Istana Hantu 3

Eps 3 Istana Hantu - Kim Tiaw

Baca online Istana Hantu - Kim Tiaw

Cersil Istana Hantu - Kim Tiaw.

Tiba-tiba Siauw Yang mengelebatkan pedangnya dan darah merah menyembur dari kaki yang sudah buntung itu.

-Siauw Yang mengerutkan keningnya menahan rasa nyeri yang hebat.

Ia memandang kakinya sebatas paha yang sudah buntung, dan darah merah membanjiri rumput yang gemuk dan tebal.

Sin Thong cepat menubruk tubuh kekasihnya itu dan dibawanya masuk ke dalam goa, kemudian ia sendiri berkelebat lenyap untuk mencari obat luka bagi kaki kekasihnya yang telah buntung ooOOoo Puncak pegunungan Thang-la pada pagi hari itu, tertutup oleh kabut tebal yang menutupi di atasnya, sehingga apabila dilihat dari bawah kaki gunung akan nampak betapa puncak itu tertutup oleh awan putih saking tingginya.

Memang puncak pegunungan Thang-la ini jarang sekali didatangi oleh manusia.

Jangankan sampai ke puncak yang begitu tinggi sedangkan hutan-hutan yang lebat dan liar saja jarang didatangi oleh pemburu karena terkenal dengan binatang-binatangnya yang besar dan buas.

Malahan apabila musim salju itu datang nampak puncak itu penuh diselimuti oleh salju es sehingga tak mungkin bagi manusia untuk sampai ke atas sana.

Pada musim salju jalan-jalan merupakan sungai es yang licin dan berbahaya!

Oleh sebab itulah jarang manusia yang berani mencoba-coba untuk pergi ke sana.

Akan tetapi orang akan merasa kagum dan terpesona melihat keindahan-keindahan alam yang demikian mempesonakan di atas puncak itu dan orang akan selamanya betah untuk tinggal di sana.

Pemandangan alam demikian indah dan mentakjubkan!

Demikian hening dan damai, sehingga merupakan pintu sorga bagi orang yang berdiam di atasnya.

Jauh dari pada dunia ramai.

Tiap hari hanya terdengar suara nyanyian burung berkicau, bunga-bunga yang bermekaran indah dan tidak pernah dipetik oleh manusia.

Dia bersemi dan tumbuh sampai layu di tempat itu, tiada manusia yang mengambil usil kepadanya.

Buah-buahpun tumbuh dengan masak bergentayutan memerah pada dahan-dahan yang penuh dengan buah yang lezat dan masak.

Rumput-rumput pun menghijau menghampar di tanah.

Jurang yang menganga di samping-sampingnya meskipun ngeri bila mata memandang ke bawah namun tak dapat disangkal pemandangan di bawah jurang itu sungguh indah dan mempesonakan.

Pohon-pohon nampak kelihatan kecil dan sungai-sungai bagaikan ular putih melingkar-lingkar.

Di atas puncak itu terdapat sebuah tanah datar yang cukup luas dan sepenuhnya menerima cahaya matahari.

Di belakangnya menjulang tinggi batu karang, dan di sebelah kanannya terdapat jurang yang amat curam dan dalam.

Di sebelah kirinya terdapat sebuah makam yang masih baru dan berhadapan dengan pondok kayu sederhana.

Di balik makam itu nampak seorang pemuda tengah berlutut tak bergerak bagaikan patung.

Kemudian hanya suaranya saja yang terdengar memecah di kesunyian merupakan sebuah doa.

hendak turun gunung dan kembali ke dunia ramai untuk mengamalkan ilmu yang suhu turunkan kepada teecu.

Semoga teecu berada di jalan yang benar berkat bimbingan arwah s Setelah berkata demikian lalu pemuda itu berlutut dan menganggukkan kepala tiga kali.

Kemudian pada sebuah batu besar ia meletakkan tangannya dan menggurat huruf-huruf yang berbunyi, -Setelah menulis huruf-huruf pada batu di muka pekuburan itu lalu pemuda itu mendongak ke atas memandang ke arah matahari yang sudah meninggi.

Kemudian dengan langkah-langkah yang lebar ia meninggalkan puncak pegunungan Thang-la.

Pemuda itu berusia sekitar sembilanbelas tahun.

Wajahnya tampan dan berpakaian biru dengan pedang tergantung di punggungnya.

Nampak gagah sekali pemuda itu, bibirnya yang kecil seperti mulut wanita itu bergerak-gerak menampakkan senyum.

Matanya bulat bening menandakan kecerdikan dan kekerasan hati.

Ia berjalan lambat-lambat menuruni puncak, langkah-langkah kakinya demikian ringan seakan-akan tidak menginjak tanah.

Walaupun ia berjalan perlahan sekali namun sebentar saja ia telah jauh meninggalkan puncak.

Siapakah pemuda tampan itu?

Dia adalah murid Bu-beng Sianjin dan bernama Nguyen Hoat.

Seperti telah diceritakan pada Cerita Pendekar Lengan Buntung, Lie Bwe Hwa mengamuk dan membunuh seluruh keluarga Nguyen karena Nguyen-loya ini hidup memeras rakyat dan sewenang-wenang.

Pada waktu itu hampir saja Bwe Hwa membunuh anak kecil putera Nguyen loya kalau tidak saja datang Bu-beng Sianjin dan menyelamatkan anak itu kemudian dibawanya ke tempat Pertapaannya di bukit harimau di atas puncak Thang-la.

Orang tua pertapa itu menaruh kasihan sekali kepada bocah yang bernama Nguyen Hoat itu dan diambilnya menjadi muridnya.

Digemblengnya dengan ilmu silat tinggi, sehingga dalam usia hampir sembilanbelas tahun Nguyen Hoat sudah mempunyai ilmu silat yang cukup tangguh.

Dan dasar ia mempunyai kecerdikan yang luar biasa, maka seluruh kepandaian Bu-beng Sianjin sudah dikuras di dalam otaknya dan tinggal mencari pengalaman saja.

Bu-beng Sianjin yang sudah tua itu akhirnya meninggal dunia dan jenazahnya dimakamkan di depan pondok oleh muridnya yang terkasih.

Sedangkan Nguyen Hoat sendiri, karena suhunya sudah meninggal dan lagi ia sudah merasa cukup tinggi ilmunya untuk merantau maka sehabis bersembahyang di depan makam suhunya dia lalu turun gunung.

Laksana burung yang baru terlepas dari sangkarnya!

Girang sekali hati Nguyen Hoat, karena baru kali ini ia turun gunung seorang diri.

Dan pemandangan di kanan kirinya membuat ia berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangan alam.

Angin puncak yang sejuk menampar mukanya dan ia merasa sehat dan segar.

Sekali lagi ia menoleh ke atas puncak dan tersenyum.

Ia teringat kepada suhunya yang baik hati Bu-beng Sianjin.

Air matanya mengembang karena terharu.

Ia sangat disayang sekali oleh orang tua itu, sehingga bagi Nguyen Hoat ia sudah menganggap sebagai kakek dan orang tuanya saja.

Ia mendengar cerita dari suhunya bahwa ia ditolong dari sebuah dusun yang terancam bahaya kelaparan.

Semua orang tuanya mati kelaparan dan pada waktu itulah ia ditolong oleh suhunya dan kemudian dibawanya ke puncak.

Tentu saja Bu-beng Sianjin tidak menceritakan bahwa orang tua anak ini mati terbunuh oleh seorang gadis yang cantik jelita yang berjuluk Kwan Im Sianli, takut kalau Nguyen Hoat mendendam kepada gadis itu dan ia tidak menghendaki.

Karena ia tahu bahwa dalam pembunuhan itu adalah karena salahnya orang tua she Nguyen itu yang memeras rakyat dan berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk.

Sudah sepantasnya gadis yang berjuluk Kwan Im Sianli itu mengamuk dan membunuh seluruh keluarga Nguyen!

Setelah melakukan perjalanan jauh, makin terbukalah mata Nguyen Hoat bahwa sesungguhnya ia telah mewarisi ilmu silat tinggi dari suhunya.

Di antara ilmu silat tinggi yang ia terima dari suhunya, ia menerima pula ilmu lari cepat dan ilmu melompat jauh yang disebut Liok-te-hui Teng-kang-hu.

Ketika berada di atas puncak, tak ada kesempatan bagi Nguyen Hoat untuk menggunakan ilmu lari cepat itu, karena puncak di atas sangat sempit dan tidak leluasa.

Hanya ilmu melompat jauh itu yang sering dicoba-cobanya dengan melompat jurang-jurang yang lebar dan curam.

Tentu saja untuk bisa berbuat ini, memerlukan tenaga gin-kang yang tinggi itu diterimanya pula dari suhunya.

Sehingga apabila ia menggunakan gin-kang (meringankan tubuh) terasa tubuhnya ringan sekali bagaikan kapas.

Ia sendiri merasa tertegun ketika melihat hasil latihannya.

Ilmu melompat jauh itu setelah dicobanya, ia merasa tubuhnya bagaikan dilontarkan oleh tenaga yang kuat sekali sehingga ia bagaikan setengah melayang-layang di udara!

n penuh perhatian.

Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan hati suhu dan mengangkat namanya, supaya tidak sia-sia Dan kembali air matanya berlinang penuh dengan keharuan kalau ia teringat akan suhunya yang sangat menyayanginya itu.

Maka dengan mempercepat larinya untuk segera cepat-cepat meninggalkan puncak Thang-la dan terjun ke dalam dunia ramai untuk mengamalkan ilmu silat yang ia pelajari dari mendiang Bu-beng Sianjin.

Pada suatu pagi setelah keluar dari deretan hutan-hutan besar, tibalah ia di sebuah dusun yang rumah-rumahnya amat sederhana.

Tak sebuah pun diantara rumah-rumah itu yang beratap genting, semua beratap daun kering.

Alangkah miskinnya penduduk dusun ini, pikir Nguyen Hoat.

Akan tetapi setelah ia memasuki dusun ia menjadi heran sekali.

Ternyata bahwa dusun itu kosong, tidak ada seorangpun kelihatan di luar pintu yang terbuka dan keadaannya amat sunyi.

Akan tetapi jelas nampak rumah-rumah itu belum lama ditinggalkan para penghuninya.

Pelatarannya masih bersih bekas disapu.

Rasa herannya itu membuat ia menjadi penasaran dan mengetuk pintu rumah penduduk yang ditutup.

Beberapa kali ia mengetuk, pintu belum juga dibuka.

Karena merasa tentu rumah ini pun tidak berpenghuni lagi, ia mendorong daun pintu dan suara menderit terdengar keras waktu pintu yang terbuat dari bambu itu terbuka.

Nampak sepi-sepi saja di dalam rumah.

Nguyen Hoat melangkah maju ke dalam, ia heran sekali mengapa rumah-rumah penduduk di sini tidak berpenghuni?

Apakah semua penghuninya sudah pergi ke sawah untuk bekerja.

Rasa penasaran ini membuat ia menyelidiki ke dalam rumah, berindap-indap seperti pencuri.

Namun ia tidak mendapatkan seorangpun yang berada di dalam.

Nguyen Hoat keluar lagi, akan tetapi alangkah herannya dia ketika di pelataran itu nampak bertumpuk-tumpuk mayat manusia yang sudah dijejerkan seperti jemuran ikan asin.

Dada Nguyen Hoat berdebar keras.

Ia tadi melewati pelataran itu dan tidak mendapatkan mayat-mayat di situ, kenapa baru saja sebentar ia masuk ke dalam.

Eh, mayat-mayat manusia itu berjejer, siapa manusianya yang telah berlaku begini keji?

Saking terkejut dan herannya Nguyen Hoat untuk beberapa saat menjadi bengong.

Tiba-tiba bulu romanya berdiri waktu mendengar suara meringkik seperti suara setan.

Suara itu tajam dan mengiris jantung, cepat Nguyen Hoat mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya dan menoleh ke belakang.

Dan apa yang dilihatnya?

Sesosok tubuh manusia tua berdiri memegangi kepala manusia yang berlumuran darah.

Manusia itu entah laki-laki atau perempuan tidak lagi dikenali keadaannya, rambutnya panjang sebatas pantat, kotor dan menjijikan.

Pakaiannya seperti pakaian petani itu dekil dan penuh lumuran darah segar.

Mukanya kotor dan penuh kerisut, bibirnya yang tebal itu penuh pula dengan lumuran darah dan putih-putih dari otak manusia yang dimakannya.

Nguyen Hoat menjadi bergidik dan merobah pandangnya.

Tahulah ia tentu manusia inilah yang telah membunuhi penduduk dusun.

-he-he, orang muda cakap.......

kau di sini belum mati.....

he-he-he.......

ngumpet di mana kau........

hi-hi--apa lagi.......

hi-hi-junterungannya.

Nguyen Hoat telah menarik pedangnya.

bentaknya.

-he-he, anak muda cakap.......

kalau belum mampus belum jadi setan, akan tetapi -hi--liong-kiam Nguyen Hoat berkelebat ke arah leher manusia iblis itu.

Suara pedang berdesing keras, namun nenek gila itu tidak menangkis malah ia menundukkan kepalanya menggerogoti kepala manusia dan menghisap darah yang mengucur dari leher kepala itu.

Tiba-tiba setelah ujung pedang itu hampir menyentuh leher si Nenek gila, tahu-tahu pedang Nguyen Hoat sudah terpental ke belakang waktu tangan kiri Nenek yang kurus kering itu menggunakan kukunya menyentil pedang.

Terkejut sekali pemuda ini.

Masa hanya disentil olah jari-jari yang kotor itu pedangnya terpental?

Dan ia merasakan sebuah hawa panas menyambar dari tangan nenek itu.

Cepat sekali Nguyen Hoat mempergunakan gin-kangnya mencelat ke atas menghindarkan sodokan tangan kiri si Nenek yang mengeluarkan cahaya panas.

-daun menjadi hangus oleh sambaran angin pukulan si nenek.

Nguyen Hoat menjadi bergidik.

Ia merasakan hawa panas bukan main waktu tangan itu menyerangnya tadi, untung ia berlaku waspada dan telah mempergunakan gin-kangnya mencelat ke atas.

Kalau tubuhnya yang kena terpukul tangan kurus kering itu, niscaya ia sudah menjadi hangus seperti pohon itu.

Keringat dingin mengucur dari kening Nguyen Hoat.

He-he-Untuk yang kedua kali tangan kiri nenek itu menjulur ke depan memukul ke arah dada Nguyen Hoat.

Namun karena nenek ini tidak mengenal siapa sebetulnya pemuda ini dan hanya mengira bahwa pemuda ini tentu penduduk dusun yang kebetulan sedang keluar terhindar dari kematiannya, maka ia tidak mempengunakan seluruh tenaganya bahkan pukulannyapun tidak berbahaya bagi Nguyen Hoat.

Nguyen Hoat mendengar sambaran angin pukulan yang tidak berapa hebat, cepat mengangkat tangan kirinya menangkis, sambil mengerahkan tenaga lwekang dan berbareng kedua kakinya menotol tanah dengan gerakan naga terbang ke langit, sebuah gerakan yang disertai gin-kang amat tinggi.

urus kering itu beradu amat kerasnya.

Ia merasa betapa lengan pemuda itu empuk seperti kapas dan amat dingin seperti salju sehingga tenaganya sendiri lenyap disedot oleh hawa dingin yang keluar dari tangan pemuda itu.

Ia menjadi terkejut dan amat terheran oleh karena maklum bahwa itulah penggunaan lwekang tinggi.

Orang yang dapat menggunakan im-kang (tenaga im) sampai mengeluarkan hawa dingin atau mempergunakan yang-kang sampai mengeluarkan hawa panas bukanlah orang sembarangan dan hanya dapat dilakukan oleb ahli-ahli silat kelas tinggi.

Bagaimana seorang pemuda yang kelihatannya lemah ini dapat menangkis serangannya dengan tenaga Im-kang demikian hebatnya?

Lebih-lebih ketika ia melihat betapa sambil menangkis tadi tubuh pemuda itu telah mencelat seperti kilat cepatnya, melompat dengan kedua tangan dikembangkan seperti sayap dan beberapa kali kedua lengan bergerak sehingga tubuh pemuda itu terapung-apung di udara seperti seekor burung garuda yang sedang terbang dan menggerak-gerakkan sepasang sayapnya.

Hal ini tentu saja membuat kagum si Nenek sehingga ia -he-he, betul aku yang bunuh orang-orang ini.......

karena aku hendak mengambil otak dan jantungnya dikeringkan baik sekali untuk obat, ha-ha--liong-kiam ditarik dari sarungnya.

Ia siap hendak menerjang nenek gila itu.

-he-he, kau cakap dan gagah.

Aku tidak akan membunuhmu orang muda.

Mari merupakan serangan pertama dari jurus Sin-liong-kiam-sut yang ia terima dari Bu-beng Sianjin.

Pedangnya bergerak cepat ke depan dan terus ditekan ke bawah.

Ia bermaksud hendak merobek isi perut nenek yang dibencinya ini dengan gerakan ditekan dari atas itu sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam melakukan gerakan memukul jarak jauh ke arah dada si nenek sambil mengerahkan tenaga sin-kang.

Inilah keistimewaan ilmu pedang ciptaan Bu-beng Sianjin.

Bukan saja pedang itu dapat digerakkan menyerang lawan, namun tangan kiri tidak tinggal diam dan selalu melakukan gerakan menyerang pula menurut jurus-jurus Sin-liong-kun-hoat membarengi serangan pedang yang bergerak menusuk ke arah dada.

Akan tetapi, begitu si nenek tertawa keras mengakak, tahu-tahu rambutnya yang panjang dan kotor itu bergerak dan entah bagaimana caranya pedangnya sudah terlibat oleh segumpal rambut itu.

Nguyen Hoat segera menggunakan gerakan membabat dengan maksud hendak memutuskan rambut-rambut itu.

Namun untuk ketiga kalinya pemuda dari gunung Thang-la ini menjadi terkejut dan heran merasa pedangnya mental waktu membabat rambut si Nenek, seakan rambut itu sudah menjadi segulungan kawat baja yang amat kuat dan tak bisa diputuskan oleh sabetan pedang, malah pedang sin-liong-kiamnya sendiri itulah yang terlibat rambut dan tak dapat ditarik kembali.

Saking sengitnya, tangan kiri Nguyen Hoat menggunakan pukulan sepenuhnya dengan tenaga lweekang tingkat tinggi.

Nampak nenek itu mengangkat tangan kirinya menangkis.

-Sedangkan si nenek tertawa terkekeh-kekeh dan menggoyangkan kepalanya, tangan kanan Nguyen Hoat yang memegang pedang tiba-tiba menjadi kaku oleh goyangan rambut-rambut si nenek.

Cepat-cepat ia melepaskan pedangnya, dan pada ketika itulah tangan kiri si nenek yang berkuku panjang-panjang itu bergerak hendak menotok leher Nguyen Hoat.

Tentu saja Nguyen Hoat tidak menyerah sampai di situ, tiba-tiba ia menggunakan gin-kangnya dan mencelat tinggi menghindarkan totokan tangan kiri si nenek.

Angin berciut waktu tangan si nenek yang berbau amis itu menyambar dekat telinga Nguyen Hoat.

Diam-diam pemuda ini menjadi jijik dan ngeri hatinya.

Cepat sekali dia berpok-sai di udara dan waktu kakinya menotol tanah, tangan sudah menyambar pedang yang tadi terlempar oleh rambut si nenek.

-he kau lihai juga orang muda he-Nguyen Hoat berciutan menyambar si nenek.

Kini bukan sepasang tangan si nenek yang membalas memukul melainkan pukulan rambut itu yang menyerang Nguyen Hoat.

Pemuda itu cepat menggeser ke kiri dan membabatkan pedangnya.

-ting--tahu telah melibat tubuh Nguyen Hoat dan pemuda itu tidak berdaya menghadapi pegangan rambut yang kuat bukan main.

Segera dia mengerahkan lwekangnya, untuk memberontak dari pelukan rambut yang berbau busuk itu, sehingga membuat napas Nguyen Hoat menjadi sesak dan sukar bernapas.

Namun semakin keras dia memberontak, semakin kuat rambut itu membelitnya.

-he--he-hidungnya.

Hampir saja Nguyan Hoat jauh pingsan mencium bau yang memuakkan itu, buru-buru ia menggeser kepalanya membelakangi muka si nenek.

-he-he kau tidak boleh lepas.

Hi-hi---he-he-Celaka!

pikir Nguyen Hoat, ternyata aku terjatuh ke dalam tangan nenek gila yang berkepandaian tinggi ini.

Berbahaya.

Diam-diam Nguyen Hoat mengerahkan ilmu melemaskan tulang dan menciutkan tubuh sehingga tubuhnya menjadi ciut dan kecil.

Dan begitu merasa dirinya tidak lagi kencang dalam cengkraman si nenek, segera ia berseru keras, -tahu ia sudah dapat meloloskan diri dari pegangan rambut yang kuat itu.

Buru-buru Nguyen Hoat mencelat jauh dan merasa bahwa ia bukan tandingan si nenek, cepat-cepat ia menggunakan gin-kangnya mencelat jauh melarikan diri.

Ia tidak berani lagi mencoba untuk mengadu kepandaian, dan melarikan diri secepat mungkin.

Girang hatinya karena ternyata bahwa dalam hal gin-kang, ia masih mengatasi Nenek itu.

Si Nenek gila mengejar terus, akan tetapi makin lama makin tertinggal jauh.

Akan tetapi sambil mengejar nenek itu berteriak-teriak.

-Mendengar ini, Nguyen Hoat maklum bahwa nenek ini tentu masih mempunyai kawan-kawan yang tentu berkepandaian tinggi.

Maka ia lalu mempercepat larinya sehingga tak lama kemudian ia telah jauh meninggalkan nenek gila yang menjadi bingung karena kehilangan jejak pemuda yang dikejar-kejarnya.

Akan tetapi, tiba-tiba Nguyen Hoat Cepatlah dia menoleh dan melihat seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti pelayan membawa-bawa golok dapur yang besar seperti golok pemotong babi, sedangkan laki-laki yang satu lagi memegang jepitan panjang.

Kakek itu larinya cepat sehingga kedua kakinya sampai tak menginjak tanah, seperti terbang.

Nguyen Hoat menjadi terkejut menyaksikan cara kakek ini berlari cepat.

Ia telah mempelajari ilmu berlari cepat dari Bu-beng Sianjin akan tetapi baru sekarang ia tahu ada orang berlari dengan kaki seakan-akan tidak menginjak tanah.

Hebat.

berseru keras dan jepitannya bergerak cepat, menotok ke arah pinggang Nguyen Hoat.

Seperti juga kesalahan si Nenek gila tadi, kakek yang memegang jepitan dan yang bernama A Kay inipun ternyata amat memandang ringan Nguyen Hoat, yang hanya dikiranya pandai berlari cepat saja.

Oleh karena itu totokan jepitannya juga tidak berbahaya, hanya cukup untuk merobohkan pemuda itu saja.

Nguyen Hoat yang sudah tajam sekali pendengarannya, tahu bahwa totokan jepitan panjang itu tidak berbahaya baginya, maka ia mengerahkan sin-kangnya sambil terus berlari.

Ujung jepitan panjang itu mengenai jalan darah di pinggangnya, akan tetapi alangkah terkejutnya hati kakek A Kay ketika merasa betapa jepitan panjangnya melengkung dan terpental seakan-akan menotok baja!

Pada saat itu berkelebat bayangan, kakek yang memegang golok babi yang bernama A Yong telah mencelat tinggi dan tahu-tahu sudah berada di depan Nguyen Hoat.

-babi dengan keren dan pada saat itu mendatangi A Kay sambil mengacung-acungkan jepitannya.

-bengcu, A Yong kemplang saja pantatnya, dia anak bengal!

Kalau Thay-yang memegang jepitan.

-kakek -nio bilang dia tadi menghina Thay--kakek pemotong babi.

-bengcu kalian, siapa Thay-mendongkol dan membantingkan kakinya.

--pelayan istana, tak boleh kau menghina Thay--bengcu kalian.

Kalian ini sudah gendeng kek pemegang jepitan.

-undang istana Hantu, baru kami tidak akan menempur en Hoat marah, dan sekali pedangnya bergerak gulungan sinar perak sudah menerjang A Kay dan A Yong dengan gerakan yang cukup hebat.

Kedua kakek ini lalu bergerak merangsek Nguyen Hoat.

Kepandaian dua orang kakek ini memang lihai sekali.

Jepitan panjang di tangan A Kay tidak boleh dipandang enteng, biarpun jepitan itu sudah hitam bekas ngorek-ngorek arang di dapur Istana Hantu dan sudah karatan, namun besi itu terbuat dari baja yang hanya terdapat di negara Nepal.

Sebaliknya kakek yang bersenjata golok besar ini yang bernama A Yong adalah tukang masak di Istana Hantu.

Pekerjaannya tiap hari potong daging dan sayur, namun dimainkan dengan ilmu silat tinggi.

Golok yang berat dan besar itu merupakan segulung sinar yang berbahaya dan beberapa kali pedang Nguyen Hoat membentur golok itu ia merasa tangannya tergetar dan sakit.

Kagetlah pemuda ini.

Baru menghadapi pelayan-pelayannya saja ia sudah menjadi kewalahan apa lagi kalau Thay-bengcu itu turun tangan.

Celaka!

Siapakah Thay-bengcu?

Orang bagaimanakah dia?

Tak banyak berpikir pemuda murid Bu-beng Sianjin ini, karena pada saat itu berkelebat sesosok tubuh dan tahu-tahu Nio-nio si nenek pemakan bangkai dan bersenjata rambut itu sudah menyerangnya.

Sebentar saja Nguyen Hoat terdesak bukan main dan seluruh tubuhnya sudah bermandikan keringat.

Namun demikian, berkat gemblengan Bu-beng Sianjin pertapa dari puncak Thang-la, membuat tubuh Nguyen Hoat merupakan pertahanan yang kuat dan ulet.

Meskipun sudah lelah sekali dan beberapa kali ia kena serempet golok A Yong pada pahanya, sehingga pada pahanya itu mengucur darah yang menodai celananya dan terasa kaku dan nyeri, namun Nguyen Hoat terus mempertahankan diri dan mainkan pedangnya lebih cepat lagi menggunakan jurus-jurus terlihai dari Sin-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Bu-beng Sianjin.

Pada saat itu, dari kejauhan mendatangi dua orang penunggang kuda yang membalap kudanya dengan cepat sekali.

Yang seorang pemuda tampan berusia delapanbelas tahun, berpakaian baju putih dengan pedang nampak di punggung, dan yang seorang lagi adalah seorang gadis remaja yang berusia tidak lebih delapanbelas tahun, cantik jelita dan ia membalapkan kudanya dengan cepat dan dikejar oleh si pemuda dari belakang.

Suara kaki kuda berderap dan menimbulkan debu yang mengebul ke atas.

Pada waktu si gadis melihat di depannya ada orang bertempur.

Dia melihat seorang pemuda tampan sedang dikeroyok oleh dua orang kakek dan seorang nenek rambut panjang.

Ia menghentikan kudanya dan memandang ke depan.

Pada saat itu rambut yang panjang dari si nenek berhasil menampar punggungnya Nguyen Hoat sehingga murid dari Bu-beng Sianjin ini terhuyung-huyung dan ia merasakan punggungnya sakit bukan main tertampar rambut yang hanya beberapa lembar itu saja.

Pada waktu ia terhuyung-huyung hendak jatuh, pada saat itulah sebuah jepitan panjang bergerak ke depan menggunakan gerakan menggunting.

Cepat Nguyen Hoat mencelat ke atas dan menggunakan kaki kanannya menendang jepitan.

Namun rambut si nenek sudah datang menyerbu dan membelit ke dua kakinya sehingga pemuda itu terlempar tidak jauh, di dekat si kakek yang memegang golok besar.

Nguyen Hoat terkejut bukan main melihat datangnya golok mengkilap ke arah kakinya.

Cepat ia bergulingan menghindarkan diri dari sabetan golok dan sebuah suara bergemuruh menyambar di atas kepalanya.

Rambut nenek gila bergemuruh menyambar di atas kepala Nguyen Hoat yang cepat bergulingan menjauhi diri dari serangan senjata rambut yang luar biasa hebatnya, namun meskipun ia sudah bergerak cepat tetap saja beberapa lembar rambut telah memukul lengannya sehingga ia terpental ke kiri oleh dorongan rambut yang luar biaasa itu.

Keringat dingin membasahi baju Nguyen Hoat, akan tetapi pada saat yang berbahaya bagi keselamatannya itu tiba-tiba ia merasa dirinya ditarik oleh sebuah tenaga yang amat kuat dan tubuhnya melayang di udara dan tahu-tahu ia jatuh dihadapan seorang gadis yang cantik jelita.

Nguyen Hoat cepat berdiri dan bersiap-siap kalau-kalau gadis di depannya itu adalah teman si kakek dan si nenek yang ia telah dirasai kelihaiannya itu!

ELIHAT tahu-tahu pemuda itu telah dibawa terbang oleh sabuk sutera merah di tangan si gadis, cepat A Kay dan A Yong memburu dan ncang terhadap pelayan--hi-nyaring seperti suara bidadari.

Dalam berkata tadi sebuah senyum mengejek tersungging di bibirnya yang indah dan bagus itu, sedangkan matanya yang jernih melirik ke arah Nguyen Hoat.

-pelayan Istana Han si kakek A Kay melototkan matanya membentak si gadis, sedangkan si nenek rambut panjang maju ke depan dan menudingkan telunjuknya ke hidung si gadis sambil mengomel.

elek, aku tidak takut siapa kalian.

Biarpun dari Istana Neraka, atau Istana tiba di tempat itu.

Sung Tiang mencelat dan tahu-tahu ia sudah menerjang si gadis, mengirimkan pukulan jarak jauh ke arah dada si gadis.

Akan tetapi gadis ini dengan enaknya mengangkat tangan dan balas mendorong ke muka, dengan tidak menggerakkan tubuhnya dari punggung kuda.

bergoyang-goyang di atas punggung kuda, setengah berdiri dengan tali menginjak kendali sedangkan tangan kiri menekan punggung kuda, sehingga gadis ini dalam posisi setengah berdiri di atas kuda.

Ia tersenyum mengejek ke arah si nenek yang bersempoyongan hendak jatuh.

Jilid 6 Gadis itu menjawab dengan suara halus dan tenang, senyum mengejek masih menghias dibibirnya yang berkilat-kilat tertimpa sinar matahari.

Merasa dirinya diperolok demikian, nenek ini menjadi marah.

Rambut di atas kepalanya menegang dan siap menyerang si gadis di depannya.

Matanya melotot berapi-api memandang dengan penuh kemarahan.

Ia maju setindak.

-main dengan pelayan Istana Hantu benar-benar gadis yang tangan didorong ke depan.

Dalam marahnya, ia hendak bikin mampus gadis yang mengaku puteri si Pendekar Lengan Buntung ini dengan sekali pukul.

Akan tetapi nenek ini menjadi terkejut melihat gadis itu sama sekali tidak bergerak dari punggung kudanya untuk mengelak atau menangkis.

Pukulannya yang dahsyat itu diterima begitu saja dengan dada terbuka!

Sungguh berani mati gadis ini, pikir si nenek yang sudah merasa terlanjur dan terus mendorong ke muka mengarah dada si gadis.

belakang seakan-akan mengikuti pukulan si nenek sehingga hampir rebah ke belakang, dan sekelebatan nampak gadis itu mengangkat tangan kirinya menangkis ke atas.

Nenek ini menjadi terkejut setengah mati, ia merasa pukulannya mengenai dada yang empuk seakan-akan dada itu merupakan tempakan tempat kosong dan melumpuhkan tenaganya.

Melihat gadis itu telah bangkit dan duduk di atas pelana kudanya dan tidak merasakan sakit bekas pukulannya nenek ini menjadi terheran-heran dan bengong.

Tiba-tiba ia bergerak memukulkan tangannya ke kiri.

bunga api yang berpijar laksana dipalu godam.

Nenek ini menoleh ke arah si gadis.

-hi-hi, Nenek peot, masih ada lagikah pukulan bang-pakmu, kenapa begitu sinting memukul batu yang nggak punya salah?

Wah-wah, jangan-jangan kau memang sudah Olok si gadis sambil menaruh telunjuknya di atas keningnya dan tertawa terkikik-kikik sambil menutupi mulutnya yang kecil.

Nenek ini memandang terbelalak.

Kalau ia tidak ngerasain sendiri, pasti ia tidak akan percaya.

Masakah gadis ini dapat menahan pukulannya, padahal barusan tadi batu yang demikian keras hancur oleh pukulannya tadi, masa gadis ini masih dapat ongkang-ongkang kaki menghadapi pukulannya, setan!

Apakah Pendekar Lengan Buntung demikian sakti sehingga gadis ini dapat menahan pukulannya dengan tidak mengelak, sungguh tidak masuk diakal.

Apakah dia tadi salah pukul dan pukulannya barusan tidak mengenai gadis itu.

Mungkin juga, ia melihat gadis itu tadi rebah di atas punggung kuda.

Apakah gadis itu tadi mengelak atau tenaga pukulannyakah tiba-tiba menjadi lumpuh?

Si Nenek menggerakkan ke dua lengannya.

Suara angin berciutan waktu tangan itu diputar-putar ke kiri dan kanan semakin lama semakin cepat, sehingga batu-batu yang di bawah kakinya bertebaran ke kanan dan kiri.

Hawa panas mengalir dan berkumpul di kedua lengan itu.

-itu Si Nenek yang mengaku pelayan Istana Hantu itu menjadi mengkalap.

Ia mengeluarkan jeritan keras dan nyaring dan ke dua lengannya yang diputar-putar tadi sekali gus menghantam ke arah si gadis.

Seperti tadi, gadis itu tidak mengelak hanya mengangkat tangan kirinya dengan lima jari terbuka dan mengeluarkan bentakan pula yang nyaring.

sepasang lengan si nenek.

Akan tetapi sungguh hebat, bukan si gadis itu yang terjengkang dari punggung kuda, sebaliknya tubuh si nenek itulah yang bagaikan dilempar oleh tenaga dahsyat telah melayang ke belakang terhuyung-huyung seperti layang-layang putus talinya.

Dari mulut si nenek menjembur darah segar!

Cepat Nenek itu berdiri dan memandangnya dengan wajah pucat.

Ia segera menyusut noda darah pada bibirnya dan kemudian ia berkelebat lenyap sambil berkata kepada dua orang temannya.

Tanpa menyahut apa-apa.

A Kay dan A Yong yang juga terheran-heran melihat si Nenek dipecundang oleh gadis puteri Pendekar Lengan Buntung yang mereka telah saksikan sendiri kelihaiannya.

Merekapun cepat berkelebat menyusul si nenek dan berlari cepat.

Merasa dirinya ditolong oleh gadis ini, Nguyen Hoat cepat menjura dan katanya, -Gadis itu tersenyum manis.

Dan dada Nguyen Hoat berdebar menerima senyum yang begitu mempesonakan ini.

Untuk beberapa lama ia memandang si gadis dengan kagum dan didengarnya gadis itu berkata, menolong anda, itupun secara kebetulan, jadi tak perlu anda berterima kasih kepada ka ma Sung Hong Kwi itu memperkenalkan pemuda yang di sebelahnya.

Seorang pemuda tampan berpakaian baju putih sederhana dan yang tersenyum pula kepadanya.

Nguyen Hoat menjadi terkejut mendengar nama Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le.

Pernah di puncak Thang-la suhunya menceritakan pendekar yang belum lama ini menanjak namanya dan terkenal dengan ilmu silat si tangan buntung yang luar biasa.

Maka ia menjadi girang sekali dan cepat-cepat menjura.

anpwe Sung Tiang Le yang terhormat.

Sungguh sangat menggembirakan hati dan merupakan suatu Melihat sikap pemuda ini demikian halus dan sopan dan pandai merendahkan diri.

Diam-diam Hong Kwi menjadi senang sekali dan tersenyum lagi kepadanya.

-beng Sianjin dari Thang-iga orang pelayan-elum pergaulan di dunia kang-ouw dan mencari pengalaman.

Aku baru saja turun dari Thang-la dan -sama dengan kami merantau ke selatan, kami -tiba saja Hong Kwi berkata.

Pandangan matanya begitu cerah menatap Nguyen Hoat, sehingga Wang Ie melihat pandangan sumoaynya ini menjadi tak enak hati.

Dan ia memandang pula kepada Nguyen Hoat yang ketika itu mengangkat tangan dan menjura kepada Hong Kwi.

dengan jiwi yang ga --tiba Hong Kwi menyebut twako kepada orang sendiri, untuk apa berlaku sungkan, b Wang Ie mengangguk.

Meskipun dirasakannya hatinya tidak enak benar.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya seperti ini.

Gila, apakah aku cemburu melihat Hong Kwi akrab dengan pemuda yang baru dikenalnya itu, pikirnya dan berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar bergetar.

lah twako, kau naiklah di punggung mempersilahkan.

Akhirnya Hong Kwi tersenyum dan menarik tali kendali kudanya berjalan diikuti oleh Nguyen Hoat yang berjalan di sampingnya dengan enaknya saja.

Sedangkan Wang Ie membedal kudanya lebih cepat lagi mendahului mereka.

-jalan duluan kita akan bertemu nanti cepat sekali meninggalkan debu yang berterbangan di belakang.

n kudanya pula.

Si gadis menoleh.

Nguyen Hoat tersenyum.

-apa Hong Kwi siocia, hanya saja aku teringat akan seseorang yang namanya hampir mirip dengan dia, akan tetapi ia itu seorang pendekar tingkat tinggi.

-Yu adalah Pendekar Lengan Buntung pula.

Suhu pernah sekali bertemu dengan orang itu waktu beliau masih muda namun sayang sekali sejak kematian kekasihnya yang bernama Chio Chio, ia patah hati dan melenyapkan diri.

ngar lagi.

Mungkin pendekar buntung itu Le, ayahmu itu.

Mulanya suhu mengira si Wang Yu itulah yang kembali dari Hong Kong dan menjagoi dunia persilatan, eh nyatanya bukan!

Ternyata Pendekar Lengan Buntung pend i berkata gemas.

-heran.

-Berkata demikian Hong Kwi menoleh dan menjadi heran bukan main melihat betapa Nguyen Hoat dapat merandengi larinya di samping kudanya yang berlari cepat.

Ia menarik kendali kuda dan membalap kudanya lebih cepat lagi ternyata Nguyen Hoat dapat mengimbangi dan berlari di sampingnya.

Diam-diam gadis ini kagum sekali akan gin-kang pemuda itu.

Akan tetapi begitu mereka meninggalkan hutan kecil dan tiba di sebuah dusun.

Alangkah kagetnya Hong Kwi melihat suhengnya sedang bertempur dan dikeroyok oleh tiga orang tua yang berpakaian seperti tosu.

Dilihat dari cara tosu ini bermain pedang mudah diduga bahwa mereka itu tentulah tosu Kun-lun-pay tingkat tiga.

Nampak permainan pedang mereka itu demikian kuat dan cepat mendesak Wang Ie suhengnya.

Bagaimana Wang Ie tahu-tahu telah dikeroyok oleh tiga orang tosu Kun-lun-pay itu?

ooOOoo Ternyata begitu tadi Wang Ie membalapkan kudanya cepat meninggalkan Hong Kwi dan Nguyen Hoat, dengan hati tak enak pemuda ini bermaksud untuk jalan duluan dan menanti sumoaynya di luar hutan.

Namun siapa sangka begitu setibanya di luar hutan dan ia menghentikan kudanya berjalan congklang, tiba-tiba terdengar suara dari belakang membentak, Wang Ie menghentikan kudanya dan menoleh ke belakang.

Alangkah terkejutnya dia begitu melihatnya tiga orang tosu Kun-lun-pay berjalan dengan cepat menghampirinya dengan senjata sudah terhunus.

Ia mengenali tosu ini yang pernah datang ke Tiang-pek-san beberapa hari yang lalu, cepat--wi taysu Dalam beberapa lompatan saja ketiga tosu itu telah berdiri di depan Wang Ie dan seorang yang ber at dan kurus membentak sambil menggerakkan -wi taysu, saya tidak dapat memberi keterangan kepada kalian karena sesungguhnya saya sendiri tidak tahu kemana suhunya pergi.

Tiga hari yang lalu bohong kau anak muda?

Kun-lun Sam-lo-jin tidak boleh dibohong-yang tinggi besar dan bercambang bauk meraba pedangnya dengan sikap menantang.

Wang Ie menyapa ke tiga orang tosu yang dijuluki Kun-lun Sam-lo-jin (tiga orang tua dari Kun-lun-pay) ini.

Tentu saja ia mengenal ketiga orang yang tempo hari datang ke Tiang-pek-san dan menuduh suhunya menculik ketua mereka yang bernama Hek Gan Taysu, sehingga terjadi pertempuran dengan tiga tosu itu.

Akan tetapi karena suhunya lebih tinggi kepandaian silatnya Kun-lun Sam-lo-jin ini dapat diusir dan sejak kejadian-kejadian aneh itulah akhirnya suhu dan subonya turun gunung untuk menyelidiki dunia kang-ouw.

Dan ketiga orang kakek Kun-lun ini, mereka itu bukanlah tosu-tosu sembarangan, melainkan tokoh Kun-lun-pay tingkat tiga yang ternama dan di dunia kang-ouw mereka disebut Kun-lun Sam-lo-jin (tiga orang kakek dari Kun-lun-pay).

Mereka terkenal dengan permainan pedang Kun-lun-kiam-sut.

Yang tertua, tosu muka pucat dan kurus kering adalah Lung Nam Taysu, terkenal dengan ilmu pedangnya yang dahsyat dan menduduki tingkat tiga di Kun-lun-pay.

Sedangkan yang kedua, tosu tinggi besar yang memegang toya itu dikenal bernama Hay San Taysu, sedangkan tosu ketiga yang paling muda, adalah Hay Kui Taysu adik kandung dari Hay San Taysu.

Melihat betapa Kun-lun Sam-lo-jin sudah mengurungnya dengan sikap mengancam, -wi Taysu ini memang keterlaluan.

Apakah aku yang muda harus membohongi kalian?

-wi bahwa aku Wang Ie tidak suka dan tidak biasa membohongi orang.

Memang kepergian suhu, sama sekali aku tidak tahu kemana perginya.

Nah, aku sudah katakan.

Terserah apakah sam-Habis berkata demikian, pemuda itu menarik kendali kudanya dan berjalan, akan tetapi tiba-tiba berdesir suara senjata menyambar di belakangnya.

Cepat Wang Ie mengelak ke kiri dan ia melihat tosu muka pucat yang bernama Lung Nam Taysu sudah menyerang dengan sabetan pedangnya ke arah punggung.

Suara pedang berdesing keras waktu ia menundukan kepalanya dan kemudian mencelat ke atas menghindarkan serangan toya yang lewat di bawah kakinya.

Ternyata Hay San Taysu sudah menyerang pula dengan sodokan toyanya yang berat dan mengeluarkan suara mengaung.

Dengan gerakan yang indah dan ringan tubuh Wang Ie melayang ke atas dan hinggap di tanah tidak jauh dari kudanya.

Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, tahu-tahu Hay Kui Taysu sudah menerjangnya dengan tusukan sepasang pedang pendek dengan gerakan sabetan dari kiri dan kanan.

Akan tetapi Wang Ie adalah murid Pendekar Lengan Buntung, tidak percuma kalau menghadapi serangan begitu saja harus gugup dan panik, maka sambil mengelak dan menggeser gerakan kaki memainkan jurus-jurus Ji-cap-it sin-po.

Ia sudah dapat menghindari serangan sepasang pedang pendek yang bergerak-gerak menggunting dari kiri dan kanan.

Malah, begitu terlolos dari serangan lawan Wang Ie menggunakan gerak tangan kilat dan entah bagaimana caranya tahu-tahu dada Hay Kuy Taysu sudah kena dorong dan tergempur kuda-kudanya.

-Ie.

Hebat sekali kemplangan toya yang beratnya seratus kati ini.

Kalau Wang Ie tidak buru-buru mengelak tentu ia akan pecah kepalanya terhantam toya Hak San Taysu.

Dan belum lagi ia sempat menghindarkan kemplangan toya itu tiba-tiba sebuah pedang berkilat menyambar dahsyat ke arah dadanya dan dibarengi dengan sabetan sepasang pedang pendek yang bergerak menggunting cepat dan kuat.

Kali ini Wang Ie tidak berlaku lambat ia mainkan jurus-jurus ilmu silat sinkhauw-kun-hoat (ilmu silat monyet sakti) yang pernah ia dapati dari kitab dan bukan ajaran dari suhunya.

Ilmu silat ini semacam kun-tauw yang bergerak mengandalkan kelincahan tubuh dan kekuatan sepasang lengan.

Entah bagaimana caranya tiba-tiba pemuda itu bergoyang-goyang dengan kaki terungkit di atas sedangkan tangan kiri menutupi kepala.

Nampak lucu sekali gerakan yang kelihatan aneh ini, namun ajaib.

Sepasang pedang pendek di tangan Hay Kui Taysu terhenti di udara seakan-akan tertahan sebuah tangan kuat tidak kelihatan.

Sebaliknya toya dan pedang yang bergerak menyodok dan menusuk tadi bagaikan menusuk bayangan saja lewat di samping pemuda itu, menimbulkan suara berdesir dan mengaung keras, sedangkan tahu-tahu Lung Nam Taysu dan Hak San Taysu terdorong ke depan ngusruk mencium tanah!

Tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.

Kun-lun Sam-lo-jin yang sudah dibuat marah menggeram keras dan menyerang dengan sungguh-sungguh.

Pedang dan toya berkelebatan amat cepat dan kuat, namun bagaikan menghadapi bayangan saja, tubuh pemuda itu tidak pernah tersentuh oleh senjata mereka.

Jangankan tubuhnya, bajunya saja tidak pernah mereka sentuh.

Padahal mereka melihat pemuda ini bersilat acak-acakan seperti monyet menari yang kadang-kadang melompat-lompat lucu dan kadang-kadang berputaran dengan tangan ditaruh di pinggang, namun harus diakui bahwa gerakan ini cepat bukan main!

Pada saat kedatangan Hong Kwi dan Nguyen Hoat, pemuda itu merubah cara bersilat, nampak ia begitu terdesak mainkan jurus-jurus yang pernah dipelajari dari suhunya Tiang Le.

Memang, sesungguhnya Wang Ie tidak begitu dalam menerima ilmu silat dari Tiang Le, hanya pada dasar-dasarnya saja.

Sehingga gerakan pemuda ini nampak masih kaku ketihatannya dan lemah.

Pada ketika itu sebuah pukulan toya menghantam pundaknya.

Wang Ie terkejut sekali.

Sebetulnya ia bisa menghindarkan diri dengan ilmu silat monyet sakti.

Namun karena ia merahasiakan ilmu ini di depan Hong Kwi maka sambil mengerahkan sin-kang di pundak, ia menerima datangnya toya si tosu.

Hak San Taysu memburu dengan toya di tangan dibarengi berkelebatnya bayangan Hay Kui Taysu dan Lung Nam Taysu menggunakan pedangnya menusuk ke arah iga si pemuda.

Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dan tahu-tahu pedang dan toya sudah tertangkis oleh Hong Kwi yang menolong dengan cepat.

matanya ke arah Lung Nam Taysu yang memandangnya dengan terbelalak.

Le.

Lekas minggir dan berlutut minta maaf kepada suhengku ini.

Kau sudah menghadiahkan terdengar ketus dan galak.

Memang sudah menjadi watak Hong Kwi kalau mengatai seenaknya saja.

Gadis ini memang cerewet, nampak sebuah tahi lalat kecil yang menghias di atas bibirnya.

Tentu saja Kun-lun Sam-lo-jin menjadi mendelik dimaki habis-habisan oleh gadis puteri Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le.

Hay San Taysu yang berwatak nggak sabaran sudah mengangkat toyanya dan -lun Sam-lo--keledai tak tahu malu yang telah ong Kwi membuang ludah di tanah, membuat wajah ke tiga orang kakek Kun-lun ini menjadi merah seketika.

-lun-pay yang tinggi besar sudah melompat dengan gerakan ringan di depan Hong Kwi.

Gadis ini melihat gerakan kakek tinggi besar yang kelihatan galak mengacung-acungkan toyanya, maklum bahwa sesungguhnya ke tiga orang Kun-lun-pay mempunyai kepandaian tinggi.

Ia pernah melihat kakek ini dahulu ketika mereka bersama dataag ke puncak Tiang-pek-san.

Memang kakek Hay San Taysu mendongkol mendengar bahwa gadis itu adalah puteri Sung Tiang Le, siang-siang Hay San Taysu sudah menjadi gemas bukan main dan kalau mungkin tidak memandang kedua orang saudara seperguruannya, ia akan menerjang gadis yang begini tajam mulut dan liar!

Akan tetapi Nguyen Hoat yang bermata tajam dan tahu bahwa ketiga orang tosu tak boleh dipandang ringan, berkata.

kata kepada Hay San Taysu sambil -wi taysu boleh aku bertanya, mengapa kalian datang-datang memusuhi Hong Kwi menyerang mati-matian kepada pemuda suheng temanku Hay San tanpa ragu-ragu menuding ke arah Hong Kwi dan Wang Ie sambil berkata, sengaja memang hendak menawan mereka sebagai tanggung jawab ayahnya yang telah menculik ketua kami.

Dan Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le harus dihadapkan di meja pengadilan Kun-lun-pay untuk mempertanggung jawabkan Hong Kwi mengeluarkan suara mengejek lalu melompat ke atas kudanya dan berkata kepada Nguyen Hoat, yani orang-orang yang sedang miring otak?

Mari kita lanjutkan perjalanan.

Suheng.......

sebaiknya kita tidak melayani keledai dungu Tentu saja dimaki keledai dungu, ketiga tosu ini menjadi mendongkol bukan main.

Hay Kui Taysu yang bersenjata sepasang siang-kiam membentak merah.

-lun-pay.

Lekas kau menyerahkan diri dan menjadi tawanan kami sampai ayahmu mempertanggung jawabkan perbuatannya, baru kami be Lung Nam Taysu yang sejak tadi diam saja kini membuka mulut.

Sinar matanya yang berwibawa menentang pandangan si gadis.

Melihat mata yang tajam dan berpengaruh, tahulah Hong Kwi bahwa tosu muka pucat dan kurus kering ini mempunyai tenaga lwekang yang tinggi dan ahli tenapa khi-kang.

Diam-diam ia menjadi terkejut, akan tetapi ia tidak takut.

Malah menoleh dan mengawasi tosu itu dengan kening dikerutkan seperti orang tak senang.

k kami dan sekali, kemudian tanpa banyak bicara ia sudah menyerbu dan menubruk Hong Kwi dengan terjangan toyanya yang besar dan berat.

Memang diantara ketiga orang Ku-lun-sam-lojin yang paling nggak sabaran adalah Hay San Taysu, tosu tinggi besar yang berwatak berangasan.

Melihat datangnya terjangan toya yang menubruk dengan gerakan cepat dan kuat, Hong Kwi menjadi terkejut.

Suara mengaung terdengar waktu toya itu digerakkan, mudah diduga bahwa tosu tinggi besar ini mempunyai tenaga gwa-kang yang tinggi dan tidak boleh dibuat gegabah, maka Hong Kwi tidak berani menangkis melainkan melompat dari atas kudanya, berjungkir balik dan turun dua tombak dari atas kudanya.

Terdengar suara kuda meringkik dan kuda tunggangan yang ditinggalkan Hong Kwi itu kena sodokan toya Hay San Taysu sehingga menimbulkan suara berdebuk keras dan terguling roboh.

Kwi yang cepat menggerakkan tangan kirinya dengan gerakan kilat yang sukar diikuti oleh pandangan mata dan tahu-tahu toya di tangan Hay San Taysu bergetar hebat dan dari mulutnya keluar darah segar.

Cepat sekali tosu tinggi besar itu bersila dan meramkan matanya mengatur pernapasan yang terasa sesak dan sakit.

menubruk Hay San Taysu yang sudah tak berdaya.

Pedangnya mendesing dan langsung menyerang si gadis dengan terjangan-terjangan dari jurus-jurus ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut yang kuat dan lihai.

cepat dan menyelinap masuk di antara putaran pedang lawan.

Akan tetapi merasa serangan pedang lawan ini demikian kuat dan cepat, gadis itu menarik kembali tangannya dan berganti dengan mengibaskan lengan bajunya ke arah dada si tosu.

Ia sudah memperhitungkan bahwa kibasan lengan bajunya itu tentu akan merobohkan tosu ini, karena ia percaya akan kepandaiannya sendiri.

Memang sudah menjadi watak Hong Kwi, karena terlalu dimanja oleh ibunya sehingga ia menganggap bahwa di kolong langit ini, dia sendiri itulah yaug paling lihai.

Oleh sebab itu menghadapi terjangan-terjangan pedang Lung Nam Taysu, ia hanya mengibas dengan lengan bajunya.

Suara angin kibasan lengan baju itu berderu keras.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kibasannya yang cepat sekali itu mengenai tempat kosong karena Lung Nam Taysu sudah dapat mencelat ke samping dan bahkan membalas menyerang dengan pukulan tangan kosong yang digunakan oleh tangan kirinya.

Saking cepatnya pukulan tangan kiri itu, amat jitu sekali mengenai pundak Hong Kwi.

Sung Hong Kwi terhuyung ke belakang, akan tetapi Lung Nam Taysu tiba-tiba merasa tangannya panas, tanda ia terserang oleh tenaga pukulannya sendiri yang membalik ketika bertemu dengan pundak gadis itu.

Hal ini menjadi bukti bahwa lweekang gadis yang menjadi puteri Sung Tiang Le demikian tinggi dan membuat dalam benturan saja tangannya sudah terasa panas.

Pantas dalam segebrakan tadi sutenya telah muntahkan darah.

Sungguh hebat sekali gadis ini!

Lung Nam Thaysu menjadi terkejut dan maklumlah ia bahwa harapannya untuk melawan gadis ini tidak mungkin dilakukan lagi, baru saja menghadapi gadis puteri Sung Tiang Le saja merupakan lawan yang berat, apalagi kalau orang muda itu turun tangan, celaka!

-sute, lekas kembali ke Kun-lun, laporkan kepada suheng.......

biar su-couw Cin Cin emikian ia mengibaskan lengan bajunya dan berkelebat lenyap diikuti oleh kedua orang saudaranya yang merasa gentar Hong Kwi mengirim suara jarak jauh sehingga terdengar oleh ke tiga tosu itu yang menjadi panas hatinya dan menggeram mengertukkan gigi saking gemasnya.

Rasa benci dan penasaran kepada Tiang Le memuncak, hendak ia serbu Tiang-pek-san nanti, pikirnya berlari cepat.

Sementara itu, Hong Kwi mendekati kudanya.

Begitu dilihatnya kudanya sudah hampir mati dan telah menggeletak di tanah akibat pukulan toya si tosu tadi, Hong Kwi mengangkat tangannya menghantam kepala kuda.

Untuk beberapa lama kuda itu meringkik panjang dan mati seketika.

Wang Ie mendekati si gadis dan bertanya heran, Wang Ie mengangguk.

Ia membenarkan perkataan gadis sumoaynya ini.

Memang bukan ia tidak tahu, pukulan toya si tosu tadi membuat jantung si kuda putus dan sekarat hendak mati.

Dan perbuatan sumoaynya berurusan, baik juga.

Namun Nguyen Hoat berkata perlahan, jalan.

Kalau nanti ia membusuk, baunya akan mengganggu orang yang lewat, sebaiknya g!

Kita harus mengguburkan dulu, perkataan Nguyen Hoat.

Entah mengapa hati Wang Ie tidak enak sekali.

Ia merasa senang sumoaynya ini membenarkan perkataan pemuda Nguyen Hoat yang baru dikenalnya.

Gila mengapa aku berpikiran begitu, Setan!

Tak boleh aku mencintai sumoay.

Wang Ie menekan perasaan hatinya dan berkata, -susah menggali lubang?

Kita kasih tahu saja orang dusun, mereka tentu akan mengambil dagingnya dan dapat dimanfaatkan untuk orang banyak, dari pada dibuang cuma-matanya yang bening indah itu membelalak memandang Nguyen Hoat.

memanggil nama Hong Kwi demikian saja seperti sudah demikian akrab hubungan mereka!

Hemm!

Wang Ie kau gila, mengapa kau berpikir sampai begitu bodoh, tak tahu diri!

Kau ini siapa, Hong Kwi itu siapa?

Mengapa berpikir yang tidak-tidak!

Tolol!

Tiba-tiba Wang Ie mengeplak kepalanya.

kepala?

Sayang aku nggak bawa bintang tujuh nomor enambelas hi-tertawa.

Ia memegang lengan suhengnya.

Aduhai, suara itu demikian mesra bagi pendengaran Wang Ie dan untuk beberapa lama ia menjadi tersipu-sipu malu dan berkata gagap.

-yu-cing ini kepada saudara Wang Ie, mungkin ia sakit kepala.

Minyak Fung-yu-Nguyen Hoat sambil memberikan minyak angin kepada Hong Kwi.

Hong Kwi menerima dan membuka tutupnya.

-yu-Buru-buru Wang Ie menahan gerakan sumoaynya yang hendak mengoleskan minyak angin di kepalanya.

Ia malu bukan main, akan tetapi juga, entah mengapa hatinya girang setengah mati!

Akan tetapi mulutnya berkata, karena.......

saja, dan mereka itulah yang nanti akan menggotong beramai--sama -apa lagi dari Hong Kwi dan Nguyen Hoat, pemuda itu mencelat pergi dan berkelebat cepat menuju sebuah dusun.

Habis memberitahukan penduduk dusun bahwa di hutan itu ada seekor kuda yang mati dan menyuruhnya untuk dibawa ke dusun dibagi-bagi.

Wang Ie terus berkelebat lenyap dan ia meninggalkan sepucuk surat untuk sumoaynya bahwa ia hendak mengadakan perjalanan seorang diri.

Tentu saja Hong Kwi dan Nguyen Hoat menjadi heran dan menyusul pemuda itu ke arah selatan mengadakan perjalanan cepat.

Sebentar saja hubungan Hong Kwi dengan Nguyen Hoat sudah begitu akrab dan masing-masing sudah biasa berguyon dan tertawa-tawa senang di sepanjang jalan.

Mereka terus ke Selatan!

ooOOoo Hari itu udara sedikit mendung.

Segumpalan awan hitam berterbangan menutupi sinar matahari di atas kepala sehingga suasana di kaki bukit Hoa-san tidak begitu panas terik seperti biasanya.

Angin sejuk berhembus sepoi-sepoi basah.

Pohon-pohon yang-liu yang ramping bergoyang-goyang dipermainkan angin yang datang dari arah utara, sehingga merupakan tarian ke kanan dan kiri disertai suara berkeresek suara daun beradu.

Pada saat itu, dari kaki bukit nampak tiga orang laki-laki dengan gerakan kaki seakan-akan terbang naik ke Hoa-san.

Yang seorang bertubuh tinggi kurus dan berwajah pucat, dilihat dari cara berpakaian laki-laki itu mudah diduga bahwa ia itu seorang tosu, yang terkenal di Kun-lun-san dengan nama Lung Nam Taysu, orang pertama dari Kun-lun Sam-lo-jin.

Orang kedua dan ketiga adalah kakek-kakek berjubah aneh, yakni berwarna belontang-belontong terdiri dari warna merah, putih dan kuning.

Yang pertama adalah seorang kakek bongkok yang memegang tongkat hitam di tangan kanan dan tongkat putih di tangan kiri, sedangkan orang kedua adalah seorang kakek botak yang pada punggungnya terdapat sepasang pedang.

Yang bongkok itu adalah tokoh ketiga dari Bu-tong-pay, bernama Jin Jin Hoatsu, berjuluk Hek-pek-siang-tung (Sepasang Tongkat Hitam Putih).

Yang kedua bertubuh besar pendek adalah tokoh keempat dari Cay-san-pay, bernama Su Tek Lay berjuluk Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis).

Mereka ini memiliki ilmu kepandaian tinggi dan merupakan tokoh-tokoh yang cukup terkenal di dunia kang-ouw.

Siapakah orangnya yang tidak pernah mendengar tokoh Kun-lun-pay yang berjuluk Kun-lun Sam-lo-jin, tokoh Bu-tong-pay, Jin Jin Hoatsu yang lihai bermain sepasang tongkat hitam dan putih, sedangkan orang ketiga adalah Su Tek Lay si Sepasang Pedang Iblis.

-san--pek-siang-tung Jin Jin Hoatsu.

-san-pay sudah hampir bankrut, akan tetapi sudah berani main gila -san-pay merupakan partai yang paling berpengaruh dan amat disegani oleh banyak orang gagah akibat wibawa orang tua itu, namun sekarang Hoa-san-pay menjadi berengsek.

Sejak Tiong Gi Tojin wafat, Hoa-san-pay dipegang oleh Siang Siang Tojin, si kakek lengan buntung yang berkepandaian hebat, akan tetapi sudah sangat tua usianya, dan kurang berwibawa memimpin.

idak memperdulikan lagi urusan partai mengasingkan diri di lembah Im-kan-kok dan pemimpin diserahkan kepada Niang Pek Tojin ini tidak mau mengumpulkan murid-muridnya.

Dan kalau tidak salah Hoa-san-pay g menyebalkan, masih hampir bangkrut masih saja berbuat sombong dan berani mati, telah datang ke Kun-lun menculik ketua kami Hek Gan Taysu.

Bukankah Taysu sengit, mendongakkan kepalanya ke atas puncak yang tertutup kabut.

-tong-pay -cu Bu Beng Cu juga lenyap.

Kabarnya Siang Siang Tojin itulah yang telah datang ke Thay-san, her Lay dengan nada tak senang, meja hijau Kun-lun--san-nku.

Hendak kupatahkan batang lehernya si bangsat buntung itu dan menyiksa di Bu-tong-Pada saat ketiga orang kakek itu tengah berlari-lari mempergunakan gin-kangnya yang tinggi menaiki puncak Hoa-san, melompati jurang-jurang dengan gerakan laksana burung walet terbang.

Pada saat itu Niang Pek Tojin sedang duduk di luar pondok bersama ke duapuluh lima orang muridnya.

Nampak dari pakaian mereka yang serba putih dan tanda hitam dibahunya merupakan tanda perkabungan, sedangkan di depan mereka nampak sebuah meja sembahyang yang mengebulkan asap dari hio yang dibakar.

Dan di balik meja sembahyang itu, nampak pula sebuah peti mati yang siap hendak dimasukkan ke dalam liang kubur.

Niang Pek Tojin berlutut dan diikuti oleh ke duapuluh lima orang murid-murid Hoa-san-pay.

Kemudian satu persatu mereka maju dan membakar hio dan bersembahyang mengacungkan tiga batang hio di atas kepala dan mengheningkan cipta.

Sesudah demikian, hio itu ditancapkan di sebuah hio-low di tengah-tengah meja sembahyang.

Nampak kemudian di balik hio-low yang besar itu terpampang sebuah potret seorang kakek yang sudah tua usia dan berlengan buntung sebelah kiri.

Dalam gambar itu, kakek itu sekitar usia sembilanpuluh tahun.

Rambutnya sudah putih semua, berjenggot putih pula, matanya cekung menampakkan wajah yang kurus seperti orang yang sudah lama dihinggapi penyakit.

Siapakah kakek itu?

Dia itulah Siang Siang Tojin yang telah meninggal dunia.

Tiga hari yang lalu Niang Pek Tojin dikejutkan oleh bayangan seseorang yang bertempur dengan Siang Siang Tojin.

Amat cepat sekali gerakan orang itu sehingga hanya dalam sekelebatan saja ia dapat melihat orang itu yang juga berlengan buntung dan begitu orang lengan buntung itu lenyap, tahu-tahu Siang Siang Tojin telah roboh dan memuntahkan darah segar.

Dan roboh dengan wajah hitam diduga akibat pukulan tangan kosong yang penuh racun.

seka -murid Hoa-san-pay yang lain menjerit ternyata supek mereka telah meninggal dengan amat mengenaskan.

Niang Pek Tojin termenung sejenak.

tiba-tiba Niang Pek Tojin berteriak marah, mengepalkan tinjunya.

-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian bertanya heran.

Dan memandang Niang Pek Tosu.

buntung yang demikian lihai.

Tadi supek bilang dia itu Su.......

hemm!

Sung Tiang Le!

Benar Hoa-san-siang-sin-kiam Lim Ju Hian memegang lengan suhengnya dan pandangan matanya seakan-akan tak percaya.

dekar Lengan Buntung Sung Tiang Le yang melakukan perbuatan keji ini?

Setahuku, Tiang Le adalah seorang pendekar yang mulia dan entah ada permusuhan apakah dengan supek sehingga ia melakukan pembunuhan hemm, sayang aku hanya melihat sekelebatan saja.

Yang jelas orang itu berlengan buntung, gin-kangnya sangat tinggi.

baru kita kemudian membicarakan tentang si Pendekar Lengan Buntung itu, kalau memang dia orangnya.

Biar nanti kita menyerbu ke Tiang-pek-Demikianlah, Niang Pek Tojin dan murid-murid Hoa-san-pay mengadakan acara sembahyang dan berkabung atas kematian supek mereka!

Niang Pek Tojin dan murid-muridnya bersembahyang di depan pondok.

Hari itu adalah hari ketiga dimana peti hendak dimasukkan ke dalam liang kubur.

Setelah mereka semua berlutut dan memasang hio sebagai penghormatan atas arwah supek Siang Siang Tojin, Niang Pek Tojin segera menggeser meja sembahyang dan memerintahkan kepada empat orang muridnya untuk mengangkat peti.

Tiba-tiba Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian berkata, Niang Pek Tojin mengangguk-angguk karena kakek ini juga sudah tahu.

Adapun murid-murid Hoa-san menoleh dan celingukan ke sana ke mari mencari-cari karena mereka belum melihat tamu yang dikatakan tadi oleh Ju Hian.

Baru saja mereka hendak bertanya, dari samping kiri berkelebat tiga bayangan dan sekejap kemudian tiga orang kakek berdiri di dekat samping pondok sambil tersenyum menyindir.

Dan mengawasi meja sembahyang yang sudah dipindahkan ke sebelah kiri.

Dan memandang peti mati.

-san-pay begini pengecut, berani berbuat nggak berani bertan menghampiri peti mati.

Namun dua orang murid Hoa-san bergerak dan menghadangnya dan memandang Begini sombongkah murid-murid Hoa-san-pay -wi ini hendak memberi Aha, Niang Pek Toyu, apakah kau belum mengetahui kedatangan kami?

Aku adalah Su Tek Lay, dari Thay-san-pay, dan dua orang sobat masing-masing dari Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay.......

Kami hendak bertemu dengan Siang Siang Tojin dan minta keterangan mengapa Tek Lay menatap tajam Niang Pek Tojin.

Dua orang tokah Kun-lun-pay dan Bu-tong-pay tidak berkata apa-apa, akan tetapi mereka telah menggerakkan kedua tangannya dan bagaikan dua ekor burung mereka melayang ke atas, menginjak pecahan genteng dan mengintai ke dalam.

Mereka mencari Siang Siang Tojin yang disangkanya bersembunyi di dalam pondok.

Kemudian mereka kembali melayang ke bawah, gerakan mereka sangat ringan menunjukkan bahwa gin-kang ke dua orang kakek ini sudah mencapai tingkat tinggi.

Melihat kehebatan gin-kang kedua orang ini, diam-diam Niang Pek Tojin terkejut, demikian pula Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian.

Menghadapi kedua orang kakek tokoh Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay mereka tidak takut, akan tetapi melihat gerakan itulah yang diperlihatkan oleh dua orang tadi benar-benar hebat sekali.

Niang Pek Tojin berdiri dan menjura ke arah ke tiga orang kakek yang baru datang itu, -san-pay, sam-wi bengyu (tiga orang sahabat).

Pinto mengenal kalian sebagai tokoh-tokoh Kun-lun-pay, Thay-san-pay dan Bu-tong-pay yang terkenal.

Akan tetapi sangat disesalkan sekali bahwa perbuatan sam-wi bengyu tidak memandang mata kepada Hoa-san-pay yang tengah berkabung malah telah merusak -ha--tong-pay Jin Jin Hoatsu tertawa bergelak dan matanya menyapu tempat itu.

Akhirnya ia memandang kepada Niang Pek Taysu dengan mata mendelik.

h kalian yang telah menghina kami.

Berani mati menculik ketua partai besar Kun-lun-pay, Bu-tong-pay dan Thay-san--kata beng-yu seperti ngelindur, entah apakah kalian ini sudah miring otak sehingga memaki-maki Hoa-san-pay, kalau memang ada urusan penting katakanlah.

Tak usah plintat-sangat tidak mengerti kata-kata ketiga orang ini.

-lun-pay tidak pernah mempunyai permusuhan dengan Hoa-san-pay.

Entah, Siang Siang Tojin pribadi.

Ia telah datang ke Kun-lun dan dengan cara yang pengecut telah menculik ketua kami Hek Gan Taysu, hayo jawab!

ketua kami saja yang telah diculik, akan tetapi ketua Thay-san-pay, Bu-tong-pay juga sudah lenyap!

Sungguh perbuatan yang berani dan tidak memandang mata dengan Tentu saja Niang Pek Tojin dan murid-murid Hoa-san-pay menjadi terkejut mendengar omongan tosu dari Kun-lun-pay ini.

Dan mereka saling memandang heran.

Niang Pek Tojin yang merasa bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menimpah Hoa-san-pay melangkah maju dan berkata kepada tosu Kun-lun-pay ini.

-wi beng-yu, urusan tentang ketua kalian yang lenyap, sesungguhnya kami menutup-dan memandang si tosu dengan pandangan tajam.

-ha-ha, kalian ini bertiga sedang bermimpi atau sedang miring otak.

Bagaimana kalian menyangka t!

jiwi cianpwe, betapa sombongnya orang Hoa-san-pay.

Sudah berbuat tidak kemarahannya lagi, tangannya bergerak tongkatnya berkelebat dan ia berdiri dengan sepasang tongkat hitam dan putih melintang di depan dada.

-yu, kau selalu mengatakan bahwa Hoa-san-pay selalu bersikap -lun beberapa hari yang lalu dan ka --mengacau di Hoa-Hoa-san Siang-sin-kiam Lim Ju Hian berseru dan meloncat ke depan.

Saking mendongkolnya atas kedatangan ketiga orang tua yang rupanya sengaja hendak mengacau di Hoa-san dalam suasana perkabungan seperti ini Ju Hian yang biasanya penyabar kini berkata lagi.

bereskan agar mereka tidak mementang bacot yang tidak-Diejek demikian tokoh dari Thay-san-pay menjadi marah dan membentak.

iblisnya bergerak ganas menyerang Hoa-san-siang-sin-kiam Lim Ju Hian.

Jago pedang dari Hoa-san-pay ini tidak menjadi gentar dan menangkis dengan sepasang pedangnya pula.

Terdengar suara nyaring dan bunga api bertebaran ketika dua senjata bertemu.

Sebentar saja mereka sudah saling terjang dan ternyata ke dua-duanya itu adalah ahli dalam memainkan sepasang pedang.

Sudah barang tentu, karena tokoh Hoa-san-pay ini dijuluki Hoa-san Siang-sin-kiam dan tentunya permainan sepasang pedang saktinya demikian kuat dan luar biasa.

Sebaliknya lawannya pun disebut Siang-mo-kiam Su Tek Lay, sepasang pedang yang tak kalah hebatnya dari sepasang pedang sakti Lim Ju Hian.

Hanya dalam hal tenaga Ju Hian menang setingkat, dan ini dibuktikan dari benturan kedua senjata yang telah membuat tangan Su Tek Lay tergetar dan beberapa kali hampir saja sepasang pedangnya terlepas.

Namun demikian dalam jurus-jurus ilmu silat tokoh Thay-san-pay ini tidak kalah lihainya.

Pedangnya berkelebat cepat dan ganas merupakan sepasang naga yang berebut mustika yang saling dulu menyambar-nyambar dengan dahsyat.

Serangan-serangan sepasang pedang iblis itu amat aneh, memang sumber ilmu pedang dari Thay-san-pay ini agak sedikit ganas, sebab ia langsung dididik oleh seorang tokoh hitam bernama Thian Te Siang-mo.

Akan tetapi setelah orang tua sakti itu meninggal, Thay-san-pay dipimpin oleh Bu Beng Cu dan mendapat kemajuan pesat.

Namun demikian ilmu pedang mereka tetap saja ganas dan keji karena bersumber dari ciptaan Thian Te Siang-mo yang luar biasa.

Baru setelah Bu Beng Cu mengangkat diri menjadi ketua, sumber pedang ini agak dirubah dan diberi nama Thay-san Siang-sin-kiam-hoat Sepasang Pedang Sakti dari Thay-san-pay!

Melihat betapa sutenya sudah bergebrak dan bertempur seru dengan tokoh dari Thay-san-pay ini, Niang Pek Tojin maju dan menghampiri Lung Nam Taysu, membentak, -betul keras kepala!

Tidak menghormati perkabungan orang.

Supek lau memang Siang Siang Tojin sudah meninggal coba kuperiksa peti matinya.

Jangan-jangan dia hanya bersembunyi dan takut mempertanggung jawabkan Lung Nam Taysu maju menghampiri peti.

Tangannya bergerak hendak membuka peti mati itu, tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu Niang Pek Tojin dan ke duapuluh lima murid-murid Hoa-san sudah mengurungnya dengan pedang di tangan.

Tojin terdengar tergetar menahan gelora hatinya yang meledak menahan amarah!

Melihat sikap tosu ini dan murid-muridnya yang mengurungnya dengan pedang ditangan, Lung Nam Taysu tertawa mengejek.

-ha--lun-pay dan Hoa-san-pay merupakan musuh besar.

Aku harus membasmi sampai keakar--san-pay yang tidak dapat menahan kesabarannya lagi mencelat maju dan menggerakkan pedangnya.

Suara pedang berdesing keras, Lung Nam Taysu tertawa keras, dan mengelak dari sambaran pedang itu dan membalas dengan sebuah dorongan jarak jauh setengah dan membentak, ke muka.

Terdengar jeritan kaget dari orang Hoa-san-pay yang menyerangnya itu.

Ia tidak sangka tosu ini dapat mengirim pukulan demikian cepatnya.

Melihat datangnya hawa pukulan yang demikian kuat dan menimbulkan hawa panas segera ia mencelat ke kiri membuang diri dan menghindarkan pukulan jarak jauh si tosu.

Namun rupanya Lung Nam Taysu tidak hanya sampai bergebrak di situ, tiba-tiba kakinya mengirim tendangan berantai dan sebuah tendangan ketiga tepat mengenai lambung murid Hoa-san-pay.

-san-pay itu terlempar jauh dan menggeliat di tanah.

Perutnya dirasakan sakit bukan main, namun ia telah dapat berdiri dan menggerakkan pedang.

Dengan pedangnya yang masih dipegang di tangan kanannya itu ia hendak menyerang lagi!

Tiba-tiba tubuhnya terhenti di tengah serangan ini karena lengan kanannya dipegang orang dari belakang.

Pegangan yang amat kuat dan membuatnya tidak berdaya.

-lun-Ternyata Niang Pek Tojin yang mencegatnya.

Diam-diam ia menarik napas lega.

Tadinyapun ia telah merasa bahwa ia bukan tandingan tosu Kun-lun-pay ini dan kini biarpun ia mengundurkan diri, ia bersiap-siap dengan pedang di tangan yang suatu ketika pasti bergebrak apabila ketua mereka berada dalam keadaan gawat di tangan tosu ini!

-lun-pay, ketahuilah bahwa hari ini Hoa-san-pay tengah mengadakan perkabungan oleh sebab kematian supek kami Siang Siang Tojin.

akan tetapi karena kalian mendesak kami terpaksa kami melupakan hubungan baik dengan Hek Gan Taysu di Kun-Lung Nam Taysu sudah mengirimkan serangan dahsyat dan pedangnya bertubi-tubi mengirimkan tusukan yang cukup hebat.

Namun jago Hoa-san ini bukanlah orang sembarangan, ia adalah murid pertama dari Siang Siang Tojin, ilmu pedangnya sangat kuat dan berisi.

Tentu saja ia dapat mengimbangi orang pertama dari Kun-lun Sam-lo-jin ini.

Dan malah ia telah mulai melancarkan serangan-serangan balasan yang tak kalah ganasnya.

Pada saat itu terdengar suara pedang beradu, bunga api berpijar di udara dan bersamaan dengan itu terdengar pekikan mengerikan.

Ternyata Jin Jin Hoatsu sudah bergebrak dan dikeroyok oleh ke duapuluh lima murid-murid Hoa-san-pay.

Tentu saja menghadapi tokoh Bu-tong-pay yang lihai ini, sebentar murid-murid Hoa-san-pay pada roboh oleh sebab permainan tongkat yang luar biasa hebatnya.

Perlu diketahui bahwa semenjak Tiong Gi Tojin meninggal dunia, partai Hoa-san ini menjadi banyak kehilangan murid oleh sebab dalam pimpinan Siang Siang Tojin, ia hanya membatasi menerima murid, malah banyak pula murid-murid Hoa-san-pay yang bertebaran dimana-mana segan untuk kembali ke puncak.

Ada lebih seratus murid Hoa-san-pay yang bertebaran di daerah-daerah menjadi piauw-su, nelayan dan penduduk biasa.

Sehingga sekarang di Hoa-san ini menjadi sepi, murid-murid tinggal duapuluh lima orang saja.

Itupun tidak begitu lihai, sebab Siang Siang Tojin segan sudah melatih mereka, sehingga Hoa-san-pay menjadi partai yang lemah dan tidak ada semangat.

Dan sebentar saja ke duapuluh lima murid Hoa-san-pay ini sudah menggeletak mandi darah dalam amukan tongkat tokoh Bu-tong-pay.

Beberapa orang lagi yang masih kuat berjalan malarikan diri, akan tetapi banyak pula yang mati.

Melihat ini Hoa-san-siang-sin-kiam Lim Ju Hian menjadi marah.

Ia menjadi nekad dan mengamuk melawan tokoh Thay-san-pay ini, sepasang pedangnya berkelebat ganas.

Lebih seratus jurus mereka bertempur, namun mereka belum juga ada yang kalah, mereka sama-sama tangguh, sama-sama lihai!

Sebuah guntur menyambar.

Tidak mereka sadari udara di atas gelap menutupi mereka.

Hujan turun dengan lebatnya.

Suasana di puncak Hoa-san-pay agak remang-remang.

Pada ketika itu, terdengar suara mengakak keras dan di atas ketinggian batu gunung berkelebat sesosok tubuh dan langsung saja ia menyambar Ju Hian dan Tek Lay, begitu tangannya bergerak.

Bagaikan sebuah kilat menyambar tubuh ke dua orang yang tengah bertempur itu terlempar jauh dan mati seketika.

-ha-ha, Hoa-san-pay dan Kun-lun-pay saling cakar-cakaran, Bu-tong-pay tidak lama lagi akan mengalami kehancuran di tangan Thay-san-pay, ha-ha-ha-ha-yang keras ini amat menyeramkan.

Tidak begitu jelas orang itu.

Hanya nampak rambutnya panjang riap-riapan menutupi mukanya, pakaiannya hitam sudah basah oleh air hujan, hanya nampak lengan sebelah kanan yang buntung sebatas pundak.

Mendengar suara ini, Lung Nam Taysu dan Niang Pek Tojin menghentikan gerakan serangannya.

Jin Jin Hoatsu juga memandang terbelalak.

Mereka seakan-akan melihat setan.

Orang buntung lengannya itu tidak begitu jelas, karena ditutupi oleh rambut yang riap-riapan panjang.

Tubuhnya agak pendek.

Kurus kering dan menyeramkan!

selangkah.

Pada saat itu hampir berbareng, Jin Jin Hoatsu dan Lung Nam Taysu memandang terbelalak dan berkata, -tong-pay, dan Kun-lun--san--ha-ha!

Kalian orang-orang goblok!

Akan tetapi kami tidak akan membunuh -ha--san-menyambar tubuh orang itu.

Diikuti gerakan sepasang pedang dari tongkat hitam dan putih dari tokoh Bu-tong-pay, Jin Jin Hoatsu, berbareng berdesing pula pedang di tangan Lung Nam Taysu.

Suara desingan pedang menyambar-nyambar dari ke tiga penjuru.

Beberapa menit kemudian orang aneh itu mencelat ke kiri.

Tiba-tiba terdengar suara dalam bahasa asing yang tidak dimengerti oleh ketiga orang tokoh Hoa-san-pay, Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay.

Suara itu kedengaran seperti geluduk, karena datangnya dari angkasa.

-Habis suara itu bergema, tahu-tahu orang aneh itu mainkan silatnya luar biasa dan dalam bebarapa gebrakan saja ke tiga tokoh dari Bu-tong-pay, Hoa-san-pay dan Kun-lun-pay sudah menggeletak mandi darah.

Terdengar suara bergelak lama.

Seperti suara iblis yang bergemuruh menyaingi datangnya petir berkilat di udara.

Kemudian sekali menggoyangkan tubuhnya, orang aneh itu telah lenyap dan hanya terdengar suara ketawanya saja mengakak seperti burung hantu.

Udara bertambah gelap.

Angin dingin bertiup dengan kerasnya.

Tiba-tiba terdengar ledakan keras dan tahu-tahu dari dalam peti mati itu keluar sesosok tubuh yang kurus kering, berjalan perlahan melangkahi mayat-mayat orang Hoa-san-pay yang sudah mati.

Ia menggumam sendiri.

-siluman Istana Hantu, awas kau Bok Beng Cu akan datang masanya Siang Siang Tojin menghancurkan Istana kalian Siang Siang Tojin berjalan perlahan, kilat dan petir menerangi tempat itu.

Sementara hujan turun dengan derasnya membanjiri puncak Hoa-san-pay!

Sunyi dan sunyi.

ooOOoo Sesosok tubuh seorang kakek tua kurus kering yang berambut riap-riapan berjongkok dan mengangkat sebuah tubuh Lung Nam Taysu yang sudah pingsan.

Darah merah menodai jubahnya.

Wajah tosu itu pucat dan sekarat hendak mati.

Orang aneh itu membawanya dan sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah lenyap dari puncak Hoa-san dan berlari cepat menuju Kun-lun-san.

Amat cepat sekali bayangan orang ini berkelebat, sehingga menjelang tengah hari mereka memondong tubuh Lung Nam Taysu, sampailah ia di kaki bukit Kun-lun-san.

Pada waktu itu udara sudah gelap hampir menjelang malam, burung-burung beterbangan di atas.

Kakek rambut riap-riapan itu meletakkan tubuh Lung Nam Taysu di dekat sebuah batu besar di kaki bukit Kun-lun-san.

Pada sebuah batu yang besar, ia menggoreskan huruf-huruf yang berbunyi demikian.

ncari Hek Gan Taysu, datanglah ke puncak Tiang-pek-san.

Sesudah menulis huruf-huruf demikian, kakek itu menggerakkan tangannya menotok kepala Lung Nam Taysu.

Setelah berbuat demikian ia berkelebat lenyap dan meninggalkan tubuh Lung Nam Taysu yang pingsan.

Malam mengembangkan sayapnya.

Udara di kaki bukit Kun-lun-san hitam pekat.

Lolongan anjing hutan terdengar dari kejauhan.

Angin malam amat kencangnya.

Suara kentongan malam terdengar tiga kali, menandakan waktu sudah hampir menjelang pagi.

Dari arah selatan dua dua orang murid Kun-lun-pay yang meronda sampai ke kaki bukit nampak berjalan dengan membawa lui-teng di tangan.

Cahaya lampu menerangi jalan.

Tiba-tiba seseorang yang kelihatannya mempunyai roman muka lonjong dan pucat nampak lebih pucat lagi waktu ia melihat sesosok tubuh menggeletak di dekat batu besar.

-berkata pula orang kedua yang memegang lui-teng menghampiri tubuh Lung Nam Taysu dan terus saja dipondong oleh si muka pucat menaiki puncak.

Untuk yang kedua kali gemparlah tokoh-tokoh di Kun-lun-san.

Mereka cepat memeriksa luka di dalam dada Lung Nam Taysu dan diberinya obat.

Dua orang termuda dari Kun-lun-sam-lo-jin bertanya kepada dua orang yang menemukan tubuh Lung Nam Taysu, -lun-san.

Siauwte dapatkan It-suheng sudah pingsan, entah siapa yang bersenjata toya.

Belum lagi ke dua orang murid Kun-lun-pay menjawab, Hay San Taysu sudah berkelebat lenyap dan menuruni puncak dengan diikuti oleh murid-murid Kun-lun-pay.

Mereka berlari cepat menuruni puncak.

Ketika itu hari sudah menjelang pagi.

Matahari membersit hangat dari punggung bukit dan menampakkan sinarnya yang kemerah-merahan, laksana tebaran cahaya kemerahan yang melingkar-lingkar.

Di sepanjang kaki bukit udara sudah mulai nampak terang oleh sinar matahari pagi yang cerah.

Ke lima orang tosu Kun-lun-pay itu berhenti di sebuah batu besar yang terdapat tulisan coret moret yang dikerahkan oleh tenaga lweekang tinggi.

Nampak tulisan itu sebesar telunjuk jari yang ditekankan pada batu hitam itu.

Dari cara ini saja mudah diduga betapa tinggi lweekang si penulis pada batu ini.

Akan tetapi yang membuat Hay San Taysu merah mukanya adalah membaca u ada nyali dan hendak membalas dendam dan mencari Hek Gan Taysu, datanglah ke puncak Tiang-pek-san.

Sung Tian Le sedang Hebat sekali bunyi tantangan ini, membuat darah di dada Hay San Taysu dan murid-murid Kun-lun-pay yang lainnya berdebar-debar menahan amarah.

-lun-sam-lo-jin sudah mencelat dan mendaki puncak Kun-lun-san, sedangkan murid-murid yang lain membawa batu hitam yang bertulisan itu untuk dihadapkan kepada Cin Cin Taysu.

Mendengar laporan ini hampir saja Cin Cin Taysu tidak percaya, kalau saja tidak melihat tulisan yang tertera pada batu hitam itu.

Ia menatap tajam ke arah Lung Nam Taysu yang sudah sadar diri, akan tetapi belum pulih benar kesehatannya!

-san-pay dan bagaimana dengan saudara-saudara dari Thay-san-pay dan Bu-tong-Lung Nam Taysu berlutut dan berkata.

mpunkan teecu sucouw, sesungguhnya entah bagaimana teecu tidak ingat lagi akan peristiwa kejadian itu, teccu merasa diri teecu dipondong oleh seorang tua yang lengannya buntung dan berambut riap-riapan.......

Ia sudah membunuh Jin Jin Hoatsu, Niang Pek Toj UNG NAM, bicaralah yang betul, jangan pakai rasa-rasa segala.

Betulkah bergerak tangan kiri itu.......

entah dengan cara bagaimana tahu-tahu teecu dan Niang Pek Tojin telah terluka hebat.

Untung teecu dapat bertahan dan tidak mati seperti Niang Nam setelah kau sembuh benar kalian bertiga Kun-lun Sam-lojin berangkatlah ke Tiang-pek-san, minta tanggung jawab Sung Tiang Le dan cari Hek Gan Taysu.

Apabila keadaan gawat, lekas laporkan kepadaku, biar aku yang akan turun tangan sendiri menghadapi Tiang Le.

Sungguh berani sekali --lun Sam-lojin

Jilid 7 Kakek ini usianya sudah tua sekali.

Hampir seratus tahun, tubuhnya sudah kurus kering dan berjenggot panjang.

Sebenarnya Cin Cin Taysu ini sudah mengundurkan diri dari Kun-lun-pay, akan tetapi mendengar bahwa sutenya Hek Gan Taysu lenyap dan diculik oleh seseorang berlengan buntung maka ia keluar dari pertapaannya dan untuk sementara waktu menetap di puncak.

Ia sendiri pernah mendengar si Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, namun belum pernah bertemu muka.

Maka ia mengutus Kun-lun Sam-lojin.

Demikianlah tiga hari kemudian, tiga orang kakek yang terkenal dijuluki Kun-lun Sam-lojin itu turun gunung menuju puncak Tiang-pek-san.

Ia berjalan cepat sekali.

Berhari-hari mereka melakukan perjalanan cepat, pada suatu hari mereka melewati hutan kecil di kaki gunung Lu-liang-san.

Dilihat dari jalan-jalan yang rapih di sepanjang jalan kecil hutan itu, mudah diduga bahwa hutan ini tentu sering kali dilalui penduduk dusun.

Mereka bertemu dengan beberapa penebang kayu.

Nampak mereka terengah-engah sekali berjalan dan begitu melihat ke arah tiga orang tosu, seorang di antara penebang kayu itu berkata, -Melihat orang setengah tua ini yang menegurnya, Lung Nam Thaysu tersenyum dan balas bertanya.

-pek--pek-san?

Apakah sam-wi hendak pergi ke Tiang-pek-heran.

Hay San Taysu mengangguk.

-pek-san, apakah melalui jalan ini masih -wi salah jalan.

Kalau hendak menuju ke Tiang-pek-san bukan dari sini jalannya.

Tiang-pek--tembusnya di kaki gunung Lu-liang-san.

Aiii, sebaiknya sam-wi tidak menerusi perjalanan dari hutan ini.

ini?

Biar besar yang bernama Hay San Taysu itu mengetuk-ngetuk toyanya yang berat ke tanah.

Sedangkan Hay Kui Taysu merabah gagang pedangnya dan berkata gagah, alau memang di hutan ini berkeliaran perampok-perampok, biar Kun-lun Sam-Orang tua penebang kayu itu menjura hormat.

-lun-sam-lo--wi percaya, turutlah omonganku yang tua ini.

Di hutan ini banyak hantu-hantunya, apalagi di dekat telaga itu.......

hi-hi-hiikkk.......

Rumah tua itu kabarnya tempat tinggal hantu--wi nggak percaya coba tanya penduduk dusun di luar hutan ini.

Mereka sering menemukan mayat-mayat yang -mayat itu adalah mayat-mayat para ciang-bun--bun--bun-jin digantung di situ.

Kan Ciang-bun-jin mempunyai ilmu silat tinggi.

Ahh lopek ini doyan -penebang kayu itu mengangkat pundaknya dan berlalu meninggalkan Kun-lun-sam-lo-jin.

Kun-lun-sam-lo-jin saling pandang.

-adiknya.

Hay Kui Taysu menggelengkan kepala, a ini!

Kakek tadi mungkin sudah miring apa kita ke kaki gunung Lu-liang--pek-san.

jalan kecil itu.

Dua orang sutenya berjalan di belakang.

Mereka berjalan cepat.

Tak lama kemudian mereka sudah sampai di daerah yang kelihatannya sangat liar, rumput-rumput tumbuh tinggi.

Pohon-pohon besar penuh dengan kelabang-kelabang.

Bau busuk entah darimana datangnya menyengat hidung mereka.

Hay San Taysu menoleh kiri kanan, -siang mana ada han mengejek dan melangkahkan kakinya.

Tiba-tiba terdengar suara berkeresek, tahu-tahu seekor ular besar menyambar kepala Lung Nam Taysu.

Melihat ini, cepat Hay San Taysu yang berjalan di belakang berkelebat dan mencelat menghantam kepala ular.

-goyang terhantam toya di tangan Hay San Taysu.

Namun ular yang besar ini bukan menjadi takut malah merentang mulutnya lebar-lebar.

Lung Nam cepat menyingkir dan mencabut pedangnya.

bentak Lang Nam Taysu dan menggerakkan pedangnya membabat leher ular itu.

Namun di luar dugaan ternyata ular ini gesit bukan main.

Melihat datangnya sinar pedang berkelebat, cepat ia mengegoskan kepalanya dan meluncur turun dan menyerang Hay San Taysu menggeleser di tanah dan kepalanya terangkat ke atas.

Melihat ular ini demikian gesit dan seakan-akan tahu gerakan ilmu silat, Hay Kui Taysu segera mengeluarkan sepasang pedang pendeknya dan ia menyerbu ular itu.

Namun sungguh mengagumkan sekali, ular sebesar paha ini demikian gesit dan gerakannya seperti orang bersilat.

Kadang-kadang kepalanya mendongak ke atas.

Kadang-kadang meluncur cepat mengirimkan serangan merupakan pagutan ke arah tangan yang memegang pedang merupakan ilmu serang yang bukan main lihainya.

Kun-lun Sam-lojin menjadi terkejut bukan main, masing-masing sudah mencabut senjatanya dan siap mengeroyok ular ini.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara mendesis dari atas.

Lung Nam Taysu menengok dan menjadi heran melihat pemuda botak yang kelihatannya ketolol-tololan, sedang nangkring di atas pohon yang penuh kabang-kabang sambil makan buah.

Mulutnya mengeluarkan desis, merupakan perintah kepada ular yang terus saja menggeser masuk ke dalam semak-semak.

bentak mengacungkan pedang pendeknya.

-coa, kalau ular mati tentu kalian akan -tosu sialan, gua sedang enak-Tahu-tahu dari tangan anak itu menyambar dua buah benda yang berwarna merah berkilat.

Lung Nam Taysu cepat berkelit dari benda yang berwarna merah itu.

Namun sebuah benda kecil menyambar sikunya membuat si tosu menjadi terkejut merasa tangannya menjadi kesemutan dan hampir lumpuh.

Begitu ia melirik ternyata benda itu adalah biji ang-to yang berwarna merah.

Sialan, masak disambit sama buah ang-to saja tangan gua begini kesemutan, sialan banget!

Lung Nam Taysu mengerutu dan tahu-tahu ia sudah mencelat ke atas mengirim terjangan pedang yang demikian luar biasa kuatnya.

Suara pedang berdesing keras.

Namun pemuda gundul ini ternyata gesit juga, tahu-tahu ia sudah mencelat dan pindah ke pohon yang lain.

Hay San Taysu dan Hay Kui Taysu hendak memburu, akan tetapi tiba-tiba dari angkasa seekor burung garuda terbang dengan amat cepatnya ditunggangi seorang -datang mereka menyerang hek-gundul mengadu, Burung garuda yang ditunggangi kakek tinggi besar itu menukik ke bawah dan tahu-Burung itu terbang semakin tinggi Kun-lun Sam-lo-jin memandang ke angkasa, -gara -tiong Tok-ong?

Ya ya, siapa lagi manusia yang menunggang burung garuda selain Kwan-tiong Tok-ong si Raja Racun Kemudian Kun-lun Sam-lojin berjalan cepat memasuki hutan, semakin dalam semakin menyeramkan.

Bau busuk bertambah menyengat hidung.

Dan kelelawar hitam berterbangan di atas, tiap-tiap pohon besar penuh dengan sarang laba-laba yang membuat suasana di situ sangat menyeramkan.

Tiba-tiba dari arah hutan sebelah berlarian tiga orang yang kelihatannya seperti piauwsu.

Yang seorang gemuk pendek, memegang golok dan seorangnya tinggi besar bercambang bauk, sedangkan seorang lagi memegang sepasang siang-kiam, orang kurus pendek.

Mereka berlari saking cepatnya dan seperti orang ketakutan hampir saja menubruk Kun-lun Sam-lojin, kalau tidak buru-buru mereka menggeser kaki.

-Orang yang gemuk pendek memegang golok menengok dan buru-buru berhenti hendak menolong.......

tahu--hik-Nam Taysu mulai tertarik akan cerita orang-orang yang kelihatannya seperti piauw-su ini dan mengerti ilmu silat.

Tiga orang itu berhenti dan memandang Kun-lun Sam-lo--wi ini siapakah......

-lun-pay -wi locianpwe adalah Kun-lun Sam-lojin yang kesohor......., ah, kebenaran sekali......!

Lekas sam-wi tolong......

hi-memandang temannya seperti orang ketakutan.

--hi-berkata demikian tiga orang yang berpakaian seperti piauw-su itu berlari-lari terbirit-birit ketakutan.

Kun-lun Sam-lojin saling pandang.

itu.

-orang yang tengah ketakut Taysu sambil berjalan di depan.

Ia bersiap-siap dengan pedang di tangannya.

Sedangkan Hay San Taysu yang gemuk pendek itu mencari-cari dengan pandangan matanya dan mereka terus memasuki hutan yang semakin jauh, semakin seram pemandangan di sana.

Kalau pada mulanya tadi sering-sering kali mereka lihat manusia-manusia yang lalu-lalang, di sini ini tidak ada sepotong pun manusia.

Bau busuk bertambah memuakkan.

Suara burung goak mengoak panjang dan sekali-sekali nampak kelelawar hitam berterbangan di atas.

Siang hari itu, matahari telah naik di atas kepala dan mengintip dari cela-cela daun pohon yang penuh kabang-kabang.

Tiba--yang memang takut akan tulang belulang manusia melotot memandang di bawah kakinya.

Ternyata tadi ia kesandung kepala tengkorak manusia!

-diri saja membuka suara, memandang heran ke arah kepala tengkorak manusia di bawah kaki itu.

jah memerintahkan kedua sutenya untuk maju.

Suara burung terdengar mencicit.

Bau busuk semakin menyengat.

Tiba-tiba Hay San Taysu menunjuk ke samping dan berkata gagap seperti melihat Lung Nam Taysu dan Hay Kui Taysu menoleh ke kiri dan benar saja, di samping kiri tidak jauh dari situ terdapat sebuah rumah tua, bertingkat dua.

Atapnya dari genteng batu, tiang-tiang yang bergambar naga masih tegak berdiri terbuat dari kayu yang tebal dan mengkilap.

Kesunyian mencekam alam di sekelilingnya.

Bau busuk menyebar dari halaman rumah tua itu.

Ternyata di halaman itu penuh dengan tulang belulang.

Udara di sekitar rumah tua itu menjadi sangat menyeramkan dan penuh hawa kematian dari bangkai-bangkai manusia yang berserakan.

Kun-lun Sam-lojin untuk beberapa lama berdebar hatinya melihat tiga sosok tubuh.

Ada tiga sosok tubuh manusia tergantung di depan rumah tua itu.

Lung Nam Taysu menjerit tertahan dan melompat ketika mengenali salah satu dari ketiga mayat yang ada di situ, Mendengar suhengnya menyebut nama suhunya, keruan saja kedua orang Kun-lun Sam-lojin mencelat dan beberapa kali lompatan saja mereka sudah sampai di tempat itu.

Mereka menghampiri sesosok mayat yang tergantung.

Lung Nam Taysu cepat menggerakkan pedangnya dan membabat putus tali ikatan yang menggantung Hek Gan Siansu.

-lun-pay itu berteriak dan menangisi mayat suhunya yang sudah rusak itu.

Seluruh mukanya sudah hitam.

Ke dua matanya sudah cekung bekas dikorek, jantungnya sudah lenyap pula, menandakan dada ketua Kun-lun-pay ini bolong bekas dirogoh orang.

Sungguh keadaan yang sangat sadis dan menggenaskan hati.

muka mayat Hek Gan Siansu.

Tiba-tiba berkelebat sebuah benda menyambar Lung Nam Taysu yang cepat mengelak dan benda itu menggelinding di dekat Hay San Taysu.

Ternyata sebuah carikan kain.

Hay San Taysu mengambil dan membuka gulungan kain itu.

Tiba-tiba tosu Hay San -lun-Lung Nam Taysu meraih gulungan kain itu dan bertulisan dengan darah.

Merah wajah tosu ini membaca tulisan warna merah, yang berbunyi demikian.

bersumpah untuk membasmi Tiang-pek--ha-Kun-lun-pay, kalau kalian hendak menuntut balas, datanglah ke Tiang-pek-Lung Nam Taysu mencelat ke arah datangnya suara itu, namun ia tidak melihat orangnya yang tertawa tadi.

Ia celingukan ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat siapa-siapa.

Mendongkol sekali hati tosu ini.

Begitu pedangnya bergerak, batu besar yang berbentuk patung singa-singaan yang terdapat di depan rumah tua itu mengeluarkan api saking kerasnya benturan pedang Lung Nam Taysu.

Demikianlah ketiga orang itu memakamkan tiga mayat ketua tokoh besar dunia persilatan di depan gedung tua itu.

Acara pemakaman amat sederhana sekali.

Selesai menguburkan tiga mayat ketua tokoh besar partai persilatan itu, tiga orang tosu Kun-lun-pay itu cepat-cepat pergi menuju ke Tiang-pek-san.

Perjalanan mereka dilakukan amat cepat sekali.

Lung Nam Taysu bermaksud untuk menghadap ke Tiang-pek-san sendiri, sedangkan ke dua orang sutenya ini lalu mengambil arah ke Thay-san-pay dan Bu-tong-pay untuk memberitahukan peristiwa ini.

Hay San Taysu menuju ke Thay-san-pay sedangkan Hay Kui Taysu menuju ke Bu-tong-pay.

Tentu saja mendengar berita ini, baik di Thay-san-pay, maupun di Bu-tong-pay menjadi gempar bukan main.

Dengan perasaan marah wakil pimpinan dari Bu-tong-pay dan Thay-san-pay ikut dengan kedua orang tosu itu untuk melihat mayat ketua mereka yang kabarnya sudah dimakamkan oleh Kun-lun Sam-lo-jin.

Dari pihak Thay-san-pay limabelas tokoh-tokoh Thay-san-pay yang dipimpin oleh Bu Ci Goat, adik seperguruan dari Bu Beng Cu yang telah lenyap, sedangkan dari pihak Bu-tong-pay sepuluh orang tokoh-tokoh Bu-tong-pay turun gunung di bawah pimpinan Giam-ong Ma Ek.

Tentu saja melihat tiga gundukan tanah di muka rumah tua yang amat kau Sung Tiang Le, akan tiba masanya Thay-san-pay akan menghancurkan Tiang-pek--enghiong, kalau begitu marilah kita menyerbu Tiang-pek-san.

Kita harus Giam-ong Ma Ek yang juga marah bukan main melihat pemandangan ini.

-lun-pay akan memutuskan hubungan dengan Tiang-pek-pula Hay San Taysu dengan berapi-api.

-san-pay sebagai saksi bagi saudara-saudara kita di Thay-san bahwa Pay-cu kita telah binasa di tangan Pendekar Lengan Buntung Sung Tia -san-pay.

-wi locianpwee........

biarlah kami hendak membawa jenasah ketua kami ke Thay-san dan baru setelah itu kami akan menyerbu Tiang-pek-Bu Ci Goat.

Akan tetapi Hay San Taysu berkata, dan kemudian abunya baru kita bawa ke tempat partai masing-masing, bukankah am ketua kita dan masing-masing -ong Ma Ek berkata memerintahkan anak buahnya untuk membongkar makam yang di sebelah kiri di mana Pay-cu Bu-tong-pay dikuburkan oleh Kun-lun Sam-lojin.

Demikianlah, di depan rumah tua yang sungguh menyeramkan itu, orang-orang Kun-lun-pay, Thay-san-pay dan Bu-tong-pay mengadakan acara pembakaran mayat dengan sederhana dan hikmat.

Mereka satu persatu berjanji untuk membasmi Tiang-pek-pay!

Api mengebul membumbung ke atas.

Asap berbau sangit menyebar sampai ke dalam hutan.

Tiga orang tokoh partai persilatan itu berlutut di dekat api yang sedang berkobar-kobar dan mereka bersumpah disaksikan oleh langit dan bumi untuk membunuh dan membalas sakit hati ini!

ooOOoo Empatbelas tahun telah lewat pemuda berusia delapanbelas tahun lebih, tubuhnya tegap dan wajahnya tampan.

Dan Sung Hong Kwi telah menjadi seorang gadis yang usianya hampir mencapai enambelas tahun.

Berwajah cantik dan manja, menampakkan wajah yang selalu cerah riang gembira laksana sinar matahari yang bersinar terang.

Senyumnya yang jenaka selalu menghias bibirnya.

Dan sebuah tahi lalat hitam kecil menghias di atas bibir yang indah itu, menandakan bahwa gadis ini doyan sekali bicara dan kata-katanya ketus dan tajam.

Dalam bimbingan ayah bundanya yang mempunyai kepandaian tinggi ini, sehingga dalam usia hampir enambelas tahun itu Hong Kwi telah mencapai tingkat tinggi ilmu silatnya.

Dari ayahnya yang berjuluk Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, ia menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi Tok-pik-kun-hoat, dan Gerak Tangan Kilat yang luar biasa itu.

Sedangkan dari ibunya, ia mempelajari dulu ilmu bermain sabuk dan tongkat yang tak kalah lihaynya dari ilmu silat yang dipelajari dari ayahnya sehingga dalam usia yang sangat muda ini Hong Kwi telah menguasai ilmu-ilmu silat yang luar biasa lihaynya.

Dan karena itu, murid-murid Tiang-pek-san yang lain merasa sayang dan memanjakan gadis ini!

Sebaliknya Wang Ie, sejak suhunya Sung Tiang Le mendapatkan seorang puteri yang bernama Sung Hong Kwi itu, kurang lagi memperhatikan dirinya.

Latihan silat yang diterimanya dari suhunya amat jarang sekali dan hanya merupakan dasar-dasar ilmu silat yang tidak tinggi.

Sebetulnya Tiang Le tidak mau membeda-bedakan puteri dan muridnya, akan tetapi karena desakan-desakan Liang Bwe Lan untuk tidak melatih Wang Ie dengan sungguh-sungguh maka Tiang Le pun asal melatih saja.

Biar bagaimanapun juga ia lebih sayang kepada puterinya dan oleh sebab itulah kasih sayangnya lebih besar dicurahkan untuk puterinya.

Namun demikian kepada murid-murid Tiang-pek-pay yang lain, Tiang Le dan Bwe Lan tidak meninggalkan tugasnya untuk melatih mereka.

Malah karena Tiang le merasa perlu untuk memperkuat partainya, ia menjadi sungguh-sungguh melatih ke limapuluh orang muridnya.

Namun demikian ia tidak melatih langsung, melainkan tugas ini diserahkan kepada A Toan, si kakek bongkok dan seorang kakek Tiang-pek-san lainnya yang bernama Lie Su Hian.

Kedua orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi karena langsung dilatih oleh Tiang Le, merupakan sepasang harimau Tiang-pek-san!

Wang Ie bukan tidak mengetahui perubahan dari suhu dan subonya ini, namun karena ia tahu diri dan merasa bahwa suhu dan subonya itu sudah menolong jiwanya dari korban kelaparan dan malah telah membawanya ke Tiang-pek-san.

Ia tidak iri hati melihat kemajuan Hong Kwi dan saudara-saudara seperguruannya di Tiang-pek-san.

Dan ia juga tidak minta dilatih ilmu silat Tok-pik-kun-hoat, seperti yang pernah ia lihat Tiang Le melatih puterinya dan dua orang murid utama Tiang-pek-san yakni A Toan dan Su Hian, dan kedua orang ini toh yang mewakili Tiang Le melatih murid-murid Tiang-pek-san yang lain.

Wang Ie adalah seorang yang tahu diri, biarpun subonya tidak menyatakan isi hatinya, namun pemuda ini dapat menduga bahwa ibu gurunya ini tidak suka kepadanya.

Malah sejak Hong Kwi berusia duabelas tahun, subonya ini tidak pernah lagi melatih dirinya.

Hanya pada penghabisan kali itu subonya melatihnya dan berkata.

ari ini kami tidak akan melatihmu, kami terlalu sibuk oleh urusan partai.

Oleh sebab itu, kalau kau memang suka dengan ilmu silat.......

boleh kau berlatih atas bimbingan A Toan dan berlatih bersama-sama murid Tiang-pek-pay yang lain, Tentu saja Wang Ie tidak menyatakan kekecewaan hatinya.

Dan ia memang sudah dapat meraba betapa subonya ini, entah mengapa menaruh hati yang tidak senang kepadanya.

Namun demikian Wang Ie bersikap tetap baik dan tidak menunjukkan kekecewaan hatinya.

Ia amat sopan serta taat terhadap Tiang Le dan Bwe Lan, pendiam dan tak pernah berkelakar.

Semakin hari, sikap Wang Ie semakin pendiam malah kadang-kadang anak muda ini tidak keluar dari kamarnya.

Dan tidak ikut berlatih dengan murid-murid Tiang-pek-pay, yang lain, sehingga A Toan yang merasa bertanggung jawab atas anak didiknya dan untuk kemajuan murid-murid Tiang-pek-pay, pada suatu hari ia menegur Wang Ie, Wang Ie terkejut dan tidak enak hati ditegur demikian oleh kakek bongkok ini.

Biar bagaimanapun juga, kakek bongkok ini selalu bersikap baik terhadapnya dan tidak pernah menyakiti hatinya.

Sekarang kakek itu menegurnya.

Ia jadi tidak enak dan malu.

kan kata-katanya.

-pek-san, kau juga harus rajin berlatih, seperti saudara-saudaramu.

Jangan memalukan partai kita, oleh sebab punya murid goblok-goblok dan nggak becus apa-apa.

sikapmu, kau selalu kelihatan kurang bersemangat dalam latihan tidak seperti dulu-dulu, mengapakah?

Apakah kau Akan tetapi sungguh diluar dugaan dari kakek bongkok ini, Wang Ie berkata demikian, -lopek, aku ucapkan banyak terima kasih atas perhatianmu kepadaku, akan -kalau memang boleh, biarlah aku di sini sebagai tukang kuda saja dan tidak ikut dalam latihan.

Bagaimanakah menu A Toan memandang heran.

ini!

Bukankah kau murid langsung dari suhu Sung Tiang Le, mengapa kau berkata murid suhu Tiang Le lagi, suhu sudah Wang Ie jangan kau bilang menjadi tukang kuda segala, kalau suhu tahu omonganmu -lopek, apakah a mengapa kau memilih pekerjaan itu.

Di sini sudah ada tukang kuda, khusus untuk merawat kuda-kuda di Tiang-pek-berlatih, karena tidak ada semangat.

Aku tak akan maju, Toan lopek!

Belajar silat bukankah harus ada bakat dan kemauan yang keras?

-pek-pay, tentu akan memalukan saja.

Lebih baik aku tidak turut berlatih dan menjadi tukang kuda.

Kan itu ketah Pada saat itu berkelebat sebuah bayangan dan tahu-tahu Bwe Lan sudah berdiri di depan Wang Ie dan A Toan.

Pandangannya menyambar Wang Ie dengan alis dikerutkan seperti orang tak senang.

nar-benar malas.

Mengapa beberapa hari ini kau tidak turut Bwe Lan menoleh kepada A Toan, suaranya keras dan tajam, ini kau tidak boleh melatih Wang Ie lagi, biar kalau dia mau menjadi tukang kuda.

ar Pek Bo di sebelah kiri kandang kuda.

Biar ia mengurus kudaku dan kuda milik Hong Kwi, tiap hari kuda harus dicarikan rumput, dibersihkan, dan tiap-tiap sore dimasukkan ke dalam kandang.

Mengertikah kau Wang Wang Ie tertunduk dan berkata pelan.

Wang Ie terkejut sekali dan mengangkat wajahnya dan memandang perempuan setengah tua itu dengan mata sedih, -bo memanggilku dan membahasakan dirinya.

Kau tidak boleh menyebut teecu lagi, karena kau mulai hari ini bukan murid Tiang-pek-Sehabis berkata demikian Bwe Lan berkelebat lenyap dan langsung menuju ke kamar Tiang Le dan be murid Tiang-pek-Tiang Le menoleh dan memandang isterinya heran.

Ia meletakkan pit di atas meja dan mengerutkan keningnya.

dah hampir sebulan ini ia tidak turut latihan.

Tadi ia datang kepadaku dan menyatakan tidak ingin berlatih lagi atas petunjuk A Toan.

heran dan menatap isterinya tajam.

Tiang Le menghampiri isterinya dan memegang lengan yang halus itu, baik-kata Tiang Le.

--akan tidak percaya.

Nah, kalau tidak percaya kau tanyalah pada anak itu.

Memang dari dulu juga aku nggak senang terhadap dulu, ia raj kita itulah yang harus kita latih baik-nomor satu -ha-ha isteriku, kan jangan tekebur.

Di dunia ini banyak sekali orang pandai.

Kita tak boleh berpendapat begitu.

Ingat sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan -moay....

berhubungan deng -bukan Lan-moay.

Anak kita masih bau kencur, belum waktunya untuk pacar-pacaran.

Juga Wang Ie, tentu ia tidak akan berani gila -lu menguatirkan yang tidak-tidak.

Biar nanti kalau Hong Kwi tidak boleh mencintai sembarangan orang, apa lagi Wang Ie memilih sebagai Sebuah isakan terdengar di atas genting.

Isakan yang perlahan sekali namun cukup terdengar oleh Tiang Le dan sekali mencelat Tiang Le sudah melompat ke atas genting dan membentak, Akan tetapi di atas genting itu sepi-sepi saja.

Tidak nampak bayangan orang.

Bwe Lan telah mencelat pula di atas genting dan memandang ke kanan kiri.

Ia tadi juga mendengar suara seperti orang menangis yang tertahan, buru-buru ia mencelat ke atas, namun di atas tidak ada orang.

ko, masakah kalau orang seperti setan saja cepatnya tahu-Mereka kembali mencelat ke bawah dan masuk ke dalam gedung.

ooOOoo Sementara itu, seorang pemuda berjalan menuntun seekor kuda yang berbulu hitam mengkilap.

Ia berjalan menuju sebuah sungai kecil dan memandikan kuda itu di sana dan menyikat bulu-bulunya.

Sesudah itu ia membawa segumpal rumput dan diberikan kepada kudanya dan ia sendiri kemudian menyenderkan tubuhnya di belakang pohon besar yang tumbuh di tepi sungai.

Ketika itu hari hampir menjelang senja, matahari bersinar lemah di balik bukit.

Suara suling mengalun perlahan ditiup oleh orang muda tadi.

Suara irama suling amat perlahan dan kemudian bergetar-getar melagukan irama suling di senja hari.

Entah perasaan apa yang sedang dialami oleh orang muda sederhana itu, suara sulingnya terdengar melagukan lagu sedih.

Sementara suara keciprakan air sungai memberikan dendang irama lembut sehingga suara suling yang ditiup oleh anak muda itu demikian serasi oleh keciprakan air sungai.

Burung-burung beterbangan di atasnya.

Saking asyiknya pemuda itu meniup suling sampai ia tidak menyadari seorang gadis cantik jelita telah berdiri di belakangnya di pinggir sungai dengan mata basah.

Gadis itu adalah Sung Hong Kwi.

Ia sudah mendengar dari A Toan bahwa Wang Ie akan tinggal di gedung dekat kandang kuda dan buat seterusnya pemuda itu akan mengurus kuda-kuda di Tiang-pek-san.

Gadis ini kemudian mencari-cari pemuda itu dan didapatinya Wang Ie di tepi sungai sambil meniup suling.

punggung pemuda itu.

Mendengar namanya dipanggil pemuda itu, ia menoleh ke belakang dan melepaskan sulingnya di bibir.

bah terhadapku, mengapa kau memanggilku siocia -betul aneh.

Tadi kudengar dari Toan--pek-pay, aku hanya memegang lengannya.

Untuk seketika berdebar dada Wang Ie.

Ia tersenyum membalas pandangan si gadis.

suheng, karena aku kini bukan murid Tiang-pek-Kini Wang Ie yang memegang lengan si gadis dan menariknya duduk di sebelahnya.

Hong Kwi membiarkan tangannya ditarik dan ia duduk di sebelah pemuda itu di atas rumput di bawah pohon yang rindang.

ru itu aku tidak suka.

Sebenarnya aku murid suhu Sung Tiang Le, karena suhu Wang Ie tersenyum.

Gadis ini menampakkan wajah yang serius.

Untuk beberapa saat ia memandang pemuda di sebelahnya lama-lama.

yang tanggung jawab, mau kau?

Kalau memang mau biarlah tiap hari kita bertemu di tempat ini dan aku akan memberimu petunjuk-petunjuk ilmu silat yang bis -katanya dan memandang kepada Hong Kwi seakan-akan hendak manyampaikan sesuatu yang penting, Pada waktu itu Hong Kwi baru berusia empatbelas tahun dan sifatnya masih kekanak-kanakan, maka ia ingin sekali mendengar apa yang hendak dikatakan oleh Wang Ie.

mempelajari ilmu silat yang kudapat dari sebuah kitab yang kiranya tidak kalah lihai dengan Tok-pik-kun-hoat.

Kalau kau memang mau tetap bersahabat denganku dan datang ke tempat ini setiap sore, sebagai budi baikmu, aku juga akan memberikan ilmu pukulan yang aneh-aneh!

Asalkan kau dapat, merahasiakan ini kepada kedua orang tuamu dan murid-murid Tiang-pek-Hong Kwi maklum bahwa kepandaian Wang Ie masih jauh kalau hendak dibandingkan dengannya, maka kata-kata itu tentu saja menimbulkan senyum.

lmu baru sehingga tidak mau berlatih atas bimbingan paman A Toan.

Coba kau perlihatkan dulu, hendak kulihat ilmu pukulan macam apa yang pernah kau pelajari.

Wang Ie menunjuk kepada sebatang pohon yang berbunga.

Bunganya berwarna putih dan berada agak tinggi, paling rendah lima tombak dari tanah.

Hong Kwi menggerakkan sepasang alisnya sambil memandang ke atas.

Lalu -kang, Maksudku mengambil bunga itu dengan tidak melompat.

Dari bawah ini dan Hong Kwi memandang ke atas lagi, -satunya, ya, memanjat saja.

Pohon ini cukup tinggi.

Siapa mencelat ke atas dan tahu-tahu dua bunga telah terpegang di tangannya.

ng bisa dengan jalan itu, akan tetapi cabang pohon basah dan kotor, lihat, waktu kau duduk di dahan pohon tadi pakaianmu sudah menjadi kotor dan basah.

dapat dipergunakan untuk mengambil semua bunga yang kau inginkan, tanpa ada Hong Kwi tertawa dan merasa kasihan kepada Wang Ie.

Baru kepandaian seperti kehendaki akupun dapat meruntuhkan semua kembang itu dengan pukulan-pukulan ulan Tok-pik-kun--gerakan lengan kirinya secara aneh, tiba-tiba ia memukul ke arah atas pohon.

Angin pukulan dahsyat menyambar, cabang-cabang pohon bergoyang-goyang seperti ada tangan kuat yang menggoyangkannya.

Beberapa tangkai kembang jatuh ke bawah, bersama banyak daun-daun yang melayang-layang.

-gelengkan kepala -bunganya pada rontok.

Lihat Wang Ie mengambil sekuntum bunga yang sudah hancur akibat angin pukulan tadi, ena dicela, padahal pukulannya tadi hebat sekali.

Dan patut dipuji, sedangkan ia tahu ilmu kepandaian Wang Ie belum sampai pada tingkat penggunaan tenaga lwekang seperti tadi.

Ia tadi telah mempergunakan jurus pukulan Tok-pik-kiam-hoat yang disebut, Badai Mengamuk, Menggetarkan Gunung, dan dengan tenaga lwekang yang dikerahkan, hanya hawa pukulan saja dapat membuat semua bunga-bunga itu rontok dan berjatuhan.

demikian Wang Ie lalu duduk bersila dan menahan napas, mengerahkan tenaga bathin di kedua pasang matanya dan telunjuknya menunjuk ke depan, kemudian ia menoleh ke arah Hong Kwi sambil katanya.

tanpa kugerakkan memukul ke depan.

Bukankah dengan cara ini bunga di tanganku ini lebih Hong Kwi menoleh, dan ia mengucekkan matanya.

Benar-benar aneh, ilmu sihir apa yang dilakukan oleh pemuda ini, sehingga tiap bunga yang ditunjuknya, segera patah tangkainya dan melayang perlahan ke bawah, lalu diterima dengan tangan kiri Wang Ie dan benar saja bunga-bunga itu masih utuh.

Hanya dengan menunjuk-nunjuk ke arah bunga-bunga di atas, Wang Ie telah menurunkan sepuluh bunga-bunga.

Kemudian ia tersenyum, memegang bunga-bunga itu, pada tangkainya menjadi satu dan memberikannya kepada Hong Kwi.

Hong Kwi menerima bunga-bunga itu dan ia terkejut dan heran bukan main.

Ia tidak percaya bahwa apa yang diperlihatkan tadi adalah demonstrasi tenaga lweekang yang luar biasa.

Ia mengira bahwa tentu Wang Ie mempergunakan ilmu sihir.

-i dan aku sendiri tidak mengetahui namanya, boleh juga kau sebut ilmu hoat-sut, pokoknya aku sudah memperlihatkan dan membuktikan omonganku, bukan?

-siapa kalau kau hendak melatihku di tempat ini dan tiap sore kita bertemu.

Kalau kau -sut termasuk ilmu sesat, seringkali ayah mengatakan ini kepadaku.

Aku takkan -tiba Hong Kwi berkata keras.

tidaknya suatu ilmu.

Baik tidaknya tergantung kepada orang yang memakainya.

Kalau ilmu tadi kupergunakan untuk memetik bunga, bukankah sangat menguntungkan bagiku, sehingga tidak susah-susah aku dapat memetik kembang--pik-kun-hoat dengan ilmumu yang aneh tadi.

Kalau benar-benar kulihat ilmu itu berguna, aku tidak berkeberatan u bertanya dan memandang tajam ke arah Hong Kwi, dan kemudian katanya lagi, Wang Ie menunjuk ke arah sebatang pohon.

Tiba-tiba Hong Kwi menubruk batang pohon itu dan melancarkan serangan-serangan dahsyat.

Pohon besar itu bergoyang-goyang keras terhantam pukulan tangan kiri yang luar biasa hebatnya.

Dengan gemas gadis itu terus menyerang batang pohon yang dalam pandangannya adalah Wang Ie, yang menangkis pukulannya.

Dan baru ia sadar ketika banyak daun-daun yang rontok dan cabang-cabang pohon telah banyak yang patah.

Ketika itulah terdengar teguran Su Hian, murid kedua dari ayahnya yang memandangnya heran.

ini mencak-mencak seperti orang bersilat memukuli pohon sehingga mengeluarkan getaran-getaran hebat.

Mendengar suara Su Hian, seperti baru disiram dengan air dingin di kepalanya.

Hong Kwi sadar, dan alangkah herannya dia ketika pohon di depannya itu sudah hancur-hancur batangnya terhantam pukulan-pukulannya tadi, daun-daun banyak yang rontok betebaran.

Baru sekarang ia merasa betapa lelahnya dia.

Matanya celingukan ke kanan dan ke kiri mencari-cari.

mencelat pergi.

Sengaja ia memutar jalan melewati kandang kuda dan ia melihat Wang Ie sedang menuntun kuda memasuki kandang, dalam hatinya gadis itu menggerutu, -benar Wang Ie mempunyai ilmu siluman, aku telah dikelabuhi.

Kukira tadi Wang Ie, ngga Akan tetapi diam-diam gadis itu tidak menceritakan keanehan yang dialaminya.

Dan cepat-cepat ia menuju ke gedungnya dimana ayah bundanya telah menanti untuk makan sore!

ooOOoo Malam harinya Hong Kwi benar-benar tidak dapat memejamkan matanya.

Kejadian-kejadian tadi sore sungguh membingungkan hatinya.

Ia sangat heran dan tak habis mengerti, bagaimana bisa mungkin, sekali tunjuk saja Wang Ie dapat meruntuhkan bunga-bunga yang agak tinggi di atas pohon itu.

Apakah Wang Ie mempunyai tenaga sin-kang yang tidak kelihatan sehingga hanya dengan telunjuknya saja pemuda itu dapat merontokkan bunga-bunga di atas pohon tanpa merusak.

Sungguh aneh!

Hampir saja ia tidak akan percaya sendiri kalau tidak menyaksikannya tadi.

Ilmu Hoat-sut apakah yang dimiliki Wang Ie?

Benarkah pemuda itu mempunyai ilmu sihir sehingga pandangan matanya telah dikelabui dan membuat ia mengamuk menghantam batang pohon.

Gila!

Mengapa batang pohon itu yang kuhantam setengah mati, mengapa tiba-tiba Wang Ie menjadi batang pohon?

Heran!

Dalam pandangannya tadi ia benar-benar menempur Wang Ie dan memukulnya dengan pukulan-pukulan Tok-pik-kun-hoat yang luar biasa.

Akan tetapi mengapa batang pohon itu yang diserangnya?

Apakah aku ini sudah gila, setan!

Tentu Wang Ie menyihirku, sehingga pandanganku tadi dikelabui olehnya.

Sungguh memalukan benar!

Hong Kwi merasa gelisah memikirkan itu.

Matanya tak dapat dipejamkan untuk tidur.

Ia merasa panas sekali di kamarnya.

Dan penasaran benar akan kejadian tadi sore, membuatnya ia bangun dan membuka jendela.

Angin malam berhembus dari balik jendela, sejuk dan nyaman.

Ia membuka jendela lebar-lebar supaya hawa di kamarnya tidak terlalu pengap.

Dari balik jendela ia melihat bulan berbentuk sabit terhalang sedikit mega hitam.

Angin malam berhembus nikmat.

Tiba-tiba pandangan Hong Kwi yang tajam dapat melihat sesosok tubuh berkelebat dari sebuah rumah gedung di sebelah utara dekat kandang kuda.

Cepat-cepat ditutup kembali jendelanya dan mencelat keluar mengejar bayangan yang tadi dilihatnya.

Akan tetapi gerakan bayangan itu demikian gesit dan luar biasa cepatnya.

Begitu ia sampai di gedung sebelah utara, ia telah kehilangan jejak.

Tak nampak lagi bayangan apa-apa yang dilihatnya.

Ia menjadi heran bukan main, kalau bayangan itu adalah murid-murid ayahnya.

Ia kenal betul dan itu tak mungkin.

Yang ia tahu bayangan tadi demikian gesit, ini saja sudah menandakan betapa tinggi tingkat kepandaian yang diperlihatkan oleh bayangan tadi.

Siapakah orang itu?

Tiba-tiba Hong Kwi teringat kepada Wang Ie.

Mungkinkah bayangan tadi adalah Wang Ie.

Heran!

Kalau memang Wang Ie mau apakah dia gentayangan di malam-malam begini?

Teringat kepada pemuda itu, segera saja Hong Kwi mencelat ke genting lain dan mengitari dari atas genting dengan membuka sebuah genting dan melongok ke bawah.

Akan tetapi di dalam kamar tidak terlihat Wang Ie, segera Hong Kwi menutup kembali dengan meletakkan sebuah genting pada tempat semula.

Kemanakah Wang Ie?

Hong Kwi menjadi heran.

Ia berjalan melewati kandang kuda, namun tidak nampak pemuda yang dicarinya itu.

Angin malam berhembus sejuk.

Alangkah nikmat sekali jalan-jalan di tempat terbuka seperti ini.

Bulan di atas terhalang mega mendung, sinarnya hanya remang-remang menerangi bumi.

Suara air terjun di sebelah selatan terdengar di kesunyian malam hari.

Entah perasaan apa yang membuatnya gadis ini melangkahkan kakinya berjalan ke air terjun.

Semakin dekat, semakin deras suara itu bergemuruh.

Inilah air terjun yang sangat deras airnya di puncak Tiang-pek-san.

Dari kejauhan saja suaranya sudah bergemuruh memecah kesepian malam.

Cepat-cepat Hong Kwi mempergunakan gin-kangnya berlari ke tempat itu.

Ingin sekali, dalam keadaan hati resah seperti ini, ia hendak menyendiri di dekat air terjun itu.

Maka ia cepat berlari dan menuju ke tempat air terjun.

Akan tetapi gadis itu menghentikan larinya ketika dilihatnya sesosok tubuh laki-laki muda dalam keadaan telanjang bulat berada di tengah-tengah air terjun.

Melihat pemandangan ini, sekelebatan saja Hong Kwi mengalihkan pandangannya dan mukanya menjadi merah.

Setan!

Siapa orang itu, di malam buta begitu berada di tengah-tengah air terjun?

Akan tetapi berpikir demikian gadis ini menjadi tertarik sekali dan menurut hatinya ingin ia menoleh ke arah air terjun tadi.

Ia mengenal air terjun di puncak ini.

Sangat deras sekali airnya!

Dulu pada waktu ia masih kecil pernah ayahnya berlatih lwekang dengan berdiri di bawah air terjun dan menerima datangnya tenaga air yang deras itu.

Akan tetapi ayahnya sendiri tidak tahan untuk diam lama-lama di bawah air terjun.

Dinginnya bukan main!

Belum lagi tenaga yang beratnya seribu kati yang terbawa dari air terjun itu.

Sungguh manusia manakah yang dapat bertahan berdiam diri lama-lama di bawah air terjun itu?

Diam-diam Hong Kwi melirikkan matanya.

Alisnya yang lentik sengaja dipicingkan supaya tidak melihat pemandangan di bawah air terjun itu dengan sepenuhnya, hanya samar-samar saja.

Ia melihat betapa orang itu masih berdiri di bawah air terjun dengan tangan bersedekap di dada.

Akan tetapi yang membuat gadis ini tak berani memandang karena orang itu bertelanjang bulat!

Sungguh gila, Hong Kwi memaki di dalam hati dan ia membalikkan tubuhnya membelakangi air terjun itu dan menantinya di tempat ini kalau-kalau orang itu akan keluar dari bawah air terjun itu.

Ingin sekali hatinya tahu siapa gerangan orang gila itu dan memberikan sedikit hajaran, karena telah begitu kurangajar bertelanjang bulat di depan matanya!

Namun demikian tak dapat disangkal perbuatan orang itu sungguh sangat mengagumkan hatinya.

Ia sendiri belum tentu sanggup menerima derasnya air terjun yang begitu keras.

Hanya orang yang telah memiliki lwekang tingkat tinggi itulah yang baru mampu untuk berdiam di bawah air terjun.

Ia pernah melihat batu besar yang berhari-hari menerima air terjun di bawahnya itu menjadi bolong dan berlubang oleh sebab derasnya air menimpa.

Kini orang muda itu, sungguh luar biasa.

Sedang ngapain dia berdiam dibawah air terjun dan menerima derasnya air yang luar biasa kuatnya menimpah tubuhnya itu?

Heran!

Hong Kwi melirik lagi.

Akan tetapi ia menjadi heran ketika melihat ke air terjun.

Ia tidak lagi melihat pemuda itu.

Kapan pemuda itu lenyap dan bilakah ia naik mengapa ia tidak mendengarnya?

Padahal sejak tadi ia sengaja memasang telinga untuk mendengar kalau-kalau orang muda itu keluar dari tempat itu dan ia kepingin melihat siapakah sebenarnya orang gila itu.

Makanya ia menanti di tempat itu dan membelakangi tubuhnya.

Akan tetapi diluar tahunya orang sudah pergi.

Kemanakah perginya, kenapa ia sendiri tidak tahu?

Gadis ini menjadi kheki bukan main, sekali loncat saja ia sudah tiba di dekat air terjun dan benar saja orang yang tadi dilihatnya berdiri di atas batu hitam ini sudah tidak nampak lagi.

Entah pergi kemana.

Untuk sejenak gadis itu memandangi air terjun yang luar biasa derasnya, batu hitam di bawah air terjun itu telah menjadi berlubang dan hancur menerima datangnya pukulan air yang sangat deras itu.

Sedangkan suaranya bagaikan gemuruh yang memekakkan anak telinga.

Tiba-tiba gadis itu teringat akan sesuatu dan cepat tubuhnya sudah mencelat jauh dan berlari cepat ke tempat dimana Wang Ie tinggal.

Ia merasa curiga sekali kepada pemuda itu, apakah benar yang dilihatnya di bawah air terjun tadi adalah Wang Ie?

Wang Ie yang tadi dilihatnya telanjang bulat di dalam air terjun tadi?

Teringat ini telinga Hong Kwi menjadi merah saking malunya.

Kalau memang betul bayangan tadi adalah Wang Ie, tentu pemuda itu akan tahu bahwa ia sedang mengintainya di tempat itu akan tahu bahwa ia sedang mengintainya di tempat itu membelakangi tubuh?

Sialan benar, gua harus cepat-cepat menyelidiki!

Dalam beberapa menit saja gadis ini sudah tiba di atas genteng di mana Wang Ie tinggal.

Seperti tadi, ia membuka sebuah genting dan mengintainya.

Dari dalam kamar itu terdengar suara orang tidur dengan nyenyaknya, tentu Wang Ie yang sudah tidur.

Tapi kenapa tadi ia tidak melihat Wang Ie di kamar itu?

Kalau memang Wang Ie yang dilihatnya di bawah air terjun tadi, mengapa cepat benar pemuda itu sudah tiba di rumah dan telah ngorok pula.

Mendongkol sekali hati gadis ini, ia sengaja membanting genting sehingga menimbulkan suara keras.

Gadis itu mengintai.

Namun suara mengorok itu menandakan pemuda itu sudah pulas benar-benar.

Apakah Wang Ie tidak mendengar genting pecah?

Kalau memang Wang Ie mempunyai kepandaian tentu ia akan mendengar.

Hong Kwi melongo lagi, tiba-tiba ia menutup genting di atas dan mencelat ke bawah ketika ia melihat pemuda itu terbangun dan membuka jendelanya.

Ketika itu Hong Kwi mendatangi dari pintu depan dan mengetuk daun pintu Tiga kali ia mengetuk, baru terdengar suara, -tok-wi.

keras-keras.

Dan pintu terbuka dan Wang Ie tersenyum lebar.

Wang Ie dengan tangannya mempersilahkan si gadis masuk ke dalam.

Hong Kwi tak berkata apa-apa telah mendahului masuk ke dalam dan duduk di meja dekat tempat pembaringan.

-ngetuk pintu kau nggak bangun-bangun Pandangnya menyapu ruangan di situ.

Sebuah ruangan dengan kamar tidur yang sangat bersahaja.

Ia melihat Wang Ie mengambil sebuah kendi (tempat minum yang terbuat dari tanah) dan mengeluarkan air putih yang dituangnya ke dalam cawan.

Lalu menyodorkan cawan minuman itu kepada tamunya.

-hamba!

Hamba kepalamu.......eh.

Wang Ie tadi kulihat ada sesosok bayangan -Hong Kwi membantingkan kakinya.

Wang Ie terdiam.

Hong Kwi juga terdiam.

Tiba-tiba Wang Ie menguap, menutupi mulutnya dengan tangan.

Hong Kwi menoleh.

duduknya dan hendak berjalan, namun Wang Ie telah menyentuh lengannya dan berkata, -Hong Kwi menoleh.

Ia sudah duduk kembali.

-apa.

Cuma aku hendak menanyakan apakah kau melihat seseorang tanya Wang Ie.

Hong Kwi menoleh.

Memandang pemuda itu heran dan curiga.

Kini Hong Kwi menjadi curiga.

Wang Ie menuang air di kendi.

Dan di minumnya beberapa teguk, membuntuti orang itu, apakah........

Hong Kwi memandangnya heran.

Rasa curiganya timbul.

an di malam--malam begini.

Lagi siapa sih orangnya yang begitu gila mau ke situ.

Air terjun itu berbahaya sekali, kalau kau terseret sahut Wang Ie serius.

Wang Ie menyodorkan minuman di cawan.

-u diomeli, lagi tidak pantas bagi seorang gadis malam-Wang Ie tersenyum.

Keduanya saling pandang.

Dada Wang Ie berdebar-debar menerima pandangan Hong Kwi yang dalam penglihatannya demikian jelita.

Waktu gadis itu tersenyum hampir saja pemuda itu menjadi semaput dan tak kuat lagi berdiri.

Senyum itu mempesonakan!

Sampai lama mereka saling berpandangan akhirnya Hong Kwi memegang lengan Wang Ie dan ber Bagaikan terkena hikmat dan terpesona, Wang Ie tersenyum lebar dan berkata.

Sambil berkata demikian sepasang tangan itu merenggut tangan si pemuda yang menggigil dan berdebar girang.

Wang Ie tersenyum dan mengangguk cerah.

Entah mengapa berdekatan dengan gadis ini, dunia selalu akan tertawa.

Hatinya selalu riang dan berdebar-debar aneh.

Ia memandangi perginya gadis itu.

Sampai lama ia berdiri di depan pintu menghayali pertemuan-pertemuan barusan, Demikian mengesankan, waktu tangan si gadis merenggut tangannya.

Dan senyum itu, aduhai betapa indahnya.

Ingin lama-lama ia memandangi gadis itu dirinya.

Hatinya menjadi kecil bakan main.

Mana pantas aku berdampingan dengan Hong Kwi, puteri Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, sedangkan aku ini siapa?

Tanpa terasa lagi air mata pemuda itu menetes turun.

Teringat ia akan perkataan orang tua Hong Kwi yang telah didengarnya.

Meskipun tidak jelas benar, namun perkataan yang diucapkan oleh Tiang Le, sungguh merupakan tusukan pedang yang menghujam ulu hatinya dan yang membuat kedua kakinya lemas.

-bukan Lan-moay, anak kita masih bau kencur, belum waktunya untuk pacar-pacaran.

Juga Wang Ie tentu ia tidak akan berani main -moay, kau selalu menguatirkan yang tidak-tidak.

Biar nanti kalau Wang Ie bersikap mencurigakan, aku yang akan menegurnya.

Bagaimanapun juga Hong Kwi tidak boleh mencintai sembarang orang.......

apalagi Wang Ie memilih sebagai tukang Tanpa terasa lagi kedua mata Wang Ie menjadi merah dan mengembangkan air mata.

Ia berdiri di depan pintu seperti itu dengan air mata bercucuran.

Dilihatnya bulan di atas berseri-seri memancarkan cahayanya menerangi alam.

Tiba-tiba dalam pandangannya sebuah wajah menyembul dari balik bulan, wajah yang cerah yang tersenyum amat manis kepadanya.

Wang Ie menatap dalam-dalam wajah itu, namun hatinya berteriak, Hong Kwi itu siapa dan aku ini siapa?

Tidak, aku tidak boleh mencintai Hong Kwi.

Tak Dan waktu ia merasa pundaknya ditepuk orang, Wang Ie sadar dan buru-buru mengusap air matanya.

Kiranya Pek Bo, si kakek gemuk pendek tukang merawat kuda telah berdiri di sampingnya dan menegurnya.

Wang Ie mencoba untuk bersenyum dan menekan perasaan hatinya yang kala itu sedang nelangsa dan merana.

UDAHLAH, jangan sedih-sedih.

Masuklah!

Orang muda tidak boleh bersedih hati.

Melainkan harus bersemangat!

Nih lihat walaupun aku hidup seperti ini, sama seperti engkau, aku tak pernah menangisi nasib.

Kalau nasib sudah begini, ya apa boleh dikata!

begitu.......

masuklah.......

Besok pagi-pagi kau ikut aku mencari rumput di hutan sebelah n Pek Bo mendorong Wang Ie masuk ke dalam kamarnya.

Wang Ie tersenyum dan menutup pintu rumahnya dan untuk beberapa lama, ia termenung sendiri di dalam kamar itu.

Perkataan Pek Bo barusan sungguh sangat berkesan dihatinja.

Ya, untuk apa aku mesti bersedih?

Kutangisi juga percuma, bisik pemuda itu dan tiba-tiba ia berjalan ke arah lemari pakaian dan mengeluarkan sebuah kitab yang sudah kuning saking tuanya.

Lalu, sambil bersila ia mulai membaca buku itu.

Tak lama kemudian ia meramkan matanya dan tenggelam dalam samadhinya dalam keadaan berdiri dan menyedekapkan tangan.

Kini tubuh Wang Ie berdiri bagaikan patung, tiba-tiba ada sekira dua jam pemuda itu berdiri seperti patung dalam samadhi, tiba-tiba dari kepalanya mengepul uap putih dan bergulung-gulung ke atas dan sungguh aneh sekali, nampak di depan penuda itu, sebuah tubuh lain yang persis sekali seperti tubuh Wang Ie.

Bayangan itu lantas menggerak-gerakan tubuhnya bersilat, sementara tubuh yang satu seperti patung tenggelam dalam samadhinya.

Bayangan yang satu lagi, yang serupa, bersilat terus makin lama makin cepat.

Gerakan-gerakan bayangan ini sungguh lucu dan menggelikan kalau diteliti benar-benar bayangan itu meloncat-loncat dan kadang-kadang meletakkan tangan kanannya

Jilid 8 ke atas kepala dan kadang-kadang menari-nari seperti monyet menari, namun demikian tak dapat disangkal, gerakan-gerakan bayangan yang menyerupai Wang Ie itu sangat luar biasa gesitnya.

Inilah hebat.

Inilah ilmu silat yang dinamakan sin-khauw-kun-hoat, ilmu silat yang biarpun kelihatannja aneh dan lucu, akan tetapi mempunyai dasar-dasar yang luar biasa hebatnya.

Bagaimanakah Wang Ie bisa menemukan ilmu silat monyet sakti itu?

Memang sangat kebetulan sekali bagi pemuda ini, karena sesungguhnya ilmu silat ini bukan sembarangan, melainkan salah satu ciptaan Sui-kek Siansu yang bernama Sin-khauw-kun-hoat, adalah sebuah pecahan dari ciptaan Manusia setengah Dewa dari ilmu silat dahsyat dan telah menggemparkan dunia persilatan yang bernama Thian-te-bu-tek-cin-keng.

Memang biarpun kelihatannya kacau balau dan sepintas lalu persis kayak monyet menari dan tidak teratur sekali, yang amat mengherankan sekali ialah kekacauan pergerakan ilmu silat ini mengurung dan mematikan semua gerakan ilmu silat lawan.

Dan gerakan-gerakan dari sin-khauw-kun-hoat ini sangat cepat sekali dan penyerangan yang dilancarkan sungguh diluar dugaan dan dahsyat.

Inilah sin-khauw-kun-hoat!

Ilmu silat iai ditemukan oleh Wang Ie tiga tahun yang lalu.

Pada saat itu, ia tengah menggali lubang untuk menguburkan anjing kesayangannya di sebuah hutan kecil dekat sebuah pekuburan.

Anjing itu, sebetulnya juga adalah anjing kesayangan Hong Kwi dan mati akibat penyakit yang menyerangnya.

Karena Wang Ie merasa sayang sekali dan tidak tega untuk membuangnya di hutan begitu saja, maka hati nuraninya yang merasa kasihan sekali kepada anjing kesayangan Hong Kwi ini, membuat lubang di dekat sebuah pekuburan.

Akan tetapi alangkah herannya begitu ia gali lubang yang dalamnya setengah meter itu, tiba-tiba ia merasakan suatu benda yang keras sekali.

Mulanya pemuda ini menyangkanya tentu batu besar yang tertanam di dalam, maka ia terus menggali dan menggali.

Sebuah benda hitam mengejutkan hatinya, buru-buru Wang Ie membongkar benda itu.

Ternyata benda yang penuh tanah merah itu adalah sebuah peti hitam.

Wang Ie heran sekali, peti apakah ini.

Sambil mengamat-amati, memencet-mencet hendak membuka peti itu.

Dan benar sadja ketika ia menekan sebuah tombol yang terdapat di tengah-tengah peti terbuka, dan apa yang dilihatnya?

Sebuah kitab!

Mulanya Wang Ie tidak memperhatikan kitab itu dan mimpipun ia tidak pernah, sehabis menguburkan mayat anjing kesayangannya.

Peti itu dibawanya pulang.

Ia simpan di kamarnya.

Pada suatu hari, karena iseng.

Dibuka-bukanya buku itu.

Dan alangkah tertarik hatinya apabila melihat gambar-gambar dalam kitab itu merupakan gambar orang bersilat.

Amat jelas sekali gerakan orang yang bersilat dalam gambar itu.

Diam-diam dengan tanpa setahu Tiang Le dan Bwe Lan, ia melatih seorang diri.

Ia membaca ilmu silat yang bernama Sin-khauw-kun-hoat (ilmu silat monyet sakti) pada bagian pertama dalam setahun ini.

Ia berhasil mempelajari isinya.

Akan tetapi pada bagian kedua, mulailah terasa betapa latihan-latihan yang dijalankan teramat berat.

Ia harus melatih lwekang di sebuah air terjun.

Mulanya bagaikan di neraka rasanya, berkali-kali ia pingsan dalam latihan ini.

Namun berkat keuletan dan keinginan yang luar biasa akhirnya Wang Ie berhasil bertahan dalam terjangan air terjun itu, dan malah dapat bertahan pula semalam suntuk dalam keadaan tubuh bertelanjang bulat.

Inilah latihan lwekang yang luar biasa!

Setelah menerima dasar-dasar ilmu silat sin-khauw-kun-hoat, bagian pertama dan kedua barulah terbuka matanya bahwa untuk mencapai ilmu silat tinggi, ia harus bertahan dan tenggelam dalam penderitaan jasmani dan rohani.

Setiap malam, pemuda ini melatih diri atau tepatnya menyiksa diri menahan dingin di bawah air terjun dan untuk latihan gin-kang.

Pemuda ini harus berpuasa selama tiga bulan lamanya dan hanya dibolehkan makan sayur-sayuran dan buah-buahan saja (cia-jay), dan harus mengosongkan hati dan pikiran.

Oleh sebab itulah Wang Ie jarang sekali berbicara, ia seperti orang gagu dan tidak banyak bicara.

Barulah setelah dasar-dasar ini dikuasai benar-benar Wang Ie memberanikan diri untuk pergi ke sebuah pulau yang bernama pulau monyet di mana banyak sekali monyet-monyet yang besar-besar dan galak digauli.

Menurut petunjuk kitab yang dibacanya, pemuda itu harus pergi ke sebuah gua di mana di situ terdapat seekor monyet yang sangat tua sekali usianya.

Akan tetapi mempunyai gerakan-gerakan ilmu silat yang luar biasa hebatnya.

Sesungguhnya monyet ini pada puluhan tahun yang lalu adalah binatang peliharaan Sui-kek Siansu, dan orang tua setengah dewa ini berhasil mentjiptakan ilmu silat monyet sakti berdasarkan gerakan-gerakan tangan dan kaki dari monyet ini!

Tiga bulan lamanya Wang Ie berdiam di pulau monyet, dalam waktu tiga bulan itu dan berkat pimpinan kitab yang dibacanya ia berhasil menguasai pembicaraan dalam bahasa monyet, sehingga memudahkan baginya untuk mencari monyet sakti peliharaan Sui-kek Siansu itu.

Dan di tempat inilah ia benar-benar dilatih, luar biasa hebatnya!

Dan di tempat ini pula Wang Ie mendapat sahabat-sahabat monyet yang luar biasa baik dan setianya.

Kalau saja Wang Ie tidak berkeinginan untuk kembali ke Tiang-pek-san menemukan suhunya Sung Tiang Le, tentu ia akan membawa monyet-monyet ini sebagai pasukan atau pengawal yang boleh dapat diandalkan!

Setelah Wang Ie menguasai bahasa monyet barulah Wang Ie mempelajari bagian keempat dan kelima dari kitab Sin-khauw-kun-hoat yang ditulis dalam bahasa monyet.

Justru itulah, setelah ia tahu bahwa suhunya tidak bersungguh-sungguh lagi untuk melatih, maka ia sengaja memilih jalan sebagai tukang kuda dengan demikian ia mempunyai banyak waktu untuk melatih diri dengan secara diam-diam dan tanpa setahu orang lain!

Melihat betapa ilmu ini malah lebih hebat dari Tok-pik-kun-hoat, pemuda ini menjadi bersungguh-sungguh dalam melatih diri!

ooOOoo Hong Kwi berlari-lari kecil menuju ke sebuah sungai kecil di kaki Tiang-pek-san.

Seorang pemuda dengan senyum lebar telah menantinya dan ia telah mendengar teriakannya demikian riang dan jenaka dari gadis itu, membuat dadanya berdenyar-denyar saking girangnya hati itu.

rus tepati janjimu!

Ingat nggak akan janjimu -datang gadis-gadis itu bertanya dengan nada suara yang manja.

Sepasang matanya yang lebar dan bulat bagaikan mata burung hong itu berkilat-kilat memandang si pemuda.

-benar Kemarin kau dapat memetik bunga di atas itu dengan menunjuk-nunjuk segala.

Sepasang mata jelita itu membelalak heran memandang si pemuda.

Wang Ie tersenyum lebar dan menarik tangan si gadis.

kulakukan kemarin, adalah mustahil!

Mana mungkin ada orang yang menunjuk tangan saja dapat memetik bunga, kalau ia memetiknya dan mematahkan tangkainya?

Seperti halnya, mana mungkin padi di sawah akan menguning kalau tidak ada pak tani yang akah hanya dengan menunjukkan tangan saja aku bisa mampu mengambil bunga itu.

Tingginya ada lima Wang Ie memandang si gadis dan tertawa lebar.

Sementara Hong Kwi memandangnya heran.

n dan pengerahan hawa murni untuk menaklukan pikiran dan ingatan lawan.

Itulah ilmu hoat--sut hanya dapat dipelajari oleh orang yang sudah mempunyai ilmu bathin dan pengerahan hawa murni untuk menaklukan pikiran seseorang.

Bisa juga dilakukan dengan pengerahan sin-kang tingkat tinggi.

Sudahlah Hong Kwi pokoknya yang kuperlihatkan kemaren adalah ilmu hoat-sut, tentu kau tidak senang Mendengar ini Hong Kwi bangkit berdiri dan mencak-mencakan kakinya dan memandang marah, ilmu kemaren itu?

Kalau kau memang pelit untuk membagikan ilmu itu, ya sudah, aku anku!

Kau belum apa-apa sudah -baik.

Ilmu yang kemarin kuperlihatkan kepadamu adalah ilmu sihir.

tangan, namun pada waktu itu, aku telah mampu menguasai pikiran dan hatimu.

Pandangan mataku sudah memerintahkan hatimu untuk menurut kehendakku, dan engkau akan berpikiran sejalan dengan pikiranku.

di tanganku, pada ketika itu juga pandanganmu melihat bunga itu telah berada di tanganku.

Berapa banyak yang kuinginkan terlihat pula olehmu, namun sesungguhnya di tanganku ini tidak ada apa-apa!

anmu sejalan dengan kehendakku.

Seperti kemaren engkau memukuli batang pohon itu.

sehingga dalam ingatanmu itu pohon yang kau lihat itu adalah aku.

Padahal ya tetap pohon-pohon juga Hong Kwi memandang pemuda itu.

Mengerut.

Wang Ie tersenyum.

Akan tetapi tidak ada apa-apanya.

hawa hoat-sut.

Lihatlah baik-baik, bunga ini telah berada di tanganku, seberapa banyak Hong Kwi memandang ke atas pohon.

Tiba-tiba ia memandang mata Wang Ie untuk beberapa lama ia menjadi terheran-heran dan tak percaya, karena tahu-tahu yang diperlihatkannya.

Wang Ie menyerahkan bunga itu, dan Hong Kwi menerimanya.

Lima tangkai bunga.

-baik bukankah yang kau pegang hanya lima Ajaib, begitu habis pemuda itu bicara.

Betul saja yang di tangannya itu bukan bunga yang tadi diterimanya dari Wang Ie, melainkan lima helai rumput kering.

Gila!

Bagaikan tak percaya Hong Kwi memandang Wang Ie.

--sut (ilmu sihir).

Kalau aku orang jahat, ilmu itu menjadi ilmu yang jahat dan keji, akan tetapi orang yang berbathin tinggi dan mempunyai pribudi, tidak akan menyesatkan ilmu ini.

Aku tak hendak membawa ilmu ini untuk kejahatan, hanya Sebetulnya Wang Ie dapat menghindarkan diri dari tamparan gadis ini, namun karena ia hendak menyembunyikan kepandaian silatnya kepada gadis ini, maka ia membiarkan saja pipinya terkena tamparan si gadis.

gai hukuman Sehabis berkata demikian Hong Kwi menggerak-gerakan tangannya dan bersilat.

Ia memberi petunjuk ilmu silat Tok-pik-kun-hoat kepada pemuda ini.

Selesai ia bersilat, ia berkata, kau turuti gerakanku, aku akan bersilat lambat-Demikianlah, Hong Kwi bersilat lambat-lambat dan diikuti gerakannya oleh pemuda itu.

Diam-diam dalam hati, Wang Ie tertawa geli, ia tahu bahwa gadis ini melatihnya dengan ilmu silat Tok-pik-kun-hoat yang bagian bunga-bunganya saja.

Tentu saja jurus-jurus ini sudah ia hapal benar, akan tetapi untuk tidak mengecewakan gadis tersebut, dia diam saja dan mengikuti gerakan-gerakan gadis itu.

Sebenarnya bagi pemuda ini, bukan latihan-latihan dari gadis itulah yang diinginkan, melainkan ia hendak selalu berdekatan dengan Hong Kwi dan pura-pura bodoh.

Padahal ilmu yang sudah ia pelajari dari kitab sin-khauw-kun-hoat sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Jauh melampaui Hong Kwi sendiri.

Namun karena ia merasa senang berdekatan dengan gadis ini, maka seperti orang bodoh ia menuruti dan mengikuti si gadis berlatih.

Sampai sebulan lebih itu, mereka selalu bertemu di tepi sungai ini dan berlatih silat bersama-sama!

Pertemuan-pertemuan itu, sangat mengesankan!

Pada suatu hari, seperti biasanya pada tiap-tiap sore, Wang Ie dan Hong Kwi berada di tepi sungai itu dan melatih diri.

Tiba-tiba dari bukit berlarian banyak orang menuju ke puncak.

Hong Kwi yang terlebih dahulu melihat banyak orang mendaki ke puncak, cepat menghentikan latihannya dan berkata kepada Wang Ie.

berkelebat.

Dan dengan menggunakan gin-kangnya yang tinggi, gadis itu sudah berlarian naik ke puncak, dan begitu sampai di puncak, alangkah heran hatinya melihat ayah dan ibunya sudah dikurung oleh lebih duapuluh orang-orang gagah.

Dan terdengar ayahnya berkata dengan tenang.

bukan-ng Le.

apakah kau masih hendak menyangkal akan perbuatanmu yang berani mati itu?

Kalau hanya ketua kami yang kau culik dan kemudian kami dapatkan mayatnya di hutan ini dan mendapatkan tulisan ini.

Tentu kami salah mata dan boleh kau katakan kami telah menuduhmu yang bukan-bukan.

-lun-pay Hek Gan Taysu dan ketua Thay-san-pay Bu Beng Cu dan ketua Bu-tong-pay Thung Hay Ong.

Inilah saksi-Tentu saja menghadapi tuduhan ini, Tiang Le menjadi heran dan menoleh ke pada isterinya.

Bwe Lan yang sudah panas hati datang-datang suaminya dituduh yang bukan-bukan telah maju selangkah dan berkata keras.

kalian dan....

hem, -tek Sianli yang kesohor di pulau bidadari itu hendak membela suaminya.

Toanio apakah kami sudah sinting menuduh suamimu secara serampangan begini?

waktu kami menemukan mayat pay-cu kami yang telah rusak oleh kekejian kalian.

Nah lihatlah dan baca ini kalau tidak percaya!

-lun-pay melemparkan sebuah kain bertulisan warna merah.

Diterima oleh Bwe Lan dan dibacanya, ikan gulungan kain merah itu kepada suaminya.

Untuk beberapa lama Tiang Le diam sejenak memandang tulisan itu.

-benar Sung Tiang Le sudah melupakan persahabatan dengan dunia kang-ouw.

Tindakan yang kau lakukan menganiaya dan membunuh pay-cu Bu Beng Cu, membuat kami pihak Bu-tong-pay merasa penasaran besar kalau belum menyeret orang yang melakukan perbuatan ini ke Bu-tong-pay untuk diadili.

akan tetapi kalau demikian jahatnya, Bu-tong-pay akan bertindak.

Sung Tiang Le, Ci Goat, wakil pemimpin dari Bu-tong-pay.

Kini mengertilah Tiang Le, bahwa ada orang jahat yang telah merusak namanya dan mengadu domba, akan tetapi menghadapi tokoh-tokoh dunia persilatan dari partai-partai besar ini, membuat Pendekar Lengan Buntung ini menarik napas panjang, lalu bertanya.

-tong-pay, Kun-lun-pay dan Thay-san-pay.

kurang banyak saksi-saksi yang melihat sepak terjangmu?

Kalau masih kurang, pinto Lung Nam Taysu dari Kun-lun-pay menjadi saksi utama.

Betapa ketua kami Hek Gan Taysu sudah lenyap dari Kun-lun-pay.

perbuatan Siang Siang Tojin dari Hoa-san-pay, maka pinto bertiga dari wakil Thay-san-pay, dan Bu-tong-pay mendaki puncak Hoa-san-pay, nggak tahunya siapa kira justru Hoa-san-pay juga telah menjadi korban kekejianmu.

-muridnya semua terbunuh.

Untung pinto selamat dan dalam setengah sadar setengah pingsan, engkau membawa pinto ke bukit Kun-lun-pay dan menulis sebuah tantangan di sebuah batu hitam, nih kau boleh Lung Nam Taysu memberi isyarat dengan tangannya dan meletakkan batu hitam di depan Sung Tiang Le.

Seperti ke kain gulungan yang dibacanya tadi, tulisan ini juga merupakan tantangan kepada Kun-Lun-pay.

Heran, siapakah orangnya yang menulis ini dan menggunakan nama Tiang-pek-pay.

bukanlah tulisanku.

Harap cuwi menjadi tahu bahwa ada orang jahat yang menggunakan namaku hendak mengadu domba dengan cuwi!

Aku Sung Tiang Le, tidak -ha-ha-ha, Tiang Le, bukti-bukti sudah berbicara.

Pokoknya jangan banyak cakap, kau harus menyerah dan menjadi tawanan kami untuk kami hadapkan ke partai masing--ong Ma Ek membentak dan telah melintangkan pedangnya.

Siap hendak menerjang Pendekar Lengan Buntung itu.

Tiang Le tersenyum pahit.

-datang menuduhku?

Kalau memang ada persoalan, mari kita berbicara baik-baik.

Aku berjanji hendak membantu kalian dan menyelidiki persoalan ini, akan tetapi bukan berarti aku menye Kun-lun Sam-lo-jin ini telah mengeluarkan sepasang siang-kiamnya dan tanpa bercakap lagi telah menerjangnya hebat.

Tiang Le maklum bahwa tokoh ke tiga dari Kun-lun Sam-lo-jin ini tidak boleh di pandang enteng.

Maka begitu sepasang pedang itu menyambar dekat, dengan menggerakkan sedikit kakinya Pendekar Lengan Buntung itu sudah dapat menghindarkan serangan Hay Kui Taysu.

Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 7

Baca Juga: Pohon Kramat 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger