Pendekar Lengan Buntung 4

Eps 4 Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Baca online Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Cersil Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw.

Tidak lama kemudian Nyuk In kembali dengan membawa dua buah cawan arak.

Datang-datang ia meletakkan cawan arak itu di dekat Ho Siang sambil katanya.

"Ini araknya sedaapp!"

"He, kau dapat arak begini harum dari mana?"

"Tentu saja boleh beli. Kebetulan sekali di luar hutan tidak jauh dari sini ada kedai arak, aku beli dua tail. Arak Hang-ciu keras dan harum,"

Berkata demikian iapun mulai makan daging itu.

Keduanya makan dengan sedap, tanpa bicara hanya kadangkadang pandang mata mereka bertemu sebentar.

Ho Siang duduk di atas batu, Nyuk In duduk bersila di bawah, di tanah yang penuh rumput hijau.

Api bekas pemanggang daging masih menyala sedikit!"

Tak sampai sepuluh menit habislah daging kelinci itu.

Setelah minum arak dan mencuci mulut dengan air arak, ke duanya makan buah yang tadi juga dibeli oleh Nyuk In di luar hutan.

Sambil menggigit buah itu, Ho Siang berkata.

"In-moay, terima kasih ya untuk arak dan sate kelinci yang gurih dan mengenyangkan perut."

"Alaaa, terima kasih segala untuk apa? Bukankah yang kelaparan tadi adalah aku sendiri sampai sakit perut rasanya. Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Kau kau yang mencari kelinci dan menangkapnya!"

"Tapi kau yang memanggangnya!"

"Ya, sudah artinya sama-sama kerja sama. Jadi tidak perlu kau berterima kasih kepadaku dan aku juga tidak perlu berterima kasih kepadamu. Hutang kita sama-sama impas!"

Ho Siang tersenyum.

Nyuk In juga tersenyum.

Ke dua pandangan itu saling merenggut, senyum Nyuk In semakin melebar cerah.

Si Pemuda menatapnya bagaikan orang terpesona.

Mata gadis itu alangkah indahnya, alangkah cerah dan menyegarkan, dan bibir gadis yang tersenyum terbuka itu, oiy alangkah manisnya membetot-betot hatinya, pikirnya.

"Kita sudah makan, perut kita sudah kenyang, mengapa kita bermalas seperti ini? Hayo, kita berangkat!" Akan tetapi baru saja Nyuk In berkata demikian, tiba-tiba ia menggerakkan tubuhnya dan telah mencelat ke atas sebatang pohon jang tinggi dengan diikuti oleh gerakan Ho Siang yang mendengar pula suara derap kaki kuda di belakangnya. Benar saja belum lama mereka melihat penunggang kuda. Ho Siang dan Nyuk In dapat mengenali ke tiga penunggang kuda itu. Mereka itu adalah Bong-goanswe dan kedua kawannya, seorang hwesio tua Hok Losu dan Leng Ek Cu tokoh Kong-thongpay. Akan tetapi yang mengherankan Nyuk In dan Ho Siang adalah seorang gadis muka kerudung hitam yang terbelenggu ke dua tangan dan kakinya pada punggung seekor kuda lainnya yang ditarik oleh Leng Ek Cu. Mereka membedal kudanya tidak terlalu cepat oleh karena itu dua orang muda di atas pohon dapat mendengar pembicaraan Leng Ek Cu.

"Hok Losuhu, apakah kita harus ke kotaraja dulu, ataukah langsung ke Pulau Bidadari?"

"Mengapa kita harus ke kotaraja? Biar Oey Goan yang melapor ke sana, kita langsung saja menemui Bu-tek Sianli. Gadis ini kita tawan dan kita hadapkan kepada Pay-cu Sian-li-pay, suatu kesempatan yang baik bukan untuk kita bersekutu dengan nenek Sakti Kepalan Dewa tanpa tandingan itu!"

Leng Ek Cu tidak menyahut. Bong-goanswe tertawa mengakak.

"Ha ha, sayang sekali gadis itu teramat cantik, kalau tidak aku tak rela menyerahkan kepada Butek Sianli!" "Aha Bong-sicu ini masih kurang puas dengan gadis-gadis cantik di Kotaraja, sehingga merindukan bunga mawar liar dan berduri hehehe,"

Hok Losu menoleh kepada Jenderal Bong yang menyambut dengan tertawa-tawa pula.

Akan tetapi tertawanya terhenti dan begitu hwesio Hok Losu itu menggerakkan tangan…… tahu-tahu terdengar suara pohon di atas roboh menimbulkan suara bergedubrak keras sekali.

Dua sosok tubuh mencelat turun.

Ho Siang kaget setengah mati.

Untung ia berlaku gesit sehingga dapat mengelakkan pukulan Hok Losu yang dihantam dari bawah.

Kalau tidak gesit sedikit saja, bukan pohon itu yang roboh melainkan kepalanya yang remuk!

Melihat bahwa yang mengintai di atas pohon itu adalah dua orang muda.

Hok Losu tertawa mengejek.

"Ha ha ha baru bunga mawar berduri patut dipetik ketika sedang mekar-mekarnya……. aduh cantik sekali!"

Bong-goanswe yang juga menoleh ke belakang menjadi terheran melihat Nyuk In dan seorang pemuda tinggi kurus berdiri dengan mata membelalak.

"Nyuk In, berani kau kurang ajar dengan Hok Losuhu?"

"Susiok….."

Nyuk In memanggil.

"Hem, pergilah kau anak kecil, jangan turut campur urusan orang tua,"

Bong-goanswe menudingkan telunjuknya.

"Susiok, suhu memanggil kau pulang, ke puncak,"

Sahut Nyuk In. "Ah, nggak ada urusan denganku. Hayo kau minggat!"

"He he he, Bong sicu... siapakah gadis liar ini?"

Hok Losu menghampiri Bong-goanswe atau Bong Bong Sianjin sambil pandangan matanya tidak lepas memandangi Nyuk In.

Melihat tingkah laku hwesio tua ini, panas hati Ho Siang!

Hweshio gila, pikirnya, melihat cewek cantik matamu liar seperti kucing melihat ikan basah, sialan!

Akan tetapi tentu saja ia menekan perasaan hatinya.

Terdengar orang tua jang berpakaian jenderal itu menyahut.

"Dia ini murid suheng Bu-beng Sianjin, Hok Losuhu!"

"O, cantik ya?"

"Susiok, kau harus menghadap suhu sekarang juga!"

Nyuk In berkata ketus, kipas dan pit di tangannya sudah terbuka.

"Hi ha ha, gagah sekali! Eh, Bong sicu biar aku mencobanya,"

Sambil berkata demikian tangan hwesio itu bergerak.

Angin besar bergelombang menyambar tubuh Nyuk In, tentu saja gadis ini mengibaskan kipasnya membalas dorongan angin bergelombang itu.

Akan tetapi ia menjerit lirih ketika tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar ke belakang menimpa pemuda tinggi kurus.

Dengan cekatan sekali Ho Siang menggerakkan tangannya menyambar tubuh Nyuk In jang melayang menimpanya.

Begitu tubuh dapat disambar, segera ia meletakkan tubuh itu di tanah.

Ternyata Nyuk In dalam segebrakan saja ia sudah tertotok oleh hwesio tua ini.

Kaget sekali Ho Siang dengan geram ia meloncat maju suling hitam di tangan.

"Hwesio jahat kau harus mampus!"

Kilatan sinar hitam menyambar ke udara bergerak cepat merupakan sebuah tulisan kilat bagaikan ada guntur yang menyambar dari atas, tubuh hwesio tua itu doyong ke kiri merasa ada angin mujijat menyambar dari Suling hitam itu.

Terkejut hati Hok Losu, sambil melompat mundur ia bertanya.

"Bocah gila, kau siapa? Pernah apa kau dengan Nakayarvia dari India?"

"Hwesio tai, Nakayarvia adalah guruku yang terhormat, kau pendeta berhati kotor setan perempuan!"

"Hehehe bagus.....tidak bertemu dengan Nakayarvia tidak apa, biar engkau mewakili gurumu membuat perhitungan denganku dan hadapi beberapa jurus….."

Setelah berkata demikian, hwesio tua tinggi besar ini sudah menggerakkan ke dua lengan bajunya yang meniupkan angin pukulan seperti badai mengamuk!

Ho Siang terkejut tetapi ia tidak gentar.

Cepat ia memasang beshibeshi dengan kaki terpentang ke kanan ditekuk sulingnya menangkis dengan gerakan dari atas ke bawah.

"Dess!"

Tubuh Ho Siang terpental ke belakang.

Tetapi ia tidak luka sedikitpun.

Karena begitu tadi merasa pukulan-pukulan hwesio ini tidak dapat ditahan, segera ia mengerahkan sin-kang mematikan raga, maka bagaikan sehelai daun kering terhempas angin, tubuhnya melayang jatuh di samping Nyuk In yang masih tertotok rebah di tanah!

Di lain pihak, Hok Losu juga kaget setengah mati.

Biarpun ia tidak terpental seperti pemuda kurus tinggi itu, akan tetapi ia merasa getaran jang amat hebat menyerang jantungnya.

Cepat ia mengerah tenaga sin-kang menutupi jantung.

Matanya memandang kagum kepada pemuda ini.

"Bagus? Kau patut menjadi murid si pertapa dari India itu. sekarang terimalah pukulanku sekali lagi!"

"Hok Losuhu..... tahan!"

Bong-goanswe atau kita sebut saja Bong Bong Sianjin berseru menahan gerakan jubah hwesio tua itu. Ia menghampiri dan menjura.

"Hok losuhu, sudahlah mengapa kita meladeni anak-anak ini. Kita mempunyai urusan jang lebih penting…... mari kita berangkat!"

Tentu saja jenderal Bong jang cerdik ini tidak mau melibatkan dirinya dengan permusuhan dengan Nakayarvia jang terkenal itu, apalagi dilihatnya Nyuk In sudah tertotok, tak enak hati ia meladeni murid suhengnya ini.

Maka itu ia mencegah Hok Losu!

Anehnya hwesio sakti itu takluk akan orang tua berpakaian jenderal begitu mendengar Bong-goanswe melarangnya dengan melirikan matanya kepada pemuda tinggi kurus itu ia berkata.

"Lain kali kita lanjutkan!"

Habis berkata begitu ia mengikuti rombongan Bonggoanswe dan Leng Ek Cu jang sudah berjalan acuh tak acuh.

Melihat hwesio itu sudah pergi, Ho Siang bangkit berdiri dan tangannya bergerak membebaskan totokan si gadis.

Nyuk In bersungut kesal.

"Aku tak dapat menandingi susiok, urusan ini biar suhu jang turun tangan. Hemm, hwesio tua itu sakti benar, entah siapa dia?"

"Masa kau tidak tahu, ia itu adalah sute dari Ciangbunjin Siauwlim-pay jang tersesat, namanya Hok Losu!

Ia seorang tokoh yang amat dikenal dari perkumpulan Siauw-lim-sie.

Akan tetapi berbeda dengan para hwesio Siauw-lim-pay yang terkenal sebagai pendeta suci dan beriman kepada kitab agama Budha, dan lagi mempunyai kepandaian silat tinggi untuk membela kebenaran dan keadilan.

Hok Losu ini semenjak dahulu merupakan seorang murid yang murtad.

"Ilmu kepandaiannya memang tinggi dan lihay, boleh dikata jarang anak murid Siauw-lim-pay yang menandingi Hok Losu setelah hwesio itu dapat mencuri kitab pelajaran silat yang amat hebat itu, kepandaiannya jauh meningkat lebih hebat dari pada dulu. Rasanya hanya Thian Thian Ciangbunjin saja yang dapat menandingi hwesio sesat itu….."

"Ooo, pantas kepandaiannya selangit."

"Eh, dengan jenderal itu kau memanggil susiok, dia itu apamu?"

Tanya Ho Siang.

"Dia itu memang susiokku, adik seperguruan dari suhu Bu-beng Sianjin, sayang susiok juga tersesat dan haus akan harta kemuliaan, sehingga sering kali membuat kacau. "

Untung ada susiokmu yang mencegah hwesio tua yang kalap hendak menyerangku. Hok Losu memang hebat, aku belum tentu dapat menandinginya! "

Nyuk In bangkit pula berdiri, berjalan perlahan-lahan di samping pemuda tinggi kurus yang bernama Ho Siang.

"Kita tak jadi ke kotaraja,"

Katanya.

"Mengapa begitu?"

"Aku hendak membuntuti Susiok dan hwesio tua itu, entah apa yang mereka hendak perbuat dengan Pay-cu Bu-tek Sianli dan hendak mengajak dia mengadu kepandaian, hendak kupenggal kepala nenek itu…."

Kemudian sambil berjalan itu Nyuk In bercerita.

Ia menceritakan tentang ke dua orang tuanya yang mati di tangan Bu-tek Sianli.

Ia sendiri hampir diculik untung muncul Bubeng Sianjin yang telah menolongnya.

"Jangan takut In-moay, meskipun nenek tua Sian-li Paycu itu sakti, aku akan selalu menghadapinya dan membantumu sekuat tenaga,"

Berkata Ho Siang dengan semangat.

Tentu saja Nyuk In menjadi girang sekali mendapat kawan seperti Ho Siang ini banyak memberi keuntungan.

Ia tahu bahwa kepandaian Ho Siang jauh lebih tinggi daripadanya!

Dengan ia bersama pemuda ini masakan ia tidak dapat menghadapi Bu-tek Sianli!

Maka berjalanlah ke dua orang muda itu mencari pulau Bidadari.

Di sepanjang perjalanan mereka merupakan sepasang merpati yang baru lepas dari sarangnya.

Hati mereka saling mengajuk, saling mengisi, o alangkah indahnya memang hati yang tersentuh panah asmara!

Namun di samping itu Ho Siang dan Nyuk In selalu turun tangan apabila ada orang-orang jahat, mengganggu penduduk.

Selama perjalanannya menuju ke laut Po-hay entah berapa banyak mereka bertemu dengan para perampok, tukang-tukang pukul yang disewa oleh para hartawan untuk menjadi anjing penjaga, akan tetapi menghadapi sepasang merpati ini mereka itu merupakan sebuah laron yang bertemu dengan api lilin.

Perjalanan mereka menuju pulau Bidadari ke pesisir lautan Po-hay sangat membawa kesan masing-masing.

Tanpa mereka sadari hati itu sudah bertaut menjadi satu, menjadi demikian akrabnya hubungan sehingga banyak orang-orang yang berjumpa dengan sepasang merpati ini menjadi merasa iri dan kagum!!

Dalam perantauannya itu Nyuk In tidak berpakaian seperti pria.

Ia kini memakai pakaian-pakaian wanita yang sangat serasi dengan kulit dan tubuhnya yang langsing sehingga membuat Ho Siang jadi bertambah jatuh hatinya terhadap gadis murid Bu-beng Sianjin ini!!

Jauh di dasar jurang, di antara kabut-kabut putih masih mengambang di udara, dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh.

Seorang diantaranya, adalah seorang laki tinggi kurus dan kulitnya hitam, rambutnya yang keriting itu terbungkus kopyah yang terbuat dari kain kuning, tangannya memakai gelang-gelang besar ditutupi oleh lengan baju yang besar dan lebar, seperti jubah seorang hwesio yang terbuat dari kain kuning kasar.

Usianya tidak lebih dari limapuluh tahun.

Tangannya memegang sebuah pedang pendek yang berbentuk melengkung seperti arit, berkilat-kilat pedang pendek itu.

Di depan orang yang memakai kopyjah kuning tampak seorang kakek yang tua sekali.

Kakek yang bongkok yang terkadang terkekeh-kekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking panjang seperti suara jeritan yang menggetarkan dasar jurang.

Kakek ini bergerak dan memegang senjata yang sama berupa pedang pendek yang melengkung dan tangan kiri bergerak-gerak merupakan tamparan, dan tangan kanan berkelebat-kelebat menggerakkan pedang pendek yang mengeluarkan cahaya aneh!

Gerakan mereka ini sangat cepat sekali dan sukar sekali diikuti oleh pandangan mata.

Tiba-tiba nampak seperti sinar panjang yang saling menggulung, saling menyambar dan tampak dua orang tua itu rebah telentang terpisah antara sepuluh meter.

Ke duanya nampak terengah-engah dan terdengar suara mereka merintih perlahan.

"Hek sute..... kau hebat!"

Kekek tua itu berseru lemah sambil merintih perlahan.

"Pek suheng kau juga hebat,"

Terdengar orang yang memakai kopyah kuning di kepalanya memuji pula.

Ia juga nampak merintih perlahan, dengan lambat sekali seperti orang lumpuh, ia bersila mengerahkan sin-kang!

Gerakannya itu diturut oleh kakek tua bongkok yang lantas bersila dan mengheningkan cipta bersamadhi.

Kedua orang itu tak dapat bangun kembali, masing-masing sudah terluka.

Nampak kini ke duanya sedang tenggelam menggerahkan hawa sakti di dada jang terhantam pukulan lawan masing-masing.

Sepasang pedang pendek, satu mengeluarkan cahaya hitam berkilat dan yang satunya lagi yang menancap di batu karang mengeluarkan sinar putih bercahaya.

Pada saat itu, selagi kedua orang tua itu tenggelam dalam samadhinya, pendengaran mereka jang tajam dapat menangkap sesuatu yang meluncur turun dengan amat cepatnya dari atas.

Untuk sedetik kemudian si kakek bongkok mengangkat tangannya ke atas dan sesosok tubuh menimpah tangan yang terangkat itu.

Kakek bongkok itu terheran dan membuka matanya, kiranya scorang gadis cantik telah berada di tangannya yang tadi menyambar.

Gadis itu dalam keadaan pingsan!

Begitu kakek bongkok itu melihat ke depan, alangkah herannya dia, begitu melihat tubuh seorang pemuda juga menancap di atas kepala si kakek berkopyah kuning dalam keadaan berdiri.

Pemuda tinggi tegap itu juga pingsan sama seperti si gadis yang tadi disanggapnya!

"He he he sute, kau lihat, bukankah Thian menurunkan bocah ini untuk mewakili kita mengadu kekuatan?"

Berkata kakek bongkok sambil masih meramkan matanya.

"Betul suheng, pemuda ini adalah muridku!

Dan aku akan melatih dia untuk menghadapi engkau, ingat di antara kita belum ada yang menang atau yang kalah, sayang…..

kita tua-tua bangka ini sudah terluka dan tak mungkin baku hantam lagi, biar pemuda ini mewakili aku….

Suheng, tiga tahun lagi kita akan berjumpa di tempat ini, o ya, kalau aku masih hidup!

Kalau sudah mampus, biarlah bocah ini yang akan mewakiliku untuk meneruskan pertempuran ini, ha ha ha!"

Sambil berkata demikian kakek berwajah kuning itu menyambar tubuh pemuda jang bukan lain adalah Liok Kong In, yang terjatuh dari atas jurang terhantam pukulan dari Bong Bong Sianjin.

Untungnya ia tadi terjatuh tepat di atas kepala kakek sakti berkopyah kuning ini sehingga ia tidak mengalami luka-luka atau terbanting di tanah.

Begitu mengangkat pemuda yang masih pingsan itu, kakek berkopyah kuning mengambil pedang pendek hitam di tanah dan sekali berkelebat ia sudah lenyap dari hadapan kakek bongkok di depannya.

"Ayaaa, hukum karma! Nasib sute Hek-moko keras hati, tapi kepandaiannya luar biasa, ya, apa mau dikata kalau ia mau menurunkan ilmu silatnya kepada pemuda jang dibawanya untuk membikin mampus aku, terpaksa akupun menurunkan ilmu silat kepada gadis ini..... eh, sudah sadar ia!"

Sambil berkata demikian ia memandang gadis di depannya yang menggeliat-geliat seperti orang baru bangun tidur.

Bwe Hwa terkejut sekali melihat kakek bongkok di depannya.

Mimpikah aku ini, pikirnya, di tempat apakah ini?

"Nona kau sudah sadar syukurlah....."

Si kakek bongkok berkata perlahan.

Akan tetapi wajahnya semakin pucat, dalam berkata tadi ia sudah mengerahkan tenaga yang cukup banyak sehingga dirasakan dadanya semakin sakit dan nyeri!

"Kakek…… kau siapa?

Mengapa aku ada di sini?

Apakah ini yang dinamakan neraka?"

Bwe Hwa bertanya sambil bangun duduk di depan si kakek. Akan tetapi ia cepat menubruk kakek itu ketika orang di depannya ini muntahkan darah segar banyak sekali.

"Aii….. kau celaka kek!"

"Sute memang hebat, pukulannya sudah meremukkan tulang dadaku…. eh, nona kau siapa dan mengapa kau jatuh dari atas jurang di sana itu? Kau membikin kaget aku, orang tua yang mau mampus ini!"

Bwe Hwa mengingat.

Ia dan Liok Kong In, it-suhengnya memang jatuh dari atas tebing sana, hemm, tentu si kakek ini yang menolongku, pikir Bwe Hwa, akan tetapi begitu ia melirik ke sekitarnya ia tidak melihat Liok Kong In.

"Nona kau tadi…… meluncur dari atas itu, untung kau jatuh menimpaku dan aku si tua ini keburu menyanggap kau, kalau tidak, tubuhmu niscaya akan hancur dihantam batu ini, o ya, pemuda tinggi tegap itu…… apamukah dia?"

Si kakek bongkok bertanya setelah dirasakan dadanya tidak terasa sakit lagi. "Kek, pemuda itu adalah suhengku, kemana dia? kau sembunyikan dimana?"

Bwe Hwa bertanya gelisah.

Takut kalau suhengnya tidak ketolongan!

"Dia selamat nona baru saja tadi dibawa oleh suteku ke tempat pertapaannya, suteku adalah Hek-moko, pertapa lihay, jangan kuatir nona, pemuda itu diambilnya untuk menjadi muridnya!"

Bwe Hwa menjadi melongo dan juga girang hatinya mendengar suhengnya selamat, malah diambil murid oleh sute orang tua bongkok ini.

"Betul kek?"

Tanya Bwe Hwa memastikan.

Si kakek tak menyahut, mengangguk dan bersemadhi lagi mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya.

Sekali lihat saja tahulah kakek bongkok itu tengah terluka hebat.

Oleh sebab itu Bwe Hwa diam saja, memandangi si kakek.

bongkok.

Tidak lama kemudian nampak si kakek membuka matanya dan bertanya.

"Lukaku parah, eh, nona siapa namamu? Mengapa kau terjatuh ke jurang ini, hayo kau ceritakan……!!"

"Saja adalah murid mendiang suhu Swie It Tianglo dan nama saya Lie Bwe Hwa. Pemuda itu adalah suheng saya Liok Kong In..... eh, kenapa kau kek?"

Bwe Hwa bertanya melihat kakek memandangnya dengan mendelik, dikirain kakek itu marah terhadapnya, akan tetapi bukan demikian adanya.

Saking menahan rasa perih dan sakit di dada dan terkejut mendengar Swie It Tianglo sudah meninggal, ia jadi membelalak.

Ia terengahengah!

"Bagus kau kiranya murid Swie It Tianglo Bwe Hwa…..

aku....

aku tak kuat lagi….., bersumpahlah kau mau menjadi muridku!"

"Kek?"

"Bwe Hwa…., aku.... aku hampir tak kuat lagi. Luluskanlah permintaanku jang terakhir ini……"

Suara si kakek semakin lemah, dengan merayap seperti orang mengesot ia menghampiri pedang pendek melengkung yang mengeluarkan cahaya putih, lalu tangan kirinya merogoh saku dan mengeluarkan se

Jilid buku kecil. Disodorkan kepada Bwe Hwa.

"Nona kau pelajari kitab pelajaran silat ini, berlatihlah dengan tekun. Sebelum tiga tahun kau melatih diri jangan kau keluar dari lembah ini….. Carilah Hek-moko…. suteku itu, dan kau tempurlah ia….. aku tak tahan lagi, Bwe Hwa……"

Augh-uh tiga kali kakek bongkok itu muntahkan darah, dengan mata mendelik ia memandang Bwe Hwa.

Terkejut sekeli Bwe Hwa, ia merasa terharu melihat keadaan kakek itu dengan cepat ia berlutut dan berkata.

"Kakek, suhu....., teecu Bwe Hwa mengucapkan terimakasih untuk kepercayaanmu menitipkan kitab ini. Teecu bersumpah akan mencari Hek-moko!"

Begitu selesai Bwe Hwa berkata, mata yang mendelik itu menutup kembali.

Bibir si kakek bongkok mengeluarkan senyum dan raganya meninggal dan napasnya berhenti.

Dan meninggallah kakek bongkok itu dengan tenang!

Dengan dada penuh rasa haru, Bwe Hwa menggali lubang dengan pedang pendek yang tadi diambil oleh si kakek bongkok.

Alangkah terkejutnya ia begitu memegang pedang tangannya bergetar hebat.

Ada rasa mujijat menyerangnya.

Dengan cepat Bwe Hwa melepaskan pedang itu, mulutnya menggerutu.

"Pedang Iblis!"

Akan tetapi rasa penasaran itu membuat tangannya meraih lagi menggenggam kuat.

Kalau kakek bongkok yang menjadi suhuku bisa memegang masa aku tidak mampu memegang pedang ini?

Berpikir demikian Bwe Hwa menggali lobang dan sebentar itu pula ia sudah memakamkan jenasah kakek bongkok yang kini menjadi suhunya!

Setelah memberi penghormatan terakhir, Bwe Hwa melangkah perlahan, tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah pondok yang di kelilingi oleh pepohonan-pepohonan yang banyak mengeluarkan buah dan sayur mayur.

Hemm, tentu ini tempat tinggal suhu…..

alangkah indahnya pemandangan di sini.

Sambil berpikir demikian Bwe Hwa mengeluarkan kitab kecil dan membaca Pek-hwa-kiamsut (Ilmu Pedang Bunga Putih) yang ditulis oleh Pek-moko, hemm, jadi suhu bernama Pek-moko?

Demikianlah sejak saat itu, Bwe Hwa melatih diri atas petunjuk kitab peninggalan Pek-moko yang bernama kitab pelajaran ilmu pedang bunga putih.

Dan pedang yang disebutnya pedang iblis ini dipakainya untuk berlatih!

Hebat bukan main pedang ini mempunyai mujijat yang luar biasa!

Dengan tekun dan bersemangat mulai hari itu Bwe Hwa menggembleng dirinya menurut petunjuk kitab kecil peninggalan kakek bongkok yang bernama Pek-moko!

Apalagi melihat musuh317 musuh besarnya seperti Bong Bong Sianjin, yang pernah ia rasai kelihayannya kemaren dulu itu, bertambah tekun Bwe Hwa berlatih!

Ia berjanji setelah tiga tahun ia akan mencari musuhmusuh besarnya, Bong Bong Sianjin, Sianli Ku-koay, Te-thian Lomo dan mencari pula saudara-saudara seperguruannya yang bercerai berai!

<> Sementara itu, Liok Kong In juga menerima gemblengan ilmu pedang Hek-hwa-kiam-sut dari Hek-moko.

Kakek yang disebut Hek-moko ini keadaannya tidak lebih baik dari Pek-moko.

Begitu ia sampai di puncak pertapaannya di sebuah pegunungan yang tidak dikenal manusia, kakek ini muntah-muntahkan darah dan cuma seminggu kemudian kakek yang disebut Hek-moko ini meninggal dunia.

Akan tetapi pada hari-hari sebelumnya, kakek ini pernah berpesan kepada muridnya Liok Kong In demikian.

"Kau pelajarilah kitab ini, muridku. Sebelum tiga tahun jangan kau meninggalkan puncak ini. Carilah Pek-moko, suhengku itulah yang membuat aku menjadi cacat seperti ini. Mungkin nyawaku tidak akan lama lagi bertahan. Kau carilah Pek-moko dan muridnya, kau tempur dia! Kalahkan dia..... sebelum ia mengaku kalah..... belum puas hatiku!"

Demikianlah Hek-moko bercerita kepada muridnya ini.

Sebenarnya Hek-moko dan Pek-moko adalah saudara seperguruan, terkenal sebagai sepasang iblis hitam dan putih yang mempunyai kepandaian silat luar biasa.

Akan tetapi setelah mereka ini menciptakan sepasang pedang yang disebut Pedang Iblis, yang telah banyak mengorbankan nyawa manusia untuk pelaksanaan pembuatan pedang tersebut, yang direndam oleh darah dan dibakar oleh panasnya kawah api, maka setelah selesai sepasang pedang itu timbullah persainganpersaingan, diantara sesama sendiri.

Hek-moko merasa tidak puas kalau belum mengalahkan Pek-moko sebaliknya Pek-moko juga demikian!

Mereka selalu bertempur dengan menggunakan sepasang pedang iblis.

Pedang hitam ditangan Hek-moko pedang putih ditangan Pekmoko.

Pada suatu hari di lembah itu, mereka bertempur mati-matian.

Seperti manusia yang haus darah mereka masing-masing saling terjang, saling menggunakan kepandaian untuk merobohkan lawannya.

Akan tetapi kepandaian mareka tetap seimbang, semakin seru mereka bertempur semakin tidak puas di hati mereka.

Tiga hari tiga malam mereka bertempur, dan pada hari jang ketiga, sepasang pedang iblis itu saling mereguk darah.

Pedang pendek Pek-moko juga berhasil melukai lambung Hek-moko.

Baru mereka sadar sesudah keduanya itu terluka hebat.

Apa mau, bagaikan diturunkan dari langit datang Bwe Hwa dan Kong In… Waktu tiga tahun tidak lama.

Memang kalau dinanti-nanti sang waktu akan merangkak amat lambat sekali, seperti seekor siput berjalan.

Terasa lama dan mengesalkan.

Akan tetapi itu kalau kita perhatikan, coba kalau kita tidak perhatikan tahu-tahu, siput itu sudah pergi jauh meninggalkan kita hanya nampak bekas-bekas tapak sang waktu itu merangkak yang menimbulkan kenangan masa-masa lalu, yang tak mungkin akan kembali.

Oleh karena itu, kita tinggalkan dulu dua orang muda murid mendiang Swie It Tianglo jang telah melatih diri di tempat jang berlainan.

Bwe Hwa berlatih atas petunjuk-petunjuk kitab kecil peninggalan Pek-moko dan Liok Kong In bertekun pula di sebuah puncak pegunungan melatih diri menurut petunjuk-petunjuk kitab pemberian Hek-moko!

Dan tiga tahun nanti mereka ini akan kita temui dalam trageditragedi yang mendebarkan jantung dan mengoyak-ngoyak hati.

Karena sepasang pedang iblis di tangan Bwe Hwa dan Kong In mengingatkan orang-orang gagah kepada sepasang iblis hitam dan putih yang pada puluhan tahun yang lalu pernah menggemparkan dunia persilatan!

Sekarang kita ikuti pengalaman-pengalaman Tiang Le yang tertawan oleh empat dara jelita dari Sian-li-pay.

Sejak kehilangan lengan kanannya Tiang Le seperti orang tanpadaksa ia tak dapat memainkan ilmu pedangnya lagi.

Oleh sebab itu ia tidak dapat melepaskan diri dari tawanan empat dara Sian-li-pay yang lihai dan cantik jelita, dan bersuara merdu!

Dan ke empat dara ini adalah tulang punggung dari pergerakan Sian-li-pay, mereka itu adalah Sianli-sie-ci-moay (empat kakak beradik seperguruan Bidadari), berwatak aneh dan galak!

Cerewet seperti nenek-nenek.

Seperti diceritakan pada bagian depan, sebetulnya Tiang Le bermaksud hendak menyelamatkan limaribu tail emas hasil upeti Kaisar untuk disumbangkan ke Wu-nian bagi penderita korban kelaparan dan penyakit.

Siapa sangka, bukan saja ia tidak dapat menyelamatkan limaribu tail emas itu, malah dirinya terjirat menjadi tawanan ke empat dara berkerudung hitam ini?

Ia menyesal sekali tak dapat merampas harta itu, dan yang lebih disesalkan lagi kebuntungan lengan kanannya ini membawa kemalangan baginya.

Coba kalau ia mempunyai sepasang lengan.

Hemm, tak semudah gadis-gadis itu menawanku, demikian pikir Tiang Le di dalam gerobak yang didorong oleh si gadis.

Hawa udara begitu panas dan terik, membuat Tiang Le melenggut dan mengantuk dalam benaman karung-karung yang berisi ikanikan asin dan terasi.

Selama dua jam di dalam gerobak ini, ia menjadi biasa lagi dengan hawa busuk yang semula membuat ia hampir pingsan!

Sekarang malah ia dengan enaknya melenggut berayun ketika gerobak didorong!

Melihat betapa pemuda buntung ini malah tidur keenakan di dalam gerobak, gadis yang mendorongnya mengomel, memaki.

"Sialan, aku yang mendorong setengah mampus, engkau keenakan tidur di situ. Bangun bantu aku mendorong gerobak ini!"

Bentak si gadis muka kerudung hitam. Tiang Le menggeliat bangun.

"Bukankah engkau yang melemparkan aku ke sini eh, hendak dibawa kemana aku ini!!" "Cerewet! Pokoknya kau ikut dengan kami. Habis perkara! Hayo turun, bantu aku dorong gerobak!!"

Gadis muka kerudung yang mendorong gerobak barang lainnya menoleh kepada saudaranya dan berkata.

"It-sianli suci mengapa pake ngomel-ngomel, lemparin saja si buntung habis perkara. Bikin capek hati saja……"

"Hemm, memang dia patut dilempar!"

"Lemparlah kalau kau mau,"

Tiang Le menantang.

"Jangan banyak tingkah makan ini!"

Sekali Sepasang pedang berkelebat tahu-tahu Tiang Le sudah mencelat ke atas, keluar dari gerobak dan berdiri.

"Hayo bantu dorong, kalau tidak ingin ku penggal lehermu,"

Bentak gadis itu menyarungkan sepasang pedangnya.

Melihat bahwa gadis itu tidak menyerang lagi, Tiang Le terpaksa berjalan dan mendorong pula gerobak di samping si gadis.

Gadis-gadis yang lain menoleh dan tertawa.

"It-sianli suci, hati-hati nanti dia kabur!"

"Coba-coba saja berani kabur, pedangku akan memenggal kepalanya,"

Sahut It-sianli yang berjuluk Bu-beng-siang-sin-kiamhoat! "Aduh galaknya….."

Tiang Le menggoda sambil mendorong. "Kau kira aku main-main. Kau kira aku tidak berani memenggal kepalamu?"

It-sianli menoleh.

Melihat mata yang cerah dan bening itu, Tiang Le bukannya menjadi marah akan tetapi, entah mengapa rasanya ia senang menggoda gadis kerudung hitam di sebelahnya ini!

Demikianlah sepanjang perjalanan mendorong gerobak ini, Tiang Le dan It-sianli selalu terdengar bertengkar.

Terkadang-kadang nampak sepasang pedang si gadis terkelebat hendak memenggal leher Tiang Le, terkadang ia mengomel panjang pendek adu debat dengan pemuda buntung ini!

Hmm, perjalanan yang menyenangkan bagi Tiang Le.

Betapa tidak?

Biarpun ia dijadikan tawanan, akan tetapi berdekatan dengan gadis ini tidak merasa ia sedang ditawan dan sebentar lagi akan dihadapkan di depan Pay-cu Sian-li-pay nenek sakti Bu-tek Sianli!

Memang lucu sekali hati lelaki.

Setiap melihat perempuan cantik selalu jatuh hati!

Anehnya bagi Tiang Le meskipun ia belum melihat wajah gadis yang selalu tertutup kerudung hitam ini, ia sudah tertarik dan berkhayal akan keindahan bibir yang mengoceh dibalik sutera hitam dan hidung mancung bagus!

Hanya sepasang mata itu yang mengoyak-mengoyak hatinya memberikan kepastian bahwa gadis ini cantik!

Gila!

Apabila teringat kepada Sian Hwa, Tiang Le memaki dirinya.

Tak boleh aku menghianati Sian Hwa, aku sudah mencintainya dan iapun mencintaiku.

Ah, Sian Hwa di manakah engkau?

Teringat Sian Hwa, sumoaynya yang kedua itu ia menarik napas panjang.

"Eh, mengapa kau menarik napas?

Apakah kesal?"

Kata It-sianli yang berjuluk Bu-beng siang-sin-kiam-hoat sambil menoleh dan mengawasi pemuda itu.

Kali ini Tiang Le tak mau bertemu pandang dengan mata si gadis, ia menunduk sementara tangannya mendorong.

"Hendak kau bawa kemana aku ini nona?"

Tanya Tiang Le dengan mengangkat muka memandang ke depan.

"Tentu saja ke pulau, habis kemana?"

"Masih jauh?"

"Tentu, naah tu di depan itu, ada anak sungai….. sebentar lagi kita akan mengarungi laut Po-hay, ya di seberang laut Po-hay itu pulau kami, disebut pulau Bidadari!"

Tiang Le menoleh.

Pulau Bidadari, aneh mana ada pulau namanya pulau Bidadari, ada-ada saja gadis-gadis ini.

Benarlah seperti apa yang dikatakan si gadis tidak jauh di depan mengalir sebuah anak sungai.

Sungai ini akan menembus ke laut Po-hay suasana di tepi sungai ini amat sepi sekali.

Ke empat orang gadis berkerudung hitam menghentikan gerobaknya.

Tiang Le juga berhenti, ia menyeka keringat yang menitik-nitik di wajahnya.....

Cape juga mendorong gerobak ini pikirnya!

Waktu dilihatnya ke empat gadis berkerudung hitam itu, mereka nampaknya tengah kelelahan juga.

"It-sianli suci, tidak ada perahu....." "Nanti pasti ada yang lewat, sekarang mari kita mengaso! Eh buntung kau berdiri saja di situ, apakah kau mau jadi patung. Duduklah!"

It-sianli berkata ketus kepada Tiang Le yang masih berdiri mengawasi air sungai yang mengalir. Tiang Le menoleh. Melihat mata yang jelita itu ia berkata.

"Duduk di mana?"

"Tolol!! Di sini inilah….. di atas rumput ini, habis di atas sungai?"

Itsianli membentak. Ke tiga gadis berkerudung lainnya tertawa cekikikan.

"It-sianli suci….. kau selalu cekcok saja sama si buntung ini!"

Heran salah seorang dari ke tiga gadis itu berkata sambil menghempaskan dirinya di atas rumput. Sementara angin bersepoi melelah. Nikmat menghembus-hembus pipinya.

"Aku benci..... benci!"

Gadis yang dipanggil It-sianli suci itu berkata ketus, memandang kepada Tiang Le yang sudah deprok pula di tanah berumput.

"Jangan begitu suci, benci lama-lama jadi cinta, suci….. wah, barabe!"

"Setan! Siapa yang mencintai dia?"

"Itu kan umpama, It-sianli suci, sebab benci dan cinta itu berdekatan. Biasanya antara benci dan cinta merupakan saudara kandung yang saling berdekatan, hati-hatilah, jangan-jangan bencimu itu menjadi cinta!!" "Siiiing!!"

Sepasang pedang keluar dari sarungnya.

"Sam-sianli sumoay, lancang mulutmu!!"

"Eh mengapa kau marah?? Memang mulutku ini lancang suci, naah maafkanlah aku!"

Kata gadis berkerudung hitam yang memegang tongkat dan disebut Sam-sianli, dan ia berjuluk Sianlisin-tung-hoat atau bidadari tongkat sakti.

Jie-sianli membuka perbekalannya dan mengeluarkan beberapa potong roti, kemudian katanya.

"Janganlah pada bertengkar, lebih baik serbu ini!!"

"Jie-sianli betul, kita sikat ini baru mengenyangkan perut, bertengkar melulu apa yang bikin kenyang perut. Eeh! It-sianli suci kau tawari si buntung itu, dia tentu lapar!"

"Kau saja yang tawari!!"

"Masa aku? Kaukan lebih rapat!!"

"Setan, rapat apanya?"

Mendengar bahwa gadis-gadis aneh itu memperbincangkan dirinya, Tiang Le menjadi malu dan tak enak hati.

Apalagi kini gadis-gadis itu meributkan soal saling dorong untuk memberikan roti.

Gila!

Lebih baik aku pergi saja, pikirnya mengangkat kaki berlalu.

"Eh, eh…..

dia kabur, It-sianli suci…...

lihatlah si buntung pergi!"

Gadis kerudung ketiga berkata menunjuk Tiang Le sedang berjalan menjauhi.

"Setan, mau kabur ke mana kau?"

Berkata demikian It-sianli menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu beberapa kali loncatan ia sudah berdiri di depan Tiang Le.

"Buntung! Hendak kabur ke mana kau?"

Mengkal hati Tiang Le, dikit-dikit gadis ini memanggilnya buntung, amat menyakitkan sekali! Dengan senyum pahit Tiang Le menyahut.

"Nona, kau memanggilku tidak ada sopannya, namaku Sung Tiang Le, harap kau menjadi tahu adanya dan jangan memanggilku buntung, buntung begitu. Tanganku buntung tidak ada sangkut pautnya denganmu. Harap sedikit kau sopan dan mempunyai bahasa kalau memanggil orang."

"Oooo, jadi kau harus kupanggil koko, begitu?"

"Bukan begitu, nona, panggil saja namaku!"

"Setan! Siapa yang ingin tahu namamu, eh bun….. Tiang Le, ya namamu..... kenapa kau kabur?"

Diam-diam Tiang Le mendengar gadis ini tidak jadi menyebutnya buntung.

Diam-diam ia tidak dapat membenci gadis aneh ini!

"Aku tidak kabur nona, cuma tak enak hatiku melihat kalian makan!" "Justru itu, hayo kembali, biar aku berikan kau roti.

Eh tentu kau lapar ya?"

Melihat tingkah laku gadis ini, mau tidak mau Tiang Le menjadi tersenyum, ia tidak berkata apa-apa kepada gadis ini akan tetapi melangkahkan kakinya kembali ke tempat gadis-gadis kerudung hitam yang tengah makan roti.

Melihat kedatangan pemuda lengan buntung ini, keruan saja para gadis yang lain tertawa cekikikan, malah ada yang nyeletuk.

"Itsianli suci hebat, anjing buntung ini jadi jinak di tangannya."

Tiang Le melirik, yang berkata tadi adalah gadis kedua yang bersenjata cambuk.

Tiang Le hanya tersenyum pahit, melirik ke arah lengannya yang buntung.

Memang aku buntung mengapa aku harus malu dan marah?

Ah, Bwe Hwa…...

engkau yang membuatku jadi begini!

Jadi seorang pemuda tanpa daksa.

Sayang hanya lengan kananku yang kau penggal mengapa tidak sekalian kau penggal kepalaku saja.

Mati lebih baik dari pada kau siksa, hidup tanpa guna begini dipermainkan oleh gadis kerudung hitam!

Teringat ini Tiang Le termenung sendiri.

Ia menolak roti yang disodorkan oleh It-sianli.

Tentu saja It-sianli tidak mau memaksanya karena pandangan mata sumoay-sumoaynya memandang aneh!

Pada saat itu sebuah perahu meluncur dengan amat cepatnya.

Nampak dua orang yang tengah mendayung.

Melihat perahu itu sudah hampir lewat, salah seorang dari ke empat gadis berkerudung itu memanggilnya, kesinilah….

kusewa perahu kalian!"

"Hey tukang perahu.....

"Hayyaaa..... itu dia gadis-gadis cantik, eh Kong Hwat, anak gendeng..... Hayo kau putar perahu….. Lihat gadis cantik itu hendak menyewa perahu kita, jalan….. kita dapat duit lagi….. ha ha ha! Eh, nona kerudung hitam….. apakah kalian hendak menyeberang?"

Dari tengah-tengah sungai itu si kakek berteriak.

Suaranya berat dan nyaring.

Kakek ini sudah tua, usianya ada limapuluh tahun.

Akan tetapi pakaiannya aneh, kembang-kembang campur baur dan penuh tambalan-tambalan, di telinganya sebelah kiri nampak anting-anting besar seperti orang India, kepalanya diikat sorban kuning.

Jubahnya penuh kembang-kembang itu lebar berjubrai seperti pakaian orang Bombai.

Pemuda yang dipanggil Kong Hwat tadi, adalah seorang pemuda tampan, usianya ada sekitar duapuluh, mukanya agak kehitamhitaman saking tiap hari ia berjemur diri di sungai menjadi nelayan.

"Suhu...... nona muka kerudung itu, tentu anggota-anggota Sian-lipay perkumpulan jahat!"

Pemuda Kong Hwat meragu untuk menepikan perahunya ke pinggir. Si kakek bagaikan acuh tak acuh bersenandung riang sambil mengeprak-ngeprakan dayung, bututnya memukul air yang memercik tinggi."

"Cik-kicik Pura-pura kibung, bunyi gendang bingung jangan sampai orang bertalu-talu yang tahu. Tak tak dung, ketak kedung, orang muda tangannya buntung, Biarkan uang emas terkatung-katung, he he he.

"Kakek gila, hayo bawa kami dan tiga gerobak itu menyeberangi laut Po-hay. Berapa biaya nanti kami bayar!"

Jie-sianli membentak sambil meluncurkan cambuknya dan begitu cambuk itu melilit pada tiang perahu, ia membetot keras sehingga perahu itu meluncur laju ke tepi dan menubruk pinggiran sungai.

"Wa, wa……! gadis ini galak-galak, berabe Kong Hwat. Benar orang-orang Sian-li-pay nggak memandang mata, ai, ai kalau perahuku rusak, kau mesti ganti bocah gendeng!"

"Eh, buntung angkat ini……, ikan-ikan asin tak perlu dibawa, biarin tinggalin di sini, dan angkat karung yang di bawah itu……"

Samsianli, orang ketiga dari gadis Sian-li-pay berkata memerintah.

Tiang Le, tak berkata apa-apa.

Tiang Le mengangkat karungkarung berisi ikan asin dan melemparkan ke samping dan begitu ia menemukan karung-karung yang di bawah, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa karung-karung di bawah ini adalah benar-benar berisi uang emas!

Dengan hati-hati, ia mengangkat karung itu ke perahu.

Selesai tiga karung itu diangkut ke perahu, ke empat gadis itu meloncat ke perahu dan berkata kepada kakek tukang perahu.

"Sudah, jalan!"

Maka meluncurlah perahu itu ke tengah mengikuti arus air sungai yang kelak menumpahkan airnya ke laut Po-hay.

Si kakek tukang perahu bagaikan acuh tak acuh ia berdiri di ujung perahu sambil bernyanyi-nyanyi tak keruan juntrungannya.

Sedangkan pemuda yang bernama Kong Hwat mendayung perahunya sambil berkalikali matanya melirik ke arah buntalan karung di dalam perahu itu.

Melihat betapa yang mendayung adalah pemuda itu sendirian, tanpa berkata apa-apa Tiang Le mengambil dayung dan mendayung dengan tangan kirinya.

Perahu meluncur lebih cepat.

Air sungai yang berwarna kecoklatan mengeriak bergelombang kecil dibelah oleh lajunya perahu.

Tiang Le kagum sekali melihat cara pemuda itu mengayuh dayungnya, bukan saja cepat dan bertenaga akan tetapi juga hanya dengan mendayung perlahan saja, perahu sudah demikian cepatnya meluncur.

Sekilas saja ia tahulah Tiang Le bahwa tukang perahu muda dan kakek itu bukan nelayan sembarangan.

Kembali dia menoleh ke arah empat orang gadis itu.

Dilihatnya Itsianli tengah memandangnya.

Entah mengapa begitu bertemu pandangan dengannya gadis itu tertunduk lagi pura-pura menjatuhkan pandangannya ke samping melihat air yang kecoklatcoklatan bergelombang.

"Saudara tukang perahu, di sini ini daerah apakah dan sungai apa ini?"

Tiang Le bertanya untuk menghilangkan kesepian yang mencekam Kong Hwat menoleh dan tersenyum, kemudian katanya.

"Ini sungai kuning, sebentar lagi kita akan memasuki laut Po-hay. Eeeh saudara, kau siapa? mengapa kau ditahan oleh gadis-gadis Sianli-pay?" "Mereka itu lihay, aku tak dapat melepaskan diri dari mereka. Tadinya aku berusaha untuk menyelamatkan limaribu tail emas yang dipersembahkan oleh kaisar untuk sumbangan ke Wu-nian. Siapa tahu gadis-gadis itu demikian lihay, hingga aku tak dapat menyelamatkan itu uang, malahan aku sendiri tidak berdaya ditangannya!"

"Hmm, jadi mereka inikah yang belum lama ini merampok di lereng gunung itu?"

Tiang Le mengangguk.

Akan tetapi alangkah herannya dia tiba-tiba perahu yang ditumpangi itu terbalik dengan amat cepat sekali, dengan gerakan yang gesit Tiang Le mencelat ke atas membuat pok-say tiga kali dan begitu ia turun di atas perahu yang terbalik, ia tidak melihat lagi Kong Hwat dan kakek nelayan itu.

Dan dari kejauhan ia mendengar suara orang berkata.

"Orang muda buntung, selagi masih ada kesempatan mengapa tidak meloloskan diri dari tangan gadisgadis Sian-li-pay?"

Itu suara pemuda tukang perahu, entah bagaimana caranya, tahutahu pemuda itu sudah lenyap.

Dan ia bengong sendiri di atas perahu yang mengambang.

Bagaimana ia dapat melarikan diri, perahu yang terbalik ini tidak lagi bisa melaju mengambang di tengah sungai.

Sedangkan dilihatnya ke empat gadis berkerudung hitam itu tengah berenang menepi sambil menyumpah-nyumpah.

"Sialan, pemuda tukang perahu keparat!"

Tentu saja Tiang Le tidak tahu betapa orang muda tukang perahu itu adalah Kong Hwat dan kakek itu adalah Koay Lojin.

Ke dua orang ini tentu saja terkenal dengan sebutan setan air.

Maka tadi begitu mendengar tentang emas yang hendak disumbangkan oleh kaisar direbut oleh gadis-gadis Sian-li-pay, dengan gerakan ajaib Kong Hwat membalikkan perahunya dan bagai kilat tangannya menyambar tiga buntalan limaribu tail emas dan menyelam ke dasar sungai di ikuti oleh Koay Lojin yang tertawa terkekeh-kekeh memanggul dua buah karung berisi uang mas!

Dan untuk seterusnya dua orang nelayan itu sambil menyelam berjalan di bawah air sampai jauh dan tahu-tahu dengan basah kuyup dan tertawa-tawa, dua orang itu menuju ke Wu-nian dengan amat cepatnya untuk menyerahkan sumbangan korban kelaparan dan bahaya penyakit.

Sementara itu Tiang Le yang memang tidak bisa berenang.

Terapung-apung di tengah-tengah sungai menggapai-gapaikan tangannya ke arah gadis-gadis Sian-li-pay yang sudah mendarat dan tengah menguras pakaiannya yang basah.

"Hey……!"

Dari seberang sungai nampak It-sianli berkata kepada sumoaynya jie-sianli yang berjuluk Sianli-eng-cu.

"Sam-sianli sumoay, kau tolonglah pemuda buntung itu!"

"Hemm, suci mulai tertarik kepadanya, ya?"

"Jie-sianli! Kau bicara sembarangan, hayo tolong dia."

Ke tiga gadis itu mengakak geli mentertawakan It-sianli.

Tak habis heran ke tiganya ini mengapa sucinya yang terkenal galak kepada setiap lelaki, eh hari ini demikian memperhatikan pemuda buntung itu.

Sayang, kalau saja sucinya jatuh cinta kepada pemuda lengan buntung yang meskipun kelihatan tampan, akan tetapi tanpadaksa!!

Meskipun hatinya kurang senang, Jie-sianli yang berjuluk Sianlieng-cu mengeluarkan cambuknya.

Tiga kali cambuk yang panjang itu meluncur ke tengah sungai dan dengan sabetan luar biasa, cambuk di tangan Sianli-eng-cu sudah membelit tubuh Tiang Le dan dengan sekali sentak saja, tubuh Tiang Le melayang ke darat jatuh tepat di depan It-sianli.

"Nah, sudah kutunaikan tugasku, suci, sekarang hendak kau apakan pemuda buntung itu terserah!"

Begini kata Sianli-eng-cu menggulung cambuknya dan menyelipkan ke pinggangnya. It-sianli menghampiri Tiang Le yang sudah berdiri dan katanya ketus.

"Hayo ikut dengan kami ke pulau!"

"Nona, aku tidak bersalah apa-apa, mengapa kau memaksaku ke pulau??"

"Ahh cerewet, hayo jalan ikuti kami!"

Setelah berkata demikian ia mengikuti ketiga sumoaynya yang sudah jalan duluan. Terdengar Sianli-eng-cu menggerutu.

"Celaka, limaribu tail emas itu tenggelam…... Sianli tentu akan marah, eeh bagaimana baiknya?"

"Buat apa musti bingung, bilang saja si Buntung itu yang bikin garagara sehingga kita kehilangan tiga kantong emas, laporkan saja kepada Sianli. Biar si buntung yang menanggung hukumannya,"

Sahut gadis keempat yang berjuluk Sianli-toat-hun-kiam (bidadari pengejar nyawa) yang biasa dipanggil Sie-sianli (bidadari keempat).

Tiang Le tersenyum kepada gadis yang berkata tadi.

Celaka, rupanya aku ini yang hendak mereka jadikan kelinci percobaan.

Sialan benar aku ini, bertemu dengan gadis-gadis cantik berwatak seperti setan!

Demikianlah, sekarang dengan berjalan kaki Tiang Le digiring oleh ke empat dara jelita dari Sian-li-pay ini, tanpa dapat meloloskan diri.

Mengikuti saja ke mana gadis ini membawanya!

Setelah berhari-hari mereka menyusuri sungai, maka pada hari yang keempat berlayarlah mereka berlima menyeberangi laut Pohay, perahu yang sengaja dibeli oleh gadis-gadis ini untuk perjalanannya dari seorang nelayan.

Akhirnya setelah hampir senja barulah perahu mereka melewati laut Po-hay dan memasuki sebuah telaga dan mendarat di sebuah pulau yang mereka namakan pulau bidadari di tengah telaga.

Pulau ini tidak berapa besar akan tetapi nampak indah sekali pemandangannya.

Di tengah-tengah pulau nampak sebuah taman, terdapat tiga buah pondok peristirahatan Bu-tek Sianli.

Bangunanbangunan yang besar-besar berdiri dengan megah dan mewahnya.

Nampak di pantai telaga perahu-perahu kecil sebagai penghubung untuk menyeberang melintasi laut Po-hay!

Inilah pulau yang disebut pulau bidadari!

Tiang Le merasa heran dan kagum.

Waktu mereka mendarat, dua sosok tubuh berlarian mendatangi dengan gesit sambil berkata.

"Selamat datang Sian-li-sie-cie-moay……. Pay-cu, selalu menanti kalian!"

Tanpa berkata apa-apa lagi ke empat gadis itu berlari meninggalkan pantai.

Tiang Le berlari pula mengikuti gadis-gadis aneh itu.

Begitu mereka tiba di pintu gerbang, mereka disambut oleh sepasang bidadari cantik tanpa penutup muka lagi.

Amat cantik-cantik sekali gadis-gadis ini, patut menjadi bidadari-bidadari di sini, pikir Tiang Le.

Seorang dari ke dua gadis itu berlari masuk ke dalam melaporkan kepada Sianli dan seorang lagi mengantarkan ke ruang dalam.

Tiang Le digiring perlahan memasuki pulau dengan perlahan, diiringi sepasukan dara-dara cantik dan oleh empat orang dara yang masih menutup mukanya dengan kerudung.

Tak lama kemudian rombongan ini berhenti, dari depan nampak serombongan dara-dara berjalan dengan cepat.

Tiang Le belalakan mata memandang penuh perhatian.

Bukan main, entah dari mana Pay-cu Sian-li-pay ini mengumpulkan gadis-gadis cantik seperti bidadari-bidadari turun dari kayangan!

Ia melihat barisan wanita-wanita muda cantik yang gagah sikapnya, memegang pedang telanjang di tangan berjalan dengan teratur di kanan kiri.

Di tengah-tengah nampak berjalan seorang wanita tua yang berkulit agak kehitaman dan pakaiannya biarpun terdiri dari sutera mahal, akan tetapi tidak serasi dengan kulit tubuhnya yang kehitaman.

Pakaiannya berkembang amat menyolok dengan kulit hitam itu.

Akan tetapi meskipun nenek itu berpakaian yang aneh dan lucu, biarpun sudah kelihatan tua dan penuh kerisut, nampak wajah yang agung itu berseri-seri menyambut ke empat muridnya yang mendatangi.

Tongkat yang berbentuk kepala bidadari terpegang dalam genggaman tangan kanannya.

Tempat itu kini penuh dengan anggota Sian-li-pay dan semua orang memandang Tiang Le dengan penuh perhatian.

Mereka bersikap hormat ketika Bu-tek Sianli muncul, semua dara-dara jelita memberi hormat dengan berlutut, hanya ke empat dara yang disebut Sianli-sie-cie-moay ini saja yang hanya menganggukkan kepalanya sebagai ucapan menghormat.

Pandangan matanya Bu-tek Sianli untuk sejenak menjelajahi Tiang Le dari rambut sampai ke kaki dan apabila terbentur oleh lengan buntung itu, si nenek mengerutkan keningnya dan berkata.

"Untuk apa pemuda buntung ini dibawa ke mari, mana….. uang limaribu tail emas!?"

"Maaf, Sian-li Pay-cu…... sengaja kami membawa si buntung ini kemari, karena gara-gara dia sehingga kami gagal dalam usaha merebut limaribu tail emas itu!"

"Hemm, jadi kalian tidak becus mengalahkan orang, Kim-coa-pay itu?"

Bu-tek bertanya dengan nada dingin. "Bukan begitu Sianli……. berkata Sianli-eng-cu, murid kedua.

"Sebetulnya kami sudah berhasil merampas limaribu tail emas itu, eh datang si buntung ini membawa kawannya dan…….."

"Hemm, kalian tidak dapat mengatasi kawan-kawan si buntung ini?"

"Begitulah Sianli…….!"

Nenek pay-cu Sian-li-pay mendengus marah.

"Hem, menghadapi bocah ini saja kalian tidak becus!"

"Dia membawa teman-teman Sianli,"

Sian-li-eng-cu membohong lagi. Pandangan Bu-tek Sianli menyambar lengan buntung Tiang Le kemudian berkata kepada muridnya yang lain.

"Betulkah pemuda buntung ini membawa teman-teman sehingga kau gagal?"

Kini murid ke empat yang menyahut.

"Oleh sebab itulah kami menghadapkan dia kepada Pay-cu Sianli, menanti keputusan Sianli tentang hukumannya dari Pay-cu!"

"Hemm, bocah buntung ini berani mengacau rencanaku, apalagi hukumannya selain mampus! Biar aku sendiri yang membunuhnya!"

Tangan Nenek itu bergerak, terdengar angin berciutan ketika angin pukulan menyambar ke arah dada Tiang Le.

Pemuda ini kaget bukan main.

Hebat pukulan ini, untung ia tidak dibelenggu atau ditotok sehingga dengan cepat ia menggerakkan kaki melompat cepat ke kiri.

"Srett!"

Lengan bajunya yang buntung tersambar angin pukulan, pecah dan hancur berantakan. Wajah Tiang Le berubah. Ia maklum ketua Sian-li-pay ini merupakan lawan yang berat, seorang yang amat lihay ilmunya.

"Setan! Kau berani mengelak?"

Bu-tek Sianli memekik marah untuk yang kedua kali tangannya bergerak, sekarang angin yang berciutan itu menyambar ke arah leher Tiang Le.

Pemuda itu cepat mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya terhajar.

Baiknya ia segera mengerahkan tenaga sakti di pundak, kalau tidak akan remuk tulang-tulang pundaknya.

Bergidik Tiang Le, hebat nenek ini, ganas dan lihay!

Melihat bahwa pemuda buntung ini dua kali dapat menghindari pukulannya, Bu-tek Sianli jadi marah.

Dengan keluarkan lengking panjang merupakan jeritan maut, tangannya bergerak ke atas.

Inilah sebuah jurus dari Ilmu pukulan Sin-kun-bu-tek yang sudah dikenal oleh murid-muridnya.

Melihat bahwa Pay-cu nya hendak menggunakan jurus maut ini, Itsianli menjadi pucat wajahnya, sekali berkelebat ia sudah berlutut di depan Bu-tek Sianli sambil menangis.

"Sianli Pay-cu....... mohon ampuni dia…..!"

"Apa? Kau hendak mintakan ampun untuk dia ini?"

Suara Nenek Bu-tek Sianli tergetar, memandang heran kepada murid pertamanya yang tengah tertunduk berlutut.

"Bwe Lan apakah kau sudah gila?" "Sianli....... mohon ampun untuk dia....... teecu tidak tega melihat dia......., dia dihukum seperti itu......., jangan Sianli....... kalau kau mau membunuh dia....... kau bunuhlah aku....... dia tak bersalah.......!"

"Bwe Lan…….. kau?"

Ke tiga muridnya yang lain menghampiri Pay-cu itu dan Sianli-engcu berkata.

"Pay-cu....... sudah kami duga bahwa enci Bwe Lan telah jatuh hati sama pemuda buntung ini. Selama perjalanan, sikapnya selalu aneh! Hemm, benar apa kataku....... benci, benci....... nggak tahunya datang cinta suci!"

"Eh, anak gila! Bwe Lan.......benar kau mencintai si buntung ini?"

Suara Bu-tek Sianli tajam. Akan tetapi aneh, sungguh membuat Tiang Le sendiri menjadi melengak tak mengerti ketika gadis itu menyahut dengan suara yang pasti.

"Benar Sianli....... teecu mencintai dia ini!"

Terdengar suara mengikik dari ke tiga sumoaynya. Kedua kaki Tiang Le bergetar. Benarkah itu suara yang keluar dari gadis yang bersuara merdu seperti bidadari! "Bwe Lan, mari masuklah kau.......!"

Bu-tek Sianli memerintah dan membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan dara-dara Sin-lipay ini.

Serombongan gadis memasuki gedung Sian-li-pay yang megah.

Dari luar sudah nampak tiga orang tetamu yang tengah mengobrol ditemani oleh gadis-gadis cantik yang melayaninya.

Mereka itu adalah Bong-goanswe, Hok Losu dan Leng Ek Cu yang sudah lebih dulu sampai ke tempat itu.

Seperti telah kita ketahui di bagian depan, tiga orang sakti ini sengaja membawa Sian Hwa, gadis tawanannya untuk diserahkan kepada Sian-li-pay.

Tentu saja karena mereka itu berjalan demikian cepat tidak berhenti-henti maka ia lebih pagi datang ke tempat pulau bidadari ini!

Tiang Le memasuki ruangan itu, dan melihat seorang tua berpakaian jenderal, dan seorang hwesio tua dan tokoh Kongthong-pay yang tidak dikenalnya!

Tiang Le memandangnya acuh tak acuh.

It-sianli yang bernama Bwe Lan, berjalan di samping Tiang Le dengan wajah ditundukkan.

Melihat gadis itu meneteskan air mata, terharu juga hati Tiang Le, entah perasaan apalagi yang mengaduk-aduk hatinya saat itu.

Di tengah-tengah ruangan itu nampak seorang gadis sebaya dengan wajah tertutup sutera hitam.

Ia tertotok di tengah-tengah ruangan.

Menggeletak di situ.

Tentu saja karena gadis itu ditutup mukanya, Tiang Le tidak mengenali gadis sumoaynya itu yang tak lain adalah Liem Sian Hwa adanya.

Kalau saja Sian Hwa tidak berkerudung mukanya, maka pasti Tiang Le akan terkejut dan kebenaran melihat gadis itu berada di tempat itu, tetapi karena Tiang Le tidak mengenali dan mengira bahwa gadis itu adalah salah seorang dari anak buah Sian-li-pay yang berkerudung mukanya, maka iapun acuh tak acuh terhadap gadis kerudung hitam yang menggeletak di tanah dalam keadaan tertotok.

Akan tetapi sebaliknya Sian Hwa dapat mengenal Tiang Le.

Kalau ia tidak dalam keadaan tertotok ingin sekali ia memanggilnya.

Ingin sekali.

Ah, lama sudah ia mencari-cari pemuda ini, tidak disangkanya Tiang Le masih hidup, hidup dalam keadaan buntung lengan kanannya.

Terlalu memang Bwe Hwa, pikirnya, ia tak dapat banyak pikir sebab pada saat itu nenek Bu-tek Sianli sudah duduk kembali di tempatnya dan memerintahkan It-sianli yang bernama Bwe Lan untuk maju ke depan.

"Ke marilah kau!"

Bwe Lan melangkah dengan perlahan.

Sekali tongkat nenek itu bergerak, kerudung muka Bwe Lan sudah terlepas, dan nampak sebuah wajah yang cantik jelita.

Halus dan putih.

Bibirnya yang agak pucat itu indah sekali nongkrong di sela-sela mulutnya yang kecil bagus.

Mata yang bening itu berkilauan laksana mutiara, bertebaran tertimpa cahaya matahari.

Tiang Le yang melihat kecantikan Bwe Lan menjadi kagum dan entah mengapa dadanya jadi bergetar lebih keras lagi.

Nampak gadis jelita itu tertunduk.

"Bwe Lan……!"

Suara nenek Bu-tek Sianli tegas dan ketus.

"Kau tahu bukan? Apa yang kau lakukan setelah engkau melanggar sumpah Sian-li-pay?"

"Teecu mengerti Sianli,"

Suara Bwe Lan juga lemah. "Nah, setelah kau mengerti kenapa kau tidak lakukan sekarang?"

Sebuah pisau menyambar gadis yang tengah tundukkan kepala tetapi dengan cekatan tanpa melihat tangan si gadis menyambar dan tahu-tahu pisau kecil itu telah ada di tangannya.

Pucat wajahwajah dara-dara jelita yang hadir di tempat itu.

Sementara itu Tiang Le hanya menduga-duga saja dan tidak mengerti.

Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu, tenangtenang saja melihat pertunjukkan yang akan berlangsung ini, entah pertunjukkan apa, mereka ini tidak tahu!

"Bwe Lan!

Apakah kau masih ragu-ragu untuk melaksanakan hukuman, apakah tanganku sendiri yang harus melaksanakannya?

Ang Hwa, coba kau sebutkan hukum kelima dari Sian-li-pay!"

Gadis yang dipanggil Ang Hwa adalah Sam-sianli, gadis yang bersenjata tongkat di tangan menghampiri Pay-cu Sian-li-pay dan berkata dengan suara nyaring.

"Hukum kelima bagi murid-murid Sian-li-pay yang melanggar yaitu yang telah menjatuhkan hatinya kepada seorang pria, ia itu harus menjalani hukuman tusuk belati dihadapan Pay-cu dan murid-murid Sian-li-pay! Sebaliknya bagi pihak pria yang telah berani mencoba-coba merayu atau mencintai murid Sian-li-pay, harus dihukum picis (hukum beset kulit) yang dilakukan oleh gadis yang mencintainya itu!"

"Gila!"

Tiang Le berteriak dalam hati.

"Peraturan apa ini yang mengadakan peraturan sedemikian rupa. Hukuman bunuh diri?"

Mata Tiang Le membelalak memandang Nenek Bu-tek Sianli. Bong Bong Sianjin dan Hok Losu serta Leng Ek Cu sebaliknya tertawa senang seakan-akan menghadapi sebuah permainan yang menarik hati.

"He he he, Sianli cukup streng (tegas) dan sebuah peraturan yang keras dan aneh!"

Bu-tek Sianli menoleh kepada tamunya Leng Ek Cu yang berkata tadi.

"Itu adalah salah satu dari peraturan di sini Leng-tayhiap!"

Kemudian Nenek Sian-li Pay-cu menghampiri Tiang Le.

Begitu cepat tongkat itu bergerak sehingga tahu-tahu Tiang Le merasa tubuhnya demikian lemas dan beberapa saat kemudian ia sudah jatuh menggeloso di tanah dalam keadaan tertotok.

"Bawa dia ke ruang belakang dan buka bajunya, biar Bwe Lan yang melaksanakan hukuman!"

Perintah Bu-tek Sianli kepada gadisgadis Sian-li-pay.

Dengan amat cekatan tiga orang gadis cantik menghampiri Tiang Le dan menyeretnya ke belakang.

Bwe Lan berlutut dan menangis di depan Bu-tek Sianli.

"Pay-cu… te….. teecu… tak sanggup berbuat ini….. kau ampuni dia… biarlah teecu yang melaksanakan hukuman ini….."

Dua tetes air mata berjatuhan ke tanah.

"Bwe Lan, laksanakan itu!!"

"Teecu... tak sanggup....... menyakiti dia…. Pay-cu."

"Anak gila! Hayo lakukan!"

"Teecu…. ahh, Pay-cu.… mengapa menyiksa hati teecu, biarlah teecu yang mati saja… harap Pay-cu tidak menghukum Tiang Le…, teecu amat mencintainya....... Pay-cu….., biar teecu yang melaksanakan hukuman ini......."

Bwe Lan memandang dengan pandangan basah dan sekali mengelebatkan pisau belati kecil berkelebat ke arah lehernya sendiri.

Terdengar bentakan marah dari Pay-cu Sian-li-pay, sinar hitam menyambar memanjang dan tahu-tahu pisau belati kecil terlempar menimbulkan suara berdenting nyaring.

"Bwe Lan kau anak setan, kau mau membunuh diri sebelum melaksanakan tugasmu....... hayo kau laksanakan tugas itu, baru kau boleh mati bersama belati itu!"

Semakin deras air mata Bwe Lan mengalir, ia tak dapat berkata apa-apa lagi.

Pandangannya menantang tatapan tajam dari Bu-tek Sianli.

Melihat murid pertamanya memandang seperti ini, Bu-tek Sianli terkejut.

Biasanya tak pernah ada murid-murid yang berani melawan, Bwe Lan ini, terlalu!

Bu-tek Sianli mendengus marah.

"Hem, berani kau menentang perintahku! Bwe Lan, sejak kapan kau mulai membandel terhadapku?"

Bwe Lan mengangkat muka, memandang dengan mata basah.

"Pay-cu..... teecu tidak membandel, tidak ingin melanggar perintahmu, akan tetapi Pay-cu, jangan kau suruh teecu menyiksa Tiang Le. Tak kuat hati teecu!" "Hm, dasar perempuan sudah jatuh di kaki lelaki, berbicara seperti itu, baik! Kalau kau tidak mau melakukan itu, sekarang aku kepingin lihat apakah kau sudah bosan hidup mencintai pemuda buntung itu. Hayo lakukan!"

"Baik Pay-cu…... teecu bersedia mati untuk Tiang Le, akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan menghukum Tiang Le,"

Sahut Bwe Lan dengan suara tersendat dalam isaknya.

"Anak setan! Jangan banyak bicara. Hayo lakukan hukuman. Tentang pemuda itu kau tak perlu tahu!"

"Pay-cu Sian-li-pay….., percuma saja aku mati, kalau kau masih mau mengganggu Tiang Le........!"

"Ah, cerewet kau, kalau begitu mampuslah!"

Tangan nenek Bu-tek Sianli mendorong ke depan.

Suara angin terdengar berciutan menyambar tubuh Bwe Lan yang masih berlutut, amat dekat jaraknya.

Dan dapat dibayangkan apa yang terjadi kalau kepala yang tertunduk itu dihantam pukulan dari atas yang beratnya lebih dari limaribu kati.

Akan hancur leburlah tubuh itu melesak ke tanah.

Memang bagi Bwe Lan tak mau ia melawan Pay-cu ini, ia mati tak mengapa.

Akan tetapi ia tak rela kalau Tiang Le mati oleh sebab peraturan gila di Sian-li-pay.

Maka itu ia tidak menangkis atau mengelak, membiarkan pukulan itu mampir di atas kepalanya.

Akan tetapi pada saat yang amat berbahaya bagi Bwe Lan tahutahu dengan amat cepatnya sesosok tubuh berkelebat menyambar tubuh gadis yang masih berlutut itu.

Suara keras terdengar menggetarkan dinding tembok waktu pukulan maut Bu-tek Sianli menghantam tanah tempat Bwe Lan berlutut tadi.

Terkejut dan heran sekali Nenek sakti ini melihat sesosok tubuh telah menolong Bwe Lan.

Ia menoleh ke kiri, dilihatnya yang menolong muridnya yang pertama itu adalah gadis berkerudung hitam Liem Sian Hwa.

Meskipun hancur hatinya Sian Hwa mendengar pengakuan murid Sian-li-pay yang terang-terangan mencintai Tiang Le, akan tetapi ia menjadi terharu juga melihat gadis ini mau berkorban untuk Tiang Le, oleh sebab itu begitu ia terbebas dari totokan dan mengerahkan tenaga saktinya, melihat nenek iblis ini begitu kejam hendak menjatuhkan tangan maut kepada muridnya, dengan sekali enjot tubuh Sian Hwa sudah berkelebat dan berhasil menolong gadis cantik murid Sian-li-pay ini!

"Ooo kau turut campur tangan, bagus!

Kalau begitu biarlah engkau ke dua-duanya mati di sini!"

Dengan membentak demikian tangan kanannya sudah diputar-putarkan di atas kepalanya, salah satu dari jurus-jurus Sin-kun-bu-tek menerjang ke dua gadis ini.

Sian Hwa berdiri di depan gadis Sian-li-pay dan berkata.

"Kau mundurlah nona….. biar aku menghadapi nenek galak ini!"

Bwe Lan memandang gadis muka kerudung hitam ini.

"Adik, kau tak kan menang.....!"

Katanya.

"Hemm, aku tahu aku takkan menang, tetapi nenek ini hendak membunuh kita, mengapa aku tidak melawan?

Biarpun nenek gila itu mempunyai kepandaian setan sekalipun aku tidak takut, minggirlah Nona!"

Tiba-tiba angin besar menyambar.

Cepat Sian Hwa mengelak sambil mendorong tubuh Bwe Lan dari sambaran angin pukulan nenek Pay-cu Sian-li-pay ini memang amat hebat, maka iapun lalu cepat menggerakkan kaki tangan memainkan ilmu silat Tiang-pekkiam-sut sambil mengerahkan tenaga sin-kang di tangan kanan dan kiri membalas serangan-serangan nenek sakti Sian-li-pay ini.

Akan tetapi ia menjadi kaget setengah mati begitu merasa pukulanpukulan nenek ini terasa membawa hawa panas yang kadangkadang melumpuhkan kedua tangannya.

Terkejutlah ia bahwa nenek Bu-tek Sianli ini demikian hebat!

Akan tetapi, Sian Hwa bukanlah gadis sembarangan.

Ia adalah murid kelima dari Swie It Tianglo, ketua Tiang-pek-pay yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya dengan ilmu pedang Tiang-pek-kiam-sut yang terkenal.

Sedangkan kedua tangan dan kirinya mengeluarkan uap putih yang menyambar-nyambar merupakan segulungan awan putih yang menggulung-gulung!

Bagaimanapun lihainya Sian Hwa, ia kini berhadapan dengan Butek Sianli, nenek sakti kepalan dewa tanpa tandingan yang telah kesohor pukulan-pukulan tangan kanan dan kirinya.

Sebentar saja Sian Hwa mulai terdesak hebat.

"Hemm, biarlah kubikin mampus dulu bocah ini, baru setelah itu kami akan mengurus urusan dalam!"

Bu-tek Sianli membentak keras dan tahu-tahu tangan kanannya mendorong mengeluarkan suara angin berciutan.

Pada pukulan pertama saja Sian Hwa sudah terhuyung-huyung, dan menghadapi pukulan tangan kiri yang luar biasa ini, tak tahan ia begitu tangan kanannya bertemu terdengar suara keras.

"Dess! Wutt!"

Tubuh Sian Hwa terlempar sejauh lima meter.

Tubuhnya membentur tiang dinding dengan amat keras sekali, untuk seketika ia menggigil dan muntahkan darah segar.

Bu-tek Sianli yang sudah dibuat marah gadis muka kerudung hitam ini menyerbu dengan tongkat di tangan.

Tongkat bidadari berkelebat menyambar kepala gadis ini.

Terdengar jeritan Bwe Lan melihat Pay-cunya benar-benar hendak membinasakan gadis yang telah menolongnya ini, sekali berkelebat ia sudah mencabut sepasang pedangnya dan dengan cepat bagaikan kilat tongkat di tangan Bu-tek Sianli sudah tertahan oleh jepitan sepasang pedang.

"Kau…?"

Bu-tek Sianli menggeram saking marahnya.

"Pay-cu, jangan kau membunuh dia!"

"Anak durhaka, anak setan! Kau mencari mampus,"

Kali ini tongkat Bu-tek Sianli bergerak menyabet pinggang Bwe Lan, tentu saja ia mengenal jurus ini dan dengan amat mudahnya ia miringkan tubuh ke belakang menghindarkan sabetan tongkat yang menggeletarmenggeletar di tangan Bu-tek Sianli.

"Hemm, kau mau melawanku?

Mampuslah kau!"

Saking sengitnya nenek ini dibuat permainan oleh dua orang gadis muda yang menjengkelkan ini membuat ujung tongkatnya bergetar-getar dan mengeluarkan suara bercuitan saking kerasnya gerakan-gerakan tongkat itu.

Pada saat itu selagi Bwe Lan terdesak hebat oleh terjangan tongkat di tangan ketua Sian-li-pay sebuah bayangan putih menyambar laksana kilat menyerbu ke tengah-tengah pertempuran, sinar kilat hitam berkelebat dan tahu-tahu tongkat Bu-tek Sianli sudah tertangkis oleh sebuah suling hitam di tangan seorang muda tinggi kurus.

Dan bersamaan dengan itu, seorang dara anggota Sian-li-pay berlari-lari melapor.

"Celaka, Pay-cu! Pemuda lengan buntung hilang, ditolong oleh seoraag gadis dan telah meninggalkan pulau!"

"Apa? Pemuda buntung telah lenyap. Tolol kalian ini! Hayo kejar. Kepung seluruh pulau ini, jangan ia lolos!"

Berkata demikian Bu-tek Sianli menatap pemuda tinggi kurus yang bukan lain adalah Ho Siang adanya yang sudah mendarat ke pulau bidadari bersama dengan Nyuk In.

Kalau Ho Siang menyerbu ke gedung Sian-li-pay ini, adalah Nyuk In begitu melihat seorang pemuda buntung lengan kanannya diikat di tiang dengan baju luar dibuka siap untuk dikuliti tubuhnya melaksanakan hukum picis.

Dengan cepat tanpa buang waktu lagi Nyuk In menggerakkan kipasnya.

Dan betapapun lihay gadis-gadis Sian-li-pay ini menghadapi dorongan angin pukulan yang menyambar dari kipas hitam itu membuat mereka terhuyung mundur dengan sekali mengelebatkan pit panjang tahu-tahu tubuh Tiang Le telah bebas dari totokan dan terlepas dari ikatan di tiang gantungan itu.

Dengan cepat Tiang Le memakai bajunya dan maju menyerbu dara-dara Sian-li-pay yang sedang mengeroyok Nyuk In.

Hebat sekali sepak terjang Nyuk In ini, kipas di tangan kanannya bergerak-gerak terbuka mengibaskan menimbulkan gelombang angin pukulan yang dapat mementalkan pedang lawan.

Dan beberapa kali pit panjangnya itu bergerak, sebentar saja ke lima dara Sian-li-pay sudah tertotok roboh, dan dengan cekatan Nyuk In menarik tangan Tiang Le dan berlarian meninggalkan pulau.

"Nona..... nanti, di gedung… itu…..?"

"Jangan pikiri mereka. Hayo yang penting kita dapat meloloskan diri….. jangan sia-siakan waktu. Itu di depan ada perahu, cepat!"

Dengan beberapa kali loncatan saja Nyuk In dan Tiang Le sudah sampai di pantai.

Dua orang gadis Sian-li-pay menerjang maju akan tetapi sekali kipas dan pit Nyuk In berkelebat dara-dara ini juga sudah roboh dalam keadaan tertotok!

Nyuk In dan Tiang Le melompat ke dalam perahu, dan cepat-cepat mereka mendayung ke tengah.

Dari kejauhan berlari-larian dengan sangat cepatnya serombongan gadis-gadis Sian-li-pay mengejar!

Akan tetapi Nyuk In dan Tiang Le sudah jauh meninggalkan pulau.

Sementara itu Ho Siang yang sudah berhasil menolong Bwe Lan dari serangan tongkat maut nenek Bu-tek Sianli, berdiri dengan kaki terpentang lebar dan suling hitam di tangan.

Yang terkejut adalah Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu melihat pemuda tinggi kurus ini.

Hem, tidak tahunya orang ini mengikuti kami?

pikir mereka.

Hok Losu, hwesio tua dari Siauw-lim-pay turun dari kursinya dan menghampiri pemuda itu sambil mengomel.

"Bocah lancang dan totol, mencari kematian memasuki sarang naga dan harimau, hayo kau berlutut di depan pinceng tujuh kali!"

Ho Siang mendengus dan menoleh ke arah Hok Losu.

"Hwesio sesat! Pakaianmu saja seperti orang-orang suci dan kepala dibotakin, percuma kalau hatimu melebihi hati iblis yang banyak dipenuhi keinginan-keinginan setan!"

"Lancang!"

"Hok-taysuhu (guru besar), jangan turun tangan. Urusan ini adalah urusan rumah tangga Sian-li-pay, biar aku yang memberi hukuman kepada bocah yang sudah bosan hidup ini. Harap kau orang tua tidak mencapekan tangan....... biarlah orang-orangku yang menghadapi pemuda gila ini. Hey, sam-sianli kalian bertiga hadapi pemuda itu, biar aku bereskan murid murtad ini!"

Sambil berkata demikian Bu-tek Sianli menghampiri Bwe Lan dan menudingkan telunjuknya.

"Anak kurang ajar……. Murid murtad, berlutut kau!"

Tongkat di tangan Bu-tek Sianli terangkat.

Sekali mengenjot tubuh Ho Siang sudah berdiri lagi di depan Butek Sianli, akan tetapi tiga orang gadis murid-murid utama Bu-tek Sianli menerjang maju.

"Pemuda kurang ajar, rasakanlah tongkatku!"

"Rasakanlah cambukku!"

"Mampuslah di ujung pedangku!"

Hebat sekali serangan-serangan ke tiga orang gadis ini yang bermainkan senjatanya berlainan.

Sian-li-eng-cu menyerang dengan cambuk di tangan, dibarengi dengan timpukan-timpukan sianli-tok-ciam (jarum beracun bidadari), sedangkan gadis ketiga yang dijuluki sianli-sin-tung-hoat (bidadari tongkat sakti) menerjang ganas dengan terjangan-terjangan tongkat mautnya yang kuat dan menimbulkan suara angin bersiulan, sedangkan gadis keempat yang bermain toat-beng-kiam-sut lebih hebat dan ganas lagi.

Pedang Toat-beng-kiam yang luar biasa itu berkelebatan menyilaukan mata dan mengeluarkan cahaya aneh kehijauan!

Tentu saja menghadapi ke tiga gadis-gadis Sian-li-pay yang berkepandaian tinggi, ia menjadi sibuk bukan main.

Suara mengaung yang terdengar dari ujung suling menggetarkan ruangan di situ.

Membuat Bu-tek Sianli memandang keheranan dan mengalihkan pandangan kepada Hok Losu, yang tersenyum lebar sambil berkata.

"Tidak heran….., pemuda itu murid tunggal Nakayarvia……"

"Ooo!"

Kagum Nenek sakti kepalan dewa ini.

Melihat betapa demikian gesitnya pemuda itu menghindari serangan-serangan dari ke tiga murid-muridnya membuat Nenek Bu-tek Sianli ini teringat sekarang akan seorang pertapa di lndia yang bernama Nakayarvia.

Hmm, kalau pemuda ini sudah sampai ke tempat ini, sangat berbahaya sekali kedudukan pulaunya, entah siapakah yang memberi tahu letak pulau bidadari ini.

Diam-diam Bu-tek Sianli menjadi marah kepada Bwe Lan muridnya yang dianggapnya telah murtad dan merendahkan partainya yang telah begitu gila untuk mencintai pemuda lengan buntung.

Kalau seandainya pemuda bersuling ini yang dicintai oleh Bwe Lan, hemm, betapapun ia akan pikir-pikir!

Akan tetapi Bwe Lan mencintai pemuda lengan buntung yang kelihatannya lemah itu.

Amat memalukan benar!

Saking marahnya ia tanpa terasa lagi Bu-tek Sianli menghampiri Bwe Lan dan bertanya.

"Bwe Lan....... sungguh-sungguh kau mencintai pemuda buntung yang bernama Sung Tiang Le itu?"

Melihat betapa Pay-cu ini berkata dengan lembut dan tidak marah seperti tadi, Bwe Lan menoleh dan berkata.

"Benar Sianli Paycu....... teecu mencintai."

"Hemm,"

Bu-tek Sianli mendengus dingin.

"Tidak bisa dirobah pendirianmu itu? Kulihat pemuda yang bermain suling hebat sekali kepandaiannya, kalau kau mengalihkan cintamu terhadapnya....... tentu akan kupikir-pikir!"

"Sianli Pay-cu ketua Bidadari….. teecu bertekad untuk mencintai Tiang Le."

"Ahh kau memang bandel Bwe Lan, mengapa dia yang kau cintai, mengapa si buntung itu?"

Tanya Nenek ini penasaran. Bwe Lan terdiam. Hatinya tegang.

"Bwe Lan...!!!"

Bwe Lan meooleh ke arah Pay-cu Sian-li-pay.

"Kalau begitu biarlah tanganku ini yang mencabut nyawamu!"

Berkata demikian tongkat di tangan Bu-tek Sianli berkelebat menyabet dengan gerakan kilat.

Bwe Lan terkejut bukan main, cepat ia miringkan kepala ke samping menghindari sabetan tongkat yang meluncur di atas kepalanya.

Akan tetapi begitu cepatnya tongkat itu bergerak, tak urung pundak kirinya terserempet tongkat dan Bwe Lan terjengkang sambil mendekap dadanya yang terasa amat sakit dan nyeri.

Dengan menyeringai laksana iblis yang haus darah, Nenek Bu-tek Sianli menerjang lagi.

Bwe Lan mencelat ke atas dan mencabut sepasang pedangnya.

"Hemm, kau hendak melawanku?!"

Bu-tek Sianli bertanya geram.

"Sianli Pay-cu….., jangan kau mendesakku, aku tak berani melawanmu,"

Bwe Lan berkata lemah.

Pundak kirinya terasa nyeri sampai ke jantung.

Tahulah ia bahwa pukulan tongkat nenek tadi telah melukai pundaknya dan jantungnya tergetar.

Rasanya ingin ia muntah, akan tetapi cepat ia mengerahkan lwekang ke dada dan jantung untuk tidak muntahkan darah!

Merah wajah nenek Bu-tek Sianli ini melihat muridnya telah mencabut sepasang pedangnya.

Dengan menggeram keras ia hendak menerjang maju, tangannya diputar di atas kepala.

Jurus sin-kun-bu-tek (kepalan sakti tanpa tandingan), akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan berwibawa.

Wiwi…..

tahan!"

Dari arah pintu berjalan seorang kakek tua sambil menyeringai membawa sebuah dayung besar yang diseret di atas tanah sehingga menimbulkan bekas pada jubin-jubin di tanah.

Dan di belakangnya berjalan seorang pemuda tampan, tinggi tegap, berpakaian sederhana.

Dia itulah Kong Hwat dan gurunya Koay Lojin (Kakek Aneh)!

"Wiwi… kau gila!

Apa-apaan kau hendak mengemplang kepala muridmu sendiri.

Benar-benar kau sudah gendeng.

Heng San sahabatku sudah kau buntungi......., eh, sekarang kau mau mengemplang kepala murid sendiri.......

memang kalian ini orangorang gila!"

Bukan saja Bu-tek Sianli yang terkejut melihat kakek yang berbicara nggak keruan ini, juga Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu sampai berdiri dari tempat duduknya.

Orang itu yang membawa dayung tentu saja mereka kenal.

Koay Lojin!

Kakek gila dari gunung Fu-niu yang terkenal!

"Ayaaa.......

ngak tahunya orang-orang gila dari kotaraja juga hadir di sini, eh, itu si botak hwesio dari Siauw-lim juga hadir, wah… tentu ada pesta ya.

Ya, ya tentu ada pesta ya, hey, Kong Hwat biar kita menamu di sini, kita sikat makanannya.......

he he!"

Sambil tertawa seperti orang miring otaknya ini. Koay Lojin menjura kepada Bu-tek Sianli dengan kedua tangan terangkat di depan dada.

"Kionghie (selamat) Wiwi…... biarin dah aku jadi tetamu hehehe!!"

"Suhu… gadis ini…., terluka,"

Kong Hwat yang melihat Sian Hwa menggeletak dekat tiang penglari cepat mendekati gadis itu dan memeriksa.

Memang Sian Hwa sedang pingsan akibat muntahkan darah terlalu banyak tadi.

Melihat gadis itu hanya pingsan saja dan tidak terluka berat, cepat Kong Hwat menotok Sian Hwa, untuk beberapa detik kemudian Sian Hwa sadar dari pingsannya.

Dilihatnya pemuda bersuling masih seru dikeroyok tiga orang gadis Sian-li-pay.

Melihat betapa di situ muncul Koay Lojin dan Kong Hwat, cepat Ho Siang memainkan sulingnya lebih cepat lagi gerakan-gerakan kilatnya bagaikan guntur menyambar dan begitu sulingnya ke atas bergerak cepat menulis huruf "Thian", tahu-tahu tiga gadis itu sudah terlempar ke belakang dengan senjata terlepas dari pegangan.

Bu-tek Sianli terkejut sekali melihat gerak yang aneh ini, sampai ke tiga tamunyapun memandang dengan mata terbelalak.

"Luar biasa…….!"

Tanpa terasa lagi memuji Hok Losu, hwesio tua Siauw-lim-pay, kalau tidak memandang dengan tuan rumah ingin sekali ia memuji kehebatan suling pemuda itu!

Memang sudah menjadi lazim bagi tokoh-tokoh kang-ouw apabila melihat ilmu silat aneh dan luar biasa, timbul dihatinya, untuk mencobanya seperti Hok Losu ini.

Sementara itu melihat betapa tiga orang dara Sian-li-pay tidak lagi menyerangnya, cepat Ho Siang menghampiri Sian Hwa dan Bwe Lan sambil berkata.

"Nona, mari kita keluar dari neraka ini!"

"Orang muda, kau hebat..... akan tetapi tak kita dilepas dari pulau ini!"

Kata Bwe Lan.

"Kita mesti mencari jalan keluar nona, jangan kuatir tentang pemuda buntung itu, tentu sudah dapat lolos meninggalkan pulau bersama kawanku, hayo kita keluar! Ikuti aku!"

Berkata begitu Ho Siang berjalan ke luar diikuti oleh kedua gadis ini.

Sian Hwa berjalan dengan terhuyung-huyung!

Cepat Bwe Lan menggandengnya keluar.

Akan tetapi beberapa bayangan berkelebat dan tahu-tahu Bu-tek Sianli, Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu sudah menghadang di depannya.

"Ha ha ha, Wiwi….. kau ini sudah gendeng, mengapa bermainmain sama orang muda. Biar mereka keluar!"

Koay Lojin mendorong kedua tangannya dan tahu-tahu tubuh Ho Siang, Bwe Lan dan Sian Hwa terpental jauh dan bergulingan keluar.

Daradara bidadari mengejar keluar, akan tetapi begitu kedua tangan Koay Lojin bergerak entah bagaimana caranya lima dara Sian-lipay melayang kembali ke tempat semula!

"Kong Hwat, kau ikutlah orang muda itu!"

Koay Lojin memerintah.

Dengan gesit Kong Hwat mengejar tiga orang muda yang berlarian ke pantai.

Beberapa dara mengejarnya, akan tetapi begitu mereka menyerang, tangan Ho Siang bergerak dan tahu-tahu ke tiga dara Sian-li-pay sudah roboh tertotok.

Kong Hwat mendorong perahu besar, perahu yang tinggal satusatunya di pulau itu.

Ho Siang, Sian Hwa dan Bwe Lan melompat ke dalam perahu!

Dengan sekali dorong perahu itu sudah meluncur cepat sekali meninggalkan pulau.

Melihat betapa di pulau itu tidak ada perahu, cemas hati Ho Siang mengingat Koay Lojin yang masih tertinggal di gedung Sian-li-pay.

"Saudara Kong Hwat, bagaimana dengan gurumu locianpwe Koay Lojin?"

Tanya Ho Siang.

"Dia….. gampang! Suhu terkenal sebagai setan air sudah barang tentu dapat mengatasi kesulitannya. Eh, twako, kau hebat permainan sulingmu membuat aku kagum, siapakah namamu?"

Tanya Kong Hwat sambil mendayung.

"Namaku Ho Siang, she Khu,"

Memperkenalkan Ho Siang sambil melirik ke arah dua orang gadis yang belum diketahui namanya. Melihat isyarat ini, Bwe Lan yang perasa tahu dan berkata.

"Terima kasih Ho Siang twako, kau sudah menolong kami. Namaku Bwe Lan, tidak mempunyai she keturunan. Aku sebatang kara dan ini….. eh, namamu?"

"Aku she Lim namaku Sian Hwa!"

Memperkenalkan Sian Hwa.

"Nampaknya kau terluka nona, biar aku memeriksa lukamu,"

Berkata Ho Siang.

Dan dengan amat cekatan ia memeriksa Sian Hwa.

Sudah tentu sebagai murid Nakayarvia pertapa dari India sedikit banyak Ho Siang dapat mengerti hal pengobatan luka atau luka-luka yang beracun dan begitu ia memeriksa luka di pundak Sian Hwa ia tersenyum sambil berkata.

"Ah, jantungmu tergetar, untung pertahanan di tubuhmu kuat, kalau tidak jantungmu pasti akan pecah, nah, kau makanlah ini!"

Ho Siang mengeluarkan sebuah pil merah diberikan kepada Sian Hwa.

Demikian juga luka di pundak Bwe Lan.

Hampir serupa dengan yang dialami oleh Sian Hwa, akan tetapi Bwe Lan tidak begitu menguatirkan.

Sin-kang di tubuhnya lebih matang dari Sian Hwa dan dengan dorongan tenaga sakti itu sebetulnya iapun dapat menyembuhkan lukanya, akan tetapi ia menerima saja pil yang diberikan Ho Siang dan menelannya.

Akan tetapi belum lama mereka meninggalkan pulau, tiba-tiba sebuah perahu meluncur dengan amat cepatnya di dayung oleh seorang gadis.

Gadis Sian-li-pay yang berjuluk Sian-li-eng-cu!

Tentu saja Bwe Lan mengenalnya, sumoaynya ini dan berkata.

"Ahh….. sumoayku mengejar."

Kong Hwat mengangkat mukanya. Dilihatnya tidak berapa jauh meluncur sebuah perahu kecil di dayung oleh seorang gadis jelita. Melihat yang datang adalah seorang gadis cantik, Kong Hwat jadi tertawa.

"Biarlah ia serahkan kepadaku!"

Sehabis berkata begitu Kong Hwat menyerahkan dayung kepada Ho Siang.

"Ho Siang Twako, tolong kau pegang dayung ini, biar aku membereskan bidadari dari Sian-li-pay!" Ho Siang tertawa sambil menerima dayung.

"Hati-hati Hwat-te! Jangan kau jatuh terpeleset menghadapi bidadari yang cantik itu……, ha ha ha!"

"Beres!"

Sebuah papan dilempar oleh Kong Hwat dan sekali berkelebat tubuhnya melesat berdiri di atas papan dan meluncur menghampiri perahu si gadis.

Sian-li-eng-cu terkejut bukan main melihat pemuda itu berjalan di atas air.

Matanya membelalak dan begitu Kong Hwat dekat dan meloncat ke atas perahu, nampak di bawah kakinya sebuah papan mengambang.

Hebat!

Diam-diam gadis ini kagum kepada Kong Hwat.

Akan tetapi mulutnya membentak sambil mengeluarkan cambuknya.

"Kunyuk, berani kau mengacau di pulau?!!"

"Tar tar tar!"

Tiga kali cambuk itu melecut hampir saja kepala Kong Hwat hancur dihantam cambuk yang ganas menyambar kepalanya kalau ia tidak cepat mengelak ke kiri dan meloncat ke ujung perahu.

"Nona yang cantik, sabar! Lebih baik kita damai. Jangan marahmarah begitu,"

Kong Hwat mencelat lagi ketika perkataannya disambut oleh serangkum jarum sianli-tok-ciam yang menancap di tiang perahu. Bergidik Kong Hwat melihat keganasan gadis ini.

"Nona tahan!"

Seru Kong Hwat mencelat lagi menghindarkan lecutan-lecutan cambuk yang bertubi-tubi menggeletar.

Melihat pemuda itu dengan amat mudahnya dapat menahan serangan-serangannya Sian-li-eng-cu bertambah panas hatinya.

Pecutnya semakin menggila laksana ular panjang menyambarnyambar mencari mangsa.

Sudah barang tentu Kong Hwat yang terkenal sebagai murid si kakek gila dari Fu-niu-san dapat menandingi gadis liar ini.

Sebetulnya ingin sekali ia menggunakan jurus-jurus Fu-niu-santung-hoat dan mengeluarkan tongkat kecilnya namun ia merasa sayang melukai gadis jelita yang sekali lihat saja sudah begini amat menggemaskan dan membuat hatinya merasa sayang.

Oleh sebab itu, ia hanya meloncat-loncat saja menghindarkan serangan pukulan-pukulan cambuk yang bertubi-tubi amat ganasnya.

Hanya sekali-sekali Sian-li-eng-cu menyambitkan dengan sianli-tok-ciamnya, entah mengapa untuk kedua malu rasanya ia menggunakan jarum beracun kepada lawan yang cuma mengelak meskipun hatinya menjadi panas dan gemas kepada pemuda yang diam-diam mengagumkan hatinya ini.

Ia mainkan ilmu cambuknya lebih dahsyat lagi dan ingin cepatcepat menundukkan pemuda yang cuma mengelak tanpa membalas ini.

Sombong!

Pikir Sian-li-eng-cu sengit!

"He, kunyuk!

Jangan mengelak-elak begitu kaya monyet berloncatan.

Hayo balas serang!"

Sian-li-eng-cu membalas menyerang dengan ganas sehingga di udara terdengar suara lecutan cambuk mengguntur laksana petir yang siap menghancurkan tubuh pemuda tinggi tegap yang mengelak ke sana ke mari.

Perahu bergoyang menerima tubuh kedua orang muda yang tengah bertarung dengan amat serunya.

Sementara Ho Siang mendekati perahu itu dan menonton dari jarak yang tiada berapa jauh.

Bwe Lan memandang sumoaynya yang bertempur melawan Kong Hwat dengan kuatir.

Akan tetapi setelah Ho Siang berkata bahwa gadis sumoaynya itu takkan menang melawan Kong Hwat, dan nampaknya Kong Hwat pun tidak ingin mencelakakan gadis itu.

Tenanglah hati Bwe Lan.

Akan tetapi tidak setenang hati Sian Hwa saat itu.

Entah perasaan apa yang tengah mengaduk-aduk di hatinya.

Sebentar saja pikirannya menerawang ke arah sam-suhengnya yang bernama Sung Tiang Le yang buntung lengan kanannya.

Teringat itu ibalah hatinya.

"Kasihan kau Tiang Le koko, gara-gara suci engkau kehilangan lenganmu! Ahhh... koko, masih mending kehilangan sebelah lengan dari padaku, wajahku.....!"

Mengingat wajahnya yang rusak dan amat menakutkan dari balik kerudung suteranya itu menitik air mata si gadis.

Tentu saja ini tidak terlihat oleh Bwe Lan atau Ho Siang karena muka gadis itu tertutup kerudung hitam!

Setelah menghadapi gadis galak ini lebih dari limapuluh jurus.

Kong Hwat mendapat akal yang jitu.

Begitu cambuk si gadis menyambar cepat menyabet kakinya, ia tidak mengelak.

Sian-lieng-cu girang sekali cambuknya membelit kaki pemuda itu, dengan tertawa mengejek ia membetot keras.

Tentu saja Kong Hwat tertarik dan terjengkang ke belakang.

Pada saat itulah bagaikan orang gugup Kong Hwat berguling dan keccbur ke laut!

Terdengar pekik lirih dari Sian-li-eng-cu, melihat bayangan Kong Hwat terus tenggelam menimbulkan pusar-pusar air yang membawa tubuhnya ke bawah!

Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu terhuyung.

Perahu kecilnya berguncang keras dan terbalik!

Keruan saja gadis ini menjerit ketika ada sebuah tenaga yang amat kuat membetotnya dan kecebur masuk ke dalam air sungai!

Bwe Lan dan Sian Hwa melihat dua orang muda itu tercebur dan tenggelam ke dalam laut.

Keduanya siap melompat ke dalam air menolong mereka, akan tetapi Ho Siang mencegahnya.

"Mereka tidak apa-apa!"

Katanya. Dan begitu mereka memandang, benar saja tidak berapa jauh nampak Kong Hwat berenang menuju perahunya sambil memanggul tubuh Sian-li-eng-cu yang kelihatan sudah pingsan! "Ho Siang twako…!"

Kong Hwat memanggil menggapaikan tangan.

"Oiyy….. Hwat-te (adik Hwat)!"

Ho Siang berseru mengayuh dayungnya lebih cepat lagi.

Perahu meluncur ke arah Kong Hwat dan Kong Hwat naik ke atas perahu dengan dibantu oleh Ho Siang yang menarik tangan pemuda itu.

Begitu naik ke atas perahu Kong Hwat tertawa kepada teman-temannya.

"Gadis ini lihay dan galak, hampir saja cambuknya merenggut nyawaku.

Entah siapakah dia?"

Kong Hwat mengusap mukanya yang basah! "Dia sumoayku yang kedua namanya Han Soan Li, berjuluk Sianli-eng-cu,"

Menyahut Bwe Lan sambil memapah gadis Sian-li-pay yang bernama Han Soan Li itu yang masih pingsan.

Dibawanya ke bilik perahu untuk berganti pakaian, diikuti pula oleh Sian Hwa.

Melihat gadis-gadis itu sudah masuk ke dalam bilik perahu, Kong Hwat membuka bajunya dan menukar dengan yang kering.

Sementara itu tak habis-habisnya pemuda murid Koay Lojin memuji-muji gadis yang bernama Han Soan Li, gadis Sian-li-pay yang telah mengobrak abrik pertahanan hatinya.

Memang cinta itu aneh, ia dapat tumbuh dalam waktu yang singkat!

Tentu saja Ho Siang yang berpandangan tajam ini memaklumi bahwa diam-diam pemuda kawannya ini sudah jatuh hati kepada gadis lawannya, Han Soan Li Kita tinggalkan orang-orang muda yang lihay di dalam perahunya yang telah mengarungi laut Po-hay dalam usaha melarikan diri dari Pulau Bidadari.

Kita kembali ke pulau itu menjenguk kakek aneh Koay Lojin.

Tentu saja kakek ini dikepung oleh Bu-tek Sianli dan banyak anak muridnya, malah ke tiga orang tamunya sudah turun tangan pula karena tak tahan ia gatal-gatal tangan melihat kakek aneh yang sakti ini.

Maka dikeroyok oleh tokoh-tokoh sakti, diam-diam kakek gila mengeluh di dalam hatinya.

Meskipun mulutnya mengoceh nggak keruan.

"Curang....... main keroyokan.......wah, wah....... orang-orang Sian-li-pay curang.......!!!"

"Jangan banyak bacot, kau orang tua gila mengacau di tempat kami. Biar jiwa kalian menggantikan orang-orang muda yang sudah kabur! Kau harus mampus!"

Bu-tek Sianli menerjang dengan pukulan-pukulan Bu-tek-sin-kun yang amat lihay bukan main.

Sementara permainan jubah Hok Losu membuat Koay Lojin terhuyung-huyung dan kacau gerakan kakinya, apalagi ditambah oleh serangan-serangan pukulan jarak jauh dari Bong Bong Sianjin dan tokoh Khong-thong-pay Leng Ek Cu.

Bukan main.

Kasihan kakek gila ini, meskipun kagum melihat gerakan-gerakannya yang aneh dan lucu yang kadang-kadang seperti orang-orang mabuk, terhuyung-huyung dan seperti orang hendak jatuh akan tetapi anehnya, dengan langkah-langkah ajaib seperti ini semua pukulan-pukulan dari tokoh-tokoh sakti dapat dihindarkannya dengan baik.

Meskipun berkali-kali jubah Hok Losu sudah berhasil menyentuh pundaknya, namun kakek sakti ini benar-benar kebal!

Biar gila, kakek ini tahu akan bahaya.

Melihat bahwa lawanlawannya ini demikian tangguh dan tak mungkin ia dapat dikalahkan, Koay Lojin mencari jalan keluar dan terdengar pekiknya yang dahsyat meruntuhkan dinding tembok dan banyak di antara gadis-gadis Sian-li-pay mencelat mundur mengerahkan sin-kang di dada untuk melawan serangan jeritan kakek Koay Lojin yang lihay.

Hanya Bu-tek Sianli, Hok Losu dan Bong Bong Sianjin yang tidak terpengaruh oleh kakek gila ini, meskipun demikian seranganserangan mereka menjadi mengendur karena sebagian tenaga dikerahkan untuk menolak suara yang menggetarkan jantung.

Melihat kesempatan ini, sambil menggereng keras Koay Lojin mencelat ke atas dan terdengar suara genteng dan eternit di atas bobol terhantam tubuh Koay Lojin yang sudah melompat keluar.

"Kejar dia!!"

Bu-tek Sianli mengejar ke luar diikuti oleh muridmuridnya dan tiga orang tamu, Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu.

Akan tetapi secepat itu mereka mencelat keluar dari lobang yang tadi dibobolkan oleh Koay Lojin, mereka terheran karena tidak melihat lagi kakek gila, bayangannyapun tidak kelihatan!

"Dia hebat…..

biarkan dia pergi!"

Berkata Hok Losu yang tidak ingin meneruskan permusuhan ini dengan kakek gila itu.

"Tak mungkin ia bisa menghilang begitu tiba-tiba, hemm,"

Sambil mendengus Bu-tek Sianli memerintahkan dara-dara jelita Sian-lipay untuk mengejar ke pantai.

Dan apa yang mereka lihat di pantai itu, memang benar, Koay Lojin berlarian terus berlari memasuki di atas air yang mengeriak jernih.

Tidak ada perahu lagi di pantai.

Tentu saja gadis itu dibuat heran karenanya.

"Gila, mana ada manusia dapat berjalan di atas air?" Sesungguhnya tidak demikian. Memang Koay Lojin itu aneh dan sakti. Akan tetapi tak mungkin ia mampu berjalan, malah berlarilari di atas air kalau tidak dibantu oleh sebilah papan kecil tempat berpijak kakinya. Dan dengan gin-kang yang tinggi itulah kakek ini berhasil berlari di atas air dengan bantuan sebilah papan di bawah kakinya. Dan sebentar saja ia sudah dapat mengejar orang-orang muda yang melarikan diri dengan berperahu. Sambil tertawa-tawa girang kakek Koay Lojin itu naik ke atas perahu yang didayung oleh Kong Hwat dan Ho Siang. Sementara Sian-li-eng-cu Han Soan Li tengah bersungut-sungut dihadapan sucinya Bwe Lan. Sedangkan Sian Hwa tenggelam dalam lamunannya. Pikirannya menerawang ke arah Sung Tiang Le dan Bwe Lan. Hemm, bermacam-macam perasaan yang mengaduk-aduk hati gadis itu sekarang. Ada sedikit perasaan cemburu kepada gadis di depannya ini yang bernama Bwe Lan yang secara terang-terangan berani mati telah mencintai Tiang Le dan ahh........ banyak lagi perasaan-perasaan hati itu. Sian Hwa kasihan kau! ◄Y► Air laut mengeriak tenang. Sementara matahari sudah mulai tenggelam merupakan bola bulat merah di ujung laut. Nyuk In dan Tiang Le mengayuhkan dayung lebih cepat lagi menuju ke darat karena takut kemalaman di tengah laut. Meskipun Tiang Le buntung lengan kanannya akan tetapi ia dapat membantu gadis ini mendayung dengan tangan kirinya. Selama perjalanan di tengah laut itu Tiang Le jarang sekali berkatakata. Baru setelah udara mulai agak gelap mereka sudah sampai ke pantai, dengan cepat sekali Tiang Le mengikuti Nyuk In meloncat dari perahu dan berlarian di sebuah dusun mencari rumah penginapan. Karena hari sudah gelap, Tiang Le dan Nyuk In tidak tahu lagi dusun apa gerangan tempat ini. Akan tetapi dusun ini cukup besar dan mudah bagi mereka mencari rumah penginapan. Sebelumnya mereka memesan makanan kepada seorang pelayan rumah penginapan ini. Begitu hidangan tersedia di meja, Nyuk In berkata kepada Tiang Le.

"Setelah makan kita harus bermalam di sini, o ya, aku lupa menanyakan namamu!"

"Namaku Tiang Le…... Sung Tiang Le,"

Sahut Tiang Le menyambung sambil melirik ke arah gadis ini.

Usia gadis ini tidak lebih dari duapuluh tahun.

Cukup cantik akan tetapi angkuh, pikirnya.

Memang sejak perjalanan di laut itu sebetulnya jarang Nyuk In berbicara.

Entah mengapa berjalan dengan pemuda buntung ini, ia merasa canggung dan kikuk.

Lain waktu berjalan dengan Ho Siang, rasanya dengan Ho Siang ia lebih cocok.

Sudah barang tentu!

Sebab dengan Ho Siang ia sudah jatuh hati dan karenanya berjalan dengan orang yang dicintai sangat membawa kesan dan menyenangkan!

Kini menghadapi pemuda buntung yang bernama Tiang Le itu ia merasa amat kikuk sekali, meskipun demikian ia memperkenalkan juga dirinya.

"Namaku Nyuk In she Cung……, hemm aku sudah lapar sekali……. mari kita makan!"

Tiang Le mengangguk dan dengan sinar matanya itu ia menyatakan rasa terima kasih.

Heran, kenapa menghadapi gadis ini ia merasa amat rendah diri?

Ah, betapa malunya ia apabila pandangan gadis itu membentur lengannya yang buntung!

Ia merasa dirinya amat rendah dan tiada berharga!

"Bwe Lan, gara-gara engkaulah aku jadi begini,"

Mengeluh Tiang Le dalam hati.

Sedikit sekali Tiang Le makan karena perasaannya tidak enak.

Nyuk In heran melihat Tiang Le makan sangat sedikit, akan tetapi ia tak bertanya.

Ia diam saja sambil menyikat makanan yang di atas meja.

"Saudara Tiang Le, aku sudah pesan kamar untuk kita. Kau di kamar nomor tujuh dan aku di kamar nomor delapan saling menyebelah. Mari kita ke sana!"

Berkata Nyuk In bangkit dari duduknya diikuti oleh Tiang Le yang tidak berkata apa-apa. Begitu mereka hendak memasuki kamarnya masing-masing sebelumnya Nyuk In berkata kepada Tiang Le.

"Selamat beristirahat saudara Tiang Le, sampai berjumpa lagi besok pagi."

Tiang Le menjura menyatakan terima kasih, lalu ia memasuki kamarnya dengan diikuti oleh seorang pelayan.

"Ini kamarnya kongcu (tuan), kalau ada apa-apa, kongcu dapat memesannya kepada pelayan?!"

Tiang Le mengangguk.

"Baiklah lopek nanti kalau aku ada perlu seauatu akan kupanggil kau!"

Si pelayan membungkuk dan keluar dari kamar.

Tiang Le sendirian di kamar itu.

Nyuk In juga sendirian di kamar sebelah.

Setelah meletakkan perbekalannya di atas meja, ia merebahkan dirinya di atas pembaringan tanpa membuka sepatu.

Matanya menatap langitlangit kelambu!

Pikirannya menerawang jauh.

Teringat kepada Ho Siang, ia jadi melamun sendiri.

Ah, Nyuk In kau betul-betul telah jatuh cinta kepada murid Nakayarvia itu.

Kau lemah…..

Memang aku lemah, bisik Nyuk In, aku mengagumi Ho Siang.

Ia tampan, gagah dan bersikap sederhana, simpatik.

Hemm, Ho Siang….

Ho Siang-koko, Nyuk In berbisik sendirian.

Ia menoleh mengawasi lilin yang menyala menerangi samar-samar kamar ini.

Angin bertiup perlahan dan ujung api itu bergoyang lincah bermain-main.

Nyuk In memperhatikan kamar yang berbentuk empat persegi ini sambil merebahkan diri.

Akan tetapi tiba-tiba telinganya yang tajam membuat ia meniup api lilin dan mencelat ke luar.

Di atas genteng itu betapa terkejutnya ia ketika melihat ada lima orang tua telah mengurungya.

Di antara ke lima orang tua itu nampak seorang setengah tua yang memakai sorban kuning dan berkepala botak seperti hwesio.

Tubuhnya gendut dan pendek, sepasang lengannya berbulu nampak mengerikan sekali.

Inilah dia tokoh dari dunia barat yang disebut Thay-lek-hui-mo (Iblis Terbang Bertenaga Seribu Kati) murid Nakayarvia yang pertama.

Dan ke empat orang yang lainnya adalah tokoh-tokoh biasa suku bangsa Han, yang bongkok itu adalah tokoh Bu-thong-pay yang bernama Bhong Cu Siang, terkenal dengan permainan senjatanya yang berbentuk arit.

Sedangkan tiga orang lainnya adalah anak buah dari Hek-lian-pay (Perkumpulan Bunga Teratai Hitam).

"Nona, harap kau menyerahkan diri dan jangan mencari mampus,"

Bentak Thay-lek-hui-mo dengan suara yang berat.

Dan cahaya bulan yang tinggal sepotong itu, Nyuk In dapat melihat tokoh bersorban ini.

Ia tidak mengenal Thay-lek-hui-mo.

Memang harus diakui, karena gadis ini belum lama turun gunung dan belum banyak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw.

"Kalian ini siapakah malam-malam begini menghadang aku?"

Tanya Nyuk In. Seorang dari ketiga anak buah Hek-lian-pay menyahut.

"Gadis liar kau telah mengacau pulau bidadari, mana bisa kau hendak meninggalkan pulau itu seenaknya saja. Hayo turut kami kembali ke pulau.......!"

Nyuk In memandang tajam.

"Hemm, kiranya orang-orang ini adalah kaki tangan Sian-li-pay, pantas,"

Berpikir demikian Nyuk In menarik kipas dan pit. Sambil tersenyum ia berkata.

"Ahh, kalian ini adalah antek-antek Sian-li-pay, ya?" "Kami dari Hek-lian-pay! Hayo menyerah......."

Jawab kakek bongkok sambil mengacungkan aritnya.

"Pantes, tidak tahunya kalian ini orang-orang Hek-lian-pay sama jahatnya dengan Sian-li-pay. Kalian hendak menangkapku, boleh kalau kalian dapat mengalahkanku!"

Tantang Nyuk In.

"Straatt…,"

Kipasnya telah terbuka.

"Kalian mencari mati. Bocah sombong!"

Sambil membentak demikian kakek bongkok Bong Cu Siang mengabitkan aritnya.

Nyuk In tersenyum mengejek dan menarik kaki kirinya menghindarkan sambaran arit yang amat kuat sehingga menimbulkan angin berciutan.

Akan tetapi baru saja ia menghindari serangan dari kakek bongkok ini tahu-tahu serangkum hawa dingin menyambar belakangnya.

Nyuk In terkejut sekali!

Cepat mengibaskan kipasnya ke belakang, tangan kanannya yang memegang pit menangkis pukulan arit kakek bongkok yang sudah menerjangnya lagi.

Karena ia tidak menduga serangan pukulan dari belakang itu demikian hebatnya begitu ia mengebutkan kipasnya terdengar suara keras.

"Brett…... kerak… kerakkk!! Desss!"

Hebat sekali pukulan jarak jauh hwesio bersorban kuning ini.

Bukan saja kipas Nyuk In robek dan hancur berantakan, juga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Nyuk In terlempar jauh.

Cepat ia bergulinggan berpok-sai turun dari atas genteng.

Begitu ia menginjak tanah, terasa dadanya menjadi nyeri dan sakit.

Terkejutlah ia!

"Ha ha ha, bocah begini saja sudah berani mengacau Sian-li-pay?"

Sambil tertawa Thay-lek-hui-mo menggelundung ke bawah seperti karet bal jatuh, disusul dengan berkelebat bayangan lain.

Nyuk In sudah berdiri lagi.

Tidak berapa jauh darinya terdengar suara hiruk pikuk senjata beradu.

Tahulah ia bahwa Tiang Le juga sedang dikeroyok oleh orang-orang Hek-lian-pay.

Tiga kali pitnya bergerak, tahu-tahu Nyuk In sudah merangsek kakek bongkok yang bersenjata arit dan menggerak-gerakkan tangan kanannya memukul sambil mengerahkan hawa sakti.

Sebagai murid Bu-beng Sianjin tentu saja Nyuk In pantang menyerah menghadapi lawan-lawan meskipun tangguh seperti setan.

Semakin lihay lawannya, semakin sengit Nyuk In menggerak-gerakan pitnya dan pukulan-pukulan tangan kanannya.

Bentakan-bentakan yang keluar dari mulut gadis ini membuat lawan-lawannya yang tiga orang ini menjadi keder dan jeri.

Terasa jantung mereka menggetar mendengar bentakan dari gadis itu.

Permainan pedangnya mengendur.

Akan tetapi tentu bagi Thay-lek-hui-mo dan si kakek bongkok Bong Cu Siang tidak terpengaruh oleh bentakan-bentakan gadis itu.

"Bocah setan, tidak lekas menyerah mau tunggu kubikin mampus?"

Thay-lek-hui-mo membentak menggerakkan kedua tangannya memukul ke depan.

Ia maklum bahwa, lawannya ini tentulah seorang yang pandai, pantas saja gadis ini dapat meloloskan diri dari Sian-li-pay.

Kemantapan dari gerakan pitnya itu saja sudah membayangkan tenaga lwekang yang hebat.

Ia tidak berani memandang ringan lagi, maka diloloskan cambuk pemberian suhunya Nakayarvia.

Cambuk itu hitam warnanya, panjang dan berat, tapi di tangan hwesio gendut itu terasa ringan dan enak.

Tentu saja selama beberapa tahun ia bermain-main cambuk ini!

Melihat bahwa hwesio gendut sudah mengeluarkan cambuk yang menggeletar-geletar memekakkan anak telinga.

Cepat Nyuk In mengeluarkan pedang dari balik jubahnya.

Inilah pedang tipis pekliong-pokiam yang jarang ia keluarkan menghadapi lawan.

Akan tetapi sekarang menghadapi kakek bersorban ini, mau tidak mau ia harus keluarkan pedangnya, karena kipas yang biasanya ia andalkan sudah hancur disambar pukulan lawannya tadi.

"Hemm, kalian memaksaku. Baik aku, murid Bu-beng Sianjin, tak akan mundur setapakpun!"

Pedang Pek-liong-pokiam berkelebat menyilaukan mata.

Terkejut sekali lawan-lawannya ini.

Hebat, pantes demikian lihai, tahunya gadis ini adalah murid Bu-beng Sianjin, pertapa sakti dari puncak Thang-la!

Akan tetapi tentu saja bagi Thay-lek-hui-mo dan Bong Cu Siang mereka tidak menjadi gentar, malah semakin hebat mendesak lawan.

"Nona, kami tidak ingin mencelakakanmu. Harap kau menyerah saja dan supaya kami bawa kau ke pulau bidadari, Ketahuilah kami dengan suhumu Bu-beng Sianjin, tidak ada permusuhan apa-apa, menyerahlah! Kami jamin kau tidak akan dipersakiti oleh Sianli," kata Bong Cu Siang membujuk. Segan memang ia untuk berurusan dengan kakek pertapa Thang-la, oleh sebab itu kalau bisa dibujuk gadis ini, itu lebih baik! Akan tetapi Nyuk In bertambah marah.

"Tak usah banyak cerewet, lihat pedang!"

Gadis ini menggerakkan pedangnya dan berkelebat sinar perak menyilaukan mata.

Bong Cu Siang kaget dan bingung seketika karena gerakan pedang itu hebat dan menyilaukan.

Thay-lek-hui-mo yang sudah menjadi marah membentak keras dan kedua tangannya bergerak mendorong.

Inilah pukulan Gin-san-ciang yang belum lama ini ia pernah terima dari gurunya Nakayarvia, amat hebat dan mengeluarkan hawa panas dan berapi.

Merasa hawa pukulan ini sangat panas dan membara, tak berani Nyuk In menangkis dengan pukulan pula.

Waktu sabit di tangan Bong Cu Siang menyabet dan tiga orang anggota Hek-lian-pay menggerakkan pedangnya, dengan cepat luar biasa Nyuk In mencelat ke atas menggunakan gin-kangnya.

Sambaran angin pukulan Thay-lek-hui-mo lewat di bawah kakinya dan terdengar jeritan mengerikan dari ketiga orang anggota Heklian-pay yang tidak keburu mengelak dari serangan Gin-san-ciang kakek bersorban yang lihay itu.

Untuk seketika jeritannya itu berganti dengan tubuh mereka yang berkelojotan mati dengan muka hangus dan mendelik.

Inilah hebat.

Nyuk In sampai bergidik sekali.

"Anak setan!

Kau mampuslah!"

Thay-lek-hui-mo berseru marah, jubahnya berputaran menimbulkan angin puyuh.

Untung saja pada saat itu bulan bersinar terang sehingga Nyuk In dapat menangkap gerakan-gerakan pukulan lawan.

Berkali-kali pukulan Gin-san-ciang kakek bersorban itu menyentuh, tubuhnya terasa panas dan nyeri menyesakkan dada.

Oleh karena itu ia mainkan pedangnya dengan jurus-jurus Pek-liong-kiam-sut lebih hebat lagi.

Pada saat itu berkelebat banyak bayangan berlarian.

Tahu-tahu Bu-tek Sianli telah berada di hadapan Nyuk In.

Terkejut sekali gadis ini melihat nenek Pay-cu Sian-li-pay yang telah berada di tempat ini.

Bagaimana boleh jadi.

Tentu saja ia tidak tahu.

Setelah nenek ini kehilangan Koay-lojin dengan marah, cepatcepat ia mengejar, sebelumnya ia melepaskan burung posnya mengabarkan berita kepada kaki tangannya di luar pulau bidadari.

Oleh sebab itulah mengapa orang-orang Hek-lian-pay sudah dapat menangkap berita itu sebelum ke dua orang muda itu masuk ke dalam penginapan.

Melihat gadis muda berjalan dengan pemuda buntung, tentu saja orang-orang memandang ringan kepada Tiang Le, melainkan mengarahkan perhatiannya kepada gadis bernama Nyuk In yang dikabarkan sangat lihay tak heran kalau Thay-lek-hui-mo, Bhong Cu Siang dan tiga orang Hek-lian-pay mengeroyok gadis cantik ini.

Sebaliknya dengan mengandalkan banyak orang Hek-lian-pay, orang-orang ini menyerbu Tiang Le.

Untung bagi Tiang Le ia cuma dikeroyok oleh orang-orang kasar seperti ini, sehingga dengan mudahnya ia dapat menghindari serangan-serangan dan balas memukul dengan tangan kirinya.

Akan tetapi tak lama kemudian, siapa sangka muncul tiga orang bidadari dari Sian-li-pay yang sudah sampai ke tempat ini bersama Bu-tek Sianli.

Terkejut bukan main Tiang Le.

Apa lagi permainan pedang daradara Sian-li-pay ini demikian ganas dan lihay.

Maka dengan mengandalkan keringanan tubuhnya ia mencelat ke sana ke mari menghindari sambaran pedang dari dara-dara Sian-li-pay yang lihay ini.

Diam-diam Tiang Le mengeluh tadinya ia ingin menolong gadis yang bernama Nyuk In itu, yang tengah dikeroyok oleh kakek bersorban kuning, sekarang jangankan untuk membantu.

ia sendiri merasa kewalahan menghadapi lawan-lawannya yang lihay ini.

Semakin banyak orang Hek-lian-pay yang mengeroyoknya semakin payah Tiang Le.

Lama kelamaan ia menjadi lelah juga mengelak ke sana ke mari.

Jalan satu-satunya adalah membuka jalan darah.

Melihat bahwa yang mengeroyoknya adalah orang-orang Hek-lianpay yang tidak begitu lihai, ia mendesak orang-orang yang mengurungnya itu, menggerakkan tangan kakinya, menendang dan memukul.

Tiga orang Hek-lian-pay menjerit roboh menghantam pukulan tangan kiri Tiang Le, dengan cepat Tiang Le mencelat menjauhi berlari.

"Anjing buntung mau lari kemana kau?"

Salah seorang dari ke tiga gadis Sian-li-pay itu membentak sambil mengejar cepat.

Sebuah sabuk sutera meluncur dengan amat luar biasa cepatnya dan tahutahu menjirat kaki Tiang Le dan keruan saja Tiang Le jadi terguling dibuatnya.

"Tar tar tar!"

Lecutan sabuk sutera itu terdengar nyaring bertubitubi di atas kepalanya, disusul berkelebat bayangan tiga orang gadis mengejarnya.

Terkejut sekali Tiang Le.

Ia tidak boleh tertangkap oleh gadis ini, celaka kalau ia dibawa kembali ke pulau bidadari!

Oleh sebab itu, begitu sabuk itu terlepas dari kakinya, ia membiarkan sabuk sutera melecut memukul pundaknya mengerahkan tenaga sakti di pundak.

Tiang Le mengeluh, akan tetapi ia mencelat lagi, sebuah bayangan gesit mengirim tendangan, Tiang Le terjungkal dan terasa sejuta bintang berputar-putar di atas kepalanya.

Terdengar suara bidadari membentak.

"Anjing buntung! kau tidak dapat melarikan diri...... hik hik!"

Tiang Le menjadi kalap sekali.

Ia menerjang, gadis itu mengirim pukulan yang ngawur karena kepalanya menjadi puyeng, sebisabisanya ia memukul.

Terdengar suara tertawa nyaring disusul berkelebatnya sinar pedang siap menusuk leher Tiang Le.

"Trang!"

Sinar pedang itu menghantam cambuk. Si gadis yang memegang pedang menoleh.

"Kenapa?!!"

Tanyanya heran. "Jangan bunuh dia, tangkap hidup-hidup, bawa kembali ke pulau!"

Terdengar suara gadis yang memegang sabuk sutera. Tiang Le melompat bangun. Terhuyung-huyung.

"Ha ha ha, anjing buntung sudah mabok. Sebentar lagi ia akan jatuh dan kita tinggal menggaet kakinya, ha ha ha!!"

Tiang Le menjadi panas. Tangan kirinya terbuka menggeletar dan menerjang maju.

"Ihhh,"

Gadis yang memegang cambuk menjerit lirih, menggeser kakinya ke samping tubuh Tiang Le meluncur dan bergulingan jatuh.

"Tar tar tar!"

Tiga kali sabuk sutera melecut, tubuh Tiang Le menggeliat-geliat menahan sakit pada punggung yang terhantam cambuk.

Bulan di atas tiba-tiba menjadi suram, bersembunyi di balik awan hitam.

Suasana menjadi remang-remang.

Si gadis melecutkan sabuknya sambil tertawa-tawa mengejek.

Tak tertahan lagi rasa nyeri yang menggerogoti punggung dan mukanya yang tersambar lecutan cambuk.

Suara-suara bidadari terdengarnya seperti suara-suara hantu neraka yang menyiksanya setengah mati.

Tiba-tiba dirasakannya dunia ini berputar, tubuhnya melayang jatuh semangatnya turun melayang, terayun-ayun.

Dan tak sadarkan diri lagi.

"Minggir!"

Si gadis memegang cambuk sutera mencelat ke belakang ketika tanah yang dipijaknya jadi longsor.

Suara gemuruh mengiringi tubuh Tiang Le yang tergulung pula oleh tanah longsor.

Tempat itu sangat gelap sekali.

Gadis-gadis cantik ini seketika kehilangan pemuda buntung.

Orang-orang Hek-lian-pay turut membantunya mencari, akan tetapi karena tempat itu kini menjadi gelap dan takut kalau-kalau tanah yang dipijaknya menjadi longsor lagi, maka orang-orang Hek-lian-pay melapor.

"Tidak ada, pemuda itu tentu sudah mampus masuk jurang!"

"Baik,"

Sahut gadis Sian-li-pay yang memegang pedang.

"kita laporkan kepada Pay-cu!"

Ke tiga gadis Sian-li-pay dan orang-orang Hek-lian-pay berlari-lari menemui Pay-cu yang telah menanti dengan wajah bersungut.

"Goblok, kalian……, menghadapi pemuda buntung saja tidak becus!"

Bu-tek Sianli marah-marah. Tentu saja ia menjadi rungsing bukan main, baru saja ia dan teman-temannya tidak berhasil menangkap gadis lihay itu, kini pemuda buntung itu juga lolos.

"Benar-benar terlalu!"

Nenek ini mengepalkan tinjunya.

"Kembali ke pulau!"

Perintahnya singkat.

Dan malam itu juga Butek Sianli kembali ke pulaunya.

Karena tiga orang tamu dari kotaraja, yaitu Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu masih menanti di sana!

Mengapa nenek sakti ini tidak berhasil menangkap Nyuk In, padahal ia dibantu oleh Thay-lek-hui-mo dan Bhong Cu Siang yang lihay?

Seperti kita ketahui memang menghadapi Thay-lek-hui-mo ini, Nyuk In sudah kewalahan setengah mati apa lagi ditambah oleh Bhong Cu Siang dan munculnya Bu-tek Sianli, benar-benar Nyuk In terancam nyawanya!

Pukulan sakti Bu-tek Sianli yang langsung menerjangnya membuat beberapa kali gadis ini terlempar jauh muntahkan darah segar.

Parah sekali keadaannya Nyuk In bahaya sekali ia tidak cepatcepat mengerahkan tenaga murni ke dada, ia menekan dadanya yang terasa sesak dan nyeri.

Pandangannya menjadi nanar, ia terhuyung-huyung.

Thay-lek-hui-mo tertawa mengakak melihat lawannya sudah hampir roboh.

Arit di tangan Bhong Cu Siang menyambar leher si gadis dibarengi dengan pukulau tangan kanan Bu-tek Sianli yang menggeletar dahsyat.

Nyuk In tak kuasa lagi mengelak begitu pitnya menangkis arit Bhong Cu Siang terasa tangannya bergetar hebat, dalam keadaan yang hampir setengah sadar ia menggerakkan kakinya menghindarkan diri dari dari sambaran jubah kakek bersorban, akan tetapi sebuah pukulan tangan Bu-tek Sianli tak dapat ia hindari lagi.

Cepat ia mengerahkan sin-kang di dada menerima pukulan dahsyat ini.

Desss!"

Tubuh Nyuk In terlempar jauh, pingsan sambil muntah darah segar.

Bhong Cu Siang memburu dengan arit di tangan dan mengelebatkan aritnya.

Pada saat yang mengancam keselamatan gadis itu, sebuah benda menyambar dan arit Bhong Cu Siang menyeleweng ke samping.

Sesosok tubuh berkelebat dengan amat gesitnya menyambar tubuh Nyuk In.

"Kejar……!"

Bu-tek Sianli memerintah.

Ke tiga orang itu memburu bayangan hitam berlari dengan amat cepatnya ke selatan.

Berkali-kali tangan kiri Bu-tek Sianli mengayun melempar Sianli-tok-ciam dan nampak sinar halus menyambar bayangan di depan, akan tetapi betapa terkejut hati mereka melihat jarum-jarum runtuh sebelum menyentuh bayangan hitam yang terus lenyap di balik sebuah pohon yang besar.

Dalam beberapa detik ke tiga orang yang mengejar sudah sampai di bawah pohon besar yang agak gelap.

Tiba-tiba Bu-tek Sianli melempar jarumnya ke atas.

Akan tetapi tidak terdengar suara apapun, Thay-lek-hui-mo menjadi marah, dengan geram kedua tangannya terangkat dan mendorong ke depan.

Terdengar suara keras batang pohon yang sebesar pelukan itu roboh dan semua daun-daunnya rontok hangus tersambar pukulan Gin-san-ciang luar biasa itu!

"Tidak ada disini!"

Bisik Thay-lek-hui-mo.

Tentu saja kalau memang orang yang menolong gadis itu bersembunyi di pohon ini, tentu akan hangus pula tersambar pukulannya yang dahsyat!

Demikianlah hati penasaran dan uring-uringan ke tiganya kembali ke markas Hek-lian-pay.

Bu-tek Sianli kembali ke pulau dan Thaylek-hui-mo dan Bong Cu Siang terus menyelidiki sekitar dusun mencari ke dua orang muda, akan tetapi yang dicari lenyap bagaikan ditelan bumi!

◄Y► Tiang Le merasa tubuhnya dihentakkan oleh tenaga yang luar biasa ke alam lain.

Ia melihat tempat yang begitu gelap pekat, panas dan menyesakkan rongga pernapasannya.

Ia merasa bermimpi yang amat menakutkan.

Mimpi yang dirasakannya dunia ini menjadi kiamat, bulan di atasnya jatuh menimpa bumi.

Tiang Le menjerit ngeri ketika melihat banyak manusia-manusia menangis dan meratap digiring oleh sebuah makhluk yang berkepala sembilan dan bertangan duabelas.

Manusia apakah itu atau malaikatkah yang meogiringi orang-orang yang sudah mati.

Di tempat apa ini?

Di neraka?

Tiang Le menjerit sekuat-kuatnya ia dapat mengeluarkan jeritannya.

Akan tetapi aneh, tiada terdengar suara jeritannya itu.

Matikah aku ini?

Sekali lagi ia menjerit sekuatkuatnya.

Tiada suara.

Tiba-tiba sinar terang menyilaukan matanya.

Berputar-putar membentuk sesosok tubuh manusia.

Ia melihat seorang laki-laki nelayan yang amat sederhana, namun berwajah tampan, didampingi oleh wanita cantik yang wajahnya diliputi kedukaan.

Mereka tersenyum-senyum kepadanya dan melambaikan tangan.

Tiang Le menangis hendak mengikuti kedua orang tua yang semakin lama semakin hilang dari pandangan matanya.

Ia memangil.

"Ayah....... ibu!"

Akan tetapi orang yang dipanggil sudah hilang disapu awan yang menjemputnya.

Ingin ia terbang.

Akan tetapi dirasakannya tubuh demikian kaku dan nyeri.

Kembali sejuta bintang berputar di kepalanya, membuat tubuhnya terayun-ayun nikmat sekali, ia memejamkan mata.

Kembali gelap itu bukan main menghantui hidupnya.

Ia merasa seperti di neraka.

Api neraka membakarnya, ia berteriak ngeri waktu dirasakannya tubuhnya terbanting jatuh masuk ke dalam kawah api yang menyala-nyala luar biasa panasnya.

Ia menyebutkan nama Tuhan dan Tuhan datang meniup api-api yang menakutkan itu.

Serasa Tuhan berkata lembut kepadanya.

"Diamlah....... tenanglah....... kau terserang penyakit demam yang hebat……"

Suara itu.

Bukan.

Bukan suara Tuhan.

Suara itu seperti suara bidadari demikian lembut dan menyejukkan hatinya.

Ia melihat sebuah wajah yang cantik jelita.

Wajah seorang gadis.

Ia bingung dan tidak mengenal wajah gadis ini.

Wajah aneh, sebentar seperti wajah Sian Hwa, kemudian berubah seperti wajah Bwe Lan yang tadinya amat galak kepadanya, sebentar lagi........

hanya samar-samar, seperti.......

seperti Pei Pei.......

seperti Cia Pei Pei!

Oh, Pei Pei!

Bibirnya bergerak menyebut nama gadis itu.

Heran, jauh sekali ia mendengar Pei Pei berkata.

"Tiang Le koko......., tenangkanlah hatimu."

Mendadak semua bayangan itu menjadi lenyap.

Tiang Le menyesal bukan main, di dalam gelap ia mencari-cari!

Akan tetapi gadis-gadis yang membayang tadi tidak nampak lagi.

Hilang ditelan kabut yang amat hitam pekat!

Akan tetapi, telinganya mendengar suara seorang gadis berkata lembut, suara itu seperti yang didengarnya tadi di dalam gelap.

"Tiang Le koko……, tenangkanlah hatimu!"

Bagaikan tersentak dari mimpi yang amat buruk Tiang Le membuka matanya.

Pertama-tama yang dilihatnya adalah sebuah wajah yang sangat jelita.

Untuk sejenak ia memandang wajah ini.

Serasa ia pernah mengenalnya.

"Syukurlah kau sudah siuman, koko! Tadinya aku kuatir bukan main,"

Wajah itu menampakkan sebuah senyuman.

"Kau.......?"

Tiang Le berusaha hendak bangun, akan tetapi pundak kirinya terasa sakit sekali dan ketika tangan kirinya meraba, kiranya di pundak kiri sebelah belakang sudah terbalut oleh kain putih bersih.

Teringatlah ia kini bahwa sabuk di tangan gadis Sian-li-pay yang lihay itu membuat luka-luka pada kulit pundaknya.

Akan tetapi mengapa ia berada di tempat ini dan gadis itu?

pikirnya heran.

"Koko….... aku Cia Pei Pei, belum lama kita berpisah, agaknya kau sudah lupa padaku, Koko....... aku Pei Pei!"

Tiang Le berusaha bangun. Akan tetapi sebuah tangan meraih pundaknya.

"Eeee....... tidak boleh bangun dulu, kau harus rebah……, wah badanmu panas seperti api, koko rebahlah dulu!"

Tiang Le menarik napas panjang, membiarkan tangan si gadis merebahkan tubuhnya.

"Pei Pei…... ahh, lagi-lagi kau yang menolongku betapa besarnya budimu terhadapku, entah dengan cara bagaimana kubalas kebaikanmu."

"Diamlah koko…... diam, jangan kau bicara soal itu…… jangan bicara tentang budi….."

Suara Pei Pei hampir menangis, menangis menahan haru di dadanya yang menyesak.

Memang semenjak ia berpisah dengan Tiang Le beberapa bulan yang lalu, entah mengapa hidup ini dirasakannya menjadi sunyi dan hampa.

Siang malam ia berharap akan kembalinya Tiang Le, siapa sangka ia dapat bertemu dan kembali dalam keadaan yang seperti dulu.

Ia dapatkan Tiang Le sudah pingsan di antara gundukan tanah longsor di samping rumahnya.

Memang karena malam kemarin udara demikian gelap pekat, tentu saja gadis-gadis dari Sian-li-pay tidak mengetahui bahwa tanah yang longsor itu jatuh di dekat samping sebuah rumah.

Dan Pei Pei yang terkejut mendengar suara berisik disamping rumahnya segera keluar dan apa yang dilihat?

Ya Allah, kiranya sesosok tubuh yang sedang pingsan itu adalah tubuh Tiang Le pemuda lengan buntung yang selama ini dirindukannya sepanjang siang dan malam.

Demikianlah sepanjang malam dan siang hari itu Tiang Le pingsan dan selama itu Pei Pei merawatnya dengan hati berkuatir.

Berkalikali ia mengompres kening Tiang Le dengan air dingin, karena wajah pemuda itu panas membara.

Sebetulnya Pei Pei sudah memanggil Kwa-shinse, akan tetapi sayang sekali orang tua tukang obat itu tidak berada di tempat, maka Pei Pei inilah sendirian merawat Tiang Le sebisanya.

Dan hatinya lega ketika siang hari itu Tiang Le siuman.

Dan panasnya telah menurun banyak.

Dengan menahan rasa sakit, Tiang Le bangun lagi, tak perduli akan cegahan gadis itu.

"Eh, jangan bangun…... kau mau apa?"

Pei Pei bertanya memegang lengannya.

"Aku…... aku harus pergi dari sini!"

"Eh, jangan!? Kau masih lemah, lihat badanmu masih panas begini. Demammu belum sembuh betul. Kau hendak pergi dari sini, pergi kemanakah?"

"Aku harus menolong, gadis temanku, ia dikeroyok oleh......... eh, sesungguhnya apa yang terjadi denganku. Bukankah aku juga dikeroyok oleh gadis-gadis Sian-li-pay mengapa aku di sini?"

"Tiang Le koko, kau tenanglah. Duduklah…... biar aku ceritakan kepadamu,"

Sambil memegang tangan kiri pemuda itu menyuruh duduk, berceritalah Pei Pei.

"Semalam....... aku dikejutkan oleh bunyi berisik di samping rumahku. Kukira ada pohon yang rubuh. Eh, nggak tahunya cuma tanah longsor doang, tebing di sebelah sana itu longsor dan aku menjadi terkejut melihat engkau sudah pingsan dalam timbunan tanah longsor, untung cepat-cepat aku menolongmu." Tiang Le mengangguk-angguk. Tahulah ia bahwa tanah longsor itu yang menolongnya. Kalau ia tak ikut terjatuh tanah longsor, tentu ia akan tertangkap di tangan gadis-gadis Sian-li-pay yang lihay itu. Melirik ke arah tangan kanannya Tiang Le menarik napas panjang. Ia menyesal tangan kanannya buntung, sehingga tidak dapat bermain pedang. Heran apabila teringat kepada lengan buntungnya ini, teringat pula ia kepada Bwe Hwa. Tiang Le menarik napas berat.

"Setelah lenganku buntung ternyata aku menjadi cacat tanpa daksa....... hemm."

Pei Pei terharu sekali melihat wajah yang murung itu. Lama ia memandangi wajah itu.

"Tiang Le......."

Bisiknya. Tiang Le mengangkat mukanya. Terkejut ia melihat mata gadis itu telah menjadi basah.

"Pei-moay, mengapa kau menangis?"

"Koko….. aku kasihan melihatmu....... nasibmu malang....... bukan saja kau kehilangan lengan....... dan menjadi begini....... tapi selalu dikejar bahaya koko......."

"Pei-moay memang nasibku begini....... aku menjadi pemuda cacat tanpa daksa..., percuma suhu melatihku...., sedangkan aku jadi begini, aku tak bisa bermain pedang lagi, ahhh......."

Tiang Le mengeluh perlahan.

Mukanya tertunduk tangan kirinya menutupi muka itu, dari cela-cela tangan itu menetes airmata Tiang Le.

Pei Pei memandang dengan mata basah.

"Koko untuk apa kau bermain pedang….., untuk apa kau melibatkan diri dalam permusuhan yang tak ada habis-habisnya?"

"Aku harus membalas dendam mendiang suhu, Pei-moay, harus! Kalau tidak ah….. memalukan benar suhu mempunyai murid sepertiku ini….. murid yang tak berguna, tak berguna!"

Tiang Le mengelepak kepalanya. Pei Pei menubruk sambil menangis.

"Koko……. jangan begitu ah,"

Tangan yang halus itu mengusap kepala pemuda itu. Tiang Le terharu melihat perbuatan gadis ini. Sepasang tangannya dipegangnya oleh tangan kiri Tiang Le.

"Pei-moay kau baik sekali,"

Sepasang tangan halus kecil milik Pei Pei didekapnya dalam benaman dadanya. Semakin membanjir air mata si gadis.

"Tiang Le koko, aku…… aku cinta padamu."

Bagaikan disentak oleh ular berbisa, Tiang Le melepaskan sepasang tangan itu pada dadanya.

Ia mengangkat muka memandang dan pandangannya bertemu dengan sebuah telaga yang jernih airnya meluap membanjir.

Melihat pandangan Pei Pei begitu sayu dan basah, tak tega hati Tiang Le buat menyakitinya.

Menyesal ia merenggut sepasang tangan itu.

Tangan yang kini berjuntai bagaikan tak bertenaga.

"Pei-moay, jangan kau mencintaiku…… aku.......

aku….."

"Koko!"

Pei Pei menjerit lirih menerima tubuh Tiang Le yang rubuh pingsan.

Ternyata saking hebatnya tekanan bathin yang menyerangnya dan tanpa ia dapat tolak membuat Tiang Le menjadi demikian lemah.

Dan pandangannya berkunang-kunang.

Tak tahu lagi ia, begitu ia tak tahu diri, Pei Pei memburu dan memeluknya sambil menangis, memapahnya ke tempat pembaringan.

Lima menit kemudian Tiang Le sadar lagi.

Begitu ia membuka mata dilihatnya Pei Pei masih menangis duduk di sampingnya di pembaringan sambil tangannya mengusapi kain dingin pada keningnya.

"Pei Pei....."

Tiang Le memanggil lemah. Pei Pei menarik tangannya. Menyusut air mata yang meleleh di pipi. Memandang pemuda itu.

"Pei Pei..... kau...... maafkanlah aku!"

Pei Pei menggeleng-gelengkan kepala, air matanya semakin membanjir membasahi dada Tiang Le.

"Jangan menangis Pei-moay...... aku tidak sengaja menyakitimu…..."

Tangan Tiang Le terangkat mengusap lembut pipi yang basah itu!

Pei Pei menggigit bibirnya, menahan air mata yang membucahbucah.

Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya mengguguk perlahan.

Tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketok orang.

Pei Pei menengok dari jendela kamar.

Tiba-tiba ia menoleh kepada Tiang Le, wajahnya menjadi pucat seperti kertas.

"Ada apa?"

Tiang Le bertanya heran.

"Celaka, jangan-jangan…… yang datang itu adalah orang-orang Hek-lian-pay…."

Suara Pei Pei terdengar kuatir.

"Biar aku yang sambut,"

Tiang Le bangun. Akan tetapi, Pei Pei sudah menubruknya sambil menangis.

"Jangan koko, jangan kau menampakkan diri… bahaya….. bagi keselamatanmu, diamlah kau di sini koko….. biar aku yang menghadapi mereka itu….."

"Hemm......,"

Tiang Le menarik napas berat.

Tubuhnya terasa masih lemah dan sakit-sakit.

Ia membiarkan Pei Pei keluar, akan tetapi diam-diam ia mengikuti gadis itu.

Memang yang datang itu adalah orang orang Hek-lian-pay.

Begitu pintu dibuka, mereka menjadi melongo melihat seorang gadis cantik berkata dengan halus.

"Kalian ini hendak mencari siapakah?"

Orang yang bercambang bauk dan kasar tertawa cengir kuda sambil suaranya dibuat-buat.

"Eh….. anu…… kami dari Hek-lianpay, barang kali ada….. seorang pemuda yang buntung lengannya bersembunyi di sini…... ini, hanya barangkali nona, harap jangan marah!"

Pei Pei tersenyum manis.

"Pemuda buntung?"

"Ya, pemuda buntung....... semalam telah bertempur di atas tebing itu dengan orang-orang kami, akan tetapi kabarnya hilang ditelan longsor. Pay-cu kami memeriksa dusun ini!"

"Oooo, jadi kalian maksudkan pemuda buntung itu bersembunyi di sini, mana mungkin! Aku tidak pernah melihatnya!"

"Hayya, twako.......mengapa meladeni gadis ini? Periksa saja ke dalam, barang kali dia bersembunyi di dalam siapa tahu?"

Orang yang satu lagi berkata ketus sambil mendorong gadis yang di depan pintu itu. Pei Pei pucat sekali wajahnya, sepucat mayat, akan tetapi nampak demikian manis bagi pandangan orang-orang kasar ini.

"Maaf nona, kami harus memeriksa ke dalam!"

Berkata si cambang bauk yang memegang golok besar di tangan.

Pei Pei ingin mencegahnya, akan tetapi tak kuasa membuka mulut.

Hanya wajahnya saja semakin pucat dan kuatir.

Ke tiga orang Hek-lian-pay itu memasuki ruangan dalam, pandangan matanya menyapu segala apa yang ada di situ.

Sampai di depan kamar yang tertutup itu, seorang di antaranya, yang berkumis tikus bertanya pada Pei Pei.

"Kamar ini……?" "Ini kamar saya......."

Sahut Pei Pei menekan suaranya yang bergetar.

Keringat dingin membasahi wajahnya.

Melihat orang kasar itu mendorong daun pintu dan suara berderit keras memecah keheningan.

Kalau saja, ke tiga orang Hek-lian-pay itu menoleh kepada gadis di belakangnya, tentu mereka akan melihat betapa wajah Pei Pei semakin pucat dan mengigil.

Akan tetapi sebentar cuma orangorang itu melongok ke dalam.

Tidak didapat yang dicari, si cambang bauk berkata hormat kepada Pei Pei.

"Nona maafkan kami!"

Pei Pei tidak berkata apa-apa.

Hatinya lega melihat Tiang Le tidak ada di kamarnya.

Ia mengantarkan orang Hek-lian-pay sampai di depan pintu dan mengawasi orang-orang itu berjalan dengan amat cepatnya.

Terdengar orang yang berkumis tikus berkata sambil tertawa.

"Ha ha ha....... twako, hari ini mujur ketemu gadis cantik, bagaimana kalau besok kita datang lagi?!"

"Huss….. jangan main-main…… kau…… inikan tugas, bukan waktunya untuk mencari pacar!"

"Ha ha ha, twako alim-alim sembuk! Cewek begitu cantik masa dilepas begitu saja….. Biar kalau twako nggak mau, nanti aku yang gantiin….. Bagaimana Ouwyang-te (adik Ouwyang)?"

"Akur beeng, ada kesempatan mengapa tidak digunakan. Nanti kalau udah direbut orang baru nyaho, betul tidak twako?"

Jawab orang yang bernama Ouw-yang sambil menepuk-nepuk pundak twakonya yang bercambang bauk.

Ketiganya sudah menjauh.

Tak terdengar lagi oleh Pei Pei.

Diamdiam ia kuatir sekali, takut orang-orang itu akan datang lagi.

Dengan perasaan cemas Pei Pei menutup daun pintu dan berjalan menuju kamarnya.

Dilihatnya Tiang Le tidak ada.

"Koko.......!"

Panggil Pei Pei "Tiang Le koko……."

Panggilnya lagi.

"Kokooo.......!"

Kuatir kalau-kalau Tiang Le sudah pergi dan meninggalkan dia.

Ia berlari keluar, masuk lagi ke kamar.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok tubuh yang mencelat turun dari atas langit-langit kamar.

Tiang Le tertawa.

"Sudah pergi setan-setan itu?"

Tanyanya. Tiang Le melihat Pei Pei tersenyum manis dan tiba-tiba gadis itu berlari merangkulnya.

"Ah.... kokoo kau membuat hatiku kuatir saja… kukira kau sudah pergi!"

"Pei-moay….."

"Kokooo..."

Kini kedua-duanya saling berangkulan, Tiang Le mengangkat sedikit dagu si gadis ke atas.

Sepasang mata memandangnya sayu dan berkaca-kaca, merupakan cermin hati yang mengungkapkan perasaan cinta kasih.

Pemuda ini merasai hal yang aneh di dalam hatinya, perasaan aneh yang pernah ia rasakan ketika pada hujan-hujan lebat di dalam pondok bersama Sian Hwa waktu berpelukan, waktu untuk pertama kali ia mengecup Sian Hwa dan Sian Hwa membalasnya dengan perasaan cinta kasih.

Perasaan aneh ini kembali mengejar-ngejar waktu memandang mata Pei Pei yang basah.

Seluruh isi dadanya serasa bergejolak, darahnya berdenyar-denyar dan bergelora.

Semangatnya sebagian melayang naik ke sorga, rasa nyeri di pundaknya tak terasa lagi.

Hemm, memang demikianlah adanya.

cinta dapat menghilangkan rasa sakit, dapat melenyapkan kesedihan hati!

Karena cinta itu merupakan kekuatan yang mujijat dalam diri manusia!

Dengan cinta orang yang berputus asa mempunyai harapan dan gairah hidup kembali, dengan cinta orang yang kuat menjadi lemah dan yang lemah menjadi kuat.

Aneh!

Demikianlah sejak kejadian-kejadian itu, Tiang Le tinggal bersamasama Pei Pei, dan lukanya di pundak semakin hari semakin sembuh.

Pei Pei merawatnya ini dengan telaten dan penuh cinta kasih.

Ah betapa bahagianya Tiang Le, untuk sejenak lupalah ia akan segala tugas-tugasnya.

Di samping Pei Pei dunia ini seakan-akan menjadi begitu indah.

Senyum Pei Pei membawa kekuatan yang baru di hati yang hilang semangat itu.

Di tempat sunyi ini Tiang Le menemui kebahagiaan yang baru kali ini ia rasakan.

Hari demi hari dilaluinya dengan sendah gurau dan bisikan-bisikan cinta kasih kepada Pei Pei.

Hati Tiang Le demikian terisi, lama kelamaan hati itu penuh dengan cinta kasih kepada Pei Pei.

Dan Pei Pei tidak bertepuk sebelah tangan.

O, hari-hari yang dilaluinya begitu indah dan romantis!

Pada suatu hari ketika Tiang Le sedang memancing ikan di kolam tidak jauh dari rumah Pei Pei, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara tertawa parau yang datang dari rumah Pei Pei.

Tiang Le menjadi tertarik dan menoleh ke belakang.

Alangkah herannya ia ketika melihat tiga orang kasar menariknarik tangan Pei Pei dan memeluknya.

Untuk yang kedua kali telinganya mendengar Pei Pei berteriak.

"Tiang Le kokooo...!"

Mendengar suara ini bagaikan terbang tubuh Tiang Le mencelat dan sekali dua kakinya bergerak, tahu-tahu ke tiga orang kasar yang memegang tangan si gadis terpental dan untuk beberapa lama tidak dapat bangun saking hebatnya tendangan Tiang Le yang meloncat ke dekat Pei Pei.

"Hem, bajingan-bajingan ini hendak mengganggumu, biar kumampusin sekalian,"

Tangan kiri Tiang Le siap memukul ke depan.

Ingin sekali saat itu ia membunuh ke tiga orang kasar yang telah mengganggu Pei Pei, entah mengapa hatinya menyadi panas dan marah.

Kalau pundaknya tidak disentuh oleh Pei Pei tentu ke tiga orang ini telah mampus oleh Tiang Le.

Untungnya Pei Pei mencegahnya.

"Jangan koko....... mereka itu adalah anak buah Hek-lian-pay!" "Hemm anak buah Hek-lian-pay kek, setan neraka kek, pokoknya siapa saja yang menganggumu, tanganku ini yang akan merenggut nyawanya,"

Berkata Tiang Le menghampiri ke tiga orang itu.

"Anjing Hek-lian-pay, tidak lekas minggat mau tunggu kumampusin?"

Kaki Tiang Le mencongkel dan tiga orang kasar itu telah berdiri dan memandangnya dengan mata mendelik.

"Siapa kau?!!"

"Twako….. ini dia pemuda buntung yang tempo hari dicari-cari oleh Pay-cu, hayo kita lapor!"

Orang yang berkumis tikus berkata keder.

Tak berani ia melawan pemuda buntung yang tadi sudah dirasai kelihaiannya.

Orang yang dipanggil twako itu pun tidak berani lagi main-main, pandangannya berapi-api menatap Tiang Le.

Ke tiga orang inilah yang beberapa waktu yang lalu memeriksa rumah Pei Pei dan tidak disangkanya pemuda buntung yang dicaricarinya itu berada di sini.

Dengan geram orang kasar yang bercambang bauk itu berkata.

"Tunggu pembalasan kami buntung!"

Setelah berkata demikian ke tiga orang anggota Hek-lian-pay itu berlari terpincang-pincang, seperti anjing kena gebuk kakinya. Tiang Le hanya tersenyum mengejek.

"Celaka koko…… mereka mengetahui kau disini, jangan-jangan nanti ia akan memanggil teman-temannya!"

Kata Pei Pei dengan cemas dan memegang tangan kiri pemuda itu. Tiang Le menoleh dan melihat senyum Pei Pei. "Jangan kuatir Pei-moay, ada aku di sini……"

"Bagiku sih nggak takut koko, akan tetapi dirimu sendiri....... mudah-mudahan kau dapat mengatasi mereka, mereka itu terkenal kejam dan banyak teman-temannya."

"Mari masuk Pei Pei!"

Tiang Le menggandeng tangan Pei Pei masuk ke dalam rumah.

"Kau tidak apa-apa bukan?"

"Maksudmu?"

"Tadi kulihat kau diganggu oleh bajingan-bajingan tengik itu!"

"Ya, untung ada kau koko….., mereka itu laki-laki ceriwis mau menggangguku……. memaksa.

"Makanya aku tadi kepingin tidak memberi ampun kepada mereka, kalau mereka itu sudah berani kepadamu tentu kepada perempuan-perempuan lain juga mereka merajalela,"

Tiang Le berkata sengit! Pei Pei menyentuh lengan pemuda itu dan menariknya masuk.

"Sudahlah koko....... kau lupakanlah itu, mari kita makan, hidangan sudah kusediakan,"

Pei Pei tersenyum manis.

Tiang Le mengusap bibir itu dengan telunjuknya, mata si gadis bersinar-sinar cerah.

Sungguh merupakan sepasang merpati yang ideal dan serasi.

Yang lelaki meski kehilangan lengan kanannya akan tetapi nampak gagah dan tampan, dan yang perempuan, hemm, cantik jelita!

Pei Pei mengajak Tiang Le kemeja makan.

Makanan memang sudah disediakan sejak tadi.

Pei Pei menyendok nasi ke mangkok dan disodorkan kepada Tiang Le dan Tiang Le menerimanya.

Kalau kita melihat kerukunan dari orang muda ini kelihatannya seperti sebuah rumah tangga yang amat rukun dan saling mencintai.

Hati kita bisa iri dibuatnya.

Tapi tidak dong ya?

Jangan iri begitu.

Memang itu kehidupan Tiang Le dan Pei Pei yang penuh dengan madu cinta kasih, yang berkelimpahan air susu dan madu.

Lain daripada kita tentunya.

Sebab setiap manusia itu mempunyai kehidupan yang berlainan, mempunyai liku-liku yang berlainan pula!

Kehidupan manusia tidaklah sama sejalan dengan orang lain.

Inilah kebesaran Tuhan.

Oleh sebab itu kita tak perlu iri.

Mari kita melihat Tiang Le dan Pei Pei yang tengah makan.

Sambil makan itu mereka saling lirik, saling senyum.

Kadangkadang Pei Pei menyumpit sebuah ikan atau sayuran dan sambil bersenyum sumpit yang berisi sayuran itu diletakkan di atas mangkok dan Tiang Le hanya memandang gadis ini dengan sayang!

Tiba-tiba Tiang Le menahan gerakan sumpitnya di dekat bibir.

Ia menoleh keluar melalui pintu depan, suara derap kaki kuda yang didengarnya nampak mendatangi dengan amat cepatnya.

Sebentar kemudian lima orang penunggang kuda itu sudah berada di depan rumah.

Meloncat turun dari kuda.

Melihat ini Pei Pei menjadi terkejut dan mengikuti Tiang Le ke depan.

Baca Juga: Manusia Yang Bisa Menghilang Khu Lung

Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger