Pendekar Lengan Buntung 5

Eps 5 Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Baca online Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Cersil Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw.

"Kaukah yang telah melukai anak buah Hek-lian-pai?"

Orang yang di depan itu bertanya mengawasi Tiang Le, berkilat matanya memandang lengan baju yang terjubrai tanpa lengan.

"Cuwi (tuan sekalian) ini siapa dan ada keperluan apakah gerangan berkunjung ke pondok kami?"

Tiang Le bertanya penuh selidik, ia maju selangkah. Pei Pei mengikuti di belakang Tiang Le.

"Pay-cu, pemuda buntung inilah yang telah mengacau Sian-li-pay dan yang barusan melukai tiga orang saudara Hek-lian-pay,"

Orang berkumis tikus berjenggot kambing berkata menunjuk ke arah pemuda lengan buntung.

Orang yang dipanggil Pay-cu adalah seorang setengah tua, berusia hampir empatpuluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja tanpa daging sedikitpun, namun tubuhnya itu masih nampak gesit dan ini waktu kita lihat ia melompat turun dari kudanya tadi.

Ia memegang sebuah tongkat hitam berkepala naga.

Matanya mencorong tajam menyapu tubuh Tiang Le.

"Ooo, jadi inikah anjing buntung yang kabarnya telah membuat kacau di pulau Bidadari…… hemm, orang muda buntung, benarkah kau pernah mengacau Sian-li-pay dan barusan melukai muridku?"

Suara kakek Pay-cu Hek-lian-pay itu tinggi melengking.

Tahulah Tiang Le bahwa kakek kurus ini mempunyai tenaga sinkang yang tidak boleh dianggap remeh.

Melihat bahwa yang datang ini adalah Pay-cu Hek-lian-pay sendiri, cepat Tiang Le memberi hormat menaruh lengan kiri di atas dada.

"Maaf……. kalau tidak salah siauwte berhadapan dengan Pay-cu Hek-lian-pay yang ke sohor itu. Silahkan masuk!"

"Terima kasih orang muda urusan cukup diselesaikan di sini saja. Kau tadi sudah melukai tiga orang muridku, untuk ini saja aku yang tua harus menyeretmu ke markas untuk diadili, baru setelah itu aku akan membawamu ke Sian-li-pay. Orang muda buntung, sekarang hendak berkata apa kau?"

"Locianpwe, engkau orang tua kalangan atas dan sebagai Pay-cu Hek-lian-pay yang cukup bijaksana dan berpandangan luas harap mempertimbangkan hal ini dan terlebih dahulu memeriksa ke tiga orang muridmu. Mereka itu hendak mengganggu nona Pei Pei, menyeret-nyeretnya secara kurang ajar, hemm, baiknya aku cukup sabar hati. Kalau tidak ada nona ini mencegahnya tentu siangsiang orang-orangmu itu sudah kumampusin!"

Pay-cu Hek-lian-pay yang bernama Teng Kiat dan berjuluk Heksin-tung Pay-cu marah bukan main.

Ingin ia sekali gebuk membikin remuk kepala pemuda buntung ini, akan tetapi sebagai ketua Heklian-pay yang kesohor, tentu saja ia tidak mau melakukan hal yang akan merendahkan namanya.

Ia hanya melotot memandang Tiang Le lalu membentak, "Bocah setan, berani kau berkata begitu di depan Pay-cu Hek-lianpay?

Berani, kau menantangku?!"

Tiang Le menggeleng kepala, tersenyum mengejek.

"Siapa yang berani melawanmu, Pay-cu. Harap jangan panas hati dulu. Tak pantas sebagai ketua, sikapmu berangasan seperti kepala perampok. Kau tanyakan dulu kepada tiga orang muridmu, apa benar mereka itu tukang mengganggu wanita? Hem janganjangan muridmu itu semuanya gila perempuan, jay-hoa-cat (penjahat pemetik bunga)."

"Jadi kau hendak membela dirimu bahwa kau benar?"

"Tentu saja karena aku tidak bersalah dan muridmu itulah yang telah kurang ajar kepada nona Pei Pei. Bagaimana dapat dibilang aku yang salah, muridmu itulah yang bertingkah sok jago pengganggu perempuan!"

"Keparat berani kau menghina anak murid-muridku!"

Ketua itu membentak.

"Tak perduli mereka itu anak muridmu atau anak setan. Siapa saja yang melakukan perbuatan sewenang-wenang, hem, tanganku inilah yang menghajarnya!"

"Tanganmu tinggal sebelah, hendak mengandalkan apakah kau membuka bacot di depan Pay-cu Hek-lian-pay?"

"Tanganku yang sebelah ini memang sudah tidak ada, akan tetapi yang sebelah ini…..,"

Tiang Le mengacungkan tangan kirinya. "Tanganku yang satu ini masih mampu memutar batang leher anak buahmu!"

"Bocah buntung, keparat! Kau bermulut besar dan sombong. Kau menghina muridku, menghina Hek-lian-pay. Apakah kau mempunyai nyawa rangkap?"

"Nyawaku cuma satu, Pay-cu! Akan tetapi tidak gampanggampang orang hendak mencabut nyawaku?"

Terdengar teriakan marah dan seorang yang di sebelah Pay-cu Hek-lian-pay sudah mencelat maju.

Orang yang berhidung bengkok ini yang memegang toya adalah sute (adik seperguruan) dari ketua Hek-lian-pay, lihai sekali permainan toya besinya dan ia diberi julukan Tiat-pang-hek-lian (Tongkat Besi Berantai Hitam).

Wataknya berangasan dan kasar, mendengar ucapan yang menantang dari Tiang Le, ia tidak mau sabar lagi.

"Bocah setan! Berani kau menghina Hek-lian-pay?"

Sambil berkata demikian toya besi yang berat itu menyambar kepala Tiang Le.

Cepat Tiang Le mendorong Pei Pei ke belakang dan ia sendiri menggeser kakinya mengelak.

Melihat gerakan tongkat yang mengeluarkan angin berciutan ini tahulah Tiang Le bahwa lawannya mempunyai tenaga lwekang yang tak boleh dipandang ringan.

Sambil mencelat ke samping tangan kirinya mendorong ke depan, inilah pukulan Pek-lek-jiu.

Kalau saja si kakek hidung bengkok ini tidak memandang rendah kepada Tiang Le tentu ia akan berlaku waspada dan siap-siap akan tetapi rupanya karena wataknya yang kasar berangasan itu lupa bahwa ia menghadapi seorang pemuda luar biasa, pemuda yang telah membuat kacau di Sian-li-pay.

Maka begitu toya hampir mengenai tubuh Tiang Le, kakek hidung bengkok tertawa senang dan menyabet pinggang lawan.

Melihat gerakan toya itu amat lambat meskipun bertenaga besar, cepat Tiang Le meloncat ke atas membarengi dengan pukulan tangan kiri yang menggunakan hawa Pek-lek-jiu, suara toya berdesir di bawah kakinya akan tetapi begitu tangan kirinya bergerak, tahutahu tubuh si kakek hidung bengkok terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi dada dan muntah darah segar.

"Sute…..!"

Hek-sin-tung Pay-cu meloncat memburu sutenya.

Dan menotok dada yang terluka oleh pukulan Tiang Le.

Sementara itu tiga orang kakek yang memegang pedang dan ruyung sudah mencelat mendekati Tiang Le sambil membentak.

"Awas pedang!"

Dengan cepat orang tua yang berjenggot kambing yang bernama Sauw Ki membentak sambil menerjang dangan pedangnya.

Gerakan pedangnya amat cepat dan kuat dan mengeluarkan suara berdesing mengerikan.

Cepat Tiang Le menggerakkan kepalanya dan mencelat menghindarkan ruyung yang menyambar pula dari tangan kakek berambut putih yang bernama Jin Ho dan bersamaan dengan gerakan ini, angin pukulan bersiutan diputar-putar oleh kakek ketiga yang berkaki buntung.

Kiranya kakek buntung ini sudah menggerakkan tangannya memutar-mutar merupakan angin pukulan jarak jauh.

Terkejut sekali Tiang Le.

Pei Pei menjerit perlahan melihat tubuh Tiang Le terhuyunghuyung tersambar angin pukulan kakek kaki buntung yang luar biasa ini.

Dikeroyok oleh tiga orang yang berkepandaian hebat ini, Tiang Le tak dapat membalas dengan pukulan.

Ia hanya dapat mengandalkan keringanan tubuhnya saja, mencelat ke sana ke mari dengan repot.

Akan tetapi belum limapuluh jurus, ia sudah terdesak hebat.

Pukulan-pukulan kakek kaki buntung ini demikian hebat dan mengetarkan tangannya yang menangkis.

Limapuluh jurus sudah lewat, dan ketiga orang yang mengeroyok ini menjadi penasaran malu.

Masa menghadapi pemuda buntung yang hanya bisa mengelak ini saja, mereka tidak dapat robohkan.

Sauw Ki tiba-tiba mengeluarkan jeritan nyaring sekali dan pedangnya melakukan terjangan kilat.

Pei Pei menutup mulutnya dan sebelum tubuhnya menegang, ia tidak dapat lagi melihat bagaimana Tiang Le mengelak dari sambaran terjangan dari kakek jenggot kambing yang demikian cepat itu apabila sebuah pukulan dari kakek buntung membuat Tiang Le terjungkal dan pada saat itulah bagaikan kilat pedang di tangan Sauw Ki mengejar dengan cepatnya menubruk.

"Desss! Ceppp!"

Pedang itu menancap di tanah di samping kepala Tiang Le akan tetapi tubuh Sauw Ki terlempar ke belakang dan roboh.

Ternyata pada detik yang amat berbahaya itu, Tiang Le berlaku waspada dan dengan sedikit saja ia menggeser kepalanya, pedang Sauw Ki meluncur amblas di tanah sampai ke gagang.

Ketika itulah tangan kiri Tiang Le bergerak ke depan melakukan pukulan jarak jauh dengan tenaga Pek-in-kang.

Keruan saja Sauw Ki menjerit ngeri dan tubuhnya terjengkang ke belakang.

Sauw Ki bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba ia muntahkan darah merah.

Ternyata pukulan Tiang Le dalam jarak dekat itu sudah mendatangkan luka parah di dalam dadanya.

Hal ini tidak mengherankan karena Tiang Le melakukan tenaga Pek-in-kang dalam jarak yang begitu dekat dan tepat memukul dada lawan!

Pei Pei menarik napas lega melihat Tiang Le bangun dan terhuyung-huyung.

Akan tetapi ia menjerit keras begitu dilihatnya kakek kaki buntung dan kakek berambut putih sudah menerjangnya dengan pukulan-pukulan dan serangan ruyung yang mengeluarkan suara bersuitan keras dan menggetar-getar.

Terkejut sekali Tiang Le, ia melompat membuang diri ke belakang, akan tetapi kurang cepat pukulan kakek kaki buntung menyerempet pundaknya.

Tiang Le mengeluh dan terlempar ke belakang.

Sebuah pukulan lagi tak dapat dihindarkan, segera mengerahkan sin-kang ditubuhnya!

Matilah aku kali ini, pikir Tiang Le.

Mengangkat tangan menangkis.

Sebaliknya kakek kaki buntung juga berseru kagum.

Cepat menarik kembali lengannya yang terasa panas beradu dengan lengan kiri pemuda itu.

Pada saat itulah ruyung kakek rambut putih Jin Ho menyambar lambung Tiang Le.

Pei Pei menjerit.

Tubuh Tiang Le terlempar.

Hebat sekali pukulan ini.

Darah mengalir leget dagu pemuda itu.

Pei Pei menubruk dan menangis.

"Kokoooo…..

Tiang Le……!"

"Minggir perempuan geladak, biar kumampusi lelaki jobong ini!"

Si kakek rambut putih menarik tangan Pei Pei.

Dan si Ruyung dengan sengitnya menghantam lagi.

Tiang Le menggeliat menahan sakit pada lambungnya.

Tubuhnya terlempar lagi.

Terbosai lagi.

Entah berapa kali ia jungkir balik.

Melihat ini bercucuran air mata Pei Pei melihat penyiksaan yang menyayat hatinya, tak tahan Pei Pei melihat ini lebih lanjut, ia menubruk kakek kaki buntung yang siap hendak menghancurkan kepala Tiang Le yang sudah terkulai setengah pingsan.

"Jangan bunuh dia..... jangan bunuh Tiang Le,"

Pei Pei merangkul kaki kakek buntung yang sebelah kanan, akan tetapi begitu kakek ini mendengus, tubuh Pei Pei terlempar jauh dan pingsan!

Mengingat dua orang kakak seperguruannya ini sudah terluka di tangan pemuda buntung ini, kakek rambut putih menjadi sengit bukan main, cepat ia mencabut pedang Sauw Ki yang menancap di tanah dan menyambitkan pedang itu ke arah Tiang Le.

Bagaikan orang yang setengah ingat, setengah sadar, Tiang Le bergulingan dan pedang itu menancap di sampingnya, mengeluarkan suara desingan keras dan menancap di tanah beberapa senti saja dari tubuh Tiang Le.

Sauw Ki menjadi penasaran dan marah, ruyungnya berkelebat lagi.

Dibarengi pukulan jarak jauh yang menghantam belakang Tiang Le dan untuk yang kesekian kalinya tubuh Tiang Le mengulet dan jatuh terkulai lemah.

Ruyung si kakek berambut putih terangkat ke atas.

Pada saat itu terdengar bentakan keras.

"Tahan!"

Hek-sin-tung-paycu ketua Menghampiri Tiang Le. Hek-lian-pay maju ke depan.

"Dia sudah mati!"

"Bagus, biar dia jadi nyaho!"

"Mari kita kembali ke markas!"

Perintah ketua itu.

"Pemuda ini, apakah tidak dibawa untuk diserahkan kepada Paycu Sian-li-pay?"

Tanya kakek kaki buntung mencongkel tubuh Tiang Le dengan kakinya.

"Tak usah, dia sudah mati untuk apa dibawa-bawa, kecuali kalau ia masih hidup. Sudahlah, mari kita kembali!"

Pay-cu Hek-lian-pay memapah sutenya yang lemah terluka dan dinaiki ke atas kuda dan kakek rambut putih mengangkat tubuh Jin Ho yang lemas setelah muntahkan darah banyak sekali.

Setelah mereka itu pergi, udara menjadi gelap.

Awan hitam dengan cepatnya bergerak menaungi tempat itu dan sebentar itu pula hujan turun dengan lebatnya.

Mungkin karena tersiram air hujan, itulah yang menyadarkan Pei Pei.

Ia mengeluh perlahan menyebut nama Tiang Le dan beringsut-ingsut gadis itu menghampiri Tiang Le.

Hujan turun membasahi ke duanya.

"Kokooo…..!"

Suara gadis itu demikian menyayat hati.

Tangannya menggerepe mengusap tubuh pemuda buntung itu.

Mengguncangkan.

Tiang Le membuka matanya.

Tersenyum dalam deraian hujan yang semakin menggila.

Matanya melirik dan ia hanya melihat Pei Pei seorang.

Tangan kiri Tiang Le memeluk gadis itu, ternyata Tiang Le belum mati seperti yang diduga oleh ketua Hek-lian-pay itu.

Ini karena kehebatan tenaga sin-kang Tiang Le.

Karena ia tahu tak mungkin ia bertahan lagi, cepat Tiang Le mengerahkan hawa murni dan menutup jalan darah dan mematikan raga.

Demikianlah begitu pukulan-pukulan itu menyambar tubuhnya Tiang Le seakan-akan tidak merasa itu.

Ia sudah mematikan raganya, ia menerima saja tubuhnya digebukin lempar sana lempar ini, sampai lawannya menduga ia sudah mati!

Dengan cara inilah ia dapat selamat.

Ia dapat mengelabui mata ketua Hek-lian-pay dan orang-orangnya, sehingga mereka itu menyangka ia sudah mati.

Inilah yang terbaik, coba saja kalau ia masih hidup tentu Pay-cu Hek-lian-pay akan membawanya ke markas dan untuk diserahkan kepada Sian-li-pay!

Tiang Le mengerahkan tenaganya yang hampir habis.

Terasa badannya begitu sakit-sakit dan tiga kali ia batuk mengeluarkan darah.

Pei Pei menangis.

Tiang Le bangkit dan mengusap muka Pei Pei yang basah tersiram air hujan.

"Pei Pei..... jangan menangis aku tidak apa-apa sayang?"

"Kokooo… aku kuatir..... sekali kau kenapa-kenapa!"

"Tidak apa moay-moay, mari kita ke dalam!"

Tiang Le memapah tubuh Pei Pei yang terluka dalam akibat tendangan kakek buntung. Ke duanya berangkulan! Sampai di dalam kamar itu Tiang Le, roboh dan dari bibir keluar darah merah! "Tiang Le……!"

Pei Pei mengangkat kepala Tiang Le dan direbahkannya.

Ia sendiri cepat-cepat bertukar pakaian, sementara Tiang Le masih pingsan.

Tiang Le terluka parah di dalam dadanya.

Sering kali ia muntahkan darah segar.

Ini membuat hati Per Pei berkuatir sekali.

Gadis itu menangis di samping Tiang Le.

Demikianlah selama tiga hari itu Tiang Le pingsan tak sadarkan diri.

Mukanya semakin pucat pasi.

Napasnya semakin lemah.

Untung pada hari yang kedua itu Pei Pei sudah agak sehat dan dapat berjalan.

Dengan jalan perlahan-lahan ia menuju ke toko obat.

Membelinya obat tambah darah, karena mengira tentu Tiang Le kekurangan darah karena sering muntah darah.

Pada hari ketiga ini Tiang Le tidak lagi muntah darah.

Luka di dalam dadanya perlahan-lahan sembuh berkat siulan sambil tidur.

Sebetulnya selama tiga hari itu, Tiang Le bukan pingsan, ia hanya siulan mengerahkan hawa murni menyembuhkan luka di dalam dada.

Kalau saja tidak kuat pertahanannya, tentu siang-siang Tiang Le sudah pecah jantungnya.

Hari keempat dan kelima Tiang Le bisa makan sedikit bubur.

Bisa sedikit-sedikit berbicara dengan gadis perawatnya ini.

Ia tahu bahwa selama ini gadis inilah yang merawatnya dengan setia.

Terharu hatinya apabila dilihatnya Pei Pei sering menangisi dirinya.

Hem, di antara seratus gadis, hanya Pei Pei lah yang patut untuk dicintai!

Hari ketujuh Tiang Le sudah dapat bangkit duduk dan bercakapcakap dengan gadis itu.

Pei Pei girang sekali melihat kesehatan pemuda ini yang semakin hari semakin baik.

Ia membawakan semangkok bubur untuk Tiang Le.

"Makanlah bubur ini koko!"

"Tarulah di meja dulu, aku belum lapar Pei-moay!"

"Koko, bagaimana rasanya, baikkankah?"

Tanya Pei Pei prihatin.

"Jangan kuatir Pei-moay, aku akan sembuh. Hanya tinggal lemasnya saja ini….. ah!"

"'Syukurlah koko……!"

Pei Pei setengah berbisik, tak sengaja ia melirik ke arah lengan kanannya yang buntung. Tiang Le menarik napas dalam.

"Beginilah moay-moay setelah lenganku buntung, bukan saja aku menjadi seorang pemuda cacad, akan tetapi ahhhh……, tentu arwah suhu akan penasaran sekali, aku tak dapat membalas dendam, aku murid tak berbakti!"

Mendengar suara Tiang Le yang berputus asa, bendungan air yang sejak tadi ditahan-tahan.

Gadis itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tiang Le pembaringan, memeluk kedua kaki pemuda itu dan tersedu-sedu.

pecahlah mengeluh duduk di menangis "Tiang Le.......kookoooo….

kau.......

kau untuk apa kau melibatkan dirimu dengan permusuhan yang membahayakan dirimu saja.

Biar lenganmu buntung, biar engkau menjadi pemuda tanpadaksa, aku…..

mencintaimu Kokooo!"

Tak kuat hati Tiang Le, menahan air mata yang turun bertitik-titik ketika ia menunduk dan memandang kepada Pei Pei yang kusut rambutnya.

Ia mengangkat kepala itu, memandang wajah yang basah itu!

"Pei-moay, kau tahu, dengan lenganku buntung, Aku…… aku tak dapat lagi mempermainkan pedang.

Ahh, moay-moay baru saja aku hampir binasa oleh Pay-cu Hek-lian-pay itu, karena aku tak dapat melawan, jangankan untuk melindungimu moay-moay, setelah lenganku ini buntung, ahh, apa yang dapat kuperbuat lagi."

Pei Pei menggigit bibirnya memandang wajah pemuda yang tengah diliputi kedukaan besar.

Matanya berkaca-kaca.

Mereka berpandangan melalui air mata, kemudian bagaikan besi sembrani yang saling menarik, ke duanya berangkulan dan bertangisan dalam pelukan.

Dengan air mata mereka membasahi muka masing-masing.

"Pei-moay, aku menjadi orang yang tak berguna kini!"

"Koko! Begitu besar hasratmu untuk bisa bermain pedang?"

Pei Pei bertanya dengan suara tersendat dalam isak.

"Tak mungkin aku bisa bermain pedang lagi, Pei-moay!"

Pei Pei tak menyahut.

Air matanya bercucuran deras.

Berderai jatuh dipangkuan pemuda itu.

Sambil mengusap air matanya Pei Pei bangkit berdiri berjalan ke sebuah lemari besi dan mengeluarkan sebuah kitab tebal yang nampaknya sudah tua dan kotor.

"Koko, kitab ini kudapat waktu aku masih kecil, sebagian sudah terbakar, kau pelajarilah koko, barangkali berguna untukmu,"

Dengan mata basah menyerahkan kitab itu Dengan dada berdebar Tiang Le menerima buku yang disodorkan oleh gadis itu, sebuah buku tebal yang sudah lapuk dan berwarna kekuning-kuningan.

Dan di bagian lain nampak bekas lembaranlembaran yang sudah terbakar.

Ia heran memandang gadis di depannya ini.

"Pei-moay!?"

Tanyanya tak mengerti. Pei Pei meraih buku tua itu dari tangan Tiang Le dan berkata.

"Buku tebal ini adalah milik ayah dulu, sengaja kusimpan baik-baik karena dengan buku ini mempunyai riwayat dalam hidupku. O ya, ada lagi sebuah pedang. Pedang itu adalah pedang buntung...... tunggu aku akan mengambilnya." Pei Pei memberikan lagi buku tebal itu kepada Tiang Le dan berlalu ke lemari besi mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus oleh kain kuning. Pei Pei membuka bungkusan kain kuning itu. Adalah sebuah pedang pendek, pedang buntung. Akan tetapi begitu dibuka oleh gadis itu dari sarungnya, nampak sebuah sinar kebirubiruan yang memancar dari kilatan pedang yang telanjang itu. Debaran dada Tiang Le bertambah kencang. Ia turun dari pembaringan dan menghampiri Pei Pei. Mengambil pedang buntung yang mengeluarkan cahaya kebiru-biruan itu.

"Dari mana kau mendapatkan kitab dan pedang ini Pei-moay,"

Tiang Le bertanya heran.

Menimang pedang pendek.

Hawa dingin yang memancar dari cahaya sinar pedang itu membuat pemuda itu memperhatikan lebih seksama.

Inilah pedang pusaka buntung, yang pernah mendiang suhunya ceritakan padanya.

Heran, dari mana Pei Pei mendapatkan semuanya ini?"

"Ceritanya panjang koko….. kitab dan pedang ini mempunyai riwayat hidupku. Mari kau duduklah koko....... biar sambil duduk ini kau sambil mendengarkan ceritaku,"

Pei Pei menarik tangan Tiang Le memapah duduk di tempat tidur, sedang ia sendiri menyeret kursi ke dekat tepi pembaringan. Di depan Tiang Le gadis itu bercerita.

"Ayahku dulu, pada beberapa belas tahun yang lalu adalah seorang piauwsu, pengantar barang-barang, bernama Cia Teng Kok,"

Demikian Pei Pei bercerita didengar oleh Tiang Le dengan penuh perhatian.

<> Siapakah Cia Pei Pei ini?

Pada tujuh belas tahun yang lalu, gadis yang sekarang bernama Cia Pei Pei ini masih kecil dan berusia sekitar tiga tahun.

Ayahnya adalah seorang Piauw-su yang gagah perkasa dan jujur, bernama Cia Teng Kok.

Karena kegagahan dan kejujuran inilah yang membuat orang she Cia ini maju di dalam usaha ekspedisi yang dipimpin olehnya.

Banyak para pedagang menitipkan barang kepadanya untuk dikirim keluar daerah.

Tentu saja karena orang she Cia ini sering bepergian, maka jarang sekali ia didapati dirumahnya.

Piauw-kiok (ekspedisi)nya yang terkenal itu bernama Kawan Tua.

Ekspedisi ini maju pesat di bawah pimpinan Cia Teng Kok.

Pada suatu hari, ketika mereka itu melalui daerah perbatasan Funian, rombongan ekspedisi ini dikejutkan oleh kedatangan seorang yang amat tua dan dalam keadaan yang terluka ia berkata memohon kepada Teng Kok.

"Cia-piauwsu, tolonglah……, kutitipkan ini… kau.... kau selamatkanlah cepat!"

Orang tua yang nampaknya terluka hebat itu dengan tangan gemetar memberikan sebuah bungkusan. Teng Kok menerimanya bungkusan ini dengan heran.

"Lopek..... apa maksudmu dikirim ke mana barang ini?"

Orang tua itu terengah-engah menggoyang-goyangkan tangannya.

"Simpanlah....... simpanlah, ja… jangan sampai terjatuh ke dalam….. tangan orang-orang jahat……. cepat!"

Sementara suara kaki kuda terdengar mendatangi.

Teng Kok yang cerdik segera memasukkan benda yang terbungkus kain kuning itu ke balik jubahnya dan orang tua yang nampaknya kelelahan itu tersenyum dan sekali gerakkan tubuhnya, tahu-tahu tubuh orang tua itu sudah memapaki orang berkuda, berdiri dengan tegak dan kaki terpentang.

Seorang penungang kuda yang berjambang bauk itu menudingkan goloknya, membentak.

"Orang she Lim, hayo serahkan kitab dan pedang itu kalau tidak ingin nyawamu melayang!"

"Ha ha ha, Sin-kiam-ong Song Tek Hay kau sudah terkenal sebagai Raja Pedang Sakti, mengapa masih penasaran mauin pedang buntung dan kitab, untuk apa?"

"Jangan banyak cerewet, serahkan pedang itu!"

Golok di tangan kiri penunggang kuda bercambang bauk menyambar diiringi sinar pedang berkelebat dari tangan kanannya.

Meskipun orang tua ini nampak terluka, akan tetapi ia masih cukup gesit untuk menghindari serangan golok dan pedang mencelat ke kanan dan balas memukul dengan pukulan tangan kosong.

"Setan! Kau kepingin dimampusin?" "Sin-kiam-ong….. kau mendesakku selalu....... terlalu! Apa kau kira pedang dan kitab itu ada di tanganku?"

"Jangan banyak cakap, hayo serahkan kitab dan pedang, kalau kau masih membangkang jangan harap Sin-kiam-ong Song Tek Hay bertindak keterlaluan kepadamu. Aku sudah cukup sabar Lim Sin Jian, kalau tidak…… hemm, aku tidak memandang mata lagi kepadamu orang tua!"

"Ha ha ha, Sin-kiam-ong……! Kau katakan tidak ingin memandang mata kepadamu, omong kosong saja kau. Buktinya kau sudah memaksaku…… aku… aku sudah terluka oleh pukulan Jiu-pekciangmu yang dahsyat itu....... mengapa kau mendesakku sih? Pedang dan kitab itu tidak ada di tanganku harap kau mengerti dong!"

"Tua bangka bajingan, siapa yang percaya omonganmu! Baik, kalau kau tidak juga serahkan kitab dan pedang itu, terpaksa pedangku ini berbicara!"

Amat cepat sekali gerakan si Raja pedang sakti ini sehingga sambil berseru kaget kakek Lim Sin Jian cepat mengegoskan diri ke samping, akan tetapi pedang sakti itu demikian cepatnya menyambar dan berkelebat tahu-tahu tubuh kakek she Lim itu sudah terhuyung-huyung dan.......

dan terjerembab ke depan sambil memegang dada yang tersambar pedang.

"Berikan kitab dan pedang!"

"Ha ha ha….. kakek she Lim bangkit berdiri sambil memegangi dada kiri tertawa menuding ke arah Sin-kiam-ong Song Tek Hay, "

Kau, kau…. jahat dan kejam dan tamak….., tak mungkin mendapatkan pedang dariku…. ha ha."

"Sratt!"

Sekali pedang orang she Song itu berkelebat darah merah muncrat dari leher kakek Lim yang tertawa terbahak-bahak.

Sebuah kepala menggelinding jatuh, disusul dengan robohnya tubuh tua itu berkelonjotan sebentar dan mati!

Melihat adegan ini Cia Teng Kok berseru marah dan menarik pedangnya.

"Orang gila kau keji dan telengas, aku Cia Teng Kok tak dapat menerima kekejaman ini!"

Song Tek Hay menoleh kepada piauwsu ini dan tertawa.

"Ha ha ha..... kiranya Cia-piauwsu yang berada di sini, pantas si tua bangka she Lim itu tenang-tenang saja matinya. Nggak tahunya pedang dan kitab sudah diserahkan kepadamu, ya?"

"Jangan ngaco, tidak ada pedang dan kitab!"

"Kau tidak mengaku, biar aku periksa barang-barangmu ini!"

"Lancang! Siapapun tidak boleh menyentuh barang-barang kiriman ini..... disini tidak ada pedang dan kitab!"

Cia Teng Kok membentak marah menghadang gerobak kiriman barang. Lima orang anak buah kepala piauwsu sudah mencabut senjatanya masing-masing.

"Aku tak ingin bertempur orang she Cia, cuma aku inginkan pedang dan kitab. Biarkanlah aku memeriksa barang-barang ini,"

Berkata demikian si raja pedang sakti Song Tek Hay mencelat ke atas gerobak barang dan sekali pedangnya bekerja kain terpal yang menutupi barang-barang itu sudah terobek besar.

"Kurang ajar!"

Salah seorang dari ke lima piauwsu itu menerjang dengan golok di tangan.

Akan tetapi hebat memang si raja pedang sakti Song Tek Hay ini, begitu dari belakang didengarnya suara golok menyambar.

Tanpa melihat ke belakang, pedangnya menyambar dan terdengar teriakan ngeri dari seorang piauwsu yang terbabat tangan kanannya dengan pedang, darah merah mengucur deras.

Melihat kekejaman orang bercambang bauk ini, marahlah hati Cia Teng Kok dan bersama-sama ke empat anak buahnya mereka menerjang maju dan mengelebatkan pedangnya menerjang orang bercambang bauk yang telah membuntungi lengan kawannya.

Akan tetapi, sama seperti tadi begitu si raja pedang bergerak.

Pedangnya berputar cepat dan tahu-tahu ke empat piauwsu telah mati dengan kepala terpisah dari badannya.

Darah merah membanjiri membasahi pinggiran gerobak barang.

Teng Kok terkejut bukan main melihat kelihaian pedang lawannya ini.

Dengan sengit ia menerjang lagi maju sambil membentak keras.

"Mampus kau!"

"Ha ha ha! Hebat juga permainan pedangmu Cia-piauwsu, akan tetapi, tetap saja kau akan kehilangan nyawa jika kau tidak menyerahkan pedang dan kitab itu." Teng Kok tidak menyahut, ia mainkan pedangnya. Pedangnya berkelebat cepat merupakan sambaran kilat menusuk dada si raja pedang sakti Song Tek Hay, akan tetapi begitu Tek Hay mengegoskan tubuhnya sedikit, pedang Teng Kok melesat di samping iganya dan menyusul sebuah sentilan membuat pedang Teng Kok terlepas. Melihat bahwa lawannya ini lihay tentu saja bukannya menjadi mundur malah orang she Cia yang gagah ini menerjang lagi dengan pukulan tangan kanan kiri dan tendangan kaki. Memang Teng Kok ini pernah mempelajari ilmu silat dari cabang Bu-tongpay, sedikitnya ia lebih lihay dari pada para piauwsu-piauwsu yang lain. Oleh sebab itu ia tidak takut menghadapi si raja pedang yang lihay ini. Melihat kenekatan kepala piauwsu itu. Tek Hay jadi marah dan begitu pedangnya berkelebat, tahu-tahu tubuh Teng Kok terlempar dengan kaki kiri buntung. Teng Kok menjerit ngeri dan menahan sakit. Ia memandang orang bercambang bauk yang demikian lihai ilmu pedangnya ini. Tiba-tiba pikirannya teringat kepada bungkusan kuning yang tadi diserahkan oleh orang tua she Lim itu kepadanya. Jangan-jangan di dalamnya ini adalah pedang dan kitab. Celaka kalau kitab dan pedang ini terjatuh ke dalam tangan orang yang demikian lihai dan kejam seperti Tek Hay itu. Berbahaya sekali! Aku harus menyelamatkan benda yang tersembunyi di dalam jubahku ini, pikir Teng Kok. Ia merangkak bangun. Seluruh baju dan celananya yang putih sudah berlopotan oleh darahnya sendiri. Si Raja pedang sakti Song Tek Hay maju menghampiri. Kakinya menendang sambil membentak.

"Cia piauwsu, serahkan pedang dan kitab itu!"

Tubuh Teng Kok terlempar.

Sebuah sungai mengalir deras di sampingnya.

Aku harus menyelamatkan diri, pikir Teng Kok, dan dengan sekali menggerakkan tubuhnya tahu-tahu ia sudah melompat ke dalam air sungai dan terus tenggelam dengan amat cepat sekali.

"Srat srat srat!"

Tek Hay terkejut sekali melihat kenekatan lawan yang tak diduga-duga mencebur ke sungai.

Tiga kali tangannya bergerak pisau terbang menyambar ke dasar sungai.

Nampak darah merah membubus mengalir bersama-sama air sungai.

Tek Hay berdiri di pinggir sungai mengawasi air yang merah itu.

Ia mempunyai keyakinan tentu kepala piauwsu ini telah tewas, maka dengan hati kecewa dan marah ia berkelebat meninggalkan sungai itu.

Matikah Cia Teng Kok terbawa arus sungai yang deras itu?

Tidak.

Biarpun orang she Cia ini sudah merasakan tubuhnya kaku dan nyeri, ia tetap mempertahankan diri.

Ia pandai sekali berenang sebab itu, begitu tubuhnya menyelam ke dalam sungai, ia memberatkan tubuhnya dan berjalan di dasar sungai.

Baru setelah agak jauh, ia mumbul kembali dari permukaan sungai itu.

Dan dengan napas yang terengah-engah ia naik ke atas sungai.

Dan berjalan terpincang-pincang menuju rumah.

Beberapa kali ia jatuh pingsan, akan tetapi apabila ia mengingat kitab dan pedang, ia terus berjalan, jatuh bangun.

Dan begitulah seterusnya menahan rasa nyeri yang hebat.

Wajahnya pucat dan lemah.

Kasihan sekali, betapa hebat penderitaan orang she Cia ini.

Berkat semangat dan kemauan untuk sampai di rumah, akhirnya sampailah ia di rumahnya.

Dan pingsan!

Cia Pei Pei, yang baru berusia tiga tahun itu menangis melihat ayahnya terguling di depan rumah.

Can Mama, seorang tua pembantu rumah tangga Cia piauwsu memburu ke arah tubuh majikannya dan mengangkatnya.

Akan tetapi, tubuh Cia Teng Kok sudah demikian amat lemah.

Napasnya sudah payah sekali.

Wajahnya sudah pucat seperti kertas.

"Ayah…..!"

Pei Pei menangis mengguguk melihat keadaan ayahnya ini.

Can Mama cepat mengurut-urut dada majikannya yang sesak bernapas, pelayan tua ini menjerit kecil kaget melihat kaki majikannya sudah buntung dan membengkak.

"Loya…..! Loya (tuan) mengapa kau jadi begini…?"

"Ayah…..!"

Air mata Pei Pei bercucuran. Memeluki ayahnya. Begitu Cia Teng Kok sadar, ia batuk-batuk dan mengurut-urut dadanya dibantu Can Mama, pelayannya.

"Pei-jie (anak Pei)….., kasihan….. kau se..... setelah ibumu meninggal… kau…., kau......." "Ayah……. Ayah…!"

"Loya....... istirahatlah... biar aku cari obat dan panggil shinse... kau terluka berat, ah, kau jadi begini……. siapakah orangnya yang membuatmu begini?"

"Can Mama…... kau pelayan disini sudah lama, kau baik sekali…. aku terluka berat….. tak mungkin……"

"Loya… jangan berkata begitu. Kau mesti sembuh kasihan Pei Pei masih kecil….."

Can Mama mengurut-urut dada tuannya. Cia Teng Kok batuk darah, si pelayan tua terkejut bukan main mengambil kain dan menyusut mulut tuannya yang berlumuran darah.

"Can… Ma… ma… ma aku tak tahan Pei Pei…!"

Tangan Teng Kok menggerepe mengusap kepala Pei Pei yang menangis mengguguk sambil menyebut-nyebut ayahnya.

Can Mama menjadi bingung sekali melihat keadaan tuannya yang amat menguatirkan ini.

Ia bangkit berdiri dan hendak cepat-cepat memanggil shinse, akan tetapi tangan tuannya menggelenggeleng mencegah.

"Tidak usah….. Can… mama....... tak usah….. kau ke marilah!"

Cia Teng Kok berkata lemah terbatuk-batuk lagi.

"Aku tak dapat lama hidup, kau bawa Pei Pei pergi mengasingkan diri ke sebuah dusun sunyi dan rawatlah Pei Pei sebagai anakmu, dan kau bawa ini bungkusan.

Ini jangan berikan kepada orang lain, simpan.......

ahhh ughh.

"Ayahhh….."

"Loya, loya!"

Air mata Pei Pei membanjir turun menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya di depan pemuda buntung yang memandangnya dengan dada penuh haru! "

Setelah ayahku meninggal, aku diajak Can Mama ke tempat ini, di dusun inilah aku dibesarkan oleh Can Mama, pembantu rumah tangga ayah yang baik hati....

Akan tetapi, iapun meninggal beberapa tahun yang lalu…..

Bungkusan ini kusimpan…...

karena bungkusan inilah yang membuat ayah mengorbankan nyawanya.

Tiang Le tertunduk membaca huruf yang tertera pada sampul kitab yang dipegangnya.

"Hemm, kitab ini adalah kitab pelajaran silat… "

Memang kitab itu adalah kitab pelajaran silat, akan tetapi aku tak pernah mempelajarinya.

Can Mama melarangku untuk belajar silat.

Can Mama tidak menghendaki aku membalas dendam, makanya sampai sekarang kitab dan pedang ini kusimpan saja...

Koko, kalau kau berminat boleh kau coba-coba pelajari kitab ini, barang kali saja berguna bagimu."

"Terima kasib Pei-moay, mudah-mudahan saja!"

Dengan tangan kiri Tiang Le membuka lembaran kitab itu.

Ia harus hati-hati membukanya kalau tidak akan hancur kepingan-kepingan kertas yang sudah tua dan kuning.

Sebagian huruf-hurufnya nampak yang tidak nyata, akan tetapi gambar-gambar yang tertera di dalamnya masih jelas betul dan mudah dimengerti.

Tiang Le membaca tiga buah kalimat yang membagi bagianbagian dalam buku ini, ia membaca perlahan didengar oleh Pei Pei.

"Sian-tien-jiu, gerak tangan kilat, Tok-pik-kun-hoat, ilmu silat tangan buntung, Ji-cap-it-sin-po, duapuluh satu langkah-langkah ajaib."

Terkejut dan girang hati Tiang Le membaca huruf-huruf itu.

Ia membuka perlahan-lahan lembaran-lembaran yang berisi gambargambar orang bermain silat.

Ternyata cocok seperti keadaannya orang dalam gambar itu juga adalah seorang yang buntung lengan kanannya, gerakan-gerakannya itu yang menggunakan tangan kiri disebut Sian-tien-jiu (Gerak tangan kilat) dan bagian gambargambar yang lain memperlihatkan lukisan-lukisan orang bersilat dengan memakai pedang buntung di tangan kiri dan ilmu silat pedang itu disebut Tok-pik-kun-hoat dan Tok-pik-kiam-hoat!

Girang sekali melihat kenyataan ini.

Dengan serta merta ia turun ke pembaringan dan menggerak-gerak tangannya menurut gambar yang dilihatnya.

Akan tetapi Pei Pei mencegahnya.

"Koko..... kuharap kau berlatih setelah kau sembuh benar."

Tiang Le mengangkat dagu Pei Pei dan dikecupnya.

"Jangan kuatir Pei-moay..... besok juga pasti aku sudah sembuh......., besok pagi-pagi sekali aku akan berlatih." "Eh, mengapa secepat itu?"

"Mengapa tidak?"

"Kau masih lemah koko……"

Suara Pei Pei cemas. Tiang Le tertawa.

"Justru aku diam saja di ranjang ini yang membuatku lemas, tidak bergerak tubuhku. Lihat besok pasti aku akan segar bugar!"

"Betulkah koko?!"

"Mengapa aku bohong? Pei Pei badanku lemah karena aku kurang bergerak, memang selalu banyak istirahat dan tidur melulu juga nggak baik..... eh kau tahu Pei-moay, ilmu silat tangan buntung gerak tangan kilat dan langkah-langkah ajaib!"

Setitik air mata Pei Pei meloncat girang melihat kekasihnya demikian semangat untuk melatih diri dengan kitab pemberiannya. Dalam hatinya itu ia berdoa.

"Koko..... mudah-mudahan kau berhasil menjadi seorang pendekar lengan buntung, seorang yang berbakti untuk masyarakat dan bangsa! Ah betapa senangnya........ hatiku, tak ada kesukaran yang besar selain melihatmu bahagia seperti ini!" ◄Y► Kong Hwat benar-benar menjadi kewalahan menghadapi gadis Sian-li-pay ini. Ia seperti seorang ayah yang menghadapi seorang anak perempuan yang nakal, yang sering nyambek dan membuatnya bingung. Berkali-kali ia menyabarkan hati gadis ini, namun Sianli-eng-cu Soan Li bukannya menjadi lembut malah semakin galak. Untung saja setelah nenyeberangi laut Po-hay, kawan-kawannya Ho Siang, Bwe Lan dan Sian Hwa berpencar. Ho Siang pergi menyelidiki keadaan Nyuk In kembali ke pulau, sedangkan Bwe Lan dan Sian Hwa diam-diam mengambil jalan masing-masing untuk mencari pemuda Lengan Buntung Sung Tiang Le, pemuda yang amat dikasihi itu. Sedangkan Kong Hwat dibiarkan meneruskan perjalanannya bersama Han Soan Li yang selama perjalanan itu terus menerus marah-marah dan kadang-kadang mengajaknya bertempur. Kadang-kadang Soan Li ngomel memaki-maki Kong Hwat.

"Kau curang! Mengandelkan ilmu setan, menenggelamkan perahu. Coba sekarang di darat berani kau melayani permainan cambukku?"

"Nona Soan Li sudah dong jangan marah-marah, kau kenapa sih marah-marah melulu ingat, orang pemarah lekas tua!"

Kong Hwat menggoda, akan tetapi ia harus cepat-cepat menggerakkan tubuhnya karena tanpa bilang sesuatu apa-apa, Soan Li sudah menerjang mengirimkan pukulan tangan kiri.

"E, e, e,….. ngamuk lagi jangan gitu ah!" "Kunyuk! Kau menyebut-nyebut namaku Soan Li, Soan Li. Emang namaku Soan Li! Aku Sianli-eng-cu dari Sian-li-pay kau tahu?"

Han Soan Li merengut.

"Memang kau Sian-li-eng-cu, nona gagah perkasa dari Sian-li-pay, murid Pay-cu Bu-tek Sianli..... akan tetapi aku lebih suka memanggil namamu Han Soan Li, alangkah indahnya namamu, lebih indah dari sebutan bidadari yang turun dari langit!"

"Kau memang pengecut!"

Soan Li memaki.

"beraninya kau di laut dan secara curang menggulingkan perahu sehingga aku tak berdaya. Hemm kalau kau gagah, sekarang lawan aku! Kuyakin sabukku ini akan menjirat lehermu dan mampus!"

Kong Hwat menoleh.

Ia berhenti.

Merasa bahwa udara di siang hari ini memang agak panas terik, alangkah nyaman duduk di bawah pohon ini di antara semilir angin kering berhembus.

Berpikir demikian Kong Hwat duduk di akar sebatang pohon yang menonjol memandang Soan Li yang tengah merengut.

Melihat gadis galak ini merengut dingin, bibir setengah ditarik dan pandangan mata yang berapi-api berkilau, Kong Hwat jadi terpesona memandang si gadis bagaikan orang kena hikmat.

Dada pemuda itu berdebar keras memdenyar-denyar.

Sementara Soan Li jadi bertambah uring-uringan kesal dipandang seperti itu.

Gadis itu membanting-bantingkan kakinya.

"Kau ceriwis!"

"Nona Soan Li mengapa kau benci betul denganku?" "Aku harus membunuh kau!!"

"Membunuh…?"

Kong Hwat bertanya menudingkan jari telunjuknya ke dadanya sendiri. Alisnya terangkat naik seperti orang terperanjat kaget.

"Ya, aku harus membunuhmu. Kau pengecut curang!"

"Apanya yang curang, apanya yang pengecut! Aku? Aku pengecut?"

Kong Hwat menggeleng-gelengkan kepala.

"Kata pengecut tidak ada dalam kamus hatiku!"

Soan Li meloncat ke depan, sabuk merahnya bergetar di tangan.

"Bagus… kalau tidak mau dikatai pengecut, hayo lawan aku. Mari kita bertanding sampai seribu jurus!!"

"Nona….., aku....... aku tidak ingin berkelahi denganmu!"

"Tapi aku harus membunubmu, aku tak senang kau berlaku curang menenggelamkan aku ke laut! Hayo hadapi aku!"

"Aku tak sengaja menenggelamkanmu, hanya…… hanya aku waktu itu ingin menaklukkanmu dan........ dan tidak ingin melukaimu!"

"Artinya kau pengecut, beraninya hanya di air, di darat kau takut, Hu, manusia pengecut! Pengecut!" Merah wajah Kong Hwat, betapapun ia mengagumi gadis ini dan tidak ingin berkelahi, akan tetapi bagi seorang gagah seperti dia pantang dikatai pengecut, Makian ini tak boleh diterima. Kong Hwat maju selangkah. Ia tersenyum pahit dan berkata.

"Kau terlalu Soan Li, beberapa kali aku selalu mengalah terhadapmu, namun kau selalu mengataiku pengecut. Aku bukan pemuda seperti dugaanmu, aku bukan pengecut!!"

"Kalau bukan pengecut mengapa kau tidak berani bertanding denganku? Takut sabukku ini merenggut nyawamu?"

"Aku tidak takut....... seandainya aku kalah dan nyawaku melayang, aku akan pergi dengan senang hati, akan tetapi….. aku… aku tak ingin berkelahi denganmu Sianli, jangan kau mendesakku. Marilah duduk kita mengobrol di sini……"

"Setan! Aku bukan tukang ngobrol….. Siapa sudi mengobrol denganmu, ahhh….. tak perlu mengadu lidah, lihat seranganku!"

Sambil membentak demikian Soan Li telah maju menerjang dengan gerakan sabuk sutera merah yang tiba-tiba meluncur menjadi kaku seperti sebatang tongkat dan menyerang dahsyat.

Akan tetapi serangan ini membuat Kong Hwat hampir berseru terkejut karena sabuk sutera yang menerjang seperti tongkat itu dengan tepat sekali menyerang ke arah jalan darahnya.

Ah, tidak tahunya gadis Sian-li-pay ini adalah ahli tiam-hoat (ilmu menotok jalan darah) maka ia segera mengelak dengan cepat.

Serangan kedua dan ketiga menyusul cepat dan semua serangan tertuju ke arah jalan darah yang berbahaya.

"Lihay!"

Kong Hwat memuji dan iapun segera mencabut tongkatnya untuk mempertahankan diri karena ternyata gadis ini betul-betul hendak merobohkannya dan lagi tangguh.

Melihat bahwa pemuda itu hanya melayaninya dengan sebatang ranting kering di tangan, Soan Li bertambah marah dan terhina.

Masa ia yang terkenal di Sian-li-pay sebagai murid tersayang dari Bu-tek Sianli kini hanya dihadapi oleh permainan ranting kering di tangan pemuda itu, betul-betul menghina.

Dengan menjerit keras gadis ini menerjang dahsyat, sabuk suteranya bagaikan ular merah yang menyambar-nyambar.

Akan tetapi begitu terpukul oleh ranting kering di tangan Kong Hwat terkejutlah ia karena merasa telapak tangannya menjadi perih dan sakit.

Dasar Soan Li berwatak keras dan pantang menyerah, melihat bahwa lawannya benar-benar tangguh dan pandai, ia tidak menjadi sungkan-sungkan lagi.

Berkali-kali nampak sinar jarum beracun menyambar lembut dari tangan kiri si gadis, akan tetapi Kong Hwat dapat memukulnya runtuh atau dengan kibasan lengan bajunya!

Terkejut sekali ia karena lawannya benar-benar hendak mengambil nyawanya.

Terkejut ia karena permainan sabuk di tangan gadis itu semakin dahsyat dan terpaksa Kong Hwat mainkan jurus-jurus ilmu tongkat yang pernah dipelajarinya dari suhunya Koay lojin yang bernama Fu-niu-san-tung-hoat (ilmu tongkat dari gunung Fu-niu).

Maka bertempurlah mereka dengan seru!

Kong Hwat memainkan tongkat rantingnya dengan cermat dan hati-hati.

Ia kagum juga melihat permainan sabuk sutera dari gadis Sian-li-pay ini.

Sabuk itu kadang-kadang seperti ular hidup yang bermata dan licin, di lain saat sabuk merah itu seperti tongkat yang keras dan kuat.

Maka ia melawan dengan hati-hati dan waspada.

Sebaliknya melihat bahwa kepandaian pemuda ini demikian lihay permainan ranting kering sebagai tongkat kecil itu Soan Li menjadi kesal dan penasaran dan memainkan sabuk suteranya dengan nekat, seakan ia seorang yang telah terlanjur berbuat sesuatu kesalahan yang tak mungkin dapat dimaafkan lagi.

Memang aneh betul gadis ini, hatinya sekarang menyesal, mengapa ia mati-matian untuk memaksa pemuda lawannya ini bertempur pada hal kepandaiannya ternyata di bawah tingkat pemuda itu.

Hemm, akan tetapi aku tak perlu mengalah, masakan aku kalah sama dia!

Melihat kenekatan gadis ini Kong Hwat lalu memperlihatkan kepandaiannya berkelahi dengan mempengunakan ilmu tongkat ciptaan Koay Lojin yang terlihai, sebentar saja gadis itu nampak sudah terdesak oleh serangan-serangan tongkat ranting Kong Hwat yang bertubi-tubi itu.

Si gadis bertambah marah ia mengeluarkan lengking tinggi, lengking yang biasanya untuk memanggil kawannya.

Ia mengeluarkan lengkingan ini karena saking jengkelnya, permainan sabuknya berkelebat luar biasa, sementara tangan kirinya bersiapsiap melempar sianli-tok-ciam (jarum beracun bidadari).

Kong Hwat tahu.

Kalau ia mau tentu ia akan dapat mengalahkan gadis ini secepat mungkin akan tetapi entah mengapa ia tak tega untuk mengalahkan gadis.

Ia tahu gadis ini takkan mudah menyerah dan lagi keras hati.

Bagaimana jadinya kalau ia kalahkan gadis itu, tentu Soan Li akan bertambah penasaran lagi.

Maka lebih baik ia mengalah saja dari pada Soan Li terus menerus mengamuk.

Pada saat sabuk sutera yang lihai di tangan gadis itu menyambar tongkatnya, sengaja Kong Hwat menggunakan gerakan menekan ke bawah dan sebentar saja tongkatnya sudah dibelit oleh sabuk itu.

Soan Li membentak keras membetot kuat tahu-tahu tubuh Kong Hwat melayang ke atas saking kuatnya tarikan dari ujung sabuk yang dipenuhi tenaga lwekang tingkat tinggi.

Pada saat tubuh pemuda itu melayang di udara itulah dua kali tangan Soan Li bergerak, puluhan jarum beracun menyambar pemuda itu.

Kong Hwat terkejut sekali melihat jarum-jarum halus menyambar ke tubuhnya.

Sebetulnya ia tidak menduga sama sekali kalau Soan Li melemparkan jarum-jarumnya pada saat tubuhnya melayang di udara.

Dengan kaget dan cepat Kong Hwat menggerakkan lengan bajunya menangkis, beberapa jarum runtuh ke tanah akan tetapi saking banyaknya jarum-jarum itu menyambar, dua di antaranya tepat menancap pundaknya.

Kong Hwat mengeluh dan terguling.

Kedua tangannya terasa kaku dan gatal-gatal, segera Kong Hwat mengerahkan lwekang di pundak, akan tetapi ia menjerit lagi, jarum yang masuk ke bagian pundaknya demikian luar biasa, tak tahan lagi ia roboh!

Pada saat itu terdengar suara tertawa keras.

"Ha ha ha, bagus, bagus sekali Sianli, pemuda inilah yang juga pernah mengacau Sian-li-pay…... hayo tangkap dia!"

Soan Li menoleh, ternyata yang tertawa itu adalah Thay-lek-huimo dan beberapa anak buah Hek-lian-pay.

Seperti kita ketahui setelah Thay-lek-hui-mo ini gagal menangkap Nyuk In, dengan uring-uringan ia menyelidik ke sekitar daerah itu.

Dan secara kebetulan sekali ia melihat anak buah Sian-li-pay sedang bertempur dengan pemuda yang menurut penyelidikannya pernah mengacau Sian-li-pay.

Memang Bu-tek Sanli lihay dan cerdik, ia menyebarkan berita tentang orang-orang muda yang mengacau di Sian-li-pay itu dengan cukup jelas sehingga begitu melihat cara pemuda itu memainkan tongkat rantingnya tahulah ia bahwa pemuda ini tak salah lagi tentu murid Koay Lojin salah seorang anak muda yang mengacau Sian-li-pay, maka begitu dilihatnya Kong Hwat roboh terkena jarum beracun Soan Li.......

hwesio gendut ini lalu menampakkan dirinya!

Soan Li yang tidak mengenal Thay-lek-hui-mo menjadi terkejut sekali.

Ia melihat tiga orang anak buah Hek-lian-pay hendak meringkus Kong Hwat.

Dengan marah sekaili ia menggerakkan sabuk suteranya dan tahu-tahu ke tiga orang itu telah roboh dalam totokannya.

Thay-lek-hui-mo heran sekali memandang gadis yang diduganya adalah anak buah Sian-li-pay.

"Eh, kenapa kau merobohkan anak buah Hek-lian-pay?" "Kau siapa..... mengapa mencampuri urusanku!"

Bentak Soan Li marah.

Diam-diam kenapa hatinya menjadi kuatir akan pemuda yang terkena jarumnya itu.

Ia menyesal sekali telah menyambitkan jarumnya melukai pemuda itu.

Akan tetapi sekarang kekesalannya ini ditumplekkan kepada hwesio gendut ini.

"Nona bukankah kau murid Bu-tek Sianli dari Sian-li-pay, mengapa kau merobohkan tiga orang Hek-lian-pay?"

"Tidak ada urusannya Sian-li-pay dengan Hek-lian-pay, hayo kalian pergi, jangan mencampuri urusanku!!"

"Ha ha ha, nona keliru, pinceng betul bukan anggota Hek-lian-pay, akan tetapi baru saja tadi kami diberi perintah oleh Bu-tek Sianli untuk menangkap pemuda ini, juga orang-orang Hek-lian-pay sudah dihubungi oleh Pay-cu itu. Jadi kami berhak menawan pemuda ini untuk diserahkan kepada Pay-cu Sian-li-pay!"

Thay-lek-hui-mo maju hendak menangkap leher Kong Hwat, akan tetapi Soan Li sudah menggerakkan sabuk suteranya dan tahutahu tubuh pemuda itu sudah melayang jatuh ke dekatnya.

Soan Li menotok pemuda itu dan mengepitnya.

"Pemuda ini aku yang merobohkannya, tak perlu kau mencampuri urusan Sian-li-pay lagi, aku hendak membawa dia ke Sian-li-pay!"

Soan Li hendak meloncat pergi, Thay-lek-hui-mo berkelebat dan tahu-tahu telah berada di hadapannya.

"Ha ha ha…… enak betul kau bicara nona, mana boleh kau sendiri yang membawa pemuda itu, biarlah pinceng dan orang-orang Heklian-pay yang membawanya......."

"Tidak!"

Soan Li membentak marah, sementara hatinya berkuatir bukan main melihat keadaan pundak dan leher Kong Hwat sudah menghitam dan pemuda itu pingsan dalam kempitannya.

Aku harus cepat menolongnya, kalau tidak bahaya sekali kalau racun Sianli-tok-ciam itu menjalar ke jantungnya.

Amat berbahaya, pikir Soan Li yang tiba-tiba begitu merasa cemas hatinya.

Heran mengapa ia kini cemas dan kuatir, bukankah ia sendiri yang melukainya?

Aneh!

Thay-lek-hui-mo menghampiri Soan Li.

tinggalkan pemuda itu!"

"Nona harap kau "

Tidak, aku yang merobohkannya, aku yang berhak membawanya ke Sian-li-pay, enak saja kau…… setelah pemuda ini kurobohkan kalian hendak menangkapnya dan menyerahkan kepada Pay-cu, hem, bagus betul…..

aku yang setengah mati melawannya dan merobohkan, hem, engkau yang hendak menyerahkan kepada Pay-cu, tidak!"

"Ha ha ha, kau keras kepala nona. Kalau kau sendiri tidak merobohkannya tentu tanganku ini juga yang merobohkan dan kemudian menyerahkan kepada Sian-li-pay. Sudahlah, kau mau serahkan kepadaku atau tidak?"

"Tentu saja tidak, karena aku yang bersusah payah merobohkannya, kamu ini hwesio curang....... sudah ia roboh baru kalian muncul!" Soan Li sudah bersiap dengan cambuknya. Akan tetapi begitu merasa leher Kong Hwat demikian panas, ia terkejut bukan main! Celaka! Ia harus cepat-cepat pergi dari tempat ini dan menolongnya secepat mungkin! Berpikir demikian, Soan Li mencelat ke atas pohon. Thay-lek-hui-mo menggerakkan jubahnya dan angin besar berpusing, menyambar Soan Li yang mencelat ke atas pohon dengan cepat sekali. Merasa ada angin yang demikian kuat menyambar ke atas, cepat Soan Li mencelat lagi berpindah pohon, demikianlah ia terus mencelat dari pohon ke pohonn yang lain. Sementara Thay-lek-hui-mo menggerakkan tangannya ke atas, apabila tangan itu terayun terdengar suara keras pohon itu roboh dan daun bertebaran jatuh. Inilah hebat sin-kang hwesio Iblis terbang bertenaga seribu itu. Pukulan yang digerakkannya adalah pukulan-pukulan Gin-san-ciang yang luar biasa hebatnya. Akan tetapi sebaliknya, sambil mengempit tubuh Kong Hwat, Soan Li juga memperlihatkan gin-kangnya meloncat-loncat dari atas pohon ke pohon yang lain. Tentu saja percuma sekali, ia yang telah mendapat julukan Sian-li-eng-cu atau si Bayangan Bidadari kalau saja ia tidak dapat menghindari pukulan-pukulan maut dari hwesio itu. Maka dengan berloncatan dari pohon ke pohon yang lain dalam hutan itu, sebentar saja, Thay-lek-hui-mo kehilangan jejaknya. Hanya dari kejauhan didengarnya suara si hwesio itu memaki-maki dan menyumpah-nyumpah. Soan Li girang sekali bahwa lawannya kehilangan jejak, dengan cepat sekali ia melarikan diri. Ia terus berlari ke arah selatan hutan. Semakin dalam hutan itu semakin lebat dan penuh pohon-pohon besar. Akan tetapi Soan Li tidak memperdulikan ini, ia terus berlari menjauhi suara Thay-lekhui-mo yang memaki-maki kalang kabut. Baru setelah suara itu tak terdengar lagi, Soan Li menurunkan Kong Hwat dalam kempitannya. Ternyata Kong Hwat sudah sadar dalam pingsannya, cuma saja ia merasa tubuhnya demikian kaku dan panas sekali seperti dibakar. Begitu Kong Hwat siuman, terheran ia begitu ia melihat dirinya di kempit oleh Soan Li dan membawanya lari dengan amat cepatnya merasa bahwa gadis itu berhenti larinya. Kong Hwat menoleh ke arah gadis yang tengah mengempitnya. Tiba-tiba merasa Kong Hwat sudah bergerak, Soan Li melemparkan kempitan itu dan keruan saja tubuh pemuda itu terbanting ke tanah.

"Turun kau, keenakan kubawa lari,"

Soan Li mengomel.

Akan tetapi Kong Hwat tidak menyahut.

Ia merasakan lehernya demikian panas dan gatal-gatal.

Ia meraba leher dan tiba-tiba kepalanya menjadi pening bukan main.

Tak tertahankan ia, dan Kong Hwat memeramkan matanya.

Dirasanya kepala berayun-ayun dan di dalam kegelapan itu tampak bintangbintang berputaran.

Soan Li mendekati pemuda itu.

Mendekur di tanah dan memegang kepala Kong Hwat sambil berkata pelan.

"Kau terluka oleh jarumku…... coba kuperiksa!" Akan tetapi Kong Hwat tak mendengar perkataan lembut itu. Ia merasa dirinya berada di alam lain. Tak menyadari lagi apa yang terjadi. Tak tahu ia betapa Soan Li mengusap lehernya perlahan, membuka bajunya di bagian pundak dan menempelkan bibir itu ke pundak dan menyedotnya kuat-kuat. Tiga kali Soan Li menyedot luka di pundak pemuda itu, tiga kali itu pula Kong Hwat mengeluh perlahan. Mulutnya berbisik.

"Aduuh….. panas…… panas!"

"Diamlah…… Kong Hwat…… diamlah kau, darahmu sudah keracunan oleh jarumku sendiri, biar kubersihkan darahmu yang bercampur dengan racun itu,"

Soan Li berbisik di dekat telinga pemuda yang mengeluh seperti orang mengigau.

Kemudian ia menyedot lagi luka pemuda itu dan meludah ke tanah.

Darah merah menyembur dari mulut si gadis itu.

Darah yang bercampur racun hijau yang terdapat pada jarum Sianli-tok-ciam.

Lima kali sudah Soan Li menyedot luka itu, perlahan-lahan jarum halus yang tadi melesak ke dalam daging menyembul sedikit.

Dengan kuku jarinya yang runcing, gadis itu mencabutnya.

Kong Hwat mengeluh perlahan.

Waktu ia membuka matanya, alangkah herannya melihat gadis yang tadi menyerangnya matimatian itu berjongkok di dekatnya sambil membalut luka di pundak.

Tak mengerti Kong Hwat, bagaikan mimpi rasanya waktu tangan halus lembut itu meraba pundaknya dan membalut lukanya.

Kong Hwat membuka matanya.

Seperti orang kaget Soan Li mencelat menjauhi dan mukanya menjadi merah untuk seketika ia tertunduk dan menekan perasaan.

"Aku telah melukaimu dengan jarum Sianli-tok-ciam,"

Soan Li berkata pelan seperti ia berkata pada dirinya sendiri.

Setengah berbisik.

Kong Hwat tersenyum lega.

Ia kira gadis itu mencelat hendak menyerangnya, tidak tahunya Soan Li hanya berdiri tertunduk seperti orang bingung dan malu.

Ia tak berani menentang pandangan pemuda itu.

Ia merasa dirinya bersalah, telah bertindak keterlaluan melukai pemuda itu.

Kong Hwat menghampiri Soan Li.

"Tidak apa nona, bukankah kau sendiri yang telah merawat lukaku. Eh, seharusnya akulah yang mengucapkan terima kasih kepadamu, nona. Terima kasih!"

Kong Hwat menjura.

Soan Li mengangkat mukanya.

Tiba-tiba wajahnya memerah.

Malu dan jengah.

GILA!!!

Bukankah tadi aku hendak menangkap pemuda ini, dan membawanya ke Sian-li-pay?

Pikirnya.

Mengingat ini ia mencabut sabuk suteranya dan meloncat ke depan.

"Bagus, kau sudah sembuh Kong Hwat, kita teruskan pertandingan kita tadi!"

Karuan saja Kong Hwat jadi terbelalak heran. "Eeee...... kenapa jadi begitu…... mengapa kita harus bertanding lagi."

Kong Hwat memandang gadis itu dengan mata bodoh. Si gadis mengedikkan kepalanya, matanya melirik ke arah luka di pundak si pemuda yang masih dalam balutan.

"Mengapa diam saja, hayo, layani aku lagi!"

"Sudah nona, tak usah bersandiwara, kita tak perlu bertempur lagi…... bukankah kita sudah bersahabat?"

"Bersahabat?"

"Ya. Tentu kita sudah bersahabat. Kau tadi melukaiku dengan jarummu, akan tetapi kau tidak sengaja bukan? Buktinya....... kau merawat lukaku."

"Ahhh…... jangan banyak bicara, eh, Kong Hwat…... berani tidak melawan tongkatku?"

"Tentu saja aku tidak berani melawanmu nona......."

Suara Kong Hwat terdengar penuh perasaan hati.

Sejenak Soan Li terheran dan berdebar hatinya.

Pemuda ini begitu lemahkah hatinya.......

mudah mengalah??

Ah tidak!

Aku merasa penasaran sekali!!

"Pokoknya aku belum puas kalau belum mengalahkanmu.

Hayo kita bertanding lagi, biar seribu jurus akan kulayani!"

"Nona sudahlah, aku mengaku kalah, eeeh memang aku sudah kalah, buktinya aku terluka olehmu......." "Aku tak puas!"

Soan Li membentak.

"Kau tahu....... aku adalah murid Sian-li-pay....... murid kedua terkasih dari Bu-tek Sianli. Aku ditugaskan untuk menangkapmu dan kawan-kawanmu, dan si buntung yang menjadi biang keladi keributan ini. Sekarang kebetulan kita saling bertemu di sini, hanya berdua saja! Hayo kau layani aku, kalau tidak terpaksa aku akan menyeretmu untuk dibawa ke Sian-li-pay. Mau kau kuseret seperti anjing?"

Aneh sekali.

Timbul keraguan dan kesangsian di hati Kong Hwat.

Padahal sebelumnya ia seringkali mendengar sepak terjang muridmurid Sian-li-pay yang dikabarkan orang ganas dan berbahaya, dan ia ingin sekali menghancurkan Sian-li-pay itu!

Eh, siapa sangka, bertemu dengan gadis galak ini, yang bernama Soan Li, terpesona dan tidak tega untuk mengangkat senjata menghadapi nona jelita ini.

Apalagi setelah ia mendapat perawatan luka-luka bekas sambaran jarum gadis itu dan merawat lukanya.......

ah, makin tidak tegalah ia menghadapi gadis ini.

"Hayo....... keluarkan tongkatmu........ mau tunggu apa lagi? Aku segan menghadapi lawan tanpa senjata......."

Soan Li mengejek dan gadis ini sudah berdiri tegak dengan sabuk sutera merah di tangan, sikapnya gagah menantang, juga amat cantik.

"Nona Soan Li…... aku tak ingin bertempur denganmu. Mengapa kau ini haus untuk mengalahkanku? Kalau memang kau hendak main-main dan memamerkan kepandaian denganku sebaiknya tak usah pakai senjata, biar kita bertempur dengan tangan kosong, bagaimana?" "Kunyuk! Siapa yang hendak main-main. Memang aku anak kecil....... Aku sungguh-sungguh hendak bertempur denganmu….. bukan main-main!"

Kali ini saking jengkelnya Soan Li, gadis ini membanting-bantingkan kakinya dan setitik air mata melintas di pipi itu.

Melihat tingkah laku gadis yang aneh ini.

Kong Hwat menjadi terharu sekali.

Ingin sekali pada saat itu ia memeluk gadis yang telah menjatuhkan hatinya ini dan mencumbunya dan.......

dan.......

akan tetapi tidak untuk bertanding.

"Nona Soan Li……, dengarlah omonganku dulu….... Sungguh mati, aku memang tidak ingin bertanding denganmu....... malah aku ingin sekali mengikat persahabatan denganmu….. bukan untuk bertanding....... Nona pada mula pertama aku melihat engkau....... aku sudah tertarik sekali kepadamu, aku kasihan kepadamu......."

"Kunyuk kau! Siapa minta kasihan darimu? Eh, Kong Hwat mengapa mendadak sontak kau begitu tertarik kepadaku........ hem, dasar mata lelaki, begitu melihat perempuan ciami atau cantik lantas saja mulutmu lemas seperti perempuan…... dasar kau mata keranjang!"

Wajah Kong Hwat menjadi merah.

Gadis jelita ini selain gagah dan liar, juga lidahnya amat tajam!

"Nona…..

aku bukan mata keranjang, memang sesungguhnya begitu, begitu melihat engkau…...

aku sudah merasa kagum dan sayang…...

ahh salahkah aku kalau aku mencintaimu nona?

Apakah seorang laki-laki jatuh cinta terhadap seorang wanita dikatakan mata keranjang…...?"

"Wah, wah....... begitu muda amat kau jatuh cinta kepadaku, begitu melihat sudah cinta…... hemm, apalagi itu kalau bukan cinta palsu yang gampang luntur? Orang muda jangan kau berlagak di depanku mengobral cinta. Aku tak sudi cinta yang semurah itu!"

Wajah pemuda itu sebentar pucat sebentar merah. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya ke balik jubah dan mengeluarkan tongkat kecil.

"Nona, mulutmu tajam dan berbisa……, kau menuduhku yang bukan-bukan.

Menyesal…...

aku sudah mengutarakan isi hatiku kepadamu, hemm, benar aku lemah nona, cintaku begini murah, tak patut dan tiada senilai hatimu.

"Memang aku terlalu mengalah kepadamu, akan tetapi kau sombong, angkuh dan tinggi hati, namun aku seorang laki-laki sejati, dan tak ingin dihina dan diinjak-injak oleh seorang wanita seperti ini. Kalau kau memang penasaran untuk mengalahkanku, silahkan maju!"

Soan Li tersenyum.

"Nah ini baru namanya jantan! Kong Hwat, aku bukan menuduh cintamu begitu murah, akan tetapi aku juga tak mau laki-laki gampang jatuh di kakiku....... biasanya yang gampang jatuh cinta, adalah laki-laki buaya. Kong Hwat aku ingin mengalahkanmu, dan membawamu ke Sian-li-pay. Nah bersiaplah kau!"

Tangan kirinya bergerak mendorong diikuti dengan gerak sabuk sutera merah di tangan kanan ketika gadis yang bernama Han Soan Li itu menyerang dengan hebat.

Terkejut hati Kong Hwat.

Tak disangkanya gadis ini demikian ganas dan lihay, serangannya begitu dahsyat.

Cepat ia memutar tongkat menangkis sambil meloncat ke samping menghindarkan diri dari pada samberan sabuk sutera yang mendatangkan angin pukulan hebat itu.

Tangan kirinya memapaki pukulan tangan kiri si gadis yang mendorong ke depan.

Dua tenaga bertemu di udara.

Ke duaduanya terhuyung mundur.

Akan tetapi tiba-tiba Soan Li terguling hampir jatuh?

Diam-diam ia kaget dan juga kagum.

Dilain pihak, Kong Hwat juga terkejut dan heran.

Ia tadi merasa betapa tongkatnya terbentur membalik oleh sabuk di tangan gadis itu dan biarpun ia sudah menghindar, hampir saja ujung sabuk sutera merah itu menyentuh lambungnya.

Akan tetapi, entah mengapa.

tiba-tiba sabuk itu berkibar pergi dan ia merasa ada sambaran hawa lewat di samping tubuhnya dan melihat gadis itu hampir jatuh.

Ia maklum bahwa gadis ini sangat lihai dan tak boleh dibuat gegabah!

Dengan hati penasaran Soan Li menerjang maju lagi, kini lebih hebat.

Sabuknya tiba-tiba mengejang keras dan diputar di atas kepala lalu melayang turun ke arah lawan, sedangkan tangannya meluncur maju menotok ulu hati yang akan mendatangkan maut apabila mengenai sasaran dengan tepat.

Kembali Kong Hwat menggerakkan pedangnya menangkis sabuk merah sedangkan tangan kirinya dikebutkan untuk menampar jari totokan yang lihai itu.

"Wuuuttt.......

kembali keduanya terhuyung dan alangkah kaget hati Soan Li ketika ia merasa tadi betapa sabuknya tiba-tiba hilang kekuatannya dan bahkan membalik dan menyerang dirinya sendiri.

Ia membanting tubuh ke belakang dan bergulingan, wajahnya pucat.

Hebat pemuda ini!

Diam-diam Soan Li bertambah kagum dan juga penasaran.

Sabuk sutera merahnya dimainkan lebih cepat lagi.

Kong Hwat terkejut sekali melihat kenekadan gadis ini.

Celaka, benar-benar susah gadis ini, gemas dan liar!

Akan tetapi juga.......

hemm, entah perasaan apa yang membuat Kong Hwat tidak tenang memainkan tongkatnya.

Ia menjadi kuatir dan gelisah melihat kenekatan gadis ini.

"Nona Soan Li….. aku sungguh-sungguh tidak ingin bertempur mati-matian denganmu....... sudahlah… hentikan serangan……!"

"Terima ini!"

Soan Li membentak dan sudah melompat maju, sabuknya menyambar merupakan kilatan merah memanjang, diikuti gerakan tangan kiri yang memukul ke dada Kong Hwat.

Uap hitam menyambar dan agaknya pemuda itu akan celaka kalau pada saat itu tidak nampak sinar menyilaukan berkelebat dan tahutahu Soan Li memekik kesakitan dan pundaknya terpukul tongkat di tangan Kong Hwat.

Ia roboh dan mengerang kesakitan.

Melihat ini kagetlah Kong Hwat.

Kini ia merasa yakin bahwa diamdiam ada orang yang membantunya.

Tadi tongkatnya meleset dan terus menusuk ke arah leher Soan Li, sedangkan sinar yang berkelebat menghantam sabuk.

Baiknya ia masih keburu menarik tongkatnya sehingga tidak menembus lehernya yang indah melainkan menyeleweng dan menusuk pundak.

Mungkin saking kaget, penasaran dan sakit, Soan Li roboh dan pingsan!

Ketika ia membuka mata, Kong Hwat sedang mengobati pundaknya.

Bukan main heran dan kagetnya hati Soan Li, akan tetapi ia purapura masih pingsan.

Dari balik bulu matanya yang lentik ia memandang wajah tampan itu dengan penuh perhatian memeriksa lukanya dan kemudian mengobatinya dengan obat bubuk yang terasa dingin sekali.

Melihat gadis itu menggerakkan bulu mata, Kong Hwat cepat menyelesaikan pengobatan itu dan berkata perlahan.

"Maaf…... maaf, aku menyesal sekali……. bukan maksudku untuk……"

Soan Li sudah meIompat bangun. Mukanya merah dan ia memungut sabuk sutera merahnya yang menggeletak di atas tanah.

"Maaf....... Soan Li…. Aku… aku tak sengaja."

Soan Li berpaling dan mukanya berobah ketika memandang Kong Hwat. Pandangan matanya masih penuh kekaguman, penuh keheranan dan penasaran.

"Kau hebat sekali. Gerakanmu begitu cepat sehingga aku tidak tahu bagaimana caranya kau mengalahkanku, aku masih penasaran, Kong Hwat, mari kita lanjutkan. Kalau kau dapat mengalahkan aku….. aku berjanji untuk.... tidak ingin menangkapmu lagi untuk diserahkan kepada Pay-cu Sian-li-pay malahan, aku bersedia melindungimu dari kemarahan Sianli..."

Ia bersenyum dan diam-diam Kong Hwat morat marit hatinya.

Senyum dengan lesung pipit itu bukan main manisnya.

Akan tetapi lagi-lagi gadis ini mengajaknya bertempur lagi.

Benar-benar gila!

Rupanya entah mengapa, sesungguhnya ia tidak ingin sekali bertempur dengan gadis ini.

"Nona Soan Li....... sudahlah, aku tidak ingin hertempur denganmu. Aku malah minta maaf kepadamu... dan marilah kita habisi di sini rasa penasaran itu!"

"Kalahkan dulu sabukku, perlihatkan ilmu silatmu, o ya.... aku tak ingin kau menggunakan ilmu sihir itu!"

Sambil membentak demikian, Soan Li memutar sabuknya. Akan tetapi baru saja ia hendak menerjang, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan dan berdiri di depan Soan Li dan menegur.

"Soan Li sumoay, kau terlalu, pemuda ini sudah begitu mengalah terhadapmu, kau masih saja hendak mendesaknya….., hayo kau ikut aku!"

"Suci…...!"

Soan Li terheran melihat gadis yang baru datang itu.

"Sumoay Soan Li marilah ikut aku....... aku memerlukan bantuanmu, marilah sumoay,"

Bwe Lan menarik tangan sumoaynya. Soan Li menoleh kepada Kong Hwat.

"Suciku ini jadi biang kerok! Eh, Kong Hwat, lain kali kita lanjutkan!" Tangan Soan Li ditarik oleh Bwe Lan. Keduanya berlari-lari meninggalkan pemuda itu. Kong Hwat berdiri bengong, ia menarik napas panjang, bingung memikirkan keadaan hatinya sendiri. Mengapa setelah gadis itu pergi dirasakannya dunia ini menjadi sepi dan hilang semangat. Ah, bayang-bayang barusan tadi itu masih melekat di kisi-kisi hatinya. Senyum manis berlesung pipit gadis itu, mata berbulu lentik itu, ahh, mulut yang bagus, bibir yang galak dan cerewet. Semuanya itu menyelimuti kulit hati Kong Hwat. Ia benar-benar sudah jatuh hati kepada murid Bu-tek Sianli itu. Aneh memang cinta tidak mengenal siapa dia. Cinta akan tumbuh bagi siapa saja, dimana saja dan kapan saja! Ah, Kong Hwat! Benar-benar kau sudah jatuh hati kepada gadis itu. Mengapa kau sekarang melamun, memang di dalam sentuhansentuhan cinta itu manusia akan banyak tenggelam ke alam khayalan. Kong Hwat sekarang tengah berkhayal, mengkhayali tentang gadis yang bernama Han Soan Li itu! Apa kata gadis tadi? "Kalau kau dapat mengalahkan aku, aku berjanji untuk tidak menangkapmu lagi dan menyerahkan kepada Sian-li-pay, malahan aku bersedia melindungimu dari kemarahan Sianli......."

Ucapan Soan Li masih berdengung-dengung dalam telinga Kong Hwat ketika ia berjalan perlahan di dalam hutan itu.

Kini Kong Hwat telah menjadi seorang pemuda yang linglung dalam terombang-ambing asmara.

Cinta, betapa berkuasanya engkau merubah watak seseorang!

Ketika Kong Hwat yang melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung.

Bayangan Soan Li yang selama ini tidak pernah meninggalkan bayangan matanya, kini sangat mempengaruhi otaknya, setelah ia merasa kesunyian seorang diri di dalam hutan yang luas itu.

Bahkan perasaannya seolah-olah ia melihat wajah Soan Li yang sebenarnya muncul di mana-mana, di tempat-tempat mana yang dilaluinya.

Tiba-tiba saja wajah yang jelita dan galak itu terbayang disela-sela daun hijau dan di antara kembang-kembang indah.

"Ah, aku sudah menjadi gila!"

Kong Hwat mengoceh pada dirinya sendiri, lalu ia menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat.

Akan tetapi makin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Soan Li makin jelas kelihatan dan makin bertambah hebat mengoda pikirannya!

Ia lalu melompat bangun dari duduknya, dan melanjutkan perjalanannya.

Baru saja beberapa tindak ia melangkah, tiba-tiba telinganya mendengar suara orang memanggilnya di belakang.

"Saudara Kong Hwat!"

Kong Hwat menoleh ke belakang dan tersenyum lebar.

"Aii, Siang-twako, bikin aku kaget saja!" "Makanya kau melamun saja sih? Hemm, aku tahu kau melamunin nona dari Sian-li-pay yang galak itu, ya?"

"Ahhh kau bisa saja twako, memang sebenarnya aku kaget kau memanggilku secara mendadak begitu. Eh, kau hendak ke manakah twako.....? Mana kawan-kawan yang lain?"

Tanya Kong Hwat melihat Ho Siang datang sendirian saja.

"Mereka mengambil jalan masing-masing Kong Hwat-te, baru saja kemaren aku menolong nona Nyuk In yang dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang orang Hek-lian-pay, untung aku keburu menolongnya dan membawanya pergi!"

"Ooooo, ke mana sekarang nona Nyuk In yang kau tolong itu, kok nggak bersamamu?"

"Dia pagi tadi sudah berangkat ke kota raja, katanya hendak mencari suhengnya yang bernama si Cambuk Sakti Oey Goan….. Eh Kong Hwat, kulihat kau lesu benar, apa sih yang terjadi sebenarnya denganmu? Dan mengapa kau berada di dalam hutan lebat ini? Tadi belum lama ini aku melihat kau bertempur kalang kabut dengan nona Soan Li dan ia terluka olehmu dan kau menolongnya. Heran! "

Tadinya kau yang terluka dan ditolong oleh nona Soan Li mengeluarkan jarum sianli-tok-ciamnya yang menancap di pundakmu.

Eh, mendadak setelah kau siuman gadis aneh itu menyerangmu lagi, mati-matian!

Heran Bagaimana ini?"

Sejenak Kong Hwat melongo, kemudian tersenyum maklum dan meloncat ke samping dan memegang tangan Ho Siang.

"Wah kiranya kau yang telah membantuku, Siang-twako? Ah, pantas saja begitu mudah aku mendapat kemenangan. Mengapa kau lakukan ini, Siang twako?"

"Hwat lote, ada sebabnya mengapa aku membantumu, seperti juga engkau aku memang sayang kepada Soan Li dan tidak ingin melihat dia tersesat. Dia sebetulnya seorang gadis baik meskipun mempunyai guru atau Pay-cu Sian-li-pay yang amat jahat. Akan tetapi, ternyata gadis gadis Sian-li-pay tidaklah sekejam Paycunya. Waktu muncul Thay-lek-hui-mo dan beberapa orang Hek-lian-pay di hutan itu. Soan Li lah yang membawamu ke tempat ini melarikan diri dari Thay-lek-hui-mo dan di sini ini, kulihat ia menyembuhkan luka jarum di pundakmu. Apa ini dikata jahat? Hemm, menurut tafsiranku....... gadis itu....... merasa suka padamu! Seperti....... maksudku kau juga cinta sama Soan Li, bukan?"

Ditanya begini langsung Kong Hwat merasa seakan-akan diserang tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya. Wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya dan dengan gagap ia menjawab.

"Aku....... aku tertarik kepadanya."

"Kau cinta padanya, Hwat-lote?"

"Aku….. aku…. suka."

"Dan....... cinta padanya?" Akhirnya Kong Hwat mengangguk. Mukanya merah.

"Nah, karena itu kau harus menangkan dia, lote. Soan Li seorang gadis yang cukup pantas dilindungi. Ia memang berwatak aneh dan akan tunduk jika dapat memenangkannya, karena itu kau harus menang!"

"Dia lihai twako, belum tentu aku dapat menangkannya!"

"Mengapa tidak……. asalkan kau bersungguh-sungguh untuk mengalahkannya, tadi itu kulihat kau banyak mengalah terhadap Soan Li, sedangkan dia mati-matian untuk mengalahkanmu….. Kong Hwat, kau hadapi dia dengan serius….. kau pasti menang!"

"Baiklah…… akan ku usahakan....... mudah-mudahan jika ia tertemu denganku lagi tidak terjadi pertempuran….."

Kong Hwat menarik napas panjang. Sesungguhnya ia tak ingin bertempur dengan gadis perkasa yang meruntuhkan pertahanan hatinya itu. Kong Hwat tersenyum mengenang Soan Li.

"Hwat-lote....... sekarang hendak kemanakah tujuanmu?"

"Entahlah twako, sebetulnya…… aku tidak mempunyai tujuan….... eh, barangkali aku hendak ke Wu-nian. Aku mempunyai urusan sedikit di sana......."

Sahut Kong Hwat pelan.

"Ke Wu-nian? Kabarnya di sana itu tengah terserang bahaya kelaparan dan wabah penyakit di sepanjang sungai Sin-kiang." "Justru itu aku hendak ke sana, twako…… Limaribu tail emas yang disumbangkan oleh kaisar sudah kukirim ke Wu-nian dan aku hendak melihat perkembangannya…….."

"Ahhh!"

Ho Siang berseru kagum.

"Kiranya kau yang telah berhasil menyelamatkan sumbangan kaisar yang kabarnya dirampok orang di kaki gunung Fu-niu tempo hari. Hebat…….! Sumbangan itu kau serahkan kepada siapakah lote?"

"Tentu saja dengan panitia yang mengurus korban kelaparan dan wabah penyakit."

"Hemm, apakah boleh dipercaya panitia itu? Lote, dalam jaman sekarang ini hati-hatilah mempercayai orang. Kebanyakan manusia hatinya nggak jujur setelah melihat uang, apa lagi limaribu tail emas…... aiiii, bukan sedikit itu!"

Kong Hwat menoleh. Kagetlah hatinya. Ia seakan-akan diingatkan sesuatu dengan bergetar ia berkata.

"Celaka twako....... janganjangan ahh….., hayo cepat kita berangkat ke Wu-nian, kita selidiki ke sana."

Ho Siang mengangguk.

Maka berangkatlah kedua orang muda itu menuju Wu-nian.

Mereka berlari dengan amat cepat sekali keluar dari hutan lebat ini dan terutama Kong Hwat ia ingin cepat-cepat segera sampai untuk melihat perkembangan panitia korban bencana alam yang dititipkan uang limaribu tail emas itu.

Hatinya kuatir kalau-kalau uang yang disumbangkan dari kaisar itu akan habis digerogoti oleh tikus-tikus yang bisa melakukan penyelewengan dan korupsi dan yang mementingkan dirinya sendiri saja!

◄Y► Kita tinggalkan dulu Ho Siang dan Kong Hwat yang tengah berangkat menuju ke Wu-nian, dan marilah untuk sejenak kita mengikuti pengalaman-pengalaman Nyuk In di Kotaraja yang hendak menemui suhengnya yang bernama Oey Goan itu.

Telah lama ia mendengar akan tindak tanduk suhengnya yang menjadi kepala pengawal perajurit di Kotaraja, dan disamping itu banyak sudah ia mendengar akan perbuatan-perbuatan suhengnya yang berlaku sewenang-wenang dalam memimpin barisannya.

Oleh karena selentingan-selentingan itulah ia hendak menyelidiki keadaan suhengnya di Kotaraja.

Sudah barang tentu, nama si Cambuk Sakti Oey Goan sangat dikenal di Kotaraja.

Begitu gadis itu bertanya kepada salah seorang penduduk, semua orang dapat mengenalnya.

Hanya yang sangat disayangkan adalah Oey Goan ini jarang sekali bertugas di Kotaraja.

Ia sering keluar kota, mengadakan perjalanan keliling meninjau rakyat dan menjaga keamanan!

Siang hari itu, karena udara demikian panas terik, Nyuk In memasuki sebuah rumah makan.

Rumah makan Hai-lam cukup besar dan terkenaI di kotaraja.

Karena itulah ia memasuki rumah makan.

Begitu ia masuk, dengan ramah tamah seorang pelayan menghampiri sambil memberi hormat membungkukkan badannya.

"Silahkan masuk siocia…...

silahkan duduk!

Hendak memesan masakan apakah?

Daging babi sekba, Ayam panggang, Kodok Oh, Baso sapi istimewa, cah ayam......."

"Baso sapi dan bakmi pangsit saja....!"

Nyuk In memesan.

Mengambil tempat duduk di sebelah kiri ruangan.

Dilihatnya ruangan itu ada tiga orang lelaki memandangnya.

Nyuk In mengalihkan pandangan pura-pura tidak melihat.

Di pojok sebelah sana, tiga meja jauhnya nampak seorang pemuda cakap dengan pedang di punggung, bercakap-cakap dengan seorang wanita muda cantik.

Mereka bercakap-cakap amat perlahan sekali.

Akan tetapi tentu saja pendengaran Nyuk In yang tajam dan terlatih ia dapat juga mendengar pembicaraan dua orang muda itu.

Nyuk In pura-pura tidak melihat, akan tetapi ia memasang telinga!

"Biauw Eng, kau hendak pergi ke Wu-nian, apakah tidak dicari oleh ayahmu?"

Tanya pemuda di depan wanita yang dipanggil Biauw Eng itu. Dan matanya tajam.

"Hok Sun, aku harus ikut kau. Biar aku tinggali surat saja kepada ayah!"

"Nanti ayahmu marah Biauw Eng, lebih baik kau tak usah ikut, ketahuilah, tugasku amat berat. Aku hendak meninjau Wu-nian dari dekat dan sekalian hendak membawa barang kiriman dari ayah, kalau kau ikut, mana ayahmu mengijinkan?" Pemuda yang bernama Hok Sun mengangkat sumpitnya. Makan bakmi dengan tenang dan gadis yang Biauw Eng nampak merasa penasasaran dan kurang senang.

"Hok Sun! Pokoknya aku ikut kau."

"Kau memang keras kepala Biauw Eng, terserah padamulah pokoknya kalau ayahmu marah, aku tidak tanggung jawab, bukan aku yang mengajakmu, tapi engkau yang memaksa untuk ikut!"

"Aku yang bertanggung jawab.

Hendak kulihat Wu-nian yang dikabarkan orang amat menyedihkan itu….

Hok Sun, aku mendengar kabar, katanya sungai Sin-kiang kuning airnya........

ikan-ikan pada mati, akan tetapi jauh di sebelah selatan katanya dusun-dusun menjadi telaga karena digenangi air dan hujan turun terus menerus.......

"Hemm, alangkah menyedihkan sekali Tiongkok masa kini....... Sayang Hong-siang (Kaisar) tidak mau meninjau hanya mengirim sumbangan-sumbangan saja. Akan tetapi anehnya wabah penyakit dan kelaparan masih terus merajalela tak ada habishabisnya! "

Sstt....... Eng-moay, bicara jangan sembarang. Tidak boleh kita menyinggung-nyinggung Hong-siang, kalau ada orang jail mendengar dan melapor bisa celaka kita! "

Hok Sun memasang telunjuk di bibir. Sementara tiga orang laki -laki yang duduk di meja sebelah depan, salah seorang di antaranya menggebrak meja.

"Lalat-lalat hijau membisingkan telinga saja. Diam! Jangan mengoceh melulu! Disini rumah makan, untuk makan bukannya untuk mengobrol!"

Nyuk In menoleh ke belakang.

Dilihatnya, yang membentak tadi adalah seorang laki-laki muka hijau, rambutnya diikat, golok di atas meja melintang.

Matanya melotot lebar memandang kedua orang muda yang duduk di meja ketiga.

Keruan saja Biauw Eng dan Hok Sun menoleh.

"Hem, kiranya tiga orang kasar dari Huang-ho nyasar ke sini, mau apa dia?"

Biauw Eng berkata kepada Hok Sun.

Akan tetapi Hok Sun tidak mau mencari ribut cuma memberi isyarat saja dengan kedipan mata.

Si muka hijau menjadi panas.

Dengan kasar sekali ia menarik bangku sehingga nenimbulkan suara berderit keras dan tiba-tiba tangannya terangkat.

Bangku itu meluncur cepat menyambar Hok Sun yang membelakanginya.

Pelayan-pelayan dan tamu-tamu hadir di situ terkejut dan berteriak ngeri.

Nyuk In melirik.

Dan alangkah terkejut dan herannya semua orang melihat betapa bangku yang tadi meluncur keras menimpa belakang pemuda itu, kini bagaikan ada daya sedot yang luar biasa, bangku bunder itu menancap di punggung Hong Sun.

Pemuda ini menoleh dan berkata kepada tiga orang di belakangnya.

"Sobat, baik sekali hatimu memberikan satu bangku untuk duduk. Akan tetapi sayang matamu, barangkali sudah buta, tidak melihat bahwa aku sudah mendapatkan tempat duduk mengapa harus memakai bangku dua, biar kukembalikan kepadamu!"

Dengan menggerakkan tubuh sedikit, bangku yang tadi menempel di punggungnya terlepas dan bagaikan peluru kendali meluncur menyambar si muka hijau.

Amat cepat sekali luncuran bangku itu sehingga tak keburu si muka hijau menangkis, mulutnya tersambar kaki bangku dan keruan saja mengeluarkan kecap.

Sambil mengusap mulut yang berdarah si Muka Hijau membentak marah.

"Setan! Berani kau menghadapi Sam-hauw-huang-ho? Aku Ong Lun, si Harimau muka Hijau yang telah malang melintang di sepanjang sungai Huang-ho, kini menghadapi lalat-lalat hijau seperti kau ini, hem, biarlah kepalanku yang memberi hajaran kepadamu!"

Si Harimau Muka Hijau Ong Lun melangkahkan kakinya dan kepalan tangannya yang berat penuh bulu itu menyambar ke arah si pemuda, akan tetapi entah bagaimana caranya, tahu-tahu terdengar suara "Ngek!"

Dan tubuh Ong Lun yang tinggi besar terlempar dan memegangi perut yang terasa melilit kepingin berak.

Ong Lun jadi meringis.

Matanya jelalatan dan tiba-tiba dengan berlari cepat ia memasuki rumah makan.

Keruan saja para pelayan menjadi panik hatinya.

Akan tetapi begitu si Harimau Muka Hijau Ong Lun menerjang pintu kakus yang tertutup dan mendengar suara keras yang memberobot, keruan saja pelayan-pelayan di situ jadi tertawa sambil memegangi hidungnya!

Dua orang teman si Muka Hijau berdiri saking marahnya.

Si gemuk pendek yang bertubuh seperti buntalan bak-pao, mengangkat goloknya dan maju menghampiri Hok Sun.

"Tidak kenal dengan kami?"

Si gemuk pendek menepuk dadanya. Melotot memandang Hok Sun. Akan tetapi Biauw Eng telah menggebrak meja sambil membentak.

"Kalian ini gendut pendek hendak berlagak di sini, hendak mencari mampus, hayo pergi!"

Begitu tangan gadis itu menepuk pinggiran meja, lima pasang sumpit kayu meluncur cepat menyambar si gendut pendek yang menjadi gelagapan memutar goloknya menangkis seranganserangan sumpit terbang yang lihai itu.

Hebat sekali gerakan golok si gendut pendek ini, begitu golok diputar terdengar suara mengaung dan sumpit-sumpit terpotong dua tersambar golok yang amat tajam itu.

Akan tetapi saking kerasnya tangkisan golok si gendut itu, beberapa potong sumpit yang terbelah dua mental dan meluncur cepat ke arah temannya, satu batang mengemplang si teman itu dan satunya lagi dengan kerasnya memukul batang hidung yang bengkok itu.

Amat kerasnya sambaran potongan sumpit itu menyambar hidung bengkok, sehingga dari dalam hidung itu keluar kecap melele mengalir ke sela-sela kumis yang jarang dan kaku, kaya kawat berduri itu.

Tentu saja si Hidung Bengkok menjadi marah bukan main.

Sekali tangannya bergerak, tiga buah piauw (pisau terbang) menyambar si gadis.

Akan tetapi Biauw Eng dengan kecepatan luar biasa telah mengangkat tangan kirinya dan menjepit tiga buah pisau terbang yang meluncur ke arahnya.

"Ah, pisau pemotong lalat saja diunjuk-unjuki kepadaku, terimalah!"

Terdengar suara mendesing.

Tiga buah pisau terbang menyambar ke arah si hidung bengkok.

Si Hidung bengkok terkejut sekali, cepat ia membuang diri ke belakang dan bergulingan.

Tiga buah piauw meluncur di atas kepalanya dan menancap dalam pada tiang penglari.

Pisau itu bergoyang-goyang saking kuatnya!

Akan tetapi secara kebetulan sekali si Hidung Bengkok bergulingan dekat meja Nyuk In.

Dengan cepat sekali kaki gadis itu menendang mencongkel, dan tubuh si hidung bengkok melayang keluar dan kepalanya beradu dengan patung singa-singaan yang memang sengaja dipasang sebagai hiasan di muka pintu masuk rumah makan itu.

Keruan saja kepala yang membentur patung batu itu mengeluarkan jendol sebesar telur bebek.

Dengan menggereng seperti harimau terluka, si Hidung Bengkok berdiri dan mengangkat patung batu singa-singaan itu sampai di atas kepalanya.

Dan melempar ke arah gadis yang membelakangi itu!

Melihat ini Hok Sun dan Biauw Eng hampir saja mencelat hendak menyambar batu yang menimpah kepala gadis itu.

Akan tetapi, ke dua orang muda itu tertegun melongo melihat batu singa-singaan yang besar dan berat itu kini berdiri tertahan di bawah sebatang sumpit di tangan si gadis.

Dengan tersenyum mengejek Nyuk In menoleh keluar dan berkata.

"Hidung bengkok, kurang ajar sekali kau mengganggu aku yang sedang makan. Minggatlah kau dari sini!"

Batu singa-singaan itu berputar-putar di atas sebatang sumpit dan dengan cepat sekali meluncur ke arah si Hidung Bengkok yang sudah siap siaga memasang kuda-kuda menyambut datangnya luncuran batu itu.

Begitu batu itu ditangkapnya, ia terjengkang ke belakang, dadanya tertindih batu dan untuk beberapa lama muntahkan darah segar.

Melihat kawannya yang hampir semaput ini, si gendut pendek cepat meloncat keluar dan mengangkat batu singa-singaan yang menindih temannya.

Sementara itu dengan wajah pucat, si muka Hijau keluar dari dalam rumah makan sambil memegangi perut dan berkata.

"Kalian orangorang muda yang hebat, kami Sam-hauw Huang-ho mengaku kalah, akan tetapi kami mengundang kedatangan kalian di Kotaraja di kelenteng Sung-thian-hok nanti sore!"

Habis berkata kemudian, bagaikan ular kena penggebuk, ketiga orang yang dijuluki Tiga Harimau Sungai Huang-ho mengangkat pantatnya dan pergi meninggalkan rumah makan itu!

Hok Sun dan Biauw Eng kagum sekali melihat demontrasi lwekang yang tadi dipertunjukkan oleh gadis yang di meja sebelah sana itu.

Cepat Hok Sun dan Biauw Eng menjura sambil berkata.

"Lihiap (pendekar wanita) yang gagah, terimakasih atas bantuanmu mengusir si Hidung bengkok barusan!" Nyuk In tersenyum dan membalas mengangkat ke dua tangannya.

"Sama-sama....... kalian juga hebat dan luar biasa… entah siapa jiwie enghiong (tuan muda yang gagah) ini!"

"Namaku Hok Sun she Lim, dan ini temanku Sie Biauw Eng, puteri tayjin Sie Teng......."

Memperkenalkan Hok Sun.

"Oo, kiranya aku berhadapan dengan saudara Hok Sun dan nona Biauw Eng yang gagah, perkenalkanlah namaku Cung Nyuk In. Hemm, kalian tadi ditantang oleh tiga lalat hijau itu untuk ke kelenteng Sung-thian-hok nanti sore bukan?"

"Ahh, tiga orang tadi memang tidak tahu diri, nona Nyuk In, mungkin mereka hendak memanggil teman-temannya untuk membalas kekalahannya ini,"

Sahut Hok Sun.

"Tiga orang tadi sungguh menyebalkan. Nggak tahu diri!"

Biauw Eng memaki. Merengut! "Biar nanti sore aku juga hendak melihat-lihat di kelenteng Sungthian-hok, sekarang aku permisi,"

Nyuk In menjura. Meletakkan beberapa potong perak di meja. Bangkit berdiri.

"Sampai kita berjumpa,"

Kata Nyuk In. Akan tetapi Biauw Eng menghampiri berkata.

"Nyuk In cici, hendak ke manakah kau….. mampirlah ke rumahku dulu.......!"

"Terima kasih Biauw Eng, aku sudah pesan tempat di sebuah penginapan di kota ini. Biarlah lain kali aku singgah dirumahmu." "Ahh, nona pakai sungkan-sungkan. Bermalamlah di rumah Biauw Eng kawanku ini rumahnya besar dan banyak kamar, mengapa sewa kamar penginapan?"

Hok Sun berkata.

"Terimakasih, nanti sore kita bertemu lagi!"

Sehabis berkata demikian, Nyuk In berkelebat dan tahu-tahu telah lenyap di tempat itu. Hok Sun jadi bengong dan heran, tanpa disadarinya mulutnya berkata.

"Hebat, gadis itu…… entah murid siapakah dia……"

Akan tetapi ia menghentikan kata-katanya begitu menoleh, dilihatnya wajah Biauw Eng sebentar pucat sebentar merah, merengut! "Maafkan aku penyesalannya. Eng-moay……!"

Hok Sun menyatakan "Memang kau mata keranjang. Bertemu wanita cantik memuji, merayu dan……. ahh, menyebalkan!"

"Em, e, e, kok marah…… jangan cemburu dong."

"Siapa yang cemburu, memang kau mata hidung belang!"

"Maafkan aku Eng-moay…….!"

"Sudahlah, aku mau pulang dulu,"

Nada suara Biauw Eng nampak kesal dan gemetar.

Mereka berdua meninggalkan rumah makan itu Hok Sun berjalan di samping Biauw Eng tak henti-hentinya membujuk supaya itu tidak marah-marah lagi.

Akan tetapi Biauw Eng masih marah-marah ia ketika ia memasuki rumahnya dan membantingkan diri di kamar, membenamkan dirinya dalam tangis yang tak bersuara.

<> Siapakah Hok Sun dan Biauw Eng?

Para pembaca pernah sekali saja diperkenalkan dengan gadis yang bernama Biauw Eng ini.

Waktu itu Biauw Eng dan ayahnya yang bernama Sie Tek Peng masih tinggal di sebuah dusun Tingling-bun yang minus dan tengah terancam bahaya kelaparan.

Orang tua she Sie ini, sejak kedatangan mendiang Swie It Tianglo yang menegur karena pemerasan terhadap orang-orang dusun yang miskin, sejak itu ia mengundurkan diri dan pindah ke kotaraja.

Karena orang she Sie ini banyak uang, sebentar saja ia sudah berpengaruh di Kotaraja dan dengan jalan menyogok seorang pembesar atasan ia berhasil mendapat sebuah kedudukan dan bekerja di sebuah perpustakaan di Istana Kaisar.

Tentu saja sebagai seorang kutu buku, orang she Sie ini gemar sekali membaca cerita-cerita sejarah Tiongkok kuno.

Pada suatu hari ia membawa sebuah buku kuno, akan tetapi karena ia tidak mengerti ilmu silat maka buku kuno itu disimpannya di rumahnya.

Kebetulan diketemui oleh Biauw Eng, anaknya dan dibacanya.

Ternyata buku kuno itu adalah kitab pelajaran silat.

Maka dengan diam-diam Biauw Eng mempelajari isi kitab itu di dalam kamarnya.

Ia melatih diri dengan cara bersiulan dan melatih pernapasan.

Baru setelah tiga bulan kemudian ia sampai pada pergerakan tangan dan kaki bersilat tangan kosong.

Alangkah sukarnya bersilat tanpa bimbingan seorang guru.

Beberapa kali ia melakukan gerakan yang salah dan berlainan.

Kesal sekali hati gadis ini.

Akan tetapi tekadnya yang besar untuk bisa bersilat, ia terus melatih diri di dalam kamarnya.

Dan berkat kesabaran dan ketekunan yang luar biasa inilah akhirnya Siauw Eng berhasil menguasai kitab pelajaran dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab kuno itu.

Pada suatu malam yang dingin, tatkala semua orang sudah masuk ke dalam kamarnya dan bersembunyi di balik selimut tebal dan melelapkan diri dalam tidur yang nyenyak, Biauw Eng masih berada dikamarnya sedang bersiulan.

Meskipun ia nampak seperti orang tertidur akan tetapi perasaan dan pendengarannya yang tajam dapat menangkap gerakan-gerakan kaki di atas genteng rumahnya.

Dengan cepat ia meniup lampu dan dari jendela ia melompat ke atas genteng.

Sesosok bayangan berkelebatan dari genteng ke genteng lainnya dan berhenti di genting rumah yang paling tinggi.

Orang itu celingukan sebentar tiba-tiba ia melayang turun.

Memasuki sebuah kamar dari jendela yang didongkel.

Biauw Eng menanti orang yang berkerudung hitam mukanya itu.

Ia mendekam di balik wuwungan rumahnya.

Pada saat itu sebuah gerakan yang amat gesit berkelebat pula bagaikan seekor walet, bersembunyi.

Biauw Eng terkejut sekali melihat bayangan putih itu.

Akan tetapi ia menahan diri!

Tidak lama kemndian sesosok bayangan hitam melayang ke atas genting dengan gerakan yang luar biasa gesitnya.

Bayangan itu bertubuh langsing dan agak tinggi kurus, pakaiannya tertutup jubah hitam dan pada mukanya terdapat kerudung hitam yang terbuat dari pada sutera hitam yang menutup bagian muka sampai di bawah mata.

Matanya yang tidak tertutup berkilat-kilat tajam melirik ke sana ke mari.

Di punggungnya nampak gagang sebuah pedang.

Dan pada saat itu ia menggendong dua buah kantong kain kuning yang besar dan berat.

Sebuah bayangan putih yang tadi bersembunyi di balik wuwungan berkelebat menyambar buntalan kuning sambil membentak.

"Maling hina, serahkan barang curian itu!"

Dari balik kerudung itu terdengar suara dengusan halus, matanya tajam menyambar bayangan yang berkelebat menyambar buntalan pada punggungnya.

Dengan sedikit mengegoskan diri ke samping pemuda baju putih itu menyambar cengkraman angin.

"Tangkap! Tangkap maling….."

Dari arah bawah terdengar teriakan beberapa orang penjaga gedung Lim-wangwe yang memiliki kepandaian silat tinggi mengejar ke atas genteng dengan pedang dan golok di tangan.

Akan tetapi, bayangan hitam di atas genteng itu amat lihay dan luar biasa.

Begitu penjaga-penjaga meloncat ke atas genteng, tiba-tiba tangan bayangan hitam itu bergerak dan angin besar berdesir menyambar dan keruan saja tiga orang penjaga terpelanting saking kuatnya angin pukulan itu.

Biauw Eng melompat dan membentak.

"Maling hina, lihat pedang!"

Bayangan hitam itu menoleh sejenak dan tertawa lirih. Terkejut sekali Biauw Eng mendengar suara tawa dari balik kerudung hitam Itu. Suara tawa seorang wanita yang nyaring dan bersih.

"Ahh, kiranya kau maling perempuan! Hayo menyerah dan berlutut di depanku!"

Sinar pedang berkeredepan menyambar bayangan hitam, akan tetapi dengan sekali menggeserkan kakinya, bayangan hitam itu sudah terluput dari serangan pedang Biauw Eng.

Baru saja ia hendak mencelat pergi, sesosok bayangan putih sudah menerjangnya dengan pukulan dahsyat dari tangan kiri sedangkan pedang di tangan kanan menyambar luar biasa cepat dan kuatnya.

Terkejutlah bayangan hitam itu.

Dengan gerakan cepat tangannya telah mencabut pedang dan memekik keras menerjang kedua orang muda yang lihai ini.

Sementara itu penjaga-penjaga di bawah telah memasang obor.

Sinar terang menerangi ke atas.

Biauw Eng dapat melihat sinar mata yang tajam dan tubuh yang langsing dari maling wanita ini.

Ia mainkan pedangnya demikian dahsyat, sedangkan tangan kirinya menggunakan pukulan ilmu silat kong-ciak-sin-na yang ia dapat pelajari dari kitab kuno ini.

Ketiga orang yang bertempur di atas itu hebat dan seru, nampaknya berimbang.

Apalagi kini setelah ruangan di atas genting itu sudah menjadi terang benderang oleh para penjaga yang memasang obor.

Lim Wan-gwe dan keluarganya menjadi kaget dan heran bukan main melihat wanita muda yang luar biasa yang bermain pedangnya itu.

Ia mengenal betul puteri Sie Tek Peng ini, tidak disangkanya puteri Sie-tayjin yang lemah lembut dapat memainkan ilmu pedang demikian lihai.

Seorang pemuda baju putih juga lihai ilmu pedangnya.

Ia mendesak hebat kepada maling perempuan yang hebat luar biasa ini.

Pada saat maling wanita mengeluarkan jeritan aneh dan menggeletar-geletar, lemaslah tubuh Biauw Eng dan pemuda baju putih itu.

Inilah pengerahan sin-kang tingkat tinggi yang luar biasa dan dua sosok bayangan berkelebat menyerbu Biauw Eng dan pemuda baju putih, salah satu bayangan hitam yang juga berkerudung, itu berseru nyaring, suara wanita merdu.

"Suci…… lekas lari!"

Mendengar suara ini, maling wanita yang membawa buntalan kuning di punggungnya meloncat cepat dan dua orang penjaga, cepat mengeluarkan piauwnya, lalu menggerakkan tangan mereka.

Empat batang piauw ke arah punggung maling wanita yang melarikan diri itu.

Akan tetapi sungguh mengagumkan.

Tanpa menoleh lagi bagaikan punggungnya bermata yang melihat datangnya senjata-senjata rahasia itu, bayangan hitam itu mengelak ke samping dan ketika sebatang piauw menyambar dekat, ia gerakkan tangan kanannya menangkap piauw itu tanpa melihat.

Betapa tinggi ilmu silatnya dan ketajaman pendengarannya!

Dua bayangan hitam yang lainnya, juga terdiri dari wanita-wanita yang memiliki tubuh langsing dan kecil, menggerakkan pedangnya dan sekali ia melompat jauh dan menghilang di dalam gelap!

Para penjaga masih mencoba dan mencari-cari, akan tetapi ketiga bayangan hitam itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Biauw Eng hendak meloncat pergi, tetapi pemuda baju putih sudah menghadangnya, menjura.

"Terima kasih atas bantuanmu nona!"

Biauw Eng hanya mengerling sebentar dan mencelat pergi.

Demikianlah sejak malam itu, Sie-tayjin telah mengetahui bahwa anaknya pandai bermain silat.

Dan seluruh pembesar-pembesar istana mengetahui bahwa Biauw Eng mempunyai ilmu pedang yang hebat dan luar biasa.

Dan pemuda baju putih itu, adalah Lim Hok Sun, putera Lim Wangwe.

Ia adalah murid seorang tokoh sakti Bu-thong-pay perantauan.

Dan karena gin-kangnya tinggi ini, dan kepandaian yang luar biasa maka orang muda ini dijuluki Hui-eng (si Garuda Terbang) Lim Hok Sun.

Demikianlah, sejak pertemuan malam itu, Biauw Eng dan Hok Sun menjadi kawan yang akrab dan secara diam-diam, gadis puteri Sie Tek Peng ini menaruh hati kepada Hok Sun, si Garuda Terbang.

Pada sore hari itu Hok Sun menyamperin Biauw Eng untuk menepati janji atas undangan tiga orang Sam-hauw-huang-ho di kelenteng Sung-thian-hok.

Sore hari itu agak sedikit mendung, udara sejuk dan agak basah.

Biauw Eng dan Hok Sun melarikan kudanya keluar Kotaraja dengan cepat dan membedal kudanya.

Sebetulnya tadi itu diamdiam Hok Sun mencari nona Nyuk In yang katanya tinggal di hotel.

Akan tetapi ternyata gadis yang dicarinya itu sudah berangkat!

Memang Nyuk In sudah berangkat.

Ia cepat-cepat mencari keterangan letak kuil kelenteng Sung-thian-hok.

Kelenteng tua yang letaknya seratus lie dari pintu gerbang Kotaraja.

Dalam waktu setengah jam saja ia berlari cepat menggunakan gin-kangnya, ia telah sampai di halaman depan kelenteng yang nampaknya tidak terurus.

Sangat sepi sekali suasana di tempat ini.

Nyuk In berhatihati dan waspada!

Akan tetapi, baru saja ia menginjak pintu depan kelenteng itu, tibatiba menyambar berpuluh-puluh anak panah mengeluarkan suara mendesing keras.

Nyuk In menggerakkan pit dan kipas tahu-tahu duapuluh batang anak panah telah runtuh di tanah!

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di depan kelenteng tua itu sudah berdiri tiga orang Sam-hauw-huang-ho yang tadi dikenalnya di sebuah rumah makan di Kotaraja.

Dan di belakang mereka nampak berdiri banyak orang yang dilihat dari cara pakaiannya seperti bajak laut.

Tahulah gadis itu bahwa lawanlawannya ini tentu golongan bajak dan perampok-perampok jahat.

"Ha ha ha, selamat datang nona cantik, ternyata kamu menepati janji yang bagus!

Akan tetapi kenapa kau datang sendiri mana dua orang lalat hijau itu?"

Salah seorang dari Sam-hauw-huang-ho, yang bertubuh gendut pendek bertanya sambil tertawa mengejek. Nyuk In maju selangkah, kipas hitamnya bergerak terbuka.

"Tidak perlu dengan dua orang muda yang gagah perkasa itu, cukup nonamu ini yang akan mengobrak-abrik kumpulan kalian yang jahat dan mengganggu rakyat saja, eh, Sam-hauw-huang-ho, apakah kalian ini pemimpin bajak laut?"

Nyuk In bertanya. Pit dan kipas di tangan kanan dan kiri melintang. Terdengar suara nyaring dan keren dari dalam kelenteng.

"Ha ha ha! Gagah juga kau….. sombong dan tak tahu diri tidak melihat tingginya gunung dan dalamnya laut. Hayo berlutut kau!"

Bentakannya nyaring itu diiringi berkelebat sesosok tubuh dan tahu-tahu telah berdiri di depan Nyuk In, dan tersentak kaget melihat kipas dan pit di tangan gadis itu.

"Ahhh....... apakah kau…… gadis yang pernah berkunjung ke Sianli-pay belum lama ini?"

Gadis berkerudung hitam itu bertanya keren. Nyuk In dapat melihat tatapan pandangan mata yang tajam dan berwibawa dari gadis yang berkerudung hitam itu.

"Betul. Aku Cung Nyuk In, pernah mendapat kehormatan datang ke pulau Bidadari akan tetapi siapa sangka gadis cantik di sana tidak bisa menghormati tamu, sehingga banyak tamu yang datang tidak betah tinggal di sana karena nenek galak itu!" "Keparat kau menghina Pay-cu, mampuslah kau!"

Suara pedang ditarik terdengar berdesing. Tiga orang Sam-hauw Huang-ho berkata hormat sambil menjura.

"Harap Sianli bersabar, biar kami yang memberi hajaran kepada gadis lancang mulut ini!"

Gadis kerudung itu mendengus.

Membiarkan tiga orang harimau Huang-ho ini maju.

Ia sendiri menonton.

Ia melihat tiga orang harimau Huang-ho telah maju menerjang Nyuk In dengan golok dan pedang.

Akan tetapi dengan enaknya saja Nyuk In mengelak ke kiri dan menggerakkan pitnya memutar menangkis golok.

Terdengar suara keras dan bunga api memercik kecil-kecil dan si gendut pendek yang memegang golok terkejut hatinya merasa telapak tangannya perih dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangan tangannya.

Ia menggereng marah.

Si Hidung Bengkok menggerakkan tangannya dan tiga buah pisau terbang menyambar amat cepat mengarah dada si gadis.

Melihat kekejaman Si Hidung Bengkok ini, Nyuk In menjadi marah.

Kipasnya bergerak mengebut dan tiga buah pisau terbang yang menyambarnya mental kembali dan meluncur ke arah si penyambit.

Terdengar suara jeritan ngeri waktu pisau itu tepat menyambar leher si Hidung Bengkok.

Untuk sesaat orang itu berkelojotan dan napasnya telah putus.

Gadis kerudung hitam terkejut sekali melihat kelihaian gadis berkipas hitam ini.

Dengan cepat dilepaskan burung pos yang membawa tulisan tangannya.

Burung itu terbang tinggi dan sebentar itu pula lenyap dalam pandangan mata.

Memang gadisgadis Sian-li-pay ini memakai burung pos sebagai penghubung memanggil bala bantuan.

Melihat si Hidung bengkok sudah mati.

Dua orang Sam-hauwhuang-ho menjadi marah.

Mereka menerjang maju, diikuti dengan kawanan bajak yang berjumlah sekitar duapuluh orang itu.

Dan sebentar saja Nyuk In sudah dikeroyok oleh puluhan bajak laut yang berkepandaian cukup tinggi itu.

Tentu saja merasa dirinya dikeroyok oleh puluhan bajak ini ia menjadi marah dan sambil mengeluarkan lengkingan tinggi gadis itu mainkan kipas hitamnya dan pit di tangan kanan dengan amat hebat luar biasa.

Tiap kali kipas itu dikebut, nampak angin besar menyambar kuat sekali membuat beberapa orang bajak yang di dekatnya terpental jatuh dan disusul oleh gerakan pit menotok orang itu.

Amat cepat sekali gerakan gadis ini, sehingga bagi pandangan mata biasa sukarlah mengikuti pergerakan kipas dan pit di tangan kanan dan kiri gadis itu.

Begitu pit bergerak, terlihat beberapa orang bajak roboh dan dalam keadaan tertotok.

Sebentar saja di tempat itu ada sekitar sepuluh orang bajak yang berkepandaian tak begitu tinggi telah menggeletak tersambar kipas dan totokan pit!

Biarpun Nyuk In lihay dan luar biasa sekali gerakan-gerakan kipas pit di tangan kanan dan kiri itu, akan tetapi dikeroyok oleh limabelas orang-orang bajak yang berkepandaian tinggi ini, ia menjadi repot juga.

Sedikit saja ia lambat atau lengah, niscaya tubuhnya akan hancur tersayat pedang dan golok yang berkelebat saling berganti dan bertubi-tubi itu!

Sementara di atas awan hitam memberat hendak hujan.

Angin bertiup dengan amat kerasnya menggoyangkan pepohonan dan merontokkan daun-daun yang bertebaran jatuh di tanah dan melayang lagi tertiup angin.

Nyuk In mainkan pit dan kipasnya dengan cepat dan tubuhnya berkelebatan ke sana ke mari dengan amat cepat.

Pada saat itu, terdengar suara bentakan nyaring dengan diiringi melayang sesosok tubuh yang telah terjun ke dalam pertempuran itu dan menggerakkan pedangnya.

Tiga orang bajak laut yang tidak menduga-duga akan serangan dari orang yang di belakang ini, menjadi terkejut bukan main.

Cepat mereka membuang diri ke samping menghindarkan samberan pedang yang dapat ditangkap oleh pendengaran telinganya itu.

Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika sebuah angin pukulan menyambarnya dengan cepat.

Tak keburu mereka mengelak, terpaksa mereka mengangkat tangan menangkis.

"Dess!"

Tubuh tiga orang itu terlempar jauh dan mati pada saat itu juga.

Biauw Eng menggerakkan pedangnya lagi, dan matilah salah seorang yang tak keburu menghadapi sambaran pedang yang aneh dan amat cepatnya itu.

Hok Sun yang telah sampai di situ menjadi kaget setengah mati melihatkan keganasan Biauw Eng ini.

Iapun maju menerjang mendekati gadis itu sambil berkata.

"Eng-moay, jangan sembarangan membunuh!"

"Tidak perduli,"

Sahut gadis itu dengan suara masih agak ketus dan marah.

Memang entah mengapa gadis ini masih kesal hatinya kepada pemuda ini.

Hatinya merasa panas seperti dibakar ketika tadi melihat Nyuk In telah berada di kelenteng ini, malah iapun segera menghadapi musuh-musuhnya dengan gagah perkasa.

Ia menjadi panas, seakan-akan gadis itu hendak memamerkan kepandaian di depanku, pikirnya.

Oleh sebab itulah begitu ia muncul, dalam segebrakan itu ia telah membunuh tiga orang bajak yang tak keburu menangkis pukulannya.

Kedatangan dua orang ini, membuat dua orang Sam-hauw-huangho menjadi keder hatinya.

Apalagi menghadapi gadis yang baru datang ini ilmu pedangnya aneh dan kuat, lama kelamaan si gendut yang pendek sangat terdesak, dan dengan permainan goloknya menjadi kacau.

Bentakan-bentakan Biauw Eng ini membuat permainan goloknya menjadi lemah.

Pada saat itu ia menerjang membacok, Biauw Eng mencelat ke atas dan sekali menggerakkan kakinya menendang, golok di tangan si gendut pendek terlepas dari pegangannya.

Dan menyusul tendangan kedua dari gadis itu dengan sengitnya membuat si gemuk pendek terjengkang, pedang Biauw Eng berkelebat menyambar.

"Ceepp!"

Darah merah muncrat dari dada si gemuk pendek itu, mulutnya menggereng seperti babi disembelih, kemudian ia terkulai lemah dan matilah ia dengan mata melotot menakutkan.

Hok Sun kaget sekali melihat keganasan gadis ini, berkali-kali ia mencegah Biauw Eng, semakin dicegah semakin bernapsu gadis ini untuk membunuh lawannya!

Nyuk In juga melihat keganasan gadis yang baru datang itu.

Akan tetapi ia tidak bilang apa-apa.

Memang sudah sepatutnya bajakbajak laut ini mampus!

Pikirnya.

Kipasnya menyambar menampar dan orang ketiga dari Sam-hauw-huang-ho yang bernama Ong Lun itu terjengkang dan menyusul pit panjang menotok robohkan orang bajak itu.

Sebentar saja habislah duapuluh tiga bajak-bajak laut itu berikut tiga orang yang berjuluk Sam-hauw-huang-ho.

Ong Lun yang tertotok tak dapat bangun itu memandang gadis berkipas dan memaki kalang kabut.

"Kalian….. bertiga sudah membasmi bajakbajak laut, awaslah kau….. Hay-ong-pang tidak akan membiarkan penghinaan ini, sebentar lagi Hay-ong-pangcu akan membunuh kalian…. Ahhgg."

Pedang Biauw Eng menyambar leher orang yang tengah memaki itu.

Keruan saja Ong Lun tak dapat meneruskan kata-katanya dan lehernya putus tersambar pedang.

Hok Sun kaget sekali melihat keganasan Biauw Eng.

Ia menoleh, pandangannya menegur gadis yang menatapnya, pula menantang.

"Kenapa kau tidak senang ia kubunuh-bunuhi mereka semua!"

Biauw Eng menyatakan kemengkalan hatinya. Hok Sun menarik napas panjang.

"Bukan aku tidak senang Engmoay….., akan tetapi tidak seharusnya kau menjatuhi tangan maut kepada mereka."

"Ooo….. jadi kau tidak senang? Apakah perbuatanku membunuhi mereka ini kau anggap salah? Mereka bajak laut, mereka jahat…… sudah seharusnya kubunuh! Kau mau apa?"

Akhirnya Hok Sun bo-hwat atau kehabisan akal, menghadapi gadis ini, dia tahu kalau Biauw Eng sedang marah seperti itu, tak boleh diganggunya.

Akan tetapi yang membuat ia heran, mengapa gadis ini masih marah terhadapnya?

Padahal ia telah minta maaf tadi siang, hemm, begitu besarkah cemburu Biauw Eng terhadapnya…..

berdebar dada Hok Sun.

Akan tetapi ia tidak meladeni gadis ini.

Waktu ia menoleh dilihatnya Nyuk In sudah berhadapan saling pandang dengan gadis kerudung hitam seakan-akan dengan pandangan masing-masing mereka mengukur tingkat kepandaiannya.

Tiba-tiba terdengar suara mendesing keras.

Pedang di tangan gadis kerudung hitam ke luar dari sarung dan tanpa berbicara apa-apa lagi ia menerjang gadis di depannya yang telah siap dengan kipas dan pit di tangan!

"Bagus!"

Kata Nyuk In yang segera meloncat ke belakang menghindarkan sambaran pedang gadis kerudung hitam yang mengeluarkan suara mendesing saking kuatnya, segera ia ayunkan tangan kirinya membalas.

Sebuah angin pukulan yang keluar dari kipas hitam bergelombang menyambar dada si gadis kerudung hitam yang dapat berkelit dengan baik pula!

"Rasakan ini!"

Bentak gadis kerudung hitam itu dan ketika tangan kirinya terayun puluhan jarum halus menyambar mengeluarkan angin lembut.

Menghadapi serangan senjata rahasia yang berbahaya ini, Nyuk In memperlihatkan kepandaiannya.

Ia tahu bahwa ia tak dapat berkelit, maka ia menggunakan kipasnya mengebut hingga beberapa jarum yang menyambar tuhuhnya dapat dipukul runtuh.

"Lihai!"

Gadis kerudung hitam itu memuji dari balik kerudung yang menutupi mukanya tapi kini ia berada dekat dan menyerang dengan pedangnya.

Nyuk In menangkis dengan pit di tangan kanan dan balas menyerang.

Hebat sekali kepandaian gadis kerudung dari Sian-lipay ini dengan mengandalkan gin-kangnya yang tinggi dan ilmu pedangnya yang luar biasa itu, ia dapat menghadapi serangan Nyuk In yang bersenjata kipas hitam dan pit ini.

Hanya kadangkadang ia terhuyung-huyung apabila kipas hitam di tangan gadis yang lihai itu membentur pedangnya.

Memang dalam hal tenaga lwekang rupanya gadis kerudung hitam ini kalah setingkat dengan Nyuk In!

Hanya mengandalkan kelincahan tubuhnya inilah gadis kerudung hitam ini berhasil menghindarkan serangan pit yang lihai dan pukulan yang mengeluarkan tenaga dahsyat itu.

Gadis kerudung itu berkelebat ke sana ke mari di atas serangan ujung pit yang menyambar-nyambar dahsyat, hingga merupakan seekor kupu-kupu terbang bermain di atas bunga-bunga yang tengah mekar!

Diserang dan kadang-kadang terbungkus oleh gerakan-gerakan kipas dan pit yang mengeluarkan sinar hitam bagaikan kilat menyambar!

Limapuluh jurus lewat, sebetulnya Hok Sun ingin membantu gadis itu, akan tetapi melihat wajah Biauw Eng yang masih merengut tak senang, ia urungkan maksudnya dan menonton dengan dada berdebar tegang.

Kagum dan terkejut ia melihat dua orang gadis yang bertempur dengan amat serunya ini, mereka itu sama-sama lihay, sama-sama mempunyai kepandaian silat tinggi!

Hemm, melihat ilmu silat gadis kerudung hitam itu, belum tentu ia dapat menandingi, pikirnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara gadis kerudung hitam membentak.

"Robohlah!"

Dan tangan gadis kerudung hitam itu melepaskan bola hitam merupakan pelor yang menyambar ke arah pundak Nyuk In.

Ketika Nyuk In mengebut dengan kipasnya, pelor hitam itu mental ke samping akan tetapi begitu pitnya menyambar membentur pelor itu, tiba-tiba benda bulat hitam itu meledak dan dari dalamnya menyambar berpuluh-puluh jarum beracun ke arah Nyuk In.

Tentu saja gadis ini menjadi terkejut sekali dan dengan gugup tubuhnya mencelat ke udara.

Tapi karena serangan jarum-jarum beracun itu amat banyak dan cepat seperti seekor panah yang melesat dari busurnya, tak urung sebuah di antara jarum beracun itu menancap di kaki Nyuk In.

Gadis itu merasa kakinya panas sekali dan kepalanya pening maka dari atas gadis itu meluncur jatuh dengan kepala lebih dulu!

Biauw Eng dan Hok Sun kaget bukan main, mereka hendak memburu bergerak menolong, akan tetapi gadis kerudung hitam yang telah mencelat di depan mereka dan membentak.

"Jangan bergerak!"

Terpaksa mereka urungkan maksudnya dan memandang ke arah gadis itu.

Ternyata Nyuk In biarpun sudah terluka dan keracunan jarum pada kakinya, ia masih dapat mengumpulkan tenaganya.

Ketika tubuhnya melayang jatuh, ia mengerahkan pit dan kipas memukul tanah dan tubuhnya membal lagi ke atas dan berpok-say (membuat salto) tiga kali, ia turun dengan terhuyung-huyung dan pingsan!

Biauw Eng cepat memeriksa.

"Celaka! Ia terkena jarum beracun, tapi jangan kuatir....... aku kebetulan membawa pil penolak racun,"

Berkata demikian Biauw Eng memasukkan pil ke dalam mulut Nyuk In.

"Awas!"

Tiba-tiba Hok Sun berseru dan cepat ia mendorong tubuh Biauw Eng dan ia sendiri bergulingan.

Suara halus terdengar ketika puluhan jarum lewat di atas kepalanya.

Melihat kecurangan gadis kerudung hitam ini, Biauw Eng membentak marah dan mengirim tusukan pedang.

"Gadis sialan, jangan berlaku curang!"

Suara pedang berdesing waktu Biauw Eng menyerbu maju menyerang gadis kerudung hitam yang terdengar tertawa mengejek dan mengelak dari sambaran pedang.

Pada saat itu, berkelebat beberapa sosok bayangan.

Dan tahutahu di sekitar kelenteng tua ini bermunculan orang-orang tua yang berpakaian seperti pengemis, penuh tambalan dan warna pakaiannya berkembang-kembang.

Orang yang di depan itu adalah seorang kakek pengemis, sudah tua sekali, tubuhnya bongkok dan memegang tongkat butut, bergoyang-goyang tubuhnya waktu menuding ke arah Biauw Eng yang sudah meloncat mundur.

"Kalian ini dua ekor tikus, berani kurang ajar terhadap Sian-li-pay dan tidak memandang mata kepada Hwa-ie-kay-pang (Perkumpulan pengemis baju kembang . Hayo berlutut!"

Aneh sekali, begitu tongkat butut itu ditudingkan, baik Hok Sun maupun Biauw Eng tergetar kakinya dan terus melosoh lumpuh.

Inilah totokan yang dikirimkan melalui suara tadi.

Suara yang hanya dapat digunakan bagi orang yang sudah mempunyai kepandaian lwekang tingkat tinggi.

Hok Sun dan Biauw Eng terkejut bukan main.

Biauw Eng hendak memaki, akan tetapi urat lehernya sakit dan ia tak dapat berbicara, karena urat gagunya telah ditotok.

Inilah hebat.

Kakek pengemis bongkok baju kembang-kembang itu menjura hormat kepada gadis kerudung hitam.

"Sianli, mereka inikah yang telah membuat onar di Sian-li-pay?"

Gadis kerudung hitam itu menggelengkan kepala.

"Bukan mereka,"

Katanya menunjuk kepada Biauw Eng dan Hok Sun.

"akan tetapi gadis inilah…… ia sudah terluka kena jarumku!"

"Oh….. ya, gadis yang bersenjata kipas dan pit itu?"

Gadis kerudung hitam mengangguk mengedikkan kepalanya dan memerintah, dengan angkuh ia "

Pangcu Hwa-ie-kay-pang, kutitipkan mereka bertiga ini kepadamu, untuk seterusnya yang bersenjatakan kipas dan pit harus diserahkan kepada Sian-li-pay! Selamat tinggal!"

Sekali menggerakkan tubuhnya, gadis perkasa Sian-li-pay itu sudah mencelat pergi. Kakek pengemis bongkok yang memegang tongkat butut itu berjalan perlahan menghampiri Nyuk In yang masih pingsan.

"Ho ho ha ha! Rupanya gadis ini yang dikabarkan membuat heboh di Sian-li-pay, sungguh berani mati!"

Suara yang serak dari kakek pengemis itu terdengar mengakak, menggeletar-geletar!

Sekali tongkat butut di tangan kakek bongkok pengemis itu bergerak, tubuh Nyuk In yang masih pingsan itu terlempar sejauh lima meter dan jatuh di dekat kaki seorang pengemis baju kembang-kembang.

Tawan gadis itu, jangan sampai lolos dan kabarkan kepada Paycu Sian-li-pay bahwa gadis itu berada di Hwa-ie-kay-pang. Dan dua orang muda itu,"

Kakek pengemis bongkok itu menunjuk ke arah Hok Sun dan Biauw Eng.

"Bawa ia ke markas, laporkan kepada Sianli Ku-koay……!"

"Baik pangcu!"

Sahut kakek pengemis baju kembang yang bertubuh tinggi sambil memondong tubuh Nyuk In dan memerintahkan kepada pengemis baju kembang lain untuk membawa tubuh Hok Sun dan Biauw Eng yang tak berdaya pingsan.

Maka hari itu, biarpun bulan muncul sedikit akan tetapi sinarnya masih cukup terang untuk mengusir kekelaman malam.

Bagaikan setan-setan bergentayangan, berkelebat bayangan hitam yang berlari mereka yang lincah dan riang mudah diduga bahwa pengemis Hwa-ie-kay-pang ini berkepandaian cukup tinggi.

Biauw Eng dan Hok Sun tak berdaya dalam pondongan pengemis yang lihai ini sementara ia melirik ke arah tubuh Nyuk In legakan hati mereka melihat gadis itu sudah sadar dari pingsannya dan perlahan-lahan menggerakkan kepala.

Akan tetapi tentu saja gadis itupun tidak berdaya dalam pondongan kakek pengemis yang berlari dengan amat cepatnya.

Angin malam menerpa tubuh mereka yang dipondong dibawa lari cepat.

Ada kira-kira sepuluh orang kakek pengemis yang berlarilari cepat mengikuti di belakang, sedangkan kakek pengemis bongkok sudah tidak kelihatan lagi, entah kemana!

Di dalam keremangan malam itu, samar-samar terlihat sebuah gedung besar dan mentereng berdiri dengan megahnya.

Mereka memasuki gedung itu dan langsung masuk ke ruang dalam.

Ruangan dalam amat terang oleh sinar lilin besar yang menyala di pojok ruangan.

Beberapa pengemis tua, berpakaian seragam baju kembang berdiri tegak seperti penjaga.

Mengangguk hormat waktu rombongan pengemis yang memondong tubuh Nyuk In berlalu di depannya beberapa pengemis lain berpencar.

Dua orang pengemis yang memondong tubuh Hok Sun dan Biauw Eng dibawa masuk ke ruangan lain, membelok ke kiri dan apabila di depan pintu yang tertutup rapat, seorang pengemis mengetuk pintu itu.

Tiga kali ia mengetuk.

"Siapa?"

Terdengar suara nyaring dan merdu dari ruangan dalam. Dan begitu pintu itu terbuka, seorang gadis berkerudung hitam pada mukanya muncul dan langsung bertanya.

"O, It Lokay dan Jie Lokay yang datang, ada apakah?"

"Sianli, mohon bertemu dengan Niocu, kami membawa dua orang tawanan. Pangcu menyuruh kami menyerahkan kepada Niocu!"

Gadis kerudung hitam yang dipanggil Sianli oleh pengemis baju kembang menoleh, mengawasi kedua orang tawanan dalam pondongan kedua orang pengemis itu.

"Hemm, seorang wanita cantik dan pemuda tampan....... silahkan masuk Jie-wie lokay. Niocu berada di ruang dalam……." Kedua orang pengemis itu masuk ke dalam, ternyata ruangan dalam di sini begitu luas dan angker nampaknya. Seorang wanita tua berusia sekitar limapuluhan, duduk di bangku yang terbuat dari kulit harimau, sedangkan di kanan kiri nenek itu berdiri dua orang wanita muda, cantik dan gagah, berpakaian indah mentereng dan kedua pipi yang halus putih itu diulas tipis-tipis gincu yang berwarna merah muda. Nampak cantik sekali ke dua wanita muda yang berdiri di kanan kiri si nenek. Akan tetapi sepasang mata itu menyambar berkilat-kilat waktu melihat kakek pengemis baju kembang memondong seorang pemuda. Pemuda tampan dan gagah akan tetapi tak berdaya dalam totokan. Tubuhnya lemas dan lunglai waktu diturunkan oleh kakek pengemis baju kembang. Begitu juga dengan Biauw Eng. Ke dua orang pengemis itu berlutut.

"Niocu, dua orang muda ini telah membunuh Sam-hauw-huang-ho dan anak buah bajak laut.

Pangcu menyerahkan kedua orang muda iai untuk mendapat pertimbangan dari Niocu yang mulia…..

salah seorang dari kedua kakek pengemis itu membuka suara sambil berlutut.

Sepasang mata nenek itu menyambar tubuh Hok Sun dan Biauw Eng.

Memandang tajam ke arah dua orang muda ini.

Suaranya terdengar nyaring dan berwibawa.

"Kalian siapa? Mengapa kalian membunuh Sam-hauw-huang-ho?"

Akan tetapi, tentu saja kedua orang muda ini tidak dapat berkata, karena urat gagu mereka telah tertotok.

Mengetahui ini, si nenek memerintahkan kepada ke dua orang pengemis yang masih berlutut dengan sikap hormat dan takut.

"Bebaskanlah mereka agar mereka dapat menjawab pertanyaanku!"

Dua orang kakek pengemis itu menurut perintah.

Dua kali tangan mereka bergerak ke arah leher Hok Sun dan Biauw Eng, ke dua orang muda itu telah terbebas dari totokan.

Biauw Eng mencelat berdiri.

Diikuti oleh Hok Sun.

Berdiri dengan gagahnya menghadap si Nenek.

"Gagah dan tampan,"

Bisik si Nenek.

Sepasang matanya memandang tubuh Hok Sun yang tinggi tegap dan menyelusuri wajah yang tampan itu.

Melihat dua orang muda ini berdiri tegak, tidak berlutut seperti ke dua orang kakek pengemis baju kembang, seorang gadis kerudung hitam yang tadi membukakan pintu, maju dan membentak.

"Berlutut kau!"

Biauw Eng menoleh. Memandang gadis yang berkerudung pada mukanya, mendengus perlahan.

"Hemm, kau menyuruh aku berlutut kepada siapakah?"

"Gadis dusun, kau berhadapan dengan Sianli Ku-koay…… Nio-cu kami, hayo berlutut!"

Bentak gadis kerudung itu.

"Ooo, jadi nenek di situ itu Sianli Ku-koay, hemm, apa perlunya kami berlutut, dia bukan dewi, bukan dewa, mengapa harus dipuja?" Baru saja si gadis kerudung hendak membuka mulut memaki, tibatiba terdengar suara si Nenek.

"A Lan, gadis di depanmu itu cukup gagah, coba kau layani dia!"

Gadis kerudung hitam yang dipanggil A Lan oleh si Nenek Sianli Ku-koay menjura mengangkat sepasang tangannya.

"Baik Nio-cu, biar teecu memberi hajaran kepada gadis dusun yang tak tahu sopan ini!"

Berkata demikian, A Lan mencabut pedangnya. Melihat ini, Hok Sun cepat-cepat menghadang Biauw Eng dan berkata.

"Eng-moay, jangan mencari keributan disini......."

Biauw Eng menoleh kepada Hok Sun.

"Aku disuruh berlutut, siapa sudi?"

"Sudahlah....... jangan ribut........ mari kita bicara baik-baik dengan nenek itu...."

Hok Sun memegang lengan Biauw Eng, akan tetapi gadis itu mengibaskan lengannya.

"Tak sudi aku! Biar kuhadapi gadis sombong itu,"

Sambil berkata demikian Biauw Eng telah mencabut pedangnya.

Melihat gadis ini menarik pedang, tahulah nenek itu bahwa A Lan belum tentu dapat menghadapi gadis ini, akan tetapi ia membiarkan ketika A Lan mulai menyerang Biauw Eng, suara pedang terdengar beradu.

Dalam segebrakan itu kedua duanya mencelat mundur.

Berdiri berhadapan, saling memandang, seakan-akan tengah mengukur kepandaian lawannya masing-masing melalui pandangan mata.

Hok Sun berdiri memandang gadis temannya itu.

Ia tahu bahwa Biauw Eng mempunyai watak yang keras dan tak mungkin dapat disabarkan lagi.

Dengan tegang ia berdiri memandang kedua orang gadis yang sudah saling gempur dengan amat serunya.

Biauw Eng memainkan ilmu pedangnya dari kitab kuno yang pernah ia pelajari.

Karena waktu ia baca kitab itu, banyak hurufhuruf yang sudah tidak dapat dibaca dan agak kabur, maka ia tidak mengenal jurus-jurus yang ia mainkan.

Ia hanya menurut gerak ilmu silat pedang yang ia pelajari dari gambar-gambar yang tertera pada kitab kuno, maka sudah barang tentu setiap jurus ia namai sendiri menurut kehendak hatinya.

Sebetulnya gadis ini juga tidak mengenal siapa pencipta kitab kuno itu, maka boleh dibilang ia sama sekali tidak mengerti dari golongan mana ilmu pedang ini.

Akan tetapi sesungguhnya luar biasa sekali ilmu pedang yang ia mainkan ini, sinar pedangnya berkeredep cepat dan kadang-kadang nampak percikan bunga api di udara waktu kedua pedang itu beradu.

Ke dua-duanya tergetar hebat.

Nampak ke dua-duanya terhuyung ke belakang.

Melihat ini tahulah Hok Sun bahwa kepandaian Biauw Eng setingkat dengan gadis kerudung hitam itu.

Selama Biauw Eng mempelajari ilmu pedang dari kitab kuno yang dia pelajari, baru kali ini ia menghadapi lawan yang cukup tangguh.

Biauw Eng yang berwatak keras menjadi penasaran dan marah.

Ia mainkan pedangnya lebih cepat lagi sementara mulutnya melengking tinggi membuat gerakan pada pukulan-pukulan tangan kiri dan sesudah ada kurang lebih limapuluh jurus mereka bertempur, nampak tubuh keduanya terbungkus oleh sinar pedang yang berkelebat ganas.

Gadis kerudung hitam juga nampak menjadi sengit, mainkan ilmu silatnya lebih hebat lagi!

Pandangan mata Sianli Ku-koay berkilat-kilat memandang pertempuran yang tengah berlangsung dengan serunya.

Ia tahu, bahwa A Lan tak dapat menandingi gadis itu.

Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran yang membuat bibir nenek itu tersenyum girang.

Gadis ini, demikian lihay, belum lagi pemuda tampan yang berdiri itu, belum ia tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu, kalau ia dapat menaklukkan orang-orang muda yang lihay ini dan menjadi pembantunya, hemm, merupakan tenaga muda yang boleh diandalkan, demikian Sianli Ku-koay berpikir.

Tiba-tiba Nenek ini berteriak kaget.

Hampir saja ia mencelat menyambar tubuh A Lan yang dengan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu A Lan terpental ke atas dan meluncur turun dengan kepala di bawah pada saat itulah dengan gerakan kilat dan aneh, pedang Biauw Eng menyambar membabat.

Hok Sun kaget sekali melihat gerakan ini, ia sudah bersiap-siap hendak melerai kalau seandainya Biauw Eng menjatuhkan tangan maut kepada gadis kerudung hitam.

Akan tetapi, ia menarik napas lega dan berganti dengan rasa kagum yang hebat, karena begitu tubuh A Lan, meluncur dengan kepala ke bawah dan kaki di atas, pada saat ia mendengar suara pedang berdesing menyambar lehernya, dengan bentakan keras ke dua tangannya memukul lawan Biauw Eng menyambut pukulan tangan lawannya itu dengan dorongan tangan kiri.

Pada saat itulah, dalam detik yang amat cepat A Lan meminjam tenaga dorongan lawan untuk mencelat lagi ke atas, tubuhnya membal ke udara, sementara pedang Biauw Eng luput dari sasaran.

Gemas sekali Biauw Eng, ia memburu, mengelebatkan pedangnya waktu tubuh lawannya masih melayang di udara.

"Singg!!"

Suara pedang menyambar angin. Tubuh A Lan berpok-sai tiga kali di udara dan hinggap di atas tiang penglari yang amat tinggi itu! Biauw Eng memandang ke atas. Membentak keras.

"Turun kau!"

"Ha ha ha, Sianli-Ku-koay tertawa nyaring.

"A Lan kau turunlah, kau telah kalah……..!"

"Teecu belum kalah Nio-cu, biar teecu layani sekali lagi gadis dusun ini!"

A Lan mengelebatkan pedangnya.

"A Lan, turun kau!"

Nenek Sianli Ku-koay memerintah.

"Niocu....... kau mundur....... biar Jie-wi Lokay menghadapi pemuda tampan, Eh, A Hok dan A Pin kau hadapilah pemuda itu!"

Kedua pengenais baju kembang yang disebut Ji-wie Lokay, bangkit dan menjura kepada Sianli Ku-koay. A Hok berkata dengan suara sember.

"Kami bersiap sedia melayani pemuda ini……" "Majulah!"

Si nenek Sianli Ku-koay memerintah. Hok Sun tak mengerti.

"Apa-apaan ini, mengapa aku dan Biauw Eng diuji seperti ayam jagoan? Apa maksud si nenek ini?"

Pikir Hok Sun heran memandang nenek di depannya!"

"Ha ha ha, orang muda. Kau berkenan mengunjungi Hwa-ie-kaypang, memang penyambutan kami begitu. Setiap orang luar yang datang ia harus diuji, barang siapa yang kalah oleh orang-orangku yang kutunjuk sebagai penguji, ia itu harus mati! Akan tetapi jika kalian menangkan orang-orangku, kami akan menyambutmu sebagai tamu kehormatan. Kulihat kau bukan pemuda lemah…… cobalah hadapi ke dua orang-orangku ini!"

Hok Sun maju selangkah menjura dengan sikap hormat.

"Niocu……."

Hok Sun ikut-ikutan memanggil nenek ini dengan sebutan Nio-cu seperti yang ia dengar tadi.

"Apa maksudmu? Mengapa kau mengadu kami seperti jangkerik aduan? Kami tidak ingin berkelahi Nio-cu."

"Akan tetapi kau harus menghadapi kedua lo-kay itu? Orang muda apakah kau takut menghadapi kedua orang pengemis itu?"

Tanya Sianli Ku-koay, menatap tajam.

Merah wajah Hok Sun dikata takut.

Ia paling pantang untuk disebut penakut.

Seorang gagah, tidak mengenal kamus penakut di dalam hatinya.

Maka dengan gagah dan dengan dada sedikit agak membusung, Hok Sun berkata.

"Aku tidak takut dengan dua lokay itu, atau dengan siapapun....... akan tetapi aku tidak sudi dijadikan binatang aduan seperti jangkrik. Niocu....... sebaiknya kau biarkan kami pergi!"

"Ha ha ha, orang muda! Gagah juga perkataanmu. Akan tetapi tidak segagah perbuatanmu. Engkau kutantang menghadapi kedua orangku apakah kau tidak mau melayaninya? Apakah kau....... hemm, kau bilang kau bukan pemuda penakut....... nah hadapilah!"

Biauw Eng membanting kakinya, membentak marah.

"Nenek peot, nggak tahu diri....... berani kau menantang Hok Sun biarlah aku menghadapi dua jembel busuk ini!"

"Singg!"

Suara pedang itu terdengar ditarik oleh Biauw Eng.

"Eng-moay, jangan lancang!"

Hok Sun mencegah. Biauw Eng mendengus marah.

"Sun-ko, mereka menantangmu, mengapa kita harus mengalah?"

"Diamlah, Eng-moay....... biar aku yang menghadapi,"

Hok Sun menyuruh gadis itu menyarungkan pedangnya.

Biauw Eng mengesut mundur ke belakang akan tetapi matanya berapi-api memandang Sianli Ku-koay.

Dua orang kakek pengemis baju kembang yang dipanggil A Hok dan A Pin telah mencabut pedangnya masing-masing.

A Hok kakek pengemis kurus tinggi, berjenggot putih menghampiri Hok Sun dan menegur dengan nada mengejek.

"Orang muda, mengapa kau belum mencabut pedangmu, mau tunggu apalagi? "

Lokay, aku tidak ingin berkelahi....... akan tetapi engkau telah menawanku dan membawa kami ke tempat ini, apakah aku hendak dijadikan jangkerik aduan? "

Hok Sun menggelengkan kepala, tersenyum sinis.

"Aku bukan jangkerik, juga bukan binatang aduan. Kalau memang nenek itu hendak merasai tajamnya pedangku, biar ia sendiri maju……"

Merah wajah nenek Sianli Ku-koay, ia memandang marah kepada Hok Sun dan membentak kepada dua pembantunya.

"Jie lokay. jangan banyak ngobrol....... serang pemuda itu!"

"Nenek peot kau cerewet amat sih, kalau kau bernyali, sini turun, biar aku yang membeset mulutmu yang jelek itu!"

Biauw Eng membentak marah.

"Gadis binal, berani kau menghina Niocu? Makan ini!"

A Lan yang masih panas hatinya membentak dan mengirim serangan tusukan pedang yang dahsyat. Biauw Eng menangkis, menggerakkan tangannya mendorong ke muka sambil membentak.

"Perempuan gila, mukamu ditutup-tutup apakah wajahmu penuh keriput seperti si nenek itu, buka!"

Angin pukulan menyambar ke muka A Lan, akan tetapi dengan cepat A Lan mengegoskan lehernya ke samping dan membalas memukul, tak lama kemudian kedua gadis itu sudah bertempur lagi dengan amat serunya.

Kali ini ke duanya bertempur dengan amat hebat dan masing-masing saling berlumba untuk cepat-cepat menjatuhkan lawannya.

Ke dua-duanya sudah sama-sama panas hati dan penasaran!

" Sementara itu, Hok Sun juga terpaksa sudah mencabut pedangnya didesak oleh Jie-wie-lokay (dua pengemis), terkejut bukan main ia melihat betapa kedua orang kakek pengemis ini demikian lihai permainan pedangnya.

Diam-diam Hok Sun mengeluh.

"Celaka, ia telah memasuki sarang naga dan harimau, siapa tahu, ia dibawa kesini menghadapi lawan-lawan yang tangguh. Baru saja menghadapi dua pengemis baju kembang ini, ia sudah merasa terdesak apalagi kalau sampai si Nenek itu turun tangan. Wah, serba berabe. O ya, belum lagi dua orang gadis cantik yang berdiri di kanan kiri si nenek, entah sampai dimana lagi kelihayannya!"

Akan tetapi ia mainkan pedangnya lebih hebat lagi.

Hok Sun tidak berani semberono, dan ia lalu mengeluarkan ilmu pedang Hwie-hay-liong-kiam-sut bagian mempertahankan diri yakni gerakan naga laut mandi di air.

Gerakan ini amat kuat dan merupakan benteng pertahanan yang sukar ditembusi oleh pedang lawan, pedangnya berputar merupakan segumpalan sinar perak yang melindungi dirinya.

Akan tetapi biar bagaimana lihay, menghadapi kedua pedang di tangan dua pengemis baju kembang ini, ia harus berlaku hati-hati dan waspada.

Ia sengaja belum mau membalas, memang ia sengaja hendak mengukur sampai di mana tingkat lawan.

Bukan main kagum hati Sianli Ku-koay melihat kepandaian ilmu pedang yang kuat dan mantap di tangan pemuda tampan itu, melihat sepintas dia, tahu dia bahwa dua orang pengemis ini setingkat kepandaiannya dengan pemuda itu!

Akan tetapi diamdiam ia merasa sayang kepada pemuda tampan ini.

Memang inilah watak Sianli Ku-koay, meskipun wajahnya sudah keriput dan usianya sudah mencapai limapuluh lebih, akan tetapi melihat pemuda tampan ia masih tertarik dan bergairah, apalagi melihat potongan pemuda itu, tubuh yang bidang kuat dan wajah yang tampan.......

diam-diam Nenek ini menelan air liurnya.

Semangat mudanya bergelora-gelora, berdebar-debar darahnya, matanya berkilat penuh cinta dan napsu!

Memang Sianli Ku-koay ini, sejak gadisnya pun telah menjadi gadis berandal.

Entah berapa banyak lelaki yang telah menjadi korbannya.

Dan sampai menjadi nenek-nenek sekalipun, ia masih doyan bermain cinta dan nafsu berahi!

Di lain pihak, kedua pengemis baju kembang itu menjadi kagum dan juga merasa penasaran menyaksikan kepandaian permainan pedang yang kuat dari pemuda lawannya ini, maka A Hok, si pengemis tua yang bertubuh kurus kering itu berseru keras dan tiba-tiba ia menambahi serangan-serangan pedangnya dengan pukulan kiri yang penuh hawa sin-kang.

Begitu kepalan tangan kirinya menyambar, Hok Sun merasakan angin pukulan yang bergelombang menyambarnya.

Terkejut sekali ia merasakan hawa panas dari tangan kiri si kakek pengemis yang memukulnya itu.

Maka dengan mengandalkan gin-kangnya, ia mencelat ke sana ke mari menghindarkan diri dari pukulan tangan kiri A Hok yang bertubi-tubi, sedangkan si kakek pengemis baju kembang yang dipanggil A Pin, sudah mengeluarkan sebuah cambuk hitam.

Dengan pedang dan cambuk di tangan A Pin, lama kelamaan pemuda itu terdesak hebat, gerakannya mulai kacau dan lemah.

"Lokay....... jangan kau membunuh!"

Sianli Ku-koay yang tiba menjadi kuatir atas keselamatan pemuda itu berseru memperingati dua pengemis yang tengah menerjang lawannya dengan hebat.

Tentu saja bagi kedua pengemis baju kembang ini, mereka sudah dapat meraba kemana maksud tujuan Niocu nya yang memperingatinya mereka tadi.

Diam-diam mereka merasa tak puas kepada wanita tua ini, yang mereka tahu nenek itu mata keranjang!

Akan tetapi tentu saja ketidak puasan hati mereka ini, tidak berani diutarakan secara terang-terangan.

Hanya mereka bertambah ganas mainkan pedangnya, bertambah sengit karena hati yang mendongkol!

Sebetulnya, tak perlu lagi Hok Sun dikuatirkan, karena pemuda yang memang sangat berlaku hati-hati ini telah maklum pula akan kehebatan pedang lawan, maka tiba-tiba gerakan pedangnya berubah dan dengan amat cepat luar biasa ia telah mainkan ilmu pedang bagian menyerang yang disebut gerakan rajawali sakti menyambar api.

Sinar pedang berkelebat dan angin pukulan yang datang dari tangan kiri pemuda itu bergerak-gerak menimbulkan hawa panas.

Angin pukulan yang panas ini, sekarang dapat menangkis dan menolak kembali serangan-serangan pukulan tangan kiri A Hok, sedangkan pedangnya yang bergerak cepat bagaikan rajawali sakti menyambar di udara mendesak permainan cambuk di tangan kiri pengemis baju kembang yang bernama A Pin itu, tentu saja mengalami perobahan yang tidak disangka-sangka dahsyatnya ini.

A Pin berlaku waspada dan mainkan ilmu cambuknya lebih hebat lagi, sehingga di ruang itu terdengar suara lecutan cambuk dan pedang beradu, membuat api lilin bergoyang-goyang tersambar lecutan cambuk.

Tak terasa lagi si nenek Sianli Ku-koay berseru memuji.

"Bagus!"

Diam-diam nenek Sianli Ku-koay ini menjadi girang dan bangga ternyata kepandaian pemuda itu lebih setingkat dari kepandaian gabungan dua orang kakek pengemis baju kembang.

Ia terus memperhatikan jalannya pertempuran dengan wajah berseri-seri, dilihatnya pedang Hok Sun bagaikan telah berubah menjadi seekor rajawali sakti yang menyambar-nyambar dan menyemburkan hawa panas dari mulutnya!

Namun, dua orang pengemis baju kembang inipun lihai sekali.

Biarpun kini ia terdesak hebat, namun berkat pengalaman dan keuletan tenaga yang digabung menjadi satu, mereka ini merupakan sebuah batu karang yang sukar sekali dirobohkan oleh ombak dahsyat yang selalu datang menghempasnya bertubi-tubi!

Sungguh lawannya ini amat ulet dan keras!

Hampir seratus jurus, Hok Sun mengeluarkan jurus-jurus Hwiehay-liong-kiam-sut, akan tetapi belum juga ia dapat merobohkan dua orang pengemis ini.

Peluh diwajahnya bercucuran.......

akan tetapi ia terus mendesak dua pengemis baju kembang itu mengeluarkan jurus-jurus simpanan!

Sianli Ku-koay maklum bahwa kalau dilanjutkan juga akhirnya ke dua orang pengemis itu akan kalah, maka ia memikir lebih baik dipisahkan saja sebelum kedua kakek itu roboh di tangan orang muda yang gagah ini, maka bagaikan layang-layang putus talinya, Sianli Ku-koay telah melompat dan dengan sekali mengangkat tongkatnya........

tahu-tahu baik Hok Sun maupun ke dua orang pengemis baju kembang sudah terlempar ke belakang tiga langkah.

Sambil bergebrak demikian si Nenek itu membentak.

"Cukup orang muda! Kepandaianmu cukup memenuhi syarat dan mendatangkan kegembiraan dihatiku. Marilah kita bicara sebagai seorang sahabat!"

Hok Sun yang tadi dibuat kaget oleh gebrakan si Nenek yang telah membuat pukulan tangan kirinya dan kuda-kudanya tergempur hebat memandang kagum kepada Nenek ini.

Lalu pandangannya beralih ke arah Biauw Eng yang sedang seru-serunya melawan nona kerudung hitam.

Sianli Ku-koay juga menoleh.

Begitu tangan kirinya mendorong ke depan.

Tahu-tahu dua orang gadis yang tengah bertempur itu melayang jatuh terlempar tiga meter jauhnya dalam keadaan masih berdiri.

"A Lan, cukup! Mundurlah kau……"

Kemudian Nenek ini menoleh kepada Biauw Eng dan tersenyum manis.

"Nona kepandaianmu hebat dan mengagumkan hatiku….. sudahlah....... perselisihan kita sampai di sini……."

Biauw Eng tak berkata apa-apa. Ia menghampiri Hok Sun. Berdiri sambil memegang pedang telanjang di samping pemuda itu. Hok Sun menoleh dan berbisik.

"Eng-moay masukkanlah pedangmu!"

"Hem?"

Biauw Eng mengerutkan alisnya tak senang, akan tetapi Hok Sun memberi isyarat dengan kedipan mata.

Didengarnya si Nenek sakti itu bertepuk tangan tiga kali.

Beberapa orang gadis cantik menghampiri berlutut.

"Hamba siap menanti perintah!"

"Keluarkan hidangan, atur meja makan di ruang ini dan panggil musik,"

Dan sesudah berkata demikian si nenek itu menoleh kepada Biauw Eng dan Hok Sun.

"Jiwi-enghiong, silahkan duduk!"

Nenek itu berjalan menuju tempat duduknya dan tak lama kemudian, gadis-gadis cantik dengan amat cekatan dan teratur telah memasang meja bundar dan hidangan berupa makananmakanan yang lezat dikeluarkan, arak wangi dan musik membaur di ruangan itu.

"Jiwi enghiong, kalian mengagumkan hatiku. Ketahuilah bahwa kami adalah persekutuan Hwa-ie-kay-pang, ketua kami sedang ada urusan dengan seorang sahabat di Sian-li-pay….... dan aku yang tua ini, disebut Sianli Ku-koay mewakili pangcu Hwa-ie-kaypang……"

"Ooo, jadi Niocu ini adalah wakil ketua Hwa-ie-kay-pang yang lihai......."

Hok Sun mengangguk-angguk, menenggak arak wangi.

Baca Juga: Pendekar Setia 7

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger