Pendekar Lengan Buntung 6

Eps 6 Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Baca online Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Cersil Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw.

"Akan tetapi bolehkan aku tahu, apakah itu Hwa-ie-kay-pang?" "Ha ha ha, Cong-su ini mungkin baru terjun ke dunia kang-ouw sehingga belum mengenal akan pergerakan Hwa-ie-kay-pang?"

Si Gadis cantik yang duduk di sebelah kiri Sianli Ku-koay bertanya, suaranya lantang dan merdu.

Biauw Eng menjadi melotot memandang gadis cantik itu.

Ingin sekali ia menggebrak meja dan memaki, akan tetapi Hok Sun, telah mendahuluinya membuka suara.

"Kami memang masih hijau nona, maafkanlah!"

Si gadis tersenyum manis.

"Kau belum mendengar Hwa-ie-kay-pang?"

"Baru kali ini aku mendengarnya dan bertemu dengan para locianpwee Hwa-ie-kay-pang yang gagah!"

"Hmm, tokoh-tokoh Hwa-ie-kay-pang di gedung sebelah kanan ini, Cong-su. Hwa-ie-kay-pang mempunyai dua sayap, sayap pertama adalah kami inilah Niocu, Jie-lokay dan beberapa bidadari dari Sian-li-pay sedangkan sayap kiri adalah....... orang-orang gila yang sudah miring otaknya dan tidak waras, akan tetapi mereka lihai, pimpinan sepasang iblis gila yang disebut Jing-tok-siang-lomo, sedangkan sayap tengah adalah Hwa-ie-kay-pang dipimpin oleh pangcu Hwa-ie-kay-pang sendiri....... O ya, kalian berdua siapa namamu?"

"Aku Lim Hok Sun, dan ini kawanku Sie Biauw Eng......." "Ooo, saudara Hok Sun dan Nona Biauw Eng,"

Si gadis yang di sebelah kiri tersenyum.

"Namaku Hwa, dan dia itu yang di sebelah kanan Niocu bernama Nio Nio, akan tetapi kami berdua dijuluki Lam-hay-nio-nio… Hemm, ya, terus terang saja karena kami tertarik akan kepandaian kalian yang amat hebat, maka kami mengeluarkan tangan untuk mengikat persahabatan dengan kalian. Ketahuilah bahwa Hwa-ie-kay-pang ini, luas sekali pergerakannya, baik dalam gerakan politik dan sosial dan keamanan kami menyelenggarakan banyak kegiatan…..."

"O ya?"

"Seperti misalnya,"

Menyambung Nio Nio yang duduk di sebelah kanan si Nenek, pandangannya berkilat mengeluarkan kerling tajam ke arah Hok Sun.

"Pernah kalian mendengar tentang bencana alam misalnya, wabah penyakit dan kelaparan di sepanjang sungai Sin-kiang dan banjir besar di Tiongkok selatan?"

Hok Sun tertarik sekali.

"Justru tadinya kami hendak ke Wu-nian dan melihat saudarasaudara yang kabarnya menderita kelaparan dan banyak yang terserang penyakit. Hemm, siapa sangka kami bertemu dengan tiga bajak laut yang menamakan dirinya Sam-hauw-huang-ho… dan....... eh, akhirnya kami sampai disini."

"Kau berada di Wu-nian, Sun-tayhiap….. di gedung Hwa-ie-kaypang ini……."

Sianli Ku-koay menyelak sambil meneguk arak wangi. Pandangan matanya menatap kagum ke arah pemuda di depannya itu. Hok Sun dan Biauw Eng terkejut bukan main, hampir berbareng mereka berseru.

"Apa.......?? Aku berada di Wu-nian……?"

"He he he, kalian mungkin tidak menyadari ini…… karena Jie-lokay membawamu pada malam hari.…..

iya kan?

Akh, mengapa kalian terkejut, bukankah kalian hendak ke sini.......

melihat-lihat saudara yang terancam bahaya kelaparan dan penyakit.

"Besok kalau ji-wie enghiong ingin melihat-lihat, boleh…... Kebetulan sekali Hwa-ie-kay-pang mendirikan sebuah panitia khusus menanggulangi korban kelaparan dan bencana banjir. Oleh karena itu….. kalau kalian tergerak untuk membantu tugas mulia ini, kami sangat mengharapkan pertolongan ji-wie untuk membantu pergerakan kami, tentu ji-wie setuju bukan?"

"Tentu saja aku setuju!"

Berkata Hok Sun. Biauw Eng menoleh.

"Sun-ko, kita harus selidiki dulu……. mengapa kau mengambil keputusan secepat itu….. tidak! Aku tidak ingin bergabung dengan Hwa-ie-kay-pang…….!"

"Eng-moay, jangan berkata begitu. Ingat bukankah rencana kita juga hendak membantu pergerakan panitia penolong korban kelaparan dan bencana alam, mengapa kita menolak?"

"Aku masih sangsi Sun-koko!"

"Ha ha ha…... memang benar Nona Biauw Eng sebelum menyelidiki jangan dulu mengambil keputusan. Sun-tayhiap, sekarang kau mengasolah…... Besok pagi-pagi boleh kau ikut serta dengan panitia penanggulangan korban bahaya kelaparan yang akan bertugas akan membagi-bagikan sumbangan dan bahan makanan kepada penduduk di sepanjang sungai Sin-kiang. Begitukan seharusnya, Nona Biauw Eng?"

Sianli Ku-koay tersenyum manis kepada Biauw Eng, akan tetapi pandangannya berkilat tajam dan pada akhirnya mengeluarkan senyum mengejek.

"Niocu....... kami bersedia membantu pergerakan Hwa-ie-kaypang, apalagi dalam tugas mulia menolong sesama manusia, tentu saja kami setuju....... akan tetapi bagaimana dengan kawan kami yang satunya yang juga tertawan oleh seorang anggota Hwa-iekay-pang?"

"Tidak usah kuatir Sun-tayhiap….. tentu saja iapun akan diperlakukan secara baik-baik oleh orang-orang kami, besok pagipagi tentu kau akan bertemu dengan dia…..,"

Menyahut si gadis yang duduk di sebelah kiri Sianli Ku-koay.

Tersenyum memikat kepada Hok Sun.

Diam-diam panas hati Biauw Eng.

Gadis-gadis di sini sungguh berani dan genit, pikirnya memaki!

Akan tetapi ia diam saja.

Menahan kemengkalan hatinya terhadap orang-orang yang memuakkan baginya ini, Biauw Eng tidak banyak bicara lagi.

Ia mendengarkan saja si Nenek mengobrol ke barat dan ke timur menceritakan pergerakan Hwa-ie-kay-pang yang dipuji-pujikannya itu.

Sementara Hok Sun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengarkan cerita si nenek yang menurut anggapannya memang amat menarik dan hebat!

Betapa tidak?

Kalau Hwa-ie-kay-pang adalah perkumpulan yang luas dan banyak hubungan dengan tokoh-tokoh di dunia kang-ouw dan merupakan perkumpulan sosial yang suka menolong rakyat dengan mendirikan panitia korban banjir dan panitia korban kelaparan yang mengancam penduduk di sepanjang sungai Sinkiang dan Tiongkok selatan, tentu saja ia bersedia dengan senang hati membantu perkumpulan ini!

Apa lagi setelah didengarnya bahwa temannya yang tadi siang baru dikenalnya itu, katanya diperlakukan secara baik-baik oleh orang-orang Hwa-ie-kay-pang di gedung yang agak terpisah.

Lega hati Hok Sun!

Lain lagi dengan Biauw Eng, gadis ini bertambah mendongkol akan kegenitan gadis-gadis di Hwa-ie-kay-pang sayap kanan.

Apa lagi, setelah gadis-gadis kerudung hitam membuka kerudungnya.

Alangkah cantik dan manis.

Entah mengapa hati Sie Biauw Eng menjadi panas dan tidak senang apalagi kepada si nenek waktu mempersilahkan mereka istirahat, pernah nenek itu berkata.

"Sun-tayhiap, silahkan istirahat di kamar yang telah disediakan……."

Begitu dara-dara cantik mengantarkan mereka ke kamar, Hok Sun berkata kepada gadis yang mengantar.

"Nona, kami minta dua kamar saja, satu untukku dan yang lainnya untuk temanku ini…….!"

"Maaf tayhiap, Niocu hanya memberikan sebuah kamar untuk kalian berdua….. silahkan masuk….." "Tidak…… tak sudi aku, kalau si nenek nggak menyediakan tempat untukku, biarlah aku tidak sudi bermalam di tempat ini…. biar aku mencari rumah penginapan…."

Sahut Bianw Eng mendongkol.

Pandangan matanya melongok ke dalam kamar, sebuah tempat tidur yang sudah terhias rapih dan indah, bersepray putih bersih, dari dalam kamar terhendus olehnya hio wangi yang menebarkan harum semerbak, harum yang merangsang hidung.

Hok Sun juga heran sekali melihat kamar yang begini indah dan wangi seperti kamar pengantin saja layaknya.

"Betul kata temanku ini, nona….. biarlah kalau kau tidak berkeberatan, kami minta kamar yang terpisah….."

Berkata Hok Sun.

"Ooo, maksud kalian tidurnya dipisahkan, begitu?"

Hok Sun mengangguk. Si gadis tertawa genit, mengerling memikat kepada Hok Sun.

"Menyesal sekali tayhiap, Niocu hanya menyediakan kamar ini untuk kalian…... kami tak berani bertindak lancang!"

"Hemm, beginikah kalian menyambut seorang tamu? Kalau keberatan menyediakan kamar, mengapa mengundang kami. Sunko muak aku melihat tata cara di Hwa-ie-kay-pang yang gila ini, mari kita pergi…..!"

Biauw Eng yang berwatak keras hati itu membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat.

Akan tetapi sekali mengenjotkan tubuh, seorang gadis Hwa-ie-kay-pang sudah berdiri di depan Biauw Eng.

"Lihiap…….

harap tidak pergi….."

Katanya. Biauw Eng mencabut pedangnya.

"Kau mau apa?"

Hok Sun cepat menghampiri gadis temannya yang sudah mencabut pedang ini dan berkata.

"Eng-moay, tahan!"

Pada saat itu mendatangi Sianli Ku-koay.

"A Hwa, sudah kau sediakan tempat untuk tamu kita….. eh mengapa kalian?"

Si Nenek Sianli Ku-koay bertanya.

"Niocu, gadis binal ini nggak mau bermalam di kamar itu, minta dipisahkan kamarnya......."

A Hwa melapor. Sianli Ku-koay menatap Biauw Eng tajam kemudian ia tersenyum.

"Nona Biauw Eng, maafkan kami….. kalau kau hendak tidur lain kamar biar kusuruh orangku untuk menyediakan kamar lain untukmu."

Akan tetapi Biauw Eng tidak menyahut. Merengutkan mukanya sambil memasukkan pedangnya kembali ke sarung.

"Tayhiap, maafkan kekeliruanku....... kukira kalian ini sudah menjadi suami isteri, hemm, nggak tahunya masih pacaran saja ya? Maaf, maaf…….." Merah muka Hok Sun dan Biauw Eng mendengar perkataan si nenek ini, apa lagi kerling itu menyambar genit memberi arti, bertambah panas hati Biauw Eng. Ingin sekali menurut hatinya gadis itu menerjang maju, mengamuki gadis-gadis genit di Hwa-iekay-pang ini, akan tetapi....... ia menahan kemarahan yang hendak meledak itu dan berjalan mengikuti si Nenek ke kamar lain yang khusus disediakan untuknya! Akan tetapi, betapa terkejutnya Biauw Eng ketika begitu memasuki kamar yang terhendus hio wangi yang menyesakkan hidungnya, tiba-tiba dirasakannya kepalanya pening bukan main, dan ia menggeletak pingsan, di atas sprey putih bersih yang berkasur empuk itu. Bersamaan dengan itu terdengar suara tertawa genit dari gadis Sian-li-pay, menyingkap paha Biauw Eng dan menusukan jarum yang berwarna hitam pada paha itu…… Di kamar lain, terjadi kejadian yang sama. Begitu tidak lama Hok Sun memasuki kamar yang mengeluarkan bau harum dari hio wangi. Tiba-tiba dirasakannya kepalanya pening dan terasa amat ngantuk pada kelopak matanya, rasa ingin tidur yang hebat membuat pemuda itu merebahkan dirinya di pembaringan dan tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya! <> Bagaimana dengan Nyuk In? Benarkah ia diperlakukan baik-baik seperti kata Sianli Ku-koay kepada Hok Sun dan Biauw Eng. Tentu saja kedua orang muda itu tidak mengetahui apa yang terjadi pada diri Nyuk In di gedung sebelah kiri, gedung ini agak jauh terpisah dari gedung-gedung yang lain. Dihuni oleh sepasang iblis gila yang terkenal dengan julukan Jing-tok-siang-lomo, A Thiong dan A Mey. Kedua Iblis yang berkepandaian lihai ini ternyata dapat ditawan oleh pangcu Hwa-ie-kay-pang dan karena pengaruh racun hitam yang ditusukkan ke paha ke dua iblis ini melalui sebuah tusukan jarum, keruan saja sepasang Iblis jadi bertambah hilang ingatannya dan menjadi penurut yang taat atas perintah ketua Hwa-ie-kay-pang. Orang-orang Hwa-ie-kay-pang membangun gedung di sebelah kiri dan menculik pemuda-pemuda laki-laki gagah untuk diracuni otaknya sehingga merusak ingatan mereka menjadi gila seperti sepasang Iblis Gila Jin-tok-siang-lomo ini! Tak heran begitu Nyuk In, dibawa ke gedung yang semuanya terdiri dari orang-orang gila ini, ia menjadi barang permainan laki-laki kasar gila, anak buah Jin-tok-siang-lomo, akan tetapi gadis itu sudah sadar, meskipun sudah terluka dan tubuhnya masih terasa lemah, ia masih gesit dan dapat menghindarkan diri dari sergapan dan tangkapan-tangkapan kasar dari anak buah Sepasang Iblis gila Jin-tok-siang-lomo. Untungnya, kakek pengemis Hwa-ie-kay-pang ini memesan kepada Nenek dan kakek gila untuk tidak mengganggunya, sehingga begitu si nenek A Mey dan si Kakek A Thiong muncul, tak berani lagi orang-orang gila itu mengganggu Nyuk In....... Nyuk In dimasukkan ke dalam kerangkeng. Sementara anak buah Jing-tok-siang-lomo menari-nari seperti monyet yang mengagumi barang permainan yang menarik dan aneh! Melihat orang-orang ini bertingkah kegila-gilaan, diam-diam Nyuk In merasa kasihan sekali kepada orang-orang gila ini, anehnya meskipun mereka tertawa-tertawa girang, akan tetapi dari pelupuk matanya mengalir air mata yang menetes-netes dan sinar mata mereka nampaknya kuyu dan penuh penderitaan. Sementara orang-orang gila itu menari-nari di luar kerangkeng, Nyuk In meramkan matanya. Bersemedi untuk menyembuhkan racun hijau yang menjalar pada kakinya. Mengerahkan tenaga sinkang dan mencari kesempatan untuk keluar dari dunia orang gila ini! ◄Y► Beberapa tahun yang lalu daerah Tiongkok selatan terserang bencana alam yang cukup hebat. Musim kemarau amat panjang, untuk berbulan-bulan tak setetespun air yang membasahi bumi, sehingga sungai-sungai besar mengalami kekeringan dan membawa bibit-bibit penyakit menular yang menjangkiti penduduk. Sawah-sawah pada kering merekah dan retak-retak karena panas yang membakarnya dan semua sumur menjadi kering. Karena sungai-sungaipun menjadi kering dan ikan-ikan yang mati hingga penderitaan rakyat bukan main hebatnya. Semua tanaman mengering dan layu, sawah-sawah menjadi tandus dan merupakan lautan tanah gersang yang tak dapat ditumbuhi tetanaman lagi. Rakyat kecil, terutama golongan kaum tani menjerit-jerit mengharapkan datangnya hujan. Akan tetapi sampai berbulanbulan itu hujan belum juga turun. Udara bukan main panasnya. Rakyat di daerah selatan menjerit-jerit karena persediaan bahan makanan semakin menipis, terutama sekali kesengsaraan ini terasa benar bagi rakyat kecil, rakyat yang tak mampu untuk menampung gandum, sedangkan hari demi hari terasa benar bahaya kelaparan mengancam penduduk. Terutama rakyat pinggiran, para petani dan orang-orang miskin yang tak mampu lagi untuk membeli beras yang bukan saja sukar didapat, melainkan seandainya ada, harganya pun mencekek leher. Tak terjangkau oleh rakyat kecil! Bibir-bibir manusia mengering dan bibir merekah pecah-pecah. Mata menjadi merah karena terlalu banyak menangis dan karena hawa terlampau panas seperti dibakar. Hewan ternak banyak yang mati kepanasan dan kehausan. Tubuh-tubuh manusia dan hewan menjadi kurus kering kekurangan makan, hari demi hari berjatuhan korban-korban yang mati kelaparan! Doa-doa dinaikkan dari bibir-bibir yang kering merekah, dari jiwa yang haus dan lapar. Penduduk dusun bersembahyang siang malam memohon datangnya hujan. Dan pada saat yang amat genting, hujanpun datanglah. Jutaan manusia menyambut datangnya hujan pertama ini, mereka berlari lari ke halaman rumahnya menengadah kelangit mengucapkan syukur kepada Tuhan. Menadahi kedua tangan menghirup air hujan yang membawa harapan bagi jiwa-jiwa yang lapar dan berdahaga. Para petani mulai berseri-seri wajahnya menampakkan harapanharapan di dada sambil menyeret cangkul dan arit kembali ke sawah, menggiring kerbau-kerbau mereka yang nampak sudah kurus kering dan lemah, akan tetapi binatang-binatang inipun seakan-akan merasa suka cita yang besar untuk turut gembira berjalan sambil mengibas-ngibaskan ekornya dan menguak panjang! Menjejak-jejakkan kakinya pada tanah yang mulai berair dan berlumpur! Akan tetapi. Ya, ampun…...! Hujan tak juga mau berhenti. Berhari-hari hujan turun tak hentihentinya, bertambah lebat. Mengamuk, dan menyeret apa saja yang tergenang dalam banjir. Rumah-rumah pondok para petani habis disapu angin hujan yang semakin menggila. Air sungai Sin-kiang meluap, membanjir ke sawah-sawah, memasuki rumah-rumah pondok, menenggelamkan segala apa yang dapat diseret hanyut. Tak perduli ia itu manusia ataupun binatang, ataupun pondok-pondok, semuanya dihanyutkan! Mayat manusia mengapung dimana-mana, tersangkut pada tempat-tempat yang amat tinggi, menggeletak di dalam gubukgubuk yang tidak terseret banjir……. Amukan alam yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk sekitar kota Wu-nian, dusun-dusun di sekitar itu, terancam bahaya kelaparan yang mau tidak mau menarik perhatian pemerintah pusat. Mendengar laporan ini, Hong-siang (kaisar) mengirimkan sumbangan-sumbangan berupa uang dan bahan makanan. Para hartawan yang berhati dermawan mengirimkan sumbangan-sumbangan mereka melalui kota Wunian. Akan tetapi, sayang seribu kali sayang, alamat yang kirim dari orang-orang dermawan di kotaraja tidak menuju sasaran yang tepat! Sumbangan itu nyasar ke alamat yang lain, masuk kantong panitia-panitia yang berkedok sebagai panitia korban banjir, semakin menipis, semakin tersangkut sumbangan itu dan baru sebagian kecil itu, sampai ke dusun-dusun, itupun tidak dapat berbuat banyak! Apa lagi belum lama berselang ini, beberapa bulan yang lalu muncul perkumpulan pengemis baju kembang yang menamakan dirinya perkumpulan Hwa-ie-kay-pang. Mendirikan gedung yang besar dan megah. Perkumpulan inilah yang menampung sumbangan-sumbangan yang datang dari kotaraja! Dan perkumpulan Hwa-ie-kay-pang inilah yang menjadi panitia Korban Banjir, mengerahkan para pengemis meminta sumbangan kepada penduduk kota. Dan tak lama kemudian muncul lagi gadis-gadis kerudung hitam dari Sian-li-pay yang katanya mendukung Hwa-ie-kay-pang ini. Sudah barang tentu kota Wu-nian menjadi ramai dan pusat kegiatan budaya dan sosial! Bantuan pemerintah berupa sumbangan-sumbangan korban banjir terus mengalir dan belum lama ini, dikabarkan Kaisar mengirim limaribu tail emas untuk korban banjir! Hem, suatu perbuatan yang mulia dan patut dipuji. Manusia-manusia di luar daerah korban banjir menarik napas lega, mengharapkan bahwa saudarasaudaranya di daerah bencana banjir itu dapat ditanggulangi! Pada suatu hari, tatkala matahari sudah naik tinggi dan menyinarkan cahayanya di atas kepala, di luar pintu gerbang kota berjalan dua orang muda memasuki pintu gerbang Wu-nian, akan tetapi sampai di pintu gerbang itu, mereka dihadang oleh dua orang kakek pengemis yang berpakaian tambal-tambalan dan warna bajunya berkembang-kembang, sepasang kaki mereka telanjang dan tidak memakai sepatu. Dengan membongkokkan diri kedua pengemis itu mengangsurkan kaleng yang bertulisan.

"Sumbangan Untuk Korban Banjir!"

Keruan saja membaca tulisan ini, tergerak hati kedua orang muda itu dan mereka merogoh saku dan mengeluarkan dua tail perak, mencepluskan ke dalam kaleng yang diberi lubang kecil di atasnya.

Akan tetapi alangkah heran hati ke dua orang muda itu, ketika setelah seorang ngemis berkata dengan nada yang kasar dan tertawa mengejek.

"Ha! Masa menyumbang hanya dua tail perak, apakah artinya?"

Kedua orang muda itu, yang tak lain adalah Kong Hwat dan Ho Siang berpandangan, tiba-tiba Ho Siang tersenyum dan merogoh lagi sakunya mengeluarkan setail perak, dimasukkan lagi ke dalam kaleng sumbangan.

"Orang muda, kau rupanya bukan penduduk kota Wu-nian ya?

Hemm, kalau ingin masuk.......

tambahlah kaleng sumbang ini dengan limapuluh tail emas lagi…..

he he he!"

Berkata kakek pengemis baju kembang yang tinggi kurus, dan rambutnya yang masih hitam itu riap-riapan ke pundak tidak tersisir rapih, kedua kakinya juga telanjang hingga ia nampak seperti seorang pengemis jembel.

Sambil menimang-nimang uang satu tail itu si kakek mengekeh, mengepalkan tangannya yang memegang uang logam satu tail itu dan begitu tangan si kakek pengemis dibuka, nampak uang logam itu sudah hancur berkeping-keping menjadi lima potong.

"Ee he he he, tambahi lagilah lima tail lagi…….!!"

Melihat cara kakek ini meminta sumbangan dengan cara yang tidak sedap ini, Kong Hwat menjadi marah dan menyindir ketus.

"Orang menyumbang harus berdasarkan hati rela dan suka, sama sekali tidak diharuskan menentukan besarnya sumbangan biar menyumbang sedikit asal memberinya dengan senang hati dan ikhlas, seharusnya diterima dengan baik! Mana ada aturan minta sumbangan dengan secara paksa?"

Si kakek pengemis yang bertubuh kurus itu menjadi marah dan balas membentak.

"Orang muda, jangan kau berkata lancang ya! Apakah kau tidak mengenal Hwa-ie-kay-pang?"

Kong Hwat menggelengkan kepala. Tertawa lebar.

"Aku tidak mengenal dengan segala macam pengemis, yang kutahu seorang pengemis hanya meminta dan memohon dengan cara halus, sehingga menggerakan hati orang untuk menaruh belas kasihan kepadanya dan memberi sedikit uang. Kau ini pengemis macam apa, pakaianmu belentang belentong, lagakmu seperti perampok……. menyesal aku telah mengeluarkan uang dua tail itu."

"Orang muda, karena kau orang baru bukan penduduk kota ini, aku mengampunimu asalkan kau berlutut dan menyembah padaku tiga kali, hayo berlutut!"

Si kakek pengemis baju kembang yang bertubuh kurus itu menggerakan tangannya menekan pundak Kong Hwat.

Akan tetapi alangkah herannya dia ketika merasa tangannya membentur benda yang lunak seperti kapas, tiba-tiba entah bagaimana caranya tahu-tahu tubuhnya menjadi kaku seperti patung.

Berdiam setengah membongkok dalam keadaan tangan kanan melonjor ke depan yang tadi menekan pundak Kong Hwat.

Melihat temannya sudah tertotok menjadi kaku seperti patung hidup, pengemis yang satunya, yang bertubuh pendek kate menjadi marah dan tahulah ia bahwa dua orang muda ini tentu mempunyai kepandaian silat, maka tanpa sungkan-sungkan lagi pengemis pendek itu sudah menerjang maju menggerakan tongkatnya yang tadi dipakainya untuk menunjang tubuhnya yang pendek itu.

Serangan kakek ini kuat dan lihay, akan tetapi begitu Kong Hwat bergerak yang kedua kali, seperti temannya tadi, pengemis pendek inipun telah tertotok dalam keadaan seperti orang menyerang, cepat pemuda itu membawa kedua orang itu ke depan pintu gerbang kota dan ditaruh di kanan kiri pintu gerbang seperti sebuah patung.

Keruan saja melihat kejadian ini, penduduk kota yang menonton menjadi heran dan terkejut.

Akan tetapi diam-diam mereka senang juga melihat ke dua pengemis yang sombong dan suka memaksa orang meminta sumbangan itu kini dipermainkan oleh ke dua orang muda yang tak mereka kenal!

Setelah merobohkan kedua orang pengemis baju kembang itu dan meletakkan ke duanya di depan pintu gerbang kota, Ho Siang bertanya kepada seorang penduduk kota yang tengah memandangnya kagum.

"Lopek…. numpang tanya ya…… ke dua orang pengemis itu siapakah dan apakah mereka itu ditugaskan oleh panitia korban banjir untuk meminta sumbangan?"

"Tayhiap, kagum sekali hati kami melihat kalian berdua yang masih begini muda akan tetapi berkepandaian hebat.

Ketahuilah bahwa kedua kakek pengemis itu adalah anggota Hwa-ie-kay-pang yang terkenal di kota ini.

Semua sumbangan-sumbangan korban banjir ditampung oleh perkumpulan ini.

"Sekarang, hanya Hwa-ie-kay-pang yang berhak meminta sumbangan untuk korbar banjir....... akan tetapi......."

Kakek itu berhenti bercerita dan dengan pelan ia berbisik.

"Orang-orang Hwa-ie-kay-pang tidak adil tayhiap, mereka sering meminta sumbangan dengan paksa dan menentukan jumlah sumbangan yang besar." "Ooo….."

Ho Siang dan Kong Hwat saling berpandangan.

"Terimakasih lopek,"

Ho Siang dan Kong Hwat menjura kepada orang tua yang memberi keterangan, lantas keduanya dengan cepat memasuki kota Wu-nian dan tak lama kemudian tampak Ho Siang dan Kong Hwat sudah memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan terkenal!

Akan tetapi, kembali kedua orang muda itu dibuat heran karena begitu mereka masuk, nampak dua orang gadis kerudung hitam menghampiri dan menyodorkan kaleng sumbangan untuk korban banjir.

"Kongcu, mohon sumbangan,"

Suara gadis dari balik kerudung sutera hitam itu terdengar merdu dan nyaring.

Kong Hwat menoleh, dan apabila pandangan mereka terbentur kepada muka yang tertutup sutera hitam, baik Ho Siang maupun Kong Hwat menjadi terheran.

Teringat mereka akan gadis-gadis yang pernah ditemuinya di Pulau Bidadari, hemm, apakah gadisgadis inipun dari Sian-li-pay?

"Kongcu…..

sumbanglah sekedarnya,"

Gadis kerudung hitam itu berkata lagi. Kong Hwat mengeluarkan uang satu tail, diceploskan ke dalam kaleng sumbangan.

"Kongcu…... tambahilah, masa setail?"

"Loh, kau kan tadi minta sumbangan untuk sekedarnya, mengapa dikasih setail enggak mau. Orang menyumbang menurut keikhlasan hati dan kekuatan kantong. Kau kira aku hartawan yang banyak duit, sudah setail saja!"

"Kongcu, paling sedikit orang harus menyumbang limapuluh tail. Kalau nggak gablek duit mengapa kau sok cukong menyumbangnyumbang segala, huu, lagaknya saja…… keren, kantongnya kempes!"

Gadis kerudung itu menggerutu dan keluar lagi dari rumah makan.

Merah muka Kong Hwat dikatai sok cukong oleh si gadis, kalau saja tidak buru-buru Ho Siang mencegah, tentu ia akan mendamprat gadis itu lagi.

"Hwat lote, gadis tadi berkerudung hitam….. apakah ia juga anak buah Sian-li-pay?"

"Mungkin juga twako, menurut sepanjang pendengaranku gadisgadis Sian-li-pay itu selalu tertutup mukanya....... ahh, mungkinkah Sian-li-pay beroperasi hingga sampai ke tempat ini?"

Ho Siang tak menyahut. Seorang pelayan mendatangi sambil memberikan daftar makanan yang tersedia. Diterima oleh Ho Siang dan memesan beberapa macam masakan.

"Hwat lote, kau bilang mengenai sumbangan Kaisar itu....... kau titipkan kepada panitia korban banjir manakah?"

"O ya, justru sekarang kepingin kuselidiki. Pernah beberapa hari yang lalu kuberitahu kepada salah seorang panitia, akan tetapi, bukan Hwa-ie-kay-pang itu……." "Panitia yang mana?"

"Panitia tempo hari itu dipimpin oleh Wu-nian-sam-eng (Tiga Pendekar Wu-nian) akan tetapi heran……! Mengapa sekarang Hwa-ie-kay-pang yang menguasainya? Twako, nanti kita ke jalan Naga, aku masih ingat rumah panitia itu."

Seorang pelayan membawakan masakan yang tadi dipesan.

"Boleh, setelah kita makan. Kita jalan-jalan sebentar. Hwa-ie-kaypang harus kita selidiki. O ya, Hwat-lote kau hendak menemui Wunian-sam-eng itu?"

"Ya, aku harus menanyakan tentang sumbangan Kaisar tempo hari kutitipkan padanya. Mari kita makan cepat-cepat, nanti kita ke jalan Naga…..,"

Sambil berkata demikian Kong Hwat makan tanpa berkata-kata lagi.

Ho Siang juga meraih mangkok dan mengisi sedikit nasi dan menyendok masakan Tung-wang yang terkenal itu.

Asap seakan membaur sedap melaparkan isi perutnya yang sejak sedari pagi ini belum menerima makanan apa-apa.

Kong Hwat banyak sekali makan.

Memang pemuda itu paling banyak makan, apalagi menghadapi masakan yang lezat ini.

Rasanya baru kali ini ia merasakannya masakan yang benar-benar lezat.

Tentu saja baginya selama mengikuti suhunya, Koay Lojin, ia hanya selalu tiap hari dihadapkan dengan masakan-masakan sederhana, dan ikan-ikan laut melulu hasil suhunya memancing.

Jarang sekali suhunya membawa dia makan di rumah makan, biasanya ia makan hanya dengan ikan hasil tangkapan atau palingpaling dengan sayur-sayuran yang dimasak suhunya dengan amat sederhana sekali.

Sebentar itu pula pemuda itu sudah menghabiskan tiga mangkok nasi putih dan sayur cap-cay yang amat lezat bagi lidahnya itu!

Melihat temannya makan dengan gembul dan bernafsu, Ho Siang tertawa lebar sambil manawari makanan.

"Hwat Lote, biar kupesan masakan lagi!"

Kong Hwat menggeleng-gelengkan kepala dan menghabisi makanan di mangkuk yang dipegang seraya katanya.

"Wa, wa, wa, cukup twako, jangan ditambah lagi, bisa meleduk perutku kekenyangan makan!"

"Tak apa lote, kalau kau masih lapar pesan saja?"

"Sudah, sudah kenyang perutku. Perutku sampai membuncit begini....... he he he he, memang enak sekali ya makan di restoran."

Kong Hwat menepuk perutnya yang buncit kekenyangan makan.

Ho Siang berdiri, berjalan menuju tempat pembayaran makanan dan mengeluarkan uang.

Sekembalinya, Kong Hwat sudah menanti di depan sambil memegangi perutnya yang terasa mulas.

"Eh, kenapa kau pegangi perutmu?"

Datang-datang Ho Siang bertanya sambil tertawa menggoda.

"Kekenyangan makan?" "Wah, saking banyaknya aku gado ikan tung-kwang, sehingga perutku sakit dan…. ssstt, rasanya kepingin buang air besar......."

Kong Hwat meringis, menahan pada perutnya yang terasa mulas. Kalau memang perlu dibuang, buanglah!"

"Akan tetapi dimana?"

Tentu saja di We Ce, hayo....... kau permisi kepada rumah makan itu…… jangan-jangan nanti kau berak di jalan….. berabe!"

"Kau tunggu, ya!"

Kong Hwat setengah berlari masuk ke dalam rumah makan.

Ho Siang menunggu di luar sambil melihat-lihat orang-orang berlalu di jalan.

Amat ramai sekali siang hari itu, orang-orang yang lalu-lalang di depan rumah makan ini.

Tiba-tiba, serombongan orang-orang berkuda lewat di depan rumah makan dan Ho Siang melihat perajurit kerajaan berjalan berbaris dengan amat rapih, sedangkan barisan di depan.

Orangorang yang di pinggir jalan berhenti memandang barisan perajurit dari kotaraja.

Nampak penunggang kuda yang di tengah adalah seorang jenderal setengah tua dengan diapit oleh dua orang wanita tua dan seorang hwesio tua muka hitam dengan jubah berwarna kuning.

Inilah rombongan Bong Bong Sianjin atau yang terkenal dengan sebutan Bong-goanswe dan Hok Losu, bersama Nenek Kepalan Dewa Tanpa Tandingan yang terkenal dari Sian-li-pay, sedangkan nenek yang satu lagi adalah Sianli Ku-koay yang menjemput datangnya tamu-tamu agung yang mereka hormati.

Nampak di antara rombongan itu seorang lelaki tua berusia empatpuluh tahun, akan tetapi nampak sudah amat tua lagi dengan tubuhnya yang kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit.

Orang inilah Pay-cu Hek-lian-pay yang bernama Hek-sin-tung Paycu Teng Kiat.

Berjalan dengan pandangan menghina menyapu orang-orang yang terdiri di pinggir jalan memandang rombongan yang lewat ini.

Dan di belakang barisan berkuda, nampak gerobak barang yang didorong oleh perajurit-perajurit kerajaan.

Hadir juga disitu, Oey Goan si Cambuk sakti yang mengepalai barisannya!

Melihat rombongan yang terdiri dari tokoh-tokoh yang sebagian besar memang sudah dikenalnya, tertarik sekali hati Ho Siang dan diam-diam ia membututi rombongan itu.

Sebelumnya ia meninggalkan sepucuk surat untuk Kong Hwat yang sedang buang air, dan dititipkan kepada pelayan rumah makan.

Akan tetapi betapa terkejut hati Ho Siang.

Begitu rombongan dari Kotaraja itu masuk ke sebuah gedung yang dan bercat merah, nampak tiga komplek bangunan yang besar-besar itu.

Tiba-tiba pintu gerbang yang bertulisan, Hwa-ie-kay-pang itu tertutup tidak diperbolehkan seorangpun yang diijinkan masuk.

Dengan hati penuh bertambah curiga Ho Siang kembali ke rumah makan yang tadi dan bertanya kepada seorang pelayan yang dititipkan surat untuk Kong Hwat.

"Lopek, apakah temanku itu sudah pergi?"

"Sudah sejak tadi. Surat kongcu sudah saya berikan kepadanya. Katanya ia hendak ke jalan naga……."

"Di mana letaknya jalan naga itu, lopek?"

"Itu…...!"

Si pelayan menunjuk ke samping kiri.

"Tiga belokan dari sana itu, kongcu akan menemukan jalan Naga, wah……. jalan naga itu panjang sekali kongcu….. eh, hendak mencari siapakah kau di sana?"

"Temanku itu katanya hendak menemui Wu-nian-sam-eng, kenalkah kau kepada tiga orang pendekar dari Wu-nian itu?"

"Wu-nian-sam-eng, tentu saja semua orang kenal kepada mereka. Tiga orang gagah yang tadinya menjadi panitia Korban banjir....... akan tetapi....... kabarnya, tiga orang gagah itu juga dapat diperalat oleh Hwa-ie-kay-pang....... kongcu, sekarang yang berkuasa di sini adalah Hwa-ie-kay-pang……"

Kakek pelayan itu berkata setengah berbisik. Ia hendak berkata lagi, akan tetapi didengarnya pemilik rumah makan itu memanggilnya dengan panggilan keras dan nyaring.

"A Sammm…...! Banyak tamu, mengapa kau mengobrol? Hayo layani tamu, angkat mangkuk-mangkuk itu, bawa ke belakang, kembali membawa arak Hang-ciu dan daging dendeng sapi....... cepat!" "Baik loya....... baik……!"

Si pelayan menyahut takut dan menoleh kepada Ho Siang.

"Kongcu, maafkan....... saja banyak kerja!"

"Terimakasih lopek!"

Ho Siang keluar dari rumah makan itu.

Ia berjalan menuju ke jalan Naga.

Akan tetapi tak didapati Kong Hwat di jalan itu.

Sedangkan Wu-nian-sam-eng, tidak berada di tempat itu, mungkin di gedung Hwa-ie-kay-pang!

Ho Siang berdiri di depan pintu gerbang gedung Hwa-ie-kay-pang.

Ingin sekali ia menerobos masuk, akan tetapi ia tahu bahwa kalau terlihat oleh anggota-anggota Hwa-ie-kay-pang akan tindakannya ini, tentu ia akan dicurigai.

Maka jalan satu-satunya, menanti datangnya malam.

Pada waktu malam ia akan leluasa bergerak.

Berpikir demikian, ia meninggalkan gedung Hwa-ie-kay-pang yang kelihatannya angker dan megah itu!

Ia berjalan-jalan di sepanjang jalan di Kota Wu-nian sambil bertanya-tanya kepada penduduk.

Akan tetapi ia menjadi kecewa, karena tidak banyak penduduk yang mau bercerita banyak tentang Hwa-ie-kay-pang itu!

Hanya mereka mengatakan bahwa, sejak Hwa-ie-kay-pang berdiri di Wu-nian segala kekuasaan pemerintah pusat yang tadinya dikuasai oleh wali kota Wu-nian, kini beralih dipegang oleh Hwa-iekay-pang.

Segala sumbangan untuk korban banjir harus melalui partai itu.

Seorangpun tidak diperkenankan mendirikan panitia korban banjir!

Dan pada malam yang gelap dan dingin dengan gerakan cepat dan gesit, Ho Siang dapat meliwati penjagaan dan melompat ke atas tembok mempergunakan kegelapannya malam sehingga ia dapat masuk ke komplek gedung Hwa-ie-kay-pang tanpa terlihat oleh siapapun juga.

Ternyata di dalam tiga gedung komplek Hwa-ie-kay-pang dijaga dengan ketat oleh kakek pengemis baju kembang.

Akan tetapi, dengan gerakan gesit pemuda itu berhasil meloncat ke sebuah gedung sebelah kiri yang terdekat dengan tembok komplek Hwaie-kay-pang.

Melihat suasana di dalam gedung itu agak gelap dan sepi, dan melihat komplek gedung yang di tengah amat terang dan terdengar suara orang bercakap-cakap segera dengan kepandaiannya yang tinggi, Ho Siang berhasil mengintai ke dalam.

Di ruang tengah ia melihat Bong Bong Sianjin yang berpakaian jenderal sedang bercakap-cakap dengan dua orang nenek yang kelihatannya sangat angkuh dan agung sedang duduk di atas kursi kebesarannya.

Kedua orang nenek itu adalah Sianli Ku-koay, dan Bu-tek Sianli Pay-cu dari Sian-li-pay, dan di meja bunder itu duduk pula seorang hweshio tua bermuka hitam yang pernah ia kenal dan rasai kelihayannya waktu di hutan tempo hari bersama Nyuk In.

Hweshio itu adalah Hok Losu, yang dulu pernah mengalahkannya.

Dan beberapa tokoh-tokoh sakti lain yang belum dikenalnya.

Terkejut sekali Ho Siang melihat tokoh-tokoh yang nampaknya tengah mengadakan perundingan.

Dan yang membuat dadanya berdebar tegang dan heran adalah seorang gadis, gadis yang amat dikenalnya.

Di tengah-tengah ruangan itu Nyuk In nampak tengah tertotok tak berdaya.

Seluruh urat saraf pemuda itu, menegang dan ia mengintai dengan hati-hati dan waspada.

"Pay-cu....... si Nenek Sianli Ku-koay berkata.

"Bocah inikah yang pernah datang ke pulau dan membuat kacau?"

Bu-tek Sianli menatap gadis yang tertunduk itu. Ia menoleh kepada seorang dara Sian-li-pay yang duduk di sebelahnya.

"Ang Hwa, benarkah gadis ini yang menolong pemuda lengan buntung?"

Gadis yang dipanggil Ang Hwa ini menatap tajam ke arah gadis yang tertunduk, tangannya menjambak rambut Nyuk In dan mengawasi wajah itu.

"Tak salah lagi, dia inilah Sianli Pay-cu……. teecu kenal betul dengan wanita ini yang telah menolong pemuda buntung....... akan tetapi…..,"

Ang Hwa menoleh kepada Sianli Ku-koay dan berkata.

"Pay-cu, apakah hanya orang ini yang dapat kalian tawan?"

"Ya, ia itulah…… Sebenarnya ada dua orang muda lagi, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang dari Kotaraja. Bonggoanswe....... kau kenal dengan mereka?"

Sianli Ku-koay menunjuk ke arah kedua orang muda yang berdiri mematung seperti orang yang hilang semangat.

Melihat seorang gadis cantik yang dikenal sebagai puteri Sie-tayjin, tentu saja Bong Bong Sianjin dapat mengenalnya.

"Eh, bukankah gadis itu adalah puteri Sie Tek Peng tayjin?"

Jenderal itu bertanya heran.

"Betul Bong-goanswe, akan tetapi gadis itu keras kepala dan terpaksa kutaklukan dia….. ia kini dalam perintahku seperti sepasang orang gila yang lihai itu!"

"Aii, kau memang hebat……. Sianli!"

"Pay-cu Bu-tek Sianli Yang Mulia, sekarang bocah binal yang pernah mengacau Sian-li-pay kami serahkan kepadamu, menanti keputusan Yang Mulia,"

Sianli Ku-koay berkata hormat. Bu-tek Sianli mengetuk tongkat bidadari tiga kali di tanah dan dengan suara yang berwibawa, ia berkata dengan lantang.

"Hukuman apalagi kalau bukan hukuman mati, Ang Hwa....... bunuh gadis binal itu sekarang juga!"

Gadis Sian-li-pay yang bernama Ang Hwa maju ke depan dan berlutut di depan Bu-tek Sianli.

"Teecu melaksanakan perintah!"

"Nah, kau laksanakanlah hukuman itu….."

Sambil berkata demikian si Nenek Bu-tek Sianli menggerakan tangan kirinya.

Sebuah benda berkeredep menyambar Ang Hwa, akan tetapi dengan cekatan gadis itu menggerakan tangannya dan beberapa detik kemudian sebuah pisau tajam telah berada di tangannya.

Dengan gerakan yang lemah gemulai gadis Sian-li-pay itu maju ke depan mendekati Nyuk In.

"Berlutut kau!"

Bentak Ang Hwa nyaring.

Akan tetapi mana Nyuk In sudi berlutut.

Ia malah melototkan matanya menatap tajam ke arah gadis yang memegang pisau yang berkilat-kilat saking tajamnya tersentuh cahaya lilin.

Diam-diam gadis Sian-li-pay ini terkejut melihat tatapan mata gadis yang mencorong tajam.

Akan tetapi dengan senyum mengejek sambil menudingkan pisau belati, gadis Sian-li-pay yang bernama Ang Hwa itu berkata sombong.

"Bocah perempuan gila, ajalmu sudah di depan mata, hayo berlutut!"

Pisau belati di tangan Ang Hwa berkelebat, hampir saja menggores muka Nyuk In.

"Tahan!"

Terdengar seruan dari Bong Bong Sianjin.

"Ada apa Bong-goanswe?"

Bu-tek Sianli berkata heran. Menatap tajam jenderal yang telah berlutut di depannya.

"Pay-cu…… harap kau memberi pertimbangan kepada gadis itu. Dia adalah murid suhengku Bu-beng Sianjin, mohon kau memberi pengampunan kepadanya......." "Ha! Goanswe....... apakah karena kau takut kepada suhengmu si Bu-beng itu?"

Bu-tek Sianli bertanya.

"Bukan hamba takut Pay-cu, hanya….. kalau bisa, kita jangan mencari permusuhan dengan suhengku itu……"

"Alaaa…… aku tidak perduli kepadanya, Bu-beng Sianjin juga harus mampus di tanganku. Goanswe jangan kuatir urusan si pertapa dari Thang-la, biar aku yang membereskan....... kau mundurlah!"

"Pay-cu…….!"

"Mundur!!"

Aneh sekali, mendengar suaranya Bu-tek Sianli yang berwibawa ini, Bong Bong Sianjin seperti anjing kena gebuk, dengan membungkuk-bungkuk hormat dia mundur dan kembali ke tempat duduknya.

Hok Losu menyambut dengan tertawa lebar.

"Bong-goanswe tidak perlu kuatir, seandainya Bu-beng Sianjin tidak senang, biarlah tanganku yang mengetok kepalanya! Ha… ha…"

"Ang Hwa, lekas lakukan hukuman!!"

Nenek Bu-tek Sianli membentak.

Ia ingin segera melihat gadis itu mati dengan tusukan belati dan menerima jantung gadis itu.

Seperti biasanya, ia paling senang melihat para hukuman mati berkelojotan dengan jantung dan hati yang tercabut keluar dan kelak jantung dan hati itu disimpannya untuk obat kuat.

Inilah kekejaman Nenek Bu-tek Sianli!

Ang Hwa maju ke depan, ia menyambar rambut gadis itu dan mengangkat kepala, memandang wajah Nyuk In.

Sedikitpun gadis itu tidak berkedip melihat hukuman sudah di depan mata, malah dengan beraninya menatap tajam kepada Ang Hwa.

Kalau saja Nyuk In tidak dalam keadaan tertotok, tentu gadis perkasa ini akan ngamuk seperti banteng luka, akan tetapi sayang sekali ia tak berdaya, totokan Sianli Ku-koay membuat seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, hanya dengan ketabahan dan kepasrahan hati ia menyerahkan dirinya kepada orang-orang berhati iblis ini!

Ang Hwa menarik rambut gadis tawanan yang tak berdaya itu menatap ke arah leher yang jenjang dan tiba-tiba sambil menjerit keras pisau belatinya berkelebat.

Amat cepat sekali gerakan Ang Hwa ini, para pengemis baju kembang yang menonton penyembelian yang hebat ini menarik napas, waktu sinar perak berkelebat dan mengharap jatuhnya sebuah kepala manusia yang sudah penggal.

Akan tetapi, jauh di luar dugaan mereka bahkan Pay-cu Sian-li-pay berdiri saking herannya melihat bahwa yang jatuh menggelinding bukannya kepala tawanan, melainkan kepala Ang Hwa itulah yang menggelundung jatuh tanpa dapat bersambat lagi, darah merah memercik membasahi lantai.

Pada saat yang tegang itu terdengar bentakan keras, dengan dibarengi melayang sesosok tubuh.

"Bu-tek Sianli, Nenek gila….. sungguh perbuatan gila dan kejam, aku datang untuk mengambil kepalamu!"

Tahu-tahu tubuh Ho Siang sudah berdiri di samping Nyuk In dan sekali tangan pemuda itu bergerak, Nyuk In telah terbebas dari totokan dan mengerahkan hawa sin-kang.

Tadi ketika melihat Ang Hwa yang dengan cara keji hendak memenggal leher gadis kekasihnya ini, dengan marah sekali Ho Siang menggerakan tangannya dan mengirim pukulan menampar ke arah belati yang menyambar leher Nyuk In.

Karena saking cepatnya gerakan belati dan hawa pukulan dari atas yang menyambar pisau belati di tangan Ang Hwa, entah bagaimana telah membalik dan menyambar lehernya sendiri!

Dalam kekagetan itu Ang Hwa tak dapat menjerit lagi karena lehernya sendiri telah putus tersambar pisau di tangannya!

Bu-tek Sianli, Hok Losu dan Bong Bong Sianjin terkejut sekali melihat pemuda baju putih yang tahu-tahu telah berada di situ.

Nenek Bu-tek Sianli ini cepat menggerakan tongkatnya dan mencelat turun dari kursi kehormatan diikuti oleh kedua orang pembantunya.

"Bagus, kau datang mencari mampus!?"

Serunya dan baru saja Ho Siang menginjak lantai, tongkat dan ujung jubah si hwesio muka hitam menyambar dari kanan kiri.

Akan tetapi Ho Siang sudah mencelat menjauhi Nyuk In, memberi kesempatan kepada gadis untuk memulihkan tenaganya.

Tentu saja melihat kedatangan Ho Siang yang tiba-tiba ini, girang hati Nyuk In, bagaikan ada semangat yang mengalir ke segenap tubuhnya ia segera mengerahkan sin-kang dan sebentar saja tenaganya sudah pulih kembali dan ia melirik ke arah Hok Sun dan Biauw Eng yang seperti orang kehilangan ingatan ini.

Dengan gerakan cepat ia mencelat dan menyambar kedua orang muda itu dan menotoknya, mengepit Biauw Eng dan Hok Sun.

Dan sekali menggerakan tubuhnya, gadis itu sudah melompati orang Hwa-ie-kay-pang yang memburu kepadanya.

"Siang-koko, aku harus cepat pergi dari tempat ini dan menyelamatkan kedua orang temanku ini, jaga dirimu koko!"

Nyuk In berteriak nyaring kepada Ho Siang. Sambil menangkis jubah hwesio tua yang lihay ini pemuda itu sempat melirik.

"Jangan kuatir In-moay pergilah…… aku segera menyusul!"

Nyuk In menggerakan tubuhnya, mencelat ke atas wuwungan genteng yang tertinggi. Akan tetapi, baru saja kakinya menginjak genteng, terdengar hentakan keras.

"Gadis liar, jangan lari kau!"

Ternyata di tempat itu telah dikurung oleh gadis-gadis Sian-li-pay dan para pengemis Hwa-ie-kay-pang.

Terkejut sekali gadis ini, menghadapi lawan yang begini banyak telah mencelat ke atas mengurungnya, tidak gampang-gampang ia dapat meloloskan diri.

Berpikir demikian Nyuk In mengeluarkan kipas hitam dan pitnya.

Menangkis serangan tongkat yang menyambar kepalanya.

Dengan cepat ia meletakkan tubuh Hok Sun dan Biauw Eng di atas wuwungan.

Dan menerjang lawan-lawannya dengan sengit.

Sekali kipas dan pit bergerak, dua orang kakek pengemis baju kembang terpental ke belakang dan bergulingan jatuh dari atas genting.

"Bocah liar, kau tidak akan lolos dari Hwa-ie-kay-pang!"

Dua orang gadis Sian-li-pay menerjang maju, menggerakan pedangnya, sinar pedang berkeredep di udara, sebentar itu pula, repotlah Nyuk In menghadapi lawan-lawan yang banyak ini dan begitu muncul Sianli Ku-koay, ia jadi terdesak hebat.

Akan tetapi dengan beraninya ia terus menerjang dan memainkan ilmu kipas dan pit dengan luar biasa!

Pengemis-pengemis Hwa-iekay-pang ini menjadi terkejut dan kagum melihat permainan kipas si gadis yang mengeluarkan tenaga dahsyat laksana angin puyuh menyambarnya.

Pada saat itu berkelebat tiga sosok bayangan manusia dan seorang di antaranya membentak keras.

"Orang-orang Hwa-iekay-pang terlalu dan tak dapat dipercaya, menindas rakyat dan merusak aparat negara. Hari ini kalian harus mampus!"

Bentakan itu disusul berkelebatnya sebuah tongkat kecil dan terdengar suara jeritan ngeri ketika tangan seorang gadis Sian-lipay terserempet tongkat yang mengeluarkan cahaya kemerahan dan sekali tongkat itu menarik, terdengar lagi seruan kaget dari ketua Hek-lian-pay yang tergores pundaknya oleh sebuah benda tajam yang menyembul dari dalam tongkatnya.

Gerakan pemuda yang bukan lain adalah Kong Hwat, disusul oleh berkelebat sinar panjang melengkung dari seorang pemuda cebol dan pukulan tangan kiri dari seorang gadis jelita.

Seperti kita ketahui, pemuda itu adalah Sin Thong dan Siauw Yang yang pernah kita kenal.

Ke dua anak muda ini, memang sengaja mendapat tugas oleh si Raja obat Yok-ong Lo Ban Theng untuk mengunjungi Wu-nian dan menyumbangkan bahan obat-obatan kepada panitia korban banjir di kota ini, akan tetapi siapa sangka, begitu Sin Thong dan Siauw Yan meninjau langsung daerah korban banjir, alangkah terkejutnya hati mereka melihat kehidupan rakyat di luar kota Wu-nian, terutama di dusun-dusun yang terserang banjir, demikian sengsara dan melarat.

Jerit tangis terdengar di mana-mana, dan keluh kesah menjulang setinggi langit, membawa rasa kecewa dan seakan-akan manusia yang tengah sekarat hendak mati kelaparan ini menuduh bahwa Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mendengar jerit tangis mereka.......

Tuhan begitu kejam membiarkan hujan turun terus tak hentihentinya…..

ah, entah berapa banyak mulut dan hati yang menuduh bahwa Tuhan telah menutup telinga dan tidak mendengar jerit tangis mereka!

Sin Thong dan Siauw Yang berjalan di dusun-dusun yang tengah meratap oleh tangis dan keluhan-keluhan, hati mereka bagai diirisiris waktu melihat pemandangan-pemandangan yang sangat menyayat hati.

Uang mereka bawa tidak berarti bagi kesengsaraan penduduk, lapar mereka tidak dapat dilenyapkan dengan uang.

Mereka perlu gandum, mereka perlu air dan makan, bukan memerlukan uang!

Seandainya Sin Thong dan Siauw Yang memberikan uang, untuk apakah uang?

Di dusun-dusun tidak ada orang yang menjual gandum dan bahan makanan, di dusun-dusun tidak memerlukan uang, akan tetapi gandum, ya gandum, bahan makanan buat pengisi perut yang lapar!

Sin Thong dan Siauw Yang menyesal, mengapa mereka tidak datang ke sini dengan membawa gandum dan bahan makanan?

Mengapa?

Alangkah marahnya kedua orang muda ini, ketika mendengar keterangan dari seorang penduduk bahwa sejak berdirinya partai Hwa-ie-kay-pang di Wu-nian, jarang sekali bala bantuan bahan makanan yang datang, malahan bantuan dari pemerintah pusat "nyangkut"

Ke gedung Hwa-ie-kay-pang itu dan tidak dapat berlangsung sampai ke dusun-dusun yang tengah terancam bahaya kelaparan itu!

Marah sekali hati Sin Thong dan Siauw Yang, demikianlah pada malam itu mereka menyerbu gedung Hwa-ie-kay-pang dan kebetulan sekali, begitu mereka mencelat ke atas genteng, dilihatnya seorang gadis cantik dikeroyok oleh pengemis-pengemis baju kembang dan gadis-gadis kerudung hitam langsung mereka menyerbu dan bertempur dengan amat serunya.

Kini empat orang muda yang gagah dan berkepandaian lihai diserbu oleh anggota-anggota Hwa-ie-kay-pang dan Hek-lian-pay dan Sian-li-pay, hebat sekali pertandingan yang berlangsung di atas genteng Hwa-ie-kay-pang ini!

Sementara itu di dalam gedung tengah, terjadi pertempuran yang tidak kalah seru oleh pertempuran di atas genteng.

Ho Siang dikeroyok oleh banyak orang gagah Hek-lian-pay dan Hwa-ie-kaypang, serta beberapa gadis Sian-li-pay.

Dikeroyok oleh banyak orang yang berkepandaian cukup tinggi ini Ho Siang tidak mau membuang banyak waktu lagi, ia mainkan sulingnya di tangan kanan dan mengeluarkan suara mengaung yang bergetar oleh suara sabetan suling yang amat luar biasa ini.

Sebentar itu pula tiga orang kakek pengemis baju kembang dan dua orang kakek Hek-lian-pay sudah tertotok jatuh, tak kuasa untuk bangun lagi.

Bu-tek Sianli, Hok Losu, Bong Bong Sianjin mendesak hebat pemuda itu dengan senjata tongkat dan pedang di tangan, akan tetapi Ho Siang kali ini benar-benar mencurahkan seluruh kepandaiannya yang pernah ia pelajari di Anapurna dari gurunya Nakayarvia.

Tingkat kepandaian pemuda ini telah menguasai pelajaran dari pertapa sakti Nakayarvia itu.

Suling hitam di tangan pemuda itu merupakan senjata yang amat berbahaya bukan saja lihay dalam menotok lawan, akan tetapi mengeluarkan suara mengaung yang aneh dan seakan-akan menggetarkan jantung lawan yang tidak seberapa tinggi kepandaiannya.

Inilah pengerahan sin-kang yang luar biasa, ditambah lagi dengan gerakan-gerakan kilat yang pernah ia pelajari dari suhunya yaitu gerak tipu Sin-tiauw-siu-po (Rajawali sakti sambut mustika) yakni sebuah jurus dari ilmu silat ciptaan Nakayarvia sendiri Sin-tauwsin-na (Ilmu Silat Rajawali Sakti).

Dengan mempergunakan jurus ini, ia merangsek si Nenek sakti Butek Sianli yang amat ia benci melihat hampir saja kekasihnya, Nyuk In menjadi korban kekejian Nenek ini, maka dalam sekejap mata sebelum si Nenek Sian-li-pay tahu apa yang telah terjadi, tongkat bidadarinya telah kena dirampas oleh tangan kiri Ho Siang.

Pemuda sakti ini tidak berhenti sampai disini, dan pada saat kedua kakinya sudah menginjak lantai, tangan kanannya bergerak melakukan pukulan Sin-tiauw-siu-po, menghantam ke arah tongkat yang memukul dari kanannya!

"Kraakk!!"

Terdengar tongkat itu patah disusul oleh jeritan kaget dari pada Bu-tek Sianli sambil meloncat ke belakang.

Mukanya merah dan berkerut dalam.

Ia memandang ke arah tongkat Bidadari kehormatannya yang sudah hancur.

Merasa dirinya diinjak-injak oleh pemuda ini, dengan menggereng marah Pay-cu Sian-li-pay ini melancarkan serangan dahsyat.

Hok Losu, hwesio tua muka hitam itu mencelat ke dekat Bu-tek Sianli dan kemudian berkata.

"Pay-cu, biar pinceng yang menangkap bocah berandalan ini!!"

Setelah berkata demikian, tangan hwesio tua itu mendorong ke muka. tubuhnya agak miring dan mulutnya membentak.

"Orang muda, menyerahlah!"

Sambil menangkis datangnya serangan tongkat dari salah seorang pengemis baju kembang, Ho Siang berseru kepada hwesio tua ini.

"Ha....... ha, hwesio tua bangka jangan banyak tingkah! Kalau kau gagah dan memang sanggup, tangkaplah aku! Jangan bermulut besar!"

"Bangsat!! Kalau begitu biarlah tangan pinceng memberi hukuman…..!"

Bentakan ini disusul oleh sebuah tamparan ujung jubah ke arah dada Ho Siang, akan tetapi tamparan dilakukan sedemikian rupa, sehingga kalau pemuda ini menangkis, ia akan membabat suling sekuat tenaga.

Inilah gerak tipu Tian-hud-kiatciang (Mengulur Jubah Memotong Tangan) sebuah tipu sabetan jubah dari partai Siauw-lim-pay yang lihay.

Namun siasat ini terhadap Ho Siang tidak mempan sama sekali karena pemuda ini sudah tahu akan maksud lawan, sungguhpun ia tidak mengerti akan kebutan jubah yang mendatangkan angin besar itu.

Akan tetapi alangkah kagetnya hati Hok Losu ketika tibatiba pemuda itu miringkan tubuh, lalu menyusul dengan serangan balasan yang serupa yakni membalas tamparan ujung jubah dengan tangkisan suling hitamnya.

Ujung jubah Hok Losu, membentur suling hitam di tangan pemuda itu.

Akan tetapi alangkah herannya hwesio itu merasa tamparan jubahnya itu seakan-akan amblas ke dalam air dan meleset menampar dada si pemuda, dalam kagetnya dan rasa penasaran itu, hwesio ini berteriak keras dan dua tangannya berputar di atas kepala.

Inilah gerak pukulan Menyembah Budha Memangku Raga, angin dingin berpusing.

Sementara dari arah kiri menyambar pula hawa pukulan yang panas yang datangnya dari Bu-tek Sianli yang sudah menyerbu dengan pukulan Sin-kun-bu-tek yang terkenal kedahsyatannya itu, sedangkan tongkat hitam ketua Hek-lian-pay menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu, dibarengi lagi serangan tusukan pedang yang mematikan dari Bong Bong Sianjin yang mengarah lambung lawan!

Ho Siang menjadi kaget setengah mati!

Serangan yang mendadak dari tokoh-tokoh sakti kaum sesat itu tak mungkin lagi untuk dihindarkan semuanya.

Dengan pekikan dahsyat ia memutar sulingnya, menggerakan jurus Dewi Kwan-im Membuka Payung, sedangkan tangan kirinya menolak datangnya hawa pukulan dari Hok Losu dan Bu-tek Sianli.

Sementara sulingnya berkelebat cepat memutar, melindungi tubuh dari serangan senjata-senjata lawan yang bergerak dengan serentak.

"Desss!"

Tubuh Ho Siang terpental akibat pukulan yang luar biasa hebatnya dari Bu-tek Sianli dan Hok Losu, tulang pundaknya terhantam pukulan tongkat dari pengemis baju kembang yang tak keburu ia tangkis dengan sulingnya.

Amat kerasnya hawa pukulan dari dua orang sakti itu, membuat Ho Siang memuntahkan darah segar tiga kali.

Wajahnya menjadi pucat seperti kertas.

Dadanya terasa nyeri bukan main, cepat ia berdiri dan terhuyung-huyung.

"He he he, pemuda brandal......., sekarang kau harus mampus!"

Sebuah pukulan lagi dari Bu-tek Sianli menerjang dahsyat.

Saking kerasnya suara angin berciutan dan belum lagi tangan Bu-tek Sianli menyentuh tubuh pemuda itu, tubuh Ho Siang terlempar keras dan muntahkan darah lagi.

"Singg!"

Suara pedang terdengar tertarik dari tangan Bu-tek Sianli. Inilah pedang simpanan yang jarang sekali ia pergunakan. Pedang Toat-beng-kiam! "Mampuslah kau, binatang!"

Saking marahnya Nenek dari Sian-lipay ini menerjang dengan pedang terhunus dan tubuhnya melayang ke arah dada Ho Siang.

"Trangg!"

Bunga api berpijar terang oleh cahaya dua buah logam yang beradu dengan amat kerasnya.

Bu-tek Sianli terhuyunghuyung mundur.

Matanya membelalak memandang seorang kakek yang tahu-tahu bersila di depan Ho Siang.

Kakek ini sudah amat tua sekali, berusia hampir delapanpuluh tahun.

Rambutnya sudah putih semua, berpakaian amat sederhana terbuat dari bahan kain yang kasar.

Dan kedua kakinya buntung sebatas dengkul!

"Heng San........?"

Suara Bu-tek Sianli tergetar memandang kakek yang kedua, kakinya buntung. Ia memandang dengan tak berkedip, seakan-akan tidak percaya akan penglihatan matanya.

"Wi Nio.......Wiwi........ kau........!"

Orang tua kaki buntung itu berkata gagap, pandangan matanya menatap Bu-tek Sianli dengan tatapan sayu.

"Heng San....... mengapa kau mencampuri urusanku?"

"Wi....... wi......., kesadaran adalah jalan menuju kekalahan, tak sadar adalah jalan ke arah kematian. Mereka yang tak sadar tak akan mati........ Wiwi........ aku mengajak kembali ke gunung, mencari penerangan abadi dan hidup sebagaimana yang mesti kita wajib hidup, akan tetapi betapa sesatnya kalau kita hidup ini hanya untuk merusak........ Sadarlah Wiwi bahwa perbuatanmu untuk menguasai daratan Tiongkok hanyalah angan-angan belaka, biarlah kau menguasai dirimu sendiri.......barulah itu bijaksana."

"Wah, filosof apa ini........ Pay-cu siapakah orang ini?"

Hok Losu bertanya dengan pandangan heran dan terkejut.

Ia sendiri tadi tak mengerti bagaimana caranya orang ini menolong pemuda itu dari terjangan pedang yang amat dahsyat dari Bu-tek Sianli?

"Heng San, pergilah.......

antara aku dan kau tak ada hubungan apa-apa bukan?

Mengapa kau datang ke tempat ini.......?"

Nada suara Bu-tek Sianli mulai tak senang. Akan tetapi ia merasa segan juga kepada kakek kaki buntung ini.

"Wiwi....... sadarlah bahwa engkau telah memilih jalan yang sesat, engkau menutup hati dan menulikan telinga bagi rakyat di luar kota Wu-nian yang tengah menjerit-jerit kelaparan dan ratap tangis sepanjang hari. Engkau....... ahhh, Wiwi....... kembalilah kepadaku....... ingin aku berbicara banyak kepadamu......."

"Heng San! Kau berbicara macam apa? Sudah kukatakan bahwa aku dan engkau tidak ada hubungan apa-apa. Cihh! Masih saja seperti dulu, lemah dan....... ah sudahlah........ pergilah kau!"

"Aku akan pergi....... setelah bersamamu........"

Suara kakek buntung ini terdengar sayu.

Ho Siang yang terluka dalam di dadanya merasa heran mendengar adegan antara si Nenek dan si Kakek buntung.

Siapakah kakek ini?

Kakek sakti yang telah menolongnya dengan cara yang luar biasa, dan ia merasa benar, setelah dadanya seperti ada yang menepuk tadi, terasa dadanya tidak sesak seperti tadi dan setelah mengerahkan hawa murni di dada, ia merasa segar kembali.

Diam-diam ia mendengar terus, pura-pura masih dalam keadaan terluka.

Apabila melihat kedua kaki si kakek yang buntung sebatas pundak, hibalah rasa hatinya.

"Heng San....... apakah kau tidak tahu diri masih menaruh harapan kepadaku, sungguh lucu, setelah kita menjadi kakek-kakek dan nenek engkau masih saja bersikap romantis....... hik hik, Heng San apakah tahu....... bahwa sesungguhnya aku tidak menaruh cinta secuilpun terhadapmu?"

"Aku sudah melupakan itu, Wiwi……!"

"Nah, kalau kau sudah lupakan aku. Mengapa kau mencampuri urusanku. Heng San, perlukah kau....... sebelum kepalanku ini naik darah dan membunuhmu!"

"Mengapa ada gelak mana dapat orang sedangkan dunia ini penuh siksa kenapa kau tak cari wahai engkau yang terselubung kegelapan!"

Tawa? bergembira, dan noda, pelita.

"Bangsat pendeta gila, sinting gendeng, kata-kata apa pula yang kau keluarkan menghina Pay-cu? Lebih baik mampus!"

Serangkum angin besar menyambar dari dua telapak tangan Hok Losu yang merasa terkena sindir oleh kata-kata yang diucapkan oleh kakek buntung ini.

Ingin sekali dengan sekali hantam kakek buntung ini mampus dan agar hatinya menjadi lega dan tidak merdengar lagi kata-kata yang sesungguhnya amat memuakkan bagi pandangannya.

Memang aneh benar, Hok Losu pada hal adalah seorang hwesio agama Budha, akan tetapi karena memang hwesio muka hitam ini adalah hwesio sesat, tentu saja, mendengar ayat-ayat suci dari Kitab Dharmapala yang sesungguhnya ia hapal di luar kepala yang botak itu, merupakan tamparan bagi mukanya.

Maka tanpa menghiraukan Pay-cu Sian-li-pay ia sudah bergerak memukul kepala si kakek dengan pukulan yang amat dahsyat!

Akan tetapi aneh, seakan-akan tak dapat dipercaya oleh penglihatan mata.

Karena gelombang angin pukulan Hok Losu menyambar dada si kakek kaki buntung, tahu-tahu tubuh Hok Losu tergetar hebat dan cepat-cepat ia bersemedi mengerahkan hawa sin-kang.

Terasa dadanya bergetar hebat.

Wajahnya yang hitam menjadi pucat membelalak memandang kakek buntung itu!

"Barang siapa yang ingin mengenakan jubah kuning tanpa lebih dulu membersihkan diri dari kotoran bathin, yang tak mengerti kenyataan dan tak mengendalikan dirinya, maka tak layaklah dia memakai jubah kuning itu, tetapi barang siapa yang membuang kekotoran bathin, menjalani segala kebajikan, disiplin terhadap diri sendiri serta berbuat kebenaran, maka sesungguhnyalah ia layak menggunakan jubah kuning!" "Heng San, terlalu!

Kalau kau tidak mau pergi, terpaksa kedua tanganku ini yang akan mencabut nyawamu."

"Omitohud, mudah-mudahan Thian memberi jalan terang kepada Wiwi, biarlah aku akan pergi, dan membiarkan pemuda belakangku ini keluar bersamaku....... aku tak mampu berjalan lagi."

"Mana bisa, Heng San! Pemuda itu adalah tawananku, dan tidak boleh kau membawa dia.......!"

Bu-tek Sianli membantah.

"Aku bukan hendak membawanya, Wiwi, hanya aku hendak meminta tolong kepada orang muda ini untuk menggendongku, supaya aku bisa keluar dari tempatmu ini……"

Kakek Heng San menoleh kepada Ho Siang.

"Orang muda, mau kau menggendongku, menolongku keluar dari neraka ini?"

Ho Siang menjura.

"Tentu saja saya bersedia loocianpwe."

"Nah, Wiwi....... biarkan aku pergi…..!"

Bagaikan kapas tubuh kakek buntung itu mencelat ke punggung Ho Siang dan memegangi leher pemuda itu.

"Cepat, selagi masih ada kesempatan!"

Mendengar bisikan si kakek buntung ini, Ho Siang mencelat ke atas dan keluar menerobos dari balik daun jendela yang terbuka.

Bong Bong Siangjin dan Hok Losu dan ketua Hek-lian-pay hendak mengejar akan tetapi dengan penuh wibawa Bu-tek Sianli memerintah.

"Jangan ganggu dia!"

"Pay-cu....... pemuda itu, ia harus ditahan!"

Hok Losu membentak. "Hwesio tolol, pemuda itu sudah berada dalam tangan Sin-kun-butek Lim Heng San, apakah kalian mampu merampasnya?"

"Sin-kun-bu-tek??"

"Ya, dia itu Sin-kun-bu-tek. Hemm! Biar kedua kakinya sudah lumpuh, akan tetapi ia masih lihay. Sayang….. Kenapa waktu itu aku tidak membuntungi lengannya sekalian!"

Bu-tek Sianli berkata seakan-akan pada dirinya sendiri.

Walaupun demikian, ia masih merasa takut dan gentar terhadap kakek kaki buntung yang pernah menjadi kekasihnya.

Terkejut dan heran bukan main Ho Siang merasakan tubuh si kakek dalam gendongannya ini ringan sekali bagaikan kapas.

Bertambah heran hatinya begitu sampai di atas genting, dilihatnya banyak anak buah Hek-lian-pay, Hwa-ie-kay-pang dan Sian-li-pay pada menggeletak dalam keadaan tertotok seperti orang pingsan.

Pandangan mata pemuda itu mencari-cari Nyuk In yang telah mendahuluinya keluar.

Akan tetapi ia tidak melihat tubuh Nyuk In menggeletak di sana.

Ia menarik napas lega waktu si kakek Heng San berkata.

"Temanmu itu sudah lolos dan tengah menantimu di pinggir kota......."

Bagaimanakah dengan Nyuk In, Kong Hwat, Sin Thong dan Siauw Yang yang dikeroyok di atas genteng oleh orang-orang Hwa-iekay-pang yang cukup berkepandaian tinggi itu?

Untuk mengikuti pengalaman ke empat orang muda ini, baik kita mundur kembali ke belakang sebentar, seperti yang telah diceritakan pada bagian depan, Nyuk In yang berusaha untuk menolong Biauw Eng dan Hok Sun ternyata setelah sampai di atas genteng itu dihadang oleh banyak orang pengemis-pengemis Hwaie-kay-pang dan beberapa tokoh Hek-lian-pay dan gadis-gadis Sian-li-pay yang berkepandaian tinggi!

Pada Nyuk In tengah terdesak itu, muncul Sin-thong, beserta Siauw Yang dan tak lama kemudian disusul oleh berkelebatnya bayangan Kong Hwat yang memainkan jurus-jurus Fu-niu-santung-hoat (ilmu tongkat gunung Fu-niu) yang lihai itu.

Ke tiga orang muda ini mengamuk, merangsek memecahkan pengeroyokan terhadap seorang gadis.

Pedang Samurai Sin Thong berkelebat-kelebat dengan amat kuatnya, dengan diiringi bentakan-bentakan jurus-jurus karate dimainkan dengan tangan kirinya, sedangkan Siauw Yang tak kalah hebatnya pula, ia mainkan ilmu pedangnya dengan merangsek tiga orang gadis Sian-li-pay mendesaknya.

Melihat bahwa tiga orang muda ini datang membantunya, Nyuk In girang sekali hatinya.

Apalagi melihat Sin Thong dan Siauw In yang pernah ia kenal sewaktu mengunjungi pesta ulang tahun Lo Ban Theng dengan mainkan jurus kipas hitamnya menerjang lima orang Hwa-ie-kay-pang dengan hebat lagi.

Akan tetapi diam-diam gadis ini mengeluh, karena semakin lama semakin penuh tempat itu dikurung oleh orang-orang Hwa-ie-kaypang.

Apalagi setelah di situ muncul pemuda pemudi yang kelihatannya berotak miring yang sambil tertawa seperti orang gila mulai maju mengeroyok.

Terkejut bukan main gadis perkasa ini, apalagi ditambah dengan munculnya sepasang kakek nenek yang dikenal dengan julukan Jing-tok-siang-lomo (Iblis Tua Racun Hijau), maka lama kelamaan Nyuk In menjadi kewalahan juga dan terdesak oleh sambaransambaran pukulan yang ganas dari Jing-tok-siang-lomo, A Mey dan A Thiong.

Di lain pihak, Kong Hwat juga mulai terdesak oleh munculnya nenek Sianli Ku-koay yang telah mencelat ke atas dan diikuti oleh seorang perwira bercambuk hitam Oey Goan dan beberapa perajurit pilihan yang mengepungnya.

Ia benar-benar menjadi terdesak hebat, berkali-kali tongkatnya beradu dengan tongkat Sianli Ku-koay, ia terhuyung-huyung dan kuda-kudanya tergempur.

Tiba-tiba telinganya mendengar pekik kesakitan dan begitu ia menoleh alangkah kagetnya hati pemuda itu melihat gadis cantik yang datang membantunya telah terpental ke belakang oleh pukulan tongkat kakek pengemis baju kembang yang menggerakan tongkatnya menotok dada kiri si gadis.

Siauw Yang terhuyung ke belakang dan dari bibirnya mengeluarkan darah.

Kong Hwat menggerakan tongkatnya hendak menolong gadis itu, akan tetapi sebuah sinar perak panjang berkeredep dan tahu-tahu Sin Thong sudah menyambar tubuh Siauw Yang dan menggerakan pedang samurainya mengirim sabetan ke arah tongkat lawan dan mencelat ke belakang.

"Siauw Yang....... tidak apa-apa kau?"

Sin Thong bertanya dengan nada kuatir menyusut darah yang mengalir dari cela-cela mulut gadis itu.

Wajah Siauw Yang menjadi pucat.

Lima orang perajurit kerajaan menerjang maju, dipimpin oleh Oey Goan sambil membentak keras mengirim serangan cambuk.

Sin Thong menjadi marah sekali, waktu cambuk itu meluncur ia mengangkat pedangnya membabat, pedang itu terbelit cambuk akan tetapi dengan gerakan amat cepat dan diiringi bentakan keras tangan kiri pemuda cebol itu melakukan pukulan karate dengan telapak tangan kiri dimiringkan, dibarengi dengan tendangantendangan yang meluncur dengan dahsyat mendupak dada Oey Goan.

"Dess! Siiiing!"

Tubuh kepala perwira itu terpental ke belakang, pedang samurai pemuda cebol itu terlempar oleh tarikan cambuk yang amat kuat, cepat tubuh Sin Thong berkelebat dan menyambar pedang samurai yang masih melayang di udara, kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya dari udara, tubuhnya meluncur ke bawah dengan pedang menusuk ke dada Oey Goan yang terjengkang tadi.

Amat cepatnya gerakan ini, perwira itu tak dapat lagi berkelit, pedang samurai Sin Thong menamblas dada Oey Goan, terdengar teriakan ngeri.

Darah merah muncrat ke atas bagaikan air pancuran.

Dua orang perwira berseru marah.

"Pemuda cebol, berani kau membunuh pemimpin kami, mampuslah!"

Golok dan pedang menyambar berkeredep dengan cepatnya.

Akan tetapi, sungguh luar biasa pemuda ini, begitu ia menjongkokan tubuhnya pedang samurai berkelebat ke belakang.

Terdengar jeritan ngeri.

Dua perwira sudah kehilangan lengannya, terbabat putus oleh ketajaman pedang samurai Sin Thong yang menggunakan jurus aneh tadi!

Sin Thong memandang kepada Siauw Yang dengan girang dan wajahnya berseri.

Ia mainkan pedangnya lagi, mendekati Siauw Yang untuk melindungi gadis pujaan hatinya yang telah terluka di dada sebelah dalam.

Akan tetapi pada saat itu, dari bawah datang pula rombongan kakek-kakek pengemis Hwa-ie-kay-pang dan di depan sekali nampak seorang pendeta Lhama yang berkepala gundul lari mencelat bagaikan terbang cepatnya.

Pendeta Lhama ini, langsung saja menyerang Sin Thong dan sebagian pengemis Hwaie-kay-pang mengurung tempat dengan ketat…...

Ketika pendeta Lhama berada di depan Sin Thong, pemuda cebol ini melihat bahwa Lhama ini bertubuh tinggi sekali dan bermata biru, sedangkan jubahnya yang lebar itu berwarna kuning.

Pendeta Lhama ini memegang sebuah tongkat panjang yang ujungnya dipasangi kaitan besi yang berkilau karena tajamnya.

Lhama ini berdiri sambil bertolak pinggang.

"Berani benar kau mengacau Hwa-ie-kay-pang? Apakah kalian ini sudah bosan hidup, sehingga ingin mencari mati memasuki sarang harimau dan lubang naga?"

Sin Thong menjura.

"Tidak tahu siapakah Losuhu yang mulia ini?" "Tentu saja kalian yang masih hijau mana mengenal aku, hayo kalian menyerah! Kalau tidak kematian akan menjemput kalian. Pek Pek Hoatsu akan mencabut nyawa kalian....... ha ha ha!"

"Setan, tidak tahunya kau adalah Pek Pek Hoatsu, pendeta gadungan bangsat, biarlah aku, Go Sin Thong mengadu nyawa denganmu."

Bentakan Sin Thong ini disertai sabetan pedang samurai dengan amat kuatnya.

Akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika begitu pedangnya membabat pinggang lawan, tahu-tahu tongkat panjang pendeta Lhama itu sudah menempel di pedang itu dan tak dapat ditarik kembali.

Begitu pendeta Lhama itu menggerakan ujung jubahnya, tahu-tahu tubuh Sin Thong telah terpental oleh pukulan jubah kuning yang lihay pada pundak Sin Thong.

"Haa…. haa, anak muda pada nggak tahu diri….. Masih begini muda sudah berani memasuki sarang naga dan harimau hee… hee. Eh! Hay Tok, coba kau lawan pemuda cebol itu!!"

Pendeta Lhama itu berkata kepada seorang muridnya yang bernama Hay Tok.

Anak muda ini dari Tibet bertubuh tinggi besar, kekar dan kedua tangannya berbulu, kepalanya besar dan matanya lebar berwarna biru.

Dengan sikap sombong pemuda Hay Tok ini mengeluarkan cambuk hitamnya.

"Biar teecu memberi hukuman seratus cambuk kepadanya haa…. haa!"

Terdengar suara cambuk melecut di udara.

Pada saat itu, entah dari mana datangnya tahu-tahu disitu telah berdiri seorang kakek yang kedua kakinya buntung sebatas dengkul, dan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu cambuk Hay Tok sudah terlepas sebelum mengenai tubuh pemuda cebol itu.

"Kosongkanlah perahumu, duhai Bikhsu, bila telah dikosongkan ia akan laju dengan pesatnya. Setelah memutuskan nafsu dan kebencian barulah akan mencapai kebebasan…… Pek Pek Hoatsu, kembalilah ke puncak….. Ikutilah delapan jalan utama."

Melihat kakek buntung tahu-tahu telah berdiri di atas wuwungan menggunakan dengkulnya sebagai telapak kaki, sehingga tubuhnya kelihatan pendek seperti anak kecil dan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu telah merampas cambuk Hay Tok, Pek Pek Hoatsu yang tidak mengenal kakek buntung menjadi marah dan membentak keras.

"Orang tua, siapa kau?"

"Biarlah orang menghindari marah, biarlah ia melepaskan kesombongan. Biarlah ia memutuskan segala ikatan-ikatan duniawi. Tiada penderitaan yang menimpah orang yang terikat oleh NAMA dan RUPA, yang tak mengakui sesuatu benda sebagai miliknya…….!"

"Ha ha ha, orang tua gila…... engkau berkata apa pula itu. Engkau ini pendeta bukan, hwesio bukan........ seenaknya saja menguraikan ayat-ayat dari kitab Dharmapada. Untuk ini saja aku harus memberi hukuman kepada manusia yang begitu serampangan berbicara tentang ayat-ayat suci. Hemm, orang tua buntung, sesungguhnya siapakah kau?"

"Aku, ya aku, siapapun aku tiada seorang manusia yang mengenali diriku, jangan kau orang lain, sedangkan aku sendiri, tak mengenal siapakah sesungguhnya aku!"

"Ayaa, kau ini benar-benar sudah sinting! Dirimu sendiri saja sudah tidak kau kenali, apalagi kalau bukan kau telah menjadi gila, ha ha ha, orang tua! Hanya orang gilalah yang sudah tidak dapat mengenal dirinya sendiri."

"Suhu, mengapa meladeni si Buntung ini, sikat saja muak teecu mendengarkan omongannya yang tidak keruan itu!"

Hay Tok menjadi marah melihat suhunya mau meladeni orang kakek buntung ini.

Kalau saja ia tidak ingat bahwa kakek ini demikian sakti tentu ia akan menggebrak kakek ini dan memukul sekali mati!

Kakek kaki buntung itu menoleh kepada Sin Thong dan Siauw Yang dan berkata.

"Kalian pergilah, teman-temanmu sudah menanti kalian di pinggir kota!"

Bagaikan orang yang baru sadar, Sin Thong dan Siauw Yang memandang ke sekeliling dan apa yang mereka lihat, semua para pengemis Hwa-ie-kay-pang dan gadis-gadis Sian-li-pay menggeletak di atas genteng dalam keadaan seperti orang tidur nyenyak.

Juga nampak di tempat itu, Sianli Ku-koay dan Hek-sin-tung pangcu dalam keadaan seperti orang tertotok, tak dapat menggerakan tubuhnya.

Berdiri dalam posisi seperti orang hendak menyerang, sedangkan anak buah Hek-sin-tung menggeletak di genteng malang melintang.

pangcu Sesungguhnya apakah yang terjadi?

Waktu Nyuk In, Kong Hwat dikeroyok oleh banyak orang-orang Hwa-ie-kay-pang dan telah terdesak hebat, tiba-tiba entah bagaimana caranya tahu-tahu para penyerang yang terdiri dari orang-orang Hwa-ie-kay-pang, Hek-lian-pay dan Sian-li-pay menjadi seperti orang kehilangan semangat dan satu persatu melepaskan senjatanya dan terhuyung-huyung ke belakang roboh dalam keadaan pingsan.

Tentu saja menjadi kejadian yang aneh ini, Sianli Ku-koay menjadi marah bukan main dan ia terus merangsek Nyuk In, mengirimkan serangan-serangan dahsyat yang mematikan.

Akan tetapi belum lagi lawannya itu menangkis tongkatnya, tahu-tahu serangkum angin lembut menyambar di belakangnya.

Keruan saja Nenek ini menjadi marah, mengira ada orang yang membokongnya dan sekali tangannya bergerak mendorong, terdengar suara keras.

Atap genting wuwungan menjadi hancur berantakan dan bersama dengan gerakannya itu, tahu-tahu sebuah benda kecil menyambar dan tepat menyentuh pundaknya, tak sempat lagi Nenek itu berkelit tahu-tahu tubuhnya menjadi lemas dan roboh!

Nyuk In menjadi keheranan melihat kejadian ini.

Terdengar suara lembut, seakan-akan berbisik di dekat telinganya, amat pelan suara itu, akan tetapi jelas terdengar olehnya.

"Nona, cepat lari.......

Bawa kedua temanmu yang telah terbius oleh racun ketua Hwa-ie-kay-pang dan yang telah kehilangan ingatannya, jangan perdulikan lagi mereka yang masih bertempur, cepatlah.....

Lari ke pinggir kota, di sana ada kelenteng tua, biar aku menolong pemuda murid Nakayarvia, jangan terlambat, selagi masih ada kesempatan…..

cepat!"

Tahulah Nyuk In bahwa diam-diam ada orang yang telah menolongnya maka dengan gerakan yang gesit ia menyambar tubuh Hok Sun dan Biauw Eng dan berlari meninggalkan gedung Hwa-ie-kay-pang itu.

Demikianlah, tak lama bayangan Nyuk In berkelebat lenyap, sesosok tubuh telah mencelat ke arah pertempuran di sebelah kanan dan seperti yang telah dituturkan pada bagian depan kakek buntung ini berhasil menolong Kong Hwat dari tangan Pek Pek Hoatsu dan muridnya!

Melihat bahwa kakek buntung ini tentu seorang sakti, tanpa membuang waktu lagi Sin Thong menarik tangan Siauw Yang.

"Mari kita pergi!"

Sin Thong dan Siauw Yang berkelebat. Terdengar suara Pek Pek Hoatsu mengguntur dahsyat.

"Anak muda, jangan lari!"

Tubuh pendeta Lhama itu mencelat mengejar kedua orang muda yang berkelebat hilang ditelan gelap, akan tetapi begitu tangan kiri kakek buntung terangkat, bagaikan ada tenaga yang amat dahsyat yang telah menahan Pek Pek Hoatsu, membuat pendeta Lhama ini menahan tubuhnya dan menoleh.

"Orang tua gila, apakah kau bosan hidup?"

"Pek Pek Hoatsu, kau ini seorang pendeta. Masakan tidak mengerti akan mati dan hidup? Siapakah orangnya yang dapat menentukan hidup matinya seseorang? Ibarat kematian itu seperti seorang pencuri yang datang dengan tiba-tiba, entah siang, entah malam, entah besok, entah lusa, he! Mengapa kau bisa menentukan aku sudah bosan hidup? Seandainya aku bosan hidup, tapi kalau nyawa ini masih beta tinggal di tubuhku yang tua ini, siapapun tiada yang dapat menentukan kematianku!"

"Keparat, aku yang akan menentukan kematianmu. Hari ini kau harus mampus!"

Sambil membentak keras Pek Pek Hoatsu menggerakan tongkat panjang, menyabet kepala si kakek buntung itu.

"Wuuut,"

Tongkat itu melesat di atas kepala si kakek buntung.

Begitu tangan kiri kakek itu bergerak mendorong, tahu-tahu tubuh Pek Pek Hoat-su yang tinggi besar itu sudah terpental dalam keadaan tertotok oleh angin pukulan yang dahsyat yang menyambar dari tangan kiri.

Keruan saja pendeta Lhama itu bergulingan, tubuhnya bergedebuk jatuh di tanah.

Sementara itu Hay Tok menjadi marah bukan main, dengan sekali berkelebat tubuhnya melayang mengirim pukulan maut ke arah dada si kakek kaki buntung.

Nampak kakek itu hanya meramkan mata dan membiarkan dadanya terhantam pukulan si kakek.

"Desss, weeert!"

Hebat sekali pukulan yang berat dari tangan kanan Hay Tok yang penuh bulu itu.

Akan tetapi, bukan si kakek kaki buntung itu yang terpental, melainkan tubuh Hay Tok itulah yang roboh di depan si kakek, seperti orang berlutut tak bergerak lagi dalam keadaan tertotok.

Hening sekali suasana di atas genteng itu.

Tubuh si kakek kaki buntung berkelebat dan langsung memasuki sebuah gedung besar bercat merah dan secara kebetulan sekali kedatangannya ini menolong Ho Siang yang tengah terancam di tangan Bu-tek Sianli dan tokoh-tokoh kaum hitam yang lihai itu!

Dan Ho Siang berhasil keluar dari gedung sambil memondong tubuh si kakek kaki buntung dan berkelebat lenyap dari balik gedung tinggi yang gelap oleh sinar bulan yang tersembunyi di balik segumpalan awan hitam!

Angin dingin menerjang.

Malam semakin panjang!

◄Y► Sin Thong menarik tangan Siauw Yang dan berlari cepat keluar dari gedung Hwa-ie-kay-pang dan terus ia berkelebat ke arah pintu gerbang kota dan tiba di sebuah kelenteng tua.

Nampak sebuah lilin menyala menerangi ruang dalam dengan samar-samar.

Cepat mereka itu masuk ke dalam.

Betullah seperti apa yang dikatakan oleh kakek kaki buntung bahwa di dalam kelenteng itu telah menanti Nyuk In, yang tengah mencoba mengobati Biauw Eng dan Hok Sun yang telah hilang ingatannya dan kelihatan seperti orang bodoh itu.

Melihat kedua orang muda yang masuk, Nyuk In mengenal dua orang yang menolongnya tadi, segera ia mengangkat tangannya dan menjura.

"Terima kasih atas pertolongan kalian, mari silahkan masuk!"

"Jangan kau berterima kasih kepada kami Nona, yang menolong kita adalah kakek kaki buntung yang aneh itu……."

"Ooo, dia!"

Nyuk In yang sesungguhnya tidak melihat penolongnya tadi hanya mengangguk-angguk saja.

Teringat ia akan suara yang pernah didengarnya.

Mungkin suara yang lembut yang didengarnya itu adalah suara kakek kaki buntung?

"Mana kakek kaki buntung yang menolong kita tadi?"

"Dia masih di sana, kami hanya disuruh cepat-cepat pergi dan berkumpul di sini,"

Sahut Siauw Yang. Begitu melihat wajah gadis itu nampak pucat dan nampak noda darah pada bajunya, segera Nyuk In berkata kaget.

"Kau terluka......... mari kuperiksa lukamu, Nona!"

"Tidak seberapa, luka ringan saja. Aku sudah telan obat dan tidak berbahaya, terima kasih!"

Siauw Yang menjura.

Tentu saja Nyuk In tidak tahu bahwa Siauw Yang adalah puteri Yok-ong Lo Ban Theng, si raja obat.

Sudah barang tentu sedikitsedikitnya puterinya ini dapat mengerti hal pengobatan.

Begitu Nyuk In teringat.

"Nona, temanku ini bernama Lo Siauw Yang, puteri Yok-ong Lo Ban Theng dan…... aku, Go Sin Thong murid sin-she Kwa…. dan......."

Nyuk In tersenyum. Teringat ia sekarang kepada dua orang muda ini. Pernah belum lama ini ia mengunjungi pesta ulang tahun Yokong Lo Ban Theng. Tentu saja ia jadi mengenal Siauw Yang dan Sin Thong.

"Oo, kalian adalah Siauw Yang siocia dan Sin Thong tayhiap, maafkan aku agak lupa. Oya, namaku Cung Nyuk In, dan mereka itu adalah Sie Biauw Eng dan Lim Hok Sun, dari Kotaraja......."

Kata Nyuk In sambil menunjuk ke arah Biauw Eng dan Hok Sun yang memandang mereka dengan pandangan bodoh seperti orang kehilangan semangat.

Sekali lihat saja, tahulah Siauw Yang, bahwa kedua orang muda ini mendapat serangan pada syarafnya.

Dengan terheran ia memandang kepada Nyuk In.

"Mereka ini tertawan oleh Hwa-ie-kay-pang. Tadinya aku juga tertawan oleh mereka, akan tetapi untung aku belum sempat diracuni oleh orang-orang Hwa-ie-kay-pang yang kejam itu, sayang....... Siang koko belum datang, kalau ada tentu Biauw Eng dan Hok Sun dapat disembuhkan…..!" "Siang-koko....... siapa?"

Sin Thong bertanya.

"Dia temanku. Namanya Ho Siang, murid Nakayarvia……."

"Oo, pemuda tinggi kurus yang bersenjata suling hitam itu?"

Hampir berbareng Sin Thong dan Siauw Yang bertanya.

"Ya betul, dia itulah!"

"Nyuk In cici........ dimana Ho Siang, apakah ia hendak kemari?"

Tanya Sin Thong.

"Entahlah, Saudara Sin Thong, waktu aku keluar dari gedung Hwaie-kay-pang itu Siang-koko masih bertempur dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang-orangnya, entah bagaimana nasib Siangkoko…...?"

Nyuk In berkata perlahan.

Nada suaranya penuh cemas dan kuatir.

Kalau saja tidak bermaksud menolong kedua temannya, Biauw Eng dan Hok Sun yang kelihatannya amat menguatirkan ini, tentu Nyuk In akan membantu Ho Siang mengamuk melawan orang-orang Hwa-iekay-pang!

"Mudah-mudahan pemuda itu dapat meloloskan diri……!"

"Tentu, ia akan dapat....... eh… siapa itu?"

Siauw Yang menunjuk ke pintu.

Sesosok tubuh berkelebat masuk dan kalau saja di situ tidak ada Sin Thong dan Siauw Yang, ingin sekali Nyuk In memeluk orang yang datang itu.

Akan tetapi dengan girang ia berseru.

"Siang koko!" Ternyata yang datang adalah Ho Siang dan si kakek kaki buntung yang menolongnya. Ho Siang meletakkan tubuh kakek di atas sebuah bangku dan ia berlutut.

"Terima kasih atas pertolongan locianpwe pada kami!"

"Bangunlah orang muda....... tak perlu kau berlutut seperti itu kepadaku, aku bukan dewa yang harus disembah, aku hanya seorang tua tuna tetra....... eh, dua orang muda itu....... hem......."

Si kakek kaki buntung menoleh kepada Biauw Eng dan Hok Sun yang memandangnya seperti orang bodoh.

"Ke marilah kalian!"

Suara kakek itu berwibawa, bergetar aneh.

Dan bagaikan sebuah robot yang dikendalikan oleh tenaga lain dua orang itu, Hok Sun dan Biauw Eng maju melangkah menghampiri si kakek.

Sinar mata si kakek kaki buntung menatap tajam kepada Hok Sun dan Biauw Eng dan akhirnya orang tua itu berkata perlahan.

"Sungguh keji dan ganas!"

"Locianpwe....... kedua saudara itu…. tentu keracunan dan sikapnya tidak wajar......."

Nyuk In berkata sambil mengawasi Biauw Eng dan Hok Sun.

"Mereka terserang racun ular hijau, hemm, berbahaya sekali kalau dibiarkan, akan menjalar mengganggu otak dan tentu akan gila akibatnya!"

Kakek kaki buntung menoleh kepada Ho Siang.

"Orang muda, kau murid Nakayarvia dapatkah kau menolong dua orang muda yang terkena racun ular hijau?" Bertanya begini, si kakek kaki buntung teringat kepada Nakayarvia, pendeta India mahir dalam pengobatan penyakit-penyakit yang terserang oleh segala macam racun ular! Waktu ia melawat ke India, pernah sekali kakek buntung yang pada puluhan tahun yang lalu berjuluk Sin-kun-bu-tek ini, dan pernah ditolong oleh Nakayarvia, waktu ia terkena gigitan ular cobra yang berbisa. Dan, tentu saja kalau gurunya mahir dalam segala macam racun, masakan muridnya tidak? pikir kakek buntung ini. Ho Siang memandang mata Biauw Eng. Sekilas saja dapat mengetahui bahwa dua orang muda ini telah keracunan bisa ular hijau yang luar biasa itu, maka dengan sikap hormat ia berkata kepada si kakek buntung.

"Teecu yang bodoh, akan mencobanya……!"

"Nah, lakukanlah itu….. eh, siapa namamu?"

"Teecu bernama Ho Siang, she Khu!"

Sahut Ho Siang.

Si kakek buntung mengangguk-anggukan kepalanya.

Ia lantas meramkan mata dan tak lama kemudian telah tenggelam dalam siulannya.

Ho Siang tak mau mengganggu, ia lantas menghampiri Biauw Eng dan Hok Sun.

Sekali tangannya bergerak tahu-tahu tubuh Hok Sun dan Biauw Eng telah tertotok dan roboh.

"In-moay, bawa pemuda itu ke ruang dalam dan baringkan di situ,"

Berkata Ho Siang, Siauw Yang dan Sin Thong mengikuti ke ruang dalam. "Yang-moay, kau bantulah Siang-toako, sedikitnya kau mengerti pengobatan. Biar aku tunggu di sini!"

Siauw Yang tak berkata apa-apa, ia mengikuti Nyuk In ke dalam. Tak lama kemudian, baru saja ke tiga orang muda itu masuk ke ruang dalam, Kong Hwat mendatangi.

"Maaf saudara, apakah saudara Ho Siang sudah sampai ke tempat ini?"

Datang-datang Kong Hwat bertanya kepada pemuda cebol. Sin Thong membalas menjura dengan sikap hormat.

"Siang-twako sedang mengobati dua orang teman di ruang dalam, sahabat ini siapakah?"

"Saja Kong Hwat, syukur kalian telah dapat lolos dari gedung neraka Hwa-ie-kay-pang itu……."

Begitu Kong Hwat menoleh kepada kakek kaki buntung yang sedang bersiulan, ingin ia berbicara akan tetapi Sin Thong mencegahnya.

"Sttt, jangan ganggu dia!!"

Melihat kedua kaki kakek ini sudah buntung sebatas dengkul dan nampak pada wajah yang tua itu penuh dengan keriput dan menampakkan garis-garis penderitaan bathin yang amat hebat, rambutnya sudah putih semua, kakek itu tengah tenggelam dalam siulannya.

Tubuhnya tak bergerak seperti patung, hanya pernapasannya itulah yang kelihatan naik turun amat lambat.

Melihat kakek ini, sangat iba hati Kong Hwat!

Ia tak mengganggu kakek kaki buntung itu dan sampai hampir menjelang pagi, ia mengobrol dengan Sin Thong.

Ternyata pemuda cebol ini doyan sekali bercerita.

Sehingga tanpa mereka sadari, hari hampir menyelang pagi.

Kokok ayam hutan terdengar bersahutan menyambut datangnya pagi hari.

Sinar matahari angkat sayapnya memancar hangat mengusir kegelapan malam dan memberi isyarat kepada manusia di bumi bahwa tugas di depan sedang menanti!!!

Bersamaan dengan keluarnya Ho Siang, Nyuk In, Siauw Yang, Biauw Eng dan Hok Sun yang sudah mulai sadar, kakek kaki buntung itupun membuka matanya dan pandangannya menyapu tubuh ke tujuh orang muda yang sedang berlutut.

Apabila pandangannya itu menatap Biauw Eng dan Hok Sun, ia menarik napas lega, suaranya perlahan sekali.

"Syukurlah kalian selamat!"

"Locianpwee........ Terima kasih atas pertolonganmu itu."

"Syukur kau sudah sembuh, hemm! Nona apakah kau ini puteri Sie Tayjin dari Kotaraja??"

Tanya kakek itu memandang ke arah Sie Biauw Eng.

"Betul locianpwee, saja adalah puteri Sie Tayjin!"

"Bagus!!"

Kata si kakek kaki buntung memejamkan matanya.

"Kalian adalah orang muda yang telah bersatu dan berkenalan satu sama lain…..

dan tanpa kalian sadari, kalian telah saling tolong menolong.......

Itulah baik sekali, karena barang siapa yang tidak ada perhatian kepada sesamanya tidak hanya mengalami banyak kesukaran-kesukaran dalam kehidupannya sendiri, akan tetapi juga akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dalam kehidupannya sendiri dan lingkungannya.

Benarlah seperti orangorang tua mengatakan.

"Bersikaplah ramah tamah, lupakan diri sendiri, ingatlah kepada orang lain…… dan perhatikan orang lain....... berbahagialah barang siapa yang mengikuti hukum ini!"

Ho Siang menjura dan berkata.

"Maaf…..

Locianpwee…..

kalau tidak salah, ucapan locianpwee tadi adalah ujar-ujar dari Nabi Kong Cu.......

akan tetapi, apa maksudnya LUPAKAN DIRI SENDIRI, karena menurut pendapat saya yang bodoh, malah sebaliknya.

Karena kita dikurniai oleh Thian tubuh yang sehat, sempurna dan sebagaimana adanya, maka kita berhak untuk memperhatikan keadaan diri sendiri, menjaganya, melindungi, memberi makan, agar tubuh ini merupakan sebuah pesawat untuk kelangsungan hidup kita, dan memberikan hal-hal yang berguna untuk kita dan sesama manusia.

"Coba bayangkan, kalau kita tidak memperhatikan diri kita, membiarkan tubuh ini kotor dan rusak, akhirnya bersarang berbagai macam penyakit, dan mana dapat diharapkan untuk menjadi sebuah pesawat yang berguna?"

"Betul katamu anak muda, memang harus memperhatikan diri kita, secara jasmani.......

akan tetapi berapa banyak kah manusia yang memperhatikan dirinya secara rohani?

Dus, karena terlalu cenderungnya manusia kita ini memperhatikan diri hanya dari segi jasmani, sehingga si kita.

"Aku ini menonjol.

Aku inilah yang menguasai jasmani, menyelimuti hati, dan tanpa kita sadari, si aku ini menjadi raja kesombongan, mengingini kemuliaan tertinggi, tamak dan ingin diperhatikan orang lain dan selalu berkata.

LIHATLAH AKU INI!

padahal ia itu tidak tahu, hai manusia siapakah engkau ini?

Dalam keadaan apakah engkau kini?

Dan dalam berapa lamakah engkau bertahan hidup menumpang di dunia ini…..

Ooo, apabila hari Tuhan itu datang, kuasakah engkau menepuk dada sendiri berkata.

"LIHATLAH AKU!"

Ho Siang, Nyuk In, Siauw Yang, Sin Thong dan yang lainnya, tidak berani menentang pandangan si kakek buntung dan mereka tertunduk, tenggelam dalam alunan filsafat yang dikeluarkan oleh kakek ini.

Sebetulnya ingin sekali Ho Siang membuka mulut, akan tetapi didengarnya si kakek sudah mulai berkata lagi.

"Benarlah ucapan Sang Budha yang mengatakan demikian. Duhai Brahmana, putuskanlah aliran itu (kecendrungan melihat diri sendiri, kerahkanlah tenagamu, enyahkanlah nafsu-nafsu, setelah mengetahui ketidak kekalan semua unsur-unsur yang berbentuk (unsur-unsur) kehidupan, engkau akan mengenal yang tak diciptakan, Duhai Brahmana!"

Suasana di dalam kalenteng tua itu hening sekali, suara kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi amat keras sekali terdengar.

Sementara matahari merangkak ke atas menyebarkan cahayanya yang berkilat kemilau laksana tebaran emas mutiara.

"Mohon petunjukmu....... bagi kami yang dangkal pengetahuan ini….. locianpwee,"

Terdengar suara Ho Siang. Pemuda ini kagum sekali akan kakek kaki buntung yang luas pandangannya. "

Tiada seorang yang tidak berpengetahuan, Thian memberikan kita otak untuk berpikir, dan segala keadaan adalah hasil dari pada yang kita telah pikirkan.

Berdasarkan atas pikiran kita dan dibentuk oleh pikiran kita, kalian tentu sudah mendengar bukan?

"Rakyat kecil di sepanjang sungai Sin-kiang menjerit-jerit menahan lapar.

Bencana banjir di Tiongkok selatan belum lagi dapat ditanggulangi oleh Pemerintah Pusat.

"Kini muncul lagi bahaya kelaparan di dusun-dusun sepanjang sungai Sin-kiang. Ratusan ribu manusia sudah mati kelaparan, jutaan manusia yang telah kehilangan tempat berteduh dan kehilangan harta miliknya akibat banjir besar di Tiongkok Selatan yang menghanyutkan banyak rumah penduduk dan menenggelamkan ribuan manusia yang tak keburu menyelamatkan diri! "

Bisul penyakit di negara kita yang telah kalut, ditambah lagi kini dengan bermunculannya manusia berhati iblis yang secara diamdiam telah mengerahkan kekuatannya untuk menggempur pemerintah.

"Gerakan ini sangat mengancam daratan Tiongkok, karena pengkhianat-pengkhianat bermunculan di sana sini. Pasukan Mongol yang dipimpin oleh Khu Bilay Khan sedang memasang mata untuk melihat keruntuhan ini dan siap menduduki pemerintahan……"

"Jadi, apakah yang harus kami lakukan locianpwe…... siapakah pengkhianat bangsa itu, biar teecu yang menghancurkan kepalanya….!"

Kata Kong Hwat yang tergerak sekali mendengar cerita si kakek kaki buntung yang biarpun kelihatannya seperti orang tanpadaksa, akan tetapi bagaikan mempunyai seribu mata dan seribu telinga.

"Aku tahu mereka, akan tetapi tak boleh aku membuka rahasia ini di depan kalian. Aku tak ingin berkhianat, dan tak ingin pula mencampuri diri melibatkan dengan urusan politik, akan tetapi....... kalian patut mengetahui ini, karena kepada kalianlah tergantung harapan untuk masa datang bagi kalangan pemerintahan Tiongkok....... O ya, orang muda murid Nakayarvia, aku lupa namamu, siapa?"

"Saja Ho Siang, she Khu!"

"Ho Siang, karena aku mengenal baik dengan gurumu si Nakayarvia itu, maka biarlah aku mewakili gurumu mengutus engkau untuk menyelidiki keadaan yang genting ini di Kotaraja.

Kau carilah seorang pembesar yang bernama Tan Su Ko, atau lebih dikenal dengan sebutan Tan-tayjin.

Nah, kau hubungilah orang itu!

Engkau akan mendapat berita banyak dari padanya.

"Setelah itu…… oh ya, tentu tayjin akan mengatur semua ini kepadamu, dan kalian orang muda yang lain, hati-hatihlah terhadap pergerakan Kay-pang dan awasilah Pay-cu Sian-lipay........ Nah, sampai di sini pesanku! Jadilah kalian orang-orang muda yang berjiwa patriot dan mengabdi kepada kepentingan sesama manusia dan bangsa selamat tinggal!"

Sesudah berkata demikian, amat cepat sekali gerakan kakek itu sehingga tanpa dapat dilihat lagi, tahu-tahu kakek kaki buntung itu sudah tidak berada di tempat lagi.

Sementara matahari sudah naik tinggi, menerangi ruangan di dalam kelenteng tua yang penuh dengan kabang-kabang dan tak terurus lagi!

◄Y► Sudah terlalu lama kita meninggalkan Song Cie Lay yang berada di puncak gunung Hong-san di bawah gemblengan tosu sakti Seng Thian Taysu.

Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, Song Cie Lay inilah murid Swie It Tianglo, satu-satunya murid mendiang Swie It Tianglo yang masih belum meninggalkan puncak Tiang-pek-san dan bertemu dengan supeknya Seng Thian Taysu, diterima sebagai murid selama hampir empat tahun!

Selama hampir empat tahun lamanya itu, Cie Lay digembleng oleh tosu sakti Seng Thian Taysu dengan ilmu silat ciptaannya yang bernama Hong-san-cap-jie-liong-sin-kun-hoat (Duabelas pukulan naga sakti dari gunung Hong-san).

Berkat ketekunan dan bakat yang luar biasa, selama hampir empat tahun itu, Cie Lay sudah dapat menguasai ilmu silat yang diturunkan suhunya dengan baik, malah lebih kuat dan cepat dari yang dimainkan oleh gurunya ini.

Girang bukan main Seng Thian Taysu melihat bakat yang luar biasa yang tertanam dalam diri muridnya ini, sehingga dengan penuh ketekunan dan kasih sayang yang besar, tosu ini melatih muridnya dengan luar biasa, sehingga empat tahun lewat dengan cepatnya.

Cie Lay telah menjadi seorang pemuda berusia duapuluh dua tahun, tubuhnya jangkung dan wajahnya tampan.

Dalam waktu empat tahun ini, kepandaian Cie Lay sudah meningkat tinggi.

Bakatnya yang luar biasa ini, membuat dalam waktu yang singkat kepandaian suhunya habis sudah dikuras dan dipindahkan ke dalam tubuh pemuda tampan ini.

Cie Lay benar-benar telah menjadi seorang pemuda yang matang, matang lahir dan bathin, karena disamping suhunya ini menurunkan ilmu silat tinggi, tak lupa pula tosu Hong-san ini menggembleng Cie Lay dengan ilmu kebathinan untuk sebagai pegangan dalam diri pemuda itu!

Pada suatu pagi, matahari baru saja mengintip dari balik punggung bukit.

Dan menyebar sinarnya yang merah keemasan dan bersinar cerah.

Seng Thian Taysu, yang nampak sudah kelihatan tua sekali duduk di depan muridnya, di halaman pondok sederhana yang banyak ditumbuhi oleh tetanaman yang masih basah diselimuti embun pagi.

"Cie Lay......."

Demikian Seng Thian Taysu berkata kepada muridnya. Suara amat pelan dan tergetar. Mendengar suara ini, pemuda itu sampai mengangkat kepalanya dan memandang suhunya yang menatapnya dengan lembut.

"Sudah empat tahun kau berada di Hong-san, selama itu tidak siasia usahaku menggembleng engkau guna menjadi seorang perkasa. Kepandaianmu kini sudah cukup tinggi, tinggal saja mencari pengalaman di dunia kang-ouw, ketahuilah bahwa pada jaman ini banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang bermunculan. Akan tetapi sayangnya, kemunculan tokoh-tokoh ini membawa kesengsaraan bagi rakyat belaka, merusak aparat negara dan sengaja dengan diam-diam menjadi musuh dalam selimut untuk menggulingkan pemerintahan. Tokoh-tokoh sakti itu adalah Bu-tek Sianli, Pay-cu Sian-li-pay, Thay-lek-hui-mo, Hok Losu, hwesio Siauw-lim yang tersesat dan yang berkepandaian tinggi dan banyak lagi tokoh-tokoh yang sudah menggabungkan diri dengan Sian-li-pay yang terkenal itu, oleh karena itu, Cie Lay hari ini kuperkenankan kau untuk turun gunung, mencari pengalaman dan….. ahh mudah-mudahan engkau tidak menemui jalan sesat......."

"Suhu, mohon petunjukmu. Setelah teecu turun gunung, apakah yang teecu harus perbuat?"

"Engkau masih mempunyai empat saudara seperguruan dari mendiang Swie It Tianglo, oleh karena itu, carilah mereka, gabungkan diri dengan mereka....... dan….. soal pembalasan dendam kepada tiga orang pembunuh gurumu mendiang Swie It Tianglo, terserah kepadamu saja, akan tetapi ingatlah Cie Lay, jikalau pembunuhan itu dapat dihindari, janganlah membunuh. Ingat soal kematian bukanlah urusan kita! Tak boleh kita menghakimi seseorang dengan mengambil nyawa, tak baik muridku!"

"Terimakasih atas petunjuk suhu…… bilakah teecu turun gunung?"

Suara Cie Lay terdengar bergetar. Memang sudah lama sekali ia merindukan untuk turun dari Hongsan ini dan mencari saudara-saudara seperguruannya yang tercerai berai. Hari ini ia akan turun gunung.

"Sekarang juga Cie Lay!"

"Suhu…….!"

"Pergilah Cie Lay, ini Hong-san-kiam kuberikan kepadamu…... Selamat jalan Cie Lay!"

"Suhu!"

Cie Lay menjatuhkan diri berlutut.

Untuk beberapa lama ia berdiam diri di bawah lutut suhunya, sementara kepalanya diusap halus oleh kakek itu.

Demikianlah, bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya, Song Cie Lay menuruni lereng gunung Hong-san yang terkenal tinggi dan berbahaya.

Pemuda itu mulai perjalanannya yang amat sukar dan amat berbahaya.

Makin jauh Cie Lay menuruni lereng gunung itu, semakin tebal embun yang menyelimutinya dan hawa dingin menyerang dengan hebat sehingga ia menggigil kedinginan.

Terpaksa Cie Lay menunda perjalanannya, kedua kakinya menginjak ujung karang, melepaskan pandangannya jauh ke bawah.

Disini ia mengerahkan sin-kangnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi hangat sekali seakan-akan ia bukan sedang berdiri di dalam selimutan embun, melainkan diselimuti oleh cahaya terik panas matahari.

Memang lwekang pemuda ini sudah hebat sekali.

Tak lama kemudian dari atas kepalanya mengepul uap putih dan tubuhnya menjadi berpeluh.

Setelah mengusir hawa dingin yang membuat tulang-tulangnya menjadi kaku kedinginan, ia lalu melanjutkan perjalanannya.

Perjalanan ini memerlukan tenaga gin-kang untuk menjaga jangan sampai jatuh dari jurang yang penuh dengan batu-batu runcing laksana mata pedang yang menonjol.

Akhirnya setelah mengalami daerah dingin di sebelah utara pegunungan Hong-san yang terkenal dengan puncaknya yang berselimut salju itu, dan sesudah ia berhenti sampai tiga kali mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya untuk mengusir rasa dingin, seperti es, ia telah keluar dari daerah puncak dan berada di tempat yang terang.

Pemandangan dari situ amat indah, juga menakutkan sekali.

Kalau tadi ia melihat ke bawah, ia hanya melihat halimun yang gelap putih, sekarang, apabila ia menundukkan kepala memandang ke bawah ia melihat alam yang amat luas di bawah kakinya.

Lereng gunung itu masih amat curam, jauh di sebelah selatan kelihatan berpetak-petak rumah pondok penduduk, dan sawah ladang yang terbentang luas.

Di depannya nampak pohon-pohon yang kelihatan dari situ amat pendek dan kecil, akan tetapi indah sekali.

Apabila ia menengadah ke atas, nampak warna warni indah dari pelangi dibentuk oleh kemilau sinar matahari yang menembus embun mendatangkan warna yang indah dan menakjubkan!

Setelah sampai di daerah ini, Cie Lay berlari dengan gesit dan cepat, mempergunakan gin-kangnya mencelat dari atas batu karang ke atas batu karang yang lain, laksana walet hitam yang beterbangan mengelilingi bunga.

Hawa dingin tidak terasa lagi seperti di atas itu, cahaya matahari mulai menghangati tubuhnya.

Akhirnya, setelah dua jam ia menuruni puncak Hong-san yang penuh dengan jurang-jurang terjal itu, sampailah ia di sebuah tanah datar dan ketika ia mendongak ke atas, terlihatlah olehnya bahwa yang dituruninya tadi adalah dinding jurang gunung yang tinggi menjulang ke atas dan puncaknya, di mana suhunya, Seng Thian Taysu berada, lenyap ditelan awan putih.

Akan tetapi daerah yang didatangi ini aneh dan asing baginya.

Di depannya terdapat gunung kecil dan di ujung sekali menjulang tinggi sebuah gunung yang seakan-akan hendak menyaingi Hongsan yang besar.

Cie Lay tidak tahu bahwa itulah puncak gunung Tai-hang-san yang masih termasuk daerah pegunungan Lu-liang-san.

Karena hendak menjumpai manusia agar ia tahu sampai dimana ia kini berada, Cie Lay tidak membuang waktu lagi dan cepat melanjutkan perjalanan.

Sebetulnya, pemuda ini tersesat jalan.

Seharusnya ia mengambil jurusan selatan melintasi sebuah anak sungai Ce-kiang yang terkenal di lereng gunung Hong-san dan menuju ke arah tenggara kota Peng An, akan tetapi sebaliknya malah, karena Cie Lay tidak mengenal jalan ia mengambil jurusan ke arah utara, jurusan yang nampak liar dan tak pernah didatangi manusia.

Jalan satu-satunya adalah jalan menurun, dimana di bawahnya itu terdapat sebuah jurang yang amat dalam dan sayup-sayup oleh pandangan mata yang terlatih, ia melihat sebuah tanah datar dan pondok sederhana.

Karena hanya dengan cara demikian baru ia dapat keluar dari daerah liar ini, maka Cie Lay menuruni jurang yang tertutup kabut itu dengan menggunakan ilmu cecak merayap di atas dinding dan perlahan-lahan tubuhnya yang melengket pada dinding jurang itu, turun sambil mengerahkan gin-kang dan lweekang!

Untung sekali matahari sudah naik agak tinggi, sehingga kabut di dasar jurang itu membuyar tersentuh sinarnya.

Ketika Cie Lay sampai di bawah tanah yang amat lembut dan berpasir itu, ia berhasil lari cepat dan mencari dengan pandangan matanya kalau-kalau di dekat situ nampak perkampungan.

Tibatiba ia melihat dua sosok manusia sedang bertempur dengan amat serunya, amat cepat sehingga bagi mata yang tak terlatih, akan sukarlah baginya untuk mengikuti jalannya pertempuran.

Hanya nampak bayangan merah dan putih berkelebat-kelebat dengan amat cepatnya, sebentar-sebentar terdengar saara senjata beradu memercikan kembang api di udara.

Cie Lay terkejut bukan main, ia dapat melihat jelas jalannya pertempuran itu.

Dapat melihat siapa yang tengah bertempur dengan amat serunya itu.

Seorang wanita muda, cantik, berpakaian kembang-kembang merah, rambutnya yang panjang terurai sebatas pundak, nampak demikian gesit sekali menerjang seorang pemuda baju putih, kedua-duanya bersenjata sebuah pedang pendek yang melengkung, berkilau-kilau cahaya kebiruan dan untuk sejenak Cie Lay hanya bengong memandang kedua orang muda yang bertempur mati-matian itu.

Dua orang muda itu, amat dikenalnya, Liok Kong In dan Lie Bwe Hwa.

Seperti yang telah dituturkan di bagian depan, Kong In dan Bwe Hwa, masing-masing telah mempelajari sebuah kitab peninggalan dari ke dua orang kakek sakti yang bernama Hek-pek-hwa-moko yang telah meninggal dunia.

Bwe Hwa mempelajari kitab peninggalan Pek-moko, dan mempelajari ilmu silat yang bernama Pek-hwa-kiam-sut (ilmu pedang bunga putih) yang ditulis oleh Pekmoko.

Dan Kong In, diajak pula oleh Hek-moko ke puncak sebuah gunung dan diberi sebuah kitab pedang yang bernama Hek-hwa-kiam-sut, kitab pedang yang sesungguhnya bersumber menjadi satu dengan Pek-hwa-kiam-sut, karena dua orang Iblis Hitam dan Putih ini adalah saudara seperguruan dan bersumber dari satu ilmu pedang Hek-pek-hwa-kiam-sut!

Akan tetapi semenjak mereka masingmasing mempunyai sepasang pedang Iblis, maka terjadilah pertempuran-pertempuran dan akhirnya ke dua itu mati di tangan saudara sendiri!

Tiga tahun sudah Bwe Hwa dan Kong In mempelajari ilmu kitah pedang yang dahsyat itu.

Seperti janji mereka pada mendiang suhunya masing-masing, yaitu untuk mengadu kepandaian pedang, maka pada waktu yang tepat, Kong In menuruni puncak gunung dan langsung ke lembah Tai-hang-san bertemu dengan sumoaynya, Bwe Hwa!

"Bagus, suheng!

Rupanya kau menepati janji suhumu si Hitam itu, hemm, mari kita coba.......

siapa di antara kita yang paling unggul sebagai murid Hek-pek-hwa-moko!"

Datang-datang Bwe Hwa menyambut dengan tarikan pedang Iblis Putih dan serangkum cahaya berkilau-kilauan oleh sinar perak kebiruan yang memancar dari logam pedang pendek itu!

Kong In terkejut sekali.

Sesungguhnya ia tidak bermaksud untuk bertempur dengan menggunakan pedang, oleh karena itu dengan melangkahkan kakinya maju selangkah, ia berkata.

"Hwa-moay, mendiang suhu memesan untuk menguji saja, siapa di antara kita yang terlihai dan tak perlu menggunakan pedang!"

Bwe Hwa tersenyum.

Amat manis sekali senyum gadis itu.

Untuk sejenak Kong In menjadi terpesona oleh senyum Bwe Hwa.

Kenangan di puncak Tiang-pek-san membayang di ruang matanya.

Betapapun sesungguhnya ia mencintai gadis ini, senyum gadis itu, masih seperti dulu masih mampu untuk mengoyak-ngoyak ruang hatinya, masih membuat darah di dada pemuda itu berdebardebar.

Bagaikan orang yang terkena hikmat pemuda itu memandang sayu ke arah si gadis.

Hatinya menjerit-jerit waktu Bwe Hwa menggerak-gerakan pedang Iblis hitamnya!

"Suheng Kong In, mengapa kau melongo saja?

Cabut pedangmu dan mari kita bertempur!

" "Sumoay, bukan bagini caranya kita mengadu kepandaian, tak baik menggunakan pedang!

Mari kita bertempur dengan tangan kosong saja.

bagaimana?"

Aneh mendengar suara perkataan Kong In seperti itu, Bwe Hwa menjadi marah dan merasa tak puas.

Apalagi waktu dilihatnya pedang di tangannya memancar cahaya aneh, serasa dadanya mendenyar penuh dengan hawa membunuh.

Tangannya bergetar kuat oleh hawa mujijat yang mengalir ke segenap pembuluh darahnya!

"Kong In Suheng, tak perlu banyak membuang waktu.

Sambut seranganku!"

Bwe Hwa melompat maju menerjang Kong In dengan pedang pendek yang mengeluarkan cahaya aneh itu.

Terkejut sekali hati pemuda itu merasa tenaga yang mujijat mendorong tubuhnya dan hampir saja iganya tersambar pedang sumoaynya kalau tidak cepat-cepat ia melompat ke samping dan mencabut pedangnya pula.

Sinar hitam memanjang berkilat merupakan bayangan maut di tangan Kong In.

Rasa gentar yang tadi menyelusuri hatinya lenyap sudah setelah ia memegang pedang Hek-hwa-kiam (pedang bunga hitam).

"Bagus, mari kita mengukur kepandaian…… lihat pedang!"

Bentakan nyaring Bwe Hwa merupakan kilat putih menyambar kepala Kong In. Dengan gerak kilat Kong In menangkis pedang lawan dan mengirim pukulan ke depan.

"Dess, tranggg!"

Bunga api hitam dan putih memercik di udara.

Keduanya terhuyung ke belakang Masing-masing melihat ke arah pedangnya, lega hati mereka melihat pedangnya tidak cacad, malah sinar hitam dan putih itu memancar menyerupai hawa panas membara.

Di dalam dada Kong In dan Bwe Hwa tersembunyi rasa tak puas.

Mereka saling menerjang lagi.

"Suheng, tak dapat kau menangkan kepandaianku, menyerahlah kau dan berlutut di depan suhu, menyatakan kau sudah kalah olehku!"

Dari balik gumpalan sinar pedang terdengar suara nyaring Bwe Hwa mengejek. Kong In menjadi panas hati.

"Sumoay, jangan tekebur, engkaulah yang harus kukalahkan dan menyatakan kekalahanmu di depan suhu Hek-moko, dan berlutut di depanku!"

"Ha ha ha suheng, tak mungkin kau kalahkan aku, tak mungkin....... suhu Pek-moko lebih lihai dari Hek-moko!"

"Sumoay, jangan tekebur, pedangku ini akan memenggal lehermu…….!"

"Pedangku ini akan menghirup darahmu……. hik hik hik!"

"Ganas kau!"

Kong In membentak marah karena serangan gadis sumoaynya ini benar-benar dahsyat dan cepat.

Kalau tadi pedang putih itu sampai menemui sasaran, tentu lehernya akan putus terpenggal pedang di tangan sumoaynya.

Bertambah penasaran Kong In dan ia menggerakan pedang hitamnya dengan gerakan istimewa dari ilmu pedang Hek-hwa580 kiam-sut ciptaan Hek-moko.

Terdengar bunyi keras dan pedangnya berhasil menempel pedang putih Bwe Hwa, akan tetapi sebelum ia membetot, secara aneh sekali pedang itu telah terlepas kembali dan ternyata Bwe Hwa telah dapat membebaskan pedangnya dengan amat mudah dari tenaga tempelan yang luar biasa itu.

Di lain saat pedang itu telah menjadi sinar putih memanjang dan menyerang ke arah pundak untuk membikin putus tulang pundak!

Melihat keganasan sumoaynya itu, Kong In menjadi marah dan penasaran, hawa membunuh sudah membayang dalam diri masing-masing.

Kong In menggerakan pedangnya memutar dengan jurus yang luar biasa, suara berciutan menyambar di atas kepala si gadis, akan tetapi dengan memiringkan kepalanya, pedang hitam itu lewat di samping Bwe Hwa, kemudian Bwe Hwa melakukan serangan balasan yang tidak kalah hebatnya.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras.

"It-suheng, Hwa sumoay! Kalian sudah gila, berhenti!"

Yang membentak adalah Cie Lay dan sekali kakinya menotol tanah, tubuhnya melayang dan menerjang Kong In dan Bwe Hwa dengan pedang Hong-san-kiam yang diputar di atas kepala.

Tiga buah sinar pedang berkeredep dan bunga api memercik di udara.

Ke tiga orang muda itu terpental ke belakang oleh dorongan tangan kiri Cie Lay dan pedangnya membentur dua pedang yang luar biasa lihainya itu.

Cie Lay terhuyung-huyung ke belakang.

Begitu pedangnya menjadi somplak oleh benturan kedua pedang hitam dan putih tadi, Cie Lay menjadi terkejut dan memandang kepada dua orang muda di depannya itu bergantian.

Tak mengerti!

"Cie Lay.......

kau?"

Kong In menegur.

"Jie-suheng……!"

"It-suheng dan Bwe Hwa sumoay, kalian ini....... mengapa bertempur?"

Cie Lay bertanya sambil menyarungkan pedangnya menghampiri suheng dan sumoaynya.

Pada saat itu, dari kejauhan mendatangi seorang pemuda dan seorang gadis jelita.

Orang muda itu nampak kelihatan girang sekali, berseru.

"Kong In suheng, Cie Lay…… Bwe Hwa sumoay!"

Ketika orang muda itu menoleh dan alangkah terkejut dan herannya mereka melihat Tiang Le berjalan bersama seorang wanita muda jelita, kelihatannya lembut dan manis!

Apabila Bwe Hwa memandang ke arah lengan pemuda yang buntung sebelah kanannya itu berubah wajah Bwe Hwa dan entah mengapa hatinya terasa tidak enak benar.

Hati itu merasa bersalah!

Dan hati itu, hmm, panas bukan main melihat Tiang Le didampingi oleh wanita cantik jelita.

Seperti telah kita kenal, wanita muda ini adalah Cia Pei Pei!

Tiga tahun sudah Tiang Le mempelajari ilmu kitab yang didapat dari Pei Pei dan alangkah girang hatinya merasa bahwa jurus-jurus dalam kitab itu amat sejalan dengan kemampuannya.

Seakan582 akan dengan kebuntungan lengan kanannya itulah justru merupakan syarat utama untuk bisa melatih ilmu silat yang tertera dari kitab kuno yang bernama ilmu silat tangan buntung, gerak tangan kilat dan duapuluh satu langkah-langkah sakti!

Demikianlah tiga tahun sudah Tiang Le melatih diri dan pada suatu hari, pemuda itu mengajak Pei Pei untuk mengembara mencari tiga orang musuh-musuhnya, mencari saudara-saudara seperguruan yang telah lenyap!

Dan secara kebetulan sekali mereka bertemu dengan tiga orang muda ini.

Tiang Le girang sekali hatinya.

Ia menjurah dan memperkenalkan Pei Pei kepada saudara seperguruannya ini.

"Senang sekali saya bertemu dengan sam-wi kalian bertiga yang gagah dan saudara seperguruan dari Tiang Le koko.......!"

Pei Pei menjura dengan hormat.

Senyum manis itu menyorotinya segar di wajah si gadis.

Ke tiga orang muda itu membalas hormat.

Kong In dan Cie Lay menganggukkan kepala.

Akan tetapi, tiba-tiba Bwe Hwa menarik keluar pedang Pek-hwakiam dan langsung membentak kepada Kong In.

"Suheng….. mari kita lanjutkan pertempuran tadi, seorang di antara kita belum ada yang kalah, kita harus membuat penentuan!"

Kata-kata ini ditutup olah gerakan sinar pedang putih di tangan Bwe Hwa.

Amat cepat sekali gerakan menusuk yang bertubi-tubi itu sehingga mau tidak mau Kong In telah mencelat dan mencabut pedangnya dan membentak keras.

"Sumoay, kau keras kepala! Hari ini kau harus tunduk kepadaku!"

Pedang hitam itu menyambar. Tiang Le cepat mencelat ke tengahtengah arena pertempuran dan mengangkat tangannya mencegah.

"Suheng, sumoay....... jangan bertempur, berhenti!"

Akan tetapi mana kedua orang muda ini mau berhenti malahan bertambah dahsyat lagi mereka bertempur.

Tiang Le menjadi terkejut sekali melihat kedua pedang yang mengeluarkan cahaya menyeramkan itu.

Cahaya aneh yang membuat si pemain pedang berhasrat untuk saling membinasakan lawan.

Inilah kehebatan Sepasang Pedang Iblis Hek-pek-kiam di tangan ke dua orang muda itu!

Tiang Le memandang ke arah Cie Lay.

"Entahlah, kutemui mereka tadi juga sedang bertempur!"

"Biar kuhadapi mereka,"

Berkata demikian Tiang Le telah mengeluarkan pedang pusaka buntung.

"Sute, hati-hatilah….. sepasang pedang itu amat luar biasa, Cie Lay memperingati dan ia sendiri bersiap sedia untuk memisahkan pula."

"It-suheng dan Bwe Hwa, harap berhenti!"

Tiang Le memperingati kedua orang yang sedang bertempur dengan amat seru dan hebat luar biasa.

Kilatan pedang hitam dan putih berkeredep menyambar lawan masing-masing, di antara gundukan dua buah pedang yang amat cepat itu,terdengar hampir berbareng Kong In dan Bwe Hwa!

"Tiang Le, jangan turut campur kau!

Biar kami menyelesaikan urusan masing-masing!"

"Kalau kalian tidak berhenti, aku turun tangan suheng!"

Tiang Le berseru lagi.

"Ha! Tiang Le, sudah buntung lenganmu, jangan menyia-nyiakan nyawamu....... lebih baik kau pergilah cari Sian Hwa-moay, dia amat mencintaimu….. akan tetapi……"

Kong In tak melanjutkan kata-katanya karena pedang putih di tangan Bwe Hwa menyambar dengan ganas sekali.

Terpaksa ia menangkis.

Dua sinar pedang saling bertemu dan bunga api berpijar.

Ke dua melompat mundur untuk melihat pedang masing-masing.

Mereka merasa lega melihat pedang masing-masing tidak menjadi rusak oleh benturan yang keras tadi, tanda bahwa pedang mereka samasama hebat!

Dalam detik-detik selanjutnya dua orang kakak adik seperguruan itu sudah saling serang lagi dengan sengit dan ganas.

Sepasang Pedang Iblis Hek-pek-hwa-kiam bergulung-gulung merupakan sinar berwarna hitam dan putih, amat indah dipandang dan mendebarkan hati karena tegangnya.

Cie Lay dan Tiang Le tahu bahwa permainan kedua orang saudara seperguruannya ini, meskipun dilihat indah, akan tetapi bersembunyi tangan-tangan maut yang setiap waktu dapat mencabut nyawa seorang di antara ke dua pemainnya.

Tahu bahwa mereka tidak dapat lagi dipisahkan hanya dengan kata-kata, Tiang Le berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya sudah menerjang ke tengah-tengah dua orang saudara seperguruan yang tengah bertempur.

Tanpa memberi kesempatan lagi, ia lalu menyerang membabat dari kanan dan kiri!

Sinar pedang berkilat menyambar, amat cepat sekali gerakan Tiang Le ini, dan begitu pedangnya beradu dengan kedua pedang lawan dengan gerak kilat, tahu-tahu pedang buntungnya sudah masuk ke dalam sarung di pinggang dan bagaikan ada sebuah guntur menyambar dengan amat dahsyatnya, tahu-tahu, begitu tangan kiri Tiang Le mendorong ke kanan dan kiri, baik Bwe Hwa mau pun Kong In sudah terpental ke belakang!

Tentu saja Kong In dan Bwe Hwa menjadi terkejut sekali.

Dan mereka tak mengerti bagaimana mereka masing-masing sampai bisa terpental ke belakang, tadi begitu ia merasa ada angin lembut menyambarnya, Bwe Hwa dan Kong In membabat dengan pedangnya masing-masing dan mendorong ke arah lawan, akan tetapi sangat tidak diduga karena begitu pukulan mereka saling bertumbuk, tahu-tahu sebuah gelombang dahsyat telah menggempur kuda-kuda mereka!

"It-suheng, Bwe Hwa sumoay, apakah kalian ini sudah gila?

Mengapa bertempur seperti itu?

Kalau kalian haus akan pertempuran tingkat tinggi, mengapa tidak mencari musuh-musuh mendiang suhu dan membalas sakit hati ini?

Suheng dan sumoay, sadarlah, hentikan kegilaan kalian, mari kita mencari musuhmusuh suhu!

Kita berlumba, siapa paling dulu yang dapat membalas sakit hati suhu!"

"Tiang Le, sombong kau! Aku bukan anak kecil lagi seperti dulu! Aku kini adalah murid mendiang Hek-moko. Berani kau menghadapi pedang iblisku?"

Kong In menantang.

Panas sekali hatinya kepada pemuda lengan buntung ini.

Memang sejak ia tahu Bwe Hwa mencintai Tiang Le, entah mengapa hati pemuda ini tidak senang terhadap Tiang Le.

Apalagi kini, sekali bergebrak saja ia sudah tergempur kuda-kudanya.

Tak boleh jadi.

Masa Tiang Le dapat mengalahkanku?

Di lain pihak, Bwe Hwa juga merasa tak puas dan penasaran kepada Tiang Le.

Ia betul-betul menjadi panas hati dan tak senang, begitu melihat Tiang Le berjalan dengan gadis lemah itu.

Seandainya, gadis itu Sian Hwa, mungkin ia takkan semarah ini.

Akan tetapi gadis lemah lembut itu bukan Sian Hwa, hemm, apakah pemuda suhengnya ini bermain gila lagi dengan perempuan lain dan tidak menghiraukan Sian Hwa sumoay?!

Saking panasnya hatinya yang mendidih itu.

Tanpa berkata apaapa lagi, gadis itu sudah menerjang Tiang Le dengan pedangnya, dibarengi dengan gerakan Kong In yang telah menggempur dengan dahsyat sekali.

Cepat Tiang Le mencelat ke atas menghindarkan datangnya sepasang pedang yang mengeluarkan hawa yang aneh itu dan telah menarik pedang buntungnya dan membalas menangkis pedang Kong In dan Bwe Hwa.

Bunga api memercik di udara, akan tetapi pedang mereka masing-masing tidak rusak karenanya, tanda bahwa pedang mereka berimbang dalam kekuatannya!

Pedang di tangan kiri Tiang Le adalah sebatang pedang pusaka buntung yang pada puluhan tahun telah menggemparkan dunia persilatan, biarpun pedang ini agak pendek dari ukuran pedang yang lain, namun terbuat dari pada baja putih yang kuat sekali.

Besi biasa dapat putus dengan mudah oleh sabetan pedang Tiang Le, di lain pihak pedang di tangan Kong In dan Bwe Hwa adalah sepasang pedang iblis yang luar biasa!

Hebat sekali desakan pedang iblis dari tangan Kong In dan Bwe Hwa.

Bagaikan kilat putih yang menyambar-nyambar pedang di tangan Bwe Hwa membuat gerakan yang menusuk, sedangkan pedang hitam di tangan Kong In berkelebat cepat menyambar leher Tiang Le.

Amat cepat sekali gerakan dua pedang yang luar biasa ini.

Akan tetapi, Tiang Le bukanlah pemuda yang tiga tahun yang lalu, kini pemuda lengan buntung ini telah mewarisi ilmu silat luar biasa yang sukar untuk dicari keduanya.

Menghadapi keganasan silat dari kedua orang saudara seperguruannya ini, Tiang Le terkejut dan membentak keras.

Ia mengumpulkan tenaganya pada tangan kiri, menanti datangnya pedang lawan sampai dekat, kemudian sekali gus ia mencelat ke atas dengan dua macam gerakan.

Pedang buntungnya, dengan gerakan yang cepat sukar diikuti oleh pandangan mata telah terselip di pinggangnya dan bagaikan kilat menyambar tangan kirinya mendorong ke arah depan dan belakang dengan pukulan gerak tangan kilat yang luas.

"Dess!"

Dua pukulan yang luar biasa itu membuat tubuh Kong In dan Bwe Hwa terhuyung-huyung ke belakang.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan dari Tiang Le, karena dengan kecepatan yang luar biasa bagaikan komando, serentak Kong In dan Bwe Hwa sudah menerjang kembali dengan kilatan pedang yang sukar diikuti oleh pandangan mata.

Cie Lay yang menyaksikan pertempuran ini, berkelebat ke tengahtengah pertempuran dan cepat menangkis pedang Bwe Hwa yang menyambar bagian pundak Tiang Le.

Akan tetapi begitu tangan kiri Bwe Hwa dan Kong In bergerak memutar, tahu-tahu tubuh Cie Lay terlempar jauh dan Tiang Le sendiri terhuyung dan cepat melompat ke belakang lalu berdiri dengan muka pucat.

Darah mengucur keluar dari ke dua pundak Tiang Le yang terserempet pedang hitam Kong In!

"Koko......."

Pei Pei berlari menghampiri Tiang Le.

"Aku tak apa-apa Pei-moay. Sungguh lihay suheng dan sumoay, ganas, ahh....... dan luar biasa pedang setan itu!"

Tiang Le menekan pundaknya yang bercucuran darah.

Pei Pei cepat merobek kain bajunya dan membalut pundak Tiang Le.

Tentu saja tadi karena Tiang Le tidak menduga-duga akan serangan mendadak dari kedua orang seperguruannya ini, saking cepatnya gerakan pedang lawan dengan jurus yang amat aneh dan dahsyat, tak keburu Tiang Le menghindarkan sabetan pedang Kong In.

Hampir saja ia berteriak waktu pedang hitam itu benar589 benar hendak memenggal lehernya.

Hebat!

Entah apakah Kong In dan Bwe Hwa ini sudah gila hendak membunuhnya?

Di lain pihak, dengan napas yang agak memburu, Bwe Hwa berdiri tegak dengan pedang dilintangkan di depan dada.

Gadis berusia duapuluh tahun ini kelihatan gagah sekali, matanya memandang Tiang Le dengan berapi, dadanya memburu melihat sikap Pei Pei yang demikian mesra membalut luka di pundak Tiang Le.

Ingin sekali saat itu ia menerjang gadis itu dan menusukkan pedangnya ini di dada gadis yang membuat dadanya menjadi panas bagai kawah api yang hendak meletus, wajahnya sebentar merah, sebentar putih, pucat bagaikan kertas.

Dadanya berombak turun naik.

apabila, pandangannya itu terbentur ke arah lengan kanan Tiang Le yang sudah buntung sebatas pundak, terasa matanya menjadi panas pandangannya menjadi nanar oleh genangan air mata yang hendak pecah!

Tiang Le memandang Bwe Hwa, dua pasang mata yang saling membentur itu meledakkan bendungan air mata si gadis yang tadi ditahan-tahan hendak meluas.

Bwe Hwa menubruk Tiang Le dan menangis, membenamkan kepalanya di dada pemuda itu.

"Tiang Le koko........ kau... ampunkan..... aku... tanganmu....... aduh....... koko....... kau....... buntungilah tanganku ini......... aku... aku....... telah membuatmu menderita....... aku jahat......... aku berdosa...... koko, biarlah aku membalas penderitaanmu ini...... aku berdosa...... malah tadi hampir saja aku membunuhmu...... ya, Tuhan....... biarlah aku menerima hukuman....... Tiang Le koko jangan kau marah kepadaku........ biar aku membuntungi tangan ini......."

Dengan gerakan yang amat cepat Bwe Hwa menggerakan tangan kanannya dan......

"Srattt!"

Darah merah menyembur dari tangan kiri gadis itu membasahi dada Tiang Le. Bagaikan disentak ular berbisa, Tiang Le mendorong tubuh Bwe Hwa.

"Bwe Hwa...... kau...... kenapa kau lakukan itu......?"

Sambil menahan nyeri pada lengan kirinya, Bwe Hwa memandang Tiang Le dengan tatapan sayu. Beberapa butir air mata meloncat jatuh di atas sepasang pipi yang memucat.

"Tiang Le koko....... kini legalah hatiku, aku........ aku...... aku.... ahhh,"

Bwe Hwa menggigit bibirnya.

Butir-butir air mata membasahi pipinya.

Pandangan Bwe Hwa semakin redup, seperti lampu yang kehabisan minyak.

Ia memegangi lengannya yang penuh darah.

Tiang Le menghampiri Bwe Hwa menotok jalan darah yang mengucur deras itu.

"Sumoay Bwe Hwa...... kenapa kau jadi begini sumoay...... kenapa kau lakukan...... itu....... ahh, sumoay....... aku tidak menaruh dendam sedikitpun kepadamu aku tidak memarahimu sumoay......"

"Tiang Le koko......!"

"Sumoay......." Baru saja Tiang Le hendak merangkul gadis itu. Tiba-tiba serangkum hawa dingin menyambar di belakangnya. Cepat Tiang Le menggeser kakinya dan menoleh ke belakang.

"It-suheng Kong In........"

"Bagus Tiang Le. Sesudah kau menghancurkan hati Sian Hwa yang mencintaimu mati-matian, kini kau bermain gila dengan perempuan lain dan melupakan sumoay Sian Hwa. Sekarang, karena kau, Bwe Hwa kehilangan lengannya, keparat! Aku harus mengadu nyawa denganmu!"

"Singg!"

Pedang Hek-hwa-kiam tercabut di tangan Kong In dan tanpa mengatakan apa-apa lagi dengan nada penuh amarah ia menerjang Tiang Le dengan gerakan Hek-hwa-kiam-sut yang aneh dan kuat.

Terkejut sekali Tiang Le, dengan cepat pula mencabut pedang buntungnya dan mencelat ke samping menangkis pedang lawan.

"It-suheng........ hentikan!"

"Tidak! Kau harus mampus di tanganku! Kau binatang, laki-laki jayhoa-cat........ jahanam!"

Suara Kong In menggeledek dibarengi dengan kilatan pedang hitam menyambar Tiang Le.

Akan tetapi belum lagi Tiang Le menggerakan tubuhnya menghindari serangan Kong In, sebuah sinar putih berkeredep memanjang dan tahu-tahu pedang Kong In sudah tertangkis oleh pedang putih Bwe Hwa.

"It-suheng, tak boleh kau menyerang Tiang Le!" "Sumoay....... kau....... kau masih mencintai Tiang Le, si buntung ini?"

Kong In bertanya, sementara hatinya serasa diiris. Tangannya yang memegang pedang agak tergetar.

"Suheng....... kau tahu yang membuntungi lengan Tiang Le adalah aku......., karena aku tak puas Tiang Le lebih tinggi kepandaian silatnya dari padaku....... karena....... aku........ aku mencintainya....... dan....... membencinya. Sepatutnya lenganku ini buntung untuk Tiang Le........ dan kau, suheng....... kau tidak berhak mencampuri urusanku. Andaikata sekarang inipun aku masih mencintai Tiang Le, kau mau apa?"

Pucat wajah Kong In, serentetan kata-kata Bwe Hwa membuat kedua kakinya menggigil.

Dari dulupun ia sudah dapat menduga bahwa sumoaynya ini telah menaruh hati kepada Tiang Le, akan tetapi.......

setelah Tiang Le kehilangan lengan, dan dicintai pula oleh Sian Hwa, masih jugakah gadis itu mencintai Tiang Le?

Untuk beberapa lama Kong In tak dapat berkata apa-apa.

Dilihatnya Bwe Hwa terhuyung-huyung.

Dilihatnya Tiang Le menyanggah tubuh Bwe Hwa, dilihatnya si gadis pingsan dalam dekapan Tiang Le.

Setan!

Aku harus mengadu nyawa dengan pemuda jay-hwa-cat ini, pikir Kong In dengan dada yang serasa hendak meledak.

Pedangnya ditarik ke atas.

Melihat suhengnya hendak bertempur lagi dengan cepat Cie I.ay memegang lengan Kong In dan berkata perlahan.

"It-suheng....... sudahlah, jangan menuruti nafsu hati....... ingatlah kita masih bersaudara, tak baik saling tempur dengan sesama saudara seperguruan. Urusan kita masih banyak suheng, kita belum memenuhi kewajiban untuk membalas sakit hati mendiang suhu!"

Kong In menoleh ke arah Cie Lay dan berkata.

"Sute, aku harus musnahkan dulu si buntung ini. Kau tahu, gara-gara Tiang Le semuanya jadi berantakan!"

"Lupakan itu suheng.......!!"

"Apa?? Cie Lay, apakah kau telah melupakan Sian Hwa?? Bukankah engkau mencintai Sian Hwa??"

Cie Lay tertunduk.

"Sayang gara-gara Tiang Le semuanya jadi kacau. Dia merayu Sian Hwa, sehingga engkau bertepuk sebelah tangan, kini dia hendak bermain gila dengan Bwe Hwa, keparat! Aku harus membuat perhitungan dengan si buntung itu, sute lepas!!"

Tangan Kong In mengibas.

"It-suheng.......!"

Akan tetapi dengan gerakan yang cepat dan kuat Kong In telah mendorong Cie Lay dan telah menotoknya. Dengan menggeram keras ia membentak.

"Tiang Le, kau harus mampus di tangan ku!"

Dengan bernafsunya Kong In menerjang dengan pedang terhunus.

Cepat Tiang Le meloncat ke kanan menghindarkan suara samberan pedang yang amat cepatnya mengarah iganya.

Melihat kelakuan It-suhengnya yang bernafsu hendak membunuhnya ini, Tiang Le tersenyum sinis dan mengejek.

"It-suheng, dari dulu kau belum juga berubah, watakmu berangasan dan sombong, hemm, apa kau kira aku takut kepadamu?"

"Tiang Le, sekarang kau sudah kehilangan lengan. Apakah kau masih mampu berbuat sombong seperti di puncak dulu?"

Tiang Le menggelengkan kepala.

"Kong In, hanya orang yang bodohlah yang suka menyombongkan dirinya. Soal kepandaian, tak ada yang dapat membuat diriku sombong, apalagi setelah lenganku ini buntung........ akan tetapi Thian sungguh adil dengan tanganku ini, yang hanya satu-satunya apa kau kira aku takut menghadapimu?"

"Bagus, kalau begitu. Terima ini!"

Pedang hitam berkelebat waktu tubuh Kong In mencelat tinggi dan turun sambil menyerang dari atas ke arah kepala Tiang Le.

Kagum sekali Tiang Le menyaksikan gin-kang yang tinggi dari Kong In, dengan gerakan yang cukup gesit pula, ia mencelat tinggi dan menangkis pedang lawan.

Benturan ke dua pedang di udara membuat ke duanya melayang-layang mundur.

Dan bunga api memercik di udara.

Setelah menginjak tanah Kong In merasa penasaran dan marah, dengan bentakan yang keras dia menerjang lagi.

Tiang Le menangkis dan membalas menyerang.

Sebentar saja keduanya sudah bertempur dengan amat serunya.

Pei Pei memandang ke arah pertempuran yang sedang berlangsung dengan dada berdebar tegang.

Ia tidak dapat melihat jelas yang mana tubuh Tiang Le dan yang mana tubuh Kong In karena mereka bertempur dangan amat serunya, hanya nampak segumpalan bayangan pedang yang berkelebatan saling menyambar.

Kedua-duanya sama mempunyai ilmu silat tingkat tinggi.

Tentu saja kalau Tiang Le menghendaki dari tadi pun ia sudah dapat merobohkan it-suheng nya ini.

Akan tetapi dasar Tiang Le mempunyai watak yang selalu mengalah, sehingga tak mau ia dengan cepat mengalahkan suhengnya.

Meskipun di dalam hati ia merasa amat kagum dan terkejut melihat ilmu silat yang demikian kuat dan ganas, yang dimainkan dengan sebuah pedang hitam yang mengeluarkan cahaya aneh!

Untung saja ia mempunyai pedang pusaka buntung, pedang yang ratusan tahun yang lalu, dikenal sebagai pedang pusaka ampuh yang bernama Liong-cu-kiam (Pedang Naga Mustika) yang telah buntung.

Dengan pedang inilah Tiang Le mainkan jurus ilmu silat Tok-pik-kiam-hoat yang lihai!

Bagaikan orang yang baru tenggelam dari mimpi yang amat buruk, Bwe Hwa sadar dari pingsannya.

Begitu ia membuka mata, dilihatnya Tiang Le dan Kong In tengah bertempur dengan matimatian.

Nampak Tiang Le agak terdesak dan mundur-mundur menghindarkan serangan pedang maut dari Kong In.

Tentu saja karena Tiang Le banyak mengalah, akhirnya lama kelamaan ia terdesak oleh rangsekan jurus-jurus aneh dari Kong In yang sangat bernafsu untuk membunuhnya!

Sambil menahan rasa nyeri yang amat hebat pada luka di tangan kirinya, Bwe Hwa merangkak hendak bangun.

Terasa sebuah tangan yang amat lembut menyentuh pundaknya.

"Cici, kau jangan banyak bergerak, darahmu masih keluar terus.......!"

Bwe Hwa menoleh, dilibatnya Pei Pei sedang merangkul pundaknya menahan ia berdiri. Luka di lengan kirinya sudah dibalut oleh robekan baju Pei Pei.

"Kau.......?"

Bwe Hwa memandang gadis yang lemah lembut itu.

"Cici……."

"Kau yang membalut lukaku ini?' tanya Bwe Hwa melirik ke arah lengan kirinya.

Pei Pei mengangguk.

Tiba-tiba matanya menggenang embun yang berkilat di kelopak mata si gadis.

Setitik air mata turun melintasi pipi.

"Siapa namamu?"

"Cia Pei Pei……"

Sahut Pei Pei.

"Kau mencintai Tiang Le?" Gugur bendungan air mata si gadis. Pei Pei menggigit bibirnya, sementara lintasan air bening terasa di bibir. Hidungnya yang mancung berkembang kempis. Matanya semakin basah.

"Pei Pei…… jawablah pertanyaanku, benarkah kau mencintai suhengku Tiang Le?"

Bwe Hwa bertanya lagi. Matanya memandang serangan wajah Pei Pei yang telah basah oleh air mata yang membanjir.

"Cici……! Aku……"

Pei Pei tak kuasa untuk menjawab, dia tahu bahwa wanita yang telah buntung lengannya ini telah menyatakan cintanya kepada Tiang Le.

Malah nampaknya begitu setia dan bertekat untuk memiliki Tiang Le, sedangkan dia, tak patut ia mendampingi Tiang Le.

Tak boleh ia merebut kekasih orang.

Ia harus mengalah dan…… teramat sukar sekali gadis itu untuk menjawab pertanyaan Bwe Hwa.

"Pei Pei…… aku tahu kau cinta pada Tiang Le bukan? Katakanlah….. aku tidak marah kepadamu, memang engkau berhak memiliki Tiang Le, dia lebih sesuai denganmu sedangkan aku....... ahhh,"

Sambil mengeluh dengan suara isak yang tertahan, Bwe Hwa menekankan tangan kanannya dan sekali ia menggerak tahu-tahu pedang putihnya sudah menyambar ke arah Tiang Le dan Kong In.

Amat cepat sekali gerakan gadis ini, sehingga baik Tiang Le maupun Kong In mencelat mundur, akan tetapi begitu melihat yang membantu adalah Bwe Hwa, bertambah kalap lagi Kong In menyerang Tiang Le.

Pedang pendek Bwe Hwa berkelebat lagi menangkis pedang Kong In.

"Suheng…… jangan kau menyerang Tiang Le!"

"Apa? Kau hendak membela si buntung ini?"

Wajah Bwe Hwa semakin pucat karena banyak darah yang dari lukanya. Akan tetapi dengan bibir memucat ia masih juga tersenyum.

"Suheng, jangan harap kau dapat mengganggu seujung rambutpun kepada Tiang Le. Kalau kau membunuh dia, langkahilah dahulu mayatku!"

Bwe Hwa membentak. Pucat wajah Kong In. Tiang Le menjadi bingung.

"Sumoay, kau minggirlah, lukamu……."

"Koko....... aku akan melindungimu sampai aku mati, tak seorangpun boleh mengganggumu!!"

"Jangan begitu Bwe Hwa, aku masih sanggup menandingi Kong In,"

Bantah Tiang Le.

"Koko, kau mundurlah, jangan kau bikin cemas hati Pei Pei, dia amat mencintaimu koko…… Biar aku hadapi Kong In!" Kata-kata Bwe Hwa disambut oleh ketawa keras Kong In.

"Haaa....... haa, Bwe Hwa moay, kau sudah tergila-gila sama Tiang Le, kau hendak membelanya? Baik mari kita lanjutkan pertandingan kita, siapa di antara kita yang unggul, haa....... haa."

"Kong In, kau menghinaku bangsat, hari ini kau harus mampus di tanganku!"

Saking marahnya, Bwe Hwa bagaikan harimau luka dia menubruk maju, pedangnya menyambar membabat leher Kong In.

Akan tapi sambil tertawa keras Kong In dengan mudah mengelak dan tangan kirinya mendorong tubuh Bwe Hwa.

Segera Bwe Hwa miringkan tubuhnya dan balas menyerang dengan pedangnya.

Kong In terus tertawa.

Menghindari tusukan pedang Bwe Hwa.

Suara ketawanya seperti orang hendak menangis, air matanya bercucuran selagi dia tertawa.

Kasihan sekali pemuda ini.

Sesungguhnya biarpun Kong In berwatak kasar dan berangasan, akan tetapi mendengar perkataan Bwe Hwa yang amat menusuk-nusuk hatinya tadi, membuat ia melampiaskan kekecewaan hatinya itu dengan tertawa.

Akan tetapi, ia tak menyadari bahwa perbuatannya itu di luar dari sadarnya.

Ia terus tertawa-tawa, sementara hatinya menangis.

Bwe Hwa yang merasa ditertawai oleh Kong In menjadi panas dan pedangnya berkelebat mengirim serangan bertubi-tubi.

Hanya Tiang Le yang dapat menyelami perasaan itu suhengnya!

Ia tahu sekali, betapa kecewa hati suhengnya, karena dengan terang600 terangan Bwe Hwa menyatakan cintanya melindunginya, malah bersedia mati untuknya!

kepadanya, Ah, Bwe Hwa.......

mengapa kau mencintaiku mengapa?

Mengapa kau tidak membalas kasih sayang it-suheng?

Pikiran Tiang Le kalut sekali.

Cemas melihat Kong In masih tertawa-tawa seperti orang gila.

Sementara Bwe Hwa semakin bernafsu untuk merobohkan Kong In!

Pada saat itu itu, entah dari mana datangnya, terdengar bentakan keras dan sesosok tubuh berkelebat menyambar tubuh Kong In dan Bwe Hwa yang tengah bertempur.

Terdengar suara pedang beradu dan beberapa detik kemudian, Kong In dan Bwe Hwa mencelat mundur.

Ke duanya memandang ke arah tubuh yang sudah berlumuran darah, seorang gadis berkerudung hitam telah menggeletak di tanah sambil memegangi dadanya yang rupanya terkena tusukan pedang Bwe Hwa dan Kong In!

"Suci.......

suheng.......

me.......

mengapa kalian bertempur…..

aduhh.......

Ti.......

Tiang Le…… kokooo.......!"

"Sian Hwa……!"

Tiang Le dan Kong In berseru hampir berbareng, memburu ke arah gadis kerudung hitam itu. Dengan gerakan cepat tangan kiri Tiang Le membuka kerudung hitam si gadis.

"Kau....... kau....... kau Sian Hwa?"

Tiang Le dan Kong In terperanjat melihat sebuah wajah yang hitam gesang seperti pantat kuali.

Wajah itu penuh dilumuri air mata yang berjatuhan bertitiktitik.

Wajah itu memang wajah Sian Hwa!

"Kokooo.......

aku...

aa...

mengapa....

su...

ci dan su...

heng bertempur.......

aduh…..!"

Sian Hwa menekan dadanya yang berlumuran oleh darah.

Pandangannya menatap saja ke arah Tiang Le, Kong In dan Bwe Hwa.

Tak tahan lagi Bwe Hwa melihat keadaan Sian Hwa seperti ini, ia maju menubruk dan menangis.

"Sian Hwa, kau…… kau. Kau…… ampuni........ aku...... aku telah membunuhmu....... Sian Hwa!"

"Suci....... kau ja.......jangan bertempur la....... lagi, su........ suheng jangan kau membenci suci……. aahhg......."

"Sian Hwa moay....... aku bersalah kepadamu…….. kau ampuni aku, aku berdosa kepadamu, Hwa-moay, kau bunuhlah aku……. kau bunuhlah aku!"

Kong In menangis, merenggut-renggut rambut kepalanya. Ia merasa menyesal bukan main, pedangnya ini telah menusuk dada Sian Hwa!"

"Aku harus mampus, aku harus mampus!"

"Suheng! Kau gila, diamlah....... suheng, kasihan Sian Hwa,"

Tiang Le berkata membentak Kong In. Sementara Cie Lay yang sudah dibebaskan dari totokan Tiang Le memandang Sian Hwa dengan air mata yang bercucuran.

"Sian Hwa moay……."

Cie Lay memanggil. Sian Hwa menoleh kepada Cie Lay. Wajah si gadis yang bermuka hitam itu semakin pucat.

"Cie Lay su…… suheng!" Cie Lay berjongkok. Mengelus kening hitam Sian Hwa. Setitik air mata Cie Lay berjatuhan di atas kepala si gadis.

"Sumoay mengapa kau jadi begini…… mengapa sumoay?"

Sian Hwa menggelengkan kepala. Sementara napasnya semakin lemah.

"Mukaku…… terkena pukulan Jing-tok-ciang….. ahhh su….. suheng…… Tiang Le…… aaaduhhh!"

"Sumoay…… kau hendak mengatakan apa katakanlah……!"

Pandangan mata Tiang Le basah, dia mengusap pipi Sian Hwa. Sian Hwa mengangkat tangan Tiang Le yang mengusap dan ditekankan ke arah dada yang terluka.

"Kokooo…… aaaa… ku…… cin….. cinta padamu……!"

"Sian Hwa……!"

"Kokooo....... iinnniii…. aduuuuh........ Bawalah surat....... iniii....... kkkaasih…… Hong-siang (kaisar),"

Dengan gerakan yang amat lemah Sian Hwa mengeluarkan sepucuk surat bersampul kuning.

Ia memandang Tiang Le, lama…… lama sekali gadis itu menatap wajah Tiang Le.

Akhirnya tak kuat lagi ia menahan penderitaan yang menusuknusuk tengah merenggut nyawanya.

Pada pandangan yang terakhir, dengan gerakan yang amat lemah tangan Sian Hwa mengangkat tangan Tiang Le, menciumnya dan tangan itu terkulai bersamaan dengan perginya arwah Sian Hwa ke alam lain.

"Sian Hwa……!!"

"Hwa-moay........ Hwa-moay….."

Cie Lay menjerit dan menubruk Sian Hwa sambil menangis.

Tubuh Sian Hwa diguncang-guncang oleh pemuda itu.

Sian Hwa.......

mengapa kau tinggalkan aku, mengapa.....

ahh, Sian Hwa!

Mengapa kau tidak berbicara banyak kepadaku…… mengapa, mengapa?"

Tiang Le mengelus pundak suhengnya.

"Suheng........ sudahlah….. Sian Hwa sudah pergi... lihat, suheng dan kalian sumoay dan It-suheng, Sian Hwa diakhir ayatnya memberikan surat ini. Ia berjiwa patriot, ia pahlawan bangsa. Surat ini adalah surat pengkhianatan Jenderal Bong kepada pemerintah, surat perjanjian kepada tentara Mongol untuk menghancurkan negara Song. Surat ini, menentukan mati hidupnya rakyat Tiongkok! Entah dari mana Sian Hwa mendapatkan surat ini…… "

"Tiang Le…... aku telah dibutakan oleh nafsu, kau maafkanlah aku yang hampir saja hendak membunuhmu....... benar. Sian Hwa adalah satu-satunya murid mendiang suhu yang telah mengorbankan nyawanya untuk bangsa dan negara. Tiang Le kau teruskanlah surat itu kepada Hong-siang, biar aku akan mencari musuh-musuh suhu dan mari kita berlomba siapa paling dulu yang berhasil membasmi musuh-musuh mendiang suhu!"

Kong In berkata dengan suara keras. Ia memandang ke arah jenazah Sian Hwa.

"Mari kita makamkan Sian Hwa.......

Baca Juga: Neraka Hitam 7

Baca Juga: Renjana Pendekar 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger