Pendekar Lengan Buntung 7

Eps 7 Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Baca online Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Cersil Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw.

tanpa menanti saudarasaudaranya yang lain, Kong In segera menggerakkan pedangnya dan menggali tanah, dibantu oleh Tiang Le dan Cie Lay.

Sedangkan Pei Pei melepaskan jubah baju luarnya dan menutupi kepala Sian Hwa.

Demikianlah dengan amat sederhana sekali, selesailah sudah penguburan jenazah Sian Hwa.

Tiang Le, Kong In, Cie Lay, Bwe Hwa dan Pei Pei memberi penghormatan yang terakhir kepada Sian Hwa.

Untuk tanda pada kuburan Sian Hwa, Cie Lay meletakkan batu gunung di depan gundukan tanah itu dan menulisnya dengan guratan tangannya.

"Disinilah tempat yang abadi dan tenteram bagi sumoay Liem Sian Hwa......." ◄Y► Tiga orang laki-laki dengan gerakan kaki seakan-akan terbang berloncatan di antara batu-batu gunung yang besar dan terjal. Yang seorang adalah Hok Losu yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka hitam. Orang kedua dan ketiga adalah seorang jenderal tinggi tegap yang telah kita kenal sebagai Bong-goanswe (Jenderal Bong) atau lebih tepatnya kita katakan ia itulah Bong Bong Sianjin, seorang pertapa sesat yang menuju jalan hek-to (jalan hitam), sedangkan yang seorang lagi adalah seorang tokoh Kong-thongpay yang bernama Leng Ek Cu. Bayangan ke tiga orang laki-laki itu disusul kemudian berkelebatnya bayangan lain yang amat gesit dan lincah mengurung lembah Tai-hang-san. Dibarengi kemudian munculnya banyak perwira kerajaan Mongol dan Song yang berbaris dengan amat rapinya menaiki puncak Tai-hang-san bagai semut yang hendak menuju ke sarang. Sebuah anak panah berapi menyambar ke atas. Diiringi oleh soraksorak perwira kerajaan yang telah mengangkat senjata menyambut perwira-perwira Mongol dan tak lama kemudian terdengar suara senjata beradu, suasana perang dinyatakan oleh tiupan terompet dari kanan dan kiri puncak! Perwira Song melawan dengan sengit dan berbagai senjata berkelebat menyambut lawan-lawan dari kanan dan kiri yang berpakaian seperti perwira Mongol. Hebat sekali pertempuran ini, tubuh-tubuh manusia menggeletak dari pihak Song dan Mongol, lebih-lebih lagi ketika munculnya barisan pengemis baju kembang yang menyerbu bangsanya sendiri dengan amat ganas dan keji, sehingga barisan Song menjadi kacau dan mulai bergerak mundur. Sepasukan perwira Mongol merapat lagi dan terus mendesak perwira Song dengan hebat dan bersemangat, apa lagi setelah munculnya pengemis-pengemis baju kembang yang lihai dan sakti. Sebentar saja perwira Song telah banyak yang mandi darah dan mati disabet oleh kemplangan-kemplangan tongkat Hwa-ie-kaypang yang lihai itu dan kemudian disambut oleh tusukan dan bacokan-bacokan golok dari perwira Mongol. Suara pedang dan golok menyambar, darah merah muncrat dari dada dan pundak perwira Song yang tak berdaya. Teriakan semangat dari tentara Mongol membuat hati kecut bagi perwira606 perwira Song yang lainnya, akan tetapi di antara perwira Song yang mulai kalut itu nampak sesosok tubuh berkelebat dengan amat ganasnya merangsak musuh, mulutnya berteriak-teriak memberi semangat kepada temannya.

"Maju terus, hancurkan pemerintah Song!"

Penjajahan Mongol, pertahankan Perwira itu sudah tua, berpakaian perwira dengan pedang di tangan ia mengamuk dengan dahsyatnya, merangsek tentara Mongol yang merapat itu.

Mulutnya tak henti-henti mengeluarkan bentakan nyaring yang menyaingi suara dentingan senjata beradu.

Orang tua gagah yang berpakaian jenderal itu adalah Gubernur Ie Yen, orang tua gagah yang berjiwa patriotik ini maju terus sambil mengelebatkan pedangnya mendesak musuh.

Apabila pedang itu berkelebat, nampak sinar perak merenggut nyawa musuh dan tanpa ampun lagi kepala tentara Mongol menggelinding tersambar pedang gubenur Ie Yen, hebat sekali sepak terjang gubernur ini, membuat tentara Song yang tadinya kehilangan semangat kini mulai maju kembali sambil berteriak.

"Ganyang orang Mongol penjajah jahanam, pertahankan kejayaan Negara Song! "

Sikat terus perwira-perwira Mongol keparat!"

Teriakan-teriakan perwira ini disambut oleh datangnya serombongan tentara kerajaan berkuda.

Berbareng dengan itu muncul berkelebat beberapa sosok tubuh yang terus saja mengamuk, mengelebatkan pedangnya dan dua orang perwira Mongol menjerit keras waktu pedang itu menyambar lengan berteriak kesakitan melepaskan senjatanya.

"Bagus, Sin Tek Sicu, mari kita hancurkan musuh-musuh kita ini!"

Seru gubernur Ie Yen dengan girang sambil mengelebatkan pedangnya ke sana ke mari bagai harimau terluka mencari mangsa. Sementara Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek menoleh kepada gubernur itu dan berkata.

"Ciangkun, jangan kuatir pasukan Kim-coa-pay sudah menyerbu di sebelah selatan dan sebentar lagi akan mendesak ke mari!"

"Haa haa haa, baik sekali sicu, mari kita mencari pengkhianatpengkhianat bangsa itu. Hendak kupenggal kepala jenderal Bong jahanam!"

Ia berkata demikian saking sengitnya gubernur Ie Yen, sehingga pedangnya berkelebat ganas dan tubuh perwira Mongol yang tak kuasa untuk menangkis atau berkelit, sudah tersambar pedang Ie Yen dan terdengar jeritannya menyayat hati.

Kini dengan munculnya barisan dari Kotaraja, tentara Mongol mulai kacau dan terdesak mundur.

Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek tak memberi ampun kepada perwira-perwira musuh ini, sepasang pedangnya berkelebat ganas dan lihai!

Sebentar saja lima orang perwira Mongol terjungkal ke belakang oleh terjangan pedang Sin Tek yang bertubi-tubi ganas dan lihai, memang orang tua ini paling benci akan segala penjajah.

Karena mendengar, tentara Mongol menyerbu dan hendak menghancurkan pemerintahan Song, segera saja ia mengerahkan anak buahnya dan sebentar saja mereka sudah mendesak musuh dengan amat sengit dan bernafsu!

Pada saat itu, tiga bayangan berkelebat dengan amat cepatnya, terdengar bentakan keras dari seorang hwesio muka hitam.

"Sin Tek, berlutut kau untuk menerima hukuman!"

"Ha ha ha, hwesio murtad, penghianat bangsa. Kau kira aku manusia apa sudah berlutut dihadapanmu. Engkau yang sudah bersekutu dengan bangsa Mongol, hari ini, Aku, Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek akan menyabung nyawa denganmu, hwesio keparat!"

"Bocah nggak tahu diri, kalau begitu biarlah tangan pinceng yang akan mencabut nyawamu! Sambutlah!"

Jubah Hok Losu bergerak cepat.

Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar Sin Tek dengan kekuatan yang luar biasa.

Tahu bahwa hwesio muka hitam ini tidak boleh dipandang ringan, cepat Sin Tek menggeser kakinya dan berkelit dari serangan pukulan jubah Hok Losu, akan tetapi entah bagaimana caranya, tahu-tahu pundaknya telah ditepuk orang dan tahu-tahu tubuhnya telah lumpuh dan pedangnya terlepas.

Belum lagi hilang rasa kagetnya pangcu Kim-coa-pay ini, sebuah pukulan kedua Hok Losu menyambar kepala Sin Tek.

Tentu saja dalam keadaan yang sudah tertotok ini, bagi Sin Tek tak ada jalan lain untuk menghindarkan diri, cepat ia mengangkat tangan menangkis.

"Krakkk!"

Tubuh pangcu Kim-coa-pay terlempar jauh seperti layangan putus.

Tulang tangannya yang tadi diangkat menangkis hancur disambar angin pukulan jubah hwesio muka hitam.

Sin Tek meringis menahan rasa nyeri yang amat hebat menusuk tangannya.

Ia mempelototkan hwesio berjubah muka hitam itu dan membentak kalang kabut.

"Hwesio jahanam, hwesio curang....... keparat!"

"Bangsat besar! Berani kau memaki pinceng?"

Dalam kemarahannya yang meluap-luap ini, Hok Losu tak dapat mengendalikan rasa marah yang meledak, dengan amat cepat tongkat hitamnya meluncur cepat ke arah kepala Sin Tek.

"Krakk,"

Kepala Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek pecah dan isi kepalanya hancur berarakan ketika tongkat Hok Losu melayang dan menghantam kepalanya.

Hok Losu yang berhati keras dan telengas tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Melihat Pat-jiu-koay-hiap telah mati di tangan hwesio muka hitam yang ganas itu, gubernur Ie Yen membentak marah.

"Hwesio muka hitam, sungguh keji sekali perbuatanmu…… keji melebihi iblis, hmm, tak patut kau memakai jubah kuning. Pura-pura suci, padahal hatimu penuh dengan iblis-iblis jahanam!"

"Ie Yen, lancang mulutmu…… berani kau menghina pinceng. Kurobek mulutmu, bangsat!"

"Ah, ini yang disebut seorang hwesio? Pantas mukamu hitam menjijikan tidak tahunya hatimu kotor dan bercabang. Hwesio tua, mengapa sebagai seorang hwesio kau ini demikian jahat?" "Jangan banyak bacot, mampus kau!"

Bentakan yang mengguntur ini dibarengi dengan serangan tongkat hitam yang cepat luar biasa.

Tentu saja Ie Yen tidak sudi kepalanya hancur seperti Sin Tek tadi, cepat ia berkelit ke samping dan membabatkan pedangnya membentur tongkat Hok Losu, akan tetapi alangkah herannya dia, karena begitu pedangnya membentur tongkat hitam itu, ia berseru kaget begitu terasa pedangnya melekat kuat menjadi satu dengan tongkat hitam itu.

Segera ia mengerahkan lweekangnya menarik.

Akan tetapi sambil tertawa-tawa menyeramkan jubah Hok Losu menyambar lagi.

"Duuk!"

Tubuh Ie Yen terpental setombak lebih, dari mulutnya keluar darah merah.

Namun gubernur Ie Yen ini benar-benar hebat.

Tanpa memperlihatkan rasa sakit ia menggerakkan pedangnya lagi menerjang si hwesio dengan tusukan dari atas.

Terdengar suara keras dan tubuh Ie Yen terlempar diiringi jeritan mengerikan waktu tongkat hwasio itu menggeprak kepala lawan.

Ie Yen roboh dengan kepala pecah.

Melihat gubernur Ie Yen dan Pay-cu Kim-coa-pay sudah gugur, pasukan Song menjadi keder hatinya.

Mereka berusaha untuk melarikan diri, akan tetapi begitu jubah si hwesio bergerak, lima perwira Song terjungkal dan roboh dengan dada hangus terkena pukulan jarak jauhnya Hok Losu.

Teriakan penuh semangat dari perwira-perwira Mongol bergema di sana sini menyambut kehebatan hwesio muka hitam yang membantunya.

Dengan semangat mereka mendesak terus perwira kerajaan yang berkuda.

Hebat dan seru sekali perkelahian di tempat ini.

Ada duaratus lebih mayat bergelimpangan dari pihak Mongol dan Song.

Hok Losu amat ganas sekali melempar-lempar tentara Song dengan kebutan ujung jubahnya.

Setiap perwira kerajaan yang terkena tamparan angin pukulan ini pasti terjungkal dan mati.

Sementara suasana perang masih berjalan dengan amat serunya.

Pada saat itu, entah darimana datangnya tahu-tahu sesosok tubuh kurus kering telah berdiri di depan Hok Losu.

Hwesio itu sudah kelihatan tua sekali, usianya hampir delapanpuluh tahun, tubuhnya kurus kering bagai tinggal kulit membungkus tulang, kepalanya yang gundul kelimis seperti tengkorak saking kurusnya, jenggot yang putih berjuntai ke bawah.

Sepasang mata menatap Hok Losu dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.

"Omitohud, Hok sute, menjauhkan diri dari segala kejahatan menyempurnakan segala perbuatan baik, menyucikan pikiran....... itulah ajaran semua Budha....... Setelah merasakan nikmatnya kesucian dan nikmatnya ketenangan seorang terbebas dari ketakutan dan belenggu dosa, sambil mereguk kebahagiaan hidup di dalam Dharma! Hok sute, sudah baik-baik kau bertapa di Siauwlim....... mengapa menuruti nafsu hati dan tergoda oleh gemerlapan dunia?"

"Suheng....... harap kau tidak mencampuri urusanku, kali ini biarkanlah aku mencari jalan sendiri....... jangan kau menghalangiku suheng…."

Suara Hok Losu nampak keder dan takut melihat hwesio tua di hadapannya. Hwesio tua itu tak lain adalah ketua Siauw-lim-pay Thian Thian Losu."

"Hok sute, sudah lama aku mencarimu. Senang sekali hari ini pinceng bertemu denganmu, Marilah kembali ke kuil, mencari jalan terang, menjauhkan segala kericuhan dunia ini. Mari kita memperdalam mengalahkan si Aku yang selalu menunggangi hidup ke arah jalan yang tak baik. Sute, ikutlah denganku……."

"Tidak suheng. Kau pulanglah dulu. Kelak aku akan menyusul ke Siauw-lim-sie. Sekarang biarlah aku mencari jalanku sendiri. Percayalah suheng, setelah itu aku akan kembali ke Siauw-lim-sie menemui kau orang tua!"

"Omitohud…..

Hok Sute, mengapa setelah melakukan jalan sesat baru hendak bertobat....

sekarang inilah masanya untuk bertobat dan menyucikan diri, jangan tunggu esok atau nanti.

Sute….

ikut pinceng selama masih ada kesempatan untuk bertobat, bertobatlah…..

"Hok Sute, di antara segala jalan. Delapan jalan utamalah yang paling baik di antara segala kebenaran, empat. Kenyataan Mulialah yang paling baik, di antara segala kebajikan, kebebasan dari ikatan adalah yang paling baik. Di antara manusia orang yang memiliki pandangan teranglah yang paling baik. Inilah jalannya, tiadalah satupun jalan lainnya yang menuju ke arah pemurnian pandangan terang. Kau ikutilah jalan ini. Jalan ini untuk mololoskan diri dari Mara (Penggoda nafsu)......."

"Aku mengerti suheng……!" "Bagus sute, sekarang kau ikuti pinceng.

"Tidak! Nanti saja aku menemuimu di Siauw-lim-sie, kau tinggalkanlah aku!"

Berkata demikian Hok Losu sudah mencelat ke depan menghantam kepala seorang perwira Song yang bertempur dengan tentara Mongol.

Angin berciutan.

Akan tetapi begitu Thian Thian Losu mengangkat tangannya, tahu-tahu tubuh Hok Losu terlempar ke belakang dan pukulannya tadi meleset menghantam batu gunung sehingga menimbulkan suara hiruk pikuk.

"Suheng kau....... kau…!"

"Sute, selama masih ada kesempatan untuk mencari jalan terang, marilah kita berlindung kepada Budha......."

Akan tetapi Hok Losu telah menjadi marah sekali.

"Suheng....... pergilah, sebelum aku panas hati dan membunuhmu!"

Kali ini ucapan Hok Losu terdengar kasar dan mengandung ancaman. Tongkatnya bergetar-getar. Siap hendak digerakkan! "

Sute menurut hawa nafsu, sama saja membiarkan penyakit yang lambat laun akan membawamu ke arah kematian. Sabarlah sute, ingatlah ajaran-ajaran Sang Budha!"

"Ahh....... jemu aku. Sudah, kau pergilah, minggat!"

Tongkat Hok Losu bergerak dengan amat cepatnya.

Angin keras menyambar ke arah dada Thian Thian Losu.

Nampak hwesio tua itu tidak mengelak atau menangkis, membiarkan dadanya terhantam pukulan tongkat yang akan meremukkan dadanya.

Baju hwesio tua itu bergetar-getar.

Akan tetapi, bukan si ketua hwesio Siauw-lim-pay itu yang roboh, melainkan Hok Losu itulah yang terhuyung-huyung mundur dan dari mulutnya keluar darah segar.

"Sute….. ahh kau terlalu……"

Suara Thian Thian Losu perlahan, tetapi merupakan api yang membara di dada Hok Losu dengan menggereng keras, hwesio muka hitam itu menerjang maju mencengkram kepala Thian Thian Losu.

"Omitohud…… sute….. kau mencari jalan kematian saja,"

Berkata demikian tongkat butut si hwesio Thian Thian Losu terangkat ke atas.

Menangkis terjangan tangan kiri Hok Losu yang telah menggunakan jurus Menyembah Budha Mematikan Raga yang ia tahu terkenal akan kedahsyatannya ini.

Begitu tongkatnya terangkat terdengar jeritan kematian dari Hok Losu.

Tubuh hwesio muka hitam itu menggigil.

Dan tak lama kemudian roboh dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Terdengar hwesio itu menarik napas panjang, menghampiri mayat Hok Losu dan berkata pelan.

"Hok Sute, mengapa kau keras kepala? Mengapa jalan kematian yang kau pilih....... ya, Tuhan semoga engkau mengampuni hambamu!"

Suara Hok Losu terdengar seperti orang berdoa, dan sekali tangannya bergerak menyambar Hok Losu, tahu-tahu ketua Siauw-lim-pay yang sakti itu sudah lenyap dari pandangan mata!

Hanya sayup-sayup dari kejauhan sana terdengar suara Thian Thian Losu seperti orang yang sedang mengeluh.

"Perang........ engkau hanya membawa pengorbanan dan pembinasaan yang merusak isi dunia....... banyak jalan yang menuju kepada kehidupan, akan tetapi sedikit sekali manusia yang menuju ke sana!"

Peperangan semakin berkobar.

Mayat manusia bergelimpangan di antara genangan darah yang mulai membasahi bumi.

Suara hiruk pikuk terdengar di sana sini diringi dengan bentakan dan suara senjata beradu.

Di lembah Tai-hang-san banyak sudah perwira Song yang berjatuhan, tak jauh dari situ banyak juga tentara Mongol yang roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Korban telah berjatuhan di kedua belah pihak.

Di antara mayat yang bergelimpangan, empat sosok manusia mengamuk bagaikan harimau luka.

Tiang Le dengan pedang buntungnya mendesak dua orang lawan yang mengeroyoknya.

Kedua orang itu adalah Sianli Ku-koay dan seorang pengemis tua yang kita kenal sebagai pangcu Hwa-ie-kaypang sekutu dari Sian-li-pay yang bergabung dengan tentara Mongol.

Hebat sekali pertarungan ini.

Akan tetapi Tiang Le benar-benar luar biasa, walaupun hanya berlengan satu ia masih sanggup mendesak nenek sakti Sianli Ku-koay dan melancarkan serangan maut dari jurus-jurus ilmu pedang Tok-pit-kiam-hoat yang hebat.

Menghadapi serangan-serangan yang sangat dahsyat ini, Nenek Sianli Ku-koay menjadi terkejut dan gentar.

Gerakan-gerakan Tiang Le sukar diikuti dan diduga, kadang-kadang dengan amat cepatnya laksana kilat tangan kiri Tiang Le menyelipkan pedang dan berganti dengan pukulan Sian-tian-jiu yang mendatangkan angin panas bergelombang membuat tongkat Sianli Ku-koay terpental oleh pukulan tangan kiri yang luar biasa itu.

Di lain pihak, juga pangcu Hwa-ie-kay-pang yang berbaju kembang-kembang dan bertubuh kurus kering dan bongkok itu mulai sibuk memainkan ilmu tongkatnya menghadapi pemuda lengan buntung yang amat lihay ini, maka ia mencurahkan perhatiannya dan berlaku waspada terhadap pedang buntung yang bagaikan geledek siap memenggal lehernya!

Pedang buntung yang ampuh dan dahsyat ini merupakan bagian yang penting bagi Tiang Le dan membuat kedua orang yang mengeroyoknya menjadi gentar.

Beberapa kali tongkat dan pedang itu berbentur, terdengar seruan Sianli Ku-koay kaget dan terkejut melihat tongkatnya sudah putus terbabat pedang buntung yang ampuh ini, maka ia tak berani beradu tongkat dengan pedang lagi malah membuat pertahanan dengan memutarkan tongkatnya melindungi tubuhnya!

Akan tetapi Tiang Le yang sudah mengenal akan Sianli Ku-koay yang pernah menyerbu Tiang-pek-pay dan membunuh suhunya membuat ia mainkan jurus-jurus Tok-pik-kiam-sut (ilmu silat tangan buntung) dengan cepat luar biasa.

Waktu tongkat Sianli Ku-koay menyambar lewat lehernya, ia menangkis dengan pedangnya dan membuat gerakan menempel, akan tetapi begitu cepat gerakan ini membuat Sianli ku-koay berteriak kaget merasa hawa dingin telah menyentuh lambungnya, cepat ia menangkis dengan mendorong tangan kiri membalas memukul.

"Dess!"

Tubuh Nenek Sianli Ku-koay bergetar.

Terhuyung-huyung, ke belakang dan roboh dalam keadaan dada hangus tersambar pukulan gerak tangan kilat Tiang Le yang luar biasa itu.

Melihat salah seorang musuh besarnya telah mati, Tiang Le mencelat tinggi menghindarkan serangan tongkat pangcu Hwa-iekay-pang dan telah berdiri di atas batu gunung yang tinggi, menengadah ke atas.

"Suhu....... terimalah kematian Sianli Kukoay....... tenangkanlah hatimu!"

Sehabis berkata demikian, cepat Tiang Le mencelat turun dan membentak kepada ketua Hwa-ie-kay-pang.

"Lokay! Karena engkau tidak ada permusuhan apa-apa denganku, maka aku tidak membunuhmu, nah minggatlah!"

"Anjing buntung, bangsat! Kaaa kira aku takut kepadamu? Terimalah ini tongkat hitam,"

Ketua Hwa-ie-kay-pang menyambar dahsyat mengeluarkan suara angin menderu.

Akan tetapi Tiang Le yang tak mau lagi membuang waktu, telah melakukan jurus Tok-pik-kun-hoat dan Sien-tian-jiu berbareng.

Terdengar jeritan keras karena tubuh ketua pengemis baju kembang sudah terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi karena tulang pundaknya patah terhantam pukulan tangan kiri Tiang Le yang dahsyat!

Dan sekali menggerakkan tubuh, tahu-tahu lima orang anggota pengemis baju kembang terjungkal oleh dorongan tangan kiri Tiang Le dan tidak dapat bangun lagi.

Hebat sekali Tiang Le ini.

Melihat Cie Lay dikeroyok oleh banyak orang-orang Hek-lian-pay dan nampak terdesak, Tiang Le segera mencelat dan menggerakkan tangan kirinya menggunakan jurus gerak tangan kilat.

Dua orang kakek Hek-lian-pay yang tak keburu menangkis terpental dengan tulang pundak patah-patah oleh sambaran tangan kiri Tiang Le.

Melihat kehebatan pemuda lengan buntung ini, yang pernah dikenalnya, keruan saja ketua Hek-lian-pay yang bernama Heksin-tung Pay-cu Teng Kiat, menjadi marah dan membentak.

"Bagus! Anjing buntung, kau belum mati juga he? Biarlah tuanmu hari ini mengirim kau ke neraka!"

"Ha ha ha Pay-cu, siapa bilang aku sudah mampus? Kalianlah yang goblok mudah saja kukelabui dengan pura-pura mati, akan tetapi penglihatan matamu buta tidak melihat aku sudah mati apa belum. Pay-cu karena Thian memberikan nyawa rangkap kepadaku, maka hari ini aku hendak mencabut nyawamu dan mengirim kau ke neraka! "

Keparat, engkaulah yang harus kumampusin dan mengirim kau ke neraka!"

Bentakan ketua Hek-lian-pay ini, diiringi gerakan tongkat sakti yang luar biasa kuatnya.

Tiang Le cepat menggeser kakinya berkelit ke kiri dan menggerakkan tangannya memukul ke depan.

Dua tenaga dahsyat membuat ketua Hek-lian-pay meloncat mundur dan tergetar kuda-kudanya.

Ia mengawasi pemuda lengan buntung itu dengan heran.

Bagaimana boleh jadi dalam segebrakan itu ia telah dibuat tergempur kuda-kudanya.

Tiga tahun yang lalu ia kenal benar dengan ilmu pedang pemuda ini, bagaimana sekarang pemuda lengan buntung ini demikian lihai.

Tak masuk diakal.

Dengan rasa penasaran yang hebat ia menerjang maju lagi, menggerakkan tongkatnya dengan sabetan yang kuat dan mengeluarkan suara angin berdesing keras.

Akan tetapi begitu Tiang Le menundukkan kepalanya dan menggerakkan tangan kiri mencelat ke atas, tahu-tahu tubuh Hek-sin-tung Teng Kiat telah terlempar roboh dengan dada terluka.

Teng Kiat memandang terbelalak kepada Tiang Le.

Ia berusaha hendak bangun dan terhuyung-huyung beberapa tindak ke belakang.

Akan tetapi, terasa kepalanya menjadi pening dan ia telah roboh tak ingatkan diri lagi!

Sementara itu Bwe Hwa dan Kong In mengamuk hebat bukan main seakan-akan keduanya saling berlumba untuk menjatuhkan musuh.

Sepasang pedang iblis yang bernama Hek-pek-hwa-siangkiam (sepasang pedang bunga hitam putih) berkelebat bagaikan guntur menyambar dari angkasa.

Setiap kali tangan kanan Bwe Hwa dan Kong In bergerak tentu dua-tiga orang perwira Mongol telah terpental dalam keadaan tubuh sudah mandi darah.

Ganas sekali perbuatan gadis ini, sedang Pek-hwa-kiam di tangan kanannya yang tak pernah memberi ampun kepada lawan, meskipun kini gadis itu bersilat dengan tangan kanan saja, akan tetapi hebatnya, luar biasa!

Menghadapi Jing-tok-siang-lomo, A Thiong, A Mey, dan dibantu oleh tokoh Kong-thong-pay Leng Ek Cu, pedang kilatan putih Bwe Hwa menyambar dahsyat, diseling berkelebat sinar hitam memanjang luar biasa merupakan guntur memecah bumi membuat Leng Ek Cu menjadi keder hatinya.

Dan bersilat dengan mundur-mundur.

Akan tetapi Bwe Hwa yang tidak memberi ampun lagi kepada lawannya, dia sudah menggunakan jurus Pek-hwa-kiam-sut yang terlihai dan dalam detik selanjutnya pedangnya sudah menerobos masuk menyentuh iga tokoh Kong-thong-pay dan sekali pedang Pek-hwa-kiamnya ditarik ke atas, terdengar pekik mengerikan Leng Ek Cu, tubuhnya roboh ke tanah dengan mandi darah.

Matanya mendelik memandang Bwe Hwa seperti melihat setan saja, kemudian mata itu tertutup rapat, tak bergerak lagi, mati!!

Pada saat yang bersamaan pedang hitam Kong In juga sudah berhasil menyerbu ke dua orang kakek dan nenek gila, pedangnya berkelebat bagaikan maut hendak men cabut nyawa!

Dahsyat sekali gerakan yang aneh ini.

Dengan bernafsu sekali Kong In menggerakkan pedangnya menusuk, membarengi pukulan tangan kiri yang luar biasa.

"Desss....... ceepp…..!"

Pukulan tangan kiri Kong In dibarengi oleh berkelebatnya sinar hitam menabas leher.

Darah merah muncrat dari leher itu dan tubuh Jing-tok-siang-lomo A Thiong mati, pada saat itu juga dengan kepala terpisah dari tubuhnya!!

Si nenek A Mey menggereng keras, meraung bagaikan harimau kehilangan anaknya, menggerakkan tangan kanannya memukul ke depan menggunakan Jing-tok-ciang yang ganas dan keji.

Sambil tertawa mengejek Kong In menyambut dengan tangan kirinya dan mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Inilah kesalahan Kong In, begitu tangannya beradu dengan tangan si nenek Amey yang penuh dengan hawa Jing-tok, segera dia menjerit dan lompat ke belakang.

Begitu dilihatnya tangannya sudah hangus, ia jadi marah dengan menggunakan Hek-hwa-kiam-sut ia menyerang.

Sinar hitam berkelebat, amat cepat gerakan ini.

Jing-tok-siang-moli A Mey menangkis serangan pedang hitam dengan kebutan jubahnya.

"Breeet!"

Jubah itu robek dan sebuah pukulan tangan kiri Kong In menyusul dengan menggunakan hawa Hek-in-kang yang pernah ia pelajari di Tiang-pek-san dari mendiang suhunya Swie It Tianglo.

Amat cepat sekali tangan kiri Kong In menyambar lambung si nenek.

"Desss!"

Tubuh si nenek Jing-tok-siang-moli A Mey terlempar jauh dan tidak dapat bangun lagi.

Kong In yang berwatak berangasan mencelat ke atas, menusukkan pedangnya ke dada si nenek, akan tetapi selagi tubuhnya masih di udara dan siap hendak menusukkan pedangnya ke dada si nenek, tahu-tahu serangkum angin pukulan yang kuat membuat tubuhnya terlempar ke belakang dua tombak jauhnya.

"Keparat, siapakah kau?"

Kong In bertanya. "Ha ha ha, anak muda, kepandaianmu cukup hebat dan lumayan. Pantas untuk melayani aku yang tua. namaku Bong Bong Sianjin. Pernah kau mendengarnya?"

"Bong Bong Sianjin?"

Kong In dan Bwe Hwa serentak berkata membelalakan matanya memandang ke arah seorang tua berpakaian jenderal.

Bong-goanswe atau yang kita kenal sebagai Bong Bong Sianjin!

"Ha ha ha, anak muda, mendengar namaku saja kalian sudah pucat ketakutan…… hayo berlutut kau!"

Dengan sombongnya Bong Bong Sianjin, bertolak pinggang, tersenyum mengejek ke arah Kong In dan Bwe Hwa!

"Bagus!

Kau binatang Bong Bong Sianjin, hari ini aku Lie Bwe Hwa, murid mendiang Swie It Tianglo hendak mencabut nyawamu!"

Bentak Bwe Hwa mengelebatkan pedangnya di depan dada.

Kasihan gadis ini, wajahnya semakin pucat.

Banyak tenaga yang keluar membuat luka di lengan kirinya bertambah parah, rasa nyeri yang menyerang ke ulu hati dan jantung tak dirasanya lagi oleh Bwe Hwa.

Benar-benar hebat gadis ini.

"Bangsat tua Bong Bong Sianjin, kebetulan hari ini adalah hari kematianmu. Aku Liok Kong In, akan menyabung nyawa denganmu!"

Kata-kata Kong In disambut oleh suara ketawa keras dari Bong Bong Sianjin.

"Bagus, hari ini Bong Bong Sianjin membasmi muridmurid Swie It Tianglo sampai keakar-akarnya!" "Singgg!"

Suara pedang terdengar ditarik oleh Bong Bong Sianjin.

Kong In mengeluarkan bentakan keras dan pedang hitamnya meluncur ke arah dada Bong Bong Sianjin.

Sambil tertawa mengejek Bong Bong Sianjin mengelebatkan pedangnya menangkis pedang lawan.

Suara pedang terdengar beradu bunga api memercik.

Pada saat itu serangkum hawa pukulan dari tangan kiri Kong In menyambar ke arah Bong Bong Sianjin dibarengi dengan sabetan pedang Pek-hwa-kiam dengan gerakan yang luar biasa sekali, suara pedang berdesing panjang.

Kaget sekali Bong Bong Sianjin, cepat ia menggerakkan pedangnya menahan sabetan pedang Bwe Hwa dan menggunakan tangan kiri pula mendorong pukulan tangan kiri Kong In.

Akan tetapi begitu tangannya terangkat, sebuah pukulan yang kuat membuat ia terhuyung-huyung.

Segera Bong Bong Sianjin mencelat ke samping dan menoleh, dilihatnya seorang pemuda lengan buntung berdiri sambil tersenyum mengejek.

"Jahanam She Bong, hari ini adalah hari kematianmu. Hayo kau berlutut meminta ampun kepada mendiang suhu Swie It Tianglo!"

Bentak Tiang Le.

Sementara Kong In dan Bwe Hwa sudah menerjang lagi, menggerakkan pedangnya menusuk dada Bong Bong Sianjin yang cepat menghindarkan diri dengan berkelit ke samping, akan tetapi begitu tangan kiri Tiang Le bergerak menggunakan jurus Sian-tianjiu atau tangan kilat, tahu-tahu tubuh tinggi besar dari Bong Bong Sianjin sudah terpental dua tombak jauhnya dan pada ketika itulah hampir terbang Kong In dan Bwe Hwa melayang menerkam Bong Bong Sianjin dengan gerakan menusuk dan amat cepat sekali gerakan ini, karena dadanya terasa sakit dan lumpuh oleh pukulan gerak tangan kilat Tiang Le tak keburu Bong Bong Sianjin menghindarkan diri.

Sepasang pedang Iblis Hek-pek hwa-siang-kiam meluncur dengan amat cepatnya seakan-akan pedang di tangan Bwe Hwa dan pedang di tangan Kong In saling mendahului menusuk ke arah dada itu.

Terdengar jeritan kematian dari Bong Bong Sianjin tatkala dalam detik itu juga sepasang pedang hitam dan putih sudah terbenam di dada Bong Bong Sianjin yang terus berkelojotan dan mati!

Akan tetapi bersamaan dengan matinya Bong Bong Sianjin, pada saat itu muncul beratus-ratus anak buah Hwa-ie-kay-pang dan Sian-li-pay telah mengurung tempat itu.

Akan tetapi yang membuat Tiang Le kaget setengah mati adalah Cia Pei Pei itu yang telah berada di depan Bu-tek Sianli dengan telah dihadapkan di depan pedang Bu-tek Sianli!

Terdengar suara Nenek itu mengakak keras.

"Ha ha ha, orang muda buntung....... menyerahlah kalian untuk kami tawan ke Sian-li-pay!"

"Bangsat Bu-tek Sianli, aku harus mengadu nyawa denganmu!"

"Ha ha ha, orang muda, berani melawanku? He he, he setindak saja engkau menggerakkan kakimu, niscaya kekasihmu ini akan kehilangan kepalanya oleh pedangku!" "Bangsat tua! Lepaskan Pei Pei!"

"Ha ha ha, menyerah dulu, baru kulepaskan gadis ini!"

Kong In dan Bwe Hwa menjadi marah sekali.

Dengan gerakan yang tak diduga Bwe Hwa sudah mencelat ke arah Bu-tek Sianli dan menggerakkan pedangnya ke arah leher, pada saat si nenek Bu-tek Sianli menggerakkan pedangnya menangkis pedang Bwe Hwa, sebuah bayangan berkelebat dan tahu-tahu Pei Pei telah berada di tangan Tiang Le di atas sebuah puncak batu karang yang amat tinggi.

Akan tetapi nenek Bu-tek Sianli yang menjadi marah bukan main kepada gadis ini menggerakkan tangannya menggunakan jurus maut kepalan dewa tanpa tandingan.

Tangan si nenek bergerak memukul, akan tetapi Bwe Hwa yang sudah menjadi nekat ini menggerakkan pula pedangnya membabat pukulan tangan si nenek.

"Trakkk, desss!"

Tubuh Bwe Hwa terlempar ke samping.

Gadis itu meringis menahan rasa nyeri pada dadanya dan beberapa saat kemudian ia telah roboh sambil muntahkan darah segar.

Hebat sekali pukulan Bu-tek Sianli tadi.

Pukulan itu ialah menyerang jantung Bwe Hwa dan ia terluka dalam.

Akan tetapi, sebaliknya, Bu-tek Sianli sendiri terkejut bukan main melihat kehebatan gadis ini.

Kalau orang biasa yang terkena pukulannya tentu akan hancur berantakan isi dada itu dan mati seketika, akan tetapi gadis ini sungguh luar biasa!

Lima orang kakek pengemis baju kembang mencelat ke depan dan membentak keras.

"Bocah gila, berani kau bermain-main dengan Pay-cu?"

"Bangsat, aku harus mengadu nyawa dengan kalian!"

Bentak Bwe Hwa diiringi dengan berkelebat tubuhnya dan sebentar saja ia sudah merangsek kakek pengemis baju kembang!

Tiang Le memandang pertempuran yang masih berlangsung dari atas puncak batu karang itu.

Ia menoleh kepada Pei Pei.

"Peimoay, berani kau berdiri di sini sementara aku menggasak tikustikus Sian-li-pay itu?"

Pei Pei tersenyum manis. Memandang ke bawah. Ngeri bukan main kalau ia terjatuh dari tempat yang amat tinggi ini, akan tetapi dalam senyumnya itu ia berkata kepada Tiang Le.

"Koko, mengapa tidak berani, lekaslah bantu cici Bwe Hwa……. hati-hati kau koko!"

Tiang Le menyentuh bahu si gadis dan sekali tubuhnya berkelebat turun, tahu-tahu dua orang pengemis baju kembang sudah terjungkal oleh gerak tangan kilat Tiang Le.

Bu-tek Sianli menjadi marah bukan main kepada pemuda lengan buntung yang telah turun membantu ini, segera dia memberi isyarat dengan tangannya maka terjunlah lima belas gadis Sian-li-pay yang berkepandaian tinggi itu!

Sebetulnya, ingin sekali Tiang Le mengeluarkan pedang buntungnya akan tetapi, melihat bahwa yang mengeroyoknya adalah gadis Sian-li-pay yang masih begini muda dan cantik tak tega Tiang Le untuk membunuh.

Ia memainkan jurus ilmu silat tangan buntung dan mengikuti jurus duapuluh satu langkah627 langkah ajaib, maka bagaikan bayangan saja tubuh Tiang Le berkelebat ke sana ke mari, mengirim totokan kepada para pengeroyoknya.

Hebat sekali sepak terjang Tiang Le ini begitu tubuhnya berkelebat dua orang pengeroyoknya roboh dalam keadaan sudah tertotok!

Di lain pihak, Cie Lay menghadapi ratusan tentara Mongol yang mengeroyoknya.

Sudah berpuluh-puluh orang ia robohkan akan tetapi, semakin banyak saja tentara Mongol ini mengurung tempat itu.

Apalagi kini setelah munculnya seorang tinggi besar berpakaian jenderal tentara Mongol yang berkepandaian tinggi dan kelihatannya pandai mengatur barisan gerilya ini.

Diam-diam Cie Lay mulai terdesak dan saking banyaknya musuhmusuh tentara Mongol yang mengeroyoknya, akhirnya lama kelamaan Cie Lay menjadi lemah bukan main.

Gerakan pedang Hong-san-kiam menjadi lemah dan pada suatu saat, seorang tentara Mongol, dengan jaring di tangan sudah dapat meringkuk Cie Lay dan menotok pemuda itu.

Terdengar orang tinggi besar berpakaian Jenderal Mongol itu berkata-kata kepada anak buahnya dengan bahasa asing yang tak dimengerti oleh Cie Lay, orang itu kemudian mengangguk-angguk saja dan tanpa berkata apa-apa lagi Cie Lay sudah dibelenggu pada kakinya.

Kemudian, dibawanya ia menuruni bukit.

Terkejut sekali pemuda Hong-san ini, begitu mendengar bahwa yang menawannya adalah Panglima Ku Bilay Khan sendiri yang bertubuh tinggi tegap dan gagah.

Pantas saja kepandaiannya demikian lihai!

Apabila mendengar dari laporan anak buah tentara Mongol yang mengatakan bahwa pasukan Mongol sudah menyerbu Kotaraja, betapa terkejutnya Cie Lay, segera ia memutar otaknya.

Ia sendiri sudah tak berdaya ditawan oleh tentara Mongol maka pada suatu kesempatan, waktu rombongan tentara Mongol yang menawannya berhenti di lereng bukit, segera tangan pemuda ini menulis di batu karang.

"Pergilah! Kotaraja terancam!"

Sementara itu, Bwe Hwa dan Kong In mengamuk hebat.

Pedang iblis Hek-pek-hwa-siang-kiam berkelebat ke sana ke mari laksana kilat menyambar.

Banyak sudah tubuh si kakek pengemis baju kembang yang telah roboh oleh keganasan pedang di tangan Bwe Hwa dan Kong In, akan tetapi, karena Kong In sudah terluka oleh pukulan si nenek A Mey yang mempergunakan hawa Jing-tokciang, maka dengan amat cepatnya hawa racun ular hijau itu menjalar ke jantungnya!

Gerakannya semakin lemah, semakin kacau, akhirnya ia tak tahan lagi, kepalanya menjadi pening.

Pada saat itulah sebuah tongkat di tangan salah seorang anggota Hwa-ie-kay-pang berhasil menggebuk pundaknya.

Keruan saja tubuh Kong In terjungkal dan sebuah pedang lagi dari salah seorang perwira Mongol berkelebat menyambar.

"Ceppp!"

Pedang itu terbenam di dada Kong In menembus sampai ke belakang.

Akan tetapi dengan gerakan yang amat kuat tahu-tahu tangannya bergerak dan pedang Hek-hwa-kiam meluncur dengan amat cepatnya.

Tiga orang perwira Mongol dan kakek pengemis baju kembang menjerit keras, begitu pedang Hek-hwa-kiam bagaikan terbang menancap jadi satu di dada ke empat orang lawannya.

Kong In tertawa puas melihat hasilnya.

Akan tetapi ia sendiri menjadi terkulai lemah dan napasnya putus oleh tusukan pedang yang menembus dadanya itu.

"Suheng......."

Bwe Hwa, berseru.

Ia menggerakkan pedangnya dengan kuat dan ganas.

Akan tetapi begitu Bu-tek Sianli menyambar dan menggerakkan pukulan, tubuh Bwe Hwa terlempar jauh dan jatuh di dekat kaki Tiang Le yang sedang mengamuk dikeroyok oleh kakek pengemis Hwa-ie-kay-pang dan gadis-gadis Sian-li-pay.

Melihat jatuhnya tubuh Bwe Hwa di dekat kaki pemuda lengan buntung, keruan saja seorang pengemis baju kembang menggeprak kepala si gadis.

Akan tetapi Tiang Le dengan cepat menggerakkan tangannya dan terdengar suara keras waktu pukulan Tiang Le menghantam lambung si kakek pengemis baju kembang!!

"Dess!"

Tubuh kakek itu terlempar dan tidak dapat bangun lagi, sementara Tiang Le cepat menyambar tubuh Bwe Hwa yang terkulai lemah.

Meletakkan tubuh si gadis di atas punggungnya, dan dengan gerak tangan kilat ia memutar lengan kirinya.

Lima orang gadis Sian-li-pay yang menerkamnya terpental dan seorang kakek pengemis baju kembang muntah darah dihantam pukulan Tiang Le.

Pemuda lengan buntung ini mengamuk hebat, tangannya bergerak-gerak laksana badai yang menyapu, sebentar saja limapuluh anak buah Hwa-ie-kay-pang sudah roboh tak dapat bangun lagi.

Pada saat itu terdengar suitan keras.

Tiba-tiba saja gadis Sian-lipay yang tadi mengeroyoknya sudah hilang bagaikan ditelan bumi, sedangkan dari kejauhan terdengar seruan Bu-tek Sianli.

"Tiang Le, kalau kau gagah dan mempunyai nyali, datanglah ke pulau Bidadari untuk menyelamatkan kekasihmu ini. Jikalau dalam waktu dua hari ini engkau tidak datang, jangan harap kekasihmu dapat hidup pula!!"

Suara itu terdengar amat jauh sekali.

Cepat Tiang Le melirik ke atas batu karang dimana Pei Pei tadi menunggu, akan tetapi dia menjadi terkejut begitu dilihatnya Pei Pei sudah tidak ada lagi di sana.

Tahulah ia, Pei Pei telah ditawan oleh Bu-tek Sianli yang licik dan curang itu dan mengundangnya ke Sian-li-pay!!

Suasana menjadi sunyi dan mati setelah rombongan Sian-li-pay pergi.

Beratus-ratus mayat manusia menggeletak di sana sini membasahi lembah Tai-hang-san.

Serombongan burung gagak menggoak panjang terbang di atas.

Sementara langit di atas menjadi suram, seakan-akan yang di atas itu tidak tega melihat pemandangan di bumi yang mengenaskan hati!!

Tiang Le cepat berkelebat lenyap dari tempat itu!!

Sementara, dari belahan awan hitam sebuah guntur menggelegar memecah isi bumi.

Dinding-dinding gunung bergetar oleh suara guntur yang menggelegar mengejutkan.

Dan awan hitam merunduk dan menyebarkan air mata yang bertambah deras membasahi bumi, tersedu keras angin bertiup menggoyangkan pepohonan dan daun-daun.

Sebentar kemudian hujanpun bertambah deras dan suasana semakin hitam, sehitam jelaga!

◄Y► Sebuah kilat menyambar berkeredep menerangi pondok di dalam Tiang Le meletakan tubuh Bwe Hwa pada sebilah dipan kayu dan manotok jalan darah Tay-hi-hiat di dekat leher Bwe Hwa.

Gadis itu mengerang perlahan.

Ia sadar dari pingsannya.

Pertama-tama dilihatnya, seorang lelaki lengan buntung berdiri didekatnya.

Bibir Bwe Hwa bergerak perlahan.

"Kokoo!"

"Hwa-moay....... kau terluka dalam yang cukup parah, istirahatlah....... sebentar hujan akan reda, aku akan membawamu mencari seorang sin-she di kaki gunung….. kuatkanlah hatimu....... Hwa-moay......."

Tiang Le berkata pelan.

Tangannya membetulkan balutan pada lengan gadis yang sudah penuh dengan darah.

Ia napas panjang.

Hatinya menjadi terharu melihat Bwe Hwa seperti ini, tanpa ia sadari tangannya mengusap pipi si gadis dengan sentuhan-sentuhan mesra.

Untuk beberapa saat Bwe Hwa meramkan matanya.

Mata yang penuh dengan linangan air mata itu perlahan-lahan membanjiri meleleh di kedua pipinya.

"Hwa-moay.......

jangan kau menangis…..

jangan kau membikin hatiku, sedih.

Kau harus sembuh Hwa-moay, harus, biarlah aku akan membawamu kepada sin-she.......

Sayang aku tidak mengerti pengobatan untuk mengobati lukamu.......

kau.......

kau kuatkanlah hatimu Bwe Hwa!"

Suara Tiang Le tenggelam dalam isaknya.

Pada waktu pandangannya terbentur lengan kiri si gadis yang telah buntung, Tiang Le tak kuasa menahan keharuan hatinya.

Ia memandang ke depan membuang muka untuk menjatuhkan beberapa butir air mata yang hendak meloncat riuh.

Pemuda itu mengerutkan keningnya dan pandangannya semakin basah.

Di luar pondok hujan masih turun merinai.

Kenangan pada Sian Hwa di padang rumput dalam hujan yang menggila seperti ini membayang di ruang matanya.

Teringat akan Sian Hwa yang telah meninggal dunia karena tusukan pedang Kong In dan Bwe Hwa, hati Tiang Le serasa diiris-iris.

Sungguh malang sekali nasib sumoaynya Sian Hwa.

Ia mengorbankan nyawanya untuk melerai pertempuran yang terjadi antara Kong In dan Bwe Hwa.

Dan sekarang Bwe Hwa menderita seperti ini, tak kuasa ia memandang kepada Bwe Hwa.

Hatinya teramat kasihan.

Gadis itu telah membuntungi lengannya.

Sesungguhnya ia tidak menaruh marah atau dendam akan tetapi mengapa gadis itu membuntungi lengan kirinya sendiri.

Bwe Hwa, mengapa kau lakukan mengapa?

Ahh, Bwe Hwa hati Tiang Le menjerit tak keruan rasa.

"Tiang Le kokooo...."

Suara yang lemah terdengar memanggil namanya.

Tiang Le menggerakkan kepalanya.

Memandang Bwe Hwa.

Dilihatnya wajah gadis itu semakin memucat.

Bibirnya digigit menahan rasa nyeri yang amat lebat di dalam dadanya.

Sementara air mata si gadis berderai-derai memandang Tiang Le dengan tatapan yang penuh cinta kasih.

"Kokooo......."

Bibir si gadis bergerak lagi memanggil.

Tiang Le mengangkat tangan kirinya mengusap pipi Bwe Hwa dengan usapan halus, semakin berderai air mata si gadis merasakan sentuhan tangan pemuda itu pada pipinya.

Ia menggigit bibir lagi menahan rasa nyeri dan pilu memandang ke arah lengan kanan yang buntung itu.

Tiba-tiba Bwe Hwa bangun dan menciumi lengan buntung Tiang Le sambil menangis mengguguk.

"Tiang Le kokoo....... aku....... aku… berdosa kepadamu....... aku membuntungi lenganmu… aduuuh kokoo…… kau……. kau kasihan sekali, lenganmu…... kokoo....... biarlah aku membuntungi lenganku yang satu ini....... kokoo kau… ampunilah aku....... jangan kau marah padaku…"

Suara Bwe Hwa terputus putus.

Tiba-tiba gadis itu menjerit lirih dan mendekapkan tangan kanannya pada dada yang terasa sakit bukan main.

Darah segar menyembur dari mulutnya, bibir gadis itu digigit keras-keras sampai mengeluarkan darah, sementara wajahnya semakin pucat seperti mayat.

Tiang Le cepat menyusut darah merah yang membasahi dada Bwe Hwa.

Dan menotok dada itu menghentikan keluarnya darah.

Pandangan Bwe Hwa semakin sayu dan redup, bibirnya bergetar mengucapkan kata-kata yang tak terucapkan oleh lidah yang tibatiba menjadi kelu dan sukar untuk bernapas.

Mulut gadis itu terbuka.

Tiang Le terkejut sekali melihat keadaan gadis ini.

Cepat ia menyalurkan hawa lweekang di pundak Bwe Hwa dan berkata pelan.

"Cepat kau salurkan hawa murni di perutmu dan salurkan ke dada. Hati-hati jangan sampai menyerang pernapasanmu……"

Bwe Hwa tidak menyahut. Ia merasakan hawa hangat menyentuh pundaknya. Tiba-tiba segumpalan darah hitam keluar dari mulutnya.

"Kokoooo….!"

Bwe Hwa menjerit. Ia merasa sakit yang membuat semua uratnya perih dan kepalanya pening, lalu jatuh terkulai di pangkuan Tiang Le.

"Bwe Hwa…..!!"

Tiang Le memeluk gadis itu. Tak memperdulikan lagi darah hitam yang telah menodai bajunya, tubuh Bwe Hwa didekapnya, sementara Tiang Le menjerit keras.

"Bwe Hwa…... Hwa-moay jangan kau mati… jangan kau mati Bwe Hwa....... duh….! Bagaimana ini, ya Tuhan, tolonglah Bwe Hwa….... bagaimana ini…... Bwe Hwa?"

Tiang Le menjadi panik.

Ia memang tak mengenal ilmu pengobatan, dan tidak tahu bagaimana caranya mengobati luka dalam dan begitu dilihatnya keadaan gadis, sumoaynya ini sangat mencemaskan hatinya dan membuat pikirannya menjadi kalut dan tidak tahu apa yang mesti ia perbuat.

Ia tak tahan melihat kepergian Bwe Hwa ke alam lain dalam keadaan mengenaskan hati seperti ini.

Saking tegangnya urat syaraf Tiang Le dan tak tahu apa yang mesti ia perbuat tiba-tiba ia merasakan seluruh alam ini menjadi gelap dan tertutup kelam kabut.

Di alam sadarnya ia melihat Bwe Hwa melayang tinggi.

Amat tinggi sekali gadis itu terbang dan Tiang Le tak kuasa menjangkau tangan gadis itu yang menggapai-gapai kepadanya.

Memanggil namanya, menjerit meminta tolong padanya.

Akan tetapi iapun hanya membalas dengan teriakan kuat dan menjerit memanggil-manggil nama si gadis.

"Bwe Hwa… Bwe Hwa jangan kau pergi….. jangan kau tinggalkan aku....... aku akan menyusulmu, aku akan menyusulmu….. tunggulah Bwe Hwa!"

Tiang Le merasakan sebuah geledek menyambar di atas kepalanya.

Seluruh alam menjadi putih, matanya menjadi silau oleh keputihan yang seperti salju, ia merasa sebuah tangan menghempasnya kuat-kuat dan jatuh ke bumi membuat kepalanya demikian sakit dan nyeri.

Jeritan panjang menyebut nama Bwe Hwa menghantar ia ke alam sadar di dalam pondok.

Pertama-tama dilihatnya, hujan masih meriak di luar pondok.

Kabut di luar melayang-layang disiram gerimis dan kekelaman menjelang sore hari.

Sebuah kilat menyambar, berkeredep menerangi ruangan di dalam pondok kecil.

Sesosok tubuh bersila di depan seorang gadis yang telah duduk meramkan matanya.

Perlahan-lahan muka gadis itu menjadi merah.

Sebuah tangan manusia terlekat di pundak si gadis.

Orang tua itu terdengar menghela napas panjang.

"Bukalah matamu…… Bwe Hwa, lihatlah alam sekeliling ini demikian indahnya, kuatkanlah hatimu.

Berbahagialah orang yang tabah hati menghadapi segala kesakitan.

Hanya sabar dan ketabahan hati dan pasrah kepada Ilahi, ia itulah obat yang maha mujarab untuk menghilangkan segala sakit dan penyakit.

"Tubuh ini adalah ciptaan Yang Maha Kuasa, ia pula yang menentukan mati dan hidupnya seseorang.

Bangunlah Bwe Hwa, belum waktunya Thian memanggilmu.......

Kuatkanlah bathinmu, lupakanlah tubuh jasmanimu jangan hiraukan sakit di tubuhmu.

Berkatalah pada dirimu.

"AKU PASTI SEMBUH, KARENA AKU AKAN HIDUP!"

Bwe Hwa membuka matanya. Menjatuhkan diri kepada orang tua di hadapannya dan berlutut sambil menangis.

"Locianpwe, terima kasih untuk nasihatmu. Dada saya tidak terasa sakit lagi, tubuh saya serasa enteng dan ringan. Kakek, aku berhutang budi kepadamu....... memang aku harus sembuh, aku harus hidup!"

Bwe Hwa menangis mengguguk dihadapan si kakek.

Kakek itu sudah nampak tua sekali.

Ia bersila dihadapan si gadis.

Kedua kakinya sudah buntung, wajahnya dengan keriput dan semua rambutnya putih, berjenggot putih pula, berpakaian dengan kain putih sederhana terbuat dari kain yang kasar akan tetapi nampak bersih, akan tetapi mempunyai pandangan yang sejuk dan membawa ketenangan dan kedamaian bagi siapa saja yang menatap mata tua itu!

Tiang Le bagaikan orang baru sadar dari mimpi yang amat buruk memandang kepada kakek buntung yang membelakanginya, akan tetapi alangkah heran dan girang hatinya melihat Bwe Hwa sudah dapat duduk di depan kakek itu.

Cepat Tiang Le berlutut dihadapan kakek itu, di samping Bwe Hwa.

"Locianpwe... hamba yang rendah, hamba yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sumoay hamba yang terluka berat ini, sekarang menghaturkan banyak terima kasih kepada kau orang tua yang telah menolong Bwe Hwa sumoay…….."

"Namamu Sung Tiang Le, bukan? Sudah kusaksikan sepak terjangmu kemarin siang itu waktu menghadapi orang-orang Butek Sianli, kepandaianmu hebat bukan main, mengingat aku kepada sucouw Sui-kek Siansu. Eh, Tiang Le, dari mana kau dapat mainkan ilmu silat Tok-pik-kiam-hoat, Sian-tian-jiu dan langkahlangkah ajaib itu?"

Si kakek kaki buntung bertanya dengan pandangan yang penuh diliputi oleh kesabaran dan ketenangan bathin.

"Locianpwee saja yang bodoh........ pernah mempelajari dari sebuah kitab kuno yang dapat saja ketemui dari nona Cia Pei Pei........ kalau boleh saja tahu, siapakah locianpwee ini?"

Si kakek kaki buntung menarik napas panjang.

Ia meraba jenggotnya yang putih panjang sebatas dada, suaranya pelan dan lembut menyejukkan.

"Siapa aku, sebetulnya hanya sebuah nama yang kosong saja, orang muda!

Nama manusia akan segera lenyap dan dilupakan orang, apabila tubuh ini akan masuk ke dalam kubur.

Untuk apa aku perkenalkan kepadamu?

Akan tetapi karena kau telah mewarisi kitab peninggalan sucouw Sui-kek Siansu, maka baiklah kuperkenalkan diriku yang tak berarti ini.

"Dulu namaku Lim Heng San, kemudian orang-orang menyuluki Sin-kun-bu-tek, akan tetapi aku sudah tidak memakai nama itu lagi.

Pernah pada puluhan tahun yang lalu, aku diberi sedikit pelajaran ilmu silat tangan kosong dari kakek tua renta Sui-kek Siansu, manusia setengah dewa, yang kabarnya telah meninggal, akan tetapi sering kali ia muncul bagaikan malaikat turun ke bumi.

"Dua kali saja aku pernah bertemu dengan Sui-kek Siansu itu pada puluhan tahun yang lalu, pernah aku mendengar akan kitab silat tangan buntung yang ditulisnya. Orang muda beruntung sekali kau berjodoh mendapatkan kitab itu!"

"Locianpwe, aku yang bodoh mohon petunjukmu!"

Si kakek kaki huntung meramkan matanya.

Menghela napas panjang dan melirik ke arah Bwe Hwa yang ketika itu tengah menundukkan kepalanya.

Bibir kakek itu bergerak perlahan seperti orang membaca doa, tidak terdengar kata-kata yang terucapkan oleh si kakek, akan tetapi anehnya, bibir yang bergerak itu merupakan bisikan perlahan kepada Tiang Le dan tidak terdengar oleh Bwe Hwa.

"Tiang Le, ketahuilah olehmu bahwa sumoaymu ini mengalami luka dalam yang sangat parah.

Menyesal sekali aku hanya dapat menolongnya pada batas yang tertentu.

Gadis itu telah mengalami tekanan batin dan guncangan jantung yang cukup hebat.

"Ia menderita sakit jantung dan kanker dada yang pada saat itu belum ada obatnya.

Apabila jantungnya bergoyang, apabila ia mengalami shock dalam hidupnya ia pasti akan muntah darah lagi.

Kau kasihanilah dia, kau hiburlah, dan senangkanlah hatinya, karena ia hanya bertahan hidup hanya dalam beberapa bulan lagi saja.

Tiang Le, jangan bikin ia bersedih hati........"

Hemm, kalau tidak salah bagi penglihatan mataku yang sudah tua ini, ia sangat mencintaimu.......

Mudah-mudahan, ia tidak akan mengalami kekecewaan dalam hatinya.

Nah, itulah pesanku!

Jangan kau katakan apa-apa kepadanya tentang ini.

"Tiang Le, surat dari seorang gadis kerudung hitam sumoaymu yang telah meninggal itu sudah berada di tanganku, biar nanti kuteruskan kepada Kaisar. Nah! Hanya itu pesanku dan……."

Kakek itu tidak meneruskan kata-katanya, ia memandang Tiang Le melihat lengan kanan yang telah buntung sebatas pundak, senyum kakek itu menghias pada bibirnya yang tua.

"Beruntung sekali kau mempunyai lengan buntung, karena itu adalah syarat utama bagi pelajaran ilmu silat tangan buntung yang telah kau kuasai dengan baik……!"

Akan tetapi si kakek menggerakkan tangannya.

"Ke marilah Tiang Le, biar aku akan memberikan sedikit tenaga tuaku ini bagi kau orang muda yang sangat memerlukan lweekang tinggi. Dekatlah ke sini Tiang Le!" Tiang Le segera menggeser ke depan. Terasa kedua tangan si kakek menyentuh pundaknya di kanan dan di kiri. Dan terdengar suara si kakek berkata pelan.

"Tiang Le aku akan memindahkan sebagian tenaga lweekangku ini untukmu. Pusatkan hawa tan-tian di dalam tubuhmu dan salurkan hawa Yang-kang dan Im-kang yang akan kukirim berganti-ganti dari kedua tanganku ini. Nah, terimalah!"

Tiang Le menuruti pesan si kakek.

Ia mengerahkan hawa murni di pusar dan menahan napas, menerima tenaga panas yang membanjir ke tubuhnya melalui pundak sebelah kiri, bagaikan aliran listrik tubuh Tiang Le bergetar.

Hawa panas mendesak dengan amat kuatnya, hampir saja Tiang Le mencelat ketika merasakan seluruh tubuhnya menjadi panas seperti dibakar.

Akan tetapi karena ia menaruh kepercayaan penuh kepada si kakek kaki buntung yang pada puluhan tahun yang lalu terkenal dengan julukan Sin-kun-bu-tek Lim Heng San, ia memasrahkan dan membiarkan tubuhnya menjadi merah seperti udang direbus.

Wajahnya merah membara.

Keringat sudah membasahi tubuhnya.

Dan begitu tangan kiri kanan si kakek terangkat, tahu-tahu bagaikan segumpalan es yang menyentuh pundak kanannya tibatiba tubuh Tiang Le menggigil kedinginan.

Hawa panas yang tadi terasa memanggang dirinya, kini berganti dengan hawa dingin yang luar biasa.

Cepat Tiang Le mengatur pernapasannya dan mengerahkan tenaga sin-kang membantu jalannya hawa im-kang yang membanjir tubuhnya.

Saking dinginnya sampai Tiang Le mengkerotkan giginya yang berbunyi gemeretuk dan wajahnya menjadi biru dan seluruh rambut di kepalanya menjadi berdiri kaku laksana kawat berduri!

Bwe Hwa yang melihat pemindahan tenaga sin-kang yang luar biasa ini menjadi heran dan terkejut.

Akan tetapi diam-diam ia menjadi girang bukan main melihat wajah Tiang Le bertambah segar dan merah kembali.

Ia menatap wajah pemuda itu dengan pandangan sayu dan penuh cinta kasih.

Tidak lama kemudian, ada sekitar dua jam, kakek kaki buntung itu menarik ke dua tangannya dari pundak Tiang Le dan berkata.

"Tenaga sin-kang di tubuhmu bertambah berlipat ganda. Oleh karena itu, kuharapkan gerak tangan kilat yang pernah kau pelajari boleh menjadi bagian ilmu silat yang maha sakti, akan tetapi ingatlah Tiang Le, janganlah sembarangan engkau menjatuhi tangan maut kepada lawanmu. Perhatikanlah ini jikalau engkau menuruti nafsu hati, percayalah engkau akan menemui segala penderitaan dalam hidupmu."

Dalam keadaan tubuh yang masih terasa lemah sekali, akan tetapi terasa ringan dan enteng, Tiang Le berlutut.

"Terima kasih atas budi baik dan petunjuk Locianpwe!" "Nah, Tiang Le, oleh karena tiada ada apa-apa lagi yang dapat kuberikan kepadamu, maka aku bermohon diri dan ingatlah pesanku tadi…… untuk sumoaymu, selamat tinggal!"

Sekali tubuh si kakek buntung itu berkelebat.

Tahu-tahu telah lenyap dari hadapan Tiang Le dan Bwe Hwa.

Diam-diam mereka menjadi terkejut bukan main akan kehebatan kakek kaki buntung yang pada puluhan tahun yang lalu pernah menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu silat tangan kosongnya yang bernama kepalan dewa tanpa tandingan!

Hebat!

"Sumoay syukur kau telah sembuh.......

O ya, masih sakitkah dadamu?"

Tanya Tiang Le begitu menengok kepada Bwe Hwa yang memandangnya sambil tersenyum dan mengangguk.

"Kakek kaki buntung itu yang menolongku, koko, ia hebat entah dengan cara apa ia menyembuhkan lukaku di dada.

Hanya begitu kusadar, aku mendengar bisikan-bisikan perlahan yang amat mengejutkan isi hati dan menghilangkan rasa nyeri yang tadinya menyerang dadaku.

"O ya, koko, aku kuatir sekali....... kenapa kau tertidur begitu lama? Sampai seharian itu kau tidur menggeletak di situ, tadinya ingin kubanguni engkau akan tetapi, kakek kaki buntung itu mencegahnya."

O ya, teringatlah kini Tiang Le.

Ia memang tidak sadar diri lama, akan tetapi mengapa mimpinya itu amat menakutkan?

Ia bermimpi melihat Bwe Hwa naik ke langit sambil menggapai-gapaikan tangannya.

Ia menjerit memanggil Bwe Hwa.

Rasanya dalam mimpi yang amat buruk itu, ia takut sekali kehilangan Bwe Hwa.

Entah mengapa?

"Koko.......?"

Tiang Le menoleh, namanya disebut begitu mesra oleh Bwe Hwa dan gadis itu tersenyum sambil berkata manja.

"Koko....... aku pasti sembuh, jika badan ini mengatasi nyawa....... aku akan sembuh dan ingin hidup…... koko Tiang Le jangan kau tinggalkan aku lagi ya?"

Air mata si gadis berlinang-linang menatap pemuda di depannya. Tiba-tiba ia menjatuhkan kepalanya dan menangis di dada Tiang Le.

"Koko....... aku….. aku tak ingin mati koko....... aku tak ingin berpisah denganmu......."

Suara Bwe Hwa terdengar terisak.

Tiang Le mengusap rambut di kepala si gadis.

Membelainya dengan mesra dan penuh perasaan.

Pandangannya menatap keluar pondok, di luar memang sudah gelap.

Embun menurun dari puncak.

Sementara suara air hujan masih mengericak turun dari atas atap pondok, angin dingin sangat dingin berhembus menerpa ke dua orang muda di dalam pondok itu.

Api unggun yang rupanya telah dinyalahi oleh si kakek kaki buntung masih bernyala bergoyanggoyang lidah api itu ditampar angin yang berhembus dari luar.

Pada saat si gadis menangis di dadanya, Tiang Le teringat kepada perkataan si kakek yang tadi didengarnya.

"Kau kasihanilah dia, hiburlah dia dan senangkanlah hatinya....... karena ia hanya bertahan hidup, hanya untuk beberapa bulan saja, Tiang Le. Jangan bikin ia bersedih hati……!" Bagaikan diiris-iris hati Tiang Le, ia mendekapkan tangan kirinya menyentuh pundak si gadis. Bertambah keras tangis Bwe Hwa merasakan kasih sayang usapan tangan kiri pemuda itu. Ia menangis mengguncang-guncangkan bahunya.

"Tiang Le……. koko....... alangkah bahagia hatiku....... akhirnya....... aku….. aku mendapatkan hatimu…… kau mencintaiku juga…… aku….. ahh…… koko……!"

"Hwa moay…… jangan menangis….. jangan bersedih hati. Aku kini berada di sampingmu….. mengapa kau bersedih? Hwa-moay, kau tidak boleh menangis, tidak boleh bersedih…... mengertikah kau?"

Bwe Hwa mengangkat wajahnya. Sebuah pandangan yang redup membuat dada Tiang Le berdebar-debar. Tak tahan. Setitik air mata Tiang Le meloncat jatuh menimpah wajah si gadis.

"Koko……. kau menangis?"

"Hwa-moay……. aku menangis karena bahagia…… kau….. aku……"

"Koko mengapa kau bahagia ini, karena akukah?"

Tiang Le mengangkat dagu si gadis. Mengecup bibirnya lembut.

"Hwa-moay aku…… aku bahagia karenamu! Aku….. entah mengapa aku sangat menyayangimu Bwe Hwa, nah, sekarang kau tidak boleh bersedih. Ingat, kalau kau menangis, aku pasti akan menangis!" Bwe Hwa mengusap matanya dengan tangan kanannya. Sebuah senyuman menghias di atas sepasang mata yang berlinang air mata yang hendak meruntuh, akan tetapi apabila anak sungai kecil itu melintas di pipi si gadis, tangan kiri Tiang Le menyentuh lembut dan berkata.

"Kau tidak boleh bersedih, Bwe Hwa……!"

Aneh sekali, suara Tiang Le begitu tergetar.

Apabila ia teringat akan perkataan si kakek kaki buntung.

Hatinya merenyuh pilu dan ingin ia menghibur gadis ini, memeluknya, mengatakan cinta kepadanya.

Oo, Tiang Le…… hatimu begitu lemah, begitu tak tega melihat ambang kematian yang hendak menjemput Bwe Hwa!

Tiang Le mengangkat lagi dagu si gadis.

Menundukkan wajahnya dan mengecup dalam bibir si gadis yang menyedotnya dengan panjang dan penuh gairah cinta.

Sebuah petir menyambar berkeredep merupakan lidah api yang menerangi atap pondok itu.

Api unggun bergoyang-goyang disapu terpaan angin malam.

Suara binatang gunung meningkahi datangnya malam hari yang gelap.

Udara bertambah dingin, apabila embun bertambah tebal berkeliaran dan menyelimuti ruang di dalam pondok.

Udara bertambah dingin.

Akan tetapi sepasang manusia.

Antara seorang pria dan wanita muda cantik.

Bertambah ketat tenggelam dalam pelukan-pelukan yang menimbulkan gairah dan rangsangan keinginan untuk memiliki satu sama lain.

Mereka tenggelam dalam impian yang begitu amat indah dan mengesankan.

Akhirnya, apabila sebuah guntur menggelegar bagaikan hendak membelah bumi dan kilat menerangi alam ini, dua sosok tubuh roboh dalam keadaan lemas dan tiada daya dan keinginan lagi.

Hujan gerimis turun di antara kekelaman malam.

Bwe Hwa dan Tiang Le terlena di dalam pondok dalam keadaan letih lunglai.

Tangan kanan Bwe Hwa mengusap dada Tiang Le yang hanya tertutup oleh gelapnya malam.

Sebuah senyum si gadis menyungging kepuasan rasa hati yang tenggelam dalam alam bahagia yang begitu mengasyikkan dan penuh khayalan-khayalan tinggi jauh pada awang-awang di atas.

Sementara telinga Tiang Le menggema jeritan-jeritan si gadis yang tadi didengarnya amat menusuk-nusuk perasaan hatinya.

Sebuah jeritan Bwe Hwa yang dipersembahkan kepadanya sebagai lambang cinta kasih yang hanya terjalin pada kesunyian-kesunyian lembah Tay-hang-san yang sunyi membisu!

Akan tetapi, apabila kesadaran itu datang pada pagi-pagi harinya, Tiang Le melonjak dari tidurnya ketika dirasakannya badannya begitu malas dan cepat ia menyambar pakaiannya yang berserakan di dalam pondok dan sekali menggerakkan tubuhnya, di luar pondok itu ia cepat-cepat berpakaian.

Wajahnya menjadi merah seperti dibakar.

Telinganya menjadi panas.

Matanya menjadi pedas melihat pemandanganpemandangan barusan yang membuat ia bergidik melihat tubuh yang begitu polos dan menyeramkan tak berbalut sehelai benangpun!

Teringatlah ia akan pengalaman-pengalamannya semalam dengan Bwe Hwa.

"Gila! Apa yang pernah kulakukan terhadap gadis itu. Ya, Tuhan! Sudah gilakah aku? Betul aku sudah gila! Tiang Le kau sudah gila.......!"

Da1am keadaan hati yang tidak keruan ini, pemuda itu membenturbenturkan kepalanya dengan batu gunung dan nampak darah merah melele dari kepala Tiang Le yang pecah oleh hantaman pada batu gunung yang keras itu.

Hatinya menyesal bukan main.

Ia menjambak rambutnya.

Membenturkan kepalanya.

Pada ketika itulah sebuah jeritan lirih mengiringi berkelebat tubuh Bwe Hwa yang terus memeluk Tiang Le.

"Koko…… kau....... kau....... kenapa kau jadi begini…… koko.......?"

Dengan pandangan mata merah, pemuda buntung itu menoleh kepada Bwe Hwa dan melepaskan rengutan pada pelukan si gadis.

"Bwe Hwa....... apa….. apa yang telah kulakukan kepadamu, apa yang terjadi sesungguhnya....... Ya Tuhan, Bwe Hwa kau bunuhlah aku….. bunuhlah aku!"

Tangan kiri Tiang Le menampar kepalanya. Darah merah membanjir dari kepala itu. Bwe Hwa menubruk pemuda itu dan menangis.

"Koko....... kenapa kau jadi begini?" "Bwe Hwa! Kau katakanlah…… aku…… aku........ ahh mengapa aku jadi begini, Bwe Hwa....... aku telah….. telah me….. me....... ahh sebaiknya aku mampus!"

"Koko…… mengapa kau. Kau menyesal atas perbuatan kita semalam? Ya, kau tentu menyesal koko....... ka....... rena….. koko….. katakanlah mengapa kau menyesal, mengapa?"

Tiang Le memandang Bwe Hwa.

Bwe Hwa mencucurkan air mata.

Bwe Hwa menangis dengan amat sedihnya.

Bahunya bergoyanggoyang menahan isak tangis.

Hidungnya berkembang kempis dan pipi itu telah menjadi basah, memandang Tiang Le.

Pada ketika itu, terngiang sebuah kata-kata dari kakek kaki buntung yang semalam didengarnya.

"…….kau hiburlah dia, senangkan hatinya, jangan membikin ia bersedih hati, kasihanilah dia, karena ia hanya bertahan hidup hanya untuk beberapa bulan saja. Tiang Le ketahuilah olehmu bahwa sumoay ini mengalami luka dalam yang amat parah, ia menderita sakit jantung dan kanker dada yang sampai saat ini belum ada obatnya. Apabila jantung bergoyang dan mengalami shok dalam hidupnya, ia akan muntahkan darah lagi……"

"Bwe Hwa…….!"

"Kokooooo…..!" Tiang Le menubruk gadis itu dan merangkulnya dan berkata dengan suara yang tertahan-tahan.

"Hwa-moay….. aku…… telah berdosa kepadamu….. aku….. membuat engkau……."

Jari telunjuk Bwe Hwa menekan mulut si pemuda.

"Tidak koko….. aku tidak menyesal. Malahan aku merasa bahagia sekali koko…… Tiang Le koko aku sudah menganggap kau sebagai suamiku….."

"Bwe Hwa…..!"

"Menyesal kau?"

Tiang Le menggigit bibirnya.

Bwe Hwa mengusap kepalanya yang berdarah bekas ia benturkan tadi itu.

Kedua pasang mata saling menatap dan saling berpandangan.

Ketika hati Tiang Le merenyuh.

Perih sekali dan terharu melihat keadaan Bwe Hwa.

Apakah dia teringat akan nasib si gadis.

Ia ingin sekali memeluknya, menghiburnya dan mengusap butir butir air mata itu.

Akan tetapi apabila teringat akan perbuatan semalam, suatu perbuatan yang semestinya tak boleh ia lakukan.

Memalukan!

Ingin sekali saat itu bumi yang dipijaknya amblas dan menguburnya hidup-hidup!

Tak tahan ia mengingat itu!

Akan tetapi, ia tak tega membuat Bwe Hwa bersedih.

Tak mau membuat gadis itu cepat-cepat menuju ke jalan kematian.

Bwe Hwa tak boleh mati!

◄Y► Sementara itu peperangan terjadi di mana-mana.

Pasukan pasukan Mongol berkeliaran di daratan Tionggoan (pedalaman Tiongkok).

Dan mereka bergerak ke arah Kotaraja dengan teriakan-teriakan menggemuruh.

Sambil berjalan itu mereka melakukan perampokan dan perkosaan-perkosaan dan membakari rumah-rumah penduduk, serta membunuhi banyak lelaki lelaki bangsa Han dan menculik perempuan-perempuan cantik.

Kerusakan-kerusakan terjadi dimana-mana.

Jeritan-jeritan kematian dari aniaya pasukan Mongol penjajah menjulang setinggi langit.

Suasana perang terjadi di mana-mana.

Orang-orang gagah dan yang berjiwa patriot telah menggabungkan diri merupakan kelompok-kelompok kaum pejuang melawan tentara Mongol dengan penuh gigih dan bertekad mempertaruhkan nyawa.

Pintu gerbang kotaraja selalu tertutup dan dijaga oleh pasukanpasukan tentara Song dengan ketat.

Barisan panah dan api bersiap jaga di atas tembok kota apabila sewaktu-waktu pasukan penjajah menerobos masuk.

Suasana di dalam kotaraja begitu tegang dan mendebarkan hati.

Di mana-mana pasukan Song mengadakan penjagaan dengan ketat dan teratur secara bergilir.

Karena tentara Mongol sudah hampir mendekati tapal batas kotaraja, maka hubungan kotaraja untuk sementara waktu terputus dari dunia luar.

Bangsa Han tidak diperbolehkan keluar dari kotaraja kecuali pasukan-pasukan Song yang hendak dikirim untuk menghancurkan tentara Mongol dan membantu perjuangan para orang gagah di luar kotaraja.

Jauh di luar kotaraja, di sekitar padang rumput yang amat subur terdapat sebuah telaga, di tempat inilah pasukan Mongol yang dipimpin oleh Khu Bilay Khan, menjadikan markas besar untuk sementara, sambil menunggu bala bantuan dari tokoh-tokoh dunia barat.

Di sini terdapat telaga yang banyak airnya, dan di tempat ini terdapat tempat yang amat subur pula, sedangkan daerah itu sebagian besar terdiri dari padang pasir yang gundul.

Selain itu, dari telaga dapat pula melakukan perjalanan air sampai ke sungai Kuning dan ke sebelah tenggara kotaraja, sehingga tempat inilah yang tengah direncanakan oleh Khu Bilay Khan untuk menggempur kotaraja!!!

Akan tetapi, tentu saja Khu Bilay Khan takkan menjadi orang besar kalau tidak mempunyai siasat kepemimpinan yang amat cerdik.

Di luar saja kelihatan markas itu merupakan markas besar, namun pada hakekatnya, markas besarnya di pecah-pecah dan berada di mana-mana.

Khu Bilay Khan yang licik ini dengan secara diam-diam bersekutu dengan seorang jenderal kepercayaan dari Kotaraja yang bernama Bong Bang Sianjin dan atas siasatnya, Khu Bilay Khan menantang tentara Song untuk mengadakan pertempuran di pegunungan Taihang-san.

Tentu saja kaisar menerima tantangan ini, dan dengan segera ia mengerahkan perajurit-perajurit pilihan Kotaraja dalam pimpinan Bong Bong Sianjin atau dikenal di Kotaraja dengan sebutan Bong-goanswe (jenderal Bong).

Justru pengerahan secara besar-besaran menggempur tentara Mongol di pegunungan Tai-hang-san inilah yang membuat pertahanan di Kotaraja menjadi lumpuh dan lemah, karena begitu pasukan pilihan meninggalkan Kotaraja atas pimpinan jenderal Bong, masuklah tentara Mongol dengan teriakan-teriakan bergemuru menyerbu Kotaraja!

Kaisar menjadi terkejut sekali!

Ia menjadi tertipu oleh jenderal Bong yang telah membujuknya untuk membawa pasukan pilihan ke Taihang-san!

Sedangkan Kotaraja menjadi lemah dan lumpuh!

Banjir darah terjadi di Kotaraja.

Tentara Mongol dengan ganasnya memasuki Kotaraja.

Perang tanding yang tidak sesuai pada saat ini berjalan dengan amat cepatnya.

Darah merah dari pasukan Song yang tidak mempunyai kekuatan lagi membasahi jalan Kotaraja.

Pasukan-pasukan tentara Mongol yang dipimpin oleh Khu Bilay Khan mengadakan penyembelihan secara besar-besaran terhadap laki-laki bangsa Han.

Wanita menjerit, menangisi suaminya yang telah mati dipenggal oleh golok bangsa Mongol yang tak memberi ampun kepada bangsa Han ini.

Kaisar Song Cu Ling kedapatan telah membunuh diri akibat kebodohannya sendiri yang mudah saja tertipu oleh Jenderal Bong yang berkhianat kepada bangsanya.

Dengan darahnya sendiri kaisar itu menulis di atas tembok singgasana kerajaan yang berbunyi demikian.

"Mati karena kebodohan!" Selagi peperangan berkecamuk dengan hebatnya, dan selagi jeritan-jeritan manusia dengan panik dan ngeri membubung tinggi di atas Kotaraja yang telah banjir darah. Dua sosok tubuh manusia berkelebat dengan amat cepatnya menggerakkan pedangnya membabati tentara Mongol yang sudah banyak mengalahkan tentara Song yang hanya tinggal beberapa puluh orang saja. Dua sosok manusia itu bergerak dengan amat cepat sekali. Setiap kali pedang mereka bergerak, kepala tentara Mongol akan roboh meninggalkan badan. Kedua orang muda itu adalah Sin Thong dan Siauw Yang yang telah tiba di Kotaraja dan mengamuk dengan amat dahsyat. Sin Thong mainkan pedang samurainya bagaikan malaikat pencabut nyawa. Siauw Yang yang sudah gemas sekali akan bangsa Mongol penjajah menggerakkan pedangnya, dengan luar biasa, membabati leher bangsa Mongol seperti orang membabati rumput saja. Kedatangan kedua orang muda yang mempunyai sepak terjang seperti maut, membuat pasukan Song yang tinggal beberapa orang saja bangkit semangatnya. Dengan gigih ia menggerakkan senjatanya merangsek mengeluarkan teriakan-teriakan bersemangat! Di lain bagian, di sebelah utara Kotaraja, pasukan-pasukan Mongol menjadi kocar kacir karena munculnya banyak orang gagah yang sudah menyerbu Kotaraja dan menempur kerajaan Mongol. Di antara peperangan yang sedang berlangsung itu nampak Ho Siang dan Nyuk In mengamuk, hebat luar biasa! Biauw Eng dan Hok Sun yang sudah sampai ke tempat itu menyerbu ke dalam kota dan begitu mendapati ayah Biauw Eng sudah mati beserta keluarganya oleh pembunuhan-pembunuhan bangsa Mongol yang kejam ini, sambil menangis Biauw Eng mengamuk bagaikan singa betina kehilangan anak. Sementara Hok Sun yang dijuluki harimau terbang, menggetarkan pasukan Mongol! Akan tetapi pasukan Mongol yang terdiri dari ribuan orang itu, tak dapat mereka hancurkan. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa kaisar sudah membunuh diri karena penyesalan atas kebodohan sendiri. Maka Biauw Eng dan Hok Sun yang masingmasing memondong tubuh ke dua orang tua Biauw Eng berkelebat ke sana ke mari membuka jalan darah untuk ke luar dari kepungan tentara Mongol yang demikian ketat. Memang sejak dulupun pasukan Mongol ini terkenal sebagai lakilaki gagah yang pantang menyerah, oleh sebab itu, begitu ke dua orang ini bergerak dan tiga-empat orang roboh mandi darah, datang lagi sepuluh orang dan begitu seterusnya akhirnya, kedua orang ini mulai lemah, gerakan-gerakan mereka mulai kacau. Hok Sun kuatir sekali melihat keadaan Biauw Eng ini, ia bersilat mendekati gadis itu. Sayang sekali mereka ini bersilat dengan tidak leluasa karena memondong tubuh ke dua orang tua Biauw Eng. Sebuah sambaran golok tentara Mongol menyerempet di pundak Hok Sun, pemuda itu menjerit keras dan membabatkan pedangnya menghantam perwira Mongol itu. Terdengar jeritan mengerikan waktu pedang di tangan Hok Sun amblas di dada seorang perwira Mongol. Darah merah menyembur dari dada yang tertanam pedang itu. Hok Sun menggerak tangan kirinya mendorong ke samping waktu didengarnya sambaran senjata berkelebat di atas kepalanya dengan sedikit menggeser kakinya pemuda itu sudah meluputkan diri dari sambaran tombak perwira Mongol dan begitu tangan kirinya mendorong, tubuh perwira itu terjengkang ke belakang oleh dorongan angin pukulan Hok Sun yang lihai. Akan tetapi pemuda itu juga menjerit menahan rasa sakit yang hebat dan pundaknya yang tadi terserempet golok. Sesosok bayangan berkelebat di tempat itu dan lima perwira Mongol terjungkal oleh terjangan sebatang tongkat kecil dari Kong Hwat yang sudah sampai ke tempat itu dan melihat kedua temannya sudah mandi darah, segera ia berseru.

"Hok Sun twako, lekas lari!"

"Kong Hwat lote…….!"

Panggil Hok Sun girang melihat datangnya murid Koay-lojin yang perkasa. Datangnya pemuda itu, pengepungan menjadi dua bagian. Cepat Hok Sun berseru kepada Biauw Eng yang sudah kelihatan lemah sekali.

"Eng-moay…… buka jalan darah. Cepat!"

Seru Hok Sun mengelebatkan pedangnya membuka jalan dan tiga orang perwira yang mengeroyoknya terjungkal dengan dada terserempet pedang.

Dengan gerakan yang ringan, tangan kiri Hok Sun menyambar tangan kiri Biauw Eng bagaikan terbang keduanya mencelat lewat kepala para pengeroyok.

Seorang perwira bangsa Mongol segera menyambitkan pisau terbangnya dan begitu Hok Sun mengebutkan lengan bajunya, pisau itu melayang kembali kepada si penyambit dengan luncuran yang cepat, menghantam lengan kiri si penyambit.

Perwira yang kena senjata makan tuan itu menjerit kesakitan memegangi lengannya!

Hok Sun dan Biauw Eng sudah melompat jauh dan hilang di balik tikungan jalan.

Sementara Kong Hwat mainkan ilmu tongkat Funiu-san-tung-hoat dengan cepat dan tubuhnya berkelebat-kelebat laksana bayangan maut yang siap hendak merenggut nyawa lawan yang kurang waspada.

Akan tetapi bagaimanapun hebatnya Kong Hwat dikeroyok oleh banyak perwira Mongol yang tak habishabisnya ini lama kelamaan tubuhnya menjadi lelah juga, gerakangerakannya mulai lemah!

Pada saat itu, berkelebat dua sosok bayangan.

Sepuluh perwira kerajaan terjungkal tak dapat bangun lagi.

Ternyata Ho Siang dan Nyuk In sudah sampai ke tempat itu dan berseru kepada Kong Hwat.

"Kotaraja sudah direbut oleh musuh, kaisar membunuh diri. Tak guna kita bertempur mati-matian. Sebaiknya lekas lari dan ke pulau Bidadari! Seorang pemuda lengan buntung sedang mengamuk mengobrak-abrik Sian-li-pay! Hwat-te lekas kau lari! Kita ke sana menolong pemuda lengan buntung!"

Sambil mengelebatkan tongkatnya menotok, Kong Hwat menoleh kepada Ho Siang.

"Baik twako, mari kita pergi! Eh, bagaimana dengan Sin Thong dan Siauw Yang?" "Mereka sudah berangkat......."

"Baik, sekarang kita pergi.......!

Sambil berkata demikian, sekali tubuh Kong Hwat mengenjot tubuhnya, pemuda itu sudah melayang dan berlari cepat disusul kemudian oleh bayangan Ho Siang dan Nyuk In yang gesit seperti walet terbang.

Perwira-perwira Mongol berteriak-teriak mengejar.

Akan tetapi begitu ke tiga orang muda yang lihay itu menggunakan ilmu lari di atas rumput, tahu-tahu mereka telah kehilangan bayangan ke tiga orang muda itu.

Sorakan-sorakan kemenangan menggema di Kotaraja.

Bendera kerajaan Mongol dipancangkan di luar tembok kota.

Perwiraperwira Mongol merayakan hari kemenangan ini dengan pesta pora merampoki rumah-rumah bangsawan dan membunuh lakilaki bangsa Han yang melawan.

Beberapa orang yang dicurigai memberontak, dijejerkan di tepi jalan dan diikat.

Kemudian dua orang algojo mengelebatkan goloknya yang besar memenggal kepala mereka!

Gadis-gadis cantik menangis penuh ketakutan dalam cengkraman tangan-tangan yang kasar, mulut-mulut yang penuh nafsu mencekeram bibir cantik si gadis.

Sebentar kemudian, dengan biadab pemerkosaan dan penculikan berlangsung di muka umum dengan tiada yang berani menentang lagi.

Siapa iang berani melawan?

Mencari mati!

Itulah perang, jeritan ketakutan membumbung setinggi langit.

Kematian-kematian oleh karena aniaya dan fitnah berlangsung yang dilakukan orang-orang yang hendak mencari muka untuk mengambil hati Kaisar baru, gadis-gadis cantik menjadi persembahan yang menggirangkan kaisar baru yang ditunjuk oleh pemimpin besar Khu Bilay Khan.

Pemimpin ini kemudian kembali ke Mongol, membawa barisannya dan mencari tanah jajahan lain!

Kelak kemudian pemimpin ini terkenal oleh karena ia adalah cucu dari Raja Besar di Mongol yang bernama Jenghis Khan, orang besar yang pernah menggemparkan dunia!

Hari itu kerajaan Song mengalami kehancuran.

Kerajaan Mongol menguasai kembali daratan Tiongkok.

◄Y► Tiang Le memegang bahu Bwe Hwa dan katanya pelan.

"Hwamoay, kau jangan kuatir, aku pasti akan kembali, nantikanlah aku di lembah Tai-hang-san ini, jangan kau cemas Bwe Hwa.......!!"

Bwe Hwa memandang pemuda di depannya ini dengan tatapan basah.

"Bagaimana aku tidak cemas koko, kau hendak pergi ke pulau Bidadari hanya seorang diri, aaah kokoo....... biarlah aku ikut denganmu. Setidak-tidaknya aku dapat membantumu menghadapi lawan-lawan yang hendak mencelakakanmu, biarlah aku ikut koko!"

Tiang Le mengecup kening si gadis. Dengan tangan kirinya ia mengusap pipi si gadis yang berlinang air bening dan memandang mata yang berkaca-kaca itu dengan pandangan mesra.

"Tidak Hwa-moay, justru kalau kau ikut denganku, kau akan menjadi beban bagiku dan aku…... aku kuatir akan keselamatan, kesehatanmu yang belum pulih benar. Kau nantikanlah aku disini, di tempat ini baik sekali untukmu beristirahat……. ku pergi takkan lama Hwa-moay, andaikata aku selamat, dan dapat menolong Pei Pei, pasti aku akan ke mari."

Gugur bendungan air mata Bwe Hwa. Tak dapat berkata-kata lagi ia menjatuhkan kepalanya di dada Tiang Le. Menangis sedih! "Kokoo........ kalau... kau tidak kembali….. bagaimana?"

Tiang Le mencoba untuk tersenyum, walau hatinya menangis.

"Apa boleh buat Hwa-moay…..., tentu saja kalau aku tidak kembali itu tandanya aku tak dapat meloloskan diri dari Sian-li-pay dan mungkin juga tidak mampu menolong Pei Pei. Ahh, Hwa-moay....... jangan kita memikirkan sampai ke situ. Percayalah kalau Thian melindungi, pasti aku selamat. Kau berdoalah……!"

Bwe Hwa memeluk Tiang Le erat-erat.

"Kalau begitu....... aku akan ikut denganmu koko, biarlah mati hidupmu, aku akan mendampingimu... koko, aku... aku bersedia mempertaruhkan nyawa ini untukmu. Bawalah aku koko…….!!"

Bwe Hwa menangis lagi.

Tiang Le memejamkan matanya.

Ia merasa terharu sekali akan atas kecintaan gadis ini.

Dipeluknya Bwe Hwa dengan penuh perasaan.

Bwe Hwa membalas pelukan Tiang Le dengan penuh perasaan cinta di dada.

Keduanya kini saling berpandangan di antara kabut yang membiru menyelimuti mereka.

Dada Tiang Le berdebar-debar keras sekali.

Ingin sekali ia melepaskan pelukan ini, akan tetapi entah mengapa?

Sejak si kakek kaki buntung memberitahukan akan penyakit gadis ini, yang hanya bertahan hidup dalam waktu yang amat pendek, tak tega ia melukai hati gadis ini.

Tak mau ia menyakiti hati Bwe Hwa.

Tak kuasa ia untuk menolak cinta kasih Bwe Hwa, maka bagaikan orang yang bermimpi, iapun berkata.

"Aku cinta padamu Hwa-moay…….."

"Tiang Le koko…"

Hanya rintihan itu yang keluar dari bibir Bwe Hwa yang menantang untuk sedia menerima kecupan Tiang Le.

Dan Tiang Le memang mengecup bibir yang menantang itu.

Mengecupnya dengan lembut dan hati yang berkasihan.

Degupan dada si gadis yang berdetak-detak menyentuh jantungnya di dalam dada, membuat seakan-akan napas Tiang Le berhenti.

Degup yang menyentuh jantungnya bagaikan irama kematian yang kelak akan merenggut nyawa Bwe Hwa entah dalam beberapa saat lagi!

Pilu rasa hati Tiang Le.

Mereka berpelukan di depan pondok lama sekali.

Sementara angin gunung menerpa dengan kesejukan yang membahagiakan.

Apabila Tiang Le ingat akan Pei Pei yang kini sedang ditawan dalam tangan Bu-tek Sianli, Tiang Le mendorong tubuh si gadis dan berkata.

"Hwa-moay… sekarang aku harus pergi….. tak boleh aku membuang banyak waktu lagi, kau nantikan saja aku di sini……."

"Koko……!!!."

Tiang Le mengangkat dagu si gadis dan berkata.

"Tidak percayakah kau kepadaku, Hwa-moay?"

"Koko, setelah…… setelah kau bertemu dengan Pei Pei dan dapat menyelamatkan gadis itu, sungguhkah kau tidak meninggalkan aku…… sungguhkah kau akan kembali ke sini?"

"Haa…. haa Hwa-moay, kau ini ada-ada saja. Sudah tentu kalau aku berhasil menolong Pei Pei, pasti aku kembali ke tempat ini!!"

"Koko……!!"

Bwe Hwa memandang Tiang Le. Amat redup sekali pandangannya itu, bergetarkan irama kasih. Membuat Tiang Le jadi terharu.

"Koko kau…… kau, apakah kau cinta pada gadis itu?"

"Siapa?" "Cia Pei Pei……."

"Hemm!!"

Tiang Le hanya menarik napas panjang. Kemudian ia mengangkat wajah si gadis. Bwe Hwa lalu menatap pemuda itu.

"Aku tidak marah, seandainya iya, iyaaa bukan?"

Tiang Le tidak menyahut, ia hanya mengecup bibir yang berkata dengan penuh getaran hati tadi.

Kecupan itu merupakan perpisahan bagi Tiang Le dan Bwe Hwa.

Bwe Hwa memandang kepergian si pemuda dengan tatapan nanar oleh air mata yang berlinang, apabila bayangan Tiang Le hendak lenyap ke balik tikungan batu yang ada di bukit itu, Bwe Hwa melambaikan tangannya dan mengirim suara jarak jauh.

"Tiang Le koko....... apabila dalam tiga hari kau tidak kembali, aku pasti akan menyusulmu ke pulau Bidadari!!!"

Tiang Le yang mendengar suara dari kejauhan itu, setitik air mata meleleh di pipinya, cepat-cepat dihapusnya dengan ujung jari tangan kirinya.

Dan bagaikan terbang pemuda lengan buntung itu berlari cepat menuju pulau Bidadari.

Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan dirinya Pei Pei!!

Mudah-mudahan Pei Pei dapat kutolong!!

Tiang Le tidak banyak membuang waktu, dia segera berjalan cepat menuju pulau Bidadari.

Waktu yang amat pendek membuat Tiang Le berlari cepat dengan tak berhenti-henti walaupun kegelapan malam telah menutupi jalan.

Akan tetapi dengan kepandaian ginkangnya dan ketajaman matanya ia terus saja menerobos malam yang kelam.

Dari seorang nelayan, ia membeli sebuah perahu kecil untuk menyeberangi laut Po-hay dan mencari pulau Bidadari!!

Untunglah pada tengah malam itu di tengah lautan bulan bersinar terang, sehingga Tiang Le dapat mengarahkan tujuan perahunya ke sebuah pulau yang letaknya terasing dari pada pulau-pulau lainnya.

Bulan di atas terang benderang.

Sebuah perahu merapat di sebuah pulau.

Akan tetapi baru saja pemuda lengan buntung itu hendak menginjakkan kakinya di pantai, serangkum angin pukulan menyambar belakangnya.

Cepat Tiang Le menggeser kakinya dan mencelat ke atas.

Kiranya disitu telah berdiri dara-dara Sian-li-pay mengurungnya.

"Orang muda, siapakah kau? Apakah kau pendekar lengan buntung yang diundang oleh Pay-cu Bu-tek Sianli?"

Salah seorang dari dara jelita yang berambut panjang menegur.

Sikapnya galak sekali.

Kalau dulu wajah gadis-gadis ini berkerudung hitam.

Sekarang, tidak lagi.

Nampak gadis-gadis itu demikian cantik jelita.

Akan tetapi sikapnya ketus dan galak.

Melihat bahwa yang menyambutnya hanya Iima orang dara-dara jelita ini, Tiang Le tersenyum dan berkata.

"Betul nona, aku yang rendah memenuhi undangan Bu-tek Sianli, akan tetapi kalian ini kenapa datang-datang menyerangku, beginikah sambutan orangorang Sian-li-pay?"

"Ooo, kiranya kau adalah pendekar lengan buntung yang disebutsebut oleh Pay-cu? Hm hanya beginikah pemuda tangan buntung yang disohorkan oleh Pay-cu? Eh buntung sebelum kau menginjak daerah Sian-li-pay hayo hadapi pedangku!"

Tiang Le tertawa keras dan berkata.

"Nona cantik, aku masih banyak urusan penting dengan ketuamu, tak boleh berlambatlambat. Biarlah aku ke dalam!"

"Enak saja kau, hadapi dulu kami! Suci, mari kita serbu, kita lihat sampai di mana sih kepandaiannya. Eh buntung lihat pedang!"

Sambil berseru demikian salah seorang dari ke lima dara Sian-lipay itu sudah menyerang Tiang Le dengan tusukan maut yang bergetar.

Akan tetapi menghadapi gerakan ini, walaupun dahsyat akan tetapi dengan mudah sekali Tiang Le berkelit dan membalas dengan dorongan gerak tangan kilat ke arah lawan.

"Dess!"

"Aiiihhh……"

Si gadis mencelat kaget, cepat ia berpok-sai tiga kali dan dari udara itu mengirimkan serangan menusuk ke arah kepala Tiang Le.

Kagum sekali Tiang Le melihat gin-kang yang tinggi dari gadis ini, cepat ia berkelit ke samping dan pada ketika itulah empat dara Sian-li-pay yang lain sudah menerjang maju dengan pedang di tangan.

Dan sebentar saja Tiang Le sudah di keroyok oleh lima dara dari Sian-li-pay.

Tentu saja karena Tiang Le tidak ingin melayani si gadis lebih lama lagi, begitu tangannya bergebrak terdengar jeritan kaget dari gadis Sian-li-pay melihat pedang mereka telah terlepas dari pegangan dan mereka terlempar dengan tidak terluka, kagum sekali daradara Sian-li-pay menyaksikan gerakan yang luar biasa tadi.

Akan tetapi mereka menjadi penasaran.

Masa dalam beberapa gebrakan saja mereka telah dipecundang sedemikian rupa, maka dengan mengeluarkan teriakan nyaring, mereka sudah menyerbu mengirimkan pukulan ke arah Tiang Le.

Tiang Le menjadi kheki bukan main menghadapi gadis-gadis Sianli-pay yang bandel ini, maka dengan gerakan cepat, tahu-tahu ke lima gadis Sian-li-pay itu sudah terpental lagi dalam keadaan tertotok.

Pada saat itu, sepasukan tentara Mongol mendatangi dengan senjata telanjang di tangan.

Dan salah seorang yang bertubuh tinggi besar, dan berlengan penuh bulu membentak dengan suara keras.

"Orang muda, menyerahlah untuk menghadapi Pay-cu Butek Sianli dan lepaskan senjata!"

Akan tetapi Tiang Le yang telah dapat mengenali orang-orang Mongol yang kasar ini menjadi marah.

"Orang liar, tutup mulutmu yang kotor dan lebih baik panggil si nenek Bu-tek Sianli. Jangan ia bersembunyi di belakang kalian yang tak punya guna ini, panggil dia!"

Pada waktu itu, nama Bu-tek Sianli sudah amat disegani oleh banyak tentara Mongol, terlebih lagi pada waktu-waktu ini mereka itu adalah undangan dari Bu-tek Sianli yang bersekutu dengan kerajaan Mongol, tentu saja nama Pay-cu Sian-li-pay dimaki oleh pemuda buntung itu dengan sebutan Nenek dengan nada yang mengancam, mereka menjadi marah dan membentak keras.

"Manusia kurang ajar! Kau sudah berani datang ke pulau Bidadari ini tanpa ijin dan datang-datang kau bersikap kurang ajar. Apakah kau mempunyai nyawa rangkap begini tak takut mampus?"

"Ha ha ha, orang Mongol kasar dan goblok. Buka telingamu lebarlebar, aku adalah Sung Tiang Le, memenuhi janji atas undangan Bu-tek Sianli. Hayo kau sampaikan bahwa tuan besarmu sudah tiba dan menyambutku dengan baik-baik!"

Para tentara Mongol mulai mengurung dan mereka telah menggerak-gerakan senjatanya.

Sikap mereka mengancam sekali.

Ada hampir seratus tentara Mongol berteriak-teriak menyuruh menyerah.

Namun Tiang Le tertawa bergelak dan berkata penuh sindiran.

"Ha ha, ini sajakah manusia-manusia Mongol yang hanya beraninya main keroyokkan saja? Inikah anak buah Khu Bilay Khan yang kesohor itu? Hemm, tidak tahunya hanya ulat-ulat berbisa yang tidak punya guna!"

Tentu saja orang-orang Mongol ini menjadi marah sekali dan serentak mereka menyerbu.

Tentu saja Tiang Le yang sudah siap dengan pedang buntungnya di tangan menyambut kedatangan mereka.

Begitu orang bergebrak mengirimkan bacokan ke arah Tiang Le, begitu pula tangan kiri pemuda buntung itu bergerak cepat, kelima orang itu sudah terlempar roboh dengan tubuh mandi darah.

"Mundur kalian! Kalau tidak, aku Sung Tiang Le putera bangsa Han akan menghancurkan kalian!"

Suara Tiang Le menggema menyakitkan anak telinga.

Tiga orang perwira yang tak kuat oleh bentakan Tiang Le tadi menjerit roboh dan pingsan.

Inilah sebagian pengerahan sin-kang yang dikirimkan melalui suara oleh pemuda lengan buntung itu!

Luar biasa, akan tetapi mana tentara Mongol ini mau mundur, malahan mereka bergerak mengurung pemuda lebih rapat.

Marahlah Tiang Le melihat kebandelan orang-orang kasar ini, pedang pusaka buntung bagaikan sebilah pisau menghadapi agaragar yang sekali sentuh saja sudah buntung senjata mereka.

Setiap kali pedang buntung ini bertemu dengan senjata lawan, pasti senjata lawan itu terbabat putus dan orang itu sendiri menjerit ngeri dan perutnya tersobek oleh sabetan pedang buntung Tiang Le yang menggunakan jurus-jurus Tok-pik-kiam-hoat.

Sebentar saja duapuluh lima perwira Mongol sudah mandi darah oleh sabetan pedang Tiang Le, pemuda ini menganggap bahwa perwira-perwira Mongol ini adalah bangsa yang suka menjajah dan kejam, maka pedang pemuda itu tidak memberi ampun lagi kepadanya.

Setiap gerakan pedang, diiringi pekik kematian dari lawannya!

Pedang pusaka buntung bermandikan darah!

Tiang Le benar-benar telengas dan kadang-kadang apabila pedangnya itu terselip di pingang, bagaikan geledek tangan kiri pemuda itu menyambar merupakan maut yang mencabut nyawa.

Hebat sepak terjang Tiang Le!

Baiknya baru ada limapuluh perwira yang tewas ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras menahan semua perwira yang bertempur.

Bentakan ini demikian berpengaruh, karena semua orang Mongol melompat mundur dan berlutut!

Sepasukan tentara berkuda bergerak dari depan.

Seorang penunggang kuda tentara Mongol bertubuh tinggi besar dan tegap dengan pakaian perang yang lengkap berkata dengan suara yang besar dan serak.

"Orang muda buntung, Pay-cu Sian-li-pay mempersilahkan engkau masuk ke ruang dalam!"

Hanya itu yang dikatakan orang itu, kemudian pasukan kuda itu telah membedal kudanya kembali ke dalam, diikuti pula oleh gerakan-gerakan dari para perwira Mongol sambil menggotong tubuh kawan yang mati dan yang terluka.

Di pinggir pantai itu Tiang Le berdiri.

Tak ada satupun manusia di tempat itu.

Suara ombak memecah pantai bergemuruh meningkahi kesepian malam.

Bulan di atas terang benderang.

Sehingga memudahkan pemuda itu memasuki pulau Bidadari.

Dari pendengaran-pendengaran telinganya yang tajam tahulah ia bahwa tempat itu sudah dikurung oleh banyak orang yang belum mau menampakkan dirinya.

Tahulah Tiang Le bahwa Nenek Bu-tek Sianli sudah mengerahkan orang-orangnya mengawasi dirinya.

"Hem, apapun yang akan terjadi, ia harus menyelamatkan Pei Pei! Awaslah kau Bu-tek Sianli, seujung rambut saja kau mengganggu Pei Pei, aku akan mengamuk dan menghancurkan pulau ini!"

Tiang Le berjalan perlahan.

Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.

Ia mendengar suara kuda yang banyak sekali.

Ketika ia memperhatikan derap kaki kuda itu datangnya dari belakang, kanan dan kiri dan dari depan.

Agaknya ia sudah dikurung oleh barisan berkuda yang banyak sekali jumlahnya.

Tiang Le berdiri tegak di depan barisan berkuda yang mengurungnya.

Menanti reaksi dari orang-orang Mongol ini.

"Hm, beginikah sambutan Bu-tek Sianli?"

"Orang muda buntung, menyerahlah! Kau sudah terkurung dan nyawamu berada di tangan kami,"

Itulah suara perwira Mongol tinggi besar!

Suara yang kuat dan besar yang bergema di sekitar tempat itu, amat menyeramkan.

Mendengar kata-kata ini Tiang Le maklum bahwa ia sudah masuk perangkap di pulau ini.

Ternyata Bu-tek Sianli sengaja mengundangnya masuk perangkap.

Hmm!

Ini hanya dengan barisan berkuda, belum lagi yang lain-lain di belakang!

Tiang Le menyapu ratusan perwira Mongol berkuda.

Nampaknya orang-orang Mongol ini lebih kuat dan terlatih.

Aku harus berhatihati, pikir Tiang Le meraba gagang pedangnya.

"Menyerahlah, sebelum kami bertindak kekerasan kepadamu orang muda buntung, sayangilah jiwa yang masih muda begini kalau binasa,"

Berkata salah seorang Mongol tinggi kurus seperti tengkorak hidup, berpakaian perwira gagah.

Orang itu berkata dalam bahasa Han yang kaku!

"Kalian ini, suku bangsa Mongol, mengapa berada disini?

Apa hubungannya dengan Bu-tek Sianli dan kalian ini siapa?"

Tanya Tiang Le menyapu orang-orang berkuda dengan pandangan tajam. Terdengar orang Mongol yang tinggi besar itu tertawa mengakak mementangkan mulutnya yang besar.

"Ha ha ha ha, tidak kenalkah dengan kami? Kami inilah barisan pendam tentara Mongol yang terkenal, sudah lama kami mendapat julukan barisan maut, mau kenal dengarku….. ha ha ha, aku bangsa Mongol, namaku Ouw Yang Gembol, dan yang kurus kering adalah adik misan dari Khu Bilay Khan bernama Themu Khan, dan….. sudahlah lebih baik kau menyerah orang muda, sebelum jiwanya melayang…... kasihan kau masih begini muda, ha ha ha!"

"Bangsat, Ouw Yang Gembol, ternyata kau seekor kadal hitam yang harus mampus. Biarpun kau dan orang-orangmu sudah mengurungku, kau dapat berbuat apakah?" Baru saja Tiang Le berkata demikian, cepat seperti kilat dia sudah menggerakkan tangan kirinya memukul ke arah Ouw Yang Gembol, orang Mongol yang tinggi besar itu. Angin pukulan menyambar, akan tetapi Ouw Yang Gembol yang memandang enteng kepada pemuda ini, hanya menggerakkan tangan pula mendorong ke depan. Dua tenaga yang tak kelihatan bertemu di udara.

"Desss!"

Bagaikan layangan putus tubuh yang tinggi besar dari Ouw Yang Gembol terpental dari punggung kuda.

Dan berdebuk di tanah dengan mengeluarkan suara keras.

Ouw Yang Gembol meringis merasa pantatnya sakit bukan main terhantam batu yang menghantam pantatnya, masih untung Tiang Le belum mau menjatuhkan tangan maut kepadanya.

Hanya membuat terpental saja!

"Bangsat buntung, kau menghinaku.......

lihat ini!"

Dengan wajah merah karena malu kepada anak buahnya Ouw Yang Gembol sudah menarik goloknya yang besar dan berkilat-kilat saking tajamnya. Lantas saja golok itu melayang menyambar leher Tiang Le.

"Singg!"

Suara golok mendesing membabat angin waktu Tiang Le miringkan tubuhnya ke kiri dan begitu tangan kirinya bergebrak, untuk yang ke dua kali pukulan Tiang Le yang dahsyat telah membuat lambung Ouw Yang Gembol terhantam pukulan yang kuat itu.

Tubuh besar Ouw Yang Gembol melayang dan waktu ia berusaha bangkit, ia terhuyung-huyung dan muntahkan darah segar!

"Keparat!

Berani kau melukai kepala barisan Maut?

Mampuslah kau!"

Bentak Themu Khan menggerakkan sepasang kaitan yang panjang menggaet leher Tiang Le, tetapi begitu Tiang Le membalik menghantam ke depan.

"Duukk!"

Tubuh Themu Khan terlempar jauh, akan tetapi ia sudah dapat berdiri kembali dan memegangi dadanya yang terasa sakit.

Ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, dan ia sendiri menyerbu lagi dengan kaitan di tangan!

"Tangkap hidup-hidup anjing buntung ini, serahkah kepada Bu-tek Sianli Pay-cu,"

Kata Themu Khan dalam bahasa Mongol yang tak dimengerti oleh Tiang Le.

Terjadilah pengeroyokan besar-besaran atas diri Tiang Le, akan tetapi pemuda itu hebat luar biasa.

Tenaga sin-kangnya bertambah berlipat ganda sejak kakek kaki buntung yang berjuluk Sin-kun-butek memindahkan tenaga lweekang kepadanya.

Setiap kali tangan kiri pemuda itu bergerak terdengar jerit mengerikan dari anak buahnya Ouw Yang Gembol yang tersambar angin pukulan yang luar biasa.

Gerakan-gerakan Tiang Le ini amat cepat sekali dan tak terduga oleh lawan.

Sedangkan tubuhnya mencelat ke sana ke mari membagi-bagi pukulan ke arah lawan.

Dan sebentar saja, duapuluh lebih anak buah Ouw Yang Gembol sudah roboh dengan tak dapat bangun kembali!!

Ouw Yang Gembol dan Temu Khan menjadi marah sekali, sambil memberikan aba-aba memberi semangat kepada anak buahnya ia merangsek pemuda buntung yang amat lihay itu.

Goloknya berkelebat mengeluarkan suara berdesing saking kuatnya tenaga Ouw Yang Gembol, sedangkan Temu Khan mainkan ilmu kaitannya mengeluarkan suara menciut-ciut seperti cambuk dan kadang-kadang mengait kepala lawan.

Berbahaya sekali kalau kepalanya Tiang Le sampai terkait, bisa kehilangan kepala dia, karena ujung kaitan ini diberi mata pancing yang besar sembilan buah, amat ganas sekali menyambarnyambar.

Tiang Le mengeluarkan pedang buntungnya, dan baru beberapa gebrakan saja, lima orang perwira Mongol menjerit roboh dengan tubuh mandi darah.

Tiang Le merasa kewalahan juga.

Pengeroyok-pengeroyoknya amat banyak dan berkepandaian amat tinggi.

Biarpun dengan pedang buntungnya ia banyak sudah merobohkan lawan, akan tetapi jumlah lawan terlalu banyak dan lagi melawan dengan nekat.

Sedangkan mereka ini adalah tentara Mongol yang telah banyak pengalaman.

Dan sering kali menghadapi pertempuran.

Apalagi Ouw Yang Gembol dan Themu Khan dua orang Mongol ini bukannya lawan yang boleh dipandang ringan.

"Kalau begini terus, aku akan mati kelelahan....... musuh terlampau banyak, ini hanya baru orang-orang Mongol saja, belum lagi kekuatan Bu-tek Sianli dan orang-orangnya. Berbahaya!"

Pikir Tiang Le.

Tiba-tiba ia teringat akan ilmu penyerangan yang dikirim melalui suara, maka dengan gerakan cepat Tiang Le meloncat ke atas tembok benteng Sian-li-pay dan menjerit keras.

Hebat sekali suara yang dikeluarkan oleh tenaga sin-kang yang tinggi.

Suara ini merupakan sebuah jeritan maut yang tiba-tiba saja membuat banyak perwira Mongol roboh sambil mendekapkan telapak tangannya pada ke dua telinga.

Sedangkan Ouw Yang Gembol dan Themu Khan cepat-cepat mengerahkan sin-kang di dada dan bersiulan di tanah.

Melihat lawannya sudah menjadi panik cepat Tiang Le melompat ke punggung kuda yang telah kehilangan penunggangnya.

Dan sekali menggerakkan kakinya sudah membedal kudanya masuk ke dalam pulau!

Suara ringkikan kuda menghantarkan teriakkan marah dari Ouw Yang Gembol dan Themu Khan.

Dari belakang orang-orang Mongol mengejarnya sambil berteriak-teriak.

Ratusan batang anak panah menghujani Tiang Le yang membalapkan kudanya.

Akan tetapi dengan mudahnya Tiang Le dapat mengibaskan tangan kirinya memukul runtuh semua anak panah, akan tetapi beberapa batang anak panah menyambar kudanya dan tak dapat mengelak, tak lama kemudian kudanya roboh binasa dengan tubuh belakang penuh anak panah menancap, dalam-dalam!

"Keparat, kubasmi kalian!"

Bentak Tiang Le marah.

Dan begitu pasukan berkuda telah menyusulnya dengan teriakan keras tubuhnya mencelat dan sekali tangannya bergerak lima orang penunggang kuda roboh dengan dada robek oleh pedang buntung di tangan kiri.

Sebentar saja, Tiang Le memainkan ilmu silat Tok-pik-kun-hoat dan Tok-pik-kiam-hoat, tubuh Tiang Le mencelat ke sana ke mari mengirimkan tebasan-tebasan ke arah orang-orang Mongol yang tak dapat mengelak lagi, darah menyembur dari dada dan leher.

Kasihan sekali orang-orang Mongol ini, mereka merupakan sekumpulan nyamuk yang bertemu dengan api lilin.

Begitu pedang buntung Tiang Le bergerak, dua-tiga orang roboh mandi darah, dan apabila tangan kiri Tiang Le menggunakan jurus-jurus ilmu silat tangan buntung dan gerakan tangan kilat, maka banyak perwira Mongol yang terpental dengan dada hangus dan kepala pecah terhantam pukulan yang dahsyat ini.

Mendengar teriakan-teriakan Ouw Yang Gembol yang memberi aba-aba kepada anak buahnya, Tiang Le menjadi sengit sekali.

Pedang buntungnya sekarang terarah mendesak panglima Ouw Yang Gembol dan Themu Khan yang dianggapnya sebagai biang keladi pengeroyokan ini, maka segera ia mendesak dan pedangnya bagaikan bintang melayang meluncur mengarah dada Ouw Yang Gembol Panglima Mongol yang cepat menangkis.

Akan tetapi tangkisan ini membuat goloknya menjadi buntung menjadi tiga bagian, dan sekali Tiang Le menggerakkan pedang buntung ke atas dengan jurus Mengukir Naga Menyeret Awan, tahu-tahu pedang buntung bergerak ke bawah dan alangkah cepatnya gerakan itu sehingga tanpa ampun lagi paha Ouw Yang Gembol terkupas oleh sabetan pedang buntung.

Panglima Mongol itu menjerit keras memegangi pahanya yang terasa nyeri luar biasa.

Darah mengucur deras dari paha yang terluka itu.

Sementara Temu Khan menjadi marah, kaitannya menyabet pundak Tiang Le.

"Wuuuttt, ngekkk, desss!"

Tubuh Temu Khan terlempar sejauh tiga tombak. Ia muntahkan darah hitam dan tiba-tiba matanya melotot mendelik memandang Tiang Le dan mampus! "Brreeettt, brreeettt, dessss!"

Tiga orang perwira Mongol robek dadanya oleh pedang buntung yang berlumuran darah.

Dan seorangnya lagi terjengkang ke belakang tersambar gerak tangan kilat Tiang Le.

Dadanya hangus dan hitam.

Dahsyat sekali pukulan tangan kiri Tiang Le.

Waktu itu hampir fajar menyingsing.

Keadaan masih remangremang dan suram.

Cahaya matahari naik dari ujung laut, menyebarkan sinarnya tipis berlawanan dengan cahaya bulan yang sudah lemah, nampaknya di udara keabu-abuan, yang menimbulkan bayang-bayang yang menyeramkan.

Di dalam kesuraman ini, berkelebat beberapa bayangan manusia dan begitu sampai di dekat pantai, mereka berhenti.

Bu-tek Sianli terkejut melihat banyak sekali mayat tentara Mongol yang berserakan.

Pandangannya menyapu ke arah Tiang Le yang tengah menatapnya dengan senyum mengejek.

"Bu-tek Sianli, begini caramu menerima tamu?"

Tanya Tiang Le menunjuk ke arah banyak mayat tentara Mongol bergelimpangan di tanah berpasir.

"Ha ha ha, sungguh gagah dan berani. Tiang Le kau sudah berada di tempat ini. Masih berpikir kau untuk dapat keluar dari pulau bidadari? Lihat siapakah orang-orang ini! "

Ia itulah pemimpin besar Khu Bilay Khan yang telah menaklukan kerajaan Song!

Dan locianpwe ini, adalah Pek Pek Hoatsu dari Barat, dan ini, adalah Guru Besar Nakayarinta dari puncak Anapurna di Himalaya, dan yang di sebelah sana itu Te-thian Lomo, Thay-lek-hui-mo dan di atasmu, adalah ribuan tentara Mongol dan barisan Sian-li-pay.

Hwa-ie-kay-pang dan Hek-lianpay!"

Terkejutlah Tiang Le.

Ia melirik ke arah tokoh-tokoh yang ditunjuk oleh Bu-tek Sianli, yang paling mengejutkan sekali hatinya adalah kakek Nakayarinta, kakek itu sudah amat tua sekali usianya, ada seratus tahun.

Rambutnya sudah putih panjang, berjenggot putih pula, akan tetapi mempunyai wajah yang hitam, dan telinganya lebar diberi anting-anting besar.

Tangannya yang hitam berbulu demikian kurus, dan memakai gelang-gelang pula, memakai jubah kuning seperti seorang pertapa.

Begitu pandangan Tiang Le terbentur oleh pandangan si kakek, terkejutlah ia melihat mata yang, mencorong seperti mata harimau!

Sedangkan Khu Bi lay Khan, adalah seorang tinggi besar akan tetapi mempunyai sepasang mata yang berwibawa dan membayangkan kecerdikan yang luar biasa!

Tahulah Tiang Le, ia sudah masuk perangkap di tempat ini.

Akan tetapi ia tidak gentar.

Walaupun sekeliling pulau ini sudah dijaga oleh ribuan tentara Mongol dan barisan Sian-li-pay dan Hek-lianpay!

Sama sekali ia tidak takut.

Matanya menyapu barisan Bu-tek Sianli dan katanya.

"Bu-tek Sianli, tak perlu banyak cingcong, serahkan Pei Pei kepadaku!"

Tiang Le melangkah. Tangan kirinya bergerak meraba pedang. Bu-tek Sianli tersenyum mengejek.

"Boleh, akan kuserahkan dia kepadamu. Akan tetapi, engkau harus menyerah kepadaku dan masuk ke dalam sekutuku!"

"Bangsat rendah kau kira aku manusia macam apa menggabungkan diri dengan segala penjajah. Tidak! Bu-tek Sianli, hayo serahkan Pei Pei. Awas kau! Seujung rambut saja kau mengganggunya, nyawamu akan melayang!"

Nenek Bu-tek Sianli tertawa keras.

"Ha ha ha, bocah gendeng, gila! Apa kau sudah miring otak tidak melihat kematian di depan mata. Ketahuilah olehmu, Tiang Le. Jikalau kau tidak mau menyerah kepadaku jangan harapkan kau dapat keluar dari pulau ini dalam keadaan hidup! "

Bagus! Itukah siasatmu mengundangku ke pulau ini? Karena kau takut menghadapiku di lembah Tai-hang-san? "

"Bocah sombong siapa yang takut kepadamu. Bangsat, rasakanlah!"

Tubuh si nenek Bu-tek Sianli berjongkok, kedua tangannya memukul ke depan.

Angin pukulan menyambar kuat ke arah Tiang Le.

Akan tetapi sambil tersenyum mengejek, pemuda lengan buntung ini mengangkat tangan kirinya dan membalas mendorong.

"Dess!"

Tubuh nenek Bu-tek Sianli bergoyang-goyang dengan amat keras sekali. Sementara sambil tersenyum mengejek Tiang Le berkata.

"Begitukah maksudmu mengundangku?"

Dengan tangan kirinya pemuda itu menarik pedang buntungnya.

Sinar matahari pagi membentur sinar pedang yang berkilauan.

Untuk beberapa saat kakek pertapa Nakayarinta membelalakkan matanya.

Bibirnya yang penuh kerisut berbisik.

"Liong-cu-kiam!"

"Pedang Pusaka buntung......."

"Ha ha ha. mata kalian awas juga. Memang inilah Pedang pusaka buntung yang dulunya bernama Liong-cu-kiam atau Pedang Mustika Naga! Bu-tek Sianli, lekas kau keluarkan Pei Pei, kalau tidak, hemm, terpaksa aku yang muda menggunakan pedang ini untuk menabas batang lehermu!"

"Bangsat kau kira aku takut denganmu, mampus kau!"

Tangan kanan Bu-tek Sianli bergerak hendak menampar.

Akan tetapi Thay-lek-hui-mo yang tertarik akan kehebatan pedang pada puluhan tahun pernah menggemparkan dunia persilatan berkata kepada Bu-tek Sianli.

"Pay-cu, biarlah pinceng yang menangkap bocah ini!"

Bu-tek Sianli mundur dan membiarkan Thay-lek-hui-mo maju menghadapi Tiang Le.

Memang Nenek ini semenjak pertama ia bertempur di Tai-hang-san yang telah mengetahui kelihayan pemuda ini menjadi gentar.

Apalagi tadi, hampir saja ia terjengkang kalau ia tidak hati-hati bertemu pukulan dengan tangan kiri pemuda itu.

Heran, mengapa dalam waktu beberapa hari saja tenaga Tiang Le sudah jauh meningkat?

Thay-lek-hui-mo menghampiri Tiang Le, tanpa memberi komentar apa-apa jubah hwesio itu bergerak ke depan.

Inilah pukulan jarak jauh yang dikebutkan oleh ujung jubah.

Angin besar berpusing menimbulkan hawa panas.

Akan tetapi Tiang Le dengan gerakan tangan kilat sudah menerjang maju dan dalam beberapa gebrakan saja, tangan kirinya sudah mendorong si hwesio itu dan tanpa ampun lagi tubuh Thay-lek-Hui-mo sudah roboh terjungkal.

Hebat sekali gebrakan ini.

Muka Thay-lek-hui-mo menjadi merah saking malunya.

Masakan ia yang sudah tersohor hanya dalam beberapa gebrakan saja sudah terpental oleh anak kemarin sore ini, terlalu!

Sambil menggereng keras dan membentak.

"Keparat! Rasakanlah pukulanku,"

Sebuah kepalan tangan Tay-lek Hui-mo yang berbulu itu berpusing di atas kepala.

Kemudian bagaikan harimau terbang tubuh Thay-lek-hui-mo yang tinggi besar itu sudah menerjang Tiang Le.

Cepat Tiang Le mengegos ke kiri dan balas memukul ke samping dikelit oleh lawannya.

Hawa panas segera lewat di sampingnya.

Tahulah dia bahwa Thay-lek-hui-mo ini menyerangnya dengan tenaga Yang, maka iapun menggetarkan tangannya mengeluarkan tenaga sin-kang hawa dingin dari tangan kirinya.

"Wuut, deeess…… weeertt!!"

Hebat sekali gerakan Tiang Le ini, dalam segebrakan ia sudah dapat memukul dengan tiga macam serangan.

Karuan saja Thay-lek-hui-mo menjadi repot dan berkelit ke kanan, akan tetapi siapa sangka begitu tangannya bertemu dengan Tiang Le, tubuhnya bagaikan direndam dalam air yang amat dingin.

Seketika wajahnya pucat membiru, jalan darahnya seakan-akan berhenti.

Inilah pengerahan sin-kang hawa dingin yang disalurkan dari tangan kiri Tiang Le.

Sungguh luar biasa!

Merasa dadanya sakit Thay-lek-hui-mo segera menjatuhkan diri dan bergulingan menjauhi lawannya, ia terus bersemedi menyalurkan hawa yang-kang mengusir hawa im-kang yang membanjir ke dalam tubuhnya.

Untung saja Thay-lek-hui-mo mempunyai sin-kang yang cukup tinggi, biarpun dadanya terasa sakit dan nyeri, akan tetapi lukanya tidak begitu membahayakan.

Baru saja Tiang Le hendak meloncat mundur.

Tiba-tiba sebuah angin pukulan dengan cepat menyambar dari belakang.

Cepat Tiang Le mencelat ke atas dan begitu dilihatnya, kiranya kakek tua renta Nakayarinta sambil terkekeh-kekeh sudah melancarkan serangannya!

Sedangkan Bu-tek Sianli, Te-thian Lomo sudah menerjang maju mengeroyok.

Marah sekali hati pemuda buntung dikeroyok secara begini.

Bu-tek Sianli, kalau kau tidak menyerahkan Pei Pei kepadaku, niscaya pulau bidadari ini kubumi hanguskan! Hayo serahkan Pei Pei, dimana dia sekarang?"

"Ha ha ha Tiang Le, jangan banyak bacot, kalau Pei Pei mu sudah kubikin mampus, kau mau apa?"

"Bangsat jahanam, kalau begitu mampuslah kau!"

Tangan kanan Bu-tek Sianli sudah mengeluarkan pedang tipis.

Inilah pek-liongpokiam yang jarang sekali digunakan oleh nenek Bu-tek Sianli.

Dengan pedang di tangan, nenek itu merangsek Tiang Le, cepat Tiang Le berkelit dan alangkah terkejutnya dia merasakan angin pukulan yang demikian dahsyat dari kakek Nakayarinta telah menyambar pundaknya.

Cepat Tiang Le mengerahkan sin-kang ke pundak menerima pukulan yang tak dapat dielakan lagi saking cepatnya.

"Desss!"

Tubuh Tiang Le terlempar lima tombak.

Disambut oleh tusukan pedang Bu-tek Sianli.

Akan tetapi Tiang Le yang selalu waspada meletakkan pedangnya dan menggunakan gerakan tangan kilat memukul ke arah si nenek.

Bu-tek Sianli menjerit keras.

Darah merah menyembur dari mulut si nenek.

Tiang Le mencelat bangun dan membentak.

"Bu-tek Sianli, hayo serahkan Pei Pei!"

"Orang muda buntung, perlahan!"

Sambaran jubah Nakayarinta menahan gerakan Tiang Le.

Akan tetapi, pemuda ini saking sengitnya menggunakan jurus gerak tangan kilat dan mainkan langkah ajaib menghindarkan serangan si kakek tua renta.

Ia mengangkat tangan kirinya dan mengelebatkan pedang buntung......."

"Brettt!"

"Hayaaa....... lihay!"

Nakayarinta terbelalak, dilihatnya jubahnya sudah robek. Cepat ia meloncat mundur waktu didengarnya angin pukulan menyambar pundaknya.

"Desss!"

Bukan tubuh si kakek Nakayarinta yang hancur berantakan akan tetapi kepala seorang perwira Mongol yang berada di belakang si kakek itu yang pecah terhantam pukulan Tiang Le.

"Ganasss, luar biasa!"

Berkali-kali Nakayarinta memuji.

Selama ia malang melintang di daratan Tiongkok dan India baru kali ini ia bertemu tanding.

Bertemu tanding dengan seorang pemuda lengan buntung.

Kini melihat Te-thian Lomo sudah menyerangnya, Tiang Le mengerahkan pukulan-pukulannya kepada pendeta sesat ini.

Orang inilah pembunuh suhu, aku harus membuat perhitungan dengannya, pikir Tiang Le menghantam dada Te-thian Lomo.

Akan tetapi menyaksikan pukulan tangan kiri Tiang Le yang amat dahsyat tak berani ia menerima dengan pukulan pula, maka ia mencelat ke samping dan mundurkan diri.

Sementara itu Bu-tek Sianli dan Khu Bilay Khan memberi aba-aba, ratusan tentara Mongol sudah menyerbu, dibarengi berkelebat bayangan gesit dari gerakan-gerakan dara Sian-li-pay yang sudah menyerbu pula.

"Ha ha ha, Tiang Le, menyerahlah engkau....... percuma melawanpun engkau takkan lolos dari pulau ini! Engkau sudah terkepung....... di antara keroyokan banyak tentara Mongol,"

Terdengar suara ejekan Bu-tek Sianli.

Tiang Le menjadi gemas dan memutar pedangnya dan segera berubah menjadi segulungan sinar kuning yang menyelimuti tubuhnya.

Lima orang tentara Mongol robek perutnya terhantam kelebatan sinar pedang buntung pemuda perkasa ini.

Hebat sekaIi sepak terjang pemuda buntung ini.

Karena begitu pedang buntungnya berkelebat, dua-tiga orang lawannya terjungkal dengan dada robek dan banjir darah memenuhi tempat itu.

Pedang buntung di tangan pemuda itu bertetes-tetes darah merah, sepak terjang Tiang Le yang ganas dan tak memberi ampun kepada lawannya ini membuat gentar hati para pengeroyoknya.

Akan tetapi, tentu saja menghadapi lawan yang demikian banyak itu, Tiang Le menjadi sibuk bukan main, apalagi menghadapi keroyokan dari dara-dara Sian-li-pay yang perkasa, ditambah dengan bermunculannya banyak orang-orang tua Hwa-ie-kaypang membuat lama kelamaan ia menjadi lelah bukan main!

Hatinya menjadi gemas sekali kepada Nenek Bu-tek Sianli yang licik ini, berkali-kali ia mendengar suara nenek itu memberi abaaba kepada barisan tentara yang sudah merapat mengeroyoknya.

Maka dengan sambil bertempur Tiang Le mencari Nenek itu.

Dan tokoh-tokoh lainnya yang bersembunyi di antara kerumunan banyak para pengeroyoknya.

"Hujani ia dengan panah!"

Tiba-tiba terdengar suara yang berat dan berwibawa.

Itulah suara Khu Bilay Khan, suara datangnya seperti dari atas langit karena tidak tahu dari mana suara itu.

Tiang Le sambil bertempur mencari orang-orang yang memberi aba-aba untuk mengeroyoknya.

Tiba-tiba mendengar aba-aba dari pemimpin besar Khu Bilay Khan yang berwibawa itu, para tentara Mongol meloncat mundur ke belakang dan sebagai gantinya muncul barisan panah yang terlatih.

Tiang Le terkejut sekali.

Celaka!

keluhnya.

Kalau tadi dikeroyok oleh puluhan tentara Mongol dengan senjata tangan, ia dapat menghindari datangnya senjata lawan akan tetapi, betapa terkejutnya ia karena dari kelilingnya bermunculan barisan panah yang siap ditarik dari busurnya.

"Serang!!!"

Ratusan anak panah terlepas dari busurnya.

Suara jepretan mendesing keras mengiringi luncuran ratusan anak panah menyambar ke seluruh bagian tubuh pemuda buntung ini.

Tiang Le memekik keras dan memutarkan pedang buntungnya sedemikian rupa sehingga semua anak panah yang menyambarnya menjadi runtuh oleh pedang buntung di tangan Tiang Le.

Akan sambaran anak panah terus beruntun.

Tiada berhentinya sambung menyambung.

Memang Khu Bilay Khan ini cerdik sekali, ia menghujani pemuda buntung itu dengan serangan yang beruntun dan bertubi-tubi, tentu saja Tiang Le memutarkan terus pedangnya seperti tadi.

Tubuhnya terbungkus oleh sinar pedang buntung.

Cepat sekali gerakan pemuda ini sehingga ratusan batang anak panah menjadi runtuh dan terpotong dua.

Sementara saking sengitnya Tiang Le, ia memekik keras.

"Bu-tek Sianli, manusia jahanam! Begini pengecutkah engkau mengeroyokku macam ini…….?"

Akan tetapi jawabannya hanya diganda tertawa mengejek dan tibatiba dari kanan kiri mengalir minyak yang disiramkan oleh orangorang Mongol.

Sebentar itu pula api berkobar mengelilingi.

Tiang Le terkejut setengah mati.

Pedangnya berkelebat ke arah seorang perwira Mongol yang menyulutkan api ke air yang berminyak.

Saking marahnya pemuda itu berkelebat sekaligus memenggal leher ketiga tentara Mongol yang lain.

Jeritan mengerikan terdengar dan orang itu berkelojotan mati dengan tubuh roboh masuk ke dalam api yang berkobar.

Api sudah mengelilinginya menjulang tinggi.

Semakin berkobar api yang membakar minyak di tanah menjalar ke arah Tiang Le.

Sementara kakinya sudah menggenang minyak yang sengaja disiram oleh orang-orang Mongol.

Panas api membuat seluruh tubuh Tiang Le mulai berpeluh, sementara dari luar ratusan panah menyambar dengan beruntun.

Kepala Tiang Le menjadi pening, gerakan pedangnya tidak sehebat tadi.

Tiga buah anak panah sudah menancap di dada dan punggung.

Tiang Le menggigit bibirnya menahan rasa nyeri dan hawa panas yang menyerang hebat.

Dan terus mempertahankan dirinya dari sambaran anak-anak panah yang dilepaskan dari luar.

Api berkobar mendekati mengurung pemuda itu.

Tak ada jalan lain bagi Tiang Le untuk keluar dari kurungan api yang demikian dahsyat mengamuk membakar minyak tanah.

Sebuah pohon besar roboh terbakar dan hampir saja menimpa pemuda lengan buntung yang perkasa ini.

Saking marah dan bencinya Tiang Le mengkertakan giginya, pedang buntungnya tergenggam erat, menggeletar-geletar!

Akan tetapi, pada saat yang berbahaya bagi keselamatannya dari kepungan api, tiba-tiba dari atas gedung terdengar teriakan nyaring dari seorang gadis.

"Tiang Le....... jangan takut aku membantumu!"

Teriakan gadis itu diringi menyambarnya sebuah ang-kin (sabuk sutera merah) yang dengan amat cepatnya bagaikan ular hidup sudah melilit tubuh pemuda itu.

"Haiiitt…… naik!"

Gadis itu menyentak sabuknya. Tubuh Tiang Le melayang ke atas melampaui kobaran api yang mengganas. Tubuh itu jatuh berdiri di depan seorang gadis jelita.

"Kauuuu…….?"

Si gadis tersenyum.

Sebuah senyuman bangga dan bahagia mengiringi menitiknya sebutir air mata yang meloncat dari kelopak matanya yang jelita.

Gadis itu adalah Bwe Lan, gadis yang pernah dikenalnya.

Gadis yang dengan secara blak-blakan (terang-terangan) telah menyatakan cintanya kepadanya.

Tiang Le tak sempat lagi berkata kepada gadis itu, karena sesosok tubuh mencelat ke atas dan mengirimkan pukulan kepalan dewa tanpa tandingan ke arah si gadis.

Bwe Lan mengelak ke kiri, Tiang Le meloncat ke depan si gadis, melindungi.

"Murid murtad! Kau harus mampus!"

Nenek Bu-tek Sianli menggerakkan tangannya lagi memukul, akan tetapi dengan tubuh agak terhuyung. Tiang Le menangkis pukulan itu. Dua tangan bertemu di udara.

"Desss!!"

Amat kuat sekali pukulannya nenek ini, membuat tubuh Tiang Le yang memang sudah sangat letih sekali terpental sejauh dua tombak!

Akan tetapi dengan terhuyung-huyung ia telah berdiri.

Memandang si Nenek Bu-tek Sianli dengan pandangan mengancam.

"Bu-tek Sianli, manusia curang!! Sekarang kau harus mampus!"

Bentak Tiang Le diiringi dengan pukulan geledek dari tangan kirinya. Belum lagi nenek itu menangkis, muncul Nakayarinta tertawa mengakak.

"Haa....... haaa pemuda buntung yang hebat, biar aku mencoba tangannya!!"

Tangan kanan si kakek Nakayarinta terangkat.

Untuk beberapa saat ke duanya saling menempelkan tangan.

Akan tetapi begitu si kakek Nakayarinta menggoyangkan tangannya, tahu-tahu bagaikan ada tenaga yang amat kuat mendorongnya, tubuh Tiang Le terjengkang dengan muntahkan darah segar.

Bwe Lan memburu Tiang Le.

"Tiang Le……!!"

Seru gadis itu dengan kuatir dan kaget melihat segumpal darah hitam keluar dari mulutnya.

Hebat sekali Nakayarinta itu, sekali pukul saja, ia sudah muntahkan darah!!

Dengan tangan kirinya Tiang Le mengusap bibirnya.

Pada saat itu Tiang Le Sudah amat lelah sekali.

Dan darah yang mengucur dari dada dan punggung oleh anak panah yang menancap, membuat dia kehabisan tenaga, dan lemas.

"Tiang Le…... kita harus lari…… tempat ini sudah terkepung!"

Bwe Lam memegang lengan kiri Tiang Le yang memegang pedang dengan erat.

"Bu-tek Sianli, hayo kau serahkan Pei Pei, kalau tidak aku akan mengadu nyawa denganmu,"

Suara Tiang Le mengguntur saking marahnya.

"Ha ha ha! Sudah mau mampus masih banyak tingkah, Tiang Le kau akan bertemu dengan kekasihmu si Pei Pei itu setelah kau masuk neraka. Ha ha ha!"

"Keparat! Jadi kau membunuh Pei Pei?"

Mata Tiang Le terbelalak memandang si nenek Bu-tek Sianli.

Pedangnya bergetar hebat.

Ia menekan tangan kirinya ke arah dada.

Beberapa kali ia muntahkan darah segar.

Bwe Lan merasa cemas sekali melihat keadaan pemuda lengan buntung ini.

Cepat sekali gadis itu memapah tubuh Tiang Le yang hendak roboh saking lemasnya.

"Tiang Le…..!"

"Ha ha ha, Bwe Lan, murid murtad. Boleh kau cintai, dia si buntung tiada guna ini, sebentar lagi ia akan mampus!"

"Bu-tek Sianli… kau…., kau si manusia keji, aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Bwe Lan membentak marah.

"He he he...... kau juga akan mati Bwe Lan….. tapi sebelum kau mampus kau akan menyaksikan kematian kekasihmu ini....... akan kubeset kulitnya, kukeluarkan jantungnya, hi hi hi!"

Pada saat itu berkelebat banyak bayangan.

Tahu-tahu di tempat itu sudah berdiri Ho Siang dan Nyuk In, Kong Hwat, Siauw Yang, dan Sin Thong.

Tanpa berkata apa-apa ke lima orang muda yang gagah perkasa ini sudah menyerbu nenek Bu-tek Sianli.

Ho Siang menghadapi Thay-lek-hui-mo, suhengnya dikeroyok oleh Te-thian Lomo, Siauw Yang dan Sin Thong disambut oleh serombongan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Ku Bilay Khan sendiri.

Sedangkan Nyuk In mendampingi Ho Siang melawan Thay-lek-hui-mo dan Pek Pek Hoatsu!

Terjadilah pertempuran yang luar biasa.

Sementara datangnya ke lima orang muda yang berkepandaian lihai ini, Bwe Lan menarik tangan Tiang Le dan melompat untuk melarikan diri.

Tentu saja melihat pemuda buntung itu melarikan diri, Bu-tek Sianli mengerahkan orang-orangnya mengejar!

"He-he-he!

Mau kemana kau lari Tiang Le."

Suara Nenek Bu-tek Sianli bergema di tempat itu.

Sementara beberapa barisan tentara Mongol mengadakan pengejaran pula!

Bwe Lan menarik tangan Tiang Le berlari cepat meninggalkan gedung Sian-li-pay yang berbahaya ini.

Ia kuatir sekali akan keselamatan pemuda lengan buntung yang amat dicintai ini.

Maka ia mengajak Tiang Le berlari memutar arah, karena jalan menuju ke pantai sudah dikurung oleh banyak perwira Mongol.

Sudah barang tentu, karena Bwe Lan adalah murid Sian-li-pay, maka ia banyak mengenal jalan-jalan di daerah itu!

Akan tetapi Butek Sianli yang sudah dibuat penasaran dan marah terus mengejar kedua orang muda yang melarikan diri!

Sementara itu, Kong Hwat memainkan gerak ilmu tongkat Fu-niusan yang hebat luar biasa, meskipun tongkat itu hanya terbuat dari ranting kering yang kecil, akan tetapi setelah berada di tangan pemuda murid Koay Lojin ini, tongkat kecil itu berubah seperti ular yang berbisa dan sekali pagut saja akan dapat merobohkan lawan!

Namun, sekali Kong Hwat menghadapi keroyokan dari orangorang Mongol yang amat banyak meskipun orang-orang Mongol ini hanya terdiri dari perwira-perwira kasar, akan tetapi karena saking banyaknya, Kong Hwat menjadi kewalahan juga, ia harus mengerahkan tenaganya memainkan tongkatnya dengan sungguh-sungguh!

Pada saat itu, berkelebat sesosok tubuh diiringi suara nyaring yang berkata kepada Kong Hwat yang tengah terkepung.

"Kong Hwat, cepat lari dan…….

jangan melawan tentara Mongol.

Negara kita sudah dikuasai musuh, percuma melawan!

Lekas lari…….!"

Orang yang baru datang itu adalah Han Soan Li yang terus saja menggerakkan sabuk suteranya membuka jalan bagi Kong Hwat.

Girang sekali hati pemuda itu begitu munculnya Han Soan Li, entah mengapa dadanya berdenyar keras.

Semangatnya menaik seratus derajat.

Sambil menggerakkan tongkatnya menotok seorang lawan, Kong Hwat menoleh dan menyahut.

"Nona! Bagaimana aku harus lari....... kalau kau mati-matian melawan tentara Mongol keparat ini? Tidak biar kita berjuang bersama!"

Seru Kong Hwat.

"Tolol! Siapa yang mau meladeni tikus-tikus Mongol ini, mencari mampus saja, hayo kita mencari jalan keluar!"

Demikianlah atas bantuan gadis perkasa Han Soan Li, Kong Hwat dapat terlepas dari kepungan tentara Mongol yang banyak ini.

Dengan berlari-lari pesat keduanya menuju ke pantai.

Tidak ada perahu di sana.

Akan tetapi Soan Li melempar sebuah papan.

"Kau bisa jalan di air hayo lekas melompat!"

Berkata Soan Li melempar papan itu ke laut. Melihat kecerdikan gadis ini. Kong Hwat menjadi girang dan tubuhnya melesat ke tengah laut dan meluncur di atas sebilah papan.

"Bagaimana denganmu Li-moay?"

Tanya Kong Hwat tanpa terasa lagi ia memanggil gadis itu dengan sebutan mesra.

Merah wajah si gadis saking malu dan jengah.

Akan tetapi tanpa banyak cakap, Soan Li sudah menggerakkan tubuhnya melesat ke tengah laut.

Tangan gadis itu terulur, cepat Kong Hwat menyambut.

"Aku akan berdiri di kedua lenganmu. Kedangkanlah!"

Seru si gadis dan begitu Kong Hwat mengedangkan kedua tangannya, tubuh Soan Li mencelat ke atas dan hinggap berdiri kedua lengan Kong Hwat.

Girang sekali Kong Hwat melihat akan si gadis.

Terutama sekali, hemm, entah mengapa Kong Hwat suatu perasaan yang membuat hati Kong Hwat berdenyar-denyar penuh kebahagiaan.

Demikianlah dengan berdiri di atas kedua lengan Kong Hwat, gadis itu meluncur ke tengah laut, meninggalkan pulau Bidadari!

<> Pada saat itu dari tengah laut meluncur seekor burung rajawali menuju ke pulau.

Pekiknya yang panjang terdengar bergetar dari bawah.

Seorang kakek bersimpuh di atas punggung rajawali raksasa memandang ke bawah mengawasi pertempuran yang tengah terjadi.

Dan apabila kakek itu melihat seorang tinggi besar dan kelihatannya berwibawa, burung rajawali itu menukik turun dan menyambar mengelepakkan sayapnya memukul lima orang Mongol yang keruan saja menjadi terkejut dan tubuhnya terjungkal jauh.

Hebat sekali pukulan sayap rajawali ini, sekali gebrak lima orang Mongol terjungkal tanpa dapat bangun lagi!

Khu Bilay Khan memerintahkan orang-orangnya untuk mundur.

"Kakek tua, siapakah kau??"

Tanya pemimpin ini, selamanya ia berlaku hati-hati terhadap orang yang baru datang.

Ia melihat ada seorang kakek tua, kedua kakinya sudah buntung, berambut putih dan berjenggot putih pula duduk di atas punggung rajawali emas dan memandang dengan tajam.

"Engkaukah panglima besar Mongol yang bernama Khu Bilay Khan??"

Si kakek buntung bertanya sambil menatap panglima ini dengan tajam.

"Benar kakek tua. Aku Khu Bilay Khan panglima Mongol, ada apakah?"

Kakek kaki buntung itu merogo sakunya, mengeluarkan sebuah surat yang bertulisan tinta emas dan bersimbul kerajaan Mongol.

"Kau kenal tulisan surat ini?"

Tanya kakek kaki buntung keren, memperlihatkan surat yang tentu saja amat dikenal. Itulah tulisan Kaisar Mongol, pamannya.

"Dari mana kau dapat surat itu?"

"Ciangkun!! Kau bodoh dan goblok, sebagai pemimpin besar telah kena dikelabui dan diperalat oleh Pay-cu Sian-li-pay, Bu-tek Sianli. Nah, kau bacalah tulisan ini!"

Sambil berkata demikian si kakek buntung melemparkan surat yang ditulis oleh Kaisar untuknya.

Merah wajah Khu Bilay Khan membaca teguran dari pamannya.

Hampir saja ia tidak percaya akan bunyi tulisan itu.

Gila!

Benarbenar goblok aku ini, benarkah Bu-tek Sianli merencanakan untuk menguasai Tiongkok dan dengan licin telah memperalat tentara Mongol?

Memang demikianlah adanya.

Bu-tek Sianli mempunyai rencana untuk menghancurkan kerajaan Song dengan meminjam kekuatan tentara Mongol, kini baru saja panglima Khu Bilay Khan itu diperalat mengerahkan tentara Mongol hanya untuk menangkap seorang pemuda lengan buntung?

Gila!

Dengan marah sekali Khu Bilay Khan memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan pertempuran.

Dan menarik kembali pasukannya kembali ke Kotaraja ibu kota yang sudah ditaklukan!

Sementara itu, Tiang Le berlari dengan amat payah sekali.

Luka di dada dan punggungnya cukup mengeluarkan darah banyak.

Berkali-kali ia jatuh terjungkal, untung saja di samping ada Bwe Lan yang bersedia mendampinginya mati-matian.

Akan tetapi saking paniknya kedua orang muda itu, sehingga Bwe Lan salah memilih jalan.

Ia menemui jalan buntu.

Di ujung sana itu, terbentang lautan Po-hay yang luas.

Ia telah berdiri di atas tebing batu karang yang amat curam.

Bwe Lan terkejut bukan main.

Sementara maki-makian Bu-tek Sianli mengguntur di belakangnya.

Dan disitu telah muncul Bu-tek Sianli dan serombongan dara Sianli-pay.

Mereka sudah mengurung Bwe Lan dan Tiang Le dengan sikap mengancam.

"Tiang Le, kau sudah tak berdaya, hayo berlutut di depanku dan menyatakan takluk!"

Si nenek Bu-tek Sianli memerintah. Akan tetapi mana Tiang Le mau berlutut. Dengan marah ia sudah mencabut pedang buntung. Dan berkata keras.

"Bu-tek Sianli, Nenek curang, jahanam! Hari ini, aku Tiang Le mengadu nyawa denganmu!"

"Koko….. biarlah aku mendampingimu….. biar kita mati bersama…"

Bisik Bwe Lan menyentuh lengan kiri Tiang Le! Bangkit semangat Tiang Le.

"Kalian….., memang bosan hidup, apa boleh buat, biarlah kalian mampus!"

Bu-tek Sianli memberi aba-aba dan seratus gadis Sianli-pay menyerbu Tiang Le.

Kalau tadinya pemuda lengan buntung ini merasa segan untuk melukai gadis-gadis cantik ini, akan tetapi, karena tiada jalan lain, ia mainkan pedang buntungnya dengan jurus Tok-pik-kiam-hoat!

Luar biasa sekali sepak terjang Tiang Le, biarpun ia sudah terluka berat di dadanya, namun gerakannya masih gesit dan pedangnya masih mantap dan kuat!

Melihat Tiang Le sudah dikeroyok, Bwe Lan mengeluarkan sabuk suteranya dan mainkan ilmu cambuknya.

Akan tetapi, si nenek Butek Sianli menggereng marah kepada bekas muridnya.

Tanpa memberi peringatan dengan terlebih dahulu kedua tangan si nenek bergerak ke depan membokong Bwe Lan, keruan saja merasa angin pukulan yang amat dahsyat menyambar dari belakangnya.

Bwe Lan mengibaskan sabuknya menangkis, akan tetapi dengan beruntun menyambar lagi pukulan tangan kiri si nenek.

Terdengar jeritan Bwe Lan waktu merasa tubuhnya terlempar dan melayang jauh, terguling dari tebing yang amat curam.

Mendengar ini Tiang Le menjadi terkejut sekali.

Begitu ia melirik, tubuh Bwe Lan sudah melayang-layang jatuh dan di bawah tebing bergelombang ombak laut mengeluarkan suara berdebur keras.

"Bwe Lannnn........!"

"Tiang Leeee…….!"

Kemudian suara gadis itu lenyap. Sudah disambut oleh suara gemuruh ombak di bawah yang memecah karang.

"Bangsat Bu-tek Sianli, manusia jahanam! Kau harus mampus!"

Tiang Le menjadi nekat.

Ia menjadi marah sekali melihat Bwe Lan sudah terjungkal masuk jurang dari tebing yang amat tinggi ini masuk ke dalam laut Po-hay.

Maka serangannya penuh dengan kemarahan dan dahsyat.

Bu-tek Sianli terpaksa menangkis dengan pedang tipisnya dan terdengar suara nyaring ketika pedang di tangan Tiang Le buntung terbabat pedang tipis Pek-liong-pokiam.

Akan tetapi Tiang Le yang gagah perkasa ini tidak menjadi gentar.

Dengan pedang yang semakin pendek ini ia masih lihai sekali dan mendesak makin hebat!

"Bu-tek Sianli, katakanlah bahwa kau benar-benar sudah membunuh Pei Pei?"

Tiang Le bertanya.

Ia masih teringat akan keselamatan gadis itu.

Entah mengapa apabila ia teringat Pei Pei, ia menjadi bersemangat dan tenaganya berlipat ganda.

Akan tetapi, mana Bu-tek Sianli mau menyahut, ia malah merangsek Tiang Le dan mengerahkan pengemis baju kembangkembang dan dara-dara Sian-li-pay untuk mengeroyoknya!

Sedangkan ia sendiri, karena merasa Tiang Le ini tak dapat ditaklukan, ia berkelebat lenyap di antara banyak gadis-gadis Sianli-pay yang mengurung Tiang Le!

Sambil mengeluarkan suara keras, Tiang Le menggerakkan pedangnya.

Pedang buntung itu bergerak cepat dan tiga orang pengemis baju kembang yang mengeroyoknya terjungkal dengan dada menyemburkan darah!

Hebat sekali sepak terjang pemuda lengan buntung ini.

Tiga anak panah yang menancap di dada dan punggung bergerak-gerak waktu Tiang Le mencelat ke sana ke mari.

Semakin cepat ia bergerak, semakin pening dirasakan kepalanya.

Tak tahu lagi ia, berapa banyak sudah korban yang jatuh!

Karena pemuda itu setengah sadar dan gerakannya sudah tidak lagi terarah, tubuhnya menjadi limbung, ia terhuyung-huyung.

Pedangnya yang sudah bermandikan darah berkelebat terus, walau pada saat itu tidak ada lagi manusia didekatnya.

Semua pengemis baju kembang sudah menggeletak di tanah mandi darah.

Gadis-gadis Sian-li-pay sudah mati dan menggeletak malang melintang.

Di tempat itu, di atas tebing yang amat tinggi keadaan amat menyeramkan dan sunyi senyap.

Deburan ombak memecah batu karang di bawah sana itu, meningkahi kesenyapan yang menghantui tempat ini!

Perlahan-lahan gerakan Tiang Le menjadi lemah.

Tubuhnya yang penuh darah merah terhuyung-huyung.

Dan hampir saja dia terjungkal ke belakang kalau saja tidak ada seorang yang menubruknya sambil menangis.

Suara gadis.

"Kookooooo…….!!!"

Pei Pei memeluk tubuh pemuda itu, Tiang Le membuka matanya. Bibirnya bergetar perlahan.

"Pei Pei…… Pei-moay….. kau….."

"Koko aku selamat…… aduuhh….. kokoo!"

Pei Pei menjerit ngeri melihat tubuh Tiang Le sudah bermandikan darah merah.

Tiga buah lubang yang menembus oleh anak panah masih menancap di dada dan punggungnya.

Gadis itu menangis, memeluk Tiang Le hendak mencabut anak panah yang menancap di dada itu, akan tetapi Tiang Le menjerit menahan nyeri yang amat hebat.

Pei Pei menangis.

Ia tidak sangka keadaan Tiang Le sampai menjadi begini.

Ia sendiri sebetulnya diperlakukan baik-baik oleh Bu-tek Sianli dan malah diberi kebebasan berada di pulau ini.

Bu700 tek Sianli mengatakan bahwa ia akan mengundang Tiang Le, siapa sangka justru, nenek sakti yang licik itu mencelakakan Tiang Le!

Angin kering berhembus dari arah pantai.

Suasana menjadi sunyi senyap.

Pei Pei memapah tubuh Tiang Le berjalan perlahan-lahan.

Sementara seluruh tubuh Tiang Le penuh dengan noda-noda darah dan terasa amat lemas sekali.

Tiga buah anak panah masih menancap di dada dan punggungnya mengeluarkan darah yang sudah mengering Sementara deburan suara ombak menjerit-jerit menggelepar menghantam dinding batu karang yang kokoh kuat, tak terobohkan.

Dan air laut memercik tinggi, merupakan pancuran yang mental dari cela-cela batu karang.

TAMAT

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 6

Baca Juga: Tengkorak Maut 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger