Eps 2 Istana Hantu - Kim Tiaw
Baca online Istana Hantu - Kim Tiaw
Cersil Istana Hantu - Kim Tiaw.
Pei Pei menjadi bingung dan baru sekarang dia menyadari bahwa ia terjatuh ke tempat yang merupakan petaka baginya.
Pei Pei terharu sekali melihat perhatian nenek ini terhadapnya, maka iapun telah dari dunia luar, tak mu Teringat kandungannya Pei Pei menjadi gelisah.
Ia tahu bahwa dia bakal melahirkan dan kalau tidak bisa keluar dari sini.
Celaka!
Ia akan mati bertiga terkubur hidup-g uhh, saking bingungnya Pei Pei menangis tersedu-sedu di pangkuan si Nenek.
Dielus begini dengan kasih sayang oleh si nenek Bong Kwi Nio, bertambah deras air mata Pei Pei!
tangisnya reda.
Bong Kwi Nio memandang perempuan muda itu dengan rasa kasih sayang -keadaannya yang seperti di neraka ini akhirnya ia jatuh pingsan di atas batu di dalam pelukan Bong Kwi Nio!!!
ooOOoo Setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu, akhirnya Tiang Le dan Bwe Lan sampai di kaki gunung Tiang-pek-san yang tinggi dan penuh dengan hutan belukar liar.
Karena bukit ini sukar sekali didaki, karena tidak ada jalan maupun lorong menuju ke atas, maka dengan menggunakan gin-kangnya yang tinggi, Tiang Le menggendong Wang Ie berlompatan dari jurang ke jurang dengan diikuti oleh Bwe Lan sehingga kedua orang itu merupakan bayangan yang berkelebat ke sana kemari dengar gesitnya melompati jurang-jurang yang curam dan lebar.
Kalau mereka tidak memiliki gin-kang yang sempurna akan berbahaya sekali melakukan perjalanan seperti ini.
Sekali saja kaki terpeleset dan terjungkal masuk jurang, tak ada ampun lagi, jiwa akan melayang dan tak dapat diharapkan lagi untuk hidup!
Hutan yang penuh dengan jurang-jurang yang curam dan lebar ini merupakan bagian Pegunungan Tiang-pek-san di sebelah Barat Daya dan merupakan daerah yang jarang sekali diinjak oleh kaki manusia.
Sebetulnya Tiang Le tahu jalan-jalan yang mempunyai lorong yang terus menembus ke puncak, yaitu melalui arah selatan, akan tetapi sangat jauh sekali dari sini dan memakan waktu yang cukup lama.
Oleh sebab itulah sengaja Tiang Le memotong jalan melalui arah Barat Daya sehingga perjalanan dapat dipercepat dan dua jam kemudian Tiang Le bertiga telah sampai di puncak pegunungan Tiang-pek-san!
Sungguh indah sekali pemandangan di tempat ini.
Sinar matahari bersinar lemah di sebelah Timur Laut mendatangkan warna yang indah mentakjubkan karena sinar matahari yang bersinar lemah menembus halimun yang sudah mulai menurun.
Melihat bahwa mareka sudah sampai di atas puncak gunung, segera bocah dalam gendongan Tiang Le merosot turun dan berlari-lari menghampiri sebuah bangunan tua yang menjulang tinggi.
Itulah markas partai Tiang-pek-pay.
Akan tetapi pandangan Tiang Le dan Bwe Lan yang sudah terlatih dan tajam dari kejauhan sudah terlihat olehnya dua orang kakek duduk berhadapan di serambi muka di bawah sebatang pohon siong yang besar yang terdapat di depan rumah itu.
Ketika Tiang Le dan Bwe Lan mendekat, ternyata kedua orang kakek itu sedang enak-enak bermain catur.
Keadaan kedua kakek yang sudah amat tua sekali usianya itu, sangat aneh sekali dan tidak pernah dikenal oleh Tiang Le dan Bwe Lan.
Yang seorang adalah seorang tua yang berusia sedikitnya tujuhpuluh tahun usianya, bertubuh kurus tinggi dan rambutnya yang putih sebatas pundak itu beriap-riapan.
Berpakaian seperti seorang pertapa, terbuat dari kain putih sederhana dan bersih.
Sambil duduk ia memperhatikan papan caturnya, sering menggaruk-garuk kepala seakan-akan di atas kepalanya banyak terdapat kutu rambut yang gatal.
Juga kakek yang seorang lagi tak kalah anehnya.
Usianya juga hampir sebaya dengan kakek di depannya, berpakaian sederhana pula seperti pakaian yang biasa dipakai oleh seorang nelayan, di atas kepalanya terdapat topi pandan yang lebar.
Wajahnya meskipun meskipun sudah kelihatan tua akan tetapi kocak seperti kanak-kanak.
Apalagi waktu kakek itu melirik ke arah biji-biji catur dihadapannya.
Mata yang masih bening tajam itu persis sekali seperti mata kanak-kanak yang jenaka, sedangkan mulutnya yang sudah penuh kerisut-kerisut itu mengoceh terus panjang pendek.
rajamu sudah terkurung oleh perdana menteriku yang perkasa, hendak melarikan diri -Suara kakek pertapa itu keras dan nyaring menyatakan kegirangan hati sambil memperhatikan terus sang perdana menterinya yang mengurung raja.
ke kiri, sambil berkata demikian kakek yang berpotongan seperti seorang nelayan itu menggerakkan sang raja mundur ke kiri melenyapkan diri dari ancaman sang perdana menteri lawan yang menyekak.
Untuk beberapa lama, si kakek pertapa termenung sejenak setelah sang raja berlindung di balik prajuritnya.
Ia bisa saja makan pion itu akan tentu saja di bunuh oleh Raja yang bersembunyi di balik perajuritnya.
Rugilah ia kalau kematian prajurit lawan ditukar oleh perdana menteri yang perkasa ini.
Maka sebab itu diurungkannya untuk mencaplok perajurit dan berdiam diri mengawasi biji-biji caturnya mencari siasat lagi.
Kedatangan Bwe Lan, Tiang Le dan muridnya tidak diperdulikan oleh kakek aneh itu.
Tiang Le dan Bwe Lan yang berpandangan tajam dapat mengetahui siapa kedua orang kakek ini.
Ia tidak mengenal kakek pertapa itu, akan tetapi ia pernah melihat kakek yang berpakaian nelayan.
Pernah ia bertemu sekali di pulau bidadari dan malah pernah menolongnya juga dari ancaman Bu-tek Sianli dan kawan-kawannya.
Memang kakek yang mempunyai mata kocak seperti mata kanak-kanak itu adalah Koay Lojin.
Orang tua aneh yang berilmu tinggi dari Fu-niu-san.
Sedangkan kakek pertapa itu adalah Seng Thian Taysu saudara seperguruan dari mendiang Swie It Tianglo di puncak pegunungan Hong-san.
Seperti telah dituturkan dalam cerita Pendekar Lengan Buntung, Seng Thian Taysu ini adalah saudara seperguruan dari mendiang Swie It Tianglo, guru Tiang Le atau tepatnya ketua partai Tiang-pek-pay.
Akan tetapi ketua Tiang-pek-pay ini binasa oleh Sianli Ku-koay, Te Thian Lomo dan Bong Bong Siangjin.
Dan semenjak itu, hancurlah partai Tiang-pek-pay, ke lima orang murid mendiang Swie It Tianglo tercerai berai, hanya seorang saja yang bernama Song Cie Lay yang dapat bertemu dengan Seng Thian Taysu dan diambil sebagai muridnya, akan tetapi iapun tertawan di lembah Tai-hang-san oleh tentara Mongol (baca Pendekar Lengan Buntung).
Mengenal bahwa seseorang diantara kedua kakek itu adalah Koay Lojin, yang pernah diketemuinya.
Maka Tiang Le dan Bwe Lan berlutut di hadapan ke dua orang anpwe ini adalah Koay Lojin dari Fu-niu-san yang terkenal berkunjung ke Tiang-pek-Setelah menggerakkan biji caturnya ke depan Koay Lojin menoleh dan tertawa girang.
ini.
Eh, toyu, dia ini murid ketiga mendiang Swie It Tianglo yang telah menggemparkan -ha-ha!
-main sebentar denganmu dan kepingin sekali ku menyaksikan kelihaian ilmu silat buntungmu yang kabarnya telah mengobrak abrik Sian-li-pay dan antek-anteknya.
berdiri dan meraih dayung besarnya yang terletak di sampingnya.
ang muda tidak berani berlaku kurang ajar.
Dan maaf kami terlambat datang ke puncak ini hingga tidak dapat menyambut jiwi locianpwe in ngerasain kelihaian Tok-pik-kiam-Seng Thian Taysu yang tertarik akan kedatangan pemuda lengan buntung yang dikabarkan orang telah menggemparkan dunia persilatan.
Memang sudah lajim pada masa itu, para orang tua gagah paling gatal tangan apabila mendengar seorang yang masih begini muda akan tetapi telah menggemparkan dunia persilatan, apalagi orang muda itu buntung lengannya.
Sungguh merupakan kejadian yang menggirangkan bagi kedua orang tua ini untuk mencobanya.
Kalau belum mencoba, rasanya masih penasaran.
Mendengar perkataan Seng Thian Taysu tadi yang tahu-tahu telah mencabut pedang yang berkilat-kilat tertimpah cahaya matahari itu, Tiang Le yang tidak pernah bertemu dengan orang tua ini menjadi heran datang-datang hendak mengujinya.
Maka dengan menjura sekali lagi pemuda itu berkata, -ha-yang kocak melirik ke arah Seng Thian Taysu sehingga murid mendiang Swie It Tianglo tidak mengenal engkau, dasar engkau yang h susiokmu, karena dia adalah sute dari mendiang gurumu Swie It Tianglo dari Hong-san!
Hong-san.
Apakah selama ini susiok baik-Tentu saja Tiang Le sering kali mendengar nama susioknya di masa suhunya Swie It Tianglo masih hidup.
Akan tetapi karena memang ia tidak pernah bertemu dengan Seng Thian Taysu, tentu saja Tiang Le tadinya tidak mengenal, bahwa pertapa dihadapannya ini adalah susioknya.
Segera saja Tiang Le berlutut dengan diikuti oleh Bwe Lan dan muridnya.
tajam ke arah Bwe Lan yang tengah tunduk.
-Bu-Tahu-tahu Koay Lojin menggerakkan dayungnya menghantam kepala Bwe Lan.
Suara angin mengaung waktu dayung yang besar dan berat itu menyambar angin karena dengan miringkan sedikit kepala Bwe Lan telah dapat menghindarkan diri dari sambaran dayung Koay Lojin.
Memang ia dulunya adalah muridnya Bu-tek Sianli, akan tetapi sekarang tidak lagi, Untuk sesaat ke dua kakek itu tidak bergerak, hanya memandang Bwe Lan dengan maaf kepadamu, karena aku telah lancang ke sini mengganggu permainan catur kalian Pada saat itu Wang Ie telah mendatangi tempat itu sambil membawa beberapa buah yang masak-masak dan lezat nampaknya karena kulitnya yang kuning kemerah-merahan itu menandakan bahwa buah-buah itu matang di atas pohon.
Bocah ini begitu tadi dilihatnya di depan rumah itu banyak sekali pohon-pohon buah yang masak-masak dan lezat, terus saja memanjat dan memetik buah ang-co dan membawanya kepada mereka yang sedang berdiri berhadapan.
Waktu Koay Lojin menoleh dan melihat buah-buah yang masak di tangan bocah itu keruan saja ia tertawa girang dan menggapaikan tangannya.
makan.
Eh, bocah bag -tahu dua buah ang-co telah terbang melayang ke tangan si kakek dan terus saja menggerogotinya dengan enak.
-ha-n Taysu juga berkata dan menghampiri Wang Ie mengambil sebuah dari tangan si bocah itu.
-apa!
Permainan catur Sambil makan buah, kedua kakek itu memandang kepada Tiang Le.
aku telah mendengarnya ini.
Kau hebat, kalau seandainya suheng Swie It Tianglo masih Seng Thian Taysu.
cabut pedangm -katanya itu ditutup oleh gerakan pedang yang memutar dan telah menyerang Tiang Le dengan hebat.
in berkata mengirim terjangan dayungnya yang amat berat dan besar.
Suara angin berciutan waktu dayung di tangan Koay Lojin menyambar-nyambar.
Sementara pedang Seng Thian Taysu berkelebat-kelebat laksana kilat menyambar.
Kedua orang kakek itu benar-benar menyerang Tiang Le dengan gerakan-gerakan yang hebat dan kuat.
Mereka ini sudah mendengar kelihaian pemuda lengan buntung, maka mereka kini tidak sungkan-sungkan lagi melancarkan serangan-serangan maut ke arah Tiang Le yang sudah didengar kelihaiannya, kini benar-benar mereka dihadapkan oleh kenyataan yang sebenarnya.
Sampai duapuluh jurus mereka bertempur mendesak Tiang Le, namun pemuda ini hebat bukan main.
Gerakan-gerakan kaki pemuda buntung itu luar biasa sekali cepat dan anehnya.
Inilah gerak langkah-langkah ajaib yang bernama Ji-cap-it-sin-po.
Koay Lojin menjadi gemas sekali dan kagum setelah beberapa lama belum juga dapat menjatuhkan Tiang Le yang benar-benar memiliki ilmu silat yang tinggi.
Baru saja hanya dengan tangan kosong mereka belum dapat mengalahkan pemuda apa lagi kalau pemuda buntung ini menggunakan pedangnya.
Sungguh luar biasa.
Pada hal pemuda itu dikeroyok oleh dua orang yang sudah mencapai tingkat tinggi ilmu silatnya.
Seng Thian Taysu adalah seorang pertapa di puncak Hong-san yang berilmu tinggi, dan telah menciptakan ilmu pedang yang disebut Cap-ji Liong-sin-kiam-hoat atau duabelas jurus ilmu pedang naga sakti.
Sedangkan Koay Lojin bukanlah orang sembarangan, dia itu adalah kakek dari Fu-niu-san yang telah menciptakan ilmu tongkat yang disebut Fu-niu-san-tung-hoat yang hebat bukan main.
Kini menghadapi Tiang Le, mereka menjadi kagum dan heran!
Merasa bahwa pemuda lengan buntung ini benar-benar lihai, tiba-tiba Seng Thian Taysu, merobah gerakan pedangnya.
Ia mainkan jurus-jurus terlihai dari Cap-ji-liong-sin-kiam-hoat yang jarang digunakannya itu.
Dan sambil berseru keras tiba-tiba ia merobah gerakan pedangnya yang digunakan untuk menyerang sambil melompat ke atas.
Gerakan ini memang hebat dan tidak terduga sama sekali, dan ketika Tiang Le mencelat pula ke atas mengirim serangan tangan kiri dengan gerak tipu Elang Sakti Menyambar Mangsa.
Tangan kiri Tiang Le bagaikan geledek mengibas ke arah datangnya sabetan pedang Seng Thian Taysu.
Sementara kedua kakinya menendang dayung di tangan Koay Lojin.
angin kibasan lengan baju tangan kirinya Tiang Le, sedangkan dayung di tangan Koay Lojin mental oleh sepakan ke dua kaki kanan dan kiri Tiang Le waktu di udara.
Thian Thaysu berteriak keras menyuruh pemuda lengan buntung itu menggunakan pedang.
kami dapat puas dan Kini ia telah melemparkan dayungnya yang tadi terpental oleh tendangan Tiang Le dan telah mencabut tongkat kecilnya yang terselip di pinggang.
Sekarang ia mainkan Fu-niu-san-tung-hoat dengan hebat dibantu oleh tongkat kecilnya yang terbuat dari cabang pohon yang luar biasa alot dan kuatnya.
Tadinya Tiang Le segan untuk menarik pedang, akan tetapi setelah mendengar kata-kata Seng Thian Taysu dan Koay Lojin barusan.
Dan merasa bahwa kedua orang kakek ini tidak begitu mudah untuk dirobohkan maka dengan bentakan keras tahu-tahu pedang di tangan kiri Tiang Le dan berkelebat menangkis pedang Seng Thian Taysu.
tahu-tahu Seng Thian Taysu berseru kaget mengetahui pedangnya sudah somplak terkena benturan pedang buntung Tiang Le.
Matanya yang tajam ke arah pedang buntung di tangan pemuda itu dan berseru heran, -cu-hut Tiang Le mengetahui pedang susioknya menjadi somplak oleh benturan pedang tadi.
mendesak dengan tongkatnya.
Kini menghadapi tongkat Koay Lojin yang kadang-kadang lunak dan kadang-kadang keras seperti baja, pedang di tangan Tiang Le tidak dapat merusak tongkat yang alot dan kuat itu.
Maka setelah merasa cukup lama dia melayani kedua orang tua aneh ini, maka tiba-tiba Tiang Le menggunakan jurus terlihai dari Tok-pik-kiam-hoat.
Dan kembali Koay Lojin dan Seng Thian Taysu dibuat kaget oleh tipu silat ilmu pedang yang aneh ini, dan untuk kedua kalinya Koay Lojin mengelak dan menghindarkan luncuran pedang di tangan Tiang Le yang bergerak dari atas merupakan sambaran yang hebat bagaikan burung garuda menerjang dari angkasa.
Akan tetapi Koay Lojin mengelak dan menghindarkan luncuran pedang, tahu-tahu tangan kiri Tiang Le telah menyelipkan pedangnya dan membalas dengan serangan gerak tangan kilat yang penuh hawa sin-kang tinggi.
ubuh Koay Lojin tergetar hebat.
Sebaliknya Tiang Le terhuyung-huyung dan cepat-cepat ia bersila mengerahkan hawa sin-kang karena merasa dadanya tergetar akibat benturan dengan tongkat si kakek Koay Lojin.
Setelah beberapa menit rasa sesak di dadanya lenyap, cepat-cepat Tiang Le berdiri dan menjura ke arah Koay Lojin.
-ha-ha, Tiang Le, bukan engkau yang kalah melainkan aku inilah yang harus mengakui keunggulanmu.
Hemm, sungguh Pendekar Lengan Buntung bukan nama kosong belaka.
Toyu aku mengaku kalah oleh murid Swie It Tianglo dan mengakui berdirinya partai Tiang-pek-pay atas pimpinan pemuda lengan buntung ini.
Selamat Berkata demikian sekali menggerakkan tubuhnya tahu-tahu Koay Lojin telah lenyap -ha-mengirim suara jarak jauh sehingga sehabis itu, orang tua itu berkata kepada Tiang Le, tandingan pada masa kini.
Entah dari mana kau mendapatkan ilmu pedang yang luar tahui -pengalaman hidupnya kepada Seng Thian Taysu.
Diceritakan pula betapa ia pernah bertemu dengan Song Cie Lay, suhengnya.
Akan tetapi sejak pertempuran dengan perwira-perwira Mongol di lembah Tai-hang-san itu, sejak itu tidak pernah ia ketemuinya lagi.
Ia menjelaskan pula tentang matinya sumoay Sian Hwa waktu melerai perkelahian antara Bwe Hwa dengan Kong In.
Kong In juga mati di tangan Bu-tek Sianli sedangkan Bwe Hwa sumoaynya pergi entah ke mana.
T'entu saja kepada susioknya ini ia sama sekali tidak menceritakan tentang hubungannya dengan Bwe Hwa sehingga gadis itu pergi dan tak muncul lagi.
Sedangkan tentang suhengnya yang bernama Song Cie Lay itu ia tak tahu kemana perginya!
kau seorang yang telah kembali ke Tiang-pek-san maka aku bermaksud untuk meminta kesediaanmu untuk melanjutkan cita-cita mendiang gurumu mendirikan partai Tiang-pek-pay.
atas pundakmu, karena hanya kepadamulah yang boleh diandalkan tentang kelangsungan partai Tiang-pek--pek-pay.
Mohon petunjuk susiok, apa yang harus teecu lakukan, karena dalam soal ini tee aku ke dalam.
Di dalam telah menanti anak buah Tiang-pek-pay yang dulu masih dapat menyelamatkan diri dan sekarang bersedia menggabungkan diri kembali.
Marilah Tiang ruang dalam.
Tiang Le dan muridnya dengan diikuti Bwe Lan memasuki ruangan dalam yang ternyata di situ ada kira-kira duapuluh orang bekas anggota Tiang-pek-pay yang sempat melarikan diri dan tidak binasa.
Tentu saja Tiang Le menjadi girang sekali dan mengenal orang-orang ini.
Maka bagitu ia sampai di ruang dalam segera ia mengangkat tangan kirinya menjura hormat.
Akan tetapi ia menjadi kaget ketika ke duapuluh orang yang sudah tua-tua itu berlutut di depannya.
-Keruan saja Tiang Le menoleh kepada Seng Thian Taysu..-saudara bangunlah.
Aku Sung Thiang Le tidak patut mendapat berlutut paling depan dihadapannya.
-cu.
Sudah lama kami menanti-berkata orang itu dengan ramah dan hormat.
Tentu saja Tiang Le mengenal orang tua yang tidak lebih berusia hampir limapuluh tahun, tubuhnya agak kurus dan bongkok.
Berpakaian sederhana berwarna putih dan ikat pinggang merah.
Orang tua ini bernama A Toan yang berhasil membujuk limapuluh orang-orang Tiang-pek-pay dan mengungsikan diri pada waktu kemunculan Bong Bong Sianjin dan dua orang kawannya yang lihai!
Sengaja memang Swie It Tianglo menyuruh A Toan membawa ke limapuluh orang teman-temannya untuk turun gunung, karena ia tahu bahwa kemunculan Bong Bong Sianjin merupakan kehancuran partainya.
Dan ia tidak mau mengorbankan banyak anak buahnya, sebab itulah ia menyuruh A Toan pergi dan sejak itu tercerai berailah anggota Tiang-pek-pay.
Ada yang setia kembali ke puncak dan mengurus makam gurunya yang telah binasa di tangan musuh.
Ada pula sebagian yang tidak kembali ke puncak dan berdiam di pantai menjadi nelayan, dan ada juga yang menjadi piauwsu dan pada waktu kedatangan Seng Thian Taysu dua hari yang lalu hanya ada sekitar duapuluh orang saja yang kembali ke puncak!
--sehat saja di tempat ini dan manakah saudara--orang yang berdiri di depannya.
A Toan menjura, -cu, mareka ini adalah yang masih setia akan Tiang-pek-pay dan telah berjanji untuk kembali ke sini, sedangkan banyak saudara-saudara yang lain k anggotanya.
Akan tetapi, kesetiaan itulah syarat utama.
-kawan sekalian, aku tidak berkeberatan kalian angkat menjadi ketua.
Memang tadinyapun aku bermaksud ke tempat ini untuk mendirikan Tiang-pek-pay.
Siapa kira belum apa-apa susiok me -cu, sekarang marilah kita adakan acara pengangkatan ketua.
Di ruang belakang kami sudah sedia memasang meja sembahyang di depan makam suhu Swie It Tianglo.
Mari kita ke ruang belakang Pay-Tiang Le, Bwe Lan dan Wang Ie mengikuti mereka ke ruang belakang.
Ternyata di ruang belakang terdapat sebuah bong-pay batu nisan yang terawat baik.
A Toan dan orang-orang itulah yang merawatnya dengan setia.
Dan pada batu di depan nisan mendiang Swie It Tianglo itu telah tersedia pula makanan dan kertas sembahyang yang terletak di atas meja sembahyang di depan sebuah nisan.
Sampai di tempat ini ke duapuluh orang anggota Tiang-pek-pay berlutut di depan meja sembahyang diikuti pula oleh Tiang Le dan Bwe Lan, sedangkan Seng Thian Taysu hanya berdiri menundukkan kepala seperti orang mengheningkan cipta.
Lalu ada seperempat jam kemudian terdengar Seng Thian Taysu membuka suara, bernama Sung Tiang Le dan disebut orang Pendekar Lengan Buntung.
Karena hanya ia seorang di antara ke lima muridmu yang telah kembali pulang ke puncak gunung, maka atas persetujuan murid-muridmu yang lain di bawah saksi A Toan, telah mengangkat pemuda lengan buntung ini untuk meneruskan cita-citamu memimpin partai.
Sekarang Kemudian dengan gerak tangannya, ia mempersilahkan Tiang Le berlutut di depan meja sembahyang.
Tiang Le menggeser berlututnya dan merangkak ke depan.
Lalu dengan suara yang perIahan dan jelas berkatalah, memberikan kekuatan lahir dan bathin untuk meneruskan cita-citanya suhu mendirikan partai Tiang-pek-Taysu berkata dengan suara yang setengah berbisik, akan tetapi jelas terdengar di telinga Tiang Le sehingga orang muda lengan buntung yang berlutut itu berkata.
rhadap partai dan untuk ini mempertaruhkan nyawa teecu demi bakti terhadap Tiang-pek-Demikianlah, setelah Tiang Le bersumpah di depan batu nisan mendiang Swie It Tianglo dan memasang hio, ia lalu menerima pedang Tiang-pek-kiam yang diserahkan oleh A Toan kepadanya.
Sebetulnya pedang itu adalah milik mendiang Swie It Tianglo yang dititipkan pada A Toan, Gurunya itu pernah memesan, -baik.
Kalau aku binasa kau pergilah dengan pedang ini.
Hanya kepada ke lima orang murid-muridku itulah kugantungkan harapan.
-pek-san dan menggantikan kedudukanku, kau serahkanlah pedang ini kepadanya sebagai lambang Dengan terharu Tiang Le menerima pedang itu.
Setelah pengangkatan ketua diresmikan dan mereka satu persatu bersembahyang di depan meja sembahyang.
Maka pada hari itu juga, Tiang Le membuat papan nama bertulisan.
Cuma seminggu Seng Thian Taysu tinggal di atas puncak Tiang-pek-san.
Dan pada keesokan harinya berangkatlah tosu Hong-san kembali ke tempat pertapaan dan sebelumnya mereka berpesan kepada Tiang Le.
-baiknya dan hindarkan dari yang jahat.
Ingat bahwa kebesaran partai bukan hanya tergantung dari banyaknya murid akan tetapi kesetiaan itulah yang utama.
Hati-hati kau memilih murid Tiang Le.
Didiklah ia!
au tidak keberatan, terimalah dia sebagai isterimu.
Upacara pernikahan tidak perlu mewah-mewah Tiang Le, cukup disaksikan oleh para anggota dan bersembahyang dimakam gurumu.
Kapan kau menikah dengannya kau beritahukanlah padaku, sudah lama sekali aku tidak -ha-Mendengar kata-kata susioknya ini, keruan saja muka Tiang Le menjadi merah dan Bwe Lan tertunduk, akan tetapi diam-diam gadis ini menjadi girang dan bahagia.
Dari kerlingan matanya ia melirik Tiang Le menanti reaksi pemuda itu!
akhirnya Tiang Le berkata pelan.
Akan tetapi membuat debaran hebat di dada Bwe Lan.
Ia masih tertunduk malu.
-ha--moay.......
sukakah kau.......
kau.......
eh -blakan begitu.
Mana nona Bwe Lan mau menjawab.
Kau ini bagaimana sih, nanti kau bicarakan di tempat lupa loh, kartu merahnya.
Aku berada di Hong--san akan ramai sekali dikunjungi oleh tokoh-tokoh dunia persilatan untuk mencari pusaka peninggalan Sui-kek Siansu.
Kalau kau berminat datanglah ke sana sekedar meluaskan pergaulanmu di dunia kang-Thian Taysu meninggalkan puncak Tiang-pek-san dengan diantar oleh Tiang Le, Bwe Lan dan muridnya hingga di bawah gunung Tiang-pek-san.
ooOOoo Demikianlah sejak kedatangan Sung Tiang Le, partai Tiang-pek-pay berdiri kembali.
Para anak murid yang tadinya tercerai berai kini kembali lagi ke puncak.
Sehingga dalam waktu yang singkat anak murid Tiang-pek-pay sudah bertambah duapuluh lima orang.
Tiang Le melatih mereka dengan ilmu silat tinggi dibantu oleh Liang Bwe Lan yang menurunkan ilmu bermain tongkat dan sabuk sutera kepada murid-murid Tiang-pek-pay sehingga dalam waktu kurang lebih lima bulan kepandaian anak murid Tiang-pek-pay sudah meningkat tinggi dan merupakan partai persilatan yang cukup terkenal seperti Kun-lun-pay, Hoa-san-pay, Bu-tong-pay dan yang lainnya.
Nama Pendekar besar Sung Tiang Le mulai disegani oleh banyak orang-orang kang-ouw dan mendapat tempat yang sejajar dengan para orang-orang gagah dan disegani oleb kawan dan lawan!
Dua bulan yang lalu, Tiang Le telah melangsungkan pernikahan dengan Liang Bwe Lan amat sederhana sekali serta pernikahan yang berlangsung di puncak Tiang-pek-san itu.
Hanya dihadiri oleh Seng Thian Taysu, Koay Lojin dan beberapa para penduduk di kaki gunung Tiang-pek-san.
Acara pernikahan itu hanya berlangsung di depan meja sembahyang dan disaksikan oleh Koay Lojin dan Seng Thian Thaysu.
Sungguh suatu pernikahan yang sederhana akan tetapi membawa kebahagiaan di hati kedua orang muda itu.
Bwe Lan dan Tiang Le merupakan pasangan yang cocok dan ideal.
Betapa tidak, memang sudah lama Bwe Lan mencintai Tiang Le dan sebaliknya walaupun mulanya Tiang Le belum menaruh cinta kepada Bwe Lan, akan tetapi karena ia merasa sudah merasa berhutang budi banyak kepada gadis yang berkali-kali pernah menolongnya ini maka pada akhirnya Tiang Le mengambil Bwe Lan sebagai isterinya.
Pada suatu hari Tiang Le duduk hersama Bwe Lan di muka halaman gedung Tiang-pek-pay.
Pada waktu itu murid-muridnya tengah berlatih di ruang lian-bu-thia di belakang.
Seperti biasa sehabis memberi petunjuk kepada murid-muridnya, Tiang Le melepaskan lelah di depan gedungnya ditemani oleh Bwe Lan yang selalu mendampingi.
Mereka memandang jauh, mengawasi awan berarak yang beterbangan menipis.
Sementara matahari pagi mengusap punggung bukit merupakan pancaran sinar hangat yang membersit melenyapkan embun-embun yang masih menempel di daun-daun.
suaminya.
Mendengar panggilan Bwe Lan yang begitu mesra dan manja Tiang Le menoleh.
Memandang isterinya.
Kemudian membersitkan sebuah senyum hangat.
-Akan tetapi Bwe Lan tertunduk, pada wajahnya kemerah-merahan segar merupakan sebuah wajah yang manis dan menggairahkan.
Tiang Le mengusap pipi sang isteri, menengadahkan dan mereka saling berpandangan.
Dua pasang mata saling merenggut, saling mengajuk satu dengan yang lain.
Kemudian Tiang Le lah yang tertunduk.
Entah mengapa, mata Bwe Lan sama benar dengan mata Bwe Hwa sumoaynya.
Mata itu bening dan tajam berkilat-kilat penuh gairah cinta.
Teringat akan Bwe Hwa, Tiang Le merenung lagi.
Entah mengapa, baru sekarang ia melihat persamaan mata ini.
Mata Bwe Lan dan mata Bwe Hwa sangat mirip sekali.
Oleh karena itulah, apabila ia melihat mata Bwe Lan teringatlah ia kepada Bwe Hwa.
Dan kalau sudah begitu, nampak pada wajah Tiang Le menyuram dan sayu penuh kabut-kabut yang merisaukan hatinya!
-moay, mengapa sih mesti malu, apa yang hendak kau e setelah beberapa lama berdiam diri.
kalau-kalau dipipinya ada tanda hitam atau coreng-moreng, maka ia mengusapnya.
Akan tetapi bukan itu yang dimaksud Bwe Lan.
-Bwe Lan.
-moay.
Kalau tidak cinta masakan aku menikah denganmu.
Ingat, setiap orang menikah, itu sudah didasarkan suka sama suka, sudah sama-sama pokoknya aku heran sekali, kau kelihatannya tidak bahagia denganku.
Koko katakanlah Dipandang seperti ini Tiang Le jadi tertunduk.
-moay.
Kau baik sekali, seorang wanita yang berkali-menanam budi kepadamu.
Apakah hanya karena budi itu kau mau mengambil aku Berkata begini air mata Bwe Lan bercucuran.
Ia berkata tadi dengan mengap-mengap setengah terisak.
Keruan saja melihat isterinya menangis Tiang Le menjadi bingung bukan main.
Buru-buru ia memeluk Bwe Lan dan katanya, -moay, jangan kau menangis aku memang cinta kepadamu, bukan saja karena budi aku kawin denganmu, bukan hanya karena itu, harap kau tidak salah aku sudah menanam budi kepada dirimu, k engkau telah begitu tulus sudah mencintaiku.
Bukankah ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan mendapat cinta kasih darimu yang cantik jelita, Lan-moay.......
Begitu Mendengar ini tiba-tiba Bwe Lan tersenyum dalam deraian air mata, yang masih bergelantungan di bulu-bulu mata.
Ia kini memandang Tiang Le dengan pandangan mesra dan bibir tersenyum manis.
Sungguh aneh sekali gadis ini, isterinya ini, tadi nangis, eh sekarang tersenyum.
Sungguh tak bisa dimengerti hati isterinya ini, pikir Tiang Le yang terus saja membelai rambut isterinya dengan mesra.
koko biarkanlah nanti juga kau akan Tiang Le mengawasi isterinya.
-malu segala, apa sih yang hendak -som ya, nggak m -hi--dan menengadah ke atas.
Tiang Le masih memandang ke atas.
Dan tiba-tiba Bwe Lan berseru keras.
-Belum lagi Tiang Le menyahut tahu-tahu kim-tiauw itu menukik ke bawah dan terdengar suara nyaring dan merdu dari angkasa, Tiba-tiba terdengar wanita di atas punggung rajawali emas itu bersuit dan tahu-tahu burung rajawali itu telah menukik mencengkeram kepala Tiang Le.
Cepat Tiang Le menggeser kakinya meloncat ke belakang sambil menarik tangan Bwe Lan.
Tamparan sayap kiri burung rajawali itu menggeletar menghantam bangku dimana Tiang Le dan Bwe Lan duduk tadi.
Suara keras terdengar dan bangku itu hancur berantakan terkena pukulan rajawali yang hebat itu.
Bersamaan dengan terdengarnya suara bangku yang hancur tadi, berkelebat sesosok tubuh mencelat dan tahu-tahu telah berdiri di depannya Tiang Le dan Bwe Lan.
Tiang Le terkejut bukan main melihat kedatangan wanita ini.
Wanita cantik berpakaian serba putih, rambutnya yang hitam panjang sampai ke pundak.
Matanya yang bening berkilat-kilat memandang Tiang Le, kemudian tersembul sebuah senyum.
tidak keruan rasa.
Ia berdiri terpesona memandang wanita yang memang Lie Bwe Hwa adanya.
Dan yang membuat Tiang Le bengong melongong adalah ketika pandangan matanya terbentur pada perut wanita cantik itu.
Perut yang membuncit dan menyatakan sebuah kandungan yang sudah bulannya!
-hik--ikutlah aku, sebentar lagi aku bakal melahirkan seorang anak dan kau harus menyaksikannya!
Hi-hik ini bakal anak kita Bagaikan disambar petir, Tiang Le terhuyung dua tindak ke belakang.
Pandangannya berkunang-kunang, kepalanya menjadi pening.
Kalau seandainya ada geledek yang menggelegar di atas kepalanya belum tentu Tiang Le sekaget ini.
Kata-kata Bwe Hwa barusan, merupakan halitintar yang maha dahsyat menghantam kepalanya.
Bwe Lan buru-buru menyanggah tubuh suaminya!
Kasihan sekali Tiang Le.
Wajahnya pucat pasi.
Tubuhnya agak menggigil dan pada waktu itu wajahnya kelihatan bertambah tua.
Dengan terhuyung-huyung TiangLe memandang perempuan muda yang berpakaian serba putih dan menunjuk ke depan dengan gagap.
sembilan bulan.
Beberapa hari lagi, aku akan melahirkan seorang anak.
Koko kau ikutlah -tiba Bwe Hwa menangis memandang Tiang Le.
yang terasa berat bukan main.
Ia terhuyung-huyung lagi dan kalau tidak cepat-cepat Bwe Lan menyanggahnya, tentu Tiang Le akan roboh menggeloso di tanah.
Bwe Lan cepat-cepat menyambar Tiang Le dan mendudukannya di bangku.
ikut de menunjuk perutnya yang membuncit.
Berjalan menghampiri Tiang Le.
sudah miring otak, gila!
Bagaimana suamiku kau bilang suamimu.
Ia adalah suamiku Mendengar pertanyaan yang aneh ini, keruan saja Bwe Lan menjadi panas dan ebar--ha-Hebat sekali pukulan jarak jauh ini.
Buru-buru Bwe Lan mengerahkan lwekangnya dan membalas mendorong wanita itu.
Dua telapak tangan yang sama-sama halus dan kecil beradu.
Bentakan ini disertai munculnya seorang anak laki-laki kecil berusia empat tahun dan diikuti oleh puluhan anak buah murid Tiang-pek-pay.
berpengalaman ini tidak mau berlaku semberono, maka ia lantas menjura dan berkata hormat, ah dan ada keperluan apakah datang ke puncak Tiang-pek---baik di dalam.
Selama ini aku memang menanti-nantimu berdiri dan menghampiri Bwe Hwa pula.
Dua orang muda itu saling berpandangan.
Dari pandangan itu Tiang Le dapat melihat betapa perempuan muda di depannya itu jauh lebih kurus dan pucat.
Kasihan sekali.
Ia melihat perempuan muda ini, apalagi waktu pandangannya terbentur oleh perut Bwe Hwa yang membuncit.
Terasa hati Tiang Le perih bukan main.
Ia tahu bahwa anak yang di dalam kandungan Bwe Hwa itu adalah anaknya!
dengan panggilan mesra dan pelan.
Akan tetapi cukup terdengar oleh Bwe Lan yang berdiri tidak jauh dari tempat itu.
Melihat sikap perempuan muda yang bersikap begini mesra, panas sekali rasanya hati Bwe Lan.
Ingin sekali ia menerjang perempuan muda itu dan menempurnya sampai seribu jurus.
Akan tetapi melihat betapa sikap Tiang Le juga demikian baik dan mesra kelihatannya Bwe Lan menekan perasaan hatinya yang bergelora, memandang ke arah Tiang Le dan perempuan muda itu.
arang kau datang, mengapa kau tidak dulu-dulu.
Hwa moay, lama sudah aku mencari-Le terdengar bergetar penuh perasaan hati.
Tiba-tiba Bwe Hwa menubruk Tiang Le dan menangis dalam pelukan laki-laki lengan buntung itu.
Suaranya tersendat-sendat menahan isak.
memusuhimu, maka itu aku mencarimu dan datang ke tempat ini.
Koko, kau kembalilah kepadaku, mari kira pergi koko.
Kita an kepala.
Ia hendak melepaskan pelukan perempuan muda ini, akan tetapi Bwe Hwa tak melepaskan pelukannya.
Ia memandang Tiang Le dengan tatapan basah.
Tiang Le menggeleng kepala lagi.
Ia tak kuasa untuk menentang tatapan Bwe Hwa yang demikian sandu dan penuh perasaan cinta itu.
Hatinya berdebar keras dan bingung.
Andaikan di sini tidak ada Bwe Lan yang telah menjadi isterinya yang sah, tentu ia tidak akan menjadi bingung seperti ini.
Tentu ia akan menerima tawaran gadis ini.
Sesungguhnyalah bahwa ia selama ini tidak pernah melupakan Bwe Hwa.
Entah mengapa sejak kejadian yang memilukan hati di lembah Tai-hang-san itu dan ditambah lagi peristiwa di pantai Po-hai, ia merasa begitu kehilangan Bwe Hwa.
Begitu merasa bersalah kepada perempuan muda ini, karena ia tahu bahwa perempuan muda itu menderita penyakit kanker dada dan menurut kakek kaki buntung Lim Heng San, usia Bwe Hwa hanya bertahan tinggal beberapa lama lagi.
Oleh sebab itulah, entah kenapa mengingat ini, hati Tiang Le begitu berat berpisah dengan Bwe Hwa!
Akan tetapi sekarang, ia sudah diangkat menjadi ketua Tiang-pek-pay, bertanggung jawab atas mati hidupnya partai ini.
Apalagi di samping itu ada Bwe Lan isterinya dan muridnya.
Tidak, ia tidak bisa meninggalkan puncak ini.
Biar bagaimana pun juga ia tidak bisa berhianat terhadap partai dan mengecewakan hati isteri dan muridnya!
Untuk beberapa lama Tiang Le termenung.
Baru ia sadar setelah Bwe Hwa kah untuk sekali.
u Hwa-Sekali-kali tidak karena itu Hwa-moay, kau tahu betapa cintanya aku kepadamu, betapa Tiang Le dan Bwe Hwa menoleh ke kiri dilihatnya Bwe Lan, memandang Tiang Le dengan pandangan berapi-Melihat Bwe Lan sudah naik darah segera Tiang Le menghampiri isterinya itu dan menyentuh pundak isterinya deng -moay, memang tentang Bwe Hwa aku tidak pernah menceritakannya kepadamu.
Tiang Le tertunduk, ia hendak memberi keterangan kepada isterinya ini, akan tetapi belum lagi ia membuka mulut, tahu-tahu Bwe Hwa sudah menghampirinya dan berkata, Buru-buru Tiang Le melepaskan pelukannya pada istrinya dan berkata kepada Bwe -moay, aku tak dapat mengikutmu.......
aku adalah ketua Tiang-pek-pay, dan di samping itu ada istriku Liang Bwe Lan dan muridku Wang Ie, menyesal -Bwe Hwa mundur setindak.
Matanya memandang Tiang Le tajam.
Tiga butir air mata meloncat lewa -jangan kau lebih sayang partai dan istrimu yang -Bwe Hwa menjerit lirih.
Sebuah pisau menghunjam hatinya.
Jantungnya berdarah seketika.
Dirasakannya kepalanya menjadi pening dan berputar-putar!
Ia mundur tiga tindak ke belakang, air matanya berderai-derai membanjir lewat pipinya, pandangannya basah menatap Tiang Le dan Bwe Lan berganti-ganti.
Tiba-tiba diantara isak tangisnya itu terdengar suara Bwe Hwa memekik lirih.
ata lebih sayang kepada partai dan isteri dan muridmu, kau berhati menuntut balas atas kepalsuan hatimu.
Ia akan datang mencari ayahnya, membunuh manusia berhati palsu Sung Tiang Le, menghancurkan Tiang-pek-pay, dan membunuh -ha-jangan kau lakukan itu.......
Jangan kau suruh anak di dalam kandungan itu menuntut balas.......
Ah...
bunuh aku!
Hwa--ha-ha-ha Tiang Le manusia berhati palsu.......
kau hendak merayuku lagi, pergilah kau setan jay-hoa-Sekali t Dan akibatnya Tiang Le terhuyung-huyung ke belakang akibat tamparan yang keras dari tangan kanan Bwe Hwa.
Bwe Lan menjerit dan memeluk Tiang Le.
Lima telapak jari bertanda di pipi laki-laki lengan buntung itu.
Melihat pipi suaminya menjadi merah bertanda, Bwe Lan menoleh ke arah Bwe Hwa dan dengan teriakan marah ia sudah menerjang wanita di sampingnya itu.
Tiang Le mencegah.
Akan tetapi mana Bwe Lan menghiraukan akan cegahannya.
Hatinya yang mendongkol kepada perempuan muda yang berlengan buntung ini, membuat ia tak dapat mengendalikan perasaan hati lagi.
Dan telah menerjang Bwe Hwa dengan pukulan yang bertubi-tubi!
Sebentar itu pula, dua orang perempuan muda itu sudah saling serang dengan hebat.
Biarpun Bwe Hwa telah kehilangan lengan kirinya, akan tetapi ia masih lihai bukan main.
Ilmu silatnya yang didapat dari Pek-moko tidak mengurangi kelihaian kebuntungan lengan kiri.
Ia kini telah mencabut senjata pedang pendek yang melengkung berkilat keputih-putihan tertimpah cahaya matahari.
Inilah pedang iblis yang bernama Pek-hwa-kiam.
Dahsyat luar biasa.
Tentu saja Bwe Lan tahu bahwa senjata lawannya ini adalah pedang yang ampuh dan ganas, ia kini mengeluarkan sabuk suteranya dan bertempurlah mereka dengan seru dan ramai.
Tiang Le menjadi bingung bukan main.
Apalagi melihat pedang ditangan Bwe Hwa yang ganas dan keji hatinya kuatir akan keselamatan Bwe Lan, meskipun ia tahu bahwa Bwe Lan tidak mudah untuk dikalahkan akan tetapi tentu saja isterinya ini kalah tajam senjata.
Benar saja belum lagi habis dugaannya, tiba-tiba terdengar suara keras kain robek, ternyata sabuk sutera di tangan Bwe Lan sudah robek tersabet pedang Pek-hwa-kiam.
Kini dalam kekagetan Bwe Lan tahu-tahu Bwe Hwa sudah menerjang dari atas.
Inilah yang luar biasa, bagaikan terbang saja tubuh Bwe Hwa mencelat ke atas dan tiba-tiba mengirim serangan dari udara.
Pedang Putih berkelebat meluncur ke arah kepala Bwe Lan dengan gerakan yang amat cepat sekali!
Melihat serangan yang luar biasa dan tak terduga-duga ini, Bwe Lan menjerit kaget dan hendak membuang diri ke samping, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan tahu-tahu pedang di tangan Tiang Le sudah menangkis pedang Bwe Hwa.
Dua senjata yang sama-sama ampuh bergetar di atas.
Terasa tangan Bwe Hwa yang memegang pedang tergetar hebat.
Buru-buru ia mencelat turun dan begitu dilihatnya yang menangkis pedangnya tadi adalah Tiang Le, berkilat mata itu memandang laki-laki buntung, yang telah berdiri dihadapan Bwe Lan, isterinya.
di dada.
Tiba-tiba Bwe Hwa memekik keras dan ia telah muntahkan darah segar.
Terhuyung-huyung dengan wajah pucat pasih.
Tiang Le cepat memburu Bwe Hwa dan memegang lengan kanan itu.
--moay.......
kau -tiba Bwe Hwa mendorong Tiang Le dan mengelebatkan pedang pendek Pek-hwa-kiam.
Amat cepat sekali gerakan itu, dan Tiang Le menjadi terkejut dan mengegoskan diri ke samping memasang pundaknya terserempet pedang sambil mengerahkan hawa sin-kang.
merah keluar dari pundak laki-laki Lengan Buntung itu.
Tiang Le terhuyung ke belakang memegangi pundaknya yang berdarah.
Bwe Lan cepat memburu Tiang Le dan melihat pundak itu berdarah, dengan geram sekali Bwe Lan hendak menerjang Bwe Hwa, akan tetapi terdengar keluhan Tiang Le.
-tangan isterinya.
berlaku curang, menyerangmu secara pengecut begitu...
-kalau marah ia akan muntahkan darah Lan-Tiba-tiba Bwe Hwa memekik keras dan mengirimkan terjangan ke arah Tiang Le dan Bwe Lan sekali gus, sementara mulutnya yang berlumuran darah segar itu Pedang putih itu bergulung-gulung menyerbu Tiang Le dan Bwe Lan.
Akan tetapi dengan mudahnya Tiang Le mendorong Bwe Lan dan ia sendiri berkelit, suara pedang berdesing lewat di atas kepalanya.
-moay sabarlah, jangan kau menyerang kami Akan tetapi pada saat itu, seorang pengemis bongkok telah melompat dan jangan ganggu Pay-we Hwa membentak dan mengalihkan serangan ke arah diri A Toan.
Serangannya yang ditusukkan dari kiri ini demikian cepat sehingga A Toan, yang tidak menduga datangnya serangan dari samping begini cepat, segera ia membuang diri ke belakang berpok-sai tiga kali untuk menghindarkan serangan lawan.
Akan tetapi Bwe Hwa yang sudah dibuat marah dan kecewa ini tidak menghentikan serangannya sampai di situ saja, melainkan mengirimkan kembali tusukan pedang yang tidak kalah dahsyatnya dari serangan pertama tadi.
Pedang pendeknya yang mengeluarkan cahaya berkilat-kilat itu menyambar lagi menusuk ke arah dada A Toan.
A Toan yang telah mengetahui betapa lihainya perempuan muda yang tangan kirinya buntung itu, berlaku waspada dan begitu datangnya serangan yang kedua demikian cepat dan kuat, segera ia mengelebatkan tongkatnya memapaki tusukan pedang sambil mengerahkan lwekang di tangan kanan.
benturan pedang yang demikian kuat seperti baja.
Ia terkejut sekali melihat tongkatnya sudah patah menjadi dua potong dan belum lagi hilang rasa kaget dan herannya, tahu-tahu sebuah sinar putih berkelebat di sampingnya ke arah leher.
pedang ke arah leher orang tua bongkok itu.
Beberapa senti lagi pedangnya hendak memenggal leher itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan pedang dan tahu-tahu pedang Bwe Hwa sudah ditangkis oleh pedang pusaka buntung Tiang Le yang sudah mencelat menolong A Toan.
-Mendengar Tiang Le memanggilnya sumoay, pandangan Bwe Hwa berapi-api menatap Tiang Le.
Tahulah ia apa artinya sebutan itu.
Tiang Le hanya menganggap hanya sebagai adik perguruan saja, tidak lebih dari pada itu?
Setan!
Aku harus mengadu nyawa dengan laki-laki lengan buntung ini, pikirnya.
Ia maju selangkah.
-pek-san ini.
Percayalah, melawan, akan tetapi jangan kau memusuhi isteri dan murid-membentak itu Bwe Hwa menerjang maju mengirim tusukan pedang.
Akan tetapi, Bwe Hwa menjerit ngeri ketika melihat pedangnya benar-benar tertancap di dada itu.
Sungguh Tiang Le tidak mengelak akan serangannya.
Nampak olehnya laki-laki lengan buntung itu terhuyung ke belakang dan pedangnya masih menancap di dada itu.
u terhadapku Hwa--huyung hendak jatuh.
Akan tetapi Bwe Lan dan murid-murid Tiang-pek-pay sudah menghadangnya.
keren.
Limapuluh lebih anak buah Tiang-pek-pay sudah mengurungnya.
A Toan mendekati Bwe Hwa dan terus menjura, -pek-pay, tidak bisa kau bawa Tiang Le Pay-cu begitu saja.
Di sini ada lebih limapuluh orang murid dan istrinya yang siap untuk melindungi tindakanmu.
Ingat Niocu, seorang wanita terhormat dan mempuyai harga diri tidak akan nanti merebut suami orang menghancurkan rumah Mendengar perkataan kakek bongkok ini, Bwe Hwa meragu untuk membawa Tiang Le.
Ia memandang laki-laki lengan buntung itu.
Tiba-tiba ia menangis pelan.
Menoleh kepada kakek bongkok dan katanya dengan suara terisak.
...
penghinaan ini kelak akan Dengan menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu Bwe Hwa sudah mencelat ke atas punggung rajawali emas dan tak lama kemudian terdengar suara tawanya yang seperti orang menangis.
Suara burung rajawali menggelepar-gelepar di atas, membumbung tinggi, semakin tinggi sehingga merupakan titik hitam di angkasa itu, kemudian lenyap di balik awan-awan!
mena Karuan saja Bwe Lan dan murid-murid Tiang-pek-pay menjadi heran bukan main.
Bukankah tadi mereka melihat betapa dada kiri Tiang Le tertancap pedang hingga mengeluarkan darah?
mengapa sekarang mereka melihat betapa bukan dada kiri pemuda itu yang tertancap pedang, melainkan pedang itu yang terjepit di ketiak!
Tentu saja mereka telah dikelabui pandangan matanya oleh laki-laki lengan buntung yang lihay ini.
Malah Bwe Hwa sendiripun menyangka pedangnya melukai dada Tiang Le, dan tadi ia sendiri melihat betapa banyak keluar darah yang keluar dari luka itu.
Sesungguhnya tidaklah demikian.
Pada waktu pedang Bwe Hwa menyambar, memang sengaja Tiang Le tidak mengelak hanya dengan kecepatan yang luar biasa ia menggeser kakinya dan menjepit pedang itu di ketiaknya.
Saking cepatnya gerakan itu hingga orang menduga dada kiri Tiang Le itulah yang tertancap pedang.
Kemudian dengan pandangan matanya, Tiang Le menentang mata Bwe Hwa, mengerahkan ilmu bathin mencipta darah yang membanjir di dada, sehingga bagi pandangan Bwe Hwa pedang itu tertancap di dada Tiang Le dan mengeluarkan darah.
Saking hebatnya ilmu bathin yang dikerahkan oleh Tiang Le ini, sehingga banyak murid-murid Tiang-pek-pay pun kena dikelabuinya.
Hanya A Toan dan Bwe Lan saja yang melihat betapa pedang itu hanya terjepit di ketiak Tiang Le!
Setelah Tiang Le melepaskan pedang yang terjepit diketiaknya, ia lalu menyambar tangan Bwe Lan dan Wang Ie memasuki ruang dalam.
Sementara A Toan dan murid-murid Tiang-pek-pay kembali ke ruang belakang.
masih cemburu dan tidak enak hati atas kedatangan Bwe Hwa yang mengaku-aku sebagai isteri Tiang Le.
Tiang Le menarik tangan isterinya dan duduklah mereka bertiga.
Tiang Le menarik memulai ceritanya.
Seperti apa yang telah diuraikan dalam bagian depan cerita ini.
Begitu pula diceritakan oleh Tiang Le kepada isterinya didengar pula oleh muridnya yang masih cilik, Wang Ie.
-marah padaku dan hendak membunuhku di sana.
Akan tetapi aku dapat mencegahnya, ia lantas pergi!
-carinya.
Akan tetapi entah ke mana perginya Bwe Hwa, , anak yang memusuhiku, ingatkah kau tadi akan perkataannya?
Ahh, Lan-moay, alangkah sedihnya Demikian Tiang Le menutup ceritanya sambil menarik napas berat menandakan hati yang resah.
mengapa kau tidak ambil saja perempuan itu menjadi isterimu dan tinggal di tempat ini AK MUNGKIN ia mau, isteriku.
Ia hanya menghendaki supaya aku turut dengannya dan tinggal di puncak rajawali, hemm, baru kudengar nama aku baru pernah mendengar nama puncak Rajawali.
O ya, Lan-moay.......
sudahlah kejadian ini, mungkin salahku.
Mungkin sudah menjadi hukuman buatku.
Wang Wang Ie berlutut di depan gurunya ini.
Kau baik-baiklah di tempat ini.
Kau harus patuh akan kata-kata Toan-lopek.
Sementara kami pergi, A Toan akan mengawasi partai Tiang-pek-pay.
Rajin-bali
Jilid 4 -san menghadiri pertemuan tokoh-tokoh etapi perjalanan ke puncak Tay-san sangat berbahaya dan tidak mudah.
Maka sebaiknya kau -ceritakan kepergianku ini kepada saudara-saudara yang lain, kelak nanti apabila saat Tiang Le memandang istrinya.
Mencium keningnya.
Dan dengan mesrah sang suami mengecup bibir yang lembut dari sang istri.
Lama Tiang Le dan Bwe Lan berkecupan menumpahkan gairah cinta yang memecah ria!
ooOOoo Bagaimana Bwe Hwa tahu-tahu telah muncul di puncak Tiang-pek-san dengan menunggang burung rajawali emas yang besar dan menurut akan perintahnya itu?
Untuk mengetahui pengalaman Bwe Hwa yang sudah lama sekali kita tinggalkan, baiklah kita mengikuti pengalaman-pengalamannya.
Seperti telah diceritakan pada
Jilid pertama dalam cerita ini, setelah melihat adegan yang menyeramkan di gua di pantai laut Po-hay itu, Bwe Hwa menjadi marah sekali dan menempur Tiang Le.
Sungguh panas bukan main pemandangan yang dilihatnya dalam gua itu.
Berhari-hari ia selalu menantikannya kedatangan Tiang Le di lembah Tai-heng-san antara cemas dan kuatir.
Ehm, nggak tahunya di tempat ini Tiang Le dan Pei Pei sedang melakukan perbuatan mesum.
Setan!
Tentu saja Bwe Hwa menjadi kalap dan mengamuk menempur Tiang Le dan membabi buta.
Akan tetapi, seperti telah diceritakan di bagian depan, betapa Tiang Le dapat menandingi kepandaian gadis itu.
Dan setelah merasa betapa ia tak kuat untuk mengalahkan Tiang Le, maka dengan perasaan kecewa dan penuh kemarahan.
akhirnya Bwe Hwa pergi dari Tiang Le dan Pei Pei.
Ia hendak menjauhkan diri dari pemuda lengan buntung itu.
Ia pergi jauh mengembara ke bagian barat.
Sesungguhnyalah bahwa ia tiada mempunyai arah tujuan.
Ia berjalan berhari-hari kemana kakinya membawa dirinya.
Tanpa disadarinya ia menuju ke barat.
Kekecewaan hati yang meliputi hati Bwe Hwa membuat ia seakan-akan telah melupakan dirinya.
Seorang diri ia terus berjalan.
Kadang-kadang berlari bagaikan setan cepatnya.
Kadang-kadang ia menangis seorang diri di dalam hutan dan memanggil-manggil nama Tiang Le.
Kadang-kadang pula ia menggerakkan tangannya memukul pohon sambil memaki-maki Tiang Le dan Pei Pei.
Di wajahnya penuh amarah membunuh.
Apabila kemarahannya itu memuncak, selalu ia muntahkan darah segar.
Sehingga kian hari wajah Bwe Hwa menjadi pucat dan seperti orang yang hilang ingatan.
Memang demikianlah adanya.
Kasihan sekali Bwe Hwa ini.
Ia sudah merupakan seorang yang setengah gila.
Kadang-kadang bersikap lembut dan manis, kadang-kadang pula kejam bagaikan iblis.
Ia cantik jelita seperti bidadari, ia juga kejam dan telengas terhadap setiap lelaki yang dianggapnya jahat.
Tentu saja biarpun Bwe Hwa kehilangan lengan kirinya yang pernah ia buntungi di lembah Tai-hang-san itu, akan tetapi karena ia mempunyai wajah yang manis dan jelita, membuat setiap lelaki yang dijumpainya selalu menarik napas dalam, dan memandangnya dengan penuh kagum.
Kebuntungan tangan kirinya tidaklah mengurangi kecantikan gadis yang bernama Lie Bwe Hwa itu.
Pada suatu hari ia memasuki wilajah Tibet.
Suku bangsa Tibet yang ramah tamah ini membuat ia menghentikan perjalanannya dan memasuki kota Pin-niang yang cukup ramai dan banyak dikunjungi oleh orang-orang asing.
Disepanjang jalan banyak sekali dilihatnya orang-orang Han yang berdagang membuka toko, ada yang membuka rumah makan, restoran dan malah ada yang menjajahkan harang dagangannya di kaki lima.
Memang ramai sekali kota Pin-niang ini, karena kota ini adalah sebuah kota yang menghubungi perbatasan daerah Tiongkok dan merupakan pintu gerbang bagi Kotaraja dan Mongolia.
Apalagi di situ banyak suku bangsa Tibet asli dan suku bangsa An-hui yang ramah tamah dan berkebudayaan tinggi, sehingga kota Pin-niang ini merupakan kota yang terbesar di daerah Tibet.
Pada hari itu udara panas bukan main.
Musim kemarau yang amat lama terasa sekali di daerah ini.
Di jalan-jalan orang merasa segan sekali untuk keluar rumah pada waktu panas terik seperti ini.
Lebih nikmat rasanya berdiam di rumah atau bagi para tamu-tamu hotel mereka duduk-duduk di bawah pohon yang rindang sambil mengobrol.
Rumah-rumah makan juga penuh oleh para tamu yang berbagai ragam roman mukanya.
Ada orang Han, ada juga beberapa laki-laki Shan-tung yang memegang bendera sebagai lambang perkumpulan ekspedisi pengantar barang, ada pula yang berpakaian seperti pelajar-pelajar.
Pokoknya di kota ini segala suku bangsa apapun ada!
Mereka ini ada yang datang untuk berdagang, atau pelancong, ada pula yang hanya sebagai tukang catut barang dagangan yang mereka seludupkan dari Afganistan.
Sebab itulah kota Pin-niang, yang terletak dekat sungai Zhe-kiang amat ramai dan hingar-bingar!
Begitu Bwe Hwa memasuki pintu gerbang Pin-niang, banyak orang yang memperhatikan perempuan muda ini.
Ada yang merasa iba lihat seorang wanita muda yang begini cantik, akan tetapi sudah kehilangan lengan kirinya.
Ada pula yang terus saja kagum akan kecantikan wanita itu.
Dan beberapa laki-laki hendak menggodanya.
Akan tetapi begitu melihat langkah-langkah kaki si wanita yang demikian cepat dan pedang pendek di punggung, mereka hanya bengong dan tak berani menggoda.
Karena jalan-jalan berdebu dan panas.
Dengan lirikan matanya, Bwe Hwa mencari-cari rumah makan.
Ia tidak mengerti tulisan-tulisan yang tertera di rumah-rumah makan.
Karena setiap tulisan-tulisan di sana, baik nama jalan maupun nama toko, selalu ditulisnya dengan bahasa asing yang tidak dimengertinya.
Dan begitu ia mencium bau masakan yang lezat, yang membuat perutnya menjadi lapar, segera ia tahu bahwa itulah rumah makan.
Maka cepat-cepat ia menuju ke rumah makan tersebut dan memasuki gedung yang cukup besar dan bercat merah itu.
Seorang pelayan menghampiri dan berbicara dalam bahasa Han yang agak kaku, tetapi dimengerti oleh Bwe Hwa, menghampiri tempat duduk yang disediakan oleh pelayan.
Baru saja ia duduk dan memandang ke depan, tiba-tiba empat orang tamu memasuki rumah makan dengan langkah-langkah lebar dan semua tamu terkejut sekali kedatangan empat orang ini.
Malah pelayan rumah makan dengan sikap membungkuk-bungkuk menghampiri mereka menyambut dengan ramah sekali, -wi enghiong (Tuan berempat yang gagah) selamat datang di restoran kami dan -buat karena takut.
Bwe Hwa melihat seorang nenek di antara ke empat orang itu, menjadi terkejut.
Diam-diam ia memperhatikan nenek yang duduk tidak jauh darinya.
Nenek itu sudah tua sekali.
Rambutnya yang hitam riap-riapan sebatas pundak dibiarkan berkibar dipermainkan angin yang menerobos dari jendela rumah makan.
Wajahnya sangat menyeramkan, penuh dengan keriput-keriput dan matanya yang cekung memancar seperti api.
Tentu saja Bwe Hwa mengenal wanita ini.
Nenek itulah bekas pay-cu Sian-li-pay yang berjuluk Bu-tek Sianli, sedangkan tiga orang kawannya, ia tidak mengenalnya, yang seorang tinggi besar, seorang laki-laki suku bangsa Tibet dan di sebelah laki-laki tinggi besar itu duduk seorang wanita suku bangsa Han, meskipun usianya sudah setengah tua akan tetapi masih kelihatan cantik.
Dan seorang lagi, adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai kepala gundul, berusia sekitar duapuluhan, akan tetapi wajah itu kelihatannya seperti wajah kanak-kanak, wajah yang bodoh dan bundar!
Berdebar badan Bwe Hwa.
Ia pernah sekali bertemu dengan Nenek Bu-tek Sianli itu waktu di lembah Tay-hang-san pada waktu menghadapi penyerbuan tentara Mongol.
Malah ia pernah merasa kelihayannya.
Dan terluka oleh pukulan Nenek yang lihay.
Diam-diam ia memperhatikan ke empat orang yang dudak di belakangnya itu.
Akan tetapi telinganya yang tajam dapat mendengar suara Bu-tek Sianli yang tertuju kepada dirinya.
-Bwe Hwa melirik dan pada waktu itu Bu-tek Sianli dan orang Tibet yang tinggi besar itu menoleh kepadanya.
-ong, belum lagi suhengnya yang berjuluk Pendekar Lengan Buntung, lebih hebat lagi.
Sayang aku belum ketemu lagi dengannya.
yang tinggal satu itu.
Biar buntung ke dua-duanya.
Pingin tahu aku, apakah setelah -tek Sianli terdengar agak keras, sambil matanya melirik ke arah Bwe Hwa.
besar sambil menenggak arak di meja.
-tek Sianli sengaja dikeraskan, membuat untuk seketika merah pada telinga Bwe Hwa.
Ingin menurut hatinya menggempur nenek itu.
Akan tetapi mengingat keadaan yang tidak mengijinkan dan lagi ia tidak ingin membuat kacau di rumah makan ini.
Maka Bwe Hwa menahan hatinya yang mulai panas dan sambil menguping ia mulai bersantap siang.
e sampingkan dulu, kita perlu cepat-cepat menghadap Thay-bengcu, Yang Mulia di Istana.
Sebaliknya jangan kita menunda-nunda seorang wanita setengah tua yang terus saja berdiri hendak meninggalkan rumah makan.
-memerintah wanita setengah tua itu.
-ong, anakmu memang pantas -tek Sianli.
-lalat hijau membuat pening kepala saja sungguh menjijikan.
He, Tiba-tiba Bwe Hwa menggebrak, meja itu amblas hampir setengahnya membuat tamu-tamu yang berada di situ kaget setengah mati.
Dua orang pelayan rumah makan buru-buru menghampiri dan berkata sambil membungkuk-bungkukkan badannya.
-cepat menyambar si-poa dan mulai menghitung.
Bwe Hwa cepat mengulurkan uang dan tanpa berkata apa-apa lagi segera dia meninggalkan rumah makan tersebut, hatinya mendongkol bukan main kepada ke empat orang yang di belakangnya itu.
Waktu dia berlalu sengaja Bwe Hwa melemparkan pandangan mengejek ke arah Bu-tek Sianli.
Kemudian cepat-cepat ia berlalu meninggalkan rumah makan.
Dengan gin-kangnya yang tinggi sebentar saja ia sudah jauh meninggalkan kota Pin-niang.
Pada saat itu udara yang tadinya panas terik tiba-tiba menjadi gelap.
Mendung hitam bertebaran di atas.
Udara sejuk sekali membuat Bwe Hwa menghentikan larinya dan berjalan pelan-pelan.
Di hadapannya terhampar sawah-sawah yang luas menghijau, batang-batang padi sudah pada merunduk menandakan buahnya yang masak dan tiba saatnya untuk dituai.
Para petani nampak kelihatan riang berada diantara sela-sela rerumpun padi.
Senandung mereka menyambut datangnya musim hujan menandakan keriangan hati.
Seorang anak kecil duduk asyik di atas punggung kerbau sambil meniup serulingnya.
Suara kerbau menguak panjang.
Bwe Hwa berjalan pelan-pelan di antara pematang sawah yang luas menghijau.
Angin hitam memberat di angkasa.
Pada saat itu tiba-tiba Bwe Hwa dikejutkan oleh suara menggelepar di atas.
Tiba-tiba ia terhuyung ke belakang oleh tamparan burung garuda yang besar dan kuat.
Kaget bukan main Bwe Hwa, baru pertama kali ia melihat burung yang demikian luar biasa besarnya.
Dan lebih heran lagi adalah di atas punggung burung itu duduk seorang laki-laki botak yang kelihatan ketolol-tololan yang tadi siang pernah dilihatnya di rumah makan.
Celaka, kalau lelaki tolol ini sampai ke tempat ini jangan-jangan Bu-tek Sianli dan dua orang kakek dan nenek itu akan menuju kemari pula.
Belum lagi hilang herannya tiba-tiba burung jang besar itu menukik lagi dari atas menggerakkan cakarnya yang besar.
garuda yang hendak mencengkram kepalanya itu.
Ia mengelebatkan pedang pendeknya dengan maksud membabat kaki itu, akan tetapi terdengar suara keras Bwe Hwa yang hampir terpental saking kuatnya kuku garuda itu membentur pedangnya.
Kagum sekali Bwe Hwa melibat keampuhan kuku garuda itu, padahal kalau hanya membentur pedang biasa saja, pedang pendeknya akan dapat membuntungi pedang lawan.
Akan tetapi kuku garuda ini kuat bukan main!
Pada saat itu berkelebat tiga bayangan yang terus saja menyerbu Bwe Hwa.
Ternyata yang telah datang adalah Bu-tek Sianli dan dua orang yang tadi dilihatnya di rumah makan.
Seperti kita pernah mengenalnya, dua orang setengah tua itu bukanlah orang sembarangan.
Mereka itu adalah Kwan-tiong Tok-ong, si Raja Racun dari Barat dan isterinya yang bernama Tung Hay Nio-nio, sedangkan laki-laki berkepala gundul itu adalah anaknya yang ketolol-tololan yang bernama Kwan Kong Beng, laki-laki yang cukup lihai dan berbahaya!
Sebetulnya keluarga Kwan-tiong Tok-ong ini tidak ada minat untuk mengeroyok seorang wanita yang kelihatan lemah dan berlengan buntung itu, akan tetapi karena Bu-tek Sianli membujuknya, maka sekeluarnya dari rumah makan itu mereka mengejar Bwe Hwa.
Kong Beng sengaja disuruhnya menunggang burung garuda peliharaannya untuk melihat dari atas sedangkan mereka bertiga berlari cepat mengikut, arah garuda yang terbang menuju ke luar kota.
Demikianlah, begitu mereka sampai dilihatnya garuda itu sudah bertempur melawan Bwe Hwa.
Tentu saja dikeroyok oleh tokoh-tokoh tangguh, Bwe Hwa menjadi kewalahan setengah mati dan sebentar saja ia mulai terdesak hebat.
Bu-tek Sianli yang memang amat benci kepada perempuan yang lengannya buntung ini mendesaknya dengan pukulan-pukulan yang berbahaya.
Bukan tidak beralasan Nenek ini membenci Bwe Hwa, karena ia mengingat suheng wanita ini yang paling dibencinya.
Ia sangat dendam kepada laki-laki lengan buntung yang bernama Sung Tiang Le, gara-gara laki-laki itulah ia kehilangan partai dan kelima murid-muridnya.
Rencana yang semula diatur dengan sempurna musnah sudah akibat tindakan Pendekar Lengan Buntung yang menyerbu Sian-li-pay.
Untung saja di Sian-li-pay itu ia dapat meloloskan diri dan kemudian lari ke Barat dan bertemu dengan keluarga Kwan-tiong Tok-ong dan berhasil menghasutnya untuk dibawa ke selatan.
Malah ia menggabungkan diri dengan tokoh-tokoh kaum hek-to di Barat dan mengakui seorang beng-cu di Barat yang bernama Thay-bengcu.
Kita kembali kepada Bwe Hwa yang dikeroyok oleh orang-orang yang berkepandaian lihai ini.
Ia mainkan jurus-jurus Pek-hwa-kiam-sut dengan sengit.
Dan meskipun ia sudah kehilangan sebelah lengan, akan tetapi dengan pedang Pek-hwa-kiam di tangan kanannya membuat tidak gampang bagi Bu-tek Sianli merobohkan lawannya ini.
Saking gemas dan marahnya hati si Nenek ini, ia mengeluarkan tongkatnya dan menerjang Bwe Hwa dengan gerakan-gerakan yang dahsyat.
Dikeroyok seperti ini biarpun Bwe Hwa sudah mewarisi kitab peninggalan Pek Moko dan mempunyai senjata ampuh seperti Pek-hwa-kiam, akan tetapi menghadapi Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong yang terkenal di Barat, sebentar saja Bwe Hwa terdesak hebat.
Ia cuma dapat mainkan pedangnya menangkis dan mencelat menghindarkan cengkraman-cengkraman garuda yang menyambar dari atas.
Untung saja laki-laki botak yang duduk di atas punggung garuda itu tidak ikut-ikutan hanya sebentar-sebentar memerintah burungnya menyambar dari atas sehingga walaupun Bwe Hwa sudah dibuat sibuk dan terdesak oleh terjangan-terjangan tongkat Bu-tek Sianli dan pukulan-pukulan tangan kosong Kwan-tiong Tok-ong dan Tung Hay Nio-nio, Bwe Hwa dapat bertahan untuk beberapa lama.
-tek Sianli, Nenek bangsat......
Kalau kau gagah, hayo lawan aku......
terjangan tongkat Bu-tek Sianli, dan memapaki pedangnya mengelebatkan ke arah tangan Kwan-tiong Tok-ong yang bermaksud mengirim totokan ke arah lehernya.
-benar mempunyai nyali naga dan semangat segede -tiba Kwan-tiong Tok-ong berkata kepada Bu-tek Sianli sambil mengirim terjangan kibasan lengan jubahnya dengan maksud membelit pedang Bwe Hwa, akan tetapi tentu saja Bwe Hwa tahu bahwa jubah lawannya ini mempunyai maksud untuk membelit pedangnya, maka ia menarik kembali tusukan pedang ke arah dada Tung Hay Nio-nio dan membalas menyerang Bu-tek Sianli.
Kwan-tiong Tok-ong.
-tiong Tok-ong dan isteriku Tung Hay Nio-nio, bersama puteraku Kong Beng adalah sahabat Bu-tek Sianli.
Kau begini muda telah menghina Bu-tek Sianli, benarkah?
Sayang sekali, terutama engkau yang masih begini muda dan cantik sayang sekali kalau mendapat luka, lebih baik -tek Sianli tak mengganggunya.
Aku suka sekali kepadanya ayah, tangkap dia jangan lukai hi-Beng benar-ben -tiong Tok-ong berseru girang.
Memang puteranya ini ku-koay sekali.
Berpuluh-puluh gadis telah dikenalkannya namun Kong Beng selalu menolak tentang perjodohan.
Belum mau kawin.
Sekarang begitu mendengar anaknya minta kawin dengan gadis yang begini lihay dan cantik, meskipun berlengan buntung Kwan-tiong Tok-ong sangat girang sekali, apabila didengarnya puteranya berkata, pantas di --tiba Bwe Hwa berseru keras dan maju menyerang mengelebatkan pedangnya dengan sengit dan penasaran.
Bu-tek Sianli tertawa menghina dan menyambut dengan tongkatnya.
Tung Hay Nio-nio berseru keras dan menyerbu pula, membantu Bu-tek Sianli mengeroyok gadis yang hebat ini.
-nio berseru ke arah anaknya mengirim terjangan hebat kepada Bwe Hwa.
-koay (aneh) Kong Beng, puluhan gadis cantik dan terpandang kau t -nio menggerutu.
Betapapun juga ia sayang sama Kong Beng.
Maka ia kini mempercepat gerakan tongkatnya untuk merobohkan Bwe Hwa.
Tak kuat Bwe Hwa menghadapi terjangan yang aneh dan luar biasa dari Tung Hay Nio-nio, ia menangkis tongkat dan mencelat ke atas menghindarkan diri dari sebuah tongkat di tangan Bu-tek Sianli.
Pada saat itu selagi tubuhnya melayang di udara, tiba-tiba Kwan-tiong Tok-ong mencelat ke atas dan sebuah saputangan merah menyambar muka Bwe Hwa yang cepat berkelit ke kiri.
Akan tetapi, tiba-tiba Bwe Hwa merasakan kepalanya menjadi pening dan berputar.
Ternyata ia telah mencium bau yang memabokkan dari saputangan yang dikibaskan oleh Kwan-tiong Tok-ong, terasa sekali perutnya menjadi mual dan ia terhuyung-huyung roboh dan terus tak sadarkan diri.
Pada saat itu Bu-tek Sianli menerjang dengan teriakan keras mengelebatkan tongkatnya menghantam kepala Bwe Hwa.
Memang nenek ini begitu sangat benci sekali kepada Bwe Hwa ini, dan begitu melihat gadis lengan buntung itu sudah menggeletak tak berdaya segera menyerbu dengan tongkat di tangan.
-ha-ha betina liar, sayang sekali kau tidak ajak si buntung Sung Tiang Le -tek Sianli berkata menyindir sambil mencelat ke atas dan turun dengan tusukan tongkat ke arah ulu hati si gadis.
Sungguh keji sekali nenek ini.
Dapat dibayangkan betapa akan hancurnya tubuh Bwe Hwa apabila terhantam pukulan dahsyat tongkat itu.
--tiba Kong Beng berseru keras dan menahan gerakan tongkat Bu-tek Sianli .
-tek Sianli penasaran dan menoleh ke arah Kwan-tiong Tok-ong, merupakan teguran atas kelancangan puteranya.
Akan tetapi belum lagi si Raja Racun dapat menjawab.
Dengan berani sekali Kong Beng melototkan matanya ke arah Bu-tek Sianli.
dan menantang.
jangan kau ambil hati, habisi saja permusuhan dengannya sampai di sini.
Ia bakal menjadi mantuku ha-ha--tiong Tok-ong mengawasi Bu-tek Sianli dan Untuk beberapa lama Bu-tek Sianli tak dapat menjawab.
Ia jadi meragu.
Sebetulnya ingin sekali ia membunuh wanita adik seperguruan dari Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, dan melampiaskan perasaan hatinya yang marah dan mendongkol atas perbuatan Tiang Le yang malah mengobrak-abrik Sian-li-pay.
Akan tetapi tentu saja biarpun saat itu hati Bu-tek Sianli sedang mendongkol dan marah, ia tidak begitu bodoh untuk melampiaskan perasaan hatinya.
Ia tahu sekali kalau berkeras mendesak membunuh Bwe Hwa, tentu ia akan kehilangan tiga orang pembantu yang lihai ini dan ini sangat merugikan dirinya.
Maka sambil tersenyum penuh arti kepada Kong Beng berkatalah Bu-u dan setelah sadar ia -tanya ke situ?
Pokoknya urusanku dengannya, tak perlu kau campur.
Orang tuaku sudah setuju dan tak banyak tanya-tanya, kau ini apa-apa menanya-Cepat ia menghampiri Bwe Hwa yang masih pingsan.
Dan mengurut leher gadis itu, sehingga Bwe Hwa mengeluh perlahan dan begitu membuka matanya, melihat Kong Beng tengah memandangnya dengan kagum.
-ha-ha, beruntung sekali aku mempunyai isteri seperti engkau cantiknya.
Puteri Kaisarpun kalah cantik olehmu tra-tra-la tra-la-la, batang hatiku gembira he-he-Bwe Hwa diam.
Celaka, ia terjatuh ke dalam tangan orang botak yang miring otaknya.
Begitu ia melirik Bu-tek Sianli memandangnya dangan penuh kebencian.
Tahulah ia nenek ini tentu hendak membunuhnya dan kemudian dicegah oleh laki-laki botak yang bersikap kegila-gilaan ini.
Maka ia tidak begitu bodoh untuk melawan mati-matian.
Baginya, matipun tidak menjadi soal akan tetapi mengingat kandungannya, ia harus hidup.
nyengir kuda diplototi seperti itu.
-beng Siocia.......
ha-ha-ha isteriku namanya Bu-be Kwan-tiong Tok-ong terseyum girang melihat kelakuan puteranya dan berkata, garuda, akan tetapi hati-hati jang -tiong Tok-ong berkelebat mengejar Bu-tek Sianli yang sudah mencelat pergi.
-beng, Siocia........
idak sudi kawin denganmu, kau laki-tiba-tiba Bwe Hwa mengangkat tangannya mendorong.
Akan tetapi ia menjadi kaget begitu dirasakan tenaganya sudah lenyap.
Tahulah bahwa dirinya telah tertotok.
Tentu saja mana mampu ia menghadapi laki-laki ini dalam keadaan tertotok?
-penuhi permintaanmu.
O ya barangkali kau takut jatuh nunggang garuda, biar kita --beng Siocia, aku senang sekali kau tidak burung garuda dengan jinaknya telah mendekam di samping Kong Beng, -punggung garuda.
Saking lemasnya ia terhuyung-huyung hampir jatuh, akan tetapi tangannya dipegang oleh Kong Beng dan begitu terdengar suitan Kong Beng burung itu menggerakkan sayapnya terbang tinggi.
Tentu saja Bwe Hwa yang tidak biasa naik burung, apalagi setinggi ini menjadi ngeri hatinya.
Tiba-tiba Kong Beng bersuit lagi, tahu-tahu burung itu sudah menggerakkan sayapnya, mengipas-ngipas cepat sekali!
Dan Bwe Hwa rasa jantungnya berhenti berdetik ketika tubuhnya tiba-tiba meluncur cepat sekali.
Hampir ia terengah-engah karena sukar bernapas ketika angin bertitip keras dari depan.
Dan begitu Bwe Hwa memandang ke bawah, semua nampak kecil sekali.
Kepalanya pening, akan tetapi ia memiliki kekerasan hati.
Sambil menggigit bibir ia menekan perasaannya.
Masa ia harus kalah oleh laki-laki yang duduk di belakangnya?
-kang.
Namun Bwe Hwa diam saja.
Ia tengah tenggelam dalam pikirannya dan diam-diam ia mengerahkan hawa sin-kang untuk membebaskan totokan yang melumpuhkan tenaganya.
Setan!
Laki-laki botak ini cukup cerdik.
Kalau saja ia tidak tertotok seperti ini, ingin sekali ia menggerakkan tangannya dan mendorong tubuh Kong Beng, biar mampus!
pikir Bwe Hwa.
Tentu saja Kong Beng, cukup cerdik.
Siang-siang ia sudah menotok jalan darah Bu-beng Siocia ini, takut Bu-beng Siocianya kabur dan merepotkan dirinya.
Maka tadi begitu mengurut leher Bwe Hwa menyadarkan, tangannya yang terlatih dan lihai itu telah menotok jalan darah di tubuh si gadis.
Semakin tinggi burung itu membumbung ke angkasa, semakin ngeri hati Bwe Hwa melihat ke bawah.
Tak berani lagi ia memandang ke bawah, ia memegang leher garuda itu erat-erat.
Sebentar saja mereka telah tiba di atas hutan kecil di sebelah barat kota Tiang An.
Tiba-tiba Kong Beng berseru dan mengeluarkan suitan tiga kali.
Tahu-tahu burung garuda itu menukik ke bawah dengan kepala di bawah dan ekor di atas.
Hampir saja ia memegang erat-erat leher garuda itu.
Tak berani ia membuka matanya.
Suara angin berciutan di dekat telinganya.
-tetapi saking kerasnya suara angin sehingga suaranya hampir tenggelam.
Baiknya Kong Beng mempunyai pendengaran yang terlatih dan dapat mendengar kata-kata gadis di depannya ini.
Maka ia berkata, -ha, kau takut Bu--beng Siocia.......
kita sedang indehoy (pacaran) di udara.......
ha-ha-ha-ha orang lain tidak .
Mulutmu kotor, siapa bilang aku sedang indehoy denganmu.
saat itu ia sedang berada di tempat yang amat tinggi.
Maka ia segera melepaskan pegangan tangannya dan mendorong Kong Beng mengirimkan pukulan yang biarpun tidak berbahaya, cukup membuat Kong Beng terkejut dan berteriak kaget.
Bukan karena pukulan itu yang membuat ia menjerit kaget, akan tetapi ia melihat tubuh Bu-beng Siocia itu meluncur ke bawah.
Tadi begitu mengangkat tangannya dari pegangan leher garuda, Bwe Hwa terjungkal ke kiri dan menjerit ngeri waktu tubuhnya meluncur ke bawah dengan amat pesat sekali!
-Bwe Hwa yang melayang-layang di udara.
Ketika itu tubuh Bwe Hwa berputar dan hatinya sudah tidak keruan rasa semangatnya terbang, tiba-tiba tubuhnya dicengkeram oleh sebuah tangan yang kuat dan keras.
Dan tahu-tahu tubuhnya tertahan dari luncuran dari atas, malahan melayang lagi naik ke udara.
Suara kelepak sayap burung yang berwarna kuning emas menggelepar-gelepar.
Cepat Bwe Hwa mendongak dan ternyata ia telah berada dalam cengkraman burung rajawali emas yang tidak kalah besarnya dengan burung peliharan Kwan-tiong Tok-ong.
-tiauw-heng, ce memegang kaki rajawali itu dan aneh sekali ia merasakan totokannya telah terbebas dan tenaganya pulih kembali.
Merasa bahwa dirinya sudah terbebas dari totokan, segera Bwe Hwa menggenjot tubuhnya melayang ke atas dan tepat hinggap di punggung rajawali.
lepaskan Bu-Terdengar suitan lagi, tahu-tahu burung garuda yang ditunggangi oleh Kong Beng meluncur cepat mengejar burung rajawali yang mempunyai bulu kuning emas.
Bwe Hwa tahu bahwa dirinya dikejar, segera saja ia berseru kepada burung -tiauw lekas lari, laki-laki botak itu jahat sekali dan hendak Aneh sekali, seperti mengerti akan perkataan gadis itu, burung rajawali menggerakkan sayapnya lebih cepat dan terbang semakin tinggi sehingga sebentar saja Kim-tiauw itu sudah dapat meloloskan diri dari kejaran garuda.
Tahu bahwa burung rajawali ini mengerti perkataannya.
Bwe Hwa menjadi girang dan senang sekali hatinya.
Ia mendiamkan saja burung itu terbang tinggi melewati awan-awan dan semakin cepat burung itu meluncur semakin tidak takut hati Bwe Hwa.
Ia menepuk--heng, terim Tentu saja karena burung itu tidak bisa berbicara, Bwe Hwa tidak dapat menangkap maksud binatang yang ditungganginya ini, yang mencoet-coet berputar-putar di angkasa seperti orang kebingungan.
Akan tetapi bukan perkataan itu yang dikeluarkan oleh Kim-tiauw.
Ia hanya bisa mencoet-coet saja berputar-putar di udara seakan-akan tengah menanti perintah ke mana ia harus menerbangkan gadis di punggungnya ini!
Merasa burung ini berputar-putar dan kebingungan, segera Bwe Hwa berkata, -ko aku tidak punya tempat tinggal yang tetap, terserah kepadamu ke mana engkau hendak mem Terdengar Kim-tiauw itu menjerit girang, Ia sudah dapat menangkap maksud penunggangnya.
Maka sambil mencoet keras merupakan jeritan yang panjang, burung itu menggerakkan sayapnya dan meluncur cepat ke arah utara.
-tiauw, bawalah aku ke mana saja kau suka.
Kalau boleh kau bawalah telinga Kim-tiauw.
Burung itu mencoet girang.
Bwe Hwa menjadi girang dan waktu burung itu terbang lebih tinggi dan lebih cepat lagi, ia berpegangan pada kalung mutiara yang melingkar di leher Kim-tiauw.
Dan menyuruh burungnya terbang lebih cepat lagi.
ooOOoo Diantara begitu banyaknya puncak-puncak Himalaya di daerah Barat, jauh menjurus di sebelah utara terdapat puncak yang berbentuk seperti sayap burung dan dinamakan puncak Rajawali.
Tidak banyak orang yang mengenal pegunungan Rajawali ini oleh sebab banyak orang menyangka bahwa pegunungan yang panjang dan tinggi ini masih termasuk daerah pegunungan Himalaya yang terkenal di Tibet.
Akan tetapi apabila kita perhatikan benar-benar, lembah Wie-ho yang terdapat di antara dua pegunungan yang besar itu, sesungguhnya adalah batas daerah yang memisahkan Himalaya dengan Rajawali.
Namun dengan pegunungan besar ini berdekatan dengan pegunungan Himalaya dan dilihat sepintas lalu memang masih termasuk daerah Himalaya maka pegunungan rajawali yang terdapat di utara tidaklah banyak dikenal orang!
Di antara puncak-puncak yang tinggi dan bersalju di pegunungan Himalaya di Tibet terdapat pula puncak Anapurna, Hyang Adhidarma dan sederet dengan itu terdapat puncak yang bernama Rajawali.
Puncak gunung yang berhadapan dengan Anapurna dan hanya dipisahkan oleh sebuah lembah yang bernama lembah Wie-ho.
Sebuah lembah yang terkenal dan pernah menjadi tempat peristirahatan pemimpin Mongol yang bernama Jenghis Khan dan dari atas kedua puncak ini dapat kita lihat perumahan-perumahan dan pemandangan yang indah sekali yang didirikan oleh Mongolia.
Akan tetapi karena daerah itu tidak lagi diduduki oleh Mongol maka tempat itu boleh dikata menjadi tempat rekreaksi bagi suku bangsa Tibet dan sekitarnya.
Pada hari itu, puncak gunung Rajawali tengah diselimuti oleh halimun yang tebal dan bersalju.
Hujan salju turun merenyai.
Memang sudah dua bulan ini di daerah Tibet tengah mengalami musim salju dan di mana-mana terdapat hujan salju, terutama di daerah-daerah pegunungan.
Udara dingin sekali.
Pohon-pohon diselimuti oleh salju dan berwarna putih laksana kapas.
Binatang-binatang hutan dalam musim-musim salju seperti ini jarang sekali yang meninggalkan sarangnya, mereka lebih senang berlindung di sarang dan menghindarkan salju yang dingin itu.
Suasana begitu sepi dan hening.
Hujan salju merenyai membawa butir-butiran es yang menutupi puncak!
Akan tetapi di antara kekelaman malam, jalan yang tertutup oleh halimun dan salju, sayup-sayup dari atas puncak gunung terdengar suara nyanyian seperti orang membaca doa.
Kadang-kadang nyanyian itu timbul tenggelam di halau oleh angin yang kencang menghembus.
Dalam suasana hujan salju seperti ini, manusia manakah yang begitu gila berkeliaran di puncak dan membaca liam-kheng?
Memang suara itu kadang-kadang jelas, kadang-kadang tenggelam dalam hembusan angin dan salju.
Akan tetapi apabila kita perhatikan, itulah suara seorang manusia yang tengah mengulang-ulang bait-bait dalam kitab Suci Dhamapada.
Suara itu jelas terdengar, Yang Maha Welas Asih dan Maha Balas kasihan, Yang Maha Aku memuja pada Dharma, Aku memuja pada Sangha.
Malaikat langit, Malaikat bumi.
Semoga manusia terhindar dari penderitaan Semoga penderitaan meninggalkan badan.
Semoga seluruh mala petaka berobah menjadi debu.
Namo Maha Prajanaparamita!
Too Loo Ni Tee, Suara itu terus mengulangi kata-kata seperti itu tak henti-hentinya, kadang-kadang terdengar keluhannya seperti orang yang berdoa.
indungi diri teecu, agar dapat terbebas dari Entah manusia manakah yang membaca ayat-ayat kitab suci Dharmapada dengan suara yang timbul tenggelam itu.
Sementara hujan salju masih turun membawa gumpahan-gumpahan es dan angin bertiup kencang.
Pada saat itu, terdengar suara menggelepar keras dan dari atas menukik seekor burung rajawali emas dan hinggap di atas sebuah gundukan tanah di muka mulut gua.
Suara burung itu mencicit-cicit nyaring seakan-akan tengah memanggil-manggil.
Seorang wanita muda cantik berlengan buntung telah mencelat dari punggung rajawali itu dan memandang ke sekeliling.
Pakaian dan rambutnya penuh dengan salju yang menderai-derai menimpah tubuhnya.
Hebat sekali wanita itu, dalam deraian hujan salju yang begitu dingin dan angin keras ia tidak merasa dingin hanya rada wajahnya nampak membiru.
Tiba-tiba dari mulut gua keluar sesosok tubuh.
Tubuh yang sudah demikian tua dan ke dua kakinya buntung sebatas dengkul.
Kakek ini memandang wanita di dekat rajawali.
Suara kakek kaki buntung itu halus dan ramah.
Tentu saja Bwe Hwa pernah melihat kakek kaki buntung ini.
Pernah ia bertemu di lembah Tai-hang-san.
Malah kakek kaki buntung inilah yang menolongnya dari luka-Mengenal kakek kaki buntung yang pernah menolongnya, buru-buru Bwe Hwa -ha-ha, tidak disangka, kau jauh-kakek kaki buntung itu tertawa senang.
-tiauw-heng ini dari tangan puteranya Kwan-tiong Tok-ong yang bernama Kwan Kong Beng.
Teecu tertawan oleh putranya yang miring otak itu.
Untung ada Kim-tiauw yang keburu menolong teecu dan membawanya ke -keng hatiku tidak enak dan kenapa kau tidak bersama-sama dengan Pendekar Lengan Buntung, apakah Tiang Le baik--tiba Bwe Hwa menangis teringat Tiang Le.
Hatinya merasa ditusuk oleh perkataan kakek tadi.
Memang seharusnya ia tidak berpisah dengan Tiang Le, seharusnya dimana ada dia, di situ ada Tiang Le, akan tetapi ahh, susah!
Bwe Hwa menangis semakin keras.
Tenangkanlah hatimu, mari masuk, tidak baik di tempat i Si kakek kaki buntung yang pada puluhan tahun yang lalu berjuluk Sin Kun Bu-tek ini mengajak Bwe Hwa masuk ke dalam.
Dari pandangannya yang tajam, ia sudah dapat mengetahui akan penderitaan bathin yang dialami oleh gadis lengan buntung.
Sesampainya di ruang dalam, Bwe Hwa menghentikan tangisnya.
Ia merasakan suatu ketenangan dan rasa damai dihatinya berada di tempat sesunyi ini.
Ia menghapus air matanya dan memandang basah si kakek kaki buntung.
akibat perbuatan teecu di lembah Tay-hang-.
kalau begitu kau beristirahatlah di tempatku ini.
Dalam hal ini sebenarnya ngapa kalau Tiang Le tidak mempermainkan teecu, dia -benar keracunan ular putih di pantai laut Po-hay itu.
Apakah kau tidak melihat wajah pada ketika itu.
Orang yang keracunan ular putih wajahnya pucat dan putih, sinar matanya kuyu dan pokoknya pada ketika itu Bwe Hwa terdiam mengingat-ingat.
Memang pada waktu itu ia melihat wajah Tiang Le dan Pei Pei tidak sewajarnya Akan tetapi pada waktu itu ia sudah merasa marah bukan main dan mendapat lagi mengambil langkah dengan pertimbangan yang sehat.
Diam-diam Bwe Hwa menyesal sekali telah melarikan diri dari Tiang Le.
Hwa.
Kalau begitu kan masih ada harapan untuk kembali kepada Tiang Le.
Nah, kau istirahatlah di tempatku ini untuk beberapa lama kau suka, kelak kalau sudah tiba waktunya boleh kau cari Tiang Le.
Aku yakin dia akan mengakui anak dalam Demikianlah sejak beberapa minggu itu, Bwe Hwa tinggal di puncak rajawali bersama kakek kaki buntung yang sakti, Sin Kun Bu-tek Lim Heng San.
Selama di puncak rajawali itu ia mendapat ketenangan yang luar biasa dan sakit di dadanya yang tadinya mulai terasa, kini berangsur-angsur pulih kembali akibat buah-buah yang segar dan berkasiat yang terdapat di puncak.
Wajah Bwe Hwa kian hari semakin segar dan sehat kemerah-merahan.
Girang sekali hati kakek ini melihat kesehatan Bwe Hwa yang kian hari kian bertambah sehat dan segar.
Apalagi kini setelah beberapa lama tinggal di puncak, Bwe Hwa lebih senang memakai pakaian serba putih, nampak semakin jelita saja wajahnya dan perutnya pun semakin membuncit.
Selama di puncak itu kepandaian Bwe Hwa meningkat.
Ia diberi pelajaran silat oleh kakek Sin Kun Bu-tek dengan jurus yang bernama Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Pada suatu hari Bwe Hwa berpamit kepada Sin Kun Bu-tek untuk turun gunung mencari Tiang Le.
Saat itu musim salju telah lewat, berganti dengan musim semi yang gemilang.
Segala bunga-bunga bermekar indah di atas puncak.
Daun-daun yang tadinya rontok oleh datangnya musim salju kini berganti mengeluarkan daun-daun yang hijau dan cerah.
Halimun di atas hanya menipis menutupi puncak rajawali.
Si kakek Sin Kun Bu-tek Lim Heng San menghantarkan kepergian Bwe Hwa sampai di kaki bukit.
-hati Bwe Hwa, jagalah kandunganmu itu.
Kalau kau mau, bawalah Kim-tiauw untuk menemanimu, mudah-pesan kakek itu.
Sekali lagi Bwe Hwa menjura kepada si kakek.
Kemudian dengan menunggang burung rajawali yang jinak terhadapnya itu, mulailah Bwe Hwa mengadakan perjalanan ke selatan dan mencari Tiang Le.
Berhari-hari ia terbang di angkasa bersama Kim-tiauw karena ingin cepat-cepat bertemu dengan pemuda lengan buntung yang bernama Sung Tiang Le.
Dan seperti yang sudah diceritakan pada bagian depan, gadis ini mendatangi Tiang-pek-san dan alangkah kecewa hatinya melihat Tiang Le ternyata telah kawin dengan gadis bekas murid Bu-tek Sianli, yang bernama Liang Bwe Lan.
Dan ia mendengar pula betapa Tiang Le telah menjadi ketua Tiang-pek-pay dan tidak mau mengikutya.
Alangkah kecewanya hati gadis lengan buntung itu.
Sambil mengeluarkan suara tertawa penuh isak tangis, ia terbang tinggi dengan burung rajawali emas yang membawanya kembali ke puncak Rajawali dan tinggallah ia bersama-sama kakek Sin Kun Bu-tek sampai ia melahirkan.
Sungguh perih sekali hati gadis itu pada waktu kelahirannya tiada Tiang Le di dekatnya.
Saking kecewanya hati gadis itu, diam-diam ia membenci Tiang Le dan isterinya.
Kelak apabila anak itu telah dewasa, hendak ia tanamkan rasa sakit hati itu kepada keluarga Tiang-pek-pay.
Dengan pertolongan penduduk dusun, akhirnya Bwe Hwa melahirkan seorang puteri yang sehat dan manis.
Anak perempuan itu diberinya nama Lie Lily, sengaja ia tidak memakai she (nama keturunan Sung) karena hatinya sudah begitu kecewa dan benci terhadap Tiang Le.
Puteri yang bernama Lie Lily ini sangat mungil dan manis, membuat kakek Sin-kun Bu-tek amat sayang sekali dan menganggapnya sebagai cucunya sendiri.
Lepas beberapa tahun kemudian, anak yang mungil ini dididik langsung oleh kakek Sin-kun Bu-tek dengan menurunkan ilmu silat yang tinggi serta lihai, membuat hati Bwe Hwa menjadi girang sekali dan ia sendiri dengan giat menurunkan ilmu pedang yang dahsyat Pek-hwa-kiam-sut, ilmu yang pernah ia pelajari dari kitab peninggalan Pek-moko.
Sudah barang tentu, Bwe Hwa sayang sekali kepada puterinya ini dan sangat memanjakannya.
Dalam usia hampir menanjak enambelas tahun, Lily menjadi seorang gadis yang sangat jelita, malah lebih cantik dari Bwe Hwa sendiri.
Kepandaiannya pun malah lebih tinggi dari pada ibunya, karena gadis ini langsung di bawah bimbingan Sin-kun Bu-tek yang sakti, sehingga dalam usia yang sangat muda itu, Lily mempunyai kepandaian silat yang amat tinggi dan luar biasa.
Akan tetapi satu hal yang sangat disayangkan adalah berkat didikan Bwe Hwa yang terlalu memanja anak ini, sehingga ia menjadi seorang gadis yang keras hati dan selalu menuruti kemauannya sendiri.
Lebih dari pada itu, mulai sejak kecil Lily ini dijejali filsafat untuk membenci Sung Tiang Le yang tinggal di puncak pegunungan Tiang-pek-san.
Sehingga dalam dada gadis remaja itu tertanam kebencian hebat kepada keluarga Sung Tiang Le di puncak Tiang-pek-san dan ia berjanji suatu ketika kelak, ia akan membasmi Tiang-pek-san dan hendak membuntungi lengan Sung Tiang Le!
ooOOoo Pada suatu hari kakek Sin-kun Bu-tek yang sudah sangat tua usia itu, menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Tentu saja biar bagaimana sakti kakek yang bernama Sin Kun Bu-tek ini, iapun tidak dapat menolak datangnya maut di hari tuanya.
Ia meninggal dunia dalam usia hampir seratus tahun dan ini sangat menyedihkan hati Lily yang sudah menganggapnya sebapai kong-kong (kakek) nya sendiri.
Lily menangis sedih waktu kong-kongnya sehari sebelum meninggal dunia memesannya demikian.
melihat engkau yang masih begini muda telah memiliki kepandaian yang cukup tangguh, apalagi kulihat ibumu juga menurunkan ilmu pedang yang hebat dan ganas.
Kepandaianmu kini boleh dikata sudah mendekati puncak kesempurnaan, tinggal hanya melatih diri saja!
da batasnya, jangan kau kira bahwa kepandaianmu sudah menjagoi dunia persilatan.
Di dunia ini banyak sekali orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi dan tak terbatas.
-san, masih lebih tinggi awan di atasnya.
Dan biarpun awan sudah kelihatannya begitu tinggi, akan tetapi di atasnya masih ada langit dan segala malaikatnya.
"Nar, sebab hanya orang yang mengenal dirinya itulah yang sesungguhnya dapat melihat kesalahan-lahan dan kelemahannya.
--tiba Lily bertanya menentang pandangan si kakek.
Sin-kun Bu-tek menghela napas panjang.
-arkan itu.
Kau hendak -kong?
Kata Ibu, kepandaian orang yang lengannya buntung itu lihai sekali, malah lebih sakti dari pada ibu.
Benarkah kong--kong, Dia musuh besarku!
Aku harus mengadu nyawa dengannya!
erita karena itu.
Aku harus turun gunung dan mencari laki-keras dan bersemangat.
Untuk seketika lamanya Sin Kun Bu-tek tak berkata apa-apa lagi.
Ia memandang gadis cucunya di depannya.
Celaka, inilah gara-gara Bwe Hwa yang telah menanamkan rasa kebencian di hati gadis ini sehingga Lily bertekad untuk membunuh ayah kandungnya sendiri!
Tak baik kau menyerangnya, tidak boleh begitu Lily.
Seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya.
Kau seharusnya mencari Sin Kun Bu-Belum lagi Sin Kun Bu-tek meneruskan kata-katanya, tiba-tiba Bwe Hwa muncul -carimu setengah mati, nggak tahunya kau ada di sini.
Hayo kau ikut aku menangkap kelinci buat kong-Bwe Hwa menarik tangan puterinya, membuat Lily terpaksa mengikuti ibunya berlari-lari turun gunung dan menuju ke sebuah hutan kecil yang banyak terdapat binatang kelinci di situ.
mengawasi ibunya.
Untuk sejenak wajah Bwe Hwa menjadi murung.
Dia.......
dia telah mati Lily.
Pendekar Lengan Buntung itulah yang telah ---kong-kongmu!
-tiba Bwe Hwa menangis dan memperlihatkan lengan kirinya yang buntung kepadanya.
gan Tiba-tiba Bwe Hwa mengusap air matanya dan berseri.
menarik tangan anaknya memasuki hutan kecil dan tidak lama kemudian mereka sudah menenteng telinga kelinci yang gemuk-gemuk dan sehat, langsung saja mereka terus menuju ke goa Sin Kun Bu-tek.
Akan tetapi alangkah kagetnya begitu dilihatnya si kakek tengah bertempur menghadapi maut.
Lily segera menubruk kakek itu dan menangis tersedu-sedu, -kong.......
kong-Dengan amat sayu si -megap napasnya sekarat hendak wafat.
Cepat ia menotok pernapasan si kakek yang terasa sesak dan mengurutnya dada si kakek.
--yang sudah rapuh saking tuanya.
berkata demikian kakek yang sakti itu menghembuskan napasnya yang penghabisan.
-Maka dikesunyian puncak itu terdengar tangisan dua orang wanita yang bersuara merdu seperti bidadari.
Itulah tangisan Bwe Hwa dan puterinya.
Si mati terbujur kaku dengan tenang dan damai.
Si hidup manggil-manggil si mati dengan suara yang mengiba dan penuh penyesalan.
Memang demikianlah adanya bagi yang mati, ia telah terbebas dari ikatan-ikatan duniawi.
Ia sudah berpulang ke tempat asalnya dengan tenang dan tiada lagi tangis dan air mata di sana.
Sebaliknyi bagi mereka yang masih hidup, hukum dunia ini masih berlaku menuntut kepadanya, sehingga merupakan tekanan dan penderitaan yang tak kunjung habis-habisnya.
Merupakan hidup ini menjadi beban bagi si hidup dan akan lenyaplah beban itu apabila nyawa, telah meninggalkan raga!
Sampai seminggu itu Bwe Hwa dan puterinya menetap di puncak Rajawali sebagai tanda berkabung.
Jenazah kakek Sin Kun Bu-tek telah dikuburkannya di depan mulut gua, sehingga di situ terdapat sebuah makam yang baru merupakan, segundukan tanah!
Bwe Hwa dan Lily bersembahyang sekali lagi di depan makam kakek Sin Kun Bu-tek.
Dan setelah itu, mereka berdua ibu dan anak meninggalkan tempat itu untuk mencari Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le.
Mereka tidak berlari cepat menuruni puncak rajawali, karena Lily yang baru pertama kali ini turun gunung berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangah alam yang indah sekali di pegunungan Himalaya.
Kalau Bwe Hwa berpakaian putih-putih dengan pedang pendek terselip di pinggangnya adalah puterinya ini demikian jelita dan cantik dalam pakaian warna putih pula sehingga merupakan sekuntum bunga cilan yang harum dan segar.
Pipi gadis itu kemerah-merahan oleh sebab hawa pegunungan yang dingin dan sejuk.
Pada pinggangnya terselip pula sebuah pedang yang tidak kalah ampuhnya oleh pedang Pek-hwa-kiam yang dipakai ibunya.
Pedang ini adalah pemberian kakeknya bernama pedang Toat-beng-kiam.
Pada waktu kakeknya memberikan pedang itu pernah kakeknya berkata, -beng-kiam ini adalah sebuah pedang yang pada puluhan tahun telah banyak meminum darah manusia.
Dan berhasil ku singkirkan dan kusimpan.
Akan tetapi aku setelah menurunkan ilmu silat kepadamu maka pedang ini baik sekali kau bawa.
gunakanlah pedang ini untuk kebajikan dan kebaikan bagi sesama manusia.
Jangan kau Dan yang membuat kakek Sin Kun Bu-tek maupun Bwe Hwa merasa sayang kepada gadis ini adalah karena Lily mempunyai wajah yang mirip dengan ayahnya, Sung Tiang Le.
Hanya sepasang mata itu mengambil mata ibunya, bulat seperti mata burung Hong.
Sehingga seringkali apabila memandang anaknya Bwe Hwa teringat kepada Tiang Le, dan kembali segala kenangannya bersama Tiang Le melekat di ruang matanya.
Dan kesudahannya timbul rasa sakit hati dan benci.
Dan rasa penasaran itu ditanamkan kepada anaknya, sehingga gadis yang masih begini muda dan cantik telah mempunyai rasa benci yang luar biasa terhadap Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le!
ooOOoo Tiang Le dan Bwe Lan mengadakan perjalanan yang jauh menuju puncak Tay-san.
Ia sengaja tidak membawa Wang Ie karena hendak mengadakan berjalan cepat dan amat berbahaya.
Berminggu-minggu ia berjalan melintasi hutan belukar lebat dan dusun-dusun tak berhenti-hentinya Kadang-kadang mereka mempergunakan ilmu lari cepat dan herkelebat bagaikan bayangan setan di tengah hari bolong, kadang-kadang pula mereka berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangan yang indah.
Pada suatu hari mereka sampai di lereng gunung Tay-san yang tinggi itu.
Karena udara sangat panas sekali dalam sebuah hutan kecil mereka berhenti dan duduk di bawah sebuah pohon yang rimbun daunnya melepaskan lelah.
-san, Lan-tahu isterinya.
Bwe Lan tersenyum dan memandang ke sekeliling hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan rimbun daunnya.
Ia menyeka keringat pada dahinya kemudian duduknya di tanah di dekat Tiang Le.
Angin yang bertiup dari pepohonan terasa nikmat sekali.
Sementara matahari siang telah berada di atas kepala memandangnya dengan garang.
Bwe Lan melonjorkan kakinya.
Bwe Lan berkata di dekat Tiang Le.
Tiang Le menoleh dan memandangnya dengan mesra.
-moay, biar setengah hari ini kita istirahat di sini.
Nanti sore kita lanjutkan perjalanan kita, dua jam lagi tentu kita akan sampai di puncak -Bwe Lan tidak menyahut, ia mengatupkan kelopak matanya dan tidur-tidur ayam.
Tiang Le memandang isterinya.
Ia sendiri tadi tidak mengerti sikap isterinya ini.
Barusan setengah hari mereka tidur mengomong.
Isterinya mendiamkan saja.
Aneh, akhir-akhir ini sikap Bwe Lan aneh dan manja!
Ia mendiamkan saja isterinya melenggut tidur ayam menyenderkan kepala dibahunya, hanya terasa napas isterinya lambat-lambat turun naik.
Tiang Le merenung memandang wajah Bwe Lan.
Entah mengapa apabila dia memandang wajah Bwe Lan dia selalu terkenang akan Bwe Hwa.
Dan apabila teringat itu, ia menarik napas dalam.
Merasa bahu itu terguncang waktu menarik napas tadi, Bwe Lan tersentak kaget dan membuka matanya memandang suaminya.
-moay, cuma saja.
Ahh, entah kenapa hatiku tidak enak apabila teringat gat perempuan -tiba Bwe Lan bertanya tajam.
Ia memandang suaminya seperti orang menyelidiki, tatapannya yang tajam dan penuh perasaan tak senang seakan-akan hendak menembus dan membaca isi hati Tiang Le.
Tiang Le tertu kuatir ancaman Bwe Hwa tempo hari itu menjadi kenyataan Lan-Bwe Lan mendengus dan alisnya naik ke atas menyatakan perasaan hati tak iranya Lan-moay.
Siapakah orangnya yang tidak akan pedih hati melihat ah, kau memang mata keranjang.
Sudah Pei Pei kau permainkan, kini Bwe Hwa lagi.
-siapa, Lan-moay.
Juga tidak bermaksud jelek Tiang Le menoleh dan memandang istrinya.
Dua pandangan mata saling merenggut.
-tiba Bwe Lan mengeluarkan air mata menangis.
Tiang Le mengusap pipi yang basah oleh air mata itu.
padamu Lan-moay.
Sudahlah jangan kau bicarakan itu lagi.
Soal Bwe Akan tetapi Bwe Lan marah-marah dan membanting-bantingkan kaki sambil mencucurkan air mata yang deras meleleh pada kedua pipinya.
arah-marah dan menangis.
Ada apakah Lan-memegang lengan istrinya, membelai rambut yang panjang terurai itu dengan kasih sayang.
u marah-marah seperti ini?
Apa salahku, tidak hujan tidak --marah.
Ah, dasar cemburu buta, siapa yang sayang sama Bwe Hwa, aku cuma katakan kuatir kalau-kalau anakku di dalam kandungan Bwe -Bwe Lan tidak menyahut.
Ia hendak berdiri, akan tetapi Tiang Le menarik tangannya sehingga ia terduduk lagi.
Dan terjatuh ke dalam bidang dada Tiang Le yang terus saja mengecupnya bibir sang isteri.
--tiba Bwe Lan memukul dada Tiang Le pelan dan dari balik air mata yang berderai-derai itu membersit sebuah senyuman yang manis.
Dan Tiang Le mencuit bibir Bwe Lan dan membenamkannya dalam mulutnya!
Pada saat itu, entah dari mana datangnya tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek yang sudah sangat tua sekali usianya, ada seratus tahun lebih.
Rambutnya semuanya sudah putih panjang sebatas pundak, berjenggot putih pula.
Akan tetapi wajahnya yang penuh dengan kerisut-kerisut hitam itu sama seperti pantat kuali, dan telinganya yang amat lebar seperti kuping gajah yang diberi anting-anting besar, tangannya yang hitam berbulu damikian kurus dan memakai gelang-gelang pula.
Kakek itu memakai jubah kuning seperti seorang pertapa dan waktu ia berkata nampak semua giginya sudah ompong sehingga menampakkan gusi yang hitam pula.
-he-he, anak gila gendeng, isteri tengah mengandung diajak berkeliaran di hutan seperti ini.
Benar-membuat Tiang Le dan Bwe Lan tersentak kaget dan meloncat berdiri.
Baik Tiang Le maupun Bwe Lan tidak mengerti mengapa mereka tidak mendengar kedatangan kakek ini dan tahu-tahu telah berdiri di depannya.
Sungguh luar biasa!
Atau apakah mereka saking tenggelam dalam perasaan masing-masing sehingga tidak Sungguh tak masuk diakal dan begitu Tiang Le melirik kaki si kakek muka hitam yang telanjang, tahulah dia tentu kakek ini bukan orang sembarangan, kedatangannya tidak terdengar oleh mereka.
Pada hal kalau seandainya ada semut yang merayap di tanah tentu Tiang Le dan Bwe Lan sudah mendengarnya, masa kakek ini begitu tiba telah berdiri di depannya dan memaki-makinya.
Gila!
Mendengar kakek itu memaki suaminya keruan saja Bwe Lan hendak menerjang kakek yang dianggapnya telah mengganggu acaranya dengan suaminya tadi, akan tetapi Tiang Le yang mengenal kakek muka hitam ini, menjadi terkejut sekali dan memberi isyarat kepada isterinya untuk tidak sembarangan bergerak.
Anapurna.
Siauwte yang muda dan bodoh Sung Tiang Le dan istri menghaturkan a kosong belaka.
Aku Nakayarinta sungguh dibuat kagum dan penasaran melihat sepak terjangmu yang luar biasa di Pulau Bidadari tempo hari, orang muda lengan buntung kau hebat.
Akan tetapi damikian tahu-tahu Nakayarinta telah mengeluarkan sebuah tongkat yang terbuat dari ular cobra yang sudah dikeringkan.
Ular yang sudah kering itu panjangnya ada tiga meter sehingga merupakan tongkat yang berbahaya dan ampuh.
Tongkat ular itu terus saja menyambar kepala Tiang Le dengan gerakan yang dahsyat dan aneh.
Ekornya meluncur merupakan totokan ke arah kepala, sedangkan tangan kiri kakek itu mendorong ke muka dengan tubuh agak doyong ke kiri seperti orang hendak jatuh.
Sementara mulut si kakek muka hitam tertawa mengakak.
Menghadapi dua serangan sekaligus ini, Tiang Le cepat mendorong Bwe Lan dan ia sendiri dengan gerakan kaki menurut langkah-langkah ajaib mainkan jurus-jurus ji-cap-it-sin-po untuk menghindarkan serangan tongkat sedangkan tangannya bertangan kiri bergebrak menggunakan gerak tangan kilat yang menyambar dari samping.
Memapaki dorongan tangan kiri Nakarayarinta.
suara keras.
Tubuh Tiang Le bergoyang-goyang dengan tangan masih terangkat ke atas, sedangkan tubuh Nakayarinta semakin doyong ke kiri dan hendak jatuh.
Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti dari orang-orang yang sudah memiliki tenaga sin-kang sempurna.
Kalau seandainya bukan Tiang Le yang terkena dorongan pakulan tangan kiri Nakayarinta tentu akan hancur lebur tubuh itu, sebaliknya gerak tangan kilat dari Tiang Le pun luar biasa.
Untung yang menerima pukulan ini adalah Nakayarinta, orang sakti dari puncak Anapurna.
Kalau bukan si kakek Nakayarinta, entah bagaimana jadinya.
-ha-ha ho-ho-ho, kau hebat, patut menjadi Pendekar Lengan Buntung.
Eh, aku harus cepat-cepat ke puncak.
Thay--ho-ho, ha-ha-ebat dan lenyap dari pandangan Tiang Le dan Bwe Lan.
-jangan banyak pula tokoh-tokoh kang-arah perginya kakek itu.
kita mesti takut?
Biar ada seribu manusia seperti kakek muka hitam -rumput yang seketika menjadi layu terinjak kaki Bwe Lan yang bersepatu itu.
Tiang Le memandang kepada Bwe Lan.
Menatap perut istrinya.
Dan sang istri mengerutkan keningnya waktu dilihatnya Tiang Le menatap perutnya dengan tajam.
-menggerutu.
Tiang Le menyambar lengan isterinya dan diputar-putar sambil tertawa senang, -ha--ha-----Bwe Lan membanting kaki dan marah--laki maunya menang sendiri.
Pokoknya terserah Tuhan, laki--Tiang Le tertawa keras, sehingga suara ketawanya mengejutkan burung yang bertengger di atas pohon dan terbang tinggi.
-ha-ha, tentu saja setelah ia lahir, anak itu menjadi anakmu dan anakku juga.
Eh, Lan--laki atau --ha-menaiki puncak gunung Tay-san.
Bayangan Tiang Le yang memondong tubuh Bwe Lan berkelebat laksana burung walet berlompat-lompatan dari jurang ke jurang dan jikalau ada yang melihat, tentu orang itu akan menduganya seekor burung yang sedang terbang rendah!
Dan sebentar saja Tiang Le sudah sampai di puncak, akan tetapi ia segera menyelinap batu gunung dan berbisik ke dekat telinga isterinya.
-moay, sudah banyak orang di puncak itu.
Sebaiknya kita tidak memperlihatkan Bwe Lan merosot dari pondongan Tiang Le dan memandang ke puncak.
Benar saja di atas tanah datar yang cukup luas dan diselimuti oleh rumput itu ada tiga orang kakek-kakek yang kelihatannya sudah tua dan kurus kering, kakek ini duduk di tiap pojok merupakan sebuah lingkaran segitiga.
Rata-rata kakek itu berkepala botak licin seperti kepala hwesio, akan tetapi melihat cara pakaian mereka yang sederhana terbuat dari kain putih yang kasar dan berpotongan seperti orang dusun, mudah saja diduga bahwa ketiga kakek itu bukanlah seorang hwesio.
Usia mereka rata-rata hampir tujuhpuluh tahun.
Yang seorang kurus kering, wajahnya penuh kerut merut menandakan usia tua.
sedangkan yang seorang lagi yang duduk meramkan mata di pojok sebelah kanan adalah kakek yang meskipun tidak kalah tuanya dengan kakek pertama tadi, akan tetapi dia mempunyai wajah bundar dan gemuk seperti wajah ji-lay-hud, pakaiannyapun seperti pakaian hwesio, berkepala botak, tubuhnya gemuk dan berjenggot putih.
Dan kakek yang terakhir, kelihatan seperti orang yang sudah tidak mempunyai cahaya kehidupan lagi matanya yang saking tuanya itu memancar pucat dan lesu setengah dikatupkan seperti orang mengantuk.
Wajahnya kurus dan pucat, tangannya pun kurus kering, kepalanya botak akan tetapi pada telinganya memakai anting-anting besar seperti orang India, berpakaian jubah kuning dengan sebuah penggada terletak di dekatnya, mereka itu diam tak bergerak seperti patung.
Angin gunung meniup kencang mengibar-ngibarkan lengan baju dan jenggot mereka yang sudah pada putih.
Mereka duduk bersila merupakan lingkaran segi tiga dengan tak bergerak.
Pada saat itu berkelebat banyak bayangan dan lima orang kakek yang dikepalai -wi locianpwee penghuni puncak Tay-san, perkenankan kami utusan dari Thay-bengcu menghadap untuk menerima harta pusaka peninggalan Sui---bengcu adalah beng-cu (pimpinan) kami yang terbesar di Barat dan mengutus kami untuk menerima kitab dan pedang Sui-Kakek muka hitam yang bukan lain adalah Nakayarinta itu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk mengurung tempat itu.
Empat orang kawannya yang bukan lain adalah Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo, Bu-tek Sianli dan Kwan-tiong Tok-ong mengurung ke tiga orang kakek dengan sikap mengancam.
-wie (tuan-tuan berempat) ini hendak berbuat apakah di puncak ini, di sini tidak ada pedang dan kitab seperti kalian maksudkan.
Harap sie-wi segera kembali saja turun gunung dan sampaikan salam hormat kami Tay-san Sam-lo-jin untuk beng-cu kalian di -tek Sianli berkata dan menggerakkan pedangnya melintang di depan dada.
tah Beng-cu kami yang mulia, kami tunaikan tugas walaupun mengeluarkan tongkat ular kobranya.
-su ini Nakayarinta dari Anapurna.
Celaka, kali ini puncak Tay-san akan merupakan bencana yang hebat.
He, Nakayarinta.......
di sini tidak ada pedang dan kitab, lebih baik kalian tidak susah-susah mencari-muka Ji-lay-hud menggoyang-goyangkan tangannya!
da kitab dan pedang.
Kalian kira kami tidak tahu, kitab dan pedang itu dititipkan oleh locianpwe Sui-kek Siansu kepada kalian.
Cepat -ha-ha, Thay-lek-hui-mo juga tidak ketinggalan mengunjungi puncak.
Sahdu, sahdu, akan ramailah puncak ini nanti malam.
Entah manusia mana yang mendesas-desuskan tentang pusaka Sui-kek Siansu sehingga iblis dari Barat dan Utara sampai ke Kakek yang bergelang anting-anting pada telinganya itu mengetuk-ngetukkan tangannya ke tanah.
Kemudian merangkapkan kedua tangan ke dada, seperti orang berdoa.
ENDETA SIALAN, -tek Sianli yang tidak sabaran telah mengelebatkan tongkatnya menghantam kepala si kakek botak yang memakai anting pada telinganya.
Akan tetapi tongkat itu telah ditangkis oleh Nakayarinta dengan tongkat ular cobranya.
-baik.
Seorang tamu tidak boleh berlaku nta mencegahnya sehingga Nenek itu mencelat mundur kembali dengan mengeluarkan suara mengejek.
Pada saat itu dari bawah puncak mendaki serombongan pengemis yang berikat pinggang sutera merah di pinggangnya.
Bu-tek Sianli mengerutkan keningnya melihat kedatangan rombongan Ang-kin-kay-pang ini, nampak di tengah-tengah rombongan Can lo-kay berjalan dengan gagahnya.
Tak lama kemudian dari sebelah kiri bermunculan pula orang-orang gagah dari pulau sinar emas.
Itulah rombongan Kim-kong-pay yang sudah tiba di tempat itu di bawah pimpinan Kiang Sun Hi dan Yap Sian Eng berjalan berdampingan dengan gagah.
Tak lama kemudian, dari balik batu muncul pula orang-orang gagah yang tak lain adalah Koay Lojin, Cui-sian Kong Sin Kek, dan tak ketinggalan pula si raja obat she Lo dengan didampingi oleh sahabatnya Kwa-sinshe, sedangkan di belakang mereka nampak dua orang muda, Lo Siauw Yang dan Go Sin Thong.
Sedangkan dari sebelah kiri tidak ketinggalan muncul pula Pek-pek Hoatsu bersama muridnya Hay-tok Lhama, yang terus saja menghampiri rombongan Bu-tek Sianli.
-benar puncak Thay-san sudah dikurung oleh orang-orang kang-ouw untuk barang--ha-ha Thay-san Sam-lo-jin, siapa bilang pedang dan kitab adalah benda mati.
Semua orang tentu menghendaki barang itu, yang menghidupkan semangat dan kekuatan untuk menjagoi dunia persilatan.......
ha-ha-dan suara tertawanya keras sekali.
-niu-san juga tidak ketinggalan.
Eh, Koay Lojin.....
apakah kau pusaka Sui-kek Sian
Jilid 5 -lagi si kakek muka pucat.
-tek Sianli dan bundar yang bertubuh gemuk itu menggoyang-goyangkan tangannya.
Dan angin puyuh berputaran menyerang rombongan Koay Lojin dan Bu-tek Sianli.
bil mengangkat tangan pula membalas mendorong.
Ia merasa tangannya kesemutan terbentur angin yang diputar-putar oleh si kakek muka bundar itu sedangkan beberapa orang yang tidak mempunyai kepandaian tinggi terjengkang ke belakang membuat untuk beberapa lama napasnya menjadi sesak dan sukar bernapas.
-tek Sianli juga memuji merasakan putaran tenaga angin yang keluar dari putaran tangan si muka bundar itu.
Ia mencelat ke belakang dan membiarkan Nakayarinta maju ke depan.
-san Sam-lo-jin, kalian terlalu.
Kami datang secara baik-baik.
Nggak tahunya kalian sudah begini tak tahu sopan menyerang tamu-tamu yang berkunjung.
Hemm, Tangan kiri Nakayarinta bergerak seperti orang menunjuk, akan tetapi hebat bukan main.
Dari telunjuk itu tiba-tiba memancar sinar merah.
Amat cepat sekali sinar itu menyerang si kakek muka pucat yang tengah meramkan matanya.
Sehingga merasakan benda halus menyambarnya, segera saja ia menyampok dengan kebutan ujung bajunya.
Akan tetapi, sungguh luar biasa, benda itu demikian halus dan hampir tak mengeluarkan suara.
Dua buah jarum yang bernama Ang-tok-ciam telah menyentuh kepala botak si kakek muka pucat, dan mukanya bertambah merah.
Rasa panas seperti api dibakar di kepala kakek muka pucat ini menjerit dan menubruk Nakayarinta.
-lay-hud itu terlambat, karena si muka pucat sudah menerjangnya dengan serudukkan kepala ke arah perut Nakayarinta.
Pendeta dari Anapura tertawa mengakak dan mengangkat tangannya.
Akan tetapi Nakayarinta juga berteriak kaget merasakan tangannya yang memukul kepala tadi sudah berwarna merah pula.
Cepat-cepat ia merogoh sakunya dan memupuri bubuk yang berwarna merah di tangannya.
ji-lay-hud dan menggerakkan penggadanya menyerang Nakayarinta.
Suara angin berciutan keras waktu penggada yang berat itu menyambar.
Bersamaan dengan bergebraknya kakek muka ji-lay-hud itu, Bu-tek Sianli juga sudah menerjang maju dan mengeroyok kakek yang memakai anting besar pada telinganya.
Sungguh hebat sekali pertandingan ini, Si kakek muka ji-lay-hud melawan Nakayarinta pertapa sakti dari Anapurna.
Kepandaian mereka rupanya berimbang.
Tentu saja kakek yang berwajah seperti ji-lay-hud ini, bukan sembarang orang.
Ia itu adalah pelayan-pelayan dari Sui-kek Siansu dan mempunyai kepandaian yang cukup hebat.
Namanya Bun Kong Sian sedangkan sute mereka yang sudah meninggal tadi adalah adik seperguruan dari Kong Sian bernama Ji Siang Hok, dan yang tengah dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan tiga orang temannya adalah Lauw Sui Kiat.
Ketiga orang kakek kepala botak ini adalah pelayan-pelayan Sui-kek Siansu pada limapuluh tahun yang lalu.
Mereka pernah menerima latihan silat sambilan dari kakek sakti ini sehingga walaupun hanya latihan sambilan namun kepandaian mereka cukup tinggi dan duapuluh tahun yang lalu ketiga orang ini mendapat julukan Thay-san Sam-lo-jin atau tiga kakek aneh dari gunung Thay-san.
Tentu saja mengahadapi keroyokan secara pengecut, Ji Sian Kok terdesak hebat.
Kalau saja Bu-tek Sianli sendiri yang menghadapi kakek ini, belum tentu dia dapat menangkan Siang Hok akan tetapi kali ini Bu-tek Sianli berlaku pengecut dan mengajak Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo untuk mengeroyoknya, sehingga ia menjadi kewalahan bukan main.
Apalagi ia mendengar suara jeritan ngeri waktu suhengnya Bun Kong Sian yang terhantam tongkat dari Nakayarinta dan pada saat itu juga mati dengan kepala pecah dan otak berhamburan oleh pukulan tongkat ular pertapa yang sakti itu.
Kini Siang Hok tahu dirinya tak dapat lolos, maka ia mengeluarkan ilmu pedang yang sebagian ia pernah terima dari Sui-kek Siansu.
Begitu pedang itu berkelebat, dalam waktu sepuluh jurus Bu-tek Sianli dan Thay-lek-hui-mo mencelat mundur dan memegangi lengannya yang terluka terserempet pedang.
-lek-hui-mo.
-t e Bu-tek-cin--ha-dengan sepasang tangannya.
Pada ketika itu Kwan-tiong Tok-ong juga sudah maju dengan sepasang tangan buatannya menyambar-nyambar mencakar pundak Siang Hok.
Pada saat itu Siang Hok mainkan jurus Membabat Rumput Menggali Lubang dan pedangnya dengan aneh sekali berkelebat dan saking cepatnya jurus gerakan ini, membuat si Raja Racun menarik kembali lengannya dan mencelat ke belakang, pada saat itulah pukulan Nakayarinta bersarang di dadanya!
pundak tokoh Thay-san ini sehingga ia terjengkang roboh.
Pada saat itulah sesosok tubuh berkelebat dengan amat cepatnya dan tahu-tahu tubuh Siang Hok telah lenyap dari hadapan Nakayarinta dan orang orang yang mengurungnya.
-lek-hui-mo yang bermata tajam dan yang melihat berkelebatnya bayangan yang demikian cepat akan tetapi berlengan buntung.
Nakayarinta menggeram dan menggerakkan tubuhnya mencelat jauh dengan diikuti oleh banyak tokoh-tokoh yang mengejarnya, namun bayangan Tiang Le sudah tak nampak lagi batang hidungnya.
Mereka terheran-heran dan mencari-cari Pendekar Lengan Buntung.
Kemanakah perginya Tiang Le?
Tentu saja mereka tak pernah bermimpi bahwa Tiang Le pada saat itu berada di tepi jurang.
Dengan menggunakan ilmu cecak merayap di dinding, Tiang Le berhasil menempelkan tubuhnya di pinggiran tebing dan berkata kepada Ji Siang Hok, -kek Siansu.
Berbahaya sekali kalau pusaka itu terjatuh ke dalam tangan Nakayarinta dan tokoh-tokoh kaum hek-sik di dekat telinga Ji Siang Hok.
-mata siauwte hendak mengamankan benda itu usaka Sui-kek Siansu itu hendak melenyapkan benda yang sedang diperebutkan oleh anjing-anjing kelaparan di atas itu.
Akan tetapi sayang aku sendiri tidak pernah tahu menahu tentang kitab dan h-sungguh.
siauwte lihat locianpwee ini memainkan ilmu silat Sui-kek Siansu, bukankah tadi jurus-jurus Thian-te Bu-tek-cin--dua jurus dari Sui-kek Siansu, karena aku dulu adalah pelayan-pelayan dari Sui-kek Siansu!
Tentang pedang dan kitab, sungguh mati aku tidak pernah tahu!
Sebenarnya sudah puluhan tahun Sui-kek Siansu meninggalkan kami dan kami sendiri tidak tahu entah hidup, entah -desus ini sehingga mereka pada datang ke puncak.
Jangan-jangan mereka itu hendak mengadu domba di antara orang-orang gagah untuk memperebutkan kitab dan pedang.
Tiang Le biarlah aku ke atas dan menjelaskan ini kepada orang-ki di tepi jurang.
itu dan diikuti oleh banyak orang mengelilingi tepi jurang.
terus terang saja pusaka Sui-kek Siansu tidak ada di sini.
Harap cuwi percaya akan kata--ha-ha, siapa yang tidak tahu bahwa kitab itu berada di tanganmu.
Cepatlah -tek Sianli memaki sambil mengelebatkan tongkatnya -tek Sianli, kau ini dimana saja selalu membuat onar.
Kitab dan pedang tidak ada -benar sudah bosan hidup Ji Siang Hok.
Apa kau tidak memandang mata akan tokoh-tokoh Kang-ouw yang sudah ke tempat ini untuk melihat pusaka itu.
Lebih baik nggak cerewet dan serahkan kitab itu kepada kami, baru kami akan turun gunung -apa di sini dan terus terang saja kami sendiripun tidak tahu apakah betul-betul ada pusaka itu.
Kalaupun ada bukan diperuntukkan seorang di antara cuwi, gendut pendek, murid Kim-kong-pay.
Ji Siang Hok memandan juga tidak biasa membohong, harap para locianpwe tidak mengotori puncak dengan niat yang bukan-bukan ini sambil berkata demikian Ji Siang Hok menghunus pedangnya.
Nakayarinta tertawa bergelak dan sekali tangannya bergerak, ia telah memegang tongkat ular cobra yang sudah dikeringkan.
Mengerikan sekali keadaan kakek muka hitam ini, dengan tongkat ular cobra di tangan ia menggoyang-goyangkan tubuhnya dan berkata keras, -kek Siansu meninggalkan pusaka, dan kalau pusaka itu tidak diwariskan kepada Thay-san-sam-lojin, berarti siapapun yang mendapatkan pusaka itu berarti menjadi ahli warisnya pula dan ia berhak menjagoi dunia persilatan.
ku, biar kubereskan saja dan setelah itu kita berlumba siapa yang berjodoh mendapatkan pedang dan kitab Sui-kek Siansu ha-ha-Suara ketawa dari Nakayarinta terdengar sampai jauh dan menyakitkan telinga.
Tiba-tiba suara ketawa ini dijawab oleh suara lain, suara yang keras sekali, yang mengatasi suara ketawa Nakayarinta dan tahu-tahu berkelebat bayangan yang cepat luar biasa, terbang di atas kepala mereka.
Itulah seekor burung garuda yang indah dan kuat, dan di atasnya pada punggung garuda itu duduk seorang anak lelaki kepala botak yang melongokkan kepalanya ke bawah.
-san-sam-gkan tangannya ke atas dan bulu-bulu burung garuda rontok terhantam pukulan jarak jauh dari sepasang tangan Siang Hok.
-miring terhantam pukulan yang dahsyat.
Kwan-tiong Tok-ong marah dan sambil berteriak keras ia telah mengeluarkan sepasang senjata tangan yang disebut cap-tok-mo-jiauw (sepuluh cakar setan beracun) dan tanpa memberi peringatan lagi, tahu-tahu sepasang tangan itu terbang dan mencakar pundak Siang Hok.
Terdengar jeritan ngeri dari kakek itu yang tak dapat menghindarkan lagi serangan dari Kwan-tiong Tok-ong yang lihai itu.
Keruan saja ia roboh dengan tubuh hangus terkena racun hitam itu.
Cuma sebentar kakek itu berkelojotan kemudian ia menghembuskan napasnya dengan mata mendelik dan seluruh muka menjadi hitam seperti pantat kuali, dari mulutnya mengalir darah hitam.
Inilah kelihaian senjata Kwan-tiong tok-ong yang disebut cap-tok-mo-jiauw atau sepuluh cakar setan beracun!
Bersamaan dengan matinya Ji Siang Hok, tiba-tiba puncak Thay-san menjadi gelap.
Angin keras bertiup dengan sangat kencangnya dan geledek menggelegar-gelegar memecah bumi.
Suara kilat berkeredep saling sambung menyambung dan kemudian sebentar itu pula hujan turun dengan derasnya.
Tanah-tanah di atas puncak menjadi longsor.
Sungguh suatu kejadian yang aneh dan mangerikan.
Tokoh-tokoh kang-ouw yang tiba di tempat itu otomatis melihat suasana yang tidak menyenangkan ini menjadi membatalkan niatnya, dan turun gunung.
Suara angin yang keras itu menumbangkan pohon-pohon yang besar sehingga terdengar sangat gaduh sekali.
Dalam suasana hujan lebat seperti ini manusia manakah yang begitu gila untuk terus tinggal di atas puncak yang dingin dan berbahaya sekali.
Jalan-jalan tertutup kabut.
Sesungguhnyalah bahwa kitab dan pedang tidak diketemukan oleh orang-orang yang semula mendaki puncak.
Hanya tiga sosok mayat itulah yang kemudian terbawa arus air hujan dan kemudian digulung oleh lumpur tanah longsor dan tertimbun sehingga tidak meninggalkan bekas.
Dalam kegelapan itu berkelebat banyak bayangan menuruni puncak.
Nampak di antaranya Tiang Le dan Bwe Lan berkelebat cepat kembali ke Tiang-pek-san.
Hatinya menjadi kecewa dan sedih melihat tiga orang kakek penghuni Thay-san telah meninggal gara-gara hanya sebuah kitab dan pedang yang sesungguhnya tidak berada di tempat itu.
Ia cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena tak mau memperlihatkan diri dihadapan Bu-tek Sianli yang ia tahu tentu sangat memusuhi dirinya.
Tujuannya ialah Tiang-pek-pay!
ooOOoo Sementara itu di antara hujan lebat yang menderu-deru terhampar angin kencang, nampak beberapa bayangan berteduh di bawah pohon yang rindang menghindarkan dari serangan hujan yaug menggila.
Dan diantara suara geledek menggelegar terdengar suara halus dari seorang gadis, -Lim-wangwe di Kotaraja.
Habis perkara, atau apakah kau hendak membuat malu nama ayahmu?
--deru itu mengguntur bentakan dari seorang laki-laki yang tegap dan berjenggot tipis.
Dia itulah Yok-ong Lo Ban Theng, ayah dari Siauw Yang tadi membentak anaknya.
-gwe.......
aku hendak membunuh diri saja ayah Sang ayah menoleh.
Menatap tajam anaknya.
berjodoh dengan murid Kwa-sinhe itu, boleh saja.
Akan tetapi dia harus mengalahkanku Hujan bertambah deras turunnya bersama pula semakin derasnya air mata Siauw Yang berderai-derai memandangi ayahnya.
Kemudian dengan sekali berkelebat, Siauw Yang sudah berlari-lari di antara hujan yang turun menggila.
-ong Lo Ban Theng lari pula mengejar anaknya.
Namun Siauw Yang terus berlari meninggalkan puncak Thay-san di antara gemuruhnya suara hujan dan angin.
Dua bayangan berkelebat menuruni puncak pegunungan Thay-san yang terkenal tinggi dan berbahaya itu.
Beberapa kali Siauw Yang, terjungkal terpeleset oleh sebab tanah yang licin di hari hujan, namun apabila ia dengar suara ayahnya memanggil di belakang gadis itu bangun lagi dan terus lari.
Hatinya menjadi kecewa sekali.
Ia hendak dijodohkan dengan putera Lim-wangwe di kota raja.
Setan!
Buat apa kawin dengan laki-laki lemah dan kutu buku.
Tidak!
Dan Siauw Yang terus menangis diantara kabut-kabut tebal di lereng gunung Thay-san dan mempercepat larinya kembali ke rumahnya dan hendak dia katakan ini kepada ibunya bahwa ia tidak sudi dijodohkan kepada si kutu buku itu.
Hanya kepada ibunyalah ia hendak mengadu!
ooOOoo Panggung lui-tay yang didirikan di depan rumah Yok-ong Lo Ban Theng sudah penuh sesak oleh penduduk kota yang hendak melihat pertempuran adu kepandaian silat antara Yok-ong Lo Ban Theng dengan pemuda cebol yang bernama Go Sin Thong.
Di antara sekian banyak penduduk yang berjubel-jubel di bawah lui-tay itu, ada juga diantaranya orang-orang muda yang mengerti ilmu silat dan duduk di bangku di sekitar lui-tay.
Nampak di antara sekian banyaknya orang-orang muda yang tampan dan ganteng, di antaranya terdapat Go Sin Thong yang hendak diuji kepandaian silatnya oleh Yok-ong.
Tentu saja orang-orang muda ini mengenal Go Sin Thong murid Kwa-sinshe yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi.
Akan tetapi menghadapi Yok-ong, entah apakah pemuda cebol ini dapat menandinginya?
Wajah Go Sin Thong kelihatan murung dan tidak ada semangat.
Sebetulnya ia segan sekali bertempur dengan orang tua ini, akan tetapi berhubung Yok-ong menantangnya, maka dengan hati enggan akhirnya ia memenuhi juga undangan itu!
Ia tahu pula bahwa kekalahannya menghadap si raja obat ini berarti pula kehilangan kekasihnya yang bernama Lo Siauw Yang dan itu tidak dihendakinya karena ia benar-benar mencintai Siauw Yang dan Siauw Yang pun demikian mencintai kepadanya.
Hanya Yok-ong itulah yang kelihatannya tidak setuju dan mengajaknya bertanding.
Inilah yang memberatkan hatinya.
Sebetulnya ia tidak mau meladeni orang tua itu, akan tetapi karena Siauw Yang mendesaknya untuk menerima tawaran ini dan bersedia menandingi Yok-ong dalam pibu.
Penduduk kota berdesak-desakan hendak melihat jalannya pertandingan yang aneh ini.
Mereka sudah mendengar tentang tragedi dalam rumah tangga si Raja Obat ini.
Siauw Yang yang jatuh hati kepada murid Kwa-sinshe yang bernama Go Sin Thong, akan tetapi tidak disetujui oleh ayahnya.
Namun karena Siauw Yang berkeras maka ayahnya mengajak Sin Thong berpibu untuk menentukan kalah dan menangnya pemuda itu.
Suara tepik sorak menyambut naiknya Yok-ong ke atas punggung lui-tay.
Sesudah menjura ke empat penjuru, orang tua sbe Lo ini berkata dengan suara yang nyaring dan singkat.
cuwi yang telah meringankan kaki untuk menyaksikan pibu ini.
Dan dengan demikian bahwa cuwi inilah yang menjadi saksi atas pertandingan di tempat ini.
orang muda yang bernama Go Sin Thong.
Sekiranya ia dapat mengalahkan kepandaianku maka ia berhak untuk memiliki puteriku yang tunggal bernama Lo Siauw Yang.
semula, ia bersedia untuk meninggalkan kota ini dan perjodohan dengan anakku tentunya tidak memenuhi syarat.
Dan seterusnya anakku Siauw Yang akan kunikahkan dengan seorang pemuda putera Lim-Terdengar suara tepuk tangan riuh rendah.
Yok-ong mengangkat tangannya.
-embel pertandingan akan dimulai dan cuwi warga kota inilah yang menjadi saksinya.
Orang muda yang bernama Go Sin Thong.......
naiklah ke -ong meloloskan pedangnya dan berkata kepada Sin Thong yang masih ragu-ragu untuk mencelat ke panggung.
dingin.
Sambil menghela napas berat akhirnya Sin Thong mencelat ke atas lui-tay, gerakannya demikian ringan dan indah membuat warga kota yang menonton di bawah panggung bertepuk tangan menyambutnya.
Sampai di atas panggung Sin Thong menjura dan berkata kepada Yok-yang mudah dan bodoh mohon petunjuk kepada lo---ong berciutan waktu menyerang Go Sin Thong.
Serangan yang dahsyat merupakan jurus maut yang dalam segebrakan saja sudah dilancarkan kepada pemuda kate itu.
Tentu saja Sin Thong berlaku waspada dan tidak ingin memandang ringan lawan, maka ia mencelat ke belakang dan meloloskan pedang samurainya.
Melihat gaya Sin Thong bersilat seperti orang Jepang ini, keruan saja para penonton bertepuk tangan senang dan sebentar saja dua orang itu saling serang dengan sengitnya.
Kalau Sin Thong bertahan untuk mempertahankan diri dan belum mau menyerang adalah Yok-ong ini begitu bernapsu untuk cepat-cepat merobohkan Sin Thong sehingga pedangnya yang kuat dan lihai berkelebat bagaikan segulung sinar perak yang mendesak pemuda kate ini.
Siauw Yang yang menonton pertempuran ini menjadi sedih hatinya.
Ia tahu bahwa ayahnya memang tidak setuju ia memilih Sin Thong.
Entah mengapa dan sengaja orang tua itu mengajak bertanding, dan tentu saja karena kepandaian ayahnya memang sudah tinggi, mana dapat Sin Thong mengalahkan ayahnya.
Air mata Siauw Yang bercucuran memandang jalannya pertempuran itu.
Dan benar saja seperti dugaannya, belum lagi limapuluh jurus, Sin Thong sudah terdesak hebat oleh serangan-serangan Yok-ong yang luar biasa kuat dan ganasnya.
Memang orang tua she Lo ini mengeluarkan jurus-jurus yang terlihai untuk cepat-cepat merobohkan pemuda kate ini dan mengusirnya jauh-jauh agar jangan lagi ia mengganggu Siauw Yang anaknya, maka pada jurus keempatpuluh sembilan ia berhasil menerobos masuk ke dalam pertahanan pedang samurai Sin Thong dan menyerempetkan pedangnya membabat tangan pemuda kate itu.
Sin Thong yang tak keburu menangkis menjadi kaget dan cepat ia menarik serangan samurainya dan ia merasakan seluruh tangannya menjadi kaku dan sakit, ternyata lengan kirinya sudah terbabat pedang lawan dan mengeluarkan banyak darah.
Sin Thong mencelat ke belakang dan menjura, -enghiong aku....
Hebat sekali tusukan yang menghunjam jantung pemuda kate itu.
Kalau saja ujung pedang yang menembus dadanya tidaklah sesakit ini waktu ia menerima kata-kata dari orang tua she Lo ini, dengan hati pedih ia mencelat dan berkelebat lenyap dari pandangan mata para penonton, hanya suara pemuda kate itu saja yang terdengar tertuju ke arah Siauw Yang.
-merupakan keperihan hati yang terluka.
Siauw Yang cepat menghapus air matanya dan mencelat pula menyusul bayangan Sin Thong.
-koko.......
tunggulah aku menyusu Yok-ong menjadi kaget setengah mati dan memandang marah ke arah anaknya, namun anaknya sudah lenyap pula menyusul bayangan Sin Thong.
Dengan bersungut-akibatnya kalau terlalu dimanja oleh ibunya.
Hatinya keras dan membawa kemauan sendiri, dasar anak put--uringan begitu.
Siauw Yang memang sudah tidak sudi dijodohkan olehmu dengan putera Lim-wangwe, mengapa kau selalu mendesaknya?
k kita kan sudah dewasa dan mempunyai pilihan hati sendiri.
Dasar kau -hujin menangis tersedu-sedu melihat perginya Siauw Yang.
-ong membantingkan dirinya di atas kursi dan mendekapkan kepala dengan kedua tangannya.
-hauw, sudah dijodohkan dengan putera Lim-wangwe tidak mau, mau bagaimana denganku?
Ahh sangat memal -wangwe bahwa perjodohan dibatalkan.
Buat apa pusing-Yok--cepat mengambil keputusan menerima tawaran Lim-wangwe sebelum kau berunding dengan Siauw Yang.
Emangnya kau yang kawin, begitu diterima begitu jadi.
Gadis sekarang kan tidak sama seperti kita tempo dulu, ia berhak memilih --salah terburu-kan Siauw Yang, selalu memanjakannya, pantas dia kepala batu.
Apa-Ditunjuk-tunjuk seperti itu Lo-hujin tidak berkata lagi melainkan membenamkan dirinya di atas tumpukan bantal dan munangis tersedu-sedu, sedangkan Yok-ong mondar-mandir di kamarnya.
Ia pusing sekali menghadapi persoalan ini!
ooOOoo Sementara itu, sambil memanggil-manggil nama Sin Thong yang berlari dengan amat cepatnya, Siauw Yang mengikuti bayangan pemuda itu.
Dan mengejarnya pula.
Namun Sin Thong berlari terus tak menghiraukan panggilan Siauw Yang di belakangnya.
Ingin sekali menurut hatinya ia berhenti dan menanti kedatangan gadis itu dan memeluknya.
Dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya, akan tetapi apabila ia teringat akan kata-kata ayah gadis itu, ia menjadi kecewa dan mengeraskan hatinya untuk terus berlari.
-larinya.
Sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Siauw Yang sudah berdiri di depan Sin Thong dan memandangnya dengan pandangan basah.
Sin Thong segera memeluk pundak Siauw Yang dan berkata perlahan.
-moay, tenangkanlah hatimu dan jangan bersedih.
Ayahmu memang tidak setuju denganku, maka ia mengambil jalan pibu untuk melemparkan diriku jauh dari padamu.....
-kalaupun aku sudah berusaha memeras kepandaianku, namun aku tak dapat -....
aku......
aku tidak mau kembali kepada ayah.
Aku tak mau -moay.
Seorang anak seharusnya menurut kehendak Siauw Yang tidak menyahut melainkan ia menangis sedih dan menjatuhkan dirinya ke dalam rangkulan si pemuda kate.
Dan menangis tersedu-sedu sambil mengeluh, -moay, seorang ayah memang berhak untuk menjodohkan anaknya dengan pilihan sejujurnya dan menjatuhkan diri di atas rumput.
-moay.......
jangan kau begini.......
tak baik kalau kau mengikutiku.
Ingat aku sudah -moay, sudahlah tak usah kau kuatir.
Untuk sementara waktu biarlah kita menjauhkan diri dan jangan kuatir, bukankah masih ada aku yang melindungi dan mencintaimu.......
Begini saja Yang-moay, kalau kau memang tidak mau kembali kepada ayahmu sementara ini, baiknya kau kirimkanlah surat kepada ibumu agar orang tuamu Mendengar kata-kata ini, terhibur juga hati Sauw Yang dan gadis ini lalu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya.
dengan laki--memeluk si gadis.
Keduanya kini saling berangkulan di dalam hutan yang sepi itu di atas rumput yang tebal laksana permadani hijau menghampar di bawahnya.
Sedangkan di atas mereka sepasang merpati sedang berkasih-kasihan saling menyentuhkan paruh mematuk-Berhari-hari mereka hidup di dalam hutan kecil di kaki pegunungan Ta-pie-san, mereka berlatih silat dan bersenda gurau dengan mesra dan tawa riang dari mereka kadang-kadang mengejutkan burung-burung yang bertengger di dahan di atas pohon itu.
Sungguh mereka merupakan pasangan yang cocok dan ideal sekali, walaupun sesungguhnya dilihat agak janggal karena keadaan tubuh Sin Thong yang kate sehingga tingginya sebatas pundak.
Siauw Yang sangat mencintainya seperti laki-laki kate ini jatuh cinta kepadanya.
Berhari-hari mereka tinggal di dalam sebuah goa di dalam hutan yang indah sekali pemandangannya merupakan sepasang pengantin yang rukun dan damai.
Tidak ada pertengkaran dan perselisihan-perselisihan yang terjadi.
Karena laki-laki kate yang bernama Go Sin Thong itu sangat pandai menyesuaikan diri dengan tabiat Siauw Yang yang kadang-kadang keras seperti baja dan kadang-kadang halus dan lembut seperti sutera!
Biarpun perhubungan kedua anak muda ini mesrah sekali, namun mereka selalu menjaga dan membatasi hati mereka hingga tidak mau melanggar batas susila.
Mereka ini dapat menekan dari perasaan hati yang kadang-kadang timbul napsu buruk dan rendah.
Dalam Cerita Pendekar Lengan Buntung, Sin Thong sudah mengenal Siauw Yang karena dia seringkali mengunjungi toko obat orang tua she Lo itu yang sahabat karib dengan suhunya bernama Kwa-sinhe.
Sering kali Sin Thong berkunjung ke rumah itu dan mengantarkan akar-akar obat yang dikirimkan oleh gurunya untuk Yok-ong Lo Ban Theng yang membuka toko obat di kota Wei An.
Dan disitulah Sin Thong bertemu pandang dengan puteri Yok-ong yang cantik jelita, yang bernama Lo Siauw Yang.
Entah tenaga gaib apa yang membuat kedua-duanya saling tertarik dan bersimpati sehingga dari pandangan mata itu tertanam dan bersemi sudah bibit-bibit cinta satu sama lain.
Memang cinta tumbuh tidak mengenal keadaan.
Dan Siauw Yang tidak merasa rendah mencintai laki-laki kate yang bisa bermain pedang samurai dan berjiwa gagah!
Hampir sebulan Siauw Yang dan Sin Thong berdiam di dalam hutan itu dan setiap hari berpindah tempat mencari tempat yang lebih indah dan menyenangkan.
Pada suatu hari mereka tiba di sebelah timur hutan dan tiba-tiba mereka mendengar suara orang bertempur.
Ketika Sin Thong dan Siauw Yang cepat memburu ke tempat itu, mereka terkejut sekali oleh karena melihat bahwa yang bertempur itu adalah Biauw Eng dan Hok Sun yang pernah dikenalnya sedang melawan seorang laki-laki bangsa Tibet yang bersenjatakan sepasang tangan.
Dilihatnya Biauw Eng dan Hok Sun sedang didesak hebat oleh sepasang tangan yang aneh itu.
Sepasang tangan yang bergerak-gerak mencakar itu mengurung rapat Biauw Eng dan Hok Sun yang cuma bisa mengelak dan menangkis dengan pedangnya.
Dan dalam keadaan yang terjepit, cepat Sin Thong melompat dengan samurai di tangan dan sekali ia bergebrak, pedang samurai itu sudah membabat tangan kiri yang dipegang oleh laki-laki tinggi besar itu.
Akan tetapi betapa heran dan terkejut laki-laki pendek ini begitu pedangnya menyentuh tangan yang sudah dikeringkan itu tiba-tiba pedang samurainya terlepas dan dia mencium bau anyir dari lengan itu dan terhuyung-huyung roboh.
Melihat Sin Thong dalam segebrakan itu sudah roboh, Siauw Yang menggeram keras dan mengelebatkan pedangnya merangsek orang tinggi besar yang tengah mendesak Siauw Eng dan Hok Sun.
Melihat datangnya seorang gadis yang dikenalnya membantunya ini, Biauw Eng menoleh dan alangkah girangnya ketika melihat bahwa yang membantunya adalah Siauw Yang dan Sin Thong yang sudah roboh.
Cepat ia memperingati teman yang membantunya ini.
-hati dengan sanjata tangannya itu, berbahaya sekali penuh -ha-ha tikus-tikus kecil datang menyerahkan nyawa, bagus!
Kalian inilah yang teriak orang tinggi besar yang bukan lain adalah Kwan-tiong Tok-ong si Raja Racun dari Barat dan dengan sikap mengancam ia menyerbu memutar sepasang tangannya yang disebut Cap-tok-mo-jiauw yang lihai itu.
Akan tetapi Siauw Yang yang sudah marah karena melihat Sin Thong telah roboh tidak menghiraukan lagi cakar setan itu dan terus saja merangsek memainkan pedangnya.
Hebat sepak terjang gadis ini, pedangnya berkelebat dahsyat dan kuat menyambar-nyambar bagaikan kilat mengarah pada Kwan-tiong Tok-ong.
Akan tetapi tentu saja menghadapi Kwan-tiong Tok-ong yang lihai ini mana dapat Siauw Yang menandinginya dan sebentar saja sepasang tangan Cap-tok-mo-jiauw itu bergerak dari atas ke bawah merupakan gerakan menggunting dan mencakar yang demikian amat cepatnya ini.
Diserang secara demikian Siauw Yang terkejut sekali.
Ia merasa betapa sukarnya untuk mengelakkan dari serangan atas dan bawah itu, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu ia telah mempergunakan gin-kangnya dan tubuhnya mendahului gerakan tangan itu mencelat ke atas.
Akan tetapi Kwan-tiong Tok-ong menjadi girang sekali dan tertawa keras dan tangan itu tiba-tiba meluncur ke atas seperti terbang demikian cepat mengejarnya.
Siauw Yang terkejut setengah mati dan tiba-tiba ia menggunakan gerakan menendang sambil berpok-sai di udara namun ia menjadi menjerit ngeri ketika sebuah cakar mencengkeram kaki di dekat betisnya.
Siauw Yang menjerit keras dan mengelebatkan pedangnya membabat tangan yang mencakar itu dan ia sendiri mencelat menjauhi dan merasakan kakinya gatal bukan main.
Tahulah ia bahwa kakinya telah keracunan dan terasa lumpuh.
Pada waktu itu Hok Sun berteriak keras dan membabatkan pedangnya mendesak Kwan-tiong Tok-ong diikuti oleh gerakan Biauw Eng yang menyerang dahsyat.
Namun begitu Kwan-tiong Tok-ong menggunakan sepasang kakinya menendang, kedua tubuh Biauw Eng dan Hok Sun telah terlempar jauh dan sambil tertawa mengakak Kwan-tiong Tok-ong mencelat pergi.
Suara gemanya masih terdengar dari jauh.
Hok Sun segera bangkit dan merasakan tulang belakangnya sakit bukan main, cepat ia merangkak menghampiri Biauw Eng yang masih pingsan didekatnya.
Dan berkata lirih menahan sakit yang nyeri bukan main di tulang belakangnya yang terhantam tendangan lawannya.
Untung orang tinggi besar itu tidak menghendaki nyawa mereka, sehingga Kwan-tiong Tok-ong tidak menggunakan cap-tok-mo-jiauwnya, hanya sebuah tendangan yang kuat itulah yang telah membuat tubuh Biauw Eng dan Hok Sun terlempar jauh dan untuk beberapa lama mereka tidak dapat bangun dan merebahkan dirinya saling berpelukan.
Ada dua jam kemudian, Biauw Eng sadar dari pingsannya dan ia melihat Hok Sun menggeletak di sampingnya.
Segera saja ia meraba kepala Hok Sun dan panggilnya -Hok Sun membuka matanya.
Ia segera bangkit duduk dan memandang ke sekeliling.
Sun teringat kepada Siauw Yang dan Sin Thong.
bagaimanakah nasib Sin Thong dan Siauw Yang itu!
Tentu saja baik Biauw Eng maupun Hok Sun tidak tahu bahwa waktu keduanya itu tak sadarkan diri, Sin Thong yang hanya pingsan oleh sebab bau anyir yang keluar dari sepasang lengan lawannya itu hanya pingsan dan begitu sadarkan diri ia mendapatkan tubuh Siauw Yang menggeletak, segera saja ia memanggul tubuh itu dan memasuki hutan di mana ia tinggal di dalam sebuah goa.
Dengan terhuyung-huyung Sin Thong membawa tubuh kekasihnya ke dalam hutan di mana ia tinggal.
Ia sendiri merasa tubuhnya lemah sekali, kepalanya pening dan segera saja ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya dan berjalan pelan-pelan menuju ke dalam hutan kecil.
Sampai di depan goa di dalam hutan itu ia meletakkan tubuh Siauw Yang di atas rumput dan memeriksa kaki kekasihnya itu yang terasa panas sekali seperti dibakar.
Tentu saja sebagai murid Kwa-sinshe (ahli pengobatan she Kwa) sedikit banyak Sin Thong dapat mengerti tentang pengobatan.
Dan alangkah terkejutnya hatinya melihat betis Siauw Yang sudah membusuk akibat racun yang jahat.
Buru-buru ia menuju ke pancuran dan membasuh carikan bajunya untuk menyadarkan Siauw Yang dari pingsannya.
Kain basah itu diusap-usapkannya di atas kening Siauw Yang yang panas seperti dibakar.
Beberapa menit kemudian, Siauw Yang membuka matanya dan mengawasi Sin Thong.
-moay.......syu -tok, Yang-kakimu, merah seperti dibakar.
Celaka, lama-lama bisa menjalar ke tubuh dan j rumah tentu mudah sekali mendapatkan obat--moay.......
jalan satu-hong memandang kekasihnya dengan ragu.
-moay, jalan satu-satunya hanya dibuntungi kakimu ini, baru kau terhindar Sin Thong terdiam.
kulit itu sudah merah membara seperti hangus.
Itu tandanya racun sudah menjalar di dalam darah dan kalau darah itu naik ke atas ke bagian tubuh yang terpenting niscaya akan berbahaya!
-kakinya yang terluka di atas tanah.
Sin Thong memandangi kaki yang mulus itu.
Dan bengong.
-berdiam diri Dan tidak tahu apa yang mesti ia lakukan.
Baca Juga: Pukulan Si Kuda Binal Gu Long
Baca Juga: Amanat Marga 6