Eps 9 Misteri Bayangan Setan - Khu Lung
Baca online Misteri Bayangan Setan - Khu Lung
Cersil Misteri Bayangan Setan - Khu Lung.
"Engkoh Beng, aku sudah salah menganggap dirimu, perbuatanmu memang benar mulia, tapi mana boleh aku titipkan dendamku ini agar kau yang wakili aku membalaskan? Liuw Lok Yen jadi dalang dari peristiwa pembubuhan ayahku. Aku bersumpah pasti akan membinasakan dirinya, tapi kau boleh berlega hati aku tak akan menempuh bahaya pergi ke gurun pasir seorang diri. Aku pasti akan menunggu setelah aku merasa kekuatanku sudah cukup. Selamat berpisah engkoh Beng, harap kau jangan menguatirkan diriku sendiri, sedangkan mengenai urusan antara diri kita, aku sudah berpikir masak. Sebelum dendam ayahku terbalas aku belum mempunyai kebebasan! bersamaan itu pula aku tidak berharap karena urusanku membuat kau jadi murung, jadi kesal. seluruh kejadian yang kita alami selama ini anggap saja sebagai awan diangkasa. Engkoh Beng! selamat berpisah. kenangan manis pasti berlalu dan tak ada perjamuan yang tak pisah. Tertanda. Mo Tan-hong."
Sapu tangan itu ia temukan disebuah rumah penginapan sewaktu pemuda tersebut mengejar Mo Tan-hong, waktu itu karena terburu-buru hendak berangkat ke gunung Ui-san maka ia tak ada waktu untuk membacanya lebih teliti.
Ia merasa Mo Tan-hong bukan menaruh kesalah pahaman terhadap dirinya, tapi karena dendam ayahnya belum selesai terbalas!
Teringat kenangan semasa dahulu dimana mereka berdua bermesraan dengan begitu rapat, hatinya terasa amat sedih sekali.
Pada waktu itulah mendadak pintu kamar diketuk orang disusul munculnya Pek Ih Loo sat muncul di depan pintu bagaikan Kwan Im berwajah dingin.
"Bolehkah saya masuk ke dalam?"
Tanyanya sambil memandang pemuda itu dengan pandangan dingin.
"Sudah tentu boleh, Oie Kiong Tootiang dari Bu-tong-pay mengajukan diri sebagai Mak comblang untuk melamar Leng Poo Sianci buat dirimu, aku dengar keempat Ih Nay Nay pun sangat setuju dengan lamaran tersebut."
"Heee.... tapi aku sama sekali tak tertarik dengan persoalan itu"
Kata Tan Kia-beng sambil menghela napas panjang.
"Kau sudah menerima jabatan sebagai Kauwcu sudah seharusnya menjumpai pula seorang Kauw hujien apalagi diapun merupakan kawanmu."
"Heee.... heee.... heee.... apakah kaupun tidak paham perasaan hatiku?"
Seru sang pemuda sambil tertawa dingin.
"Tapi saat ini ia tak berada disini, sedang kitapun...."
Bicara sampai disini mendadak ia membungkam, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi.
Melihat kejadian itu perasaan cinta dihati Tan Kia-beng muncul kembali, kenyataan membuktikan bahwa perasaan cintanya terhadap Hu Siauw-cian jauh lebih mendalam satu tingkat dari pada cintanya kepada Mo Tan-hong, hanya saja dikarenakan tingkatan kedudukan dalam perguruan menciptakan sebuah jurang pemisah yang sangat dalam di antara mereka berdua.
Kini, setelah melihat gadis itu menunjukkan sikap seperti itu, Tan Kia-beng tak dapat menahan diri, ia meloncat maju ke depan seraya mencekal pergelangannya erat-erat.
"Usia kita sebaya, mengapa diantara kita tidak boleh saling cinta mencintai dan membangun suatu rumah tangga sebagai suami sitri yang rukun? Perlahan-lahan Hu Siauw-cian melepaskan diri dari cekalan pemuda tersebut lalu menghela napas panjang.
"Susiok! tenangkan hatimu soal ini tak mungkin terjadi"
Sejak pertemuan mereka dahulu kala hingga kini baru kali ini Hu Siauw-cian memanggil dirinya dengan sebutan "Susiok", kontan saja seluruh tubuh pemuda itu gemetar sangat keras.
Akhirnya ia menghela napas panjang, dengan lemas tubuhnya menjatuhkan diri bersandar di atas kursi.
Ketika itulah Hu Siauw-cian dengan kepala tertunduk rendah dan mulut membungkam dalam seribu bahasa mengundurkan diri dari dalam kamar.
Lama sekali Tan Kia-beng duduk termangu-mangu di atas kursi, akhirinya ia meloncat bangun dicarinya secarik kertas dan dibuatnya sepucuk surat lalu melepaskan seruling kumalanya dari pinggang dan ditindihkan ke atas surat tersebut.
Kemudian ia mendorong jendela, meloncat ke luar, dan dalam sekejap mata lenyap di tengah malam buta.
....
Ya memang!
CINTA adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan, kesemuanya ada ditangan THIAN yang menentukan.
....
....
TAMAT
Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal 4
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 19