Eps 2 Pedang Tetesan Air Mata - Khu Lung
Baca online Pedang Tetesan Air Mata - Khu Lung
Cersil Pedang Tetesan Air Mata - Khu Lung.
"Di dalam dunia ini hanya ada orang membenciku, takut kepadaku, belum pernah ada orang menaruh rasa kasihan kepadaku, justru karena hal ini, tak ada salahnya kalau kau kuberi satu kesempatan bagimu."
"Kesempatan yang bagaimana?"
Manusia berbaju hitam itu bangkit berdiri dan mengambil dua botol kristal dari meja, kemudian menyuruh Siau-ko untuk memilih sebotol di antaranya.
"Mengapa aku harus memilih?"
Tanya Siau-ko.
"kedua botol arak ini seperti sama bentuknya, bahkan bentuk dan coraknyapun tidak berbeda."
"Hanya ada satu hal yang berbeda."
"Soal apa?"
"Dari kedua botol arak ini ada sebuah diantaranya merupakan arak beracun, arak beracun yang bisa menembusi usus dan merenggut nyawa."
Sesungguhnya dari antara kedua botol arak tersebut masih ada satu hal yang berbeda, salah satu botol itu berisi jauh lebih sedikit daripada botol arak yang lain.
Karena isi arak di dalam botol itu sudah dituang sedikit oleh manusia berbaju hitam itu, bahkan sudah diteguknya.
Buktinya hingga sekarang dia masih hidup.
Dalam hal ini Siau-ko seharusnya dapat mengetahui dengan jelas, tapi dalam kenyataan, dia justru memilih botol yang lain.
Dengan pandangan dingin, manusia berbaju hitam itu memandang ke arahnya, kemudian menegur dingin.
"Pilihanmu sudah benar?"
"Sudah! Bahkan pilihan tak bakal berubah lagi."
"Sudahkah kau lihat arak dari botol manakah yang telah kuteguk tadi?"
"Aku dapat melihat dengan jelas."
"Tahukah kau arak dari botol yang manakah telah kueguk?"
"Aku tahu."
"Mengapa kau tidak memilih botol arak yang telah kuminum tadi?"
"Karena aku masih belum ingin mampus."
Siau-ko tertawa, tertawa dengan lebih riang, lanjutnya.
"Kau tahu, aku toh bukan orang buta, juga tidak terhitung kelewat bodoh, tentu saja aku dapat melihat botol arak yang manakah telah kau teguk tadi, namun dalam kenyataannya, kau tetap menyuruh aku memilih, sebab sebagian besar orang, apalagi di dalam keadaan seperti ini, tentu akan memilih botol arak yang telah kau teguk isinya tadi."
Apa yang dikatakan memang merupakan suatu kenyataan.
"Untung saja aku tidak termasuk kebanyakan orang itu, kaupun tak bakal menganggap aku seperti manusia-manusia tersebut,"
Ujar Siau-ko lebih jauh.
"bila arak yang kau teguk tadi benar-benar tak ada racunnya, mustahil kau akan mempergunakan cara ini untuk mencoba diriku."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Bila kau ingin menghadapiku, gunakanlah cara yang lebih sukar dan pelik."
"Padahal memilih dalam keadaan seperti ini bukanlah suatu pekerjaan yang sangat mudah."
Ada sementara orang, meski cerdik dan bisa berpikir kalau arak beracun yang dimaksudkan bisa jadi adalah arak yang berasal dari botol arak yang telah diteguk manusia berbaju hitam tadi, belum tentu dia memiliki keberanian untuk memilih botol arak yang lain.
"Arak beracun itu milikmu, tentu saja kau memiliki obat penawarnya, sekalipun kau habiskan delapan sampai sepuluh botolpun tak akan menjadi masalah, tapi bagiku....... setetespun sudah berabe, apalagi sebotol?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia meneruskan.
"Itulah sebabnya aku terpaksa memilih botol yang ini saja."
Dengan mempergunakan sorot mata yang aneh, manusia berbaju hitam itu mengawasi wajah Siau-ko, kemudian dengan suara yang aneh pula, dia bertanya.
"Bila kau salah memilih?"
"Maka biarkan saja aku mampus."
Seusai mengucapkan perkataan tersebut, Siau-ko segera meneguk habis isi arak dalam botol yang dipilihnya itu.
Kemudian diapun roboh ke atas tanah.
ooo)O(ooo Bab-4.
Perjumpaan Aneh Ko Cian-hui tidak mampus.
Apa yang dia duga memang sangat tepat, nyalinya juga terhitung cukup besar, itupun sebabnya dia tak sampai menemui ajalnya.
Satu-satunya masalah yang membuat hatinya menyesal adalah dia sama sekali tidak tahu dengan cara apakah dia keluar dari tempat itu dan tidak tahu di manakah letak gua yang amat misterius dan rahasia tersebut.
Sehabis meneguk arak tersebut, ia segera roboh tak sadarkan diri, kemudian ketika ia bisa sadar kembali, dijumpai dirinya sudah kembali ke rumah penginapan kecil semula, berbaring di atas pembaringan kayu dalam kamar sendiri.
Bagaimana caranya ia kembali ke situ?
Sejak kapan dia kembali ke sana?
Tak setitikpun keterangan yang diperoleh.
Tentu saja orang lainpun tak akan mengetahuinya.
Tiada orang yang tahu kemanakah perginya selama dua hari ini, juga tiada orang yang memperhatikan kemana dia telah pergi.
Untung saja ada suatu benda yang membuktikan bahwa pengalamannya selama dua hari terakhir ini bukan hanya impian belaka.
Benda itu tak lain adalah sebuah peti.
Sebuah peti kulit kerbau berwarna coklat gelap.
Begitu sadar dari pingsannya, Siau-ko segera menjumpai peti tersebut.
Peti itu tergeletak di sisi pembaringan, warna maupun bentuknya tak berbeda dengan peti yang pernah diintipnya tempo hari.
Bahkan alat rahasia serta kunci dari peti itupun tak berbeda.
Seandainya isi peti ini benar-benar adalah senjata ampuh yang tiada duanya di dunia ini, mengapa ia meninggalkan benda tersebut untuk dirinya?
Biarpun Siau-ko tidak percaya, tak urung tergerak juga hatinya sehingga tak tahan dia ingin membuka dan mengintip isinya.
Untung dia belum melupakan pelajaran yang diterimanya tempo hari.
Bila setiap kali membuka sebuah peti, seseorang harus jatuh pingsan satu kali, jelas hal tersebut bukan suatu kali, jelas hal tersebut bukan suatu kejadian yang boleh dianggap main-main.
Maka begitu peti itu di buka, Siau-ko sudah melejit keluar jendela.
Angin dingin yang tajam bagaikan sayatan pisau menghembus masuk dari balik jendela, menggulung ke dalam ruang kamar, betapapun hebatnya asap pemabok, dalam keadaan demikian tentu akan tersapu bersih.
Beberapa saat kemudian Siau-ko baru berputar masuk kamar dan melangkah ke dalam ruangannya.
Tapi setelah menyaksikan benda dalam peti itu, dengan cepat ia merasa sangat kecewa.
Isi peti itu bukan sebangsa alat senjata yang tangguh, melainkan hanya sejumlah intan permata dan setumpuk daun emas yang berbentuk besar.
Jumlah harta yang diperoleh dari peti tersebut cukup baginya untuk memborong sebidang tanah yang luas dalam kota, dapat pula menyuruh penduduk sekota untuk saling bunuh membunuh untuk memperolehnya.
Tapi ia sama sekali tak tertarik.
ooo)O(ooo Peristiwa itu sudah berlangsung tiga hari yang lalu.
Selama tiga hari itu, walaupun setiap kali keluar rumah, dia selalu membawa serta peti tersebut, namun cara hidupnya tak berubah barang sedikitpun.
Ia masih tetap berdiam di dalam rumah penginapan kecil yang murah itu, makan mie kuah yang paling murah.
Dia seolah-olah tidak mengetahui kalau isi peti tersebut bisa digunakan untuk melakukan persoalan apapun, juga tidak tahu kalau dirinya telah berubah menjadi seorang hartawan yang kaya raya.
Sebab dia pernah berpikir sampai di situ, pada hakekatnya tak ingin tahu.
Diapun tak mempunyai perhitungan terhadap nilai dari harta karun tersebut.
Dia juga tak ingin cara hidupnya berubah gara-gara suatu perubahan.
Tapi pada tanggal dua puluh lima bulan pertama ini, kehidupannya toh tetap mengalami perubahan, perubahan yang sangat aneh.
ooo)O(ooo Hari ini udara cerah.
Sehabis sarapan mie di warung langganannya, sebenarnya Siau-ko ingin kembali ke rumah penginapannya dan tidur lagi sepuas-puasnya.
Hingga saat ini dari pihak Suma Cau-kun dan Cho Tang-lay sama sekali tiada kabar berita, diapun tak tahu sampai kapankah tantangan duelnya dilayani.
Walaupun begitu, ia sedikitpun tidak gelisah.
Manusia berbaju hitam yang misterius dan tanpa sebab musabab menghadiahkan sejumlah harta kepadanya pun sama sekali tiada kabar beritanya.
Setiap waktu setiap saat dia bersiap-siap untuk mengembalikan peti tersebut kepadanya, karena itulah setiap saat ia selalu membawa serta peti itu kemanapun dia pergi.
Tapi mulai saat itu, bisa jadi mereka tak pernah akan bersua kembali dan peti itu bisa jadi akan berubah menjadi suatu beban bagi dirinya.
Tapi Siau-ko tidak mengeluh ataupun kesal lantaran hal tersebut.
Agaknya tiada persoalan apapun di dunia ini yang bisa mempengaruhi perasaannya lagi.
Bila orang lain menyuruh dia menanti dua hari, diapun akan menanti selama dua hari, bila menyuruhnya menanti selama dua bulan, diapun akan menanti selama dua bulan, pokoknya cepat atau lambat, suatu saat tentu ada berita yang diperolehnya.
Kalau sudah begini, apalagi yang mesti dirisaukan?
Sekarang dia telah mengambil keputusan, sebelum pertarungannya berlangsung, dia tak akan melakukan pekerjaan apapun.
Dia harus tetap memelihara kondisi badannya pada keadaan yang paling prima, bahkan harus mempertahankan pula perasaannya dalam ketenangan serta ketentraman.
ooo)O(ooo Tengah hari ini, sewaktu Siau-ko menelusuri permukaan salju yang melapisi jalan raya untuk kembali ke rumah penginapannya, ditemukan ada orang sedang menguntitnya dari belakang.
Tak usah berpalingpun Siau-ko sudah dapat menduga siapakah orang ini.
Sejak semalam ketika ia sedang bersantap, ia sudah mengetahui kalau orang ini selalu mengawasi gerak-geriknya, macam seekor kucing yang mengintai tikus.
Orang ini mengenakan pakaian yang compang-camping, mengenakan topi bulu.
Biarpun perawakannya bukan termasuk tinggi besar, namun wajahnya penuh berkumis, langkah kakinya sangat ringan, jelas pernah belajar ilmu silat selama banyak tahun.
Siau-ko belum pernah berjumpa dengan orang ini, pun tidak mengerti apa sebabnya dia mengintai dirinya.
Padahal ia merasa kalau dirinya tidak memiliki suatu daya tarik yang bisa menimbulkan perhatian orang lain untuk mengintainya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mendadak suara langkah kaki di belakang sana tak kedengaran lagi.
Baru saja Siau-ko menghembuskan napas lega, tiba-tiba meluncur datang seutas tali dari lorong samping langsung mengancam lehernya.
Tali itu amat besar dan kasar, pada ujungnya di buat tali simpul hidup yang dengan cepat menjirat leher Siau-ko, menjirat secara tepat.
Apabila leher seseorang sampai terjirat oleh tali sebesar ini, niscaya sepasang biji matanya akan menonjol keluar, nyawanya tentu saja setiap saat bakal putus.
Dalam hal ini Siau-ko cukup mengerti.
Maka begitu tali ditarik, tubuhnya segera melejit ke udara dan melayang-layang seperti sebuah layang-layang.
Ternyata orang yang menjirat tengkuknya dengan tali laso tersebut adalah si berewok tadi.
Si Berewok masih menarik talinya sekuat tenaga, sayang tali itu mendadak putus dan orang yang dijiratnya tadi telah menerkam ke arahnya secara ganas.
Si Berewok segera putar badan dan melarikan diri, tapi tak seberapa jauh kemudian ia menjadi keheranan, rupanya Siau-ko sama sekali tidak berniat untuk mengejarnya.
Setelah berlarian beberapa tombak lagi, mendadak si Berewok itu menghentikan langkahnya, Siau-ko masih belum juga mengejarnya.
Lama kelamaan habis sudah kesabarannya, sambil membalikkan badan ia memandang ke arah Siau-ko dengan pandangan terkejut, kemudian menegur.
"Mengapa kau tidak mengejarku?"
Suatu pertanyaan yang aneh dan luar biasa untuk di dengar, tapi jawaban dari Siau-ko ternyata lebih hebat lagi.
"Mengapa aku harus mengejarmu?"
"Apakah kau tidak tahu bahwa baru saja kujirat lehermu dengan tali laso tersebut?"
Tanya si berewok tertegun.
"Aku tahu."
"Kalau toh sudah tahu, mengapa kau lepaskan diriku dengan begitu saja?"
"Sebab aku toh tak sampai terjirat mati olehmu."
"Tapi paling tidak kau harus bertanya kepadaku, sebenarnya siapakah aku dan apa sebabnya menjirat mati dirimu?"
"Aku tak ingin bertanya."
"Mengapa?"
"Sebab sesungguhnya aku memang tak ingin tahu."
Selesai menjawab pertanyaan tersebut, Siau-ko membalikkan badan dan berlalu dari situ, berpalingpun tidak.
Sekali lagi si Berewok berdiri tertegun.
Selama hidupnya belum pernah ia jumpa manusia seperti Siau-ko ini.
Tapi manusia semacam diapun belum pernah dijumpai Siau-ko selama ini, Siau-ko tidak mengejarnya, dia malah mengejar Siau-ko, bahkan dari dalam sakunya, ia mengeluarkan seutas tali lagi, dengan cepat membuat sebuah simpul hidup dan menjirat leher Siau-ko lagi.
Jeratannya memang amat jitu, sekali lagi leher Siau-ko terjerat olehnya.
Hanya sayangnya, biarpun sudah terjerat, namun sedikitpun tiada gunanya.
Bagaimanapun ia sudah menarik dengan sekuat tenaga, Siau-ko masih tetap berdiri tenang di situ, bukan saja tengkuknya tak sampai terjerat putus, bahkan bergerakpun tidak.
Si Berewok segera bertanya lagi.
"Hei, bagaimana sih engkau ini? Mengapa aku tak pernah berhasil menjerat mati dirimu?"
"Sebab selain mempunyai tengkuk, aku masih mempunyai tangan berikut jari tangannya secara lengkap."
Ketika tali laso tersebut menjerat tengkuk Siau-ko tadi, ia memang mengaitnya dengan jari tangan, persis mengait tali tersebut di depan tenggorokannya.
Ketika jari tangan tersebut membetotnya kuat-kuat, si Berewok segera tertarik ke depan, baru saja membalikkan badan si Berewok sudah menumbuk di atas dadanya.
"Permainan talimu tidak bagus,"
Seru Siau-ko.
"selain bermain tali, permainan apa lagi yang kau kuasai?"
"Akupun pandai bermain golok,"
Sahut si Berewok cepat.
Belum lagi tubuhnya berdiri tegak, sebilah golok pendek telah dicabut keluar, golok tersebut langsung ditusukkan ke atas iga Siau-ko.
Sayang sekali permainan goloknya kurang cepat, Siau-ko hanya mengetuk pergelangan tangannya dengan sebuah jari tangan, tahu-tahu golok tersebut sudah mencelat dari cekalannya.
"Aku lihat lebih baik kau lepaskan diri saja,"
Sambil menghela napas Siau-ko menggelengkan kepalanya berulang kali.
"permainan apapun yang kau pergunakan terhadapku, tak ada gunanya."
Sebenarnya tubuh si berewok itu sudah hampir mencium tanah, mendadak dengan jurus ikan Leihi melentik, tubuhnya melejit secara tiba-tiba, sepasang kakinya seperti kapas saling menggunting di tengah udara dan menyambar batang kepala Siau-ko.
Pada hakekatnya tindakan seperti ini tak pernah diduga sebelumnya oleh Siau-ko.
Bukan saja sepasang kaki si Berewok lincah dan cekatan, lagi pula sangat kuat dan bertenaga, hampir saja Siau-ko tak mampu menghembuskan napas panjang, apalagi bau yang teruar keluar dari celana bobrok yang dikenakan itu baunya luar biasa.
Siau-ko benar-benar tak tahan, mendadak tubuhnya berputar dan melejit dengan suatu gerakan yang sangat aneh dan luar biasa, tahu-tahu tubuh si Berewok sudah terlempar keluar, begitu tubuhnya mencium tanah, celananya turut robek dan terlihatlah sepasang kakinya.
Celana itu memang sudah rapuh dan hampir robek, tak heran kalau begitu terobek, langsung robek sampai ke atas, hampir saja kedua belah kaki tersebut terlihat jelas.
Kali ini Siau-ko yang gantian tertegun.
Dia seakan-akan menyaksikan tumbuhnya sekuntum bunga segar dari balik tumpukan tahi kerbau.
Setiap manusia mempunyai kaki, sesungguhnya tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa dengan kaki orang itu, namun belum pernah Siau-ko saksikan sepasang kaki yang begitu indahnya seperti kaki orang tersebut.
Bukan cuma Siau-ko saja yang belum pernah melihatnya, mungkin sebagian besar orang yang berada di dunia inipun belum pernah melihatnya.
Mungkin tidak berapa orang di dunia saat ini yang bisa melihat sepasang kaki seperti ini.
Kaki itu amat mulus, putih dan segar, lekukannya indah dan penuh dengan daging yang kenyal, kulitnya segar seperti susu, seputih susu yang baru diperas dari tetek lembu betina.
Mimpipun Siau-ko tak pernah membayangkan kalau si Berewok yang kotor lagi bau itu ternyata memiliki sepasang kaki yang sangat indah.
Yang lebih tak disangka olehnya adalah si Berewok yang gagal menjerat mati dirinya, gagal menusuk mati dirinya itu malah menangis tersedu-sedu, duduk di tanah sambil menutupi wajahnya dengan ke dua belah tangan dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil, isak tangisnya amat menyedihkan hati.
Waktu itu Siau-ko sudah bersiap-siap meninggalkan tempat itu, pergi seperti tadi, tanpa berpaling sedikitpun jua, sayang dia justru tak tahan untuk bertanya juga.
"Apa sih yang kau tangisi?"
"Aku senang menangis, aku suka menangis dan aku ingin menangis, kau tak usah mencampurinya."
Seorang lelaki berewok yang bertampang 'seram' ternyata berbicara dengan lagak seorang gadis cilik bahkan sama tak tahu aturannya dengan seorang gadis binal, betul-betul suatu kejanggalan yang luar biasa.
Siau-ko segera mengambil keputusan untuk tidak menggubrisnya, dia bertekad untuk pergi dari situ.
"Hei, berhenti kau!"
Mendadak si Berewok itu membentak lagi.
"Mengapa aku harus berhenti?"
"Kau ingin pergi dengan begitu saja? Kau anggap ada kejadian yang begitu enaknya di dunia ini?"
"Mengapa aku tak boleh pergi? Kau hendak menjerat mati aku, hendak mencincang aku dan sekarang aku akan berlalu dengan begitu saja, hal ini sudah cukup luar biasa bagimu, apalagi yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin kau mencungkil keluar sepasang biji matamu,"
Seru si Berewok keras.
"mengorek keluar biji matamu yang jahat tersebut dan serahkan kepadaku."
Siau-ko ingin tertawa, namun tak mampu untuk tertawa, akhirnya dia berkata.
"Aku toh belum edan, mengapa aku harus mengorek keluar biji mataku sendiri?"
"Karena kau telah melihat kakiku, sepasang kakiku ini tak boleh dilihat oleh setiap orang dengan seenaknya saja."
Siau-ko harus mengakui kalau sepasang kakinya memang berbentuk istimewa dan indahnya luar biasa.
Tapi dia sendiripun bukan sengaja akan melihatnya, apalagi kalau hanya sepasang kaki yang terlihat orang lain, kejadian semacam inipun tak terhitung suatu kejadian yang luar biasa.
Maka dengan perasaan mendongkol Siau-ko lantas berkata.
"Bila kau merasa kurang terima, akupun bersedia memperlihatkan sepasang kakiku untukmu, setiap saat kau boleh melihatnya, berapapun tidak menjadi masalah."
"Kentut anjingmu!"
"Aku bukan anjing, lagi pula aku tidak mengentut."
"Tentu saja kau bukan anjing, sebab kau lebih goblok daripada seekor anjing. Anjing-anjing di dunia ini masih jauh lebih cerdik daripadamu, entah anjing besar atau anjing kecil, anjing jantan atau anjing betina, semuanya masih seratus kali lebih cerdik daripadamu, karena kau adalah seekor babi!"
Makin berbicara si berewok ini semakin bertambah sewot. Tiba-tiba saja dia berseru sambil melompat-lompat.
"Kau adalah seekor babi dungu, apakah tidak kau ketahui, aku adalah seorang perempuan?"
"Bagaimana mungkin kau seorang perempuan? Aku tidak percaya,"
Seru Siau-ko termangu-mangu.
"perempuan mana yang penuh berewok?"
Tampaknya kemarahan si Berewok sudah mendekati hampir gila, mendadak ia comot berewok di wajah sendiri dan merobeknya semua, kemudian dilemparkan ke wajah Siau-ko dengan gemas.
Menyusul kemudian tubuhnya ikut meluncur ke depan, pinggulnya berputar dan sepasang kakinya sekali lagi menggunting kepala Siau-ko secara ganas.
Sepasang kaki yang telanjang dan mulus, tak secuwil benangpun yang melekat di sana.
Kali ini Siau-ko benar-benar tak berani berkutik, dia hanya memandang ke arahnya sambil tertawa getir.
"Dengan kau, aku tak merasa punya dendam, tak merasa punya sakit hati, mengapa kau berbuat demikian kepadaku?"
"Karena aku sudah tertarik kepadamu."
Sekali lagi Siau-ko merasa terperanjat sampai termangu-mangu untuk beberapa saat, untung saja si Berewok yang kini sudah tidak berewok lagi itu berkata lebih jauh.
"Kau tak usah keburu merasa mabok, aku bukan tertarik atas dirimu atau tampangmu itu."
"Lantas apa yang membuatmu tertarik kepadaku?"
"Peti dalam genggamanmu itu!", si nona yang sudah tak berewok ini berteriak.
"asal kau berikan peti itu kepadaku, aku tak akan mencari gara-gara lagi denganmu, kaupun selama hidup tak pernah akan melihat tampangku lagi."
"Tahukah kau apa isi petiku ini?"
"Tentu saja tahu isi dari petimu itu paling tidak bernilai delapan puluh laksa tahil emas murni dan intan permata."
"Darimana kau bisa tahu?"
Tentu saja Siau-ko merasa keheranan, sebab belum pernah ia buka peti tersebut di hadapan orang lain. Nona itu tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya lagi.
"Tahukah kau siapakah ayahku?"
"Aku tak tahu!"
"Dia adalah seorang pencuri sakti, seorang pencuri ulung yang sudah tersohor di seantero jagad, belum pernah operasinya mengalami kegagalan biar satu kalipun."
"Bagus, kepandaian yang amat bagus."
"Tapi kalau dibandingkan dengan kakekku, dia masih kalah jauh sekali,"
Ujar si nona lebih jauh.
"tahukah kau siapakah kakekku itu?"
"Tidak!"
"Dia orang tua adalah seorang perampok ulung, bertemu orang merampok orang, bertemu setan merampok setan."
Siau-ko segera menghela napas panjang.
"Aaaaai, rupanya tiga generasi dari keluargamu semuanya melakukan profesi seperti ini."
"Oooooh, kau baru mengerti sekarang? Bagi seseorang yang tiga generasinya sudah melakukan pekerjaan semacam ini, bagaimana mungkin dia tidak tahu benda apakah yang berada di dalam petimu itu?"
"Aku memang pernah mendengar, orang yang melakukan pekerjaan seperti ini, kebanyakan memiliki kepandaian tersebut, dari gaya seseorang sewaktu berjalanpun dia dapat menilai apakah orang tersebut membawa barang yang berharga atau tidak."
"Tepat sekali ucapanmu itu, tapi aku tidak dapat melihat manusia macam apakah dirimu ini."
"Oya?"
"Kau membawa satu peti penuh intan permata dan emas murni, tapi saban hari hanya mendahar semangkuk mie kuah yang berharga tiga sen, sebetulnya kau ini si kikir ataukah si manusia yang berwatak aneh?"
"Biarpun isi petiku penuh dengan emas murni dan intan permata, sayang sekali semua benda tersebut bukan milikku, maka biarpun aku ingin menghadiahkan kepadamu pun tak mungkin bisa."
Kemudian setelah berhenti sejenak, Siau-ko berkata lebih jauh.
"Akupun dapat menjamin sekalipun kepandaianmu sepuluh kali lipat lebih hebatpun jangan harap peti tersebut dapat kau rampas dari tanganku."
Tiba-tiba si nona itu menghela napas panjang.
"Aaaai, akupun tahu kalau tak mampu merampasnya dari tanganmu,"
Ia berkata.
"tapi bagaimanapun juga aku harus mencobanya terus, biar selembar nyawa menjadi taruhanpun aku tetap akan mencoba terus sampai berhasil."
"Mengapa?"
"Sebab kalau di dalam tiga hari mendatang aku tak bisa menyiapkan uang sebesar lima laksa tahil perak, toh nyawaku tetap akan melayang."
Sepasang biji matanya tiba-tiba berputar dan air matapun jatuh bercucuran dengan derasnya, ia berkata lebih jauh.
"Coba bayangkan sendiri, selain berusaha untuk mendapatkannya dari tanganmu, kemanakah aku harus mencari uang sebesar lima laksa tahil perak itu?"
Air matanya seperti hujan gerimis berlinang tiada hentinya.
"Aku tahu kalau kau adalah seorang yang berhati baik, kau tentu dapat menolongku, dan aku pasti akan berterima kasih kepadamu sepanjang masa."
Perasaan Siau-ko sudah mulai melembek.
"Mengapa kau harus menyiapkan uang sebesar lima laksa tahil perak dalam tiga hari?"
"Sebab piau-kiok milik Suma Cau-kun hanya bersedia menghantarku pulang ke rumah bila aku sanggup membayar lima laksa tahil perak, padahal aku tinggal di wilayah Kwang-tong, jika tiada perlindungan dari mereka, setiap saat nyawaku bisa lenyap di pinggir jalan, bahkan orang yang mengurusi mayatkupun belum tentu ada."
Siau-ko segera tertawa dingin.
"Hmmmm, untuk menghantar seseorang ke wilayah Kwang-tong saja sudah minta bayaran lima laksa tahil, hati mereka benar-benar kelewat hitam...."
"Sekalipun demikian, aku tak akan menyalahkan mereka, sebab menghantarku pulang memang bukan suatu pekerjaan yang terlalu mudah,"
Kata si nona cepat-cepat.
"bila aku adalah Suma Cau-kun, pasti harga yang kuminta lebih tinggi lagi."
"Mengapa?"
"Karena orang-orang yang hendak membunuhku memang manusia-manusia yang kelewat menakutkan, siapapun tak ingin bermusuhan dengan mereka. Aku percaya kaupun selama hidup tak akan pernah menduga kalau di dunia ini benar-benar terdapat manusia buas dan kejam seperti mereka."
Sekujur badannya mulai gemetar keras, wajahnya seolah-olah dilapisi oleh selapis kabut tipis, saat inipun dapat terlihat dengan jelas bahwa wajahnya sedang mengejang keras karena perasaan takut dan ngeri yang kelewat batas.
Ia benar-benar ketakutan setengah mati.
Melihat keadaan tersebut, tak tahan Siau-ko segera bertanya.
"Siapa sih mereka itu?"
Si nona seperti sudah tidak mendengar lagi apa yang ditanyakan oleh pemuda tersebut. Dengan air mata bercucuran dia berkata kembali.
"Aku tahu, sudah pasti mereka tak akan melepaskan diriku, aku tahu, setiap saat mereka bisa mengejarku dan membinasakan diriku."
Ia seakan-akan sudah mendapat firasat jelek, semacam perasaan menghadapi ancaman yang datang dari serombongan binatang buas........seperti seekor binatang yang merasa bakal ada pemburu yang bakal menghabisi nyawanya.
Walau perasaan seperti ini sukar untuk dijelaskan, tapi kadangkala memang cukup tepat.
Pada sat itulah, dari atas dinding pagar di kedua belah sisi lorong memancar keluar sejumlah senjata rahasia, yang dari sebelah kiri adalah segumpal hujan perak, sedang dari sebelah kanan muncul beberapa titik bintang.
Reaksi dari Siau-ko selalu amat cepat.
Dengan peti di tangan kanan dan buntalan di tangan kiri, dia bendung datangnya ancaman senjata rahasia tersebut.
Kemudian ia sambar si nona yang sedang melilit lehernya dengan sepasang kakinya itu untuk berkelit ke sebelah kanan.
Tapi dia segera mendengar suara rintihan dan helaan napas dari nona tersebut, kemudian terasa jepitan sepasang kakinya yang semula kuat dan bertenaga, tiba-tiba saja berubah menjadi lemas, kemudian rontok dari tengah udara.
Siau-ko tidak ikut terseret ke bawah, malah sebaliknya melejit kembali ke tengah udara dengan kaki kanan menopang di kaki kiri, lalu mempraktekkan teknik pinjam tenaga, menggunakan tenaga itu dia melejit lagi beberapa kaki di tengah udara.
Dengan cepat dijumpainya dua bayangan manusia di balik dinding tembok yang sedang menyembunyikan diri ke balik tempat kegelapan, gerakan tubuh mereka semuanya enteng dan lincah, jelas ilmu meringankan tubuhnya terhitung tidak lemah.
Ketika mereka melarikan diri ke atas atap rumah beberapa kaki jauhnya dari posisi semula, Siau-ko telah melayang turun di atas dinding tersebut.
Mendadak ke dua orang itu membalikkan badan dan memelototi ke arahnya, wajah mereka tertutup semua oleh selembar topeng berwajah bengis, sedang matanya memancarkan sinar kebuasan yang sungguh menggidikkan hati.
Salah seorang di antaranya tiba-tiba berkata dengan suara yang dingin dan parau.
"Sahabat, kepandaian silatmu lumayan juga, untuk berlatih ilmu meringankan tubuh semacam Te-im-cong bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, bila kau mesti mati dalam usia muda, rasanya hal ini pantas untuk di sayangkan."
Siau-ko segera tersenyum.
Jilid ke-4
"Untung saja sementara waktu ini aku masih belum kepingin mati, lagi pula tak bakalan mati."
"Kalau begitu, ada baiknya kau menuruti nasehatku saja, kau tak bakal bisa mengurusi hal ini."
"Mengapa tak bisa?"
"Bila kau sudah diincar oleh manusia seperti kami ini, ibaratnya kau sudah kemasukan setan iblis,"
Kata orang itu.
"baik kau sedang bersantap, maupun sedang tidur, bahkan entah pekerjaan apa saja yang sedang kau lakukan, setiap saat setiap detik kemungkinan besar ada senjata rahasia ataupun senjata tajam yang akan menyambar tenggorokan ataupun alis matamu, bila kau sedang mendusin dari tidurmu, bisa jadi kaupun akan menyaksikan ada orang sedang mengiris daging tubuhmu secara pelan-pelan."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan suara yang lebih mengerikan, dia meneruskan.
"Manusia siapapun bila sudah berjumpa dengan kejadian seperti ini, perasaan mereka pasti tak bakal gembira."
Siau-ko menghela napas panjang.
"Ya, peristiwa semacam ini memang tidak menggembirakan, tapi sayangnya aku justru memiliki tabiat aneh seperti ini."
"Oya?"
"Semakin orang lain melarangku untuk mengurusinya, aku semakin berkeinginan untuk mencampurinya."
"Kalau begitu silahkan saja kau pulang untuk menunggu saat kematianmu,"
Tiba-tiba seorang yang lain berseru sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Dengan suatu gerakan yang bersama-sama, kedua orang itu membalikkan badannya sambil melejit dan kabur ke arah belakang.
Walaupun gerakan tubuh mereka terhitung cukup cepat, paling tidak Siau-ko masih mampu menyusul salah seorang di antara mereka.
Sayangnya di atas tanah justru masih terbaring sesosok tubuh, begitu terjengkang ke tanah, orang itu tidak bergerak lagi, sementara kakinya yang mulus dan indah tersebut sudah berubah menjadi merah padam bagaikan buah masak.
Padahal orang ini tiada hubungan sama sekali dengan Siau-ko, namun kalau suruh Siau-ko membiarkan si nona tersebut tergeletak mampus di tepi lorong tanpa menggubrisnya, jelas perbuatan seperti ini tak mungkin bisa dilakukan olehnya.
Luka yang dideritanya itu terletak di belakang pahanya, mulut luka yang kecil, kecil sekali, namun sekarang sudah mulai membengkak, bahkan panas sekali rasanya.
Ini berarti senjata rahasia tersebut ada racunnya, sejenis racun yang cukup ganas.
Untung saja nasibnya terhitung baik, karena dia telah berjumpa dengan Siau-ko, seorang manusia yang memang berasal dari suatu daerah pegunungan yang penuh dengan ular beracun, semut beracun serta aneka ragam serangga beracun.
Di dalam saku orang seperti ini sudah barang tentu obat pemunah racun selalu tersedia lengkap.
Tak heran kalau nona tersebut tak sampai mati, bahkan dengan cepatnya telah mendusin kembali.
Sewaktu gadis itu sadar kembali, tubuhnya sudah berbaring di atas pembaringan kayu dalam rumah penginapan, mulut lukanya telah dibalut dengan secarik kain kasar.
Ia memandang ke arah Siau-ko, memandang setengah harian lamanya, kemudian bertanya secara tiba-tiba.
"Aku sudah mampus?"
"Agaknya belum!"
Jawab Siau-ko pelan.
"Kalau begitu apakah akupun belum mampus?"
"Tampaknya memang demikian."
"Mengapa aku belum mampus?"
Ia seperti tercengang dengan kejadian tersebut.
"mereka telah mengejarku, mengapa aku belum mati?"
"Sebab nasibmu masih terhitung bagus, kau telah bertemu dengan aku......"
Tiba-tiba si nona yang tidak berewok lagi itu menjadi marah, serunya keras-keras.
"Aku sudah didesak orang sehingga tak punya jalan lagi, saban hari mesti lari kian kemari seperti seekor anjing gila, bersembunyi ke sana mengumpat ke mari, terkena senjata rahasia beracun dari musuh lagi, mengapa kau masih mengatakan nasibku mujur?"
Kemudian sambil mendelik ke arah pemuda tersebut, dia berkata lebih jauh.
"Aku ingin mendengarkan penjelasanmu, nasib yang bagaimanakah baru terhitung nasib jelek?"
Siau-ko tertawa getir, ya dia memang cuma bisa tertawa getir belaka. Nona tersebut melototi dirinya setengah harian lagi sebelum menghela napas secara tiba-tiba.
"Aku tahu, kau pasti tak akan memberikan peti itu kepadaku, maka kuanjurkan kepadamu, lebih baik jangan mencampuri urusanku lagi."
"Mengapa?"
"Kau tak bakal bisa mengurusi persoalan seperti ini, toh mati hidupku sama sekali tak ada sangkut pautnya denganmu, dan akupun memang tak mempunyai hubungan apa-apa dengan kau."
"Sebetulnya kita memang tak mempunyai hubungan apa-apa, tapi sekarang agaknya saja seperti ada hubungan."
"Kentut busuk anjingmu,"
Tiba-tiba nona itu berteriak.
"ayo katakan, hubungan apakah yang terjalin di antara kita? Ayo cepat katakan kepadaku!"
Siau-ko terbungkam dalam seribu bahasa.
Selama hidup belum pernah ia jumpai manusia seperti ini, dahulu tidak, di kemudian haripun tidak.
Tapi sekarang dia justru telah bertemu dengan seorang manusia seperti ini.
"Dimanakah tempat ini?"
Lagi-lagi si nona bertanya.
"mengapa kau membawa aku memasuki sarang anjing sejelek ini?"
"Karena tempat ini bukan sarang anjing, tempat ini adalah kamar kediamanku."
Mendadak si nona membelalakkan lagi sepasang matanya.
"Kau memang babi, kau betul-betul seekor babi,"
Teriaknya kemudian semakin nyaring.
"semua orang tahu kalau kau berdiam di sini, tapi kau telah membawa aku kemari, apakah baru merasa senang apabila mereka sudah berhasil membunuhku? Apakah kau baru gembira bila mereka sudah berhasil mencincang tubuhku sehingga hancur berkeping-keping?"
Mendengar perkataan tersebut Siau-ko segera tertawa. Manusia tak tahu aturan seperti ini memang tidak sering dapat dijumpai. Nona itu semakin gusar.
"Hei, kau masih bisa tertawa? Apa yang menggelikan?"
"Apa yang kau inginkan dariku? Suruh aku menangis?"
"Kau adalah babi, mana ada babi bisa menangis? Kapan kau pernah melihat ada babi bisa menangis?"
"Ucapanmu memang betul.
"seakan-akan menemukan suatu teori secara tiba-tiba, Siau-ko berseru keras.
"agaknya babi memang tak bisa menangis, tapi aku pikir babipun agaknya tak bisa tertawa."
Tampaknya nona itu sudah hampir menjadi gila saking kheki dan mendongkolnya, setelah menghela napas, dia berseru.
"Perkataanmu memang betul, kau bukan babi, kau manusia, orang yang sangat baik, aku Cuma harap kau sudi mengantarku pulang ke rumah, lebih cepat lebih baik."
"Aku harus mengantarmu kemana?"
"Mengantar aku ke rumah kediamanku, tempat itu tak mungkin bisa mereka temukan."
"Bila merekapun tak bisa menemukan, apa lagi aku"
"Pernahkah kau berpikir, di sini pasti ada seseorang yang dapat menemukannya?"
"Siapakah orang itu?"
"Tentu saja aku,"
Jerit si nona lagi.
ooo)O(ooo Sebuah bangunan rumah yang tidak terlalu besar, ternyata dihuni oleh enam belas keluarga.
Tentu saja ke enam belas keluarga tersebut tidak termasuk orang-orang yang berakal, asal mereka punya sedikit akal saja tak mungkin akan berdiam di tempat semacam itu.
Bila kau tak bisa membayangkan bagaimanakah cara hidup enam belas keluarga yang berdesak-desakan dalam sebuah rumah kecil seperti sarang burung merpati itu, maka kau seharusnya berkunjung sendiri ke rumah itu dan menyaksikan sendiri bagaimanakah manusia-manusia tersebut melewati kehidupan mereka.
Belakangan ini, dalam rumah acak-acakan tersebut bukan dihuni oleh enam belas keluarga lagi, tapi telah berubah menjadi tujuh belas keluarga, sebab pemilik rumah tersebut telah membagi dua kamar kayu yang terbuat dari papan di halaman belakang sana dan disewakan kepada seseorang dari luar desa.
Orang itu adalah seorang manusia berewok yang mengenakan topi berbulu.
Melihat rumah tinggal diri si nona yang sudah tak berewok lagi itu, Siau-ko segera tertawa.
"Kelihatannya rumah mewah yang kau tempati ini seperti tidak lebih bagus daripada sarang anjing yang kutempati."
Sekarang, ia telah mengantarnya sampai di rumah.
Kalau di siang hari, tempat seperti ini akan dipenuhi oleh suara gaduhnya anjing menggonggong, ayam berkokok, cekcok suami isteri, jeritan anak-anak yang berlarian dan aneka ragam suara gaduh lainnya.
Dalam suasana begini, biarpun ada seekor lalat yang terbang masukpun pasti akan segera ketahuan.
Untung saja hari sudah malam sekarang dan lagi mereka melompat masuk melalui tembok pekarangan sebelah belakang.
Jika seseorang ingin menyembunyikan diri rasanya memang sulit untuk menemukan tempat lain yang jauh lebih bagus daripada tempat ini.
Bagaimana mungkin si nona dapat menemukan tempat seperti ini?
Mau tak mau Siau-ko harus turut merasa kagum.
Yang membuatnya tidak sangka adalah kesadaran otaknya seperti tetap jernih tadi, agaknya racun yang mengeram dalam tubuhnya telah dibersihkan semua dari tubuhnya, tapi sekarang dia jatuh pingsan lagi, bahkan pingsannya ini jauh lebih lama.
Sebetulnya Siau-ko selalu beranggapan bahwa obat penawar racunnya sangat manjur, tapi kini dia mulai sedikit curiga.
Lantaran racun yang mengeram dalam tubuhnya kelewat dalam sehingga merasuk ke dalam tulang dan nadi darahnya?
Ataukah daya kerja obat penawarnya yang kurang manjur?
Tapi entah bagaimanapun jua, Siau-ko tak mungkin bisa berlalu dengan begitu saja.
Apalagi keadaan si nona saat ini tidak begitu mantap, ada kalanya jatuh pingsan, ada kalanya sadar kembali, sewaktu tak sadar banyak keringat dingin akan bercucuran dan mengigau yang bukan-bukan, tapi bila sedang mendusin dengan sepasang matanya yang sayu dan lemah dia awasi terus wajah Siau-ko, seakan-akan takut kalau Siau-ko akan meninggalkan dirinya secara tiba-tiba.
Terpaksa Siau-ko harus mendampinginya, bahkan kebiasaannya makan mie kuah setiap haripun harus diurungkan.
Bila sedang lapar, dia akan keluar melalui pintu belakang untuk membeli beberapa biji bakpao, bila lelah diapun bersandar di kursi untuk tidur.
Dia sendiripun tidak mengerti apa sebabnya dia dapat berbuat demikian, gara-gara seorang gadis asing yang baru dikenalnya, dia telah mengubah sama sekali kebiasaan hidup sehari-harinya.
Tapi tak dapat disangkal lagi, dia adalah seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.
Tatkala Siau-ko membersihkan debu dan keringat dingin dari wajah si nona dengan kain basah, segera ditemukan kalau gadis tersebut selain memiliki sepasang kaki indah, paras mukanya juga cantik sekali.
Tapi kalau ada orang mengatakan Siau-ko telah mencintainya sehingga ia bersedia tetap tinggal di sini, sampai matipun Siau-ko tak mau mengaku.
Di dalam hati kecilnya tak pernah terbentik bayangan perempuan, dia selalu menganggap kedudukan seorang perempuan dalam hatinya tak lebih hanya sebutir nasi dalam sekuali nasi putih.
Lantas dikarenakan apakah dia sampai berbuat demikian?
Apakah disebabkan keadaannya yang mengenaskan?
Ataukah karena sorot matanya yang penuh rasa terima kasih dan permohonan itu?
Perasaan antara manusia dengan manusia memang selamanya tak mungkin bisa dipahami secara jelas oleh pihak ke tiga.
ooo)O(ooo Rasanya dua atau tiga hari sudah lewat, walaupun Siau-ko merasa tubuhnya dekil, lagi lelah, namun ia tak menyesal barang sedikitpun jua......
Bila peristiwa yang sama sekali lagi berlangsung, dia akan tetap berbuat yang sama.
Selama dua hari ini, biarpun si nona tak pernah berbicara sepatah katapun dengannya, namun menyaksikan sorot matanya itu dapat terasa pula bahwa dia telah menganggapnya sebagai orang yang paling dekat dengannya, menjadi satu-satunya tumpuan harapan baginya.
Perasaan semacam ini sesungguhnya perasaan yang bagaimana?
Siau-ko sendiri tak dapat membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya sekarang, dalam sepanjang hidupnya belum pernah ada orang yang menjadikan dirinya sebagai tumpuan harapan.
Suatu hari ketika ia bangun dari tidurnya, dijumpai nona tersebut sedang memandangi wajahnya dengan membungkam, setelah mengawasi lama sekali tiba-tiba ia berbisik.
"Kau sudah lelah, kau sudah seharusnya berbaring dan tidur sebentar."
Suaranya begitu lembut dan halus, penuh daya tarik yang memikat hati.
Tanpa berpikir panjang Siau-ko segera membaringkan diri, berbaring di atas separuh pembaringan yang sengaja disisihkan nona tersebut untuk dirinya.
Kedua orang itu sama-sama melakukan semuanya tadi sebagai suatu kejadian yang lumrah, selumrah daun kering yang rontok bila terhembus angin.
Begitu membaringkan diri, Siau-ko segera tertidur nyenyak.
Dia memang terlalu lelah, tak heran kalau tidurnya kali ini sangat nyenyak.
Entah berapa lama sudah lewat, ketika mendusin kembali, hari sudah mendekati senja.
Orang yang berbaring di sisinya telah bangun dan membersihkan badan, kini dia sedang menyisir rambutnya yang panjang dan masih basah oleh air, ia duduk di ujung pembaringan sana dan memandang ke arahnya dengan mulut membungkam.
Lambat-laun hari di luar jendela menjadi gelap, deruan angin dingin yang kencang lambat laun sudah mulai mereda.
Suasana menjadi tenang, hening, hangat dan nyaman.
Tiba-tiba nona itu bertanya.
"Tahukah kau, siapa namaku?"
"Tidak!"
"Namaku saja tidak kau ketahui, mengapa kau begitu baik kepadaku?"
"Entahlah!"
Berbicara sebenarnya Siau-ko memang benar-benar tidak tahu.
Dia hanya tahu bahwa dirinya telah berjumpa dengan seorang perempuan seperti ini dan telah melakukan suatu perbuatan.
Yang lainnya, dia sama sekali tak tahu.
Tiba-tiba nona itu menghela napas dan berkata lagi.
"Padahal aku sendiripun tak tahu manusia macam apakah dirimu itu, akupun tidak tahu siapa namamu."
Sambil membelai pipi si anak muda dengan lembut, dia meneruskan.
"Tapi aku tahu dengan pasti, kaupun akan memberikan sebagian tempat bagiku untuk berbaring bukan?"
Dengan cepat Siau-ko memberi sebagian tempat baginya dan nona itupun membaringkan diri, berbaring di sisinya, berbaring di dalam pelukannya.
Segala sesuatunya berlangsung dengan begitu lumrah, seperti air hujan yang turun dari langit, seperti matahari yang pasti terbit dari ufuk timur.
Begitu lumrahnya, begitu indahnya sampai memabukkan hati siapapun juga.
ooo)O(ooo Malam amat sepi, suasana di jalan raya begitu lengang, sepi dan senyap.
Mereka bergandeng tangan menyelusuri jalannya yang dilapisi salju, mencari penjual makanan di tepi jalan dan menikmati semangkuk bakso yang panas, harum dan segar.
Mereka tidak minum arak.
Merekapun tidak membutuhkan arak untuk membangkitkan kobaran cinta di dalam hatinya.
Kemudian mereka bergandengan tangan lagi, kembali ke rumah penginapan dimana Siau-ko berdiam, sebab Siau-ko masih mempunyai beberapa macam barang yang tertinggal di sana.
Baru saja membelok sebuah tikungan, mereka segera menjumpai suatu peristiwa yang sangat aneh.
Telapak tangan si nona yang semula hangat dan lembut, secara tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti es.
Pintu gerbang rumah penginapan yang telah tutup, namun di luar penginapan, di bawah cahaya lentera gantung, berdiri sesosok bayangan manusia.
Orang itu berdiri seperti patung, bergerak sedikitpun tidak, selembar wajahnya telah kaku karena udara yang dingin, namun sikapnya masih tetap tenang.
Siau-ko menggenggam tangan si nona yang dingin kencang-kencang, lalu berkata dengan lembut.
"Kau tak usah kuatir, orang itu bukan datang mencarimu."
"Darimana kau bisa tahu?"
"Dia adalah orangnya piau-kiok, bulan satu tanggal lima belas berselang, aku telah berjumpa dengannya."
"Apakah setiap orang yang kau jumpai tak akan kau lupakan?"
"Rasanya begitulah."
Belum lagi mereka berjalan ke depan, ternyata orang itu sudah membungkukkan badan dan memberi hormat kepada Siau-ko.
"Siau-jin Sun Tat menjumpai Ko Tayhiap."
"Darimana kau bisa tahu akan diriku?"
"Bulan satu tanggal lima belas berselang, siau-jin pernah berjumpa dengan Ko Tayhiap,"
Ujar Sun Tat dengan mantap.
"persis di luar kamar rahasia di mana Nyo Kian terbunuh."
"Apakah orang yang telah kau jumpai tak akan kau lupakan?"
"Tidak!"
Setelah tersenyum, Siau-ko berkata lagi.
"Akupun masih ingat dengan kau, kau merupakan satu-satunya orang yang tidak kurobohkan waktu itu."
"Kesemuanya itu tak lain berkat belas kasihan dari Ko Tayhiap."
"Mau apa kau berdiri mematung di situ? Apakah sedang menanti aku?"
"Benar! Hamba sudah menunggu dua hari semalam di sini."
"Berdiri terus dalam posisi demikian?"
"Selama dua hari belakangan ii jejak Ko Tayhiap sukar diketahui, siau-jin pun kuatir kehilangan kesempatan, maka selama ini tak berani meninggalkan tempat ini."
"Andaikata aku tidak kembali?"
"Maka siau-jin pun akan menunggu terus di sini."
"Bila tiga hari tiga malam kemudian baru kembali, apakah kau akan menunggu di sini sampai tiga hari tiga malam?"
"Sekalipun Ko Tayhiap akan kembali tiga bulan mendatang, hamba tetap akan berdiri menanti di sini."
Jawaban dari Sun Tat tersebut amat tenang dan lembut.
"Siapa yang suruh kau berbuat demikian?"
Tanya Siau-ko.
"apakah Cho Tang-lay?"
"Benar!"
"Apakah semua perintah yang diberikan olehnya tentu akan kau laksanakan?"
"Perintah Cho Sianseng selalu tegas, hingga kini belum ada orang yang berani membangkang perintahnya."
"Mengapa kalian begitu menuruti perkataannya?"
"Hamba tidak tahu, hamba hanya tahu menjalankan perintah dan belum pernah terpikir mengapa demikian."
Siau-ko menghela napas panjang.
"Aaaaai, orang tersebut benar-benar seorang manusia yang luar biasa, bukan saja mempunyai keberanian dan pengetahuan, ketajaman matanya juga mengagumkan, dia memiliki bakat yang luar biasa."
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya. 'Oleh sebab itu aku selalu merasa tidak habis mengerti, apa sebabnya Liong-tau Toako piau-kiok bukan dia?"
Paras muka Sun Tat sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, seakan-akan ia tidak mendengar perkataan itu. Selembar kartu undangan dikeluarkan dari sakunya dan dipersembahkan dengan hormat.
"Surat undangan inilah yang khusus disampaikan Cho Sianseng untuk Ko Tayhiap."
"Kau sudah menunggu dua hari semalam di sini, apakah tujuannya hanya menyerahkan surat undangan tersebut kepadaku?"
"Benar!"
"Pernahkah kau pikirkan, bila kau tinggalkan kartu undangan tadi di meja kasir, akupun sama saja akan melihatnya?"
"Hamba tak pernah berpikir ke situ,"
Ujar Sun Tat.
"hambapun tak berani memikirkan persoalan-persoalan yang lain, sebab banyak berpikir bukan suatu perbuatan baik."
Sekali lagi Siau-ko tertawa.
"Betul, ucapanmu memang betul!", setelah menerima kartu undangan tersebut, lanjutnya.
"di kemudian hari akupun harus banyak belajar darimu."
Siau-ko tidak perlu membuka kartu undangan tersebut, sebab dia tahu kartu itu bukan undangan pesta, melainkan sebuah kartu undangan untuk bertarung.
Ketika dibuka, maka terbaca isinya yang amat ringkas.
Bulan dua tanggal satu, pagi buta.
Perhimpunan keluarga Li, kuil Cu-ini-si, pagoda Tay-eng-tha.
Tertanda.
Suma Cau-kun.
"Bulan dua tanggal satu?"
Tanya Siau-ko.
"hari ini tanggal berapa?"
"Hari ini tanggal tiga puluh bulan satu."
"Berarti tanggal yang ditetapkan adalah besok?"
"Benar!", sekali lagi Sun Tat menjura dengan hormat, lalu serunya.
"Hamba ini mohon diri lebih dahulu."
Dia membalikkan badan dan menempuh perjalanan beberapa tombak, ketika secara tiba-tiba Siau-ko memanggilnya lagi.
"Kau bernama Sun Tat?"
Ia bertanya kepada pemuda yang ulet dan berjiwa baja ini.
"apakah kau saudaranya Sun Thong?"
"Benar!", Sun Tat menghentikan langkahnya, namun tak berpaling.
"hamba adalah saudaranya Sun Thong."
Malam semakin larut, udara semakin dingin.
Memandang bayangan tubuh Sun Tat yang kian menjauh di balik kegelapan sana, tiba-tiba Siau-ko berpaling dan berkata kepada si nona yang selama ini berdiri bersandar di sisi tubuhnya.
"Sudahkah kau perhatikan sesuatu?"
"Persoalan apa?"
"Kau adalah seorang gadis yang cantik rupawan, sejak dilahirkan mata lelaki memang ditujukan untuk menyaksikan perempuan macam kau, tapi Sun Tat tak pernah memandang sekejap matapun kepadamu."
"Mengapa aku harus memperhatikannya? Mengapa kau menyuruh dia melihatku?"
Si nona seperti rada gusar.
"apakah kau baru gembira jika mata laki-laki itu mengawasi terus diriku? Apa sih maksudmu yang sebenarnya?"
Siau-ko tidak membiarkan ia marah terus. Bila seorang gadis sudah dipeluk erat-erat oleh kekasihnya, betapapun marahnya dia pasti akan mereda dengan sendirinya.
"Padahal aku sudah mengetahui maksudmu,"
Ujar nona itu lembut.
"kau hanya ingin memberitahukan kepadaku, Sun Tat bukan seorang manusia biasa."
Setelah berhenti sejenak, dengan suara yang lebih lembut dan halus ia berkata lebih jauh.
"tapi aku tak ingin kau memberitahukan persoalan seperti ini kepadaku, akupun tak ingin tahu tentang persoalan-persoalan seperti ini."
"Lantas apa yang ingin kau ketahui?"
"Aku hanya ingin tahu, apa sebabnya Suma Cau-kun mengajakmu untuk bertemu di pagoda Tay-eng-tha?"
"Sesungguhnya bukan dia yang mengundangku, tapi akulah yang mengajaknya bertemu, aku mengundangnya sejak bulan satu tanggal lima belas berselang."
"Mengapa kau mengajaknya bertemu?"
"Sebab akupun ingin mengetahui suatu hal, aku selalu ingin tahu, Suma Cau-kun yang selalu tak pernah terkalahkan ini, apakah benar-benar tak akan terkalahkan untuk selamanya?"
Sebelum Siau-ko menyelesaikan perkataan tersebut, ia telah merasakan tangan si nona berubah menjadi dingin secara tiba-tiba.
Sebetulnya dia mengira nona itu akan memohon kepadanya, mohon kepadanya agar besok jangan pergi, daripada membuat dia merasa gelisah dan kuatir.
Siapa tahu nona itu justru memberitahukan kepadanya.
"Besok tentu saja kau akan ke sana, bahkan pasti akan berhasil untuk mengalahkan dia, tapi kaupun harus menyanggupi pula satu hal kepadaku."
"Soal apa?"
"Malam ini kau jangan menyentuhku, mulai saat ini kau tak boleh menyentuh aku lagi."
Sambil mendorong Siau-ko ke belakang, dia melanjutkan.
"Aku minta kau ikut aku pulang sekarang juga dan tidur dengan sebaik-baiknya."
Ooo)O(ooo Siau-ko tak bisa tidur nyenyak, bukan dikarenakan di sisinya berbaring si nona yang berkaki indah, melainkan karena gelisah dan tegang menghadapi pertarungan esok pagi.
Sebenarnya dia sudah tertidur.
Dia menaruh kepercayaannya penuh atas dirinya, diapun menaruh perasaan percaya terhadap orang yang berada di sisinya.
"Aku tahu, kau pasti akan menunggu sampai aku kembali,"
Ujar Siau-ko kepadanya.
"mungkin sebelum aku mendusin esok, aku telah kembali kemari."
"Mengapa aku harus menunggu sampai kau kembali? Mengapa aku tak boleh mengikuti dirimu?"
Tanya si nona.
"Sebab kau adalah seorang gadis, gadis biasanya lebih mudah merasa tegang, pertarunganku melawan Suma Cau-kun amat penting artinya, menang atau kalahpun hanya selisih waktu sedikit, bila kau turut menyaksikannya, hatimu pasti akan merasa tegang."
"Bila kau tegang, akupun akan turut tegang, bila aku tegang, akupun bisa mati,"
Tambahnya.
"Dapatkah kau mencari seseorang yang tidak gampang merasa tegang untuk menemanimu, agar bisa mengawasimu dari sisi arena?"
"Tidak dapat!"
"Mengapa?"
"Sebab aku tak akan menemukannya."
"Apakah kau tak punya teman?"
"Sebenarnya tak ada seorang manusiapun tapi sekarang untung saja ada seorang, sayang sekali dia tidak berada di sini, dia berada di kota Lok-yang."
"Lok-yang?"
"Bila kau pergi ke Lok-yang, pasti akan kau dengar namanya, dia she Cu bernama Bong."
Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi, sepatah katapun tidak berbicara lagi.
Siau-ko juga tidak memperhatikan perubahan mimik wajahnya tersebut.
ooo)O(ooo Siau-ko mulai melatih kembali gerakan-gerakannya yang aneh dan rahasia tersebut.
Latihan tersebut bukan saja akan membuat ototnya mengendor dan segar penuh tenaga, pikirannya dapat pula dibuat jernih sehingga perasaannya dapat terkendalikan.
Maka dari itulah dengan cepat dia telah tertidur, tidurnya nyenyak sekali, biasanya tidur seperti ini akan berakhir sampai esok pagi.
Tapi malam ini dia hanya tertidur sampai tengah malam, terbangun secara tiba-tiba, ia terbangun oleh suatu perasaan yang sangat aneh.
Saat ini semestinya adalah saat yang paling tenang sepanjang tahun, bahkan suara bunga salju yang menimpa atap rumah pun tak terdengar sama sekali.
Suara semacam ini tak mungkin akan membangunkan siapapun.
Sebenarnya Siau-ko masih keheranan, dia tak habis mengerti mengapa secara tiba-tiba bisa mendusin.
Tapi dengan cepat dia telah memahami akan satu hal.
Dalam ruangan tersebut hanya tinggal dia seorang, sedang orang yang berbaring di sisinya entah sudah pergi kemana.
Bagaimana perasaan seseorang sewaktu tiba-tiba terjatuh dari loteng bertingkat sepuluh?
Demikian pula perasaan yang dialami Siau-ko saat ini.
Dia merasakan kepalanya secara tiba-tiba menjadi pening, seluruh tubuhnya menjadi lemas, kemudian ia tak tahan untuk membungkukkan badan dan mulai muntah-muntah.
Sebab saat-saat itulah dia sudah merasa bahwa kepergian si nona tersebut merupakan kepergian yang kekal, selama hidupnya tak nanti akan balik lagi ke sisinya.
Mengapa dia pergi tanpa pamit?
Mengapa dia pergi tanpa meninggalkan pesan barang sepatah katapun?
Mengapa dia pergi dengan begitu saja?
Siau-ko tidak mengerti, dia benar-benar tidak habis mengerti, sebab pada hakekatnya dia tak mampu untuk berpikir sampai ke situ.
Di tengah kegelapan malam yang sepi, di saat udara yang amat dingin, dia hanya sempat memikirkan satu hal.
Siapakah namanya?
Hingga kini diapun tak tahu.
ooo)O(ooo Bab-5.
Badai Pembunuhan Fajar telah menyingsing.
Salju yang mulai turun semenjak semalam hingga kini belum juga berhenti, seluruh permukaan kuil yang baru dibersihkan kembali dilapisi dengan bunga salju yang berwarna putih keperak-perakan.
Bunyi lonceng bergema memecahkan keheningan, kemudian di tengah hembusan angin dingin, lamat-lamat terdengar suara pembacaan doa yang bergema dari dalam ruang kuil sebelah kanan.
Suma Cau-kun duduk tenang di pembaringannya sambil mendengarkan pembacaan doa itu, dengan tenang menikmati arak dingin yang dibawanya semalam.
Arak itu dingin seperti salju, namun setelah diteguk terasa panas seperti terbakar.
Cho Tang-lay telah berjalan masuk, dia hanya mengawasi gerak-geriknya dengan pandangan dingin.
Namun Suma Cau-kun berlagak seolah-olah tidak tahu.
Akhirnya Cho Tang-lay buka suara berkata.
"Kalau sekarang sudah mulai minum arak, apakah hal ini tidak kelewat awal? Sekalipun kau ingin minum arak hari ini, mengapa tidak menunggu sampai datangnya malam nanti?"
"Mengapa?"
"Karena kau akan segera menghadapi seorang lawan yang amat tangguh, besar kemungkinannya jauh lebih tangguh daripada apa yang kita bayangkan sekarang."
"Oya?"
"Oleh sebab itu bila kau bersikeras ingin minum arak, paling tidak haruslah menunggu sampai pertarungan kalian telah berlangsung."
Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa.
"Mengapa aku harus menunggu sampai waktu itu? Apakah kau lupa bahwa aku adalah Suma Cau-kun yang selamanya tak pernah akan terkalahkan?"
Di balik senyumannya itu terselip nada menyindir yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Bagaimanapun juga aku toh tak bakal kalah, biarpun minum sampai mabuk juga tak akan kalah, sebab kau pasti sudah mengatur segala sesuatunya dengan baik, semua persoalan telah dipersiapkan dengan jitu."
Kemudian setelah tertawa terbahak-bahak, terusnya.
"Bocah keparat yang bernama Ko Cian-hui itu pasti akan kalah, pasti akan mampus."
Cho Tang-lay tidak tertawa, tidak mengaku, pun tidak menyangkal, mimik wajahnya tetap hambar tanpa perubahan. Suma Cau-kun memandang sekejap ke arahnya, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Kali ini, dapatkah kau memberitahukan kepadaku, sebetulnya persiapan apakah yang telah kau atur?"
Cho Tang-lay termenung lagi beberapa waktu, kemudian baru ujarnya hambar.
"Ada sementara persoalan yang sebenarnya bisa terjadi setiap saat, tanpa persiapan darikupun sama saja."
"Kau hanya cukup secara tanpa sengaja memperlihatkan satu dua hal saja kepada Ko Cian-hui."
"Setiap orang tak urung akan berjumpa secara kebetulan akan sementara kejadian, entah siapapun yang dijumpai, sama saja tak ada gunanya."
Mendadak dia maju ke depan, mengambil sebotol arak putih dari atas meja kecil dan menuang setitik air bersih ke dalamnya. Arak dan air segera bercampur menjadi satu.
"Bukankah kejadian semacam ini sangat lumrah?"
Cho Tang-lay bertanya pelan.
"Benar!"
"Ada sementara orangpun demikian juga, setelah saling bertemu, mereka akan berbaur menjadi satu seperti arak dan air."
"Tapi bila arak dan air telah bercampur, araknya akan berubah menjadi tawar, airpun berubah bobotnya."
"Demikian pula dengan manusia, keadaannya sama sekali tak jauh berbeda."
"Oooooh.....,"
Suma Cau-kun berseru tertahan. Kembali Cho Tang-lay berkata.
"Ada sementara orang bila sudah saling bertemu, mereka akan berubah, dan kadang kala pula mereka akan berubah menjadi lemah."
"Seperti air yang bercampur dengan arak?"
"Betul!"
"Maka kaupun mengatur suatu pertemuan antara Ko Cian-hui dengan seseorang yang seperti air ini?"
"Benar!,"
Cho Tang-lay mengangguk.
"pertemuan yang tak terduga, berpisah tanpa duga, siapapun tak dapat berbuat apa-apa."
Kemudian dengan suara yang lebih dingin dan tawar dia menambahkan.
"Sesungguhnya di dunia ini memang banyak terdapat kejadian seperti ini."
Suma Cau-kun segera tertawa terbahak-bahak.
"Mengapa sih kau begitu baik kepadaku?"
Ia bertanya.
"mengapa kau selalu mengatur segala sesuatunya demi kepentinganku secara baik dan sempurna?"
"Karena kau adalah Suma Cau-kun."
Jawaban Cho Tang-lay amat sederhana.
"Suma Cau-kun tak pernah akan terkalahkan untuk selamanya."
Ooo)O(ooo Sekarang, Siau-ko telah berdiri di bawah pagoda Tay-eng-tha.
Di bawah pagoda tiada bayangan, sebab hari ini tiada matahari, tanpa cahaya matahari, tentu saja tak ada bayangan.
Perasaan Siau-ko pun tanpa bayangan.
Perasaannya kini kosong melompong, tiada sesuatu apapun.
Namun dalam genggamannya masih terdapat sebilah pedang, sebilah pedang yang terbungkus dengan kain kasar, sebilah pedang yang jarang dilihat orang.
Hanya ada pedang, tanpa peti.
Peti itu tidak dibawa oleh si nona berkaki indah, diapun tidak seharusnya pergi tanpa pamit, tapi dia telah pergi, dia seharusnya pergi dengan membawa peti tersebut, namun dia tidak membawanya pergi.
Peti tersebut masih tetap tersimpan di dalam kamar tidur Siau-ko.
Yang harus tetap tertinggal ternyata tak mau tinggal, yang tidak seharusnya tetap tinggal, mengapa harus tetap tinggal terus di sana?
Dia sendiripun tak tahu sudah berapa lama dia ke situ, tak tahu sejak kapan sampai di sana.
Dia hanya tahu dirinya sudah datang, karena dia telah melihat Cho Tang-lay dan Suma Cau-kun.
ooo)O(ooo Baju yang dipakai berwarna putih dan hitam, sepasang matanya juga putih dan hitam, yang putih seperti salju yang hitam seperti tinta bak.
Dimanapun Suma Cau-kun munculkan diri, dia selalu memberi kesan demikian kepada setiap orang.
Suatu perpaduan yang menyolok, jelas dan terang, antara hitam dan putih.
Di dalam waktu sedetik tersebut, di tengah dunia yang berwarna putih keperak-perakan ini semua cahaya dan kementerengan seakan-akan hanya menjadi miliknya seorang sedangkan Cho Tang-lay tak lebih hanya salah satu bayangan dari pantulan cahayanya tersebut.
Cho Tang-lay sendiripun seperti amat memahami persoalan ini, maka dia selalu hanya berdiri di samping, selalu tak akan menghalangi pancaran cahayanya.
Pandangan pertama yang terlihat oleh Siau-ko adalah sepasang mata Suma Cau-kun yang jeli dan biji matanya yang hitam.
Seandainya ia berjalan lebih dekat lagi, bila memperhatikan dengan lebih seksama, mungkin dia akan menjumpai titik merah di balik matanya itu, titik merah seperti kobaran api yang membara.
Sayang sekali dia tidak melihatnya.
Selain Cho Tang-lay, tiada orang yang bisa mendekati Suma Cau-kun.
"Kau adalah Ko Cian-hui?"
Suma Cau-kun menegur.
"Benar!"
Suma Cau-kun sedang memperhatikan pula wajah Siau-ko, mengawasi sorot matanya, wajahnya dan gerak-geriknya.
Walaupun di bawah pagoda Tay-eng-tha tiada bayangan, namun seluruh tubuhnya justru seakan-akan terselubung bayangan hitam.
Dengan tenang sekali Suma Cau-kun memperhatikannya setengah harian, mendadak ia membalikkan badan dan tanpa berpaling berlalu dari situ.
Cho Tang-lay tidak menghalanginya, ia tetap berdiri kaku di tempat, bahkan sepasang matanya berkedip pun tidak.
Justru Siau-ko yang telah menerkam ke depan dan menghalangi jalan perginya.
"Mengapa kau pergi?"
Dia menegur.
"Sebab aku tak ingin membunuhmu", sahut Suma Cau-kun.
"bagi mereka yang kalah di ujung pedangku hanya kematian yang diterimanya."
Begitu tenang sikapnya seakan-akan tak pernah meneguk setetes arakpun.
"Padahal kau seharusnya sudah mengetahui sendiri, kini kau sudah menderita kekalahan, karena kau sudah menjadi seorang manusia yang kosong seperti karung beras yang kini sudah tiada sebutir beraspun...."
Seorang manusia yang berperasaan hampa ataupun sebuah karung goni yang kosong memang tak jauh berbeda, kedua-duanya tak mampu berdiri sendiri.
Jika untuk berdiri saja sudah tak sanggup, apalagi ingin meraih kemenangan?
Semestinya teori semacam ini dipahami setiap orang.
Hanya Siau-ko seorang yang tidak mengerti.
Karena dia sekarang sudah berperasaan hampa, bila pikirannya hampa, bagaimana mungkin bisa memahami teori seperti itu?
Maka dia mulai melepaskan bungkusan sendiri, bungkusan tersebut tidak kosong.
Di dalam bungkusan itu terdapat pedang, pedang yang dalam waktu singkat dapat merenggut nyawa seseorang, tapi dapat pula memberi alasan yang cukup bagi orang lain untuk merenggut jiwanya pula di dalam waktu singkat.
Walaupun langkah kaki Suma Cau-kun telah berhenti sekarang, namun sorot matanya justru ditujukan ke tempat kejauhan sana.
Ia tidak memperhatikan Siau-ko lagi sebab dia tahu di saat pemuda ini akan mencabut pedangnya, tak seorangpun dapat merintanginya.
Diapun tak memperhatikan Cho Tang-lay lagi, sebab dia tahu Cho Tang-lay tak pernah memberikan reaksi apapun terhadap kejadian seperti itu.
Namun di balik sorot matanya justru terlintas setitik kedukaan yang amat tawar.
Selembar nyawa yang begitu di sayang, bila sudah tiba suatu saat dan keadaan, mengapa akan berubah menjadi begitu rendah dan tak ada harganya?
Tangannya telah menggenggam pula gagang pedangnya, sebab dalam keadaan demikian tiada pilihan lagi baginya.
"Blaaaam!"
Pedang itu sudah melentik ke depan, namun pedang Suma Cau-kun belum juga diloloskan.
Karena pada saat itulah dari atas pagoda Tay-eng-tha mendadak meluncur turun sesosok bayangan manusia.
Tentu saja yang melayang turun dari atas pagoda bukan bayangan saja melainkan seorang manusia sungguhan, namun gerakan tubuh orang itu sedemikian cepatnya sehingga Suma Cau-kun sendiripun tak sempat melihat dengan jelas manusia macam apakah dia, dia hanya melihat sesosok bayangan abu-abu melayang ke bawah dan menyambar tubuh Siau-ko.
Maka Siau-ko pun turut meluncur pergi, bukan meluncur ke depan, tapi melayang seperti burung yang terbang.
Dalam waktu singkat, bayangan tubuh mereka sudah berada di tingkat ke tiga pagoda Tay-eng-tha tersebut.
Kemudian dalam sekejap mata kemudian, kedua sosok bayangan manusia itu sudah mencapai tingkat ke tujuh dari pagoda itu.
Lalu bayangan mereka hilang lenyap dengan begitu saja.
Sebenarnya Suma Cau-kun berniat mengejar, namun Cho Tang-lay segera mencegah dengan suara hambar.
"Kau toh tak berniat membunuhnya, buat apa mesti dikejar?"
Ooo)O(ooo Salju telah berhenti, pendeta tua muncul menuangkan air teh kemudian mengundurkan diri lagi.
Ada kalanya datang, ada kalanya pergi, ada kalanya rontok ada kalanya berhenti, salju yang turun tanpa terasapun memang selalu demikian.
Bagaimana dengan manusianya?
Bukankah manusiapun demikian juga?
Suma Cau-kun masih duduk dengan tenang di atas pembaringan, meneguk arak dinginnya yang belum habis.
Lewat lama kemudian tiba-tiba ia bertanya kepada Cho Tang-lay.
"Siapakah orang itu?"
"Orang yang mana?"
"Kau seharusnya tahu siapa yang kumaksudkan, kau melarangku untuk mengejarnya, apakah disebabkan kau takut kepadanya?"
Jengek Suma Cau-kun sambil tertawa dingin.
Cho Tang-lay bangkit berdiri, berjalan ke tepi jendela, membukanya tapi kemudian menutupnya kembali, setelah itu dia baru membalikkan badan menghadap Suma Cau-kun.
"Setiap tokoh dalam persilatan memiliki kepandaian yang berbeda-beda, bila jago lihay sedang bertarung, seringkali perbedaan antara menang dan kalah hanya tergantung pada situasi dan keadaan pada saat itu,"
Cho Tang-lay menerangkan.
"semenjak Siau-li si Pisau Terbang mengasingkan diri, hampir boleh dibilang tiada jago yang benar-benar tanpa tandingan di kolong langit."
"Hampir-hampir tak ada? Ataukah sama sekali tak ada?"
"Aku sendiripun tak dapat memastikan secara tepat,"
Suara Cho Tang-lay kedengaran agak parau.
"cuma ada orang yang pernah memberitahukan kepadaku, di dunia ini, di suatu tempat yang tak kuketahui namanya, benar-benar hidup seorang manusia seperti ini."
"Siapa?"
Paras muka Suma Cau-kun agak berubah.
"siapakah orang yang kau maksudkan?"
"Dia she Siau, bernama Lay-hiat."
Ooo)O(ooo Siau-ko merasa seolah-olah tertidur lagi, di saat dia hendak melepaskan kain dan mencabut pedangnya, mendadak dia tertidur, bahkan dalam tidurnya dia merasa seolah-olah dibawa terbang tinggi ke angkasa.
Sesungguhnya dia sendiripun tak bisa membedakan mana yang impian dan mana pula yang kenyataan.
Bila seseorang tertotok jalan darah tidurnya oleh suatu gerak serangan yang ringan dan sempurna, seringkali dia akan merasakan keadaan seperti ini.
Tatkala ia mendusin kembali, terdengar ada orang sedang bersenandung lirih, dibalik nyanyiannya lamat-lamat terbawa pula hawa pedang yang menyeramkan serta suasana serius yang menggidikkan hati.
"Pengembara tiga kali menyanyi Hanya menyanyikan pahlawan Pengembaran tanpa tempat tinggal Pahlawan tanpa air mata......."
Ketika suara nyanyian itu berhenti, si penyanyi pelan-pelan membalikkan tubuhnya, tampak selembar wajah yang kuning pucat, sepasang mata yang lesu tak bersinar dan mengenakan pakaian abu-abu yang amat sederhana.
Dia hanya seorang manusia yang sederhana, membawa sebuah peti yang sederhana pula.
ooo)O(ooo "Siau Lay-hiat?"
Denyut nadi Suma Cau-kun yang membara terasa berkobar dengan kencang, tapi hatinya justru tidak menjadi panas karena hal itu.
"Manusia macam apakah dia? Sudahkah kau berjumpa dengannya?"
"Belum pernah! Tak seorangpun yang pernah bertemu dengannya,"
Jawab Cho Tang-lay.
"sekalipun orang itu pernah bertemu dengannya, belum tentu mereka tahu siapakah dia."
Ooo)O(ooo Angin berhembus amat kencang, dingin dan menggidikkan hati. Oleh karena mereka berada di tempat yang amat tinggi, puncak tertinggi dari pagoda tingkat tujuh.
"Oooh, kau! Lagi-lagi kau"
Seru Siau-ko sambil celingukan kian kemari.
"sesungguhnya siapakah kau? Mengapa secara tiba-tiba membawaku ke tempat seperti sarang setan begini?"
"Kau takkan bertemu setan di sini, tapi jika tidak kubawa dirimu kemari, aku benar-benar akan melihat setan gentayangan."
Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.
"Ya, sesosok setan baru mampus!"
"Apakah setan yang baru mampus itu adalah diriku?"
"Mungkin saja demikian."
"Darimana kau bisa tahu kalau aku pasti akan mati?"
"Sebab pedangmu."
Dari balik matanya yang lesu tak bercahaya seakan-akan muncul setitik cahaya bintang secara tiba-tiba, bagaikan bintang fajar yang terang benderang tapi begitu jauh, begitu misterius dan penuh teka-teki.
"Pedang-pedang kenamaan di masa lalu sudah banyak yang terkubur dan musnah, tapi pedangmu masih terhitung pedang tajam yang tiada keduanya di dunia ini, dalam lima ratus tahun mendatang, tiada sebilah pedangpun yang mampu menandinginya."
"Oya?"
"Orang yang menempa pedang ini adalah seorang Taysu keturunan Ouw Cu-ki, diapun seorang jago pedang pada jamannya, tapi sepanjang hidupnya dia tak pernah menggunakan pedang ini, bahkan tak pernah mencabutnya untuk diperlihatkan kepada orang lain."
"Mengapa?"
"Sebab pedang ini kelewat ganas, asal dicabut keluar dari sarungnya pasti akan menghirup darah manusia."
Mimik wajahnya tetap kaku tanpa perasaan sebab wajahnya selalu dilapisi oleh bahan obat-obatan penyaruan yang kuning kepucat-pucatan, namun sorot matanya justru memancarkan sinar kedukaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
"Sewaktu pedang ini keluar dari tempaan, Taysu tersebut sudah melihat cahaya keganasan dari ujung pedang itu, semacam cahaya buas yang mendatangkan firasat buruk, oleh sebab itu tanpa terasa dia melelehkan air matanya yang membasahi pedang tersebut dan berubahlah pedang itu dengan tetesan air matanya."
"Jadi tetesan air mata tersebut terbentuk karena kejadian demikian ini?"
"Benar!"
"Kalau toh Taysu ini dapat melihat adanya firasat yang kurang baik pada senjata tersebut, mengapa dia tidak memusnahkannya dengan begitu saja?"
"Sebab hasil tempaan tersebut menghasilkan pedangnya yang kelewat indah dan sempurna, siapakah yang tega untuk turun tangan memusnahkan hasil karya dan jerih payahnya sendiri selama sepanjang hidupnya?"
Kemudian ujarnya lagi.
"Lagi pula setelah pedang itu keluar dari tempaan, maka jadilah sebilah senjata mustika, biarpun bisa memusnahkan wujudnya, tak mungkin memusnahkan kesaktiannya, cepat atau lambat firasat tersebut akan tetap terwujud juga."
Tampaknya Siau-ko dapat memahami maksudnya itu dan berkata.
"Ya, di dunia ini memang terdapat sementara benda yang selamanya tak mungkin dapat dimusnahkan."
"Oleh sebab itu, bila kau meloloskan pedang tersebut hari ini, maka ada satu orang yang akan tewas di ujung pedang itu, dan orang tersebut adalah kau sendiri, karena hari ini kau bukanlah tandingan dari Suma Cau-kun."
Ditatapnya Siau-ko lekat-lekat, kemudian terusnya.
"Sekarang kau tentu sudah mengerti bukan walaupun pertarungan ini nampaknya adil, namun sesungguhnya sama sekali tidak adil."
"Oooh?"
"Bila seseorang sudah mencapai suatu tingkat kemajuan, sudah memperoleh suatu daya pengaruh, ia dapat menciptakan pula berbagai kejadian yang bertujuan untuk melemahkan kekuatan lawan, agar kemenangan dapat diraih oleh pihaknya, dan kejadian tersebut seringkali akan membuat orang merasa amat menderita."
Hal ini memang suatu kenyataan, kenyataan yang amat keji. Sekarang Siau-ko tak dapat menyangkal lagi, karena sekarang dia telah memahami hal tersebut, sudah memperoleh pelajaran yang cukup tragis.
"Oleh sebab itu apabila kau benar-benar ingin menghadapi Suma Cau-kun, satu-satunya cara adalah turun tangan secara tiba-tiba dan membunuhnya di ujung pedangmu, sebab pada hakekatnya kau tidak memiliki kesempatan untuk melangsungkan pertarungan yang adil dengan dirinya."
Siau-ko mengepal kencang sepasang tinjunya kencang-kencang.
"Mengapa kau harus memberitahukan segala sesuatunya ini kepadaku?"
Ia bertanya kepada orang itu.
"mengapa kau harus menyelamatkan diriku?"
"Sebab aku tidak membunuhmu, maka akupun tak akan membiarkan kau mati di tangan orang lain."
"Tentunya kaupun tak ingin agar pedang tersebut jatuh ke tangan orang lain, bukan?"
"Betul!"
Jawaban orang ini ternyata tepat dan jelas. Kembali Siau-ko bertanya kepadanya.
"Kalau toh kau sudah mempunyai sebuah senjata yang tiada tandingannya di dunia ini, apakah kau masih mengharapkan pedangku ini?"
"Aku tidak mengharapkan,"
Jawab orang itu hambar.
"bila aku menginginkannya, sudah menjadi milikku sedari dulu."
Tentang hal ini Siau-ko memang tak dapat menyangkal.
"Lantas mengapa kau menguatirkan tentang benda tersebut? Apakah pedang ini mempunyai suatu hubungan yang luar biasa dengan dirimu sendiri?"
Mendadak orang itu turun tangan, mencengkeram pergelangan tangan Siau-ko. Peluh dingin segera jatuh bercucuran membasahi tubuh Siau-ko, saking sakitnya peluh dingin telah membasahi seluruh badannya."
Tapi dia tahu, dia pasti telah menyentuh luka hati orang ini, suatu luka hati yang tak ingin disentuh oleh siapapun.
Seseorang yang berhati keras dan dingin seperti ini, mengapa justru memiliki perasaan yang begitu lemah?
"Petimu maupun pedangku berasal dari orang yang sama, bukankah antara kau dan aku pun terjalin suatu hubungan yang istimewa pula?"
Siau-ko berkata lagi.
"mengapa kau tidak bersedia memberitahukan semua kejadian tersebut kepadaku?"
Persoalan-persoalan seperti ini harus ditanyakan oleh Siau-ko, biarpun akan berakibat hancurnya pergelangan tangannya, dia tetap harus menanyakannya sampai jelas.
Sayangnya dia tidak memperoleh jawaban.
Orang itu sudah melepaskan cengkeramannya, lalu melayang keluar dari pagoda itu.
Di luar pagoda terbentang selapis cahaya putih keperak-perakan, orang itu bersama petinya telah lenyap di balik bunga salju yang memutih itu.
Hari sudah bertambah kelam, Siau-ko sudah cukup lama berpikir di situ, tapi masih banyak persoalan yang tidak dimengerti olehnya.
Sebab dia pada hakekatnya tak mampu untuk menghimpun semua pikirannya.
Walaupun dia telah berpikir pulang-pergi, namun hanya bayangan si nona berkaki indah yang memenuhi benaknya.
"Siapakah dia sebenarnya? Datang darimana? Hendak kemana?"
"Siapa pula orang-orang yang berniat membunuhnya? Apakah pertemuanku dengannya merupakan bagian yang sengaja diatur oleh Suma Cau-kun?"
"Kini dia telah pergi secara tiba-tiba, apakah Suma Cau-kun juga yang menyuruhnya pergi? Agar dia bersedih hati dan putus asa karenanya?"
Entah apapun yang terjadi, Siau-ko bertekad akan mencarinya sampai ketemu dan menanyakan persoalan ini sampai jelas.
Tapi ia tak berhasil menemukannya.
Pada hakekatnya dia tak tahu kemanakah dia mesti pergi untuk mulai dalam usaha pencariannya.
Bagi seorang pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan, tanpa pengalaman, tanpa teman, tanpa orang yang bersedia membantunya, apa pula yang bisa dia lakukan?
Kecuali menggunakan pedangnya untuk membunuh orang, apalagi yang bisa dia lakukan?
Siapa pula yang harus dibunuhnya?
Siapa pula yang sepantasnya dibunuh?
Siapakah yang dapat memberitahukan semua jawaban tersebut kepadanya?
ooo)O(ooo Hari semakin gelap, angin yang berhembuspun semakin bertambah kencang.
Suara lonceng bergema bertalu-talu, membelah keheningan malam yang mencekam seluruh jagad.
Dari arah dapur di halaman belakang, terhembus lewat bau harum bubur yang membuat perut terasa lapar, beberapa orang pendeta yang pulang kemalaman sedang menikmati santapan malam mereka dengan lahap.
Ketika mendengar suara sepatu berpaku yang menembusi salju, tiba-tiba Siau-ko teringat akan diri Cu Bong.
Cu Bong berada di Lok-yang.
Bab-6.
Ruang Singa Jantan Lok-yang adalah sebuah kota indah yang penuh dengan peninggalan-peninggalan kuno serta panorama yang indah yang cocok untuk dikunjungi.
Namun Siau-ko tidak tertarik dengan kesemuanya itu.
Ia datang ke kota antik ini bukan berniat untuk menikmati panorama indah maupun peninggalan-peninggalan kuno.
Dia datang kemari hanya ingin mencari suatu tempat, dan seorang sahabat.
Yang dicari adalah Ruang Singa Jantan (Hiong-say-tong), Ruang Singa Jantan dari Cu Bong.
Akhirnya ia berhasil menemukannya.
Markas besar Ruang Singa Jantan terletak di lorong Unta Tembaga, menurut cerita orang, luas gedung itu hampir menempati seluas sebuah lorong.
Dengan cepat Siau-ko berhasil menemukannya.
Dalam anggapannya semula, Ruang Singa Jantan pastilah sebuah bangunan besar yang kokoh dan antik, biarpun tidak terlalu megah dan mentereng, namun pasti luas dan lebar, berwibawa seperti pemiliknya Cu Bong.
Apa yang diduganya memang tak salah, sebetulnya Ruang Singa Jantan memang berbentuk demikian, hanya ada satu hal yang tak pernah diduga olehnya, bangunan yang kokoh dan megah itu sekarang sudah terbakar habis sehingga tinggal puing-puing berserakan.
Kecuali beberapa ruangan rumah di belakang sana, Ruang Singa Jantan yang mentereng itu sudah musnah tertelan api.
Siau-ko merasakan hatinya bagaikan tenggelam.
Angin dingin berhembus lewat bagaikan sayatan golok, puing-puing yang berserakan itu masih beterbangan ketika terhembus angin, entah berapa banyak kayu yang hangus terbakar, entah berapa banyak tulang manusia yang berubah menjadi abu.
Anak murid Ruang Singa Jantan yang dahulu banyak tak terhitung jumlahnya, kini tak nampak sesosokpun.
Bangunan yang dulunya amat megah dan mentereng, sekarang tinggal keadaan yang suram menyedihkan hati.
Apakah yang terjadi di sini?
Bagaimanakah terjadinya?
Hawa dingin yang mencekam seolah-olah merubah tempat itu menjadi neraka.
Kemanakah perginya Cu Bong?
Kemana pula perginya jago-jago tangguh andalan Cu Bong?
Mendadak Siau-ko teringat akan Cho Tang-lay, teringat cara kerjanya, teringat kekejaman, kelicikan dan kebusukan hatinya.
Semua peristiwa yang berlangsung di Ang-hoa-ki tempo hari, kini satu demi satu melintas lewat di dalam benak Siau-ko.
Mendadak ia menjadi paham, apa sebabnya Cho Tang-lay membiarkan Cu Bong lolos dengan selamat.
Dengan kehadiran Cu Bong di kota Ang-hoa-ki, berarti kekuatan penjagaan di kota Lok-yang menjadi lemah sekali, bila mengirim orang untuk melakukan sergapan tiba-tiba, tak disangkal lagi inilah kesempatan yang paling baik.
Kesempatan yang demikian baiknya ini sudah pasti telah ditunggu-tunggu cukup lama oleh Cho Tang-lay.
Mungkin di saat dia mengangkat cawan untuk menghormati kemenangan Cu Bong tempo hari, pasukan penyergapnya sedang berada di tengah perjalanan.
Sudah pasti apa yang terlihat sekarang merupakan hasil serangan yang dilakukan waktu itu.
Cu Bong sendiri merasa dirinya berhasil meraih kemenangan, padahal dia telah dikalahkan.
Kali ini, dia benar-benar dikalahkan secara tragis.
Sepasang tangan dan kaki Siau-ko telah menjadi dingin dan kaku.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana hebatnya pukulan batin yang diderita Cu Bong ketika itu, namun ia percaya Cu Bong tak akan runtuh akibat pukulan tersebut.
Asal Cu Bong masih hidup, dia pasti tak akan dapat dirobohkan oleh siapapun.
Satu-satunya persoalan yang dipikirkan olehnya sekarang adalah bila Cu Bong terburu-buru hendak membalas dendam, sebab Cho Tang-lay tentu sudah mempersiapkan perangkap di kota Tiang-an untuk menantikan kedatangannya.
Jika Cu Bong menuju Tiang-an sekarang, maka kesempatannya untuk kembali dalam keadaan hidup pasti kecil sekali.
Entah siapapun yang menderita pukulan batin sebesar ini, jalan pemikiran maupun gerak-geriknya tak urung akan terpengaruh oleh emosi, amarah dan keteledoran.
Asal ada sedikit saja keteledoran, bisa jadi hal tersebut akan berubah menjadi suatu kesalahan yang bisa menciptakan kematian baginya.
Rencana yang diatur Cho Tang-lay selama ini tak pernah ada titik kelemahan barang sedikitpun.
Teringat akan kesemuanya ini, Siau-ko merasakan hatinya pun ikut menjadi dingin.
Di dalam waktu sekejap inilah dia telah mengambil suatu keputusan.
Dia harus berangkat kembali ke Tiang-an, entah saat ini Cu Bong masih hidup atau sudah mati, dia harus berangkat kembali.
Andaikata Cu Bong belum mati, mungkin saja dia masih dapat menyumbangkan tenaganya bagi teman.
Dia masih mempunyai sepasang tangan, sebilah pedang dan selembar nyawa.
Jilid ke-5 Andaikata Cu Bong sudah tewas di tangan Cho Tang-lay, diapun akan memburu ke situ untuk membereskan layon dari sahabatnya dan membalaskan dendam bagi kematian sahabatnya itu.
Pokoknya bagaimanapun juga, hingga sekarang dia hanya menganggap Cu Bong seorang sebagai sahabatnya.
Sedang Cu Bong merupakan satu-satunya orang yang menganggap dia sebagai sahabatnya.
Biarpun hingga sekarang dia masih belum dapat memahami secara keseluruhan kata 'sahabat' tersebut, karena sebelumnya ia tak pernah mempunyai sahabat.
Tapi dia mempunyai semacam semangat.
Semacam semangat kependekaran, semangat berjiwa besar dan semangat kesetiaan kawan.
Justru dikarenakan dalam dunia ini masih terdapat sementara orang yang memiliki jiwa serta semangat seperti ini, maka kebenaran dan keadilan selalu berhasil mengalahkan kejahatan, makhluk yang bernama manusia pun bisa hidup langgeng di dunia ini.
Sayang sekali, dengan kemampuan Siau-ko berpikir, dia selalu menjumpai kesulitan.
Lorong sempit yang semula hening tak bermanusia, mendadak dipecahkan oleh munculnya seseorang.
Orang itu berbaju coklat dan mempunyai perawakan tubuh setinggi empat depa, diapun memiliki selembar wajah kuda yang tak sedap dipandang, sepasang alis matanya yang tebal bagaikan dua buah sapu yang saling bertautan, bahkan mempergunakan seutas tali yang tebal untuk mengikatnya di tengah kening.
Usianya tidak terlalu besar, tapi ia justru nampak agak ketuaan, di bawah alis matanya tajam, begitu ketemu Siau-ko, sepasang matanya bagaikan sebatang paku yang menancap di tubuh Siau-ko saja, tak pernah dapat dipisahkan kembali.
Siau-ko pernah bertemu dengan orang ini.
Manusia dengan bentuk wajah yang begini istimewa, memang seringkali mendatangkan kesan yang amat mendalam bagi siapapun yang pernah bertemu dengannya.
Siau-ko masih ingat, sebenarnya orang itu berada di jalan raya di luar gang yang sempit itu menjual kueh, mempergunakan sebilah pisau tipis yang panjang, lagi sempat mengirisi kueh manis yang terbuat dari buah apel.
Tapi sekarang pisau tersebut sudah terselip di atas ikat pinggangnya.
Rasanya memang bukan suatu pekerjaan yang mudah bila ingin memotong-motong tubuh seseorang dengan pisau seperti ini.
Begitu orang tadi keluar dari halaman, suasana di lorong tersebut menjadi ramai secara tiba-tiba.
Orang-orang yang sebetulnya berada di jalan raya, tiba-tiba saja meluruk masuk ke dalam lorong itu bersama-sama, semua orang yang ada di situ seakan-akan telah berkumpul semua di situ, bagaikan datangnya air pasang dalam waktu singkat menenggelamkan Siau-ko.
Siau-ko hanya merasakan dirinya seakan-akan terjerumus ke dalam suasana pasar malam yang ramai, empat arah delapan penjuru penuh dengan manusia, manusia yang beraneka ragam sehingga suasana menjadi sesak dan tak gampang dilalui, membuatnya sama sekali tak mampu berkutik lagi.
Ia tak tahu bagaimana mesti menghadapi situasi seperti ini, karena dia memang belum pernah menjumpai kejadian seperti apa yang dihadapinya sekarang.
Si penjual kueh tadi seperti sudah terdesak ke hadapannya, tapi sekarang justru tak nampak lagi.
Perawakan orang itu memang terlalu pendek, sudah barang tentu bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk menemukan manusia semacam ini di antara kerumunan orang banyak, tapi bila dia hendak mempergunakan pisau pemotong kuehnya untuk menusuk pinggang seseorang, mungkin hal ini dapat dilakukan olehnya jauh lebih gampang daripada memotong kueh.
Tentu saja Siau-ko tak ingin termakan oleh tusukan pisaunya.
Oleh sebab itu dia perlu mencari orang itu lebih dahulu, dia tahu orang itu bisa jadi adalah pemimpin dari rombongan tersebut.
"Aku ingin membeli kueh!"
Tiba-tiba Siau-ko berteriak keras.
"kemana perginya si penjual kueh?"
"Aku tidak pergi kemana-mana,"
Seseorang dengan suara yang berat dan parau menjawab.
"aku berada di sini."
Suara tersebut berkumandang dari belakang punggung Siau-ko, dengan cepat Siau-ko berpaling, namun tak terlihat olehnya akan orang tersebut.
Walaupun tidak nampak orangnya, namun suaranya masih kedengaran, itulah sebabnya dengan cepat dia paham, orang itu tak terlihat selama ini tak lain karena dia tidak melihat sambil menundukkan kepalanya.
Orang itu memang sangat cebol, apalagi kalau berada di tengah kerumunan orang banyak.
Andaikata kau tidak memandang sambil menundukkan kepala, sudah jelas tak akan tertampak.
"Kau tidak melihatku, akupun tidak melihatmu. Bagaimana mungkin transaksi bisa dilangsungkan?"
Dia bertanya kepada Siau-ko.
"Persoalan itu mah, mudah penyelesaiannya."
Tiba-tiba Siau-ko berjongkok di antara kerumunan orang banyak, walaupun wajah orang tak nampak, tapi selembar muka kuda yang panjang dan lebar telah muncul di hadapan matanya.
"Sekarang, apakah boleh membicarakan soal transaksinya?"
Ia bertanya. Orang itu tertawa lebar, sedemikian lebarnya sampai-sampai mulutnya terbelah hingga ke ujung telinga.
"Masa kau benar-benar ingin membeli kueh?"
"Selain membeli kueh apakah kita masih ada transaksi atau jual beli lain yang mungkin dapat dibicarakan?"
"Sayang sudah tak ada."
"Kalau begitu biar aku membeli kueh saja."
"Berapa yang mau kau beli?"
"Berapa pula yang hendak kau jual kepadaku?"
"Asal kau mampu membayar mahal, berapapun sanggup kujualkan kepadamu."
"Berapa sih harga kuehmu itu?"
"Itu mah mesti dilihat-lihat dulu."
"Melihat apanya?"
"Melihat orangnya."
"Melihat orangnya?", Siau-ko tak mengerti.
"masa untuk menjual kuehpun mesti menilai orangnya dulu?"
"Tentu saja harus dilihat orangnya dulu, manusia macam apa yang hendak membeli kueh, harga itu pula yang akan ku tawarkan."
Melihat orangnya baru menentukan harga, prinsip tersebut memang termasuk salah satu taktik untuk berdagang.
"Ada sementara orang hanya cukup membayar dua rence uang tembaga untuk memperoleh kuehku, tapi ada pula yang berani membayar lima ratus tahil emas murni tanpa kulayani permintaannya,"
Kata orang itu pelan.
"sebab aku tidak cocok dengan orangnya."
"Bagaimana dengan aku?"
Tanya Siau-ko.
"apakah kau merasa cocok dengan aku?"
Beberapa saat lamanya orang itu mengamati Siau-ko dari atas hingga ke bawah. Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya yang sempit, setelah itu tanyanya secara tiba-tiba.
"Apakah kau datang dari Tiang-an?"
"Benar!"
"Dalam bungkusan yang kau bawa itu bukankah sebilah pedang?"
"Benar!"
"Apakah kau datang dari Tiang-an kemari karena hendak mencari Cu Toaya dari ruang Hiong-say-tong?"
"Benar!"
Tiba-tiba orang itu tertawa lebar sehingga nampak sebaris giginya yang putih bersih.
"Kalau begitu transaksi kita tak mungkin bisa dilanjutkan lagi....."
"Mengapa?"
"Sebab orang mati tak mungkin bisa makan kueh, kuehku juga tak akan dijual untuk orang mati."
Telapak tangan Siau-ko mulai berkeringat, tentu saja keringatnya keringat dingin.
Andaikata badai manusia yang datang dari empat penjuru mendesak dan menghimpitnya terus, akhirnya dia pasti akan mati terhimpit, siapa yang tahan menghadapi pria tersebut?
Diapun sempat mendengar dengusan napas orang-orang itu mulai memburu keras lantaran gembira seakan-akan mereka gembira karena bakal berhasil membunuh seseorang.
Kini kerumunan orang banyak sudah mulai menghimpitnya, tangan kanan si penjual kuehpun sudah mulai menggenggam pisau pemotong kuehnya yang terselip di pinggang.
Mendadak Siau-ko menemukan suatu hal.....
Yang paling menakutkan di dunia ini sesungguhnya adalah manusia, apabila kekuatan manusia dihimpun menjadi satu, maka kekuatan tersebut jauh lebih menakutkan daripada kekuatan apapun yang ada di dunia ini.
Tapi Siau-ko masih dapat menahan diri, sebab diapun mengetahui bahwa orang-orang tersebut adalah anggota Hiong-say-tong, seperti juga dia, berdiri di pihak Cu Bong.
Maka dari itu diapun berkata.
"Aku datang dari Tiang-an, dalam bungkusan ini memang berisikan sebilah pedang tajam pembunuh, hanya saja orang yang hendak kubunuh bukan Cu Bong."
"Siapa yang hendak kau bunuh?"
"Orang yang hendak kubunuh adalah orang yang hendak kau bunuh juga,"
Sahut Siau-ko.
"sebab akupun seperti juga kalian, akupun sahabat Cu Bong."
"Oooh......"
"Aku she Ko bernama Cian-hui."
"Apakah Ko Cian-hui yang berarti makin lama semakin terbang tinggi?"
"Betul, tanyakan sendiri pada Cu Bong, betulkah dia mempunyai seorang sahabat semacam diriku?"
"Tak perlu ditanyakan lagi."
"Kenapa?"
Dari balik matanya yang sempit tiba-tiba terpancar cahaya licik, mendadak saja dia tertawa tergelak ke arah Siau-ko.
"Kau anggap aku tidak tahu kalau kau adalah sahabat Cu Bong?"
"Jadi kau tahu?"
"Justru karena aku tahu, maka aku hendak membunuhmu."
Tiba-tiba Siau-ko merasakan punggungnya menjadi basah, basah oleh keringat dingin yang bercucuran.
Walaupun lautan manusia masih menghimpitnya semakin rapat, walaupun pisau pemotong kueh dari penjual kueh itu tampak tajam, namun dalam keadaan yang sangat kritis itu, dia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan tangan yang menggenggam pisau tersebut, menghancurkan tulang hidung dari si muka kuda dan mengorek keluar sepasang biji matanya yang memancarkan kelicikan dan kekejaman itu.
Tapi dia tak dapat bertindak secara sembarangan, dia tak ingin berbuat ceroboh.
Bisa saja dia menghabisi nyawa orang ini tapi lautan manusia yang datang menghimpitnya dari empat penjuru tak mungkin bisa dibunuh olehnya, lagipula dibunuhpun tak akan ada habisnya.
Bila dia manfaatkan kesempatan yang amat singkat itu untuk membunuh orang tersebut, bisa jadi dia sendiri bakal dicincang hingga hancur berkeping-keping oleh orang lain.
Si penjual kueh kembali tertawa, katanya sambil tertawa seram.
"Kau toh belum mampus, mengapa tidak segera turun tangan?"
Belum habis perkataan itu diutarakan, Siau-ko yang sebenarnya berjongkok di hadapannya itu tiba-tiba saja bangkit berdiri, begitu bangkit tubuhnya lantas melejit ke tengah udara, seperti dari atas muncul sebuah tangan besar yang tak berwujud yang menarik bajunya hingga melambung ke udara.
Ilmu meringankan tubuh seperti ini jarang dijumpai dalam dunia persilatan, ini pula termasuk kepandaian mencari hidup yang luar biasa ampuhnya.
Sayang sekali dia bukan seekor burung, tentu saja diapun tak bersayap.
Tubuhnya hanya sempat melambung di udara untuk sementara waktu, ketika hawa murninya memudar, maka tubuhnya akan merosot kembali setiap saat, sudah barang tentu diapun akan terjatuh kembali ke tengah kerumunan orang banyak.
Dalam hal ini dia sendiri mengerti jelas.
Dia tahu orang-orang yang berada di bawah sana tentu sudah meloloskan senjata masing-masing sambil menyiapkan serangan mematikan, begitu dia turun, serangan yang mematikan pasti dilepaskan.
Waktu itu biarpun dia masih bisa mencabut pedang untuk membunuh orang, dia sendiripun pasti akan tewas pula di tangan orang lain dan terjungkal di tengah tumpukan mayat.
Dia tak ingin melakukan perbuatan semacam itu, tentu saja diapun tak ingin menyaksikan adegan seram yang menggidikkan hati.
Tapi......
dia sendiripun tak ingin mati.
Di saat yang sangat kritis inilah, mendadak dia menyaksikan seutas tali dilontarkan ke arahnya dari tempat kejauhan.
Dalam keadaan begini, dia tak sempat melihat jelas dari manakah datangnya tali tersebut, diapun tak sempat mengetahui siapa yang telah melemparkan tali tersebut ke arahnya.
Yang beruntung saja dia sempat menyambut tali itu dan persis dapat menangkapnya secara tepat.
Tali itu ditarik oleh seseorang dengan sepenuh tenaga, memanfaatkan kesempatan mana, dia pun melayang ke depan mengikuti gaya tarik dari tali tadi.
Keadaannya seperti sebuah layang-layang yang dinaikkan ke udara, semakin ditarik dia melambung semakin tinggi.
Orang yang menarik tali itupun seperti sedang menarik layang-layang, melaju ke depan dengan cepat.
Siau-ko masih sempat melihat bentuk tubuh orang itu, namun sangat mengenal suara yang ditimbulkan olehnya.
Suara sepatu paku yang sedang berlarian di atas permukaan salju.
Dengan cepat timbul perasaan hangat di dalam hati kecil Siau-ko.
Dia seakan-akan melihat seseorang yang memakai sepatu paku sedang menarik ekor seekor kuda dan berlarian kencang ke arah depan sana.
Diapun seakan-akan melihat orang yang duduk di atas punggung kuda itu, melihat juga kegagahan serta keperkasaannya.
Memang dari dulu dia sudah tahu, Cu Bong tak mungkin bisa dirobohkan secara mudah oleh siapapun.
"Ko Siau-hiap, tak nyana kau benar-benar datang!"
Begitu menghentikan larinya, si Sepatu Paku jatuh berlutut di atas permukaan salju.
"Tongcu memang sudah bilang, Ko Siau-hiap tentu akan datang menengoknya, tak disangka Ko Siau-hiap benar-benar datang menjenguknya."
Siau-ko harus mempergunakan tenaga yang paling besar untuk menarik sahabatnya yang paling setia ini dari atas permukaan salju.
"Yang seharusnya berlutut adalah aku,"
Dia berkata kepada si Sepatu Paku.
"karena engkaulah yang telah menyelamatkan selembar jiwaku."
Si Sepatu Paku menyeka air matanya yang nyaris meleleh keluar, paras mukanya kembali berubah menjadi gagah dan perkasa.
"Hamba memang sudah tahu, Coa Tiong tak akan melepaskan setiap sahabat dari Tongcu,"
Ucap si Sepatu Paku lebih jauh.
"segenap sahabat Tongcu boleh dibilang telah tewas semua di tangannya, bahkan yang datang dari kejauhan pun tak ada yang dilepaskan."
"Coa Tiong adalah si makhluk penjual kueh itu?"
"Ya, dialah orangnya."
"Tentunya dia bukan seorang penjual kueh sungguhan bukan? Sebenarnya siapakah dia?"
"Dia sama seperti keparat she Nyo tersebut, sebetulnya dia adalah orang kepercayaan dari Tongcu."
"Apakah diapun mengikuti jejak Nyo Kian mengkhianati Tongcu kalian?"
"Dia lebih jahat ketimbang Nyo Kian,"
Si Sepatu Paku berkata dengan penuh kebencian.
"sewaktu dia mengkhianati Tongcu, persis di saat hati Tongcu sedang sedih, di saat Tongcu sedang umat membutuhkan orang untuk mendukungnya."
Tanpa keterangan lebih jauh pun Siau-ko memahami maksud batinnya.
"Oooh, rupanya sewaktu kalian pulang dari Tiang-an, selain markas besar Hiong-say-tong telah dihancurkan, Coa Tiong pun telah berkhianat......"
Siau-ko menghela napas panjang.
"aaaai.... kehidupan kalian selama waktu-waktu tersebut pasti tak baik."
"Benar! Kehidupan kami waktu itu memang amat tidak baik."
"Tapi, biarpun kehidupan yang amat tak baik pun toh akhirnya dapat dilalui bukan?"
"Ya, kehidupan yang bagaimanapun payahnya toh akhirnya bisa dilalui,"
Ulang si Sepatu Paku bagaikan sebuah boneka saja, menirukan kembali kata-kata dari Siau-ko.
Dari balik sorot matanya tiba-tiba terpancar suatu perasaan sedih dan duka yang tak terlukiskan dengan kata-kata, seakan-akan sorot mata seseorang menyaksikan tubuh sendiri semakin tenggelam ke air.....
tiada harapan lagi untuk melanjutkan hidupnya sendiri.
Tiba-tiba perasaan Siau-ko juga turut tenggelam.
Coa Tiong telah mengkhianati Cu Bong di saat dia menghadapi kesulitan, tapi hingga sekarang Cu Bong masih memberi kesempatan kepada pengkhianat tersebut hidup dengan riang gembira di dalam dunia ini.
Jelas tindak tanduk seperti ini bukanlah sepak terjang dari watak Cu Bong di hari-hari biasa.
Siau-ko segera menatap wajah si Sepatu Paku lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah kata dia bertanya.
"Apakah kau tak berani memberitahukan kepadaku hal yang sesungguhnya?"
"Persoalan apa yang tak berani kukatakan kepadamu?"
Sepatu Paku turut menjadi tegang. Sambil menggenggam bahunya kencang-kencang, Siau-ko berseru lebih jauh.
"Bukankah Tongcu kalian telah celaka di tangan orang?"
"Tidak!"
"Sungguh tidak?"
"Sungguh tidak!"
Si Sepatu Paku seperti ingin berusaha menunjukkan sikap yang lebih riang dan gembira.
"sekarang juga hamba akan mengajak Ko Siauhiap untuk pergi menjumpainya."
Ooo)O(ooo Hutan yang lebat kini berubah menjadi pepohonan yang gundul karena tertimbun salju, batu-batu karang yang hitam berkilat justru mencuat di sana-sini.
Seonggokan api unggun berkobar di depan batu karang, dan seseorang berdiri di atas batu karang itu.
Orang itu bertubuh kurus kering hingga tinggal kulit pembungkus tulang, seperti seekor burung pemakan bangkai yang sudah lama tidak menikmati daging bangkai.
Kobaran api unggun berkilauan memancarkan cahayanya dan menyinari raut wajahnya yang kurus.
Itulah selembar wajah lebar yang putus asa dan penuh diliputi kesedihan, alis matanya yang tebal berkerut kencang, sepasang matanya yang lebar dan lesu tak bercahaya tersembunyi di balik kelopak matanya yang cekung.
Tanpa bergerak dia mengamati cahaya api dihadapannya, seolah-olah sedang menantikan munculnya suatu keajaiban dari balik kobaran api itu.
Orang itu tentunya bukan Cu Bong.
Cu Bong si Singa Jantan tak mungkin akan berubah menjadi begini rupa.
Selama ini si Singa Jantan Cu Bong adalah seorang lelaki sejati, seorang lelaki sejati yang tak akan bisa dirobohkan oleh siapa saja.
Tapi si Sepatu Paku justru menyembah di hadapan orang itu sambil berseru.
"Lapor Tongcu, orang yang ingin Tongcu jumpai telah datang."
Siau-ko tidak mengucurkan air mata.
Biarpun air matanya sudah berkumpul dalam kelopak matanya dalam jumlah yang banyak serta setiap saat hendak mengalir keluar, namun ia tidak membiarkan air mata tersebut jatuh bercucuran.
Ia sudah banyak tahun tak pernah mengucurkan air mata.
Kini, Cu Bong telah mendongakkan kepalanya dan memandang wajahnya dengan pandangan kosong, seolah-olah dia sudah tidak mengenal lagi orang yang kini berdiri dihadapannya.
Pelan-pelan Siau-ko menundukkan kepala.
Baru sekarang dia mengerti, apa sebabnya dari balik sorot mata si Sepatu Paku bisa terpancar sinar putus asa dan kepedihan yang luar biasa, tapi diapun tidak habis mengerti, lelaki sejati yang pernah membunuh orang tanpa berkedip sewaktu di luar kota Ang-hoa-ki tempo hari, mengapa bisa dirobohkan orang dengan begitu mudah?
"Siau-ko, Ko Cian-hui?"
Tiba-tiba Cu Bong berteriak keras dan melompat turun dari atas batu karang, berlarian untuk memeluk tubuh Siau-ko.
Dalam sekejap mata itulah, dia seakan-akan sudah memperoleh kembali semangat untuk hidup.
"Aku sudah tahu kau pasti akan kemari, ternyata kau benar-benar telah datang kemari."
Ia memeluk Siau-ko sekencang-kencangnya, menempelkan wajah sendiri ke wajah Siau-ko.
Kemudian dia tertawa sekeras-kerasnya persis seperti gelak tertawanya setelah berhasil memenggal batok kepala manusia di luar kota Ang-hoa-ki tempo hari.
Tapi Siau-ko segera merasakan wajah sendiri menjadi basah, basah oleh air mata.
Entah air mata siapakah itu?
Mungkin dia, mungkin ia sendiri?
Si Sepatu Paku sedang memanasi arak di atas api unggun dengan mempergunakan sebatang tombak besi, angin dingin berhembus amat kencang membuat pohon cemara bergoyang kian kemari, arak tersebut belum juga mendidih.
Tapi darah yang mengalir di dalam tubuh Siau-ko kini sudah mulai mendidih.
"Cho Tang-lay, si bajingan keparat anak jadah ini memang seorang tokoh yang hebat,"
Cu Bong mulai berbicara.
"biarpun dia telah mengobrak-abrik sarangku, mau tak mau aku harus merasa kagum kepadanya."
Setelah arak masuk perut, semangat dan kejantanannya makin lama semakin tumbuh kembali, terusnya.
"Tapi kagum tinggal kagum, cepat atau lambat suatu hari Locu pasti akan memenggal batok kepalanya untuk kujadikan poci arak."
Siau-ko menatap ke arahnya, memandang wajahnya hingga lama sekali, tiba-tiba dia bertanya.
"Mengapa kau belum pergi juga?"
Tiba-tiba Cu Bong bangkit berdiri, tapi pelan-pelan duduk kembali, perasaan sedih, kecewa dan putus asa sekali lagi muncul di atas wajahnya.
"Sekarang aku belum boleh pergi,"
Kata Cu Bong lirih.
"bila aku pergi saat ini, dia sudah pasti akan mati."
"Siapakah dia? Apakah seorang wanita?"
Cu Bong menggelengkan kepalanya dengan mulut tetap membungkam, arakpun cawan demi cawan diteguk ke dalam perutnya.
"Kau belum juga pergi membunuh Coa Tiong, apakah juga dikarenakan dia?"
Kembali Siau-ko bertanya. Sekali lagi Cu Bong menggeleng, lewat lama kemudian dengan menggunakan semacam suara yang parau seperti mangkuk pecah, dia balik bertanya kepada Siau-ko.
"Tahukah kau si anak jadah peliharaan lonte busuk itu, telah membawa pergi berapa banyak orangku?"
"Berapa banyak yang telah dia bawa pergi?"
"Semuanya!"
"Semuanya?"
Siau-ko amat terkejut.
"apakah segenap anggota Hiong-say-tong telah pergi mengikutinya?"
"Selain si Sepatu Paku seorang, hampir semuanya telah berpihak kepadanya,"
Ucap Cu Bong.
"selama beberapa tahun ini, Coa Tiong selalu membantuku dalam kepengurusan keuangan, segenap harta dan pemasukan maupun pengeluaran dari Hiong-say-tong dipegang olehnya. Belum pernah aku turut campur dalam soal keuangan tersebut."
"Maka kau lantas berpendapat tak ada gunanya pergi mencarinya, sebab orangnya jauh lebih banyak daripada orangmu?"
Kali ini Cu Bong mengakui, semangat dan kejantanannya yang mulai tumbuh setelah terpengaruh arak panas tadi tiba-tiba saja hilang lenyap dengan begitu saja.
Dengan mempergunakan sebuah tangannya yang besar tapi kurus untuk memegang cawan arak, secawan demi secawan arak panas diteguk ke dalam perut, seakan-akan kecuali arak panas, sudah tiada persoalan lain lagi di dunia ini yang diperhatikan olehnya.
Siau-ko mulai merasakan hatinya menjadi sakit, sakit sekali bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum.
Sekarang dia telah menyaksikan sendiri bukan hanya bentuk badan Cu Bong saja yang mengalami perubahan, bagian dalamnya pun sudah mulai berubah menjadi busuk.
Dahulu, Cu Bong bukanlah seorang manusia seperti ini.
Dahulu, bila dia tahu orang yang berkhianat kepadanya masih berada di jalan raya sambil menanti kesempatan untuk membunuh sahabatnya, biarpun ada beribu-ribu orang perajurit yang melindungi orang tersebutpun dia akan tetap menyerbu masuk ke dalam kepungan untuk menghabisi nyawa orang itu.
Mungkin di sinilah letak sebab utama mengapa anak buahnya pada berkhianat semua.
Siapakah yang bersedia mengikuti seorang pemimpin yang telah patah semangat dan putus asa untuk hidup terus dalam dunia persilatan seperti ini?
Hingga sekarang Siau-ko masih belum juga mengerti mengapa seorang lelaki sejati yang bersemangat baja, tiba-tiba bisa berubah menjadi begini rupa?
Persoalan apakah yang menyebabkan perubahan secepat itu?
Persoalan ini tidak dia tanyakan kepada Cu Bong, saat itu Cu Bong sudah mabuk, mabuk jauh lebih cepat daripada di saat-saat lampau.
Tulang belulangnya yang besar, kini hanya dilapisi selapis kulit dan daging yang tipis, itu persis seperti seonggokan tulang belulang singa jantan yang sekarat.
Siau-ko sungguh merasa tak tega untuk memandangnya lebih jauh.
Cahaya api unggun masih berkilauan.
Sepatu Paku masih juga memasak arak, diapun tidak memandang sekejappun ke arahnya, namun di balik pancaran sinar matanya justru terpercik sinar putus asa, sedih dan murung.
Siau-ko bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya, lalu menyodorkan secawan arak kepadanya.
Sepatu Paku agak ragu sejenak, akhirnya dia meneguk habis isi cawan tersebut.
Siau-ko memenuhi kembali cawannya dengan arak, kemudian sambil menghela napas ia berkata.
"Ternyata aku memang tak salah menilaimu, kau memang benar-benar sahabat karibnya."
"Hamba bukan sahabat Tongcu, hamba tidak pantas,"
Sahut Sepatu Paku dengan sikap serius.
"Kau keliru, mungkin hanya kau seorang di dunia ini yang benar-benar merupakan sahabat karibnya, dan hanya kau seorang yang pantas menjadi kawan sejatinya."
"Hamba tidak pantas,"
Sepatu Paku tetap merendah.
"dan lagi hambapun tak berani berpandangan demikian."
"Tapi dalam kenyataannya, hanya kau seorang yang mendampinginya sekarang."
"Hal ini tak lebih karena selembar nyawa hamba adalah pemberian dari Tongcu, sudah sewajibnya mengikutinya terus sepanjang hidup."
"Tapi sekarang dia telah berubah menjadi begini rupa."
"Terlepas Tongcu telah berubah menjadi bentuk apapun, dia masih tetap merupakan Tongcu-ku."
Sepatu Paku menandaskan.
"dalam hal ini aku tak bakal berubah pandangan untuk selamanya."
"Tidakkah kau bersedih hatimu setelah menyaksikan perubahannya yang begitu besar?"
Sepatu Paku segera terbungkam, dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Siau-ko kembali menuang arak, lalu sambil meneguknya pelan-pelan dia amati wajah orang itu lekat-lekat.
Lama kemudian ia baru berkata lagi sambil menghela napas panjang.
"Aku tahu, perasaanmu pasti amat bersedih hati seperti juga perasaanku sekarang, kaupun tentu berharap ia bisa bangkit serta bersemangat jantan kembali."
Sepatu Paku membungkam dalam seribu bahasa. Sambil mengamatinya lekat-lekat, Siau-ko berkata lebih jauh.
"Sayang sekali aku tak berhasil menemukan cara yang terbaik untuk membangkitkan kembali semangatnya."
Sepatu Paku meneguk pula secawan arak, kali ini dia menuang sendiri arak tersebut untuk dirinya. Siau-ko turut meneguk secawan, lalu teriaknya keras.
"Bila kau tak bisa menemukan cara tersebut, justru aku dapat menemukannya."
Sepatu Paku segera mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Siau-ko tanpa berkedip.
"Namun, sebelum itu kau harus bercerita dulu kepadaku, apa sebabnya ia dapat berubah menjadi begini rupa?"
Siau-ko menatap pula wajah si Sepatu Paku lekat-lekat.
"apakah disebabkan seorang wanita?"
"Ko Siau-hiap,"
Suara si Sepatu Paku bagaikan orang sedang menangis tersedu-sedu.
"mengapa kau mengharuskan aku untuk menjawab pertanyaan ini?"
"Tentu saja kau harus menjawab, sebab untuk menyembuhkan suatu penyakit, kita harus mengetahui lebih dahulu sumber dari penyakit tersebut."
Sebenarnya Sepatu Paku telah bersiap sedia untuk menerangkan, tapi tiba-tiba ia menggelengkan kembali kepalanya.
"Hamba tak bisa menjawab, hambapun tak berani menjawab."
"Mengapa?"
Sepatu Paku segera duduk kembali dan memeluk kepala sendiri dengan sepasang tangannya, tidak menggubris Siau-ko lagi.
Sesungguhnya persoalan apakah yang menyebabkan perubahan atas diri Cu Bong?
Benarkah dikarenakan seorang wanita?
Lalu siapakah wanita itu?
Kemanakah dia telah pergi?
Mengapa Sepatu Paku tak berani mengatakannya?
ooo)O(ooo Malam semakin kelam, udara semakin dingin, sementara api unggun mulai melemah dan mendekati saat padam.
Sepatu Paku meronta untuk bangkit berdiri kemudian gumamnya pelan.
"Hamba akan mencari tambahan ranting kayu untuk api unggun kita."
Ia belum beranjak terlalu jauh ketika secara tiba-tiba Cu Bong memperdengarkan teriakannya yang sangat keras.
"Tiap-wu, kau jangan pergi!"
Pekiknya parau.
"kau adalah milikku, tak seorangpun boleh membawa kau pergi dari sisiku."
Teriakan tersebut ibarat sebuah cambukan keras yang menghajar di atas tubuh Sepatu Paku, ia tertegun dan berdiri kaku.
Menyusul kemudian sekujur badannya mulai gemetar keras.
Dalam pada itu Cu Bong sudah membalikkan tubuhnya dan tertidur kembali.
Siau-ko segera melompat ke muka dan menghadang jalan pergi Sepatu Paku, dia menggenggam bahunya erat-erat.
"Pasti Tiap-wu, pasti orang itu adalah Tiap-wu!"
Pekik Siau-ko keras-keras.
"Cu Bong pasti berubah lantaran perempuan yang bernama Tiap-wu."
Sepatu Paku menundukkan kepalanya rendah-rendah, dia mengakui kebenaran tersebut.
"Apakah dia masih berada di Lok-yang sekarang?"
Kembali Siau-ko bertanya.
"Tidak ada"
Jawab Sepatu Paku.
"semalam sebelum hamba dan Tongcu sampai di rumah setelah pergi ke Ang-hoa-ki, ada orang telah menyerbu markas Hiong-say-tong kami, waktu itu kebetulan giliran Coa Tiong yang jaga malam, ternyata dalam keadaan tanpa persiapan sama sekali, markas kami dihancurkan total, bukan hanya gedung Hiong-say-tong terbakar habis, merekapun menghabisi nyawa empat puluhan jago-jago kami sebelum berlalu dari situ."
"Aku percaya penyerbu-penyerbu itu dikirim oleh Cho Tang-lay."
"Sudah pasti, bukan saja para pendatang terdiri dari jago-jago pilihan, lagi pula mereka mengetahui sekali tentang seluk beluk kami."
"Itu berarti dalam tubuh Hiong-say-tong sudah tersusup mata-mata dari Coa Tiong."
"Itulah sebabnya ada orang menaruh curiga Coa Tiong telah mempunyai niat mengkhianati Tongcu sedari dulu, ada pula yang beranggapan lantaran dia tahu ia telah melalaikan tugas sehingga takut Tongcu menjatuhi hukuman yang setimpal, maka iapun memberontak."
"Apakah Tiap-wu turut memberontak bersama-samanya?"
Sepatu Paku menggeleng.
"Selama ini nona Tiap-wu tak pernah memandang sebelah matapun terhadap lelaki busuk itu, mana mungkin dia akan kabur bersama-samanya?"
"Jangan-jangan ia sudah diculik oleh orang-orang Cho Tang-lay, yang kemudian dijadikan sandera guna memeras Cu Bong?"
Sepatu Paku menghela napas panjang.
"Justru karena itulah maka Tongcu tidak berangkat ke Tiang-an untuk membuat perhitungan dengan Suma Cau-kun."
"Sekalipun Coa Tiong tidak berkhianat, apakah diapun tak akan pergi kesana?"
"Mungkin saja tidak!", Sepatu Paku menjawab sedih.
"bila Tongcu datang ke Tiang-an, bisa jadi para keparat dari Toa Piau-kiok tersebut akan menyembelih nona Tiap."
Suara pembicaraannya kini kedengaran seperti mau menangis, sangat memilukan hati.
"Tongcu pernah memberitahukan kepada Siaujin, asal nona Tiap bisa hidup dalam keadaan segar bugar, biarpun Tongcu lebih menderitapun tidak menjadi soal."
"Justru karena masalah nona Tiap ini, maka Tongcu kalian baru berubah menjadi pemurung dan tak bersemangat, masalah apapun tak ingin dilakukan dan itulah sebabnya sampai sekarang Coa Tiong masih bisa malang melintang di tengah jalan raya dengan sekehendak hatinya sendiri."
"Ya, hamba sendiripun tidak menyangka kalau Tongcu bisa patah semangat karena seorang perempuan, bahkan mimpipun hamba belum pernah menduganya."
Sebetulnya dia mengira Siau-ko pasti akan merasa kejadian ini amat menggelikan hati, patut dikasihani dan lucu.
Tapi dugaannya tersebut ternyata keliru besar.
Tiba-tiba saja dia menjumpai sorot mata Siau-ko pun turut berubah menjadi sedih, dia sedang memandang ke tempat kegelapan di kejauhan sana dengan termangu.
Siau-ko sedang teringat akan seorang perempuan yang sama sekali tak diketahui namanya, tapi membuahkan bibit cinta yang tak pernah terlupakan untuk selamanya.
Tentu saja Sepatu Paku tak akan mengetahui persoalan tersebut, sampai lewat lama kemudian ia baru mendengar kembali nada suara pembicaraan dari Siau-ko dengan suara yang lembut tapi penuh kesedihan.
"Tongcu kalian sama sekali tidak berubah, dia masih tetap seorang lelaki sejati,"
Ucap Siau-ko.
"hanya seorang lelaki sejati baru akan memikirkan nasib orang lain, bila dia tidak memperhatikan mati hidup orang lain, mungkin kaupun tak akan mengikutinya."
"Ya, benar."
Sepatu Paku menyahut agak tergagap. Lewat lama kemudian, dia baru memberanikan diri untuk berkata kembali.
"Ko Siauhiap, hamba ingin mengatakan sesuatu, bolehkah ku utarakan keluar?"
"Katakanlah."
"Setiap orang sudah sewajibnya memperhatikan orang lain, tapi keliru besar bila kita harus menyiksa diri sendiri demi orang lain, sebab keadaan demikian justru malahan akan membuat sedih dan kecewanya orang yang diperhatikan olehnya."
Siau-ko tertawa paksa, lalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Aku lihat tempat di sana ada batu cadas yang bisa dipakai untuk berteduh, aku hendak tidur dulu, dan kaupun harus pergi tidur......"
Suasana kembali dicekam keheningan yang luar biasa, yang terdengar tinggal suara api yang melalap ranting-ranting kayu kering.
Sepatu Paku mengambil sebuah selimut tebal dilapiskan di atas batu, lalu membopong Cu Bong dan membaringkan tubuhnya di atas selimut tebal tadi, setelah itu menutupi badan Cu Bong dengan dua buah selimut bulu.
Sementara dia sendiri tidur di sisinya, berbaring di atas batu cadas yang dingin dan tidur melingkar seperti seekor udang.
ooo)O(ooo Sebelum fajar menyingsing, Sepatu Paku terbangun dari tidurnya karena kedinginan, diapun melihat Siau-ko telah mendusin.
Di bawah pancaran sinar fajar, dia melihat Siau-ko sedang cuci muka dengan bunga salju, bahkan seperti sedang membuka bungkusan kainnya.
Sepatu Paku tidak melihat jelas apakah isi buntalan tersebut adalah sebilah pedang, diapun tak sempat melihat bagaimanakah bentuk pedang tersebut.
Sepatu Paku memang tak berani memperhatikan dengan seksama, sebab dia memang berlagak seolah-olah tak melihat.
Namun jantungnya berdebar keras, kian lama kian keras debaran hatinya.
Ketika Cu Bong mendusin, hari sudah terang tanah.
Sepatu Paku sudah mendusin sedari tadi, kini dia sedang memasak air.
Namun Siau-ko tidak nampak batang hidungnya lagi di situ.
Cu Bong segera melompat bangun, lalu dengan sepasang matanya yang besar dan merah berdarah memandang ke sekeliling tempat itu untuk menemukan jejak rekannya.
Sementara dari tenggorokannya memperdengarkan suara auman binatang buas yang amat menusuk pendengaran.
"Diapun telah pergi?"
Cu Bong bertanya kepada Sepatu Paku.
"sejak kapan dia telah pergi? Ia kemana? Apakah tak akan kembali lagi ke sini?"
"Lapor Tongcu, sewaktu Ko Siau-hiap pergi, ia tidak berpesan apa-apa, hambapun tak tahu kemanakah dia telah pergi, tapi Tongcu semestinya dapat menduga sendiri, karena Ko Siau-hiap adalah sahabat Tongcu."
Cu Bong sebenarnya sudah berubah menjadi layu dan lemah karena kesedihan dan kekecewaannya, namun setelah mendengar ucapan dari Sepatu Paku, tiba-tiba saja semangatnya bangkit kembali, dari balik matanya yang merah membarapun mencorong sinar tajam, dia melompat bangun secara mendadak.
"Benar, seharusnya kuketahui kemanakah dia telah pergi!"
Teriak Cu Bong keras-keras.
"Sepatu Paku, mari kita berangkat."
"Baik!"
Semangat Sepatu Paku pun seolah-olah turut berkobar pula, air mata sempat membasahi kelopak matanya.
"semenjak pagi tadi hamba telah mempersiapkan segala sesuatunya, hamba memang harus mempersiapkan diri selalu, karena hamba selalu menantikan tibanya saat seperti hari ini."
Ooo)O(ooo Bab-7.
Kesetiaan Kawan Coa Tiong duduk di atas sebuah bangku yang terbuat dari empat batang kayu dengan selembar kain terpal, memandang orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalan, wajahnya tampak suram dan selalu murung, setiap orang dapat melihat bahwa sikapnya hari ini kurang begitu baik.
Sebenarnya Siau-ko sudah menjadi katak dalam tempurung, ikan di dalam jala, siapa sangka di saat yang paling akhir mangsanya berhasil meloloskan diri dari cengkeramannya.
Hal ini mungkin dikarenakan kesuksesan yang selalu dicapai dalam setiap operasinya, keberhasilan yang selalu diperoleh dengan cepat, maka barulah tercipta keteledoran seperti ini.
Padahal selama beberapa hari ini dia tak pernah sedetikpun melupakan Cu Bong.
Dia tahu Cu Bong belum meninggalkan Lok-yang hingga sekarang, bila dia berniat untuk mencarinya, sudah pasti dapat ditemukan dengan cepat.
Hingga kini dia tidak pergi mencarinya, hal tersebut bukan dikarenakan dia sungkan dengan sahabat lamanya, melainkan dia tak berani berbuat demikian.
Sekarang, walaupun ia telah menggantikan kedudukan Cu Bong, namun dalam dasar hatinya dia masih tetap menaruh semacam perasaan takut dan ngerinya terhadap Cu Bong yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Di bawah bimbingan dan pimpinan Cu Bong selama banyak tahun, perasaan jeri dan takut itu sudah lama mengakar di dalam hati kecilnya.
Hingga kini setiap kali teringat akan Cu Bong, seluruh badannya akan menjadi dingin, peluh dingin akan membasahi seluruh badannya.
Kadangkala di tengah malam pun dia akan terbangun dari impian buruk dan menjumpai seluruh badannya telah basah kuyup oleh peluh dingin yang bercucuran.
Dia hanya berharap Cu Bong datang mencarinya.
Di sepanjang jalanan dia sudah mempersiapkan perangkap dan jebakan yang mematikan, asal perintah diturunkan, segenap orang-orangnya akan bermunculan dan menyerang dengan cermat.
Dalam keadaan demikian, biarpun Cu Bong berada pada kondisi badan yang paling top pun, dia tak akan berhasil untuk meloloskan diri.
Itulah sebabnya saban hari dia pasti duduk di situ untuk menjual kueh, karena dia mempergunakan diri sebagai umpan untuk memancing Cu Bong si ikan besar.
Betul tindakan tersebut agak berbahaya, tapi asal Cu Bong masih hidup, maka jangan harap dia bisa melewati sisa hidupnya dengan aman dan tenteram.
ooo)O(ooo Tempat tersebut merupakan sebuah jalan raya yang ramai, di situ terdapat rumah makan, terdapat toko, terdapat pula pasar, maka sejak pagi hari jalanan tersebut sudah penuh dengan manusia yang berlalu-lalang.
Suasana pada dua hari terakhir ini sedikit agak berbeda, sebab paling tidak setengah dari orang-orang yang berada di jalanan tersebut adalah orang-orang pihaknya.
Diantara mereka bukan saja banyak terdiri dari anggota lama Hiong-say-tong, juga terdapat pembunuh-pembunuh bayaran yang khusus di undang dari jauh.
Mereka adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang berdarah dingin, bersedia membunuh siapapun saja dengan imbalan uang.
Cu Bong belum pernah bertemu dengan orang-orang tersebut, sedangkan merekapun tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Cu Bong.
Sekalipun orang-orang bekas anggota Hiong-say-tong seperti juga dirinya, masih menaruh perasaan jeri terhadap Cu Bong, tentu saja di saat turun tanganpun menaruh perasaan jeri, tapi berbeda dengan pembunuh-pembunuh bayaran tersebut, mereka tak akan mengenal siapa saja termasuk terhadap sanak keluarganya sendiri.
Teringat akan hal ini, perasaan Coa Tiong baru terasa agak legaan, tapi pada saat itulah dia melihat ada seseorang berjalan masuk ke dalam jalan raya itu.
"Siau-ko, Ko Cian-hui"
Hampir saja Coa Tiong tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.
Orang yang kemarin baru lolos dari kematian, ternyata saat ini khusus datang lagi untuk menghantar kematian sendiri.
Siau-ko hanya mengenakan selembar celana pendek yang tipis dengan membawa jubah panjangnya di atas bahu.
Wajahnya berubah merah karena kedinginan, matanyapun nampak merah darah, agaknya sudah cukup lama ia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Namun semangatnya justru kelihatan segar, gerak-geriknya pun amat mantap, tak jauh berbeda seperti orang-orang lain yang keluar rumah untuk mencari sarapan.
Orang-orang yang sudah mengenalnya sama-sama membelalakkan mata dan memandang ke arahnya dengan terkejut, hawa napsu membunuh telah menyelimuti sorot mata mereka.
Menghadapi situasi demikian ini, Siau-ko sama sekali tidak menggubris, bereaksi pun tidak.
Orang-orang yang berada di tepi jalan sudah mulai bersiap sedia melancarkan serangan, tapi anehnya ternyata Coa Tiong belum menurunkan komandonya, dia seperti membiarkan Siau-ko berjalan menghampiri ke hadapannya.
Akhirnya Siau-ko menghentikan langkahnya di depan meja kecil yang dipakai Coa Tiong menjual kueh.
Di atas meja sudah tersedia beberapa potong kueh yang ditutup dengan kain.
Siau-ko melemparkan dua benggol uang tembaga ke meja, lalu menatap wajah Coa Tiong lekat-lekat.
"Aku akan membeli kuehmu dua benggol, tolong beri kueh yang ada buahnya."
Coa Tiong balas menatap Siau-ko, lama sekali, tiba-tiba ia baru berkata sambil tertawa.
"Kau benar-benar datang untuk membeli kueh."
"Apa sih yang diherankan? Apa pula yang menggelikan?"
"Ya, memang tidak menggelikan, sedikitpun tidak menggelikan,"
Sahut Coa Tiong.
"kenyataan semacam ini sepantasnya bila disambut dengan isak tangis yang paling memedihkan hati."
"Lantas mengapa kau belum menangis?"
"Karena yang seharusnya menangis bukan aku, tapi kau!"
"Oya?"
"Tahukah kau, begitu perintah kuturunkan, bisa jadi kau akan menjadi landak dengan cepat, paling tidak di atas tubuhmu akan muncul tujuh delapan belas buah lubang yang mengucurkan darah seperti kantong air yang berlubang."
"Oya?"
"Tapi sekarang kau masih hidup, tahukah kau mengapa kau dapat hidup hingga kini?"
Tanya Coa Tiong.
"Aku tidak tahu."
"Sebab aku ingin sekali bertanya kepadamu, sesungguhnya mau apa kau datang kemari? Menjadi perantaraannya Cu Bong untuk membicarakan syarat-syarat denganku? Ataukah mohonkan ampun bagi keselamatan jiwanya?"
Siau-ko menatap wajahnya lekat-lekat, memandang sampai setengah harian lamanya, mendadak ia menghela napas panjang.
"Aaaai....... apakah rahasia hati orang lain tak pernah bisa mengelabui dirimu?"
Coa Tiong kembali tertawa.
"Padahal Cu Bong boleh datang sendiri kemari, bagaimanapun juga kita toh pernah bersaudara,"
Ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"asalkan syaratnya tidak kelewatan, apa saja yang dia inginkan, aku tetap akan mengabulkannya."
"Sungguh?"
"Tentu saja sungguh, sesungguhnya aku sendiripun tak ingin beradu syaraf terus dengannya, bagaimanapun juga kita toh tetap saudara sendiri, bila sesama saudara saling gontok-gontokan terus, akhirnya kedua belah pihak sama-sama terluka dan orang lainlah yang mendapat untung, apa manfaatnya buat kita?"
"Ya, betul! Memang sama sekali tak ada manfaatnya."
"Itulah sebabnya kau boleh kembali dan sampaikan maksudku ini kepadanya, aku yakin kau pasti dapat merasakan juga kesungguhan hatiku ini."
"Tentu saja aku dapat merasakannya,"
Ucap Siau-ko.
"hanya saja aku tetap merasa sedikit agak keheranan."
"Apanya yang mengherankan?"
"Apakah kau tak pernah membayangkan bahwa aku datang mewakili Cu Bong untuk membunuhmu?"
Coa Tiong segera tertawa, bahkan di balik sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu pun mengandung senyuman.
"Kau adalah orang pintar, mana mungkin kau akan berbuat demikian?"
Serunya.
"semua orang yang berada di jalanan adalah orang-orangku, asal kau turun tangan, mungkin saja aku dapat terbunuh, tapi akibatnya kau sendiripun akan mampus."
"Aku percaya, dalam hal ini akupun dapat melihatnya sendiri,"
Kata Siau-ko.
"Kau masih muda, masa depanmu masih panjang, lagi pula kaupun tidak mempunyai hubungan persahabatan yang kelewat mendalam dengan Cu Bong, buat apa mesti menjual nyawa baginya?"
Coa Tiong menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa, kemudian terusnya.
"Tentu saja kau tak bakal melakukan perbuatan seperti ini."
Siau-ko turut tertawa.
"Perkataanmu memang tepat sekali, hanya manusia paling tolol di dunia ini yang akan melakukan perbuatan seperti ini."
Coa Tiong tertawa makin tergelak, tertawa semakin gembira.
Di saat dia sedang tertawa paling riang itulah, mendadak tampak sekilas cahaya hijau yang tipis berkelebat lewat, tahu-tahu sebilah pedang yang tajam telah menembusi ulu hatinya.
Senyuman yang semula menghiasi wajahnya mendadak berubah kaku, seperti ada selembar topeng kulit manusia yang ditempelkan di atas wajahnya.
Dalam detik yang amat singkat itu, segenap suara dan kegiatan seolah-olah turut menjadi beku dan kaku.
Tapi sesaat kemudian menjadi kegaduhan yang luar biasa, membuat suasana sepanjang jalan raya itu berubah menjadi kalut bagaikan mie kuah di kuali.
Satu-satunya orang yang masih bisa mempertahankan ketenangannya hanya Siau-ko seorang.
Dia memang khusus datang ke situ untuk berbuat demikian, sebab dia beranggapan persoalan ini wajib dilakukan olehnya, berhasil atau gagal, mati atau hidup, sudah tak pernah dipikirkan lagi olehnya.
Kini tugasnya kewajibannya telah ditunaikan dengan baik, diapun telah menyaksikan akhir dari seorang pengkhianat, maka masalah yang lain tidak terpikirkan lagi olehnya.
Biarpun dia tak ambil perduli, tapi ada orang yang justru memperhatikan persoalan itu dengan serius.
ooo)O(ooo Di tengah kekalutan dan kegaduhan yang menyelimuti seluruh jalan raya, di saat orang-orang yang berkumpul disekitar tempat itu belum sempat turun tangan melakukan terjangan, mendadak........
Sesosok bayangan manusia tiba-tiba saja melayang turun dari tengah udara dengan kecepatan tinggi.
Bagaikan burung Rajawali yang menyambar mangsanya, bayangan manusia itu melayang turun di sisi Siau-ko dan menyambar tangan si anak muda itu.
"Dia adalah sahabatku,"
Dengan suara yang lantang bagaikan pekikan singa jantan, Cu Bong berseru.
"bila kalian hendak mengusiknya, bunuhlah aku lebih dulu!"
Ooo)O(ooo Bab-8.
Tiap-wu Empat ekor burung merpati pos terbang dari Lok-yang menuju ke langit nan biru.
Dalam waktu singkat, bayangan tersebut sudah lenyap di balik awan yang tebal.
Tapi sayang, dari ke empat ekor burung merpati tersebut, seekor lenyap karena tersesat, seekor lagi mati terhembus angin dingin dan tinggal dua ekor yang berhasil tiba di Tiang-an dengan selamat.
Kejadian ini berlangsung tanggal delapan bulan dua.
"Coa Tiong telah tewas,"
Dengan nada tenang Cho Tang-lay memberitahukan kepada Suma Cau-kun.
"Nyo Kian mampus di sini, dua orang yang lain tewas dalam sergapan yang ku atur tempo hari dan kini giliran Coa Tiong. Ini berarti dari ke empat Toa-kim-kong dari Cu Bong sudah tak seorangpun yang tersisa."
Suma Cau-kun sedang menikmati daging sapi panggangnya, hidangan dengan menu tersebut seolah-olah sudah menjadi sumber kehidupannya setiap hari, biasanya saat seperti inipun merupakan saat yang terbaik dari semangatnya dan saat yang paling jernih pikirannya.
"Kapan Coa Tiong mampus?"
Ia bertanya kemudian.
"Kemarin pagi, satu jam berselang baru kuterima berita kematiannya."
Di antara anak buahnya memang terdapat seorang ahli dalam memelihara burung merpati pos, maka di antara mereka yang ditugaskan mencari kabar ke Lok-yang, biasanya dibekali pula dengan satu dua ekor burung merpati.
Dalam jaman seperti itu, memang tak ada cara menyampaikan berita yang jauh lebih cepat daripada cara tersebut.
"Aku seperti mendengar orang berkata bahwa Coa Tiong telah berhasil menguasai Hiong-say-tong, mengapa dia bisa mati secara mendadak......? Suma Cau-kun berkata hambar.
"manusia seperti dia, semestinya tak bakal mati sedemikian cepat."
"Andaikata ada sebilah pedang yang tiba-tiba menembusi ulu hatinya, bagaimanapun ampuhnya seseorang toh dia bakal mampus juga dengan cepat."
"Tapi untuk menembusi ulu hatinya dengan sebilah pedangpun bukan suatu pekerjaan yang gampang, pedang itu milik siapa?"
"Milik Siau-ko, Ko Cian-hui"
"Aaaah, lagi-lagi dia!"
Dengan gemas Suma Cau-kun mengiris sepotong daging.
"jadi dia sudah sampai di Lok-yang?"
"Mungkin dia baru sampai dua hari berselang."
Pelan-pelan Suma Cau-kun mengunyah hingga daging sapi yang harum itu benar-benar sudah masuk ke dalam perutnya. Ia baru berkata lagi.
"Berbicara dari kecepatan pedang Ko Cian-hui, tentu saja Coa Tiong bukan tandingannya, tapi kalau toh Coa Tiong berhasil menguasai Hiong-say-tong, paling tidak lima puluh kaki di sekelilingnya harus terdapat jago-jago lihay yang melindunginya."
"Konon, peristiwa tersebut berlangsung di sebuah jalan raya,"
Kata Cho Tang-lay.
"bukan saja seluruh jalan raya dipenuhi bekas anak buah Hiong-say-tong, bahkan terdapat pula sepuluh orang pembunuh bayaran yang diundang dengan bayaran tinggi. Bila musuhnya berani melalui jalanan tersebut, pada hakekatnya ibarat seekor domba yang memasuki gerombolan serigala, bayangkan saja bagaimana gawatnya suasana di situ....."
"Tapi Siau-ko telah menuju ke sana."
"Benar! Siau-ko memang ke situ, pergi ke situ seorang diri, seorang dengan sebilah pedang, persis seperti si nenek yang membawa keranjang untuk membeli sayur, wajar dan leluasa."
"Kemudian?"
"Kemudian diapun menusuk ulu hati Coa-tiong dengan pedang itu, masuk dari dada dan tembus ke punggung."
"Mengapa Coa Tiong memperkenankan musuhnya mendekati dia? Mengapa dia tidak menitahkan anak buahnya untuk menyerang lebih dulu?"
"Dalam hal ini aku sendiripun kurang jelas,"
Sahut Cho Tang-lay.
"aku pikir alasan yang terpenting adalah Coa Tiong bukan saja ingin memperalat Siau-ko untuk membunuh Cu Bong, lagi pula diapun tidak memandang tinggi akan dirinya, dia pasti beranggapan bahwa dia tak akan berani turun tangan dalam keadaan seperti itu."
"Kalau begitu kematian Coa Tiong sedikit banyak tak perlu disesalkan,"
Ucap Suma Cau-kun dingin.
"barang siapa berani menilai rendah musuh yang dihadapinya, dia memang pantas untuk mampus."
Coa tiong bukan hanya memandang rendah kecepatan gerak serta kepandaian silat dari Siau-ko, diapun memandang rendah keberanian serta sikap lawan. Tiba-tiba Suma Cau-kun menghela napas kembali.
"Tapi Siau-ko pun pasti mampus pula. Ketika pergi ke sana, dia pasti membawa tekad untuk mati. Cu Bong memang sangat mujur bisa memperoleh sahabat seperti dia."
"Manusia semacam ini memang tak banyak lagi jumlahnya sekarang, mati seorang berakhir seorang makin berkurang, tapi kini masih belum berkurang."
"Jadi Siau-ko belum mati?"
"Belum!"
Jawab Cho Tang-lay hambar.
"sekarang mungkin saja dia hidup jauh lebih gembira daripada kebanyakan orang yang berada di dunia ini."
"Mengapa?"
Suma Cau-kun kelihatan sangat terkejut bercampur keheranan.
"Sebab dia memang tak salah mencari teman, Cu Bong tidak membiarkan dia pergi beradu jiwa seorang diri."
"Apakah Cu Bong pun turut menyusul ke situ?"
Suma Cau-kun makin terperanjat.
"bukankah dia sendiri telah menyembunyikan diri macam anjing budukan setelah melihat Coa Tiong membawa pergi sebagian besar anak buahnya? Dalam keadaan seperti itu, masa dia bernyali untuk datang kesana?"
"Sebetulnya aku mengira riwayatnya sudah habis, keadaannya sudah menyerupai sebiji buah kelapa yang kulit luarnya sudah kita hancurkan, hingga tinggal isinya yang lunak....."
"Apakah kulit luarnya yang keras kini mulai tumbuh kembali.....?"
"Agaknya seperti begitu."
"Bagaimana tumbuhnya?"
Cho Tang-lay termenung beberapa saat, lama kemudian pelan-pelan ia baru berkata.
"Ada sementara pepohonan yang nampaknya sudah layu dan mati di kala musim dingin tiba, tapi bila musim semi telah datang dan memperoleh cahaya matahari yang hangat serta hembusan angin yang lembut di musim semi, tiba-tiba saja pohon itu memperoleh kembali kehidupannya dan tumbuh lagi beberapa lembar daun hijau."
Suaranya seolah-olah datang dari tempat yang amat jauh, terusnya lebih jauh.
"Ada sementara teman yang daya pengaruhnya persis seperti sengatan matahari dan hembusan angin lembut di musim semi. Bagi Cu Bong, Ko Cian-hui lah sahabatnya dari jenis begini."
Suma Cau-kun menghela napas panjang.
"Ya, dia memang manusia begitu, entah terhadap siapapun tetap sama saja."
Tiba-tiba Cho Tang-lay termenung, sepasang mata serigalanya tersembunyi di balik kelopak matanya yang kelabu, tiba-tiba saja dia menunjukkan suatu perubahan mimik wajah yang sukar dipahami oleh setiap orang.
Cahaya tajam dibalik matanya pun lambat laun semakin memudar.
Suma Cau-kun seperti tidak terlalu memperhatikan akan hal ini, kembali dia melanjutkan.
"Orang-orang yang diatur Coa Tiong di sepanjang jalan raya itu sebagian adalah orang-orang bekas anak buah Cu Bong, melihat Cu Bong bisa memperoleh kembali keangkeran dan keperkasaannya seperti dahulu, sudah pasti mereka dibikin keder oleh wibawanya, apalagi Coa Tiong pun sudah tewas di ujung pedang Siau-ko. Maka dari itu kesimpulannya adalah begini, setelah Cu Bong munculkan diri, kebanyakan orang-orang tersebut tak berani turun tangan lagi, karena Cu Bong masih mempunyai sebuah semangat."
Cho Tang-lay masih tetap membungkam dalam seribu bahasa. Terdengar Suma Cau-kun berkata lebih jauh.
"Orang-orang yang diundang Coa Tiong dengan bayaran tinggipun lebih-lebih tak akan berani turun tangan lagi."
"Mengapa?"
"Sebab mereka adalah orang-orang yang punya harganya, Coa Tiong dapat membayar mereka, Cu Bong pun pasti dapat membayar pula harga mereka."
Dibalik nada suaranya itu terdengar penuh dengan nada ejekan, lanjutnya.
"Bila seseorang sudah mempunyai harganya, maka mereka tak akan berharga lagi, sepeserpun tak laku."
Sekali lagi Cho Tang-lay menutup mulutnya rapat-rapat.
"Justru karena Coa Tiong melupakan kedua hal tersebut, maka Cu Bong dan Siau-ko baru bisa hidup terus hingga sekarang."
Berbicara sampai di sini, Suma Cau-kun menghembuskan napas lega, seolah-olah dia merasa puas sekali dengan kesimpulan tersebut.
Cho Tang-lay belum memberikan reaksinya, juga dia tetap membungkam diri dalam seribu bahasa.
Suma Cau-kun yang menyaksikan kejadian tersebut tak tahan lagi segera menegur.
"Apakah kau sama sekali tak punya pendapat apa-apa?"
Cho Tang-lay menggeleng.
"Ketika Cu Bong muncul di situ, apakah di sana telah terjadi kembali suatu peristiwa?"
Kembali Suma Cau-kun bertanya dengan kening berkerut.
"Tidak tahu!"
"Tidak tahu?"
Hampir saja Suma Cau-kun berteriak keras.
"mengapa kau bisa tak tahu?"
Setelah termenung beberapa saat lagi, Cho Tang-lay baru menjawab dengan dingin.
"Sebab berita tersebut bukan dibawa manusia, melainkan burung merpati. Sayang sekali si burung merpati tak pandai berbicara, mereka hanya mampu membawa surat saja."
Jilid ke-6 Setelah berhenti sebentar, kembali Cho Tang-lay menambahkan.
"Burung merpatipun bukan burung elang, perjalanan dari Lok-yang ke Tiang-an juga tidak dekat, untuk membawa surat pada kaki burung merpati, surat tersebut tak mungkin bisa terlalu panjang."
Nada suara Cho Tang-lay sama sekali tanpa luapan emosi.
"Untuk menjelaskan peristiwa semacam itu, pasti dibutuhkan sepucuk surat yang amat panjang, maka mereka hanya bisa membagi surat tersebut menjadi empat bagian, empat pucuk surat yang dibawa oleh empat ekor burung merpati."
"Berapa ekor burung merpati yang telah kau terima?"
"Dua ekor,"
Sahut Cho Tang-lay.
"dua ekor burung merpati dengan dua bagian surat."
"Dua bagian yang mana?"
"Bagian yang pertama dan bagian yang terakhir."
"Apa yang kau ceritakan tadi tentunya termasuk bagian yang pertama, bukan? Bagaimana dengan bagian yang terakhir?"
"Bagian yang terakhir itu sudah merupakan bagian penutup saja, hanya terdiri dari beberapa huruf, mari kubacakan saja isi selengkapnya."
Dengan cepat Cho Tang-lay membacakan isi surat tersebut selengkapnya.
"Dalam pertarungan ini, ada dua puluh tiga orang yang tewas, luka parah sembilan belas orang, luka ringan sebelas orang, boleh dibilang sangat mengerikan keadaannya, lama setelah pertarungan itu berakhir, darah masih mengalir di mana-mana membasahi seluruh permukaan jalan raya, hanya Cu Bong dan Ko Cian-hui yang tetap sehat wal'afiat."
Lama setelah Cho Tang-lay menyelesaikan kata-katanya, Suma Cau-kun baru menghela napas panjang.
"Orang yang tewas lebih banyak daripada yang terluka parah, sedang orang yang terluka parahpun lebih banyak daripada yang terluka ringan, bisa dibayangkan betapa sengitnya pertempuran yang telah berlangsung di sana."
"Ya, dari sini dapat disimpulkan bahwa bukannya tiada orang yang turun tangan waktu itu."
Kata Cho Tang-lay hambar.
"Keadaan di jalan raya waktu itu ibarat sebuah bungkusan obat peledak yang sumbunya belum terbakar, asal ada satu orang saja mulai dengan aksinya, maka orang tersebut akan menjadi penyulut dari sumbu tersebut, bahkan sumbu itu segera akan tersulut,"
Kata Suma Cau-kun lebih jauh.
"itulah sebabnya asalkan ada orang berani turun tangan waktu itu, bungkusan besar obat peledak tersebut akan segera meledak dan menghancur-lumatkan tubuh Cu Bong maupun Siau-ko."
"Betul, keadaan pada waktu itu memang demikianlah."
"Tapi Cu Bong dan Siau-ko masih bisa hidup segar bugar hingga sekarang."
"Benar, mereka berdua memang belum mati."
"Dengan kekuatan mereka berdua, bagaimana mungkin bisa melawan serangan dari begitu banyak orang?"
"Mereka bukan hanya berdua, tapi bertiga."
"Siapakah orang yang ketiga?"
"Si Sepatu Paku!"
"Sepatu Paku?"
"Sepatu Paku bukan sepatu paku sungguhan, Sepatu Paku adalah nama dari seorang manusia."
Baca Juga: Neraka Hitam 6
Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi Gu Long