Eps 6 Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Baca online Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung
Cersil Pendekar Pengejar Nyawa - Khu Lung.
Siapa pula orang yang berkuasa ditengah padang pasir yang menyeret manusia bagai binatang kalau bukan Pan-thian-hong dan anak buahnya, saking ketakutan sekejap mata saja orang-orang ini sudah lari terbirit-birit tak diketahui pula bayangannya.
Si bongkok itu malah menghela napas, katanya tertawa getir.
"Tak nyana orang-orang itu begitu ketakutan terhadap Pan-thian-hong, lebih baik mati kering dan kehausan daripada pergi ke tempat itu!"
Si burik menanggapi.
"kalau begitu, tempat itu tentu amat berbahaya,"
Suara orang ini ternyata mirip benar dengan suara Ki Ping-yan.
Ternyata untuk menyelidiki keadaan pihak musuh, supaya tidak dicurigai, terpaksa Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan menyamar menjadi tawanan Setitik merah, cuma seutas tambang masakah bisa membelenggu mereka, seumpama samaran mereka ketahuan musuh, mereka tetap bisa membebaskan diri dengan leluasa, bukankah cara ini jauh lebih baik daripada menyaru sebagai teman Setitik merah.
Sesaat kemudian berkata pula Coh Liu-hiang.
"Aku masih membawa setengah kantong air, lekaslah kau berikan kepada mereka."
Memang hebat orang ini, menyaru jadi naga seperti naga, menyamar jadi harimau persis harimau, bersolek jadi seorang bungkuk sungguh tindak tanduknya mirip benar, kalau tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, mimpipun Setitik merah tak mau percaya, sungguh sukar dibayangkan si Maling kampium yang bermuka ganteng dan romantis ini dalam jangka setengah jam bisa berubah sedemikian rupa.
Ki Ping-yan malah tersenyum, katanya.
"Ada kakek tua itu sebagai penunjuk jalan, orang-orang itu pasti takkan mati kehausan."
"Kau kenal kakek tua itu?"
Tanya Coh Liu-hiang.
"Orang ini boleh terhitung serigala padang pasir, kepandaian lain sih tak punya, tapi entah sudah berapa lama dan berapa kali dia bolak balik di gurun pasir, hidup seolah-olah bisa mencium dimana ada bahaya dan dimana bisa selamat, bila kaum pelancong atau pedagang bisa mengundang dia sebagai penunjuk jalan, seumpama mendapat cahaya dibadan sendiri."
Tertawa geli, ia melanjutkan.
"Sepuluh tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan orang ini, waktu itu tabungannya cukup untuk hidup anak cucunya sampai beberapa turunan dengan senang, kukira sejak lama dia sudah cuci tangan hidup dirumah mengenyam hari tua, siapa tahu sampai sekarang dia masih melakukan pekerjaan itu, agaknya dia masih anggap pekerjaan ini masih tetap segar dan menarik hatinya."
Coh Liu-hiang tertawa, katanya.
"Seumpama kuda jempolan yang bisa lari ribuan li, mana mau dia tunduk ditengah jalan, orang macam demikian bila kau ingin dia hidup senang di rumahnya, malah terasa badan letih dan perasaan seperti disiksa."
Dua li sebelah depan, tiba-tiba kelihatan sebuah bukit batu yang menjulang tinggi ke angkasa, memang tidak setinggi gunung umumnya, tapi ditengah padang pasir yang serba kering tak berujung pangkal ini kelihatannya amat menyolok mata.
Bentuk batu-batu aneh di atas gunung laksana gigi serigala atau taring harimau, tandus menguning tak kelihatan rumput tumbuh di sini.
Selintas pandang, jelas keadaan di sana terlalu bahaya, penginapan padang pasir yang didirikan Pan-thian-hong memang dibangun membelakangi bukit batu ini.
Meski bukit batu ini bisa melindungi dari pusaran angin pasir, tapi bangunan penginapan juga tetap dibangun dengan kokoh kuat, dinding di sekelilingnya disanggah pilar besar dari dahan pohon besar yang cukup dipeluk dua orang, sepertiga dari batang pohon itu terpendam didalam tanah, dindingnya terbuat dari batu gunung, maka dapatlah dibayangkan kekuatannya takkan kalah dari dinding baja, jikalau ada orang terkurung didalamnya untuk lolos keluar laksana mendaki langit sukarnya.
Memang tidak kecil bangunan rumah ini, tapi pintu dan jendelanya kecil dan sempit, kain gordyn yang dipasang diambang pintu kelihatan mengkilat laksana berminyak, seperti lebih berat dari lempengan besi bobotnya.
Tak ada nama atau papan pengenal, cuma di atas dinding yang menghadap keluar ditulis huruf dengan tinta hitam berbunyi.
"air jernih di padang pasir, ranjang kering, api unggun hangat."
Bagi para pelancong ditengah padang pasir, ke delapan huruf-huruf ini sungguh sepuluh kali lipat lebih menarik dari kata-kata manis lainnya yang sering dicantumkan di hotel-hotel atau restoran manapun untuk menarik para pengunjung.
Dibalik kain gordyn tebal ini adalah sebuah ruangan yang sedang, empat lima meja tersebar diberbagai pojokan dan ditengah dengan dua puluhan kursi.
Terlihat dimeja pojokan sana, tujuh delapan laki-laki besar sedang merubung meja dan main kartu, dimeja kasir sebelah kiri duduk seorang tua kecil bermuka tepos, berjenggot kambing, bentuk mukanya segi tiga, dua biji matanya seperti mata tikus merem melek seperti sedang ngantuk, mulutnya mengulum pipa cangklong, apinya sudah lama padam, suara gaduh dari orang-orang yang sedang berjudi serasa hampir merontokkan atap rumah, namun dia tetap duduk tenang seperti tak mendengar sama sekali.
Tiba-tiba terdengar derap kaki unta berlari mendatangi, tak lama kemudian seseorang menerjang masuk dengan teriakan serak.
"Air......air......."
Ciangkui atau kasir pemilik rumah makan ini masih tetap duduk ngantuk diam saja, laki-laki yang berjudi itupun tiada yang berpaling, dengan langkah sempoyongan orang ini memburu ke meja kasir dan serunya dengan sember.
"Ciang......Ciangkui apa kau menjual air, aku punya uang perak."
Mata si Ciangkui masih terpejam, tapi mulutnya sudah tertawa lebar, katanya.
"Kalau punya perak memangnya kuatir kami tidak mau menjual air? Bagi pedagang seperti kita setiap pengunjung berarti keuntungan, masakah kami bisa menolak?"
Orang itu kegirangan, serunya.
"Ya......baik......"
Mulutnya sudah kekeringan, saking girang mulutpun bicara tak terang, sebelah tangannya repot merogoh kantong mengeluarkan uang perak.
"Klotak"
Ia lempar uang peraknya di atas meja di depan kasir yang bernilai dua puluh tail.
Baru sekarang Ciangkui menggerakkan kelopak matanya, tapi matanya membuka sedikit saja lalu terpejam lagi.
Orang itu kaget, serunya.
"Tidak......tidak cukup?"
Ciangkui menghela napas, pelan ia geleng kepala.
Sambil kertak gigi orang itu kembali keluarkan dua puluh tail perak.
Ciangkui menghela napas pula, tetap geleng-geleng.
Sudah melotot biji mata orang itu serasa hendak menyemburkan api, tapi sekilas matanya melirik ke arah gerombolan laki-laki yang sedang berjudi itu, sikapnya kembali lemas, terpaksa ia tekan perasaannya dan merogoh kantong pula.
Sambil merogoh kantong tangan sebelah menyeka keringat, Ciangkui masih tetap menghela napas panjang pendek, keruan kejut bukan kepalang orang ini, serunya.
"Se.......seratus enam puluh tail perak.....masih tidak cukup?"
Ciangkui menyengir tawa, ujarnya.
"Kalau tuan hendak membeli air seratus enam puluh tail, sudah tentu boleh juga."
Girang orang itu.
"baik, secukupnya ini saja."
Ciangkui batuk-batuk sekali, lalu berseru.
"Lo-ban berikan kepada tuan ini air seharga seratus enam puluh tail perak."
Lo-ban yang dipanggil ini sedang jadi bandar, perak di depannya sudah bertumpuk.
"Plak"
Ia banting kartunya di atas meja, ternyata jeblok (sepuluh).
Bagi bandar pegang kartu jeblok, dapatlah dibayangkan akibatnya, saking murka ia raih kedua lembar kartu itu terus dijejalkan ke dalam mulut dan dikunyah hancur, sambil kecap-kecap, mulutnya mengumpat caci.
"Kau cucu kura-kura ini, kunyuk, kelinci modar, sundel, siapa suruh kau kemari, bikin tuan besarmu kalah main dan kehabisan uang, kalau sebentar tidak kugecek remuk perutmu, sungguh penasaran hatiku."
Entah memaki kartu atau memaki orang dan entah ditujukan kepada siapa, namun bagi orang yang merasa kena makian ini diam-diam saja, sesaat kemudian pelan-pelan toh terpaksa dia membawa sebuah ceret.
Ceret yang cukup besar dan terlalu berat, keruan orang itu kegirangan, serunya.
"Terima kasih.......terima kasih,"
Sekali raih dia rebut ceret itu dan terus menuang kemulut yang terbuka lebar, betul juga setetes air dingin menetes ke lidahnya dan airpun tiada lagi.
Tidak kecil ceret ini, tapi isinya cuma setetes air.
Keruan bergetar badan orang ini, katanya gemetar.
"Ce....ceret ini tak berisi air."
Lo-ban mendelikkan matanya, katanya bengis.
"Siapa bilang tak ada air, bukankah yang barusan kau tenggak itu air? Kita orang berdagang mencari uang halal, buat apa harus main nakal, memangnya kau sendiri yang sudah bosan hidup."
Sungguh kaget dan gusar pula orang ini, teriaknya serak.
"Tapi airnya cuma setetes."
Sahut Lo-ban.
"Uangmu cuma seratus enam puluh tail perak, memang cuma bisa membeli setetes air, berapa yang kau inginkan?"
Tak tahan lagi orang itu berjingkrak sambil berteriak-teriak.
"Setetes air berharga seratus enam puluh tail perak, terhitung orang dagang macam apa kalian ini?"
"Sudah tentu berdagang secara halal, cuma hitung dagang cara kita selama tiga tahun ini jika kau merasa terlalu mahal siapa suruh kau kemari?"
Mendadak ia rebut ceret itu lalu tertawa menyeringai.
"Bukan mustahil dalam ceret ini masih ada air, nanti kuberikan kepada kau,"
Mulut bicara sementara jari-jari tangannya yang gede-gede itu menggencet dan meremas.
Ceret yang terbuat dari tembaga itu seketika teremas dan tergencet menjadi bundar seperti bolang-baling, orang itu hanya mengawasi dengan mulut melongo mana berani bercuit lagi.
Di sebelah sana, Ciangkui malah terkekeh-kekeh, katanya.
"Tuan ini kalau merasa airnya terlalu sedikit boleh kau tambah uang beli lagi?"
Tergagap mulut orang itu.
"Aku.....aku sudah tak punya uang lagi."
"Tak punya uang perak, barang lainpun boleh kau tukar dengan air,"
Ujar si Ciangkui.
Orang itu kertak gigi, putar tubuh terus lari keluar, tak nyana belum lagi kakinya melangkah ke pintu, tahu-tahu badannya tergantung naik dijinjing seseorang, sebelah tangan orang itu merogoh ke dalam kantong bajunya.
Tangan yang ditarik keluar ini menggenggam sebuah dompet domba yang berisi penuh dan sesak.
Terdengar suara Lo-ban tertawa nyaring.
"Tak nyana keparat ini masih punya simpanan begini banyak."
Orang itu ketakutan, serunya gemetar.
"Aku.........aku tak mau beli lagi."
Mendelik mata Lo-ban, dampratnya gusar.
"Untuk apa kau kemari kalau tidak mau beli air? Memangnya boleh sembarangan kau keluar masuk ditempat kita ini?"
Sesaat lamanya orang itu terlongong, lalu katanya dengan air mata bercucuran.
"Kalau demikian, baiklah lekas kau keluarkan airnya!"
Lo-ban terbahak-bahak, serunya.
"Kantongmu sekarang sudah kosong melompong, mana tuan besarmu sudi kasih air padamu. Mengelindinglah keluar dan minum air kencing sana,"
Berbareng kedua tangan terayun ia lempar badan orang ke arah luar pintu.
"Brak"
Badan seberat puluhan kati itu melayang keluar menerjang kain gordyn tebal itu dan terlempar keluar pintu. Lo-ban bertepuk tangan, sambil tertawa besar, serunya.
"Kesurga ada jalan kau tak mau kesana, akhirat tiada pintu kau malah kemari, memangnya matamu picak?"
Belum habis kata-katanya, kembali terdengar "
Brak"
Kain gordyn keterjang sesuatu, tahu-tahu orang yang dilempar keluar tadi melayang masuk pula dan "Blang"
Tepat jatuh di atas meja. Keruan Lo-ban kaget dibuatnya, seketika ia tersurut mundur tiga langkah, serunya.
"Hei! Tak nyana tuan ini seorang ahli yang menyembunyikan diri, pandai main silat agaknya."
Ciangkui menjengek dingin, jengeknya.
"Jangan katakan orang lain picak, justru kau sendiri yang buta melek, orang yang pandai masih berada di luar!"
Waktu Lo-ban menegasi dilihatnya orang itu duduk mematung dengan mata mendelong di atas meja, saking ketakutannya mata terkesima dan mulut tak kuasa berteriak, baru sekarang Lo-ban sadar orang ini dilempar balik oleh seseorang di luar pintu.
Cuma kalau orang di luar dapat menyanggah serta melemparkannya balik, jatuh duduk tanpa kurang suatu apa di atas meja, kehebatan ini sungguh amat mengejutkan.
Sekian lama Lo-ban tertegun, kembali ia menyurut mundur dua langkah kemudian lalu menggembor sekerasnya.
"Bocah keparat di luar lekas masuk........."
Belum sampai ia keluarkan kata-kata "antar kematian", tiba-tiba suaranya tersendat didalam tenggorokan, karena dari luar menerobos seseorang, cuma sekali mata orang itu melotot padanya, seketika ia rasakan bulu kuduknya mengkirik dan dingin sekujur badannya, mulutpun tak berani sesumbar lagi.
Kalau di luar masih amat panas dan terik, sebaliknya suasana didalam rumah seketika dingin mencekam perasaan.
Di bawah cahaya remang-remang tampak raut wajah orang itu pucat lesi, sedikitpun tidak menunjukkan perasaan hatinya, seolah-olah peristiwa besar apapun takkan bisa meluluhkan hatinya.
Sepasang mata itu justru teramat tajam dan menakutkan, dingin dan kaku menggiriskan pula, sejak orang ini melangkah masuk hawa dalam rumah seakan-akan membeku secara mendadak, orang-orang yang sedang judi dan berkaok-kaok seketika sirap, biji mata Ciangkuipun terpentang lebar, semua hadirin sama merasa badannya dilingkupi hawa dingin, namun mereka sendiri tak habis mengerti, kenapa hati sendiri kebat-kebit, apasih yang ditakuti?
Tampak orang ini melangkah lebar masuk ke dalam rumah, bahwasanya seperti tidak melihat kehadiran orang lain didalam rumah ini, tangannya menggandeng dua utas tali, sekali tarik dari luar tersungkur masuk dua sosok tubuh manusia, seorang bungkuk dan seorang kurus burikan, begitu tersungkur jatuh sesaat tak mampu berdiri, dengan napas ngos-ngosan.
Lo-ban menghirup napas panjang, sapanya lebih dulu membuka kesunyian.
"Sa.....sahabat kemari mau apa?"
Meski membesarkan hati, tapi entah kenapa suaranya serasa gemetar dan sumbang. Laki-laki baju hitam itu menyahut.
"Disini tempat apa?"
Lo-ban melengak, sahutnya.
"Kita.....kita membuka penginapan."
Laki-laki baju hitam sudah duduk di sebuah kursi.
"Brak"
Ia gebrak meja, katanya.
"Kalau penginapan, kenapa tidak lekas siapkan minuman?"
Mengerling biji mata Lo-ban, tampak tujuh delapan laki-laki teman judinya sama mengawasi dirinya, dalam hati ia berpikir.
"Aku takut apa? Kau bocah ini seorang diri, apa sih yang perlu ditakuti?"
Karena pikirannya ini, nyalinya tambah besar, jengeknya dingin.
"Peraturan di sini selamanya mengutamakan bayar dimuka, mau minum kau harus keluarkan dulu uangmu."
Tak nyana laki-laki baju hitam menyeringai dingin.
"Tidak punya uang."
Lo-ban melengak pula, ingin sebetulnya dia keluarkan kata-kata kasar, tiba-tiba dilihatnya sepasang mata laki-laki itu sedang melotot kepadanya, seketika seperti membeku darahnya, sepatah katapun tak kuasa dikatakan lagi.
Di sana Ciangkui tiba-tiba batuk pelan-pelan, katanya tertawa.
"Kalau tuan tamu ini mau minum, kenapa tidak lekas kau suguhkan air teh."
Lo-ban yang galak itu ternyata menurut saja dengan tertunduk ia menuang air teh dan disuguhkan.
Laki-laki yang dilempar ke atas meja kembali melongo heran dan tak mengerti, secara diam-diam hatinyapun sedang bersorak kegirangan.
"Kiranya kawanan perampok ini masih tahu takut kepada orang yang lebih galak."
Cepat sekali air teh disuguhkan, tanpa sungkan laki-laki baju hitam segera angkat cangkir terus ditenggak habis, tapi air teh yang masuk kedalam mulutnya tiba-tiba ia semprotkan ke muka Lo-ban, dampratnya gusar.
"Air teh seperti ini mana bisa diminum, ganti secangkir air lagi."
Badan Lo-ban setinggi tujuh kaki dan kekar itu ternyata terjengkang jatuh karena semprotan air teh dimukanya, terasa selebar mukanya sakit pedas, tak tahan ia berjingkrak bangun dengan murka, dengan menghardik seperti geledek, segera ia menubruk maju.
Teman-temannya yang lain melihat dia berani turun tangan, beramai-ramai merekapun meluruk maju, sambil menggerakkan kaki tangan seraya bersorak sorai, ada yang mengambil kursi, ada yang menyingsing lengan.
Kedua tangan laki-laki hitam itu menekan meja, tiba-tiba ia menyedot napas, entah bagaimana terjadi tahu-tahu meja dan kursi yang didudukinya ikut terseret ke samping beberapa kaki.
Sebetulnya Lo-ban sudah mengincar dengan tepat, siapa duga tubrukannya mengenai tempat kosong, celaka malah nubruk seorang temannya yang kebetulan berdiri di sebelah sana, kebetulan pula laki-laki ini sedang angkat kursi mengepruk "Brak"
Untung badan Lo-ban sedang tersungkur sehingga badannya melenceng dan cepat menggelengkan kepalanya, kalau tidak tentu batok kepalanya terkepruk pecah.
Namun demikian toh dirasakan punggung dan pundaknya sakit luar biasa, dengan murka ia berjingkrak bangun seraya mencaci.
"Siau-ui, kau anak anjing ini, memang sudah gila?"
Dimaki secara kasar, merah padam muka Siau-ui, serunya.
"Siapa suruh kau main tubruk, memangnya kau picak, kau sendiri anak anjing."
Memang dalam permainan judi tadi, orang she Ui ini selalu menang, maka Lo-ban merasa iri kepadanya, kini setengah badannya terasa kaku ngilu, lebih berkobar lagi amarahnya, dampratnya sambil mencak-mencak.
"Biar tuan besarmu tahu siapa keturunan anjing yang tulen."
Ditengah suara caci maki kedua orang itu sudah bergumul dan berhantam keras lawan keras, kepalan dibalas pukulan, tendangan dibalas sepakan, suasana menjadi ramai dengan suara gedebukan, keduanya memukul dengan sekuatnya dan tak berusaha berkelit, maka dalam sekejap saja keduanya sudah babak belur dan keluar kecap dari hidungnya, laki-laki baju hitam itu malah menonton mereka berkelahi, matanya tak pernah berkedip.
Ciangkui itu kini menarik muka dan merengut tak bersuara.
Tujuh laki-laki yang menonton disamping ada yang merupakan kenalan baik Lo-ban dan ada pula yang suka menjilat kepada laki-laki she Ui, mereka sama tepuk tangan dan berjingkrak memberi semangat dan dorongan kepada kedua orang yang sedang pukul memukul ini.
Tiba-tiba laki-laki baju hitam kembali menggebrak meja, dampratnya.
"Siapa suruh kalian anjing gigit anjing?"
Baru sekarang Lo-ban dan Siau-ui sama sadar, keduanya tertegun dan menghentikan serangan, berdiri saling pandang sebentar, amarah Lo-ban agaknya belum terlampias, dampratnya dengan murka.
"Biar tuanmu adu jiwa dengan kau."
Seperti orang kesetanan ia menubruk membabi buta, tahu-tahu badan laki-laki baju hitam mengkeret, kembali bersama meja dan kursi melesat ke samping beberapa kaki, Lo-ban kembali menubruk tempat kosong.
Kali ini orang lain sudah kapok, tiada seorangpun yang berani membantu, tampak Lo-ban tubruk sana hantam sini, main tendang dan terkam, namun ujung baju orangpun tak mampu disentuhnya.
Mengelap meja dan memindahkan kursi agaknya sudah menjadi keahlian laki-laki baju hitam ini, kemana badannya bergerak, meja dan kursi segera meluncur ke arah yang dikehendakinya.
Ruangan ini sebetulnya tidak begitu besar, apalagi terdapat meja kursi lainnya pula, tapi justru dia bisa bergerak secara pas-pasan, bergerak leluasa diantara celah meja dan kursi-kursi, tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Biji mata Lo-ban sudah membara, mukanyapun sudah membengkak, keringat sudah membasahi selebar mukanya, makinya sambil berjingkrak murka.
"Kau keparat, kalau berani berdirilah dan lawan tuan besar berkelahi, kalau kepandaianmu hanya menyingkir saja, kau bukan manusia, kau binatang!"
Laki-laki baju hitam terkekeh dingin, jengeknya.
"Memangnya tampangmu setimpal bergebrak dengan aku."
Lo-ban semakin murka, dampratnya.
"Kalau pandaimu mengolok-olok saja, kau memang binatang."
Tiba-tiba melotot biji mata laki-laki baju hitam, sorot dingin terpancar dari biji matanya, ancamnya sepatah demi sepatah.
"Kau ingin aku turun tangan?"
"Aku........aku......."
Tersendat mulut Lo-ban dengan muka pucat.
Tadi dia begitu beringas, tapi karena dipelototi mata lelaki baju hitam, terasa kedua kaki menjadi lemas lunglai, lekas ia putar tubuh memburu kehadapan rombongan laki-laki lainnya, dampratnya mencak-mencak.
"Kalian anak kura-kura, melihat keramaian apa? memangnya tangan kalian sudah kutung semua?"
Karena dampratan ini mereka jadi rikuh dan tak enak hati berpeluk tangan.
Tampak laki-laki baju hitam pelan-pelan menanggalkan sebilah pedang yang panjang dan tipis, sarungnya berkulit hitam legam, pedang panjang laksana ular beracun ini diletakkannya di atas meja.
Pelan-pelan ia mengelusnya seraya menjengek dingin.
"Pedang ini tak sembarangan keluar dari sarangnya, sekali keluar harus melihat darah, kalau keluar jiwa pasti melayang,"
Mulutnya seperti menggumam, namun bagi pendengarnya serasa mendirikan bulu roma dan menciutkan nyali mereka, saling pandang tiada yang berani mendahului turun tangan.
Ciangkui itu tiba-tiba menghela napas, katanya.
"Kalau tidak berani turun tangan, tidak lekas ngacir saja, buat apa berdiri di situ membuat malu saja."
Semua laki-laki itu sama menundukkan kepala, keringat dingin berketes-ketes membasahi badan. Tertawa besar Ciangkui mengawasi laki-laki baju hitam, serunya memuji.
"Sahabat, hebat kepandaianmu, memang sengaja kau hendak bikin gara-gara disini?"
Melirikpun tidak laki-laki baju hitam itu kepadanya, mulutnya mendehem saja. Kembali Ciangkui tertawa besar, katanya.
"Bagus, kawan berani kemari, tentunya kami tidak akan bikin saudara kecewa."
Di atas meja kasir ada kelintingan kecil, segera ia mengangkatnya serta digoyang-goyang.
Begitu suara kelintingan kumandang, tujuh delapan jendela persegi satu kaki di sekeliling dinding serempak terbuka, di luar jendela kelihatan bayangan orang, disusul setiap jendela menongol keluar ujung anak panah yang runcing mengkilap tertuju ke arah laki-laki baju hitam, terang anak panah sudah terpasang di atas busur dan terpentang tinggal melepas saja.
Laki-laki pelancong yang dilempar keluar masuk tadi, disaat orang sedang berkelahi, secara diam-diam ia meraih sebuah ceret berisi air teh terus diteguknya sepuas-puasnya, kini sedang menentramkan napasnya yang tersengal-sengal, mau tak mau ia merasa kuatir pula bagi keselamatan laki-laki baju hitam itu.
Sebaliknya laki-laki baju hitam tetap bercokol di atas kursinya dengan sikap tenang tak gentar sedikitpun, panah yang sudah terpasang di atas busurnya tertuju padanya, bahwasanya dianggap tidak melihatnya sama sekali, cuma mulutnya menyungging senyuman dingin.
Terdengar dari luar seseorang bergelak tawa, katanya.
"Sahabat, besar benar nyalimu, memangnya kau tidak takut mati?"
Suara tawanya laksana genta bertalu-talu, membuat orang yang mendengarnya serasa pecah kupingnya, sebuah pintu di belakang ruangan tiba-tiba terbuka, dari luar melangkah lebar seseorang.
Tampak orang ini berperawakan tinggi kekar, kira-kira sembilan kaki, selebar mukanya tumbuh cabang bauk, pintu itu tidak besar namun tidak kecil, orang itu harus membungkuk badan baru bisa melangkah masuk.
Baju bagian atas laki-laki ini terbuka lebar, tampak dadanya yang kekar dan tumbuh bulu-bulu lebat hitam, tangannya menjinjing sebilah golok emas bergelang sembilan berpunggung tebal, panjangnya lima kaki, paling tidak ada empat lima puluh kati.
Orang seperti ini dengan senjata yang luar biasa pula, sungguh mengejutkan nyali setiap orang yang menghadapinya.
Laki-laki baju hitam cuma meliriknya dengan tawar, jengeknya.
"Kau ini Pan-thian-hong?"
Laki-laki cambang bauk tergelak-gelak pula, serunya.
"Bocah, bagus ternyata kau tahu disini ada Pan-thian-hong, jadi kau memang sengaja hendak cari gara-gara, baik tuan besarmu biar memberi hajaran kepadamu saja!"
Ditengah berkumandangnya gelak tawa, Kim-pwe-to yang beratnya lima puluh kati itu terayun tinggi terus membacok dengan dahsyat, tajam golok sampai mengeluarkan deru angin keras, sementara gelangnya berbunyi kerontangan, begitu keras dan hebat perbawanya sampai semua hadirin serasa pekak telinganya, terbang arwahnya.
Demikian pula laki-laki baju hitam agaknya tersedot semangatnya oleh perbawa golok yang hebat ini, dengan mata mendelong ia awasi golok besar itu membacok turun mengarah batok kepalanya tanpa bergerak sedikitpun.
Serempak semua hadirin sama unjuk rasa senang, mereka kira sekali bacokan golok besar ini, pasti mampu membelah badan laki-laki baju hitam itu menjadi dua potongan.
Maka terdengarlah "
Prak"
Golok emas telak sekali mengenai sasarannya.
Meja kayu yang terbuat dari kayu tebal dan berat bobotnya itu ternyata terbelah menjadi dua potong, namun laki-laki baju hitam justru tetap duduk ditempatnya tanpa kurang suatu apapun dan masih segar bugar.
Jelas semua orang melihat dia tidak bergeming dari tempat duduknya, tapi entah mengapa bacokan golok itu ternyata tidak mengenai dirinya.
Semua hadirin seketika melongo keheranan dan saling pandang.
Lo-ban mendadak terkekeh-kekeh serunya.
"Masakah kalian tidak melihat? Ji-ko sengaja berbelas kasihan, cuma sengaja main gertak sambal belaka untuk menakuti bocah ini, lalu membabat kutung bagian batok kepalanya."
Semua laki-laki yang hadir sama bersorak senang, seru mereka.
"Benar, bacokan Ji-ko selanjutnya tak usah menaruh belas kasihan lagi, ya bukan!"
Laki-laki cambang bauk menyeka keringat di atas jidatnya, sungguh dia sendiripun keheranan sendiri kenapa bacokan goloknya tahu-tahu mengenai tempat kosong, terpaksa ia unjuk tawa kering, katanya.
"Adik-adik boleh lihat, bacokan Ji-ko kedua kalinya biar kucabut jiwanya."
Laki-laki baju hitam tiba-tiba menjengek dingin.
"Ilmu golok seperti permainanmu, paling-paling hanya bisa untuk membelah kayu dan menebang pohon, jikalau ingin membunuh orang........hehehe! Masih jauh sekali!"
Merah padam muka laki-laki bercambang bauk, serunya dengan gusar.
"Ilmu golok yang bagaimana baru bisa membunuh orang?"
Laki-laki baju hitam pelan-pelan mengelus sarung pedangnya, sahutnya kalem.
"Ilmu golok yang bisa membunuh orang seperti ini,"
Ditengah ucapannya semua orang seperti melihat pedang panjangnya itu terlolos keluar dari sarungnya, sekali berkelebat belum lagi kata-katanya terucap habis, pedang runcing panjang laksana ular berbisa itu seperti masih tetap berada didalam sarungnya tak bergerak.
Sementara laki-laki bercambang baukpun masih berdiri tegak di tempatnya, cuma kulit mukanya mulai kerut kemerut dan mengejang, sepasang matanya pelan-pelan melotot seperti biji mata ikan mas.
Melirikpun tidak sudi, berkata laki-laki baju hitam.
"Sekarang kau sudah paham belum?"
Laki-laki cambang bauk menyahut sumbang.
"Aku.........aku sudah paham..........."
Belum selesai kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara gemerantang golok berpunggung tebal di tangannya tiba-tiba jatuh kerontangan disusul tubuh kekar dan tinggi dari laki-laki cambang bauk ini, tumbang seperti pohon yang kehilangan tunjangan akar-akarnya.
Tak terlihat sedikitpun luka-luka pada sekujur badannya, cuma tenggorokannya saja kelihatan setitik merah darah.
Luka-luka yang mencabut nyawanya ternyata hanya setitik darah saja.
Semua hadirin sama membuka mulut dan tak kuasa bersuara, matapun terkesima mana mampu bicara lagi.
Sesaat kemudian satu persatu mata mereka melirik ke arah ujung panah yang masih nongol dari balik jendela.
Ujung panah sama masih tertuju ke arah batok kepala dan dada laki-laki baju hitam, tapi melirikpun dia ogah, tangannya masih mengelus pedang di pangkuannya.
Lo-ban menyurut mundur selangkah demi selangkah, tak tahan dia berteriak ketakutan dengan suara gemetar.
"Ma......masih tidak lekas lepas panah?"
Entah sejak kapan Ciangkui sekarang sudah keluar dari balik meja kasirnya, tiba-tiba ia renggut tengkuk orang, sekaligus tangannya yang lain bekerja pulang pergi menampar mukanya puluhan kali.
Serasa hampir semaput Lo-ban dibuatnya, serunya penasaran.
"Lotoa,...........kenapa kau pukul aku?"
Si Ciangkui murka, dampratnya.
"Kalau tidak menghajarmu siapa yang harus dipukul? Apa saja yang kau katakan barusan?"
"Aku.......aku cuma minta para saudara lepas panah!"
Ciangkui tertawa dingin, jengeknya.
"Kau ingin supaya mereka lepas panah, tahukah kau bila panah dilepas siapa yang akan mampus?"
"Sudah tentu bocah keparat itu."
Belum habis kata-katanya si Ciangkui kembali layangkan tangannya menggampar beberapa kali pula ke pipinya, bentaknya murka.
"Tampangmu juga berani memanggilnya bocah, tahukah kau siapa sahabat ini?"
"Dia................dia siapa?"
Lo-ban terkesiap. Ciangkui tidak hiraukan pertanyaannya, dengan langkah cepat dia menghampiri ke depan laki-laki baju hitam, dengan laku hormat dia menjura, seraya unjuk seri tawa, sapanya.
"Para saudara tidak tahu bila Setitik merah dari Tionggoan sudah berkunjung ke tempat kami yang jorok ini, maaf kami tak menyambut selayaknya, harap tuan suka mengampuni dosa-dosa mereka."
Orang ini betul-betul serigala bangkotan yang licin dan licik, terlebih dahulu dia hajar Lo-ban habis-habisan, membuktikan bahwa saudara-saudaranya ini memang tidak tahu dan mengenal Setitik merah.
Baru dia memohon maaf kepada Setitik merah.
Ini pula yang dinamakan tingkah laku seorang kawakan Kangouw.
Kaum persilatan yang suka kelana di Kangouw biasanya memang mengutamakan perbuatan tengik seperti itu, dia kira setelah mendengar dan melihat tindakannya, orang tentu menjadi sungkan dan sekedar basa-basi selayaknya.
Siapa nyana Setitik merah justru tidak perduli segala tingkah dan perilakunya yang tengik ini.
Meski seorang kawakan Kangouw yang cukup berpengalaman, cara apapun yang digunakan bila berhadapan dengannya boleh dikata sia-sia belaka.
Menggerakkan kelopak matapun Setitik merah tidak sudi, suaranya tetap dingin kaku.
"Teh ini tidak bisa diminum, ganti yang lain."
Si ciangkui tertegun sebentar, tetap unjuk seri tawa, sahutnya.
"Ya,ya,ya air teh ini tak bisa diminum biar saudaraku ganti yang lain."
Setelah seseorang mengganti dengan air teh dalam ceret yang lain, dengan kedua tangan sendiri dia angsurkan ke depan orang, siapa tahu Setitik merah meraih cangkir terus dibanting ke atas lantai.
"Teh ini kurang baik, ganti ceret yang lain."
Seketika berubah rona muka semua laki-laki yang hadir, sebaliknya si Ciangkui masih bersikap hormat, roman mukanya tetap berseri tawa, katanya.
"Ya,ya,ya ganti dengan ceret yang lain."
Benar juga dia ganti dengan air teh dari ceret yang lain, kembali ia angsurkan dengan kedua tangannya, pikirnya.
"Seumpama kau memang ingin membuat keributan kali ini, tentu kau takkan ada alasan main-main lagi."
Tak nyana mengendusnya saja tidak, Setitik merah kembali membanting hancur cangkir teh itu, bentaknya.
"Teh ini tetap tak bisa kuminum."
Sungguh sabar luar biasa si Ciangkui ini, tak segan-segannya dia mengganti sendiri secangkir air teh yang lain pula, pikirnya.
"Ingin aku melihat apakah kau tetap akan membantingnya?"
Memang keterlaluan, sekaligus secara beruntun Setitik merah sudah membanting hancur delapan cangkir, sikapnya tetap kaku dan dingin.
Kini hadirin sudah menyadari bahwa dia memang sengaja hendak cari gara-gara menimbulkan keonaran, keringat dingin sebesar kacang sama menghiasi jidat setiap hadirin.
Meski muka si Ciangkui masih mengulum senyuman, tapi hatinya sudah tak sabar lagi, tanyanya.
"Air teh yang bagaimana baru tuan mau meminumnya?"
"Air teh yang tidak bau, tentu boleh kuminum,"
Sahutnya. Ciangkui tertawa kering, katanya.
"Masakah air teh ini bau?"
"Hm!"
"Setegukpun saudara tidak mencicipinya darimana bisa tahu bila teh ini bau?"
"Karena tangan orang di sini semuanya berbau."
Sekilas biji mata Ciangkui mengerling ke arah pedang panjang yang ditopang di atas pangkuan Setitik merah, katanya terloroh-loroh.
"Apa betul tangan manusia-manusia ini berbau? Cayhe jadi ingin mengendusnya,"
Pelan-pelan ia menghampiri terus menarik tangan Lo-ban, ujung kakinya tiba-tiba menyungkit golok emas terus diraihnya, sekali ayun ia membacok.
Lo-ban melolong sekeras-kerasnya, kontan jatuh semaput.
Dengan membawa kutungan tangan Lo-ban yang berlepotan darah, si Ciangkui betul-betul mendekatkan ke depan hidungnya untuk dicium satu persatu, roman mukanya berseri tawa, seperti orang menikmati sesuatu yang memikat hatinya.
"Kedua tangan ini sebetulnya sih tak begitu bau, cuma mengandung bau anyir darah."
Agaknya dia merasa kata-kata yang dia ucapkan ini adalah banyolan yang menggelikan, belum selesai kata-katanya, badannya sudah bergoyang karena loroh tawanya yang keras.
Tapi kecuali dirinya siapa pula yang bisa tertawa.
Bahwasanya dia sendiri heran betapa dia sendiripun bisa tertawa.
Dengan mendelik matanya menatap kepada Setitik merah, batinnya.
"Membunuh orang cukup menganggukkan kepala, seumpama kau memang ingin cari gara-gara, apa yang kulakukan kiranya sudah cukup keterlaluan?"
Jikalau orang lain, meski hati sedang dirundung kepedihan atau sedang marah besar, setelah melihat adegan seram tadi mestinya amarahnya sedikit banyak tentu sudah terlampiaskan, seorang bila bisa menahan diri sampai sedemikian jauh, apa pula yang dapat dilakukan orang lain.
Sampaipun si Burik dan si bungkuk dalam hati merasa kasihan dan menarik napas, mereka heran kenapa orang yang berjanji dengan Setitik merah untuk bertemu ditempat ini belum juga kunjung tiba?
Apa boleh buat, hati Setitik merah seperti dibuat dari besi baja, apapun yang dia katakan, apapun yang dia lakukan, dia bisa anggap tidak melihat dan tidak mendengar, sikapnya tetap kaku tak bergerak.
Lama kelamaan si Ciangkui tak bisa tertawa lagi, setelah dua kali tertawa kering, dia maju menghampiri dan menuang secangkir air teh dengan kedua tangannya, ia haturkan kepada Setitik merah, katanya.
"Selama dua puluh tahun Cayhe tidak pernah menyuguh air teh kepada siapapun dengan kedua tanganku ini, maka kedua tanganku ini tentu tidak bau, jikalau saudara suka memberi muka kepada Cayhe, sungguh Cayhe teramat terima kasih."
Setitik merah melirikpun tidak ke arahnya, matanya malah mengawasi cangkir ditangan orang, katanya pelan-pelan.
"Jadi kau inilah Pan-thian-hong!"
Ciangkui tertawa dibuat-buat, sahutnya.
"Ah, julukan yan tak berarti, bikin kotor pendengaran saja."
"Tak heran kau bisa hidup sampai sekarang, orang seperti tampangmu ini kiranya Pan-thian-hong itu, sungguh tak kentara."
"Di hadapan seorang sahabat, sebetulnya Cayhe tak bisa dianggap Pan-thian-hong, hanya boleh dipandang seekor ulat....haha! Cuma seekor ulat belaka, buat apa saudara harus berurusan dengan seekor ulat."
"Benar, kau memang seekor ulat, tanganmu itu lebih busuk dari mereka."
Kulit muka Pan-thian-hong yang kuning itu seketika berubah pucat, suaranya mulai gemetar.
"Saudara, kau.....sebetulnya kau ingin."
Tiba-tiba terdengar tawa cekikikan nyaring dari luar pintu, seorang berkata dengan suara merdu.
"Kiranya tangan Pan-thian-hong juga berbau busuk, ingin aku menciumnya malah, tahu-tahu seorang gadis muda berusia belasan tahun bermata bening, bergigi putih rata, rambutnya dikepang menjadi dua, pakaiannya serba merah, dengan gemulai melangkah masuk. Hujan pasir ditengah gurun sering terjadi, orang-orang yang memasuki rumah selalu berlepotan lumpur berpasir, tapi badan gadis jelita ini sedikitpun tidak kotor. Hawa membunuh memuncak didalam rumah ini, darah berceceran, mayat menggeletak tak diurus. Tapi tawa gadis jelita ini begitu manis begitu riang seolah-olah dia baru saja keluar dari taman kembang yang subur semerbak memasuki kamar tidurnya sendiri, laki-laki kasar yang memenuhi ruangan ini seolah-olah adalah kacung atau pesuruh di rumahnya. Pada saat seperti ini, ditempat seperti ini pula, tiba-tiba muncul seorang gadis jelita seberani ini, pandangan semua orang secara tak sadar sama mendelong mengawasinya, mulut terbuka lebar tak bersuara. Tampak sambil berseri tawa, gadis jelita itu langsung menghampiri ke depan Pan-thian-hong, katanya sambil melerok.
"Apa tanganmu benar-benar busuk?"
Pertanyaan ini sungguh jenaka dan bikin orang jengkel dan geli pula, sesaat lamanya Pan-thian-hong sendiri megap-megap tak mampu menjawab.
"Nona..........Cayhe........."
"Kelihatannya kedua tanganmu ini putih bersih, mana bisa berbau busuk? Aku tidak percaya............"
Pelan-pelan ia raih kedua tangan Pan-thian-hong.
Gadis jelita secantik ini, tawa nan merdu, masakah Pan-thian-hong tega menolak tangannya diperiksa?
Setitik merah tetap tak menunjukkan perubahan mukanya, cuma sekilas biji matanya melirik kepada si Burik dan Si Bungkuk, seperti bertanya.
"Kalian lihat orang macam apa sebenarnya gadis ini?"
Si Bungkuk dan si Burik beradu pandang, dalam hati masing-masing sama teringat akan Ciok-kwan-im.
Jikalau gadis ini bukan Ciok-kwan-im tentu dia punya hubungan erat dengan Ciok-kwan-im.
Orang mendadak muncul ditempat ini, apakah tujuannya?
Sekonyong-konyong tampak selarik sinar perak berkelebat, disusul jeritan keras yang memekakkan telinga.
Tampak Pan-thian-hong sempoyongan mundur tiga langkah, kontan badannya tumbang celentang seperti pohon roboh.
Tahu-tahu tangan gadis baju merah itu telah mencekal sebuah pisau yang berkilauan, ujung pisau masih berlepotan darah, cara bagaimana orang menggerakkan pisau peraknya tiada seorangpun yang melihat jelas.
Terdengar gadis baju merah cekikikan pula, katanya.
"Tangan ini sebetulnya sih tidak bau, cuma sedikit berbau darah."
Laki-laki yang lain serempak menggembor seperti kesetanan, berbareng menubruk maju. Jelalatan biji mata gadis baju merah, jari-jarinya mengkili-kili pipi sendiri sambil menggoda jenaka.
"Kalian mau apa, begini banyak laki-laki hendak menganiaya anak perempuan, tidak tahu malu?"
Mulut bicara sementara pisau di tangannya bekerja dengan tangkas, dua laki-laki yang menubruk duluan seketika menjerit dan roboh tak bernyawa lagi, tenggorokannya berlubang dan darahpun bercucuran.
anak gadis semuda ini, bersikap aleman, halus dan jenaka, ditengah senda guraunya beruntun menamatkan jiwa dua laki-laki kasar, yang lain mana berani banyak tingkah pula.
Mengawasi darah yang muncrat kemana-mana itu, si gadis baju merah menghela napas, ujarnya menawan hati.
"Tak heran Setitik merah dari Tionggoan menggetarkan dunia, baru sekarang aku tahu membunuh orang tak kelihatan darah, hanya setitik darah di ujung pedang! "Gampang"
Kata-kata ini diucapkan, tapi untuk melakukannya sungguh tak mudah."
Biji matanya mengerling ke arah Setitik merah, katanya pula.
"Coba lihat, hanya sedikit menggunakan tenaga, darah mereka sudah berceceran sedemikian banyak, sungguh memualkan, dibanding caramu jauh sekali bedanya."
Dengan dingin Setitik merah mengawasinya, katanya dingin.
"Peduli siapa, membunuh orang tiada seninya dan enak dipandang mata."
Gadis baju merah cekikikan pula, ujarnya.
"Cuma kau, orang lain membunuh orang ya membunuh orang, kau membunuh orang sebagai buah karya yang tiada bandingannya."
Siau-ui sedang menyurut mundur, diam-diam ia memberi isyarat ke jendela, maksudnya supaya mereka melepas anak panah, tak nyana kerlingan mata gadis baju merah tiba-tiba tertuju ke arahnya, teriaknya nyaring.
"Aduh! Coba kalian lihat jahat tidak orang ini, dia ingin orang lain memanah mati diriku."
Seketika dingin tengkuk dan kaki tangan Siau-ui, kakinya tak bergerak lagi. Gadis baju merah malah menghela napas, ujarnya lembut.
"Sayang panah-panah itu takkan bisa memanah mati orang, tidak percaya coba kau lihat."
Langkahnya ringan menghampiri jendela, dengan kedua jarinya ia jepit pelan-pelan sebatang anak panah, panah itu dengan gampang terjepit diantara jari-jarinya, sekali potes patah menjadi dua.
Semua laki-laki kasar itu semakin ketakutan, bernapaspun tak berani keras-keras.
"Apa kalian heran?"
Ujar gadis baju merah.
"Sebenarnya tak perlu dibuat heran, orang hidup baru bisa main panah, orang mati mana bisa lepaskan panah?"
Bergetar suara Siau-ui.
"Kau..........kau bunuh mereka?"
"Coba kau pikir, bila ada orang hidup mengacungkan panah kepadaku, apa aku bisa masuk kemari? Nyaliku kecil, tak punya kepandaian seperti Setitik merah ini."
Serasa lemas kaki Siau-ui, seketika ia melorot jatuh dengan lunglai. Tak tahan Setitik merah bertanya.
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Kenapa aku tak tahu namamu, kau adalah orang yang paling kukagumi, apalagi kedatanganku sekarang tujuannya adalah menyambut kau."
Berkerut alis Setitik merah.
"Menyambut aku?"
"Bukankah kau ada janji bertemu dengan orang di sini?"
"Ehm!"
"Kini mereka sedang sibuk urusan penting maka tak bisa kemari dan suruh aku membawa kau kepada mereka. Sekarang aku sudah datang, kaupun perlu segera berangkat."
"Berangkat........"
Setitik merah ragu-ragu.
"Kau tak mau berangkat? Memangnya hendak bunuh habis orang-orang ini? Sungguh kebetulan malah, selamanya aku mengharap bisa melihat kau membunuh orang."
Tanpa banyak bicara Setitik merah tarik kedua utas tali yang membelit orang, terus ditariknya si Bungkuk dan si Burik, tiba-tiba berkerut alisnya, katanya.
"Kau tangkap kedua orang sebagai gandengan anjing mainan, kenapa tidak kau pilih yang bagus dan cantik? Manusia seburuk ini, aku sebal melihatnya, memalukan saja, lebih baik aku kirim mereka pulang ke asalnya saja,"
Dimana tangannya terayun, pisau perak di tangannya menyambar ke tenggorokan si Burik dan si Bungkuk.
"Creng"
Sarung pedang hitam laksana ular sakti tahu-tahu menangkis pisau perak itu.
"Lho! Kau merasa sayang bikin mereka mampus?"
"Orang yang ingin kubunuh, tak perlu orang lain mewakili aku turun tangan."
"Kau kira aku suka berebut membunuh orang dengan kau?"
"Urusan membunuh orang, tiada orang yang bisa berebut dengan aku, tiada orang yang berani."
"Legakan hatimu, orang seperti ini kubunuh dia malah mengotori tanganku!"
Bersambung ke
Jilid 21 Jilid.
21 Begitu gadis baju merah ini mengatakan hendak menjemput setitik merah si Bungkuk lantas tahu urusan rada ganjil.
Katanya pemimpin pemberontak negeri Kui -je dengan Go kiok-kan itu hendak menunggu kedatangan setitik merah di penginapan padang pasir satu satunya ini, kenapa mendadak merubah rencana?
Kenapa pula mereka suruh gadis jelita baju merah ini membawa setitik merah entah kemana."
Gerak-gerik gadis baju merah ini serba misterius, jelas mempunyai asal usul yang luar biasa, orang seperti dia, masakah sudi mendapat perintah dari pemberontak negeri Kui-je?
Memangnya dalam hal ini mereka ada intrik dengan Ciok-koan-im?
Hati si Bungkuk dan si burik bertanya tanya tak tenang tapi tak masuk ke sarang harimau, mana bisa menangkap anak harimau urusan sudah terlanjur, sedemikian jauh, memangnya mereka masih punya pilihan lain?
Begitu mereka tiba di luar kembali mereka dibikin tercengang.
Di luar pintu ternyata berlabuh sebuah kapal.
Di atas padang pasir nan luas penuh misterius dan serba menakutkan ini perduli terjadi peristiwa besar yang mengejutkan mereka takkan terkejut dan heran, tapi sungguh mimpipun mereka tidak menyangka di sini mereka bakal melihat sebuah kapal.
Letak penginapan padang pasir ini boleh dikata ditengah atau di pusat gurun pasir, dari mana datangnya kapal?
Tapak kapal ini panjang dan siur, haluan dan buritan kapal sama dihias dan diperlengkapi dengan alat-alat luar biasa, ruang-ruang kapal yang luas dihiasi sebagai perabot yang mewah sampaipun kerai pintupun terdiri dari untaian mutiara.
Jadi gadis baju merah tadi keluar dari kapal ini langsung masuk ke dalam rumah, tak heran badannya kelihatan begitu bersih, namun cara bagaimana kapal ini bisa melaju sampai ke tempat ini?
Sungguh luar biasa dan susah dibayangkan.
"Kenapa melongo?"
Seru gadis baju merah.
"silahkan naik ke atas kapal!"
Berkilat biji mata Setitik merah, namun mulutnya bungkam.
"Ehm!"
Setitik merah mendehem sebagai jawaban.
"Setelah kau ikut aku naik ke atas kapal segera kau akan tahu."
Kalau orang lain perhatikan bagian atas perahu, justru si Bongkok sedang perhatikan atas atau dasar kapal.
Tampak kapal ini di bawahnya, di atas dua papan panjang yang sempit, papan bambu besar yang disisir licin dan kuat.
Setiba di atas kapal, kembali ia dapati kapal ini kebanyakan dibangun dari belahan-belahan bambu kuning, demikian dinding ruang kapal, dek dan dasarnya, maka bentuk kapal ini sempit panjang dan bobotnya tentu amat ringan.
Dari bawah memang tidak kelihatan, tapi setiba di atas dan didalam kapal, maka siapapun bisa lihat puluhan ekor burung-burung elang yang kokoh kekar dan bersayap lebar sama bertengger di atas dek kapal.
Dua anak laki-laki berpakaian serba merah pula, sedang memberi makan dengan daging-daging segar begitu mereka naik ke atas kapal, salah satu anak laki-laki itu terus menanggalkan sebuah cambuk panjang.
"Tar"
Ia lecutkan cambuknya ke tengah udara.
Rombongan elang segera pentang sayap terbang ke angkasa, puluhan utas rantai kemilau yang lembut sebanyak jumlah elang-elang itu segera terbawa terbang, rantai lembut itu kini terikat di atas kapal, maka kapal segera bergerak dan melaju dengan tenang di atas pasir lembut seperti meluncur di atas salju, mulai lambat, lalu lambat laun cepat laksana terbang orang-orang yang di atas kapal seolah-olah naik awan ikut tertiup angin.
Bungkuk dan Burik beradu pandang sekali, hati mereka diam-diam memuji dan kagum akan cara pembuatan kapal ini yang begini rapi dan serba praktis.
Maklumlah elang punya tenaga besar dan kuat bertahan lama kala seekor kambing besarpun mampu mereka sambar dan di bawa terbang ke angkasa, kini puluhan ekor kerja sama menyeret sebuah kapal yang terbuat dari bambu meluncur di permukaan pasir yang datar licin sudah tentu bukan persoalan sulit.
Dan lagi elang punya kesabaran yang tak dimiliki binatang lain, ada kalanya untuk menunggu ajal seseorang baru memakan bangkainya dia kuat bertahan beberapa hari terbang berputar-putar diangkasa.
Maka tenaga elang dipakai sebagai tenaga penggerak sebuah kapal ringan, tak perlu kuatir burung-burung elang ini tidak bakal mogok ditengah jalan, asal saja dalam waktu-waktu tertentu mereka diberi makan kenyang.
"Coba kau katakan, untuk menempuh perjalanan di gurun pasir, kendaraan apa yang bisa laju lebih cepat, lebih nyaman dari kapal ini?"
Kembali Setitik merah mendehem saja.
"Dan lagi bila kau tidak mau dilihat orang bila kau duduk didalam kapal ini, tanggung tak perlu takut, diketahui jejakmu oleh orang lain, selamanya takkan ada orang bisa menemukan jejak kapal ini, memang ada sementara orang pernah melihat kapal ini sedang melaju ditengah gurun pasir secepat angin puyuh, tentulah kabur atau melihat setan!"
Terdengar seorang menanggapi dari dalam ruangan sambil tertawa.
"Oleh karena itu orang-orang yang mengembara di padang pasir sama menamakan kapal ini kapal setan!"
Suara ini kalem dan tenang, seorang menyingkap kerai berjalan keluar, tapi baru setengah badannya menongol keluar, lekas sekali mengkeret masuk, katanya terbawa.
"Di luar angin amat besar kenapa Ang heng tidak masuk saja?"
Bentuk muka orang ini segi-tiga berwarna kuning seperti malam, namun panca inderanya seperti hendak saling tumbuh menjadi satu bagian, beberapa utas jenggot terpelihara di bawah janggutnya, tampaknya seperti keledai bermata tikus, muka yang sebegini jelek, siapapun takkan menyangka suara yang lembut dan berisi ternyata keluar dari mulut orang seperti ini.
Bungkuk dan Burik kembali beradu pandang batin mereka.
"Mungkin orang ini adalah Go kiok kan yang terkenal itu. Setitik merah bilang tampangnya menyebalkan, sedikitpun tidak salah."
Orang-orang lainnya yang berada dalam kamar tampangnya jauh lebih bagus.
Kedua orang ini sama berpakaian perlente, bermuka lebar, beralis tebal, biji mata mundur besar, sikapnya gagah dan berwibawa selintas pandang, orang akan tahu bahwa orang-orang seperti ini sudah biasa memegang tampuk pimpinan dan punya kekuatan besar.
Seorang lagi sebaliknya, belum buka suara sudah tertawa lebih dulu rona mukanya welas asih dan sopan santun, bentuk badannyapun biasa dan gagah serta royal, kelihatan seperti seorang pedagang yang maju dalam usahanya.
Kedua orang ini sama mengenakan pakaian ala bangsa Han, tapi rambutnya kuning keriting, biji matanya cekung dan berhidung tinggi terang mereka inilah pembesar negeri Kui-je yang berontak itu.
Bahwa mereka sudah berada di sini, kenapa tadi dikatakan.
"Lantaran ada urusan penting tak datang?"
Memangnya mereka hendak memancing Setitik merah naik ke atas kapal? Begitu melihat Setitik merah kedua orang segera menjura, sapanya.
"Cong-su orang gagah banyak capai!"
Laki-laki seperti pedagang besar itu selanjutnya menambahkan dengan tertawa.
"Cayhe kuatir Congsu mengalami sesuatu di luar dugaan, tapi Bin ciangkun amat mengagumkan ilmu pedang Congsu tak perlu dikuatirkan, Haha! agaknya pandangan Bin Ciangkun memang lebih tajam."
Sambil mengelus jenggot kambingnya Go Kiok kan menyela bicara.
"Ang siangkong sejak lama berdiam dalam istana, tidak tahu urusan kasar sudah tentu tak tahu mengandalkan kepandaian Ang-heng tidak sulit mengambil batok kepala orang ditengah pasukannya."
Bin Ciangkun tertawa besar menggebrak meja katanya.
"Semoga Ang congsu jangan salah sasaran memenggal batok kepalaku."
Bahasa Han-nya cukup fasih maklumlah negeri Kui-je yang termasuk dalam bilangan Tiongkok bagi mereka yang menduduki pangkat tinggi, masakah boleh tidak fasih menggunakan bahasa Han?
Dingin tatapan Setitik merah katanya tiba-tiba "Kalian toh sudah datang, kenapa tidak masuk ke dalam penginapan itu bertemu dengan aku?"
Go-kiok-kan tertawa, ujarnya. Bicara didalam penginapan kurang leluasa, apalagi, Pan-thian hong masih punya hubungan erat dengan Bin-ciangkun."
Bin-ciangkun tertawa besar, sombongnya "Bicara terus terang, Pan thian hong dulu adalah seorang panglima bawahanku, setelah jadi perampok, dia masih bantu aku mengerjakan banyak urusan, kalau Congsu sedang mencari gara-gara kepadanya, aku masuk kesana bukankah keadaan bakal runyam?"
Setitik merah malah mendengus.
"Bahwa perampok adalah sekongkol dengan ciangkun, apa pula yang bisa dikatakan."
Gadis baju merah itu cekikikan pula, timbrungnya "Tahukah kau, ransum yang diperoleh Binciangkun dalam pergerakannya kali ini kebanyakan atas bantuan Pan-thian-hong yang meminjam sana sini."
Si Bungkuk diam-diam membatin "Kiranya begitu, pergerakan besar kalian sekarang sudah berhasil, mungkin diapun akan minta bantuan dan balas jasanya, oleh karena itu kalian lantas membunuhnya untuk tutup mulutnya."
Setitik merah melotot kepada gadis baju merah, katanya rendah "Siapa pula kau perempuan ini, kenapa kalian suruh dia....."
Go-kiok-kan sedang menukar kata-katanya "Apakah isteriku ini berbuat salah kepada Ang heng?"
Tak terasa setitik merah melengak, tanyanya "Dia....dia isterimu?"
Gadis baju merah cekikikan pula, katanya "Kau berani? Waktu aku menikah sama dia memang banyak orang keheranan, semua bilang sekuntum bunga mekar tertancap di atas gundukan.... Di atas gundukan......"
Akhirnya ia tak tega mengatakan "Kotoran sapi.
saking geli tawanya sampai terpingkal-pingkal dan memeluk perut.
Sebaliknya, sikap Go Kiok-kan tetap biasa, katanya tersenyum "Tentunya tugas Ang heng sudah mencapai sukses yang menggirangkan, entah dimana batok kepala raja lalim itu?"
"Batok kepalanya masih berada di atas lehernya."
Sahut Setitik merah. Berobah roman muka Bin-ciangkun dan Ang siangkong, sekilas mereka beradu pandang lalu tanyanya "Kenapa Congsu belum berhasil membunuhnya?"
Hm..! setitik merah hanya menggerung saja. Memangnya raja lalim itu sudah lari menyembunyikan diri? tanya Go Kiok-kan.
"Em!"
Kembali Setitik merah hanya mendehem saja.
Bin ciangkun dan Ang siangkong berdiri sambil menghela napas, sebaliknya Go Kiok-kan mandah tertawa tawar, katanya "Gagal pun tak menjadi soal, cepat atau lambat batok kepalanya itukan bakal dikutungi oleh Ang heng."
Lalu dia melirik kepada si Bungkuk, tanyanya "Entah siapa pula kedua orang ini?"
Si Bungkuk menjawab lebih dulu "Bahwasanya kami tiada sangkut paut dengan raja lalim itu, kami cuma undangan saja, entah kemana sekarang raja lalim itu menyembunyikan diri."
Go Kiok-kan tersenyum tawar, katanya "Ang heng menawan mereka, apakah kau hendak mengompes keterangan mereka?"
"Em!"
"Kenapa Congsu tidak tanya kepada mereka saat itu juga?"
"Aku hanya bisa membunuh orang, mengompes keterangan aku tidak bisa."
Go Kiok-kan berkata.
"Cayhe sebaliknya bisa membunuh orang, mengompes keterangan sih cukup mampu."
Pelan-pelan dia menghampiri kedua orang buruk rupa ini, katanya sambil membungkuk badan "Siapa nama besar kalian berdua?"
"Kau tak perlu tanya."
Ujar si Burik.
"Kami orang-orang keroco yang tak punya nama."
Ikatan tali dikedua tangannya memang amat kencang, sudah tentu banyak pura-pura untuk dilihatkan kepada orang lain mengandalkan kekuatan lwekang mereka sembarang waktu bisa kerahkan tenaga untuk memutus tali-tali pengikat itu.
Tujuan mereka untuk menyelidiki keadaan musuh kini apa yang mereka inginkan sudah tak perlu dihiraukan lagi, si Burik sudah siap-siap hendak beraksi, cuma si Bungkuk sejauh itu tidak mulai, terpaksa dia menunggu dengan hati kurang sabar.
Go Kiok kan berkata pula tetap tersenyum "Kedua orang ini tiada hubungan apa-apa dengan raja lalim itu, tiada punya dendam dan sakit hati dengan kita menurut pendapat Cayhe, lebih baik melepas mereka pulang saja."
"Orang sudah kuserahkan kepadamu, terserah bagaimana putusanmu"
Sahut setitik merah.
"Kalau demikian biar Cayhe membuka belenggu mereka lebih dulu, sembari bicara Go Kiok-kan membungkuk badan hendak membuka ikatan tali, sudah tentu si Bungkuk dan si Burik tak enak bergerak siapa tahu tangan Go Kiok-kan mendadak bergerak secepat angin kanan kiri kerja sama, beruntun menutuk tujuh delapan Hiat-to dibadan mereka. Laki-laki buruk rupa yang kenamaan ini ternyata adalah seorang tokoh Bulim yang berkepandaian tinggi.
"Apa yang kau lakukan?"
Bentak Setitik merah. Baru saja ia hendak memburu maju, terasa ujung tangkai pisau yang runcing dingin sudah mengancam tengkuknya, terdengar gadis baju merah berkata lembut.
"Orang sudah kau serahkan kepadanya, biarkan apa yang dia suka lakukan, benar tidak?"
Setitik merah insaf asal dirinya sedikit bergerak, ujung pisau kecil tajam itu bakal bersarang di lehernya.
Si Bungkuk sebaliknya tetap tenang dan bersabar, katanya dingin "Hebat benar gerakan sahabat ini, cuma menggunakan kepandaian sebaik ini menghadapi dua orang keroco yang terbelenggu, bukankah urusan kecil kau bikin besar?"
Go Kiok-kan berkata dengan lantang "Masakah si Maling kampion yang kenamaan itu adalah keroco yang tak bernama?"
Mendengar kata-kata ini seketika serasa tenggelam Setitik merah.
Si Bungkuk sebaliknya tertawa lebar katanya "Maling kampion?
Jikalau aku ini maling kampion memangnya aku mandah diikat orang demikian rupa?"
Seolah-olah dia merasa kenyataan ini amat menggelikan, saking geli air mata pun sampai meleleh keluar. Dengan tenang-tenang Go Kiok kan mengawasinya setelah tertawa reda baru ia berkata tawa.
"Ikatan tali sebesar itu memangnya mampu membelenggu maling kampion? Kalau maling kampion berhasil menyelidiki keadaan kita, sekali meronta gampang saja kau bebaskan diri, benar tidak?"
Si Bungkuk akhirnya tak bisa tertawa, sungguh tak habis mengerti Go Kiok-kan ternyata adalah tokoh kosen selihai ini.
Berkata Go Kiok-kan lebih lanjut "Masakah Maling kampion masih tidak mau mengaku?
Memangnya perlu Cayhe mengambil air mencuci mukamu?"
Tak tahan berkata Coh Liu-hiang "Sahabat, tajam benar matamu, entah dari mana saudara cacat mengenali penyamaranku?"
"Kepandaian menyamar si Maling romantis tiada bandingannya dikolong langit, tapi betapapun pintar seorang merias diri, ada titik-titik tempat dimukanya yang tak mungkin bisa diubahnya."
"Oh titik tempat manakah itu? tanya Coh Liu hiang heran tak mengerti. Tentunya maling romantis juga tahu roman muka orang, kulit dan suaranya bisa dirubah menurut sesuka hati, sampaipun tinggi rendah badan orangpun bisa dipalu, tapi cuma jarak antara kedua mata orang saja yang tak mungkin dirubah. Meski ilmu tata rias maling kampiun amat tinggi, takkan mungkin bisa mengubah jarak dan letak antara kedua matanya sendiri?"
Coh Liu hiang melirik kepada Ki Ping-yan katanya tertawa "Tak nyata hari ini aku kebentur dengan seorang ahli."
Kata Go Kiok-kan lebih lanjut "Apalagi asal mau sedikit perhatian, dengan mudah orang bisa membedakan jarak antara kedua mata siapa saja, pasti tiada yang sama dalam jagat ini, namun terpautnya juga hanya seper-seratus mili saja."
"Kalau demikian, jadi tuan sudah pernah menghitung jarak antara kedu amataku?"
"Maaf, maaf"
Ujar Go Kiok kan sambil menjura.
"Tapi kenapa aku seperti tak pernah melihat tuan?"
"Kaum keroco seperti aku ini, meski Maling romantis pernah melihatnya juga sudah lama dilupakan."
Wah, kalau demikian lebih baik seorang jangan terlalu besar nama dan menyolok perhatian orang lain.
Dalam situasi seburuk ini dengan wajar dan tenang dia masih bisa tertawa lebat, sebaliknya Setitik merah dan Ki Ping yan serasa hampir gila karena gelisah.
Sekonyong-konyong badan Setitik merah menubruk maju ke depan, berbareng kaki kanan menyepak ke belakang.
Kepandaian permainan kakinya sungguh sudah dilatihnya sempurna betul, begitu menubruk maju, boleh dikata badannya sudah hampir merata dengan lantai, siapa nyana ujung pisau ini masih tetap mengancam tenggorokannya, sia-sia dia berusaha membebaskan diri.
Badan si gadis merah tahu-tahu sudah bergelantungan di atas belandar, katanya tertawa "Aku sudah menjadi ulat dalam perutmu, selamanya kau takkan bisa bebas dari intaianku."
Dengan tertawa Coh Liu hiang awasi Go Kiok-kan katanya? "Kau mengawini bini yang begitu pintar melihat orang, tentunya hidupmu cukup tersiksa juga."
Go Kiok-kan tertawa ewa, sahutnya "Lebih sayang lagi kehidupan tuan selanjutnya mungkin jauh lebih tersiksa."
Di sini tempat paling gelap di dasar perahu, begitu gelap sampai jari sendiripun tak kelihatan, dasar kapal yang bergesek dengan pasir terus kumandang di telinga mereka, serasa seperti jarum menusuk ke ulu hatinya.
Perduli siapapun rebah ditempat seperti itu sudah tentu takkan merasa nyaman dan segar terutama Ki Ping yan dan Coh Liu hiang yang biasanya mengutamakan kehidupan foya-foya berkemewahan ini, kini justru terkurung ditempat seperti ini.
Entah karena apa, Go Kiok-kan tidak ingin segera membunuh jiwa mereka, setitik merah pun tidak dibunuhnya, seolah-olah terasa sayang bila sekarang juga mereka dihabisi nyawanya.
Coh Liu hiang menarik napas panjang, mulutnya menggumam "Go Kiok kan!
Go Kiok kan!
Bahwasanya tokoh macam apakah dia?
Bagaimana mungkin sekali pandang lantas mengenali penyamaranku?"
Ki Ping yan menjengek dingin "Kau kira samaranmu cukup baik?
Di dalam kamar rias di atas kepalamu mungkin kau bisa menyamar sehingga orang lain tak mengenalimu, tapi kali ini sampaipun aku sekali pandang bisa mengenalmu."
Sudah tentu kau bisa kenal aku, tapi jangan kau lupa, betapa akrab dan intimnya hubungan kita, memangnya siapa Go Kiok kan itu? Bagaimana mungkin mengenalku begitu apal?"
"Mungkin dia Mutiara hitam,"
Ujar Ki Ping yan setelah berpikir sebentar.
"Pasti bukan dia."
"Sampai detik ini, kau masih begitu yakin kepadanya."
"Sudah tentu Mutiara hitam bisa saja menyamar, tapi ilmu silatnya tak mungkin ditiru, dari cara dan ilmu untuk Go Kiok-kan ini aku dapat tahu bahwa Go Kiok-kan ini berkepandaian lebih tinggi dari Mutiara hitam. Ki Ping-yan terkancing mulutnya, dari atas terdengar gelak tawa yang kedengaran sayup-sayup sampai, bahwa kapal ini kebanyakan dibangun dari bambu, sudah tentu tak mungkin terbendung begitu saja. Kalau Coh Liu hiang bertiga bakal mampus sudah tentu orang lain tak perlu kuatir dengan penjagaan ketat segala, entah beberapa lama berselang kapal tiba-tiba berhenti. Terdengar suara Bin Ciangkun berkata "Di sini tempat perjanjian dengan Ciak-hujin itu?"
Omongan apapun Coh Liu hiang tak pernah perhatikan, suara gesekan papan kapal dengan pasir sungguh amat menyebalkan, ingin rasanya mereka menyumbat telinga mereka masing-masing.
Tapi setiap mendengar kata-kata Bin-ciangkun, Coh Liu hiang, Ki Ping yan dan Setitik merah segera pasang kuping mendengarkan dengan cermat.
Maka terdengar Go Kiok-kan menyahut "Ya disinilah tempatnya, takkan salah!"
Ang siangkong bergelak tertawa, katanya "Apapun yang dilakukan Go siansing, sekali-kali takkan keliru, cuma.... entah Ciok hujin benar-benar punya maksud kerja sama dengan kita setulus hati?"
"Jikalau dia tiada maksud itu, kita hendak berjumpa dengan dia, mungkin sesukar memanjat ke langit."
"Ah! Apakah ilmu silatnya lebih tinggi dari Go siansing?"
Tanya Bin-ciangkun.
"Ilmu kepandaian Cayhe yang rendah ini seumpama kunang-kunang dibandingkan cahaya rembulan bila dibedakan dengan kepandaian Ciok-hujin, bahwasanya satu sama lain tidak boleh disejajarkan."
"Kalau demikian"
Ujar Bin ciangkun.
"Dengan mendapat bantuan Ciok-hujin ini, kita bakal menang total dan selanjutnya boleh makan tidur tanpa kuatir apa-apa."
"Ya memang begitulah!"
Go Kiok-kan mengumpak.
"Dalam hal ini bantuan besar Go siansing amat kami harapkan."
Timbrung Ang siangkong "Kalau bukan bantuan Go siansing, masakah Ciok-hujin sudi kerja sama dengan manusia kasar seprti kami ini."
"Tepat, setelah segala usaha besar kita berhasil dengan gemilang, dari atas sang raja, ke bawah sampai aku dan Ang siangkong kita semua takkan melupakan budi bantuan Go siansing yang berharga."
"Cayhe rakyat jelata, dapat berkata demi kejayaan negara dan ketentraman negeri, sungguh amat bangga dan bersyukur."
Go Kiok kan pura-pura merendahkan diri.
Gadis baju merah ikut menimbrung "Kau tak usah pura-pura sungkan jikalau usaha kali ini berhasil, bukankah kau hendak mohon jabatan kepada Bin ciangkun atau Ang siangkong supaya akupun bisa mengecap kehidupan mewah dan senang tentram."
"Jangan kuatir, bila usaha kita berhasil, kau bakal menjadi nyonya besar kelas satu."
Puji Ang-singkong.
Lalu terdengar gelak tawa kegirangan mereka disusul suara sentuhan cangkir.
Sampai kini, semakin mendelu dan tenggelam rasa sanubari Coh Liu hiang.
Baru sekarang mereka mendapat tahu bahwa Go Kiok kan memang ada intrik dengan Ciok koan im malah dia pula yang menjadi kurir antara pemberontak kerajaan Kui-je dengan Ciok koan im.
Dengan susah payah baru orang-orang ini berhasil merebut kedudukan raja Kui je, dengan intrik tersembunyi ini, secara tidak langsung mereka sudah angsurkan kedudukan dan segala kepentingan negeri Kui je kepada Ciok Koan im dan Go Kiok kan.
Manusia seperti Go Kiok-kan sudah tentu tujuannya bukan melulu pangkat dan kemewahan, seumpama dia menjadi perdana menteri, diapun takkan bisa duduk dengan tenang.
Cuma dalam keadaan kalut begini, bagaimana pula kedudukan Mutiara hitam?
Sejak kecil dia dibesarkan di padang pasir, memangnya dia terhitung anak buah Ciok koan im?
Kini Ciok-koan im akan segera datang, nasib Coh Liu Hiang bertiga, mungkin segera akan diputuskan.
Mendadak Ki Ping yan berkata "Coh Liu hiang, biasanya kau amat yakin, kali ini kau pikir apa kau bisa keluar dengan tetap hidup?"
Coh Liu hiang tersenyum, katanya "Beberapa kali tajam golok orang sudah mengancam tenggorokanku, aku toh masih bisa hidup sampai sekarang."
Ki Ping yan tertawa getir katanya.
"Coh Liu hiang, Coh Liu hiang! sampai kapan baru kau akan putus asa?"
"Bila orang belum memenggal kepalaku selamanya aku takkan pernah putus asa!"
Sekonyong-konyong terdengar pekik elang, disusul suara keresekan, ramai yang menggetarkan bumi semakin mendekat.
"Nah, itu datang!"
Setitik merah bersuara dalam kegelapan. Ciok koan im ternyata juga menumpang kapal setan itu seperti ini, ujar Ki Ping yan.
"Kukira kapal ini kemungkinan besar juga pemberian Ciok koan im."
Coh Liu hiang utarakan dugaannya.
Tengah mereka bercakap-cakap, agaknya kapal itu sudah mendekat dan akhirnya berhenti suara langkah di atas dek bergerak, Go Kiok kan dan lain agaknya keluar menyambut.
Tahu Ciok koan im sebentar akan naik ke atas kapal ini, Coh Liu hiang bertiga seolah olah dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan mistik jantungnya berdetak keras, mulutpun tak berani bicara lagi.
Terdengar suara gadis baju merah itu berkumandang "Tecu Tiangsun Ang, menghadap Hujin."
Dugaan Coh Liu hiang memang tepat gadis itu ternyata adalah murid Ciok koan im, bahwa Ciok koan im mau mengawinkan muridnya kepada Go Kiok kan agaknya Go Kiok kan ini memang mempunyai asal usul yang luar biasa.
Tak lama kemudian langkah kaki beralih memasuki ruangan.
Suara Ang siangkong sekarang yang berkumandang "Wanseng sudah lama kagum dan memuja kewibawaan Hujin tak nyana hari ini dapat bertemu, sungguh....
sungguh menyenangkan."
Biasanya orang ini fasih berbahasa Han dan omongannya cakap lincah tapi untuk mengucapkan beberapa patah kata ini dia harus tarik nafas beberapa kali demikian pula Bin ciangkun, mulutnya tergagap tak mampu mengeluarkan suara marah.
Kedua orang ini sudah biasa menghadapi berbagai persoalan dan pergaulan luar diantara orang berpangkat tinggi namun berhadapan dengan Ciok kan im masih kelihatan begitu tegang dan gugup, dari sini dapatlah dibayangkan bahwa Ciok koan im memang teramat cantik agung melebihi bidadari sehingga orang tak berani memandangnya secara langsung.
Setelah kata sanjung puji dan basa basi umumnya, maka terdengarlah sebuah suara merdu mengasikkan selicin suara halus berkata pelan-pelan dengan tertawa "Takdir menentukan kalian berdua bakal menjabat kedudukan tinggi kelak masih bisa menanjak lebih tinggi, orang macam apa aku ini, kenapa kalian sungkan, membuat aku rikuh dan tidak tahu dimana harus menempatkan diri."
Suara ini agaknya tepat berada diatas kepala Coh Liu hiang.
Terbayang oleh Coh Liu hiang perempuan secantik bidadari misterius laksana iblis jahat, kini sedang duduk di atas kepalanya sungguh betapa perasaan sanubarinya, ingin rasanya segera menerjang naik ke atas ingin dia melihat iblis diantara bidadari, bahwasanya tokoh macam apakah dia punya kekuatan mistik apa pula.
Terdengar Bin ciangkun buka suara "Apakah Hujin ada bawa Ki loh ci sing sekalian?"
Ciok koan im balas bertanya "Apakah Bin ciangkun sudah tahu rahasia dari Ki loh ci sing itu?"
"Be... Belum tahu!"
"Kalau Bin ciangkun tidak tahu rahasianya, permata itu paling-paling sebutir perhiasan mahal, meski aku hadiahkan kepada ciangkun apa pula manfaatnya bagi ciangkun?"
Agaknya Bin ciangkun tercengang melongo.
Lekas Ang sianseng unjuk tawa, selanya "Tapi wanseng beramai sama tahu, bila permata itu jatuh ke tangan raja lalim itu, nilainya tentu jauh berbeda, maka menurut hemat Wanseng Ki loh si cing sekali-sekali jangan sampai terjatuh ke tangan raja lalim."
Ciok koan im tersenyum katanya "Tapi aku sudah berkeputusan untuk bertukar dengan raja lalim itu."
Agaknya Ang siangkong dan Bin-ciangkun sama terkejut, teriaknya "Wah.... sekali kali jangan dilakukan!"
Dengan tertawa Go Kiok kan segera menimbrung "Kalian tak usah kaget, Hujin serahkan Ki loh ci sing kepada raja lalim itu, dengan tujuan tersendiri."
"Ada... tujuan lain apa?"
Tanya Bin ciangkun penasaran.
"Karena dikolong langit ini, hanya raja lalim itu saja yang tahu akan rahasianya sampai matipun dia tak mau membocorkan rahasia ini, untuk tahu akan rahasianya terpaksa harus tunggu bila raja lalim itu sudah mendapatkan kembali ...."
Ang siangkong paham selanya "Sekarang keadaannya sudah kepepet begitu mendapatkan barangnya kembali, tentu dia akan segera melihatnya, tatkala itu kita secara diam-diam menguntit dan mengawasinya, tentu akhirnya dapat pula kita ketahui rahasianya.
"Ang Siangkong memang seorang pintar", puji Go Kiok kan Bin ciangkun bergelak tertawa, serunya "Di sekeliling raja lalim itu kini sudah tiada jago kosen yang melindunginya, sembarang waktu kita tetap bisa merebut kembali Ki loh ci sing itu.... hahaha! Akal bagus!"
Sampai di sini tiba-tiba ia merandek sesaat baru melanjutkan "Untung kita belum sampai membunuhnya, kalau tidak bukankah rahasia ini bakal ikut terkubur bersama dia, agaknya rejeki kita masih tetap mujur."
Tiangsun-Ang sebaliknya cekikikan pula, katanya "Kau kira kami betul-betul tidak mampu menggorok lehernya?
Kalau Hujin betul-betul ingin mencabut jiwa raja lalim itu, seumpama dia punya sepuluh kepala, sejak lama sudah protol semuanya."
Kata-kata ini membuat Coh Liu hiang bertiga yang berada di dasar perahu sama tertegun Ang siangkong dan Bin ciangkun agaknya lebih terkejut sampai mulut seperti tersumbat.
Rada lama kemudian baru Ang siangkong bersuara tersendat "Kalau demikian, kenapa Sianseng mengudal yang mengundang para jago-jago pembunuh itu?"
Go Kiok kan menjawab dengan tersenyum "Ku undang jago-jago pembunuh itu hanya untuk menggertak dan membuat raja lalim itu ketakutan, seorang bila merasa jiwanya terancam bahaya, ada kalanya tanpa disadarinya membeberkan rahasia pribadinya yang biasanya tak mungkin diketahui orang lain karena bila rahasia itu ada sangkut pautnya dengan sanak familinya masakah dia mau membawanya ke liang kubur?"
Tiangseng Ang menambahkan "Siapa nyana mulut raja lalim ternyata serapat tutup botol, meski menghadapi mara bahaya segawat dan segenting apapun, tetap dia tak mau memberi tahu rahasia itu kepada siapapun, sampaipun terhadap putri atau orang-orangnya yang terdekat diapun tak mau membocorkan."
Sampai disini tak urung Coh Liu hiang tertawa getir, katanya "Tak heran beberapa kali Kui je ong hidup kembali dari berbagai ancaman mara bahaya orang memang tidak ingin mencabut nyawanya, kita jadi ikut tegang dan bekerja mati-matian, tak kira hanya terjebak dan tertipu mentah-mentah!
Sekonyong-konyong terdengar Ciok koan im tertawa katanya "Bisa bikin Maling kampiun yang kenamaan di seluruh jagat tertipu, sungguh bukan pekerjaan gampang"
Orangnya berada di atas, tapi suaranya seperti diucapkan di sisi telinga Coh Liu hiang betapa kuat tenaga dalamnya, suaranya bisa dia bulatkan.
Hari Coh Liu hiang kaget, mulutnya malah tertawa ujarnya "Masa hujin tidak pandang cayhe terlalu tinggi, Cayhe sudah biasa tertipu!"
"Kenapa Maling Kampiun begini sungkan? Musuh-musuh tangguh yang pernah kuhadapi memang tidak sedikit diantaranya adalah tokoh-tokoh kosen tapi bicara soal kepintaran kecerdikan dan tingkat kepandaian silatnya, sungguh tiada seorangpun yang bisa dibandingkan Maling kampiun."
"Jikalau Cayhe betul-betul begitu hebat seperti apa yang Hujin katakan masakah sekarang bisa terima meringkuk di bawah kaki hujin?"
"Maling kampiun perlu tahu, keadaan seperti dirimu sekarang, malah ada orang yang suka mencoba tapi tak bisa mendapatkannya. Ki Ping yan menjengek dingin "Iblis perempuan ini hendak memancingmu dengan obrolannya, mungkin dia sudah ketarik kepadamu apakah kami bisa lolos dan hidup, nah tergantung kepada permainan romanmu!"
Sudah tentu kata-katanya ini diucapkan dengan suara lirih yang paling lirih, Coh Liu hiang masih kuatir terdengar oleh Ciok koan im, lekas dia tukas dengan kata-katanya yang keras "Bisa meringkuk di bawah kaki perempuan cantik, meski senang dan memalukan, cuma sayang meski Cayhe ingin berhadapan muka dengan Hujin, kejadian justru berputar-putar, harapan selalu tak tercapai."
Agaknya Ciok koan im menangkap kata-kata orang yang menyindir, diam sesaat lamanya, baru dia bersuara pula "Kau ingin bertemu dengan aku?"
"Harapan tak tercapai nasib selalu mempermainkan orang!"
"Kau tak usah khawatir, pasti aku kan beri kesempatan kepadamu untuk bertemu dengan aku."
"Sekarang?"
"Kenapa kau tak punya kesabaran?"
"Bukan tidak sabar, soalnya Cayhe khawatir jiwaku takkan hidup selama itu."
"Kau akan hidup sampai pada waktunya."
Mendadak Go Kiok kan menimbrung dengan keras "Dia takkan hidup selama itu"
"Siapa bilang?"
Jengek Ciok koan im dingin. Go Kiok kan menarik napas panjang, katanya "Masakah Hujin belum pernah dengar, membiarkan bisul menimbulkan penyakit, jikalau....."
Beringas suara Ciok koan im, bentaknya "Memangnya aku perlu kau peringatkan?"
Go Kiok kan tak berani bicara lagi. Lekas Ang siangkong batuk-batuk kering dua kali, katanya unjuk tawa dibuat-buat "Jikalau tiada kepentingannya, lebih baik memang ketiga orang dilenyapkan saja."
Suara Ciok koan im kembali sabar dan menderu "Seorang ahli gambar bila selesai mengerjakan buah karyanya tanpa ada orang yang menikmatinya, dia akan merasa buah karyanya tak berharga, seolah-olah segala jerih payahnya selama itu sia-sia, benar tidak?"
Sudah tentu Ang siangkong tidak bisa menangkap makna ucapannya, ia diam saja tak berani menjawab.
Seorang biduan kenamaan yang sedang bernyanyi, bila tiada orang yang mendengarkan kebagusan suaranya, diapun akan merasa tiada artinya bernyanyi, benar tidak?
Ang siangkong hanya berdehem saja.
"Kita melakukan sesuatu pekerjaan harus seperti ahli gambar atau seorang biduan, perlu dinikmati atau dirasakan oleh orang akan hasil karya kita yang jelas bukan usaha sembarang usaha."
"Benar, kita harus bekerja secara teliti dan menghasilkan buah tangan yang benar-benar dapat dinilai secara umumnya."
Puji Ang siangkong mengumpak.
"Oleh karena itulah kita perlu pertahankan jiwa mereka, supaya mereka hidup melihat hasil gemilang usaha kita yang luar biasa lukisan antik baru bisa dinilai oleh seorang ahli, lagu bagus juga hanya bisa dinikmati atau dinilai orang semacam Coh Liu hiang si Maling kampiun saja, benar tidak?"
"Benar"
Sahut Ang siangkong tepuk tangan.
"Pendapat Hujin memang hebat siapapun takkan bisa menandingi. Go Kiok kan menyela pula "Tapi, tapi orang ini....."
"Tak perlu kau banyak bicara."
Sentak Ciok koan im.
terhadap siapapun tutur katanya lemah lembut dan sungkan cuma terhadap Go Kiok kan sedikitpun ia tidak memberi hati, bersikap kasar dan pemberang ternyata Go Kiok kan mandah dibina dan menurut saja, sambil tunduk ia mengiakan.
"Kalau demikian, tiga orang di bawah itu hendak ku bawa pulang serta, entah bagaimana pendapat kalian?"
"Cayhe sih terserah saja bagaimana keputusan Hujin, sahut Ang siangkong.
"Kalian tak usah khawatir aku pasti mengawasi mereka dengan hati-hati."
Setelah menahan sabar dan menekan gejolak hatinya, hampir saja Oh Thi hoa jatuh sakit, entah berapa banyak arak sudah dia habiskan anehnya ternyata semakin minum pikirannya semakin jernih dan sadar.
Hari ini bakal berselang pula, tak henti hentinya Oh Thi hoa berkeluh kesah gumamnya "Coh Liu hiang ulat busuk kenapa kau masih belum pulang memangnya kau kebentur setan.
Diluar tahunya bahwa Coh Liu hiang memang kebentur setan.
Sekonyong-konyong kerai tersingkap tahu-tahu Piop kongcu menerjang masuk.
Penasaran Oh Thi hoa selama ini memangnya tiada sasaran untuk melampiaskan, segera ia papak kedatangan orang dengan gerungan marah "Kutanya kau, kau ini tahu aturan tidak?
Dengan dingin Pipop kongcu mengawasinya jengeknya "Aturan apa?"
"Kau ini gadis rupawan yang bakal kawin, memangnya tidak tahu sopan santun pergaulan. Mau masuk ke kamar orang kan harus ketuk pintu dan permisi?"
"O, oh.. kiranya kau dulupun pernah belajar membaca buku-buku kuno."
"Pujian belaka."
Sahut Oh Thi hoa menggendong kedua tangan."
Pipop kongcu menarik muka jengeknya sinis "Cuma kau sudah lupa keadaanmu sekarang."
"Keadaan kenapa?"
Tanya Oh Thi hoa melotot.
"Sekarang kau adalah tawanan kita, hakekatnya aku tidak perlu sungkan terhadap kau."
Lama-lama Oh Thi hoa melotot mengawasi orang, tiba-tiba ia tertawa lebar, katanya "Laki-laki sejati tak sudi perang tanding dengan kaum hawa, kau sendiri yang mengatakan hal itu, ya anggap habis saja, jikalau orang lain yang bilang, hehe!
Akan ku bikin dia merangkak keluar dari sini!"
Ia jatuhkan badannya ke arah pembaringan, dengan selimut ia tutupi kepalanya, tak perduli pula kehadiran orang.
"Kau hendak pura-pura mampus?"
Damprat Pipop kongcu naik pitam.
"Bangun!"
Oh Thi hoa terbahak-bahak dalam selimut, serunya "Aku ingin tidur ya tidur, mau bangun sesuka hatiku, siapapun jangan urus diriku."
Pipop kongcu membanting kaki maju selangkah dengan keras ia tarik selimut. Oh Thi hoa berkaok-kaok "Aku bukan ular busuk lho, jangan kau salah mencari orang."
Merah muka Pipop kongcu, suaranya kedengaran lembek katanya "Permaisuri hendak bertemu dengan kau ayo bangun, lekas ikut aku!"
Oh Thi hoa melengak sigap sekali ia berjingkrak bangun, tanyanya.
"Permaisuri memanggil aku? Untuk apa dia ingin bertemu dengan aku?"
"Biasanya dia tidak suka menemui orang, kini beliau hendak menemui kau, tentunya ada urusan penting."
Berputar biji mata Oh Thi hoa, katanya tertawa "Kalau dia ada keperluan dan ingin menemui aku, suruhlah dia kemari, mulut bicara kembali ia menjatuhkan diri ke atas pembaringan.
Pipop kongcu membanting kaki dengan kesal katanya "Kau...
kau ini laki-laki malas seperti tak punya tulang?"
Oh Thi hoa angkat kedua kakinya, serunya "Jangan lupa dia yang ada perlu dengan aku suruh dia kemari menemui aku."
Pipop kongcu kertak gigi, mendadak menjengek dingin.
"Aku tahu sudah memangnya kau merasa berdosa, tak berani berhadapan dengan beliau?"
Belum habis kata-katanya Oh Thi hoa sudah mencelat bangun, serunya geram "Aku punya dosa apa? Kenapa aku tak berani menemui dia?"
Pipop kongcu menahan geli katanya.
"Kalau kau punya keberanian, hayo ikut aku."
Perkemahan tempat tinggal permaisuri Kui je ong sungguh jauh lebih mewah dan megah dari apa yang dibayangkan Oh Thi hoa.
Dalam perkemahan tercium bau kayu cendana, bau obat begitu wangi dan harum sampai orang rasanya susah bernapas.
Didalam kelambu yang penuh dihiasi mutiara permaisuri Kui je ong setengah duduk tiduran kelihatannya amat lemah dan sakit-sakitan.
Meski terhalang kain kelambu, tapi kelihatan wajah dan sikap agungnya yang cantik rupawan tak berani orang memandangnya dengan tatapan kejam Oh Thi hoa sendiripun merasa dirinya terlalu kerdil dan serba runyam di hadapan orang.
Permaisuri tersenyum, katanya "Badan yang sakit-sakitan ini, tak bisa turun ke tanah, harap Kongcu tidak berkecil hati!"
Oh Thi hoa membasahi tenggorokan dengan ludahnya, lalu berkata "Tak... tak usah sungkan."
Permaisuri menghela nafas, ujarnya "Peristiwa kemarin malam, sungguh harus disesalkan."
Menyinggung peristiwa itu, seketika Oh Thi hoa naik pitam, jengeknya dingin "Apa permaisuri hendak mengompes keteranganku? Maaf Cayhe tidak sudi didakwa,"
Sembari bicara ia putar badan hendak pergi. Permaisuri malah tertawa, katanya "Tunggu sebentar, silahkan Kongcu duduk, jangan curiga."
"Bukan aku yang curiga kalianlah yang sembarang menuduh."
"Kami memang salah faham terhadap Kongcu, kesalahan kami memang kami sendiri yang melakukan, harap Kongcu memaafkan."
Oh Thi hoa melengak, tanyanya "Kalian sudah tahu bahwa bukan aku yang melakukan?"
"Pembunuhnya sudah tentu bukan Kongcu, kalau tidak masakah Kongcu masih tinggal di sini? Jikalau Kongcu ingin pergi, siapa yang mampu menahan aku?"
"Disaat hatiku sebal dan penasaran karena fitnah yang semena-mena ini, tiba-tiba aku berhadapan dengan orang yang tahu duduknya persoalan, sungguh membuat hati amat riang dan gembira."
"Apa Kongcu sekarang masih marah?"
Tanya Permaisuri.
"Seharusnya Cayhe memang harus marah, tapi Permaisuri berkata demikian, aku jadi rikuh!"
"Kongcu ku undang kemari, memang ada persoalan penting yang hendak mohon bantuan."
"Apa yang permaisuri ingin lakukan, bila aku memang mampu ke air atau ke api aku takkan menolak."
"Kongcu berbudi luhur dan berjiwa ksatria sudilah terima hormatku."
Tiba-tiba Oh Thi hoa sadar, dalam perkemahan ini hanya tinggal dirinya dengan Permaisuri saja yang berhadapan, Pipop kongcu dan para dayang entah kapan sudah mengundurkan diri d luar tahunya.
Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar seperti dampratan ombak samudra, seolah-olah terasa olehnya, permaisuri didalam kelambu sedang unjuk senyuman genit kepadanya.
Seketika dia memaki diri sendiri dalam batin "Kenapa hari ini aku jadi begini hidung belang, orang menghadapiku sebagai kesatria, jangan sembarang ngelamun ke persoalan yang tidak-tidak."
Segera ia berkata lantang.
"Permaisuri tak usah sungkan, ada petunjuk apa silahkan katakan saja."
"Entah Kongcu masih ingat, besok adalah waktu perjanjian kita dengan mereka, untuk menukar Ki loh ci sing, entah Kongcu Sudi?"
Meski Oh Thi hoa sekuatnya menekan perasaannya, tapi entah mengapa mendadak terbayang olehnya, adegan ranjang pada malam pertama waktu pernikahannya tempo hari.
Permaisuri di depan kelambu di depannya ini seakan akan mirip benar dengan ........
Oh Thi hoa tak berani memandang tak berani membayangkan lagi, katanya lantang "Jadi permaisuri ingin supaya aku menukar Ki loh ci sing itu?"
Permaisuri menghela nafas, katanya "Kami sekeluarga terpaksa harus hijrah kemari menteri memberontak sanak kadang berpisah sungguh terpaksa kami harus bikin kongcu terlibat oleh urusan tetek bengek ini, hatiku sungguh tak bisa tentram."
Berkata Oh Thi hoa dengan gagah "Jikalau Cayhe tak bisa menukar balik Ki loh ci sing itu, dengan senang hati aku suka kerahkan batok kepalaku ini."
"Kongcu begitu luhur dan bajik sungguh aku....aku.... suaranya seperti sesenggukan dan terputus di tenggorokan. Tiba-tiba dari balik kelambu ia ulurkan sebelah tangannya yang halus dan lembut seperti tak bertulang, di bawah penerangan api lilin, tampak jari-jarinya yang runcing halus rada gemetar, tak ubahnya seperti sekuntum kembang yang sedang meronta ditengah hujan badai, jikalau tiada orang yang melindunginya, sebentar lagi pasti tersapu hilang oleh hujan badai. Seketika Oh Thi hoa rasakan darah mendidih, kepalanya terasa berat dan pandangannya menjadi remang-remang, waktu otaknya kembali menjadi jernih, tiba-tiba terasa entah bagaimana tahu-tahu dirinya sudah memegang kencang jari-jari orang. Ternyata Permaisuri tidak tarik tangannya tidak menghindar, cuma suaranya gemetar "Keberangkatan Kongcu harus hati-hati, aku percayakan segalanya kepada Kongcu."
Terasa jantungnya hampir melompat keluar dari rongga dadanya, Oh Thi hoa jadi bingung apakah dia harus segera melepaskan pegangan tangannya, mulutnya terkancing tak tahu apa pula yang harus dia katakan.
Terasa jari-jari permaisuri malah menggenggam kencang tangannya, katanya "Kecuali itu aku masih punya urusan pribadi yang ingin ku sampaikan kepada Kongcu."
Oh Thi hoa merasa kepalanya pening tujuh keliling, tanpa pikir ia berkata keras "Cayhe tadi sudah bilang, asal urusan menyangkut kepentingan permaisuri matipun Cayhe pasti akan melaksanakannya."
"Aku hanya memohon bantuan Kongcu untuk mencari tahu rahasia sebenarnya dari Ki loh ci sing itu."
"Beberapa tahun sudah aku sebagai permaisuri Ongya, hubungan kita memang boleh dikata amat intim dan erat lahir batin, tapi hanya persoalan inilah dia tidak mau beritahu kepadaku."
Oh Thi hoa berpikir sebentar, ujarnya "Kalau permaisuri sendiri tidak diberi tahu masakah Ongya sudi memberi tahu rahasia itu kepada Cayhe?"
"Sejak jaman dulu kala, secara tradisi kerajaan Kui je yang terdahulu pasti meninggalkan harta tersembunyi yang tak terhitung nilainya, biasanya tiada orang yang menyentuhnya bila mana kerajaan benar-benar mengalami krisis dan terancam keruntuhan baru harta terpendam itu boleh digunakan untuk membangkitkan kembali kerajaan soal dimana harta itu disembunyikan, kecuali rajanya sendiri yang mewarisi kedudukan tiada orang lain yang tahu."
"Jadi permaisuri berpendapat bahwa rahasia dari Ki loh ci sing ada sangkut pautnya dengan harta terpendam itu?"
"Tentunya begitu!"
"Kalau demikian, mungkin Ongya takkan memberi tahu rahasia itu kepadaku."
"Tapi dengan kekuatan Ongya seorang diri jelas takkan mungkin dapat mengeduk harta terpendam yang berjumlah besar itu benar tidak?"
"Ya, memang begitu!"
"Bukan saja memerlukan tenaga manusia untuk mengeluarkan, perlu tenaga orang pula untuk melindunginya, ya tidak?"
"Kembali Oh Thi hoa mengiakan.
"Tadi sudah kukatakan!"
Ujar permaisuri lebih lanjut, Sekarang Ongya tidak punya seorangpun pembantu yang boleh diandalkan, terutama tiada orang yang benar-benar mampu bantu dia untuk melindungi harta terpendam itu!
"Permaisuri beranggapan, bahwa Ongya mungkin bisa minta tolong kepadaku untuk melindungi harta itu?"
"Kukira demikian!"
Oh Thi hoa tertawa getir, katanya "Kalau Ongya benar-benar percaya kepadaku, dia tidak akan memfitnah aku sebagai pembunuh putrinya."
"Memang Ongya sedikit salah faham terhadap kongcu, tapi bila Kongcu berhasil membawa pulang Ki loh ci sing, pandangannya terhadapmu tentu berubah, apalagi kecuali Kongcu seorang, tiada orang yang boleh dipercaya."
"Adakah permaisuri tahu, bahwa Ongya jauh lebih percaya terhadap temanku itu daripada kepadaku."
"Bukankah sejak tadi Cayhe sudah berjanji?"
"Jikalau Ongya minta atau suruh Kongcu bersumpah merahasiakan hal itu?"
Berpikir sebentar Oh Thi hoa tertawa katanya "Tapi Cayhe sudah berjanji lebih dulu kepada permaisuri ya tidak?"
Sudah tentu hal ini tiada melanggar aturan dan menyeleweng dari kebiasaan jikalau orang lain, tentu tidak akan mau terima, tapi Oh Thi hoa selamanya memang tidak pernah memikirkan aturan atau kebiasaan segala persetan bahwa tindakannya itu menyeleweng?
Asal dia berpendapat apa yang dia lakukan benar dan pantas dia selesaikan, maka harus dia laksanakan, demikian sekarang ini, dia berpendapat bahwa permaisuri dari negeri Kui je ini adalah perempuan tercantik yang paling baik hati di seluruh jagat ini, sebaliknya Ongya adalah keparat dan manusia dogol, jikalau demi seorang baik untuk menipu seorang dogol, bukankah hal ini patut dibanggakan dan sudah jamak, cukup masuk akal dan tidak melanggar aturan?
Soal untuk apa permaisuri Kui je ini begitu besar hasratnya ingin mengetahui rahasia itu?
Hakikatnya tidak pernah terpikir dalam benak Oh Thi hoa sudah tentu diapun segan mengajukan pertanyaan.
Tepat tengah hari, terik matahari seperti bara api yang memanggang kulit.
Tepat tengah hari, terik matahari seperti bara api yang memanggang kulit.
Oh Thi hoa membawa tiga ekor unta, langsung dibedal ke arah barat.
Kepalanya memang dibungkus udeng-udeng kain putih yang tebal dan tinggi, namun rasa kepalanya masih puyeng dan kering oleh terik matahari, tiga orang Busu negeri Kui je yang mengiringi perjalanannya, meski ilmu silatnya bukan tandingannya tapi mereka sudah kulino menjadi kafilah di padang pasir bukan mereka sudah tergembleng dan ditempa sekeras besi baja, sekilas pandang keadaan mereka malah jauh lebih segar dan adem-ayem.
Oh Thi hoa menghela nafas, mulutnya menggumam "Agaknya aku terlalu banyak tenggak air kira-kira, kalau tidak kenapa begitu kena terik matahari kepala lantas pening seperti gadis pingitan yang tak pernah dihembuskan angin kalau keadaan seperti ini, dilanjutkan apakah akan tahan?"
Sebetulnya lantaran semalam dia memandang terlalu letih dan banyak mengurus tenaga, bukan saja kebanyakan minum arak, malah semalam suntuk boleh dikata dia tak pernah istirahat terlalu banyak main ranjang maka seluruh kekuatan dan energi badannya terbuang sehingga kondisi badannya sekarang terlalu lemah.
Sebetulnya semalam pagi-pagi benar dia sudah mapan tidur tapi bila teringat olehnya malam pertama dalam hari pengantinnya itu, terbayang sepasang tangan dan badan yang halus merah laksana bidadari itu dia jadi gundah bolak-balik tak bisa pulas, semakin dipikir-pikirkannya semakin melayang dan memikirkan yang muluk-muluk, perempuan secantik dan begitu rupawan namun dia masih bisa pula mengeritik pribadinya sendiri sebagai hidung belang yang kemaruk paras cantik.
Tapi entah mengapa permaisuri raja yang cantik itu seolah-olah adalah kekasih mainnya diatas ranjang yang selalu dia rindukan dan impi-impikan, tidak mungkin otaknya tidak membayangkan bentuk badan yang menggiurkan dan genit serta mempesonakan itu.
Biasanya watak Oh Thi hoa tidak seiseng ini belakangan malah dia menghibur hari sendirian "Kemungkinan aku sudah mulai ketularan Ulat busuk yang serba romantis itu!"
Tapi serta teringat kepada Coh Liu hiang si maling romantis, seakan tidak bisa tidur Coh Liu hiang sudah pergi dua hari, bukan saja tidak pulang, malah sedikit khabarnya pun tiada, apakah dia sudah dicelakai oleh pembunuh misterius bersama Ki Ping yan?
Selayang pandang gurun pasir nan luas tak berpangkal ujung, tidak kelihatan ada kehidupan di sini, tiada manusia, binatang, burung ataupun mega dan anginpun seolah sudah tak ada di sini.
Ada kalanya paling muncul satu dua ekor kadal padang pasir yang berukuran lebih besar tapi bentuk dan coraknya begitu memualkan, merambat dicelah-celah batu, merambat ke dekat kaki unta, tapi kehadirannya malah menambah suasananya seram dan bawa kematian.
Kepalan kanan Oh Thi hoa menghantam telapak tangan kiri, gumamnya "Seumpama Ulat busuk dan jago mampus, mereka takkan ngelayap dan tamasya ditengah gurun pasir yang begini terik ini, mereka sama-sama tidak pulang.
Jikalau mereka tidak pulang tentu mengalami sesuatu yang membahayakan.
Tiba-tiba seekor unta dikeprak maju menyusul dirinya, Busu di atas onta berseru "Di depan ada tempat teduh, apa perlu kita mampir kesana istirahat?"
"Berapa jauh kita sudah tempuh perjalanan ini?"
Tanya Oh Thi hoa setelah menepekur sebentar.
"Kira-kira sepuluh li"
Sahut busu itu.
"Baru sepuluh li lantas mau istirahat,"
Ujar Oh Thi hoa mengerut kening "jarak lima puluh li bukankah harus kita tempuh sampai besok pagi?"
Busu itu unjuk tawa, ujarnya "Lima puluh li dalam perjalanan di gurun pasir, seumpama lima ratus li berjalan di tanah pegunungan, Apalagi unta-unta ini dibebani muatan emas yang berharga laksaan tail."
Oh Thi hoa tertawa.
"Apapun yang terjadi sekarang masih terlalu pagi untuk istirahat kita harus tempuh lima puluh li ini sebelum hari menjadi petang angin aku melihat jelas orang yang ingin menukar barang dengan kita itu manusia macam apa tampangnya?"
Mulai bicara segera ia keprak untanya supaya berjalan lebih cepat.
Busu itu menghela napas, katanya seorang diri "Menempuh perjalanan jauh seperti caramu ini, setiba ditujuan, mungkin jiwamu dan jiwa unta itu bakal terjemur kering oleh teriknya matahari, jikalau orang tiba-tiba ingkar janji, coba bagaimana kau hendak menghadapinya?"
Seorang Busu yang lainnya segera menyusul datang, selanya "Bahwasanya tanggung jawab persoalan ini dia sendiri yang memikulnya, dia ingin gagah-gagahan unjuk kekuatan, biarkan saja, tiba pada waktunya bila pihak mereka turun tangan kita boleh menyingkir ke tempat yang jauh."
Busu ketiga berludah dulu baru mencemooh "Orang liar dari selatan ini mengentutpun tidak bisa, berani dia malang melintang ditengah gurun pasir memangnya dia sendiri yang minta digebuk.
Para Busu ini berulang kali kena dipermainkan dan mendapat rugi oleh godaan Coh Liu hiang dan Oh Thi hoa, kini secara diam-diam mereka mengumpat caci dan mengolok-olok cuma bahasa yang mereka gunakan sudah tentu bahasa daerah mereka sendiri, seumpama Oh Thi hoa mendengar percakapan mereka sedikitpun dia tidak tahu arti dari percakapan mereka.
Tapi apa yang mereka perbincangkan memang tidak salah perjalanan lima puluh li di padang pasir di bawah teriknya matahari memang cukup melelahkan dan menyiksa mereka untunglah setelah lohor, sinar matahari sudah mulai tidak seterik sebelumnya.
Waktu matahari terbenam Oh Thi hoa memang hampir saja tak tahu lagi, meskipun dia sudah tenggak beberapa air segar tapi bibir dan mulutnya masih terasa kering dan merekah.
Tak lama kemudian tampak di depan batu-batu runcing laksana hutan mencuat tinggi ke tengah angkasa, didalam keremangan malam yang mendatang, kelihatannya laksana seekor binatang buas yang menyeramkan sedang menyeringai liar, di sana sedang mendekam menunggu mangsanya.
Hati Oh Thi hoa rada dingin, katanya berpaling ke belakang "Sekarang kita sudah menempuh berapa jauh?"
Salah seorang Busu menengadah melihat cuaca sahutnya "mungkin sudah lebih lima puluh li."
"Dalam surat itu sudah dijelaskan ke arah barat lima puluh li, tentu ada orang akan menyambut kalian untuk barter dengan barang-barang yang cocok dengan permintaan, kalau begitu biar kita tunggu saja di sini! Kita tunggu mereka datang, sekaligus untuk istirahat memupuk tenaga, boleh kalian lihat, nanti akan kuberi mereka hajaran setimpal"
Busu itu berkata kalem "Jikalau sebaliknya mereka yang sudah menunggu di sini berbalik kita yang akan digasak dan dihajar habis-habisan oleh mereka."
Oh Thi hoa melengak, katanya tertawa "Ucapanmu memang masuk akal, ya kita harus hati-hati.
"Busu itu semakin takabur katanya dingin "Tadi sianjin bilang ingin beristirahat sebentar ditengah jalan, maksudku untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan itu."
OH Thi hoa menggosok-gosok hidung, katanya "Watakku memang gugup, jangan kau salahkan aku!"
Memang dia seorang polos dan jujur jikalau tahu dirinya bersalah secara langsung dia suka mengakui kesalahannya betul ya betul, kalau salah harus mengaku salah, perbedaan antara baik dan buruk ini masih bisa membedakan dengan tegas.
Busu itu malah menjadi rikuh, katanya tertawa "Untung kami ada membawa sedikit arak, sedikit banyak bisa membangkitkan semangat dan menggairahkan tenaga!"
"Dimana? seru Oh Thi hoa kegirangan. Si Busu segera angsurkan sebuah kantong kambing, katanya "Inilah arak anggur buat Toa hoan minum sampai mabukpun tidak akan mengganggu kesehatan."
"Aku tahu, sahabatku si Ular busuk itu, justru paling menyukai arak seperti ini"
Segera ia buka sumbatnya terus menuangkan ke mulut dua teguk, katanya setelah menarik napas panjang "Waktu mau berangkat, aku sudah berjanji takkan minum lagi, tapi toh sudah kau bawa arak sebagus ini, hahaha....."
Kembali ia tuang arak anggur itu ke dalam mulut.
Ketiga Busu itu berdiri diam disamping sambil mengawasi tingkah lakunya, begitu pesona dan takjub mereka mengawasi seolah-olah selama hidup mereka belum pernah melihat cara orang minum arak seperti itu.
Sekaligus Oh Thi hoa pindah setengah kantong arak anggur itu ke dalam mulutnya baru dia merasa segar kembali dan puas, dengan lengan bajunya dia seka mulutnya katanya dengan tertawa meringis "Coba lihat arak ini hampir ku tenggak habis, silahkan kalianpun minum dua teguk."
Ketiga Busu negeri Kui je berbareng tertawa menyeringai, bukan saja mimik tawa mereka mirip satu sama lain, waktu buka mulut dan tutup mulutpun bersamaan tiada berdaya, seolah-olah mereka sedang berperan dalam lakon sandiwara di atas panggung.
(Bersambung ke
Jilid 22) Salah seorang yang berdiri ditengah berpaling ke kanan kiri kepada temannya lalu berkata dengan tertawa "Arak sebanyak itu tidak cukup dibagi tiga, lebih baik silahkan Ongya habiskan sekalian!"
"Ah, mana boleh jadi, aku rikuh sendiri seru Oh Thi hoa lantang, Mulutnya berkata demikian, tapi kantong arak itu masih dipegangnya kencang-kencang, bukan saja tidak dia angsurkan, malah kelihatannya dia khawatir orang lain merebutnya. Ketiga Busu saling pandang pula, kali ini mereka tertawa lebih lebar, tawa riang, Busu pertama tadi berkata pula "Kenapa Ongya sungkan-sungkan terhadap kami orang rendahan?"
"Kalau demikian, baiklah aku menuruti keinginan kalian saja."
Seru Oh Thi hoa tertawa lebar.
Sebetulnya dia tidak ingin minum arak Khawatir begitu terlalu banyak minum bisa bikin kapiran urusan, tapi setelah setengah kantong arak anggur masuk ke dalam perutnya cacing dalam perutnya segera bergolak dan ketagihan malah.
Orang yang suka minum arak kebanyakan memang punya penyakit seperti ini, kalau jumlah arak banyak, sedapat mungkin dia menunjuk orang lain untuk ikut minum sepuasnya ingin mencekok orang supaya mabuk.
Sebaliknya kalau araknya cuma sedikit, khawatir orang lain minta bagian.
Ketiga Busu negeri Kui-je dengan berseri tawa mengawasinya menghabiskan sekantong penuh arak anggur itu, belakangan mereka malah berontak gembira, seolah-olah lebih menyenangkan daripada mereka sendiri yang minum.
Kata Oh Thi hoa tertawa sambil menyeka mulut "Arak bagus, arak bagus, cuma sayang bukan saja terlalu sedikit, arak inipun rada tawar."
Ketiga Busu itu cekikikan, sahutnya "Apa Oh ya merasa arak ini rada tawar?"
"Ya, menurut perasaanku minum biar akan lebih segar dan nikmat dari arak ini."
"Tapi biar tidak akan bisa bikin orang mabuk atau mampus."
Oh Thi hoa tertawa lebar "Memangnya rak setawar ini bisa bikin orang mabuk sampai mampus?"
"Tidak bisa mabuk sampai mampus, tapi kira-kira hampir sama."
"Tapi sekantong penuh sudah kuhabiskan, kenapa sedikitpun aku tidak merasakan pening memangnya takaran minumku tambah berlipat ganda?"
Busu itu mendadak tidak tertawa, matanya melotot, katanya "Apa benar sedikitpun Oh ya tidak merasa pening atau mabuk?"
Oh Thi hoa mengerling mata, katanya tertawa "Arak sebanyak ini masa bikin aku mabuk hehe!
Tujuh delapan kantong lagi juga tidak menjadi soal bagiku.
Melotot ketiga biji mata Busu itu, mulut mereka terkancing kencang.
"Kalau kalian tidak percaya, biar kalian lihat dan buktikan apa benar aku ini sudah mabuk."
Bahwasanya dia bisa berkata demikian itu berarti dia sudah mabuk, seorang yang tetap segar bugar dan tidak mabuk selamanya takkan pernah berpikir dalam benaknya untuk membuktikan di hadapan orang lain bahwa dirinya tidak mabuk.
Tapi ketiga Busu itu teramat kejut sampai mulutnya terbuka melompong, matapun terbelalak.
Tampak dengan berdiri limbung pelan-pelan Oh Thi hoa membuat satu garis di tanah berpasir lalu sebuah dengkul ditekuk, dengan sebelah kaki yang lain ia melompat dari sebelah sini ke sebelah sana melewati garis melintang itu.
Dua kali beruntun dia lakukan pulang pergi, lalu katanya tertawa lebar "Kalian sudah jelas, orang yang sudah mabuk masakah mampu bermain lompatan seperti ini?"
Berputar biji mata seorang Busu, katanya tertawa.
"Seorang yang benar-benar tidak mabuk setelah minum arak dia masih mampu bersalto."
"Bersalto? Oh Thi hoa bergelak tawa.
"Apa sih sukarnya?"
Mulut bicara badannya tahu-tahu sudah melambung ke tengah udara dan bersalto dua kali, dengan bekal kepandaiannya yang tinggi, jangan kata cuma bersalto satu dua kali, seumpama tujuh delapan puluh kali, dianggapnya seperti dia makan kacang saja, bisa dan gampang dilakukan.
Siapa tahu baru saja badannya setengah berputar, tiba-tiba melorot turun dan meluncur jatuh "bluk"
Terbanting keras di tanah berpasir sampai melegak-legok ke dalam. Oh Thi hoa geleng-geleng kepala, kucek-kucek mata, ketika menyeringai "Kali ini urat pinggangku nyasar, tidak masuk hitungan."
"Ya, benar, boleh diulang sekali lagi."
Si Busu menganjurkan dengan senang. Oh Thi hoa meronta bangun tertatih-tatih, kembali ia enjot badan dan berusaha bersalto lagi, terdengar "Blak"
Kali ini lebih keras, seolah-olah dari tengah-tengah angkasa tahu-tahu sebuah batu besar melayang jatuh.
Kali ini dia tidak mampu bergerak dan merangkak bangun lagi, katanya meringis "Aneh, kenapa hari ini badanku menunjukkan gejala yang tidak normal?"
Bersinar biji mata Busu itu, tanyanya "Apa Oh ya tahu apa sebabnya?"
"Mungkin terjemur sinar matahari yang amat terik tadi."
"Tidak, bukan!"
Oh Thi hoa miringkan kepala berpikir sebentar, katanya "Mungkin dalam dua hari belakangan aku terlalu penat,"
"Juga tidak benar."
Kau hanya tahu tidak benar, mata Oh Thi hoa melotot.
Kau hanya tahu kentut!
Busu itu tertawa besar, ujarnya "Sudah tentu aku tahu, karena aku sendirilah yang turun tangan memasukkan obat ke dalam arak itu."
"Menaruh obat?"
Oh Thi hoa melongo "Kau taruh obat apa?"
Busu itu berseri tawa ujarnya "Negeri Kui je kita memang negara kecil tapi yang menjadi raja seperti juga kalian, tidak mungkin tidak suka main perempuan benar tidak?"
"Kalau benar kenapa?"
"Oleh karena itu didalam istana kami, juga ada menyediakan semacam obat khusus diperuntukkan menghadapi perempuan-perempuan yang anggap dirinya suci dan gagah perwira, Arak macam itu manis, wangi tapi tawar, tak ubahnya seperti air manis tapi siapapun yang meminumnya, seluruh badan seketika bakal lemas tak punya sedikit tenagapun."
"Jadi, kau.... arak yang kau berikan kepadaku tadi.... itu?"
"Benar, arak yang kuberikan kepada Oh ya tadi adalah arak berobat seperti yang saya katakan tadi, dengan susah payah aku berhasil mencuri sekantong dari dalam. Oh ya malah merasa kurang banyak, kalau minta tambah lagi akupun tak bisa memberi lagi!"
Sekian lama Oh Thi hoa melongo, mendadak ia tertawa lebar, katanya "Aku inikan bukan perempuan suci yang galak mempertahankan kebersihan badannya, bapak kalianpun takkan sudi melihat tampangku ini, kenapa kalian gunakan arak macam ini untuk mencekoki aku, bukankah aku ini celaka dua belas?"
"Konyol, konyol! Ucapanmu itu lucu dan menyenangkan, seseorang yang sudah dekat ajalnya ternyata masih bisa bicara membanyol seperti kau ini, sukar dicari keduanya. Oh Thi hoa semakin lebar tawanya ujarnya "Aku sih belajar kepada si Ular busuk itu, seseorang baru saja jebrol dilahirkan lantas menangis dikala hidup kesempatan untuk ketawa pun belum tentu banyak, maka dikala menjelang ajal bila tidak bergelak tawa sepuasnya tidak sia-sia kau hidup selama ini?"
"Aha Oh ya sudah tahu bahwa jiwamu sudah menjelang ajal?"
"Aku malah tahu bahwa kalian berbuat demikian lantaran mengincar harta di atas onta-onta itu bukan?"
"Tidak nyana otak Oh ya bisa selekas ini sadar dan pikiran menjadi jernih. Tidak salah, memang itulah tujuan kita. Oh ya terusir dari istananya, hidup dan kekuasaannya terhitung sudah ludes, memangnya kita selama hidup harus tetap menghamba kepadanya ditempat setan seperti ini, lebih baik berusaha menggasak harta sebanyak ini untuk modal datang ke tempat lain yang lebih makmur."
"Masuk akal, masuk akal. Tapi masakah tidak kalian pikirkan, bahwa harta itu untuk barter dengan Ciok koan im, bukan mustahil sebentar sudah datang, masakah dia berpeluk tangan saja membiarkan kalian semua membawanya pergi?"
"Apakah Oh ya berpendapat ditempat inikah alamat pertemuan dengan Ciok koan im itu?"
"O, masa bukan di sini?"
"Lima puluh li ke arah barat barulah tempat perjanjian itu, benar tidak?"
"Masa kita belum sampai?"
Busu itu tertawa, katanya "Waktu berangkat memang betul kita menuju ke arah barat, tapi sepuluh li kemudian arah yang kita tempuh sudah berubah, Ditengah gurun pasir seluas ini, sedikit kau keliru menentukan arah, tujuannya menjadi banyak bedanya, tempat ini sedikitnya terpaut tiga sampai dua puluh li dari tempat yang dijanjikan itu.
OH Thi hoa tertawa ujarnya "Tak heran setelah menempuh jalan sepuluh li tadi, kalian lantas minta aku istirahat, jadi waktu itu kalian pada bermaksud mencekoki arak obat itu kepadaku."
"Ya, karena Oh ya tidak mau istirahat, terpaksa kami sengaja membuat salah arahnya, Oh ya anggap kami ini kuda tua yang sudah tahu jalan ditengah padang pasir, dengan hati tentram dan tanpa curiga mengikuti petunjuk dan perjalanan ini, maka kau sendiripun tak pernah memperhatikan arah lagi."
Tertawa senang lalu si Busu menambahkan lagi "Tapi Oh ya tidak perlu menyesal banyak orang sering kesasar ditengah padang pasir."
Seorang Busu yang lain segera menimbrung dengan olok-olok "Lain kali bila Oh ya hendak menitis hidup kembali, lebih baik kau pilih dan tentukan arahnya lebih dulu, jangan sampai sudah menitis ke kandungan, ternyata masuk ke kandang babi, tentu hidupmu bakal penasaran."
Tak pernah terpikir olehnya bahwa dirinya pandai humor dan mengeluarkan kata-kata yang lucu ini, semakin bicara, hati semakin senang dan semakin lucu, tak tahan dia sendiri malah terbahak-bahak sendiri.
"Sekarang kalian sudah siap hendak membunuh aku?"
Tanya Oh Thi hoa.
"Kalau Oh ya tidak dihabisi jiwanya, bila kadar racun dalam badanmu sudah punah tentu kau akan mengudak kita.... ya, apa boleh buat, harap Oh ya suka memaafkan tindakan kita yang terpaksa ini."
Oh Thi hoa memicingkan mata, katanya tertawa "Tapi siapa diantara kalian yang berani turun tangan?"
"Siapa saja diantara kami bertiga yang turun tangan sama saja."
Sahut seorang Busu.
"Kau kira aku ini betul-betul sudah tak punya tenaga? Jangan kalian hendak membunuh aku malah kugorok leher kalian lho."
Sikap Oh Thi hoa semakin adem-ayem.
Sebetulnya ketiga busu itu sudah melangkah maju bersama, mendengar ancaman ini mendadak mereka berhenti, betapa hebat dan kelihaian kepandaian Oh Thi hoa mereka cukup tahu dan sudah pernah merasakan sendiri.
Berkata Oh Thi hoa tertawa "Bukan mustahil kadar racun dalam arak itu tidak selihai yang kalian bayangkan, bukan mustahil arak ini tidak akan banyak manfaatnya untuk seorang lelaki seperti berguna untuk melumpuhkan seorang perempuan, benar tidak?"
Ketiga Busu itu jadi beradu pandang, batinnya "Benar, bukan mustahil dia masih membekal sedikit tenaga, kalau tidak masakah dia masih mampu bicara dan tertawa begitu riang gembira?"
"Baiklah, sekarang siapa diantara kalian yang berani turun tangan, silahkan maju!"
Tantang OH Thi hoa malah. Kembali ketiga Busu berpandangan, tiada seorangpun yang berani tampil ke muka.
"Menurut pendapatku."
Ujar Oh Thi hoa tertawa lebar.
"Lebih baik lekas kalian bawa harta benda itu dan melarikan diri sipat kuping saja"
Seorang busu tiba-tiba berkata "Jikalau orang ini masih punya tenaga, masakah dia sudi membiarkan kita membawa harta benda itu pergi?"
"Benar."
Teman-temannya bertepuk kegirangan.
"Tentu dia sedang menggertak kita."
Orang ketiga bergelak tawa, serunya "Kau ingin aku turun tangan, biarlah aku lakukan!"
"Sret"
Dari pinggangnya ia loloskan golok sabit, sekali golok yang kemilau itu sudah terangkat ke atas, agaknya dia benar-benar hendak menabas kutung batok kepala orang seperti membela semangka.
Walau Oh Thi hoa masih tertawa, tapi tawanya sudah dipaksakan, mendadak ia berkata pula "Untuk seorang diri memang harta benda itu cukup untuk foya-foya seumur hidup, tapi kalau dibagi tiga...
hehe.
Masakah kalian tidak merasa terlalu sedikit bagiannya nanti?"
Selama hidup pernah dia melakukan perbuatan adu domba, kini dalam keadaan gawat, terpaksa dia gunakan akalnya, harapannya ketiga orang sudah saling gasak dan membunuh sendiri sebelum dirinya ajal.
Tak nyana Busu itu malah terloroh-loroh serunya "Seumpama kita masing-masing ingin melalap sendiri harta sebanyak itu, sekali-kali tidak akan saling bunuh lebih dulu di hadapanmu, sehingga kau punya kesempatan melarikan diri, kukira tiada manusia setolol itu dalam dunia ini."
Busu yang lain terkekeh kekeh pula, katanya "Agaknya Oh ya sudah terlalu kenyang mendengar dongeng."
Dengan tertawa mengira orang ketiga sudah ayun goloknya pula membacok, serunya "Tertawalah kau, jikalau sekarang kau masih mampu berseri tawa, sungguh aku kagum kepadamu!"
Mendadak suaranya tersendat seperti tenggorokannya tersumbat sehingga napasnya sesak golokpun teracung tinggi ditengah udara tak mampu diayunkan ke bawah.
Karuan temannya mengerutkan alis, katanya "Melongo apa kau, hati tidak tega?"
"Kapal....."
Seru Busu itu terkesima "Aku melihat sebuah kapal."
"Kapal?"
Busu yang lain tertawa geli, padang pasir masa ada kapal, mungkin matamu .....
mimik tawanya tiba-tiba menjadi kaku, matanyapun melotot kesima.
Orang ketiga seketika menginsapi keadaan yang ganjil ini, waktu ia berpaling seketika ia menjerit kaget "Kapal...
di sana memang ada sebuah kapal yang sedang laju ke arah kita.
Ketiga Busu seketika pucat pias dan menampilkan rasa ketakutan, mulut terbuka, lidah melelet badan kaku tak mampu bergerak.
Kejut dan girang hati Oh Thi hoa, batinnya "Mungkin tiga orang ini melihat setan, jikalau kapal bisa melaju di padang pasir, bukankah orangpun bisa naik kuda ditengah lautan?"
Tapi waktu ia berpaling kesana, seketika iapun terkejut melongo.
Ditengah debu pasir yang membumbung tinggi ke tengah angkasa, betul juga dilihatnya sebuah kapal sedang meluncur secepat angin ke arah sini.
Sebetulnya kapal ini melaju mengikuti arah angin, tapi semakin dekat semakin lambat, ditengah suara pekik burung elang riuh rendah, akhirnya kapal itu semakin lambat dan akhirnya berhenti tak jauh di depan mereka.
Debu pasir yang berterbangan ditengah udara lambat laun hilang terhembus angin, di ujung kapal pelan-pelan muncul sesosok bayangan putih kaki tangan, badan dan raut mukanya tersembunyi didalam pakaiannya yang serba putih dan tutup muka yang putih pula, sampai matanya pun tidak kelihatan.
Sekilas ketiga busu saling pandang, pelan-pelan kaki mereka menggeser mundur, raut muka mereka dihiasi butiran-butiran keringat sebesar kacang, dengan menarik kendali onta, mereka hendak melarikan diri.
Tiba-tiba orang serba putih itu tertawa dingin, jengeknya "Aku sudah tiba disini, kalian masih ingin lari?"
Suaranya merdu nyaring, ternyata dia seorang perempuan.
Walau matanya tertutup, tapi gerak gerik orang lain ternyata tak bisa mengelabuhi dirinya, seketika gemetar sekujur badan ketiga Busu itu, tali kendali yang baru saja terangkat tiba-tiba meluncur jatuh pula.
Seru salah seorang busu itu "Kau .....
siapakah kau sebetulnya?"
Tanpa hiraukan pertanyaan orang serba putih berkata "Memangnya aku sedang heran, kenapa kalian tidak menepati janji, baru sekarang aku tahu, ternyata kalian bertiga inilah yang membuat gara-gara."
Tanpa kelihatan badannya bergerak, badannya tahu-tahu sudah melayang turun dari ujung kapal, bentaknya bengis.
"Tapi barang yang sudah menjadi hak milikku masih berani kalian hendak mengangkanginya?"
Ketiga Busu itu sudah kaget dan ketakutan melihat ilmu Ginkang orang yang begitu tinggi, sesaat lamanya baru kuasa bersuara dengan tergagap "Siaujin sih tidak...tidak bermaksud jahat."
"Koan im Posat sudah tentu punya ribuan mata ribuan tangan, berani kalian mengelabuhi aku?"
Jengek orang serba putih itu.
Tak tertahan Oh Thi hoa menyeletuk sambil menghela napas "Ciok koan im, Ciok koan im, tak nyana akhirnya aku bisa bertemu dengan kau, Cuma dalam keadaanku seperti ini bertemu dengan kau sungguh menyebalkan dan memakan semangatku."
"Memangnya kenapa dalam keadaan seperti ini?"
Tanya orang serba putih "Memangnya kau ingin coba kepandaian dengan aku?"
"Benar, memang aku punya maksud demikian."
"Kukira masih terpaut jauh sekali kau ini, sampaipun budak-budak yang tak becus seperti merekapun dapat menipu dan mengingusi kau, Oh Thi hoa yang tenar dan punya nama besar ternyata hanya begini saja, sungguh amat mengecewakan aku, sambil bicara sekarang dia sudah berhadapan dengan Oh Thi hoa, ketika Busu itu segera saling memberi tanda, cepat sekali tangan mereka terbalik mencabut golok bagai baling-baling yang berputar kencang ketiga bilah golok mereka serempak membacok ke arah orang serba putih dari belakang. Orang serba putih mandah menggendong tangan tanpa berpaling kepala pula, seolah-olah tidak menyadari bahwa jiwanya terancam mara bahaya, tapi begitu ketiga bilah golok hampir saja, mengenai badannya kesepuluh jari jarinya mendadak menyentil dari dalam lengan bajunya.
"Trang benturan keras menusuk kuping, sinar golok laksana bianglala serentak terbang menjulang ke angkasa. Hakekatnya ketiga Busu ini tidak melihat jelas cara bagaimana musuh turun tangan, tahu-tahu pergelangan tangan tergetar separoh badannya seketika kesemutan, golok ditangan mereka berbareng mencelat lepas dari cekalannya. Saking kaget dan ketakutan ketiga Busu serasa copot arwahnya, mana sempat hiraukan harta benda lagi, tanpa berani berpaling ke arah si orang serba putih, putar badan segera mereka berlomba lari cepat, sipat kuping. Sebetulnya mereka tidak pernah latihan ilmu Ginkang, tapi disaat genting yang bakal menentukan hidup mati jiwa mereka, ternyata lari mereka tidak kalah cepat dari seorang juara lari yang dapat menandingi kecepatan kuda, kira-kira sepuluh tombak kemudian, baru golok-golok mereka melayang jatuh dari tengah udara. Pelan-pelan saja orang serba putih melambaikan tangan, ketiga batang golok itu diraihnya katanya tawar.
"Golok ini milik kalian nih kukembalikan kepadamu!"
Dia tetap tidak berpaling, tangannya terayun balik ke belakang ternyata ketiga bilah golok ini seperti tumbuh mata, dalam sekejap mata, masing-masing mengejar pemiliknya sendiri.
Maka terdengarlah tiga lolong jeritan yang menyayangkan hati darah muncrat ke tengah udara laksana kembang api, ketiga batang golok itu tahu-tahu sudah menusuk tembus ke ulu hati mereka, seperti paku raksasa ke tiganya terpantek di tanah.
Oh Thi hoa tertawa ewa, katanya "Manusia mati lantaran harta burung mampus karena makanan, tapi kenapa harus begini jadinya...?
"Kau sudah ketakutan?"
Cemooh orang serba putih.
"Aku takut apa?"
Seketika melotot mata Oh Thi hoa.
"Sudah tentu kau takut aku membunuhmu."
"Apa kau lihat tampangku ini seperti orang yang takut mati?"
"Kulihat lahirmu memang sedang unjuk gagah, tampangmu seperti Eng hiong, namun harinya sudah kebat-kebit dan ketakutan setengah mati."
Tanpa menunggu reaksi Oh Thi hoa tiba-tiba berputar badan dan bertepuk tangan, dari atap kapal setan itu segera melompat turun beberapa laki-laki seluruh muatan di atas onta dibongkar ke atas kapal.
"Hai! Jangan kau lupa barang-barang itu kubawa kemari untuk barter dengan Ki loh ci sing itu."
"Kau ingin bawa Ki loh ci sing itu pulang?"
Tanya orang serba putih membalik badan menghadapinya lagi.
"Sudah tentu harus kubawa pulang."
"Dengan anggapan apa kau kira aku tidak akan membunuhmu?"
"Umpama harus mampus di sini akupun akan membawa Ki loh ci sing kembali."
"Aneh kalau begitu, seorang yang sudah ajal jiwanya mana bisa membawa pulang sesuatu?"
Terbelalak besar biji mata Oh Thi hoa, mulutnya tidak banyak kata lagi.
Disaat Oh Thi hoa menunggu ajal, mimpipun tidak pernah terpikir olehnya bahwa Coh Liu hiang dan Ki Ping yan sedang mengintip ke arah dirinya tak jauh dari tempatnya.
Coh Liu hiang dan Ki Ping yan ternyata berada dalam kapal setan puluhan tombak disampingnya itu.
Dari sebuah kapal yang lain mereka di pindah ke kapal yang ini, lantaran Ciok koan im ingin memberi service secara istimewa kepada mereka, maka mereka masih tetap hidup sampai sekarang, Cuma mereka sejauh ini belum pernah melihat Ciok koan im.
Oh Thi hoa sendiripun menyangka bahwa orang serba putih ini adalah Ciok koan im pribadi, di luar tahunya bahwa dia bukan lain hanya salah seorang muridnya saja, sudah lama Ciok koan im berlalu.
Jejaknya memang serba rahasia dan tersembunyi, bukan saja pergi datang tak menentu, malah selamanya tiada orang yang tahu darimana dan kemana arah datang dan perginya.
Kini Coh Liu hiang dan Ki Ping yan berada didalam kapal setan ini, malah sedang duduk diambang pintu yang tertutup kerai, dari tempat mereka dengan jelas mereka bisa melihat keluar ke arah Oh Thi hoa.
Namun mereka cukup tahu diri, sudah tentu mereka tak berani bersuara dan tak bisa bergerak, karena mereka tahu keadaan Oh Thi hoa saat ini tak mungkin kuat menolong mereka, apa lagi orang serba putih itu pernah memberi peringatan "Jikalau kalian bersuara minta tolong, sedikitpun tiada gunanya, tidak lebih kalian malah bikin kematian Oh Thi hoa lebih cepat saja, karena itu kuanjurkan kalian lebih baik tutup mulut saja."
Bahwasanya hal ini tidak perlu disinggung Coh Liu hiang berdua sudah cukup tahu diri.
Tapi mereka tidak bisa tutup mulut terus terusan.
Melihat keadaan Oh Thi hoa, sungguh hati mereka merasa mendelu dan patah semangat.
Tak tahan Coh Liu hiang buka mulut lebih dulu "Dilihat gelagatnya, mungkin dia dibikin celaka lagi oleh arak keparat itu."
"Kalau dia tidak mampus lantaran arak, barulah merupakan hal yang aneh."
Jengek Ki Ping yan.
"Tapi dia baik dan harus dipuji."
Timbrung Setitik merah.
"Dia tidak takut mati."
"Apa, tidak takut mati lantas baik?"
Cemooh Ki Ping yan pula.
"Orang pikun selamanya memang tidak takut mati."
Setitik merah balas mendebat "Betapapun orang yang tidak takut mati jauh lebih baik dari yang takut mampus."
Coh Liu hiang tersenyum, ujarnya "Kalian berdebat apa, kali ini aku tanggung dia takkan mati."
"Mengandalkan apa au begitu yakin bahwa orang tidak akan membunuhnya?"
Tanya Ki Ping yan. Kata-kata ini hampir dia ucapkan bersama, pertanyaan si orang serba putih kepada Oh Thi hoa, bukan saja pertanyaan yang sama, malah nadanya pun hampir mirip.
"Jikalau dia membunuhnya, lalu siapa yang dia suruh untuk membawa pulang Ki loh ci sing itu?"
Kata Coh Liu hiang. Maka mendengar orang serba putih itu berkata demikian kembali ia menambahkan dengan tertawa "kau sudah dengar? Orang mati mana bisa membawa pulang suatu barang"
"Darimana kau bisa tahu bahwa dia hendak suruh Oh Thi hoa membawa pulang Ki loh ci sing?"
Tanya Ki ping yan Coh Liu hiang tersenyum ujarnya "Jikalau tiada orang yang membawa pulang Ki loh ci sing, cara bagaimana bisa menipu raja dogal itu membuka rahasianya?"
Meski hati Ki Pinig yan masih kurang percaya omongan Coh Liu hiang, mau tidak mau dia harus percaya juga, karena saat dimana dilihatnya orang serba putih itu sedang melangkah balik kearah kapal.
Oh Thi hoa masih tetap hidup.
Coh Liu hiang menghela napas, ujarnya "Semoga saja raja dogol itu jangan membocorkan rahasia itu, kalau tidak bukan saja jiwanya sendiri bakal berkorban, mungkin Oh Thi hoa juga mampus mengiringinya."
"Kenapa begitu?"
Tanya Ki Ping yan.
"Sekarang Ciok koan im sendiri mungkin sudah insaf dirinya takkan mungkin memaksa raja dogol itu membeberkan rahasia ini, tapi dia beranggapan bukan mustahil raja dogol itu kemungkinan bisa minta bantuan kepada Oh Thi hoa, jikalau sekarang dia anggap OH Thi hoa cukup berguna untuk mencapai keinginannya, sudah tentu dia takkan membunuhnya."
Ki Ping yan bungkam, namun dalam hati ia berdo'a "Semoga raja dogol itu jangan membocorkan rahasianya sendiri."
Orang serba putih itu pergi, kapal setan itupun berlalu.
Baru sekarang hati Oh Thi hoa benar-benar mulai takut.
Sungguh dia sendiripun tak pernah menduga bahwa dirinya masih bisa bertahan hidup.
Sebetulnya tiada alasan, kenapa Ciok koan im tak membunuhnya.
Tapi kenyataan Ciok koan im memang tak mengganggu usik seujung rambutnya, bukan saja tidak membunuhnya, malah Ki lo ci sing itu benar-benar diberikan kepada dirinya, apa benar Ciok koan im seorang yang benar-benar dapat dipercaya dan bisa pegang janji!"
"Bagaimanapun Oh Thi hoa tidak mau percaya, tapi mau tidak mau dia harus percaya karena kenyataan sudah di abuktikan sendiri. Malam semakin berlarut hawa dingin semakin dingin hampir membeku badan, saking kedinginan gemetar sekujur badan Oh Thi hoa. Sekarang kadar racun dalam tubuhnya pelan-pelan punah, meski lambat laun dia sudah dapat bergerak, tapi sekujur badannya masih lemas lunglai, untapun sudah digebah pergi ketakutan. Oh Thi hoa insaf walau dalam keadaan biasa dirinya jangan harap bisa menempuh perjalanan lima puluh li ditengah gurun pasir ini, apa lagi kini dalam keadaan lumpuh sama sekali. Kalau hari terang tanah, disaat dia punya kekuatan apa dia kuat berjalan masih merupakan tanda tanya besar, apa lagi kini malam sudah larut hawa begini dingin lwekangnya boleh dikata sudah mogok tak mau bekerja sama sekali. Ki Loh ci sing berada didalam kantong bajunya, betapapun dia tidak bisa menempuh bahaya. Tapi belakangan sungguh tak tahu lagi dia kedinginan, dengan merangkak segera ia mencari ranting kering di semak-semak sekelilingnya, ditemukan sebuah tempat di sela-sela batu yang tersembunyi untuk berteduh, di sini dia menyalakan api unggun. Ada manfaatnya pula berada ditengah gurun pasir yaitu gampang sekali untuk membuat api, karena tetumbuhan yang hidup ditengah gurun pasir ini, tentu kering dan gampang termakan api, seorang diri Oh Thi hoa menggumam "Mungkin disinilah satu-satunya tempat berteduh paling baik."
Kata-katanya tiba-tiba terhenti, pelan-pelan bangkit melangkah maju lalu jongkok lagi, pandangan lurus mengawasi sebuah batu di depannya, umpama yang dia hadapi dan yang dia pandangi ini adalah seorang perempuan cantik yang telanjang bulat diapun takkan begitu tertarik dan perhatian.
Tapi batu itu tidak lebih hanya batu cadas yang sudah terkikis halus oleh desingan pasir dengan tempaan panas dingin, tiada sesuatu yang istimewa dari bentuk batu ini.
Tapi sinar api berkelap-kelip, sorot matanya pun bercahaya terang.
Ternyata di atas batu cadas yang licin dan sedikit berdebu ini ada berlepotan bahan-bahan hitam dan kuning, terdapat pula beberapa tetes lem karet yang sudah membeku kering kelihatannya adalah lem kulit sapi yang bermutu paling baik.
Sebetulnya apa yang dia lihat atau ketemukan ini bukannya barang-barang yang luar biasa dan harus dibuat aneh, tapi ditengah padang pasir, di suatu pojok tempat yang tersembunyi ini, ditemukan barang-barang yang tak mungkin bisa ada di situ, disitulah letak keanehannya.
Apa lagi, betapapun OH thi hoa seorang kawakan Kang ouw, meski dia sendiri tidak pernah belajar ilmu tata rias, namun dia cukup tahu bahwa bahan-bahan dan lem itu adalah bahan-bahan vital untuk merias muka.
Siapa orangnya yang berada ditempat seperti ini, untuk merias diri berubah bentuk?
Ia tahu Coh Liu hiang selalu membawa bahan-bahan seperti ini.
Oh Thi hoa menghirup napas panjang, katanya seorang diri "Ternyata Ulat busuk pernah berada di sini, kenapa pula dia harus merias diri menyaru ke bentuk muka lain?
Dari warna bahan yang digunakan ini kuning dan hitam, mungkinkah dia ketakutan dikejar-kejar perempuan, maka dia menyaru seorang yang bermuka buruk menakutkan?"
Berpikir sampai di sini, tak urung dia tertawa geli sendiri.
Tapi urusan sedikitpun tidak mengerikan, Coh Liu hiang pasti sedang menghadapi mara bahaya, kalau tidak apa perlunya dia menyamar dan ganti rupa, apa lagi setelah menyamar, jejaknya lantas menghilang dan tiada beritanya.
Oh Thi hoa mengerut kening, dia dorong batu ini, sedikitpun tak bergeming tapi dia tidak putus asa, kembali dia mendorong ke batu-batu lain di sekitarnya, suatu ketika ia berhasil angkat sebuah batu, pasir di bawah batu amat empuk dan longgar sehingga dia mengeduk dengan jarinya, tak lama kemudian berhasil dikeduknya keluar sebuah bungkusan besar yang membuatnya amat bergirang dan kejut sekali.
Didalam buntalan ini terdapat sebuah handuk ada diukir satu huruf "Ki", botol kecil terbuat dari kayu, waktu dia buka tutupnya terenduslah bau harum yang merangsang hidung "Maling romantis meninggalkan bau harum ditengah malam "Coh Liu hiang biasanya memang selalu membawa bahan-bahan wangi seperti ini.
Kecuali itu masih ada sebutir mutiara hitam sepasang Boan koan pit, sebungkus mas dan berlian, serenteng kunci, sebuah pipa rokok yang terbuat dari batu pualam, sebatang pisau perak.
Kan lebih aneh lagi didalam bungkusan ini terdapat pula sepatu perempuan peranti tidur berwarna merah jingga yang bersulam sepasang teratai, sebuah kutang "BH"
Warna merah lombok yang tersulam masing-masing sekuntum kembang seruni pada kanan kirinya. Oh Thi hoa tersenyum geli.
"Botol kayu kecil mutiara hitam dan handuk ini sudah tentu adalah milik Ulat busuk, tapi huruf "Ki"
Yang tersulam di ujungnya ini siapa?
Mungkin....
mungkinkah nama kecil dari tuan putri yang romantis itu....Ha!
Ulat busuk memang pintar dan lihai dengan sedikit permainan pat-gu-li-pat, dengan mudah dia sudah mendapatkan barang tanda matanya."
Sepasang Boan koan pit itu berkilauan ditimpah sinar api, sepasang potlot baja ini bukan saja jauh lebih berat bobotnya dari senjata jenis yang pernah dilihatnya, di kalangan Kang ouw, malah buatnyapun lebih halus dan mungil.
Kembali Oh Thi hoa menggumam "Boan koan pit pipa rokok, kunci, pisau perak dan sebungkus berlian ini tentu adalah milik Jago mampus, dia ini memang brengsek seperti nyonya galak, sampai gantungan kuncipun dibawa-bawa kemari, memangnya takut setelah dia pergi orang lain bakal menggerayangi kamar dan menguras habis harta miliknya!
Hehehe!
Agaknya dia harus diberi julukan lain yang lebih serasi, yaitu si Brengsek yang kikir!"
Selamanya dia sendiri tidak pernah bawa kunci, maka begitu melihat orang membawa serenteng kunci jadi merasa geli, terpikir olehnya bahwa Coh Liu hiang akhirnya berhasil menemukan Ki Ping yan, hatinya sungguh senang.
Bertepuk tangan, katanya pula tertawa "Kalau kedua orang ini sudah kumpul jadi satu, langit ambrukpun bisa mereka sanggah dan atasi, kenapa aku harus kuatir bagi mereka?"
"Tapi sepatu tidur dan kutang ini milik siapa lagi? Oh Thi hoa mengerut kening "Memangnya Ulat busuk berhasil mendapat kekasih baru? Walau demikian masakah dia sudi minta pakaian dalam orang. Ulat busuk ini masakah sudah berubah sedemikian cabul?"
Diangkatnya kutang itu serta diciumnya, lalu melelet-lelet lidah, katanya tertawa geli "Wangi benar!"
Tiba-tiba ia merasa bau wangi seperti ini sudah amat dikenalnya benar, segera terpikir olehnya dengan malam itu, waktu dirinya menggusur dua bidadari dari rumah Ki Ping yan itu.
Ternyata Ki Ping yan selalu membawa bawa pakaian dalam gundik kesayangannya kemanapun dia pergi, mungkin untuk menghibur hati, tak tertahan Oh Thi hoa terloroh-loroh, katanya "Ternyata Ki siau sing teman kita yang buruk rupa ini adalah seorang laki-laki romantis!"
Tiba-tiba didengarnya seorang berkata "Romantis lebih baik dari pada tidak punya rasa cinta, benar tidak?"
Romantis lebih baik dari pada tak punya rasa asmara, betapa indah dan mesra kata-kata seperti ini, apa lagi kata-kata ini diucapkan oleh suara yang merdu nyaring seperti kicauan burung bukankah jauh lebih menarik dan serasa menyedot sukmanya.
Tapi dalam keadaan sekarang ditempat ini pula Oh Thi hoa mendengar kata-kata ini bukan kepalang kagetnya, teriaknya tertahan "Siapa?"
Suara orang serba putih tadi juga merdu genit dan aleman, tapi begitu turun tangan jiwa manusia direnggutnya dengan kejam, maka dalam pendengaran Oh Thi hoa, suaranya yang merdu ini jadi lebih jelek dan menusuk kuping dari suara gembreng bobrok.
Suara yang merdu nyaring berkata pula "Oh to enghiong yang bernama besar dan kenamaan, kenapa hari ini menjadi begini penakut dan bernyali kecil?"
Seiring dengan kata-kata ini dari balik gundukan batu di sana muncullah bayangan orang, dai bukan lain adalah Pipop kongcu.
Oh Thi hoa menghela napas lega, katanya getir "Ternyata kau, tidak dirumah kau memetik harpamu, buat apa kau lari ke tempat seperti ini?"
"Tanpa didengar seorang ahli musik yang benar-benar bisa menikmati petikan harpaku, buat apa aku harus buang-buang tenaga."
"Tanpa memetik harpa apa kau tiada punya urusan lain?"
Pipop kongcu melotot kepadanya, katanya "Jangan kau kira aku terlalu iseng lalu kelayapan kemari, waktu seperti ini memangnya aku tidak ingin tidur dirumah saja.
Tapi permaisuri bilang kepadaku "Oh-congsu itu meski punya kepandaian tinggi tapi otaknya dogol dan sederhana, bukan mustahil bakal ditipu orang, lebih baik lekas kau susul dia untuk mengawasi dan bila perlu menolongnya!"
Oleh karena itu aku lantas susul kemari.
Jikalau tidak kena tipu mentah-mentah mungkin Oh Thi hoa tidak akan marah, tapi dia benar-benar ditipu dengan konyol, mendengar olok-olok ini rasanya seperti dikorek boroknya yang sudah mulai sembuh.
Belum lagi Pipop kongcu bicara habis raut mukanya sudah merah padam, otot merongkol di lehernya katanya dengan suara keras "
"Kalau aku ini dogol, memangnya kau ini apa? Bantal sulaman?"
"Tidak perlu kau marah-marah dan unjuk perbawa di hadapanku, kau bukan aku yang bilang demikian, kalau tidak terima boleh kau buat perhitungan kepada orang yang mengatakannya?"
Tiba-tiba ia tertawa manis, katanya pula "Mungkin begitu kau berhadapan sama dia, mulutmu sudah terkancing tak kuasa bicara lagi.
Saking gusar napas Oh Thi hoa sampai memburu, benar-benar tak mampu bicara lagi.
"Tapi aku langsung menuju ke arah barat, jejak kalian tidak kutemukan dengan menempuh jarak jauh ditengah malam buta rata yang dingin ini aku berputar mengelilingi daerah seluas ini, kebetulan kulihat sinar api di sini. Aku kuatir orang lain yang berada di sini, maka kusuruh orang-orangku menunggu ditempat yang rada jauh seorang diri diam-diam aku merunduk kemari."
"Tidak perlu kau memberi penjelasan kepadaku, yang terang aku sudah tahu bahwa kau punya penyakit seperti itu, tiap kali selalu kau merunduk-runduk untuk menemui orang."
Pipop kongcu naik pitam katanya keras "Tidak perlu kau mengumbar adatmu di hadapanku memangnya aku pernah berbuat sesuatu kesalahan terhadap kau?"
"Hm.."
OH Thi hoa menggeram.
Lama juga Pipop kongcu melototinya, tiba-tiba wajahnya dihiasi senyuman manis, katanya halus "Seumpama aku tidak jadi nikah sama kau, masakah ketemu lantas kau marah-marah kepadaku!"
Merah pula selebar muka Oh Thi hoa, otot merongkol pula di lehernya.
"Semakin galak sikapmu ini, semakin membuktikan kau diam-diam mencintai aku oleh karena itu baru kau naik pitam lantaran aku tak kawin dengan kau, maka kau merasa jelus dan iri hati terhadap Ulat busuk temanmu itu."
Oh Thi hoa balas pelototi, mendadak ia bergelak tawa, serunya "Perempuan seperti kau ini, jikalau benar-benar kawin dengan aku, orang akan heran kalau aku tidak bikin mati karena jengkel."
Pipop kongcu mencibir bibir katanya "Tak bisa makan anggur, lantas bilang anggur itu kecut, sungguh tak tahu malu."
Kisah anggur kecut, memang adalah dongeng yang amat disenangi oleh rakyat negeri Kui je, hakekatnya Oh Thi hoa tidak tahu kisah ini, maka diapun tidak marah, cuma dia ingin ceritakan pengalamannya untuk mengembalikan Ki loh ci sing itu, kini niatnya batal, sebetulnya ingin dia segera berlalu, niatnya inipun dia urungkan.
Pipop kongcupun tidak banyak tanya namun diapun tidak berlalu malah mencari tempat duduk di atas sebuah batu, dari dalam bajunya dirogohnya keluar sebuah botol perak berisi arak dengan tutup botol sebagai cangkir dia minum seorang diri, mulutnya mengoceh sendiri "Hawa sedingin ini, kalau tidak minum arak menghangatkan badan untuk menghilangkan rasa dingin, mungkin bisa mati kaku."
Oh Thi hoa sendiripun sedang menggerutu seorang diri "Jikalau ada orang hendak bikin aku marah karena arak, sekarang begitu mengendus bau arak, kepalaku lantas terasa pening."
Mulut berkata demikian hakekatnya sedikitpun kepalanya tidak pening hati terasa keri seperti dikili-kili, cacing dalam perutnya sedang bergelak dan mau berontak.
Tapi baru saja dirinya perang mulut sama orang, masakah enak minta arak kepadanya?
Terpaksa Oh Thi hoa menahan diri melirikpun tidak kesana.
Sebaliknya bukan saja cara minum Pipop kongcu sengaja dibikin-bikin begitu rupa, malah mulutnya sering mengoceh pula "Baik sekali arak ini, sekali tenggak saja seluruh badannya terasa hangat."
Tak tahan lagi Oh Thi hoa segera berseru keras "Anak perempuan minum arak sampai kecap-kecap begini keras, begini rakus kau ini, sungguh tak punya aturan."
Pipop kongcu tersenyum, katanya "Memangnya aku sengaja melanggar aturan, dengan demikian baru aku bisa bikin orang yang punya aturan jengkel sampai mati."
Mendadak darah terasa mendidih di kepalanya, memang hampir saja Oh Thi hoa dibikin marah sekali, waktu matanya mengerling tiba-tiba dilihatnya sapu tangan yang berhuruf "Ki"
Itu, seketika bersinar sorot matanya, dijemputnya sapu tangan itu lalu di beber di bawah cahaya api, mulutnya pun menggumam "Secarik kain si kumal ini, rasanya cocok untuk membersihkan ingus saja."
Belum habis dia bicara, tiba-tiba Pipop kongcu sudah berjingkrak berdiri serta menubruk maju, bentaknya keras "Kau.... dari mana kau peroleh sapu tangan ini?"
Oh Thi hoa tertawa berseri, sahutnya "Ku temukan!"
"Lekas.... lekas kembalikan kepadaku."
Suara Pipop kongcu gemetar.
"Kembalikan kau? Kenapa aku harus kembalikan kepadamu. memangnya milikmu?"
Merah muka Pipop kongcu, sahutnya tergagap "Ya... kalau milikku bagaimana?"
"Aneh kalau begitu!"
"Apanya yang aneh?"
"Jelas sekali aku dengar Ulat busuk itu berkata "Kuntilanak itu suka main romantis, dikiranya aku sudi menyimpan secarik kain kumal seperti ini!"
Memangnya kau ini kuntilanak yang dia maksudkan itu?"
"Kentut!"
Damprat Pipop kngcu marah-marah sampai biji matanya merah.
"Kau.... kau bukan manusia!"
Saking jengkel ia membanting-banting kakinya. Kenapa kau marah-marah kepadaku, toh bukan aku yang bilang demikian, kalau kau tidak terima kau cari orang yang bicara."
Oh Thi hoa bergelak tawa lalu menambahkan "Mungkin begitu kau berhadapan dengan orang itu, bicarapun mulutmu takkan bisa!"
Mendadak Pipop kangen menjatuhkan diri ke atas pasir, pecah tangisnya gerung-gerung.
Tingkah laku orang yang tak pernah diduganya ini membuat oh Thi hoa melongo malah, tujuannya semula hendak bikin orang marah saja, melihat orang benar-benar begitu sedih, terpaksa Oh Thi hoa maju mendekati katanya tertawa "Sudah jangan kau terlalu bersedih, aku cuma ngapusi kau saja."
Pipop kongcu sibuk dengan tangisnya, bujukan kata orang tidak dihiraukan sama sekali.
Memang akulah yang terlalu, aku patut mampus, bahwasanya Ulat busuk tidak pernah mengatakan kau ini seperti kuntilanak, semua itu adalah karangan bualanku yang keparat ini."
Dengan sesengukan berkata Pipop kongcu "Tapi... kenapa barang yang kuberikan kepadanya sembarangan dibuang?"
"Itulah karena...."
Hampir saja lidah Oh Thi hoa putus baru berakhir dia ceritakan persoalan itu.
Setelah menghela napas, dia menambahkan "Sekarang, terserah bagaimana kau hendak makipun tak jadi soal, cuma kumohon jangan kau menangis lagi!"
Pipop kongcu kucek mata, katanya "Kalau kau mengakui bahwa dirimu keparat istimewa aku takkan nangis lagi."
"Bukankah tadi sudah ku akui... ai...!"
Kata Pipop kongcu setelah gigit bibir "Kalau sudah mengaku kenapa menghela napas panjang pendek, memangnya kau tak rela?"
Oh Thi hoa elus-elus hidung, gumamnya "Secara suka rela aku mau mengakui aku ini keparat istimewa, sudah cukup belum....
ai!
celaka memang aku ini seorang laki-laki, kalau laki-laki memaki perempuan lantas dia ikut keparat, seumpama perempuan memaki laki-laki dogol atau telur busuk juga tidak menjadi soal, karena perempuan pandai menangis, kepandaian seperti ini, laki-laki manapun tak ada yang bisa pandai."
"Apa katamu?"
Damprat Pipop kongcu, mendelik.
"Coba katakan sekali lagi!"
"Aku... kukatakan laki-laki semua adalah bedebah, perempuan adalah.... adalah orang baik."
"Lumayan juga ucapanmu ini."
Ujar Pipop kongcu tertawa.
Lalu ia sesalkan botol araknya ke tangan Oh Thi hoa, tapi disaat sorot matanya bentrok dengan setumpukan barang-barang, seketika kunci seri tawanya, roman mukanya tegang kaku.
Oh Thi hoa sedang melongo tawa dan menggumam "Jikalau mengakui dirinya sendiri sebagai bedebah lantas diberi arak, setiap hari kuakui sekalipun tak menjadi soal"
Baru saja dia hendak menuang arak ke dalam botol ke dalam perutnya, tiba-tiba Pipop kongcu merebut balik botol arak itu, serunya "Aku sudah merubah niatku semula, arak ini sekali-kali takkan kuberikan kepadamu."
"Kau... apakah perubahanmu tidak terlalu mendadak?"
"Barang-barang ini semua adalah milik Ulat busuk bukan?"
"Sepatu tidur dan kutang itu milik Jago mampus, sekali-kali jangan kau cemburu kepadanya, sekali jelas, arak takkan bisa kuminum lagi."
"Bukan begitu maksudku."
Katanya Pipop kongcu menghela napas.
"Coba kau pikir barang-barang ini biasanya selalu digembol di atas badan Ulat busuk, tapi sekarang dia pendam di sini..............."
"Itulah lantaran dia menyamar dan menyaru, jikalau barang ini dia bawa, kuatir membocorkan asal usulnya."
"Tapi coba kau pikir lagi, kalau barang-barang ini dia simpan di atas badannya, cara bagaimana bisa tahu? Kecuali dia menginsyapi bahwa... perjalanannya kali ini kemungkinan bisa ditawan oleh musuh."
Berubah roman muka Oh Thi hoa.
"Benar memang aku tak boleh minum lagi, jikalau mereka sudah pada tahu perjalanan yang ditempuh ini teramat bahaya, sekali-kali jago mampus takkan sudi mengeluarkan barang-barang pribadinya yang dia rahasiakan kepada orang lain yang ditinggal di sini."
"Ya, memang begitulah"
Oh Thi hoa menepuk-nepuk batok kepalanya, katanya "Perempuan memang lebih cermat dari laki-laki, persoalan begini penting kenapa tidak pernah terpikir olehku."
"Bukan lantaran perempuan lebih cermat dari laki-laki, soalnya terhadap orang yang dia sukai, biasanya perempuan jauh lebih prihatin dari keadaan diri sendiri."
Tiba-tiba Oh Thi hoa mencelat bangun dikeluarkan Ki loh ci sing lalu diserahkan ke tangan Pipop kongcu, katanya Inilah Ki loh ci sing lekas kau bawa pulang!"
"Kau mau kemana?"
"Aku harus menemukan ulat busuk lebih dahulu."
"Tapi kau sudah berjanji kepada Permaisuri untuk membawa pulang barang ini."
"Benar, malah banyak persoalan pula yang pernah kujanjikan kepadanya tapi setelah aku tahu Ulat busuk dan jago mampus mengalami bahaya, urusan setinggi langit juga harus ku sampingkan dulu."
"Kalau toh kita sudah tahu bahwa dia sedang menghadapi bahaya, memangnya aku bisa tentram tinggal pulang?"
"Jadi kau hendak ikut aku?"
Tanya Oh Thi hoa melongo.
"Sudah tentu!"
"Lalu.... bagaimana dengan Ki loh di sing ini?"
"Kau sendiri sudah bilang, urusan sebesar langitpun boleh dikesampingkan dulu, benar tidak?"
Sebentar Oh Thi hoa menepekur, baru saja dia hendak mengangguk, lekas geleng-geleng pula, katanya "Tidak mungkin aku tak bisa bawa kau!"
"Kenapa?"
"Kalau perjalanan kali ini amat berbahaya, kau sebaliknya gadis besar putri raja yang suka aleman tak pernah kerja berat, kalau sampai terjadi........."
"Jangan kau lupa, di sini adalah gurun pasir, di sini aku jauh lebih berguna dari pada kau."
Tukas Pipop kongcu.
"Dan lagi, seumpama benar kau tak mau bawa aku pergi, aku toh bisa mengintil di belakangmu."
Kembali Oh Thi hoa mengelus-elus bidangnya katanya tertawa getir "Tiada perempuan terasa sepi dingin, sebaliknya setelah ada perempuan, anjing dan itikpun tak merasa tentram, ucapan ini memang sedikitpun tak salah.
Di sana adalah lautan cadas, besar kecil berserakan dengan bentuk dan model yang warna warni pula, yang besar menjulang tinggi laksana menembus langit mengarungi mega, paling kecilpun ada puluhan tombak, dengan corak seperti binatang-binatang purba yang liar dan buas, sedang mendekam diam-diam saja menunggu mangsanya untuk ditelan.
Di sini bukan saja seolah-olah sudah tercapai ujung dari gurun pasir, hampir terasa ujung dunia yang berpadu dengan sengit, kalau perjalanan dilanjutkan ke depan, kau akan terjungkal jatuh ke dalam jurang yang tak terhitung dalamnya.
Waktu fajar menyingsing kapal setan itupun sudah berlabuh ditempat ini, melepas pandang dari jendela, tampak puncak-puncak gunung berjajar dan tersebar luas tak berujung pangkal kalau diteruskan ke depan, kapal setan ini bakal menerjang dinding-dinding gunung.
Walau biasanya Coh Liu hiang berlaku tabah dan tenang tak urung hatinya terkejut juga tampak sebuah puncak batu gunung yang aneh dan menjulang tinggi ditelan mega, tahu-tahu laksana mulut binatang purba ukuran raksasa menubruk dari depan menyongsong ke arah mereka.
Siapa tahu tiba-tiba kapal ini membelok dengan angler dan pelan-pelan menyusup ke dalam celah-celah batu itu.
Coh Liu hiang menghela napas katanya dalam hati "Sungguh suatu daerah yang berbahaya mungkin disinilah pusat pangkalan Ciok koan im."
Sedang pikirannya bekerja, tiba-tiba hatinya melonjak kaget kegirangan.
Terasa kapal semakin lambat dan akhirnya berhenti dilekukan sebuah batu besar.
Maka terdengar orang serba putih itu berkata "Kaki kalian masih mampu bergerak tidak?"
Dengan terdorong Coh Liu hiang masih mengawasinya, mulut tidak bicara. Orang serba putih itu menjadi gusar, dampratnya "Apa kau ingin aku korek keluar biji matamu?"
Baru sekarang Coh Liu hiang tertawa, ujarnya "Supaya orang mengira nona adalah Ciok hujin, maka sejak tadi nona mengenakan kerudung, tapi sekarang kalau Cayhe sudah tahu bahwa nona bukan Ciok hujin, kenapa nona tidak lekas."
Orang serba putih tiba-tiba terkial-kial, nada tawanya kedengaran begitu perih memilukan wajahku?"
"Sudah lama kami dengar bahwa setiap murid Ciok hujin semuanya cantik-cantik laksana bidadari, jikalau nona sudi memperlihatkan wajahmu yagn rupawan, meskipun mampus, terhitung setimpallah sepasang mataku ini."
"Diam-diam Ki Ping yan sedang membatin "Agaknya dia sedang menggunakan ketampanannya hendak menipu orang, tapi bagaimanapun manis dan pandai tutur katamu, memangnya dia bakal melepaskan kau?"
Terdengar nona serba putih itu terkial-kial seperti orang kesurupan setan serunya "Cantik rupawan.... baik, biar kuberi kesempatan kepadamu melihat rupaku yang cantik rupawan ini!"
Pelan pelan jari-jari tangannya menanggalkan kerudung yang menutupi kepala dan raut wajahnya, senyuman Coh Liu hiang seketika membeku kaku.
Masakah itu raut muka manusia, boleh dibilang mirip wajah gembong iblis yang ganas.
Takkan pernah terpikir oleh Coh Liu hiang gadis yang punya perawakan langsing padat menggiurkan ini, ternyata memiliki seraut wajah yang seram, bengis dan begitu menakutkan.
Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya, akan wajah Jin hujin Chi Ling siok itu, bukankah muka orang mirip seperti ini jadinya, apakah lantaran jelus menghadapi kecantikan gadis ini, maka Ciok koan im lantas merusak wajahnya.
Didengarnya gadis itu berkata dengan tertawa menyeringai "Sekarang kau sudah melihat jelas?
Memang matamu cukup beruntung maka selanjutnya kau harus selalu ingat Ki Buyong adalah perempuan yang paling jelek di seluruh jagat raya ini, tiada orang yang akan bisa menandingi keburukannya."
Tapi Coh Liu hiang malah tersenyum, ujarnya "Buruk atau cantik wajah seseorang tergantung penilaian manusia, kalau wajah nona tidak cantik molek masakah mukamu dibikin cacat sedemikian rupa, jikalau nona semula memang rupawan, apa pula halangannya bila mukamu memang sudah rusak....
karena meski orang lain bisa merusak wajah nona, namun keagungan dan keluwesan nona akan tetap abadi, siapapun takkan kuasa merusaknya."
Sesaat Ki Buyong termenung mendadak ia memaki pula dengan "Turun... turun di sini tiada tempat untuk kau banyak mulut."
Setelah menjura Coh Liu hiang segera beranjak turun.
Setitik merah mengikuti di belakangnya.
Waktu tiba di hadapan Ki Buyong mendadak Setitik merah menghentikan langkahnya, katanya "Kau tidak jelek kau amat cantik."
Meski dia hanya mengucapkan enam patah kata, tapi enam patah kata yang keluar dari mulut seperti dirinya, sungguh jauh lebih kuat dan punya pengaruh lebih besar dari sanjung puji orang lain.
Agaknya Ki Bu-yong sendiripun tidak menyangka, orang yang biasanya jarang mau mengeluarkan sepatah kata ini, hari ini mendadak melontarkan kata-kata seperti itu, sekilas tampak badannya bergetar, tanyanya tergagap "Kau...
apa katamu?
Setitik merah tak mau banyak kata lagi, dengan langkah lebar dia memburu ke belakang Coh Liu hiang yang sudah tiba di bawah.
Dengan terlongong Ki Bu-yong mengawasinya, kerlingan mata nan dingin dan bekuk tak berperasaan itu, kini menampilkan gelombang perubahan yang tak pernah terjadi selama ini.
Diantara puncak-puncak batu itu, ternyata ada sebuah jalan kecil yang berliku-liku berputar kian kemari, amat rumit dan bisa menyesatkan.
Yang menggusur Coh Liu hiang bertiga adalah seorang laki-laki besar, tanyanya kepada Ki Bu Yong sambil menjura "Apakah sekarang juga kita ikat mata mereka?"
Ki Bu yong kembali bersikap dingin dan keren, katanya dingin "Tak perlu banyak urusan lembah rahasia dengan jalanan setan seperti ini seumpama aku bawa mereka mondar mandir beberapa kali, merekapun takkan bisa membedakan arah, dalam kolong langit ini, siapa pun bila dia berada di sini, jangan harap dia bisa keluar sendiri dengan tetap hidup, beberapa patah kata-katanya yang terakhir sudah tentu dia tujukan kepada Coh Liu hiang.
"Masa benar?"
Ujar Coh Liu hiang tertawa.
"Kalau kau ingin keluar dari sini, kecuali kau digotong keluar!"
Jengek Ki Bu-yong dingin.
Sebetulnya lapat-lapat Coh Li hiang sudah dapat merasakan dari keadaan puncak-puncak batu di sekelilingnya, disamping tumbuh secara alamiah, ditata dan dilengkapi pula dengan tenaga manusia, diantaranya jalanan yang liku-liku dan berputar ini, terasa mengandung sesuatu rahasia barisan yang serba rumit perubahannya, seakan-akan mirip Pat tin toh ciptaan Cukat Liang, disampingnya ditambal oleh penataan dari buah karya otak manusia, terutama mementingkan situasi alamiah yang serba berbahaya, sungguh suatu proyek besar karya gabungan tenaga manusia dan kekuatan alam.
Hembusan angin keras menggulung pasir kuning bergulung-gulung di celah-celah selat yang sempit itu, menambah suasana yang seram semakin menakutkan, dua puncak gunung jajar berdiri, langit dan bumi seolah olah menempel jadi satu.
Berjalan ditengah selat sempit itu, yang kelihatan hanya pasir kuning melulu, sampai langitpun tak kelihatan lagi.
Coh Liu hiang menghela naps, katanya "Tempat yang amat berbahaya, bahwasanya Ciok hujin tidak perlu memeras keringat mengerahkan tenaga besar-besaran untuk membuat bentuk barisan sesukar dan serumit ini."
"Apa tempat seperti ini sudah terhitung berbahaya? Tempat yang betul-betul berbahaya belum lagi kalian lihat dan alami sendiri lho!"
Goda Ki Bu yong.
"Dimana?"
Tanya Coh Liu hiang.
Ternyata Ki Bu-yong tidak hiraukan pertanyaannya, segera ia pimpin di depan, belok ke timur menikung ke barat, tiba-tiba menjurus ke utara, tahu-tahu sudah menuju ke selatan, langkahnya enteng dan gampang saja seperti berjalan di lapangan luas, sedikitpun tidak nampak dimana letak bahayanya.
Tapi Coh Liu hiang cukup tahu bila mereka tidak ditunjukkan jalannya, umpama setahun lamanya, mungkin sampai jiwamu mendekati ajal, kau akan tetap berada dalam lingkungan tempat-tempat ini juga.
Dari tengah-tengah hembusan angin yang membawa taburan pasir kuning itu, tiba-tiba muncul bayangan beberapa orang, agaknya mereka sedang membawa sapu dan menyapu tanah, gerak-gerik mereka sedemikian lambatnya, namun setiap gerakan sapu mereka sedemikian teratur pula, selintas pandang mereka tak lebih adalah mayat-mayat hidup, seakan-akan sejak jaman dulu kala, mereka sudah bekerja disini, terus menyapu tanah berpasir sampai dunia kiamat.
Setelah mereka beranjak lebih dekat, pandangan Coh Liu hiang lebih jelas, tampak budak-budak mayat hidup ini, meski rambutnya awut-awutan dan pakaian kumal, tapi tiada satupun diantara mereka yang tak berparas ganteng dan tampan.
Cuma raut muka dan sorot mata mereka menampilkan warna yang beku kaku, sorot matanya guram dan kehilangan sinar kehidupan, agaknya bukan saja sudah melupakan asal usul dirinya bahwa mereka itu adalah manusia.
Namun Coh Liu hiang cukup tahu, laki-laki tampan dan ganteng seperti mereka-mereka ini dahulu kala tentu mereka mempunyai lembaran hidup masing-masing yang cemerlang dan sukses, mereka mempunyai kehidupan yang bahagia, senang punya gengsi dan pamor yang tinggi pula.
Tapi sekarang mereka justru sudah beku sama sekali, tapi yang jelas pasti masih memiliki banyak orang yang tidak akan melupakan mereka, orang lain sedang merindukan kedatangannya, sedang meneteskan air mata dengan pilu.
Tiba-tiba Coh Liu hiang merasa hatinya amat tertekan dan batinpun ikut prihatin.
Manusia jikalau pada memiliki watak welas asih dan tahu kasihan terhadap sesamanya yang sedang ditimpa kemalangan, masakah dia setimpal dipandang sebagai orang gagah, seorang pendekar?
Tapi orang-orang ini justru terus menyapu pasir, terus menyapu takkan henti-hentinya, seolah-olah mereka hidup untuk menyapu pasir, menyapu pasir untuk hidup.
Tak tertahan Coh Liu hiang segera menghampiri orang terdekat lalu menepuk pundaknya katanya "Saudara kenapa tidak berhenti istirahat dulu?"
Orang itu angkat kepala dengan pandangan kosong hambar dia awasi Coh Liu Hiang, cepat sekali kepalanya sudah tertunduk pula, sahutnya "Tidak perlu istirahat!"
Kembali tangannya bekerja menyapu pasir.
"Saudara ini apa kau memang senang menyapu?"
Tanya Coh Liu hiang tertawa.
"Ya, senang!"
Sahut orang itu pula tanpa angkat kepala. Coh Liu hiang tertegun, katanya menghela nafas "Tapi pasir di sini, selamanya takkan bisa disapu habis!"
"Yang ku sapu bukan pasir lho!"
Tiba...tiba... kata orang itu.
"Lalu apa yang kau sapu?"
Tanya Coh Liu hiang.
"Tulang-belulang orang mati!"
Sahut orang itu setelah berpikir sebentar.
"Tapi disini tiada orang itu, apa lagi tulang belulang mereka."
Kembali orang itu angkat kepala mengawasi dirinya, tiba-tiba tersimpul senyuman di raut mukanya, senyuman yang mengerikan katanya pelan-pelan "Walau sekarang tiada, sebentar akan banyak tercecer di sini."
Entah kenapa, sekonyong-konyong terasa segulung hawa dingin timbul dalam benak Coh Lliu hiang, sebetulnya banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada orang ini, menanyakan siapakah dia sebenarnya?
* Bersambung
Jilid 23 *
Jilid 23 Kenapa bisa berubah begini rupa?
Tapi mendadak ia sadar hakikatnya tidak berguna dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.
Karena dari bayangan orang ini, seolah-olah diapun ada melihat bayangan Ciok Tho, kecuali bentuk muka dan perawakannya yang berbeda, apa pula bedanya kelakuan orang ini dengan Ciok Tho?
Mereka sudah lupa masa silam, lupa segalanya, bahwa badan kasar mereka masih utuh, namun jiwa mereka sebetulnya sudah mati, mereka tidak lebih cuma mayat-mayat yang masih hidup belaka.
Karena mereka sudah mempersembahkan jiwa raga mereka kepada Ciok koan im.
Seketika terasa oleh Coh Liu hiang kaki tangannya mendadak berkeringat dingin, diam-diam hatinya membatin "Ciok koan im, Ciok koan im, apa benar kau mempunyai kekuatan iblis yang begini besar?"
Entah berapa jauh berapa lama mereka berputar-putar ditengah hembusan angin yang sepoi-sepoi tiba-tiba terendus bau kembang yang harum semerbak.
Yang jelas bau kembang ini bukan Seruni, bukan kembang melati, bukan mawar juga bukan kembang padma, begitu harum dan menusuk hidung, bau kembang ini seolah-olah kembang yang cuma ada di sorga.
Hawa di sini semakin hangat, malah hampir boleh dikata hampir panas, seluruh lembah sempit ini seolah-olah berubah menjadi sebuah tungku, disinilah tempat jagal manusia, tungku untuk merenggut nyawa atau sukma manusia.
Diantara tumpuan ribuan puncak-puncak batu di sana ternyata tersebar luas lautan kembang warna warni yang sedang mekar.
Selayang pandang, seolah-olah dunia ini diliputi kembang yang sedang mekar dan segar, sampaipun Coh Liu hiang yang banyak pengalaman dan tukang kelana inipun tidak tahu nama dan jenis kembang-kembang apa yang tertanam subur di sini.
Tapi terasa olehnya kembang mekar itu begitu segar, semarak dan elok, tak tahan dia menghela nafas ujarnya "Siapa akan mau percaya ditengah-tengah gurun pasir, ternyata terdapat lautan kembang yang sejenis lain seperti ini."
Ki Bu yong tiba-tiba mengejek "Memangnya kembang-kembang seperti ini takkan bisa dimiliki dan diimpikan oleh sembarang manusia."
"Apakah kembang ini hasil petikan dari sorga?"
Tanya Coh Liu hiang. Tak nyana Ki Bu yong manggut-manggut sahutnya "Ya memang dipetik dari langit."
Coh Liu hiang melirik kepada KI Ping yan "Kalau demikian beruntung sekali biji mata kami bisa menikmati lautan kembang seperti ini!."
Ki Ping yan diam saja.
Karena terasa olehnya, kedua kakinya tiba-tiba terasa lemas, mata berkunang-kunang, otak serasa gelap dan mata rasanya ingin tidur, seolah-olah sedang mabuk arak, namun lebih nikmat dari orang mabuk arak.
Akhirnya Ki Ping yan menyadari lebih dulu bahwa dalam bau kembang ini ada gejala gejala yang tidak normal, tapi meski sudah tahupun sudah terlambat, sementara Coh Liu hiang masih mengoceh, dia lantas membanting betapapun Lwe-kangmu memang lebih tinggi ketabahanmu lebih kuat...."
Terdengar Coh Liu hiang sedang berkata "Tadi nona bilang tempat yang benar-benar berbahaya belum lagi sampai, tentunya sekarang sudah sampai bukan?"
Ki Bu-yong terdiam sesaat lamanya, lalu bertanya kalem "Menurut kau apa tempat ini amat berbahaya?"
Dengan tersenyum berkatalah Coh Liu hiang "Pada suatu benda yang terlalu cantik, kadang kala sering mengandung mara bahaya aroma bau harum yang luar biasa, kemungkinan besar mengandung racun..."
Belum habis ia bicara, badannya tiba-tiba meloso jatuh ke tanah lemas lunglai. Ki Ping yan kembali tertawa getir dalam hati, katanya "Ternyata dia tidak selihai apa yang pernah kubayangkan."
Waktu dia melirik kepada Setitik merah, terpasang mata yang dingin dan teguh itu, kini sudah mulai pudar dan kacau.
Ki Ping yan merasa dirinya seolah-olah kembali menjadi anak-anak kecil, bermimpi buruk karena biasanya cuma anak-anak kecil saja yang benar-benar bisa menikmati mimpinya yang begini nyaman, segar dan nikmat.
Waktu dia siuman, didapatinya dirinya berada dalam sebuah rumah yang megah seperti dialam mimpi saja, Ki Bu yong sedang duduk dihadapannya, dengan termenung sedang mengawasi dirinya.
Tapi orang yang dia pandang bukan Ki Ping yan, tapi adalah Setitik merah, begitu pesona dan kesima sorot pandangannya, sedikitpun tidak menyadari bahwa Ki Ping yan sejak tadi sudah siuman dan memperhatikan dirinya.
Melihat sepasang biji matanya yang kaku dan seperti linglung ini, hati Ki Ping yan mencelos kaget, namun merasa aneh dan ketarik batinnya "Masakah budak liar ini sudah jatuh cinta kepada manusia batu ini?"
Sayang sekali Coh Liu hiang tidak melihat apa-apa, dia masih tidur nyenyak, malah mulutnya kadang-kadang mengigau.
Dari luar beranjak masuk dua orang gadis lainnya.
Salah seorang yang berpakaian atas bawah serba kuning berkata mengawasi dirinya "Apakah dia ini perampok ganteng, atau bajingan romantis yang kenamaan dalam dongeng itu.
Gadis yang lain pakai gaun panjang dengan baju panjang pula, katanya berseri tawa "Dalam dongeng tentunya dikatakan betapa tinggi dan besar kelihaiannya, jikalau ia benar-benar selihai itu, masakah kini rebah di sini?"
Gadis baju kuning itu berkata pula "Tapi kelihatannya dia lebih mempesonakan dan lebih tampan dari apa yang pernah kudengar dari dongeng itu.
Tak heran banyak gadis-gadis remaja yang khawatir dia tidak menggerayangi barang-barang milik keluarganya, ternyata maksudnya hanya untuk bisa berkesempatan bertemu muka sama dia."
Disanjung puji oleh seorang perempuan boleh dikata merupakan peristiwa yang paling menggembirakan bagi seorang laki-laki dalam dunia ini.
Tapi jikalau perempuan itu begitu buruknya, rasa senang dan gembira itu dengan sendirinya menjadi sirna dan menjadikan dingin hatinya.
Memang pakaian kedua gadis ini serba mewah dengan mode yang mutakhir, terbuat dari bahan yang mahal harganya, tapi raut mukanya justru memualkan setiap orang yang memandangnya, oleh karena itu Coh Liu hiang jadi patah semangat, cuma dalam hati diam-diam dia tertawa getir, batinnya "Untung raut muka kalian terlalu biasa, sehingga tidak sampai dibikin cacad seperti Ki Bu yong, sering aku dengar orang suka bilang gadis yang bermuka buruk katanya jauh lebih besar rejekinya, baru sekarang aku tahu dan membuktikan kenyataan ini."
Karena pikirannya ini, hati menjadi geli dan tak tertahan dia unjuk senyuman kepada kedua gadis ini.
Seketika berobah rona muka gadis berpakaian kuning, mimik wajah yang wajar tadi kini berubah sinar tajam dan sikapnya menjadi kikuk dan genit.
Sebaliknya gadis yang lain tetap berseri tawa, seakan-akan dia tak pernah berhenti tertawa.
Ki Bu yong mengerut alis, tanpa bicara tiba-tiba ia berpaling muka terus tinggal pergi.
Gadis pakaian kuning mencibir bibir, jengeknya "Budak jelek, tahu bahwa dirinya disukai orang, lantas pura-pura unjuk harga diri.
Hm..!
Kau merasa sebal terhadap kami, kami justru pandang sepele kepadamu!."
Berputar biji mata Coh Liu hiang, sengaja merendahkan suaranya "Nona kalau bicara lebih baik pelan-pelan dan lirih saja, jangan sampai kedengaran oleh dia."
"Memangnya kenapa kalau didengar olehnya? Aku tidak takut! jengek gadis baju kuning.
"Menurut pandangan Cayhe, nona Ki itu adalah orang penting ditempat kalian ini, sebaliknya nona berdua agaknya belum lama masuk perguruan, jikalau sampai berbuat kesalahan dan membuatnya marah, bukankah tidak leluasa."
Gadis baju kuning mendelik, tiba-tiba ia tertawa lebar, katanya "Tak perlu kuatir bagi kami, suhu selamanya bertindak adil terhadap para muridnya, kami tidak perlu takut kepadanya."
Gadis yang lain ikut menimbrung dengan malu-malu "Asal kau bersikap baik terhadap kami, kamipun bisa saja bikin kau hidup nikmat dan bersenang-senang disini."
Coh Liu hiang menatapnya bulat-bulat, tiba-tiba ia menghela nafas.
"Kenapa kau menghela nafas?"
Tanya gadis gaun panjang ini.
"Sayang sekali Cayhe tidak punya tenaga sama sekali, kalau tidak...."
Dengan sikap yang dibuat-buat dia hentikan kata-katanya, matanya dengan nanar menatap mereka.
Merah muka gadis bergaun panjang, pelan-pelan bibirnya digigit lalu katanya kalem "Kau tidak perlu gelisah, akan datang suatu hari...."
"Masakah kau sendiri tidak gelisah, dan ingin lekas...?"
Tanya Coh liu hiang.
"Memangnya kau sendiri? Kau ini memang kau tidak bernama kosong, kau memang seorang bangsat romantis yang manis mungil dan menyenangkan."
Coh Liu hiang memancing "Sungguh aku tidak mengerti sebetulnya aku ini terkena obat bius apa, kenapa begini lihai?"
Mendadak ia hentikan kata-katanya, lalu tertawa getir lalu katanya lebih lanjut "Tentunya nona berdua pun tidak tahu obat bius apa yang meracuni badanku, seharusnya tadi aku bertanya kepada nona yang ke satu tadi."
"Kau kira hanya dia saja yang tahu? ejek gadis gaun panjang.
"Jadi nonapun ada tahu?"
Seru Coh Liu hiang unjuk senyum girang.
Tiba-tiba gadis baju kuning sadar, sejak tadi sepasang mata Coh Liu hiang hanya mengawasi temannya yang satu ini, lama sudah tidak melirik kepadanya.
Maka segera ia menimbrung "Apa kau sudah melihat kembang-kembang itu?"
"Jikalau Cayhe tidak melihat, masakah sekarang sudah bisa rebah tak bertenaga seperti ini?"
"Tahukah kau apa nama kembang-kembang itu?"
Tanya gadis baju kuning. Coh Liu hiang gelengkan kepala, sahutnya "Jenis kembang seperti ini, selama hidupku belum pernah melihatnya."
Gadis baju kuning tersenyum puas dan bangga, katanya "Baik..baik kuberi tahu kepada kau, kembang itu dinamakan Eng siok hoa, sedang rumput-rumput kembang di bawahnya adalah Toa ma hasil cangkokan suhu yang dibawanya dari negeri asing.
Thian tiok, hanya ditempat yang bersuhu panas seperti ini baru bisa tumbuh subur."
Diam-diam tersirap darah Coh Liu hiang namun mulutnya berkata "Eng siok.. toa ma! Namanya aneh benar."
"Obat bius yang kau sadap adalah hasil perpaduan Eng siok hoa dan rumput Toa ma itu, kalau orang terlalu banyak makan bahan-bahan obat ini, orang akan dibikin gila, tapi kalau makannya secara pas-pasan, boleh dikata bisa memabukkan seperti hidup di kahyangan, jauh lebih nyaman, segar dan nikmat dari apa saja."
"Apa kalau makan terlalu banyak bisa gila?"
Tanya Coh Liu hiang terkejut.
"Kalau makan terlalu banyak, bukan saja bisa gila, malah pandanganmu bakal menciptakan berbagai khayalan-khayalan muluk, hakikatnya yang kau lihat itu adalah gambaran-gambaran kosong yang tidak pernah ada."
Kini gadis gaun panjang juga sadar bahwa temannya sedang berebutan sama dirinya, segera ia merebut kesempatan menimbrung lebih dulu "Ditambah kesadaran mereka sudah pudar, pikiran tidak genah lagi, maka ada kalanya mereka berloncatan menari-nari seperti sedang berkelahi dengan lawan yang tidak kelihatan, begitu besar napsu mereka merobohkan lawan, sampai akhirnya kehabisan tenaga dan binasa."
Sampai di sini ia tersenyum genit lalu menambahkan pula.
"Suatu yang tak pernah ada, siapapun tak bisa merobohkannya, meski dia itu seorang tokoh silat maha sakti, berkepandaian setinggi langit, jikalau terkena obat bius ini, paling-paling kuat bertahan beberapa kejap saja, cepat atau lambat akhirnya roboh juga."
Gadis baju kuning segera menyela "Oleh karena itu bila kaupun bisa memanfaatkan obat bius ini, berarti kau berubah dirimu sebagai orang yang takkan dapat dirobohkan oleh siapa saja, coba kau katakan bukankah khasiatnya jauh lebih besar daripada kepandaian silat betapapun lihainya?"
Serasa copot jantung Ki Ping yan mendengar hal-hal yang luar biasa ini, Coh Liu hiang malah tertawa "Tapi dalam pandangan mata Cayhe sekarang, yang kulihat hanyalah dua nona cantik molek yang manis dan mesra, tak pernah kulihat musuh yang menakutkan...semoga kedua nona jangan bikin pikiranku melayang kealam khayalan."
Gadis gaun panjang terkikik geli, katanya "Soal obat bius yang kau sedap tidak banyak, oleh karena itu paling hanya badanmu saja yang lemas lunglai."
Gadis baju kuning menimbrung pula "Letak dari pada kemujaraban obat ini, adalah khasiatnya, menurut kadar dan dosis dari penggunaannya dapat merubah keadaan si korban, kalau dosisnya terlalu banyak, obat ini adalah racun obat dewa kesenangan.
Coh Liu hiang menarik napas panjang, katanya "Nona berdua sungguh pintar dan banyak pengetahuan....."
Tiba-tiba seseorang menyeletuk dingin "Cuma sayang mereka terlalu banyak bicara."
Suara ini kedengaran amat tawar dan dingin tapi merasuk pendengaran.
Daya tarik yang luar biasa seperti ini, jauh lebih besar dari pada suara merdu dari pada rayuan genit yang sedang kehausan cinta.
Coh Liu hiang sudah banyak pengalaman dalam bidang ini dan sudah bisa mendengar suara genit dan rayuan halus, mendengar suara ini seketika terbangkit semangatnya.
Sebaliknya mendengar kata-kata ini kedua nona dihadapannya seketika berubah rona mukanya, begitu pucat dan ketakutan setengah mati.
Tampak sesosok bayangan putih tinggi semampai, seiring dengan kata-katanya beranjak masuk ke dalam kamar dengan langkah gemulai.
Gayanya berjalan sebetulnya tidak luar biasa, tapi cukup membuat setiap laki-laki merasa betapa cantik elok dan menawan serta menggiurkan, tanggung kata-kata paling manis dan muluk-muluk dari segala bahasa di dunia ini takkan bisa melukiskan keindahannya.
Badannya tertutup kain sari panjang yang putih merah, dalam rumah tiada angin, tapi siapapun merasakan orang seperti datang menunggang mega menyetir angin setiap saat kemungkinan bisa lenyap terhempas oleh angin besar.
Wajahnyapun tertutup cadar yang terbuat dari kain sari putih pula.
Walaupun tiada orang yang bisa melihat raut wajahnya, tapi orang pasti menduga bahwa seorang perempuan cantik ayu tiada bandingannya sejagat ini.
Perawakan Ki Bu yong sudah cukup cantik dan menggiurkan, bentuk badannya kira-kira sebanding tapi jikalau Ki Bu yong yang mengenakan model pakaian seperti ini, dengan mengenakan cadar kain sari pula, sekali pandang orang bisa membedakan dengan jelas.
Karena gaya dan keagungan dirinya tanggung takkan ada orang yang bisa menjiplaknya, itulah buah karya dari Yang Maha Kuasa yang mengkaruniai badan elok dan rupawan hasil gemblengan dari pengalaman dan tempaan bertahun-tahun lamanya.
Tiada orang yang bakal mempunyai pengalaman seaneh dan setinggi itu, oleh karena itu selintas pandangan dia selamanya akan selalu berada di puncak tertinggi, tiada orang yang bisa menandinginya, tiada orang yang bisa mencapainya.
Coh Liu hiang menarik napas panjang pula katanya "Ciok koan im, akhirnya aku bisa berhadapan juga dengan kau!
Seorang laki-laki sejati bisa berhadapan dengan perempuan macammu ini, sungguh besar rejeki sepasang mataku ini, tapi aku lebih suka lebih baik tiada manusia seperti kau ini saja."
Sementara itu kedua gadis itu sudah mendekam di lantai dan menyapa "Menghadap Suhu."
Berkata Ciok koan im dingin "Selamanya aku pandang kalian sama tingkat dan kedudukan, kalian sendiri tadi sudah bilang, benar tidak?"
Dengan mendekam kedua gadis ini manggut-manggut sahutnya gemetar "Itulah kebijaksanaan kau orang tua!"
"Bagus sekali!"
Ujar Ciok koan im, tiba-tiba dia menggape tangan kepada Ki Bu yong yang tadi mengikuti langkahnya katanya tawar "Jikalau kau tidak bisa membunuh mereka, biar mereka saja yang membunuh kau!"
Dengan suara tawar yang dingin dia tentukan mati hidup jiwa orang lain, nilai jiwa orang lain didalam sanubarinya, seolah-olah lebih murah dari jiwa anjing atau babi.
Pelan-pelan Ki Bu yong melangkah keluar raut mukanya sedikitpun tidak menampilkan perubahan apa-apa, katanya dingin "Tidakkah lekas kalian berdiri dan turun tangan?"
Tak tahan Coh Liu hiang segera berkata "Mereka hanya bilang dua tiga patah kata Hujin lantas hendak mencabut jiwa mereka, apakah tindakan ini tidak terlalu kejam?"
"Kalau toh aku selalu selalu berlaku adil kepada mereka, maka adu jiwa ini merupakan keputusan yang adil pula, mana boleh dikatakan aku kejam?"
Kata-katanya datar dan kalem, tapi orang yang mendengar takkan bisa mendebatnya lagi. Coh Liu hiang mengelus hidung katanya tertawa getir "Bagaimana juga, mohon Hujin suka mengampuni jiwa mereka."
"Tahukah kau, kenapa mereka sendiri tidak mohon ampun kepadaku?"
Tanya Ciok koan im.
Benar juga kedua gadis itu sudah berbangkit ternyata tanpa banyak bicara, dengan badan gemetar segera mereka turun tangan.
Coh Liu hiang menghela napas, belum lagi bicara, Ciok koan im sudah menyambung dengan kalem "Itulah lantaran mereka tahu setiap patah kata yang pernah kuucapkan, selamanya takkan dirubah lagi."
"Kalau demikian bukankah mereka jadi berkorban lantaran aku?"
Ujar Coh Liu hiang menghela napas pula.
"Kau tidak perlu bersedih dan merasa salah aku ingin mereka mati, bukan lantaran mereka sudah membocorkan rahasiaku! Jikalau aku tidak ingin kau tahu rahasia ini, sejak tadi aku sudah sikap mulut mereka!"
"Benar, seseorang yang toh harus menghadapi kematian, peduli rahasia apapun yang dia dengar, juga tidak menjadi soal."
"Nah, begitulah!"
"Kalau demikian, kenapa pula Hujin menghendaki mereka mati?"
"Mereka sendiri yang ingin mati?"
Seru Coh Liu hiang melongo.
Ciok koan im tidak menjawab.
Ki Ping yan justru membatin "Kenapa kau jadi pikun?
Kalau toh dia sudah naksir kepadamu para budak ini justru berani main-main dihadapannya lebih dulu, bukankah mereka sendiri mencari mampus?"
Tatkala itu gadis baju kuning dan gadis gaun panjang serempak menggerakkan kaki tangan menyerang dengan sengit dan kalap.
Lwekang mereka masih terlalu rendah, karena itu tadi Coh Liu hiang mengatakan bahwa mereka masuk perguruan belum lama tapi serangan kerja sama kedua orang ini ternyata cukup lihai dan aneh serta cepat, di luar dugaan orang.
Maklumlah pertempuran ini bukan merebut harta benda, juga bukan demi gengsi dan pamor tapi demi mempertahankan jiwa raga mereka, menang adalah hidup, kalah tentu mati, betapa mereka tidak bertempur mati-matian dan nekad.
Tampak sepuluh jari-jari gadis gaun panjang runcing-runcing setajam cakar-cakar serigala yang ganas dan buas, kertak gigi dan menjerit sengit mencengkeram ke tenggorokan Ki Bu yong.
Kedua biji mata gadis baju kuningpun membara beringas, telapak tangan kanan laksana golok, dengan seluruh kekuatan membelah ke dada Ki Bu yong pula, kepalan kiri digenggamnya kencang sampai memutih, sekali jotos ia serang ke bawah perut Ki Bu yong.
Serangan telapak tangan jotosan kepalannya ini kelihatannya memang biasa tak mengandung perubahan apa-apa, tapi posisi serangan dan gayanya yang aneh, sungguh sulit orang menyelamatkan diri arah mana orang menyerang.
Coh Liu hiang diam-diam membatin "Ilmu silat Ciok koan im memang hebat, aneh dan lihai, orang-orang seperti mereka saja sudah mampu melancarkan serangan dengan perbawa yang begitu dahsyat, bila dia sendiri yang mempraktekkan, tentu lebih luar biasa."
Tampak Ki Bu yong bergerak lincah dan tangkas, sekali berkelebat, sekaligus ia luputkan diri dari tiga jurus serangan kedua lawannya.
Kelihatannya kepandaian silatnya memang jauh lebih tinggi dari kedua lawannya namun agaknya dia tidak rela main kekerasan dengan cara serangan musuh yang ganas dan nekad, oleh karena itu begitu berkelit dia tak bertindak lebih jauh hanya bertahan saja tanpa balas menyerang.
Sebaliknya jurus demi jurus serangan kedua gadis lawannya semakin gencar, makin ganas dan berbahaya dan aneh-aneh pula, sampaipun orang seperti Coh Liu hiangpun sukar mengikuti dan tak melihat asal-usul dari tipu-tipu permainan mereka.
Jurus silat yang dimainkan ketiga orang ini ternyata jauh berbeda dari seluruh golongan silat di Tionggoan yang pernah dia selami, permainan gadis gaun panjang agaknya rada mirip dengan Eng jiau kang, tapi lebih mirip ke Kim na jiu pula, setelah diteliti lebih cermat, ternyata lebih mirip ilmu gumul dan gulat dari kepandaian orang-orang Mongol tapi tidak sekasar dan sekeras itu.
Ilmu pukulan telapak tangan yang dimainkan gadis baju kuning, kelihatannya seperti menggunakan tipu-tipu ilmu pukul telapak tangan dari aliran Lwekeh, tapi cara gerak dan serangannya secara praktek jelas sekali amat berbeda.
Bukan menabas atau membacok, tapi telapak tangannya itu selalu memotong, padahal ilmu pukulan dari aliran manapun dalam bilangan Tionggoan tiada jurus-jurus pukulan yang menggunakan tipu-tipu memotong ini.
Cuma orang-orang yang bersenjata golok saja baru ada yang menggunakan tipu memotong ini.
Makin lama makin tersirap darah Coh Liu hiang menonton pertempuran ini.
"Dilihat dari permainan mereka ini, jadi kepandaian silat Ciok koan im bukan mustahil dipelajari dari negeri seberang? Tatkala itu kedua pihak sudah bergebrak puluhan jurus. Selama ini Ki Bu yong tetap bertahan belum pernah balas menyerang. Tiba-tiba Ciok koan im tertawa dingin "Bu yong kapan sih hatimu sudah mulai lemah? Masakah kau tidak tega turun tangan?"
Belum habis kata-kata Ciok koan im tiba-tiba Ki Bu yong sudah lancarkan serangan balasan.
Sejurus serangannya ini ternyata jauh berbeda pula dengan gaya permainan kedua lawannya.
Sudah tentu gadis baju kuning tidak berani melawan pukulan ini secara keras, dengan lemas pinggangnya gemulai tertekuk, badan terbalik kaki berkisar, tahu-tahu badannya menyusup lewat dari samping pundak kiri orang terus menggeser ke belakangnya, tahu-tahu telapak tangannya membelah ke punggung Ki Bu yong.
Kali ini gerakan kakinya amat lincah dan cekatan serba wajar dan gemulai lagi, langkah-langkah kaki mereka yang berseliweran, cepat lagi tepat sehingga tidak saling tumbuk ditengah jalan, begitu tiba di belakang Ki Bu yong telapak tangannya sudah membelah dengan gempuran dahsyat laksana dampratan ombak, sedikitpun tidak kelihatan gerakan kaku atau tidak dipaksakan, dari permainan silatnya dapat dinilai, bahwa gadis baju kuning ini memang berbakat menjadi tokoh kenamaan.
Maklumlah didalam mempraktekkan suatu ajaran silat yang diperlakukan adalah keluwesan dan kewajaran dari gerak-gerik badan serta kaki tangan yang kerja serasi, kalau tidak meski tipu silat itu sendiri amat lihay dan aneh kalau dilancarkan tentu menunjukkan gerakan yang sedikit dipaksakan, maka dari sini dapat dinilai bahwa orang ini belum boleh dikategorikan sebagai tokoh kosen.
Bahwa gadis bermuka biasa, tindak-tanduknya genit dan kasaran ini ternyata dapat melancarkan jurus-jurus ilmu silat tingkat tinggi yang begini menakjubkan, Coh Liu hiang menonton menjadi bersorak dan memuji dalam hati.
Ciok Koan im sendiripun sedikit mengangukkan kepala, katanya "Dapat melancarkan jurus ini sebaik itu, tiga tahun pelajaran silatmu tidak terhitung sia-sia."
Tapi waktu ucapan kata-katanya ini selesai, tampak gadis baju kuning itu sudah terkapar di atas lantai.
Ternyata dikala telapak tangan gadis baju kuning membelah ke punggung Ki Bu yong, telapak tangan kiri Ki Bu-yong tetap mengincar urat nadi pergelangan tangan gadis gaun panjang, memaksanya menarik mundur serangan dan terdesak mundur, tahu-tahu telapak tangan kanan mendadak menyelonong lewat dari bawah ketiaknya ke belakang, dimana kelima jari-jarinya rada tertekuk tapi pukulan telapak tangan dirubah menjadi cakar, maka tebasan telapak tangan gadis baju kuning berarti disodorkan ke depan dan tepat berhasil dengan digenggamnya.
"Krak"
Lengannya seketika teremas remuk dengan menjerit ngeri seketika ia terkapar roboh tak bergerak. Tak terasa Coh Liu hiang sampai berseru memuji "Bagus, hebat sekali."
Memang cengkeraman Ki Bu yong dari depan menyelonong ke belakang ini siapapun dikolong langit ini bila melihat permainannya ini takkan tahan pasti memuji.
Maklumlah betapa sulit sebelah tangan menyelonong ke belakang melalui ketiak merupakan gerakan yang amat sulit dilakukan dan serangan balasan yang terlalu dipaksakan pula demi menyelamatkan jiwa sendiri.
Tapi kali ini Ki Bu yong bisa mempraktekkan dengan seenaknya dan wajar, lengan tangannya itu seolah-olah tidak bertulang, dapat ditekuk atau diputar ke arah mana saja menurut sesuka hatinya, sedikitpun tidak menunjukkan gejala-gejala yang menyangsikan.
Gadis bergaun panjang seketika berobah roman mukanya, mendadak dia berpekik nyaring terus menubruk kalap seperti serigala buas kelaparan menubruk mangsanya, meski serangannya tidak begitu menakjubkan, tapi bahwa serangan ini cukup mengejutkan juga.
Berkilauan sorot mata Setitik merah, mukanya yang kaku dingin selama ini tiba-tiba memancarkan cahaya cemerlang.
Sebat sekali Ki Bu yong tutulkan kaki mencelat menyingkir seenteng burung walet, sembari berkelit lekas telapak tangannya terayun balas membelah.
Sebetulnya gadis gaun panjang paling ketat melindungi batok kepalanya sejak permulaan gebrak tadi siapa tahu begitu telapak tangan Ki Bu yong terayun, dengan telak dia masih tepat membelah batok kepalanya.
Ternyata Ki Bu yong yang berkepandaian tinggi dan apal juga akan ilmu silat lawannya sudah memperhitungkan dengan cepat gerak perubahan tipu-tipu lawannya, di sela-sela antara bersilangnya kedua tangan, telapak tangannya segera membelah dengan sekuat tenaga tangannya, waktu dan sasarannya tepat sekali.
Jadi menggunakan cara atau tipu serangan gadis baju kuning ki Bu yong membunuh gadis gaun panjang, demikian pula sebaliknya menggunakan tipu serangan yang digunakan gadis gaun panjang dia bunuh gadis baju kuning malah didalam angkat tangan menggetarkan kaki saja, cepat sekali dia sudah berhasil merobohkan kedua lawannya.
Agaknya kalau dia mau, sejak gebrak pertama tadi, sebelum kedua gadis lawannya ini menyerang dirinya sebetulnya dia sudah bisa mencabut jiwa mereka.
Setitik merah dan Ki Ping yan saling berpandangan dengan terkesima, cuma Coh Liu hiang sebaliknya mengerut kening seolah-olah sedang memikirkan pemecahan suatu masalah yang mempersulit dirinya.
Terasa oleh Coh Liu hiang gerakan Ki Bu yong yang dipraktekkan barusan agaknya sudah amat apal sekali, dalam pandangan matanya tapi satu persatu dia bayangkan semua ajaran silat seluruh cabang atau aliran di seluruh cabang atau aliran di seluruh dunia ini, tapi tak terpikir olehnya dari cabang persilatan yang mana ada jurus-jurus silat yang mirip dan sama dengan permainan silat yang dilakukan Ki Bu yong barusan.
Dilihatnya sikap Ki Bu yong tetap kaku dingin, mimik wajahnya tidak berobah, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu apa, pelan-pelan dia menghampiri ke depan Ciok koan im katanya sambil membungkuk "Kau orang tua masih ada pesan apa?"
Ternyata Ciok koan im, termenung lama sekali, mendadak dia terkikik geli, katanya "Lama sekali tidak melihat kau bersilat, tak nyana ilmu silatmu sudah maju demikian pesat, sungguh harus dipuji."
Sahut Ki Bu yong menunduk "Bukan kepandaian silat Tecu ada kemajuan, soalnya mereka berdua biasanya kurang giat berlatih."
Ciok koan im berkata tawar "Sampaipun Maling romantis Coh Liu hiangpun memberi pujian tinggi kepandaianmu, buat apa kau merendah dan sungkan?"
"Ya, berkat didikan dan ajaran kau orang tua yang benar dan besar manfaatnya."
Kembali Ciok Koan im terbenam dalam lamunannya sampai lama tiba-tiba ia tertawa pula dan berkata "Buka mulut tutup mulut kau selalu panggil aku orang tua, apa benar aku ini sudah tua?"
Tertunduk kepala Ki Bu yong, tak berani banyak bicara lagi. Ciok koan im menghela nafas, ujarnya "Memang, aku sudah tua, dalam beberapa tahun lagi kau tentu dapat membunuhku, benar tidak?"
"Tecu tidak berani!"
Tersipu-sipu Ki Bu yong menjawab sambil menjura.
"Apanya yang kau tidak berani, dinilai dari kepandaian silatmu sekarang, sampaipun Tiang sun Hongpun takkan kuat melawan tiga ratus jurus seranganmu, beberapa tahun lagi, untuk membunuh aku bukankah segampang kau mengangkat tangan?"
Lama juga KI Bu yong berdiam diri, tiba-tiba dari dalam lengan bajunya, dia merogoh keluar sebilah pisau perak seperti milik Tiangsun Hong itu sekali iris kontan ia kutungi pergelangan tangan kanannya sendiri.
Darah segar menyembur dengan deras, menyemprot sederas bidikan anak panah."
Tanpa menunjukkan perubahan perasaannya, berkata Ki Bu yong pelan-pelan.
"Sekarang suhu kau... kau tentunya sudah percaya... percaya kepada Tecu?"
Belum habis bicara, air mata sudah bercucuran, namun kulit mukanya sudah pucat pasi tak berdarah, akhirnya pelan-pelan badannya meloso jatuh dan semaput.
Coh Liu hiang, Ki Ping yan sama menghela napas, mata dipejamkan, tak tega melihat kejadian tragis ini, selain halnya Setitik merah matanya malah terbelalak lebar, dengan tajam dia mendelik kepada Ciok koan im.
"Budak bodoh ini sendiri yang memotong tangannya, kenapa kau mendelik kepadaku?"
Kata Ciok koan im dengan suara merdu "Apa kau beranggapan aku sedang memaksa dia?"
"Hmm!"
Setitik merah hanya menggeram dengan suara berat.
"Tak nyana Setitik merah yang kenamaan dan sudah banyak membunuh manusia ternyata punya hati welas dan tahu belas kasihan, apa kau sudah jatuh cinta kepadanya..."
Sepatah demi sepatah Setitik merah berkata "Aku hanya ada maksud terhadap kau, aku bermaksud membunuhmu."
"Sayang sekali, selamanya kau tidak akan bisa melaksanakan cita-citamu ini."
Tanpa hiraukan Setitik merah, Ciok koan im berpaling dan menambahkan "Coh Liu hiang, apa kau masih mampu berjalan?"
Coh Liu hiang tersenyum, sahutnya "Kalau Hujin ingin aku berjalan seumpama aku tak mampu bergerak, akupun akan bisa berjalan."
"Kalau demikian, silahkan Coh Liu hiang pindah tempat, mari silahkan ikut aku, dengan langkah gmulai dia beranjak keluar pintu, tiba-tiba ia berpaling pula kepada Setitik merah katanya "Adakah kau membawa obat untuk menyembuhkan luka-luka terpotong?"
Setitik merah hanya mendelik kepadanya tanpa menjawab.
"Orang yang suka membunuh orang, tentu sewaktu-waktu bersiaga supaya dirinya tidak terbunuh orang, jadi selalu pasti membawa obat luka-luka, kalau kau sudah punya maksud terhadap budak bodoh, kenapa tidak segera kau tolong mengobati dia?"
Coh Liu hiang tersenyum ujarnya "Tidak salah, sekarang dia selamanya takkan mungkin bisa unggul dari kau, tentunya kau masih memerlukan tenaganya."
"Maling romantis ternyata memang dapat menyelami isi hati orang lain, disitulah letaknya kenapa banyak gadis-gadis rupawan sama jatuh hati kepadamu!"
Setitik merah benar-benar menolong Ki Bu yong membubuhi obat pada pergelangan tangannya yang kutung, biasanya dia membunuh orang tanpa banyak membuang tenaga, namun hanya untuk mengerjakan tugas seringan ini dia malah merasa amat berat dan tersipu-sipu.
Ki Ping yan menghela napas, serunya "Eng siok hoa....
eng siok hoa....
tak nyana kembang yang begini elok dan indah ternyata adalah racun berbisa yang dapat menghilangkan daya ingatan manusia, tanpa disadari oleh manusia sedikit demi sedikit jiwanya dan sukmanya digerogotinya sampai binasa."
Setitik merah segera menyambung "Aku sebaliknya tidak menduga bahwa dia sudi pergi mengikuti Ciok koan im"
"Kau anggap dia tidak punya pambek?"
"Hm!"
"Jikalau kau, seumpamanya Ciok koan im akan membunuhmu, kaupun takkan sudi ikut dia, benar tidak?"
"Hm!"
"Orang seperti kau ini selamanya takkan bisa memahami dan menyelami karakter dan martabat Coh Liu hiang, tapi boleh aku memberi tahu kepadamu sesungguhnya, dalam dunia ini tiada orang yang bisa memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak mau melakukannya."
Setitik merah tidak bicara.
Berkata pula Ki Ping yan "Boleh juga aku jelaskan lebih jauh, kelihatannya ia amat sembarangan, tapi selama hidupnya belum pernah dia melakukan sesuatu yang membuat seseorang temannya malu atau dirugikan, bahwa kau bisa berkenalan dengan kawan seperti dia, boleh kau mengelus dada senang, bahwa kau punya rejeki, sebesar ini."
Tiba-tiba terdengar Ki Bu yong mengeluarkan rintihan, pelan-pelan dia siuman dari pingsannya.
Diwaktu tak sadarkan diri raut mukanya menampilkan rasa derita yang luar biasa tapi begitu dia sadar raut mukanya seketika berubah dingin kaku, tanpa menunjukkan ekspresi wajahnya.
"Kau... kau masih kesakitan tidak?"
Tanya Setitik merah. Tak nyana sikap dan reaksi Ki Bu yong ternyata jauh lebih kaku dinginnya "Aku sakit atau tidak apa sangkut pautnya dengan kau? Menyingkirlah jauh sedikit!"
Sesaat lamanya setitik merah tertunduk diam akhirnya pelan-pelan dia menyingkir ke samping.
Dengan menahan sakit pelan-pelan Ki Bu yong merangkak berdiri, mendadak dilihatnya perban membalut kutungan tangannya, tiba-tiba dia menjerit beringas "Kaukah yang membalutnya?"
"Ya!"
Sahut setitik merah pendek.
"Siapa suruh kau bertingkah?"
"Tidak ada."
Tiba-tiba Ki Bu yong renggut kain perban itu lalu dicopotnya dengan cepat, lalu diapun bersihkan pula bubuk obat yang melekat pada luka-lukanya sampai bersih, bahwasanya luka-lukanya itu belum rapat, seketika darah bercucuran pula.
Walaupun kesakitan sampai kepalanya basah keringat dingin, namun mukanya bersikap dingin dan tawar, segera ia membanting perban putih itu katanya sambil mendelik kepada Setitik merah "Urusanku sendiri, selamanya tidak perlu orang lain turut campur,"
Habis berkata, tanpa memandang kepala Setitik merah pula, dengan menahan sakit dia meronta keluar.
Ki Ping yan geleng-geleng kepala dan menghela napas, katanya "Perempuan sekeras dan setabah ini, jarang kulihat."
Sesaat berdiam diri, akhirnya Setitik merah berkata "Dia baik sekali!"
"Baik sekali!"
Kembali setitik merah ulangi pujiannya.
"Bagaimana juga, apa yang kau lakukan adalah baik baginya, seumpama dia tidak sudi terima kebaikanmu tiada sepantasnya sikapnya begitu galak."
Setitik merah pejamkan mata, selanjutnya dia tidak bicara lagi.
Ki Ping yan mengawasinya sebentar, akhirnya tertawa, batinnya "Jikalau kedua orang ini dapat menjadi jodoh, tentunya memangnya pasangan yang setimpal."
Tiada toilet, tiada lemari, tiada kelambu, juga tiada segala perabot antik atau pajangan yang mewah-mewah didalam kamar ini.
Tapi keadaan kamar ini sudah cukup baik dan mungil, seumpama perempuan cantik yang dikaruniai Thian, jikalau dia merias diri berkelebihan, malah melunturkan kecantikan dan keagungannya.
Duduk di kamar ini, Coh Liu hiang merasa nyaman dan segar, selama hidup boleh dikata belum pernah dia berada dirumah senikmat ini, dalam hati diam-diam dia sedang berkeluh kesah.
Bagaimanapun juga Ciok koan im manusia yang satu ini memang bukan manusia sembarangan.
Sekarang terpikir oleh Coh Liu hiang hanya ingin selekasnya melihat wajah asli Ciok koan im.
Sekarang masih belum bisa ia bayangkan sebetulnya betapa cantik molek wajah perempuan aneh yang serba misteri ini.
Akan tetapi sesudah dia berhadapan dan melihatnya, diapun sudah membayangkannya.
Kecantikan dan keelokan Ciok koan im, ternyata sukar dibayangkan oleh siapa saja yang pernah melihatnya, karena keelokannya, boleh dikata sudah mempengaruhi seluruh daya pikiran untuk membayangkannya.
Banyak pujangga menggunakan, bintang kejora, untuk melukiskan keelokan biji mata perempuan cantik, tapi sinar bintang masakah dapat dibandingkan sepasang sorot matanya yang bercahaya bening dan lembut.
Tak tahan Coh Liu hiang menghela napas panjang untuk melapangkan dadanya.
Ciok koan im tersenyum simpul, ujarnya "Bukankah kau selalu ingin bertemu muka dengan aku, kini kalau toh keinginanmu sudah terlaksana, mengapa kau menghela napas setelah melihat mukaku?"
Suara memang amat merdu menarik, kini setelah melihat raut mukanya lagi, mendengar tutur katanya, orang lebih terpesona dan semangat seolah-olah copot dari badan kasarnya.
"Aku menghela napas lantaran kuatir orang bisa menganggap aku membual."
Sekilas CIok koan im tertegun, lalu tanyanya tertawa "Membual?.. selamanya aku selalu bisa memahami setiap patah kata-kata orang lain, tapi omonganmu ini sungguh aku tidak paham."
"Kelak kalau ada orang bertanya kepadaku "Pernahkah kau melihat Ciok hujin?"
Sudah tentu kujawab sudah pernah, kalau orang itu bertanya lebih lanjut "Bagaimana bentuk muka Ciok Hujin?"
Tentunya aku tidak bisa menjawabnya,"
Dia tertawa getir, lalu melanjutkan "Melihat aku mendadak kelakep, tentu orang itu anggap aku sedang membual, di luar tahunya bahwa kecantikan wajah Hujin, bahwasanya tiada seorang ahli tulis yang pandaipun yang mampu melukiskannya dengan kata-kata."
Ciok koan im tertawa manis, katanya "Selama hidupku tidak jarang aku mendengar kata-kata puji sanjung yang muluk-muluk tapi selamanya tak pernah ku dengar kata-kata yang betul-betul membuat hatiku riang."
Sudah tentu didalam kamar ini ada sebuah ranjang, lebar empuk dan nyaman.
Pelan-pelan CIok koan im duduk di pinggir ranjang dengan tenang tanpa banyak gerakan dia mengawasi Coh Liu hiang.
Dia hanya duduk tenang dan diam saja, mengawasi dengan sorot matanya yang redup, tiada gerakan tidak menggunakan kata-kata pancingan, tapi ketenangan dirinya ini justru lebih besar daya tariknya dari gerak-gerik yang genit dan bujuk rayu yang menggiurkan.
Badannya mengenakan kain sari panjang yang tipis untuk menutupi seluruh badannya, hanya sepasang lengan tangan dan sepasang telapak kakinya saja yang menongol di luar.
Tapi keadaannya ini jauh lebih menggerakkan sanubari setiap laki-laki yang melihat perempuan molek yang telanjang.
Demikianlah keadaan Coh Liu hiang, tanpa berkedip matanya mendelong mengawasinya seperti orang linglung.
Ciok koan im tersenyum manis pula, katanya "Sudah sejak lama kau pernah mendengar namaku bukan?"
"Em..!"
Coh Liu hiang menjawab dengan suara dalam tenggorokan.
"Tapi sampai sekarang, baru kau dapat melihat muka asliku."
"Em..!"
"Apa kau kecewa?"
"Apa Hujin melihat keadaanku seperti orang kecewa?"
"Kau tidak merasa aku terlalu tua?"
"Bagi perempuan.
"Tua"
Memang merupakan musuh yang paling ditakuti, tapi agaknya Hujin sudah berhasil menundukkan musuhmu itu."
Ciok koan im tertawa-tawa, katanya pula.
"Tahukah kau tempat apakah ini?"
"Kecuali kamar tidur Hujin, masalah ada tempat ini seperti ini di dunia ini?"
"Tahukan kau kenapa aku mengundangmu kemari?"
Kali ini Coh Liu hiang hanya manggut-manggut. Kerlingan mata Ciok Koan im tiba-tiba jadi redup, katanya lembut "Kalau kau sudah tahu, kenapa tidak kemari dan lekas mulai?"
Dalam dunia ini tanggung takkan ada laki-laki yang kuasa menahan diri untuk melawan rayuan ini bukan?
Akhirnya Coh Liu hiang sudah mendekap dan memeluknya kencang-kencang.
Ternyata badannya selembut dan sehalus kaca yang bisa menari-nari di atas telapak tangannya yang mulai nakal.
Sorot matanya seolah-olah ditaburi selaput kabut tebal, suaranya berbisik lembut dan mengasyikkan "Perduli bagaimana kejadian selanjutnya, dengan adanya kejadian malam ini, selamanya kau tidak akan menyesal."
"Selamanya aku memang tidak pernah menyesal, mendadak dia kerahkan sisa tenaganya dia angkat badan orang terus dilempar sejauh-jauhnya. Maka badan Ciok koan im lantas melayang seperti daun melambai, mesti dilempar dengan keras, namun meluncur turun dengan enteng, Cuma air matanya berubah. Bukan saja marah, diapun kaget dan heran selama hidupnya belum pernah dia mengalami mimpi seaneh dan sebrutal ini, tapi mimpipun tidak pernah terpikir olehnya bahwa Coh Liu hiang bakal melakukan ini, melemparkan dirinya. Coh Liu hiang tertawa meringis mengawasi dirinya, katanya "Melihat sikapmu agaknya kau kira aku ini orang edan, ya toh?"
Sekilas itu cepat sekali Ciok koan im sudah pulih dalam sikap dan gayanya yang molek katanya tawar "Memangnya kau bukan orang edan?"
Coh Liu hiang tertawa besar katanya "Aku hanya gegetun, kenapa sekarang aku tidak punya tenaga untuk melemparmu lebih jauh."
"Masa kau tega?"
Ujar Ciok koan im lembut aleman.
Dengan gemulai dia melangkah beberapa tindak lalu berdiri tegak pasang gaya kain sari laksana salju yang menutupi badannya itu pelan-pelan melorot ke bawah, maka terpampanglah sebentuk badan yang padat montok menggiurkan dengan kulit putih halus laksana gading.
Tiba-tiba napas Coh Liu hiang menjadi berat dan memburu, agaknya dia tidak mau percaya dalam dunia ini ada bentuk badan yang seelok dan menggiurkan seperti ini, pinggangnya yang ramping, dada yang montok dengan lekuk-lekuk badan yang jelas serta pahanya yang ...."
Kulit badan yang segar halus hangat dan licin ini, kini sudah mendekapnya kencang-kencang seperti ulat membelitnya, sepasang bukit yang kenyal tahu-tahu sudah menindih dadanya, suara nan merdu sedang berbisik di pinggir telinganya "Kau adalah laki-laki sejati yang hebat dan berpengalaman, bukan?"
"Ehm..!"
Seperti sedang mengigau bisikan Ciok koan im "Tentunya kau sudah tahu, bahwa sekarang aku amat memerlukan kau, masakah kau tega menolak keinginanku?"
Jari-jari Coh Liu hiang mulai nakal lagi, pelan-pelan merambat dan menggeremet dari atas punggungnya terus melorot turun, sekujur badan Ciok koan im mulai gemetar, tiada sesuatu peristiwa dalam dunia ini yang benar-benar dapat menyedot sukma jiwa seorang laki-laki lantaran adanya getaran badan yang wajar ini.
Matanya memincing, kepalanya rebah di atas pundak Coh Liu hiang, katanya gemetar "Di sini sudah termasuk sorga, apalagi yang sedang kau tunggu?"
Coh Liu hiang menghela napas, mulutnya menggumam "Benar badan telanjang seorang perempuan molek, memang adalah sorga dunia bagi laki-laki.... cuma sayang letak sorga itu terlalu dekat dengan akherat."
Mendadak jarinya mencubit pada tempat yang paling halus licin, paling empuk dan paling menarik di atas badannya, lalu sekeras-kerasnya pula dia dorong badan orang sampai rebah terlentang ke atas ranjang.
Ciok koan im rebah terlentang di atas ranjang di bawah sinar pelita yang redup, menyoroti seluruh kulit badannya yang putih laksana susu namun pada sela-sela tertentu masih juga meninggalkan bayangan-bayangan hitam yang tak terpandang oleh mata telanjang.
Itulah bayangan yang menarik dan menyedot sukma, biasa membuat laki-laki gila dan kehausan.
Dia tetap menunggu, itulah gaya sedang menunggu, gaya mengundangmu untuk segera mencemplak naik ke punggung kuda.
Tak nyana Coh Liu hiang mendadak meraih cangkir emas yang berada di ujung ranjang, diangkatnya tinggi, lalu pelan-pelan dituangnya arak yang berada dalam cangkir, arak merah dadu yang berada dalam cangkir segera mengalir turun laksana benang sutra, bercucuran di atas badannya, tepat di atas bayangan gelap itu sampai ke atas pusar dan dadanya.
Coh Liu hiang tertawa besar, katanya "Sekarang kau tentu lebih yakin bahwa aku ini benar-benar orang edan, benar tidak?"
Ciok koan im masih tetap rebah diam saja, tidak bergerak, dia diamkan saja arak itu membasahi badannya, mengalir melalui celah bukit di atas dadanya terus turun ke perutnya yang cekung dan datar, membasahi kasur.
Akhirnya dia menarik napas panjang, katanya "Kau bukan edan, paling-paling kau ini seorang pikun yang tak tertolong lagi."
Coh Liu hiang tersenyum, ujarnya "Kau kira seorang laki-laki yang normal, selamanya takkan kuasa menolak keinginanmu ya?"
"Ya, selamanya takkan pernah terjadi."
"Jadi budak-budak didalam lembah itu, mungkin lantaran mereka terlalu normal."
Mendadak Ciok koan im bergegas duduk teriaknya "Apa katamu?"
"Jikalau aku tidak menolak keinginanmu, akupun bakal seperti mereka, menyapu pasir yang selamanya takkan bersih, sampai ajalnya tiba baru berhenti. Karena setiap kali kau melihat seorang laki-laki yang luar biasa, maka kau lantas ingin menundukkan dia, memilikinya akan kau peras supaya sukma dan raganya, dia persembahkan demi kepuasanmu, tetapi setelah laki-laki itu betul-betul sudah mencurahkan segala miliknya kepadamu, maka kau akan segera merasa bahwa semua laki-laki ini terlalu rendah dan tak berguna lagi, paling berharga mereka cuma cocok menjadi kacungmu untuk menyapu pasir belaka."
Ciok koan im menatapnya tajam, lama dan lama sekali tidak bersuara.
"Mungkin lantaran hatimu terlalu kosong dan kau terlalu kehausan, maka tak henti-hentinya kau mencari dan mencari terus tak pernah berhenti, ingin kau mencari laki-laki untuk mengisi kekosongan dan menghilangkan rasa hausmu itu, tapi selamanya kau takkan pernah mendapatkannya."
Mendadak Ciok koan im tertawa pula, katanya lembut "Mungkin laki-laki yang sedang kucari dan hendak kucari bukan lain adalah kau!"
"Sekarang mungkin kau masih merasa bahwa aku rada berbeda dengan laki-laki lain, tapi setelah aku dapat kau kuasai dan kau tundukkan, maka keadaanku takkan berbeda dengan mereka."
Ciok koan im tertawa manis dan berkata hangat "Masa terhadap dirimu sendiri kau tidak punya keyakinan?"
"Bukan aku tidak punya keyakinan, cuma aku tidak mau menyerempet bahaya ini."
Coh Liu hiang menggosok-gosok hidungnya katanya tertawa "mungkin aku merasa tiada perempuan dalam dunia ini yakin patut membuatku harus menyerempet bahaya demi dirinya."
"Bagaimana kalau Soh Yong yong?"
Tanya Ciok koan im.
Serasa tenggelam hati Coh Liu hiang, tapi lahirnya tetap bersikap wajar, katanya dengan tertawa tawar "Dalam pandanganku, mereka bukan perempuan, mereka tidak lebih sebagai sahabat baikku saja.
Dan untuk sahabat karibnya sendiri, sering laki-laki suka menyerempet bahaya."
Sirna senyum manis yang menghias muka Ciok koan im, katanya dingin "Tapi kau tidak tahu, laki-laki yang menolak kehendakku apakah akibatnya?"
"Kecuali aku, masakah ada laki-laki lain yang pernah menolak kau?"
"Ada satu, beberapa tahun yang lalu pernah ada satu, sorot matanya menampilkan senyuman sadis, katanya menambahkan "Tahukah kau dengan cara apa aku menghukumnya?"
"Kau membunuhnya?"
"Membunuhnya? Masakah begitu gampang, aku menelanjanginya lalu kujemur diteriknya matahari, biar sinar surya yang panas itu membakar kulit mukanya, membuat picak sepasang matanya, lalu kusuruh dia menyurung gilingan seperti keledai, selamanya tak pernah kuberi kesempatan istirahat kepadanya....."
Sampai d isini dia terkekeh-kekeh, lalu menyambung "Tahukah kau akhirnya dia berubah menjadi apa?"
Maka terbayang dalam benak Coh Liu hiang akan keadaan Ciok Tho, katanya menghela napas "Aku tahu."
"Apa kaupun ingin berubah menjadi seperti itu?"
"Aku hanya tahu bahwa akhirnya dia tidak mati, belakangan malah dia berhasil meloloskan diri, akupun tahu mesti ia sekarang amat menderita dan sengsara hidupnya, tapi keadaannya akan jauh lebih baik dari pada budak-budak yang menyapu pasir itu."
Berubah rona muka Ciok koan im, katanya kertak gigi "Tapi kau... selamanya jangan harap bisa lari dari sini!."
Aku masih tahu, terhadapku kau belum sampai putus asa, tentulah tidak akan menyiksaku demikian rupa.
Mendadak Ciok koan im meraih bantal terus ditimpukkan sekuatnya ke arah Coh Liu hiang, bentaknya "Enyah!
Disaat aku belum berniat membunuhmu, lekas enyah dari sini."
Coh Liu hiang tersenyum sambil menjura, sahutnya "Aku patuh akan perintahmu."
Dengan tetap tersenyum dia melangkah keluar, didengarnya napas Ciok koan im di belakang sana masih ngos-ngosan.
Selangkah demi selangkah Coh Liu hiang kembali ke kamar asalnya.
Maling romantis yang Gingkangnya nomor satu di seluruh kolong langit, kini setiap langkah kakinya, seolah-olah harus mengerahkan seluruh kekuatan dirinya.
Dua orang gadis lain mengintil di belakang, jarak mereka cukup jauh, agaknya seperti kuatir bila mereka rada dekat, akan datang bencana menimpa dirinya.
Tiba-tiba Coh Liu hiang menghentikan langkahnya, katanya berpaling "Aku tak mampu berjalan lagi, sukakah nona memayangku kembali?"
Gadis itu mendelik, semprotnya "Tuh sudah hampir sampai tinggal menikung didepan sana, jarak cuma dua langkah memangnya kau tidak bisa jalan?"
"Masakah nona begitu tega, memangnya kau ingin aku merangkak balik kesana?"
Gadis yang lain segera menyela "Toa siauya kumohon kepadamu, jangan kau mencari kesulitan bagi kami, sudah dua jiwa berkorban secara konyol lantaran kau, seorang terkutung tangannya demi kau, masih kau belum puas?"
"Tapi sekarang.... aku hanya minta nona suka memayang aku.... kalau tidak, terpaksa aku mendeprok di sini saja."
Kedua gadis itu membanting kaki, keluhnya.
"Kau ini memang bintang Iblis, perempuan yang berhadapan dengan kau pasti sebal atau celaka."
Ki Ping yan melihat kedua gadis ini memayang Coh Liu hiang masuk, keadaan Coh Liu hiang sudah kempas-kempis kehabisan tenaga, sungguh geli dongkol dan gemes pula hatinya.
Tak tertahan dia mengolok dingin "Agaknya kau amat membuang tenaga bagi Ciok hujin itu."
Coh Liu hiang menghela napas, ujarnya "Tak nyana daya pikiran dan rekaanmu begini subur, cuma sayang apa yang kau bayangkan salah sama sekali..."
Belum habis dia bicara kedua sikutnya tiba-tiba disodokkan kedua samping, tapi mengeluarkan jeritan kedua gadis yang memayang itu seketika roboh terkulai.
Coh Liu hiang menghela naps pula, katanya "Sungguh harus dimaafkan, bukan Cayhe ingin membalas kebaikan dengan perbuatan tercela, tapi demi melarikan diri, ya tiada jalan lain."
Setitik merah dan Ki Ping yan sama melotot saking terkejut.
"Kau...."
Teriak Ki Ping yan tertahan "Dari mana kau mendapatkan tenagamu?"
"Agaknya seperti sejak pembawaan."
Sahut Coh Liu hiang tertawa.
"Tapi... tapi bau wangi yang memabukkan itu...."
"Kau kira akupun seperti kalian berdua terbius dan mampus oleh bau wangi kembang candu itu?"
Ki Ping yan melengak, katanya tertawa meringis "Benar, tentunya kau memang pura-pura kalau tidak masakah kau bisa jatuh semaput lebih dulu dari kami, kau siuman lebih akhir dari kami pula?
Tapi sebelum Ciok koan im belum kembali, kenapa tidak lekas kau melarikan diri?"
"Waktu itu aku masih ingin bertemu dan berhadapan sama dia, mulutnya berkata sewajarnya, tapi Ki Ping yan cukup tahu, bahwa waktu itu dia tidak mau tinggal pergi, karena dia kuatir setelah dirinya tidak lari seorang diri, jiwa mereka berdua yang bakal celaka. Berkata pula Coh Liu hiang "Sekarang aku sudah bikin Ciok koan im itu marah-marah hampir gila dalam satu atau setengah jam takkan keluar ke sini, kalau kita hendak pergi, sekaranglah saatnya yang paling baik."
"Tapi kami masih belum punya tenaga, mungkin tak kuat berjalan jauh."
Coh Liu hiang tidak segera menjawab, dia lucuti kain ikat pinggang dua gadis itu lalu berkata dengan suara berat "Terlebih dulu kau gendong Ang heng di punggungmu, diikat kencang dengan kain ini lalu ku gendong kau, tenaga untuk berdiri saja tentunya kau masih kuat bukan?"
Itulah sebuah rumah yang dibangun dari sebuah batu, sejalur sumber angin tengah mengarah keluar melalui sumber air diatas dinding batu, dua orang gadis yang telanjang, sedang mandi di bawah pancuran air sumber ini.
Wajah mereka tidak terhitung cantik tapi badan yang kekar dan montok berisi dengan dua bukit halus yang kenyal dan menjulang masih asli mengandung daya tarik yang membangkitkan napsu birahi setiap laki-laki, mereka sedang senda gurau sambil bermain air dengan cekikikan.
Sekonyong-konyong, tiga orang menerjang keluar bersama, ketiga orang ini ternyata bertumpuk, seperti karung-karung yang distapel tinggi, keadaan mereka mirip benar dengan orang sedang main akrobatik.
Keruan kedua gadis seketika kaget melongo dan terbelalak matanya, suara cekikikan mereka seketika sirap, salah satu diantaranya lekas berjongkok dengan kedua tangan berusaha menutupi dadanya, seorang yang lain tersipu-sipu meraih pakaian.
Coh Liu hiang berkata dengan tersenyum "Nona-nona tak usah kuatir, kami bertiga meski laki-laki sejati tapi kami bukan laki-laki bangor atau hidung belang, mata kamipun tidak sembarang melihat, dimana jarinya menjentik, gadis itu seketika merasa setengah badannya linu kemeng seperti tersetrom aliran listrik, pakaian yang sudah berhasil diraihnya seketika jatuh pula.
Saking malu sampai kuping gadis inipun merah mengangah seperti kepiting direbus, suaranya gemetar "Laki-laki sejati kenapa....
kenapa melarang orang pakai baju?"
"Karena Cayhe cukup tahu, bila seseorang bertelanjang, tentunya dia tidak akan berani berbohong."
"Dan lagi tentu tak enak dan malu untuk turun tangan,"
Timbrung Ki Ping yan.
Gadis itu gertak gigi, terpaksa diapun berjongkok dan menutupi dada dengan menyilangkan kedua tangannya.
Coh Liu hiang mendongak melihat cuaca katanya "Sekarang aku cuma ingin bertanya kepada nona, dimana Ciok Hujin mengurung Soh Yong yong, Li Ang siu dan Song Thian ji?"
Gadis itu melengak, tanyanya "Tiga orang? Laki-laki atau perempuan?"
Gadis itu menggigit bibir, sahutnya "hujin selamanya belum pernah menyembunyikan orang perempuan."
Seorang gadis yang lain menambahkan "Di sini seluruhnya adalah lima enam puluh saudara-saudara, tapi tiada seorangpun yang she Soh."
Coh Liu hiang mengerut alis, ujarnya berpaling ke belakang.
"Menurut pengelihatanmu apakah mereka bicara sejujurnya?"
"Didalam keadaan seperti mereka perempuan tanggung takkan berani bohong lagi."
"Kalau demikian jadi mereka benar-benar memang tidak berada disini."
Sekilas dia melirik kedua gadis itu katanya dengan menghela napas "Sedikitnya setiap hari ada sepuluh manusia yang mati kekeringan ditengah gurun pasir, nona-nona malahan enak-enak mandi disini....
ai.!"
Seiring dengan helaan napasnya yang terakhir, kembali jarinya menyentik dua kali, seketika kedua gadis telanjang ini lemas tidak bisa berkutik.
Serambi panjang ini sunyi senyap, tiada terdengar sesuatu suara, tak kelihatan ada bayangan manusia.
Dengan suara prihatin Ki Ping yan bertanya "Apa kau tahu jalan untuk keluar?.
"Waktu mereka menggotongku masuk kemari, sudah kuingat-ingat betul." * Bersambung ke
Jilid 24 *
Jilid 24
"Kalau Yong ji tidak berada di sini, kenapa tidak lekas kau menyingkir dari tempat ini? Gadis-gadis ini semua berkepandaian silat yang tidak lemah, jikalau kau kebentur beberapa gadis yang berpakaian, mungkin kesulitan harus kau atasi."
"Aku memang ingin mencari seseorang,"
Tiba-tiba Setitik merah menimbrung.
"Siapa?"
Tanya Ki Ping yan mengerut alis. Coh Liu hiang malah tersenyum ujarnya "Apakah nona Ki itu?"
Agaknya Setitik merah menghela napas, katanya "Aku hanya merasa tidak boleh meninggalkan dia ditempat ini."
"Tapi apa kau kira dia sudi pergi bersama kita?"
Tanya Ki Ping yan.
"Mungkin tidak mau."
Sahut Setitik merah sesaat kemudian.
"Kalau kau tahu dia takkan pergi bersama kita, untuk apa pula kau hendak mencari dia?"
Desak Ki Ping yan.
Kata Setitik merah dengan nada berat "Tapi aku malah tahu, paling tidak dia takkan merintangi maksud kita.
Sekonyong-konyong terdengar seorang menjengek dingin "mengandalkan apa kau yakin benar bahwa aku tidak akan merintangi kau?
Kalau hanya mengandalkan keadaan kalian bertiga sekarang, jikalau mampu melarikan diri, mungkin tempat ini telah lama menjadi puing-puing.
Oh Thi hoa tidak rebah di atas gundukan pasir, napasnya sengal-sengal, mungkin sekarang dada orang yang akan dapat mengenali bahwa inilah Oh Thi hoa, mungkin dia sendiripun takkan bisa mengenali dirinya sendiri.
Dia sedang merasakan siksaan lapar, letih, haus dan kotor, tenggorokannya sudah mulai terbakar, begitu panas kering rasanya sampai hampir saja dia gila dibuatnya, seakan-akan badannya hampir meledak karena gerah.
Pipop kongcu rebah tak jauh disampingnya, keadaan putri raja ini jauh lebih mengenaskan pakaian mahal model terakhir yang dikenakannya ini sekarang sudah dedel dowel tak karuan pahanya yang putih malah tampak tergores luka berdarah yang dikotori lumpur.
Terik mata hari pelan-pelan menggeremet ke arah barat, namun suhu panasnya masih merangsang badan, menyoroti muka mereka, tidak jauh di depan sana adalah sebuah tempat berteduh yang sejuk, tapi mereka sudah tidak punya tenaga untuk merayap kesana.
Sekuat tenaga Oh Thi hoa coba membuka kedua matanya, mulutnya menggumam "Selama hidup sampai setua ini, mungkin kita takkan punya harapan untuk menemukan si Ulat busuk itu.
Pipop kongcu menimbrung "Sebetulnya kita tidak boleh menempuh perjalanan lewat jurusan ini."
Tiba-tiba terpancar sorot kemarahan dari mata Oh Thi hoa, katanya keras dan serak "Tidak salah memang kita tidak seharusnya lewat jalan ini, tapi memangnya kau harus menyalahkan kepadaku?
Bukankah kau sendiri yang mengunggulkan diri di padang pasir kau jauh lebih berguna dari aku?
Kenapa sekarang kau mirip aku, seperti anjing kelaparan rebah di sampingku tak bisa berbuat apa-apa."
Bercucuran air mata Pipop kongcu, katanya sesenggukan serak "Memangnya sebetulnya aku tidak ikut kau kemari, bikin susah kau saja, kalau tidak sekantong air itu cukup kau minum seorang diri, paling tidak masih bisa bertahan beberapa waktu lebih lama lagi."
Sesaat Oh Thi hoa terlongong, akhirnya menghela napas panjang katanya getir "Aku ini memang keparat, soal begituan mana boleh salahkan kau?
Aku ini laki-laki besar seorang gadis saja aku tidak mampu melindunginya, memangnya masih punya muka muring-muring kepadamu dalam keadaan seperti ini."
Pipop kongcu tiba-tiba menubruk ke atas badannya, tangisnya pecah semakin keras, katanya mewek-mewek "Tak bisa salahkan kau, akulah yang salah....
sekarang aku cuma ingin mati lebih baik kalau bisa segera mati!"
Pelan-pelan Oh Thi hoa mengelus rambutnya, mulut menggumam pula "Seumpama kita tidak ingin mampus, mungkin kitapun takkan bisa bertahan hidup."
Selayang pandang, pasir kuning terbentang luas tak berujung pangkal, seluruh kolong langit dan luas ini, seolah-olah tinggal mereka berdua manusia yang sedang meronta melawan maut di dunia serba kuning kering ini.
Pelan-pelan Pipop kongcu angkat kepalanya, ujung mulutnya mengulum senyum getir, katanya pula "Ternyata aku bakal mampus bersama kau, mungkin siapapun takkan pernah menduganya?"
Oh Thi hoa tiba-tiba tertawa besar, katanya "Bisa mati bersama kau, memang suatu hal yang patut dibuat girang kau...
kau sebenarnya seorang gadis rupawan yang cantik molek, kau kau....
tiba-tiba tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu, suara tawanya yang serakpun seketika kelelap dengan pandangan napas seperti melamun, dia pandang biji matanya, katanya serak "Tapi umpama harus mampus kita harus mati dalam suasana gembira bukan?"
Agaknya badan Pipop kongcu rada gemetar suaranyapun rada ngeri "Kau...kau ingin aku...."
Sorot mata Oh Thi hoa dari biji matanya beralih ke pahanya yang terbuka, paha yang terluka dan kotor ini, masih tetap kelihatan halus panjang elok dan berisi Kala menjing di tenggorokan Oh Thi hoa naik turun menelan ludah, sorot matanya semakin membara, seolah-olah saking panas hampir saja menyela, jari-jari tangannya pelan-pelan bergerak beralih ke arah pinggangnya dengan rabaan gemetar, katanya sepatah demi sepatah.
"Aku ingin kau....aku ingin benar-benar ingin kau, kecuali kau, aku tidak tahu apa pula yang kuinginkan."
Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 5
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 3