Eps 8 Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Baca online Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Cersil Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung.
Walau cepat sekali asap tebal ini berkembang, tapi dalam waktu singkat itu, melebarpun tidak begitu luas, begitu badan Coh Liu-hiang melayang ke atas, tampak tiga tombak di luar gulungan asap tebal itu, pasir kuning terbentang kosong, ternyata bayangan Go Kiok kan tidak dilihatnya sama sekali, malah ditengah asap yang tebal itu mendadak kedengaran gelak tawanya yang pongah.
Sebaliknya tenaga Coh Liu-hiang seolah-olah seketika itu juga sirna dan badan menjadi lemas, badannya yang melambung terbang ke angkasa seperti burung itu, seberat batu besar yang jatuh dari angkasa terus anjlok dan terbanting keras di atas pasir.
Terdengar Go Kiok-kan terloroh-loroh.
"Kepandaian usang dilancarkan lagi memang kurang cerdik, tapi aku yakin otakku ini tidak sampai sedemikian goblok, apalagi di hadapan Coh Liu-hiang si Maling romantis yang serba pintar ini, masakah aku bakal menggunakan cara yang sama untuk kedua kalinya?"
Hembusan angin malam di padang pasir amat santer, meski asap ini amat tebal, tapi sekejap saja sudah tersapu bersih oleh deru angin yang menghembus kencang, samar-samar kabur semakin menipis, dan melihat sesosok bayangan berdiri diantara keremangan malam, dia bukan lain adalah Go Kiok-kan.
Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.
"Benar, soalnya asap tebalmu tempo dulu tidak beracun, kali ini aku tidak berjaga-jaga. Sungguh tidak pernah terpikir olehku bahwa kau bagai mencampurkan obat bius yang dapat melemaskan tulang dan menyedot sukma itu di dalam asap tebalmu ini.
"Sudah tentu kau tidak akan menduganya."
Ujar Go Kiok-kan tertawa senang.
"Karena setiap orang menghadapi sesuatu yang sudah amat dipahaminya, pasti tidak akan bersikap berwaspada seperti dulu, nah disitulah letak kelemahan watak manusia..."
Sampai di sini dia tertawa geli, katanya lebih lanjut.
"Setiap orang mempunyai titik kelemahannya sendiri, dan kelemahanmu ialah keyakinanmu terhadap dirimu sendiri terlalu tebal, hatimupun terlalu lemah. Oleh karena faktor-faktor inilah maka berulang kali terjungkal di tanganku. Hari ini bila kau mau menusuk ulu hatiku atau menggorok leher ini, hari ini aku tidak akan dan tidak mungkin merangkak keluar dari liang kubur dan hidup kembali."
Coh Liu-hiang tertawa getir, ujarnya.
"Akupun tahu akan kelemahan ini, yakni aku terlalu serius dan terlalu berat menilaimu! Oleh karena itu meski aku tahu dalam dunia ini ada manusia rendah dan lemah yang hina dina, demi menyelamatkan jiwa sendiri tidak segan-segan dia pura-pura menemui ajalnya di bawah tusukan belatinya sendiri, tapi mimpipun tak pernah terpikir olehku, seorang beribadat yang romantis hidup bebas disegani seperti Biau-ceng Bu Hoa yang punya kepandaian silat sedemikian tingginya, ternyata juga sudi melakukan serendah ini. Go Kiok-kan mandah tertawa, katanya.
"Aku tahu hatimu amat mendelu sedih, karena Coh Liu-hiang si Maling romantis yang malang melintang tiada tandingan di kolong langit, hari ini kena diingusi dan kecundang habis-habisan, demi membalas kebaikanmu dulu kepadaku, hari ini akan kuberi kesempatan kepadamu untuk mengundal memakimu sesuka hatimu, berapa banyak kata-kata makian di dalam perbendaharaan hatimu boleh kau limpahkan sesukamu untuk melampiaskan kemendongkolanmu, perduli apapun makian kepadaku, sebelum selesai cacimu, aku pasti tidak akan turun tangan."
Sembari bicara, pelan-pelan dia tanggalkan topinya, dengan gerakan yang amat hati-hati mencopot rambut palsunya, lalu dengan kedua tangannya pelan-pelan kembali dia mengelotok selapis kedok muka yang amat tipis dan berwarna kuning.
Maka Biau keng si padri saleh Bu Hoa yang gagah cakap dan berwajah halus putih itu kembali terpampang di hadapan Coh Liu-hiang.
Coh Liu-hiang hanya mengawasinya diam dan tenang-tenang saja, sepatah katapun tak bersuara lagi.
Bu Hoa tertawa pongah, katanya.
"Agaknya kepandaian memalsu diri Cahye meski tidak lebih unggul dari Coh Liu-hiang si Maling romantis yang serba pandai merobah bentuk badan dan mukanya, namun cukup baik dan patut dipuji juga, yang terang aku sudah berhasil mengelabuimu bukan?"
"Masih terlalu jauh kepandaianmu yang satu ini!"
Kata Coh Liu-hiang tawar.
"Kalau masih ketinggalan jauh, masakah bisa mengelabui sepasang matamu?"
"Bahwasanya kau tidak pernah mengelabui aku, waktu pertama kali berhadapan dengan kau aku sudah tahu dan merasakan bahwa Go Kiok-kan adalah samaran orang lain, cuma dalam waktu selama ini tidak pernah terpikir olehku bahwa kaulah yang membawa gara-gara ini."
Bu Hoa menghela napas, ujarnya.
"Semula kukira selamanya kau tidak akan pernah curiga kepadaku, karena aku betul-betul sudah berjerih payah dan memeras keringat dalam usahaku ini. Setitik merah ku undang datang tujuanku supaya kau mengira Mutiara hitamlah yang menjadi biang keladi dalam peristiwa ini dengan tindakan ini bukan saja supaya kau betindak keliwat hati-hati dan selalu was-was tidak berani sembarangan bertindak lagi, sekaligus dapat mengelabui kau sehingga persoalan kau kira semakin rumit dan berliku-liku, tanpa sadar kau akan tersesat ke jalan samping dan selamanya takkan berhasil kau ketahui seluk beluk persoalannya."
Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya.
"Caramu ini memang pintar, sebetulnya memang aku sudah tersesat ke jalan buntu dan hampir saja tak bisa berpaling, untunglah lekas sekali kau menyadari bahwa Ciok Tho ternyata adalah salah satu dari Hoa san chit-kiam dulu, dari sini pula baru aku sadar dan terpikir bahwa Ciok-koan-im ternyata bukan lain adalah nona Li dari Ui san-si keh (Keluarga besar dari Ui san). Mendengar uraian Coh Liu-hiang ini, seketika muka Bu Hoa membeku kaku, senyum tawanya yang manis welas asih seketika sirna tak membekas lagi. Dulu Hoa-san-kiam-pay dan Ui-san-si-keh bertempur mati matian sampai kedua belah pihak jatuh korban yang tak terhitung baynyaknya, pihat Ui San-si-keh hanya tinggal nona Li saja yang berhasil melarikan diri, beruntung lolos dari malapetaka, namun nona Li merasa tidak bisa bercokol hidup lagi di Tiong-goan, maka dia melarikan diri keluar lautan dan akhirnya tiba di Hu siang. Disana bertemu dengan Thian-long-cap si long yang jatuh cinta kepadanya, disana mereka hidup bersuami istri selama beberapa tahun, malah melahirkan dua orang putra. Namun tatkala secara diam-diam dia berhasil meyakinkan ilmu silat mujijat yang tiada taranya, lantas dia tinggalkan suami, meninggalkan anak, minggat dan pulang kembali ke Tiong goan, beruntun dia berhasil membunuh Hoa-san-chit-kiam dan berhasil menuntut balas sakit hati Ui-san-si keh.
"Sejak itu nona Li tiba-tiba menghilangkan jejaknya secara misterius, tiada seorangpun dalam kalangan Kang-ouw yang tahu kemana jejaknya. Tak lama kemudian meski di dalam Bulim muncul gembong iblis perempuan Ciok-koan-im yang berkepandaian tinggi tiada bandingannya serta bersepak terjang aneh serta serba misterius, tapi siapapun tiada yang mengira bahwa gembong iblis yang jahat dan laknat seperti Ciok-koan-im itu ternyata bukan lain adalah nona Li dari keluarga besar Ui-san satu-satunya yang masih hidup."
"Latar belakang yang terahasia ini sebetulnya takkan ada orang yang bisa membongkarnya, dan sayang sekali nona itu justru meninggalkan hidup jiwa salah satu dari Hoa san-chit-kiam itu... sampai disini Coh Liu-hiang, tertawa tawar lalu melanjutkan.
"Ini kemungkinan dia terlalu takabur dan merasa dirinya terlalu ampuh, betapapun derita siksa yang pernah dia alami, tidak dia pandang tidak sudi berlutut dan menyerah kepada nona Li itu, sebaliknya bila nona Li itu sudah jatuh hati kepada seseorang, bagaimanapun dan apapun yang akan terjadi dia harus mencapai dan melaksanakan keinginannya, maka selama ini dia tidak pernah membunuhnya, tak pernah pula terpikir olehnya, orang yang sudah tidak menyerupai manusia itu bakal dapat melarikan diri"
Rona muka Bu Hoa kini seperti dilapisi tabir dingin katanya ketus dingin.
"Teruskan!"
"Tapi hanya sumber ini saja, masih tidak mungkin membongkar rahasia Ciok-koan-im, dan harus disayangkan pula pada dua puluh tahun kemudian, dalam dunia ini justru muncul manusia bawel dan rewel macam Coh Liu-hiang yang suka mencampuri urusan orang lain. Kebetulan Coh Liu-hiang cukup intim dan bersahabat baik serta amat mencocoki dengan kedua putra putranya nona Li itu yang sudah menanjak dewasa, lebih celaka lagi dari teman karib mereka akhirnya berubah jadi musuh yang berlawanan muka dan tujuan. Maling romantis yang suka petingkah itu kembali menggali peristiwa besar di Bulim masa silam yang sudah dilupakan orang. Sudah tentu hal ini sekali kali tidak akan pernah terpikir atau diduga oleh nona Li alias Ciok-koan-im itu."
"Lanjutkan."
Desak Bu hoa pula dengan kaku dan ketus.
"Walau Coh Liu-hiang sudah tahu kisah kehidupan Thian Hong-cap-si-long ayah beranak namun tidak pernah terbayang olehnya bahwa mereka bisa mungkin punya sangkut paut yang begitu erat dengan Ciok-koan-im. Kedua persoalan ini hakikatnya satu sama lain tidak boleh dibicarakan secara bergandengan. Sampai pada waktu salah satu murid Hoa-san-pay yang sudah lama lenyap atau mengasingkan diri tiba-tiba muncul, dari mulut murid Hoa-san-pay ini baru diketahui rahasia Coik-koan-im yang sebenarnya, maka kedua persoalan ini mau tidak mau harus dibereskan bersama"
Dengan tajam dia pandang Bu hoa lekat-lekat, lalu berkata pula dengan tersenyum.
"Kalau kedua persoalan ini harus digandeng dan punya ikatan yang erat, persoalan apa pula yang tidak akan dapat kupikirkan dan takkan jelas seluruhnya ?"
Sejenak Bu Hoa menepekur, lalu katanya kalem.
"Benar, kalau kau sudah tahu Ciok-koan-im sebetulnya adalah ibuku, maka dengan sendiri bisa kau bayangkan pula, setelah kekalahannya secara mengenaskan di Tionggoan, sudah tentu Bu Hoa malu bercokol di sana, maka terpaksa sia mundur keluar perbatasan, di sini dia dapat bersandar kepada kekuatan ibunya. Bahwa ambisi Bu Hoa selama di Tionggoan sudah kau bikin tercerai berai dan gagal total, maka terpaksa dia harus menarik diri untuk bekerja lagi mulai dari permulaan di padang pasir ini."
Biji mata Bu Hoa tiba-tiba menyorotkan sinar terang, ujung mulutnya mengulum senyum lagi, katanya.
"Tapi cara bagaimana Bu Hoa bisa tahu bila Ciok-koan-im adalah ibu kandungnya? Bukan mustahil Bu Hoa sendiripun tidak tahu menahu akan hal ini, tentunya Coh Liu-hiang sendiripun kebingungan dan tak habis mengerti bukan ?"
Tak kira tanpa banyak berpikir, Coh Liu-hiang segera menjawab.
"Itulah lantaran ada hubungan erat dengan Jun-hujin Chiu Ling -siok !"
"Chiu Ling-siok ?"
Bu Hoa mengerut kening.
"Apa pula sangkut pautnya dengan persoalan ini ?"
"Ciok-koan-im tidak akan mau terima bila didalam dunia ini ada perempuan yang berparas lebih cantik melebihi dirinya, maka karena jelusnya itu dia merusak wajah Chiu Ling siok, sehingga Chiu Ling-siok merana dalam hidupnya, menderita siksaan batin selama hidup"
"Tak nyana Jim pangcu justru jatuh hati dan mencintainya setulus hatinya, bukan lantaran rusaknya wajahnya yang cantik itu cintanya berubah, malah dia mempersuntingnya sebagai istrinya. Orang yang hendak dirusak dan disingkirkan oleh Ciok-koan-im, Jim-pangcu justru menolongnya, sudah tentu hal inipun tidak bisa diterima oleh Ciok-koan-im, sudah tentu dia pantang membiarkan orang-orang yang dirasakan mengganggu dan menghalangi keinginannya."
Sungguh tak nyana Thian-hong-cap-si-liong ternyata bertindak satu langkah lebih cepat dari dia, sang suami itu sudah menemui Jim-pangcu lebih dulu, setelah dia tahu bahwa suaminya atau Thian hong cap-si-long menitipkan putranya kedua-duanya, segera dia batalkan niatnya untuk membunuh Jim-Jip, karena dia sudah dapat satu akal yang jauh lebih baik daripada membunuhnya, tapi bukan saja dia tetap menginginkan kematiannya, malah dia akan memberantas sampai keakar akarnya."
Sampai di sini kembali Coh Liu-haing menghela napas, lalu meneruskan pula.
"Perempuan lain tentu tidak akan sabar menunggu sedemikian lamanya, tapi demi menjatuhkan seseorang, tidak sayang dia menghabiskan wektu puluhan tahun, setelah kedua putra-putranya itu sudah tumbuh dewasa, baru dia pergi mencari dan menemui mereka."
Tak urung Bu Hoa ikut menghela napas panjang pula, katanya.
"Semua hal ini, cara bagaimana kau bisa memikirkan dan menduganya ?"
"Coba kau pikir jikalau bukan dia yang memberi kepada Lamkiong Ling, bahwa Jim Jip hakekatnya bukan orang yang berbudi luhur, malah tua bangka ini tak lain tak bukan adalah musuh bebuyutan pembunuh ayahnya. Kalau tidak masakah Lamkion Ling tega bertindak sekejam itu kepada Jim Jip gurunya yang mengasuh dan mendidiknya sejak kecil seperti anak kandungnya sendiri?"
"Waktu kau masuk perguruan Siau Lim pay, boleh dikata sudah tahu urusan, tapi waktu itu Lamkiong Ling masih merupakan bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa, seumpama sejak dilahirkan dia bawa bakat dan kecerdikan yang luar biasa, tapi karena diasuh dan dibesarkan oleh Jim Jip, sedikit banyak dalam jiwanya sudah kelunturan watak kesatria dan pribadinya yang luhur dan bajik, memangnya mungkin dia tak segan-segan melakukan perbuatan rendah yang dicela itu ? Untuk hal ini sejak mula aku sudah merasa heran dan tak habis mengerti bahwa si belakang persoalan justru terselip seluk beluk yang rumit ini."
"Jadi sekarang kau sudah paham keseluruhannya, ya ? jengek Bu Hoa.
"Sekarang sudah tentu kupahami seluruhnya, lantaran dia menceritakan riwayat hidup kalian, barulah mereka sadar dan mengetahui bahwa kalian sebetulnya adalah saudara sepupu, oleh karena itu pula rasa dendam dan ingin membalas sakit hati kematian ayah kalian dalam sanubari masing-masing terhadap orang-orang yang menanam budi besar kepada kalian. Kalian melakukan perbuatan itu, bukan saja punya ambisi hendak merajai Bulim, tujuan yang utama adalah hendak menuntut balas."
Bu Hoa menarik napas, katanya.
"Kau betul maha cerdik dan selalu pintar, cuma sayang kau terlampau dan kelewatan pandai."
"Pujianmu ini entah sudah berapa kali perbah kudengar dari mulutmu."
"Tapi kali ini, mungkin adalah penghabisan dan yang terakhir kali."
Bercahaya biji mata Coh Liu-hiang, katanya.
"Sekarang aku terkena obat biusmu, tenaga untuk melawanpun tiada lagi, memangnya kau sudi turun tangan terhadap seseorang yang sudah mati kutu dan tidak mampu melawan lagi?"
"Sebetulnya aku boleh tidak tega membunuhmu, tapi dari sepak terjangmu selama ini aku berhasil mempelajari dan menyadari sesuatu."
"Sesuatu apa?"
Patah demi patah kata Bu Hoa menjelaskan dengan tandas.
"Yaitu jiwa seseorang apalagi dia seorang laki-laki, sekali-kali tidak boleh lemah hati, kalau sebaliknya dia bakal mampus ditangan orang lain! Dan lantaran kelemahan hatimu pula, maka hari ini kau bakal terbunuh oleh kedua tanganku ini."
Lama Coh Liu-hiang berdiam diri, lalu katanya rawan.
"Bu Hoa, Bu Hoa, sungguh salah dan keliru benar pandanganku selama ini."
"Sreng"
Terdengar golok terlolos dari sarungnya, ternyata Bu Hoa sudah menenteng senjata siap memenggal kepalanya.
Begitu tajam dan mengkilap golok di tangannya itu.
Dengan nanar Bu Hoa pandang goloknya sebentar serta katanya.
"Tentunya kau masih ingat akan jurus Ni-hun it-to-jan itu bukan?"
"Masakah aku bakal melupakan kejadian yang bersejarah itu?"
Coh Liu-hiang balas mengolok dengan sinis.
"Kalau aku membunuh orang dengan jurus itu, pasti tidak akan membawa derita dan siksaan bagi si korban, malahan kau tidak akan merasa bahwa tajam golokku ini sudah memenggal kepalamu, aku boleh memberi garansi, dalam dunia ini pasti takkan ada cara kematian yang begitu menyenangkan dari pada tebasan golok ini..."
Dia menghela napas pula, katanya.
"Inilah dharma baktiku yang terakhir yang bisa kulakukan demi sahabat baikku seperti kau ini, bolehlah kau anggap sebagai pembalasan budiku kepada kebaikanmu terhadapku selama ini."
Maka batang golok yang tajam dan berkilauan itu pelan-pelan terayun, mendadak bergerak bagaikan kilat menyambar turun membacok kepala Coh Liu-hiang.
Dalam lembah sunyi yang mengandung kesesatan itu sudah tiada ketinggalan seorangpun hidup, sampaipun laki-laki yang terima diperbudak seperti mayat hidup dan kerjanya cuma menyapu pasir selama hayatnya itu pun tiada satupun yang ketinggalan hidup, di Burung Kenari ternyata tidak memberi ampun juga kepada mereka.
Kini mayat-mayat yang malang melintang terkapar dimana-mana itu satu persatu sudah ditutupi dengan kain panjang, yang tak sedikit jumlahnya didalam gedung sarang Ciok-koan-im ini, tapi hawa dalam lembah masih diliputi bau amis yang memualkan.
Hanya Ciok-koan-im seorang saja yang berada didalam kamar tidurnya yang serba rahasia itu, suasana tetap hangat dan romantis di bawah sinar api yang remang-remang tampak betapa cantik jelita serta memabukkan dan merangsang birahi setiap laki-laki normal yang melihatnya.
Kini Ciok-koan-im sudah kembali di dalam kamar pribadinya, agaknya tetap begitu tenang rupawan dan tentram, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu atau dilihatnya perobahan di sekelilingnya tiada suatu peristiwa betapapun besarnya yang dapat membuatnya kaget dan berobah.
Di pojok tembok sana tergantung kain gordyn yang menjuntai turun, bila kain gordin ini ditarik ke samping maka terlihatlah sebingkai kaca atau cermin yang besar dan jernih kemilau, sedemikian besar dan mahalnya cermin bundar ini karena sekeliling bundarannya dihiasi batu-batu jambrud dan mutiara, dipelihara dan dijaga sedemikian berharganya laksana benda mestika yang tiada taranya.
Seandainya batu-batu jambrud dan mutiara itu berbanding dengan sebuah kota, kemegahan dan kebagusan dari pada cermin itu sendiri seolah-olah mengandung kekuatan iblis yang misterius.
Siapapun yang berhadapan di depan cemin ini tak tertahan lagi pasti akan tekuk lutut dan menyembah kepadanya.
Seolah-olah kena daya sihir.
Kini Ciok-koan-im sedang berdiri dan bersolek di depan cermin besar ini, entah berapa lama sudah dia bergaya di depan cemin ini, dengan mendelong dan kesima dia mengawasi bayangan diri sendiri di dalam kaca.
Rona wajahnya yang pucat lambat laun mulai bersemu merah laksana buah yang mulai masak, mungil sekali.
Lalu pelan-pelan satu persatu dia mulai menanggalkan pakaian yang melekat di atas badannya, maka sekujur badannya yang putih halus, montok berisi dengan telanjang bulat terpampang didalam cermin besar itu keseluruhannya.
Cahaya api kelap-kelip menyoroti badannya, kulit badannya selicin sutra mengkilap dan halus, kedua bukit montok nan kenyal laksana batu jade, dengan bangga tegak menonjol di dalam hangat nan kering ditengah padang pasir ini, kedua pahanya yang tinggi membundar rata lekuk-lekuk badannya nan semampai dan gemulai laksana hembusan angin musim semi di Kanglam.
Ciok-koan-im berdiri tegak lurus laksana tonggak, dengan mendelong mengawasi bayangan bentuk badan sendiri di dalam kaca, sorot matanya itu, begitu bergairah dan menunjukkan nafsu birahi yang menyala, berkobar lebih memuncak dari seorang laki-laki yang ketagihan sex, sampaipun letak-letak yang sangat tersembunyipun tidak terlepas dari pandangan dan jamahan jari-jarinya.
Entah berapa lamanya, akhirnya dia menarik napas dengan puas, katanya seorang diri.
"Seorang perempuan sebaya aku ini masih bisa mempertahankan kecantikan badannya sedemikian rupa, kecuali aku, mungkin tiada orang keduanya dalam dunia ini."
Ciok-koan-im didalam kacapun ikut tersenyum, agaknya seperti berkata.
"Ya, takkan ada orang kedua dalam dunia ini."
Pelan-pelan Ciok-koan-im melangkah mundur lalu duduk di sebuah kursi besar dan nyaman yang berada tepat di depan kaca itu, agaknya memang badannya rada letih, namun sikapnya kelihatannya begitu riang gembira.
Dengan puas dia menarik napas, katanya.
"Aku amat penat! Tahukah kau, hari ini berapa banyak urusan yang sudah kubereskan?"
Bayangan Ciok-koan-im di dalam cerminpun menjadi ikut girang, seperti berkata.
"Urusan apapun yang kau kerjakan tentu beres dan tak perlu disangsikan lagi."
Ciok-koan-im tertawa, katanya pula.
"Kui-je-ong itu ternyata tidak ceroboh dan bodoh seperti yang kukira semula, tapi aku tetap membunuhnya juga, sekaligus akupun bunuh putrinya yang menganggap dirinya teramat cantik, racun di dalam cangkir arak itu, sekarang tentunya sudah mulai bekerja."
"Soal Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa itu, sebetulnya aku tidak ingin selekas itu membunuh mereka siapa nyana, malah berebutan meneguk dulu arak di dalam cangkir yang kuberi racun itu."
Kembali ia menghela napas, katanya lebih lanjut.
"Aku memang tahu orang macam Oh Thi-hoa, lebih baik membunuh diri daripada disiksa atau terbunuh orang lain. Tapi tak pernah terpikir olehku bahwa Ki Ping-yan bakal bertindak seperti itu pula, sungguh suatu hal yang harus dibuat sayang, ya toh?"
Bayangan di dalam cermin itu juga ikut menghela napas, seolah-olah ikut merasa sayang dan gegetun. Setelah berdiam diri beberapa kejap, Ciok-koan-im tertawa riang pula, katanya.
"Tapi bagaimana juga rencana terhitung Sudah terlaksana dengan baik, tua bangka yang suka mengagulkan diri itu membunuh An Tek-san, hal ini memang mencocoki seleraku, memangnya cepat atau lambat aku sendiripun melenyapkan mereka semua."
Bayangan dalam cermin kembali ikut tersenyum, seolah-olah diapun berkata.
"Tidak salah, perduli siapa saja yang mampus, tidak akan menjadi ganjalan hatimu, hakikatnya tiada satu orangpun dalam dunia ini yang benar-benar menarik perhatianmu, termasuk putri-putri dan suami sendiri."
Ciok-koan-im cekikikan geli, ujarnya.
"Mereka membunuh semua orang yang menghuni lembahku ini, disangkanya aku bakal bersedih dan marah, di luar tahu mereka bahwa aku memang sedang memikirkan untuk mengganti suasana yang lain, pergi ke negeri Kui je untuk menikmati jadi seorang permaisuri yang disanjung puji, kalau orang-orang ini tidak mampus, mungkin kelak bakal menjadi beban diriku, sekarang mereka sudah ajal seluruhnya, untuk ini aku terus berterima kasih kepada mereka."
Bayangan dalam cermin juga sedang tertawa besar, seperti berkata.
"Seharusnya memang mereka sudah tahu, terhadap siapa dan mengenai persoalan apa, kau tidak akan pernah sayang dan berkesan dalam sanubarimu."
"Cuma kau, isi hatiku, hanya kau yang tahu, hanya kau yang memarahiku, dikala aku berduka, hanya kau yang menemani aku ikut sedih, bila aku riang gembira, hanya kau pula yang mengiringi kegembiraanku juga."
Senyuman muka berubah sedemikian mekar, manis dan hangat, sepasang jari-jari tangannya yang runcing-runcing dan indah, lambat-lambat mulai bergerak, mencomot, mencubit, meremas dan menggosok setiap jengkal kulit-kulit dagingnya, sorot matanya yang semula dingin beku, kini mulai berubah menjadi panas membara dan begitu bergairah, Laksana mengigau dalam mimpi mulutnya mendesis.
"Dalam dunia ini hanya kau satu-satunya yang dapat menghibur dan membuatku senang, gembira dan puas, semua laki-laki itu ....... seluruh laki-laki itu sudah memualkan seleraku."
Bayangan dalam cermin itu juga mulai menggeliat dan meraba-raba badan sendiri dengan nafsu. Ciok-koan-im mengawasi tangan si "dia"
Bergerak pelan-pelan mengelus di atas kedua puncak dadanya, pelan-pelan turun ke perut, ke paha lalu mendatangi hutan roban dan menyusup ke lembah basah, bergerak pelan-pelan, terlihat olehnya jari-jari tangan itu bergerak semakin cepat merangsang, napasnya menjadi tersengal-sengal.
Kini kedua sorot matanya sudah membara laksana terbakar, kerongkongannya mengeluarkan rintihan kenikmatan yang tiada taranya, seperti ketagihan, badannya yang montok semampai itupun mulai gemetar, menggeliat dan bergelinjang, meliuk-liuk.
Terdengar mulutnya merintih penuh kenikmatan.
"Kau sungguh baik, baik sekali ...... tiada laki-laki di dunia ini yang sebanding kau, selamanya tak ada orang yang menandingi kau ...."
Pada saat itulah di luar teras diambang pintu, terdengar helaan napas orang yang amat lirih.
Helaan napas lirih, namun didalam keheningan kedengarannya laksana bunyi cemeti, yang meledak ditengah udara, seolah-olah melecut di atas badan Ciok-koan-im, yang telanjang bulat itu, rona muka Ciok-koan-im yang merah membara itu seketika seperti membeku kering, rintihan bergetar nadipun seketika sirap, sepasang paha yang tertekuk dan bertimpah itupun pelan-pelan mulai mengendur dan terpentang lebar.
Akan tetapi badannya masih duduk setengah rebah di atas kursi menghadap ke arah cermin, nafsu birahinya yang sudah berkobar dan memuncak seketika berobah menjadi amarah yang tak terkendali lagi laksana kobaran api yang tak bisa dipadamkan lagi.
Kedua jari-jari tangannya terkepal kencang dan terangkat tinggi, setelah amarah yang memuncak ini mulai mereda dan kembali tenang baru dia menghela napas dan katanya.
"Orang yang berada di luar apakah Coh Liu-hiang?"
Orang yang berada di luar kerai menghela napas pula, sahutnya.
"Ya, memang Cayhe adanya!"
Ciok-koan-im tertawa tawar, ujarnya.
"Kalau kau sudah datang, kenapa tidak masuk kemari?"
Ternyata Coh Liu-hiang menurut, pelan-pelan dia muncul di pintu dan terus beranjak ke dalam.
Dengan kesima tajam dia pandang bayangan Ciok-koan-im di dalam cermin, berselang lama juga, baru Coh Liu-hiang membuka kesunyian dengan menghela napas.
"Aku tahu selama hidupmu kau sedang menganggap dan mencari, ingin menemukan seseorang yang benar-benar dapat kamu cintai, dapat memuaskan seleramu, sebetulnya aku ikut mengharapkan semoga kau lekas mendapatkan, tapi baru sekarang aku sadar, bahwa selamanya kau tidak akan pernah mendapatkan lagi."
"O? Kenapa begitu?"
Tanya Ciok-koan-im.
"Karena kau jatuh cinta pada dirimu sendiri, hanya dirimu sendiri yang kau cintai, maka terhadap siapapun tidak pernah kau menaruh perhatian, sampaipun suami dan anak-anakmu."
Ciok-koan-im mendadak berjingkrak bangun dari kursinya serta berteriak marah.
"Kau... kenapa kau mencuri lihat rahasia pribadiku?"
Walau sedang marah dan mencak-mencak namun tindak tanduknya tetap gemulai dan indah, perempuan yang selamanya halus lembut kini ternyata berubah menjadi perempuan jalang yang galak dan buas, tak ubahnya seperti seekor binatang liar.
Sepasang matanya yang indah itu, menyorotkan sinar kebencian yang meluap-luap.
Coh Liu-hiang ditatapnya sedemikian rupa, seolah-olah hendak ditelannya bulat-bulat.
Tanpa sadar Coh Liu-hiang bersitegang leher dibuatnya, dengan waspada dan siaga selangkah demi selangkah dia menyurut mundur.
Tak kira tiba-tiba Ciok-koan-im menghentikan langkahnya, kembali senyuman manis mulai menghias wajahnya nan cantik melebihi bidadari dengan pandangan sayu dia awasi Coh Liu-hiang.
Katanya lembut.
"Kau harus memaafkan kepanikanku barusan, bukan sengaja aku hendak berlaku sekasar tadi, tentunya kau cukup tahu, jikalau rahasia pribadiku sampai diketahui orang lain, bukan mustahil dari rasa malu menjadi marah dan penasaran, benar tidak?"
Lama juga Coh Liu-hiang menjublek, sahutnya tertawa getir.
"Aku sendiri bukan sengaja hendak mencuri dengar dan mengintip rahasiamu, semoga kaupun suka memaafkan kesalahanku ini."
Ciok-koan-im tersenyum ujarnya;
"Kau berani berkata demikian, aku sungguh amat girang, soalnya..."
Kembali dia menyurut mundur dan duduk ke kursi kebesarannya, katanya lebih lanjut.
"Tak perlu dipersoalkan, apakah aku yang akan membunuh kau, atau kau yang ingin membunuhku, adalah pantas kalau diantara kami masing-masing meninggalkan kesan yang mendalam. Seumpama disaat ajalmu tiba tidak kuharapkan kau anggap aku ini sebagai perempuan galak yang buruk dan jelek, oleh karena itu, andaikata kau hendak membunuh aku, paling tidak sukalah kau duduk-duduk dulu mengobrol dengan aku!"
Mendadak dia berubah menjadi tuan rumah, perempuan yang genit centil dan serba halus dan pakai tata krama lagi.
Menghadapi permintaan tuan rumah yang sedemikian cantik dan lemah lembut ini, siapapun takkan sampai hati menolaknya.
Terpaksa Coh Liu-hiang menempati sebuah Kursi dan duduk dengan kaki terpentang, katanya.
"Adakah kau mempunyai pertanyaan apa-apa yang hendak aku ajukan kepadaku?"
"Benar, sudah tentu aku punya omongan yang perlu kutanyakan kepada kau, tapi sebagai Maling romantis, sebagai laki-laki sejati yang patuh adat dan sopan terhadap kaum hawa, maka kau beri kesempatan lebih dulu, kepadaku untuk mengajukan pertanyaan."
Dia berhenti untuk menghiasi senyuman pula pada wajahnya, lalu menyambung.
"Kalau begitu baiklah aku mulai bertanya, adakah kau sudah bertemu dengan Bu Hoa?"
"Sudah bertemu,"
Sahut Coh Liu-hiang, sikapnya terlalu baik kepadaku, begitu besar keyakinannya dan berkukuh untuk membalas busi, kebaikanku dulu."
Agaknya Ciok-koan-im melengak heran dan tak mengerti, teriaknya kaget.
"Apa, membalas budimu? Cara bagaimana kita hendak membalas budi kebaikanmu?"
Coh Liu-hiang tersenyum, katanya kalem.
"Dia hendak menggunakan jurus Hi bun-it to-jan, sekali bacok memenggal batok kepalaku."
Ciok-koan-im tertawa cekikikan, katanya.
"Cara membalas budi kebaikan seperti itu sungguh baik dan teristimewa sekali, lucu dan menarik pula."
"Ya, memang lucu dan menarik Cuma harus disayangkan karena batok kepalaku ini hanya satu, tidak lebih, terpaksa dengan lemah lembut aku tampik maksud baiknya."
Ciok-koan-im menghela napas, katanya.
"Kalau begitu, bukankah membuatnya amat kecewa?"
"Hujin sendiri, memang kau tidak ikut kecewa?"
Kerlingan mata Ciok-koan-im berputar-putar diatas badan Coh Liu-hiang, katanya tertawa.
"Aku sih tidak begitu kecewa, tapi rada merasa heran saja."
"Heran? Apa yang kau buat heran?"
Ciok-koan-im menuding sebuah botol yang terletak diatas meja kecil tinggi yang berada di pinggir cermin berwarna hijau pupus, katanya kalem.
"Sudahkah kau melihat botol itu kusimpan obat bius yang tak berwarna, tak berbau, obat bius ini mempunyai namanya sendiri yang enak didengar Gan-ji-bi atau kerlingan mata genit, karena untuk membius pingsan seseorang, semudah gadis-gadis jelita yang mengerling matanya, lebih nikmat lagi karena bisa bikin orang merasa dirinya seperti terbang ke awang-awang, sedikit tenagapun takkan kuasa kau kerahkan. Coh Liu-hiang bertanya.
"apakah Bu Hoa menggunakan obat bius semacam ini untuk menghadapi Cayhe?"
"Benar obat bius ini biasanya selalu menunjukkan khasiatnya yang luar biasa, namun kenapa tidak berguna untuk menghadapi kau?"
Coh Liu-hiang mengorek-ngorek lobang hidungnya, katanya dengan tersenyum.
"Selama hidup, entah berapa kali Cayhe pernah ditipu mentah-mentah, tapi selama itu juga tidak pernah aku kepecundang oleh segala macam obat bius yang lihaypun". Agaknya Ciok-koan-im heran dan tertarik, katanya.
"Kenapa begitu?"
"Apakah Hujin pernah memperhatikan Cayhe sering menggosok-gosok hidung!"
"Bila kau menggosok-gosok hidung tampangmu kelihatan menarik sekali, aku percaya banyak gadis-gadis remaja yang kepincut dan jatuh hati melihat gerak-gerikmu ini, tapi apa pula hubungannya menggosok hidung ini, dengan obat bius itu?"
"Karena kalau aku sering dan harus menggosok-gosok hidung bukan lantaran ingin pamer, dan hendak memelet gadis, adalah karena hidungku ini sejak lama terserang penyakit, penyakit yang luar biasa dan tak mungkin diobati, sampai tabib sakti yang kenamaan di Kanglam Kim-ciam toh-wi Yap Thian cu, juga berkata bahwa penyakit hidungku ini sudah tak bisa disembuhkan dengan macam obat apapun,"
Sampai disini Coh Liu-hiang menghela napas, lalu katanya lebih lanjut.
"Seseorang bilamana pernapasannya terganggu, setiap hari pasti akan merasa pening dan mata berkunang-kunang, boleh dikata jauh lebih menderita dari terjangkit penyakit kronis apapun, oleh karena itu Cayhe lantas bersumpah untuk meyakinkan semacam Lwekang yang istimewa, ajaran Lwekang yang lain dari pada yang lain, Lwekang semacam ini tiada manfaat lain yang khusus, tapi bagi orang yang mempelajarinya sampai matang, pori-pori kulit di badannya bisa dipakai untuk bernapas. Lama kelamaan menjadi kebiasaan, maka hidungku ini menjadi benda yang tak berguna yang tercantel di mukaku sebagai hiasan belaka, tapi karena kupandang orang tanpa hidung tentu jelek mukanya, maka hidung ini tidak kucopot."
Baru sekarang Ciok-koan-im benar-benar takjub, sekian lama dia duduk terlongong, akhirnya tertawa getir.
"Kalau hidungmu itu hiasan tidak berguna diatas mukamu, sudah tentu tiada sesuatu obat bius yang betapappun lihay dan kerasnya dapat membikin kau roboh pingsan, kulit dan pori-pori badanmu bisa kau gunakan untuk bernapas, hakikatnya tidak perlu ganti napas segala, sudah tentu Ginkangmu jauh lebih hebat dari orang lain, tak heran sering orang bilang hati dan perasaan seorang picak jauh lebih peka dari orang lain, agaknya ada kalanya sesuatu hal dalam dunia ini, memang betul-betul lantaran kecelakaan lantas ketiban rejeki nomplok."
"Sekarang aku sudah memberi tahu rahasia diriku yang orang lain tidak mungkin tahu kepada Hujin, Hujin masih ada pertanyaan apa lagi?"
"Lalu bagaimana dengan Bu Hoa? Apa kau gunakan juga cara yang dia praktekkan atas dirimu untuk membalas kebaikannya?"
Tanpa menunggu jawaban Coh Liu-hiang, kembali dia tertawa dan menambahkan pula.
"Sudah tentu tidak akan bertindak demikian, kaum persilatan dalam Kangouw sama tahu sepasang tangan si Maling Romantis, selamanya tidak pernah berlepotan darah, benar tidak?"
Sikap Coh Liu-hiang mendadak berubah serius katanya.
"Ya, memang begitulah. Jiwa manusia atas karunia Thian Yang Maha Esa, siapapun tiada hak untuk merenggut jiwa orang lain, sudah tentu Bu Hoa tidak akan mati di tanganku, dia sekarang berada di suatu tempat yang tak jauh dari sini, apa Hujin ingin menjenguknya?"
Ciok-koan-im menatap hidung Coh Liu-hiang katanya.
"Jikalau aku ingin melihatnya tentunya ada syaratnya bukan?"
"Sebetulnya sih tiada syarat istimewa apa-apa, cuma Cayhe ingin bertemu dengan beberapa orang saja."
"Apakah Oh Thi-hoa, Ki Ping-yan, dan Kui je-ong ayah beranak?"
"Benar, masih ada lagi Liu Yan hwi, Ki Bu yong dan setitik merah."
"Nasib setitik merah dan Ki Bu-yong memang sedang mujur, waktu aku tiba disana mereka sudah berlalu, malah meninggalkan sepucuk surat untuk kau. Walau aku tidak pantas membuka surat orang lain, tapi apa boleh buat tak terkendali aku untuk tidak membacanya."
Coh Liu-hiang menahan sabar, katanya.
"Setelah kau baca tentunya lantas kau sobek?"
"Tapi apa yang tertulis dalam surat itu, masih segar kuingat dalam benakku!"
Dia tertawa menggiurkan, surat itu terang adalah tulisan Ki Bu-yong, katanya.
"Walaupun mereka sudah cacat, namun mereka tidak ingin minta perlindungan kalian, kelak masih banyak waktu, mereka malah mengharap bisa melindungi dirimu."
Coh Liu-hiang tahu tentulah ucapan Ki Ping-yan yang sedang muring-muring itu amat mengetuk sanubari mereka, tak tertahan dia menghela napas, namun tak tahan untuk tidak tersenyum, katanya.
Kedua orang ini memang dibekali watak yang keras dan sama-sama kukuh, sama-sama angkuh dan sombong pula.
Bahwa mereka dapat rukun bersama, memang merupakan pasangan setimpal, harus dipuji dan dibuat girang, tentunya Hujin ikut bergirang bagi keberuntungan dan nasib mujut nona Ki itu."
"Soal Liu Yan-hwie bersaudara yang kau katakan, hakikatnya aku tidak pernah melihat mereka, tentunya diapun sudah pergi."
Coh Liu-hiang menghela napas lega, tanyanya.
"Lalu bagaimana dengan Oh Thi-hoa dan lain-lain ?"
"Mereka sih masih berada di suatu tempat tak jauh dari sini, cuma sekarang mungkin sudah rada terlambat bila kau susul mereka kesana."
Tersirap darah Coh Liu-hiang, teriaknya tersekat.
"Mereka... apakah mereka... !"
Tenggorokannya seperti mendadak kejang sampai tidak dapat bersuara lagi.
"Biasanya aku tidak suka menggunakan obat racun karena aku masih punya banyak cara untuk membunuh orang, jauh lebih mudah dan cepat dari menggunakan racun, maka bicara soal menggunakan racun, terus terang aku bukan tandingan Chiu Ling Siok "
Jikalau kau datang setindak lebih cepat, mungkin masih bisa menolong mereka, tapi sekarang... sekarang siapapun takkan dapat menolongnya."
Sepertinya bercerita atau mendongeng saja mulutnya menerocos tanpa perdulikan perasaan Coh Liu Hiang, jantung orang, terasa ditusuk sembilu, benaknya seperti digerogoti lalu dibanting berkeping keping, serasa pecah Coh Liu hiang, darah panas seketika memuncak ke atas kepalanya.
Tapi dia cukup tahu, di hadapan seorang musuh tangguh seperti Ciok Koan-im, sekali kali tidak boleh terburu nafsu dan emosi, sekali naik pitam, kematian bakal lebih cepat terpaksa sedapat mungkin dia tekan dan menahan gejolak hatinya.
Sungguh bukan soal mudah dapat mengendalikan perasaan hati, jarinya terkepal kencang, kuku jarinya malah sudah menusuk amblas ke dalam daging kulitnya, seluruh gigi dalam mulutnya serasa hampir remuk gemeretak.
Satu hal harus diakui, bahwa hal ini merupakan kekalahan Coh Liu-hiang yang paling besar dan paling mengenaskan selama hidupnya, merupakan pukulan yang teramat berat untuk diterima!.
Seumpama sekarang dirinya berhasil membunuh Ciok Koan-im, takkan mungkin dua hindarkan lagi selama hidup ini bakal menyesal dan gegetun sepanjang masa.
Apalagi sekarang, hakikatnya dia tidak punya pegangan dan tidak yakin dengan bekal kepandaian dan perbendaharaan silatnya belum tentu dia bisa mengalahkan Ciok-Koan-im atau merobohkannya.
Sinar lilin masih tetap redup dan hangat.
Dibawah penerangan sinar api seperti ini, meski dia seorang perempuan biasa, apa lagi dalam keadaan polos tanpa selarik benang menutupi badannya yang montok menggiurkan dengan gaya dan sikap merangsang lagi, kelelaki-lakian siapa yang tidak akan bangkit dan menggelora mengkili kili hati, apalagi keayuan dan kecantikan Ciok-koan-im melebihi bidadari dan diakui sebagai perempuan tercantik di seluruh jagat, ratu duniapun takkan bisa menandinginya, dengan berani dan meliuk-liuk badan dia bergaya di hadapan Coh Liu-hiang seperti ratu kecantikan sedang memperagakan keindahan badannya juri yang bakal menilai dirinya, kuatir sang juri tidak bisa memberi penilaian tinggi, maka dia terus bergerak berganti gaya dengan gerakan gemulai.
Tapi sorot mata Coh Liu-hiang mendelong lempang ke depan, seolah-olah apapun tidak terlihat olehnya.
Mungkin keletihan atau putus asa dan kecewa, akhirnya Coik-koan-im menghela napas, katanya.
"Aku tahu kau tentu ingin menuntut balas bagi kematian mereka, teman-teman baikmu, tapi kuperingatkan kepada kau lebih baik batalkan saja niatmu itu, karena meski ilmu silatmu amat tinggi, tetap dalam seratus jurus aku mampu mengalahkan kau, merenggut jiwamu kau percaya tidak ?"
"aku percaya!"
Sahut Coh Liu-hiang mengangguk.
"Tapi aku sekarang belum ingin membunuhmu, asal kau tidak memaksa aku, selamanya mungkin aku tidak akan tega membunuhmu, sekarang, boleh dikata aku sudah kehilangan apa-apa, termasuk tiada seorangpun yang berada di dekatku, asal kau suka, bukan saja sembarang waktu aku bisa menjunjungmu menjabat kedudukan kerajaan di negeri Kui-je, malah boleh juga kubiarkan kau..."
Jari-jari tangannya kembali bergerak pelan-pelan mengelus kedua bukit montok di depan dadanya, dengan gerakan tanpa suara mewakilkan pernyataan sanubarinya, memang suatu pernyataan yang jauh lebih termakan oleh lawannya dari pada bujuk rayu dan ajakan-ajakan manis dengan mulut.
Paras cantik, gengsi dan pamor serta kedudukan tinggi, kekuasaan tak terbatas serta kekayaan harta benda...
perduli satu diantaranya cukup merupakan daya tarik yang tak terlawan oleh laki-laki siapapun, apalagi ke empatnya ditumplek jadi satu.
"Jikalau kau mau terima saranku, hidupmu bakal senang dan foya-foya sepanjang umur, kalau kau menolak, kematianlah yang mengakhiri kehidupanmu. memangnya sukar kau memilih satu diantaranya, atau kau sendiri belum bisa berketetapan hati?"
Tiba tiba Coh Liu-hiang tersenyum lebarnya.
"Sebetulnya memang aku ingin menerima anjuranmu, cuma sayang sekali kau benar-benar terlalu tua bagi aku, andai kata kau memang pandai dan sudah berpengalaman menjual lagak, dan bergaya cabul di depanku, tapi bila kau teringat bahwa putra putramu sudah sebaya dan mungkin malah lebih tua dari aku, seleraku seketika menjadi dingin dan mual rasanya."
Bagi seorang perempuan yang mampu mempertahankan kecantikannya atau perempuan yang mati-matian ingin merenggut kembali masa remajanya, umpama kata menggunakan caci maki yang paling kotor dan rangkaian kata kata yang paling rendah di seluruh dunia ini takkan terasa menusuk dan melukai sanubari orang yang bersangkutan seperti apa yang terucapkan oleh Coh Liu-hiang.
Kata kata ini laksana martil besar yang telak sekali menghujam diborok kaki Cioh-koan-im yang paling pital.
Memang dia giat berusaha untuk mempertahankan kecantikan dan kemudaannya, senyuman manis yang menggiurkan seketika tersapu bersih tak berbekas lagi, seluruh badan bergetar dan keringat gemrobyos membasahi badan, suaranya mulai serak, dan menakutkan.
"Kau memaksa kau untuk membunuhmu ?"
"Benar, aku lebih rela mati, betapapun aku tidak sudi tidur seranjang dengan nenek tua seperti musang berbulu merak yang suka mempersolek diri, masih mending kalau kau memakai pakaian, lebih enak dipandang mata, dengan telanjang sebulat ini sungguh membuat aku mual dan ingin muntah muntah rasanya."
Kuatir tidak bisa memancing kemarahan Ciok-koan-im, maka kata demi katanya semakin kotor dan rendah, karena dia sadar hanya membakar kemarahan Ciok-koan-im serta membikinnya mencak-mencak gila baru kemungkinan dia bisa mencari kesempatan untuk mengalahkannya.
Ternyata tujuan dan usahanya tak sia-sia.
Saking marah selebar muka sampai dada Ciok-koan-im merah padam meski dia sadar bahwa kata-kata Coh Liu-hiang memang sengaja hendak memancing kemarahannya tapi tak kuasa dia mengendalikan perasaan hatinya yang sudah memuncak ini.
Waktu Coh Kiu-hiang mengucapkan kata katanya yang terakhir, dia masih duduk gemetar dikursi kebesarannya, tapi begitu suaranya lenyap, tahu-tahu badannya sudah berjingkrak dari atas kursi terus menubruk maju secepat kilat, beruntun dia sudah menyerang tujuh jurus, Setiap manusia hanya dibekali tangan oleh yang Maha Esa, tapi didalam sekejap mata ini, Ciok Koan-im justru seperti kelebihan tumbuh lima tangan lain, ke tujuh jurus serangan ini ternyata dilancarkan dalam waktu yang bersamaan.
Dalam sekejap ini.
Tenggorokan, kedua biji mata, dada lambung dan kemaluannya seolah-olah sudah terkurung didalam getaran angin pukulannya yang dahsyat.
Selama hidup dan mengembara di Kang ouw entah berapa kali Coh Liu-hiang sudah pernah menghadapi tokoh-tokoh silat tingkat tinggi dari Bu-lim yang mampu bergerak begitu cepat dalam menyerang, ada orang yang mampu meraih cangkir yang mendadak jatuh dari atas meja sebelum cangkir itu menyentuh tanah akan pecah dan berantakan, air teh yang berada didalam cangkir setetespun tiada yang tumpah.
Ada pula orang yang mampu menjepit seekor lalat yang sedang terbang hanya dengan sepasang sumpitnya, dengan duri ikan seorangpun bisa memantek ekor kecapung di atas dinding.
Tapi gerakan hebat dan cepat dari orang-orang itu bila dibandingkan dengan rangsangan kilat Ciok-koan-im sekarang boleh dikata jauh ketinggalan dan terlalu lambat seperti nenek tua yang sedang menyulam, sungguh tak habis terpikir dalam benak Coh Liu-hiang, seseorang manusia didalam waktu sesingkat ini, dapat menyerang tujuh jurus dalam waktu yang hampir bersamaan, sungguh tak terpikir pula olehnya tokoh dimana dalam kolong langit ini yang mampu melawan atau menghindarkan diri dari ke tujuh jurus serangan telak dan hebat ini.
Hakikatnya tiada satupun dari ke tujuh jurus serangan ini yang kosong atau merupakan gerakan belaka.
Berputar biji mata Coh Liu-hiang, untung untungan dia nekad tidak berkelit berusaha untk menghindar diri, mendadak dia membentak keras "Berhenti!"
Jurus serangan yang begitu ganas, culas, cepat dan dahsyat.
begitu dilontarkan, bahwa sanya tidak mungkin bisa dihentikan ditengah jalan apa lagi ditarik balik menjadi urung, tapi Coh Liu-hiang sudah memperhitungkan dengan tepat Ciok-koan-im pasti dapat kendalikan gerak gerik sendiri dan membatalkan serangannya, malah dapat menarik diri membatalkan serangan.
Benar juga dalam jangka waktu seper-seratus detik sebelum serangannya mengenai serangannya Ciok-koan-im masih kuasa menarik diri dan menghentikan serangannya.
Tujuh jurus serangan kilat dan dahsyat laksana hujan badai ini, ternyata dalam waktu sesingkat itu secara aneh dan menakjubkan sirna begitu saja, sikap Ciok-koan-im seolah-olah tidak pernah turun tangan berdiri dengan sebelah tangan terjulur ke depan dengan jari-jari terkembang dengan nanar dia pandang Coh Liu-hiang, katanya.
"Kau masih ada omongan apa ? Memangnya kau sudah berubah haluan ?"
Baju bagian pungung Coh Liu-hiang sudah basah kuyup dan lengket dengan kulit dagingnya pertarungan kali ini sungguh terlalu besar dan tak nyana, jikalau Ciok-koan-im tidak perduli dan tak mau mendengar kata-katanya lagi, itu berarti dia harus menyerahkan jiwanya secara konyol.
Sekarang walau secara beruntung dia menang dalam gebrakan selintas ini, namun jantungnya serasa sudah hampir melonjak keluar dari rongga dadanya.
namun demikian, seperti juga dengan seorang penjudi kaliber besar yang sudah pembawaan dan berbakat umpama kata hatinya amat tenang, namun lahirnya tetap tenang dan wajar.
Malah dia balas mengawasi Ciok-koan-im dengan tertawa tawa tawar.
"Umpama kau ingin turun tangan, juga harus mengenakan pakaian lebih dulu! Tahukah kau, tampang dan keadaanmu seperti ini, tak ubah seperti kepiting yang matang direbus, seluruh badanmu merah menganga."
Andaikata Ciok-koan-im benar-benar menuruti katanya mau mengenakan pakaiannyapun sudah terlambat lagi.
Hakikatnya sebelum ucapan Coh Liu-hiang sendiri berakhir, serangan kilat indah dilancarkan.
Seluruh kaum persilatan di Kang ouw sama tahu betapa cepat dan mengejutkan cara Coh Liu-hiang menyerang musuhnya, kalau tidak takjub tentu ciut nyali orang yang pernah mendengar ketenarannya.
Sampaipun setitik merah Tionggoan waktu bergebrak sama dia, setiap orang menyerang tujuh jurus Coh Liu-hiang sebaliknya bisa balas menyerang sepuluh jurus.
Tapi sekarang meski dia berhasil menempatkan diri dalam inisiatif menyerang lebih dulu, namun baru tiga jurus saja, Ciok-koan-im baru mulai turun tangan pula, dikala dia menyerang sepuluh jurus.
Terdengar Ciok-koan-im mengejek dingin.
"Tak heran orang sering bilang kau ini licik dan banyak akalnya, dari perbuatanmu hari ini memang terbukti omongan orang lain memang tidak salah dan sesuai dengan karaktermu, tapi jangan kau tekebur, aku bisa menipu aku sekali, jangan harap kau bisa mengelabui aku untuk kedua kalinya."
Pada akhir kata-kata Ciok-koan-im, seluruh tempat-tempat mematikan di sekujur badan Coh Liu-hiang sudah terkendalikan didalam genggaman tangan lawan, setelah dia menyerang pula sepuluh jurus.
Coh-Liu-hiang hanya mampu membalas tujuh jurus.
Lambat laun serangan lawan semakin gencar, justru serangan balasan Coh Liu-hiang semakin berkurang.
Baru sekarang dia benar-benar insaf dan mau percaya, bahwa ilmu silat Ciok-koan-im memang tiada bandingannya oleh siapapun dikolong langit ini.
Segala aliran, perguruan atua ilmu silat dari tokoh besar dan maha guru di seluruh jagat ini sedikit atau banyak Coh Liu-hiang pasti mengenal dan tahu seluk beluknya, tapi kepandaian silat yang dimainkan Ciok-koan-im sekarang ini, hakekatnya dari perbendaharaannya yang begitu luas, rasanya belum pernah ada atau belum pernah dilihatnya di seluruh maya pada ini.
Siapapun yang melancarkan tipu-tipu serangan dengan jurus apapun dalam dunia ini, Coh Liu-hiang pasti dapat menyelami seluk beluk dan asal usul kepandaian silat orang itu, sudah tentu gerak variasi dan perubahannya pun cukup dipahaminya pula, tapi melihat penyerangan Ciok-koan-im, sedikitpun dia tidak berhasil menyelaminya.
* bersambung
Jilid 28*
Jilid 28 Tokoh-tokoh silat maha lihai dan tinggi pada jaman ini menurut apa yang diketahui Coh Liu-hiang kira-kira ada empat, lima orang.
Ada orang bilang Ciangbun-jin Siao lim pay sekte selatan.
Thian-hong Taysu, adalah maha guru silat nomor satu di seluruh Bulim, namun ada pula yang bilang bahwa Lui-ting Sianjiu dari Kun-lun Congcu membekal kepandaian silat yang tiada taranya di seluruh dunia, ada juga orang yang mengatakan bahwa pendekar kelana Hiat-in jin yang serba misterius itu memiliki kepandaian ilmu pedang yang jauh lebih kuat dari tokoh pedang yang manapun, sudah tentu ada pula yang mengatakan bahwa Hiat ih-jin dapat malang melintang di dunia persilatan lantaran dia sendiri belum pernah bentrok atau kepergok oleh Coh Liu-hiang.
Tapi Coh Liu-hiang percaya dan yakin para tokoh-tokoh silat yang diagulkan mempunyai kepandaian serba nomor satu di dunia ini.
Jikalau bergebrak melawan Ciok koan-im tanggung tiada satupun yang kuasa bertahan sebanyak tiga ratus jurus.
Coh Liu-hiang juga tahu lima puluh jurus lagi, dirinya pasti bakal ajal.
Tatkala itu permainan Ciok-koan-im sudah mulai lambat, gerak geriknya seperti orang sedang menari dengan lembut dan mempesonakan.
Kalau orang lain yang bergerak selambat dia ini, Coh Liu-hiang pasti dapat mengetahui sasaran mana pada badannya yang diincar oleh Ciok-koan-im, maka dengan gampang dan sepele dia bisa berkelit menghindarkan diri.
Akan tetapi walau serangan Ciok-koan-im dilancarkan dengan amat lambat, namun tak bisa diselami dan dijajagi kemana arah serangannya yang sebenarnya, ternyata semakin lambat gerak serangannya namun sasaran dan tipunya semakin ganas dan telengas, semakin lambat semakin menakutkan.
Karena pada setiap jurus serangannya, selalu dilandasi sembilan dari sepuluh bagian kekuatannya, malah ditengah jalan sembarang waktu dapat diubah dan diganti dengan variasi apa saja, sebaliknya sisa satu bagian kekuatannya itupun cukup berlebihan untuk menamatkan jiwa seseorang yang diincarnya.
Begitu Ciok-koan-im melancarkan satu serangan, boleh dikata Coh Liu-hiang sudah tidak akan mampu berkelit lagi, karena begitu dia melawan atau berkelit, tenaga yang dia kerahkanpun sudah ludes, begitu Ciok-Koan-im merubah tipu serangannya jelas dia takkan bisa mengegos diri lagi.
Cara pertempuran yang berat sebelah seperti ini, sudah tentu amat fatal bagi Coh Liu-hiang, seumpama orang bisu yang makan obat pahit, meski kepahitan mulut tidak bisa mengeluh, mimpipun Coh Liu-hiang tidak pernah membayangkan hari ini dirinya bakal begitu runyam.
"Coh Liu-hiang,"
Ciok koan-im tertawa dingin.
"Apa kau masih mampu melawan?"
"Tidak bisa lagi."
Sahut Coh Liu-hiang sejujurnya.
"Coba kau pikir, siapa pula orangnya yang mampu menolongmu sekarang?"
Tanya Ciok koan-im.
"Tiada seorangpun,"
Sahut Coh Liu-hiang.
Sekarang kapan saja Ciok koan-im bisa merenggut jiwa Coh Liu-hiang dengan mudahnya, umpama kata tujuh tokoh Ciang bunjin dari tujuh aliran pedang terbesar pada jaman ini diundang kemari, merekapun takkan mampu menolong dirinya.
Andai kata dalam waktu sesingkat mungkin ada orang mampu mengumpulkan tokoh-tokoh silat dari seluruh jagat ini didalam lembah ini dan memecah hancurkan badan Ciok koan-im, tapi Ciok koan-im tetap bisa membunuh Coh Liu-hiang lebih dulu, jiwa Coh Liu-hiang tidak akan tertolong.
Sudah tentu tokoh semacam Coh Liu-hiang mempunyai banyak musuh didalam segala tingkat dan berbagai aliran, meski banyak diantara sekian banyak musuh musuhnya amat membenci Coh Liu-hiang sampai ke tulang sumsumnya, namun mereka tak berani berbuat apa-apa, paling hanya mencaci maki di belakang orang.
"Kelak Coh Liu-hiang pasti mampus di tangan perempuan, jenasahnya kelak bakal ditemukan melintang di atas pinggang perempuan yang telanjang bulat". Jikalau orang yang mencaci dan mengutuknya itu berada di sini, tentu mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai mulutnya itu menganga tak terkatup lagi. Tampak badan Ciok koan-im yang begitu montok dan padat berisi bertelanjang, didalam kejap ini bertambah cantik, molek dan menggiurkan, bayangan yang berada didalam kaca memancarkan cahaya. Kembali wajahnya menampilkan senyuman mekar yang mempesonakan, katanya.
"Apa kau sudah tahu? Setiap membunuh musuh yang tangguh dan lihai, aku lantas merasa jiwaku jauh lebih muda, cuma membunuh kau, hatiku rada merasa sayang". habis ucapan ini diapun melontarkan pukulan telapak tangannya yang terakhir. Dia sudah melihat keadaan, Coh Liu-hiang yang payah dan takkan mungkin melawan lagi. Tak nyana badan Coh Liu-hiang tiba-tiba mengkeret, berbareng tangannya berbalik balas menyerang. Tapi pikulannya bukan menyerang kepada Ciok koan-im, namun yang diarahnya adalah cermin besar itu. Jikalau pukulannya ini dia tujukan kepada Ciok koan-im, terang takkan mungkin mengenai sasarannya, tapi cermin ini sebaliknya diam tegak di tempatnya. Maka terdengarlah "Krempyang!"
Cermin itu semuanya telah hancur berantakan terkena pukulannya.
Dengan sendirinya bayangan Ciok koan-im didalam cermin pun ikut hancur lebur.
Jikalau terhadap orang lain, tindakan Coh Liu-hiang memukul hancur cermin ini tentu tiada manfaatnya apa-apa tapi lain bagi Ciok koan-im yang terlalu cantik rupawan ini, dia pun terlalu kuat dan tangguh, sejak beberapa tahun belakangan ini, dia sudah menunjang jiwa raga dan semangat hidupnya pada cermin satu-satunya ini, karena dia sudah jatuh cinta kepada jiwa raga sendiri.
Tapi tidak dia pikirkan sama sekali bahwa bayangan dirinya yang kosong di dalam cermin yang dia cintai ini, bahwasanya mempunyai darah daging pula.
Seolah-olah orang di dalam cermin dan jiwa raganya sudah merupakan dwi-tunggal yang tak boleh terpisah, kental antara tulen dan khayal, sampai dia sendiripun tak bisa membedakan lagi.
Begitu cermin itu pecah dengan suaranya yang keras, maka orang didalam kaca itu seketika terpukul pula, demikian pula Ciok koan-im yang berada di luar cermin juga seperti kena dipukul sekeras-kerasnya, seketika badannya tergetar keras dan berdiri menjublek.
Pertempuran tokoh-tokoh kelas wahid mana boleh sekilas saja lena, apalagi melongo seperti Ciok koan-im, didalam waktu yang teramat singkat ini, beruntun Coh Liu-hiang sudah menutuk lima Hiat to besar di badannya.
Ciok koan-im yang tiada bandingannya, pelan-pelan akhirnya roboh.
Sampai dia sudah rebah tak berkutik masih belum berani percaya akan kenyataan ini, sungguh tak habis terpikir dalam benaknya cara bagaimana Coh Liu-hiang bisa dan dapat memikirkan cara selicik ini untuk merobohkan dirinya.
Dengan mata terbelalak kaget dia pandang Coh Liu-hiang dengan pandangan curiga dan penuh tanda tanya.
Sebaliknya Coh Liu-hiang menarik napas panjang sepuas-puasnya dengan memejamkan mata.
Lama juga dia berhasil menekan perasaan dan menenteramkan jantungnya yang berdebar-debar keras seperti damparan ombak samudra, ingin dia menyeka keringat di atas mukanya, tapi seluruh pakaian dan kedua tangannya sendiripun basah kuyup seperti kehujanan.
Ciok koan-im mendelik, katanya serak.
"Kau... kau merobohkan aku?"
Akhirnya Coh Liu-hiang tertawa lebar, katanya.
"Tidak salah, aku mengalahkan kau, memang sering aku bisa memukul jatuh lawan yang sebenarnya lebih tangguh dan lebih lihai dari kepandaian sendiri, ada kalanya aku sendiripun heran serta tak percaya akan kenyataan ini."
Sorot mata Ciok koan-im menampilkan siksa derita yang luar biasa, seperti masih ingin mengatakan apa-apa, bibirnya sudah bergerak beberapa kali, namun sepatah katapun tak kuasa dia ucapkan.
Coh Liu-hiang menghembuskan napas panjang dari mulut, katanya.
"Kau sudah membunuh teman-temanku yang paling baik, sungguh ingin aku membunuhmu untuk menuntut balas kematian mereka, tapi aku pantang berbuat demikian, sekarang terpaksa aku hanya..."
Suaranya tiba-tiba terputus, bulu roma dan bulu kuduknya seketika merinding berdiri.
Ternyata hanya di dalam sekejap ini, badan montok Ciok koan-im yang padat berisi dan menggiurkan ini secara aneh seperti disulap layaknya sudah berubah mengering layu dan menyusut berkeriput seperti kayu keropos yang kekeringan, darah daging badannya seolah-olah secara tiba-tiba sudah tersedot hilang, tinggal kulit pembungkus tulang belaka.
Badan elok dari perempuan tercantik di seluruh jagat ini, di dalam waktu sesingkat ini mendadak berubah jadi sesosok mayat kering kerontang yang begitu mengerikan, siapapun yang melihatnya pasti akan bergidik seram.
Tiada seorangpun yang mampu membunuh Ciok koan-im, dia sendiri yang membunuh dirinya sendiri.
Cuaca nan gelap sudah mulai remang-remang, sang fajar sebentar lagi akan menyingsing, namun hawa pagi terasa semakin dingin menyusup ke tulang sumsum.
Betapa pilu sedih sanubari Coh Liu-hiang, mendelu lagi, tak henti-hentinya dia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa aku sudah menang? Apa benar aku menang?"
Garis pemisah antara perempuan cantik dengan mayat kering kulit pembungkus tulang cukup dekat dan hanya terpaut satu garis itu saja, memangnya berapa pula bedanya antara menang dan kalah?
Walau dia sudah berhasil merobohkan Ciok koan-im yang tiada tandingannya, meski mendapat kabar Soa Yong-yong yang selamat dan sehat walafiat, tapi di sini dia harus kehilangan Oh Thi-hoa dan Ki Ping yan, apakah penyesalan dan kepiluan hatinya dapat ditambal dan diobati?
Terang tidak mungkin.
Boleh dikata Coh Liu-hiang hampir tak ingat lagi kapan dirinya pernah mengucurkan air mata.
Kini air matanya sudah berderai membasahi pipi dan menambah basah pakaiannya yang kuyup kena keringatnya tadi, tapi dia harus menyeka kering air matanya, karena dia harus tetap bertahan hidup.
Bertahan hidup bukan saja merupakan hak seseorang, juga merupakan kewajiban dari orang itu sendiri, tiada orang yang punya hak untuk membunuh orang lain, juga tiada hak yang memberi kewajiban kepada orang untuk membunuh dirinya sendiri.
Dengan membusungkan dada dengan langkah berat, Coh Liu-hiang beranjak keluar, di depan sana ada sebuah lekukan gunung, di sana Bu Hoa rebah tertutuk Hiat-tonya, dia sembunyikan di suatu tempat didalam lekuk gunung itu, apapun yang akan terjadi Bu Hoa harus dia bawa pulang ke Tionggoan, biar dia menerima hukuman undang-undang yang setimpal, inipun merupakan kewajibannya orang yang membunuh orang dia harus dihukum mati juga, siapapun takkan dapat meluputkan dirinya dari undang-undang atau hukuman negara ini.
Akan tetapi siapapun takkan bisa membawa pergi Bu Hoa, sebatang panah panjang, ternyata sudah menembus tenggorokan dan mematikan riwayatnya, darah membasahi dadanya dimana terdapat secarik kertas putih kehijau-hijauan yang bertuliskan beberapa huruf berbunyi.
"Coh Liu-hiang si Maling romantis pantang membunuh orang, terpaksa Burung Kenari mewakilinya."
Kembali Coh Liu-hiang tertegun dibuatnya, bahwasanya orang semacam apakah sebenarnya si Burung Kenari itu?
Apakah perbuatannya ini baik atau punya tujuan jahat?
Apa pula sebetulnya yang menjadi tujuan segala tindak tanduknya yang serba tersembunyi ini.
Pada saat itu pula terdengar deru angin kencang melesat ke arahnya, sebatang anak panah memecah angin terbang datang.
Lekas Coh Liu-hiang menggeser kaki dan memiringkan badan dengan kedua jari tangan kanannya dia jepit anak panah itu, tampak ujung panah yang runcing sudah putus, jadi si pembidik panah ini terang tidak bermaksud bermusuhan atau hendak mengarah jiwa Coh Liu-hiang.
Tapi di pangkal panah dimana ada bulu burungnya terikat seutas benang lembut yang panjang, entah berapa panjangnya sampai tak kelihatan pangkalnya, apakah si Burung Kenari yang serba misterius itu sedang menunggu Coh Liu-hiang di balik ujung benang panjang di sebelah sana?
Perduli permainan apa yang sedang dilakukan tokoh misterius yang serba menakutkan ini Coh Liu-hiang sudah berkeputusan akan memburu kesana melihat keadaan, tanpa banyak berpikir dan tidak ayal lagi, badannya segera melesat berlari-lari menyusuri benang panjang ini.
Pada ujung benang yang lain ternyata memang ada orang sedang menunggu malah bukan hanya seorang saja, tapi sekaligus empat orang, begitu melihat Coh Liu-hiang muncul seketika empat orang ini berjingkrak dan bersorak girang menyambutnya.
Sebaliknya begitu melihat ke empat orang ini Coh Liu-hiang terkesiap kaget dan melongo keheranan, mulut tak kuasa bicara.
Karena ke empat orang ini bukan lain adalah Kui-je ong ayah beranak dan Oh Thi hoa serta Ki Ping yan.
Apakah ini dalam impian.
Tapi Oh Thi hoa sudah meremas pundaknya, sampai tulang pundaknya terasa sakit sekali.
Coh Liu-hiang tertawa pahit, ujarnya.
"Ini bukan mimpi, orang yang sedang mimpi tidak akan merasa sakit, tapi jikalau pengalaman ini bukan mimpi, masakah orang yang sudah mampus bisa hidup kembali?"
Oh Thi hoa bergelak tawa, katanya.
"Belakangan ini akherat dan neraka sudah penuh sesak, Giam Lo-ong "raja akherat"
Sendiripun sampai kewalahan menampung kami, terpaksa sukma kami yang gentayangan ini digebah balik ke dunia fana ini."
"O, tak heran belakangan ini banyak orang yang sudah mampus tiba-tiba hidup kembali."
Coh Liu-hiang ikut tertawa lebar. Sebaliknya sikap Ki Ping yan seperti rada tegang, katanya.
"Darimana kau tahu peristiwa kami keracunan? Masakah kau sudah bertemu dengan Ciok-koan-im?"
"Ehm! Ya!"
Coh Liu-hiang mengiakan sambil manggut-manggut.
Oh Thi hoa, Ki Ping yan, Kui-je-ong dan Pipop kongcu sama-sama melongo, sekian lama mereka menjublek, akhirnya sama-sama menarik napas lega pula.
Oh Thi-hoa pula yang membuka suara lebih dulu dengan mengedip-ngedipkan mata.
"Tapi tentunya bukan kau yang membunuhnya bukan?"
"Masakah kau belum pernah dengar, ada kalanya seseorang menyembunyikan obat beracun di sela-sela giginya, dikala perlu kapsul obatnya dia gigit sampai pecah dan kadar racun segera tertelan ke dalam perut dan..."
"Maksudmu bahwa dia bunuh diri?"
Tukas Oh Thi-hoa.
"Kenapa dia harus bunuh diri? Karena kau kalahkan?"
"Karena kecuali mati, tiada jalan lain yang baik untuk dia tempuh."
Oh Thi-hoa menatapnya dengan pandangan mendelik, biji matanya seperti hampir mencopot keluar, seolah-olah baru hari ini dia pernah melihat orang seperti Coh Liu-hiang ini.
Lekas Pipop-kongku mengulangi pertanyaan Oh Thi hoa tadi.
"Apa kau sudah mengalahkan dia?"
Coh Liu-hiang tersenyum ewa, katanya "Tentu kalian amat heran, benar tidak?"
Hakikatnya bukan saja mereka serba keheranan boleh dikata merekapun tidak mau percaya. Akhirnya Oh Thi hoa menarik napas panjang, katanya geleng-geleng kepala.
"Konyol! Konyol! Orang she Ki, coba katakan, apa kalian ada muka untuk berdiri di hadapan orang banyak, dan bagaimana kita harus hidup selanjutnya? Kami berdua bergabung masih bukan tandingan Ciok-koan-im, bocah ini seorang diri malah dengan gampang dapat merobohkan si centil itu."
"Gampang katamu?"
Ujar Coh Liu-hiang menyengir.
"Kau kira aku amat gampang mengalahkan dia? Biar kujelaskan sejujurnya, aku bergebrak dua ratus jurus lebih, bahwasanya tiada satu seranganku yang membuatnya terdesak atau merupakan ancaman bagi dirinya."
"Jadi kau hanya terima dicecar saja olehnya, bagaimana pula kau bisa mengalahkannya?"
Belum Coh Liu-hiang menjawab, Pipop-kongcu tertawa cekikikan, katanya.
"Sudah tentu dia mempunyai akal yang baik, sejak mula aku sudah tahu bahwa dia tentu punya cara untuk mengalahkannya. Bagi pertempuran tokoh-tokoh silat kelas wahid bukan saja mengutamakan tenaga atau kekuatan serta tinggi rendahnya bekal kepandaian orang-orang itu, dia haru menggunakan otaknya pula, jadi sekaligus mengadu kecerdikan, walau ilmu silatnya bukan tandingan Ciok-koan-im, tapi jikalau mengadu kecerdikan dan akal muslihat siapa pula dalam dunia ini yang bisa mengungkuli dia?"
Sembari bicara dia maju menghampiri, akhirnya tak tertahan dia menarik tangan Coh Liu-hiang, seolah-olah selanjutnya berat untuk berpisah.
Kui-je-ong segera batuk-batuk dengan suara berat, katanya unjuk tawa berseri.
"Keberhasilan Kui-ong kali ini sungguh berkat bantuan berharga para Congcu sekalian, entah sudikah kalian bertiga bertamu dan tamasya dulu ke negri Kui-je kami...?"
Dengan tawa riang Pipop-kongcu segera menimbrung.
"Sudah tentu kalian harus kesana siapapun diantara kalian yang tidak mau pergi, aku tidak akan tinggal diam!"
Ki Ping yan dan Oh Thi hoa tidak buka suara, mereka berpaling kearah Coh Liu-hiang. Tak tahan Coh Liu-hiang pun batuk sebentar, katanya tertawa.
"Cayhe bertiga sudah tentu ingin benar bertamasya di negeri tuan, cuma...."
Berubah rona muka Pipop-kongcu, katanya dengan tertawa dipaksakan.
"Cuma apa?"
Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala dengan menunduk, katanya.
"Cuma tugas lain yang cukup penting sedang menunggu kami pula untuk segera diselesaikan, terpaksa kali ini kami mengabaikan maksud baik Ong ya!"
Pipop-kongcu segera lepaskan pegangan tangannya, mukanya pucat pias dan jari-jari tangannya pun gemetar, selangkah demi selangkah dia menyurut mundur, matanya sebaliknya menatap Coh Liu-hiang lekat-lekat, suaranya pun gemetar.
"Kau tidak mau? Kau benar-benar tidak mau bertandang ke negeriku?"
Coh Liu-hiang menjawab dengan senyuman meringis. Lekas Kui-je-ong maju menarik tangan putrinya, katanya menghela napas.
"Congsu bertiga ternyata tak sudi memberi muka kepada kami, sungguh Pun-ong amat kecewa sekali, tapi aku maklum bahwa kalian tentu punya urusan penting lainnya, kami pun tidak berani memaksa."
Pipop-kongcu tertunduk, mulutnya seperti mengigau.
"Benar, kami tidak boleh memaksa mereka, sebetulnya aku sudah harus tahu sejak mula bahwa mereka tidak akan sudi ke negeriku."
Mendadak ia angkat kepala pula, kini mimik mukanya berubah berseri tawa pula, katanya.
"Aku tidak akan salahkan kalian, karena aku sendiri toh tidak akan ikut kalian, bahwasanya kita ini terdiri dari manusia dua lapisan dunia yang berlainan, dapat kumpul bersama secara kebetulan, aku... aku sudah amat senang."
Fajar sudah menyingsing, angin menghembus sepoi-sepoi namun dinginnya laksana tajam golok mengiris kulit.
Coh Liu-hiang, Ki Ping yan dan Oh Thi hoa bertiga berdiri kaku ditengah-tengah hembusan angin dingin ini, entah berapa lama sudah mereka mematung ditempat itu.
Akhirnya Oh Thi hoa pula yang tidak tahan sabar menarik napas dalam, mulutpun menggumam.
"Dia sudah pergi, ternyata tidak menangis, sungguh suatu di luar dugaan. Tabah pula hatinya, belum pernah aku memuji atau mengagumi perempuan yang manapun, sekarang aku betul-betul tunduk dan harus memujinya!"
"Apa yang dia ucapkan memang tidak salah."
Ujar Coh Liu-hiang.
"Antara aku sama dia hakikatnya terdiri dari manusia dua lapisan dunia yang berlainan, meski dipaksa gaul bersama, akhirnya malah akan menambah penderitaan masing-masing pihak, lebih baik sekarang berpisah begini saja, ya, terhitung sebagai kenangan manis pada masa yang akan datang!"
Oh Thi hoa tertawa getir pula, katanya.
"Bagaimana juga, bukan saja dia itu cantik, lincah dan mungil, otaknyapun cerdik pandai, gadis seperti ini kenapa belum pernah kebentur sama aku?"
Ki Ping-yan tiba-tiba menjengek.
"Umpama kau pernah menemuinya, tentu dia sudah lari terbirit-birit oleh bau arak dari mulutmu yang apek itu."
Oh Thi-hoa terloroh-loroh geli, sedapat mungkin Coh Liu-hiang pun tertawa tawa dibuat-buat, segera ia alihkan pokok pembicaraan.
"Ciok-koan-im bilang kalian sama minum araknya beracun, tentunya omongannya bukan bualan belaka."
Ki Ping-yan segera menutur dengan suara tawar.
"Sian Oh merebut cangkir arak itu, terus ditenggaknya separo, sisanya yang separo diberikan kepada aku, akupun segera meminumnya habis. Karena setelah berada dalam posisi kita waktu itu, kecuali mampus sungguh tiada jalan lain yang lebih baik untuk kami tempuh."
Oh Thi-hoa tertawa geli, ujarnya mengolok.
"Semula aku kira dia amat tinggi menilai jiwanya sendiri, siapa tahu dia..."
Tenggorokannya seperti tersumbat, kata-kata selanjutnya tak kuasa ia lanjutkan, matanyapun basah dan berkaca-kaca, dengan kuat telapak tangannya menepuk pundak Ki Ping-yan, mulutnya menggumam.
"Pendek kata, aku tak sia-sia mengikat persahabatan sama kau, waktu itu meski Oh Thi-hoa sudah bertekat hendak membunuh aku, belum tentu hendak membunuhmu."
"Tapi cara bagaimana kalian akhirnya tidak sampai mampus?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Disaat jiwaku hampir melayang itulah, sekonyong-konyong terasa ada seseorang menjejalkan sebutir obat ke dalam mulutku, lalu berbisik pula di pinggir telingaku.
"Ingat! Bukan saja Burung Kenari bisa membunuh orang, diapun bisa menolong orang!"
"Jadi dia yang menolong kalian?"
Ujar Coh Liu-hiang terbelalak.
"Apa kalian ada melihat orang macam apakah dia itu?"
"Waktu itu kami sudah dalam keadaan tele-tele, jiwa hampir melayang, apapun tidak melihatnya."
Sahut Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang berpaling kepada Ki Ping-yan. Ki Ping-yan segera geleng-geleng kepala, sesaat menepekur, akhirnya Coh Liu-hiang berkata.
"Tokoh macam apakah sebenarnya si Burung Kenari itu? Kenapa dia berbuat demikian? Apakah dia sengaja hendak menanam budi kepadaku? Ataukah..."
Oh Thi-hoa tertawa, katanya.
"Mungkin dia cuma punya seorang anak gadis yang ingin dijodohkan kepadamu, atau mungkin pula dia sendiri adalah "gadis ayu", entah sejak kapan sudah jatuh hati dan terpincut oleh ketampananmu..."
Tanpa menunggu Coh Liu-hiang bicara, segera dia menambahkan.
"Tapi bagaimanapun yang terang kita harus mencarinya sampai ketemu bukan?"
Coh Liu-hiang menengadah mengawasi segumpal awan terbang, katanya.
"Kita tidak perlu susah-susah pergi mencarinya karena aku yakin satu ketika pasti dia akan mencari kita."
Kini hari sudah magrib.
Dalam sebuah kota yang ramai, jalan-jalan raya penuh sesak berjubel-jubel manusia dari segala macam lapisan, laki-laki, perempuan, tua muda, ada yang memapah orang tua, ada yang membopong anak-anak.
Semua orang kebanyakan riang gembira, karena setelah bekerja seharian dengan tekun dan berat, kinilah kesempatan mereka menghibur diri dengan mengenakan pakaian baru, sepatu yang baru.
Dalam kantong mereka sedikit atau banyak pasti terisi uang dari hasil jerih payah mereka yang mereka tabung dan dari sisa ongkos-ongkos kehidupan yang mereka tabung inilah sekarang mereka menikmati kehidupan sore hari nan cerah dan riang.
Namun ada pula sementara lapisan masyarakat yang tidak mengenal derita hidup dan bebas kehidupan berat, sudah tentu mereka-mereka inipun tidak tahu mencari kesenangan serta meluangkan waktu untuk menghibur diri melepaskan otak dan ketegangan kerja selama bekerja sehari penuh, oleh karena itu selamanya mereka selalu bersikap masa bodoh dan kurang semangat serta tak punya gairah kehidupan.
Seorang petani tanpa bercocok tanam di sawah ladang, namun menginginkan panen sebanyak-banyaknya selamanya dia tidak akan memperoleh kegembiraan hidup.
Sepanjang jalan raya ini, berderet-deret berbagai macam toko dan warung, ada yang menjual kelontong, ada toko besi, ada yang jual daun teh, ada yang jual kain, konveksi, ada pula yang jual pupur, semua toko-toko itu sama menjajakan barang-barang pilihan mereka yang paling baik kwalitetnya di depan tokonya untuk memancing para pembeli.
Pemilik toko sama mengawasi orang-orang yang sedang berlalu lalang di depan tokonya, sorot pandangannya seolah-olah seperti orang-orang yang lewat itu mengawasi barang-barang yang dijajakan itu, kalau orang-orang jalan itu sama ketarik oleh barang-barang itu, sebaliknya pemilik-pemilik toko itu sama ketarik pada uang di dalam kantung mereka.
Orang-orang itu jadi sama pandang, sama tersenyum kebanyakan orang sama kenal satu sama lain.
Tapi diantara sekian banyak orang yang berjublek-jublek itu hanya ada dua orang yang segalanya serba asing di sini.
Mereka bukan lain adalah Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang.
Mereka tidak tahu apakah nama kota yang mereka kunjungi ini, mereka tidak mencari tahu, juga tak ambil perhatian, karena perhatian mereka bukan pada kota ini.
Perhatian mereka tertuju kepada orang-orang yang berjublek-jublek itu.
Dari padang pasir nan terbentang luas tak berujung pangkal serta serba kekeringan itu, mereka kembali dan tiba di kota ini melihat suasana hangat, ramai serta damai dan serta rukun, diantara manusia-manusia baik dan bajik ini, sungguh jauh dan mengetuk sanubari mereka dan membuat hati riang dan lapang pula dadanya.
Keramaian dalam kota yang ramai ini, tempat yang teramai ditempat kesibukan orang-orang di sepanjang jalan raya, ini adalah rumah makan yang paling besar, megah dan mewah ini.
Maka mereka memilih tempat ini untuk berpijak sementara, sekedar tangsel perut sambil melepaskan otot-otot.
Mereka memilih tempat duduk yang dekat jendela, dari loteng jendela ini mereka bisa mengawasi orang-orang yang hilir mudik di bawah, mengawasi senyuman mekar, riang dan gembira orang-orang itu, mengendus deru napas mereka pula.
Begitulah mereka duduk termenung dengan pandangan mendelong, entah berapa lama mereka tak segan-segan mengawasi terus, makanan sudah memenuhi meja, namun tiada satupun yang diusik, botol-botol tak terhitung banyaknya, tapi seluruhnya kosong melompong.
Siapakah burung kenari?
Laki-laki atau perempuan?
Apa pula tujuannya dibalik perbuatannya yang misterius itu?
Kenapa pula setiap korbannya selalu dicukuri alisnya?
Kenapa pula Soh Yong-yong bertiga selama ini?
Bagaimana pula keadaan Hek-tin-cu atau Mutiara hitam?
Ternyata bahwa mutiara hitam adalah seorang perempuan, bagaimana pula sikap si Maling romantis selanjutnya?
Pengalaman Maling romantis di padang pasir sudah berakhir dengan terbunuhnya Ciok-koan-im.
Dapatkah Coh Liu-hiang si Maling romantis membongkar rahasia Sin-cui-kiong?
Keraton yang khusus hanya dihuni kaum perempuan.
Cara bagaimana Bu Hoa memelet salah satu murid-murid didik Sin cui-kiong sampai bunting dan akhirnya bunuh diri?
Kemana Setitik merah yang minggat tanpa pamit dengan Ki Bu-yong?
Apakah mereka akhirnya menikah dan jadi suami istri?
Apakah Coh Liu-hiang bisa mengalahkan Cuibo atau induk air ketua Sin-cui kiang seperti mengalahkan Ciok-koan-im?
Bacalah serial kelanjutan Rahasia Ciok-koan-im ini dengan temannya yang lebih baru, realistis dan serba tegang dan menggelikan!
Tokoh-tokoh pedang bakal bermunculan, gembong silat bakal unjuk diri dari tempat pengasingannya, apa tujuannya?
Apakah Coh Liu-hiang harus melawan dan mengalahkan mereka juga?
Kulit muka Oh Thi-hoa sekarang sudah berubah legam karena teriknya matahari padang pasir beberapa waktu yang lalu, setelah beberapa botol arak masuk ke dalam perut, kulit mukanya menjadi merah menyala kegelap-gelapan, katanya menghela napas.
"Baru sekarang aku sadar, orang-orang awam seperti mereka inilah baru betul-betul amat menarik, kalau setiap hari kau selalu bergaul dengan mereka mungkin kau tidak akan merasa ketarik, akan tetapi bila kau sudah berkayun langkah bertamasya di padang pasir yang terik itu, maka kau akan benar-benar sadar tiada sesuatu apapun di dalam dunia ini yang menarik hatimu kecuali manusia!"
Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya.
"Dan di situ pulalah letak perangaimu yang menarik, seseorang yang punya rasa simpatik terhadap sesama manusia pastilah dia itu bukan seorang durjana, seorang busuk tentu tidak akan punya jalan pikiran seperti kau ini."
"Terima kasih akan pujianmu, aku hanya mengharap jago mampus itupun bisa mendengar pujianmu ini."
Menyinggung Ki Ping yan alias jago mampus, gelak tawa Oh Thi-hoa menjadi sumbang dan mimik mukanya jadi kecut, beruntun dia tenggak tiga cangkir arak, lalu menggebrak meja, katanya gegetun.
"Sungguh aku tak habis mengerti, kenapa jago mampus tidak mau seperjalanan dengan kita, kenapa dia harus pulang?"
"Jikalau kau tahu di rumah ada orang yang sedang menunggu kau, pasti kaupun tergesa-gesa akan pulang!"
Lama Oh Thi-hoa tidak bicara, beruntun dia habiskan lagi tiga cangkir baru dia menghela napas pula, ujarnya.
"Benar, bagaimanapun seorang laki-laki bila tahu di rumah ada orang yang sedang menunggu dirinya pulang, sedang merindukan dirinya, sungguh suatu hal yang amat menyenangkan!"
Tapi yang penting adalah dalam hatimu benar-benar merindukan seseorang yang patut kau perhatikan, kalau tidak umpama rumahnya itu merupakan suatu tempat terindah di seluruh jagat ini, andaikata kau menggusurnya pulang dengan cambuk, diapun tidak akan sudi pulang.
Oh Thi-hoa mengedip-ngedipkan matanya, katanya tertawa.
"Aku tahu, kau sedang merindukan Yong-ji dan lain-lain bukan?"
Tanpa menunggu Coh Liu-hiang segera ia menambahkan pula.
"Bahwasanya umpama kata mereka sudah pulang, hakekatnya kau tidak perlu menguatirkan mereka, cukup mengandal tenaga mereka bertiga, tujuh propinsi selatan dan enam puluh tiga propinsi di utara memangnya siapa berani mengusik seujung rambut mereka?"
Coh Liu-hiang mandah tertawa getir, Oh Thi-hoa pun tidak banyak bicara lagi, karena pada saat mana mereka lihat ada seorang muda berpakaian serba hijau sedang melangkah menghampiri mereka.
Pemuda ini sebetulnya duduk di meja sebelah, tak jauh dari tempat duduk mereka, bukan saja berparas cakap tampan, kelihatannya tindak tanduknya lemah lembut dan gagah, pakaiannya meski tidak terlalu mewah, namun potongannya cukup cocok dengan perawakan badannya, bahkan kainnyapun terbuat dari sutra yang mahal, kelihatannya anak dari keluarga hartawan yang punya pendidikan keras dan tahu adat.
Orang seperti dia kemanapun dia berada, pastilah menarik perhatian orang banyak, apalagi di sebelahnya diiringi istrinya yang cantik molek.
Sebetulnya sejak tadi Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang sudah memperhatikan sepasang suami istri ini, diwaktu mereka minum arak, kedua suami istri ini juga sedang minum, selain cara minum mereka benar-benar mengejutkan orang banyak, ternyata kekuatan minum suami istripun cukup banyak.
Dikala sang suami minum arak, sang istri ternyata dapat mengiringinya dengan baik.
Sejak tadi Coh Liu-hiang sudah merasa ketarik dan kagum.
Sekarang pemuda ini meninggalkan sang istri datang menghampiri, sungguh Oh Thi-hoa tidak mengerti apa maksud orang, pemuda jubah hitam itu sudah tiba dihadapannya, merangkap kedua tangan dan menyapa dengan tersenyum.
"Sebetulnya Siaute tidak berani mengganggu selera minum arak tuan-tuan berdua, tapi melihat kalian sedemikian besar takaran minumnya sungguh tak tahan lagi untuk mohon berkenalan, semoga kalian tidak salahkan keteledoran ini". Bagi tukang judi, umpama celana satu-satunya yang dia pakaipun akhirnya kalah dalam pertaruhan, dia masih senang dipuji orang bahwa dia pintar berjudi, pandai bertaruh. Demikian juga orang yang suka minum arak, tiada yang tiada disanjung puji sebagai orang yang punya takaran besar. Apalagi takaran minum pemuda ini sendiripun tidak sedikit, pujian seperti ini keluar dari mulutnya, sudah tentu membuat hati orang yang dipujinya kegirangan setengah mati. Oh Thi-hoa sudah berdiri menyambut, katanya tertawa.
"Empat penjuru lautan semua adalah saudara, kau sudi kemari, itu berarti kau pandang kami, kalau kami masih salahkan kau, kukira kami ini sudah gila!"
Pemuda itu tersenyum, katanya pula.
"Jikalau Siaute tidak melihat bahwa kalian adalah kaum pendekar yang berjiwa besar, lapang dan luhur, juga sekali kali tidak berani mengganggu di sini."
Oh Thi-hoa mendadak menarik muka, katanya sungguh-sungguh.
"Sebetulnya kau memang tidak pantas kemari."
Baru saja pemuda itu tertegun, Oh Thi-hoa sudah menyambung.
"Jikalau kau kemari ingin ajak kami minum arak, biarlah minta kami saja yang kesana, kenapa kau tinggalkan binimu seorang diri menunggu di meja sana, paling tidak kau harus dihukum tiga cangkir lebih dulu."
Pemuda itu terpingkal-pingkal dengan tepuk tangan, serunya.
"Kalau kalian sudi pindah ke meja sana, umpama Siaute dihukum minum tiga puluh cangkir juga tidak menjadi soal."
Setelah tiga cangkir arak masuk ke perut, Oh Thi-hoa sudah begitu akrab dan saling membahasakan saudara tua dan muda.
Untuk Coh Liu-hiang tidak begitu mudah dia lantas bisa bersahabat dengan orang begitu akrab dalam waktu sesingkat ini, namun bukan berarti bahwa dia berwatak aneh dan berjiwa sempit serta suka menyendiri, apalagi kedua pemuda suami istri ini begitu ramah-tamah dan simpatik, siapapun takkan sungkan-sungkan lagi untuk berkenalan lebih dekat dengan mereka.
Bukan saja pemuda ini baik tutur kata dan sopan santun, takaran araknya pun luar biasa, pintar basa-basi lagi, demikian pula istrinya, berparas cantik dan lemah lembut, cuma diantara tengah alisnya, lapat-lapat seperti mengandung kegetiran hati yang merisaukan sanubarinya, rona mukanyapun pucat dan putih sekali, seperti orang yang baru sembuh dari penyakit yang cukup berat.
Akan tetapi sikap dan keadaan sakit yang molek ini, cukup menggiurkan dan menawan hati juga.
Sepuluh diantara sebelas orang ada di dalam ruang makan di atas loteng ini, rata-rata sering melirik mata ke arahnya dengan melotot.
Setiap matanya mengerling, pandangan mata laki-laki yang duduk tersebar di sekelilingnya sama terkesima, jikalau ada orang yang tidak melirik atau memandang kepadanya, tentulah orang itu sudah mabuk dan tidak sadar diri.
Ternyata pemuda jubah hijau ini tidak hiraukan bagaimana pandangan orang lain terhadap istrinya, bukan saja dia tidak marah, malah seperti merasa senang dan bangga.
Yang aneh, suami istri muda ini kelihatannya lemah lembut dan sopan santun, malah boleh dikata lembut tak kuat menahan hembusan angin, namun sepasang matanya justru berkilat terang sebening air danau.
Coh Liu-hiang maklum hanya seseorang yang membekal Lwekang tinggi saja yang mungkin mempunyai sorot mata setajam itu, jelas bahwa suami istri muda ini adalah kaum persilatan yang punya kepandaian tidak rendah pula.
Akan tetapi pada setiap gerak-gerik dan percakapan mereka, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang pandai bermain silat dan sudah berpengalaman di kalangan Kangouw, dari sudut manapun tetap bukan kaum persilatan.
Mau tidak mau Coh Liu-hiang jadi ketarik juga kepada kedua orang ini.
Terhadap istri orang lain sudah tentu tidak enak dan sungkan dia mengawasinya dengan seksama, tapi disaat suaminya sedang menghaturkan arak dan ajak Thi-hoa adu minum, istrinya itu sedang menunduk dan batuk-batuk kecil.
Kebetulan sinar api menyorot dari sebelah samping dan menyinari selembar mukanya.
Sorot mata Coh Liu-hiang berlawanan arah sama-sama tertuju ke wajah orang.
Sungguh seraut wajah yang serba sempurna tanpa cacat sedikitpun, bentuk liku pada setiap kulit mukanya kentara amat jelas dan lengkap, seolah-olah lebih sempurna dari ukiran sebuah patung dewi pualam yang indah itu.
Tapi berkat ketelitian Coh Liu-hiang serta ketajaman matanya, lapat-lapat dia merasakan raut muka yang sempurna ini tetap masih kekurangan sesuatu yang kurang wajar pada diri seorang perempuan cantik.
Dari sudut tempat duduk Coh Liu-hiang sekarang, kebetulan tepat sekali dapat memandang kedua alis dari samping yang tersorot sinar api, ternyata perempuan secantik ini tanpa mempunyai alis, jadi alis lentik di atas matanya itu adalah hasil karya seorang ahli dengan goresan potlot hitam yang sedemikian miripnya dan sukar dibedakan kalau tidak diperhatikan.
Serasa hampir berhenti napas Coh Liu-hiang.
"Burung Kenari?"
Apakah nyonya muda dihadapannya ini adalah si Burung Kenari?
Seketika terbayang oleh Coh Liu-hiang mayat-mayat gadis di dalam lembah sesat ditengah padang pasir itu, kematian setiap gadis itu sedemikian mengerikan, kedua alis setiap korbannya tiada satupun yang ketinggalan, semua dicukur kelimis...
"Apakah lantaran dia sendiri tidak mempunyai alis, maka setiap kali dia membunuh seorang perempuan, alis korbannya lantas dicukuri lebih dulu?"
Hanya sekilas Coh Liu-hiang mengawasi lantas melengos, kebetulan pemuda jubah hijau dengan tertawa angkat cangkir kepadanya.
Coh Liu-hiang angkat juga cangkirnya ajak orang minum bersama, katanya tertawa.
"Sudah sekian banyak arak tertelan ke dalam perut, namun siapakah she dan nama besar saudara belum lagi sempat kami tanyakan?"
Oh Thi-hoa gelak-gelak, serunya.
"Ya, ya, aku hanya repot minum dan minum saja sampai melupakan hal ini, sungguh harus dihukum tiga cangkir."
Setelah Oh Thi-hoa tenggak habis tiga cangkir, baru pemuda baju hijau memperkenalkan dirinya dengan tertawa.
"Siaute Li-Giok-nam. Belum habis kata-katanya, istrinya yang cantik itupun angkat cawan dan menyela.
"Kenapa kalian tidak tanya siapa aku? Apakah setiap perempuan setelah dia menikah lantas tak pantas ditanyakan namanya?"
Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang katanya tertawa.
"Agaknya kami harus dihukum minum tiga cangkir lagi."
Li Giok-han segera memperkenalkan dengan tertawa.
"Istriku bernama Liu Bu-bi. Bu-bi artinya "tanpa alis", jangan kalian sangka dia ini lemah tak tahan dihembus angin, sebetulnya bukan saja wataknya menyerupai laki-laki, kalau berkelahi, diapun tidak akan bisa dikalahkan oleh laki-laki."
"O!"
Oh Thi-hoa bersuara heran dengan tertawa.
"Tak nyana istrimu ini kiranya srikandi yang perwira dari kaum hawa!"
Liu Bu-bi tersenyum manis katanya.
"Sebetulnya sampai namakupun mirip dengan laki-laki, cuma diwaktu kecil aku kena penyakit keras, meski tidak mati, namun alisku rontok seluruhnya... alisku sekarang adalah lukisan palsu belaka, masakah kalian tidak bisa membedakan?"
Semula Coh Liu-hiang mengira orang pasti menyembunyikan kekurangan dirinya ini, tak nyana bahwa sekarang dia mengaku terus terang malah, sudah tentu Coh Liu-hiang merasa sangat diluar dugaan.
Terdengar Li Giok-han menimbrung.
"Sekarang giliran Siaute mohon tahu siapakah nama besar kalian berdua?"
"Aku she Oh bernama Thi-hoa, dia..."
Baru saja Coh Liu-hiang belum berkeputusan apakah dia haru membiarkan orang memperkenalkan dirinya, tepat pada saat itulah sekonyong-konyong ada orang menerobos maju dekat mereka, sambil berseru keras menuding Coh Liu-hiang.
"Apakah semua hadirin sudah melihat jelas, tuan ini adalah Coh Liu-hiang yang terkenal dikolong langit, hari ini sungguh kalian beruntung, dapat melihat muka asli Maling romantis yang sesungguhnya, adalah pantas kalau kalian berdiri menghaturkan secangkir arak kepadanya!"
Tenggorokan ini agaknya amat lebar, dan suaranya sekeras tukang jual obat di pinggir jalan yang sering menjajakan dagangannya, sudah tentu dengan suara teriakannya ini seluruh tamu-tamu yang hadir di dalam loteng ini sama terkejut, meski diantara mereka hakekatnya tidak tahu siapa dan orang macam apa sebenarnya Coh Liu-hiang si Maling romantis, tapi bagi orang yang pernah kelana dan menempuh perjalanan jarak jauh, pasti pernah mendengar ketenaran Coh Liu-hiang, seketika berobah roman muka mereka.
Tampak orang ini berbaju biru bercelana abu-abu.
Kedua kakinya diikat dengan kain panjang warna hitam, sedang baju di depan dadanya tersingkap lebar, pelipis sebelah kiri ditempel obat koyo, terang sekali dia ini seorang bajingan atau buaya darat setempat, setelah berkaok-kaok tanpa banyak tingkah lagi segera dia putar badan dan hendak pergi.
Coh Liu-hiang masih bisa berlaku tenang, sebaliknya Oh Thi-hoa tidak sabar lagi, sekali raih dia cengkeram pundak orang, katanya dengan tertawa berseri.
"Siapa sahabat ini? Cara bagaimana kau bisa kenal Coh Liu-hiang?"
Orang itu berusaha meronta melepaskan diri namun sedikit Oh Thi-hoa kerahkan tenaga, keringat dingin seketika berketes-ketes membasahi jidatnya, katanya sambil meringis.
"Aku yang kecil ini hanya penjual obat saja, masakah kenal Coh Liu-hiang tokoh kosen yang tenar di Kangouw, soalnya ada orang memberi sepuluh tail perak kepadaku, suruh aku berkaok-kaok di sini, begitulah kejadiannya dan titik."
Oh Thi-hoa tahu apa yang dikatakan ini memang benar, karena dengan kepandaian orang serendah ini, untuk kenal siapakah Coh Liu-hiang yang sebenarnya tidak akan mungkin terjadi.
Sebaliknya Coh Liu-hiang mengerut kening katanya.
"Siapakah yang memberi kau sepuluh tail perak? dan menyuruhmu kemari?"
Laki-laki itu unjuk tawa getir, katanya meringis kesakitan.
"Orang itu bilang adalah teman baik Coh Liu-hiang, Sianjin sendiripun tak melihat roman mukanya."
"Memangnya kau ini picak?"
Damprat Oh Thi-hoa dengan melotot.
"Orang itu menyeret Sianjin ke tempat yang gelap, membelakangi sinar lagi, Sianjin hanya melihat orang itu membawa sebuah kurungan, di dalam kurungan kalau tak salah ada seekor burung kenari."
"Burung Kenari?"
Tak tertahan Oh Thi-hoa berteriak kaget. Segera dia berpaling kearah Coh Liu-hiang tak memberikan reaksi apa-apa, cuma tertawa-tawa katanya.
"Benar, memang orang itu adalah temanku, agaknya dia sengaja hendak menggoda aku, kau beleh pergilah!"
Terpaksa Oh Thi-hoa lepaskan tangannya, selicin belut laki-laki itu segera berlari sipat kuping turun ke bawah loteng.
Agaknya Li Giok-han pun terkesima, baru sekarang dia menarik napas panjang, katanya sambil menepuk tangan.
"Bi-ji, kau sudah dengar bukan? Coh Liu-hiang si Maling romantis yang paling kau kagumi, sekarang sedang duduk di hadapanmu, tidak lekas kau haturkan secangkir arak kepadanya?"
Liu Bu-bi tertawa, katanya.
"Sudah tentu aku ingin menghaturkan secangkir arak, namun sekarang Coh Liu-hiang takkan bisa minum lagi."
"Tidak bisa minum lagi? Kenapa?"
Liu Giok-han menegur.
"Jikalau kau ditatap sedemikian rupa oleh sekian banyak pasang mata, apa kau masih bisa tenang minum arak?"
Bisa-bisa dia tersenyum manis kepada Coh Liu-hiang, katanya pula.
"Oleh karena itu Coh-siangsing kau tidak perlu menemani kami minum lagi, jikalau kau ingin pergi, kami sekali kali tidak akan menahan dan menyalahkan kau."
Coh Liu-hiang menarik napas panjang, katanya dengan tertawa getir.
"Cayhe sebetulnya tak ingin pergi, tapi sekarang.... terpaksa Cayhe mohon diri saja."
Begitu tiba di bawah loteng, dengan keras Oh Thi-hoa lantas menepuk pundak Coh Liu-hiang, katanya.
"Ulat busuk, bukankah banyak sekali perempuan-perempuan yang pernah kau lihat, tapi perempuan seperti Liu Bu-bi ini, kukira kau belum pernah melihatnya bukan? Dia cantik rupawan, hal ini tak perlu diragukan lagi, malah... malah gagah dan periang, genit dan supel, begitu prihatin lagi, tahu bahwa kau tidak akan tahan lama duduk di sana segera dia membujukmu untuk segera mengundurkan diri, apalagi terhadap suaminya tentu lebih besar perhatiannya."
"Tidak salah, dalam hal ini memang harus dihargai."
"Dihargai? Memangnya cukup dihargai saja, perempuan seperti dia berani kukatakan pasti tak ada yang keduanya dimuka bumi ini."
"O!"
"Ada kalanya perempuan itu mempunyai banyak manfaat, tapi perempuan tetap perempuan, setiap perempuan sedikit atau banyak pasti mempunyai kekurangannya, ada yang suka cerewet, ada yang bertingkah, ada pula yang bersikap dingin kaku dan kasar lagi, namun ada pula yang cabul dan murah menjual cinta, ada yang melarang suaminya minum arak, sebaliknya dia sendiri suka minum cuka."
"Kalau toh setiap perempuan mempunyai kekurangannya sendiri, memangnya dia itu bukan perempuan?"
"Justru disitulah letak keistimewaannya seluruh manfaat dan kebaikan dari rupa-rupa perempuan, dia memiliki seluruhnya, tapi kekurangan setiap perempuan, tiada satupun yang ada padanya, demikian pula sifat baik dan watak laki-laki yang patut dihargaipun dia miliki, namun justru dia seratus persen adalah perempuan, kalau masih ada perempuan kedua seperti dia, meski harus mampus mempertaruhkan jiwa, aku akan mati-matian berusaha mengawinkannya."
Baru pertama kali ini kau melihatnya, sudah begitu jelas kau mengenal dirinya?"
Oh Thi-hoa membusungkan dada, katanya lebih keras."
Jangan kau kira hanya kau saja yang pandai menilai, dan menyelami jiwa perempuan, aku orang she Oh belum tentu lebih asor dari kau."
"Masakah tak terpikir olehmu, bukan mustahil bila dia itu Burung Kenari itu?"
Hampir saja Oh Thi-hoa menghindar kaget, serunya melotot.
"Burung Kenari? Apa kau hari ini tak enak badan? Jikalau benar dia Burung Kenari, lalu siapa pula yang membawa kurungan burung itu?... Jikalau dia benar Burung Kenari, biar kupenggal kepalaku ini."
Coh Liu-hiang tertawa-tawa saja tak banyak bicara lagi, karena dia sendiri mulai curiga juga akan dugaan dan pemikirannya, sesaat lamanya baru mulutnya menggumam.
"Hari ini sudah dijamu makan minum oleh mereka, besok kita harus berdaya undang mereka menjamunya kembali". Oh Thi-hoa tepuk tangan serunya.
"Setengah harian kau ngobrol, baru kata-katamu ini yang patut dipuji."
Memang mereka sudah berencana untuk menginap di kota ini semalam, maka sejak datang tadi mereka sudah mencari penginapan dan minta dua kamar yang paling bersih.
Sinar rembulan menyinari pohon flamboyan di depan jendela, pada pertengahan musim semi ini, entah dari mana datangnya hembusan angin yang membawa bau harum seolah-olah membuat orang kantuk dan tenggelam dalam buaian mimpi.
Tapi Oh Thi-hoa masih duduk di kamar Coh Liu-hiang.
Coh Liu-hiangpun tidak mendesaknya untuk kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur, karena Coh Liu-hiang cukup tahu orang paling takut akan kesunyian.
Apalagi di dalam waktu yang sudah larut malam dengan bulan purnama lagi, memang tidak bisa tidak seseorang duduk melamun seorang diri tanpa ditemani sahabatnya, memandang rembulan bundar di tengah cakrawala.
Coh Liu-hiang berkata lirih.
"Bau kembang demikian harum, musim rontok mungkin sudah berselang tanpa kita sadari. Oh Thi-hoa menarik napas katanya.
"Entah berapa banyak persoalan pula yang tanpa kita sadari sudah berlalu demikian saja, apalagi musim rontok..."
Pada saat itulah, terdengar suara orang banyak yang ribut-ribut, disusul terdengar seorang berseru lantang.
"Apakah Coh Liu-hiang tinggal di sini? Yau Tiang-hoa sengaja berkunjung kemari."
Coh Liu-hiang mengerut kening, katanya.
"Celaka, ternyata Burung Kenari suruh orang berkaok-kaok di atas loteng itu, maksudnya hendak mencari kesukaran bagi kita."
Baru saja kata-katanya berakhir, di taman kembang di luar kamarnya sudah penuh sesak berjublek banyak orang.
Ada yang menenteng lampion, ada pula yang memanggul seguci arak, ada yang sudah setengah sinting karena hampir mabuk, ada yang rasa kantuknya belum hilang, seolah-olah baru saja diseret orang dari tempat tidurnya.
Yang berjalan terdepan adalah seorang laki-laki yang panjang kaki, panjang tangan, badannya kurus hitam, dua tiga langkah saja orangnya sudah tiba di pinggir jendela, biji matanya berjelalatan, segera dia rangkap tangan menjura dan berkata.
"Siapakah yang bernama Coh Liu-hiang? Cayhe Yau Tiang-hoa, semula murid Siau lim pay dari golongan preman, sekarang membuka Piau-kiok kecil-kecilan di sini, sudah lama kami dengar ketenaran nama besar Coh Liu-hiang si Maling romantis, kau Coh Liu-hiang sudah sudi mampir ke kota kecil ini, jikalau kami tidak diberi kesempatan untuk menyambut selayaknya sebagai tuan rumah, berarti memandang rendah kami sekalian. Orang ini bicara cepat dan gugup menyerocos dengan ludah berhamburan, waktu menyebut Siau Lim pay mukanya unjuk takabur dan bangga. Menghadapi orang-orang awam yang suka mengagulkan diri ini, sungguh Oh Thi-hoa seperti kehabisan akal, baru saja dia ingin menyeret keluar menyingkir ke tempat lain, tak nyana Coh Liu-hiang sudah menepuk pundaknya sambil tertawa, katanya.
"Agaknya tidak kecil gengsi dan mukamu, begitu besar penghargaan mereka sampai meluruk begini banyak kemari."
Keruan mendelong biji mata Oh Thi-hoa, tapi orang-orang banyak di luar jendela itu sudah beramai-ramai menjura dan bersoja kepadanya, untuk menyangkalpun sudah tak sempat lagi.
Didengarnya orang-orang di luar itu berebut menyanjung puji kepadanya.
"Sudah lama kagum akan kebesaran nama Coh Liu-hiang! Hari ini beruntung dapat berhadapan dengan Maling Romantis, sungguh amat menggirangkan!"
Waktu Oh Thi-hoa melirik dilihatnya Coh Liu-hiang sudah menyingkir kesamping jendela, sungguh gemasnya bukan main, namun sekilas biji matanya berputar, tiba-tiba dia bergelak tawa ujarnya.
"Benar, Cayhe memang Coh Liu-hiang, tapi Coh Liu-hiang tak lebih hanya maling kecil belaka, masakah aku berani bikin repot para saudara sekalian untuk menjenguk kemari?"
Sembari bicara sengaja dia melerok kepada Coh Liu-hiang, tak nyana Coh Liu-hiang masih berseri geli sambil menggendong tangan di tempatnya, sedikitpun tak marah oleh banyolannya.
Yau Tiang-hoa sebaliknya tertegun, sesaat kemudian lalu berkata dengan mengerut kening.
"Coh Liu-hiang terlalu merendahkan diri, kaum persilatan yang tak tahu Maling romantis mencuri punya si lalim untuk bantu si miskin, berjiwa besar, bajik dan setia kawan, suka menegakkan keadilan lagi, siapa pula yang berani mengatakan Maling kecil atau perampok atas diri Coh Liu-hiang?"
Oh Thi-hoa terbahak-bahak.
"Di hadapanku kalian tidak akan berani berkata demikian, di belakangku bukan mustahil bukan saja memakiku sebagai rampok atau maling, mungkin mencaciku sebagai kurcaci dan apa saja yang lebih rendah!"
Kembali Yau Tiang-hoa tertegun, katanya tertawa kering.
"Coh Liu-hiang ternyata begini humor dan suka berkelakar, sungguh lucu dan menyenangkan"
Seperti kuatir Coh Liu-hiang mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar kuping, lekas dia menambahkan "Biarlah Cayhe perkenalkan beberapa kawan yang ikut datang ini...
tuan ini adalah Mao Kian kong, orang menyebutnya Sinkun-bu-tek-toa-piau-khek atau Piausu besar bertangan sakti tanpa tandingan, dia ini Tio Toa hay...
Beruntun dia memperkenalkan puluhan nama orang, kalau bukan Sin kun atau kepala sakti tentu Sin to atau golok sakti, kalau bukan Bu tek atau tiada tandingan tentu Tin wi atau menggoncangkan kota.
Mengawasi tampang orang-orang ini, mendengar lagi nama gelaran mereka satu persatu, sungguh serasa hampir saja gigi Oh Thi-hoa protol saking geli, tak tahan dia berkata tertawa.
"Kalian datang berbondong-bondong entah ada petunjuk apa kepadaku."
Tio Toa-hay segera tampil ke depan, katanya.
"Cayhe beramai bukan saja amat kagum bahwa Ginkang Maling romantis tiada bandingan dimuka bumi ini, takaran minumannyapun tiada bandingannya di seluruh kolong langit, kali ini kita punya kesempatan sama, kita beramai ingin sekedar menyuguh arak beberapa cawan kepadamu."
"Salah, salah, kalian salah semua, Gingkang ku Coh Liu-hiang ini meski secepat lari kuda, sekencang harimau, tapi takaran minumku paling hanya setanding saja dengan si Ulat busuk, orang yang benar-benar punya takaran minum tiada bandingannya nih berada disini."
Kemana jarinya menuding, pandangan semua orang yang diluar jendela serempak tertuju kearah Coh Liu-hiang, untuk menyingkirpun tak dapat lagi, maka Oh Thi-hoa bergelak tawa, katany.
"Nah inilah Oh Thi-hoa, Oh Tayhiap, dia benar-benar tokoh besar didalam bidang minum arak, seorang gagah, seorang enghiong, kalau kalian tidak lekas haturkan beberapa cawan lebih banyak kepadanya kelak pasti kalian akan menyesal dan kecewa karena kehilangan kesempatan baik ini."
Belum habis kata-katanya, entah berapa banyak jumlah orang-orang itu sudah beramai-ramai memburu masuk lewat jendela atau dari pintu, lima diantara sepuluh orang sudah memburu ke arah Coh Liu-hiang dan berdekatan untuk bersalaman dengannya.
Baru sekarang Oh Thi-hoa terhitung membalas dendam, tanpa menunggu orang menghatur arak kepadanya, lebih dulu dia rebut cawan ditenggaknya habis tiga cawan besar.
Lalu katanya tertawa besar.
"Sebenarnya bukan saja aku Coh Liu-hiang takaran minumku tak sebanding Oh Tayhiap ini, ilmu silatkupun bukan tandingannya, pada suatu hari aku mengajaknya bertanding, dalam lima puluh jurus saja aku sudah kena dibantingnya, kepala keluar kecap... coba kalian lihat, kepalaku di sini pelang, untung dia kenal kasihan kepada teman sendiri, kalau tidak mungkin pelang di kepalaku ini lebih besar tiga kali lipat."
Mata semua orang terbelalak dan berpaling ke arah Coh Liu-hiang, beramai-ramai mereka bertanya.
"Apa benar Oh Tayhiap kau?"
Ribut sekali sampai kuping Coh Liu-hiang serasa pekak oleh pertanyaan yang bertubi-tubi, tiada satupun pertanyaan mereka yang jelas terdengar olehnya, terpaksa dia hanya menyengir saja sambil mengelus hidung, dalam hati gemas dan gegetun setengah mati, ingin rasanya sumbat mulut Oh Thi-hoa dengan rumput kering.
Pada saat itulah "Wut"
Sebuah benda hitam legam dan berat tiba-tiba melesat terbang lewat jendela dari luar pekarangan masuk ke dalam kamar, begitu keras daya luncuran benda ini sampai angin menderu dan jendelapun sampai bergetar bersuara.
Keruan orang-orang yang berada didalam kamar sama kaget dan menjerit menyingkir sejauh mungkin.
"Blang"
Serasa bergetar seluruh kamar itu, benda berat itu tepat jatuh di atas meja, piring mangkok dan cangkir serta guci yang berada di atas meja besar itu sama tersapu jatuh seluruhnya, waktu semua orang menegasi ternyata itulah sebagai hiasan ditengah taman kembang sana.
Gentong ikan mas ini sedikitnya berat tiga lima ratusan kati, tapi orang dapat mengangkat dan dilemparkan ke dalam kamar dari jarak yang begini jauh, malah tepat sekali jatuh di atas meja, malah air di dalam gentong tiada setetespun yang tercecer keluar, maka dapatlah diukur berapa besar dan hebat kekuatan tenaga orang yang melemparnya masuk, sungguh mengejutkan, serempak semua hadirin sama berpaling keluar jendela.
Bintang-bintang kelap-kelip menghias cakrawala, sinar rembulan sebening air telaga, pepohonan dari tanaman didalam pekarangan seolah-olah baru saja tersiram dan tercuci bersih dan menjadi segar, dan di bawah pohon flamboyan di sana itu tahu-tahu tampak dua sosok bayangan orang.
Entah kapan dan dari mana datangnya kedua bayangan orang ini, mereka sama mengenakan jubah panjang warna hitam, kepala dan mukanya berkerudung oleh kedok hitam pula.
Bersambung ke
Jilid 29
Jilid 29 Kedok yang terpakai dari kedua orang ini berlainan coraknya.
Yang bertubuh pendek mengenakan kedok muka orang yang sedang tertawa lebar dengan mulut terpentang, sementara kedok muka orang yang tinggi sedang mewek-mewek seperti hendak menangis, jadi kedua kedok berlawanan ini, satu tertawa yang lain menangis jelas sekali perbedaan dan warnanya, hijau dan putih.
Kalau dilihat siang hari tentu amat lucu dan menertawakan, tapi pada malam sunyi di tengah bulan purnama ini kelihatan justru rada seram dan mengiriskan.
Hembusan angin malam yang kencang menggetar bunyinya jubah panjang yang dipakai kedua orang ini, hembusan angin dingin itupun menghembus masuk ke dalam kamar, seketika Yau Tiang-hoa dan lain-lain sama bergidik dan merinding, suaranya tergagap.
"Ke... kedua sahabat itu apakah juga teman baik Coh Liu-hiang?"
"Bukan"
Sahut Oh Thi-hoa tegas sambil geleng kepala.
"Lalu siapakah kedua orang itu?"
Tanya Yau Tiang-hoa pula dengan mengkirik. Terpentang lebar mulut Oh Thi-hoa tertawa lebar, sahutnya.
"Kenapa kau tanya aku malah, kau ini murid Siau lim pay yang diagungkan itu, sebagai tuan rumah di sini lagi, jikalau di dalam kota kedatangan orang2 yang tak dikenal asal usulnya, masakah kau tidak tahu?"
Karena diumpak, Yau Tiang-hoa segera membusungkan dada, segera ia tampil ke depan dengan unjuk sikap gagah sebagai murid Siau lim pay, tak nyana begitu dia angkat kepala, empat biji mata di luar jendela itu sedingin es setajam pisau sedang menatap kepada dirinya.
Orang berkedok muka tertawa itu segera tertawa cekikikan, katanya kalem.
"Tak nyana di sini ada murid Siau lim pay, maaf, kurang hormat, kurang hormat."
Sembari bicara segera ia membungkuk badan menjemput dua buah batu bata yang masing-masing dijepit diantara kedua jarinya, waktu ucapannya sampai pada kata "kurang hormat"
Kedua batu bata itu tiba2 sama rontok berhamburan memenuhi tanah, ternyata hanya sedikit mengerahkan tenaga jarinya saja kedua batu bata itu sudah dijepit hancur berkeping-keping.
Begitu demonstrasi kekuatan jari-jari si orang berkedok tertawa diperlihatkan, jangan kata Yau Tiang-hoa sudah pucat pias saking kaget dan ketakutan.
Sampaipun Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa ikut terkejut dan kagum.
Orang berkedok tangis itu segera menjengek dingin.
"Sudah lama kudengar pukulan dari Siau-liem-pay tiada bandingan di seluruh kolong langit, sudikah sahabat ini keluar memberi beberapa jurus?"
Suara itu seperti meringkik tangis mirip benar dengan suara seorang banci. Napas Yan Tiau-hoa tersengal tanpa sebab, sahutnya tergagap.
"Aku... Cayhe... tak sempat bicara lagi tiba-tiba badannya roboh menindih Tio Toa-hay. Ternyata kedua lututnya lemas dan tak kuat berdiri lagi, sekilas Mao kian-kong melirik kepada Oh Thi-hoa, mendadak dia membesarkan nyali berkata dengan keras.
"Kawan di luar itu aliran dari mana? Memangnya kau tidak tahu siapa yang tinggal di sini?"
"Siapa dia?"
Tanya orang berkedok tangis dingin. Sebaliknya, orang berkedok tawa itu berkakakan.
"Paling hanya kaum keroco yang suka main gertak dan suka mulut besar belaka."
Merah muka Mao kian-kong, katanya.
"Mulut sahabat ini sukalah bicara sedikit bersih, tahukah kau Oh Thi-hoa, Coh Liu-hiang Maling romantis yang menggetar dunia persilatan sama berada disini."
Orang berkedok tangis itu berkata.
"Memangnya hari ini kami hendak mencari Oh Tay-hiap dan Coh Liu-hiang, siapapun dia asal teman baik kedua orang ini, terhitung menjadi tujuan kita pula, bagi mereka yang tidak bersangkut paut dengan kedua orang ini, lekas menyingkir ke samping."
Sembari bicara telapak tangannya mengelus batang pohon, begitu habis kata-katanya, daun-daun plamboyan di pucuk pohon tiba-tiba sederas hujan sama runtuh berjatuhan.
Maka orang-orang yang berkerumun didalam rumah itu seperti digiring dengan cambuk beramai-ramai lari ke samping menjauhi Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang.
Tinggal mereka berdua yang tetap berdiri ditengah ruangan.
Mao Kian-kong segera unjuk tawa dipaksakan katanya.
"Kami memangnya tiada hubungan apa-apa dengan Coh Liu-hiang, malah kenalpun belum pernah, benar tidak?"
Orang-orang lain segera unjuk tawa dipaksakan juga dan menanggapi.
"Hakekatnya memang tidak kenal... siapakah sih Coh Liu-hiang itu?"
Orang berkedok tangis menjengek lebih dingin.
"Betul-betul kawanan kunyuk kurcaci."
Orang berkedok tawa berkata.
"Kalau demikian kalian dua orang silahkan keluar."
Oh Thi-hoa tiba-tiba maju ke depan Mao Kian-kong, katanya cengar-cengir.
"Mao-toa piausu, persahabatan kami selama beberapa tahun ini kenapa kau tak ikut membantu kesulitanku?"
Memutih bibir Mao Kian-kong matanyapun mendelik ketakutan, katanya gemetar.
"Kau... siapa kau hakekatnya aku tidak kenal kau, mana boleh kau memfitnah orang."
Oh Thi-hoa terpingkal-pingkal katanya.
"Kalau kau tidak kenal aku, baiklah silahkan kau minum secawan arak ini, pelan-pelan dia angkat secawan arak tinggi-tinggi terus dituang pelan-pelan diatas kepala Mao Kian-kong, saking kaget dan ketakutan setengah mati Mao Kian-kong sudah berdiri kaku mematung, menyingkirpun tidak berani. Oh Thi-hoa gelak-gelak sambil membuang cawannya, katanya.
"Agaknya perlu kau mengganti nama dengan sebutan kunyuk bedebah."
Ditengah gelak tawanya tiba-tiba badannya sudah melesat keluar jendela.
Dua bayangan orang di luar itupun serempak berkelebat terbang jauh ke belakang, tahu-tahu hinggap di atas pagar tembok terus berkelebat sekali gali lenyap ditelan kegelapan di luar sana, betapa tinggi dan hebat kepandaian ginkangnya sungguh amat mengejutkan.
Akan tetapi ilmu ginkang Oh Thi-hoa apalagi Coh Liu-hiang dibandingkan siapapun takkan lebih asor, namun melihat lawan begitu tinggi dan amat lihai, sedikitpun mereka tidak berani takabur.
Mereka terbang melesat jajar berendeng adu pundak, dari kejauhan menguntit kedua bayangan itu, dalam waktu dekat sengaja mereka tidak berani mengejar terlalu dekat, sekilas Oh Thi-hoa melirik pada Coh Liu-hiang, katanya tertawa getir.
"Agaknya musuhmu yang lihay lihay tak sedikit jumlahnya."
"Memangnya kedua orang di depan itu bukan musuhmu ?"
Oh Thi-hoa melengak katanya.
"Hakekatnya melihatpun aku belum pernah orang macam apa sebenarnya kedua orang ini"
"Aku juga belum pernah melihat mereka."
"Coba kau pikir-pikir kedua orang ini pasti mencari kau, musuh musuhku tiada satupun yang membekal kepandaian setinggi mereka, hanya satu saja Kui-ong "Raja Setan"
Han Bui tapi tiga tahun yang lalu iapun sudah menjadi setan asli."
"Aku sendiripun tak habis pikir kapan pernah musuh setangguh mereka ini."
Masakan dari gerak gerik dan langkah ilmu silat mereka kau tidak bisa membedakan siapa mereka? Tidak banyak tokoh-tokoh selihay mereka ini dalam kalangan Kang ouw!"
"Pukulan tangan kedua orang ini sama dilandasi kekuatan lunak, seperti Kim si hiang ciang "Pukulan Kapas Benang Emas"
Dari aliran Kam-cong. Akan tetapi yang benar-benar dapat meyakinkan Kim-si-hian-siang sampai tingkat setaraf itu, selama tiga puluhan tahun mendatang ini tidak lain hanya Put sian khek seorang saja."
"Tapi Put sian-khek hanya punya sebuah tangan, mana mungkin menjadi dua orang?"
"Aku tahu mereka jelas tak mungkin Put-sian-khek adanya oleh karena itu aku tak habis pikir siapakah gerangan kedua orang ini?"
"Perduli siapa kedua orang ini, gelagatnya malam ini kita harus bertanding adu jiwa, semula kukira sepulang ke kampung halaman boleh kita mengecap hidup tenteram dan damai siapa nyana baru ditengah jalan sudah kebentur kesulitan begini, tahu begini, aku lebih suka ikut Pipop-kongcu kembali ke negeri Kui-je hidup disanjung dan berkelebihan di sana."
Mulut mereka bicara, namun gerak gerik mereka tidak menjadi kendor karenanya, gerakan kedua orang di depanpun tidak menjadi lambat, betapa kuat pernapasan mereka, kiranya tidak lebih asor dari mereka.
Jalan yang mereka tempuh semakin belukar naik turun tidak menentu, masuk hutan melompati jurang, akhirnya mereka tiba pada suatu tempat dimana banyak terdapat kunang-kunang sedang beterbangan dimalam hari, kiranya tanpa disadari mereka telah tiba di tanah pekuburan.
Oh Thi-hoa mengerut kening, katanya.
"Kembali tiba di tanah pekuburan, kenapa setiap kali ada orang yang menantang berkelahi sama aku, selalu mencari tanah pekuburan sebagai gelanggang pertumpahan?"
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Jikalau ingin ajak kau minum arak, sudah tentu akan bawa kau ke rumah makan, tapi sekarang dia merenggut jiwamu, sudah tentu membawamu ke tanah pekuburan supaya lebih gampang membereskan mayatnya."
Kebetulan hembusan angin malam yang rada santer menghembus datang dari depan kunang-kunang sama serabutan menyampok muka mereka.
Di sini bulan purnama seraya memancarkan cahayanya yang redup.
Cahaya yang redup remang-remang menyinari tanah pekuburan yang serba seram, sunyi dan semak belukar seperti ini, dari kejauhan sering terdengar lolong serigala lagi, suaranya yang melengking tinggi dan tajam laksana pekik setan yang penasaran, namun rasanya lebih jelek dan lebih seram kedengarannya dari setan nangis, lama kelamaan Oh Thi-hoa merasa kulit mukanya kaku kejang tak bisa tertawa lagi.
Kedua orang seragam hitam itu sementara mana sudah berhenti ditengah tengah tanah pekuburan ini, dengan dingin mereka mengawasi kedatangan Coh Liu-hiang berdua.
Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa memperlambat langkahnya, langkah demi langkah dengan kewaspadaan mereka maju mendekat.
Tampak di depan kuburan-kuburan yang berjajar dan bersusun susun itu sudah ditata empat peti mati kecil, di atas peti mati kecil ini dilambari tikar dari rumput, orang berkedok muka tangis ulur tangannya menuding peti-peti mati di depannya dan berkata.
"Silahkan !"
Oh Thi-hoa mengelus-elus hidung katanya tertawa.
"Jikalau peti mati ini dipersiapkan untuk aku, rasanya terlalu kecil."
Orang berkedok muka tertawa terkekeh kekeh, katanya.
"Jikalau badanmu dipotong menjadi dua, bukankah tepat dan pas ?"
Meniru suara tawa orang, Oh Thi-hoapun terkekeh kekeh, ujarnya.
"Potongan badanmu kira kira sebanding dengan aku untuk memasukkan badanmu peti inipun pas dan tepat."
Orang berkedok muka tangis itu ternyata menuding pula ke arah peti mati yang lain.
"Silahkan !"
Oh Thi-hoa tertawa riang, serunya.
"Tak heran usaha toko peti mati belakangan ini cukup laris, kiranya ada orang menggunakan peti mati sebagai tempat duduk!"
Melihat Coh Liu-hiang sudah duduk, terpaksa diapun duduk ke tempat yang ditunjuk.
Empat orang masing-masing menduduki empat peti mati, satu sama lain berhadapan, duduk ditengah tanah pekuburan.
Coh Liu-hiang tersenyum ewa, katanya.
"Entah siapakah nama besar kalian berdua ? Sebetulnya apakah tujuan kalian memancing kami kemari ? Apakah sebelum kami pernah bermusuhan ?"
Beruntun dia ajukan tiga pertanyaan, namun satupun tidak dijawab. Orang berkedok muka tangis mendadak malah mengulap tangan memberi tanda dan memberi perintah.
"Siapkan hidangan !"
Oh Thi-hoa melengak, katanya tertawa geli.
"Jadi kalian undang kami hendak menjamu makam minum di sini ?"
Orang berkedok muka tangis itu berkata.
"Cuma harus disayangkan ditempat seperti ini tiada hidangan lezat apa-apa yang patut kusuguhkan kepada kalian."
Baru habis kata katanya, dari balik kuburan bersusun di belakang sana muncul dua orang, kedua orang inipun mengenakan jubah panjang warna hitam, mukanyapun mengenakan kedok yang serba aneh dan lucu.
Kedua orang ini mendatangi sambil menggotong sebuah peti mati.
Namun peti mati yang ini jauh lebih besar, kedua orang baju hitam itu terus maju dan menggotong peti mati besar ini ditengah tengah antara mereka berempat, setelah meletakkan di tanah, berputar kedua orang ini membungkuk memberi hormat terus mengundurkan diri ke tempat datangnya semula.
Seolah-olah mereka memang keluar masuk dari dalam kuburan.
Orang berkedok muka tertawa kembali ulurkan tangannya sambil berkata.
"Mari silahkan."
"Silahkan ? silahkan apa?"
Tanya Oh Thi-hoa heran.
"Silahkan makan !"
Orang kedok muka tangis pula yang menjawab. Sekilas Oh Thi-hoa tertegun, tiba-tiba ia tertawa keras.
"Apa kalian hendak undang aku kemari menggasak makanan orang mati ?"
Dingin suara orang berkedok tangis itu.
"Setiba ditempat ini makan apa kalau tidak makan mayat orang ?"
Oh Thi-hoa melenggong serunya terloloh-loloh.
"Ha, ha, aneh, lucu dan menyenangkan, sungguh amat menyenangkan !"
Suara tawanya tiba-tiba terputus, dilihatnya orang berkedok muka tangis sudah ulurkan tangannya ke dalam peti mati.
"peletak jari jarinya seperti memutus semacam entah barang apa. Diwaktu tangan orang ditarik keluar tahu-tahu jari-jarinya sudah memegangi sebuah pangkal lengan tangan yang berlepotan darah, sedikit menyingkap kedok mukanya ke atas "kres"
Dengan lahap dia gerogoti lengan berdarah daging mentah itu, serunya tertawa senang.
"Silahkan, silahkan, silahkan orang ini mampus belum lama, dagingnya masih segar dan lezat."
Sembari tertawa dan bicara, mulutnya kecap-kecap dengan nikmatnya, darah segar mengalir keluar dari ujung mulutnya dan membasahi dagunya. sungguh kaget dan mual Oh Thi-hoa dibuatnya, teriaknya gusar.
"Sebetulnya kalian..."
Tak nyana baru beberapa patah serunya, dilihatnya Coh Liu-hiang juga ulurkan tangan masuk ke dalam peti mati.
"pletak"
Tahu-tahu diapun menjemput sembarang lengan tangan yang berlepotan darah pula. Disusul "kres"
Dengan lahapnya diapun gigit daging lengan tangan itu, seperti menggerogoti paha ayam.
Darah segarpun mengalir dari ujung mulut berketes-ketes jatuh ke tanah.
Merinding dan berdiri bulu roma Oh Thi-hoa melihat adegan seram dan serba kejam ini, seperti manusia purba yang masih hidup secara primitif saja gegares daging manusia yang mentah, keruan dia berjingkrak gusar, bentaknya.
"Coh Liu-hiang sejak kapan kaupun belajar makan daging manusia yang mentah begitu?"
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Daging manusia ini memang segar dan lezat rasanya luar biasa nikmatnya, mari kau boleh mencicipi sekerat saja."
Kaget dan gusar bukan kepalang Oh Thi-hoa dibuatnya, disaat dia kehabisan akal tak tahu apa yang dia harus lakukan, kedua orang berkedok itu mendadak terbahak-bahak, orang berkedok muka tertawa cekikikan geli, ujarnya.
"Memang sejak mula aku sudah tahu kami takkan bisa mengelabui mata Coh Liu-hiang si Maling romantis!"
Ditengah gelak tawa mereka, tiba-tiba di empat penjuru muncul puluhan lampu lampion yang terang benderang, sehingga tanah pekuburan ini diterangi seperti siang hari, baru sekarang Oh Thi-hoa yang berdiri melongo melihat jelas, bahwa lengan tangan yang berlepotan darah itu adalah sekerat tebu yang dibuat sedemikian rupa lalu dilumuri kuah kental yang terbuat dari gula merah, didalam kegelapan tanah pekuburan yang serba seram ini, dibawah pancaran sinar bulan yang redup remang-remang, walau berhasil mengelabui pandangan Oh Thi-hoa, toh tak berhasil menipu Coh Liu-hiang.
Mulut Oh Thi-hoa melongo dan melelet lidah, sekuatnya dia menggosok-gosok hidung, katanya.
"Ini... sebetulnya apa sih yang sedang kalian lakukan?"
Orang berkedok muka tertawa segera menanggalkan kedok mukanya sambil tertawa.
"Siaute memang punya pikiran yang muluk-muluk dan rada brutal, semoga Oh-heng suka memaafkannya!"
Orang ini masih muda belia, beralis tebal bermata tajam bening, ternyata bukan lain adalah kenalan barunya Li Giok-ham.
Sudah tentu orang yang mengenakan kedok muka tangis itu bukan lain adalah Liu Bu-bi.
Kembali Oh Thi-hoa berjingkrak, serunya tertawa besar.
"Ha..ha.. sungguh menyenangkan, selama hidupku belum pernah kutemui kejadian yang menyenangkan seperti ini, kalian berdua memang pandai mengada-ada!"
Liu Bu-bi tersenyum lebar, katanya.
"Aku tahu kalian pasti akan dibikin repot oleh kawanan tamu yang tak diundang itu sampai tak bisa meloloskan diri, maka terpaksa kami mencari akal seperti ini sekaligus untuk menyenangkan hari dan menghibur lara!"
"Bagus, bicara kalian ini memang tiada bandingannya di kolong langit. Kecuali kau, mungkin sukar dicari orang kedua yang bisa menemukan cara sebagus ini."
Oh Thi-hoa memujinya. Li Giok-ham tertawa ujarnya.
"Tapi betapapun cermat dan teliti cara kerjanya toh tetap tak berhasil mengelabui ketajaman mata Coh-heng."
"Memangnya matanya tumbuh berlipat ganda tajamnya, tapi aku tidak jelus dan pingin punya mata seperti dia, karena keadaan itu bakal mempersempit diri dan tak bisa seriang seperti aku ini."
Di dalam peti mati itu bukan saja terdapat tebu istimewa, ada pula jeruk, manggis semangka dan mangga.
Sudah tentu hidangan buah-buahan yang segar-segar ini merupakan hidangan baru yang amat mencocoki selera mereka setelah perut biasanya dijejal daging dan arak melulu.
Apalagi meski buah buahan ini bukan makanan yang mahal, tetapi di tanah pekuburan seperti ini pada musim rontok pula sudah tentu rasanya jauh lebih menyenangkan daripada hidangan tapak biruang atau lidah burung, dari sini dapatlah dinilai, bukan saja tuan rumah amat prihatin dan pintar meladeni tamunya, jelas sekali orangnyapun tak segan-segan mengeduk kantong untuk menyediakan makanan yang tidak mungkin bisa didapatkan tidak pada musimnya.
Angkat cawan araknya, Oh Thi-hoa tertawa, katanya.
"Selama hidupku meski tidak sedikit perbuatan brutalku, tapi duduk di atas peti mati di tanah pekuburan, minum arak benar-benar merupakan kejadian pertama kali segede ini usiaku."
Segera Li Giok-ham bertanya.
"Apakah Oh-heng merasa kurang senang?"
"Kurang senang? Malahan aku merasa amat riang dibanding dengan tempat ini, kamar-kamar di hotel itu boleh dikata lebih sumpek dan gerah daripada berada di dalam peti mati sekecil ini. Dibanding kalian suami istri, kawanan Piauwsu yang menyebalkan itu, seperti rombongan mayat hidup melulu."
Liu Bu-bi tertawa geli katanya.
"Walau waktu itu aku mengenakan kedok orang menangis, namun mendengarkan merubah nama julukan si kepala gundul itu, hampir saja aku tertawa geli."
Oh Thi-hoa mengucek-ucek hidung, katanya.
"Kalau tahu banyolanku bakal terdengar kalian, tentu aku tak berani mengeluarkan kata-kataku ini."
Coh Liu-hiang tiba-tiba bersuara.
"Kaum Kang-ouw sama tahu, di dalam Bulim pada jaman ini terdapat tiga keluarga besar persilatan, ketenaran dan kebesaran ketiga keluarga besar ini tidak lebih asor dari tiga Pang besar dan Chat pay atau tujuh partai, dan lagi setiap keluarga dari ketiga keluarga besar persilatan, masing-masing mewariskan ilmu silat ajaran leluhurnya turun temurun merupakan tradisi keluarga, tingkat kepandaian silatnya cukup setimpal dijajarkan dengan Lo han sin kun dari Siao lim pay dan setanding dengan Liang gi-kiam-hoat dari Bu-tong-pay. Cuma para anak didik dan keturunan dari ketiga keluarga besar persilatan ini masing-masing amat memasuki dan terkekang oleh undang-undang keluarga, maka jarang sekali mereka mondar-mandir di kalangan Kangouw."
Di luar dugaan mendadak Coh Liu-hiang mengobral tentang situasi dunia persilatan pada jaman itu, orang lain tadi kemek-kemek tak tahu bagaimana harus ikut bicara, terpaksa mereka tinggal diam mendengarkan uraiannya lebih lanjut.
"Puluhan tahun belakangan ini,"
Coh Liu-hiang meneruskan uraiannya.
"tunas-tunas muda yang berbakat dari masing-masing anak didik ketiga keluarga besar persilatan ini saling bermunculan walau mereka jarang di Kang-ouw, namun bak umpama seekor naga setiap kali menampakkan diri, pasti ada-ada saja yang dilakukan, dan pasti menggemparkan seluruh dunia umpamanya."
Tak tahan Oh Thi-hoa segera menyeletuk.
"Umpamanya, Lamkiong Ping dari Lam-kiong si-keh dulu pernah di dalam satu malam saja menyapu bersih delapan belas pangkalan berandal dari puncak Thay-hang san yang malang melintang selama empat puluhan tahun di dunia persilatan disapunya habis keakar-akarnya dan lenyap dari permukaan bumi."
Coh Liu-hiang tersenyum, katanya.
"Itu kejadian lima puluhan tahun yang lalu, sudah Lamkiong koncu yang mud belia dan gagah itu, sepuluh tahun yang lalu sudah berpulang ketanah asalnya, khabarnya menjadi dewa dua tiga puluh tahun..."
"Dua tiga puluh tahun mendatang,"
Oh Thi-hoa kembali menyela.
"Peristiwa besar yang menggetarkan Bulim adalah peristiwa Hong-cui san-ceng yang dipimpin oleh Li Boan-hu Locianpwe, beliau mengundang tiga puluh satu ahli pedang yang ternama di seluruh dunia berkumpul di puncak datar di Kiam-ti "telaga pedang"
Dimana mereka minum teh mendemonstrasikan ilmu pedang, dan Li-locianpwe dengan sebatang pedang Koh bu-yang-kiam yang mempunyai sembilan kali sembilan delapan puluh satu jurus, mengalahkan ketiga satu ahli-ahli pedang itu, sehingga mereka tunduk lahir batin, beliau diangkat sebagai tokoh pedang nomor satu di seluruh jagat."
"Benar."
Ujar Coh Liu-hiang menepuk tangan.
"Akan tetapi ilmu silat dari keluarga besar persilatan ini masing-masing mempunyai kebolehan dan kebagusannya sendiri-sendiri, tapi tiga puluh tahun belakangan ini, Yong-cui-san-ceng yang berada di Hay-yang-san yang terletak di Koh so hin sebagai puncak dari kebesarannya."
Sampai disini dia tersenyum pula, mendadak dia berpaling kepada Li Giok-ham, katanya tetap tersenyum lebar.
"Li-heng masih muda dan gagah, betapa tinggi kepandaian silatmu jarang terlihat ada tandingannya di kalangan Kangouw kalau dugaan Cayhe tidak meleset tentulah kau salah satu anak didik dari Yong cui san cheng itu."
"Sungguh harus disesalkan", sahut Li Giok-ham.
"Siaute tidak belajar dengan tekun dalam bidang ilmu silat, sehingga merendahkan derajat ketenaran keluarga yang sudah dijunjung tinggi sejak puluhan tahun yang lalu."
"Li-heng terlalu merendah, entah pernah apa Li heng dengan Li Koan hu, Li locianpwe?"
"Beliau adalah ayahku."
Sahut Li Giok ham dengan hormat dan hikmat. Sejak tadi Oh Thi-hoa sudah mendengarkan dengan mata terbelalak dan alis tegak, tak tahan segera dia bersorak sambil tepuk tangan.
"Tak heran kalian suami istri begini hebat, begini jempolan, anak didik keluarga besar kaum persilatan memang lain dari pada yang lain."
Li Giok-ham tertawa, ujarnya.
"Patah tumbuh hilang berganti, selama puluhan tahun ini generasi muda saling bermunculan di seluruh pelosok dunia, jadi bukan melulu Yong-cui-san-cheng saja yang tetap di puncak ketenarannya, dan lagi kebesaran kita sudah mulai pudar dan tersapu oleh ketidak becusan dari generasi muda seperti tingkatanku ini, sampai pun ayah kini tidak berani mengagulkan diri lagi sebagai jago pedang nomor satu di seluruh jagat."
Tanpa menunggu Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang buka suara, segera dia menambahkan.
"Para tokoh-tokoh ahli pedang yang dulu ikut menjajal kepandaian pedang di gardu teh di pesisir Kiam-ti itu, kini sudah banyak yang sudah meninggal dunia. Akan tetapi ahli-ahli pedang dari generasi muda yang muncul di Kang-ouw belakangan ini banyak yang jauh lebih unggul daripada para cianpwe yang terdahulu. Menurut penilaian ayahku, tokoh-tokoh ternama pada jaman ini, kami hanya menilai dalam bidang ilmu pedangnya saja, terhitung Sia-ih-jin tayhiap sebagai jago nomor satu di seluruh muka bumi ini."
Coh Liu-hiang segera menanggapi.
"Itu hanya pujian Li-locianpwe kepada generasi muda yang berbakat saja, Cayhe memang pernah dengar katanya ilmu pedang Sia-ih jiu hebat luar biasa dan seperti mainan sulapan belaka dan tak kentara gerak bentuknya tapi bicara soal pengalaman dan kematangan latihannya, dibanding Li-locianpwe, tak perlu disangsikan lagi masih jauh sekali jaraknya, kenapa Li-heng terlalu merendah?"
Oh Thi-hoa tertawa, selanya.
"Tidak salah rendah hati memang watak seorang yang berbudi luhur, tapi kalau terlalu berkelebihan malah kebalikannya pura-pura belaka."
Li Giok-ham menarik napas panjang, katanya.
"Ada hal-hal yang tidak kalian ketahui beberapa tahun yang lalu secara tak terduga ayah mendadak terserang semacam penyakit aneh yang tak dapat disembuhkan lagi sampai sekarang masih tetap rebah di atas pembaringan. juga sudah sepuluh tahun tak pernah pegang pedang lagi."
Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa sama-sama tertegun, mereka tak tahu cara bagaimana harus menghibur dan menghela napas gegetun belaka. Sesaat kemudian Li Giok-ham malah berseri tawa pula, katanya.
"Melulu dinilai dari ilmu sebagai jagoannya, tapi kalau bicara soal kecerdikan, ilmu silat, pengalaman menghadapi musuh dan mengalahkannya, dikolong langit ini, siapa pula yang bisa menandingi Coh Liu-hiang?"
Oh Thi-hoa terloroh-loroh, meski dia cukup baik, tapi jangan kau mengagulkan dia terlalu tinggi yang jelas dia tidak sungkan dan rendah hati seperti kau."
"Bicara apa peristiwa besar belakangan ini yang menggemparkan Bulim, tentunya harus diakui hanya Coh Liu-hiang pula yang harus dinobatkan ke tempat teratas dalam usahanya menumpas intrik antara Lamkiang Ling dan Biau ceng Bu Hoa, sekaligus menolong dan menegakkan kembali nama baik Siau lim pay dan Kay-pang."
Coh Liu-hiang tertawa-tawa, katanya.
"Itu hanya kejadian kecil saja, kenapa harus dibuat pujian."
"Kaupun tidak usah sungkan-sungkan"
Sela Oh Thi-hoa.
"Kalau peristiwa itu kejadian kecil, lain peristiwa yang bagaimana baru boleh terhitung kejadian besar?"
Liu Bu-bi mendadak tertawa, timbrungnya.
"Kalau dinilai kecerdikan, ilmu silat dan pengalaman menghadapi musuh serta mengalahkannya, sudah jelas tiada orang yang mampu menandingi Coh Liu-hiang, tapi kalau bicara keluhuran jiwa, ke lapangan dada serta wataknya suka bebas merdeka, memangnya siapa pula yang bisa dibandingkan Hoa-ouw hiap atau kupu-kupu kembang Oh Thi-hoa, Oh Tayhiap?"
"Tepat sekali ucapan ini."
Seru Oh Thi-hoa tertawa lebar.
"Kalau dibanding minum arak memang tiada orang yang betul-betul bisa dibandingkan dengan aku."
"Benar"
Ujar Coh Liu-hiang pula.
"Dikolong langit ini, memang tiada orang yang dapat mabuk lebih cepat daripada kau."
Oh Thi-hoa berjingkrak berdiri sambil berkaok-kaok.
"Bocah keparat, berani kau ugal-ugalan di hadapan seorang ahli? Akan datang suatu ketika, akan kuadu kekuatan dengan kau, coba saja buktikan siapa yang roboh lebih dulu."
"Ugal-ugalan di depan seorang ahli,"
Ujar Liu Bu-bi tersenyum manis.
"kata-kata yang tepat sekali, jauh lebih mengasyikkan daripada permainan badut didalam panggung sandiwara."
"Kecuali setan arak seperti dia ini, siapapun takkan sudi mengeluarkan kata-kata seperti itu, itulah yang dikatakan tiga patah kata tidak lepas dari kepintarannya."
Demikian Coh Liu-hiang mengolok-ngolok.
"Kalian benar-benar sahabat baik yang berjiwa besar dan luhur budi."
Kata Li Giok-ham.
"Siaute dapat berkenalan dengan kalian sungguh merupakan rejeki yang tiada taranya bagi kami, ingin rasanya kami bila berkumpul lebih lama lagi."
Liu Bu-bi menambahkan.
"Oleh karena itu sungguh besar harapan kami untuk mengundang kalian untuk bertamu sepuluh hari di Yongcun san-ceng, sumber air disana merupakan salah satu dari tiga sumber air abadi yang terkenal di seluruh dunia, bukan saja nikmat untuk menyeduh teh, buat bikin arakpun tak kalah enaknya."
Seketika bersinar biji mata Oh Thi-hoa, katanya menepuk paha.
"Sudah lama kudengar Yongcui san-ceng dibangun membelakangi gunung menghadap keair, sejak lama ingin rasanya aku bertamasya ke tempat nan indah permai itu, sekaligus untuk berkenalan dengan jago pedang nomor satu di seluruh jagat ini."
Diliriknya Coh Liu-hiang sebentar, lalu menambahkan dengan menghela napas.
"Namun sayang aku harus temani dia pergi mencari beberapa orang lagi."
Coh Liu-hiang segera menambahkan.
"Betapa Cayhe tidak ingin memberi sembah hormat kepada Li-locianpwe, cuma tugas berat melibat diri, kali ini belum bisa kesana, untunglah hari masih panjang, kelak aku pasti mencari kesempatan."
Bergerak kerlingan mata Liu Bu-bi katanya.
"Sungguh harus disesalkan, dalam rumah kami ada beberapa orang yang ingin benar berhadapan dengan Coh Liu-hiang."
"O?"
Coh Liu-hiang bersuara heran bertanya-tanya.
"Kau tak perlu tanya,"
Timbrung Oh Thi-hoa.
"Yang mau bertemu dengan kau tentu gadis berusia tujuh belasan, persoalan apapun tidak tahu, entah darimana mereka pernah dengar segala julukan muluk seperti Maling romantis meninggalkan bebauan wangi! Pemuda tampan diantara gerombolan bajingan segala! Maka mereka yakin kau pasti seorang laki-laki yang luar biasa. Liheng, coba katakan benar tidak?"
Liu Bu-bi cekikikan geli, katanya.
"Mereka memang gadis-gadis perawan yang baru saja mekar, tapi jikalau kau katakan mereka tak tahu urusan, salah besar ucapanmu."
"O?"
Ganti Oh Thi-hoa bersuara heran.
"Beberapa nona itu bukan saja pandai ilmu silat, pintar menulis dan ahli seni lukis dan sastra, pintar dan cantik-cantik, malah satu diantaranya seorang jenius yang pernah mengikuti ujian pemerintah dan mendapat anugerah tinggi dari ilmu sastra."
"O! Siapakah namanya?"
Liu Bu-bi tertawa tawar, sahutnya.
"Namanya Soh Yong yong."
Cuaca cerah, hawa segar.
Tiga buah kereta yang dipajang indah dan megah tengah berlari di jalan raya yang dipagari pepohonan rindang.
Kereta terdepan kelihatannya kosong tanpa muatan seorangpun, namun kereta ini tanpa kuda, sebaliknya ditarik enam laki-laki yang berbadan tegap tinggi dan kekar, sinar mata mereka berkilat-kilat, sekilas pandang orang akan tahu bahwa ke enam orang ini adalah ahli silat yang berkepandaian tinggi, namun mereka terima diperbudak, maka dapatlah dibayangkan bagaimana majikan mereka, tentulah seorang tokoh Bulim yang amat kosen.
Kereta terbelakang, sering terdengar suara cekikikan genit seorang perempuan semerdu kicauan burung kenari, sayang jendela kereta tertutup rapat, siapapun takkan bisa melihat atau tahu muka si penunggang kereta.
Kereta yang ditengah sebaliknya lebih besar dan lebar, keadaanyapun paling mewah, jendela kereta terpentang lebar, namun kerai menjuntai turun, dari balik kerai itu sering terdengar gelak tawa riang gembira.
Gelak tawa gembira yang keluar dari mulut Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa, mendengar Soh Yong-yong berada di Yong-cui-san-cheng, masakah mereka tidak sudi ikut Li Giok-ham pulang kesana?
Memang kereta ini tidak dibuat sebagus kereta Ki Ping-yan itu, tapi kereta ini lebih luas dan lebar, lebih nyaman dan segar, membuat orang tak merasa letih meski menempuh perjalanan jauh.
Bukan hanya sekali saja Coh Liu-hiang bertanya-tanya.
"Cara bagaimana Yong ji bertiga bisa tahu-tahu berada di Yong cui san ceng? Liu Bu-bi selalu menjawab dengan tertawa.
"Sekarang terpaksa aku harus jual mahal, yang terang setelah kau bertemu dengan nona Soh kau akan jelas duduknya perkara."
Berhari-hari lamanya mereka kembali ke Tiong-goan lalu lintas jalan raya semakin banyak, orangpun lebih banyak hilir mudik, melihat ketiga buah kereta ini, sudah tentu tiada satupun yang tidak memperhatikan.
Hari itu mereka sampai di Kayhong, hari sudah magrib, terpaksa rombongan mereka masuk kota dan mencari penginapan.
Setelah makan malam dan menenggak arak habis beberapa cawan arak, semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Hanya Oh Thi-hoa menuruti kebiasaannya, dia tetap duduk di kamar Coh Liu-hiang tidak mau kembali ke kamarnya sendiri.
Masih segar dalam ingatan Coh Liu-hiang akan kejadian masa lalu yang penuh bahaya dan serba misterius yang menimpa dirinya dikota ini, sehingga pikirannya berkecamuk dan tidak bisa tidur.
Maka kebetulan juga kehadiran Oh Thi-hoa di kamarnya.
"Pandanganmu memang jitu."
Kata Oh Thi-hoa.
"Li Giok ham suami istri memang pandai menggunakan Kim si bian ciang. Pui san khek biasanya tidak punya murid, namun beliau sahabat kental Li Koan bu laksana saudara sepupu, bukan mustahil bila dia menurunkan keahliannya kepada anak sahabatnya."
Coh Liu-hiang menghela napas panjang.
"Yang berada di luar dugaan, jago kosen nomor satu pada masa lalu, kini sudah jadi orang tanpa daksa, para Bulim Cianpwe satu persatu sudah menemui ajalnya, sungguh harus dibuat sayang dan mengenaskan."
"Untungnya dia masih punya seorang putra sebaik itu, sembilan kali sembilan delapan puluh satu jurus Ling-hong-kiam ditambah Kim-si-biau-ciang, memangnya Yong cui-san-ceng kuatir tidak bisa diperkembang luaskan?"
Menurut pandanganku, kepandaian silat Liu Bu-bi bukan saja lebih tinggi dari suaminya, terutama ilmu Ginkangnya terang lebih tinggi."
"Khabarnya kepandaian silat dari ketiga keluarga besar persilatan khusus diturunkan kepada menantu tanpa diteruskan kepada anak gadisnya, jikalau dia sudah menjadi menantu Li Koan hu, sudah tentu ilmu silatnya tidak lemah."
"Umpama kata benar dia menikah dan masuk ke dalam keluarga Li, yang terang tak akan lebih lama dari sepuluh tahu, sementara anak didik dari ketiga keluarga besar persilatan, sejak umur tiga atau lima sudah mulai diajarkan ilmu silat, kukira Li Giok-ham tidak menyimpang dari kebiasaan ini."
"Benar, kulihat sedikitnya dia sudah sepuluh tahun belajar dengan tekun."
"Kalau demikian maka tidak pantas bila kepandaian Liu Bu-bi justru lebih tinggi dari suaminya. Kecuali asal-usul keluarganyapun dari kau persilatan, tapi seluruh dunia ini, berapa banyak tokoh-tokoh silat yang bisa mendidik muridnya jauh lebih jempolan dari murid didik Li Koau-hu?"
Oh Thi-hoa mengerut kening, tanyanya.
"Memangnya kau mulai curiga akan asal-usulnya?"
"Beberapa kali aku ingin menanyakan asal-usul perguruannya, selalu dia menyimpang kelain persoalan, dari sini aku mendapat kesimpulan, jelas dia pasti bukan anak murid dari empat Pang besar, tujuh partai tak habis kupikir di dalam Bulim kapan pernah ada tokoh silat kosen dari tingkatan tua yang punya nama she Liu?"
"Bagaimana juga, pendek kata kau tidak akan mencurigai bahwa menantu Li Koan hu ini adalah si Burung Kenari itu."
Dan lagi umpama kata benar dia, adalah Burung Kenari memangnya mau apa?
Burung Kenari pernah menanam budi kepada kita, tiada punya ganjelan hati tidak bermusuhan, malah jiwaku ini pun pernah ditolong!
Jika bertemu Burung Kenari, aku hanya akan berterima kasih kepadanya."
Coh Liu-hiang hanya menyeringai tawa saja tak bersuara lagi. Pada saat itulah, suara teriakan-teriakan berkumandang dari kamar sebelah. Oh Thi-hoa mengerut alis, katanya tertawa.
"Suami istri yang begitu akrab dan kasih sayang apakah juga sering perang mulut?"
Terdengar suara jeritan semakin keras melengking, dan lagi kedengarannya teramat menderita dan kesakitan, terang itulah suara Li Bu-bi.
Maka tanpa ayal mulut bicara, secepat kilat Oh Thi-hoa sudah menerjang ke luar.
Terpaksa Coh Liu-hiang ikut memburu keluar, tampak pekarangan sunyi senyap, para pelayan dan kacung-kacung yang mengikuti perjalanan suami istri, tiada seorangpun yang nampak keluar untuk menjenguk keadaan majikan mereka.
Jikalau mereka tidak tuli, pasti mereka sudah mendengar suara keluh kesakitan yang melengking dimalam gelap nan sunyi ini, tapi kenapa tiada satupun diantara mereka yang keluar?
Apa mereka sudah biasa mendengar jerit kesakitan seperti ini?
Sinar pelita masih kelihatan menyala dari kamar Liu Bu-bi.
Terdengar suara Liu Bu-bi sedang merintih-rintih kesakitan.
"Kau bunuh aku saja! Bunuh aku saja!"
Berubah air muka Oh Thi-hoa, baru saja ia hendak menerjang masuk, didengarnya pula suara Li Giok-ham sedang membujuk.
"Tahanlah sebentar, tahan sebentar, jangan kau ribut membangunkan orang lain!"
Suara Liu Bu-bi serak merintih.
"Aku tidak tahan lagi, dari pada tersiksa seperti ini, lebih baik mampus saja."
Baru saj Oh Thi-hoa tahu bahwa kedua suami istri ini bukan sedang perang mulut tak tahan dia berkata.
"Mungkin mendadak dia terserang penyakit?"
Coh Liu-hiang lebih prihatin, sahutnya.
"Rasa sakit ini kukira bukan kumat mendadak, pastilah penyakit lama yang sudah mengeram dibadannya, dan lagi memang sering kumat dalam jangka waktu tertentu, oleh karena itu sampai kaum hambapun sudah biasa mendengar keributan ini, kalau tidak mana mungkin mereka tetap sembunyi di dalam kamar masing-masing saja."
"Begitu penyakit itu kumat rasa sakitnya tentu amat menyiksa, kalau tidak orang seperti Liu Bu-bi pasti tak nanti menjerit-jerit dan merintih-rintih, entah penyakit apa yang menghinggapi dirinya."
Kelihatan keadaannya segar bugar seperti orang lain, tak nyana begitu kumat ternyata begitu menyiksa dan menakutkan, kulihat mungkin bukan terjangkit suatu penyakit apa apa, tapi terkena semacam racun apa yang amat lihai."
"Racun-racun"
Berubah rona muka Oh Thi-hoa.
"Jikalau dia terkena racun, masakan Li Koan-hu tidak mencari daya untuk menyembuhkan, sudah lama kudengar ilmu ketabiban Li Koan-hu amat tinggi, orang yang keluar masuk di Yong-cui-san-ceng kebanyakan adalah para Cianpwe. Pui san-khek justru seorang ahli dalam memunahkan racun, memangnya orang sebanyak itu tidak mampu menawarkan racun dalam badannya? Begitu tega melihat dia tersiksa demikian rupa?"
Coh Liu-hiang menghela napas, dia tidak banyak bicara lagi.
Dari dalam rumah masih terus kedengaran suara rintihan Liu Bu-bi dengan lemah lembut dan penuh kesabaran Li Giok-ham membujuk dan menghibur, terdengar pula suara kerenyut-kerenyut dari papan ranjang yang bergerak-gerak.
Dari suara ini dapatlah dirasakan bahwa kesakitan Liu Bu-bi tak menjadi reda sebaliknya semakin jadi dan saking tak tahan dia meronta-ronta, sedang Li Giok ham sekuat tenaga menahan dan mengekang dirinya.
"Kenapa tidak kau masuk menengoknya, bukan mustahil kau dapat tolong menawarkan racunnya itu?"
"Liu Bu-bi adalah perempuan yang berwatak keras dan punya pambek, jelas dia takkan senang orang lain melihat keadaannya yang runyam, ada omongan apa, biarlah tunggu sampai besok pagi dibicarakan pula."
Sekonyong-konyong "Beeerrr!"
Seekor burung yang bermalam dipucuk pohon di pekarangan terkejut dan terbang, dari ujung mata Coh Liu-hiang dapat melihat diantara sela-sela dedaunan pohon di atas sana ada bintik sinar perak berkelebat.
Tepat pada saat itu juga serumpun hujan perak tahu-tahu memberondong ke bawah dari celah-celah rumpun dedaunan di pucuk pohon, sasarannya langsung Coh Liu-hiang, betapa cepat daya luncurannya, sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Jikalau burung di pucuk pohon tidak terkejut terbang, kali ini Coh Liu-hiang pasti mampus di bawah berondongan hujan bintik-bintik perak ini, karena begitu dia mendengar samberan angin, untuk berkelitpun sudah terlambat.
Pada saat-saat yang gawat itulah, sekali jotos dia bikin Oh Thi hoa roboh terjengkang, berbareng dia menubruk tengkurap ke atas badan Oh Thi-hoa.
Maka terdengar suara tang ting yang ramai, seperti hujan lebat mengetuk genteng, puluhan bintik perak itu seluruhnya sudah memaku amblas ke dalam tanah tempat dimana tadi dirinya berdiri.
Disusul bayangan orang tiba-tiba melambung tinggi ke tengah udara dari gerombolan bayang-bayang pohon yang gelap, bersalto sekaligus terus membelok turun, melesat keluar pagar tembok yang gelap gulita.
Belum lagi Oh Thi-hoa menyadari apa yang telah terjadi, bayangan Coh Liu-hiang sudah melesat keluar pagar tembok pula, melihat bintik-bintik perak yang tersebar disekitar kakinya, mendadak Oh Thi hoa seperti teringat sesuatu, seketika berubah air mukanya, teriaknya.
"Ulat busuk, hati-hati kau, ini seperti Ban-hi-li-ba-ting atau Hujan paku galak, ditengah gema suaranya, badannya pun sudah ikut mengudak kesana. Ditengah malam nan kelam, kabut tipis memenuhi jagat, bayangan Coh Liu-hiang samar-samar masih kelihatan di depan sana, sementara bayangan hitam di sebelah depan lagi sudah tidak kelihatan. Kabut semula masih tipis dan tawar, namun sekejap mata sudah berubah begitu tebal seperti asap putih bergulung-gulung, lambat laun bayangan Coh Liu-hiang sudah tidak kelihatan lagi. Dikejauhan sana sebetulnya terlihat sinar api yang kelap-kelip, namun sinar lampu itu pun sudah lenyap tertelan kabut yang tebal ini, terasa hampir gila Oh Thi hoa dibuatnya saking gelisah dan bingung, namun dia tak berani bersuara dan berisik. Karena di dalam keadaan seperti ini, dia bersuara kemungkinan dirinya menjadi sasaran empuk untuk sambitan senjata rahasia, Oh Thi-hoa insaf pada saat seperti ini ada senjata rahasia menyerang dirinya, jelas dia takkan bisa meluputkan diri. Tak urung diapun gelisah dan gugup bagi keselamatan Coh Liu-hiang, karena keadaan Coh Liu-hiang terang lebih berbahaya dari dirinya. Beberapa langkah lagi, tiba-tiba dilihatnya di atas tanah disamping sana ada sinar putih berkelebat, waktu dia dekati dan menjemputnya, ternyata itulah sebuah kotak gepeng yang terbuat dari perak. Kotak gepeng dari perak ini, panjang tujuh dim, tebal tiga dim, buatannya amat halus dan baik sekali, pada samping kotak ini berderet tiga baris lobang kecil sebesar jarum, setiap barisnya ada sembilan lobang. Bagian atas dari kotak ini ada diukir dengan lukisan kembang yang lembut, setelah diamat-amati dengan seksama baru terlihat ditengah lukisan kembang ini terdapat dua baris tulisan huruf-huruf yang liku-liku. Sekian lamanya Oh Thi-hoa mengamat-amatinya, namun dia tidak tahu tulisan apakah itu, tak tahan dia menarik napas panjang, mulutpun menggumam.
"Agaknya kelak aku harus lebih banyak latihan Gingkang, tapi juga harus belajar membaca mengenal tulisan."
Baru saja dia hendak berangkat lebih lanjut, sekonyong-konyong terasa deru angin kencang menerpa datang dari samping, sebuah telapak tangan menebas ke bawah ketiaknya, sementara tangan yang lain berusaha merebut kotak perak di tangannya.
Diam-diam Oh Thi-hoa mencaci.
"Keparat, aku memang sedang kebingungan mencari kau, kau malah mengantar jiwa sendiri."
Ditengah berkelebatannya pikiran ini, tangannya tiba-tiba sudah balas menjotos dan kakipun melayang menendang kaki orang.
Sukar dilukiskan betapa lihai dan hebatnya jotosan dan tendangan kakinya ini, memang gampang dikatakan, namun prakteknya justru amat sukar, karena orang itu menubruk datang dari samping kiri, berarti dia harus memutar badan menggeser langkah baru bisa mengegos diri dari rangsangan lawan, sekaligus baru bisa balas menyerang, dari sini dapatlah dibuktikan meski Oh Thi-hoa terlalu banyak menenggak air kata-kata, tapi gerak gerik badan dan Pinggangnya masih cukup lincah dan cekatan, setangkas ular sakti.
Siapa nyana gerak-gerik si penyerang justru lebih lincah, lebih gesit, sekali berkelebat dengan enteng tahu-tahu orang sudah berada di belakangnya, baru sekarang Oh Thi-hoa betul-betul kaget, baru saja dia putar badan, penyerang itu sudah bersuara dengan nada berat tertahan.
"Siau Oh, kau?"
Mendadak Oh Thi-hoa menghela napas lega, katanya tertawa kecut.
"Kenapa sekarang kau pun meniru aku, tanpa memberi peringatan kau lantas menyerang saja?"
"Kulihat sinar perak yang kau pegang ini, sudah kusangka kau adalah si pembokong dengan alat senjata rahasianya, siapa menduga bahwa benda ini bakal terjatuh ke tanganmu."
Oh Thi-hoa mengedip-ngedip mata, katanya.
"Masakah kau sendiripun tidak menduga? Dengan dua kali pukul dan tiga kali tendang kubikin keparat itu ngacir mencawat ekor, sudah tentu benda ini dengan gampang kudapatkan."
Coh Liu-hiang melengak.
"Apa benar?"
Tanyanya sangsi.
"Tidak benar!"
Coh Liu-hiang tertawa geli.
"Sebetulnya akupun menduga bagaimana juga pasti takan berhasil mengudaknya."
"Aku tak berhasil membekuknya masih boleh diterima dengan nalar, si Maling romantis yang Ginkangnya nomor satu di seluruh dunia, kenapa setengah harian tidak berhasil menyandak si pembokong itu malah kehilangan orangnya?"
"Jikalau kabut tak setebal ini, mungkin aku bisa membekuknya, tapi ginkang orang itu memang tidak lemah, waktu aku mengudak keluar pagar tembok orang itu sudah empat lima tombak jauhnya."
"Di dalam waktu sekejap itu, dia sudah dapat terbang ke empat lima tombak, kalau demikian bukankah Ginkangnya lebih tinggi dari Li Giok-ham suami istri?"
"Mungkin setingkat lebih tinggi."
"Dibanding aku?"
Tak tertahan Coh Liu-hiang tertawa pula, katanya menahan geli.
"Kalau kau rada mengurangi minum arak, mungkin Ginkangnya tidak unggul dari kau, tapi sekarang..."
"Sekarang kenapa?"
Oh Thi-hoa menarik muka.
"Memangnya sekarang aku tidak lebih unggul dari Giok ham suami istri?"
Tanpa menunggu jawaban Coh Liu-hiang, dia sudah tertawa pula.
"Tak perlu kau jawab pertanyaanku ini, supaya hatiku tidak sedih."
"Sebetulnya Ginkangmu kira-kira sebanding dengan Li Giok-ham suami istri, Setitik merah dan Lamkiong Lim, boleh terbilang ilmu tingkat tinggi. Tapi Ginkang orang ini kira-kira setarap dengan Bu Hoa, saat ini kalau bukan dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat tenggorokan Bu Hoa terhujam panah, mungkin aku bakal mengira pembokong tadi adalah Bu Hoa yang hidup kembali."
"Kalau demikian, tokoh-tokoh Kang-ouw sekarang yang memiliki Ginkang setingkat itu tidak banyak lagi, benar tidak?"
"Ya, memang tidak banyak!"
"Kenapa kau selalu kebentur dengan musuh-musuh yang begini tangguh?"
Coh Liu-hiang menepekur sekian lamanya, akhirnya dia balas bertanya.
"Benda di tanganmu itu kau dapatkan dari mana?"
"Ku temukan ditengah jalan, diatasnya ada ukiran huruf, coba kau lihat bisa tidak kau baca?"
Coh Liu-hiang terima kotak perak itu, setelah meneliti sebentar, kontan berubah rona mukanya.
"Inilah tulisan kuno!"
Oh Thi-hoa jadi uring-uringan.
"Benda ini terang jahat dan peranti membunuh orang kenapa harus diukir dengan huruf-huruf yang tak bisa dibaca, boleh dikata mirip benar bahwa ia itu terang adalah lonte "pelacur", justru dia mengenakan tujuh delapan celana!"
"Ini bukan disengaja hendak mempermainkan orang, soalnya alat senjata rahasia ini merupakan benda keramat peninggalan orang dahulu, malah dibuat oleh seorang tanpa daksa yang sedikitpun tidak pandai main silat."
"Benar, akupun pernah dengar asal-usul mengenai Bau-li-hoa-ting ini, tapi huruf apa terukir diatasnya itu?"
"Huruf-huruf yang terukir ini berbunyi. Keluar pasti melihat darah, kembali kosong pertanda celaka. Kecepatan diantara kesibukan, sang raja diantara senjata rahasia!"
"Kaum sastrawan memang pandai omong besar, agaknya ucapan ini memang tidak salah!"
Ujar Oh Thi-hoa tertawa geli.
"Kukira bukan sengaja hendak omong besar, hanya untuk menakuti orang belaka."
Kata Coh Liu-hiang menghela napas.
"Betapa halus dan pintar buatan alat senjata rahasia ini, daya pegasnya yang meluncur amat kuat dan kencang, memang tidak malu disebut sebagai raja diantara senjata rahasia. Berbagai alat senjata yang ada pada Bulim jaman sekarang, bila dibanding dengan alat senjata rahasia ini, kecepatannya sudah terang terpaut dua bagian, sebaliknya senjata rahasia umumnya digunakan untuk melukai orang dan mencapai kemenangan terakhir, meski hanya terpaut setengah dim saja, bedanya sudah terlalu jauh."
"Apakah alat ini jauh lebih kuat dari bumbung jarum buatan Ciok koan-im itu?"
"Jarum sambitan dari bumbung jarum buatan Ciok Koan-im itu memang sudah cukup keras, tapi kau masih sempat berkelit setelah orang menyambitkan kepadamu. Sebaliknya bila Bau-li-hoa-ting sudah disambitkan, aku berani bertaruh tiada seorang tokoh lihai dalam dunia ini yang mampu menyelamatkan diri."
"Tapi kau tadi toh mampu meluputkan diri?"
"Itulah nasib baikku, karena sebelum paku-paku didalam alat ini disambitkan aku telah terkejut dan waspada walau demikian jikalau jarak sambitan orang itu beberapa kaki lebih hebat lagi aku tetap takkan terhindar dari malapetaka."
"Kalau demikian bukankah alat senjata rahasia ini teramat tinggi nilainya!"
"Didalam pandangan kaum persilatan, alat ini memang barang mestika yang tak ternilai harganya."
"Kalau demikian, kenapa orang itu membuang begitu saja di tanah? Jikalau dia memiliki kepandaian setinggi itu, masakan kotak sekecil dan seenteng ini tak mampu memeganginya?"
"Ya, kejadian ini memang rada ganjil"
Sinar pelita dikamar Lin Bu-bi sudah padam, kedua suami istri itu agaknya sudah tidur lelap.
Secara diam diam Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa kembali ke kamarnya, pelita didalam kamar mereka masih menyala, cuma sumbunya sudah hampir terbakar habis.
Lekas Oh Thi-hoa memuntir putaran sehingga sumbunya keluar lebih besar, kamar menjadi lebih terang pula katanya.
"Sia-sia kami bekerja setengah malaman, bayangan orang pun tak dilihat jelas, kalau tidak segera menenggak arak, aku sudah hampir gila dibuatnya."
Diatas meja terdapat sebuah poci teh dan sebuah poci arak, Oh Thi-hoa merasa cangkir arak terlalu kecil, sembari mengoceh dia menuang penuh cawan tehnya dengan arak.
Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, katanya.
"Terlambat minum arak toh kan tidak bakal mampus, marilah kita keluar dulu lihat Bau-hi-li-hoa-ting itu apakah masih berada di tempatnya semula."
Sebelah tangan menjunjung pelita tangan yang lain menarik Oh Thi-hoa mereka melangkah keluar.
Didalam rumah ada seekor tabuhan yang sedang terbang, melingkar mengikuti sinar pelita yang bergerak, akan tetapi dikala tabuhan ini terbang lewat di atas cawan yang berisi penuh arak itu, tiba-tiba jatuh dan kecemplung ke dalam cawan arak itu.
Apakah tabuhan itu mabuk juga oleh bau arak sehingga tak bisa terbang lagi?
Tapi bau arak masakan ada yang begitu keras?
Jikalau Coh Liu-hiang belum melangkah keluar, tentu dia akan melihat serangga kecil seperti tabuhan begitu terjatuh ke dalam cawan arak itu, arak dalam cawan itu mengeluarkan suara "Ces", disusul asap hijau yang tipis mengepul keluar.
Ternyata tabuhan yang kecemplung ke dalam arak itu sudah lenyap tanpa bekas, di dalam waktu sesingkat itu tabuhan itu sudah lumer dan mencair terbaur didalam arak menjadi buih-buih putih.
Kejap lain buih-buih kecil itupun sudah pecah dan hilang, secawan arak tetap secawan arak, malah kelihatannya begitu bening dan enak rasanya, sedikitpun tidak menunjukkan sedikitpun kotoran apa saja.
Jikalau semacam arak ini diminum masuk ke perut Oh Thi-hoa, maka isi perut Oh Thi-hoa tanggung bakal meledak dan membusuk hancur tanpa meninggalkan bekas !
Kota Kayhong jarang turun hujan, maka tanah di pekarangan amat kering dan keras, hampir sekeras batu, umpama dikeduk menggunakan linggis, orangpun akan bekerja memeras keringat, setengah harian orang baru bisa membenamkan sebatang paku, dengan pukulan palu besar.
Tapi dibawah penerangan pelita ditangan Coh Liu-hiang, didapatinya kedua puluh tujuh batang Bau-hi-li-hoa-ting seluruhnya menancap amblas ke dalam tanah, yang nampak hanya lobang-lobang saja yang berjajar.
Berkata Coh Liu-hiang.
"Lihatlah tempat dimana senjata rahasia ini disambitkan, berapa jauh menurut pikiranmu?"
"Kira kira ada empat lima tombak."
Sahut Oh Thi-hoa menerawang sebentar.
"Jadi Li Hoa-ling atau paku dari kembang ini disambitkan dari jarak empat lima tombak, namun masih bisa menancap amblas ke dalam tahan berapa kuat dan deras daya luncuran senjata rahasia ini, dapatlah kau bayangkan sendiri"
"Ingin aku membongkar kotak gepeng ini untuk melihat keadaan dalamnya seolah-olah kotak ini bisa membidikkan kedua puluh tujuh batang jarum itu seperti orang menarik busur panah saja."
Mulutnya bicara, lekas dia berjongkok, dengan sebuah pisau kecil, satu persatu dia korek kedua puluh tujuh Li-hoa-ling itu, namanya saja paku, bahwasanya tidak ubahnya seperti jarum sulaman, cuma pangkalnya saja yang rada membesar, tapi kalau ditekan diatas telapak tangannya rasa enteng bisa terbang dihembus angin kencang.
Mencelos hati Oh Thi-hoa, katanya.
"Paku sekecil dan enteng ini dapat juga menancap amblas ke dalam tanah sekeras ini, jikalau kau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapapun aku tidak mau percaya."
"Karena kecepatannya luar biasa, maka kekuatannya besar luar biasa pula."
"Paku sekecil ini menghantam tanah amblas seluruhnya, jikalau sampai mengenai badan manusia, masakah jiwanya dapat diselamatkan... aku pasti akan memasukkannya kembali ke dalam kotak itu, ingin aku menjajal betapa kecepatannya sambutannya? "lalu kerjanya dipercepat, sebentar saja dia sudah selesai mengorek keluar kedua puluh tujuh batang jarum itu.
"Ujung paku ini begitu runcing dan tajam kau harus hati hati"
"Tidak apa-apa aku tahu Bua-hi-li-hoat ting selamanya tidak pernah dilumuri racun, karena tanpa dilumuri racun, kekuatan paku sekecil ini cukup berkelebihan untuk menamatkan jiwa orang."
Mereka kembali ke dalam rumah, Oh Thi-hoa tuang seluruh paku-paku itu di atas meja, lalu diangkatnya cawan arak sambil tertawa, katanya.
"Sekarang aku boleh minum bukan ! Apa kaupun ingin minum secawan ?"
Coh Liu-hiang tertawa tawa, sahutnya.
"Aku minum teh saja."
Pelita diletakkan, lalu menyambar cawan tehnya. * Bersambung
Jilid 30 *
Jilid 30 Takkala itu Oh Thi hoa sudah angsurkan cawan araknya ke depan mulutnya.
Dia tidak menyaksikan tabuhan kecil yang terjatuh ke dalam araknya karena keracunan oleh bau arak, sudah tentu dia tidak tahu bila arak itu dia minum masuk ke perutnya, maka dalam dunia ini bakal tidak ada manusia yang bernama Oh Thi hoa lagi.
Inilah secawan terakhir yang bakal diminumnya, disaat arak hampir tertenggak ke mulutnya.
Sungguh tidak pernah terduga olehnya mendadak Coh Liu-hiang layangkan sebelah tangannya, kontan cawan itu tersampok terbang dan jatuh kerontangan pecah berantakan, arakpun tercecer di lantai.
Bukan kepalang kejut Oh Thi-hoa, teriaknya penasaran.
"Apa kau mendadak terserang penyakit anjing gila?"
Tanpa perduli caci maki orang, Coh Liu-hiang malah berkata.
"Kau lihat poci teh ini".
"Mataku tidak picak, sudah tentu aku melihatnya".
"Pandanglah tanganku ini!"
"Kau memangnya sudah gila, kenapa harus memandang tanganmu, memangnya tanganmu mendadak bisa tumbuh sekuntum kembang mawar?"
Berkata Coh Liu-hiang tawar.
"Tanganku yang ini, semula kugunakan untuk mengambil poci teh, tapi pernahkah kau perhatikan pegangan poci teh ini sekarang sudah beringset ke arah lain, tidak terletak pada sebelah tanganku ini".
"Tidak terletak sebelah tangan kirimu? Memangnya kenapa?"
"Tadi aku duduk di sini, pernah aku menuang secawan teh dan kuminum habis lalu kukembalikan poci ini pada letaknya semula, tapi pegangan poci ini sekarang tidak pada posisi semula".
"Memangnya kenapa harus dibuat ribut, bukan mustahil tadi kau sudah ganti menggunakan tanganmu yang lain".
"Selamanya aku menggunakan tangan kiri untuk menuang teh, sejak dulu sudah menjadi kebiasaan, selamanya takkan berubah".
"Me.....memangnya kenapa?"
"Itu berarti, setelah aku minum tehku tadi poci teh ini pernah disentuh orang, dan kau kecuali terserang penyakit demam, selamanya tak pernah menyentuh poci teh".
"Umpamanya aku sakit demam batuk juga tak kau bisa menyentuh poci teh, karena orang lain setelah mabuk arak harus minum teh, untuk menghilangkan mabuknya, aku sebaliknya begitu mengendus bau teh, mabukku bakal menjadi-jadi".
"Nah itulah, jikalau kau sendirian tidak pernah menyentuh poci teh ini, poci teh ini sendiripun tak bisa bergerak, lalu kenapa letak posisinya berpindah? Oh Thi-Hoa melengak heran, katanya.
"Setelah mendengar uraianmu akupun jadi heran."
"Itu berarti di kala kami berdua keluar tadi, pasti ada orang masuk ke mari menyentuh poci teh ini. Tanpa sebab untuk apa dia masuk ke mari menyentuh poci teh ini?"
Tersirap darah Oh Thi Hoa, serunya.
"Apakah dia sudah menaruh racun di dalam poci teh ini?"
"Benar, orang itu sudah memperhitungkan begitu kembali mulut kita tentu kering dan pasti menuang teh atau arak untuk minum maka dia taruh racun di dalam poci teh, tapi agaknya tak pernah terpikir olehnya bahwa selamanya aku menuang air teh menggunakan tangan kiriku, maka setelah dia masukkan racun seenaknya saja dia taruh poci teh ini tidak pada posisi semula, sehingga pegangan poci ini berpindah arah yang berlawanan."
Oh Thi-Hoa menjublek di tempatnya. Sesaat lamanya baru ia bersuara.
"Kalau dalam teh ini beracun, tentu araknyapun berbisa."
"Kalau tidak masa aku sudah gila menyampok cawan arakmu tanpa sebab? Meski banyak ragam setan arak di kolong langit ini, tapi setiap arak dipandangnya lebih berharga dari jiwanya sendiri, umpama kau membakar rumah dan harta bendanya, mungkin dia tidak akan marah, tapi bila kau menumpahkan araknya, pasti dia akan marah seperti orang gila."
"Caci maki yang bagus, bagus makianmu."
"Bukan aku ingin memakimu, aku hanya ingin supaya kau tahu bahwa aku tidak terjangkit anjing gila."
Lalu dia tuang sisa setengah air the ke dalam poci arak.
"Ces"
Seketika asap hijau mengepul naik, seperti orang menuang air dingin ke dalam wajan yang minyaknya sedang mendidih. Merinding Oh Thi-hoa dibuatnya, katanya.
"Racun yang lihay sekali, agaknya setanding dengan racun yang pernah digunakan Ciok-koan-im."
Coh Lu-hiang membenamkan rona mukanya dengan mimik kaku tanpa bicara.
"Kalau dilihat gelagatnya , orang yang menyambitkan senjata rahasia dan orang yang menaruh racun di sini pasti satu komplotan bukan?"
Coh Lu-hiang hanya mengiakan dan mengangguk. Sesaat lamanya Oh Thi-hoa tercenung diam, katanya kemudian dengan tertawa.
"Sungguh tidak pernah aku memperhatikan kau selalu menggunakan tangan kiri mengambil teh, setiap mengerjakan apa saja kau selalu menggunakan tangan kanan, kenapa melulu tangan kiri saja yang kau gunakan mengambil air teh? "Karena selama beberapa tahun ini kau bertempat tinggal di antara kapal, sebesar kapal itu tempatnya tentu terbatas, demikian juga kamarku itu tidak terlalu besar, maka setiap benda harus ditaruh pada letak masing-masing yang tepat serasa, terutama poci arak atau poci teh, jikalau meletakkan di tempat yang salah, maka pasti sering menjatuhkan atau menyentuh benda-benda lainnya, oleh karena itu Yong-ji lantas membuat sebuah rak khusus untuk menaruh poci teh di sebelah kiri di pinggir kursi yang sering kududuki, cukup mengulur tangan dengan mudah aku bisa mengambilnya."
Dia tertawa-tawa lalu meneruskan.
"Setelah kebiasaan sekian lamanya, maka selalu aku mengambil teh dengan tangan kiriku."
"Lucu, lucu, tapi kenapa Yong-ji tak menaruh rak poci teh itu di sebelah kananmu saja?"
"Soal ini gampang dibereskan karena di sebelah kanan tiada tempat kosong untuk menaruh poci teh itu."
Oh Thi-hoa geleng-geleng kepala, ujarnya.
"Tak nyana tinggal di atas kapal juga ada kegunaannya yang serba melit, tinggal di kapal adakalanya memang terasa terkekang dan kurang bebas, tapi semakin kecil tempat tinggalmu, maka semakin membiasakan dirimu untuk tidak sembarangan menyentuh barang-barang lain yang bukan tujuanmu, maka setiap melakukan pekerjaan apapun, kau akan bekerja menurut aturan, kebiasaan seperti ini mungkin jarang terlihat dan takkan menunjukkan manfaatnya, tapi dikala kau menghadapi bahaya sering tanpa kau sadari tahu sudah menolong jiwamu."
"Kalau demikian jikalau aku pindah ke dalam kurungan burung dara bukankah aku bakal manusia paling punya aturan dalam cara kehidupanku". Mendadak seperti teringat apa-apa, senyuman yang menghias mukanya seketika beku, teriaknya.
"Kamar Li Giok-ham sepi lenggang tanpa kedengaran sedikit suara bukan mustahil mereka berdua sudah menjadi korban keganasan orang."
Tidak mungkin, siapapun yang mengincar jiwa kedua suami istri ini, bukan soal sepele."
"Tapi waktu mereka datang Lu Ba bi sedang kumat penyakitnya, mungkin mereka tidak mampu melawan....bagaimana juga, aku harus menjenguk mereka."
"Menjenguk mereka pun baik, mungkin mereka ada mendengar sesuatu apa yang mencurigakan."
Tanpa menunggu kata Coh Liu-hiang berakhir, Oh Thi hoa sudah berlari keluar.
Waktu itu cuaca masih gelap meski menjelang fajar, dikejauhan sudah terdengar kokok ayam jago.
Dua kali Oh Thi hoa memanggil , Li Giok-ham sudah menyulut api di dalam kamar dan membuka pintu dengan mengenakan mantel ia keluar, roman mukanya masih unjuk rasa kantuk dan keheranan serta kaget, namun ia tetap tersenyum menyapa.
"Kalian begini pagi sudah bangun !"
Melihat orang keluar dengan segar bugar barulah Oh Thi-hoa mengelus dada lega, katanya tertawa.
"Bukan kami bangun pagi-pagi tapi semalam suntuk kami tidak tidur."
Berkilat sorot mata Li-Gok-ham, tanyanya.
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Panjang kalau dibicarakan kalau kau sudah bangun, marilah duduk ke kamar, kami mengobrol disana."
Li Giok-ham berpaling ke dalam kamar, lalu pelan-pelan menutup pintu dari luar, katanya menghela nafas.
"Istriku pada kurang enak badan, sebetulnya siaute pun baru saja pulas."
"Apakah penyakit istrimu tidak berat?"
Tanya Oh -Thi-hoa.
"Ya penyakit lama saja yang kumat, setiap bulan pasti kumat dua kali, namun tak mengganggu kesehatannya, Cuma rada menyulitkan saja."
Sekaligus Oh Thi-hoa melirik pada Coh Liu-hiang, seperti hendak bilang.
"rekaanmu meleset, dia tidak terkena racun, cuma penyakit lama saja yang kumat."
Coh Liu-hiang mandah tertawa, katanya malah. Kalau Li-heng baru saja tertidur, entah adakah kau mendengar sesuatu yang mencurigakan ?"
"Istriku terus merintih-rintih kesakitan sambil meronta-ronta, seperti anak kecil saja, terpaksa aku harus cari akal untuk membujuk dan menghiburnya, kejadian lain sampai tidak pernah kuperhatikan."
Baru berhenti mendadak dia bertanya."
Sebetulnya apakah yang telah terjadi, apakah ?"
"Bukan kejadian apa-apa, Cuma ada orang berusaha mencelakai jiwa Coh Liu-hiang ini pun penyakitnya sejak lama, setiap bulan malah kumat sering kali."
Oh Thi-hoa mengolok-olok jenaka. Li Giok-ham terkejut "Ada orang hendak mencelakai Coh-heng? Siapakah orangnya yang punya nyali begitu besar?"
"Aku mengejarnya setengah harian dia, namun bayangan orangpun tak berhasil kecandak, tokoh-tokoh kosen yang lihay dalam Kangouw, agaknya hari-kehari lebih banyak lagi".
"Waktu itu mereka sudah kembali ke dalam kamar, begitu melihat paku-paku perak diatas meja, seketika berubah air muka Li Giok-ham, katanya.
"Senjata rahasia diatas meja ini bukankah alat orang untuk mencelakai Coh heng?"
Coh Liu-hiang menatap muka orang lekat-lekat sahutnya;
""Apa Liheng juga kenal asal-usul senjata rahasia ini?"
"Agaknya mirip dengan Bau hi-li hoa ting."
"Tepat!"
Ujar Coh Liu-hiang "Coh Liu-hiang memang tidak bernama kosong, menurut yang Siaute ketahui, kekuatan daya luncur serangan Ban hi-li hoa ting ini boleh terhitung nomor satu di seluruh muka bumi, setiap kali disambitkan mesti melihat darah, sampai sekarang belum ada seorang tokoh kosen manapun yang bisa berkelit atau meluputkan diri dari incarannya, It-seng Totiang yang dulu malang melintang di Lam-hoa, akhirnya mati karena senjata rahasia ini.
Sebaliknya Coh-heng tetap tak kurang suatu apa.
Hal ini membuktikan, bahwa kepandaian silat Coh-heng masih setingkat lebih tinggi dari tokoh besar ahli pedang yang pernah menjagoi daerah selatan itu".
Oh Thi-hoa tertawa ujarnya.
"Cuma nasibnya saja selalu lebih beruntung dan orang lain".
"Di bawah incaran Bau-hi li-hoa ting tidak pernah ada orang yang bernasib baik kecuali Coh-heng. umpama nasib orang berlipat, lebih baik sekali-kali tak akan bisa lolos dari brondongan dua puluh tujuh batang paku perak ini".
"Agaknya kau amat paham mengenai senjata rahasia yang keji ini, tanya Oh Thi-hoa.
"Inilah senjata rahasia yang paling terkenal dimuka bumi ini dulu waktu ayah mulai mengajarkan ilmu silat kepada kami, pernah pula menuturkan tentang segala seluk beluk senjata rahasia, disuruhnya supaya selanjutnya aku lebih waspada, menurut kata beliau. Dikolong langit ini ada enam benda yang paling menakutkan. Bau-hi-li-hoa-ting ini adalah salah satu diantaranya.
"Pengetahuan Li-locianpwe amat luas"
Timbrung Coh Liu-hiang.
"tentunya asal usul pembuatan alat senjata ini juga pernah diceritakan kepada Li-heng".
"Pembuat alat senjata ini adalah anak dari keluarga persilatan juga, namanya Cin Si-bing, ayahnya adalah Lam-ouw siang kiam yang jaya dan disegani pada zaman dulu".
"Menurut apa yang kami ketahui, pembuat alat senjata ini, sedikitpun tidak bisa main silat, putra dari Lam-ouw siang kiam cara bagaimana tidak pandai main silat? Apakah khabar ini kurang benar?"
Sela Oh Thi-hoa.
Apa yang Oh-heng dengar tidak salah, Cin Si bing memang tidak bisa main silat, karena sejak kecil dia sudah terserang kelumpuhan dan tak terobati sehingga tidak leluasa bergerak, bukan saja tidak bisa belajar silat, malah tenaga untuk berdiripun tak bisa".
"Kasihan!"
Ujar Oh Thi-hoa.
"Mereka adalah lima laki-laki bersaudara. Cin Si bing nomor tiga, mungkin karena tanpa daksa sehingga otaknya jauh lebih cerdik dan pintar dari ke empat kakak adiknya, sayang badan cacat. Sementara saudara-saudaranya sudah malang melintang menegakkan nama di kalangan kang ouw. Sudah tentu hatinya amat iri, jelus dan penasaran, maka dia lantas bersumpah pada suatu ketika dia hendak melakukan sesuatu yang cukup menggemparkan dunia supaya orang-orang lain melek matanya bahwa orang cacatpun tak boleh dipandang rendah".
"Ke empat saudaranya itu bukankah Kam lam su-gi yang amat terkenal dulu?"
"Ya"
Li Giok-ham mengiakan.
"setahun penuh hidup Cin Si-bing hanya rebah saja di atas pembaringan, kecuali membaca buku, maka dia menghabiskan waktu membuat mainan dari ukuran kaya, dasar otaknya emang pintar dan berbakat lagi, lama kelamaan sepasang tangannya itu menjadi begitu ahli, khabarnya rumahnya dipasang alat-alat rahasia yang dibuatnya sendiri dengan amat lihay dan beraneka ragamnya meniru alat kerbau, dan kuda kayu buatan Cukat Liang pada zaman Sam-kok dulu, diapun membuat banyak sekali orang-orangan dari kayu yang bisa bergerak sendiri, cukup asal dia menyentuh tombol rahasianya, orang-orangan kayu dapat melayani segala makan minumnya dengan baik". Oh Thi-hoa tertawa, katanya.
"Kalau begitu rumahnya itu tentu amat menyenangkan kalau Cin-siansing itu belum meninggal, ingin aku menemui beliau".
"Begitulah beberapa tahun telah berselang, dengan kayu dia berhasil membuat sebuah kotak rahasia yang dilengkapi alat-alat pegas dan sebagainya, lalu dia suruh saudara-saudaranya pergi mencari pandai besi untuk membuatkan kotak yang mirip kayunya itu dari bahan perak, saudaranya menyangka hanya mainan anak-anak belaka maka tidak pernah mengambil perhatian, di Koh-so berhasil mencarikan pandai besi yang paling terkenal pada waktu itu dipanggil pulang ke rumahnya, kalau tidak salah pandai besi itu bernama Kiau jiu song". Sampai di sini ia menghela napas, lalu melanjutkan.
"Kiau jiu song bertempat tinggal di rumah Cin Si-bing itu selama tiga tahun, siapapun tiada yang tahu apa saja kerja kedua orang ini didalam rumah serba rahasia itu, cuma setiap bulannya Cin Si-bing menyuruh prang mengantar honor yang berjumlah besar ke rumah Kiau jiu song untuk ongkos hidup sehari-hari bagi keluarganya, oleh karena itu meski tiga tahun tidak pulang, istri dan anaknya tidak perlu kuatir". Coh Liu-hiang menghela napas, katanya.
"Mungkin istrinya itu tidak tahu bahwa uang yang mereka makan itu adalah uang jaminan yang diberikan Cin Si-bing untuk membeli nyawa suaminya".
"Benar, tiga tahun kemudian, begitu Kiau jiu ong keluar dari rumah itu, kontan dia terjungkal jatuh terus tak bangun lagi. Kontan lantaran dia sudah kehabisan tenaga, daya otak dan hatinya sudah keropos, jiwanyapun tak tertolong lagi. Tapi bagaimana duduk perkara yang sebenarnya siapapun tiada yang tahu Keluarga Ciu dibilangan Ouw-lam selatan waktu itu merupakan keluarga besar yang punya kekayaan dan kekuasaan, amat disegani dan terkenal, oleh karena itu keluarga Kiau jiu songpun tiada yang menarik perkara akan kematian yang aneh itu". Coh Liu-hiang menghela napas pula, ujarnya.
"Kalau Kiau Jiu song sudah tahu kunci rahasia cara pembuatan alat Bau-hi-li-hoa-ting, Cin Si-bing pasti tidak akan membiarkannya hidup dan membocorkan kepada orang lain, mungkin Kiau jiu song si pembuat alat itu sendiri yang menjadi korban pertama kali oleh Bau-hi-li-hoa-ting".
"Setengah bulan kemudian, mendadak Ciu Si-bing menyebar banyak undangan dia undang seluruh tokoh-tokoh ahli senjata rahasia yang berkepandaian tinggi, hari itu kebetulan hari Tiong-chiu, bulan sedang purnama, orang-orang Kangouw itu memandang muka Kam lam su gi, yang hadir ternyata tidak sedikit jumlahnya, disaat para hadirin sedang kebingungan, entah apa maksud Ciu kongcu yang cacat dan belum pernah berkelana di Kangouw ini menyebar undangan sekian banyaknya". Ingin Oh Thi-hoa menimbrung, akhirnya dia telan kembali kata-katanya. Terdengar Li Giok-ham melanjutkan.
"Tak nyana setelah minum arak berputar tiga kali, mendadak Ciu Si-bing mohon kepada Hou Lam-hwi untuk bertanding senjata rahasia". Akhirnya Oh Thi-hoa tak sabar lagi, selanjutnya.
"Apakah Hou Lam-hwi yang dijuluki Pat-pi-sin-wan atau lutung sakti delapan tangan itu?"
Benar, seluruh badan orang ini dari atas sampai ke bawah penuh ditaburi alat-alat senjata rahasia, khabarnya didalam waktu yang bersamaan dia bisa menyambitkan delapan macam senjata rahasia yang berlainan, sudah tentu kepandaian menyambit serangan senjata rahasiapun luar biasa, seolah-olah badannya tumbuh delapan tangan, memang sesungguhnya dia boleh dipandang sebagai ahli senjata rahasia yang kosen di Bulim pada jaman itu, sudah tentu tokoh semacam dia mana suci melayani tantangan seorang tanpa daksa untuk bertanding.
Apalagi dia cukup kental berhubungan dengan Kang Lam su-gi".
"Benar, umpama dia menang. Kemenangannya itupun tak perlu dipuji", ujar Oh Thi-hoa.
"Seluruh hadirinpun menduga Ciu Si-bing hanya berkelakar saja, tak kira Ciu Si-bing berkukuh untuk bertanding dengan Hou Lam-hwi malah dia memancing dengan perkataan tajam yang kotor, Hou Lam-hwi terpaksa turun gelanggang karena penasaran".
"Akhirnya bagaimana?"
"Kusingkat saja ceritanya, akhirnya Hou Lam-hwi mati di bawah berondongan Bau-hi-li-hoating itu, malah beberapa tokoh ahli senjata rahasia yang lainpun ikut jadi korban. Semua orang tahu bahwa Ciu Si-bing menyambit senjata rahasia dari kotak perak gepeng di tangannya itu, namun tiada orangpun yang bisa berkelit menyelamatkan diri".
"Telengas benar Cin-kongcu itu"
Coh Liu-hiang menghela napas.
"Sejak kecil orang ini sudah cacad jasmani sudah tentu tabiatnya jadi eksentrik, tapi apakah Lam ouw siang kiam dan Kang lam su gi tidak mengurus anak dan saudaranya itu".
"Waktu itu Lam ouw siang kiam dan bersaudara sudah wafat, Kam lam su gi sebaliknya mempunyai tujuan licik tertentu".
"Tujuan licik apa?"
"Melihat saudaranya dapat membuat alat senjata rahasia selihay itu, maka mereka berangan-angan untuk menegakkan lebih cemerlang nama kebesaran keluarga Ciu mereka di kalangan mayapada ini, namun tak pernah terpikir oleh mereka, karena ambisi yang keterlaluan ini, kaum persilatan di Kangouw sudah pandang mereka sebagai musuh umum kaum persilatan, siapapun tak ingin alat rahasia sekejam itu terjatuh ke tangan para saudara Ciu itu, maka siapapun ingin melenyapkan saja itu baru lega hatinya, karena siapa yang tidak takut bila alat senjata rahasia itu digunakan memusuhi dirinya?"
"Terutama orang-orang yang biasanya sengketa dengan keluarga Ciu itu", timbrung Oh Thi-hoa.
"Tahu musuh mereka memiliki alat senjata rahasia yang begitu lihay, sudah tentu setiap malam tidak bisa tidur".
"Oleh karena itu mereka berpikir turun tangan lebih dulu tentu menguntungkan, maka dengan berbagai daya upaya satu per satu mereka sikat Kang lam su gi, lalu Ciu keh ceng dibakarnya habis seluruhnya, sudah tentu Ciu Si-bing pun mati ditengah kobaran api itu". Sampai sekarang baru Coh Liu-hiang bertanya.
"Lalu belakangan Bau-hi-li-hoa-ting ini terjatuh ke tangan siapa?"
"Tiada yang tahu alat senjata rahasia itu jatuh ketangan siapa, karena siapapun yang memperolehnya tentu merahasiakan dan tak mau bilang kepada siapapun, tapi setiap selang tiga lima bulan, pasti ada tokoh Kangouw yang menemui ajalnya karena Bau-hi-li-hoa-ting ini, tapi orang yang membekal alat senjata itu sendiripun takkan berumur panjang, karena begitu ada sedikit kabar dan bocor beritanya, pasti akan ada orang yang berusaha merebutnya."
"Kalau demikian, bukanlah alat senjata rahasia ini menjadi benda yang bertuah?"
Ujar Coh Liu-hiang.
"Selama puluhan tahun, entah berapa kali sudah alat senjata rahasia ini sudah pindah tangan setiap orang yang pernah memilikinya tentu akhirnya ajal, sampai beberapa tahun yang lalu, alat senjata rahasia ini mendadak menghilang tak keruan paran, mungkin orang yang memilikinya tidak pernah menggunakannya oleh karena itu kaum persilatan pada generasi mendatang ini meski sering mendengar cerita mengenai Bau-bi-hi-hoa-ting ini malah tidak sedikit pula orang yang tahu akan bentuk dan pembawanya, namun tiada seorangpun yang pernah melihatnya sendiri. Oh Thi-hoa mengawasi Coh Liu-hiang katanya tertawa.
"Kalau begitu, agaknya nasib kita memang luar biasa."
"Kali ini orang itu ternyata hendak menghadapi Coh-heng maka dia berusaha menggunakan alat rahasia yang lihay ini."
"Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang itu tentu mempunyai dendam kesumat dengan Coh-heng, karena perduli dia pinjam, merebut atau mencurinya, bahwa dia dapat memiliki alat senjata rahasia ini tentulah bukan suatu hal yang gampang."
"Kalau begitu lebih aneh lagi "
Ujar Oh Thi-hoa.
"Dengan susah payah dia dapat memiliki alat senjata ini, kenapa pula dibuang begitu saja."
"Mungkin karena tidak berhasil mencelakai Coh-heng, tiada gunanya dia simpan alat ini pula, mungkin malah bakal menimbulkan bencana bagi diri sendiri, bila alat ini hasil curian, bukan mustahil pemiliknya akan mencari perhitungan kepadanya, oleh karena itu seenaknya saja dia buang, supaya orang sulit menyelidiki siapakah sebenarnya pencurinya?"
"Benar,"
Oh Thi-hoa menepuk tangan, pasti ada sebab musababnya". Berkata Li Giok-ham.
"Dan lagi khabarnya setiap senjata rahasia ini disambitkan harus melihat darah, kalau sebaliknya bakal membawa mala petaka bagi pemiliknya, mungkin diapun sudah tahu bahwa alat senjata rahasia tak bertuah, masakah dia berani membawa-bawanya lagi di badannya".
"Benar, itupun kemungkinan, tapi ......"
"Tapi siapakah sebenarnya orang itu? Masakah Coh-heng sedikitpun tidak bisa menduganya?"
Soalnya aku sendiri belum melihat muka asli orang itu, main tebak dan reka tak berguna malah membingungkan saja.
Namun bila dia begitu teliti, agaknya sudah direncanakan lebih dulu untuk membunuh aku, sekali gagal pasti ada dua kalinya, akan datang suatu ketika pasti diketahui siapa dia sebenarnya?".
Terdengar suara cekikikan, katanya.
"Tepat, selama beberapa tahun belakangan ini, belum pernah kudengar ada siapa yang bisa lolos dari telapak tangan Maling Romantis". Malam dan seram, senjata rahasia yang aneh dan hebat, pembunuh misterius, cerita berdarah, suasana dalam kamar sebetulnya sudah cukup berat membuat orang seolah-olah susah bernapas. Tapi begitu Liu Bu-bi melangkah masuk, hawa dalam kamar seakan-akan bergolak dan cahaya menjadi terang, kehidupan lebih bergairah, sampaipun api pelita yang sudah guram itupun seperti menyala lebih terang. Rambutnya yang panjang terurai panjang menyuntai di atas pundaknya, muka halus tanpa pupur dengan alis lentik ini sedikitpun tidak menunjukkan rasa kesakitan, kurus dan keletihan. Hampir Oh Thi-hoa tidak percaya bahwa perempuan ayu yang berdiri di depannya ini adalah orang yang belum lama berselang meronta-ronta kesakitan bergelut dengan siksa dan derita. Lebih mengetuk kalbunya lagi karena tangan orang menjinjing sebuah poci arak. Terpancar cahaya terang pada sorot mata Oh Thi-hoa, tak tahan ingin rasanya dia memburu maju merebut poci arak itu. Tak nyana baru saja tanganya terulur, secepat kilat Coh Liu-hiang mendadak menangkap pergelangan tangannya terus ditelikung ke belakang. Karuan Oh Thi-hoa menjerit kesakitan, makinya.
"Kau kejangkitan penyakit apa lagi?"
Belum habis kata-katanya secepat kilat Coh Liu-hiang beruntun menutuk Thian-cwan, Yiap-pek, Ti-te, Khong-cui dan Tong ling, lima jalan darah besar pada lima tempat yang berlainan.
Bukan saja tak mampu bergerak lagi separoh badan Oh Thi-hoa rasanya linu kemeng dan mati rasa "Bluk"
Terjatuh duduk kembali ke kursinya semula, dengan kesima dia pandang Coh Liu-hiang. Li Giok-ham suami-istripun kaget dan melongo. Liu Bu-bi senyum manis katanya.
"Apakah Coh Liu-hiang kuatir poci arakku ini keracunan?"
Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.
"Araknya memang tidak beracun, tapi badannya sudah ada racunnya".
"Apakah Oh-heng sudah meminum arak beracun itu?"
Ujarnya Li Giok-ham.
"Kali ini bukan arak yang membuat celaka dirinya, tapi tangannya sendiri", sahut Coh Liu-hiang tertawa. Baru sekarang semua orang tahu bahwa sebelah tangan Oh Thi-hoa sudah bengkak malah kulitnya sudah menghitam bening dan menguap asap hitam. Li Giok-ham menjerit kaget.
"Cara bagaimana Oh-heng bisa keracunan?"
Dengan sebelah tangannya, Oh Thi-hoa menarik-narik hidungnya, katanya getir.
"Mungkin aku betul-betul kepergok setan kepala besar tadi". Coh Liu-hiang bertanya.
"Apakah tadi kau mencabuti Bau-hi-li-hoa-ting itu satu-persatu?"
Oh Thi-hoa mengiakan dengan manggut.
"Nah, disitulah letak persoalannya, kau kira bila kulit tanganmu tak pecah atau terluka, hawa beracun tak merembes masuk ke dalam tubuh, tanpa kau sadari bahwa racun di atas paku-paku perak itu bisa melalui celah-celah kuku jarimu merembes ke dalam badan". Tapi menurut apa yang ku tahu, timbrung Li Giok-ham.
"Bau-hi-li-hoa-ting ini selamanya tak pernah dilumuri racun, soalnya kekuatan senjata rahasia ini sendiri sudah begitu keras dan dahsyat meski tak beracun orang yang tersambit pasti mati!"
"Ucapan Li heng memang tak salah, tapi pembunuh itu agaknya kuatir kematianku masih kurang cepat, maka Bau-hi-li-hoa-ting yang sejak mula tidak beracun dia lumuri racun yang paling jahat". Li Giok-ham suami-istri beradu pandang, mereka tidak bicara lagi, namun pelita digeser ke samping paku-paku perak yang berserakan di atas meja itu, dari sangkul rambutnya Liu Bu-bi menanggalkan sebatang tusuk konde, pelan-pelan dijepitnya sebatang terus diamati-amati dengan seksama didepan mata, roman muka mereka semakin serius dan akhirnya berubah tegang. Oh Thi-hoa batuk-batuk dua kali, ujarnya.
"Apakah benar paku itu beracun?"
Kembali Li Giok-ham suami-istri saling pandang, Liu Bu-bi mengiakan.
"Sudah lama kudengar bahwa Li-locianpwe bukan saja berilmu silat tinggi namun juga seorang terpelajar yang pernah mempelajari ketabiban meski tidak sudi menggunakan senjata rahasia beracun melukai orang, namun dalam bidang ini beliau banyak memeras otak menyelidikinya, sesuai dengan ajaran dan warisan keluarga, tentunya pengetahuan Li-heng dalam bidang inipun amat luas."
"Tidak salah,"
Oh Thi-hoa menambahkan.
"Kalau kalianpun bilang paku itu beracun, tentulah tidak akan salah lagi."
"Oleh karena itu Cayhe mohon petunjuk kepada Li-heng,"
Ujar Coh Liu-hiang.
"entah racun macam apa yang dilumuri di atas paku-paku ini?"
Li Giok-ham menarik napas dulu baru menjawab.
"Obat racun di dunia ini terlalu banyak ragamnya, sampai ayahkupun mungkin tidak bisa membedakannya satu persatu!"
Coh Liu-hiang menjublek di tempatnya agaknya seperti hendak bicara namun tak bisa membuka mulut. Mendelik mata Oh Thi-hoa, katanya.
"Kalau demikian racun yang mengenai aku ini jadi tidak bisa disembuhkan?"
Liu Bu-bi unjuk tawa yang dipaksakan ujarnya.
"Siapa bilang tidak bisa disembuhkan?"
"Buat apa kalian kelabui aku, aku ini memangnya anak kecil? Kalau kalian tidak tahu racun apa yang mengenai aku, cara bagaimana bisa menyembuhkan keracunanku ini?"
Kembali Li Giok-ham suami istri beradu pandang. Mulut mereka terbungkam. Berputar biji mata Oh Thi-hoa, mendadak dia gelak tawa, ujarnya.
"Buat apa kalian sama merenggut dan patah semangat, paling tidak sekarang aku belum mampus! Hayolah, hari ini ada arak hari ini mabuk, marilah kita minum sepuas-puasnya dulu."
Sebelah tangannya masih bisa bergerak hendak meraih balik tangannya yang satu ini.
"Kenapa tidak kau beri kesempatan aku banyak minum, mumpung aku masih bisa hidup. Bila aku sudah mampus, umpama kau setiap hari menyiram kuburanku dengan arak setetespun tidak akan bisa kunikmati."
"Tadi aku sudah menutuk Hiat-to dan membendung racun tertutup di lenganmu saja. Asal kau tak minum lagi di dalam jangka setengah hari, kadang racunnya takkan menjalar."
"Setelah setengah hari? Masakah di dalam jangka dua belas jam ini kau dapat mengundang orang yang dapat menawarkan racun di dalam badanku?"
Coh Liu-hiang tertunduk, ujarnya.
"Bagaimana juga cara ini jauh lebih baik untuk mengulur jiwamu."
Oh Thi-hoa gelak-gelak, serunya.
"Saudara yang baik, kau tak usah pergi mencari orang serta munduk-munduk minta bantuannya. Cukup asal kau berikan poci arak itu, tanggung aku takkan mampus."
Mendadak dari balik kulit sepatu panjangnya dia merogoh keluar sebatang pedang kecil, katanya tertawa.
"Coba lihat, inilah caraku yang paling praktis untuk menghilangkan racun. Bukankah cara ini tidak ada bandingannya?"
Terkesiap darah Coh Liu-hiang, serunya.
"Apa kau ingin ...."
"Orang sering bilang, ular menggigit tangan orang gagah mengutungi pergelangan tangan. Apakah hal ini perlu dibuat geger? Kenapa kau ribut tak keruan paran"
Mengawasi pedang kecil yang kemilau di tangan Oh Thi-hoa tanpa terasa keringat bertetes-tetes di atas kepala Coh Liu-hiang.
Sebaliknya rona muka Oh Thi-hoa sedikitpun tidak berubah.
Li Giok-ham menghela napas, katanya.
"Oh-heng memang tidak malu sebagai orang gagah, cuma ...."
Mendadak Liu Bu-bi menyeletuk.
"Cuma kau harus menunggu dua belas jam dulu."
"Kenapa?"
"Karena tiba-tiba teringat olehku seseorang yang dapat menyembuhkan keracunanmu."
Sahut Liu Bu-bi. Tanpa menunggu orang lain bersuara matanya mengerling ke arah Li Giok-ham, lalu menambahkan.
"Apakah kau sudah lupa kepada Cianpwe yang hanya mempunyai tujuh jari tangan itu?"
Berkilat sorot mata Li Giok-ham, serunya riang.
"Oh ya, hampir saja kulupakan dua hari yang lalu Su-piaute atau adik nisan ke empat malah masih menyinggung nama Cianpwe itu, katanya beliau sudah pergi ke Ko-siang cheng adu minum arak selama tujuh hari tujuh malam dengan Hiong lopek, sampai sekarang belum berkesudahan, entah siapa yang menang, asal beliau masih disana, Oh-heng pasti masih ada harapan". Liu Bu-bi tertawa, ujarnya.
"Kalau toh belum ada ketentuan siapa bakal menang, Hiong lopek pasti takkan membiarkan dia pergi".
"Dimana letak Ko Siong-cheng?"
Tanya Oh Thi-hoa.
"Siapa pula Hiong Lopek itu? Siapa pula Cianpwe yang hanya punya tujuh jari itu? Orang-orang yang kalian singgung ini, kenapa belum kukenal atau pernah dengar namanya?"
Walaupun Hiong Lopek adalah sahabat kental pada cianpwe yang seangkatan dengan ayahku, namun dia sendiri bukan orang dari kaum persilatan, sudah tentu Oh-heng tentu takkan kenal siapa dia", demikian sahut Li Giok-ham.
Liu Bu-bi menambahkan.
"Tentang Cianpwe tujuh jari itu, Oh-heng tentu pernah mendengar nama besarnya, cuma beliau belakangan ini, karena suatu peristiwa yang menyedihkan melarang orang lain menyinggung namanya".
"Perangai Cianpwe ini memang terbuka dan simpatik", Li Giok-ham lebih jauh, namun tabiatnya sangat aneh, jikalau sampai diketahui kami belakangnya melanggar pantangannya, kami suami-istri jangan harap bisa hidup tentram". Oh Thi-hoa tertawa, katanya.
"Kalau tabiat orang itu begini aneh, dengan aku tidak pernah kenal lagi, jikalau sampai aku kebentur tembok dan gagal, bukan lebih-lebih mengenaskan dari pada aku mampus keracunan?"
Liu Bu-bi tersenyum manis, ujarnya.
"Tidak perlu kau sendiri harus mengalami kegagalan, biar kami saja yang pergi, cukup asal kumasakkan dua macam sayuran kepadanya, tanggung dia tidak akan menolak permintaanku".
"Benar, tapi kita harus lekas berangkat", timbrung Li Giok-ham.
"Letak Ko siong cheng memang tidak jauh, namun tidak dekat, dan lagi disana paling tidak kau harus memakan waktu saja jam lagi untuk memasak hidanganmu itu". Oh Thi-hoa menghela napas, katanya.
"Kalian begini simpatik, jikalau aku masih mengulur-ulur waktu kalian, aku ini bukan manusia lagi, tapi ...... ulur busuk, kaupun perlu mengiringi perjalanan mereka".
"Tidak perlulah", sela Liu Bu-bi.
"Lebih baik Coh-heng ......"kata-katanya tiba-tiba terputus karena tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meski tetap duduk di kursinya, namun sekujur badannya sedang gemetar, mukanya menguning seperti kertas emas. Serasa terbang arwah Oh Thi-hoa saking kaget teriaknya gemetar.
"Kau ....... kau ....... sebelum dia kuat bicara, Coh Liu-hiang sudah tersungkur jatuh". Bergegas Li Giok-ham dan Liu Bu-bi memburu maju memapaknya bangun, dimana jari-jari tangan mereka menyentuh badannya, terasa kulit badannya meski terlapis baju, namun masih terasa panas membara seperti gosokan. Akhirnya Oh Thi-hoa ikut nimbrung maju teriaknya serak.
"Apakah kaupun keracunan?"
Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala dengan lemah.
"Kalau tidak keracunan memangnya apa sih yang terjadi, Li heng kau ...... tolong periksa keadaannya sekarang, lekas ...... Coh Liu-hiang kertak gigi, dengan sekuat tenaga dia tertawa dibuat-buat suaranya mendesis dari sela-sela giginya.
"Masakah kau belum pernah melihat orang jatuh sakit? Kenapa dibuat ribut-ribut?"
"Tapi biasanya badanmu sekekar kerbau, beberapa tahun ini belum pernah aku melihat kau jatuh sakit kali ini kok malah sakit?"
"Memang kali ini datangnya penyakitku ini tidak tepat pada waktu semestinya". Waktu hendak memotong lengan tangannya sendiri tadi, sikap Oh Thi-hoa masih tenang dan wajar, bisa kelakar pula, namun kini kepalanya gemrobyos oleh keringat, teriaknya.
"Orang selamanya tidak pernah sakit, sekali sakit tentu berat Li-heng kau ........"
"Kau tidak perlu gugup", bujuk Liu Bu-bi.
"Kukira Coh-heng belakangan ini terlalu capai dan bekerja keras, terserang angin dingin lagi ditambah kegugupan hatinya lagi karena tanganmu ini, maka mudah sekali dia terserang sakit".
"Benar,"
Sahut Coh Liu-hiang.
"Sakitku ini tidak menjadi soal, kalian lebih ...... lebih baik lekas pergi mencari ...... mencari obat pemunah itu,"
Katanya tidak soal padahal bibirnya gemetar tak bisa bicara lagi. Kata Oh Thi-hoa.
"Keracunan tanganku ini, yang tidak menjadi soal, lebih baik kalian berusaha menyembuhkan penyakitnya dulu.
"Omong kosong,"
Sentak Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menjadi sengit, katanya keras.
"Jikalau kau tidak mau mereka mengobati penyakitmu dulu, umpama obat pemunah racunku dibawa pulang, aku tidak sudi makan". Coh Liu-hiang marah dampratnya.
"Usiamu sudah setua ini, kenapa masih belum bisa membedakan berat dan ringan, aku ..... penyakitku umpama harus tertunda tiga hari lagi juga tidak akan apa-apa, sebaliknya racun di tanganmu tidak boleh ditunda,"
Dia meronta sekuat tenaga berusaha berdiri, tapi baru terduduk sudah terperosok jatuh pula.
Tersipu Oh Thi-hoa hendak memapahnya, sehingga mulut tidak sampai bicara lagi, terpaksa hanya membanting kaki melulu.
Li Giok-ham tertawa, katanya.
"Kalau sama-sama setia kawan dan berjiwa ksatria namun .... Namun penyakit Coh-heng ini pantang menggunakan tenaga dan tak boleh marah, jikalau kami tidak menurut kemauannya, penyakitnya malah bertambah berat, untunglah aku ada membawa Ceng biau san, puyer ini khusus untuk menyembuhkan penyakit seperti ini dan pasti manjur!".
"Ya, setelah minum puyer ini, harus istirahat pula secukupnya, untuk Oh-heng perlu juga menelan pil ini,"
Demikian kata Li Giok-ham sambil mengangsurkan sebutir pil kuning kepada Oh Thi-hoa.
"Khasiat obat ini cukup menahan racun ini menjalar, maka sebelum kami pulang penyakit Coh-heng dan racun di lengan Oh-heng tidak akan memburuk". Jikalau menggunakan ibarat kata sehari laksana satu tahun untuk melukiskan keadaan Oh Thi-hoa pada waktu itu, memang cukup setimpal dan tepat sekali. Semula didahului oleh penyakit lama Liu Bu-bi kumat lalu pembunuh misterius itu menyerang dengan alat senjata rahasia yang keji, kini bukan saja dirinya keracunan, sampai Coh Liu-hiangpun terserang penyakit dan rebah di atas pembaringan tak bisa bergerak. Begini banyak persoalan pelit yang menyebalkan ini sekaligus melihat dirinya, dalam keadaan serba risau dan gerah ini arakpun tidak boleh diminum, cara bagaimana Oh Thi-hoa bisa tentram melewatkan waktu sepanas ini? Dengan susah payah dia menunggu akhirnya dua jam sudah berselang dengan sebelah tangannya yang normal Oh Thi-hoa menjinjing Ceng hiau san dan poci teh menghampiri Coh Liu-hiang, siapa yang nyana memegangi obat saja Coh Liu-hiang sudah tidak kuat lagi sehingga puyer itu jatuh tercecer di lantai. Untung meski tidak makan obat, penyakit Coh Liu-hiang tidak memburuk, lambat laun dia malah terlena didalam tidurnya sementara perut Oh Thi-hoa sudah berontak saking kelaparan maka dia suruh pelayan membawa nasi ke kamar. Agaknya pelayan ini hendak menjilat dan mencari alem, katanya tertawa.
"Kemarin tuan tamu ada pesan arak terbaik buatan kita, kebetulan hari tinggal seguci saja, apakah tuan tamu hendak memesan lagi?"
Untung kalau tidak menyinggung soal arak, memangnya Oh Thi-hoa sedang merasa penasaran dan belum terlampias, seketika meledak amarahnya, hardiknya dengan berjingkrak.
"Bapakmu ini toh bukan setan arak, siang hari bolong begini kenapa minum arak, sundelmu?"
Sungguh mimpipun pelayan itu takkan habis mengerti kenapa tepukan alemnya di pantat kuda bisa mengenai pahanya, saking ketakutan seketika lari ngacir lintang-pukang, waktu antar makanan yang dipesan tak berani masuk lagi.
Tak nyana sekali pulas Coh Liu-hiang bisa tidur lima jam lamanya kira-kira mendekati magrib baru ia siuman Oh Thi-hoa mengira ia jatuh semaput baru sekarang ia merasa lega.
"Bagaimana kau rasa lebih baik tidak?"
Coh Liu-hiang tertawa, belum sempat bicara, Oh Thi-hoa sudah menambahkan.
"Kau tidak kuatir akan diriku, racunku tidak menjadi soal kecuali lenganku ini tertutuk oleh kau, tak bisa bergerak, makan bisa keyang, seperti orang biasa lazimnya!". Waktu itu didalam rumah sudah mulai gelap Oh Thi-hoa lantas menyulut api memasang lentera, diberinya Coh Liu-hiang makan semangkuk bubur, dan tangan Coh Liu-hiang masih bergetar, mangkokpun tidak bisa dipegangnya kencang. Kelihatan lahir Oh Thi-hoa wajar dan masih tertawa-tawa, namun hatinya amat mendelu dan merasa tertekan perasaannya.
"Apa mereka masih belum pulang?"
Tanya Coh Liu-hiang dengan napas memburu. Mengawasi tabir malam di luar jendela, sesaat Oh Thi-hoa diam saja, akhirnya tak tahan lagi, sahutnya.
"Dalam Kang ouw mana ada Bulim Cianpwe berjari tujuh? Bagaimana juga tak habis kupikirkan? Dulu memang ada Chit cay in tho atau Maling sakti tujuh jari, tapi bukan lantaran dia hanya punya tujuh jari, adalah karena tangan kanannya tumbuh dua jari lebih banyak, kalau ditambahkan seluruhnya berjumlah dua belas jari, dan lagi, bukan saja orang ini tidak bisa menawarkan racun, malah kinipun sudah meninggal dunia".
"Kalau demikian kau anggap kedua suami-istri ini sedang membual?"
"Kenapa mereka harus membual?"
Coh-heng menghela napas, dia pejamkan matanya lagi.
Aku hanya mengharap semoga mereka lekas pulang, kalau tidak bila pembunuh kemarin malam ini datang lagi kami berdua mungkin pasrah nasib saja terima digorok leher kami.
Memang kekuatiran Oh Thi-hoa cukup beralasan, dalam keadaan mereka sekarang, Coh Liu-hiang jatuh sakit, tenaga memegangi mangkok saja sudah tidak kuat, lengan Oh Thi-hoa tinggal satu saja yang bisa bergerak, jikalau pembunuh misterius itu meluruk datang, mereka berdua terang takkan bisa melawan.
"Tapi kalau orang itu sudah bekerja demikian rapi berusaha membunuh aku, sekali gagal pasti akan diusahakan kedua kalinya". Waktu Coh Liu-hiang mengatakan hal ini, Oh Thi-hoa belum merasakan apa-apa, namun serta dipikir, lama kelamaan hatinya semakin bingung dan takut, jantung berdebar-debar, tanpa sadar kelakuannya menjadi semakin aneh, lekas dia menutup rapat jendela kamarnya. Didengarnya Coh Liu-hiang berkata.
"Kalau dia mau datang, apa gunanya kau tutup jenela?"
Sekian lama Oh Thi-hoa terlongong, keringat dingin sudah membasahi jidatnya.
Tak lama kemudian, bulan dan bintang tidak kelihatan muncul, cuaca ternyata semakin mendung dan hujanpun turunlah.
Suara ramai di sekeliling hotel semakin sirap dan malam kembali sunyi lelap, titik air hujan saja yang kedengaran berjatuhan, menyentuh daun jendela, suaranyapun semakin ramai semakin lebat dan semakin nyaring, belakangan malah saling bersahutan seperti genderang dibunyikan di medan laga, membuat orang mendidih darahnya.
Kalau dalam keadaan seperti ini ada orang berjalan malam, bukan saja tidak kedengaran langkah kakinya, sampai lambaian pakaiannyapun takkan bisa terdengar.
Memang malam hujan begini adalah saat terbaik bagi orang berjalan malam melaksanakan operasinya.
Oh Thi-hoa tiba-tiba mendorong terbuka jendela, dengan mata terbuka lebar, matanya mendelong tak berkedip mengawasi alam nan gulita di luar jendela, pohon flamboyan di pekarangan berubah menjadi bayangan-bayangan raksasa, sedang balas melotot kepadanya.
Sekoyong-koyong "Serr"
Sesosok bayangan berkelebat lewat di depan jendela.
Oh Thi-hoa berjingkrat kaget, waktu dia tegasi dan melihat jelas hanya seekor kucing hitam saja, keringat dingin sudah membasahi badannya.
Coh Liu-hiang disebelah dalam ikut berteriak kaget.
"Ada orang datang?"
Oh Thi-hoa tertawa dipaksakan, sahutnya.
"Hanya seekor kucing kelaparan saja,"
Suaranya terdengar wajar dan seenaknya saja, bahwasanya hatinya amat mendelu dan getir.
Berapa tahun sudah mereka berdua malang melintang di Kang ouw, mati hidup dipandangnya sebagai mainan saja, kapan pernah pandang orang-orang jahat dalam mata mereka, seumpama menghadapi laksaan musuh berkudapun mereka tak pernah gentar mengerut ke kening.
Tapi sekarang hanya seekor kucing saja, sudah cukup membuatnya kaget mengucurkan keringat dingin.
Malam semakin larut, hujan belum reda juga, api lentera sebesar kacang nan kemilau sang ksatria sedang terbelenggu oleh penyakit didalam kamar sekecil ini, sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang, air mata hampir menetes keluar.
Didalam keheningan malam, kedua puluh tujuh batang Bau-hi-li-hoa-ting tetap menggeletak di atas meja dengan sinar peraknya yang kemilau, seolah-olah sedang unjuk perbawa dan menantang kepada Oh Thi-hoa.
Sekonyong-konyong sorot mata Oh Thi-hoa bersinar tajam.
"Kalau senjata rahasia ini dapat membunuh orang, tentunya dapat juga untuk mempertahankan diri, kini kalau dia sudah berada di tanganku, kenapa tidak kumanfaatkan dia untuk membunuh orang itu?"
Meski hanya sebelah tangannya saja yang dapat bergerak, akan tetapi tangan ini sudah digembleng dan dilatih secara berat seperti besi baja yang ditempa, kokoh dan kuat, kelima jari-jarinya dari bergerak dengan lincah dan gesit, semuanya amat berguna.
Meskipun dia belum pernah lihat alat senjata rahasia semacam Bau-hi-li-hoa-ting, tapi waktu berusia sepuluh tahun dulu, dia pernah membongkar dan mempelajari konstruksi alat-alat rahasia penyambit panah yang terbuat dari bumbung baja.
Dengan pengalaman yang sudah dibekalinya itu, tidaklah mudah dia mempelajari konstruksi alat penyambit Bau-hi-li-hoa-ting yang terbuat dari kotak perak itu, perlahan-lahan akhirnya berhasil juga, dia memasukkan paku-paku perak itu kedalam tabung masing-masing yang berjumlah duapuluh tujuh lobang.
Kira-kira seperminuman teh, kemudian dia sudah selesai dengan pekerjaannya.
Sampai pada waktu itu, baru dia menarik napas lega, mulutpun mengguman.
"Baik kalau berani salahkan keparat itu biar datang". Sekonyong-konyong suara samberan angin meluncur lagi seperti tadi dari luar, sesosok bayangan kini melesat masuk dari luar ke dalam kamar malah. Kali ini Oh Thi-hoa sudah lebih tabah dan mantap, dengan ketajaman matanya dia sudah melihat bayangan itu adalah seekor kucing juga, tapi kucing ini melesat terbang terbuang ke tengah ruangan. Dengan mengulap tangan Oh Thi-hoa bermaksud mengusir dengan menakut-nakutinya dengan bentakan rendah. Tak nyana kucing yang terbang lurus itu tiba-tiba melorot jatuh dan "Blug"
Tepat jatuh ke atas meja, lentera di atas meja sampai bergetar jatuh.
Cepat sekali Oh Thi-hoa memburu maju menyambar lentera sementara matanya mengawasi kucing, dilihat si kucing rebah lemas di atas meja tanpa bergerak, napasnya sudah kempas-kempis, jiwanya tinggal menunggu waktu saja.
Pada leher si kucing malah terikat seutas benang yang membelit secarik kertas.
Oh Thi-hoa segera mengambil kertas itu, dilihatnya di atas kertas ada huruf-huruf yang berbunyi.
"Coh Liu-hiang ... Coh Liu-hiang, coba kau pandang dirimu sekarang hampir mirip dengan kucing ini? Apa kau masih tetap hidup?"
Kertas itu bukan saja merupakan rekening penagih nyawa mereka, boleh dikata merupakan suatu penghinaan pula, jikalau Coh Liu-hiang sampai melihat beberapa patah kata ini, betapa perasaan hatinya?"
Oh Thi-hoa insaf kalau kertas peringatan ini sudah dikirim dulu, sebentar si pengirimnya tentu akan tiba juga, kali ini mereka tidak menggunakan cara keji yang rendah dan untuk membokong, sebaliknya menantang secara terang-terangan, tentunya sudah memperhitungkan bahwa Coh Liu-hiang bukan saja tiada mampu melawan, malah untuk lari menyelamatkan dirinya tak bisa lagi.
Mengawasi kucing yang kempis-kempis di atas meja, serta mengawasi Coh Liu-hiang yang rebah di atas pembaringan, mendadak dia mengambil kotak perak berisi Bau-hi-li-hoa-ting itu berlari keluar lewat jendela.
Dari pada menunggu musuh datang mencabut nyawa mereka, lebih baik keluar meluruknya ajak adu nyawa, watak dan perbuatan keras Oh Thi-hoa ini, sampai mampuspun takkan bisa dirubah lagi.
Terasa olehnya darah mendidih di seluruh badan, sedikitpun tak terpikir olehnya bahwa Coh Liu-hiang sedikitpun tak punya tenaga untuk melawan, jikalau dirinya tinggal pergi melabrak musuh, dengan Coh Liu-hiang sendirian tinggal dalam kamar tanpa ada orang yang menjaga dan melindungi, bukankah berarti memberi umpan musuh untuk membekuk atau membunuhnya dengan gampang.
Hujan rintik-rintik, sehingga tabir yang sudah gelap ini semakin kelam, di pekarangan sebelah sana sayup-sayup kedengaran tawa perempuan yang cekikikan genit, lebih menambah suasana yang hening lelap dan dingin ini terasa seram.
Begitu tiba di pekarangan langsung Oh Thi-hoa lompat ke wuwungan rumah, bentaknya bengis.
"Sahabat sudah kemari, kalau berani silahkan unjuk diri dan bertanding sampai ajal dengan aku orang she Oh, sembunyi ditempat gelap terhitung orang gagah macam apa?"
Kuatir membuat Coh Liu-hiang kaget, suaranya tidak berani keras-keras, namun diapun kuatir orang yang dicarinya tidak mendengar maka sambil bicara tak henti-hentinya dia membanting kaki.
Tak nyana belum lagi kata-katanya terucap habis, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara tawa geli yang tertahan, berkata dingin seseorang.
"Sejak tadi sudah kutunggu kau di sana siapa suruh matamu tak melihatku". Sigap sekali Oh Thi-hoa putar badan, tampak sesosok bayangan orang berkelebat, tahu-tahu orang sudah melompat ke wuwungan rumah yang lain, orang ini mengenakan pakaian serba hitam, kepala dan mukanya berkerudung serba hitam, kepala dan mukanya tertutup kain hitam, katanya pula dengan tertawa dingin.
"Jikalau kau ingin gebrak aku, kenapa tidak berani kemari?"
Dengan menggeram gusar Oh Thi-hoa segera menubruk kesana, tapi begitu ia tiba di wuwungan sebelah sana, orang itu sudah melesat sejauh tujuh delapan tombak jauhnya diiringi diawasi dengan tertawa dingin.
Begitu kejar mengejar berlangsung dengan cepat, kejap lain mereka sudah jauh meninggalkan penginapan itu, tangan Oh Thi-hoa kencang-kencang memegang alat senjata rahasia yang ganas dan hebat itu, apa boleh buat orang itu berlari seperti dikejar setan, jarak mereka masih tetap bertahan tujuh delapan tombak, kalau Oh Thi-hoa tak berhasil memperpendek jarak kedua pihak, ia kuatir senjata rahasianya takkan bisa mencapai sedemikian jauh dengan serangan telak yang mematikan, kalau senjata rahasia ini merupakan alat senjata titik terakhir yang bakal menentukan mati hidupnya, betapapun ia tak berani sembarangan bergerak, bertaruh dengan nasib dan mengejar kemenangan yang belum dapat dipastikan.
Harus diketahui ilmu ginkang Oh Thi-hoa sebetulnya tak rendah, namun sebelah lengannya kini masih tertutuk Hiat-tonya dan tak bisa bergerak, bukan saja darah tidak normal dan lancar dalam saluran badannya, dikala berlari tanpa adanya imbangan gerak-gerik tangannya larinya menjadi kurang cepat dan gerak-geriknya kurang leluasa.
Seluruh kekuatan sudah dia kerahkan, namun jarak mereka malah semakin jauh.
Tiba-tiba orang itu lompat turun ke jalan raya tapi tidak melalui jalan besar, malah memilih ke jalan-jalan kecil-kecil, dari lorong-lorong sempit membelok ke gang sempit, segesit ikan berenang, selicin belut menyusup, belok ke timur lalu menikung ke selatan, tiba-tiba bayangannya tak kelihatan lagi.
Keruan Oh Thi-hoa semakin naik pitam dampratnya sengit.
"Kalau kau datang hendak bunuh aku, biar aku berdiri di sini saja, kenapa kau tidak kemari membunuhku?"
Belum lenyap caci makinya, pada tikungan di depan sana kembali ia dengar cekikikan tawa orang yang geli tertahan. Tampak orang itu melongokkan kepalanya katanya tertawa dingin.
"Aku masih sedang menunggu kau kenapa tidak kemari saja". Sebelum orang bicara habis, dengan sisa setaker tenaganya Oh Thi-hoa menubruk kesana, baru saja badannya berputar menyelinap ke ujung tembok, tampak seorang kakek tua yang memikul jualan mi dan bakpao sedang berengsot-engsot mendatangi dengan pikulannya turun naik keberatan. Saking bernafsu mengejar musuh, langkahnya begitu tergopoh-gopoh dan cepat sekali seperti mobil yang remnya blon, tak terkendali lagi "Brak krompyang!"
Pikulan si orang tua ditumbuknya sampai putus dan barang dagangannya pontang-panting tercecer kemana, bukan soal kalau mi dan bakpao sama jatuh dan hancur, celaka adalah kuah dan minyak goreng di atas wajan sama tumpah membasahi Oh Thi-hoa, sudah tentu seluruh badannya gebes-gebes basah dan kepanasan, jalan kampung dari batu-batu keras yang memangnya licin setelah hujan, ditambah kuah dan minyak yang tercecer ditanah menambah licin permukaan jalan pula, begitu menumbuk pikulan langkah Oh Thi-hoa masih sempoyongan ke depan dan akhirnya terpeleset terguling-guling.
Orang baju hitam yang dikejarnya sekarang sudah berhenti dan membalik badan, serunya tepuk tangan sambil mengolok-olok senang.
"Bagus baik sekali, hari ini Hoa ou tiap atau kupu-kupu kembang, menjadi ayam pilek kecebur ke sungai". Dengan menggerung gusar Oh Thi-hoa mencak-mencak merangkak bangun, tapi kakek tua penjual mi itu sudah menggelinding datang, sekali raih ditariknya baju belakang tengkuknya terus menubruk ke atas badannya, serunya dengan suara serak kalap.
"Kau jalan apa tidak pakai mata? Keluarga besar kecil menggantungkan barang daganganku ini, kau sebaliknya bikin putus sumber kehidupanku, adu jiwa dengan kau"
Kalau mau gampang saja Oh Thi-hoa kipaskan kakek tua ini ke samping, namun dia tahu yang salah memang dirinya, terpaksa dia tumpahkan amarah, katanya.
"Lepaskan tanganmu barang-barangmu yang rusak seluruhnya kuganti".
"Baik"
Seru kakek tua.
"Ganti ya ganti, keluarkan uangmu, pikulan Mie ini kubuat dengan ongkos tujuh tahil perak, ditambah dua puluh delapan mangkuk dan Mi, bakpao kuah dan lain-lain paling tidak berjumlah sepuluh tail".
"Baik sepuluh tail ya sepuluh tail, kuganti seluruhnya,"
Dengan lantang Oh Thi-hoa berkata kedengarannya ia bicara dengan enak saja bahwasanya diam-diam dia mengeluh dalam hati, Karena dia ini memang seorang laki-laki yang rudin pembawaan sejak kecil, umpama kantongnya memiliki selaksa tail perak dalam tiga haripun bisa dipakainya sampai habis, demikian pula sekarang satu peserpun kantongnya tidak punya uang.
Sementara kakek tua itu masih mendesaknya dengan sengit.
"Sepuluh tail ya sepuluh tail, lekas keluarkan emasmu?"
"Aku ..... besok pasti kubayar kepadamu,"
Seru Oh Thi-hoa tergagap. Kakek itu jadi gusar.
"Memangnya aku tahu bahwa aku ini tulang miskin, kalau sepuluh tail perak tidak kau bayar sekarang juga, jangan harap kau lepas dari tanganku". Bersambung ke
Jilid 31
Jilid 31 Orang baju hitam itu masih belum berlalu dari kejauhan, dia masih menonton pertengkaran ini dengan berseri riang, sudah tentu Oh Thi-hoa semakin keripuhan, belakangan diapun naik pitam, serunya.
"Kukatakan besok ya besok pasti kubayar, lepas tanganmu"
Dia membalik badan hendak melempar badan si kakek tua ini, siapa tahu cekalan kakek tua ini ternyata kencang dan kuat sekali, tahu-tahu pergelangan tangannya malah dipegang begitu keras seperti kacip.
Baru sekarang Oh Thi-hoa betul-betul terkejut, ternyata si kakek tua penjual mi inipun seorang tokoh kosen, gelagatnya orang malah sehaluan dan sejalan dengan orang baju hitam itu.
Kalau dalam keadaan biasa, Oh Thi-hoa tak perlu gentar, tapi bukan saja dirinya tinggal sebelah tangan yang bisa bergerak, malah Lwekangnya paling tidak sudah susut tujuh delapan puluh persen.
Tangannya dicengkeram lagi, bergerakpun tidak bisa, orang baju hitam seorang saja dirinya kewalahan dan tak mampu menghadapinya, bila ditambah kakek tua ini, masakah dia bisa memilih jalan hidup.
Kakek tua itu masih merengek-rengek.
"Tidak keluarkan uang peraknya, biar aku adu jiwa dengan kau."
Oh Thi-hoa tertawa dingin, jengeknya.
"Kau tidak tahu kau...."
Belum habis dia berkata tiba-tiba kakek tua dekap mulutnya, lalu berbisik di pinggir telinganya.
"Bocah itu masih berdiri di sana, biar kubantu kau, dia tak akan bisa lolos."
Begitu Oh Thi-hoa melongo, kakek tua itu sudah mencaci lagi lebih keras dengan mulut berkaok-kaok, matanya berulang kali memberi tanda lirikan kepada Oh Thi-hoa supaya dirinya siap-siap.
Sebat sekali Oh Thi-hoa meronta dan membalik berbareng kakek tua itu pegang bahu dan pundaknya ikut menggelundung terus dorong kedua tangannya dengan kuat, meminjam kekuatan dorongan ini badan Oh Thi-hoa laksana anak panah mencelat terbang sejauh enam tujuh tombak.
Sudah tentu orang baju hitam itu kaget, teriaknya tertahan.
"Kau...."
Baru sepatah kata keluar dari mulutnya, tiba-tiba Oh Thi-hoa sudah terbang di atas kepalanya dan tancap kaki, di belakangnya satu tombak mencegat jalan larinya, dengan mengacungkan alat Bau-hi-li-hoa-ting Oh Thi-hoa membentak dengan bengis.
"Barang apa yang ku pegang di tanganku ini, tentunya kau sudah tahu seujung jarimu saja berani bergerak, dua puluh tujuh batang paku perak ini akan kutancapkan ke atas badanmu!"
Orang baju hitam itu menarik napas panjang, katanya dengan suara sember.
"Kau... apa yang kau inginkan?"
"Sebetulnya ada dendam permusuhan apakah dengan Coh Liu-hiang, kenapa kau berbuat serendah itu dengan membokongnya?"
"Aku tidak punya dendam sakit hati apa-apa dengan dia"
Sahut orang baju hitam.
"Jadi kau mendapat tugas dan perintah majikanmu untuk membunuh dia?"
"Bukan!"
"Kalau demikian tanggalkan kedok mukamu biar kulihat jelas siapa kau sebenarnya?"
Bergetar badan orang baju hitam, agaknya dia kaget menjublek. Oh Thi-hoa tertawa gelak-gelak, katanya.
"Aku sudah menduga, aku pasti kenal baik sama kau, oleh karena itu kau berusaha menyembunyikan kepala tidak berani dilihat orang, sekarang kalau kau sudah terjatuh ke tanganku, masakah kau ingin mengelabui aku lebih lanjut?"
Tiba-tiba orang baju hitam itu tertawa besar sambil menengadah, tangan bertolak pinggang. Oh Thi-hoa gusar, dampratnya.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Aku hanya menertawakan diriku sendiri, kenapa suka turut campur urusan tetek bengek, beberapa kali berusaha menolong jiwamu, kini bukan membalas budi pertolonganku, kau malah hendak membalas dengan dendam penasaran, menggunakan alat senjata rahasia sekeji itu pula untuk menghadapi aku."
Keruan Oh Thi-hoa melongo, tanyanya.
"Kau pernah menolong jiwaku?"
Baca Juga: Golok Bulan Sabit Khu Lung
Baca Juga: Pendekar Setia 7