Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pengejar Nyawa 7

Eps 7 Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung

Baca online Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung

Cersil Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung.

Pipop kongcu hanya bergemetaran terus tak henti-hentinya, kulit mukanya yang pucat pias tadi, kini merah membara, diulurkannya tangannya, ditariknya kain bajunya yang sobek untuk menutupi pahanya.

Tapi kain yang sudah dedel-dowel itu mana bisa menutupi sesuatu, malah gerak-geriknya ini menambah daya tarik, seperti gaya memikat, bukan saja memikat orang lain, sekaligus memikat diri sendiri.

Terasa olehnya jantungnya serasa hampir melonjak keluar dari rongga dadanya.

Manusia, memang binatang aneh yang lain dari binatang umumnya.

Nafsu birahi manusia, sering terjadi dan merangsang jiwa disaat bukan waktunya, begitulah waktu keadaan jasmani dan kondisi badan manusia dalam keadaan keletihan nafsu birahinya malah mendadak bisa merangsang lebih besar keinginannya.

Akhirnya dengan kencang Oh Thi hoa memeluknya, dibawa bayangan kematian, nafsu birahinya mendadak berkobar laksana bara yang menyala, maka dia tak kuat lagi menahan dan kendalikan diri sendiri, Pipop kongcu pejamkan mata, seolah-olah dia sudah pasrah nasib dan memang siap menerima segala akibatnya.

Suka ria dan kenikmatan menjelang ajal bukankah setiap manusia yang hampir mampuspun suka menghalalkannya?"

Pasir begitu empuk dan lembut, tapi juga terasa panas menyengat kulit.

Oh Thi hoa membalik badan menindih di atas badannya, kesedihan, kepiluan, derita dan keputus-asaan mereka, seolah-olah sudah tersapu bersih dan berkobar menjadi abu ditengah-tengah gelora nafsu birahi yang sudah memuncak ini.

Tapi pada saat itulah, Oh Thi hoa menjerit kesakitan melompat bangun, dengan kedua tangannya dia pegangi dan tutup anunya itu dengan rasa kaget dan mendelik kepada Pipop kongcu, suaranya serak "Kau....kenapa kau...

kenapa begini?

Memangnya kau tidak mau?"

Bercucuran air mata Pipop kongcu, katanya perlahan "Aku... aku mau, sebelum ajal ini aku sudah bertekad memberikan apa saja kepadamu, tapi tidak bisa tidak aku harus memberi satu hal kepadamu."

"Hal apa?"

Pipop kongcu pejamkan matanya, katanya "Baa badanku sudah tidak suci lagi, sudah kuserahkan kepada orang lain."

Terkepal kencang jari-jari Oh Thi hoa, serunya "Siapa?"

"Dia!"

Sahut Pipop kongcu tegas.

Siapakah itu dia yang dimaksudkan Pipop kongcu, memangnya Oh Thi hoa tidak tahu?

Seperti tiba-tiba diguyur segayung air dingin di atas kepalanya, seketika Oh Thi hoa berdiri menjublek tak bergerak.

Pipop kongcu tertawa pilu, katanya "Aku pun ingin merasakan punyamu, sungguh aku pun tak kuasa kendalikan diriku lagi, cuma ingin aku melakukan segalanya, mati didalam pelukanmu, tapi....

entah kenapa, aku tidak bisa mengelabuhi soal ini kepada kau."

Mendadak Oh Thi hoa mencelat berjingkrak, mulutnya menjerit "jangan katakan lagi.... jangan katakan lagi...."

Seperti orang gila dia tendang pasir kian kemari, setiap kali tendangan kakinya, mulai membarengi memaki Ulat busuk.

Pasir beterbangan memenuhi udara, seluruh badannya sudah terkurung oleh debu yang bergulung-gulung menguning itu.

Berkata Pipop kongcu dengan suara sayu "

Apa sekarang kau amat membencinya?"

"Hm.."

OH Thi hoa hanya menggeram.

"Seumpama kau amat membencinya, akupun tidak bisa salahkan kau, ada kalanya aku sendiripun membencinya.... perduli siapapun bila berada bersama dia, kemenangan dan bangga selalu hak miliknya, isi hati dan alam pikiran siapapun, cukup sekilas matanya memandang matamu, dia sudah bisa tahu dengan jelas, sebaliknya bagaimana jalan pikirannya, selamanya tiada orang lain yang bisa menyelaminya."

Mendadak Oh Thi hoa menghentikan katanya mengawasinya "kau kira bila kami berada bersama dia selalu dipihak yang rugi?"

"Em..!"

Pipop kongcu bersuara dalam tenggorokan.

"Tapi dengan senang hati dan sukarela kami berada bersama dia, hakekatnya dia tidak pernah paksa kita, kau tahu?"

"Em..!"

Tertunduk kepala Pipop kongcu.

Mendadak Oh Thi hoa tertawa besar, katanya "Bicara pulang pergi, kami berdua boleh terhitung punya penyakit sama yang harus saling menaruh belas kasihan, mesti sama-sama membencinya, tapi tak sama-sama menyukainya pula."

Pipop kongcu menghela napas, katanya "Adakalanya aku sendiri jadi kebingungan dan tidak tahu lantaran apa."

"Karena Ulat busuk memang pantas disukai oleh siapa saja, benar tidak?"

Sesaat Pipop kongcu menepekur akhirnya dia pun tertawa berseri, katanya "Memang kau tidak malu dan tidak dirugikan menjadi sahabat baiknya..."

Mendadak ia hentikan kata-katanya dengan mendelong ia awasi Oh Thi hoa sorot matanya lama kelamaan berubah kaget takut dan seram, meski mulut sudah terbuka, tapi tidak mampu mengeluarkan suara.

Oh Thi hoa tertawa, katanya "Kau lihat apa?

Memangnya kepalaku mendadak berubah jadi dua?"

Segera ia ulur tangannya untuk meraba kepalanya, seketika mulutnya pun melongo matapun terbelalak, sorot matanyapun diliputi rasa kejut dan ketakutan dengan melotot diawasi kedua tangannya, mulutpun terbuka tidak bisa bersuara.

Ternyata kedua telapak tangannya sudah berlepotan darah segar.

Darah ternyata membasahi seluruh kepalanya.

Tapi batok kepala Oh Thi hoa tidak terluka tidak pecah, tidak terasa sakit, lalu darimana datangnya darah?

Lekas Oh Thi hoa menengadah, udara nan gelap diliputi debu kuning itu dilihatnya dua titik bayangan hitam sedang terbang melayang berputar-putar, malah semakin melayang semakin rendah, agaknya sebentar lagi bakal terjatuh.

Darah tak perlu disangsikan lagi pasti jatuh dari badan dua ekor elang yang sedang berputar-putar diangkasa itu.

Terang bahwa elang ini sudah terluka, jikalau perasaan Oh Thi hoa tidak beku karena derita yang dialami sekarang ini, sejak tadi seharusnya dia sudah tahu dan merasakan.

Heran Pipop kongcu dibuatnya, katanya "Darimana datangnya elang tadi?

Kenapa pula bisa terluka Memangnya tak jauh dari sini ada orang?"

Pada kata-kata terakhir, rasa herannya berubah jadi gembira asal ada orang kemari, maka mereka punya setitik harapan untuk hidup.

Tapi raut muka Oh Thi hoa sebaliknya makin kaku prihatin tiba-tiba dia teringat elang-elang yang menggondol barang mestika yang dibawa oleh para Piausu-piausu yang gila dan akhirnya roboh mati karena keletihan itu.

Elang-elang di padang pasir ini, terang sekali adalah budak-budak Ciok koan im.

Maka terdengarlah suara "Bluk, bagai meteor jatuh, seekor elang tiba-tiba meluncur jatuh tak jauh di depannya.

Lekas Oh Thi hoa memburu maju dan menjemputnya, bulu-bulu lembut bagian perut elang yang putih itu sudah berlepotan darah, perutnya pun sudah terbelah, itulah luka-luka bekas tusukan pedang.

Agaknya diwaktu elang ini menubruk hendak menyerang kepada seseorang, maka dia terluka oleh tebasan pedang orang itu.

Oh Thi hoa mengerut kening mulutnya menggumam "Ilmu pedang yang cepat sekali."

Kembali terbetik sinar harapan pada sorot mata Pipop kongcu katanya "Apakah dia yang bakal datang?"

"Bukan, jikalau dia yang turun tangan ke dua elang ini pasti tak bisa terbang begini jauh, apa lagi, meski hanya seekor binatang diapun tidak akan membunuhnya."

Waktu itulah elang yang lainnya itupun melayang jatuh, luka-luka yang membuat ajalnyapun sama tebasan pedang yang membelah perutnya.

"Jadi, mungkin tidak salah seorang teman kalian yang lain itu?"

Tanya Pipop kongcu pula.

"Oh Thi hoa geleng-geleng kepala, sahutnya "juga bukan, Ki Ping yan selamanya tidak pernah menggunakan pedang!"

Mendadak dia tertawa sendiri, katanya "Bagaimana juga, kedatangan kedua ekor elang ini tepat pada waktunya."

Belum lagi Pipop kongcu menyadari makna dari ucapannya, tahu-tahu dilihatnya Oh Thi hoa menyodorkan seekor elang kepadanya, katanya "Makan sekenyangmu!"

"Makan elang mentah?"

Teriak Pipop kongcu terkejut.

"Mana bisa dimakan mentah-mentah begini?"

Oh Thi hoa mendelik "Jikalau kau tidak ingin mati, kan harus memakannya, betapa banyak kau bisa makan, gareslah sekuatmu, lebih banyak lebih baik, tahu tidak?"

Bagi orang-orang yang suka gegares berbagai makanan daging binatang bersayap, aging elang adalah daging yang paling besar dan liar, seumpama kau godok sampai masakpun belum tentu dapat kau kunyah sampai lembut, apalagi digares secara mentah-mentah.

Dengan kerahkan sisa tenaganya Pipop kongcu mengiris secuil daging terus dijejalkan ke dalam mulut seperti dia menelan pil obat yang pahit, dengan mengerut kening dia mengunyah sekuat-kuatnya, beberapa kali sudah hampir tak tahan hendak memuntahkannya.

Oh Thi hoa segera memberi tahu kepadanya "Dengan cara makanmu ini selamanya kau tidak akan bisa memulihkan tenagamu.

Tirulah cara makan seperti aku, coba lihat...."

Dia mengiris segumpal daging elang yang masih berlepotan darah dijejalkan ke mulut dan terus ditelannya bulat-bulat.

Jangan toh melihat melirikpun Pipop kongcu merasa jijik "Aku...

aku tidak bisa makan dengan cara itu, aku tak bisa makan...

tiada selera."

Walaupun daging elang kasar dan liat, meski darah elang amis dan memualkan, tapi bagi seorang yang sudah kekeringan menjelang ajal, sungguh jauh lebih berharga, nikmat dan menyegarkan dari segala makanan lezat atau obat-obatan penguat badan.

Setelah habis melahap seekor elang yang cukup besar itu, lambat laun muka Oh Thi hoa sudah mulai merah, dengan demikian pula Pipop kongcu sudah kuasa menghela napas pelan.

Pada saat itulah didalam keheningan padang pasir yang lelap ini, sekonyong-konyong terdengar jeritan menyayat hati dari gundukan pasir dibalik sana.

Sedikit berubah muka Oh Thi hoa, katanya dengan suara berat "Kau tunggu aku di sini biar kutengok kesana."

"Tidak aku juga mau ikut kesana."

"Baiklah, marilah ...... agaknya kecuali Ulat busuk itu, tiada orang lain yang kuasa mengurusi dirimu ... tapi kau harus berhati-hati. Dibalik gundukan pasir sebelah sana tampak sinar golok berkelebat, cahaya pedang seliweran saling sambar. Darah segar sudah berceceran diatas pasir kuning, beberapa mayat orang sudah malang melintang tak bergerak, tapi masih ada puluhan laki-laki seragam hitam yang sedang mengepung dan mengeroyok dua orang yang sedang melawan mati-matian. Akan tetapi dua orang yang terkepung itu memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi, permainan ilmu golok lawannya cukup hebat dan ganas, lebih menakutkan lagi, karena orang ini menampilkan napsu membunuh yang begitu tebal, agaknya mereka sudah kerasukan setan, ingin rasanya memecah hancur badan kedua musuhnya ini menjadi berkeping-keping."

Bahwa para laki-laki serangan hitam yang mengepung itu sudah beringas dan nekad untuk mengadu jiwa, namun kedua musuh mereka pun masih teramat lihai, sinar pedang laksana bianglala memanjang menggubat dan menabas pergi datang seperti menari-nari di udara merangsak kian kemari, jelas sekali ilmu pedang hebat ini adalah ajaran murni dari golongan Hoa san pai yang terkenal dan disegani di daerah pedalaman.

Cuma sayang tenaga mereka kelihatannya sudah mulai terkuras dan lemah, sebaliknya jumlah lawan-lawan mengeroyoknya terlalu banyak, kalau pertempuran dilanjutkan terus seperti ini, umpama tidak sampai terbacok mampus merekapun akan mati keletihan.

Pipop kongcu dan Oh Thi hoa sembunyi dibalik pasir, tiba menjerit kaget "Kau lihat itu...

bukankah dia itu tukang kuda kalian?"

Sudah tentu Oh Thi hoa juga melihat bahwa salah satu dari kedua orang yang terkepung ditengah, bukan lain adalah Ciok Tho, tampak gerak-geriknya mulai lamban dan serangannya pun rada kaku.

Seorang yang lainnya sebaliknya memainkan pedang yang lincah enteng dan jelas dia bukan lain adalah tokoh tersembunyi ahli pedang Ong Tiong yang jejaknya serba misterius, orang mengejar jejak Ciok Tho lantas ikut menghilang.

Sementara laki-laki seragam hitam yang mengeroyok mereka itu, jelas adalah anak buah Ciok koan im.

Sekian lama Oh Thi hoa perhatikan dengan seksama, akhirnya dia tidak sabar lagi, katanya "Kali ini, kau harus dengar kata-kataku dan tunggu aku di sini."

Pipop kongcu menggigit bibir, sahutnya "Tapi kalau ada orang lari kemari, aku tidak akan berpeluk tangan saja lho?"

Oh Thi hoa manggut-manggut dengan tertawa, mendadak dia menghardik bagai geledek, badannya meluncur terbang menubruk ke tengah gelanggang.

Laki-laki seragam itu sudah bertempur setengah harian dengan semangat menyala dan berani mati, tidak sedikit diantara mereka yang sudah terluka dan menemui ajalnya sesudah sekian lamanya baru mereka pelan-pelan mendesak kedua musuhnya di bawah angin, jelas sebentar lagi merasa bakal berhasil membacok hancur dua orang yang sudah mereka kejar-kejar beberapa hari lamanya ini.

Siapa tahu, pada saat-saat yang hampir menentukan ini mendadak terdengar bentakan laksana guntur menggelegar, seorang seperti terjun dari tengah udara laksana panglima langit, tahu-tahu menggencet batok kepala seorang laki-laki, berbareng sebelah kakinya menendang, sehingga laki-laki kekar itu terpental terbang tiga tombak, kembali kepalanya menjotos, dia pukul rontok seluruh gigi yang depan seorang laki-laki yang lain.

Sementara batok kepala laki-laki yang pertama yang diserangnya tadi sudah gepeng.

Dalam bergebrak menggerakkan tangan mengayunkan kaki ini, sekaligus dia sudah merobohkan tiga orang.

Begini gagah perwira dan perkasa, sungguh menciutkan nyali dan menggetarkan sukma.

Sudah tentu para laki-laki seragam hitam yang sedang bernapsu hendak merajang kedua musuhnya ini kaget dan tersiak mundur berpencar.

Di sebelah sana Ciok Tho dan Ong Tiong berdua seketika bergetar kaget dan terbangkit semangat mereka, dua bilah pedang bersilang ke depan, dimana sinar golok berkelebat, dua laki-laki seketika roboh dengan kepala kutung.

Oh Thi hoa segera membentak memperingatkan "Orang she Oh tidak suka membunuh yang tidak berdosa, asal kalian mau meletakkan golok aku pasti tidak akan melukai kalian."

Tak nyana semua laki-laki itu seperti sudah gila, dengan mata membara, mereka menubruk maju pula dengan kalap serta menyerang membabi buta.

Pedang ditangan Ong Tiongpun dikembangkan, bentaknya "Orang-orang ini sudah hilang kesadarannya, semua tidak terkontrol dan tidak bisa ditundukkan, kecuali membunuhnya seluruhnya."

Oh Thi hoa menghela napas, dilihatnya dua batang golok bagai angin puyuh membela datang, biji mata kedua laki-laki ini sudah merah, keadaan mereka tak ubahnya seperti dua ekor anjing yang benar-benar sudah gila.

Sedikit memiringkan badan, badan Oh Thi hoa tiba-tiba berkelebat lewat diantara sela-sela samberan sinar golok, berbareng sikut kiri menyodok keluar, sekaligus tangan kanan menyanggah ke atas, entah bagaimana golok ditangan laki-laki sebelah kanan tahu-tahu sudah terampas olehnya "krak"

Disusul suara suatu benda keras pecah retak, ternyata seluruh tulang-tulang iga laki-laki sebelah kiri remuk disodok oleh sikutnya.

Tapi setelah terpental mundur beberapa langkah, mendadak dia menerjang maju pula dengan menggempur kalap "Buat apa kau senekat ini?"

Ujar Oh Thi hoa menghela napas.

Belum sehabis kata-katanya dua orang susul menyusul sudah roboh terkapar mandi darah.

Dari kejauhan Pipop kongcu menonton pertempuran sengit yang seram ini, tampak semua laki-laki seragam hitam itu tubruk sana terjang sini, yang satu roboh yang lain menggantikan, sambung menyambung maju menerjang, meski tahu bahwa mereka hanya mengantar kematian, namun sedikitpun mereka tidak gentar, ternyata tiada satupun yang melarikan diri.

Tak tahan diapun menghela napas, ujarnya "Kalau dalam negeri kita punya pahlawan-pahlawan segagah dan seberani ini, masakah kita sampai menderita begini mengenaskan seperti ini."

Memang tanpa disadarinya bahwa semua laki-laki ini sudah rela menjual jiwanya untuk kepentingan Ciok koan im, bahwasanya mereka tidak ubahnya seperti mayat-mayat hidup yang tinggal menunggu ajal belaka.

Pertempuran berdarah sesengit itu akhirnya berakhir juga, pasir kuning jadi merah oleh banjirnya darah, mayat bergelimpangan dimana-mana.

Kedua tangan Ciok Tho memegangi pedang napasnya tersengal-sengal, namun kulit mukanya masih tetap kaku seperti batu-batu keramik yang kasar itu, Ong Tiong segera maju menghampiri menjura kepada Oh Thi hoa, katanya setelah menarik napas "Budi besarmu ini tak berani aku mengucapkan terima kasih yang berkelebihan.

Tanpa bantuan Tayhiap, hari ini kami bersaudara terang akan mampus disini tanpa ada liang kubur."

Oh Thi hoa memandangnya, lalu memandang Ciok Tho pula, tanyanya heran.

"Kalian bersaudara?"

"Meski bukan sedarah daging, persaudaraan kita laksana kakak adik kandung sendiri,"

Sahut Ong Tiong. Oh Thi hoa heran bertanya pula "Kalau demikian jadi kalian sudah lama berkenalan?"

Ong Tiong menghela napas katanya "Cayhe menjelajah dunia, tujuannya adalah untuk mencarinya, kalau dihitung-hitung..... sudah hampir dua puluh tahun."

Dengan tajam Oh Thi hoa awasi pedang di tangannya itu, tiba-tiba berkata pula dengan tertawa "Selama dua puluh tahun ini jarang kulihat ilmu pedang Hoa san pai kalian yang betul-betul murni di kalangan Kang Ouw, jurus Kiong hong koan jit yang tuan lancarkan tadi sungguh dapat menggetarkan dunia dan dapat menjagoi Bulim!"

Sedikit berubah air muka Ong Tiong katanya sambil unjuk tawa dipaksakan "Oh Thay hiap terlalu memuji!"

Dengan mata berkilat Oh Thi hoa menatapnya "Menurut apa yang Cayhe ketahui, meski pada pihak Hoa san kalian jaya dahulu, yang betul-betul bisa melancarkan jurus King hong boan jit sebaik tadi, dan tidak lebih hanya beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari, sebaliknya diantara tokoh-tokoh kosen ahli pedang dari pihak Hoa san pai kalau terang tiada seorang yang bernama Ong Tiong.

Sekarang tentunya tuan sudi memberi tahu nama asli tuan yang sebenarnya?"

Ong Tiong gelagapan katanya "Cayhe tidak lebih hanya seorang keroco saja dikalangan Kang ouw, buat apa tuan...?"

Oh Thi hoa segera menukas dengan tertawa besar "Sampai detik ini, masalah tuan masih tidak mau menerangkan asal usulmu sendiri terhadapku?

Ketahuilah nama seseorang meski dapat mengelabuhi orang lain, tapi permainan ilmu pedangnya takkan bisa mengelabuhi pandangan seorang ahli."

Lama Ong Tiong berdiam diri, akhirnya menarik napas panjang, katanya tertawa getir "Jiwa Cayhe berkat pertolongan Tayhiap, sebetulnya aku pun tidak berani memperkenalkan diri dengan nama palsu, sebentar dia merandek lalu melanjutkan "Bicara terus terang.

Cayhe she Liu bernama Yan hwi."

"Liu Yan hwi!"

Oh Thi hoa menjerit tertahan!"

Jadi kaulah murid penutup dari Hoa san pai Ciangbun yang terakhir dulu, di luar Hoa san chit kiam, Sie liong siau kiam khek yang paling ternama dan paling disegani itu?"

Liu Yan hwi tertawa rawan, katany "Sang waktu menyiksa orang, anak muda yang gagah berani dulu sekarang sudah menjadi kakek tua yang berjenggot memutih."

Berkilat dan jelalatan biji mata Oh Thi hoa, sekilas ia mengerling kepada Ciok Tho, tanyanya "Kalau tuan ternyat aadalah Liu Tayhiap, dia...?"

Agaknya Liu Yan hwi sudah ambil keputusan dan bertekad, katanay sepatah demi sekata "Dia adalah Toa suhengku Hongbu Ko."

"Jadi dia inilah tetua dari Hoa san chit kiam?"

Seru Oh Thi hoa tersirap darahnya.

"Jiwa kependekaran tersebar luas disegani di seluruh dunia kaum Bulim di seluruh jagat sama segan dan menghormatinya sebagai Jinggi kiam khek? Pendekar pedang bijaksana dan setia kawan?"

"Ya, memang dialah adanya."

Ong Tiong membenarkan.

Kembali Oh Thi melirik kepada Ciok Tho, Tampak sorot matanya kosong hambar menatap lempang ke depan nan jauh di sana, keadaannya tetap seperti semula seolah-olah apapun ia tidak mendengar dan tidak melihat pendekar pedang yang gagah dan disegani pada masa jayanya dulu, bagaimana pula terjadinya sampai berubah demikian rupa?

Tak terasa Oh Thi hoa merasa kasihan dan prihatin, tak tahan ia berkata "Sebetulnya bermusuhan apa adanya antara Ciok koan im dengan Hongbu Tayhiap?

Tega hati dia menyiksanya sampai demikian rupa?"

"Seluk beluk persoalan ini amat panjang dan berbelit-belit"

Ujar Liu Yan hwi.

"Bukan saja Hongbu Toako dibikin cacad demikian rupa seluruh Hoa san pai kitapun hancur luluh di... ditangan iblis laknat itu."

"Sekarang terhitung dan sudah berhasil menemukan dia apa pula yang kau inginkan?"

Tanya Oh Thi hoa sesaat kemudian. Liu Yan Hwi tertunduk, sahutnya tergagap "Aku...aku..."

Suaranya tersendat didalam tenggorokan, air mata sudah berkaca-kaca di kelopak matanya. Mendadak Oh Thi hoa genggam tangannya, katanya keras "Masakah tidak ingin menuntut balas?"

"Menuntut balas.... menuntut balas...."

Dengan terlongong Liu Yan hwi kemak kemik "Entah berapa kali sudah mulutnya mengulangi kedua katanya ini, air mata akhirnya menetes membasahi pipinya, mendadak dia kipatkan tangan Oh Thi hoa dengan keras, katanya dengan suara serak "Tahukan kau kenapa Hengbu Toako ku rela merendah diri menjadi kawan binatang?"

"Akupun sudah melihatnya, tentu dia punya suatu derita dan pengalaman yang tak sudi diketahui orang lain."

"Dia menyembunyikan nama mengasingkan diri, terima dihina dan hidup menderita, lantaran dia tidak mau menuntut balas."

Oh Thi hoa melengak, tanyanya "Kenapa?"

"Karena dia cukup jelas hanya mengandalkan tenaga dan kemampuan kita segelintir manusia ini, tak bedanya seperti telur membentur batu dia tidak rela aliran Hoa san pai kita putus turunan begini saja, diapun takkan tega para anak murid Hoa san pai satu persatu menjadi korban kekejaman musuh."

Pipop kongcu segera maju mendebat, timbrungnya tiba-tiba "Apakah anak murid Hoa san pay kalian ada juga yang masih hidup?"

"Yang ketinggalan hidup tidak banyak jumlahnya."

Sahut Liu Yan hwi.

"O, jadi masih ada beberapa gelintir yang masih hidup, kukira malah sudah mampus seluruhnya."

Jengek Pipop kongcu.

"Kau..."

Berubah air muka Liu Yan hwi.

Namun Pipop kongcu tidak beri kesempatan dia bicara, katanya dingin lebih lanjut "Dulu Hoa san chit kiam malang melintang di Kang ouw, betapa besar ketenaran nama kalian, setiap menyinggung nama Hoa san pai siapa yang takkan mundur dan mengalah, sampaipun rakyat kerdil di negeri asing seperti aku inipun sudah lama kagum dan merasa iri akan kejayaan Hoa san pay masa dulu, tapi sekarang..."

Dia geleng-geleng kepala, lalu meneruskan menghela napas "Tapi sekarang boleh dikata tidak seorangpun kaum Bulim yang masih ingat nama Hoa san pai, sudah lupa bahwa di Bulim pernah bercokol dengan angkernya sebuah Hoa san pai, seumpama anak murid Hoa san pai masih tetap hidup sebanyak mungkin, apa pula bedanya kalau mereka sudah mampus seluruhnya?"

Seperti kepalanya dikemplang dengan godam, Liu Yan hwi tersurut mundur selangkah dengan mata beringas kulit mukanya gemetar, keringat membasahi seluruh kepalanya.

Berkata pula Pipop kongcu "Seorang laki-laki sejati sebagai kesatria, dari pada hidup memeluk bangkai lebih baik gugur sebagai pahlawan, coba katakan benar tidak?"

Liu Yan hwi banting kaki, katanya sember "Liu Yan hwi kau kira takut mati, tapi mati harus mati dengan berharga, jikalau hanya mengorbankan jiwa secara konyol..."

"Kau sendiri beranggapan bahwa bukan tandingan Ciok koan im?"

Tukas Pipop kongcu.

"Dalam kolong langit ini, orang-orang yang benar-benar dapat melawannya sampai setanding mungkin tidak banyak jumlahnya."

"Asal kau bisa ajak kami menemukan Ciok koan im, kami tidak segan-segan berkorban demi kalian, tapi kalau toh kalian... kalian tidak berani, ya apa boleh buat."

Demikian olok-olok Pipop kongcu secara halus sambil membakar hatinya.

Berubah rona muka Liu Yan hwi, mendadak ia kertak gigi terus ia putar badan memburu ke arah Hongbu Ko, dia berlutut di hadapan orang sambil menarik tangan orang.

Tampak dengan air mata bercucuran pilu, jari-jarinya tak henti-hentinya mencoret-coret di telapak tangan Hong bu Ko, sesaat kemudian Hong bu Ko seperti gusar, mendadak kakinya melayang ia tendang Liu Yan hwi terguling-guling.

Tapi Liu Yan hwei segera bangkit dan mendadak ke depan kakinya pula, tampak sekujur badan Hongbu Ko gemetar seperti orang bergidik kedinginan, dua titik air mata meleleh keluar dari sepasang matanya yang kosong hampa itu.

Sekian lamanya pula, baru terlihat Liu Yan hwei melompat bangun, katanya serak "Apa benar kalian suka menemani kami bersaudara pergi mencari Ciok koan im?"

"Sudah tentu benar!"

Oh Thi hoa memberi janjinya dengan tegas.

"Meski kita pergi dan takkan kembali dengan hidup, kalian tidak gentar?"

Tanya Liu Yan hwi menegas.

"Memang kau kira aku orang she Oh ini laki-laki yang takut mati?"

Seru Oh Thi hoa dengan lantang. Liu Yan hwi menarik napas sedalam-dalamnya, katanya bersemangat "Baik, kalau demikian marilah kalian ikut kami."

Puncak-puncak batu seperti berlomba menjulang ke angkasa, barisan batu ini laksana tak berujung pangkal ditengah-tengah gurun pasir nan indah.

Sampai di sini kaki tangan Hongbu Ko seolah-olah mulai dingin dan gemetar.

Oh Thi hoa layangkan pandangan sekelilingnya, katanya takjub "Suatu daerah yang amat berbahaya, mungkinkah kita sudah tiba diambang pintu akherat.

"Bukan diambang pintu neraka, di sini juga sudah termasuk akherat."

Ujar Liu Yang hwi.

"Diantara hutan hutan batu ini, terdapat sebuah lembah yang letaknya amat tersembunyi disanalah Ciok koan im bersemayam, disanalah Hongbu Toako mengalami derita dan siksaan yang kejam yang tak mungkin bisa dialami oleh manusia siapapun. Memancarkan cahaya berkilat biji mata Oh Thi hoa, jari-jarinya terkepal kencang, katanya lantang "Kini tibalah saatnya dia menuntut balas, marilah kita terjang ke dalam!"

"Tapi diantara sela-sela puncak batu itu, jalan berbelit-belit dan berliku-liku, setiap langkah mengandung banyak perubahan yang berbeda-beda dan tak bisa diteliti, jikalau begini saja kita menerjang masuk secara membabi buta, mungkin selamanya takkan bisa masuk ke lembah sesat itu sampai jiwa kita ajal, demikian kata Liu Yan hwi. Pipop kongcu jadi gelisah, katanya "Lalu .... lalu bagaimana?"

"Terpaksa harus tunggu sampai hari menjadi gelap, bila arah angin sudah berubah!"

Tak tahan bertanya pula Pipop kongcu "Kenapa harus menunggu sampai malam disaat arah angin berubah?"

"Bahwa mata kuping Hong bu Toako sudah cacat, maka belakangan Ciok koan im memandangnya sebagai mayat hidup layaknya sedikitpun tidak menjaga dirinya dan membiarkan gerak-geriknya, siapa tahu setelah dia biasa keluar masuk selat yang membingungkan ini mengandalkan panca inderanya yang ke enam, segala gerak perubahan dari jalanan yang menyesatkan didalam hutan batu ini sudah dia hapalkan dengan baik sekali."

"Oleh karena itu maka dia berhasil menggeremet keluar?"

Tanya Pipop kongcu.

"Ya, begitulah."

Sahut Liu Yan hwi.

"Lalu, apa pula hubungannya dengan perubahan angin itu?"

"Bagi seorang tuna-netra yang tuli dan bisa lagi, untuk menemukan arah langkahnya bukan suatu hal yang ringan, tapi dia perlu mendapat bantuan berbagai unsur yang punya ikatan erat dengan kondisi badannya, sudah tentu perubahan angin adalah satu diantara sekian unsur-unsur yang menentukan itu."

"Aku paham sekarang, ujar Pipop kongcu.

"Jadi malam dimana dia berhasil melarikan diri itu, arah anginnya berbeda dengan sekarang kuatir bekerjanya panca indra ke enamnya rada meleset, kemungkinan besar bisa salah menentukan arah, betul?"

"Betul, asal selangkah kau salah menggerakkan kakimu didalam selat yang membingungkan itu, maka saat itu pula ajalmu bakal ditentukan oleh langkah-langkahmu selanjutnya. Oh Thi hoa mendongak melihat cuaca, katanya gelisah "Sampai kapan kita harus menunggu baru angin setan ini berubah arah?"

"Di tengah-tengah gurun pasir, sering terjadi hembusan arah angin disiang hari dan malam hari berbeda."

"Kalau dia justru tidak mau berubah bagai mana?"

Oh Thi hoa rada sangsi.

"Kalau tidak berubah terpaksa kita harus menunggu dia berubah."

Untunglah nasib mereka cukup baik, menjelang malam arah angin tiba-tiba berubah dari arah semula yang menuju ke tenggara tiba-tiba berubah ke arah barat laut maka hawa dingin segera bergulung-gulung menerjang tiba ke arah barat laut.

Dengan ujung pedang sebagai tongkat menutul pasir Hongbu Ko berjalan di depan membuka jalan.

Setiap langkahnya amat berhati-hati dan lambat, seolah-olah kuatir sekali kakinya salah langkah, selamanya bakal kejeblos ke dalam neraka yang tak tertolong lagi jiwanya.

Tapi kejap lain, mereka toh beriring sudah memasuki hutan-hutan batu itu.

Malam gelap gulita tiada rembulan tiada bintang, jagat raya sedemikian gelapnya seperti didalam peti mati, sampai kelima jari sendiripun tidak kelihatan.

Hampir dikata apapun tak terlihat oleh ketajaman mata Oh Thi hoa yang sudah terlatih ini, hatinya berdetak tegang sampai serasa sesak napasnya.

Tapi dia cukup tahu, semakin gelap, malah semakin menguntungkan bagi Hongbu Ko, karena didalam keadaan yang gelap ini, orang yang punya mata malah jauh lebih tidak leluasa dari seorang picak.

Langkah Hongbu Ko teramat lambat, setiap langkahnya menghabiskan beberapa lamanya, tapi dia terus maju tak berhenti, gerak-geriknya laksana seekor kucing yang sedang merunduk mangsanya, boleh dikata hampir tak pernah mengeluarkan sedikitpun suara bahwasanya kala itu angin badai membawa damparan pasir bersuit-suit amat ributnya, umpama langkah-langkah mereka bersuarapun takkan bisa terdengar orang lain.

Tapi kalau ada orang mendatangi mengeluarkan suara berisik umpamanya, mereka tidak akan tahu.

Cuma Hongbu Ko satu-satunya, dia tidak perlu mendengar namun dia dapat merasakan.

Dan pada itulah, seolah-olah dia mendapat suatu firasat jelek, suatu perubahan yang menimbulkan kewaspadaannya.

Sigap sekali tiba-tiba dia membalik badannya terus mendekam menempel dinding batu, dalam keadaan dan saat seperti ini, terpaksa orang-orang lain sama meniru perbuatannya, serempak merekapun mendekam menempel dinding batu, bersiaga dengan tegang.

Dengan kencang Oh Thi hoa genggam golok berpunggung besar yang berhasil dia rampas dari satu musuh tadi, diam-diam dia menggeremet baju ke depan Hongbu Ko, dia pepetkan badannya ke dinding batu pula, dengan tegang dan sabar dia menunggu segala perubahan dengan menahan napas.

Malam nan gulita ini diliputi ketegangan dan napsu membunuh yang mulai memuncak.

Seperti seekor serigala buas dan kelaparan yang sedang menunggu mangsanya muncul untuk diterkam dilalapnya.

Sesaat kemudian, betul juga dari balik celah-celah batu di sebelah samping depan sana, sayup-sayup didengarkannya dengus napas orang, saking tegang telapak tangan yang menggenggam erat gagah golok sampai berkeringat.

Dengus napas itu semakin jelas dan semakin dekat.

Laksana kilat menyambar golok Oh Thi hoa berayun membacok, boleh dikata dia sudah kerahkan setaker tenaganya untuk melancarkan bacokannya ini, bukan saja cepat serangan inipun ganas, mungkin jarang orang yang bisa terhindar dari bacokan yang hebat ini.

Apa lagi ditengah malam buta rata.

Memangnya dia sengaja hendak membelah batok kepala orang menjadi dua.

Tapi mimpipun dia tidak menduga, memang selamanya dia tidak akan mengira, bahwa orang yang dia serang ini adalah Coh Liu hiang.

Sebetulnya belum tentu Coh Liu hiang bisa sampai ditempat itu.

Untunglah pada detik-detik berbahaya itu mereka tidak sampai kepergok oleh Ciok koan im, juga tidak sampai konangan murid-murid Ciok koan im tapi cuma bersua dengan Ki Bu yong.

"....hanya mengandalkan tenaga kalian bertiga begini saja, sudah lantas hendak lolos dari sini?"

Kata-kata ini ternyata diucapkan oleh Ki Bu yong.

Seluruh badannya serba putih laksana salju.

Tangannya yang kutung digendong dengan kain sutra berwarna putih pula, demikian pula kepala sampai mukanya dikerudungi kain putih juga, sehingga orang hanya bisa melihat potongan badannya yang semampai dan ramping, takkan terbayang pula akan keburukan wajahnya yang menggiriskan itu.

Coh Liu hiang, Ki Ping yan dan Setitik merah bertiga sama membelalakkan mata mengawasinya siapapun tiada yang berani bertingkah dan bicara lagi, siapapun tiada yang tahu apa yang hendak orang lakukan.

Asal dia berteriak memanggil saudara-saudaranya, mereka bertiga takkan mungkin bisa lolos lagi.

Di luar dugaan Ki Bu yong hanya berdiri diam mengawasi mereka tanpa bersuara.

"Apa yang kukatakan, kau sudah dengar?"

Mendadak Setitik merah berkata.

"Huh! Ki Bu yong bersuara dari hidung.

"Kau ikut pergi tidak?"

Tanya setitik merah pula. Ki Bu yong tertawa dingin, ejeknya "Kau sudah tahu bahwa kalian tidak akan mampu lari sendiri, kau ingin aku ikut menunjuk jalan?"

Sekian lama Setitik merah menatapnya lekat-lekat, mendadak dia terloroh-loroh dengan mendongak.

Seorang laki-laki yang selama bertahun-tahun yang tak pernah kelihatan senyum tawanya, ternyata tiba-tiba bisa tertawa besar sebetulnya suatu kejadian yang amat mengejutkan orang, cuma sayang loroh tawanya itu bukan saatnya yang tepat.

Jikalau gelak tawanya sampai mengejutkan Ciok koan im, maka tiga jiwa manusia bakal menjadi imbalan loroh tawanya ini.

Ki Ping yan gusar, semprotnya "Apa kau hendak menyatakan isi hatimu kepadanya dengan kematianmu?

Tapi kamu tidak perlu demikian, perduli apapun yang dia pikirkan demi kita, perduli bagaimana pandangannya tentang kita aku tak perlu ambil dihati."

Segera Setitik merah menghentikan tawanya katanya tegas "Baik, kalian boleh pergi! Aku tinggal di sini."

Menggunakan sisa tenaganya yang sudah lemah itu, ia meronta dan mendorong ke depan sekuatnya, membebaskan diri dari lipatan kain pinggang itu terus menggelundung jatuh dari punggung Ki Ping yan.

"Kau.... kenapa kau berbuat demikian?"

Coh Liu hiang kaget dan haru.

"Tanpa aku bebanmu lebih ringan, harapanpun lebih besar."

Sahut Setitik merah. Coh Liu hiang membanting kaki, katanya "Tapi mana mungkin aku meninggalkan kau di sini demikian saja?"

Selama hidup belum pernah aku anggap jiwa itu berharga, sembarang waktu aku sudah siap untuk mati, ujar Setitik merah tawar.

Sampai di sini dia tidak banyak berkata lagi, tapi sikapnya itu tegas dan tandas, seolah-olah dia mau berkata kepada Ki Bu yong "Sekali kali tidak bakal karena ingin hidup lantas aku menipu kan, jikalau kau berpikiran secepat ini bukan saja terlalu memandang rendah aku, juga memandang rendah dirimu sendiri."

Kain kerudung dibagian depan mata dan hidung Ki Bu yong kelihatannya basah.

Gadis berhati kaku dan dingin seperti dia, memangnya juga bisa menangis dan mengalirkan air mata tiba-tiba dia merogoh keluar sebuah botol kecil terus dilempar ke arah Coh Liu hiang katanya serak sambil berpaling muka "Inilah obat pemunahnya, lekas kalian pergi."

Coh Liu hiang malah menghela napas, ujarnya "Baru sekarang nona suruh kami berlalu, sudah terlambat."

"Kenapa terlambat?"

Tanya Ki Bu yong tak mengerti.

Watak Ang heng aku cukup menyelaminya, kalau dia sudah mengatakan tinggal di sini, jelas takkan mau pergi, kalau dia tidak mau pergi, masakah kami berdua harus pergi begitu saja?"

"Dia... apa lagi yang dia inginkan?"

Coh Liu hiang mengelus hidung, katanya "Dia sudah menyatakan hatinya, kalau nona sudi mempercayai dia, marilah kau ikut kami, jikalau dia sudah tahu bila nona sedikitpun tidak menaruh curiga pula kepada kami, tentu diapun mau pergi.!"

"Aku.... aku tak bisa pergi."

Bukan saja suaranya gemetar, badannyapun bergidik merinding.

"Apa pula yang patut nona kenang dan berarti di sini?"

Tanya Coh Liu hiang. Ki Bu yong tidak menjawab, agaknya dia sudah tak mampu bicara lagi. Pada saat itulah mendadak terdengar seorang membentak "Kalian berempat, satupun jangan harap bisa lolos!"

Seorang gadis berpakaian serba ungu entah kapan ternyata sudah berdiri serambi sana sedang mengawasi mereka dengan mata melotot.

Betapapun tabah ketenangan Coh Liu hiang dan Ki Ping yan, tak urung berubah air mata mereka.

"Sumoay, kau...."

Ki Bu yong pun berteriak kaget.

"Siapa sudi menjadi Sumoaymu, tukas gadis itu, kau budak tak tahu malu ini, biasanya kau pura-pura jadi gadis suci, siapa tahu begitu melihat laki-laki lantas sinting dan lupa diri, memangnya kau lupa bagaimana sikap guru kita kepadamu?"

Ki Bu yong malah tenang dan sabar, katanya tawar "Tapi kaupun jangan lupa, Suhu sekarang tak di sini."

Gadis baju ungu itu semakin naik pitam semprotnya "Memangnya kenapa kalau Suhu tidak ada, kau kira dengan kekuatan kita puluhan bersaudara tidak mampu membereskan kalian berempat?"

Dimana tangannya menekan sebuah tombol dinding, maka terdengarlah suara bel yang berbunyi nyaring.

Coh Liu hiang tahu begitu suara bel berbunyi, semua anak murid Ciok koan im, akan segera meluruh datang seluruhnya, kepandaian silat gadis-gadis itu semuanya tidak lemah, apalagi terang sekali mereka masing-masing mendapat ajaran ilmu tunggal Ciok koan im yang berlainan satu dengan yang lain, jadi pembawaan ajaran mereka berlainan dan berbeda, dengan hanya kekuatan mereka berempat, sekaligus harus menghadapi setiap banyak musuh, sungguh dia rada sangsi bisa menang.

Apalagi Ki Ping yan dan Setitik merah tak mampu mengerahkan tenaga, jangan kata berkelahi mengerahkan senjatapun tak mampu.

Baru sekarang Ki Ping yan sadar untuk menelan obat pemunah itu, tanyanya berbisik "Berapa lama khasiat obat ini baru bekerja?"

"Paling lama satu jam, kalau cepat setengah jam sudah menunjukkan hasilnya."

Demikian sahut Ki Bu yong.

Ki Ping yan menghela napas dan geleng-geleng kepala, sebentar lagi bala bantuan musuh bakal berdatangan, umpama tenaganya bisa pulih dalam setengah jam, juga takkan berarti lagi.

Diapun berikan sisa sebutir obat itu kepada Setitik merah.

Setitik merah tidak menolak, cuma harus disayangkan meski kedua tokoh silat lihay setingkat mereka pada jaman ini, meski sudah menelan obat pemunah, paling-paling hanya menunggu waktu pasrah nasib digorok lehernya oleh orang lain.

Suara bel terus berbunyi Gadis baju ungu segera membentak beringas "Kalau sekarang kalian terima menyerah dan mau diborgol, mungkin jiwa kalian dapat diampuni, kalau tidak..."

Ki Ping yan mencibir bibir dan mengancam "Sepatah kata lagi kau bicara, kubunuh kau lebih dulu."

Membesi hijau muka gadis baju ungu ini, tapi dia benar-benar tak berani banyak bertingkah kali ini. Mendadak Ki Ping yan berkata "Coh Liu hiang hari ini kau tetap tak mau membunuh orang?"

Coh Liu hiang geleng-geleng kepala, sahutnya tersenyum "Kalau aku mau bunuh orang sejak lama sudah kulakukan, kenapa harus diperpanjang sampai hari ini."

"Tapi jikalau hari ini kau tidak membunuh orang, jiwamu sendiri yang akan dibunuh orang."

"Umpama benar hari ini aku harus membunuh orang, akhirnya akupun bakal terbunuh juga disini."

Bahwa Coh Liu hiang sudah mengeluarkan kata-kata yang menandakan dia patah semangat, maka dapatlah dibayangkan betapa genting situasi didepan mata ini Ki Ping yan cukup tahu, bahwasanya satu persen harapan untuk menang mereka tidak akan bisa memperolehnya.

Mendadak Setitik merah berkata "Akulah yang membuat kau celaka!"

Kata-katanya memang dia tujukan kepada orang tertentu, tapi siapapun yang mendengar sama tahu kepada siapa dia bicara.

Sesaat lamanya, akhirnya Ki Ping yan berkata "Tak enggan-enggannya kau berani mengorbankan jiwamu, memangnya aku tidak berkorban?"

"Baik sekali."

Ujar setitik merah keduanya tidak banyak bicara lagi sampaipun saling pandangpun mereka tidak pernah, tapi dengan cara demikianlah seolah-olah mereka sedang pasrahkan jiwa sendiri kepada temannya.

Betapa banyak Coh Liu hiang pernah melihat dan menghadapi persahabatan laki-laki dan perempuan, atau hubungan asmara muda-mudi yang beraneka ragamnya, tapi belum pernah terpikir dalam benaknya, bahwa dalam jagat ini ada juga dua orang seperti mereka ini.

Ikatan persahabatan yang aneh seperti ini maka terjalin dalam suasana yang dingin dan tegang ini, tapi didalam situasi yang diliputi bahaya dan jiwa bakal melayang sewaktu-waktu, kelihatannya cukup menusuk hati dan besar sekali reaksinya, jauh lebih mengetuk sanubari orang lain.

Mendadak dua gadis berlari-lari mendatangi dari ujung serambi panjang sana.

Ternyata keduanya sama-sama telanjang bulat, malah badan mereka masih basah oleh butiran-butiran air, terang keduanya adalah gadis-gadis yang sedang mandi tadi.

Terang tadi mereka sudah tertutuk Hiat tonya oleh Coh Liu hiang, kenapa sekarang bisa lari secepat itu laksana mengejar angin.

Sudah tentu gadis baju ungu itu kaget dan keheranan pula, ia bertanya "Meski panggilan bel peringatan amat genting, tapi kalian toh harus berpakaian dulu!"

Belum habis kata-katanya kedua gadis telanjang ini sudah lari ke depan Coh Liu hiang, menghadapi badan gadis remaja yang padat dan montok semampai ini tiga laki-laki jadi kebingungan sendiri dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tak nyana begitu tiba dari dekat kedua gadis ini tanpa bersuara lantas tersungkur roboh, seolah-olah ada sebuah tangan besar yang tak kelihatan, mendadak memapak mereka dengan sekali pukulan yang mematikan.

Sudah tentu perubahan ini bukan saja membuat gadis ungu kaget dan berubah roman mukanya, Coh Liu hiang bertigapun melongo, kelihatannya dari kaki sampai kepala keadaan mereka tetap utuh tak kurang satu apapun.

Segera Ki Bu yong melangkah maju membalik badan mereka, bagian depan merekapun tetap utuh tak kelihatan luka-luka atau ada noda darah, cuma kulit muka mereka sama-sama berubah hitam semu ungu, sejalur dara segar mengalir keluar dari ujung mulut mereka.

Waktu leher mereka diperiksa, sampai bekas-bekas jalur merah yang melingkari leher mereka.

Tiba-tiba Ki Bu yong bergidik sambil menyurut mundur, teriaknya tertahan "Apa mungkin mereka mati tercekik lehernya?"

"Agaknya memang begitulah kejadiannya."

Ujar Coh Liu hiang menghela napas.

"Kalau sudah dicekik mati, bagaimana masih bisa lari kemari?. tanya Ki Ping yan.

"Cara cekikan dan tenaga yang digunakan orang itu secara pas-pasan saja, mungkin memang sudah diperhitungkan, sengaja membuatnya berlari sampai di sini baru putus napasnya, demikian Coh Liu hiang menerangkan, seperti tiba-tiba ingat apa-apa sembari bicara segera ia berjongkok, dibukanya jari-jari seorang gadis itu tergenggam kencang dari sela-sela jari itu ditariknya secarik kertas warna hijau pupus.

"Siapa yang mencekik mati mereka?"

Tanya Ki Bu yong.

"Kenapa mereka dibiarkan lari kemari?"

Mata Coh Liu hiang menatap tulisan didalam kertas itu kulit daging muka seperti berkerut kejang, sesaat kemudian, baru dia menghela napas panjang, katanya "Itulah karena orang itu ingin mengantar mayat mereka kepadaku."

"Mengantar mayat kepadamu?"

Teriak Ki Bu yong.

"Kau...kau..."

Dengan tertawa getir Coh Liu hiang angsurkan kertas hijau itu kepadanya.

Tampak kertas itu tertulis.

Disampaikan kepada Maling Romantis.

Persembahan hormat Burung Kenari.

Walau tidak melihat apa yang tertulis didalam kertas itu, tapi gadis baju ungu sudah merinding dan berdiri bulu kuduknya saking seram dan ketakutan, badannya basah oleh keringat dingin, mendadak dia putar tubuh dan berlari lintang-pukang seperti dikejar setan, mulutpun berkaok-kaok kalap "Tolong!..

Tolong..!"

Tiba-tiba jeritannya terhenti begitu saja, disusul badannya tergertak keras berhenti sebentar lalu terhuyung mundur dan mundur terus.

Kembali Coh Liu hiang dan lain-lain menjadi tegang dan berkeringat, tampak kaki orang selangkah demi selangkah sempoyongan mundur dengan teratur, terus mundur sampai di hadapan Coh Liu hiang lagi, sejak permulaan tidak pernah berpaling muka.

Terasa dingin telapak tangan Ki Bu yong tak tahan dia menjerit dengan suara sember "Kau..."

Baru sepatah kata tiba-tiba dilihatnya gadis baju ungu roboh terlentang.

Tampak selebar mukanya berlepotan darah, dan tepat ditengah mata di atas hidungnya, menancap sebatang pedang kecil yang diukir dari batu pualam hijau pula, di atas batang pedang mini inipun melekat secarik kertas Dimana tertulis juga kata-kata.

Dipersembahkan kepada maling romantis Persembahan hormat Burung Kenari Semua beradu pandang, tiada seorangpun yang buka suara.

Pualam sedemikian tipis adalah gelas dan gampang putus, sebaliknya tulang hidung cukup keras, tapi si Burung Kenari ternyata mampu menyerang orang dengan pedang pualam ini tepat mengenai tulang hidungnya sampai menemui ajalnya, betapa mengejutkan kekuatan timpukan ini.

Coh Liu hiang segera berseru lantang "Berulang kali saudara memberi hadiah, kenapa tidak sudi muncul?"

Mulut berkata seenteng kecapung badannya tiba-tiba sudah melayang ke depan sana.

Ki Bu yong dan lain-lainnya di belakangnya, waktu mereka memutar ke serambi panjang lainnya, berdiri di sana tanpa bergerak, seperti orang pikun yang kaget dan ketakutan.

Dimulai dari ujung kakinya setiap dua langkah menggeletak sesosok mayat seorang gadis, serambi panjang yang puluhan tombak ini ternyata berderet mayat-mayat ini yang bergelimpangan.

Puluhan mayat itu berderet seperti ditata rapi, seolah hendak berpameran, betapa seram dan menakutkan pemandangan yang mengerikan ini, siapapun yang melihatnya pasti berdiri bulu kuduk dan merinding.

Bagaimana juga Ki Bu yong adalah kaum hawa, mayat-mayat gadis yang meninggal inipun semula adalah teman-temannya, terasa olehnya kedua kaki menjadi lemas lunglai, tahu-tahu dia meloso jatuh dan pingsan.

Tak tahan lagi hampir saja Ki Ping yan pun hendak muntah-muntah, meskipun wataknya keras berdarah dingin, tapi selama hidupnya tak pernah dilihatnya mayat-mayat orang demikian banyak.

Sampaipun Setitik merah yang selamanya tidak pernah memberi ampun jiwa musuh-musuhnya yang diincarnya, tak terasa diapun berdiri menjablek.

Entah berapa lama kemudian pelan-pelan baru Coh Liu hiang sadar dari lamunannya, katanya menarik napas panjang "Telengas benar burung kenari itu."

Ki Ping yan pun menggumam sendiri "Dia tahu kau tak mau membunuh orang, maka dia wakili kau membereskan mereka cuma... yang dia bunuh terlalu banyak."

"Jelas cara kematian gadis-gadis itu satu sama lain berbeda-beda, ada yang lehernya terdapat bekas-bekas jalur merah, terang tercekik mati, ada yang badannya hancur terbacok oleh golok, ada pula yang batok kepalanya lemas lunglai, menjurus ke arah yang tak mungkin terjadi bagi seorang hidup ternyata tulang lehernya remuk dipeluntir, ada pula yang menyemburkan darah dari mulutnya, terang dipukul dari serangan berat, ada pula yang dipotong lidahnya, ada pula yang dikorek biji matanya. Agaknya membunuh orang menjadikan suatu kenikmatan baik si Burung kenari sebagai karya seni yang menyenangkan, ternyata sekaligus dia gunakan berbagai cara yang berbeda-beda untuk membunuh para gadis-gadis ini. Pada setiap mayat gadis-gadis ini semua diberikan secarik kertas yang bunyinya satu sama lain tak beda. Dihaturkan Kepada Maling Romantis, Persembahan hormat, Burung kenari.

"Burung kenari, burung kenari...."

Ki Ping yan menggumam lagi.

"Siapa nyana iblis laknat pembunuh manusia yang kejam ini menggunakan nama yang begitu molek."

Coh Liu hiang menghela napas, ujarnya "Coba kau perhatikan setiap muka mereka."

Ki Ping yan gelengkan kepala, sahutnya.

"Aku tidak suka mengawasi perempuan, yang hidup saja tidak suka, apa lagi yang sudah mati."

"Tapi kalau ini kau lihat dengan seksama maka akan kau temukan walau cara kematian mereka berbeda, tapi ada pula titik persamaannya diantara korban-korban ini."

Tak tertahankan Ki Ping yan benar melirikkan matanya, seketika berubah air mukanya teriaknya "Benar-benar mayat gadis ini semuanya sudah tidak punya bulu alis."

"Sebetulnya mereka punya alis, cuma kini sudah dicukur pelintas seluruhnya. Begidik seram Ki Ping yan yang dibuatnya katanya "Masakah sebelum dia membunuh korban-korban ini, satu persatu dia cukuri dulu alis mereka?"

"Mungkin disinilah pertanda khas bagi si burung kenari setiap kali dia membunuh orang agaknya bukan saja membunuh orang sebagai hobynya, sekaligus diapun ingin banyak orang tahu, bahwa korban-korban ini adalah karyanya."

"Tapi kali ini dia bunuh gadis-gadis ini lantaran kau, jelek-jelek sudah memberi bantuan kepadamu, benar tidak?"

"Em..!"

Coh Liu hiang mengerut alis.

"Kenapa dia mau membantu kesulitanmu? Kau kenal dia?"

"Tidak kenal!"

"Tentunya tak mungkin dia kemari membunuh orang tanpa sebab, setelah membunuh orang lantas tinggal pergi?"

"Sudah tentu dalam kejadian tentu ada sebab-sebabnya."

"Sebab apa?" * Bersambung Ke

Jilid 25 *

Jilid 25

"Sampai detik ini, boleh dikata aku sendiri belum bisa meraba tujuannya tapi aku percaya peduli tujuannya baik atau tidak, tak mungkin dia pergi begitu saja dengan korban-korbannya ini."

"Kau kira... tak lama lagi dia bakal muncul?"

"Bukan mustahil setiap detik setiap saat dia sedang menunggu kedatanganku, cuma kita tidak melihatnya saja."

"Merinding bulu kuduk Ki Ping-yan, tak tahan dia menghela napas untuk menghilangkan rasa seram hatinya, ujarnya "Manusia seperti itu aku malah mengharap semoga jangan sampai melihatnya,"

Mendadak dia tertawa geli sendiri.

"Tapi bagaimana juga sekarang seluruh murid-murid Ciok koan-im sudah ajal, kita boleh keluar dengan berlenggang."

Selamanya diapun tidak pernah membayangkan, bahaya besar dari tebasan golok yang mematikan sedang menunggu di luar.

Penunjuk jalannya adalah Ki Bu-yong.

Bukan lantaran dia kuatir Coh Liu-hiang bertiga bakal tersesat didalam lembah membingungkan ini, dia cuma ingin selekasnya meninggalkan tempat yang diliputi baunya darah.

Dengan pandangan mendelong hampa dia beranjak pelan-pelan sekujur badannya seolah-olah sudah membeku, maklumlah seluruh kawan-kawannya sudah ajal seluruhnya cuma dia seorang saja yang masih ketinggalan hidup.

Mungkin karena bukan kematian teman-temannya itu dia bersedih, sebaliknya merasa menyesal dan terketuk sanubarinya karena jiwanya sendiri masih hidup, seolah-olah dia dibayangi perasaan, seharusnya dirinya pun sudah mampus ditempat ini.

Yan mengintil di belakangnya adalah Setitik merah, Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang berjalan paling belakang, bahwa mereka bisa keluar sampai di sini, sungguh patut dibuat girang.

Tapi entah kenapa, perhatian hati mereka tetap tertekan, amat prihatin.

Pad saat itulah, tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat langsung membacok ke batok kepala Ki Bu-yong.

Sedikitpun Ki Bu-yong seperti tidak menyadari ancaman maut ini, bukan saja tidak berkelit, langkahnya tetap beranjak ke depan.

Saking kagetnya tanpa berpikir panjang Setitik merah segera menubruk maju sekali raih ia menariknya sekuat tenaganya.

Betapa cepat dan gerakan refleks dari reaksi Setitik merah, jelas sudah dapat menjagoi di seluruh Tionggoan, tapi betapa cepatnya pula bacokan golok itu sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata apapun.

Akhirnya Setitik merah terlambat bertindak.

Terpaksa ia tarik Ki Buyong jatuh ke tanah, dirinya, terus menubruk ke atas badannya, dengan badan sendiri melindungi badan Ki Bu-yong secara refleks pula sebelah tangannya memapak ke arah datangnya bacokan golok.

Maka terdengar "Cras!", darah seperti anak panah muncrat kemana-mana.

Kontan lengan kiri terbacok putus.

Saking kejutnya Ki Ping-yan dan Coh Liu-hiang serempak menerjang maju.

Tampak tajam golok laksana kilat berkilauan menyambar, kembali menyerang kearah mereka.

Hebat sekali gerakan Coh Liu-hiang, sedikit melegot dan berkelebat, tahu-tahu dia sudah menyusup ke dalam lingkaran sinar golok lawan, sekali sanggah dan puntir lengan orang dia berusaha merebut golok musuh.

Betapa cepat dan hebat jurus rangsakannya, sungguh amat lincah, tepat, sungguh sudah mencapai puncak kesempurnaan latihan ilmu silatnya.

Ki Ping-yan menegakkan telapak tangan bagai golok, tahu-tahu sudah mengancam tenggorokan orang terus dibabat.

Dengan kerja sama Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan, rapatnya tiada setitik lobang sejurus serempak dari dua tokoh silat hebat ini, mungkin tiada seorang tokoh betapa lihaynya dalam kolong langit ini yang mampu menghindari diri.

Sekali bacokannya berhasil melukai orang, baru saja dia lontarkan serangan susulannya, mendadak terasa sampukan angin menerjang dari sebelah muka, tahu-tahu seseorang menyelinap ke dalam pelukan dadanya, betapa hebat dan berbahayanya serangan orang ini, betul-betul jarang dia temukan selama hidup.

Di kolong langit ini, siapa pula yang mampu menundukkan Oh Thi-hoa dalam satu gebrakan saja?

Berkelebat pikiran Oh Thi-hoa, teriaknya tertahan "Ulat busuk!"

Teriakan "Ulat busuknya ini, sudah tentu bikin Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan amat kaget.

"kelontang"

Golok ditangan Coh Liu-hiang jatuh di atas tanah. Tebasan tapak tangan Ki Ping-yan juga segera ditariknya balik mentah-mentah, bergetar suaranya "Sian oh, kaukah?"

"Siapa lagi kecuali aku si pembawa sebal ini."

Sahut Oh Thi-hoa.

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan banting-banting kaki, berbareng mereka lepas tangan Oh Thi-hoa segera berdiri dengan menghela napas lega "Jago mampus, Ulat busuk, hebat benar kalian, tapi jika aku tidak kehabisan tenaga sampai hampir mati, kalianpun jangan harap bisa berhasil begini cepat."

Coh Liu-hiang sama Ki Ping-yan merasa tertekan perasaannya, mereka tetap bungkam.

"Kalian tak sampai membunuh aku, seharusnya berterima kasih kepada Thian-te atau langit dan bumi, kenapa malah...."

Mendadak diapun merasakan suasana yang prihatin, baru sekarang pula ia teringat akan tebasan goloknya tadi, maka seri tawanya menjadi kaku dan meringis, batuk-batuk dua kali dengan tergagap dia bertanya "Barusan....

barusan.....

barusan....

mulutnya menerocos "barusan"

Seperti tambur yang dipukul bertalu-talu.

"Barusan kau benar-benar sudah membuat celaka."

Sahut Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa memencet hidungnya, tanyanya lirih "Siapa yang terluka?"

Belum Oh Thi-hoa menjawab, percikan api berkelebat, Liu Yan-hwi sudah menyalakan obor, tanpa dijelaskan oleh Coh Liu-hiang Oh Thi-hoapun sudah melihat siapakah yang terluka.

Tampak dibawah genangan darah yang beketes-ketes seorang gadis serba putih duduk ditangah dengan pandangan mendelong seperti patung tak bergerak, badannya belepotan darah tapi yang terluka bukan dia.

Seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang bertubuh jangkung, berkulit legam, sekeras baja dan sedingin es, pelan-pelan sedang merangkak bangun dari genangan darah, luka-luka pada lengan kirinya masih mengucurkan darah, tapi kulit mukanya yang pucat dingin tidak menunjukkan perasaan hatinya, badannya tetap tegak selempang tombak, agaknya umpama kedua kakinya yang terbacok putus, diapun takkan roboh.

Mengawasi orang ini, tak tahu Oh Thi-hoa apa yang harus dia katakan?

Setitik merahpun balas mengawasi dia, mendadak tersenyum dan memuji "Hmm golok bagus!"

Jikalau dia mengomel dan mencaci kaki, betapapun kotor dan kasar caci makinya, Oh Thi-hoa akan merasa lega hatinya, tapi pujian ini seketika membuat selebar muka Oh Thi-hoa merah padam.

Berkata Setitik merah pelan-pelan "Kau tak perlu sedih, kejadian ini tak bisa salahkan kau, kalau aku adalah kau, sama juga akan membacok kutung lenganmu."

Karena dia tak salahkan Oh Thi-hoa, Oh Thi-hoa semakin merasa sedih dan mendelu, sudah tentu kesalahan bukan terletak pada Oh Thi-hoa, tapi sekarang Oh Thi-hoa justru merasa bahwa dirinya teramat berdosa.

Tiba-tiba Ki Ping-yan mendekati serta menepuk pundaknya, katanya "Tahukan kau siapa dia?"

"Aku hanya tau dia seorang laki-laki sejati, orang gagah, seorang ksatria yang jarang ditemukan dalam jagat ini."

Sahut Oh Thi-hoa menghela napas.

"Dia inilah Setitik merah, Ki Ping-yan memperkenalkan.

"Setitik merah dari Tionggoan?"

OH Thi-hoa menegas dengan kesima.

"Ya!"

Seketika Oh Thi-hoa membanting kaki, serunya "Aku patut mati! patut mati!"

Mengapa kutungan tangan yang menggeletak di atas pasir, serasa ingin menangis tergerung-gerung karena tangan yang kutung ini bukan tangan sembarangan, pedang tercepat nomor satu di seluruh Tionggoan, dan tangan inilah yang menegakkan ketenaran itu."

Berapa banyak pula tangan-tangan seperti ada di dunia ini?

Namun tangan ini sekarang sudah tertebas kutung olehnya, apa pula yang dapat menggantinya?

Dengan apa pula ia dapat menebus kesalahannya ini?

Mendadak Oh Thi-hoa jemput golok di atas pasir itu, sekali ayun dia terus membacok ke lengannya sendiri.

Untung Ki Ping-yan cukup sebat menarik lengannya, katanya "Tak perlu kau berbuat demikian."

"Lepas tanganmu, kau tak perlu ikut campur."

Bentak Oh Thi-hoa sember.

"Tahukah kau bukankah kau berhutang sebuah lengan kepadanya, akupun berhutang sebelah kaki juga, tapi tidak perlu tergesa-gesa menebus hutang kita itu sekarang juga, kelak bila dia memerlukan baru kita bayar hutang ini, bukan kita lebih baik?"

Coh Liu-hiang manggut-manggut, ujarnya "Piutang ini, semoga kalian bisa menebusnya dengan segera."

Setitik merah tiba-tiba menyeletuk "Ini bukan hutang, kalianpun tak perlu bayar."

Lalu dijemputnya tangan kutungnya itu, sesaat lamanya dia awasi, mendadak tertawa, katanya "Yang terang tangan ini sudah berlalu banyak membunuh jiwa manusia, biarlah dia istirahat juga baik habis katanya, badannya pun tiba-tiba tersungkur jatuh.

Pipop kongcu kembali berkumpul dengan Coh Liu-hiang, sementara Ki Ping-yan bersua pula dengan Ciok tho, sudah tentu pertemuan yang cukup menggembirakan, sudah tentu mereka saling menceritakan pengalaman selama ini sejak berpisah.

Waktu itu mereka sudah meninggalkan lembah sesat yang membingungkan itu, Ki Bu-yong duduk disamping setitik merah yang masih pingsan kehabisan tenaga dan terlalu banyak mengeluarkan darah, dengan mendelong dia awasi terus muka orang, seperti baru pertama kali ini dia pernah melihatnya.

Sudah lama Oh Thi-hoa tidak membuka mulut, baru sekarang tak tertahankan dia menyeletuk lebih dulu "Burung kenari, siapakah dia sebetulnya?

Sungguh kejam dan culas."

Berkata Pipop kongcu "Dia suka membunuh orang, kenapa tidak sekalian dia bunuh Ciok koan-im pula?"

"Mungkin kebetulan dia tidak bertemu dengan Ciok koan-im."

Timbrung Ki Ping-yan.

"Atau mungkin sengaja dia tinggalkan Ciok koan-im supaya dibunuh oleh Coh Liu-hiang."

"Bagaimana pula Ciok koan-im bisa kebetulan tak ada di sarangnya?"

Tanya Pipop kongcu.

Ki Ping-yan melirik kepada Ki Bu-yong katanya "Menurut apa yang dikatakan nona Ki ini, bahwasanya Ciok koan-im memang jarang berada di sini, terutama belakangan ini, kehadirannya di sini lebih jarang dari tidak kehadirannya."

Berkerut alis Pipop kongcu, tanyanya "Lalu biasanya ia sering berada dimana?"

Sudah tentu tiada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini.

"Kenapa kau tidak bicara?"

Tanya Pipop Kongcu pula.

Kali ini kata-katanya ditujukan kepada Coh Liu-hiang, baru sekarang semua orang melihat, Coh Liu-hiang sedang duduk bersimpuh dengan memejamkan mata, seperti paderi tua yang sedang semedi, entah apa pula yang sedang dia pikirkan?

Maka terdengar mulutnya komat-kamit, seperti paderi yang sedang membaca mantra "Hoa san chit kiam....

Ui san si keh...

Hongbu Ko....

Ciok koan-im."

Semua orang heran dan tak mengerti apa yang sedang dikatakan?

tapi tampak rona wajahnya lambat laun memancarkan cahaya terang.

Tak tahan Pipop kongcu mendorongnya pelan-pelan, katanya "Kau tau dimana Ciok koan-im?"

Akhirnya Coh Liu-hiang membuka mata, sinar terang mencorong dari biji matanya, katanya tertawa.

"Ciok koan-im? siapa itu Ciok koan-im?"

Pipop kongcu tertegun, katanya tertawa geli "Apa sih yang kau pikirkan, sampai kau jadi linglung begini, sampai nama Ciok koan-im pun kau lupakan?"

"Ada Ciok koan-im berarti tiada Ciok koan-im, tiada Ciok koan-im berarti ada Ciok koan-im pula...., selamanya belum pernah kuingat cara bagaimana aku harus melupakannya?"

Kaget dan geli Pipop kongcu, tanyanya pula "Apa-apaan ucapanmu ini? Aku tidak paham."

"Memangnya kau tidak akan tahu, inilah rahasia alam!."

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala ujarnya "Rahasia Thian tak boleh dibocorkan, tidak bisa kukatakan, tak bisa kukatakan!"

"Apa kau ini sedang mengigau? Mendadak aku ingin jadi Hwesio."

"Memangnya mendadak aku teringat pada seorang Hwesio."

"Siapa?"

Tanya Pipop Kongcu.

Coh Liu-hiang mandah tersenyum tanpa menjawab.

Pipop Kongcu lantas melirik kepada Oh Thi-hoa, katanya tertawa "Omonganmu memang tidak salah, ada kalanya orang ini memang amat menyebalkan."

"Dimana sekarang Ki loh ci sing berada?"

Mendadak Coh Liu-hiang menyeletuk.

"Sebenarnya sudah kuberikan kepadanya, tapi dia kembalikan kepadaku lagi!"

Kata Oh Thi-hoa.

"Jikalau kau benar-benar sudah tahu rahasia Ki Loh ci sing ini, apa pula yang hendak kau lakukan?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Kalau aku sudah berjanji kepada permaisuri sudah tentu aku akan memberikan kepadanya."

"Baik sekali, mari sekarang juga kita mencarinya,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi... tapi bagaimana dengan Ciok koan-im?"

Ujar Coh Liu-hiang tersenyum. Saking marah serasa hampir meledak perut Pipop kongcu, namun tak tahan dia tertawa geli katanya menggigit bibir "Kau ini sebenarnya sedang bertingkah apa?"

"Kau ikut saja, nanti kau akan paham!"

Liu Yang hwi batuk-batuk kering, lalu berkata "Kami bersaudara sudah puluhan tahun tak penah kembali ke Hoa san, sekarang kalau Coh heng hendak menyelesaikan urusan lain, kami berdua ingin....

ingin minta diri saja."

Sikap Coh Liu-hiang mendadak berubah serius katanya "Sekarang kalian masih belum boleh pergi."

"Apakah Coh heng ada petunjuk apa?"

Tanya Liu Yan-hwi. Lama juga Coh Liu-hiang menepekur tiba-tiba tertawa lalu berkata "Kalian ikut saja nanti kalianpun akan paham."

Liu Yan-hwi ragu-ragu sebentar, katanya "Cayhepun hanya mohon sesuatu hal kepada Coh heng."

"Liu heng ada permintaan apa?"

"Cayhe sendiri sih tidak menjadi soal, tapi ada beberapa urusan yang mana Hong bu Toako sekali-kali tidak mau mengatakan, sampai disinggungpun tidak boleh....."

"Tapi bila aku menyakan hal-hal itu kalian tidak bisa untuk membeberkannya bukan?"

"Ya, begitulah oleh karena itu Cayhe hanya minta Coh heng."

"Kau minta supaya jangan menanyakan hal-hal itu bukan?"

Liu Yan-hwi tertunduk diam sebentar, sahutnya "Jikalau Coh heng suka menerima permintaan ini Cayhe berdua sungguh amat berterima kasih."

"Adakah aku pernah menanyakan apa-apa?"

"Apapun belum sempat ditanyakan."

"Kalau sekarang tidak kutanyakan, kelak masakah aku bakal bertanya?"

"Liu Yan-hwi termenung sahutnya kemudian "Benar kalau sekarang Coh heng tidak bertanya, kelak tentunya juga takkan bertanya."

"Baiklah kalau kau sudah paham!"

"Tapi persoalan ini,"

Tiba-tiba Liu Yan-hwi berkata pula "Coh heng seharusnya bertanya kenapa pula kau tidak mau bertanya?"

"Karena apa yang perlu kutanyakan sudah kuketahui."

Pipop tak tahan lagi, segera ia menyeletuk "Apa yang harus kau tanyakan? Apa pula yang sudah kau ketahui? Minta ampun sukalah kau tidak berteka-teki?"

Belum Coh Liu-hiang menjawab, tiba-tiba terdengar suara kelentingan unta dari kejauhan.

Suara kelentingan yang terputus-putus di bawa angin ke pekarangannya begitu dingin menawankan hati, begitu lengang.

Tapi dalam pendengaran Coh Liu-hiang dan lain, justeru terasa begitu merdu mengasyikkan sekali dari pada suara musik apapun yang pernah mereka dengar dalam dunia ini.

Seketika berkobar semangat Oh Thi-hoa, Liu Yan-hwi dan lain-lain, sampaipun Pipop kongcu jadi lupa mengajukan pertanyaannya lagi yang belum terjawab.

Dengan memejamkan mata dia tengah tumplek perhatian untuk mendengarkan suara kelentingan itu, ujung mulutnya mengulum senyum maniak, matanya bergairah "Tahukah kau suara apa itu?"

Oh Thi-hoa tetawa ujarnya "Dalam padang pasir ini, seumpama aku ini seorang desa yang belum pernah melihat kota, tapi suara seperti itu sekali dengar aku lantas tahu.....

itulah kelentingan, benar tidak?"

Pipop kongcu malah geleng kepalanya, ujarnya "Itu bukan suara kelentingan unta."

"Bukan kelentingan unta? Lalu suara apa?"

Tanya Oh Thi-hoa tertegun.

"Dalam pendengaran kupingku suara itu hampir mirip dengan tetesan air yang dituang ke dalam cangkir suara daging yang dipanggang di atas api unggun....."

Apa yang diuraikan Pipop kongcu memang tak salah, di padang pasir, suara yang sumbang ini, ada kalanya justru melambangkan air jernih, makanan lezat dan kehangatan, karena penggembala padang pasir, kebanyakan bersifat royal, suka menerima tamu dan terbuka tangan, meskipun kemah mereka buciok atau sederhana, tapi di sana diliputi kehangatan yang simpatik terhadap sesama teman nan jauh di rantau.

Mereka selamanya tidak pernah menolak kedatangan seorang pelancong yang kelaparan, tidak segan-segan menolong kafilah yang kesasar atau menemui kesulitan.

Agaknya kali ini dugaan Pipop kongcu salah dan meleset, waktu mereka memburu ke arah datangnya suara, kafilah yang terdiri dari rombongan besar unta itu sudah berhenti, semua ada puluhan unta yang melingkar jadi sebuah bundaran besar, beberapa orang diantara mereka sudah mulai kerja mendirikan kemah.

Begitu banyak orang dan unta namun suasana bening lelap, tiada satupun pekerja-pekerja itu yang ribut bersuara, tak terdengar pula gelak tawa riang gembira beberapa laki-laki yang bertugas jaga dibagian luar kalangan malah sudah melihat kedatangan rombongan lain, merekapun tidak menunjukkan sikap gembira atau hendak menyambut kedatangan mereka, tidak bersikap tegang bermusuhan siap pasang panah, melolos golok atau sikap yang bermusuhan.

Masih jauh Ki Ping-yan lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan suara berat "Menurut hematku, lebih baik kita tak usah kesana."

"Kenapa?"

Tanya Pipop kongcu.

"Melihat gelagatnya rombongan ini terang bukan rombongan kafilah biasa."

"Benar Oh Thi-hoa ikut memberikan suara. Mereka lebih mirip sepasukan tentara yang berdisiplin keras, apakah mereka ini pasukan ronda dari anak buah pembesar pemberontak dari negeri Kui je!"

"Mereka bukan orang Kui je!"

Kata Pipop kongcu tegas.

"Kau berani memastikan?"

Tanya Oh Thi-hoa.

Pipop kongcu tertawa sahutnya "Di padang pasir yang berbeda-beda sedikitnya ada puluhan kelompok, dalam pandangan kalian mungkin orang-orang ini lumayan, tapi sekilas pandang saja aku lantas dapat melihat adanya perbedaan dari mereka."

"Menurut pendapatmu?"

Coh Liu-hiang menimbrung.

"Mereka orang-orang apa?"

"Umpamakan saja mereka adalah kawan rampok, kitapun tak perlu gentar terhadap diri mereka bukan?"

Ujar Pipop kongcu."

"Benar"

Ujar Oh Thi-hoa, paling kita hanya ingin beli beberapa kantong air dan beberapa unta saja kepada mereka, jikalau mereka tidak aturan dan tidak mau jual, boleh kita merebutnya saja."

Ki Ping-yan menjengek dingin "Enak saja kau bicara."

"Memangnya gampang dilaksanakan, apa sukarnya?"

"Kau tidak melihat gaya mereka memegang golok? Langkah kakinya? Kau tidak melihat dalam sekejap mata saja, mereka sudah berhasil mendirikan kemah-kemah itu? Dimana-mana membagi diri untuk berjaga dengan teratur segala serba beres dan berdisiplin, unta atau kuda tiada yang brengsek."

"Aku kan tidak buta, kenapa tidak melihatnya."

Sahut Oh Thi-hoa tertawa.

"Kalau kau sudah melihatnya seharusnya kau tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di medan laga serdadu pilihan yang sudah tergembleng matang, memangnya kau samakan mereka rombongan perampok yang kasar-kasar dan rendahan itu? Pihak kita hanya ada delapan orang, malah tiga orang diantaranya sudah cacat, paling dua orang diantara kami harus membagi diri untuk melindungi mereka...."

Dengan mata melotot dia awasi Oh Thi-hoa lalu menyambung "Maka yang benar-benar bisa turun tangan dipihak kita hitung-hitung hanya tiga orang saja dengan tiga kekuatan orang hendak merebut unta didalam rombongan serdadu yang sudah gemblengan dalam pengalaman tempur di medan laga, coba katakan, apa kau yakin benar pasti berhasil?"

Oh Thi-hoa mengelus hidung, sahutnya "Memang tak begitu besar paling tidak lima enam puluh persen aku yakin!"

"Dengan hanya keyakinan lima enam puluh persen kau lantas ingin menyerempet bahaya?"

Sentak Ki Ping-yan mendelik.

"Hanya dengan keyakinan sepuluh prosenpun aku sudah pernah mencoba melakukan sesuatu, kenyataan orang tiada yang berhasil memenggal kepalaku ini"

Ujar Oh Thi-hoa tertawa-tawa.

"Itu karena nasibmu baik,"

Jengek Ki Ping-yan.

"Tapi sekarang bukan saatnya kita mencoba-coba mempertaruhkan nasib itu."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya "Tidak salah, kekuatan pihak kita sudah teramat lemah, apa yang harus kita kerjakan masih banyak lagi, sekali-kali jangan sampai terjadi diantara kita yang jatuh menjadi korban pula.

Oleh karena itu kalau hal ini ada sedikit bahayanya, kita tak usah melakukannya."

Ki Ping-yan masih muring-muring "Kalau dalam keadaan biasa, umpama kau hendak mengadu kepalamu dengan batu pasti tanda orang perduli tapi sekarang jiwamu amat besar gunanya, kalau hanya karena beberapa ekor unta dan beberapa kantong arak kau lantas hendak adu jiwa, umpama kau sendiri mereka tak menjadi soal, aku malah merasa eman-eman."

"Apa lagi umpama kita berhasil dengan tujuan mereka pasti akan selalu mengejar dan menguntit jejak kita."

Coh Liu-hiang menambahkan "Musuh kita sudah cukup banyak, kalau ketambahan rombongan orang-orang ini mempersulit kita, wah, sukar dibayangkan lagi."

"Jadi menurut pikiran kalian, bagaimana juga rombongan orang-orang ini sekali-kali tidak boleh diganggu, begitu?"

Tanya Oh Thi-hoa dengan kecut.

"Ya, begitulah,"

Sahut Ki Ping-yan. Berputar biji mata Oh Thi-hoa "Tapi jikalau mereka yang mencari gara-gara kepada kita, bagaimana?"

Memang pada ujung mata Coh Liu-hiang sudah melihat lima enam orang diantara rombongan itu sudah berlari-lari menuju ke arah mereka, dalam hati diam-diam ia menarik napas, namun lahirnya dia masih tersenyum-senyum, katanya tandas "Umpama benar mereka hendak cari perkara kepada kita, kita pun harus mengalah saja."

Yang mendatang ada lima orang, masing-masing mengenakan mantel lebar dan tebal untuk menahan angin, kepala mereka digubat kain panjang warna biru, kulit mereka kelihatan hitam legam bersinar karena biasa ditengah teriknya matahari, sehingga kelihatannya begitu kasar sekasar pasir di bawah kaki mereka, namun mata mereka, justru berkilat tajam laksana mata elang, tulang-tulang pipi mereka menonjol keluar jari-jari menggenggam erat gagang golok masing-masing, begitu teguh dan tenang tak tergoyahkan sekokoh batu.

Pakaian yang mereka pakai serba besar longgar gedubrahan, tapi gerak-gerik mereka amat cekatan, dengan mendelong Coh Liu-hiang dan lain-lain mengawasi mereka, kejap lain mereka sudah tiba di hadapan mereka.

Orang yang terdepan adalah laki-laki cambang bauk yang lebat warna kehijauan, biji matanya yang berkilat terang, memancarkan warna kehijauan seperti mata dracula satu persatu dia menyapu pandang ke muka mereka akhirnya berhenti pada tatapan muka Coh Liu-hiang.

Umpama ada ratusan orang yang mengenakan pakaian seragam yang sama, dia tidak perlu memandang dua kali dengan tepat dia akan tahu siapa yang jadi pimpinan diantara mereka.

Coh Liu-hiang menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum, mulutnya merocos panjang lebar, apa yang dia ucapkan adalah basa-basi yang sering digunakan kaum kafilah yang sering bertemu ditengah jalan, ucapan-ucapan menyapa dan saling tanya keselamatan satu sama lain sudah ia pelajari dengan giat dai cukup yakin bahasa latihannya sudah cukup baik dan kini tibalah saatnya untuk dia praktekkan.

Tak nyana orang dihadapannya ini seperti tidak paham apa yang dia ucapkan, sekian saat orang melotot pula kepadanya, tiba-tiba berkata "Kalian darimana?

Hendak kemana?"

Sontoloyo, orang justru fasih menggunakan bahasa orang-orang Han.

Coh Liu-hiang hanya meringis kecut, katanya "Cayhe beramai datang dari Thio keh gou, semula kami bermaksud dagang ke sini, tak nyana tak tahu jalan tak faham bahasa dan adat istiadat di sini, bukan saja unta dan tunggangan hilang, malah diantara kami ada yang terluka, oleh karena itu...."

Sampai di sini dia menyadari bahwa yang dikatakan amat meragukan, jelas sukar dipercaya oleh orang lain.

Mereka berdelapan, ada laki ada perempuan, ada yang buruk ada yang ganteng, tapi bagi siapapun yang melihatnya, tiada satupun yang akan mau percaya bahwa mereka adalah kafilah yang berdagang ditengah gurun pasir.

Coh Liu hiang menghela napas katanya pula "Bicara terus terang, Cayhe beramai adalah kaum persilatan dari Tionggoan, kedatangan kami kemari adalah untuk mencari tiga orang teman kami yang hilang, siapa tahu terjadi banyak peristiwa yang di luar dugaan barusan kami kebentur pula kejadian yang menyulitkan."

Kali ini dia bicara sejujurnya, tak nyana laki-laki itu masih mengawasinya dengan sikap dingin, sepatah kata omongannya masih tidak mau percaya.

Sorot matanya yang tajam kembali menyapu satu persatu muka mereka, lalu berkata dengan kereng.

"Persoalan sulit apa yang barusan kalian hadapi?"

Cukup panjang untuk menjelaskan, dan lagi terang tiada sangkut pautnya dengan kalian...."

Sahut Coh Liu-hiang.

"Dari mana kau tahu bila tiada sangkut pautnya dengan aku? Ribuan li malang melintang ditengah apdang pasir ini, apapun yang terjadi, kapan saja dan siapa saja, bukan mustahil ada hubungannya dengan kami!"

"Oh.... entah kalian ini siapa? Dari...."

Laki-laki jambang bauk segera membentak "Sekarang aku sedang tanya kepadamu, bukan bertanya kepadaku."

Coh Liu-hiang tahu bahwa laki-laki sulit dilayani, tak tahan jari-jarinya mengelus-elus hidung inilah penyakitnya.

Oh Thi-hoa sampai ketularan olehnya.

Si jambang bauk hijau tiba-tiba menuding Setitik merah dan Ki Bu-yong sentaknya bengis "Belum lama kedua orang ini terluka, siapa yang melukai mereka?"

Oh Thi-hoa tak tahan lagi, katanya keras "Tangannya tertebas kutung oleh aku yang kurang hati-hati."

Jambang bauk hijau menyeringai "Matamu masih genap dan normal, cara bagaimana bisa tidak hati-hati memotong lengannya? Anak-anak umur 3 tahunpun takkan mau percaya kepada ucapanmu."

Oh Thi-hoa naik pitam, semprotnya! "Perduli kau percaya tidak? Asal apa yang kukatakan adalah sejujurnya, terserah kau tidak mau percaya."

"Jawaban kalian sendiri satu sama lain tidak cocok dan simpang siur, masakah kita harus percaya begitu saja?"

Mendadak si jambang bauk menggelap tangan, bentaknya "Hayo geledah badan mereka!

setelah bentakan serempak empat orang laki-laki di belakangnya segera menubruk maju bersama.

Muka Oh Thi-hoa sudah menghijau saking gusar, serunya terloroh-loroh menggeledah "Kau hendak menggeledah badanku?

Hehe selama hidup belum pernah ada orang berani menggeledah badanku mesti dia orang tuaku sendiri!"

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menggenggam jarinya dengan keras, katanya tersenyum "Kejadian apapun pasti akan terjadi untuk pertama kali."

"Kau mandah dilakukan semena-mena?"

Seru Oh Thi-hoa dengan suara serak.

Coh Liu-hiang hanya tertawa-tawa siapapun tak bicara lagi.

Mengikuti pandangan matanya baru sekarang Oh Thi-hoa melihat disaat mereka bicara itulah, puluhan laki-laki sudah mengepung mereka.

Mendadak Oh Thi-hoapun unjuk tawa lebar katanya "Jikalau Coh Liu-hiang bisa tahan sabar pula?"

Ki Ping-yan ikut tertawa, katanya "Si bocah akhirnya tumbuh dewasa juga, sungguh suatu hal yang harus dibuat girang."

Berbareng mereka bertiga menepuk-nepuk pakaian, lalu membentang kedua tangan, katanya bersamaan dengan tertawa "Silahkan kalian menggeledah!"

Lalu Coh Liu-hiang menambahkan "Cayhe bukan saja tidak membawa apa-apa, malah dikata kantong kosong, setelah kalian menggeledah aku, tentu bikin kecewa saja."

Tak nyana ke empat laki-laki yang maju mendekat tadi berdiri diam di tempatnya, tangan si jambang baukpun masih terangkat tinggi, selama ini belum diturunkan.

Baru saja Coh Liu-hiang merasa heran, si jambang bauk mendadak berkata "Apa benar kantong tuan kosong?

Masakah sebutir mutiarapun tiada?"

Mendengar pertanyaan ini, seketika bersinar biji mata Coh Liu-hiang.

Demikian pula Oh Thi-hoa segera turunkan kedua tangannya serta mendengar orang menyinggung mutiara hitam segala, seketika teringat olehnya bahwa Ki loh ci sing masih berada dalam kantong bajunya, katanya keras "Sebetulnya kalian mau menggeledah tidak?

Memangnya apa maksud kalian?"

Si jambang bauk tiba-tiba tergelak tawa, serunya "Umpama nyali Siaujin tinggi langin, juga tidak berani bertingkah di hadapan Maling Romantis!"

Oh Thi-hoa tertegun, katanya "Kau kenal dia? Apa benar ketenarannya begitu besar?"

Si jambang bauk tidak menjawab, langsung dia menjura rendah kepada Coh Liu-hiang, katanya "Tidak tahu tidak berdosa, semoga Maling Romantis suka memaafkan keteledoran Siaujin!"

Lekas Coh Liu-hiang memapaknya bangun, tanyanya "Jadi kau ini apanya Mutiara hitam?"

"Jikalau Siau-ongya bisa melihat Maling Romantis sehat wal-afiat sampai di sini, entah betapa girang hatinya."

Demikian kata si jambang bauk.

Tahu bahwa mereka bukan lain adalah anak buah Mutiara hitam yang dicarinya ubek-ubek tak ketemu, tak nyana bersua disini tanpa banyak membuang tenaga, keruan girangnya bukan main.

Terdengar jambang bauk menghela napas, katanya lebih lanjut "Sayang meski maling romantis sudah sampai disini.

Siau-ongya justru sudah ke pedalaman pula..."

"Ke pedalaman? Maksudmu dia ke Tionggoan? Kapan ia berangkat? tanya Coh Liu-hiang kaget.

"Kuatir maling romantis menghadapi bahaya, maka beberapa hari yang lalu Siau ongya lantas menuju ke Tionggoan untuk menyiari kabar kalian."

Tak urung terunjuk rasa heran, curiga pada rona muka Coh Liu-hiang, katanya "Dia kuatir aku menghadapi bahaya? Dia pergi mencari tahu kabar diriku?"

"Siau-ongya menemukan kuda mutiaranya itu pulang sendiri dengan kosong tanpa penunggangnya, maka ia menduga Maling Romantis pasti menghadapi bahaya, tanpa membuang waktu lagi, segera ia menyusul kesana dengan tergesa-gesa."

Mendadak si jambang bauk tertawa lucu penuh arti, katanya pula "Rasa prihatin Siau-ongya kepada Maling romantis memangnya tuan masih belum memahaminya?"

Coh Liu-hiang menjublek di tempatnya, maka dia tidak begitu perhatikan ucapan ini, setelah menepekur sekian lamanya, akhirnya dia menarik napas katanya tertawa getir "Kuda itu memang pintar sekali, orang biasa mana mampu mengendalikan dia aku sudah kira dia pasti menerjang keluar dari kandang lari ke tempat asal majikannya.

Tak tahan Oh Thi-hoa menyeletuk "Kami banyak orang mencari ubek-ubekan tanpa menemkan jejaknya, masakah seekor kuda malah berhasil menemukan dia lebih dulu?"

"Dipadang pasir ini, siapa yang tidak tahu bila si mutiara hitam yang jempolan itu adalah milik Siau-ongya kita, siapapun yang melihatnya, tentu akan dibawa pulang dikembalikan kepada Siau-ongya."

Lalu dia tertawa bangga, katanya pula "Penjahat di padang pasir sejauh ribuan li itu, siapa pula yang berani mengincar kuda tunggangan pribadi Siau ong kita?

Sampaipun Ciok koan-im yang serba misterius seperti tokoh didalam dongeng itupun tidak berani sembarangan mencari gara-gara kepada kita."

Menyinggung Ciok koan-im, seketika berubah roman muka semua orang.

"Mungkin kalian tidak tahu,"

Ujar si jambang bauk.

"kecuali kita anak buah Lo ongya yang lama ini, orang-orang yang rela dan bersedia berkorban demi Siau-ongya entah berapa banyaknya meskipun Ciok koan-im setinggi langit, bila dia berani mengganggu dan berbuat salah terhadap Siau-ongya, selanjutnya apapun yang dia lakukan disini, mungkin dia akan selalu menghadapi kesukaran."

Coh Liu-hiang menghela napas ujarnya "Agaknya nama besar "Raja Gurun Pasir"

Memang bukan kosong dan gertakan belaka."

Oh Thi-hoa tiba-tiba menyeletuk "Kalau demikian bila kita menunggu si mutiara itu kemari bukankah sudah sejak lama bertemu dengan Siauw ongya kalian?"

"Jikalau kalian benar-benar datang menunggu si mutiara itu Siau-ongya tentu takkan segugup itu, ia tahu maling romantis amat sayang pada kuda tunggangannya itu, maka ia berkesimpulan bila Maling Romantis tak menghadapi bahaya, sekali-kali tidak akan membiarkan dia pulang sendirian."

Oh Thi-hoa pelototi Ki Ping-yan katanya "Itulah yang dinamakan keblinger oleh kepintaran sendiri, ingin untung malah buntung, dari sini dapatlah disimpulkan ada kalanya orang gede tidak akan unggul dari anak kecil dalam melakukan kerjaan yang sama."

Ki Ping-yan, tidak menunjukkan perubahan mimik mukanya cuma dengan dingin dia menatap si jambang bauk, katanya "Dari nada perkataanmu ini, agaknya Siau-ongya kalian amat prihatin dan menguatirkan sekali keselamatan Maling Romantis?"

Kembali si jambang bauk mengunjuk senyuman lucu yang aneh tadi, katanya "Ya, memang luar biasa keprihatinannya."

Ki Ping-yan menjadi bengis, katanya "Lalu dia menculik sanak Maling Romantis kemari apa pula maksud tujuannya?"

Si jambang bauk melengak, tanyanya "Menculik sanak Maling Romantis? Mana ada kejadian itu? Kukira tuan salah paham."

Sikapnya serius, sedikitpun tidak menunjukkan kemunafikannya.

"Apakah Yong ji dan lain-lain tidak pernah kemari,"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Yong ji.... maksud Maling Romantis apakah nona Soh, nona li dan nona......"

"Benar, apa kau melihat mereka? Dimana mereka sekarang?"

Tukas Coh Liu-hiang.

"Nona Soh bertiga sudah tentu ikut Siau-ongya menuju ke Tionggoan."

"Mereka..... apakah mereka baik-baik saja."

"Ketiga nona-nona itu sungguh amat pintar, lincah dan cantik-cantik lagi, malah raut muka mereka selalu dihiasi senyuman mekar yang manis, seolah-olah mereka tidak pernah tahu bahwa dalam dunia ini ada peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, sehingga orang-orang yang melihatnya pun melupakan penderitaan". Mendadak matanya menatap Ki Ping-yan tanyanya "Tapi kenapa tuan mengatakan Siau-ongya kami yang menculik mereka kemari?"

Ki Ping-yan juga dibuat bengong, tanpa sadar diapun mengelus hidungnya tanyanya "Memangnya bukan?"

"Sudah tentu bukan, mereka bertiga adalah tamu-tamu Siau-ongya yang terhormat dan teragung, malah boleh dikata hubungan mereka begitu akrab dan intim sekali, mereka berempat sampai tidurpun berat berpisah, entah berapa banyak persoalan yang selalu mereka bicarakan."

Semua orang kembali melongo mendengar kata-katanya terakhir ini Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa bertiga jadi saling pandang, sepatah katapun tak bersuara.

Sesaat kemudian baru Oh Thi-hoa bersuara "Katamu mereka sering tidur bersama?"

"Ya, boleh dikata keluar satu kereta, tidur satu pembaringan."

Oh Thi-hoa angkat pundak sambil menghela napas, katanya kepada Coh Liu-hiang "Agaknya Siau-ongya ini cukup pintar dan tinggi ilmunya."

Terasa getir tenggorokan Coh Liu-hiang, tak tahu apa yang harus dikatakan. Tiba-tiba Pipop kongcu menyeletuk bertanya "Siau-ongya kalian sebetulnya laki atau perempuan?"

Agaknya si jambang bauk melengak, sahutnya tertawa geli "Sudah tentu perempuan, cuma Lo ongya tidak punya putra, maka sejak kecil dia didandani seperti anak laki-laki, kitapun diperintahkan untuk memanggil Siau-ongya....

masakah Maling Romantis belum tahu malah?"

Coh Liu-hiang hanya menggosok hidungnya semakin keras, Oh Thi-hoa tak tahan terloroh-loroh, cuma rona muka Pipop kongcu yang murung dan jelek kelihatannya, katanya sambil melotot kepada Coh Liu-hiang "Agaknya tidak sedikit orang yang memperhatikan dirimu".

Angin badai meniup kencang di luar perkemahan laksana mengiris kulit, didalam kemah sebaliknya terasa hangat nyaman seperti dalam musim semi, ditambah bebauan harumnya daging panggang dan arak susu kambing, boleh dikata Oh Thi-hoa sudah menghilangkan kerisauan hatinya.

Tapi Coh Liu-hiang sebaliknya tidak seriang itu, terasa olehnya persoalan justru semakin rumit semakin banyak dan berbelit belit, cukup lama sudah Ki Ping-yan mengawasinya, tak tahan ia lantas berkata "Sebetulnya apakah yang telah terjadi?

Apa sekarang sudah kau bikin jelas?"

"Aku masih belum begitu paham,"

Sahut Coh Liu-hiang tertawa getir.

Oh Thi-hoa tertawa, katanya "Lebih baik kau mulai lagi dari depan lalu satu persatu menganalisa sampai kejadian hari ini, nah mulailah kau bercerita supaya kita beramai ikut menyelesaikan persoalan ini."

"Kejadian ini dimulai waktu aku minta Mutiara hitam memberitahu kepada Yong ji supaya lekas dia pulang, karena pada waktu itu aku sendiri sembarang waktu kemungkinan mengalami bahaya, sesungguhnya tak punya tenaga untuk melindunginya lagi,"

Demikian Coh Liu-hiang mulai membuka cerita.

"Agaknya bukan saja Mutiara hitam itu menyampaikan pesanmu, malah dia sendiri yang mengantar Yong ji pulang,"

Olok Oh Thi-hoa tertawa "Sepanjang jalan, kedua orang bicara punya bicara, belakangan lantas menjadi teman baik."

"Gelagatnya memang begitulah!"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi cara bagaimana Mutiara hitam itu bisa membujuk Yong ji bertiga, sehingga mereka mau ikut dia keluar perbatasan sini? Apa pula tujuannya dia berbuat demikian? Memangnya hanya ingin supaya kau gugup dan kebingungan?"

"Disinilah titik persoalan yang tidak bisa kupahami, biasanya Yong ji bertiga amat menuruti kata......"

Pipop kongcu tiba-tiba tertawa dingin, jengeknya "Kalau kau selalu ngelayap diluaran, sebaliknya mereka selalu berada dirumah menunggu kau oleh karena itu kau lantas beranggapan adalah pantas kalau mereka selalu mengganggumu dirumah, benar tidak?"

"Sebetulnya mereka memang tiada sesuatu tujuan untuk kemana-mana."

"Dari mana kau bisa tahu bila mereka tidak punya sesuatu tujuan berpergian? Seumpama mereka adalah anjing penjara rumahmu, adakalanya juga mereka akan mondar-mandir diluaran mencari angin...."

Mencibir bibir Pipop kongcu melanjutkan dengan tertawa dingin pula.

Kalau kau jadi Yong ji, tahu kau begitu percaya kepadaku, maka akan kupikir suatu akal supaya kau gugup dan kebingungan.

Sekali tempo, aku sudah menunggumu puluhan kali, malah mungkin sudah ratusan kali, adalah pantas kalau kau harus menungguku sekali."

"Plak! Oh Thi-hoa menepuk tangan katanya keras "Betul sekali, isi hati perempuan memang hanya dipahami sesama perempuan jikalau kau membiarkan seorang perempuan tahu bahwa kau amat percaya kepadanya, maka dia justru akan mencari akal berdaya upaya untuk mempermainkan atau menyiksa kau, kalau toh dia sudah betul-betul tunduk lahir batin dan kepincut kepadamu, namun toh dia tidak akan membiarkan kau tahu akan rahasia hatinya ini."

Pipop kongcu mencemooh "Lantaran perempuan kebanyakan sudah tahu bahwa laki-laki memang punya tulang kere, seorang perempuan yang tergila-gila dan amat mencintai dirinya, maka dia akan merasa perempuan itu tidak menarik hatinya lagi, segera dia akan mencari perempuan lain."

Oh Thi-hoa tertawa bergelak "Meski ucapanmu ini keterlaluan, tapi bukan tiada artinya."

Coh Liu-hiang meringis, ujarnya "Kalau begitu, bahwa mereka mau ikut Mutiara hitam keluar perbatasan, jadi maksudnya supaya aku gelisah dan kebingungan?"

"Seumpama mereka sebenarnya tiada maksud ini, tapi karena hasutan Mutiara hitam, mau tidak mau mereka akhirnya terbujuk dan mau menurut".

"Tapi kenapa Mutiara hitam mau membujuk mereka sampai mau pergi?"

Disamping Pipop kongcu mencibir pula, ejeknya "Masakah kau belum paham akan hal ini?"

"Ya, aku tidak mengerti,"

Sahut Coh Liu-hiang terus terang. Sengaja Pipop kongcu melengos ke arah lain ejeknya pula "Orang yang mulutnya suka bilang tidak mengerti, dalam hati tentu sudah paham benar."

"Tapi aku benar-benar tidak mengerti."

"Walau dia tak tahu kalau Mutiara hitam seorang perempuan, tapi Mutiara hitam tahu kalau dia seorang laki-laki, benar tidak?"

"Hal ini kukira tak perlu disangsikan kecuali induk kera, tiada seorang perempuan yang badannya tumbuh bulu begitu banyak seperti dia itu."

Kata Oh Thi-hoa melucu.

Tak tahan Pipop kongcu tertawa geli, tapi segera ia menarik muka pula, katanya tertawa dingin "Orang seperti dia gagah dan tampan laki-laki yang romantis lagi, berapa sih jumlahnya dalam dunia ini?

Bukan mustahil sejak pertama kali bertemu Mutiara hitam sudah kecantol kepadanya, seperti menggelotok kulit telur diberikan kepadanya, celaka adalah jago kita yang jadi lakon tampan dan romantis ini justru bermain begitu buruk dan goblok sekali, sedikitpun dia tidak tahu."

Oh Thi-hoa ikut tertawa katanya "Bagi seorang gadis perawan!

bukan saja hal ini dianggapnya sebagai memandang rendah, juga suatu penghinaan, oleh karena itu bahwa gusarnya nona Mutiara hitam, lantas mencari akal untuk menghajar adat jago kita yang suka sok romantis itu bukan?"

"Ditambah nona Mutiara itu kuatir begitu berpisah, selanjutnya ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan pemuda pujaan hatinya itu tapi dengan apa yang ia lakukan tak usah kuatir orang takkan bergegas menyusul dan mencarinya."

"Lucu, lucu menarik benar cerita ini,"

Seru Oh Thi-hoa bertepuk tangan pula.

"Coh kongcu masakah kau sendiri tidak merasa lucu dan menarik?"

Coh Liu-hiang menarik muka, sahutnya "Jikalau lidahmu hendak putus, itu baru leibh lucu dan menarik tentunya!"

Ki Ping-yan menghela napas katanya "Bocah ya tetap bocah, selamanya takkan tumbuh dewasa, orang-orang gede punya pikiran hati apa, selamanya ia tidak akan tahu!"

Pipop kongcu tertawa dingin "Kalian tuan-tuan gede ini punya isi hati apa, silahkan beberkan supaya kami bisa tahu!"

"Semula kukira pemberontakan yang terjadi di negeri Kui je, adalah kerja Mutiara hitam yang memimpinnya secara diam-diam, oleh karena itu baru tahu akan hubunganku dengan Setitik merah, baru dia bisa mencari Setitik merah dan mengundangnya kemari."

Demikian Coh Liu-hiang utarakan pendapatnya.

Ki Ping-yan berkata "Kini kita sudah tahu bahwa Mutiara hitam hakekatnya tiada sangkut paut dengan peristiwa ini, jadi pemimpin yang berada di belakang layar itu pasti Ciok koan-im adanya, tapi Ciok koan-im cara bagaimana bisa."

Segera Pipop kongcu menukas pula "Hanya itu sajakah isi hati tuan-tuan gede? Menurut pendapatku, bahwasannya persoalan ini sangat sederhana, anak umur tiga tahunpun bisa menebaknya dengan jitu."

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan diam-diam saja, Pipop kongcu lantas meneruskan "Tiga orang........

tiga orang sanak Coh Liu-hiang diboyong kemari oleh Mutiara hitam tentunya seluruh anak buahnya sudah tahu, orang banyak mulutpun suka iseng, tidak sedikit pula anak buah Ciok koan-im yang tersebar dimana-mana sebagai mata-mata, sudah tentu hal ini cepat sekali sudah dapat didengar olehnya, maka dia lantas melakukan suatu sulapan kecilan saja, supaya Coh Liu-hiang menyangka ketiga nona itu berasa di genggamannya, oleh karena itu pemuda kita yang romantis ini mana berani banyak tingkah?"

Ki Ping-yan melirik kepada Coh Liu-hiang, katanya tertawa getir "Tak nyana banyak urusan yang sukar dan berbelit-belit, cukup dibeber oleh anak kecil saja, urusan jadi mudah, gampang dan sederhana sekali persoalannya."

Pipop kongcu tidak perdulikan olok-oloknya, katanya lebih lanjut "Tapi dia masih kuatir Coh Liu-hiang tidak percaya, maka dia lantas undang Setitik Merah kemari.

Kalian tuan-tuan gede yang banyak akal dan melihatnya ini pikir pulang pergi, akhirnya yakin bahwa Mutiara hitam saja satu-satunya orang yang tahu hubungan antara Coh Liu-hiang dengan Setitik merah, oleh karena itu tuan-tuan gede lantas beranggapan bahwa Mutiara hitamlah orang yang berada di belakang layar mengatur dan menjadikan peristiwa ini melibatkan kalian, sudah tentu kalianpun beranggapan bahwa nona Soh bertigapun terjatuh ke tangan Ciok koan-im, oleh karena itu, kalian lantas terjeblos semakin dalam ke dalam muslihat dan perangkap yang sudah mereka atur."

Melihat Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan sama melongo, tak tahan Pipop kongcu tertawa geli dengan riang dan kesenangan, katanya "Coba kalian pikir, bukankah amat sederhana persoalan ini?

Soalnya otak kalian saja yang terlalu pintar dan menilai persoalan terlalu tinggi dan berbelit-belit, suka unjuk kepintaran sehingga urusan berlarut-larut, maka urusan yang sebetulnya sederhana dan dapat dipecahkan, malah semakin ruwet dan tak terpecahkan oleh kalian."

Coh Liu-hiang menyengir ujarnya "Jadi menurut apa yang kau uraikan ini, pasti ada orang lain pula yang mengetahui akan hubunganku dengan Setitik merah, oleh karena itu baru dia bisa memperalat Setitik merah untuk memancing aku, begitu maksudmu bukan?"

"Baru sekarang kau mulai sadar,"

Ujar Pipop kongcu. Coh Liu-hiang mengerut kening pula, katanya "Tapi yang tahu hubunganku dengan Setitik merah, kecuali Mutiara hitam yang lain-lain sudah mati!"

Pipop kongcu menjengek dingin "Berhadapan dengan Maling Romantis, orang matipun bisa hidup kembali."

Kata-kata ini sebetulnya cuma mau memancing kemarahan Coh Liu-hiang saja, tapi mendengar kata-katanya Coh Liu-hiang, justru tersentak sadar laksana ulu hatinya terhujam anak panah, seketika dia berjingkrak bangun.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang riuh dan kencang, tanah pasir di gurun pasir cukup empuk, maka waktu mereka mendengar derap kaki kuda yang ramai mendatangi ini, jaraknya kira-kira tinggal puluhan langkah saja dan sekejap saja sudah tiba dan berhenti.

Disusul suara sorak sorai sambutan gembira dari orang banyak, agaknya pendatang mempunyai kedudukan tinggi yang dihormati maka padang pasir yang semula tenang dan sunyi ini, sekejap ini berubah jadi suasana riang gembira dan ribut dari pahlawan-pahlawan gurun pasir itu.

Mencorong terang biji mata Oh Thi-hoa, katanya girang "mungkinkah Mutiara hitam yang telah datang?"

Belum habis kata-katanya, Coh Liu-hiang sudah berlari keluar kemah.

Tampak ditengah-tengah lapangan sana memang terdapat tiga ekor kuda, pelananya belum dilucuti, badannya kotor oleh debu pasir.

Ketiga ekor ini boleh dibilang terhitung kuda pilihan yang tiada bandingannya di padang pasir ini, tapi saking letihnya ketiganya sama roboh lemas dengan napas sengal, mulut berbuih lagi, boleh dikata hampir saja mati hidup-hidup kehabisan tenaga.

Pahlawan-pahlawan gurun pasir atau kafilah umumnya paling menghargai dan pandang kuda-kuda jempolan lebih berharga dari pada jiwa sendiri, tapi sekarang tiada seorangpun yang sempat mengurus ketiga ekor kuda ini.

Malah sebuah kemah yang berada di sebelah timur sana sedang dirubung orang banyak, sikap mereka amat senang dan bergairah, terang ketiga penunggang kuda yang baru datang itu kini sudah mereka songsong masuk ke dalam kemah.

Baru saja Oh Thi-hoa mengikuti Coh Liu-hiang keluar hendak memburu kesana, seseorang tahu-tahu sudah melihat mereka dan lekas memburu menghampiri, katanya membungkukkan badan dengan seri tawa "Teman-teman Kongcu yang empat orang itu kami sudah memberikan tempat yang layak dan pengobatan yang baik, mereka kini sedang istirahat.

Soalnya tiba-tiba kita kedatangan tamu dari jauh, maka Ciangkun tak bisa mengiringi Kongcu minum arak, harap Kongcu suka maklum dan maaf!"

Empat orang yang dimaksud adalah Ki Bu-yong, Setitik merah yang luka dan Liu Yan-hwi serta Suhengnya Ciok tho, sedang Ciangkun yang ia maksudkan ialah si jambang bauk itu.

Tak tahan Oh Thi-hoa bertanya "Jadi kalian kedatangan tamu dari jauh, entah siapakah tamu kalian itu?"

Orang itu unjuk tawa pula sahutnya "Mungkin Kongcu tak akan mengenal akan mengenal mereka."

"O..!"

"Sebetulnya! kalau mau dikatakan mereka tak terhitung sebagai tamu, anggaplah sebagai langganan kita beramai."

"Apa.. langganan?"

Oh Thi-hoa menegas tak mengerti.

"Sejak Lo ongya mangkat, kehidupan kita beramai boleh dikata menjadi persoalan besar, demi hidup kami terpaksa mencari obyekan sekenanya, untuk mempertahankan keadaan yang sudah tidak stabil ini."

Oh Thi-hoa jadi ketarik, katanya tertawa "Entah siapakah langganan kalian itu? Tugas apa pula yang mereka berikan kepada kalian?"

"Tugas kita tidak ubahnya seperti para Piausu yang melindungi barang-barang expedisi di Tionggoan, kali ini kamipun bertugas menyelesaikan sesuatu urusan kecil saja, malah dua hari yang lalu sudah kami bereskan dengan baik."

Oh Thi-hoa masih ingin tanya tapi Coh Liu-hiang sudah melihat roman muka orang ini sudah rada kurang senang, segera ia tarik Oh Thi-hoa katanya tertawa "Kalau begitu silahkan saudara lekas melayani tamu itu kami sih cukup mampu mengurus diri sendiri."

Setiba didalam kemahnya sendiri mulut Oh Thi-hoa masih mengoceh tak karuan "Kita ini adalah teman Siau-ongya mereka, tapi mereka pandang ketiga tamu itu jauh lebih penting dari kita, memangnya siapakah ketiga orang ini."

Coh Liu-hiang tertawa, sahutnya "Orang macam apa mereka itu, apa sih sangkut pautnya dengan kita?"

Mulutnya berkata demikian, namun dalam hati diapun sedang merasa keheranan.

Dimanapun, kuda-kuda jempolan seperti ketiga ekor yang roboh keletihan itu jarang didapat, tapi ketiga orang itu seolah-olah tidak sayang dan tidak memperhatikannya pula, mereka tak merasa sayang bila ketiga ekor kuda itu mati.

Merekapun punya urusan penting apa, begitu gugup dan tergesa-gesa menyusul kemari?

dan lagi dia menyewa tenaga si Jambang bauk yang merupakan bukan orang sembarangan di padang pasir ini, tentunya memberikan imbalan yang bukan kecil artinya, tarpi yang tinggi dari sesuatu tugas yang tinggi pula, tentunya menyelesaikan suatu tugas penting yang tinggi dan besar sekali artinya, lalu tugas rahasia apakah yang mereka lakukan?

Kenapa harus dirahasiakan sedemikian rupa?

Ingin Coh Liu-hiang kemukakan pertanyaan-pertanyaan ini, tapi Ki Ping-yan agaknya sudah meraba apa-apa yang sedang dia pikirkan, mereka berpandangan sebentar, Ki Ping-yan mendadak bicara "Biar aku pergi menjenguk Setitik merah."

"Lebih baik kau hati-hati sedikit,"

Coh Liu-hiang segera memberi peringatan. Pergi menjenguk Setitik merah, kenapa harus hati-hati? Berkilat mata Oh Thi-hoa, timbrungnya "Akupun mau pergi menjenguknya."

"Tak perlu kau banyak perhatian, silahkan kau minum arakmu saja di sini!"

Dengan tegas Ki Ping-yan menolak.

Mendadak Oh Thi-hoa tergelak-gelak katanya "Kalian tak usah kelabuhi aku, dengan kalian aku sudah bersahabat dua tiga puluh tahun melihat tindak tanduk kalian yang sembunyi-sembunyi ini memangnya aku tak bisa meraba kalian sedang merencanakan sesuatu muslihat apa?"

Coh Liu-hiang mengawasi Ki Ping-yan dengan tersenyum getir katanya "Urusan apapun orang-orang gede bisa mengelabuhi anak-anak kecil, tapi kalau ingin pergi main-main jangan harap kau bisa ngapusinya, begitu kau keluar munduk-munduk tentu jejakmu sudah konangan, kontan dia lantas merengek-rengek mau ikut sampai kau kewalahan dan membawanya juga."

Pipop kongcu cekikikan geli, katanya "Siapa nyana belum lagi menjadi bapak ternyata sudah punya pengalaman mengemong anak-anak.

"Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar derap kaki kuda pula. Kali ini suaranya gemuruh seperti guntur menggelegar terang yang datang kali ini, sedikitnya ada lima ratus penunggang kuda, jelas karena melihat perkemahan d sini, maka derap kaki kuda rada diperlambat, tapi cepat sekali mereka sudah mendatangi semakin dekat, barisan segera terbagi menjadi dua sayap ke kanan kiri dengan formasi mengurung, agaknya rombongan si jambang bauk hendak dikepung. Berkata Ki Ping-yan dengan suara berat "Mungkinkah rombongan besar ini mengejar tiga orang tadi?"

"Benar."

Timbrung Coh Liu-hiang.

"Tak segan-segan mereka bikin kuda baik sampai keletihan hampir mati, kiranya mereka sedang melarikan diri dari kejaran besar-besaran ini."

Belum lagi mereka bicara habis Oh Thi-hoa sudah mendahului menerjang keluar.

Dilihatnya anak buah si jambang bauk sudah berdiri jajar siap tempur dengan memasang busur dan anak panah, golok dan tombak sudah siap dan siaga, debu menguning membumbung tinggi mengotori angkasa, derap tapal kuda akhirnya berhenti.

"Eh bakal berkelahi kenapa si jambang bauk tidak undang kami? Memangnya dia pandang ringan kita?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Masakah dia tahu kalau kau ini suka mencampuri urusan orang lain?"

Jengek Ki Ping-yan dingin. (Bersambung ke

Jilid 26)

Jilid 26 Tiba tiba dari rombongan besar pihak sana tampil seorang penunggang kuda, kira-kira puluhan tembok di depan perkemahan mereka berhenti dan berseru lantang.

"Rombongan kalian pahlawan-pahlawan dari negeri mana ?, Adakah kalian melihat tiga ekor kuda lari ke jurusan sini?"

Dari pihak sini segera seorang balas membentak.

"Memangnya kalian sendiri dari negeri mana? Kenapa di depan pasukan kita membentuk barisan mengepung kita?"

Orang itu balas membentak.

"Pihak kita adalah pasukan kavaleri dari negeri Kui-jie di bawah pimpinan Bin Ciangkun, orang yang lari itu buronan raja kami, Kalau kalian menyerahkan mereka, tentu mendapat balasan jasa yang besar, kalau sebaliknya menyembunyikan mereka atau melindunginya, sebentar pasukan besar kita bila sampai, jangan menyesal akan hancur luluh seluruhnya". Mendengar sampai di sini Pipop kongcu menjerit keras.

"Celaka, mungkinkah yang mereka kejar itu adalah ayahku?"

Segera ia berlari ke arah kemah sana, teriaknya melengking.

"Ayah.... Hu-ong.... Apakah kau yang datang?"

Dari dalam kemah di sana menerobos keluar seseorang, memang benar dia adalah raja Kui-je.

Sudah tentu Coh Liu-hiang dan lain-lain amat kaget girang melihat orang berada di sini, sebaliknya Kui-je Ong pun berjingkrak kegirangan melihat mereka, serunya sambil tepuk tangan.

"Tak nyana sekalipun berada di sini bagus sekali, bagus sekali"

Pipop kongcu rebah dalam pelukan ayah bagindanya, katanya cekikan senang.

"Tapi bagaimana ayah seorang diri lari ke sini?"

"Nanti saja bicara soal keluarga, sekarang ..."

Pandang Kui-je ong terarah kepada Coh Liu-hiang katanya.

"Siau-ongya ingin bicara ke depan pasukan, apakah kalian sudi mengantar Siau-ong kesana?"

Coh Liu-hiang tersenyum sambil membungkuk badan.

"Cayhe beramai siap berbakti"

Kui-je ong tertawa besar, serunya.

"Bagus, bagus sekali"

Mau tak mau Coh Liu-hiang keheranan menghadapi Kui-je ong yang semulanya tahu foya foya tenggelam dalam minum arak melulu, biasanya badan yang begitu lemah loya dan tambun itu, jauh berbeda dengan keadaan tempo hari, bukan saja semangatnya menyala-nyala, bahkan kulit mukanya merah gagah dan berwibawa, seolah-olah sudah ganti rupa dan bentuk orang lain, tapi diapun maklum dalam keadaan situasi dan saat sekarang bukan saatnya dia banyak mengajukan pertanyaan.

Mereka bertiga ditambah si jambang bauk berempat masing-masing dua orang di kanan kiri Kui-je ong lima kuda tunggangan beranjak keluar tampil ke depan pasukan, busu yang berkeok-keok dengan temberang di depan pasukan itu, seketika kuncup nyalinya, mulutnya seketika terkancing rapat.

Setelah dekat Kui-je ong menatapnya tajam, katanya keren.

"Masih kau kenal dengan rajamu?"

Dulu busu ini adalah anak buah kepercayaannya, kini berhadapan dengan junjungan lama, tak urung hatinya jadi bingung kaget dan menyesal pula, dengan muka merah mulutnya megap-megap "Sudah lama Ongya meninggalkan negeri, Siau jin ..."

Kui-je ong tersenyum ramah, ujarnya.

"Kalian sudah tak percaya kepadaku, tapi aku tetap percaya kepada kalian"

Lebih merah muka busu itu, katanya tertunduk "Siau-jin sebagai alat Negara, hanya tahu patuh menjalankan perintah, jikalau perbuatan kami salah, bukan maksud dan tujuan Siau-jin sendiri"

"Baik, akupun tahu kesulitan kalian, kau Hong-hwa dan Ang Mak-hoa kemari menjawab pertanyaanku"

Busu itu mengiayakan, segera ia tarik kendali membalikkan kuda, terus balik ke dalam pasukannya.

Tak lama kemudian beberapa orang menunggang kuda segera dicangklong mendatangi, yang terdepan adalah Bin ciangkun, Ang siang kong dan Go Kiok-koan bertiga.

Melihat Coh Liu-hiang mendadak muncul ditempat ini, roman muka Go Kiok-koan berubah hebat, sungguh mimpipun dia tidak menduga bahwa Coh Liu-hiang bisa lolos dari cengkeraman tangan iblis Ciok koan im.

Coh Liu-hiang sebaliknya tersenyum-senyum mengawasinya, terang dalam sanubari mereka masing-masing banyak omongan yang perlu dibicarakan, tapi depan dua pasukan yang saling berhadapan tegang ini, bukan tempat dan saatnya bagi mereka mengobrol.

Roman muka Kui-je Ong yang ramah dan bijaksana itu, mendadak berubah kereng berwibawa, katanya dengan lantang dan bera.

"in Hong wa, Ang Hak hoa, biasanya Pun ong(membahasakan dengan diri sendiri) cukup baik terhadapa kalian, kenapa kalian memberontak membuat negeri geger, apakah sepak terjang kalian tidak miirip rampok dan dosa kalian patut dipenggal kepalanya"

Agak merah juga muka Bin ciangkun yang berkulit hitam, sikap Ang Siang ong sebaliknya tetap wajar dan tak berubah, katanya tertawa besar dengan menengadah.

"Kedudukan raja bukan anugerah Tuhan, hanya si arif bijaksana saja yang patut mendudukinya, kami beramai tidak ingin Cuma menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat tuhan, jikalau kau suka menyerah dan pulang bersama kita, mengingat hubungan lama yang baik dulu, bukan saja tak menyakiti jiwamu, kami malah akan bantu kau bermulut-mulut manis di hadapan Baginda Raja yang baru, supaya kau mendapatkan tempat yang layak menghabiskan masa tuamu"

Kui je-ong gusar, dampratnya.

"Matahari takan bersinar dua hari, negeri tiada dua raja, kecuali Pun-ong, siapa pula berani mengagulkan diri sebagai raja dalam negeri kita?"

Ang Siangkong tertawa, timbrungnya.

"Benar, matahari takkan bersinar dua hari, suatu negeri taka nada dua raja, sekarang Baginda raja yang baru sudah menduduki jabatannya, tidak kau segera menyerah dan menghamba kepada beliau bukankah kau ini sicerdik yang kelelep oleh kepintarannya sendiri?"

Mendadak Kui-je Ong bergelak tawa, serunya.

"Baginda Raja yang baru? Tahukah kalian dimana sekarang raja baru kalian berada?"

Berubah juga air muka Ang siangkong, kilas lain dia sudah tertawa tenang pula, katanya.

"Sudah tentu sedang berada di istana menunggu kabar gembira, menunggu kita membekuknya ke hadapannya"

Kui-je Ong bergelak tawa pula, serunya.

"Boleh kalian lihat dulu apa ini?"

Dari tangan si jambak bauk dia menerima sebuah kotak cendana, terus dilempar sekuatnya ke depan.

Lekas Ang Siangkong menangkapnya, begitu dia membuka tutup kotak cendana itu, seketika pucat ngeri air mukanya, seketika kedua tangannya gemetar hebat dan kotak tak kuasa dipegangnya lagi.

"Klotak!"

Jatuh menggelinding ke tanah berpasir.

Dari dalam kotak cendana itu menggelinding sebuah kutungan batok kepala orang, lekas si jambang bauk keprak kudanya ke depan dengan golok panjangnya dia sunduk batok kepala itu dibagian lehernya terus diangkat tinggi ke atas kepala.

Kui-je Ong membentak berwibawa.

"Pemberontak Ang tek san sudah dua hari yang lalu kita bekuk dan hokum mati padanya, batok kepalanya kini berada di sini. Siapa saja yang merasa diancam, sehingga mengekor kepada pemberontak, jikalau sekarang lekas-lekas membuang senjata dan menyerah, dosa-dosanya diperingan tiga tingkat atau diberi kebebasan"

Begitu pengumumannya berkumandang, pasukan pemberontak anak buah Bin ciangkun seketika gempar dan bersama-sama membuang senjata Lekas Go Kiok-kan membentak keras.

"Dia menghasut dan membual belaka untuk meruntuhkan semangat tempur pasukan, jangan kita tertipu melihatnya"

Berputar biji mata Ang siangkong, segera dia berteriak.

"Benar dia meninggalkan istana tanpa menghiraukan penderitaan rakyatnya, menyelamatkan diri saja tidak sempat, masakah punya kekuatan melakukan peristiwa sebesar ini?"

Kui-je ong bersikap tenang dan tetap tertawa besar, serunya.

"Kalian kira pun-ong hanya melarikan diri saja? Ketahuilah secara diam-diam pun ong sejak lama sudah mempersiapkan dan menggerakan lima barisan pasukan besar tiga hari yang lalu, sudah berhasil merebut kembali tahta dan kerajaan"

"Lima barisan pasukan besar apa", jengek Bin ciangkun "kalau kentut memang ada, siapa tak tahu kalau kau memang pandai kentut!"

Si Jambang bauk cemplak kembali ke atas kudanya, berdiri ke atas pelana, segera dia tarik suara sekeras-kerasnya.

"Empat barisan besar dari lima barisan besar pasukan berhasil kami pinjam dari negeri tetangga, sementara barisan pertama adalah pasukan para saudaraku si jambang bauk hijau ini, memangnya kalian tidak percaya?"

Agaknya jambang bauk hijau ini punya nama dan amat disegani di padang pasir, tak sedikit anak buah Bin ciangkun yang tahu akan kebesarannya, tidak sedikit pula yang melihat bahwa batuk kepala itu bukan tiruan pula, maka kembali suasana menjadi rebut dan kacau balau, pasukan Bin ciangkun menjadi ciut nyalinya Bin ciangkun segera membentak beringas.

"Dimana Thi kak kun atau pasukan lapis baja? Lekas bekuk raja lalim ini!"

Suaranya keras dan kereng meski disiplin ketentaraannya amat keras, apa boleh buat, anak buahnya sudah goncang dan tiada satupun yang mendengar perintahnya lagi, kecuali beberapa orang pengawal pribadingya saja yang keprak kuda, tampil ke depan mengacungkan senjata.

Oh Thi-hoa tertawa besar, senyumnya.

"Nah, kini tiba saatnya kita bekerja!"

Ditengah gelak tawanya segera iapun keprak kudanya, menyongsong maju, sekali ia pentang kedua tangannya, tahu-tahu dua orang ia kempit di bawah ketiaknya, dua orang yang lain menjadi kaget dan terus menerjang kawannya sendiri yang teringkus itu, seketika dua orang terjungkal jatuh.

Si Jambang bauk tak mau ketinggalan, lekas ia aun golok maju menyerang.

Tangan kiri menenteng batok kepala raja pemberontak sementara gerakan golok ditangan kakan laksana kilat mneyambar, dua orang musuh menerjang kencang dengan kuda tunggangannya, dimana goloknya berputar, dua batok kepala kontan mencelat tingga keudara.

Bin ciangkun berkoak-koak member perintah, tapi anak buahnya menjadi jeri, dan tercerai berai pula diterjang kesana kemari, melihat gelagat tidak menguntungkan, diam diam, Ang siangkong mundur kebelakang masukan, hendak melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar suara dingin dekat belakangnya.

"Tuan gede ini hendak kemana?"

Dengan mencelos Ang siangkong lekas berpaling, entah kapan tahu Ki Ping Yan sudah berada di depannya, sedang tertawa dingin mengawasinya, dengan suara serak ketakutan Ang siangkong berkata.

"Sukalah Congsu lepaskan aku dulu, jasamu pasti akan kutebus dengan selaksa mas"

Ki Ping-yan menyeringai, jengeknya.

"Harta bendaku sudah terlalu banyak, aku sendiri sudah terlalu bingung cara bagai mana memakainya, kau hendak menyogok selaksa mas lagi, bukankah tambah risau hatiku"

Angsiaong unjuk ketawa dibuat-buat, katanya.

"Kalau congsun merasa kurang, bagaimana kalau kuberi sepuluh laksa mas?"

Mulut bicara mendadak tangannya mencabut sebilah badik yang dipegangnya diulasi berlian terus menusuk di perut. Ki Ping-yan tertawa dingin, ejeknya.

"Menggerakkan mulut kau masih boleh, menggunakan senjata masih terlalu jauh"

Belum habis kata-ktanya, entah dengan cara apa, tahu0tahu badik ditangan Ang siangkong direbutnya, sekali cengkram pula dia jinjing badan Ang siangkong dari punggung kudanya, lalu seperti memutar bandulan dia lempar badan orang sambil berseru.

"Nah sambutlah ini!"

Badan Ang siangkong yang besar tremok itu dilempar ke tengah udara lalu terjun bebas ke arah belakang, beramai ramai anak buak si jambang bauk menangkapnya, terus di telikung dan diikat kencang, digusur masuk ke dalam kemah.

Betapapun Bin ciangkun adalah orang militer yang berpengalaman di medan perang, meskipun keadaan menjadi kacau balau, sedikitpun ia tidak menjadi kacau, lekas ia lolos golok lalu menerjang maju hendak mengadu jiwa, kebetulan Oh Thi-hoa keprak kuda memburu ke arahnya, segera ia angkat golok membacok.

Melirikpun, seolah olah tidak sudi kepadanya, sekali ulur dan tarik secara gampang dia sudah rebut golok panjang orang, berbareng tangan yang lain terayun balik menggampar muka Bin ciangkun berkunang-kunang, kontan terjungkal roboh dari punggung kuda dan jatuh semaput.

Kui-je ong membarengi teriak lantang.

"Pun ong sudah bertahta kembali, siapa buang senjata hidup, yang berani melawan bunuh semuanya, habis perkara"

Seruan ini seketika mendapat samburan sorak sorai dibarengi senjata berkerontongan dijatuhkan, ratusan senjata berbagai jenis memenuhi tanah pasir"

Perlu diketahui anak buah Binciangkun boleh dikata adalah serdadu pilihan yang sudah banyak pengalaman juga dimedan laga, untuk memaksa mereka menyerah apa lagi membuang senjata sebetulnya bukan suatu hal yang mudah, tapi mereka dulu anak buah Kui-je-ong sama juga, meski mereka ikut memberontak lantaran terpaksa karena kedisiplinan kemiliteran, kini setelah maha raja yang mereka junjung bertahta kembali, apalagi pemimpin tertinggi merekapun sudah tertawan, bak ular yang sudah tak berkepala, sudah tentu mereka tak berani nekad adu jiwa.

Cepat sekali keributan inipun sudah dipadamkan, mendadak Oh Thi-hoa berseru keheranan dengan celingukan kian kemari.

"Mana si Ulat busuk? Kenapa tak kelihatan ?"

Padang pasir yang terbentang tenang dan sepi itu, mendadak tampak dua gulungan debu kuning yang membumbung tinggi ke angkasa panjang seperti naga yang sedang mengamuk, dua ekor kuda satu di depan yang lain di belakang sedang dicongklang dengan kencang saling kejar, yang depan adalah Go Kiok-kan yang sedang melarikan diri, yang di belakang dan mengejar tentunya adalah Coh Liu Hiang.

Ternyata melihat gelagat jelek Go Kiok-kan, lantas cari kesempatan untuk melarikan diri, tak kira sejak tadi Coh Liu-hiang memang sudah perhatikan dirinya sertiap gerak-geriknya tak lepas dari pengawasannya, begitu dia angkat langkah seribu, Coh Lui-hiang lantas mengetahuinya.

Begitulah mereka sudah larikan kuda masing0masing sekencang mungkin dengan kecepatan maksimum.

Tapi Coh Liu-hiang tidak menduga dan tidak mempersiapkan diri untuk saling udak begini, maka kuda tunggangannya sembarangan saja dia terima asal untuk tunggangan belaka pula kesempatan tiada waktu untuk dirinya memilih tunggangan, sebaliknya kuda tunggangannya Go Kiok-kan adalah kuda keluaran dunia barat yang jempolan.

Mula-mula mengandal tehnik Coh Liu-hiang menunggang kuda, dia masih mengudak dengan kencang dalam jarak tertentu, tapi lama kelamaan, kekuatan kedua menjadi berbeda, jarakpun diulur semakin berselisih panjang, badannya mencelat tinggi dari punggung kudanya.

Mengandal kepandaian ginkangnya yang tinggi tiada bandingan diseluruh kolong langit dia mengejar dengan tancap gas, sekaligus untuk mengadu kekuatan dengan kuda pilihan tunggangan Go Koik-kan itu.

Tampak gerak bayangan badannya laksana bintang meteor meluncur ditengah angkasa.

kuda tunggangan GO Kiok-kan yang pilihan itu ternyata tidak ungkulan dibandingkan lari kedua kaki Coh Liu-hing, sebentar saja, dia sudah hampir menyandaknya.

Go Kiok-kan segera keprak kudanya semakin kencang, semakin kencang mulutpun berteriak teriak.

"Coh Liu-hiang kau tidak bermusuhan tiada dendam dengan kau, kenapa kau mendesakku begitu rupa ?"

Coh Liu-hiang tek bicara, ia tahu Go Kiok-kan hendak memancing bicara, karena begitu dia buka suara, hawa murni yang terhimpun di pusar seketika akan buyar, dengan sendiri gerakan badannya menjadi kendor dan lamban.

Dengan ketajaman kupingnya meski Go Kiok-kan tak berpaling tapi ia dengar suara lambaian pakaian Coh liu-hiang semakin dekat, jidatnya sudah dibasahi oleh keringat yang berketes-ketes sekonyong-konyong dia melambung tinggi meninggalkan pelana kudanya, ditengah udara bersalto beberapa kali, melampaui Coh Liu-hiang, terus berlari ke arah yang berlawanan dengan luncuran tubuh Coh Liu-hiang.

Sebetulnya sudah dia perhitungkan dengan seksama, saat itu Coh Liu-hiang sedang tancap gas mengejar dengan kecepatan maksimum, terang tak mungkin bisa mengerem luncuran badannya yang melesat bagai anak panah itu, COh Liu-hiang berhasil kendalikan gerakan badannya dan putar balik mengejar dirinya pula, tentu dia sudah berhasil melarikan diri dalam jarak yang cukup jauh.

Diluar perhitungannya bahwa puncak kepandaian enteng tubuh Coh Liu-hiang benar benar sudah tak ada taranya di jagat ini malah jauh lebih tinggi dari apa yang dia bayangkan, belum lagi dia lari tak berapa jauh, kembali didengarnya lambaian pakaian yang mengejar datang dari belakang.

Angin kencang menerjang muka serasa seperti diiris pisau, ternyata mereka berdua berlari melawan angin.

Sekonyong konyong Go Kiok-kan kipatkan sebelah tangannya, maka terdengarlah suara "Blup!"

Suatu ledakan yang cukup nyaring juga, seketika selulung asap tebal berkembang melebar dengan cepat bergulung terhembus angin menyongsong kedatangan Coh Liu-hiang.

Baru sekarang Oh Thi-hoa tahu bahwa Coh Liu-hiang sedang pergi mengajar Go Kiok-kan, jelas pula bahwa intrik atau tugas rahasia si Jambang Bauk yang sedang dia perankan adalah harus melenyapkan atau menumpas kaum pemberontak di negeri Kui-je.

Waktu itu Kui-je-ong sudah membuka suara jamuan makan minum yang meriah untuk merayakan kemenangan yang gilang gemilang ini.

Melihat Oh Thi-hoa seperti tidak tenang atau sedang memikirkan sesuatu, segera dia menegur denga tertawa.

"Buat apa kau kuatir bagi temanmu itu, dalam dunia ini siapa pula yang kuasa menandingi segebrak serangannya ?"

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.

"Justru Cayhe merasa hal hal ini terlalu aneh, biasanya peduli siapa saja yang dia kejar, tentulah dengan mudah dapat dia ringkus kembali tanpa mendapat perlawanan yang berarti, tapi sekarang, dia sudah pergi sekian lamanya."

Kui je-ong tertawa katanya menghibur.

"Pun-ong berani tanggung, dia pasti takkan mengalami apa-apa, jangan kuatir, minumlah dan habiskan arakmu dengan lega hati."

Sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Pipop Kongcu, mendadak dia berbisik kepada Ki Ping yan.

"Apakah bocah itu tidak dipelet dan dipecut oleh tuan puteri yang genit ini maka tanpa pamit terus tinggal pergi ?"

Ki Ping-yan mengerut alis, sahutnya.

"Kau menilai orang lain seperti tampangmu?"

"Hm !"

Oh thi-hoa mendengus.

"Kukira tidak akan meleset, perbuatan apapun berani dia lakukan, lebih baik mari kita keluar mencarinya !"

Mau tidak mau goyah juga keyakinan Ki Ping-yang, katanya berbisik juga.

"Kita membolos keluar terpencar, nanti kita bertemu di luar !"

"Baik, begitu saja kita atur"

Sahut Oh Thi-hoa.

Tiba tiba teringat olehnya bahwa Ki loh-ci sing masih berada di tangannya, Kui-je-ong memandang mestika itu begitu berharga, mana boleh dia bawa benda mestika ini pergi begitu saja.

Apalagi diapun pernah berjanji kepada permaisuri yang cantik jelita itu, untuk menanyakan rahasia yang terkandung didalam mestika ini, Segera ia merogoh keluar Ki-lohci-sing lalu diangsurkan dengan kedua tangannya, katanya tertawa.

"Cayhe beruntung tak mengecewakan harapan Baginda raja, Cayhe berhasil merebut mestika ini pulang, harap Baginda raja suka menerima balik."

Tak Nyana Kui-je-ong cuma tertawa tawa saja katanya.

"Congcu mendirikan pahala terbesar, Siao ong tiada sesuatu barang yang dapat kuhadiahkan kepadamu sebagai tanda kenangan."

Seolah-olah dia sudah melupakan bahwa Ki-loh-ci-sing ini sudah mengorbankan berapa banyak jiwa manusia, betapa besar imbalan yang dipertaruhkan bisa merebutnya kembali, tapi sekarang royal dan sembarangan saja ia hadiahkan mestika ini pada Oh Thi-hoa.

Saking kaget mulut Oh Thi-hoa sampai melongo dan tak bisa bicara, sekian lamanya baru dia tertawa dibuat buat, katanya.

"Jikalau Baginda rasa merasa Cayhe ada sedikit mendirikan jasa asal cukup memberikan beberapa poci arak padaku saja, Ki-toh ci-sing ini sekali kali aku tak berani terima."

"Kenapa?"

Tanya Kui-je ong melengak keran malah. OH Thi-hoa menyengir tawa dengan memencet hidung katanya.

"Anak melarat seperti aku bila membawa bawa mestika yang tak ternilai harganya ini, selanjutnya jangan harap bisa makan kenyang dan tidur nyenyak?"

Kui-je ong tersenyum ujarnya.

"Kalau dua tiga hari yang lalu nilai dari jambrut ini memang tak bisa diukur dengan apapun juga, Pun ong juga tak akan sembarangan menghadiahkannya padamu. Tapi sekarang, nilainya sudah jauh merosot sekali, batu jambrut seperti ini, entah masih berapa banyak dalam gudang istana bolehlah legakan saja hatimu menerimanya."

Seketika Ki Ping-yan dan Pipop-Kongcu pun ikut tertegun mendengar urusan kata kata yang susah dimengerti ini. Oh Thi-hoa membelalakkan mata, tanyanya kebingungan.

"Bukankah batu jambrut ini ada menyangkut suatu rahasia yang besar ?"

"Itu hanya kabar angin yang sengaja disiarkan oleh Pun-ong sendiri, supaya orang lain sama menyengka bahwa batu jamrut ini betul mengandung suatu rahasia besar yang amat ingin diketahui oleh siapapun juga, hanya mengandal muslihat dari benda inilah Pun-ong baru bisa merebut tahta kembali. Diwaktu mereka tumplek seluruh perhatiannya untuk memperebutkan batu jambrut ini, Pun-ong sebaliknya secara diam diam sudah menggunakan harta peninggalan ayah Baginda yang diwariskan kepadaku, dan membeli lima barisan pasukan besar, tanpa diketahui oleh malaikat dan tidak dilihat oleh setan, tahu-tahu dengan gemilang aku berhasil merebut tahtaku kembali dari tangan kaum pemberontak"

Sebentar dia berhenti dengan mengelus jenggotnya, lalu menambahkan.

"Inilah yang dinamakan tipu bersuara di timur menggempur di barat."

Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa sama beradu pandang, bukan saja kaget, dan heran, merekapun amat kagum dan tunduk lahir batin akan kepintaran dan kecerdikan sang raja.

Semula mereka mengira raja tambun yang suka air kata-kata dan senang main perempuan ini, tak lebih hanyalah lelaki brutal dari suatu kerajaan asing yang terpencil saja.

Baru sekarang mereka tahu bahwa kepintaran dan kelihayannya, ternyata tidak lebih asor dari raja-raja dari dinasti yang sudah almarhum dulu.

Sengaja dia membentuk diri didalam pelukan perempuan-perempuan cantik, sudah tentu perbuatannya ini hanya memancing dan mengelabui mata kuping orang lain belaka.

Entah berapa lama kemudian baru Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir.

"Tak heran selama ini Coh Liu-hiang selalu merasa keheranan, kalau toh Ki-loh-ci-sing ini menyangkut rahasia tahta kerajaan Kui-je, kenapa malah diberikan kepada para piausu dari Tionggoan untuk melindungi, dari dalam perbatasan diantara keluar perbatasan? Jikalau dia hadir disini dan mendengar uraian Sri Baginda, tentulah dia teramat kagum dan memuji Baginda."

Sementara Pipop-kongcu malah bersungut-sungut, tanyanya aleman.

"Tapi ayah kenapa kaupun mengelabui aku ? Masakah seorang ayah juga harus main rahasia atau tidan mempercayai putrinya sendiri ?"

"BUkan aku tidak percaya kepada putri mesti aku ini."

Ujar Kui-je-ong.

"Soalnya bila rahasia ini kerahasiakan dengan ketat, orang lain pasti akan berusaha mencari bocoran dengan berbagai daya upaya, asal sehari aku tak membocorkan rahasia ini, sehari nyawaku akan lebih panjang hidupnya dan orang-orang yang betul betul mengincar mestika ini dan hendak mengorek keterangannya mengenai rahasia ini, tentu dia berusaha pula melindungi jiwaku secara pelan-pelan."

Pipop kongcu menghela napas, ujarnya.

"Agaknya seorang gadis bila dia menjadi putri seorang raja, ternyata bukan suatu yang harus dibuat girang dan membahagiakan hidupnya, tak heran tuan putri dari dinasti yang terdahulu sebelum ajal dia menangis berkeluh kesah menutupi dukanya katanya.

"Semoga selama hidupnya kelak dalam penitisan yang akan datang dirinya tidak dilahirkan dalam keluarga kerajaan."

Tak tertahan Kui-je-ong pun menghela napas, ujarnya.

"Benar, seseorang bila ingin menjadi Baginda raja yang baik, maka belum tentu dia bisa menjadi ayah yang baik."

Apa yang dia ucapkan ini memang benar dan kenyataan, maklumlah seorang raja harus selalu ribut mementingkan urusan negara, mana ada waktu senggang untuk menunaikan tugas dirinya sebagai ayah bunda dari anak anaknya yang baik.

Oleh karena itu didalam gubuk liar, sering dilahirkan putra-putra bangsa yang berbakti.

Sebaliknya didalam keluarga kerajaan sering melahirkan putra-putra yang durhaka.

Mendadak Ki Ping-yan menjengek dingin.

"Ongya ternyata memang jenius dan berpambek besar, jarang orang yang bisa menandingi, cuma harus dibuat sayang dan kasih para Piausu yang mati secara konyol itu, demi terima bayaran beberapa keping yang perak berarti harus mengorbankan jiwa dan raga di padang pasir tanpa mendapat liang kubur yang layak."

Sikap KU-je ong berubah prihatin, katanya tawar.

"Politik negara, memangnya adalah sesuatu yang amat menakutkan. Bagi seorang panglima besar yang sukses besar, tulang tulang manusiapun bakal bertumpuk laksana gunung, apalagi bagi seorang raja dari suatu negara? Memangnya sejak dahulu kala, merupakan tragedi yang tak mungkin dielakkan. Umpamanya cikal bakal dinasti Song merekapun tak terhindar dari perbuatan tercela karena dipaksa oleh keadaan kenapa pula tuan tumplekan kesalahn ini kepada Pan-ong saja ?"

Ki Ping-yan tertunduk dan menepekur sesaat lamanya, katanya kemudian.

"Ya, Cayhe yang kelepasan omong, harap Ongya maafkan kesalahan ini."

OH Thi-hoa ulurkan lehernya, terus menuang sepoci arak sedalam mulutnya, tumben bergelak tawa, serunya.

"Oleh karena itu, kunasehati kepada hadirin, cepatlah habiskan saja arakmu, tak usah banyak melibatkan diri mengenai segala tetek bengek ini, sejak dahulu kala betapa keluarga kerajaan tidak kesepian, memangnya bisa lebih unggul dari aku anak rudin yang senang dan hidup bahagia dan bebas ini."

Sekonyong-konyong seseorang menanggapi dengan tertawa merdu.

"Betul, minumlah arak dalam cangkirmu, jangan urusi segala tetek bengek. Tapi betapapun licik dan licinnya akhirnya mampus juga anjing menjadi daging panggang, burung terbangpun terjaring seluruhnya, busur sakti tersembunyi lagi, apakah kau belum pernah mendengar kata-kata ini ?"

Bau harum seketika merangsang hidung setiap hadirin, sehingga semua orang merasa pikiran melayang dan seperti hampir mabuk, entah kapan tahu-tahu juwita yang tiada bandingannya kecantikannya, di bawah penerangan api yang kelap kelip benderang ini kelihatan seolah-olah bak bidadari turun dari khayangan.

Siapapun takkan menduga sang juwita uang rupawan dan molek di bawah penerangan api obor laksana bidadari ini ternyata tak lain tak bukan adalah permaisuri Kui-ji yang selalu dikatakan berpenyakitan dan berbadan lemah selalu di pembaringan.

Tampak mukanya tetap mengenakan cadar dari kain sari yang halus, bentuk mukanya yang cantik jelita laksana bayangan didalam asap, seperti kembang mawar didalam kabut, begitu cantik dam moleknya sampai siapa saja yang memandangnya pasti menahan napas.

Sungguh girang dan kejut pula Kui je-ong dibuatnya, sampai dia lupa bahwa sang permaisuri yang biasa berpenyakitan, entah cara bagaimana secara tiba-tiba bisa muncul di sini dengan gerakan badan nan aneh dan begitu menakjubkan, bergegas dia bangkit dan menyongsong maju sambil menyapa.

"Kenapa kau datang kemari ?"

Permaisuri Kui-je tertawa, sahutnya.

"Aku sudah datang, apa kau kurang senang?"

"Tapi... badanmu terlalu lemah, masakan kau kuat menahan panas dan dingin yang begitu menyiksa di perjalanan nan jauh ini ?"

Tiba-tiba Ki Ping-yan menyela pula dengan suara dingin.

"Jangan kata hanya cuaca buruk andaikan hujan golok angin panah juga tidak terpandang dalam mata permaisuri bukan ?"

"Y, benar!"

Sahut permaisuri Kui-je tertawa. Berkilat sorot mata Ki Ping-yan, katanya pula.

"Burung habis masuk disembunyikan kelinci mampus anjing dipanggang, memangnya permaisuri hendak membunuh kita semuanya ?"

Kui-je-ong bergelak tawa ujarnya.

"Pun-ong sekali kali tiada maksud ini kalian jangan kuatir dan banyak curiga."

Permaisuri justru mengejek dingin.

"Kau memang tiada maksud itu, sebaliknya kau yakin dapat melaksanakan."

"Kau..."

Baru sekarang Kui je-ong benar-benar tertegun.

Pelan-pelan permaisuri tinggalkan cadar mukanya, maka terlihatlah sepasang matanya nan bening tajam laksana air, dengan nanar dia tatap Kui-je-ong, katanya.

"Kau kenal tidak padaku, karena setiap orang yang mengenalku, jiwanya sudah menghadap kepada raja akhirat, sudah tentu dia tidak akan bisa hidup lagi."

Suasana hangat dalam kemah ini, seketika seperti digulung angin badai yang dingin dan membekuknya darah, kaki tangan setiap hadirin menjadi gemetar dingin dan berkeringat.

Karena saat mana, dalam benak setiap orang lapat-lapat sudah menebak, siapa perempuan yang tengah mereka hadapi ini.

"Ciok koan-im! Kau adalah Ciok-koan-im !"

Tapi tiada seorangpun yang berani membuka mulut. Kui-je ong melosot duduk di atas kursinya, katanya dengan tertawa sedih.

"Akupun tidak perduli kau siapa, tapi permaisuriku... masakah kau sudah membunuhnya ?"

Suara Ciok-koan-im semakin merdu halus.

"Kaupun tak perlu bersedih, meskipun dia sudah meninggal, tapi aku masih hidup, aku tidak sebanding dia ? Memangnya kau tidak puas ?"

"Kau ?"

Kui-je ong berjingkat kaget.

"Kalau toh aku sudah mewakili dia, maka selamanya aku tetap dalam kedudukanku seperti sekarang ini. Mengawasi badan yang ramping semampai dan montok berisi ini, lama kelamaan mata Kui-je ong mendelong memudar. Mendadak Ki Ping-yan tertawa dingin, katanya.

"Tidak salah, akupun tahu kau selamanya akan mewakilinya!"

"Kau... kau tahu ?"

Teriak Kui-je-ong pula. Kata Ki Ping-yan.

"Baginda tak punya anak cuma seorang putri, jikalau Baginda dan tuan putri mengalami sesuatu, sebaliknya dalam negeri tak boleh sehari tanpa ada yang memerintah, sudah tentu memilih junjungan yang baru, demi memperebutkan kedudukan agung ini, semua orang betapa sudah berusaha dan berjerih payah memeras keringat, tapi tanpa mengeluarkan sedikit tenaga, ia sudah berhasil merebutnya, harus dibuat kasihan Ang-Hak-han, An Teksan orang-orang dogol itu sia-sia saja mereka dijadikan alat bonekanya, setelah mampus mereka bakal jadi setan penasaran"

Dengan dingin Ciok-koan-im tatap Ki Ping-yan dengan nanar, setelah kata-kata orang selesai, baru dia unjuk senyuman mekar, katanya.

"Tak nyana begitu tepat kau bisa mengorek isi hatiku, agaknya selama ini aku terlalu pandang rendah dirimu."

"Kau hendak bunuh aku?"

Suara Kui-je-ong mulai ngeri.

Ciok-koan-im tersenyum, ujarnya.

Sejak dahulu kala seorang raja mempunyai tradisi cara kematiannya sendiri, akupun tidak akan melanggar undang-undang ini cukup asal kau minum arak dalam cangkir di depanmu itu, selanjutnya kau tidak perlu merisaukan segala persoalan dalam dunia ini."

"Kau... kau sudah menaruh racun di dalam arak cangkirku ini ?"

"Tidak terlalu banyak, tapi lebih dari cukup untuk kalian ayah beranak."

Mengawasi arak dalam cangkir di depan mejanya ini, mata Kui-je-ong mendelik, keringat dingin gemerobyos membasahi kepala dan mukanya.

Si Jambang bauk malam ini juga hadir dalam perjamuan minum arak dalam kemah ini selama ini dia tidak pernah buka suara, cuma dia selalu pasang mata menunggu kesempatan melihat Ciaok-koan-im tidak memperhatikan dirinya, secara diam-diam, segera dia menggeremet mundur hendak melolos keluar.

Siapa tahu ciok-koan-im justru seperti benar-benar mempunyai ribuan tangan dan ribuan mata, segala gerak gerik siapapun, jangan harap bisa lepas dari pengawasan matanya yang tajam.

Tanpa berpaling tiba-tiba dia menjengek dingin.

"Apa engkau ingin keluar mengundang bala bantuan ?"

Si Jambang bauk kaget, bentaknya bengis.

"Benar, jangan kau lupa anak buahku ada delapan ratus banyaknya, semuanya sudah gemblengan di medan laga, semuanya adalah laki-laki sejati yang tiada satupun yang takut mati. mengandal tenagamu seorang, jangan harap kau mampu membunuh kita semuanya, cukup asal satu diantara kita ada yang ketinggalan hidup, melihatmu jangan harap bisa terlaksana maka kuperingatkan kepadamu, jangan kau lakukan perbuatan gila-gilaan ini."

Mendadak Ciok-koan im berkata.

"Bagus sekali ucapanmu, anak buah Ca Bok-hap memang kesatria-kesatria gagah yang tidak takut mati, cuma sayang jamuan kemenangan yang kalian adakan sekarang masih terlalu pagi waktunya, para saudara-saudaramu yang gagah perwira itu sekarang sudah sama mabok dan roboh tak sadarkan diri semuanya. Berubah rona muka si Jambang bauk, serunya.

"Memangnya kaupun memberi racun dalam arak mereka ? Memangnya tiada satupun diantara mereka yang sadar?"

"Barusan aku sudah menebarkan racun di hadapanmu, apa kaupun melihat kapan aku turun tangan ?"

Ujar Ciok-koan-im tersenyum manis.

Tiba-tiba Jambang bauk menggembor kalap seperti orang gila, golok diayun segera dia menubruk maju.

Kepandaian silatnya memang belum boleh dipandang sebagai tokoh kelas satu, tapi sudah gemblengan di medan laga kiranya tidak berkelebihan untuk memujinya, terang serangan bacokan goloknya ini amat sederhana tanpa mengandung variasi apa-apa, tidak mengandung tipu-tipu perubahan, cuma dengan seluruh kekuatan dan tumpuan dari semangatnya, besar hasratnya hendak memenggal kepala musuh.

Karena dia cukup insyaf hanya dengan kekuatan diri sendiri hendak melawan Ciok-koan-im, sungguh jauh sekali jaraknya, seumpama telur beradu dengan batu, jikalau serangannya ini gagal, maka tak berguna meneruskan serangannya, malah bukan mustahil jiwa sendiri uang konyol.

Maka dia sudah bertekad mempertaruhkan jiwa raganya dalam serangan dahsyat ini, kalau gagal dia siap berkorban.

Memangnya sudah menjadikan kebiasaan bagi ksatria-ksatria gagah yang hidupnya sudah dipasrah demi kehidupan kemiliteran yang selalu mempertaruhkan jiwa di medan perang, apapun yang dia lakukan, selalu senang beres dan menyeluruh, mati ya mati, tak perlu sampai berbuntut panjang.

Oleh karena itu, bacokan goloknya itu, memang gaya dan permainannya tidak enak dipandang mata tapi pembawaannya sungguh-sungguh mengandung daya kekuatan yang bisa menciutkan nyali orang yang diincarnya.

Tepat pada saat goloknya terayun ditengah udara, Pipok-kongcupun membarengi bergerak laksana burung walet enteng dan cepatnya badannya melesat terbang menubruk ke arah Ciok-koan-im pula.

Selama ini diapun bungkam saja, karena diam-diam dia sudah mempersiapkan diri untuk bertindak, maka begitu dia menggertakkan badannya tahu-tahu, tangannya sudah menggenggam sebilah badik yang putih kemilau laksana perak.

Tampak dimana sinar perak itu berkelebat, laksana bintik bintang beterbangan ditengah angkasa, sekali turun tangan beruntun tiga jurus serangan dia lontarkan, masing-masing mengincar tiga Hiat-to besar dipunggung Ciok-koan-im.

Cara turun tangannya justru berlawanan dengan di Jambang bauk, lincah dan gesit tapi kekuatannya tidak mantap dan sedahsyat itu, dan lagi setiap jurus tipunya mengandung perubahan yang susul menyusul, sekali tidak kena perubahan serangan yang segera memberondong datang pula.

Kalau dinilai secara keseluruhannya, meskipun jurus permainannya ini sangat bagus dan menakjubkan, tapi bila sungguh-sungguh berhadapan dengan tokoh tangguh, hakekatnya tak membawa manfaat besar yang benar-benar berarti.

Akan tetapi, Pipop Kongcu dan si Jambang bauk punya permusuhan dan tujuan yang sama untuk mengganyang musuh mesti kepandaian silat mereka berlainan biasanya tiada pengalaman bersama mengeroyok musuh namun keduanya seakan akan seia sekata, oleh karena itu meski kepandaian mereka yang satu lemah dan yang lain keras, namun tanpa disadari mereka bisa bekerja sama dengan baik dan kebetulan.

Tampak titik perak laksana hujan deras memenuhi angkasa, selarik lembayung berkelebatan melintang, satu di depan yang lain di belakang bersama sama menungkup ke arah Ciok-koan-im.

Ciok-koan-im ternyata mandah berdiri di tempatnya sambil menggendong tangan tanpa bergeming.

Dalam kilasan kilat nan pendek itu sanubari Pipop-kongcu dan si Jambang bauk sama dilintasi perasaan kegirangan yang luar biasa disaat saat biasa golok dan badik mereka hampir mengenai sasaran itulah sekonyong-konyong suatu hardikan keras bagai guntur menggelegar, tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah menerjang maju.

Gerakan Oh Ti-hoa laksana anak panah cepatnya, bergerak belakangan tapi mencapai tujuan lebih dulu.

Waktu si Jambang bauk turun tangan, masih belum menunjukkan gerakan apa-apa, tapi belum golok si Jambang bauk terayun turun, Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berada disamping Jambang bauk dimana kepalan tangan kirinya menjotos, kontan di Jambang bauk dihantamnya mencelat terbang, berbareng tangan kanannya tertekuk dan memuntir, seperti membagi cahaya menangkap bayangan, pergelangan tangan Pipop Kongcu tahu-tahu sudah terjepit oleh jari jarinya seketika seluruk dengan separo badannya, terasa linu dan kemeng.

Kui Je ong menjerit kaget, serunya.

"Oh Kongcu, kenapa kau malah memberontak juga ?"

Pipop Kongcupun menjerit gusar.

"Kau sudah gila ya ?"

Oh Thi-hoa tidak menjawab, ketika ia tarik Pipo Kongcu mundur tujuh delapan langkah baru berdiri tegak pula, ternyata Ciok-koan-im masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, mukanya berseri tawa lebar.

Sebelah tangan Pipop Kongcu masih dapat bergerak, kontan dia ayun tangannya, menggampar muka Oh Thi-hoa, tak nyana baru saja tangannya bergerak tahu-tahu tangannya yang satu inipun tahu tahu tertelikung ke belakang.

Jurusan yang mengenai jambang bauk cukup berat, baru sekarang dia pelan pelan merangkak bangun, serunya dengan murka.

"Apa kau bukan teman baik Siao ongya kita ? Kenapa kau pukul aku malah !"

Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir.

"Sebetulnya aku tidak berniat memukul kau, menyakiti kau, tapi barusan waktu sudah terlalu mepet kuatir kehilangan kesempatan lagi sehingga tanganku kurang terkontrol sehingga jotosanku terlalu berat. Maaf !"

Pipop kongcu membanting kaki, serunya meronta-ronta.

"Kenapa Kau turun tangan kepada kami malah ? Memangnya kau komplotannya ? Atau kau ini melihat gelagat tidak menguntungkan, hendak menyerah dan menjadi kaki tangannya?"

Karena tangan tak bisa bergerak, segera dia menggerakkan kedua kakinya, sambil menendang kembali, mulutnya mengumpat caci.

"Kau binatang, sungguh tak nyana kau serendah dan sehina ini !"

Ciok-koan-im mendadak tertawa, ujarnya.

"Kau menolong mereka malah dicaci maki, buat aoa kau petingkah lagi ?"

Pipop kongcu beringas, dampratnya.

"Kau lah yang ditolong olehnya, bukan aku, kalau dia tidak petingkah, sekarang jiwamu sudah ajal ?"

"Kau kira dengan kedua jurus serangan kalian tadi lantas hendak mencabut jiwaku ?"

Jengek Ciok-koan-im.

"Kenapa tidak bisa melukai kau ?"

Damprat Pipop kongcu pula, dengan pongah segera dia menambahkan dengan suara lebih keras.

"Jurus kita tadi boleh dikata titik kelemahannya sekujur badanmu justru sudah terancam dalam kurungan serangan kita, akibatnya berkelitpun kau sudah tidak mampu lagi."

Ciok-koan-im lain menghela napas katanya.

"Kau memang tidak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi kenapa tidak kau pikir, bila benar seranganmu tadi hebat dan lihay serta jempolan, kenapa sekali gebrak sekali raih Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berhasil membekuk dan menundukkan kalian?"

Seketika Pipop-kongcu menjublek di tempatnya dengan mata terbelalak dan mulut melongo sungguh mulutnya tak kuasa berdebat lagi.

"Biar kuberi tahu sejujurnya kepadamu,"

Ujar Ciok-koan-im lebih lanjut.

"Jikalau serangan kalian tadi diteruskan, kalian berdua bakal terkapar tak berjiwa lagi, jurus serangan yang kalian anggap rapat dan ketat tiada titik kelemahannya, bahwasanya menunjukkan banyak lobang kelemahannya, sedikit ada tujuh delapan sasaran yang dapat kugunakan untuk balas menyerang kalian sampai mampus."

Tiba-tiba lengan bajunya itu beterbaran bagai gumpalan awan bergulung-gulung mengembang dengan enteng dan lincah, dalam sekejap mata, beruntun berubah tujuh delapan macam gaya dan gerakan, terdengar mulutnya berkata pula tawar.

"Coba lihat, jurus yang kumainkan ini tadi kulancarkan, apa kalian masih bisa hidup?"

Pipop-kongcu mengawasi dengan mendelong, terasa olehnya dari arah mana saja jurus permainan Ciok-koan-im ini dilancarkan, jelas dirinya takkan mungkin bisa melawan atau menandinginya, jikalau Ciok-koan-im mau merenggut jiwanya, sungguh segampang orang merogoh kantong mengambil sesuatu.

Kejap lain rona mukanya sudah pucat pias, keringat dingin bertetes-tetes menghiasi jidatnya.

"Sekarang kau sudah mengerti bukan, jurus serangan yang betul-betul ampuh dan tak terlawan oleh musuh, bukan kalian tidak mampu menggunakannya, malah berani kukatakan melihatpun mereka belum pernah."

Sorot matanya mendadak ke arah Oh Thi-hoa Katanya dingin.

"Kau tolong mereka, memangnya kau hendak turun tangan sendiri melawan aku?"

Oh Thi-hoa mematung ditempatnya, seolah-olah dia tidak mendengar pertanyaan orang bahwasanya diapun terkejut dan melenggong oleh pertunjukan kepandaian lengan baja Ciok-koan-im barusan.

Seolah-olah barusan dia melihat seorang penari jelita yang sedang menarikan selendang panjang dengan gemulai, disaat hati riang dan gembira, diiringi musik nan merdu menarik dengan asyik.

Siapapun dia, melihat tarian yang gemulai indah ini, umpama hati sedang gundah dan merana, seketika hatipun akan riang gembira, maka disaat hatimu ketarik dalam suasana riang gembira itu tanpa sadar jiwanya sudah terenggut konyol.

Cepat sekali otak Oh Thi-hoa bekerja pulang pergi, pikir punya pikir tetap tak tersimpul olehnya dengan perbendaharaan kepandaian silatnya sekarang, dengan jurus apa baru dia kuasa memecahkan serangan lengan baju yang hebat tadi, kalau Ciok-koan-im menggunakan jurus tadi menyerang dirinya, mungkin sendiripun bakal terkapar mampus.

Tidak perlu dia banyak bertanya kepada Ciok-koan-im apakah orang masih mempunyai simpanan jurus yang lebih lihay lainnya, karena bagi seorang tokoh kelas wahid, sekali gebrak dia cukup menentukan mati hidup jiwa seseorang.

Dilihatnya sikap Ki Ping yang masih tetap tenang dan mantap, tapi butiran keringat kecil mulai merembes di ujung hidungnya, terang bahwa diapun sedang mencari daya untuk berusaha memecahkan jurus serangan Ciok-koan-im yang didemontrasikan baru.

Lama suasana hening mencekam perasaan semua hadirin, akhirnya Oh Thi-hoa tak tahan lagi, katanya.

"Ilmu apakah yang barusan kau mainkan?"

"Tidak menjadi soal kuberitahu kepada kau jurus tadi kunamakan laki-laki tak boleh lihat!"

Oh Thi-hoa melengak.

"Laki-laki tidak boleh lihat? Ilmu silat apakah itu?"

"Sebetulnya bukan termasuk ilmu silat lihay tapi siapapun asal dia seorang laki-laki setiap kali berhadapan dengan jurus ini, dia pasti mengantar jiwa, oleh karena itu, oleh karena itu laki-laki sekali-sekali dilarang melihatnya."

Berkerut alis Oh Thi-hoa, tanyanya.

"Ilmu silat dari golongan atau dari perguruan manakah itu?"

"Dikolong langit ini golongan atau perguruan silat mana yang mampu menciptakan jurus silat seperti itu? Umpama kata dua aliran perguruan silat yang paling ternama sekarang kepandaian silat Siau lim pay terlalu kental terlalu goblok, seperti semangkok besar lima macam daging panggang, mesti penuh dan cukup mengencangkan perut, tapi paling-paling hanya bisa memuaskan kaum kuli dan serdadu rendahan belaka bagi seseorang yang benar-benar tahu menikmati masakan lezat, sekali-kali dia tidak sudi memakan hidangan serba minyak, sampai di sini dia tertawa geli, lalu melanjutkan.

"Ilmu silat Bu tong pay sebaiknya malah terlalu tawar, seumpama sepiring masakan sayur hijau campur tahu yang lupa dibumbui garam, kelihatannya warnanya memang enak dan indah, tapi setelah kau gares, selanjutnya pasti tidak akan menambah selera makan orang, benar tidak?"

Betapa tinggi dan hebat kepandaian silat dari aliran Siau lim pay dan Bu tong pay yang dipandang sebagai puncak persilatan oleh seluruh kaum Kang ouw, tapi didalam pandangan Ciok-koan-im ternyata sedemikian rendah dan tak berharga sepeserpun, sungguh komentar yang terlalu pongah dan takabur kelewat batas.

Akan tetapi perempuan yang diharapkan memangnya tepat dan serasi, Oh Thi-hoa membayangkan ilmu silat Siau lim pay dan Bu tong pay, lalu membayangkan pula apa yang dikatakan barusan, hampir tak tertahan dia tertawa geli.

Terdengar Ciok-koan-im berkata pula.

"Kalau kepandaian silat mereka sudah begitu jelek kalau tidak mau dikata celaka, namun justru menggunakan nama-nama yang indah dan merdu kedengarannya, dinamakan apa Lik-pit-sam-gak atau membelah gunung, Kiang-liong-hu-hou atau menaklukan naga menundukkan harimau. Bahwasanya dinilai dari apa yang mereka mainkan, seharusnya pantas kalau dinamakan Pit bok cai atau membelah kayu dan Kiang mao hu kau atau menaklukan kucing menundukkan anjing tepatnya. Akan tetapi nama yang kucantumkan dalam jurus ciptaanku ini meski tidak enak didengar, namun betul-betul merupakan barang tulen harga pas, kalau kukatakan laki-laki tidak boleh lihat, maka setiap laki-laki jangan harap bisa melihatnya."

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya.

"Kalau demikian, jadi jurus tadi adalah hasil ciptaanmu sendiri?"

"Untuk menciptakan jurus permainan seperti ciptaanku tadi, bukan saja harus benar-benar hapal dan menyelami seluk beluk ilmu silat dari seluruh aliran silat yang ada di kolong langit ini, lebih penting pula harus mengetahui dimana titik kelemahan seseorang laki-laki, maka jurus silat seperti itu, kecuali aku siapa pula yang mampu menciptakannya?"

Lama pula Oh Thi-hoa menjublek pula, katanya dengan tertawa getir kemudian.

"Benar kenyataan memang kau amat mendalami dan cukup mendalam menyelidiki jiwa laki-laki."

"Sekarang kalian masih tetap berani turun tangan melawan aku?"

Tanpa janji Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa berbareng menghela napas, berbareng menjawab.

"Tidak berani lagi."

Begitu mendengar jawaban "Tidak berani lagi!"

Dari mulut Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan seketika pucat pias Kui je ong, badik ditangan Pipop-kongcupun jatuh.

Siapa nyana justru pada saat itu pula.

Tanpa berjanji namun Oh Thi-hoa dengan Ki Ping-yan tahu-tahu melejit secepat anak panah, gerakan kudanya begitu serasi dan seperti sudah direncanakan bersama, bukan saja bicara bersama, gerakan merekapun dimulai dalam waktu yang sama pula.

Sudah tentu jauh berbeda gerakan Ki-ping yan dan Oh Thi-hoa yang menyerang serempak ini dibanding dengan serangan si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu tadi.

Waktu si Jambang Bauk dan Pipop kongcu menyerang tadi udara seolah-olah disinari cahaya perak, yang berkung kunang, perbawanya kelihatannya amat dahsyat, tapi berbeda pula waktu Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan turun tangan ini, orang lain tidak melihat sesuatu yang ganjil, menyolok mata atau menakjubkan.

Cuma terlihat dalam gerakan bayangan orang yang bergerak secepat kilat itu, beruntun kedua orang sudah sama-sama melontarkan tiga jurus serangan, tentang bagaimana dan cara apa mereka menyerang, hakekatnya tiada orang yang melihat dengan jelas, namun paling tidak dalam tiga jurus permulaan ini, orang-orang diluar gelanggang sama-sama masih melihat gerakan bayangan mereka, tapi tiga jurus kemudian, jangan kata bayangan mereka sampaipun yang mana Oh Thi-hoa dan siapa Ki Ping-yan orang sudah tidak bisa membedakan lagi.

Terasa dalam kemah mendadak seperti terbit angin badai yang meniup kencang laksana angin puyuh, piring mangkok dan cangkir yang berada di atas meja sampai tersapu jatuh berkelontangan, pakaian Pipop kongcu, Kui-je-ong dan si Jambang Bauk melambai berkibar bersuara seperti dihembus angin lalu.

Pucat pasi selembar muka Kui-je-ong, seolah-olah sembarang waktu bisa jatuh semaput, lekas Pipop-kongcu memapah ayah bagindanya yang terhuyang mundur, tapi tangannya sendiripun gemetar keras.

Sementara dengan kencang si Jambang Bauk pegang goloknya dengan kedua tangan berdiri jauh diambang pintu kemah, meski dia tak bisa melihat apa-apa namun kedua matanya menatap tajam seperti biji mata ikan mas yang melotot hampir mencotot keluar.

Entah berapa kali dia pernah mengadu jiwa dengan musuh selama hidupnya ini, entah berapa banyak sudah luka-luka yang melekat di atas badannya karena luka-luka bacokan atau tusukan senjata lawan, umpama musuh menghujamkan senjatanya ke dalam badannya, diapun tidak setakut seperti hari ini.

Tapi sekarang dia justru malah lebih tegang dari pada waktu dirinya waktu mengadu jiwa dulu.

Sudah tentu lingkungan kemah ini tidak begitu besar dan luas, ketiga orang yang bergebrak bergerak begitu cepat lagi, namun ketiganya cukup hanya berkutet ditempat itu-itu saja, sampai kursi meja tidak sempat tersentuh oleh mereka.

Tak kurang diam-diam mencelos dan menarik napas panjang si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu dibuatnya, setelah melihat pertarungan sengit ketiga orang ini baru mereka benar-benar sadar dan insaf bahwa kepandaian silat sendiri hakikatnya berbeda laksana langit dan bumi dibandingkan ketiga orang ini.

Jikalau mereka sendiri sekarang yang bergebrak, bukan mustahil meja kursi sudah keterjang sungsang sumbal, kemungkinan dinding kemah disekelilingnyapun sudah berlobang dan sobek dimana mana.

Sekonyong-konyong angin puyuh sirap dan segala sesuatunya menjadi berhenti.

Ternyata tiga orang yang serang menyerang secepat kilat itu tahu-tahu pergi dan berdiri pada posisi mereka semula.

Jari jari Oh Thi-hoa terkepal kencang raut mukanya merah padam, begitu menakutkan tampangnya.

Sebaliknya muka Ki Ping-yan pucat lesi, keduanya sama mendelong mengawasi Ciok koan-im tanpa berkesir.

Sebaliknya tulang ujung mulut Ciok koan-im tetap menyungging senyuman manis, kelihatan masih begitu cantik jelita dan tentram, sampaipun sungguh kepalanya yang diikat tidak kelihatan mawut atau berubah.

Selintas pandang, seolah baru saja mentas dari peraduan, baru saja berdandan hendak keluar menemui tamu, mana ada tanda-tanda baru saja mengadu jiwa dan berkelahi dengan orang.

Tapi ketiganya berdiri mematung tanpa bergeming sedikitpun mulutpun terkancing rapat.

Bukan saja tidak tahu kenapa mendadak berhenti, Pipop kongcu dan lain lainnya tidak tahu kalau Thi Hoa dan Ki Ping-yan tidak bergerak, maka Kui-je-ong, Pipop kongcu dan si Jambang bauk serasa jantung mereka hampir berhenti, merekapun tak berani bergeming.

Beberapa kejap kemudian, tampak sejalur darah mengalir keluar dari ujung mulut Oh Thi-hoa.

Walaupun badannya tegak berdiri di tempatnya seperti tonggak, sebaliknya melihat darah di ujung mulut orang, seketika Pipop-kongcu rasakan kedua belah lututnya lemas dan hampir tak kuat berdiri, karena sekarang dia sudah tahu pikah mana yang telah dikalahkan.

Kekalahan ini boleh dikata merupakan kegagalan total dan tak mungkin ditolong kembali, bukan saja jiwa mereka berenam takkan tertolong.

Beribu berlaksa rakyat Kui-jie bakal tenggelam kehidupan kekejian dan keganasan oleh cengkeraman elmaut yang beracun.

Terdengar Ciok-koan-im menarik napas panjang, katanya.

"kalau kalian sudah tahu bukan tandinganku, kenapa masih ingin jajal dan minta digebuk ?"

Oh Thi-hoa kertak gigi, bentaknya bengis.

"Seorang laki-laki berani berbuat berani tanggung jawab ! Ada kalanya sesuatu jelas memang tak mungkin kita capai, namun kita tetap berusaha akan mencapainya juga."

Maklumlah istilah "Bu Hiap"

Atau pendekar silat selalu mempunyai arti yang berlainan satu sama lain, namun arti daripada masing-masing dari kedua kata-kata itu sendiri jauh sekali bedanya.

Untuk menempuh ke jalan Bu atau silat bukan persoalan yang sukar, cukup asal kaki tangan bertenaga, bisa main berapa jurus Kung Fu, bolehlah dianggap Bu.

Tapi Hiap atau pendekar itu sendiri amat sulit pula pelaksanaannya, didalam praktek sepak terjang seseorang di dalam kehidupan Kang-ouw, memang enteng kedengarannya dan gampang diucapkan kata "berani berbuat, berani bertanggung jawab", namun kalau tidak dilandasi keteguhan hati, keberanian yang luar biasa serta jiwa yang luhur dan bajik, seseorang.

Bersambung ke

Jilid 27

Jilid 26 Tiba tiba dari rombongan besar pihak sana tampil seorang penunggang kuda, kira-kira puluhan tembok di depan perkemahan mereka berhenti dan berseru lantang.

"Rombongan kalian pahlawan-pahlawan dari negeri mana ?, Adakah kalian melihat tiga ekor kuda lari ke jurusan sini?"

Dari pihak sini segera seorang balas membentak.

"Memangnya kalian sendiri dari negeri mana? Kenapa di depan pasukan kita membentuk barisan mengepung kita?"

Orang itu balas membentak.

"Pihak kita adalah pasukan kavaleri dari negeri Kui-jie di bawah pimpinan Bin Ciangkun, orang yang lari itu buronan raja kami, Kalau kalian menyerahkan mereka, tentu mendapat balasan jasa yang besar, kalau sebaliknya menyembunyikan mereka atau melindunginya, sebentar pasukan besar kita bila sampai, jangan menyesal akan hancur luluh seluruhnya". Mendengar sampai di sini Pipop kongcu menjerit keras.

"Celaka, mungkinkah yang mereka kejar itu adalah ayahku?"

Segera ia berlari ke arah kemah sana, teriaknya melengking.

"Ayah.... Hu-ong.... Apakah kau yang datang?"

Dari dalam kemah di sana menerobos keluar seseorang, memang benar dia adalah raja Kui-je.

Sudah tentu Coh Liu-hiang dan lain-lain amat kaget girang melihat orang berada di sini, sebaliknya Kui-je Ong pun berjingkrak kegirangan melihat mereka, serunya sambil tepuk tangan.

"Tak nyana sekalipun berada di sini bagus sekali, bagus sekali"

Pipop kongcu rebah dalam pelukan ayah bagindanya, katanya cekikan senang.

"Tapi bagaimana ayah seorang diri lari ke sini?"

"Nanti saja bicara soal keluarga, sekarang ..."

Pandang Kui-je ong terarah kepada Coh Liu-hiang katanya.

"Siau-ongya ingin bicara ke depan pasukan, apakah kalian sudi mengantar Siau-ong kesana?"

Coh Liu-hiang tersenyum sambil membungkuk badan.

"Cayhe beramai siap berbakti"

Kui-je ong tertawa besar, serunya.

"Bagus, bagus sekali"

Mau tak mau Coh Liu-hiang keheranan menghadapi Kui-je ong yang semulanya tahu foya foya tenggelam dalam minum arak melulu, biasanya badan yang begitu lemah loya dan tambun itu, jauh berbeda dengan keadaan tempo hari, bukan saja semangatnya menyala-nyala, bahkan kulit mukanya merah gagah dan berwibawa, seolah-olah sudah ganti rupa dan bentuk orang lain, tapi diapun maklum dalam keadaan situasi dan saat sekarang bukan saatnya dia banyak mengajukan pertanyaan.

Mereka bertiga ditambah si jambang bauk berempat masing-masing dua orang di kanan kiri Kui-je ong lima kuda tunggangan beranjak keluar tampil ke depan pasukan, busu yang berkeok-keok dengan temberang di depan pasukan itu, seketika kuncup nyalinya, mulutnya seketika terkancing rapat.

Setelah dekat Kui-je ong menatapnya tajam, katanya keren.

"Masih kau kenal dengan rajamu?"

Dulu busu ini adalah anak buah kepercayaannya, kini berhadapan dengan junjungan lama, tak urung hatinya jadi bingung kaget dan menyesal pula, dengan muka merah mulutnya megap-megap "Sudah lama Ongya meninggalkan negeri, Siau jin ..."

Kui-je ong tersenyum ramah, ujarnya.

"Kalian sudah tak percaya kepadaku, tapi aku tetap percaya kepada kalian"

Lebih merah muka busu itu, katanya tertunduk "Siau-jin sebagai alat Negara, hanya tahu patuh menjalankan perintah, jikalau perbuatan kami salah, bukan maksud dan tujuan Siau-jin sendiri"

"Baik, akupun tahu kesulitan kalian, kau Hong-hwa dan Ang Mak-hoa kemari menjawab pertanyaanku"

Busu itu mengiayakan, segera ia tarik kendali membalikkan kuda, terus balik ke dalam pasukannya.

Tak lama kemudian beberapa orang menunggang kuda segera dicangklong mendatangi, yang terdepan adalah Bin ciangkun, Ang siang kong dan Go Kiok-koan bertiga.

Melihat Coh Liu-hiang mendadak muncul ditempat ini, roman muka Go Kiok-koan berubah hebat, sungguh mimpipun dia tidak menduga bahwa Coh Liu-hiang bisa lolos dari cengkeraman tangan iblis Ciok koan im.

Coh Liu-hiang sebaliknya tersenyum-senyum mengawasinya, terang dalam sanubari mereka masing-masing banyak omongan yang perlu dibicarakan, tapi depan dua pasukan yang saling berhadapan tegang ini, bukan tempat dan saatnya bagi mereka mengobrol.

Roman muka Kui-je Ong yang ramah dan bijaksana itu, mendadak berubah kereng berwibawa, katanya dengan lantang dan bera.

"in Hong wa, Ang Hak hoa, biasanya Pun ong(membahasakan dengan diri sendiri) cukup baik terhadapa kalian, kenapa kalian memberontak membuat negeri geger, apakah sepak terjang kalian tidak miirip rampok dan dosa kalian patut dipenggal kepalanya"

Agak merah juga muka Bin ciangkun yang berkulit hitam, sikap Ang Siang ong sebaliknya tetap wajar dan tak berubah, katanya tertawa besar dengan menengadah.

"Kedudukan raja bukan anugerah Tuhan, hanya si arif bijaksana saja yang patut mendudukinya, kami beramai tidak ingin Cuma menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat tuhan, jikalau kau suka menyerah dan pulang bersama kita, mengingat hubungan lama yang baik dulu, bukan saja tak menyakiti jiwamu, kami malah akan bantu kau bermulut-mulut manis di hadapan Baginda Raja yang baru, supaya kau mendapatkan tempat yang layak menghabiskan masa tuamu"

Kui je-ong gusar, dampratnya.

"Matahari takan bersinar dua hari, negeri tiada dua raja, kecuali Pun-ong, siapa pula berani mengagulkan diri sebagai raja dalam negeri kita?"

Ang Siangkong tertawa, timbrungnya.

"Benar, matahari takkan bersinar dua hari, suatu negeri taka nada dua raja, sekarang Baginda raja yang baru sudah menduduki jabatannya, tidak kau segera menyerah dan menghamba kepada beliau bukankah kau ini sicerdik yang kelelep oleh kepintarannya sendiri?"

Mendadak Kui-je Ong bergelak tawa, serunya.

"Baginda Raja yang baru? Tahukah kalian dimana sekarang raja baru kalian berada?"

Berubah juga air muka Ang siangkong, kilas lain dia sudah tertawa tenang pula, katanya.

"Sudah tentu sedang berada di istana menunggu kabar gembira, menunggu kita membekuknya ke hadapannya"

Kui-je Ong bergelak tawa pula, serunya.

"Boleh kalian lihat dulu apa ini?"

Dari tangan si jambak bauk dia menerima sebuah kotak cendana, terus dilempar sekuatnya ke depan.

Lekas Ang Siangkong menangkapnya, begitu dia membuka tutup kotak cendana itu, seketika pucat ngeri air mukanya, seketika kedua tangannya gemetar hebat dan kotak tak kuasa dipegangnya lagi.

"Klotak!"

Jatuh menggelinding ke tanah berpasir.

Dari dalam kotak cendana itu menggelinding sebuah kutungan batok kepala orang, lekas si jambang bauk keprak kudanya ke depan dengan golok panjangnya dia sunduk batok kepala itu dibagian lehernya terus diangkat tinggi ke atas kepala.

Kui-je Ong membentak berwibawa.

"Pemberontak Ang tek san sudah dua hari yang lalu kita bekuk dan hokum mati padanya, batok kepalanya kini berada di sini. Siapa saja yang merasa diancam, sehingga mengekor kepada pemberontak, jikalau sekarang lekas-lekas membuang senjata dan menyerah, dosa-dosanya diperingan tiga tingkat atau diberi kebebasan"

Begitu pengumumannya berkumandang, pasukan pemberontak anak buah Bin ciangkun seketika gempar dan bersama-sama membuang senjata Lekas Go Kiok-kan membentak keras.

"Dia menghasut dan membual belaka untuk meruntuhkan semangat tempur pasukan, jangan kita tertipu melihatnya"

Berputar biji mata Ang siangkong, segera dia berteriak.

"Benar dia meninggalkan istana tanpa menghiraukan penderitaan rakyatnya, menyelamatkan diri saja tidak sempat, masakah punya kekuatan melakukan peristiwa sebesar ini?"

Kui-je ong bersikap tenang dan tetap tertawa besar, serunya.

"Kalian kira pun-ong hanya melarikan diri saja? Ketahuilah secara diam-diam pun ong sejak lama sudah mempersiapkan dan menggerakan lima barisan pasukan besar tiga hari yang lalu, sudah berhasil merebut kembali tahta dan kerajaan"

"Lima barisan pasukan besar apa", jengek Bin ciangkun "kalau kentut memang ada, siapa tak tahu kalau kau memang pandai kentut!"

Si Jambang bauk cemplak kembali ke atas kudanya, berdiri ke atas pelana, segera dia tarik suara sekeras-kerasnya.

"Empat barisan besar dari lima barisan besar pasukan berhasil kami pinjam dari negeri tetangga, sementara barisan pertama adalah pasukan para saudaraku si jambang bauk hijau ini, memangnya kalian tidak percaya?"

Agaknya jambang bauk hijau ini punya nama dan amat disegani di padang pasir, tak sedikit anak buah Bin ciangkun yang tahu akan kebesarannya, tidak sedikit pula yang melihat bahwa batuk kepala itu bukan tiruan pula, maka kembali suasana menjadi rebut dan kacau balau, pasukan Bin ciangkun menjadi ciut nyalinya Bin ciangkun segera membentak beringas.

"Dimana Thi kak kun atau pasukan lapis baja? Lekas bekuk raja lalim ini!"

Suaranya keras dan kereng meski disiplin ketentaraannya amat keras, apa boleh buat, anak buahnya sudah goncang dan tiada satupun yang mendengar perintahnya lagi, kecuali beberapa orang pengawal pribadingya saja yang keprak kuda, tampil ke depan mengacungkan senjata.

Oh Thi-hoa tertawa besar, senyumnya.

"Nah, kini tiba saatnya kita bekerja!"

Ditengah gelak tawanya segera iapun keprak kudanya, menyongsong maju, sekali ia pentang kedua tangannya, tahu-tahu dua orang ia kempit di bawah ketiaknya, dua orang yang lain menjadi kaget dan terus menerjang kawannya sendiri yang teringkus itu, seketika dua orang terjungkal jatuh.

Si Jambang bauk tak mau ketinggalan, lekas ia aun golok maju menyerang.

Tangan kiri menenteng batok kepala raja pemberontak sementara gerakan golok ditangan kakan laksana kilat mneyambar, dua orang musuh menerjang kencang dengan kuda tunggangannya, dimana goloknya berputar, dua batok kepala kontan mencelat tingga keudara.

Bin ciangkun berkoak-koak member perintah, tapi anak buahnya menjadi jeri, dan tercerai berai pula diterjang kesana kemari, melihat gelagat tidak menguntungkan, diam diam, Ang siangkong mundur kebelakang masukan, hendak melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar suara dingin dekat belakangnya.

"Tuan gede ini hendak kemana?"

Dengan mencelos Ang siangkong lekas berpaling, entah kapan tahu Ki Ping Yan sudah berada di depannya, sedang tertawa dingin mengawasinya, dengan suara serak ketakutan Ang siangkong berkata.

"Sukalah Congsu lepaskan aku dulu, jasamu pasti akan kutebus dengan selaksa mas"

Ki Ping-yan menyeringai, jengeknya.

"Harta bendaku sudah terlalu banyak, aku sendiri sudah terlalu bingung cara bagai mana memakainya, kau hendak menyogok selaksa mas lagi, bukankah tambah risau hatiku"

Angsiaong unjuk ketawa dibuat-buat, katanya.

"Kalau congsun merasa kurang, bagaimana kalau kuberi sepuluh laksa mas?"

Mulut bicara mendadak tangannya mencabut sebilah badik yang dipegangnya diulasi berlian terus menusuk di perut. Ki Ping-yan tertawa dingin, ejeknya.

"Menggerakkan mulut kau masih boleh, menggunakan senjata masih terlalu jauh"

Belum habis kata-ktanya, entah dengan cara apa, tahu0tahu badik ditangan Ang siangkong direbutnya, sekali cengkram pula dia jinjing badan Ang siangkong dari punggung kudanya, lalu seperti memutar bandulan dia lempar badan orang sambil berseru.

"Nah sambutlah ini!"

Badan Ang siangkong yang besar tremok itu dilempar ke tengah udara lalu terjun bebas ke arah belakang, beramai ramai anak buak si jambang bauk menangkapnya, terus di telikung dan diikat kencang, digusur masuk ke dalam kemah.

Betapapun Bin ciangkun adalah orang militer yang berpengalaman di medan perang, meskipun keadaan menjadi kacau balau, sedikitpun ia tidak menjadi kacau, lekas ia lolos golok lalu menerjang maju hendak mengadu jiwa, kebetulan Oh Thi-hoa keprak kuda memburu ke arahnya, segera ia angkat golok membacok.

Melirikpun, seolah olah tidak sudi kepadanya, sekali ulur dan tarik secara gampang dia sudah rebut golok panjang orang, berbareng tangan yang lain terayun balik menggampar muka Bin ciangkun berkunang-kunang, kontan terjungkal roboh dari punggung kuda dan jatuh semaput.

Kui-je ong membarengi teriak lantang.

"Pun ong sudah bertahta kembali, siapa buang senjata hidup, yang berani melawan bunuh semuanya, habis perkara"

Seruan ini seketika mendapat samburan sorak sorai dibarengi senjata berkerontongan dijatuhkan, ratusan senjata berbagai jenis memenuhi tanah pasir"

Perlu diketahui anak buah Binciangkun boleh dikata adalah serdadu pilihan yang sudah banyak pengalaman juga dimedan laga, untuk memaksa mereka menyerah apa lagi membuang senjata sebetulnya bukan suatu hal yang mudah, tapi mereka dulu anak buah Kui-je-ong sama juga, meski mereka ikut memberontak lantaran terpaksa karena kedisiplinan kemiliteran, kini setelah maha raja yang mereka junjung bertahta kembali, apalagi pemimpin tertinggi merekapun sudah tertawan, bak ular yang sudah tak berkepala, sudah tentu mereka tak berani nekad adu jiwa.

Cepat sekali keributan inipun sudah dipadamkan, mendadak Oh Thi-hoa berseru keheranan dengan celingukan kian kemari.

"Mana si Ulat busuk? Kenapa tak kelihatan ?"

Padang pasir yang terbentang tenang dan sepi itu, mendadak tampak dua gulungan debu kuning yang membumbung tinggi ke angkasa panjang seperti naga yang sedang mengamuk, dua ekor kuda satu di depan yang lain di belakang sedang dicongklang dengan kencang saling kejar, yang depan adalah Go Kiok-kan yang sedang melarikan diri, yang di belakang dan mengejar tentunya adalah Coh Liu Hiang.

Ternyata melihat gelagat jelek Go Kiok-kan, lantas cari kesempatan untuk melarikan diri, tak kira sejak tadi Coh Liu-hiang memang sudah perhatikan dirinya sertiap gerak-geriknya tak lepas dari pengawasannya, begitu dia angkat langkah seribu, Coh Lui-hiang lantas mengetahuinya.

Begitulah mereka sudah larikan kuda masing0masing sekencang mungkin dengan kecepatan maksimum.

Tapi Coh Liu-hiang tidak menduga dan tidak mempersiapkan diri untuk saling udak begini, maka kuda tunggangannya sembarangan saja dia terima asal untuk tunggangan belaka pula kesempatan tiada waktu untuk dirinya memilih tunggangan, sebaliknya kuda tunggangannya Go Kiok-kan adalah kuda keluaran dunia barat yang jempolan.

Mula-mula mengandal tehnik Coh Liu-hiang menunggang kuda, dia masih mengudak dengan kencang dalam jarak tertentu, tapi lama kelamaan, kekuatan kedua menjadi berbeda, jarakpun diulur semakin berselisih panjang, badannya mencelat tinggi dari punggung kudanya.

Mengandal kepandaian ginkangnya yang tinggi tiada bandingan diseluruh kolong langit dia mengejar dengan tancap gas, sekaligus untuk mengadu kekuatan dengan kuda pilihan tunggangan Go Koik-kan itu.

Tampak gerak bayangan badannya laksana bintang meteor meluncur ditengah angkasa.

kuda tunggangan GO Kiok-kan yang pilihan itu ternyata tidak ungkulan dibandingkan lari kedua kaki Coh Liu-hing, sebentar saja, dia sudah hampir menyandaknya.

Go Kiok-kan segera keprak kudanya semakin kencang, semakin kencang mulutpun berteriak teriak.

"Coh Liu-hiang kau tidak bermusuhan tiada dendam dengan kau, kenapa kau mendesakku begitu rupa ?"

Coh Liu-hiang tek bicara, ia tahu Go Kiok-kan hendak memancing bicara, karena begitu dia buka suara, hawa murni yang terhimpun di pusar seketika akan buyar, dengan sendiri gerakan badannya menjadi kendor dan lamban.

Dengan ketajaman kupingnya meski Go Kiok-kan tak berpaling tapi ia dengar suara lambaian pakaian Coh liu-hiang semakin dekat, jidatnya sudah dibasahi oleh keringat yang berketes-ketes sekonyong-konyong dia melambung tinggi meninggalkan pelana kudanya, ditengah udara bersalto beberapa kali, melampaui Coh Liu-hiang, terus berlari ke arah yang berlawanan dengan luncuran tubuh Coh Liu-hiang.

Sebetulnya sudah dia perhitungkan dengan seksama, saat itu Coh Liu-hiang sedang tancap gas mengejar dengan kecepatan maksimum, terang tak mungkin bisa mengerem luncuran badannya yang melesat bagai anak panah itu, COh Liu-hiang berhasil kendalikan gerakan badannya dan putar balik mengejar dirinya pula, tentu dia sudah berhasil melarikan diri dalam jarak yang cukup jauh.

Diluar perhitungannya bahwa puncak kepandaian enteng tubuh Coh Liu-hiang benar benar sudah tak ada taranya di jagat ini malah jauh lebih tinggi dari apa yang dia bayangkan, belum lagi dia lari tak berapa jauh, kembali didengarnya lambaian pakaian yang mengejar datang dari belakang.

Angin kencang menerjang muka serasa seperti diiris pisau, ternyata mereka berdua berlari melawan angin.

Sekonyong konyong Go Kiok-kan kipatkan sebelah tangannya, maka terdengarlah suara "Blup!"

Suatu ledakan yang cukup nyaring juga, seketika selulung asap tebal berkembang melebar dengan cepat bergulung terhembus angin menyongsong kedatangan Coh Liu-hiang.

Baru sekarang Oh Thi-hoa tahu bahwa Coh Liu-hiang sedang pergi mengajar Go Kiok-kan, jelas pula bahwa intrik atau tugas rahasia si Jambang Bauk yang sedang dia perankan adalah harus melenyapkan atau menumpas kaum pemberontak di negeri Kui-je.

Waktu itu Kui-je-ong sudah membuka suara jamuan makan minum yang meriah untuk merayakan kemenangan yang gilang gemilang ini.

Melihat Oh Thi-hoa seperti tidak tenang atau sedang memikirkan sesuatu, segera dia menegur denga tertawa.

"Buat apa kau kuatir bagi temanmu itu, dalam dunia ini siapa pula yang kuasa menandingi segebrak serangannya ?"

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.

"Justru Cayhe merasa hal hal ini terlalu aneh, biasanya peduli siapa saja yang dia kejar, tentulah dengan mudah dapat dia ringkus kembali tanpa mendapat perlawanan yang berarti, tapi sekarang, dia sudah pergi sekian lamanya."

Kui je-ong tertawa katanya menghibur.

"Pun-ong berani tanggung, dia pasti takkan mengalami apa-apa, jangan kuatir, minumlah dan habiskan arakmu dengan lega hati."

Sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Pipop Kongcu, mendadak dia berbisik kepada Ki Ping yan.

"Apakah bocah itu tidak dipelet dan dipecut oleh tuan puteri yang genit ini maka tanpa pamit terus tinggal pergi ?"

Ki Ping-yan mengerut alis, sahutnya.

"Kau menilai orang lain seperti tampangmu?"

"Hm !"

Oh thi-hoa mendengus.

"Kukira tidak akan meleset, perbuatan apapun berani dia lakukan, lebih baik mari kita keluar mencarinya !"

Mau tidak mau goyah juga keyakinan Ki Ping-yang, katanya berbisik juga.

"Kita membolos keluar terpencar, nanti kita bertemu di luar !"

"Baik, begitu saja kita atur"

Sahut Oh Thi-hoa.

Tiba tiba teringat olehnya bahwa Ki loh-ci sing masih berada di tangannya, Kui-je-ong memandang mestika itu begitu berharga, mana boleh dia bawa benda mestika ini pergi begitu saja.

Apalagi diapun pernah berjanji kepada permaisuri yang cantik jelita itu, untuk menanyakan rahasia yang terkandung didalam mestika ini, Segera ia merogoh keluar Ki-lohci-sing lalu diangsurkan dengan kedua tangannya, katanya tertawa.

"Cayhe beruntung tak mengecewakan harapan Baginda raja, Cayhe berhasil merebut mestika ini pulang, harap Baginda raja suka menerima balik."

Tak Nyana Kui-je-ong cuma tertawa tawa saja katanya.

"Congcu mendirikan pahala terbesar, Siao ong tiada sesuatu barang yang dapat kuhadiahkan kepadamu sebagai tanda kenangan."

Seolah-olah dia sudah melupakan bahwa Ki-loh-ci-sing ini sudah mengorbankan berapa banyak jiwa manusia, betapa besar imbalan yang dipertaruhkan bisa merebutnya kembali, tapi sekarang royal dan sembarangan saja ia hadiahkan mestika ini pada Oh Thi-hoa.

Saking kaget mulut Oh Thi-hoa sampai melongo dan tak bisa bicara, sekian lamanya baru dia tertawa dibuat buat, katanya.

"Jikalau Baginda rasa merasa Cayhe ada sedikit mendirikan jasa asal cukup memberikan beberapa poci arak padaku saja, Ki-toh ci-sing ini sekali kali aku tak berani terima."

"Kenapa?"

Tanya Kui-je ong melengak keran malah. OH Thi-hoa menyengir tawa dengan memencet hidung katanya.

"Anak melarat seperti aku bila membawa bawa mestika yang tak ternilai harganya ini, selanjutnya jangan harap bisa makan kenyang dan tidur nyenyak?"

Kui-je ong tersenyum ujarnya.

"Kalau dua tiga hari yang lalu nilai dari jambrut ini memang tak bisa diukur dengan apapun juga, Pun ong juga tak akan sembarangan menghadiahkannya padamu. Tapi sekarang, nilainya sudah jauh merosot sekali, batu jambrut seperti ini, entah masih berapa banyak dalam gudang istana bolehlah legakan saja hatimu menerimanya."

Seketika Ki Ping-yan dan Pipop-Kongcu pun ikut tertegun mendengar urusan kata kata yang susah dimengerti ini. Oh Thi-hoa membelalakkan mata, tanyanya kebingungan.

"Bukankah batu jambrut ini ada menyangkut suatu rahasia yang besar ?"

"Itu hanya kabar angin yang sengaja disiarkan oleh Pun-ong sendiri, supaya orang lain sama menyengka bahwa batu jamrut ini betul mengandung suatu rahasia besar yang amat ingin diketahui oleh siapapun juga, hanya mengandal muslihat dari benda inilah Pun-ong baru bisa merebut tahta kembali. Diwaktu mereka tumplek seluruh perhatiannya untuk memperebutkan batu jambrut ini, Pun-ong sebaliknya secara diam diam sudah menggunakan harta peninggalan ayah Baginda yang diwariskan kepadaku, dan membeli lima barisan pasukan besar, tanpa diketahui oleh malaikat dan tidak dilihat oleh setan, tahu-tahu dengan gemilang aku berhasil merebut tahtaku kembali dari tangan kaum pemberontak"

Sebentar dia berhenti dengan mengelus jenggotnya, lalu menambahkan.

"Inilah yang dinamakan tipu bersuara di timur menggempur di barat."

Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa sama beradu pandang, bukan saja kaget, dan heran, merekapun amat kagum dan tunduk lahir batin akan kepintaran dan kecerdikan sang raja.

Semula mereka mengira raja tambun yang suka air kata-kata dan senang main perempuan ini, tak lebih hanyalah lelaki brutal dari suatu kerajaan asing yang terpencil saja.

Baru sekarang mereka tahu bahwa kepintaran dan kelihayannya, ternyata tidak lebih asor dari raja-raja dari dinasti yang sudah almarhum dulu.

Sengaja dia membentuk diri didalam pelukan perempuan-perempuan cantik, sudah tentu perbuatannya ini hanya memancing dan mengelabui mata kuping orang lain belaka.

Entah berapa lama kemudian baru Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir.

"Tak heran selama ini Coh Liu-hiang selalu merasa keheranan, kalau toh Ki-loh-ci-sing ini menyangkut rahasia tahta kerajaan Kui-je, kenapa malah diberikan kepada para piausu dari Tionggoan untuk melindungi, dari dalam perbatasan diantara keluar perbatasan? Jikalau dia hadir disini dan mendengar uraian Sri Baginda, tentulah dia teramat kagum dan memuji Baginda."

Sementara Pipop-kongcu malah bersungut-sungut, tanyanya aleman.

"Tapi ayah kenapa kaupun mengelabui aku ? Masakah seorang ayah juga harus main rahasia atau tidan mempercayai putrinya sendiri ?"

"BUkan aku tidak percaya kepada putri mesti aku ini."

Ujar Kui-je-ong.

"Soalnya bila rahasia ini kerahasiakan dengan ketat, orang lain pasti akan berusaha mencari bocoran dengan berbagai daya upaya, asal sehari aku tak membocorkan rahasia ini, sehari nyawaku akan lebih panjang hidupnya dan orang-orang yang betul betul mengincar mestika ini dan hendak mengorek keterangannya mengenai rahasia ini, tentu dia berusaha pula melindungi jiwaku secara pelan-pelan."

Pipop kongcu menghela napas, ujarnya.

"Agaknya seorang gadis bila dia menjadi putri seorang raja, ternyata bukan suatu yang harus dibuat girang dan membahagiakan hidupnya, tak heran tuan putri dari dinasti yang terdahulu sebelum ajal dia menangis berkeluh kesah menutupi dukanya katanya.

"Semoga selama hidupnya kelak dalam penitisan yang akan datang dirinya tidak dilahirkan dalam keluarga kerajaan."

Tak tertahan Kui-je-ong pun menghela napas, ujarnya.

"Benar, seseorang bila ingin menjadi Baginda raja yang baik, maka belum tentu dia bisa menjadi ayah yang baik."

Apa yang dia ucapkan ini memang benar dan kenyataan, maklumlah seorang raja harus selalu ribut mementingkan urusan negara, mana ada waktu senggang untuk menunaikan tugas dirinya sebagai ayah bunda dari anak anaknya yang baik.

Oleh karena itu didalam gubuk liar, sering dilahirkan putra-putra bangsa yang berbakti.

Sebaliknya didalam keluarga kerajaan sering melahirkan putra-putra yang durhaka.

Mendadak Ki Ping-yan menjengek dingin.

"Ongya ternyata memang jenius dan berpambek besar, jarang orang yang bisa menandingi, cuma harus dibuat sayang dan kasih para Piausu yang mati secara konyol itu, demi terima bayaran beberapa keping yang perak berarti harus mengorbankan jiwa dan raga di padang pasir tanpa mendapat liang kubur yang layak."

Sikap KU-je ong berubah prihatin, katanya tawar.

"Politik negara, memangnya adalah sesuatu yang amat menakutkan. Bagi seorang panglima besar yang sukses besar, tulang tulang manusiapun bakal bertumpuk laksana gunung, apalagi bagi seorang raja dari suatu negara? Memangnya sejak dahulu kala, merupakan tragedi yang tak mungkin dielakkan. Umpamanya cikal bakal dinasti Song merekapun tak terhindar dari perbuatan tercela karena dipaksa oleh keadaan kenapa pula tuan tumplekan kesalahn ini kepada Pan-ong saja ?"

Ki Ping-yan tertunduk dan menepekur sesaat lamanya, katanya kemudian.

"Ya, Cayhe yang kelepasan omong, harap Ongya maafkan kesalahan ini."

OH Thi-hoa ulurkan lehernya, terus menuang sepoci arak sedalam mulutnya, tumben bergelak tawa, serunya.

"Oleh karena itu, kunasehati kepada hadirin, cepatlah habiskan saja arakmu, tak usah banyak melibatkan diri mengenai segala tetek bengek ini, sejak dahulu kala betapa keluarga kerajaan tidak kesepian, memangnya bisa lebih unggul dari aku anak rudin yang senang dan hidup bahagia dan bebas ini."

Sekonyong-konyong seseorang menanggapi dengan tertawa merdu.

"Betul, minumlah arak dalam cangkirmu, jangan urusi segala tetek bengek. Tapi betapapun licik dan licinnya akhirnya mampus juga anjing menjadi daging panggang, burung terbangpun terjaring seluruhnya, busur sakti tersembunyi lagi, apakah kau belum pernah mendengar kata-kata ini ?"

Bau harum seketika merangsang hidung setiap hadirin, sehingga semua orang merasa pikiran melayang dan seperti hampir mabuk, entah kapan tahu-tahu juwita yang tiada bandingannya kecantikannya, di bawah penerangan api yang kelap kelip benderang ini kelihatan seolah-olah bak bidadari turun dari khayangan.

Siapapun takkan menduga sang juwita uang rupawan dan molek di bawah penerangan api obor laksana bidadari ini ternyata tak lain tak bukan adalah permaisuri Kui-ji yang selalu dikatakan berpenyakitan dan berbadan lemah selalu di pembaringan.

Tampak mukanya tetap mengenakan cadar dari kain sari yang halus, bentuk mukanya yang cantik jelita laksana bayangan didalam asap, seperti kembang mawar didalam kabut, begitu cantik dam moleknya sampai siapa saja yang memandangnya pasti menahan napas.

Sungguh girang dan kejut pula Kui je-ong dibuatnya, sampai dia lupa bahwa sang permaisuri yang biasa berpenyakitan, entah cara bagaimana secara tiba-tiba bisa muncul di sini dengan gerakan badan nan aneh dan begitu menakjubkan, bergegas dia bangkit dan menyongsong maju sambil menyapa.

"Kenapa kau datang kemari ?"

Permaisuri Kui-je tertawa, sahutnya.

"Aku sudah datang, apa kau kurang senang?"

"Tapi... badanmu terlalu lemah, masakan kau kuat menahan panas dan dingin yang begitu menyiksa di perjalanan nan jauh ini ?"

Tiba-tiba Ki Ping-yan menyela pula dengan suara dingin.

"Jangan kata hanya cuaca buruk andaikan hujan golok angin panah juga tidak terpandang dalam mata permaisuri bukan ?"

"Y, benar!"

Sahut permaisuri Kui-je tertawa. Berkilat sorot mata Ki Ping-yan, katanya pula.

"Burung habis masuk disembunyikan kelinci mampus anjing dipanggang, memangnya permaisuri hendak membunuh kita semuanya ?"

Kui-je-ong bergelak tawa ujarnya.

"Pun-ong sekali kali tiada maksud ini kalian jangan kuatir dan banyak curiga."

Permaisuri justru mengejek dingin.

"Kau memang tiada maksud itu, sebaliknya kau yakin dapat melaksanakan."

"Kau..."

Baru sekarang Kui je-ong benar-benar tertegun.

Pelan-pelan permaisuri tinggalkan cadar mukanya, maka terlihatlah sepasang matanya nan bening tajam laksana air, dengan nanar dia tatap Kui-je-ong, katanya.

"Kau kenal tidak padaku, karena setiap orang yang mengenalku, jiwanya sudah menghadap kepada raja akhirat, sudah tentu dia tidak akan bisa hidup lagi."

Suasana hangat dalam kemah ini, seketika seperti digulung angin badai yang dingin dan membekuknya darah, kaki tangan setiap hadirin menjadi gemetar dingin dan berkeringat.

Karena saat mana, dalam benak setiap orang lapat-lapat sudah menebak, siapa perempuan yang tengah mereka hadapi ini.

"Ciok koan-im! Kau adalah Ciok-koan-im !"

Tapi tiada seorangpun yang berani membuka mulut. Kui-je ong melosot duduk di atas kursinya, katanya dengan tertawa sedih.

"Akupun tidak perduli kau siapa, tapi permaisuriku... masakah kau sudah membunuhnya ?"

Suara Ciok-koan-im semakin merdu halus.

"Kaupun tak perlu bersedih, meskipun dia sudah meninggal, tapi aku masih hidup, aku tidak sebanding dia ? Memangnya kau tidak puas ?"

"Kau ?"

Kui-je ong berjingkat kaget.

"Kalau toh aku sudah mewakili dia, maka selamanya aku tetap dalam kedudukanku seperti sekarang ini. Mengawasi badan yang ramping semampai dan montok berisi ini, lama kelamaan mata Kui-je ong mendelong memudar. Mendadak Ki Ping-yan tertawa dingin, katanya.

"Tidak salah, akupun tahu kau selamanya akan mewakilinya!"

"Kau... kau tahu ?"

Teriak Kui-je-ong pula. Kata Ki Ping-yan.

"Baginda tak punya anak cuma seorang putri, jikalau Baginda dan tuan putri mengalami sesuatu, sebaliknya dalam negeri tak boleh sehari tanpa ada yang memerintah, sudah tentu memilih junjungan yang baru, demi memperebutkan kedudukan agung ini, semua orang betapa sudah berusaha dan berjerih payah memeras keringat, tapi tanpa mengeluarkan sedikit tenaga, ia sudah berhasil merebutnya, harus dibuat kasihan Ang-Hak-han, An Teksan orang-orang dogol itu sia-sia saja mereka dijadikan alat bonekanya, setelah mampus mereka bakal jadi setan penasaran"

Dengan dingin Ciok-koan-im tatap Ki Ping-yan dengan nanar, setelah kata-kata orang selesai, baru dia unjuk senyuman mekar, katanya.

"Tak nyana begitu tepat kau bisa mengorek isi hatiku, agaknya selama ini aku terlalu pandang rendah dirimu."

"Kau hendak bunuh aku?"

Suara Kui-je-ong mulai ngeri.

Ciok-koan-im tersenyum, ujarnya.

Sejak dahulu kala seorang raja mempunyai tradisi cara kematiannya sendiri, akupun tidak akan melanggar undang-undang ini cukup asal kau minum arak dalam cangkir di depanmu itu, selanjutnya kau tidak perlu merisaukan segala persoalan dalam dunia ini."

"Kau... kau sudah menaruh racun di dalam arak cangkirku ini ?"

"Tidak terlalu banyak, tapi lebih dari cukup untuk kalian ayah beranak."

Mengawasi arak dalam cangkir di depan mejanya ini, mata Kui-je-ong mendelik, keringat dingin gemerobyos membasahi kepala dan mukanya.

Si Jambang bauk malam ini juga hadir dalam perjamuan minum arak dalam kemah ini selama ini dia tidak pernah buka suara, cuma dia selalu pasang mata menunggu kesempatan melihat Ciaok-koan-im tidak memperhatikan dirinya, secara diam-diam, segera dia menggeremet mundur hendak melolos keluar.

Siapa tahu ciok-koan-im justru seperti benar-benar mempunyai ribuan tangan dan ribuan mata, segala gerak gerik siapapun, jangan harap bisa lepas dari pengawasan matanya yang tajam.

Tanpa berpaling tiba-tiba dia menjengek dingin.

"Apa engkau ingin keluar mengundang bala bantuan ?"

Si Jambang bauk kaget, bentaknya bengis.

"Benar, jangan kau lupa anak buahku ada delapan ratus banyaknya, semuanya sudah gemblengan di medan laga, semuanya adalah laki-laki sejati yang tiada satupun yang takut mati. mengandal tenagamu seorang, jangan harap kau mampu membunuh kita semuanya, cukup asal satu diantara kita ada yang ketinggalan hidup, melihatmu jangan harap bisa terlaksana maka kuperingatkan kepadamu, jangan kau lakukan perbuatan gila-gilaan ini."

Mendadak Ciok-koan im berkata.

"Bagus sekali ucapanmu, anak buah Ca Bok-hap memang kesatria-kesatria gagah yang tidak takut mati, cuma sayang jamuan kemenangan yang kalian adakan sekarang masih terlalu pagi waktunya, para saudara-saudaramu yang gagah perwira itu sekarang sudah sama mabok dan roboh tak sadarkan diri semuanya. Berubah rona muka si Jambang bauk, serunya.

"Memangnya kaupun memberi racun dalam arak mereka ? Memangnya tiada satupun diantara mereka yang sadar?"

"Barusan aku sudah menebarkan racun di hadapanmu, apa kaupun melihat kapan aku turun tangan ?"

Ujar Ciok-koan-im tersenyum manis.

Tiba-tiba Jambang bauk menggembor kalap seperti orang gila, golok diayun segera dia menubruk maju.

Kepandaian silatnya memang belum boleh dipandang sebagai tokoh kelas satu, tapi sudah gemblengan di medan laga kiranya tidak berkelebihan untuk memujinya, terang serangan bacokan goloknya ini amat sederhana tanpa mengandung variasi apa-apa, tidak mengandung tipu-tipu perubahan, cuma dengan seluruh kekuatan dan tumpuan dari semangatnya, besar hasratnya hendak memenggal kepala musuh.

Karena dia cukup insyaf hanya dengan kekuatan diri sendiri hendak melawan Ciok-koan-im, sungguh jauh sekali jaraknya, seumpama telur beradu dengan batu, jikalau serangannya ini gagal, maka tak berguna meneruskan serangannya, malah bukan mustahil jiwa sendiri uang konyol.

Maka dia sudah bertekad mempertaruhkan jiwa raganya dalam serangan dahsyat ini, kalau gagal dia siap berkorban.

Memangnya sudah menjadikan kebiasaan bagi ksatria-ksatria gagah yang hidupnya sudah dipasrah demi kehidupan kemiliteran yang selalu mempertaruhkan jiwa di medan perang, apapun yang dia lakukan, selalu senang beres dan menyeluruh, mati ya mati, tak perlu sampai berbuntut panjang.

Oleh karena itu, bacokan goloknya itu, memang gaya dan permainannya tidak enak dipandang mata tapi pembawaannya sungguh-sungguh mengandung daya kekuatan yang bisa menciutkan nyali orang yang diincarnya.

Tepat pada saat goloknya terayun ditengah udara, Pipok-kongcupun membarengi bergerak laksana burung walet enteng dan cepatnya badannya melesat terbang menubruk ke arah Ciok-koan-im pula.

Selama ini diapun bungkam saja, karena diam-diam dia sudah mempersiapkan diri untuk bertindak, maka begitu dia menggertakkan badannya tahu-tahu, tangannya sudah menggenggam sebilah badik yang putih kemilau laksana perak.

Tampak dimana sinar perak itu berkelebat, laksana bintik bintang beterbangan ditengah angkasa, sekali turun tangan beruntun tiga jurus serangan dia lontarkan, masing-masing mengincar tiga Hiat-to besar dipunggung Ciok-koan-im.

Cara turun tangannya justru berlawanan dengan di Jambang bauk, lincah dan gesit tapi kekuatannya tidak mantap dan sedahsyat itu, dan lagi setiap jurus tipunya mengandung perubahan yang susul menyusul, sekali tidak kena perubahan serangan yang segera memberondong datang pula.

Kalau dinilai secara keseluruhannya, meskipun jurus permainannya ini sangat bagus dan menakjubkan, tapi bila sungguh-sungguh berhadapan dengan tokoh tangguh, hakekatnya tak membawa manfaat besar yang benar-benar berarti.

Akan tetapi, Pipop Kongcu dan si Jambang bauk punya permusuhan dan tujuan yang sama untuk mengganyang musuh mesti kepandaian silat mereka berlainan biasanya tiada pengalaman bersama mengeroyok musuh namun keduanya seakan akan seia sekata, oleh karena itu meski kepandaian mereka yang satu lemah dan yang lain keras, namun tanpa disadari mereka bisa bekerja sama dengan baik dan kebetulan.

Tampak titik perak laksana hujan deras memenuhi angkasa, selarik lembayung berkelebatan melintang, satu di depan yang lain di belakang bersama sama menungkup ke arah Ciok-koan-im.

Ciok-koan-im ternyata mandah berdiri di tempatnya sambil menggendong tangan tanpa bergeming.

Dalam kilasan kilat nan pendek itu sanubari Pipop-kongcu dan si Jambang bauk sama dilintasi perasaan kegirangan yang luar biasa disaat saat biasa golok dan badik mereka hampir mengenai sasaran itulah sekonyong-konyong suatu hardikan keras bagai guntur menggelegar, tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah menerjang maju.

Gerakan Oh Ti-hoa laksana anak panah cepatnya, bergerak belakangan tapi mencapai tujuan lebih dulu.

Waktu si Jambang bauk turun tangan, masih belum menunjukkan gerakan apa-apa, tapi belum golok si Jambang bauk terayun turun, Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berada disamping Jambang bauk dimana kepalan tangan kirinya menjotos, kontan di Jambang bauk dihantamnya mencelat terbang, berbareng tangan kanannya tertekuk dan memuntir, seperti membagi cahaya menangkap bayangan, pergelangan tangan Pipop Kongcu tahu-tahu sudah terjepit oleh jari jarinya seketika seluruk dengan separo badannya, terasa linu dan kemeng.

Kui Je ong menjerit kaget, serunya.

"Oh Kongcu, kenapa kau malah memberontak juga ?"

Pipop Kongcupun menjerit gusar.

"Kau sudah gila ya ?"

Oh Thi-hoa tidak menjawab, ketika ia tarik Pipo Kongcu mundur tujuh delapan langkah baru berdiri tegak pula, ternyata Ciok-koan-im masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, mukanya berseri tawa lebar.

Sebelah tangan Pipop Kongcu masih dapat bergerak, kontan dia ayun tangannya, menggampar muka Oh Thi-hoa, tak nyana baru saja tangannya bergerak tahu-tahu tangannya yang satu inipun tahu tahu tertelikung ke belakang.

Jurusan yang mengenai jambang bauk cukup berat, baru sekarang dia pelan pelan merangkak bangun, serunya dengan murka.

"Apa kau bukan teman baik Siao ongya kita ? Kenapa kau pukul aku malah !"

Oh Thi-hoa menghela napas katanya tertawa getir.

"Sebetulnya aku tidak berniat memukul kau, menyakiti kau, tapi barusan waktu sudah terlalu mepet kuatir kehilangan kesempatan lagi sehingga tanganku kurang terkontrol sehingga jotosanku terlalu berat. Maaf !"

Pipop kongcu membanting kaki, serunya meronta-ronta.

"Kenapa Kau turun tangan kepada kami malah ? Memangnya kau komplotannya ? Atau kau ini melihat gelagat tidak menguntungkan, hendak menyerah dan menjadi kaki tangannya?"

Karena tangan tak bisa bergerak, segera dia menggerakkan kedua kakinya, sambil menendang kembali, mulutnya mengumpat caci.

"Kau binatang, sungguh tak nyana kau serendah dan sehina ini !"

Ciok-koan-im mendadak tertawa, ujarnya.

"Kau menolong mereka malah dicaci maki, buat aoa kau petingkah lagi ?"

Pipop kongcu beringas, dampratnya.

"Kau lah yang ditolong olehnya, bukan aku, kalau dia tidak petingkah, sekarang jiwamu sudah ajal ?"

"Kau kira dengan kedua jurus serangan kalian tadi lantas hendak mencabut jiwaku ?"

Jengek Ciok-koan-im.

"Kenapa tidak bisa melukai kau ?"

Damprat Pipop kongcu pula, dengan pongah segera dia menambahkan dengan suara lebih keras.

"Jurus kita tadi boleh dikata titik kelemahannya sekujur badanmu justru sudah terancam dalam kurungan serangan kita, akibatnya berkelitpun kau sudah tidak mampu lagi."

Ciok-koan-im lain menghela napas katanya.

"Kau memang tidak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi kenapa tidak kau pikir, bila benar seranganmu tadi hebat dan lihay serta jempolan, kenapa sekali gebrak sekali raih Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah berhasil membekuk dan menundukkan kalian?"

Seketika Pipop-kongcu menjublek di tempatnya dengan mata terbelalak dan mulut melongo sungguh mulutnya tak kuasa berdebat lagi.

"Biar kuberi tahu sejujurnya kepadamu,"

Ujar Ciok-koan-im lebih lanjut.

"Jikalau serangan kalian tadi diteruskan, kalian berdua bakal terkapar tak berjiwa lagi, jurus serangan yang kalian anggap rapat dan ketat tiada titik kelemahannya, bahwasanya menunjukkan banyak lobang kelemahannya, sedikit ada tujuh delapan sasaran yang dapat kugunakan untuk balas menyerang kalian sampai mampus."

Tiba-tiba lengan bajunya itu beterbaran bagai gumpalan awan bergulung-gulung mengembang dengan enteng dan lincah, dalam sekejap mata, beruntun berubah tujuh delapan macam gaya dan gerakan, terdengar mulutnya berkata pula tawar.

"Coba lihat, jurus yang kumainkan ini tadi kulancarkan, apa kalian masih bisa hidup?"

Pipop-kongcu mengawasi dengan mendelong, terasa olehnya dari arah mana saja jurus permainan Ciok-koan-im ini dilancarkan, jelas dirinya takkan mungkin bisa melawan atau menandinginya, jikalau Ciok-koan-im mau merenggut jiwanya, sungguh segampang orang merogoh kantong mengambil sesuatu.

Kejap lain rona mukanya sudah pucat pias, keringat dingin bertetes-tetes menghiasi jidatnya.

"Sekarang kau sudah mengerti bukan, jurus serangan yang betul-betul ampuh dan tak terlawan oleh musuh, bukan kalian tidak mampu menggunakannya, malah berani kukatakan melihatpun mereka belum pernah."

Sorot matanya mendadak ke arah Oh Thi-hoa Katanya dingin.

"Kau tolong mereka, memangnya kau hendak turun tangan sendiri melawan aku?"

Oh Thi-hoa mematung ditempatnya, seolah-olah dia tidak mendengar pertanyaan orang bahwasanya diapun terkejut dan melenggong oleh pertunjukan kepandaian lengan baja Ciok-koan-im barusan.

Seolah-olah barusan dia melihat seorang penari jelita yang sedang menarikan selendang panjang dengan gemulai, disaat hati riang dan gembira, diiringi musik nan merdu menarik dengan asyik.

Siapapun dia, melihat tarian yang gemulai indah ini, umpama hati sedang gundah dan merana, seketika hatipun akan riang gembira, maka disaat hatimu ketarik dalam suasana riang gembira itu tanpa sadar jiwanya sudah terenggut konyol.

Cepat sekali otak Oh Thi-hoa bekerja pulang pergi, pikir punya pikir tetap tak tersimpul olehnya dengan perbendaharaan kepandaian silatnya sekarang, dengan jurus apa baru dia kuasa memecahkan serangan lengan baju yang hebat tadi, kalau Ciok-koan-im menggunakan jurus tadi menyerang dirinya, mungkin sendiripun bakal terkapar mampus.

Tidak perlu dia banyak bertanya kepada Ciok-koan-im apakah orang masih mempunyai simpanan jurus yang lebih lihay lainnya, karena bagi seorang tokoh kelas wahid, sekali gebrak dia cukup menentukan mati hidup jiwa seseorang.

Dilihatnya sikap Ki Ping yang masih tetap tenang dan mantap, tapi butiran keringat kecil mulai merembes di ujung hidungnya, terang bahwa diapun sedang mencari daya untuk berusaha memecahkan jurus serangan Ciok-koan-im yang didemontrasikan baru.

Lama suasana hening mencekam perasaan semua hadirin, akhirnya Oh Thi-hoa tak tahan lagi, katanya.

"Ilmu apakah yang barusan kau mainkan?"

"Tidak menjadi soal kuberitahu kepada kau jurus tadi kunamakan laki-laki tak boleh lihat!"

Oh Thi-hoa melengak.

"Laki-laki tidak boleh lihat? Ilmu silat apakah itu?"

"Sebetulnya bukan termasuk ilmu silat lihay tapi siapapun asal dia seorang laki-laki setiap kali berhadapan dengan jurus ini, dia pasti mengantar jiwa, oleh karena itu, oleh karena itu laki-laki sekali-sekali dilarang melihatnya."

Berkerut alis Oh Thi-hoa, tanyanya.

"Ilmu silat dari golongan atau dari perguruan manakah itu?"

"Dikolong langit ini golongan atau perguruan silat mana yang mampu menciptakan jurus silat seperti itu? Umpama kata dua aliran perguruan silat yang paling ternama sekarang kepandaian silat Siau lim pay terlalu kental terlalu goblok, seperti semangkok besar lima macam daging panggang, mesti penuh dan cukup mengencangkan perut, tapi paling-paling hanya bisa memuaskan kaum kuli dan serdadu rendahan belaka bagi seseorang yang benar-benar tahu menikmati masakan lezat, sekali-kali dia tidak sudi memakan hidangan serba minyak, sampai di sini dia tertawa geli, lalu melanjutkan.

"Ilmu silat Bu tong pay sebaiknya malah terlalu tawar, seumpama sepiring masakan sayur hijau campur tahu yang lupa dibumbui garam, kelihatannya warnanya memang enak dan indah, tapi setelah kau gares, selanjutnya pasti tidak akan menambah selera makan orang, benar tidak?"

Betapa tinggi dan hebat kepandaian silat dari aliran Siau lim pay dan Bu tong pay yang dipandang sebagai puncak persilatan oleh seluruh kaum Kang ouw, tapi didalam pandangan Ciok-koan-im ternyata sedemikian rendah dan tak berharga sepeserpun, sungguh komentar yang terlalu pongah dan takabur kelewat batas.

Akan tetapi perempuan yang diharapkan memangnya tepat dan serasi, Oh Thi-hoa membayangkan ilmu silat Siau lim pay dan Bu tong pay, lalu membayangkan pula apa yang dikatakan barusan, hampir tak tertahan dia tertawa geli.

Terdengar Ciok-koan-im berkata pula.

"Kalau kepandaian silat mereka sudah begitu jelek kalau tidak mau dikata celaka, namun justru menggunakan nama-nama yang indah dan merdu kedengarannya, dinamakan apa Lik-pit-sam-gak atau membelah gunung, Kiang-liong-hu-hou atau menaklukan naga menundukkan harimau. Bahwasanya dinilai dari apa yang mereka mainkan, seharusnya pantas kalau dinamakan Pit bok cai atau membelah kayu dan Kiang mao hu kau atau menaklukan kucing menundukkan anjing tepatnya. Akan tetapi nama yang kucantumkan dalam jurus ciptaanku ini meski tidak enak didengar, namun betul-betul merupakan barang tulen harga pas, kalau kukatakan laki-laki tidak boleh lihat, maka setiap laki-laki jangan harap bisa melihatnya."

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya.

"Kalau demikian, jadi jurus tadi adalah hasil ciptaanmu sendiri?"

"Untuk menciptakan jurus permainan seperti ciptaanku tadi, bukan saja harus benar-benar hapal dan menyelami seluk beluk ilmu silat dari seluruh aliran silat yang ada di kolong langit ini, lebih penting pula harus mengetahui dimana titik kelemahan seseorang laki-laki, maka jurus silat seperti itu, kecuali aku siapa pula yang mampu menciptakannya?"

Lama pula Oh Thi-hoa menjublek pula, katanya dengan tertawa getir kemudian.

"Benar kenyataan memang kau amat mendalami dan cukup mendalam menyelidiki jiwa laki-laki."

"Sekarang kalian masih tetap berani turun tangan melawan aku?"

Tanpa janji Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa berbareng menghela napas, berbareng menjawab.

"Tidak berani lagi."

Begitu mendengar jawaban "Tidak berani lagi!"

Dari mulut Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan seketika pucat pias Kui je ong, badik ditangan Pipop-kongcupun jatuh.

Siapa nyana justru pada saat itu pula.

Tanpa berjanji namun Oh Thi-hoa dengan Ki Ping-yan tahu-tahu melejit secepat anak panah, gerakan kudanya begitu serasi dan seperti sudah direncanakan bersama, bukan saja bicara bersama, gerakan merekapun dimulai dalam waktu yang sama pula.

Sudah tentu jauh berbeda gerakan Ki-ping yan dan Oh Thi-hoa yang menyerang serempak ini dibanding dengan serangan si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu tadi.

Waktu si Jambang Bauk dan Pipop kongcu menyerang tadi udara seolah-olah disinari cahaya perak, yang berkung kunang, perbawanya kelihatannya amat dahsyat, tapi berbeda pula waktu Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan turun tangan ini, orang lain tidak melihat sesuatu yang ganjil, menyolok mata atau menakjubkan.

Cuma terlihat dalam gerakan bayangan orang yang bergerak secepat kilat itu, beruntun kedua orang sudah sama-sama melontarkan tiga jurus serangan, tentang bagaimana dan cara apa mereka menyerang, hakekatnya tiada orang yang melihat dengan jelas, namun paling tidak dalam tiga jurus permulaan ini, orang-orang diluar gelanggang sama-sama masih melihat gerakan bayangan mereka, tapi tiga jurus kemudian, jangan kata bayangan mereka sampaipun yang mana Oh Thi-hoa dan siapa Ki Ping-yan orang sudah tidak bisa membedakan lagi.

Terasa dalam kemah mendadak seperti terbit angin badai yang meniup kencang laksana angin puyuh, piring mangkok dan cangkir yang berada di atas meja sampai tersapu jatuh berkelontangan, pakaian Pipop kongcu, Kui-je-ong dan si Jambang Bauk melambai berkibar bersuara seperti dihembus angin lalu.

Pucat pasi selembar muka Kui-je-ong, seolah-olah sembarang waktu bisa jatuh semaput, lekas Pipop-kongcu memapah ayah bagindanya yang terhuyang mundur, tapi tangannya sendiripun gemetar keras.

Sementara dengan kencang si Jambang Bauk pegang goloknya dengan kedua tangan berdiri jauh diambang pintu kemah, meski dia tak bisa melihat apa-apa namun kedua matanya menatap tajam seperti biji mata ikan mas yang melotot hampir mencotot keluar.

Entah berapa kali dia pernah mengadu jiwa dengan musuh selama hidupnya ini, entah berapa banyak sudah luka-luka yang melekat di atas badannya karena luka-luka bacokan atau tusukan senjata lawan, umpama musuh menghujamkan senjatanya ke dalam badannya, diapun tidak setakut seperti hari ini.

Tapi sekarang dia justru malah lebih tegang dari pada waktu dirinya waktu mengadu jiwa dulu.

Sudah tentu lingkungan kemah ini tidak begitu besar dan luas, ketiga orang yang bergebrak bergerak begitu cepat lagi, namun ketiganya cukup hanya berkutet ditempat itu-itu saja, sampai kursi meja tidak sempat tersentuh oleh mereka.

Tak kurang diam-diam mencelos dan menarik napas panjang si Jambang Bauk dan Pipop-kongcu dibuatnya, setelah melihat pertarungan sengit ketiga orang ini baru mereka benar-benar sadar dan insaf bahwa kepandaian silat sendiri hakikatnya berbeda laksana langit dan bumi dibandingkan ketiga orang ini.

Jikalau mereka sendiri sekarang yang bergebrak, bukan mustahil meja kursi sudah keterjang sungsang sumbal, kemungkinan dinding kemah disekelilingnyapun sudah berlobang dan sobek dimana mana.

Sekonyong-konyong angin puyuh sirap dan segala sesuatunya menjadi berhenti.

Ternyata tiga orang yang serang menyerang secepat kilat itu tahu-tahu pergi dan berdiri pada posisi mereka semula.

Jari jari Oh Thi-hoa terkepal kencang raut mukanya merah padam, begitu menakutkan tampangnya.

Sebaliknya muka Ki Ping-yan pucat lesi, keduanya sama mendelong mengawasi Ciok koan-im tanpa berkesir.

Sebaliknya tulang ujung mulut Ciok koan-im tetap menyungging senyuman manis, kelihatan masih begitu cantik jelita dan tentram, sampaipun sungguh kepalanya yang diikat tidak kelihatan mawut atau berubah.

Selintas pandang, seolah baru saja mentas dari peraduan, baru saja berdandan hendak keluar menemui tamu, mana ada tanda-tanda baru saja mengadu jiwa dan berkelahi dengan orang.

Tapi ketiganya berdiri mematung tanpa bergeming sedikitpun mulutpun terkancing rapat.

Bukan saja tidak tahu kenapa mendadak berhenti, Pipop kongcu dan lain lainnya tidak tahu kalau Thi Hoa dan Ki Ping-yan tidak bergerak, maka Kui-je-ong, Pipop kongcu dan si Jambang bauk serasa jantung mereka hampir berhenti, merekapun tak berani bergeming.

Beberapa kejap kemudian, tampak sejalur darah mengalir keluar dari ujung mulut Oh Thi-hoa.

Walaupun badannya tegak berdiri di tempatnya seperti tonggak, sebaliknya melihat darah di ujung mulut orang, seketika Pipop-kongcu rasakan kedua belah lututnya lemas dan hampir tak kuat berdiri, karena sekarang dia sudah tahu pikah mana yang telah dikalahkan.

Kekalahan ini boleh dikata merupakan kegagalan total dan tak mungkin ditolong kembali, bukan saja jiwa mereka berenam takkan tertolong.

Beribu berlaksa rakyat Kui-jie bakal tenggelam kehidupan kekejian dan keganasan oleh cengkeraman elmaut yang beracun.

Terdengar Ciok-koan-im menarik napas panjang, katanya.

"kalau kalian sudah tahu bukan tandinganku, kenapa masih ingin jajal dan minta digebuk ?"

Oh Thi-hoa kertak gigi, bentaknya bengis.

"Seorang laki-laki berani berbuat berani tanggung jawab ! Ada kalanya sesuatu jelas memang tak mungkin kita capai, namun kita tetap berusaha akan mencapainya juga."

Maklumlah istilah "Bu Hiap"

Atau pendekar silat selalu mempunyai arti yang berlainan satu sama lain, namun arti daripada masing-masing dari kedua kata-kata itu sendiri jauh sekali bedanya.

Untuk menempuh ke jalan Bu atau silat bukan persoalan yang sukar, cukup asal kaki tangan bertenaga, bisa main berapa jurus Kung Fu, bolehlah dianggap Bu.

Tapi Hiap atau pendekar itu sendiri amat sulit pula pelaksanaannya, didalam praktek sepak terjang seseorang di dalam kehidupan Kang-ouw, memang enteng kedengarannya dan gampang diucapkan kata "berani berbuat, berani bertanggung jawab", namun kalau tidak dilandasi keteguhan hati, keberanian yang luar biasa serta jiwa yang luhur dan bajik, seseorang.

Bersambung ke

Jilid 27

Jilid 27 Tidak mungkin bisa mendapatkan gelar atau julukan "Pendekar"

Yang amat berat pula arti dan kenyataannya.

Karena seorang kalau hanya malang melintang dan bersimaharaja dengan begal kepandaian silatnya saja, membunuh orang semena-mena, tak ubahnya perbuatannya itu menyerupai binatang liar, hukum rimba selalu menjadikan penengah nuraninya, memang dia setimpal dianggap sebagai "pendekar" ?

Ki Ping yan mendadak berkata.

"Tadi sebetulnya ada dua kali kesempatan kau dapat merenggut jiwaku, kenapa kau tidak turun tangan ?"

Ciok-koan-im tertawa tawar, ujarnya.

"Hampir dua puluh tahun aku tidak pernah bergebrak dengan seseorang yang benar-benar berani melawan aku, masakah begitu gampang aku harus membunuhmu ?"

Tanpa berjanji Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan sama menghela napas, batinnya.

"Kenapa sampai sekarang Coh Liu-hiang belum kembali ? Jikalau dia datang membantu, dengan kekuatan kita bertiga, walaupun ilmu silat Ciok-koan-im nomor satu di seluruh kolong langit, tiada bandingannya sepanjang jaman, dia pasti dapat kita kalahkan.? kalau Ki Ping-yan hanya membatin dalam hati, Oh Thi-hoa justru tidak sabar lagi, Katanya setelah menarik napas panjang.

"Sayang Coh Liu-hiang tidak disini, kalau tidak..."

"Memang harus disayangkan sudah lama kudengar kepandaian silat Coh Liu-hiang, biasanya jarang terlihat kebolehannya yang menonjol, tapi musuh yang dia hadapi semakin tangguh, maka diapun bisa lebih mengembangkan perbawa kepandaiannya, sayang sekali aku justru tidak bisa menjajal kepandaiannya, memang harus disayangkan, suatu yang harus kusesalkan seumur hidup !"

"Kau tidak perlu menyesal."

Oh Thi-hoa mengolok.

"Cepat atau lambat dia pasti akan membuat perhitungan kepada kau."

"Mungkin sudah tiada kesempatan lagi, kalianpun tak perlu menunggunya."

Kata Coik-koan-im kalem. OH Thi-hoa terloroh-loroh.

"Kau kira kepergiannya kali ini tidak akan kembali pula? Kau kira hanya mengandal Go Kiok-kan bocah ingusan itu, lantas dapat membunuhnya ?"

"Ya, dalam dunia ini yang betul-betul dapat membunuh Coh Liu-hiang si Maling romantis, mungkin juga cuma Go Kok kan saja. Karena dia juga sedemikian mendalamnya menyelidiki seluk beluk luar dalam Coh Lui-hiang dari kepalanya sampai ke ujung kakinya, dalam dunia ini tiada orang kedua yang jauh lebih paham akan kepandaian silat Coh Liu-hiang dan kelemahannya..."

Tertawa tawar, lalu meneruskan.

"Coba pikir, bilamana aku punya anggapan Coh Liu-hiang si Maling romantis masih ada harapan pulang dengan masih hidup, buat apa dan kenapa aku harus membuang buang waktu di sini bercengkerama dengan kalian?"

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas jidatnya, mendadak tertawa besar, serunya.

"Dalam dunia ini tiada seorangpun yang betul betul bisa memahami Coh Liu-hiang, jangan kata luar dalamnya, kulitnya sajapun jangan harap kau mengerti, sampaipun aku yang sejak kecil bersahabat selama dua tiga puluh tahun sama dia, tidak mampu memahami dirinya, apa lagi Go Kiok-kan!"

Ciok-koan-im mencibir, katanya sinis.

"Sudah tentu kau tidak akan bisa memahami dia, karena kau tiada dendam, permusuhan dengan dia, hakikatnya kau tidak perlu memahaminya.

"bila kau terlalu memahami dari jiwa karakter lahir batin seseorang, kan malah tidak akan bisa bersahabat dengan dia. Dan lagi, perlu kuberi tahu kepada kau, orang yang paling memahamimu dalam dunia ini, jelas bukan sahabat atau istrimu, tapi pasti adalah musuh besarmu, karena hanya musuhmu yang benar-benar mau menyelidiki dengan segala susah payah untuk titik kelemahanmu."

Meski tangan Oh Thi-hoa sedang kerepotan menyeka keringat, tapi air keringat seolah-olah sengaja main-main dengan dia selamanya takkan habis-habis dia seka, keringat yang gemerobyos sudah menghanyutkan noda-noda darah diujung mulutnya yang meleleh keluar tadi.

Tanyanya dengan suara serak dan sangsi.

"Memangnya orang she go itu punya dendam permusuhan apa dengan Coh Liu-hiang ?"

Ternyata Ciok-koan-im tidak hiraukan pertanyaannya lagi, pelan-pelan dia putar badan lalu melangkah ke depan Kui-je-ong, dengan kedua tangannya dia angkat cangkir arak di atas meja, senyuman mekar yang terkulum di wajahnya, begitu rupawan dan mempesonakan dengan suaranya yang paling halus, lembut mulutnya berkata.

"Kuperingatkan supaya secangkir arak ini lekas diminum, supaya lekas bertemu dengan banyak sahabat di neraka. Bin Hong-wa, Ang Hak-han dan Ang Tek san sedang menunggumu di sana, tentu kau tidak akan kesepian."

Tabir malam di padang pasir terasa teramat panjang, namun datangnya terlalu pagi.

Waktu itu kira-kira baru jam enam sore, namun kabut sudah mulai mendatang dan tabir malampun sudah membikin jagat raya serasa gelap pekat, didalam keremangan malam yang samar-samar ini, asap ungu yang tebal itu kelihatannya menjadi begitu menyolok laksana merah darah.

Rona muka Coh Liu-hiang sudah berubah tapi kejap lain mendadak dia tertawa besar, serunya.

"Kepandaian usang dipakai lagi, bukankah ini kurang cerdik, di pesisir Toa-bing ouw tempo dulu, dengan cara ini kau berhasil meloloskan diri, memangnya kali ini kau hendak lolos pula dengan cara yang sama? Kau kira aku tak punya cara untuk menghadapi permainanmu ini ?"

Ditengah tawanya tiba-tiba badan Coh Liu-hiang melambung tinggi mengikuti asap tebal yang mengepul naik menjulang ke angkasa.

Bahwasanya Coh Liu-hiang memang sudah berhasil mendapatkan cara untuk mengatasi atau memecahkan cara melarikan diri dengan menghilang meminjam asap tebal sesuai ajaran Jinsut seperti ini, asal meleset terbang lebih tinggi dari tabir asap yang berkembang dan bergulung gulung di udara, perduli ke jurusan lawan melarikan diri, jangan harap bisa mengelabuhi sepasang matanya.

Baca Juga: Duri Bunga Ju 7

Baca Juga: Pedang Tetesan Air Mata 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert