Pendekar Lengan Buntung 3

Eps 3 Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Baca online Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw

Cersil Pendekar Lengan Buntung - Kim Tiaw.

Pedang di tangan Bwe Hwa menggigil.

Terangkat naik menghunus jenderal Bong yang dikenalnya sebagai Bong Bong Sianjin, musuh besarnya.

"Hemm. jadi engkau inikah manusianya yang telah membunuh suhu Swie It Tianglo?" "Ha ha ha!"

Bong Bong Siangjin tertawa.

"Engkau nona, akulah Bong Bong yang telah menuntut balas kematian muridku di tangan gurumu. Kukira macam apa manusia Swie It Tianglo itu, kiranya cuma cacing tanah saja yang sekali injak sudah mampus!"

"Kepada kau pembunuh guruku. Musuh besarku. Jahanam! Makan pedang!"

Sambil membentak Bwe Hwa maju menyerang, kali ini ia memperlihatkan gin-kangnya.

Sekali ke dua kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang terbang ke arah Bong Bong Sianjin atau Bong-goanswe itu, pedangnya diputar-putar di depannya, berubah menjadi segulung sinar perak, yang diiringi dengan serangan bentakannya yang nyaring memaki lawannya kalang kabut.

Bong Bong Sianjin maklum akan kelihayan gadis murid mendiang Swie It Tianglo ini, tentu saja ia tidak takut kepada gadis yang dianggapnya masih hijau itu, boleh jadi Oey Goan kalah di tangan gadis liar itu, tetapi sekarang menghadapi Bong Bong Sianjin, Bwe Hwa seakan-akan bertemu dengan kakek gurunya.

Semakin sengit ia memainkan jurus-jurus Tiang-pek-kiam-sut semakin cepat pula bayangan-bayangan Bong Bong Sianjin berkelebat menghindarkan serangan pedang.

Seakan-akan pedangnya menghadapi bayangan sendiri, dan sukar untuk ditembusi.

Panas sekali hati gadis itu melihat kelihayan musuh besarnya itu yang belum membalas menyerang hanya mengelak saja.

Masa ia diganda mengelak oleh Bong Bong Sianjin keparat!

bentak gadis itu dalam hati.

"He he he, nona, kau menyerahlah dan berlutut tujuh kali di depan kakiku, baru aku memberi ampun kepadamu!"

Bong Bong Sianjin mengejek sambil menghindarkan sabetan pedang si gadis, suara berdesing di dekat telinganya.

"Iblis dedemit, setan! Jenderal keparat, mampuslah kau!"

Bentak gadis itu mengirim ilmu pukulan Pek-in-kang di tangan kiri, Bong Bong Sianjin tertawa mengangkat tangannya menangkis pukulan tangan kiri lawan.

Melihat bahwa orang tua ini menangkis tangan kirinya segera Bwe Hwa mengerahkan hawa Pek-ie-jiu dan Pek-inkang di tangan kiri itu dan menekan tangan Bong Bong Sianjin yang menangkis.

"Minggatlah kau, jenderal taik!"

"Dess!"

Bukan tubuh Bong Bong Sianjin yang terlempar oleh pukulan dahsyat Bwe Hwa, melainkan dia sendiri yang terlempar tinggi melayang di udara.

Akan tetapi pada saat tubuh itu melayang-layang, berkelebat sesosok tubuh lain dengan gesitnya menyambar tubuh Bwe Hwa yang telah pingsan.

Terdengar suara itu memanggil nama si gadis dengan panggilan mesra.

"Bwe Hwa moay-moay......"

Amat cepat sekali gerakan orang yang baru datang itu dan tahu-tahu tubuh Bwe Hwa sudah berada dalam pelukannya.

Ternyata yang menolong Bwe Hwa adalah seorang pemuda berpakaian putih sederhana berusia sekitar duapuluh tahun, wajahnya nampak agak pucat, akan tetapi sepasang mata itu memancarkan cahaya berapi-api penuh kemarahan kepada Bong Bong Sianjin.

"Siapa kau?"

Bong Bong Sianjin bertanya sambil menatap tajam ke arah pemuda berpakaian putih sederhana, yang memandangnya dengan sepasang mata penuh kemarahan.

"Bagus!

Dicari ke mana-mana tidak bertemu, kebetulan sekali Bong Bong Sianjin.

Engkaulah yang telah membunuh suhu Swie It Tianglo di puncak Tiang-pek-san tempo hari?"

Pemuda sederhana itu menghampiri maju dua langkah, sementara Bwe Hwa yang masih pingsan disenderkannya di batang pohon.

Ia tidak kuatir akan keselamatan gadis itu, karena ia tahu kalau gadis itu hanya pingsan saja tidak terluka.

"Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Swie It Tianglo yang sudah mampus itu?"

"Bong Bong Sianjin, manusia keparat! Buka telingamu lebar-lebar, dengar! Aku dan gadis tadi adalah murid-murid mendiang suhu Swie It Tianglo. Atau akan mewakili guruku memberi hukuman kepadamu, bersiaplah engkau untuk terima binasa!" <> Pemuda itu bukan lain adalah Liok Kong In, murid pertama dari Swie It Tianglo yang telah meninggal di tangan Bong Bong Sianjin itu. Seperti kita ketahui di bagian depan pada

Jilid pertama cerita ini, Liok Kong In yang sesungguhnya Bwe Hwa tidak sampai hati membiarkan gadis itu turun gunung setelah terjadi tragedi di tengah pematang sawah itu.

Maka melihat gadis itu berkelebat pergi, tak lama kemudian Kong In pun menyusul jejak gadis itu.

Namun karena Bwe Hwa berlari dengan amat cepatnya dan lagi mengambil jalan gunung yang amat sukar, maka sampai berpekan-pekan, Kong In kehilangan jejak Bwe Hwa.

Namun ia masih terus membuntuti gadis itu dan bertanya-tanya kepada penduduk dusun yang kebetulan ditemui.

Dalam pertarungannya mengikuti Bwe Hwa itu, dalam hati Kong In selalu bertanya-tanya dan heran mengapa Bwe Hwa sampai membuntungi lengan sam-suhengnya yang bernama Sung Tiang Le.

Rasanya tak masuk diakal.

Mana mungkin Tiang Le dapat dikalahkan oleh Bwe Hwa atau apakah Tiang Le sudah menjadi demikian sinting membiarkan lengannya buntung disambar pedang Bwe Hwa, atau apakah Tiang Le tidak melawan?

Pusing Kong In memikirkan kejadian ini.

Ia tak mengerti apa gerangan yang telah terjadi antara Bwe Hwa dan Tiang Le, sayang ia datang terlambat ke tempat itu.

Sehingga kejadian itu sudah lewat terjadi.

Dan ia tidak melihat lagi Tiang Le yang sudah buntung lengannya.

Hanya ia merasa yakin bahwa tentu Tiang Le terluka hebat, ia melihat darah menggenang di air yang membanjir sampai ke kakinya itu.

Akan tetapi Tiang Le tidak kelihatan entah kemana.

Oleh karena itulah sepanjang perjalanannya mengejar Bwe Hwa ia juga bertanya kalau-kalau ada pemuda yang buntung lengannya.

Namun orang ditanya selalu tidak dapat memberi jawaban yang memastikan.

Pada suatu hari sampailah Kong In di Kota Siauw-ling.

Dan alangkah herannya ia melihat sebuah gedung yang besar di dalam kota itu sudah habis terbakar.

Tadinya ia tidak mengambil perduli tentang gedung yang terbakar itu, tidak heran memang di musim kemarau yang panjang ini sering sekali terjadi kebakarankebakaran.

Akan tetapi yang menarik hatinya, adalah tentang pembakaran gedung itu.

Ia mendengar orang-orang berbicara bahwa gedung yang megah milik Nguyen-loya itu habis dibakar oleh dewi Kwan-im yang datang memberi hukuman kepada Nguyen-loya, semua penghuni gedung itu didapati telah mati, Nguyen-loya dan Nguyen-kongcu didapati sudah mati dengan kepala terpisah dari badannya.

Semua para ngo-hauw (tukang pukul) pada terluka hebat dan malah ada yang mau di tempat itu juga.

Seorang setengah tua yang memang dolan sekali bercerita mengatakan bahwa sang dewi dilihatnya menghilang terbang ke hutan sebelah selatan kota.

Tentu saja Kong In yang tidak percaya akan berita tentang sang dewi mengejarnya ke dalam hutan yang dikatakan orang tua itu.

Ia memang tidak percaya, masakah Kwan-im Posat demikian ganas membakar dan membunuh?

Setahunya sang Kwan-im itu adalah seorang dewi welas asih yang pantang berbuat sekejam itu.

Ia tidak percaya.

Oleh sebab itulah dia mengejar terus.

Dan justru karena kedatangannya itulah yang menolong Bwe Hwa dari cengkraman Bong Bong Sianjin.

Ia tak pernah menduga bahwa gadis itu adalah Bwe Hwa yang selama ini tengah dicari.

Dan orang yang berpakaian seperti jenderal itu, Bong Bong Sianjin!

Pembunuh gurunya!

Ia harus membalas kematian suhunya!

Dengan geram ia maju.

Sedikitpun ia tidak gentar kepada sang jenderal ini.

Ia percaya akan kepandaiannya!

Sementara itu Bong Bong Sianjin yang tadinya terkejutnya kini tertawa mengejek.

"Bagus! Kalau begitu aku tidak boleh bekerja kepalang tanggung. Membasmi pohon harus keakar-akarnya, ha ha ha! Eh, orang muda murid Swie It, engkau hendak membalas kematian gurumu, dengan cara apakah?"

"Dengan cara ini!"

"Singg!"

Suara pedang berdesing dicabut Kong In. Pedang itu melintang di depan dada.

"Ho ho ha ha, bocah masih ingusan berani berlaku kurang ajar di depanku...... he he he. Untuk hukuman ini saja kau harus berlutut tujuhpuluh tujuh kali tujuh di depanku, baru aku mau ampunkan engkau! Masih muda tak baik kalau dilenyapkan..... kalau kau mau berlutut, aku akan mengampunimu dan gadis sumoaymu itu serahkan kepadaku untuk menjadi..... isteriku, ha ha ha!"

"Keparat bermulut cabul, mampuslah kau!"

Sambil berseru keras Liok Kong In sudah menerjang maju, tangannya menghantam dan sinar perak pedang berkelebat menyambar leher Bong Bong Sianjin dan tangan kirinya bergerak berbareng dengan mengerahkan Pek-lek-jiu yang mengeluarkan uap putih itu bergulung menyambar dada lawan di depannya.

Bong Bong Sianjin mendengus mengejek melihat serangan pedang dan pukulan orang muda ini.

Pukulan ini pernah ia rasai kelihayannya waktu ia menanding mendiang Swie It Tianglo setahun yang lalu, dan pedang itu berkelebat melingkar adalah jurus-jurus dari Tiang-pek-kiam-sut.

Ia kenal sekali kelihayan pedang ini.

Akan tetapi menghadapi pedang di tangan pemuda ini, mana ia memandang sebelah mata?

Jangankan orang muda ini biarpun Swie It Tianglo yang menerjang maju, ia masih ganda tertawa!

Kong In terkejut dan girang melihat lawannya tidak menangkis tangan kirinya.

Dengan mengerahkan hawa Pek-in-kang, ia menekan dan mendorong dada musuhnya dengan sekuat hawa saktinya, sedangkan pedangnya menusuk yang pertama itu merupakan pancingan dan telah ditarik kembali.

Seluruh perhatiannya dicurahkan ke arah tangan kiri yang mendorong.

"Ha ha ha, orang muda. Kalau sekarang gurumu masih hidup, ingin aku mencobanya dengan ilmuku yang baru! Akan tetapi sayang sekali dia sekali injak sudah mampus dan belum sempat kukeluarkan jurusku ini. Dan sekarang kaulah gantinya. Ha ha ha, ingin sekali kulihat hasiInya. Kau terimalah!"

Tubuh yang miring itu, tiba-tiba bergerak dan tangannya yang panjang mengirimkan pukulan berputar dan akhirnya bertemu dengan telapak tangan kiri Kong In yang menyerang dengan jari terbuka pula.

Hebat bukan main pukulan ini.

Angin pukulan berdesir menimbulkan suara berciutan.

Memang kali ini Bong Bong Sianjin mengerahkan tenaganya untuk pameran saja, juga dalam kegemasannya untuk melemparkan bocah murid Swie It Tianglo.

Melihat betapa hebatnya sambaran pukulan dengan tubuh setengah miring ini, Kong In tidak berani memandang ringan.

Ia maklum betapa pukulan lawannya ini amat dahsyat sekali dan terasa hawa panas menyambar dengan amat kuatnya.

Akan tetapi tanpa menahan pukulan dengan tangkisan, ia juga tidak akan dapat mengukur sampai dimana kehebatan tenaga lawan.

Dan lagi memang ia sudah bersiap menyerang dengan pukulan Pek-lek-jiu di tangan kiri dan membarengi dengan sabetan pedang menyambar pukulan tangan lawan yang berhawa panas itu.

"Desss, krakkk!"

Dua telapak tangan bertemu dan tahu-tahu, seperti Bwe Hwa tadi tubuh Kong In terlempar keras membentur batu tangga mengeluarkan suara keras berdebuk.

Kong In kaget setengah mati.

Pukulan apa ini?

Tiba-tiba dirasakannya kepala pening berdenyut-denyut dan tulang belakangnya sakit dan nyeri.

Tahulah ia bahwa tulang belakangnya patah terhantam batu yang selagi ia terlempar tadi.

Untung saja tadi ia mengerahkan sin-kang di dada waktu dirasakan segumpal hawa panas menyerang dadanya.

Kalau tidak cepatcepat ia mengerahkan hawa di perut dan terus disalurkan ke bagian dadanya, celaka, tentu dadanya sudah remuk-remuk terhantam pukulan dari Bong Bong Sianjin.

Kong In menahan rasa nyeri di tulang belakang.

Wajahnya pucat seperti kertas.

Ia memandang terbelalak kepada Bong Bong Sianjin yang tertawa mengejek.

Begitu melirik, ternyata pedangnyapun telah patah menjadi tiga potong dan masih terpegang olehnya tinggal gagangnya saja.

"He he he, mana kau mampu menahan pukulanku, bocah? Itu baru sepersepuluh bagian saja........ ha ha ha!"

Bong Bong Sianjin mengejek. Selangkah ia maju manghampiri Kong In yang masih menggeletak bergerak hendak bangun. Pada saat itu terdengar suara nyaring.

"It-suheng, bagus kau sudah datang, hayo kita mampusin jenderal keparat yang telah membunuh suhu!"

Serangkum hawa dingin menyambar belakang Bong Bong Sianjin. Orang tua berpakaian jenderal itu mengebutkan jubahnya sambil membentak.

"Gadis binal tak tahu diri, minggat!"

Dan tahu-tahu bagaikan diangkat oleh tenaga yang amat luar biasa, tubuh Bwe Hwa terlempar ke samping dan jatuh di dekat Kong In.

Ternyata tadi Bwe Hwa yang sudah siuman, melancarkan pukulan Pek-lek-jiu kepada musuhnya yang tengah membelakanginya ini, akan tetapi siapa sangka Bong Bong Sianjin dengan sekali mengebutkan ujung jubahnya tahu-tahu tubuhnya telah terlempar ke samping.

Kong In maklum bahwa musuh besar suhunya ini demikian lihay dan pantas saja suhunya tidak dapat menandinginya.

Tidak tahunya, lawannya ini demikian sakti.

Akan tetapi ia sudah bertekad akan menempur musuh suhunya sampai titik darah yang terakhir, mati pun tidak mengapa.

Kong In dengan susah payah merangkak bangun, terhuyunghuyung ia berdiri.

Bwe Hwa juga berdiri di samping suhengnya dan mengepalkan ke dua tinjunya.

Selangkah Kong In maju, gemetar kakinya karena menahan rasa sakitnya yang hebat di punggung.

"Bong Bong Sianjin, demi arwah suhu Swie It Tianglo, aku mengadu jiwa denganmu!" "Benar suheng, akupun mempertaruhkan nyawaku untuk membalas rasa penasaran suhu. Demi langit dan bumi kita ganyang si tua jenderal keparat itu!"

"Bocah sombong! melawan cacing seperti engkau apa susahnya, akan tetapi..... he he he, yang betina ini cantik dan menarik, sayang untuk dibunuh! Biar yang jantan saja mampus!"

Sepasang lengan jenderal Bong Bong Siangjin itu bergerak dan dari kanan kiri menyambar angin pukulan dahsyat dari dua jurusan.

Kong In yang sudah marah menerjang maju.

Dua telapak tangan terbuka mencengkeram Bong Bong Siangjin bersamaan dengan berkelebatnya pula tubuh Bwe Hwa mengirim pukulan-pukulan Pek-in-kang ke arah lawannya yang berputar-putar itu.

Kong In terkejut sekali ketika tiba-tiba diserang oleh angin pukulan dari dua jurusan, akan tetapi melihat betapa ke dua lengan Bong Bong Sianjin bergerak begitu lambat dan memberi kesempatan pukulannya bersarang di dada, dengan gemas ia mengerahkan lwekang sepenuhnya di ke dua jari tangannya dan bergerak mencengkeram.

Tentu saja perbuatan ini diikuti olen Bwe Hwa yang juga dapat melihat lowongan yang terbuka di bawah ketiak lawannya yang terangkat itu.

Dengan bernapsu Bwe Hwa menerjang dengan kedua tangan memukul ketiak dan kedua kakinya mengirim tendangan beruntun.

Hebat sekali serangan-serangan dari dua orang muda ini.

Pakaian kebesaran Bong Bong Sianjin nampak berkibar-kibar ketika dia mencelat menghindarkan tendangan Bwe Hwa, akan tetapi ujung jubahnya memapaki pukulan-pukulan ke dua orang muda itu.

"Bong-sicu tahan……!"

Seruan itu keluar dari mulut Hok Losu yang terkejut melihat pukulan kedua orang muda itu tertangkap oleh ujung jubah Bong Bong Sianjin dan sekali tangan itu bergerak melempar, bagaikan dua helai daun yang tertiup angin terbang dengan amat cepatnya.

Tak dapat dielakkan lagi, sebuah jurang yang menganga disampingnya menerima tubuh ke dua orang muda yang seketika itu pula sudah tidak sadarkan diri.

Terkesiap hwesio tua dari Siauwlim ini, tadinya ia hendak bergerak menolong tubuh yang meluncur musuk ke dalam jurang yang amat dalam itu, namun terlambat, kedua tubuh itu sudah terlempar dengan cepatnya.

"Mereka mencari penyakit sendiri!"

Gerutu Bong Bong Sianjin sambil mengebas-ngebaskan jubahnya.

Sebetulnya tidak enak ia berbuat demikian, tidak disangkanya apabila pukulannya yang bernama Hui-thian-jip-te (melempar ke langit masuk kebumi) itu demikian dahsyat.

Ia tidak menduganya!!

"Hebat pukulan apa itu Bong-sicu?"

Leng Ek Cu tokoh Kong-thongpay bertanya. Bong Bong Sianjin tersenyum pahit. Meloncat ke atas kudanya dan berkatalah ia kepada Oey Goan yang sejak tadi menonton saja.

"Sudah beres, tunggu apa lagi! Dua orang muda itu sudah mampus di tanganku. Katakan saja sama Gubernur Ih Yen, Bong-goanswe sudah memberi hukuman!" "Baik Goan-swe!"

Oey Goan menggeprakan kudanya dan diikuti oleh anak buahnya.

Di hutan itu tinggal Bong Bong Sianjin dan Hok Losu dan Leng Ek Cu yang masih berjalan perlahan-lahan.

Pada saat itu berkelebat bayangan merah, disusul suara keras dan Bong Bong Sianjin mencelat ke samping sambil mengibaskan jubahnya.

"Bret!"

Putuslah jubah itu terhantam sabetan pedang yang ampuh dan tajam di tangan seorang gadis berpakaian serba merah dan mukanya tertutup kerudung sampai dibatas hidung.

Kerudung sutera yang menutupi muka itu berwarna hitam dan sepasang mata gadis dari balik kerudung itu menatapnya dengan sinar mata mengancam.

"Bong Bong Sianjin, bagus kiranya kau berada di sini dan berlaku keji terhadap dua orang muda tadi. Cobalah pedangku!"

Gadis baju merah berkerudung sutera itu menerjang lagi, lebih ganas dan lebih kuat dari serangan barusan.

Kembali Bong Bong Sianjin yang masih terheran-heran akan kedatangan gadis kerudung hitam ini menangkisnya dari samping.

Ia yang telah dibikin marah oleh serangan gadis tadi yang telah merobek jubahnya kini dengan gerakan amat cepat telah menarik pedangnya dan menangkis serangan pedang gadis kerudung hitam sambil menggerakkan tenaga.

"Tranggg!"

Bunga api berpijar merupakan kilat-kilat kecil menerangi cuaca yang sudah remang terang itu.

Gadis kerudung hitam itu terkejut sekali melihat kehebatan tenaga lawan.

Ia mundur setindak ke belakang, membetulkan letak kuda-kudanya yang tadi tergempur oleh tangkisan pedang lawan dan terasa nyeri nyelekit di telapak tangan kanannya yang memegang pedang.

Tahulah ia bahwa lawannya ini tidak boleh dibuat main-main.

"Bagus! Terimalah ini!"

Gadis itu membentak dan mengirim serangan lagi dengan gesit.

Ujung pedangnya bergetar-getar saking kuatnya lwekang yang disalurkan ke arah lengannya yang memegang pedang itu.

Ingin ia tahu apakah lawannya ini mau menangkis pedangnya seperti tadi.

Akan tetapi, betapa tak akan terkejutnya ia melihat betul-betul Bong Bong Sianjin mengelak sambil membabat dari samping, menghantam pedang lawan Sedangkan tangan kirinya bergerak cepat mendorong ke depan.

"Tranggg, bukkk!"

Pedang di tangan si gadis muka kerudung patah menjadi tiga potong dan ia sendiri terlempar jauh. Bong Bong Sianjin tertawa lebar.

"Nona, bukankah kau ini dari Sian-li-pay, mengapa datang-datang menyerangku. Hemm, seingatku…... Bu-tek Sianli denganku tidak ada permusuhan apa-apa. Malah aku kenal baik dengan Pay-cu Sian-li-pay, mengapa kau memusuhiku nona?"

Bertanya Bong Bong Sianjin menatap tajam ke arah gadis muka kerudung ini.

Tentu saja sebagai tokoh persilatan tingkat tinggi ia sudah mendengar akan berdirinya partai Sian-li-pay yang dipimpin oleh Bu-tek Sianli yang lihay.

Malah lima tahun yang lalu pada peresmian berdirinya partai itu, ia turut hadir di pulau Bidadari dan dapat melihat gadis-gadis cantik anak buah Sian-li-pay yang tertutup mukanya dengan kerudung hitam.

Entah apakah gadis yang datang-datang menyerangnya inipun adalah anak buah Bu216 tek Sianli, si nenek sakti yang terkenal dengan Kepalan Tanpa Tandingan?

Akan tetapi gadis yang berkerudung hitam itu rupanya sudah panas hatinya, tak dapat dibuat sabar.

Dengan suara lantang penuh kemarahan ia berkata.

"Bong Bong Sianjin, Sayang sekali, meskipun kau berkepandaian tinggi, namun kau buta tuli tidak dapat melihat dan mendengar.

Mau tahu siapa aku?

Aku adalah murid kelima dari suhu Swie It Tianglo yang telah binasa di tanganmu.

"Hari ini aku Lim Sian Hwa akan menuntut balas dan mencabut nyawamu Bong Bong Sianjin! Hari ini kalau bukan kau yang mampus di ujung pedangku tentu akulah yang menjadi mayat. Hayo majulah! Ini murid kelima mendiang Swie It Tianglo!"

Sian Hwa yang tak tahan mengendalikan hawa marahnya, ia menerjang maju dengan pedang pendek yang tadi terpotong menjadi tiga bagian.

Ia nekad menyerang dengan potongan pedang yang tersisa beberapa senti dari gagangnya.

Adapun Bong Bong Sianjin menjadi marah sekali.

Kalau tadi ia masih berlaku segan kepada gadis muka kerudung ini, yang disangkanya murid dari Sian-li-pay yang terkenal itu.

Tetapi sekarang setelah mendengar bahwa gadis berkerudung hitam ini bukan anggota Sian-li-pay, malahan dia salah seorang murid dari mendiang Swie It Tianglo.

Setelah mengetahui hal ini hatinya menjadi marah.

Ia sudah dibuat mengkal akan kemunculan dua orang muda tadi yang juga merupakan murid dari Swie It Tianglo, sekarang datang lagi setan betina, betul-betul sialan hari ini harus melayani bocah-bocah dari Tiang-pek-san.

Ia mendengus dan menangkis pedangnya gadis berkerudung hitam itu, ingin sekali ia melemparkan gadis ini seperti dua orang muda tadi ke jurang yang menganga disampingnya, akan tetapi terdengar Hok Losu memperingatinya.

"Bong-sicu, jangan kau binasakan gadis itu, tawan dan kita serahkan ke Sian-li-pay. Inilah suatu kesempatan untuk kita bersekutu dengan Bu-tek Sianli!!"

Mendengar peringatan ini, tak jadi Bong Bong Sianjin mempengunakan ilmu pukulan Hui-thian-jip-te yang telah disaksikan tadi kehebatannya, oleh sebab itu ia merubah gerakannya dan menyimpan pedangnya, kemudian bergerak mengelak dari tusukan pedang pendek yang dilancarkan oleh gadis berkerudung hitam, kemudian dengan gerakan yang aneh dia menggerak-gerakkan tangan kanannya seperti orang menulis.

Tahu-tahu terdengar suara jeritan tertahan dari Sian Hwa ketika tanpa dapat dicegah lagi kedua buah kakinya menjadi lumpuh dan semangatnya hilang.

Tadi ia seakan-akan melihat Bong Bong Sianjin ini menjadi tiga bayangan yang menakutkan.

Satu bayangan aslinya, dan satu lagi bayangan seorang makhluk yang menyeramkan berkepala tiga bertangan enam dengan rambut panjang terurai dan muka seperti manusia tengkorak hidup.

Makhluk inilah yang melumpuhkan semangatnya tanpa terasa pedang pendeknya, terlepas pada saat itulah totokan lawannya terasa mengetuk pundaknya sehingga ia tak berdaya lagi.

Terasa bergidik seluruh bulu roma Sian Hwa.

Ilmu sihir apakah itu?

Selama ini baru kali ini ia melihat pemandangan yang menakutkan hatinya.

Itulah sebenarnya ilmu Hek-in-hoat-sut dari Bong Bong Sianjin yang pernah diterimanya dari seorang sakti dari India.

Sebuah ilmu perampas semangat yang dikerahkan dengan ilmu tenaga batin yang tinggi.

Melihat gadis itu menggeletak jatuh, cepat tokoh dari Kong-thongpay mencelat ke dekat si gadis dan mengikatnya ke dua tangan dan kaki dan ditaruhnya di punggung kuda.

Ia tersenyum kepada Bong Bong Sianjin, katanya.

"Kesempatan baik untuk kita bertemu dengan Bu-tek Sianli, Bong sicu, kita antarkan sekarang juga gadis kerudung hitam ini ke Sian-li-pay, okey?"

Bong Bong Sianjin tertawa lebar.

"Bagus, bagus sekali, bukankah dengan cara ini kita bisa berhubungan dengan si Nenek Kepalan Sakti Tanpa Tandingan! Eeemm, akan tetapi aku harus menyelidiki dulu bagaimana tampangnya murid Swie It Tianglo yang tersembunyi dibalik sutera hitam itu,"

Sambil berkata demikian Bong Bong Sianjin bergerak membuka selubung sutera hitam itu yang menutupi muka Sian Hwa.

Terdengar jeritan tertahan Bong Bong Sianjin mencelat ke belakang.

Hok Losu dan Leng Ek Cu juga memandang kaget ke arah muka gadis itu.

Muka yang tadinya disangka berkulit halus dan cantik, kiranya bukan demikian adanya, yang dilihatnya barusan adalah muka hitam berkisut-kisut seperti muka neneknenek yang sudah berusia delapanpuluh tahun, bagian-bagian pipi dan hidung demikian rusak penuh dengan totol-totol hitam dan berkerisut-kerisut.

Hanya sepasang mata itu yang demikian indah memandang ke tiganya dengan tatapan berapi-api!

Kalau gadis itu dapat membuka suara dan tidak tertotok seperti itu, tentu ia akan memaki mengeluarkan sumpah yang bergetar-getar penuh kemarahan dahsyat laksana kawah gunung berapi yang hendak meletus.

"Bong Bong, Sianjin dan kalian bertiga! Awaslah suatu ketika kelak matamu yang kurang ajar menatap wajahku dan yang telah berlancang membuka kerudung hitam ini, matamu itu ke dua-duanya akan kukorek, kukeluarkan dan hatimu dan jantungmu akan kucabut!"

"Awas kau, Bong Bong Sianjin!" ◄Y► Apa yang dikuatirkan oleh Kwa-sinshe (ahli pengobatan she Kwa) terbukti bahwa seluruh muka gadis yang bernama Sian Hwa ini tidak dapat kembali seperti asal semula. Racun hijau yang menjalar di wajahnya itu tidak dapat ditolak oleh obat-obatan biasa saja. Dan lagi karena racun-racun itu sudah semalam menjalar ke wajahnya, sulit bagi Kwa-sinshe untuk melenyapkan bekas-bekas hitam dan totol-totol pada wajah itu. Hanya ia dapat memberikan pencegahan agar racun hijau yang ganas itu tidak menjalar ke leher saja. Kalau kiranya racun hijau itu sampai menjalar ke leher dan ke urat besar, berbahaya keselamatan gadis ini! Betapa sedih Sian Hwa mendengar bahwa lukanya tak dapat disembuhkan seperti sediakala. Ia menjerit kaget waktu bercermin sungai yang jernih airnya! Hampir ia tak mengenal akan wajahnya sendiri, wajah yang kelihatan dalam bayang-bayang air itu nampak hitam dan berkerisut-kerisut seperti pantat kuali, lagi pula terdapat totol-totol putih dan hitam pada ke dua pipi dan hidungnya. Habislah apa yang dibanggakan bagi seorang wanita cantik. Kecantikannya yang sangat dibanggakan itu sekarang telah lenyap dirusak oleh racun hijau akibat pukulan si kakek gila yang menggunakan pukulan Jin-tok-ciang! Awaslah kakek dan nenek gila, awaslah kau Jin-tok-siang-moli, suatu ketika hendak kubalas sakit hatiku pikirnya sambil menangis di tepi sungai yang airnya jernih itu. Ia melirik ke arah lengan kanannya, sama seperti mukanya lengan itu juga kehitaman penuh bintik-bintik putih. Tadinya memang dirasakan amat gatal sekali, akan tetapi setelah Kwa-sinshe memberikan pengobatan luka yang mengandung hawa racun hijau itu sembuh kembali, meskipun wajahnya tak dapat disembuhkan karena hangus dan gosong! Sin Thong yang selama ini menemani Sian Hwa dan menjadi kawan baiknya, merasa terharu sekali melihat kejadian ini. Namun laki-laki cebol ini selalu menghibur Sian Hwa. Kalau tidak ada Sin Thong yang banyak memberikan nasehat tentu sejak kemarin221 kemarin ini ia sudah kembali ke dalam hutan untuk menerjang Iblis gila yang telah membuat cacad wajahnya! "Sian Hwa mengapa kau berbuat bodoh. Kau tahu kan? Kepandaian iblis Jin-tok-siang-lomo itu demikian hebat dan luar biasa. Mereka bukan tandingan kita. Kalau kau nekad menerjang dan membalas sakit hati ini, bodoh betul kau hendak mengantarkan nyawa saja. Suhu bilang kau bersabarlah, bukan lukamu itu tidak dapat disembuhkan, hanya saja obat yang mujarab itu tidak ada di daratan Tiongkok ini. Pernah suhu katakan hanya ada semacam jin-som yang bernama Pek-in-jin-som (akar obat awan putih), akan tetapi hanya tumbuh lima tahun sekali di puncak Anapura, pada pegunungan Himalaya. Kau sabarlah Sian Hwa, siapa tahu……"

Dengan pandangan mata basah Sian Hwa memandang lelaki cebol di depannya.

"Sin Thong, itu hanya sebuah khayalan saja bukan? Mana bisa aku mencari buah Pek-in-jin-som sampai di puncak Anapura, apalagi pegunungan Himalaya....... ah, tidak gampang untuk ke sana…... Sin Thong, setelah wajahku begini……. aku malu sekali bertemu dengan orang……"

Go Sin Thong, biarpun nampaknya masih kanak-anak karena tubuhnya yang kecil dan pendek, namun ia adalah seorang pemuda dewasa.

Dewasa dalam berpikir dan berperasaan.

Ia dapat memaklumi perasaan teman gadisnya ini.

Tentu saja, gadis manakah yang tiada merasa rendah diri setelah tahu wajahnya ini tak sedap dipandang, begitu buruk dan menjijikan seperti wajah nenek!

Kasihan sekali kau Sian Hwa, pikirnya.

Akan tetapi mulutnya berkata menghibur.

"Sian Hwa, orang yang budiman dan yang mempunyai pribadi tinggi, tidak melihat dan menilai orang dengan kecantikan wajah dan pakaian. Cantik itu hanya bersifat sementara saja, sementara ia masih mengeluarkan kembang yang harum dan segar. Kelak jikalau ia sudah rontok dan layu, apakah ia dapat dikatakan cantik? "

Setelah wajahmu rusak oleh racun hijau mengapa kau merasa rendah diri dan malu bertemu dengan manusia?

Terimalah keadaan itu sebagaimana adanya.

Hilangkan rasa sifat rendah diri dan pertebal akan kepercayaan terhadap dirimu sendiri.

Karena dengan jalan itu merupakan senjata ampuh untuk maju.

"Bukankah kau katakan masih banyak tugas-tugasmu dalam dunia ini? Membalas kematian gurumu, mencari saudara-saudaramu yang tak tahu kemana perginya. Jangan patah semangat Sian Hwa!"

"Memang banyak sekali tugasku. Kalau tidak….. hemm, sejak dari kemaren itupun aku sudah mengadu nyawa dengan Jin-tok-sianglomo, si nenek dan si kakek gila itu. Akan tetapi Sin Thong, dengan wajahku seperti ini, ah...... akan menjadi bahan perhatian orang saja."

Sian Hwa menarik napas panjang.

Tak berani lagi ia bercermin di tepi sungai itu.

Teriris-iris rasa hatinya melihat bayangan sebuah wajah yang muncul di air jernih itu!

Mata hari sore dan angin dari seberang sungai mengusap-usap badannya yang sedang duduk di atas sebuah batu menghadap ke depan sungai.

Sin Thong berdiri didekatnya dengan kaki terangkat ke atas batu, sambil matanya memandang air sungai yang meriak mengalir tenang jernih.

Sunyi sekali suasana di tepi sungai itu.

Matahari senja bersinar lemah di punggung bukit.

"Sian Hwa…..."

Sian Hwa menoleh memandang lelaki pendek di sampingnya.

Ia tadi tengah termenung.

Sehingga teguran Sin Thong barusan sangat mengejutkan hatinya.

Ia melihat lelaki cebol temannya ini memandang jauh ke seberang sungai dengan pandangan sayu.

"Kau hendak mengatakan apa Sin Thong?"

"Sian Hwa, besok aku pagi-pagi hendak mengunjungi kota Wie An. Suhu menyuruhku pergi ke sana mengunjungi kawan baiknya yang akan berulang tahun. Apakah kau hendak turut denganku?"

"Ah, mengunjungi orang berulang tahun saja pakai aku turut-turut segala. Ngak mau ah, kamu saja kan bisa Sin Thong. Kalau denganku! Merepotkanmu saja........"

Di mulut Sian Hwa berkata demikian akan tetapi hatinya berkata.

"Ah, betapa malunya aku..... dengan mukaku seperti setan ini, siapakah yang mau menerima kedatanganku, akan memalukan saja!"

Sin Thong memandang tajam. Kakinya yang terangkat naik di atas batu diturunkan. Ia menghampir Sian Hwa sambil berkata.

"Kenapa merepotkanmu? Tidak Sian Hwa dengan kehadiranmu bersamasama denganku justru itu yang menggirangkan hatiku. Kau tahu, teman suhu bukan saja hendak merayakan ulang tahun, kabarnya puterinya yang cantik jelita hendak memilih jodoh dan akan diadakan sayembara panggung terbuka bagi ahli-ahli silat untuk mencoba-coba kepandaian puteri Yok-ong Lo Ban Theng. Siapa tahu......."

"Berjodoh dengan puterinya……?"

Sian Hwa menyambung. Sin Thong tertawa lebar, akan tetapi cuma sebentar kemudian wajahnya muram, tak tahu Sian Hwa hati tengah teriris-iris waktu berkata.

"Sian Hwa, gadis manakah yang suka denganku dalam keadaan seperti ini, tubuhku pendek kecil, seperti......."

"Sin Thong, tadi kau yang bilang. Orang yang berbudi tidak melihat dan menilai akan rupa dan wajah, akan tetapi kenapa sekarang kau begitu pesimis? Kau bilang padaku jangan rendah diri, malah pertebal kepercayaan pada diri sendiri, karena dengan jalan itu merupakan senjata ampuh untuk mencapai cita-cita! Kau ini bagaimana sih, pintar ngajarin orang, akan tetapi kau tidak dapat mengamalkan perkataanmu itu!"

Sian Hwa menyindir dan berkata sambil mengulangi kata-kata yang barusan pernah dikatakan oleh laki-laki cebol ini.

Sengaja ia merubah sebagian perkataan Sin Thong untuk menyerangnya, ia tahu dan menyadari karena tubuhnya yang pendek dan kecil sudah pasti teman laki-lakinya ini merasa rendah diri.

Mendengar perkataan Sian Hwa, pemuda cebol yang bernama Go Sin Thong itu merasa terpukul juga oleh kata-kata yang pernah dia keluarkan untuk menasehati gadis kawannya tadi.

Kini kata-kata itu dipakai untuk menyerang dirinya!!

Sambil tersenyum pahit dia berkata.

"Rendah diri memang tidak boleh Sian Hwa, akan tetapi dalam mengambil tindakan kita harus berlaku hati-hati dan tidak semberono, sebaiknya menyelidiki dahulu keadaannya.

"Menyelidiki apanya?? Kalau kau menang dalam sayembara itu, bukankah kau mendapat hadiah dan memboyong puterinya Lo Ban Theng? Eh!! kalau berhasil jangan lupa kartu merahnya lhoo......."

"Aii, kau sudah ngaco sampai ke situ. Kartu merah sih gampang, bagaimana kalau puterinya Yok-ong tidak demen padaku, kan berabe!"

"Pasti demen deh, pasti cinta!!"

"Ngomong sih gampang, sudahlah Sian Hwa, lihat matahari sudah tenggelam, sebentar lagi akan gelap, hayo kita pulang kembali…...!!"

"Sin Thong, apakah kau pernah melihat puterinya Yok-ong itu??"

Tanya Sian Hwa sambil melompat turun, kemudian berjalan mengikuti Sin Thong berlari-lari di sepanjang sungai itu.

"Tentu aku kenal Sian Hwa, kalau tidak masakan aku mau mengikuti sayembara itu...... Aku sering disuruh suhu ke sana untuk mengambil akar obat-obatan. Tentu saja, sebagai seorang ahli pengobatan seperti suhu, ia kenal baik dengan Yok-ong Lo Ban Theng, malah sering pula aku bertemu dengan puterinya yang bernama Lo Siauw Yang. Kepandaian silatnya hebat, mungkin aku sendiri tidak dapat menandinginya!!" "Tentunya cantik jelita, Lo Siauw Yang bukan??"

"Cantik atau tidak itu nomor dua bagiku Sian Hwa, yang terpenting, disamping kecantikan itu apakah ada rasa kasih sayangnya terhadapku. Itu nomor satu. Cinta, tanpa cinta aku tak dapat memilikinya!"

Mendengar itu Sian Hwa termenung, terkenang pula dia akan Tiang Le, mereka saling menyinta.

Akan tetapi kenapa dia tidak dapat memiliki Tiang Le yang sangat dia cintai itu??

Malahan bagaimana keadaannya Tiang Le tak tahu dia.

Ingin sekali dia bertemu dengan pemuda itu, sudah lama ia merindukannya, biar buntung ia masih mencintainya.

Tapi apakah Tiang Le masih hidup, Sian Hwa menjadi kuatir, jangan-jangan Tiang Le sudah diseret air sungai dan tenggelam, mati??

Ahh, kalau bagitu mana dapat lagi ia bertemu dengannya!!

Tidak, seandainya Tiang Le masih hidup dan melihat wajahnya seperti ini, apakah dia masih mencintainya?

"Aku harus tahu diri,"

Demikianlah Sian Hwa berpikir.

Ia tidak banyak berbicara lagi, dia hanya berlari?

Di sebelahnya Sin Thong!

Pikirannya menerawang jauh, dan tenggelam dalam lamunannya mengenang Tiang Le!

Demikianlah pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Thong dan Sian Hwa meninggalkan dusun.

Kwa-sinshe memberi sebuah hadiah yang dititipkan pada muridnya untuk ulang tahun sahabatnya yang bernama Yok-ong Lo Ban Theng.

Ia sendiri tidak dapat pergi karena ia harus memeriksa seorang pasien yang katanya kecelakaan di sungai.

Oleh sebab itu karena iapun sangat repot sekali, maka muridnyalah yang diutusnya untuk menghadiri perayaan ulang tahun sahabatnya di kota Wei An, seratus lie kira-kira jauhnya dari dusun Sian-lian-bun ini.

Ia cuma memesan kepada muridnya.

"Sin Thong, wakililah gurumu ke sana memberi selamat kepada Yok-ong locianpwe yang dikenal itu dan sekedar hadiah dariku, kau berikanlah ini. Ingat, muridku! Kau harus menjaga nama baik gurumu di sana. Jangan berlaku semberono dan kabarnya disamping perayaan se-jid (ulang tahun) itu kabarnya Yok-ong akan mengadakan sayembara permainan silat untuk memilih jodoh puterinya. Kalau memang tidak perlu, tak usah kau mengikuti sayembara itu! Mengerti kau muridku?"

"Teecu (murid) akan melaksanakan pesan suhu. Akan tetapi sebetulnya teecu tertarik akan sayembara permainan silat itu. Apakah suhu mengijinkan untuk teecu turut serta?"

Kwa-sinshe menarik napas panjang.

Ia menatap tajam ke arah muridnya ini.

Mata yang tua itu sebentar saja sudah dapat menangkap apa yang terkandung di hati muridnya.

Ia mengerti keadaan muridnya.

Biarpun tak pernah muridnya mengutarakan isi hati kepadanya, namun orang tua yang berpengalaman ini sudah dapat menerka isi hati si murid.

Sejak dulupun ia sudah tahu bahwa muridnya ini tertarik dengan puteri sahabatnya.

Beberapa kali apabila Sin Thong disuruhnya ke Wei An selalu ia bercerita tentang puteri itu.

Sekarang, puteri itu hendak dicarikan jodoh dengan seorang pemuda yang dapat menandingi ilmu silat keturunan Lo Ban Theng.

"Gila, benar!"

Pikir Kwa-sinshe.

"masa memilih jodoh saja harus melalui sayembara pertandingan ilmu silat. Keterlaluan!"

Akan tetapi ia mengutus juga Sin Thong!

Ada setengah hari mereka berkuda melakukan perjalanan dengan amat cepatnya, pada siang hari itu sampailah mereka di kota Wei An, sebuah kota kecil di sebelah timur Cin-an, di lembah sungai Huang-ho.

Tidak berapa jauh, kira-kira duaratus lie di sebelah utara terdapat sebuah kota yang menjadi pusat wilayah pemerintahan yang bernama Kotaraja, menjurus ke sebelah timur terdapat lautan Po-hay.

Tidak jauh pula dari tempat ini di sebelah selatan terdapat kota dagang An Hui.

Oleh karena kota Wei An ini begitu strategis letaknya maka tidak heran kalau kota ini ramai sekali.

Karena tempat ini merupakan pelabuhan bagi perahu-perahu yang mengangkat barang hasil bumi yang hendak dilayarkan ke laut timur.

Sin Thong dan Sian Hwa memasuki kota Wei An.

Hari telah siang ketika mereka memasuki kota itu.

Sin Thong yang pendek kecil berpakaian keren sekali.

Pedang pemberian suhunya diselipkan dibalik jubahnya yang lebar.

Ia berpakaian seperti seorang siucay (pelajar), meskipun pemuda ini pendek dan kecil akan tetapi mempunyai wajah yang cukup tampan.

Alisnya tebal berbentuk golok, wajahnya putih halus.

Dan disebelahnya berjalan Sian Hwa menuntun kuda putih, mukanya tertutup kerudung sutera hitam, sehingga tidak menampakkan wajahnya yang buruk menakutkan itu.

Untuk selamanya, ia selalu memakai kerudung hitam ini.

Dengan demikian orang tak tahu akan cacad wajahnya!

Nampak cantik sekali gadis remaja langsing itu dengan pedang terhias di punggung.

Pakaiannya ketat mencetak tubuh yang langsing.

Sin Thong yang sering kali mengunjungi kota ini tak begitu sukar mencari rumah Yok-ong Lo Ban Theng.

Rumah besar yang kini sudah terhias dengan hiasan-hiasan kertas dan lampu-lampu yang mentereng dan indah sekali.

Begitu mereka sampai di depan gedung Yok-ong, banyak sekali tamu-tamu yang berdatangan.

Suara musik terdengar sampai ke luar sini.

Di depan gedung itu terdapat sebuah panggung lui-tay (panggung khusus untuk bermain silat), akan tetapi masih sepi di bagian sana.

Tanpa sungkan lagi Sin Thong mengajak Sian Hwa memasuki halaman rumah keluarga Lo yang sudah terhias indah itu.

Nampak seorang tinggi besar yang berpakaian seperti seorang pembesar berdiri menyambut tamu-tamunya.

Pada saat Sin Thong berhadapan dengannya, dia menjura memberi hormat dan berkata.

"Lo Yok-ong, siauwte Go Sin Thong menghaturkan hormat dan selamat ulang tahun kepada Lo Yok-ong, semoga diberkahi umur panjang dan hidup sejahtera!!"

"Haa....... haa, Sin Thong, kenapa datang sendiri? Mana Kwa Sicu gurumu?"

Orang tua itu tertawa senang melihat kedatangan anak muda yang dikenalnya ini. "Maaf Lo Yok-ong, suhu berhalangan datang dan mengirim salam selamat untuk Lo Yok-ong,"

Kata Sin Thong sambil memberikan hadiah dari gurunya kepada sang raja pengobatan ini.

"Haayaaa pakai antar-antaran segala!! Terima kasih....... terima kasih, sampaikan salam hormatku untuk gurumu Sin Thong. Eeh, siapa nona ini??"

"Dia kawan siauwte!"

Sahut Sin Thong.

"Kawanmu, silahkan duduk....... silahkan duduk siocia!"

Lalu seorang penyambut tamu mengantarkan Sian Hwa ke ruangan tamu yang disediakan khusus untuk tamu-tamu wanita.

Sedangkan Sin Thong duduk di dekatnya Yok-ong Lo Ban Theng.

Waktu pandangannya terbentur dengan seorang gadis cantik, berpakaian kembang-kembang merah bergaris-garis biru, hatinya Sin Thong jadi berdebar-debar.

Itulah dia puteri dari Yok-ong yang bernama Lo Siauw Yang.

Cantik sekali gadis yang berpakaian kembang-kembang merah itu.

Banyak sekali tamu-tamu yang berdatangan, di antaranya juga hadir pembesar setempat dan tokoh-tokoh kang-ouw.

Mereka ini sengaja datang dari berbagai tempat untuk ikut memberi hormat dan merayakan hari ulang tahun yang kelimapuluhnya Yokong Lo Ban Theng, Tamu-tamu itu terdiri dari berbagai orang, misalnya seperti orang perautauan, pertapa, pelajar, guru silat dan banyak pula yang lagaknya seperti pendekar silat dan ada pula beberapa wanita, tetapi mereka itu adalah ahli-ahli silat terkenal.

Itu semua tidak heran, karena tokoh-tokoh kang-ouw manakah yang tidak mengenal Yok-ong Lo Ban Theng yang namanya sudah tersohor sejak puluhan tahun yang lalu.

Orangtua she Lo ini, di samping terkenal sebagai ahli pengobatan sehingga mendapat gelar Yok-ong (raja obat), dia juga terkenal pula sebagai seorang pendekar tua yang terkenal kepandaian ilmu silatnya.

Pada waktu orang tua she Lo itu masih muda, entah berapa banyak kali ia sudah malang melintang di dunia Bulim, membasmi kaum pemberontak, menghancurkan sarang bajak laut di lautan Po-hay, dan karena sifat kependekaran yang berjiwa satria inilah sehingga keturunan obat she Lo dikenal di daratan Tiongkok, sampai ke dunia Barat.

Tentu saja di samping handai tolan, sanak famili, pembesarpembesar undangan, di antara mereka kebanyakan adalah orang kang-ouw biasa, terdapat juga Hok-kian Sin-hauw Bi Goan, harimau sakti dari Hok-kian, Hak-san tayhiap Ong Kwi si pendekar dari Hak-san dan Kong Jin Kek yang berjuluk orang si Dewa Arak atau Ciu-sian.

Mereka bertiga ini telah mendapat nama pula di dunia kang-ouw.

Terkenal sebagai pendekar-pendekar sejati yang membela kebenaran.

Juga disamping itu hadir juga Wakil-wakil dari cabang-cabang Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, dan Hoa-san-pay.

Mereka ini, para locianpwe kaum tua gagah yang telah berusia sekitar setengah abad itu duduk di tempat kehormatan yang disediakan oleh tuan rumah.

Akan tetapi yang menarik perhatian para tamu dan tuan rumah adalah kedatangan Sin Thong dan Sian Hwa yang berkerudung hitam.

Sebagai orang-orang tua yang banyak malang melintang di dunia kang-ouw, mereka juga mendengar akan perkumpulan hitam yang bernama Sian-li-pay (perkumpulan bidadari) yang kesemuanya terdiri dari kaum wanita muda berkerudung hitam.

Entah apakah gadis yang bersama-sama laki cebol itu adalah salah seorang anggota Sian-li-pay, mau apa dia?

Demikian banyak tamu yang menaruh curiga!

Akan tetapi, karena Sian Hwa sendiri tidak mengetahui hati mereka yang diam-diam menaruh curiga, maka iapun tidak ambil perduli dan acuh tak acuh.

Meskipun dari pandangan matanya ia dapat melihat sikap orang-orang yang tertuju kepadanya, namun karena tidak mengerti ia tenang-tenang saja.

Duduk di bagian kaum wanita muda ia mengawasi tamu-tamu yang berdatangan itu.

Banyak juga memang tamu-tamu yang berdatangan, sehingga taman bunga gedung keluarga raja obat Lo penuh dengan tamu-tamu yang duduk mengelilingi meja, kurang lebih ada duaratus orang tamu yang telah berkumpul di situ!

Pada saat itu terdengar sapaan-sapaan hormat dari para penyambut tamu di depan ketika tiga orang tua memasuki halaman taman.

Yok-ong Lo Ban Theng melirik dan terkejut ia melihat kedatangan tiga orang itu.

Satu seorang tua, akan tetapi tampak gagah dan keren berpakaian seorang jenderal dengan tanda pangkat mentereng di pundak, tahulah Yok-ong bahwa yang datang itu adalah Bong-goanswe, dan Hok Losu, orang tua dari Siauw-lim-pay dan yang satunya lagi, sebaya dengan Bong-goanswe adalah Leng Ek Cu, tokoh Kongthong-pay yang telah dikenalnya.

"Ha ha ha, Lo-kiam enghiong (situa jago pedang she Lo), kenapa tidak menyambut kedatangan kami? Mana Yok-ong Lo-kiamenghiong.......! Ha ha, selamat ulang tahun..... kiong-hie...kionghie!"

Bong-goanswe mengangkat ke dua tangannya menjura dengan hormat ke arah tuan rumah yang datang menyambut? "

Ayaaa…… dikirain siapa, tak tahunya Goanswe dari Kotaraja dan Hok Losu dari Siauw-lim dan sahabat Leng Ek Cu dari Kong-thong pay....... mari….. mari silakan masuk....... silakan duduk!"

Yok-ong Lo Ban Theng menyambutnya dengan hormat.

Ia tahu siapa orangorang ini.

Orang kepercayaan kaisar dari Kotaraja!

"Eh, Lo-kiam-enghiong.......

kabarnya kau hendak mengadakan sayembara untuk perjodohan puterimu, betulkah itu?"

Leng Ek Cu bertanya, sambil mengambil tempat duduk.

"Hanya sebagai selingan saja sahabat, tidak menjadi acara istimewa!"

Yok-ong Lo Ban Theng menyahut perlahan.

"Hehehe, bagus, acara yang menarik juga. Biarlah pinceng berkenan untuk menonton acara pemilihan jodoh....... hahahehehe,"

Hok Losu dari Siauw-lim-pay tertawa.

Suara yang bebas dan besar ini menarik perhatian para tamutamunya.

Aneh kedengarannya, masa seorang hwesio suci berbicara sekeras itu?

Akan tetapi tentunya mereka tidak berani menegur, karena mengenal Hok Losu, hwesio dari Siauw-lim yang luar biasa kepandaiannya!

Sian Hwa melihat pula kedatangan jenderal Bong itu.

Diam-diam ia mengagumi akan wibawa si raja obat she Lo ini, sampai-sampai jenderal dari Kotaraja turut datang.

Hebat!

Setelah semua tamu lengkap jumlahnya kecuali beberapa orang yang tidak dapat datang Yok-ong Lo Ban Theng berdiri di tengahtengah ruangan itu sambil mengangkat tangan memberi hormat ke sekeliling kemudian membuat sambutan singkat.

"Para locianpwe (orang tua gagah), para enghiong yang terhormat dan sekalian saudara-saudara yang terhormat.

Saya menghaturkan banyak terima kasih atas kesediaan saudarasaudara yang telah meringankan kaki datang ke tempat ini guna menghadiri dari perayaan se-jid (ulang tahun) saya yang kelimapuluh.

"Semoga budi baik saudara-saudara mendapat berkah yang berkelimpahan dari Thian (Tuhan). Dan maafkanlah kiranya perjamuan ini kurang lengkap dan amat sederhana sekali dan maafkan pula jika penyambutan-penyambutan kami kurang memuaskan cuwi (saudara-saudara sekalian)."

Kemudian pesta dimulai dengan ramai dan gembira.

Hidanganhidangan lezat dan minuman-minuman dikeluarkan oleh para pelayan.

Hingar bingar sekali suasana di tempat ini.

Tiba-tiba, di tengah-tengah pesta seorang yang duduk di bagian kaum muda berdiri mengajukan usul.

"Lo-enghioag, siaute yang muda dan bodoh ini mendengar desas desus kabarnya pada hari se-jid Lo-enghiong akan diadakan sayembara permainan silat dan pemilihan jodoh sang puteri, apakah ini benar?"

Semua para hadirin melirik dan memandang kagum melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan mantap dalam berkata-kata tadi.

Orang muda itu masih sangat muda, berusia sekitar sembilanbelas tahun.

Kulit mukanya putih kemerahan seperti wanita.

Berpakaian warna biru, gerak-geriknya halus.

Pemuda tadi berkata-kata sambil memegang kipas hitam di tangannya mengebas-ngebaskan tubuhnya yang seperti orang kepanasan.

Tertarik sekali tuan rumah melihat tamu muda yang tampan dan berani mengeluarkan pendapat tadi.

Entah siapakah orang muda itu?

Yok-ong Lo Ban Theng berdiri.

Ke empat penjuru ia memberi hormat agak membungkukkan badannya dan berkata.

"Cuwi (tuantuan sekalian), benarlah seperti kata-kata orang muda baju biru tadi. Memang di samping hari baikku ini, saja yang tua berkenan untuk mengadakan sayembara pertunjukan silat, sekalian untuk mencari jodoh bagi puteriku yang tunggal ini, bernama Lo Siauw Yang!"

Orang tua itu menunjuk ke arah puterinya.

Siauw Yang berdiri memberi hormat.

Mengangguk perlahan.

Melihat gadis ini, banyak kaum muda tertarik akan kecantikan puteri Lo Ban Theng ini, diamdiam mereka hendak mengikuti sayembara ini.

Siapa tahu!

"Puteriku yang bodoh itu bernama Lo Siauw Yang,"

Memperkenalkan orang tua itu.

"Syarat-syarat untuk mengikuti sayembara adalah sebagai berikut. Seorang pemuda, tidak lebih dari tigapuluh tahun usianya, belum mempunyai istri dan mempunyai kepandaian silat. Bagi siapa yang berminat mengikuti sayembara ini, harap mempertunjukkan permainan silatnya untuk saya nilai!!"

Kemudian sambungnya.

"Sekiranya orang muda itu memenuhi syarat tadi, maka orang muda itu akan diuji melawan tiga orang pelayanku yang bernama Sam-hauw-swat-cu-eng (tiga harimau mustika salju). Apabila dapat mengalahkan ke tiga pembantuku itu, maka puteriku yang bodoh berkenan mengujinya!! Nah itulah syarat-syaratnya!"

Si dewa arak Kong Sin Khek tertawa.

"Ha… haa... haa…. Yok-ong pinter sekali memilih mantu, menarik sekali acara ini, sayangnya aku sudah tua dan tentunya tidak diperkenankan menggikuti sayembara ini bukan??"

Lo Ban Theng tertawa lebar.

"Hayaaa, sudah barang tentu tidak boleh bagi kita yang sudah tua ini. Tetapi saja persilahkan para locianpwee di sini untuk menjadi saksi dan sebagai jurinya!!"

"Akuur. Kami para tua bangka yang sudah pada mau mampus ini biarlah yang menjadi juri dan saksinya, he... he!"

Sahut Hak-san tayhiap Ong Kwie sambil melirik ke arah kaum muda yang sudah gatal tangan hendak memamerkan kepandaiannya. Yok-ong Lo Ban Theng mengangkat alis dan pundak, katanya.

"Yang diperkenankan maju hanyalah orang muda yang tidak lebih tigapuluh tahun usianya!"

Lalu dengan suara keras ia memberitahu kepada semua tamu bahwa pertunjukan akan segera dimulai.

Semua mata para tamu tertuju ke arah panggung terbuka yang memang sejak tadi sudah disiapkan di tengah-tengah taman bunga yang berbentuk segi empat luasnya.

Sebagai acara pembukaan, putri Yok-ong Lo Ban Theng yang bernama Lo Siauw Yang meloncat ke atas panggung dengan gerakan ringan dan indah.

Tepuk tangan para hadirin menyambut berkelebat bayangan merah berkembang.

Ternyata Siauw Yang sudah berada di atas panggung dan dengan mengangguk tiga kali sebagai penghormatan untuk para tamu, kemudian dengan gerakan yang cepat dan mantap ia sudah memainkan jurus-jurus ilmu pedang dari keturunan Yok-ong Lo Ban Theng.

Cepat sekali gerakan-gerakan gadis ini sehingga bagi para tamu yang berkepandaian yang tidak tinggi hanya melihat sebuah bayangan merah berkelebat-kelebat di antara gulungan sinar perak.

Cuma sebentar Siauw Yang memainkan ilmu pedangnya, hanya jurus-jurus kembangnya saja.

Kemudian ia menghentikan permainannya dan setelah memberi hormat dengan membungkukan badan tiga kali ia mencelat ke bawah dengan gerakan ikan lele meloncat di air, maka untuk yang terakhir nampak tiga kali bayangan merah meletik dari atas panggung berpok-say dan tahu-tahu tubuh gadis itu telah berdiri di samping ayahnya, Yok-ong Lo Ban Theng.

Terdengar lagi suara tamu-tamu memuji.

Hening untuk seketika.

Pandangan mata tertuju ke arah panggung mengharapkan seorang yang meloncat ke arena memamerkan kepandaiannya.

Tentu saja setelah gadis Siauw Yang memamerkan ilmu pedangnya, banyak hati orang muda yang tadinya hendak mencoba-coba kini menjadi ciut nyalinya.

Diam menanti reaksi dari yang lain.

Ada sekitar lima menit.

Tiba-tiba dari ruangan tengah mendatangi seorang laki-laki tinggi kurus berusia sekitar duapuluh lima tahun dan dengan langkah lebar ia menghampiri lui-tay dan meloncat ke atas.

Terdengar sambutan dari para tamu.

"Siauwte she Khu bernama Ho Siang. Sedikit hendak memperlihatkan kebodohan sendiri, harap para cuwi (tuan-tuan sekalian) tidak mentertawakan kebodohanku ini,"

Sehabis berkata demikian pemuda tinggi kurus yang memperkenalkan diri dengan nama Ho Siang mengeluarkan sebuah suling berwarna hitam.

Suling ini panjangnya ada sekitar dua kaki.

Orang-orang yang melihat pemuda itu mengeluarkan suling hitam, ada yang tertawa-tawa, malah ada yang mengejek.

Untuk apa pemuda tinggi kurus itu mengeluarkan suling, hendak bermain musik?

Akan tetapi pandangan mereka tetap tertuju ke atas lui-tay dan memperhatikan pemuda tinggi kurus itu.

"Saja dari desa Ngingkelak di India. Karena sejak kecil saya doyan sekali main suling dan ini merupakan hobby saya, maka saja hendak mempertunjukkan kepada cuwi permainan suling hitam saja,"

Pemuda tinggi kurus Ho Siang, menempelkan tubuh sulingnya ke dekat bibir.

Akan tetapi baru saja ia hendak meniup, terdengar suara tertawa keras.

Pemuda itu menurunkan lagi sulingnya dan menengok.

Ia mengerutkan kening begitu dilihatnya yang mentertawakannya tadi adalah seorang pemuda tampan berbaju biru dan memegang kipas hitam, mengibas-ngibaskan kipasnya, seperti orang kegerahan.

"Kenapa saudara tertawakan saya?"

Tanya Ho Siang menurunkan suling hitamnya.

Pemuda baju biru tertawa.

Bibirnya yang kecil itu menarik sekali waktu tertawa seperti itu.

Diam-diam para tamu yang melihat pemuda tampan baju biru itu tertarik kagum.

Siauw Yang berdebardebar hatinya.

Entah mengapa ia merasa kagum dan simpati kepada pemuda tampan baju biru itu.

Si pemuda tampan baju biru berdiri.

Senyumnya yang mengejek itu mengeluarkan perkataan ketus.

"Lui-tay (panggung tempat bermain silat) bukannya tempat memamerkan kepandaian meniup suling, mengapa kau begitu sinting untuk mempertunjukkan suling bututmu yang jelek itu?"

"Apa? Kau ini siapa, hemm pemuda mulut lancang. Tuan rumah sendiri tidak melarang. mengapa kau begitu melarangku?"

"Siapa yang tidak melarang? Lihat semua para hadirin sudah mengutuk kesintinganmu. Masa bukan mempertunjukan ilmu silat eh, kau bermain suling di situ. Kalau tidak punya kepandaian silat, hayo turun saja!"

"Kau menantangku?"

Si pemuda tinggi kurus yang bernama Ho Siang itu mendelik hendak menelan pemuda tampan ini.

Diamdiam ia merasa heran mana ada pemuda demikian tampan, alisnya, matanya, bibirnya yang kecil bagus.

Hemm, sangat tampan memang!

"Siapa yang takut sama suling bututmu?

Dengan kipas hitamku saja kau pasti terguling!"

"Sombong! Kalau ada nyali naik kau!"

Ho Siang menjadi panas hatinya.

Heran sekali dia mengapa melihat pemuda tampan ini hatinya begitu gemas!

Hemm, melihat wajah tampan itu.

Tak rela ia, Biasanya pemuda yang seperti ini, tentu ceriwis dan suka godain perempuan.

Merayu perempuan!

Melihat dua orang muda ini sudah saling bertengkar mulut, Yokong Lo Ban Theng segera melerai, katanya.

"Orang muda yang memegang suling! Benar kata tuan muda baju biru itu bahwa luithay disediakan untuk mereka yang mengerti ilmu silat. Dan bukan tempatnya untuk bermain suling!"

"'O, ah…. Maaf….. maaf!"

Sambil menjura begitu pemuda kurus Ho Siang.

berjalan menuruni panggung.

Orang-orang muda mentertawakan kesintingan pemuda kurus itu.

Malah pemuda baju biru berkata perlahan waktu ia lewat di depannya.

"Apa kataku, kalau mau ngamen (mempertunjukkan) permainan suling bututmu, di pasar saja, banyak saja yang tonton dan nasib mujur ada yang melempar uang kepadamu. Di sini, bukan tempatnya!"

Ho Siang menoleh.

Gemas sekali ia sama mulut pemuda tampan ini, kepingin sekali ia mencubit bibir yang menggemaskan itu.

Sayang di muka umum.

Awas kau nanti, kucubit bibirmu yang lemes itu!

Akan tetapi ia diam saja dan duduk di tempat semula.

Sian Hwa yang duduk tidak jauh dari Sin Thong memandang dan melemparkan pandangannya ke panggung memberi isyarat untuk pemuda itu maju ke muka.

Akan tetapi Go Sin Thong memberi isyarat pula menggelengkan kepalanya.

Ia melirik ke arah Siauw Yang.

Siauw Yang membalasnya memandang dan tersenyum.

"Seeer...mati kau!"

Bersambat Sin Thong menerima senyum itu.

Sebetulnya ingin sekali ia mencoba-coba kepandaian gadis ini, namun segan terhadap orang tuanya!

Ia masih memberikan kesempatan itu kepada tamu-tamu lain!

Baru saja tuan rumah Yok-ong Lo Ban Theng hendak membuka suara, tiba-tiba dari luar mendatangi serombongan tamu baru yang jalan terdepan adalah seorang kakek-kakek setengah tua bersorban merah di atas kepala, berusia kurang lebih empatpuluh tahun.

Tubuhnya tinggi tegap.

Begitu masuk ia berkata keras.

"Ya, pantas Lo lo-enghiong melupakan kami, kiranya masih sibuk sekali."

Semua orang menengok, dan Yok-ong Lo Ban Theng memandang agak tidak senang tapi terpaksa ia maju menghampiri dan menyambut mereka.

"Maaf, saya orang tua menyambut agak terlambat."

Ia lalu membawa berempat ke ruang yang masih kosong. Begitu orang setengah tua bersorban merah itu melihat Bonggoanswe ia menundukan kepala dengan penuh hormat.

"Maaf kiranya Bong Bong Sianjin juga tidak ketinggalan di sini, eh, Hok Losuhu dan Leng sicu juga hadir. Wah pesta meriah sekali nih!"

"Te-thian Lomo, hayaa, baru ketemu lagi, bagaimana banyak maju?"

Tanya Bong-goanswe yang mulanya dikenal sebagai Bong Bong Sianjin.

Antara para tamu yang tidak mengambil perhatian di antara atas percakapan orang itu adalah sepasang mata di balik kerudung sutera hitam yang memandang terbelalak mengeluarkan sinar api.

Ini tampangnya pembunuh suhu, Bong Bong Sianjin dan itu yang bersorban merah adalah Te-thian Lomo.

Hm, kebetulan sekali, pikir Sian Hwa.

Ingin sekali ia menerjang musuh besarnya itu, akan tetapi mengingat tuan rumah yang tengah berulang tahun.

Tak mau ia membuat kacau tempat pesta orang tua she Lo itu.

Setelah menuang arak dan menawarkan makan untuk tamu-tamu barunya itu, Yok-ong Lo Ban Theng kembali ke atas panggung dan mempersilahkan tamu mudanya untuk memperlihatkan sedikit kepandaian.

Baru saja habis tuan rumah berbicara dan hendak melompat turun, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan tahu-tahu di atas panggung itu telah berdiri seorang pemuda yang terus menjura kepada tuan rumah sambil katanya.

"Locianpwee maafkan saja yang muda!"

Yok-ong Lo Ban Theng tersenyum.

"Silahkan orang muda!" Kemudian ia melompat turun dan memberi kesempatan kepada orang yang baru datang itu. Orang itu adalah seorang pemuda yang berusia tigapuluh tahun, wajahnya merah seperti udang rebus, sepasang tangannya mengeluarkan otot-otot yang kuat, dadanya bidang akan tetapi tidak dapat dikatakan tampan karena hidungnya yang besar dan bibirnya yang tebal keras itu. Alisnya lebat keren, rambutnya tertutup oleh topi yang terbuat dari kain putih pula, sebelum dia berkata pemuda itu melemparkan senyum ke arah Siauw Yang yang menerimanya tanpa memberi reaksi.

"Saja bernama Tiat Hauw disebut orang si Lengan besi. Dan saja akan menunjukkan kebisaan saja."

Orang yang bernama Tiat Hauw itu kemudian bersilat dengan tangan kosong.

Gerakannya mantap, tenaganya mendatangkan angin menandakan tenaga yang besar.

Dilihat dari sepintas, gerakan tangan kosong pemuda itu mirip dengan ilmu silat cabang Go-bi-pay, hanya gerakan-gerakan kaki itu yang masih nampak kaku dan menggunakan jurus-jurus menendang.

Padahal ilmu silat Go-bi-pay tidak dikhususkan ilmu tendangan berantai, akan tetapi pemuda baju putih ini selalu menekankan pada gerakan menendang!

Sorak sorai tepuk tangan para hadirin menyambut pemuda itu bersilat.

Akan tetapi sebentar cuma, ia berhenti dan memandang kepada tuan rumah.

"Bagaimana locianpwe...... apakah ilmu silatku dapat nilai menurut pandanganmu?"

Yok-ong Lo Ban Theng yang bermata tajam itu dapat melihat betapa gerakan-gerakan pemuda Tiat Hauw itu masih mentah, meskipun kalau dilihat sepintas cukup baik.

Ia tersenyum lebar dan memberi isyarat kepada salah seorang dari Sam-hauw-swat-cueng yang bernama Lie Bun Ceng.

Orang ketiga dari Harimau Mustika Salju.

Lie Bun Ceng ini terkenal ilmu silat tangan kosong yang bsrsumber dari cabang Jiu-jit-siu dan digabung dengan ilmu silat peninggalan Yok-ong Sauw Lee, kakek dari Yok-ong Lo Ban Theng ini yang bernama ilmu silat Swat-cu-kiam-hoat atau ilmu pedang mustika salju yang terkenal ini.

Kemudian Lie Bun Ceng menghampiri Tiat Hauw yang digelar si Lengan Besi itu sambil tertawa berkata.

"Nah Tiat Hauw yang gagah biarlah aku yang tua ini akan mengujimu..... Kau keluarkanlah senjatamu!"

"Saja biasa dengan tangan kosong Lo-enghiong....."

"Kalau begitu baiklah, aku juga akan melayanimu dengan tangan kosong pula. Tiat Hauw sicu, majulah dan perlihatkan kepandaianmu!! "

Maaf aku yang muda berlaku kurang ajar!"

Berkata demikian Tiat Hauw yang berjuluk si Lengan Besi mengirim jotosan ke arah Lie Bun Ceng dengan gerak tipu Pay-san-to-hay (Menolak Gunung Mengeruk Laut), sebuah pukulan yang mengeluarkan tenaga besar.

Tangan yang berotot itu menyambar ke arah perut Lie Bun Ceng.

Tentu saja orang tua she Lie tidak mau perutnya menjadi sasaran jotosan pemuda yang terkenal dengan julukan Si Lengan Besi, ia tahu kalau membiarkan perutnya itu dijotos tangan berotot itu akan berantakan usus-ususnya, maka sebab itu sambil berseru.

"Bagus!"

Ia miringkan tubuhnya dan bergerak cepat menggunakan tipu Jiu-jit-su menangkap lengan itu, akan tetapi Tiat Hauw menarik lengannya, dan kini berganti dangan tendangan menyusul.

Tiat Hauw berseru keras, kakinya yang besar itu berganti-ganti menendang dengan tendangan beruntun.

Melihat bahwa tendangan lawannya ini masih lemah dan nampaknya hanya luarnya saja ganas akan tetapi lemah pertahanannya, Lie Bun Ceng membiarkan tubuhnya terhantam kaki kiri Tiat Hauw.

Tiat Hauw girang sekali melihat lawannya tidak menangkis tendangannya ini sambil membentak.

"robohlah!"

Kaki kirinya menendang kuat dan penuh tenaga.

Akan tetapi, terdengar Tiat Hauw menjerit kaget dan tahu-tahu kakinya dijepit oleh sepasang tangan yang amat kuat, dan tanpa dapat dihindarkan lagi, waktu tangan itu bergerak mengangkat tubuh Tiat Hauw terjengkang terpelanting ke belakang dengan amat kuatnya.

Tentu saja Tiat Hauw menjadi heran, gerakan apa itu demikian kuat dan yang telah berhasil menjepit tendangannya!

Ternyata Lie Bun Ceng dalam gebrakan ketiga itu telah menggunakan ilmu tangkapnya yang disebut Jiu-jit-su.

Memang ini khusus menangkap dan membanting.

Inilah keistimewaan Lie Bun Ceng orang tua ketiga dari tiga harimau mustika salju.

Sambil meringis karena tulang kakinya patah, Tiat Hauw menjura kepada tuan rumah dan tanpa bilang apa-apa lagi ia berkelebat lenyap di tempat itu.

Akan tetapi bersamaan dengan perginya Lengan Besi Tiat Hauw, tiba-tiba seorang perajurit kerajaan memasuki tempat itu dan berkata.

"Maaf Lo-enghiong, permisi kami hendak bertemu dengan Goanswe dari kotaraja!"

Kata perajurit kepada tuan rumah yang sudah berdiri menyambutnya. Yok-ong Lo Ban Theng tersenyum ramah dan mempersilahkan perajurit itu bertemu dengan Bonggoanswe.

"Ada apa kau datang kemari?"

Bong-goanswe bertanya keren dan mengerutkan keningnya tidak senang.

Tatapan matanya tajam memandang perajurit dari kotaraja itu.

Dia kenal dengan perajurit ini.

Akan tetapi ia merasa lebih tinggi tingkatnya itu, tidak memperlihatkan muka yang bersahabat kepada bawahannya ini.

Perajurit itu menghormat mengangkat ke dua tangannya menjura.

"Goanswe, maafkan kalau saja mengganggu!"

"Hem, ada apa? Lekas katakan!"

"Saya dari dusun Siauw-ling, melaporkan kepada Goanswe bahwa Nguyen-loya telah terbunuh oleh seorang gadis kang-ouw yang menamakan dirinya Kwan-im Sianli. Gadis muda itu mengacau Siauw-ling dan membunuh pula Nguyen kongcu dan membakar gedung, harap Goanswe menjadi tahu adanya,"

Demikian perajurit itu melapor.

"Pergilah, sebentar aku menyusul!"

"Baik Goanswe,"

Sahut prajurit itu. Yok-ong Lo Ban Theng menghampiri tamunya dan berkata.

"Ah, ada berita penting rupanya?"

Bong-goanswe berdiri dan mengangkat tangannya menjura diikuti dengan Hok Losu dan Leng Ek Cu.

"Lo-kiam-enghiong, maafkan kami tak dapat berlama disini, terima kasih untuk hidangan dan sambutanmu!!"

"Oho, kenapa begitu tergesa-gesa??"

"Kami hendak ke Siauw-ling, lain kali kami mampir ke sini dan ngobrol sepuas-puasnya dengan kau orang tua. Sekarang permisi dulu Lo-kiam-enghiong.......!!"

"Terima kasih atas kunjungan sam-wie Enghiong!"

Kata Yok-ong Lo Ban Theng sambil menjura melepaskan ke tiga tamunya pergi.

Maka berangkatlah ke tiga orang tua itu menuju ke Siauw-ling.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Bong-goanswe bertemu dengan Bwe Hwa dan Liok Kong In, dan karena hebatnya ilmu pukulannya yang disebut hui-thian-jip-te, Bwe Hwa dan Kong In tidak dapat menghindarkan pukulan yang dahsyat itu dan mereka berdua terlempar ke dalam jurang yang curam dan tidak kelihatan dasarnya.

Setelah memukul kedua orang muda itu, muncullah Sian Hwa, gadis ini melihat musuh besarnya yang bernama Bong Bong Sianjin itu meninggalkan gedung Yok-ong Lo Ban Theng, dengan diam-diam iapun menyelinap pergi dan mengikuti Bong-goanswe ini.

Akan tetapi sangat disayangkan dia terlambat sampai di hutan itu dan melihat suci dan suhengnya Bwe Hwa dan Kong In terlempar ke jurang, maka dengan kebencian yang amat hebat, Sian Hwa menerjang Bong Bong Sianjin dan karena kepandaian musuh besarnya ini jauh di atas tingkat kepandaiannya, maka iapun ditawan oleh ketiga orang tua aneh ini untuk dibawa ke pulau bidadari!

◄Y► Kita kembali ke gedung Yok-ong tengah mengadakan sayembara pertunjukan silat untuk mencari jodoh bagi puterinya yang bernama Lo Siauw Yang.

Setelah Tiat Hauw si lengan besi itu telah dibikin keok oleh Bun Ceng orang ketiga dari pembantu Yok-ong yang berjuluk Sam-hauw-swat-cu-eng (Tiga harimau mustika salju), maka panggung itu kembali kosong dan para tamu menanti-nanti peserta lain yang belum menampakkan dirinya.

Sebetulnya banyak sekali para pemuda yang berhasrat mengikuti sayembara ini, akan tetapi mengingat kepandaian mereka masih jauh dan belum memenuhi syarat, maka banyak mereka yang menarik kembali hasratnya itu dan menanti saja dengan hati tertarik, menonton!

Yok-ong Lo Ban Theng juga kecewa melihat keadaan ini.

Ternyata dari sekian banyak pemuda yang hadir, sedikit sekali yang menaruh minat.

Diam-diam ia yang sudah menaruh simpati kepada pemuda tampan baju biru.

Matanya yang tajam dapat melihat akan isi anak muda itu.

Berkali-kali ia melirik.

Dan Siauw Yang juga mengharapkan munculnya pemuda tampan ini.

Ia percaya tentu pemuda tampan ini mempunyai simpanan yang boleh juga.

Kalau tidak masakan ia berani menonjolkan diri berkali-kali malah pernah menegur pula seorang pemuda yang bernama Ho Siang itu yang semulanya pemuda itu hendak memamerkan kepandaiannya meniup suling, bukan main silat!

Go Sin Thong tak sabar lagi.

Ia benar tertarik sekali dengan gadis puteri Yok-ong ini.

Beberapa kali ia melirik ke arah Siauw Yang, beberapa kali itu pula dirasakannya dadanya berdebar aneh.

Bergejolak riang dan penuh bahagia.

Melihat bahwa tidak ada lagi kaum muda yang meloncat ke panggung maka dengan dada berdebar dan tegang, Sin Thong berdiri dan meloncat ke atas panggung itu!

Tepuk tangan menyambut munculnya seorang pemuda kecil dan tampan itu.

Yok-ong mengerutkan alisnya.

Sam-hauw-swat-cu-eng memandang heran.

Ketiga orang tua pembantu Yok-ong ini mengenal siapa si cebol itu.

Akan tetapi mereka menjadi heran sekali melihat Sin Thong juga berkenan dalam pemilihan ini.

Sin Thong yang telah berada di atas panggung itu pertama-tama menjura hormat kepada tuan rumah dan berkata.

"Lo Yok-ong, perkenankan siaute memperlihatkan sedikit kebodohan!"

Walaupun hatinya tak senang dan heran, Yok-ong mengangguk.

Tentu saja orang tua ini merasa heran dan mengapa Sin Thong yang dikenalnya baik sebagai murid sahabat baiknya Kwa Shinse bermaksud pula dalam pemilihan jodoh ini?

Tak mengerti ia, dan yang aneh, secara diam-diam hati orang tua ini tidak rela anaknya berjodoh dengan Sin Thong, pemuda kecil pendek!

Dan ia akan mengusahakan untuk mengalahkan Sin Thong.

Sin Thong bersilat dengan tangan kosong.

Gerakan-gerakannya lincah dan mantap.

Ia sengaja bersilat tidak lama karena ia pikir tidak perlu mempertunjukkan silatnya di muka umum.

Ada sekitar limabelas menit.

Ia menyudahi permainannya dan mengangguk kepada Yok-ong Lo Ban Theng.

Orang tua itu menoleh kepada pembantunya, salah seorang dari Sam-hauw-swat-cu-eng yang kali ini orang pertama dari tiga harimau dari mustika salju itu yang menghadapi pemuda cebol untuk mengujinya.

Kali ini yang naik ke atas panggung sebagai pengujinya adalah Bong Kek Cu, terkenal dengan permainan toya besinya dari cabang Siauw-lim-pay.

Bong Kek Cu ini berusia hampir empatpuluh tahun, sebagai pembantu pertama dari Yok-ong Lo Ban Theng, ilmu toyanya sudah dikenal.

Oleh sebab itulah Yokong sekarang mengajukan jagoan-jagoan yang berwatak keras dan berangasan ini!

"Pemuda cebol, aku sudah siap, tunggu apa lagi?"

Datang-datang Bong Kek Cu menegur dengan perkataan yang kasar dan tanpa embel-embel sebagaimana orang hendak berlatih atau mengujinya.

Toyanya yang besar itu sudah diputar-putar mengeluarkan suara mengaung saking kerasnya toya itu menyabet angin.

Melihat bahwa pengujinya ini datang-datang membawa tongkat besi yang disebut toya itu, Sin Thong juga tidak mau berlaku sungkan lagi dan dari balik bajunya ia telah meloloskan pedangnya yang berbentuk melengkung seperti samurai.

Melihat pedang panjang melengkung ini diam-diam para hadirin tersenyum geli.

Pemuda cebol ini menggelikan sekali.

Mana ada pedang yang bentuknya seperti itu?

Tentu saja mereka tidak tahu.

Pedang yang dipegang oleh Sin Thong adalah pedang pusaka yang disebut samurai!

Memang inilah yang diwariskan oleh suhunya Kwa-sinshe, ilmu silat yang bersumber dari negeri Jepang ini pernah diterima oleh suhunya dari seorang bajak laut Jepang yang pernah menguasai laut Po-hay, dan pada suatu hari bajak laut itu sakit payah dan bertemu dengan Kwa-sinshe dan tertolong nyawanya.

Merasa bahwa bajak laut Jepang itu berhutang budi dengan orang she Kwa maka sejak saat itu, Kwa-sinshe menjadi sahabatnya dan mendapat ilmu silat dari Jepang yang bernama.

Karate-do dan ilmu pedang yang disebut samurai!

Tak heran kalau sekarang Sin Thong mengeluarkan pedang samurai pemberian suhunya itu.

Pedang itu panjang dan melengkung.

Dari sampingnya berkilat-kilat akan ketajaman pedang samurai yang tertimpah cahaya lampu.

"Locianpwe Bong Kek Cu, maaf Siauwte yang kurang ajar berlaku lancang."

Sin Thong merendah membongkokkan dirinya seperti seorang samurai Jepang yang hendak memulai pertandingan. Melihat sikap pemuda cebol ini, Bong Kek Cu membentak.

"Cerewet, hayo tandingi toyaku. Lihat serangan!"

Toya yang beratnya limaratus kati itu menyambar mengemplang kepala Sin Thong.

Melihat bahwa kakek Bong Kek Cu ini tidak sabaran dan datang-datang terus mengemplang.

Sin Thong mengelak dari sambaran toya di atas kepalanya dengan menundukkan sedikit kepala.

Toya lewat di atas kepalanya mengeluarkan suara mengaung yang menggeletar.

Kaget sekali pemuda cebol itu, tahulah ia bahwa kakek Bong Kek Cu ini adalah seorang ahli gwakang (tenaga luar).

Sambil menundukkan kepala, pedang samurai yang panjang dan melengak bergerak dari samping melibat kaki lawan.

"weeert!"

Pedang samurai lewat di kaki Bong Kek Cu ketika kakek ini mencelat menghindarkan sabetan pedang samurai.

"Weng, weng, weng!"

Tiga kali toya di tangan Bong Kek Cu berputar.

Ke duanya kini berhadapan.

Bong Kek Cu memegang toyanya yang besar dan berat itu dengan ke dua tangan dimiringkan ke kiri, sedangkan sama seperti kakek itu memegang toyanya, pemuda cebol itu memegang gagang samurainya dengan ke dua tangan erat-erat.

Inilah cara Sin Thong memegang samurainya.

Matanya menatap tajam ke arah Bong Kek Cu.

Bong Kek Cu menggeser kedudukan kuda-kudanya dengan maju selangkah ke depan, kaki kiri di belakang.

Toyanya yang besar bergoyang-goyang.

Sebentar kaki miring-miring ke kanan.

Tiba-tiba Sin Thong berteriak.

"Eittt... jiaaatt"

Pedang samurai berkelebat cepat sekali menyabet ke kiri dan walaupun lambat gerakan itu namun penuh bertenaga.

Suaranya yang besar itu mengejutkan para hadirin.

Memang sedemikianlah cara pemuda cebol ini bersilat, lalu jurusjurus pertama disertai jeritan yang menghentakkan lawan.

Tentu saja kakek Bong Kek Cu sudah mengenal pemuda cebol ini, tahu bahwa lawannya menggunakan jurus-jurus ilmu silat dari Jepang.

Maka begitu saja samurai menyambar ia segera meloncat menekankan toyanya ke tanah membuat tenaga mendorong tahutahu tubuhnya sudah berputaran di atas dengan toya tertekan ke bawah.

Menangkis samurai Sin Thong.

"Trang...!"

Suara keras terdengar waktu toya itu bertemu dengan samurai di tangan pemuda kecil pendek.

Terkejut sekali Sin Thong ketika pedang samurainya bertemu dengan toya, si kakek Bong Kek Cu hampir saja terlepas pedang samurainya kalau tidak cepatsepat ia mengerahkan tenaga pada ke dua lengannya yang kini terasa nyeri.

"Bagus……"

Bong Kek Cu berseru dan tubuhnya meluncur turun dengan tangan kiri di dorong ke depan dengan maksud memukul pemuda itu dengan jarak jauh.

Sin Thong yang tahu akan kehebatan lawan pengujinya ini tidak berani ia beradu tenaga dengan cepat dan lincah ia sudah mengelak dari sambaran pukulan itu!

Terasa angin pukulan membuat ia terhuyung-huyung saking kerasnya pukulan jarak jauh dari si kakek Bong Ek Cu itu.

"Tidak adil, tidak adil!"

Tiba-tiba terdengar suara dari para tamu yang duduk di tengah. Orang-orang menoleh dan heran ia melihat yang bicara itu adalah pemuda tinggi kurus yang tadi hendak bermain suling di panggung.

"Hanya untuk menguji calon mantu mengapa harus mengadu kepandaian di atas tajamnya mata pedang? "

Bukankah banyak cara untuk menilai orang dengan bermain ilmu silat tangan kosong atau dengan senjata suling sepertiku ini?

Mengapa pula harus mengeluarkan toya bau dan pedang bengkung pemotong babi?

Sin Thong menoleh ke arah pemuda yang bicara itu.

Bong Kek Cu juga mendelik.

"Bocah lancang, mengapa kau mencampuri urusan orang?"

Bong Kek Cu menegur. Dari atas panggung itu Sin Thong memandang orang muda tinggi kurus ini tak mengerti.

"Sahabat, apa maksudmu mencampuri urusan ini?"

"Ha ha, orang muda kecil pendek, kau tahu, aku paling benci melihat orang bermain-main pedang seperti penjagal babi dan orang yang membawa-bawa pentungan seperti centeng yang menggagahi dirinya sok pandai. Senjata yang baik adalah senjata yang tidak menakuti orang seperti sulingku ini!"

Si pemuda tinggi kurus mengacungkan suling hitamnya dan tertawa lebar. Merah muka Bong Kek Cu disindir toyanya sebagai pentungan centeng. Berani benar pemuda kurus ini.

"Eh, bocah sinting berani kau menghinaku?"

"Tidak menghina sobat,"

Berkata pemuda tinggi kurus.

"Cuma saja aku hendak usulkan supaya penilaian mencari mantu ini tidak menggunakan ketajaman pedang. Mata pedang tidak bermata, bagaimana kalau sayembara ini membawa jiwa manusia melayang oleh karena pedang tak bermata!"

"Betul juga kata si kurus ini!"

Terdengar suara dari para hadirin yang duduk di tengah-tengah dan begitu orang-orang menengok, mereka tersenyum melihat pemuda tampan baju biru itu berkata.

"Pertandingan dengan senjata tidak adil, sebaiknya diganti dengan ilmu silat tangan kosong saja, bagaimana Lo-enghiong?"

Yok-ong Lo Ban Theng tersenyum.

"Pertandingan selanjutnya tidak boleh memakai senjata tajam!"

Katanya singkat.

"Locianpwee Bong Kek Cu, usul pemuda kurus itu baik sekali, sekarang biarlah aku menyimpan samuraiku!"

Demikian kata Go Sin Thong sambil menyelipkan samurainya ke balik jubahnya dan menanti reaksi dari lawannya ini.

Tentu saja bagi Sin Thong ia lebih suka menghadapi lawannya ini dengan tangan kosong.

Toya Bong Kek Cu dilempar, kemudian ia berkata.

"Baik, tanpa toya aku dapat menandingi bocah cebol ini, dan setelah itu aku mengundang pemuda baju biru untuk naik ke panggung, jangan cuma bisa jual lagak saja di sana!!" "Terima kasih, kalau memang diundang kenapa aku tidak terima, eeeh kakek toya centeng, beresin dulu pemuda kate itu. Kalau kau tidak mampu mengalahkan dia, hmm apalagi mengalahkan aku!!"

"Sombong, tunggu kau pemuda cerewet. Nanti kurejeng mulutmu yang bawel itu, eeh bocah cebol, hayo kau layani kepalanku!"

"Locianpwee harap bermurah hati kepadaku yang bodoh,"

Sin Thong merendah. Akan tetapi Bong Kek Cu yang sudah dibuat jengkel oleh pemuda tampan baju biru mendengus.

"Alasan, nggak usah embel-embel. Sambut pukulanku!"

Bong Kek Cu yang telah menjadi marah sekali mengirim pukulan menyerang dengan jari-jari tangan terbuka.

Inilah cakar setan yang pernah ia warisi dari seorang pertapa di Go-bi-pay beberapa waktu yang lalu.

Saking marahnya ia punya cakar setan itu sudah dikeluarkan tanpa memandang lagi akan siapa yang di hadapinya.

Akan tetapi biarpun serangan dengan jari-jari tangan terbuka ini hebat, namun Sin Thong dapat mengelak dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

"Iyaaaat,"

Tangan kanan Sin Thong menjurus ke depan dengan telapak tangan kanan dimiringkan, sedangkan tangan kiri ditekuk segi tiga di depan dada. Inilah serangan Karate yang hebat luar biasa. "Deeess!"

Tubuh Bong Kek Cu bergoyang-goyang, terhantam pukulan tangan telapak miring dari pemuda cebol ini.

Saking kerasnya telapak tangan yang menggunakan jurus Karate itu membuat Bong Kek Cu yang memandang lawan enteng tadi terperanjat dan terasa sakit pada jari-jari tangannya yang tadi dipakainya mencengkeram.

"Bagus!! Kau mempergunakan karatenya si bajak laut Jepang itu!"

Bong Kek Cu meringis.

akan tetapi dia tidak jadi mundur malahan memasang kuda-kudanya dengan kakinya ditarik ke belakang dan agak ditekuk ke dalam.

Melihat ini Sin Thong juga mengambil posisi karatenya, tangan kanannya terangkat ke atas kepala dengan jari-jari terbuka, sedangkan tangan kiri menjurus ke depan dengan jari-jari tangan dikeraskan pula.

Wajahnya dikeraskan, kakinya terpentang lebar.

Inilah jurus pembukaan karatenya!

"Yaaaattttt…..

eeeiitt!!"

Sin Thong berseru dan ia meloncat tinggi mengirimkan tendangan maut ke arah lawannya.

Hebat sekali tendangannya ini.

Bong Kek Cu mempergunakan gin-kangnya dan meloncat tinggi di udara hingga tendangan maut dari Sin Thong itu lewat di sampingnya tidak mengenai sasarannya.

Sin Thong merasa penasaran sekali dan ketika tubuhnya melayang turun dia menyerang lagi dengan pukulan tangan kanan dimiringkan.

Tangannya bergerak cepat dan meluncur menyabet ke arah leher lawan, kakinya menendang dengan hebat.

Bong Kek Cu terkejut sekali melihat kelihayan karatenya ini, sambil berseru keras dia menggulingkan tubuhnya ke bawah untuk menghindari gerakan istimewa ini.

Tidak disangkanya ilmu karate yang pernah didengarnya itu demikian kuat dan dahsyat!

Setelah berdiri lagi, Bong Kek Cu lalu mengeluarkan ilmu silat Patkwa-ciang-hoat karena maklum bahwa pemuda cebol ini bukanlah seorang lemah, apalagi tadi ia disuguhi permainan jurus-jurus karate yang mengejutkan itu.

Tak berani lagi ia main-main dengan pemuda ini, ia mainkan jurus-jurus Pat-kwa-ciang-hoat dari ilmu silat Siauw-lim-pay.

Dan Sin Thong tercengang juga menyaksikan ilmu silat tangan kosong yang lihay ini.

Beberapa kali ia beradu lengan, ia terhuyung mundur.

Tahulah ia bahwa lawan Bong Kek Cu ini mempunyai tenaga lwekang yang cukup tinggi dan menang setingkat dari padanya.

Kini ke dua orang kakek dan pemuda cebol itu bertempur dengan seru dan hebat.

Jurus-jurus karate yang dimainkan Sin Thong memang aneh dan berbahaya sekali, ditekankan pada telapak tangan miring yang mengeluarkan tenaga pukulan yang amat ampuh.

Di antara para hadirin yang tartarik akan pertandingan ini, adalah seorang laki-laki setengah tua yang bersorban merah menatap tajam ke arah permainan Sin Thong.

Rasanya ia pernah sekali dihadapkan dengan pukulan-pukulan dengan telapak tangan kiri miring dan kepalan yang kuat itu.

Di mana?

Orang bersorban itu mengerutkan kening mengingat.

Tiba-tiba ia mencelat tinggi dan sekali tangannya bergerak mendorong Sin Thong dan Bong Kek Cu terlempar jatuh mengeluarkan suara berdebuk yang keras.

Bong Kek Cu terkejut sekali.

Sin Thong heran.

Siapa orang ini?

Orang tua bersorban merah seperti suku bangsa Tibet!

Yok-ong Lo Ban Theng berdiri dari tempat duduknya melihat Te-thian Lomo datuk hitam dari barat itu telah berdiri di panggung.

Te-thian Lomo menghampiri Sin Thong dan bertanya.

"Orang muda kau murid siapa? Apa hubunganmu dengan Hiroshima, si bajak laut Jepang itu?"

"Hiroshima adalah teman baik guruku, kau mau apa?"

"Kalau begitu kau harus mampus!"

Te-thian Lomo mengibaskan jubahnya dan saking kuatnya angin pukulan ini sehingga tubuh Sin Thong yang pendek kecil itu sudah terlempar tiga meter jauhnya.

Merah sekali muka Sin Thong meskipun pundaknya sakit ditampar ujung jubah tadi, ia meloncat dan mengeluarkan samurainya.

"Kakek gila, mengapa kau datang-datang menyerangku?"

"He he he, anak muda cebol, kau mau tahu siapa aku. Aku adalah Te-thian Lomo (Iblis tua langit bumi) musuh besar si bajak Iaut Hiroshima, Jepang keparat itu. Tadi kau mainkan ilmu karatenya itu. Hayo perlihatkan di depanku!"

Te-thian Lomo membentak.

Orang tua bersorban ini memang adalah Te-thian Lomo, si iblis langit bumi yang pada beberapa tahun yang lalu pernah bentrok dengan Hiroshima.

Si bajak laut dari Jepang yang pada sepuluh tahun yang lalu pernah malang melintang di laut Po-hay dan pernah bertemu dengan Te-thian Lomo ini dan akhirnya karena pedang samurai di tangan Hiroshima dan pukulan-pukulan maut karate demikian hebat, makanya Te-thian Lomo dapat dikalahkan dan dilemparkan ke laut.

Karena inilah orang tua bersorban merah ini membenci si samurai dan si karate dari Jepang.

"Kakek gila, kau kira aku Go Sin Thong takut kepadamu. Mari rasai pukulan karateku!"

Go Sin Thong memasang kuda-kuda dan membentak mengeluarkan suara jeritan menyerang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan.

"Sin Thong tahan!"

Sekali berkelebat jago tua she Lo itu sudah melompat ke panggung dan berkata kepada Sin Thong.

"Kau turunlah!"

Mendengar ucapan tuan rumah yang berwibawa ini, Sin Thong tak berani membantah dan ia meloncat turun.

Dan duduk di tempat semula.

Begitu ia melirik ke arah Sian Hwa.

Heran ia, ke mana gadis itu?

Tentu saja Sin Thong tidak tahu bahwa Sian Hwa sudah lama meninggalkan tempat itu dan mengejar bayangan Bong Bong Sianjin yang meninggalkan tempat ini.

Yok-ong Lo Ban Theng menjura kepada orang tua dari Tibet dan berkata.

"Harap lo-enghiong dari Tibet maafkan pemuda tadi dan tidak menaruh marah kepadanya." "Tidak!"

Te-thian Lomo membentak, mendelikkan matanya memandang tuan rumah.

"Yok-ong mengapa kau suruh dia kabur?"

"Ia adalah murid kawan baikku Kwa-sinshe, harap kau tidak membuat kacau di sini. Ingat sobat, hari ini adalah hari baikku. siapapun tidak boleh mengacau. Aku melarangnya!"

"Wertt…!"

Tahu-tahu Te-thian Lomo sudah mengeluarkan cambuknya yang panjang dua-tiga kali melecut-lecut di udara.

Kalau begitu sebagai gantinya.

biarlah kau mewakili anak cebol itu dan layani permainan cambukku dari Barat!"

"Te-thian Lomo, apakah kehadiranmu di sini hendak membuat kacau suasana ulang tahunku?"

Yok-ong Lo Ban Theng bertanya tajam.

"Ha ha ha ha! Yok-ong, kau begini tekabur dihadapanku. Hendak mengandal apakah engkau berani lancang menyuruh mengusir pemuda cebol itu? O, ya pantes dia itu murid kawan baikmu si raja obat she Kwa. Hem, cobalah dulu cicipi gebukan cambukku."

"Sombong!"

Terdengar bentakan dari bawah panggung. Orang-orang menoleh. Eh pemuda baju biru lagi yang mengeluarkan seruan "Sombong"

Tadi.

Mau apa lagi pemuda ini?

Pemuda itu berdiri dan terkejutlah orang-orang yang hadir itu melihat pemuda tampan itu dengan ringannya tahu-tahu pemuda tampan itu telah mencelat dan berada di atas panggung, dan berkata kepada tuan rumah.

"Lo-eng-hiong, biarlah untuk urusan kecil ini, siauwte yang muda membersihkan lalat-lalat hijau dari Tibet yang nyasar ke tempat ini. Memang dalam suasana pesta ulang tahun, tidak baik dikotori oleh lalat-lalat hijau menjijikkan saja......."

Yok-ong Lo Ban Theng menatap tajam ke arah pemuda tampan baju biru dan tersenyum lebar.

"Orang muda siapakah namamu? Apakah kau dapat menepuk lalat hijau yang kau katakan."

Pemuda baju biru yang tampan itu mengeluarkan kipas hitamnya, dan seperti orang kepanasan ia mengipas-ngipaskan badannya sambil berkata;

"Lo-enghiong jangan kuatir, dengan kipas hitamku ini, masakan aku tak mampu mengebut lalat hijau ini!!"

Berkata begitu ia melirik ke arah orang tua bersorban merah yang memandangnya dengan mata mendelik. Pecutnya yang panjang itu menggeletar-geletar, siap menempur pemuda itu.

"Bagus!! Apabila kau dapat mengusir lalat hijau itu, usirlah dia!!"

Demikian kata Yok-ong Lo Ban Theng sambil melompat turun dan ia memberi isyarat kepada Bong Kek Cu untuk turun.

"Eh, Te-thian Lomo..... julukanmu iblis tua langit bumi ya? Hemm, kalau begitu masih pernah apa dengan kakek penjaga kuburan di Thay-hoa-thong yang bernama Kakek Setan Pencabut nyawa Giam-lo-ong?"

"Bangsat besar, lancang mulut, apa kau bosan hidup?"

"Bangsat kecil!"

Si pemuda tampan memaki sambil membantingkan kakinya.

"Siapa yang tidak ingin hidup? He, kakek tua iblis langit bumi apa kau sendiri sudah bosan hidup biarin deh tuan mudamu yang mewakili Giam-lo-ong mencabut nyawamu yang tak berharga itu......"

"Kunyuk! Siapa bilang nyawaku tidak berharga?"

Pemuda tampan baju biru itu tertawa dan tiba-tiba ia menoleh kepada pemuda tinggi kurus yang tadi hendak bermain suling sambil katanya.

"Eh, sobat! Coba terka, nyawa apakah yang tidak berharga dan dimusuhi oleh banyak orang? Hayo jawab, bisa enggak engkau menerka teka-teki dariku!"

"Nyawa yang tidak berharga?"

Pemuda tinggi kurus yang bernama Ho Siang itu mengerutkan keningnya dan tertawa terbahak-bahak.

"Eh bisa enggak, kenapa jadi ketawa sinting!"

"Kau yang sinting tolol, masa ada nyawa yang berharga atau tidak, semua nyawa tentu berharga. Tak bisa dibeli dengan uang….. mana bisa dikatakan nyawa berharga atau tidak. Tentu saja semua nyawa berharga tolol!"

Si pemuda tinggi kurus Ho Siang mengejek pemuda tampan baju biru.

"Kau sih benar-benar otak udang! Masa tebakan segitu saja nggak mampu. Coba tanyain kepada para hadirin. Nyawa apakah yang tidak berharga? Hayo siapa yang dapat, angkat tangan!"

"Saya tahu."

Seorang kakek yang berdiri di pojok sebagai penonton saja rupanya itu mengacungkan tangannya. Si pemuda tampan baju biru tersenyum. "Hayo tebak!"

"Jiwa yang tidak berharga adalah jiwa kecoa!"

Kakek itu berteriak keras.

Orang-orang pada tertawa.

Yok-ong Lo Ban Theng tersenyum.

Akan tetapi siap siaga menjaga kemungkinan Iblis tua langit bumi itu mengamuk.

Ia mengenal nama iblis tua langit bumi yang sudah kesohor namanya sebagai datuk hitam dari selatan.

Karenanya dengan tenang tuan rumah ini mengawasi panggung dengan siap siaga.

Ia sudah bersiap-siap untuk membantu kalau pemuda tampan itu sudah bertanding dengan iblis tua langit bumi yang kesohor kejamnya!

Sementara itu pemuda tampan baju biru mengangguk-anggukkan kepalanya kepada kakek penonton yang menjawab teka-tekinya.

"Bagus, jawabannya hampir tepat! Tapi belum seratus persen benar. Hayo yang menjawab dengan tepat dan jitu!"

Melihat tingkah laku pemuda tampan baju biru yang menggemaskan ini, Te-thian Lomo membentak.

"Bocah setan, jangan berlagak di sini. Hayo, minggat!"

"Tar tar!"

Bentaknya itu disusul dengan suara cambuk di tangannya melecut-lecut di udara dengan amat keras.

Pemuda baju biru kaget dan melompat mundur.

"Lalat hijau…..

jadi kau ini murid Dewakala, pertapa sakti dari Anapura di pegunungan Himalaya?"

"Ha ha ha,"

Te-thian Lomo iblis tua langit bumi itu tertawa bergelakgelak sementara cambuk hitamnya masih melingkar-lingkar di udara.

"Awas juga matamu, bocah gila! Apakah kau tidak tahu bahwa Te-thian Lomo sudah berada di depan matamu untuk mencabut nyawamu?"

"Sraat!"

Sebuah kipas hitam dan pit baja terbuka dan tahu-tahu pemuda tampan baju biru ini sudah berada di depan Te-thian Lomo dengan tangan kiri memegang pit dan tangan kanan memegang kipas hitam.

"Bagus! Kiranya Te-thian Lomo yang mencari mampus di sini! Kalau begitu tak usah aku bersusah payah mencarimu. Hari ini murid Lu-liang Siucay dari Lu-liang-san menuntut balas. Iblis tua mampuslah kau!"

Suara angin keras terdengar ketika kipas di tangan kanan pemuda tampan itu bergerak mengebut.

Bergidik Te-thian Lomo melihat hawa dingin datang bergelombang, Dengan cepat ia mengelak dan melecutkan cambuknya tiga kali.

"Tar tar tar...!"

Bagaikan ular hidup yang melingkar-lingkar menyambar-nyambar tubuh pemuda tampan itu.

Akan tetapi untuk yang kedua kalinya iblis tua ini berteriak kagum dan terkejut begitu melihat tubuh pemuda itu berkelebat dengan amat cepatnya merupakan bayang-bayang lincah dan gesit.

"Bocah sinting, kau mencari mati.

Hemm, rupanya kau murid si sastrawan gila dari Lu-liang-san itu, siapa namamu?"

"Iblis tua, tak perlu banyak cakap! Makan ini…..,"

Pit panjang menyambar dahsyat mengeluarkan suara mendesing saking kuatnya gerakan pemuda itu.

Memang hebat sekali gerakan pemuda baju biru ini.

Bukan saja tubuhnya demikian lincah dan gesit laksana burung walet terbang namun setiap gerakan, tusukan pit dan sambaran-sambaran kebutan kipas hitam di tangannya selalu mengeluarkan suara angin menderu.

Dari sini saja sudah dapat diduga bagaimana lihaynya pemuda tampan baju biru ini.

Akan tetapi, ia menghadapi Te-thian Lomo, iblis tua langit bumi yang sudah terkenal di kolong langit akan segala keganasannya dan ilmu kepandaiannya yang demikian dahsyat.

Disamping permainan cambuknya yang lihay dan luar biasa itu, sering jubahnya bergerak-gerak merupakan pukulan-pukulan yang membuat pemuda tampan baju biru ini menjadi terhuyung-huyung dan terkejut melihat kehebatan lawan.

Melihat bahwa pemuda baju biru itu itu sudah bertempur dengan serunya dengan kakek tua Te-thian Lomo tak enak hati Yok-ong Lo Ban Theng kalau mendiamkan saja.

Sekali pandang saja, tahulah ia bahwa biarpun kepandaian pemuda tampan baju biru ini demikian hebat dan aneh-aneh gerakannya, namun menghadapi Te-thian Lomo, ia masih kalah jauh dan mulai terdesak oleh pukulan-pukulan cambuk yang lihay itu.

Sekali berkelebat tahu-tahu Yok-ong Lo Ban Theng sudah berada di atas panggung dan langsung menggerakkan pedangnya menyelinap masuk sambil membentak.

"Tahan!"

Sebuah sinar putih berkilau bagaikan kilat menyambar dibarengi suara bersuit panjang dan angin berdesir menyambar.

Tubuh si raja obat telah lenyap dan yang nampak hanya segulungan sinar putih menerjang laksana kilat menyambar dahsyat.

"Haaaaiittt!"

Pekik nyaring melengking itu keluar dari mulut Yok-ong Lo Ban Theng yang menerjang maju ke tengah-tengah pertempuran yang sedang seru-serunya itu.

Melihat sebuah bayangan putih menyambar cepat, Te-thian Lomo menyampok dengan kibasan ujung jubahnya dan dengan cambuknya berkelebat cepat mendesak pemuda baju biru dengan sabetan maut yang amat dahsyat dan mengeluarkan suara angin menderu.

"Sing breeet, krekkk!"

Hebat akibatnya.

Tiga orang itu terpental ke belakang.

Wajah Yok-ong Lo Ban Theng menggigil mengeluarkan keringat dingin, ke dua kakinya menggetar-getar.

Matanya memandang kaget kepada Iblis tua langit bumi yang demikian hebat dan tak disangkanya.

Te-thian Lomo tersenyum mengejek.

Melirik ke arah pemuda baju biru yang tadi terlempar ke belakang dan tengah mengerahkan hawa di dada.

Untung saja pemuda baju biru demikian gesit dan waktu sabetan cambuk itu menyambar pinggangnya, dengan gerakan cepat laksana kilat ia mencelat ke atas dan sambaran cambuk lewat di bawah kakinya, akan tetapi tak disangka waktu tubuhnya tengah di udara itu, gelombang pukulan dari ujung jubah lawan yang demikian dahsyat dan membentur pundaknya sehingga tidak ampun lagi ia terpental dan terasa tulang pundaknya menjadi nyeri dan sakit luar biasa.

Cepat ia menyalurkan hawa sin-kang dan menyalurkan tenaga mujijat itu ke pundak dan dada yang tergetar.

Te-thian Lomo memandang ke arah Yok-ong Lo Ban Theng dan membentak.

"Bagus Raja obat she Lo, hari ini iblis dari langit bumi akan menghancurkan kepalamu juga!"

"Sing sing sing, werrr!"

Tiga bayangan berkelebat.

Dan tahu-tahu dipanggung itu berdiri ke tiga orang-orang tua yang disebut Samhauw-swat-cu-eng dan seorang gadis cantik jelita putri tuan rumah, Lo Siauw Yang yang sudah menghunus pedang di tangan.

"Iblis tua jangan berlagak di sini!"

"Siauw Yang mundur kau! Jangan turut campur!"

Bentak Yok-ong Lo Ban Theng terkejut melihat anaknya telah naik ke panggung.

Ia kuatir bahwa lawannya yang bernama Iblis Tua langit Bumi demikian dahsyat sekali.

Ia sendiri tidak sanggup menghadapi.

Apalagi Siauw Yang?

Siauw Yang memandang ayahnya dan berkata.

"Tidak ayah, sebelum pedangku ini memberi hajaran kepada iblis sundelan itu, aku belum puas!" "Siauw Yang! Turun.......!"

Ayahnya membentak.

"Ayah.......!"

"Turun kataku, turun! Jangan kau turut campur,"

Suara Yok-ong Lo Ban Theng dan ia muntahkan darah.

"Ayah!"

Siauw Yang memburu ayahnya.

Yok-ong Lo Ban Theng menekan dadanya dan mengerahkan lwekang ke arah dada agar supaya tidak berbatuk lagi.

Wajahnya pucat.

Tahulah ia bahwa dadanya telah terluka hebat, tersambar pukulan jubah lawannya tadi.

Hebat memang iblis tua itu, sekali gebrakan saja Yok-ong Lo Ban Theng sudah terluka hebat.

Akan tetapi karena ia sendiri sebagai raja obat, ia tidak menjadi kuatir.

Tangannya merogoh saku dan menelan sebuah pil pencegah keluarnya darah.

Ia mendorong tubuh Siauw Yang berkata lemah.

"Siauw Yang turunlah kau!"

Mendengar suara ayahnya yang tak dapat dibantah lagi, dengan air mata bercucuran Siauw Yang melompat turun dan memandang ke arah panggung itu dengan dada berdebar dan tegang!

"Ha ha ha, itulah bakti seorang anak kepada ayahnya.

Akan tetapi sayang, ayahnya cuma gede mulut doang dan kepandaiannya tidak seberapa!

" "Te-thian Lomo jangan banyak cakap, lihat pedang!"

Tiga orang Sam-hauw-swat-cu-eng bergebrak maju berbareng.

Pedang dan tongkat, dan sepasang pedang pendek berkeredepan menyambar tubuh Te-thian Lomo dengan gerakan dahsyat dan mematikan.

Nampak tiga bayangan berkelebat dengan amat cepatnya.

Akan tetapi hanya beberapa menit saja terdengar teriakan jeritan ngeri ketika tiga buah sosok manusia terlempar keluar panggung dan dalam keadaan sudah tak bernapas lagi.

Gegerlah para penonton.

Tiga tubuh manusia itu adalah tiga orang yang telah mendapat julukan sebagai tiga harimau mustika salju.

Dalam segebrakan tadi sudah tak bernyawa.

Hebat!

Melihat kejadian ini, gegerlah para tamu!

Tokoh-tokoh kang-ouw berdiri saking tegangnya.

Masing-masing sudah mencabut senjata siap untuk mengurung Iblis Tua Langit Bumi yang kejam daa sadis.

Para tamu yang tidak mempunyai kepandaian, ngacir takut terkena sambaran senjata yang tak bermata itu.

Malah ada yang membesarkan nyalinya cuma menonton saja dari jarak yang cukup jauh.

Sebentar saja panggung yang terletak di tengah-tengah halaman kebun bunga itu sudah terkurung oleh orang-orang gagah yang bersimpati kepada tuan rumah.

Mereka bersiap-siap mengeroyok iblis tua itu.

Cui-sian Kong Sin Kek si dewa arak sudah melompat ke panggung dibarengi dengan gerakan Hak-san Tayhiap Ong Kwie yang mencelat pula naik ke atas panggung.

Seorang pemuda cebol Go Sin Thong juga sudah mencelat dan berada di atas panggung.

Siauw Yang sudah tak sabar melihat pemandangan ini.

Kalau saja ia tidak takut dengan pesan ayahnya, ia sudah melompat pula ke panggung.

Akan tetapi ia hanya berdiri dengan tegang di bawah panggung menatap tajam dan bersiap-siap pula.

Di bawah panggung itu dikelilingi oleh seratus lebih tokoh-tokoh kang-ouw yang sewaktu-waktu akan mencelat ke atas dan menerjang Iblis dari Selatan ini.

Keadaan di atas panggung itu menjadi tegang dan mendebarkan hati.

Te-thian Lomo memainkan cambuknya melecut-lecut di udara sambil menyapu orang-orang yang di bawah itu dengan pandangannya yang berapi-api, katanya.

"Hayoo mana kawanan tikus-tikus yang hendak menangkap lalat hijau....... mana?? Hayo naik ke atas panggung untuk terima kematian!!"

"Te-thian Lomo, sebetulnya keluarga kami denganmu tidak ada permusuhan dan ganjelan hati. Akan tetapi karena kau sudah berlaku tidak memandang mata dengan keluarga Lo dan telah menjatuhkan tangan maut kepada ke tiga orang pembantuku, maka hari ini aku orang she Lo akan mengadu jiwa dengan dirimu!"

"Haaa….. haaa itu baru ucapan orang gagah. Hee, manusia she Lo, kau bilang tidak ada permusuhan apa-apa denganku, tetapi kenapa kau lancang mencampuri urusanku dengan pemuda cebol murid Kwa-sinshe temannya bajak laut Jepang si Hiroshima itu?" "Pemuda itu adalah murid teman baikku karenanya tak boleh kau berbuat sekehendakmu sendiri. Siapapun orangnya, aku akan mencegahnya!"

Kata Yok-ong Lo Ban Theng sambil menekan dadanya yang sakit.

"Kalau begitu kau mencari mampus sendiri orang she Lo, kalau kau bosan hidup dan kepingin mampus, biarlah tanganku yang akan mengirim ke neraka,"

Berkata demikian pecut itu menyambar dan menerjang si raja obat she Lo.

Biarpun Lo Ban Theng sudah terluka akan tetapi ia masih gesit mengelak dan balas menerjang dengan tusukan pedang yang tak kalah hebatnya.

"Wertt!"

Suara cambuk bergetar dan menyapu kaki Lo Ban Theng.

Dengan cepat orang she Lo ini mencelat ke atas dan membalas dengan tusukan pedang tiga kali sehingga menimbulkan suara mendenting keras waktu pedangnya beradu dengan cambuk lawan yang menangkis dengan amat kuatnya.

"Yaaatt, eiitt!"

Raja obat meloncat ke atas dan dengan gerakan memutar ia menendang punggung lawan yang terbuka itu. Akan tetapi, begitu terdengar "wertt!"

Ujung jubah Te-thian Lomo sudah menangkis dan saking kuatnya hawa pukulan datuk hitam dari selatan ini membuat si Raja Obat Lo Ban Theng terhuyunghuyung ke belakang tiga tindak, terasa luka di dadanya semakin nyeri dan sakit.

Namun ia tidak gentar dan cepat ia menubruk lagi kakeknya yang terkenal dengan sebutan Sin-kiam-yok-ong (si Raja obat pedang sakti) yang pada puluhan tahun pernah menggemparkan dunia kang-ouw oleh sebab kelihayan ilmu pedangnya.

Selihay-lihay ilmu keturunan Yok-ong ini menghadapi si Iblis dari Selatan, Yok-ong Lo Ban Theng menjadi kewalahan sekali.

Beberapa kali ia menjadi terhuyung-huyung tertampar sambaran ujung jubah yang dahsyat itu.

Pecut atau cambuk di tangan Te-thian Lomo menggeletar-geletar amat kuat dan melingkar-lingkar laksana ular hidup yang ganas mencari mangsa.

Kadang-kadang cambuk itu merupakan lingkaran kecil yang berusaha hendak membelit pedang, akan tetapi juga kadang-kadang dari gulungan sinar cambuk menyambar kilatan-kilatan sinar hitam merupakan totokan maut yang sukar untuk dihindarkan lawan.

Ketika kilatan hitam itu meluncur lurus menusuk iga Yok-ong Lo Ban Theng, dengan mengelak ke kiri si raja obat menyabetkan pedang menangkis dengan amat kuatnya.

"Krakkk!"

Patahlah pedang di tangan Yok-ong Lo Ban Theng.

Belum lagi hilang rasa kagetnya tahu-tahu cambuk itu menyambar cepat dan membelit tangan si raja obat.

Terdengar seruan-seruan tegang ketika tubuh Yok-ong Lo Ban Theng melayang turun dan terbanting dengan amat kerasnya.

Siauw Yang memburu ayahnya dan menjerit.

"Ayah........!!"

"Siauw Yang….., aku tidak apa-apa. Tak usah kuatir. Aduh……,"

Yok-ong Lo Ban Theng mengeluh perlahan merasakan dadanya semakin nyeri.

Ia mendekap dadanya dan memandang ke atas panggung.

Siauw Yang membantu membangunkan ayahnya dan memapah mendekati panggung.

"Lo-enghiong......

kau sudah terluka, harap jangan naik ke panggung, berbahaya sekali,"

Yang berkata begitu adalah pemuda tinggi kurus Ho Siang. Orang muda itu memegang sulingnya. Dan sekali berkelebat, ia sudah mencelat ke atas panggung. Menudingkan sulingnya, memaki.

"Te-thian Lomo ganas dan keji! Terpaksa aku turun tangan!"

Te-thian Lomo membalikkan tubuhnya dan begitu melihat pemuda tinggi kurus yang kelihatannya lemah dan ketololan ia tertawa terbahak-bahak, mengejek.

"Ha ha ha, bocah gila, apa kau bosan hidup?"

"Te-thian Lomo engkau sama saja dengan gurumu, Dewakala itu, sama-sama jahat dan berhati iblis. Sayang sekali pada dua tahun yang lalu itu, guruku pernah mengampuni jiwa anjingmu. Menyesal semakin diberi hati semakin jahat engkau! Boleh jadi guruku telah berlaku murah hati kepadamu. Tapi aku tidak!"

"Bocah gila, anak sedeng! Kau siapa, dan siapa gurumu?"

Te-thian Lomo bertanya dengan pandangan matanya menyelidik orang muda tinggi kurus yang memegang suling.

Melihat pemuda ini demikian tenang dan tidak gentar terhadapnya, ia semakin berhati-hati.

Apa lagi melihat suling hitam di tangan pemuda itu Mengingat ia kepada seoarang di India beberapa tahun yang lalu.

Akan tetapi ia tidak gentar menghadapi pemuda bersuling hitam itu.

Mengapa ia mesti gentar?

Nama Te-thian Lomo sudah amat terkenal dan banyak disegani lawan sebagai Iblis ganas yang pernah merajalela di selatan.

"Kau bertanya siapa aku? Hm, mungkin kau lupa dengan guruku Nakaryavia dari India yang telah memberi ampun kepadamu oleh karena memandang mata dengan gurumu si Dewakala di Anapurna. Akan tetapi sekarang berhadapan denganku tak ada ampun lagi bagimu."

"Ooo, kalau begitu kau murid si pendeta Nakarjavia. Hem, bocah gila, apa kau kira aku takut kepadamu! Memang aku pernah dikalahkan oleh gurumu dan karena lagi ia orang tua maka aku banyak mengalah terhadapnya. Tetapi, terhadapmu bocah masih ingusan begini? Hahahoho…… jangan mencari penyakit dan kematian hey, orang muda! Lebih baik kau minggat sebelum naik darahku dan menghajarmu! Hayo pergi!"

"Te-thian Lomo…… kau jahat dan tersesat jauh sebagai pendeta yang seharusnya mensucikan diri di puncak dan mempelajari kebathinan, akan tetapi sayang, iblis-iblis rupanya telah membelenggu hidupmu dan sebentar lagi kau akan kukirim ke neraka bersama dengan tabiatmu yang jelek."

Keduanya sudah saling menghampiri, keadaan menjadi tegang.

Yok-ong Lo Ban Theng, Siauw Yang, Hak-san tayhiap Ong Kwie, si Dewa Arak Cui-sian Kong Sin Kek dan tokoh-tokoh lainnya yang di bawah panggung merasa betapa jantung mereka berdebar tegang.

Tadi mereka terkejut mendengar pemuda tinggi kurus yang bernama Ho Siang itu pemuda yang memegang suling hitam ternyata adalah murid dari Nakayarvia dari India.

Tentu saja meskipun mereka belum pernah bertemu dengan pendeta dari India itu, akan tetapi nama Nakayarvia sudah terkenal sampai jauh ke daratan Tiongkok dan sebagai pendeta yang amat sakti.

Akan tetapi diam-diam mereka bersangsi dapatkah pemuda itu melawan Te-thian Lomo yang lihay dan terkenal dengan kekejamannya!

Hanya pemuda tampan baju biru itu yang menaruh kepercayaan akan kesaktian pemuda bersuling yang kelihatannya masih tenang-tenang saja memandang ke arah lawannya dengan tatapan tajam.

"Bocah gila! Kau mencari mampus...... Kau terimalah ini!"

Bersamaan dengan kata-katanya cambuk di tangan Te-thian Lomo menerjang maju merupakan ular hidup bergerak dengan amat cepatnya menyambar pergelangan tangan Ho Siang.

Pemuda ini kaget sekali melihat keccpatan ujung cambuk yang tahu-tahu sudah membelit pergelangan tangannya.

Cepat-cepat ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk merenggut lepas tangannya yang terbelit cambuk, namun sia-sia belaka, karena saat itu ia telah dibetot oleh tenaga luar biasa melalui cambuk.

Betapapun ia mempertahankan diri dengan mengerahkan tenaga pada sepasang kakinya, Ho Siang tidak mampu mempertahankan dirinya dan ia terhuyung.

Tiba-tiba cambuk terlepas dari tangannya dan hampir saja Ho Siang terguling roboh kalau saja ia tidak cepat melompat ke samping mematahkan tenaga dorongan tadi.

"Bagus!"

Tanpa terasa Ho Siang berseru memuji.

Tiga kali tangan kanannya bergerak, seruling hitam di tangannya bergerak ke atas dan amat cepat sekali gerakan itu, sehingga orang-orang di bawah panggung hanya melihat tiga buah gulungan sinar hitam menyerbu ke tiga bagian jalan darah di tubuh Te-thian Lomo.

Bagi pandangan mata yang tajam, suling Ho Siang itu bergerak merupakan huruf‘ yang berbunyi THIAN (Langit) dan hebat akibatnya.

Gulung sinar hitam yang berbentuk Thian itu melingkar membentur cambuk hitam Te-thian Lomo dan entah bagaimana caranya, tahu-tahu Te-thian Lomo mencelat mundur dan mengeluarkan keringat dingin!

Hampir jalan darah tay-ie-hiat di tubuhnya tersentuh sinar hitam memancar dari suling itu kalau tidak cepat-cepat ia melompat mundur dan mengelak dari sambaran kilatan hitam yang memanjang!

Iblis!

jurus apa itu?

pikirnya.

"Bocah setan! Kau bilang murid Nakayarvia…… kenapa kau mainkan jurus itu?"

Bertanya Te-thian Lomo heran.

"Hemm, iblis laknat jahanam! Rapanya kau takut mati juga ya? Memang jurus yang kumainkan tadi bukan warisan dari guru Nakayarvia, akan tetapi……. hemm, tak perlu kuberitahukan kepadamu…… mau tahu, jurus-jurus dari guru Nakayarvia….. nih!"

Sambil berkata demikian Ho Siang merendahkan ke dua kakinya setengah berjongkok dan tahu-tahu kedua tangannya memukul ke depan.

Inilah pelajaran dari pertapa Nakayarvia yang bernama Menyembah Budha Mematikan Raga, begitu tubuhnya yang setengah jongkok dan mengulurkan tangan.

Angin dingin menyambar Te-thian Lomo, tentu saja Iblis Langit Bumi ini tahu bahwa lawannya tengah mempergunakan pukulan jarak jauh.

Oleh karenanya dengan tertawa mengejek ia lalu mengangkat tangan menangkis pukulan yang dikirim dari jarak jauh oleh Ho Siang.

"Dess!"

Tubuh Ho Siang bergetar bertemu pukulan tangkisan dari Te-thian Lomo, sebaliknya iblis tua inipun melompat ke belakang merasa angin pukulan yang amat hebat menerjangnya.

Kalau saja ia tidak cepat-cepat melompat tinggi ke belakang tadi, niscaya tubuhnya akan hancur terhantam pukulan jarak jauh Ho Siang yang mempengunakan jurus Menyembah Budha Mematikan Raga ini sebabnya mengapa Ho Siang hanya bergetar-getar saja tubuhnya, dan tidak terdorong roboh oleh pukulannya Te-thian Lomo yang menangkisnya barusan??

Sebabnya, dengan tenaga sin-kangnya dia sudah mematikan raga sehingga tubuh itu bagaikan batang pohon yang kuat, tidak roboh diterjang angin badai pukulannya Te-thian Lomo!!

"Hee…....

hee… hebat juga kau bocah…...

akan tetapi menghadapi diriku, hii…… hii mukamu sudah pucat kepingin mampus, lebih baik kau minggat dari sini dan jangan lagi-lagi kau mencampuri urusanku kalau mau selamat.

Nah pergilah…..!"

Bentak Te-thian Lomo sambil melompat maju, cambuknya menyambar, diikuti gerakan jubah yang dikibaskan ke arah leher Ho Siang.

Serentetan ular hitam menyambar dan agaknya pemuda tinggi kurus itu akan celaka apabila pada saat itu tidak nampak sinar yang menyilaukan berkelebat, dan tahu-tahu segulung angin besar menyambar jubah Te-thian Lomo dan melibat cambuk dengan pit panjang.

Kiranya yang bergerak tadi adalah pemuda tampan yang sekali bergebrak sudah dapat mematahkan serangan Te-thian Lomo, tampak Te-thian Lomo mendelikkan matanya memandang pemuda tampan baju biru sambil membentak keras, tahu-tahu hanya sedetik cambuk itu menegang dan entah bagaimana caranya tubuh pemuda tampan baju biru melayang ke atas dan telah terjerat cambuk hitam di lengannya.

Terdengar jeritan kaget Ho Siang mencelat mengirim serangan suling hitamnya ke arah Te-thian Lomo, amat cepat sekali gerakan suling di tangan Ho Siang sehingga tak keburu bagi Te-thian Lomo untuk menghindarkan serangan suling yang amat dahsyat itu, maka diapun mengangkat tangan kirinya memapaki suling yang naenyambar dadanya.

"Kraak! Deess!"

Suling patah menjadi beberapa potong.

Ho Siang terlempar sejauh tiga meter dengan terhuyung-huyung.

Kagum sekali hatinya melihat kelihayan musuhnya yang dalam bergebrak tadi telah dapat mematahkan sulingnya dan sekaligus mengirim serangan ujung jubah menyambar pundaknya.

Tentu saja Ho Siang yang memandang jubah lawan membiarkan pundaknya dan menekan serangan sulingnya ke iga lawan, akan tetapi betapa kagetnya dia begitu sulingnya bertemu dengan tenaga yang amat dahsyat, dan belum lagi habis herannya, ia sudah terlempar oleh pukulan tangan kiri Te-thian Lomo.

Ho Siang segera mengerahkan lweekangnya, terasa nyeri pada pundak kanannya.

Sementara itu, pemuda baju biru yang terlibat cambuk Te-thian Lomo bisa melepaskan pergelangan tangannya dari libatan cambuk tersebut, akan tetapi entah bagaimana, tiba-tiba cambuk terlepas pergi dan ia merasa ada sambaran hawa panas lewat di atas kepalanya.

Tentu saja ia tak mau kepalanya menjadi korban pukulan dahsyat itu, dengan cepat ia membuang diri ke belakang dan pada saat itulah ia menjerit lirih ketika ikat kepalanya terlepas dan nampak seuntai rambut panjang hitam itu menarik perhatian orang-orang yang di bawah panggung.

Siauw Yang terkejut dan betapa herannya ia ketika mengetahui bahwa pemuda tampan itu adalah seorang wanita, seorang wanita rambut panjang yang demikian cantik dan manis setelah rambutnya terlepas.

Pantas pemuda tadi demikian tampan dan gerak geriknya seperti perempuan!

Ho Siang yang terpukul pundaknya oleh Te-thian Lomo menoleh ke kiri.

Dilihatnya pemuda baju biru itu tersenyum kepadanya kemaluan sambil katanya.

"Aku tak apa-apa!"

"Serrr......"

Terasa dada Ho Siang berdesir melihat pemuda tampan itu tersenyum. Dan waktu bibir itu berkata.

"Aku tidak apa-apa!"

O, alangkah merdunya suara pemuda tampan itu, eh, gadis itu!

Akan tetapi ia terpaksa meringis menahan nyeri.

Ia memandang ke bawah dan suling hitam yang hancur berantakan itu, tak dapat lagi dipergunakan sebagai senjata!

"Ha ha ha, sungguh memalukan.

Sungguh menyebalkan mengapa hanya bocah-bocah ini yang berani menghadapiku, mana tuan rumah yang kesohor sebagai raja obat dan para Locianpwe yang katanya mendapat kehormatan sebagai orang tua gagah, sungguh memalukan bersembunyi di belakang dua orang muda yang masih hijau dan nggak becus apa-apa!"

Te-thian Lomo mengejek.

Panas sekali hati orang-orang gagah di bawah panggung.

Dengan serentak bagaikan sudah diberi komando, Yok-ong Lo Ban Theng, Hak-san Tay-hiap Ong Kwie, Cui-sian Kong Sin Khek dan Go Sin Thong sudah mencelat dan tanpa banyak bicara lagi mereka menerjang maju.

Hebat sekali terjangan berbagai macam senjata ini, Cui-sian Kong Sin Kek menyerang dengan menyemburkan arak dari mulutnya, Hak-san tay-hiap Ong Kwie membentak keras membabat pedangnya berkilat, sedangkan Yok-ong dan Go Sin Thong memukul dari jarak jauh.

Memang hebat sekali serangan ini, akan tetapi sungguh luar biasa, si Iblis Tua Langit Bumi ini dengan menjerit…….

"eiitttt,"

Tahu-tahu tubuhnya lenyap dan hanya nampak kilatan pedang dan semburan arak dari mulut si dewa arak Kong Sin Kek.

Akan tetapi beberapa detik saja bagaikan ada gempa bumi yang dahsyat luar biasa Yok-ong Lo Ban Theng terhuyung dan tak dapat bangun lagi.

Kong Sin Kek si dewa arak nampak memegangi mukanya yang terasa nyeri dan sakit, entah bagaimana tahu-tahu semburan araknya tadi membalik dan saking cepatnya butir-butir arak yang membalik barusan membuat ia tak dapat lagi menghindarkan butir-butir arak yang menyerang mukanya, dengan cepat sekali ia mengerahkan sin-kang dan di muka dan tetap saja rasa nyeri menusuk-nusuk mukanya.

Di lain pihak, Hak-san tay-hiap Ong Kwie juga berteriak kaget begitu ada angin sambaran yang hebat luar biasa, tak tahan ia dan dengan cepat ia bergulingan menjatuhkan diri ke belakang akan tetapi tetap saja pundaknya terserempet pukulan itu dan tulang pundaknya menjadi patah di saat itu juga.

Hanya Go Sin Thong jang tidak roboh, sebab begitu ia di pukulan jarak jauhnya membalik dengan gerakan karate ia melompat ke samping dan untung ia memasang kuda-kuda karate seteguhteguhnya sehingga dengan gerakan itu ia dapat mematahkan serangan angin pukulan lawan.

Ia bergidik melihat kehebatan Iblis tua ini!

Pada saat itu baru saja tokoh-tokoh kang-ouw yang lain hendak mencelat ke atas panggung, sesosok tubuh berkelebat dan tahutahu telah berdiri di depan Te-thian Lomo!

"Omitohud, Te-thian Lomo, di mana-mana kau membuat kacau dan menyebar maut….

tidak baik… tidak baik…..

seorang pertapa begini ganas melebihi iblis.

Banyak jalan menuju kehidupan mengapa memilih yang sesat?

Selagi masih ada kesempatan mengapa kepandaian tidak digunakan untuk kepentingan sesama manusia dan bangsa!

Sayang…..

sayang…..!"

Ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus dan penuh teguran itu mengejutkan semua orang-orang terutama sekali Te-thian Lomo.

Ia cepat mengalihkan pandangan matanya ketika bertemu pandang dengan mata orang yang baru datang itu.

Tak tahan ia melihat sinar mata yang tajam dari orang di depannya ini.

Kiranya di depannya itu telah berdiri seorang hwesio tua jang tinggi kurus, usianya sudah sangat tua, kepalanya gundul kelimis, alis jenggot dan kumisnya yang jarang sudah putih semua jubahnya kuning bersih dan tangannya memegang tongkat hwesio.

Melihat hwesio ini, Yok-ong Lo Ban Theng dan Hak-san Tay-hiap Ong Kwie terkejut.

Juga semua tokoh-tokoh kang-ouw jang masih di bawah panggung terbelalak matanya.

Tentu saja mereka kenal hwesio tua ini.

Siapa lagi, kalau bukan Thian Thian Losu, ketua Siauw-lim-pay!

"Ah.

kiranya Ciangbunjin, ketua, Siauw-lim-pay yang datang seperti ini.

Entah mempunyai maksud apa?"

"Pinceng memang dari Siauw-lim-pay. Te-thian Lomo, harap kau sudahi pertempuran-pertempuran dan permusuhan yang merugikan dirimu ini dan kembalilah ke Anapura!"

"Losuhu, engkau sebagai ketua, mengapa kau begitu usil tangan mencampuri urusanku ini?"

Te-thian Lomo mendengus marah.

Meskipun ada rasa gentar dihatinya, akan tetapi ia tak mau dinasehati seperti anak kecil!

"Te-thian Lomo, insyaf dan sadarlah.

Orang-orang seperti engkau sebagai pertapa dan pinceng sebagai hwesio Siauw-lim, seharusnya bertekun mengalahkan rasa diri, dan mencari penerangan dengan kitab-kitab suci!

Bukan menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat……,"

Thian Thian Losu menggelengkan kepala. "Losuhu, sekali lagi, jangan ikut! Aku tak ada sangkut paut apa-apa denganmu atau dengan muridmu! Harap tidak berlancang mencampuri urusanku sendiri!"

"Omitohud! Pinceng lihat Yok-ong Lo Ban Theng yang terhormat sudah terluka, tiga Sam-hauw-swat-cu-eng juga sudah mati olehmu, pendekar dari Hak-san Ong Kwie sicu, juga sudah terluka, dan itu…... hem, rasanya pinceng sudah pernah kenal, kalau tidak salah dia adalah murid Nakaryavia, dan ia juga telah terluka pundaknya……. dan pemuda ini, eh nona ini…… Te-thian Lomo, pulanglah kau kembali ke Barat! Jangan meneruskan kekejian ini apalagi hari ini, bukankah hari se-jid Yok-ong Lo Ban Theng? Mengapa kau mencari keributan di rumah tangga orang?"

"Setan! Hwesio sialan! Itu semua bukan urusanmu. Pergi!"

Bentak Te-thian Lomo. Thian Thian Losu menggelengkan kepala.

"Pinceng akan pergi setelah engkau meninggalkan tempat ini pula! Marilah kita pergi sama-sama. Sama-sama mencari jalan kehidupan."

"Losuhu, sekali lagi! Minggirlah!"

Te-thian Lomo membentak marah.

"Tidak! Te-thian Lomo..….. pinceng tak membiarkan engkau berbuat keji di sini..…..! Bertobatlah semasa masih ada kesempatan." "Kalau begitu baik! Terpaksa aku menentang Ciangbunjin dari Siauw-lim-pay!"

"Omitohud……. semoga kau menemui jalan terang."

Te-thian Lomo mengeluarkan suara menggereng seperti harimau mengamuk, cambuknya segera menyambar seperti ular hidup membelit leher hwesio ketua Siauw-lim.

"Sratt!"

Dengan amat kuatnya cambuk itu melilit di leher tua Thian Thian Losu.

Dengan muka tenang dan tidak membayangkan hawa marah di wajahnya, malah hwesio itu masih dapat tersenyum sabar kepada lawannya dan sekali ia mengibaskan lehernya tahu-tahu cambuk yang melilit di leher itu mengejang keras, Te-thian Lomo mengerahkan hawa sakti dan membetot keras.

"tess,"

Bukan leher si hwesio itu yang putus oleh jiratan cambuk, malah cambuk itu sendiri yang putus di tengah-tengah.

Te-thian Lomo melepaskan cambuk itu.

Melompat menerjang maju, kepalanya mengeluarkan uap kehitaman dan bagaikan sebuah peluru kendali, kepala itu menubruk maju ke arah perut Thian Thian Losu jang kurus Ketua Siauw-lim-pay berdiri diam, tidak mengelak, juga tidak menangkis.

"Dess!"

Kepala itu beradu dengan perut, dan tubuh Thian Thian Losu terpental ke belakang sampai tiga meter jauhnya akan tetapi dalam masih keadaan berdiri, lemah.

Tubuhnya bergoyanggoyang seperti orang menggigil kedinginan.

Senyumnya semakin melebar, sedangkan Te-thian Lomo terhuyung-huyung, matanya membelalak memandang hwesio yang masih berdiri tiga meter jauhnya dan tengah meramkan mata seperti bersamadhi atau berdoa.

Gadis baju biru yang tadi disangka pemuda tampan baju biru melompat maju dan menerjang dengan kipas terbuka.

"Iblis jahat……. berani kau mencelakakan Ciangbunjin Siauw-lim-pay!"

Gadis baju biru itu hendak menerjang Te-thian Lomo dengan penuh amarah, akan tetapi terdengar Hosiang berkata.

"Nona….. tahan!"

"Nona, jangan kau turut campur, sebentar lagi Te-thian Lomo akan pergi dari tempat ini,"

Terdengar Thian Thian Losu berkata masih dalam keadaan meramkan matanya.

Gadis baju biru menahan kipasnya.

Dan begitu ia menoleh ke arah Te-thian Lomo betapa terkejut dan herannya ketika melihat tubuh Te-thian Lomo menggigil keras, lalu roboh miring.

Thian Thian Losu menghampiri dan suara lembut mengiringi gerakan jubah menotok di kepala Te-thian Lomo.

"Te-thian Lomo, lekaslah pergi! Kalau tidak kau akan mati di sini…..!"

Heran sekali mendengar perkataan hwesio tua ini tanpa banyak berkata apa-apa Te-thian Lomo berjalan meninggalkan tempat itu dengan tubuh terhuyung-huyung.

Tahulah orang-orang kang-ouw bahwa iblis tua yang lihay dan ganas itu sudah terluka hebat.

Melihat bahwa Te-thian Lomo sudah pergi, ketua Siauw-lim-pay berkata kepada Yok-ong Lo Ban Theng.

"Lo sicu menyesal pinceng tak dapat lama-lama di sini! Selamat tinggal!" Belum lagi hilang suaranya itu tahu-tahu bagaikan segumpal kapas tubuh ketua Siauw-lim-pay melayang dengan amat ringannya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Tokoh-tokoh kang-ouw segera menghampiri Yok-ong Lo Ban Theng dan Hak-san Tayhiap Ong Kwie dan si dewa arak Cui Sian Kong Sin Kek yang terluka. Dengan wajah sedih Yok-ong Lo Ban Theng berkata.

"Cuwi sekalian harap maafkan kami yang telah menyusahkan dan mengejut hati cuwi……!"

"Tidak apa….. tidak apa. Lo-enghiong di antara orang sendiri untuk apa bersungkan-sungkan segala? Malah seharusnya kami inilah jang merasa malu tidak dapat membantumu mengusir Iblis tua itu,"

Menyahut Cui-sian Kong Sin Kek mengedik-ngedikkan kepalanya sambil memegangi muka yang masih terasa sakit tersambar serangan arak yang membalik tadi.

Tentu saja bagi Yok-ong Lo Ban Theng jang terkenal raja obat dengan sendirinya ia memeriksa luka teman-temannya.

Sehabis memeriksa luka di pundak Hak-san Tayhiap Ong Kwie segera ia hendak memeriksa luka pemuda tinggi kurus Ho Siang, akan tetapi Ho Siang hanya terluka ringan saja dan tak berkata.

"Terima kasih locianpwe, saja hanya terluka ringan saja dan tak berarti, harap locianpwe segera mengobati dirimu sendiri saja, lihat tadi locianpwe muntahkan darah!"

Yok-ong Lo Ban Theng terkejut dan kagum.

Hm, pemuda kurus ini ternyata tidak buta dalam hal pengobatan.

Ia menganggukanggukan kepalanya.

Pantas tidak tahunya dia murid Nakayarvia dari India hem, dibandingkan denganku aku bukan berarti apa-apa, pikirnya.

Gadis baju biru menghampiri tuan rumah dan menjura.

"Harap locianpwe tidak mengalami luka-luka berat dan maafkan saya yang tidak dapat membantu banyak."

Yo-ong Lo Ban Theng mengangkat muka memandang.

"Terima kasih nona, o ya, kalau aku boleh tahu, kau ini murid siapa dan siapa namamu?!"

"Ah, saja bukan murid siapa-siapa locianpwe, guru saya adalah kakek jang tak mempunyai nama di puncak Thang-la dan nama saja Nyuk In, she Cung….."

"Oooo! tidak tahunya nona adalah murid Bu-beng Sianjin dari Thang-la, pantas kepandaianmu demikian lihay tapi kenapa kau bermain kipas dan pit, padahal setahuku Bu-beng Siangjin terkenal dengan ilmu pedangnya, aneh! Apakah selama ini orang tua itu sudah menciptakan ilmu kipas dan bermain pit?"

"Maaf, locianpwe. Memang pelajaran kipas dan pit bukan saya dapatkan dari Bu-beng Sianjin, akan tetapi satu-dua jurus pernah saya terima dari sucouw Sui Kek Siansu."

"Sui Kek Siansu? Manusia setengah dewa itu masih hidup?"

Ong Kwie bertanya heran.

Sepanjang ingatannya kakek jang disebut Manusia setengah dewa itu sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, mengapa gadis ini bilang pernah mendapat petunjuk dari kitab peninggalan sucouw (kakek guru).

"Locianpwe permisi…… saya hendak berangkat!!"

"Nona Nyuk In mengapa tergesa-gesa pergi?"

"Maaf saja ada urusan di Kotaraja."

"Baiklah kalau begitu, o ya, jikalau kau kembali ke Thang-la sampaikanlah salam hormatku kepada gurumu, sudah lama aku nggak pernah berjumpa dengan orang tua itu!"

"Akan saja sampaikan salam hormat locianpwe untuk suhu, terima kasih,"

Berkata demikian gadis badiu biru itu menjura kepada si Raja obat Lo Ban Theng, dan ia berjalan perlahan meninggalkan gedung itu.

Akan tetapi baru saja ia berjalan belum jauh meninggalkan tempat itu tiba-tiba namanya dipanggil oleh seseorang.

"Nyuk In Siocia!"

Gadis baju biru yang bernama Cung Nyuk In menoleh dan dilihatnya Ho Siang mendatangi, langkahnya panjang-panjang menghampiri. Si gadis tersenyum.

"O, saudara Ho Siang!!"

Ho Siang berhenti di depan Nyuk In. Kedua tangannya terangkat menjura.

"Aku lupa mengucapkan terima kasih kepadamu nona."

Nyuk In mengerutkan keningnya mengingat sesuatu.

"Hmm, terima kasih apaan? Rasanya..... tidak pernah aku berbuat sesuatu kepadamu, mengapa kau berterima kasih kepadaku?"

"Nona Nyuk In bukankah kau yang pernah menolongku waktu aku bertempur dengan si iblis tua Langit Bumi barusan? Aku tidak pernah melupakan budi seseorang, makanya aku datang ke sini mengucapkan terima kasih kepadamu........"

"Ah, cuma itu saja, mengapa merepotkan dirimu? Sudahlah saudara Ho Siang, tak perlu kau berterima kasih kepadaku….. Sudah seharusnya aku menolongmu, bukankah membasmi yang jahat dan membela yang benar adalah tugas dari orang gagah di dunia kang-ouw? Eh, kau sekarang hendak kemanakah?"

Ho Siang berjalan di samping gadis baju biru sambil berkata.

"Aku hendak ke Kotaraja, o ya, bukankah engkau juga hendak ke sana? Alangkah baiknya kalau kita berjalan bersama? Iya toh?"

Waktu Ho Siang menoleh, dilihatnya pipi si gadis jadi merah dan tertunduk, hanya dari bulu mata yang lentik itu si gadis melirik dan menyahut.

"Kalau kau suka berjalan denganku, mengapa tidak?"

"O, tentu saja aku suka berjalan bersamamu, Nyuk In!"

"Ho Siang."

Ho Siang berhenti, Nyuk In juga menghentikan langkahnya, ke dua-duanya saling berpandangan.

Entah mengapa debaran jantung Ho Siang makin keras berdetak-detak, seluruh pembulu darahnya berdentum-dentum, lebih cepat lagi.

Melihat si gadis tertunduk kemaluan, bagaikan sebuah magnit yang saling membetot, tangan Ho Siang meraih tangan Nyuk In, dan sebentar itu pula keduanya sudah saling bergandeng tangan.

Cuma sebentar itu terjadi, karena tiba-tiba Nyuk In menyentakkan tangannya dari renggutan Ho Siang, akan tetapi bibirnya mengungkit sebuah senyum yang menyegarkan.

"Ho Siang, kau lucu!"

"Hmm lucu….. lucu apanya?"

"Tadi kukira kau pemuda tolol? tidak berkepandaian. Maka itu tadi waktu kau naik ke panggung memegang-megang suling di tangan, aku jadi mentertawakanmu. Kau maafkan aku, ya Ho Siang, kau tidak marah kan? Tidak kusangka kau jang kulihat ketolol-tololan itu ternyata adalah murid Nakayarvia pertapa jang terkenal itu. Ho Siang, kepandaianmu..... hebat bukan main!"

"Kau juga hebat Nyuk In dan lebih hebat lagi kukira kau seorang pemuda tampan mata keranjang. Tadi aku sampai gemas bukan main waktu kau mentertawaiku di panggung itu! Kalau di situ tidak banyak orang, ingin sekali aku mencubit bibirmu!"

Nyuk In melirik.

Sebuah kilat dari mata jeli itu menyambar berkeredepan membuat lagi-lagi hati Ho Siang berdegup-degup nggak keruan rasa.

Rasanya di dada itu ada kebahagian sejuta perasaan yang aneh-aneh, mengaduk perasaan hatinya!

Lirikan mata si gadis jang bernama Cung Nyuk In itu demikian tajam, tajam mata jeli itu menghujam dalam-dalam di hati Ho Siang!

Sebuah senyuman lagi, aduh!

Membuat hati Ho Siang kalang kabut di saat itu.

Untuk menekan perasaan yang aneh ini, ia berkata.

"Nyuk In, kau.. kau..... baik sekali!" Kini si gadis baju biru menoleh, seperti tadi ia memandang mengawasi wajah si pemuda. Menyapu wajah itu, lalu tertunduk kemalu-maluan.

"Kau bilang aku baik? Bohong, biasa mulut lelaki memang begitu, ketemu wanita lantas merayu, menganggapnya baik dan eh padahal kita baru berkenalan saja….. bagaimana kau bisa bilang aku ini baik?"

"Mati kau!"

Ho Siang bersambat. Ini mulut memang….. memang lancang. Sekarang apa yang hendak kau katakan,"

Pikir Ho Siang bingung akan tetapi dengan menekan perasaan Ho Siang berkata.

"Kau memang baik In-moay (adik In). Eh, boleh ya kupanggil kau In-moay begitu?"

"Boleh saja dan aku memanggilmu Siang koko, ya Siang koko betapa enaknya aku mengucapkan begitu. Siang koko, aku…... aku…… aduh…...!"

Tiba-tiba Nyuk In membungkuk dan memegangi perutnya. Ho Siang terkejut dan buru-buru memegangi tangan gadis itu.

"Eh, kenapa kau? Kenapa perutmu, sakit?"

Nyuk In mengangguk, mengerutkan wajahnya.

"Ya, sakit…... aduh…. duh, aduh!"

"Mari kuperiksa."

"Apa, kurang ajar!"

Si gadis tiba-tiba membentak. Keruan saja Ho Siang jadi melongo. Bengong memandang si gadis yang marah. "In-moay, mengapa kau bilang aku kurang ajar. Perutmu sakit sebaiknya."

"Kau mau periksa perutku?"

"Habis kau bilang sakit, sakit perut…... eh, ya mungkin mau……!"

"Mau apa?"

"Mau e, e!"

"Eh, kunyuk bukan itu! Perutku sakit melilit!"

"Sakit melilit. Oya..... ya tentu kolap!".

"Apa itu kolap?"

"Kolap ya lapar, eh In-moay, benar kau lapar? Tunggu ya sebentar, sebentar saja!"

Berkata demikian Ho Siang mencelat jauh dan masuk ke dalam hutan.

Memang saking tak terasanya mereka itu mengobrol tahu-tahu mereka sudah mulai memasuki sebuah hutan.

Hutan bambu yang indah sekali pemandangannya.

Akan tetapi bukan itu yang membuat hati Nyuk In serasa indah.

Keindahan itu datangnya dari pemuda jang bernama Ho Siang itu!

Entah mengapa pada mula ia melihat pemuda itu memasuki rumah Yok-ong Lo Ban Theng, dan melihat keberanian pemuda itu menghadapi Te-thian Lomo ia sudah tertarik, apa lagi setelah mengetahui bahwa Ho siang adalah murid Nakayarvia yang lihay itu, membuat hatinya tunduk benar-benar!

Diam-diam hati itu menjadi bahagia di dekat Ho Siang.

Selagi ia termenung dalam lamunannya itu, tiba-tiba ia mengeplak kepalanya.

Tolol kau, makinya dalam hati, melamunin dia belum tentu dia mau sama engkau.

Engkau memang mudah jatuh, mengapa kau cepat jatuh hati kepada pemuda jang bernama Ho Siang itu?

Nggak tahu kau dia sudah umur berapa sekarang, dan engkau baru juga berapa?

Engkau baru mengenal dia cuma di luarnya saja, belum mengenal ke dalam.

Pemuda itu berusia tidak lebih dari duapuluh lima tahun, apakah dalam usia demikian ia belum mempunyai pacar.

Janganjangan dia sudah berkeluarga, sudah kawin, mana kau tahu?

Untuk kedua kali Nyuk In mengeplak kepalanya.

"Eh kenapa kau gebukin kepala?"

Ho Siang bertanya sambil memegang ke dua telinga kelinci. Seekor kelinci gemuk sekali meronta-ronta dalam pegangannya.

"Kenapa sih kau ngeplakngeplak kepala, wah….. berabe nih, perutmu sakit, sekarang kepalamu sakit… tapi jangan dikeplak-keplak dong, bisa geger otak kau, baru tahu rasa!"

Melihat pemuda itu sudah mendatangi, wajah Nyuk In berseri dan sejenak ia tertunduk sambil menyahut.

"Aku nggak sakit kepala kok!"

"Tapi kenapa tadi kau keplakin kepalamu?"

Tanya Ho Siang.

"Siapa yang keplakin kepala. Emang aku sinting, eh, kau dapat kelinci dari mana, wah kau nangkap ya, hayo…... potong kelincinya biar aku membuat api,"

Dengan tertawa-tawa cerah ia membuat api dan matanya melirik ke arah pemuda itu yang dengan cekatan sekali menyembelih kelinci dengan pedangnya, lalu menguliti dengan cepat.

Sambil bekerja, Nyuk In bersiul perlahan dan Ho Siang beberapa kali melirik ke arah gadis jang benar-benar amat jelita dan manis bagi penglihatannya.

Memang kalau hati itu sudah dimabok asmara, segalanyapun dilihat serba indah dan menyenangkan!

"Lihat nih, dagingnya…..

hem, makin lapar perutku,"

Kata Nyuk In sambil mengangkat daging kelinci tinggi-tinggi! "Lekas panggang….. tak kuat lagi aku……"

Ho Siang berkata, menelan air liur beberapa kali, saking hebatnya selera itu menyerang hati!

Seperti seorang anak yang kesenangan dengan barang mainannya, sambil tertawa-tawa gembira Nyuk In membuat sate kelinci dan kemudian memanggangnya.

Bau jang sedap gurih memenuhi udara, menambah rasa lapar di perut yang sudah berkeroncongan.

Selama memanggang daging sate kelinci itu Nyuk In tidak banyak berbicara, hanya beberapa kali ia melirik ke arah Ho Siang, akan tetapi kalau pemuda itu membalas pandangannya, ia mengasih kerlingan sambil tersenyum.

Biar pun mulutnya tidak berkata sesuatu, namun dalam hatinya Nyuk In tiada henti-hentinya berkata-kata.

Pemuda ini baik pikirnya.

Tidak kurang ajar seperti lelaki lain, biarpun ia kelihatan kadang-kadang seperti orang tolol, akan tetapi ia tahu bahwa pemuda ini amat lihay, buktinya ia sudah berani melawan Te-thian Lomo yang terkenal lihay dan kejam.

Bersamasama berjalan dengan pemuda ini tentu amat menyenangkan sekali, bukan saja hatinya memang sudah terpaut dengan kesederhanaan pemuda ini, disamping itu dengan adanya Ho Siang, bukankah lebih mudah baginya untuk mencari musuh besarnya.

Dengan pemuda ini di sampingnya, menghadapi Pay-cu Sian-lipay yang bernama Bu-tek Sianli itu, apa jang mesti ia takuti?

Kalau memang buat menghadapi suheng saja, si Cambuk sakti Oey Goan, ia masih dapat menandingi.

Akan tetapi mencari si nenek sakti yang bernama Bu-tek Sianli, bukankah lawan jang ringan!

<> Siapakah gadis yang bernama Cung Nyuk In ini?

Memang benar seperti pengakuannya ia adalah murid dari Bubeng Sianjin.

Orang tuanya terbunuh di tangan Bu-tek Sianli dan dia sendiri, pada usia delapan tahun diculik oleh Pay-cu Sian-li-pay itu untuk dijadikan murid Bu-tek Sianli.

Untunglah pada saat penculikan itu terjadi, muncul Bu-beng Sianjin, dan berhasil merampas Nyuk In dari culikan Bu-tek Sianli.

Sejak itu karena Nyuk In tidak punya orang tua lagi maka selama hampir delapan tahun ia digembleng oleh Bu-beng Sianjin di puncak Thang-la, disamping itu Bu-beng Sianjin, juga mempunyai murid Oey Goan.

Akan tetapi sayang sekali Oey Goan berwatak keras dan penuh keinginan-keinginan kedudukan tinggi, maka murid pertamanya ini tersesat dan menjadi hamba-hamba nafsunya.

Oleh karena itulah selesai digembleng oleh kakek Bubeng Sianjin, ia dipesan untuk mencari suhengnya Oey Goan memperingati supaja suhengnya itu mau kembali ke puncak menghadap suhunya.

Pada waktu ulang tahun Yok-ong Lo Ban Theng itulah Bu-beng Sianjin menyuruh muridnya untuk turun gunung dan mencari suhengnya dan mencari pembunuh orang tuanya Bu-tek Sianli!

Tentu saja setelah bertemu dengan pemuda Ho Siang yang berkepandaian tinggi, dan yang juga sudah menarik hatinya, membuat ia tenggelam dalam lamunan mengkhayalkan sesuatu jang indah!

Waktu Nyuk In melirik lagi dilihatnya Ho Siang tengah termenung sambil menghendus asap sate kelinci yang nikmat dan lezat.

Nyuk In mengambil batu kecil di bawah kakinya dan melempar ke kaki Ho Siang sambil katanya tersenyum.

"Eh, ngelamun…..?"

Ho Siang membalas tersenyum, melihat batu kecil yang dilempar si gadis yang menyentuh mata kakinya, meskipun tidak sakit ia berteriak.

"Aduuh!!!"

"Hi hi hi, sakit ya?"

"Nggak… nggak sakit,"

Sahut Ho Siang.

"Nggak sakit kok menjerit? Aii, orang muda suka ngelamun, entar cepat tua tu! Nglamun apa sih……. ngelamunin pacar ya?"

Nyuk In bertanya menggoda sambil mengangkat tinggi-tinggi sate kelinci yang hampir matang merangsang selera.

dan mengeluarkan bau jang lezat Menghendus asap ini keruan saja kalamenjing Ho Siang turun naik dan menelan berkali-kali air liurnya.

Melihat ini Nyuk In tertawa mengikik sehingga terpaksa menutupi mulutnya dengan tangan kiri.

Sebetulnya jarang ia tertawa segeli ini, akan tetapi sekarang melihat tingkah lakunya pemuda itu, ia jadi kepingin tertawa.

Memang aneh sekali kalau hati itu tengah dirangsang oleh asmara!

Asmara membuat orang yang tidak bisa tertawa akan menjadi tertawa riang, asmara pula membuat hati yang susah nelangsa menjadi riang penuh gelora cinta.

Asmara betapa kuasa engkau mempermainkan manusia!

Melihat gadis itu tertawa sambil menutupi mulut, keruan saja Ho Siang jadi bertanya heran.

"Hmm, mengapa engkau tertawa?"

"Tidak apa-apa, tak bolehkah orang tertawa?"

Nyuk In menjawab sambil melirik nakal tangannya memutar daging kelinci di atas api. Ho Siang bangkit dari duduknya dan mendekati si gadis jang tengah memanggang.

"Aduh..... lama benar nih satenya, apakah belum mateng juga In-moay?"

"Nah, nah…... nggak sabaran ya? Bentar lagi juga mateng, sabar dong ya say…..!"

Ho Siang tersenyum.

Disebut ‘sabar ya say...’ aiiih, alangkah mesranya sebutan gadis itu terhadapnya.

Begitu indah dan menyenangkan.

Ingin sekali gadis itu berkata sekali lagi ‘Sabar ya say…’ Ya, tentu saja aku bersabar sayang…...

Sudah mateng belum dagingnya, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa.

Setengah berjongkok ia mendekati Nyuk In melongok sate kelinci yang terpanggang di atas api.

Si gadis membolak-balikkan sate daging kelinci itu di atas api.

Tahu bahwa pemuda itu di belakangnya sedang melongok daging panggangnya, Nyuk In berkata.

"Kau sudah lapar, ya?"

"Tentu saja lapar, eh, kudengar perutmu juga berkeruyuk minta diisi. sudah...... sudah angkat, sudah mateng?"

"Sekarang memang sudah mateng."

Nyuk In mengangkat daging kelinci dan menaruhnya di atas daun-daun yang sudah disediakan di situ, di depan Ho Siang.

"Wah… gurih nih……"

Ho Siang memuji.

"Hayo kau ambil dulu!"

"Kau ambillah."

"Kau kan yang tangkap, kau mesti ambil duluan!"

"Ya, tapi bukankah kau jang memanggangnya….. hayolah, ambillah…..!"

Didesak terus, akhirnya Nyuk In mengambil setusuk.

Diikuti oleh pemuda di belakangnya.

Ho Siang tidak berlaku sungkan lagi.

Dengan penuh gairah ia mengambil tusukan daging yang banyak lemaknya, lalu dengan menggerogotinya dengan lahap.

"Wah, hebat…….! Lezat bukan main…."

Katanya sambil mengunyah.

Memang gemuk kelinci itu, itu bukan saja dagingnya yang tebal dan empuk juga lemaknya banyak sehingga begitu menggigit daging, lemak yang mencair oleh api itu menitik dari kanan kiri bibir Ho Siang!

"Sayang eggak ada arak!

Hey, hendak ke mana kau?

In-moay?"

"Kau bilang nggak ada arak. Memang makan sate tanpa arak kurang sedap, kau tunggu ya, aku ambil air minum!"

Cepat Nyuk In berlari meninggalkan Ho Siang.

Pemuda itu mengawasi kepergian Nyuk In sambil mengunyah lambat-lambat dan pikirannya makin penuh oleh keadaan Nyuk In.

Hebat memang gadis itu, wataknya aneh, sangat menyenangkan hati!

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 7

Baca Juga: Golok Halilintar 6

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger