Pendekar Pemetik Harpa 2

Eps 2 Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Baca online Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen

Cersil Pendekar Pemetik Harpa - Liang Ie Shen.

"Buat apa aku laporkan kepada opas, aku hanya mengharap pencuri itu suka kembalikan barang-barangku itu secara diam-diam. Kacang emas tidak dikembalikan tidak jadi soal, asal dia kembalikan buntalanku itu."

"Bagus ya,"

Semprot pemilik hotel.

"memangnya aku sudah tidak sabar lagi, agaknya harus kubongkar tampang aslimu, kau bocah rudin ini pura-pura kehilangan barang, memangnya kau hendak memeras aku untuk mengganti kehilanganmu?"

Jengkel dan keki Tan Ciok-sing dibuatnya, katanya.

"Aku kan tidak minta kepadamu."

"Sebanyak itu uangmu hilang di hotelku, kalau dilaporkan, memang hotelku ini tidak tersangkut paut? Maka urusan ini harus dibikin beres sekarang juga."

"Tadi sudah kukatakan, aku tidak akan lapor,"

Seru Tan Ciok-sing. Tamu baik hati itu juga kira Tan Ciok-sing memang membual, maka sikapnya kini berubah kurang simpatik, katanya.

"Mendengar kata-katamu tadi, seolah-olah kau mencurigai semua tamu yang menginap di hotel ini, hayolah bicara terus terang saja siapa yang kau curigai?"

"Tidak berani,"

Kata Tan Ciok-sing.

"maksudku mungkin pencuri tadi tidak sempat membawa kabur barang-barangku dan disimpan entah dimana dalam hotel ini. Bilamana tuantuan melihatnya sudilah mengembalikan kepadaku, sungguh tak terhingga terima kasihku."

Dasar Tan Ciok-sing adalah pemuda tanggung yang cetek pengalaman dan belum pernah bergaul dalam masyarakat, dia kira kata-katanya tadi sudah cukup sopan dan masuk di akal, sehingga sang pencuri tahu diri dan tidak kehilangan muka, secara diam-diam minta damai padanya.

Tak kira ucapannya ini justru menimbulkan reaksi masai.

Tamu-tamu yang lain ikut gusar dan gempar jadinya.

"Keparat, kau bilang begitu, kan berarti kami juga dicurigai, memangnya kau hendak menggeledah kamar kami?" ---"Bagus ya, kau bocah rudin ini, memangnya kau jadi gila karena tak punya uang, tak berhasil memeras pemilik hotel, lalu hendak mengancam kami?"

"Hayo gusur saja bocah rudin ini ke kantor polisi, jangan biarkan dia main tipu disini,"

Cuma kedua tamu tadi tidak ikut memaki terhadap Tan Ciok-sing. Tiba-tiba Tan Ciok-sing berpaling ke arah laki-laki tinggi berhidung betet itu, katanya.

"Harap tanya, cara bagaimana jarimu itu sampai terluka?"

Berubah air muka si brewok, katanya.

"Jariku terluka, perduli amat dengan kau?"

"Tidak apa-apa, hanya tanya sambil lalu saja, kalau kau tidak mau jelaskan, ya sudah. Buat apa marah-marah?"

Laki-laki brewok itu naik pitam, serunya.

"Baiklah bicara blak-blakan saja, apakah kau mencurigai aku yang mencuri barangmu?"

"Siapa mencuri barangku dia tahu sendiri. Aku kan tidak menyebut dirimu,"

Demikian ujar Tan Ciok-sing. Saking marah membesi muka si brewok, dampratnya.

"Jelas kau telah menuduhku, kurang ajar melihat kau tak punya uang, kami kasihan dan menolongmu membayar rekening hotel, sekarang kau malah menuduhku sebagai maling."

Hadirin sama memaki dan menyalahkan Tan Ciok-sing. Pemilik hotel bersuara paling lantang.

"Bocah kurcaci yang membalas budi kebaikan dengan kejahatan begini, buat apa banyak bacot sama dia, gusur ke kantor polisi saja."

Laki-laki pendek itu berpura-pura jadi penengah, lekas dia menyabarkan kemarahan hadirin, katanya.

"Belum tentu dia ini penipu, mungkin karena sudah kehabisan ongkos lalu cari akal, supaya ditraktir orang. Kita orang dewasa tidak perlu membuat ribut dengan bocah rudin yang masih ingusan ini, biar aku bujuk dan jelaskan padanya,"

Lalu dia berpaling katanya setelah batuk-batuk dua kali.

"Jari temanku ini teriris pisau waktu mengiris buah mangga, kenapa kau ingin tahu sebab musababnya?"

Tak tahan lagi Tan Ciok-sing bicara lebih keras.

"Tadi aku gebrak dengan kedua penjahat itu, salah seorang kena kulukai jarinya. Kalau temanmu teriris pisau waktu menguliti mangga, terang bukan dia adanya, harap tidak berkecil hati,"

Dia suruh orang lain tidak berkecil hati, hakikatnya kata-katanya tadi berarti menuding hwesio memakinya gundul. Karuan hadirin dibuatnya marah lagi, pemilik hotel berjingkrak lebih gusar.

"Nah coba semakin temberang seperti anjing gila, main gigit saja, orang yang memberinya makan juga digigitnya malah, bicara soal keadilan apa lagi dengan dia?"

"Dia tidak tahu keadilan adalah urusannya, kita kan orang dewasa, harus dapat memaafkan keteledorannya. Adik cilik, aku tidur sekamar dengan temanku ini, kau mencurigai dia, apakah kau juga mencurigai aku?"

Kata Tan Ciok-sing.

"Seorang pencuri yang lain kena kugenjot dadanya,"

Waktu dia bicara, kebetulan laki-laki pendek ini sedang batuk-batuk dan menahan dada. Karuan laki-laki pendek berubah air mukanya, katanya.

"Aku kena pilek dan batuk, jadi kau mencurigai aku. Baiklah, tuan-tuan sekalian harap menjadi saksi, biarlah bocah ini menggeledah kamarku, apakah dia dapat menunjukkan barangnya yang dicuri orang."

Tamu yang baik hati tadi berkata.

"Betul, semula aku simpatik terhadapnya, kini kurasakan juga dia memang keterlaluan. Kalau bukti tidak dapat ditemukan, kita harus menghajarnya sebagai peringatan. Tapi tak perlu membikinnya banyak susah, soal dilaporkan polisi, kukira boleh tidak usah."

Tan Ciok-sing tahu kalau orang berani suruh dirinya menggeledah kamar, tentu golok dan uang emasnya sudah disembunyikan di tempat lain, kata dia tertawa dingin.

"Barang yang telah hilang mana dapat ditemukan lagi, biarlah aku terima nasib saja."

"Kau tidak berani memeriksa, berarti kau sendirilah pencurinya,"

Damprat pemilik hotel. Laki-laki pendek itu mengunjuk sikap belas kasihan, katanya.

"Bocah ini saking rudin sepeser uangpun tidak punya, memang harus dikasihani. Biarlah aku membantumu sekali lagi, harpamu ini boleh kau serahkan padaku, kubayar sepuluh tahil perak untuk sangu kau pulang ke rumah,"

Hadirin sama memuji kebaikan hatinya yang jarang ada di dunia ini.

"Mujur juga kau bocah rudin ini, hayo lekas ucapkan banyak terima kasih,"

Seru pemilik hotel.

"Meski aku mati kelaparan juga tidak akan menjual harpaku ini,"

Sahut Tan Ciok-sing tegas. Tamu baik hati itu berkata.

"Kau ini memang tidak tahu kebaikan, memangnya kau suka gegares nasi orang dan terima uang orang lain secara percuma?"

"Kenapa dia harus kasihan padaku, harpa warisan keluargaku ini sekali-kali tidak boleh terjatuh ke tangan orangorang jahat,"

Sahut Tan Ciok-sing. Tamu-tamu lain yang menonton keramaian jadi ikut naik pitam dan menaruh simpatik akan kebaikan laki-laki pendek, seorang tamu berkata.

"Anjing saja masih bisa membedakan kebaikan. Hidup setua ini, belum pernah aku melihat bocah goblok dan sebandel ini."

"Padahal tuan tamu ini tadi sudah membayar setahil perak untuk ongkos kamar dan makannya, harpa bobrok ini paling seharga belasan keping tembaga, tuan ini sudah punya hak merampas harpanya itu sebagai tumbal,"

Demikian seru pemilik hotel. Tan Ciok-sing mundur selangkah sambil memeluk harpa, katanya dingin.

"Siapa berani merebut harpaku, biar aku adu jiwa dengan dia."

"Kau bocah ini memangnya sudah gila, makan tidur gratis masih bersikap kasar terhadap orang yang menolongmu,"

Demikian damprat pemilik hotel.

"agaknya kalau tidak dihajar dia tidak akan kapok, hayo gusur ke kantor polisi biar dihajar bokongnya,"

Sembari bicara dia sudah menggulung lengan baju serta bergaya hendak menubruk maju. Tan Ciok-sing pun sudah marah betul, matanya mendelik beringas, agaknya laki-laki pendek itu jadi jeri, bujuknya.

"Sudahlah, akupun bukan mengincar harpanya itu, anggaplah aku lagi sial, setahil perak anggap saja memberi sedekah pada pengemis."

Bahwasanya pemilik hotel juga takut kalau berurusan dengan polisi, segera dia membentak.

"Betapa besar jiwa tuan tamu ini, memandang mukanya, aku tidak akan menarik panjang peristiwa ini. Sekarang enyah kau bocah gila ini."

"Pergi ya pergi,"

Seru Tan Ciok-cing, lalu dia menuding ke dua tamu itu, katanya.

"Tinggalkan alamat dan nama kalian."

"Untuk apa?"

Tanya laki-laki pendek.

"Kalian sudah membayar satu tahil untuk ongkos nginap dan makanku, kelak pasti akan kuganti dua kali lipat."

"Laki-laki pendek bergelak tawa, katanya.

"Siapa minta balasanmu? Sudah kukatakan kuanggap..."

Mendelik bundar bola mata Tan Ciok-sing, serunya.

"Anggap apa?"

Serasa hampir meledak dadanya, kalau laki-laki ini berani mencemoohnya lagi, dia sudah siap adu jiwa tanpa hiraukan apa akibat yang bakal menimpanya, paling tidak lakilaki ini harus dihajar.

Jeri juga laki-laki pendek itu, katanya.

"Ah, tidak apa-apa, kau harus tahu aku sudah membantu tanpa ingin menuntut balasan. Lekas kau pergi saja."

"Bocah ini memang sinting,"

Hadirin sama memaki.

"kalau bikin geger lagi, tuan tamu ini mengampuni kau, biar kami nanti yang menghajarmu."

Tan Ciok-sing tidak gentar menghadapi dua lawan ini, tapi dia tidak ingin berkelahi dengan tamu-tamu lain yang tidak pandai main silat, terpaksa dia beranjak keluar sambil menggerundel, harpa dipeluknya kencang-kencang.

Setiba di ambang pintu keluar dia berpaling.

"Hm, menanam budi tidak mengharap balasannya, kuingat kebaikan kalian hari ini."

Di belakang terdengar gemuruh gelak tawa dan cemoohan orang banyak.

Tahu dirinya takkan bisa berpijak lagi di kota kecil ini, terpaksa Tan Ciok-sing menunggu kedua tamu itu keluar di ujung jalan raya, pikirnya.

"Harta dan uang tidak jadi soal, tapi golok pusaka In Tayhiap sekali-kali tidak boleh terjatuh ke tangan mereka."

Tak tahunya setelah tunggu punya tunggu, belum juga kelihatan kedua tamu itu keluar, tanpa terasa hari sudah mendekati tengah hari, perut Tan Ciok-sing sudah kelaparan.

Akhirnya dia sadar juga, batinnya.

"Pasti mereka sudah pergi menempuh jurusan lain."

Akhirnya dia nekad kembali ke hotel, ternyata kuda tunggangan kedua tamu itu memang sudah tidak ada.

Pemilik hotel berlari keluar mengusirnya.

Saking jengkel Tan Ciok-sing segera meninggalkan kota kecil ini, entah berapa jauh dia menempuh perjalanan, rasa lapar perutnya sungguh tak tertahan lagi.

Untung tak berapa lama lagi dia tiba di sebuah kota kecil yang berdekatan.

Kota kecil yang ini agaknya lebih ramai dibandingkan kota kecil yang semalam dia menginap.

Kebetulan Tan Ciok-sing lewat di depan sebuah warung makan, mencium harumnya masakan sedap perutnya betulbetul memberontak, tanpa pikir segera dia melangkah masuk.

Lima meja dalam warung itu sudah terisi tamu, satu di antaranya di sebelah atas duduk seoraug berpakaian perwira, seorang majikan kaya ditemani beberapa orang sekolahan dan terpandang dari penduduk setempat.

Mereka tengah ngobrol panjang lebar sambil makan minum seperti dalam rumah sendiri, tak perduli kehadiran orang lain.

Waktu Tan Ciok-sing yang berpakaian rombeng memasuki warung, seorang tamu segera mengerutkan kening, katanya.

"Kau pengemis ini memangnya tidak tahu aturan minta-minta? Hayo tunggu sedekah diluar."

Merah muka Tan Ciok-sing, katanya.

"Aku bukan pengemis."

"Bukan pengemis? Memangnya kau tamu yang hendak makan minum disini?"

Kata seorang tamu lain. Kata-katanya ini mendapat sambutan gelak tawa tamu-tamu yang ada. Menahan gusar dan lapar Tan Ciok-sing berkata.

"Aku tak punya uang untuk makan minum tapi aku bukan pengemis, aku hanya menjual bakat."

Laki-laki perut gendut mirip majikan itu mungkin sudah setengah sinting karena kebanyakan minum arak, diapun berolok dengan tertawa.

"Maaf, maaf, kiranya kau ini seorang seniman. Kau bisa main apa?"

"Aku bisa memetik harpa,"

Sahut Tan Ciok-sing. Perwira itu menimbrung.

"O, kau bocah ini juga bisa main harpa? Coba mainkan."

Tan Ciok-sing segera membuka kotak panjangnya, katanya.

"Tolong berikan aku sebuah meja kecil."

Melihat harpa yang dikeluarkan sudah luntur dan bobrok hadirin sama geli dan tertawa terpingkal-pingkal. Majikan gendut itu berkata.

"Entah dari mana dia memperoleh harpa bobrok ini."

Tan Ciok-sing menahan sabar, katanya.

"Meski bobrok harpa ini masih bisa untuk memainkan beberapa lagu, bila tuan-tuan berkenan sukalah memberi persen ala kadarnya,"

Entah karena saking kelaparan, atau karena mangkel, waktu menyetem senar harpanya, jari-jari tangannya kelihatan gemetar. Pemilik warung ternyata seorang yang baik hati, katanya.

"Engkoh cilik, mirunilah dulu kuah kaldu ini untuk menghangatkan perut."

Setelah minum kuah kaldu, rasa lapar sedikit demi sedikit berkurang, setelah selesai menyetem, mulailah dia memetik harpanya sambil bernyanyi membawakan syair pujangga So Tong-poh.

Laki-laki sekolahan itu adalah seorang tuan tanah yang pernah belajar beberapa huruf, si perwira berpaling padanya dan bertanya.

"Li-ang, lagu apa yang dinyanyikan bocah ini?"

Laki-laki itu bersikap mencemooh, katanya.

"Aku hanya paham syairnya, siapa tahu lagu sedekah (lagu pengamis) apa yang dinyanyikan?"

Perwira itu geleng-geleng kepala, katanya.

"Tapi lagu sedekah yang dinyanyikan kaum pengemis masih lebih enak didengar."

Laki-laki gendut itu juga berseru.

"Wah, jelek sekali, kupingku sakit rasanya."

Karuan hampir meledak perut Tan Ciok-sing mendengar ejekan-ejekan itu. Pikirnya.

"Percuma aku bernyanyi di hadapan manusia-manusia kasar tak kenal huruf ini. Bikin kotor harpaku saja. Hm, lebih baik aku mati kelaparan dari pada disini terhina begini rupa."

Baru saja dia hendak menyimpan harpa dalam kotaknya, tiba-tiba didengarnya seorang berkata.

"Kurasa petikan harpanya justeru patut didengarkan."

Waktu Tan Ciok-sing angkat kepala, pembicara adalah pemuda yang berpakaian pelajar, sejak tadi dia duduk di meja pojokan sana seorang diri.

Setelah memuji permainan Tan Ciok-sing dia merogoh kantong keluarkan sekeping perak kirakira senilai dua tahil, suruh pelayan warung diberikan kepada Tan Ciok-sing.

Demi gengsi terpaksa tuan tanah majikan kaya dan perwira itu juga merogoh kantong persen beberapa keping uang tembaga.

Tan Ciok-sing hendak menampik pemberian mereka, tapi kuatir mereka kehilangan muka dan membuat geger lagi disini.

Di kala dia bimbang pemuda pelajar itu sudah berseru padanya.

"Kebetulan bertemu disini, silahkan kemari duduk disini sambil minum beberapa cangkir."

Tan Ciok-sing tinggalkan uang perak itu di atas meja lalu menghampiri dan menyatakan terima kasih kepada pemuda pelajar itu.

Karuan tuan tanah, majikan kaya dan perwira itu sama mendongkol karena Tan Ciok-sing tidak berterima kasih pada mereka.

"Engkoh cilik,"

Kata pelajar itu.

"siapa yang mengajar kau main harpa?"

"Bocah rudin macamku ini mana mampu mengundang guru segala, sejak kecil aku belajar ala kadarnya dari kakek." .

"O, kakekmu pasti seorang kenamaan?"

Tanya si pelajar.

"Kecuali bisa main harpa kerja kakek menangkap ikan, sejak lahir aku hidup di gunung, entah dia ternama atau tidak?"

"Engkoh cilik, kau punya bakat tapi tidak terkembang, tak heran kalau kau suka uring-uringan. Mumpung panas makanlah paha ayam ini, minum lagi secangkir. Kalau kau sudi aku ingin bersahabat denganmu."

Setelah minum dua cawan Tan Ciok-sing berdiri, katanya.

"Terima kasih, kau sudi menghargaiku, biar kupetikkan satu lagu. Bicara soal bersahabat, sungguh aku tidak berani menerimanya."

Kali ini Tan Ciok-sing membawakan syair Sim Pin, pujangga pada dynasti Tong.

Pelajar itu mendengarkan sambil manggut dan memuji berulang kali.

Akhirnya dia melongo saking asyik dan terbuai oleh alunan harpa yang merdu dan syahdu.

Belum lagi Tan Ciok-sing habis membawakan lagunya ini, datang pula seorang tamu.

Melihat Tan Ciok-sing sedang petik harpa sambil nyanyi sesaat dia merasa heran, lalu dia menyapa majikan gendut itu.

"Lau-ang, kiranya kau gemar juga mendengar irama harpa?"

"Bukan aku yang suka dengar, Lo-ho, kebetulan kau datang, kemarilah ikut minum,"

Lalu dia perkenalkan kepada tuan tanah dan perwira serta yang lain. Lo-ho adalah penduduk Hek-ciok-tin yang tidak punya gawe (pekerjaan), kerjanya suka luntang-lantung dan menyebar berita.

"Lo-ho ada berita apa tidak?"

Setelah duduk Lo-ho berkata lirih.

"Semalam terjadi kejadian aneh di Hek-ciok-tin, seorang pemuda tanggung berpakaian rombeng menginap di Hun-lay, tapi tak punya uang membayar rekening, untung ada tamu yang suka menolongnya, tak kira tengah malam dia membuat keributan, katanya barangnya kecurian. Pemuda itu juga membawa harpa bobrok."

Hek-ciok-tin adalah kota kecil dimana semalam Tan Cioksing menginap, jaraknya kira-kira tiga puluhan li dari kota ini, peristiwa semalam yang menimpa Tan Ciok-sing, ternyata diketahui oleh Lo-ho ini, sehari ini entah sudah berapa kali dia bercerita kepada orang.

Tuan tanah itu berpaling kearah Tan Ciok-sing, katanya.

"Kok bisa terjadi begitu, kukira bocah itu sengaja hendak memeras hotel Hun-lay itu."

"Pendapat Li-ang memang tepat, bukan saja bocah rudin itu hendak memeras Hun-lay, diapun memeras tamu yang membantu bayar rekeningnya,"

Lalu dia bercerita panjang lebar akan kejadian yang didengarnya, sudah tentu dalam ceritanya ditambahi bumbu dan kecap sehingga ceritanya kedengaran lebih menarik. Akhirnya Lo-ho menambahkan.

"Sayang kedua tamu baik hati itu melepasnya pergi. Kalau waktu itu aku hadir, mungkin sudah kugusur dia ke kantor polisi. Tapi aku sudah mencari tahu bahwa penipu itu berusia belasan tahun, pakaian rombeng, membawa harpa dan jual lagak dimana-mana. Haha, kukira orangnya sekarang jauh di langit dekat di depan mata."

Tuan tanah itu berkata.

"Orang orang Hek-ciok-tin tiada yang tertipu, mungkin tidak sedikit pelajar-pelajar bodoh di dunia ini yang akan digoroknya."

"Sayang Lo-ho tidak melihat tampangnya, kalau ada saksinya, pasti kuringkus dia,"

Demikian kata si perwira.

Pada saat itulah terdengar derap lari kuda yang mendatangi, dua penunggang kuda itu seketika menarik kendali waktu mendengar suara harpa dari warung makan.

Loho segera bertepuk tangan girang seraya berseru.

"Nah itu dia saksinya telah tiba,"

Kiranya penunggang kuda itu adalah dua tamu yang pernah membantu Tan Ciok-sing. Laki-laki pendek itu segera membentak.

"Bagus, ternyata kau bocah rudin ini mau menipu orang lagi disini, tuan-tuan, semalam bocah keparat ini hendak memeras pemilik hotel Hun-lay di Hek-ciok-tin, kamipun kena tertipu setahil perak olehnya."

"Peristiwa itu sudah kita ketahui,"

Kata Lo-ho, suaranya lantang.

"untung yang berwenang di kota ini kebetulan ada disini, biarlah urusan ini kuselesaikan disini."

Perwira itu menggebrak meja, serunya sambil berdiri.

"Betul, disini ada undang-undang raja, aku yang berwenang menegakkan keadilan di daerah ini, siapapun kularang berbuat curang di daerah kekuasaanku, kawanan opas, tangkap dia,"

Agaknya dia lupa bahwa kini dia seorang diri sedang jajan di warung ini, hakikatnya tidak membawa anak buah, apa lagi di warung makan, setelah membentak baru dia sadar telah kelepasan omong.

Pelajar itu mengerutkan kening, bujuknya.

"Kulihat adik cilik ini pasti bukan penipu, kuharap persoalannya dibikin terang lebih dulu."

"Saksi sudah di depan mata, apa pula yang harus ditanyakan?' seru si perwira.

"Liong-siucay, kau belum jadi penggede, pulanglah belajar lagi beberapa tahun, soal dinasku tak perlu kau ikut campur, Hm, bocah keparat ini berani mendelik padaku, biar kuringkus kau."

Sungguh tak tertahan lagi emosi Tan Ciok-sing, mendadak dia raih pecahan perak di atas meja terus dilempar ke arah dua tamu diluar sana sambil membentak.

"Semalam kau mentraktir setahil perak, kini dibayar sekali lipat. Kau mencuri golokku, lekas kembalikan padaku,"

Lalu dia berpaling serta meraih beberapa keping uang tembaga itu terus ditimpuk ke meja si perwira.

"Uang kalian yang bau ini, akupun tidak sudi,"

Kepandaian laki-laki hidung betet tidak lebih asor dari Tan Ciok-sing, sekali gerakan dengan enteng dia tangkap pecahan uang perak yang ditimpukkan Tan Ciok-sing, jengeknya dingin.

"Kau membayar hutang memang sudah seharusnya tapi jangan kau menuduh aku yang mencuri golokmu."

Celaka adalah laki-laki pendek yang berkepandaian rendah, mukanya terluka dan berdarah oleh timpukan uang pecahan Tan Cioksing. Laki-laki usil mulut yang dipanggil Lo-ho berteriak.

"Celaka dua belas, pencuri cilik yang galak ini berani melukai orang lagi,"

Mendadak dia merasa ada gejala yang kurang beres, waktu berpaling seketika dia terkesima.

Ternyata kepingan uang tembaga yang ditimpukan Cioksing ke meja sini semuanya melesak amblas setengah berjajar di atas meja, si perwira tampak pucat dan ketakutan.

Malah tuan tanah dan majikan kaya yang bernyali kecil sudah sembunyi di kolong meja.

Tan Ciok-sing panggul harpanya terus menerjang keluar ke arah dua tamu itu, bentaknya.

"Kalian inilah penipu, kembalikan tidak golokku?"

Laki-laki brewok itu sudah siap menghajar Tan Ciok-sing, tapi sekilas pandangannya melirik ke arah Liong-siucay yang sedang menatapnya tajam seperti tertawa tidak tertawa.

Mencelos hati si brewok, bergegas dia lompat ke punggung kudanya, teriaknya.

"Bocah ini sudah jadi gila, hayolah pergi saja."

Dua kali laki-laki pendek itu kecundang oleh Tan Ciok-sing, nyalinya sudah pecah, tanpa diperingati dia sudah bedal kudanya lebih dulu.

Ginkang Tan Ciok-sing sekarang paling cepat, sudah tentu dia tidak kuasa mengejar kecepatan lari kuda, waktu dia tiba diluar kota, kedua musuh itupun sudah tidak kelihatan bayangannya.

Setelah terlampias rasa dongkolnya lega juga perasaan Tan Ciok-sing, untuk menempuh perjalanan dia tidak berani lewat jalan raya, terpaksa dia lari ke atas gunung.

Semakin jauh dia meninggalkan kota kecil itu, haripun sudah semakin gelap, tanpa terasa senja menjelang.

Kuah kaldu semangkok dan paha ayam yang diganyangnya tadi kini sudah tidak berbekas dalam perutnya, perutnya mulai berontak lagi.

Saking lelah akhirnya dia mendeprok di bawah pohon lalu merebahkan diri beristirahat.

Angin malam berhembus agak kencang, Tan Ciok-sing yang memang kelaparan jadi bergidik kedinginan.

Untung dia membawa ketikan batu, segera dia mengumpulkan dahan dan daun kering lalu membuat api unggun.

Mendadak pandangannya terbeliak seperti menemukan sesuatu, dilihatnya di depan sana penuh tumbuh pohon-pohon ubi liar, segera dia mengeduk tanah membongkar ubi terus dibakarnya.

Setelah makan beberapa kerat ubi, sungguh tak kepalang rasa senang hati Tan Ciok-sing, tenaga pulih semangatpun bangkit.

Lalu bagaimana selanjutnya dia harus menempuh kehidupan ini?

Masuk kota takut ditangkap opas, hidup di atas pegunungan hanya makan ubi liar melulu, semakin dipikir hati Tan Ciok-sing semakin risau, akhirnya dia turunkan kotak buntalannya lalu memetik harpa di bawah pohon.

Tanpa sadar lagu yang dibawakan adalah Khong-ling-san yang pernah dibawakannya waktu berpisah terakhir kali dengan jenazah kakeknya.

"Petikan harpa yang bagus,"

Tiba-tiba terdengar seseorang memuji.

Tan Ciok-sing berjingkrak kaget, entah kapan tahutahu dihadapannya sudah berdiri empat orang, semuanya mengelilingi pohon dimana dia duduk di bawahnya.

Dua orang di depan adalah kakek yang berparas aneh, padahal tampang kedua kakek ini mirip satu dengan yang lain, seperti pinang dibelah dua, cuma kulit badannya saja yang berbeda.

Seorang berpakaian serba putih, yang lain berpakaian hitam.

Kakek baju putih kulitnya putih bersih seperti salju, kakek baju hitam berkulit hitam legam, jadi pakaian dan kulit badan mereka serasi, hitam putih kelihatan menyolok sekali.

Rambut kedua kakek ini sudah sama beruban, bola matanya gelap kebiruan, sekali pandang orang akan tahu kalau mereka bukan Oh-jin dari daerah barat pasti orang asing.

Kedua kakek ini sama memegang sebuah tongkat coklat yang mengkilap, entah terbuat dari apa.

Yang membuat Tan Ciok-sing lebih heran adalah dua lakilaki yang berdiri di belakang sana, mereka bukan lain adalah dua pencuri yang menista dirinya sebagai penipu.

Laki-laki brewok itu berkata beberapa patah kata yang tak dimengerti kepada kedua kakek hitam putih, Tan Ciok-sing tidak tahu apa yang dipercakapkan, tapi mereka bicara sambil menuding harpa miliknya, jelas mereka mengincar dan hendak merebut harpa warisan keluarganya.

Laki-laki pendek itu berkata dengan tertawa.

"Sungguh amat kebetulan, tak kira kau bocah ini sedang sembunyi disini."

Gusar Tan Ciok-sing dibuatnya, bentaknya.

"Memang aku hendak cari kalian guna membuat perhitungan, uang sudah kukembalikan, kenapa kalian tidak kembalikan golokku?"

"Kau masih berani minta kembali golok pusaka?"

Ejek lakilaki pendek.

"besar juga nyalimu, ketahuilah, kami juga ingin merebut harpamu itu. Tapi kami tidak akan merebut secara percuma..."

Memangnya Ciok-sing sudah dongkpl sejak kemarin, mana dia sabar mendengar obrolan orang, segera dia menerjang maju sambil memaki.

"Kurang ajar, kalian kawanan rampok ini. Sudah mencuri golokku mau merebut harpaku pula."

Lekas kakek tua putih mengulap tangan, katanya.

"Jangan berkelahi, kami bukan perampok."

Terasa serumpun tenaga lunak yang kuat tiba-tiba menahan dirinya seperti ada sebuah telapak tangan tidak kelihatan yang mendorong dadanya, walau lunak tenaganya tapi sukar ditahan dan dilawan, tanpa kuasa dia terdorong mundur beberapa langkah.

Habis bicara kakek tua putih itu lantas berpaling setelah mendengus dia memaki kedua laki-laki itu.

"Kalian membantu aku berdagang, bukankah sudah pernah kuberitahu kepada kalian? Kita boleh menarik keuntungan dalam perdagangan, tapi kularang main rebut barang milik orang lain? Bukankah kalian mempermainkan dan menyakiti bocah ini?"

Bahasa pembicaraannya menggunakan bahasa Han yang fasih dan jelas, logatnya jauh lebih baik dibandingkan laki-laki brewok itu. Lekas laki-laki brewok bantu temannya membela diri, katanya.

"Kami bukan merampas, tapi kami membeli dengan uang."

"Pembual,"

Damprat Tan Ciok-sing.

"kalian pura-pura jadi orang baik mentraktir aku segala, siapa bilang aku menjual barangku kepada kalian?"

Mimik laki-laki pendek tampak menjilat kepada kedua orang tua hitam putih, katanya.

"Aku tahu kalian orang tua segala barang antik apapun sudah punya, tapi sejauh ini belum pernah memiliki harpa kuno, oleh karena itu aku ingin memperdayanya untuk kupersembahkan pada kalian sebagai kado ulang tahun. Silahkan kalian orang tua perhatikan, bukankah harpa itu sangat baik."

Perlahan kakek hitam berkata.

"Bagus memang bagus, tapi tak boleh merebut secara paksa. Tentang golok pusaka ini..."

Si brewok kuatir kakek hitam kembalikan golok pusaka itu kepada Tan Ciok-sing, lekas dia bertanya.

"Golok pusaka ini bagaimana?"

"Sulit aku memberikan putusan atas golok pusaka ini,"

Ucap kakek hitam.

"biar kutanyakan dulu biar jelas."

Diam-diam si brewok membatin.

"Kaum persilatan, memangnya siapa yang tidak menyukai golok pusaka?"

Dia kira kakek, hitam sudah menaruh perhatian, tidak lagi mengukuhi aturan biasanya bila dia berdagang. Maka lekas dia berkata.

"Loya-cu, merebut barang orang sudah tentu tidak baik, tapi, tapi..."

"Tapi apa?"

Kakek hitam menatapnya tajam. Kata si brewok.

"Kuingat kalau tidak salah Lo-ya-cu pernah bilang, hitam makan hitam kan boleh juga. Entah salahkah aku mengingat akan hal ini?"

"Maksudmu golok pusaka milik bocah ini juga hasil curian?"

Tanya kakek hitam.

"darimana kau tahu?"

Mendapat bantuan dan kisikan temannya, laki-laki pendek segera menimbrung.

"Bagaimana asal-usul bocah ini meski.belum kami ketahui. Tapi uang sepeserpun dia tidak punya untuk membeli pakaian bekas, lalu dari mana dia bisa memiliki kedua benda pusaka?"

Kakek hitam manggut, katanya.

"Ucapanmu ini memang beralasan, asal-usul bocah ini memang agak mencurigakan."

Tan Ciok-sing berseru gusar.

"Bagaimana asal-usulku perduli amat dengan kalian. Tapi ke dua anak buahmu itu jelas pembual."

"O, membual bagaimana?"

Tanya kakek putih.

"Mereka mengatakan aku rudin memang tidak salah, tapi semalam aku masih menggembol puluhan butir kacang emas. Waktu mereka mencuri golok pusakak*U ini, kacang emas itupun berhasil mereka gondol pula."

Laki-laki pendek itu tertawa lebar, katanya.

"Omonganmu ini memangnya bisa menipu orang?"

Belum habis dia bicara tiba-tiba cahaya kuning emas berkelebat menyilaukan mata waktu kakek hitam membuka telapak tangannya di depan matanya, puluhan butir kacang emas ternyata sudah berada dalam genggamannya.

Padahal laki-laki pendek ini menyimpan kacang-kacang emas ini didalam kantong baju lapisan dalam, tapi hanya dengan satu gerakan enteng dan cepat, semuanya sudah dirogohnya keluar, baju bagian luar tidak terbuka.

Jangan kata laki-laki pendek ini kaget dan ketakutan, Tan Ciok-sing pun takjub dibuatnya.

Gemetar sekujur badan laki-laki pendek, katanya.

"Aku hanya ingin mendapatkan kado yang kalian sukai, sekedar sebagai penghormatan pada kalian orang tua, tujuannya jelas bukan untuk kepentingan pribadi. Soalnya bocah ini tidak mau menjual pada kami, terpaksa kugunakan akal ini, bila dia tidak ada sepeser uangpun, mungkin dia mau menjualnya kepadaku."

"Plak, plok", beruntun terdengar suara keras dua kali, lakilaki brewok dan laki-laki pendek sama dipersen satu kali tamparan. Setelah menggampar mulut kedua anak buahnya, kakek hitam berkata dingin.

"Tutup bacot kalian yang kotor, muka kami kalian bikin malu."

Melihat kakek hitam menghajar anak buahnya, dalam hati Tan Ciok-sing berpikir.

"Tandang kedua orang asing ini memang angker dan menakutkan, tapi hati mereka ternyata baik. Mungkin mereka sudi kembalikan golok pusakaku itu."

Tak kira pelan-pelan kekek hitam melolos golok serta menjentiknya dua kali, tiba-tiba dia berkata.

"Aku tidak akan membela anak buah sendiri, tapi kaupun harus bicara jujur. Cara bagaimana kau memperoleh golok pusaka ini?"

Sudah tentu tak mungkin Tan Ciok-sing ceritakan peristiwa yang menimpa In Hou kepada orang asing yang tidak dikenalnya ini? Tapi diapun tidak bisa berbohong, terpaksa dia menjawab.

"Pendek kata golok ini milikku, cara bagaimana aku memilikinya, orang lain tidak perlu urus."

"Urusan lain aku boleh tidak perlu turut campur,"

Kata kakek hitam.

"tapi bicara soal asal-usul golok pusaka ini betapapun aku harus mencampurinya. Lekas katakan secara jujur, golok pusaka milik In Hou ini, cara bagaimana bisa terjatuh ke tanganmu?"

Tan Ciok-sing terperanjat, pikirnya heran.

"Mungkinkah mereka sahabat In Tayhiap? Hm, hati manusia susah diduga, siapa tahu kedua kakek ini pura-pura jadi orang baik, tujuannya hendak mengorek keteranganku tentang In Tayhiap?"

"Apakah kau murid In Tayhiap?"

Tanya kakek hitam.

"Hakikatnya aku tidak kenal dan tidak tahu siapa itu In Tayhiap."

Sahut Tan Ciok-sing masa bodoh. Tiba-tiba kakek hitam memutar golok mengangsurkan gagang golok ke arah Tan Ciok-sing, katanya.

"Terimalah."

Sekilas Tan Ciok-sing melenggong, tak pernah terbayang olehnya bahwa kakek hitam ini akan kembalikan golok pusaka ini begini mudah.

Baru saja dia hendak minta kembali sarung goloknya sekalian, kakek hitam sudah serahkan tongkat coklat mengkilap di tangannya kepada kakek putih, bentaknya.

"Golok pusaka sudah kembali di tanganmu, hayolah bacokan ke arahku."

Kembali Tan Ciok-sing tertegun, katanya kemudian.

"Bicara baik-baik kenapa aku harus membacok kau?"

Maklum golok pusaka ini tajam luar biasa, mengiris emas dan besi seperti merajang sayur, rambut yang ditiup di tajam goloknya pun putus seketika, sudah tentu Tan Ciok-sing tidak berani memakainya membacok kakek hitam yang bertangan kosong.

Kakek hitam tertawa dingin, katanya.

"Jangan kau kira dengan bersenjata golok pusaka, kau mampu melukai seujung rambutku. Biar kubicara terus terang, kusuruh kau membacok dengan golok itu karena aku punya semacam peraturan, bila orang bertindak kasar terhadapku, baru aku punya alasan untuk merebut golok lawan. Kini sudah kujelaskan padamu, mau atau tidak kau menyerangku, aku tetap ingin memiliki harpa kunomu ini."

Sembari bicara kakek hitam ulur telapak tangannya yang segede kipas hendak merampas harpa kuno itu. Kuatir orang merusak harpanya, sudah tentu gusar hati Tan Ciok-sing. Pikirnya.

"Kiranya hanya mulutnya saja yang manis, jelas diapun pentolan rampok,"

Tanpa pikir segera dia ayun golok terus membacok. Kakek hitam tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Kau tertipu, setelah kau bergebrak, maka aku boleh turun tangan mengambil barangmu tanpa malu-malu lagi."

Bacokan Tan Ciok-sing bertujuan menggertak saja, tak nyana kakek hitam membalik tangan, jarinya menjentik dan tepat menyelentik punggung golok, seketika telapak tangan Tan Ciok-sing terasa pedas linu, pergelangan tangannya tergetar keras, hampir saja dia tidak kuat pegang goloknya lagi.

Di tengah gelak tawa kakek hitam, kembali tangannya yang besar itu meraih ke arah harpa.

Bentak Tan Ciok-sing gusar.

"Kau mau merampas harpa ini, kecuali kau bunuh aku lebih dulu,"

Amarahnya memuncak, bola matanya sampai mencorong merah, langkahnya sebat menubruk maju, golok pusaka diobat abitkan membacok ke tangan kakek hitam yang sedang menjamah harpanya itu.

Tan Ciok-sing tahu bahwa kepandaian silat kakek hitam berapa lipat lebih tinggi dari kemampuannya, maka dia turun tangan tak kenal ampun.

Jurus bacokannya itu sudah menggunakan ajaran ilmu golok yang tercantum dalam buku, cahaya golok laksana bianglala, keras dan ganas sekali.

Kakek hitam terloroh-loroh, katanya.

"Bocah bagus, memangnya kau hendak adu jiwa,"

Aneh bin ajaib, lengannya itu seperti bisa ditelikung seenaknya, tahu-tahu bacokan golok Tan Ciok-sing mengenai tempat kosong dan "Bluk"

Pundak kirinya malah yang kena digenjot lawan.

Genjotan cukup keras, tapi Tan Ciok-sing sedikitpun tidak merasa sakit.

Sesaat ini Tan Ciok-sing melengak dibuatnya.

Maklum pukulan kakek hitam mengenai telak pundak kirinya, ini betulbetul diluar dugaannya.

Semula dia kira dirinya pasti terpukul jungkel balik, tapi kenyataan tidak apa-apa, malah rasa pedas dan linu di tangannya seketika lenyap.

"Masakah hanya latihan tiga bulan lwekang, hasilnya sudah begini luar biasa?"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

Cepat sekali kakek hitam sudah menubruk maju lagi sambil pentang kedua tangannya, gayanya hendak merebut golok yang dipegangnya.

Tak sempat lagi Tan Ciok-sing pikirkan keanehan diri sendiri yang sudah memiliki lwekang secara menakjubkan atau mungkinkah lawan yang menaruh belas kasihan, lekas goloknya bergerak dengan jurus Heng-in-toanhoan (mega melintang memutus puncak) membendung sergapan lawan Lalu disusul jurus Sam-yang-kay-thay, Guahou-ting-san, Liong-yau-sim-gan, beruntun tiga jurus dari pembela diri balas menyerang.

Sudah tentu ketiga jurus ini juga merupakan ajaran ilmu golok keluarga In.

Kakek hitam melayang ke kiri lompat ke kanan seperti bermain petak dengan dia, sekaligus Tan Ciok-sing memberondong dengan belasan jurus, tapi jangan kata melukai lawan, menyentuh ujung jarinya saja tidak mampu.

Terdengar kakek hitam berseru tertawa.

"Adu jiwa tiada gunanya untukmu, menyerah saja dan serahkan golok dan harpa itu, aku tidak akan membunuhmu."

Tapi Tan Cok-sing sudah bertekad.

"orang hidup harpa ada, harpa hilang orangnya gugur", sambil kertak gigi tanpa berhenti golok di tangannya terus menghujani serangan gencar ke tubuh lawan. Seluruh ajaran ilmu golok yang dia pelajari dari buku peninggalan In Hou telah di praktekkan seluruhnya. Sekejap saja belasan jurus telah lewat, Tan Ciok-sing tetap tidak mampu menyentuh baju lawan, apa lagi melukainya. Mendadak kakek hitam tertawa pula, katanya.

"Jurus Thihu-san yang kau lancarkan ini kurang betul, jurus ini sebetulnya guna bertahan sepenuhnya, jurus selanjutnya baru untuk balas menyerang mengincar bagian bawah lawan, kau justru bertahan sambil menyerang, ini tidak betul. Coba kau buktikan sendiri bukankah jurus Terbalik Menunggang Keledai ini menunjukkan lobang kosong? Jikalau telapak tanganku menepuk Hong-hu-hiat di tubuhmu, lalu cara bagaimana kau akan membela diri?"

Di kala dia membongkar jurus gerakan Tan Ciok-sing selanjutnya, memang Tan Ciok-sing baru saja melancarkan jurus "Terbalik Menunggang Keledai".

Tan Ciok-sing kaget sekali, dia pun heran bagaimana kakek hitam ini begitu apal dan mahir sekali akan permainan ilmu golok ajaran In Hou ini?

Tapi dia pikir Hong-hu-hiat terletak di belakang punggung, lawan bertempur berhadapan, bagaimana mungkin dia bisa menyerang punggungku yang memang kosong?

Ilmu golok keluarga In memang mengutamakan mantap keras dan enteng lincah, kedua unsur ini dikombinasikan dalam jurus-jurus ilmu golok yang liehay itu, latihan Tan Ciok-sing jelas belum matang dan mencapai taraf yang dapat bergerak sesuai keinginan hati, dalam gerakan yang cepat ini, mana mungkin dia mampu merubah gerakan secara mendadak?

Apalagi dia yakin lawan tak mungkin dapat mencapai Hong-hu-hiat di belakang punggungnya, maka jurus 'Terbalik Menunggang Keledai"

Tetap dia kembangkan sesuai petunjuk yang dia pelajari dari buku.

"sret"

Goloknya menyilang dari atas ke bawah terus membabat ke dua kaki kakek hitam.

Mendadak dia kehilangan bayangan kakek hitam, ternyata selicin belut kakek hitam telah menyelinap pergi dari bawah selangkangan.

Gerakan aneh dan tangkas kakek hitam ini memang aneh dan lucu, gerakannya cepat lagi, hakikatnya tak pernah terpikir oleh Tan Ciok-sing bahwa lawan bakal menyelinap ke belakang.

Sebetulnya gerakan aneh kakek hitam yang aneh ini, bukan saja berada diluar dugaan Tan Ciok-sing, umpama lawan seorang gembong persilatan yang memiliki kepandaian puluhan lipat lebih liehay dari Tan Ciok-sing juga pasti dibuat keheranan dan tidak menduga sebelumnya.

Maklum sebagai tokob persilatan yang kenamaan dan punya kedudukan tinggi, memangnya siapa yang sudi menyelinap ke bawah selangkangan lawan, oleh karena itu tiada ajaran gerakan aneh semacam itu dalam kalangan persilatan di Tionggoan ini.

Ternyata kakek hitam iui adalah orang Thian-tok (India).

Gerakannya itu merupakan kembangan dari ilmu Yogya.

Adat dan kebudayaan bangsa Tionghoa berbeda dengan orang India, bagi mereka menyelinap dari bawah selangkangan lawan bukanlah merupakan suatu penghinaan atau sesuatu yang memalukan.

Apa lagi taraf kepandaian Tan Ciok-sing belum mencapai tingkatan yang sempurna, gerakan jurus permainannya belum terkendali oleh daya pikirannya, bahwa bayangan kakek hitam mendadak lenyap dari pandangannya, maka gerakan bacokan goloknya tetap terayun ke depan "Trang"

Goloknya membacok batu di atas tanah.

Dalam kejap itu pula, Tan Ciok-sing merasakan Hong-huhiat di belakang punggungnya tiba-tiba kesemutan, telapak tangan kakek hitam menepuk punggungnya terus mendorongnya pergi.

Hong-hu-hiat adalah salah satu hiat-to dari tiga puluh enam hiat-to penting di tubuh manusia, jikalau hiat-to yang satu ini kena ditutuk dengan Jong-jiu-hiat lawan, kalau tidak mati seketika juga pasti luka parah.

Tapi Tan Ciok-sing hanya merasa kesemutan saja, setelah dia terdorong maju beberapa langkah, begitu berdiri tegak lagi rasa kesemutan itupun telah lenyap tak berbekas.

Hiat-tonyapun tidak tertutuk, gerak geriknya tetap leluasa, malah mampu mengayun goloknya pula.

Kembali kakek hitam tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Tadi sudah kuperingatkan, tapi kau tidak percaya, sekarang kau mau tunduk tidak?"

"Mau bunuh boleh bunuh, selama hayat masih di kandung badan, takkan kubiarkan kau merebut barangku."

"Bocah yang bandel,"

Ujar kakek hitam tertawa.

"baiklah, masih ada delapan belas jurus ilmu golokmu yang belum kau lancarkan, sekarang boleh kau habiskan setelah habis kau kembangkan ilmu golokmu baru kubunuh kau, supaya kau mati meram."

Sudah tentu Tan Ciok-sing sudah tidak pikirkan mati hidupnya sendiri, golok terayun dia menyerbu lagi, tanpa disadarinya sekaligus dia telah kembangkan ilmu golok keluarga In sampai habis.

Kakek hitam mendadak jungkir balik, kepala di bawah kaki di atas, dengan jurus kecapung tegak terbalik, ujung kakinya menjungkir ke atas.

"Tang"

Golok di tangan Tan Ciok-sing kena di tendangnya terbang ke udara.

Kembali lawan mengembangkan semacam jurus permainan aneh yang tak pernah terpikir oleh Tan Ciok-sing.

Sigap sekali tahu-tahu kakek hitam telah melompat berdiri pula, gerakannya teramat tangkas sebelum Tan Ciok-sing sempat berbuat apa-apa dia sudah mendahului melejit kesana menangkap golok pusaka yang melayang turun.

Begitu menangkap golok kontan dia putar balik gagangnya pula serta disesapkan ke tangan Tan Ciok-sing, katanya tertawa.

"Selanjutnya kau harus lebih hati-hati, jangan sampai golok pusaka ini hilang lagi."

Sekian lama Tan Ciok-sing terlongong.

Kakek hitam tadi bilang setelah dirinya habis melancarkan delapan jurus ilmu goloknya lantas akan membunuhnya.

Tak nyana kini bukan saja lawan tidak membunuh dirinya, malah golok pusaka ini dikembalikan padanya.

Kini tatapan mata kakek hitam setajam sembilu, katanya dingin.

"Katamu kau bukan murid In Hou, lalu siapa yang mengajarkan ilmu golok ini?"

Tan Ciok-sing naik pitam pula, serunya.

"Kalian ini kawanan rampok, kenapa aku harus jelaskan kepada kalian?"

Kakek hitam tertawa, katanya.

"Golok pusaka sudah kukembalikan, harpa itupun tidak akan kurebut. Kenapa masih dianggap rampok juga."

Ternyata tadi dia hanya menggertak Tan Ciok-sing, berpura-pura hendak merebut harpanya, tujuannya hanya memaksa Tan Ciok-sing mengembangkan ilmu golok keluarga In.

Bimbang hati Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Mungkin mereka mengincar Kiam-boh karya Thio Tan-hong, tujuannya adalah rahasia yang kuketahui dari In Hou semasa masih hidup,"

Maka dia balas bertanya.

"Kalau kau bukan rampok, siapa kau?"

Berkerut kening kakek hitam, katanya.

"Masa kau tidak pernah dengar nama Hek-pek-moko?"

"Apa itu Hek-pek-moko, aku tidak pernah dengar,"

Ujar Tan Ciok-sing.

Kakek putih yang sejak tadi menonton di pinggiran kini geleng-geleng kepala, katanya, 'Tak usah ditanyai lagi, ilmu golok bocah ini kukira bukan diajarkan langsung oleh In Hou, kalau tidak masakah masih begitu kaku?"

"Betul,"

Demikian batin kakek hitam.

"kalau dia murid In Hou, kenapa tidak kenal Hek-pek-moko? Sejak tadi begitu melihat tampang kami berdua, seharusnya dia sudah kenal. Tapi cara bagaimana golok pusaka In Hou ini bisa berada di tangannya? Dari mana dan cara bagaimana dia bisa mempelajari ilmu golok keluarga In? Walau permainannya masih kaku, tapi jelas itulah ilmu golok keluarga In."

Di kala dia kebingungan dan tidak tahu cara bagaimana harus menghadapi bocah bandel ini, mendadak didengarnya dua kali suitan yang gugup dan melengking tajam, kejap lain tampak laki-laki brewok anak buah mereka itu mengeluh tertahan lalu sempoyongan sambil memeluk dada.

"Bluk"

Akhirnya tersungkur jatuh.

Laki-laki pendek itu masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak, tapi darah tampak menetes dari lehernya.

Ternyata tanpa mengeluarkan suara, tahu-tahu jiwanya sudah melayang terbokong musuh, sesaat lagi baru tubuhnya roboh berdentam seperti kayu.

Lekas sekali dari dalam hutan tampak bermunculan bayangan beberapa orang, oborpun menyala terang benderang.

Tiga orang yang berdiri terdepan dengan langkah gontai, pelan-pelan mendekati Hek-pek-moko.

Satu di antara ketiga orang ini sudah dikenal oleh Tan Cioksing, yaitu laki-laki yang memeluk gitar, dia bukan lain adalah gembong iblis she Siang yang ikut mencelakai In Hou didalam Cit-sing-giam tempo hari.

Padahal hari itu dia tidak berada disana, tapi "kenal"

Yang dia maksud lantaran pernah dengar keterangan kakeknya tentang tampang gembong iblis ini dan Le Khong-thian, serta senjata apa yang dia gunakan.

Le Khong-thian bersenjata Tokkang-tong-jin, sedang gembong iblis she Siang .

bersenjata gitar besi, senjata yang jarang terlihat dan digunakan oleh kaum persilatan.

Maka Tan Ciok-sing tahu bahwa laki-laki ini pasti adalah gembong iblis yang pernah mencelakai In Hou itu.

Baru pikirannya bekerja, maka didengarnya kakek hitam berkata dingin.

"Siang Po-san, berani kau membunuh kedua anak buahku, memangnya kau pamer di hadapanku?"

"Ternyata gembong iblis ini bernama Siang po-san,"

Demikian pikir Tan Ciok-sing.

"Dia salah satu musuh In Tayhiap, akan kucatat namanya."

"Tidak berani,"

Ujar Siang Po-san.

"mengurangi dua musuh kan lebih leluasa untuk berbicara."

Kini jarak ketiga orang ini tinggal belasan langkah saja dari Hek-pek-moko, kelihatannya merekapun segan terhadap Hekpek-moko, tiga orang berdiri dalam formasi segi tiga, semuanya menatap tajam penuh perhatian, Hek-pek-moko tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.

Dua orang yang lain itu terdiri kakek bertubuh kurus kering, seorang lagi adalah Hwesio berkepala besar dan bertelinga besar pula.

Kalau kakek kurus menggantung golok di pinggangnya, sementara si Hwesio bersenjata tongkat besi.

Anak buah mereka ada belasan orang, semuanya kini sudah keluar dari hutan, Hek-pek-moko berdua sudah terkepung.

Tan Ciok-sing berdiri di bawah sana, letaknya di sebelah kiri bawah Hek-pek-moko, jaraknya tiga puluhan langkah, golok masih tergenggam di tangan, pikirnya.

"Gembong iblis she Siang ini mungkin sudah ^hu bahwa In Tayhiap meninggal di rumahku, kalau dia mengincar diriku, biar aku adu jiwa."

Didengarnya kakek hitam berkata.

"Ie-cengcu, kawan undanganmu ini ternyata punya asal-usul juga ya, yang gundul ini adalah Thi-ciang Siansu bukan?"

Hwesio itu bersuara dengan pongah.

"Betul, berkat kawankawan Kangouw yang sudi memandang diriku serta memberi gelar itu padaku. Hehe, aku tahu kalian adalah Hek-pek-moko, walau kita belum pernah berhadapan, kukira masing-masing sudah pernah dengar nama masing-masing."

Hwesio yang satu ini sebetulnya murid Siau-lim-pay, gelarannya Cau-hong, dua puluh tahun yang lalu karena melanggar disiplin perguruan, dia diusir dari Siau-lim-si oleh ketuanya Thong-sian Siang-jin.

Tapi kepandaian ajaran Siaulim-si yang pernah dia pelajari memang amat liehay, terutama enam puluh empat jurus Hong-mo-cang-hoat merupakan bekal kepandaiannya yang hebat, konon seluruh penghuni biara Siau-lim tiada yang menjadi tandingannya.

Oleh karena itu dia dijuluki Thi-ciang Siansu, gelarannya yang semula sudah dilupakan orang malah.

"Kan masih ada Le Khong-thian?"

Ujar kakek hitam.

"Kabarnya dua tahun yang lalu dia sudah kembali ke Tionggoan, selalu keluntang keluntung dengan kau orang she Siang ini. Ie-cengcu, kau mengundang orang she Siang, kenapa tidak memanggil orang she Le itu?"

Ie-cengcu tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Hek-pek-moko, apa kalian tidak terlalu mengagulkan diri? Le Khong-thian sedang ada urusan, tapi menurut hematku, kami yang hadir ini sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan urusan disini."

Dalam hati Tan Ciok-sing membatin.

"Ie-cengcu ini mungkin yang dijuluki raja golok cepat le Cun-hong itu, kalau benar dia adanya, kakek hitam putih ini mungkin bisa celaka."

Perlu diketahui, dulu Tan Ciok-sing pernah dengar percakapan Lui Tin-gak dengan kakeknya membicarakan le Cun-hong ini, waktu itu It-cu-king-thian tentu tiada bandingan di kolong langit ini, namun dia boleh terhitung tokoh ternama dalam permainan golok, hanya ilmu golok In Hou yang mungkin bisa menandinginya.

Meski sebelum ini tidak kenal dan sekarang tidak menaruh rasa simpati terhadap kakek hitam putih, namun dalam hati Tan Ciok-sing, diam-diam mengharap kedua kakek ini nanti yang menang.

Maklum pendatang baru ini termasuk musuh pembunuh In Hou sudah tentu bencinya terhadap orang-orang ini setengah mati, mau tidak mau dia kuatir juga akan keselamatan kakek hitam putih.

Kakek putih ternyata berwatak lebih berangasan dari kakaknya, segera dia gcdrukkan tongkatnya ke tanah, serunya lantang.

"le Cun-hong, bicara blak-blakan saja, apa maksud tujuan kalian mencari kami?"

Laki-laki kurus itu memang si cepat raja golok le Cun-hong, dengan kalem dia berkata.

"Kalian tak usah kuatir dan jangan marah, memang kedatanganku ada tujuan, untuk ini mohon kalian suka memaafkan."

Bentak kakek putih.

"Ada omongan apa lekas katakan."

Berubah air muka Le Cun-hong disemprot kasar.

"bukan aku tidak bisa memaki orang, tapi kita akan berusaha secara hormat, kalau terpaksa apa boleh buat baru menggunakan kekerasan. Hek-pek-mo-ko, selama puluhan tahun ini, harta benda yang telah kalian kumpulkan di Tiongkok ini tentu tidak sedikit jumlahnya, kalau seluruhnya diboyong keluar tentu berabe. Oleh karena itu mohon kau suka beritahu dimana kalian menyimpan harta benda itu, kami tidak akan mengangkangi seluruhnya, cukup separoh saja. Sisanya yang separoh menjadi tanggungan kami untuk mengirimnya ke perbatasan."

Kakek putih menyeringai dingin, katanya.

"Enak juga kalian membuat perhitungan, sayang sekali sekarang kami sudah rudin, jangan kata harta segala, uang sangupun kita tidak punya lagi, terpaksa biar kami merogoh kantong kalian saja."

Hwesio gede itu juga menggedrukkan tongkatnya ke tanah, katanya dingin.

"Genta yang tidak dipalu tidak akan bunyi, lampu tidak disulut tidak akan nyala. Kalau demikian terpaksa Pinceng harus menggunakan tongkatku ini untuk menyempurnakan kalian."

"Eh, mau berkelahi juga boleh, memangnya aku takut kepadamu?"

Tantang kakek putih. Kakek hitam justru mengulap tangan, katanya.

"Tunggu sebentar, aku tak percaya bahwa kalian ke mari hanya mengejar harta dan uang. Adakah maksud tujuan lain, silahkan katakan saja."

"Hek-moko,"

Kata le Cun-hong.

"otakmu memang lebih encer dari adikmu. Memang seorang teman minta aku tanya pada kalian, kalian kan teman baik Thio Tan-hong, tentunya tahu dimana sekarang tempat tinggalnya, temanku itu akan mencarinya."

Mendengar kakek hitam putih ini adalah teman baik Thio Tan-hong, bukan kepalang kaget hati Tan Ciok-sing, batinnya.

"Omongan orang she Ie entah dapat dipercaya tidak?"

Soalnya dia tidak percaya bahwa Thio Tan-hong yang diagungkan seluruh lapisan persilatan itu ternyata punya dua teman bangsa asing.

Memang Tan Ciok-sing tidak tahu asalusul mereka, tapi dari tingkah laku mereka jelas memang kurang genah.

Menurut apa yang dikatakan Ie Cun-hong barusan, agaknya mereka banyak mengeduk harta benda secara tidak halal di Tiongkok.

Sudah tentu Tan Ciok-sing tidak tahu, meski kedua kakek bertampang seram dan aneh ini berwatak aneh pula, apa lagi mereka memang banyak mengeduk keuntungan di Tiongkok.

Tapi mereka memang betul teman baik Thio Tan-hong, malah setelah mereka berkenalan dengan Thio Tan-hong, sepak terjang merekapun banyak berubah, lebih banyak berbuat kebajikan dari pada kejahatan.

Kedua kakek ini adalah saudara kembar cuma yang tua hitam bernama Hek-moko, sang adik putih bernama Pekmoko, kalau digabung bernama Hek-pek-moko, semula mereka adalah pedagang perhiasan dan barang-barang antik dari India.

Usaha dagang mereka memang cukup besar, namun cara yang mereka praktekkan memang kurang legal.

Main selundup, sogok dan bila perlu main paksa, merekapun pernah jadi maling yang suka mengeduk harta benda didalam kuburan raja-raja.

Namun mereka ada membuat sebuah peraturan, yaitu mereka hanya mencuri benda milik orang telah mati, kepada manusia-manusia hidup hanya menipu pantang merebut.

Belakangan mereka kenal Thio Tan-hong, karena suatu ketika secara kebetulan Thio Tan-hong menemukan istana di bawah tanah milik kedua kakak beradik ini, didalam istana bawah tanah inilah kedua orang asing ini menyimpan harta bendanya.

Kalau mereka sendiri akhirnya pantang menjadi maling atau pencuri, tapi mereka tetap menjadi tukang tadah, bila perlu meluruk kemana sajapun boleh, asal ada barang dan usaha jalan, tidak perduli dari mana asal-usul barang itu.

Oleh karena itu anak buahnya campur aduk terdiri dari beberapa lapisan, itulah sekedar gambaran sepak terjang Hek-pek-moko yang lalu, lain dulu lain sekarang, kini Hek-pek moko tidak lagi sekaya dulu, meski belum sampai rudin, tapi simpanan mereka memang sudah tidak banyak lagi, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Soalnya setelah mereka ditundukkan oleh Thio Tan-hong, secara suka rela mereka serahkan seluruh harta simpanannya kepada Thio Tan-hong, oleh Thio Tan-hong harta terpendam itu diserahkan kepada Kim-to Cecu Ciu Kian ayah dan anak yang bercokol diluar Gan-bun-koan untuk melawan serbuan pasukan Watsu.

Ciu Kian sebetulnya adalah komandan tentara yang berkuasa di perbatasan, karena difitnah oleh kawanan dorna, akhirnya dia tinggalkan jabatan dan kedudukan terus menduduki gunung menjadi penyamun, meski jadi brandal, namun loyalitasnya terhadap kerajaan Bing tak pernah luntur, dalam mendirikan pangkalannya diluar perbatasan itu, dia tetap berusaha menahan serbuan pasukan Watsu dibantu laskar rakyat yang patriotik.

Tiga puluh tahun yang lalu, Ciu Kian terhitung raja golok yang kenamaan juga, kini dia sudah meninggal, maka anaknya Ciu San-bing mewarisi jabatan ayahnya, hubungannya dengan In Hou amat intim.

Di pangkalan Ciu San-bing inilah Hek-pek-moko pernah beberapa kali bertemu dengan In Hou, masing-masing pernah tukar pikiran tentang ilmu silat, oleh karena itu kedua kakak hitam putih ini amat apal akan ilmu golok keluarga In.

Sebelum menjawab pertanyaan Ie Cun-hong tentang jejak Thio Tan-hong, Hek-moko menengadah sesaat tanpa bersuara, akhirnya dia tertawa geli tiga kali, baru berkata.

"Mengandalkan kalian beberapa gelintir kurcaci ini, memangnya pantas kalian mencari Thio Tan-hong?"

Gusar Ie Cun-hong, dampratnya.

"Cara hormat sudah kita tempuh. Ternyata kau tidak tahu diri, baiklah, ingin aku belajar kenal sampai dimana kepandaian kalian Hek-pekmoko?"

"Ie-cengcu,"

Timbmng Thi-cang Siausu.

"biarlah Pinceng dulu yang belajar kenal kepandaian hitam putih ini. Liok-giokcang yang dipergunakan kakak beradik ini konon juga termasuk benda pusaka, ingin aku bertaruh dengan mereka, coba Liok-giok-cang mereka yang liehay atau tongkat bajaku yang hebat, kalau tongkat mereka dapat mengalahkan tongkatku, selanjutnya namaku akan terhapus dari percaturan Kangouw. Sebaliknya kalau aku yang menang, terpaksa tanpa sungkan tongkat pusaka mereka itu akan kurebut."

Kalau si Hwesio dan Ic Cmi-hong berebut hendak berkelahi dengan Hek-pek-moko, sementara Siang Po-san diam-diam mengawasi Tan Ciok-sing tanpa berkedip. Seorang anak buah Ie Cun-hong berkata.

"Ganyang dulu bocah ini?"

Siang Po-san geleng-geleng kepala, katanya.

"Bocah ini kalau tidak salah cucu Ki Harpa, jangan kau mengusiknya."

"Siapakah Ki Harpa itu?"

Tanya anak buah itu.

"Ki Harpa adalah Dewa Harpa yang terkenal sebagai pemetik harpa nomor satu di dunia ini, bagaimana asalusulnya aku juga tidak jelas. Tapi aku tahu In Hou pernah merawat luka-lukanya di rumah mereka, In Hou masih hidup atau sudah mati, ingin aku mengompres keterangan dari mulut bocah ini."

"Baiklah, biar kita ringkus dia hidup-hidup saja,"

Kata anak buah itu.

Musuh utama mereka sekarang jelas adalah Hekpek-moko, sudah tentu Tan Ciok-sing yang masih tanggung ini tidak menjadi perhatian mereka, maka anak buah itu menarik seorang temannya lagi menghampiri ke arah Tan Ciok-sing.

Mendengar In Hou terluka, sudah tentu Hek-pek-moko kaget, air mukapun berubah.

Si Hwesio tertawa gelak, serunya.

"Belum lagi turun tangan, memangnya kalian sudah jeri?"

Hek-moko tiba-tiba menyeringai dingin, berbareng dia enjot kedua kaki, tubuhnya terapung ke atas, gerakan tubuhnya sungguh cepat luar biasa, si Hwesio kira orang melabrak dirinya, lekas dia lintangkan tongkat hendak menangkis, bentaknya.

"Kenapa tidak kau gunakan senjata tunggalmu."

Belum habis dia bicara, bayangan orang didepan mata tahutahu sudah lenyap.

Ternyata bersuara di timur Hek-moko menggempur kebarat, di tengah udara dia memutar badan meluncur turun di hadapan Siang Po-san, bentaknya.

"Biar aku belajar kenal senjata rahasiamu lebih dulu,"

Sekali menekan gitar besinya, tiga batang Toh-kut-ting segera melesat keluar. Hek-moko keburu memukul turun dengan telapak tangan.

"Tang"

Gitar lawan dihantamnya telak.

Perih telapak tangan Siang Po-san, tanpa kuasa dia terhuyung ke samping, tapi gitar besinya sekalian menyapu ke bawah Hek-moko.

Gerak perubahan permainannya ini memang cukup liehay, tangkas tapi ganas.

Tapi sebat sekali Hek-moko ternyata sudah melayang balik ke tempat asalnya.

Terdengar sebuah dengusan keras, sebatang Toh-kut-ting tahu-tahu sudah menyambar tiba di depan mata Siang Po-san, cepat Siang Po-san angkat jari tangannya menjepit, paku itu kena ditangkapnya dengan mudah, katanya dingin.

"Kau memakai senjata rahasiaku, mana bisa melukai aku? Hayolah kita bertanding menurut kepandaian senjata masing-masing. Wah celaka..."

Belum habis dia bicara, terdengar dua jeritan keras yang mengerikan, ternyata tangan kiri Hek-moko menyambut senjata rahasia lawan, ketiganya lalu dia sambitkan dari arah dan posisi yang berbeda, dua batang paku di antaranya seperti punya mata layaknya, tahu-tahu balik melesat ke belakang dan mengincar ke arah dua anak buah le Cun-hong yang meluruk kearah Tan Ciok-sing, dengan telak ulu hati mereka tersambit, maka jiwanya seketika melayang.

Begitu Hek-moko pamer kepandaian, si Hwesio yang bermulut besar melongo kaget dan jeri, pikirnya.

"Usianya sudah lebih enam puluh tahun, tapi gerak-geriknya masih demikian gesit dan lincah. Musuh setangguh ini, jelas sukar dilayani."

Siang Po-san sendiripun bukan kepalang kagetnya, pikirnya.

"Gerakan untuk menangkap senjata yang dilakukan tadi, kira-kira masih bisa juga kulakukan, tapi untuk menimpuk sejauh ratusan langkah, telak mengenai ulu hati lagi, malah sasaran berada di sebelah belakang, jelas kepandaian setinggi ini belum bisa kutandingi."

Hek-moko terloroh-loroh, katanya.

"Siang Po-san, kau melukai dua anak buahku, kini kubalas pula dengan caramu sendiri, adil bukan."

"Tapi anak buahmu bukan aku yang membunuh?"

Damprat le Cun-hong gusar.

"Kalian kan sekomplotan, kalau tidak terima boleh maju menuntut balas bagi mereka,"

Demikian tantang Hek-moko.

"He, bagaimana taruhan kita?"

Karena terlanjur bicara tadi, meski hati sudah agak jeri, tapi demi gengsi terpaksa dia menebalkan muka menyinggung usulnya sendiri.

"Kenapa tergesa-gesa?"

Seru Hek-moko.

"setelah aku jajal golok cepat si raja golok Ie-cengcu, tentu akan kuhadapi juga dirimu. Kaupun tak usah kuatir akan diriku, meski golok Iecengcu dijuluki golok tercepat tiada bandingannya di kolong langit, aku yakin dia takkan bisa membacokku mampus,"

Karena diolok-olok sudah tentu berang le Cun-hong dibuatnya.

Pek-moko yang berangasan menjadi gatal, mendengar si Hwesio menantang berulang kali, akhirnya dia tidak tahan, sambil mengetuk tongkat ke tanah dia membentak.

"Kepala gundul, kau memang tidak tahu diri, kau ini barang apa, berani menantang engkohku, hm, kalau kau sudah bosan hidup, hayolah bertanding satu lawan satu dengan aku. Tidak usah pakai hadiah segala, jiwa kita saja dipertaruhkan."

Hek-moko tertawa, bujuknya.

"Dik, usia kita sudah setua ini, janganlah suka pemberang. Pertunjukan harus babak demi babak, kalau sekaligus dua babak, penontonnya bisa jadi kebingungan."

Pek-moko tahu maksud tujuan engkohnya, maka dia berkata.

"Baiklah, Koko, kumengalah padamu, biar kepala gundul ini hidup beberapa kejap lagi."

"Baik akan kutunggu supaya nanti aku bisa mendoakan arwahmu diterima di sisi Thian,"

Yang benar dia sudah mulai jeri, jikalau Ie Cun-hong terjun pada babak pertama kan juga menguntungkan dirinya, sekaligus dia bisa saksikan permainan musuh, jikalau dia sendiri nanti terjun ke arena melawan Hekmoko sedikit banyak sudah bisa menyelami permainannya dan menentukan akal untuk mengalahkannya.

Padahal Ie Cun-hong amat membanggakan ilmu goloknya yang tiada tandingan, namun setelah menyaksikan demontrasi kepandaian Hek-moko tadi, rasa jeri sudah menghantui sanubarinya juga, tapi dia berpikir.

"Masa dia bisa melebihi gerakan golok cepatku, kalau dia bergerak seperti menghadapi Siang Po-san tadi, sebelum dia tiba di depanku, badannya tentu sudah kupersen beberapa kali tusukan, kenapa takut padanya?"

Dia kira perhitungannya tidak akan meleset, seketika timbul nyalinya, katanya.

"Hek-moko, kau menuding aku dan menantang, baiklah kulayani, bagaimana kalau kau kalah?"

"Apa kehendakmu?"

Hek-moko balas tanya.

"Seperti apa yang kukatakan tadi, cukup separah harta milikmu,"

Ujar Ie Cun-hong.

"Kalau kau yang kalah?"

Tanya Hek-moko.

"Selanjutnya kututup pintu menggantung golok,"

Sahut Ie Cun-hong. Hek-moko tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Baiklah, silahkan kau sebutkan cara bertanding, aku menurut kemauanmu saja."

"Jangan jumawa, keluarkan senjatamu."

"Apa yang membuatmu terburu nafsu begini?"

Ujar Hekmoko, tiba-tiba dia menghampiri Tan Ciok-sing, katanya.

"Pinjam golokmu itu."

Tan Ciok-sing mengharap dia menang, dia juga tahu kalau orang mau merampas golok dari tangannya segampang membalik telapak tangan, maka dengan sikap jantan dia angsurkan golok milik In Hou itu kepada Hek-moko.

Ie Cun-hong tidak habis mengerti, pikirnya.

"Pentungnya itu termasuk pusaka, kenapa dia meminjam golok kepada bocah itu malah?"

Maklumlah permainan kombinasi kedua tongkat Hek-pekmoko bukan saja menjagoi India, di Tiongkok pernah juga menyapu banyak orang gagah, selama ini belum pernah ketemu tandingan.

Meski Ie Cun-hong baru pertama kali ini berhadapan dengan mereka, tapi dia juga tahu keliehayan gabungan ilmu pentung kedua kakek hitam putih ini.

Bahwa Hek-moko tidak menggunakan senjata andalannya, malah pinjam golok bocah ini, maklum kalau le Cun-hong tidak habis mengerti.

Pelan-pelan Hek-moko jalan kembali lalu berdiri di depan Ie Cun-hong, pelan-pelan pula dia mencabut golok, tampak sinar golok laksana air bening memancarkan cahaya kemilau.

Golok In Hou ini entah pernah menghirup darah berapa banyak orang, namun tetap memancarkan cahaya terang, tak ubahnya golok yang baru saja digembleng.

Tersirap darah Ie Cun-hong, batinnya.

"Betul, memang golok bagus."

"Ie-cengcu,"

Kata Hek-moko dingin.

"kau dijuluki golok cepat tiada bandingan, baru saja aku belajar beberapa jurus ilmu golok dari bocah itu, ingin aku mohon belajar pula beberapa jurus dari kau."

Sudah tentu le Cun-hong amat gusar, gelar "raja golok"

Yang dimilikinya sudah diakui khalayak ramai, kini Hek-moko menantang dia adu golok, jelas telah memandang rendah dirinya, apalagi Hek-moko bilang baru saja belajar beberapa jurus kepada bocah ingusan lantas mau menghadapi dirinya.

Namun Ie Cun-hong yakin akan dirinya, pikirnya.

"Meski dia mengandalkan ketajaman golok pusaka itu, permainan goloknya jelas bukan tandinganku,"

Saking gusar dia malah tertawa tergelak-gelak.

"Hek-moko, kau sendiri yang cari mampus, jangan nanti salahkan aku,"

Di tengah gelak tawanya, cahaya terang tiba-tiba berputar di empat penjuru, bayangan tubuhnya seperti dibungkus gugusan cahaya kemilau, Ie Cun-hong sudah mulai melancarkan kecepatan goloknya.

Padahal golok hanya sebatang, orangnya pun cuma satu, tapi karena kecepatan gerak tubuh dan permainan goloknya, seakan-akan ada belasan orang yang sekaligus memainkan jurus golok menyerang ke arah Hek-moko.

Perbawa serangan golok ini begitu dahsyat, kelihatannya Hek-moko bakal tercacah hancur tubuhnya.

Tan Ciok-sing merinding dibuatnya, jantungnya berdetak kencaug, pikirnya.

"Memang tidak malu Ie Cun-hong bergelar raja golok, memang tidak bernama kosong. Kakek hitam ini agaknya terlalu memandang rendah padanya."

Di saat benaknya membatin ini, dilihatnya Hek-moko sudah tarikan golok di tangannya dengan gerakan santai dan seenaknya, boleh dikata dia menghadapi rangsakan golok lawan secara wajar dan kalem, jauh berbeda dengan rangsakan Ie Cun-hong yang keras dan deras, tapi secara pas pasan dimana tajam goloknya menyabet dan menyontek, dengan tepat seperti kebetulan pula serangan hebat Ic Cunhong kena dipatahkan atau disampuk pergi, bayangan sinar golok yang bertaburan memenuhi angkasa seketika kuncup tak berbekas.

Kebat kebit jantung Tan Ciok-sing melihat pertandingan yang menegangkan ini, pikirnya.

"Bagus sekali, ternyata jurus Yan-loh-ping-sa (belibis hinggap di pasir datar) harus begitu cara memainkannya, agaknya aku hanya memperoleh gayanya belum menyelami inti sarinya,"

Ternyata yang dilancarkan Hek-moko barusan memang ilmu golok keluarga In kedua pihak saling serang dan bertahan, dalam sekejap saja puluhan jurus telah berlalu.

Gerakan golok Ie Cun-hong memang sedikit lebih cepat dibandingkan Hek-moko, tapi keadaan tetap seimbang.

Tan Ciok-sing jadi bingung, pikirnya.

"Beberapa jurus ini kelihatannya tidak mirip ajaran ilmu golok yang tercantum dalam buku peninggalan In Tayhiap, tapi lebih mantap tenang juga lincah dan enteng, mungkinkah ini kembangan atau variasi dari permainan ilmu golok keluarga In yang sejati?"

Seperti dapat meraba jalan pikirannya, tiba-tiba Hek-moko menggunakan jurus Hing-hun-toan-hong membendung serangan Ie Cun-hong, katanya pelan-pelan.

"Ilmu silat harus dihargai pada mutu ciptaannya, asal dapat menyelami inti sarinya, perduli ilmu golok tingkat tinggi sekalipun, pasti dapat dimainkan dengan perubahan sesuka hati. Malah tanpa pernah mempelajarinya pun dapat juga memainkannya secara mahir, itu tergantung bakat dan kecerdasan otak. Hehe, Ie Cengcu, coba katakan betul tidak?"

Perlu diketahui bahwa taraf kepandaian dan bekal Kungfu Hek-moko sebetulnya masih lebih unggul di atasnya In Hou.

Permainan ilmu golok keluarga In memang dia tidak semahir dan lengkap seperti apa yang dimainkan Tan Ciok-sing tadi, tapi karena diapun sudah apal dan pernah menyelaminya, mengandal bekal kepandaiannya lagi sehingga dengan mudah dia menciptakan sendiri gerakan baru, umpama In Hou sekarang masih hidup serta melihat permainannya ini, diapun pasti kaget dan kagum, serta merasa bahwa kepandaian ilmu golok yang pernah diyakinkannya juga hanya begitu saja.

Kata-kata petunjuk itu sebetulnya dia tujukan kepada Tan Ciok-sing, tapi bagi pendengaran Ie Cun hong, dia menganggap Hek-moko sedang mengejek dan memberi peringatan pada dirinya.

"Hek-moko,"

Damprat Ie Cun-hong gusar.

"jangan temberang, ilmu golok orang she Ie, memangnya perlu kau yang mengajarkan?"

Hek-moko tergelak-gelak, katanya.

"Mana berani? Siapa tidak tahu Ie Cengcu dijuluki si cepat raja golok yang tiada bandingannya? Itu hanya kesimpulanku yang bodoh belaka, mumpung ada kesempatan sukalah kau memberi kesempatan untuk tukar pikiran. Tapi menurut hematku, ilmu golok meski mampu bergerak dan menyerang dengan kecepatan tinggi masih belum boleh dihitung sebagai ilmu golok tingkat tinggi yang sudah mencapai puncaknya."

"Jadi ilmu golokmu sudah mencapai puncak tertinggi?"

Jengek le Cun-hong.

"Aku tidak mengatakan demikian,"

Ujar Hek-moko tertawa.

"kan sudah kukatakan, kepandaian cakar kucingku ini, baru saja belajar dari engkoh cilik itu, untuk mencapai puncak tertinggi entah masih berapa laksa tingkat bedanya, sudah tentu lebih-lebih bukan tandingan kau si raja golok ini umpama tamu yang berkunjung ke rumah makan dan kau adalah kokinya. Meski aku tidak pandai memasak, tapi masakan hasil karyamu dapat juga kucicipi dan kunilai apakah enak dan lezat? Coba katakan betul tidak?"

Sudah tentu le Cun-hong semakin berang, bentaknya.

"Kau ini mau bertanding golok atau ingin ngobrol?"

Dalam beberapa patah kata ini, beruntun goloknya sudah menyerang tiga puluh enam jurus.

Padahal dengan gaya santai Hek-moko hanya balas menyerang tujuh jurus, tiga puluh enam jurus rangsakan lawan tahu-tahu telah dipunahkan seluruhnya, katanya tertawa.

"Sudah tentu bertanding golok tapi aku ingin pula ngobrol. Tadi waktu kau memutuskan cara bertanding kan tidak melarang aku buka suara. Nah, lihatlah yang jelas, kukira ilmu golok tingkat tinggi tak berguna kalau hanya mengutamakan kecepatan, poros inti permainan golok adalah mengutamakan diri sendiri, dari pada menanti lawan menyerang, ada lebih baik aku melayani kehendak lawan. Yang muda lebih unggul dari yang tua, lambat lebih unggul dari gugup. Lawan membacok sepuluh jurus, aku cukup balas satu jurus, jikalau kau anggap analisaku ini salah. Nah mari kita mulai bertanding lagi."

Majikan, tamu, tua dan muda merupakan unsur-unsur penting dalam ilmu golok dalam sandi kata rahasia, bergerak lebih dulu menundukkan musuh, berarti pihak yang diserang malah balas menyerang, yang bergerak belakangan malah dapat mengalahkan musuh itu berarti sang majikan melayani tamunya, menyontek dengan ujung golok dinamakan muda, mengetuk dengan gagang golok dinamakan tua, menyanggah dan menindih dinamakan lambat, kalau ujung golok memapak maju lebih dulu dinamakan gugup.

Sembari bicara Hek-moko membuat contoh dengan gerakan goloknya, supaya Tan Cioksing dapat menyaksikan dengan jelas.

Tan Ciok-sing belajar dan berhasil tanpa bimbingan guru, untuk beberapa bulan pelajaran ini hasilnya ternyata cukup lumayan, tapi hasil yang dia pelajari baru merupakan kulitnya saja.

Baru sekarang dia memperoleh petunjuk dan bimbingan dari guru ternama, banyak persoalan yang selama ini tidak terpecahkan kini semuanya sudah jelas baginya.

Waktu Hek-moko mengatakan "bertanding", tangan kirinya menggertak dengan suatu gerak tipuan, menuding timur menggempur barat, dengan jurus Hian-niau-hoat-sa (burung sakti menggaris pasir), tajam goloknya menerobos keluar dari bawah sikutnya.

Jurus ini bergerak tepat pada waktunya dan menakjubkan lagi, hampir saja golok cepat le Cun-bong menyentuh dadanya, seolah-olah dia sudah dapat meraba serangan Ie Cun-hong, golok pusakanya sudah menyongsong dan mencegat di depannya.

Karena itu gerakan ilmu golok Ie Cun-hong sebetulnya lebih cepat, sekarang kini menjadi terbalik seakan sedetik lebih terlambat dari lawan.

"Trang"

Terdengar benturan keras, kembang api berpijar, Ie Cun-hong melompat minggir tiga langkah, waktu dia menunduk, punggung goloknya ternyata gompal sedikit.

Tadi Ie Cun-hong melontarkan jurus Me-can-pat-hong (bertempur malam di delapan penjuru) yang merupakan gerakan menyimpan golok, tujuannya untuk melindungi sekujur badan, diam-diam dia berteriak.

"syukur, untung golokku ini berpunggung tebal."

Ternyata dalam detik-detik yang kritis tadi, membalik punggung golok untuk membentur golok pusaka Hek-moko.

Memang dia sudah mahir merubah gerakan sesuai jalannya pertempuran, gerak perubahannya teramat cepat pula, taraf kepandaian ilmu goloknya memang sudah hebat luar biasa.

Diam-diam Hek-moko berpikir.

"Ie Cun-hong bergelar raja golok, walau terlalu mengagulkan diri, tapi dia memang tidak bernama kosong,"

Maka segera dia berkata.

"Tadi Ie-cengcu mengembangkan unsur sebagai tamu berubah majikan, sebaliknya aku dari majikan menyambut tamu, dalam segebrak saja lantas terjadi perubahan posisi dan gaya, dari sini terbuktilah teori yang pernah kuterangkan tadi memang masuk di akal bukan?"

Dia menggunakan praktek bertempur sebagai contoh yang nyata, tujuannya memberi penjelasan permainan ilmu golok itu kepada Tan Ciok-sing, sudah tentu Tan Ciok-sing maklum akan maksud tujuan orang, sungguh hatinya amat haru dan terima kasih pula.

Sebaliknya Ie Cunhong kira Hek-moko seperti sedang mendidik atau menghina dirinya, karuan marahnya bukan main.

Melihat keadaan Ie Cun-hong yang tidak menguntungkan, tiba-tiba Thi-ciang Siansu maju selangkah, tongkat besi segede mangkok di tangannya terangkat menuding Pek-moko, bentaknya.

"Waktu sudah berlarut, Locu tak sabar menunggu, hayolah kita mulai bertanding."

Demi mempertahankan gengsi, sudah tentu dia malu mengerubut Hek-moko dengan Ie Cun-hong, maka terpaksa dia gunakan akalnya sendiri, dia tahu kalau kepandaian Pek-moko ketinggalan dibanding engkohnya, umpama dirinya tak mampu mengalahkan lawan, tentunya juga tak akan mudah dikalahkan.

Maka begitu gebrak di mulai dia terus merangsak dengan serangan gencar dan keras, kalau Pek-moko diserangnya hanya mampu bertahan dan mundur terus, tentu Hek-moko menguatirkan keselamatan, adiknya, itu berarti perhatiannya mulai terpencar.

"Hayo maju, memangnya aku takut,"

Seru Pek-moko, dengan menjinjing kedua tongkat, dia maju menghadapi tantangan si Hwesio, katanya.

"Koko, bukan aku tidak tunduk pada pesanmu, soalnya kepala gundul ini terlalu menghina."

Hek-moko tertawa, katanya.

"Bahwasanya permainan sandiwaraku ini juga sudah berakhir pada babak ini, boleh kau sambut tantangannya."

Disini dia belum habis bicara, tongkat besi Thi-ciang Siansu yang gede itu sudah menderu dengan serangan menyapu ke pinggang Pek-moko.

Begitu kencang deru angin sapuan tongkatnya ini sampai batu pasir ikut tersapu terbang.

Maka di tengah berdencingnya benturan keras benda-benda logam, kuping setiap hadirin seperti pekak jadinya.

Tongkat besi Thi-ciang Siansu sebesar mulut mangkok, jauh' lebih besar dari Liok-giok-cang yang digunakan Pek moko.

Tapi begitu kedua tongkat masing-masing saling bentur, ternyata sedikitpun Thi-ciang Siansu tidak berhasil memungut keuntungan apapun, malah pergelangan sendiri terasa kaku dan linu.

Akan tetapi menghadapi benturan kekerasan ini Pek-moko sendiri tak urung juga tergentak sempoyongan.

Kalau dinilai lvvekang kedua pihak, ternyata mereka kira-kira seimbang.

Thi-ciang Siansu sudah bertekad akan menyerang secara gencar dan mengadu kecepatan, sebelum Pek-moko berdiri tegak tongkatnya sudah disurung ke depan pula, ujung tongkat menjojoh Hiat-hay-hiat di bawah pusar Pek-moko dengan jurus Ular Berbisa Mencari Lubang.

Pek-moko menggoncang tongkat di tangan kiri menyontek ke samping, sementara tongkat di tangan kanan digunakan sebagai Poan-koan-pit untuk balas menutuk Jian-kin-hiat di pundak musuh.

Kekuatan Thi-ciang Siansu sedikit lebih unggul, walau tongkat besinya kena disontek ke samping, namun tenaga pantulannya masih belum lenyap.

"trang"

Tongkat kanan Pek-moko kena dibenturnya juga ke samping, sebat sekali dia barengi dengan gerak susulan yang dinamakan Heng-sau-jian-kun (menyapu habis ribuan pasukan), kembali beruntun tiga gerakan dia menyerang tiga jalan darah bagian bawah Pek-moko.

Pek-moko menggunakan gerakan naga melingkar melangkah kaki, kembali dia berkelit.

Berhasil merebut posisi dan mendahului dengan serangan gencar, Thi-ciang Siansu seperti mendapat angka, maka dia lancarkan rangsakan gencar, setiap jurus merupakan serangan ganas dan mematikan.

Lwekang Thi-ciang Siansu memang teramat tangguh, kekuatan jari dan lengan tangannya memang hebat luar biasa, tongkat segede mulut mangkok ternyata dapat diputarnya seringan dahan'bambu, mengeluarkan deru kencang lagi, sekitar gelanggang bayangan tongkat melulu, perbawanya sungguh laksana gugur gunung seperti kilat dan geledek saling menyamber, bagi kaum persilatan kelas rendah, jangan kata kena dikemplang tongkatnya, tersampuk angin tongkatnya saja, isi perut mungkin bisa rontok dan terluka parah.

Pek-moko diam-diam berpikir.

"Hong-mo-cang-hoat (ilmu pentung iblis gila) ajaran murni Siau-lim-si ini ternyata memang hebat sekali. Aku harus dapat berperan baik didalam permainan sandiwara ini, jangan sampai dikalahkan olehnya,"

Maka dia layani serbuan musuh dengan mantap dan tenang, bayangan tongkat selulup timbul memenuhi udara, tak ubahnya dua ekor naga yang lagi berkutet sengit di tengah udara.

Dalam waktu mendesak ini jelas dia memang tak berkesempatan balas menyerang, tapi untuk mengalahkan dia, ternyata Thi-ciang Siansu harus menguras tenaga dan memeras keringat.

Pada saat itulah, di sebelah sana tampak Hek-moko mengayun goloknya berkelebat di tengah udara, tahu-tahu Ie Cun-hong merasa kepalanya menjadi silir dan dingin, sebelah rambut kepalanya ternyata sudah terkupas rontok berhamburan.

Pek-moko tertawa tergelak-gelak, serunya.

"Koko, dia kan tidak ingin jadi Hwesio, kenapa kau mencukur gundul kepalanya."

Hek-moko juga terloroh-loroh, katanya.

"Apa yang diagulkan si golok cepat tiada bandingan ternyata juga demikian saja. Terima kasih,"

Mendadak dia menghardik.

"lecengcu, apa pula yang hendak kau katakan sekarang?"

Tadi Ie Cun-hong sudah bilang kalau dirinya kalah, selanjutnya tidak akan muncul dalam kalangan Kangouw, itu berarti dia tidak boleh cari perkara pula pada Hek-pek-moko.

Tapi dia berjuluk Raja Golok, dalam adu golok pula dia dikalahkan Hek-moko, betapa dia rela dan sudi menelan kekalahan ini begini saja?

Apalagi dia mempunyai rencana dan tujuan tertentu, semula dia kira pihaknya pasti unggul dan menang, mana mungkin dia mau menyerah karena kalah sejurus dalam pertandingan ini?

Demi gengsi dan rasa tamak yang menghantui hatinya jauh mengungguli rasa takut dan malunya.

Karena malu Ie Cunhong malah naik pitam, bentaknya.

"Hari ini ada kau tiada aku, ada aku tiada kau, kekalahan setengah jurus atau satu jurus bukan jadi soal, memang hal ini dapat di buat ukuran untuk menentukan kalah menang?"

Habis bicara goloknya dikerjakan terus menyerbu lagi.

Umpama orang sering menggunakan cara bertanding untuk menentukan siapa liehay siapa asor, yaitu cukup saling tutul saja, atau bertempur sampai titik darah penghabisan, kalau sebelumnya sudah dijanjikan tidak akan berakhir sebelum salah satu pihak ada yang gugur, meski kalah sejurus, orang masih boleh meneruskan pertempuran.

Tapi le Cun-hong memang sudah memilih cara pertandingan ini, meski penjelasannya belum pasti, maksudnya adalah cukup saling tutul saja, baru sekarang dia menggunakan cara kedua untuk melabrak Hek-moko, tindakan dan perbuatannya ini memang tidak pantas dan tidak boleh dipuji.

"Memangnya tidak malu kau sebagai orang kenamaan, menjilat ludah sendiri, memangnya kau tidak takut ditertawakan orang-orang gagah di kalangan Kangouw?"

"Kalau aku dapat mati di tanganmu, kan lebih baik dari pada menggantung golok tutup pintu, siapa bilang aku menjilat ludahku sendiri? Hehe, sebaliknya bila kau terbunuh olehku, berarti aku sudah menyumbat mulutmu, yang hadir disini semua orangku pula, memang siapa yang tahu akan pertandingan golok antara kau dan aku ini?"

Sekaligus Hek-moko patahkan dua puluh empat jurus serangan golok kilat lawan. Bentaknya.

"Kau ingin membunuhku, kukira juga tidak gampang, bertanding satu lawan satu, jelas kau bukan tandinganku, suruhlah kambratkambratmu terjun ke gelanggang."

Siang Po-san tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Hek-moko, memangnya aku hendak membalas permainan licikmu tadi. Kini kau begini temberang, jangan salahkan kalau aku mengeroyokmu bersama Ie-cengcu."

Hek-moko tertawa dingin, katanya.

"Kalian suka main keroyok untuk mengalahkan musuh, memangnya aku gentar? Hayolah maju, tak usah banyak bacot."

Tan Ciok-sing tahu sampai dimana keliehayan Siang Posan, pikirnya.

"In Tayhiappun bukan tandingan gombong iblis ini waktu bergabung dengan Le Khong-thian. Kepandaian raja golok I-Cun-hong kira-kira tidak di bawah Le Khong-thian, dengan kekuatan kedua orang ini, kakek hitam mana mampu menghadapi mereka?"

Karena menguatirkan keselamatan Hekmoko, tanpa sadar mulutnya memaki.

"Tidak tahu malu."

Siang Po-san sudah bergaya hendak menubruk kearah Hekmoko, mendengar suaranya, mendadak dia tekan gitar besinya, tiga batang Toh-kut-ting tahu-tahu melesat keluar dari dalam perut gitar, sasarannya adalah Tan Ciok-sing yang berdiri kira-kira seratus langkah disana.

Kepandaian senjata rahasia Siang Po-san ini termasuk kelas wahid di kalangan Kangouw, dia yakin ketiga paku penembus tulang yang disambitkan ini, hanya akan menutuk hiat-to tanpa melukai seujung rambut.

"Tidak tahu malu,"

Hardik Hek-moko, golok pusaka di tangannya tiba-tiba meluncur bagai selarik cahaya bianglala.

Golok benda berat daya timpukannya kuat dan kencang, maka ketiga paku itu kena disusul, di tengah jalan tahu-tahu kena dipukul jatuh.

Malah daya luncuran golok pusaka masih cukup kencang, kebetulan melayang turun di depan Tan Ciok-sing, ujung golok menancap amblas kedalam tanah, gagang goloknya masih bergoyang dan bergetar kencang.

Teriak Hek-moko.

"Nah kukembalikan golokmu, lekas kau pergi,"

Dia tahu selanjutnya akan terjadi pertempuran sengit, musuh akan main keroyok dengan jumlah yang banyak, dia kuatir anak buah le Cun-hong akan membekuk pemuda tanggung ini.

Lekas Tan Ciok-sing cabut golok terus dimasukkan kedalam serangka, perasaannya ternyata hambar, walau dia belum tahu asal-usul kedua kakek bangsa asing ini, namun kini Tan Ciok-sing sudah mulai yakin bahwa mereka memang teman baik Thio Tan-hong.

Pikirnya.

"Kakek hitam ini beruntun dua kali menyelamatkan jiwaku, seharusnya aku beritahu kabar kematian In Tayhiap kepada mereka,"

Tapi Hek-pek-moko kini sedang bertempur sengit menggasak musuh, tak mungkin dia bisa memberitahu mereka, maka dia jadi bimbang.

"Tinggal pergi, atau tidak?"

Tan Ciok-sing jadi ragu-ragu dan sukar ambil putusan.

Melihat Hek-moko melempar golok pusaka, senang hati Siang Po-san, dia tidak sia-siakan kesempatan baik ini, dengan jurus Thi-li-keng-te (bajak besi menggaruk tanah), gitarnya segera menyapu ketiga jurusan di badan Hek-moko, kekuatan serangan satu jurus tiga gerakan ini ternyata hebat luar biasa, deru anginnya ternyata menimbulkan gelombang angin lesus yang membawa taburan daun dan debu.

Dengan bekal kepandaian Hek-moko sebetulnya dia mampu menghadapi gitar besi lawan dengan pukulan telapak tangan, tapi dia perlu menjaga serangan golok cepat le Cun-hong.

Kalau dia melawan dan menghadapi lawan secara kekerasan, umpama berhasil menggempur mundur gitar Siang Po-san, tentu dia sendiri terluka oleh golok le Cun-hong.

Kejadian berlangsung cepat sekali, golok le Cun-hong memang sudah membacok tiba.

Hebat memang kepandaian Hek-moko, dalam detik-detik yang kritis ini, tiba-tiba dia jejakkan kaki, tubuhnya melambung ke atas, berbareng lengan bajunya yang gondrong mengebut membelit ke arah golok.

"sret"

Lalu disusul "tang"

Lelatu apipun meletik.

Ternyata Hek-moko gunakan ilmu tingkat tinggi yang peranti menggunakan tenaga pinjam tenaga, dengan lengan baju dia melilit golok terus ditariknya ke samping, gerak golok Ie Cun-bong laksana kilat, karena tarikan ini tak kuasa dia kendalikan gerakan sendiri, maka goloknya kebetulan membentur gitar besi Siang Po-san.

Tapi lengan baju Hekmoko juga terkupas sebagian oleh golok lawan.

Gebrak sejurus ini sungguh teramat berbahaya dan menegangkan, kalau sedikit lena atau salah perhitungan, yang tertabas mungkin bukan lagi lengan baju tapi sebelah lengannya malah.

Lwekang Ie Cun-hong dan Siang Po-san setingkat, punggung golok yang tebal membentur gitar besi, golok terpental balik, sedang gitar tergetar turun ke bawah terus terseret di atas tanah meninggalkan goresan yang cukup dalam di atas tanah berlumpur.

Kedua orang sekilas sama tertegun, cepat sekali mereka membentak gusar.

"Hek-moko, lari kemana kau?"

Diam-diam Hek-moko bersyukur bahwa dirinya selamat, katanya tertawa tergelak-gelak.

"Siang Po-san, gitar besimu itu ternyata amat berguna juga untuk meluku sawah. Tak perlu kau terburu nafsu, kau ingin laripun takkan kubiarkan."

Jurus yang digunakan Siang Posan tadi adalah Bajak Besi Meluku Tanah, karena digempur oleh gerakan aneh Hek-moko tadi, sehingga gitarnya itu betul-betul menjadi bajak yang peranti untuk meluku sawah oleh kaum petani, karuan gusarnya bukan kepalang.

Sigap sekali laksana seekor burung raksasa selincah kera melompat Hek-moko sudah melompat jauh memburu ke arah adiknya, kakak beradik mempunyai daya pikir yang serupa, maka Pek-moko segera lemparkan sebelah tongkatnya.

Begitu menangkap tongkatnya sendiri Hek-moko lantas membentak.

"Biar kalian berkenalan dengan gabungan permainan tongkat kami berdua."

Tadi seorang diri Pek-moko jelas tak kuasa menandingi tekanan tongkat baja Thi-ciang Siansu.

Begitu Hek-moko melompat tiba tongkatnya bergetar keras, ujung tongkatnya telah menyontek ke tengah tongkat baja Thi-ciang Siansu yang segede mulut mangkok.

Dalam sekejap itu, cahaya tongkat coklat yang mgngkilap terang itu mendadak mencorong, dua batang tongkat laksana dua ekor naga yang keluar dari lautan, tongkat baja lawan seperti dililit dan dikurung di tengah.

"Trang"

Sekeras guntur menggelegar, hampir saja Thi-ciang Siansu tak kuasa memegang tongkatnya lagi, lebih celaka lagi tongkatnya itu membalik hampir saja melukai jidat sendiri.

Akibat benturan yang hebat ini membuat dada Thi-ciang Siansu sesak, darah bergolak dan seisi perut seperti dipelintir, tak tertahan lagi sekumur darah menyembur dari mulutnya.

Untung Ie Cun-hong dan Siang Po-san lekas menubruk tiba, sehingga tekanan yang menimpa dirinya menjadi enteng.

Bukan kepalang kaget Ie Cun-hong dan Siang Po-san, maklum Thi-ciang Siansu adalah murid didik Siau-lim-pay, Iwekangnya yang tangguh tiada bandingan diantara mereka umpama dia bukan tandingan Hek-pek-moko, paling tidak juga mampu melawan sepuluh jurus, tak nyana dalam segebrak saja melawan gabungan ilmu tongkat lawan dia sudah kecundang dan luka cukup parah.

Betapa hebat kekuatan gabungan permainan tongkat lawan, sungguh tak pernah mereka bayangkan.

Cepat sekali Hek-moko sudah membalik badan, sepasang tongkat mereka kembali menyapu balik memapak kedatangan Ie Cun-hong, lekas Ie Cun-hong merubah gaya permainannya, gerak-geriknya tambah lincah dan berkisar kian kemari selicin ular merambat.

Terdengar dencing benturan senjata, seperti perpaduan musik yang ramai, tampak Ie Cunhong mencelat keluar dari lingkungan cahaya tongkat lawan sejauh satu tombak.

Untung dia tidak terluka.

Bukan lantaran Iwekangnya lebih tinggi dibanding Thi-ciang Siansu, adalah karena gerakan goloknya dilancarkan teramat cepat, sekali sentuh lantas mundur, sekali berkelebat lantas lewat.

Meskipun goloknya membentur sepasang tongkat lawan sebanyak belasan kali, namun daya tolak dari benturan itu sendiri terang tidak sebesar atau sekuat daya mcmbal tongkat baja yang gede dan berat itu.

Ternyata Siang Po-san berotak lebih cerdik, lekas dia berseru.

"Usahakan kedua kakak beradik ini terpisah,"

Mumpung dia lihat Hek-moko menyerbu kesana, dengan gerakan lincah dan tangkas dia mendadak menyelinap maju menggempur Pek-moko.

Pek-moko menyambut dengan jurus Pek-hong-koan-jit, tongkat dimainkan sebagai pedang untuk memapak serangan lawan dengan tusukan.

Gitar besi Siang Po-san menyapu miring, serta disendai balik ke samping, lima jalur senarnya tahu-tahu menggesek ke urat nadi Pek-moko.

Gitar besi ini memang merupakan senjata tunggal jang jarang ada di kalangan bulim, daya gunanya amat banyak, betapa luas pengalaman dan pengetahuan Pek-moko, namun belum pernah dia menghadapi serangan senjata seaneh ini.

"Creng, creng"

Dalam detik-detik yang menentukan itu, dua senar gitar besi ternyata tersendai putus oleh tongkat lawan, senar putus biasanya menjuntai ke bawah, tapi begitu Siang Po-san mengayun gitarnya, dua senar yang putus ini ternyata berdiri lurus kaku menusuk ke arah dua mata Pek-moko.

Lwekangnya memang bukan tandingan Pek-moko, tapi dia pandai memanfaatkan tenaga dalamnya, didalam permainan licik dan keji jelas dia masih lebih unggul dari Pek-moko.

Karena tak menduga dan sudah kepepet, terpaksa Pekmoko kembangkan ilmu Yoga yang jarang terlihat di Tionggoan, dengan kepala di bawah kaki di atas dia jungkir balik kesana.

Oleh karena gangguan Siang Po-san, berarti usaha memisah mereka kakak beradik jadi berhasil, kedua saudara kembar ini terpisah beberapa langkah jauhnya.

Thi ciang Siansu memang tidak malu sebagai bekas murid Siau-Iim-pay, dalam waktu sekejap ini, dia sudah rampung mengendalikan pernapasan dan menekan darah sehingga berjalan normal, kini dia sudah mampu terjun ke arena lagi.

Kerja sama dengan le Cun-hong, mereka berhasil menekan permainan tongkat Hek-moko.

Bahwa Siang Po-san menusuk sepasang mata lawan dengan kedua senar gitarnya yang putus, ini pun gerak serangan yang aneh pula, tak kira reaksi dan perubahan yang diperlihatkan Pek-moko lebih aneh lagi di kala dia jumpalitan jungkir balik itu, tahu-tahu tongkatnya mengemplang balik "Trang"

Gitar lawan kena dipukulnya.

Lwekang mereka memang berimbang, Siang Po-san tergentak mundur tiga langkah ke samping sementara Pek-moko bersalto tiga kali di tengah udara baru meluncur turun dan hinggap dengan enteng, tapi pundaknya terasa pegal dan linu, ternyata bajunya tertusuk bolong, untung tidak mengenai hiat-to penting.

Kejadian berlangsung teramat cepat.

Hek-moko mendadak menghardik, dia berkelit dari serangan golok cepat Ie Cun-hong, kakak beradik berbareng sama melompat ke atas, maka pentung mereka kembali bergabung dari atas terus menggempur ke bawah, cahaya coklat kembali mencorong benderang.

Benturan senjata keras yang menggetar itu memekakkan telinga semua hadirin, tongkat baja Thi-ciang Siansu memercikkan lelatu api sementara punggung golok tebal Ie Cun-hong kembali gompal di dua tempat, sementara gitar besi Siang Po-san dekuk pada ujung tengahnya, alat rahasia yang dipasang di perut gitarnya tergetar rusak, maka senjata rahasia yang tersimpan di dalamnya takkan bisa digunakan lagi.

Meski jumlah mereka bertiga, dengan tingkat kepandaian yang sebanding lagi, tapi menghadapi gabungan permainan tongkat lawan, ternyata mereka hanya mampu membela diri melulu, jangan harap dapat balas menyerang.

Saking marah bola mata Ie Cun-hong sampai merah menyala, teriaknya gusar.

"Pasang barisan golok,"

Memangnya anak buah yang dia bawa sudah berdiri pada posisi masing-masing, mendapat aba-aba, segera arena kurungan mereka diperkecil, maka Hek-pek-moko berdua terkepung di tengah gelanggang.

Keadaan seketika berubah hebat, yang tampak hanya cahaya golok yang menari-nari, laksana ribuan baris sinar kilat saling samber simpang siur, mirip sekali sebagai jala sinar yang besar.

Karena dibendung dan terkurung didalam cahaya golok, jelas cahaya coklat yang dipantulkan tongkat Hek-pekmoko menjadi guram, tapi gerakan mereka tetap lincah dan ganas laksana naga hidup yang bergulat di tengah samudra.

Ternyata Ie Cun-hong digelari raja golok bukan lantaran permainan ilmu goloknya saja yang hebat, tapi To-bong-tin (barisan jala golok) ciptaannya ini ternyata lebih Iiehay lagi.

To-bong-tin harus dilakukan sembilan orang sebagai satu kelompok, delapan orang menduduki delapan unsur dan sudut, sementara seorang lagi sebagai pimpinannya berada di tengah atau di pusat kelompok barisan, dengan permainan golok cepat serempak mereka maju mundur menggempur musuh, sembilan orang bersatu padu laksana tunggal, jelas musuh takkan mungkin sekaligus membunuh sembilan orang, kalau berusaha mematahkan serangan mereka satu persatu, jelas dia sendiri yang bakal mampus terbacok.

Anak buah Ie Cun-hong yang -dididik dalam barisan jala golok ini seluruhnya ada dua puluh tujuh orang semuanya kini dia bawa kemari, tapi dua di antaranya tadi telah terbunuh oleh Hek-moko maka barisan hanya bisa dibagi dua kelompok saja, sisanya yang tujuh orang sebagai cadangan, tapi cukup dua kelompok barisan golok ini sudah bikin Hek-moko pusing menghadapinya.

Kalau dinilai taraf kepandaian perorangan anak buah Ie Cun-hong paling termasuk jago kelas dua dalam kalangan Kangouw, (api dengan gabungan sembilan orang, mereka cukup tangguh untuk menghadapi jago kosen mana saja, apalagi gabungan delapan belas orang, meski tokoh silat kelas tertinggi juga paling mampu membela diri saja, untuk memecahkan barisan jelas teramat sukar juga.

Untung perbawa gabungan permainan tongkat Hek-pekmoko juga hebat luar biasa, oleh karena itu Ie Cun-hong, Siang Po-san dan Thi-ciang Siansu tetap tidak bisa berpeluk tangan mundur dari tengah arena, merekapun harus kerja sama dengan gerak perobahan barisan golok untuk membendung rangsakan kedua tongkat lawan.

Ini berarti Hekpek-moko sekaligus harus menghadapi lima jago silat tinggi, lama kelamaan, tenaga berkurang sehingga mereka terdesak di bawah angin.

Setelah membentuk barisan golok belum juga berhasil mengalahkan musuh, mau tidak mau Ie Cun-hong merasa gugup juga, mendadak dia sadar, bentaknya;

"Kalian memang orang bodoh, kenapa berdiri diam saja disitu?"

Tujuh orang sebagai cadangan kira Ie-cengcu suruh mereka ikut maju mengerubut, sekilas mereka melengak.

Maklum barisan golok harus dilakukan sembilan orang baru bisa mengembangkan kekuatan barisan yang nyata.

Kini kalau mereka ikut terjun, barisan jelas tak mungkin terbentuk, itu berarti mereka harus bertempur secara individu atau perorangan.

Padahal musuh begitu tangguh, mungkin belum segebrak jiwa mereka sudah terenggut oleh tongkat Hek-pekmoko.

Berkerut kening Ie Cun-hong, bentaknya lagi.

"Goblok, hayo bekuk bocah keparat itu."

Baru sekarang ketujuh anak buahnya itu sadar bahwa sang Cengcu suruh mereka membekuk bocah cilik ini, lega juga hati mereka, serempak mereka mengiakan. Ie Cun-hong memaki pula.

"Bodoh, menangkap bocah cilik memangnya perlu tenaga tujuh orang? Cukup dua orang saja,"

Maklum hatinya kebat kebit, di samping kuatir Tan Cioksing melarikan diri, juga kuatir bila barisannya ini kemungkinan mengalami sesuatu, tanpa adanya cadangan, kemungkinan segalanya bisa berantakan.

Dua orang anak buahnya yang bernyali paling kecil seperti berlomba segera memburu kesana.

Nyali mereka sudah pecah menyaksikan pertempuran yang dahsyat ini, sudah tentu mereka lebih suka menangkap bocah kecil yang masih berbau pupuk bawang, dari pada sebagai cadangan.

Tak nyana kalau mereka ingin menyingkir dari malapetaka, tapi elmaut justru merenggut jiwa mereka lebih dulu.

Setelah menyaksikan permainan golok Tan Ciok-sing tadi, Hek-moko tahu bahwa Tan Ciok-sing latihan tanpa guru, sehingga dia belum memperoleh ajaran ilmu golok In Hou yang murni, meski kepandaian anak buah Ie Cun-hong terbatas, tapi dia kuatir bocah itu masih bukan tandingan mereka.

Di tengah gempuran yang sengit itu mendadak dia menghardik keras laksana guntur, tongkat di tangan kanan menyampuk serangan golok cepat Ie Cun-hong, berbareng lengan kiri terulur, di tengah samberan bacokan golok yang seliweran, dia jambret salah seorang musuh dari barisan golok musuh secara kekerasan.

Di tengah kumandang suara hardikannya itu, Hek-moko angkat tinggi tawanannya terus diayun berputar seperti atlit lempar peluru yang siap melemparkan tawanannya, maka terdengarlah dua kali jeritan yang mengerikan disusul suara gedebukan yang keras.

Bola manusia yang dilempar Hek-moko ini mencapai ratusan langkah dan kebetulan menumbuk salah seorang anak buah Ie Cun-hong yang lagi memburu ke arah Tan Ciok-sing.

Orang yang ditumbuk ini keterjang mencelat ke samping kebetulan menumbuk temannya yang satu lagi, maka secara karambol ketiga anak buah Ie Cun-hong ini menggelinding ke bawah lereng sana, meski jiwa tidak melayang, paling tidak pasti terluka parah.

Serangan berantai secara karambol ini meski membebaskan bahaya yang mengancam Tan Ciok-sing, tapi Hek-moko tergores luka lengan kirinya.

Maklum barisan golok ini merupakan pusaka bagi Ie Cun-hong, betapapun takkan gampang dipecahkan begitu saja?

Betapapun tangkas dan liehay gerakan Hek-moko, tapi untuk menjambret musuh dari barisan golok, terpaksa dia sendiri juga harus menerima akibatnya, untung lukanya itu hanya tergores kulit dagingnya, lukanya tidak parah.

Kurang satu orang berarti barisan golok telah terbuka sebuah lobang.

Dalam waktu segenting ini Pek-moko tidak menyiakan kesempatan ini, begitu menycndal tongkat, dia kepruk salah seorang lawan yang terdekat sehingga tulang pergelangan tangannya terketuk hancur, sambil memegang tangan, orang ini menjatuhkan diri terguling-guling sambil menjerit-jerit seperti babi mau disembelih.

Lekas Thi-ciang Siansu memburu maju menyumbat lobang ini, begitu dua tongkat saling ketuk, rangsakan Pek-moko kena dibendung, sekali ayun kaki Ie Cun-hong tendang minggir anak buahnya yang terluka, lalu menyuruh dua anak buah cadangannya maju menggantikan kedudukan yang kosong.

Betapa hati tidak akan jeri dan nyali pecah melihat teman sendiri menjadi korban secara mengenaskan.

Ie Cun-hong membentak.

"Kalian tidak perlu takut, Hek-moko sudah terluka, gasak saja takut apa?"

Hek-moko tertawa terkial-kial, gelak tawanya bergema di atas pegunungan, katanya.

"Ie Cun-hong, jangan kau menghinaku karena sudah terluka? Hayo kau sendiri saja yang maju,"

Dua tongkat beriringan menggaris sebuah lingkaran, maka terdengarlah dering beruntun yang memekak telinga, delapan belas batang golok semuanya kena dibentur pergi oleh kedua tongkat.

Malah kekuatan tongkat Hek-moko belum berakhir sampai disitu saja, ujung tongkatnya masih menyodok ke muka Ie Cun-hong, padahal sinar tongkat mencorong terang menyilaukan mata, terpaksa Ie Cun-hong lekas melompat minggir.

Mendengar Hek-moko terluka, Tan Ciok-sing kaget, tapi dia lantas berpikir.

"Disini aku takkan mampu membantu mereka, dari pada menjadi beban mereka, biarlah aku menyingkir saja."

Berhasil memukul mundur delapan belas jago golok lawan, Hek-pek-moko dapat ganti napas sekedarnya, teriaknya.

"Tidak lekas kau pergi? Lebih jauh lebih baik. Kawanan tikus ini takkan bisa mencelakai kami, kau tidak perlu kuatir."

Mendengar gelak tawa Hek-moko yang kumandang jelas tenaga dalamnya masih tangguh, lega juga hatinya, segera dia panggul harpanya terus berteriak.

"Baik, kutunggu kalian di bawah gunung."

"Bawah gunung masih dalam daerah kekuasaan mereka, boleh kau lari sejauh mungkin, kalau mau mencari kau, kami pasti dapat menemukan kau,"

Demikian seru Hek-moko.

Tan Ciok-sing segera angkat langkah seribu, larinya sudah setaker tenaganya, sayang dia terlambat, sisa tiga orang anak buah Ie Cun-hong sudah memburu datang tanpa diperintah majikannya, baru puluhan langkah Tan Ciok-sing lari sudah tersusul musuh.

Thi-ciang Siansu tertawa, katanya.

"Hek-moko, gembar gembor belaka, memangnya siapa yang hendak kau gertak?"

Gelak tawa Hek-moko tadi memang bertujuan pamer lwekang, pada hal gelak tawanya itupun dipaksakan, pertama dia ingin supaya Tan Ciok-sing pergi dengan perasaan lega, kedua untuk menciutkan nyali anak buah Ie Cun-hong.

Tapi bagi pendengaran seorang ahli silat yang sudah memiliki kepandaian taraf tinggi, dari gelak tawanya tadi sudah diketahui bahwa tenaganya sisa sedikit dan bakal terkuras habis dalam waktu dekat.

Ie Cun-hong akhirnya menyadari juga akan gertak sambel Hek-moko ini, teringat akan rasa takutnya tadi, merah jengah mukanya, katanya.

"Betul, kalian tidak perlu takut, keadaannya sudah payah seperti binatang yang mengamuk dalam kandang, coba buktikan nanti berapa lama mereka kuat bertahan,"

Langsung dia pimpin delapan belas anak buahnya sehingga daya kekuatan barisan bertambah kokoh.

Hek-pekmoko memang hanya mampu membela diri, gerakan gabungan yang tadi dilancarkan kini sudah terbendung dan tiada kesempatan lagi jangan kata menjebol kepungan, menyerbu ke tengah barisan melukai musuhpun tidak mampu.

Kalau disini Hek-pek-moko dalam keadaan kritis di tengah kepungan barisan golok, sementara di sebelah sana Tan Cioksing juga sedang bergelut dengan sengit.

Musuh yang menyandaknya lebih dulu berperawakan pendek, kontan Tan Ciok-sing membacok balik ke belakang.

Dari kejauhan Siang Po-san berseru.

"Awas goloknya itu pusaka."

"Aku tahu,"

Sahut laki-laki pendek itu, golok cepat di tangannya menepis tegak mengiris dengan gerakan Siat-jiatou, karena gerak goloknya terlalu cepat menyerang musuh sehingga lawan dipaksa untuk menyelamatkan diri lebih dulu, maka Tan Ciok-sing terpaksa menarik balik golok untuk melindungi badan, dari menyerang kini dia di pihak yang membela diri.

Sinar golok bayangan orang berkelebat lewat, laki-laki pendek itu beruntun membacok tujuh kali, namun tidak sampai membentur golok pusakanya, inipun sudah membikin Tan Ciok-sing keripuhan.

Cepat sekali dua musuh yang memburu datangpun telah tiba.

Dinilai taraf kepandaian silat ketiga orang ini, belum termasuk apa-apa di kalangan Kangouw, tapi menghadapi Tan Ciok-sing tenaga mereka bertiga cukup berkelebihan.

Tan Ciok-sing mencak-mencak keripuhan dicecar mereka, meski dia mengandal ketajaman goloknya, namun keadaannya tetap terdesak di bawah angin, berkali-kali dia menghadapi ancaman bahaya.

Untung dia membekal golok pusaka, kalau tidak bagaimana akibatnya sungguh tak berani dia membayangkan.

Kalau Tan Ciok-sing mengeluh dalam hati mendadak didengarnya Hek-moko berteriak.

"Dari pada tamu berubah jadi majikan, adalah lebih baik majikan melayani sang tamu. Yang muda melampaui yang tua, yang terlambat lebih baik dari pada yang gugup."

Dasar otaknya encer, cepat sekali berkelebat pikiran Tan Ciok-sing, apa yang diajarkan Hek-moko cepat sekali sudah menyadarkan pikirannya.

"Wut"

Tiba-tiba goloknya membacok, gerakannya kini jelas lebih mantap dan sudah memperoleh poros inti ilmu golok keluarga In, ujung golok memapak serangan golok musuh yang datang dari arah depan, sementara gagang goloknya mengetuk golok yang menyerang tiba dari arah kiri, tajam goloknya miring terus menyayat ke bawah, karuan seorang lawan yang berada di sebelah kanan menjadi kaget dan jeri serta menarik tangan dan mundur tersipu-sipu.

Jurus Hun-mo-san-bu (menari tiga kali menggenggam mega) ini adalah serangan golok yang tadi digunakan Hekmoko untuk membabat rontok rambut Ie Cun-hong.

Sudah tentu jurus yang sama dilancarkan oleh Tan Ciok-sing, perbawanya jauh ketinggalan dibanding Hek-moko, tapi kepandaian ketiga lawannya itupun jauh lebih rendah dibanding Ie Cun hong.

Kini Tan Ciok-sing sudah berhasil menyelami intisari ilmu golok keluarga In, maka permainannya sekarang sudah jauh berbeda, walau belum bisa menang, tapi untuk bertahan terang sudah cukup berkelebihan.

Tapi ilmu golok yang berhasil diselaminya sekarang baru pertama kali ini dipraktekkan, apa benar permainannya, dia sendiri juga tidak tahu.

Untung Hek-moko segera berseru lagi.

"Dalam pandangan ada musuh, dalam hati tiada musuh. Usaha tergantung pada diri pribadi, peduli musuh kuat atau lemah,"-kata-kata ini juga merupakan letak dari kemurnian ilmu golok tingkat tinggi, apa yang dinamakan dalam pandangan ada musuh ialah di kala kau . bergebrak kau harus menghadapi lawan secara serius, dalam hati tiada musuh berarti peduli musuh betapapun kuatnya, kalau kau sudah melabraknya dengan sengit, maka kau harus anggap lawanmu itu musuh yang enteng dan patut kau robohkan. Pendek kata peduli lawanmu itu musuh tangguh atau lawan lemah, kau sendiri harus dapat berkelahi dengan sungguhsungguh dan menggunakan taraf kepandaianmu yang memadai, berkelahi dengan singa harus setaker tenaga, berkelahi dengan kelinci pun harus demikian. Karena baru pertama kali Tan Ciok-sing menggunakan ilmu golok yang berhasil dipelajari dan diselaminya sendiri, hatinya masih belum yakin akan kemampuan sendiri, kini setelah mendengar petunjuk Hek-moko, hati lapang pikiran jernih, dapat menangkap maknanya yang paling dalam pula, maka semangat tempurnya kontan berkobar. Sekaligus dia lancarkan tiga jurus serangan berantai, dari bertahan kini dia balas menyerang, serunya lantang.

"Terima kasih akan petunjukmu."

Melihat permainan golok si bocah mendadak tambah gencar dan liehay, laki-laki pendek itu kaget dan gugup, serunya.

"Jaga posisi kalian masing-masing, hayo gunakan bacokan serempak, cacah dia jadi pergedel,"

Walau mereka bertiga berusaha membentuk barisan golok, tapi karena biasanya sudah kebiasaan dalam praktek barisan, kerja sama dalam menyerang dan bertahan amat serasi, maka permainan mereka cukup ampuh, juga kekuatannya tidak boleh dipandang rendah.

Di tengah pertempuran sengit itu, beruntun terdengar suara mendesis, pakaian Tan Ciok-sing ternyata tersayat sobek, lengan bajunya tertabas jatuh sebagian, sobekan yang melayang jatuh ini terkoyak-koyak kecil beterbangan pula oleh samberan golok ketiga orang itu.

Tapi karena gerakan golok teramat cepat, meski pakaian tersayat sobek, kulit dagingnya tidak sampai terluka.

Kalau sebelum ini, menghadapi detik-detik yang berbahaya ini betapa pun besar nyalinya, terang dia sudah gugup dan ketakutan.

Kini sedikitpun dia tidak terpengaruh malah seperti tidak merasakan sama sekali akan ancaman bahaya, setelah bertempur seratusan jurus permainan goloknya malah semakin lancar dan mahir, gerak permainan yang semula kaku lama kelamaan menjadi wajar dan liehay, semakin dipraktekkan, semakin banyak dan mendalam pula hasil yang dapat diselaminya.

Dalam pertempuran memperebutkan antara hidup dan mati ini, mendadak Tan Ciok-sing menggerung keras, jurus Hunmo-sam-bu dilancarkan pula, dimana golok pusakanya terayun.

Jurus Hun-mo-sam-bu yang sama namun setelah dilancarkan untuk yang kedua kalinya oleh Tan Ciok-sing ternyata perbawanya jauh lebih hebat dari yang pertama tadi.

Sekonyong-konyong cahaya golok bertambah terang bertaburan seperti tabir bintang, maka terdengarlah lengking jerit yang menyayat hati, laki-laki pendek yang menyerang dari arah depan itu lengan kanannya kena tertabas buntung, kontan dia roboh kelejetan Sementara laki-laki di sebelah kiri golok bajanya terbabat putus jadi dua, telapak tangannya tergetar pecah berdarah, sedangkan laki-laki di sebelah kanan kena disodok Ih-khi-hiatnya oleh gagang pedang Tan Cioksing, saking kesakitan dia melengking sambil memeluk perut.

Tanpa hiraukan temannya yang terluka, kedua orang ini lekas melarikan diri sambil menahan sakit.

Selama ini belum pernah membunuh orang, kini mendadak dia memperoleh kemenangan setelah mengalami pertempuran sengit, sungguh tidak pernah terpikir olehnya bahwa permainan goloknya tadi mempunyai kekuatan sehebat itu, maka dengan mendelong dia mengawasi saja laki-laki yang buntung lengannya terguling-guling di depannya.

Meski dikerubut serta kerepotan, tapi pandangan dan pendengaran Hek-moko tetap memperhatikan keadaan sekitarnya, melihat Tan Ciok-sing berhasil mengalahkan lawannya, segera dia berteriak.

"Tidak lekas lari tunggu apa pula? Mau kemana kau pergi boleh terserah, aku punya akal untuk mencarimu."

Waktu Tan Ciok-sing angkat kepala, dilihatnya Hek-pekmoko masih terkurung dalam barisan golok musuh, antara sinar terang dan cahaya coklat selalu berkutet dan timbul tenggelam, kedua pihak bergelut dengan seru dan sengit.

Maklum taraf kungfunya masih rendah, tidak bisa dia membedakan pihak mana bakal unggul dan asor.

Pikirnya.

"Gelagatnya Hek-pek-moko masih kuat bertahan dan tak mampu menjebol kepungan, tapi mereka takkan mudah dikalahkan. Setelah aku menyingkir dari sini, mereka tidak perlu kuatir akan keselamatanku, mungkin mereka akan bertempur lebih terkontrol,"

Hatinya kini betul-betul sudah kagum dan terima kasih pada Hek-pek-moko, apa yang dikatakan orang sudah dipercaya seratus persen. Batinnya.

"Dia bilang akan bisa menemukan aku, pasti akan bisa bertemu lagi. Ginkang mereka begitu bagus, asal bisa menjebol kurungan, memangnya mereka tak mampu menyusul aku?"

Karena musuh berada di depan mata pula, sudah tentu dia tidak berani membocorkan jejak Thio Tan-hong, maka dia berkata.

"Baiklah, kutunggu kalian di tempat tujuanku,"

Lalu dia lari kencang turun gunung.

Kini dia sudah percaya penuh bahwa Hek-pek-moko adalah teman baik Thio Tan-hong, maka dia kira bahwa merekapun pasti sudah tahu kalau Thio Tan-hong sekarang semayam di Ciok-lin, dia yakin Hek-pekmoko pasti maklum kemana juntrungan kata-katanya.

Seperti baru bermimpi buruk, setelah berlari sekian lamanya, suara dencing senjata beradu tak terdengar lagi, pikirnya.

"Manusia memang tidak boleh dinilai dari tampangnya, semula kukira kedua kakek tua ini adalah gembong penjahat, siapa tahu mereka justru menyelamatkan jiwaku. Betapa menyenangkan bila aku bisa pergi ke Ciok-lin menemui Thio Tayhiap bersama mereka?"

Waktu dia lari menuruni lereng gunung, mendadak di dengarnya dari semak-semak rumput sana ada rintihan orang.

Tan Ciok-sing tak kuasa menghentikan daya larinya yang menurun, kakinya hampir saja menendang tubuh seseorang, tapi kedua kakinya tiba-tiba dipeluk orang itu, karuan kagetnya bukan main, waktu dia menunduk, di tengah keremengan cahaya bulan masih dikenalinya orang yang memeluk kakinya adalah anak buah Ie Cun-hong yang tadi dilempar ke bawah lereng oleh Hek-pek-moko.

Luka-lukanya amat parah, terutama kedua kakinya putus, namun dengan kencang dia peluk kedua kaki Tan Ciok-sing.

Tan Ciok-sing menaruh belas kasihan dan tidak tega melihat keadaannya, segera dia berjongkok sambil keluarkan Kim-jong-yok mengobati luka dan menyambungkan tulang kakinya, orang itu menjadi terharu dan berterima kasih akan kebaikan hati si pemuda, setelah dia tahu kemana arah tujuan si pemuda, segera dia memberi petunjuk ke arah mana dia harus menempuh perjalanan.

Sesuai petunjuk orang ini dengan leluasa Tan Ciok-sing turun gunung terus menuju ke barat.

Tujuannya adalah Cioklin yang berada di Hun-lam, arahnya tepat ke arah barat.

Hari kedua pagi-pagi benar Tan Ciok-sing sudah tiba di bawah gunung, angin gunung menghembus sepoi-sepoi, kicau burung terdengar merdu, sesaat dia berhenti dan pasang kuping dengan cermat suara pertempuran jelas tidak terdengar dari tempat sejauh ini.

Tanpa merasa gundah dan waswas perasaan hati Tan Ciok-sing, pikirnya.

"Kedua kakek bangsa Thian-tiok apakah bisa lolos dari bahaya?"

Tapi teringat akan dendam sakit hati sendiri, sekali-sekali dia tidak boleh berada di tempat berbahaya ini.

Ie Cun-hong punya anak buah sebanyak itu, tersebar luas lagi, umpama Hek-pekmoko mampu mengalahkan mereka, sukar juga untuk memberantas musuh yang banyak.

Bila beberapa di antaranya yang lolos melarikan diri turun gunung dan kepergok dirinya, akibatnya bisa celaka.

Mumpung hari masih pagi dan penduduk kampung belum banyak yang keluar, segera ia kembangkan ginkang, sekaligus dia berlari dua tiga puluh li, akhirnya dia memasuki sebuah kota kecil, disini dia mampir ke kota membeli dua perangkat pakaian serta sarapan pagi sekenyangnya, lalu melanjutkan perjalanan ke barat pula, Tan Ciok-sing terus maju menempuh perjalanan dengan perasaan tidak tenang, beruntung dia tidak pernah mengalami rintangan pula.

Sebelum matahari tenggelam dia sudah menempuh perjalanan seratus li jauhnya.

"Semoga Thian memberi pelindungan, dengan selamat aku bisa tiba di Ciok-lin dan menemukan Thio Tan-hong yang dijuluki jago pedang nomor satu pada jaman ini, dia bertekad untuk belajar Kungfu sampai berhasil, pulang untuk menuntut balas. Tapi dia dengar usia Thio Tan-hong sudah amat lanjut, apakah dia masih hidup? Kedua kakek Thian-tiok itu adalah teman Thio Tan-hong dan In Tayhiap, jikalau aku bisa bertemu pula dengan mereka, akan kumohon petunjuk dan ajaran kepandaian mereka, tentunya mereka tidak akan menampik? angan-angan Tan Ciok-sing memang merasuk hati, tapi apa yang harus dia hadapi kemudian sungguh menjadi kecewa. Perjalanan terus dilanjutkan ke arah barat, hari ini adalah yang ketiga. Sepanjang jalan tetap selamat, namun dia belum juga bertemu dengan Hek-pek-moko. Di kala dia berayun langkah dengan hambar itulah, mendadak dia dengar seorang berteriak.

"Haya, kau, bukankah kau ini adik cilik pemetik harpa itu? Sungguh iak nyana bertemu pula dengan kau."

Waktu Tan Ciok-sing berpaling, tampak seorang pemuda berpakaian pelajar tengah mempercepat langkahnya memburu ke arah dirinya.

Meski bukan Hek-pek-moko, Tan Ciok-sing sedikit kecewa, tapi karena pertemuannya yang tidak terduga dengan pemuda pelajar ini, rasa gundah dan was-wasnya selama ini agak terhibur juga.

Pemuda pelajar ini bukan lain adalah siucay yang pernah jumpa di warung makan tempo hari, orang memberi dua tahil perak setelah dia membawakan sebuah lagu di bawah iringan dan petikan harpa, dia hanya tahu orang dipanggil Liongsiucay.

"Liong-siangkong,"

Kata Tan Ciok-sing menghentikan langkah.

"aku belum mengucapkan banyak terima kasih akan kejadian tempo hari itu."

Pelajar itu berkata tertawa.

"Hari itu aku betul-betul menguatirkan keadaanmu, tak nyana kecuali kau pandai memetik harpa, ilmu silatmu ternyata juga hebat. Setelah kau lolos dari kerubutan orang-orang jahat itu, baru legalah hatiku. Oh, ya, aku belum berkenalan dengan nama dan shemu."

Tahu bahwa dirinya adalah anak gunung yang masih bau pupuk bawang, belum pernah kecimpung di dunia Kangouw lagi, dalam kalangan bulim jelas takkan ada orang yang kenal dirinya, kalau pelajar ini tahu namanya pasti juga tidak jadi soal, maka dia bicara sejujurnya.

Pelajar itu segera memperkenalkan diri pula.

"Aku she Liong, bernama Seng-bu. Boleh kau panggil namaku atau panggil Liong-toako juga boleh."

"Aku ini kan anak rudin, mana berani aku menjajarkan diri dengan dirimu,"

Ujar Tan Ciok-sing. Berkerut alis Liong Seng-bu, katanya.

"Kalau demikian kau anggap aku ini orang apa? Bersahabat tidak perduli tinggi rendah kedudukan, apalagi kau pandai bermain Kungfu, bicara terus terang, malah kuatir tak sebanding bersahabat dengan dirimu."

"Paling aku pernah belajar beberapa gerakan cakar kucing, mana boleh dikata membekal Kungfu segala?"

Kata Ciok-sing tertawa.

"Soal Kungfu aku ini termasuk orang luar, Kungfu yang pernah kau pamerkan hari itu, cukup membuat aku kagum dan tunduk lahir batin. Tapi kepandaian yang kumaksud akan dirimu bukan soal Kungfu saja, kemahiranmu memetik harpa itu juga termasuk keahlian yang tak ada bandingannya. Terus terang hobyku juga bermain catur, melukis dan memetik harpa. Guru-guru ahli musik atau ahli pemetik harpa yang kukenal tidak sedikit, tapi tiada seorangpun yang mampu menandingimu."

Mendengar orang memuji kepandaian dirinya memetik harpa, Tan Ciok-sing merasa orang sehoby dirinya, katanya.

"Liong-siangkong terlalu memuji."

"Lho, kenapa memanggilku Liong-siangkong segala? Kalau sudi sukakah kau memanggil aku Liong-toako saja."

Maka tanpa sungkan-sungkan lagi Tan Ciok-sing memanggilnya.

"Liong-toako, dimanakah alamatmu. Kelak kalau aku lewat ke kotamu, pasti aku mampir ke rumahmu,"

Secara tidak langsung dia hendak pamit untuk berpisah.

"Kenapa terburu-buru, adik cilik, kau mau kemana?"

Tanya Liong Seng-bu. Sudah tentu Tan Ciok-sing tidak mau menceritakan tujuannya ke Ciok-lim mau menemui Thio Tan-hong, setelah berpikir dia berkata.

"Aku ini hanyalah bocah yang mencari nafkah dengan menyanyi dan memetik harpa, empat penjuru lautan ini adalah rumahku, tiada tujuan tertentu yang menjadi arah perjalananku."

"Kalau kau tiada tujuan tertentu, ingin aku berunding dengan kau."

"Berunding soal apa?"

"Ingin aku mengundangmu ke tempat tinggalku, angkat kau sebagai guru, entah kau sudi atau tidak?"

"Kepandaianku serendah ini mana pantas menjadi guru? Liong-toako, banyak terima kasih akan bantuanmu, kebaikanmu akan kuukir dalam benakku."

"Usiamu memang lebih muda, jaman dulu ada juga bocah yang pernah menjadi sarjana, kau kan punya keahlian, kenapa begini sungkan. Adik cilik, setulus hati aku suka mengangkat kau sebagai guru, jikalau kau tidak percaya, sekarang juga boleh aku berlutut kepadamu."

Tan Ciok-sing tersipu-sipu mencegah orang, katanya.

"Bukan sungkan, aku tahu apa yang aku bisa sekarang belum matang betul. Dan lagi aku sudah biasa kelana di Kangouw, tidak kerasan kalau menetap pada suatu tempat."

Melihat orang menolak dengan tegas, dibujuk juga tetap tidak mau, mendadak Liong Seng-bu tertawa, katanya.

"Siausuhu, kalau kau tidak mau menetap di rumahku, terpaksa biar aku yang mengikuti kau saja."

Tan Ciok-sing kaget, katanya.

"Kau ini seorang pelajar, mana boleh berkelana di Kangouw bersamaku?"

"Pangkat dan harta tidak terpandang di mataku, kapan aku bisa bertemu dengan guru harpa seahli dirimu. Hari ini setelah kutemukan, bagaimana juga aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

Tan Ciok-sing berterima kasih akan tekad dan ketulusan hatinya, tapi betapapun dia tidak boleh selalu mengikuti diriku? Sesaat dia jadi bingung dia seperti merengek.

"Mana boleh? Bagaimana mungkin?"

"Kenapa tidak mungkin?"

Tanya Liong Seng-bu.

"Kau punya pekerjaan, aku juga punya urusan!"

"Kau punya urusan apa?"

"Aku harus berkelana mencari sesuap nasi dengan harpaku, kau harus belajar mengikuti ujian, kalau tidak pulang apakah kau tidak jadi kapiran nanti?"

"Tadi sudah kukatakan aku tidak gila pangkat dan harta. Tentang kau mencari nafkah, kukira tidak akan menjadi persoalan, kalau aku belajar kepadamu, kan menjadi kewajibanku untuk meladeni guru?"

"Tidak, tidak bisa,"

Ucap Tan Ciok-sing geleng kepala.

"tetap tidak bisa."

"Kenapa tetap tidak bisa?"

"Kau keluar kali ini tentunya punya sesuatu urusan, mana bisa kau ingin ikut aku lalu bersikap sekukuh ini?"

"O, jadi kau kuatirkan hal ini atas diriku. Bicara terus terang, aku ini suka melancong, kali ini meninggalkan rumah, seperti juga dirimu, tanpa tujuan tertentu, kemana kaki melangkah ke situlah aku pergi, dimana ada pemandangan bagus, disana aku akan tinggal beberapa hari. Hehehe bukankah ini cocok dengan tabiatmu?"

"Apalagi dari pada kau menempuh perjalanan seorang diri, bukankah lebih baik punya teman?"

Demikian kata Liong Sengbu lebih lanjut.

"Setiap waktu bila kau merasa senang, boleh kau ajarkan aku cara memetik harpa."

Tan Ciok-sing memang anak gunung yang masih hijau plonco tidak punya pengalaman lagi, karena kalah debat akhirnya dia berkata.

"Baiklah, kita boleh seperjalanan, aku akan ajarkan memetik harpa, kau mengajar beberapa huruf kepadaku. Toako, kemana kau hendak melancong?"

"Daerah ini termasuk perbatasan Hun-lam dan Kwi-ciu, bagaimana kalau kita keliling ke tempat-tempat wisata. Lusa kita mampir ke Gun-bing, lalu melancong pula ke Tayli."

Di tengah jalan Tan Ciok-sing sudah mencari tahu, bahwa letak Ciok-lin berada di karisidenan Lok-lam kira-kira dua ratus li di selatan Gun-bing.

"Boleh saja, hayolah berangkat,"

Kata Tan Ciok-sing.

Sengaja dia berjalan dengan langkah lebar, maksudnya supaya pelajar ini memburunya, kalau sedikit tersiksa tentu orang akan kapok, Liong Seng-bu memang berjalan cepatcepat sampai napasnya ngos-ngosan, akhirnya.

Tan Ciok-sing sendiri yang merasa tidak tega lalu memperlambat langkahnya mengiringinya.

Begitulah jalan berhenti, berhenti jalan pula, hari itu mereka hanya menempuh tujuh puluhan li, ternyata Liong Seng-bu tidak pernah mengeluh, kalau malam menginap di hotel, sikapnya tetap gagah bergairah, tidak kelihatan lelah, bersenda gurau dan bercakap riang gembira.

"Liong-toako,"

Kata Tan Ciok-sing tertawa.

"tidak duga, kaupun kuat berjalan."

"Sering aku melancong seorang diri, maka aku lebih kuat dari pada kaum pelajar umumnya. Kepandaian begini bagus siapa yang mengajarkan kau?"

"Aku ini anak gunung, sejak kecil diasuh oleh kakek, beliaulah yang mengajar aku, tahun ini kakek telah meninggal, terpaksa aku kelana di Kangouw mencari sesuap nasi."

"Jadi kakekmu yang mengajar harpa dan ilmu silat. Entah siapakah nama besar kakekmu? Sudilah kau memberitahu?"

"Biasanya orang memanggil beliau Ki Harpa. Siapa namanya aku pun tidak tahu,"

Teringat akan kematian kakeknya, tanpa merasa berkaca-kaca bola mata Tan Cioksing.

"Adik cilik, hal apa yang kau sedihkan?"

Tanya Liong Sengbu.

"Tidak apa-apa, aku teringat pada kakek, Liong-toako, biar kupetikkan sebuah lagu untuk kau dengar."

Liong Seng-bu tersentak sadar, pikirnya.

"Benar kalau aku terlalu banyak mengajukan pertanyaan, mungkin dia bisa curiga padaku,"

Maka dia lantas berkata.

"Baiklah, memangnya aku kan ingin belajar padamu."

Mereka menginap semalam, hari kedua melanjutkan perjalanan ke arah barat.

Liong Seng-bu tidak pernah tanya soal pribadinya lagi, yang diperbincangkan hanya soal seni lukis dan kesastraan melulu.

Tan Ciok-sing sendiri juga tidak sedikit memungut hasil.

Seperjalanan dengan orang, di samping kuatir orang tanya tentang riwayat hidupnya, Tan Ciok-sing juga kuatir bila dia kebentur dengan Hek-pek-moko bagaimana baiknya?

"Aku tak mungkin menjelaskan padanya, bila tiba saatnya terpaksa biar ku tinggal dia pergi ikut Hek-pek-moko saja,"

Demikian pikir Tan Ciok-sing.

Kira-kira setengah bulan mereka seperjalanan, tanpa merasa hari itu mereka telah tiba di Gun-bing, tapi jejak Hekpek-moko tidak muncul juga.

Cuaca kota Gun-bing sepanjang tahun seperti musim semi.

Kotanya makmur, pusat perdagangan dan kebudayaan lagi.

Tan Ciok-sing terpesona waktu memasuki kota budaya ini.

Melihat dia senang, Liong Seng-bu tertawa, katanya.

"Bagus tidak kota ini, biarlah kita tinggal beberapa hari sambil plesir di kota ini,"

Setelah berputar kayun setengah harian dalam kota, akhirnya mereka menetap di sebuah hotel besar yang terletak di pusat kota Hari kedua Liong Seng-bu sudah membuat rencana untuk tamasya, pagi pergi ke Toa-koan-wan sorenya pergi ke Saysan.

Kedua tempat ini merupakan pusat keramaian dari kota Gun-bing, Agaknya Liong Seng-bu memang sudah biasa berpetualang, disini dia menjadi petunjuk dan pandai menceritakan seluk beluk dan asal-usul tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Pada saat mana mereka berada di suatu tempat yang bernama Liong-bun (pintu naga), entah benar-benar lelah atau hanya beraksi Liong Seng-bu berhenti serta berdiri menggelendot di pagar, katanya.

"Siau-suhu, beberapa hari ini, aku sampai tak sempat belajar harpa lagi dengan kau, mumpung di tempat sejuk dan sepi ini, bagaimana kalau kita bermain disini?"

Lalu Liong Seng-bu pinjam harpa Tan Cioksing terus ditabuhnya, dia membawakan sebuah lagu kenangan seorang jejaka yang jatuh cinta terhadap seorang gadis yang dipujanya, sayang dia tidak memperoleh tanggapan yang diharapkan.

"Cinta juga termasuk seni, dengan irama musik dapat menyatakan makna cinta, apakah lagu yang kau mainkan tadi adalah apa yang terkandung dalam sanubarimu?"

Demikian kata Ciok-sing tertawa.

"Betul. Aku tahu, aku tidak setimpal jadi jodoh nona itu, maka tak berani aku nyatakan isi hatiku."

"Liong-toako, orang setampan kau, pandai tulis pintar membaca, gadis cantik mana yang tidak setimpal jadi jodohmu, kenapa kau merendahkan diri?"

"Gadis yang kupuja itu di samping pandai sastera, dia pun ahli silat pula Siau-suhu, kaupun pandai Kungfu sudikah kau mengajarkan kepadaku, atau berilah petunjuk supaya aku dapat belajar pada seorang tokoh kosen?"

"Apakah dia hendak mengorek isi hatiku?"

Demikian batin Tan Ciok-sing.

"tapi melihat sikap orang yang tulus dan sungguh-sungguh, diam-diam dia salahkan jalan pikirannya yang tidak genah ini. Katanya dengan tawa getir.

"Aku sendiri juga ingin belajar lebih tinggi, toh sejauh ini tak berhasil aku menemukan jago kosen."

"Siau-suhu, adakah jago kosen siapa yang sudah menjadi pilihanmu?"

Tanya Liong Seng-bu. Tan Ciok-sing mengelak, katanya.

"Aku toh belum berkecimpung dalam bulim, siapa saja jago-jago kosen dalam bulim ini, hakikatnya aku tidak tahu. Dan lagi jago kosen hanya bisa di temukan secara kebetulan, tak mungkin diburuburu, sebelum ini cara bagaimana aku bisa tahu kepada siapa aku harus belajar?"

Liong Seng-bu seperti kecewa, katanya lesu.

"Adik cilik, memang betul ucapanmu. Biarlah aku berdoa semoga kelak aku bisa menemukan seorang jago kosen dan mengangkat guru kepadanya."

"Lebih baik kita tetap belajar harpa saja, Liong-toako petikan harpamu sudah bertambah maju, kini marilah kugantikan, coba kubawakan syair lagu hasil ciptaanmu, kemarilah."

Setelah menyambuti harpa, Tan Ciok-sing duduk mendeprok lalu mulai menyetem serta siap membawa lagunya.

Di kala mereka asyik dan tenggelam dalam alunan irama harpa, mendadak terdengar seorang tarik suara keras-keras terus berkaok-kaok dengan suara kasar dan serak, suaranya sumbang menusuk pendengaran, konsentrasi Tan Ciok-sing sampai buyar dan menghentikan petikannya.

Tampak dari ujung pengkolan sana tiba-tiba muncul dua orang laki-laki yang bertampang kriminil.

Berkerut kening Liong Seng-bu, katanya.

"Menyebalkan."

"Apa menyebalkan?"

Seru salah seorang laki-laki itu.

"kepada siapa kau tujukan ucapanmu?"

Dengan langkah lebar dia terus menumbuk ke arah Liong Seng-bu.

Jalanan gunung yang sempit terletak di atas ngarai ini memangnya licin dan membelakangi jurang, Liong Seng-bu berdiri membelakangi jurang, meki di belakangnya ada pagar, kalau di tumbuk bukan mustahil dia bisa terjungkel ke bawah jurang!

Karuan Tan Ciok-sing kaget, namun hendak menolong Liong Seng-bu jelas tidak keburu lagi, sementara seorang laki yang lain juga menumbuk ke arah dirinya.

Lekas Tan Ciok-sing angkat harpanya seraya bergerak dengan Hud-in-jiu, sekali putar tahu-tahu dia seret orang itu lewat ke samping terus menyelonong ke belakang.

Ilmu silat orang ini agaknya lumayan juga, meski badan kehilangan keseimbangan, tapi sekaligus dia doyongkan badan sambil angkat sebelah kakinya mendepak, sebelah kakinya pula menggantol ke tumit Tan Ciok-sing maksudnya hendak menjegalnya jatuh.

Untung bekal kepandaian Tan Ciok-sing sekarang tidak serendah beberapa bulan yang lalu, dalam keadaan kritis ini, gerakannya masih cepat lagi, sambil merendahkan pundak, sikutnya bekerja.

"Buk"

Kaki orang memang menggantol kakinya, tapi sebelum lawan kerahkan tenaga, dadanya sudah kena disikut sampai terjerumus jatuh terguling ke jalanan sempit yang menurun ke bawah sana.

Waktu Tan Ciok-sing memutar badan, apa yang dilihatnya membuat hatinya mencelos.

Yang dilihatnya kiranya laki-laki kasar itu sedang jatuh celentang di tanah,* sementara bayangan Liong Seng-bu sudah tidak kelihatan lagi.

Cepat sekali laki-laki ini sudah melejit berdiri, sikapnya sudah siap menggasak Tan Ciok-sing pula tapi ragu-ragu.

Agaknya dia melihat temannya yang terguling-guling itu, maka tidak berani bertindak pula secara semberono.

Jarak kira-kira ada tiga tombak, angin pukulan menyampuk muka menimbulkan rasa pedas dan panas.

Kuatir bukan tandingan lawan, lekas Tan Ciok-sing mencabut golok, sekali ayun dia membelah sebuah batu gunung yang besar serta membentak.

"Mari maju ingin aku tahu apakah batok kepalamu lebih keras dari batu ini."

Betapa tajam golok pusaka Tan Ciok-sing ini, karuan lakilaki itu ciut nyalinya, tanpa berani bersuara segera dia putar tubuh angkat langkah seribu.

Setelah kedua orang kasar itu dipukul kabur, baru Tan Ciok-sing mendengar teriakan Liong Seng-bu.

"Adik cilik, tolong, tolong."

Waktu menengok keluar pagar, dilihatnya Liong Seng-bu bergantung di atas jurang, sebelah tangannya menangkap kaki sebatang cagak besi dari pagar gunung.

Lekas Ciok-sing mencopot kain sabuknva, kedua kaki menggantol pagar besi, segera dia ulurkan kain sabuknya ke bawah, untung panjang sabuk kainnya pas-pasan mencapai tempat dimana Liong Seng-bu bergelantung di udara.

Pucat dan ketakutan yang teramat sangat membuat Liong Seng-bu tak kuasa bicara untuk sekian lamanya.

Setelah napas teratur dan perasaan tenang kembali, baru dia ingat mengucapkan terima kasih kepada Tan Ciok-sing.

"Liong.toako,"

Kata Tan Ciok-sing.

"peristiwa ganjil ini agak mencurigakan."

"Memangnya, kita tidak pernah bermusuhan dengan mereka sungguh aku tak habis mengerti kenapa mereka membuat gara-gara, syukur Tuhan masih melindungi, kalau tidak tentu aku sudah hancur lebur di jurang sana."

"Liong-toako, kau terluka tidak?"

"Syukur hanya lecet sedikit. Waktu orang tadi menumbuk datang, aku sempat mendengkul perutnya, tapi aku sendiri terjungkel ke bawah, untung aku sempat meraih cagak besi. Adik cilik, kepandaianmu memang hebat, kedua orang kasar itu kena kau pukul pergi."

"Bukan kepandaianku tinggi, mereka takut pada golokku ini,"

Demikian ujar Tan Ciok-sing, terbayang kejadian tadi, rasa curiganya timbul lagi. Pikirnya.

"Kalau tiga bulan yang lalu, mungkin aku sudah celaka. Liong-toako katanya tidak bisa silat, tapi setelah disergap orang yang pandai Kungfu, jiwanya masih selamat, sungguh aneh bin ajaib."

"Adik cilik,"

Tanya Liong Seng-bu.

"harpamu tidak rusak?"

Mencelos hati Tan Ciok-sing, lekas dia periksa harpanya dengan teliti, akhirnya menghela napas, katanya.

"Untung tidak kurang apa-apa."

"Say-san masih banyak lagi tempat tamasya, setelah kejadian yang tidak menyenangkan ini, jadi lenyap seleraku untuk melancong. Hayolah kita pulang saja,"

Sepanjang jalan ini Liong Seng-bu seperti khawatir bila kedua laki-laki kasar itu akan mengejar lagi, maka sikapnya tampak gugup dan sering celingukan, langkahnyapun buru-buru.

Tapi Tan Ciok-sing diam-diam membatin.

"Kalau benar kedua orang itu tiada bermusuhan dengan Liong-toako, kenapa mereka bertindak sekasar ini, kan tidak pantas bertujuan jahat? Tapi bukan mustahil tujuan mereka adalah diriku. Mungkinkah mereka anak buah Ie Cun-hong?"

Sulit juga Tan Ciok-sing memperoleh jawaban dari rekaannya, diam-diam dia malah sedikit menyesal dan merasa bersalah terhadap Liong Seng-bu yang harus ikut ketimpa bahaya. Pikirnya.

"Kalau betul dugaanku, bukankah aku yang membikin Liong-toako turut susah?"

Setelah tiba di hotel baru Liong Seng-bu tampak lega dan dapat bicara dengan tertawa, katanya.

"Adik cilik, hari ini aku terhindar dari kematian, kaupun dibuat kaget, marilah kita minum beberapa cawan untuk menenangkan hati."

Entah karena kebanyakan minum atau karena terlalu lelah dan rasa ketakutan yang menghantui hatinya, setelah makan malam Liong Seng-bu terus menutup diri dalam kamar dan tidur dengan nyenyak, dengkur pernapasannya lambat dan teratur.

Tapi Tan Ciok-sing malah gundah gulana tidak bisa memejamkan mata.

Tanpa terasa didengarnya suara kentongan tukang ronda yang mundar-mandir di jalan raya sebanyak tiga kali, berarti hari sudah menjelang subuh.

Tan Ciok-sing bangun perlahan-lahan lalu mengenakan bajunya, dengan suara lirih dia memanggil "Liong-toako"

Dua kali, tapi dengkur Liong Seng-Bu masih sekeras babi, jelas tidak mudah untuk membangunkannya. Pikiran Tan Ciok-sing kalut seruwet benang, pikirnya.

"Sebetulnya aku masih bisa menemani Liong-toako beberapa hari lagi, tapi biarlah aku berangkat sendiri saja lebih cepat lebih baik. Yang terang kapan saja aku toh harus berpisah dengan dia. Laki-laki kasar itu kalau hendak mencari setori padaku, Liong-toako tentu tidak akan diapa-apakan."

Tengah dia menimbang-nimbang apakah dia perlu meninggalkan tulisan untuk memberi penjelasan kepada Liong Seng-bu, tiba-tiba daun jendela yang tertutup itu menjeplak terbuka sendiri, selarik sinar tampak meluncur dan "Trak"

Sebuah pisau belati yang tajam kemilau tahu-tahu menancap di atas meja, di ujung belati yang menancap meja tertusuk secarik kertas surat.

Mengira musuh telah meluruk datang, lekas Tan Ciok-sing ambil surat itu serta dibuka sampulnya, pikirnya.

"Begini lebih baik, aku jadi terang duduknya persoalan,"

Tapi setelah dia membaca isi suratnya, sungguh amat diluar dugaannya.

Surat itu bukan ditujukan dirinya, tapi ditujukan kepada Liong Sengbu malah.

Tulisan surat ini miring dengan .

gaya yang tidak karuan, jelas ditulis orang kasaran, bunyinya demikian.

"Liong-san, kebetulan kau berada di Gun-bing, perhitungan lama kita harus lekas diselesaikan. Kalau kau berani, kita janji bertemu di Liong-bun. Aku tidak akan membawa anak buah, kita bertanding satu lawan satu. Kuperingatkan kepadamu untuk terakhir kali, mau lari kau tidak akan lolos dari pengawasanku, kuharap kau tahu diri."

Sebetulnya Tan Ciok-sing siap meninggalkan Liong Seng-bu secara diam-diam, setelah membaca surat ini, sesaat dia melenggong Tiba-tiba sebuah tangan menyelonong dari belakang merebut pucuk surat yang dibacanya, kata orang di belakangnya.

"Adik cilik, bikin kaget kau saja,"

Entah kapan ternyata Liong Seng-bu sudah bangun dan tahu-tahu berdiri di belakang.

"Maaf Liong-toako, surat ini untuk kau, aku tidak tahu barusan sudah kubuka dan kubaca."

Setelah membaca surat itu, berubah hebat muka Liong Seng-bu, katanya sesaat kemudian.

"Adik cilik, ada sebuah hal, kuharap kau suka memaafkan diriku. Kukatakan aku tidak pandai silat, ini memang aku menipumu. Kelihatannya aku seperti Siucay, yang benar akupun kaum persilatan."

"Kemarin kau tidak terluka apa-apa, memangnya aku sudah curiga. Tapi aku tak habis mengerti, apa sebetulnya yang pernah terjadi?"

"Panjang ceritanya, pendek kata aku pernah berbuat salah terhadap seorang jahat yang memiliki kepandaian tinggi, kedua orang yang di Liong-bun tadi hanyalah anak buahnya saja."

"Lalu siapa yang mengirim surat ini?"

Tanya Tan Ciok-sing.

"Pasti anak buahnya juga. Orang jahat itu terlalu tinggi hati, caranya keji, hatinya kejam, dia memang yakin bahwa aku tidak akan lolos dari telapak tangannya, maka dia mengundang untuk bertanding satu lawan satu. Agaknya dia sengaja supaya aku banyak menderita lahir batin baru akan membunuhku."

"Undangannya itu jelas tidak bermaksud baik. Kalau kau memang bukan tandingannya, lebih baik kau tidak usah tepati undangannya."

"Tiada gunanya, anak buahnya tersebar dimana-mana, kemana aku lari tetap kecari juga. Umpama hari ini aku berhasil lolos besok juga pasti harus membuat perhitungan. Kecuali ada seorang jago kosen yang sudi membantuku."

"Sayang, besar keinginanku membantu apa daya tenaga tak sampai. Musuhmu itu pasti teramat liehay, kedua anak buahnya tadi, akupun bukan tandingan mereka."

"Aku tahu. Bicara terus terang, aku bersahabat dengan kau, maksudku ingin minta bantuanmu, tapi dari peristiwa tadi, meski kepandaianmu lebih tinggi dari aku, kau tetap bukan tandingan gembong penjahat itu. Umpama kau tetap hendak membantuku, terpaksa aku harus menampik kebaikanmu, aku tidak ingin kau mendapat susah. Adik cilik buntalanmu sudah kau siapkan, apakah kau sudah siap meninggalkan tempat ini?"

Merah muka Tan Ciok-sing, katanya.

"Bukan maksudku hendak pergi diluar tahu Liong-toako, tapi, tapi..."

"Adik cilik, lekaslah kau pergi, tak perlu kau menjelaskan padaku. Begini besar perhatianmu kepadaku, tidak sia-sialah kami bersahabat. Mati hidup seseorang sudah ditentukan takdir, kalau besok malam aku memang harus celaka, akupun akan menerima nasibku ini."

Bergolak dada Tan Ciok-sing, sifat satrianya berkobar, tanpa pikirkan diri sendiri lagi, segera dia berseru.

"Liong toako, kau ikut aku saja?"

"Ikut kau? Kemana?"

"Toako, kau tak usah peduli, aku punya satu tujuan,"

"Kalau tak bisa lolos bagaimana? Bukankah kau ikut celaka malah?"

"Tadi aku ingin pergi diam-diam karena aku belum tahu persoalanmu. Kini setelah kau menghadapi mara bahaya, kalau aku tidak ikut memikul bebanmu, buat apa persahabatan kita ini. Aku juga tidak tahu apakah kita bisa lolos, tapi kan lebih baik dari menunggu nasib."

Lekas Liong Seng-bu-goyang-goyang tangan, katanya.

"Jangan, lebih baik kau lari seorang diri saja."

"Kau berkata demikian berarti memandang rendah diriku. Toako sebetulnya kau tidak perlu banyak kuatir, tempat itu tidak jauh dari Gun-bing, kalau sekarang berangkat, menempuh perjalanan siang malam, kalau lari cepat, besok malam tentu sudah tiba di tempat tujuan. Setiba di tempat itu, pasti ada orang akan membantu. Betapa liehay musuhmu, pasti takkan petingkah disana,"

Kuatir Liong Seng-bu tidak mau ikut lari, terpaksa dia sedikit membocorkan rahasia itu.

Girang Liong Seng-bu bukan kepalang, lekas dia rogoh keluar sekeping uang mas terus ditaruh di atas meja, katanya.

"Syukur adik begini setia kawan, baiklah sekarang kita berangkat. Tak usah mengganggu pemilik hotel."

Maksud Tan Ciok-sing adalah ingin mengajak Liong Sengbu ke Ciok-lin dan semoga diterima Thio Tan-hong sebagai murid.

Alam pikiran Tan Ciok-sing memang terlalu Jenaka, karena iba dan merasa punya kewajiban sebagai sesama sahabat, kalau teman memang hadapi bahaya adalah pantas kalau dia ikut memikul kesulitan yang menimpa Liong Seng-bu, pada hal dia tidak memikirkan untung rugi akibat yang diperbuatnya ini.

Thio Tan-hong adalah pendekar besar yang dikagumi dan diagungkan oleh kaum persilatan di kolong langit ini, sudah tentu dia berjiwa ksatria dan perkasa dalam membela kepentingan si lemah.

Dengan membawa surat dan barang milik In Tayhiap memohon sesuatu bantuannya, tentu dia akan meluluskan permintaanku.

Jikalau dia suka menerima Liong-toako sebagai muridnya pula sudah tentu baik sekali, umpama tidak mau, demi memandang muka In Tayhiap, paling tidak pasti suka melindungi Liong-toako,"

Demikian pikir Tan Ciok-sing.

Tapi apakah Thio Tan-hong masih hidup, setiba di Ciok-lin apakah lantas dapat menemukan Thio Tan-hong?

Semua ini masih sukar diramalkan, oleh karena itu terhadap Liong Seng-bu dia masih belum berani menjelaskan sejujurnya, sebelum tiba di Ciok-lin, sementara dia hanya akan memberi keterangan samar-samar.

Setelah meninggalkan uang, secara diam-diam Liong Sengbu dan Tan Ciok-sing meninggalkan hotel itu.

Baru sekarang Tan Ciok-sing menyadari bahwa ginkang orang ternyata masih lebih tinggi dibanding dirinya.

Tinggi tembok kota Gun-bing ada tiga tombak, Tan Ciok-sing takkan mampu melompatmya, maka Liong Seng-bu merambat naik lebih dulu dengan ilmu cecak merambat, lalu menggunakan tambang panjang yang memang sudah disiapkan mengerek Tan Ciok-sing ke atas.

Setiba diluar kota, langkah 1 long Seng-bu ternyata lebih ringan bagai terbang, kcadaaanya jelas jauh berbeda dengan sebelum ini, sekuat tenaga Tan Ciok-sing kerahkan kemampuannya baru sejajar.

Tak nyana Liong-toako pandai berpura-pura dan menipu orang.

Tanpa merasa Tan Ciok-sing geli sendiri akan kebodohannya yang sejak mula kira orang adalah pelajar yang lemah, tapi dia merasa jengkel juga karena telah tertipu mentah-mentah.

Dasar bajik dan jujur lekas dia berpikir pula.

"Dia punya kesulitannya sendiri, bukankah ada beberapa persoalan yang tidak mungkin kubicarakan dengan dia?"

Mendengar musuh Liong Seng-bu sedemikian liehay, sepanjang jalan hati Tan Ciok-sing ikut kebat-kebit, kuatir di tengah jalan bentrok dengan musuh liehay dan teringkus balik.

Namun diluar dugaannya, sepanjang jalan ini tiada terjadi apa-apa pula, mereka tiba di tempat tujuan satu jam lebih pagi, sebelum senja dengan selamat merekapun tiba di Ciok-lin.

Hembusan angin barat di waktu senja memang membawa suasana hangat dan silir nyaman, waktu angkat kepala, tampak puncak-puncak batu yang tak terhitung banyaknya terbentang di depan mata, berlapis-lapis dan bersusun seperti sedang lomba menembus langit.

Dengan langkah gontai mereka mulai memasuki hutan batu, tampak di tengah sana sebatang balok batu besar seperti bergelantungan di tengah udara melintang panjang, di atas batu terukir empat huruf yang berbunyi.

"Thian-kay-gikin" (Tuhan mencipta pandangan aneh), di sebelah dan sekitarnva masih pula banyak tulisan-tulisan dari pujanggapujangga yang memujikan keindahan alam ciptaan Thian ini. Selintas pandang kedalam hutan batu, tampak pintu seperti beribu berlaksa banyaknya, suasana tenang sepi dan menjelang keremangan malam menjadikan keadaan sekitarnya serba mengerikan. Liong Seng-bu tampak menampilkan rasa kaget dan senang luar biasa, dia berhenti di ambang pintu hutan batu, katanya.

"Adik cilik, bukankah disini Hutan Batu?"

"Betul, marilah kita masuk. Kenapa, apa kau merasa adanya gejala yang tidak benar?"

"Nanti dulu, nanti dulu. Sebelum ini pernahkah kau datang ke Ciok-lin?"

"Tidak, belum pernah."

"Terlalu berbahaya kalau begitu. Dalam catatan kuno ada dikatakan, kalau laksana pintu hutan batu sampai tertutup, tak ubahnya berada dalam Pat-tin-koh ciptaan Cukat Liang di jaman Sam Kok dulu. Memangnya boleh kita masuk secara gegabah? Jikalau sampai kesasar dan salah jalan, selama hidup ini takkan bisa keluar dari hutan batu."

"Menempuh sedikit bahaya kukira juga patut, cianpwe kosen yang hendak kita cari itu, justeru bertempat tinggal didalam Ciok-lin."

"Siapa cianpwe kosen itu, sudikah kau sekarang berterusterang padaku?"

"Kalau aku sudah mengajaknya kemari, adalah logis kalau aku terangkan asal-usul Thio Tan-hong,"

Maka dia berkata.

"Yahlah Thio Tan-hong Thio Tayhiap yang diakui secara umum sebagai jago pedang nomor satu di jagat ini."

"Haya,"

Teriak Liong Seng-bu.

"kenapa tidak kau jelaskan sejak semula, jadi kau kenal Thio Tayhiap?"

Kuatir orang salah paham Tan Ciok-sing berkata.

"Bukan aku sengaja mau main teka teki waktu meninggalkan Gunbing, aku tidak pernah duga kita bakal tiba di tujuan begini leluasa. Tapi selamanya belum pernah aku bertemu dengan Thio Tayhiap, jadi belum bisa dikatakan kenal."

Liong Seng-bu menarik muka, katanya.

"Adik cilik, apa kau tidak berkelakar denganku?"

"Toako tak usah gelisah, dengar dulu penjelasanku. Walau selamanya belum pernah aku bertemu dengan Thio Tayhiap, tapi aku mendapat titipan seorang untuk menemui beliau. Orang itu adalah famili dekat Thio Tayhiap, dan memberitahu padaku, asal aku menjelaskan urusannya, Thio Tayhiap pasti akan sudi menerima aku sebagai muridnya."

"Orang itu siapa? Urusan apa pula yang dia titip supaya kau kerjakan?"

Pertanyaan bertubi ini seolah-olah hendak membanting kwali mengorek intip ini membuat Tan Ciok-sing serba susah.

Haruskah dia membeber rahasia In Hou kepadanya?

Melihat orang mengunjuk sikap serba susah, sengaja Liong Seng-bu menghela napas, katanya.

"Adik cilik, sebetulnya tidak pantas aku mencari tahu rahasiamu, tapi soal ini menyangkut urusan mati hidupku, adalah jamak kalau aku prihatin akan hal ini. Ai, adik cilik setelah kita bergaul selama beberapa hari ini, memangnya kau masih tidak percaya kepadaku? Dan lagi kalau aku tidak tahu menahu segala persoalan ini, bila berhadapan dengan Thio Tayhiap, mungkin sukar aku memberi jawaban yang tepat."

"Kalau aku sudah mau membawa Liong-toako menemui Thio Tayhiap, cepat atau lambat rahasia ini pasti diketahuinya juga. Waktu aku memberi laporan kepada Thio Tayhiap, memangnya aku harus menyuruh dia menyingkir dulu? Kalau akhirnya toh dia mesti tahu, soal cepat atau lambat yang terpaut beberapa jam ini kenapa harus kujadikan alasan?"

Maklumlah Tan Ciok-sing betapapun baru berusia belasan, meski sudah kenyang hidup menderita, namun dia masih cetek pengalaman dan belum bisa membedakan baik buruk serta menyelami keculasan hati manusia, akhirnya dia membeber rabasia itu.

"Orang itu bernama In Hou, dia keponakan dekat Thio Tayhiap."

"Kenapa tidak dia sendiri yang mencari sang paman, malah titip kepadamu? tanya Liong Seng-bu.

"In Tayhiap sudah meninggal, sebelum ajalnya itu dia berpesan kepadaku,"

Teringat betapa mengenaskan kejadian waktu itu, tanpa merasa dia mencucurkan air mata.

"Adik cilik kau masih begini sedih, bolehlah kau menangis sepuas-puasnya, Meski aku bukan sanak kadangmu, tapi persahabatan kita sudah laksana saudara kandung, boleh kau anggap aku sebagai sanak kadang sendiri. Soal yang menyedihkan setelah terlampias dalam tangis, mungkin perasaanmu bisa sedikit longgar."

Liong Seng-bu memang sengaja hendak mengorek keterangannya, maka kata-katanya kelihatan setulus hati.

Sayang Tan Ciok-sing yang belum kenyang mengalami gelombang hidup ini, mana dia tahu kemunafikan hati orang, tanpa sadar dia menjadi haru dan menaruh simpatik padanya.

Kalau rahasia sudah bocor sedikit, seperti juga tanggul yang bocornya semakin besar sehingga air bah akhirnya tidak tertahan lagi.

Waktu Tan Ciok-sing menyeka air mata, rahasia dirinyapun telah habis dia ceritakan tanpa tedeng aling-aling.

Setelah tahu lika liku persoalannya sudah tentu bukan kepalang senang hati Liong Seng-bu, namun lahirnya dia berpura-pura ikut sedih dan prihatin, katanya membujuk.

"Adik cilik, pengalaman hidupmu memang harus dikasihani penderitaan lahir batinmu memang patut dikasihani, kini tiba saatnya kau membangkitkan semangat. Kau membawa golok In Tayhiap, tanda bukti ini kukira sudah cukup, apalagi kaupun membawa buku ilmu pedang karya Thio Tayhiap sendiri, Thio Tayhiap pasti percaya padamu dan mengangkatmu sebagai murid."

"Doakan saja. Malah aku masih punya angan-angan, jikalau kita bisa menjadi Suheng-te, bukankah, lebih baik."

Liong Seng-bu berpura-pura amat haru dan terima kasih, katanya.

"Adik cilik, terima kasih atas penghargaanmu akan diriku, bahwa aku bisa berlindung di tempat Thio Tayhiap sudah cukup puas bagi aku,"

Sampai disini mendadak dia seperti teringat sesuatu, katanya.

"Adik cilik, tanda kepercayaan yang diberikan In Tayhiap untukmu tidak kau hilangkan bukan?"

"Barang sepenting ini, mana boleh hilang? Nah coba lihat, Kiam-boh karya Thio Tayhiap dan ilmu golok ajaran keluarga In semua kusimpan dalam kotak ini,"

Sambil bicara dia keluarkan kotak kayu persegi itu.

Seperti mencorong bola mata Liong Seng-bu, dia maju mendekat ke samping Tan Ciok-sing, mendadak dia ulur jari menutuk Ciang-bun-hiat di bawah ketiak Tan Ciok-sing secara keras.

Baru saja Tan Ciok-sing hendak membuka kotak itu, sungguh mimpipun tak pernah terbayang olehnya bahwa Liong Seng-bu yang sudah dipandang sebagai saudara kandung sendiri ini bakal membokongnya.

"Bluk"

Kontan dia tersungkur jatuh.

Ciang-bun-hiat adalah salah satu dari dua belas hiat-to di tubuh manusia yang membuat badan lemas lunglai, kalau kena ditutuk, takkan mampu bergerak sedikitpun, bicarapun tidak bisa, tapi tetap sadar dan dapat mendengarkan.

Tanpa hiraukan Tan Ciok-sing yang tersungkur, Liong Seng-bu merebut kotak kayu itu lebih dulu, lalu dia jemput pula golok pusaka itu, serunya berjingkrak senang seperti si gila putus lotre.

"Adik cilik,"

Katanya kemudian.

"jangan kau salahkan bila aku bertindak keji, dari pada kau yang menjadi murid Thio Tan-hong, kan lebih baik aku saja yang menjadi muridnya."

Tahulah Tan Ciok-sing bahwa orang hendak memalsu dirinya, menipu Thio Tan-hong menerima dia sebagai murid, karuan bukan kepalang dongkol, gemes dan marah hatinya, hampir saja dia kelenger dibuatnya.

Di tengah gelak tawanya yang menggila, Liong Seng-bu berkata lebih lanjut.

"Sebetulnya setelah aku memperoleh kebaikan ini dari kau, tidaklah pantas kalau aku membunuhmu. Tapi aku yakin kau tidak akan terima menderita kerugian besar ini, umpama kau tidak akan mencari perkara padaku kelak, aku kuatir kau akan membocorkan rahasiaku ini. Supaya tidak menjadikan bencana di kelak kemudian hari, terpaksa kubunuh kau dan kusumbat mulutmu. Tapi harpa kesayanganmu ini akan kukubur bersamamu, terhitung aku menanam sedikit kebaikan demi persaudaraan kita."

Pelan-pelan Liong Scng-bu mencabut golok, setelah disentil sekali, dia memuji.

"Golok bagus, golok bagus,"

Seperti kucing yang mempermainkan tikus yang telah dicaploknya, dia mengamati, mengelus dan membolak-balik golok pusaka itu di samping Tan Ciok-sing, tapi tidak segera ayun golok membunuhnya.

Baru sekarang Tan Ciok-sing menyesal dan gegetun, pikirnya.

"Goblokku sendiri, kenapa mau percaya begini saja terhadap orang yang baru dikenalnya,"

Apa boleh buat, terpaksa dia pejam mata menunggu kematian saja. Mendadak terdengar suara dua orang yang berpadu.

"Golok bagus, golok bagus. Cara yang keji, cara yang keji."

Sudah tentu kaget Liong Seng-bu bukan main, tak sempat lagi dia ayun goloknya untuk membunuh Tan Ciok-sing, lekas dia lompat ke samping, golok melintang melindungi badan baru pelan-pelan dia menoleh.

Mendengar suara yang pernah didengarnya ini, Tan Cioksing buka matanya pula, ternyata kedua orang ini bukan lain dua laki-laki kasar yang sengaja cari perkara di Liong-bun itu.

Liong Seng-bu tertawa sambil memasukkan golok kedalam sarungnya, katanya.

"Kiranya kalian berdua, bikin kaget aku saja. Tapi, kenapa kalianpun ikut menyusul kemari?"

Laki-laki yang bertubuh kekar itu berkata.

"Liong-losam, kuucapkan selamat akan kesuksesanmu. Kemarin kami ikut membantu sebagai pembantu pemainmu, tidak jelek bukan permainan kami?"

Baru sekarang Tan Ciok-sing kembali sadar.

"musuh"

Yang diomongkan Liong Seng-bu kemarin hakikatnya hanya isapan jempol belaka, ternyata dia memang sekongkol dengan kedua laki-laki ini untuk menipu dirinya. Liong Seng-bu tertawa dipaksakan, katanya.

"Lo-li, kau punya tampang kriminil dan pandai memerankan orang jahat, sudah tentu permainanmu kemarin bagus sekali."

Laki-laki lainnya yang bertubuh lebih pendek berkata.

"Tapi, usaha dagang ini kan kita kerjakan bersama, setelah kau memperoleh keuntungan besar tentunya tidak melupakan kami berdua?"

"Itu sudah selayaknya, kita kan seperti saudara sendiri, memangnya kalian masih tidak percaya padaku?"

Yang dipanggil Lo-li berkata.

"Bukan tidak percaya, tapi ada lebih baik kalau kita selesaikan usaha bersama ini secara damai saja. Kalau toh sudah berhasil maka pembagian harus sama dan adil. Kalau secara diam-diam kami tidak membuntutimu ke mari, cara bagaimana kami tahu kau berhasil atau tidak?"

Merasakan nada pembicaraan mereka sudah tidak mempercayai dirinya lagi, maka Liong Seng-bu berkata.

"Apa yang kuucapkan kepada bocah ini tadi, tentu kalian juga sudah dengar. Maka kalian tentu sudah tahu, maafaatnya masih belum kita capai seluruhnya. Coba pikirkan, Thio Tanhong hanya mau menerima seorang murid, terpaksa hanya aku saja yang memalsu dirinya. Kelak bila aku berhasil mempelajari Kungfu tinggi, baru bisa aku membagi hasil dengan kalian."

Laki-laki kasar tinggi itu berkata.

"Bagaimana pendapatmu Lo-han."

"Manfaat besar memang ada di belakang, namun keuntungan kecil kan sekarang juga bisa dibagi bukan?"

Kata orang she Han.

"Apa yang perlu dibagi sekarang?"

Liong Seng-bu menegas.

"Li-toako,"

Kata orang she Han.

"kau terima golok pusaka, sedang aku menginginkan Kiam-boh itu, bagaimana?"

Tidak langsung menjawab pertanyaan Liong Seng-bu sebaliknya dia berunding dengan laki-laki she Li itu, jelas bahwa mereka sebelumnya sudah ada kata sepakat.

Laki-laki kekar she Li bergelak tawa, katanya.

"Sebetulnya Kiam-boh karya Thio Tan-hong sedikit lebih bernilai, tapi kita kan sesama saudara, aku sebagai engkoh boleh saja mengalah, terserah bagaimana keinginanmu."

Lekas Liong Seng-bu berkata.

"'Bagaimana boleh cara begitu."

"Liong-losam,"

Dingin tegas suara laki-laki kasar.

"seorang laki-laki harus tahu diri, dalam hal ini kau sudah memperoleh keuntungan yang paling besar, buat apa berdebat dan rebutan pula dengan kami?"

Orang she Han itu menambahkan.

"Memangnya, Lionglosam, coba kau pikir, setelah kau menjadi murid Thio Tanhong jago pedang nomor satu di dunia ini, berarti Kungfumu kelak nomor satu di jagat ini, bukankah keuntungan yang kau peroleh jauh lebih berharga dari golok pusaka atau Kiam-boh segala? Memangnya kau tidak rikuh mengukuhi soal sepele dan kecil ini?"

Liong Seng-bu menyeringai getir, katanya.

"Toako berdua tidak fahu, kedua barang ini harus kugunakan sebagai tanda kepercayaan supaya bisa bertemu dan dipercaya oleh Thio Tan-hong. Kelak setelah aku berhasil belajar Kungfu kan belum terlambat kuberikan kepada kalian. Itu waktu bukan saja boleh aky serahkan golok dan Kiam-boh, Kungfu yang telah kupelajari juga bisa kuajarkan .pula kepada kalian, bukankah itu lebih menguntungkan?"

Mendelik mata laki-laki kekar, katanya.

"Liong-losam, bukan aku sebagai saudara tua ini tidak percaya kepadamu, memangnya kami goblok harus menunggu selama itu."

Liong Seng-bu mengerutkan alis, katanya.

"Kalau kalian ambil kedua barang kepercayaan ini, cara bagaimana aku harus menemui Thio Tan-hong dan mendapat kepercayaann ya?"

"Liong-losam,"

Ujar laki-laki pendek she Han.

"mulutmu manis pandai bicara. Segala rahasia telah kau ketahui dari mulut bocah ini, memangnya apa pula yang kau kuatirkan?"

"Jangan kalian lupa Thio Tan-hong tokoh besar yang pernah digembleng dalam pengalaman hidup, memangnya dia gampang ditipu seperti bocah ingusan ini?"

"Belum tentu,"

Ucap laki-laki she Han.

"kau bisa juga menipunya asal tepat pada sasaran, In Hou mati di Kwi-lin ini memang kenyataan. Ki Harpa kakek dan cucu berbudi terhadap In Hou, inipun tidak keliru. Kalau toh apa yang diceritakan semua kenyataan, tanpa tanda pengenal segala juga pasti keteranganmu dipercaya."

Laki-laki kekar itu jadi kurang sabar, katanya.

"Liong-losam, terserah bagaimana kau akan menipu Thio Tan-hong, yang terang kami tidak mau membantumu secara percuma."

"Tadi aku sudah berjanji kelak akan membagi hasil pada kalian!"

Kata Liong Seng-bu.

"Kelak, kelak, siapa tahu kelak kau akan mungkir dan menyikat seluruh hasil hari ini. Pendek kata, tidak usah banyak bicara lagi, golok dan Kiam-boh harus kau serahkan, kalau tidak, terpaksa kami tidak sungkan lagi kepadamu."

Liong Seng-bu bersikap apa boleh buat, katanya getir.

"Agaknya kalian memang tidak percaya lagi kepadaku, terpaksa aku kabulkan keinginan kalian."

"Memangnya, sebaiknya sejak tadi kau terima usul kami, kau tidak perlu banyak debat?"

Kata laki-laki she Li. Orang she Han berkata.

"Kotak yang berisi Kiam-boh itu kau letakkan di tanah, aku bisa mengambilnya sendiri."

"Betul,"

Laki-laki she Li tersadar.

"lemparkan golok itu, tak usah kau kemari."

Liong Seng-bu tertawa pahit, katanya.

"Kalian begini curiga, memangnya Siauwte bakal membokong kalian?"

Lalu dia keluarkan kotak itu dan ditaruh di tanah. Orang she Han memutus sebatang dahan sebagai genter lalu menjungkit kotak itu ke arahnya. Sementara laki-laki kekar itu berseru.

"Lemparkan golok itu ke mari."

"Ya, terimalah,"

Seru Liong Seng-bu, mendadak sinar golok berkelebat bagai kilat, dengan gerakan yang luar biasa cepat mendadak Liong Seng-bu mencabut golok terus ditimpuk.

Walau sudah bersiaga, tapi tidak terbayang oleh laki-laki kekar ini setelah tipu daya Liong Seng-bu mereka bongkar, dia masih berani turun tangan keji pada mereka.

Mau meloloskan senjata menangkis terang tidak keburu lagi.

Maka terdengar "Crap"

Menyusul darah muncrat berhamburan, tahu-tahu golok pusaka itu sudah menusuk amblas ke ulu hatinya.

Pada saat itu pula laki-laki she Han itu telah timpukan sebatang Kong-piau.

Mendengar deru angin kencang, lekas Liong Sengbu mendak ke bawah sambil berputar miring.

Tapi tak urung pundaknya terserempet lecet berdarah, untung tidak sampai mengenai tulang pundaknya.

Cepat sekali tanpa berjanji kedua orang sama menubruk kesana untuk merebut golok.

Ternyata orang she Han setengah langkah lebih cepat, tapi dia tidak sempat memungut golok tersebut, terpaksa dia tendang golok itu ke samping sehingga keduanya sama-sama tidak memperoleh apa yang diinginkan.

"Liong-losam,"

Bentak laki-laki she Han.

"Keji benar kau."

"Siapa salah, kalian memaksa aku turun tangan,"

Bantah Liong Seng-bu.

Kedua orang saling menyalahkan, namun kaki tangan mereka tidak pernah berhenti.

Rebah di tanah tak mampu berkutik.

Tan Ciok-sing hanya mendelong mengawasi mereka baku hantam, diam-diam dia berpikir.

"Kepandaian Liong Seng-bu ternyata memang lebih unggul dari aku. Kepandaian laki-laki she Harr ini juga lebih tinggi dari aku."

Dinilai taraf kepandaian silat Liong Seng-bu setingkat lebih unggul, tapi pundaknya tergores Piau, sedikit banyak mengurangi kelincahannya, maka keadaan tetap sama kuat.

"Han-toako, hentikan saja pertempuran ini,"

Demikian kata Liong Seng-bu.

"golok dan Kiamboh akan kuserahkan kepadamu."

"Siapa lagi percaya omongan setanmu,"

Damprat laki-laki she Han.

"Biang"

Dengan sejurus pukulan Tiang-kun, dia pukul dada Liong Seng-bu, bagai sebatang tonggak kayu yang terpukul, Liong Seng-bu terhuyung kaku beberapa langkah terus roboh dan terbanting dengan keras.

Girang laki-laki she Han, lekas dia memburu maju hendak memeriksa apakah sang korban sudah mampus atau masih hidup, baru saja dia angkat kaki hendak persen lagi dengan sekali tendangan ke ulu hati orang, tak nyana baru saja kakinya terangkat tahu-tahu terasa kesemutan, dia sendiri tak kuasa berdiri tegak lagi terus roboh tersungkur.

Ternyata Liong Seng-bu menggunakan akal licik pula, dia pura-pura terpukul luka parah, rebah celentang menunggu musuh maju mendekat, mendadak kedua kaki bekerja, lawan kena dijegalnya roboh.

Dengan menahan rasa sakit di dada Liong Seng-bu melejit bangun terus menindih di atas badan laki-laki she Han.

Dengan mengerahkan seluruh tenaganya jari-jari Liong Sengbu mencekik leher orang she Han.

Sudah tentu laki-laki she Han berontak dan meronta sekuatnya sambil berguling-guling.

Pertempuran ala binatang buas ini memang amat mengerikan.

Tulang iga Liong Seng-bu putus dua, tapi sepuluh jari jemarinya laksana tanggem mencekik kencang leher lawan, sedikitpun tidak pernah kendor.

Kira-kira setengah sulutan dupa, lambat laun laki-laki she Han mengeluarkan suara keluhan aneh dari lehernya, akhirnya dia tak kuat bertahan lagi, napas putus jiwa melayang.

Tan Ciok-sing sampai merinding dan seram melihat adegan yang mengerikan ini.

Liong Seng-bu kehabisan tenaga, napasnya empas-empis, luka-lukanya tidak ringan lagi.

Meski kedua temannya berhasil dibunuh, tapi dia sendiri sekarang tidak kuat berdiri.

Lama kemudian baru dia merayap kesana memungut golok pusaka dari tubuh laki-laki kekar.

Lobang besar di dadanya segera menyemburkan darah yang deras, jiwanya tidak tertolong lagi.

Terasa lunglai sekujur badan Liong Seng-bu, Pikirnya.

"Untung hiat-to bocah ini sudah kututuk, tak usah kuatir dia bisa mengerjai aku biar nanti kubunuh juga dia,"

Setelah beristirahat sejenak lagi, dia merayap pula kesana mengambil kotak itu. Saking senang dia sampai terloroh-loroh.

"Dua pusaka kini berada di tanganku,"

Karena tak kuasa menahan rasa ingin tahunya, sambil terkial-kial dia membuka tutup kotak.

Rasa puas harus diutamakan, ingin dia menyaksikan Kiam-boh macam apa sebetulnya karya atau ciptaan Thio Tanhong yang termashur itu.

Tak nyana saking girang dan berakhir dengan rasa duka, belum lenyap gelak tawanya, tahu-tahu dia menggembor kesakitan.

Ternyata waktu membuka tutup kotak dia menyentuh alat rahasia, begitu tutup terbuka, lembaranlembaran pisau kecil itu seketika mengiris putus sebuah jari tangannya.

Umumnya jari sakit bisa meresap ke sum-sum apalagi dalam keadaan lunglai seperti Liong Seng-bu, badan terluka luar dalam lagi, kini sebuah jarinya harus terputus lagi, sudah tentu kondisi fisiknya menjadi semakin goyah?

Setelah menjerit kesakitan, kontan dia jatuh semaput.

Ganti Tan Ciok-sing yang kaget dan girang, pikirnya.

"Thian memang maha adil, yang berbuat jahat tentu memperoleh ganjaran setimpal. Tadi sebetulnya aku sudah < hendak membukakan kotak itu, jikalau dia tidak begitu keburu nafsu, pasti Kiam-boh itu kini sudah berada di tangannya. Dia menutuk hiat-toku, tapi cara membuka kotak tidak tahu, patutlah kalau dia harus mengorbankan sebelah jarinya. Tak nyana kotak itu sekali lagi membantuku."

Tapi Tan Ciok-sing sekarang belum lagi terhindar dari mara bahaya.

Kuncinya terletak pada.

Apakah hiat-tonya yang tertutuk bisa punah sebelum Liong Seng-bu siuman dari pingsannya?

Soalnya Liong Seng-bu menggunakan Jiong-jiu-hoat menutuk jalan pelemasnya, tanpa bantuan orang untuk membebaskan sendiri hiat-to itu harus makan waktu dua belas jam padahal Liong Seng-bu hanya jatuh semaput saja.

Apalagi dasar kungfunya juga tidak lemah, meski luka-lukanya cukup parah, tapi yakin sebelum dua belas jam tentu dia sudah siuman.

Maka jiwa Tan Ciok-sing pasti terancam bahaya.

Di tempat belukar yang jauh dari keramaian penduduk seperti ini, mana mungkin orang datang kemari?

Kecuali Thio Tan-hong yang semayam didalam Ciok-lin kebetulan keluar.

Tapi Ciok-lin begini luas, pucuk-pucuk batu berlapis dan bersusun ribuan seperti bentuk pintu-pintu langit, kalau Thio Tan-hong semayam jauh didalam hutan batu, betapapun keras kejadian diluar sini juga takkan terdengar dari dalam, memangnya tanpa sebab dan alasan mungkinkah Thio Tanhong keluar?

Mulut tak mampu bersuara lagi, karuan Tan Ciok-sing hanya tertawa getir saja sambil terima nasib.

Dengan mendelong dia awasi keadaan Liong Seng-bu, sedikit kaki tangan atau badan Liong Seng-bu bergerak, jantungnya pun ikut berdetak, untung sejauh ini Liong Sengbu tetap belum siuman.

Pada hal hari itu sudah mulai gelap, sia-sialah dia mengharap pertolongan orang lain.

Lama-kelamaan Tan Ciok-sing tak tahan mengalami siksaan lahir batin ini, meadadak pikirnya.

"Dari pada menunggu pertolongan orang lain, kenapa aku tidak berusaha menolong diriku sendiri, kenapa tidak kucoba kerahkan hawa murni untuk membebaskan tutukan hiat-to ini? Umpama usaha ini sia-sia, kan lebih baik daripada menunggu kematian begini,"

Maka dia tidak perdulikan mati hidup Liong Seng-bu lagi, memusatkan konsentrasi lalu mulai kerahkan hawa murni.

Buku pelajaran ilmu golok dan pukulan peninggalan In Hou ada juga yang tercantum cara belajar lwekang.

Lwekang yang terlatih baik ini dapat membantu membebaskan hiat-to yang tertutuk.

Tapi Tan Ciok-sing baru latihan tiga bulan, hasilnya boleh dikata baru pupuk dasarnya saja, untuk membebaskan tutukan hiat-to sendiri sudah tentu bukan suatu kerja yang mudah.

Entah berapa lamanya, terasa oleh Tan Ciok-sing hawa hangat tiba-tiba timbul dari pusarnya, agaknya usahanya sudah mulai menunjukkan hasilnya.

Meyakinkan lwekang tingkat tinggi bila sudah mencapai taraf tertentu, untuk membebaskan tutukan hiat-to di tubuh sendiri biasanya paling lama memakan waktu setengah jam, tapi sekarang entah berapa jam telah berlalu, Tan Ciok-sing tetap hanya dapat menghimpun sedikit demi sedikit hawa murninya, bahwasanya badan masih tetap tidak mampu bergerak.

Hari sudah gelap, untung sang Dewi malam yang setengah bulat bercokol di cakrawala.

Tiba-tiba Liong Seng-bu menggeliat serta membalik badan, mulutnya berkerok-kerok seperti suara kodok agaknya takkan lama lagi pasti dia sudah siuman.

Diam-diam Tan Ciok-sing kertak gigi, batinnya.

"Mati hidup sudah ditentukan takdir, betapapun aku harus terus berusaha,"

Maka dia tidak perduli lagi ada kejadian apa di sekitarnya, mata tidak melihat kuping tidak mendengar.

Karena itu, hawa murni yang dia kerahkan menjadi bertambah cepat dan lancar.

Akhirnya Liong Seng-bu siuman juga.

Darah masih menetes dari jarinya yang putus, sakit dan perihnya luar biasa.

Tapi dia sudah mulai dapat bergerak.

Setelah membubuhi obat pada luka-luka jarinya, istirahat pula sejenak, setelah badan terasa sedikit segar, dengan hati-hati dia memeriksa, didapatinya kotak itu masih terletak di samping kakinya, tutup kotak ternyata sudah menutup kembali.

Liong Seng-bu jemput dahan pohon yang dibuat menyongkel oleh laki-laki pendek tadi, pelan-pelan dia sentuh kotak itu, lalu didorong kian kemari tapi tiada menunjukkan reaksi apa-apa, akhirnya dia membesarkan nyali, namun dengan rasa kebat-kebit dia masukkan kotak itu kedalam kantongnya.

Kalau tidak dibuka kotak itu takkan menyentuh alat rahasianya.

Waktu sang dewi malam bercokol di tengah langit, barulah Liong Seng-bu pulih seluruhnya, namun tenaganya baru terhimpun dua bagian.

Pikirnya.

"Bocah ini berkepandaian lumayan mungkin sebelum dua belas jam dia sudah bebas hiat-tonya, maka perlu aku segera membunuhnya."

Padahal waktu itu sudah lewat delapan jam setelah hiat-to Tan Cioksihg tertutuk, sebelum terang tanah hiat-tonya takkan punah sendirinya.

Memang Liong Seng-bu tidak pernah menduga bahwa Tan Ciok-sing sedang berusaha membebaskan tutukan hiat-tonya, maka dengan menabahkan hati dia angkat golok pusaka serta berkata pula tertawa.

"Adik cilik, untung aku sudah siuman lebih dulu, sebelum hiat-tomu yang kututup punah, ini berarti umurku memang panjang, maka tak usah kau menyesali nasibmu ini."

Sekonyong-konyong terdengar suara "Trang", entah dari mana datangnya sebutir krikil tiba-tiba membentur goloknya sampai tak kuasa dia memegangnya lagi, jatuh berkerontangan di tanah.

Karuan Liong Seng-bu kaget setengah mati, waktu dia menegas, dilihatnya Tan Ciok-sing sedang melompat bangun berdiri.

Ternyata menghadapi detik-detik yang genting ini, Ki-kingpat-meh di tubuhnya yang belum lancar karena tutukan hiatto di tubuhnya mendadak jebol, seperti air bah yang tak terbendung, hawa murninya lantas mengalir bagai arus kencangnya, sudah tentu hiat-to yang tertutuk jadi terbuka karenanya.

Setelah menjatuhkan golok di tangan orang Tan Ciok-sing lantas menudingnya serta mendamprat.

"Liong Seng-bu, siasialah kau membaca buku-buku kuno dari para Nabi, tapi sepak terjangmu ternyata begini rendah dan hina, untung Tuhan memang maha pengasih, kau kurcaci ini tak berhasil mencelakai jiwaku."

Pergelangan tangan Liong Seng-bu kesemutan dia kira ilmu silat Tan Ciok-sing sudah pulih seperti sedia kala, orang akan segera membunuh dirinya malah.

Dia insaf luka-lukanya tidak ringan, mana dia berani gebrak dengan Tan Ciok-sing.

"Adik cilik, sukalah kau mengingat hubungan akrab kita beberapa hari ini, sukalah ampuni jiwaku,"

Saking ketakutan Liong Seng-bu lupa memungut golok pusaka itu, sembari bicara dia sudah putar badan lari sipat kuping.

Entah dari mana dia peroleh tenaga, di kala jiwa terancam, meski badan masih lemah, ternyata dia bisa merat begitu cepat, cepat sekali dia sudah menggelundung turun ke lereng sana, kejap lain sudah tak kelihatan lagi.

"Enyahlah kau,"

Damprat Tan Ciok-sing.

"siapa sudi bersaudara dengan tampangmu."

Setelah rasa penasaran terlampias, mendadak lututnya terasa lemas lagi, tanpa kuasa dia meloso jatuh pula.

Ternyata pada detik-detik yang kritis tadi, kebetulan hiat-tonya yang tertutuk tiba-tiba bebas, maka dia menjemput krikil terus dijentikkan merontokkan golok Liong Seng-bu, padahal kondisinya masih teramat lemah, maka dia tidak kuat bertahan lama.

Jikalau Liong Seng-bu cukup tabah dan tidak lari ketakutan, susah dibayangkan bagaimana akibatnya.

Setelah tidur nyenyak, waktu siuman haripun telah terang tanah.

Melihat keadaan kedua mayat yang mengenaskan ini, hatinya tidak tega, segera dia menggali liang lahat menggunakah goloknya mengebumikan kedua mayat itu.

Sambil memasukkan golok kedalam sarungnya dia berpikir.

"Untung golok pusaka dan harpa ini tidak hilang, sayang sekali kotak berisi Kiam-boh karya Thio Tayhiap itu terbawa lari oleh keparat itu. Tapi hanya beberapa lembar tulisan tangan yang belum lengkap itu, kukira dia takkan paham membaca dan mempelajarinya."

Menyongsong terbitnya matahari, jagat raya ini penuh diliputi cahaya keemasan yang cemerlang, dengan langkah lebar dan tegap Tan Ciok-sing memasuki Ciok-lin.

Tapi Tan Ciok-sing tiada selera menikmati keanehan di sekitarnya, dia ingin buru-buru masuk kedalam dan ingin tahu apakah Thio Tan-hong masih hidup dan semayam di Ciok-lin?

Padahal kemana dan bagaimana dia harus menemukan tempat tinggal Thio Tan-hong didalam hutan batu yang berlapis-lapis seperti punya ribuan sampai laksaan pintu ini, terpaksa dia asal mengayun langkah saja.

Setelah dia memasuki sebuah jalanan sempit dan tiba pada sebuah celah batu yang bentuknya menyerupai pintu, pandangannya tiba-tiba menjadi terang dan terbentang, tampak di bawah samping gunung sana terdapat sebuah danau kecil, sepanjang pinggir danau penuh ditumbuhi beraneka ragam kembang dan tetumbuhan liar, bau kembang yang wangi semerbak merangsang hidung menyegarkan badan, di atas dinding gunung yang curam tegak itu terdapat dua huruf besar yang berbunyi.

"Kiam-hong" (puncak pedang). Tan Ciok-sing bersorak girang dalam hati, dia ingat In Hou pernah menuturkan, bahwa setiap hari Thio Tan-hong pasti berlatih pedang di Kiam-hong ini, mencuci pedang di danau kecil itu pula. Coretan huruf di puncak dinding gunung itu juga hasil karya Thio Tan-hong. Tanpa sengaja, secara kebetulan dirinya kesasar ke tempat yang ditujunya, danau kecil itu dinamakan Kiam-ti (danau pedang). Tapi bayangan orang tidak kelihatan disini, maka dia tarik suara berteriak sekeras kerasnya.

"Thio Tayhiap, Wanpwe Tan Ciok-sing, atas permintaan In Hou In Tayhiap datang kemari mohon bertemu,"

Ditunggu-tunggu tiada reaksi, tak terdengar suara jawaban. Karena kesal akhirnya Tan Ciok-sing duduk di atas batu di pinggir danau, waktu menurunkan harpa, mendadak pikirannya tergerak.

"Kenapa tidak kugunakan irama harpa ini untuk menyatakan maksud kedatanganku?"

Tapi setelah sebuah lagu habis dia bawakan, gema irama harpa seperti masih mengalun dalam hutan batu ini, tapi setelah ditunggu sekian lama, keadaan tetap sunyi, hanya air danau saja yang kelihatan bergelombang lembut tertiup angin lalu, puncak pedang tetap dalam keheningan lelap.

"Mungkin Thio Tayhiap tidak suka menemui orang-orang awam? Atau mungkin beliau sudah meninggal?"

Demikian batin Tan Ciok-sing, hatinya risau dan masgul.

Mengingat betapa dirinya susah payah dan mengalami mara bahaya, jiwa hampir tamat lagi baru bisa mencapai tempat tujuan, jikalau tidak berhasil menemukan Thio Tan-hong, bagaimana dia dapat menuntut balas kematian kakeknya?

Saking duka nestapa tak tertahan air mata bercucuran, tanpa terasa pula jari jemarinya yang sudah ahli memetik senar itu telah memetik lagu Khong-ling-san.

Bagian belakang dari Khong-ling-san merupakan irama lagu yang paling menyedihkan di kolong langit ini, kecuali Tan Cioksing, pada jaman ini rasanya tiada orang lain yang mampu memetik lagu ini.

Biasanya kicau burung didalam hutan begitu merdu pada setiap pagi, kini entah karena terbuai oleh irama lagu yang sedih memilukan ini, burung-burung itu seperti lupa terbang pergi mencari makan, malah tidak sedikit yang berdatangan hinggap di dahan-dahan pohon.

Di kala dia memetik harpa melimpahkan rasa dukanya, mendadak didengarnya langkah kaki orang yang bergema didalam hutan batu.

Tidak terhitung jumlah tonggak-tonggak batu yang berdiri menjulang tinggi ke atas, maka dinamakan hutan batu.

Berada didalam hutan, orang bisa mondar-mandir kemari, tanpa bisa menemukan jalan keluarnya.

Tapi langkah kaki orang itu mendatangi semakin dekat, seolah-olah orangnya sudah berada di depan mata, hakikatnya masih banyak pengkolan dan pintu-pintu yang berlapis itu harus dilewati baru orang akan bisa berhadapan muka.

Begitu mendengar langkah kaki orang, semula Tan Cioksing kaget dan senang, tapi setelah langkah kaki itu semakin dekat dan jelas, hatinya bukan lagi girang tapi kaget dan waswas.

Karena yang datang terang tidak seorang saja, tapi dari langkah tiga orang.

Padahal In Hou memberitahu padanya, bahwa Thio Tan-hong seorang diri semayam di hutan batu.

Selama puluhan tahun ini, hanya In Hou seorang saja yang terkecuali pernah masuk ke hutan batu.

Tapi kini ada tiga orang yang mendatangi.

Kalau orang biasa jelas tidak mungkin tanpa sebab mau memasuki hutan batu, apalagi perjalanan kedalam hutan batu amat berbahaya.

Oleh karena itu kalau hal ini dipikirkan secara sehat, kalau yang datang bukan Thio Tan-hong sendiri, maka pendatang ini jelas adalah musuh besarnya.

Di kala hatinya kebat-kebit itu, walau jari-jarinya bergerak menyentil senar, tapi pandangan matanya tertuju kearah datangnya suara langkah.

Tiba-tiba terdengar suara serak seseorang tua berkata di belakangnya.

"Sudahlah, hentikan permainan harpamu."

Sudah tentu Tan Ciok-sing kaget setengah mati, waktu dia menoleh, hatinya seketika bersorak girang.

Yang berdiri di belakangnya ternyata Hek-moko adanya.

Tapi tidak terbayang rasa senang pada wajah Hek-moko, malah seperti mau menyalahkan dirinya.

"Thio Tayhiap sedang 'menutup diri latihan semadi', kau tahu tidak?"

Apa itu menutup diri latihan semadi, hakikatnya Tan Cioksing tidak tahu.

Tapi dari nada perkataan Hek-moko, seakan akan dia menyalahkan dirinya telah mengganggu ketenangan Thio Tan-hong dengan irama musiknya yang menyedihkan tadi.

Maka dengan hambar dia berkata.

"Aku, aku tidak tahu. Tapi, diluar, diluar..."

Langkah orang diluar sudah semakin dekat lagi, sebuah suara yang sudah dikenalnya sedang berkata.

"Aneh, Thio Tan-hong masih senggang juga mendengarkan irama harpa?"

Seorang yang tak dikenal menanggapi.

"Mungkin dia ingin meniru Cukat Liang yang mengundurkan musuh dengan petikan harpanya? Tapi aku tak percaya dia sebanding dengan Khong Bing, memangnya kita ini bangsa kurcaci."

Prihatin sikap Hek-moko, katanya di pinggir telinga Tan Ciok sing.

"Lekas sembunyi, beberapa orang ini jauh lebih liehay dan jahat dibanding Ie Cun-hong, aku takkan kuasa melindungimu."

Pernah mendapat pengalaman sekali Tan Ciok-sing cukup tahu diri, maklum kalau kehadirannya disini bukan saja tidak akan membantu Hek-moko, malah menjadikan beban orang, maka lekas dia angkat harpanya, terus merambat naik ke Kiam-hong dan sembunyi di belakang sebuah batu.

Baru saja dia menyembunyikan diri, ketiga orang itupun telah tiba di pinggir danau.

Salah seorang di antaranya bukan lain adalah gembong iblis besar Le Khong-thian yang pernah dilihatnya di Cit-sing-giam dulu.

Dua orang lagi adalah seorang Tosu tua dan seorang nenek uban menjinjing tongkat berkepala naga.

Bukan saja kaget Tan Ciok-sing juga keheranan, pikirnya.

"Hek-pek-moko kakak beradik laksana dwi-tunggal, kenapa yang kelihatan sekarang hanya kakaknya, kemana adiknya? Celaka kalau ketiga penyatron itu berkepandaian lebih liehay dari Ie Cun-hong, seorang diri mana Hek-moko mampu menghadapi mereka? Thio Tayhiap sedang semadi, jelas dia takkan bisa keluar menghadapi musuh-musuh ini."

Kedua belah pihak umpama busur yang telah dipentang tinggal angkat senjata terus saling labrak, dengan diliputi rasa was-was dan serba curiga, Tan Ciok-sing tidak sempat pikirkan urusan tetek bengek lagi.

Le Khong-thian terloroh-loroh, katanya.

"Hek-moko, tentunya kau tidak kira bahwa akhirnya aku bisa menemukan tempat ini, bukan. Hehe, tahukah kau, sebetulnya hari itu aku bisa bantu le Cunhong membunuhmu, tapi aku justru hendak pinjam tenagamu untuk menunjukkan jalan kemari, terpaksa kubiarkan kau hidup beberapa hari lagi. Hehche, kini kau tiada gunanya, sekali kemplanganmu kepada Ie Cun-hong biar sekarang kutagih padamu."

"Hek-moko,"

Terdengar nenek uban itu berkata.

"kalau ingin hidup, lekas kau panggil Thio Tan-hong keluar."

Hek-moko tertawa dingin, katanya.

"Kau nenek gembel ini berani gebrak dengan Thio Tayhiap, memangnya kau ini tahu diri tidak?"

"Kau ini terhitung barang apa, berani menghina aku Kiupoan-bo? Tahukah kau, Thio Tan-hong pun takkan berani kurang ajar terhadapku,"

Waktu mengucapkan "kurang ajar"

Sengaja dia gedrukkan tongkatnya, batu di bawah kakinya seketika terketuk hancur Hek-moko terbahak-bahak, katanya.

"Kiu-poan-bo, puluhan tahun tak bertemu, ternyata kulit mukamu semakin tebal saja. Dulu bersama Liok-yang Cinjin, Jit-sia Tojin bukankah kau diusir dari Tiam-jong-san, apa pula yang Thio Tayhiap pernah katakan kepadamu? Kalau kau tidak ingat boleh kuperingatkan sekali lagi kepadamu."

Kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, di dunia ini ada empat gembong iblis, yang jadi pentolannya adalah guru dari Le Khong-thian, yaitu Kiau Pak-bing, disusul Liok-yang Cinjin, Jitsia Tojin dan Kiu-poan-bo yang sekarang adu mulut dengan Hek-moko.

Setelah Kiau Pak-bing dikalahkan Thio Tan-hong, dia merat jauh ke lautan timur.

Tiga gembong iblis yang lain bergabung hendak menuntut balas kepada Thio Tan-hong, pertempuran sengit terjadi di puncak Tiam-jong-san, akhirnya mereka bertiga tetap bukan tandingan lawan, pada waktu itu mereka sudah bersumpah selama Thio Tan-hong masih hidup tidak akan muncul di kalangan Kangouw, barulah Thio Tanhong mau mengampuni jiwa mereka.

Selama tiga puluh tahun ini, Jit-sia Tojin sudah meninggal, sementara Kiau Pak-bing sembunyi di lautan timur, hanya muridnya saja yang diutus kemari.

Jadi empat gembong iblis yang dulu menjagoi Tionggoan kini tinggal Kiu-poan-bo dan Liok Yang Cinjin.

Liok Yang Cinjin adalah Tosu tua yang berdiri di pinggir gelanggang sebelah sana.

Bahwa Hek-moko mengorek borok mereka, karuan Kiupoan-bo dan Liok-yang Cinjin naik pitam.

Kata Liok Yang Cinjin dengan suara berat.

"Kau tahu apa, mumpung Thio Tan-hong belum mampus, maka hari ini aku datang ke mari."

"Hek-moko,"

Seru Kiu-poan-bo.

"kalau kau tidak ingin jadi setan gentayangan.

"lekas kau suruh Thio Tan-hong keluar."

Hek-moko tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Menyembelih ayam tak perlu menggunakan golok kerbau, kalian bertiga boleh maju bersama, biar aku wakilkan Thio Tayhiap ajar adat kepada kalian."

"Hek-moko, memangnya berapa tinggi kepandaianmu? Kalau ingin mampus apa susahnya, cukup si nenek tua ini berkelebihan untuk menamatkan riwayatmu?"

Begitu habis ucapannya "Wut"

Pentungnya lantas menyapu tiba. Liok Yang Cinjin sudah maju beberapa langkah, mendengar perkataan Kiu-poan-bo, terpaksa dia mundur ke tempatnya, dalam hati dia berpikir.

"Betul, aku perlu menyimpan tenaga untuk menghadapi Thio Tan-hong. Walau Thio Tan-hong sudah berusia lanjut, betapapun dia tidak boleh dipandang remeh."

Hek-moko angkat juga tongkatnya, terdengar dencing keras beruntun memekak telinga sampai Tan Ciok-sing yang sembunyi di tempat ketinggian sana terasa mendengung kepalanya.

Waktu dia pentang mata, dilihatnya dua bayangan Hek-moko dan Kiu-poan-bo tiba-tiba mundur terpisah, masingmasing pihak tergentak tiga langkah.

Hek-moko rasakan telapak tangannya kesemutan, tapi kepala naga di atas pentung Kiu-poan-bo gumpil sedikit.

Diam-diam mencelos hati Hek-moko, pikirnya.

"Tak heran nenek reyot ini dulu bisa sejajar dengan Kiau Pak-bing sebagai empat pentolan gembong iblis, lwekangnya ternyata memang luar biasa.

"Selama hidup ini entah berapa kali Hek-moko bertanding satu lawan satu dengan musuh, kecuali Thio Tanhong selamanya belum ada orang yang berani mengadu kekuatan dengan dia, apalagi memungut keuntungan. Walau Kiu-poan-bo kali ini tidak memungut keuntungan apapun, tapi hasil dari adu kekuatan ini, ternyata sama-sama tergetar mundur tiga langkah, malah kalau dia tidak lekas-lekas menggunakan Jian-kin-tui untuk memberati badan, hampir saja dia kecundang di depan umum, jadi kalau dinilai secara adil, sebetulnya dia sudah terhitung kalah setengah urat. Liok-giok-cang miliknya itu termasuk barang pusaka juga, tak heran barisan golok Ie Cun-hong tetap tak mampu membekuk mereka kakak beradik. Kalau Hek-moko setengah kaget, Kiu-poan-bo juga tidak kalah kagetnya karena kepala, naga di atas pentungnya gumpil. Biasanya saudara kembar ini selalu berdampingan, kelihatan sang engkoh pasti ada sang adik, kenapa sekarang hanya Hek-moko yang menghadapi kami? Agaknya kami diberi kesempatan untuk menamatkan jiwa Thio Tan-hong. Konon kekuatan gabungan permainan sepasang tongkat mereka hebat luar biasa, jikalau aku tidak menyelesaikan pertempuran ini dalam waktu singkat bila Pek-moko keburu datang, mungkin kami bertigapun susah mengalahkan mereka kakak beradik, bagaimana kita masih bisa menghadapi Thio Tanhong?"

Karena otaknya memang encer, kepengin menang dalam waktu singkat, maka dia tidak kepalang tanggung lagi serangan bertubi-tubi dilancarkan dengan sengit.

Dalam detik-detik pcrtcmpiii.in yang sengit ini, kembali bayangan mereka terpisah lalu saling tubruk pula.

Tongkat Kiu-poan-bo menjojoh ke Hiat-hay-hiat di bawah pusar lawan, sementara bentuk permainan tongkat Hek-moko yang mencorong mirip Pek-ho-liang-ci (bangau putih pentang sayap), dari samping mengetuk urat nadi lawan.

Sinar coklat berkelebat, mendadak membuat sebuah lingkaran, kepala naga di ujung pentung Kiu-poan-bo seperti terbungkus didalamnya, dua gembong iblis yang menyaksikan dari samping ikut kebat-kebit hatinya.

Mendadak Kiu poan-bo menggertak sekali, pentung kepala naganya menekan turun ke bawah dengan jurus Ping-sa-lohyan (blibis hinggap di pasir datar) untuk memunahkan tekanan tongkat Hek-moko sekaligus pentungnya itu mengetuk naik terus melintirnya pula.

"Kena"

Kembali mulutnya menghardik, begitu pentungnya berputar, mulut dari kepala naga besi itu tahu-tahu sudah nyelonong ke muka Hek-moko.

Serempak Liok-yang Cinjin dan Le Khong-thian sama bersorak memuji, sebaliknya Tan Ciok-sing mengucurkan keringat dingin, hatinya kuatir setengah mati.

Beberapa jurus permainan pentung Kiu-poan-bo memang teramat liehay dan menakjubkan, tapi juga ganas dan keji.

Dengan gerakan kilat balas menyerang ini, dia yakin Hekmoko pasti sukar lolos dari pentung besinya.

Tak kira gerakannya sudah begitu cepat, tapi Hek-moko masih lebih cepat lagi, terdengar "Trang"

Yang keras, tongkat coklat Hekmoko ternyata sudah menutup gerakan pentung lawan selanjutnya, jengeknya dingin.

"Belum tentu,"

Kembali sinar coklat melingkar, pentung lawan seolah-olah terbungkus didalamnya.

Beberapa gerakan saling lomba dan tubruk ini terjadi dalam sekejap mata, kedua pihak berlomba dahulu mendahului merebut kesempatan, sehingga tiga orang penonton diluar gelanggang sama silau dan terpukau.

Terdengar Kiu-poan-bo berkaok-kaok gusar beberapa kali, pentung kepala naganya menuding timur mengepruk ke barat mengemplang ke utara menyapu ke selatan, tapi tetap tak kuasa membebaskan diri dari libatan sinar coklat lawan.

Lwekang Kiu-poan-bo memang setingkat lebih tinggi, namun permainan tongkat Hek-moko lebih liehay dan hebat, apalagi tongkat coklat itu ternyata tahan dan kuat beradu dengan besi, dalam hal senjata jelas dia memungut keuntungan, oleh karena itu, meski dalam waktu singkat sukar dia mengalahkan lawan, namun sedikit banyak dia sudah unggul di atas angin.

Tak berapa lama kemudian, kepala naga di atas pentung Kiu poan-bo kembali gumpil pula.

Semakin dalam kerut kening Liok-yang Cinjin melihat laju pertempuran ini, ingin maju membantu tapi kuatir Thio Tanhong mendadak muncul, kalau dirinya sudah menguras tenaga, jelas ini bukan tindakan bijaksana yang bakal menguntungkan pribadinya.

Tiba-tiba, Le Khong-thian berkata.

"Yang memetik harpa tadi terang bukan Thio Tan-hong."

"Darimana kau tahu?"

Tanya Liok-yang Cinjin.

"Walau Thio Tan-hong serba mahir dalam bidang sastra, tapi dalam hal memetik harpa jelas dia tidak lebih unggul dari satu orang ini. Dalam jaman ini, kecuali Ki Harpa dari Kwi-lin tiada orang lain yang mahir memetik harpa semerdu itu, waktu di Cit-sing-giam tempo hari pernah aku mendengar irama harpanya ini."

"Bukankah kau bilang bahwa Ki Harpa telah mati?!"

Tanya Liok-yang Cinjin.

"Aku tahu kalau dia terluka parah, hanya dugaanku saja dia telah mati, aku sendiri tidak melibat jenazahnya."

"Bagaimana kepandaian Ki Harpa?"

Tanya Liok-yang Cinjin.

"Petikan harpanya aku yakin nomor satu di dunia ini, tapi dalam hal Kungfu, dia paling terhitung kelas kambing."

Liok-yang Cinjin menepekur sejenak, katanya.

"Aneh, kenapa Thio Tan-hong belum juga keluar?"

"Thio Tan-hong sudah lanjut usia, kemungkinan karena ingin cepat-cepat menyelesaikan latihan Iwekangnya, sekarang dia sedang mengalami Jau-hwe-jip-mo."

Pengalaman Liok-yang Cinjin jelas jauh lebih tinggi dari Le Khong-thian, diam-diam dia membatin.

"Ketangguhan lwekang Thio Tan-hong sudah teruji dan tiada bandingannya sejak tiga puluh tahun yang lalu. Apalagi lwekang yang diyakinkan adalah ajaran murni dari aliran lurus. Jau-hwe-jip-mo jelas tidak mungkin. Tapi Hek-pek-moko adalah kawan yang paling setia terhadapnya, jikalan dia berada disini tak mungkin dia berpeluk tangan saja? Em, kemungkinan dia sudah meninggalkan Ciok-lin dan suruh Hek-moko menjaga tempat tinggalnya?"

Yang dikuatirkan Liok-yang Cinjin adalah bila Thio Tanhong tak jauh dari tempat ini, orang mendadak muncul di saat-saat kritis.

Kini setelah diketahui yang memetik harpa tadi bukan Thio Tan-hong, maka dia pikir adalah patut kalau dia menyerempet bahaya.

Maka dia berkata.

"Baiklah, pergilah kau eaii pemetik harpa itu, biar aku membantu Kiu-poan-bo."

Memang itulah yang diharapkan Le Khong-thian, sudah tentu dengan senang hati dia menerima tugas enteng ini.

"Hek-moko,"

Bentak Liok-yang Cinjin.

"kemana adikmu? Ingin aku merasakan betapa hebat kekuatan gabungan permainan tongkat kalian kakak beradik."

Hek-moko tertawa dingin, ejeknya.

"Menghadapi hidung kerbau macam tampangmu ini, memangnya perlu menggunakan ilmu tongkat gabungan? Sejak tadi toh sudah kusuruh kalian maju bersama, hayolah maju jangan pura-pura cari alasan."

"Baik, kau sendiri yang ingin mampus, jangan salahkan kalau aku main keroyok,"

Sembari bicara, dia sudah melangkah memasuki arena, senjata yang dikeluarkannya ternyata berbentuk aneh.

Senjata tunggalnya itu adalah seutas cambuk panjang berwarna merah darah, entah terbuat dari jenis barang apa, di atas cambuknya ini digantung dua tengkorak manusia yang terbuat dari besi, warnanya yang putih dengan bentuknya yang bagus pula, sekilas pandang orang akan menyangka bahwa itu tengkorak asli.

"Tar", sekali sabet cambuk Liok-yang Cinjin, kedua tengkorak itu ikut berputar dan menari mengikuti kisaran cambuk, mendadak mulut kedua tengkorak meringis lalu terpentang hendak menggigit ke arah Hek-moko."

Hek-moko menyengel dingin.

"Menggunakana senjata aneh semacam ini, memangnya kau kira dapat menciutkan nyaliku?"

Sekali gentak dia ayun tangan, begitu tongkat coklat menggetarkan pergi pentung Kiu-poan-bo, ujung tongkatnya tiha-tiba menyelonong maju menusuk ke mulut tengkorak yang terpentang lebar.

Begitu Liok-yang Cinjin memutar pergelangan tangan, kedua tengkorak itu tiba-tiba melejit terbang ke atas, beruntun dia melancarkan tipu Lian-hoan-sam-pian, Wi-hongsau-liu, dua ilmu tunggal dari permainan cambuknva yang paling liehay.

Hek-moko gunakan Ih-sing-hoan-wi berkelit dari serangan pentung Kiu-poan-bo, sementara tongkat coklatnya mengetuk pergi ujung cambuk lawan yang satunya pula.

"Bret"

Ternyata bajunya tergigit oleh tengkorak dan sobek sebagian besar. Mendapat angin Liok-yang Cinjin menyeringai dingin, katanya.

"Bagaimana, senjata aneh dari kalangan sesat ini liehay bukan."

Hampir melonjak keluar jantung Tan Ciok-sing menyaksikan pertempuran seru ini, dilihatnya Le Khong-thian sudah tiba di kaki puncak, teriaknya.

"Ki Harpa, tak usah sembunyilah. Asal kau mau menjawab beberapa pertanyaanku secara jujur, aku tidak akan mencabut jiwamu, hayolah keluar."

Pada saat itulah, mendadak Tan Ciok-sing merasa pundaknya kesemutan, tahu-tahu dia telah ditangkap seseorang dari belakang.

Karuan kejutnya bukan main, untung orang itu segera berbisik di pinggir telinganya.

"Jangan berisik, kubawa kau menemui Thio Tayhiap,"

Suaranya sudah dikenal, setelah tenangkan diri baru Tan Ciok-sing tahu bahwa orang di belakangnya ini adalah Pek-moko.

Agaknya Pek-moko tahu seluk beluk hutan batu ini, di tengah hutan batu dia putar kanan belok kiri, dengan meminjam gugusan batu-batu besar kecil dia main sembunyisembunyi terus maju ke depan, gerakannya begitu tangkas dan gesit, tujuannya adalah Kiam-hong.

Le Khong-thian yang berada di kaki bukit ternyata tidak tahu sama sekali.

Lekas sekali Tan Ciok-sing telah dibawa masuk ke sebuah lobang batu.

Didalam lobang batu besar inilah tampak duduk bersila seorang laki-laki berwajah bersih welas asih berjenggot tiga baris, Tan Ciok-sing menduga laki-laki tua inilah pasti Thio Tan-hong adanya.

Setelah mengalami berbagai rintangan dan penderitaan, akhirnya keinginan bisa tercapai, sudah tentu bukan kepalang rasa senang dan haru serta kaget Tan Ciok-sing sesaat lamanya dia sampai berdiri melenggong tak kuasa mengeluarkan suara.

Pek-moko menurunkan Tan Ciok-sing serta berkata.

"Yang memetik harpa tadi adalah bocah ini. Dia, dia adalah..."

"Aku sudah tahu asal-usulnya,"

Tukas Thio Tan-hong.

"jangan kau membuang waktu, pergilah bantu engkohmu."

Tampak sikap ragu-ragu dan serba susah pada wajah Pekmoko, katanya.

"Thio Tayhiap, lalu kau..."

"Takkan lama lagi aku sudah akan selesai dengan semadiku, kau tidak perlu kuatir, lekas, lekas pergi,"

Desak Thio Tan-hong.

Ternyata dalam latihan lwekang tingkat tinggi setelah mencapai taraf yang paling top dinamakan Pit-koan-lian-kang, untuk Pit-koan atau semadi paling lama tujuh hari paling cepat tujuh hari, didalam jangka waktu latihan ini, tidak tidur, tidak makan, tak boleh bergerak atau bicara, keadaannya mirip seperti kaum padri yang semadi, maka apa yang terjadi di sekitarnya boleh melihat seperti tidak melihat, mendengar tidak didengarkan, jikalau dalam saat-saat kritis ini sampai ada musuh datang mencari setori, seorang biasa yang tidak belajar silatpun mampu untuk membuatnya mati cukup dengan tonjokan sebuah jari tangannya saja.

Waktu Hek-pek-moko tiba di hutan batu, kebetulan Thio Tan-hong sedang Pit-koanlian-kang, maka begitu mereka tahu kedatangan ketiga gembong iblis itu, salah satu di antara mereka perlu tinggal disini untuk menjaga keselamatan Thio Tan-hong.

Tahu bahwa kakaknya kini sedang terancam bahaya, apa boleh buat akhirnya Pek-moko berkata.

"Thio Tayhiap, sukalah kau berhati-hati dan jaga dirimu sendiri, tak perlu kau buruburu ikut melayani musuh-musuh itu,"

Lalu dia lari keluar dari lobang batu.

Cepat sekali terdengarlah dering beradunya senjata yang ramai, gema suaranya yang keras seperti mendengung di atas pegunungan batu, dapat diduga bahwa Pek-moko tentu sedang melabrak Le Khong-thian.

"Anak bagus,"

Kata Thio Tan-hong dengan suara lembut dan ramah.

"sudah lama aku menunggu kedatanganmu, tapi tak tersangka baru kau tiba di saat aku Pit-koan-lian-kang, tapi untuk sementara kau boleh tidak usah urus kejadian diluar."

Baru-buru Tan Ciok-sing berlutut serta menyembah, katanya.

"Wanpwe Tan Ciok-sing, mendapat pesan langsung dari In Tayhiap..."

Belum habis dia bicara Thio Tan-hong sudah membimbingnya bangun, katanya.

"Kau tidak perlu banyak hormat,"

Lalu menghela napas.

"nasib In Hou yang buruk sudah kuketahui. Anak bagus, lagu apa yang kau petik dengan irama harpa tadi?"

Tan Ciok-sing melengak, dia tidak habis mengerti kenapa pada situasi segenting ini Thio Tan-hong masih sempat menanyakan hal-hal kecil ini. Tapi dengan laku hormat dia menjawab.

"Yang kupetik tadi adalah lagu Khong-ling-san."

"O, ternyata Khong-ling-san,"

Ujar Thio Tan-hong manggut sambil menghela napas.

"tak heran begitu memilukan, dengan latihan ketenanganku selama lima puluh tahun, ternyata terpengaruh juga diriku."--Kiranya di waktu Thio Tan-hong menjalani Pit-koan-lian-kang, keadaannya tak ubahnya seperti padri sakti yang semadi, tapi irama Khong-ling-san ternyata dapat menyentak konsentrasinya, sehingga dia terjaga dari puncak semadinya.

"Thio Tayhiap,"

Tan Ciok-sing berkata was-was.

"aku tak sengaja mengganggumu, aku, aku tidak tahu..."

Pelan-pelan Thio Tan-hong mengusap kepalanya, katanya lembut.

"Bukan saja aku tidak menyalahkan kau, aku harus terima kasih padamu. Jikalau bukan irama harpamu yang membuatku terjaga, hutan batu yang permai ini, pasti akan diinjak-injak oleh kawanan iblis itu. Anak bagus, sekarang tolong kau petikkan pula lagu Khong-ling-san, tapi bagian depannya saja."

Bagian depan Khong-ling-san adalah mengisahkan dua sahabat yang sedang tamasya riang gembira di alam bebas setelah sekian lama tidak bersua.

Maka begitu irama lagu mulai berkumandang, suasana lobang batu besar yang semula terasa redup kini mendadak tambah semarak, tak ubahnya seperti alam semesta yang diliputi kehidupan subur dan makmur di musim semi.

Pelan-pelan Thio Tan-hong pejamkan mata menunduk kepala, lekas sekali dia sudah tenggelam pula dalam latihan semadinya.

Di kala Tan Ciok-sing mencapai ritme terakhir dari lagu yang dibawakan, Thio Tan-hong sudah mulai membuka mata serta angkat kepala, irama musik masih bergema dalam lobang batu.

Mendadak Thio Tan-hong bersuit panjang, suaranya seperti auman harimau laksana pekik naga, Tan Ciok-sing yang berada di sampingnya sampai berjingkrak girang dan melongo.

Suitan panjang dan menggelegar ini sekaligus telah memamerkan betapa tangguh Iwekangnya, sebetulnya Tan Ciok-sing masih terlalu cetek untuk bicara soal teori ilmu silat, tapi kini dia tahu juga bahwa semadi yang sekejap di bawah iringan lagu petikan harpanya tadi semangat dan tenaga Thio Tan-hong telah pulih seluruhnya, hawa murni seperti bergolak dalam tubuhnya.

Betul juga dilihatnya Thio Tan-hong sudah berdiri, katanya.

"Anak bagus sekarang aku sudah boleh berbuka semadi, marilah kau ikut aku luar." 000OOO000 Hek-pek-moko sedang memainkan gabungan ilmu tongkatnya di bawah Kiam-hong menempur tiga gembong iblis, saat mana keadaan telah mencapai saat-saat tegang yang terakhir. Mendadak suitan panjang mengalun tinggi di angkasa, sudah tentu ketiga gembong iblis itu amat kaget, sebaliknya Hek-pek-moko girang setengah mati. Liok-yang Cinjin berlaku nckad, hardiknya.

"Biar aku adu jiwa dengan kau."

Cambuk panjangnya tiba-tiba menggulung seperti dari kiri tapi terbalik ke kanan, ujung cambuk sudah membelit ujung kaki Pek-moko, sementara dua kerangka yang tergantol di atas cambuk sudah mental terbang ke atas.

yang satu menggigit ke pundak kanan Hek-moko, yang lain menggigit pundak kiri Pek-moko.

gerakan satu jurus tiga serangan ini sungguh teramat keji dan telengas.

Dengan gerakan Yan cu coan hun (burung walet menyelinap di mega) mendadak Hek-moko melambung setombak lebih, tongkat coklat di tangannya dengan jurus Ingkik-tiang-khong (burung elang menyerang dari tengah udara) mengemplang turun ke bawah.

Sementara Pek-moko melancarkan jurus Ko-teng-jan-siok (akar menjalin membelit pohon), menyampuk pergi kepala tengkorak yang hendak menggigit pundaknya.

Maka terdengarlah suara "Dar, dar", dua kali, begitu tersentuh tongkat kedua tengkorak itu mendadak meledak, menyemburlah kembang api dan asap merah gelap.

Perlu diketahui bahwa cambuk panjang yang dimainkan Liok-yang Cinjin ini dinamakan Ko-lo-liat-hwe-pian (cambuk api tengkorak), didalam kepala tengkorak besi dipasang alat rahasia, bukan saja dapat menggigit orang sampai urat nadi dan tulangnya putus, di dalamnya pun dipasang alat rahasia yang dapat menyemburkan api yang bersuhu tinggi.

Bahwa hari itu Liok Yang Cinjin berani meluruk kesini mau menantang Thio Tan-hong bersama Kiu-poan-bo dan Le Khong-thian lantaran dia kira Thio Tan-hong sudah tua dan lemah badan, di samping dia memiliki cambuk api yang keji ini.

Kejadian sungguh tak terduga sama sekali, saat mana Tan Cioksing masih berada di lamping gunung, tampak setelah ledakan keras tadi, Hek-pek-moko sama-sama terkurung didalam kobaran api, pakaian dan rambut mereka yang uban telah dijilat api.

"Tosu iblis,"

Hardik Hek-moko murka.

"biar aku adu jiwa dengan kau,"

Tanpa hiraukan api yang menjilat badan, mendadak dia ayun tongkatnya mengepruk ke arah Liok Yang Cinjin.

Lwekang Pek-moko lebih rendah, dia tidak kuat bertahan, lekas dia jatuhkan diri menggelinding beberapa kali, pikirnya hendak memadamkan api yang membakar pakaian tapi belum lagi dia melompat berdiri pula pentung kepala naga Kiu-poan-bo tahu-tahu sudah mengemplang ke arah dirinya.

Kemplangan tongkat Hek-moko berhasil menyampuk pergi Ko-lo-pian Liok Yang Cinjin, mendadak diapun menjatuhkan diri berguling seraya berseru.

"Lui-thian-kiau-hong"

Belum lagi Pek-moko sempat melompat berdiri tahu-tahu Hek-moko sudah menggelinding tiba hendak melancarkan gabungan ilmu tongkat mereka, maka dia urungkan niatnya malah ikut merebahkan diri pula.

Begitu kedua tongkat mereka terangkat.

"Trang"

Keras sekali, kontan Kiu-poan-bo menyemburkan darah segar, badanpun melejit jumpalitan beberapa tombak ke belakang.

Ternyata jurus Lui-tian-kiau-hong merupakan pusat gabungan lwekang kedua saudara kembar yang dilandasi setaker lwekang mereka, meski Kungfu Kiu-poan-bo lebih hebat lagi juga takkan kuat menghadapinya.

Tapi .erangan tongkat Hek-moko inipun merupakan kekuatan terakhir saja, lekas dia bimbing adiknya berdiri terus lari belasan langkah kesana, keduanya tampak sempoyongan, tak ubahnya kembang lilin yang tertiup angin.

Le Khong-thian kegirangan, teriaknya.

"Mereka sudah tidak kuat lagi, lekas sikat mereka."

Belum habis dia bicara mendadak terdengar sebuah bentakan menggelegar.

"Kalian beberapa siluman jahat ini berani menjilat ludah melanggar sumpah, hari ini Thio Tanhong tak bisa memberi ampun lagi pada kalian,"

Hardikan Thio Tan-hong ini menggunakan lwekang auman singa, begitu hebat tenaga getarannya sampai Le Khong-thian berdiri memukau seperti patung yang kehilangan semangat, To-kaktong-jin yang sudah diangkatnya tinggi ke atas tak bergerak lagi, agaknya dia jeri untuk memukulkan ke arah Hek-moko lagi.

Cepat sekali, sebelum gema hardikan itu lenyap, tiba-tiba Thio Tan-hong sudah melayang turun seperti terjun dari tengah langit, orangnya masih puluhan langkah jauhnya, tapi tenaga Pit-khong-ciang yang dia lancarkan ternyata mendampar hebat laksana gugur gunung.

"Blum"

Kepala tengkorak besi yang tercantol di ujung cambuk Liok-yang Cinjin terpukul hancur menjadi bubuk oleh tenaga pukulan Thio Tan-hong, kobaran api yang menyala hebat itu seperti dihembus angin lesus malah tertolak balik membakar badannya sendiri, lekas sekali dia terguling-guling sambil menggerung, memekik dan meraung minta tolong pula, tapi kobaran api itu memang hebat, cepat sekali dia sudah mampus terbakar menjadi abu.

Thio Tan-hong membentak.

"Le Khong-thian, tidak setimpal kau mengotori pedangku, lekaslah punahkan sendiri ilmu silatmu."

Le Khong-thian tetap berdiri kaku seperti patung, Tong-jin tetap terangkat di atas kepalanya, badannya tidak bergeming sama sekali. Thio Tan-hong mengerutkan kening, katanya.

"Mengingat rasa baktimu yang ingin menuntut balas bagi gurumu, maka boleh aku mengampuni jiwamu, memangnya kau masih tidak terima?"

Le Khong-thian tetap tidak bergerak atau menjawab pertanyaannya.

Baru kini Thio Tanhong merasakan keganjilan ini, lekas dia memburu maju merebut Tong-jin di tangan Le Khong-thian.

Begitu tubuh orang tersentuh, seperti sebatang balok pelan-pelan badan Le Khong-thian roboh berdentam.

Ternyata jantungnya pecah oleh getaran hardikan Thio Tan-hong, jiwapun melayang.

Kiu-poan-bo rebah di antara genangan darahnya sendiri, setelah merintih-rintih dia berteriak.

"Thio Tayhiap, mohon sukalah kau bermurah hati, tamatkan saja jiwaku."

Jurus Lui-tian-kiau-hong yang dilancarkan Hek-pek-moko memang dahsyat luar biasa, seorang diri Kiu-poan-bo berani melawan jurus dahsyat ini secara kekerasan, karuan dia tergetar luka parah sampai muntah darah, kini keadaannya sudah empas empis dan sekarat.

Thio Tan-hong jadi tidak tega, katanya setelah menghela napas.

"Inilah yang dinamakan orang jahat berbuat jahat akhirnya pasti memperoleh ganjaran setimpal,"

Segera jarinya menjentik sebuah krikil dengan telak mengenai hiat-to mematikan di tubuh Kiu-poan-bo, tujuannya memang untuk mengurangi penderitaannya, jiwapun melayang seketika.

Api yang menjilat tubuh Hek-pek-moko sudah padam, tapi keadaan mereka juga empas-empis.

Mereka rebah sejajar di tanah, kini keduanya berusaha meronta bangun.

"Kalian jangan bergerak,"

Kata Thio Tan-hong.

"biar aku obati kalian."

Napas Pek-moko sudah lemah, mulutnya megap-megap, bibirnya bergerak seperti ingin bicara, lekas Thio Tan-hong dekatkan telinganya ke mulut orang, didengarnya Pek-moko berkata.

"Thio Tayhiap, kau sudah menuntut balas sakit hati kami, aku amat senang, api yang membakar kami mengandung racun..."

Suaranya selembut bunyi nyamuk, sebelum habis dia berpesan, jiwapun telah melayang.

Lekas kedua tangan Thio Tan-hong bekerja, telapak tangan kiri mendempel punggung Pek-moko, tangan kanan mendempel punggung Hek-moko, pelan-pelan dia salurkan hawa murninya ke tubuh mereka.

Tak lama kemudian, terasa badan Pek-moko semakin dingin dan kaku, sementara Hekmoko tampak bergerak dan menggeliat, pelan-pelan dia membuka mata.

Diam-diam Thio Tan-hong menghela napas, pikirnya.

"Ternyata aku sendiri juga seperti pelita yang sudah hampir kehabisan minyak,"

Tadi dengan hawa mumi sendiri dia bantu Hek-pek-moko dengan saluran tenaga, tak nyana jiwa Pekmoko tetap tak berhasil ditolongnya.

Hek-moko memang sadar kembali, tapi keadaannya juga sudah payah takkan bertahan lama lagi.

"Thio Tayhiap,"

Kata Hek-moko lemah.

"seharusnya tidak secepat ini kau menyelesaikan samadimu, kami berkorban tidak jadi soal kau justru harus menjaga kesehatanmu, bukankah kau harus menamatkan karya ciptaan ilmu pedangmu untuk diwariskan murid didikmu kelak?"

Seperti disayat hati Thio Tan-hong, katanya pilu.

"Jangan kau banyak pikiran, lekas pusatkan hawa murni ke pusar, aku akan membantumu menjebol Ki-king-pat-meh."

"Bagaimana keadaan adikku?"

Tanya Hek-moko.

"Sementara tak usah kau pedulikan dia, dengarkan perkataanku. Setelah racun api yang mengenai badanmu dapat dibersihkan kau masih bisa tetap hidup,"

Kata Thio Tanhong.

Selama hayatnya belum pernah Thio Tan-hong berbohong terhadap kawannya, kini karena tidak tega memberi tahu kematian Pek-moko kepada kakaknya, terpaksa dia berbohong, namun Hek-moko sudah tahu dari nada jawabannya.

"Thio Tayhiap,"

Kata Hek-moko.

"syukurlah kau tidak apaapa. Kami bersaudara dilahirkan pada hari bulan dan tahun yang sama, adalah jamak kalau mati pada hari bulan dan tahun yang sama pula. Tak usah kau membuang tenaga percuma untuk kami. Kedua tongkat harap kau suka simpan untuk warisan muridku yang datang mengambilnya. Kalau tiada yang mengambil, boleh serahkan saja kepada adik cilik ini."

"Jangan,"

Teriak Thio Tan-hong.

Tapi kepala Hek-moko sudah tertekuk lemas didalam pelukannya, ternyata dia menggetar putus urat nadi sendiri sehingga jiwa melayang.

Baru sekarang Tan Ciok-sing tiba di tempat kejadian, melihat kematian Hek-moko yang mengenaskan, tak tertahan dia memekik panjang terus menubruk maju dan menangis tersedu-sedu.

Lengan baju Thio Tan-hong mengebas enteng, seguiung tenaga lunak segera mendorong Tan Ciok-sing ke samping, katanya.

"Badannya sudah keracunan, Iwekangmu masih rendah, jangan kau menyentuhnya."

Setelah pertempuran yang berakhir korban beberapa jiwa ini, keadaan hutan batu kembali tenang dan sunyi, namun Hek-pek-moko harus ikut berkorban bersama musuh-musuh penyatron Teringat kebaikan dan budi pertolongan kedua cjanpwc ini, Tan Ciok-sing hampir tidak berani percaya akan kenyataan ini, nangispun tak keluar air mata, sesaat dia berdiri mematung.

Kata Thio Tan-hong.

"Dari sesat kedua saudara kembar ini telah kembali ke jalan lurus, apa yang ingin mereka kerjakan sudah terlaksana. Aku tahu, sebelum ajal mereka hakikatnya tak terasa derita apa-apa dalam sanubari mereka. Tapi nak, kalau mau menangis lekaslah kau menangis sepuasmu,"

Pelan-pelan rebahkan badan Hek-moko lalu berlari naik ke Kiam-hong.

Agak lama Tan Ciok-sing terlongong baru akhirnya meneteskan air mata.

Di kala tangisnya sampai serak, didengarnya di belakang ada orang berkata.

"Anak bagus, kaupun tidak perlu bersedih hati, hayolah kau bantu aku, biarlah mereka beristirahat dengan tenang."

Waktu Tan Cioksing berpaling dilihatnya Thio Tan-hong sudah kembali sambil membawa sebuah sekop dan pacul.

Tan Ciok-sing tidak berbicara, dia terima sekop itu lalu bantu menggali tanah.

Setelah mengebumikan Hek-pek-moko, Thio Tan-hong berkata.

"Galilah lagi sebuah liang lahat, ketiga mayat itupun perlu dikubur."

Dalam pada itu Thio Tan-hong mencari sebuah batu yang dirasa cocok untuk dijadikan nisan. Pedang pendek dikeluarkan, di atas batu nisan ini dia menulis beberapa huruf yang berbunyi.

"Sahabat dari Thian-tiok tempat beristirahat Hek-pek-moko."

Sementara itu Tan Ciok-sing juga sudah selesai mengubur mayat ketiga gembong iblis itu, sambil menahan air mata, sekarang ganti dia yang membujuk Thio Tan-hong.

"Thio Tayhiap lebih penting kau menjaga kesehatanmu sendiri. Kalau manusia hidup pasti mengalami mati dan hidup, kaupun tidak perlulah menyesalinya,"

Dilihatnya Thio Tan-hong mendadak seperti menjadi tua dan loyo, setelah menegakkan batu nisan itu, napasnya ternyata memburu, badanpun basah oleh keringat.

Thio Tan-hong seperti tersentak sadar, katanya.

"Betul, urusanku yang belum selesai, sudah seharusnya lekas kuatur dengan baik."

Sudah tentu Tan Ciok-sing tidak tahu "urusan"

Apa dan pesan apa yang akan diberikan kepada siapa? Tapi lapat-lapat dia merasakan firasat yang tidak baik, dilihatnya sang dewi malam sudah bercokol tinggi di angkasa, katanya.

"Thio Tayhiap kau harus lekas beristirahat, urusan yang harus di selesaikan biarlah dikerjakan besok pagi saja?"

Thio Tan-hong tertawa, ujarnya.

"Kalau sudah suratan takdir mau apa, besok, besok matahari akan tetap terbit dari timur, tapi aku sendiri mana kala entah telah berada dimana?"

Mencelos hati Tan Ciok-sing bulu kuduknya merinding, sesaat lamanya dia berdiri terpukau tak tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan.

"Anak bagus,"

Kata Thio Tan-hong.

"maksud kedatanganmu sudah kuketahui, bukankah kau ingin mengangkat guru kepadaku?"

Sebetulnya Tan Ciok-sing tidak ingin membikin repot orang di kala Thio Tan-hong kesusahan, tapi Thio Tan-hong sendiri sudah membeberkan urusannya, sudah tentu malah kebetulan, lekas dia berlutut serta menyembah kepada Thio Tan-hong sebagai lazimnya murid bersujut kepada sang guru katanya.

"Memang Tecu ada maksud itu, entah Thio Tayhiap sudi..."

"Meski aku baru saja mengenalmu, aku tahu bahwa kau adalah pemuda jujur yang sederhana pula, syukurlah kaupun orang yang tahu hutang budi, ini lebih mencocoki seleraku. Sejak hari ini, kau adalah murid penutupku."

Sungguh girang dan sedih pula hati Tan Ciok-sing, setelah menyeka air mata, lekas dia menyembah pula serta memanggil.

"Suhu."

Thio Tan-hong membimbingnya bangun, katanya.

"Ilmu golok ajaran In Hou coba mainkan sekali."

Sebenarnya tiada selera Tan Ciok-sing memainkan ilmu goloknya lagi, tapi mengingat keadaan gurunya, baik juga untuk mengalihkan perhatian beliau, oleh karena itu meski hati masih dirundung kesedihan, segera dia melolos golok lalu mendemontrasikan ilmu golok keluarga In menurut apa yang dapat dia pelajari di hadapan Thio Tan-hong.

"Anak baik,"

Ucap Thio Tan-hong tertawa.

"kau cukup pintar, dengan dasar yang sudah kau pupuk ini, untuk meyakinkan lwekang taraf tinggi kukira tanpa bimbingan langsung dari seorang guru pasti dapat juga kau belajar dan menyelaminya. Em, legalah hatiku."

Tan Ciok-sing melengak.

Thio Tan-hong memujinya ini jelas menggirangkan hatinya, tapi kenapa suhu harus berkata demikian, bahwa aku bisa belajar sendiri tanpa bimbingan guru, beliaupun legalah.

Thio Tan-hong mengeluarkan se

Jilid buku, katanya perlahan.

Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 9

Baca Juga: Amarah Pedang Bunga Iblis 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger