Eps 1 Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Baca online Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long
Cersil Misteri Kapal Layar Pancawarna - Gu Long.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ Misteri Kapal Layar Pancawarna Cerita silat karya Gu Long (1964), dengan judul asli.
Huan Hua Xi Jian Lu, atau dalam Bahasa Inggris.
The Tale of Refining the Sword Like Cleansing the Flower.
Disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gan KL
Jilid 1.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Angin dingin menyayat, awan tebal berlapis-lapis memenuhi langit.
Suasana di pantai Pohay terlebih seram, dipandang dari kejauhan hanya terlihat langit bersentuhan dengan laut, dalam kegelapan ombak bergemuruh memukul batu karang.
Sekonyong-konyong sebatang tiang layar terdampar ke atas karang.
"prak", tiang layar patah menjadi beberapa bagian, waktu ombak menyurut, sekilas di dalam laut berkelebat sinar mata yang tajam. Waktu ombak mendampar kembali dan menyurut lagi, sinar mata itu sudah lebih mendekat pantai dan samar-samar kelihatan wajahnya. Bahwa di tengah malam gelap dan dingin, di bawah gemuruh ombak mendampar itu dari balik gelombang laut itu bisa muncul satu orang, hal ini sungguh sukar untuk dipercaya. Namun setelah belasan kali ombak mendampar, akhirnya benar-benar sesosok bayangan orang muncul dari dasar laut, selangkah demi selangkah menuju ke pesisir di samping batu karang. Mendadak petir menyambar dan guntur menggelegar, cahaya kilat berkelebat di tengah gumpalan awan tebal, terlihat bayangan orang itu berambut panjang terurai di pundak dan setengah menutupi wajahnya, kedua tangan menggenggam sebatang pedang panjang berbentuk aneh dan bersarung hitam. Urat hijau tampak merongkol pada punggung tangan orang itu, dia seperti rela kehilangan segalanya daripada melepaskan pedang itu. Melihat gelagatnya, agaknya sesudah kapalnya karam, lalu ia gunakan pedang panjang itu sebagai tongkat dan selangkah demi selangkah ia berjalan di dasar laut dan akhirnya mencapai pantai. Gemuruh ombak raksasa itu ternyata tidak dapat membuatnya jera, dan tidak mampu memukulnya mundur. Setelah mendarat, ia melangkah lagi beberapa tindak, lalu ambruk. Tapi sebelum ambruk, tubuhnya tetap menegak, sinar matanya juga tetap kemilau serupa sinar kilat. Malam panjang mulai lalu, gumpalan awan pun mulai menipis, remang subuh sudah mulai menerangi bumi raya ini, orang yang tidur lelap di pesisir itu mendadak melompat bangun, dengan tangan kiri pegang pula pedang panjang itu dengan erat, betapa cepat dan gesit gerakannya sungguh sukar dilukiskan. Namun ia pun tidak mau membuang tenaga percuma, begitu tubuh menegak segera otot daging sekujur badan mengendur, perawakannya kelihatan tidak kekar, tapi dari kepala sampai ke kaki terasa sangat serasi pertumbuhannya, tiada setitik daging lebih. Kulit badannya telah berjemur hingga berwarna kuning legam, sekilas pandang mirip patung perunggu. Kedua alisnya panjang tebal, hidung mancung, usianya seperti baru 30-an tapi juga serupa mendekati setengah abad. Bajunya belum lagi kering, sekujur badan berlepotan pasir, namun dia tidak mengebutnya, tapi dari dalam baju lantas dikeluarkan satu bungkusan minyak, di dalam bungkusan ada peta yang tertulis dengan sangat jelas, ada pula se
Jilid buku yang penuh tercatat nama dan alamat orang. Ia asyik membaca sejenak, lalu bergumam.
"Lo-san ... Hui-ho-bun ... Jing-ho Liu Siong ...."
Ia simpan kembali bungkusannya, dengan pedang terhunus ia melangkah ke arah barat.
Tampaknya dia melangkah dengan lambat, tapi dalam sekejap sudah pergi jauh, hanya tertinggal sebaris tapak kakinya di pesisir, jarak setiap tapak kakinya itu sama dua kaki, biarpun dicetak dengan ukuran juga tak lebih tepat daripada jarak tapak kakinya itu.
Jing-ho (si tangan hijau) Liu Siong, seorang tokoh persilatan di timur provinsi Soatang, sedikitnya sudah 40 tahun namanya terkenal karena ilmu pukulan Hoa-ho-ciang, ke-17 jurus cakar bangau yang disebut Ho-jiau-cap-jit-ciau, dan Ho-ih-ciam atau jarum bulu bangau, ketiga macam Kungfu itu merupakan kepandaian khas andalan Liu Siong.
Sejak Hui-ho-bun atau perguruan si bangau terbang didirikan Liu Siong, selama ini dia dihormat dan disegani sebagai seorang guru besar ilmu silat.
Rumah keluarga Liu di kaki gunung Lo-san cukup luas dan megah.
Menjelang magrib, tiba-tiba datang seorang dari jurusan timur dengan berbaju putih kain belacu, kening sebatas alis memakai ikat kepala kain putih belacu pula, rambut panjang terurai, pedang panjang tersandung pada punggungnya.
Nyata orang inilah si tokoh aneh yang muncul dari dasar laut itu.
entah sejak kapan ia telah berganti pakaian, namun langkahnya tetap tegap, tetap berjarak dua kaki, tidak kurang dan tidak lebih.
Dengan kalem ia menaiki undak-undakan batu gedung keluarga Liu, meski daun pintu gerbang sudah tertutup rapat, namun dia seperti tidak melihatnya, ia masih terus melangkah ke depan.
"Brak", begitu tubuh menyentuh daun pintu tanpa berhenti ia sudah melangkah ke dalam, daun pintu gerbang yang bercat hitam itu telah bertambah sebuah lubang besar berbentuk tubuh manusia. Sepotong papan yang persis bentuk tubuh orang itu ambruk ke depan, ketika kaki orang itu menginjak papan, seketika papan hancur menjadi bubuk. Air muka si baju putih tidak berubah sedikit pun, daun pintu itu dianggapnya serupa buatan dari kertas belaka dan setiap orang sanggup menerobosnya. Beberapa lelaki kekar yang berada di bawah pohon di dalam halaman sama menjerit kaget menyaksikan kejadian itu, namun si baju putih seperti tidak menghiraukannya, ia tetap melangkah ke depan dan berseru sekata demi sekata, 2
"Di mana Liu Siong? Suruh dia keluar!"
Suaranya jelas dan tegas, namun kedengarannya kaku dan aneh.
Sementara itu sang surya sudah terbenam, cahaya senja yang remang-remang menyinari tubuhnya yang kuning legam dengan rambut panjang terurai, dan air mukanya yang dingin serta sorot matanya yang tajam, semua itu menambah seram dan misterius.
Semua orang sama melongo dan tidak sanggup bersuara, mendadak mereka membalik tubuh dan berlari serentak.
Padahal orang-orang ini adalah jago Hui-ho-bun yang tangguh, biasanya urusan berkelahi, bunuh-membunuh dan mengucurkan darah dipandang seperti santapan sehari-hari, tapi sekarang mereka dibuat ketakutan oleh pendatang ini, sungguh peristiwa yang belum pernah terjadi.
Sekonyong-konyong terdengar seorang membentak.
"Ada urusan apa? Kenapa ketakutan?"
Suaranya lantang dan menggetar anak telinga orang. Seorang kakek berjubah satin dan berambut putih tampak muncul dari ruangan tengah. Dengan muka pucat beberapa lelaki kekar tadi melapor.
"Su ... Suhu, coba lihat, keparat itu entah ... entah setan atau manusia ...."
"Omong kosong?!"
Bentak si kakek dengan kening bekernyit. Namun ketika melihat sikap aneh si baju putih, tidak urung ia pun terkejut. Segera ia memberi hormat dan menegur.
"Siapakah sahabat ini? Ada keperluan apa?"
Ia bicara dengan suara keras menggetar anak telinga, jelas dia sengaja pamer kekuatan terhadap si baju putih.
Siapa tahu, si baju putih seperti tidak mendengar, selangkah demi selangkah ia mendekati si kakek, lalu bersuara.
"Kamu ini Liu Siong?"
"Betul,"
Jawab si kakek.
"Baik, keluarkan senjatamu dan ayo mulai!"
Kata si baju putih. Liu Siong melengak, tanyanya.
"Bilakah sahabat bermusuhan denganku?"
"Tidak ada!"
Jawab si baju putih.
"Kalau tidak ada permusuhan, selamanya kita pun tidak kenal, untuk apa kita harus berkelahi?"
Tanya Liu Siong.
"Habis siapa suruh kamu menjadi guru silat terkenal?"
Kata si baju putih. Kembali Liu Siong melenggong.
"Memangnya asalkan tokoh Bu-lim terkenal pasti akan kau tantang untuk bertempur?"
Tersembul senyuman aneh pada ujung mulut si baju putih, ucapnya perlahan.
"Betul, menantang setiap tokoh Bu-lim di dunia ini memang menjadi maksud tujuan kedatanganku ini."
Suaranya memang aneh, ditambah lagi senyuman yang misterius, Liu Siong merinding dibuatnya, tapi ia coba menjawab dengan bergelak.
"Hah, hanya dengan kekuatan sendirian hendak menantang seluruh kesatria sejagat, apakah engkau tidak ... tidak bergurau?"
Air muka si baju putih yang dingin itu tidak memperlihatkan sesuatu emosi, dingin dan kaku serupa patung, tambah ngeri perasaan Liu Siong, ia terkekeh beberapa kali dan tidak sanggup meneruskan lagi.
"Nah, lekas mulai!"
Ucap si baju putih sekata demi sekata.
Sekilas pandang Liu Siong melihat anak muridnya sudah banyak yang memburu tiba, berpuluh pasang mata sedang mengikuti apa yang terjadi.
Liu Siong tahu tidak bisa tidak harus turun tangan, segera ia tepuk tangan, segera anak buahnya menyodorkan sepasang senjata berbentuk cakar bangau berwarna hitam gilap.
Lebih dulu ia katakan kegunaan senjata sendiri, sedikit pun ia tidak mau menarik keuntungan.
"Kudengar dalam dunia persilatan daerah Tionggoan akhir-akhir ini bertambah lagi 13 macam senjata aneh, tak terduga pertarunganku yang pertama setiba di sini lantas bertemu dengan salah satu senjata aneh yang dimaksud."
Kata si baju putih.
"Silakan memberi petunjuk!"
Bentak Liu Siong mendadak, serentak senjata menyambar lebih dulu dan yang kanan menyambar belakangan, berbareng ia terus berputar dengan cepat.
Akan tetapi apa pun gerak serangannya, si baju putih tetap berdiri tegak di tempatnya, sedikit pun tidak bergeser.
Bukan saja pedang tidak dilolosnya, malahan seakan-akan terpejam, serupa kaum Hwesio yang semadi.
Selama hidup Jing-ho atau si bangau hijau Liu Siong entah berapa kali bertempur dengan orang dan entah berapa banyak pula jiwa lawan yang melayang di bawah 17 jurus cakar bangau andalannya ini.
Tapi sekarang demi tangan memegang senjatanya yang dingin dan keras ini, tanpa terasa jari pun rada gemetar.
Sudah tentu gejala ini tidak cocok dengan namanya sebagai tokoh termasyhur, sedapatnya ia membangkitkan semangat, kedua cakar dibenturkan hingga menerbitkan suara nyaring, ia pasang gerak pembukaan dengan cakar bangau berselang, lalu berkata.
"Senjataku ini selain 17 jurus cakar yang banyak gerak perubahannya, di dalamnya juga tersembunyi jarum bulu bangau yang khusus digunakan menyerang Hiat-to, hendaknya kamu hati-hati!"
Dengan cepat Liu Siong sudah berputar 17 lingkaran, beberapa kali cakarnya bermaksud menyerang, tapi sikap tenang lawan membuatnya tidak berani sembarangan turun tangan.
Cuaca tambah gelap, bayangan si baju putih tampak semakin seram, meski dekat musim dingin kening Liu Siong sudah penuh butiran keringat.
Anak muridnya yang menonton di samping sama melongo cemas.
Sekonyong-konyong Liu Siong bersuit panjang serupa bunyi bangau yang terbang di udara, cakar bangau terpentang, dua jalur hitam gilap berputar cepat, sekali serang tujuh tempat, serentak berbagai Hiat-to maut di tubuh lawan diserangnya.
Anak murid Hui-ho-bun tahu betapa lihai jurus serangan ini, biasanya tidak pernah meleset dan selalu menang, selagi mereka hendak bersorak, siapa duga dalam sekejap itu tiba-tiba selarik sinar hijau berkelebat, bayangan kedua orang merapat terus berpisah lagi.
Dengan cepat Liu Siong berputar dan menyurut mundur hampir setombak jauhnya, sebaliknya si baju putih tetap berdiri tegap tanpa bergeming, cuma pedang yang tersandung di punggung sudah dilolosnya, ujung pedang menuding miring ke arah Liu Siong, tertampak titik darah segar menetes perlahan dari ujung pedang.
Hanya sejenak kemudian tubuh Liu Siong mendadak roboh terjengkang, di tengah kegelapan malam terlihat kedua matanya mendelik, satu garis darah mulai dari kening terus menurun melalui hidung, bibir, tenggorokan hingga dada, garis darah itu tepat di tengah-tengah tubuh dan beberapa senti dalamnya, jelas biarpun dewa turun dari kahyangan pun sukar menyelamatkan nyawa Liu Siong.
Menyaksikan musuh cuma satu jurus serangan saja sudah menewaskan guru mereka, berpuluh pasang mata anak murid Hui-ho-bun itu sama melotot kaget, tiada seorang pun tahu cara bagaimana si baju putih menyerang dengan pedangnya.
Saking takutnya semuanya lupa menjerit dan juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Selang sejenak ujung pedang si baju putih perlahan diturunkan dan tiada tetesan darah lagi.
Sinar matanya yang terlebih tajam daripada pedangnya menyapu pandang sekejap kepada semua orang, tertampil senyum ejeknya seakan-akan hendak berkata.
"Hm, kalau cuma kalian saja tidak sesuai bagiku untuk turun tangan."
Ia terus membalik tubuh dan melangkah keluar pintu gerbang, langkahnya tetap tegap dalam jarak tertentu serupa datangnya tadi. Sekonyong-konyong seorang membentak.
"Bangsat, bayar ... bayar kembali nyawa guruku!"
Orang ini adalah murid tertua Hui-ho-bun, meski hati merasa takut, mana dia dapat menyaksikan musuh pembunuh guru pergi begitu saja, cuma di antara suara bentakannya terasa agak gemetar juga, langkahnya juga kurang mantap.
Empat murid Hui-ho-bun lain yang bernyali lebih besar serentak ikut memburu maju bersama Toasuheng mereka, kelimanya sudah nekat, sekaligus mereka melancarkan pukulan.
Meski beberapa murid Hui-ho-bun ini bukan jago kelas satu, namun Kungfunya juga tidak lemah.
Pukulan mereka cukup kuat dan tidak boleh diremehkan.
Namun si baju putih sama sekali tidak menoleh, pedang panjang mendadak menyabat ke belakang, di bawah kelebat pedang beberapa kali, terdengar serentetan jeritan ngeri, kelima murid Hui-ho-bun sama terjungkal dengan luka panjang dari dahi sampai dada.
Meski serangan pedang si baju putih sekaligus mengincar lima orang, namun caranya seperti dilakukan dengan lima pedang dan kelima orang terluka berbareng dan menjerit bersama, sebab itulah kedengarannya seperti jeritan 5 panjang.
Keruan anak murid Hui-ho-bun yang lain sama kaget dan beramai ikut memburu keluar.
Namun terlihat si baju putih sedang melangkah ke depan dengan tegap, kini sudah puluhan tombak jauhnya, bekas tetesan darah tampak mengikuti bekas kakinya yang berjarak sama itu, kelima kawannya sama terkapar di situ.
Nyali semua anak murid Hui-ho-bun serasa rontok, kaki terasa lemas, mana mereka berani mengejar lagi.
Tanpa menoleh di baju putih melanjutkan perjalanan hingga dua-tiga li jauhnya, lalu dikeluarkannya peta dan buku catatan, dibacanya perlahan.
"Tanggal tujuh Jing-ho Liu Siong, tanggal delapan Siang-goan Tio Jit-hong, tanggal sembilan Pat-sian-kiam Li Jing-hong, tanggal sepuluh Pat-jiu-pio Kim Tai-hui, tanggal sebelas giliran tiba ajal Ce-lam Pek Sam-kong!"
Angin dingin meniup, tiba-tiba hujan pun menitik, seakan-akan langit pun ikut berduka bagi malapetaka yang menimpa dunia Kangouw ini ....
Tanggal sebelas bulan sepuluh, cuaca di kota Ce-lam mendung dan lembap, seperti mau hujan tapi belum hujan.
Belasan lelaki kekar berbaju belacu berkabung mengiringi empat kereta jenazah dengan empat peti mati datang dari timur dan menyelusuri jalan raya serta berhenti di depan sebuah gedung yang megah.
Delapan lelaki berbaju hitam cepat membuka pintu gerbang dan menyambut kedatangan jenazah dengan kepala tertunduk dan berduka.
Peti mati diusung ke dalam rumah.
Terlihat seorang tua berbaju panjang warna hitam, berjenggot panjang, wajah kereng dan berdiri diam di depan ruangan.
Melihat si orang tua, serentak belasan orang yang membawa peti mati itu berhenti, peti mati diturunkan, serentak mereka berlutut dan meratap.
"Pek-locianpwe, mohon sudi mengingat persahabatan dengan guru kami dan sukalah membalaskan sakit hati guru kami."
Wajah si kakek baju hitam kelihatan kelam masam, perlahan ia menuruni undak-undakan batu, waktu ia memberi tanda, serentak ada orang membuka tutup peti mati dan tertampaklah empat sosok mayat orang tua, semuanya mati dengan wajah beringas, mata mendelik murka, jelas pada waktu mendekati ajal penuh diliputi rasa kejut dan gusar.
Luka yang menyebabkan kematian mereka juga serupa, yaitu terdiri dari satu jalur luka dimulai dari kening menurun sampai dada.
"Tutup pintu gerbang, jaga ketat, sembarang orang dilarang masuk,"
Segera si kakek memberi perintah.
Beberapa pemuda kekar berpedang mengiakan dengan hormat dan berlari keluar, pintu gerbang hitam lantas ditutup rapat.
Si kakek berbaju hitam berjalan mondar-mandir di halaman, ucapnya dengan menyesal.
"Jing-ho Liu Siong, Siang-goan Tio Jit-hong, Pat-sian-kiam Li Jing-hong, Pat-jiu-pio Kim Tai-hui ternyata tewas semuanya dalam sehari terbunuh secara keji, ai, bilamana tidak menyaksikan sendiri kejadian ini, siapa yang mau percaya? ...."
Si kakek baju hitam ini bukan lain daripada pendekar pedang Pek Sam-kong, ketua perserikatan guru silat di provinsi Soatang.
Pek Sam-kong bersama Liu Siong dan lain-lain adalah sahabat karib sehidup semati, sebab itulah sesudah Liu Siong dan lain-lain tewas, anak muridnya segera membawa peti jenazah guru masing-masing dan mendatangi Pek Sam-kong serta mohon bantuannya agar membalaskan sakit hati sang guru.
Maka terdengarlah suara ramai orang yang penuh tanda tanya itu, mereka sama tukar informasi tentang tokoh aneh si baju putih yang keji itu, tentang tindak tanduknya yang nyentrik dan ilmu pedangnya yang mengejutkan.
Kecuali anak murid Hui-ho-bun yang sempat mendengar beberapa patah kata ucapan tokoh aneh itu, anak murid perguruan lain paling-paling cuma mendengar tokoh itu bertanya.
"Benarkah kamu si ...."
Dan ucapan "ayo mulai", selebihnya tidak ada, juga tidak terlihat sesuatu perasaan pada wajahnya, dan begitu bertempur, kecuali kemenangan yang dituju, segala urusan lain sama sekali tidak dihiraukannya.
Makin lama makin berat perasaan Pek Sam-kong mendengar berbagai keterangan, ia bergumam.
"Sejurus saja mematikan orang? Kungfu macam apakah itu ...."
Dalam pada itu kedelapan anak murid yang berjaga di luar pintu melihat dari ujung jalan sana muncul seorang berbaju putih.
Seketika hati mereka berdebar, mereka saling pandang dengan waswas, sementara itu si baju putih sudah mendekati, bagai sinar kilat tokoh aneh itu memandang sekejap kedelapan murid itu lalu berucap.
"Suruh Pek Sam-kong keluar!"
Sama sekali dia tidak mau membuang tenaga percuma, maka pada waktu berjalan tidak mau menggunakan Ginkang, bila bicara juga tidak mengerahkan tenaga.
Kedelapan murid Jing-peng-bun tidak kenal kelihaian orang, karena suara orang yang tidak memperlihatkan sesuatu kekuatan itu, mereka pikir betapa tinggi Kungfu orang masakah mampu menahan serangan kami berdelapan?
Kedelapan orang berpikiran sama, setelah saling pandang sekejap, segera murid pertama Bok Put-kut mendengus.
"Sahabat ingin bertemu dengan guru kami, untuk itu perlu menerobos dulu rintangan kami ini."
Belum lenyap suaranya, terdengar gemerantang nyaring, serentak mereka melolos pedang.
Selain cepat gerak kedelapan orang, juga dilakukan secara serentak.
Terlihat cahaya pedang berkelebat menyilaukan mata, bilamana jago silat biasa saja pasti sudah rontok nyalinya melihat gerak melolos pedang mereka yang hebat ini.
Namun sorot mata si baju putih kembali memperlihatkan sikap mengejek, mendadak ia menyurut mundur beberapa tindak, sinar pedang berkelebat, tahu-tahu pedang sudah masuk sarungnya lagi.
Caranya melolos pedang, memutar pedang dan menebas, tiga gerakan dilakukan sekaligus dalam sekejap.
Waktu anak murid Jing-peng-bun sama memandang ke sana, pada tangan si baju putih sudah bertambah sepotong ranting kayu kering, kiranya dia melolos pedang tadi hanya untuk memotong sepotong ranting kayu ini.
"Ini, perlihatkan kepada gurumu,"
Kata si baju putih dengan perlahan, lalu ia melangkah ke sana dan duduk di atas batu di bawah pohon dan tidak bersuara lagi serupa orang yang sedang semadi.
Kedelapan murid Jing-peng-bun sama melongo bingung.
Bok Put-kut mengambil ranting kayu yang dikatakan si baju putih tadi, gumamnya.
"Apa-apaan ini?"
"Jangan-jangan dia jeri terhadap kita?"
Ucap Kim Put-wi, murid kedua. Orang ini tinggi delapan kaki, bahu lebar, seorang lelaki kasar tapi perkasa. Setelah berpikir, murid ketiga Sun Put-ti ikut berkata.
"Urusan ini tidak sederhana, kita harus lapor dulu kepada Suhu."
Perawakan orang ini kurus kecil, namun paling cerdik, Pek Sam-kong sengaja memberi nama "Put-ti" (kurang akal) padanya justru menganjurkan dia agar selalu berpikir secara bijaksana dan jangan terlampau memakai akal licik.
Bok Put-kut memandang si baju putih sekejap lalu mengangguk dan berkata.
"Ya, memang harus diperlihatkan kepada Suhu."
Cepat ia membuka pintu dan menyelinap ke dalam. Melihat gerak-gerik muridnya yang gugup itu segera Pek Sam-kong tahu tamu yang ditunggu itu sudah datang, dengan air muka berubah ia tanya.
"Di mana dia?"
"Di luar,"
Jawab Put-kut.
"dia tidak berani bergebrak dengan Tecu berdelapan, juga tidak berani menerjang masuk, tapi menebas sepotong ranting kayu ini dan minta diperlihatkan kepada Suhu."
Dengan kening bekernyit Pek Sam-kong menerima ranting kayu itu, semula hanya dipandangnya beberapa kejap tanpa acuh, akan tetapi mendadak sorot matanya mencorong, bagian ranting kayu terpotong itu ditatapnya dengan terkesiap.
Melihat sikap sang guru yang aneh, seperti sangat kagum, prihatin dan juga jeri itu, akhirnya bahkan tangannya kelihatan rada gemetar, tentu saja Bok Put-kut terheran-heran, tanyanya tidak tahan.
"Suhu, apakah orang itu perlu kami usir saja?"
Mendadak Pek Sam-kong menarik muka, ucapnya dengan gusar.
"Apakah kalian ingin mampus?"
"Tapi ... tapi ..."
Bok Put-kut gelagapan.
"Dia merasa tidak sudi bergebrak dengan kalian, kalau tidak, mustahil jiwa kalian dapat bertahan sampai sekarang?"
Ucap Pek Sam-kong. Bok Put-kut menunduk dan tidak berani bicara lagi, namun dalam hati merasa sangat penasaran.
"Ai, percuma kau belajar silat kalian sekian lama, ternyata punya mata tapi tidak dapat melihat gelagat,"
Ucap Pek Sam-kong dengan gegetun.
"Sudahlah, panggil masuk saja para Sutemu."
"Tapi ... tapi keparat itu ...."
Bok Put-kut merasa sangsi.
"Jika dia mau masuk, memangnya kalian mampu merintanginya?"
Kata Pek Sam-kong dengan gusar.
"Ayolah, jika dia mau menunggu berarti tidak perlu khawatir dia akan menerjang masuk kemari. Nah, lekas buka pintu."
Terpaksa Bok Put-kut menurut dan membuka pintu gerbang, ketujuh Sutenya dipanggil masuk.
Namun si baju putih tetap duduk diam saja di bawah pohon, senyum ejeknya tampak tetap menghiasi ujung mulutnya.
Pek Sam-kong lantas menuju ke ruang belakang, dengan cepat ia menulis sepucuk surat, berikut sepotong ranting kayu itu dibungkusnya dalam sampul surat.
Kedelapan anak muridnya menunggu dengan cemas, ketika melihat sang guru muncul kembali dengan memegang sampul surat dan air muka kelihatan kelam, semuanya sama diam saja.
Di bawah gemerdep cahaya lampu Pek Sam-kong memandang sekejap anak muridnya itu, mendadak ia membentak.
"Berlutut semua!"
Kedelapan murid utamanya itu sama melengak, tapi serentak mereka pun berlutut memenuhi lantai.
"Apa larangan ketiga peraturan perguruan kita?"
Tanya Pek Sam-kong. Disiplin Jing-peng-bun sangat ketat, anak murid Pek Sam-kong biasanya juga sangat patuh, tanpa pikir mereka sama menjawab.
"Perintah guru laksana gunung, yang membangkang akan terkutuk!"
Dengan suara berat Pek Sam-kong berkata pula.
"Pertempuran hari ini, apakah gurumu akan menang atau kalah, yang penting kalian sama sekali tidak boleh ikut turun tangan!"
"tapi Suhu ...."
Seketika anak muridnya merasa panik. Kembali Pek Sam-kong membentak sehingga muridnya tidak berani bersuara lagi, katanya pula.
"Inilah perintah guru, yang membangkang akan terkutuk! Kalian mau omong apa lagi?"
Para murid sama menunduk dan tidak berani bicara.
"Pokoknya bila hari ini gurumu gugur dalam pertempuran, maka Put-kut bertujuh orang hendaknya membagi tugas menuju ke Siau-lim, Bu-tong, Go-bi, Tiam-jong, Kong-tong, Hoa-san dan Wi-yang-pay, ketujuh perguruan besar ini ada persahabatan karib dengan kita, tentu mereka akan menerima kalian. Hendaknya kalian belajar lebih giat dan tidak perlu pikirkan urusan lain, hanya ... hanya kau saja ...."
Sorot matanya tertuju kepada murid kedelapan yang paling muda, yaitu Oh Put-jiu, lalu menyambung pula.
"Hanya tugasmu yang terberat, selanjutnya mungkin kamu sukar hidup dengan tenang, entah kamu sanggup menerima tugas mahaberat ini atau tidak?"
Tanpa ragu Oh Put-jiu menjawab.
"Sekuat tenaga Tecu laksanakan ...."
Oh Put-jiu ini berkepala besar dan bertubuh pendek, dahi lebar, wajah selalu 9 membawa senyum meski tidak tersenyum.
Mulutnya sehari-hari lebih sering digunakan makan daripada untuk bicara.
Di antara kedelapan murid utama Jin-peng-bun tampaknya dia paling tidak berguna, namun sekarang Bok Put-kut bertujuh menyaksikan sang guru menyerahkan tugas paling berat kepadanya, tentu saja mereka penasaran.
Segera Bok Put-kut berseru.
"Bila ada urusan harap Suhu serahkan kepadaku atau Kongsun-samte ...."
Mendadak Pek Sam-kong menarik muka, dampratnya.
"Di sini bukan tempatnya bagimu untuk bicara, lekas menyingkir!"
Lalu ia menyerahkan surat yang sudah ditulisnya kepada Oh Put-jiu, katanya pula.
"Jika gurumu kalah dalam pertarungan nanti, hendaklah cepat kau datang ke ruang belakang dan bawalah pergi Po-ji, datangi alamat menurut apa yang tertulis di atas sampul, serahkan surat dan Po-ji kepada penerima surat, urusan selanjutnya harus tunduk kepada segala perintahnya."
Tanpa membaca Oh Put-jiu menerima dan menyimpan sampul surat yang disodorkan sambil mengiakan. Air muka Pek Sam-kong tampak rada tenang kembali, katanya.
"Setiba di tempat tujuan, kejadian aneh apa yang kau lihat janganlah terkejut. Nah, sekarang juga bolehlah kau berangkat."
Ia tidak menghiraukan lagi muridnya, diambilnya pedang pribadinya di atas meja, lalu menuju keluar dengan langkah lebar.
Ketika melewati keempat peti mati, ia merandek sejenak, perlahan ia meraba peti mati yang terdekat, mendadak ia menengadah dan tergelak, katanya.
"Hah, seorang pesilat memang harus mati di medan laga, hidup atau mati adalah kejadian biasa, kenapa mesti takut? ...."
Di tengah gelak tertawanya ia terus mendekat si baju putih, tegurnya.
"Anda tidak segan membunuh orang demi menjunjung tinggi ilmu silat, aku tidak gentar mati bertempur demi menegakkan kebenaran ilmu silat, kita berlain jalan tapi mempunyai tujuan sama, biarpun sebentar kau bunuh diriku juga takkan kusalahkanmu."
Perlahan si baju putih berdiri, tiba-tiba ia membungkuk tubuh sebagai tanda hormat. Tentu saja Pek Sam-kong heran, katanya.
"Untuk apa Anda melakukan penghormatan padaku?"
Tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan si baju putih menjawab.
"Engkau adalah pesilat sejati satu-satunya yang kutemui sejak kedatanganku di daratan sini, adalah pantas kuberi hormat."
"O, terima kasih,"
Kata Pek Sam-kong dengan khidmat.
"Nah, mulai!"
Kata si baju putih singkat.
"Sret", segera Pek Sam-kong melolos pedang, sarung pedang dilemparkan, ujung pedang lurus ke depan setengah terangkat, katanya.
"Silakan!"
Begitu kata "silakan"
Terucap, seketika suasana berubah sunyi senyap, meski para penonton berpuluh orang jumlahnya, namun tiada seorang pun bersuara, bernapas pun tidak berani keras, andaikan jarum jatuh pun terdengar.
Segera Jing-peng-kiam-kek, si pendekar pedang santai Pek Sam-kong mengangkat pedangnya, mata menatap tajam pada ujung pedang, mendadak pedang menebas ke depan.
Anak murid Liu Siong, To Jit-hong dan lain-lain pernah menyaksikan guru masing-masing menghadapi si baju putih, semuanya berlari mengitari si baju putih, habis itu lantas menyerang.
Tapi sekarang Pek Sam-kong justru berdiri berhadapan tanpa bergerak dan menebas dengan cepat dengan jurus serangan yang sangat umum, sedikit pun tidak memperlihatkan kelihaiannya.
Keruan semua orang terkesiap, mereka mengira asalkan pedang si baju putih bergerak, seketika mayat Pek Sam-kong akan terkapar.
Siapa tahu jurus serangan yang sangat umum itu justru membuat si baju putih menyurut mundur selangkah, sama sekali tidak balas menyerang.
Segera Pek Sam-kong mendesak maju, pedang berputar kembali, suatu tebasan lurus ke depan dilancarkan lagi.
Dengan cara yang sama si baju putih juga lantas menyurut mundur pula.
Tentu saja anak murid Liu Siong dan lain-lain sama heran dan bingung, pikir mereka.
"Meski guruku melancarkan jurus serangan paling lihai, tidak urung dalam satu jurus saja terbunuh oleh musuh. Padahal jurus serangan Jing-peng-kiam-kek tiada sesuatu yang berarti, entah mengapa si baju putih ini malah terdesak mundur?!"
Mereka tidak tahu bahwa dua jurus serangan Pek Sam-kong yang sangat umum itu sebenarnya mengandung gerak ikutan yang sangat rapat untuk bertahan, sebab dari rekan-rekannya yang menjadi korban keganasan musuh diketahui lukanya dimulai dari kening menurun ke dada.
Maka dia mencurahkan perhatiannya untuk menjaga rapat bagian kening.
Kini si baju putih terdesak mundur dua kali, seketika semangat Pek Sam-kong terbangkit, sekali pedang berputar, jurus ketiga lantas dilontarkan lagi.
Anak murid Pek Sam-kong yakin serangan ketiga sang guru ini tentu jauh lebih lihai daripada serangan yang lalu dan bukan mustahil musuh dapat dirobohkan.
Maka begitu sinar pedang berkelebat, serentak mereka bersorak memberi semangat.
Siapa tahu, baru saja suara sorak mereka bergema, sekonyong-konyong cahaya perak menyilaukan menyambar dari belakang si jubah putih, terdengar suara "cring"
Perlahan, selarik sinar hijau meluncur ke sana dan "crak", menancap di batang pohon, itulah setengah potong pedang, sedang pedang yang dipegang Pek Sam-kong tahu-tahu tersisa setengah potong, bahkan kelihatan dia menyurut mundur dengan sempoyongan sambil berucap dengan meringis.
"Sungguh heb ...."
Belum sempat kata "hebat"
Terucapkan ia lantas roboh terjengkang dengan kening berlumur darah.
Pedang panjang yang dipegang si baju putih tampak bergetar, darah segar menitik dari ujung pedangnya, sorot matanya yang dingin menatap titik darah yang menetes, rambutnya yang panjang terurai bertebaran tertiup angin, sikapnya kelihatan kaku dingin menambah seram suasana.
Semua orang sama melenggong sekian lama barulah ada orang menjerit, Bok Put-kut bertujuh lantas menubruk tubuh sang guru yang menggeletak tak bernyawa lagi dan menangis sedih.
Hanya Oh Put-jiu saja yang diam-diam menyingkir jauh ke sana, dari kejauhan ia berlutut dan memberi penghormatan terakhir kepada jenazah sang guru, air mata pun berlinang, segera ia berlari ke ruang belakang meninggalkan hiruk-pikuk di depan berhubung dengan terbunuhnya Pek Sam-kong.
Suasana di halaman belakang hening dan kelam, keramaian di depan sama sekali tidak memengaruhi ketenangan di ruang belakang.
Di atas sebuah dipan tampak bertiarap seorang anak berusia 1-1 tahun dengan baju satin mentereng, anak itu asyik membaca, di sebelahnya tertaruh sepiring buah-buahan yang lupa dimakannya.
Waktu Oh Put-jiu berlari tiba, pada punggungnya sudah bertambah ransel, melihat anak yang sedang membaca itu, segera ia menegur.
"Po-ji ...."
Berulang ia memanggil tiga kali, namun anak itu seperti lagi memusatkan perhatian pada buku yang dibacanya sehingga sama sekali tidak mendengar.
Oh Put-jiu menghela napas, ia mendekat dan menarik lengan anak itu.
Baru sekarang anak itu mendongak, ucapnya dengan kening bekernyit.
"Aih, orang lagi asyik membaca, untuk apa kau ganggu diriku? Lekas pergi berlatih ilmu silatmu!"
Wajah anak itu masih hijau pelonco, namun cara bicaranya serupa orang tua, seakan-akan lebih tua daripada Oh Put-jiu.
"Eh, Gwakongmu (kakek luarmu) menyuruhku membawamu pesiar keluar, masa kamu tidak senang?"
Ucap Oh Put-jiu dengan suara lembut.
Kiranya anak ini bernama Pui Po-ji, anak tunggal Pek Man-sah, putri kesayangan Pek Sam-kong.
Pek Man-sah dan suaminya Pui Su-hiap suka berkelana menjelajahi dunia, sejak kecil Po-ji dititipkan di rumah sang kakek.
Anak kecil umumnya tentu akan kegirangan bila mendengar akan diajak pesiar, namun Pui Po-ji justru menggeleng kepala dan menjawab.
"Tidak, aku tidak mau!"
Habis bicara kembali ia asyik membaca.
Oh Put-jiu kenal watak anak ini agak kepala batu, bahkan banyak tipu akalnya dan suka berbuat aneh-aneh, siapa pun bila ingin memaksa dia melakukan sesuatu yang tidak disukainya, maka akibatnya pasti akan cari susah sendiri.
Tiba-tiba ia mendapat akal, katanya.
"Kata orang kuno, membaca selaksa kitab, menempuh jalan selaksa li. Tapi kamu cuma baca melulu, masakah kamu tidak mau pesiar keluar untuk mencari pengalaman?"
Po-ji mendongak pula sambil berpikir, katanya kemudian.
"Ehm, betul juga ucapanmu. Baik, kuikut pesiar keluar bersamamu, tapi kan perlu juga berbenah seperlunya baru berangkat."
Oh Put-jiu khawatir anak itu takkan tahan menyaksikan kejadian sedih di ruangan depan sana, maka ia sengaja berolok-olok.
"Huh, seorang lelaki sejati sekali bicara berangkat harus segera angkat kaki, hanya orang yang suka omong kosong saja pakai berbenah segala!"
Muka Pui Po-ji tampak merah, ucapnya kurang senang.
"Baik, boleh berangkat sekarang juga. Asalkan kau berani pergi, ke mana pun aku berani!"
"Nah, inilah baru lelaki sejati,"
Ujar Oh Put-jiu dengan tertawa.
"Baik, mari ikut padaku!"
Segera Oh Put-jiu membawa Po-ji keluar melalui pintu belakang.
Meski dalam hati cemas dan gelisah, namun terpaksa Oh Put-jiu bersenda gurau dengan anak itu.
Meski sudah dekat musim dingin, tapi setelah menempuh dua-tiga li jauhnya, Po-ji telah mandi keringat, mendadak ia berhenti dan berkata dengan serius.
"Paman kepala besar, tampaknya engkau bersifat serupa anak kecil, kalau bekerja sesuatu hanya memikirkan diri sendiri tanpa urus orang lain. Mestinya kau tahu orang biasa sekolah dan membaca, mana dapat berjalan cepat serupa kalian?"
Melihat anak kecil yang berlagak orang tua dan mengomeli dirinya, sama sekali Oh Put-jiu tidak merasa geli, sebaliknya malah timbul kasih sayangnya, pikirnya.
"Ayah bunda anak ini entah ke mana perginya, satu-satunya anggota keluarga terdekat, yaitu kakeknya sekarang .... Ai, jika bukan aku siapa lagi yang akan menjaga dia?"
Segera ia menuding sebuah warung di kejauhan dan berkata.
"Jika kamu lelah, bolehlah kita istirahat dulu di sana."
"Nah, seharusnya sejak tadi kau katakan demikian,"
Ucap Po-ji.
Setiba di warung tepi jalan itu barulah Oh Put-jiu mengeluarkan surat yang diterimanya dari Pek Sam-kong itu, ia pura-pura mau kencing dan menyingkir untuk membaca surat itu.
Dilihatnya pada sampul surat itu tertulis.
"Supaya dibaca oleh Put-jiu". Cepat ia membuka sampul dan membacanya, ternyata isi surat itu berbunyi. Put-jiu, Waktu surat ini kau baca, tentu gurumu sudah binasa di tangan musuh. Ketika kulihat bagian ranting kayu yang terpotong segera kutahu ilmu pedang orang ini beberapa kali lebih hebat daripadaku, tokoh Bu-lim zaman ini pun tidak ada yang sanggup menandinginya. Menurut pengakuannya, kedatangannya ke daratan sini bermaksud menempur setiap tokoh persilatan terkemuka, dari ilmu pedangnya yang ganas agaknya hatinya diliputi dendam kesumat dan pasti tak kenal ampun terhadap siapa pun. Apabila tokoh dunia persilatan Tionggoan tidak ada yang mampu mengalahkan dia, maka sukar diramalkan entah berapa banyak jago terkemuka yang akan binasa di bawah pedangnya. Musibah segera akan tiba, gurumu tidak boleh melarikan diri di garis depan, maka aku sudah bertekad akan gugur sebagai pesilat, sayang aku tidak mampu 13 membela kaum sesamanya menghindarkan malapetaka ini, jalan satu-satunya adalah menyuruhmu ke pantai timur, intai di sepanjang pantai, asalkan melihat kapal besar berlayar pancawarna, hendaknya dengan jalan apa pun kamu harus berusaha naik ke atas kapal tersebut dan serahkan ranting kayu dalam sampul kepada nakhoda kapal itu. Tentu kamu akan ditanya, maka bolehlah kau ceritakan apa yang terjadi, sama sekali tidak boleh bohong. Lalu boleh kau tunggu jawabannya. Hanya nakhoda kapal pancawarna itulah satu-satunya orang di dunia ini yang ada harapan akan dapat menaklukkan tokoh aneh si baju putih. Usahamu inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia persilatan, hendaknya kamu bertindak hati-hati dan tugas harus terlaksana dengan baik. Ingat, jangan lengah! Melihat tulisan tangan yang sudah sangat dikenalnya, Oh Put-jiu jadi terkenang kepada wajah sang guru, saking sedihnya air matanya berlinang. Mendadak terdengar suara Pui Po-ji menegurnya dari belakang.
"Paman kepala besar, kenapa engkau tidak duduk dan minum dulu? Ai, dasar pesilat!"
Sedapatnya Oh Put-jiu menahan air mata, ucapnya dengan tersenyum sembari berpaling.
"Memangnya kenapa kalau pesilat?"
Wajah Po-ji yang masih polos dan kekanak-kanakan itu mendadak timbul semacam rasa duka orang dewasa, ia menunduk dan tidak bicara lagi. Dengan kening bekernyit Oh Put-jiu menukas.
"Melihat gerak-gerikmu, memangnya selama hidupmu takkan belajar silat lagi? Sesungguhnya apa sebabnya?"
Po-ji menghela napas, ucapnya.
"Biar kukatakan juga engkau takkan paham. Ayolah berangkat!"
Diam-diam ia membatin dengan menyesal.
"Urusan sudah telanjur begini, biarpun kamu tidak mau belajar silat juga tidak boleh lagi."
Segera ia ambil ancang-ancang jurusan, lalu menuju ke pantai timur.
Waktu itu sudah musim dingin, perjalanan jauh memang sudah cukup sulit, apa lagi keberangkatan Oh Put-jiu dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga tidak membawa sangu yang cukup.
Maka belasan hari kemudian, sisa uang dalam sakunya sudah tersisa tak seberapa.
Menurut perkiraan Oh Put-jiu, sisa sangu itu mungkin dapat bertahan hingga mencapai pantai timur, tapi entah kapan baru dapat menemukan kapal layar pancawarna itu, bagiku tidak menjadi soal hidup sehematnya, tapi Po-ji masih kecil, mana ia tahan menderita?
Karena pikiran itu, meski dia bernama Put-jiu atau tidak sedih, tidak urung merasa sedih secara diam-diam.
Suatu hari sampailah mereka di pantai timur, pemandangan laut yang tidak pernah dilihatnya itu membuat Po-ji sangat tertarik dan berkeplok gembira.
Saking isengnya Oh Put-jiu justru duduk jauh di batu karang sana untuk 14 memancing.
Po-ji tidak tahu tujuan memancing Put-jiu itu selain hendak mencari ikan sekadar isi perut, sekaligus juga mengawasi bayangan kapal layar yang mungkin akan muncul.
"Paman kepala besar, asyik juga tampaknya engkau memancing ikan?"
Tegur Po-ji dengan tertawa.
Oh Put-jiu hanya menyengir saja tanpa menjawab, sampai larut malam ia berhasil memancing beberapa ekor ikan segar, segera ia membuat api unggun, ikan dibakar dan dimakan.
Bintang berkelip di angkasa raya, ombak mendebur, api unggun di pantai laut, Po-ji merasa dirinya serupa berada di alam dongeng.
Sampai ikan bakar yang berbau amis itu pun dirasakannya seperti makanan yang paling lezat, sekaligus ia habiskan tiga ekor, lalu berkata dengan tertawa.
"Menurut kitab, habis makan kenyang baru bisa tidur nyenyak. Sekarang lekas kita mencari hotel untuk tidur."
Oh Put-jiu diam saja, sejenak kemudian baru menjawab.
"Seterusnya kita tidak dapat tinggal lagi di hotel."
Po-ji menunduk dan berpikir, katanya dengan tertawa.
"Aha, tidak tinggal di hotel juga baik, biarlah kita gunakan langit sebagai ranjang, kehidupan seperti ini juga cukup menarik."
"Kehidupan seperti ini apakah tahan bagimu?"
Tanya Put-jiu.
"Memangnya mau apa tahan atau tidak?"
Ujar Po-ji dengan tertawa.
"Yang jelas uang sangu yang kau bawa sudah habis, tanpa duit cara bagaimana bisa tinggal di hotel?"
Oh Put-jiu melenggong, katanya kemudian dengan sambil menyengir dan menggeleng.
"Ai, sungguh anak yang cerdik. Bila bicara denganmu, terkadang aku tidak percaya kamu ini baru anak yang berusia dua belasan."
"Di sinilah manfaatnya orang bersekolah dan banyak membaca, maka aku ...."
Belum lanjut ucapan Pui Po-ji, mendadak dilihatnya muka Oh Put-jiu rada berubah dan mendesis.
"Ssst, ada orang datang. Entah bagaimana maksud kedatangan orang ini, sebaiknya kita berlaku hati-hati."
Benar juga, dari kejauhan sana tampak berlari datang dua sosok bayangan orang, terdengar seorang di antaranya sedang berkata.
"Belum tiba waktunya, cahaya api juga tidak cocok, kubilang bukan di sini tempatnya, tapi kamu ngotot dan mengajak ke sini."
Kawannya menjawab.
"Apa pun juga, kan boleh juga kita istirahat dulu di sini ... wah, lihat, malahan terdapat ikan panggang ...."
Ia tidak melanjutkan, begitu berhadapan ia terus duduk di samping Oh Put-jiu, tanpa permisi seekor ikan panggang dicomotnya terus dimakan dengan lahapnya, seperti ikan ini memang miliknya, Oh Put-jiu dan Pui Po-ji dipandang serupa orang mampus saja, sama sekali tidak dihiraukan.
Mata P-ji mendelik, tegurnya dengan gusar.
"Hei, kawan, hendaknya tahu sopan sedikit ...."
Belum habis ucapannya Oh Put-jiu lantas mencengkeram lengannya dan membentak.
"Kedua tuan ini sudi makan ikan panggang kita kan suatu kehormatan bagi kita, anak kecil tahu apa?"
Sembari mengomel ia pun mengedipi Po-ji, lalu ia menoleh dan berkata dengan tertawa.
"Silakan kedua tuan makan saja, masih ada, biar kupanggang lagi!"
"Hm, mendingan orang kasar seperti dirimu ini bisa melihat orang, kalau tidak ...."
Belum lanjut ucapan lelaki sebelah kanan segera kawannya menukas.
"kalau tidak, bisa jadi kamu berdua yang akan kami panggang ...."
Po-ji menahan gusarnya dengan menggereget, di bawah gemerdep api unggun terlihat lelaki yang sebelah kiri berwajah putih pucat, tubuh kurus, memakai baju satin warna merah jambon, baju dengan potongan indah, dari wajahnya dapat diterka orang ini pasti peminum dan gemar main perempuan.
Sedang lelaki sebelah kanan bertubuh tinggi besar dan bercambang, pada punggung kedua orang sama menggembol sebuah ransel besar, keduanya juga sama membawa golok.
Sekaligus si lelaki berewok makan dua ekor ikan panggang, sebaliknya si baju merah hanya memandangya dengan kening bekernyit, ucapnya sambil menggeleng.
"Buat apa ...."
Baru berucap demikian, mendadak ia melompat bangun dan memegang golok sembari membentak.
"Siapa itu yang datang?!"
Suaranya melengkung tajam dan berkumandang jauh memecah malam sunyi. Segera seorang menjawab dalam kegelapan sana.
"It-tin-hong dari Kangpak, datang tanpa bayangan, pergi tanpa bekas!"
Sesosok bayangan lantas melayang tiba mengikuti suaranya dan hinggap di depan api unggun, ternyata seorang pemuda kurus berbaju hitam ringkas, di punggung juga menggembol sebuah ransel.
Si berewok membuang tulang ikan dan bergelak tertawa.
"Haha, kukira siapa, rupanya Hong-lote adanya. Eh, mari, mari, silakan duduk dan makan ikan panggang!"
Pemuda baju hitam terkekeh, jawabnya.
"Dari jauh kulihat cahaya api, semula kusangka Leng-kong-sin-hwe (api ajaib neraka), maka kususul kemari, siapa tahu kalian Piu dan Hou berdua saudara yang berada di sini."
Air muka si jambon yang pucat kelihatan tambah pucat, desisnya.
"Jangan-jangan Hong-heng juga menerima Sin-bok-leng (perintah kayu sakti) dan mengantar sesajen ke sini?"
Ia bicara sambil celingukan seakan-akan khawatir didengar orang.
"Ya, kemarin dulu kuterima Sin-bok-leng,"
Jawab si baju hitam dengan tertawa.
"Maka dalam dua hari sekaligus kurampok 23 keluarga hartawan, akhirnya berhasil mengumpulkan sekadar sesajen ini."
Si baju jambon tertawa, katanya.
"Sudah lama kudengar It-tin-hong dalam semalam menghabisi seribu keluarga, sehari menyikat seratus rumah, dan 16 kenyataan memang tidak bernama kosong. Dan kuyakin kado yang Hong-heng bawa pasti jauh berharga daripada kepunyaan kami."
Si baju hitam menjawab.
"Ah, jangan sungkan. Siapa yang tidak tahu Hun-piu (macan jambon) dan Thi-hou (harimau baja), bilamana kalian mau, harta benda di dunia ini kan serupa isi kantong kalian berdua. Pui Po-ji melongo mengikuti pembicaraan mereka, diam-diam ia menarik Oh Put-jiu dan membisikinya.
"Buset, kiranya ketiga orang ini adalah bandit."
Muka Oh Put-jiu tampak prihatin, waktu ketiga orang itu asyik bicara barulah ia membisiki Po-ji pula.
"Ketiga orang ini bukan sembarang bandit, mereka adalah neneknya bandit, nama mereka termasyhur dan biasa membunuh orang tanpa berkedip. Kedua orang yang datang lebih dulu masing-masing bernama Hun-piu dan Thi-hou, Gwakang mereka sangat menonjol, sarang mereka terletak di Pek-ma-san. Dan It-tin-hong (angin lesus) yang datang belakangan itu adalah bandit yang beroperasi sendirian."
Po-ji berkedip-kedip, katanya kemudian.
"Mengapa ketiga bandit besar ini tanpa berjanji bisa datang ke tempat terpencil ini, jangan-jangan di sini akan datang seorang hartawan besar?"
Oh Put-jiu menggeleng.
"Tidak, dari pembicaraan mereka tadi, agaknya mereka menerima perintah dari seorang tokoh mahalihai yang disebut Sin-bok-leng dan mereka diharuskan cepat mengantar kado ke sini. Tentunya mereka telah diberi tahu akan menggunakan cahaya api sebagai tanda, sebab itulah ketika melihat cahaya api unggun kita, ketiga orang ini lantas memburu ke sini, siapa tahu mereka salah alamat. Ai, ketiga orang ini adalah tokoh yang sukar direcoki, maka dapat dibayangkan orang yang memerintahkan mereka ke sini pasti tokoh yang terlebih hebat."
"Mau apa kalau lebih hebat?"
Ucap Po-ji. Paling-paling juga cuma bandit yang suka rampok dan main bunuh ..."
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terlihat It-tin-hong, Hun-piu dan Thi-hou bertiga serentak berdiri, tiga pasang mata sama menatap jauh ke depan, berbareng mereka menegur.
"Siapa itu?!"
Suara mereka bertiga berbeda-beda, ada yang kasar, ada yang halus, ada pula yang melengkung, maka gabungan tiga macam suara mereka itu membuat orang yang mendengarnya merasa tidak enak.
Anak telinga Oh Put-jiu dan Pui Po-ji juga mendengung tergetar, namun selang sekian lama tetap tiada suara jawaban dalam kegelapan.
Yang terdengar cuma suara keresek orang berjalan dengan langkah yang berat.
Langkah orang berkumandang dari jauh dan semakin dekat, agaknya pendatang melangkah dengan lambat dan seenaknya.
Seketika ketiga orang yang duduk di tepi api unggun menjadi tegang.
"sret", Thi-hou lantas melolos golok dan membentak.
"Siapa itu yang datang, jika tetap tidak bersuara, jangan menyesal bila kami ...."
Di tengah bentakan dari kegelapan sana sudah muncul sesosok bayangan, ternyata seorang perempuan tua gemuk pendek, rambutnya putih seluruhnya dan hampir mendekati botak, berbaju longgar dari kain kasar, anehnya bajunya penuh saku, sedikitnya ada belasan buah.
Tangan memegang tongkat panjang 17 yang hampir sekali lebih panjang daripada tubuhnya.
Dengan napas terengah ia mendekat, melihat cahaya api unggun ia menghela napas lega dan berucap.
"Hangat sekali di sini, bolehkah kududuk di sini dan ikut menghangatkan badan?"
Po-ji melihat muka nenek ini bulat serupa bulan dan senantiasa tersenyum simpul ramah, suaranya juga lemah lembut, diam-diam ia khawatir bagi orang tua ini, khawatir akan dibikin susah oleh ketiga bandit tadi.
Siapa tahu Hun-piu bertiga tetap diam saja, bahkan demi melihat perempuan tua ini mereka pun terkesiap dan melenggong.
Setelah duduk di samping api unggun, dari salah satu saku bajunya si nenek meraba keluar satu biji manisan cermai, lebih dulu diendus beberapa kali, seperti merasa berat untuk dimakan, tapi juga sangat ingin makan, akhirnya manisan perlahan dijejalkan ke mulut, sambil menghela napas perlahan ia nikmati manisan cermai itu, asyik dan nikmat sekali caranya makan sehingga ketiga lelaki kekar bersenjata yang duduk di sampingnya sama sekali tidak dihiraukannya.
It-tin-hong bertiga saling pandang beberapa kali, mendadak mereka sama berlutut dan menyembah dengan wajah kejut dan takut, sampai sekian lama mereka bersujud dan tidak berani menegak.
Si nenek tetap anggap tidak melihat kelakuan mereka, sekaligus ia habiskan tiga biji manisan cermai, lalu dikeluarkan lagi sepotong Siopia dari saku lain, seperti tadi, lebih dulu diendus-endus, habis itu dengan rasa berat baru dimakan dengan nikmat.
Melihat kelakuan nenek itu, Po-ji merasa geli juga heran.
Ia geli karena belasan saku baju si nenek ternyata berisi penganan dan jajanan melulu.
Ia terkejut melihat ketiga bandit besar yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip itu ternyata sedemikian hormat dan jeri terhadap nenek rakus ini, entah apa sebabnya?
Akhirnya terdengar Thi-hou berkata dengan tergegap.
"Terima ... terimalah hormat kami, Ban-lohujin!"
Dengan mulut penuh makanan, si nenek memandang sekejap dengan mata menyipit, lalu tertawa cerah dan berkata.
"Aha, anak baik, lekas bangun! Dasar sudah tua, mataku sudah hampir lamur, sejak tadi tidak tahu kalian berada di sini, maaf ya?"
Kepala Thi-hou bertiga menunduk terlebih rendah, ucap Hun-piu.
"Semoga Ban-tayhiap juga baik-baik saja selama ini."
"Siapa itu Ban-tayhiap (pendekar besar tua Ban)?"
Kata Ban-lohujin dengan tertawa.
"kan sudah lama temanku yang tua bangka itu meninggal dunia .... Ah, barang kali kau maksudkan putraku yang tidak becus itu? Ya, baik, baik, dia sangat baik, cuma ada sedikit kurang berbakti kepada orang tua, setelah punya bini lantas lupa kepada ibu."
Ia bicara dengan tersenyum, kedengaran agak ceriwis serupa nenek umurnya.
Melihat kelakuannya itu, tanpa terasa Pui Po-ji lantas terkenang kepada neneknya sendiri.
Sebaliknya muka Oh Put-jiu tampak sangat prihatin, ia sedang bergumam.
"Ban-tayhiap ... jangan-jangan dia ibu In-bong-tayhiap Ban Cu-liong?"
Sementara itu Thi-hou bertiga sudah berdiri, dengan tertawa Ban-lohujin lantas berkata pula, Melihat kelakuan kalian, jangan-jangan kalian datang membawakan kado atas perintah Sin-bok-leng?"
"Betul"
Jawab Thi-hou. Ia menjawab terlampau cepat sehingga tidak keburu dicegah oleh Hun-piu.
"Ai, pemilik Sin-bok-leng itu sungguh hebat sekali,"
Ucap Ban-lohujin dengan menghela napas.
"meski sudah menghilang sekian tahun, namun wibawanya sebagai ketua perserikatan masih tetap bertahan, begitu dia memberi perintah, cepat-cepat kalian bertiga mengantar hadiah baginya. Sesungguhnya hadiah berharga apa yang kalian antar untuk dia, bolehkah kulihat?"
It-tin-hong bertiga saling pandang sekejap, tertampil rasa sulit mereka.
"Masa kulihat saja tidak boleh?"
Ucap Ban-lohujin pula dengan suara lembut.
"Jika ... jika Ban-lohujin menghendaki demikian, mana kami berani menolak,"
Kata Hun-piu dengan gugup.
Serentak mereka bertiga membuka ransel masing-masing, isi ransel berserakan di tanah.
Seketika pandangan menjadi silau oleh gemerlap batu permata sehingga cahaya api unggun pun kalah terang.
It-tin-hong melirik isi ransel sendiri dan menampilkan rasa bangga.
Sebaliknya Hun-piu cepat membungkus kembali ranselnya.
"Ban-lohujin,"
Kata Thi-hou dengan tertawa.
"Menurut penilaian Lohujin, apakah hadiah yang kami bawa ini cukup memenuhi syarat?"
Ban-lohujin tersenyum, katanya.
"Barang seperti ini jika dipersembahkan kepada raja mungkin masih bolehlah, tapi ...."
"Tapi apa?"
Tanya Thi-hou.
"Tapi jika hendak dipersembahkan kepada pemegang Sin-bok-leng itu, kukira tidak cukup,"
Tutur Ban-lohujin perlahan.
Kalimat yang pertama membuat It-tin-hong merasa puas dan senang, tapi kalimat kemudian serupa air dingin yang menyiram mukanya dan membuat rasa senangnya berubah menjadi rasa kecut.
"Masa tidak cukup? Hadiah yang kami bawa ini tidak memadai?"
Thi-hou menegas dengan terbelalak. Ban-lohujin menggeleng, katanya.
"Ya, tidak cukup, kecuali ... kecuali hadiah kalian bertiga digabung menjadi satu sebagai hadiah seorang saja. Kalau tidak, bila pemegang Sin-bok-leng marah, wah, bisa runyam."
Ia ambil sepotong permen kacang dan dimakan pula dengan nikmatnya dengan mata terpejam tanpa memandang Hun-piu dan lain-lain lagi.
Serentak Hun-piu bertiga meraih ransel masing-masing dan menyurut mundur satu tindak, mendadak It-tin-hong tergelak dan berseru.
"Wah, jika demikian 19 anjuran Ban-lohujin, kan lebih baik barang yang kalian bawa itu diberikan padaku saja dan tentu aku akan berterima kasih padamu."
"Sialan, kamu berani mengincar barang kami?"
Damprat Thi-hou dengan gusar. It-tin-hong menyeringai, katanya.
"Bukan maksudku mengincar barang kalian, tapi kalian tentu tahu, lebih baik kubunuh kalian daripada bersalah kepada pemegang Sin-bok-leng."
"Kentut,"
Jawab Thi-hou dengan gusar.
"Boleh coba saja, apakah kamu dapat membunuh kami atau kami yang akan mampuskan dirimu."
Di tengah bentakannya golok Thi-hou dan Hun-piu lantas terhunus, It-tin-hong tidak tinggal diam, senjata andalannya, yaitu tombak berantai juga segera disiapkan.
Ban-lohujin tetap duduk tenang di tempatnya, tetap dengan tersenyum ramah sambil menikmati jajanan yang dibawanya.
Semua ini dapat disaksikan Oh Put-jiu dengan jelas, diam-diam ia membatin nenek yang kelihatan lemah lembut dan welas asih ini sungguh sangat licin dan keji, hanya beberapa patah kata saja dia sudah dapat mengadu domba It-tin-hong bertiga dan ia sendiri tetap tenang saja.
Karena mengemban tugas berat, Oh Put-jiu tidak berani ikut campur urusan orang, ia cuma menonton saja tanpa ikut bicara.
Tak terduga, baru saja ia berpikir begitu, tiba-tiba Pui Po-ji berseru.
"Eh, nenek, bukankah kedatanganmu juga hendak mengantar kado?"
Kedua mata Ban-lohujin terbuka sedikit, ucapnya dengan suara halus.
"Anak sayang, kau bilang apa?"
"Oo, tidak ada apa-apa,"
Jawab Po-ji dengan tersenyum dan menggeleng.
Namun ucapan Po-ji itu justru menggugah pikiran Thi-hou bertiga, mereka terhitung tokoh Kangouw yang sudah berpengalaman, seketika mereka pun menyadari maksud tujuan si nenek.
Mestinya Hun-piu akan menyerang, tapi segera diurungkan, ia tergelak dan berseru.
"Aha, sungguh lucu dan menggelikan!"
"Menggelikan? Dan apa yang lucu?"
Tanya Thi-hou.
"Memang betul,"
Tukas It-tin-hong.
"Kita ini sungguh sudah keblinger, sama sekali tidak ingat bahwa kedatangan Ban-lohujin ini juga untuk memenuhi perintah Sin-bok-leng, sampai kita harus diingatkan oleh seorang anak kecil, kan lucu dan menggelikan?"
"Ya, cuma kedatangan Ban-lohujin ini agak tergesa-gesa dan tidak membawa kado,"
Sambung Hun-piu.
"sebab itulah dia sengaja mengadu domba kita agar kita sama menggeletak dan Ban-lohujin dapat mengambil barang kita untuk dijadikan kadonya."
Sembari bicara mereka bertiga sudah berdiri berjajar dengan senjata terhunus sambil menyurut mundur. Ban-lohujin menghela napas perlahan, ucapnya lembut.
"Ai, ucapan kalian terasa sangat merendahkan diriku. Coba kalian lihat apa ini?"
Dari sebuah sakunya ia mengeluarkan serenceng kalung mutiara warna ungu gelap, setiap biji mutiara itu sebesar gundu.
Sudah sekian lama Thi-hou bertiga berkelana di dunia Kangouw dan banyak melihat benda mestika aneh, namun belum pernah terlihat mutiara sebesar ini dan berwarna ungu gelap seperti ini.
Dengan sendirinya mereka sangat tertarik dan ingin lebih jelas, tanpa terasa mereka sama melangkah maju.
"Mutiara kristal ungu seperti ini, cukup satu biji saja sudah merupakan mestika yang sukar dicari, apa lagi serenceng kalung, umpama dipersembahkan kepada raja akhirat juga akan diterimanya dengan senang hati,"
Demikian kata Ban-lohujin.
"Nah, jika aku sudah memiliki benda berharga ini, untuk apa kuambil barang kalian yang tidak ada artinya itu?"
Thi-hou bertiga sama terbelalak memandangi kalung mutiara itu, mereka merasa kagum dan juga malu.
"Mutiara sebagus ini mungkin kalian belum pernah lihat bukan?"
Kata si nenek dengan tertawa.
"Nah, kalau ingin lihat jelas, silakan periksa lebih dekat."
Tanpa terasa Thi-hou bertiga bergeser pula ke depan.
"Kita memang sia-sia berkelana sekian lama di dunia Kangouw, benda mestika seperti ini jangankan melihat, mendengar saja tidak pernah ...."
It-tin-hong bergumam dengan gegetun.
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kalung mutiara yang dipegang Ban-lohujin berputar dan berubah menjadi berpuluh larik sinar hitam dan menyambar ke depan, mengincar berbagai Hiat-to Thi-hou bertiga.
Tangan si nenek merogoh saku pula, dikeluarkannya bermacam makanan kecil dan disambitkan serabutan.
Betapa cepat gerak serangannya sungguh sukar dibayangkan.
Sama sekali Thi-hou bertiga tidak menyangka si nenek akan menyerangnya begitu saja, terlebih tidak menduga makanan kecil dalam sakunya dapat digunakan sebagai Am-gi atau senjata rahasia.
Selagi ketiganya silau dan bingung oleh berhamburnya senjata rahasia, tahu-tahu dada, perut dan bagian lain telah tertimpuk, terdengar jeritan mereka, ketiganya roboh terjungkal, di tubuh masing-masing sedikitnya terhinggap tujuh-delapan biji Am-gi yang terdiri dari biji lengkeng, cermai dan lain sebagainya, semuanya amblas ke dalam daging seperti lengket.
Hanya Thi-hou saja yang bertubuh tinggi besar, dia tidak mati seketika, dengan suara parau ia sempat berteriak.
"Engkau sudah ... sudah punya mutiara ungu sebanyak itu, buat apa ... buat apa mengincar barang kami ...."
"Ai, anak bodoh, di dunia ini mana ada mutiara ungu?"
Ucap Ban-lohujin sambil menggeleng. Thi-hou melengak, butiran keringat sebesar kacang menghiasi dahinya, dengan menahan sakit ia meronta dan berteriak pula.
"Habis barang ... barang apakah itu?"
Si nenek tersenyum, katanya.
"Ini sejenis anggur, kalian sudah lama berkelana, masakah buah anggur begini saja tidak kenal?"
Tergetar tubuh Thi-hou, kedua matanya melotot, teriaknya parau.
"Oo, mati aku ...."
Belum lanjut ucapannya, terdengar kerongkongannya berbunyi "krok", seketika pula putus napas. Sungguh dia mati penasaran. Memandangi mayat mereka, dengan suara lembut Ban-lohujin berucap.
"Ai, sayang, sungguh sayang!"
Po-ji terkesima menyaksikan semua kejadian itu, sekarang ia pun mendongkol demi mendengar gumam si nenek, pikirnya.
"Kalau sayang, kenapa kau bunuh orang?"
Didengarnya Ban-lohujin berucap pula dengan menyesal.
"Sayang barang makananku sebanyak ini terbuang percuma oleh ketiga manusia tak becus ini."
Dengan tongkatnya ia mendekati ketiga sosok mayat itu, ia berjongkok dan mengorek keluar semua makan kecil yang terjepit di tubuh mereka itu, digosoknya makanan itu pada baju mereka untuk menghilangkan noda darah, lalu sebiji demi sebiji dimasukkan kembali ke dalam saku.
Baru sekarang Po-ji tahu yang disayangkan si nenek bukanlah manusianya, melainkan makanannya.
Menyaksikan kelakuan orang tua itu, kaki dan tangan Po-ji terasa dingin dan mual pula, tak tertahan lagi ikan panggang yang dimakannya tadi sama tertumpah keluar.
Karena ucapan Po-ji tadi, semula Oh Put-jiu mengira anak itu akan menimbulkan malapetaka, tapi kejadian selanjutnya berlangsung dengan cepat dan membuatnya terkesima juga.
Sekarang ia baru saja menenangkan diri, pada saat si nenek berdiri menghadap ke sana, cepat ia angkat Po-ji yang sedang tumpah itu terus hendak dibawa kabur.
Siapa tahu, baru saja ia bergerak, tahu-tahu Ban-lohujin sudah berdiri di depannya dengan gelak tertawa, katanya sambil menuding Po-ji.
"Ini anak siapa? Sungguh pintar dan cerdik."
Oh Put-jiu tidak menjawab, sekali berputar segera ia melompat ke arah lain dan segera hendak lari pula.
Tapi baru saja ia geser tempat, tahu-tahu si nenek mengadang lagi di depannya dan menegur dengan tertawa.
"Untuk apa kau lari? Anak sepintar ini, masa nenek sampai hati mencelakai dia?"
Oh Put-jiu tidak tahu cara bagaimana nenek itu bergerak, tapi tahu-tahu sudah berada di depannya serupa hantu, ia tahu sukar lagi kabur, ia berbalik tenang dan mencari akal untuk menghadapi orang.
Po-ji meronta sekuatnya untuk turun, lalu berteriak.
"Hei, jika engkau tidak sampai hati mencelakaiku, tapi juga tidak melepaskan kami pergi, sesungguhnya ada apa?"
Ban-lohujin tertawa lembut, katanya.
"Orang tua serupa nenek ini, bila melihat anak yang pintar tentu akan sayang dan berat melepaskannya. Nah, anak sayang, akan nenek beri permen dan manisan."
Benar juga, segera ia mengeluarkan sebiji manisan cermai. Melihat di atas manisan itu masih ada bekas darah, kembali Po-ji mual dan tumpah pula.
"Anak sayang, kamu tidak berani makan? Ai, padahal manisan cermai berdarah ini jauh lebih manis daripada makanan apa pun,"
Ucap Ban-lohujin dengan tertawa.
Meski yang diperbuatnya jelas hal-hal yang paling keji dan kejam, namun air mukanya justru senantiasa dihiasi senyuman yang paling lembut dan paling asih.
Po-ji terus mendamprat.
"Perempuan siluman tua bangka, nenek kejam, makhluk tua bangka, pada suatu hari akhirnya darahmu pasti juga akan diminum orang serupa air teh."
Oh Put-jiu tidak menyangka anak ini bernyali sebesar ini sehingga berani mencaci maki nenek yang memandang nyawa manusia serupa mainan anak kecil ini, keruan ia ketakutan.
Segera ia bermaksud memburu maju untuk membelanya, tapi lantas terpikir sesuatu, segera ia duduk malah di tanah seperti tidak ada yang perlu ditakuti lagi, sedikit pun tidak khawatir bagi anak itu.
Terdengar Ban-lohujin berkata pula dengan tersenyum.
"Anak baik, kau berani memaki diriku, memangnya tidak kau lihat cara bagaimana ketiga orang tadi mati?"
"Mati ya mati, memangnya aku takut?"
Jawab Po-ji dengan bersitegang leher.
"Ai, anak bodoh,"
Ucap si nenek dengan gegetun.
"Masa benar kamu tidak takut mati? Hendaknya ingat, setiap manusia cuma punya satu nyawa dan tidak ada nyawa serep, kan sayang bila nyawa amblas secara sia-sia? .... Ai, jika nenek membuatmu merasakan bagaimana orang yang mati tidak dan hidup pun tidak, nah, kamu baru tahu betapa berharganya nyawa."
Mendadak ia turun tangan, sekaligus tiga Hiat-to di tubuh Po-ji ditutuknya, lalu dikempitnya anak itu.
Waktu ia menoleh, dilihatnya Oh Put-jiu masih duduk tenang dengan tersenyum, sedikit pun tidak khawatir atau cemas.
Biarpun licik dan licin, melihat sikap Oh Put-jiu itu mau tak mau nenek itu terheran-heran, tanyanya dengan tertawa.
"Hei bocah kepala besar, apakah kau datang bersama anak kecil ini?"
"Betul,"
Jawab Oh Put-jiu dengan tertawa. Perlahan Ban-lohujin membelai rambut Pui Po-ji, ucapnya lembut.
"Sekali anak ini kubawa pergi, apakah kau kira dia akan pulang menemuimu dengan hidup?"
"Kukira takkan begitu,"
Jawab Oh Put-jiu dengan tertawa.
"Jika begitu, kenapa sama sekali kamu tidak cemas?"
Tanya pula si nenek. Put-jiu menjawab dengan tersenyum.
"Jika dia kau bawa pergi, tentu ada orang yang akan mencarimu untuk minta kembali anak itu. bila kau bunuh dia, dengan 23 sendirinya juga ada orang akan menuntut balas padamu. Untuk apa aku merasa cemas?"
"Menuntut balas padaku?"
Kata Ban-lohujin dengan tertawa.
"Ha, nenek reyot macam diriku memang sudah bosan hidup dan kuharapkan ada orang akan mencariku untuk membalas dendam, paling baik kalau aku dapat dibunuhnya agar aku tidak hidup merana sendirian di dunia fana ini. Cuma sayang, ai, selama berpuluh tahun ini, tidak sedikit orang yang mati di tanganku, sebaliknya tiada seorang pun berani menuntut balas padaku."
"Orang lain tidak berani, orang ini pasti berani,"
Ucap Put-jiu dengan santai.
"Hahaha, jika kau pun kubunuh sekalian, siapa pula yang tahu bagaimana nasib anak ini di tanganku?"
Seru si nenek dengan tergelak.
"Huh, anak kepala besar seperti dirimu ini tampaknya pintar, kenapa urusan kecil ini tidak kau pikir?"
Oh Put-jiu tersenyum, tambah acuh sikapnya, katanya.
"Orang lain mungkin tidak tahu, tapi orang ini pasti tahu. Jika engkau tidak percaya, boleh saja kau coba."
"Wah, caramu bicara, orang itu kau gambarkan sedemikian sakti, aku justru ingin tahu sesungguhnya tokoh macam apakah orang yang kau maksud itu?"
Mendadak Oh Put-jiu berdiri, dengan hati-hati ia mengeluarkan potongan ranting kayu itu, katanya.
"Orang itu memotong ranting ini dengan pedangnya, boleh coba kau periksa."
Si nenek menerima ranting kayu itu dan diamat-amati ke tepi api unggun, setelah memandang beberapa kejap, air mukanya yang semula tersenyum mendadak lenyap, lalu timbul rasa kejut dan jeri, ucapnya dengan parau.
"Siapakah gerangan yang memiliki ilmu pedang setinggi ini? Jangan ... jangan Ngo ...."
"Betul, ialah Ngo-sik-bang-cun-cu (nakhoda kapal layar pancawarna)!"
Tukas Oh Put-jiu dengan hambar.
Ban-lohujin menyurut mundur dua langkah, mendadak ia lepaskan Pui Po-ji, dengan kedua tangan ia kembalikan ranting kayu itu kepada Oh Put-jiu, bibirnya bergerak seperti mau bicara, tapi urung.
Sekali tongkatnya mengentak, tubuhnya yang buntak itu terus melayang miring ke udara, hanya beberapa kali berkelebat dalam kegelapan, lalu menghilang.
Melihat orang sudah pergi jauh, segera Oh Put-jiu memburu ke arah P-ji, tapi baru melangkah ia lantas ambruk.
Kiranya ia tahu dirinya bukan tandingan si nenek, dalam keadaan putus asa ia mendapat akal, yaitu coba menggertak si nenek dengan nama nakhoda kapal layar pancawarna dengan memperlihatkan bekas tebasan pada ranting kayu itu.
Put-jiu memang cerdik, ia menduga pada bekas tebasan ranting kayu itu pasti terdapat tanda ilmu pedang yang mahatinggi dan mungkin dapat membuat gentar si nenek.
Usahanya ternyata berhasil, demi melihat ranting kayu itu, seketika terunjuk rasa jeri Ban-lohujin.
Ia tidak tahu dunia persilatan Tionggoan baru saja kedatangan seorang jago pedang berbaju putih dari lautan timur, maka dengan sendirinya yang terpikir adalah nakhoda kapal layar pancawarna, ditambah lagi Oh Put-jiu 24 lantas menyebut nama nakhoda itu, kontan nenek itu dibuat ketakutan dan cepat kabur.
Pada lahirnya saja Oh Put-jiu kelihatan tenang, padahal dalam hati juga sangat khawatir bilamana usahanya gagal, saking ketakutan hingga kedua kaki sama lemas.
Maka begitu ia memburu maju seketika ia jatuh terduduk.
Cepat ia merangkak bangun lagi, Po-ji diangkatnya terus dibawa lari cepat beberapa li jauhnya, habis itu barulah ia berani berhenti.
Di tengah malam gelap terlihat tempat ini adalah sebuah lereng bukit kecil, sekitar penuh batu padas tandus, dalam kegelapan malam terasa seram.
Oh Put-jiu mencari sebuah gua karang yang agak tinggi dan coba menyusup ke situ, lalu dibukanya Hiat-to Po-ji yang tertutuk.
Jilid 2.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Setelah siuman, Po-ji merasa sekujur badan masih kaku, rasanya seperti dibelenggu.
Tapi segera Oh Put-jiu mengurutnya sehingga dalam waktu singkat ia dapat duduk dengan bebas.
Anak itu terbelalak, sampai sekian lama tidak sanggup bersuara.
Pedih dan sayang Oh Put-jiu terhadap anak itu, ucapnya lembut.
"Po-ji, apakah kamu ketakutan oleh kejadian tadi?"
Po-ji menggeleng, katanya.
"Mati pun aku tidak takut, Cuma kejadian begitu saja masa membuatku takut? Aku Cuma heran, hanya ditutuk begitu saja oleh si nenek dan aku lantas tak bisa berkutik."
"Itu namanya Tiam-hiat (ilmu menutuk),"
Tutur Oh Put-jiu.
"Jika kamu ingin paham lebih banyak ilmu demikian dan tak ingin ditutuk orang lagi, maka kamu harus tekun belajar ilmu silat."
Po-ji tersenyum.
"Hah, rupanya kesempatan ini kau gunakan untuk menyuruhku belajar silat? Supaya kau tahu, aku lebih suka ditutuk orang seratus kali lagi daripada belajar silat segala."
Oh Put-jiu melengak, sampai sekian lama ia tidak bicara. Terdengar Po-ji berkata pula.
"Aku heran tentang sesuatu."
"Urusan apa?"
Tanya Put-jiu.
"Nenek tadi tidak gentar terhadap apa pun, entah mengapa, begitu melihat ranting kayu kering itu lantas ketakutan setengah mati dan cepat-cepat kabur. Memangnya tokoh macam apakah nakhoda kapal layar pancawarna itu?"
Meski tadi Hiat-to tertutuk, namun daya pendengarannya tidaklah hilang.
"Aku pun tidak tahu,"
Ujar Put-jiu. Po-ji menunduk dan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan menyesali.
"Ai, jika kita sama tidak tahu, marilah kita tidur saja."
Belum lama berselang anak ini harus mengalami berbagai kejadian yang berbahaya, sekarang semua itu seperti sudah terlupa olehnya begitu ia baringkan 25 diri segera tertidur.
Sebaliknya Oh Put-jiu bergulang-guling tidak dapat pulas.
Entah berapa lama lagi, sekonyong-konyong mereka terjaga bangun oleh suara-suara aneh.
Suara itu seperti alat tiup, juga seperti suara raung binatang buas, hanya berbunyi tiga kali, lalu lenyap.
Sambil kucek-kucek matanya yang masih sepat Po-ji bertanya.
"Suara apakah itu?"
Seketika Put-jiu mendekap mulut anak itu sambil berdesis.
"Ssst, jangan bersuara, biarlah kita diam-diam mengintainya."
Saat itu hari belum terang, namun sudah mulai remang-remang, mereka merangkak ke tepi gua karang dan melongok keluar.
Terlihatlah di tanah lereng yang landai itu entah sejak kapan sudah menyala tujuh gunduk api, cahaya api warna kebiruan dan tidak terdapat kayu bakar atau bahan bakar lain, tempat api itu adalah sebuah baskom tembaga, api menyala dari dalam baskom, tujuh gunduk api unggun itu mengelilingi seorang berbaju cokelat dan duduk bersila di situ.
Karena heran, Po-ji berbisik di tepi telinga Oh Put-jiu.
"Sungguh aneh, entah apa yang dilakukan orang itu? Umpama takut dingin kan juga tidak perlu menggunakan tujuh gundukan api unggun."
"Itu bukan orang,"
Kata Oh Put-jiu. Po-ji melenggong, dilihatnya "orang"
Itu memang tidak bergerak.
Setelah diawasi sejenak lagi, akhirnya baru diketahuinya memang bukan orang melainkan cuma sebuah boneka kayu belaka.
Cuma lantaran ukiran boneka itu sedemikian hidupnya sehingga dari jauh sukar dibedakan apakah manusia atau patung.
Mau tak mau timbul juga rasa seram Oh Put-jiu, katanya.
"Jangan-jangan di balik boneka kayu ini ada sesuatu keanehan lagi? ...."
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar pula suara suitan perlahan, dua sosok bayangan berlari cepat muncul dari sana.
Melihat gerak langkah mereka, jelas mereka pun tokoh Bu-lim kelas satu.
Tapi setelah muncul di lereng landai ini, langkah mereka lantas diperlambat, dengan setengah membungkuk, selangkah demi selangkah mereka mendekati patung kayu itu dan serentak bersujud.
Orang yang di sebelah kiri berkata dengan suara berat.
"Ting Tiong-hoa dan Ting Pek-hoa, mereka bersama mempersembahkan 71 benda mainan, seluruhnya bernilai tujuh ratus tahil emas, mohon Sin-kun sudi menerimanya!"
Lalu kedua orang meninggalkan ransel yang mereka bawa, isi bungkusan dikeluarkan satu per satu dan ditaruh di depan patung.
Ternyata semuanya mestika yang berharga.
Setelah memberi sembah lagi, kedua orang lantas menyurut mundur dan berdiri.
Wajah keduanya tampak gembira, setelah mempersembahkan harta benda 700 tahil emas itu rupanya sama sekali tidak merasa sayang, sebaliknya sangat senang dan bangga.
Tentu saja Po-ji terheran-heran.
"Apakah kedua orang ini orang dungu, masa begitu hormat terhadap boneka kayu dan bicara pula padanya, betapa pun mereka bicara masa didengar oleh patung?"
Bukan cuma Po-ji saja yang heran, Oh Put-jiu jauh lebih heran daripada dia.
Maklumlah, Ting Tiong-hoa dan Ting Pek-hoa itu di dunia Kangouw terkenal sebagai Kim-ci-gin-kau Ting-si-siang-kiat atau kedua jago Ting bersaudara, si panah emas dan si gaetan emas.
Mereka adalah bandit budiman terkenal di sekitar provinsi Ciat-kang dan Kangsoh.
Sekarang kedua bandit besar ini jauh-jauh datang ke sini dan mempersembahkan sesajen bernilai sebesar ini, sungguh kejadian yang luar biasa.
Ia pikir.
"Jangan-jangan patung inilah lambang pemegang Sin-bok-leng itu, dan ketujuh gunduk api adalah Leng-kong-sin-hwe yang disebut-sebut It-tin-hong bertiga itu?"
Dengan kejut dan heran Put-jiu dan Po-ji terus mengintai, hanya dalam waktu tidak terlalu lama, di lereng bukti itu telah datang 17 tokoh dunia persilatan kelas terkemuka yang biasanya jarang terlihat.
Ke-17 orang ini macam-macam bentuknya, ada tua, ada muda, ada lelaki ada perempuan.
Ada yang datang berkawan dua atau tiga orang, ada yang muncul sendirian.
Namun tujuan mereka sama, yaitu mempersembahkan sesajen kepada patung kayu ini, yang dipersembahkan seluruhnya adalah benda berharga.
Setiba di depan patung, semuanya berlutut dan menyembah serta melaporkan nama sendiri, waktu pergi juga memperlihatkan rasa gembira.
Agaknya asalkan mereka dapat mempersembahkan sesajen kepada patung, hal ini sudah merupakan perbuatan yang sangat menggembirakan mereka.
Pengetahuan Oh Put-jiu cukup luas dan daya ingatnya cukup baik, dari nama ke-17 orang itu, diketahuinya mereka adalah jago Lok-lim (kaum bandit) yang biasanya memandang barang orang bagai milik sendiri.
Mereka biasa merampas barang milik orang lain, tapi sekarang mereka rela menyerahkan barang sendiri kepada patung ini, sungguh peristiwa aneh yang tidak pernah terjadi.
Hanya dalam satu-dua jam di sekeliling patung itu sudah penuh tertumpuk harta benda mestika yang tak terhitung jumlahnya, karena cahaya kemilau benda mestika itu, makin membuat seram patung kayu yang misterius ini.
Po-ji tidak tahan, kembali ia membisiki Put-jiu.
"Pemilik boneka itu tidak hadir, melulu boneka begitu saja masa mampu menjaga harta benda sebanyak itu, memangnya tidak khawatir akan dicuri atau dirampas orang?"
Put-jiu tersenyum dan menjawab lirih.
"Aku sendiri tidak mengerti akan kejadian ini, namun ...."
Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar kumandang suara orang berdendang dari lereng sana, seperti paduan suara beberapa orang.
Yang dinyanyikan adalah lagu kaum pengemis yang meratapi nasibnya.
Tidak lama kemudian, muncul tiga orang pengemis berbaju penuh tambalan, semuanya berusia 40-an, masing-masing menggembol enam-tujuh buah karung.
Ketika melihat patung kayu aneh itu, serentak mereka berhenti nyanyi dan sama merasa kejut dan heran.
Melihat karung goni yang disandang ketiga pengemis itu, segera Oh Put-jiu dapat menerka mereka pasti anak murid Kay-pang (perserikatan kaum jembel) yang tersebar sangat luas di dunia Kangouw, dan dari jumlah karung yang dipanggil mereka dapat diduga mereka mempunyai kedudukan tinggi dalam organisasi pengemis itu.
Melihat gerak-gerik mereka, jelas kedatangan mereka bukan hendak mengantar sesajen kepada patung melainkan tanpa sengaja memergoki keadaan ini, sebab itulah mereka kejut dan heran melihat keadaan ini.
Ketiga orang saling pandang sejenak, lalu seorang di antaranya yang paling kurus mendesis.
"Ssst, Losi (keempat) dan Lojit (ketujuh), apakah kalian dapat menerka apa-apaan ini?"
Kedua kawannya menggeleng, salah seorang yang lehernya ada uci-uci berkata.
"Jangan-jangan ada upacara sembahyang yang diadakan sesuatu perkumpulan rahasia dunia Kangouw?"
Kawannya yang waktu jalan agak pincang menanggapi.
"Kukira bukan. Masa mempersembahkan harta benda begini kepada setan, hm, mereka kalau bukan dungu tentu gila."
Serentak ketiga orang sama memandang kian kemari, namun tiada sesuatu yang mereka dapatkan. Oh Put-jiu menahan napas dan tidak berani mengeluarkan suara apa pun. Terdengar pengemis kurus tadi berkata.
"Sekitar sini tidak ada manusia ...."
"Wah, alangkah baiknya jika harta mestika ini kita miliki,"
Tukas si pengemis beruci-uci. Si pengemis pincang ikut berkata.
"Harta mestika ini dimiliki patung kayu seperti ini, apakah patung kayu bisa menikmatinya? Kukira lebih baik kita ambil saja."
"Betul,"
Sambung si pengemis beruci-uci.
"Toh orang tidak tahu, setan pun tidak melihat ...."
Ia pandang si pengemis kurus sekejap, lalu bertanya.
"Bagaimana pendapatmu, Jiko?"
Pengemis kurus termenung sejenak, katanya kemudian.
"Entah itu patung sungguh atau bukan?"
"Biar kucobanya,"
Kata pengemis beruci-uci, ia pungut sepotong batu kecil dan disambitkan, dengan cepat dan membawa desir angin batu itu tepat mengenai kepala patung.
"Tokkk", memang benar suara benturan kayu dan batu. Si pengemis pincang tertawa cerah, katanya.
"Jika bukan patung, kepalanya terkena batu sambitan Lojit, mustahil kepalanya takkan bocor dan keluar kecapnya."
"Tapi kalau diketahui Pangcu ...."
Si pengemis kurus tampak ragu, ia pandang onggokan benda mestika yang tak terhitung jumlahnya itu, lalu menggeleng dan berucap pula dengan gegetun.
"Ai, andaikan diketahui Pangcu juga apa boleh 28 buat."
"Ya, betapa pun Jiko memang orang pintar,"
Puji si pengemis beruci-uci. Serentak ketiga orang bergerak cepat menubruk ke arah patung kayu. Diam-diam Oh Put-jiu membatin.
"Sudah lama kudengar disiplin Kay-pang sangat keras, tak terduga ada juga muridnya yang kemaruk harta."
Baru berpikir demikian, dilihatnya ketiga pengemis sudah memasuki lingkaran api unggun.
Gerak si pengemis pincang justru paling cepat, ia mendahului menerjang ke sana, sebelah tangan terus meraih, segenggam batu permata lantas diraupnya.
"Maaf, saudara patung,"
Katanya dengan tertawa terhadap boneka kayu itu.
"Kami bertiga ingin pinjam harta mestikamu yang menganggur ini, nanti kalau ...."
Belum lanjut ucapannya, mendadak tubuh tergetar dan tidak dapat bergerak lagi, batu permata yang diraupnya jatuh berserakan ke tanah, seperti mendadak melihat sesuatu yang sangat menyeramkan.
Dalam pada itu si pengemis kurus dan beruci-uci sudah menyusul tiba, mereka tanya dengan heran.
"Hei, ada apa?"
Waktu mereka menoleh, seketika mereka pun tergetar, mulut melongo tanpa bersuara.
Kiranya sesudah mereka mendekati, terlihat kedua mata patung kayu yang semula terpejam itu mendadak terpentang dan memancarkan sinar mata yang tajam.
"Hahh, kiranya engkau man ... manusia,"
Seru si pengemis pincang dengan suara agak gemetar.
Nyata, selama dua-tiga jam patung yang sama sekali tidak bergerak itu rupanya manusia hidup.
Tentu saja ketiga pengemis itu terkejut, malahan kejut Oh Put-jiu dan Pui Po-ji juga tidak terkatakan.
Mendadak si pengemis beruci-uci membentak.
"Biarpun kamu manusia juga akan kubuat kau jadi setan!"
Rupanya merasa dipermainkan orang, pula untuk menutupi perbuatan tamaknya tadi, seketika timbul nafsunya membunuh, sekali menubruk maju, kedua tangan menghantam sekaligus, secepat kilat ia hantam dada orang berbaju cokelat yang duduk bersila dan semula disangka patung itu.
Pengemis beruci-uci ini bertenaga raksasa pembawaan, latihan fisiknya terhitung paling tangguh, ia termasuk sati di antara ke-17 jago andalan Kay-pang.
Ia memukul dengan kedua tangan, tenaganya paling sedikit ada tujuh atau delapan ratus kati, jika cuma tubuh manusia biasa pasti tidak tahan.
Siapa tahu si baju cokelat sama sekali tidak mengelak atau menghindar, keruan si pengemis uci-uci sangat girang, bentaknya.
"Kena!"
"Blang", dengan tepat kedua kepalan si pengemis menghantam pada dada sasarannya. Namun yang dirasakan pengemis itu, pukulan mahadahsyat itu rasanya seperti mengenai kayu lapuk saja, sama sekali tidak serupa tubuh manusia yang berdarah daging. Akibatnya jika si baju cokelat masih tetap duduk bersila di tempatnya, tahu-tahu si pengemis sendiri yang tergetar dan terpental jatuh. Darah serasa bergolak dalam rongga dada, kedua pergelangan tangan kesakitan seperti patah, wajah pun pucat ketakutan. Kedua pengemis yang lain juga terkejut, melongo tanpa bersuara. Apabila si baju cokelat ini manusia hidup, mengapa tubuhnya serupa kayu lapuk? Dan jika dia bukan manusia hidup, mengapa matanya memancarkan sinar tajam? Si baju cokelat masih tetap diam saja serupa patung, tiba-tiba dari belang ketiga pengemis berkumandang suara lembut.
"O, kasihan ..."
Meski suara itu lemah lembut, namun ketiga pengemis itu serupa burung yang sudah ketakutan oleh pelinteng, serentak mereka membalik tubuh.
Maka terlihatlah seorang perempuan tua bertubuh gemuk buntak, tangan kiri menjinjing sebuah bungkusan besar, tangan kanan memegang tongkat, dengan langkah lamban ia muncul dari kegelapan.
Di bawah cahaya api Po-ji dapat melihat jelas perempuan tua ini, desisnya.
"Wah, celaka, perempuan siluman ini datang lagi."
Nenek ini memang benar Ban-lohujin adanya.
Semula Po-ji merasa senyum orang sangat welas asih, tapi sekarang wajah yang kelihatan ramah tamah ini membuatnya mual, sungguh ia ingin memejamkan mata dan tidak mau memandangnya.
Namun apa yang terjadi sekarang sungguh terlampau aneh menarik, siapa pun juga pasti ingin tahu dan tidak nanti memejamkan mata, apa lagi Po-ji yang masih kecil dan serbaingin tahu.
Dilihatnya sambil melangkah Ban-lohujin bergumam dengan gegetun.
"O, anak kasihan ... kasihan ...."
Dengan napas terengah akhirnya nenek itu sampai di depan api unggun. Ketiga pengemis sama tercengang dan waswas, si pengemis uci-uci tidak tahan, bentaknya.
"Siapa anak kasihan?"
Ban-lohujin memandangnya dengan menghela napas, katanya kemudian sambil menggoyang kepala.
"Siapa lagi, ialah dirimu ini."
Pengemis itu melengak, katanya dengan tertawa.
"Sungguh nenek sialan, ada apa aku dikasihani?"
"Kasihan kamu takkan hidup tiga jam lagi,"
Ucap Ban-lohujin dengan gegetun.
"Huh, ngaco-belo!"
Bentak si pengemis uci-uci dengan gusar.
"Eh, kau kira nenek dusta padamu?"
Kata Ban-lohujin perlahan.
"Ai, kamu sudah 30 tergetar oleh tenaga sakti Koh-bok-sin-kang kalau bisa hidup tiga jam lagi sudah untung bagimu."
Heran sekali Po-ji melihat ketakutan mereka itu.
"Koh-bok-sin-kang apakah itu? Mengapa membuat mereka ketakutan setengah mati."
Tiba-tiba dirasakan tangan Oh Put-jiu yang memegang tangannya juga penuh keringat dingin, waktu ia melirik, dilihatnya wajah Oh Put-jiu juga menampilkan rasa ketakutan, tidak sampai Po-ji tanya ia sudah membisiki anak itu.
"Koh-bok-sin-kang itu adalah semacam ilmu mukjizat yang sudah lama hilang dari ilmu silat, orang yang berlatih ilmu ini segenap anggota badannya kaku dan pati rasa, gerak-geriknya juga sukar diraba. Tampaknya orang ini sudah cukup sempurna berlatih Koh-bok-sin-kang, seluruh badannya sudah kaku serupa kayu, senjata biasa saja sukar melukainya. Tadi si pengemis uci-uci tergetar luka oleh tenaga saktinya, jelas jiwanya sukar dipertahankan, maka kita harus hati-hati, jangan sampai dilihat olehnya."
Setelah dia bicara sebanyak itu, ketiga pengemis tadi masih tetap berdiri saja dengan mulut melongo dan mata terbelalak penuh rasa seram, sedikit pun tidak bergerak, dipandang dalam kegelapan malam mereka pun serupa patung.
Mendadak si pengemis uci-uci menjerit, darah segar terus tersembur dari mulutnya, lalu jatuh terjungkal.
Habis terluka dan baru sekarang roboh, suatu tanda betapa keji tenaga Koh-bok-sin-kang.
"Ai, ternyata benar hidup tidak lebih dari tiga jam lagi,"
Ucap Ban-lohujin sambil menggeleng kepala, sikapnya penuh rasa kasihan, seolah-olah seekor semut pun ia merasa sayang untuk menginjaknya.
Jika tidak menyaksikan sendiri dalam sekejap tadi si nenek membunuh tiga orang, tentu Po-ji tidak percaya hati orang tua itu sesungguhnya sangat kejam.
Terlihat si pengemis kurus dan pincang sama berteriak kaget dan berjongkok memeriksa keadaan kawannya, wajah pengemis uci-uci kelihatan biru hangus, dalam sekejap saja jiwa sudah melayang, tanpa terasa kedua pengemis itu mencucurkan air mata.
"Jika kalian sedemikian berduka baginya, apa artinya hidup bagi kalian?"
Ucap Ban-lohujin.
"Biarlah nenek berbuat baik dan mengantar kalian menjadi teman perjalanannya saja."
Segera ia pegang tongkat dengan tangan kiri, tangan kanan terus merogoh saku. Keruan Po-ji terkejut, pikirnya.
"Wah, celaka, kembali nenek siluman ini hendak membunuh orang lagi dengan manisan cermai!"
Pada saat itulah si baju cokelat yang sejak tadi tidak bergerak dan tidak bersuara serupa patung itu mendadak berkata.
"Urusan Bok-long-kun tidak perlu orang lain ikut campur."
Suaranya kaku ketus, setiap kata seperti diucapkan dengan mengerahkan tenaga seolah-olah lidah pun kaku.
Dengan tersenyum Ban-lohujin mengiakan.
Lalu si baju cokelat alias Bok-long-kun (tuan kayu) berkata pula.
"Anak murid Kay-pang maju sini!"
Meski si pengemis kurus dan beruci-uci berduka akan kematian kawannya, tapi melihat kesakitan ilmu silat Bok-long-kun, mana mereka berani mengemukakan niat membalas dendam segala.
Dengan menurut mereka lantas mendekat ke sana.
"Mengingat Cukat Tong, jiwa kalian kuampuni,"
Kata Bok-long-kun. Kedua pengemis itu kegirangan dan berucap.
"Terima kasih, Cianpwe."
"Dan bolehlah kalian memenggal tangan kanan sendiri yang telah menjamah harta mestika tadi,"
Kata Bok-long-kun pula. Tergetar hati kedua pengemis itu, seketika keringat dingin membasahi tubuh mereka.
"Ampun, Cianpwe,"
Ratap si pengemis kurus sambil menyembah.
"Jika Cianpwe ada hubungan baik dengan Pangcu kami, mohon mengingat kepada beliau sudilah mengampuni kami ...."
"Penggal sekalian kedua lengan,"
Tukas Bok-long-kun dengan dingin. Keruan kedua pengemis terkejut dan berteriak.
"Cianpwe, engkau ...."
"Potong pula kedua telinga kalian!"
Sambung Bok-long-kun. Kaki kedua pengemis menjadi lemas dan jatuh terkapar, bibir pun pucat ketakutan. Po-ji juga gemetar menyaksikan kejadian ini. Dengan suara lembut Ban-lohujin berkata.
"Biarlah kuberi nasihat kepada kalian, lebih baik janganlah banyak omong, jika omong lagi, mungkin tangan kanan dan hidung kalian pun sukar diselamatkan!"
Kedua pengemis tahu ucapan si nenek memang tidak salah, terpaksa mereka berdiri dengan gemetar, masing-masing mengeluarkan belati terus memotong daun telinga sendiri.
Biasanya sangat cepat cara mereka membunuh orang, tapi sekarang mereka diharuskan menyayat daun kuping sendiri, tangan mereka justru gemetar sehingga sebuah daun telinga kecil sukar putus meski sudah diiris beberapa kali.
"O, anak kasihan!"
Ucap Ban-lohujin dengan gegetun, mendadak tongkat yang dipegangnya menyambar ke atas, ujung tongkat yang lantas menjeplak, sebatang pisau panjang terjulur.
Panjang tongkatnya mencapai sembilan kaki, ditambah lagi pisau sepanjang dua-tiga kaki, panjang seluruhnya menjadi dua belasan kaki, maka tanpa bergeser tubuh ujung tongkat sudah menyambar sampai di depan hidung kedua pengemis.
Terlihat cahaya perak berkelebat beberapa kali disertai jerit ngeri kedua pengemis, secepat terbang mereka terus melarikan diri, sampai jenazah kawan sendiri pun tidak terpikir lagi.
Di atas tanah tampak tercecer dan terdapat empat potong daun kuping, dua lengan kutung.
Pisau pada ujung tongkat si nenek sudah lenyap, tongkat telah ditarik kembali, 32 hanya napasnya terengah dan berkata sambil menggeleng.
"Ai, sudah tua, tidak berguna lagi ...."
Berbareng ia merogoh saku dan mengambil sebiji manisan cermai serta dimakan dengan nikmatnya.
Semula Oh Put-jiu menyangka kelihaian si nenek hanya karena keanehan senjata rahasianya dan caranya menyerang orang di luar dugaan, sekarang setelah menyaksikan betapa cepat ia menyerang kedua pengemis, baru diketahuinya bahwa Kungfu nenek itu memang sangat lihai, tongkatnya yang panjang itu bahkan sejenis senjata yang amat ampuh dan serbaguna.
Terdengar Bok-long-kun mendengus.
"Hm, siapa yang minta kau turun tangan?"
"Eh, jangan marah dulu,"
Jawab Ban-lohujin dengan tertawa.
"Aku kan juga datang menyampaikan hadiah, memangnya Sin-kun juga akan membikin susah padaku?"
Bok-long-kun hanya mendengus saja. Ban-lohujin lantas membuka bungkusan yang dibawanya, katanya dengan tertawa.
"Ini, jika Sin-kun anggap tidak cukup, Lopocu (nenek tua) masih dapat mencarikan tambahan lagi."
Baru saja ia taruh bungkusan di atas tanah, Bok-long-kun yang duduk bersila itu mendadak berdiri tegak, wajahnya yang kaku timbul selapis hawa hijau.
Air muka Ban-lohujin berubah seketika, tanyanya dengan tertawa.
"Sin-kun mau apa?"
"Siapa yang menyuruhmu ke sini? Menyuruhmu berbuat apa?"
Tanya Bok-long-kun sekata demi sekata.
"Apa? Aku tidak tahu apa-apa?"
Jawab Ban-lohujin dengan sikap bingung.
"Hm, kamu tidak perlu berlagak pilon,"
Jengek Bok-long-kun dengan terkekeh, suaranya melengking menusuk telinga, namun wajahnya tetap kaku tanpa emosi dan membuat ngeri orang yang melihatnya.
"Apa maksud Sin-kun, sama sekali Lopocu tidak tahu, masa aku perlu berlagak pilon segala?"
Kata Ban-lohujin dengan tertawa dan tetap berlagak bingung, namun sikapnya jelas tidak tenteram.
"Apakah perempuan hina she Cui itu yang menyuruhmu ke sini?"
Tanya Bok-long-kun.
"apakah karena dia tahu kugunakan Sin-bok-leng untuk mengumpulkan harta benda dan akan digunakannya untuk memohon bantuan Ngo-sik-bang-cun-cu (nakhoda kapal layar pancawarna), maka kamu disuruh mencari kesempatan di sini untuk membegal?"
Oh Put-jiu terkesiap mendengar ucapan itu, ia heran urusan ini ternyata ada sangkut pautnya dengan nakhoda kapal layar pancawarna. Terdengar Ban-lohujin bergelak tertawa dan menjawab.
"Orang bilang sekujur tubuh Bok-long-kun kaku serupa kayu, hanya hatinya saja yang tidak kaku. Tampaknya sekarang memang bukan omong kosong, buktinya gerak-gerikku dapat kau ketahui juga."
"Sama sekali tidak ada perintahku padamu, tapi orang semacam dirimu masakah mau mengantar hadiah tanpa sebab?"
Jengek Bok-long-kun, sekali melangkah tahu-tahu ia sudah keluar dari lingkaran timbunan harta mestika.
Anggota badannya tampak kaku dan tidak bisa membengkok, namun betapa cepat gerak-geriknya sungguh sangat mengejutkan.
"Wah, setelah maksud kedatanganku sudah terbongkar oleh Sin-kun, tiada jalan lain terpaksa harus minta ampun kepada Sin-kun,"
Kata Ban-lohujin, sambil memegang tongkat ia terus hendak berlutut.
"Ah, nenek siluman ini kembali hendak menyergap orang secara mendadak,"
Demikian pikir Po-ji.
Benar juga, belum selesai berpikir, tongkat si nenek sudah menonjok langsung ke depan, pisau yang terpasang pada ujung tongkat mendadak menjeplak keluar lagi dan dalam sekejap saja sudah menusuk belasan kali.
Jarak si nenek dari Bok-long-kun ada lebih setombak jauhnya, tongkatnya yang panjang juga lebih setombak, yang digunakan adalah gaya tonjokan, gerakannya lincah dan cepat serupa pagutan ular, betapa cepat cara lawan menghindar, ujung tongkat berpisau itu selalu menutup jalannya sehingga lawan tidak mampu mendekatnya dan dengan sendirinya tidak sanggup balas menyerang.
Menyaksikan itu, diam-diam Oh Put-jiu terkesiap, ia pikir serangan si nenek sungguh sangat lihai, senjatanya juga sesuai pemeo dunia Kangouw "satu inci lebih panjang, satu inci lebih berbahaya".
Nyata dengan serangan senjata panjang begitu, yang jelas si nenek sendiri sudah berada dalam posisi yang takkan kalah.
Terlihat sinar perak berkelebat, Bok-long-kun berubah menjadi sesosok bayangan dan berlompatan di luar sinar tajam itu, namun sejauh itu ia tidak mampu mendesak maju.
Api unggun yang kebiruan juga gemerdep terdampar oleh angin senjata, sekonyong-konyong Bok-long-kun membentak, bayangannya lenyap, tahu-tahu ia berdiri tegak tak bergerak lagi.
Ujung tongkat berpisau Ban-lohujin tampak beberapa senti di depan dada lawan, juga tidak bergerak lagi.
Dan hanya sekejap saja gerak tubuh mereka berhenti, entah cara bagaimana, tahu-tahu tangan Bok-long-kun telah meraih ujung tongkat berpisau lawan, dengan tangan kosong mencengkeram senjata tajam dan ternyata tidak terluka sedikit pun.
Ban-lohujin terkejut, cepat ia menarik sekuatnya.
Pada saat itu juga mendadak Bok-long-kun lepas tangan, keruan Ban-lohujin kehilangan imbangan badan dan jatuh terjengkang, serentak Bok-long-kun melangkah maju terus menghantam.
Beberapa gerakan Bok-long-kun itu tampaknya sangat sederhana, tapi sesungguhnya sudah diperhitungkan dengan tepat setiap detik dan setiap kemungkinannya.
Meski Oh Put-jiu anak murid perguruan ternama, tidak urung agak bingung juga menyaksikan beberapa jurus luar biasa itu.
dilihatnya Ban-lohujin sudah kehilangan posisi dan jelas akan kalah total.
Hendaknya maklum, pada umumnya senjata panjang memang menguntungkan untuk menyerang dari jarak jauh, tapi bilamana sampai lawan sempat mendesak maju, bila senjata sendiri tidak dibuang, tentu awak sendiri yang akan kerepotan.
Daya getaran tubuh Bok-long-kun sedemikian kejinya, maka betapa lihai pukulannya dapat dibayangkan, begitu tangan terangkat segera terlihat warna hijau pada telapak tangannya.
Ban-lohujin sama sekali tidak menduga gerak tubuh lawan sedemikian anehnya, baru terkejut serangan Bok-long-kun sudah menyambar tiba dan tampaknya sukar lagi mengelak.
Meski tidak mahir ilmu silat juga Pui Po-ji dapat melihat bahaya yang mengancam nenek itu, diam-diam ia bergirang.
"Semoga nenek siluman ini hari ini mampus saja di sini sehingga dunia akan kehilangan bibit bencana ...."
Belum habis berpikir, mendadak terlihat tongkat si nenek ditekan ke depan, ujung tongkat amblas ke dalam tanah, sekali melejit, tubuh si nenek melayang ke atas dan berjumpalitan di udara, dengan cepat ia melintas di atas kepala Bok-long-kun dan berada di belakangnya, dengan sebelah tangan memegang tongkat dan terjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas.
Karena tidak terduga-duga akan kejadian ini, terpaksa Bok-long-kun tarik kembali pukulannya tadi.
Di luar dugaan, mendadak pergelangan tangan Ban-lohujin berputar, tongkat panjang itu tahu-tahu patah menjadi dua, membanjirlah asap hitam dari bagian tongkat patah itu, begitu cepat asap itu bertebaran sehingga bayangan si nenek lantas menghilang, di tengah asap tebal bahkan terseling pula sambaran cahaya perak mengarah dada Bok-long-kun.
Perubahan ini terlebih di luar dugaan orang, betapa pun Pui Po-ji memang masih anak kecil, tanpa terasa ia menjerit khawatir.
"Wah, celaka ...."
Dilihatnya Bok-long-kun seperti terkena serangan cahaya perak dan roboh terjungkal. Waktu ia pandang Ban-lohujin, nenek itu sudah berada belasan tombak jauhnya dan sedang tertawa.
"Haha, nenek memiliki kesakitan yang tak terkira, siapa yang mampu melukaiku?"
Belum lenyap suara tertawanya, bayangannya sudah menghilang. Tanpa terasa Po-ji menghela napas lagi, ucapnya gegetun.
"Sayang ...."
Belum lanjut ucapannya tahu-tahu Bok-long-kun telah melompat bangun dengan kaku, sorot matanya yang mencorong terpancar ke atas, menatap tempat sembunyi Po-ji dan Put-jiu, katanya.
"Turun!"
Po-ji melenggong, serunya.
"Hah, kiranya dia tidak ... tidak mati!"
Hanya senjata rahasia begitu saja mana dapat mencelakai dia?"
Ujar Oh Put-jiu.
"Kita tidak turun, coba dia bisa apa?"
Kata Po-ji.
"Untuk lari pun tidak bisa lagi, lebih baik turun saja,"
Kata Put-jiu dengan 35 tertawa.
Dia memang pemuda yang baik hati, meski Po-ji banyak omong dan mendatangkan kesulitan, namun sama sekali ia tidak mengomel, sebaliknya tetap tersenyum simpul, anak itu diangkatnya, lalu melompat turun dari gua karang yang tinggi itu.
"Anak itu, coba kemari,"
Kata Bok-long-kun setelah memandang mereka sekejap. Belum lagi Oh Put-jiu bersuara segera Po-ji menanggapinya dengan suara keras.
"Untuk apa ke situ?"
"Apakah kamu yang bicara di atas tadi?"
Tanya Bok-long-kun.
"Betul, kau mau apa?"
Jawab Po-ji sambil meronta turun dari gendongan Put-jiu.
Perlahan Bok-long-kun mendekati Po-ji, pada wajahnya tidak terlihat sesuatu emosi, siapa pun tidak tahu apakah dia bermaksud baik atau buruk.
Tapi Po-ji juga tidak gentar, ia berdiri dengan tegak dan membusung dada.
Meski diam-diam Put-jiu merasa khawatir, namun ia tahu ingin lari pun sukar, maka ia pun tidak menghindar.
Dengan tegak bagai tenggak Bok-long-kun berdiri di depan Pui Po-ji, mendadak ia tersenyum.
Meski senyumnya dingin dan kaku, namun membuat air mukanya yang kaku dingin itu timbul sedikit rasa hangat.
Po-ji tidak mengira orang akan mengunjuk senyum, tanpa pikir ia tanya.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Haha, selama hidupku tak terhitung banyaknya orang yang kubunuh, entah berapa banyak orang Kangouw yang berdoa semoga aku lekas mati, tak terduga, haha, ketika kau lihat terancam bahaya tadi, kamu ternyata merasa khawatir bagiku, waktu kuroboh, kau pun merasa sayang, sungguh kejadian yang tidak pernah kualami selama ini, hahaha ...."
Ia bicara diselingi gelak tertawa, seperti kegirangan luar biasa, namun mukanya tetap kaku dingin serupa orang bertopeng.
Bicara sampai di sini, mendadak sorot matanya beralih kepada Oh Put-jiu dan bertanya.
"Dan kamu siapa?"
Po-ji mengadang di depan Put-jiu, dengan mendelik ia mendahului menjawab.
"Dia paman kepala besar, kau mau apa?"
Walaupun masih kecil dan lemah, namun sekarang ia bersikap seolah-olah seorang pelindung.
"Kamu berani mengintip, seharusnya kamu dihukum mati,"
Kata Bok-long-kun kepada Oh Put-jiu.
"tapi mengingat anak ini, biarlah jiwamu kuampuni. Nah, lekas berbenah dan ikut berangkat bersamaku."
"Siapa mau ikut padamu?"
Teriak Po-ji.
Perlahan Bok-long-kun berkata, &"8220;Ada maksudku mengambil dirimu sebagai murid, asalkan sepanjang jalan kau turut kepada perkataanku, setelah urusan di sini selesai, segera kuterima dirimu sebagai murid terakhir."
"Tidak, aku tidak mau belajar silat,"
Seru Po-ji.
"juga tidak mau mengangkat guru padamu ...."
"Hah, entah berapa banyak orang di dunia ini sama berlutut di depanku dan mohon kuterima dia sebagai murid dan selalu kutolak, sekarang aku yang mau menerimamu sebagai murid, tidak nanti kamu boleh menolak."
"Aku justru meno ...."
Belum lanjut ucapan Po-ji, mendadak Oh Put-jiu menarik bajunya dan menyela.
"Ai, anak bodoh, bilamana kamu bukan anak penurut, belum tentu Sin-kun mau menerimamu sebagai murid."
Ia sudah tahu kepergian Bok-long-kun ini pasti akan mencari nakhoda kapal layar pancawarna, maka ajakan orang agar dirinya ikut berangkat tentu saja sangat kebetulan baginya.
"Ehm, perkataanmu memang tepat,"
Kata Bok-long-kun. Terpikir oleh Po-ji.
"Sepanjang jalan nanti aku justru tidak mau menurut perkataanmu, segala hal akan kutentang dan kukacau, coba apa yang akan diperbuatnya atas diriku?"
Dia memang anak cerdik dan juga nakal, dalam sekejap itu sudah timbul berpuluh macam akalnya untuk menggoda orang.
Terbayang dirinya bakal mengecohkan tokoh semacam Bok-long-kun, ia menjadi sangat senang, katanya dengan tertawa.
"Baik, kuikut pergi bersamamu."
"Hahaha ... haha ...."
Terbahak-bahak Bok-long-kun, mendadak ia berputar satu kali sambil memukul, seketika angin pukulannya memadamkan ketujuh gunduk api unggun, lalu katanya pula.
"Berbenah semua barang itu dan berangkat!"
"Baik,"
Jawab Oh Put-jiu, diam-diam ia pun bergirang.
Cepat ia meringkasi harta benda yang berserakan itu menjadi sepuluh bungkusan besar, semuanya diikat kencang, waktu itu baru diketahui dalam ketujuh baskom itu terisi minyak kental warna hitam.
Ia tidak tahu bahwa itulah minyak mentah yang dihasilkan di wilayah Sekong dan Tibet, namun dapat menduga barang cair itu pasti semacam bahan bakar yang sangat berguna, api yang menyala sukar ditiup padam.
Begitulah ketiga orang lantas memanggul beberapa bungkusan besar itu terus berangkat menuju ke timur menyongsong sang surya yang baru terbit.
Sepanjang jalan benar juga Pui Po-ji selalu mencari alasan untuk mengacau sehingga tidak pernah tenteram barang sebentar pun.
Jika Bok-long-kun menyuruh dia menuangkan teh, maka ia sengaja menangkap seekor kecoak dan ditaruh di dalam cangkir.
Bila Bok-long-kun tanya dia berusia berapa maka ia menjawab aku biasa tidur tanpa selimut.
Oh Put-jiu tahu watak anak ini, sekali ada orang membuatnya tidak senang, maka dia pasti akan membalas dengan macam-macam godaan tanpa habis-habisnya.
Diam-diam ia cemas bagi anak itu.
Tak tahunya Bok-long-kun itu serupa orang yang sama sekali sudah pati rasa, sedikit pun ia tidak marah, jika di dalam cangkir minum ada kecoak, maka berikut kecoak lantas diminumnya sama sekali.
Dan kalau Po-ji menjawab menyimpang dari pertanyaannya, maka ia akan bertanya pula apakah kamu tidur pakai selimut, lalu Po-ji akan menjawab usiaku tahun ini tiga belas.
Sampai akhirnya Po-ji kehabisan akal sendiri.
Put-jiu merasa geli, diam-diam ia pikir sekarang anak ini baru ketanggor atau ketemu batunya.
Mereka terus melanjutkan perjalanan selama tiga hari, sampailah mereka di pesisir, tampaknya di situ semula ada sebuah dusun nelayan, mungkin mendadak mengalami perubahan besar sehingga dusun ini sudah telantar.
Hanya terlihat di pantai berserakan kerangka kapal yang sudah rusak dan lapuk, tersisa belasan gubuk yang juga sudah miring dan reyot tidak keruan bentuknya.
Diam-diam Put-jiu merasa heran.
"Tempat apakah ini? Masa nakhoda kapal layar pancawarna itu bisa tinggal di tempat semacam ini?"
Walaupun heran, namun ia tidak berani bertanya. Dilihatnya Bok-long-kun mendekati salah satu gubuk yang bobrok dan tampaknya setiap saat bisa runtuh.
"Masa rumah begitu juga dihuni orang?"
Diam-diam Po-ji merasa heran.
Sementara itu dilihatnya Bok-long-kun sedang mendorong pintu gubuk itu, waktu Po-ji melongok ke dalam, ia menjadi terkejut.
Kiranya dari luar gubuk itu kelihatan reyot dan hampir ambruk, tapi di dalam keadaan sangat mewah, terpajang sangat serasi, dinding sekeliling penuh tergantung kulit binatang berbulu yang beraneka warna segar.
Meja kursinya juga sangat bagus dengan berbagai hidangan terpilih.
Terlihat dua lelaki berbaju satin menongkrong di atas kursi dan asyik minum arak.
Mimpi pun Po-ji tidak menyangka keadaan di dalam gubuk bobrok itu bisa semewah ini.
Kedua lelaki itu pun terkejut ketika ada orang menerjang ke dalam rumah.
Serentak yang di sebelah kiri berdiri sambil membentak.
"Siapa itu?"
Tinggi orang ini mendekati sembilan kaki, bahu lebar dan berjanggut panjang warna kemerahan, gagah perkasa tampaknya, suaranya juga lantang bagai bunyi genta menggetar anak telinga.
Diam-diam Po-ji memuji keperkasaan orang.
Oh Put-jiu juga terperanjat melihat jenggotnya yang aneh itu, pikirnya.
"Jangan-jangan orang inilah bajak yang biasa malang melintang di lautan bebas dan terkenal sebagai Ci-si-liong (si naga jenggot merah) Siu Thian-ce adanya?"
Lelaki perkasa berjenggot itu pun melenggong demi melihat Bok-long-kun. Tanpa bicara lagi Bok-long-kun masuk ke rumah itu, bungkusan dilemparkan ke lantai, lalu duduk bersila dan mendengus.
"Tuangkan arak!"
Kembali berubah air muka si jenggot merah, namun sedapatnya ia menahan rasa gusar, dituangnya secawan arak dan disodorkan ke depan Bok-long-kun, katanya.
"Baik-baikkah selama ini, Sin-kun?"
Melihat sikap orang sedemikian lunak, sama sekali tidak memperlihatkan kegagahannya, diam-diam Po-ji merasa kecewa, ia pun melemparkan bungkusan yang disungginya, lalu berpaling dan tidak mau memandangnya lagi.
Bok-long-kun minum secawan arak, lalu mendengus.
"Siu Thian-ce, tak tersangka kamu masih kenal padaku, tapi kawanmu itu apakah buta matanya?"
Lelaki berbaju satin yang lain sejak tadi duduk membelakangi pintu dan tidak bergerak melainkan makan minum sendiri sehingga wajahnya belum sempat terlihat jelas.
Hanya tertampak dia memakai kopiah berhias mutiara, berjubah sulam, perawakannya tidak tinggi besar, telapak tangan yang memegang cawan arak kelihatan kurus kering dan berwarna kuning gelap.
Mendengar ucapan Bok-long-kun, mendadak ia tertawa terkekeh dan berucap.
"Hehe, biarpun Sin-kun tidak kenal diriku, namun kukenal Sin-kun. Mari kuberi selamat secawan arak kepada Sin-kun."
Suaranya nyaring serupa logam digosok dan membuat orang ngilu dan merinding. Bahwa orang ini dapat duduk dan minum arak bersama "Ci-si-liong"
Atau naga berjenggot merah, maka dapat diduga orang ini pasti bukan tokoh sembarangan, semula Oh Put-jiu menjadi ingin melihat wajahnya, ingin tahu sesungguhnya siapa dia.
Tapi dari suaranya yang tajam menusuk telinga itu, wajahnya yang mengejutkan orang pun dapat dibayangkan.
Sebab itulah Oh Put-jiu lantas berharap orang jangan menoleh agar tidak mengejutkan bila melihat wajahnya.
Terdengar Bok-long-kun berucap dengan suara berat.
"Jika kau kenal aku, mengapa kamu tidak berdiri?"
Orang berkopiah mutiara tetap tertawa mengekek, katanya.
"Sin-kun kan tamu yang tak diundang dan menerjang masuk kemari tanpa permisi, sebagai tuan rumah di sini tentu saja aku tidak perlu berdiri dan menyambut."
Gemerdep sinar mata Bok-long-kun, jengeknya.
"Tapi mulai sekarang juga akulah tuan rumah di sini, lekas berdiri dan enyah saja!"
"Hehe, memang sudah lama kutahu Sin-kun bermaksud mengangkangi rumah ini dan aku pun bermaksud menyerahkannya padamu, cuma kukhawatir Sin-kun tidak berani tinggal di sini,"
Ucap si kopiah mutiara.
"Haha, untuk pertama kalinya selama hidupku mendengar ucapan demikian,"
Bok-long-kun tergelak.
"Bahwa di dunia ini ada tempat yang tidak berani kudiami, hah, sungguh lucu. Tapi boleh coba jelaskan apa alasanmu berkata demikian?"
Meski dia bergelak tertawa, namun suara tertawanya sangat berbeda ketika bicara dengan Pui Po-ji kemarin, orang lebih suka tuli telinganya daripada mendengar suaranya.
"Soalnya rumah ini sudah kusanggupi dipinjam oleh seseorang,"
Tutur si kopiah mutiara.
"yaitu sebagai pondoknya waktu menanti kedatangan kapal layar pancawarna. Dan orang itu jelas Sin-kun tidak berani merecokinya."
"Oo, siapa dia?"
Tanya Bok-long-kun. Sekata demi sekata si kopiah mutiara menjawab.
"Dia bukan lain ialah Cui ...."
Belum lanjut ucapannya, seketika wajah Bok-long-kun yang kaku itu menampilkan perubahan aneh, seakan-akan alis, mata, telinga dan hidung sama bergeser tempat.
"Cui Thian-ki ... kembali Cui Thian-ki!"
Teriak Bok-long-kun dengan parau.
"Jika kepergok olehku, tentu kulit badannya yang halus dan dagingnya yang putih itu akan kusayat secuil demi secuil ...."
"Apa betul!?"
Mendadak si kopiah mutiara berpaling dengan terkekeh.
Sebenarnya Oh Put-jiu tidak mau melihat wajahnya, tapi tidak tahan oleh rasa ingin tahu sehingga urung ia memandangnya, terlihatlah mukanya kuning pucat dan kurus tiada setitik daging pun sehingga tiada memperlihatkan sesuatu emosi, tampangnya itu lebih mirip tengkorak belaka, sungguh sangat menakutkan.
Selama hidup Pui Po-ji tidak pernah melihat muka seram begini, hampir ia menjerit ketakutan.
Gemertuk gigi Bok-long-kun menahan gusar, jelas tidak kepalang rasa bencinya terhadap Cui Thian-ki, ucapnya gemas.
"Jika Cui Thian-ki berani masuk ke rumah ini, boleh kau lihat saja cara bagaimana kumampuskan dia."
Waktu ia membuka tangan yang menggenggam, cawan arak yang dipegangnya tahu-tahu hancur menjadi bubuk. Air muka si kopiah mutiara tetap tenang saja, ucapnya dengan tertawa.
"Kungfu bagus, cuma sayang, anak buah Cui Thian-ki sendiri?!"
Serentak Bok-long-kun berdiri dan membentak.
"Kurang ajar! Sesungguhnya kamu ini siapa? Dari mana kau tahu ...."
"Hehe, siapa aku ini, masa sampai sekarang tidak dapat kau terka?"
Ucap si kopiah mutiara dengan tertawa.
Tanpa bergerak tahu-tahu tubuhnya mengepung lurus ke atas sehingga atap rumah dijebol menjadi sebuah lubang, hanya sekali berkelebat saja sudah menghilang, sebagai gantinya mendadak beberapa larik sinar perak menyambar masuk dari lubang atap.
Betapa tinggi kepandaian Bok-long-kun ternyata juga sangat jeri terhadap beberapa larik benang perak yang halus itu, sama sekali tidak berani menangkis atau menangkapnya, apa lagi mengejar.
Sekali bergerak, tahu-tahu ia menyurut mundur keluar pintu malah.
Terlihat beberapa larik benang perak jatuh di tanah dan lenyap dalam sekejap, kiranya cuma beberapa larik air yang disemprotkan dari bumbung serupa pompa.
Diam-diam Po-ji merasa heran, ia pikir senjata rahasia ini serupa bambu air, 40 mainan anak kecil, mengapa Bok-long-kun sedemikian takut terhadap air begini?
Belum habis pikir, terlihat kulit binatang yang dibuat karpet itu mengeluarkan suara mendesis terkena air tadi, hanya dalam sekejap saja kulit binatang yang lebur itu lantas membusuk dan lenyap tanpa bekas.
Bahkan lantai di bawahnya juga membusuk menjadi sebuah lubang, maka dapat dibayangkan betapa keras racun dalam air itu.
Begitu menyurut mundur tadi segera Bok-long-kun melayang balik lagi, ucapnya sambil mengentak kaki.
"Dia, memang dia ...."
Mukanya yang kaku bisa juga berkerut-kerut, suatu bukti betapa rasa gemasnya. Terdengar dari jauh berkumandang suara tertawa mengikik orang dan berkata.
"Hihi, aku duduk di depanmu, tapi tidak kau kenal, masih suka omong segala. Tampaknya yang buta bukan aku melainkan kamu sendiri."
Suara tertawanya nyaring merdu, suaranya juga lembut menarik, sama sekali berbeda daripada suara nyaring mengilukan tadi.
Mendengar suara merdu begini, tanpa terasa Oh Put-jiu ingin lagi melihat wajah aslinya.
Bok-long-kun tahu sukar lagi menyusul orang, dengan melotot ia pandang Ci-si-liong Siu Thian-ce, bentaknya parau.
"Kau tahu ... mengapa tidak kau katakan?"
"Kampung ini tadinya tempat berkumpul saudara-saudara kami,"
Tutur Siu Thiance.
"Tapi kemudian lantaran sering kapal layar pancawarna itu singgah ke sini, terpaksa kami pindah tempat berkumpul. Beberapa tahun terakhir ini, setiap orang Kangouw bila ada sesuatu permohonan kepada nakhoda kapal layar pancawarna. Pada musim seperti sekarang tentu datang menunggu di sini. Cayhe adalah bekas tuan rumah di sini, mau tak mau ingin memenuhi sekadar kewajiban sebagai tuan rumah terhadap para kesatria yang datang dari berbagai tempat."
"Sebab itulah isi rumah gubuk ini kuperbaiki agar cocok menjadi tempat memondok para tamu. Soal siapa-siapa yang datang dan apa maksud tujuannya selama ini aku tidak berani bertanya. Makanya kalau tamu tadi ternyata samaran Thian-ki Hujin, hal ini aku pun tidak tahu-menahu, harap Sin-kun jangan marah padaku."
Orang ini tidak malu menjadi pentolan bajak meski dalam hati merasa jeri, namun cara bicaranya tetap tenang dan lancar, berdirinya juga tegak.
Bok-long-kun mendengus dan duduk jauh di sebelah sana tanpa bersuara lagi, sekian lama kemudian, air mukanya berubah kaku lagi, lalu ia berkata sambil memberi tanda.
"Keluar sana!"
Siu Thian-ce memberi hormat dan mengundurkan diri, waktu melewati bekas air tadi, ia berputar ke sebelahnya dan tidak berani menyentuhnya.
"Orang tadi seorang perempuan?"
Tanya Po-ji heran.
"Hm, dia perempuan hina dina yang paling keji dan cabul di dunia ini,"
Jengek Bok-long-kun.
"Maka lain kali bila kau lihat dia hendaknya menyingkir saja sejauhnya."
Selang sejenak ia berkata pula.
"Perempuan hina ini memang mahir merias muka dan tidak ada tandingannya di dunia, setiap saat ia dapat berubah menjadi pelayan restoran, kusir kereta atau kakek pencari rumput, bisa jadi saudagar bahkan menjadi orang yang paling dekat denganmu tanpa kau curigai, maka setiap saat perlu waspada terhadap kelicikannya, sedikit meleng dan jatuh di tangannya, mungkin ingin mati pun sukar."
Ucapan ini keluar dari wajahnya yang kaku dingin sehingga menambah rasa seramnya, tanpa terasa Po-ji juga merinding.
Pada saat itulah di luar jendela tiba-tiba bergema suara tertawa nyaring merdu, suara lembut seorang perempuan berkata dengan tertawa.
"Anak sayang, jangan kau percaya ocehannya. Ia sendirilah manusia paling keji, paling tidak tahu malu ...."
Belum lanjut ucapannya, Bok-long-kun berteriak murka terus menerjang keluar jendela serupa sebatang tombak ditimpukkan dengan kuat, cepatnya luar biasa.
Siapa tahu baru saja bayangannya menerobos keluar jendela, tahu-tahu bayangan orang-orang menyelinap masuk malah.
Gerak bayangan orang ini sungguh sukar dilukiskan cepatnya sehingga sukar terlihat jelas bentuk tubuh dan wajahnya.
Kaget juga Oh Put-jiu, bentaknya.
"Hai ...."
Namun pendatang ini tidak memberi kesempatan bicara padanya, baru saja ia bersuara begitu, tahu-tahu orang sudah menerjang tiba.
Tentu saja Oh Put-jiu terkejut, namun tidak sempat menghindar lagi.
Siapa tahu bayangan orang itu berhenti tepat beberapa senti di depannya, lalu tangan bergerak secepat kilat, sekaligus ia tutuk tiga Hiat-to penting di dada Oh Put-jiu.
Belum lagi tubuh Oh Put-jiu roboh, sekali raih, bayangan orang itu telah merangkul Po-ji, tangan lain bekerja lagi, beberapa Hiat-to anak itu ditutuknya, berbareng kakinya tetap bekerja cepat dan melayang keluar jendela yang lain.
Waktu Put-jiu roboh, bayangan orang itu pun sudah lenyap, betapa cepat sungguh serupa hantu layaknya.
Sungguh dengar saja Put-jiu tidak pernah ada Ginkang setinggi ini, begitu saja ia saksikan Po-ji dibawa lari, meski khawatir dan cemas, namun tidak berdaya.
Dan begitu bayangan itu melayang keluar jendela, sebelah tangan lantas terayun dan setitik cahaya perak menyambar cepat ke depan memecah angkasa, ia sendiri segera mendekam di bawah jendela dan tidak bergerak sedikit pun.
Tentu saja Po-ji terheran-heran.
"Aneh, mengapa orang ini tidak kabur, sebaliknya malah ...."
Pada saat yang hampir sama didengarnya suara bentakan murka di dalam rumah, lalu Bok-long-kun memburu keluar lagi.
"brrr", ia melayang lewat di atas kepala mereka dan mengejar ke arah cahaya perak tadi tanpa memandang ke kaki jendela. Dan baru saja bayangan Bok-long-kun menghilang di kejauhan sana, bayangan orang ini lantas melompat ke atap rumah dengan membawa Pui Po-ji. Baru sekarang Po-ji tahu duduknya perkara, agaknya dengan akal yang sama orang ini tadi pun dapat mengingusi Bok-long-kun yang mengejar lurus ke depan, padahal orang ini bersembunyi di bawah jendela dan segera melompat pula masuk ke dalam rumah. Terdengar orang ini berbisik lirih padanya.
"Anak sayang, lihatlah cara bibi mempermainkan patung tolol itu, menarik bukan?"
Suaranya halus merdu laksana kicau burung kenari di lembah sunyi.
Meski kecil usia Po-ji, tidak urung tergiur juga perasaannya oleh suara orang, tapi ketika ia buka mata dan melihat orang ini bukan lain daripada si kopiah mutiara yang bermuka buruk, cepat ia pejamkan mata dan tidak ingin memandangnya lagi.
Terasa sekujur badan sendiri lemas lunglai tanpa bertenaga, sampai bicara pun tidak sanggup, rasanya sangat berbeda daripada waktu Hiat-to tertutuk kemarin.
Tiba-tiba terdengar suara suitan, dalam sekejap saja Bok-long-kun sudah melayang tiba pula di tengah suitannya, ia mendobrak jendela gubuk yang lain dan menerjang ke dalam.
Terdengar jeritan kaget orang perempuan dan Bok-long-kun lantas melompat keluar lagi melalui jendela sisi lain.
Dan begitulah ia masuk dari timur dan keluar melalui barat, hanya sebentar saja setiap gubuk itu telah digeledah seluruhnya, pintu dan jendela didobrak dan membuat penghuninya menjerit kaget dan takut.
Sama sekali tak terduga olehnya bahwa orang yang dicarinya justru menongkrong di atap rumah.
Setelah mencari kian kemari tidak bertemu, dengan gusar ia kembali ke gubuk tadi tanpa memandang ke atas rumah.
Dan begitu ia masuk ke dalam gubuk itu, segera terdengar suara gedubrakan, agaknya saking tidak terlampias rasa gemasnya Bok-long-kun menghancurleburkan berbagai perabot di dalam rumah.
Pada saat itulah si kopiah mutiara telah membawa Po-ji melompat ke bawah rumah, langkahnya berubah sangat lambat, selangkah demi selangkah tanpa mengunjuk rasa terburu-buru sedikit pun.
Kembali Po-ji merasa heran.
"Apa maksudnya?"
Setelah dipikir lagi segera ia paham duduknya perkara.
"Ah, betul, ia sengaja berjalan dengan lambat supaya tidak menimbulkan suara, dengan begitu takkan diketahui Bok-long-kun karena sama sekali takkan menduga lawan berani berjalan di luar rumahnya."
Dia memang anak pintar dan sangat cerdik, setelah dipikir lagi, ia merasa akal Cui Thian-ki ini memang lain daripada yang lain, apa pun yang diperbuatnya selalu jauh di luar dugaan orang.
Setelah agak jauh, langkah si kopiah mutiara alis Cui Thian-ki makin dipercepat, sampai akhirnya Po-ji merasa angin mendesir di tepi telinga, dirinya serupa melayang-layang di udara.
Setelah berlari sekian lama barulah Cui Thian-ki berhenti, terlihat sekitar hanya batu karang belaka, ombak mendebur di bawah karang, tempat ini entah berjarak berapa jauhnya dengan kampung nelayan tadi.
Cui Thian-ki menepuk badan Po-ji dan membuka Hiat-to yang ditutuknya, katanya dengan tertawa.
"Anak sayang, marilah kita mengadakan persetujuan kesatria, asalkan kamu tidak lari, maka Hiat-tomu juga takkan kututuk, setuju?"
"Toh aku tidak bakalan lolos, untuk apa kukabur?"
Teriak Po-ji. Cui Thian-ki meraba punggungnya dan berkata lembut.
"Anak pintar, apakah kamu sedih setelah kurebut dirimu dari gurumu itu?"
"Hm, kenapa sedih?"
Jengek Po-ji.
"Jika selama hidupku ini takkan melihatnya lagi, bukannya sedih, aku justru sangat gembira ...."
Mendadak teringat olehnya Oh Put-jiu yang masih dalam cengkeraman Bok-long-kun itu, mau tak mau ia merasa khawatir, juga teringat sebabnya perempuan siluman ini merampas dirinya, tentu tidak baik maksudnya dan mungkin dirinya tidak dapat pulang lagi ke rumah.
Apa lagi bila teringat ucapan Bok-long-kun tadi yang menyatakan ingin mati pun tidak bisa bila jatuh dalam cengkeraman perempuan ini.
Betapa pun dia masih anak kecil, maka segala macam perasaannya mudah tertampil pada wajahnya.
Dengan tertawa Cui Thian-ki lantas berkata.
"Anak sayang, kau bilang tidak sedih, namun dalam hati jelas kamu sedih sekali, betul tidak? Masa kamu dapat mengelabui pandangan bibi?"
Po-ji tidak ingin membantah, ia cuma melengos dan memejamkan mata.
Dirasakan tangan Cui Thian-ki masih terus meraba-raba pada tubuhnya, bagian yang diraba dirasakan enak seakan-akan pada tangan perempuan itu ada kekuatan gaib yang aneh.
Apabila Po-ji bukan anak kecil tentu dia takkan tahan oleh belaian maut itu.
Dengan suara lembut Cui Thian-ki berkata pula.
"Mestika sayang, jangan takut, juga jangan gelisah, selang satu dua hari lagi tentu bibi akan mengantarmu pulang."
Perlahan ia peluk Po-ji ke dalam pangkuannya, keruan anak itu merasakan tubuhnya yang lunak dan enak, membuat orang merasa berat untuk berpisah.
Asalkan ia memejamkan mata, segera terlupa wajah orang yang buruk dan seram, sebaliknya terasa lembut, hangat menyenangkan.
Tiba-tiba Cui Thian-ki menghela napas perlahan, katanya.
"Semoga si patung mau menerima syaratku itu, kalau tidak ... ai, anak pintar dan menyenangkan seperti dirimu ini, mana kusampai hati membunuhmu."
Po-ji lantas melompat bangun dan berteriak.
"Memangnya aku hendak kau gunakan sebagai sandera untuk memaksakan sesuatu urusan terhadap Bok-long-kun?"
"Hah, kamu memang pintar, tepat dugaanmu ...."
"Jika demikian, jelas engkau salah besar,"
Seru Po-ji dengan tertawa.
"Sebab biarpun aku kau cencang juga Bok-long-kun takkan sedih sedikit pun."
"Oo, apa betul?"
Cui Thian-ki menegas dengan tertawa.
"Kenapa tidak betul. Aku dan dia bukan sanak kadang, sepanjang jalan malahan banyak kubikin susah padanya, mana dia mau memenuhi syaratmu untuk membela diriku. Jika engkau tidak percaya, boleh saja coba dulu."
Ia bicara dengan mata tetap terpejam rapat dan tidak mau memandangnya.
"Anak bodoh,"
Ujar Cui Thian-ki dengan tertawa.
"Umpama betul perkataanmu kan tidak perlu kau beri tahukan padaku. Jika kurasakan kamu sudah tidak berguna lagi bagiku, kan bisa segera kubunuhmu?"
Po-ji melenggong, diam-diam ia mengakui kebenaran ucapan orang, padahal pikirannya seharusnya dirahasiakan, mengapa malah dikatakan terus terang padanya, meski merasa jemu padanya, tapi isi hatiku kukatakan begitu saja padanya.
Tanpa terasa ia membuka mata, tapi cuma sekejap terlihat wajahnya yang seram itu, segera ia pejamkan mata lagi.
"Kamu tidak berani memandangku, apakah merasa mukaku terlampau buruk?"
Tanya Cui Thian-ki dengan tertawa.
"Yaa, lebih buruk daripada setan,"
Kata Po-ji. Cui Thian-ki tertawa nyaring merdu, sejenak kemudian ia berkata.
"Coba sekarang boleh kau lihat pula."
"Tidak, tidak mau,"
Jawab Po-ji.
Walaupun begitu ucapnya, tidak urung perlahan ia buka matanya dan mengintip, dan sekali pandang matanya tidak terpejam lagi.
Ternyata yang berada di depan mata sekarang bukan lagi makhluk yang bermuka buruk seperti setan dan menakutkan itu, melainkan seorang perempuan mahacantik dengan kerlingan mata yang menggiurkan, senyumnya yang manis menawan itu dapat membuat orang semaput bila melihatnya.
Selama hidup Po-ji tidak pernah terbayang akan melihat perempuan secantik ini, meski banyak Po-ji membaca, sukar juga baginya untuk menemukan istilah yang tepat untuk melukiskan wajah cantiknya.
Meski usia Po-ji masih muda belia, tidak urung terkesima juga menghadapi wajah secantik ini.
"Anak sayang, cantik bukan bibimu ini?"
Tanya Cui Thian-ki dengan senyum lembut. Po-ji menghela napas, katanya.
"Sering kubaca istilah-istilah yang melukiskan betapa cantiknya seorang perempuan, kukira semua ungkapan itu cuma khayalan belaka, setelah melihatmu sekarang baru kupercaya memang benar ada perempuan secantik bidadari."
"Benar kau anggap aku sangat cantik?"
Cui Thian-ki menegas.
"Ya, anak kecil serupa diriku saja silau melihatmu, apa lagi lelaki muda, mustahil tidak tergila-gila padamu, sekalipun engkau menyuruhnya membunuh orang tentu takkan mereka tolak,"
Kata Po-ji.
"Maka baru sekarang juga kutahu arti istilah yang pernah kubaca dalam kitab kuno."
"Istilah apa?"
Tanya Cui Thian-ki tertawa.
"Yaitu, perempuan diibaratkan sebagai sumber bencana, dan kukira memang tepat,"
Kata Po-ji.
"Hehe, kamu masih kecil, urusan yang kau pahami ternyata tidak sedikit,"
Kata Cui Thian-ki dengan tertawa.
"Sungguh sangat menyenangkan bicara dengan anak kecil serupa dirimu ini daripada kaum lelaki busuk."
Bicara sampai di sini, mendadak ia menjerit sambil memegang erat tangan Po-ji, mata pun terbelalak memandang lantai, muka pucat serupa melihat setan.
Tentu saja Po-ji kaget dan heran, waktu ia memandang ke arah sana, terlihat seekor tikus kecil mendekam di lantai seakan-akan juga sedang mengincar perempuan itu.
Saking ngeri dan ketakutan, sehingga Cui Thian-ki tidak sanggup bicara lancar lagi.
"Ti ... tikus ...."
Nyata mesti ilmu silatnya sangat tinggi, betapa pun dia tetap orang perempuan.
Pada umumnya sembilan di antara sepuluh orang perempuan pasti takut terhadap tikus.
Po-ji lantas melangkah maju dan mengentak kaki sambil mendesis.
"Ssst, tikus sialan, lekas pergi ...."
Namun tikus itu justru tidak bergerak sama sekali, karena tidak ada batu, terpaksa Po-ji mencopot sebelah sepatu dan melompat maju untuk mengusir tikus itu.
Karena itulah tikus putih itu berbunyi kaget dan lari.
Cui Thian-ki menghela napas panjang sambil tepuk-tepuk dadanya, katanya.
"Ai, sungguh menakutkan .... Anak sayang, syukur kamu tidak takut tikus."
Po-ji memakai lagi sepatunya dan berucap.
"Sebenarnya aku pun takut."
"Habis, ken ... kenapa ...."
Cui Thian-ki terheran-heran. Dengan lagak pahlawan Po-ji menukas.
"Seorang lelaki kan wajib membela orang perempuan. Kulihat engkau ketakutan, aku jadi lupa pada rasa takut sendiri."
"Oo, mestikaku sayang ...."
Seru Cui Thian-ki dengan tertawa, mendadak ia angkat Po-ji dan "ngok", diciumnya sekali pipi anak itu. Seketika muka Po-ji merah jengah, teriaknya.
"Hei, lepas ... antara lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan."
"Ah, kamu kan masih anak kecil,"
Kata Cui Thian-ki dengan tertawa terkial-kial bagai tangkai bunga kehujanan. Dengan sikap serius Po-ji berucap.
"Meski kita berbeda usia, namun engkau tetap orang perempuan dan aku orang lelaki. Menurut ajaran nabi, antara lelaki dan perempuan tetap ada perbedaannya, kecuali suami istri, siapa pun tidak boleh melanggar peraturan ini."
"Oo, kalau begitu, bolehlah kau jadi suami kecilku saja,"
Ucap Cui Thian-ki 46 dengan tertawa.
"Tadi kamu sudah mengusirkan tikus bagiku dan menyelamatkan jiwaku, pantas juga bila kujadi istrimu."
Po-ji terdekap dalam pelukan Cui Thian-ki, ingin meronta sukar terlepas, mukanya menjadi merah, diam-diam ia pikir.
"Jika kamu boleh bercanda padaku, kenapa aku tidak?"
Berpikir begitu, mendadak ia pun merangkul erat Cui Thian-ki, bukan dicium lagi, tapi hidung orang digigitnya sekali.
Karena kesakitan, Cui Thian-ki mengendurkan pelukannya, omelnya sambil meraba hidung.
"Hei, kau ... kau berani ...."
"Hihi, itulah hadiah suami cilik terhadap istriku,"
Kata Po-ji dengan tertawa.
"Dan sekarang hendaknya istri ikut pergi bersama suami ...."
"Ke mana?"
Tanya Cui Thian-ki dengan tertawa geli. Dengan lagak seorang suami kereng Po-ji berucap.
"Kata nabi, menjadi istri ayam harus ikut ayam, menjadi istri anjing harus tunduk kepada anjing. Ke mana pergi sang suami, ke sana pula si istri harus ikut."
Mendadak Cui Thian-ki berhenti tertawa, dengan serius ia berkata.
"Tidak sedikit kamu membaca, masa tidak tahu ada lagi ajaran nabi?"
"Ajaran bagaimana?"
Tanya Po-ji.
"Menjadi suami ayam harus ikut ayam, menjadi suami anjing harus tunduk pada anjing,"
Kata Thian-ki.
"Hah, mana ada ajaran begitu?"
Po-ji melenggong.
"Ada saja, terbukti dalam berbagai kitab kuno, boleh kau baca ulang."
Kembali Po-ji melongo, tanyanya pula.
"Dalam kitab apa? Karangan siapa?"
"Karangan istri Khonghucu ...."
Belum lanjut ucapannya, ia sudah tertawa terpingkal-pingkal dan menungging. Po-ji juga tertawa geli dan memegang perut, entah berapa lama mereka tertawa.
"Sudah lama sekali aku tidak pernah segembira ini,"
Ucap Cui Thian-ki kemudian.
"Sayang sekarang aku harus bekerja dan tidak dapat menemanimu di sini."
"Apakah engkau hendak mencari perkara kepada Bok-long-kun itu?"
Tanya Po-ji.
"Betul, boleh kau tunggu di sini, jangan kabur ya?"
Ucap Thian-ki tertawa.
"Entah, sukar kujamin,"
Kata Po-ji sambil berkedip-kedip.
"Jika begitu, boleh kau tidur saja,"
Ucap Thian-ki dengan lembut, perlahan ia tutuk Hiat-to tidur anak itu dan menaruhnya di tempat yang teraling dari tiupan angin, kancing bajunya dibetulnya, kelakuannya itu serupa seorang istri yang penuh kasih sayang.
"Suami kecil sayang, tidur yang nyenyak, segera kukembali,"
Kata Thian-ki 47 dengan lembut. Melihat wajah Po-ji yang merah serupa apel itu, tanpa terasa ia "ngok"
Sekali lagi pipi anak itu, lalu ia usap muka sendiri sehingga wajahnya berubah buruk dan seram pula, lalu berlari pergi secepat terbang.
Dan baru saja bayangan Cui Thian-ki menghilang di kejauhan, mendadak dari balik batu karang yang aneh, dari dalam sebuah gua tersembunyi melompat keluar dua anak perempuan.
Kedua gadis ini berbaju merah dan putih, yang seorang ramping, yang lain agak gemuk, namun semuanya berkulit badan putih bersih laksana batu kemala, mata jeli dan jernih, keduanya sama cantik sekali, usia mereka antara 17-18 tahun.
"Kungfu perempuan tadi sungguh tidak lemah, bila kita kepergok olehnya, sungguh sukar menandingi dia,"
Kata si gadis baju merah.
"Ya, waktu kamu bergerak tadi, sungguh aku sangat khawatir,"
Ujar si baju putih dengan tertawa.
"Tampaknya perempuan tadi sedemikian cerdik, sedikit suara saja tentu jejak kita akan ketahuan."
Si gadis baju merah tertawa.
"Untung kau tangkap tikus putih tadi dan kau lepaskan pada waktunya sehingga kita bebas dari kesukaran."
Si nona baju putih juga tertawa geli, katanya.
"Tak tersangka perempuan tadi sedemikian takut pada tikus. Kalau tidak, pasti jejak kita akan diketahuinya."
Kedua nona itu selalu belum bicara sudah tertawa lebih dulu, malahan tertawa dengan sangat manis, sikap mereka begitu menarik dan menggiurkan, lincah dan gembira, seperti sama sekali tidak kenal duka nestapa di dunia ini.
Si gadis baju merah berjongkok, perlahan ia membelai rambut Pui Po-ji, katanya dengan tertawa.
"Anak ini sangat pintar dan cerdik, sungguh sangat menyenangkan."
"Eh, jangan-jangan kamu juga ingin mengambil dia sebagai suami kecilmu?"
Ucap si gadis baju putih dengan tertawa.
"Huh, budak mampus, kau sendiri yang kepingin barangkali ...."
Omel si baju merah.
"Bicara sesungguhnya, sungguh ingin kubawa pulang anak ini,"
Ujar si baju putih.
"Nah, apa katamu tadi,"
Seru si baju merah sambil berkeplok tertawa.
"Kan betul, jelas kau sendiri ingin mencari suami kecil, tapi menuduh orang lain."
Si gadis baju putih mengomel dengan tertawa.
"Memangnya aku serupa dirimu, segala apa hanya memikirkan diri sendiri. Kupikir ... karena anak ini sangat pintar, kurasa akan sangat cocok dijadikan teman main Siaukongcu (putri cilik) kita."
"Aha, gagasan bagus,"
Seru si baju merah sambil berkeplok.
"Kecerdikan anak ini memang benar suatu pasangan dengan Siaukongcu kita."
"Memang,"
Tukas si baju putih dengan tertawa.
"Sepanjang hari Siaukongcu selalu menggerutu kesepian, tidak punya kawan bermain. Jika anak ini kita bawa pulang, tentu kita kan banyak lebih tenang dan tidak perlu diributi oleh 48 Siaukongcu."
"Cuma ... bila kita membawa lari suami kecil orang, bukankah kita akan dibenci setengah mati bila orang pulang dan kehilangan suami kecilnya?"
"Peduli amat, tugas kita kan sudah selesai, asal diam-diam kita bawa pulang anak ini, siapa yang tahu?"
Ujar si baju putih.
"Wah, jika kedua anak ini berkumpul, entah betapa banyak kejadian lucu yang akan mereka lakukan. Akhir-akhir ini Loyacu (tuan besar) suka marah-marah, tapi bila melihat anak yang menyenangkan ini kuyakin beliau takkan marah lagi."
Begitulah kedua gadis itu bicara ceriwis seperti burung berkicau, makin bicara makin senang. Akhirnya si baju merah berkata.
"Baik, mari kita kerjakan."
Tanpa ragu ia terus mengangkat Pui Po-ji yang tertidur nyenyak itu.
"Apakah tidak perlu membuka Hiat-tonya dulu?"
Tanya si gadis baju putih.
"Tidak perlu,"
Si baju merah menggoyang kepala dengan tertawa.
"Biarkan dia tidur saja, bila ia mendusin dan merasakan dirinya berada di tempat serupa surga, tentu akan terjadi hal-hal yang lucu."
"Ah, kamu memang suka mempermainkan orang ...."
Si baju putih tertawa mengikik.
"Ayo berangkat!"
Begitulah dua sosok bayangan merah dan putih lantas melayang turun ke bawah karang secepat burung terbang.
Gerak tubuh mereka ringan, gesit dan cepat, tampaknya sama sekali berbeda dengan Ginkang dunia persilatan umumnya.
Di bawah karang sana, di tempat yang sepi dan tersembunyi tertambat sebuah perahu yang terbuat dengan sangat indah dan kukuh, sedang terombang-ambing dibuai ombak ....
***** Entah berselang berapa lama, waktu Pui Po-ji mendusin, tahu-tahu ia merasakan tempatnya berbaring bukan lagi batu karang keras dan dingin itu, melainkan di tempat tidur dengan kasur yang empuk dan berbau harum.
Terlihat sekeliling tempat tidurnya bergantung kelambu bersulam indah, di sekitar tempat tidur berdiri tujuh atau delapan gadis berbaju sutera secantik bidadari, semuanya tersenyum manis ....
Po-ji menyangka dirinya sedang mimpi, ia coba menggigit bibir sendiri dan terasa sakit, jelas bukan mimpi.
Cepat ia melompat turun tempat tidur dan kucek-kucek mata sendiri.
Sungguh ia tidak percaya kepada apa yang dilihatnya adalah keadaan sesungguhnya.
Melihat kelakuan anak itu, kawanan gadis jelita itu sama tertawa geli.
Dengan mata terbelalak lebar Po-ji bertanya.
"Tempat ... tempat apakah ini?"
Salah seorang gadis jelita yang berbaju putih tampak paling riang tertawanya, 49 biji matanya berputar dan menjawab.
"Coba kau lihat, tempat ini serupa apa?"
Telinga gadis itu memakai anting-anting keleningan emas kecil, maka begitu tertawa lantas menimbulkan suara dering nyaring.
Jilid 3.
Misteri Kapal Layar Pancawarna Setelah celingukan sejenak baru diketahui Po-ji bahwa tempat tidur ini sangat mewah, bahkan seluruh isi ruangan yang tidak terlalu besar ini semuanya serbaindah dan serasi.
Kakek luar Po-ji, yaitu Pek Sam-kong, merupakan pemimpin dunia persilatan wilayah Soatang dan terkenal kaya raya, sejak kecil Po-ji hidup di tengah keluarga terkemuka yang serbamewah.
Tapi bila kemewahan keluarga Pek dibandingkan tempat ini, rasanya sukar disebutkan berapa kali selisihnya.
Po-ji memandang kian kemari dengan melongo dan terbelalak.
"Ayo katakan, di sini mirip tempat apa?"
Seru si gadis baju putih dengan tertawa. Po-ji menghela napas, ucapnya.
"Ai, dari mana kutahu tempat apa ini, rasanya aku berada di surga, berada di tengah kawanan bidadari serupa Cici sekalian!"
"Haha, masa kami secantik bidadari?"
Tanya kawanan gadis itu dengan tergelak.
"Meski aku tidak beruntung melihat bidadari dari kahyangan, tapi kutahu para Cici sangat cantik dan hidup bebas tanpa duka, jelas sukar dibandingi orang cantik di dunia ini."
Melihat cara bicara Po-ji serupa orang dewasa, meski merasa geli, senang juga kawanan gadis itu. Berputar biji mata si nona baju putih, katanya dengan tertawa.
"Eh, bagaimana bila kami dibandingkan binimu yang besar itu?"
Ia gunakan istilah "bini besar"
Untuk padanan "suami kecil", ia sendiri tidak tahan rasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal.
"Dari ... dari mana kalian tahu?"
Tanya Po-ji dengan melenggong.
"Jika kami dewa dari kahyangan, tentu saja segala apa kami tahu,"
Kata si baju putih. Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar berkumandang suara orang memanggil.
"Hei kelening kecil, lekas gosokkan tinta bagiku, kalau tidak cepat bisa kumarah!"
Suaranya merdu dan renyah, serupa kicau burung. Si gadis baju putih menggerundel.
"Ai, Siaukongcu memang bikin repot melulu, setiap saat minta ditemani orang. Untung sekarang sudah kudapatkan tenaga serep, sedikitnya aku dapat istirahat."
Dari suara keleningan kecil pada anting-anting si baju putih, Po-ji tahu nona inilah yang bernama "si kelening kecil", diam-diam ia merasa geli juga.
Ling-ji atau si kelening kecil lantas memegang tangan Po-ji, katanya dengan lembut.
"Akan kubawamu menemui seorang Siaukongcu yang mirip bidadari dan akan kuminta dia menemanimu, mau?"
Po-ji menggeleng kepala, katanya.
"Biarpun benar di sini adalah Surgaloka juga aku akan pulang, aku tidak ingin bertemu dengan Siaukongcu apa segala, hendaknya Cici lekas mengantarku pulang saja."
Ling-ji tertawa ngikik dan berseloroh.
"Hihi, tentu kau ingin mencari bini besarmu bukan?"
Dengan muka merah Po-ji menjawab.
"Sia ... siapa yang ingin menemuinya? Aku ...."
"Jika tidak ingin menemui dia, maka tinggal saja di sini,"
Ucap Ling-ji dengan lembut.
"Asal sekali kau lihat Siaukongcu kami, kuyakin biarpun diusir pun kau takkan mau pergi lagi."
"Aku ... aku ...."
Tanpa memberi kesempatan bicara lagi, beramai-ramai kawanan gadis itu lantas menariknya keluar ruangan itu.
Di luar adalah jalan serambi yang panjang, kedua tepi ada beberapa buah pintu.
Dengan perlahan si gadis baju hijau meraba kepala Po-ji dan berkata.
"Temani saja Siaukongcu dengan baik, kalau tidak, bisa kami antar dirimu ke ujung langit yang jauh sana sehingga selamanya kau tak bisa pulang."
Keruan Po-ji melonjak kaget, pikirnya.
"Wah, kawanan gadis ini tampaknya cantik lagi lemah lembut, siapa tahu semuanya juga bukan manusia baik-baik, aku hendak dijadikan kacung Siaukongcu mereka, tapi mereka terus omong muluk-muluk seolah-olah aku tidak tahu."
Waktu ia dibawa lari Cui Thian-ki, meski merasa kesal, tapi kemudian ada harapan untuk pulang, siapa tahu sekarang tanpa diketahui apa yang terjadi dan tahu-tahu sudah berada di tempat aneh dan misterius ini, jalan untuk pulang pun sukar ditemukan, apa lagi kapal layar pancawarna dan jago pedang nomor satu apa segala, semuanya tak terlihat.
Ia lantas teringat kepada kakek luar dan paman kepala besar, walaupun khawatir, namun urusan sudah kadung begini, terpaksa ia pasrah nasib.
Setelah berpikir, ia merasa geli malah.
"Orang kuno baru pasrah nasib bila sudah berusia 50, umurku belum lagi 15, mengapa aku pun meniru pasrah nasib?"
Biarpun usianya masih muda belia, namun pikiran anak ini cukup terbuka, terhadap urusan apa pun ia bisa berpikir panjang, tidak mau mencari susah sendiri dan bersedih tanpa alasan.
Sementara itu kawanan anak gadis tadi telah membawanya ke depan pintu nomor satu di depan sana, si baju hijau membuka pintu, Ling-ji mendorong dari belakang, tanpa kuasa Po-ji menyelonong ke dalam.
Dilihatnya pepajangan di dalam rumah ini terlebih mewah lagi, sebuah meja marmer hijau terletak di tengah, di atas meja ada sebuah pot kemala putih dihiasi beberapa tangkai bunga kamelia.
Di samping botol kemala terbentang kertas tulis warna hijau muda dan ada alat tulis seperti mopit, tempat tinta, ada lagi sebuah mangkuk kemala berisi air, mungkin tempat mencuci mopit setelah terpakai.
Seorang anak perempuan berumur 12-13 tahun dengan baju putih bersih duduk menyanding meja dengan bertopang dagu dan sedang melamun memandangi bunga kamelia pada pot kemala itu.
Po-ji coba memandang juga bunga kamelia pada pot kemala, dirasakan rangkaian bunga itu agak kacau tanpa teratur, tapi setelah dipandang lagi sejenak, makin dilihat makin terasa cara merangkai bunga itu sungguh sangat menakjubkan, besar kecilnya, posisinya, jaraknya, semuanya terangkai dengan sangat indah dan serasi.
Sama sekali Po-ji tidak menyangka merangkai bunga juga begini menakjubkan, saking pesona tanpa terasa ia bergumam.
"Setelah melihat bunga ini barulah kutahu kebanyakan perangkai bunga cuma orang tolol belaka."
Meski lirih suaranya, membuat terkejut juga Siaukongcu atau putri kecil itu, mendadak ia menoleh dan melototi Po-ji sejenak, katanya kemudian dengan melengak.
"Kau ini barang ... barang apa?"
"Aku manusia, bukan barang,"
Jawab Po-ji dengan menahan rasa dongkol. Kembali Siaukongcu itu memandangnya sejenak.
"Jika kau manusia, mengapa kau tidak serupa diriku, juga berdandan tidak keruan begini?"
Dongkol dan geli juga Po-ji, katanya.
"Aku lelaki dan kau perempuan, dengan sendirinya berbeda."
Disangkanya putri kecil yang tampaknya pintar ini seorang idiot, karena itulah ia merasa kasihan padanya. Putri cilik itu memandangnya lagi dengan terbelalak, katanya kemudian.
"Ah, tidak benar, tidak cocok, jika kau lelaki, mengapa tidak berjenggot?"
Po-ji melenggong, jawabnya kemudian dengan tertawa.
"Usiaku masih kecil, dengan sendirinya tidak berjenggot. Ai, masakah urusan begini saja kau tidak tahu?"
Siaukongcu itu melongo sejenak, lalu tertawa cerah dan berkata.
"Oo, pahamlah aku. Kiranya lelaki yang berusia kecil tidak berjenggot, kalau sudah tua baru berjenggot, serupa halnya anak kecil yang tidak berambut, kalau sudah besar barulah rambut bertambah panjang."
Ia bicara dengan serius, seperti mengenai sesuatu urusan yang rumit dan merasa senang, karena dirinya dapat berpikir sejauh itu.
Melihat kelakuan orang, Po-ji terpingkal-pingkal sehingga pot bunga hampir tersambar jatuh, ucapnya sambil menuding putri kecil itu.
"Ka ... kau ...."
"Kenapa geli?"
Omel putri kecil itu dengan mendelik.
"Kulihat ayah berjenggot, dengan sendirinya kusangka setiap lelaki tentu berjenggot/"
Seketika Po-ji berhenti tertawa, tanyanya dengan heran.
"Memangnya selama hidupmu ini tiada ... tiada lelaki lain yang kau lihat kecuali ayahmu?"
"Ayahku adalah lelaki paling pintar, paling gagah, paling cakap, paling kaya di dunia ini, masakah kusudi melihat lelaki lain?"
Ucap putri kecil itu dengan sikap pongah, namun begitu sukar menutupi perasaan sunyi yang tertampil pada mata alisnya. Po-ji menghela napas panjang, katanya.
"Urusan ... urusan begini, masa selama ini tidak ada yang bercerita padamu?"
"Ayah melarang orang bicara padaku, aku pun tidak mau mendengarnya,"
Ucap putri cilik itu. Mendadak ia seperti ingat sesuatu.
"Oya, selama ini tidak ada orang lelaki yang menerobos ke sini, kulupa tanya padamu, cara bagaimana kau masuk kemari?"
"Kau tanya padaku, lalu harus kutanya siapa?"
Jawab Po-ji sambil angkat pundak.
"Ketika aku bangun tidur, tahu-tahu aku sudah berada di sini."
Kedua mata Siaukongcu yang jeli itu berkedip-kedip, katanya pula.
"Ah, tahulah aku, tentu waktu si kelening kecil dinas keluar, pulangnya kau dibawa kemari."
Meski ia tidak paham sama sekali urusan lelaki dan perempuan, namun caranya menduga sesuatu urusan ternyata lebih cerdik daripada orang tua, cepat lagi tepat, sama sekali tidak mirip seorang anak perempuan berumur belasan tahun.
Biji mata Po-ji berputar, sekilas dilihatnya tangkai bunga dalam pot tersentuh kacau oleh tangannya waktu tertawa sehingga karangan bunga yang indah itu tidak teratur lagi dengan baik, tentu saja ia merasa tidak enak hati, ia coba membetulkan karangan bunga itu.
Tak terduga, mendadak Siaukongcu itu sangat gusar, dampratnya sambil mengentak kaki.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuh bungaku dengan tanganmu yang kotor?"
Seluruh tangkai bunga dalam pot itu mendadak diangkatnya dan dibuang ke dalam baskom di sampingnya, lalu digosok dan dicuci, wajahnya yang ayu mendadak berubah penuh gusar dan benci.
Sayang bunga kamelia itu, banyak kelopak bunga yang rontok sehingga kehilangan bentaknya yang indah tadi.
"He, ada apa,"
Seru Po-ji.
"Bunga sebagus itu ...."
"Bunga yang tersentuh oleh tanganmu yang kotor harus kucuci bersih,"
Ucap putri cilik itu dengan gusar.
"Umpama betul tanganku kotor, setelah ... setelah kau cuci, bukankah bunga yang segar dan indah itu akan rusak?"
"Sengaja kucuci bunga ini, peduli apa denganmu?"
Ucap putri kecil itu dengan ketus. Po-ji melenggong, ucapnya.
"Ai, tak tersangka engkau ini tidak pakai aturan ...."
Seketika putri kecil itu melompat bangun dan berdiri di depan Po-ji dengan bertolak pinggang, teriaknya dengan garang.
"Siapa yang tidak pakai aturan? Coba jawab, kenapa kau sentuh bungaku?"
Siaukongcu dalam sikap seperti ini sungguh kelihatan galak, bawel dan judes, sama sekali berbeda dengan bentuknya yang lemah lembut dan menyenangkan tadi.
Po-ji melenggong oleh perubahan sikap anak dara yang mendadak ini.
"Blang", mendadak putri kecil itu membanting pot kemala itu ke lantai, menyusul kertas tulis di atas meja juga dirobek-robek, lalu mengomel pula sambil mengentak kaki.
"Dengan susah payah selama seharian suntuk baru selesai kurangkai bunga ini, selama ini belum pernah sebagus ini rangkaian bungaku, tapi ... tapi sekarang semuanya telah kau rusak, harus kau ganti ... harus kau ganti ...."
"Baik, akan ... akan kuganti,"
Kata Po-ji.
Meski pada dasarnya Po-ji sendiri juga jail, menghadapi orang yang lebih tua daripada dia, segala apa dapat diperbuatnya.
Tapi sekarang terhadap anak perempuan yang lebih kecil ini, ia benar-benar mati kutu dan tak berdaya, terpaksa ia menahan rasa dongkol dan bicara baik-baik mengikuti kehendak si nona cilik.
Siapa tahu putri cilik itu masih terus berteriak-teriak.
"Kau mau ganti? Apa yang dapat kau ganti?"
Po-ji berpikir sejenak, ia merasa dirinya memang tidak sanggup merangkai bunga sebagus itu, akhirnya ia menghela napas menyesal dan berucap.
"Ya, memang tidak dapat kuganti, lantas ... lantas bagaimana baiknya?"
Siaukongcu seperti mau menangis, matanya tambah basah merah, serunya.
"Takkan kuampunimu, selamanya tidak dapat kuampunimu, kecuali ... kecuali kau ...."
Mendengar masih ada jalan keluar lain, cepat Po-ji menukas.
"Kecuali apa?"
"Jika kukatakan, apakah dapat kau terima?"
Tanya Siaukongcu.
"Untuk itu perlu lihat dulu urusan apa, jika ...."
Mendadak putri itu melonjak dan menangis sungguh-sungguh, teriaknya.
"O, bangsat cilik, keparat cilik, jika tidak kau terima, akan kubeset kulitmu dan kubetot uratmu ...."
Selamanya Po-ji tidak pernah menghadapi anak perempuan yang ribut dan menangis seperti ini, keruan ia menjadi kelabakan, cepat katanya.
"Baik, baik, kuterima."
"Tapi sekarang tidak bisa lagi cuma kau terima satu urusan melainkan harus sepuluh urusan, kalau tidak, tetap tidak dapat kuampuni,"
Sambil bicara putri cilik itu masih terus menangis. Tiada jalan lain terpaksa Po-ji menjawab.
"Baik, sepuluh ya sepuluh."
"Kalau sudah terima tidak boleh menyesal dan ingkar janji,"
Kata Siaukongcu.
"Tentu saja, seorang lelaki sejati tidak nanti ingkar janji,"
Jawab Po-ji tegas.
"Kalau ingkar janji, lantas kau ini apa?"
"Kalau ingkar janji, anggaplah aku bangsat cilik, binatang cilik."
Mendadak Siaukongcu tertawa ngikik.
"Ai, anak bodoh, urusan begini mana boleh kau terima begitu saja? Jika kuminta kau potong hidung sendiri, coba bagaimana?"
Ia mengusap air matanya sehingga kelihatan mukanya yang manis dan menarik, kalau tidak melihat sendiri, siapa pun takkan percaya Siaukongcu yang cantik manis dan lemah lembut ini adalah putri kecil yang bersikap galak dan judes tadi.
Po-ji melongo juga oleh ucapan orang, pikirnya.
"Benar juga, mana boleh sembarangan kuterima permintaannya? Ai, aku memang ... memang anak tolol."
Waktu ia dipanggil "anak bodoh"
Oleh Cui Thian-ki, meski ia pun terima lahir batin seperti sekarang.
Tapi Cui Thian-ki adalah iblis perempuan yang sudah terkenal, sedang Siaukongcu ini cuma anak perempuan kecil, bahwa anak dara sekecil ini juga dapat membuat orang lain tak berdaya dan pusing kepala serupa seorang iblis perempuan termasyhur, kelak bila sudah dewasa kan terlebih hebat.
Dan sekarang entah kesepuluh pekerjaan aneh apa yang dirancangnya agar dikerjakan Po-ji.
Makin dipikir makin cemas juga Po-ji, seketika ia berdiri melongo dan tidak sanggup bicara.
"Haha,"
Anak dara itu tertawa.
"dasar anak bodoh, masa dapat kusuruh kau potong hidung sendiri? Idih, darahnya mancur, betapa menakutkan, buat apa potong hidung?"
Bola matanya berputar beberapa kali, lalu katanya pula dengan perlahan.
"Oya, belum pernah kulihat orang lelaki menangis. Nah, urusan pertama itu, boleh coba perlihatkan padaku cara bagaimana kau menangis."
Po-ji tambah melongo. Meski dia bukannya tidak pernah menangis, tapi sekarang mendadak diharuskan menangis, mana dia sanggup? Siaukongcu menarik muka, omelnya.
"Bagaimana, urusan pertama saja sudah kau ingkar?"
"Aku ... aku tidak dapat menangis,"
Kata Po-ji.
"Sungguh tidak becus,"
Ujar Siaukongcu.
"Apa susahnya menangis? Kalau mau menangis segera aku menangis, ingin tertawa seketika aku tertawa. Ini kan pekerjaan teramat mudah?"
Dongkol dan juga geli Po-ji, tapi bila teringat anak dara ini memang dapat menangis dan tertawa sesukanya, diam-diam ia pun kagum.
Terpaksa ia menghela napas dan mendekap mukanya serta menangis.
Namun apa pun juga sukar keluar air matanya, terpaksa ia colek sedikit air liur untuk membasahi pipi sendiri.
"Selama aku tidak bilang berhenti, kau harus terus menangis,"
Ucap Siaukongcu. Gemas juga Po-ji, terpaksa ia menggerung sekian lamanya dengan kering, meski air mata tetap tidak menitik, namun sekujur badan bermandi peluh.
"Hihi, tangis orang lelaki rupanya tidak mencucurkan air mata melainkan air keringat?!"
Siaukongcu berolok-olok dengan tertawa.
"Tapi, meski tangismu tidak 55 mirip, namun kau banyak mengeluarkan tenaga. Baiklah, boleh berhenti."
Po-ji seperti mendapat pengampunan maharaja, ia duduk selonjor di kursi dengan napas terengah-engah. Dengan mata berkedip-kedip Siaukongcu berkata pula.
"Dan urusan kedua ...."
Begitulah anak dara itu terus memeras otak dan mengemukakan macam-macam soal agar dikerjakan Pui Po-ji.
Sebentar ia suruh Po-ji berjumpalitan 50 kali, lain saat ia minta bocah itu merangkak kian kemari 30 kali, mendadak ia suruh Po-ji duduk selama dua jam dan dilarang bergerak sama sekali.
Po-ji benar-benar dikerjai hingga tenaga habis dan badan loyo, ia hanya dapat meringis belaka.
Ruangan itu tidak tembus sinar matahari sehingga tidak diketahui sudah berselang berapa lama, yang jelas sudah empat-lima kali orang mengantarkan nasi.
Anak gadis yang mengantar santapan itu sama melirik Po-ji dengan tertawa geli.
Po-ji tidak dapat menerka sesungguhnya tempat apakah ini, terlebih tidak tahu ayah Siaukongcu ini tokoh macam apa, mengapa sejauh ini tidak datang menengok putri sendiri.
Untung juga akhirnya Siaukongcu itu juga bisa lelah, lalu ia merangkai bunga.
Kesempatan itu juga digunakan Po-ji untuk mengaso sembari menyaksikan nona cilik itu merangkai bunga.
Ketika putri cilik itu merasa puas akan rangkaian bunganya, tanpa terasa Po-ji juga berkeplok memuji, ia menjadi tertarik dan bertanya siapa yang mengajarkan seni merangkai bunga itu kepada si putri cilik.
Dengan bangga Siaukongcu bertutur.
"Ada seorang sahabat ayahku, konon seorang kosen yang luar biasa di dunia ini, beberapa tahun yang lalu beliau berkunjung kemari, dengan berbagai daya upaya ayah menahannya tinggal di sini dan minta dia mengajarkan sedikit kepandaian kepadaku. Meski lebih sebulan dia tinggal di sini, namun aku cuma diajari seni merangkai bunga melulu, pagi merangkai bunga, petang juga mengarang bunga, rangkai sini dan karang sana, sungguh aku kesal sekali. Akan tetapi ayah justru sangat senang, katanya dalam seni merangkai bunga ini terdapat teori ilmu silat yang mahatinggi."
"Aku tidak percaya,"
Kata Po-ji sambil menggeleng.
"Aku juga tidak percaya,"
Tukas Siaukongcu dengan tertawa.
"maka sengaja kutanya ayah. Siapa tahu ayah sendiri tidak dapat menjelaskan, sebaliknya aku dianjurkan lebih giat belajar merangkai bunga. Terpaksa setiap hari aku merangkai bunga pula. Meski sudah kurangkai sini dan karang sana, tetap sukar kupahami di mana dalil ilmu silat yang terkandung dalam seni mengarang bunga ini. Tapi lambat laun, tanpa terasa aku menjadi mencandu dan gemar merangkai bunga. Sebab pada akhirnya dapat kurasakan bahwa cara merangkai bunga ini tampaknya sangat sederhana, yang benar luas sekali pengetahuan yang terkandung di dalamnya."
"Ya, hal ini tadi pun sudah kurasakan,"
Tukas Po-ji dengan gegetun.
"Sama-sama beberapa tangkai bunga, karanganmu dan rangkaianku ternyata sangat berbeda, serupa ...."
Ia bermaksud memberi suatu perumpamaan, akan tetapi sukar teringat seketika.
"Serupa halnya sebatang pedang, bahkan sejenis ilmu pedang yang sama, bilamana dimainkan seorang tokoh kelas tinggi tentu sangat berbeda dengan jago kelas rendahan."
"Ya, ya, betul, tepat,"
Seru Po-ji sambil berkeplok tertawa. Ia pandang putri kecil itu sejenak, lalu berkata pula.
"Terkadang aku merasa heran, sesuatu urusan yang sederhana tidak dapat kau pahami, sebaliknya urusan yang ruwet dan mendalam justru banyak yang kau pahami."
"Apa betul?"
Ucap Siaukongcu dengan tertawa manis.
"Tampaknya ilmu silatmu pasti juga sangat mahir,"
Ujar Po-ji.
"Tentu saja,"
Kata si putri cilik seakan-akan paham ilmu silat adalah sesuatu yang biasa. Selang sejenak, berkata pula.
"Eh, mungkin kau ingin kuperlihatkan sejurus dua kepadamu."
"Tidak, tidak mau,"
Sahut Po-ji dengan kening bekernyit.
Biasanya ia memang tidak suka ilmu silat, beberapa hari terakhir banyak dilihatnya pula bunuh-membunuh dan darah mengucur, tentu saja ia tambah jemu terhadap ilmu silat.
Mendadak Siaukongcu mendelik dan mengomel.
"Kau tidak mau lihat, aku justru suruh kau lihat. Jika kau bilang ingin lihat, bisa jadi aku berbalik malas memperlihatkan padamu."
"Baik, aku mau, aku mau ...."
"Hihi, kau mau lihat, tentu saja memang harus kau lihat,"
Ucap si nona cilik dengan terkikik.
Po-ji jadi melenggong sendiri, dengan apa boleh buat ia duduk sambil menghela napas tanpa berdaya.
Betapa pun ia bicara begini dan begitu, asalkan si nona cilik main putar sedikit dan ucapan Po-ji lantas terperangkap.
Keruan ia tambah mendongkol, ia bersungut-sungut dengan mulut mencuat hingga cukup untuk dibuat gantungan botol.
"Hihi tampangmu waktu marah sangat lucu, selanjutnya pasti akan kucari akal untuk membuatmu marah setiap hari,"
Kata Siaukongcu dengan tertawa.
Tambah sedih Po-ji mendengar ucapan itu, dilihatnya tubuh Siaukongcu yang kecil mungil itu mendadak berputar cepat, dengan ringan tahu-tahu mengapung meninggalkan lantai.
Bajunya yang putih bagai salju itu berkibar di udara serupa sayap kupu-kupu, kakinya yang bersepatu hias mutiara mendepak perlahan di udara, mendadak tubuhnya menurun ke tengah baskom.
Keruan Po-ji terkejut, baru saja ia hendak memburu maju untuk memegangi si 57 nona, siapa tahu kaki si putri kecil telah menginjak kelopak bunga yang menongol di permukaan air baskom, berdiri dengan tenang dan mantap tanpa goyang sedikit pun.
Baskom penuh terisi air jernih, di dalam terendam bunga kamelia merah muda, di atas kelopak bunga berdiri Siaukongcu berbaju seputih salju, sungguh pemandangan yang indah mirip lukisan bidadari yang sedang bermain air.
Meski tidak suka ilmu silat, demi melihat gaya indah si nona serupa lukisan, mau tak mau Po-ji merasa takjub dan tanpa terasa bersorak memuji.
Sekali melayang, dengan ringan Siaukongcu turun kembali ke lantai, katanya dengan tertawa.
"AH, ini belum apa-apa, hanya kungfu kasaran saja, setiap orang di rumahku baik besar maupun kecil sama mahir gerak ringan tubuh ini."
"Jika ku bilang kungfu kasaran, maka guru silat dunia kangouw yang biasanya sok anggap jagoan tentu harus malu diri,"
Ucap Po-ji dengan gegetun.
"Oo, kiranya kau pun paham ilmu silat,"
Kata Siaukongcu.
"Meski aku tidak paham ilmu silat, sedikitnya dapat kubedakan antara yang bagus dan jelek,"
Kata Po-ji.
"Apa lagi Gwakong (kakek luar), ayah dan ibuku juga ...."
Mestinya ia hendak bilang "juga tokoh dunia persilatan", tapi bila teringat usia si nona yang masih muda belia sudah memiliki kungfu setinggi ini, apa lagi ayahnya, entah betapa hebatnya, seketika Po-ji urung mengumpak kelihaian kakek dan orang tua sendiri.
Teringat ayah si nona entah tokoh lihai macam apa, Po-ji menjadi sedih akan nasib sendiri dan entah kapan baru dapat pulang ke rumah.
Melihat anak itu berdiri termenung, Siaukongcu lantas bertanya.
"Ayah-ibumu bagaimana katamu tadi?"
Belum lagi Po-ji menjawab, sekonyong-konyong dirasakan seluruh rumah ini sama berguncang hebat sehingga Po-ji terjatuh, muka anak itu seketika berubah pucat.
"Jangan takut, anak bodoh,"
Ucap Siaukongcu dengan tertawa.
"Mari, kutarik dirimu."
Ia ulurkan tangannya yang putih halus dan menarik bangun Po-ji. Tak terduga, begitu berdiri Po-ji terus merangkulnya dengan erat sambil berteriak.
"Wah, celaka! Langit akan ambruk, lekas kita lari!"
Putri cilik itu tertawa ngikik, jawabnya.
"Anak bodoh, siapa bilang langit mau ambruk? Ini tidak lain karena kapal yang kita tumpangi membentur tepian, masa kau takut?"
"Hah, kita ... kita berada di atas kapal?"
Po-ji menegas dengan melenggong.
"Memangnya di mana kalau tidak di atas kapal?"
Jawab si nona cilik.
"Aneh, jika di atas kapal, mengapa sama sekali tidak kurasakan?"
Ujar Po-ji.
"Bila kunaik kapal lain, selalu terasa pusing dan mabuk."
Siaukongcu tertawa, katanya.
"Maklumlah, kapal ini teramat besar. Kapal kecil bisa goyang, kapal besar takkan goyang .... Eh, maukah lepaskan tanganmu?"
Baru sekarang Po-ji menyadari anak dara itu masih didekapnya erat-erat, cepat ia lepas tangan, namun masih dirasakan hangat dan enak sekali.
"Antara lelaki dan perempuan tidak boleh berpegangan, kenapa kau rangkul diriku barusan?"
Tanya Siaukongcu dengan melotot. Teguran demikian belum lama baru saja diucapkan Po-ji, siapa tahu sekarang ia sendiri juga ditegur orang, keruan mukanya menjadi merah dan serbakikuk.
"Ayo bicara, sebab apa?"
Tanya Siaukongcu pula dengan suara parau. Po-ji menunduk dan menjawab.
"Aku ... aku ...."
Ia merasa salah, namun sukar untuk menjawab, maka ia cuma gelisah, serbasusah dan hampir mencucurkan air mata. Siapa tahu kembali Siaukongcu mengikik tawa, ucapnya dengan suara lembut.
"Jangan sedih, aku cuma main-main saja. Padahal aku sangat suka dipeluk olehmu, sungguh nikmat."
Mendadak ia merangkul leher Po-ji dengan kedua tangannya yang kecil dan putih halus.
"ngok", perlahan ia cium pipi anak itu, lalu berlari ke sana dengan terkikik. Memandangi baju si nona yang putih dan melambai ringan itu, hati Po-ji terasa manis dan juga rada kecut ... entah apa rasanya sesungguhnya, hanya dirasakan hal ini belum pernah dialaminya selama hidup ini, sungguh terasa lebih nikmat daripada apa pun. Siaukongcu meliriknya sekejap, entah mengapa, mendadak mukanya berubah merah dan mengomel dengan mengentak kaki.
"Kau jahat, aku ... aku tidak gubris lagi padamu ...."
Hati kedua bocah ini sedemikian suci murni, terhadap urusan laki perempuan seperti tidak paham, ingin bicara tapi urung.
Keadaan demikian dan perasaan ini sungguh sukar untuk dilukiskan.
Siaukongcu lantas menunduk di pojok sana sambil memain ujung baju sendiri, sedangkan Po-ji berdiri di pojok lain sambil mendongak terkesima.
Keduanya sama-sama tidak bersuara, sampai lama dan lama sekali ....
Mendadak Siaukongcu berpaling dan menegur.
"Hai, apakah kau bisu?"
Agaknya Po-ji lagi melamun sehingga tidak menjawab.
"Eh, janjimu padaku masih berapa kali yang belum kau kerjakan?"
Omel anak dara itu.
"Empat kali,"
Sahut Po-ji. Siaukongcu tertawa.
"Kukira kau benar bisu, kiranya tidak. Eh, sesungguhnya apa yang lagi kau pikirkan?"
Po-ji menggeleng kepala.
"Tidak ... tidak dapat kukatakan."
"Harus, harus kau katakan, aku justru suruh kau bicara,"
Desak Siaukongcu dengan muka merah.
"Kupikir ... kupikir jika kapal ini sudah menepi, tentu banyak permainan menarik di daratan sana,"
Tutur Po-ji dengan tergegap.
"Alangkah baiknya jika kau mau melihatnya."
Siaukongcu melengak, mendadak ia membelakangi Po-ji dan tidak menggubrisnya lagi. Sejenak kemudian perlahan ia menunduk, seperti menitikkan air mata. Tanpa terasa Po-ji mendekatinya dan bertanya.
"Eh, ken ... kenapa?"
Anak dara itu menggigit bibir dan mengentak kaki, serunya.
"Enyah, lekas pergi!"
Po-ji merasa bingung.
"Katakan padaku, sebab apa kau menangis?"
"Bangsat cilik, keparat busuk, tidak nanti kukatakan kepadamu,"
Damprat anak dara itu dengan gemas.
"Hm, kiranya tadi kau bukan lagi memikirkan diriku, apa pun takkan kukatakan padamu."
Ia bilang tidak mau mengatakan apa pun, padahal semuanya sudah ia katakan.
Ia marah dan menangis, sebab tadi ia lagi memikirkan Pui Po-ji, sebaliknya Po-ji cuma memikirkan permainan di daratan.
Po-ji menghela napas, katanya.
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 1
Baca Juga: Pendekar Kembar 1