Istana Hantu 1

Eps 1 Istana Hantu - Kim Tiaw

Baca online Istana Hantu - Kim Tiaw

Cersil Istana Hantu - Kim Tiaw.

Istana Hantu -Yoza Collection Istana Hantu -Yoza Collection Istana Hantu Karya .

Kim Tiaw Penerbit .

Radjawali Emas Jakarta (1973) Edited & Ebook by .

yoza Seri 2 Pendekar Lengan Buntung Istana Hantu -Yoza Collection EJAUH MATA memandang, hanya nampak lautan luas membentang biru berombak-ombak kecil oleh hembusan angin kering yang menghempas pantai.

Ujung langit yang berwarna kelabu melengkung menyeruak masuk ke dalam hamparan gelombang membiru di ujung laut jauh di sebelah sana merupakan payung raksasa yang melingkupi batas-batas laut Po-hay.

Sementara di sekeliling pantai hanyalah batu karang melulu yang menjulang tinggi menerima hamparan ombak yang menjerit-jerit, merupakan nyanyian abadi yang tak kunjung henti.

Angin kering mengusap permukaan laut biru membuat tarian kecil mengombak memecah pantai.

Beberapa burung camar beterbangan di atasnya, merupakan titik-titik hitam yang kemudian lenyap dari pandangan mata.

Suasana di tempat ini demikian hening, hanya terdengar suara angin membelai punggung laut dan menghempasnya ke sebuah batu karang hitam menimbulkan suara air yang mengercak dan mengalir kembali ke tengah lautan.

Di tepi pantai itu, matahari memandang dengan ganasnya.

Mengusap pasir putih berkilau cahaya perak yang memantul ke atas dalam bayang-bayang air biru.

Pada ketika itu ketenangan air bergelombang kecil oleh sepasang kaki manusia yang berjalan perlahan di tepi pantai.

Tapak-tapak bekas kaki membekas pada pasir putih, sementara usapan matahari pada punggung ke dua manusia itu membuat bayangan yang bergerak lambat di atas pasir.

Dua sosok tubuh manusia, seorang wanita muda cantik dan seorang pemuda tampan yang buntung lengan kanannya.

Mereka berjalan amat perlahan dan sukar sekali.

Si gadis memapah tubuh si pemuda lengan buntung, setengah memeluknya.

Sementara isak tertahan dari gadis itu merupakan irama memilukan hati bagi siapa saja yang mendengar keluhannya.

ana, tidak jauh panah.

Amat menyeramkan sekali keadaan pemuda lengan buntung ini.

Seluruh bajunya yang putih sudah penuh dengan bekas-bekas darah merah.

Tiga batang anak panah masih menancap di dada dan punggungnya.

Wajahnya amat pucat dan kelihatannya sudah begitu lemah.

Jilid 1 Ia berjalan terhuyung-huyung dalam papahan pelukan tangan si gadis yang memeluknya.

Waktu si gadis itu berkata tadi, pemuda itu menoleh.

Akan tetapi tidak berkata-kata, hanya wajahnya dikerutkan menahan nyeri yang hebat pada dada dan punggung.

Mereka terus berjalan di tepi pantai laut Po-hay, meninggalkan bekas-bekas tapak kaki yang kemudian lenyap disapa ombak yang memecah pantai.

Ke dua orang muda itu adalah Sung Tiang Le dan Cia Pei Pei.

Mereka berusaha meninggalkan pulau Bidadari menyusuri tepian laut Po-hay dan karena saking banyaknya darah yang keluar dari luka-luka di punggung dan pundak Tiang Le membuat pemuda itu berjalan terhuyung-huyung saking lemasnya.

Sementara Pei Pei sambil mengucurkan air mata memapah Tiang Le, setengah berpelukan mereka berjalan lambat-lambat di tepi laut.

Sebentar-sebentar mereka berhenti apabila pemuda itu terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah.

Dan kalau sudah begitu, gugur bendungan air mata si gadis Pei Pei tak tahu apa yang mesti ia perbuat, hanya menangis dan memeluk pemuda itu!

Sungguh pemandangan yang amat mengenaskan hati.

Siapakah orangnya yang tidak menaruh kasihan kepada pemuda yang sudah buntung lengannya, ditambah lagi dengan tiga buah anak panah yang masih menancap di tubuhnya.

Pemuda itu berkali-kali jatuh pingsan.

Darah yang mengalir dari luka oleh anak panah sudah mengering dan membengkak membuat rasa sakit yang hebat.

Tubuh itu letih lunglai.

Tubuh itu terhuyung-huyung dan roboh berdua-dua dengan si gadis yang memeluknya dan dengan amat sukar sekali kemudian mengangkat tubuh Tiang Le dan memapahnya lagi.

Entah berapa kali mereka itu jatuh bangun.

Tiada orang yang tahu.

Tiada orang menaruh rasa kasihan kepada dua orang muda ini.

Sesungguhnyalah, di tempat ini begitu sunyi.

Tiada seorangpun manusia, selain dari kedua orang muda yang berjalan menyusuri pantai lambat-lambat dan jatuh bangun.

Dan terdengar tangisan dari si gadis.

Menangisi nasib si pemuda lengan buntung yang begitu malang dan patut dikasihani!

Ada dua jam mereka menyusuri pantai, tiba-tiba Pei Pei berteriak girang, Le koko......

lihat, di sana itu Pei Pei menarik tangan Tiang Le.

Pemuda itu agak sedikit limbung berjalan terhuyung dalam tarikan tangan si gadis.

-g Le menyebut nama si gadis dengan panggilan mesra.

Dan Pei Pei menoleh.

Seberkas senyum di balik air mata yang berderai-derai menghias wajahnya.

Senyum itu menandakan kepiluan hati.

Tidak berkata apa-apa gadis itu, hanya tangannya saja meraih tangan Tiang Le dan memapahnya sampai ke depan gua di depannya.

Goa batu karang hitam.

Di sinilah Pei Pei memapah tubuh Tiang Le masuk ke dalam goa.

Baru di tempat inilah, ia merasakan tubuhnya menjadi kaku-kaku dan nyeri pada dada dan punggung.

Tiba-tiba pemuda itu menjerit dan tubuhnya terhuyung roboh dalam pelukan si gadis.

Di dalam goa batu karang ini, pemuda itu pingsan lagi!

Pei Pei terisak.

Akan tetapi, setelah sampai di tempat ini hatinya menjadi lega, Pikirannya bekerja.

Kemudian tangan halus yang cekatan itu mulai bekerja merawat luka Tiang Le yang cukup parah ini.

Di bagian lain, masih dalam lingkungan laut Po-hay berpuluh-puluh mayat manusia menggeletak di atas sebuah tebing batu karang yang amat tinggi.

Mayat-mayat itu masih hangat.

Baru tadi siang terjadinya pembunuhan besar-besaran ini.

Pada bagian terakhir cerita Pendekar Lengan Buntung, pemuda yang bernama Sung Tiang Le itu mengamuk, menghancurkan banyak perwira Mongol dan membunuh habis semua pengemis-pengemis Hwa-ie-kay-pang, Hek-lian-pay dan gadis-gadis Sian-li-pay, murid-murid Bu-tek Sianli yang jahat dan licik ini!

Sebetulnya, pemuda lengan buntung Sung Tiang Le bukanlah seorang pemuda yang berhati kejam dan telengas, sehingga membunuh begitu banyak manusia.

Akan tetapi, karena pemuda itu dikeroyok banyak sekali oleh pasukan Mongol dan para sekutu Bu-tek Sianli, tiada jalan lain baginya untuk meloloskan diri dan menyelamatkan Pei Pei yang ditawan oleh nenek Bu-tek Sianli!

Sepak terjang pemuda lengan buntung ini, mengemparkan tokoh dunia persilatan.

Belum lama pemuda itu, dalam keadaan terluka meninggalkan tebing curam dan berjalan dengan terhuyung-huyung dalam papahan Pei Pei, muncul banyak tokoh-tokoh kang-ouw ke tempat itu.

Dan alangkah kagetnya mereka karena semua murid nenek Bu-tek Sianli yang cantik-cantik itu telah kedapatan mati dan banyak lagi ditemui pengemis-pengemis Hwa-ie-kay-pang dan ratusan tentara Mongol yang sudah menggeletak dalam keadaan sudah tak bernapas lagi!

Tentu saja, sebagai orang gagah dan mempunyai rasa kasihan dan berperikemanusiaan, mereka itu lalu mengubur mayat-mayat yang bergelimpangan di Pulau Bidadari!

Tak terkecuali tentara Mongol sekalipun!

Sejak kejadian itu, nama pemuda lengan buntung menanjak tinggi, sederet dengan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya.

ooOOoo Jauh di bawah tebing batu karang yang curam, air laut mengericak memberi irama pada gelombang-gelombang tipis.

Sesosok tubuh manusia terapung-apung di permukaan air.

Seorang gadis yang tengah pingsan dalam pelukan pada sebilah balok kayu yang mengambang.

Gadis itu masih muda belia dan berusia sekitar duapuluh tahunan.

Pakaian dan rambutnya yang panjang sudah basah kuyup tersiram air laut yang menggelepar-gelepar memukul batu karang hitam yang menjulang tinggi.

Perlahan-lahan balok kayu itu terdampar oleh ombak ke pinggir, membentur batu karang.

Sedikit agak keras benturan itu sehingga menyadarkan si gadis dari pingsannya.

Ia agak terkejut sekali begitu melihat ke atas, pertama-tama dilihatnya langit luas membentang di atasnya dan di sampingnya terhampar lautan luas bergelombang-gelombang kecil menakutkan.

Suara gemuruh itu adalah suara air laut yang bergelombang dari tengah lautan dan menghempas ke pantai.

Untuk sesaat lamanya, teringatlah ia, bahwa dirinya bukanlah berada di alam neraka yang semula diingatnya!

Ia kini berada di pantai laut Po-hay.

Tebing tinggi di sana itu mengingatkan dia dari kejadian-kejadian yang belum lama ini dialami.

Ia sadar.

Ia telah jatuh dari atas tebing batu karang itu dan rupanya balok kayu inilah yang menyelamatkan dirinya, sehingga ia tidak terbawa hanyut ke tengah lautan.

Memang pada saat itu laut sedang pasang, ombak menghempas pantai merupakan jeritan yang menakutkan.

Ia sudah selamat kini, walaupun dirasakannya badannya terasa sakit bukan main!

Akan tetapi, apabila pikirannya teringat kepada kejadian-kejadian di atas tebing sana itu, segera ia berjalan perlahan.

Kedua lututnya terasa lemah sekali.

Pakaiannya basah kuyup, akan tetapi ia tak memperdulikan.

Ia terus berjalan terhuyung-huyung menaiki tebing di sebelah sana itu?

Akan tetapi apa yang didapatinya di sebelah sana itu?

Oh, hanya puluhan gundukan tanah yang merupakan kuburan manusia yang masih baru.

Mungkinkah Tiang Le juga sudah berdiam di dalam kuburan itu, sudah binasakah Tiang Le?

Betapa cemas hati gadis itu kini.

Matanya memandang jauh ke bawah, mata itu kemudian menjadi basah.

Teringat ia kepada Tiang Le.

Entah bagaimana nasib pemuda malang itu, mudah-mudahan ia selamat, mudah-mudahan yang di dalam kuburan itu bukan Tiang Le di antaranya!

Sambil mengusap air matanya yang sudah mengering, karena terus-terusan menangis.

Akhirnya gadis itu berjalan meninggalkan tebing.

Tertunduk lunglai!

-dalam hati.

Sementara pakaiannya yang tadi basah kini sudah mengering.

Baru sekarang dirasakan perutnya begini lapar, baru sekarang ia merasakan dahaga yang mengeringkan tenggorokannya.

Pandangannya nanar terlempar jauh ke tengah lautan luas.

Akhirnya, saking lelahnya, dia, gadis itu menjatuhkan tubuhnya.

Terduduk di atas batu karang yang hitam.

Tenggelam dalam berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.

Siapakah gadis itu?

Dalam cerita Pendekar Lengan Buntung telah diceritakan betapa gadis yang bernama Bwe Lan ini terjungkal dari tebing yang amat curam oleh pukulan Bu-tek Sianli yang telah berlaku curang telah membokongnya.

Dan saking hebatnya pukulan Bu-tek Sianli yang menggunakan Pukulan Dewa Tanpa Tandingan membuat gadis itu terjungkal dari atas tebing dan disambut oleh air laut di bawah yang bergelombang memecah batu karang.

Untunglah pada saat tubuhnya melayang itu Bwe Lan tidak begitu gugup dan segera ia menggunakan gin-kangnya mencelat ke samping untuk menghindarkan tubuhnya menimpah batu karang, dan tubuhnya itu terbanting ke dalam lautan.

Untuk beberapa saat gadis itu gelagapan juga waktu tubuhnya terus meluncur ke dalam laut.

Cepat Bwe Lan menggerak-gerakkan tangannya dan secara kebetulan sekali, tangan itu mendapat pegangan sebatang balok.

Cepat ia memeluk balok itu dan tanpa disadarinya, ia telah menjadi pingsan dalam ke dua tangan memeluk balok yang diombang-ambingkan oleh ombak yang datang dari tengah itu.

Apabila matahari telah naik tinggi, Bwe Lan bangkit dari duduknya.

Sekali lagi ia memandang ke arah lautan Po-hay yang membentang luas.

Kemudian pandangannya menyusuri gundukan tanah yang banyak di tempat itu.

Hatinya perih sekali, jangan-jangan Tiang Le sudah mati dan dikubur pula di tempat itu?

Ditekannya perasaan yang bukan-bukan itu.

Diyakinkan hatinya bahwa Tiang Le belum mati.

Tak boleh ini terjadi, pikirnya!

Apabila ia memandang ke atas, matahari memandang kepadanya dengan ganas sekali.

Dan dengan hati yang tidak keruan rasa, gadis yang bernama Liang Bwe Lan itu kemudian meninggalkan tempat itu, berjalan tergontai-gontai.

Jalannya tertunduk!

Menyusuri laut Po-hay, melewati batu-batu karang yang menjulang tinggi.

Banyak goa-goa yang terbuat dari batu karang di sepanjang pesisir laut itu.

Akan tetapi, gadis itu tak memperdulikan semuanya.

Tak perduli lagi ia akan panas yang membakar tubuhnya.

Ia harus cepat-cepat meninggalkan pulau ini mencari Tiang Le.

Ia tak pernah mengimpi bahwa pada saat ia berjalan melewati gua-gua batu karang di pinggir laut itu, tak jauh dari situ, yakni di sebuah goa, kurang lebih duapuluh tombak jauhnya, seorang lelaki tampan, dalam keadaan terluka parah didampingi oleh seorang perempuan cantik, lemah lembut dan yang tengah merawatnya dengan kasih sayang.

Mereka itu adalah Cia Pei Pei dan Sung Tiang Le.

Dalam goa itu menjadi hening karena Tiang Le, entah pingsan, entah setengah pingsan tak bergerak di tempat itu.

Sedangkan Pei Pei hanya memandang pemuda itu dengan air mata bercucuran sambil mengusap kain basah pada leher Tiang Le yang panas membara.

Berkali-kali pemuda itu mengigau.

Setiap kali pemuda itu tidak keruan rupa, setiap kali itu pula hati Pei Pei teriris pilu.

Dan menangis dia dengan sedih.

Betapa tidak, kalau dalam pingsannya itu Tiang Le mengigau dan menyebut-nyebut nama seorang gadis lain.

Aduhai, membuat pedih hati Pei Pei, akan tetapi Pei Pei dapat menekan perasaannya ini.

Ia dapat memaklumi.

Kalau Bwe Hwa pada saat ini tengah menanti-nanti Tiang Le.

Dan pemuda ini di sisi ini, tidak berdaya dalam luka-luka yang amat hebat membakar tubuhnya.

Tiang Le terserang demam panas, akibat luka-lukanya dari ke tiga anak panah yang menancap di dada dan punggungnya!

Dan Pei Pei hanya bisa menangisi pemuda itu sambil membasahi kain basah pada leher dan kening si pemuda.

Pei Pei tak tahu apa yang mesti ia lakukan.

Ia sendiri tak mengerti sedikitpun tentang ilmu pengobatan!

Andai kata mereka berada di kota atau dusun tentu sejak tadi ia sudah mengangkat kaki memanggil sin-she atau tabib.

Akan tetapi di sini ia di tepi lautan Po-hay yang sepi mati!

Hendak minta tolong kepada siapakah dia?

O, Pei Pei hanya bisa menitikkan air mata saja.

Memandang ke arah dada yang tertancap anak panah itu.

Ingin ia mencabutnya, akan tetapi belum lagi ia mencabut, baru saja menyentuh anak panah itu, Tiang Le sudah menjerit kesakitan.

Tak tega Pei Pei.

Sementara dilihatnya wajah Tiang Le semakin pucat seperti mayat!

Hari kedua, Tiang Le membuka matanya.

Ia bergerak hendak bangun, akan tetapi sekelilingnya.

Sebuah api unggun menerangi wajahnya.

Sementara di luar gua gelap gulita.

Suara ombak terdengar meriak di kegelapan.

ita berada di dalam sebuah gua, di tepi pantai laut Po-penuh perhatian.

Terharu hati Tiang Le.

Apalagi dalam keremangan cuaca yang hanya diterangi oleh api unggun itu, ia melihat gadis kau menangis Pei-Sebuah senyum mencercah di bibir itu.

-kau sudah ingat kembali.....

lukamu.......

koko anak panah itu, bahaya sekali kalau dibiarkan.......

kalau sudah tidak menancap di dada yang bidang itu.

Menyentuhnya, akan tetapi Tiang Le menggelinjang kesakitan.

--Sebenarnya, pemuda itu tak perlu merasa sakit.

Ia dapat segera mengerahkan tenaga sin-kang di dada dan pundak.

Akan tetapi, tak mau ia memperlihatkan bahwa ia sudah sembuh.

Memang Tiang Le ini luar biasa.

Biarpun lukanya ia tidak diobati, akan tetapi berkat tenaga sin-kangnya yang sudah mendarah daging di tubuh itu.

Perlahan, akan tetapi pasti, dengan hawa sin-kang ia sudah dapat menyembuhkan lukanya.

Hanya tinggal mencabut anak panah yang menancap saja.

Bergetar tangan Pei Pei mencabut anak panah yang menancap di dada si pemuda.

Apabila Tiang Le menyerengit seperti orang kesakitan, si gadis menunda pekerjaannya dan mengawasi wajah Tiang Le.

Girang hati si gadis.

Getaran suara yang manja itu menandakan bahwa pemuda itu bukan merasakan sakit.

Hanya kolokan!

gadis itu menyentuh anak panah kedua.

Perlahan mencabut.

Darah hitam keluar dari bekas luka di ujung anak panah itu.

Segera Tiang Le mengerahkan sin-kangnya mendorong darah yang bercampur racun itu.

Sehingga Pei Pei amat terkejut sekali melihat banyak darah hitam yang mengalir keluar dari bekas luka anak panah yang barusan dicabut.

dengan carikan bajunya yang sudah dirobek.

-moay, sebentar lagi apabila kehitaman itu le seperti dibakar, kau terserang demam panas sehingga berkali-kali kau mengigau ak meneruskan perkataannya.

Mukanya untuk seketika menjadi merah sampai ke telinga, sementara batinnya terasa tak enak benar.

Tiang Le melap darah yang kehitam-hitaman itu dengan carikan kain.

Sementara -kali menangisi dia, aneh dalam -tiba ia menarik tangan Pei -nantiku, Pei-moay.

Hayo sekarang juga kita berangkat ke Tai-hang-san.

Aku sudah berjanji dengan Bwe Hwa untuk Memang hari telah jauh malam.

Di luar hitam pekat, bagaimana mereka dapat berjalan?

Tiang Le jadi termenung memandangi seonggok api unggun yang hendak padam.

saja pagi-pagi........

Oya apakah kau sudah kuat betu Tiang Le menggelengkan kepala.

Saat ia teringat akan perkataan Bwe Lan tiga hari Itulah suara Bwe Hwa pada tiga hari yang lalu, pada saat ia hendak memenuhi undangan Bu-tek Sianli, di pulau Bidadari.

Sebetulnya gadis yang bernama Bwe Hwa itu akan ikut dengannya, akan tetapi karena ia menguatiri keselamatan gadis itu, maka Bwe Hwa hanya menanti di lembah Tai-hang-san.

Siapa tahu justru ia mengalami luka dan pingsan hampir tiga hari ini.

Jangan-jangan Bwe Hwa akan menyusulnya ke pulau bidadari.

Ia tahu betul akan kekerasan gadis itu, ia yakin Bwe Hwa akan mencarinya.

Api unggun menjadi padam ditampar angin malam yang menerobos dari luar.

Angin laut berhembus keras sekali.

Tiang Le berkata kepada gadis itu.

--t Pei Pei diantara tebasan angin malam yang menerpa dari luar.

Dingin.

Tiang Le hanya tersenyum.

Tidak menyahut akan perkataan Pei Pei.

Ia melonjorkan ke dua kakinya.

Sementara Pei Pei memandangnya, memandang dengan curahan cinta kasih, kemudian ia merebahkan kepalanya.

Meramkan kedua matanya, dan sebentar itu pula, saking ngantuknya dia karena sudah dua hari ini ia menggadangi Tiang Le.

Terasa benar kantuk itu sekarang, terasa berat sekali matanya dan sebentar itu pula ia sudah tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak.

Napas gadis itu perlahan sekali.

Tiang Le tersenyum sendiri mengenang gadis di depannya.

Berhenti kemudian dengan bayangan Bwe Hwa yang mengoyak-ngoyak hatinya sekarang.

Sampai lama ia tidak bisa tidur, kejadian-kejadian di lembah Tai-hang-san bersama Bwe Hwa membayang kini di depan matanya.

Segera ia menekan perasaan hatinya dan kemudian ia bersemedi.

Mengheningkan cipta, tak lama kemudian iapun sudah tenggelam dalam tidurnya meski dalam keadaan bersemedi!

Malam bertambah gulita.

Suara angin laut terdengar dikesepian malam merupakan nyanyian abadi yang tak kunjung henti.

Suara ombak memecah karang merupakan paduan lagu yang mengiringi perjalanan malam yang amat lambat merangkak menuju pagi.

Tiang Le tidak sadar, pada saat itu entah dari mana datangnya, seekor ular putih merangkak lambat-lambat menuju ke arah dua orang muda itu.

Lidahnya yang kecil panjang menjulur ke depan.

Anehnya ular kecil yang berwarna putih itu hanya sekali saja menggigit lengan di tangan Pei Pei dan ia kemudian merayap menghampiri Tiang Le.

Amat lembut sekali ular itu membelit kaki pemuda lengan buntung.

Dan kemudian, ia meninggalkan kedua orang muda itu.

Merayap lagi keluar gua, sedangkan Pei Pei dan Tiang Le tidak menyadari apa sesungguhnya yang terjadi.

Mereka tidak merasakan apa-apa.

Ular putih yang aneh!

Baru setelah matahari membersit tinggi, Tiang Le membuka matanya, dan alangkah herannya dia begitu matanya terbentur oleh tatapan Pei Pei.

Bagaikan ada besi semberani yang menariknya.

Tangan kiri Tiang Le menarik tangan si gadis.

Dan anehnya Pei Pei terus saja memeluk pemuda itu dengan dengusan napas yang memburu!

Menciumi pemuda itu!

Dan yang aneh lagi bagaikan menemukan makanan yang lezat Tiang Le juga membalas memeluk gsdis itu.

Membalas mengecup dengan ciuman-ciuman yang panjang.

Tiada kata-kata yang keluar dari mulut ke dua orang muda yang telah terangsang oleh tenaga dorongan yang aneh.

Hanya napas ke duanya itu memburu, saling mendekap dan saling hendak meledakkan isi dada yang terasa amat berdenyar-denyar dengan amat kerasnya.

Anehnya, pada kedua wajah orang muda itu tampak putih seperti salju.

Darah di tubuh Tiang Le berdentum-dentum dengan amat kerasnya, sebaliknya Pei Pei pun demikian.

Ia merasa ingin dijamah!

Dan memang tangan kiri Tiang Le menjamah sudah bagian tubuh Pei Pei.

Satu persatu, pakaian yang melekat di tubuh gadis itu terlepas di dalam goa.

Tiang Le memandangi gadis itu dalam keadaan yang polos.

Dadanya semakin berdentum.

Kepalanya semakin pening, dan matanya semakin pedas.

Seluruh tubuhnya kini semakin panas dan bagaikan ada tenaga gaib yang hendak mengajaknya ke sana.

Pei Pei juga menyambut tubuh si pemuda.

Sementara dari bibirnya yang kering itu menjerit memanggil nama si pemuda dengan jeritan histeris, -terdengar perlahan sekali.

Meraih tubuh polos ini.

Keduanya saling menumpahkan perasaan yang aneh itu!

Keduanja kini terlena.

Keduanya itu tidak sadar.

Kalau pada saat itu berkelebat sebuah bayangan dan terhenyak dia melihat pemandangan yang membuat seluruh tubuhnya menggigil keras.

Matanya menjadi pedas.

Hati menjerit mengeluarkan kutukan sehabis-habisnya.

Kemudian mata itu meneteskan air mata, tangannya merabah pedang di pinggang, akan tetapi, rasa malu membuat ia mencelat ke atas, dan berdiri di atas gua batu karang itu melepaskan pandangan ke laut nan bebas.

Wajahnya yang merah sampai ke telinga itu, membuat hatinya bertambah gemas dan marah.

Dalam dada itu menyaingi deburan ombak yang berdenyar-denyar, mengeluarkan kutukan-kutukan yang tak terucapkan, ke dua kakinya menggigil.

Didengarnya suara Tiang Le, suara yang amat dikenalnya itu berkata penuh penyesalan.

-menyerahkan kehormatanku kepadamu meski itu kuberikan dengan tidak sadar, akan -Terdengar Tiang Le menghela napas panjang.

-coa yang amat jahat.......

lihat ular yang tadi kuhancurkan barusan.......

ia masih menggeliat-geliat.

Ular inilah yang menyebabkan kita dengan tak sadar telah melakukan hubungan gila ini.......

isterimu.......

begitu kejamkah hatimu koko, begitu tegakah engkau meninggalkanku Pei yang penuh linangan air mata hendak menembus dada si pemuda.

Dan menyelidiki isi hati itu.

emang cinta padamu Pei Pei, tapi bukan begini caranya aku mengambil Tiang Le menggunakan tangan kirinya mendekapkan mukanya dan terasa sekali kepalanya masih berkunang-kunang.

Dan napasnya memburu apabila tatapan Pei Pei menyentuh matanya, napsu birahi masih menguasai jiwanya.

Sehingga Tiang Le tak berani lagi memandang si gadis, ia hendak menangis, ia hendak menjerit-jerit penuh penyesalan atas kejadian-kejadian gila ini.

Akan tetapi entah mengapa ia tak dapat menangis.

Hatinya masih dikuasai oleh perasaan gelisah yang menggelora.

Pei Pei hanya menangis sedih.

Dan ia menjatuhkan diri berlutut di kaki si pemuda.

lagi yang boleh kupercayai.

Kedua orang tuaku sudah meninggal.

Jangan kau mengecewakan mendiang ayah dan ibu, koko.

Kalau......

kalau kau......

ahh, sebaiknya aku s kini.

Pada saat itu dari luar gua terdengar bentakan keras yang menggeledek nyaring.

ambil Pei Pei sebagai istrimu dan bersumpah demi langit dan bumi bahwa kau sudah menjadi suami Pei Pei, kalau tidak aku akan memenggal lehermu!

Tiang Le, hayo kau Bagaikan disambar petir yang menggeledek di atas kepalanya Tiang Le mencelat ke luar gua dan memandang ke arah seorang gadis muda yang berlengan buntung.

Akan tetapi telah memegang pedang pendek di tangan kanannya!

-sembilu, ketika melihat dari bibir gadis yang bukan lain adalah Bwe Hwa mengeluarkan darah.

Memang saking marahnya gadis ini sehingga ia muntahkan darah.

Kasihan sekali Bwe Hwa ini.

Ia memang sudah menderita luka dalam dadanya, tubuhnya sudah soak.

Teringat akan perkataan kakek kaki buntung beberapa hari yang lalu, Tiang Le menjadi lemas kedua kakinya dan menggigil.

Hatinya saat itu seperti dikoyak-koyak mengeluarkan luka yang parah!

-moay sabarlah, dengarlah dulu keteranganku......

Marilah hwa--hindarkan sambaran pedang yang amat cepat itu.

Tubuhnya dimiringkan ke kiri dan mencelat jauh.

-moay, jangan begitu, j tangis Bwe Hwa mengirimkan serangan tusukan pedang bertubi-tubi ke arah Tiang Le.

Hatinya semakin panas bukan main.

Pemandangan barusan tadi dilihatnya itu membuat darahnya mendidih.

Dua hari ia menanti-nantikan kedatangan pemuda itu ke Tai-hang-dan!

Ahh, betapa marahnya hati Bwe Hwa.

Sambil menjerit-jerit itu pedangnya berkelebat ke arah leher Tiang Le.

Kalau saja pemuda lengan buntung itu tidak mempunyai kepandaian yang tinggi, tentu sebentar saja pedang putih di tangan gadis itu akan menabas leher Tiang Le.

Dahsyat sekali serangan gadis ini.

Serangan-serangan begitu sengit dan ganas!

-menyabarkan Bwe Hwa.

Akan tetapi mana ia mau bersabar lagi merasa dipermainkan oleh pemuda itu, telah ditipunya mentah-mentah.

Bukankah pemuda itu hendak secepatnya kembali ke Tai-hang-san.

Setan, tidak tahunya.......

ahh, panas hati Bwe Hwa.

Entah mengapa perasaannya penuh dengan kemarahan yang memuncak dan inilah kesalahannya.

Ia sebetulnya tak boleh marah, ia mengalami luka dalam yang parah sekali.

Setiap kali rasa marah yang menyerang dadanya, setiap itu pula Bwe Hwa muntahkan darah segar.

Sudah tiga kali ia mengeluarkan darah, wajahnya semakin pucat.

Gerakan-gerakannya semakin lemah.

Terkejut sekali Tiang Le melihat keadaan gadis itu.

Cepat ia mainkan jurus-jurus Tok-pik-kun-hoat dan sebentar saja Bwe Hwa sudah terdesak hebat.

Akan tetapi Bwe Hwa malah menyerangnya dengan penasaran dan sengit.

-moay, kau dengarlah kata-kataku dulu.

Setelah itu, sekiranya kau menganggap tapi jangan begini Hwa-moay, berbuat tak berani bertanggung jawab.

Jay-hoa-pedang Bwe Hwa memaki sengit.

-moay jangan b pendek Pek-hwa-kiam meluncur deras.

Amat cepat sekali gerakan pedang di tangan gadis yang bernama Bwe Hwa ini.

Itulah jurus Menusuk Jantung Mencabut Hati yang luar biasa hebatnya, sebuah jurus dari ilmu silat Pek-hwa-kiam-sut yang diterimanya dari mendiang Pek-mo.

Pedang pendek putih di tangan gadis itu mendesing keras di dekat telinga Tiang Le yang sudah mencabut pedang buntungnya pula dan menangkis.

Saking hebatnya gadis ini, terpaksa Tiang Le mengeluarkan pedangnya.

berteriak keras dan tiba-tiba dari samping pedang menyambar dan membabat ke arah pedang buntung lawan.

Mendengar seruan gadis itu, terkejutlah Tiang Le.

Ia amat kenal sekali watak gadis yang keras hati ini.

Maka dengan hati yang enggak keruan rasa, terpaksa, ia mengangkat pedang dan menangkis pedang Bwe Hwa.

Bunga api yang banyak sekali berpijar menyambar ke sana ke mari ketika dua buah senjata itu bertemu, dan bunga-bunga api itu muncrat ke arah muka Bwe Hwa dan Tiang Le.

Baik Bwe Hwa maupun Tiang Le kagum sekali akan keampuhan senjata lawannya.

Gadis itu merasakan kepalanya jadi pening.

Tahulah ia bahwa luka dalam di dadanya membuat napasnya menjadi sesak.

Ia memandang Tiang Le, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya, gadis itu berkelebat lenyap dan terdengar suara di antara isakan tangis.

lah, setelah anak gadis yang bernama Bwe Hwa itu.

Kata-kata yang didengarnya barusan amat menusuk hatinya.

Kedua kakinya menggigil.

-mudahan itu tidak terjadi, mudah-apa lagi yang mengoyakkan hati pemuda itu, dia jadi seperti orang linglung berdiri terus memandang kepergian Bwe Hwa.

Sementara kaki yang menggigil itu menjadi lemas dan tak kuasa ia untuk berdiri lagi, dijatuhkannya dirinya di atas pasir putih.

Tiang Le tertunduk menangis!

Bayangan-bayangan di lembah Tai-hang-san itu mengoyak-ngoyak hatinya.

Teringat ia betapa di lembah itu ia telah melakukan hubungan yang seharusnya tak boleh ia lakukan terhadap Bwe Hwa.

Akan tetapi entah iblis mana yang menguasai keduanya, Tiang Le lemah, ia lemah hati dan tak tega menyakiti Bwe Hwa pada waktu itu.

olehmu bahwa sumoymu ini mengalami luka dalam yang amat parah, menyesal sekali aku hanya dapat menolongnya pada batas yang tertentu.

Gadis itu telah mengalami tekanan bathin dan guncangan jantung yang cukup hebat.

obatnya.

Apabila jantungnya bergoyang, dan mengalami shok dalam hidupnya, ia pasti akan muntah darah lagi.

Kau kasihanilah dia, hiburlah dia dan senangkanlah hatinya, karena ia hanya bertahan hidup untuk beberapa bulan lagi saja.

Tiang Le jangan kau mukanya, air mata bercucuran lewat jari-jari tangan kiri itu.

Sementara angin menghempas lengan baju yang buntung itu, wajahnya pucat bukan main.

Hatinya kuatir bukan main kalau apa yang dikatakan Bwe Hwa tadi menjadi kenyataan.

Ia takut sungguh, kalau-kalau hubungannya dengan gadis itu membuat seorang anak manusia terlahir di dunia dan menuntut balas kepadanya.

-keras dalam hati.

Suara kaki pada pasir putih terdengar perlahan menghampiri Tiang Le dan Pei Pei sudah menyentuh pundak pemuda buntung itu.

Tiang Le mengangkat wajahnya yang kusut masai.

Le mengeluh, memandang jauh ke laut yang luas.

--Perlahan dan lesu Tiang Le bangkit dan memandang jauh-jauh dengan pandangan yang kusut dan kacau.

-jari tangan kiri Tiang Le dan berjalan perlahan.

Tiang Le termenung untuk sejenak, hatiku berpisah dengannya.

Dia memang patut dikasihani, umurnya tidak akan berapa lama lagi ak yang sesungguhnya terjadi denganmu dan enci Bwe Hwa.

Aku percaya, kau seorang pemuda yang baik, tidak untuk mempermainkan Bwe Hwa atau aku koko.

Ceritakanlah!

Pei Pei menengadahkan wajahnya memandang ke arah Tiang Le yang kusut dan bingung.

Ia melihat Tiang Le menundukkan wajahnya dan memandangnya dalam-dalam.

-ntuk kepercayaanmu kepadaku.......

Memang sebetulnya, seperti kata Bwe Hwa tadi memang benar, patut aku ini disebut manusia hidung belang.

Kau tahu Pei Pei pada mula pertama aku bertemu dengan sumoay Sian Hwa, kemudian kami saling bercinta.

Tidak tahu kalau sumoay Bwe Hwa pun diam-diam telah mencintaiku padahal It-suheng Liok Kong In sangat mencintai Bwe Hwa akan tetapi rupa-enai halmu dengan Sian Hwa dan Enci Bwe Hwa, aku sudah mengetahuinya.

Bukankah engkau pernah bercerita kepadaku?

Oya gara-gara engkau bercinta dengan Sian Hwa itukan yang membuat Bwe Hwa marah dan.......

dan membuntungi lengan Pei.

-moay.

Akan tetapi sedikitpun aku tidak menaruh dendam kepada sumoay Bwe Hwa.

Malahan dengan bantuannya lengan kananku inilah justru Kemudian dengan singkat Tiang Le menceritakan hubungan antara kedua sumoaynya itu.

Diceritakan oleh Tiang Le betapa, sumoaynya yang bernama Bwe Hwa itu akhirnya menyesal karena telah membuntungi lengannya dan malah pada pertemuan belum lama ini Bwe Hwa masih menaruh harapan kepadanya.

Pada ketika itulah, di lembah Tai-hang-san, Tiang Le menolong gadis sumoaynya dan dibawanya ke sebuah pondok.

Pada saat itu Bwe Hwa terluka hebat, bukan saja karena luka di lengan yang sengaja ia buntungi itu, akan tetapi pukulan Bu-tek Sianli yang luar biasa itu membuat Bwe Hwa terluka parah dan menderita penyakit kanker dada.

Tak tega Tiang Le menyakiti hati gadis sumoaynya ini.

Terjadilah tragedi yang rumit di lembah itu.

Tiang Le membalas cinta Bwe Hwa dan melakukan hubungan yang di luar batas.

Hubungan yang sebelumnya tak boleh mereka lakukan!

Akan tetapi, entah mengapa Tiang Le.......

lemah hati dan melayani si gadis.

(baca Pendekar Lengan Buntung).

--san.

Akan tetapi siapa tahu terjadi peristiw berkata Tiang Le mengakhiri ceritanya.

Pei Pei terdiam.

membujuknya supaya ia hidup bersama-Pei perlahan.

Tiang Le tidak menyahut.

Ia berjalan sambil tertunduk dan melangkahkan kakinya lambat-lambat di samping Pei Pei.

ooOOoo Berbulan-bulan lamanya Tiang Le dan Pei Pei mencari jejak Bwe Hwa, akan tetapi sampai saat ini mereka belum dapat bertemu dengan Bwe Hwa.

Tiang Le menjadi putus asa sekali dan kuatir akan apa-apa yang terjadi di kemudian hari.

Ia merasa sedih dan kasihan sekali terhadap gadis yang malang itu.

Andaikan ia bertemu dengan gadis itu, betapa ingin hatinya mengatakan kepada Bwe Hwa ia tak sanggup membiarkan gadis itu sendiri.

Hendak ia katakan kepada Bwe Hwa bahwa sejak kejadian-kejadian di Tai-hang-san itu, ia merasa sangat pilu dan bersedih hati apabila mengenang Bwe Hwa, sumoaynya yang malang ini!

Sampai sekian lama itu, jejak Bwe Hwa belum juga diketemukan oleh Tiang Le dan Pei Pei.

Mereka bertanya-tanya kepada penduduk dusun, atau orang yang diketemuinya, namun gadis yang lengan kirinya buntung tidak pernah mereka lihat.

Oleh sebab itulah sampai begitu lama Tiang Le dan Pei Pei tidak pernah lagi menemui Bwe Hwa.

Ke manakah gerangan perginya Bwe Hwa?

Tiang Le mulai berputus asa untuk menemui Bwe Hwa.

Pada akhirnya karena tiada lagi tujuan bagi Tiang Le, maka Tiang Le mengajak Pei Pei untuk mengembara ke selatan.

Pada waktu itu, keadaan Tiongkok selatan makin bertambah parah.

Kemiskinan merajalela di mana-mana akibat musim kemarau yang amat panjang itu dan kemudian ditambah lagi datang musim banjir yang telah banyak merusak daerah Tiongkok selatan.

Sawah-sawah dan rumah-rumah penduduk hanyut terbawa banjir yang tak mengenal ampun.

Kesengsaraan rakyat pada waktu datangnya musim kering, ditambah lagi dengan datangnya musim hujan yang hebat, membuat rakyat daerah Tiongkok selatan dilanda kemiskinan dan kelaparan!

Bencana alam ini yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk dusun Pek-kui-ceng.

Biarpun dusun ini agak tinggi letaknya sehingga rumah-rumah mereka tidak sampai terbawa hanyut, namun semua sawah ladang telah habis dilanda oleh banjir yang meluap-luap, merupakan danau yang lebar dan luas mengerikan.

Persediaan makanan telah habis dan tiap hari pasti ada orang yang mati kelaparan.

Jeritan tangis terdengar di mana-mana, keluh kesah terdengar menyayat-nyayat hati!

Di dalam sebuah rumah yang amat jelek sekali, dan sudah hampir roboh itu, dari sana terdengar suara jeritan tangis seorang anak kecil yang demikian kurus kering tubuhnya.

Tidak berapa jauh dari depannya menggeletak dua sosok tubuh manusia tua yang sudah tak bergerak lagi, membiarkan anak kecil itu menangisi mereka yang sudah berpulang ke alam baka.

Dilihat dari pakaian mereka yang compang camping dan kurus kering, amatlah menyayat hati akan kemiskinan dan kenelangsaan tiga orang manusia di dalam rumah itu, yang dua, dua sosok tubuh tua rapuh sudah rebah tak bergerak dan yang satunya lagi menangisi dua orang tuanya, memanggil-manggil ayah dan ibunya, akan tetapi ayah bundanya diam-diam tak bergerak seakan-akan sama sekali tidak memperdulikan nasib putera tunggal mereka yang bernama Wang Ie.

hanya keluar sebagai bisikan belaka, sedangkan matanya sudah tak dapat mengeluarkan air mata lagi, sudah habis dikurasnya dalam tangisan-tangisan yang membawa keperihan yang nelangsa.

Anak kecil bernama Wang Ie itu, masih terlalu kecil untuk dapat memahami kehidupan yang ganas ini.

Berjam-jam ia menangisi ayah bundanya yang tak pernah bergerak lagi.

Sudah diam membisu tak menghiraukan akan panggilannya dan minta makan.

Bagi anak kecil itu, ia sendiri masih terlampau kecil dan tak mengerti mengapa sekarang ayah bundanya diam saja?

Tentu saja Wang Ie belum mengerti akan kematian yang sudah menjemput ke dua orang tuanya.

Dan merasa berkali-kali ia menangisi ayah bundanya yang tidak mau lagi memperdulikan dirinya.

Dengan langkah gontai, dia ke luar dari pondoknya dan berjalan perlahan.

Sementara perutnya dirasakan perlu bukan main.

Kemudian rasa perih pada perutnya membuat timbul pikiran di hati Wang Ie untuk meminta makanan kepada tetangga, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh ibunya.

Ia bangun dan berdiri lagi dan tiba-tiba kepalanya terasa pening, tanah yang dipijaknya seolah-olah berputar dan bergoyang-goyang bagaikan ada gempa yang mengguncangkan bumi ini.

-huyung, rasa perih di perutnya ditahannya dengan sebelah tangan yang kiri ia menekan ke arah perutnya sebagai ganjalan.

Kemudian setelah rasa peningnya hilang ia bangkit lagi dan berjalan dengan tatapan kosong ke depan.

Akan tetapi begitu ia melewati pintu depan rumah tetangganya, alangkah terkejut begitu mendengar ratapan tangis dari para tetangganya yang riuh rendah.

Ia membelalakkan matanya dan menjenguk ke dalam, ternyata seluruh tetangga itu sedang menangisi mayat yang membujur di atas tanah yang hanya bertilam sehelai tikar butut, mayat itu mati dalam keadaan lapar pula!

Wang Ie mundur ke belakang dengan hati kecut dan pedih, tubuhnya yang hanya tulang terbungkus kulit hanya memakai kain lapuk yang menutupi sebagian badannya terseok-seok bergerak maju melangkahkan kakinya perlahan-lahan.

Teringat ia kepada hartawan Lie, ke sana lah kaki yang kurus kering itu melangkah.

Ia tahu sekali hartawan Lie ini baik hati dan sering menolong penduduk memberi makanan dan tidak segan-segan menolong sesama manusia.

rumah hartawan Lie sudah dikerumun banyak orang dan beberapa belas orang yang tengah kelaparan itu, tengah berebutan memperebutkan gandum yang dikeluarkan secara paksa.

Sedangkan tidak jauh dari situ, orang tua she Lie yang dikenalnya amat baik hati itu, sudah menggeletak mandi darah dengan tak bernyawa lagi!

Yang membuat hati Wang Ie begitu ngeri adalah betapa orang-orang yang kelaparan saling membunuh di tempat itu juga memperebutkan gandum di dalam rumah orang tua she Lie.

Saling cakar-cakaran dan baku hantam sama sendiri.

Memang begitulah adanya.

Pada jaman yang sulit dan susah makanan ini, membuat penduduk sudah tidak dapat mempertimbangkan lagi dengan pikiran sehat.

Rasa lapar dan tak tega melihat anak bini kelaparan, membuat mereka nekat.

Mereka datang ke rumah orang tua she Lie.

Di sana itu, terjadilah keributan.

Tentu saja bagi Lie-wangwe tak rela gandumnya dirampas begitu saja, memang ia berhati dermawan dan telah banyak menyumbangkan gandumnya untuk penduduk, akan tetapi melihat orang-orang kasar ini yang telah begitu nekat merampas seluruh gandumnya, tentu saja orang tua ini tidak senang dan di sanalah terjadi pertengkaran mulut dan diakhiri oleh perbuatan nekat dari salah seorang penduduk yang tak sabar lagi telah mengelebatkan goloknya memenggal leher orang tua she Lie ini!

Pedih hati Wang Ie melihat kelakuan orang-orang ini.

Dari mata anak kecil itu mengembang air mata yang hendak jatuh.

Dengan langkah lunglai dia meninggalkan tempat itu dan berjalan tanpa arah, menengadah ke langit mengeluh melihat ketidak adilan dunia ini!

Saking laparnya dan lemas bukan main, kepalanya mulai terasa pening, pandangannya kabur hingga terpaksa ia memejamkan matanya sambil berjalan terus sedapat mungkin.

Akhirnya, tubuh yang kecil itu tidak kuat lagi berjalan dan roboh di dekat pematang sawah yang tandus dan kering.

Ia menahan keperihan perutnya dengan mengangkat ke dua lutut ke dada hingga perutnya tertekan oleh lutut itu.

Ia meringkuk dalam keadaan seperti itu di pinggir jalan dekat pematang sawah.

Apabila perutnya ditekan seperti itu, lenyaplah rasa pening.

Dan begitu ia membuka matanya, alangkah herannya hati anak kecil itu melihat seorang laki-laki yang berlengan buntung sedang jongkok di sampingnya.

Dan terasa sekali mulutnya menyentuh sebuah pil yang disodorkan oleh laki-laki lengan buntung yang tengah jongkok di sampingnya.

anlah pil ini, sekedar menghilangkan rasa perih di Pei.

Mereka memang sudah sampai ke tempat ini dan begitu melihat seorang anak kecil meringkuk di situ, hati Tiang Le dan Pei Pei merasa tertusuk dan kasihan sekali melihat anak malang ini, maka setelah Tiang Le mendekati anak itu, dan diberinya pil untuk penahan lapar, lalu bertanyalah ia kepada anak itu, Merasa perutnya tidak lapar lagi, Wang Ie menatap Tiang Le dan Pei Pei dengan heran.

Kemudian ia bangkit berdiri sambil katanya, sudah mati kelaparan.......

In-kong (tuan penolong) terimakasih kepada anak ini.

Matanya yang tajam dapat melihat bakat yang baik dari anak kecil ini -merendah.

Girang sekali Wang Ie melihat dua orang penolongnya ini, maka tiba-tiba ia bilang?

Menjadi pelayanku?

Tidak!

Kau malah akan u guru) kepada Pei Pei.

Dan Pei Pei tersenyum mendengar anak itu menyebutnya subo.

dengan Pei-moay ini.......

akan tetapi tidak Akan tetapi Pei Pei tidak membantah lagi waktu Wang Ie memanggilnya dengan sebutan subo, dan malah diam-diam hatinya menjadi girang.

Ia menjadi isteri Tiang Le, aduhai betapa sangat menggembirakan hatinya!

Demikianlah sejak saat itu, Wang Ie mengikuti Tiang Le dalam perantauannya.

Mereka terus mengembara ke Barat.

Sebetulnya Tiang Le masih terlalu muda untuk mengambil murid dan menjadi seorang guru.

Akan tetapi melihat keadaan Wang Ie yang amat menyedihkan ini, dia menjadi kasihan dan menolongnya, apalagi setelah melihat tulang yang baik dari bocah ini, maka ia lalu mengambil anak itu sebagai muridnya.

Sebaliknya Pei Pei juga merasa senang sekali dengan anak ini.

Bukan saja Wang Ie rajin dan tekun mempelajari ilmu silat akan tetapi juga anak ini tahu diri dan sangat menyenangkan sekali.

Apalagi Wang Ie memanggilnya dengan sebutan subo yang berarti ibu guru, maka ia merasa seakan-akan dia sendiri telah menjadi isteri dari Tiang Le.

Oooo, sungguh suatu hal yang menyenangkan!!

Sudah dua bulan Wang Ie ikut Tiang Le berkelana.

Ia mulai menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Tiang Le.

Dan disepanjang perantauan itu dia selalu melatih diri atas petunjuk Tiang Le, sehingga Tiang Le menjadi girang dan terharu melihat kerajinan anak ini!!

Sementara itu, meskipun tidak ada acara yang resmi.

Akan tetapi hubungan Tiang Le dan Pei Pei seakan-akan sudah menjadi suami isteri yang rukun dan bahagia.

Apalagi setelah Tiang Le mengetahui bahwa Pei Pei sudah mengandung dua bulan, hubungan mereka semakin romantis dan rukun!

ooOOoo Kurang lebih seratus orang pengemis sabuk merah, yakni anggota-anggota terpenting dari perkumpulan pengemis Ang-kin-kay-pang, berkumpul di luar kota Siang-thian-bun.

Perlu kita ketahui bahwa perkumpulan Ang-kin-kay-pang adalah perkumpulan pengemis yang paling besar dan berpengaruh dan telah memiliki nama yang terkenal di dunia kang-ouw.

Sebagaimana pembaca tentu masih ingat, perkumpulan Ang-kin-kay-pang ini adalah sebuah perkumpulan pengemis yang tadinya bernama Hwa-ie-kay-pang akan tetapi setelah ketua perkumpulan pengemis baju kembang ini gugur di tangan Pendekar Lengan Buntung, maka sebagian pengemis baju kembang yang dapat meloloskan diri dan telah menyesal atas kesesatan mereka dalam hasutan Bu-tek Sianli.

Sejak itu mereka mendirikan sebuah perkumpulan pengemis lain yang bernama Ang-kin-kay-pang dan diketuai oleh seorang wanita cantik yang genit, akan tetapi pada dasarnya memiliki watak gagah dan baik.

Wanita cantik itu adalah bekas murid Bu-tek Sianli, orang ketiga dari Sianli-sie-ci-moay yang bernama Yap Sian Eng.

Pada hari itu, dua tahun telah lewat dan hari itu mereka berkumpul di Siang-thian-bun untuk mengadakan rapat penyerbuan ke Gua Hantu yang kabarnya didesas-desuskan adanya penyimpanan pusaka peninggalan dari manusia setengah dewa yang bernama Sui-kek Siansu.

Tentu saja berita ini menarik perhatian Sian Eng dan pada hari itu ia memanggil semua anggota-anggota Ang-kin-kay-pang untuk mengadakan rencana perjalanan ke gua Hantu!

Sebuah gua yang dikabarkan tempat tinggal Sui-kek Siansu, si manusia sakti yang sudah lenyap dan kemungkinan sudah meninggal dunia saking tua usianya!

Demikianlah pada itu, mereka berkumpul di Siang-thian-bun.

Sebuah kota kecil di puncak pegunungan Ta-pie-san yang sejuk hawanya dan indah sekali pemandangannya.

Tempat ini memang sengaja oleh Sian Eng dijadikan markas besar Ang-kin-kay-pang.

Pengemis sabuk yang diketuai oleh seorang wanita muda jang sangat cantik yang berkepandaian tinggi dan genit membuat dalam waktu kurang lebih dua tahun saja perkumpulan pengemis ini sudah dapat berkembang dengan baik dan dalam diri Sian Eng mereka mendapatkan seorang pemimpin yang baik dan tegas.

Gedung Ang-kin-kay-pang ini, pada pagi-pagi itu sudah penuh oleh pengemis-pengemis yang berikat pinggang dengan ang-kin merah.

Mereka itu berjumlah sekitar hampir seratus orang.

Nampak gagah dan karena dengan pakaian putih bersih dan ikat pinggang warna merah yang menyolok.

Meskipun mereka ini sebagai pengemis, akan tetapi dilihat dari pakaiannya yang bersih dan terbuat dari sutera putih tidaklah patut mereka ini dinamai pengemis.

Apalagi dilihat dari ketuanya yang cantik dan genit, sesungguhnya kurang tepat akan sebutan Ang-kin-kay-pang itu.

Akan tetapi memang demikianlah adanya.

Mereka itu dikenal dengan nama Ang-kin-kay-pang atau perkumpulan pengemis sabuk merah!

Akan tetapi pertemuan yang terakhir ini merupakan berita yang mengejutkan dari anggauta-anggauta pengemis sabuk merah.

Bukan saja pada pertemuan ini, mereka mendengar akan rencana penyerbuan ke Gua Hantu akan tetapi yang paling mengejutkan adalah berita tentang penyerahan kedudukan yang hendak diserahkan kepada seorang laki-laki muda dari pulau Kim-kong-tho (Pulau Sinar Emas) yang bernama Kiang Sun Hi, seorang pendekar muda yang bernama penghuni pulau Kim-kong-tho.

Sebuah pulau kecil yang terdapat di dekat pantai timur laut Po-hay.

Ia hidup seorang diri di pulau itu, hanya dibantu oleh para murid-muridnya yang berjumlah limapuluh orang itu dan mendirikan sebuah partai persilatan yang bernama Kim-kong-pay.

Tentu saja karena kepandaian Kiang Sun Hi ini amat tinggi dan terkenal dengan julukan Sian-hud-tim (Kebutan Dewata), maka nama Kim-kong-pay sebentar saja sudah sejajar dengan partai-partai persilatan lainnya.

Malahan pada waktu munculnya partai Sian-li-pay beberapa tahun yang lalu, partai Kim-kong-pay ini tidak kalah pengaruhnya.

Akan tetapi, karena Kim-kong-pay ini jarang berurusan dengan dunia persilatan maka dalam cerita Pendekar Lengan Buntung, kita tidak mengenal partai ini.

Setelah hancurnya Sian-li-pay, Yap Sian Eng murid ketiga dari Bu-tek Sianli melarikan diri dari pulau itu dan memimpin anggota-anggota Hwa-ie-kay-pang yang tercerai dan mendirikan partai Ang-kin-kay-pang.

Dan dalam perantauannya itulah Sian Eng bertemu dengan Kiang Sun Hi dan ternyata olehnya ilmu silat yang dimiliki oleh Kiang Sun Hi jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Akhirnya, keduanya saling -diam mereka merencanakan penggabungan partai Ang-kin-kay-pang dengan Kim-kong-pay yang terkenal itu!

Banyak orang yang datang di Siang-thian-bun pada hari ini, ada yang datang untuk memenuhi undangan, ada pula yang sengaja datang untuk melihat-lihat saja dan tidak sedikit orang-orang kang-ouw yang datang hendak menyaksikan perjodohan antara Sian Eng dengan Sun Hi, majikan pulau Kim-kong-tho yang terkenal lihai kepandaian silatnya itu!

Tak lama setelah seratus lebih anggota-anggota Ang-kin-kay-pang berkumpul, datanglah Yap Sian Eng bersama Kiang Sun Hi.

Memang sudah lama Sian Eng dengan Sun Hi, juga seringkali berkunjung ke Pulau Sinar Emas yang tidak jauh letaknya dari Siang-thian-bun!

Semua mata memandang dan banyak yang kagum melihat Yap Sian Eng karena wanita ini masih saja memiliki bentuk tubuh yang langsing dan padat, wajahnya yang riang gembira dan senyumnya masih amat manis.

Kemudian orang mulai memperhatikan Kiang Sun Hi.

Harus mereka akui laki-laki inipun gagah dan cocok berjalan bersama Sian Eng.

Akan tetapi banyak pula diantara mereka yang iri hati dan cemburu, yakni mereka yang menginginkan kedudukan ketua dan terutama sekali mereka yang suka kepada Sian Eng.

Begitu munculnya Sian Eng dan Sun Hi para anggota Ang-kin-kay-pang menyambut kedatangan Sian Eng dengan penghormatan dan seruan, -pangcu (ketua Yap) dari Ang-kin-kay-Yap Sian Eng hanya tersenyum, mencabut keluar tongkat kecil hitam, yakni tongkat pusaka dari Ang-kin-kay-pang, mengangkat tongkat itu tinggi di atas kepala sambil berkata -kin-kay-Kemudian Yap Sian Eng mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku yang sudah disediakan di situ.

Kang Sun Hi berdiri di belakangnya memandang kepada para pengemis yang hadir dengan sikap tenang.

-pemberitahuanku pada hari kemarin itu, dimana kita merencanakan untuk mengunjungi Gua Hantu dan ikut dalam perebutan pusaka peninggalan Sui-kek Siansu, jikalau ada jodoh tentu kita akan mendapatkan pusaka yang selama ini sudah didesas-desuskan oleh orang-orang kang-ouw.

-orang pandai yang juga menghendaki kitab yang ditulis oleh Sui-kek Siansu.

Tugas kita untuk merebut pusaka itu tidak gampang saudara-saudara, maka setelah kupikir-pikir dan kupertimbangkan, dalam hal ini kita harus bekerja sama dengan saudara-saudara di pulau Kim-kong-tho.

Bagaimana menurut pendapat saudara-Terdengar suara celaan dan pernyataan kecewa di sana sini, disusul dengan suara, -Sian Eng menggeleng-tak pantas bagiku seorang wanita memimpin kalian.

Biarlah tugasku ini kuserahkan kepada Kiang--tayhiap serahkan saja tampuk pimpinan kepada orang-orang Ang-kin-kay-pang.

Hanya anggota pe Terdengar perkataan lantang dan nyaring dari kumpulan-kumpulan pengemis.

Sepasang mata Sian Eng menyapu orang yang berbicara tadi, akan tetapi karena begitu banyak pengemis yang masing-masing berbicara gaduh sehingga ia tidak mengetahui orang yang berbicara tadi.

-tongkat kecil ke atas tinggi--kin-kay-pang, lambang dari ketua perkumpulan kita.

Barang siapa yang cakap untuk memimpin perkumpulan kita dan pandai ilmu silatnya, dia itulah yang berhak memegang tongkat ini.

Tidak perduli siapapun orangnya, dia berhak memimpin dan jadi ketua!!!

-ouw muncul banyak orang jahat yang lihai, maka perkumpulan kita perlu dipimpin oleh orang pandai.

Aku sudah tidak sanggup lagi dan menyerahkan kepada Kiang-plintat-plintut mengeluarkan omongan yang bukan-menyapu semua orang dengan mata yang menantang.

Keadaan sunyi untuk beberapa lama!

-pangcu, kalau Yap-pangcu memaksa mengundurkan diri dan menyerahkan pimpinan kepada orang lain, berarti penghianatan terdengar suara seorang pengemis.

Sian Eng menoleh ke arah suara itu.

-twako, karena kuanggap ia cakap untuk memimpin kita dan mengembangkan perkumpulan Ang-kin-kay-pang dalam gabungan saudara-saudara di pulau Kim-kong-tho.

Dengan bergabungnya Ang-kin-kay-pang dan Kim-kong-pay bukankah kita akan menjadi kuat mengalami kehancuran lagi seperti Sian-li-pay dan Ang-kin-kay-pang dulu!

-twako, baik!

Sudah saja urusan ini.

Aku tak akan turut campur dan aku mengundurkan diri dari partai Ang-kin-kay-pang!

Dan kalian pilihlah sendiri seorang di antara kalian untuk menjadi ketua dan tongkat ini Mendengar ini Kiang Sun Hi menjura ke empat penjuru dan berkata dengan suara -kata pangcu.

Urusan ketua seharusnya hanya orang-orang Ang-kin-kay-panglah yang berhak memilih dan menetapkan.

Aku Kiang Sun Hi sebetulnya tidak tamak akan kedudukan ketua, hanya pangcu sendirilah yang berkehendak demikian.

-saudara dari Ang-kin-kay-pang tidak menganggapku yang bukan-bukan.

Aku sendiri sudah terlalu repot mengurus Kim-kong-pay, tak sanggup aku memimpin saudara-saudara di sini.

Akan tetapi meskipun begitu, pihak kami Kim-kong-pay selalu memegang persahabatan dan bersedia bekerja sama dengan saudara-tetapkan saja ketua baru dari untuk Ang-kin-kay-pang.

Jikalau Yap-Akan tetapi perkataan pengemis itu disambut oleh banyak suara yang meneriaki kata-katanya, uga, kami mengharapkan pimpinan Yap-Kemudian terdengar jawaban simpang siur di sana sini.

-pangcu mundur.

Kalau mundur apa alasannya?

Dan pula, aku mendengar desas desus tentang perjodohan!

Inipun harus dijelaskan dengan sejelas-jelasnya.

kedudukan sebagai ketua, tidak baik menyembunyikan sesuatu.

Kita di sini mempunyai lebih seratus anggota, kepada kami inilah pangcu harus memberikan penjelasan dan Setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar ini melotot kepada Kiang Sun Hi dengan tatapan tidak senang.

Mendengar ini dan melihat sikap Kay Sek, wajah Sian Eng menjadi marah sekali.

Ia maklum akan isi hati orang kasar ini dan tahu Kay Sek sudah lama jatuh hati kepadanya.

Bahkan pada setiap kali ada kesempatan seringkali Kay Sek hendak mengambil hati kepadanya.

Akan tetapi melihat Sian Eng dihina blak-blakan oleh pengemis ini, Can Lo-kay, seorang pembantu Sian Eng menjadi tak senang.

Ia menghampiri Kay Sek dan berkata.

Yappangcu masih ketua kita.

Kalau kau tidak setuju akan pilihan pangcu, boleh kau -ha-ha Pek Gay, mengapa kau yang marah-marah?

Apa kau ingin dialem dan mengambil hati pangcu?

Aku sih setuju saja akan pemilihan ketua, akan tetapi aku harus menguji dulu kepandaiannya.

Ingat, seorang pemimpin harus dapat melebihi -laki.

Biar pangcu yang memilih.

-kay mengundurkan diri dan memberikan kesempatan kepada Sian Eng untuk mengangkat bicara.

Lo-Keruan saja Can Lo-kay menjadi terheran, memandang Yap Sian Eng.

Ia sungguh tak mengerti kalau ketuanya ini memilihnya.

Seperti orang totol ia memandang Sian Eng seakan-akan kata-kata yang keluar dari pangcu itu seperti mimpi didengarnya.

-pangcu benar-benar membikin lo--kay sambil membungkuk-bungkuk, akan tetapi lalu berkata dengan nada suara bersungguh--pangcu, maka apabila tidak ada yang mengajukan keberatan, demi menyelamatkan perkumpulan dari tangan orang jahat, aku bersedia menjadi ketua dan bekerja sama dengan para kawan -kawan?

Setujukah Akan tetapi begitu kata-katanya habis, terkejutlah Siang Eng melihat rombongan di sebelah kiri yang berjumlah kurang lebih limapuluh orang pada mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil mengeluarkan suara simpang siur.

Dan yang aneh para pengemis yang mengangkat tangan, pada dada kiri mereka terhias sebuah teratai hitam.

Tentu saja bagi pandangan mata Sian Eng yang tajam, ia dapat mengenali orang-orang yang tadinya itu adalah anggota Hek-lian-pay (perkumpulan teratai hitam) yang pernah menggabungkan diri dengan Sian-li-pay, akan tetapi hancur di tangan Sung Tiang Le, si Pendekar Lengan Buntung yang perkasa (baca Pendekar Lengan Buntung).

Dari rombongan sebelah kiri yang mengangkat tangan tinggi, dua orang pengemis yang juga memakai tanda teratai hitam di dadanya meloncat ke depan.

Yang seorang adalah pengemis tinggi besar yang terkenal dengan sebutan Tiat-ciang-eng (si tangan besi) dan bernama Kay Sek.

Dia adalah anggota Ang-kin-kay-pang yang paling tinggi tingkatnya, pembantu Sian Eng yang setia dan menaruh hati kepada ketua itu.

Tentu saja melihat ketuanya hendak mengundurkan diri dan mengikat perjodohan dengan Kiang Sun Hi, majikan pulau Sinar Emas, membuat orang yang bernama Kay Sek itu merasa tidak senang dan cemburu.

Sudah lama memang Kay Sek ini tergila-gila kepada ketuanya sendiri dan semenjak tadi ia sudah merasa cemburu dan iri hati melihat Kiang Sun Hi, maka sekarang ia melompat maju setelah mendapat kesempatan.

-tinggi besar itu memandang Sun Hi tak senang.

Melihat pandangan anak buahnya yang tidak mengesankan ini, Sian Eng menjadi rkan diri, akan tetapi kehendak Pangcu adalah hanya memikirkan pribadi sendiri, dan tidak memandang perkumpulan.

Hemm, Kiang itu.

Pangcu tidak boleh mengundurkan diri begitu saj merencanakan untuk ke Gua Hantu, mengapa Pangcu hendak mengundurkan diri?

Atau, apakah Pangcu sudah begitu gelap mata oleh bujukan-bujukan dan cumbu rayu Mendengar ini dan melihat sikap Kay Sek, wajah Sian Eng menjadi merah sekali.

Ia hendak maju ke depan, akan tetapi sebuah tangan meraih lengannya dan Sun Hi dengan -moay, biarkan ia mengeluarkan isi Melihat Sun Hi tidak menjadi marah oleh kata-kata Kay Sek tadi.

Sian Eng menahan sabarnya dan duduk lagi di tempat semula.

Akan tetapi Can Lo-kay menjadi tak senang mendengar kata-kata Kay Sek yang menghina Sian Eng.

Ia maju dan menghampiri Kay Sek sambil berkata, ay Sek!

Perkataanmu terhadap ketua tidak menaruh hormat dan penuh tantangan.

Kalau memang kau tidak senang akan pilihan Yap-pangcu, boleh kau maju dan mengujinya!

Kalau memang aku kalah olehmu, biar sampai mati aku tidak mencampuri lagi urusan ini dan meng Diserang begini oleh Can Lo-kay, Kay Sek menjadi gagap dan merah mukanya -kay yang terpilih menjadi ketua, tadi meloncat maju.

Dia ini adalah seorang pengemis tua, akan tetapi seperti rombongan pengemis tua inipun memakai simbul teratai hitam di dada sebelah kirinya, sikapnya angkuh dan mencercahkan sebuah senyum mengejek.

Dia itu yang bernama Peng Hay berjuluk Sin-tung-mo-kay (setan pengemis tongkat sakti).

tongkatnya meskipun bengkang bengkok dan berwarna hitam akan tetapi seperti setan lihainya.

Setelah berkata demikian, ia mencelat mundur untuk menanti giliran.

Pada masa itu, sudah menjadi kebiasaan bagi setiap perkumpulan untuk menguji calon ketua baru dan karenanya semua anggota berhak untuk mencobanya kelihaian ketua baru, maka sudah tentu kata-kata Kay Sek barusan sangat menggembirakan para anggota.

Nah, kalau kau masih penasaran baiklah lohu melayanimu dalam bebe -Kay Sek berseru keras dan menggerakkan tongkatnya menyerang ke arah dada Can Lo-kay.

Pengemis tinggi besar yang berjuluk si tangan besi memiliki ilmu tongkat yang lihai dan kuat.

Sian Eng tahu bahwa bekas pembantunya ini memiliki ilmu tongkat yang paling tinggi di antara pengemis-pengemis lainnya dan dapat mengatasi semua anggota Ang-kin-kay-pang, akan tetapi menghadapi Can Lo-kay, Kay Sek masih kalah jauh.

Oleh sebab itu Sian Eng maklum bahwa Kay Sek tidak akan dapat menandingi Can Lo-kay, pengemis tua kurus yang berwajah ramah ini!

Dengan gerakan yang cepat luar biasa, Can Lo-kay membuktikan kelihayannya.

Namun menghadapi Kay Sek yang bertenaga kuat dan cepat gerakan tongkatnya itu, namun dengan enak dan mudah Can Lo-kay dapat berkelit dari serangan-serangan tongkat yang mengeluarkan suara berdesing saking kuatnya putaran tongkat di tangan Kay Sek.

Tentu saja Kay Sek menjadi terkejut dan heran merasa tubuh Can Lo-kay seperti bayangan saja berkelebat ke sana kemari dengan gesitnya.

Dalam beberapa jurus saja ia terkena tepukan tangan kiri Can Lo-kay pada punggungnya, dan belum habis rasa pegal di pinggang itu, ia berteriak kesakitan ketika tongkat Can Lo-kay mencongkel kakinya sehingga tak ampun lagi ia terjengkang ke belakang mengeluarkan suara berdebuk membuat pinggang Kay Sek serasa patah!

Can Lo-kay dengan senyum ramah membantu Kay Sek bangun.

Pengemis tinggi besar ini meringis kesakitan, lalu berkata pelan, an Lo-kay benar-benar lihai, siauwte yang muda telah berlaku kurang ajar dan tidak mengeral tingginya gunung Thay-Yap--ha-ha, tidak kusangka Tiat-ciang-heng demikian lemah!

Dan nama besar Can Lo--tung-mo-kay Peng Hay dengan senyum mengejek melirik ke arah Sian Eng.

Yap Sian Eng mengerutkan kening.

Pengemis di depannya ini belum lama masuk anggota, akan tetapi sombong sekali dan begitu ia melirik ke arah dada, sebuah simbul teratai hitam tersemat di dada pengemis itu.

Hemm, orang-orang ini sungguh mencurigakan, pikir Sian Eng, dan melihat ke depan.

Adapun Can Lo-kay sendiri memandang pengemis yang berkata tadi.

Ia merasa -kin-kay--ha-ha!

Can Lo-angkat menjadi ketua sombongmu setengah mati.

Apa matamu buta tidak mengenalku lagi, apakah kau sudah lupa dengan Hek-lian--tung-mo-kay menggerakkan taagan kirinya memukul lawan tanpa memberi peringatan lagi.

Melihat cara pukulan ini, Can Lo-kay yang sudah berpengalaman dan kenyang akan asam garam di dunia persilatan menjadi terkejut dan terheran-heran.

Inilah cara ilmu pukulan tangan kosong dari orang-orang Hek-lian-pay, yang berdasarkan dari ilmu silat Hek-lian-ciang-hoat atau ilmu silat teratai hitam yang amat ganas dan lihai!

-lian-Peng Hay hanya tertawa mengejek dan pada saat itu limapuluh orang yang tadi mengangkat tangan, mendengar kata-kata Can Lo-kay barusan serentak bangun berdiri dan bersiap-siap.

Sikap mereka angker sekali.

Keadaan menjadi ribut dan orang-orang Ang-kin-kay-pang juga cepat memisahkan diri dari mereka.

-kay.

Akan tetapi Peng Hay tidak menyahut, malah sambil tertawa mengejek ia melancarkan serangan-serangan maut.

Can Lo-kay yang mengalami kekagetan, tak dapat menjaga diri dan ia berseru kaget begitu tongkat di tangan Sin-tung-mo-kay dengan amat cepatnya menyerempet pundaknya.

Terdengar suara keras kain Can Lo-kay hancur terserempet pukulan yang lihay itu.

Baiknya begitu tongkat menyerempet pundak dan tak dapat dihindarkan lagi cepat-cepat Can Lo-kay mengerahkan hawa sin-kang di pundak dan ia hanya terhuyung-huyung ke belakang dengan wajah pucat dan terkejut!

-lian-pukulan tongkat yang luar biasa lihaynya.

Perlu diketahui beberapa tahun yang lalu, gadis ini adalah murid kesayangan Bu-tek Sianli dan berjuluk Sianli-sin-tung-hoat, oleh karena itu tak heran kalau permainan tongkatnya telah mengejutkan Peng Hay yang dijuluki si setan tongkat sakti!

Akan tetapi melihat datangnya serangan yang dahsyat bertubi-tubi, pengemis itu tidak menjadi gentar malah tertawa mengejek.

-ha-ha Yap-pangcu, Hek-lian-pay sekarang sudah tidak ada, sekarang akulah yang berhak menggantikanmu menjadi ketua Ang-kin-kay--ha-ha!

Aku telah dapat menangkan Can lo-kay, akulah kini pang-cu Ang-kin-kay-pang Sin-tung-mo-kay Peng Hay.......ha-Sebelum menjawab, tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh dengan amat gesitnya dan melakukan serangan kilat ke arah Peng Hay yang cepat menangkis.

Akan tetapi ia terhuyung-huyung dan memandang heran ke arah orang yang telah berdiri di depannya.

Seorang pemuda tampan berlengan buntung, berusia hampir tigapuluhan, akan tetapi pada saat itu pemuda buntung itu berdiri dengan angker dan membentak ke arah Peng Hay dengan suara mengguntur, -tung-mo-kay kalian adalah anggota Hek-lian-pay yang sesat dan sekutu si bangsat Bu-Tentu saja melihat kedatangan pemuda yang buntung lengan kanannya ini, Sin-tung-mo-kay dan Peng Hay menjadi pucat setengah mati, ia seperti melihat setan di tengah hari bolong.

Dan belum apa-apa, baru mendengar suaranya saja pengemis yang berjuluk Sin-tung-mo-kay itu sudah menggigil dan keringat dingin berloncatan pada dahinya.

-lian-pay, hayo katakan di mana sembunyinya si nenek Bu-Kembali Tiang Le membentak.

Seperti telah diceritakan pada bagian depan, Tiang Le, Pei Pei dan bersama muridnya yang masih kecil Wang Ie merantau ke utara secara kebetulan sekali ia mendengar akan perkumpulan Ang-kin-kay-pang yang diketuai oleh seorang wanita bekas murid Bu-tek Sianli yang bernama Yap Sian Eng yang berjuluk Sianli-sin-tung-hoat.

Tentu saja Tiang Le menjadi girang sekali mendengar kabar ini, pernah sekali ia bertemu dengan murid-murid Bu-tek Sianli, gadis aneh dan luar biasa, akan tetapi pada dasarnya mempunyai watak yang baik dan gagah.

Oleh sebab itu Tiang Le mengajak Pei Pei dan Wang Ie ke tempat markas Ang-kin-kay-pang dan baru saja ia sampai di sana alangkah girangnya ia mendengar pengemis yang berdiri angkuh menyebut-nyebut partai Hek-lian-pay, di mana pada beberapa tahun yang lalu, partai ini pernah bersekutu dengan Sian-li-pay dan hampir saja mencelakakan dirinya!

(baca pendekar Lengan Buntung).

Dan dalam segebrakan itu, Tiang Le sudah dapat membikin Sin-tung-mo-kay yang lihay terluka dalam oleh pukulan gerak tangan kilatnya dan membuat pengemis yang sombong ini menjadi pucat dan terkejut.

-tek Sianli, baik, aku akan membuat tangkap leher Sin-tung-mo-kay telah dicengkeram oleh tangan yang kuat dan panas itu.

Akan tetapi belum lagi Sin-tung-mo-kay Peng Hay menjawab tiba-tiba terdengar suara yang amat jauh sehingga hanya gemanya saja yang terdengar.

Semua orang kaget dan maklum bahwa ini adalah suaranya orang yang memiliki lweekang tinggi dan yang dapat mengirim suara dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu Coam-im-jib-pit (mengirim suara dari jarak jauh).

I-HI-HIKK -tek Sianli berada di sini!

Habis suara itu selesai dan tinggal gemanya saja, tiba-tiba tanah di bawah Tiang Le meledak dan sesosok tubuh berkelebat ke atas dan tahu-tahu telah berdiri di depan pemuda lengan buntung Sung Tiang Le.

Tentu saja semua orang menjadi kaget bukan main.

Wanita yang baru datang itu, sudah teramat tua sekali.

Rambutnya yang hitam riap-riapan sebatas pundak dibiarkan berkibar-kibar tertiup angin gunung.

Wajahnya sangat menyeramkan, penuh dengan keriput-keriput dan matanya yang cekung memancar seperti api.

Tubuh nenek tua itu kurus dan agak sedikit bongkok.

Tiang Le mengerutkan alis nampak marah.

Ia tentu saja mengenal wanita tua yang tengah dicari-carinya yakni Bu-tek Sianli!!

Akan tetapi ia tidak mengenal akan seorang laki-laki yang tengah menghampiri si nenek.

Laki-laki itu tinggi besar, dilihat dari logat bicaranya waktu ia berkata dengan Bu-tek Sianli, menyatakan bahwa laki-laki tinggi besar itu bukan orang Han.

-laki tinggi besar itu dengan logat bahasa Han yang kaku.

Bu-tek Sianli tidak menyahut, hanya berdiri dengan angkuh dan pada ketika itulah rombongan pengemis yang memakai tanda teratai hitam di dadanya menghampiri Bu-tek Sianli dan berlutut.

Melihat munculnya Bu-tek Sianli dan Tiang Le si Pendekar Lengan Buntung yang pernah menggetarkan dunia persilatan beberapa tahun yang lalu, Sian Eng menjadi terkejut dan waktu pandangannya bertemu dengan Bu-tek Sianli, gurunya waktu di Sian-li-pay dulu, ia merasakan pandangannya yang dingin dan mengancam.

Tahulah ia bahwa kedudukannya kini tidak lepas dari tangan Bu-tek Sianli yang tentu saja tidak mengampuni nyawanya!!!

-Akan tetapi Bu-tek Sianli menatapnya tajam dan tersenyum mengejek.

-tek Sianli terdengar bergelombang.

Jilid 2 -ha--geletar penuh dengan hawa khi-kang yang dikirim melalui suara sehingga bagi pengemis-pengemis Ang-kin-kay-pang yang tidak berapa tinggi lweekangnya mengangkat tangan dan menutup telinga menghindarkan serangan suara ketawa yang menusuk dan berbahaya.

-tek Sianli, nenek-nenek bangsat!

Kebetulan sekali kau muncul mengantarkan kematian.......

ha-ha--tek Sianli panas.

--laki tinggi besar bangsa asing itu.

Orang ini terus saja menghampiri Tiang Le dan mengirim pukulan jarak jauh yang bergelombang dan ia melihat betapa pemuda lengan buntung itu tidak menangkis atau mengelak.

Ia menjadi tertawa mengakak dan menambah tenaga pukulan dari kedua lengan dengan tubuh agak sedikit jongkok.

iang Le bergoyang-goyang, terhantam pukulan yang hebat itu.

Baju di lengan yang buntung itu berkibar-kibar seperti ditiup angin keras.

Akan tetapi sebaliknya orang tinggi besar itu menjadi terbelalak dan tidak percaya akan pandangan matanya!

Baru pertama kali ini, ia menyaksikan betapa pukulannya yang terkenal di dunia Barat yang bernama Tin-tho-kang (pukulan menggetarkan pulau) tidak berdaya menghadapi pemuda buntung yang kelihatannya lemah, terlalu!

Dengan menggeram keras, orang tinggi besar ini melancarkan lagi pukulan-pukulannya bertubi-tubi, debu mengepul ke atas waktu pukulan-pukulan itu tidak mengenai sasaran dan menghantam tanah.

Tentu saja Tiang Le tidak mau lagi tubuhnya digebuk seperti tadi.

Sekali saja ia sudah merasai kelihaian pukulan lawannya ini, maka sekarang ia mengelak ke sana kemari memainkan jurus-jurus langkah-langkah ajaib sehingga pukulan-pukulan lawannya dengan mudah dapat dihindarkan.

Akan tetapi, ia belum mau membalas mengingat orang tinggi besar yang menyerangnya ini sebetulnya tidak ada permusuhan apa-apa dengannya!

Melihat orang tinggi besar itu demikian lihai telah melancarkan serangan-serangan hebat ke arah seorang pemuda yang lengan kanannya buntung, Kiang Sun Hi hendak turun tangan mencegah perkelahian lebih lanjut, akan tetapi Sian Eng memberi isyarat dengan kedipan matanya.

yang sudah berdiri didekatnya.

Gadis ketua Ang-kin-kay-pang yang semenjak tadi diam saja, mempunyai penglihatan yang amat tajam dan awas sekali.

Sekali pandang saja ia maklum bahwa pemuda lengan buntung yang pernah sekali ia kenal di pulau Bidadari itu dan telah menyaksikan kelihayannya yang sangat tinggi, malah telah berani menghadapi gurunya, ia memberi nasehat untuk membiarkan pemuda itu melawan orang besar yang kelihatannya amat ganas dan lihai pula!

Merasa bahwa pemuda lengan buntung ini demikian lihay, dan sudah limapuluh jurus ia belum juga dapat merobohkan pemuda ini, orang tinggi besar itu menjadi marah dan tahu-tahu ia telah mengeluarkan dua buah senjata yang amat aneh.

Senjata ini merupakan sepasang tangan manusia yang sudah dikeringkan dengan kuku-kuku panjang.

Kedua tangan ini dalam keadaan mencengkram, seperti kuku-kuku burung garuda yang sedang menyerang.

Adapun kuku-kuku pada jari tangan itu berwana macam-macam, ada yang hitam, ada yang putih, kuning, merah dan hijau.

Inilah sepasang senjata yang oleh pemiliknya dinamakan Cap-tok-mo-jiauw (Cakar Setan Berbisa Sepuluh), sepasang senjata yang amat lihai dan berbahaya!

Begitu sepasang senjata ini menyambar Tiang Le, pemuda itu mencium bau yang amat busuk dan ia cepat melompat ke belakang dan merasakan kepala menjadi pening karena bau yang keras itu.

Akan tetapi, tiba-tiba sepasang tangan terbang mengejar, terlepas dari pegangan orang tinggi besar itu.

Terkejut sekali Tiang Le, maka merasa bahwa lawannya begini keji dan telah mengeluarkan senjata sepasang tangan yang penuh racun.

Dengan gerakan kilat tangan kiri Tiang Le telah mencabut pedang bantung dan sebuah sinar perak berkelebat menyamhar sepasang tangan yang menyerangnya.

Tentu saja orang tinggi besar itu menjadi kaget dan terkejut sekali melihat gerakan yang demikian cepat itu, maka cepat ia menarik kembali sepasang senjatanya dan meloncat ke belakang.

aku tidak ada urusan denganmu harap kau tidak campur tangan dan biarlah Bu--ha--tek Sianli dengan gerengan keras, mengirim pukulan ke arah dada Tiang Le.

Amat luar biasa sekali pukulan ini, kalau saja bukan Tiang Le orangnya yang menerima pukulan sakti Bu-tek Sianli, tentu akan hancur tubuhnya.

Akan tetapi Tiang Le yang sudah demikian sempurna tenaga sin-kangnya, memapaki pukulan tangan kanan lawan dengan tangan kirinya yang terbuka pula.

yang penuh hawa sin-kang tingkat tinggi.

Tubuh Tiang Le agaknya miring, dengan kedua tangan kiri menjurus ke depan sedangkan Bu-tek Sianli dengan kedua tangannya yang mendorong pula doyong ke belakang dengan tubuh yang sudah bongkok itu bertambah bongkok lagi.

Keduanya berkutetan mengerahkan tenaga.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara gerengan keras dan tahu-tahu tubuh Tiang Le terhuyung-huyung ke belakang seakan-akan ia kena dorongan yang keras dari depan.

Tubuh Bu-tek Sianli juga terdorong sampai bergulingan seperti seekor trenggiling.

Bahkan orang yang terkena hawa pukulan yang tidak kelihatan, akan tetapi luar biasa itu, mereka yang berdiri di pinggir kepelanting terkena serempetan angin pukulan yang dahsyat sekali.

menyeramkan, berambut panjang dan bermata liar.

Yang membuat Kiang Sun Hi terkejut adalah daya pukulan dari jarak jauh yang dilakukan oleh kakek ini.

Bagaimana sebuah pukulan dari jarak jauh mempunyai tenaga yang demikian dahsyat.

Ini membuktikan bahwa orang yang baru datang adalah seorang ahli silat tinggi yang lihay sekali!

Sebaliknya, melihat datangnya kakek berambut panjang yang menakutkan ini, tiba-tiba Bu-tek Sianli, orang tinggi besar yang bersenjata sepasang tangan dan pengemis-pengemis yang berdiri di sebelah kiri berlutut, tak berani bergerak dan mengelnarkan suara.

Suasana menjadi hening.

-he-he, Sianli, Kwan-Ia melihat semua orang diam dan memandangnya dengan gentar, tertawa terkekeh, lagaknya memandang rendah sekali.

Ketika ia memutar tubuh dan melihat seorang pemuda yang buntung lengan kanannya dan memandangnya dengan tatapan tajam, kakek itu menghentikan tawanya dan berkata, -abrik Sian-li-at dan parau.

-bengcu yang mulia.

Pemuda inilah menyusahkan hamba sekeluarga.

Hamba datang ke tempat ini bersama Kwan-tiong Tok-ong, locianpwee dari Barat dan sengaja mencari si buntung itu, sekalian hendak memberi hajaran kepada murid hamba ya -tek Sianli dengan suara merendah dan gentar.

Keruan saja Tiang Le jadi terbelalak dan heran.

Ia mengenal baik Bu-tek Sianli ini, nenek siluman yang telah disegani oleh kaum datuk hitam, malah telah menguasai banyak orang-orang gagah dan menundukkan hatinya.

Siapa kira di tempat ini, nenek sakti yang paling disegani dan ditakuti di selatan, kini merendahkan diri terhadap seorang kakek rambut panjang ini.

Siapakah orang ini?

Baru saja ia telah dikejutkan oleh pukulan jarak jauh kakek ini.

Kalau saja dia tidak sedang mengerahkan sin-kang menempur Bu-tek Sianli sudah barang tentu ia tidak akan tergempur!

Tiang Le memperhatikan kakek rambut panjang yang tadi dipanggil Thay-bengcu oleh Bu-tek Sianli, kakek itu perlahan.

Suaranya terdengar perlahan saja namun di dalamnya mengandung pengaruh dan ancaman besar.

-bengcu, dia itulah Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le -anggukkan kepala.

Sekali pandang saja tahulah ia bahwa pemuda yang lengannya buntung ini, mempunyai pertahanan tubuh yang luar biasa.

Akan tetapi ia sendiri, mana mau meladeni pemuda ini?

Merasa amat rendah dan dihina.

Oleh sebab itu dengan suara berwibawa, berkatalah kakek itu kepada Kwan-tiong Tok-ong, si Raja Racun dari Barat.

---tiong Tok-ong.

-li, kau uruslah persoalanmu dengan muridmu itu dan setelah selesai urusanmu itu, kalian harap menghadap kepadaku di istana.........

ha-ha--tek Sianli menyahut, tahu-tahu tubuh si kakek rambut panjang itu telah lenyap bagaikan ditelan setan!

Sementara itu, Kwan-tiong Tok-ong telah menghampiri Tiang Le, dan bersamaan dengan bergebraknya si Raja Racun ini, Bu-tek Sianli menghampiri Yap Sian Eng dan membentak keras, adalah muridku maka aku tidak begitu gila untuk menjatuhi tangan maut kepadamu.

Maka dari itulah, turutlah -Terima kasih untuk kebaikanmu.

Ketahuilah, urusan ketua Ang-kin-kay-pang sudah kuserahkan kepada Can Lo-kay, pembantuku ini dan buat seterusnya, aku akan bersama dia ini, majikan pulau Kim-kong-tho.

Bagaimana aku bisa ikut lagi denganmu kembali --tek Sianli dengan pandangan berapi.

Kiang Sun Hi belum pernah bertemu dengan nenek Bu-tek Sianli, akan tetapi tentu saja ia dulu pernah mendengar akan nama Pay-cu ketua Sian-li-pay yang terkenal itu.

Kalau saja tidak karena urusan Sian Eng, tentunya Sun Hi merasa segan berurusan dengan nenek lihai ini.

Akan tetapi melihat nenek ini hendak memaksa kekasihnya untuk kembali ke pulau, ia melompat ke depan dan kebutan di tangan kanannya tergetar.

-cu, telah sekali aku mendengar nama besar Bu-tek Sianli di pulau bidadari dan sebagai seorang ketua yang berilmu dan berwibawa seharusnya Pay-cu tidak mendesak seseorang untuk menjadi anggota, apalagi setelah ku dengar kabarnya Sian-li-pay sudah bangkrut.

Jadi untuk apa Sian Eng mengikutimu kembali ke pulau, sudah Bu-tek Sianli memutar tumit kakinya dan menghadapi Kiang Sun Hi.

Ia melihat seorang laki-laki berusia sekitar hampir tigapuluh tahun, bersikap gagah dan tenang dengan alis dikerutkan tanda hati tak senang dan kebutan yang dipegang di tangan kanannya itu bergetar, tanda bahwa pemegangnya memiliki lweekang tinggi yang sudah dapat disalurkan ke arah bulu-bulu hud-tim yang bergerak seperti kawat baja.

-tek Sianli.

Bisanya nenek ini kalau menghadapi orang selalu tangannya dulu yang bicara, baru mulut, akan tetapi kini menghadapi laki-laki setengah baya itu, dapat melihat betapa orang ini tidak boleh dipandang enteng.

-hud-tim Kiang Sun Hi.

Aku adalah sahabat baik dari Ang-kin-kay-pang.

Urusan Ang-kin-kay--tek Sianli yang menggunakan lengan ujung baju dengan gerakan menampar ke arah Kiang Sun Hi.

Tentu saja Sun Hi tidak berani lengah.

Ia tahu bahwa gerakan dari sepasang tangan nenek ini tidak boleh dipandang ringan.

Benar saja, begitu kibasan ujung lengan baju bergerak menampar, meskipun hanya perlahan, akan tetapi tiba-tiba angin pukulannya menyambar, mengandung hawa panas dan bukan main kuatnya!

Kiang Sun Hi adalah majikan pulau Kim-kong-tho, memiliki ilmu silat keturunan yang amat lihai, sudah barang tentu menghadapi kibasan lengan baju yang mengeluarkan angin pukulan kuat ini, ia tidak berani mengadu tenaga.

Ia sudah mendengar dari Sian Eng bahwa Pay-cu Sian-li-pay ini terkenal dengan ilmu pukulan Bu-tek-sin-kun yang hebat luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan waspada.

Begitu pukulan tamparan lengan baju dapat ia kelit, ia sudah menduga sebelumnya bahwa lengan si Nenek itu tidak akan tinggal diam.

Maka benar saja, begitu tangan kanan Bu-tek Sianli menyambar mengirimkan jotosan ke arah iganya, segera ia menampar dengan kebutan hud-tim ke arah lawan dan langsung menyambar jalan darah di pundak Bu-tek Sianli.

--tek Sianli marah karena pukulannya tadi dapat terhindarkan dengan mudah dan malah kini balas menyerang dengan mengirimkan totokan ujung hud-tim ke arah pundak.

Ia sama sekali tidak mengelak dari totokan ujung hud-tim, sebaliknya tangan kirinya memukul ke arah dada lawan.

Ujung hud-tim tepat sekali mengenai jalan darah di tubuh Bu-tek Sianli, akan tetapi Kiang Sun Hi menjadi terkejut dan heran merasakan totokannya tadi mengenai tempat yang keras dan licin, seperti bertemu dengan baja berlumur minyak, dan keruan saja ujung hud-timnya terpental ke belakang.

Sebaliknya pukulan tangan kiri nenek ini telah menyerang dadanya, meskipun masih jauh dan baru angin pukulannya saja, dirasakannya dadanya sudah panas dan sesak napas.

tar senjatanya sehingga kebutan itu menjadi segulungan sinar yang berbahaya.

Biarpun ujungnya hanya terdiri dari bulu-bulu halus akan tetapi di tangan majikan pulau kim-kong-tho ini telah menjadi kawat-kawat baja yang keras dan berbahaya.

Dan totokan-totokan yang dilakukan dengan ujung hud-tim ini berbahaya sekali.

Inilah kelihaian Kiang Sun Hi di dalam memainkan senjata hud-tim nya sehingga ia dijuluki Memang sukar menyerang seorang seperti Bu-tek Sianli yang telah memiliki ilmu kebal di bagian tubuhnya, sehingga berkali-kali ujung kebutan di tangan Kiang Sun Hi bergerak mengirimkan totokan-totokan yang lihai dan berbahaya.

Namun segala totokan-totokannya terbentur oleh tubuh Bu-tek Sianli yang kebal.

Akan tetapi Sun Hi cukup cerdik, tiga kali sudah totokan-totokannya tidak mengenai sasaran, maka ia mengarahkan jalan darah Hay-yang-hiat di bagian mata dan Tong-cu-hiat di bagian dada yang tidak dapat dilindungi oleh ilmu kebal, maka kini serangan-serangannya tertuju ke arah mata dan dada.

Akan tetapi semua usahanya tidak berhasil banyak, karena sesungguhnya Nenek Bu-tek Sianli ini mempunyai tingkat kepandaian yang lebih tinggi darinya.

Setiap serangan-serangan hud-tim selalu dapat ditangkis dan terpental oleh angin pukulan Bu-tek Sianli.

Sebaliknya, melihat betapa lawannya ini amat sukar dirobohkan, Bu-tek Sianli menjadi marah.

Ia menjerit keras dan mulai mengeluarkan ilmu silat yang paling diandalkan yakni ilmu silat Bu-tek-sin-kun atau Kepalan Sakti Tanpa Tandingan!

Kiang Sun Hi menjadi terkejut.

Dari sepasang tangan Nenek Bu-tek Sianli ini menyambar hawa pukulan yang luar biasa panas dan kuatnya.

Kini setelah Nenek itu mengeluarkan ilmu pukulan dengan gaya tubuh agak direndahkan dan setiap kali pukulan tangan itu menyambar, selalu membuat hud-tim di tangannya tergetar keras dan terpental ke belakang oleh sambaran angin pukulan yang amat dahsyat itu.

Setelah Bu-tek Sianli mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat Bu-tek-sin-kun, Kiang Sun Hi nampak agak terdesak dan mulai bersilat dengan mundur-mundur.

Tiba-tiba terdengar suara dari Can Lo-kay dibarengi dengan berkelebatnya sinar hitam menyerang Bu-tek Sianli.

Can Lo-kay yang sejak tadi berdiri saja menonton, kini melihat keadaan majikannya pulau Kim-kong-tho yang membela Ang-kin-kay-pang sudah terdesak hebat.

Tentu saja pengemis tua ini menjadi marah dan sambil membentak keras ia melancarkan serangan tongkatnya bertubi-tubi ke arah Bu-tek Sianli.

Nenek itu cepat menyampok datangnya tongkat dengan lengan kirinya, akan tetapi begitu tangan kirinya menyampok tongkat sambil mengerahkan sin-kang pukulan pada tangan itu tiba-tiba tongkat hitam itu terpental dan menyeleweng ke samping dan mengirimkan totokan kilat ke arah iga lawan.

Serangan ini disusul pula dengan pukulan-pukulan dahsyat dari tangan kiri pengemis tua itu dengan gerakan-gerakan yang aneh dan cukup hebat membuat Bu-tek Sianli mengeluarkan seruan tertahan.

-niu-san-tung-tiba-tiba Bu-tek Sianli berseru mengeluarkan suara kaget menyaksikan ilmu tongkat yang luar biasa anehnya ini.

Teringat ia bahwa Koay Lojin juga pernah menunjukkan kelihaian ilmu tongkatnya waktu orang tua aneh itu datang ke Sian-li-pay dan telah menyaksikan betapa hebatnya orang tua dari gunung Fu-niu itu.

Kini pengemis tua yang memainkan ilmu tongkat yang luar biasa ini, hati Bu-tek Sianli menjadi tidak enak apabila Koay Lojin yang pernah ia rasai kelihaiannya!

-demikian Can Lo-kay mengelebatkan tongkatnya menyerang lebih hebat lagi.

Dibarengi kemudian berkelebat sinar hitam dan tahu-tahu tongkat kecil di tangan Yap Sian Eng sudah merangsek nenek Bu-tek Sianli dengan hebat.

Suara-suara samberan tongkat kecil yang berkepala ukiran kepala naga itu menciut saking kerasnya samberan tongkat itu.

Bu--Tantang Sian Eng ketus sambil mempercepat gerakan tongkatnya.

Melihat betapa Yap Sian Eng sudah turun tangan, anggota Ang-kin-kay-pang yang berkepandaian cukup tinggi berkelebat menyerbu Bu-tek Sianli dan melancarkan serangan-serangan maut!!!

dak lekas menyuruh anak buahmu turun tangan mau tunggu apa -tek Sianli membentak Sin-tung-mo-kay Peng Hay.

Mendengar seruan ini, Peng Hay segera memberi aba-aba pada ke limapuluh pengemis yang berdiri di sebelah kiri.

Sebentar saja para pengemis yang tadinya adalah anggota Hek-lian-pay ini sudah menyerbu dan disambut oleh para anak buah Ang-kin-kay-pang.

Segera terjadi perang tanding yang cukup seru.

Pihak Ang-kin-kay-pang jauh lebih banyak dari pada orang-orang bekas anggota Hek-lian-pay, maka melihat ini Bu-tek Sianli melancarkan serangan-serangan ke kanan dan ke kiri menggunakan jurus-jurus pukulan Bu-tek-sin-kun yang paling hebat.

Terdengar teriakan mengerikan dan tubuh Sian Eng terlempar dan muntahkan darah segar.

Sun Hi cepat menggerakkan hud-timnya dan mencelat ke depan menubruk Sian Eng, menotok dada gadis dan berkata dengan cepat, ---Cepat Sun Hi menyambar tubuh itu dan sekali berkelebat ia sudah lenyap dari tempat itu.

Hanya suaranya saja yang terdengar oleh Can Lo-kay yang masih bertempur dengan Bu-tek Sianli.

-kay........

tak guna melawan nenek itu......

jangan biarkan teman-teman mengorbankan diri kepada hal yang sia-sia, kau pimpinlah mereka, cari jalan keluar.......

Setelah berkata demikian, Kiang Sun Hi sudah mencelat jauh dan melenyapkan diri.

Mendengar ini Can Lo-kay memberi tanda dengan suitan ke arah anak buahnya.

Dan sebentar itu pula, dengan rapih sekali barisan Ang-kin-kay-pang sudah melenyapkan diri dan menghilang di balik celah-celah batu gunung.

Bagi para anak buah Ang-kin-kay-pang yang terluka, dengan gerakan yang amat cepat dan teratur kawan-kawannya yang lain membawanya pergi sehingga tempat itu bersih dari rombongan Ang-kin-kay-pang.

Sedangkan Can Lo-kay sendiri, melihat betapa anak buahnya sudah lenyap, segera mainkan tongkatnya dengan jurus-jurus yang terhebat dan begitu melihat Bu-tek Sianli mundur-mundur.

Melihat kesempatan yang baik ini, segera ia melenyapkan diri pula!

Melihat Can Lo-kay sudah kabur, Bu-tek Sianli segan untuk mengejar.

Bukan ia takut kepada pengemis itu, akan tetapi ia cukup cerdik untuk tidak melibatkan diri dengan Koay Lo-jin dari Fu-niu-san itu!!

Maka ia kini menumplekkan kemarahannya pada si lengan buntung yang tengah melawan Kwan-tiong Tok-ong.

Sungguh hebat sekali pertandingan si raja racun ini dengan Tiang Le.

Beberapa kali hampir saja Tiang Le roboh oleh semburan uap hitam beracun yang dikeluarkan oleh tokoh racun ini.

Kalau saja tidak cukup kuat sin-kang di dada pemuda itu, tentu ia sudah mati di tangannya si raja racun dari Kwan-tiong ini!!

Memang Kwan-tiong Tok-ong ini bukan saja lihay ilmu silatnya akan tetapi sepasang senjata berupa tangan beracun itu sungguh sangat berbahaya dan licik.

Sepasang tangan manusia yang penuh racun itu menyambar cepat.

Tiang Le pun cepat berkelit akan tetapi siapa sangka, seorang anggota Ang-kin-kay-pang yang berada tidak jauh di belakangnya berteriak ngeri dan roboh.

Tubuhnya berubah hitam sekali dan ia berkelojotan terus mati.

Pengemis itu terkena hek-tok (racun hitam) dari kuku hitamnya Kwan-tiong Tok-ong, sedangkan seorang pengemis lagi tak sempat berkelit dan tangan kiri Kwan-tiong meluncur mencakar pundak pengemis itu terdengar lagi jeritan mengerikan ketika tubuh itu roboh dengan tubuh berubah kuning, terkena cakaran kuku yang mengandung Oey-tok (racun kuning).

Kwan-tiong Tok-ong tertawa mengakak dan sepasang cakar setan itu tiba-tiba tersentak kembali kepadanya disambut oleh sepasang tangan!

Inilah kelihaian Kwan-tiong Tok-ong, orang akan mengira tentu sepasang senjata yang berupa tangan manusia itu dapat terbang dan kembali dengan amat cepatnya.

Sebenarnya, Kwan-tiong Tok-ong yang lihai ini sengaja memasang sepasang tangan yang diikat oleh sebuah tali pada pergelangan tangannya dan dapat dilempar menurut kehendak hati.

Dengan tali ini ia dapat membuat sepasang tangan itu bergerak seakan-akan terbang.

Melihat betapa dua orang pengemis Ang-kin-kay-pang telah roboh dengan cara yang amat mengenaskan sekali, Tiang Le membentak marah dan terdengar kilatan pedang pusaka buntung berkelebat di depan dadanya.

ntakan Tiang Le ini diiringi dengan berkelebatnya sinar pedang pusaka buntung yang sudah menyambar bagaikan guntur memecah bumi.

Kwan-tiong Tok-ong berseru kaget melihat kehebatan ilmu pedang yang hanya dimainkan oleh tangan kiri itu.

Dalam beberapa jurus saja dia sudah terdesak hebat oleh terjangan-terjangan Tiang Le yang merupakan maut yang siap hendak merenggut nyawa.

Pada saat itu, terdengar bentakan keras dan tahu-tahu Bu-tek Sianli sudah menyerbu Tiang Le.

Ia segera mengirimkan pukulan sakti dengan tubuh agak direndahkan hampir berjongkok.

Inilah pukulan Bu-tek-sin-kun yang terlihai dengan jurus Tho-lui-thong-te (geledek musim semi menggetarkan pulau).

Tiang Le terkejut sekali, cepat ia mengerahkan hawa sin-kang ke arah pundak dan menerima pukulan Bu-tek Sianli, sedangkan tangan kirinya bergerak cepat merangsek Kwan-tiong Tok-ong dengan jurus Tok-pik-kiam-hoat bagian menyerang.

Hebat sekali akibatnya.

Kwan-tiong berteriak kesakitan ketika lengannya terbabat pedang Tiang Le sehingga mengeluarkan darah, dan ia mencelat mundur.

Sebaliknya Tiang Le sendiri hampir saja terjengkang ke depan, oleh dahsyatnya pukulan Bu-tek Sianli yang lihai itu, akan tetapi, untunglah Tiang Le sudah digembleng secara luar biasa oleh si kaki buntung yang bernama Sin-kun-bu-tek Lim Heng San dan telah dapat memindahkan hawa sin-kang dari kakek sakti itu.

Kalau tidak tentu tubuhnya akan hancur lebur terhantam pukulan si nenek Bu-tek Sianli.

Diam-diam kagum sekali Bu-tek Sianli melihat tubuh Tiang Le yang luar biasa ini.

Biasanya pukulannya barusan itu, akan dapat menghancurkan batu gunung.

Dan dapat menahan gelombang laut.

Kini pemuda itu, hebat!

Tadi begitu pukulannya tepat menyentuh pundak pemuda itu, ia merasakan hawa panas yang menyerangnya membalik dan kuda-kudanya tergetar hebat membuat ke dua kakinya menggigil!

-tiong Tok-ong tak terasa lagi berseru memuji sambil memegangi lengan kanannya yang terserempet pedang Tiang Le.

-manusia tak mempunyai liang-sim (perasaan), hari ini, aku Sung T -ha-ha Tiang Le, manusia sombong!

Kami belum kalah terhadapmu, mana bisa -tek Sianli mengejek.

Ia amat yakin bahwa kali ini, pemuda itu tidak akan dapat lolos lagi.

Dengan dibantu oleh Kwan-tiong Tok-ong, masakan ia tidak dapat mengalahkan si buntung ini!

Maka segera ia memberi tanda kepada Kwan-tiong Tok-ong untuk bersama-sama menyerbu lawannya, berbareng dengen gerakan si Raja Racun itu, Bu-tek Sianli bersuit dan sebentar itu pula anggota-anggota Ang-kin-kay-pang yang mempunyai tanda teratai hitam di dadanya sudah menyerbu Tiang Le.

Dalam keroyokan yang ketat ini Tiang Le bergerak hebat bagaikan harimau terluka.

Sekali pedang pusaka buntungnya berkelebat, maka terdengar jeritan dari anak buah Ang-kin-kay-pang yang bertanda teratai hitam pada dadanya dan roboh dalam keadaan tubuh mandi darah!

Biarpun pemuda lengan buntung itu dikeroyok oleh banyak orang yang rata-rata memiliki ilmu silat cukup tinggi, Tiang Le tidak menjadi gentar.

Malah ia masih sempat merangsek si Nenek Bu-tek Sianli dengan jurus-jurus maut dari ilmu pedang Tok-pik-kiam-hoat yang terlihai.

Sebetulnya ia segan untuk menjatuhi tangan maut kepada para pengemis ini, akan tetapi karena serangan-serangan Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong yang berbahaya, Tiang Le terpaksa tidak mengambil hati.

Apalagi setelah diketahuinya bahwa pengemis-pengemis ini adalah bekas anggota Hek-lian-pay yang jahat, maka sekali mengelebatkan pedangnya, terdengar lagi jeritan seorang pengemis yang terluka lengannya terserempet pedang buntung Tiang Le!

Hebat sekali pertempuran di atas puncak gunung Ta-pie-san ini.

Dan sepak terjang Tiang Le sungguh mengagumkan dan menggetarkan lawan.

Setiap pedang buntung itu bergerak, setiap itu pula terdengar jeritan kaget dari lawannya yang telah terluka oleh tajamnya pedang buntung di tangan kiri lawan.

Dan baru sekarang pertempuran ini merupakan pertempuran yang benar-benar hebat, saling serang dan saling mempertahankan diri dan baru sekarang Kwan-tiong Tok-ong mendapat kenyataan bahwa pemuda lengan buntung ini benar-benar lihai.

Pedang buntung yang dimainkan itu berubah menjadi segulung sinar perak yang amat kuat, mengurung dan menindih sehingga sebentar saja Kwan-tiong Tok-ong terdesak hebat.

Merasakan bahwa lawannya ini benar-benar tangguh dan luar biasa, si Raja Racun itu mengeluarkan sesuatu benda dan menyambitkan ke arah Tiang Le dan disambut oleh tangkisan pedang buntung.

Terdengar ledakan keras dan asap berwarna kuning mengebul menyambar muka Tiang Le.

Amat cepat sekali gerakan asap yang menyambar itu dan Tiang Le mencium bau yang amat amis dan menyesakkan dadanya.

Segera ia mengerahkan sin-kang di dada.

Pada saat itulah sebuah pukulan tangan kiri Bu-tek Sianli menyentuh pundak Tiang Le!

empar tiga tombak jauhnya.

-ha-menggeram keras Nenek kosen ini mengangkat tangannya dan siap hendak dijatuhkan ke arah kepala Tiang Le yang pada ketika itu telah pingsan akibat racun kuning yang telah terhisapnya tadi.

Pada saat yang amat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar jeritan nyaring dari seorang perempuan muda berjalan bersama seorang anak lelaki yang berusia dua tahun.

Perempuan muda itu adalah Pei Pei bersama Wang Ie yang telah tiba di atas puncak Ta-pie-san dan begitu melihat Tiang Le roboh dan dilihatnya Nenek itu mengangkat tangan, ia cepat menjerit sambil berlari.

Bu-tek Sianli menoleh, melihat Pei Pei berlari menubruk Tiang Le dan mengguncang-guncangkan kepala pemuda yang telah pingsan itu.

Seluruh tubuh Tiang Le sudah berwarna kekuning-kuningan.

Inilah racun Oey-tok yang lihai dari si Raja Racun Kwan-tiong Tok-ong!

-tek Sianli gemas melihat datangnya Pei Pei.

Ia mengenal perempuan itu.

Dan ia tahu bahwa perempuan lemah lambut ini tidak mengerti ilmu silat.

Andaikan Pei Pei tahu ilmu silat tentu Bu-tek Sianli telah menerjang wanita itu!

itu.

tangan kiri Bu-tek Sianli merenggut baju Pei Pei, terdengar suara keras baju di bagian dada perempuan muda itu robek sebatas perut.

Pei Pei cepat menutupi bagian dada yang terbuka dengan tangannya dan menatap tajam kepada Bu-tek Sianli.

Bu-tek Sianli hendak berlutut.

akan tetapi begitu kaki si nenek terangkat keruan saja tubuh Pei Pei terlempar jauh!

Melihat ini, Wang Ie menjadi panas hatinya.

Dengan gerakan cepat ia sudah menerjang nenek itu, dan mengirim jotosan ke arah perut si Nenek.

Meskipun hanya baru beberapa bulan ia melatih diri atas petunjuk suhunya, akan tetapi anak kecil yang bernyali segede gajah ini dengan berani sekali menerjang Bu-tek Sianli dengan bentakan nyaring, kecil itu mengirimkan jotosan ke arah dada Bu-tek Sianli yang tidak menangkis dan mengerahkan sedikit hawa sin-kang di dada.

Ia tertawa bergelak mengejek menerima pukulan anak kecil itu.

yang terlempar jauh dan menjerit kaget merasakan seluruh tangannya menjadi nyeri seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Pada saat itulah, ia melihat subonya telah menghampiri Bu-tek Sianli dan dengan teriakan keras perempuan muda itu menerjang kaki Bu-tek Sianli dan menggunakan giginya yang runcing menggigit kaki Bu-tek Sianli sekuat-kuatnya ia menggigit!

Pei Pei memang cerdik.

Ia tahu bahwa nenek ini sangat kebal sekali dan pikirannya yang cerdik dan penuh kemarahan itu ia menerjang Bu-tek Sianli dan menggunakan giginya menggigit betis si Nenek.

Keruan saja Bu-tek Sianli menjerit kesakitan dan mengibaskan kaki kanannya yang digigit dan sekali kakinya bergerak tubuh perempuan muda itu terlempar jauh dan menggelinding masuk jurang.

Pei Pei menjerit ngeri dan suaranya tenggelam membawa tubuhnya yang meluncur ke jurang yang amat dalam itu.

Wang Ie terkesiap kaget melihat tubuh subonya telah meluncur masuk jurang.

Untuk beberapa lama ia tersentak dan tidak tahu apa yang harus ia perbuat, matanya basah sambil menggigit bibir.

Ia berlari dan menerjang Bu-tek Sianli lagi, mengirimkan serangan tangan kiri yang cukup kuat itu!

Bu-tek Sianli menjadi marah, sekali meraba tongkatnya tiba-tiba ia menggerakkan tongkatnya memukul kepala anak kecil itu.

Akan tetapi begitu tongkat itu meluncur hampir menyentuh kepala si anak, tiba-tiba terdengar suara keras dan sesosok tubuh berkelebat dan menggerakkan cambuk merah menyerang tongkat.

Bersamaan dengan luncuran sabuk sutera merah itu, seorang gadis manis telah berdiri di depan Bu-tek Sjanli dan menangkis tongkat dengan ujung sabuk sutera merah.

Wang Ie cepat bergulingan ke kiri dan berdiri di samping wanita muda yang cantik jelita itu.

Liang Bwe Lan tersenyum mengejek.

Menarik kembali sabuk suteranya dan digulungnya perlahan-lahan.

Sementara bibirnya mengeluarkan sindiran, -tek Sianli, belum insafkah kau pada masa usiamu semakin tua ini?

Hem, menyesal aku mempunyai bekas guru seperti engkau jahatnya, biarlah aku peringatkan sekali lagi supaya kau pergi dari sini!

bahwa aku pernah menjadi muridmu!

Bu-banyak beberapa tahun lagi.

Bersiap-siaplah menghadapi Pengadilan Akhirat!

Mudah-mu Ucapan yang keluar dari mulut gadis ini sungguh berani sekali.

Membuat Kwan-tiong Tok-ong melengak mendengarnya.

Masakan ada seorang murid menasehati gurunya.

Aneh!

Sementara itu bagaikan ditampar Bu-tek Sianli mendengus marah.

Tongkatnya bergetar menahan gelombang hati yang berdentum-dentum penuh kemarahan di dada itu!

Saking marahnya Nenek ini, sampai ia lupa bahwa orang yang diserangnya itu adalah muridnya.

Murid yang pernah ia kasihi dan turunkan kepandaian ilmu silat tinggi.

Akan tetapi sungguh aneh sekali, menghadapi gadis ini, Bu-tek Sianli menjadi gemas setengah mati.

Ia tadinya nggak menyangka bahwa semua murid-muridnya berbalik memusuhi dirinya.

Juga Bwe Lan.

Ia tahu benar bahwa gadis ini pernah menolong pemuda yang bernama Tiang Le itu waktu di Sian-li-pay.

Dan telah terang-terangan mengaku bahwa ia cinta kepada Tiang Le.

Gila!

Benar-benar dunia sudah mau kiamat.

Kelima orang muridnya yang mulanya ia kasihi kini berbalik memusuhinya!

Saking gemasnya nenek itu, ia mainkan ilmu tongkat yang digabungkan dengan jurus-jurus Bu-tek-sin-kun yang lihai.

Pada saat itu, berkat sin-kang yang sempurna di tubuh Tiang Le, hanya untuk beberapa lama saja pemuda lengan buntung itu pingsan dan ada kira-kira lima menit, dia sadar kembali.

Dan begitu melihat kedatangan Bwe Lan yang telah menolong Wang Ie muridnya segera dia mengumpulkan hawa murni di perut dan mengembalikan tenaganya.

Dan begitu ia lihat bahwa Bwe Lan telah terdesak oleh Bu-tek Sianli, segera dia mencelat dan menggunakan tangan kirinya mendorong Bu-tek Sianli sambil membentak, -menggunakan gerakan tangan kilat yang luar biasa dahsyatnya itu.

Bagaikan petir menyambar Bu-tek Sianli merasakan datangnya serangkum tenaga dahsyat yang luar biasa, segera ia mengelak ke kiri dan berjumpalitan menghindarkan angin pukulan itu dan membalas mengirim serangan tongkat ke arah Tiang Le.

Amat terkejut bukan main Nenek ini melihat yang melakukan serangan barusan adalah Tiang Le.

Ia menjadi heran.

Bukankah barusan pemuda itu tak berdaya terkena racun kuning, masa sekarang sudah sadar kembali!

Ia melirik ke arah Kwan-tiong Tok-ong yang sudah mengerahkan pula sepasang tangan buatan dan mengirim cengkeraman ke arah pundak Tiang Le.

Melihat datangnya cakar setan yang terkenal akan kelihaiannya ini, Tiang Le tak berani menyambut dengan pukulan, ia berkelit ke kiri dan mainkan langkah-langkah ajaib menghindarkan diri dari serangan-serangan sepasang tangan yang mengeluarkan bau anyir itu!

Melihat bahwa pemuda itu sudah menyerang Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tokong, Bwe Lan menjadi bersemangat dan tersenyum girang kepada Tiang Le, ari kita basmi manusia--hi-Wang Ie yang menonton pertempuran itu menjadi girang sekali.

Girang karena suhunya kini sudah sadar kembali dan menyerang musuh-musuhnya.

Dan apabila teringat kepada subonya yang telah terpelanting masuk jurang, maka dengan sengit ia berteriak lagi ke arah Tiang Le yang sudah mendesak Bu-tek Sianli.

masuk Mendengar seruan Wang Ie ini, Tiang Le menoleh kepada muridnya dan berkata Bwe Lan menyahut sambil menangkis tongkat si Nenek Bu-Le, Pei Pei sudah masuk ke jurang oleh tendangan nenek bangsat ini.

Sayang aku datang dari Kwan-tiong Tok-ong yang amat berbahaya itu.

Ia amat kaget sekali dan hampir saja pundaknya terserempet cakar setan yang digerakkan oleh Kwan-tiong Tok-ong dengan amat cepatnya.

Baiknya pemuda ini cukup waspada dan cepat berkelit membalas serangan, tangan kiri mengelebatkan pedang yang segera dapat dikelit oleh si Raja Racun Kwan-tiong Tok-ong yang lihai.

-menggeledek mengarahkan tamparan ke arah tongkat Bu-tek Sianli yang dengan senyum mengejek menangkis dengan tongkatnya sambil berkata, elah membunuhnya kau mau apa?

Sebentar lagi engkau juga -tek Sianli ini dibarengi dengan pukulan tongkat ke arah kepala Tiang Le.

Akan tetapi pada saat itu Bwe Lan sudah lantas menggerakkan tangan dan puluhan jarum beracun yang bernama Sian-li-tok-ciam menyambar ke arah Bu-tek Sianli.

Tentu saja nenek ini mengenal akan kelihaian Sian-li-tok-ciam, jarum beracun ciptaannya sendiri, maka ia mengurungkan gerakan tongkatnya memukul kepala Tiang Le, sebaliknya ia menarik tongkatnya dan memutar memukul runtuh jarum-jarum beracun yang menyambarnya!

Perkelahian bertambah seru, orang-orang pengemis yang memakai tanda teratai hitam di dadanya tidak berani lagi bergerak karena ngeri menyaksikan sepak terjang pemuda lengan buntung yang lihai ini.

Segera menyeret kawan-kawan yang sudah terluka dan membawanya ke belakang untuk dirawat.

Sedangkan yang lainnya berdiri mengelilingi tempat itu menonton perkelahian yang berjalan dengan serunya.

Bagi Bu-tek Sianli adalah hal yang baru pertama kali ia benar-benar dipecundangi oleh seorang pemuda yang berlengan buntung.

Ia sungguh amat malu sekali, ia yang sudah terkenal di dunia kang-ouw, dan telah menggemparkan dunia persilatan dengan jurus-jurus ilmu pukulan Bu-tek-sin-kun atau Kepalan Sakti Tanpa Tandingan, kini benar-benar ketemu tandingan!!

Ia menjadi sengit bukan main dan mainkan ilmu silat Bu-tek-sin-kun-hoat menggunakan jurus-jurus dahsyat dan siap merenggut nyawa lawan!

Kini setelah munculnya Tiang Le, perkelahian dibagi dua bagian.

Kalau Tiang Le melayani nenek Bu-tek Sianli, adalah Bwe Lan, ia bertemu tanding pula oleh orang tinggi besar yang tidak dikenalnya ini.

Memang sesungguhnyalah bahwa Kwan-tiong Tok-ong ini bukan tidak terkenal, akan tetapi karena ia hanya malang melintang di dunia Barat sudah barang tentu tokoh-tokoh selatan tidak mengenalnya.

Akan tetapi sungguh kejadian yang menggemparkan karena tokoh dari Barat ini, mempunyai kepandaian selangit!

Di barat ia terkenal sebagai Raja Racun karena senjatanya yang dijuluki Cap-tok-mo-jiauw atau sepuluh racun cakar setan yang luar biasa kejinya.

Barang siapa yang terkena salah satu dari ke sepuluh racun itu tipislah harapan untuk dapat hidup kembali!

Tahu bahwa senjata yang terbuat dari tangan manusia yang dikeringkan itu sangat berbahaya sekali, maka Bwe Lan yang cerdik selalu menghindarkan diri dari cakaran setan yang mengerikan itu.

Kalau tadi dia terus bertempur dengan Bu-tek Sianli hanya separuh hati, kini menghadapi orang tinggi besar yang bersenjata cap-tok-mo-jiauw itu ia benar-benar menyerang dalam arti kata sesungguhnya.

Ia mengerahkan seluruh tenaga lwekang bagian melemaskan yang disalurkan ke arah sabuk sutera merahnya, sehingga ujung sabuk itu menyambar-nyambar bagaikan ular, menerjang dengan totokan-totokan ke arah pundak kanan atau sambungan siku dan pergelangan tangan.

Atau menyerang jari-jari tangan setan yang selalu terbuka dalam posisi mencengkeram.

Ia tidak takut akan benturan-benturan tangan itu karena melalui sabuk suteranya, ia tidak terlalu kuatir untuk keracunan!

Permainan sabuk sutera gadis muda ini sungguh membuat kagum Kwan-tiong Tok-ong.

Baru sekarang ia tahu bahwa di Selatan ini banyak sekali orang-orang muda yang berkepandaian tinggi.

Baru saja beberapa bulan ini ia terjun ke selatan dan mengikut Bu-tek Sianli, eh, siapa tahu malah ia harus menghadapi orang-orang muda yang berkepandaian tinggi dan lihai!

Sialan, tahu begini gua nggak mau ikut-ikut Bu-tek Sianli.

Kalau begini jadinya, sungguh memalukan, pikir Kwan-tiong Tok-ong mengeluh di dalam hatinya!

Si Raja Racun Kwan-tiong, kini benar-benar harus dibuat sibuk oleh gerakan-gerakan sabuk sutera si gadis yang lihai.

Beberapa kali sepasang senjata tangan itu menyabet ke arah sabuk sutera akan tetapi karena sabuk sutera itu lemas dan kuat, serta dimainkan oleh Bwe La -sia saja, sabuk itu tidak mau putus.

Kini menghadapi gadis yang lihai ini, tiba-tiba tangan kiri Kwan-tiong Tok-ong merogoh sakunya dan sebuah benda hitam menyambar merupakan peluru menyambar ke arah si Bwe Lan tersenyum ke arah Tiang Le.

Tentu saja meskipun tidak diberi peringatan oleh pemuda lengan buntung itu, Bwe Lan cukup cerdik dan tidak sudi menangkis peluru itu, malah ia berkelit sambil membalas menyebarkan jarum-jarum beracun yang bernama Sian-li-tok-ciam.

Senjata rahasia yang terbuat dari jarum yang telah direndam oleh racun dan pernah terkenal dulu di Sian-li-pay!

Datangnya senjata-senjata halus yang terbuat dari jarum-jarum ini, segera Kwan-tiong Tok-ong mengibaskan lengan bajunya dan memukul runtuh jarum-jarum itu.

Kini melihat bahwa gadis itu cukup cerdik, ia segera bersuit keras.

Tentu saja Bwe Lan tidak tahu apa arti suitan ini, maka dengan sengit merangsek orang tinggi besar itu.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suitan keras dari atas dan sesosok burung garuda menyambar ke arah Bwe Lan.

Gerakan burung garuda ini sungguh luar biasa hebatnya, membuat sabuk sutera yang ditangkis oleh cakar garuda itu terpental ke samping dan bersamaan dengan munculnya burung raksasa itu, terdengar suara nyaring dari atas punggung garuda.

-hik ini dia cewe yang selama ini kuimpi-impikan hi-hik-gila, bukan sekarang dia kenapa berdiri di s -tiong Tok-ong berteriak marah ke arah seorang anak laki-laki gundul yang berdiri di atas punggung garuda.

Anak itu berusia sekitar duapuluh tahun lebih, akan tetapi melihat kepalanya yang botak dan roman muka yang seperti orang tolol, nampak sekali sikapnya seperti anak kecil memandang Bwe Lan seperti seorang anak kecil mengagumi barang permainan yang menarik hati.

Kwan-tiong Tok-ong segera memberi isyarat dengan suitan kepada burung garuda peliharaannya.

Maka tiba-tiba saja terdengar suara menggelepar waktu sayap burung yang keras dan besar itu melancarkan pukulan-pukulan ke arah Bwe Lan!

Pada saat itu, Bwe Lan kaget setengah mati melihat burung raksasa yang begini besar dan hebat ditunggangi seorang anak laki-laki gundul dan bermuka bodoh menyeringai memandangnya.

Belum hilang Bwe Lan dari kagetnya, tiba-tiba burung itu menyambar turun dan sekali mengulur kuku, sabuk sutera Bwe Lan sudah dicangkeram oleh burung garuda, dan burung itu menggeleparkan sayapnya menampar.

Bwe Lan cepat menangkis mengirim dorongan tangan kirinya ke arah dada burung itu.

Akan tetapi siapa sangka justru sambaran sayap garuda ini demikian dahsyatnya sehingga ia menjadi terhuyung-huyung dan melepaskan pegangan sabuk suteranya!

Cepat ia bergulingan ke kanan menghindarkan sambaran-sambaran cakar burung garuda yang menyerangnya dari atas.

yang perkasa ini menjerit ngeri menghadapi burung yang begini besar dan ganas.

Pada saat itulah sebuah tangan bergerak menampar dada si burung dan terdengar suara keras bergedebuk dan bulu-bulu garuda rontok oleh tamparan tangan kiri Tiang Le, yang sudah mencelat menyambar tubuh Bwe Lan.

Sedangkan Wang Ie sudah menggelendot di punggung Tiang Le.

Dan sekali menggerakkan tubuhnya, ia berkelebat menarik tangan Bwe Lan.

-ha--tek Sianli mengejar di belakangnya.

Akan tetapi Tiang Le tak menghiraukan lagi dan berkata keras.

--ha--tiong Tok-ong dan bersuit lagi.

Seekor burung garuda menyambar turun menggunakan cakarnya menyerang Bwe Lan yang berlari di samping Tiang Le.

-lelaki yang di punggung garuda itu.

Lelaki gundul itu bersuit keras dan mengeluarkan sulingnya, tahu-tahu serombongan ular merayap besar kecil menghampiri Tiang Le.

Tentu saja pemuda lengan buntung ini jadi menghentikan larinya.

Ia menoleh ke belakang.

ke belakang dan menggunakan pukulan jarak jauh.

Keruan saja tubuh lelaki gundul itu terpental oleh hantaman tangan kiri Tiang Le dan pada saat itulah Kwan-tiong Tok-ong sudah tiba di tempat itu dan menyambar tubuh anaknya yang terguling dari punggung garuda.

gundul itu menunjuk Tiang Le.

--tiong Tok-ong.

Belum lagi lelaki gundul itu menyahut, tiba-tiba terdengar pekikan yang panjang menggeletar-geletar dan dibarengi dengan munculnya seorang wanita setengah tua.

Umurnya sekitar empatpuluhan, wajahnya masih kelihatan cantik dan tidak menyeramkan, hanya pada dahi dan pipinya terdapat lekuk-lekuk dan keriput-keriput yang membuat wajah yang cantik itu menjadi aneh dan galak.

Sepasang matanya kecil dan tajam dan bergerak selalu.

Dia inilah Thung Hay Nio-nio, wanita Han yang kawin dengan Kwan-tiong Tok-ong dan menetap di Barat sampai bertahun-tahun lamanya dan telah mempunjai putera yang cukup lihai kepandaiannya yang bernama Kwan Kong Beng.

Melihat datangnya wanita ini, Tiang Le cepat mempergunakan gin-kangnya berlompatan di atas pohon dengan dituruti oleh Liang Bwe Lan, karena jalan yang di depan itu sudah dikurung oleh ratusan ular besar kecil merayap naik.

Tentu saja Tiang Le tidak takut akan ular-ular itu, akan tetapi sekiranya ia melawan gin-kangnya tubuhnya berkelebatan berloncatan dari pohon ke pohon.

Berkali-kali burung garuda itu menyambarnya, akan tetapi begitu tangan kiri Tiang Le memukul ke atas terdengar suara keras menggedebuk dan tubuh burung garuda itu terpental ke atas menghamburkan bulu-bulu yang rontok terhantam pukulan tangan kiri Tiang Le yang lihai.

Biarpun ia itu hanya sebagai burung, akan tetapi garuda ini cukup cerdik dan takut mati.

Merasakan bahwa pemuda lengan buntung itu lihai sekali, dan telah membuat dadanya sakit terhantam pukulan tangan itu.

Sambil mengeluarkan jeritan nyaring garuda peliharaan Kwan-tiong Tok-ong itu pada berterbangan menuju ke arah sebelah selatan.

Sudah barang tentu melihat burung itu terbang ke arah selatan Kwan-tiong Tok-ong anak isteri dan Bu-tek Sianli mengejarnya ke selatan pula, padahal sesungguhnya Tiang Le tidak mengambil jurusan ke selatan melainkan ia terus berlari ke utara!

Sehingga ia terluput dari kejaran Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong sekeluarga!

ooOOoo Tiang Le ketika mereka menghentikan larinya dan telah berteduh di bawah sebatang pohon yang rindang.

Angin siang berhembus menyejukkan.

Bwe Lan mengambil saputangannya dan mengusap keringat pada dahi dan lehernya.

Terasa nikmat sekali berada di tempat terbuka seperti ini.

Ia menundukkan mukanya dan dadanya berdebar mendengarkan suara halus Tiang Le barusan.

bagaimana Teringat subonya, Wang Ie tertunduk sedih.

ta tidak kembali Sahut Bwe Lan memandang jauh ke muka.

Tiang Le menoleh gadis di sampingnya.

h jatuh ke dalam jurang sukar sekali untuk diharapkan subo telah binasa, setidak-Wang Ie sambil menarik tangan kiri gurunya.

Tiang Le memandang muridnya, melihat bola mata Wang Ie penuh genangan air Tiang Le tidak menjahut, hanya tangan kirinya menyambar muridnya dan sekali menggerakkan tubuh bagaikan terbang mereka sudah berlari menaiki puncak mengambil jurusan dari barat daya.

Sepi sekali keadaan di puncak.

Tiang Le menurunkan Wang Ie dari gendongannya dan berkata kepada muridnya.

Wang Ie berlarian ke depan dan berdiri di tepi jurang, tangannya yang kecil Tiang Le dan Bwe Lan segera melongok ke bawah dan terdengar jeritan lirih dari Bwe Lan kaget.

Jurang itu demikian dalam.

Tebing-tebingnya menjulang tinggi mengelilingi sekitar tempat itu.

Jauh di bawah sana tidak kelihatan dasarnya, tertutup oleh halimun yang berasap membubung ke atas.

Jauh di sebelah kiri, pada bagian-bagian tepi yang tertutup oleh rumput-rumput hijau, terdapat air mancur yang menumpahkan airnya dari ketinggian.

Sedangkan di sebelah kanan nampak batu-batu cadas yang runcing menjulang ke atas merupakan mata pedang yang tertutup oleh kabut-kabut putih yang menyelimuti.

Dengan pandangan matanya, Tiang Le dan Bwe Lan mencari-cari kalau-kalau di tempat itu terdapat sesosok tubuh.

Akan tetapi mereka tidak melihat tubuh Pei Pei.

Andaikan Pei Pei terjatuh ke tempat di sebelah kiri dan kanan, tentu mereka dapat melihat jenazah atau tubuh gadis itu.

Di tempat itu, mereka tidak menemui Pei Pei.

-mati atau h -tengah entah bagaimana Wang Ie memandang jurang yang di tengah-tengah itu.

Jurang yang dikelilingi tebing-tebing tinggi dan tak kelihatan dasarnya karena tertutup oleh halimun.

Beberapa kali Bwe Lan menjambitkan batu ke mulut jurang itu, tiada mereka mendengar suara batu itu jatuh, mudah diduga betapa dalamnya jurang ini.

pipinya.

Melihat muridnya menangis hati Tiang Le menjadi pilu.

Ia memandang ke jurang dengan tatapan basah dan nanar.

-Bwe Lan tertunduk dan menitikkan air mata.

Sampai lama mereka berdiri di tepi mulut jurang itu.

Seakan-akan mereka bertiga itu sedang berdiri di tepi kuburan orang yang telah mati.

Mereka menganggap Pei Pei sudah terkubur hidup-hidup di mulut jurang itu.

Tipis sekali harapan mereka untuk dapat bertemu lagi dengan gadis malang itu.

Siapakah orangnya yang dapat menyelamatkan diri terjatuh ke jurang maut ini?

Tipis sekali untuk hidup, besar kemungkinan tubuh itu akan hancur terbanting dari ketinggian tebing ini dan batu-batu cadas tentu akan menyambut kedatangan tubuh Pei Pei yang meluncur dari atas.

Sungguh sangat mengerikan sekali.

Ada dua jam Tiang Le membuka matanya.

Sekali lagi ia memandang sayu ke arah permukaan jurang yang tertutup oleh halimun tebal.

Kemudian tangan kiri yang tinggal satu-Tiang Le menarik tangan muridnya untuk berlalu, akan tetapi begitu ia melihat Bwe Lan berdiri memandangnya seperti patung dan seperti orang kebingungan, ia berkata Ditanya begini Bwe Lan menjadi kikuk dan malu.

Ia jadi tertunduk dengan muka merah.

Dadanya berdebar-debar.

Sesungguhnya ia sendiri tidak tahu, hendak ke manakah ia kini?

Ia adalah murid Bu-tek Sianli, tempat tinggalnya dulu adalah di pulau Bidadari, akan tetapi sejak terjadinya bentrokan dengan gurunya itu dan telah kabur dari pulau, malah secara terang-terangan sudah menolong pemuda di depannya ini dan sampai berbulan-bulan itu ia membuntuti Tiang Le.

Kini, bagaimana ini, apa yang harus ia katakan?

Ia menjadi bingung.

Sampai lama ia tertunduk dengan muka merah saking malunya, baru ia dapat berkata perlahan, bingung.

Ia terus tertunduk.

ndang Bwe Lan yang tertunduk.

-tama karena.......

aku tahu bahwa kau selalu dikejar-kejar oleh guruku Bu-tek Sianli dan senang sekali aku telah -li-pay.......

hem.......

aku sudah tertarik sekali kepadamu, aku suka sekali dekat denganmu.

-niu-san dulu, karena depan Bu-tek Sianli bahwa aku hanya menyintaimu seorang dan tidak ingin kawin -tiba ia mengangkat mukanya memandang dan kini Tiang Le yang tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang menjadi pucat.

Teringat ia sekarang bahwa gadis ini telah mengaku terang-terangan di depan Bu-tek Sianli dan murid Sian-li-pay ini menyatakan cinta kepadanya.

Malah telah beberapa kali gadis ini telah menolongnya.

Pertama waktu di pulau Bidadari, dan di tebing pantai laut Po-hay.

Betapa gadis ini telah membuktikan kesetiaannya (baca Pendekar Lengan Buntung).

Melihat Tiang Le tertunduk, Bwe Lan masih dapat melihat wajah pemuda itu amat pucat.

Ia mengira bahwa pemuda ini masih menderita sakit bekas pukulan Bu-tek Sianli tadi pagi di puncak itu.

Maka ia cepat-cepat berkata, untuk merawatmu, biarlah aku merawat luka-lukamu dan mari kita kembali ke pulau bidadari.

Pulau itu sudah kosong dan tidak ditinggali lagi oleh guruku.

Kalau tidak keberatan biar kita berdiam di sana, sambil merawatmu sampai kau sembuh betul, Debaran jantung pemuda lengan buntung itu bertambah keras dan tidak enak hati dia melihat kebaikan gadis bekas murid Bu-tek Sianli ini, maka untuk menghilangkan rasa tidak enak dalam hatinya cepat-cepat ia berkata, betapa besar budi ini, aku tak akan melupakannya.

Terima kasih sekali lagi Nona, tak usah repot-ya kau sehat.

Harap kau tidak salah Mendengar kata-kata gadis ini, bukan main terharunya hati Tiang Le.

Akan tetapi ia bingung juga kalau menolak, kerena ia tahu kalau ia menolak, tentu ia akan melukai hati gadis yang baik hati itu.

Lagi, bukankah beberapa kali sudah gadis ini telah menolongnya.

Ia sungguh berhutang budi kepada gadis ini dan lagi, merah muka pemuda itu apabila teringat perkataan gadis ini, perkataan yang tegas menyatakan bahwa gadis itu menyintainya.

Hemm, untuk beberapa lama dada Tiang Le berdebar keras.

Dan segera ia menekan hatinya dan berkata, baikmu, harap jangan kau tumpuki lagi agar tidak terlalu sukar bagiku untuk membalasnya kelak.

-kali aku menolak budi baikmu ini Nona, akan tetapi, pada saat ini kami hendak kembali ke gunung Tiang-pek-san yang sudah begitu lama aku tinggalkan.

Dan aku akan meneruskan cita-cita mendiang suhu Swie It Tianglo, mendirikan partai Tiang-pek-pay yang sudah tercerai berai ini.

Biarlah lain kali, kalau memang kau berada di Mendengar ini Bwe Lan tampak berduka dan menundukkan mukanya.

sahutnya sedih.

hati dan ia memandang jauh ke depan.

Tiang Le dapat merasakan kepedihan hati gadis di sampingnya ini.

Ia memang sangat kasihan sekali kepada gadis ini.

Ia tahu bahwa setelah Bwe Lan dimusuhi olen Bu-tek Sianli tentu dia akan selalu terancam oleh bekas gurunya dan lagi ia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.

Apalagi setelah tahu bahwa gadis ini sudah tidak mempunyai keluarga sanak famili, tak tega sebetulnya Tiang Le membiarkan gadis yang begini cantik jelita mengembara seorang diri tanpa arah tujuan.

Akan tetapi tentu saja dia merasa tidak enak hati kalau mengeluarkan isi hatinya.

Maka dia menjadi bingung, kemudian dengan suara sedih dia menjawab, -pek--sama kami.

O Tentu saja Wang Ie menjadi girang sekali.

Cepat-cepat ia berkata dengan suara Tiang Le mengelus kepala muridnya dengan kasih sayang, kemudian ia menoleh iang-pek---pek-san, mengunjungi pondokku yang jelek, kayak kandang kambing.

Maklumlah keadaan di gunung......

tidak sama tent kau masih punya rumah, sedangkan aku.......

Sudahlah, mari kita berangkat.......

ah Wang Ie terus saja menggelendot di tangan suhunya.

Tiang Le menarik tangan muridnya dan sebentar itu pula ke tiganya telah menuruni puncak Ta-pie-san menggunakan gin-kang mereka yang tinggi sehingga bagi orang yang tidak mempunyai ilmu silat tinggi dan pandangan yang tajam hanya melihat dua sosok bayangan berkelebat dengan amat cepatnya laksana terbang!

ooOOoo Kita tinggalkan dahulu Tiang Le dan muridnya bersama Bwe Lan yang sedang menuju Tiang-pek-san yang letaknya limaratus lie jauhnya dari gunung Ta-pie-san, di sebelah Utara melewati sungai Sin-kiang yang terkenal di Tiongkok pada masa itu.

Dan sekarang marilah kita mengikuti pengalaman Pei Pei di jurang maut di puncak Ta-pie-san.

Sungguhpun Tiang Le menduga bahwa gadis itu tidak bakal selamat jatuh ke jurang ini, namun sesungguhnyalah bahwa kehendak Thian itu tiada seorangpun yang dapat menduganya.

Apalagi soal mati dan hidup seseorang hanya Thian Pencipta itulah yang memutuskannya.

Karena hanya Dia-lah yang berhak atas mati hidup seseorang di dalam dunia ini!

Demikianpun hal nya dengan Pei Pei.

Seperti telah diceritakan dalam bagian depan, betapa Pei Pei yang telah dibuat, marah atas kekerasan dan kekejaman Nenek Bu-tek Sianli menjadi nekat dan menjerit penuh kemarahan.

Pei Pei menerjang maju dan menggigit betis si nenek.

Keruan saja digigit betisnya Bu-tek Sianli menjerit kesakitan dan mengibaskan kaki kanannya yang digigit dan sekali kakinya bergerak menendang tubuh Pei Pei terlempar jauh dan menggelinding masuk jurang.

Amat keras sekali tubuhnya meluncur ke bawah, angin dingin mengiang di telinganya waktu tubuhnya meluncur dengan pesat ke bawah.

Ia merasakan kepalanya pening bukan main, dalam kagetnya itu ia masih berteriak keras memanggil nama Tiang Le, akan tetapi suaranya lenyap ditelan dalamnya dasar jurang yang penuh halimun ini!

Tubuh Pei Pei terus meluncur ke bawah dan sungguhpun pengalaman ini membuat nyawanya seakan-akan terbang dan semangatnya melayang namun kesadaran perempuan muda ini masih penuh.

Ia tidak mau pingsan malah menjerit keras memanggil-manggil Tiang Le, suara gemanya berpusing-pusing ke atas.

Saking kerasnya Pei Pei menjerit-jerit sampai habis rasanya suara dan tenggorokannya menjadi kering, ia memandang ke bawah.

Ngeri bukan main memandang ke bawah.

Kalau tadinya ia memandang ke bawah tak melihat apa-apa karena dasarnya jurang itu ditutupi oleh kabut tebal, kini ia melihat betapa jauh di bawahnya mencuat batu-batu gunung yang runcing-runcing siap hendak menyate tubuhnya.

Saking ngerinya pemandangan ini hampir pingsan rasanya karena sukar baginya untuk bernapas dan melihat pemandaugan yang mengerikan di bawah.

Sebentar lagi tubuhnya akan hancur diterima batu-batu yang runcing laksana mata pedang itu.

Pei Pei meramkan matanya!

Tak kuasa dia membayangkan kejadian apa yang bakal dialaminya nanti.

Ia siap untuk mati sekarang dalam keadaan tubuhnya yang terbawa luncuran cepat sekali itu!

Tiba-tiba ia merasakan pundaknya sakit dan tubuhnya seakan-akan dirobek menjadi dua, tersentak keras akan tetapi ia kini tidak melayang ke bawah lagi.

Ketika dia memandang, alangkah heran hatinya melihat seorang nenek tua renta telah berada di pinggiran tebing, dan telah mencengkeram pundaknya.

Ia kaget akan tetapi berbareng girang sekali, karena ia mendapat harapan untuk hidup.

Kalau ia terbanting ke bawah, tak dapat di sangkal lagi bahwa tentu akan mati dengan tubuh hancur lebur.

Kini di dalam cengkeraman nenek itu yang bersila di pinggir tebing ia mendapat harapan besar untuk hidup.

Terasa kini tangan yang kuat mencengkeramnya terangkat ke atas dan dengan mudahnya tubuhnya telah terlempar ke sebuah tempat tanah datar yang berukuran empat persegi.

Tahu bahwa nenek tua renta ini yang menolongnya segera saja Pei Pei berlutut dan berkata.

ya Pei Pei, menyatakan beribu-ribu terima kasih atas pertolongan Popo (nenek) begitu lancar dan sopan.

Si Nenek tertawa keras.

nerjunkan diri ke jurang maut ini, -berkata begitu Pei Pei berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

embah-nyembah begitu.

Aku hanya seorang ceritakanlah apa yang terjadi denganmu.

itu bukan saja kau yang mati, juga bayi di dalam perutmu itu akan mati pula hanya kasihan sekali bayi di dalam perutmu itu.

Eh sudah berapa bulan kau mengandung ketajaman mata nenek tua renta ini.

Padahal kandungan yang baru berjalan tiga bulan itu belum kentara benar.

Sungguh mengagumkan sekali nenek ini.

Ia memandang ke arah si nenek dan baru sekarang ia tahu bahwa nenek ini sudah begitu tua dan ke dua kakinya buntung sebatas dengkul.

Dahi dan pipinya sudah penuh kerut merut, giginya sudah ompong dan bibirnya yang berkerisut berwarna merah.

Tubuh nenek itu kurus kering, akan tetapi anehnya, berpakaian seperti seorang pelayan pembesar saja rapih dan bersih!

Sikapnya lemah lembut dan waktu berbicara dengan Pei Pei tadi sudah diduga bahwa dulunya nenek ini tahu akan tata bahasa yang tinggi.

Dan cukup sopan.

Melihat nenek tua renta ini sangat baik sekali dan amat ramah, Pei Pei tidak berlaku sungkan lagi.

Ia menghampiri nenek itu dan duduk di atas rumput yang hijau dan tebal.

n Bu-tek Sianli di atas tebing sana itu, Berkata demikian, Pei Pei teringat akan Tiang Le yang masih terlena pingsan di atas tebing.

Untuk sejenak ia memandang ke atas tebing.

Amat tinggi sekali dilihat dari bawah ini.

Akan tetapi ia tidak dapat menembusi tinggi tebing yang tertutup oleh kabut seperti awan biru yang menutupi ketinggian tebing di atas.

Dan waktu pandangannya melongok ke bawah, alangkah ngerinya pandangan di bawah ini.

Penuh dengan batu-batu cadas yang runcing dan hitam.

Akan tetapi di tempat ini bukan merupakan dasar jurang yang menyeramkan.

Masih di tengah-tengah lereng gunung Ta-pie-san yang terpisah oleh dalamnya dasar jurang.

Akan tetapi tempat ini merupakan tempat yang indah sekali.

Tidak berapa jauh dari tanah datar yang penuh dengan rumput hijau dan gemuk, terdapat sebuah mulut gua, agak gelap kelihatan dari tempat ini.

Tempat di sini cukup terang karena mendapat sinar matahari dari jurang di atas itu, sedangkan di sana sini penuh dengan pohon-pohon yang mengandung buah-buahan.

Tempat ini ternyata merupakan sebuah lereng bukit Ta-pie-san yang tak dapat didatangi orang karena terpisah oleh jurang amat curam dan tebing yang begitu tinggi.

Agaknya jalan satu-satunya untuk tiba di tempat itu hanyalah dari atas tebing itulah!

Untuk beberapa lama si nenek memandang perempuan muda yang bersimpuh di depannya.

Dan katanya.

ke atas.

o, di atas tebing itu yang terus menembus ke puncak Ta-pie-san adalah markas Ang-kin-kay-pang.

Saya bersama Tiang Le dan Wang Ie, pergi ke sana.

Eh, siapa tahu kami dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang tinggi besar itu.

Tiang Le saya lihat pingsan menghadapi orang tinggi besar.

Saya berusaha mencegah Bu-tek Sianli membunuh Tiang Le, enggak tahunya nenek itu kejam dan telah melempar saya ke -tek Sianli, rasanya pernah kudengar nama itu adalah bek Kemudian dengan singkat Pei Pei menceritakan pengalamannya bersama Tiang Le.

Nenek tua renta itu mendengarnya dengan penuh perhatian dan tertarik akan nasib gadis perempuan muda ini.

Ia merasa kasihan sekali, apalagi melihat kandungan tiga bulan di perut perempuan yang kelihatannya lemah lembut ini.

Maka diam-diam ia merasa bersyukur sekali kepada Tuhan yang telah memberikan seorang teman dalam kesunyian hidupnya seorang diri.

Berpuluh-puluh tahun ia menyendiri di tempat ini, tidak pernah bertemu dengan manusia.

Kini munculnya perempuan muda yang bernama Cia Pei Pei itu menyalahi kembali semangat hidupnya yang hampir padam.

Selesai Pei Pei menceritakan keadaannya, ia memandang nenek yang ke dua kakinya sudah buntung sebatas dengkul itu.

Lalu dengan suara iba bertanyalah dia, hidup saya yang bernasib malang ini.

Saya ceritakan sebenarnya kepada Popo yang saya anggap sebagai nenek saya dan sebagai penolong hidup.

Saya mendengar cerita Popo, sehingga sampai Popo menetap di tempat ini, sunyi ENDENGAR kata-kata perempuan itu, nampak wajah si nenek yang sudah penuh kerut merut itu bertambah mengerut dan menampakkan roman yang menyedihkan.

Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan suara pelan, muda, masih .

tak baik berdiam di tempat ini.

Angin sangat kencang, sebentar lagi salju akan turun dan tempat ini akan menjadi dingin seperti es.

empat tinggalku Niocu.

Mari kita masuk, jauh dari tempat itu.

Yang membuat Pei Pei heran, dengan sekali menekan tanah, tubuh nenek itu sudah mumbul dan mencelat ke dalam gua seperti terbang saja.

Padahal kakinya yang buntung sebatas dengkul itu tidak menginjak tanah.

Sungguh luar biasa!!!

Diam-diam Pei Pei girang hatinya.

Nenek itu bukan manusia biasa rupanya, tentunya ia mempunyai kepandaian yang tinggi pula, pikir Pei Pei sambil berjalan masuk ke dalam gua.

Tanpa takut-takut atau ragu-ragu dia memasuki gua itu dengan berjalan perlahan-lahan ke dalam.

Jilid 3 Ternyata gua itu mempunyai terowongan yang tidak begitu gelap seperti yang dilihatnya dari luar tadi.

Ia masuk terus dan setelah berjalan ada seratus tindak, ia tiba di sebuah ruangan yang cukup lebar dan berbentuk empat persegi.

Di atas sebuah batu yang sudah licin, nampak olehnya si nenek duduk di situ dan menggapaikan tangannya memanggil.

melihat batu-batu marmar yang tertimbun dengan rapih dan bersih.

Seluruh dinding kamar ini terbuat dari batu pualam yang dapat memantulkan cahaya sehingga nampak ruangan di sini tidak terlalu gelap, apalagi ditambah oleh cahaya matahari menerobos masuk lewat sebuah lubang seperti jendela, membuat kamar ini terasa nyaman.

Dan waktu ia melongok keluar lewat jendela yang terbuat dari batu, alangkah indahnya pemandangan di luar sana itu.

Jauh menjurus di depannya terdapat sebuah jurang yang amat dalam dan ditutupi kabut, di sebelah kiri terdapat sebuah lereng yang ditumbuhi oleh pohon-pohon dan rumah-rumah penduduk yang dari sini kelihatannya amat kecil berkotak-kotak sedangkan di sebelah kanan terdapat sebuah aliran sungai yang kelihatannya kecil melingkar-lingkar seperti ular.

Entah sungai apa yang panjang itu, ia menjadi kagum sekali.

-pie-san, Niocu, dan sungai Sin-kiang dapat kau lihat dari sini melingkar-lingkar seperti ular dan yang berkotak-kotak itu adalah dusun Ang-hwei yang terkenal di sepanjang sungai Sin-duduk di batu yang di sebelahnya.

Terasa dingin sekali batu hitam ini.

Pandangannya menyapu keadaan di sekitar kamar.

Ia melihat sebuah peti hitam dan sebuah pedang nampak tergantung di dinding kamar.

Pei Pei ingin bertanya, akan tetapi didengar Nenek itu berkata, tapaan dari Manusia setengah Dewa yang bernama Sui-kek Siansu.

Akan tetapi setelah penyerbuan orang-orang kang-ouw yang mencari-carinya, sehingga Sui--kek Sians itu.

-kek Siansu adalah seorang ahli silat yang maha sakti di jaman kerajaan Cin.

Ia adalah bekas panglima perang yang paling lihai ilmu perangnya, sehingga pada penyerbuan para suku bangsa Naiman yang pada waktu itu lebih besar dari suku bangsa Mongol dan menundukkan kerajaan Cin, panglima besar yang dulunya bernama Kok Ciang Tay-bangsa Naiman habis dibunuh oleh pangl kerajaan Cin diduduki oleh suku bangsa Mongol, Tay-ciangkun melenyapkan diri, dan sejak itu tidak pernah lagi didengar namanya.

Sepuluh tahun kemudian muncul seorang manusia yang amat sakti bernama Sui-kek Siansu.

Tak banyak tahu aku akan riwayatnya setelah itu karena buku sejarah yang pernah kubaca dan kini tersimpan dipeti hitam itu tidak habis kubaca seluruhnya karena banyak sekali kata-kata huruf kuno yang tidak kumengerti banyak.

hui Niocu bahkan tempat tinggal Sui-kek Siansu ini, lihatlah di sekelilingnya penuh dengan ukiran gambar-gambar orang bersilat yang kurasa ditulis oleh manusia setengah dewa itu.

Aku hanya baru tiga bagian saja yang pernah kupelajari mengingat usia yang sudah hampir masuk kubur, untuk apa kupelajari sampai tamat, maka itu hanya tiga bagian saja aku mengerti.

dinding sebelah kirinya.

Pei Pei dengan hati tertarik mengusap-usap dinding yang terbuat dari batu marmer.

Dan benar saja, di setiap dinding tertera gambar-gambar orang sedang berlatih silat.

Tahulah Pei Pei sekarang, pantesin Nenek ini kelihatannya mempunyai kepandaian tinggi.

Tidak tahunya Nenek itu mempelajari tiga bagian dari gambar-gambar ini.

Hebat!

-gambar yang terukir pada dinding-dinding itu adalah sebagian dari ciptaan ilmu silat Sui-kek Siansu yang bernama Thian-te Bu-tek-cin-keng, ilmu silat yang merupakan pusaka dari Manusia tetapi sifat kegagahan dari ayahnya menurun.

Perempuan muda itu tertarik sekali dan mengusap-usap tangannya pada dinding batu itu sehingga gambar-gambar yang tadinya kurang jelas tertutup abu kini bertambah nyata dan terang dan huruf-huruf yang terdapat di bawahnya, dapat dibaca oleh Pei Pei.

Akan tetapi begitu ia teringat akan Nenek yang kedua kakinya buntung dan belum tahu siapakah nenek itu, maka buru-buru ia berkata sambil menghampiri tempat duduk pada sebuah batu hitam di sebelah kiri si Nenek.

memperkenalkan namanya.

Pei Pei duduk di sebelah kiri si Nenek sambil memandang wajah yang sudah amat tua itu dan yang mendatangkan rasa iba dihatinya.

Dan ia memasang telinganya mendengar cerita Nenek yang bernama Bong Kwi Nio yang katanya cuma sebagai seorang pelayan saja.

Benarkah Bong Kwi Nio ini hanya sebagai seorang pelayan?

Dan siapakah dia sesungguhnya?

Untuk mengetahui riwayat Nenek ini, baiklah kembali mengenang masa limapuluh tahun yang lalu.

ooOOoo Pada masa itu adalah masa jaya pemerintahan kerajaan Beng-tiauw yang dikuasai oleh bangsa Mongol, jaman keemasan dimana bangsa Mongol dipimpin oleh seorang pemimpin besar yang bernama Jenghis Khan, kerajaan Mongol.

Dengan amat cepatnya mulai menjelajahi wilayah Tiong-goan.

Kotaraja sudah ditaklukkan dan dipegang oleh seorang kaisar keturunan Han, meskipun kota raja pada waktu itu telah dalam jajahan bangsa Mongol namun pemerintahan tetap dipegang oleh orang-orang Han dalam awasan Mongolia.

Pada jaman itu yang menjadi kaisar adalah raja muda Yung Lo, orang Han yang paling pintar memegang tampuk pemerintahan sehingga meskipun dalam jajahan Mongol, namun di bawah pimpinan Kaisar Yung Lo yang cerdik dan bijaksana, terasa sekali oleh rakyat betapa tenteram dan damai hidup bangsanya.

Makanan berlimpah-limpah didatangkan dari negeri Mongol dan Afganistan.

Ke dua suku bangsa ini saling menukar kebudayaan masing-masing sehingga Tiongkok jajahan Mongol pada waktu itu mengalami jaman keemasan.

Rakyat hidup makmur, berlimpah sandang dan pangan!

Siapakah yang tidak akan bahagia hidup dalam jaman seperti ini?

Raja muda Yung Lo terkenal sekali dan dipuji-puji oleh bangsanya, suku bangsa Han.

Kaisar Mongol sendiri yakni Jenghis Khan pernah memberikan tanda jasa kepada raja muda itu.

Di mana-mana rakyat memujinya.

Rakyat hidup tenteram dan damai, bukankah itu yang menjadi tujuan setiap negara, walaupun kendati negaranya dalam jajahan sekalipun?

Namun di antara ribuan rakyat Tionggoan yang memuja-muja raja muda Yung Lo ini, bukan sedikit ada di antara mereka yang menaruh iri hati dan cemburu atas kemajuan raja muda itu.

Apa lagi pembesar-pembesar di Kotaraja sudah barang tentu menjadi kekie bukan main atas pengawasan yang ketat dari kaisar Yung Lo sehingga bagi mereka tidak ada lagi kesempatan untuk korupsi dan menggendutkan perutnya.

Karena inilah mereka itu tidak puas sekali akan pimpinan yang bijaksana dan jujur dari Kaisar, sehingga dengan diam-diam mereka ini mulai menjalani aksi menentang.

Dan baru mereka ini menyatakan tindakan yang terang-terangan setelah datangnya pemberontakan-pemberontakan dari bangsa Han yang tak puas negaranya dalam jajahan.

Bertahun-tahun lamanya pemberontakan berlangsung dan pada akhirnya Kaisar Yung Lo membunuh diri dengan sebilah pedang kerajaan di atas puncak gunung Tay-san.

Kaisar ini merasa sedih dan kecewa akan pemberontakan yang bodoh dan mudah saja ditunggangi oleh beberapa golongan yang sengaja mendesas desuskan bahwa mereka tidak sudi selalu di dalam jajahan.

Negara Tiong-goan (Tiongkok pedalaman) harus berdiri sendiri dan tidak dalam jajahan orang lain!

Akan tetapi di antara para pembesar yang kontra terhadap Raja muda Yung Lo, ada juga di antaranya pembesar-pembesar yang setia kepada Raja muda itu, di antaranya para pembesar Tan Kay Beng atau biasa dikenal dengan sebutan Tan-tayjin.

Orang inilah yang paling setia.

Dan pada waktu pemberontakan terjadi dan kaisar Raja muda Yung Lo melarikan diri, pembesar ini pula yang dapat menyelamatkan peta rahasia peninggalan harta kerajaan dan disimpannya baik-baik.

Akan tetapi entah siapa yang memberitahukan tentang peta itu, sehingga orang orang jahat yang menghendaki pusaka peninggalan Raja Muda Yung Lo mulai mendatangi Tan-tayjin.

Orang-orang jahat yang berkepandaian itu, pada suatu malam menyerbu rumah Tan-tayjin.

Membunuh Tan-tayjin beserta seisi rumahnya.

Namun peta pusaka Raja Muda Yung Lo tidak dapat mereka ketemukan.

Tentu saja peta itu, sudah siang-siang telah dibawa lari oleh pelayan Tan-tayjin yang bernama Kwi Nio!

Pelayan yang tua ini lalu menyembunyikan diri di sebuah dusun di kaki Ta-pie-san bertahun-tahun lamanya sedangkan peta itu sudah dibakar habis.

Namun kaisar baru, mendengar berita ini, segera mencari Bong Kwi Nio dan menghukumnya dengan membuntungi kedua kakinya dan kemudian dilemparkan ke jurang maut di atas puncak gunung Ta-pie-san!

Akan tetapi karena nyawa masih betah tinggal di dalam tubuh Bong Kwi Nio, pelayan itu tidak mati jatuh ke jurang malah secara kebetulan jatuh ke tempat tanah datar yang penuh dengan pasir-pasir halus.

Sehingga pada waktu tubuh Bong Kwi Nio terbanting jatuh, ia hanya jatuh pingsan saja berhari-hari dan nyawanya tertolong!

Malah secara kebetulan sekali aku jatuh ke tempat ini dan menemukan tempat pertapaan Sui-kek Siansu dan telah mempelajari pula sedikit ilmu silatnya dari dinding-Berkata demikian Nenek itu menarik napas panjang dan memandang Pei Pei dengan kuatir, terkubur hidup---hidup karena tiada jalan bagi kita untuk kembali ke dunia ram mempunyai nasib seperti aku terkubur hidup--tiba Nenek itu menangis sedih.

Mendengar kata-kata si Nenek barusan, baru teringatlah ia sekarang bahwa dirinya berada di tempat yang terpisah oleh dunia ramai.

Tak mungkin dia kembali ke dunia dengan tebing-tebing tinggi!

Tak ada jalan keluar!

Untuk naik keluar dari jurang itu, biarpun orang memiliki kepandaian tinggi, kalau dia tidak bersayap, tak mungkin dapat keluar dari tempat ini.

Jangan keluar dari lereng ini tidak ada karena lereng itu dikelilingi oleh jurang-jurang yang amat curam.

Pendeknya, tempat ini merupakan neraka yang memisahkan Pei Pei dan Bong Kwi Nio dari dunia luar.

Tak ada jalan keluar bagi mereka yang jatuh ke tempat ini!

Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 2

Baca Juga: Rahasia Iblis Cantik Gu Long

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger