Pendekar Pemetik Harpa 3

Eps 3 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

"Inilah intisari latihan lwekang karyaku sendiri, kau harus tekun membaca dan mempelajarinya dengan rajin, dalam jangka tiga tahun yakin kau akan berhasil. Ada beberapa bagian yang sukar di mengerti, mumpung sekarang ada kesempatan biar kujelaskan kepadamu."

Tan Ciok-sing buang segala kerisauan hatinya, dengan seksama dia mendengarkan, untung Thio Tan-hong menjelaskan panjang lebar dan mendetail, cara memberi penjelasan pun gampang di mengerti.

Kata Thio Tan-hong.

"Kalau masih ada bagian-bagian yang masih kurang jelas, asal kau sudah paham dan hapal teorinya, kelak kau pasti akan mengerti sendiri."

Kembali Tan Ciok-sing melengak dibuatnya, kenapa Thio Tan-hong mengharap kelak dia memahaminya sendiri? "Apakah Suhu hendak meninggalkan Ciok-lin?"

Berkata Thio Tan-hong lebih lanjut.

"Aku berhasil menciptakan Bu-bingrkiam-hoat, kuukir di atas dinding gua batu. Murid besarku Toh Thian-tok adalah Ciangbunjin Thiansan-pay, tapi dia belum tahu kalau aku telah menciptakan ilmu pedang ini. Kelak kau berhasil mempelajarinya, kalau ada kesempatan bertemu dengan Toa-suhengmu, boleh kau wakilkan aku ajarkan ilmu pedang ini kepadanya Jikalau tiada kesempatan bertemu, ya apa boleh buat. Ilmu silatnya kini merupakan suatu aliran tersendiri, sukses yang dicapainya kelak jelas masih di atasku, akupun tak perlu kuatir akan dirinya."

Lama Thio Tan-hong termenung seperti mengenang sesuatu, tiba-tiba dia menghela napas, ujarnya.

"Bulan purnama malam ini sungguh amat indah, sayang tokoh-tokoh seangkatanku, peduli dia musuh atau kawan, boleh dikata sebagian besar sudah mendahului aku, tiada orang menemaniku menikmati keindahan bulan. Ai, begini sunyi dunia ini, aku terang takkan lama di dunia ini lagi."

Bergidik Tan Ciok-sing dibuatnya.

"Suhu, selanjutnya Tecu kan bisa selalu menemanimu."

"Kau memang anak baik, tapi usiamu masih teramat muda. Bagaimana perasaan seorang tua, yang sebatang kara dan hidup terasing lagi, jelas kau takkan bisa menyelaminya,"

Setelah berkata kembali dia menepekur seperti tenggelam dalam kehidupan masa lalu, tanpa berkesip dan tidak bergeming pandangannya lengang ke permukaan danau.

Waktu Tan Ciok-sing hendak membujuknya lekas istirahat, mendadak Thio Tan-hong keluarkan sebatang pedang panjang dan sebilah pedang pendek ditaruh di atas meja, katanya.

"Aneh, entah mengapa perasaanku kok terasa agak ganjil, banyak urusan yang ingin kubicarakan dengan kau. Marilah kuceritakan riwayat dari sepasang pedang pusaka ini."

Tak ingin mengganggu hasrat orang, maka Tan Ciok-sing diam saja serta pasang kuping.

"Ibu gurumu bernama In Lui, In Hou memanggilnya Kokoh (bibi), tentunya In Hou pernah bicara hal ini kepadamu?"

Tan Ciok-sing manggut-manggut, Thio Tan-hong l.alu melanjutkan.

"Kami adalah Suheng-moay, pedang panjangku ini bernama Pek-hong (pelangi putih), pedang pendek miliknya ini bernama Ceng-bing, bersama dia kami berhasil menciptakan ilmu pedang gabungan, adalah karena ilmu gabungan tongkat Hek-pek-moko terkalahkan oleh ilmu pedang gabungan kami, maka dia kami tundukan dan selanjutnya terima diperintah."

"Ibu gurumu paling menyukai alam permai didalam hutan batu ini,"

Jari-jari Thio Tan-hong memainkan air danau, seperti mengenang masa lalu, sesaat kemudian baru dia melanjutkan.

"Usianya lebih muda dari aku, tak nyana dia justeru pergi mendahuluiku. Karena Bu-bing-kiam-hoat belum berhasil ku rampungkan, terpaksa aku menepati pesannya, sehingga aku menetap belasan tahun didalam hutan batu ini. Belakangan kudapati bahwa kesehatanku sudah banyak mundur, badanku sudah loyo dimakan usia, kemungkinan Thian telah menentukan nasibku. Maka kira-kira tiga hari yang lalu sengaja aku mulai Pit-koan-lian-kang pula, harapanku pada latihan terakhir ini aku bisa hidup beberapa kejap lebih lama lagi demi mencapai cita-citaku yang terakhir. Pit-koan yang kuperhitungkan tujuh hari terpaksa hanya tercapai tiga hari karena kedatangan ketiga gembong iblis itu, celakanya adalah Hek-pek-moko pun harus gugur karenanya."

"Suhu,"

Ujar Tan Ciok-sing pilu.

"inikan bukan kesalahanmu..."

"Memang bukan kesalahanku."

Tukas Thio Tan-hong.

"yang benar mereka gugur karena aku betapapun aku amat menyesal akan nasib buruk ini. Tapi untunglah aku telah berhasil mendapat ilham tentang jurus terakhir dari Bu-bingkiam-hoat itu, tadi aku kembali ke gua batu adalah untuk mcngukii jurus terakhir ini di dinding balu dalam gua itu,"

Sampai disim tilu tiba Thio Tan-hong mcnycimgai sedih, katanya.

"Paling ifchvk aku tidak menyia-nyiakan harapku Ibu guru dan Hek-pek-moko, dan sekarang segalanya boleh dikata sudah kucapai dengan sukses besar."

"Suhu berhasil dan sukses, memang patut diberi selamat"

"Lebih menyenangkan lagi pada detik-detik ajalku terakhir ini, aku masih berkesempatan memperoleh seorang murid penutup, tak perlu aku kuatir bahwa Bu-bing-kiam-hoat selanjutnya tiada mendapat pewaris,"

Sampai disini mendadak dia bertanya kepada Tan Ciok-sing.

"In Hou punya seorang anak gadis bernama In San, dia pernah beritahu kepadamu?"

"Sebelum akhir hayatnya In Tayhiap pernah berpesan supaya aku serahkan buku pelajaran ilmu golok, golok pusaka dan lain-lain kepada putrinya."

"Baiklah, kelak setelah kau berhasil mempelajari ilmu peninggalanku ini, aku masih ada sebuah pesan supaya kau sampaikan."

"Silakan Suhu katakan,"

Ujar Tan Ciok-sing. Thio Tan-hong jemput pedang panjang, katanya.

"Pekhong-kiam ini kuberikan kepadamu, kuharap kau tidak menyia-nyiakannya."

"Tecu, tecu mana mungkin berani menerima pusaka yang tidak ternilai ini..."

"Anak bodoh, pusaka dari perguruan kita, kecuali kau kepada siapa harus kuwariskan, memangnya harus kubawa ke liang kubur? Toa-suhengmu kini adalah cikal bakal sebuah aliran tersendiri, taraf kepandaian silatnya, kelak mungkin masih lebih unggul dari aku, maka dia tidak perlu memakai pedang ini."

Kalau tetap menolak, itu berarti aieman. Terpaksa Tan Ciok-sing terima Pek-hong-kiam yang diberikan kepadanya. Lalu Thio Tan-hong menjemput pedang pendek katanya.

"Ceng-bing-kiam ini, kelak tolong kau serahkan kepada putri In Hou."

Tan Ciok-sing menerimanya dengan hormat, sahutnya.

"Tecu terima perintah."

Dengan wajah berseri Thio Tan-hong berkata lebih lanjut.

"Pedang ini memangnya pusaka warisan keluarga In, In Hou sudah meninggal, kini tinggal putrinya saja yang masih hidup dari keluarga ln, maka pedang ini adalah pantas kalau kembali ke tangannya. Kuharap kau maklum kemana arah tujuan dan maksudku, jikalau kalian bisa juga bergabung memainkan sepasang pedang ini, itu jauh lebih baik."

Ceng-bing dan Pek-hong adalah sepasang pedang yang dipakai Thio Tan-hong suami istri, pedang gabungan mereka suami isteri pernah menggemparkan Kangouw.

Kini Thio Tan hong mewariskan pedang-pedang itu kepada Tan Ciok-sing dan putri In Hou, malah ditambah serangkaian kata-kata lagi, karuan Tan Ciok-sing bingung dan bimbang.

"Apa maksud Suhu sebenarnya? Apakah, apakah dia ada maksud... em, baru saja aku masuk perguruan, dendam sakit hati belum lagi kubalas, mana boleh berpikiran tidak genah?"

Thio Tan-hong seperti sedang memikirkan sesuatu, sesaat lamanya mendadak dia berkata.

"Bulan purnama malam ini sungguh bagus sekali Sing-ji, coba kau petikan lagi lagu Khong-ling-san. Kali ini harus kau lagukan selengkapnya."

Tan Ciok-sing melengak, pikirnya.

"Bagian belakang Khongling-san yang mengenaskan, keadaan Suhu kelihatan agak ganjil, kalau beliau mendengar lagu yang memilukan ini mungkin tidak menguntungkan."

Agaknya Thio Tan-hong tahu jalan pikirannya, katanya tersenyum.

"Sudah lama Khong-ling-san putus turunan, boleh dikata lagu ini merupakan ciptaan pujangga besar jaman dulu yang tak mungkin dibanding oleh manusia kini, jikalau aku dapat mendengar lagu ini selengkapnya, sungguh merupakan suatu keberuntungan yang paling besar semasa hidupku ini. Syukurlah kau pandai memetik lagu ini selengkapnya, biarlah kau anggap sebagai hadiah kepadaku yang baru saja kuangkat murid."

Merinding Tan Ciok-sing mendengar kata-kata gurunya, seolah-olah dia dirambati firasat jelek yang bakal menimpa gurunya.

Tapi Thio Tan-hong sudah kebacut omong, jikalau dia tidak memetik lagu itu, bukankah kelihatan belangnya malah?

Apalagi Thio Tan-hong menitik berat persoalan pada "hadiah masuk perguruan".

Apa boleh buat terpaksa Tan Ciok-sing memetik lagu Khong-ling-san.

Semula perasaannya memang seperti dipaksakan, tapi begitu irama harpa mengalun, tanpa terasa dia pun harus memusatkan seluruh semangat dan perhatiannya, lambat laun dia pun tenggelam dalam alunan musik yang mengasyikan dan mengetuk sanubari.

Lama kelamaan alam sekelilingnya dirasakan seperti kosong dan hampa, malah seakan-akan dia sudah melupakan bahwa Thio Tan-hong berada di depannya.

Kepala Thio Tan-hong tertunduk, mata terpejam, pikirannya terbayang pada kenangan lama, entah itu kehidupan yang riang gembira atau pengalaman yang meresahkan atau menyedihkan, suka dan duka sama terbayang dalam benaknya...

"Adik Lui, demi memenuhi harapanmu, merampungkan Bu-bing-kiam-hoat, sehingga kau terlalu lama menungguku. Sebetulnya tanpa kehadiranmu di sampingku, umpama aku berhasil meyakinkan dan menciptakan Kungfu yang paling top di dunia ini, kesenangan apa pula yang kuperoleh."

Akhirnya petikan lagu Khong-ling-san berakhir, pelan-pelan Tan Ciok-sing angkat kepalanya, tampak Thio Tan-hong duduk tenang seperti padri samadi, ditunggu sekian lama tetap tidak bergerak.

"Suhu,"

Teriak Tan Ciok-sing, setelah tidak melihat reaksi atau jawaban Thio Tan-hong baru dia terperanjat, dengan membesarkan hati, dia maju mendekat maksudnya memapahnya, didapatinya Thio Tan-hong sudah meninggal.

Seorang maha guru besar persilatan, ternyata telah mangkat dengan tenang setelah menikmati lagu petikan harpa yang jarang bisa didengar oleh manusia siapa saja dalam dunia ini, begitu wajar dan bebas Thio Tan-hong pulang menghadap Yang Kuasa.

Tapi Tan Ciok-sing justeru berduka sekali.

Kembang mekar musim semi telah tiba, kembang rontok musim semipun telaTi berselang, tanpa terasa sudah tiga tahun Tan Ciok-sing berdiam di Ciok-lin.

Selama tiga tahun ini, dalam jangka tiga bulan dia pasti turun gunung pergi ke kota yang berdekatan membeli rangsum dan pakaian serta peralatan sehari-hari yang diperlukan, kota yang berjarak tiga puluhan li ini semakin gampang ditempuh dalam waktu singkat.

Penduduk kota kebanyakan orang-orang gunung yang hidup sederhana dan jujur, kepada mereka dia membeli rangsum dan keperluan lain, dari hubungan sekian lamanya akhirnya dia punya beberapa teman.

Hari itu dia baru saja pulang dari kota, entah mengapa hatinya amat gundah dan masgul.

Dalam hati dia berpikir.

"Tempat ini memang terasing dari dunia ramai, entah apa saja yang telah terjadi di dunia luar sana, patutkah aku mengasingkan diri tanpa menghiraukan masyarakat umum? Pusara kakek mungkin sudah ditumbuhi rumput liar? Ai, dendam kakek dan In Tayhiap masih menunggu diriku untuk membalasnya. Entah sampai dimana taraf Kungfuku? Kapan aku baru tamat belajar?"

Maklum dia belajar tanpa bimbingan, apakah sekarang Kungfunya sudah tamat, dia sendiri tidak tahu, tapi semakin belajar dia semakin merasakan ilmu ciptaan Thio Tan-hong yang satu ini ternyata memang mendalam, luas dan besar sekali artinya, belajar tiga tahun ini, seakan-akan dia hanya baru mempelajari kulitnya belaka.

Tapi mengingat tugas menuntut balas, betapa pun dia harus belajar Kungfu.

Sejauh ini dia masih merasa hasil yang dipelajarinya sekarang masih belum cukup mampu untuk menghadapi Lui Tin gak, Siang Po-san dan le Cun-hong, maka dia merasa perlu untuk belajar lebih tekun dan rajin.

Maka selanjutnya dia menekunkan diri dalam pelajaran lwekang murni sesuai karya Thio Tan-hong, berhasil juga dia mempelajari lwekang tingkat tinggi.

Entah berapa lamanya, mendadak dia merasa sekujur badan panas membara, rasanya amat tersiksa, tak lama lagi segulung arus panas tiba-tiba timbul dari pusar, dalam sekejap saja lantas merembes ke seluruh badan.

Rasa mual di dada mendadak lenyap, badan segar dan nyaman sekali.

Berhasil meyakinkan ilmu lwekangnya, lekas Tan Ciok-sing berdiri, hatinya kejut dan girang.

Pikirnya.

"Menurut uraian dalam pelajaran, agaknya aku telah berhasil menjebol Ki-king-patmeh. Memangnya, Iwekangku telah berhasil kuyakinkan?"

Setelah menarik napas dalam pelan-pelan dia berjalan keluar gua, coba-coba dia berlari turun gunung.

Bentuk Kiamhong amat curam, biasanya dia harus mengembangkan ginkang, toh juga harus berpegang pada akar-akar rotan, tapi sekarang dia dapat lari seringan burung dan tangkas seperti berlenggang di tanah datar tanpa banyak ganti napas sekaligus dia lari tutun ke tanah datar di kaki bukit.

Sang dewi malam kebetulan bertahta di angkasa raya, air danau tenang dan mengkilap bagai permukaan kaca.

Alunan gelombangnya yang lembut menggambarkan sinar bulan yang beraneka bentuk dan warnanya.

Keadaan ini tak ubannya seperti keadaan tiga tahun yang lalu waktu gurunya meninggal di tempat ini pula.

Di pinggir danau yang sama, suasana dan waktu yang sama pula.

Tapi perasaan Tan Cioksing sungguh berbeda sekali.

Lama dia termenung-menung, lalu pelan-pelan dia cabut Pek-hong-kiam pemberian gurunya, sekali sendak berpetalah ceplok cahaya pedang, mendadak dia jejak kaki badan melambung tinggi ke angkasa.

Di kala tubuhnya meluncur turun dan hinggap di tanah, tampak ceplok-ceplok kembang sama rontok berjatuhan di permukaan danau.

Ternyata pada puluhan kuntum kembang yang tumbuh di pinggir danau dia telah mamapasnya sekelopak setiap kuntumnya, pohon tidak bergoyang dahan tidak bergeming.

Saking girang Tan Ciok-sing sampai berjingkrak-jingkrak, teriaknya.

"Jurus terakhir dari Bu-bing-kiam-hoat akhirnya berhasil kupelajari juga."

"Besok aku boleh pergi meninggalkan lembah ini, sekarang aku harus pamitan kepada Suhu,"

Baru saja dia berniat pergi ke pusara gurunya, memberi laporan hasil yang telah dicapainya ini terhadap arwah sang guru, mendadak pendengarannya yang tajam mendengar sesuatu yang ganjil.

Ilmu silat Tan Ciok-sing sekarang sudah jauh berbeda dari tiga tahun yang lampau, maka pendengaran dan pandangannya jauh lebih tajam dari orang biasa.

Begitu merasakan ada sesuatu yang ganjil segera dia mendekam menempel telinga ke bumi mendengarkan dengan seksama.

Betul juga di kejauhan didengarnya langkah dua orang yang mendatangi.

Kedua orang ini belum lama memasuki daerah hutan batu, jaraknya masih cukup jauh untuk mencapai danau pedang.

Tapi Iwekang kedua orang ini agaknya belum setingkat Tan Ciok-sing bahwasanya mereka belum atau tidak mendengar suara tawa Tan Ciok-sing tadi, sebaliknya Tan Ciok-sing sudah tahu akan kedatangan mereka.

Lekas sekali suara percakapan kedua orang itupun telah terdengar.

Suaranya seperti sudah amat dikenal, sekilas Tan Ciok-sing melengak, akhirnya dia tahu siapa yang berbicara itu, seketika hatinya berang.

Kedua orang yang baru datang ini bukan lain adalah Liong Seng-bu yang mengatur tipu daya mencelakai Tan Ciok-sing dan hendak merebut pusaka yang dimilikinya, seorang lagi adalah le Cun-hong yang pernah bergabung dengan Siang Posan dan Thi-ciang Siansu mengeroyok Hek-pek-moko.

Didengarnya Liong Seng-bu tengah berkata.

"le-cengcu, jikalau Thio Tan-hong belum mati, kita harus bertindak hatihati. Menurut pendapatmu, apakah perlu aku menyaru jadi Tan Ciok-sing bocah ingusan itu saja?"

Le Cun-hong berkata.

"Kalau Thio Tan-hong belum mati, bocah itu tentu sudah menjadi muridnya, bagaimana kau bisa memalsukan dirinya?"

Liong Seng-bu tertawa kecil, katanya.

"Aku kan bisa memutar balik persoalan, yang benar kukatakan palsu. Aku kan memiliki kotak kayu dan Kiam-boh karyanya itu."

"Usia Thio Tan-hong memang sudah lanjut dan mungkin sudah jompo, kurasa sukar kau dapat ngapusi dia."

"Ie-cengcu,"

Ujar Liong Seng-bu.

"'kita kan tahu kalau bukan tandingan Thio Tan-hong, maka akalku ini kurasa perlu dicoba, meski menyerempet bahayapun juga setimpal."

Sesaat lamanya baru terdengar le Cun-hong berkata.

"Menurut apa yang kutahu, tiga tahun yang lalu, Le Khongthian bersama Kiu-poan-bo dan Liok-yang Cinjin pernah meluruk ke Ciok-lin, tapi sampai sekarang tak pernah dengar kabar berita mereka. Entah terbunuh oleh Thio Tan-hong, atau Thio Tan-hong yang berhasil dibunuh mereka? Atau mungkin pula mereka gugur bersama? Akan tetapi, baiklah mereka kita perhitungkan yang paling buruk, bila mereka yang terbunuh oleh Thio Tan-hong, sekarang Thio Tan-hong sudah tua renta, setelah mengalami pertempuran sengit, sedikit banyak pasti terluka dalam, yakin dengan golok cepatku, pasti takkan terkalahkan olehnya?"

"Jadi kita putuskan untuk menggunakan kekerasan?"

Kata Liong Seng-bu. Ie Cun-hong berpikir sejenak, katanya.

"Tujuan kita hanya mencari tahu keadaan. Boleh kau masuk memeriksa keadaan didalam, aku akan sembunyi..."

Sembari bicara merekapun telah tiba di mulut jalanan yang menuju ke danau pedang. Tan Ciok-sing tidak tahan lagi, segera dia melompat keluar sambil membentak.

"Kawanan tikus juga berani mengganggu guruku."

Liong Seng-bu berjingkat, teriaknya.

"Saudara cilik, kau..." -"Sret"

Pedang Tan Ciok-sing tahu-tahu sudah menusuk tiba.

"Trang"

Sekenanya Liong Seng-bu menangkis, kembang api berpijar.

Tahu-tahu pedang panjang di tangan Liong Seng-bu sudah kutung menjadi dua.

Dalam kerepotan untuk menyelamatkan diri, lekas dia jumpalitan seperti burung dara jungkir balik di udara, melompat jauh tiga tombak, seketika dia merasa kulit kepalanya silir dan dingin.

Waktu dia raba, ternyata sebagian rambut kepalanya tercukur sebagian.

Hanya segebrak bukan saja Tan Ciok-sing mengutungi pedangnya, hampir saja kulit kepalanyapun dibeset oleh pedang Tan Ciok-sing, karuan bukan main rasa kaget Liong Seng-bu.

Tapi Tan Ciok-sing sendiri juga merasa diluar dugaan.

Maklum jiwa Tan Ciok-sing jujur dan bajik, tusukannya tidak bermaksud menamatkan jiwa Liong Seng-bu, maksudnya hendak menusuk hiat-tonya saja.

Tiga tahun yang lalu kepandaian Liong Seng-bu memang lebih tinggi, tapi juga tidak terpaut banyak, oleh karena itu, Tan Ciok-sing kali ini tidak menggunakan jurus mematikan dari Bu-bing-kiam-hoat yang telah berhasil dipelajarinya.

Walau demikian, dia yakin Liong Seng-bu takkan mampu menahannya.

Dia kira Liong Seng-bu pasti takkan mampu melawan atau menangkis gerakan pedangnya yang cepat, hiat-to lawan pasti tertusuk dan menggeletak tak bergerak.

Pedang Liong Seng-bu memang tertabas kutung, tapi betapapun orang telah menangkis serangannya, meski hanya segebrak saja, tapi Tan Ciok-singpun tak mampu menusuk hiat-to orang.

"Apakah latihan ilmu pedangnya kini sudah jauh lebih tinggi? Atau ilmu pedang yang kupelajari hakikatnya belum tamat dan sempurna?"

Demikian batin Tan Ciok-sing. Saking kaget dan jeri seperti copot arwah Liong Seng-bu, lekas dia berteriak ke belakang serakan batu, teriaknya melengking.

"Bocah ini liehay sekali, Ie-cengcu, le-cengcu, lekas, lekas kau ke mari." 000OOO000 Bahwasanya Ie Cun-hong tidak melihat gebrakan yang berlangsung di antara mereka barusan. Begitu dia memasuki mulut jalanan yang menuju ke danau pedang, sorot matanya lantas ketumbuk pada dua gundukan tanah di sebelah sana. Gundukan tanah yang pusara ini satu adalah kuburan Hekpek-moko kawan Thio Tan-hong dari bangsa India. Sebuah lagi adalah kuburan Thio Tan-hong. Melihat kedua kuburan ini, girang Ie Cun-hong tak ubahnya rasa kaget Liong Seng-bu sekarang, keadaannya sama-sama diluar dugaan. Di kala Liong Seng-bu berteriak-teriak minta tolong, diapun bersorak seperti orang putus lotre.

"Thio Tanhong sudah mati, sudah mati."

Thio Tan-hong yang paling ditakuti sudah mati, pembantu utamanya yang amat diandalkan yaitu Hek-pek-moko juga sama-sama mati, sudah tentu Ie Cun-hong tidak pandang sebelah mata terhadap Tan Ciok-sing, bocah yang masih bau pupuk bawang ini?

"Hehehe, bocah ini mampu berbuat apa?

Liong-siangkong, jikalau kau takut, silakan menyingkir agak jauh, biar aku yang bereskan dia,"

Demikian seru Ie Cun-hong pongah sambil terloroh-loroh.

Sayang Tan Ciok-sing tidak yakin akan diri sendiri, dia tahu Ie Cun-hong adalah gembong silat yang cukup tinggi kepandaiannya, jauh lebih hebat dibanding Liong Seng-bu, pikirnya.

"Mungkin aku bukan tandingannya, tapi hari ini aku harus berani adu jiwa dengan dia."-"Sret"

Pedangnya segera melancarkan jurus yang mematikan.

Ie Cun-hong luas pengalaman, melihat serangan pedang Tan Ciok-sing mengambang, mirip jurus Hong-wi-loh-coan dari Ceng-seng pay, tapi juga mirip jurus Tui-jui-hu-ceng dari Siong-san-pay, gaya pedangnya bergerak melingkar seperti bundaran gelang, dimana letak kehebatannya sukar diraba, karuan dia tertegun.

"Ilmu pedang macam apa ini?"

Cepat sekali ujung pedang Tan Ciok-sing sudah memantulkan setitik sinar dingin, mendadak sudah menusuk tiba di depan matanya, cahayanya yang terang menyilaukan mata.

Tiba-tiba Ie Cun-hong menundukkan kepala, berbareng golok cepatnya membabat, balas menyerang dia berusaha membela diri, pedang dan golok tidak kebentur, tapi terdengar suara "Bret"

Lengan baju Ie Cun-hong terpapas sebagian, tapi kain ikat pinggang Tan Ciok-sing juga putus oleh babatan golok lawan.

Senjata tidak beradu, masing-masing dirugikan sedikit, tapi hanya pakaiannya saja yang rusak, maklum serangan kedua pihak sama cepat.

Sebetulnya jurus yang dilancarkan Tan Ciok-sing dapat mengakibatkan Ie Cun-hong mati seketika atau luka parah, sayang dia kurang yakin akan kehebatan ilmu pedang yang baru saja berhasil diyakinkan, sedikit banyak dia masih gugup dan tegang, sehingga Ie Cun-hong mendapat angin, gebrak permulaan ini boleh terhitung seri sama kuat.

Diam-diam le Cun-hong amat kaget.

"bocah ini ternyata sudah terlatih baik,"

Bahwasanya dia belum tahu bahwa Tan Ciok-sing belum lagi memboyong kemahiran yang sesungguhnya. Karena lengan bajunya sobek dia naik pitam, bentaknya.

"Anak keparat, berani kau melawan aku. Dalam jangka sepuluh jurus, aku orang she Ie kalau tidak mampu membunuhmu, bersumpah aku takkan bercokol di dunia ini. Setelah kurenggut jiwamu, baru nanti kubongkar kuburan Thio Tan-hong."

Mendengar orang hendak membongkar kuburan gurunya, Tan Ciok-sing betul-betul naik pitam, hardiknya.

"Berani kau?"

Di kala dia bicara dua patah kata ini, sekaligus Ie Cun-hong telah melancarkan tiga puluh enam jurus bacokan golok, ada yang satu jurus tiga gerakan, ada pula yang sejurus empat variasi, pendek kata, jumlah serangannya jelas sudah melebihi sepuluh jurus, Tan Ciok-sing cuma balas menyerang tujuh jurus, hanya sekali pedangnya beradu dengan golok lawan, tajam golok le Cun-hong gumpil sebagian.

Tan Ciok-sing tenawa mengejek.

"Sudah lewat sepuluh jurus, bukankah tadi kau bersumpah? Memangnya kau ini bukan manusia, tak peilu aku menuntut sumpahmu tadi."

Merah padam wajah Ic Cun hong, sedapat mungkin dia menekan hawa nafsunya, pikirnya.

"Bocah ini memakai pedang pusaka, aku harus kembangkan ilmu golok cepat supaya dia tidak bisa mengutungi golokku,"

Maka sambil kertak gigi dia nekad melawan dengan sengit, permainan goloknya dikembangkan semakin cepat, deru angin menimbulkan lesus yang kencang.

Berpedoman pada petunjuk Thio Tan-hong, di mata ada musuh, dalam hati tiada musuh, dengan membekal keyakinan ini dimana sorot matanya bekerja, yang dilihatnya hanya ujung golok lawan saja.

Musuh tangguh atau lemah sudah tidak menjadi perhatiannya lagi.

Bu-bing-kiam-hoat mengutamakan gerakan enteng, menyesuaikan gelagat dan berubah menurut situasi, kegunaannya serba lengkap.

Begitu lawan membacok tiba, secara reflek akan merubah gerakan melayani dan memunahkan serangan lawan dengan gerakan yang wajar dan tidak menggunakan sistimatis, namun setiap gerak dan perubahan itu justru mencakup berbagai Kungfu dari segala aliran.

Semakin gencar Ie Cun-hong memberondong semakin terasa bahwa permainan pedang bocah ini semakin menakjubkan dan sekokoh dinding baja.

Sebetulnya permainan ilmu goloknya sudah diakui oleh umum merupakan ilmu golok yang paling ruwet dengan beraneka macam gerak perubahan dan-variasi, tapi ilmu pedang yang dimainkan Tan Ciok-sing sekarang justeru beratus kali lebih luas dan rumit, bukan saja lebih ragam tapi juga hebat dan lebih tinggi mutunya dibanding ilmu golok sendiri.

Sehingga semakin lama keadaan le Cun-hong makin payah, karuan tak kepalang kaget, bingung dan resah hatinya.

Semula Tan Ciok-sing tidak dilandasi keyakinan pada diri sendiri, tapi semakin lama, sikap tempurnya semakin tenang dan mantap.

Pikirnya.

"Aneh, tiga tahun yang lalu, waktu aku meyaksikan permainan ilmu goloknya tidak bisa kuikuti dengan jelas, tapi kini terasa permainannya bukan saja jelas, tapi juga terasa sepele dan biasa saja, agaknya permainannya mundur dan tidak lebih cepat dari tiga tahun yang lalu?"

Yang benar bukan karena ilmu silat Ie Cun-hong mundur, tapi kemajuan yang dicapai Tan Ciok-sing selama tiga tahun ini yang melampaui lawannya, maka apa yang dibanggakan Ie Cun-hong sebagai "golok cepat", dalam pandangannya sekarang hanya biasa saja.

Semakin tempur gerakan kedua pihak semakin keras dan cepat, Tan Ciok-sing telah kembangkan Bu-bing-kiam-hoat selengkapnya tanpa terasa permainannya sekarang betul-betul sudah mencapai taraf yang dapat dibanggakan.

Sinar pedang dan kilat golok saling samber, laksana berpacu.

Bagi Ie Cunhong terasa bayangan Tan Ciok-sing berada di delapan penjuru.

Baru sekarang dia diam-diam merasa menyesal, kenapa memandang enteng lawan cilik ini.

Tapi menyesal pun sudah kasep, dalam keadaan yang sudah kebacut seperti ini, ada hasratnya melarikan diri, tapi tak kuasa dia menerjang lolos dari kepungan jaringan cahaya pedang.

Pada puncaknya mendadak Pek-hong-kiam Tan Ciok-sing memelintir balik dengan putaran kencang, kembang cahaya yang tercipta dari pedang pusaka itu seperti bintang-bintang di langit beterbangan di udara, sehingga gelombang golok yang digetarkan oleh permainan golok le Cun-hong semua ditolak kembali.

Sekonyong-konyong Ie Cun-hong berteriak sekali, tubuhnya melambung jumpalitan sejauh tiga tombak.

Tan Ciok-sing melengak, pikirnya.

"Dia belum kalah, kenapa mau lari, mungkin mau menipu aku?"

Bentaknya.

"Kalau berani jangan lari, hayo lawan aku tiga ratus gebrak lagi,"

Sembari bicara dia melintangkan pedang sambil pasang kuda-kuda, seluruh perhatiannya tertuju ke arah lawan, menunggu reaksinya.

Tapi terlihat olehnya Ie Cun-hong berdiri sempoyongan, darah tampak meleleh dari ujung mulutnya, tiba-tiba "Bluk"

Dia terjatuh dan menggeletak.

Sudah tentu Tan Ciok-sing tidak percaya bahwa Raja Golok yang kenamaan ini, betul-betul sudah mati terbunuh oleh dirinya, sesaat kemudian Ie Cunhong tetap tidak bergerak, maka dia maju mendekat, sekali kaki bergerak dia bikin tubuh Ie Cun-hong terguling dua kali, baru sekarang dia tahu bahwa Ie Cun-hong memang sudah mati..Kaget dan senang hati Tan Ciok-sing, batinnya.

"Kalau tahu dia begini tidak becus, waktu bergebrak tadi seharusnya aku tidak menggunakan sepenuh tenaga, supaya dia tetap hidup dan tertawan untuk meminta keterangannya."

Maklum Tan Ciok-sing tidak yakin akan kemampuan sendiri, kuatir bukan tandingan si "Raja Golok", maka begitu ada peluang, secara reflek dia merangsak gencar sekuat tenaga.

Malah pada jurus serangan terakhir, ujung pedangnya berhasil menusuk Hiat to mematikan tubuh lawan, lapi dia sendiri masih belum tahu.

Menyesal juga Tan Ciok sing, kalau dirinya bisa mengalahkan lawan, seharusnya ditawan hidup-hidup.

Ternyata dia ingin mengompres keterangan dari mulut le Cunhong untuk menjawab tanda tanya yang selama ini masih mengganjel sanubarinya yaitu apakah It-cu-king-thian Lui Tingak sekomplotan dengan mereka, kini Ie Cun-hong sudah mati, tanda tanya ini mungkin akan selalu bersemayam dalam benaknya.

Ie Cun-hong sudah mati, kan masih ada Liong Seng-bu.

"Mungkin Liong Seng-bu juga tahu akan rahasia komplotan mereka?"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

"Liong Seng-bu,"

Teriaknya.

"keluar kau, aku tidak membunuhmu. Aku hanya ingin kau berbicara jujur kepadaku."

Suasana hutan batu hening lelap, hanya suara air mengalir yang gemericik.

Tapi bayangan Liong Seng-bu sudah tidak kelihatan lagi.

Tan Cioksing sudah jelajahi seluruh pelosok hutan batu ini, namun jejak Liong Seng-bu sudah tidak kelihatan lagi.

"Sudah tiba saatnya aku harus meninggalkan hutan batu ini. Sebetulnya tak perlu aku mengompres keterangan Ie Cunhong, meskf kematian kakek bukan langsung di tangan Lui Tin-gak, jelas pasti dialah biang keladinya. Kalau tidak masakah kebetulan waktu itu dia berada di Cit-sing-giam pada peristiwa itu terjadi. Liong Seng-bu keparat ini biar kesempatan lain kubuat perhitungan sama dia, masih banyak urusan lain yang perlu kubereskan,"

Lalu Tan Ciok-sing kembali ke gua batu, dia benahi bekalnya, sekilas dilihatnya sepasang pentung Hekpek-moko, sesaat dia jadi bingung, sudah tiga tahun lamanya, tapi tiada murid keturunan mereka yang datang untuk mengambilnya.

Kedua tongkat coklat, bersama Pek-hong dan Ceng-bingkiam merupakan senjata pusaka yang jarang ada di dunia ini, pedang sih gampang dibawa kemana-mana, tapi kedua tongkat itu agak menyulitkan, dibawapun menarik perhatian orang, disimpan juga susah.

Terpaksa Tan Ciok-sing memendamnya didalam kamar batu, setelah keluar dia sumbat mulut gua dengan batu besar.

Dipandang dari bawah Kiam-hong, kalau orang tidak tahu di atas puncak ada gua batu, orang takkan bisa menemukannya.

Apalagi bentuk Kiamhong cukup curam dan tinggi laksana tonggak, tidak banyak orang yang mampu manjat ke atas, maka yakin lebih jarang pula orang yang mampu manjat ke atas, maka yakin lebih jarang pula orang yang bakal menemukan gua itu.

Kalau betul-betul sampai tercuri orang, ya apa boleh buat.

Di depan pusara gurunya dia berdoa.

"Hari ini Tecu mohon diri untuk berpisah dengan kau orang tua, pesanmu pasti akan kulaksanakan. Semoga Suhu di alam baka melindungi Tecu sehingga berhasil menuntut balas,"

Lalu dia duduk bersimpuh serta memetik lagu Khong-ling-san sebagai sesajen perpisahan. Rasa sedih dan senang serta terhibur sama menggelitik sanubari Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Khong-ling-san pernah putus turunan selama ribuan tahun, tapi apakah ilmu pedang guru tidak bisa menjadi Khong-ling-kiam? Kelak pasti kuserahkan kepada Toa-suheng biar dia yang mengembangkan dan mewariskan kepada generasi mendatang."

Dia tahu angan-angan terbesar gurunya setelah menanjak lanjut usia, yaitu menguatirkan Bu-bing-kiam-hoat hasil jerih payahnya akan putus turunan seperti Khong-lingsan.

Keluar dari hutan batu, terasa cahaya mentari terang benderang, cuaca cerah hawa sejuk.

Tapi perasaan Tan Cioksing justeru dirundung kekesalan.

Dunia seluas ini, kemana sekarang dia harus pergi, sesaat dia berdiri menjublek sukar mengambil keputusan.

"Mati dan perpisahan adalah sesuatu yang menyedihkan. Kakek sudah lama mati, pulang ke kampung halaman pun aku tetap takkan bertemu dengan beliau, hanya besar hasrat juga untuk bersembahyang di depan pusaranya. Sebaliknya nona In menunggu selama tiga tahun, selama itu sang ayah yang ditunggu-tunggu tak juga kunjung tiba. Ai, mati hidup sang ayah masih merupakan teka-teki, menunggu sekian lama ini betapa hatinya takkan rindu dan kuatir? Yakin penderitaan lahir batinnya pasti akan lebih berat dari pada ia tahu kalau ayahnya sudah lama meninggal."

Demikian batin Tan Cioksing.

"Penduduk kampung kemarin dulu pernah memberi tahu bahwa pasukan Watsu telah menyerbu perbatasan dan kini mengepung Gan-bun-koan. Kampung halaman In Tayhiap berada di Tay-tong, letaknya persis di daerah Gan-bun-koan. Jikalau aku tidak lekas kesana mencari nona In, kalau peperangan sudah berlangsung, pasti sukar menemukan dia. Apalagi dia seorang gadis yatim-piatu, sebatangkara lagi, meski memiliki Kungfu, dalam masa kekacauan yang berkecamuk ini, keselamatannya tentu selalu mengalami bahaya. Jikalau terjadi sesuatu atas dirinya, bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada Suhu yang telah berpesan sebelum ajalnya? Bukankah mengecewakan In Tayhiap pula yang telah mempercayakan putrinya padaku?"

"Barang warisan In Tayhiap dan Ceng-bing-po-kiam milik Subo harus secepatnya kuserahkan kepada nona In. Soal inilah yang harus kukerjakan lebih dulu. Tak boleh aku membuatnya menunggu lagi lebih lama. Tentang dendam sakit hati kakek tertunda lagi beberapa lama juga tidak jadi soal,"

Setelah berpikir-pikir akhirnya Tan Ciok-sing ambil putusan, soal menuntut balas boleh ditunda, lebih dulu ia harus menuju ke Tay-tong mencari putri In Hou.

Dari Ciok-lin pergi ke Tay-tong yang terletak di San-he, lebih jauh dari sini pergi ke kampung halamannya.

Setiba di dusun di bawah gunung, dia membeli seekor keledai sebagai tunggangan, di tengah jalan sering dia ketemu rombongan pengungsi, dari mereka dia tanya letak kota Tay-tong serta ke arah mana dia harus menempuh perjalanan.

Tahu bahwa dia hendak pergi ke Tay-tong, para pengungsi itu mengunjuk rasa heran dan curiga, tapi mereka memberi keterangan juga.

Jalan raya yang harus ditempuhnya sekarang adalah menjurus ke selatan, lalu belok ke barat serta menuju ke utara pula, lewat Jwan-tang masuk Ouw-pak menembus Ho-lam terus masuk ke San-he.

Jalan yang ditempuh ini jauh lebih aman, cuma jaraknya lebih jauh, untuk mencapai tujuan, sedikitnya dia harus memakan waktu tiga bulan.

Jalan lain yang bisa juga ditempuhnya menuju utara, dari Tayli masuk ke Jwan-se, menembus Han-tiong, lewat Siampak lalu langsung menuju ke San-he.

Jaraknya lebih dekat maka akan lekas sampai ke tempat tujuan pula, tapi jalan yang harus ditempuhnya lebih sukar karena kebanyakan jalan pegunungan.

Sepanjang jalan ini sering diganggu brandal atau penyamun.

Kalau perjalanan ditempuh dengan cepat, kira-kira dua bulan sudah bisa tiba di tempat tujuan.

Mengingat dia perlu segera tiba di tempat tujuan, maka Tan Ciok-sing memilih jalan pendek.

Dari Ciok-lin dia menuju ke Tayli, perjalanan sejauh seribu li seluruhnya jalan pegunungan yang berliku-liku, berbahaya lagi, terutama di lamping gunung yang jalannya berbatu dan lenggang lenggok, turun naik pula.

Untung keledai yang dibelinya ini sudah biasa jalan .di atas pegunungan, sehingga perjalanannya tidak terlalu banyak terganggu.

Sudah lima hari dia menempuh perjalanan, dirinya masih di tengah pegunungan.

Untung In-lan termasuk daerah tropis, hawanya sejuk cuaca baik.

Hari itu Tan Ciok-sing mencongklang keledainya melalui sebuah selat gunung yang jalannya merambat ke atas secara melingkar, tiba-tiba di depan sana kumandang suara seorang yang bersenandung dengan nada tinggi berisi.

Belum selesai laki-laki ini bersenandung tiba-tiba didengarnya pula suara gadis tertawa serta berkata.

"Piauko selamanya belum pernah aku melihat kau seriang sekarang. Soal apa sih yang membuatmu senang?"

Laki-laki itu berkata.

"Aku kuatir kau menderita dalam perjalanan. Tadi bukankah kau masih juga kangen akan kampung halaman?"

Pada waktu itu keledai Tan Ciok-sing sudah turun dari pinggang gunung, dilihatnya di bawah pohon besar di pinggir jalan sana tertambat dua ekor kuda putih, dengan pelananya serba putih pula terbuat dari perak.

Tan Ciok-sing tidak pandai menilai kuda, tapi melihat bentuk kedua kuda putih ini, dia yakin pasti kuda jempolan.

Melihat ada orang lewat mendekat, si gadis seperti malu bermanis madu di depan orang yang tidak dikenal, cepat dia menunduk serta ajak bicara kepersoalan lain.

"Orang sering bilang Thian-cu-bio paling tinggi dan Ang-wa-poh paling berbahaya, ternyata memang tidak bernama kosong."

"Kiranya aku kini sudah tiba di daerah Ang-wa-poh,"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

Dia tahu, dua hari perjalanan lagi dirinya akan tiba di Tayli, perjalanan dua hari mendatang jauh lebih baik dari jalan yang ditempuhnya sekarang, semangat yang semula sudah luluh, seketika berkobar pula.

Didengarnya laki-laki itu sedang berkata.

"Orang sering berkata, panorama di Tayli paling memukau. Setelah menempuh perjalanan jauh yang serba berbahaya ini baru terasakan kebenarannya. Tuhan Yang Maha Kuasa memang adil menata semua ini, seseorang harus mengalami derita kehidupan baru akhirnya menikmati kesenangan nan tentram. Begitulah gelombang kehidupan manusia umumnya."

Seperti mendengar kotbah saja Tan Ciok-sing manggutmanggut, diam-diam timbul keinginannya berkenalan dan bersahabat dengan sepasang muda mudi ini, maka dia bedal keledainya ke bawah serta membelokkannya ke bawah sebuah pohon besar lain yang tak jauh dari tempat duduk sepasang muda mudi itu.

Melihat Tan Ciok-sing seperti anak desa yang sederhana, pakaiannya penuh debu lagi, tapi menggendong sebuah harpa kuno, diam-diam si gadis menaruh perhatian padanya, tapi hanya sekilas dia melirik terus berpaling lagi bicara dengan sang pemuda yang dipanggilnya Piauko.

Ternyata sang Piauko lebih menaruh perhatian terhadap Tan Ciok-sing, tapi diapun tidak menyapa.

Malah sikapnya kelihatan sengaja dingin terhadap Tan Ciok-sing.

Sudah tentu Tan Ciok-sing merasakan juga sikap dingin dan kaku kedua muda mudi ini.

Kalau mau sebetulnya dia bisa turunkan harpanya serta memetik sebuah lagu untuk menarik perhatian sang pemuda sehingga orang akan ajak bicara padanya, tapi dia berpikir.

"Menilai seseorang tak boleh dari sikap lahiriah dan tampangnya, bukankah Liong Seng-bu kelihatan cakap, ramah tamah dan terpelajar? Sudah tentu muda mudi ini belum tentu setype dengan Liong Seng-bu, tapi hanya mendengar beberapa patah percakapan mereka lantas ingin bersahabat, bukankah aku ini terlalu Jenaka, apalagi mereka sepasang kekasih, kehadiranku disini jelas mengganggu kesenangan mereka?"

Benar juga pikirannya, terdengar sang gadis berkata sambil berdiri.

"Piauko, kita berangkat yok."

"Betul,"

Ucap si pemuda.

"lebih baik cepat-cepat menempuh perjalanan, mungkin besok tengah hari kita sudah bisa tiba di Tayli,"

Mereka mencemplak kuda putih terus dicongklang dengan pesat.

Tak enak Tan Ciok-sing ikut segera berangkat, dia tetap istirahat di bawah pohon.

Dilihatnya waktu kedua orang itu hampir membelok ke tikungan di depan sana, entah sengaja atau tidak si pemuda menoleh ke arah dirinya.

Dilihatnya pula si gadis mendekatkan kudanya serta mengulur leher membisiki apa-apa di pinggir telinga si pemuda.

Sebetulnya pemuda itu seorang ahli dan berpengalaman soal Kangouw, jauh lebih teliti dan cermat dari sang Piaumoay, kalau sang Piaumoay hanya memperhatikan harpa kuno yang digendong Tan Ciok-sing, tapi si pemuda juga telah menaruh perhatian pada dua bilah pedang pusaka yang dibawanya.

Belum lama dan tentunya belum begitu jauh kedua muda mudi ini pergi, tiba-tiba didengarnya suara bunyi tanduk ditiup panjang seperti terompet, disusul suara suitan nyaring bunyi dari bidikan panah bersiul.

Bila hembusan angin pegunungan tiba, sayup-sayup terdengar suara berisik dan gaduh dari banyak orang yang sedang berkelahi.

Karuan Tan Ciok-sing kaget, lekas dia melompat ke punggung keledainya terus dibedal ke depan sana, tampak kira-kira tiga li di depan sana tepatnya di bawah sebuah lereng gunung, sepasang muda mudi itu sedang dikeroyok kawanan brandal dan terkepung rapat.

Sepanjang pinggir jalan lereng gunung itu penuh ditumbuhi rumput setinggi manusia, dalam semak-semak itulah kawanan brandal menyembunyikan diri.

Begitu mereka mencongklang tiba kudanya, dari dalam semak-semak rumput sama bermunculan gantolan-gantolan panjang, karena tidak menduga, kaki depan kudanya tergantol sehingga sang kuda tersungkur ke depan, dan si gadis jatuh dari punggung kudanya.

Tapi si pemuda lebih tangkas, dalam saat-saat gawat itu, pecut di tangannya mendadak menggeletar, ujung cambuk membelit naik dari bawah, belum lagi kaki si gadis menyentuh tanah, tumitnya sudah terbelit cambuk, sekali sendai lagi tubuh si gadis yang hampir ambruk itu tiba-tiba melejit mumbul pula dan tepat melayang turun dan duduk di belakang sang Piauko.

Tapi kuda putih tunggangannya sendiri sudah dibekuk oleh pentolan brandal.

Cepat sekali kawanan brandal itu sudah merubung maju.

Si pemuda menghardik.

"Bagus, biar kuberi sedikit persen pada kalian bangsat kecil ini."

Karena tidak membawa senjata rahasia, terpaksa dia merogoh segenggam uang tembaga, Terdengar suara gerincing yang ramai, tiga senjata musuh kena dipukul terbang, dua orang lagi tertimpuk uang tembaga jatuh terguling-guling.

Tapi ada seorang laki-laki perawakan gagah tampang bengis ternyata cukup liehay, hanya sekali tangan meraih, lima keping uang tembaga kena ditangkapnya terus ditimpuk balik ke arah si pemuda.

Sekali pukul dengan Bik-khong-ciang si pemuda merontokkan uang-uang tembaga yang hampir makan tuannya, tapi ada satu di antaranya menyerempet pelipis si gadis.

Dan sini dapatlah dinilai bahwa tenaga dalam laki-laki kasar ini sesungguhnya tidak kalah dari si pemuda.

"Piauko,"

Teriak si gadis.

"pedang pendekku ..."

Kiranya waktu dia terjungkel jatuh dari punggung kuda, pedang pendek kesayangannya baru saja terlolos keluar, karena tubuh kebacut terjerembab sehingga dia tak kuasa memegangnya dan jatuh ke tanah.

Terpaksa si pemuda putar balik tunggangannya, cambuk terayun ujung cambuknya menggulung pedang pendek yang menggeletak di tanah, sekali sendai pula pedang pendek yang tergulung di ujung cambuk yang panjang itu tiba-tiba meluncur ke depan sana menusuk ke tenggorokan laki-laki kasar itu, karuan laki-laki gagah bertampang bengis itu terkejut dan melompat mundur.

Tusukan pedang pendek itupun hanya gertakan saja, lekas sekali si pemuda sudah tangkap pedang pendek sang Piaumoay terus cemplak kuda kabur dari kepungan.

Agaknya si gadis masih tidak terima, teriaknya.

"Piauko, kuda tunggangan kita sebetulnya merupakan pasangan juga..."

Jelas maksudnya merasa sayang kalau kudanya terampas oleh kawanan brandal. Si pemuda tertawa dan berkata lirih.

"Piaumoay, asal kita selalu berdampingan, apa halangannya kuda ini kehilangan temannya, kelak kita masih bisa merebutnya kembali."

Merah muka si gadis, katanya.

"Piauko, memang kau yang betul hayo kita lekas pergi!"

Dia maklum dalam keadaan seperti ini, meski Kungfu sang Piauko tinggi, jelas takkan kuat menghadapi keroyokan kawanan brandal sebanyak itu, kehilangan seekor kuda tidak jadi soal dari pada jiwa sang Piauko melayang, terpaksa dia merelakan kudanya.

Kuda yang memuat dua orang ternyata larinya masih kencang.

Pentolan berandal menimpuk tiga batang Piau terbang, dua batang dipukul jatuh oleh cambuk si pemuda, piau ketiga jatuh belasan langkah di belakang mereka.

"Sayang, sayang,"

Ujar pentolan brandal.

"bakpau yang sudah di depan mulut terlepas lagi."

Seorang Thaubak segera menghibur.

"Untung kita berhasil merampas kudanya yang bagus ini, tidak sia-sia perjalanan ini."

Seorang laki-laki yang menjadi wakil pentolan brandal itu tengah menundukkan kuda putih yang berhasil mereka rebut itu.

Paha kuda teriuka oleh gantolan besi, darah meleleh, lehernya sudah terjirat kencang, tapi dia masih bedal-bedal dan meronta-ronta.

Wakil pentolan brandal itu coba menungganginya serta dilarikan ke lereng sana, mendadak dia berjingkrak berdiri dengan kaki belakang, hampir saja dia terjungkal jatuh dari punggung kuda.

Berkerut alis kepala brandal, serunya.

"Loji, kemarilah, biar aku yang mencoba."

Jengah selebar muka wakil pentolan brandal, katanya.

"Sifat liar kuda ini sukar di tundukkan, mungkin hanya tenaga Toako yang hebat itu dapat menundukkan dia."

Baru saja pentolan brandal maju menghampiri, tiba-tiba didengarnya salah seorang anak buahnya berteriak girang.

"Eh, datang satu lagi."

Waktu kepala brandal ini berpaling, dilihatnya seorang pemuda tanggung berpakaian orang desa tengah mendatangi mencongklang keledai kurus kecil.

Pemuda ini memanggul sebuah kotak panjang, entah barang apa isinya.

Tapi pinggangnya kelihatan menonjol, bagi kepala brandal yang pengalaman ini sekilas pandang lantas tahu bahwa yang disembunyikan dibalik baju tersebut terdapat dua bilah pedang panjang dan pendek.

"Bocah ini agak aneh kelihatannya,"

Demikian pikirnya, segera dia membentak.

"Bocah keparat, siapa kau, untuk apa kau kemari?"

"Kalian siapa? Apa kerjanya disini?"

Tan Ciok-sing balas bertanya. Kawanan brandal bergelak tertawa, kata salah seorang.

"Ah, kiranya bocah sinting, Toako, tak usah dihiraukan, sikat saja sekalian."

Maka berhamburanlah anak panah ke arah Tan Ciok-sing.

Lengan baju Tan Ciok-sing yang longgar dan panjang dikebutkan kian kemari menimbulkan deru angin kencang, anak panah rontok dan bertaburan jatuh.

Tapi hanya dia sendiri yang selamat, celaka adalah keledainya yang terpanah beberapa batang, cepat Tan Ciok-sing lompat turun sebelum keledainya ambruk binasa.

Teriaknya.

"Keledai ini adalah harta kekayaanku, kalian membunuhnya, hayo lekas ganti."

Kawanan brandal sama bergelak geli, serunya.

"Kau ini pura-pura pikun atau memang goblok? Membunuh orang pun kita tidak perlu ganti jiwa, apalagi membunuh seekor keledaimu, berani kau minta ganti malah?"

Pentolan brandal membentak.

"Baiklah, kau ke mari, tunjukan beberapa gebrak permainanmu, bila mencocoki seleraku nanti kuganti berlipat ganda."

Kata Tan Ciok-sing.

"Hidupku hanya menangkap burung memancing ikan, permainan apa pula yang kubisa. Tapi aku tahu aturan, hutang jiwa bayar jiwa, hutang harta bayar uang, kalau kau tidak mau ganti, aku akan gugat kalian,"

Dengan mengembangkan ginkang Pat-pou-kan-sian, dalam jarak yang dekat ini, larinya melebihi kecepatan kuda kencang, cepat sekali dia sudah tiba di lereng dimana kawanan brandal masih bergerombol.

Baru sekarang kawanan brandal itu insaf bahwa bocah kampungan yang tidak terpandang ini ternyata memiliki kepandaian yang liehay, tapi mengingat dia hanya bocah ingusan seorang diri lagi, maka mereka tetap tidak memandangnya sebelah mata.

Beramai-ramai mereka merubung maju.

Kepala brandal tiba-tiba berteriak.

"Awas kalian,"

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dilihatnya cahaya terang kemilau menyilau mata, kiranya pedang Tan Ciok-sing telah terlolos keluar.

Belum lagi kepala brandal ini melihat jelas, delapan brandal yang merubung maju itu sekaligus roboh terkapar.

Jumlah kawanan brandal ini kira-kira belasan orang, kini separoh di antaranya dalam segebrak telah dirobohkan.

Tiada satupun yang kuasa bersuara atau bergerak, tapi tidak pula tampak badan mereka cidera mengeluarkan darah.

"Celaka,"

Teriak kepala brandal.

"bocah ini pandai ilmu siluman,"

Sudah tentu kepala brandal ini tidak tahu kalau anak buahnya sekaligus dalam segebrak itu telah tertusuk hiattonya oleh kecepatan gerak pedang Tan Ciok-sing, maka dia kira anak buahnya terbunuh oleh ilmu siluman bocah cilik ini."

Kaget dan marah pula kepala brandal ini, tetap bercokol di punggung kuda putih dia ayun golok besar yang berpunggung tebal itu terus membacok dengan Lat-pi-hoa-san mengincar batok kepala Tan Ciok-sing.

Cepat Tan Ciok-sing angkat pedangnya menangkis.

"Trang"

Lelatu api meletik, ujung golok berpunggung tebal milik kepala brandal ternyata tertabas kutung.

Tapi Tan Ciok-sing juga rasakan pergelangan tangannya kesemutan, hanpir saja Pek-hong-kiam tak kuat dipegangnya lagi.

Kepala brandal ini ternyata kepala batu, golok sudah buntung tapi dia rebut sebatang toya baja, dari salah seorang anak buahnya, dengan gaya Thay-san-ap-ting kembali mengepruk ke arah Tan Ciok-sing, bentaknya.

"Kau punya pedang pusaka aku juga tidak takut. Kalau kau mampu hayo kutungi pula toya bajaku ini,"

Toya merupakan senjata berat, betapapun tajam pedang pusaka itu untuk memotongnya jelas tidak mudah.

Apalagi tenaga kepala brandal ini jelas lebih kuat dari Tan Ciok-sing, berada di atas kuda lagi, Tan Ciok-sing yang ada di bawah jelas kalah posisi, maka setelah dencing benturan mereda, batang toya itu memang gumpil dan tergores di banyak tempat.

Sementara Tan Ciok-sing tertolak jatuh terduduk di atas tanah.

Lekas kepala brandal menarik kendali mengeprak kuda maju, toya di tangannya kembali terayun terus mengepruk pula ke arah Tan Ciok-sing.

Sementara lima brandal lagi yang juga menunggang kuda mengeprak kudanya menerjang tiba, pikirnya hendak menginjak-injak Tan Ciok-sing menjadi pergedel.

Ternyata tidak sia-sia Tan Ciok-sing menggembleng diri selama tiga tahun ini, dalam saat saat kritis itu, mendadak dia meletik bangun selincah ikan, kini tiba saatnya dia pamer kepandaian yang dipelajarinya dari ajaran Thio Tanhong.

Empat ekor kuda yang membedal kencang menerjang tempat kosong.

Cepat sekali dengan gerakan Di Tanah Kering Mencabut Lobak Tan Ciok-sing sudah mencelat mumbul ke atas setinggi satu tombak lebih, lebih tinggi dari kepala brandal yang bercokol di punggung kuda.

Bentaknya.

"Hutang jiwa bayar jiwa, hutang uang bayar uang, kau harus mengganti keledaiku yang mati."

Sret, dari tengah udara tibatiba pedangnya menusuk turun.

Jurus ini dinamakan Bing-pohkiu-siau, bukan saja gaya serangannya liehay dan ganas, perubahannya pun menakjubkan dan sukar diraba.

Meski tinggi kepandaian kepala brandal ini, namun kapan dia pernah menyaksikan apa lagi melawan ilmu pedang tingkat tinggi yang liehay ini, belum lagi dia sempat mengerjakan toya bajanya, pedang Tan Ciok-sing telah menusuk dirinya dengan telak.

Kini posisi berganti, kepala brandal tertusuk roboh dari punggung kuda, dan kebetulan tubuh Tan Ciok-sing yang meluncur turun hinggap di punggung kuda, setelah duduk tegap di atas pelana dia membentak dengan suara dingin.

"Kalau tidak terima hayo kalian maju pula."

Kepala brandal ternyata tahu diri, jiwanya selamat karena si bocah menaruh belas kasihan, kalau tidak jiwanya barusan sudah amblas di ujung pedang orang, umpama selamat, tulang pundaknya pasti tertutuk putus, berarti kepandaian silatnya akan punah pula, karuan ciut nyalinya, tanpa banyak bersuit lagi lekas dia mencemplak ke punggung kuda yang lain terus dibedal lari turun gunung.

Bahwa kepalanya lari sudah tentu kawanan brandal lain yang segar lekas-lekas ngacir.

Kini kecuali delapan brandal yang tertutuk hiat-to nya dan tak mampu bergerak itu masih ada seorang lagi, yaitu wakil kepala brandal, sebetulnya besar juga hasratnya melarikan diri sayang kuda putih yang ditungganginya itu tidak mau tunduk akan kehendaknya.

Berkata Tan Ciok-sing seorang diri.

"Kuda ini jelas tidak sepadan dengan keledaiku, aku tetap dirugikan. Hehe, kuda putih yang gagah ini sih boleh juga, biarlah kuda putih ini yang kupilih sebagai gantinya."

Melihat orang menghampiri, sementara kuda yang ditunggangi tidak mau tunduk hanya terputar-putar saja di tempat, kini mendadak berjingkrak dan mumbul kaki depannya, karena tidak menyangka, wakil kepala brandal itu semakin gugup, dilihatnya Tan Ciok-sing memburu datang pula, serasa terbang arwahnya, lekas dia berteriak.

"Mohon ampun Hoharl, biarlah kuda ini kuserahkan kepadamu,"

Di kala dia bicara ini kembali kuda putih melompat tinggi terus berjingkrak pula, sehingga penunggangnya terlempar jatuh terguling.

"Kuda ini bukan milikmu, memangnya aku berterima kasih, hayo enyah,"

Bentak Tan Ciok-sing.

Babak belur dan benjut muka wakil kepala berandal, tanpa hiraukan luka dan rasa sakit lekas dia menggelundung ke bawah lereng tanpa berani bersuara.

Tan Ciok-sing lompat turun mendekati kuda putih serta menepuknya perlahan, katanya tertawa.

"Jangan kau umbar adatmu kepadaku, mari kuantar kau menemui majikanmu,"

Agaknya kuda putih ini memang cerdik dan pandai mendengar ucapan manusia, sambil meringkik perlahan dia menunduk dan mengelus kepalanya ke badan Tan Ciok-sing.

Segera Tan Ciok-sing membubuhi obat pada luka-luka di kaki depannya setelah itu kuda putih menekuk kedua lutut depannya, lagaknya seperti menyuruh Tan Ciok-sing lekas naik ke punggungnya.

Sebetulnya Tan Ciok-sing masih kasihan untuk menunggang kuda yang terluka kakinya ini, tapi karena kuda ini pandai menangkap ucapan manusia, mengingat lukanya juga tidak parah, maka dengan tertawa dia berkata.

"Baiklah aku tahu kau ingin lekas bertemu dengan majikan, akupun tidak perlu sungkan lagi."

Jarak Ang-wa-poh sampai ke Tayli kira-kira hanya tiga ratus li, dengan kekuatan lari kuda putih ini dalam satu hari dapat ditempuhnya.

Tapi kuatir luka-luka kakinya tambah berat, maka Tan Cioksing tidak membedalnya lari kencang dia biarkan saja kuda ini lari seenaknya maka di tengah jalan dia perlu menginap semalam.

Hari kedua pagi-pagi sekali Tan Ciok-sing sudah menempuh perjalanan, setelah melewati jalan pegunungan yaug naik turun dan berbatu-batu, kira-kira tengah hari dia sudah keluar dari sebuah selat dan nampak di depan nan jauh sana bayangan sebuah kota yang angker dan megah.

Saat mana sudah mendekati senja, mengingat dirinya harus menemukan orang di kota Tayli, terpaksa dia abaikan kesempatan menikmati panorama alam semesta nan indah permai, kuda dibedal kencang.

Mendekati kota, orang yang berlalu di jalan raya semakin banyak, banyak orang-orang di jalan sama memuji kuda putihnya yang gagah dan berlari sekencang angin.

Hari sudah gelap Tan Ciok-sing baru memasuki Tayli, setelah menemukan sebuah hotel dia menginap disini.

Hari kedua dia keluar menyirapi berita, namun karena dia tidak kenal siapa nama kedua pasangan muda mudi itu, maka hasilnya nihil, sehari penuh dia keluntang keluntung dalam kota tanpa berhasil menemukan jejak kedua orang yang dicarinya itu.

Hari ketiga Tan Ciok-sing mendapat akal, pikirnya.

"Dari pada aku ubek-ubekan mencari mereka, kenapa tidak berusaha supaya mereka yang mencari diriku. Jiang-san dan Ni-hay merupakan dua obyek tamasya yang termashur di Tayli, setiba disini kenapa tidak aku melancong kesana."

Pagipagi benar dia sudah menunggang kuda putih, sengaja dia belak belok melewati jalan raya yang ramai tanya orang-orang di jalanan minta petunjuk ke arah mana dia harus pergi untuk menuju ke Jiang-san.

Bahwasanya dari pemilik hotel tadi dia sudah tanya arah dan letak Jiang-san, maksudnya itu bukan lain hanyalah supaya menarik perhatian orang sehingga terdengar oleh kedua muda mudi itu serta tahu dimana jejak dirinya.

Naik perahu mengarungi Nihay, tibalah dia di kaki Jiangsan, puncak gunung diselimuti salju, namun di antara warna putih salju yang mengkilap itu tampak juga warna coklat kehitaman dari batu-batu gunung serta dahan-dahan yang sudah gundul.

Dari sinilah timbulnya nama tambahan "Tiamjong-san"

Yang kenamaan itu.

Hari itu kebetulan hari libur di negeri Tayli, sehingga kaum pelancongan tidak sedikit yang membanjir datang menikmati keindahan alam Tiam-jong-san nan molek dan berhawa sejuk.

Setiap pelancong yang melihat kuda tunggangan Tan Cioksing tiada yang mengunjuk jempol memuji kegagahannya.

"Sudah dua hari aku putar kayun mengelilingi kota dan tempat-tempat ramai yang di kunjungi pelancongan, jikalau benar majikan kuda ini berada di Tayli, tentu dia sudah dengar akan diriku, biarlah aku segera pulang saja,"

Demikian batin Tan Ciok-sing setelah setengah hari menjelajah pegunungan Tiam-jong-san.

Setiba di kaki gunung, di antara lebatnya pepohonan daun welingi dia berteriak memanggil tukang perahu.

Tukang perahu menyambut kedatangannya dengan tertawa, katanya.

"Siangkong, cepat betul kau kembali,"

"Jong-san sebesar dan seluas ini memangnya bisa kujelajahi dalam setengah hari ini,"

Ujar Tan Ciok-sing.

"cukuplah asal bisa sekedar menikmati keindahan nan permai di gunung ini."

Senja telah menjelang, sinar surya yang hampir terbenam keperaduannya memancarkan cahaya keemasan nan kemilau di permukaan air, menambah asri, perahu-perahu layar para nelayan yang berdendang lagu menyambut datangnya senja kala mulai berlaju kembali ke pangkalan.

Di saat Tan Ciok-sing terpesona memandangi kesibukan para nelayan di tengah danau ini tampak sebuah perahu pesiar jang dipajang molek dengan layar lempit tengah berlaju ke arah sini mengikuti angin buritan.

Tukang perahu kelihatan tercengang, katanya.

"Siau-ongya memang suka melancong, hari sudah hampir gelap, dia masih berada disini. Padahal, kau sudah menjelajah Jong-san dan pingin pulang."

Tan Ciok-sing tercengang pula, katanya.

"Siau-ongya dari istana Toan maksudmu?"

"Kecuali istana Toan, di negeri Tayli kita ini memangnya ada Siau-ongya kedua? Lo-ongya hanya mempunyai seorang anak tunggal ini, namanya Kiam-ping."

"Jadi Siau-ongya ini suka berdarmawisata?"

Tanya Tan Cioksing.

"Ya, Siau-ongya suka pelesir. Terhadap siapa saja dia ramah tamah, terhadap rakyat jelata macam kamipun dia suka memberi hormat, tak pernah dia jual tampang dan berlagak sebagai pangeran.

"O, apa ya, agaknya dia seorang pemuda yang baik,"

Ujar Tan Ciok-sing "Memangnya Siau-ongya kita ini laki-laki yang jarang ada bandingannya.

Kabarnya ilmu sastra dan ilmu silat sama-sama tinggi tingkatannya.

Dalam Onghu betapa banyak guru-guru silat, namun hanya beberapa saja yang mampu menandingi dia.

Cuma ada satu hal cirinya."

"Ciri apa?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Sebetulnya juga bukan ciri jelek. Kita kan rakyat jelata, semua sama menyanjung dan mencintainya, sayang dia tidak pernah berbuat seperti yang kita harapkan, karena itulah kita merasa sedikit masgul."

"Soal apa bikin kalian masgul karenanya,"

Tanya Tan Cioksing pula.

"Sampai sekarang dia masih belum menikah,"

Sahut tukang perahu.

"Mungkin Lo-ongya merasa usianya masih kecil, maka belum mencarikan jodoh baginya. Memangnya soal jodoh perlu dibuat heran."

"Kita sudah biasa memanggilnya Siau-ongya sebetulnya usianya tidak kecil lagi, tahun ini dia sudah dua puluh delapan tahun."

"Kalau dia pandai sastra mahir silat, sepantasnya kalau istrinya itu seorang yang sepadan."

"Soal jodoh kan tidak boleh dipaksakan"

Ujar Tan Ciok-sing tertawa.

"Ucapanmu memang tidak salah Siangkong,"

Ucap tukang perahu.

"Lo-ongya sangat sayang padanya, maka dia serahkan soal jodoh kepadanya. Entah berapa banyak comblang yang hilir mudik keluar masuk istana, tapi semuanya ditampik mentah-mentah."

Di kala mereka bercakap-cakap ini, perahu hias yang megah itu jaraknya sudah semakin dekat.

Tiba-tiba di dengarnya dering suara senar harpa dipetik dari dalam perahu hias itu.

Karuan Tan Ciok-sing menoleh dengan tertegun.

"Sering Siau-ongnya di kala pesiar di danau, main catur, melukis atau main musik di atas perahunya,"

Demikian kata tukang perahu geli melihat sikap dan mimik Tan Ciok-sing yang lucu seperti orang kampungan.

Bahwasanya Tan Ciok-sing bukan tertegun karena Siauongya ini mahir memetik harpa.

Dia heran karena dia merasa kenal betul akan irama harpa itu.

Siapa saja bila dia pandai memetik harpa, harpa macam apa saja tentu mudah dipetik, tapi bagi seorang ahli dia pasti bisa membedakan perbedaan antara irama harpa yang satu dengan harpa yang lain, apalagi orang macam Tan Ciok-sing cucu Ki Harpa yang sejak kecil sudah belajar seni harpa.

Sekali dengar lagu petikan harpa dari perahu hias Siau-ongya dia lantas tahu, bahwa harpa yang dipetik itu adalah harpa warisan keluarganya itu.

Waktu meninggalkan hotel tadi dia titipkan harpanya itu kepada pemilik hotel.

Pemilik hotel kelihatan seorang yang jujur dan dapat dipercaya, maka dia yakin harpanya itu tidak akan hilang, apa lagi bentuk harpa antik itu sudah kelihatan usang.

Tapi disini dia justru mendengar petikan lagu dari harpa antik miliknya itu.

Apakah pemilik hotel menghadiahkan harpa antik itu kepada Siau-ongya?

Atau secara kebetulan di dunia ini ada sebuah harpa lain milik Siau-ongya yang mirip harpa antik dirinya?

Melihat dia asyik mendengarkan lagu, tukang perahu berkata.

"Tuan, kiranya kaupun ahli musik juga? Bagus tidak petikan harpa Siau-ongya kita?"

"Bagus, petikan harpa yang bagus,"

Puji Tan Ciok-sing hambar. Padahal dalam hati dia mereka-reka.

"Jikalau betul harpa antik milikku itu, bagaimana aku harus bersikap?"

Sudah tentu dia segan mencari perkara dengan keluarga istana, tapi harpa itu adalah warisan keluarganya, betapapun tak boleh terjatuh ke tangan orang lain.

Kini perahu hias yang berlayar itu berlaju kencang semakin dekat lagi, kerai tersingkap separoh, maka dari jarak tertentu masih kelihatan keadaan didalam perahu.

Tampak seorang pemuda berdandan seperti pemuda bangsawan tengah duduk menghadapi meja pendek, di atas meja inilah terletak harpa yang lagi dipetiknya itu.

Begitu memandang kesana, jantung Tan Ciok-sing serasa berdebur semakin keras, meski harpa itu terbakar jadi abu juga tetap dikenalnya baik, dia yakin harpa di atas meja yang lagi dipetik pemuda itu betul adalah harpa antik peninggalan kakeknya itu.

Dua gadis pelayan tampak berdiri di kanan kiri si pemuda, seorang sedang sibuk membakar dupa wewangian, seorang lagi tengah tertawa sedang berkata kepada si pemuda.

"Siauongya, sukalah kau petik sebuah lagu lagi yang bernada riang?"

"Lagu apa yang kau gemari?"

Tanya Siau-ongya.

"Lagu kampung halaman saja,"

Sahut pelayan cilik itu.

"Agaknya kau sudah kangen rumah, baiklah, aku yang petik harpa, kau yang bernyanyi,"

Demikian kata Siau-ongya. Di kala suara harpa mengalun, lekas tukang perahu mendorong Tan Ciok-sing ke samping. Sudah tentu Tan Cioksing melenggong, tukang perahu berbisik di pinggir telinganya.

"Tuan, kau masuk saja ke kabin, jangan kau pandang pelayan orang begitu rupa."

Merah muka Tan Ciok-sing, tanpa bicara lekas dia masuk ke kabin. Dalam hati masih bingung berpikir.

"Harpa antikku itu bagaimana? Bagaimana baiknya minta kembali harpa itu."

Didengarnya pelayan cilik itu sudah tarik suara berdendang dan berjoget dengan riang dan mengasyikkan.

Di kala sebuah lagu habis dinyanyikan perahu hias itupun kebetulan merapet dengan perahu yang di naiki Tan Ciok-sing.

Lama Tan Cioksing terlongong, bukan karena petikan harpa Siau-ongya yang bagus, meski Siau-ongya ini pandai memetik harpa, tapi bagi tingkatan seorang ahli harpa seperti Tan Ciok-sing, petikan harpa Siau-ongya masih dianggapnya biasa adalah karena petikan harpa dan lagu kampung halaman itulah yang membuatnya kangen pada kampung kelahirannya.

Percakapan merdu di atas perahu hias itu menyadarkan lamunannya, di dengarnya pelayan itu berkata.

"Eh, Siauongya, lihatlah kuda putih itu."

Kuda putih Tan Ciok-sing memang ditambat di buritan.

Siau-ongya bersuara heran juga, agaknya dia berbicara beberapa patah, cuma suaranya rendah tidak terdengar oleh Tan Ciok-sing yang berada dalam kabin.

Kedua perahu sudah berendeng, tukang perahu menghentikan perahunya.

Tukang perahu di atas perahu hias berkata.

"To-toasiok, Siau-ongya suruh aku memberi salam kepadamu."

Tertawa lebar tukang perahu saking senang, katanya.

"Banyak terima kasih, tolong sampaikan juga salam hormatku kepada Siau-ongya."

"To-toasiok,"

Kata tukang perahu hias.

"siapakah tamu didalam perahumu?"

Jantung Tan Ciok-sing berdebur keras, batinnya.

"Nah, menyangkut diriku."

Tukang perahu menjawab.

"Seorang pemuda pelancongan."

Tukang perahu hias berkata pula.

"Siau-ongya suruh aku menyampaikan, katanya mohon dimaafkan atas sebuah permintaannya..."

"Kenapa Siau-ongya begini sungkan, ada perintah apa sudilah katakan saja,"

Sahut tukang perahu. Tukang perahu hias berkata.

"Siau-ongya ingin mengundang tamu di atas perahumu untuk berbincangbincang disini."

Kaget dan girang tukang perahu, lekas dia menunduk kedalam kabin berkata lirih.

"Tuan, apakah kau kenal baik dengan Siau-ongya?"

"Jikalau aku kenal dia, buat apa tadi aku tanya kau tentang dirinya?"

Sahut Tan Ciok-sing.

"Tapi Siau-ongya mengundangmu ke atas perahunya..."

"Siau-ongya sudi memberi muka, memangnya aku ini tidak tahu diri?"

Ujar Tan Ciok-sing.

"Memangnya, orang lain menyembah lima kali pun takkan diluluskan permintaannya,"

Ujar tukang perahu, lekas dia mengambil lemparan papan panjang dipasang sebagai tangga penyeberangan, lalu dia bantu Tan Ciok-sing menuntun dan menyebrangkan kuda putih.

Anak buah Siau-ongya telah memberi persen kepada tukang perahu, katanya.

"Tuan tamu ini, nanti akan kami antar dia pulang, kau tidak usah menunggunya."

Tukang perahu mengiakan sambil munduk-munduk, cepat-cepat dia kayuh perahunya pergi dengan tertawa riang.

Dalam pada itu Siau-ongya yang bernama Toan Kiam-ping sudah menyingkap kerai dan berdiri didalam kabin, katanya.

"Terlambat menyambut kedatangan tamu dari jauh, mohon dimaafkan pelayanan yang kurang pantas ini."

Tan Ciok-sing menjura, katanya.

"Rakyat jelata kampungan seperti diriku sungguh berbesar hati mendapat penghargaan untuk bertemu. Sebelum ini saling tidak kenal, entah sebab apa gerangan Siau-ongya mengundangku ke mari?"

Waktu berbicara mata Tan Ciok-sing tidak memandang Siau-ongya.

Harpa antik itu terletak di hadapannya, dengan seksama dia mengamat-amati memang betul, dia yakin harpa ini adalah miliknya.

Pelayan cilik itu tertawa cekikikan, katanya.

"Siau-ongya, bicara dengan tamu kenapa begini kolokan, memangnya tidak berkelebihan?"

"Betul,"

Ujar Toan Kiam-ping.

"tamu agung berkunjung, banyak sungkan memang terlalu berlebihan. Kali ini aku memberanikan diri mengundang anda, tentunya banyak pertanyaan dan curiga, biarlah aku mulai saja dengan duduk persoalannya. Aku bernama Toan Kiam-ping, harap tanya siapa nama mulia anda?"

Setelah Tan Ciok-sing menyebutkan namanya, Toan Kiamping berkata.

"Tan-heng, tanpa berkedip kau mengawasi harpa kuno ini, apakah sebelum ini kau pernah melihatnya?"

Diam-diam Tan Ciok-sing sudah berkeputusan, umpama dia harus berbuat salah terhadap Siau-ongya ini, betapapun harpa ini harus diminta kembali, maka dia berkata.

"Ya, aku merasa heran."

"Apanya yang kau herankan?"

Tanya Toan Kiam-ping.

"Bicara terus terang, di rumahku terdapat pula sebuah harpa kuno seperti ini. Sungguh tak nyana bahwa di dunia ada barang antik serupa ini,"

Sembari bicara dia perhatikan mimik dan reaksi Siau-ongya. Tidak menjawab pertanyaannya, Toan Kiam-ping malah tertawa, katanya.

"Meski kami baru saling kenal, kalau diusut mungkin sebelum ini kita sudah ada hubungan. Hubungan ini kemungkinan menyangkut harpa kuno ini."

Heran dan tidak mengerti, tanya Tan Ciok-sing.

"Selamanya aku tak pernah datang ke Tayli. Entah danmana datangnya hubungan ini?"

"Terdapatlah seorang guru ahli harpa yang tiada bandingannya di kolong langit ini, dia she Tan menamakan dirinya "Ki Harpa", orang banyak memanggilnya Dewa Harpa. Entah pernah apa ahli harpa ini dengan Tan-heng?"

"Beliau adalah kakekku,"

Sahut Tan Ciok-sing.

"Nah, itulah betul,"

Ucap Toan Kiam-ping.

"Tan-heng, kau belum pernah datang ke Tayli tapi kakekmu dulu pernah berkunjung ke Tayli."

"Kapan hal itu terjadi?"

"Kira-kira sudah berselang dua puluh tahun. Waktu itu aku baru berusia tujuh tahun,"

Demikian tutur Toan Kiam-ping.

"Maklum aku tidak tahu, itu waktu aku belum lahir,"

Demikian batin Tan Ciok-sing. Tutur Toan Kiam-ping lebih lanjut.

"Meski aku baru berusia tujuh tahun, tapi ingatanku tajam kesanku mendalam. Begitu kakekmu mendemontrasikan kepandaiannya seluruh istana menjadi gempar, semua mendengarkan dengan terlongong seperti orang mabuk. Waktu itu sebetulnya aku sudah minta seorang busu menemaniku pergi Jong-san menangkap burung, tapi mendengar irama harpa kakekmu, terasa begitu merdu melebihi kicauan burung, sehingga aku lupa akan janji itu sehingga busu itu kecele. Masih segar dalam ingatanku, harpa yang dimainkan kakekmu dulu adalah harpa yang ini pula. Waktu itu pernah aku merabanya, kupikir kayu rongsokan yang sudah rongsok begini ditambah beberapa senar, di tangan kakek tua ini kenapa bisa memperdengarkan irama lagu semerdu ini?"

Lalu dia bergelak tawa.

"Tan-heng, tentunya kau sudah mengerti sekarang?"

Kaget dan senang hati Tan Ciok-sing, katanya.

"Jadi harpa ini adalah, adalah..."

"Betul, harpa ini adalah milik keluargamu,"

Ujar Toan Kiamping.

"tapi legakan saja hatimu, meski aku mengambilnya. Kini kuundang kau kemari, maksudku hendak mengembalikan barang ini kepada pemiliknya."

"Kalau Siau-ongya suka pada harpa ini, seharusnya boleh kuberikan kepada Siau-ongya...!"

Demikian kata Tan Ciok-sing dengan ragu-ragu. Belum habis dia bicara, pelayan cilik tadi cekikikan, katanya.

"Lho, kenapa begitu, kalau kau tidak mengambilnya pulang, bukankah Siau-ongya menjadi pencuri malah?"

Toan Kiam-ping berkata.

"Aku tahu dalam hatimu pasti masih bertanya-tanya, bagaimana aku bisa mengambil barangmu dari hotel? Haha, Tan heng, jikalau tadi kau tidak mendengar petikan lagu harpaku tadi, belum tentu kau mau bertemu dengan aku?"

"Ini memang betul,"

Demikian batin Tan Ciok-sing. Sudah tentu dia rikuh mengucapkan, tanyanya.

"Masih satu hal yang belum kumengerti, mohon dijelaskan. Darimana Siau-ongya tahu aku punya harpa antik ini?"

"Sebelum datang ke hotel penginapanmu, aku memang tidak tahu,"

Sahut Toan Kiam-ping.

"aku memang sengaja mencarimu."

Tan Ciok-sing sudah membandek beberapa bagian, katanya. 'Sungguh merupakan suatu kehormatan besar. Tapi untuk keperluan apa Siau-ongya memerlukan datang ke hotel mencari diriku?"

"Tan-heng, jangan terlalu sungkan. Kalau sungkan berlebihan, berarti kau tidak menganggapku sebagai kawan. Panjang kalau diceritakan, tapi boleh secara ringkas kujelaskan, persoalan terletak pada kuda putih itu."

"Kuda putih ini memang bukan milikku,"

Ujar Tan Ciok-sing tertawa.

"Aku tahu. Kuda ini milik salah satu dari Kanglam Sianghiap yang bernama Ciong Bin-siu, betul tidak?"

"Kanglam Sianghiap?"

Tan Ciok-sing menegas.

"Lho, kau belum tahu asal-usul mereka? Di kota Hangciu terdapat dua keluarga besar persilatan. Keluarga Kwe dan keluarga Ciong. Kedua keluarga memangnya punya hubungan famili. Tuan muda keluarga Kwe bernama Kwe Bi-yang, dia punya Piaumoay yang bernama Ciong Bin-siu, meski masih berusia muda, namun di daerah Kanglam sudah angkat nama besar, maka mereka dijuluki Kanglam Sianghiap."

"Betul, kudengar mereka saling membahasakan Piau-hengmoay. Tapi kuda ini berhasil kurebut dari kawanan brandal, panjang juga kalau diceritakan..."

"Duduk persoalannya aku sudah tahu,"

Ujar Toan Kiamping.

"Darimana kau tahu?"

Tanya Tan Ciok-sing heran.

"Dua hari yang lalu Kanglam Sianghiap juga datang ke Tayli, mereka sudah bertemu dengan aku, mereka ceritakan di Ang-wa-poh kehilangan seekor kuda tunggangan, hari ini ada orang memberitahu kepadaku, katanya ada seorang pemuda pelancongan dari luar daerah menunggang seekor kuda putih, menginap di sebuah hotel di sebelah barat kota. Maka aku datang ke hotel itu mencarimu. Ciangkui bilang kau tamasya ke Jong-san, mungkin karena dia ingin mengambil hatiku, maka barang titipanmu diperlihatkan kepadaku. Aku kenal harpa antik ini, aku yakin anak keturunan Ki Harpa pasti tidak sekomplotan dengan kawanan brandal dari Ang-wa-poh."

Toan Kiam-ping menaruh hormat dan menghargai kakeknya, maka diapun yakin dan percaya bahwa dirinya pasti bukan orang jahat, maka timbul rasa kagum dan simpatik Tan Ciok-sing pada pangeran ini, maka dia lantas berkata.

"Siauongya, ada sebuah hal mohon kau suka membantu."

"Sekali bertemu seumpama sahabat lama, Tan-heng tak usah sungkan, silakan katakan."

"Kuda putih ini harap Siau-ongya suka merawatnya."

"Aku sudah berikan seekor kuda lain yang jempolan juga kepada Ciong-lihap, meski tidak sebanding kuda putih ini, kukira terpautnya juga tidak jauh. Kanglam Sianghiap sudah pergi kuda putih tertinggal disini tiada gunanya, kau akan menempuh perjalanan, boleh kau gunakan saja."

"Justru karena mereka sudah meninggalkan tempat ini, entah kapan baru akan bertemu mereka di Tayli, maka mohon bantuan Siau-ongya untuk menyerahkan kepada pemiliknya. Entah kapan suatu ketika mereka toh akan kemari lagi."

"Itu belum tentu, mungkin mereka kembali tanpa lewat Tayli. Umpama kembali mungkin sudah setahun berselang,"

Sejenak Toan Kiam-ping berpikir lalu bertanya.

"Tan-heng, maaf kalau aku kurang hormat, bolehkah aku tahu kemana tujuanmu?"

"Aku akan pergi ke Tay-tong-hu di San-he,"

"Sungguh kebetulan, Kanglam Sianghiap justru juga pergi ke Tay-tonghu."

"Mereka juga kesana? Konon tempat itu kini sedang berkecamuk peperangan?"

"Bukankah kau hendak kesana?"

"Ada urusan pribadi yang harus kuselesaikan, tidak bisa tidak aku harus kesana."

"Kecuali urusan mereka sendiri, merekapun mengemban tugas penting, maka mereka harus pergi kesana juga,"

Lalu dia menjelaskan pula, tentunya kau sudah tahu, pasukan Watsu sudah menduduki propinsi daerah barat negeri kita.

Tapi yakin gerakan laskar rakyat kita masih kuasa membendung mereka.

Kini pasukan besar Watsu dipusatkan diluar perbatasan Ganbun-koan, segala saat siap menyerbu ke Tionggoan.

Diluar Gan-bun-koan ada juga laskar rakyat yang dipimpin oleh Kimto Cecu Ciu San-bin.

Tujuan Kanglam Sianghiap adalah membantu mereka.

Kamipun akan hubungan dengan Kim-to Cecu untuk merancang cara bagaimana bergabung melawan penjajah."

Berpikir sebentar Tan Ciok-sing lalu berkata.

"Kalau demikian, terpaksa biar kuda ini tetap kubawa ke Tay-tong-hu untuk mencari mereka. Tapi..."

"Tapi apa?"

Tanya Toan Kiam-ping.

"Terus terang, baru kali ini aku berkecimpung di Kangouw, sama sekali tiada kenalan dengan kaum persilatan, dengan Kim-to Cecu sama sekali tiada hubungan, umpama aku bisa menghindari pasukan kuda musuh dan keluar dari Gan-bunkoan, mungkin tidak gampang uutuk bertemu dengan Kim-to Cecu."

Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

"Barisan Kim-to Cecu berada diluar Gan-bun-koan, konon sembarang waktu hijrah ke lain tempat. Dimana letak markas pusat mereka yang pasti aku dan Kanglam Sianghiap juga tidak tahu. Tapi, kau tidak perlu mencari Kim-to Cecu, setiba di Tay-tong, yakin kau dapat mencari tahu berita mereka."

"Tay-tong-hu tentunya merupakan kota besar dalam situasi genting bagaimana bisa mencari kabar?"

"Ada seorang pendekar yang tersohor bernama In Hou, tentunya kau pernah mendengar nama besarnya?"

Tanya Toan Kiam-ping. Tan Ciok-sing terperanjat, katanya.

"Meski aku cetek pengalaman, namun nama besar In Tayhiap tentu pernah kudengar."

Berkata Toan Kiam-ping lebih lanjut.

"Paman In Hou adalah jago pedang nomor satu yang diakui dunia sejak tiga puluh tahun yang lain, namanya Thio Tan-hong. Thio Tayhiap dulu ada hubungan intim dengan kakekku, pernah menginap beberapa hari di rumahku. Oleh karena itu setiap kali In Tayhiap berada di In-lam, beliau pasti berkunjung ke rumahku. Terakhir kali kira-kira tiga tahun yang lalu, akhirnya entah kenapa sampai sekarang tak pernah kudengar beritanya lagi, entah dia sudah pulang ke rumahnya?"

Sudah tentu Tan Ciok-sing tahu bagaimana nasib yang menimpa In Hou.

Tapi karena dia baru saja kenal Toan Kiamping, maka rahasia kematian In Hou tak berani dia ceritakan.

Toan Kiam-ping berkata lebih lanjut.

"Tapi umpama In Tayhiap belum pulang, putrinya pasti ada di rumah. Oh ya, aku lupa beritahu padamu, In Tayhiap hanya punya seorang putri, namanya In San. Nona In pernah beberapa kali berkunjung ke rumah kami."

Sampai disini pelayan cilik itu tiba-tiba cekikikan pula, timbrungnya.

"Siau-ongya, tentunya kau tak pernah melupakan nona manis itu."

Merah muka Toan Kiam-ping, semprotnya.

"Hus budak cilik campur bicara, kami sedang berunding tahu!"

Pelayan itu melelet lidah terus mendekap mulut menahan geli. Toan Kiam-ping berkata pula.

"Setiba di Tay-tong. Kanglam Sianghiap pasti berkunjung dulu ke rumah keluarga In. Syukur bila In Tayhiap ada di rumah, beliau pasti berusaha bantu kalian menemukan Kim-to Cecu. Jikalau tiada, nona In pasti punya akal untuk membantu. Hanya yang di kuatirkan bila disana sudah terjadi peperangan, nona In terpaksa sudah pindah atau mengungsi. Tapi apapun yang terjadi, setiba kau di Tay-tong boleh kau berusaha mencarinya. Kuharap kau dapat menemukan dia, dari dia pasti kau memperoleh berita Kanglam Sianghiap."

"Baiklah, pasti kuusahakan menemukan nona In, adakah pesanmu untuk kusampaikan kepadanya?"

Tanya Tan Cioksing. Pelayan cilik itu cekikikan pula selanya.

"Betul siapa tahu di tengah jalan Kanglam Sianghiap mengalami sesuatu sehingga membatalkan keberangkatannya ke Tay-tong. Siau-ongya, kau pun ada orang lain yang dapat mengirim berita padanya."

Jengah muka Toan Kiam-ping, omelnya.

"Kau semakin tidak tahu aturan, jangan menimbrung lagi,"

Lalu dia berpaling katanya kepada Tan Ciok-sing.

"Baiklah, Tan-heng, aku titip sebuah pesan untuknya, bila dia ingin ngungsi kami akan menyambutnya di Tayli."

Entah mengapa tiba-tiba hati Tan Ciok-sing merasa kecut, batinnya.

"O, kiranya Siau-ongya ini sejauh ini tidak mau menikah karena diam-diam menaksir nona In itu."

Nona In atau putri In Hou boleh dikata tidak pernah dikenalnya, gadis yang masih asing tapi seperti juga familinya yang paling dekat.

Sebelum ajal In Hou pernah berpesan supaya dirinya mencari putrinya itu, beliau mengharap dirinya bisa bergaul rapat dan seintim saudara sepupu sendiri, malah gurunya Thio Tan-hong mewariskan Pek-hong-kiam dan Cengbing-kiam yang dulu merupakan senjata andalan mereka suami istri, kepada dirinya dan putri In Hou, harapan beliau memang tidak diutarakan secara gamblang, tapi Tan Ciok-sing maklum kemana juntrungan gurunya.

Tapi sekali-kali Tan Ciok-sing tidak berani mempunyai pikiran yang tidak genah atau muluk-muluk, tapi kini setelah tidak sengaja tahu bahwa Siau-ongya ini menaksir In San, mau tidak mau hatinya menjadi hambar.

Sukar menjelaskan perasaan ganjil ini, entah itu iri, cemburu atau jelus, tapi terselip pula perasaan senang, kesadarannya lebih menang memerangi batinnya.

"Putri In Tayhiap merupakan pasangan setimpal dengan Siau-ongya. Sepantasnya aku menghaturkan selamat pada mereka, jikalau hal ini kelak betul-betul menjadi kenyataan, pasti di alam baka In Tayhiap akan senang dan terhibur hatinya."

Melihat orang melongo, Toan Kiam-ping bertanya.

"Tanheng, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak apa-apa, kupikir tidak akan pulang ke hotel lagi. Siau-ongya, tolong kau bayarkan rekening hotelku,"

Sembari bicara dia merogoh kantong hendak mengambil uang. Toan Kiam-ping tertawa, katanya.

"Sudah kulunasi seluruhnya, ongkos tidak seberapa, tidak usah kau sungkan. Cuma kenapa kau begini tergesa-gesa meninggalkan Tayli? Marilah mampir ke rumahku menginap barang dua malam."

"Tidak usahlah, perang tengah berkecamuk di perbatasan, pesan Siau-ongya juga tidak boleh tertunda, biarlah aku segera berangkat saja,"

Maklum dia ingin selekasnya merampungkan pesan In Hou dan gurunya.

"Begitupun baik,"

Kata Toan Kiam-ping sesaat kemudian.

"kuharap sekembalimu kelak, kau bisa ngobrol beberapa hari denganku,"

Laju perahu masih tetap kencang, daratan sudah kelihatan tak jauh di depan sana Toan Kiam-ping berkata pula.

"Tan-heng, sebelum berpisah sudikah kiranya kau membawakan sebuah petikan lagu supaya aku bisa menikmati petikan harpamu?"

"Kalau Siau-ongya suka mendengarkan, baiklah aku pamer sedikit kebodohanku, mohon tidak ditertawakan,"

Lalu Tan Ciok-sing duduk bersimpuh dan mulai menyetem senar serta mulai memetik harpanya.

Lagu yang dibawakan adalah lagu perjuangan bangsa melawan penjajah, begitu asyik dan semangatnya dia membawakan lagu dengan sepenuh hati dan pikiran.

Baru saja habis petikan lagu harpanya mendadak terasa dadanya kesemutan.

Maklum di Ang-wa-poh dia melabrak kawanan brandal, dia sendiri juga terkuras hawa murninya, sampai kini belum pulih seluruhnya, karena tenggelam dalam petikan lagu perjuangannya sehingga darah bergolak pikiran berkobar semangatpun menyala, hati dan irama lagu berpadu, sehingga tanpa disadari darahnya mendidih dan menggumpal di rongga dada sehingga napas menjadi sesak.

Tanda-tanda jelek ini harus lekas diusahakan penyembuhannya, kalau terlambat mungkin membawa akibat yang fatal kelak.

Baru saja Tan Ciok-sing hendak bersemadi mengerahkan hawa murni, mendadak terasa punggung leher, pundak dan dadanya sekaligus kesemutan.

Jari Toan Kiamping bergerak secepat angin dengan kemahiran ilmu tutuknya, tiga hiat-to di tubuhnya dalam sekejap telah ditutuk.

Toa-ciuhiat di punggung leher, Kin-gan-hiat di pundak dan Hian-kihiat di dada.

Bukan main kejut Tan Ciok-sing, dia kira Siau-ongya membokong di kala dirinya dalam keadaan kritis.

Tak nyana rasa kesemutan tadi hanya sebentar saja, tahu-tahu dari hiatto yang tertutuk ini timbul arus hangat yang mengalir ke seluruh badan sehingga segar dan nyaman.

"Maaf Tan-heng akan tindakanku yang gegabah ini,"

Kata Toan Kiam-ping.

"kulihat hawa murnimu seperti tersumbat, urat nadi harus segera diperlancar jalannya, maka tak sempat memberitahu lebih dulu, aku memberanikan bantu kau menyembuhkan luka-lukamu dengan It-ci-sian-kang. Tanheng tak usah kuatir It-ci-sian-kang ajaran keluargaku ini jauh berbeda dengan ilmu Tiam-hiat dari aliran umumnya, kalau ilmu tutuk aliran lain peranti melukai orang, adalah It-ci-siankang warisan keluargaku ini khusus untuk menyembuhkan penyakit, jelasnya untuk menolong orang. Bermanfaat bagi kesehatan badan."

Sesaat lagi terasa oleh Tan Ciok-sing badannya memang semakin fit, semangatnya berkobar lebih menyala dari sebelumnya.

Ternyata penjelasan Toan Kiam-ping memang bukan bualan belaka sudah tentu hatinya amat senang dan berterima kasih.

Diam-diam dia kagum juga akan ilmu Tiamhiat orang yang begini hebat.

Bahwasanya dengan bekal kepandaian Tan Ciok-sing, sekarang jikalau dia bersiaga, tak mungkin Toan Kiam-ping dapat menutuk hiat-tonya, namun karena kejadian diluar dugaan, dalam sesingkat itu Toan Kiam-ping mampu sekaligus menutuk tiga hiat-to, jelas kepandaiannya pun boleh dibanggakan.

"Tak heran didalam memberikan komentar dan analisanya tentang berbagai aliran persilatan, Suhu menonjolkan ilmu Tiam-hiat dari keluarga Toan di Tayli sebagai ilmu nomor satu yang tiada bandingannya memang tidak bernama kosong,"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

It-ci-sian-kang ternyata memang mujijat dan menakjubkan, bukan saja dirinya terhindar dari bahaya luka dalam, semangat dan kesehatan badannya malah berlipat lebih meyakinkan.

Maklum setelah hawa murninya terganggu, meski dapat bersemadi mengerahkan Iwekang, mengontrol pernapasan mengendalikan arus tenaga menembus urat nadi, maka kesehatannya takkan banyak terganggu.

Tapi dia sendiri tidak yakin apakah dengan cara penyembuhan ini kesehatannya dapat pulih seluruhnya umpama dapat disembuhkan takkan secepat ini.

Saking kagum kembali Tan Ciok-sing menghaturkan terima kasih.

"Tan-heng memang tidak malu sebagai murid didik dari guru kenamaan, petikan harpamu ternyata tidak asor dibanding kakekmu dulu. Meski badan kurang sehat kau masih sudi memetik harpa untuk menghibur hatiku, justru akulah yang harus berterima kasih padamu. Tiada sesuatu yang dapat kuberikan sebagai balasan, untuk ini harap Tan-heng suka terima tanda kenang-kenangan yang tidak berarti ini,"

Sembari bicara dia mengeluarkan secarik kertas yang penuh ditulisi huruf-huruf kecil.

"Di atas kertas ini ditulis cara bagaimana menyembuhkan luka atau penyakit dengan It-ci-sian-kang, harap Tan-heng suka menerimanya. It-ci-sian-kang sebetulnya juga dapat untuk melukai orang, tapi dengan bekal kepandaian Tan-heng tentunya takkan sudi mempelajari kepandaian yang tidak berarti ini, maaf kalau aku tidak mencatatnya di atas kertas ini."

Tan Ciok-sing kaget, katanya.

"Mana berani aku terima tanda kenang-kenangan sebesar ini dari Siau-ongya?"

"Banyak bahaya yang harus kau hadapi dalam perjalanan ini Tan-heng,"

Kata Toan Kiam-ping.

"umpama tidak diperlukan, untuk menolong orang juga baik. Tan-heng pertemuan kita kali ini memang terlambat, sukalah kau dengar perkataanku, apalagi kau mau terima titipan pesanku. Barang tak berarti begini sebagai tanda penghargaanku kepadamu. Kalau kau tak mau terima, sungguh aku kurang enak hati malah."

Melihat sikap tulus orang terpaksa Tan Ciok-sing menerimanya. Sementara itu perahu sudah merapat dermaga.

"Seribu li mengantar sahabat akhirnya berpisah juga,"

Demikian ucap Toan Kiam-ping.

"kini biarlah aku pinjam harpamu untuk mengantar keberangkatan Tan-heng dengan sebuah lagu perpisahan. Harap Tan-heng memberi petunjuk."

"Siau-Ongya terlalu sungkan,"

Kata Tan Ciok-sing.

Toan Kiam-ping mulai memetik harpa, pelayan cilik itu bernyanyi.

Rawan dan masgul perasaan Tan Ciok-sing menjelang perpisahan ini, meski baru beberapa jam berselang persahabatan mereka, namun terasa betapa luhur dan tinggi budi pekerti persahabatan sepasang pemuda yang sama-sama gagah perkasa berjiwa patriot ini.

Setelah naik di daratan Tan Ciok-sing mohon diri terus cemplak kuda putih berpisah dengan Toan Kiam-ping.

Toan Kiam-ping berdiri mendelong mengawasi kepergian orang.

Perjalanan dari Tayli di In-lam ke Tay-tong sungguh merupakan jarak yang tidak dekat, naik gunung menyebrang sungai masuk selat keluar dari daerah rawa-rawa, kalau orang biasa mungkin harus ditempuh setahun lamanya.

Untung kuda putih ini memang kuda jempolan, dalam jangka satu bulan dia sudah memasuki Jwan-se, lewat Han-tiong masuk Siam-pak terus memasuki propinsi Sian-he.

Setelah tiba di Gin-lin, sepanjang jalan sering dia bertemu dengan kelompokkelompok pengungsi.

Dari penjelasan para pengungsi itu Tan Ciok-sing mendapat tahu bahwa pasukan besar Watsu sudah semakin mendekati Gan-bun-koan, tapi Tay-tong-hu masih berada di tangan pemerintah, legalah hati Tan Ciok-sing.

Beberapa hari perjalanan lagi, kaum pengungsi yang ditemui semakin jarang, mungkin mereka yang bisa lari sudah habis mengungsi ke tempat lain, tetap tinggal hanyalah nenek-nenek atau kakek dan bocah-bocah kecil yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk menunggu nasib yang bakal menimpa di rumah sendiri.

Hari itu dia mulai beranjak di daerah Yan-ji-san,.

Yan-ji-san terletak di barat daya Tan-hong, setelah melewati gunung ini, kira-kira tujuh puluh li lagi akan tiba di tempat tujuan.

Karena ingin cepat-cepat sampai, sengaja Tan Ciok-sing menempuh jalan pegunungan yang banyak menyingkat waktu dan memperpendek perjalanan, dengan kekuatan lari kuda putih ini, yakin sebelum petang nanti dia sudah akan tiba di Tay tong.

Di kala dia mencongklang kudanya di jalan pegunungan yang tidak rata ini, tiba-tiba dilihatnya di kaki gunung sana ada sebaris tentara, jumlahnya hanya belasan saja, semua menunggang kuda.

Barisan kuda ini mencongklang kuda mereka di padang rumput nan luas dan lapang, mereka berdendang dan bernyanyi lagu perjuangan yang terdengar gagah dan berpadu penuh semangat, namun Tan Ciok-sing tak tahu lagu perjuangan apa yang mereka nyanyikan.

Setelah agak dekat baru kelihatan seragam pakaian dan bendera yang; berkibar.

Ternyata mereka bukan barisan tentara kerajaan Bing, tapi barisan tentara asing.

Tan Ciok-sing betul-betul kaget, sungguh tak nyana disini kesampok dengan sepasukan kuda Watsu.

"Mungkinkah Taytong sudah diduduki musuh?"

Apakah kali ini dia dapat menunaikan tugas dengan baik, hal ini membikin hatinya kebat-kebit.

Tak kira masih ada pula kejadian yang lebih mengejutkau lagi.

Mendadak barisan kuda itu menghentikan kudanya serta berpencar, lagu tidak dinyanyikan lagi, ada beberapa orang melompat turun dari punggung kuda.

Dari ketinggian Tan Ciok-sing dapat saksikan kejadian di bawah sana dengan jelas, kini didapatinya bahwa barisan Watsu ini ternyata tengah mengudak seorang Han, kini mereka sudah mcnyandak yang dikejarnya, maka beberapa orang Watsu itu lompat turun hendak membekuknya.

Orang itu berperawakan kecil sedikit kurus, usianya kelihatan masih muda, dari kejauhan kurang jelas.

Tapi jelas keadaannya bagai burung yang sudah ketakutan melihat bidikan panah, dia lari sana trobos sini.

Orang-orang Watsu itu berkaok dan membentak gusar, cepat sekali mereka telah mengepungnya dan akan membekuknya hidup-hidup.

Disini kelihatan betapa besar jiwa patriotik Tan Ciok-sing melihat bangsa sendiri terancam dan menjadi bulan-bulanan kaum penjajah, darah terasa mendidih di dada, segera dia kempit perut kuda serta membedalnya turun gunung.

Kuda putih meringkik panjang, laksana angin lesus cepat sekali sudah berpacu di tanah datar.

Tapi dalam jangka waktu singkat ini situasi di bawah sana ternyata sudah berbeda sekali.

Hampir Tan Ciok-sing tidak berani percaya akan apa yang dilihat matanya.

Orang Han itu adalah pemuda bertubuh kecil agak kurus bermuka kotor, pakaiannya masih terhitung rapi.

Agaknya dia sengaja mengotori muka sendiri supaya tidak menjadi perhatian orang sehingga mudah untuk lari atau mengungsi.

Pemuda yang mirip pelajar ini ternyata memegang golok dan kini sedang memutarnya kencang.

Di waktu Tan Ciok-sing tiba di kaki gunung, kebetulan dia melihat pemuda itu tengah membacok roboh seorang tentara Watsu yang bertubuh kekar dan gagah.

Di bawah kakinya kelihatan dua sosok mayat pula tiga orang Watsu yang lain tampak berlari menyingkir dengan membawa luka.

Tampak oleh Tan Ciok-sing gerakan bacokan tadi begitu lincah mantap dan tangkas sekali.

Tapi yang membikin Tan Ciok sing heran bukan karena permainan golok si pemuda yang liehay seperti ini, tapi ilmu golok yang di mainkan itu amat hapal dan dikenalnya dengan baik.

Bacokan golok si pemuda tadi didalam jurus sembunyi tipuan, didalam gerakan ketambah variasi, tidak mengejar kemenangan dengan serangan membabi buta tapi lebih dulu bertahan membela diri, jelas jurus yang dimainkan pemuda ini adalah salah satu jurus dari ilmu golok keluarga In yang bernama Yan-can-pat-hong-ciang-to-sek, jurus ini peranti menghadapi keroyokan musuh yang berjumlah banyak, tapi jurus Ciang-to-sek yang berhasil dipelajari Tan Ciok-sing dari buku peninggalan In Hou, ternyata sedikit berbeda dengan jurus yang dimainkan oleh si pemuda.

Ciang-to-sek didalam buku lebih keras dan merupakan serangan gencar, sebaliknya permainan Ciang-to-sek si pemuda ini kelihatan lebih lembut dan kurang tenaga, didalam permainan ilmu goloknya seperti dikombinasikan dengan gerakan jurus pedang nan lincah dan gesit, jelas berbeda dari kemurnian ajaran ilmu golok keluarga In.

Tan Ciok-sing hanya tahu bahwa In Hou punya seorang putri, tanpa murid seorangpun.

Kini mendapat melihat pemuda ini pandai juga memainkan jurus yang amat dikenalnya ini, karuan dia melongo keheranan.

Diam-diam dia lantas membatin.

"Mungkin pengetahuanku ini yang masih cetek, dunia yang sebesar ini, bukan mustahil suatu aliran persilatan memiliki ilmu golok yang hampir mirip dengan ilmu golok keluarga In, atau kemungkinan pula merupakan kembangan yang berhasil dicangkok dari ilmu golok keluarga In?"

Maklum In Hou adalah pendekar besar yang tersohor di segala penjuru angin, adalah logis kalau ilmu goloknya pernah disaksikan orang banyak.

Maka masuk di akal juga kalau Tan Ciok-sing mempunyai analisa begini.

Enam tentara Watsu yang mengeroyok si pemuda sudah tiga mati luka-luka, dua orang lagi masih bercokol di atas kuda melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, lekas mereka keprak kuda berpencar arah, seorang memapak kedatangan Tan Ciok-sing, seorang lagi menerjang ke arah pemuda.

Di kala Tan Ciok-sing tertegun itulah, mendadak dirasakan angin bersiur di belakang kepalanya, tahu-tahu Long-ge-pang perwira Watsu itu sudah mengemplang tiba.

Sekilas masih sempat dilihat oleh Tan Ciok-sing, sekali membacok balik si pemuda kembali berhasil membacok roboh seorang musuh, sekali raih dia rampas pula sebatang Ceng-tong-cian terus ditimpuk kc arah perwira yang membokong Tan Ciok-sing, teriaknya memperingatkan.

"Awas saudara."

Tujuan Tan Cioksing hendak menolong orang, kini berbalik orang yang menolong dirinya malah.

Meski takjub mengawasi permainan ilmu golok si pemuda sehingga perhatian Tan lok-sing terpecah, namun bekal kepandaiannya sekarang sudah termasuk tinggi dibanding tokoh silat kelas satu, meski dibokong secara reflek dia masih mampu bertahan dan balas menyerang.

Pada detik-detik yang gawat itu, terdengar "Trang"

Yang nyaring diseling suara "Cras"

Pula. Suara "trang"

Yang nyaring itu karena Seng-tongcian timpukan si pemuda dengan tepat membentur Long-gepang si perwira, sementara suara "Cras"

Itu adalah hasil tabasan pedang Tan Ciok-sing yang memenggal kepala si perwira, darah menyembur tinggi ke angkasa.

Kuda putih tunggangan Tan Ciok-sing ternyata cerdik pandai gagah pula, dalam sekejap itu, Tan Cok-sing menjepit perutnya pula, agaknya tahu maksud majikannya, kuda putih segera menerjang maju dengan lompatan jauh ke depan laksana panah meluncur mengudak ke arah si perwira yang menerjang ke arah si pemuda.

Baru saja si pemuda berpaling hendak memenggal kepala si perwira ini, dilihatnya bayangan putih berkelebat, kuda putih sudah melesat di samping tubuhnya, tahu-tahu perwira itu pun sudah terjungkal jatuh tanpa kepala lagi.

Dua tentara Watsu yang masih selamat karuan ketakutan setengah mati, lekas mereka angkat langkah seribu.

Si pemuda tidak hiraukan musuh yang melarikan diri, kedua mata menatap Tan Ciok-sing lekat-lekat.

Tan Ciok-sing kira orang memperhatikan kuda tunggangannya, maka dia melompat turun serta memberi hormat, katanya.

"Kepandaian saudara sungguh liehay, Siaute tidak tahu diri, bikin tertawaan saudara saja."

"Kepandaianmu juga hebat,"

Ujar si pemuda tawar.

"pedangmu itu lebih hebat lagi."

Sikapnya yang tawar serba kaku lagi, bukan saja tidak nyatakan terima kasih, diapun tidak membalas hormat. Heran Tan Ciok-sing dibuatnya, katanya.

"Maaf kalau aku kurang hormat, mohon tanya siapa nama besar saudara, apakah kau lari dari Tay-tong?"

Tidak menjawab, si pemuda malah balas bertanya.

"Siapa kau?"

"Aku she Tan bernama Ciok-sing, tolong tanya..."

Mendengar nama Tan Ciok-sing seketika berobah air muka si pemuda, belum selesai dia bicara, tahu-tahu.

"Sret"

Golok si pemuda telah menabas dirinya.

Mimpipun Tan Ciok-sing tidak mengira si pemuda malah membalas kebaikannya dengan serangan golok yang mematikan ini, karena tidak menduga dan tiada siaga hampir saja lehernya tertabas.

Untung reaksinya cukup cekatan dia masih sempat berkelit.

Teriaknya dengan darah tersirap.

"Sebelum ini aku tidak pernah mengenalmu, umpama aku terlalu campur tangan, maksud kan baik terhadapmu, kenapa kau hendak membunuhku?"

Sekali tabasannya luput, menyusul si pemuda memberondong lagi tiga jurusan serangan terpaksa Tan Cioksing kembangkan permainan Khong-jiu-jip-pek-to untuk melayaninya, namun dia tidak pecah perhatian untuk ajak bicara lagi.

Sekejap mata mereka telah saling labrak lima puluhan jurus, sejauh ini Tan Ciok-sing tidak mampu merebut golok orang, pemuda itu juga tidak mampu melukai Tan Ciok-sing.

Diam diam Tan Ciok-sing menaruh perhatian, terasa permainan golok orang memang mirip ilmu golok keluarga In.

Lama kelamaan tergerak hati Tan Ciok-sing, tiba-tiba dia menyerempet bahaya menyelinap maju dengan gerakan berani ujung jari tengahnya menyentik punggung golok si pemuda di kala gerakan si pemuda belum dilancarkan cepat cepat dia melompat keluar kalangan, katanya.

"Berhenti, berhenti. Pernah apa kau dengan In Tayhiap?"

Tapi si pemuda tidak mau berhenti, mukanya tampak beringas, sorot matanya pun menyala bengis, bentaknya.

"Berani kau menyebut nama besar In Tayhiap, kalau hari ini bukan aku yang gugur, kaulah yang mampus."

"Ke... kenapa?"

Tanya Tan Ciok-sing gelagapan dan bingung, tahu-tahu sinar golok menyilaukan mata, serangan golok si pemuda semakin ganas setiap serangan mengincar tempat mematikan di tubuhnya.

Karena sibuk melayani rangsakan di pemuda Tan Ciok-sing tidak sempat berusaha lagi.

"Perbuatanmu sendiri masa kau tidak tahu,"

Hardik si pemuda, badan berputar mengikuti gerakan golok.

"Cret"

Dimana goloknya menyamber pakaian Tan Ciok-sing kena ditabasnya sobek memanjang.

Diam-diam si pemuda merasa "Sayang", tabasannya ini dia kira bisa melukai tulang pundak Tan Ciok-sing.

Situasi semakin gawat dan berbahaya bagi dirinya, terpaksa Tan Ciok-sing harus melolos pedang untuk membela diri.

Setelah pedang di tangan, lebih leluasa dan santai saja, Tan Ciok-sing melayani serbuan lawan, dengan sejurus Samcoan-hoat-lun, dengan mudah dia punahkan serangan berantai si pemuda.

Tan Ciok-sing membawa dua bilah pedang Pek-hong-kiam dan Ceng-bing-kiam, Pek-hong-kiam tadi sudah dia gunakan menabas mati si perwira, kini entah sengaja atau karena keripuhan menghadapi serangan golok lawan, dia mencabut Ceng-bing-kiam.

Si pemuda tadi sudah perhatikan Pek-hongkiam yang dia pakai, kini melihat dia melolos Ceng-bing-kiam, maka perhatiannya semakin besar, setelah lebih diteliti, Cengbing-kiam ini seperti pedang yang sudah dikenalnya baik, karuan hatinya semakin kejut dan gusar.

Kepandaian si pemuda ternyata memang cukup tinggi, tapi cukup bagi Tan Ciok-sing mengembangkan Bu-bing-kiam-hoat, adalah gampang kalau dia mau mengalahkan si pemuda.

Tapi Tan Ciok-sing masih bimbang, dia kuatir bila kurang hati-hati bisa melukai si pemuda.

Semula dia balas menyerang untuk mempertahankan diri maksudnya supaya si pemuda tahu diri dan mundur teratur.

Tak nyana si pemuda justru tidak hiraukan lagi mara bahaya yang mengancam.

Apa boleh buat terpaksa Tan Ciok-sing patahkan saja semua serangan lawan.

Sedapat mungkin dia berusaha tidak melukai lawan tapi juga harus berjaga supaya tidak dilukai, maka dapatlah dibayangkan betapa sukar dan berat usahanya ini.

Beberapa kejap lagi Tan Ciok-sing berpikir.

"Sebodoh-bodohnya mestinya dia tahu aku menaruh belas kasihan padanya. Aneh, kenapa dia seperti mau adu jiwa dengan aku?"

Si pemuda tidak bodoh, diapun tidak gegabah, dia pun sedang berpikir.

"Aneh, kenapa bangsat ini menaruh belas kasihan padaku? Ya, mungkin sengaja dia masih berpura-pura jadi orang baik untuk menipuku."

Setelah punahkan serangan orang Tan Ciok-sing berkata.

"Saudara, aku tidak tahu kau pernah apa dengan In Hou, tapi kalau kau memanggilnya In Tayhiap, umpama bukan murid didiknya, tentunya kaupun seorang yang pengagumnya. Kenapa tidak kita bicara blak-blakan saling menerangkan? Bicara terus terang, aku ada sedikit hubungan dengan In Tayhiap."

"Kau ada hubungan apa dengan dia?"

Jengek si pemuda.

"Beritahu dulu apa hubunganmu dengan In Tayhiap, nanti kujelaskan apa yang aku tahu kepadamu."

Pemuda itu menjengek.

"Apa yang pernah kau lakukan aku sudah tahu, tidak perlu kaujelaskan lagi padaku."

"Kau tahu tentang apa?"

Tanya Tan Ciok-sing heran. Tiba-tiba si pemuda mencabut keluar sebatang pedang, dengan pedang di tangan kanan golok di tangan kiri dia menusuk dan menabas ke arah Tan Ciok-sing, bentaknya.

"Aku tahu kau adalah keparat yang mencelakai In Tayhiap dengan racun."

Enteng gerakan pedang, golok bergaya berat dan keras, dua tangan memainkan dua macam senjata yang berbeda dengan jurus permainan yang berlainan pula, sebetulnya merupakan permainan kombinasi yang amat sukar, tapi pemuda ini justru dapat menggabungkan keras dan lunak dalam gerakan yang serasi.

Bu-bing-kiam-hoat Tan Ciok-sing memang peranti untuk menghadapi serangan yang banyak perubahan dan variasinya, namun dia toh hampir kecundang.

Terpaksa dia tumplek perhatian, serangan lawan dia punahkan secara enteng, katanya.

"Bukan aku ingin mengagulkan diri, tapi apa yang kulakukan justru terbalik dari tuduhanmu. In Tayhiap memang terbunuh oleh oYang jahat yang licik, tapi akulah orang yang pernah menolongnya. Walau aku sudah berusaha sekuat tenaga hendak menolong jiwanya, sayang usahaku tidak berhasil."

Mendengar Tan Ciok-sing menyinggung kematian In Hou, amarah si pemuda memuncak sampai tidak kuasa bicara, akhirnya dia mendamprat dengan suara gemetar.

"Kau keparat ini, kau bisa menipu orang lain, jangan harap kau bisa menipuku. Memang, dengan bekal kepandaianmu secetek ini tak bakal dapat mencelakai jiwa ln Tayhiap, tapi kau justru memungut keuntungan di kala dia dalam keadaan susah, membantu musuh berbuat kejahatan, itu berarti pula yang mencelakai jiwanya,"

Mulut bicara tangan tak pernah kendor, pedang menusuk golok menabas, serangannya merabu semakin keji.

"Aku membantu kejahatan?"

Dengus Tan Ciok-sing gusar.

"aku mencelakai In Tayhiap? Siapa yang bilang kepadamu?"

Sedikit lena "Cret"

Kembali bajunya tergores sobek, hampir saja pundaknya tertusuk pedang lawan. Melihat sedemikian besar rasa permusuhan si pemuda terhadap dirinya, diamdiam dia mencari akal.

"Kujelaskan juga dia takkan mau percaya,"

Tiba-tiba tergerak pikirannya, golok pusaka milik In Hou segera dia keluarkan, katanya.

"Baiklah biar kugunakan ilmu golok keluarga In mohon pengajaranmu,"

Dia meniru permainan si pemuda, golok di tangan kiri pedang di tangan kanan, maka terjadilah serang menyerang yang sengit. Melihat golok pusaka itu, mendelik membara bola mata si pemuda, bentaknya.

"Bangsat keparat, katamu bukan kau yang mencelakai In Tayhiap, bagaimana golok In Tayhiap bisa berada di tanganmu?"

"Dia sendiri yang menyerahkan kepadaku, dia titip supaya aku menyerahkan kepada sanak keluarganya. Tentunya kau tahu seluk beluk keluarganya..."

"Siapa percaya obrolanmu?"

Damprat si pemuda murka, sebelum Tan Ciok-sing bicara habis kembali dia mendesak dengan serangan gencar pula.

Sejauh ini Tan Ciok-sing mulai menduga bahwa pemuda ini pasti ada hubungan erat dengan keluarga ln, asal dia bisa menyebut nama putri In Hou, tak jadi soal aku serahkan golok ini kepadanya supaya disampaikan.

Tak kira setelah melihat golok pusaka ini, si pemuda malah semakin beringas dan memandangnya seperti musuh buyutan.

Apa boleh buat akhirnya Tan Ciok-sing berkeputusan untuk mengalahkan dia lebih dulu.

Selama tiga tahun menggembleng diri di Ciok-lin, Bu-bing-kiam-hoat tingkat terakhir pun telah berhasil diyakinkan, adalah jamak kalau taraf permainan ilmu golok keluarga In yang dipelajarinya juga sudah keliwat matang.

Kalau diukur jelas lebih unggul dari si pemuda.

Dengan golok melawan golok, pedang menghadapi pedang, Tan Ciok-sing berhasil menekan rangsakan kedua senjata lawan.

Belasan jurus kembali telah lewat, si pemuda jelas sudah ditekannya di bawah angin hanya mampu membela diri tak kuasa balas menyerang.

Mendapat angin Tan Ciok-sing tertawa dingin, katanya.

"Golok dapat kurebut atau kucuri, tapi ilmu golok ini memangnya bisa kucuri. Ketahuilah, karena ingin membalas budi kebaikanku yang telah menolong jiwanya, maka In Tayhiap sudi mengajarkan ilmu golok ini kepadaku?"

"Ajaran ilmu golok memang tidak bisa dicuri, memangnya buku ajaran ilmu goloknya itu tidak bisa kau curi? Sayang, berdasar ajaran buku ilmu golok itu kau belajar sendiri tanpa izin, memangnya kau kira permainan golokmu ini boleh dibanggakan,"

Entah karena terlalu banyak bicara, gerakan goloknya ternyata menunjukkan sebuah titik lobang kelemahan.

Tan Ciok-sing sudah naik pitam, punggung golok tiba-tiba membalik dengftn gerakan serupa dia merangsek maju menekan turun golok perak si pemuda, jengeknya.

"Cara bagaimana baru terhitung mahir dan patut dibanggakan?"

Dalam jangka sepercikan api ini, golok perak si pemuda tiba-tiba membalik turun, gerakan Siang-jiu-to yang sebetulnya menjojoh ke atas tiba-tiba dia tabaskan ke bawah dalam tiga jalan dengan tipu He-jiu to, bentaknya.

"Perubahan ini kau tidak mampu, masih berani kau ngapusi aku bilang In Tayhiap mengajar langsung kepadamu?"

Tajam golok menabas secepat kilat, tahu-tahu Tan Cioksing rasakan lututnya silir, ternyata celananya terpapas sebesar mulut cangkir, kalau dia tidak menyurut mundur, hampir saja lututnya tertabas kutung.

Dalam detik-detik berbahaya ini, Tan Ciok-sing tidak sempat banyak pikir lagi, pedang di tangan kanan segera balas menyerang, secara reflek dia lancarkan tipu pedang yang paling liehay dari Bu-bing-kiam-hoat untuk mematahkan serangan lawan tanpa hiraukan keselamatan lawan lagi.

"Trang"

Golok perak si pemuda tahu-tahu kutung jadi dua, gerakan pedang Tan Ciok-sing ternyata masih terus melaju, sekali pelintir dan sendai Ceng-kong-kiam yang dipegang si pemuda kena diketuknya lepas dan terbang ke tengah udara.

Kalau si pemuda amat kaget, tak kalah kagetnya pula Tan Ciok-sing sendiri.

Untung pemuda itu tidak terluka, baru lega hati Tan Ciok-sing, lekas dia menarik golok dan pedang lantas dimasukan ke sarungnya, bentaknya.

"Siapa kau sebetulnya?"

Setelah mendapat warisan murni ajaran Kungfu Thio Tanhong baru Tan Ciok-sing berhasil mempelajari ilmu golok keluarga In secara menyeluruh.

Bicara soal kemahiran memang dia lebih unggul, tapi dinilai kemurnian ajarannya, jelas pemuda ini lebih matang.

Ini dapat dibuktikan dari permainannya pada jurus terakhir barusan.

Tidak menjawab si pemuda mendadak melejit tinggi, dengan gerakan Yan-cu-sam-jau-cui Tiga Kali Burung Walet Menutul Air, beberapa kali lompatan berjangkit tahu-tahu dia mencemplak ke punggung kuda putih.

Semula Tan Ciok-sing kira orang hendak melarikan diri, setelah melihat menunggang' kudanya baru dia terkejut, lekas dia bersiul pikirnya hendak mengundangnya kembali.

Biasanya kuda putih ini amat penurut pada dirinya, kini entah mengapa, dia tidak lagi tunduk akan perintahnya.

Tanpa melawan dia diam saja si pemuda menunggang di punggungnya terus kabur secepat angin malah.

Heran dan rasa curiga berkecamuk dalam benak Tan Cioksing, pikirnya.

"Pemuda ini pasti anak didik langsung dari In Tayhiap. Tapi suhu pernah bilang bahwa dia hanya mewariskan ilmu goloknya kepada putrinya saja, memangnya siapa dan darimana pemuda ini mempelajari ilmu golok itu? Mungkinkah murid penutupnya? Hal ini belum juga diketahui oleh Suhu? Aneh, biasanya kuda itu binal dan galak terhadap orang lain, kenapa dia mau tunduk pada pemuda itu."

Tan Ciok-sing tetap tidak habis mengerti, sementara si pemuda sudah jauh mencongklang kuda putih itu.

Untung kuda tunggangan tentara Watsu yang jadi korban itu masih berada di sekitarnya.

Tan Ciok-sing tangkap salah satu di antaranya, pikirnya.

"Apapun yang terjadi, umpama Tay-tong sudah diduduki musuh, aku akan tetap kesana mencari kabar."

Karena kesampok barisan tentara Watsu ini, maka selanjutnya Tan Ciok-sing tak berani lewat jalan raya.

Jalan di atas pegunungan bukan saja lebih selamat diapun dapat selalu mengamati keadaan di padang rumput nan luas terbentang sunyi itu.

Sepanjang jalan ini dia tempuh dengan perasaan kebat kebit, kira-kira dua jam perjalanan dia tetap tak menjumpai seorang manusia.

Memang aneh, pasukan musuh tidak pernah dilihatnya lagi, di padang rumput nan jauh di bawah sana pun tiada gerakan apa-apa.

Tengah Tan Ciok-sing masgul, mendadak didengarnya suara berisik agak jauh di semak-semak rumput di depan sana.

Jaraknya masih ratusan langkah, orang biasa tak mungkin mendengar keresekan ini, tapi kepandaian Tan Cioksing sudah tinggi.

Lwekangnya tangguh, pendengarannya tajam, dia tahu di semak rumput sana ada orang sembunyi.

Tiba-tiba di dengarnya dari semak-semak itu seorang berbisik-bisik.

"Aneh, entah dari mana datangnya bocah ini, seorang diri menunggang kuda, berani menuju ke utara, memangnya dia hendak pergi ke Tay-tong malah?"-seorang lagi berkata.

"Peduli siapa dia dari mana, kebetulan kita bisa merampas kudanya."

Tan Ciok-sing melengak, pikirnya.

"Aneh, kedua bangsa asing ini kok pandai berbahasa Han selancar ini?"

Tengah berpikir.

"ser, ser"

Dua batang panah tahu-tahu sudah menyamber ke arah dirinya.

Kedua panah ini mana dapat melukainya?

Sekali raih Tan Ciok-sing tangkap sebatang, sebatang yang lain sasarannya jauh menceng ke samping.

Agaknya bidikan panah tentara Watsu ini terlalu rendah.

Cepat Tan Ciok-sing keprak kudanya, bentaknya.

"Siapa itu yang membokong, hayo menggelinding keluar."

Dua orang yang mendekam dalam semak-semak itu segera melompat keluar, sungguh diluar dugaan Tan Ciok-sing, mereka memang tentara, tapi bukan tentara Watsu, sebaliknya tentara kerajaan Bing dari bangsa Han tulen.

Begitu melompat keluar kedua tentara ini menjinjing tombak terus menusuk, seorang lagi mengayun golok besar menghadang di depan terus membacok kepala kuda.

Yang bersenjata golok ini tentara yang sudah berusia lanjut, lekas Tan Ciok-sing tarik tali kekang sehingga kepala kuda terhindar dari bacokan, karena terlalu bernafsu mengayun golok, tentara tua ini sampai terjerembab jatuh bergulingan.

Sungguh geli dan jengkel pula Tan Ciok-sing dibuatnya, sekenanya dia ayun dan sendai pecutnya, sekali gulung dia rampas tombak panjang tentara muda itu.

"pletak"

Langsung dia putuskan tombak itu jadi dua, bentaknya.

"Kalian tidak berani melawan kepada musuh penjajah, tapi berani menindas rakyat jelata melulu?"

Kutungan tombak dibuang segera dia melompat turun. Saking ketakutan kedua tentara itu berlutut dan menyembah sambil minta ampun.

"Aku bukan rampok, aku adalah rakyat jelata. Hayo berdiri dan jawab pertanyaanku dengan betul, nanti kuampuni jiwa kalian."

Kedua orang itu mengiakan sambil munduk-munduk. Tanya Tan Ciok-sing.

"Bagaimana keadaan Tay-tong?"

"Sudah diduduki musuh,"

Jawab kedua orang seperti berlomba omong.

"Kalian baru lari dari Tay-tong?"

"Betul, kita rombongan terakhir yang meninggalkan Taytong."

Jauh hari sebelum ini Tan Ciok-sing sudah menduga cepat atau lambat Tay-tong pasti direbut musuh, tapi mendapat bukti dari mulut kedua tentara ini, mau tidak mau dia merasa merinding dan dongkol pula.

"Tak nyana dari laksaan li dirinya ke mari, Tay-tong sudah di depan mata, namun kota yang dituju sudah terinjak-injak di bawah tapal kuda musuh.

"Kenapa tidak kulihat rombongan besar pasukan pemerintah yang melarikan diri?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Komandan kita takut mati, sebelum musuh tiba dia sudah melarikan diri diam-diam. Setelah musuh tiba di bawah tembok wakil komandan kita bersama seluruh stafnya beramai-ramai lari, sudah tentu kaum keroco seperti kita tak lagi berani bertahan menjaga kota. Kita tak berani lari ke negeri sendiri, tak berpakaian seragam tentara pula, terpaksa lari pura-pura sebagai pengungsi."

"Pasukan pemerintah takut melihat musuh seperti berhadapan dengan harimau, tak heran kaum penjajah bertingkah dan mengganas,"

Demikian ujar Tan Ciok-sing "Hohan,"

Kata tentara tua.

"kau tidak akan ke Tay-tong bukan?!"

Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Aku memang hendak ke Tay-tong."

Orang tua itu terkejut, katanya.

"Dalam situasi seperti ini, kau masih mau pergi ke Tay-tong? Hohan, walau kau berkepandaian tinggi. Jangan seorang diri pergi ke sarang harimau lho."

"Pepatah mengatakan tidak masuk sarang harimau, mana dapat menangkap anak harimau? Kau tak usah menguatirkan diriku. Semoga kalian selamat dan lekas sampai di rumah,"

Habis bicara segera dia keprak kudanya berlari ke arah Utara.

Sehari penuh Tan Ciok-sing menempuh perjalanan, heran selama ini tak pernah dia kesamplok lagi dengan seorangpun, jejak musuh juga tidak kelihatan.

"Mungkin setelah pasukan besar musuh menduduki Tay-tong, mereka perlu istirahat beberapa lama, maka tidak berlaju ke arah barat, pasukan kecil yang terbunuh di jalanan tadi mungkin hanyalah barisan ronda yang bertugas menyirapi situasi musuh?"

Hari kedua menjelang tengah hari, Tay-tong sudah kelihatan tak jauh di depan sana.

Tan Ciok-sing berada dipuncak gunung seberang mengawasi keadaan musuh dari tempat tinggi.

Dilihatnya tembok kota yang biasa ramai dan mengibarkan bendera kini kelihatan sepi dan lenggang, jangan kata bayangan manusia, bayangan binatangpun tak kelihatan.

Lama dia mendekam mendengarkan suara apa-apa, tapi tiada terdengar derap kaki kuda atau adanya tanda-tanda pertempuran.

Diam-diam Tan Ciok-sing menaruh curiga, pikirnya.

"Memangnya kota dikosongkan sebagai muslihat menjebak musuh?"

Semula dia bermaksud masuk ke kota setelah malam tiba, kini melihat keadaan yang sepi ini timbul nyalinya, maka dia bedal kudanya turun dari gunung langsung berpacu ke bawah kota.

Semakin dekat, keadaan tetap sunyi, tiada tentara yang keluar menghalanginya, agaknya kota ini memang sudah kosong.

Pintu gerbang kota juga terbentang lebar, tiada seorangpun penjaga.

Tan Ciok-sing keprak kudanya masuk kedalam kota.

Jalan raya sunyi senyap rumah-rumah sama tutup pintu, entah ada tidak penghuninya.

Setelah putar kayun menyusuri dua tiga jalan raya, barulah Tan Ciok-sing melihat sebuah warung teh yang setengah menutup pintu, seorang bocah bemsia dua belasan tengah longok-longok ke arah sini, lalu berpaling kedalam dan berkata.

"Kek, bukan tentara asing, seorang Han yang menunggang kuda."

Tan Ciok-sing baru paham, pikirnya.

"Kiranya mereka kira aku ini tentara Watsu,"

Maka dia mendekat dan turun terus mengetuk pintu katanya.

"aku datang dari selatan, mohon suka diberi air minum."

Bocah itu berkata.

"Kek, sudah lama kita tidak buka warung, kebetulan ada tamu datang. Perutku memang sudah kelaparan, hayolah kita layani,"

Maklum usianya masih kecil, dia maklum kalau berdagang pasti mendapat uang, ada uang baru bisa beli nasi. Seorang tua membuka daun pintu yang sudah keropos, katanya dengan tawa getir.

"Berdagang pula? Tuan ini, terus terang, meski sebelum ini kami buka warung, tapi sekarang daun teh pun kami tidak punya lagi. Kau minta minum, terpaksa aku hanya bisa menyuguh segelas air putih saja."

"Sehari ini aku tidak minum barang setetes air. Rasa dahaga tak tertahan lagi, terima kasih kalau Lo-tiang sudi memberi segelas air minum."

Orang tua ini memang baik hati, segera dia membawa keluar semangkok penuh air putih, katanya.

"Siau-ko, kenapa dalam keadaan seperti ini kau masih datang ke Tay-tong?!"

"Hubungan putus berita tidak sampai, waktu aku berangkat, tidak tahu kalau disini sudah perang. Tapi masih untung, Tay-tong kan masih belum direbut musuh."

"Beberapa hari ini sungguh berbahaya, musuh sudah berada di bawah tembok, pasukan pemerintah sudah lari semua, pada detik kita menunggu serbuan musuh kedalam kota. Entah kenapa dalam semalam saja, musuh yang berjejal di bawah tembok ternyata sudah pergi semuanya. Ada yang bilang karena Kim-to Cecu turun gunung memutus jalan mundur mereka, mereka tidak tahu kalau pasukan pemerintah sudah merat seluruhnya, kuatir terkepung dan di tekan dari depan belakang, maka lekas-lekas mereka mengundurkan diri. Ada pula yang bilang dalam negeri mereka terjadi perebutan kekuasaan, entah mana yang betul."

"Peduli mana yang benar, kenyataan nama besar Kim-to Cecu memang menggetar nyali musuh. Pasukan musuh agaknya memang dipecah dalam jumlah banyak untuk mundur, ada juga yang terputus jalan mundurnya maka main bunuh dan mengganas terhadap penduduk."

"Betul, pasukan kecil musuh yang terpencar itu banyak yang mengganas didalam kota setelah tahu kota ini tidak terjaga, rakyat jelata menjadi korban mereka, harta benda dan rangsum mereka rampas seluruhnya,"

Demikian tutur si kakek.

"O, kiranya begitu, banyak terima kasih akan pelayanan kakek, tiada yang dapat kubuat balasan, silahkan terima setengah karung rangsum kering ini,"

Lalu dia buka kantong rangsum dan berkata.

"Adik cilik, nah cobalah kamu akan ini."

Bercahaya mata bocah yang sudah kelaparan ini, teriaknya.

"Waduh wanginya. Hore, aku dapat kue bolu, aku dapat kue bolu Kek, kau pun makanlah setengah."

"Air semangkok terhitung apa,"

Ucap si kakek.

"Siau-ko, mana berani aku terima kebaikanmu ini?"

"Terus terang, rangsum kering ini sebetulnya bukan milikku,"

Ujar Tan Ciok-sing geli. Si kakek melengak, hati curiga tapi dia tidak berani tanya, adalah si bocah yang tidak tahu urusan segera berdiri dan tanya.

"Wah, jadi hasil rampasan? Kalau kau merampas milik orang lain, tak berani aku memakannya."

"Bukan hasil rampasan,"

Kata Tan Ciok-sing.

"di tengah jalan ada kesamplok pasukan kecil musuh, tapi musuh yang sudah mati maka rangsum mereka aku ambil."

"Siapa yang membunuh mereka?"

Tanya si bocah terbelalak.

"Entahlah, kulihat ada delapan mayat musuh menggeletak di tanah berumput, kuda mereka berpencar makan rumput. Setelah mengumpulkan rangsum mereka, aku ambil seekor kuda untuk melanjutkan perjalanan."

Bocah itu berjingkrak sambil tepuk tangan.

"Pasti anak buah Kim-to Cecu yang mengganyang mereka."

"Jadi barang milik Watsu, hayolah kita sikat saja,"

Seru si bocah lalu mengganyang kue bolu itu dengan lahapnya.

"Siau-ko, sungguh baik hati, entah bagaimana aku harus membalas kebaikan ini. Adakah sesuatu yang perlu kubantu? Oh, ya, aku belum sempat tanya, logatmu dari luar daerah, untuk apa kau menempuh bahaya datang ke Tay-tong?"

"Aku mendapat pesan dan titipan seorang kenalan untuk mencari seseorang disini."

"Entah siapa yang Siau-ko cari?"

"Di kota Tay-tong ini ada seorang In Tayhiap In Hou, apakah Lo-tiang kenal dia?"

"Mana mungkin kita tidak kenal In Tayhiap,"

Sela si bocah.

"waktu kecil pernah aku melihatnya. Rumah mereka tidak jauh dari sini, belok ke kiri di ujung jalan raya itu lalu tiba di persimpangan jalan di depan pintunya terdapat sepasang batu singa besar, nah itulah rumahnya. Aku bisa antar kau kesana."

"Jadi kau hendak mencari In Tayhiap? Sayang sudah tiga tahun In Tayhiap tidak pulang."

"Apakah In-hujin tak di rumah?"

"In-hujin?"

Si kakek melengak.

"In-hujin yang kau tanyakan? Masa kau belum tahu?"

"Tahu apa?"

Balas tanya Tan Ciok-sing.

"Maaf akan kelancangan Lo-han, siapa yang suruh kau kemari mencari In Tayhiap?!"

"Aku adalah salah seorang pembantu yang bekerja di istana keluarga Toan di Tayli atas perintah Siau-ongya, aku disuruh menyambut keluarga In Tayhiap untuk mengungsi ke Tayli."

Kakek ini tahu bahwa keluarga In memang ada hubungan keluarga dengan keluarga Toan di Tayli, tapi hubungan tidak sering, maka dalam hati dia membatin.

"Mungkin keburukan keluarga pantang tersiar keluar, soal itu tentu tak pernah dibicarakan In Tayhiap dengan keluarga Toan. Atau mungkin juga pernah dibicarakan, namun Siau-ongya itu tentu takkan memberi penjelasan pada bawahannya. Setiba disini setelah tahu In Tayhiap tiada di rumah, adalah jamak kalau dia menanyakan In-hujin."

"Jadi In-hujin juga tidak di rumah?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Sejak beberapa tahun lalu In Tayhiap sudah berpisah dengan istrinya,"

Demikian ujar kakek tua.

"Lho, kenapa?!"

Tanya Tan Ciok-sing kaget. Kakek itu geleng-geleng, katanya.

"Aku mana tahu. In Tayhiap sering minum-minum di warungku ini, urusan pribadinya sudah tentu tidak aku tanyakan,"

Seakan-akan dalam persoalan ini ada rahasia tertentu yang pantang diucapkan.

Sebelum ajal In Hou berpesan supaya Tan Ciok-sing pulang ke rumah memberi kabar kepada puterinya, sejauh itu tidak pernah menyinggung isterinya.

Demikian pula suhunya Thio Tan-hong juga berpesan supaya Ceng-bing-kiam diserahkan pada putri In Hou, tidak membicarakan isteri In Hou.

Maklum hanya setengah hari Tan Ciok-sing kumpul dengan gurunya yang sudah dekat ajal.

Adalah logis, kalau dia tidak tahu apaapa tentang seluk beluk keluarga In.

Kini melihat sikap dan tutur kata laki-laki tua ini ada sesuatu yang kurang beres, maka dia tidak mendesak lebih lanjut.

Tapi tujuan kedatangannya ini adalah mencari In San, maka jejak dan berita mengenai In San harus diselidiki.

"Kabarnya In Tayhiap punya seorang putri, entah adakah dia di rumah?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Tak pernah kudengar bahwa nona In pernah meninggalkan rumah, selama belasan hari ini semua penduduk sama menutup pintu, mana berani mencampuri urusan orang lain. Apa dia masih ada di rumah, kami juga tidak tahu."

"Apa susahnya untuk cari tahu dia di rumah atau tidak,"

Sela si bocah.

"hayo kuantar kau ke rumahnya kan beres."

"Terima kasih adik cilik akan kebaikanmu, tak usah ikut repot-repot, alamat sudah kau jelaskan, aku bisa mencarinya sendiri. Cuma titip kuda ini dan sukalah kalian merawatnya baik-baik."

"Itu mudah,"

Ujar si kakek.

"makanan untuk manusia memang kami tidak punya, tapi di kebun pun banyak tumbuh sayuran dan rumput liar, soal makan untuk kuda tidak perlu dikuatirkan."

Setelah pamitan Tan Ciok-sing segera meninggalkan warung teh dan menuju ke alamat seperti yang diterangkan si bocah.

Pada persimpangan jalan di ujung jalan raya pada putaran kedua memang terdapat sebuah rumah gedung dengan pintu gerbang lebar diluar pintu terdapat sepasang batu singa besar.

Cuma letak dan arah sepasang batu singa ini kelihatan rada ganjil.

Umumnya sepasang singa ini ditaruh dalam posisi yang sama dengan arah yang sama pula tapi sepasang singa yang dilihat Tan Ciok-sing sekarang justeru agak aneh.

Kepala batu singa sebelah kanan tertuju ke tengah jalan, sebaliknya singa batu di sebelah kiri justru terbalik, pantatnya yang terarah ke jalan raya, kepalanya terarah ke pintu besar.

Tan Ciok-sing berjingkat, pikirnya.

"Siapa yang berbuat segila ini? Tapi tenaganya sungguh luar biasa, bahwa dia berani unjuk kekuatan di depan rumah In Tayhiap, tentunya bukan ingin melakukan tantangan belaka,"

Lalu dengan seksama dia maju memeriksa, singa batu sebelah kanan memang tetap pada letaknya, tapi pada badan singa batu terdapat dekukan cap telapak tangan, memang tidak dalam tapi kelihatan cukup jelas.

Tan Ciok-sing curiga dan ragu-ragu, pikirnya pula.

"Bahwa orang ini berani pamer kepandaian di depan seorang ahli, pasti maksudnya tidak baik. Apakah nona In kini sudah dikerjai musuh?"

Saat mana hari sudah menjelang magrib. Tan Ciok-sing mendekati pintu menggedor cukup keras, tapi ditunggutunggu tiada orang membuka pintu. Maka hati Tan Ciok-sing semakin gelisah.

"Nona In, aku mendapat titipan dari ayahmu. Kubawa golok pusaka ayahmu sebagai bukti, harap kau suka buka pintu,"

Demikian teriaknya menggunakan Iwekang tinggi, suaranya tidak keras tapi dapat tersiar cukup jauh, kalau didalam ada orang pasti mendengarnya.

Tapi beruntun tiga kali berkaok-kaok, didalam tetap sunyi dan tiada reaksi.

Kuatir putri In Hou mengalami musibah, dia tidak hiraukan adat istiadat lagi, segera dia kembangkan ginkang melompat ke atas tembok terus melayang kedalam hendak memeriksa keadaan didalam.

Didalam sepi tak tampak bayangan seorangpun, tapi tak kelihatan ada mayat disini, diam-diam lega juga hati Tan Cioksing.

Setelah memeriksa ruang tamu, kamar buku dan sebuah kamar tidur yang mungkin di tempati I n Hou semasa masih hidupnya, keadaan rumah dalam keadaan rapi dan teratur baik, tiada tanda-tanda keributan.

Akhirnya dia tiba di depan sebuah kamar yang mungkin di tempati oleh nona In.

Daun pintu hanya dirapatkan, masih tercium bau harum dari sisasisa asap dupa yang keluar dari sela-sela pintu.

Pikir Tan Cioksing.

"Pasti inilah kamar tidur nona In, pantaskah aku masuk kedalam?"

Pelan-pelan dia mengetuk pintu, tetap tiada jawaban.

Tan Ciok-sing membesarkan hati, pelan-pelan dia dorong daun pintu lalu melongok kedalam kerai di belakang pintu setengah tergulung, kelambu menjuntai turun, seprei dan kemul serta bantal guling tetap rapi, meja dan jendeia bersih mengkilat tiada debu.

Meja bundar di bawah jendela itu terbuat dari batu marmer hijau mulus, di atas meja terdapat pedupaan, sisa api masih menyala.

Melihat gelagatnya penghuni kamar ini belum lama keluar dan sebentar lagi akan kembali.

Diam-diam Tan Ciok-sing membatin.

"Kalau musuh In Tayhiap kemari, pasti ada tanda-tanda perkelahian didalam rumah. Demikian pula bila nona In ketangkap musuh, sedikitnya dia pasti melawan dan keadaan kamar tentu moratmarit."

Di kala Tan Ciok-sing kebingungan dan bertanya-tanya dalam hati, mendadak didengarnya suara seorang perempuan memanggil dengan tertahan.

"San-ji, San-ji, San-ji."

Karuan Tan Ciok-sing terperanjat, batinnya.

"Mungkinkah ln-hujin telah kembali? Bila dia melihat aku berada di kamar putrinya, wah, berabe..."

Sesaat dia jadi melongo kebingungan, apakah dia harus lari keluar atau sembunyi saja. Belum lagi dia berkeputusan, didengarnya perempuan diluar itu menghela napas panjang, katanya rawan.

"San-ji, apa kau tidak hiraukan ibumu lagi aku datang minta pengampunanmu,"

Memang tidak salah dugaannya, yang datang memang ibu In San.

Setelah memasuki kamar In San, Tan Ciok sing hanya merapatkan daun pintunya saja.

Langkah perempuan itu semakin dekat akhirnya berada di depan kamar.

Tapi dia tidak segera mendorong pintu.

"Kembali In-hujin berkata dengan suara lirih.

"San-ji, kau membenciku, aku tidak menyalahkan kau, dulu memang aku yang salah. Tapi setiap detik aku selalu merindukan kau. Kini sengaja aku kemari mencarimu, apa kau tidak sudi keluar menemuiku?"

Tan Ciok-sing memang belum tahu akan seluk beluk kehidupan keluarga In, namun sedikit banyak dia tahu adalah pantang dirinya mencari tahu rahasia keluarga orang lain.

Jikalau sampai konangan bahwa dirinya tahu liku-liku kehidupan keluarga lain bisa-bisa dirinya celaka.

"Tak heran kakek penjual teh itu ragu-ragu waktu membicarakan tentang In-hujin, agaknya perpisahan antara In Tayhiap dengan isterinya, memang berlatar belakang jelek."

Demikian pikir Tan Ciok-sing karena itu dia sadar dirinya tidak boleh keluar. Tidak mendengar jawaban, In-hujin berpikir.

"Biar kujelaskan duduk persoalan yang sebenarnya kepada dia,"

Maka dia berkata pula.

"San-ji, aku membawa berita ayahmu, terserah kau mau mengakui diriku atau tidak, kau akan kubawa pergi dari sini. Karena ayahmu sudah tidak bisa merawatmu lagi,"

Tiba-tiba dia kertak gigi terus mendorong pintu. Di saat In-hujin mengutarakan isi hatinya ini, benak Tan Ciok-sing sudah berputar bolak-balik, semula dia hendak sembunyi, tapi akhirnya dia berpikir.

"Dia tahu berita apa tentang suaminya? Aku harus tanya jelas kepadanya. Dan lagi tujuanku kemari adalah mengembalikan barang peninggalan In Tayhiap, tidak ketemu putrinya kuserahkan kepada isterinya kan juga sama saja. Walaupun dia sudah berpisah dengan In Tayhiap, kenyataan kan dia tetap ibu In San,"

Di kala dia hendak bersuara itulah tiba-tiba daun pintu sudah didorong terbuka.

Mendadak melihat seorang pemuda sembunyi di kamar putrinya, karuan In-hujin kaget.

Baru saja Tan Ciok-sing sempat berucap "aku", tiba-tiba dilihatnya cahaya kemilau dingin sudah menyamber tiba, In-hujin telah menusuknya dengan pedang.

Sebat sekali Tan Ciok-sing mengegos ke samping, di saat In-hujin melengak, sebat sekali dia berkelebat lewat samping tubuhnya.

Gerakannya boleh dikata cukup cepat sementara perasaan In-hujin juga tergoncang, tapi dimana ujung pedang menyamber, lengan bajunya tak urung terpapas sebagian, untung tidak melukai kulit dagingnya.

Tersipu-sipu Tan Ciok-sing berseru.

"Aku bukan orang jahat, aku kemari atas perintah In Tayhiap."

Belum habis dia bicara bagai bayangan mengikuti bentuk aslinya In-hujin sudah memburu tiba.

"Sret"

Kembali pedangnya menusuk, dampratnya.

"Memangnya In Hou suruh kau masuk ke kamar putrinya? Sekarang waktu apa? Kau masuk ke rumah orang tanpa permisi, kalau bukan rampok pasti pemerkosa,"

Di kala bicara In-hujin melancarkan delapan jurus serangan, sinar pedangnya menembus ke kanan menyelinap ke kiri, sedikit lengah Tan Ciok-sing pasti dihiasi lobang pada tubuhnya.

Apa boleh buat terpaksa Tan Ciok-sing melolos golok pusaka In Hou.

"Harap Pek-bo mendapat tahu..."

"Siapa Pek-bomu?"

Hardik In-hujin. Tan Ciok-sing memutar golok mengetuk pedang orang, katanya.

"In-hujin, kau tidak percaya akan diriku, tentunya kau percaya akan golok ini, inilah golok pusaka milik In Tayhiap, tentunya Hujin mengenalnya baik. In Tayhiap suruh aku membawanya ke mari sebagai tanda pengenal."

Mendengar perobahan panggilan Tan Ciok-sing, seketika merah muka In-hujin, pikirnya.

"Apa yang kuucapkan tadi, tentunya sudah didengar seluruhnya oleh bocah ini,"

Tiba-tiba alisnya tegak matanya mendelik, hawa nafsu berkobar dalam benaknya, dengan jurus Giok-li-coan-so, mendadak dia menusuk dari arah yang tak pernah diduga oleh Tan Ciok-sing.

Bagaimana juga Tan Ciok-sing takkan berani menggunakan golok pusaka untuk memapas pedang lawan, tapi jurus serangan mendadak ini bukan saja keji tapi juga liehay, demi menyelamatkan diri, tak sempat dia banyak pikir menguatirkan segala sesuatunya lagi.

Untung dia sudah meyakinkan Bubing-kiam-hoat, ilmu pedang yang khusus diciptakan untuk menghadapi segala perubahan situasi.

In-hujin melancarkan serangan mematikan ini dia kira Tan Ciok-sing takkan mampu meloloskan diri, tak nyana pada detik-detik ujung pedangnya hampir menusuk tubuh orang tahu-tahu "Cret"

Ceng-kongkiam di tangannya telah kutung jadi dua, pada hal Tan Cioksing hanya berputar sambil menggerakkan golok pusaka itu, maklum Tan Ciok-sing telah melansir gerakan Bu-bing-kiamhoat kedalam permainan golok.

"Harap Hujin suka memaafkan,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"Sesungguhnya memang In Tayhiap yang menyuruhku kemari..."

"Nanti dulu, siapa namamu?"

Tanya In-hujin. Tan Ciok-sing kira orang sudah mau mendengar laporannya, maka dia masukkan golok kedalam sarungaya, katanya.

"Wanpwe Tan Ciok-sing, bertempat di Kwi-lin..."

Berubah air muka In-hujin, bentaknya.

"Ternyata memang benar kau keparat ini."

"Wut"

Pedang kutung di tangannya tahu-tahu ditimpuk dengan deru angin kencang menerjang ke dada Tan Ciok-sing.

Untung Tan Ciok-sing cepat berkelit, dengan gerakan Hong-tiam-thau, pedang kutung itu menyamber lewat serambut di atas kepalanya.

Teriaknya dengan tersirap.

"Inhujin, aku sudah bicara baik-baik, kenapa kau, kau..."

Beringas pucat wajah In-hujin, beruntun dia batuk-batuk, sambil batuk sambil berkata putus-putus.

"Kau keparat ini, kau kira aku tidak tahu? Kau sudah membunuh In Hou, berani ke mari hendak menipu aku. Hm, goloknya itu sudah kau curi dan kini kau gunakan pada diriku, memangnya kau kira aku takut, nah rasakan kelihayanku."

Bingung dan heran Tan Ciok-sing dibuatnya, batinnya.

"Kemarin pemuda itu seketika naik pitam setelah aku memperkenalkan diriku, menuduhku sebagai pembunuh In Tayhiap. Sekarang demikian pula sikap In-hujin. Siapakah yang memfitnahku? Kenapa pula mereka begitu percaya akan fitnah pada diriku, hakikatnya aku tidak diberi kesempatan membela diri?"-Lekas sekali dia pun sudah tahu duduk perkaranya.

"Agaknya In-hujin memperoleh kabar bahwa akulah yang mencelakai jiwa In Tayhiap."

Batuk In-hujin tidak berhenti, seperti orang yang sedang sakit umumnya, keadaannya sebetulnya lemah, tapi gerakannya teramat cepat, di tengah batuknya itu dia mencopot kain ikat pinggang, bagai ular sakti ikat pinggangnya ini berputar menari dan bergulung-gulung, sambil memaki kain sutra merah di tangannya itu berusaha membelit golok Tan Ciok-sing, maksudnya hendak merebutnya.

Jangan pandang enteng kain lemas panjang ini, karena di bawah permainan In-hujin ternyata mengeluarkan deru angin yang kencang bagai lesus, perbawanya tidak kalah dari sebatang ruyung lemas, malah lebih lincah dan sukar dilayani.

Dua jurus serangan dapat dihindarkan, tapi jurus ketiga gerakan Tan Ciok-sing sedikit ayal, ujung kain menyerempet ujung hidungnya, rasanya pedas dan panas.

Apa boleh buat terpaksa Tan Ciok-sing tarikan goloknya untuk menangkis.

Tapi kain selendang lemas itu justru bergerak mengikuti gerakan goloknya, naik turun seperti burung hong terbang, sedikitpun tidak kuasa untuk membendung gerakannya.

Bahwasanya golok pusaka ini tajamnya dapat mengiris besi, tapi sekarang tak kuasa memapas selendang sutra ini, lebih sulit dihadapi lagi karena permainan selendang sutra In-hujin mengkombinasikan tenaga lunak dan keras, sesekali dia harus waspada jikalau tidak mau kepalanya kena dikemplang.

Apa boleh buat Tan Ciok-sing keluarkan pula Pek-hongkiam pemberian Thio Tan-hong, dengan golok di tangan kiri pedang di tangan kanan, dia melibat dirinya didalam cahaya pedang dan sinar golok, kini keadaannya agak mending, tapi paling hanya mampu bertahan membela diri, hakikatnya tak mampu balas menyerang.

In-hujin menjengek dingin.

"Kiranya kau keparat cilik ini juga berhasil menipu pedang pusaka Thio Tan-hong."

Kecut tawa Tan Ciok-sing, katanya.

"Cara bagaimana baru kau mau percaya padaku? Ketahuilah Thio Tayhiap adalah guruku, Pek-hong-kiam ini adalah pusaka perguruan yang diwariskan padaku, masih ada sebatang Ceng-bing-kiam..."

"Untuk putrimu", belum sempat dia ucapkan, tahu-tahu pergelangan tangan terasa kesemutan, golok pusaka di tangan kiri sudah tergulung lepas dari cekalannya, sekali sendai dan dorong golok yang tergulung di ujung selendangnya dia timpuk balik, karena sibuk mempertahankan diri, Tan Ciok-sing tidak sempat berbicara lagi.

"Trang"

Golok dan pedang beradu, sama-sama senjata pusaka maka meletiklah kembang api, untung pedang dan golok tiada yang gumpil.

Golok berkerontangan jatuh di lantai, selendang In-hujin kembali hendak membelit pedang pusakanya.

Hanya bersenjata pedang, meski ilmu pedangnya liehay, karena kurang pengalaman, lambat laun Tan Ciok-sing semakin kerepotan.

Di tengah pergulatan antara permainan pedang melawan selendang sutra lemas itu, Tan Ciok-sing mendengar batuk Inhujin semakin keras dan memanjang, agaknya keadaannya juga semakin payah.

Terpaksa Tan Ciok-sing boyong seluruh kepandaiannya, beberapa jurus dia berhasil punahkan serangan In-hujin, sedikit peluang segera dia berseru.

"In-hujin, kau sedang sakit bukan? Sukalah kau berhenti dulu, biar aku bicara beberapa patah? Jelas aku takkan bisa lolos, kaupun bisa beristirahat."

Maksudnya baik, tak tahunya mendadak In-hujin menyerang lebih gencar dan berantai.

"Tang"

Akhirnya Pekhong-kiam di tangan kanan Tan Ciok-sing kena dibelit dan terlepas dari cekalannya.

Begitu pedang dikipatkan dan terlempar di pojok kamar, sekali membalik pergelangan tangan pula, ujung selendang itu selincah ular tahu-tahu membelit leher Tan Ciok-sing, seperti ular hidup saja lilitan selendang sutra atas lehernya ini semakin mengencang, hanya sekejap Tan Ciok-sing sudah megap-megap hampir putus napas.

Diam-diam Tan Ciok-sing mengeluh.

"Tak nyana hari ini jiwaku amblas di tangan In-hujin secara penasaran,"

Meski dia sudah dalam keadaan kepepet, secara reflek adalah jamak kalau dia berusaha membebaskan diri.

Sekejap lagi pandangan Tan Ciok-sing sudah mulai gelap, kepalanya berkunang-kunaang pusing tujuh keliling, tenaga untuk merontapun sudah tiada lagi.

Insaf bahwa jiwa sendiri bakal melayang, tiba-tiba di dengarnya In-hujin batuk-batuk pula beberapa kali, entah mengapa, selendang yang membelit lehernya perlahan-lahan mengendor.

Sukma Tan Ciok-sing boleh dikata sudah putar balik dari sorga dunia pula, agak lama baru dia bisa memulihkan kesadarannya, waktu dia membuka mata, dilihatnya In-hujin juga mendeprok di lantai, wajahnya pucat pias, darah meleleh di ujung bibir, darah tampak pula berceceran di lantai.

Lekas Tan Ciok-sing tenangkan diri, hawa murni dikerahkan berputar tiga lingkaran, lekas sekali dia sudah memulihkan beberapa bagian tenaga dan semangatnya, lalu perlahanlahaan menghampiri In-hujin.

"Kau, kau bunuh aku saja,"

Desis In-hujin geram.

"Aku kemari bukan untuk membunuhmu,"

Sahut Tan Cioksing.

"Barusan hampir saja aku membunuhmu, kini aku sudah tiada tenaga melawan, kenapa tidak kau membunuhku?"

"Hujin hendak membunuhku, mungkin karena salah paham. Memangnya aku juga harus bertindak semberono tanpa memandang baik buruk dan benar salahnya?"

Sudah tentu In-hujin tidak percaya akan ketulusan hatinya, jengeknya.

"Muslihat apa pula yang hendak kau lakukan?"

Tan Ciok-sing tidak banyak bicara lagi, dia pungut dulu golok dan pedang pusaka dimasukan ke sarung lalu mengangsurkan golok pusaka itu ke tangan In-hujin, setelah orang menggenggam gagang golok pelan-pelan dia menariknya bangun.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Tanya In-hujin.

"Mari kubimbing Hujin rebah di atas pembaringan, lantai ini lembab dan dingin, tidak baik untuk kesehatan."

Meski tidak percaya bahwa Tan Ciok-sing ternyata sebaik ini hatinya, namun dia sendiri toh harus pikirkan kesehatan, di luar sadarnya dia genggam gagang golok lebih erat lalu beranjak ke pembaringan dengan golok sebagai tongkat.

In-hujin rebah di atas pembaringan putrinya, katanya.

"Baiklah, ada omongan apa boleh kau katakan kepadaku sekarang,"

Dalam hati dia membatin.

"Biar kudengar obrolan manis apa yang hendak dia sampaikan untuk menarik simpatikku?"

"Jangan tergesa-gesa, sekarang kau belum boleh banyak pikir, setelah keadaanmu lebih baik saja. In-hujin sukalah kau beritahu padaku, penyakit apakah yang kau idap? Apa kau ada membawa obat?"

Melihat sikap orang jujur dan bicara setulus hati, bukan pura-pura dan munafik, rasa curiganya dengan sendirinya mulai berkurang, katanya setelah menghela napas.

"Penyakitku ini tak kan bisa diobati lagi, kau tidak perlu memeras keringat."

"Sukalah kau ulurkan tanganmu,"

Pinta Tan Ciok-sing.

"Untuk apa?"

Tanya In-hujin melengak.

"Wanpwe pernah belajar ilmu pengobatan, meski masih cetek, maksud Wanpwe hendak memeriksa nadi Hujin."

Pikir In-hujin.

"Kalau dia mau bunuh aku sejak tadi jiwaku sudah melayang, buat apa pakai main sandiwara segala,"

Maka dia ulurkan tangannya, tiga jari Tan Ciok-sing segera menekan urat nadi pergelangan tangannya.

Bagi kaum persilatan bila urat nadi penting ini sampai tercengkeram oleh lawan, itu berarti menyerahkan jiwa raga sendiri kepada musuh.

Meski In-hujin yakin Tan Ciok-sing tidak bermaksud jahat, namun hatinya kebat-kebit juga.

Agak lama Tan Ciok-sing memeriksa urat nadi lalu memejam mata menepekur.

In-hujin berkata.

"Aku tahu penyakitku ini takkan bisa sembuh dan tinggal menunggu waktu saja, untuk ini boleh kau berterus terang kepadaku saja."

Tan Ciok-sing geleng-geleng, katanya.

"Kau adalah angkatan tuaku, untuk menyembuhkan penyakit ini, maaf kalau aku tidak memakai peradatan lagi."

Pelan-pelan dia membalikkan tubuh In-hujin. Sudah tentu In-hujin kaget, serunya dengan suara berat.

"Kau, apa yang kau lakukan?"

Tan Ciok-sing tidak bicara, tangan kanan diulurkan menempel di punggung orang terus menyalurkan Iwekang ke tubuh orang, bantu melancarkan jalan darah yang terganggu dan tersumbat, Tan Ciok-sing sudah memperoleh ajaran murni Iwekang Thio Tan-hong, meski terbatas waktu sehingga latihannya belum sempurna, tapi Iwekang murni dari aliran lurus ini sungguh luar biasa.

Sebentar saja terasa oleh In-hujin segulung hawa panas timbul dalam pusarnya.

Sebagai ahli silat sudah tentu dia tahu babwa Tan Ciok-sing sedang mengobati penyakitnya secara jujur dan bajik.

Diam-diam dia menyesal akan kecurigaan dirinya terhadap kebaikannya.

Pikirnya.

"Baru saja dia bertempur dengan aku, hampir tercekik mati pula, namun dia masih sudi menguras hawa murninya untuk membantu aku menembus urat nadi yang buntu, sungguh memalukan kalau aku curiga padanya malah,"

Tanpa terasa air matanya bercucuran, katanya sesenggukan.

"Kau sudah berusaha sekuat tenaga, tapi usahamu tak kan berhasil. Jangan kau menguras hawa murnimu demi diriku."

"In-hujin kau masih ada harapan sembuh. Jangan banyak pikiran, lekas himpun hawa murni kedalam pusar."

Beberapa kejap lagi didengarnya, In-hujin merintih-rintih kesakitan, teriaknya.

"Panas, panas, mampus aku karena kepanasan, aku, aku tidak kuat lagi."

Ternyata hawa murni yang dihimpun In-hujin tidak bisa disalurkan secara semestinya sementara Tan Ciok-sing hanya mengandalkan kekuatan Lwekang sendiri juga tak kuasa menembus Ki-kingpat-meh.

Pikiran In-hujin tidak tenang lagi, maka hanya hawa api semakin membara dalam tubuh.

Setelah bertempur tadi Tan Ciok-sing juga kehabisan tenaga, kini harus menguras lwekang untuk menyembuhkan penyakit In-hujin pula, keadaannya boleh dikata sudah lunglai.

Di kala Tan Ciok-sing kehabisan daya, tiba-tiba dia teringat cara kakeknya dulu waktu menyembuhkan In Tayhiap pernah mempergunakan petikan lagu Khong-ling-san bagian pertama, meski belakangan In Tayhiap mati karena serbuan kawanan penjahat, bahwasanya usaha penyembuhan dengan irama musik itu semestinya berhasil, karena mendapat bantuan petikan harpa itu In Hou berhasil memulihkan beberapa bagian tenaganya.

"Kenapa tidak kucoba?"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

"walaupun kemampuanku belum memadai kakek, mungkin, aku masih mampu menenangkan gejolak perasaannya."

Lekas Tan Ciok-sing menyulut dupa wangi, lalu menaruh harpa antik di atas toilet, irama musik nan merdu seketika bergema seiring dengan jarinya yang bergerak lincah di atas senar harpa.

Laksana hembusan angin sepoi di musim panas, seperti menemukan air di tengah padang pasir nan panas terik.

Mendadak In-hujin merasa seperti diguyur air dingin, badannya kepanasan lekas sekali terhembus lenyap oleh semilirnya alunan musik, bara didalam hatipun seketika padam tersiram oleh sumber air nan dingin.

Bagian pertama Khong-ling-san mengisahkan kenangan terhadap seorang sahabat baik.

Tapi In-hujin justeru terkenang pada masa lalu, masa remajanya nan riang dan gembira, terkenang pada malam pertama dirinya menikah mengecap kebahagiaan rumah tangga.

Waktu itu dia puas bahwa sang suami adalah seorang gagah, meski sesewaktu dia pun teringat pada seorang pemuda lain yang pernah juga mengetuk sanubarinya.

000OOO000 Layar kenangan mulai tersingkap.

Delapan belas tahun yang lalu, dirinya masih sebesar putrinya sekarang.

Ayahnya adalah wakil komandan dari pasukan bayangkari, sedang In Hou adalah putra In Jong yang pernah merebut Bu-conggoan.

Kedua keluarga sembabat berhubungan intim 'agi, maka pada waktu dirinya berusia enam belas, atas putusan kedua orang tuanya, mereka dinikahkan.

Tapi ada pula seorang laki-laki lain yang memuja dan mengejar-ngejar dirinya.

Dia bernama Liong Bun-kong, putra tunggal Liong Yau-wa yang berpangkat sekretaris militer.

Seperti juga In Hou, Liong Bun-kong berperawakan gagah, tampan dan romantis, ilmu silatnya memang bukan tandingan In Hou, tapi dia lebih pandai main aksi dan merayu perempuan.

Ayahnya sebagai sekreteris militer, pada hal dia lulusan sekolah sastra.

Kedua laki-laki ini sama-sama sudah dikenalnya baik sebelum pertunangan diresmikan.

Tapi dinilai keadaan waktu itu, dia lebih cenderung untuk mencintai In Hou.

Pada usia delapan belas dia menikah, betapa riang gembira pada harihari pertama sejak pernikahan itu, sampai hari ini setelah delapan belas tahun berselang, hatinya masih merasakan manis mesra.

Tahun kedua dia melahirkan seorang orok mungil perempuan, bayangan Liong Bun-kong hakikatnya sudah tawar dan lenyap dari benaknya.

Dia sudah cukup puas hidup dalam ketenangan sebagai nyonya muda yang diladeni, dengan sepenuh hati dia merawat dan mengasuh putrinya yang masih kecil.

Hanya ada satu hal yang kurang memuaskan hatinya, yaitu suaminya tidak berusaha untuk mengejar kedudukan di kalangan pemerintahan, meski ayahnya seorang Bu-conggoan, namun dia tidak sudi memperjuangkan pangkat dan kedudukan di bawah naungan kebesaran nama ayahnya atau dengan bekal kepandaian sendiri.

Sayang sekali kehidupan romantis nan bahagia ini tidak berlangsung lama, terjadi suatu perubahan pada keluarga In, sementara dia sendiripun mulai merasakan ujian nan berat didalam gelombang perjalanan hidup yang penuh liku-liku ini.

Karena amat kecewa dan menentang kemerosotan wibawa kerajaan, In Jong tidak mau menaruh dirinya didalam kalangan dorna yang berkuasa di istana, sehingga suatu ketika dia dianggap menyalahi Ong Tin, thaykam yang paling berkuasa pada waktu itu, insaf bahwa dirinya sewaktu-waktu mungkin terancam bahaya In Jong tahu dirinya takkan lama lagi berpijak di istana, maka dia meletakkan jabatan pulang ke kampung halaman Karena selalu memikirkan keselamatan negara serta keselamatan keluarga, di hari tuanya dia jatuh sakit sampai akhir hayat loyalitasnya terhadap kerajaan tak pernah luntur.

In Hou suaminya setelah kematian sang ayah, tiada minatnya meneruskan cara perjuangan ayahnya, dia lebih senang menggunakan caranya sendiri bergaul dengan kaum pendekar dalam kalangan Kangouw, lebih celaka lagi di antara sekian banyak kawan-kawan Kangouwnya itu, ada seorang yang bernama Ciu-San-bin justru dicap "pemberontak"

Dan menjadi buronan pemerintah.

Bahwa In Hou bergaul dengan kaum persilatan, adalah jamak kalau dia sendiri harus berkecimpung di Kangouw pula.

Dia merupakan pembantu utama dari Kim-to Cecu Ciu Sanbin, mengemban tugas berat sebagai kurir untuk menarik simpatisan dan para patriot bangsa, maka jarang dia berada di rumah, lebih banyak waktunya berada diluar menunaikan tugas.

Mengikuti perubahan kehidupan ini, hubungan mesra suami istripun mulai renggang.

Adalah logis kalau dia tidak senang hati karena suami jarang di rumah.

Meski dalam hati dia maklum bahwa sang suami masih amat mencintainya seperti malam pertama pernikahan mereka dulu.

Dan yang lebih penting lagi adalah dia tidak suka hidup didalam suasana kebat-kebit yang selalu diburu dan dibayangi ketakutan, sudah tentu dia lebih tidak suka ikut suami keluntang-keluntung dalam kehidupan Kangouw.

Hatinya selalu was-was, bila suatu ketika pihak kerajaan tahu bahwa suaminya merupakan duta penting Kim-to Cecu, akan datang suatu hari, mereka suami istri akan dipaksa mengembara di kalangan Kangouw.

Maka timbullah kenangan masa lalu dimana kehidupan nan tenang di kota raja serba berkecukupan lagi, mau tidak mau bayangan Liong Bun-kong yang romantis dan tampan itu kembali timbul dalam benaknya, dalam impiannya pula.

Bahwa sebagai istri dia menentang jalan hidup yang ditempuh suaminya, apalagi ayahnya yang semakin berkuasa dan gila harta dan pangkat ini, dia lebih kurang senang mempunyai seorang menantu yang tidak suka maju malah terima menjebloskan diri kedalam lumpur kenistaan.

Maka pada suatu hari waktu dia pulang ke kandang orang tuanya, ayahnya tak mau melepasnya pulang ke rumah suaminya.

Dan apa boleh buat dia sendiripun suka rela menetap di rumah orang tuanya.

Selama ini Liong Bun-kong masih membujang, mendapat tahu bahwa dia kembali ke rumah orang tua, dua tiga hari dia pasti datang berkunjung.

Kini ayahnya sudah naik pangkat lebih tinggi pula, di kalangan militer Liong Bun-kong juga sudah memperoleh pangkat yang tidak rendah di bawah naungan orang tuanya.

Ternyata ayah bundanya ketarik dan sering memuji Liong Bun-kong di hadapan putrinya, sementara sikap Liong-kongcu tak pernah luntur, dia tetap ramah dan menaruh hati serta memperhatikan segala kebutuhannya.

Setelah meninggalkan suami sudah tentu merasa kesepian, terhibur juga akhirnya setelah ada pemuda tampan kaya raya dan romantis lagi selalu menghibur dirinya.

Lambat laun hubungan mereka semakin intim, pergi tamasya, berlatih silat bersama pula.

Walau hubungannya dengan Liong Bun-kong semakin intim, tapi dia tidak pernah melupakan suaminya, dan tak pernah dia melanggar tata susila atau melakukah sesuatu yang mendurhakai suami.

Bahwa ayah bundanya selalu memuji Liong-kongcu setinggi langit di hadapannya, mereka tak pernah memaksa atau menganjurkan dirinya untuk menikah lagi.

Tanpa terasa dua tahun dia hidup di rumah orang tuanya, kini putrinya sudah berusia tujuh tahun.

Dalam dua tahun ini pernah beberapa kali timbul niatnya untuk pulang ke rumah suaminya, tapi ayah bundanya selalu menahannya dengan berbagai alasan.

Ibunya berkata.

"Kalau suamimu masih mencintaimu, sepantasnya dia datang menjemput kau pulang. Kenyataan dia tidak pernah datang, berarti dia tidak hiraukan dirimu lagi."

Dipikir-pikir memang beralasan, dia ingin menguji suami, maka dia berkeputusan menunggu suaminya datang menjemput dirinya.

Tapi dua tahun lamanya, suaminya tidak pernah datang menjemput.

Tapi dia juga pernah pikir, mungkin sang suami takut bila kerajaan tahu akan hubungan dirinya dengan Kim-to Cecu, maka dia tidak berani masuk ke kota raja?

Sudah tentu tak pernah dia utarakan rahasia suaminya ini terhadap kedua orang tuanya, pernah juga dia coba-coba mengorek keterangan ayahnya, agaknya beliau belum tahu bahwa suaminya ada hubungan dengan Kim-to Cecu.

Namun dia berpikir pula, bila suaminya masih mencintai dirinya, meski menempuh bahaya pasti juga datang.

Umpama kata amat berbahaya, paling tidak kan mengirim kabar atau surat.

Maklum kalau dia ngambek dan amat dongkol, akhirnya tak pernah terbetik pikiran lagi untuk pulang ke rumah suaminya.

Tapi sebab utama akan keputusannya ini adalah karena dia tidak rela meninggalkan kehidupan yang serba makmur dan berkecukupan di kota raja ini.

Akhirnya datang suatu hari.

Hari itu dia di ajak Liong Bunkong menikmati pemandangan daun merah di Say-san, sehari penuh mereka melancong dengan riang dan gembira.

Malamnya setelah dia pulang ke rumah baru diketahui bahwa putrinya sudah tiada.

Waktu dia tanyakan kepada sang ibu, tanpa menjawab ibunya mengeluarkan sepucuk surat.

Begitu melihat tulisan di sampul surat seketika dia mengenal gaya tulisan sang suami.

Tapi waktu dia buka surat itu, kenyataan itu surat perceraian.

Sungguh dongkol dan kaget pula, hampir saja dia semaput.

Apa yang sebetulnya terjadi?

Setelah dia puas menangis, baru ibunya datang dan memberi tahu.

"Dia tadi kemari, Siau-san dibawanya pergi!"

"Kenapa dia menceraikan aku?"

Tanyanya hambar.

"Katanya, sifat kalian berbeda. Dia lebih suka hidup kelana di Kangouw, kau takkan mau mengikuti jejaknya. Setelah dipikir dua tahun ini, dia rasa lebih baik berpisah saja."

"Dan lagi,"

Tutur ibunya dengan suara lirih.

"ada sebuah hal selama ini memang kusembunyikan terhadapmu, menurut berita yang berhasil kami serapi, dia kini sudah punya simpanan. Konon perempuan itu she Ciu, adik perempuan seorang yang dinamakan Cecu entah apa. Sudah tentu dia tidak mengaku, tapi aku yakin lantaran perempuan inilah yang menjadi biang keladinya. Kamipun belum mencari tahu dengan jelas, bila kau ingin tahu kami bisa menyuruh orang menyelidiki hal ini."

Dia tahu Kim-to Cecu Ciu San-bin memang punya seorang adik perempuan, katanya.

"Ma, suruhlah ayah tak usah repot. Kalau dia sudah menceraikan aku, memangnya aku masih mengharap untuk rujuk kembali dengan dia? Peduli dia akan menikah lagi dengan siapa?"

Ibunya menyeka air matanya, katanya tersenyum.

"Nah itu betul, kau memang putriku yang punya pendirian teguh. Bicara terus terang, aku pun tidak senang punya mantu seperti itu. Kalau dia sudah menceraikan kau, masih banyak laki-laki yang lebih baik dari dia mau mempersunting dirimu."

"Ma, jangan kau berkata demikian? Meski aku tidak akan rujuk, tapi selama hidupku ini, aku tidak akan menikah lagi,"

Tanpa terasa dia menangis gerung-gerung lagi.

Dia membenci suami, dia dongkol pula bahwa sang ibu tak dapat menyelami perasaannya.

Diluar tahunya bahwa siang tadi suaminya datang setulus dan penuh rasa rindu serta kecintaan yang tak pernah luntur untuk menjemputnya pulang.

Kalau dia tahu duduknya, persoalan, pasti dia akan membenci ayah bundanya, takkan menyalahkan sang suami yang telah menulis surat cerai ini.

Persoalannya adalah, ayah bundanya sudah lama tahu kalau mantunya ada hubungan dengan Kim-to Cecu.

Selama dua tahun ini sering suaminya mengirimi surat, tapi semuanya dirampas oleh ayah bundanya.

Waktu In Hou datang hari itu, ayahnya lantas mengancamnya atas hubungan rahasia In Hou dengan Kim-to Cecu.

Ayahnya bilang bahwa putrinya yang memberitahu rahasia ini kepada dirinya.

Diluar tahu In Hou bahwa pihak kerajaan sejak lama sudah menanam spionnya didalam markas Kim-to Cecu, maka hubungan intimnya dengan Ciu San-bin sudah tentu diketahui jelas, mau tidak mau In Hou percaya akan gertakannya ini.

"Jangan kau bawa anakku kedalam lumpur kenistaan,"

Demikian kata ayahnya kepada In Hou siang tadi.

"kalau kau ingin membawa putrimu, boleh kau bawa. Mengingat hubungan sebelum ini sebagai mertua dan mantu, hal ini tidak akan kulaporkan. Tapi kau harus menulis surat perceraian,"

Akhirnya sang mertua memaksanya untuk menceraikan isterinya. Sudah tentu peristiwa buruk ini merupakan pukulan berat bagi In Hou, dia tidak percaya kalau sang istri sudah berubah terhadapnya, katanya.

"Boleh, suruhlah anakmu keluar, dihadapannya langsung akan kubuat surat cerai itu,"

Dia ingin tahu bagaimana reaksi istrinya.

"Kukira tidak perlu,"

Kata mertua.

"seorang laki-laki harus berani berkeputusan tanpa pamrih, urusan yang berbuntut kepanjangan takkan membawa untung kedua pihak."

Kata In Hou menahan gejolak perasaannya.

"Umpama selanjutnya harus putus hubungan suami isteri, pertemuan terakhir toh harus diberi kesempatan."

Mertuanya menjengek.

"Kuharap kau jangan menemuinya saja. Disini kau tidak akan bisa melihatnya."

In Hou ragu-ragu, katanya.

"Dimana dia sekarang?"

"Baiklah kalau kau ingin tahu, kuberitahu padamu,"

Kalau suara sang mertua.

"sejak pagi tadi Liong-kongcu telah mengajaknya tamasya ke Say-san. Sekarang masih sempat kau pergi kesana melihatnya. Tapi surat cerai itu harus kau tulis lebih dulu."

Seorang pelayan sudah mempersiapkan tinta dan alat tulis serta kertas.

Seorang pelayan lain keluar membopong putrinya In San, In San yang baru berusia tujuh tahun amat senang melihat sang ayah, segera dia minta turun terus berlari kedalam pelukan ayahnya, teriaknya.

"Yah, kau bawa aku pulang, aku tidak senang tinggal di rumah nenek, ibu jarang mengajak aku bermain."

Seperti disayat perasaan In Hou, tanyanya dengan suara tersendat.

"Mana ibu?"

"Sejak pagi-pagi ibu sudah pergi jalan-jalan bersama paman Liong, dia sering pergi sendiri, aku tidak dihiraukan lagi."

Mendengar omelan putrinya, sungguh jengkel dan penasaran serta sedih pula hati In Hou, menahan air mata segera dia angkat pena terus menulis surat cerai itu.

Tapi dia masih belum putus asa, dia masih ingin melihat isterinya.

Setelah menitipkan putrinya pada seorang kenalan dia menyusul ke Say-san.

Memang dia melihat isterinya, tapi dia tidak berani unjuk diri untuk berpisahan dengan sang isteri.

Apa yang dikatakan sang mertua memang kenyataan isterinya ternyata bersama Liong Bun-kong.

Waktu itu mereka sedang jalan berendeng turun gunung, isterinya tampak mekar bersemangat, senyum selalu dikulum, kelihatannya lebih riang dan bahagia di waktu mereka baru menikah dulu.

Perlukah dia bicara lagi dengan isterinya?

Maka dengan perasaan luluh dan kecewa, diam-diam dia mengundurkan diri.

Hari kedua dia bawa puterinya pulang ke rumah.

Sedikitpun In-hujin tidak tahu bahwa suaminya pernah mengintip dirinya secara diam-diam.

Tidak sampai tiga bulan In-hujin tahu-tahu sudah berubah jadi Liong-hujin, semula dia tidak ingin menikah pula, sayang dia bukan perempuan yang punya tekad baja, di kala kesedihan masih dirundung badan, akhirnya dia tak kuasa melawan bujuk rayu sang jejaka.

Duduk persoalan sesungguhnya baru diketahui, setelah ayah bundanya meninggal.

Ibu inangnya yang memberi tahu padanya.

Bu inangnya berkata.

"Siocia, waktu Hujin masih hidup aku tidak berani bicara. Dia pernah mengancam aku, bila aku bocorkan rahasia ini aku akan dibunuhnya. Hari itu Lo-hujin suruh aku membawa Siau-san keluar dan diserahkan kepada Ko-ya (babah mantu), pembicaraan mereka kudengar semuanya. Siocia, orang lain takkan ada yang bisa menyelami isi hatimu, tapi aku tahu, kau masih merindukan Ko-ya. Ko-ya memang orang baik, akupun ikut penasaran karena dia difitnah."

Bu inang ini mengasuhnya sejak kecil, hanya dia seorang yang simpatik terhadap nasib In Hou, meski nona asuhannya ini kini sudah menjadi Nyonya Liong, tapi dalam percakapan ini dia tetap memanggil In Hou sebagai babah mantu.

Supaya tidak membingungkan biar*selanjutnya kita tetap mengistilahkan In-hujin terhadap Liong-hujin baru ini.

Panjang lebar bu inang menceritakan apa yang didengarnya hari itu, ingin menangis tapi air mata tak kuasa menetes, perasaan In-hujin memang sukar dilukiskan pada saat mana, akhirnya dia mengertak gigi, tanyanya.

"Bagaimana dengan perempuan she Ciu itu? Apakah perempuan itu betul-betul sudah menikah dengan dia?"

"Tiada kejadian itu, semua itu hanya cerita bohong Lohujin. Dua hari yang lalu seorang keponakanku baru kembali dari desa, katanya selama ini Ko-ya tidak menikah lagi, seorang diri dia rawat mengasuh dan mendidik Siau-san, meski tetap sehat tapi badannya jauh lebih kurus. Selama beberapa tahun dia tidak pernah keluar rumah pula. Kini Siausan sudah menanjak besar, dia titipkan kepada salah seorang kakak misannya untuk menjaganya, baru tahun ini dia boleh keluar rumah."

"Tahun ini Siau-san sudah berusia tiga belas tahun bukan?"

Ucap In-hujin mengada-ada.

"Betul, memang berusia tiga belas. Keponakanku pernah melihatnya, katanya Siau-san amat mirip dirimu, orang' sama memuji dia sebagai kembangnya kota Tay-tong."

Demikian tutur bu inang.

Kabar putrinya dan suami yang dahulu sudah diperoleh, memangnya dia dapat berbuat apa?

Kini statusnya adalah Liong-hujin.

Pangkat Liong Bun-kong ternyata menanjak terus, karirnya semakin maju dalam kalangan pemerintah, selama enam tahun menikah dengan dirinya, kini pangkatnya sudah sebagai Kiu-bun-te-tok yang menguasai keamanan kota raja.

Demi gengsi, martabat dan demi kekuasaan dan jabatan sang suami, sudah tentu dia tidak ingin pecah hubungan dengan suaminya sekarang, malah diapun merahasiakan diri bahwa dia telah tahu akan berita suaminya dulu dan puterinya.

Adalah mending kalau soal-soal yang menyedihkan bisa terlampias, kalau sampai mengganjel hati, itulah merupakan siksa derita yang paling berat di dunia ini.

Selama belasan hari sejak dia berbincang-bincang dengan bu inang tak pernah dia tidur tenang, siang seperti lazimnya dia ngobrol ala kadarnya dengan sang suami sebelum menunaikan tugas, maka tak lama kemudian dia mulai terserang penyakit hati yang memusingkan.

Kalau dulu dia mendambakan kehidupan makmur dan serba kecukupan di kota raja ini, tapi kini dia sudah bosan akan kehidupan sebagai nyonya agung yang dipuja.

Kepada suaminya dia memohon supaya diberi kesempatan pulang ke kampung halaman menyembuhkan penyakit.

Sudah tentu Liong Bun-kong juga tahu bahwa tidur seranjang dengan sang isteri tapi dia tidak pernah memiliki hatinya, karirnya sedang menanjak, sebagai pejabat tinggi sudah tentu dia lebih bernafsu mengejar harta dan pangkat dari pada mengejar nafsu birahi terhadap isteri yang kaku dan semakin berpenyakitan ini.

Maka dengan senang hati dia meluluskan permintaan sang isteri, kini dia lebih bebas lagi diluar pengawasan sang isteri.

"Kau pulang saja ke desaku,"

Demikian kata Liong Bunkong.

"disana aku punya seorang ponakan bernama Seng-bu, dua tahun yang lalu waktu dia kemari kau pernah melihatnya. Kepandaian sastra dan silatnya cukup lumayan, tahun lalu diapun sudah lulus Ki-jin tapi dia lebih suka mengejar karir di kalangan militer. Di rumah kau bisa wakilkan aku mengajar silat padanya. Kita tidak punya anak, sejak lama aku ingin dia menjadi pelanjut dari keluarga kita. Tapi soal ini biar ditunda bila kelak dia sudah betul-betul punya kedudukan tinggi."

Rumah keluarga Liong berada di Hoa-gi di daerah Kui-yang, itulah sebuah desa yang hijau permai.

Dia meninggalkan kehidupan kota yang ramai dan gaduh, menetap di desa yang aman tentram dan sejuk ini, maka kesehatannya lambat laun semakin baik.

Ilmu silat yang telah terlantar sekian tahun ini kembali dia latih lagi, bila senggang dia mengajar juga pada ponakan suaminya.

Liong Seng-bu memang anak cerdik, pandai mengambil hatinya lagi, lama-kelamaan dia merasa senang juga hidup di desa ini.

Tapi terasa pula bahwa keponakan yang satu ini sering bermuka-muka melucu dan ceriwis.

Kehidupan di desa memang lebih sederhana lebih senggang pula, sehingga sering dia melamun mengenang dan merindukan suami yang dahulu dan putrinya.

Rasa rindu ini tambah mendalam berikut berselangnya sang Waktu, di kala malam tiba seorang diri dia suka melamun.

"Hou-ko selama ini tak pernah menikah lagi, apakah dia masih merindukan cinta kita dulu? San-ji sudah dewasa, apakah dia masih mengingatku?"

Beberapa kali hampir dia tidak kuasa menahan gejolak perasaannya, ingin pulang ke rumah suaminya yang secara diam-diam untuk menengok putrinya.

Hidup di desa ini jauh dari jangkauan kekuasaan suaminya yang sekarang, dia memiliki kepandaian, kemana dia ingin pergi, siapapun takkan bisa menghalangi.

Tapi apakah dia boleh membawa keinginan hati secara serampangan?

Kini dia adalah isteri Liong Bunkong, Kiu-bun-te-tok yang paling berkuasa di kota raja, mana boleh dia rujuk kembali dengan suaminya yang dahulu?

Kesalahan di pihak sendiri, menyesal juga sudah kasep.

Lebih merisaukan lagi, apakah In Hou dan putrinya sudi memaafkan kesalahannya?

Kalau ganjalan hati ini tak dapat dilenyapkan, maka sakit hati inipun sukar disembuhkan.

Ai, kini dia sudah meninggalkan suami, keadaannya tetap tak berubah laksana burung kenari yang terkurung didalam sangkar.

Suatu kejadian yang tak pernah terpikir sebelumnya, suatu hari dia bertemu secara mendadak dengan suaminya terdahulu In Hou.

Dalam kehidupan di desa, secara pasti tiap pagi adalah latihan silat di hutan cemara di belakang rumahnya.

Ada kalanya sang keponakan mengiringi dia latihan, tapi lebih banyak waktu dia latihan sendiri.

Maklum pemuda yang suka royal sudah biasa kehidupan malam.

Liong Seng-bu selalu bangun siang, bila ingin mencuri kesenangan hati sang bibi saja baru dia bangun pagi menemaninya berlatih.

Lambat laun dari seminggu tiga empat kali semakin berkurang cuma satu kali dan akhirnya satu bulan dua tiga kali saja.

Hari itu dia hanya latihan sendiri.

Setelah dia berakhir berlatih ilmu pedang, lapat-lapat seperti didengarnya seorang mengheia napas.

Suara lembut yang hampir tak terdengar oleh siapapun, tapi justru bagi pendengarannya suara helaan ini sudah amat dikenalnya, malah helaan yang lirih ini laksana bunyi guntur di pinggir telinganya.

Sekejap ini hatinya gundah, risau dan resah, tapi sudah tiada kesempatan banyak pikir lagi, sekilas tertegun lekas dia berlari ke arah datangnya suara.

Di bilahan hutan sebelah dalam, memang dia menemukan seseorang yang sudah amat dikenalnya.

Sungguh mimpi juga tak pernah dia bayangkan?

Dia coba menggigit jari, tapi rasaaya sakit, jelas ini bukan mimpi.

Hampir dia tidak percaya akan apa yang disaksikan, orang yang berdiri di depannya memang bukan lain adalah suaminya yang terdahulu, In Hou.

In Hou sendiri tampak melenggong juga karena jejaknya mendadak konangan dan tidak sempat sembunyi.

"Hou-ko, sungguh tak kira aku masih bisa bertemu dengan kau. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa memang kasihan padaku yang selalu merindukan dikau, sengaja kau diantarnya ke mari untuk menemuiku? Tapi Hou-ko, aku, aku berdosa padamu, tiada muka aku menemuimu,"

Lama baru In-hujin buka suara sambil sesenggukan.

Sudah tentu dia tidak tahu bahwa bukan Tuhan yang pengasih terhadapnya juga bukan secara kebetulan, tapi adalah usaha In Hou sendiri yang telah memeras keringat dan pikiran, sehingga hari ini berhasil bersua disini.

In Hou sudah mencari tahu bahwa dia sudah meninggalkan kota raja dan tinggal di desa Hoa-gi ini, selama beberapa tahun terakhir ini tiga kali dia menempuh perjalanan lewat Kwi-yang, tiga kali sengaja dia mampir ke Hoa-gi dan sembunyi di sekitar rumah keluarga Liong, bukan harapannya ingin bertemu muka dan berbincang-bincang dengan bekas isterinya, kalau bisa mengintipnya secara diam-diam sudah lebih dari cukup puas untuknya.

Tapi karena setiap kali dia disibukkan oleh tugas penting, tak mungkin tinggal lama di Hoa-gi, apalagi sebagai orang asing di desa itu tak enak dia selalu mundar-mandir di sekitar rumah keluarga Liong.

Oleh karena itu setiap kali datang paling dia hanya berdiam sehari, datang tergesa-gesa pergi terburu-buru.

Pertama tidak ketemu, kedua memang sudah melihatnya, dia berada sama ponakan Liong Bun-kong, sudah tentu In Hou tidak berani unjuk diri.

Ketiga kali yaitu sekarang ini dan yang terakhir, tadi dia melihat bekas isterinya sedang berlatih pedang seorang diri.

Melihat wajahnya nan sayu dan kurus, tanpa terasa dia mengheia napas panjang.

"Tidak pantas aku menemuimu,"

Ujar In Hou.

"kalau dilihat orang, mungkin kau akan terlibat kesulitan. Aku hanya ingin tahu, selama beberapa tahun ini apakah kau baik-baik saja? Jikalau kau hidup bahagia, hatikupun lega dan tiada yang kupikirkan lagi."

Perasaan yang sekian lama tak terlampias ini kini bagai air bah yang menjebol tanggul tak tertahankan lagi, In-hujin memeluk suaminya, katanya sesenggukan.

"Bicara soal bahagia segala? Coba lihat penyakit kini meradang tubuhku, tinggal menunggu waktu saja untuk berpulang ke alam baka. Hou-ko, kejadian dulu..."

"Kejadian dulu jangan disinggung lagi. Katakan saja apa keinginanmu sekarang?"

"Tidak, betapapun aku harus bicara soal dulu, Hou-ko bukan maksudku hendak mengingkari dirimu. Soalnya aku ditipu oleh ayah bundaku."

"Bu inangmu sudah suruh keponakannya menjelaskan kepadaku. Kini aku hanya ingin tahu isi hatimu."

In Hou mendesak jawabannya, karuan hatinya gundah pikiran ruwet.

Memang dalam keadaan sekarang dia ingin kembali keharibaan suami dahulu, namun banyak pula soal soal yang dia kuatirkan dari akibat putusannya ini, meski hubungan boleh rujuk kembali, betapapun hubungan sudah pernah retak, umpama keretakan dapat ditambal, betapapun pasti ada bekas-bekasnya.

Memangnya mudah soal rujuk ini diselesaikan?

Akhirnya In Hou menghela napas, katanya.

"Aku ini laki-laki yang sudah kebacut kelana di Kangouw, sekarang kau adalah istri Kiu-bun-te-tok, sebetulnya tidak pantas, tidak pantas..."

Bercucuran air mata ln-hujin, katanya terisak-isak.

"Hou-ko, kau masih belum tahu perasaanku, tentang kejadian dulu itu, sungguh aku amat menyesal, bahwa kau tidak menyalahkan aku, aku sudah amat berterima kasih, memangnya aku harus menyalahkan kau malah?"

"Segala persoalan masa lalu anggaplah sudah himpas sama sekali. Kalau kau tidak merasakan kerendahan diriku sekarang, apa pula yang harus kau ragukan, ayolah ikut aku."

In-hujin menunduk kepala, katanya lirih.

"Hou-ko, berilah kesempatan untuk kuberpikir?"

Terunjuk mimik kecewa pada sorot mata ln Hou, katanya kemudian.

"Ya, kini kau sudah menjadi milik orang lain, memang tidak pantas kau pergi bersamaku. Waktu amat mendesak, tak boleh aku lama-lama disini. Begini saja, setelah kau pikirkan masak-masak, bila kau memang ingin ikut aku, boleh kau menyusulku di Kwi-lin."

In-hujin tertegun, katanya.

"Jadi kau tidak akan pulang, tujuanmu ke Kwi-lin dan sengaja mampir ke mari? Belum pernah aku ke Kwi-lin, disana kepada siapa aku harus mencari tahu jejakmu?"

Kata In Hou.

"Aku sudah berjanji untuk bertemu di Kwi-lin dengan Tam Pa-kun, setiba di Kwi-lin, boleh kau mencari Itcu-king-thian Lui Tin-gak. Bersama Tam-toako kemungkinan aku menginap di rumahnya. Umpama tidak disana, pasti dia akan membantumu mencari aku. It-cu-king-thian Lui Tin-gak cukup terkenal di Kwi-lin, gampang kau menemukan alamatnya."

Ada dua sebab kenapa In Hou menyuruh isterinya menyusul dia ke Kwi-lin.

Pertama karena dia tidak tahu kapan dirinya bisa kembali.

Kedua, jikalau isterinya pulang ke rumah di Tay-tong menunggu dirinya pulang, suaminya sekarang, yaitu Kiu-bun-te-tok Liong Bun-kong tahu alamat rumahnya, bukan mustahil dia mengutus anak buahnya meluruk ke rumahnya untuk membawanya pulang, hal ini akan menimbulkan banyak kesulitan.

Kwi-lin terletak jauh dari kota raja, kekuasaan Liong Bun-kong di kota raja takkan menjangkau sejauh ini.

Apalagi di Kwi-lin It-cu-king-thian Lui Tin-gak bisa membantu dan melindunginya.

In Hou percaya pada bekas isterinya ini, meski telah mengalami berbagai pertikaian, namun dia masih berani membocorkan rahasia jejaknya kepada sang isteri.

Malah dengan penuh keyakinan dia sudah siap untuk rujuk kembali di Kwi-lin.

Siapa tahu kepergiannya ini justeru merupakan perpisahan untuk selamanya.

Inilah pertemuan mereka suami isteri yang terakhir.

Karena rahasia jejaknya ini dibocorkan tanpa sengaja, sehingga mengakibatkan dirinya mengalami peristiwa fatal dan rahasia ini bahwasanya bukan In-hujin yang membocorkan.

Baru saja In-hujin mau bicara, tiba-tiba In Hou berkata lirih.

"Seperti ada orang datang. Ingat pesanku, pergilah ke Kwi-lin menemui aku, sekarang aku harus berlalu."

In-hujin tersentak sadar, lekas dia manggut-manggut, katanya lirih.

"Berangkatlah, pesanmu pasti kuingat baik-baik,"

Hakikatnya dia tidak memberi jawaban pasti kepada In Hou, bahwa dia akan menyusul In Hou ke Kwi-lin.

Sayang In Hou pergi terburu-buru, tak mungkin dia menelaah nada perkataannya.

Gerakan In Hou sungguh amat cepat dan tangkas, hanya sekejap saja dia sudah menghilang.

Sungguh girang tapi juga menyesal hati In-hujin.

Senang karena.

"Oh, kepandaiannya ternyata sudah jauh lebih maju, dengan ginkangnya yang tinggi ini, seharusnya dia bisa menghindari diriku, bahwa dia mau bertemu dengan aku, agaknya memang ada maksudnya rujuk kembali denganku,"

Diapun menyesal karena sampai detik ini dia tidak atau belum berani ambil putusan entah kemana dirinya harus menentukan arjh.

Dikala pikiran kalut inilah, langkah orang itu pun sudah terdengar semakin dekat, waktu In-hujin menoleh, dilihatnya keponakannya Liong Sc-bu tengah mendatangi.

Seperti biasanya Liong Se-bu cengar-cengir untuk senyum kepadanya, katanya memberi hormat.

"Bibi, hari ini aku terlambat bangun lagi, kebiasaan buruk bangun siang ini sungguh sukar kuatasi, ai, agak rikuh aku."

Diam-diam In-hujin perhatikan sikap dan mimiknya, agaknya dia belum tahu akan rahasia dirinya barusan. Jantungnya yang kebat-kebit lambat laun tenang kembali. Pikirnya.

"Tingkat kepandaian Liong Seng-bu kutahu betul, dengan bekal lwekangnya sekarang, tak mungkin dia bisa mencuri dengar pembicaraanku barusan dengan In Hou,"

Maka dia tekan gejolak perasaannya, katanya lembut.

"Kau memang tidak biasa bangun pagi, tidak usah dipaksakan. Yang benar, kalau kau ingin berjuang di kalangan kemiliteran, dengan bekal kepandaianmu sekarang sudah lebih dari cukup. Pamanmu juga akan membantu, memangnya apalagi yang kau kuatirkan?"

Liong Seng-bu mengunjuk sikap hambar dan gugup, katanya.

"Aku tahu paman pasti akan mengangkat diriku, tapi aku ingin mengandal tenagaku sendiri untuk angkat nama. Walau pun aku bukan dari kaum persilatan, tapi senang aku bergaul dengan mereka. Kalau banyak bekal kumiliki, tentu diriku takkan dipandang rendah orang. Bibi, kuharap kau tidak kecewa dan jangan karena aku terlalu malas sehingga tidak sudi mengajar padaku."

"Kau suka belajar silat, aku akan berdaya sekuat tenaga. Tapi, kenapa tadi kau bilang suka bergaul dengan kaum persilatan?"

"Pertama kaum persilatan umumnya orang-orang gagah, aku suka mereka. Kedua kelak bila aku sudah memperoleh pangkat, toh aku bisa menarik bantuan mereka untuk bekerja bagi kerajaan."

"Jauh juga rencanamu. Tak heran pamanmu sering memuji dikau. Katanya hanya kau kelak yang mampu mewarisi kebesaran keluarga Liong."

"Terima kasih akan pujian paman dan bibi, untuk ini mohon bibi suka membimbingku."

Terpaksa In Hu-jin mengajarkan beberapa jurus ilmu pedang, melihat orang berlatih secara rajin dan patuh akan petunjuknya, malah hasil yang dicapainya hari ini jauh lebih bagus dari biasanya.

Adalah hati In-hujin yang ruwet ini, beberapa kali bergebrak latihan selalu dia yang melakukan kesalahan.

Bahwa Liong Seng-bu hari ini berlatih dengan rajin dan tekun sekali, hal ini sudah melegakan hati In-hujin.

Begini dia berpikir, jikalau Liong Seng-bu sudah tahu pertemuan rahasia dirinya dengan In Hou tadi, pasti dia tidak setenang dan sesabar ini sikapnya.

Agaknya In-hujin menilai orang lain atas ukuran diri sendiri, diluar tahunya bahwa Liong Seng-bu yang masih berusia muda ini ternyata berotak cerdik dan banyak muslihatnya.

Yang betul pembicaraannya dengan In Hou tadi sudah dicuri dengar seluruhnya.

Sudah lama Liong Seng-bu mendekam di semaksemak rumput, setelah mendengar habis percakapan mereka, secara diam-diam dia menggeremet keluar ke tempat jauh, lalu dengan langkah berat putar balik.

Waktu mendekam di semak-semak rumput tadi Liong Seng-bu tidak berani bernapas keras-keras, sementara In Hou dan In-hujin samasama dibuai oleh curahan perasaan mereka, sudah tentu mereka tidak begitu cermat untuk memeriksa keadaan sekelilingnya.

Setelah berlatih beberapa jurus ilmu pedang.

In-hujin berkata.

"Belajar silat tidak boleh terlalu rakus, hari ini cukup sampai disini saja."

"Bibi,"

Tiba-tiba Liong Seng-bu berkata.

"ada apa sih kau hari ini?"

Mencelos hati In-hujin, katanya.

"Ah, tidak apa-apa. Kenapa kau bertanya begini padaku?"

"Hari ini agaknya bibi tidak sesabar biasanya mengajarku, atau mungkin aku yang terlalu bodoh."

"Hari ini latihanmu cukup baik, memang badanku yang rasanya kurang enak."

"Ooo, kiranya begitu. Bibi, kau tiada persoalan, biarlah keponakan memberi sedikit berita padamu!"

"Soal apa?"

"Besok aku ingin ke kota raja. Ada pesan apa bila perlu biar kukerjakan?"

"Ah, pesan apa. Katakan saja pada pamanmu, aku baikbaik saja di desa ini, tak usah dia kuatir akan diriku."

"Ada pesan lainnya?"

"Tiada lagi."

Liong Seng-bu seperti tidak mendengar omongannya, katanya seorang diri.

"Jikalau ada apa-apa dan bibi tidak leluasa suruh orang lain, keponakan bisa melakukan."

Berubah air muka In-hujin, katanya.

"Ada urusan apa yang perlu aku minta bantuan orang lain? Apa maksudmu?"

"Bibi jangan salah paham, paman dan bibi memandangku seperti anak kandung sendiri, bibi sudi membimbing dan mendidik setekun ini, aku anggap kau sebagai ibu kandungku sendiri Untuk ini harap bibi sudi menyelami ketulusan perasaanku."

"Pamanmu memang ada maksud memungutmu sebagai anak. Aku sih tak punya rejeki sebesar ini."

Tersipu-sipu Liong Seng-bu berlutut serta menyembah, katanya.

"Paman dan bibi sudi mengambilku sebagai anak, sungguh merupakan rejeki besar bagiku,"

Setelah menyembah dengan suara lembut dia memanggil "ibu".

"Setelah pamanmu mengangkatmu secara resmi, boleh kau memanggilku demikian. Sudahlah, kalau tiada urusan lain kau boleh pulang dulu."

"Bu, masih ada persoalan yang akan anak sampaikan."

"Baru kukatakan, jangan memanggilku demikian. Panggil bibi saja."

"Ya, ya, bibi, harap tunggu sebentar."

"Masih ada urusan apa yang hendak kau bicarakan?"

"Bi, meski ada sesuatu yang tidak enak kau bicarakan dengan orang lain, tapi paman ada satu hal yang tidak enak dibicarakan dengan kau, tapi dia pernah bicara dengan aku."

Berubah air muka In-hujin, katanya.

"Oo, ada kejadian itu? Apa perlu kau sampaikan kepadaku?"

"Paman memang ingin supaya kau tahu, maka aku disuruh tanya kepada bibi."

"Baiklah, coba katakan tentang soal apa?"

"Dua tahun yang lalu bibi pulang ke kampung untuk menyembuhkan penyakit, paman tahu hatimu selalu murung. Tempo hari waktu aku ke kota raja, paman bilang bila bibi suka membawa San-moay kemari untuk tinggal bersamamu."

Pucat wajah ln-hujin, katanya gemetar.

"Apa betul dia punya maksud begitu?"

"Kuatir kau marah dan menyinggung perasaanmu, maka paman tak berani buka suara. Kalau San-moay dibawa ke kota raja memang berabe, tapi kalau diajak kemari, orang luar pasti tidak tahu,"

Lalu dia merendahkan suara dan berkata lebih lanjut.

"Paman bilang, terhadap In Tayhiap diapun amat mengagumi, sayang tabiat kalian berbeda, sehingga perjodohan tidak terjalin abadi, hal ini tak boleh menyalahkan dia, bahwasanya paman tidak pernah cemburu terhadap In Tayhiap."

"Tidak usah kau katakan lagi,"

Teriak In-hujin.

"Ya, paman hanya ingin supaya kau tahu maksudnya, sebetulnya dia bukan orang berjiwa sempit atau suka jelus. Keberangkatanku ke kota raja akan lewat Tay-tong, kalau bibi suka menjemput San-moay kemari, sekembalinya nanti kuselesaikan juga soal ini."

Kalut pikiran In-hujin, katanya sesaat kemudian.

"Usianya sudah besar, terserah kepadanya saja."

"Kalau begitu biar aku menengoknya dulu, tanya dulu maksudnya. Bibi, sukalah kau menulis surat untuk dia."

"Berapa lama kau pergi?"

"Paling cepat empat puluh hari, tapi takkan keliwat dua bulan."

"Surat tidak perlu kutulis, kau bawa tusuk kundai ini, dia mengenal barang-barangku. Katakan bahwa aku amat merindukan dia, kalau dia mau boleh kau membawanya kemari. Aku tahu kau pandai putar lidah, jauh lebih baik dari pada tulis surat."

Seperti tertawa tidak tertawa mimik Liong Seng-bu, katanya.

"Bibi, jangan kau memujiku, semoga saja aku tidak mengecewakan harapan bibi,"

Segera dia terima tusuk kundai itu.

Hari kedua segera berangkat.

Di rumah In-hujin hidup sehari bagai setahun pikir yang ini merisaukan yang itu.

Hari-hari berlalu secara berlarut-larut berkepanjangan, sejauh ini dia tetap sukar ambil keputusan.

Di gunting tidak putus, dibetulkan tetap tidak bisa.

Perasaannya waktu ini sungguh seruwet benang pintal yang sudah gubat menggubat tak mungkin diluruskan lagi.

Mungkinkah dia rebah kembali keharibaan suami yang terdahulu?

Walau dia tahu In Hou jujur, bijak dan setulus hatinya ingin rujuk kembali.

In Hou adalah pendekar gagah yang tersohor di kalangan Kangouw, dirinya adalah wanita yang sudah hina dan nista, kalau dia kembali kedalam kalangan keluarga In, apakah ada muka dia bertemu dengan kawan-kawan In Hou yang simpatik?

In Hou mungkin tidak takut ditertawakan orang, tapi dirinyalah yang akan menjadi buah bibir orang banyak.

Bagaimana dia bisa angkat kepala ditatap oleh lirikan mata yang menghina dan mencemooh?

Akan tetapi dia sudah kenyang merana dalam kehidupan yang serba munafik dan kesepian ini, hidup yang tiada arti ini, tidak mungkin berkumpul dengan orang yang paling dekat dan dicintainya, meski makan tidur berkecukupan, tak ubahnya dirinya seperti mayat hidup melulu.

Perhitungan yang paling bijaksana adalah, mengambil In San untuk kumpul bersama dirinya, dari sini dia akan leluasa minggat bersama puterinya menjemput In Hou, sekeluarga hidup dalam pengasingan yang tidak mungkin dikenal orang pula.

Apakah In Hou sudi berbuat demikian?

Dia tahu bagaimana watak suaminya, jelas In Hou takkan mau melakukan perbuatan yang dianggapnya memalukan ini, biarlah, umpama rencana ini tak bisa terlaksana, ada sang puteri tunggal didampingnya, hidupnya tidak akan menderita dan tersiksa seperti ini.

Dilandasi oleh perasaan yang serba kalut, ini, maka dia menyetujui maksud Liong Seng-bu yang akan pergi menjemput puterinya.

Bahwa putusan masih belum positip biarlah hal ini diputuskan begini sementara, segala sesuatunya biar diputuskan setelah Liong Seng-bu kembali saja.

In-hujin tidak pergi ke Kwi-lin mencari suami, tapi dia mengutus seorang pelayan pribadinya, dengan menyaru lakilaki mengantar suratnya ke rumah keluarga Lui di Kwi-lin, supaya In Hou tahu tekad dan putusannya, tahu gejolak perasaannya.

Pelayan pribadi ini sudah pulang sebelum Liong Seng-bu pulang.

Kabar yang dibawa pulang adalah berita buruk yang jauh berada diluar dugaannya.

Rumah It-cu-king-thian terbakar ludes secara aneh, kini sudah tinggal puing-puingnya saja, orang-orang Iceluarga Lui entah sudah pindah kemana lagi.

Bahwa It-cu-king-thian tidak ditemukan, sudah tentu suaminya terdahulu In Hou juga tidak bisa ditemukan.

Tiga bulan lebih, jauh lebih lama dari janjinya baru Liong Seng-bu pulang.

Seperti berangkatnya tempo hari, pergi seorang diri, pulang juga seorang diri, hakikatnya dia tidak membawa In San pulang.

"Bibi, maaf kali ini aku tak mampu menunaikan tugas yang kau bebankan padaku, sungguh aku merasa malu dan menyesal,"

Begitu sampai di rumah Liong Seng-bu segera lapor kepada sang bibi. In-hujin amat kecewa, tanyanya.

"Apa kau tidak bertemu dengan Siau-san?"

"Ketemu, tapi dia tidak mau ikut kemari. Nah lihatlah tusuk kundai ini,"

Tanda mata itu dia kembalikan kepada sang bibi sambil menunduk kepala.

Tusuk kundai itu sedikit gumpil, tanpa dijelaskan oleh Liong Seng-bu, In-hujin juga sudah maklum bahwa tusuk kundai itu dibanting oleh puterinya.

"Ternyata begitu benci Siau-san kepadaku,"

Bagai disayatsayat perasaan In-hujin, tanpa kuasa air matanya bercucuran, tapi ada persoalan lain yang membuatnya lebih kaget, lebih menyakitkan hati lagi.

"Bibi, harap kau tenangkan diri, masih ada yang kusampaikan. Cuma agak sulit juga aku membicarakan soal ini."

Bergetar pula perasaan In-hujin, sekuatnya dia membendung air mata, katanya.

"Boleh kau katakan saja."

"Perjalanan kali ini terlambat satu bulan dari waktu yang kurencanakan, karena aku mendengar kabar yang agak aneh dan ganjil. Demi mencari tahu kebenaran dari berita itu, pernah aku mencari beberapa orang yang punya sumber penyelidikan luas di kalangan Kangouw."

"Berita aneh dan ganjil apa?"

Tanya In-hujin.

"Tentunya kau tahu betapa besar rasa kagum paman dan aku terhadap ln Tayhiap, meskipun terhadap paman mungkin dia masih sirik dan tidak senang hati, tapi paman tetap memperhatikan dirinya."

"Adakah dia kena perkara apa?"

In-hujin mendesak.

"Betul,"

Sahut Liong Seng-bu manggut.

"di Kwi-lin ada seorang pendekar besar yang berjuluk It-cu-king-thian Lui Tingak, apakah bibi pernah mendengar namanya?"

"Pernah, dia kenapa?"

"Konon beberapa bulan yang lalu In Tayhiap pernah janji bertemu dengan dia di Kwi-lin, waktu dia kesana, mungkin saatnya aku berangkat ke kota raja itu."

Timbul rasa curiga In-hujin.

"Dari mana dia bisa memperoleh kabar secepat ini? Mungkinkah pembicaraanku dengan Hou-ko tempo hari dicuri dengar olehnya? Tapi melihat gelagatnya waktu itu, tidak mungkin."

Liong Seng-bu seperti dapat menebak isi hatinya, katanya lebih lanjut.

"Bibi kan tahu ayah paman sebagai sekretaris militer, maka kaum persilatan ternama diberbagai daerah semuanya masuk dalam daftar hitamnya."

Penjelasan ini memang masuk akal, untuk sementara Inhujin anggap obrolannya dapat dipercaya, tanyanya.

"Di kota raja, kabar apa yang kau dengar?"

"Tidak lama setelah aku di kota raja, kebetulan ada sebuah surat laporan yang dibawa oleh kuda yang dapat lari delapan ratus li sehari dari Kwi-lin, konon rumah It-cu-king-thian Lui Tin-gak secara aneh terbakar habis, di kala rumah itu terbakar ada orang melihat In Tayhiap lari keluar dengan luka parah."

Bahwa rumah keluarga Lui sudah tinggal puing-puingnya saja, hal ini sudah diketahui oleh In-hujin.

Tapi In Hou terluka parah sejauh ini dia masih belum tahu, karuan dia kaget dan berubah air mukanya, tanyanya.

"Bagaimana akhirnya?"

"Berita itu singkat saja, waktu aku tetap berada di kota raja, tiada surat laporan susulan lagi dari Kwi-lin. Kejadian selanjutnya dapat kuberitahu setelah berada di kalangan Kangouw, tapi apa kabar itu benar atau salah juga tidak berani aku memastikan."

"Peduli benar atau salah, lekas jelaskan."

Desak In-hujin.

"Konon It-cu-king-thian Lui Tin-gak diagulkan sebagai pendekar besar, namun dia adalah manusia munafik yang berhati keji dan telengas, entah karena apa dia berusaha mencelakai jiwa ln Tayhiap. In Tayhiap lari keluar dengan luka parah dan sembunyi di rumah seorang teman, tak nyana temannya ini juga sekongkol dengan Lui Tin-gak."

"Jadi dia dicelakai orang? Bagaimana selanjutnya?"

Malam itu, rumah temannya itu juga terbakar habis secara aneh. Ada orang melihat dia masuk, tapi tiada yang melihat dia lari keluar."

"Siapa temannya itu?"

"Kabarnya seorang kakek she Tan guru musik harpa bersama cucunya. Malam itu hanya mereka berdua saja yang kelihatan lari keluar, seperti juga keluarga Lui Tin-gak, entah kemana jejak mereka berdua yang terang mereka lenyap dari Kwi-lin secara misterius."

"In, In Hou bagaimana? Adakah orang yang menemukan mayatnya?"

"Rumah keluarga Tan tinggal puing-puingnya, tapi jenazah atau tulang belulang In Tayhiap sih tidak ditemukan. Tapi sejak malam itu tiada orang pernah melihatnya lagi,"

Dari penuturan ini dapat diraba bahwa jiwa In Hou lebih banyak celaka dari pada selamat.

Gelap pandangan In-hujin, seketika dia semaput sayup-sayup masih sempat didengarnya Liong Seng-bu berteriak-teriak memanggil "Bibi".

Sejak hari itu, In-hujin tidak pernah menyinggung tentang In Hou lagi, penyakitnya bertambah parah, dua tiga hari kumat sekali semakin lama semakin parah dan rumit.

Untung dia masih merindukan puteri tunggalnya, maka dia harus berontak untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu setiap hari dia tetap berlatih silat untuk menambah tenaga kondisi badannya.

Sejak itu pula Liong Seng-bu tak berani menyinggung tentang In Hou juga, sampai kira-kira tiga tahun kemudian, kira-kira sebulan lebih yang lalu suatu hari dia pulang tergesa-gesa.

"Belakangan ini terjadi sesuatu peristiwa aneh di Kangouw..."

Begitu masuk rumah, setelah memberi selamat pada bibinya lantas dia bercerita panjang lebar.

"Kejadian aneh apa?"

Tanya In-hujin, karena iseng ingin juga dia tahu berita apa yang terjadi diluar.

"Di kalangan Kangouw baru saja muncul seorang pemuda yang berusia belum genap 20 tahun, dia pandai memainkan ilmu golok keluarga In."

In-hujin kaget katanya.

"Dia pandai main ilmu golok keluarga In,"

In-hujin tahu, ln Hou hakikatnya tidak pernah menerima murid, ilmu golok itu hanya khusus dia ajarkan kepada putri tunggalnya.

"Masih ada yang lebih aneh lagi, pemuda ini pun memakai sebilah golok pusaka yang tajam sekali, menurut orang-orang yang kenal baik dengan In Tayhiap, golok pusaka itu adalah golok warisan keluarga In Tayhiap."

"Siapa nama dan she pemuda itu? Bagaimana asalusulnya?"

Tanya ln-hujin, seketika pucat pias air mukanya.

"Semula tiada orang yang tahu asal-usulnya, akhirnya seorang teman In Tayhiap yang suka membantu mencari tahu kian kemari, syukur usahanya ternyata berhasil. Pemuda itu she Tan bernama Ciok-sing, asal dari kota Kwi-lin."

Gemetar suara In-hujin, katanya.

"Kau, dulu kau pernah bilang, pada malam hilangnya In Hou tiga tahun yang lalu, dia sembunyi di rumah seorang sahabatnya. Sahabatnya itu she Tan. Pada malam itu juga rumah keluarga Tan juga terbakar habis, keluarga mereka juga lenyap tak berbekas."

"Betul,"

Ujar Liong Seng-bu menghela napas.

"Keluarga Tan itu terdiri kakek dan cucu, sang kakek adalah ahli harpa, cucunya waktu itu berusia lima belasan. Pemuda yang pandai main ilmu golok keluarga In muncul di Kangouw ini kecuali membawa golok pusaka In Hou, diapun selalu membawa sebuah harpa, petikan harpanya juga cukup ahli. Usianya kirakira sebaya dengan cucu keluarga Tan itu. Ai, kukira nasib In Tayhiap tentu celaka."

Sebetulnya In-hujin juga sudah menduga ke arah ini, dalam hati dia menerka.

Pasti It-cu-king-thian bersekongkol dengan Tan Ciok-sing mencelakai In Hou, buku pelajaran ilmu golok dan golok pusaka itu dirampas mereka.

Bagaikan ribuan panah mencocok jantung, tak terperikan sakit hati In-hujin, kedua matanya membelalak merah, desisnya sambil mengolak gigi.

"Baik, nama Tan Ciok-sing akan kuukir didalam benakku,"

Habis bicara diapun meloso roboh semaput.

000OOO000 Sungguh tak kira tiga bulan kemudian, Tan Ciok-sing yang dianggapnya pembunuh bekas suaminya ini, kepergok di rumah sang suami pada malam pertama dia tiba-tiba ada disini.

Meski sudah cerai selama delapan belas tahun, namun selama ini dalam sanubari In-hujin masih tetap pandang In Hou sebagai suaminya, maka dia harus menuntut balas atas kematian suami, golok pusaka milik sang suami harus direbut kembali, dengan golok pusaka milik suaminya itu itu dia akan membunuh Tan Ciok-sing.

Tak nyana pada detik-detik yang menentukan itu mendadak penyakitnya kumat.

Lebih diluar dugaannya lagi bahwa Tan Ciok-sing yang semula dianggap sebagai pembunuh suami dan hampir dia cekik sampai mati ini, sekarang berbalik menolong djiwanya dari renggutan elmaut.

Pemuda sejujur, bijak dan rela berkorban sendiri demi menolong orang lain, mungkinkah dia sampai hati benar membunuh suaminya yang sedang celaka serta merebut goloknya?

Kepada pihak mana dia harus percaya?

Percaya pada Liong Seng-bu atau percaya pada pemuda di hadapannya ini?

Hatinya yang rawan ini menjadi hambar, seakan-akan jalan pikirannya berhenti sama sekali.

Di tengah alunan irama harpa yang lembut ini, tanpa merasa dia memejam mata, apapun tidak dipikir, dengan lelap dia pulas tanpa terasa.

Waktu dia siuman hari sudah pagi pada hari kedua esok harinya, tampak Tan Ciok-sing masih menunggu di pinggir pembaringan.

"In-hujin, kau sudah baik?"

Tanya Tan Ciok-sing melihat dia membuka mata. Sungguh haru dan menyesal pula hati In-hujin, katanya.

"Lebih baik sedikit. Apa semalam suntuk ini kau tidak tidur? Banyak terima kasih akan kebaikan dan jerih payahmu."

"Ini memang sudah menjadi kewajiban Wanpwe,"

Ucap Tan Ciok-sing.

"sudah kumasakkan bubur, kau tunggu sebentar, biar kuambil di dapur."

Semangat In-hujin sudah jauh lebih segar, perutnya memang sedang lapar Tan Ciok-sing membawa semangkok bubur yang masih mengepul panas, eh, masih menyediakan dua macam lauk pauk lagi.

Waktu makan bubur itu, tak urung berkaca-kaca kedua bola mata In-hujin.

"Bikin kau repot saja, hayolah kau pun makan."

Kata In-hujin. Tan Ciok-sing tertawa, katanya.

"Dalam kota sudah sukar menemukan makanan, untung di dapur masih ada disimpan segentong besar, kira-kira cukup untuk makan tiga hari. Aku sendiri membawa rangsum kering, barusan aku sudah makan."

Pikiran kalut masih berkecamuk dalam hati, terasa oleh Inhujin banyak persoalan yang dia ingin tanya kepada pemuda ini, tapi tak tahu dari hal apa dia harus mulai bicara.

Dengan teliti Tan Ciok-sing meladeni In-hujin sampai habis makan, katanya.

"Semangatmu baru saja pulih jangan terlalu banyak bicara, istirahatlah sebentar lagi,"

"Baiklah, ceritakan dulu persoalanmu kepadaku,"

Kata Inhujin.

"Memang akan kulaporkan kepada Hujin tentang pertemuanku dengan In Tayhiap. Tiga tahun yang lalu..."

"In-hujin tersenyum, katanya ramah.

"Aku tidak senang dipanggil Hujin, kau panggil bibi saja kepadaku,"

Pada hal semalam dia melarang Tan Ciok-sing memanggilnya "bibi".

Tan Ciok-sing bercerita dari sejak kakeknya menolong In Hou, sampai kematiannya secara mengenaskan, bicara sampai pesan In Hou yang terakhir, lalu diceritakan pula pengalamannya di Ciok-lin yang akhirnya diangkat jadi murid penutup Thio Tan-hong, sebelum sang guru meninggal, Pekhong-kiam dan Ceng-bing-kiam diwariskan padanya.

Dari mulut Tan Ciok-sing In-hujin memperoleh kepastian akan kematian suaminya, sungguh bukan kepalang rasa pedih Inhujin.

Untung hal ini sebelumnya sudah dia ketahui, meski hati merasa perih, dia masih kuat menerima pukulan batin ini.

Tan Ciok-sing dapat menyelami rasa sedih seperti ini takkan terbujuk dengan kata-kata manis apapun, maka diapun diam saja berdiri di samping tanpa berbicara.

Sesaat kemudian, setelah In-hujin menyeka air mata, katanya.

"Wanpwe memang tidak punya rejeki, pada hari aku diterima murid oleh Suhu, pada hari itu pula Suhu meninggal dunia, hanya dua jam aku berkumpul dan bicara dengan beliau, hanya beberapa soal penting saja yang dia bicarakan kepadaku."

"Dia suruh kau menyerahkan Ceng-bing-kiam kepada putriku, adakah dia pesan apa-apa."

"Katanya pedang ini semula memang milik keluarga In."

"Benar ini memang milik Sunio (Ibu guru) atau bibi ayah San-ji yang dipakainya dulu. Lalu Pek-hong-kiam?"

"Beliau menyerahkan kepadaku, dipesan supaya aku menggunakan pedang ini secara baik-baik."

In-hujin seperti memikirkan sesuatu, katanya sesaat kemudian.

"Apa dia tidak menceritakan asal-usul kedua pedang ini?"

"Aku hanya tahu bahwa kedua bilah pedang dulu adalah senjata yang dipakai Suhu dan Sunio."

"Kecuali itu, seharusnya gurumu memberitahu persoalan lain, apa dia tidak sempat berpesan padamu?"

Merah muka Tan Ciok-sing, sahutnya tergagap.

"Ya, beliau tidak bilang apa-apa."

Mendengar kata memperhatikan mimik, segera In-hujin tahu karena malu Tan Ciok-sing tidak berani memberitahu, pada hal dia sudah tahu kemana maksud tujuan gurunya, namun di hadapan Inhujin dia tidak berani berbincang terus terang.

Pek-hong-ceng-bing merupakan dua pedang berpasangan, merupakan senjata pengikat perjodohan Thio Tan-hong dengan isterinya di waktu muda.

Dalam hati In-hujin berpikir.

"Agaknya Thio Tan-hong ada maksud menjodohkan San-ji kepada anak ini, waktu Thio Tan-hong bertemu dia sebelumnya sudah tahu bahwa Hou-ko sudah meninggal, sebagai sanak kadang tertua dari keluarga In, adalah menjadi kewajibannya untuk memutuskan perjodohan anak San. Houko menyuruhnya pulang menyerahkan golok dan buku ajaran ilmu goloknya mungkin sebelumnya dia juga sudah punya maksud yang sama?"

Tanpa terasa In-hujin memandangnya terlongong sekian lamanya, pikirnya lagi.

"Kungfu bocah ini amat baik, jujur, tulus dan bajik. Tapi soal lain yang dikatakan Seng-bu itu entah betul atau tidak? Jikalau anak San sudah punya simpanan dalam hatinya, perjodohan ini jelas tidak mungkin dibicarakan."

Dia teringat persoalan yang pernah dibicarakan Liong Sengbu.

Waktu itu dia rebah di atas ranjang setelah penyakitnya kumat, seperti anak kandung sendiri Liong Seng-bu dengan teliti meladeninya, setiap hari masak obat dan mengajak ngobrol.

Meski merasakan sang keponakan ini agak bermukamuka, namun dalam hati dia berterima kasih akan kebaikannya yang sudi merawat dirinya.

Suatu hari kesehatannya jauh lebih baik dari biasanya, tibatiba Liong Seng-bu datang dan berkata kepadanya.

"Bibi, sebetulnya masih ada sesuatu hal yang hari itu ingin kusampaikan kepada kau orang tua, mengingat penyakit bibi masih berat, maka kutunda sampai hari ini. Kupikir lebih baik kalau hal ini kubicarakan dengan kau orang tua."

Bagai burung yang sudah ketakutan melihat bidikan panah, jantung In-hujin berdetak pula, katanya dengan rasa kaget.

"Apakah kabar buruk?"

"Untuk ini bibi boleh lega hati, meskipun bukan kabar baik, tapi juga bukan kabar buruk."

"Baik coba katakan. Soal apa?"

"Waktu aku pulang dulu pernah aku mampir ke Tay-tong. Untuk kedua kalinya aku bertemu dengan adik San."

Menegang perasaan In-hujin, tanyanya.

"Dia bagaimana?"

"Adik San baik-baik saja,"

Ucap Liong Seng-bu tersenyum.

"kini dia sudah tumbuh dewasa, merupakan gadis cantik rupawan."

"Yang ingin kuketahui, apa saja yang dia bicarakan dengan kau?"

"Kini dia sudah tahu urusan. Waktu aku memberitahu bahwa kau amat merindukan dia, dia menunduk, katanya.

"Akupun merindukan ibu, tapi aku ingin menunggu ayah pulang, setelah mendapat izinnya baru aku mau menemui dia."

Senang dan duka pula hati In-hujin, katanya.

"Bahwa dia masih menganggapku sebagai ibunya, matipun aku bisa meram. Tapi dia ingin menunggu ayahnya pulang, harapan ini jelas takkan terkabul selamanya."

"Kuatir dia tidak kuat menghadapi pukulan batin, maka peristiwa yang menimpa In Tayhiap tak berani kuceritakan padanya. Tentang pemuda yang muncul di kalangan Kangouw serta pandai memainkan ilmu golok keluarga In kuketahui belakangan. Maka akupun tak berani kasih tahu padanya."

In-hujin menghela napas, katanya.

"Aku tak berani mengharapkan lagi. Betapapun aku tidak tega meninggalkan dia sebagai yatim piatu yang harus hidup sebatang kara."

"Memangnya, paman juga berpikir demikian."

"Lho, apa pamanmu juga menyinggung anak San terhadapmu?"

"Paman bilang, bila ayahnya mengalami sesuatu, dia masih punya ibu, paman dengan senang hati menjadi ayah tirinya. Paman juga bilang adalah jamak kalau kita memanggilnya pulang kesini, kalau sudah saatnya dinikahkan supaya yang jadi orang tua tidak kapiran memikirkan nasibnya kelak."

"Usianya masih kecil, soal menikah boleh kelak dibicarakan. Syukur kalau dia mau berada di dampingku saja."

"Mungkin bibi tidak tahu, soal perjodohan adik San, paman memang punya cukup alasan untuk membicarakan hal ini."

"Alasan apa?"

Tanya In-hujin melengak.

"Paman ada mendengar kabar, katakan ada sebuah keluarga yang akan meminang adik San, apakah adik San mencintai orang itu, paman sendiri belum tahu, tapi kalau hal ini tidak lekas dicegah, kemungkinan bisa menjadi kenyataan. Paman amat menguatirkan hal ini, ai, orang itu, orang itu..."

Tak urung In-hujin ikut kaget pula, tanyanya.

"Siapakah orang itu? Bagaimana asal-usulnya?"

Liong Seng-bu menenggak habis secangkir teh baru bicara pula.

"Orang itu bernama Toan Kiam-ping, asal-usulnya memang cukup tinggi dan agung, dia adalah pangeran dari keluarga Toan di Tayli."

Lega hati In-hujin, pikirnya.

"Kenapa aku melupakan keluarga Toan, selama ini keluarga Toan dan In punya hubungan yang intim. Waktu aku berada' di rumah keluarga In, pernah In Hou membicarakan pangeran raja ini terhadapku. Konon pangeran ini amat cerdik pandai, baru berusia belasan tahun sudah mempunyai dasar Kungfu dan ilmu sastra yang tinggi. Sayang aku tak pernah melihatnya. Dihitung-hitung usianya mungkin 10 tahun lebih tua dari anak San, asal orangnya baik, 10 tahun lebih tua dari sang isteri juga tidak jadi soal. Tapi kenapa paman Seng-bu malah menguatirkan hal ini?"

Seperti merasakan kekuatiran In-hujin, Liong Seng-bu bercerita lebih lanjut.

"Toan Kiam-ping kenyataan memang seorang pangeran raja, bahwa keluarga In dapat berbesanan dengan keluarga agung ini sungguh merupakan suatu kehormatan yang tak terhingga..."

In-hujin mengerutkan kening, katanya.

"Ayah anak San bukan laki-laki yang kemaruk harta dan pangkat, bilamana anak San memang mencintai orang itu, kupikir pasti bukan lantaran dia itu seorang pangeran. Sejak kecil wataknya mirip sang ayah. Letak persoalannya hanya pada Siau-ongya itu apakah dia seorang baik?"

"Omongan bibi memang betul, persoalan justeru timbul pada sang pangeran ini."

"Apa pamanmu sudah mengutus orang menyelidiki hal ini? Apa sepak terjangnya tidak genah?"

"Mungkin lebih parah dari sepak terjang yang tidak genah."

"O, soal apakah yang sedemikian gawatnya?"

"Bibi tidak usah gugup, biar ku jelaskan dengan jelas, Pangeran ini tahun ini berusia 27, belum menikah. Konon orangnya romantis dan suka main perempuan, di rumahnya banyak pelayan perempuan cantik-cantik. Bagi keluarga bangsawan tidaklah dibuat heran kalau dia punya tiga isteri lima gundik, tapi yang membuat paman kuatir adalah persoalan lain."

"Persoalan apa pula?"

In-hujin, menegas.

"Keluarga Toan menjadi raja di Tayli sejak dinasti Song. Rakyat Tayli terdiri dari suku bangsa minoritet, bangsa Han kita jarang yang bisa hidup disana. Keluarga Toan juga dari suku minoritet, karena sudah bertahun-tahun mereka bergaul dan berhubungan dengan bangsa Han kita, maka peradaban mereka lebih ' maju dan adat istiadatpun mengikuti perilaku bangsa Han kita. Dan letak persoalannya justru keluarga Toan ini bukan suku bangsa Han. Keluarga Toan memang punya wibawa besar di kalangan rakyat Tayli, maka sejauh ini, Baginda Raja masih membiarkan mereka menjabat kedudukan tapi tanpa kekuasaan berarti, jadi kedudukan mereka boleh dikata sudah senin kemis. Jadi 'pangeran' inipun hanya nama kosong belaka."

Berkerut kening In-hujin, katanya.

"Untuk apa kau bicara soal ini padaku? Peduli Toan Kiam-ping itu pangeran atau orang biasa, asal ayahnya setuju dan dia sendiri juga suka, tidak jadi persoalan bagi aku."

Liong Seng-bu tertawa, katanya.

"Betul omongan bibi. Akupun tidak suka memandang tinggi jabatan dan kekuasaan. Tapi lebih mending kalau dia seorang rakyat jelata, celaka adalah kalau dia dicurigai sebagai kaum pemberontak, kalau adik San menikah dengan dia bukankah dia bakal ketimpa mara bahaya?"

Sampai disini Liong Seng-bu melirik In-hujin lalu meneruskan dengan merendahkan suara.

"Kali ini paman ada memberi kisikan sebuah rahasia kepadaku. Katanya kerajaan sedang siap-siap turun tangan kepada keluarga Toan, waktunya tidak akan lama."

"Lebih celaka lagi, Toan Kiam-ping sang pangeran ini tidak tahu diri, dia bergaul dengan berbagai aliran kaum persilatan, malah secara diam-diam juga ada mengikat hubungan dengan Kim-to Cecu yang bercokol diluar Gan-bun-koan. Baginda sedang memerintahkan paman untuk mengutus jago-jagonya pergi kesana mengumpulkan data-data dan bukti bahwa keluarga Toan memang nyata berkomplot dengan kaum pemberontak. Tapi lantaran agresi Watsu sehingga situasi cukup genting di perbatasan, mungkin persoalan ini tertunda untuk sementara waktu lagi.

"O, jadi karena perintah rahasia Baginda itu, maka pamanmu kuatir mungkin aku juga bisa keserempet perkara,"

Demikian ujar In-hujin.

"Paman ada maksud untuk menjemput adik San pulang saja dan cepat-cepat dinikahkan lebih baik. Dari omongan paman dapat kurasakan bahwa dia sudah punya calon pilihannya."

"Siapa calon pilihannya?"

"Paman tidak jelaskan, aku tidak enak tanya. Tapi paman ada menulis sepucuk surat untuk bibi, mungkin dalam surat dia ada menyinggung soal ini. Apa bibi ada maksud untuk membaca surat itu?"

"Baiklah, mari serahkan aku. Tolong suruhlah pelayan memasak kuah untukku, kau tak usah repot-repot meladeniku lagi,"

Tampak sikap kikuk dan risi Liong Seng-bu, dengan tawa lucu segera dia mengiakan terus mengundurkan diri.

Waktu In-hujin buka surat itu dan membacanya, isi surat memang membicarakan soal pernikahan In San, tapi calon menantu yang dia penujui jusreru berada diluar dugaannya.

Ternyata suaminya atau paman Liong Seng-bu berpendapat supaya putrinya In San dikawinkan dengan keponakannya Liong Seng-bu.

Dikatakan dalam surat itu, bahwa In San memang puterinya, dalam arti kedudukan sekarang terhitung adik Liong Seng-bu, tapi betapapun mereka dari dua marga yang berbeda, jadi berikutnya mereka masih boleh juga terikat sebagai suami isteri.

Dikatakan pula bahwa sang ponakan yang satu ini, kelak akan mewarisi kedudukannya, betapa baiknya kalau hubungan famili ini lebih dekat lagi dengan ikatan pernikahan ini.

Tapi dalam pendapat In-hujin justeru berbeda, dia tidak merasakan kebaikan dari pernikahan ini, bukan karena dia kuatir melanggar peradatan atau tingkatan, tapi dari pengalaman hidupnya sendiri yang serba merana ini, dia merasakan soal pernikahan ini tidak boleh terjadi.

Didalam keluarga Liong, lahir batinnya boleh dikata terpukul amat berat.

Apalagi watak puterinya menuruni sifat bapaknya, sebagai seorang ibu dia cukup tahu perangai puterinya ini.

Sungguh tak berani dia membayangkan apa jadinya bila puterinya betul-betul menjadi nyonya muda keluarga Liong.

Apalagi puterinya itu katanya sudah punya idaman hati.

Setelah In-hujin sudah menghabiskan semangkok bubur, dengan alasan memberi salam Liong Seng-bu datang pula dan ajak ngobrol pula padanya.

Tanyanya.

"Apakah bibi sudah membaca surat paman?"

"Sudah,"

Sahut in-hujin tawar.

"tiada apa-apa hanya surat biasa."

Karena tadi bilang tidak tahu apa isi surat itu, maka Liong Seng-bu hanya menyengir saja mendengar jawaban In-hujin, sudah tentu dia tidak berani membongkar jawabannya yang bohong.

Tapi dasar mukanya tebal dia masih berkata.

"Mengenai soal adik San, paman ada memberi petunjuk kepadaku."

"Petunjuk apa?"

"Paman ada bilang, bila bibi mau pergi sendiri membawa adik San pulang, diapun setuju. Beliau malah suruh aku menemani bibi. Kalau bibi merasa ripuh, boleh tulis surat saja anak buah paman akan membawanya kesana bersamaku menjemput adik San kemari."

"Aku masih sakit, tak mungkin menempuh perjalanan, biarlah tunggu setelah penyakitku sembuh saja."

Liong Seng-bu tidak berani terlalu mendesak, katanya.

"Setelah penyakit bibi sembuh juga baik, tapi... dua tiga hari lagi keponakan akan keluar, paman memberi tugas kepadaku."

"Kau boleh pergi, sekembalimu nanti mungkin penyakitku juga sudah sembuh."

Maka hari kedua, Liong Seng-bu meninggalkan rumah.

Sang waktu berselang dengan cepat tanpa terasa sebulan telah lalu, kabar yang tersiar diluar semakin kalut, konon pasukan Watsu sudah menduduki Gan-bun-koan, sementara Tay-tong sudah dikepung musuh.

Kini In-hujin membuang segala kekuatiran, hatinya yang gugup malah menambah baik kesehatannya, entah itu untuk sementara, tapi dia sudah bisa berjalan cepat, maka seorang diri dia terjun pula di Kangouw, berangkat ke Tay-tong yang dilanda kecamuk peperangan.

Tak nyana di rumah In Hou dia tidak menemukan puterinya, tapi bersua dengan Tan Ciok-sing yang membawa barang peninggalan dan warisan In Hou kepada puterinya.

Mengawasi golok dan pedang pusaka yang ditaruh di meja oleh Tan Ciok-sing, pikiran In-hujin melayang-layang terutama Ceng-bing pokiam, teringat akan cerita Liong Seng-bu mengenai pangeran keluarga Toan, hatinya semakin risau.

"Terima kasih, kau telah membawa barang peninggalan ayah San-ji kemari,"

Ujar In-hujin.

"Akupun datang mencarinya. Sayang kita terlambat, entah kemana dia sekarang. Lalu bagaimana sebaiknya?"

"Ingin aku mohon Pek-bo wakilkan putrimu menerima golok pusaka, pedang pusaka dan buku pelajaran ilmu golok ini. Pasukan musuh sudah mundur, Tay-tong boleh dikata untuk sementara akan aman, cepat atau lambat putrimu pasti akan kembali,"

Demikian pendapat Tan Ciok-sing.

"Lalu kau mau kemana?"

Tanya In-hujin.

Baca Juga: Kedele Maut 10

Baca Juga: Tiga Maha Besar 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger