Pendekar Pemetik Harpa 6

Eps 6 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

"Rembulan belum bercokol di tengah cakrawala, berarti masih termasuk hari ini. Kalau aku mengundangnya bertemu hari ini, maka kita harus menunggunya pula satu jam,"

Demikian sahut Kek Lam-wi.

"Untuk menunggu dia disini kau sampai tidak menghadiri perjamuan ulang tahun yang besar-besaran itu. Tamu-tamu ternama yang datang dari berbagai tempat tidak sedikit jumlahnya."

"Aku tahu, namanya saja tuan rumah perjamuan adalah Nyo Hou-hu, yang betul atas nama dan pamor It-cu-kingthian, Lui Tayhiap. Memangnya siapa yang takkan memberi muka terhadap Lui Tayhiap?"

Tan Ciok-sing kaget, batinnya.

"Kiranya tidak meleset dugaanku, tuan rumah sebetulnya memang It-cu-king-thian."

Terdengar gadis itu bertanya.

"Apa kau tahu kenapa Lui Tayhiap meminjam kesempatan perayaan hari ulang tahun Nyo Hou-hu ini mengundang kawan-kawannya sebanyak itu?"

"Walau aku diangkat salah satu dari Pat-sian menyambut tamu, tapi liku-liku persoalannya juga tidak tahu?"

"Apa kau beritahukan perjanjianmu kali ini kepada Lui Tayhiap?"

"Dia terlalu banyak urusan, sekecil ini kenapa harus diberitahu padanya?"

Apalagi asal-usul sahabat itu aku sendiri juga belum tahu,"

"Tapi dia tanya padaku tentang dirimu."

"Apa jawabmu?"

"Apa yang kau katakan kepada Nyo Hou-hu demikian pula kukatakan padanya."

Ternyata sejak pagi-pagi tadi Kek Lam-wi sudah memberi salam hormat dan menghaturkan selamat hari ulang tahun kepada Nyo Hou-hu, diapun mohon pamit untuk bertamasya ke Kwan-wan dan Bik-lian-hong, malamnya baru pulang ikut menghadiri perjamuan.

Tapi dikuatirkan bila pulangnya terlambat, maka dia mohon diri dan harap dimaafkan.

Bagaimana asal-usul Tan Ciok-sing, Kek Lam-wi sendiri tidak jelas, apakah Tan Ciok-sing mau menepati undangannya?

Juga dia tidak tahu, maka urusan ini tidak berani dia bicarakan kepada tuan rumah, kuatir kalau terjadi sesuatu yang tak terduga.

Dia pikir setelah bertemu dengan Tan Ciok-sing baru aku berkeputusan apakah patut dia membawa kawan baru ini hadii dalam perjamuan itu.

Tamu-tamu yang menghadiri perayaan hari ulang tahun Nyo Hou-hu kebanyakan datang dengan dua tujuan, pertama ialah ingin bertemu dengan It-cu-king-thian yang telah menghilang sejak empat tahun yang lalu, kedua ingin bertamasya di daerah sekeliling Yang-siok yang penuh dengan obyek-obyek wisata.

Hari ini perjamuan akan diadakan malam hari, maka banyak tamu seperti juga Kek Lam-wi sejak pagipagi sudah membuat rencana bersama teman-temannya untuk bertamasya.

Soalnya Kek Lam-wi termasuk salah satu dari Pat-sian, maka dia-memerlukan untuk memberitahu dulu kepada tuan rumah.

Menurat rencana Kek Lam-wi semula, sebelum hari gelap dia sudah bakal kembali menghadiri perjamuan besar di rumah keluarga Nyo tak nyana setelah ditunggu-tunggu sampai kentongan ketiga Tan Ciok-sing belum juga kunjung tiba.

Kini mendengar Lui Tayhiap pernah menanyakan dirinya, dia jadi rikuh dan agak menyesal.

"Bagaimana Lui Tayhiap sampai menanyakan diriku?"

Tanya Kek Lam-wi. Gadis itu lantas bercerita.

"Tadi ada seorang tamu memetik kecapi sambil minum arak untuk memeriahkan pertemuan dan menyambut kedatangan para tamu yang lain, tiba-tiba Lui Tayhiap ingat dirimu."

"Karena mendengar petikan kecapi itu baru dia teringat akan tiupan serulingku?"

"Betul, malah dia juga menyinggung seorang lagi. Coba kau tebak siapa?"

"Kenalan Lui Tayhiap tersebar di seluruh jagat, bagaimana aku bisa menebaknya."

"Yang dia singgung adalah orang yang kau undang untuk bertemu disini."

"O, jadi sahabat she Tan itu juga kenalan Lui Tayhiap?"

Tan Ciok-sing yang mencuri dengar percakapan mereka, diam-diam ikut terkejut.

"Pemuda itu masih terhitung Wanpwe Lui Tayhiap, kakeknya adalah sahabat baik Lui Tayhiap. Bukankah kau ingin tahu asal-usulnya? Biar sekarang kuberi tahu padamu, kakeknya adalah..."

"Nanti dulu coba kutebak. Kakeknya pasti adalah guru harpa nomor satu di seluruh jagat Tan Khim-ang."

"Sungguh pintar, sekali tebak kena sasaran. Menurut cerita Lui Tayhiap, Tan Khim-ang menghabiskan masa tuanya di bawah Cit-sing-giam, mereka sering berhubungan. Sayang beberapa tahun yang lalu telah meninggal. Cucunya itu juga meninggalkan Kwi-lin. Kukira cucu Tan Khim-ang yang dia maksudkan, sembilan puluh persen adalah pemuda she Tan yang kau undang kemari itu."

"Ya pastilah,"

Ucap Kek Lam-wi tertawa getir.

"kau memujikan pintar, yang benar aku ini terlalu ceroboh. Seharusnya sejak mula aku sudah menebak kalau dia adalah keturunan Tan Khim-ang. Kecuali keturunan Tan Khim-ang, siapa pula yang mampu memetik harpa sebagus itu? Sayang aku tidak tahu bahwa Tan Khim-ang mengasingkan diri di bawah Cit-sing-giam, kalau tidak tentu sudah kutebak akan dirinya. Siapakah nama cucu Tan Khim-ang apakah Lui Tayhiap memberitahu padamu? Kukira nama yang dia pakai di hotel adalah nama palsu."

"Pemuda itu bernama Tan Ciok-sing. Lui Tayhiap bilang, katanya dia dengar Tan Ciok-sing sudah kembali ke Kwi-lin, dia minta bantuan kita untuk memperhatikan. Dia ingin bertemu dengan cucu sahabatnya itu."

"Lalu kau memberitahu kepadanya tidak?"

"Waktu itu ada beberapa tamu lain yang ajak dia bicara, kulihat dia terlalu sibuk, maka kupikir biar setelah kau bertemu dengan sahabat itu, kalau betul dia adalah Tan Ciok-sing, lalu membawanya menemui Lui Tayhiap biar dia merasa diluar dugaan dan kesenangan."

Diam-diam Tan Ciok-sing sembunyi di belakang batu membatin.

"Untung aku tidak segera unjuk diri. Hm, Lui Tinggak ingin selekasnya bertemu denganku karena ingin bantu menyelesaikan tugas kerja Ciang Thi-hu, aku hendak dibekuknya dan diserahkan kepada Liong-tayjin mereka? Kek Lam-wi ini agaknya orang baik, tapi dia belum tahu kemunafikan Lui Tin-gak, sekarang biar kutunda dulu bertemu dengan dia. Coba dengarkan percakapan mereka."

Tan Ciok-sing ingin tahu apakah Ciang Thi-hu sudah datang belum.

Tapi Kek Lam-wi dan gadis itu membicarakan persoalan yang lain, hakikatnya mereka tidak pernah menyinggung Ciang Thi-hu.

Kek Lam-wi menghela napas, katanya.

"Sayang kini sudah mendekati kentongan ketiga, Tan Ciok-sing belum juga kunjung tiba, mungkin dia akan datang. Kau menyusulku hendak mengajak pulang bukan? Memang aku yang bikin kau menunggu dengan hati tidak tentram."

"Kali ini hanya separo tebakanmu yang kena,"

Ujar si gadis tertawa.

"Kena separo bagaimana?"

Tanya Kek Lam-wi melengak.

"Hatiku gelisah menunggumu, memang betul. Tapi bukan aku menyusul kemari untuk mengajakmu pulang. Sebaliknya aku ingin kau tetap berada disini saja, malah kalau bisa sampai besok pagi setelah fajar menyingsing."

"Setelah kentongan ketiga, berarti perjanjian hari itu batal, kau kira Tan Ciok-sing masih akan datang?"

"Bukan untuk menunggu Tan Ciok-sing, Yang ingin supaya kau tetap berada disini juga bukan aku, aku hanya menyampaikan pesannya saja."

Semakin heran Kek Lam-wi tanyanya.

"Pesan siapa?"

"Nyo Cengcu yang merayakan hari ulang tahun."

"Untuk apa dia suruh aku tetap disini?"

"Aku sendiri juga tidak tahu. Setelah perjamuan bubar dia mengundangku kedalam sebuah kamar, diam-diam dia memberitahukan kepadaku supaya sebelum kentongan ketiga sudah berada di atas Bik-lian-hong, katanya ada sebuah peristiwa besar bakal terjadi. Kutanya dia peristiwa apa, dia bilang setelah saatnya kau akan tahu. Pendek kata ada sebuah tontonan baik. Dia tanya kau apa sudah pulang, kalau sudah pulang supaya mengajakmu pula. Sebetulnya aku ingin bilang bahwa kau memang sudah berada disini. Tapi dia masih banyak kerjaan, mungkin hendak memberitahu tamu lain secara pribadi, sikapnya kelihatan buru-buru, maka tak enak aku banyak tanya, saat itu juga aku lantas berangkat kemari menyusulmu."

"Pesan apa yang dia sampaikan?"

"Dia suruh aku jangan bersuara meski melihat kejadian aneh apapun, setelah dia tepuk tangan sebagai tanda, hadirin baru diharapkan keluar."

"Apa hadirin?"

"Ya, oleh karena itu aku yakin orang yang diundang kemari untuk melihat tontonan itu bukan kita berdua saja."

"Kejadian ini sungguh aneh, sandiwara apa sih yang tengah dirancangnya?"

"Mana aku tahu? Seperti kau akupun tidak habis mengerti. Pendek kata ada tontonan, marilah kita menunggu dengan sabar."

Agaknya dia masih tidak tahu, kecuali Kek Lam-wi tak jauh dari mereka masih ada dua orang lain yang juga keheranan dan bertanya-tanya dalam hati.

Akhirnya Tan Ciok-sing berbisik di pinggir telinga In San.

"Mungkin tidak karena aku?"

"Kukira tidak mungkin. Kek Lam-wi dan nona itukan tidak membocorkan rahasia pertemuan disini. Bagaimana Nyo Houhu bisa tahu kalau kau berada disini. Apa lagi bila untuk menghadapi kau, seorang Lui Tayhiap kan sudah cukup berkelebihan, kenapa harus mengerahkan orang banyak itu?"

"Kalau begitu biarlah kitapun tunggu disini saja, nanti ikut menonton keramaian."

"Betul, saat ini sudah hampir kentongan ketiga, sebentar lagi tontonan akan segera dimulai."

Mereka bicara dengan bisik-bisik, ternyata kedua muda mudi disana tidak tahu. Tiba-tiba didengarnya gadis itu berkata lirih.

"Agaknya ada orang datang, lekas kita sembunyi jangan bersuara."

Tak lama kemudian, betul juga tampak dua orang beranjak memasuki tanah rumput, melihat kedua orang ini, jantung Tan Ciok-sing serasa hendak melonjak keluar.

Yang datang ternyata bukan lain adalah It-cu-king-thian Lui Tingak dan Ciang Thi-hu.

Saking heran In San berbisik menempel telinga Tan Cioksing.

"Eh, tak kira Ciang Thi-hu bangsat tua inipun kemari."

"Kenapa heran, bukankah tuan rumah pertemuan ini adalah It-cu-king-thian sendiri, mereka memang sedang berintrik, tidak heran kalau It-cu-king-thian juga mengundangnya,"

Demikian Tan Ciok-sing dengan suara tawar. Bagaimana juga In San masih tidak percaya kalau It-cuking-thian sudi bersekongkol dengan Ciang Thi-hu, katanya.

"Kukira Lui Tayhiap punya rencana dan maksud tertentu?"

"Kecuali ingin menjilat pada bangsat tua ini, apa pula tujuannya?"

Jengek Ciok-sing.

"Kukira Lui Tayhiap tidak akan seperti itu, apalagi dalam pertemuan ini betapa banyak kaum pendekar yang hadir, kalau Lui Tayhiap berani membawa bangsat tua ini kemari, mau tidak mau memang harus dicurigai, memangnya Nyo Hou-hu tidak tahu akan asal-usul bangsat tua ini?"

"Kuatirnya kaum pendekar itu semuanya diapusi oleh It-cuking-thian. Kapan Nyo Hou-hu keluar dari daerahnya, sejak dua puluh tahun yang lalu Ciang Thi-hu sudah jadi antek kerajaan, maka tidak perlu heran kalau Nyo Hou-hu tidak tahu asal-usulnya."

"Kukira urusan tidak segampang itu, Nyo Hou-hu mengundang orang banyak menyaksikan tontonan di Lian hoa-hong yang dimaksud adalah adu kepandaian antara It-cuking-thian melawan Ciang Thi-hu."

"Kalau begitu tak perlu kita berdebat sendiri, lihat saja tontonan apa yang bakal terjadi."

Tatkala It-cu-king-thian dan Ciang Thi-hu sudah berada di tengah tanah lapang, keduanya lantas duduk di atas sebuah batu karang sambil bercakap-cakap. Terdengar It-cu-king-thian berkata.

"Lociang, sekarang kau sudah maklum kenapa aku mengajakmu memberi selamat ulang tahun kepada Nyo Hou-hu bukan? Semula aku masih kuatir, apakah kau punya keberanian sebesar ini?"

"Aku sudah tahu kaulah sebenarnya yang menjadi tuan rumah pertemuan itu, bahwa kau percaya padaku, maka akupun harus percaya padamu, kau pula yang mengundangku, apa pula yang harus kutakuti?"

"Aku mengundangmu bukan lantaran aku tuan rumahnya, maksudku untuk menambah semarak perjamuan besar itu. Untuk ini kukira kau sudah maklum akan jerih payahku ini."

"Kira-kira aku sudah dapat meraba, tapi sukalah kau menjelaskan lebih lanjut."

It-cu-king-thian tertawa, katanya.

"Orang-orang yang ingin kau temui, umpama kali ini tidak seluruhnya hadir, kukira delapan puluh persen juga sudah ada."

"Betul, menurut daftar yang kuterima dari Liong-tayjin orang-orang dari kawan dan lawan memang banyak yang hadir pagi tadi."

"Adakah yang mengenali dirimu."

"Kawan-kawan yang menjadi spion Liong-tayjin sudah tentu ada yang kenal aku, tapi mereka tidak membocorkan rahasiaku."

"Kalau orang-orang yang harus kau tangkap menurut perintah Liong-tayjin?"

"Mungkin mereka juga belum tahu asal-usulku, kalau tidak di waktu kau memperkenalkan aku meski aku memakai nama palsu, mereka pasti sudah melabrakku. Hehe bukan aku suka agulkan diri, kepandaianku merias diri ternyata dapat mengelabuhi mereka, sudah dua puluh tahun aku tidak berkecimpung di kalangan Kangouw, kecuali tokoh-tokoh yang sudah tua dan kenal aku, mereka takkan ada yang tahu akan diriku."

"Siapa yang paling menarik perhatianmu?"

"Memangnya perlu dikatakan lagi, sudah tentu teman baikmu Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun."

"Kau tidak kira kalau dia datang bukan?"

"Liong-tayjin sudah mendapat kabar. Cuma aku tidak kira bahwa kau sampai menggunakan peradatan Pat-sian-ing-khek untuk menyambut kedatangannya."

Mendengar sampai disini, sungguh senang hati In San bukan main. Pikirnya.

"Ternyata Pat-sian-ing-kek itu untuk menyambut kedatangan Tam Pa-kun. Lui Tayhiap adalah sahabat mati hidup Tam Tayhiap, yakin dia tidak akan menjual teman baiknya itu? Tapi kenapa Lui Tayhiap mengadakan perundingan rahasia dengan bangsat she Ciang ini?"

Mau tidak mau goyah juga kepercayaan In San terhadap It-cuking-thian.

"Kenapa tidak kau duga?"

It-cu-king-thian menegas.

"Walau dia teman baikmu, tapi di antara tamu-tamu yang hadir, nama dan pamornya adalah yang paling besar dan dihormati, tapi menurut hematku dia belum setimpal untuk disambut dengan cara Pat-sian-ing-kek. Mereka yang menjadi Pat-sian, seperti Wi-cui-hi-kiau, Ui-yap Tojin, Sia-cin Hwesio dan lain-lain, paling hanya setingkat di bawah kedudukan dan pamornya di bulim. Bagaimana juga Kim-to-thi-ciang masih terpaut jauh bila dibanding Thio Tan-hong. Oleh karena itu, Lo-lui, aku jadi heran dan tidak habis mengerti bagaimana kau bisa mengerahkan Pat-sian untuk menyambutnya."

Berkata It-cu-king-thian kalem.

"Pat-sian-ing-kek hakikatnya bukan menyambut kedatangan Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun. Tapi sekaligus untuk menyambut kedatangan duta khusus yang diutus oleh Kim-to Cecu."

Sebenarnya Ciang Thi-hu juga sudah meraba ke arah itu, tapi dia sengaja pura-pura tidak tahu, sengaja dia malah bertanya pula.

"Untuk apa Kim-to Cecu mengutusnya kemari?"

"Kini pihak kerajaan minta damai dengan pihak Watsu, kedua pihak sama-sama ingin memberantas laskar rakyat yang dikoordinir oleh Kim-to Cecu. Masakah kau tidak tahu, kenapa Kim-to Cecu khusus mengutus Tam Pa-kun kemari?"

"Ya, dia mewakili Kim-to Cecu untuk menarik simpati orang-orang gagah dan pahlawan-pahlawan bangsa untuk membantu perjuangannya?"

"Betul, demikian halnya."

"Apa kau ada maksud membantu mereka?"

It-cu-king-thian tidak menjawab "Ya"

Atau "tidak"

Namun dia berkata tawar.

"Apa tidak keterlaluan kau tanyakan hal ini kepadaku?"

Agaknya jawaban ini sudah diduga oleh Ciang Thi-hu, dia tertawa gelak, katanya.

"Kim-to Cecu dengan gabungan kekuatan laskar yang campur aduk itu hendak melawan pasukan besar Watsu, bukankah ibarat telur membentur batu. Mereka yang mau bergabung dan bantu dia berperang, bukan saja harus menderita dan tersiksa lahir batin, merekapun harus berkorban jiwa raga secara percuma, hanya kaum bodoh saja yang sudi berbuat demikian, oleh karena itu kita harus menggagalkan rencana gila ini Lo-lui, biar kuberi tahu suatu kabar baik padamu."

"Kabar baik apa?"

Tanya It-cu-king-thian.

"Sekarang Liong-tayjin sedang jaya, sebelum dia keluar dari kota raja. Baginda Raja telah mengundangnya, keputusan sudah akan segera diumumkan bahwa dia naik pangkat menjadi sekretaris militer. Dahulu orang tua Liong-tayjin juga pernah menjabat sekretaris militer, kini setelah sepuluh tahun berselang, diapun mendapat jabatan seperti ayahnya dulu, bukankah hal ini amat menggembirakan, sekaligus menguntungkan kita pula?"

"Ya, pepatah juga bilang air pasang perahunya tinggi, wah kau patut diberi selamat."

Ciang Thi-hu senang dan bangga, katanya tertawa.

"Kalau aku mendapat keuntungan, memangnya aku bakal melupakan kau? Tapi tahukah kau kenapa Baginda Raja mengangkat Liong-tayjin sebagai sekretaris militer, malah bukan mustahil kelak dia bisa diangkat menjadi perdana menteri?" -"Liong-tayjin cerdik pandai dan mahir bekerja, jasanya lebih dari orang tuanya adalah patut kalau Baginda Raja menggunakan tenaga militan untuk bantu menguasai pemerintahan kerajaan ini."

"Bahwa Liong-tayjin cerdik pandai bekerja pula hal ini tidak perlu diragukan, bahwa Baginda Raja mau memberikan hal dan kekuasaan sebesar itu, memang ada sebab musabab lainnya."

"Boleh aku tahu sebab-sebabnya itu?"

Tanya It-cu-kingthian.

"Sudah tentu boleh. Tentunya kau tahu pihak kerajaan sedang berusaha mengulur perdamaian dengan pihak Watsu, politik yang dianut adalah menentramkan dulu dalam negeri baru akan melawan atau membendung ofensif dari luar. Sementara Liong-tayjin memang sejak lama sudah ada ikatan dengan pihak Watsu, meski pasukan kedua negara sudah herbaku hantam di medan laga, duta-duta kedua pihak masih terus hilir mudik membicarakan perdamaian itu. Jadi peranan Liong-tayjin dalam hal ini boleh dikata amat besar, tidak heran kalau Baginda mengangkatnya sampai setinggi itu, maka..."

"Oleh karena itu jangan kita biarkan tugas utama kedatangan Tam Pa-kun kesini sampai berhasil, betul tidak?"

It-cu-king-thian meneruskan.

"Betul,"

Seru Ciang Thi-hu keplok tangan.

"karena itu bagaimana juga aku mohon bantuanmu untuk menggagalkan usaha mereka."

Tiba-tiba It-cu-king-thian berkata.

"Tahukah kau kenapa aku mengajakmu ke Lian-hoa-hong?"

Ciang Thi-hu melenggong, katanya.

"Di rumah keluarga Nyo memang tidak leluasa berbicara, kira-kira ada rahasia apa yang ingin kau beritahukan kepadaku?"

"Betul,"

Suara It-cu-king-thian kalem.

"ada sebuah berita baik yang akan kuberitahukan kepadamu juga."

Diam-diam bersorak girang hati Ciang Thi-hu tanyanya cepat.

"Kabar baik apa?"

"Belasan orang yang ada maksud masuk kedalam pasukan laskar rakyat Kim-to Cecu sudah diringkus secara diam-diam oleh Nyo Hou-hu, di antaranya adalah orang-orang yang sudah terdaftar oleh Liong-tayjin. Minuman yang diberikan kepada mereka sudah dicampur obat bius yang khusus dibuat untuk mereka. Orang lain menyangka mereka mabuk, lalu bagaimana membereskan mereka, untuk ini harap Lo-heng memberi petunjuk."

Dada Tan Ciok-sing hampir meledak mendengar kata-kata It-cu-king-thian ini, hampir saja dia tak kuat lagi menahan emosi dan hendak terjang keluar melabraknya.

Lekas In San menariknya, katanya berbisik.

"Kalau betul Lui Tin-gak kini sudah berkiblat kepihak kerajaan, hanya mengantar nyawa saja kau keluar. Sabarlah dan dengarkan pembicaraan mereka lebih lanjut?"

Sebaliknya Kek lam wi dan gadis itu saling melongo berpandangan di tempat sembunyi mereka.

Kiranya merekapun sudah siap pergi membantu Kim-to Cecu, malah mereka juga sudah menyampaikan niatnya ini kepada It-cuking-thian dan Nyo Hou-hu.

Kalau betul ucapan It-cu-kingthian, kenapa mereka berdua sekarang bebas?

Demikian pikir mereka.

Maklum meski Kek Lam-wi tidak mengikuti perjamuan besar tadi, tapi bilamana It-cu-king-thian dan Nyo Hou-hu mau mencelakai dirinya, dirinya yang tidak siaga dan tidak pernah menduga pasti bisa celaka.

Sementara si gadis, bukan saja dia hadir dalam perjamuan besar itu, Nyo Hou-hu malah mengundangnya berbicara secara rahasia, kenyataan sampai sekarang dia masih segar bugar.

"Kabar baik"

Ini memang amal menguntungkan Ciang Thihu, ha! ini sudah terpikir oleh Ciang Thi-hu, tapi sampai taraf mana "baik"nya, ternyata masih berada diluar dugaannya, sesaat dia melengong, katanya kemudian.

"Jadi Nyo Hou-hu juga sehaluan dengan kita?"

"Betul, kubujuk dia, seorang laki-laki harus bisa melihat gelagai dan memilih jalan yang benar, untung dia mau tunduk dan menerima bujukanku."

"Dari mana dia bisa tahu siapa-siapa yang hendak ditangkap tayjin?"

Tapi lekas sekali dia sudah tertawa geli sendiri, lalu menyambung dan menjawab pertanyaan sendiri.

"Tentu kau yang memberitahu bukan?"

"Sayang kau hanya memberitahu beberapa orang yang jadi pentolannya, entah aku melupakan mereka tidak?"

Lalu secara hapal dia sebutkan nama beberapa orang.

"Ingatanmu amat bagus. Tapi ada seorang lagi yang paling penting, entah bagaimana kau akan menghadapinya?"

"Maksudmu Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun?"

"Betul, bukankah kau kawan baiknya?"

"Demi menunjukkan darma baktiku kepada Liong-tayjin, aku tidak perduli kawan baik segala siapa suruh dia tidak tahu diri? Tapi lwekangnya amat tangguh, arak beracun pun tidak akan dapat melumpuhkan dia. Apa boleh buat terpaksa aku sendiri yang harus tampil, besok akan kuajak dia berunding di kamar rahasia bersama Nyo Hou-hu, di kala dia tidak siaga akan kututuk hiat-tonya."

"Paling baik akalmu ini,"

Seru Ciang Thi-hu.

"Sebetulnya Kungfumu tidak lebih asor dari dia, kalau kau membokong secara mendadak, pasti berhasil."

Mendengar sampai disini, sungguh hati Tan Ciok-sing gugup, kaget, gemes lagi, katanya lirih kepada In San.

"Bagaimana? Mereka hendak mencelakai Tam Tayhiap."

In San juga tidak menyangka bahwa It-cu-king-thian ternyata betul-betul sebejat itu, sudi berintrik dengan Ciang Thi-hu hendak melakukan perbuatan kotor dan serendah itu.

hatinya jadi bingung dan hambar, tanyanya pula.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Akan kusergap mereka dan menahannya untuk beberapa lama, lekas kau laporkan hal ini kepada Tam Tayhiap."

"Tidak jiwamu bisa melayang."

"Kalau kau tidak memberi kabar ini, Tam Tayhiaplah yang akan celaka jiwanya."

Sudah tentu In San juga tahu keselamatan jiwa Tam Pakun menyangkut pula kalah menangnya pasukan laskar rakyat di bawah pimpinan Kim-to Cecu.

Tapi dia juga tahu, kalau sekarang Tan Ciok-sing nekat melabrak kedua orang ini, jiwanya pasti melayang pula.

Memangnya dia tega melihat kekasihnya mati dihadapannya dalam beberapa kejap ini?

Tengah mereka bimbang, didengarnya It-cu-king-thian sedang berkata pula.

"Kali ini Nyo Hou-hu banyak membantu kerja kita, sepantasnya jangan kita anggap dia orang luar pula."

"Sudah tentu, selanjutnya aku masih perlu minta bantuannya,"

Sembari bicara mereka jalan mondar mandir di tanah lapang berumput, kebetulan sekarang mereka berada tak jauh dari tempat persembunyian Tan dan In berdua, jaraknya paling hanya belasan langkah.

Ingin rasanya sekali tusuk Tan Ciok-sing membunuh kedua orang ini, sayang jarak sedekat ini, umpama dia mau bekerja sesuai kehendaknya tadi, mungkin dia sendiri nanti takkan sempat lolos dari telapak tangan kedua jagoan kosen ini, jikalau dirinya bertindak nekad tapi tidak membawa hasil dan keuntungan berarti sia-sia.

Apa boleh buat, untuk sementara terpaksa dia menahan sabar dan menunggu kesempatan untuk bertindak.

Tengah dia menimang-nimang, didengarnya It-cu-kingthian berkata pula.

"Akupun sedang berpikir, membabat rumput tidak sampai ke akarnya setelah kehujanan dia akan tumbuh lagi, kebetulan memperoleh kesempatan baik ini, seharusnya kita menjaring mereka seluruhnya."

"Maksudmu kita babat musuh-musuh kita itu?"

Ciang Thihu menegas.

"Terutama orang-orang yang ingin dibekuk oleh Liongtayjin. Sementara orang-orang gagah yang hadir hari ini kelak juga harus diciduk satu persatu. Cuma untuk minta bantuan Nyo Hou-hu kau harus betul-betul mempercayai nya."

"Menurut kau bagaimana aku harus percaya padanya?"

"Untuk melaksanakan tugas besar ini hingga sukses, kalau hanya aku dan Nyo Hou-hu saja yang melaksanakan kukira masih kurang menyeluruh, aku masih ingin bantuan orang lain. Lo-ciang, kau pernah bilang Liong-tayjin ada memberi sebuah daftar nama kepadamu, serahkan daftar nama itu kepadaku, biar kutunjukkan kepada Ngo Hou hu, bagaimana?"

"O, kau ingin mendapat daftar itu?"

"Tanpa daftar itu bagaimana kita bisa membedakan mana kawan mana lawan? Lo-ciang orang yang mencurigakan jangan dipakai, kalau memakai orang jangan curiga padanya. Kalau kau ingin bantuan Nyo Hou-hu, kau harus anggap dia orang kita sendiri."

Ciang Thi-hu ragu-ragu katanya kemudian.

"Setelah memperoleh daftar ini bagaimana kalau Nyo Hou-hu berubah hati?"

"Kau tidak percaya pada Nyo Hou-hu berarti tidak mempercayai aku, baiklah, kalau kau tetap curiga begini, ya, sudahlah."

Dalam sekejap ini Ciang Thi-hu sudah berpikir putar balik, otaknya bekerja secara kilat, akhirnya dia berkeputusan untuk menempuh bahaya, batinnya.

"Tanpa bantuan mereka, jangan kata untuk menjaring musuh sebanyak mungkin hanya Kim-tothi-ciang Tam Pa-kun seorang saja, mungkin aku tak mampu menandinginya."

Maka dengan seri tawa segera Ciang Thi-hu berkata.

"Lui-heng, jangan kau salah paham, bagaimana aku tidak mempercayaimu? Cuma daftar itu menyangkut urusan besar, peranannya amat penting, betapapun aku harus hatihati bertindak tadi aku memang usil, jangan berkecil hati. Baiklah, daftar nama ini harap kau serahkan kepada Nyo Houhu."

It-cu-king-thian terima daftar nama itu serta dibacanya sekali, dengan ' hati-hati dia menyimpannya. Lalu tertawa tergelak-gelak riang, katanya.

"Baiklah segera kuserahkan kepada Nyo Hou-hu."

Mendengar gelak tertawa orang yang bernada ganjil sekilas Ciang Thi-hu melengak, pikirnya.

"Kenapa dia bilang segera akan diserahkan kepada Nyo Hou-hu?"

Tanyanya.

"Daftar sudah kuserahkan masih ada persoalan apa pula yang ingin kau bicarakan disini?"

Tawar suara It-cu-king-thian.

"Kukira tiada lagi,"

Sikapnya dingin dan kereng.

"Kalau begitu, marilah kita pulang saja,"

Ajak Ciang Thi-hu.

"Kenapa pulang?"

"Bukankah kau hendak serahkan daftar itu kepada Nyo Hou-hu?"

"Betul, tapi tak usah pulang dan serahkan dia di rumahnya."

"O, jadi kaupun mengundang dia kesini, cobalah suruh dia keluar untuk berkenalan dengan aku?"

It-cu-king-thian berkata.

"Tanah lapang disini kulihat amat bagus dan cukup luas, bagai mana kalau dibanding gelanggang latihan silat di rumah keluarga Nyo itu,"

Dia bicara tanpa menjawab pertanyaan. Karuan Ciang Thi-hu melenggong tanyanya cepat.

"Lo-lui, apa maksud ucapanmu ini?"

It-cu-king-thian berkata dengan kalem.

"Tiada omongan yang perlu kubicarakan lagi dengan kau, tapi ada satu persoalan, betapapun aku harus membereskan dengan kau disini."

Ciang Thi-hu kaget, serunya.

"Persoalan apa?"

"Malam itu aku telah mendapat kesempatan belajar dengan kau di puing-puing rumah keluarga Tan, sayang siapa kalah siapa asor belum ada ketentuan, sejauh ini belum lagi lenyap seleraku berantam. Maka mumpung sekarang ada kesempatan ingin aku melanjutkan adu kepandaian, mohon kau suka memberi petunjuk."

"Apa, kau masih ingin bertanding dengan aku?"

"Bukan lagi bertanding, aku ingin menentukan siapa jantan atau betina di antara kau dan aku. Atau boleh juga dikatakan menentukan mati hidup."

Karuan bukan kepalang kaget Ciang Thi-hu.

"Kau, kau, kau tidak berkelakar bukan? Baru saja bicara baik-baik, kenapa kau..."

It-cu-king-thian menukas dengan jawaban dingin.

"Karena aku orang she Lui ingin berbuat seperti orang 'bodoh' yang kau katakan tadi."

Orang "bodoh"

Yang dimaksud Ciang Thi-hu adalah mereka yang tidak mau harta benda, pangkat dan jabatan tinggi, tapi lebih suka menjadi pembantu Kim-to Cecu melawan kekuasaan raja, tepatnya kaum pemberontak.

Tak nyana kini It-cu-king-thian Lui Tin-gak justru rela menjadi orang yang "bodoh".

Bukan Ciang Thi-hu saja yang kaget mendengar pernyataan tegas ini, In San pun hampir bersorak kegirangan.

Memang sejak mula dia sudah menduga pasti ada latar belakang tertentu sehingga It-cu-king-thian mengajak Ciang Thi-hu kemari, tapi tak terpikir olehnya bahwa tujuan It-cu-king-thian adalah hendak ngapusi daftar nama itu, kini setelah tujuan tercapai segera dia hendak membunuh Ciang Thi-hu.

"Lha, bagaimana. Sudah kukatakan Lui Tayhiap pasti bukan orang jahat, sekarang kau sudah percaya? Oh, ya kau pernah bilang..."

Demikian bisik In San di pinggir telinga Tan Ciok-sing dengan tertawa.

Tan Ciok-sing sendiri juga merasa senang dan kaget, tapi juga amat menyesal, tapi dia tetap tidak percaya akan pendengarannya sendiri, segera dia menukas perkataan In San.

"Betul, tadi kukatakan bila It-cu-king-thian membunuh keparat tua itu, baru aku mau percaya padanya, kini biar aku menunggu kenyataan."

Tampak Ciang Thi-hu berjingkrak gusar, suaranya gemetar.

"Kau, kau, jadi obrolanmu tadi semua hanya hendak menipuku?"

It-cu-king-thian terbahak-bahak, katanya.

"Menghadapi sampah persilatan macammu ini, aku hanya menggunakan cara yang sama untuk membalas kepada orang yang melakukannya. Tapi aku tidak menipumu seluruhnya, tadi aku berjanji untuk menyerahkan daftar ini kepada Nyo Hou-hu, nah sekarang juga boleh kau saksikan bahwa ucapanku dapat dipercaya."

Belum habis It-cu-king-thian berbicara tahu-tahu terdengar tiga kali tepukan tangan serempak dari gerombolan batu-batu yang berserakan di sekitar lapangan bermunculan banyak orang dalam sekejap beberapa orang menyulut obor sehingga keadaan sekelilingnya menjadi terang benderang.

Batu-batu karang dengan berbagai bentuknya yang aneh-aneh dan besar di atas Lian-hoa-hong berserakan itu memang tempat baik untuk sembunyi.

Orang yang berdiri paling depan adalah tuan rumah Nyo Hou-hu, di belakangnya lagi adalah Ui-yap Tojin, Sia-cin Hwesio, Wi-cui-hi-kiau dan lain-lain anggota Pat-sian.

Karena Kek Lam-wi dan gadis itu termasuk anggota Pat-sian sudah tentu merekapun ikut keluar.

Belasan orang yang tadi dikatakan sudah diringkus dengan arak bius oleh It-cu-king-thian tadi, ternyata berada dalam rombongan besar yang berdiri mengelilingi tanah lapang ini.

Tiba-tiba terdengar sebuah siulan panjang melengking, begitu keras getaran suitan ini sampai memekak telinga Ciang Thi hu, dari pucuk pohon tak jauh di belakangnya tiba-tiba melompat turun seseorang.

Orang ini adalah Kim-to-thi-chiang Tam Pa-kun, katanya dengan gelak tertawa.

"Lui-toako, peranan sandiwaramu sungguh baik dan berhasil, Tapi aku harap babak selanjutnya dari peranan sandiwara ini kau serahkan kepadaku,"

Maksudnya dia hendak mewakili It-cu-king-thian menempur Ciang Thi-hu. It-cu-king-thian tersenyum, katanya.

"Tam-toako, biarlah aku lanjutkan saja. Aku tahu banyak kawan-kawan yang menaruh curiga padaku, entah mengapa aku membawa bangsat tua ini pada perjamuan tadi. Kalau peranan ini tidak kulanjutkan, bagaimana aku bisa menunjukkan kebersihan jiwaku,"

Sembari bicara dia serahkan daftar nama itu kepada Nyo Hou-hu. Seterima daftar itu sekilas Nyo Hou-hu membacanya lalu tertawa, katanya.

"Ciang Thi-hu, banyak terima kasih atas pemberian daftar ini, biar kuberitahu kepadamu, kawankawanmu yang tercantum dalam daftar ini, hampir seluruhnya telah kutangkap. Memangnya aku sedang kuatir bila ada ikan yang lolos dari jaring, hingga kurang bersih aku menyapu mereka, kini berdasar daftar ini, aku bisa melanjutkan grebekanku, sesuai apa yang tadi kau katakan membabat rumput harus sampai ke akar-akarnya."

Ciang Thi-hu berdiri lemas dengan muka pucat pias, adalah orang-orang gagah yang hadir sama tertawa gemuruh. Lebih lanjut Nyo Hou-hu berkata pula setelah ikut tertawa lebar.

"Para kawan-kawan yang hadir, kenapa malam ini kuundang kalian ke Lian-hoa-hong ini tentunya tak usah kujelaskan, kalian sudah maklum sendiri. Haha, kalau mau nonton ya carilah adegan yang bagus, bahwa Lui Tayhiap adalah jagoan top yang tidak perlu diragukan lagi, sementara 'Ciang Tayjin' yang berperan sebagai tokoh jahat ini, sejak dua puluh tahun yang lalu merupakan jagoan paling kosen dalam pasukan Gi-lim-kun. Hehe, haa, beruntunglah kita semua dapat menyaksikan pertunjukan yang seru dan ramai ini."

Dengan muka pucat berkeringat dingin, terpaksa Ciang Thihu mengeraskan kepala katanya.

"Orang she Ciang hari ini terjebak dalam permainan licik kalian, tiada yang perlu kukatakan lagi kalian maju bersama, orang she Ciang dapat gugur di tangan kalian orang-orang gagah sebanyak ini, setimpal juga kematianku."

"Jangan mengumpak awak sendiri sebagai orang gagah, tuan besar Ciang,"

Jengek It-cu-king-thian.

"kupingmu kan tidak tuli, memangnya kau tidak dengar apa yang diucapkan Nyo Cengcu barusan? Untuk menjagalmu kenapa harus membuang banyak tenaga? Cukup aku orang she Lui seorang saja yang berlaga dengan kau, biar nanti kau mati dengan tentram,"

Terbetik setitik harapan dalam benak Ciang Thi-hu, setelah ngakak dipaksa akhirnya dia berkata.

"Memang kata-katamu inilah yang kuharapkan. Tapi perkataanmu belum cukup jelas, bolehkah aku bertanya supaya persoalan lebih terang."

"Kau ingin omong atau mau kentut, lekas saja,"

Jengek Itcu-king-thian.

"Bagaimana kalau orang she Ciang beruntung dapat mengalahkan kau Lui Tayhiap? Hadirin sebanyak ini, apakah merekapun boleh satu persatu melawanku satu persatu? Hehe, namaku Thi-hu (tukang besi), tapi badanku yang hampir reyot ini bukan terdiri rangka besi balung saja, terus terang aku takkan kuat melawan kalian secara giliran."

Karena ucapannya ini menimbulkan reaksi kemarahan hadirin.

"Keparat kau ini barang apa masakah bisa mengalahkan Lui Tayhiap? Dia memancing kemarahan kita, supaya sudi melepas dia, kau bilang dia ibarat nelayan yang sudah terbalik perahunya di tengah lautan, yang diharap dapat menangkap setangkai jerami. Memangnya dia sedang bermimpi kalau mengharap bisa mengalahkan Lui Tayhiap. Akan tetapi biarlah dia berhasil menangkap setangkai jerami itu."

It-cu-king-thian angkat kedua tangan sambil berputar menekan keributan hadirin. Serunya lantang.

"Baiklah, kujelaskan dulu kepadamu, kalau kau mampu mengalahkan aku, segera kupersilahkan kau turun gunung."

"Apa betul?"

Teriak Ciang Thi-hu terbeliak girang.

"Kau kira kita ini manusia kerdil macammu yang tidak dipercaya ini?"

Demikian bentak Nyo Hou-hu.

"cara apa yang sudah disebutkan Lui Tayhiap tadi, hadirin pasti akan mematuhinya."

Mendadak It-cu-king-thian membentak.

"Persoalan sudah jelas, tidak segera dimulai, masih tunggu apa lagi?"

"Tamu tak boleh mendahului tuan rumah, harap Lui Tayhiap memberi petunjuk."

"Jangan kau meninggikan derajatmu, siapa anggap kau sebagai tamu?"

Damprat It-cu-king-thian Lui Tin-gak.

"Aturan tetap aturan,"

Demikian ucap Ciang Thi-hu, hadirin kira dia sengaja hendak mengulur waktu, tak nyana mendadak dia melontarkan sebuah pukulan mengepruk batok kepala Itcu-king-thian.

Setelah telapak tangannya terayun baru dia lanjutkan kata-katanya.

"Tapi kalau Lui Tayhiap tidak sudi melayaniku sebagai tamu, terpaksa aku tidak sungkan lagi."

It-cu-king-thian tetap tidak bergerak, setelah telapak tangan lawan terpaut lima dim dari kepalanya, baru mendadak dia miringkan tubuh telapak tangan melintang bagai golok, dengan jurus Hian-niau-hoa-sa, dia menepis pergelangan tangan lawan, jengeknya.

"Siapa suruh kau sungkan?"

Jurus Hian-niau-hoa-sa ini adalah permainan tunggal yang pandai melawan serangan lawan dengan tenaga keras dan lunak, jikalau Ciang Thi-hu tidak merubah permainannya, pergelangan tangannya itu salah-salah bisa tertabas kutung.

Dalam pada itu, Tan Ciok-sing dan In San juga sudah keluar dari tempat persembunyiannya, perhatian hadirin tertuju ke tengah gelanggang, maka tiada perhatikan mereka.

Tan Ciok-sing berkata lirih.

"Lui Tayhiap terkenal bukan karena ilmu pedangnya yang liehay, tapi jurus Hian-niu-hoa-sa ini adalah perubahan dari cabang ilmu pedang, seakan-akan ada persamaan yang serasi dengan Bu-bing-kiam-hoat yang diajarkan oleh suhu. Agaknya Kungfu tingkat tinggi kebanyakan memang terjalin dalam satu sumber yang sama,"

Tanpa disadarinya kini dia sudah ganti sebutan kepada It-cuking-thian, ini menandakan bahwa dia sudah tidak menaruh curiga pula terhadap Lui Tin-gak.

Di kala Tan Ciok-sing berbisik bicara dengan In San itu, keadaan pertempuran di tengah arena ternyata sudah berubah.

Kungfu Ciang Thi-hu memang liehay dan tinggi, pukulan yang dia lontarkan untuk menyergap It-cu-king-thian tadi semula kelihatan kuat dan deras, begitu mengadakan perlawanan ternyata dalam waktu singkat itu mendadak gerakan yang membela itu telah dirobah menjadi tabasan miring.

"Biang"

Telapak tangan kedua pihak kontan beradu, keduanya sama limbung dua kali.

Bahwa dia mampu mengadu pukulan sampai sepuluh jurus dengan It-cu-king-thian memang tidak perlu dibuat heran, hal inipun sudah diduga oleh hadirin.

Tapi dalam waktu sependek itu dia bisa bermain sesuka hati, maju mundur dan keluar masuknya tenaga ternyata terkontrol baik sekali, ini menandakan bahwa taraf kepandaian silatnya memang sudah tinggi.

Tadi hadirin sudah yakin bahwa It-cu-king-thian pasti akan memenangkan pertempuran adu jiwa ini, kini mau tidak mau timbul rasa kuatir dalam benak mereka.

Cepat sekali begitu limbung dan tersurut mundur selangkah, dia tuntun tenaga lawan ke atas berbareng dengan langkah berantai dia menyelinap maju, tiba-tiba kakinya melayang dengan tendangan miring.

Telapak tangan kanan Ciang Thi-hu melayang miring dia membalas dengan sejurus Hou-te-jan-hou.

Lekas It-cu-king-thian menarik kaki kanan, tahu-tahu kaki kiri melayang pula, tendangan berantai tiga kali mendesak Ciang Thi-hu mundur tiga langkah.

Hadirin kagum dan memuji.

"Kiranya kepandaian ilmu tendangan Lui Tayhiap juga begini liehay dan mahir."

Hadirin kira It-cu-king-thian sudah merebut posisi yang lebih unggul dan pasti akan menang, tak nyana mendadak Ciang Thi-hu berputar badan sembari menarikan kedua telapak tangannya, sekaligus dia lontarkan sepuluh jurus pukulan dengan kekuatan penuh secara keras, hingga dia berhasil mendesak maju ke depan Itcu-king-thian sehingga lawannya tak mampu lagi menyerang dengan pukulan yang dikombinasikan dengan tendangan pula.

Para ahli Kungfu yang hadir sama tahu bahwa dia memainkan Ngo-hing-ciang-hoat, pukulan ini mengutamakan membelah, menyelinap, menggebuk, membabat, dan menjojoh, lima unsur saling isi dan tubuh, ada pula keras ada pula lunak, kekuatan pukulannya menderu bagai gelombang pasang.

Di bawah serangan gencar yang deras dan nekad seperti mau adu jiwa ini, It-cu-king-thian ternyata terdesak mundur selangkah demi selangkah.

Angin pukulan bergolak, pasir terbang batu berguling.

Terdengar suara keretekan yang ramai, itulah suara dahandahan pohon yang patah dan runtuh.

Pada hal mereka berhantam di tengah tanah lapang yang cukup luas, pohon yang tumbuh paling dekat juga ada belasan langkah jauhnya, sudah tentu pukulan mereka takkan mungkin secara telak memukul ke arah pohon, tapi dahan-dahan itu sama rontok karena kekuatan Bok-khong-ciang yang dahsyat.

Bila mereka bertempur di sebelah timur, dahan pohon di sebelah timur sama runtuh, kalau berkisar ke barat, pohon-pohon di sebelah barat pun sama tumbang.

Kalau pohon jadi korban, adalah manusia yang menonton diluar gelanggang sama menyingkir semakin jauh, padahal mereka memiliki kepandaian cukup tinggi, namun tak kuasa membendung gelombang kekuatan pada pukulan kedua jagoan yang kosen ini.

Di tengah pertempuran sengit itulah, mendadak terdengar suara ledakan dahsyat, disusul batu krikil besar kecil sama muncrat ke berbagai penjuru, kiranya Ciang Thi-hu terlalu bernafsu untuk mengalahkan musuh, maka pukulannya sudah terukur lagi kekuatannya, dimana angin pukulannya menyambar sebuah batu karang sebesar pelukan orang dewasa dihantamnya hancur lebur.

Tapi pukulannya tidak mengenai It-cu-king-thian.

Meski tidak terkena pukulan lawan, tapi It-cu-king-thian terdesak turun seakan dia hanya mampu menangkis, membela diri dan tak kuasa balas menyerang.

Para ahli silat yang hadir kini lebih nyata lagi, bahwa Ciang Thi-hu kini sudah getol adu jiwa, pukulannya dilandasi kekuatan Gun-goan-it-cu-kang.

"Gun-goan-it-cu-kang ternyata memang Iiehay, agaknya bangsat tua ini sudah melatihnya mencapai tingkat paling tinggi, taraf ke sembilan,"

Demikian kata seorang busu. Seorang busu (guru silat) lain menimbrung;

"Tidak menurut pendapatku, tingkat latihannya sekarang paling baru mencapai taraf ke delapan. Tiga puluh tahun yang lalu aku pernah saksikan Tiong-pangcu dari Kaypang dalam jarak seratusan langkah mampu memukul hancur sebuah pilar batu marmer dengan Gun-goan-it-cu-kang, jelas dia punya jauh lebih Iiehay."

"Umpama betul baru mencapai taraf ke delapan, perbawanya juga sudah cukup hebat. Aku jadi kuatir, apakah Lui Tayhiap..."

Guru silat pertama tadi tidak meneruskan kata katanya, tapi orang lain tahu, dia menguatirkan It-cu-kingthian, mungkin tidak mampu melawan Gun-goan-it-cu-kang Ciang Thi-hu yang mencarai taraf ke delapan.

Teman bicaranya tadipun diam saja tidak memberi tanggapan pula, agaknya secara diam-diam diapun mengakui kebenaran katakata temannya, maka dia tinggal bungkam saja.

Tiba-tiba didengarnya sebuah suara serak kasar berkata.

"Omong kosong, kalian tahu kentut apa, Lui Tayhiap menggunakan kelunakan melawan kekerasan, seperti lemah kenyataan kuat, sebaliknya keparat she Ciang itu sudah hampir kehabisan tenaga. Aku berani bertaruh dalam seratus jurus, Lui Tayhiap pasti menang, hayo siapa yang berani bertaruh denganku?"

Pembicara ini adalah seorang Hwesio, dia bukan lain adalah Hwesio kasar atau salah satu dari Pat-sian yang pernah bersua di tengah jalan dengan Tan Ciok-sing itu julukannya Sia-cin Hwesio, suaranya keras maka banyak hadirin yang mendengar kata-katanya.

Kata-katanya diucapkan kasar seperti tidak kenal aturan, tapi kedua guru silat itu ternyata bungkam seketika, tidak marah mereka malah girang dan lega.

Bahwa Sia-cin Hwesio berani bicara sekeras dan setandas itu, jelas bahwa It-cu-kingthian sudah punya akal dan cara untuk mengalahkan dan membekuk musuhnya.

"Memangnya kita semua mengharap Lui Tayhiap yang menang, buat apa harus bertaruh dengan kau,"

Demikian seseorang berseru.

Tapi banyak hadirin yang masih belum tahu akan selukbeluk dari pertempuran seperti yang dikatakan Sia-cin Hwesio tadi.

Tapi Tan Ciok-sing justeru mengikutinya dengan jelas dan seksama.

"Perhatikan gerak langkah Lui Tayhiap,"

Bisik Tan Ciok-sing kepada In San.

"dia melangkah dengan posisi Ngo-hing-patkwa, setiap langkah gerakannya selalu memunahkan sebagian tenaga pukulan dahsyat Ciang Thi-hu. Jelas dia betul-betul bisa mempraktekan ajaran ilmu tingkat tinggi yaitu menghindari yang isi menggempur yang kosong, dari pihak yang diserang berbalik menyerang, yang hijau mengalahkan yang sudah matang. Kalau Sia-cin Hwesio menilai dia baru akan menang dalam seratusan gebrakan, kukira terlalu banyak. Menurut penglihatanku, dalam sepuluh jurus lagi, Lui Tayhiap sudah akan balas menyerang. Kira-kira tiga puluh jurus kemudian, jiwa bangsat tua she Ciang ini pasti akan tamat, kau percaya tidak?"

Maka terlihat Ciang Thi-hu sedang melontarkan sebuah pukulan, yang digunakan adalah jurus membelah, tapi jari-jari tangannya terkepal dan terangkat tinggi di atas kepala, gerakannya seperti martil yang lagi diayun dan siap hendak dipukulkan perbawa serangan ini memang hebat sekali, tapi kali ini It-cu-king-thian ternyata tidak mundur lagi kepalannya melintang terus disampokan keluar, sehingga kepalan Ciang Thi-hu kena dituntun ke samping, sekaligus dia tambahi dengan gerakan mendorong pula.

Lekas Ciang Thi-hu gunakan merubah bentuk memindah kedudukan, sekaligus serangannya dirobah menjojoh, sasarannya di atas mengancam muka lawan, jurus ini dinamakan Ciong-thianbau, atau Meriam Yang Mengincar Ke Udara.

Telapak tangan It-cu-king-thian terayun, gerakan mendorong berubah menggelantung, dengan jotosan sekaligus dia menggantolnya keluar, maka kepalan dan telapak tanganpun beradu, kali ini ternyata tidak menimbulkan suara, tapi kenyataan bahwa Ciang Thi-hu kini yang berganti tertolak mundur selangkah.

Perkembangan selanjutnya memang terlalu cepat, kini It-cuking-thian sudah lebih berinisiatip menyerang, kedua telapak tangannya bekerja sekencang angin kitiran, Ciang Thi-hu balas diserangnya dengan gencar dan ganas.

Diam-diam In San tertawa, katanya.

"Sudah tentu aku percaya akan komentarmu, mungkin kau pun berkelebihan menilainya,"

Ternyata hanya dalam tiga gebrak saja setelah Tan Ciok-sing memberikan komentarnya, It-cu-king-thian sudah merubah situasi, dari pihak terdesak berbalik balas mendesak, lebih banyak menyerang dari pada bertahan.

Keringat Ciang Thi-hu gemerobyos, matanya mendelik otototot hijau merongkol keluar, sikapnya kini lebih mirip serigala yang mengamuk didalam kandang, kelihatan betapa liar dan buas perangainya, secara nekat diapun melawan dengan serangan-serangan gencar dan mematikan, seolah-olah dia mengharapkan kemenangan meski dalam keadaan terdesak ini.

Diam-diam It-cu-king-thian tertawa dalam hati.

"Jikalau kau tidak segugup dan emosi seperti ini, mungkin masih kuat bertempur tiga puluh jurus. Hehe, kini kau masih berani mengadu serangan dengan aku, itu berarti kau memang ingin lekas tamat riwayatmu."

Di tengah pertempuran sengit itu, tiba-tiba lengan It-cuking-thian seperti melengkung, sekonyong-konyong dengan jurus Wan-kiong-sia-gwat (menarik gendewa memanah rembulan), jarinya menutuk ke hiat-to di dada Ciang Thi-hu.

Pada hal Ciang Thi-hu sedang menarikan sepasang tangannya sekencang baling-baling, dengan menyerang dia berusaha mempertahankan posisinya yang terdesak, dia sudah yakin pertahanannya sekarang sudah amat ketat dan kokoh, tak nyana entah kenapa, tahu-tahu jari It-cu-king-thian masih juga menyelonong masuk dan dadanya kena tertutuk dengan telak.

Karuan Ciang Thi-hu kaget sekali, lekas dia gunakan gerakan Hong-biau-loh-hoa untuk berkelit, sudah tentu It-cuking-thian tidak memberikan kesempatan pula padanya, begitu tangan kiri bergerak naik menyanggah sikut lawan, telapak tangan kanan tiba-tiba menyusup keluar dari bawah ketiak terus menjojoh ke Ih-gi-hiat di bawah ketiak Ciang Thihu.

Ih-gi-hiat adalah salah satu hiat-to mematikan di tubuh manusia, berkelit jelas tidak mungkin lagi, dia juga tahu bahwa tenaga dalamnya kini sudah bukan lagi tandingan Itcu-king-thian, apa boleh buat terpaksa dia berbuat nekat serta melawan dengan setaker tenaganya yang masih tersisa.

Betapa dahsyat kekuatan binatang yang sudah nekat didalam kandang, demi mempertahankan mati dan hidup lagi.

Tampak Ciang Thi-hu mendoyongkan tubuh, sehingga seluruhnya melengkung miring laksana busur, kedua telapak tangannya didorong lurus ke depan laksana pucuk panah, tenggorokannya mengeluarkan suara krok krok seperti kodok ngorek, seolah-olah dia hendak menindihkan seluruh kekuatannya ke tubuh lawannya.

Para penonton diluar gelanggang sama merasakan tenaga gempurannya ini sedahsyat gugur gunung.

Sekejap ini seluruh hadirin menyaksikan dengan mata terbeliak dan suasana menjadi hening lelap, sedemikian sepinya umpama jarum jatuh juga bisa terdengar.

Perawakan Ciang Thi-hu tinggi kekar dan berotot kencang, perawakannya lebih tinggi sekepala dari It-cu-king-thian, kini dengan serangan menindih dari atas ke bawah ini, seluruh kekuatan tubuhnya sekaligus menindih turun sehingga kelihatan dia memperoleh posisi yang menguntungkan.

Banyak hadirin yang pernah menyaksikan kedahsyatan Gungoan-it-cu-kang, mau tidak mau mereka sama kuatir dan berdegup jantungnya, mereka kuatir bila It-cu-king-thian tidak kuat melawan gempuran hebat ini.

Di tengah keheningan lelap itu, mendadak terdengar suara "krak"

Yang keras, tubuh Ciang Thi-hu yang gede itu mendadak jungkir balik dan terpental kesana terus tergulingguling sambil menjerit keras seperti babi hendak disembelih.

Kiranya pada detik-detik yang menentukan tadi It-cu-kingthian bukan saja tidak menerjang maju, diapun tidak menangkis atau berusaha mematahkan serangan musuh, tapi dalam posisi yang menyulitkan dan didalam keadaan yang tidak mungkin menurut penglihatan orang lain, mendadak dia merebut kecepatan balas menyerang, telapak tangan kanan menggantol keluar, berbareng dengan jurus Ling-yang-kwakak (kambing gembel menanduk) secepat kilat telapak tangan kiri menempiling ke muka Ciang Thi-hu.

Waktunya tepat sasarannyapun telak sehingga Ciang Thi-hu dipaksa untuk miring tubuh sambil melontarkan pukulannya, sudah tentu serangannya mengenai tempat kosong, kelambatan yang sedetik ini sudah memberi peluang untuk It-cu-king-thian melancarkan serangan liehay dari Hun-kin-joh-kut-jiu, lengan Ciang Thi-hu kena dipelintirnya patah.

Dari jurus Ling-yangkwa-kak yang gertakan belaka tahu-tahu dirubah dengan serangan Hun-kin-joh-jiu yang sesungguhnya, perubahan antara isi dan kosong ini sungguh amat menakjubkan, kecuali Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun, Ui-yap Tojin, Sia-cin Hwesio dan Tan Ciok-sing, hadirin yang lain belum lagi melihat jelas, tahutahu tampak Ciang Thi-hu sudah mencelat jatuh bergulingguling seperti bola yang tertendang.

Hening sekejap mendadak meledaklah sorak sorai dan tepuk tangan yang gegap gempita.

Hadirin sama berjingkrak dan menari-nari dengan senang serta merubung maju.

Nyo Hou-hu tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Tontonan sudah berakhir, kini tiba giliran adegan selanjutnya, yaitu mengompres keterangan dari mulut tawanan. Lui Tayhiap silakan kau istirahat di samping, nanti masih kami butuhkan keputusanmu untuk memberikan hukuman padanya."

Baru saja dia menghampiri kesana hendak menarik Ciang Thi-hu yang telah patah lengannya, mendadak didengarnya Ciang Thi-hu meronta-ronta sambil berkuik-kuik mengerikan, darah tiba-tiba menyembur dari mulutnya, setelah berkelejetan beberapa kali, tiba-tiba kakinya mengejang lurus, tangannya pun mencakar-cakar tanah, kejap lain tubuhnya pun menjadi lemas dan tak bergerak lagi untuk selamanya.

Kiranya dengan sisa tenaga Gun-goan-it-cu-kang yang masih tersisa dia menghancurkan urat nadi sekujur badannya, sehingga jiwanya melayang seketika.

It-cu-king-thian berkata.

"Untung daftar nama itu sudah berada di tangan kita, tidak mengompres keterangannya juga tidak menjadi soal."

"Kematian keparat tua ini memang setimpal, sepatutnya dia mati lebih mengenaskan lagi,"

Demikian ujar Nyo Hou-hu.

Segera dia suruh tiga Ceng-sing menyeret Ciang Thi-hu serta dikuburkan secara sederhana.

Baru sekarang hadirin sempat memberi salam kepada It-cu-king-thian.

Tam Pa-kun juga hendak maju memberi selamat, tiba-tiba didengarnya seorang memanggilnya.

"Tam-pepek." -Waktu Tam Pa-kun menoleh, dilihatnya seorang pemuda berwajah ganteng berdiri di sampingnya, waktu dia menegas dan meneliti, lekas dia mengenalinya kiranya In San yang menyamar laki-laki. Karuan senang Tam Pa-kun diluar dugaan, katanya.

"Hian-tit-li, kaupun datang juga?"

"Aku datang bersama seorang kawan,"

Sahut In San.

"Siapa?"

Tanya Tam Pa-kun.

"Seorang pemuda gagah yang sudah kau kenal, kau pernah membantu dia, diapun pernah menolongmu."

Di kala mereka bicara, di waktu terjadi keramaian dimana para hadirin berlomba memberi selamat kepada It-cu-kingthian itulah, Tan Ciok-sing melompat maju kesana, teriaknya lantang.

"Lui Tin-gak, kau orang tua keparat ini apa masih kenal padaku?"

Sudah tentu hadirin kaget dan tertegun, sorot mata mereka sama tertuju ke arah Tan Ciok-sing.

"Dari mana munculnya pemuda bernyali besar ini?"

Hadirin yang bertabiat kasar segera mendamprat.

"Bocah busuk, kau ini barang apa, berani bermulut kasar terhadap Lui Tayhiap?" -Ada juga yang mengira dia komplotan Ciang Thi-hu, bentaknya.

"Apa kau hendak menuntut balas kematian Ciang Thi-hu si keparat itu? Memangnya kau kira Lui Tayhiap sudi bergebrak melawanmu, biar aku saja yang mengajar adat kau bocah busuk ini."

Melihat dia mendadak muncul, karuan Kek Lam-wi kaget dan senang, lekas dia berteriak.

"Kawan ini akulah yang mengundangnya kemari, aku tahu dia bukan anak buah Ciang Thi-hu."

"Kalau dia bukan komplotan Ciang Thi-hu, kenapa sikap dan tutur katanya begini kurang ajar terhadap Lui Tayhiap? Siapa dia, kau tahu, lekas terangkan,"

Hadirin berlomba tanya dengan bentakan kasar. Sudah tentu Kek Lam-wi juga tidak mampu menjawab pertanyaan ini, dengan tawa getir terpaksa dia berkata.

"Biarlah dia sendiri yang menerangkan. Hai, Tan-heng, apakah kau tidak kenal It-cu-king-thian Lui Tayhiap? Apa kau tidak salah menemukan orang?"

Dengan sikap pongah Tan Ciok-sing menjawab.

"Sampai terbakar hanguspun aku kenal keparat tua ini, memangnya aku hendak membuat perhitungan dengan dia."

Sudah tentu hadirin semakin murka mendengar katakatanya yang kasar ini.

Kek Lam-wipun tak berani bersuara lagi, apalagi tampil ke depan melerai.

Lekas It-cu-king-thian angkat sebelah tangannya memberi tanda, hadirin segera tahan sabar, keributanpun berhenti, katanya.

"Betul, aku tahu siapa pemuda ini, dia memang bukan komplotan Ciang Thi-hu, dia adalah keturunan seorang sahabatku, yaitu cucu dari guru harpa nomor satu di jagat ini -Tan Khim-ang."

Didalam perjamuan besar siang tadi It-cuking-thian pernah membuka kata mohon bantuan hadirin yang ikut mencari jejak Tan Ciok-sing, maka tidak sedikit hadirin yang tahu akan hal ini menjadi bingung dan keheranan.

Di bawah tatapan hadirin yang sebanyak itu, sedikitpun Tan Ciok-sing tidak gentar, katanya dengan nada kereng.

"Urusan sudah sejauh ini, kukira para hadirin juga pasti sudah maklum bukan? Dengan Ciang Thi-hu hakikatnya aku tidak kenal, apalagi menjadi komplotannya, kedatanganku kemari bukan untuk menuntut balas kematian orang lain, tapi demi menuntut balas sakit hatiku sendiri."

"Bagus,"

Seru It-cu-king-thian.

"memang aku ingin bicara dengan kau supaya jelas, mohon tanya ada permusuhan dan sakit hati apa antara aku dengan kau?"

Tan Ciok-sing menyeringai dingin, katanya.

"Masa kau tidak malu mengagulkan diri sebagai sahabat baik kakekku, pada hal apa yang kau lakukan kukira hanya kau sendiri yang paham."

"Apa sih maksud perkataanmu, kau kira akulah yang mencelakai kakekmu?"

"Memangnya kau masih berani mungkir?"

Pesuruh tua keluarga Lui yang pernah mencari tahu kepada Siau-cu-cu itu kebetulan juga berada di antara rombongan hadirin, tak tahan lagi segera dia tampil ke depan, katanya.

"Kau bocah goblok ini, memangnya tidak tahu membalas kebaikan malah memfitnah orang baik. Tahukah kau siapa yang mengubur dan merawat pusara kakekmu? Tahukah kau di kala Lui Tayhiap sendiri mengalami bencana, dia masih tidak lupa memikirkan keselamatan kalian kakek dan cucu, dia suruh aku pergi membantu kalian, untuk ini aku berani menjadi saksi."

Tan Ciok-sing menyeringai pula, katanya kalem.

"Memangnya sekarang aku hendak membongkar kemunafikan keparat tua ini, supaya orang-orang gagah di kolong langit ini tidak tertipu olehnya. Betapapun sabar dan besar pambek It-cu-khing-thian, kini dia dibikin naik pitam juga, katanya.

"Jadi didalam benakmu aku ini adalah sedemikian bejatnya?"

"Malam itu kakekku pulang dari rumahmu, tubuhnya sudah terluka parah, jelas kaulah yang mencelakainya. Peduli kau bermulut manis dan ludahmu sampai kering, aku tetap takkan mau percaya padamu, maka tidak perlu kau mengoceh, simpanlah tenagamu."

Disana Tam Pa-kun geleng-geleng kepala, katanya kepada In San.

"Temanmu kenapa begitu keras kepala dan kukuh pendapat, berangasan lagi, seluk beluk persoalan itu aku tahu jelas dia keliru kalau menyalahkan Lui Tayhiap,"

Baru saja dia hendak tampil ke depan tiba-tiba In San menarik lengan bajunya, serta berbisik di pinggir telinganya.

"Paman Tam, jangan kau mencampuri urusan ini. Temanku itu hendak memerankan sebuah tontonan yang lebih menarik dengan Lui Tayhiap, namun tujuannya tidak boleh diberitahukan dulu kepada Lui Tayhiap."

Tam Pa-kun melengak, tanyanya.

"Apa tujuannya?"

"Saksikan lebih lanjut, nanti kau akan tahu,"

Sahut In San.

"pendek kata, membawa keberuntungan dan tidak akan merugikan Lui Tayhiap."

Mendengar penjelasan yang serba sembunyi ini Tam Pakun jadi ketarik dan ingin tahu, maka dia batalkan niatnya hendak memisah, katanya tertawa.

"Baiklah, biarlah aku menonton saja, ingin aku menyaksikan sandiwara bagus apa yang hendak mereka perankan."

It-cu-king-thian tidak tahu maksud tujuan Tan Ciok-sing, namun dia jadi uring-uringan, jengkel tapi juga geli, katanya.

"Hampir empat puluh tahun aku berkecimpung di Kangouw, belum pernah kulihat pemuda sendablek ini, kesempatan untuk aku memberi penjelasan juga tidak kau berikan, memangnya apa kehendakmu?"

"Begitu tampil tadi sudah kukatakan secara blak-blakan, memangnya kau tidak dengar?"

"Jadi kau betul-betul hendak menuntut balas kematian kakekmu?"

"Jangan cerewet lagi, keluarkan senjatamu."

"Menghadapi jagoan macam Ciang Thi-hupun aku bertangan kosong, memangnya melawan kau aku harus pakai senjata malah?"

"Aku tidak ingin memungut keuntungan darimu. Tadi kau sudah bergebrak dengan Ciang Thi-hu, kalau kau tidak pakai senjata, yakinlah akan rugi. Dan lagi golok, pukulan telapak tangan dan lwekangmu diagulkan sebagai kepandaian tunggal, sepantasnya aku memberi kesempatan padamu untuk mengembangkan segala kemampuanmu, kalau tidak kau takkan mati dengan mata meram dan kalah lahir batin,"

Sembari bicara "Sret"

Dia sudah melolos pedang pusakanya lebih dulu, ujung pedangnya memancarkan cahaya kemilau, langsung dituding ke arah It-cu-king-thian.

Hadirin jadi dongkol tapi juga geli, kembali mereka berebut memaki.

"Bocah bodoh yang sinting, berani dia menjajal tiga jurus ilmu kebanggaan Lui Tayhiap, hajar dia, ganyang saja."

Melihat orang melolos pedang diam-diam It-cu-king-thian tersirap darahnya, apalagi melihat pedang lawan senjata pusaka, tak berani dia memandang enteng.

Memang Tan Cioksing melolos Pek-hong-po-kiam yang diwariskan Thio Tanhong kepadanya.

Sudah tentu It-cu-king-thian cukup ahli untuk menilai senjata, diapun tahu pedang apa yang berada di tangan Tan Ciok-sing.

Hanya Pek-hong-po-kiam yang ujungnya memancarkan cahaya kemilau dingin berwarna putih biru, dalam jarak sepuluh langkah, orang masih merasakan hawa pedangnya yang dingin.

Tapi yang membuat darah It-cu-king-thian tersirap bukan lantaran pedang pusaka ini, tapi gaya orang memegang pedang.

Sikap menuding dengan gerakan seenaknya ini, seolah-olah bukan jurus permainan pedang, namun kenyataannya merupakan tipu permulaan dari ilmu pedang tingkat tinggi, tujuh hiat-to di atas tubuh It-cu-king-thian ternyata di bawah ancaman hawa pedang.

Kalau orang lain tidak melihat dan merasakan kenyataan ini sebagai ahli Kungfu sudah tentu Itcu-king-thian maklum akan ancaman serius ini.

Sesaat dia jadi menjublek, hatinya kaget tapi juga girang.

Pengalamannya cukup luas, dia kaget karena ilmu pedang Tan Ciok-sing ternyata begini aneh dan belum pernah dilihatnya sebelum ini.

Senang karena cucu sahabat lamanya, kini telah berhasil mempelajari ilmu pedang liehay.

"Tak heran dia begini temberang, kiranya memang sudah punya bekal. Sudah mendalam salah pahamnya terhadapku, jelas takkan mau mendengar penjelasanku. Pemuda yang suka membawa adat sendiri ini memang patut dihajar adat, setelah keok baru dia akan insaf, hal ini akan membawa manfaat bagi dia. Biar aku menjatuhkan dulu pamornya baru nanti kuberi penjelasan kepadanya,"

Demikian batin It-cu-kingthian.

"Ha, ha, ha,"

It-cu-king-thian tertawa bergelak tiga kali, katanya.

"Tam-toako, tolong pinjamkan golok pusakamu, biar aku mohon pengajaran dari pemuda perkasa ini,"

Ternyata waktu berangkat ke Bik-lian-hong dia tidak membawa senjata.

Hadirin melongo.

Maklum hakikatnya Tan Ciok-sing tidak mungkin dijajarkan dengan It-cu-king-thian.

Walau Tan Cioksing menantangnya mencabut senjata, tapi dengan kedudukan It-cu-king thian, biasanya dia hanya tersenyum ejek dan pasti tak sudi memakai senjata melawan bocah kemarin sore.

Tadi diapun hanya bertangan kosong dan kenyataan berhasil mengalahkan Ciang Thi-hu, apalagi menghadapi bocah kroco yang masih hijau lagi, tak nyana bukan saja dia menuruti keinginan Tan Ciok-sing, malah dia meminjam golok pusaka Tam Pa-kun, sudah tentu hadirin kaget dan diluar dugaan.

Setelah menerima golok pusaka dari Tam Pa-kun baru Itcu-king-thian berkata.

"Sudah 10 tahun aku tak pernah memakai senjata bergebrak dengan lawan, hari ini biar aku melanggar pantangan ini untuk dikau. Anak bodoh, walau kau tidak membedakan salah benar, keberanianmu sungguh mengagumkan aku. Tapi kau harus hati-hati, inilah golok pusaka milik Kim-to-thi-ciang Tam Tayhiap, golok ini jauh lebih tajam dari golok yang dulu pernah kugunakan. Senjata tidak punya mata, maka kau harus waspada, jangan kau terluka karenanya."

"Memangnya siapa tahu kalau kau sendiri yang bakal terluka oleh pedang mustikaku?"

Tan Ciok-sing balas mengejek.

"sebelum turun tangan tak usah kau mengagulkan diri. Ketahuilah, kau pakai golok pusaka, akupun menggunakan pedang mustika."

Karuan kata-katanya ini membakar kemarahan publik.

"Lui Tayhiap berbaik hati, kau bocah keparat ini tidak tahu di untung, memangnya kau bocah bodoh yang hijau pupus ini mampu melukai Lui Tayhiap?"

Tan Ciok-sing berkata tawar.

"Siapa menang, atau kalah setelah bergebrak baru akan diketahui. Orang she Lui, jangan cerewet saja, hayo silakan mulai."

Sungguh dongkol, geli dan gemas pula It-cu-king-thian dibuatnya, katanya.

"Kau minta aku menyerangmu lebih dulu?"

"Tadi aku sudah bilang tidak akan memungut keuntunganmu, kau sudah bergebrak sebabak, kini biar aku mengalah tiga jurus lebih dulu."

It-cu-king-thian tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Anak muda, patut dipuji keberanianmu. Baiklah, kuturuti keinginanmu,"

Golok diangkat tinggi, betul juga dia lantas membelah ke batok kepala Tan Ciok-sing.

Berapa tinggi dan terhormat kedudukan It-cu-king-thian, tapi kenyataan dia mau menerima tantangan anak muda yang mengalah tiga jurus pula padanya, sudah tentu hadirin sama kaget dan melongo keheranan.

Terutama kejut In San paling besar.

Maklum jawaban It-cu-king-thian terasa ada maksud sampingan yang berbeda.

Maksud yang sebenarnya adalah ingin membantu lawannya angkat nama supaya tersohor, arti sampingannya adalah hendak menamatkan jiwanya.

Dan umumnya nada sampingan yang sering terjadi di kalangan Kangouw adalah menjurus pada arti yang kedua ini.

Tam Pa-kun seperti tahu jalan pikiran In San, katanya tertawa.

"Kau tak usah kuatir kurasa Lui Tayhiap tidak bermaksud jahat kepada temanmu, malah aku kuatir temanmu yang masih berdarah panas itu tidak tahu mengukur kekuatan sendiri."

Belum selesai dia bicara, dilihatnya It-cu-king-thian sekaligus telah menyerang tiga bacokan secara berantai.

Kedua orang masih tetap berdiri di tempat masing-masing.

Tan Ciok-sing sama sekali tidak terluka.

Kiranya tiga jurus serangan It-cu-king-thian hanya gerakan gertak sambal belaka, tapi tajam goloknya betul-betul menyambar di atas kepalanya, pada hal gaya dan tenaga bacokannya begitu kuat dan mengejutkan.

Kalau para penonton berseru kaget, adalah Tan Ciok-sing berdiri diam dan tenang, sikapnya wajar.

Dia seperti sudah tahu kalau golok It-cu-king-thian tidak akan melukai tubuhnya, di kala ketiga jurus serangan golok secara berantai dilancarkan, hakikatnya dia tidak bergeming sedikitpun.

Mau tidak mau It-cu-king-thian merasa kagum dan memuji akan ketenangan dan ketabahannya.

Maklumlah bagi seorang persilatan tidak sukar untuk meneliti serangan isi kosong lawannya, namun di kala sinar golok yang gemeredep menyilaukan mata tak urung biasanya secara reflek orang akan berkelit, sebaliknya kelopak mata Tan Ciok-sing sedikitpun tidak bergerak.

Baru sekarang In San menghela napas lega, katanya lirih.

"Paman Tan, kau juga tidak usah kuatir, aku tahu Tan-toako tidak akan berbuat sembrono dan kurang ajar."

Disana didengarnya It-cu-king-thian tengah membentak.

"Tiga jurus sudah kulancarkan kau masih belum juga turun tangan, memangnya apa pula yang kau tunggu?"

Dingin suara Tan Ciok-sing.

"Kau tidak mau turun tangan secara keji adalah salahmu, kesempatan sebaik ini kau siasiakan, aku justru tidak akan menerima kebaikanmu ini. Nah lihat pedang!"

Begitu pedang berkelebat tahu-tahu dia sudah mendesak maju tiga langkah, dengan jurus Li Khong Memanah Batu pedangnya lurus laksana anak panah yang meluncur, kira-kira tiga kaki sebelum mengenai pundak It-cu-king-thian, tahutahu membelok balik pula dengan setengah lingkaran gerakannya berubah menjadi Hing-hun-cin-nia, lalu Soatyong-lan-kwan, kalau luncurannya pesat adalah tarikan pedangnyapun teramat cepat.

Inilah ilmu pedang yang serba sempurna dalam tahap menyerang dan tahap membela diri.

It-cu-king-thian tak mampu membedakan asal-usul ilmu pedangnya, diam-diam terkejut hatinya, batinnya.

"Li-khong sia-ciok (Li Khong memanah batu) adalah jurus ilmu pedang dari Kun-lun-pay yang tersohor, sementara jurus Hing-huncin-nia dan Soat-yong-lan-kwan adalah ilmu pedang dari Gobi-pay, namun tiga jurus yang dia pamerkan tadi jelas lebih sempurna, bervariasi dari sumber aslinya,"

Tidak berani balas menyerang secara gegabah, lekas dia melintang golok di depan dada, tujuannya memunahkan serangan pedang lawan.

Dua jurus susulan yang dilancarkan Tan Ciok-sing memang berjaga bila lawan balas menyerang, karena It-cu-king-thian tidak menyerang maka gerakan pedangnya ini mengenai tempat kosong.

"Siapa gurumu?"

Tanya It-cu-king-thian heran.

"Setelah pertandingan ini usai, bila kau masih hidup, nanti kau akan tahu. Buat apa gugup?"

Demikian jengek Tan Cioksing.

"Sret"

Kembali pedangnya menusuk tiba. Di antara para penonton ada yang naik pitam segera berebut memaki.

"Bocah kurang ajar yang tidak tahu adat, Lui Tayhiap, buat apa kau sungkan dan memberi hati padanya."

It-cu-king-thian berseru lantang.

"Baiklah, diberi tidak membalas tidak hormat, sambutlah beberapa jurus golokku."

Tampak, cahaya emas kemilau menyilau mata kini It-cuking-thian betul-betul menggerakan golok emas pinjaman Tam Pa-kun untuk menyerang secara sungguhan, kanan kiri seperti selulup timbul di antara rumpun kembang, berputar dan menukik seperti menari, beruntun dia membacok lima kali.

Tak sedikit ahli silat yang hadir, banyak di antaranya yang menyaksikan dengan jelas beberapa jurus tadi bagi It-cu-kingthian paling hanya gerak percobaan belaka, namun kali ini dia betul-betul melancarkan serangan secara serius.

Begitu bermain secara sungguhan.

seketika Tan Ciok-sing seperti terkurung didalam libatan cahaya emas golok lawan.

Lima jurus bacokan ini memang dilancarkan dangan gagah dan deras, pada hal orang gagah yang hadir tidak sedikit yang sering mengalami pertempuran besar dan sengit, namun demikian mereka toh merasa kaget dan terbalik pandangannya.

Demkian pula In San menyaksikan dengan merinding, keringat dingin gemerobyos.

Pada hal dia tahu bahwa It-cu-king-thian tidak akan melukai Tan Ciok-sing.

Di tengah kurungan cahaya golok emas lawan, Tan Cioksing tak ubahnya seperti sampan di tengah lautan yang dipermainkan gelombang pasang.

Langkahnya bergontai gaya pedangnyapun berputar kencang.

Dalam sekejap itu kalau Itcu-king-thian menyerang lima jurus, maka diapun menyerang tujuh tusukan pedang, Tapi penonton diluar kalangan hanya melihat sinar golok tanpa melihat bayangan manusia.

Jurus apa yang digunakan Tan Ciok-sing, ternyata tiada seorangpun yang tahu.

Sudah tentu kecuali Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun.

Berdiri alis Tam Pa-kun, matanya terbeliak, mulutnya menyungging senyum, tak tertahan akhirnya dia menghela papas gegetun senang.

"Temanmu itu memang hebat dan jempolan, belum pernah aku saksikan ilmu pedang sehebat dan seaneh ini. Dalam ilmu senjata selama hidup aku hanya menyakinkan ilmu golok, yakin kemampuanku cukup melebihi orang lain, tapi dibanding Lui Tayhiap aku jadi merasa rendah diri, tapi temanmu ini bukan saja mampu bertahan dan mementalkan serangan, dia mampu pula dua jurus lebih banyak dari Lui Tayhiap, dalam sekejap tadi dia mampu menyerang tanpa kalah asor dari ilmu golok Lui Tayhiap."

Bayangan dua orang di tengah gelanggang tiba-tiba berpencar, tanpa sadar keduanya sama menunduk memeriksa golok dan pedang masing-masing.

Tan Ciok-sing melompat keluar kalangan di kala Tam Pa-kun bicara sampai "lebih dua jurus".

Kejut dan girang In San, katanya tertawa.

"Paman Tam, apa betul dia melancarkan tujuh jurus tusukan pedang untuk melawan lima bacokan golok? Kenapa sedikitpun aku tidak melihatnya?"

Pada hal kejadian tujuh tusukan pedang melawan lima bacokan golok hanya sekejap saja, tapi dalam perasaan In San seperti telah melampaui suatu masa yang panjang dan gelap.

Didalam jangka waktu menghadapi lima bacokan golok lawan secara beruntun ini, Tan Ciok-sing sendiripun merasakan adanya perbedaan yang menyolok pada gebrakan pertama tadi terasa olehnya bahwa lwekang It-cu-king-thian tidak seampuh yang dibayangkan semula, tapi tiga jurus kemudian tenaga lawan ternyata bertambah kuat dan kokoh.

Waktu dia menyambut jurus ke empat, terasa pergelangan tangannya tergetar, hampir saja Pek-hong kiam tak kuat dipegangnya lagi Tapi di waktu dia menyambut jurus terakhir, tenaga lawan ternyata jauh lebih lemah lagi, kebetulan cukup tiba untuk dia tahan secara pas-pasan.

Tan Ciok-sing maklum, agaknya It-cu-king-thian sengaja menggunakan tenaga dalamnya sesuai situasi yang diperlukan saja setelah dia mengukur sampai dimana taraf lwekang Tan Ciok-sing, sehingga dia cukup mampu melawannya dan tidak sampai dirugikan.

"Baru saja dia berhantam dengan Ciang Thihu, namun tenaga dalamnya masih setangguh ini jelas takkan mampu menandinginya,"

Demikian batin Tan Ciok-sing, mau tidak mau semakin kagum dan diam-diam dia memuji akan kebesaran jiwa lawan.

It-cu-king-thian sendiri setelah mengalami lima bacokan goloknya dibalas tujuh tusukan pedang, dia pun merasakan adanya gejala-gejala yang mengherankan.

Ternyata ke lima jurus bacokkannya ini dilancarkan sekaligus tanpa ganti napas, namanya Ngo-gak-tio-yang (lima puncak menghadap mentari), kekuatannya sedahsyat gelombang samudera yang satu lebih hebat dari yang lain.

Supaya Tan Ciok-sing kuat melawan secara pas-pasan, dia pun telah memeras keringat dan memutar otak, setelah melancarkan empat kali bacokan dengan tenaga ^ang sedikit lebih besar, secara kekerasan segera dia menarik dan mengurangi tenaganya sehingga anjlok sejauh itu, pada detik itulah Tan Ciok-sing lancarkan dua tusukan yang terakhir, sebetulnya dia punya kesempatan untuk menusuk luka dirinya, tapi Tan Ciok-sing cukup menutul saja lantas menghentikan gerakannya, tidak meneruskan serangan dia malah melompat keluar kalangan.

"Anak bocah ini tadi bilang mau menuntut balas sakit hati kakeknya, kenapa kesempatan sebaik itu dia sia-siakan? Dengan bekal kepandaiannya sekarang, tak mungkin dia tidak tahu adanya peluang di waktu aku sedang merubah jurus permainanku tadi?"

Demikian batin It-cu-king-thian.

Di nilai kwalitas pedang Tan Ciok-sing sebetulnya masih lebih unggul dari golok It-cu-king-thian, tapi lantaran tenaga dalam Tan Ciok-sing tidak setanding lawannya, pedang dan golok hanya membentur lantas saling mundur, oleh karena itu senjata mereka sama-sama tidak sampai rusak.

Pertama karena rasa ingin tahunya, kedua juga ingin menyaksikan sampai kemana taraf kepandaian ilmu pedang Tan Ciok-sing yang serba baru dan aneh ini, maka setelah golok pinjaman ini tidak cidra legalah hati It-cu-king thian, segera dia maju pula seraya membentak.

"Ilmu pedangmu belum kau kembangkan sesuai kemampuanmu, tak usah takut-takut lancarkan saja segala kemahiranmu. Bahwa Tan Ciok-sing mampu melawan Ngo-gak-tio yang dilancarkan It-cu-king-thian hadirin sudah sama heran dan kaget, kini mendengar It-cu-king-thian suruh lawan mudanya ini mengembangkan segala kemampuan ilmu pedangnya lagi, semakin melenggong mereka dibuatnya. Banyak di antaranya yang cerewet mengejek dan menceroboh Tan Ciok-sing tidak tahu diri, seketika sirep dan suasana menjadi sunyi senyap. Gebrak kedua kalinya antara Tan Ciok-sing kontra It-cuking-thian ini baru betul-betul merupakan adu kepandaian sejati yang amat tinggi mutunya. Tampak It-cu-king-thian merubah gaya permainan ilmu goloknya, golok emasnya berkisar membuat lingkaran-lingkaran yang membuka tutup dengan rapat dan membacok dan membabat ke arah Tan Ciok-sing, sementara gerakan Tan Ciok-sing mengikuti gaya pedang bergerak secara kilat. Kalau pedang Tan Ciok-sing bergerak semakin cepat dan deras, adalah sebaliknya golok It-cu-king-thian semakin lambat dan berat. Ujung goloknya seperti diganduli barang ribuan kati, membacok ke timur membabat ke barat, meski gaya goloknya kokoh dan mantap, tapi lajunya amat lamban. Tapi keanehan justeru terletak pada kelambanan ini betapapun serangan kilat pedang Tan Ciok-sing tetap tak mampu menembus pertahanannya. Setiap kali ujung pedangnya menusuk ke depan It-cu-king-thian, seolah ditangkis dan membentur dinding baja yang tidak kelihatan saja, mau tidak mau dia harus lekas menarik pedang merubah permainan. Setelah melancarkan delapan belas jurus serangan golok secara lamban, mendadak It-cu-king-thian membentak.

"Anak muda, hati-hatilah, kini aku akan menyerangmu secara gencar,"

Tangan terangkat golok membacok turun, mendadak permainan goloknya berubah.

Tampak sinar golok seredup cahaya rembulan, menyilaukan mata terasa dingin pula, golok digerakkan laksana angin lesus, serangan dengan jurus-jurus yang liehay sambil melangkah berkisar mengitari Tan Cioksing.

Maju mundur dengan silang bersilang, berputar dan menyerobot dengan berbagai perubahan yang sulit diselami, begitu cepat gerakannya sehingga baru saja kelopak mata terpejam tahu-tahu kedudukannya sudah berpindah, tiba-tiba di depan kadang-kadang di kanan.

Bayangan tubuhnya bergerak serasi dengan permainan goloknya.

Seorang hadirin yang mengenal betapa hebat permainan ilmu golok ini tak tertahan bersorak memuji.

"Sungguh hebat golok cepat Cappwe-ban."

Kiranya ilmu golok ini khusus cipjaan It-cu-king-thian sendiri, merupakan cangkokan dari delapan belasan kisaran puncak Thay-san yang terletak di bawah Thian Bun, bentuknya yang ideal .

menimbulkan ilham dibenak Lui Tingak sehingga terciptalah ilmu goloknya ini.

Cap-pwe-ban adalah nama tempat yang berbahaya di puncak Thay-san, jalan gunung berliku dan bolak-balik memutar dari bawah ke atas, setiap lima langkah satu putaran, sepuluh langkah sekali membelok, semakin berputar semakin tinggi, semakin tinggi semakin berbahaya.

Demikianlah permainan ilmu golok ciptaan It-cu-king-thian ini gayanya laksana tegaknya gunung Tay-san dengan lingkaran delapan belas jalan gunungnya yang berbahaya ini, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan ganas serta kejinya ilmu golok ini.

Tam Pa-kun segera memberi penjelasan kepada In San.

"Cap-pwe-ban di Tay-san ada perbedaan antara delapan belas cepat dan delapan belas lamban, delapan belas bagian depan agak longgar, sebaliknya bagian belakang lebih sempit dan pendek, keadaannyapun jauh lebih berbahaya. Bagian depan mengutamakan gaya permainan yang berat dan keras, bagian belakang justeru mengutamakan gaya permainan yang ganas dan berbahaya. Dahulu dengan bekal ilmu goloknya ini entah berapa banyak orang-orang gagah yang kecundang dan dikalahkan olehnya. Memang ada berapa tokoh silat yang mampu menandingi delapan belas lamban, tapi tiada pernah kudengar ada yang mampu melawan delapan belas kencang. Untuk menilai ilmu golok ini, yang paling penting adalah memperhatikan perubahan langkah kakinya."

Ternyata In San tidak ketarik oleh penjelasan ini, dia tetap menguatirkan keselamatan Tan Ciok-sing, lama kelamaan dia sendiri sampai ikut memburu napas saking menahan rasa tegang yang berlebihan, tanpa disadarinya mata berkunang kepalapun berat dan pusing tujuh keliling, lekas dia memejamkan mata serta bertanya.

"Tam-pepek, begitu liehay permainan ilmu golok Lui Tayhiap, menurut hematmu apakah Ciok-sing mampu..."

Tiba-tiba didengarnya Tam Pa kun tertawa dan berkata.

"Lekas kau buka matamu, bukan saja dia kuat melawan, kini malah berbalik balas menyerang."

Ternyata dengan bekal Bu-bing-kiam-hoat yang diselaminya Tan Ciok-sing berhasil mengembangkannya dalam praktek, dasar berbakat dan pandai menambah variasi, dengan mudah dia memunahkan seluruh rangsakan lawan, orang lain tak melihat jelas, yang kelihatan hanya bayangannya yang bergontai di tengah kurungan cahaya golok, kelihatannya seperti terdesak di bawah angin, Tapi kenyataan dia justeru adem ayem dan selamat saja, rangsakan golok lawan dihadapinya secara wajar.

Di kala In San memejam mata itu, sementara rangsakan golok Lui Tin-gak yang telah mencapai kecepatan gerakan permainannya di bagian belakang delapan belas itupun sudah selesai dimainkan.

Beruntun Tan Ciok-sing hanya mengembangkan tiga jurus permainan pedang berantai untuk mematahkan jurus serangan lawan yang terakhir.

It-cu-king-thian tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Ilmu pedang bagus, hanya kau seorang yang pertama mampu memunahkan delapan belas kencang dari permainan golok cepatku ini, hayolah diteruskan."

Karuan hadirin sama melenggong dan kaget mendengar pernyataan ini. Kata Tan Ciok-sing.

"Utang piutang memangnya belum selesai perhitungannya, sudah tentu harus dilanjutkan,"

Di tengah alunan perkataannya cahaya pedang di tangannya mendadak melebar panjang, dalam sekejap ini situasi berubah seratus delapan puluh derajat, kalau tadi dia yang dikurung oleh cahaya golok yang kemilau kuning adalah sekarang Pekhong-kiam yang kemilau perak itu berbalik membungkus sinar golok yang kekuning-kuningan.

It-cu-king-thian tak bisa tertawa lagi, raut wajahnya tampak serius.

Jelas bahwa menghadapi gebrak selanjutnya ini tidak berani lena, memandang enteng.

Sikapnya jauh lebih prihatin dari pada waktu dia menghadapi Ciang Thi-hu, keadaannyapun lebih payah.

Permainan goloknya juga berubah cepat dan lambat, ditarikan naik turun dengan segala variasi dan kelincahannya.

Dalam pertempuran sengit itu, golok It-cu-king-thian tampak membuat sebuah lingkaran yang mumbul semakin tinggi dari bawah terus membacok, beruntun tujuh jurus serangan, gaya rangsakannya kencang, tapi di kala menarik goloknya amat lamban.

Penonton tiada yang melihat jelas berapa jurus serangan yang telah dia lancarkan dan menggunakan tipu apa, yang tampak hanyalah entah goloknya mengetuk, menangkis dan membacok, semua adalah gerakan dasar ilnu golok yang menjadi acak-acakan dan tidak teratur.

Namun demikian, kenyataan Tan Ciok-sing didesaknya mundur dalam jarak setombak lebih.

Kalau penonton tidak merasakan langsung dimana letak keliehayan dan kehebatan tujuh jurus serangan ini, tapi bagi Tan Ciok-sing yang menghadapi serangan ini secara langsung diam-diam amat kaget.

Bu-bing-kiam-hoat yang diyakinkan adalah peranti mematahkan dan memunahkan permainan lawan serta menyergapnya, gerakannya gampang berubah mengikuti situasi dan kondisi.

Tapi dalam menghadapi tujuh jurus rangsakan golok It-cu-king-thian ini, Tan Ciok-sing betulbetul merasakan seperti ditindih kekuatan yang berlapis dan bersusun, amat berat dan rapat sekaligus, hakikatnya tak mampu dijebol atau dibendung.

Kalau dikatakan para penonton tiada yang menyaksikan jelas jalannya pertempuran seru ini rasanya kurang tepat, paling tidak Kim-to-thi-ciang Tam Pa-kun dapat menyaksikan secara terperinci dan jelas sekali, setelah menyaksikan tujuh serangan bacokan golok It-cu-king-thian, sungguh hatinya kejut dan girang pula, katanya kepada In San.

"Selama 10 tahun ini Lui Toako tak pernah memakai golok lagi, tak nyana secara diam-diam dia telah meyakinkan ilmu golok sehebat ini permainannya sekarang jauh lebih tinggi dibanding permainan golok cepat Cap-pwe-ban tadi. Coba lihat setiap jurus permainannya mengandung makna yang mendalam, setiap jurus serangannya merupakan intisari yang berhasil dia cangkok dari berbagai ilmu golok kelas tinggi."

In San tertawa, katanya.

"Penjelasanmu terlalu tinggi untuk kumengerti, manalagi aku tidak mampu mengikuti jalan permainan mereka. Aku hanya ingin tanya, menurut pendapatmu apakah Tan Ciok-sing mampu menandinginya?"

Tam Pa-kun tidak berani segera memberi jawaban, sesaat lamanya lagi dia menyaksikan dengan cermat, akhirnya dia manggut-manggut dan berkata dengan rasa kagum.

"Ilmu pedang temanmu itu ternyata semakin lama main pedangnya semakin aneh, semakin tinggi dan semakin mahir dan wajar, mau tidak mau aku jadi merasa apa yang pernah kupelajari juga hanya demikian saja, terlalu dangkal bila dibanding dengan bekal kepandaiannya ini. Lalu siapa bakal menang di antara mereka ini aku sendiri belum bisa menentukan, cuma boleh kukata masing-masing memiliki kemahiran dan keunggulannya sendiri-sendiri."

Dalam bicara dengan In San ini, dia merasa seperti sayang kehilangan kesempatan untuk menikmati pertarungan hebat dan bermutu tinggi ini, setelah memberi penjelasan ala kadarnya lekas dia berpaling dan menonton seperti orang kesurupan layaknya, matanya tak berkesip, seluruh perhatian dia tumplek ke arena pertempuran.

Pertempuran meningkat semakin sengit dan kedua pihak sama-sama memboyong Kungfu tingkat tinggi, para hadirin kecuali mereka yang memiliki tingkat kepandaian setaraf dengan Tam Pa-kun yang dapat menyaksikan dan menganalisa jalannya pertempuran, tapi jumlahnya juga cukup bisa dihitung dengan jari tangan, kebanyakan terang merasa kabur dan merasa pertempuran babak kedua ini hakikatnya tidak seseru pertandingan babak pertama tadi Maka terdengar suara bisik-bisik disana sini.

"Aneh, pertandingan macam apa nih, seperti sedang latihan sendiri-sendiri saja,"

Orang yang diajak bicara memangnya juga berkepandaian rendah, namun dia pura-pura punya isi dan banyak pengalaman, maka segera dia menanggapinya.

"Masakah seenteng yang kau perkirakan itu? Coba saja saksikan, bukankah keringat telah membasahi jidat Lui Tayhiap?"

Memang kedua orang yang lagi berhantam di tengah arena berjarak antara setombak, masing-masing mainkan tipu jurus senjata masing-masing, hakikatnya golok dan pedang tidak pernah beradu, ada kalanya Tan Ciok-sing mendadak melompat mumbul.

"Sret"

Pedangnya menusuk, tapi begitu Itcu-king-thian melintangkan pedang menangkis, seketika Tan Ciok-sing mencelat balik ke tempatnya pula.

Kadang kala Itcu-king-thian yang membentak sambil melangkah maju setindak, goloknya membacok beberapa kali, tapi cukup Tan Ciok-sing menudingkan ujung pedangnya ke arahnya, seketika dia menyurut mundur sambil berkelit.

Delapan puluh atau sembilan puluh persen dari penonton banyak yang tidak tahu apa sebetulnya yang sedang dilakukan oleh kedua jago yang sedang berhantam di tengah arena ini.

Setelah pertempuran semakin memuncak, mendadak kedua orang sama-sama melejit tinggi ke atas, selarik sinar emas dan selarik cahaya perak kemilau bagai pelangi putih saling gubat dan seliweran di tengah udara.

"Trang"

Terdengar sekali bentrokan nyaring, tampak Pek-hong-kiam di tangan Tan Ciok-sing mencelat terbang ke angkasa.

Bahwa senjata Tan Ciok-sing kena dibentur dan lepas dari cekalannya, maka pertempuran sengit ini secara kenyataan dan tak boleh digugat lagi, It-cu-kingthian berada di pihak pemenang.

Bahwa pertempuran sengit yang aneh dan seperti mustahil ini berakhir demikian saja secara mendadak, hadirin masih melongo dan belum sempat berganti napas, mereka jadi lupa bersorak.

Di kala mereka masih melongo dan sudah buka mulut hendak memberi applus kepada It-cu-king-thian, tampak Itcu-king-thian sudah anjlok turun dan memasukkan golok ke sarungnya, katanya sambil bersoja.

"Suatu kenyataan bahwa gelombang sungai yang di belakang selalu memang mendorong gelombang yang di depan, patah tumbuh hilang berganti. Kau dapat mengalahkan aku sejurus, aku betul-betul tunduk lahir dan batin. Bagaimana keputusanmu terhadap jiwa ragaku ini, orang she Lui boleh terserah kepada kehendakmu saja."

Ternyata pada gebrak terakhir tadi, pakaian It-cu-kingthian ternyata bolong tertusuk oleh pedang Tan Ciok-sing, setelah itu baru pedang pusaka Tan Ciok-sing kena diketuk lepas oleh getaran tenaga dalam It-cu-king-thian yang hebat sehingga mencelat terbang ke udara.

Jadi jelasnya didalam adu tenaga dalam jelas Tan Ciok-sing ketinggalan jauh, tapi didalam permainan tipu jurus serangan kedua pihak, It-cuking-thian sudah jelas bukan tandingan Tan Ciok-sing.

Serangan pedang Tan Ciok-sing boleh dikata teramat cepat, di kala berhasil menusuk bolong pakaian lawan, bila dia mau sedikit tambah tenaga, maka perut lawan bakal ditusuknya tembus.

Orang lain tiada yang tahu, tapi It-cu-king-thian sendiri maklum akan hal ini, bahwa Tan Ciok-sing telah sengaja menyelamatkan jiwanya.

Sudah tentu It-cu-king-thian sendiri tadi pernah juga menaruh belas kasihan kepada Tan Ciok-sing, bila dia betul-betul menggunakan kekuatan besarnya, ketukan goloknya itu bukan hanya menggetar lepas pedangnya, tapi Tan Ciok-sing sendiri juga bakal mengalami luka dalam yang parah.

Akan tetapi umpama betul hal ini menjadi kenyataan It-cuking-thian sudah terluka lebih dulu, sedang Tan Ciok-sing terluka belakangan.

Kini setelah kedua pihak sama tahu lawan menaruh belas kasihan, orang sebagai It-cu-king-thian yang lebih tua dan punya kedudukan dan gengsi di kalangan persilatan, tapi sebagai seorang kesatria, sebagai pendekar besar, betapa dia takkan secara rela untuk bersoja dan mengaku kalah terhadap Tan Ciok-sing?

Tadi Tan Ciok-sing menyatakan hendak menuntut balas atas kematian kakeknya baru dia menantang It-cu-king-thian berkelahi.

Kini setelah It-cu-king-thian mengaku kalah, maka kejadian sesungguhnya dari duel sengit ini perlu juga segera dibereskan.

Oleh karena itu It-cu-king-thian berpegang pada peraturan dan kebiasaan kaum persilatan umumnya, setelah mengaku kalah dia terima menyerahkan diri terserah pada hukuman apa yang dilakukan lawannya yang menang.

Orang-orang gagah yang hadir seratus persen menjagoi Itcu-king-thian, dan yakin pasti dia yang akan menang, mendadak mendengar tokoh yang dijagoi mengaku kalah, keruan semua merasa melongo keheranan, karena lobang kecil di pakaian It-cu-king-thian di bagian perut itu tiada orang yang memperhatikan.

Nyo Hou-hu yang pertama merasa tidak terima, serunya.

"Hai apa sih yang telah terjadi, umpama kau ingin memberi muka dan menyempurnakan seorang muda yang gagah ini, kan tidak perlu kau berbuat sejahat ini?"

It-cu-king-thian tertawa getir katanya.

"Tapi kenyataan memang aku yang kalah."

Tapi sebelum dia sempat memberi penjelasan lebih lanjut, sementara itu Tan Ciok-sing sudah tangkap pedangnya yang meluncur jatuh dari udara, langsung dia menghampiri ke depan It-cu-king-thian, dengan laku hormat dia menjura dan memberi hormat.

"Wanpwe memang kurang ajar dan melakukan kesalahan terhadap Lui Tayhiap. Yang benar adalah Wanpwe yang harus mendapat hukuman dan hajaran dari Lui Tayhiap,"

Demikian ucap Tan Ciok-sing.

Keruan hadirin melengak keheranan pula, mereka bingung menghadapi ulah Tan Ciok-sing yang tidak karuan.

Adalah Itcu-king-thian sendiri merasa senang dan kaget pula, katanya.

"Bukankah kau hendak menuntut balas kematian kakekmu dan ingin membuat perhitungan dengan aku?"

"Betul, Wanpwe memang patut mampus, dulu memang aku merasa curiga terhadap Lui Tayhiap, tapi kini aku tahu bahwa akulah yang salah,"

Sahut Tan Ciok-sing menunduk.

"Apa, kau sudah tahu? Jadi kau tadi, waktu bertempur dengan aku, hakikatnya kau tidak anggap aku musuhmu."

"Lui Tayhiap berbuat baik dan setia kawan untuk ini belum lagi Wanpwe menyatakan terima kasih, mana berani aku menganggapmu sebagai musuh?"

"Kalau demikian, kenapa tadi kau menekankan hendak menuntut balas kematian kakekmu, dan paksa aku untuk bertempur dengan kau?"

Tanya It-cu-king-thian.

"Mohon Lui Tayhiap memberi ampun. Wanpwe memang bermaksud paksa Lui Tayhiap untuk berhantam dengan aku. Kalau aku tidak menggunakan alasan menuntut balas memangnya Lui Tayhiap sudi bergebrak dengan Wanpwe?"

"O, kiranya begitu. Tapi aku tetap tidak mengerti, kenapa kau harus paksa aku bergebrak dengan kau?"

Pelan-pelan Tan Ciok-sing menegakkan tubuh serta berbicara kalem.

"Kira-kira sebulan yang lalu pernah aku bertemu dengan seorang aneh yang sudah lama mengasingkan diri, cianpwe ini she Ku bernama Ti."

Kejut dan girang pula It-cu-king-thian dibuatnya, katanya.

"Khu-loenghiong yang ketemu kau ini, bukankah jagoan ternama dari Gi-lim-kun yang sejajar dengan Bu-conggoan In Jong pada tiga puluh tahun yang lalu itu?"

Tan Ciok-sing mengangguk, katanya lebih lanjut.

"Khulocianpwe pernah bercerita akan masa silamnya dulu, Lui Tayhiap memang benar, memang betul beliau adanya."

It-cu-king-thian berkeplok senang, katanya.

"Khuloenghiong adalah salah satu cianpwe yang lama sudah kukagumi, sayang sudah lebih tiga puluhan tahun dia menghilangkan jejaknya dari percaturan dunia persilatan. Kiranya dia masih hidup sehat walafiat. Tapi aku masih juga tidak mengerti, apa sangkut pautnya kau bertemu dengan Khu-loenghiong dengan kejadian hari ini?"

"Kepadaku Khu-loenghiong pernah menyinggung cita-cita Lui Tayhiap dulu yang pernah dinyatakan terhadap Lo-kim-to Cecu,"

Demikian Ciok-sing menjelaskan. Sampai disini baru It-cu-king-thian mengerti, katanya.

"O, jadi ilmu pedangmu ini, adalah ilmu pedang ciptaan Thio Tanhong yang diwariskan kepadamu?"

Tan Ciok-sing manggut, katanya.

"Beruntung wanpwe mendapatkan berkah, Thio Tayhiap sudi menerimaku sebagai murid penutupnya,"

Lalu dia melanjutkan.

"Setelah Khu-Iocianpwe tahu akan keinginan Lui Tayhiap ini, dia bilang dahulu dia ingin membantu Lui Tayhiap supaya terlaksana cita-citamu, sayang sekali belakangan dia sendiri mengalami suatu musibah, sehingga dipaksa untuk mengasingkan diri, selama tiga puluh tahun ini bantuannya jadi tertunda dan belum tercapai."

"Oleh karena itu dia minta kepadamu untuk membantu aku mencapai keinginanku itu?"

It-cu-king-thian meneruskan.

"Tidak berani. Akan tetapi mumpung ada kesempatan, terpaksa Wanpwe mohon pengajaran langsung dari Lui Tayhiap saja."

"Dengan Khu-locianpwe kami hanya saling kenal nama saja, tak nyana dia begitu simpatik, ingin membatu aku mencapai cita-cita, sungguh aku amat kagum, terima kasih haru akan ketulusan hatinya,"

Dia tahu hadirin pasti merasa bingung, maka segera dia memberi penjelasan.

"Cita-citaku itu adalah ingin memohon pelajaran ilmu pedang kepada Thio Tayhiap Thio Tan-hong. Sejak tiga puluh tahun yang lalu Thio Tayhiap sudah tidak karuan parannya, kukira keinginanku itu jelas takkan bisa tercapai lagi, tak nyana cucu sahabat baikku, atau murid Thio Tayhiap sendiri hari ini menyampaikan citacitaku dahulu."

Maka setelah Tan Ciok-sing menjelaskan hal ihwalnya, hadirin menjadi gempar sana sini berbisik, semua ingin tahu berita terakhir dari Thio Tayhiap Thio Tan-hong.

Tan Ciok-sing jadi serba susah, apa yang ingin diketahui orangorang itu, semuanya adalah persoalan yang sulit untuk diceritakan, terpaksa akhirnya dia berkata.

"Suhu sudah almarhum, beliau wafat di hari menerima aku sebagai murid penutupnya."

Tam Pa-kun berkata.

"Semasa masih hidup Thio Tayhiap tidak suka diganggu orang, maka dia memilih suatu tempat untuk pengasingan dirinya, memperdalam ilmu pedang dan berhasil menciptakan Kungfu tingkat tinggi. Maka tak perlu kita tahu di tempat mana terakhir beliau semayam,"

Hadirin semua adalah kaum persilatan.

Umumnya dalam kalangan Kangouw ada pantangan yang sudah mereka ketahui dan patuhi bersama, tadi karena merasa girang dan lega karena mendengar berita Thio Tan-hong maka tak kuasa mereka menahan gelora hati untuk menanyakan pendekar besar pujaan mereka ini.

Setelah mendengar penjelasan Tam Pa-kun, barulah suasana menjadi reda.

Baru sekarang Tam Pa-kun ada kesempatan maju berkenalan dengan Tan Ciok-sing, katanya.

"Waktu di Taytong malam itu, aku masih belum tahu akan dirimu. Kalau tidak pasti aku sudah memberi penjelasan kepadamu, tentang persoalan Lui Tayhiap itu. Tapi juga untung aku tidak sempat menjelaskan kepadamu. Jikalau aku turut campur, maka kau takkan punya alasan untuk bertanding dengan Lui Tayhiap, maka kita semuapun takkan memperoleh kesempatan sebaik ini untuk menyaksikan pertandingan sehebat tadi,"

Maka hadirin gemuruh dalam susana gelak tawa dan tepuk tangan. It-cu-king-thian serahkan kembali golok emas itu kepada Tam Pa-kun, katanya.

"Terima kasih kau telah meminjamkan golok emasmu ini kalau mengandal sepasang tangan kosongku saja, jelas aku bukan tandingan Tan-siauhiap yang mahir memakai pedang."

Setelah menerima goloknya Tam Pa-kun berkata lebih lanjut.

"Lui Toako, ada sebuah persoalan lagi yang ingin kusampaikan kepadamu yakin kau akan amat senang."

"Persoalan apa?"

Tanya It-cu-king-thian. Tam Pa-kun menarik In San ke depan, katanya tertawa.

"Thio Tan-hong dan In Jong adalah dua pendekar besar dari kaum cianpwe yang kau kagumi. Putra In Jong, In Hou adalah sahabat yang sejak lama ingin kau kenal, betul tidak?"

"Ya, memangnya kenapa?"

Tanya It-cu-king-thian.

"Biar kuberitahu kepadamu, nona ini adalah putri tunggal dari In Hou In Tayhiap."

Baru sekarang hadirin memperhatikan In San, dan tahu pula bahwa dia adalah seorang gadis belia yang menyamar jadi laki-laki, semua mereka heran dan bingung. Dengan rawan In San berkata.

"Sayang ayah sudah meninggal dicelakai musuh, beberapa hari yang lalu baru sempat aku sembahyang di depan pusara beliau. Tapi aku harus berterima kasih kepada Lui Tayhiap yang telah merawat dan membangun kembali pusaranya itu."

Lekas It-cu-king-thian membalas hormat, katanya.

"Sebetulnya ayahmu sudah berjanji dengan Tam Tayhiap untuk berkunjung ke rumahku, sayang aku tahu setelah terlambat, bukan saja tak mampu bertidak selaku tuan rumah akupun tak bisa berbuat banyak setelah dia dicelakai oleh musuh. Walau aku tidak membunuhnya tapi secara tidak langsung, kematiannya karena kelalaianku juga. Sungguh aku merasa menyesal dan mohon maaf kepada nona, aku merasa malu pula untuk berhadapan dengan orang-orang gagah di dunia ini."

In San membasut air matanya katanya.

"Urusan duka cita ini biarlah berlalu dan tak perlu kita pikirkan lagi. Hari ini adalah hari bahagia kita semua, dimana orang-orang gagah dari segala penjuru kumpul disini adalah pantas kalau kita harus bersuka ria bersama."

Dalam pada itu Kek Lam-wi menggandeng gadis jelita itu tampil ke depan memperkenalkan diri, akhirnya In San tahu bahwa gadis jelita teman Kek Lam-wi bernama Toh So-so, adik seperguruan Kek Lam-wi.

Mereka adalah penduduk Kanglam juga, mereka adalah teman baik dari Kanglam Sianghiap.

Kwik Ing-yang dan Ciang Bin-siu.

Mendengar kalau Kanglam Sianghiap kini berada di markas Kim-to Cecu, bukan main rasa senang mereka, kata So-so.

"Tak heran waktu aku melihat kuda kalian hari itu seperti sudah kukenal, ternyata memang betul milik Kanglam Sianghiap. Aku sudah kangen pada mereka."

"Kabarnya kalian juga hendak pergi ke markas Kim-to Cecu?"

Tanya In San.

"Betul, bukan kami saja, semua yang hadir disini hendak kesana,"

Ujar Toh So-so.

"Kalau begitu, berapa bulan lagi kau akan bertemu lagi dengan mereka."

Kata In San. Di sebelah sana Tan Ciok-singpun sedang berbicara oengan Kek Lam-wi, keduanya sama riang, kata Kek Lam-wi.

"Hobiku selama hidup ini adalah musik, yang kedua baru belajar kungfu. Dalam musik terutama adalah harpa, Sayang aku tak berhasil belajar harpa, belajar ilmu pedang juga gagal. Sebaliknya Tan-heng ilmu harpa dan ilmu pedangmu sama mencapai top, untuk selanjutnya aku harap Tan-heng suka memberi petunjuk kepadaku."

"Kek-heng terlalu sungkan, aku tahu Kek-heng mahir meniup seruling, akupun ingin mohon petunjuk dari Kekheng."

Dari samping It-cu-king-thian menyeletuk.

"Kalian besok masih ada tempo untuk mengadu harpa dan seruling Ciok-sing Hiantit, masih ada omongan yang ingin kubicarakan dengan engkau."

Waktu itu sudah menjelang kentongan ke empat, Nyo Houhu tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Setelah menyaksikan dua babak tontonan yang bagus tadi semalam suntuk kita semua tiada yang tidur, kini tiba saatnya kita pulang beristirahat."

Tahu bahwa It-cu-king-thian hendak mengajak Tan Cioksing bicara, maka Kek Lam-wi segera mohon diri, bersama Toh So-so mereka berangkat pulang lebih dulu, tapi dia mengundang Tan Ciok-sing untuk bertamasya naik perahu.

It-cu-king-thian, Tam Pa-kun, Tan Ciok-sing dan In San berempat berangkat paling akhir, mereka turun gunung bersama, baru sekarang sambil jalan mereka sempat bicara secara panjang lebar tentang peristiwa selama empat tahun akhir ini.

Maka It-cu-king-thian lantas menjelaskan kepada Tan Cioksing.

"Peristiwa malam itu yang menimpa kakekmu begini. Waktu dia datang ke rumah dia memberitahu bahwa In Tayhiap sedang merawat luka-lukanya di rumahnya. Seharusnya aku segera datang ke rumahmu memberi pertolongan, tapi waktu itu ada sesuatu yang amat kukuatirkan, sehingga bukan saja tidak bisa segera memberi pertolongan, malah Kakekmu pun kusuruh segera pulang. Tahukah kenapa sebabnya? Karena di rumah aku juga kedatangan tiga tamu yang tak kuundang, tamu yang tidak kusenangi. Ketiga tamu itu adalah Le Khong-thian murid Kiau Pak-bing, gembong iblis besar yang puluhan tahun lalu pernah sejajar dengan Thio Tan-hong Thio Tayhiap, seorang lagi adalah Siang Po-san, satu-satunya murid keturunan dari Bi-babun, orang ketiga adalah Tok-liong-pang Pangcu Thio Ou."

"Ketiga orang inilah yang mencelakai In Tayhiap,"

Kata Tan Ciok-sing.

"Mereka datang sebelum kakekmu tiba waktu itu akupun belum tahu kalau In Tayhiap sudah celaka di tangan mereka. Mungkin mereka belum tahu bagaimana keadaan luka In Tayhiap, mereka menyebar anak buahnya untuk mencari tahu dimana kira-kira jejak In Tayhiap."

"Mereka memang kurang ajar dan petingkah datang lantas secara lantang menyerukan gabungan kekuatan untuk membunuh In Tayhiap. Diharap aku ikut bergabung dalam komplotan mereka, pertama bantu mencari tahu dimana kirakira sekarang In Tayhiap berada, atau kalau tidak mau menerima uluran tangan, diminta supaya aku tidak menghalangi aksi mereka."

"Kalau ketiga orang ini bergabung, waktu itu jelas aku bukan tandingan mereka, oleh karena itu terpaksa aku bersikap kendor dan mencari akal cara bagaimana untuk mencegah usaha mereka secara diam-diam."

"Tapi sebelum aku memperoleh akal untuk menghadapi mereka, kakekmupun datang, aku mohon diri sebentar, kutinggal ketiga tamu itu di ruang tamu, lalu kutemui kakekmu di kamar rahasia, waktu itu kakekmu belum terluka."

"Setelah mendapat keterangan kakekmu baru aku tahu akan berita positip keadaan In Tayhiap, konon dia punya harapan untuk sembuh dari lukanya yang parah, maka legalah hatiku, lekas aku suruh kakekmu lekas pulang, supaya tidak kepergok oleh ketiga gembong iblis yang kini menjadi tamuku."

"Waktu itu memang aku sudah tahu bahwa ketiga gembong iblis itu adalah biang keladi yang melukai In Tayhiap, akan tetapi aku masih belum bisa membalas sakit hati In Tayhiap seorang diri. Terpaksa aku layani mereka secara ala kadarnya, akhirnya aku antar mereka pergi, kupikir setelah Tam Tayhiap datang nanti, dengan kekuatan kami berdua, yakin kami akan dapat menuntut balas sakit hati In Tayhiap."

"Tak nyana belum jauh setelah kekekmu pergi, beliau dibokong dan disergap oleh orang Tok-liong-pang hingga terluka, tapi hal ini baru kuketahui belakangan setelah ketiga tamu dari gembong-gembong iblis itu pergi."

"Waktu itu pikiranku hanya mencari akal untuk memberi bantuan dan menyelamatkan In Tayhiap, supaya dia dapat merawat lukanya di rumah keluarga Tan dengan tentram tanpa diganggu siapapun. Siapa nyana bukan saja In Tayhiap akhirnya mengalami nasibnya yang mengenaskan, malah kakek Tan Ciok-sing juga harus ikut berkorban. Sungguh bukan kepalang rasa menyesalku, kalau siang-siang aku tahu bakal terjadi peristiwa ini, pasti malam itu aku berlaku nekad mengadu jiwa dan melabrak ketiga gembong iblis itu, Cioksing Hian-tit, nona In, memang pantas kalian menyalahkan aku karena kelalaianku bertindak waktu itu."

Lekas Tan Ciok-sing dan In San berkata bersama.

"Lui Tayhiap harap jangan menyalahkan diri sendiri, bicara soal situasi waktu itu umpama kau nekad dan melabrak mereka, urusanpun takkan banyak berubah dan membawa manfaat, Lui Tayhiap jiwa pendekarmu dan rasa setia kawananmu memang patut kita kagumi dan harus menjadi teladan kita semua, untuk ini kami amat berterima kasih kepadamu."

Berkata It-cu-king-thian lebih lanjut.

"Hari kedua aku datang ke rumah kakekmu, In Tayhiap, dan kakekmu sudah sama meninggal, seharusnya itu waktu aku memberi penjelasan kepada kau Ciok-sing, tapi..."

"Semua lantaran kecorobohan dan kebodohanku,"

Demikian ucap Tan Ciok-sing.

"Waktu itu kuanggap umpama bukan kau yang langsung mencelakai kakekku, paling tidak kau tersangkut didalam perkara ini, begitu melihatmu, sikapku lantas tegas memandangmu sebagai musuh besar. Ternyata aku seceroboh ini, akupun pantas mati saja."

"Kau tidak bisa disalahkan juga, kakekmu terluka parah setelah pulang dari rumahku, memang siapapun pasti akan mencurigai diriku. Tapi, bahwa waktu itu aku tak mau memberi penjelasan kepadamu, memang didalam hal ini masih ada sebab musababnya."

"Lui Tayhiap, tak perlu kau jelaskan lagi, hanya akulah yang harus disalahkan karena kebodohanku, kini urusan sudah jeias, memangnya aku masih tidak percaya padamu?"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

"Meski kau tidak menaruh curiga pula kepadaku, tapi aku masih ingin menjelaskan hal ini?"

Demikiau lt-cu-king-thian menyatakan.

"In Tayhiap sudah gugur, tapi kawanan penjahaf'itu belum tahu, sebelum mereka mendapatkan golok pusaka dan buku pelajaran silat milik In Tayhiap jelas takkan mau berhenti sampai disini. Waktu kakekmu pulang dari rumahku malam itu, di tengah jalan jejaknya konangan oleh orang-orang Tokliong-pang, kakekmu dilukai namun dia berhasil lolos. Betapa senang hati mereka setelah memperoleh sumber penyelidikan ini, maka mereka terus mengejar dan menyelidik."

Tan Ciok-sing paham, katanya.

"Lui Tayhiap, secara suka rela kau memanggul nama buruk sehingga mereka menyangka In Tayhiap sudah terjatuh ke tanganmu, sudah tentu barang peninggalannya juga terjatuh ke tanganmu. Maka kalau mereka ingin mendapatkan barang-barang itu, terpaksa harus berhadapan dengan kau, selanjutnya tidak akan mencari perkara terhadap kami kakek dan cucu. Ya, tak heran malam itu dengan leluasa aku dapat lolos dari cengkeraman iblis kiranya kaulah yang membantu secara diam-diam. Ai, Lui Tayhiap, kenapa kau harus bertindak sejauh ini, sebetulnya kau bisa berusaha supaya aku tahu..."

It-cu-king-thian tersenyum, katanya.

"Aku memang sengaja supaya kaupun menaruh curiga kepadaku, sehingga orang lainpun lebih curiga lagi. Oleh karena itu, sepulang dari rumahmu, malam itu juga aku membakar rumah. Aku berbuat demikian, pertama lantaran seorang diri tak akan mampu menempur beberapa gembong iblis itu, kedua maksudku ingin memancing mereka pergi, supaya mereka menyangka setelah aku memperoleh barang-barang yang mereka incar terus merat ke tempat jauh, dan kau akan selamat dan tidak akan direcoki mereka."

Haru dan sedih hati Tan Ciok-sing, tanpa terasa air mata berkaca-kaca di kelopak matanya, katanya.

"Lui Tayhiap, karena aku kau rela memikul segala resiko buruk itu, demi aku pula kau mengorbankan rumah dan harta benda, tapi aku justeru menuduh dan menyalahkan kau, budi kebaikanmu ini, selama hidup sukar aku membalasnya."

Tam Pa-kun menghela napas, katanya.

"Aku pun harus disalahkan karena terlambat datang empat hari waktu yang dijanjikan. Sampai detik ini aku masih belum mengerti, entah bagaimana perjanjianku dengan In Tayhiap bisa bocor. Di tengah jalan aku kepergok Huwan bersaudara, dua hari lamanya aku dilibat dan dikeroyok mereka, akhirnya dua di antaranya dapat kulukai dan membobol kepungan dari barisan golok mereka. Siang dan malam aku menempuh perjalanan, alangkah sayangnya tenagaku sudah hampir habis. Lebih tak terpikir lagi setelah aku terlambat empat hari tiba di Cit-singgiam, orang-orang Tok-liong-pang masih menunggu aku dan mengatur jebakan sehingga aku terperangkap, begitu tiba aku lantas terbokong dan terluka parah. Untung Lui Toako bertindak tepat pada saatnya kalau tidak jiwaku takkan hidup sampai sekarang."

"Rahasia ini dicuri dengar oleh Liong Seng-bu bangsat kurcaci itu."

Demikian Tan Ciok-sing menjelaskan.

"lalu pamannya yang bernama Liong Bun-kong mengatur tipu daya sehingga In Tayhiap celaka dan kita semua mengalami musibah ini,"

Lalu dia menceritakan pula apa yang dia ketahui dari penuturan In-hujin.

Baru sekarang Tam Pa-kun tahu duduknya perkara.

Dalam pada itu mereka sudah tiba di bawah gunung, rumah keluarga Nyo.

sudah tampak di kejauhan sana, haripun sudah mendekati fajar.

Teringat sesuatu Tan Ciok-sing lantas berkata.

"Aku hendak menemui seorang teman, kira-kira memerlukan waktu setengah jam. Adik San, kau boleh ikut Tam Tayhiap dan Lui Tayhiap menunggu di rumah keluarga Nyo saja."

"Dimana temanmu berada?"

Tanya It-cu-king-thian.

"Berada di bawah Bik-lian-hong, di tepi sungai,"

Sahut Tan Ciok-sing.

"Kau datang bersamanya kemarin malam?"

Tanya It-cuking-thian pula.

"Ya, dialah yang mengantarku kemari dengan perahunya."

"Kalau dia temanmu, kenapa tidak kau ajak ke rumah keluarga Nyo saja, supaya kita semua bisa kumpul."

"Dia bukan kaum persilatan, dia seorang nelayan cilik yang waktu kecil menjadi teman baikku. Aku tidak ingin dia ikut terjun kedalam pusaran pertikaian kaum persilatan."

Waktu Tan Ciok-sing buru-buru menyusul ke tepi sunyai, tampak perahu Siau-cu-cu masih ditambat di pinggir sungai, ternyata dia masih menunggu disana. Siau-cu-cu amat girang, katanya.

"Memangnya aku lagi kuatir, syukurlah kau kembali dengan selamat. Semalam apa yang terjadi? Mana nona In, kenapa tidak pulang bersamamu?"

Tan Ciok-sing tertegun, katanya tertawa.

"Ternyata kau sudah tahu kalau dia menyaru laki-laki. Jangan kuatir, dia tidak apa-apa, Dia ketemu dua orang sahabat ayahnya, kini seperjalanan menuju ke rumah keluarga Nyo."

"Kalau begitu marilah kau pulang naik perahu kecilku ini? Hari ini angin menghembus kencang, kembalinya pasti lebih laju."

"Memang aku kemari hendak memberitahu kepadamu, aku akan tinggal dua hari lagi disini kuharap kau pulang lebih dulu."

Siau-cu-cu tersentak, katanya tersenyum.

"Ya memang aku yang goblok. Kalau nona In belum pulang, sepantasnya kaupun tetap berada disini."

Merah muka Tan Ciok-sing, katanya.

"Baru saja aku berkenalan dengan seorang teman she Kek, yaitu teman yang kuceritakan padamu mengundangku kesini."

"Adakah urusan lain yang perlu kau pesan padaku?"

Tanya Siau-cu-cu.

"Tidak ada, cuma tolong kau rawat kedua ekor kudaku itu."

"Bicara soal kedua ekor kuda itu, ada sebuah hal perlu kuberitahu padamu."

Melihat sikapnya agak ganjil Tan Ciok-sing bertanya.

"Hal apa?"

"Tadi pagi sebelum fajar menyingsing, kudengar ada orang yang memperbincangkan kedua ekor kuda putihmu itu."

Tan Ciok-sing kaget, tanyanya.

"Siapa mereka?"

"Entah siapa, mereka lewat di pinggir kali, perahuku ini berada di tengah lebatnya daun-daun welingi, sehingga mereka tidak melihatnya."

"Apa yang mereka bicarakan?"

Seorang berkata.

"Aneh, bocah itu dan temannya menunggang kuda putih milik Kanglam Sianghiap, bila mereka muncul di tengah jalan, orang-orang pihak kita pasti dapat mengenalinya. Tapi tiada seorangpun yang melihat kuda putih itu, tahu-tahu bocah itu sudah berada disini."

Seorang lagi berkata.

"Memangnya kau kira dia tidak bisa datang naik perahu?"

Yang duluan berkata pula.

"Hal itu sudah kupikir, sayang sekarang tinggal kita berdua, apa masih ada orang lain yang berhasil lolos belum diketahui.. Keadaan kita sekarang masih cukup berbahaya, syukur kalau Liong-tayjin ada mengutus orang untuk membantu kita." -"Sampai disini pembicaraan mereka, selanjutnya apa pula yang dibicarakan aku tidak mendengar dengan jelas. Dari nada pembicaraan mereka, agaknya mereka adalah tawanan yang berhasil meloloskan diri."

Setelah Tan Ciok-sing tiba di rumah keluarga Nyo, langsung dia bicarakan hal ini kepada Nyo Hou-hu, setelah diperiksa, memang, ada tiga orang yang berhasil lolos dari orang-orang jahat yang terdaftar.

Itu berarti kecuali dua orang yang ditemui Siau-cu-cu, masih ada seorang lain pula yang lolos.

Tapi ketiga orang ini hanya kaum kroco yang tidak begitu penting peranannya, semuanya sudah ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan oleh Nyo Hou-hu.

Ternyata Tan Ciok-sing amat cocok dengan Kek Lam-wi, maka dua pasangan kekasih bertamasya bersama, satu memetik harpa yang lain meniup seruling, kedua pemudinya bernyanyi, berdendang dan menari, suasana sungguh amat riang dan menggembirakan.

Sehari itu mereka menjelajah seluruh obyek-obyek turis di Kwan-san tanpa merasakan lelah, maklum setiap kali berada di suatu tempat yang indah pemandangannya, maka alunan harpa dan seruling pasti berkumandang di antara alam pegunungan nan permai, dipadu pula dengan kicauan burung yang merdu, sungguh indah dan mengasyikan sekali.

Akhir kali dari paduan suara harpa dan seruling, dimana gema suaranya masih berkumandang di antara lembah dan sungai, tiba-tiba terdengar sebuah suitan panjang, malah sayup-sayup seperti terdengar seorang memuji.

"Bagus."

Kek Lam-wi melongo sejenak, katanya kaget dan senang.

"Agaknya orang ini punya hobi jugatialam bidang musik, mungkin dia ingin berkenalan dengan kita."

Suitan itu berkumandang dari atas puncak sana, kalau bukan seorang yang memiliki lwekang tinggi, suaranya tak mungkin bisa terdengar sejauh ini. Teringat sesuatu Tan Ciok-sing berkata.

"Bukan saja orang ini sehobi dengan kita, kemungkinan dia memang punya maksud tertentu, agaknya dia sengaja hendak menarik perkenalan, kali ini aku pasti tidak salah dengar."

Kek Lam-wi heran, katanya.

"Soal apa yang kau katakan? Apakah orang itu pernah muncul?"

"Waktu aku datang, di atas perahu pernah juga kupetik harpaku untuk teman tukang perahuku, waktu itu sayup-sayup pernah juga kudengar suara suitan. Tapi hanya suaranya saja tanpa kelihatan bayangannya, kuduga orangnya pasti sama."

"Kemungkinan orang ini masih ada di atas gunung, mari kita cari dia,"

Demikian ajak Kek Lam-wi. Tak nyana setiba mereka di puncak Kwa-san, bayangan seorangpun tiada yang terlihat. Kek Lam-wi menghela napas, katanya.

"Agaknya orang kosen ini tak sudi bertemu dengan kita semua."

"Aneh, kenapa dua kali dia sengaja bersuit?"

Ujar In San. Tan Ciok-sing juga tidak habis mengerti katanya.

"Kukira dia sengaja, hendak menarik perhatian kami, ternyata salah dugaanku."

"Tapi aku yakin orang itu tidak ' punya maksud jahat terhadap kita,"

Timbrung In San.

"Sudah tentu, kalau dia seorang musikus, seorang seniman, yakin dia bukan orang jahat."

Tapi Tan Ciok-sing tidak sependapat, batinnya.

"Liong Seng-bu juga seorang pelajar pandai main musik pula, kelihatannya lemah lembut, kenyataannya dia lebih ganas dari serigala,"

Namun dia tidak ingin berdebat dengan teman baru ini, maka dia simpan pikirannya dalam hati. Sepulang ke rumah keluarga Nyo hari sudah petang, Nyo Hou-hu berkata.

"Aku dan Lui Tayhiap sedang menunggu kalian pulang."

"Apa ada urusan?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Hayo masuk dulu, bicara didalam saja,"

Ucap Nyo Hou-hu. Nyo Hou-hu membawa mereka kedalam kamar bukunya, Itcu-king-thian sudah menunggu mereka. Melihat mereka datang, dia tertawa, katanya.

"Hari ini kalian tentu amat riang?"

"Hari ini bertamasya dengan Kek-heng, sungguh merupakan hari yang paling menyenangkan selama hidupku ini. Tapi..."

"Tapi apa?"

Tanya It-cu-king-thian.

"Entah Nyo Cengcu ada persoalan apa yang hendak dibicarakan dengan kami, silakan bicarakan lebih dulu."

"Ada satu urusan yang perlu kusampaikan kepada Kekheng, tapi bukan soal penting, silakan kalian dulu yang bicara."

"Kami juga tiada urusan apa, cuma ingin kami tanya seseorang kepada Nyo Cengcu."

"Siapa-yang kalian maksud?"

"Seorang yang belum kami ketahui nama dan wajahnya,"

Kata Tan Ciok-sing, lalu dia tuturkan kejadian yang mereka alami di Kwa-san. Nyo Hou-hu tampak keheranan, katanya.

"Penduduk di sekitar Kwa-san boleh dikata amat kukenal, tapi tiada orang kosen seperti kalian katakan itu. Kukira dia orang luar yang datang kesana."

"Kalau dia orang luar sepantasnya juga kemari memberi selamat kepada Nyo Cengcu. Kalau tidak untuk apa pula dia berada di sekitar sini?"

Demikian kata Kek Lam-wi. Nyo Hou-hu berkata.

"Kalian terlalu memberi muka kepadaku, kalau dia seorang kosen, masakah berani aku menerima ucapan selamatnya? Tapi secara kebetulan, tadi memang ada seorang kemari mencari tahu tentang dirimu."

"Siapa?"

Tanya Kek Lam-wi.

"Kek-heng, bukankah kau punya seorang Susiok yang bernama Ti Nio tinggal di kota Khong-gwan di daerah Jwansay?"

Tanya Hou-hu.

"Benar,"

Sahut Kek Lam-wi.

"tapi belum pernah aku bertemu dengan Ti-susiok."

"Dia mengutus seorang muridnya she Kok kemari, dia mengharap kedatanganmu ke Khong-gwan tanggal lima belas bulan depan untuk menemuinya."

"Sebetulnya aku ingin kumpul beberapa hari lagi disini dengan Tan-heng, karena hal ini terpaksa besok juga aku harus berangkat,"

Demikian ucap Kek Lam-wi.

"Baiklah, karena kau ada urusan, aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi. Tolong sampaikan salamku kepada Susiokmu."

"Kek-heng besok menuju ke Kwi-lin lebih dulu?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Betul, kupikir akan menempuh perjalanan darat saja dengan nona Toh, sepanjang jalan bisa menikmati pemandangan alam, petangnya kebetulan tiba di Kwi-lin."

"Kalau begitu besok kita bisa seperjalanan,"

Kata Tan Cioksing.

"Lho, kau juga mau pergi? Apa kau tidak menunggu Lui Tayhiap?"

Tanya Nyo Hou-hu.

"Temanku tukang perahu itu tiada pengalaman Kangouw sama sekali, aku menguatirkan keselamatannya,"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

"kalau dia kena perkara lantaran aku, bagaimana hatiku bisa tentram."

Sesaat berpikir akhirnya It-cu-king-thian berkata.

"Ucapanmu betul, hati-hati memang lebih baik. Kedua ekor ikan yang lolos itu tidak perlu dibuat kuatir, tapi kalau orang aneh itu sengaja hendak mencari perkara kepadamu, di Kwilin aku sudah menyebar beberapa orang, kuatirnya merekapun tak kuasa menghadapinya."

"Kalau demikian, akupun takkan menahanmu, kelak kita bertemu saja di markas Kim-to Cecu,"

Kata Nyo Hou-hu. Kata It-cu-king-thian lebih lanjut.

"Muridku yang ketiga bernama In Ih, dia kenal kau dan Kek-siheng, besok setiba kalian di Kwi-lin, boleh menginap di rumahnya demikian pula temanmu itu bila menghadapi sesuatu persoalan boleh minta bantuan kepadanya. Temanmu itu walau dari kaum lemah namun punya jiwa ksatria, bila dia suka belajar silat, boleh aku suruh In Ih menerimanya sebagai murid."

Setelah segala sesuatunya diatur baik, hari kedua, Tan Ciok-sing, In San, Kek Lam-wi dan Toh So-so berempat mohon diri, lalu menempuh perjalanan bersama.

Dari Yang-siok ke Kwi-lin sejauh seratus dua puluh li, sehari perjalanan supaya tidak terlambat, terpaksa mereka hanya menikmati pemandangan sepanjang jalan sambil lalu belaka.

Di tengah jalan mereka kehujanan dan harus berteduh selama satu jam, karena jalanan becek, waktu mereka memasuki kota Kwi-lin, hari sudah gelap.

"Seharusnya aku ikut pergi ke rumah keluarga In, tapi kuatir terlalu malam, tidak leluasa mencari temanku itu. Tolong sampaikan saja salamku kepada In Ih."

Kek Lam-wi mengiakan katanya.

"Tapi, apa kau tidak makan malam dulu? Marilah, kita makan dulu."

Perut Tan Ciok-sing memang sudah lapar, dari pada bikin susah Siau-cucu, dia pikir lebih baik mampir ke warung dulu baru ke rumahnya. Maka katanya.

"Baiklah, besok aku tak bisa mengiringi perjalanan kalian lebih jauh, biar kali ini aku yang traktir, kalian ingin makan apa boleh pesan saja,"

"Supaya tidak membuang waktu, kita makan di warung saja. Aku hanya ingin menikmati satu macam makanan saja."

"Masakan apa?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Nasi tim daging kuda."

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Kau memang pandai mencari makan, nasi tim daging kuda dari Kwi-lin memang lain dari yang lain, di lain tempat takkan bisa kau nikmati. Di jalan Yong-im ada sebuah warung tua yang paling baik, mari kuajak kesana. Tapi jangan kau pandang warung itu sudah reyot dan kotor."

Warung tua ini memang kecil, kotor lagi, dinding rumahnya sudah hitam hangus oleh asap, agaknya sudah sekian tahun tidak pernah dibersihkan.

Toh So-so dari keluarga besar yang kaya raya, sudah tentu tak biasa berada di warung sekotor ini, dia masuk dan duduk sambil menutup hidung.

Melihat ada tamu, pelayan segera menyilakan duduk, tanpa dipesan segera dia lari kesana mulai mengiris daging kuda.

Secara bisik-bisik In San berkata.

"Kenapa tidak kau pesan beberapa mangkok lebih dulu?"

"Tidak usah pesan,"

Kata Tan Ciok-sing.

"apalagi orangorang yang kemari makan nasi tim daging kuda tiada yang tahu pasti berapa banyak dia menghabiskan."

"Eh, memangnya takeran makan sendiri tidak tahu?"

Tanya In San bingung.

"Orang yang takeran makannya besar sekaligus bisa menghabiskan tiga puluh sampai empat puluh mangkok, bagi yang takeran kecil sedikitnya juga belasan atau dua puluhan mangkok. Makan banyak atau sedikit kan tidak menjadi persoalan."

"Apa?"

Teriak In San.

"seorang bisa menghabiskan empat puluh mangkok? Mangkok apa itu?"

"Nanti setelah disuguhkan kau akan tahu sendiri,"

Sahut Tan Ciok-sing.

Tak lama kemudian pelayan sudah membawa nampan menyuguhkan nasi tim daging kuda.

Ternyata mangkok yang berisi nasi daging kuda hanya sebesar cangkir teh.

Seketika In San tertawa, katanya.

"O, kiranya sekali gares dapat melalap satu mangkok, tak heran yang doyan makan bisa menghabiskan empat puluh mangkok."

"Nasinya juga amat harum,"

Kata Toh So-so.

Setelah dicicipi ternyata daging kudanya empuk wangi dan manis, nasinyapun lembut dan segar, memang lezat dan nikmat.

Semula dia makan sambil menutup hidung, akhirnya semakin lahap semakin riang dan berseri tawa.

Sudah menjadi aturan umum, bila sang tamu tidak suruh berhenti, pelayan masih terus menyuguhkan tanpa berhenti.

Tan Ciok-sing minta Sam-hoa-ciu, dengan Kek Lam-wi dia makan sambil minum arak.

Sebentar saja mangkok kosong sudah bersusun memenuhi meja.

In San berkata.

"Aneh, semakin makan semakin enak."

"Itupun merupakan peraturan untuk yang suka makan nasi tim daging kuda. Beberapa mangkok permulaan daging yang disuguhkan adalah daging kuda biasa, kira-kira setelah lima mangkok, baru kau akan betul-betul merasakan daging kuda yang paling lezat, bila kau sudah merasakan bagian dalamnya, tanggung kau takkan merasa kenyang."

Waktu pelayan menghitung rekening, mereka berempat seluruhnya menghabiskan sembilan puluh delapan mangkok. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Kurang dua genap seratus mangkok, takeran makan kita ternyata biasa saja."

Di tengah jalan mereka berpisah, Tan Ciok-sing dan In San menuju ke pintu timur, waktu mendongak ternyata rembulan sudah bercokol di tengah langit, Tan Ciok-sing kaget, katanya.

"Begitu lama kita makan nasi tim daging kuda, sekarang mungkin sudah menjelang kentongan ketiga."

"Salahmu minum arak segala, kalau sudah terlambat mau apa lagi, paling mengganggu tidur Siau-cu-cu, kukira dia tidak akan salahkan kau,"

Demikian kata In San.

Berendeng mereka beranjak di Hoa-kio terus menuju ke Cit-sing-giam, rumah Siau-cu-cu berada di belakang Cit-singgiam, mereka masih harus menempuh perjalanan cukup jauh.

Pada saat itulah di atas lereng sana kedengaran ada suara orang.

Lekas Tan Ciok-sing tarik tangan In San sambil memberi tanda supaya dia berhenti.

In San melengak, lekas diapun mendengar suara orang di atas.

Suara yang terbawa angin lalu kedengaran jelas, ternyata pembicaraan dua orang yang sudah mereka kenal suaranya.

Seorang adalah Siang Po-san, seorang lagi adalah Phoa Lathong.

Terdengar Phoa Lat-hong sedang berkata.

"Sungguh sial, tak nyana tak berhasil mencuri ayam malah kehilangan segenggam beras. Entah siapa kedua keparat itu?"

"Kalah menang sudah biasa, suatu ketika gagal juga sudah sering terjadi, untung kita sudah tahu dimana sembunyinya Tan Ciok-sing bocah keparat itu, besok mungkin dia akan kembali dari Yang-siok, asal dia tidak bersama It-cu-kingthian, kita masih bisa mengerjai dia."

Phoa Lat-hong berkata.

"Kuatirnya kedua keparat itu adalah komplotannya, kita kuntit diam-diam, ternyata mereka juga mengawasi kita.

"Kukira bukan, kalau kedua orang itu temannya, mana bisa mereka melakukan perbuatan seperti kita?"

Sampai disini Tan Ciok-sing tidak tahan lagi, segera dia kembangkan Pat-pou-kan-sian terus melompat keluar memburu ke atas lereng, bentaknya.

"Tak usah tunggu sampai besok bagaimana kalian hendak menjebakku, sekarang saja,"

Belum habis dia bicara pedang pusakanya sudah terlolos, tubuh dan pedangnya bagai selarik lembayung menukik turun terus menggulung tiba.

"Trang"

Pedangnya membentur keras dengan gitar besi Siang Po-san.

Sebagai murid tunggal Bi-ba-bun kungfu Siang Po-san memang cukup tinggi, dalam sekejap itu dia sudah bergebrak tiga jurus dengan Tan Ciok-sing, namun tiada yang dirugikan.

Samentara itu In San terlambat bertindak, maka dia belum menyusul tiba.

Setelah mendesak Tan Ciok-sing mundur dua langkah tibatiba Siang Po-san berteriak.

"Angin kencang."

Begitu gitar ditekan.

"Ting, ting"

Tiba-tiba dua batang paku penembus tulang melesat kesana menyerang ke arah In San yang memburu tiba.

Tan Ciok-sing tahu betapa liehay paku orang, kuatir In San tak kuasa menangkisnya, lekas dia membalik tubuh sambil menyambit dua batang piau besi, sehingga paku penembus tulang itu dirontokkan di tengah jalan.

Siang dan Phoa berdua pernah merasakan betapa liehaynya Siang-kiam-hap-pik dari Tan Ciok-sing dan In San, begitu melihat In San memburu tiba, kontan mereka ngacir mencawat ekor.

Sementara Tan Ciok-sing menguatirkan keselamatan Siau-cu-cu, maka dia tidak mengejar.

"Dari pembicaraan mereka tadi dapat disimpulkan, bahwa mereka berada disini hendak melakukan kerja tanpa modal. Tapi di kala mereka hendak bertindak, ternyata kebentur lawan tangguh yang bertujuan sama,"

Demikian In San mengutarakan pendapatnya.

"Syukur kalau orang yang bentrok dengan mereka adalah orang-orang utusan Lui Tayhiap."

"Mungkin hanya tinggal harapanmu belaka, kan belum tentu kedua orang itu orang baik."

"Betul, agaknya kedua orang itu juga melakukan perbuatan yang sama, jelas perbuatan mereka terhitung jahat pula. Entah perbuatan jahat apa yang mereka lakukan?"

Setiba di depan rumah Siau-cu-cu, tampak sinar api masih menyorot keluar dari jendela. Waktu itu sudah lewat kentongan ketiga, jantung Tan Ciok-sing jadi berdebar, batinnya.

"Sampai malam begini ternyata Siau-cu-cu belum tidur, jangan-jangan memang terjadi apa-apa pada dirinya,"

Tengah berpikir dia beranjak lebih dekat, maka didengarnya Siau-cu-cu sedang berbicara dengan ibunya didalam rumah.

Ayah Siau-cu-cu sudah lama wafat, sejak kecil mereka anak dan ibu hidup berdampingan.

"Aduh, dadamu menghitam begini, mungkin lukanya tidak ringan, tengah malam buta rata begini, bagaimana bisa masuk kota mengundang tabib kemari, bagaimana baiknya?"

"Bu, tak usah kau kuatir, aku sudah jauh lebih baik. Sekarang tidak terlalu sakit lagi."

"Ah, masa iya, kau ditendang roboh dan jatuh pingsan oleh rampok bengis itu, baru saja siuman, mana mungkin bisa sembuh secepat ini? Em, ya orang itu memberi sebotol pil obat ini untukmu, baiklah dicoba saja,"

Mendengar Siau-cu-cu terluka, karuan Tan Ciok-sing gugup dan gelisah, lekas dia menggedor pintu. Siau-cu-cu kira kawanan rampok putar balik lagi, serunya murka.

"Bu, lekas kau sembunyi, biar aku adu jiwa dengan kawanan anjing itu,"

Entah dari mana datangnya tenaga, tiba-tiba dia berjingkrak berdiri.

"Siau-cu-cu, tak usah takut, inilah aku,"

Lekas Tan Ciok-sing berteriak keluar. Sudah tentu Siau-cu-cu kaget dan girang, tapi dia tak percaya akan pendengaran sendiri, tanyanya.

"Apa betul kau Siau-ciok-cu?"

"Coba dengarkan dengan cermat, memangnya kau tidak mengenal suaraku lagi? Aku pulang bersama nona In."

Lekas Siau-cu-cu membuka daun pintu, tanpa terasa air mata berkaca-kaca, katanya.

"Siau-ciok-cu, aku malu berhadapan dengan kau,"

Tubuhnya limbung, hampir saja dia tersungkur jatuh. Lekas Tan Ciok-sing membimbingnya ke atas pembaringan, katanya.

"Peduli apa yang telah terjadi, aku tidak salahkan engkau. Sembuhkan dulu luka-lukamu lebih penting."

Tapi Sian-cu-cu berkata.

"Kedua ekor kudamu itu dicuri orang."

Hal ini sudah diduga oleh Tan Ciok-sing, lekas dia menghibur.

"Memang sayang kalau kuda itu direbut kawanan rampok, apapun yang terjadi, jiwa dan keselamatan lebih penting. Jangan kau ambil dalam hati peristiwa ini mari biar kuperiksa lukamu."

"Kau pernah bilang kuda itu kau pinjam dari orang lain, mereka bisa menempuh ribuan li sehari, kuda sebagus itu tapi aku tak mampu melindunginya."

"Memangnya kuda yang dapat lari ribuan li sehari lebih tebal dari persahabatanmu terhadapku, tak usah kau pikirkan hal ini, kalau tidak mendengar nasehatku, aku bisa marah lho."

Tengah mereka bicara ibu Siau-cu-cu sudah melepas pakaian atas putranya, katanya lembut.

"Siau-ciok-cu, tolong kau periksa, apakah lukanya parah?"

Tampak rona hitam menghiasi dada Siau-cu-cu, selintas pandang memang menakutkan, Tan Ciok-sing tahu luka-luka ini memang cukup parah, tapi kini sudah jauh lebih mending.

Kulit yang membengkak hitam itu semula cukup lebar dan luas, kini rona hitamnya sudah agak luntur.

Begitu pakaian Siau-cu-cu dibuka hidung Tan Ciok-sing mengendus bau Kimjong-yok.

Tanyanya.

"Kau pernah memoles obat pada lukamu ini? Lho kenapa diusap lagi?"

"Kawanan rampok itulah yang membubuhi obat ini, aku tak percaya ada rampok sebaik itu, maka aku mengusapnya bersih."

"Rampok itu memang aneh, kenapa setelah melukai kau membubuhi obat lagi? Tapi inilah Kim-jong-yok tulen dari kwalitet paling baik."

"Tapi mereka adalah dua rampok yang lain, bukan dua rampok yang duluan,"

Demikian ibu Siau cu-cu menerangkan. Tiba-tiba In San menyeletuk.

"Rampok yang memberi salep kepadamu itu bukankah juga memberi sebotol pil obat, coba keluarkan supaya kuperiksa."

Lekas ibu Siau-cu-cu angsurkan botol obat itu kepada In San, katanya.

"Lekas nona periksa apakah pil obat inipun tulen?"

Setelah melihat pil obat itu seketika In San keheranan, katanya.

"Inilah Wi-yang-tan buatan keluargaku dari resep tunggal warisan leluhur khusus mengobati luka-luka dalam, menurut ayah Wi-yang-tan dari keluarga kita ini kira-kira sejajar mujarabnya dengan Siau-hoan-tan buatan Siau-lim-si. Aku juga punya resep rahasia ini, tapi aku sendiri belum pernah membuatnya."

Mau tak mau Tan Ciok-sing ikut heran, katanya.

"Apa betul?"

"Coba kau buktikan, aku sekarang juga membawa Wi-yangtan."

In San keluarkan sebuah botol porselin kecil diangsurkan kepada Tan Ciok-sing, bentuk dan warnanya memang sama demikian pula baunya yang harum juga tak berbeda. Kata In San.

"Lauw Toako, luka-luka yang kau derita ini sebutir sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkannya. Tapi rampok itu sekaligus memberi tiga butir padamu, dia benarbenar seorang rampok yang baik hati."

"Masakah rampok ada yang berhati baik, wah merupakan berita jadinya. Tapi aku tetap tak percaya."

"Kim-jong-yok itu jelas tulen, maka pil inipun pasti bukan palsu,"

Ucap Ciok-sing.

"Kalau kau tak percaya obat pemberian rampok ini, biarlah kutukar saja dengan Wi-yang-tan milikku ini,"

Demikian kata In San.

Siau-cu-cu segera telan sebutir Wi-yang-tan tak lama kemudian terasa hawa hangat timbul dalam pusarnya, seketika semangatnya berkobar dan badan lebih segar.

Waktu Siau-cu-cu makan obat Tan Ciok-sing bertanya kepada In San.

"Apakah Wi-yang-tan ayahmu sering disumbangkan kepada teman-temannya?"

Cukup lama In San berpikir, katanya kemudian.

"Aku tidak mengerti. Walau ayah takkan mungkin memberikan obat-obat ini kepada teman-temannya, tapi kawan-kawan dari kaum ksatria memerlukan ayah akan memberikan dengan sukarela. Teman-temannya yang paling akrab hanya yakin tahu Tam pepek dan Kim-to Cecu,"

Sebetulnya dalam hati dia sudah curiga, tapi sekarang dia tidak leluasa memberitahu kepada Tan Ciok-sing.

"Dengan kepandaian ayahmu, orang lain tak mungkin bisa mencuri Wi-yang-tan dari tangannya,"

Demikian kata Cioksing, aneh juga mungkinkah kawanan rampok ini dari kalangan ksatria?"

Kesehatan Siau-cu-cu sudah juga lebih baik, tak tahan dia berteriak.

"Kaum ksatria apa? Kau tahu rampok yang memberi obat inilah yang merebut kudamu. Ai, sayang kedatanganmu terlambat satu jam, kalau kau bisa datang lebih pagi, kalian akan bentrok dengan kawanan rampok itu."

"Kawanan rampok? Jadi bukan hanya dua orang saja yang kemari?"

Tanya Ciok-sing.

"Semua empat orang, tapi mereka tidak datang bersama. Dua orang datang lebih dulu lalu datang pula dua yang lain."

"Dua orang yang datang duluan apakah berwajah begini begitu? Satu di antaranya membawa gitar?"

Lalu dia lukiskan bentuk tampang Siang Po San dan Phoa Lat-hong.

"Sedikitpun tidak salah, dari mana kau bisa tahu?"

Tanya Siau-cu-cu terbeliak.

"Aku sudah ketemu mereka di tengah jalan,"

Ujar Ciok-sing tertawa, lalu dia ceritakan bahwa kedua gembong iblis itu sudah digebahnya lari mencawat ekor. Keruan Siau-cu-cu amat senang, katanya.

"Sayang kau tidak merebut balik kuda itu, tapi terlampias juga rasa penasaranku."

"Kuda kami itu dirampas oleh kedua rampok yang datang belakangan bukan?"

Tanya Ciok-sing.

"Ya, betul,"

Sahut Siaucu-cu.

"Bagaimana pula tampang perampok yang datang belakangan?"

"Rampok yang datang duluan sebetulnya sudah hendak membunuh aku. Pada detik-detik genting di kala jiwaku sudah hampir menghadap Giam-lo-ong itu, tiba-tiba muncul dua sosok bayangan orang, secepat angin lesus tahu-tahu menubruk tiba. Rampok yang bersenjata gitar segera berteriak. 'Jangan hiraukan bocah itu, kita sudah berhasil, lekas pergi saja.' Aku melihat mereka sudah mencemplak ke punggung kuda, tapi kejadian selanjutnya bagaimana aku tidak tahu. Dadaku kena ditendang sekali sakitnya bukan main, kontan aku jatuh semaput."

Maka tiba giliran ibu Siau-cu-cu bercerita.

"Aku mengintip dari belakang daun pintu, melihat Siau-cu-cu ditendang roboh, saking kaget aku gemetar dan tak mampu berdiri lagi, ingin keluar menolongnya tapi kedua kakiku terasa lunglai tak bertenaga. Kudengar suara gaduh dan gedebukan yang ramai diluar kiranya kawanan rampok itu saling pukul dan genjotgenjotan dengan seru. Ternyata dua rampok yang datang duluan bukan tandingan dua rampok datang belakangan, mereka akhirnya lari."

"Apa kau melihat wajah kedua rampok yang datang belakangan?"

Tanya In San. Ibu Siau-cu-cu menutur.

"Saking kaget aku jadi kebingungan, aku hanya bisa mengintip dari sela-sela pintu, mana bisa kulihat jelas? Tapi satu di antaranya kelihatan masih muda, mirip anak sekolahan, setelah memukul lari kedua orang itu, dia berdiri di depan pintu dan berkata.

"Lomama (ibu tua) kau tak usah takut, kami tidak akan mencelakai putramu. Tapi kedua ekor kuda ini akan kami ambil. Disini kutinggalkan seratus tahil perak, nanti, boleh keluar mengambilnya. Lekas kau tolong putramu."

Maka Siau-cu-cu menyambung.

"Entah berapa lama aku semaput, tiba-tiba terasa sekujur badan dingin nyaman, seketika aku siuman, samar-samar sempat kulihat ada dua bayangan orang berdiri di depanku, aku hanya mendengar perkataannya."

"Apa yang dia katakan kepadamu?"

Tanya In San.

"Dia membisiki aku. 'Kau tak usah kuatir, aku sudah memoles obat di dadamu, kutinggalkan pil obat pula, yakin setelah kau menelan pil obat ini kesehatanmu akan lebih kuat dan fit.' Sebelum pergi perampok ini ternyata masih berpurapura baik di hadapanku, katanya pula.

"Malam ini bikin kau menderita sungguh harus disesalkan. Aku mohon maaf padamu, rawatlah luka-lukamu dengan baik,' lalu dia naik ke punggung kuda tinggal pergi temannya."

Tan Ciok-sing masih ragu-ragu katanya.

"Orang itu memang tidak ngapusi, dia memberi obat paling mujarab untuk kau."

Ibu Siau-cu-cu bercerita pula.

"Waktu aku membuka pintu dan keluar, betul juga kulihat sebungkus uang perak, Siau-cucu suruh aku kembalikan kepada orang itu, tapi orang itu sudah keburu pergi."

Siau-cu-cu berkata.

"Aku justeru tidak percaya ada rampok sebaik itu maka aku bersihkan salep yang dipoleskan di dadaku. Siapa kira ternyata dia betul menolong jiwaku. Tapi kenapa dia merebut kudamu?"

"Akupun tak tahu sebab musababnya. Tapi rampok memang beraneka ragam, pelajar yang kau temui ini umpama betul adalah rampok, dia boleh terhitung rampok yang baik hati."

"Betul, kalau dia seorang rampok yang baik hati, karena Siau-cu-cu terluka dia merasa menyesal, maka memberinya uang dan obat, kalau demikian sepantasnya dia memberi tahu apa tujuannya merampas kuda itu. Siau-cu-cu coba kau pikir lagi lebih cermat, mungkin masih ada kata-kata yang kau lupakan?"

Agaknya Siau-cu-cu menjadi kikuk dan kuatir pula, katanya.

"Sebelum rampok itu pergi, dia memang ada berpesan kepadaku, tapi aku, aku kuatir kau tertipu oleh rampok itu, maka tak berani aku menyampaikan pesannya itu."

"Aku takkan gampang ditipu orang,"

Bujuk Tan Ciok-sing.

"apa pesannya lekas kau beritahu kepadaku."

"Dia bilang. 'Temanmu mungkin besok pulang, beritahu kepadanya, kalau dia ingin tahu kenapa aku merebut kuda tunggangannya, boleh suruh dia pergi ke panggung batu di atas Cit-sing-giam menemui aku besok malam setelah kentongan ketiga.'"

"Syukurlah kalau begitu,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"besok malam aku akan tahu siapa dia sebenarnya."

"Tapi dia menekankan, besok malam hanya kau seorang saja yang boleh kesana. Kalau ada orang lain lagi, dia tidak akan menemui kau,"

Demikian Siau-cu-cu menambahkan.

Hari kedua Tan Ciok-sing bawa Siau-cu-cu dan ibunya bertandang ke rumah keluarga In, kemarin In Ih sudah bertemu dengan Kek Lam-wi diapun sudah tahu akan pesan gurunya bahwa gurunya bakal menerima seorang murid baru lagi maka dia terima Siau-cu-cu dan ibunya tinggal di rumahnya.

Setelah makan siang Tan Ciok-sing segera memohon diri.

Kalau orang itu berjanji akan menemui pada kentongan ketiga, tapi kentongan kedua dia sudah datang lebih dini ke Cit-sing-giam.

Panggung yang ditunjuk terletak di belakang karang Citsing-giam, didalam gua karang Cit-sing-giam terdapat sebuah mulut gua, dari sini bisa langsung menuju ke panggung batu itu.

Tapi penduduk setempatpun jarang yang tahu akan rahasia ini.

Sejak kecil Tan Ciok-sing sering bermain di Citsing-giam, dengan memejam matapun dia tidak akan kesasar jalan.

Lorong gelap ini dahulu sering dia bermain petak dengan Siau-cu-cu dan secara kebetulan mereka temukan jalan tembus rahasia ini.

Walau dia yakin orang itu tidak akan mencelakai dirinya, tapi waspada tiada ruginya, maka untuk menjaga segala kemungkinan dia berkeputusan untuk mencari suatu tempat sembunyi, sekaligus untuk mengamati gerak gerik orang.

Dia naik tidak dari arah depan, karena jejaknya mungkin bisa konangan, maka dia putar ke belakang, dari sini diam-diam dia berbalik dapat memeriksa keadaan sekelilingnya, apakah orang ada mengatur perangkap.

Baru saja kentongan kedua lewat, dia kira orang itu belum datang.

Tapi rekaannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, di waktu dia menongol keluar dari mulut lobang, lapat-Iapat sudah dilihatnya dua bayangan orang berada di atas panggung batu itu, dua orang ini sedang bicara.

Ciok-sing sembunyi di belakang batu didengar seorang berkata.

"Siauya sungguh aku tak mengerti kenapa kau berbuat demikian?"

Suaranya seperti sudah dikenal, baru saja Tan Ciok-sing melenggong, orang yang dipanggil Siauya itu menghela napas, katanya.

"Tan Ciok-sing adalah orang baik, walau baru sekali aku bertemu dan bersahabat dengan dia, dalam lubuk hatiku aku sudah anggap dia sebagai teman karibku."

Suara orang ini lebih dikenal lagi, keruan Ciok-sing kaget, batinnya.

"Kenapa dia?"

Segera dia mengamati lebih tajam, memang tidak salah orang yang berdiri di atas panggung dan kebetulan menghadap kemari itu, bukan lain adalah Siauongya dari keluarga Toan di Tayli.

Yang berdiri di sampingnya adalah kacungnya.

Waktu mampir ke Tayli tempo hari.

Tan Ciok-sing pernah melihatnya juga.

Agaknya kacung cilik ini uring-uringan, katanya dengan meninggikan suaranya.

"Siauya, maafkan kalau aku bicara blak-blakan umpama betul kalian bersahabat baik, apakah pantas kau menyerahkan nona pujaan hatimu kepadanya begitu saja."

Siau-ongya Toan Kiam-ping menghela napas, katanya.

"Kau tidak tahu, hubungan Tan Ciok-sing dengan keluarga In bukan sembarangan, didalam pandangan nona In, sudah tentu dia lebih dekat dan mesra dari aku."

"Aku tidak percaya keluarga Toan dan keluarga In juga sudah berhubungan turun menurun, sejak kecil Siauya juga dibesarkan bersama nona In, hubungan kalian lebih intim dari saudara sepupu. Bagaimana tidak sebanding dengan bocah she Tan itu."

"Jangan kau kurang ajar terhadap Tan-siangkong. Kau tidak tahu, jangan sembarang ngomong."

"Memang aku tidak tahu, tolong kau jelaskan kepadaku."

"Hal itu juga baru akhir-akhir ini kuketahui, memang keluarga Toan kita punya hubungan intim sejak kakek moyang dengan keluarga In, tapi Tan Ciok-sing adalah tuan penolong keluarga In."

"Umpama betul tuan penolong, Siauya kau bisa wakilkan nona In membalas budi kebaikannya itu, tapi kenapa mentahmentah kau serahkan nona In kepada bocah she Tan itu, memangnya kau tidak menyukai nona In lagi? Siauya, kau bisa mengelabui orang lain, tapi jangan kau ngapusi aku, aku tahu selama beberapa tahun yang kau tunggu hanyalah nona In seorang."

Toan Kiam-ping menghela napas, ujarnya.

"Yang disukai nona In justeru adalah Tan Ciok-sing."

"Dari mana tahu? Setiba disana, kau kan belum bertemu nona In."

"Aku pernah melihatnya, kemarin waktu di Kwan-san aku sudah melihat mereka. Aku tahu dia amat menyukainya."

"Apakah nona In sendiri yang mengatakan kepadamu?"

"Kenapa harus dia memberitahu kepadamu, memangnya aku tidak bisa melihatnya."

"Kalau begitu, itu hanya rekaanmu saja Siauya, yang benar malam ini seharusnya kaupun undang nona In kemari, tiga orang berhadapan bukankah lebih baik dari pada main teka teki? Siauya, kalau kau tidak berani tanya kepada nona In biar aku yang tanya dia."

"Banyak urusan, memangnya kau sedikitpun tidak tahu akan penderitaanku."

"Siapa bilang aku tidak tahu? Aku tahu kau ingin berbuat baik terhadap teman, aku tahu kau ingin merangkap perjodohan mereka, aku juga tahu kau kepingin bertemu dengan nona In tapi juga takut berhadapan dengan nona In."

Mendengar sampai disini tanpa terasa Tan Ciok-sing menjublek di tempatnya, pikirnya.

"Jika orang yang sembunyi di Kwan-san itu kiranya memang dia. Kedatangannya ke Kwilin tentu ingin menengok In San, tapi lantaran kehadiranku disini, dia lebih rela berkorban. Ai, bagaimana baiknya aku bertindak?"

"Siauya,"

Terdengar kacung itu berkata pula.

"Ada satu hal mungkin masih belum kau ketahui."

"Hal apa?"

"Ling Suhu pernah memberitahu kepadaku. Waktu kalian masih kecil, suatu ketika In Tayhiap bertandang ke rumah kau, waktu bicara dengan Lo-ongya dia bilang dia hanya punya seorang putri, harapannya kelak putrinya bisa hidup tentram dan bahagia, jangan seperti dirinya yang hidup kelana di Kangouw, selalu harus menempuh dan menyerempet bahaya. Waktu itu Ling Suhu ada di samping, setengah kelakar dia menyeletuk. Kalau demikian lebih baik kalau putrimu kelak dinikahkan dengan Siau-ongya kita ternyata In Tayhiap dan Lo-ongya punya maksud yang sama. Tapi lantaran waktu itu usia kalian masih terlalu kecil, maka soal jodoh ini tidak seketika diputuskan secara resmi."

"Lain dulu lain sekarang, Umpama betul dulu In Tayhiap punya maksud itu, bukan mustahil belakangan dia merubah niatnya. Apalagi soal jodoh ini belum resmi?"

Tiba-tiba kacung itu bertanya.

"Siauya, kenapa malam ini kau tidak minta Ling Suhu menemani kau?"

"Aku suka kau yang menemaniku, apa kau tidak sudi?"

"Sudah tentu aku senang hati, tapi coba biar kutcbak isi hatimu, malam ini kau tidak berani mengajak Ling Suhu lantaran kau takut Ling Suhu mencegah perbuatan bodohmu. Bukan mustahil begitu berhadapan dengan Tan Ciok-sing, dia bakal memaki dan menistanya sebagai pemuda mata keranjang yang tidak tahu diri seperti kodok buduk yang ingin mencaplok daging bangau saja"

Toan Kiam-ping marah serunya.

"Mana boleh kau mengundal obrolan tidak genah begini, merendahkan martabat Tan-siangkong saja memangnya kau sudah lupa akan pesanku? Berani sembarang omong lagi awas kugampar mulutmu."

Sejauh ini pembicaraan mereka, maka persoalanpun sudah gamblang, ternyata dari mulut Kanglam Lihiap Ciong Bin-siu, Toan Kiam-ping tahu jejak mereka, maka sengaja dia menyusul ke Kwi-lin.

"Maka rampok baik hati semalam merampas kuda putih di rumah Siau-cu-cu kini sudah jelas adalah perbuatan Siau-ongya ini, sementara seorang temannya lagi adalah Cong-kau-thau dari rumah keluarga Toan, yaitu Ling Suhu, bukan heran kedua gembong iblis itu bukan tandingan mereka,"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

Setelah tahu duduknya persoalan, hati Ciok-sing jadi risau, resah dan ruwet, darah seperti bergolak dalam tubuhnya "Kacung itu memaki aku sebagai kodok buduk, ai, tak bisa disalahkan kalau dia memakiku demikian, kalau aku dibanding Siau-ongya memang tidak setimpal menjadi pasangan putri In Tayhiap."

Syukur hembusan angin malam pegunungan yang sepoisepoi dingin menyegarkan otak Tan Ciok-sing, kembali dia membatin.

"Toan Kiam-ping memandangku sebagai sahabat karib, suka rela berkorban dan menyerahkan nona pujaannya kepadaku, begitu luhur budinya, sungguh aku patut menyesal dan malu diri, bagaimana aku harus bertindak?"

Didengarnya kacung itu sedang berkata pula.

"Siauya, bukan aku suka ceriwis, kau begini baik terhadap Tan Cioksing, tapi dia justru berbuat salah kepadamu."

"Omong kosong, dalam hal apa dia berbuat salah terhadapku?"

Semprot Toan Kiam-ping.

"Kau suruh dia mengirim kabar kepada nona In, berarti kau mempercayainya, tapi dia justeru merebut kekasihmu."

"Dia menolong nona In sebelum aku minta dia mengirim suratku itu."

"Memang, kau menganggapnya teman yang dapat dipercaya, tapi dia justeru menyembunyikan hubungan akrabmu dengan keluarga In,.dapatkah ini dikatakan dia menganggap kau sebagai temannya? Hm, yang jelas dia tahu bahwa kau diam-diam mencintai nona In."

Berkerut alis Toan Kiam-ping, katanya.

"Kularang kau rasani Tan-siangkong."

"Begini tidak boleh, begitu juga dilarang, baiklah terpaksa mulutku biar bungkam saja. Ai, Siauya, kalau kau rela berbuat sebodoh ini, ya akupun apa boleh buat."

Toan Kiam-ping menengadah, tampak rembulan sudah meninggi di tengah angkasa, katanya.

"Sudah mendekati kentongan ketiga, turunlah kau menjaga di bawah."

Kini tinggal Toan Kiam-ping seorang yang berdiri di atas panggung batu, kini rembulan sudah tepat di tengah angkasa, tepat tiba kentongan ketiga.

Tan Ciok-sing masih bimbang apakah dia perlu keluar menemui Toan Kiam-ping.

Persoalan kuda putih sudah jelas.

Isi hati Toan Kiam-ping sudah dia ketahui.

Perlukah dia keluar menemuinya pula?

Agaknya Toan Kiam-ping sudah tidak sabar dan tampak gelisah, dia celingukan kian kemari sambil mondar mandir menggendong tangan, mulutnya terdengar menggumam.

"Kenapa belum datang juga? Apakah dia curiga dan kuatir musuh mengatur perangkap hendak mencelakai jiwanya? Atau di tengah jalan dia mengalami sesuatu?"

Tan Ciok-sing tetap mendekam di semak belukar di belakang batu, dia tetap tak kuasa mengambil keputusan.

Mendadak muncul sesosok bayangan dari lamping gunung sana, berlari kencang, tujuannya adalah panggung batu di atas Cit-sing-giam, dilihat gerak geriknya ternyata ginkangnya tidak lemah.

Terdengar Toan Kiam-ping menghela napas lega, katanya.

"Nah, akhirnya datang juga."

Sudah tentu Tan Ciok-sing keheranan.

"Siapakah yang datang?"

Cepat sekali orang ini sudah melejit ke atas panggung batu, begitu melihat yang datang ini bukan Tan Ciok-sing, sesaat Toan Kiam-ping jadi menjublek, bentaknya.

"Siapa kau."

Orang itu menjawab.

"Aku mengantarkan surat Tan Cioksing. Siapa kau?"

"Akulah Toan Kiam-ping dari Tayli, kau, kau ini..."

"Hah, kiranya Siau-ongya dari Tayli. Kalau Tan-siangkong tahu akan dirimu, tak usah dia suruh aku kemari."

"Jadi kau, adalah teman Tan-siangkong, tolong tanya siapa she dan namamu?"

"Aku adalah murid tertua dari It-cu-king-thian, namaku In Ih..."

"Jadi kau ini In Ih?"

Toan Kiam-ping menegas heran, walau dia belum pernah ketemu In Ih, tapi dia tahu kalau In Ih baru berusia tiga puluhan tapi laki-laki ini berusia empat puluhan lebih.

"Aku pesuruh dari keluarga In. Tan-siangkong tinggal di rumah kami, kejadian hari ini sudah dia sampaikan kepada majikan kami. Maka majikan kami membujuknya supaya tidak usah datang, maka Tan-siangkong menulis sepucuk surat suruh aku mengantar kemari, tapi aku bukan teman Tansiangkong lho."

Sebetulnya Tan Ciok-sing sudah hendak menerobos keluar membongkar omongan bohong orang ini, tapi setelah mendengar kata-kata orang terakhir, dia jadi ragu-ragu dan merandek. Batinnya.

"Mungkin Siau-cu-cu kuatir aku menghadapi bahaya, tanpa memperdulikan pesanku dia memberitahu In Ih meminjam namaku menyuruh pembantunya kemari mengirim surat itu?"

Toan Kiam-ping memang sudah tahu bahwa Tan Ciok-sing, In San, Siau-cu-cu dan ibunya siang tadi sudah pindah kerumah keluarga In, bahwa belakangan Tan Ciok-sing sudah keluar dari rumah kediaman keluarga In ternyata belum diketahui olehnya.

Orang ini mengaku pesuruh keluarga In, ternyata dia kena ditipu begitu saja.

Dengan rasa kecewa Toan Kiam-ping berkata.

"Ternyata begitu. Baiklah kau serahkan surat itu kepadaku,"

Waktu Toan Kiam-ping membuka sampul surat dan membeber kertas putih didalam sampul, ternyata melulu kertas putih belaka tanpa tulisan sehurufpun. Karuan Toan Kiam-ping melongo, tanyanya.

"Apa maksudnya ini?"

Mendadak dirasakan jari jarinya linu dan pati rasa, sekejap saja telapak tangannya juga gatal-gatal rasanya tidak karuan.

Pada saat dia kaget dan melongo inilah orang itu mendadak tertawa tergelak-gelak, tiba-tiba tangannya terayun.

Begitu mendengar gelak tawa orang, seketika Tan Ciok-sing merinding dibuatnya, saking kaget seketika dia berjingkrak berdiri.

Tadi orang itu mengaku sebagai pesuruh keluarga In, Tan Ciok-sing masih belum berani memastikan palsu atau tulen, setelah mendengar gelak tawa orang, segera dia tahu akan kepalsuannya malah seketika pula dia tahu siapa sebenarnya orang ini.

Kiranya di kala menghadapi sesuatu yang memuaskan dirinya, orang ini bergolak tawa tanpa menggunakan suara palsu lagi, sehingga keasliannya terunjuk diluar sadarnya.

Siapakah laki laki ini?

Dia bukan lain adalah Tok-liongpangcu Thi Khong.

Thi Khong memang mahir menggunakan senjata rahasia beracun dan mahir menyamar lagi, In Ih sudah berulang kali berpesan wanti-wanti supaya Tan Cioksing berhati-hati bila menghadapinya.

Tak duga bukan Tan Ciok-sing yang kena bokong, tapi Toan Kiam-ping lah yang kecundang oleh kelicikan orang.

Begitu tahu bahwa orang yang memalsu pesuruh dari rumah keluarga In ini adalah Thi Khong, sudah tentu secara reflek Tan Ciok-sing lantas teringat akan permainan keji dan jahat orang yang suka membokong dengan senjata beracun.

Begitu orang itu mengayun tangan, Tan Ciok-sing segera berteriak.

"Awas Toan-heng senjata rahasia,"

Berbareng diapun mengayun tangan, menimpuk sebutir batu dengan kekuatan Sianci-sin-thong.

Begitu orang itu mengayun tangan, tujuh bintik sinar bintang seketika melesat keluar.

Senjata rahasia yang dia timpukan ini adalah Bwe-hoa-ciam yang sudah dilumuri racun jahat.

Untung Tan Ciok-sing sempat memberi peringatan, dalam detik-detik yang gawat itu Toan Kiam-ping lekas membalik tubuh sambil mengebas lengan baju.

Maka terdengarlah suara mendesis ramai, enam dari tujuh batang jarum itu kena disampuk jatuh berhamburan, tapi ada sebatang lagi yang mengenai tubuhnya.

Ternyata kertas surat yang blanko itu juga sudah dibubuhi racun, jari tangan Toan Kiam-ping sudah berlumuran racun, maka dalam sekejap lengannyapun sudah linu pegal dan tak mampu bergerak lagi.

Sudah tentu tenaganya menjadi banyak berkurang, sehingga jarum terakhir susah untuknya meluputkan diri.

Sekilas menarik napas, mendadak Toan Kiam-ping putar balik seraya membentak.

"Ternyata kau adalah Thi Khong, hm, kepandaian kroco yang rendah dan hina dari Tok-liongpang seperti ini memangnya dapat berbuat apa terhadap diriku."

Jentikan batu Tan Ciok-sing diselentikan dari jarak seratusan langkah, daya luncurnya ternyata mengandung deru kencang.

Tersipu-sipu Thi Khong melompat menyingkir namun batu itu menyerempet pundaknya, rasanya pedas dan sakit, untung tidak tersambit telak.

Tapi walau dia terhindar dari samberan batu dari jarak ratusan langkah ini, tak luput dia termakan oleh tamparan telapak tangan Toan Kiam-ping yang berdiri di depannya.

Seperti diketahui ilmu silat keluarga Toan di Tayli telah turun, temurun sejak beberapa ratus tahun diwariskan secara murni, sejak ratusan tahun yang lalu jago-jago silat dari keluarga Toan di Tayli cukup menonjol dan tinggi pamornya, Toan Kiam-ping tidak ketinggalan memperoleh warisan ilmu silat leluhurnya, maka bekal kepandaiannya sekarang sesungguhnya tidak rendah.

Meski dia sudah terkena racun, namun tamparan telapak tangannya ini ternyata membikin kulit muka Thi Kong pecah dan terluka serta membengkak besar, darah tercampur dengan ingus bertetesan, kulit mukanya membengkak hijau dan biru.

Diam-diam Toan Kiam-ping sendiri mencelos hatinya, pikiraya.

"Ternyata aku sudah tak becus lagi, tamparanku tadi ternyata tak mampu merobohkan keparat keji ini."

Sudah tentu Thi Khong sudah angkat langkah seribu, mulutnya masih sempat bersiul, agaknya dia mengirim tanda kontak dengan kamrat-kamratnya.

Secepat terbang Tan Ciok-sing memburu tiba di samping Toan Kiam-ping, kebetulan Toan Kiam-ping limbung hampir jatuh lekas dia memapahnya, tanyanya gugup.

"Bagaimana keadaanmu Toan-heng?"

"Tidak apa-apa Thi Khong pasti membawa begundalnya, tolong lekas kau gebah mereka, jangan sampai kacungku di bawah sana dicelakai mereka,"

Maklum sejak kecil kacung itu sudah meladeni dirinya, bukan saja rajin bekerja diapun amat setia, maka selama ini dia melindunginya seperti adik kandung sendiri.

Pada saat itu didengarnya kacungnya berteriak minta tolong dan menjerit kaget.

Ternyata kacungnya itu memang kepergok oleh kawanan penjahat.

Tak sempat bicara lagi lekas Tan Ciok-sing jejalkan sebutir pil penawar racun ke mulut orang, katanya.

"Baik, segera aku menolongnya."

Baru saja kacung cilik itu berteriak maka dilihatnya seorang Hwesio gendut menubruk ke arah dirinya, Hwesio gendut ini bukan lain adalah murid murtad Siau-lim-si yang bergelar Hoat-khong, di kalangan Kangouw orang memanggilnya Thiciang Siansu.

Kedatangan-nya hendak membantu Thi Khong, sebetulnya dia tidak perlu hiraukan seorang kacung cilik, tapi karena kacung itu berteriak, kebetulan mencegat jalan majunya pula, maka sambil lalu dia ayun tongkat besinya hendak membunuh kacung cilik ini.

Tak nyana tongkat besinya ternyata menyambar angin, kembali dia ulur tangan mencengkram ternyata gagal pula.

Maklum sejak kecil kacung ini ikut Toan Kiam-ping latihan silat, pertama ginkang yang dia yakinkan ternyata lebih menonjol dari pelajaran silat lain yang pernah dia pelajari.

Beruntun dua kali dia berhasil mengegos dari serangan Hwesio gendut, tapi serangan ketiga jelas tak mungkin lolos lagi.

Baru saja dia melompat berdiri, tumit kakinya tahu-tahu sudah tercengkram oleh Thi-ciang Siansu.

Pada saat itulah mendadak Thi-ciang Siansu merasakan datangnya sambaran angin tajam dari arah belakang, sebagai ahli silat, kupingnya cukup tajam pula, dia tahu sebilah pedang tahu-tahu sudah menuding tiba di punggungnya.

Di kala jiwa sendiri terancam bahaya, sudah tentu dia tidak hiraukan jiwa kacung cilik lagi, sekenanya dia melempar tubuh orang lalu setangkas kera dia melompat maju setombak lebih seraya memutar tongkat menyapu ke belakang dengan jurus bertempur di empat penjuru angin.

"Trang"

Benturan keras menimbulkan percikan kembang api, pedang lawan hakikatnya tidak terbentur jatuh oleh tongkatnya yang besar dan berat, malah mengikis turun menabas jari-jarinya yang memegang tongkat.

Siapa gerangan yang memiliki ilmu pedang setinggi dan seliehay ini?

Sudah tentu Thi-ciang Siansu amat kaget, lekas dia tekan tongkat serta menggiringnya ke pinggir, sementara kakinya melompat pula tiga kaki ke samping, baru dia menoleh dan melihat musuhnya, ternyata pemuda yang pernah dilihatnya di tempat kuburan In Hou dan Tan Khimang belasan hari yang lalu.

Malam itu dia bersama Thi Khong, Siang Po-san, Phoa Lat-hong berempat menempur Siangkiam-hap-pik dari Tan Ciok-sing dan In San, akhirnya mereka dikalahkan dan ngacir.

Kini meski hanya Tan Ciok-sing seorang saja, tapi diapun hanya sendirian, betapa pun besar nyalinya, bagaimana juga dia tidak berani melabrak Tan Ciok-sing, tanpa banyak pikir lekas dia putar badan terus lari turun gunung.

Waktu Tan Ciok-sing lari balik menengok keadaan kacung cilik itu, tampak kacung cilik ini terlempar tinggi ke udara, tapi di tengah badan terapung itu dia mampu jumpalitan seperti burung dara, gerakan ini sekaligus memunahkan daya lemparan keras lawan, sehingga tubuhnya melayang turun lebih lambat dan enteng, waktu kedua kakinya hinggap di bumi ternyata dia mampu berdiri tegak tanpa kurang suatu apa.

Walau tidak terluka tapi telapak kakinya terasa pedas dan sakit, waktu dia menunduk pergelangan kakinya ternyata berjalur lima jari warna hitam seperti dicap saja, tanpa merasa dia merinding dan mencucurkan keringat dingin.

"Adik cilik,"

KataTan Ciok-sing, jangan takut, mari kuberi obat,'.' Teringat akan kata-katanya yang memburukkan orang, tak terasa kacung cilik ini menjadi malu dan haru, katanya menyesal.

"Tan-siangkong, banyak terima kasih akan pertolonganmu, aku, aku tadi justru melakukan perbuatan tercela atas dirimu."

Ciok-sing tersenyum.

"Istrirahatlah sebentar, aku akan ke atas memeriksa Siauongya."

Dilihatnya Thi-ciang Siansu sudah menyusul Thi Khong dan sama-sama lari sampai di lamping gunung, sekitarnya tiada musuh yang lain, maka dengan lega hati lekas dia kembangkan ginkang berlari ke atas panggung batu pula Dilihatnya Toan Kiam-ping sedang duduk bersimpuh, uap putih tampak mengepul di atas kepalanya.

"Oh, kau sudah kembali,"

Kuping Toan Kiam-ping ternyata amat tajam, begitu Tan Ciok-sing tiba di atas panggung segera dia membuka mata.

"Jangan bicara dulu,"

Kata Tan Ciok-sing, dia tahu orang sedang mengerahkan Iwekang untuk mendesak racun keluar dari dalam badannya lewat uap dan keringat, sehingga mengeluarkan bau bacin.

Lekas Tan Ciok-sing tekan telapak tangan punggung orang, dengan hawa murni sendiri dia salurkan ke tubuh orang membantunya melancarkan jalan darahnya.

Pil obat yang diberikan Ciok-"sing tadi memang berkasiat untuk menawar racun, tapi untuk memunahkan racun jahat buatan Tok-liong-pangcu ini ternyata tidak membawa banyak manfaat, paling hanya menahan sementara sehingga bekerjanya racun tertunda untuk beberapa waktu lamanya.

Untung Toan Kiam-ping memiliki dasar Iwekang ajaran leluhurnya, mendapat bantuan Ciok-sing lagi, hawa racun lambat laun menguap keluar badan, Ciok-sing sedikit mahir ilmu pengobatan, setelah dia memeriksa urat nadinya, terasa jiwanya sudah tidak terancam lagi, maka legalah hatinya.

Tapi denyut nadi Toan Kiam ping masih lemah, darahnyapun belum normal.

Dalam hati Ciok-sing membatin.

"Racun dalam tubuhnya amat liehay, untuk memunahkan seluruhnya tanpa obat penawarnya yang tulen, sedikitnya memerlukan perawatan tekun dan hati-hati selama tiga bulan, maka dia perlu mendapat penjagaan dan tempat yang aman. Em, seharusnya aku harus membantunya, tapi dalam keadaan seperti ini, aku jadi kurang cocok untuk tugas ini."

Tengah dia melamun, Toan Kiam-ping sudah membuka mata, katanya.

"Sudah lebih baik, Tan-heng, banyak terima kasih akan pertolonganmu, sungguh aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikanmu."

"Kau berkata demikian, berarti kau tidak menganggapku sebagai sahabat karib lagi. Jangan banyak bicara, setelah kesehatanmu pulih, kita masih banyak waktu untuk ngobrol."

"Tidak, satu hal harus kuberitahu padamu. Kuda kalian akulah yang mengambilnya sebelum sempat memberitahu padamu. Kukira kau dan nona In tidak akan kembali ke Tayli, maka aku wakilkan Kanglam Sianghiap mengambilnya supaya kau tidak usah putar balik pula,"

Demikianlah kata Toan Kiamping tanpa hiraukan nasehat Ciok-sing.

Sebelum bersua kembali dengan In San, memang Ciok-sing tidak ingin pergi ke Tayli, tapi selama ini tak pernah terpikir olehnya untuk melarang In San pergi ke Tayli menemui Toan Kiam-ping.

Mendengar perkataan orang tanpa merasa dia tertawa getir, katanya.

"Hal itu sudah kuketahui. Tapi, yang betul kau harus bertemu dengan nona In."

"Terus terang, aku memang amat memperhatikan In San, terhadapnya aku seperti kakak kandung yang memperhatikan adik sendiri,"

Demikian kata Toan Kiam-ping lebih lanjut.

"Ada kau yang mendampingi dia, aku sudah amat lega dan bersyukur. Bahwa malam ini aku mengundangmu kemari adalah supaya kau tahu isi hatiku, kuharap selanjutnya kau lebih baik terhadapnya,"

Lalu dengan nada mencemooh awak sendiri dia menambahkan.

"sebetulnya, sudah tentu aku harus tahu bahwa kau pasti baik terhadapnya, memangnya perlu aku berpesan kepadamu?"

Ruwet pikiran Ciok-sing, katanya.

"Bicara soal nona In, aku memang ingin berunding dengan kau."

Kini giliran Toan Kiam-ping yang mencegah dia bicara.

"Tan-heng, aku tahu apa yang ingin kau kemukakan, tak usah kau jelaskan lagi. Setulus hati dan sejujurnya aku memberi selamat kepada kalian, semoga kalian hidup senang dan bahagia sampai di hari tua."

Bahwa pikiran Ciok-sing ruwet, demikian pula hati Toan Kiam-ping kalut dan risau.

Di kala Toan Kiam-ping bicara, terasa oleh Ciok-sing denyut nadinya berdetak keras, hati Ciok-sing menjadi rawan dan penasaran tidak tentram.

Angin gunung menghembus lewat, seketika Tan Ciok-sing merasa dingin dan merinding, bukan lantaran dia tidak tahan dihembus angin lalu, tapi karena mendadak dia mendapat suatu akal, selama ini tak pernah dia berpikir untuk berbuat demikian, tapi sekarang dia terpaksa harus melakukan.

Mendadak dia menutuk hiat-to tidur Toan Kiam-ping.

Setelah menurunkan Toan Kiam-ping dan merebahkan di atas panggung, dia berdiri, dilihatnya kacung kecil itu sedang naik ke atas dengan langkah terseyot-seyot.

"Kenapakah Siauya?"

Tanyanya begitu melihat Toan Kiamping rebah di atas panggung tanpa bergerak.

"Racun di tubuhnya amat liehay, tapi kau tidak perlu kuatir, masa bahaya sudah silam, jiwanya tidak terancam lagi. Kebetulan kau datang, mari bantu aku."

"Silakan Siangkong memberi petunjuk."

"Kalian tinggal dimana? Apakah Ling Suhu ada disana?"

"Kami menyewa sebuah kamar dari rumah penduduk kampung diluar pintu barat, Ling Suhu sudah disuruh pulang. Siauya yang suruh dia pulang menunggang kuda putih."

"Luar kota pintu barat terlalu jauh. Ling Suhu sudah pulang lagi, kalau Siauyamu merawat sakitnya disini kurasa kurang leluasa."

"Akupun kuatir akan hal ini."

"Apa kau percaya padaku?"

Tiba-tiba Tan Ciok-sing bertanya Kacung itu melongo, katanya.

"Jiwaku dan Siauya bisa selamat berkat pertolongan Tan-siangkong, bagaimana aku tidak bisa percaya padamu?"

"Baiklah, akan kucari suatu tempat, dan akan kutitipkan seorang teman untuk merawatnya. Temanku itu bernama In Ih, murid It-cu-king-thian yang termashur itu. Dia akan mengundang tabib ternama dan terpandai di Kwi-lin untuk mengobati penyakit Siauyamu."

"Baiklah kalau begitu. Marilah sekarang kita berangkat. Biar aku gendong Siauya."

"Jangan kau membuang tenaga, biar aku yang menggendongnya."

"Tan-siangkong,"

Kata si kacung rikuh.

"bantuanmu teramat besar terhadap kami, mana boleh kau memanggul Siauya lagi?"

Tugas ini sepantasnya serahkan padaku. Kakiku sudah tidak sakit lagi."

"Kalau kau ingin membantu juga boleh, nah kau bantu memanggul harpaku saja."

Ciok-sing turunkan harpanya tapi tidak langsung diserahkan, seperti ada sesuatu yang dipikirkan, mendadak dia membuka kotak harpa serta diletakkan di atas panggung batu, mulailah dia memetik senarsenar harpanya.

Sudah tentu si kacung berdiri bingung, batinnya.

"Eh, ada juga seleranya memetik harpa dalam suasana seperti ini?"

Tan Ciok-sing seperti tahu isi hatinya, katanya.

"Tuan mudamu sedang tidur nyenyak, lukanya tidak akan memburuk. Mungkin untuk terakhir kali inilah aku bisa memetik harpa ini."

Si kacung kaget, tanyanya.

"Kenapa?"

"Tak lama lagi kau akan tahu."

Melihat rona muka orang yang kelam, si kacung tak berani tanya lagi, segera dia terima kotak harpa yang diangsurkan kepadanya Lalu dia mengintil di belakang Tan Ciok-sing yang memanggul Toan Kiam-ping.

Setiba di ujung jalan dimana terletak rumah keluarga In, hari sudah menjelang fajar.

Tiba-tiba Tan Ciok-sing turunkan Toan Kiam-ping, katanya "Rumah besar dengan pintu merah di tengah jalan itu adalah rumah keluarga In, lekas kau bawa Siauyamu masuk kesana."

"Dan kau?"

Tanya si kacung kaget dan heran.

"Ada orang dalam rumah itu yang kenal tuan mudamu. Aku masih ada urusan ke lain tempat, aku tidak usah masuk ke rumah,"

"Sudah tiba diambang pintu, kenapa tidak masuk dulu?"

"Kau tidak tahu, begitu aku masuk, mereka tidak akan membiarkan aku pergi,"

Melihat si kacung ragu-ragu segera dia menambahkan.

"Kau tidak percaya padaku, kau kira aku mencelakai tuan mudamu?"

"Maaf, Tan-siangkong, tak pernah aku berpikir demikian."

"Nah, lekas kau panggul tuan mudamu dan pergilah ketuk pintu? Tak lama lagi, penduduk kota sudah banyak yang akan keluar pintu."

Meski curiga dan tidak habis mengerti tapi si kacung terpaksa menuruti kehendak Tan Ciok-sing. Setelah dia terima tuan mudanya serta dipanggul, Tan Ciok-sing segera putar badan terus berlalu.

"Hai, Tan-siangkong,"

Panggil si kacung.

"harpamu ini..."

"Nanti kalau tuan mudamu siuman, beritahu kepadanya, harpa ini kuserahkan sebagai kado sumbanganku,"

Tiba-tiba langkahnya dipercepat, dalam sekejap saja dia sudah pergi dan lenyap di tikungan jalan sana.

Terpaksa si kacung panggul majikannya, dengan langkah tertatih-tatih dia beranjak kesana, akhirnya dia tiba di depan pintu besar cat merah itu serta ulur tangan mengetuk gelang tembaga di atas daun pintu sebanyak tiga kali.

Cepat sekali daun pintu sudah terpentang, yang keluar ternyata seorang gadis jelita yang berwajah lesu dan lusuh.

Kaget dan girang si kacung, seketika dia menjerit girang, teriaknya.

"Nona In, kiranya kau ada disini,"

Dalam hati diapun membatin.

"Tak heran tadi Tan-siangkong bilang ada orang yang kukenal ada disini."

Semalam suntuk In San tidak pernah memejam mata barang sekejap, hatinya gelisah, risau dan gugup pula menunggu kedatangan Tan Ciok-sing. Lekas In San bertanya.

"Apakah yang terjadi?"

"Siauya terluka oleh senjata rahasia beracun Tok-liongpang Pangcu, untung Tan-siangkong menolongnya, kini dia sedang tidur nyenyak. Tan-siangkong bilang, jiwanya tidak berbahaya lagi."

Sedikit lega hati In San, tanyanya.

"Mana Tan-siangkong?"

Diam-diam dia perhatikan kotak harpa yang dijinjing si kacung.

"Dia sudah pergi,"

Sahut si kacung cilik. In San kaget, serunya.

"Dia akan kembali pula? Harpanya ini..." --dia tahu harpa ini adalah warisan keluarganya, maka dalam hati dia menghibur diri sendiri.

"Harpanya masih ada disini, yakin dia pasti kembali lagi."

Tak tahunya jawaban si kacung justru menjadikan setitik harapannya sirna tanpa bekas.

"Tan-siangkong bilang, dia hendak pergi ke tempat lain, tidak akan ke mari lagi. Harpa ini dia minta kepadaku supaya menyerahkan kepada tuan muda."

Seketika In San menjublek di tempatnya, Tan Ciok-sing sudah pergi, yang ada di hadapannya sekarang adalah Toan Kiam-ping yang terluka parah, apa yang harus dia lakukan?

Dalam pada itu In Ih sudah mendengar percakapan diluar terus beranjak keluar, kebetulan dia mendengar si kacung berteriak.

"Nona, kenapa kau?"

Sudah tentu In Ih ikut terkejut, tanyanya.

"Siapakah orang ini nona In? Kau tidak apa-apa bukan?"

Seketika In San tersentak, katanya.

"Inilah Siau-ongya dari keluarga Toan di Tayli, teman baik Ciok-sing. Paman In, tolong kau bantu aku merawat dia, aku hendak keluar sebentar."

"Kau hendak kemana?"

Tanya In Ih.

"Aku akan mencari Ciok-sing,"

Sebelum In Ih sempat bertanya apa sebetulnya yang telah terjadi, In San sudah berlari pergi.

Karuan In Ih dan si kacung sama berdiri melongo saling pandang.

Akhirnya si kacung paham duduk persoalannya.

Dia maklum apa yang dikatakan majikannya memang tidak salah.

"Agaknya nona In memang mencintai Tan-siangkong,"

Sekaligus diapun mengerti apa sebabnya Tan Ciok-sing tidak mau ikut dia masuk ke rumah keluarga In pula.

"Tan-. siangkong ternyata begini baik, ai, semalam aku memakinya kodok buduk, agaknya akulah yang kurang ajar dan tidak genah."

Tanpa terasa hatinya menjadi hambar dan masgul, entah apakah dia mengharap In San berhasil menemukan Tan Ciok-sing-dan mengajak kembali atau lebih baik gagal saja.

Sudah tentu In San takkan bisa menemukan Tan Ciok-sing, kalau Tan Ciok-sing sengaja menyembunyikan diri, bagaimana mungkin dia bisa menyandak atau menemukan jejaknya?

Jalan raya dalam kota masih sepi lengang, belum ada penduduk kota yang keluar pintu, hakikatnya dia tidak tahu ke arah mana Ciok-sing pergi?

Kepada siapa pula dia harus tanya kemana juntrungan Ciok-sing?

000OOO000 Di kala In San mencari Ciok-sing ubek-ubekan ke segala pelosok kota, sementara itu Tan Ciok-sing sudah jauh meninggalkan kota Kwi-lin.

Dengan hati yang tidak karuan rasanya dia menempuh perjalanan seorang diri.

Harpa kuno itu dia serahkan kepada Toan Kiam-ping demi menepati janjinya sendiri, walaupun soal janji sendiri ini tidak atau belum pernah dia utarakan langsung kepada Toan Kiam-ping.

Sepanjang jalan semula dia tidak punya tujuan tertentu, tapi akhirnya dia mendapat suatu ilham.

"Dalam dunia ini kini hanya Khu Locianpwe saja adalah sahabat karib kakek dan ayah yang masih hidup, dia begitu sayang dan prihatin akan diriku, kenapa aku tidak mencari dia saja? Sekaligus aku bisa memberi laporan akan keinginannya membantu It-cu-kingthian itu sudah kulaksanakan dengan baik."

Seperti diketahui warung minum Khu Ti ditutup.

Tapi dia ada memberitahu kepada Ciok-sing dimana dirinya bisa ditemukan, malah pernah dia berpesan bila urusannya di Kwilin selesai dan kebetulau lewat diharap dia mampir ke tempat kediamannya.

Di Ong-ju-san jarak lebih dekat sekaligus lebih leluasa mencari tahu tentang berita yang terjadi di Gan bun-koan.

Markas besar Kim-to Cecu didirikan diluar Gan-bun-koan kedudukannya di tengah antara Tiongkok dan Watsu yang tak tercapai oleh kekuatan militer kedua negara ini.

Bila In San tidak jadi pergi ke markas Kim-to Cecu sesuai rencana semula dia akan membantu Kim-to Cecu, kalau sebaliknya meski selanjutnya dia tidak akan unjuk diri, dia bertekad akan selalu membantu gerakan laskar rakyat.

Setelah mengambil keputusan, Tan Ciok-sing langsung menuju ke Ong-ju-san.

Sepanjang jalan tiada terjadi apa-apa, selama dua bulan perjalanan, akhirnya dia tiba di bawah Ong-ju-san yang terletak di perbatasan Ho-lam Shoa-say.

Warung milik Khu Ti dulu sudah ambruk dan rata dengan tanah, mungkin digrebek tentara dan dibakar habis.

Khu Ti pernah memberi tahu padanya, bahwa tempat pengasingannya di Ong-ju-san terletak di puncak Jwi-whihong di belakang ngarai, dengan pemandangan yang mempersona.

Malam itu Ciok-sing bermalam didalam hutan, semalam suntuk dia hampir tidak bisa tidur diganggu oleh pekik dan suara ribut orang-orang hutan, untung dirinya tidak diganggu.

Hari kedua setelah mentari terbit baru dia beranjak lebih lanjut memanjat Jwi-whi-hong puncak tertinggi dari Ongju-san.

Setiba di belakang ngarai betul juga ditemukan sebuah gubuk bambu, di depan gubuk tumbuh sebatang pohon cemara, demikian pula di belakang rumah juga terdapat sebuah pohon cemara, tempatnya cocok dengan apa yang pernah dilukiskan oleh Khu Ti tempo hari.

Girang Tan Cioksing, bergegas dia maju mengetuk pintu.

Lama dia tidak mendapat jawaban, dalam rumah tiada reaksi lagi, akhirnya Tan Ciok-sing berteriak.

"Khu locianpwe, aku adalah Tan Ciok-sing sengaja aku bertandang kemari."

Setelah dia menyebut nama dan menyatakan maksud kedatangannya, suasana tetap sepi tiada penyahutan tiada reaksi apapun.

Keruan timbul rasa curiga Ciok-sing, mungkinkah aku kesasar rumah ini tempat tinggal orang lain?"

Akhirnya dia membesarkan hati, tanpa peduli apakah dalam rumah ada penghuninya, setelah mohon permisi segera dia dorong daun pintu terus melangkah masuk.

Rumah ini kosong melompong, di tengah rumah terdapat meja kursi dan sebuah dipan, beberapa

Jilid buku gambar tampak berserakan di atas dipan, di dinding tergantung sebuah pigura dengan hiasan tulisan gaya kuno hasil karya Khu Ti sendiri.

Tan Ciok-sing masih kenal betul gaya tulisan Khu Ti, maka dia lebih yakin bahwa gubuk ini memang tempat tinggalnya dalam pengasingan.

Tapi gentong beras ternyata kosong, dalam rumah tiada rangsum lain pula, buku yang berserakan itupun dilapisi debu, jelas sudah beberapa hari lamanya Khu Ti meninggalkan rumah ini.

Tan Ciok-sing menjadi kecewa, tapi dia masih menyimpan setitik harapan, semoga Khu Ti masih tetap di bilangan pegunungan tinggi ini.

"Mungkin hidupnya selalu was-was oleh gebrakan pasukan pemerintah, maka sementara dia sembunyi entah di goa mana? Atau dia sedang keluar mencari daun obat, beberapa hari baru pulang."

Dengan perasaan yang tidak keruan Ciok-sing keluar pintu lalu berdiri di pucuk sebuah batu besar, tiba-tiba dia bersuit panjang dan nyaring, setelah itu dengan suara lantang diapun bersenandung melimpahkan perasaan hatinya.

Ciok-sing kerahkan Iwekangnya untuk bersenandung, semula suaranya kedengaran lembut dan jelas, tapi lama kelamaan gema suaranya mengalun keras dan meninggi seperti lambaian kain sutra yang tertiup angin diangkasa, seperti putus tapi terus menyambung, tiba-tiba rendah mendadak tinggi, suaranya laksana kumandang dari sorga bergema di atas pegunungan nan luas.

Cukup lama setelah dia berhenti senandung, gema suaranya masih tetap mengalun diangkasa raya dan tersiar jauh sekali.

Dia yakin bila Khu Ti ada digunung ini meski dalam jarak 10 li orang pasti mendengar suaranya.

Betul juga kira-kira sesulutan dupa kemudian dia mendengar derap langkah orang.

Setelah semakin dekat dia tahu yang datang ternyata bukan seorang saja.

Keruan Ciok-sing kaget, pikirnya.

"Kenapa yang datang ada lima orang?"

Cepat sekali ke lima orang itu sudah muncul di hadapannya.

Memang betul lima orang, tapi Khu Ti tiada di antara mereka.

Empat di antara ke lima orang ini malah sudah dia kenal, mereka bukan lain adalah Huwan bersaudara.

Seorang lagi adalah laki-laki kurus tinggi tampangnya aneh dan lucu, mukanya panjang seperti tampang kuda, kulit mukanya kuning seperti malam, mirip orang penyakitan.

Tapi kedua Thay-yang-hiat di pelipisnya menonjol besar, selintas pandang siapapun akan tahu bahwa dia seorang jago kosen yang berilmu tinggi dari aliran sesat.

Bahwa Tan Ciok-sing berada disini Huwan bersaudara juga kaget.

Losam Huwan Pau segera mendekati laki kurus tinggi dan berkata padanya.

"Bocah inilah yang bernama Tan Cioksing yang berulang kali mencari setori dengan kita. Dia sekomplotan dengan Khu Ti. Laki-laki kurus itu mendengus hidung katanya.

"Kalian bilang dia amat liehay, kiranya cuma bocah yang masih ingusan? Eh, memangnya kalian ingin aku turun tangan sendiri?"

Lagaknya amat-amat angkuh seolah-olah dia tidak sudi bergebrak dengan Tan Ciok-sing. Merah muka Huwan Liong, segera dia maju membentak. '"Mana budak she In itu?"

"Ada hubungan apa nona In dengan aku, memangnya aku harus memberi laporan kepadamu. Kalau kalian cari perkara, nah urusan saja dengan aku,"

Tantang Ciok-sing. Legalah hati Huwan bersaudara bahwa In San tidak ikut datang, agaknya mereka sudah jeri menghadapi Siang-kiamhap-pik. Huwan Liong tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Bocah angkuh, kau kira kami takut padamu. Hari ini tiada orang membantumu, jangan lari lho, tapi kau pasti takkan lolos lagi,"

Lalu dia berpaling berkata kepada laki kurus itu.

"Lenghousiansing, membunuh ayam mana perlu pakai golok, silahkan kau orang tua saksikan saja, tolong perhatikan bila bocah ini masih ada kamrat-kamratnya yang sembunyi di sekitar sini. Biar kami bekuk bocah ini, dan kupersembahkan kepada kau orang tua."

Laki-laki kurus tinggi she Lenghou tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Umpama Khu Ti sendiri yang muncul aku juga tidak gentar. Boleh silahkan kalian labrak dia dan tidak usah kuatir."

Huwan Liong memberi aba-aba, empat bersaudara serentak mencabut pedang, masing-masing berpencar menduduki posisi sendiri, Ciok-sing terkepung di tengah kalangan.

Empat pedang serempak menuding ke arah Tan Ciok-sing, namun mereka tidak segera menyerang tapi menungggu reaksi lawan muda ini.

Tan Ciok-sing tahu mereka sudah membentuk barisan pedang, dengan strategis yang menguntungkan, namun Ciok-sing sedikitpun tidak jeri.

Jengeknya.

"Bagus sekali, coba saja buktikan undangan Giam-lo-ong diserahkan aku atau dikirim kepada kalian?"

Belum rampung dia bicara, keempat musuhnya serempak bergerak, empat batang pedang membentuk sebuah jaringan sinar pedang mengurung dirinya di tengah.

Kalau satu lawan satu ke empat orang ini jelas bukan tandingan Ciok-sing.

Tapi mereka memang sudah meyakinkan ilmu barisan pedang kalau sekaligus dimainkan empat orang kekuatannya sungguh amat besar.

Mencelos juga hati Tan Ciok-sing, dalam menghadapi kesulitan ini, pikirannya serta merta teringat kepada In San.

"Sayang In San tak berada disini, dengan cara apa aku harus memecahkan barisan pedang mereka."

Laki-laki setengah umur kurus tinggi itu berdiri diluar gelanggang sambil menggendong tangan, sikapnya seperti tertawa tidak tertawa, lagaknya seperti tuan yang lagi menyaksikan jagonya berhantam di arena.

Di samping senang dia merasa was-was, dasar licik dia berpikir.

"Barisan pedang Huwan bersaudara ternyata memang cukup lihay, agaknya aku tidak perlu turun tangan,"

Sebetulnya dia mengharap ke empat orang ini kalah, baru dirinya akan jadi lakon mengalahkan dan membekuk Ciok-sing yang sudah kehabisan tenaga, bukan saja dia bakal unjuk gengsi sekaligus dia hendak menekan dan menundukkan orang-orang sekoleganya.

Di samping rasa was-wasnya diapun merasa bersyukur pula.

"Ilmu pedang bocah ini ternyata amat liehay pula, bila permulaan gebrak aku lantas harus menghadapinya, umpama akhirnya berhasil membekuk dia mungkin aku sendiri juga bisa menderita. Kali ini kesempatan merebut pahala memang tak bisa kuraih, namun mending juga dari pada aku menderita."

Perlu diketahui laki-laki kurus tinggi ini bernama Lenghou Yong, salah satu jago tangguh undangan Liong Bun-kong yang disogoknya, dengan harta dan pangkat untuk menjadi anak buahnya, Lenghou Yong menggantikan jabatan Ciang Thi-hu yang sudah mampus di tangan It-cu-king-thian.

"Toako,"

Teriak Huwan Pau.

"Bocah ini tak kan kuat bertahan lagi, ayo pergencar serangan tak usah takut menghadapinya."

Tak kira belum lenyap suaranya mendadak "Trang", pedang Huwan Pau hampir terlepas dari cekalannya karena benturan keras dari senjata Tan Ciok-sing.

Dalam sekejap ini beruntung Ciok-sing gunakan Jong-jiu-hoat secara kilat dia balas mendesak, demikian pula telapak tangan Huwan Kiau dan Huwan Hou terasa linu pedas.

Keringat seketika gemerobyos membasahi dahi, jelas kelihatan mereka sudah kerahkan setaker tenaga tapi apa daya tenaga tak sampai untuk menghadapi kekuatan lawan.

Karena tak berhasil menjebol barisan pedang lawan, terbayang oleh Ciok-sing berbagai cara untuk memecah dan membobol kepungan musuh.

Waktu bertanding dengan It-cuking-thian di Lian-hoa-hong tempo hari, memang It-cu-kingthian banyak memetik manfaatnya dari pertarungan sengit itu, tapi Tan Ciok-sing sendiri juga tidak sedikit menyelami inti sari ilmu golok tingkat tinggi.

Permainan golok It-cu-king-thian keras dan deras, tapi itu bukan berarti permainannya selalu kencang dan berat, cara yang dia anut adalah memilih kesempatan baik baru akan memberikan pukulan telak kepada lawan, kesempatan itu akan lahir di kala lawan merangsak dan tipu yang dilancarkan sudah mendapat titik terakhir, di kala tenaga yang digunakan sudah hampir habis dan akan diganti dengan jurus susulan dan tenaga akan terkerahkan pula itu, kesempatan yang terpaut sekejap inilah yang dikejarnya untuk memberikan serangan balasan yang telak, yakin usahanya umpama meleset, sedikitnya lima puluh persen pasti tercapai.

Sebetulnya akal ini biasa saja, tapi untuk melaksanakan secara tepat itulah yang sukar.

Untung tiga tahun lamanya Ciok-sing menggembleng diri didalam Ciok-lin, Hian-kang-yau-hiap dan Bu-bing-kiam-hoat warisan Thio Tan-hong berhasil dia selami dan pelajari dengan nilai yang amat memuaskan, memangnya teori ilmu silat tingkat tinggi umumnya sama, oleh karena itu begitu dia sudah hafal yang satu, maka pengetahuannya menjadi luas lagi dan mudah untuk menyelami pelajaran yang lain, apalagi dalam praktek, sehingga permainannya sekarang boleh dikata cukup wajar dan lancar.

Sayang dia harus menyimpan separo tenaganya siap untuk menempur laki-laki kurus yang kosen itu, kalau tidak barisan pedang Huwan bersaudara ini sejak tadi tentu sudah porak poranda.

Lenghou Yong mengerutkan kening, akhirnya dia bersuara.

"Kalian mundur, biar aku menghadapinya."

Detik-detik sebelum pertempuran usai tiba-tiba Tan Cioksing memutar tubuh, maka terdengarlah suara berdering nyaring yang susul menyusul, pedang panjang Huwan Pau dan Huwan Kiau tahu-tahu terpental terbang ke udara, sementara Huwan Liong tergentak mundur tubuhnya meliuk-liuk dan berputar beberapa kali, namun tak kuasa kendalikan tubuh sendiri, akhirnya terjerembab.

Pedang Huwan Huo memang tidak terlepas jatuh, tapi mulutnya terpentang menyemburkan darah sebanyak-banyaknya.

Lenghou Yong mengejek.

"Sudah kusuruh kalian mundur, masih ndablek, untung ada aku disini. Minggirlah kalian dan istirahatlah, saksikan bagaimana aku membekuk bocah ini."

Begitu berhasil mengalahkan musuh Tan Ciok-sing segera melintang pedang di depan dada dengan penuh perhatian dia awasi gerak gerik musuh yang satu ini.

Semula Lenghou Yong memang bermaksud menyergap, namun setelah melihat orang sudah siaga, maka dia tidak berani bertindak semberono.

Seperti dua ayam jago yang berhadapan didalam gelanggang, keduanya menatap siapapun tak berani sembarang bertindak.

Maklum pertarungan jago kosen, kalah menang hanya terebut dalam segaris belaka, jikalau tidak punya keyakinan yang tebal, menyerang secara serampangan titik kosong atau kelemahan sendiri justru merupakan incaran utama pihak musuh.

Beberapa kejap lagi akhirnya Tan Ciok-sing memecah kesunyian, jengeknya.

"Usiamu sudah selanjut ini, kenapa hanya pandai membual belaka, hayolah kenapa tidak bergerak?"

Lenghou Yong menyeringai, sikapnya seperti tak acuh, katanya.

"Kau bocah yang masih minum tetek ini, bahwa aku sudi melawanmu sudah terhitung memberi muka kepadamu, kau masih ingin aku turun tangan lebih dulu."

Semprotannya ini sebetulnya cukup pedas, seolah-olah dia ingin supaya Tan Ciok-sing berlaku hormat dan mohon petunjuk kepadanya, lalu mulai bergerak dengan sopan.

Huwan Pau yang suka cerewet itu mendadak menyeletuk.

"Bocah ini memang tidak tahu sopan santun, mana mungkin kau orang tua dapat memaksa dia menganggapmu sebagai locianpwe. Lekaslah beri balasan setimpal saja, yakin dia akan tunduk kepadamu. Kami akan menunggu dan saksikan membekuk bocah keparat ini."

Bahwa orang pihak sendiri juga mengundal omongan, sudah tentu pamor Lenghou Yong menjadi ludes kalau tidak segera bertindak, maka sambil menggosok kejiua telapak tangan dia berkata.

"Baiklah, kalian saksikan saja."

Tak nyana Tan Ciok-sing saat mana juga sudah tertawa dingin, katanya.

"Baiklah biar aku mohon petunjuk dari locianpwe."

"Sret"

Tiba-tiba dia menyerang.

Bagai kelinci meloncat elang menerkam, betapa kuat sayap elang dan paruhnya.

Jarak kedua orang diluar belasan langkah, hampir bersamaan keduanya melancarkan serangan malah sedikit Lenghou Yong mendahului bergerak namun gerakan pedang Ciok-sing laksana kilat, bergerak belakangan tapi mengancam sasarannya lebih dulu.

"Plok", ujung pedang Ciok-sing seperti menusuk tembus sebuah bola layaknya, namun bukan menusuk luka di tubuh Lenghou Yong, tahu-tahu ujung pedangnya tergeser ke samping. Ternyata karena mendapat tekanan tenaga pukulan tangan lawan, sehingga dua tenaga yang cukup keras. Tenaga Tan Ciok-sing terpusatkan pada ujung pedangnya, walau berhasil menembus tekanan tenaga lawan yang tidak kelihatan, namun masih terpaut serambut saja ujung pedangnya tak kuasa melukai lawan. Diam-diam dia mengeluh "sayang"

Dalam hati.

Sebat sekali gerakan Linghou Yong, di tengah deru angin pukulannya yang dahsyat, tahu-tahu telapak tangannya bagai sebuah cap yang membara telah menyelonong kepada Tan Ciok-sing dengan serangan Toa-jiu-in.

Jari tengah tangan kiri Tan Ciok-sing yang bergerak mengimbangi gerak pedangnya tiba-tiba terjulur keluar menutuk Lau-kiong-hiat di tengah telapak tangan lawan.

Inilah jurus tipu yang dilancarkan secara berbahaya untuk balik mendesak lawan yang mengancam awak sendiri, reflek dia telah menggunakan permainan Bu-bing-kiam-hoat yang liehay Dalam sekejap ini Linghou Yong sendiri juga mencelos hatinya, pikirnya.

"Entah bagaimana asal-usul bocah ini. Kungfunya kok begini aneh dan liehay?"

Meski dia berpengalaman luas, sudah tentu takkan tahu akan ilmu pedang ciptaan guru besar ilmu silat Thio Tan-hong?

Dalam pada itu Huwan bersaudara sama berdiri di depan gubuk menonton pertandingan seru ini, luka-luka dalam Huwan Hou agak berat, tapi tidak sampai membahayakan jiwanya.

Huwan Liong sudah mengurut dan memberi obat padanya, meski jiwanya tidak terancam, tapi pertempuran sengit di hadapan mereka betul-betul membikin mereka kebatkebit dan tegang.

Huwan Kiau yang cerewet tiba-tiba berteriak.

"Kenapa kau orang tua mundur saja? Kenapa tidak lekas ganyang bocah ini?"

Sebetulnya dia masih ingin menyindir lagi, tapi Huwan Liong sang kakak telah mendelik kepadanya, katanya lirih.

"Jangan gembar gembor memecah perhatian Linghou Yong. Jikalau dia kalah, kita juga bisa celaka."

Huwan Pau baru sadar, walau dia tidak terluka, untuk lari kini diapun tidak mampu lagi.

Kini disaksikannya Linghou Yong masih terus mundur, karuan hatinya menjadi was-was dan kuatir.

Sejenak kemudian baru didengarnya Huwan Liong menarik napas panjang serta berkata.

"Nah syukurlah sekarang."

"Apanya yang syukur,"

Tanya Huwan Pau tidak mengerti.

"Jahe tua memang lebih pedas, kini Linghou cianpwe yakin pasti dapat memperoleh kemenangan, dalam seratus jurus kukira dia sudah dapat mengalahkan bocah itu,"

Demikian kata Huwan Liong.

Dengan mata terbelalak Huwan Pau saksikan pertempuran ini, tapi sejauh ini dia tak tahu dimana letak kunci dari kalah menang pertempuran ini.

Namun biasanya dia percaya akan obrolan sang kakak, meski mata sendiri belum yakin akan apa yang dilihatnya, hati sudah merasa lega juga.

Penilaian Huwan Liong agaknya memang tidak meleset, di tengah percakapan mereka itulah, tiba-tiba tampak perubahan di tengah arena, kini Linghou Yong tampak balas menyerang dari pada bertahan.

Dengan bertahan tadi tujuan Linghou Yong hendak menguras tenaga Tan Ciok-sing.

Pada hal kakinya melangkah dan bergerak sesuai posisi Ngo-hing-pat-kwa, walau kakinya terus mundur, tapi pertahanannya mantap dan rapat, setiap langkah kakinya berarti memunahkan sebagian tenaga Tan Ciok-sing.

Setelah mencapai suatu babak tertentu, kedua telapak tangan Linghou Yong bergesek sekali terus bergerak menyamping kedua telapak tangan melontarkan dua tenaga yang beda arah, kiri menyeret kanan menuntun, tanpa kuasa Tan Cioksing berputar, dan ini memberi peluang bagi Linghou Yong untuk merubah posisi dan berinisiatif menyerang secara terbuka.

"Anak bagus,"

Bentak Linghou Yong.

"kinilah saatnya kau rasakan keliehayanku."

Ilmu yang dia yakinkan ternyata Kungfu dari aliran sesat yang bernama Im-yang-ciang, satu negatif yang lain positip, yang ini keras yang itu lunak saling isi dan sama tambal.

Bagi yang lwekangnya rendah, menghadapi tenaga Im-yang-ciang ini, tak ubahnya seperti sebuah sampan yang terseret didalam pusaran gelombang air dahsyat.

Akan tetapi penilaian Huwan Liong hanya betul separo, memang kenyataan Linghou Yong kini berinisiatif menyerang, kelihatannya dia berada di atas angin.

Tapi pertahanan Tan Ciok-sing ternyata sedemikian kokoh kuat dan tidak gampang dikalahkan seperti yang diduganya.

Latihan berat selama tiga tahun didalam Ciok-lin bagi Tan Ciok-sing ternyata memang tidak sia-sia, pada saat-saat yang gawat dan berbahaya ini, tampak betapa besar dan menakjubkan hasil gemblengan dirinya itu.

Semakin kencang dan deras Linghou Yong menarikan sepasang telapak tangannya, beberapa kali terjadi seakan-akan dia sudah takkan mampu berkelit, tak nyana keadaannya memang persis sebuah sampan kecil yang terombang-ambing mengikuti gerak alunan gelombang badai, timbul tenggelam, namun tak pernah dia ditelan oleh badai yang mengamuk dahsyat ini.

Maklum setelah memperoleh lwekang murni ajaran Thio Tanhong, walau latihannya belum matang atau sempurna, namun dalam praktek dia sudah mampu menguasai ilmunya itu sesuka keinginan hatinya.

Taraf lwekangnya mungkin belum setingkat kepandaian Linghou Yong, namun lwekang yang diyakinkan dari aliran murni yang lurus, ini jelas lebih baik dan matang dari apa yang pernah diyakinkan Linghou Yong.

Maka keuletan dan ketahanannya yang kokoh dan lama sungguh diluar dugaan Linghou Yong.

Apalagi Bu-bing-kiam-hoat memang peranti menghadapi segala serangan perubahan serta melayaninya sesuai situasi dan kondisi, pedangnya itu ternyata mampu membendung segala serangan Linghou Yong dan dalam waktu dekat jelas lawan takkan mampu menundukkan dia.

Tanpa terasa pertempuran sudah mencapai seratus jurus.

Diam-diam Linghou Yong amat kaget.

"Kalau begini terus salah-salah bisa mencapai tiga ratusan jurus. Umpama aku dapat mengalahkan dia, aku sendiri pasti bakal jatuh sakit cukup parah."

Dengan suara lirih Huwan Pau berkata.

"Naga-naganya keadaan tidak menguntungkan, bagaimana baiknya? Lari atau melabraknya?"

Memang dalam situasi seperti sekarang ini, hanya ada satu pilihan dari dua keadaan yang harus mereka tempuh. Huwan Liong bertanya sambil mendekati Huwan Hou.

"Jite, bagaimana luka-lukamu?"

"Jauh lebih baik, mungkin belum mampu mengembangkan ginkang,"

Sahut Huwan Hou. Tahu maksud engkohnya dia menambahkan.

"Kalian boleh tak usah hiraukan aku, Toako, aku hanya ingin tahu, apakah kita punya kemampuan untuk membantu Linghou Yong? Umpama Linghou Yong bukan tandingan bocah itu, kukira juga takkan terpaut terlalu jauh,"

Karena tadi dia kecundang dan dilukai Tan Ciok-sing, maka dia lebih condong untuk membantu Linghou Yong secara beramairamai. Huwan Liong ragu-ragu, katanya kemudian.

"Sulit dikatakan. Lari atau ikut melabraknya sukar ditentukan, kita bertaruh saja dengan nasib."

Meski perlahan percakapan mereka, tapi Linghou Yong dan Tan Ciok-sing mendengar omongan mereka. Diam-diam Tan Ciok-sing terkesiap, batinnya.

"Jika mereka berempat ikut mengeroyokku, mungkin sulit aku meloloskan diri."

Sebaliknya Linghou Yong kaget dan marah pula, bahwasanya dia sudah berada di atas angin, namun Huwan Liong tidak tahu.

"Mungkin dia sudah tahu, tapi sengaja hendak memojokkan diriku supaya bertempur mati-matian dan akhirnya gugur bersama bocah ini,"

Demikian batin Linghou Yong.

Perlu diketahui, bila Huwan bersaudara saat itu terjun ke tengah gelanggang, sudah pasti Tan Ciok-sing pasti dapat dikalahkan dengan mudah.

Kalau tidak umpama betul dia berhasil membunuh Tan Ciok-sing, dia sendiri juga perlu memulihkan tenaganya tiga bulan lamanya.

Tapi wataknya memang angkuh dan tinggi hati, suka gengsi lagi, betapapun dia tidak sudi menebalkan muka untuk memberi penjelasan dan minta bantuan Huwan bersaudara.

Tiba-tiba Huwan Pau berkata.

"Aku ingin masuk menggeledahnya,"

Saat mana mereka berada di muka pintu rumah Khu Ti, tadi seisi rumah sudah mereka obrak-abrik.

"Apa pula yang hendak kau cari?"

Tanya Huwan Liong.

"Aku pingin minum arak, arak buatan Khu-lothau tempo hari tidak jadi kunikmati, kalau dibayangkan sampai sekarang aku masih ngiler. Mungkin dia masih menyimpannya seguci dan diletakkan di pojokan yang tidak terlihat kita tadi. Cukup setengah guci saja, sudah akan menambah banyak tenagaku."

Huwan Liong marah, semprotnya.

"Kau memang setan arak, dalam keadaan seperti ini, masih juga kau gila air katakata (arak)."

Huwan Pau tertawa, katanya.

"Memangnya kau sendiri belum berkepastian, mau tarung atau lari, mumpung ada kesempatan lebih baik aku cari arak, setelah minum tenaga pulih dan bertambah kuat, nanti aku bantu kalian berhantam."

Baru saja usai percakapan mereka, tiba-tiba didengarnya dari dalam rumah ada orang batuk-batuk, disusul sebuah suara dingin berkata.

"Kalian kawanan kurcaci memang sontoloyo, baru saja aku selesai minum dan mau tidur, kalian sudah bikin ribut di depan rumahku sehingga impian bagus sirna tak karuan. Hm, kalian masih ingin minum arak bukan,"

Ternyata itulah suara perkataan Khu Ti.

Karuan kejut Huwan bersaudara seperti disengat kala.

Pada hal tadi mereka sudah menggeledah seluruh pelosok, rumah dan mengobrak-abrik isinya, menurut keadaannya agaknya Khu Ti sudah meninggalkan rumah itu, entah bagaimana sekarang tahutahu sudah berada dalam rumah pula?

Pelan-pelan daun pintu terbuka dan muncullah Khu Ti.

Khu Ti memanggul sebuah buli-buli besar warna merah, wajahnya tampak lebih tua sedikit dari setengah tahun yang lalu, tapi sepasang matanya masih tampak mencorong terang.

Sesaat itu empat bersaudara ini seperti merasakan kedua mata Khu Ti sama menatap ke arah mereka, sekali dideliki, hati mereka seketika kuncup, jantungnyapun berdetak keras, saking kaget serasa terbang arwah mereka.

Menuding Huwan Pau, Khu Ti berseru.

"Nah, kau yang ingin minum arak, mari kuberi,"

Arak didalam buli-buli sekaligus dia minum sampai habis tiba-tiba dia pentang mulut menyemburkan araknya, sejalur arak seketika menyemprot ke arah Huwan Pau.

Waktu di kedai Khu Ti tempo hari merekapun pernah kecundang oleh Khu Ti dengan cara yang sama ini.

Karena terluka gerak-gerik Huwan Pau kurang tangkas, lekas dia tutup muka sendiri dengan kedua tangan, sederas hujan semburan arak Khu Ti semua mengenai punggung tangannya, wah rasanya sakit dan pedas sekali.

Tempo hari Khu Ti tenggak setengah guci arak untuk menyemprot mereka berempat, kali ini hanya menghabiskan setengah buli-buli, yang disembur juga hanya Huwan Pau saja, gelagatnya jelas jauh lebih asor.

Apalagi meski Huwan Pau merasa sakit, tapi rasanya tidak sehebat tempo hari.

Walau demikian Huwan Pau sudah ciut nyalinya, mau lari kaki sudah tak mampu bergerak, saking ketakutan, saking gugup tanpa malu segera dia berlutut dan menyembah, teriaknya.

"Ampun Khu-locianpwe, selanjutnya aku yang kecil tidak berani mengganggumu lagi."

Khu Ti menyeringai dingin, jengeknya.

"Memang kalian belum setimpal mengotori tanganku, lekas enyah dari sini."

Semula Huwan Liong agak curiga dan ragu-ragu, kini melihat Khu Ti ini kembali menggunakan cara lama menyembur arak pada adiknya sehingga orang ketakutan sampai menyembah pula, sudah tentu diapun tak berani mainmain coba-coba lagi.

Mendengar Khu Ti mengusir mereka, seperti mendapat pengampunan saja, lekas Huwan Pau merangkak bangun terus mendahului lari sipat kuping.

Huwan Liong menggendong Huwan Hou ikut lari juga.

Huwan Kiau lari paling akhir, meski ke dua kakinya tersapu ruyung dan dia jatuh terguling-guling, dia tidak berani melawan terus menggelundung turun gunung.

Setelah menggebah Huwan bersaudara.

Khu Ti melangkah maju, katanya setelah tertawa terkekeh-kekeh.

"Linghou Yong, kau membawa kamrat kemari hendak menangkap aku bukan? Hehe, sengaja aku pulang untuk menyambut kedatanganmu. Kau berani hayo lawan aku saja, ingin aku lihat kau mampu berbuat apa terhadapku?"

Sebetulnya Linghou Yong amat membanggakan diri, sebelum bertemu dengan Khu Ti, dia kira meski tinggi kepandaian Khu Ti, tapi belum tentu liehay seperti apa yang digambarkan oleh Huwan bersaudara, dengan bekal Im-yangciang dirinya, ditambah barisan pedang Huwan bersaudara dia yakin masih cukup berkelebihan untuk mengalahkan lawan, maka dia berani meluruk kesini.

Tapi keadaan sekarang justru diluar perhitungan, bukan saja terbalik keadaannya sekarang malah lebih celaka, rasa angkuhnya seketika sirna karena tak mampu menjatuhkan Tan Ciok-sing, kini Khu Ti muncul pula di saat-saat kritis begini, karuan nyalinya menjadi ciut.

Maklum sejauh ini dia hanya setanding dengan Tan Ciok-sing, Huwan bersaudara sudah angkat langkah, meski nyalinya besar, betapapun dia tidak berani menempur Khu Ti pula.

Segera dia kerahkan seluruh sisa tenaganya, sekali pukul dia bikin Tan Ciok-sing tergetar mundur, terus putar tubuh angkat langkah seribu.

Tan Ciok-sing tergetar mundur beberapa langkah oleh tenaga gempuran lawan, hampir saja dia terjengkang jatuh.

Bentaknya gusar.

"Sudah kalah mau lari, memangnya semudah yang kau kira."

Tapi Khu Ti sudah lekas maju dan menariknya, katanya perlahan.

"Musuh yang sudah ngacir jangan dikejar, biarkan dia pergi."

Sebetulnya Tan Ciok-sing tidak ingin mengejar, kini melihat Khu Ti mendadak muncul sungguh senangnya seperti kejatuhan rejeki dari langit, sudah tentu lebih penting dia bercengkrama dengan Khu Ti.

Setelah Linghou Yong lari, dia punya kesempatan menentramkan pernapasan, lalu maju memberi salam hormat kepada Khu Ti.

"Jangan banyak adat,"

Ujar Khu Ti.

"kau kemari mencari aku, ada urusan apa?"

Pertanyaan ini sungguh diluar dugaan Tan Ciok-sing, seketika dia berdiri melongo.

Khu Ti adalah seorang tua yang simpatik, supel dan rendah hati, sahabat baik kakeknya.

Waktu di kedai tempo hari, sikapnya ramah dan sayang, apalagi setelah tahu akan asalusul dirinya.

Tapi kenapa sekarang kok bersikap tak acuh dan keliwat dingin dibanding pembawaannya tempo hari.

Tapi yang lebih mengejutkan dan membuatnya melongo adalah pertanyaan Khu Ti.

"Untuk apa dia kemari? Memangnya kejadian setengah tahun yang lalu sudah dia lupakan sama sekali?"

Tan Ciok-sing berdiri tegak dan mengawasi seksama, yang berdiri di depannya tidak salah memang Khu Ti, cuma kerut mukanya agaknya lebih banyak dan tua.

"Mungkin karena mengalami kejadian tempo hari sehingga batinnya agak tertekan, maklumlah orang tua ingatannya sudah jauh lebih mundur,"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

"Untuk apa kau mencariku? Kenapa melongo saja?"

Desak Khu Ti.

"Khu-locianpwe, bukankah kau yang menjanjikan aku kembali. Aku sudah menunaikan keinginanmu dahulu,"

Demikian kata Tan Ciok-sing.

"Apa iya? Keinginanku yang mana sudah kau tunaikan? Coba jelaskan kepadaku."

Ciok-sing mengiakan, baru saja dia berkata. ''Waktu aku pulang ke Kwi-lin..."

Baru sampai disini mendadak Khu Ti seperti ingat, tukasnya tertawa.

"Oh, ya, betapa pikunnya aku kini, ceritamu pasti panjang, hayolah duduk dalam rumah."

Baru sekarang dia mendengar suara tawa Khu Ti, tapi raut muka Khu Ti tetap dingin membeku, setelah duduk dalam rumah, Khu Ti berkata.

"Maaf kalau aku tak bisa menyuguh apa-apa, secangkir tehpun tiada,"

Bukan saja teramat sungkan sikapnya malah terasa kaku dan dingin.

Tujuan Ciok-sing kemari sebetulnya ingin menetap disini, setelah menghadapi sikap orang, diam-diam dia sudah merubah maksud semula, pikirnya.

"Entah karena apa, agaknya Khu-locianpwe tidak seramah dulu menyambut kedatanganku. Setelah kusampaikan soal itu aku harus segera pergi."

Maka dia bercerita amat jelas dan terperinci, kalem lagi, kuatir Khu Ti sudah lupa dia tambahkan pula pesan orang akan keinginannya itu sebelum mereka berpisah tempo hari.

Khu Ti juga mendengarkan dengan asyik dan penuh perhatian, waktu Tan Ciok-sing bercerita tentang pertandingan pedang melawan It-cu-king-thian Lui Tin-gak di Lian-hoa-hong tampak sikapnya amat senang dan tertarik, sering dia mengajukan pertanyaan.

Setelah Ciok-sing habis bercerita, Khu Ti segera tertawa, katanya.

"Kalau demikian, jadi kau sudah menunaikan pesanku, dengan alasan bertanding pedang kau sudah mendemontrasikan Bu-bing-kiam-hoat itu di hadapan It-cuking-thian sehingga keinginan orang sejak lama itu tercapai. Anak bagus, baik sekali kau melaksanakan tugas, bahwa dengan Bu-bing-kiam-hoat kau setanding dan akhirnya seri melawan It-cu-king-thian Lui Tin-gak, sungguh kau harus diberi selamat dan patut dipuji."

Kata Ciok-sing.

"Pesan cianpwe betapapun harus kulaksanakan. Banyak terima kasih akan pujian cianpwe, baiklah sekarang Siautit minta diri saja."

"Nanti dulu,"

Tiba-tiba Khu Ti berseru menahannya. Ciok-sing melengak, katanya.

"Khu-locianpwe masih ada pesan apa?"

Khu Ti tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Bagus ternyata kau memang Tan Ciok-sing, sekarang aku mau percaya kepadamu. Tan-toako, kau memang orang yang dapat dipercaya, kukira kau takkan kemari lagi."

Sudah tentu kaget Ciok-sing bukan kepalang, Khu Ti ternyata memanggilnya "Tan-toako", naga-naganya orang sudah tidak mengenalnya lagi.

Kulit muka Khu Ti tampak tetap tak menunjukkan mimik perubahan apa-apa meski sedang tertawa lebar, tapi nada suaranya kedengaran amat senang dan riang.

"Sekarang aku sudah tahu kau adalah Tan Cioksing, memang aku sedang mengharap kedatanganmu. Tapi apakah kau tahu siapa aku?"

Kembali Ciok-sing berjingkat kaget dibuatnya, katanya tergagap.

"Khu-locianpwe, kenapa kau bilang begitu? Memangnya kau, kau, kau bukan..."

"Betul, rekaanmu benar,"

Ujar Khu Ti.

"kalau bukan tiruan, sebaliknya akulah yang palsu."

"Kau, siapa kau?"

Teriak Ciok-sing.

"kenapa kau memalsu Khu-locianpwe?"

Khu Ti berkata.

"Kalau kau ingin tahu siapa aku, nah berpalinglah kau kesana dan jangan menoleh serta mengintip."

Memutar tubuh dan membelakangi seorang asing belum diketahui asal-usulnya, bahwasanya merupakan suatu perbuatan yang amat berbahaya, Tapi Tan Ciok-sing tanpa bimbang segera melaksanakan permintaan orang, lekas dia berpaling dan berputar kesana, berdiri tegak meluruskan tangan, pandangan menatap jauh ke depan.

Terdengar Khu Ti tertawa cekikikan, katanya.

"Baik sekali, kau mau percaya padaku aku amat senang,"

Lalu didengarnya sesuatu yang berjatuhan seperti lempung dan sebangsanya yang mengelotok dan berhamburan di tanah.

Sesaat kemudian,, tiba-tiba didengarnya suara merdu nyaring bak suara kelinting berkata.

"Sudah, sekarang kau boleh berpaling kesini."

Begitu Ciok-sing membalik tubuh, seketika dia berdiri melongo dan menjublek di tempat.

Ternyata Khu Ti yang tadi bermuka penuh keriput kini berubah menjadi seorang gadis jelita.

Seperangkat pakaian laki-laki tampak menggeletak di tanah, di sekitar kakinya berserakan pula bubuk dan lempingan-lempingan kecil dari adonan gandum yang sudah kering.

Pulih wajah si gadis laksana sebingkai porselin, alisnya lentik, kecantikannya tidak kalah dibanding In San.

Mulut yang kecil mungil tengah menyungging senyum nan molek, sesaat lamanya Ciok-sing terpesona.

"Tan-toako, maaf bila aku mempermainkan kau. Tadi sudah kuduga akan dirimu, tapi aku belum yakin, terpaksa aku harus bertindak hati-hati,"

Melihat Ciok-sing masih berdiri menjublek gadis itu tertawa geli sambil menutup mulutnya. Setelah tenang Ciok-sing baru berkata.

"Ah, kenapa nona bilang begitu, kau sudah menolong jiwaku, belum lagi aku nyatakan terima kasih. Harap tanya nona, ke manakah Khulocianpwe? Nona, kau pernah apanya?"

Seketika kuncup seri tawa si gadis, wajahnya menampilkan rasa duka, katanya.

"Kau terlambat datang, ayah sudah meninggal dunia."

Bagai disambar petir layaknya, kontan Tan Ciok-sing tergentak kaget, sesaat dia melongo, tanpa terasa air mata berlinang, katanya.

"Dengan wanti-wanti ayahmu berpesan padaku supaya kembali memberi kabar kepadanya, tak nyana beliau sudah mangkat. Entah adakah pesannya yang terakhir untuk aku?"

Dalam rasa dukanya diam-diam hatinya merasa heran dan bertanya-tanya.

"Ternyata Khu-locianpwe masih punya seorang putri, kenapa setengah tahun yang lalu tak pernah kulihat dia ada di kedai, beliau tak pernah menyinggung hal ini kepadaku. Mungkin putrinya ini sudah menikah dan tidak tinggal bersama ayahnya?"

Tapi dilihatnya gadis ini paling baru berusia delapan belas, potongan tubuhnya semampai dan padat, jelas masih seorang gadis perawan.

Agaknya si gadis merasakan sorot pandangan Ciok-sing penuh tanda tanya, segera dia menjelaskan.

"Aku bukan anak kandungnya, aku anak angkat beliau. Aku she Han bernama Cin,"

Sambil bicara dengan jari telunjuknya dia menulis di atas meja.

"Cara bagaimana Khu-loyacu meninggal?"

Tanya Ciok-sing.

"agaknya beliau pernah menyinggung diriku kepada nona."

"Silahkan duduk, biar kuseduhkan air teh, nanti kuceritakan kepadamu."

"Tak usah repot nona Han, lebih baik kau ceritakan dulu kepadaku."

"Aku harus mewakili Gi-hu (ayah angkat) melayanimu dulu, tak usah buru-buru, kawanan brandal itu toh sudah lari mencawat ekor, sambil masak air, nanti kuceritakan kepadamu."

Ayah kandung Han Cin bernama Han Cui penduduk Thongciu asli, karena peperangan melanda kampung halamannya, terpaksa dia ngungsi ke Ong-ju-san, Han Cui kenyang membaca dan pandai membuat syair, hakikatnya dia tidak punya kepandaian apapun untuk bekal hidupnya, maka di bawah Ong-ju-san dia membuka sekolahan desa, muridmuridnya adalah anak-anak petani atau pemburu.

Han Cin berkata.

"Sekolah desa ayah berada di utara gunung, kedai minum Khu-lopek berada di selatan gunung, jaraknya lima puluhan li. Tapi karena kedua orang mempunyai hobi yang sama, setiap dua tiga hari, kalau bukan ayah pergi ke kedai arak Khu-lopek, pasti dia yang bertandang ke rumahku, sejak itu mereka menjadi sahabat baik."

Sampai disini airpun telah mendidih, Han Cin memerlukan dua mangkok serta menyeduh teh, katanya.

"Aku tahu kau bisa minum arak, sayang sisa setengah buli-buli arak yang kusimpan tadi kubuang percuma untuk menggebah kawanan brandal itu. Terpaksa aku hanya bisa menyuguh teh hangat saja."

Setelah sama-sama menghirup teh Han Cin meneruskan ceritanya.

"Waktu itu aku masih anak nakal yang berusia enam tahun, tapi Khu-lopek amat senang dan sayang padaku, agaknya selama hidup beliau tak pernah menikah, tak punya anak maka aku dipungutnya sebagai putri angkatnya, beliau mengajar dan mendidik aku belajar Kungfu."

Sampai disini dia menghirup seteguk air teh lalu melanjutkan.

"Kepandaian ayah angkatku ternyata amat banyak, kecuali Kungfu, dia masih punya kepandaian lain-lain yang serba aneh dan lucu. Umpama cara merias dan berdandan tadi juga kupelajari dari beliau, tak nyana hari ini berhasil kumanfaatkan."

"Kepandaianmu dalam bidang ini ternyata memang amat menakjubkan, aku sendiripun kena kau kelabui?"

Demikian puji Ciok sing.

"Maklum aku memalsu ayah yang paling kukenal, jika memalsu orang lain, mungkin takkan dapat mengelabuhi matamu."

Han Cin bercerita lebih jauh.

"tiga tahun yang lalu, tiba-tiba beliau kangen akan kampung halaman, maka beliau ajak aku pulang ke Thong-ciu. Tak nyana tak lama setiba di kampung halaman beliau jatuh sakit dan selama beberapa lama rebah di ranjang sampai tahun lalu baru meninggal dunia. Setelah ayah di kebumikan dan aku berkabung selama seratus hari, baru aku kembali dan menetap disini bersama Gihu. Baru tiga bulan yang lalu aku sampai disini."

"Kedai minum itu dibakar oleh pasukan pemerintah, penduduk sekitarnya memberitahu padaku, untuk menghindari petaka ini, entah kemana ayah menyembunyikan diri. Aku masih ingat entah beberapa kali ayah pernah menyatakan keinginannya hendak mengasingkan diri di Cui-hwi-hong puncak tertinggi dari Ong-ju-san yang indah panoramanya. Tapi lantaran tidak tega meninggalkan sahabat baiknya, maka sejauh itu dia tunda keinginannya. Ayahku tidak bisa main silat, tak mungkin dia memanjat ke Cui-hwi-hong.

"Dengan perasaan ingin coba-coba, aku memanjat ke Cuihwi-hong. Ternyata aku memang beruntung, tapi juga tidak beruntung. Waktu aku menemukan beliau, dia sudah sakit amat parah dan hampir menghembuskan napasnya terakhir. Melihat kedatanganku dia berusaha menguatkan diri, tapi aku hanya satu jam menemani dia."

Dalam dukanya Tan Ciok-sing merasa lega juga, katanya.

"Syukurlah, bukan lantaran dicelakai pasukan pemerintah itu,"

Lalu menyambung.

"Gi-humu memiliki Kungfu yang tingggi, sebelum berpisah dengan aku, hari itu dia sudah pamer kepandaiannya yang khas, dengan seguci arak dia menyembur ke empat bersaudara tadi sampai lari lintang pukang. Sungguh tak nyana secepat ini tahu-tahu dia sudah mangkat."

"Bagi orang yang berkungfu tinggi, mungkin puluhan tahun tak pernah sakit, tapi sekali jatuh sakit maka kesehatannya akan terganggu secara hebat. Demikianlah keadaan Gi-hu. Akulah yang harus disalahkan kenapa tidak datang lebih dini beberapa hari, beliau tiada yang meladeni..."

"Mati hidup manusia sudah suratan takdir,"

Demikian hibur Tan Ciok-sing.

"manusia mana yang bisa meramal akan nasib sendiri. Untuk ini kau tidak bisa disalahkan. Bukankah akupun terlambat datang?"

Han Cin menghela napas katanya.

"Syukurlah kedatanganku masih sempat menemuinya sebelum dia ajal dan mengantar keberangkatan-nya."

"Adakah beliau meninggalkan pesan?"

Baca Juga: Tengkorak Maut 6

Baca Juga: Lembah Nirmala 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger