hari ini adakah tamu yang menuju ke Yang-siok?"

"Sejak kemarin sudah tiada tamu yang menyewa perahu ke Yang-siok. Kau kan tahu, untuk sampai ke Yang-siok, naik perahu memerlukan waktu tiga hari dua malam, jauh lebih lambat dari jalan darat. Bagi yang suka menikmati pemandangan alam baru naik perahu dan mereka berangkat lebih dini, kalau sekarang baru berangkat, naik perahu lagi, dia tidak akan sempat menghadiri perayaan hari ulang tahun Nyo-toaya."

Seperti ingat sesuatu tiba-tiba tukang perahu menambahkan.

"Tadi kau menyinggung It-cu-king-thian Lui Tin-gak, kini aku baru ingat. Bukankah kakekmu dulu sahabatnya? Setelah rumahmu terbakar habis dia pernah datang mencari tahu duduk persoalannya."

"Lho, kabarnya It-cu-king-thian juga menghilang pada tahun itu bukan?"

Tanya Ciok-sing.

"Memangnya, hal itu memang agak aneh, malam kedua setelah rumahmu terbakar, rumah Lui Tayhiap juga terbakar habis. Sejak itu tak pernah ada orang melihat Lui Tayhiap pula."

"Kapan dia mencari tahu kepada kalian?"

"Hari ketiga setelah rumah keluargamu terbakar habis. Tapi bukan Lui Tayhiap sendiri yang datang, tapi seorang tua pesuruh yang mencari tahu kalian kakek dan cucu."

"Dia tidak mencari majikan sendiri malah perhatikan kami, bukankah aneh."

"Lui Tayhiap dijuluki It-cu-king-thian, apa makna julukannya itu, memangnya kau tidak tahu?"

"Kakek pernah menjelaskan kepadaku, julukannya itu mengandung dua arti. Pertama diibaratkan Tok-siu-hong di Kwi-lin, sebagai sebuah tonggak di langit selatan. Kedua, dia suka melindungi teman, umpama tonggak yang menyanggah langit, melindungi umat manusia yang menderita kesukaran."

"Lho, kau sudah tahu, kenapa dibuat heran, Lui Tayhiap adalah laki-laki sejati, seorang kawan setia, menurut cerita orang tua pesuruh itu, dua hari setelah rumahmu terbakar, sebetulnya dia sendiri mau datang memeriksa. Tapi setelah lewat lohor baru dia memperoleh berita, kebetulan rumahnya kedatangan seorang teman lama yang sudah sekian tahun tak pernah ketemu, maka dia tidak sempat meluangkan waktu. Maka berpesan kepada pesuruh tua itu untuk menyelidiki persoalan dan mencari tahu jejak kalian kakek dan cucu. Malam itu juga pesuruh tua itu meninggalkan rumah keluarga Lui dan tinggal di rumah familinya di pintu timur, besok paginya baru akan ke Cit-sing-giam memeriksa rumah dan mencari tahu kalian. Tak nyana malam itu juga rumah keluarga Lui kebakaran, beruntung pesuruh tua ini terhindar dari petaka ini tapi dia sendiri juga tidak tahu nasib majikannya, karena kejadian amat mendadak, maka dia terlambat bertindak hingga hari ketiga dia sempat mencari kalian dan menyelidiki kejadian itu."

"Pesuruh tua itu bilang, perduli majikannya masih hidup atau sudah mati, dia harus tetap melaksanakan pesannya itu. Pertama harus mendapat tahu nasib sebenarnya kalian kakek dan cucu, kalau masih hidup harus ditampung, kalau sudah mati harus kebumikan atau diperabukan sesuai keinginan sang majikan. Sayang dia mencari tahu kepadaku, aku sendiri tahu apa. Ai, Lui Tayhiap setia kawan dan berani berkorban demi kawan, walau kejadian itu tidak terlalu mengherankan bagi aku, tapi aku ikut menyesal dan gegetun sekali."

Tan Ciok-sing tertawa dingin, katanya.

"Bahwa dia begitu memperhatikan kakek dan aku, akupun merasa heran dan terharu, entah bagaimana aku harus membalas kebaikannya."

Agaknya tukang perahu itu tidak memperhatikan sikap nada ganjil Tan Ciok-sing, katanya lebih lanjut.

"Akhir-akhir ini kudengar berita angin, katanya Lui Tayhiap masih hidup, berapa tahun yang lalu setelah rumahnya kebakaran dia lantas ngungsi ke lain tempat, kini sudah kembali. Entah betul atau tidak... semoga Thian melindungi umatnya yang sosial dan dermawan."

Hari kedua perahu sudah keluar dari daerah Ling-yang dan mulai masuk keresidenan Yang-siok.

Setelah melewati dua selat, tampak puncak gunung menjulang tinggi di kejauhan sana.

Menuding sebuah puncak yang bentuknya seperti sebuah mahkota tukang perahu berkata.

"Itulah puncak pertama yang paling ternama di Yang-siok bernama Kwanwan (karang mahkota)."

Keluar dari Kwan-wan mereka memasuki daerah Siau-san (gunung sulam), sesuai namanya puncak inipun terdiri dari batu karang yang beraneka ragam bentuk dan warnanya, coraknya seperti sebuah kain sulaman yang memiliki warnawarni yang mempesona, tak ubahnya laksana sebuah lukisan alam nan permai.

Tiba-tiba tukang perahu berkata.

"Siau-ciok-cu sudikah kau memetik harpamu, petiklah sebuah lagu untukku? Sejak kecil aku suka mendengar petikan harpa, di alam nan permai dengan hawa nan sejuk ini, betapa nikmatnya mendengarkan himbauan musik yang santai."

Memang Tan Ciok-sing sendiri juga menjadi gatal jarijarinya, segera dia turunkan harpanya serta mulai memetikkan sebuah lagu tamasya.

In San dan tukang perahu berdiri pesona mendengar perpaduan irama musik dan gemericiknya air sungai.

Begitu satu lagu selesai dipetik tukang perahu segera tepuk tangan sambil memuji.

"Siau-ciok-cu hebat sekali, begitu bagus petikan harpamu kukira tidak kalah dari kakekmu dulu."

Tengah mereka bicara, tiba-tiba dari tempat yang amat jauh sayup-sayup terdengar sebuah suitan panjang, suitan yang memuji oleh himbauan irama harpa yang indah ini.

Diam-diam Tan Ciok-sing kaget, hatinyapun amat menyesal.

"Eh, Siau-ciok-cu, kenapa kau? Sikapmu kelihatan agak janggal?"

Tanya tukang perahu.

"Tidak apa. Siau-cu-cu, apa kau mendengar suara suitan?"

"Aku tidak perhatikan. Mungkin kau salah dengar."

"Tidak mungkin salah, yang kudengar betul adalah suitan manusia, bukan suara air."

Tan Ciok-sing tidak tahu dari arah puncak mana datangnya suitan tadi, maka jaraknyapun sukar diukur, apakah orang yang bersuit memiliki lwekang tinggi juga sukar diduga.

Maka diapun tidak tanya lebih lanjut.

Hari itu mereka berlayar tanpa mengalami sesuatu kejadian, hanya perasaan Tan Ciok-sing agak terganggu oleh suitan tadi, sehingga tiada seleranya lagi menikmati pemandangan sepanjang perjalanan ini.

Sesuai rencana hari ketiga menjelang magrib mereka sudah tiba di bawah Bik-Iian-hong.

Seperti juga Tok-siu-hong di Kwilin, Bik-lian-hong inipun menjulang tinggi mencakar langit tak ubahnya sebuah tonggak yang menyanggah langit, tapi kelihatannya lebih tinggi dibanding Tok-siu-hong.

Cuaca sudah remang, dari kejauhan tidak kelihatan jelas, tapi lapat-Iapat masih kelihatan puncak gunung ini seperti mekar laksana kelopak kembang teratai yang sedang berkembang.

Setelah perahu menepi tukang perahu berkata.

"Hari sudah gelap, kalian nginap di perahu saja semalam. Nanti kupancing dua ekor ikan segar untuk lauk pauk makan malam."

"Siau-cu-cu, ingin aku melihat caramu memancing ikan, tapi setelah makan malam, kami akan naik ke darat,"

Kata Ciok-sing.

"Kalian mau pergi kemana, kan siang hari lebih baik. Kenapa malam-malam, apa mau cari hotel?"

"Kita punya tujuan tertentu, bukan mau cari hotel."

"Kalian mau kemana?"

"Terus terang, ada seorang teman yang baru kami kenal mengundang kami bertemu disini,"

Demikian Tan Ciok-sing menjelaskan.

"Siau-cu-cu, sejak kecil kita adalah teman karib, tidak pantas aku ngapusin kau, kedatanganku ke Yang-siok kali ini bukan hanya ingin bertamasya, tapi ada urusan lain yang akan kami kerjakan. Tapi akan merugikan kau bila kau tahu tentang urusan ini, oleh karena itu aku mohon maaf dan harap kau maklum, hal itu tak bisa kujelaskan kepadamu. Tiga hari kemudian, aku akan pulang ke rumahmu, tapi andaikata aku tidak bisa pulang, tolong kau rawat kuda kami itu. Kelak ada orang akan datang mengambilnya, asal orangnya cocok dan bicaranya benar, boleh kau serahkan padanya,"

Lalu dia sebutkan nama Kanglam Sianghiap serta melukiskan perawakan dan muka mereka, Lalu dia merogoh perak seberat 10 tahil diserahkan kepada tukang perahu sebagai ongkos makan kudanya.

Karuan tukang perahu melongo kaget, sekian lama baru dia bersuara.

"Siau-ciok-cu, uang ini kau harus tarik kembali. Walau aku miskin, kedua ekor kuda itu aku masih mampu memberinya makan Tapi aku rada kuatir, kenapa kau punya maksud untuk tidak kembali Terus teranglah kepadaku, apakah urusan yang hendak kau selesaikan itu mungkin bakal merenggui jiwamu?"

"Nasib manusia sukar diramal, aku hanya berusaha untuk berhati-hati dan menjaga segala kemungkinan, kukira aku tidak akan mengalami bahaya seberat itu. Untuk ini kau tidak perlu terlalu kuatir."

"Kalau begitu, Siau-ciok-cu, kau tidak usah pergi saja."

"Pertemuan kali ini menyangkut masa depanku, betapapun aku harus menepati janji ini. Sekarang tak bisa kujelaskan, tapi bila aku bisa pulang ke rumahmu, kelak akan kuceritakan padamu."

"Baiklah, kalau begitu aku juga tidak akan pulang, biar aku menunggumu di bawah Bik-lian-hong ini."

"Lho, jangan, jangan kau terlibat dalam persoalan ini."

Tukang perahu geleng-geleng, katanya.

"Tidak, kau ini sukalah maafkan aku kalau aku tidak menurut petunjukmu. Sejak kecil kita sudah seia sekata, berat sama dipikul enteng sama dijinjing bersama, kau masih ingat bukan?"

Melihat sikap tegas dan kukuh tukang perahu akhirnya Ciok-sing berkata.

"Baiklah begini saja, kau tunggu sampai besok pagi bila mentari sudah terbit, aku belum kembali, kau harus segera pulang, jangan kau mencari tahu tentang diriku."

Melihat sikap Ciok-sing yang serius tukang perahu tahu urusan agak genting, maka dia tidak banyak tanya lagi.

Saat mana sudah mendekati kentongan kedua Tan Cioksing mohon diri kepada Siau-cu-cu, dia ajak In San meninggalkan perahu terus mendarat, sengaja dia memilih letak dan jurusan utara yang curam dan berbahaya dari Biklian-hong terus manjat ke atas.

Dengan ginkang mereka yang tinggi, tidak ada kesulitan yang dapat merintangi mereka, lekas sekali mereka sudah berada di puncak Bik-lian-hong.

Pohon siong tampak menjulang tinggi ke angkasa, batu-batu gunung bercorak ragamnya tersebar disana sini, di bawah penerangan cahaya bulan sabit, suasana tampak sunyi dan seram.

Dari tempat nan tinggi ini tampak Le-kang legat legot laksana ular putih yang merambat di bumi nan luas ini.

Tan Ciok-sing selalu memikirkan pertemuannya dengan Kek Lam-wi, maka dia tidak punya selera menikmati pemandangan alam di malam hari yang mempersona ini.

Batinnya.

"Dia pasti menduga aku baru akan datang setelah lewat tengah malam, maka dia tidak akan menungguku di puncak ini, bagaimana aku harus mencarinya?"

Tengah dia melamun, tiba-tiba dilihatnya di tanah berumput di depan sama muncul bayangan dua orang, In San segera berbisik di pinggir telinganya.

"Nah itu mereka datang, bagaimana kita?"

Yang muncul ternyata memang Kek Lam-wi dengan gadis jelita yang seperjalanan menunggang kuda tempo hari.

"Tunggu dulu perkembangan selanjutnya,"

Kata Tan Cioksing lirih. Terdengar gadis ita berkata. 'Sudah menjelang kentongan ketiga, kukira sahabat yang kau undang itu takkan datang kemari."

Baca Juga: Elang Pemburu 4

Baca Juga: Golok Bulan Sabit 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger