Ceritasilat Novel Online

Dendam Sejagad Legenda Kematian 3

Eps 3 Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Baca online Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Cersil Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung.

Dalam waktu singkat Ku See-hong telah menembusi beberapa puluh batang pohon bunga tho, tiba-tiba dia merasakan dalam hutan itu seakan-akan terdapat begitu banyak pasukan yang mengurung sekeliling tempat itu, sehingga walaupun ia sudah mencoba untuk menerjang ke kiri atau ke kanan, tetap gagal untuk menerjang keluar dari hutan itu.

"Aduuuh celaka...! Ku See-hong segera berpekik dalam hatinya.

"Aku telah terjebak oleh permainan busuk lawan....!"

Ternyata hutan bunga tho itu merupakan pos penjagaan pertama dari istana Huan-mo-kiong.

Barisan pembingung sukma yang diatur dalam hutan tersebut, diatur menurut barisan Ngo-heng pat-kwa-tin yang dirubah susunannya.

Bila seseorang tidak memahami ilmu barisan, maka kendatipun ilmu silat yang dimiliki amat lihay, jangan harap bisa keluar dari hutan bunga tho ini, sebab bila melewatinya secara sembarangan, maka pada akhirnya toh akan terjebak pula ke dalam perangkap mereka.

Sesungguhnya Ku See-hong juga tahu kalau barisan pembingung sukma yang berada dalam hutan bunga tho itu sangat lihay dan luar biasa, barang siapa berani memasukinya secara sembarangan maka akhirnya akan terjerumus dalam mara bahaya.

Namun pemuda yang tinggi hati dan keras kepala ini enggan untuk pasrah dan menyerah dengan begitu saja, maka dia mulai menerjang ke kiri, berputar ke kanan dengan harapan bisa lolos dari kepungan barisan lihay itu.

Orang bilang, sekalipun orang pandai, suatu kala akan menjadi menjadi pikun juga, begitu pula keadaannya Ku See-hong, dia hanya tahu berputar kesana kemari tiada hentinya, lambat laun kesadarannya makin kabur dan sekujur badannya sudah basah kuyub oleh keringat.

Tiba-tiba....

Ku See-hong mendengar ada orang yang tertawa seram dari sisi tubuhnya, kemudian kedengaran orang itu berkata.

"Anjing kecil, kali ini ada kenikmatan untuk kau rasakan, bukan? Heeehh... heeehh... heeehh... tak ubahnya seperti permainan joget ketek (monyet saja) saja."

Dengan suatu gerakan yang cepat Ku See-hong berpaling ke arah mana datangnya suara tersebut, namun tiada sesosok bayangan manusia pun.

Apa yang terlihat tak lebih hanya bunga tho yang berlapis-lapis.

Tak terlukiskan rasa geram anak muda itu dibuatnya.

Dengan gusar dia lantas membentak keras.

"Manusia laknat dari Huan-mo-kiong, mengapa tidak segera menggelinding keluar? Apakah gunanya bermain sembunyi terus semacam anak kura-kura saja?"

"Bajingan cilik yang bermata buta, kami toh berada di sisimu, masa kau tidak melihatnya?"

Jengek orang itu dengan sinis. Kemudian terdengar pula suara yang tajam melengking berkumandang lagi.

"Hmm... Kalau sudah tahu bermata buram macam begitu, mengapa kau berani mendatangi pulau Huan-mo-to untuk mencari balas? Benar-benar tak tahu diri?! Hmm... kau sudah pasti tak akan dapat lolos dari neraka maut yang diatur oleh Huan-mo-kiong kami, sekarang akan kuberi sedikit waktu bagimu untuk hidup. Menanti kalau kiongcu telah kembali, kau baru akan diputuskan hukumannya. Malam ini kau telah membunuh dua orang tongcu kami, maka kaupun jangan berharap bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup...."

Dengan mengandalkan sepasang matanya ayang tajam, sekali lagi Ku See-hong memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu.

Namun ia belum berhasil menemukan sesosok bayangan manusia pun.

Dia hanya merasa orang yang berbicara itu seakan-akan sebentar berada di sebalah timur, sebentar lagi di barat, kedudukannya tak menentu...

dia kuatir secara tiba-tiba orang tersebut melancarkan sergapan kilat kepadanya.

Sekarang, walaupun Ku See-hong merasa gusar sekali, namun ia sudah terjebak dalam barisan pembingung sukma dalam hutan bunga Tho itu, sekalipun akan mengumbar hawa amarahnya juga percuma.

Dalam keadaan begini, diam-diam ia lantas menghimpun tenaga dalamnya dan siap melakukan tindakan bilamana diperlukan.

Dia tahu banyak berbicara hanya memberi kesempatan baik saja bagi lawannya untuk bertindak.

Mendadak....

Dari luar hutan sana bergema suara pekikan aneh yang memekikkan telinga.

Di balik suara pekikan tersebut terbawa suatu hawa yang menyeramkan sekali.

Pekikan tersebut telah berkumandang dari luar hutan bunga Tho, yang dengan kecepatan luar biasa meluncur tiba, bukan hanya panjang dan mengerikan saja suaranya, lagipula membikin hati bergidik dan bulu kuduk pada bangun berdiri.

Dari suara pekikan lawan yang kian lama bertambah tinggi dan melengking, Ku See-hong tahu kalau pendatang itu memiliki kepandaian silat yang amat sempurna, tidak berada di bawah manusia aneh berkerudung yang pernah dijumpainya.

Terlintas satu dugaan bahwa orang ini mungkin adalah sau-kiongcu dari Lam-hay Huan-mo-kiong.

Dengan kenyataan ini, anak muda tersebut makin sadar bahwa kedatangannya ke pulau Huan-mo-to kali ini lebih banyak bahayanya daripada selamat.

Terdengar suara meneramkan yang dingin kaku tadi kembali berkata.

"Sau kiongcu, anjing itu sudah membunuh Sim-tong tongcu pertama, Im-Yang, dua orang tongcu... dan melanggar beberapa buah dosa besar, mohon diberi petunjuk hukuman apakah yang hedak dilimpahkan kepadanya?"

Dengusan dingin bergema, kemudian seseorang menjawab.

"Barangsiapa berani memasuki istana Huan-mo-kiong, semuanya dijatuhi hukuman dengan Lima Macam Siksaan. Cuma orang ini bisa membunuh Tit-it sintong tongcu berarti dia mengerti sedikit ilmu silat kucing kaki tiga. Kalian sebagai tongcu sim-tong ke-dua sepantasnya jika menyiksa dirinya lebih dulu agar orang ini merasakan sedikit kelihayan ilmu silat Huan-mo-kiong sebelum ajalnya tiba."

Ku See-hong marah sekali, dia lantas menengadah dan tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

Suara tertawanya keras memekikkan telinga, cukup membuat perasaan orang bergetar keras.

Kemudian setelah berhenti tertawa ia mendengus sinis, tantangnya dengan suara keras.

"Manusia-manusia laknat yang berhati busuk, jika kalian punya kepandaian, hayo tongolkan kepalamu dari tempat persembunyian, akan kubuktikan sendiri, apa benar orang-orang Huan-mo-kiong memiliki kemampuan tiga kepala enam lengan."

Untuk sesaat lamanya ketiga orang itu tetap bungkam dalam seribu bahasa, rupanya mereka tertegun juga menyaksikan kegagahan serta keberanian Ku See-hong.

Sepanjang sejarah, belum pernah ada orang yang begitu berani mendatangi pulau mereka.

Tak lama kemudian, terdengar seorang berkata dengan suara yang dingin menusuk tulang.

"Orang she Ku, dengan mengandalkan ucapan yang takabur tersebut, pun sau-kiongcu menjadi tertarik sekali untuk mencoba dahulu sampai di manakah kelihayanmu, akan kulihat apa yang kau andalkan sehingga begitu sombong dan takabur!"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, kurang lebih dua kaki di belakang pohon bunga Tho, tepat di hadapan Ku See-hong melompat keluar tiga sosok bayangan manusia.

Orang yang berada di tengah adalah seorang pemuda berjubah panjang warna biru yang hampir sebaya usianya dengan diri Ku See-hong sendiri.

Sebilah pedang berbentuk aneh tersoreng di punggungnya, gagang pedang berwarna emas, kakinya bersepatu indah.

Ia berwajah tampan dan gagah, sekilas pandangan mirip seorang kongcu romantis.

Cuma sayang sinar matanya membawa cahaya kebuasan, kebrutalan dan kelicikan.

Orang ini tak lain adalah kiongcu muda dari istana Huan-mo-kiong, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.

Di sebelah kirinya berdiri seorang manusia aneh bermuka kuda yang mengenakan jubah berwarna putih seperti pakaian berkabung, sedang di sebelah kanannya adalah seorang kakek kurus bermata besar, beralis mata tebal dan berwajah seram.

Kedua orang ini tak lain adalah tongcu ruang siksa ke-dua dari istana Huan-mo-kiong, Siang-khi tok-ci (Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian) Mao Soh-sat serta Ceng-hong mi-tan (Peluru Pembingung yang Menggetarkan Jagad) Ciu Khi-sin.

Ternyata pembagian urutan jago-jago dalam Huan-mo-kiong terbagi menjadi lima ruang siksa (sin-tong), makin meningkat satu tingkatan berarti penghuninya berilmu silat lebih tinggi.

Dalam perguruan Huan-mo-kiong, kedudukan Tongcu merupakan jago-jago yang terdiri dari jago-jago kelas dua dan keals satu.

Lebih ke atas lagi adalah keempat Huhoat (pelindung) dari Kiongcu yang terbagi menjadi Panji Merah, Biru, Hitam dan Putih.

Kepandaian silat yang mereka miliki rata-rata sangat lihay, masing-masing memiliki serangkaian ilmu rahasia yang sangat beracun.

Dari sini dapat diketahui kalau kekuatan dari orang-orang Huan-mo-kiong sesungguhnya luar biasa sekali, jauh lebih tangguh daripada kekuatan perkumpulan besar dalam dunia persilatan.

Kekuatan semacam ini tentu saja tak boleh dipandang rendah.

Dengan sorot mata yang tajam, Ku See-hong memandang sekejap wajah musuh-musuhnya, diam-diam dia terkesiap juga.

Pemuda itu sadar bahwa ketiga orang musuhnya ini merupakan jago-jago paling top dalam dunia persilatan dewasa ini.

Tak heran kalau umat persilatan pada jeri bila membicarakan soal kemampuan Huan-mo-kiong.

Rupanya jago-jago lihay mereka, selain banyak, juga merupakan pilihan.

Ku See-hong yang bernyali baja dan berkeras kepala, betul hati kecilnya merasa terkesiap, namun wajahnya masih kelihatan sangat tenang.

Setelah tertawa ringan ujarnya ketus.

"Bagus sekali! Bagus sekali! Sekarang aku orang she Ku akan menghantar kalian satu persatu pulang ke rumah nenek moyang kalian."

Bahwasanya Ku See-hong secara beruntun berhasil membinasakan dua orang tongcu mereka, peristiwa ini sudah merupakan suatu aib yang belum pernah dialami Huan-mo-kiong sepanjang sejarahnya, tak heran kalau mereka tidak membiarkan musuhnya berbuat semena-mena terus menerus.

"Anjing laknat, sebelum mampus kau masih berani bicara takabur?"

Bentak Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian Mao Soh-sat dengan geramnya.

Di tengah bentakan keras, Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian ini menerjang ke depan.

Sepasang telapak tangannya didorong bersama ke muka, segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat bagaikan gulungan ombak samudra segera meluncur ke depan.

Ku See-hong membentak keras, dengan suara yang menggelegar seperti guntur, sepasang telapak tangannya dirangkap menjadi satu, lalu secara tiba-tiba dilontarkan keluar.

Dalam waktu singkat, segulung angin pukulan yang amat kencang, bagaikan hembusan angin puyuh meluncur ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Blaaam...!"

Ketika dua gulung angin pukulan itu saling membentur, terjadilah ledakan yang memekikkan telinga, lalu terjadi pusaran angin berpusing yang menyapu ke empat penjuru.

Daun dan ranting segera berguguran ke atas tanah, batu dan pasir beterbangan di angkasa, keadaan yang sangat mengerikan.

Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian, Mao Soh-sat merasakan sepasang bahunya bergetar keras, lalu tubuhnya mundur tiga empat langkah dengan sempoyongan.

Sebaliknya Ku See-hong masih tetap berdiri tegak di tempat semula.

Meski begitu mukanya menjadi serius, jelas hatinya merasa amat terperanjat.

Dengan geramnya Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian menjerit lengking, tiba-tiba tubuhnya menyelinap ke depan, sepasang cakar setannya diulur dan ditarik sambil memancarkan selapis hawa kabut berwarna hijau, lalu dengan disertai desingan angin dingin menyergap ke tubuh Ku See-hong.

Secara tiba-tiba saja anak muda itu merasakan datangnya sergapan hawa dingin yang menyengat badan, lalu hidungnya megendus bau amis yang busuk dan tak sedap dirasakan, menyusul kemudian kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, dia lantas sadar, di balik kabut hijau itu terdapat racun keji yang sangat hebat.

Dalam kejutnya, ia berusaha mengerahkan ilmu gerakan tubuhnya untuk menyelinap keluar.

Siapa tahu kabut hijau itu sudah mengikuti hembusan angin pukulannya yang amat tajam itu menyelimuti seluruh tubuhnya....

Seketika itu juga Ku See-hong merasakan napasnya menjadi amat sesak, diam-diam ia berpekik.

"Habis sudah riwayatku kali ini?!"

Dalam keadaan beginilah, mendadak Ku See-hog merasakan munculnya dua gulungan tenaga panas dan dingin yang aneh dari pusar yang segera menyebar ke dalam sekujur badannya.

"Blaaamm... Blaaamm...!"

Letupan demi letupan bergema memenuhi angkasa.

Semua kabut beracun dan tenaga serangan yang telah mengurung sekujur badannya itu tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

Dalam pada itu, Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian Mao Soh-sat, telah memperdengarkan suara tertawa seramnya sembari berseru.

"Bocah keparat she Ku, sekarang kau sudah terkena Ngo-tok im-khi (Hawa Dingin Panca Bisa)-ku, selewatnya dua belas jam, dalam siksaan dan penderitaan, kau akan muntah darah dan...."

Mendadak dia menutup mulutnya kembali sebab dijumpainya Ku See-hong sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan.

Tak terlukiskan rasa terkesiap hatinya merasakan kenyataan tersebut.

Untuk sesaat dia sampai berdiri termangu belaka dengan mata terbelalak dan melongo lebar.

Malah sau kiongcu, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok yang berilmu tinggi pun ikut berubah wajahnya setelah menyaksikan kenyataan itu.

Sementara mereka masih tertegun, mendadak Ku See-hong berpekik nyaring....

Suara pekikannya tinggi menjulang ke angkasa bagaikan jeritan naga sakti, bukan cuma keras dan nyaring, suara itu sampai mendengung di seluruh pulau.

Berbareng dengan berkumandangnya pekikan nyaring itu, sesosok tubuh melejit ke udara, kemudian sepasang lengannya berputar secara aneh.

Cahaya tajam yang menyilaukan mata pun menyebar ke empat penjuru.

"Sreeet..."

Di antara desingan angin tajam, sekilas cahaya putih yang menyilaukan mata telah meluncur ke muka.

Paras muka Si Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian Mao Soh-sat yang sedang menyeringai seram, tiba-tiba berubah menjadi ngeri dan ketakutan sekali.

Jeritnya tertahan.

"Hoo-han-seng-huan...!"

Namun baru kata "Huan"

Diucapkan, jeritan ngeri yang memilukan hati telah bergema memecahkan keheningan malam.

Di antara percikan darah segar yang memancar ke empat penjuru, batok kepala Kakek Beracun Pembawa Hawa Kematian Mao Soh-sat telah berpisah dengan tubuhnya dan terbacok hancur tak karuan bentuknya.

Kematian gembong iblis ini, benar-benar mengerikan sekali, membuat orang merasa tak tega untuk melihatnya.

Kiongcu muda, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok yang berada di tepi arena segera berubah muka.

Rasa ngeri dan terkesiap menyelimuti wajahnya, namun hanya sejenak kemudian telah lenyap tak berbekas.

Kemudian dengan sorot mata buas dan sekulum senyuman menyeringai yang seram menghiasi bibirnya, dia berkata.

"Suatu kepandaian yang amat bagus! Suatu kepandaian yang amat bagus! Hari ini aku orang she Cia benar-benar terbuka matanya. Heeehh... heeehh... Tolong tanya, kau berasal dari perguruan mana?"

Ku See-hong merasa girang sekali ketika tiga jurus Hoo-han-seng-huan yang digunakannya berulang kali menunjukkan kelihayan serta kedahsyatan yang begitu meyakinkan.

Mendengar ucapan tersebut, ia segera berkata dengan suara dingin.

"Untuk menghadapi manusia-manusia laknat berhati buas seperti kalian, kenapa harus membicarakan soal belas kasihan? Hmmm! Beritahu kepadamu juga tak mengapa... aku tak lain adalah murid dari Bun-ji koan-su Him Ci-seng, yang termasyhur namanya di seantero jagad itu."

Nama besar Bun-ji koan-su memang amat menggetarkan jagad, jauh lebih termasyhur daripada nama orang-orang Huan-mo-to di Lam-hay.

Selain itu nama Bun-ji koan-su pun sudah banyak diceritakan orang semenjak lima puluh tahun berselang.

Bagi Kim-kiam (Si Pedang Emas) Cia Tiong-giok, hal mana masih belum seberapa mengejutkan hatinya, berbeda dengan Ceng-hong-mi-tan Ciu Khi-seng yang berada di sampingnya...

kontan saja paras mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan saking takutnya.

Ketika Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menyaksikan Ceng-hong mi-tan sedemikian ketakutannya, sebagai seorang jago yang pintar, ia segera tahu bahwa nama besar Bun-ji koan-su tentu termasyhur sekali di daratan Tionggoan.

Dengan cepat ia memberi tanda berulang kali kepada anak buahnya itu.

Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Selamat bertemu! Selamat bertemu! Pulau terpencil semacam tempat ini dapat dikunjungi anak murid seorang tokoh silat kenamaan, hal mana benar-benar merupakan kebanggaan untuk Huan-mo-kiong kami. Hmmm! Cuma, aku orang she Cia rasa, kau tak dapat mencari nama dengan mengandalkan nama besar dari Bun-ji koan-su lagi."

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, dengan suatu gerakan yang sangat aneh, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok telah melayang datang, kemudian sebuah pukulan dilancarkan ke tubuh Ku See-hong.

Sepintas lalu, serangan itu dilancarkan seakan-akan sama sekali tak disertai tenaga dalam, tapi ketika pelan-pelan mendekat sampai jarak satu depa dari Ku See-hong, mendadak...

gerakan tangannya berubah.

Secepat kilat tahu-tahu mengancam bagian atas, tengah dan bawah tubuh Ku See-hong, di mana terdapat delapan belas buah jalan darah kematian.

Selain gerakan serangannya yang amat ganas dan keji, kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Serangan maha dahsyat itu ibaratnya sebuah jaring penangkap ikan yang besar sekali.

Dalam waktu singkat empat penjuru sudah terkurung sama sekali, di sekitar arena muncul daya tekanan yang menyesakkan napas, beratnya bagaikan bukit karang.

Ku See-hong sangat terperanjat.

Dengan cepat ia pergunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong sin-hoat untuk menghindarkan diri.

Ujung kakinya mendadak menekuk ke bawah, lalu dengan pangkal kaki sebagai poros, secepat kilat ia berputar kencang....

"Sreeett...!"

Seluruh tubuhnya berputar bagaikan gerakan setan, tahu-tahu ia sudah melejit ke samping untuk meloloskan diri.

Tiba-tiba pada saat itulah....

Ceng-hong mi-tan Ciu Khi-seng membentak keras, tangan kanannya diayunkan ke depan, serentetan cahaya hijau yang berkilauan secepat kilat menyambar ke muka.

"Blaaamm...!"

Ledakan keras berkumandang memecahkan keheningan.

Selapis asap berwarna hijau dengan cepat menyelimuti seluruh tubuh Ku See-hong.

Di tengah kabut hijau yang menyelimuti angkasa, tampak tubuh Ku See-hong pelan-pelan roboh terkulai di atas dan jatuh tak sadarkan diri.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok segera perdengarkan suara tertawa liciknya yang seram dan menggetarkan sukma.

Di balik gelak tertawa itu penuh disertai rasa kekejaman dan kebuasannya yang mengerikan.

Mendadak suara tertawa terhenti.

Kemudian terdengar Si Pedang Emas Cia Tiong-giok berseru dengan nada yang mengerikan.

"Hukum mati bocah keparat ini menurut Lima Macam Siksaan!"

Baru selesai dia berkata, di balik hutan bunga tho sana melintas lewat sesosok bayangan putih.

Dari balik matanya yang jeli tampak air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, jelas ia sedang bersedih hati untuk kematian pemuda pendekar yang tampan itu oleh lima macam siksaan keji yang menakutkan itu.

Ceng-hong mi-tan (Peluru Pemabuk Yang Menggetarkan Jagad) segera mengempit tubuh Ku See-hong, lalu bersama Kim-kiam Cia Tiong-giok, melenyapkan diri di balik barisan Mi-hun-tin dalam hutan bunga tho itu.

000dw000 Bab 12 SUATU malam yang sepi kembali menjelang tiba....

Awan hitam menyelimuti seluruh angkasa, tiada bintang, tiada rembulan, udara berwarna kelabu yang cuma mendatangkan keseraman dan kepedihan bagi setiap insan manusia yang ada di sana.

Tempat siksaan ke-empat yang paling keji dari Istana Huan-mo-kiong....

'Sumber Es Dalam Neraka', letaknya dalam sebuah sumur kuno sedalam tiga puluh kaki, lebar lima kaki yang berada di antara tebing-tebing curam di sisi kiri Istana Huan-mo-kiong.

Sumber air dalam sumur itu merupakan sebuah sumber yang berasal dari dasar samudra.

Airnya dingin bagaikan salju, tempat itulah merupakan tempat siksaan terkeji dari Huan-mo-kiong yang membunuh orang tak melihat darah.

Sejak dulu sampai sekarang entah berapa puluh laksa orang yang mati kedinginan di situ.

Oleh karena air sumur itu luar biasa dinginnya, tanpa daya mengapung, maka setiap orang yang melanggar peraturan Huan-mo-kiong dan dijatuhi hukuman untuk menerima siksaan keempat di Sumber Salju Dalam Neraka ini.

Maka terhukum akan digantung dengan tali dan diceburkan ke dalam sumur kuno itu.

Tak selang berapa saat kemudian sang terhukum itu akan mati karena peredaran darahnya membeku.

Tak heran kalau cara membunuh semacam ini disebut sebagai suatu siksaan yang paling keji.

Tapi selama dua hari belakangan ini, 'Sumber Salju Dalam Neraka' tersebut seakan-akan sudah kehilangan daya kemampuannya untuk membunuh orang....

Mengapa...?

Ternyata ada seorang terhukum, bukan saja tak mampus walau sudah disiksa di tiga tempat, bahkan sekalipun sudah direndam selama dua hari semalam dalam siksaan yang ke empat, 'Sumber Salju Dalam Neraka', orang itu bukan saja tidak mati, malahan semangat dan kekuatannya seperti bertambah hebat.

Kata-kata makiannya menjulang sampai ke langit.

Manusia aneh itu tak lain adalah Ku See-hong.

Sementara itu, di tepi sumur berdiri seorang pemuda berbaju biru, dia adalah sau-kiongcu dari istana Huan-mo-kiong, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.

Waktu itu, ia dengar kata-kata makian sedang berkumandang dari dalam sumur itu.

"Manusia-manusia laknat dari Huan-mo-kiong, sekarang kalian boleh saja menyiksa aku orang she Ku dengan cara yang keji dan rendah seperti itu, tapi suatu ketika, aku akan menghirup darahmu, akan kumakan hatimu, cara kerja kalian melebihi buasnya binatang, lebih rendah dari manusia laknat manapun juga, tapi... aku orang she Ku tak akan mati, kecuali bila kalian memotong badanku menjadi dua bagian...."

Walaupun Ku See-hong berhasil meloloskan diri dari empat macam siksaan yang keji, namun dia harus menahan penderitaan dan siksaan baik fisik maupun batinnya.

Oleh sebab itu, saat tersebut ia benar-benar ingin mati saja....

Mendengar makian itu, pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, ia tidak habis mengerti, apa sebabnya Ku See-hong bisa meloloskan diri dari empat macam siksaan tersebut tanpa mati....

Atau jangan-jangan dia bukan manusia, melainkan sukma gentayangan?

Atau dewa?

Pada siksaan yang pertama...

Huan Hiat Jian Hun (Membalikkan Darah Membuat Cacad Sukma) adalah merupakan siksaan yang menotok jalan darah terhukum dengan semacam kepandaian silat yang amat beracun.

Bila orang biasa tertotok jalan darahnya oleh kepandaian tersebut, maka peredaran darahnya akan mengalir terbalik, hal mana akan berakibat membesarnya nadi darah yang akhirnya pecah dan mati.

Tapi kenyataannya, pemuda itu sama sekali tidak merasakan siksaan apa-apa.

Pada siksaan yang ke-dua....

Tok Coan Cui Sim (Ular Beracun Menghancurkan Hati) merupakan siksaan yang membiarkan terhukum digigit oleh beribu-ribu ekor ular beracun yang buas dan ganas.

Tapi kenyataannya, ular-ular beracun itu tak ada yang berani mendekatinya...

semburan bisa merekapun tidak mematikan sang korban.

Kemudian pada siksaan yang ke-tiga.

Liat Hwee Kau Siau (Digarang dan Dimasak Di Atas Jilatan Api Panas).

Bila orang yang biasa digarang dengan api, dalam waktu singkat, tubuhnya segera akan tinggal sebongkah tulang belulang belaka.

Tapi anak muda itu sudah dibakar selama dua hari dua malam, ia masih tetap segar bugar, malahan sepasang matanya seperti bertambah tajam saja.

Kini, sudah meningkat pada siksaan yang ke-empat Tee Ih Peng Swan (Sumber Salju Dalam Neraka), sampai detik ini siksaan telah berlangsung dua hari semalam...

tapi ia belum mati juga.

Makin berpikir, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa makin terkesiap.

Ia bersumpah akan membunuh Ku See-hong dengan cara apapun juga, sebab dia tahu asal Ku See-hong masih bisa hidup terus, bila suatu ketika ilmu silat Ku See-hong bertambah lihay, dia pasti akan merupakan suatu ancaman yang serius bagi pihaknya.

Adapun siksaan yang ke-lima adalah.

Coh Ih Tay Si (Duduk Sambil Menunggu Ajal).

Siksaan ini merupakan suatu penyiksaan yang paling keji di dunia ini, sebab terhukum tidak diberi makanan maupun minuman, dia akan dibiarkan mati kelaparan.

Asal dia manusia, tak mungkin ada yang mampu meloloskan diri dari siksaan tersebut....

Sejak dulu sampai sekarang, dalam Huan-mo-kiong masih berlaku pula suatu peraturan yang lain, yakni barang siapa dapat meloloskan diri dari keempat macam siksaan tersebut tanpa mati...

maka tanpa syarat dia akan memperoleh kebebasannya kembali.

(Tanpa harus menjalani siksaan yang ke-lima) Namun peraturan tetap tinggal peraturan.

Peraturan tak lebih hanya suatu tata cara yang berlaku belaka....

Sekulum senyuman keji segera tersungging di atas bibir Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.

Sambil berpaling ke arah seorang lelaki berbaju hitam, segera perintahnya.

"Angkat dia ke atas dan kirim ke ruang siksa ke-lima. Kurung dia dan biarkan ia mampus kelaparan. Perketat penjagaan di sekitar tempat itu, siapa berani melanggar bunuh tanpa ampun!"

Ceng-hong mi-tan Ciu Khi-seng yang berada di sisinya, buru-buru berseru dengan cemas.

"Sau-kiongcu, ilmu silat yang dimiliki bocah keparat ini lihay sekali, lebih baik kita habiskan sebutir peluru pemabuk sukma lebih dulu, agar ia jatuh tak sadarkan diri."

Begitu selesai berkata, Ceng-hong mi-tan Ciu Khi-seng segera mengayunkan tangannya ke depan, serentetan cahaya hijau yang menyilaukan mata segera menyambar ke depan.

"Blaaamm...!"

Ledakan keras berkumandang untuk kesekian kalinya.

Ku See-hong yang berada dalam sumur dibikin tak sadarkan diri oleh asap pemabuk tersebut.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok segera mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring.

Suara pekikan tersebut menggema sampai di tempat kejauhan dan mengalun tiada hentinya, menyusul kemudian dia melejit ke udara dan melayang pergi dari situ.

Sekejap kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap dari balik mata.

Ketika Ku See-hong sadar kembali dari pingsannya, waktu itu fajar telah menyingsing keesokan harinya.

Ia disekap dalam sebuah gua di suatu tebing karang yang gundul.

Suasana dalam gua itu gelap gulita tak nampak lima jari tangan sendiri, hanya setitik cahaya lemah yang memancar masuk lewat celah-celah terali besi.

Berada dalam gua tersebut, Ku See-hong benar-benar terpencil.

Tiada orang yang menyahuti teriakannya, tiada makanan yang pernah dikirim ke sana...

tempat itu ibaratnya sebuah neraka.

Selama enam tujuh hari lamanya ini, dia telah mengalami pelbagai siksaan dan penderitaan yang membuatnya berubah hingga tak berbentuk manusia lagi.

Rambutnya terurai tak karuan, bajunya compang camping tak berbentuk lagi, mukanya kotor, seluruh badannya penuh bekas luka.

Tapi sang pemuda yang keras hati ini bertekad untuk hidup terus, dia bersumpah akan hidup lebih jauh.

Manusia buas yang berhati keji telah merajalela di dunia persilatan, entah berapa puluh ribu nyawa umat persilatan yang memerlukan pertolongan?

Selain itu, dendam berdarah keluarganya belum dituntut balas.

Atas dorongan dari beberapa macam kekuatan inilah membuat pemuda itu bertahan terus dan tak sampai mati bunuh diri.

"Aaai..."

Ku See-hong menghela napas sedih.

Sekarang ia baru menyesal kenapa tidak menuruti peringatan dari nona berbaju putih itu.

Kini keadaan telah menjadi begini....

Terbayang semua tugasnya yang belum selesai, ia menjadi sedih hingga tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya....

Cahaya matahari bersinar indah jauh di luar gua, sedang Ku Seehong yang berada di tempat kegelapan hanya bisa menghela napas sedih, tanpa terasa akhirnya ia tertidur sambil bersandar di dinding.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia dikejutkan oleh semacam suara aneh sekali.

Menyusul kemudian ia mendengar suara langkah kaki yang ringan berkumandang dari luar terali besi itu.

Ku See-hong mengira Si Pedang Emas Cia Tiong-giok yang keji itu kembali akan mencemooh dirinya, kontan saja dia mencaci maki lebih dulu.

"Binatang terkutuk yang tak berperasaan, kau adalah manusia laknat yang berhati binatang, aku orang she Ku bersumpah tak akan mati, kau...."

"Ku sauhiap, aku yang datang. Seorang gadis lemah bernasib malang, Keng Cin-sin,"

Tiba-tiba serentetan suara yang gemetar tapi lembut bergema memecahkan keheningan.

Di tengah pembicaraan tersebut, terali besi itu pelan-pelan bergerak naik ke atas, lalu bayangan putih berkelebat lewat.

Seorang gadis cantik berbaju putih telah mengulurkan tangannya yang putih mempersembahkan sebuah bungkusan yang amat besar.

Ku See-hong merasa amat terharu, air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, ia segera berseru.

"Nona Keng, cepat tinggalkan tempat ini! Tak usah kau gubris diriku lagi."

Selama mengalami siksaan yang keji dari orang-orang Huan-mo-kiong dalam beberapa hari ini, Ku See-hong seringkali menyaksikan sepasang mata yang murung dan sedih diam-diam mengucurkan air mata.

Perasaan manusia yang lembut dan halus ini, segera sang pemuda yang membenci kaum wanita itu diam-diam menaruh perasaan simpatik terhadap nona itu, dan perasaan tersebut selama ini hanya terpendam dalam dasar hatinya.

Sesungguhnya dia memang seorang lelaki berperasaan hangat yang berjiwa pendekar.

Dia tak ingin menyaksikan seorang yang dikagumi dan disayanginya mengorbankan jiwa gara-gara ingin menolong selembar jiwanya.

Tiba-tiba Keng Cin-sin menemukan serentetan sorot mata yang sayang dan kasihan terpancar keluar dari balik mata pemuda ini, hal mana membuat kehangatan cintanya sebagai seorang gadis segera terlampiaskan keluar.

Dengan cepat ia memburu ke sisi tubuh Ku See-hong, kemudian dengan air mata bercucuran dan nada sesenggukan katanya.

"Ku sauhiap, perempuan bernasib malang seperti aku ini tak akan memperdulikan keselamatan jiwa sendiri. Aku hanya ingin menyelamatkan jiwamu, sekalipun badan harus hancur, jiwa harus melayang, aku tak akan merasa sayang. Betul kita hanya bersua dua kali, tapi aku tahu kau adalah seorang manusia yang luar biasa, jiwamu jauh lebih penting daripada jiwaku. Sekarang cepatlah habiskan makanan itu lalu berganti pakaian, kemudian cepat tinggalkan tempat ini. Tunggu sampai kau merasa bertenaga lagi baru datang untuk membalas dendam...!"

Serangkaian perkataan itu telah menampilkan perasaan cinta yang tersuci dari makhluk yang bernama manusia, setiap patah katanya bernada pedih dan jujur, lagipula dari ucapan tersebut dapat ditarik kesimpulan.

betapa besarnya niat gadis ini untuk menyelamatkan jiwa umat manusia dalam dunia ini....

Ku See-hong bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat memahami maksud hatinya itu, tak heran kalau ia lebih terharu lagi dibuatnya.

Perasaan pedih dalam hatinya juga makin hebat, ia merasa nasib telah mempermainkan manusia, nasib terlalu menyiksa umatnya.

Mengapa gadis secantik itu harus turut merasakan pula siksaan semacam itu?

Sesungguhnya Ku See-hong adalah seorang pemuda yang romantis, kebuasan dan sikap dingin hanya sikap di luarnya saja, hal man disebabkan terpengaruh oleh musibah yang menimpanya di masa kecil dulu, dan kini...

begitu perasaan cinta yang terpendam dalam hatinya terungkap, maka keadaannya ibarat bendungan air yang jebol.

Dengan luapan emosi yang berkobar, dia berbisik.

"Adik Sin, kee... marilah kau, dekatlah denganku, aku ingin melihat wajahmu lebih jelas lagi...."

Ketika sorot mata mereka saling bertemu, pancaran sinar mata yang hangat dan kepedihan dalam hatinya segera bercampur baur menjadi satu, makin lama kedua orang itu makin dekat sehingga akhirnya hampir saling berdempetan.

Pelan-pelan Ku See-hong menggerakkan sepasang tangannya dan memegang wajahnya yang mungil dan lembut itu.

Dengan suara yang amat pedih Keng Cin-sin berbisik.

"Engkoh Hong, dulu aku tak pernah memperhatikan siapapun, sebab aku sendiripun penuh dengan noda dan dosa, tapi sejak berjumpa dengan kau, aku mulai berpikir, bila malaikat elmaut telah berada di depan mata, apakah yang bisa kutinggalkan di dunia ini...? Maka, aku bertekad akan mengorbankan selembar jiwaku, asal kau bisa hidup terus, berjuang demi keadilan dan kebenaran serta menyelamatkan kaum lemah dari penderitaan yang tiada batasnya...."

"Engkoh Hong, terus terang kukatakan kepadamu, sejak bertemu denganmu, aku merasa bahwa kau telah jatuh hati kepadamu...."

Oleh ungkapan cintanya yang polos dan tulus itu, Ku See-hong merasa benar-benar amat terharu, ujarnya dengan nada gemetar.

"Adik Sin, kau tak berdosa, kau adalah seorang yang suci bersih, akupun sangat mencintai dirimu, mari kita bersama-sama kabur dari pulau Huan-mo-to ini...."

"Engkoh Hong, aku tak dapat pergi..."

Tukas Keng Cin-sin dengan cepat.

"Bila aku menghilang maka hal mana pasti akan memancing mereka untuk melakukan pengejaran secara besar-besaran, bukan saja hal tersebut akan mengakibatkan pembantaian berdarah dalam dunia persilatan, kita pun sukar untuk meloloskan diri dari pengejaran mereka yang ketat. Suatu ketika bila jejak kita ketahuan, maka nasib yang tragis akan menunggu kita berdua, keadaan semacam itu sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata...."

Air mata bercucuran membasahi wajah Ku See-hong, tiba-tiba selanya.

"Adik Sin, mari kita tinggalkan tempat ini bersama, kita mencari suatu tempat yang terpencil dan jauh dari manusia, memendam nama merahasikan asal-usul, selama hidup kita tak terjun kembali ke dalam dunia persilatan, sepanjang masa kita hidup bersama...."

Dengan tangannya yang halus dan lembut Keng Cin-sin menutup bibir Ku See-hong lalu katanya pedih.

"Engkoh Hong, jangan kau biarkan urusan muda-mudi menggerogoti ambisimu yang membara, sekarang keadaan amat mendesak. Rasanya mustahil kita dapat hidup bahagia sebagai suami istri dalam kehidupan kali ini. Tapi perasaanku kepadamu dapat dibuktikan kepada langit dan bumi, walaupun kita tak bisa hidup berdampingan, namun hati dan perasaanku dapat selalu ada di sampingmu...."

"Sekarang, waktu yang tersedia sudah tak banyak lagi, cepat-cepatlah bersiap sedia untuk melarikan diri. Kau harus tahu aku bersedia mengorbankan diri tak lain karena ingin menyelamatkan jiwamu... kau harus selalu menyayangi jiwamu sendiri, sebab jiwamu sudah merupakan peleburan dari jiwa kita berdua, dengan demikian walaupun Adik Sin-mu harus mati dengan tubuh hancur, sukmaku akan selalu tersenyum di alam baka."

Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan nada yang amat memedihkan hati, tapi anehnya Thian selalu memisahkan sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara ini, bahkan memisahkan mereka amat jauh, jauh sekali....

Ketika selesai mendengar perkataan itu, timbul suatu firasat jelek dalam hati Ku See-hong, sebab kekasih yang patut dikasihani ini bisa jadi akan benar-benar mati secara mengenaskan.

Sambil menahan kesedihan yang mencekam perasaannya, Ku See-hong berkata dengan pedih.

"Adik Sin, semoga kau bersedia untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk berada bersamaku, sehingga di kemudian hari, bila aku berhasil membalas dendam di bawah sinar lentera di depan Buddha (maksudnya menjadi pendeta), akupun mempunyai setitik kenangan manisku bersamamu."

Keng Cin-sin dapat memahami maksud perkataan dari Ku See-hong itu.

Ia merasa terharu sekali hingga titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang putih halus.

Dengan lembut Keng Ci-sin balas memeluk pinggangnya yang kekar dan menempelkan wajahnya di atas dadanya yang bidang, tiba-tiba saja ia merasa dirinya seakan-akan terjerumus ke dalam samudra luas yang tiada bertepian, ia merasa bagaikan tak berada di dunia lagi, ternyata empat buah bibir mereka yang hangat telah saling berpadu....

Entah berapa saat kemudian, mereka baru menyelesaikan ciuman yang hangat dan mesra itu.

Dengan air mata membasahi pipinya, Keng Cin-sin berkata sambil tertawa getir.

"Inilah nilai yang kuperoleh dari pengorbanan cinta kasihku sepanjang hidup.... Sekarang, cepat-cepatlah kau tinggalkan tempat ini, jangan sampai ketahuan mereka. Bila sampai dikerubuti jago lihay, kaupun tak akan lolos dari kematian, bahkan pengorbananku inipun akan menjadi sia-sia belaka...."

Sambil berusaha keras menahan kepedihan hatinya, di sudut gua yang gelap Ku See-hong berganti pakaian.

Walaupun perutnya waktu itu lapar sekali, namun ia tak bernafsu lagi untuk menghabiskan hidangan tersebut.

Waktu itu, sore hari sudah menjelang tiba, sisa sang surya di waktu senja memencarkan cahaya ke empat penjuru....

Mendadak...

dari luar gua berkumandang suara pekikan nyaring yang tajam dan memekikkan telinga, kemudian dengan suatu gerakan cepat, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tampaknya di sekitar tempat itu telah kedatangan jago-jago yang sangat banyak.

Paras muka Keng Cin-sin berubah berat, dengan suara agak gemetar bisiknya.

"Aduh celaka, jejak kita sudah ketahuan, cepat kau gunakan ilmu meringankan tubuhmu yang sempurna untuk kabur ke arah selatan, aku akan berusaha mati-matian untuk menghadang pengejaran mereka."

Ku See-hong merasa hatinya berat sekali, bagaimanapun juga ia tak tega membiarkan kekasih hatinya tewas di tempat itu. Dengan suara yang memilukan hati kembali Keng Cin-sin berseru.

"Engkoh Hong, cepat lari, cepat lari! Apakah kau ingin menyaksikan Adik Sin-mu mati dengan membawa penyesalan?"

Suaranya yang memilukan hati membuat perasaan orang menjadi semakin kalut dan kacau tak karuan.

"Selamat berpisah kekasihku yang kucintai,"

Ucap Ku See-hong kemudian sambil menghela napas sedih.

"Aku akan selalu mengingat raut wajahmu dalam hati kecilku...."

Tiba-tiba Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan berpekik panjang, dalam pekikan tersebut penuh disertai oleh rasa benci, gusar dan dendam yang membara.

Begitu pekikan panjang itu bergema, sambil membawa hati yang lara dan duka, Ku See-hong mempercepat langkahnya menerjang keluar dari gua tersebut.

Pada saat itulah, segulung hembusan angin pukulan yang amat dahsyat, dengan cepatnya menggulung tiba.

"Engkoh Hong, cepat kabur ke arah selatan, biar adik yang menghadapinya di tempat ini!"

Bentakan merdu berkumandang datang.

Ternyata orang yang melancarkan serangan itu tak lain adalah Sau-kiongcu dari istana Huan-mo-kiong Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.

Dengan sepasang mata memancarkan cahaya buas yang mengerikan, ia segera membentak nyaring.

"Sumoay, kau perempuan rendah yang tak tahu malu, pagar makan tanaman! Sudah sepuluh tahun lamanya ayahku mendidikmu, tapi... kau... Pun kiongcu bersumpah akan mencincang tubuh kalian anjing laki-laki dan perempuan berdua menjadi hancur berkeping-keping!"

Untuk melindungi kekasihnya agar berhasil meloloskan diri dari pulau Huan-mo-to, dengan nekadnya Keng Cin-sin menggerakkan sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan dahsyat yang rapat bagaikan jaringan laba-laba.

Bukan saja semua serangan itu dilancarkan dengan ganas dan buas, bagaikan bendungan yang jebol saja, mengalir terus tiada habisnya.

Setiap jurus serangan yang digunakan hampir semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang tangguh, betul-betul sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok betul-betul naik pitam, pedang emas di tangannya segera digetarkan keras menciptakan berpuluh-puluh titik cahaya bintang yang tajam.

Cahaya pedang menyambar seperti amukan arus sungai yang deras, kemanapun pukulan musuh tiba, di situ pula pedangnya menyambut secara ganas.

Sementara itu, Ku See-hong telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna untuk melesat sejauh tiga puluh-empat puluh kaki dari tempat semula, tapi tak tahan, ia segera berpaling kembali.

Tiba-tiba...

dua kali pekikan nyaring yang tajam dan dingin menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan, lalu tampak ada dua sosok bayangan manusia yang mengejar di belakang Ku See-hng dengan kecepatan tinggi.

Melihat itu, Keng Cin-sin merasa amat terkejut, sambil membentak keras sepasang telapak tangannya digetarkan ke depan menciptakan selapis bayangan tangan yang menyelimuti angkasa.

Tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan ambruknya bukit, datang segera melanda ke tubuhnya Si Pedang Emas Cia Tiong-giok.

Setelah itu, tubuhnya melejit ke udara, sepasang telapak tangannya dengan membawa cahaya perak yang menyilaukan mata langsung meluncur ke depan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu.

Ketika ia menyaksikan Ku See-hong masih berdiri kaku di sana, ia lantas menjerit keras.

"Engkoh Hong... cepat pergi dari situ! Di alam baka, adik Sin-mu akan selalu mencintaimu.... Cepat lari!"

Tak terlukiskan rasa haru Ku See-hong setelah menyaksikan Keng Cin-sin mati-matian bertarung melawan tiga orang jago lihay dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwanya.

Tanpa terasa, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Ia segera menengadah dan berpekik sedih, kemudian secepat sambaran kilat pemuda itu kabur ke arah selatan.

Dalam pada itu, segenap anggota istana Huan-mo-kiong telah menerima tanda bahaya dan berbondong-bondong datang ke sana.

Keng Cin-sin segera mengerahkan segenap kepandaian silat yang dimilikinya untuk menerjang ke kiri dan ke kanan, melejit, melayang dan berkelit untuk menahan serangan gabungan dari musuh-musuhnya.

Waktu itu, sekujur badannya telah bermandikan darah segar, peluh membasahi badannya, sementara paras mukanya berubah menjadi pucat pias...

namun ia masih bertarung mati-matian untuk menghadang jalan pergi kawanan jago lihay itu.

Namun lama kelamaan ia mulai tak tahan.

Gadis itu mulai keteter hebat dan mundur terus tiada hentinya.

Dalam pada itu, Ku See-hong dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna telah tiba di tepi pantai laut.

Tapi pada saat itu pula Ku See-hong mendengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang membelah angkasa.

Itulah jeritan orang sekarat menjelang kematiannya...

lalu terdengar seseorang menjerit lengking.

"Engkoh Hong... Adik Sin... akan... akan berangkat selangkah lebih dulu... kau...."

Tiba-tiba jeritan itu terputus sampai di tengah jalan dan...

suasana pun pulih menjadi tenang kembali.

Ku See-hong segera merasakan badannya seperti dihantam dengan martil yang berat sekali, hawa darah di dalam dadanya bergolak keras dan tak ampun lagi, dia muntahkan darah segar.

Pikirannya serasa melayang tak menentu, hatinya bimbang dan kosong....

Dari sepuluh hal yang dijumpainya di dunia ini, ada delapan sembilan macam yang tak dapat memenuhi harapannya.

Keadaan semacam ini benar-benar memedihkan hati, memilukan hati....

Cinta kasih sayang telah berjanji di antara mereka berdua telah bersemi begitu mendalam, sepanjang hidup ia tak akan melupakannya lagi.

Pengorbanan dari Keng Cin-sin ini merupakan suatu pengorbanan yang amat mulia.

Sifat perempuan seperti ini boleh dibilang merupakan sifat seorang perempuan yang sejati....

Sang surya telah tenggelam di langit barat, menyusul kemudian kegelapanpun mulai menyelimuti angkasa....

Ombak menggulung-gulung saling mengejar....

Samudra terbentang luas tak bertepian, angin barat yang kencang berhembus menderu-deru, ombak menggulung amat dahsyat.

Sebuah sampan kecil terombang-ambing dimainkan ombak, terbawa arus ke tempat kejauhan...

mengalir tanpa arah tujuan....

Ketika ombak memecah ke tepian sampan, segera terpecahkan buih-buih air yang memecah ke empat penjuru, sampan kecil itu tergoncang keras, namun seorang pemuda tampan yang ada di ujung sampan itu masih berdiri tegak di tempat.

Sepasang matanya yang jeli menatap ke tempat kejauhan sana, memandang tanpa berkedip.

Ia tampak begitu menyendiri, begitu pedih.

Hati kecilnya telah menderita luka yang parah, membuat ia tak akan melupakan kejadian ini untuk selama-lamanya, sebab luka itu sudah membekas dalam-dalam di hati kecilnya.

Biar langit menjadi tua, air laut mongering, manusia bisa berubah-ubah, namun cinta kasihnya kepada gadis itu tak akan berubah walau seratus tahun, seribu tahun, selaksa tahun sekalipun....

Biar jagad berumur panjang, biar langit berlangsung berjagad abad, rasa dendam dalam hatinya tiada terbatas.

Ia mendendam, dendam yang sedalam-dalamnya.

Ia membenci kepada langit.

Membenci kepada bumi, membenci kepada setiap manusia laknat yang ada di dunia ini.

Mengapa nasibnya seburuk ini?

Mengapa gadis cantik selalu diberkahi umur yang pendek...?

Dia seakan-akan mendengar lagi suaranya, seolah-olah menyaksikan kembali raut wajahnya, seakan-akan mengendus pula bau harum semerbak yang keluar dari badannya.

Darah kental serasa meleleh keluar dari hatinya, ia merasa hatinya telah hancur luluh, hancur luluh untuk selamanya....

Ia tidak menangis, namun air matanya telah meleleh keluar hingga mongering...

dan kini hanya darah yang meleleh keluar menggantikan air mata.

Kalau dibilang impian, maka peristiwa itu merupakan impian yang paling buruk.

Kalau dibilang khayalan, maka peristiwa itu merupakan khayalan yang paling memedihkan hati.

Kalau dibilang kesedihan, hal ini merupakan suatu peristiwa yang memilukan hati.

Kalau dibilang benci dan dendam, tiada kebencian dan dendam kesumat yang dapat menandingi perasaan benci dan dendam yang berkobar dalam hatinya saat ini.

Aliran udara yang berubah-ubah, kabut yang melayang tipis seolah-olah muncul dari permukaan laut, membuat pemandangan di sekeliling tempat itu kabur.

Kabut yang menyelimuti sekeliling tempat itu makin lama semakin menebal, membuat sekeliling tempat tersebut berubah menjadi putih.

Kabut tebal yang muncul secara tiba-tiba ini merupakan suatu keistimewaan dari lautan Lam-hay, tapi justru mendatangkan banyak kemurungan dan kesulitan bagi para nelayan yang tinggal di sekitar sana.

Sampan kecil itu bagaikan perasaan dari penumpangnya, terombang-ambing tanpa arah tujuan.

Dalam sekejap mata, bayangan sampan itu tahu-tahu sudah lenyap di balik tebalnya kabut yang menyelimuti tempat itu.

Kegelapan malam di tepi laut terasa begitu tenang, sunyi....

Terasa pula begitu indah, penuh mengandung ilham-ilham untuk membuat syair atau lukisan.

Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa, memancarkan kerlipan cahaya yang redup dan menyoroti permukaan samudra yang luas tak bertepian.

Ketika angin lembut berhembus sepoi-sepoi, tampak riak ombak yang saling mengejar, bagaikan ular-ular perak kecil yang sedang saling mengejar....

Indah, indah, indah, benar-benar suatu pemandangan yang indah rupawan....

Pemandangan alam di malam ini terasa dingin dan sepi, angin barat berhembus kencang, di langit tiada rembulan, hanya titik bintang yang memercikkan sinar redup.

000dw000 Bab 13 WAKTU itu, di tepi pantai pasir yang luas, tampak seorang pemuda yang sedang berdiri termangu-mangu sambil memandang lautan yang tak bertepian dengan pandangan kosong.

Wajahnya tampak amat sedih, kesal dan murung, ia berdiri membungkam tak mengucapkan sepatah katapun juga.

Apa yang sedang dilihatnya?

Sudah tiga malam ia berada di situ, malam ini merupakan malam yang ke-empat....

"Aaai..."

Pemuda itu memperdengarkan helaan napasnya yang pedih.

Dari helaan napasnya yang memedihkan hati, bisa kita ketahui, bahwa perasaan anak muda itu sedang sedih sekali....

Yaa, hatinya telah menderita luka yang begitu parahnya sehingga hampir tercabik-cabik, hampir saja ia tak berkeyakinan lagi untuk hidup di dunia ini.

Namun, bara api dendam yang berkobar di dalam dadanya membuat ia bertekad untuk hidup terus, selain itu bisikan merdu yang melintas kembali dalam ingatannya membuat ia harus berani hidup lebih lanjut.

Ia berada di sana karena ia hendak mengenang kembali wajahnya, mengenang kembali suaranya, serta mengenang kembali kenangan manisnya yang hanya sejenak.

Tiba-tiba, bagaikan orang yang sedang mengigau ia bergumam seorang diri.

"Wahai Ku See-hong, benarkah nasibmu selama ini begitu jelek? Setiap orang yang pernah melepaskan budi kepadaku, mengapa Thian selalu memisahkan mereka jauh-jauh dariku? Yaa... memisahkannya begitu jauh...? Kedua orang tuaku yang telah melahirkan aku, guruku yang mengajarkan kepandaian kepadaku, beratus-ratus saudara dari Kim-to-pang, dan dia... Keng Cin-sin."

Ketika menyebut nama Keng Cin-sin, Ku See-hong merasa suaranya menjadi parau.

Sepanjang hidupnya belum pernah ia mencintai perempuan, tapi sekali jatuh cinta, maka perasaan cintanya itu jauh lebih tebal daripada orang lain.

Ku See-hong termenung sebentar, tiba-tiba selintas perasaan yakin melintas lewat di atas wajahnya, kembali dia bergumam.

"Keng Cin-sin, dia tak mungkin akan mati, aku percaya, Thian tak akan bersikap...."

Tapi serentetan jeritan ngeri serta jeritan menjelang kematian, sekali lagi berkumandang di sisi telingannya dan memotong ucapan selanjutnya.... Lewat lama kemudian, ia baru bergumam lebih jauh.

"Adik Sin, walaupun kau telah tiada lagi, namun hatimu dan bayangan tubuhmu selamanya akan tertera di hatiku. Aku bersumpah akan membalas dendam, akan kuratakan Huan-mo-kiong di Lam-hay itu dengan tanah, kemudian akan kutemukan kerangkamu dan selama hidup akan kutemani dirimu...."

Mendadak...

dari belakang tubuh Ku See-hong berkumandang suara tertawa seram yang amat menggidikkan hati.

Dengan kening berkerut dan gerakan yang cekatan Ku See-hong segera membalikkan tubuhnya.

Sorot mata yang tajam menyeramkan terpancar keluar dari balik matanya, dengan cepat dia berpaling ke arah mana berasalnya suara itu....

Tapi ibaratnya minyak bertemu api, mendadak api dendam yang berkobar dalam dadanya menggelora dengan hebatnya.

Giginya digertakkan sampai berbunyi gemerutan.

Sorot matanya yang tajam segera beradu pandang dengan sinar mata buas dari lawannya....

Lebih kurang empat kaki di hadapan Ku See-hong telah berdiri seorang pemuda tampan berbaju biru.

Dia tak lain adalah sau-kiongcu dari istana Huan-mo-kiong, Si Pedang Emas C ia Tiong-giok.

Di belakang pemuda itu berdiri empat orang lelaki bercambang yang memakai baju biru, di punggung masing-masing menggembol sebilah pedang panjang berwarna kuning emas.

Sekulum senyuman sinis yang tak sedap dipandang tersungging di ujung bibir Kim-kiam Cia Tiong-giok, ujarnya dingin.

"Orang she Ku, hari ini kau tak akan lolos lagi dari cengkeramanku. Ayo cepat serahkan nyawa anjingmu itu!"

Ku See-hong tahu kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya jauh lebih tinggi daripada kepandaian yang dimilikinya...

tapi waktu itu kobaran api benci dan dendam telah menyelimuti seluruh benaknya.

Ia tak ambil perduli terhadap semua persoalan itu.

Sesudah mendengus gusar, katanya dengan suara menggeledek.

"Orang she Cia, apakah Keng Cin-sin telah dibunuh oleh kalian anjing-anjing laknat...?"

Kim-kiam Cia Tiong-giok segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, sahutnya sinis.

"Orang she Ku, kau benar-benar tak tahu malu, berani benar kau memikat hati sumoayku untuk mengkhianati perguruan. Hmm, tentunya aku pernah mendengar bukan akan peraturan dari Huan-mo-kiong? Apa hukumannya bila berani mengkhianati perguruan? Sekarang, aku pikir ada baiknya jika kau persiapkan dulu urusan belakangan, kalau tidak, mungkin keadaannya tak akan sempat lagi."

Ku See-hong mendengar perkataan itu merasakan hatinya tercekat, sekarang ia sudah percaya kalau Keng Cin-sin benar-benar telah mengorbankan diri.

Dengan peraturan Huan-mo-kiong yang turun temurun terkenal akan keketatannya, barang siapa yang berani melanggar peraturan, entah itu anak sendiri atau bukan, semuanya akan dijatuhi hukuman mati.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok tertawa dingin, dengan suara mengerikan lalu berkata lagi.

"Orang she Ku, kau harus tahu, tempat suci Huan-mo-kiong tak pernah mengijinkan orang untuk berbuat semena-mena di situ. Sekalipun tiba di sana tanpa sengaja, juga tiada kehidupan baginya. Tapi kau benar-benar tak tahu diri, selain memasuki daerah suci, sesumbar hendak membalas dendam, membunuh anggota istana kami, berani pula memikat sumoayku hingga berkhianat. Dengan beberapa dosa yang kau langgar sekaligus, tiada ampun lagi untuk jiwa anjingmu itu. Pihak kami juga tak akan melepaskan kau dengan begitu saja, sebelum kucincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping belum puas rasanya diriku."

Dalam pada itu, secara diam-diam Ku See-hong telah menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi serangan lawan. Ketika mendengar ucapan tersebut, dengan dingin ia lantas berkata.

"Hmm! Tempat-tempat maksiat, tempat berkumpulnya sekawanan sampah masyarakat dalam dunia persilatan juga beraninya disebut tempat suci? Huuuhh... betul-betul tak tahu malu. Aku orang she Ku mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan kalian orang-orang Huan-mo-kiong, aku bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan kalian. Sekarang, kaupun tak usah membuang waktu lagi, saat dibukanya pintu neraka sudah tiba. Aku orang she Ku harus segera mengantarmu agar cepat-cepat melakukan perjalanan jauh...."

"Heeehh... heeehh... heeehh... sekalipun ingin mati juga tak usah begitu tergesa-gesa,"

Jengek Si Pedang Emas Cia Tiong-giok sambil tertawa dingin.

"Aku ingin bertanya kepadamu, bulan berselang ketika kau mendatangi Huan-mo-kiong kami untuk membalas dendam, sebetulnya siapakah dari anggota istana Huan-mo-kiong kami yang telah mengikat tali permusuhan denganmu?"

Mendengar pertanyaan itu, Ku See-hong seolah-olah menyaksikan kembali mayat-mayat tanpa kepala yang tergeletak di 273 mana-mana, dengan sorot mata berapi-api karena kobaran api dendam ia membentak keras.

"Orang she Cia, bapakmu betul-betul bedebah tua yang tak tahu peraturan dunia persilatan. Selama tahun berselang, ketika yaya-mu Hu-hay it-kiam beradu pedang dengan Bu-lim ti-it-kiam dalam istana Huan-mo-kiong, kakekmu itu telah kena dikalahkan setengah jurus dan harus menyerahkan pedang pendek Huan-mo-kiong sebagai tanda kepercayaan. Barang siapa yang memegang pedang tersebut, ia berhak untuk mengendalikan dan menghukum kalian orang-orang dari Huan-mo-kiong, tapi kenyataannya bapakmu Han-tian it-kiam berambisi besar. Bulan berselang ia berani menyerbu lagi ke daratan Tionggoan dengan membawa kawanan jago lihay, bukan saja berani membantai orang secara brutal juga berani merampas kembali pedang Huan-mo-kiam itu dari tangan orang-orang Kim-to-pang...."

Mendengar sampai di situ, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa bangga bercampur gembira.

Ia girang sebab ayahnya telah berhasil merebut kembali pedang pendek Huan-mo-kiam itu.

Maka ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, kemudian menukas ucapan Ku See-hong yang belum selesai.

"Maaf, maaf. Kalau menurut ceritamu itu, tampaknya kau adalah putranya Ku Kiam-cong, pangcu dari Kim-to-pang."

Diam-diam Ku See-hong terkejut juga menyaksikan kecermatan Si Pedang Emas Cia Tiong-giok tersebut.

Ia sadar pertarungan yang dihadapinya malam ini merupakan suatu pertempuran yang amat seru, kalau bukan lawannya yang mati maka dialah yang mampus, padahal ilmu silat yang dimiliki pun tidak yakin bisa menangkan lawannya.

Itu berarti bila dia tidak berusaha mengendalikan kobaran api gusarnya sekarang, besar kemungkinan dia akan mati dengan membawa kecewa.

Begitu ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, sikapnya menjadi tenang kembali, katanya dengan suara dingin.

"Orang she Cia, dendam kesumat di antara kita berdua, aku rasa tentunya kau sudah memahami, bukan? Dengan perbuatanmu yang begitu keji dan rendah, sekalipun bakal mati di tanganku malam ini, tentunya kau tak akan menyesal, bukan?"

Ketika Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menjumpai Ku See-hong yang gusar tiba-tiba berubah menjadi tenang... dengan cepat ia lantas berpikir.

"Orang ini memiliki semacam kepandaian sakti yang amat luar biasa, belum tentu kami berlima sanggup untuk merobohkan dirinya. Barusan sebetulnya aku berniat untuk mengobarkan hawa amarahnya agar perhatiannya terpecah belah, kemudian baru melancarkan serangan mematikan, siapa tahu ia begitu cekatan. Tampaknya orang ini benar-benar merupakan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sepanjang hidupku...."

Angin laut di musim gugur ini terasa amat dingin, membuat bulu kuduk orang pada berdiri. -oo0dw0oo-

Jilid 9 GULUNGAN ombak yang berkejaran membawa suara deruan yang keras, suatu pertarungan berdarah yang mengerikan sebentar lagi akan berlangsung di sana.

Ku See-hong menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, makin dihimpun ia merasa kekuatannya makin menghebat.

Tiba-tiba....

Bentakan menggeledek yang sangat memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, secepat kilat tubuhnya menerjang ke muka.

Dalam waktu singkat ia lancarkan lima buah pukulan dahsyat menghantam lima orang musuhnya.

Cepat gerakan tubuhnya, hebat serangannya, betul-betul mengerikan hati....

Segulung hembusan angin dahsyat, ibaratnya amukan gelombang dahsyat di tengah samudra, dengan cepatnya menggulung ke arah lima orang itu.

Empat orang lelaki bercambang yang menggembol pedang itu menjerit kaget, cepat-cepat mereka terdesak mundur sejauh tiga empat langkah.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok tertawa dingin...

tubuhnya berputar kencang, lalu sepasang telapak tangannya disertai selapis tenaga pukulan yang dahsyat memunahkan datangnya ancaman itu.

Pada saat yang bersamaan itulah Ku See-hong tertawa dingin, serangan mematikan kembali dilepaskan.

Kakinya berputar kencang, dengan suatu gerakan yang sangat aneh ia mendesak ke sisi tubuh kedua orang lelaki bercambang itu.

Berbareng itu juga lima buah jari tangan kanannya direntangkan, lalu di antara sentilan dan getarannya lima gulung angin tajam meluncur keluar dari ujung jari tangannya itu.

Dengan cepat angin serangan tersebut menyergap jalan darah Hu-hun-hiat, Kau-mao-hiat, Hun-bun-hiat, Gi-si-hiat, dan Gi-sim-hiat di tubuh kedua orang lelaki bercambang itu.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok sendiripun sama sekali tidak berdiam diri belaka, begitu lolos dari sergapan lawan yang dahsyat, serangan mematikan segera dilancarkan, sepasang telapak tangannya melakukan gerakan-gerakan yang aneh dan menciptakan desingan angin tajam yang menggidikkan hati.

Angin pukulan yang dahsyat dan tajam segera mengancam delapan belas buah jalan darah penting di tubuh Ku See-hong.

Waktunya persis berbareng ketika Ku See-hong sedang menyergap dua orang lelaki bercambang itu.

Pengalaman pertarungannya selama beberapa kali membuat Ku See-hong mempunyai keyakinan yang lebih besar lagi terhadap tenaga khikang Kan-kun-mi-siu yang dilatihnya, maka ia tidak ambil gubris terhadap ancaman dari Cia Tiong-giok itu, malahan segenap 276 tenaganya tetap disalurkan ke depan mempertajam kelima gulung desingan angin serangannya.

"Sreeett, sreeett, sreeett..."

Desingan tajam yang memekikkan telinga secepat kilat meluncur ke depan.

Dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan keheningan.

Beberapa buah jalan darah penting di tubuh kedua orang lelaki bercambang itu segera ditembusi oleh kelima gulung desingan angin tajam itu sehingga darah segar menyembur keluar sangat deras.

Bukan begitu saja, bahkan sisa tenaga serangan yang masih besar itu telah membawa tubuh mereka terpental sejauh tiga kaki lebih dari tempat semula....

Ketika di sebelah sana berkumandang suara jeritan, maka di sebelah sini pun terjadi ledakan yang beruntun....

"Bluuumm! Bluuumm!"

Secara telak tubuh Ku See-hong kena dihantam oleh tenaga serangan Cia Tiong-giok yang amat dahsyat itu.

Akan tetapi dia hanya merasakan hawa darahnya sedikit bergetar dan tubuhnya maju dua langkah.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menjadi amat terkesiap, dengan cepat ia menubruk ke muka.

Kedua ujung bajunya bagaikan dua ekor ular berbisa, menggulung dan menyapu tiada hentinya mengancam belakang tengkuk Ku See-hong.

Serangan ini amat ganas, buas dan keji, sukar dibayangkan dengan kata-kata.

Ku See-hong sama sekali tidak menyangka kalau Cia Tiong-giok dapat menyerang dan merubah jurus serangan dengan kecepatan setinggi ini, tiba-tiba saja dia merasa ada segulung desingan angin tajam menyergap di atas belakang tengkuknya.

Dengan wajah berubah hebat buru-buru ia keluarkan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong, tiba-tiba saja tubuhnya bagaikan pusaran angin berpusing secara aneh tapi sakti berputar ke arah luar.

Sementara kakinya melakukan gerakan perputaran yang aneh menuju ke luar, tubuhnya melakukan pula suatu gerakan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, kemudian telapak tangan kirinya melancarkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghantam tubuh Cia Tiong-giok.

Betapa terperanjatnya Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, segera ia berpikir di dalam hati.

"Ternyata ilmu silat yang sebenarnya dimiliki orang ini jauh lebih lihay dari apa yang kubayangkan semula."

Tubuhnya lantas sedikit berjongkok, ujung bajunya dikebaskan pelan ke arah depan melancarkan segulung angin pukulan lembek yang berhawa dingin, rupanya dia ingin mencoba tenaga dalam yang dimiliki lawan.

"Blaaamm...!"

Suatu ledakan keras segera berkumandang.

Ku See-hong merasakan tubuhnya bergetar keras, desingan angin pukulan yang maha dahsyat itupun seketika tersapu lenyap hingga tak berbekas, menyusul kemudian segulung tenaga dorongan yang kencang memaksanya mundur sejauh tiga empat langkah.

Begitu mengetahui kalau tenaga dalam musuhnya tidak lebih tangguh daripada kekuatan sendiri, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa amat girang, semangatnya berkobar kembali, sambil membentak keras jengeknya.

"Orang she Ku, aku lihat lebih kau membalas dendam pada penitisanmu yang akan datang saja!"

Begitu kata terakhir meluncur keluar, telapak tangan kanannya segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat yang dalam, bagaikan samudra, sementara lima jari tangan kirinya direntangkan dan melepaskan lima gulung desingan angin tajam ke depan.

Dua jurus serangan yang tangguh dilancarkan pada saat yang hampir bersamaan, selain ganas juga hebatnya luar biasa.

Ku See-hong segera merasakan wajah maupun ketujuh lubang inderanya telah terkurung di balik desingan angin jari lawan yang tajam.

Tak terlukiskan rasa terkesiap dalam haitnya, buru-buru dia gunakan ilmu gerakan tubuhnya yang lihay, Mi-khi-biau-tiong, untuk meloloskan diri.

Seluruh badan Ku See-hong segera berubah ibaratnya segumpal kapas, di tengah alunan angin pukulan yang menyelimuti angkasa, dari sudut yang amat aneh, bagaikan selembar bulu saja ia dihembus sehingga menyelinap keluar dari arena.

Menyaksikan ilmu gerakan tubuh yang sedemikian lihaynya itu, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa seharusnya tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan amat sempurna, tapi mengapa tenaga pukulannya tadi justru jauh lebih lemah daripada tenaga pukulan sendiri...?

Cia Tiong-giok sebagai seorang yang cerdik, licik, banyak tipu muslihat dan hatinya lebih kejam daripada seekor ular berbisa, dengan cepat mengambil satu kesimpulan.

sudah pasti pihak lawan telah mempelajari banyak sekali ilmu silat yang sakti dan luar biasa, hanya sampai kini masih belum dapat dipergunakannya sebagaimana mestinya....

Begitu kesimpulan tersebut melintas lewat di dalam benaknya, niatnya untuk melenyapkan Ku See-hong makin mantap, dia tak ingin melepaskan harimau pulang ke gunung sehingga mendatangkan bencana besar di kemudian hari....

Berpikir sampai di situ, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok segera membentak keras, tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat segera mengejar ke depan.

Kaki dan tangan dipergunakan bersama, bagaikan bunga yang berguguran di musim gugur, dia kurung seluruh tubuh Ku See-hong secara ketat.

Terkesiap juga hati Ku See-hong menyaksikan kecepatan gerak lawannya, sementara ia masih tertegun bercampur kaget, selapis angin pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak di samudra, 279 di bawah lapisan bayangan telapak tangan yang membukit, secara dashyat dan bersamaan menyergap tiba.

Kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Si Pedang Emas Cia Tiong-giok dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang sudah jarang yang bisa menandinginya lagi.

Coba kalau Ku See-hong tidak berhasil memahami banyak kepandaian sakti ketika berada di tanah pekuburan, kemudian mengalami siksaan panca istana Huan-mo-kiong yang menyebabkan bergeraknya tenaga murni yang berada di dalam tubuh dan terhisap oleh pusaran yang mengakibatkan tenaga dalamnya maju beberapa tingkat, niscaya ia sudah tewas oleh serangan keji lawannya.

Tiba-tiba Ku See-hong menghimpun tenaga dalamnya, kemudian sekali lagi mempergunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang maha dahsyat tersebut.

Tampak tubuhnya yang melambung di tengah udara itu terombang-ambing mengikuti gulungan angin serangan yang dahsyat.

Seenteng selembar bulu, dia menari dan melayang kesana kemari tiada hentinya.

Ternyata ilmu gerakan tubuh yang sangat lihay ini boleh dibilang mengandalkan segulung hawa murni yang dihimpun dari pusar, membuat seluruh badannya enteng bagaikan bulu.

Dalam keadaan begini, sekalipun angin pukulan yang dahsyat mengena di tubuhnya juga tak akan menghasilkan pengaruh apa-apa.

Ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong merupakan suatu kepandaian sakti yang berhasil diperoleh Bun-ji koan-su setelah mempelajari isi kitab Cang-ciong pit-kip selama banyak tahun.

Kehebatan dan kesaktiannya tentu saja sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Tempo hari, Bun-ji koan-su pernah berkata kepada Ku See-hong, asal ia berhasil menguasai ilmu gerakan tersebut maka untuk menjaga diri hal mana sudah berlebihan.

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa kagetnya bukan kepalang tatkala menyaksikan ilmu gerakan tubuh yang dipergunakan pemuda ini setingkat lebih dalam dari pada ilmu gerakan tubuh yang digunakannya tadi, segera pikirnya.

"Heran, ilmu gerakan tubuh apakah ini? Belum pernah kubaca tentang kepandaian sakti seperti ini dalam kitab pusaka ilmu silat, padahal ilmu silat yang dimiliki ayah sangat tinggi, mengapa aku pun belum pernah mendengar tentang soal ini dari mulutnya...?"

Berpikir sampai ke situ, mendadak Si Pedang Emas Cia Tiong-giok teringat kembali akan sebuah ilmu sakti dari istana Huan-mo-kiong yang sudah lama tak pernah dipergunakan.

Mo-to sam-huan (Tiga Perubahan dari Pulau Iblis).

Tanpa terasa kakinya segera membawakan langkah tujuh bintang, bersamaan itu pula sepasang tangannya digerakkan bersama serangan itu...

seperti ada seperti tak ada, seperti nyata seperti tipuan, kiri kanan sepasang tangannya secepat kilat melancarkan tiga buah serangan yang amat aneh.

Dalam setiap gerakan yang dipergunakan semuanya disertai dengan ilmu langkah yang sempurna, serangan itu datang pula dari sudut yang aneh, beruntun datangnya dan tiada terputus.

Demikian hebatnya jurus serangan itu, boleh dibilang belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan dewasa ini.

Begitu ilmu Mo-to sam-huan dikeluarkan, maka hebatlah akibatnya.

Ketika Ku See-hong bergerak dengan menggunakan ilmu gerakan tubuhnya yang sakti tadi, ia sudah bersiap-siap hendak menggunakan gerakan kedua dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut yakni Jin-hay-hu-seng (Lautan Manusia Timbul Tenggelam) untuk melukai musuh.

Si anak muda ini baru terkesiap setelah menyaksikan Cia Tiong-giok mengeluarkan jurus sakti tersebut untuk mendesak dirinya.

Dengan cepat hawa murni yang kuat menyelimuti seluruh dadanya, menyusul kemudian sepasang telapak tangannya digerakkan secara aneh.

Di balik kilauan cahaya yang gemerlapan, disertaai segulung hawa murni yang berat dan dalam bagaikan samudra, secara lamat-lamat menerobos masuk ke dalam.

Bentuk badan Ku See-hong saat ini telah berubah menjadi aneh sekali, tubuhnya berada tiga depa dari permukaan tanah, dengan bentuk seperti udang bago, di antar lengkungan dan lejitannya yang lucu...

sekilas cahaya putih secepat kilat melesat ke muka mengancam bagian mematikan di tubuh Cia Tiong-giok.

Sewaktu masih berada dalam istana Huan-mo-kiong, Cia Tiong-giok telah mengenali kelihayan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut, dia baru terperanjat bukan kepalang setelah menyaksikan sekilas cahaya putih menembusi dinding tak berwujud yang diciptakan berlapis-lapis itu dan secepat kilat menyergap bagian penting di tubuhnya.

Padahal Mo-to sam-huan merupakan suatu kepandaian sakti yang dahsyat sekali pengaruhnya...

dalam kenyataan serangan itu tak mampu membendung kehebatan dari jurus Hoo-han-seg-huan tersebut....

Dengan cepat Cia Tiong-giok menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya sehingga tenaga serangan yang terpancar keluar lewat ilmu Mo-to sam-huan itu menjadi sepuluh bagian lebih dahsyat.

Lalu dengan gerakan keras lawan keras, ia sambut datangnya serangan itu.

Berbareng dengan gerakan tadi, tubuhnya turut melesat ke muka sebagai persiapan untuk menghindari luka parah yang tak diperlukan.

"Plaaakk...!"

Benturan keras terjadi.

Kemudian kedengaran suara dengusan tertahan mendesis di angkasa, pusaran hawa tajam segera memancar ke delapan penjuru.

Ku See-hong segera merasakan hawa darah di dalam dadanya bergolak keras oleh segulung tenaga dorongan yang kuat, ia didesak sampai mundur sejauh lima enam langkah dari posisi semula.

Cia Tiong-giok sendiri, walaupun cukup cepat reaksinya, tubuhnya ikut bergerak cahaya putih itu demikian cepatnya, daya pengaruh yang terpancar pun begitu luas daya lingkupnya....

Tampak seluruh tubuhnya terpental jauh ke belakang oleh sapuan tenaga yang membuyar itu.

Sekali kuda-kudanya tergempur, badannya segera berjumpalitan di udara dan melayang turun empat kaki jauhnya dari posisi semula.

Walaupun ia dapat melayang turun dengan manis, akan tetapi dilihat dari paras mukanya yang pucat serta sorot matanya yang penuh dengan kebencian, dapat diketahui bahwa kerugian yang dideritanya cukup besar, kekalahan yang dideritanya sekarang boleh dibilang merupakan kekalahan yang pertama kali dialaminya selama dua puluh satu tahun.

Sekuat tenaga Cia Tiong-giok segera mengendalikan luka yang diderita kemudian sambil tertawa seram dia berkata.

"Orang she Ku, malam ini aku tak akan melepaskan kau dengan begitu saja, heeehh... heeehh... heeehh... tentunya kau rasakan penderitaan yang hebat dalam tubuhmu sekarang, bukan?"

Oleh tenaga pukulannya yang dahsyat itu Ku See-hong memang merasakan hawa darahnya bergolak keras, tak enteng luka yang dideritanya, namun dari balik matanya yang tajam segera mencorong keluar serentetan cahaya mata yang menggidikkan hati, lalu dengan sikap sinis menghina ia mendengus dingin.

"Hmm, jika punya ilmu, ayo tunjukkan semua, apa gunanya mengandalkan ketajaman mulut untuk bersilat lidah?"

Si Pedang Emas Cia Tiong-giok menyeringai seram, sehingga wajahnya tampak mengerikan sekali, lalu sambil tertawa dingin katanya.

"Mana, mana, orang she Ku, kegagahanmu sungguh mengagumkan, kau memang seorang Kuncu sejati. Heeehh... heeehh... heeehh, sekarang kau tidak menyerang lagi? Memangnya tanganmu sudah tak menuruti suara hatimu lagi?"

Mendengar ucapannya yang sangat licik itu, diam-diam Ku See-hong merasa terkesiap, pikirnya.

"Saat ini seluruh nadi pentingku terluka, darah dalam tubuhku serasa membeku, bila keadaan ini sampai diketahui lawan, bisa jadi dia akan segera melancarkan sergapan mematikan, waktu itu niscaya keselamatanku akan terancam sekali."

Padahal Si Pedang Emas Cia Tiong-giok sendiri pun merasakan hawa darah di dalam dadanya bergolak keras akibat dari benturan itu, tapi dasar licik, walaupun ia tahu Ku See-hong juga menderita luka parah, namun tidak diketahui sampai di manakah taraf luka yang dideritanya itu.

Oleh karenanya dia ingin memancing lawannya dengan ucapan yang memanaskan hati lawan, bila luka yang diderita pihak lawan parah sekali, maka dengan mempertaruhkan kekuatan yang dimilikinya sekarang, ia hendak menggunakan sebuah ilmu pedang yang ganas dan buas untuk membunuhnya.

Sayang sekali Ku See-hong bukan seorang yang bodoh, sudah barang tentu ia dapat menduga maksud keji Cia Tiong-giok, maka sambil berlagak seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa, ia tertawa seram.

"Sekarang juga aku orang she Ku masih sanggup untuk membinasakan manusia laknat macam kau. Bila tidak percaya, mari kita buktikan sekarang juga...."

Menyaksikan sikap Ku See-hong yang begitu tenang menghadapi ancaman dirinya, diam-diam Si Pedang Emas Cia Tiong-giok makin terkesiap.

Ia tidak berbicara lagi, diam-diam hawa murninya disalurkan untuk mengobati lukanya, sementara sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam mengawasi wajah Ku See-hong tanpa berkedip.

"Syukur dia terkibuli!"

Pekik Ku See-hong di hati kecilnya.

Buru-buru diapun mengatur napasnya untuk menyembuhkan luka yang dia derita.

Begitulah, dua orang itupun berdiri saling berhadapan di tepi pantai dengan mata melotot, walaupun di luar wajahnya sikap mereka tenang, padahal di hati kecilnya merasa begitu tegang, begitu takut dan ngeri....

Angin laut masih berhembus amat kencang, gulungan ombak saling berkejaran memecah di pantai, suara gemuruh yang disertakan dalam gulungan itu memberikan suasana yang lebih mengerikan bagi orang-orang di sekitar sana.

Udara di sekeliling tempat itu penuh diliputi hawa nafsu membunuh yang menyeramkan, kian lama kian bertambah tebal mengikuti berlalunya sang waktu.

Pada saat itulah ada dua sosok bayangan manusia yang sedang pelan-pelan menghampiri belakang tubuh Ku See-hong dengan gerakan seperti sukma gentayangan, dua bilah pedang pun pelan-pelan telah diloloskan dari dalam sarungnya....

Sejak semula Ku See-hong telah merasakan kehadiran mereka, ia tahu dunia ini penuh dengan kebusukan, kejahatan serta perbuatan memalukan.

Kulit wajahnya segera mengejang keras, ia paling benci dengan tindak-tanduk semacam ini.

Sayang tenaganya waktu itu terlalu lemah, dia tak bisa berbuat banyak kepada mereka.

Sekulum senyuman dingin yang licik segera tersungging di ujung bibir Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, ia merasa bangga, juga amat gembira.

Tiba-tiba...

terdengar dua kali bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan.

Dua bilah pedang yang tajam disertai dengan segulung hawa pedang yang dingin, satu dari kiri yang lain dari kanan, langsung menusuk ke bagian mematikan di tubuh Ku See-hong dengan kecepatan tinggi.

Terdengar bentakan yang pedih dan sedih menggelegar memecahkan kheningan.

Dengan kening berkerut dan wajah dingin bagaikan salju, tiba-tiba Ku See-hong melejit ke udara dan meluncur ke depan.

Berada di tengah udara ia berjumpalitan beberapa kali, kemudian kesepuluh jari tangannya diayunkan ke depan...

desingan angin tajam bagaikan bendungan yang jebol segera menyambar ke muka.

Selapis gulungan tenaga serangan yang dingin bagaikan es dan dashyat melebihi kekuatan pada umumnya itu, melanda ke depan secepat petir dan langsung menggulung ke tubuh dua orang lelaki berbaju hitam yang menyergapnya dari belakang itu....

Rupanya tatkala dua orang lelaki bercambang itu siap melandakan sergapan, mendadak aliran hawa murni yang aneh di dalam tubuhnya itu menyebar keluar, hal mana membuat hawa darah yang bergolak keras seketika itu juga pulih kembali seperti sediakala.

Sementara itu Si Pedang Emas C ia Tiong-giok juga telah berhasil mengendalikan pergolakan hawa darah di dalam tubuhnya...

tapi sayang ia tak sempat lagi untuk menghindarkan kedua orang anak buahnya itu dari ancaman maut yang dilepaskan Ku See-hong.

Dua kali jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma segera menggema memecahkan keheningan malam...

kedua orang lelaki bercambang itu mati seketika itu juga.

Dalam pada itu, Ku See-hong yang baru saja membunuh dua orang lawannya, tiba-tiba merasakan datangnya selapis hawa pedang yang dingin menusuk tulang menyambar ke punggungnya secara dahsyat.

Ku See-hong tak berani bertindak ayal, kakinya segera berputar secaara aneh, lalu sekali lagi dia berkelit ke samping dengan gerakan tubuh Mi-khi biau-t iong yang sangat lihay itu.

Pangkal kakinya menempel tanah, sementara tubuhnya berjumpalitan secara indah.

Rupanya dalam keadaan kritis tersebut, ternyata Ku See-hong kembali berhasil memahami suatu gerakan aneh, dan yang secara langsung segera dipraktekkan.

Hebatnya, ternyata tusukan maut yang dilancarkan Si Pedang Emas Cia Tiong-giok itu segera mengenai sasaran yang kosong.

Cia Tiong-giok tertawa seram, pedang emasnya digetarkan dan diputar menciptakan selapis cahaya emas yang tebal.

Gerakan pedangnya secepat kilat membelah angkasa.

Di antara getaran tersebut terpancar keluar cahaya gemerlapan yang menyilaukan mata.

Selama ini Ku See-hong belum pernah bertarung melawan musuh yang menggunakan jurus pedang.

Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Cia Tiong-giok dengan mengembangkan serangkaian ilmu pedang yang buas dan mematikan itu segera membuat si anak muda itu menjadi gugup dan kalang kabut tak karuan.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong.

Sambil membentak keras, sepasang tangannya masing-masing membentuk sebuah garis busur dan melancarkan bacokan kilat....

Ketika dua gulung tenaga pukulan yang dilepaskan semua olehnya itu saling menumbuk menjadi satu di udara.

"Ploook!"

Hawa serangan segera memancar ke empat penjuru dan bersama-sama mengurung seluruh badan C ia Tiong-giok.

Ilmu pukulan semacam ini adalah merupakan hasil ciptaan Ku See-hong sendiri, selain sakti dan aneh, tanpa disadari tenaga pukulan yang dihasilkannya pun satu kali lipat lebih dahsyat daripada keadaan biasa.

Cia Tiong-giok yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat terperanjat, pedang emas di tangannya segera diputar menciptakan selapis cahaya dinding yang kuat dan tebal.

Di antara desingan angin tajam yang menderu-deru, seketika itu juga segenap tenaga serangan yang dilancarkan Ku See-hong kena dipunahkan oleh hawa pedang tersebut.

Mendadak pedang emas dalam genggaman Cia Tong-giok digetarkan amat cepat dan dahsyat, bertitik-titik cahaya bintang bertaburan di angkasa dan tahu-tahu melesat ke depan, mengancam jalan darah Gi-hu-hiat dan cong-hiat di atas tenggorokan Ku See-hong.

Serangan tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi, jurus serangan yang dipakai juga sakti dan luar biasa, lagi ganas ancamannya.

Seperti bayangan setan saja, tiba-tiba Ku See-hong menyelinap ke samping, kemudian bergerak secara aneh.

Sepasang ujung bajunya dikebaskan bersama-sama menciptakan selapis hawa pukulan yang meluncur keluar tiada habisnya.

Setelah itu, sekali lagi badannya mengegos ke samping.

Cia Tiong-giok segera menekan pedang emasnya ke bawah, lalu dibuyarkan di belakang, langkah kakinya turut miring ke samping.

Pedang digetarkan menciptakan beribu-ribu buah jalur cahaya yang amat menyilaukan mata.

Dalam waktu singkat, selapis cahaya pedang yang dingin dan tajam, disertai deruan angin dan guntur yang memekikkan telinga mengancam sekujur badan Ku See-hong.

"Breeett...!"

Karena kurang cepat menghindarkan diri, lengan kiri Ku See-hong sudah kena tersambar sehingga robek sepanjang dua inci lebih, kulit badannya kontan merekah dan darah segera bercucuran membasahi separuh bajunya.

Dengan bangga Cia Tiong-giok tertawa licik, pedang emas di tangannya kembali diputar menciptakan cahaya perak yang melingkar-lingkar, kemudian atas bawah meluncur bersama, bagaikan naga sakti yang sedang menari di angkasa, angin tajam menyelimuti seluruh udara.

Untuk sesaat lamanya Ku See-hong terkurung di balik cahaya pedang yang rapat sekali itu.

Sepasang lengannya berputar-putar mengikuti arah pedangnya dan menciptakan sebuah aliran hawa yang menyesakkan napas, untuk membendung jurus pedang yang ganas dan lihay itu secara paksa.

Sambaran pedang emas menciptakan deruan angin yang mmekikkan telinga, pasir hitam di tanah menggulung-gulung terbang mengliputi udara, sedemikian dahsyatnya ancaman itu sehingga cukup menggetarkan perasaan siapapun yang melihatnya...

Cahaya pedang berputar bagakan gulungan ombak samudra, di antara kilatan-kilatan yang menyambar kesana kemari, hampir seluruh arena terpenuh oleh serangan lawan.

Sekali lagi Ku See-hoong menggunakan ilmu langkah Mi-khi-biau-tiong untuk menghindarkan diri secara aneh, kemudian setelah memusatkan tenaganya dan pikiran, jurus demi jurus serangan dilancarkan secara berantaai.

Di antara bayangan teapak tangan yang berlapis-lapis, berhembus keluar hawa serangan yang kuat dan membuat orang sukar untuk meneduhnya.

Makin bertarung, Si Pedang Emas Cia Tiong-giok merasa semakin terperanjat.

Boleh dibilang pemuda itu merupakan satu-satunya musuh tangguh yang pernah dijumpainya selama ini.

Padahal selamanya belum pernah ada orang yang sanggup menahan serangan gencarnya sebanyak tigapuluh gebrakan, tapi kenyataannya sekarang, waalau dengan tangan kosong pun Ku See-hong mampu menghadapi serangannya sebanyak duapuluh jurus lebih.

Selain daripada itu, hawa serangan yang dipancarkan lawannya selapis demi selapis menggulung tiba tiada hentinya, makin lama kekuatan tersebut makin kuat.

Ada kalanya jurus pedangnya kena didesak sehingga sama sekali tak cukup berkekuatan untuk mendesak lawan.

Sebagaimana diketahui, Ku See-hong telah memperoleh warisan hawa murni dari Bun-ji koan-su, kemudian dia pun mempelajari ilmu khikang Kan-kun-mi-siu-kang yang maha dahsyat, oleh sebab itu dia tidak kuatir kehabisan tenaga dalam suatu pertarungan jarak panjang, malahan makin bertarung, tenaga dalamnya makin sempurna.

Di samping itu juga, diapun mempelajari jurus Hoo-han-seng-huan yang tak bisa disangkal lagi merupakan sumber dari segala macam kepandaian sakti...

apalagi dia pun bisa menggunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, hal mana membuat dirinya makin tangguh.

Andaikata ia, Ku See-hong, dapat menguasai beberapa macam kepandaian sakti yang berbeda itu sekaligus, maka kemajuan yang dicapai dalam tenaga dalamnya tak terukur dengan kata-kata.

Tak bisa disangkal lagi, pertarungan yang sedang berlangsung sekarang, benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang jarang terjadi di dalam dunia persilatan.

Angin menderu-deru, udara terasa dingin menyayat badan, dalam sekejap mata Cia Tiong-giok kembali melancarkan delapanpuluh jurus lebih serangan pedangnya.

Mendadak....

Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, jurus ketiga dari Hoo-han-seng-huan, yakni Tee-jian-hun-gi (Neraka Hancur, Sukma Gentayangan) telah dilancarkan.

Seketika itu juga seluruh badannya ibarat serentetan cahaya terik matahari yang amat menyilaukan mata, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran sukma gentayangan, dia menerobos ke muka.

Tampak cahaya putih di ringi selapis hawa tajam yang menyayat badan, langsung menyergap bagian tubuh yang mematikan di bagian bawah badan C ia Tiong-giok.

Tampaknya Si Pedang Emas Cia Tiong-giok cukup mengenali kedahsyatan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut, dia ingin berkelit ke samping...

sayang keadaan terlambat.

Sambil membentak keras dia segera bertekad untuk beradu jiwa.

Jurus-jurus tangguh yang mematikan segera digunakan, dengan kecepatan yang luar biasa tangan kirinya melepaskan beberapa gulung desingan angin dingin yang menyayat badan, di mana desingan tadi langsung menyergap jalan darah Thian-leng-hiat di 290 tubuh Ku See-hong.

Sedangkan pedang emas di tangan kanannya dengan menggertak berlapis-lapis hawa pedang yang tajamnya luar biasa, menyongsong datangnya kilatan cahaya putih itu.

Di dalam anggapannya, sekalipun hawa pedang yang dilancarkan olehnya tak sanggup membendung cahaya putih itu sehingga terluka, namun pihak lawannya akan tewas pula dalam keadaan yang mengerikan.

Padahal dari mana ia bisa tahu kalau daerah seluas satu kaki di sekeliling tempat itu sudah dilapisi oleh kekuatan yang maha dahsyat setelah Ku See-hong mengeluarkan ilmu Hoo-han-seng-huan tersebut, sehingga akibatnya pelbagai serangan atau ancaman yang bagaimanapun lihaynya jangan harap bisa menembusinya.

Sesungguhnya kehebatan tersebut merupakan rahasia besar...

bahwa Ku See-hong sendiri pun tak tahu akan keistimewaan tersebut.

Dia hanya tahu, asal gerakan jurus manapun dari Hoo-han-seng-huan tersebut dipergunakan, niscaya lawannya akan mati secara mengenaskan.

Tampaknya Kim-kiam C ia Tiong-giok yang sok pintar itu segera akan mati secara mengenaskan oleh serangan Tee-jian-hun-gi yang dilepaskan Ku See-hong itu...

Tiba-tiba....

Serentetan suara pekikan keras yang memekikkan telinga dengan cepat meluncur tiba membelah angkasa.

Suaranya melengking seperti jeritan kuntilanak, benar-benar tak sedap didengar.

Di tengah pekikan nyaring inilah, sesosok bayangan abu-abu, secepat kilat menerjang masuk ke balik lapisan tenaga serangan yang dahsyat dan dingin bagaikan salju itu.

"Bluuumm... Bluuumm...!"

Ledakan-ledakan berkumandang secara beruntun.

Cahaya putih yang dilancarkan oleh Ku See-hong itu, mendadak terputus di tengah jalan....

Di antara berkelebatnya bayangan manusuia, paras muka si anak muda itu berubah menjadi mengerikan, rambutnya berawut-awutan tak karuan....

Duuuk...

duuuk...

duuuk....

Selangkah demi selangkah dia terdorong ke belakang, sementara mulutnya muntahkan tiga kali darah kental.

Sebaliknya, paras muka Si Pedang Emas Cia Tiong-giok pun berubah menjadi pucat pias mengerikan.

Kulit tubuhnya mengejang keras, sementara sekujur badannya lemas sama sekali tak bertenaga.

"Oooh ayah..."

Bisiknya lirih.

"Cepat kau... kau bunuh orang itu.... Kalau tidak... dia... dia akan menjadi bibit bencana yang besar buat... buat kita...."

Ketika berbicara sampai di situ, dia telah jatuh terkapar di tanah tak sadarkan diri.

Rupanya pada saat itulah di sisi tubuh Cia Tiong-giok, telah bertambah dengan seorang sastrawan berusia pertengahan yang mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu.

Sebilah pedang antik tersoreng di punggungnya, sedangkan perawakan tubuhnya tinggi jangkung dan anggun.

Dia mempunyai alis mata yang tebal dan mata yang besar, gagah perkasa sekali tampangnya.

Cuma sayang sekulum senyuman licik yang mengerikan tersungging di ujung bibirnya, dari sini bisa diketahui bahwa orang ini benar-benar merupakan orang manusia yang amat berbahaya.

Ternyata orang ini tak lain adalah Kiong-cu angkatan ke-tigapuluh enam dari Huan-mo-kiong yang namanya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, Han-thian it-kiam Cia Cu-kim adanya.

Dengan lima jari yang dipentangkan lebar-lebar, secepat kilat Han-thian it-kiam Cia Cu-kim menggerakkan tangannya melepaskan dua belas totokan kilat di atas dua belas jalan darah penting di 292 tubuh Cia Tiong-giok.

Rupanya dia bermaksud untuk mencegah menjalannya luka tersebut hingga lebih parah lagi.

Dalam pada itu, Ku See-hong juga telah tahu kalau sastrawan setengah umur ini tak lain adalah otak dari pembunuhan biadab terhadap anggota perkumpulan Kim-to-pang, yaitu Han-thian it-kiam Cia Cu-kim, seketika itu juga rasa dendam dan rasa benci yang meluap-luap menyelimuti seluruh benak atau perasaannya.

Akan tetapi hawa darah yang berada di dalam dadanya sekarang telah terhantam pukulan Cia Cu-kim yang maha dahsyat itu sehingga bergolak keras.

Penderitaan akibat mengalir membaliknya peredaran darah dalam tubuhnya tak terlukiskan dengan kata-kata, namun dia menggertak giginya kencang-kencang dan mengendalikan dirinya sekuat tenaga.

Sementara itu, Han-thian it-kiam Cia Cu-kim telah membalikkan tubuhnya, dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, dia mengawasi Ku See-hong tanpa berkedip.

Sekilas rasa kaget bercampur keheranan menghiasi wajahnya, tapi dengan cepat lenyap kembali.

Sebagai gantinya, pancaran sinar buas dan bengis menghiasi ujung bibirnya yang sinis.

"Siapakah kau? Anak murid siapa?!"

Bentak Han-thian it-kiam Cia Cu-kim kemudian dengan suara dingin.

"Apa sangkut pautnya antara dirimu dengan kami Huan-mo-kiong? Dendam kesumat apa pula yang terjalin di antara kita berdua sehingga kau bertindak kejam dengan membunuhi anggota Huan-mo-kiong kami? Hmm, jika kau tak mengucapkan sesuatu alasan, saat ini juga akan kusuruh tubuhmu hancur lumat menjadi abu...!" 00d0w00 Bab 14 HAN THIAN IT KIAM Cia Cu-kim adalah seorang gembong iblis yang amat termasyhur namanya dalam dunia persilatan. Dia kejam dan brutal, sama sekali tidak mengenal arti perikemanusiaan, selama ini diapun belum pernah mengucapkan kata-kata yang begitu sungkan terhadap seorang angkatan muda. Tapi sekarang, kebrutalan dan keangkuhannya banyak berkurang, hal ini dikarenakan dia telah digetarkan oleh sikap Ku See-hong yang amat luar biasa itu, serta jurus Hoo-han-seng-huan yang baru saja digunakan itu. Dia tahu jurus Hoo-han-seng-huan tersebut merupakan kepandaian simpanan dari Bun-ji koan-su, manusia paling kosen di dunia ini. Itulah sebabnya ia berusaha keras untuk menahan amarahnya. Sinar benci dan luapan rasa dendam segera terpancar keluar dari balik mata Ku See-hong, katanya dengan dingin.

"Suhuku adalah pemimpin dunia persilatan di masa lalu, Bun-ji koan-su Him Ci-seng. Sedangkan mengenai sumber dari dendam kesumat itu, terus terang saja kukatakan kepadamu, jika aku masih berkemampuan sekarang, detik ini juga akan kusuruh kau terkapar di atas genangan darah...."

Diam-diam terkesiap perasaan Han-thian it-kiam Cia Cu-kim setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.

"Semenjak Bun-ji koan-su menerima dua orang murid yang kemudian mengkhianatinya, dia telah bersumpah tak akan menerima murid lagi, bahkan sejak dua puluh tahun berselang dia telah tewas di bukit Soat-san... mana mungkin dia menerima lagi seorang murid semuda ini?"

Tadi, sebetulnya dia mengira Ku See-hong tak lebih hanya murid dari kedua orang murid murtad Bun-ji koan-su, apalagi selama tigapuluh tahun lamanya Cia Cu-kim menutup diri terus menerus untuk melatih kepandaian silatnya, sudah barang tentu dia tidak begitu mengetahui akan perkembangan yang terjadi dalam dunia persilatan selama duapuluh tahun belakangan ini.

Tapi yang membuatnya amat terperanjat adalah penampilan Ku See-hong yang begitu mendendam dan membenci kepadanya, semenjak kemunculan bahkan adu ucapannya terdengar begitu angkuh dan dingin menggidikkan hati.

Hal mana menimbulkan perasaan was-was di dalam hati kecilnya.

Setelah termenung sejenak Han-thian it-kiam Cia Cu-kim berkata lagi sambil tertawa dingin.

"Hmmm... betul-betul punya keberanian, betul-betul punya keberanian. Tak kusangka kau berani mengucapkan kata-kata semacam itu kepada lohu...."

Ku See-hong tahu kalau usia Han-thian it-kiam Cia Cu-kim telah mencapai enampuluh tahunan, cuma saja dia memiliki kepandaian untuk merawat muka sehingga tampaknya saja masih muda.

Di samping itu, dia juga menyadari akan kekejaman Cia Cu-kim terhadap musuhnya setelah saling berhadapan muka pada malam ini, niscaya dia tak akan berpeluk tangan belaka.

Walaupun tahu kalau kematian telah di depan mata, Ku See-hong yang angkuh dan keras kepala itu sama sekali tak mau menunjukkan kelemahannya untuk minta ampun.

Dengan sinis dan penuh hina Ku See-hong mendengus dingin, kemudian ujarnya.

"Kau manusia, aku pun manusia, kenapa aku tak berani mencaci-makimu? Hmmm.... Memangnya aku harus persiapkan keberanian lebih dahulu sebelum mengucapkan beberapa patah kata kepadamu? Betul-betul suatu lelucon yang tidak menggelikan!"

Bagaimanapun juga, Han-thian it-kiam Cia Cu-kim harus mengagumi akan keberanian pemuda itu. Dia lantas tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, setelah itu katanya ketus.

"Malam ini kau telah membunuh empat orang anggota Huan-mo-kiong kami. Sekarang kau ingin bertanya, hukuman apakah yang siap kau terima?"

"Mengandalkan kepandaian untuk membalas dendam merupakan suatu perbuatan yang jujur dan terbuka, sekalipun kau sendiri yang kuhadapi, aku orang she Ku juga tak akan menyerahkan nyawaku dengan begitu saja. Hmmm... mau membunuh aku, gunakan dulu kepandaian yang kau miliki."

Ku See-hong tahu mundur juga mati, maju dengan mengeraskan kepala juga mati, tentu saja dia tak akan menunjukkan sikap mohon dikasihani.

Sejak dulu para enghiong lebih suka mati daripada dihina, itu pula menjadi prinsip hidup bagi Ku See-hong.

"Bagus sekali, bagus sekali, kau memang betul-betul punya keberanian,"

Ujar Han-thian it-kiam Cia Cu-kim kemudian.

"Lohu akan memberikan suatu kesempatan bagimu, sekalipun menimbang dari dosa-dosa yang kau lakukan dalam istana kami cukup untuk menjatuhkan hukuman mati untukmu, namun asal kau sanggup menerima tiga buah pukulan lohu tanpa mati... malam ini aku bersedia mengampuni selembar jiwamu."

Ku See-hong menjadi girang sekali setelah mendengar tawaran itu.

Dia tak mengira kalau sikap kerasnya justru memancing perasaan ingin menang dari gembong iblis itu malahan sikap buas dan brutalnya jauh berkurang terhadapnya.

Ia yakin dengan kondisi badannya sekarang, di mana gejolak hawa darah dalam dadanya telah menjadi tenang kembali, mungkin secara dipaksakan ia masih mampu menerima tiga buah pukulan lawan.

Walaupun pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak Ku See-hong, namun paras mukanya masih tetap tenang dan dingin kaku seperti es, ujarnya kemudian.

"Ucapan seorang kuncu bagaikan kuda yang kena dicambuk, bila beruntung aku orang she Ku berhasil lolos dari kematian, tiga tahun kemudian pasti akan kupenggal batok kepalamu itu."

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh... heeehh... heeehh... tak usah banyak berbicara lagi, lihat seranganku yang pertama!"

Bentaknya kemudian.

Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangan Han-thian it-kiam C ia Cu-kim disilangkan di depan dada, setelah itu pelan-pelan didorong ke depan.

Ku See-hong segera merasakan ada segulung angin pukulan berhawa dingin berhembus lewat dan menimbulkan serentetan ledakan yang memekikkan telinga.

Tiba-tiba saja hawa darah yang beredar dalam tubuhnya mengalami suatu goncangan keras yang menggetarkan sukma, denyutan nadinya bergetar makin kencang, tenggorokannya terasa anyir dan tak ampun lagi...

dia muntah darah segar.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim sendiri pun merasa terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Ku See-hong mampu untuk menerima sebuah pukulannya yang disertai dengan tenaga sebesar lima bagian, bahkan tak sampai tewas.

Padahal menurut perkiraannya tadi, Ku See-hong sudah pasti akan tewas dalam pukulannya yang pertama ini.

Dengan paras muka berubah hebat, Cia Cu-kim segera membentak keras dengan suara menggeledek.

"Lihat seranganku yang kedua!"

Mendadak sepasang telapak tangannya direntangkan ke samping, kesepuluh jari tangannya yang berapi-api segera disentil dan digetarkan, segulung tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan amukan gelombang dahsyat di tengah samudra sekali lagi menghantam tubuh Ku See-hong.

Namun pukulan dahsyat itu bukan serangan yang mematikan, sebab serangan inti yang sesungguhnya terletak pada kesepuluh jalur desingan angin dingin yang berada di balik gulungan angin puyuh tersebut.

Cahaya merah yang berapi segera terpancar keluar dari balik mata Ku See-hong, sambil membentak keras, dengan menahan gejolak hawa darah yang menggelora dalam dadanya, ia salurkan tenaga murni itu ke dalam telapak tangan.

Setelah itu sepasang tangannya didorong bersama ke depan.

Segulung angin pukulan yang tak kalah dahsyatnya dengan cepat menggulung pula ke depan.

Dalam jurus serangannya kali ini Ku See-hong telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, tak terlukiskan kedahsyatannya.

"Blaaamm...!"

Di tengah ledakan keras yang memekikkan telinga, dua gulung hawa murni itu saling bertumbukan satu sama lainnya, desingan angin berpusing segera memancar ke empat penjuru.

Di tengah desingan angin tajam itulah...

terdengar Ku See-hong mendengus dingin, kepalanya terasa pusing tujuh keliling, hawa darah di dalam rongga dadanya bergolak keras, kakinya menjadi gemetar dan secara beruntun ia mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih.

Tubuhnya gontai dan wajahnya memucat, tak tahan lagi dia muntah darah berulang kali.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim benar-benar merasa terperanjat sekali, di dalam serangan yang terakhir dilancarkan itu, dia telah sertakan tenaganya sebesar tujuh bagian...

bahkan diam-diam ia sertakan pula satu jurus serangan yang mematikan, tapi alhasil dia gagal membinasakan si anak muda itu.

Menghadapi kenyataan tersebut, timbul niat jahat dalam hatinya, ia bersumpah hendak membunuh Ku See-hong dengan cara apapun juga.

Sebab, dengan usianya yang begitu muda pun dia telah memiliki kesempurnaan tenaga dalam yang begitu sempurna bila pada malam ini ia sampai kabur dalam keadaan hidup, tak sampai beberapa tahun kemudian sudah pasti pemuda itu akan menjadi seorang musuh yang mengerikan....

Bila sampai begitu maka cita-citanya untuk menguasai seluruh dunia persilatan pasti akan menjumpai tantangan.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim tertawa licik, kemudian bentaknya keras-keras.

"Lihatlah seranganku yang ketiga... Hun-huan kiu-gi!"

Kali ini dia telah menghimpun tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian...

tiba-tiba sepasang telapak tangannya didorong ke muka sejajar dengan dada, gulungan angin pukulan yang dahsyat dan menyesakkan napas dengan cepat menyelimuti seluruh angkasa, di balik kesemuanya itu terselip pula kekuatan tersembunyi yang membetot sukma, langsung menggulung ke tubuh Ku See-hong.

Ketika menyambut serangan musuh untuk kedua kalinya tadi, Ku See-hong telah merasakan isi perutnya menderita luka yang cukup parah, selain lengannya menjadi lemas, dia pun merasa kehabisan tenaga, padahal ia bisa berdiri tegak di sana pun tak lain karena kekerasan hatinya yang menunjang kesemuanya itu.

Kini, ketika dilihatnya angin pukulan yang menderu-deru telah menggulung datang, sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan dengan mengerahkan sisa kekuatan yang masih dimilikinya.

Seketika itu juga terdengarlah suara deruan angin tajam yang memekikkan telinga berkumandang memenuhi angkasa....

Ku See-hong merasakan pandangan matanya menjadi gelap, seluruh tubuhnya terlempar sejauh empat kaki lebih dari tempat semula oleh segulung pukulan kekuatan yang maha dahsyat....

"Blaaamm...!"

Ketika badannya membentur tanah, pasir dan debu segera beterbangan memenuhi angkasa.

Namun Ku See-hong sama sekali tidak digetarkan sampai pingsan, pelan-pelan dia mendongakkan kepalanya dengan wajah yang pucat, noda darah yang membasahi ujung bibirnya dan rambutnya yang awut-awutan tak karuan, membuat pemuda itu tampak mengerikan sekali.

Ketika Han-thian it-kiam Cia Cu-kim menyaksikan Ku See-hong sama sekali tidak terbunuh oleh serangannya yang maha dahsyat itu, diam-diam rasa kaget dan bergidik menyelimuti seluruh benaknya.

Mendadak....

Sekulum senyuman licik yang buas dan menyeramkan tersungging di ujung bibir Han -thian it-kiam Cia Cu-kim.

Tubuhnya bagaikan sesosok bayangan sukma selangkah demi selangkah pelan-pelan mendekati tubuh Ku See-hong....

Agaknya Ku See-hong telah mengerti apa yang bakal terjadi, sepasang matanya berubah menjadi merah membara seperti darah, itulah perasaan seram yang mencekam perasaannya menghadapi ancaman kematian yang telah muncul di depan mata.

"Cia Cu-kim...!"

Teriaknya kemudian dengan suara parau.

"Sebenarnya kau... kau... adalah manusia atau bii... binatang...?"

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim terkekeh dengan seramnya, ia menjengek sinis.

"Bocah keparat she Ku, serahkan saja selembar jiwa anjingmu itu. Sekalipun kau telah menyambut tiga buah pukulanku, heeehh... heeehh... heeehh... tapi, untuk menghadapi seorang musuh besar yang mungkin akan mengancam keselamatan diriku, selamanya aku tak pernah memegang janji, sebab prinsipku, terhadap orang-orang yang berbahaya bagiku adalah tindakan yang makin keji merupakan tindakan yang paling baik."

Waktu itu, Ku See-hong sudah merasakan jantungnya berdebar keras, peredaran darahnya kacau, sepasang matanya menjadi gelap, keempat anggota badannya lemas seperti tak berkekuatan lagi, tentu saja mustahil baginya untuk melakukan perlawanan.

Tak terlukiskan rasa pedih yang mencekam perasaan ketika itu, lamat-lamat muncul jalur darah di dalam kelopak matanya, dia segera meraung keras, sekarang dia sudah tahu manusia yang hidup di dunia ini memang tiada yang bisa dipercaya....

Mendadak....

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim mengayunkan tangan kanannya ke depan, segulung desingan angin dingin segera berhembus lewat.

Ku See-hong segera mendengus dingin, tubuhnya bergulingan tiga empat kali di atas tanah kemudian tergeletak kaku dan tak berkutik lagi.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim kuatir kalau Ku See-hong belum putus napas...

sekali lagi dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat yang menggulung tubuh Ku See-hong sehingga terpental lagi sejauh empat kaki lebih dari posisi semula.

Setelah itu dia baru mendongakkan kepala dan memperdengarkan suara pekikan nyaring yang menggidikkan hati....

Sambil membopong tubuh Si Pedang Emas Cia Tiong-giok, Han-thian it-kiam Cia Cu-kim segera melompat dan berlalu dari situ.

Beberapa saat kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap di balik kegelapan sana.

Tak lama kemudian di sekeliling tempat itu telah pulih kembali dalam keheningan, sepi senyap, tak kedengaran sedikit suarapun.

Angin masih berhembus kencang ombak pun menggulung dan saling berkejaran....

Ku See-hong tergeletak di atas tanah, ia nampak begitu mengenaskan dan memedihkan hati....

Benarkah ia telah tewas di ujung telapak tangan Han-thian it-kiam C ia Cu-kim?

Benar-benar kasihan sekali Ku See-hong yang hidup penuh penderitaan itu, tampaknya dia sudah berada di tepi jurang kematian.

Dalam keadaan tak sadar tadi ia telah termakan oleh dua buah pukulan dahsyat dari Cia Cu-kim, hal mana membuat nadinya telah tergetar putus.

Entah berapa saat sudah lewat, tiba-tiba Ku See-hong menggerakkan tubuhnya lagi...

kemudian berpekik dengan suara yang mengenaskan.

"Haus... haus... aku minta air... air...."

Tubuhnya gemetar keras sekali, dia ingin meronta bangun namun tiada tenaga yang mampu dikerahkan, akhirnya setelah mendengus tertahan, ia terkapar kembali di atas tanah dan tak berkutik, agaknya pemuda itu telah jatuh tak sadarkan diri lagi.

Sesaat kemudian pelan-pelan ia mendusin kembali, sekali lagi dia berseru dengan suara parau.

"Air... air... aku minta air...."

Jawaban yang diperoleh hanya deruan angin tajam serta deburan ombak yang mengerikan.

Pada saat ini kesadaran Ku See-hong hampir punah, apa yang diketahui olehnya hanya air, sekarang yang dibutuhkan dengan segera adalah air.

Dengan napas tersengkal-sengkal dan wajah mengerikan seperti iblis dia berteriak terus dengan suara parau.

Akhirnya dia menggerakkan tubuhnya.

Seluruh jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, kemudian dengan sepenuh tenaga berusaha untuk merangkak maju ke depan....

Sepanjang hidupnya, Ku See-hong memang selalu diliputi oleh kemisteriusan, setelah merangkak sekian lama dengan penuh penderitaan, tampaknya kesadaran yang semula hilang lambat laun menjadi sadar kembali.

Kini dia merasa hausnya setengah mati, pemuda itu ingin mencari air untuk menghilangkan dahaganya.

Dia tahu air laut tak boleh diminum, maka ia merangkak menuju ke arah sebuah bukit yang tak jauh letaknya dari tepi pantai.

Lambat-laun kesadarannya semakin pulih kembali, dia merasa aliran hawa aneh yang berada dalam pusarnya kembali menyebar keluar.

Walaupun peredaran darahnya yang membalik sudah jauh membaik, namun seluruh tulang belulangnya yang terkena pukulan terasa sakitnya bukan kepalang, seakan-akan satu demi satu telah rontok semua, selain daripada itu, dia pun merasa tubuhnya kepanasan seperti dibakar, hausnya sukar ditahan lagi.

Ternyata di dalam melancarkan kedua buah pukulannya yang terakhir tadi, Han-thian it-kiam Cia Cu-kim telah mengerahkan ilmu Tee-sat-ciang yang paling beracun untuk menghantam pemuda itu.

Ilmu pukulan Tee-sat-ciang merupakan semacam ilmu pukulan beracun yang amat lihay sekali, sekalipun sulit untuk dipelajari, tapi asal bisa dikuasai maka kelihayannya bukan kepalang.

Bagaimanapun lihaynya seorang jago, asal kena terserang oleh angin pukulannya itu sehingga hawa panas beracun menyerang ke badan, maka korban itu akan menderita lebih dahulu, sebelum akhirnya akan mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim amat takut terhadap Ku See-hong, terutama sekali beberapa macam kepandaian sakti yang dimilikinya.

Dia kuatir anak muda itu tetap hidup di dunia ini hingga menyulitkan dirinya di kemudian hari, maka tadi secara beruntun dia lepaskan dua buah pukulan Tee-sat-ciang yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya.

Siapa tahu Ku See-hong telah berhasil mempelajari ilmu Kan-kun mi-siu khi-kang yang amat dahsyat itu...

tanpa disadarinya sebelum serangan itu tiba, banyak sudah pengaruh pukulan beracun itu dipunahkan oleh ilmunya tersebut, selain jantungnya dilindungi agar tidak tergetar putus.

Coba kalau bukan lantaran begitu, sekalipun Ku See-hong memiliki sepuluh lembar nyawa pun akan tewas semua di tangan lawan.

Pelan-pelan hawa darah dalam tubuh Ku See-hong berhasil dihimpun kembali, sekarang secara memaksakan diri dia sudah sanggup untuk berdiri.

Setelah itu dengan sempoyongan berjalan ke depan.

Lebih kurang seperminum teh kemudian, Ku See-hong telah tiba di bawah kaki bukit, saat inilah segulung angin gunung berhembus lewat...

mendadak pemuda itu mengendus bau harum yang lamat-lamat terbawa pula bau amis darah.

Begitu mengendus bau harum yang sangat aneh itu, Ku See-hong segera merasakan hatinya bergetar keras, semangatnya segera berkobar kembali, satu ingatan dengan cepat melintas di dalam benaknya.

Sambil menelusuri sebuah jalan kecil usus kambing, dengan mengerahkan tenaga yang paling besar, pemuda itu merangkak maju ke depan.

Hasratnya yang besar untuk mencari hidup membuat dia harus menahan penderitaan dengan sekuat tenaga, menuju ke arah mana arahnya bau harum tadi, dia berjalan maju ke depan.

Napasnya segera tersengkal-sengkal dan sepasang matanya berubah menjadi merah darah.

Kembali seperempat jam sudah lewat, sekarang Ku See-hong telah tiba di bawah sebuah tebing karang yang curam dan menjulang tinggi ke angkasa.

Ia mendongakkan kepalanya memperhatikan sekejap keadaan dari tebing curam itu.

Tampak bukit tersebut menjulang ke angkasa, kaki bukit tersebut tidak begitu curam tapi dari punggung bukit ke atas, curamnya bukan kepalang tanggung.

Bukit tersebut betul-betul curam dan tegak lurus, jangankan manusia, monyet serta burung pun sukar untuk melewatinya.

Ku See-hong mengalihkan sinar matanya memperhatikan sebuah tonjolan bukit karang berbentuk aneh yang menjulang lima enampuluh kaki tingginya dari permukaan.

Ternyata bau harum yang semerbak tadi berasal dari atas tonjolan batu karang itu, malah dari atas bukit tadi seakan-akan memancar keluar asap berwarna merah yang segera menyebar ke angkasa.

Itulah sebabnya Ku See-hong menduga bahwa benda mustika tersebut kemungkinan besar berada di atas bukit karang yang enampuluh kaki tingginya dari permukaan tanah itu.

Di atas wajah Ku See-hong yang mengenaskan segera terlintas suatu perasaan sulit, kini tubuhnya sudah menderita luka yang cukup parah, untuk mendaki ke atas bukit karang yang enam puluh kaki tingginya di atas permukaan, pada hakekatnya hal ini jauh lebih sulit daripada mendaki ke langit....

Dengan termangu-mangu dia berdiri tertegun di situ, sampai lama kemudian, Ku See-hong baru mengerahkan hawa murninya dan mencoba untuk menghimpunnya kembali.

Tapi dengan cepat sekujur badannya terasa sakitnya bukan kepalang, seolah-olah tulang-belulangnya sudah lepas semua.

Tiba-tiba...

di atas wajah Ku See-hong terlintas keteguhan hatinya yang membara, sambil menggigit bibir ia segera berusaha keras untuk merangkak naik ke atas tebing karang tadi.

"Aduh...!"

Di tengah jeritan tertahan, tubuh Ku See-hong terbungkuk ke bawah, tapi sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, dia lari lagi ke depan.

Tapi gejolak hawa darah yang bergolak di dalam dadanya menimbulkan rasa sakit yang menusuk-nusuk tulang, hal mana membuat dia terjatuh sekali lagi ke tanah.

Sementara itu, tubuhnya sudah berada duapuluh kaki di atas punggung bukit itu, namun keadaan medan makin lama makin curam.

Ku See-hong segera menghembuskan napas panjang, sambil mengerahkan tenaga yang dimilikinya selangkah demi selangkah dia merambat terus ke atas.

Dalam waktu singkat, dia sudah mencapai sepuluh kaki lebih tinggi daripada tempat semula.

Sekarang kakinya sudah menginjak di atas sebuah batu karang yang menonjol ke luar.

Berada di situ Ku See-hong baru mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekitar sana, empat penjuru keadaan amat berbahaya, kini jalan yang terbentang di depan matanya adalah sebuah dinding karang yang tegak lurus, tingginya mencapai duapuluh kaki lebih.

Untuk mencapai batu raksasa yang berbentuk aneh dan menonjol keluar itu, mau tak mau ia harus melewati dinding karang yang tegak lurus itu lebih dahulu.

Walaupun jaraknya hanya duapuluh kaki, namun bagi pandangan Ku See-hong saat ini hakekatnya jauh lebih berat daripada mendaki ke langit.

Seandainya tidak terluka parah, jarak sejauh duapuluh kaki itu bukan suatu rintangan yang sukar, apalagi dengan kepandaian silat yang dimilikinya, asal di tengahnya ada tempat berpijak untuk berganti napas, dalam sekejap mata ia bisa mencapai tempat tujuan.

"Aaaai..."

Tak kuasa lagi Ku See-hong menghela napas sedih.

Ternyata dinding batu tersebut selain tegak lurus dan licin, lagi pula penuh dengan lumut hijau yang amat licin, sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa tempat itu sukar untuk dilewati.

Andaikata ia nekad dan mendaki ke atas dengan menyerempet bahaya, seandainya di atas tiada tempat berpijak atau tempat yang dipakai sebagai tempat berpegangan licin dan sukar dipegang, maka saat itu tubuhnya pasti akan terjatuh ke bawah dan berubah menjadi segumpal daging remuk.

Ku See-hong mendongakkan kepalanya memandang dinding tebing yang licin dan curam itu, tiba-tiba muncul suatu ingatan yang berani...

dia bertekad hendak mendaki ke atas puncak tonjolan batu itu.

Nasib manusia ada di tangan Thian, seandainya dia gagal di dalam perjuangannya untuk mempertahankan hidup, apalagi yang bisa dia katakan?

Diam-diam Ku See-hong mengerahkan sisa tenaga dalam yang dimilikinya, kemudian dengan cepat tubuhnya melompat ke atas.

Ketika mencapai ketinggian tiga kaki, mendadak hawa murninya membuyar...

dalam terkejutnya dia menahan rasa sakit yang membuat tubuhnya gemetar dan tiba-tiba menempelkan badannya di atas dinding tebing.

Tangan kanannya segera diayunkan ke depan berusaha berpegangan pada dinding tersebut, siapa tahu dinding itu sama sekali tiada tempat untuk berpegangan lagi...

lumut hijau segera berjatuhan ke atas tanah.

Ku See-hong memang seorang pemuda yang tangguh, dalam keadaan terancam jiwanya, dia sama sekali tidak menjadi gugup, tangan kirinya yang disaluri tenaga segera membentangkan kelima jari tangannya, kemudian secepat kilat ditusukkan ke atas dinding batu itu....

"Cri ing...!"

Kelima jari tangannya menancap ke dalam dinding batu yang berlumut tebal itu, dengan begitu maka tubuhnya menjadi tergantung di atas awang-awang.

Sesungguhnya tindakan yang dilakukan Ku See-hong ini benar-benar berbahaya sekali, seandainya ia tidak sedang terluka, dengan tenaga dalam yang sempurna, tentu saja menancapkan jari tangannya ke atas dinding bukanlah suatu pekerjaan yang sukar, tapi dalam tenaga dalam yang tersendat-sendat, tindakan dari Ku See-hong ini betul-betul amat berbahaya sekali.

Mungkin nasibnya memang lagi mujur, ternyata tepat di mana tangan kirinya ditusukkan tadi tak lain adalah sebuah celah-celah yang ada di antara dinding batu yang satu dengan dinding batu lainnya.

Agaknya Ku See-hong juga tahu kalau tangan kirinya menancap di antara celah-celah dinding karang, ia menjadi girang sekali.

Setelah mengatur napas sebentar, dengan menelusuri celah-celah dinding tadi, selangkah demi selangkah dia merangkak naik lagi ke atas.

Dalam waktu singkat dia telah tiba di atas batu tonjolan besar yang berbentuk aneh itu, tapi setelah menyaksikan keadaan di situ, mendadak ia menjadi amat terperanjat.

Ternyata tonjolan batu cadas itu bentuknya seperti naga, besarnya bukan kepalang.

Batu cadas itu menempel menjadi satu dengan dinding bukit itu sehingga bentuknya menyerupai kepala naga yang menerobos masuk ke dalam dinding karang.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah batu cadas yang menonjol keluar itu entah terdiri dari batuan apa, selain licin dan halus, juga memancarkan cahaya kemerah-merahan yang sanat indah, seakan-akan batu itu adalah sebuah batu mustika yang amat besar.

Sedang asap merah yang menguap di atas batu mustika tersebut datangnya dari empat arah delapan penjuru yang terhimpun menjadi satu, tempat itu adalah sebuah mulut lorong yang luasnya beberapa depa di tengah batu cadas berbentuk naga tadi.

Di dalam lorong yang sempit itu terdapat sebuah celah sepanjang tiga inci...

cairan berwarna merah kehijau-hijauan yang tampaknya kental seperti lem, meleleh keluar dari sana.

Bau harum semerbak tadi tak lain berasal dari cairan merah kehijau-hijauan tersebut, tapi anehnya terendus pula bau anyir darah.

Saat itu, Ku See-hong sedang merasakan hausnya setengah mati, dengan termangu-mangu dia mengawasi cairan merah itu, kemudian pikirnya.

"Cairan merah kehijau-hijauan itu sudah pasti adalah obat mustika yang langka dan tak ternilai harganya...."

Dengan susah payah mendaki bukit terjal, mempertaruhkan selembar jiwanya, memanjat karang yang licin itu, tak lain tujuan Ku See-hong adalah untuk mendapatkan cairan merah itu.

Dalam keadaan demikian, dia sudah tak ambil peduli lagi cairan apakah yang ada di situ.

Diapun tak ambil peduli apakah cairan itu boleh diminum atau tidak....

Ku See-hong segera membungkukkan badannya, ketika hidungnya mengendus bau asap harum yang menguap, tubuhnya terasa menjadi segar tak terlukiskan.

Tanpa berpikir panjang lagi ia segera membuka mulutnya dan menghirup cairan merah tadi.

Dengan cepat seluruh tubuhnya menjadi segar, harum semerbak hawa dingin yang menyegarkan segera meluncur masuk ke dalam tubuhnya, langsung menembusi pusar.

Kenyataan ini, seketika itu juga membuat hatinya girang setengah mati.

Bagaikan orang yang menemukan sumber air di tengah gurun pasir dengan sekuat tenaga dia menghirup cairan merah itu.

Dalam waktu singkat cairan merah yang tiga inci dalamnya itu sudah berpindah ke dalam perut Ku See-hong, setetespun tak ada yang bersisa lagi.

Ku See-hong segera menggerakkan lidahnya untuk menjilati sisa cairan yang masih ada, setelah itu menarik napas panjang-panjang, seakan-akan dia belum merasa puas dengan apa yang telah diperolehnya.

Segulung hawa murni yang hangat pelan-pelan mulai bergerak naik dari dalam pusar, tak selang berapa lama kemudian, nadi penting yang menguasai hidup matinya berhasil ditembusi lalu mengaliri Jin dan Tok-meh, lalu balik lagi ke bawah.

Seluruh tubuhnya menjadi segar bugar semua, penderitaan dan rasa sakit yang dialaminya tadi seketika lenyap tak berbekas.

Hawa murninya menjadi penuh dan tubuhnya menjadi enteng dan segar, betul-betul suatu kenyamanan yang tak terlukiskan dngan kata-kata.

Tegasnya Ku See-hong merasakan keempat anggota badannya segar dan nyaman, tak kuasa lagi dia mendongakkan kepalanya dan berpekik panjang.

Suara yang keras dan yaring bagaikan pekikan naga segera menggetarkan seluruh ngkasa, suaranya cukup menggetarkan siapapun yang mendengarkannya....

Tapi, sebelum pekikan tersebut selesai diutarakan, tiba-tiba Ku See-hong menjerit kaget.

Ternyata batu cadas yang semula indah dan berwarna merah bercahaya itu mendadak berubah menjadi kelabu...

sedangkan asap merah yang semula membumbung ke angkasa, tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Ku See-hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terkesiap.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia mendongakkan kepalanya.

Lebih kurang sepuluh kaki di atas cadas berbentuk kepala naga itu, ia jumpai sebatang pohon kecil dengan daun yang rimbun, ternyata rimbunnya pohon itu persis menutup mulut sebuah gua.

Menyaksikan kejadian ini, Ku See-hong kembali berpikir.

"Di atas batu naga ini terdapat benda mestika yang tak ternilai harganya, mungkin di sekeliling gua itupun akan kujumpai mustika yang lain? Kenapa tidak kuperiksa?"

Ku See-hong bermaksud hendak melayang naik ke atas gua itu, maka diam-diam pikirnya.

"Dengan ilmu meringankan tubuh yang kumiliki sekarang, tak mungkin dalam sekali lompatan sepuluh kaki bisa kucapai... tapi barusan aku makan cairan merah itu dan agaknya tenaga dalamku telah memperoleh kemajuan yang pesat, kenapa tidak kucoba untuk melompat ke situ?"

Berpikir sampai di situ, Ku See-hong segera berpekik nyaring, tubuhnya secepat kilat melayang naik ke atas seperti seekor burung elang yang terbang di angkasa.

Tampaknya tenaga yang digunakan terlalu besar, sehingga dalam lompatan itu tubuh Ku See-hong mencapai ketinggian sepuluh kaki lebih.

Dalam keadaan begini, mendadak telapak tangan kanannya menekan ke atas dinding tebing lalu tubuhnya berputar cepat di tengah udara dan membalik ke bawah.

Dengan suatu gerakan yang enteng dan lincah, tahu-tahu ia telah melayang turun di depan gua.

-oo0dw0oo-Jilid.

10 DEMONSTRASI ilmu meringankan tubuh yang dilakukannya barusan boleh dibilang sangat lihay, belum tentu umat persilatan sanggup melakukannya.

Mimpi-pun Ku See hong tidak menyangka kalau tingkatan yang dicapai dalam ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkatan yang begitu hebatnya, untuk mencapai ketinggian sepuluh kaki, pada hakekatnya hal mana bisa dilakukan dengan santai.

Setelah masuk kedalam gua itu, dia makin terkejut bercampur tercengang, ternyata gua itu begitu luas dan panjangnya sehingga sama sekali diluar dugaannya semula, Luas gua saja mencapai dua puluh kaki lebih, cuma saja makin kedalam semakin menyempit, tapi tidak diketahui berapa dalamnya.

Udara dalam gua itu dingin sekali, bisa diketahui bahwa gua itu pasti berhubungan langsung dengan puncak tebing tersebut.

Didalam gua itu banyak terdapat batu batuan, ada yang duduk ada yang berdiri, bentuknya aneh sekali.

Bahkan diantara sekian banyak batu-batuan tersebut, adapula batuan yang berbentuk putih dan bercahaya terang.

Dengan ketajaman mata yang dimiliki Ku See hong sekarang, dia dapat menyaksikan semua benda yang berada dalam gua itu dengan teramat jelasnya....

Diam-diam Ku Sue hong berpikir.

'Batuan ini bisa memancarkan cahaya sendiri, jangan-jangan ada bintang sebangsa ular beracun atau lain lainnya yang berada disitu?' Sambil berpikir sambil berjalan, tanpa terasa dia sudah mencapai kedalaman tiga puluh kaki lebih, tiba-tiba muncul kembali sebuah gua lain yang letaknya tersembunyi dibelakang sebuah batu cadas berbentuk aneh.

Ku See hong adalah pemuda yang bernyali besar, setelah berpikir sejenak dia lantas menghampirinya.

Satu kaki setelah memasuki gua tersebut, maka yang tampak hanya pasir putih yang halus, selain kering juga rata, tak sepotong batu pun yang ditemukan disitu.

Benda yang berada didalam semesta memang beraneka ragam, kadangkala terdapat pula keanehan yang sama sekali diluar dugaan orang.

'Didalam gua ada gua, diluar langit ada langit, diatas manusia masih ada manusia yang lain'; tampaknya ucapan tersebut memang sama sekali tidak keliru.

Ku See hong segera tersenyum pikirnya.

'Gua ini paling bersih, mungkin dimasa silam ada pertapa yang berdiam di sini.

Bila sekarang didalam situ ada penghuninya, maka sudah pasti penghuninya, adalah bangsa binatang yang suka akan kebersihan.

Setelah sampai disini, kenapa aku tidak mencoba untuk memasukinya sekalian melihat-lihat keadaan disana?' Begitu ingat tadi melintas lewat dia lantas melangkah masuk kedalam gua itu.

Tampak gua itu tingginya mencapai dua kaki, bukan saja dindingnya merupakan batuan putih yang berkilat, bahkan lantai pun beralaskan batuan putih yang berkilauan.

Tiba tiba....

Ku See hong menarik napas panjang, dia seakan-akan mengeadus sejenis bau harum bunga yang semerbak....

Padahal gua itu amat bersih, tiada rumput atau bunga yang tumbuh disitu lalu dari mana datangnya bau harum tersebut?

Dia lantas memasuki kembali sebuah lorong yang terpertang dibelakanig gua itu, dalam anggapannya bau harum tadi tentu berasal dari belakang sana.

Tanpa lagu lagi dia melangkah masuk kedalam lorong tersebut.

Lorong itu terletak disebelah kiri dinding batu yang terbelakang, panjangnya dua kaki kemudian melebar, rupanya disana terdapat kembali sebuah ruangan batu.

Ruangan inipun seperti juga ruangan yang berada diluar, kosong melompong tiada suatu bendapun, sementara keempat belah dindingnya terbuat dari batuan putih yang berkilauan.

Disebelah kiri depan pintu masuk, terdapat sebuah pot bunga yang terbuat dari batu putih, Pot itu letaknya lima depa dari permukaan tanah.

Didalam pot bunga tersebut terdapat tanah dan tumbuh sebatang rumput hijau yang panjangnya hanya tiga empat' inci, namun dalam pot tersebut hanya terdapat tanah merah tanpa air, mungkin airnya sudah lama mengering...

Anehnya, walaupun tanpa air rumput hijau itu tidak menjadi layu dan mati.

Bau harum semerbak yang terendus sedari tadi ternyata berasal dari rumput hijau tersebut.

Timbul rasa ingin tahu dalam hati kecil Ku See hong, dia segera meneliti pot bunga itu lebih seksama.

Ternyata pot bunga tadi terbuat dalam delapan sudut, satu bagian menempel diatas dinding tanpa cacad.

Oleh karena itu dia lantas mengambil kesimpulan bahwa pot bunga tersebut tentu dibuat oleh pendiri gua itu ketika dilihatnya ada sebagian batu putih yang menonjol keluar dibagian sana.

Tapi yang lebih aneh lagi adalah diseluruh ruangan batu itu tidak dijumpai sebuah kursi atau mejapun.

Sekalipun pemilik gua itu sudah pindah atau meninggal dunia, paling tidak disana harus tertinggal perabot-perabot yang besar seperri meja, kursi atau pembaringan.

Tiba-tiba muncul perasaan ingin tahu dalam hatinya, diapun lantas berpikir.

'Ruangan ini bentuknya persis dengan ruangan batu diluar sana, apakah sejak dulu memang begitu bentuknya?

Arsitek yang membangun gua ini betul-betul hebat....!

Aaah betul, pot bunga itu bisa berbentuk segi delapan, itu berarti tempat ini bukan bersifat alam, melainkan memang buatan manusia...!' Satu ingatan segera melindas dalam benak Ku See hong, dengan cepat dia memegang pot bunga bersegi delapan itu dan didorong ke kiri.

Ketika sama sekali tak bergerak, dia menggerakannya lagi ke kanan.

"Kraaak....!"

Kali ini pot bunga bersegi delapan itu bergeser beberapa inci dari tempat semula.

Tapi diatas dinding batu itu sama sekali tidak ditemukan pintu, hal mana membuat Ku See hong menjadi tertegun, mendadak dia menggoyangkan dengan gerakan sekenanya, tanpa disengaja dia menekan pot bunga itu kebawah.

"Kraak....!"

Kembali bergema suara keras, agaknya ada engsel pintu yang sedang membuka. Mencorong sinar aneh dari balik mata Ku See hong, dengan wajah tertegun dia menarik pot itu ke belakang.

"Kraaakkk....... !"

Ternyata pot bunga yang terbuat dari batu putih itu tak lebih adalah tempat berpegangan diatas pintu, dengan cepat terpentanglah sebuah pintu.

Dibalik pintu tersebut kembali terdapat sebuah ruangan lain yang luasnya dua kaki dengan tinggi satu setengah kaki, seluruh dinding ruangan terdiri dari batu kemala putih yang berkilauan.

Ditempat ini terdapat meja kursi dan pembaringan komplit dengan perkakas lainnya.

Semua alat itupun terbuat dari batu kemala putih dengan ukiran-ukiran yang beraneka ragam, betul-betul sangat indah sekali.

Dengan sorot mata yang tajam, mendadak Ku See hong memandang sekejap keatas pembaringan batu, ...ternyata disana duduk bersila seorang kakek yang matanya sudah cekung kedalam dengan punggung bersandar diatas dinding ruangan.

Diatas pembaringan dimana kakek itu duduk bersila, terletak sebilah pedang antik yang berwarna hitam..., di bawah pedang tadi tampak se

Jilid kitab yang tipis !

Ku See hong tahu kakek ini pastilah seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, tapi yang menjadi pertanyaan baginya adalah tubuh kekek itu; mengapa tidak membusuk sebaliknya mirip orang yang masih hidup saja.

Apakah dia mati belum lama?

Ku See hong menghela napas panjang, ia merasa kematain kakek itu sungguh mengenaskan, begitu sepi, begitu menyendiri, coba kalau dia tidak memasuki gua tersebut tanpa sengaja, mungkin saja beberapa ratus tahun kemudianpun betum tentu jasadnya akan ditemukan orang.

Padahal, darimana dia tahu kalau kakek ini telah meninggal dunia sejak tigaratus tahun berselang, lagipula merasakan (merupakan) seorang manusia aneh yang luar biasa hebatnya, selain mengerti ilmu perbintangan, ilmu bangunan, ilmu alam dan tanah, ilmu barisan Pat-kwa, juga memiliki kepandaian silat yang tak terlukiskan hebatnya....?

Dengan sikap yang sangat hormat Ku See hong memberi hormat kepada kakek itu, kemudian maju mendekat dan mengambil kitab kecil yang tipis itu.

Diatas kitab tadi terlukis beberapa huruf yang tersembunyi.

"Tiada teman dalam jagad, dunia ini hanya kuseorang"

Kemudian dibawah tertera pula empat huruf kecil.

"HU-THIAN SENG-KIAM" !! Gaya tulisannya kuat dan tegas, indah dan megah.... Ku See hong segera merasa, walaupun ucapan kakek ini terlalu besar namun terkandung kepedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, sambil menghela napas segera gumamnya. 'Dunia amat luas, umat manusiapun tak terhitung jumlahnya, namun orang ini tidak menemukan seorang temanpun sehingga ia menyebut dirinya sebagai Hu-thian Seng-kiam (Malaikat Pedang Menyendiri).' 'Mungkin keanehan watak Orang ini jauh melebihi watak suhuku Bun-ji koan-su ,...kalau tidak, mengapa tiada teman didunia ini? Atau mungkin dalam jagad hanya dia seorang yang baik sedang lainnya orang jahat?' Tentu saja Ku See hong tidak mengetahui sejarah dari Hu-thian seng-kiam tersebut, kalau tidak, ia pasti akan terperanjat, lagipula tak akan curiga terhadap apa yang ditulisnya itu. Tapi Ku See hong memang seorang yang perasa, apalagi setelah membaca tulisan yang berbunyi. ' Tiada teman dalam jagad, dunia ini hanya aku seorang!' makin dikenal ia merasa ikut bersedih untuk kemalangan kakek itu. Dalam sedihnya itu, Ku See hong lantas membuka halaman pertama dari kitab itu, maka terbacalah tulisan yang berbunyi demikian.

"Catatan dari Hu-Thian Seng-Kiam menjelang saat Ajal ! " .

"Dalam kehidupan ini, kau telah ditakdirkan menjadi orang yang berjodoh untuk menemukan hasil karyanya ini tiga ratus tahun kemudian...! Benar-benar rejekimu amat besar!"

Membaca tulisan tadi, diam-diam Ku See hong amat terperanjat, mungkinkah kakek ini benar-benar sudah mati tiga ratus tahun berselang...?

Kalau ditinjau dari tulisan dalam kitab itu, agaknya dia sudah menduga kalau hari ini ada orang yang bakal memasuki gua ini !?

"Hu-thian seng-kiam!

Wahai Hu-thian seng-kiam!

Sebetulnya siapakah kau?

Mungkin kau benar-benar seorang jago lihay yang amat tersohor pada tiga ratus tahun berselang?

Mungkin para jago yang hidup pada seratus tahun berselang pernah mendengar nama besarnya?"

Dengan sorot mata yang berkilauan, Ku See hong membaca lebih jauh.

"Aaaih..., tampaknya semua telah menjadi takdir, setelah Hu-thian seng-kiam lenyap selama tiga ratus tahun, dia akan muncul kembali dalam dunia persilatan...!

Dikala pedang ini mulai keluar dari sarung, jeritan kesakitan akan melanda jagad !!

Darah bercucuran sederas genangan sungai, bangkai berserakan menusuk hidung, bagai pembunuhan yang melanda dunia persilatan tempo dulu, pasti akan terulang kembali..., Sungguh mengenaskan, sungguh memedihkan.....!

Ku See hong tahu, yang dimaksudkan Hu-thian seng-kiam adalah nama pedang mestika itu, lagipula orang yang memperoleh pedang tersebut harus menyebut pula dirinya sebagai Hu-thian seng-kiam.

Bila ditinjau kembali apa yang tertulis begitu serius dan mengandung amisnya darah, tampaknya pedang tersebut merupakan sebuah pedang yang sangat lihay.

Berpikir demikian, tanpa terasa Ku See hong memperhatikan pedang antik itu dengan seksama.

Tampak sarung pedang itu hitam pekat dan bercahaya terang, selain gagang pedangnya memang tampak aneh, sama sekali tidak ditemukan ciri-ciri lain....

Maka diapun membaca tulisan dalam kitab itu lebih jauh.

"Takdir telah menetapkan demikian, maka Hu-thian seng-kiam angkatan pertama menghadiahkan pedang ini bagi mereka yang berjodoh! Selain juga mewariskan tiga jurus ilmu pedang yang tiada tandingannya didunia ini... Catatan tentang ilmu pedang itu ada di belakang, aku percaya dengan kecerdasanmu untuk membuka ruang rahasia ini, terbukti kalau kau berotak cerdas, pasti rahasia ilmu pedang itu dapat kau ketahui. 'Dimasa silam, dengan mengandalkan pedang Hu-thian seng-kiam ini, lohu telah menciptakan suatu badai pembunuhan yang tak terkirakan sehingga melanggar hukum langit. Suatu hari ketika menelusuri lautan, tanpa disengaja telah menemukan bukit tinggi ini dimana terdapat Tee-liong-hiat-meh (Naga tanah nadi darah)!' 'Tee-liong-hiat-meh, merupakan tempat pemusatan dari inti langit dan bumi yang berlangsung seribu tahun sekali, yang disebut gua mestika! Letak gua itu berada ditengah punggung bukit ini. Perlu diketahui lohu pandai melihat hong-sui dan aneka ragam kepandaian lain, lohu tahu kalau gua mestika ini tak ternilai harganya! Barang siapa yang meneguk Sari Kekuatan tersebut, maka dia akan kuat dan panjang usia. Bila orang persilatan yang meneguknya, walaupun seluruh inti kekuatannya tak bisa terhisap dalam waktu singkat, tapi asal bisa mendapat sedikit saja, manfaatnya tak terlukiskan dengan kata kata...! Itulah sebabnya kukatakan kalau benda itu merupakan benda mestika yang tiada ternilai harganya. Walaupun lohu sudah tidak berniat untuk hidup terus di alam ramai, tapi aku dapat menghitung apa yang bakal terjadi dikemudian hari. Telah kuperhitungkan bahwa pedang Hu-thian seng-kiam ini memancarkan hawa pembunuhan yang luar biasa, ...tiga ratus tahun kemudian benda ini pasti akan muncul kembali dalam dunia persilatan...! Maka secara diam-diam lohu bertekad untuk membantu pemilik pedang Hu-thian-seng-kiam "

Angkatan kedua"

Untuk menciptakan suatu keajaiban yang belum pernah terjadi selama ini.

Sengaja kupancing keluar Tee-liong-hiat-meh itu untuk kau terima!

Ditengah 'batu naga' diatas sana, dengan sengaja aku telah membuat sebuah celah gua yang dalam dan meletakkan sepotong Batu Kemala Hijau,'Ban-nian pek-giok' disitu.

Selewatnya tiga ratus tahun kemudian, hawa sakti dari Tee-liong-hiat-meh itu pasti akan 318 terhimpun oleh Ban-nian pek-giok tersebut hingga terwujud menjadi cairan yang dinamakan Tee-liong-hiat-poo (Mestika Darah Naga Bumi) !!

Hawa sakti itu akan muncul dalam waktu yang singkat, yakni selama dua jam (tiga ratus tahun dari saat ini), bila kesempatan dua jam itu terlewatkan, maka saat munculnya kembali Hiat-meh-liong-khi itu akan terjadi lagi setelah tiga ratus tahun kemudian.

Mestika alam hanya akan diperoleh untuk mereka yang berjodoh, yang tidak berjodoh jangan harap bisa menemukan benda ini.

Pada tiga ratus tahun berselang, lohu telah menghitungkan kejadian yang akan datang, telah lohu ketahui pemilik pedang Hu-thian seng-kiam angkatan kedua mempunyai rejeki yang besar, dia akan menerima mestika Tee-liong-hiat-poo itu.

Bila kau telah mendapatkan Tee-liong-hiat po itu..., lohu anjurkan cepat-cepatlah kau tinggalkan bukit ini...!!!

Bukit karang ini bisa berdiri tegak selama puluhan laksa tahun karena ada hawa sakti yang menunjang dari dalamnya, begitu hawa sakti tersebut terambil pergi, ibarat manusia yang kehabisan darah, tujuh hari kemudian pasti akan runtuh dan hancur.

Manusia maupun binatang yang berada dalam jarak satu Li disekitar tempat ini akan tertimpa akibatnya dan musnah, ...ingat!

Ingat...!

Cepat tinggalkan bukit ini sejauh-jauhnya...!

Rumput Hijau didepan pintu itu, merupakan sebuah benda yang berusia sepuluh laksa tahun, kasiatnya dapat mencegah keracunan, mencegah hawa sesat, air dan api tak tembus, benar-benar merupakan suatu benda mestika yang tiada taranya.

Dimasa lalu benda ini dinamakan orang sebagai Pek-liok-cau!

Pertumpahan darah terjadi dimana-mana gara-gara benda itu.

Akhirnya, lohu yang telah berhasil memperolehnya, sekarang akan kuberikan pula untukmu.

Umat manusia didunia ini banyak yang licik dan berhati busuk, banyak ksatria yang harus mengorbankan jiwanya ditangan mereka.

Kau telah ditakdirkan sebagai bintang penolong dunia persilatan pada tiga ratus tahun kemudian.

Aku harap kau jangan membunuh orang seperti membabat rumput; dimana bisa diampuni, ampunilah mereka yang mau bertobat.

Jenasahku tak usah kau geser, karena lohu telah membuka rahasia langit dan menghancurkan bukit ini.

Untuk dosaku, lohu rela dijebloskan kedalam neraka, biarlah jazadku terkubur bersama bukit ini.

Ingatlah apa yang kupesankan dan laksanakan baik-baik, jangan berbuat kejahatan yang melanggar hukum sehingga menyia-nyiakan harapanku.....!!

Tertanda.

Hu-Thian-Seng-Kiam "Angkatan Pertama"!

oooooo0dw0ooooooo Bab 15 SELESAI membaca tulisan itu, Ku See hong menjadi termangu mangu dan tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Diam-diam diapun bersyukur karena ia telah menerima banyak keajaiban alam.

Selama hidup, belum pernah Ku See hong menerima budi kebaikan orang lain, tapi sekarang, bukan saja dia telah memperoleh kebaikan orang, bahkan siapa nama kakek itupun tak diketahui olehnya.

Selain itu, kakek tersebut juga tidak meninggalkan pesan agar dia melakukan sesuatu baginya, kesemuanya ini membuat Ku See hong merasa amat tidak tenang, Diam-diam pikirnya.

'Semasa masih hidupnya dulu, locianpwe ini tak pernah menemukan seorang sahabat pun; setelah mati, jenasahnya akan terkubur dalam perut bumi, benar-benar suatu nasib yang mengenaskan....

Mumpung masih ada enam hari enam malam sebelum bukit ini hancur, lebih baik kutemani dirinya disini selama beberapa hari, sekalian menghibur sukmanya yang kesepian.' Mendadak..., pada saat itulah Ku See hong mendengar suara gemuruh yang amat keras bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian seluruh ruangan batu itu bergoncang keras.

Paras muka Ku See hong berubah hebat, ia tahu ucapan locianpwe tersebut amat tepat, kalau dilihat dari gempa yang begitu hebat melanda seluruh bukit ,kini sudah pasti ia tak bisa mengendon terus dalam ruangan tersebut.

"Blaaamm.....! Blaaamm.....!"

Setelah berkumandang suara gemuruh yang memikikkan telinga, gemeratak bumi yang menggoncangkan ruangan itu semakin menghebat, menyusul kemudian terdengar bunyi tanah longsor yang memekikkan telinga, mungkin ada sebagian dari tanah perbukitan itu yang telah ambruk.

Gemuruh keras yang menggelegar di angkasa itu berbunyi sekali tiap semenit, waktunya pun makin lama semakin pendek, sedangkan gempa yang terjadi makin lama makin kencang.

Ku See hong sudah tak sanggup lagi untuk berdiri tegak.

Yang lebih aneh lagi adalah jenazah dari kakek itu, walaupun bumi bergoncang dengan hebatnya, namun ia masih tetap duduk dengan tebang ditempat semula.

Dalam perkiraan Ku See hong semula, bunyi gemuruh dan getaran gempa yang berlangsung selama ini hanya akan terjadi beberapa saat lalu akan berhenti dengan sendirinya, siapa tahu makin lama malah menghebat, seakan-akan dunia mau kiamat saja, saluruh ruangan dalam gua itu bagaikan diputar balikkan, betul-betul menggetarkan hati.

' Blaaamm...!"

Setelah berkumandang suara gemuruh yang luar biasa dahsyatnya, menyusul kemudian muncul segulung tenaga getaran yang sangat kuat melanda seluruh ruangan, kuda-kuda Ku 321 See hong kontan menjadi gempur dan ia terpental sejauh tiga empat depa dari posisi semula.

' Kraaak...blaaamm!"

Bunyi tanah yang merekah bergema disitu, dinding batu putih dalam ruangan yang begitu kuat dan keras kini sudah muncul retakan-retakan yang banyak, disusul kemudian dari luar gua sana bergema suara batuan cadas yang berguguran.

"Aduh celaka"

Pikir Ku See hoag kemudian.

"Bila gua ini tak kuat menahan golakan tenaga yang menggetarkan bumi sehingga roboh lebih dulu, niscaya akupun akan turut terkubur hidup-hidup ditempat ini! "

Berpikir sampai disitu, dia lantas masukkan kitab kecil itu kedalam sakunya, kemudian tak sempat untuk memperhatikan pedang mustika itu lagi, buru-buru digembolnya pedang itu diatas bahunya.

Setelah itu, dengan sikap yang sangat hormat dia menjura dihadapan jenasah kakek itu ujarnya dengan lantang;

"Setelah menerima budi kebaikan dari cianpwe, sesungguhnya boanpwe Ku See hong berhasrat untuk menemani layon cianpwe selama beberapa hari sebagai tanda rasa terima kasihku, tapi berhubung gejala gempa yang menimpa bukit ini sudah mulai dan boanpwe kuatir terjadi hal yang tak di nginkan, terpaksa boanpwe akan mohon diri lebin dahulu. Boanpwe pasti akan mempergunakan Hu-thian seng-kiam yang cianpwe hadiahkan kepadaku ini, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran didalam dunia persilatan...!"

Selesai berdoa, Ku See hong segera melompat keluar dari ruangan itu, tapi apa yang kemudian terlihat olehnya hampir saja membuat pemuda itu menjerit keras.

Tampaklah dalam lorong yang berada sepuluh kaki dari ruang batu itu telah dipenuhi oleh belalang beracun yang jumlahnya begitu banyak sehingga menyerupai sebuah awan hitam, bukan saja telah menyumbat lorong yang luasnya beberapa kaki itu, lagi pula suaranya memekikkan telinga.

Agaknya semua binatang beracun yang selama ini bersembunyi dalam gua tersebut telah dikacaukan oleh terjadinya gempa kuat, sehingga sama sama kabur menyelamatkan diri.

Gua yang dilewati Ku-See-hong ketika masuk kedalam ruangan tadi merupakan sebuah celah alam yang ada dicelah bukit, dimana gua tersebut memanjang sampai kepuncak tebing, panjangnya paling tidak mencapai ratusan kaki, didalamnya tersebarlah gua besar maupun kecil yang puluhan ribu banyaknya, disana menghuni pelbagai binatang beracun yang tak terhitung jumlahnya.

Tak heran kalau binatang beracun itu segera berdesakan menuju kegua yang berhubungan langsung dengan alam bebas.

"Aduh celaka!"

Pekik Ku See hong setelah menyaksikan kejadian itu.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak tangannya, menanti belalang beracun itu bergerombol mendekat, diapun akan lepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Siapa tahu, belalang beracun yang berpuluh ribu jumlahnya itu hanya bergerombol didalam lorong tersebut bagaikan selapis awan gelap, bukan saja menutupi cahaya yang masuk, juga tak seekorpun yang terbang masuk kedalam gua.

Ku See hong yang cerdik dan cekatan tiba-tiba menunjukkan wajah berseri, rupanya teringat bahwa cianpwe itu pernah menyinggung bahwa rumput Pek-lik-cau yang berada diatas pot bunga itu merupakan benda mustika yang sanggup digunakan untuk melawan racun.

Berpikir sampai disitu, dia lantas melompat kesamping pot bunga tadi dan memegang akar rumput Pek-lik-cau tersebut.

Segera itu juga dia merasakan ada segulung hawa dingin yang merambat naik lewat celah-celah tangannya dan masuk ke tubuhnya, sementara bau harum semerbak menyegarkan badan, tampaknya rumput tersebut benar benar merupakan sebatang rumput mustika.

"Sreeet.....!"

Di ring suara desingan, Ku See hong telah berhasil mencabut keluar rumput Pek-lin-cau itu.

Batang berikut akarnya yang berwarna merah kehijau hijauan itu hanya mencapai lima inci saja, cahaya hijau yang terpancar keluar tampak indah menawan.

Begitulah dengan tangan kiri memegang rumput Pek lik cau, tangan kanan menyiapkan serangan dahsyat untuk menjaga segala kemungkinan yang tak di nginkan, pelan-pelan Ku See hong berjalan mendekati gerombolan belalang beracun itu.

Kalau dibicarakan memang sangat aneh ketika kawanan belalang beracun itu menyaksikan Ku See hong berjalan mendekat, ternyata binatang itu serentak menggerakkan sayapnya dan mundur ke belakang.

Ku See hong menjadi amat gembira, secepat kilat telapak tangan kanannya melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan hembusan angin topan, kawanan belalang beracun yang berada dibarisan depan segera tersapu oleh pukulan dahsyat itu hingga hancur dan tercerai berai diatas permukaan tanah.

Semenjak makan cairan merah Tee liong-hiat-po, tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong telah memperoleh kemajuan pesat, serangan yang dilancarkan barusan betul betul mengerikan sekali.

Tak selang berapa saat kemudian, bangkai belalang beracun itu sudah membukit, sementara belalang beracun yang masih terbang diudara dan tak kena terhajar mampus itu serentak melarikan diri ke empat penjuru.

Dalam waktu singkat, Ku See hong telah mencapai pintu masuk gua tersebut.

Mendadak......

kembali terendus bau busuk yang lembab dan menyengat hidung dari arah depan, pemuda itu cepat menjadi sadar, pastilah seekor binatang beracun kembali telah munculkan diri.

Dengan cekatan dia menempelkan punggungnya diatas dinding gua, kemudian dengan sepasang matanya yang tajam melakukan pemeriksaan di sekeliling tempat itu, hawa murni dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya dan bersiap sedia melancarkan serangan setiap saat.

Waktu itu suasana didepan gua itu amat gelap dan remang remang karena udara dipenuhi oleh belalang beracun yang sedang melarikan diri.

Rupanya rombongan belalang beracun tersebut hanya mengikuti arah terbang pemimpinnya yang ada dipaling depan, andaikata pemimpinnya terjun ke lautan api, maka yang berada dibelakangnya turun pula menerjunkan diri ke dalam lautan api.

Cepat nian gerak terbang dari kawanan belalang beracun itu, suara dengungan nyaring yang mmekikkan telinga itu kian lama kian bertambah melemah, tak lama kemudian binatang tersebut sudah lenyap tak berbekas.

Dalam pada itu, dari mulut gua telah muncul seekor ular raksasa yang berperut amat panjang dengan sisik yang berwarna-warni, dengan menelusuri dinding gua tanpa menimbulkan sedikit suarapun, bergerak mendekat.

Ditinjau dari kepalanya yang berbentuk segi tiga serta tubuhnya yang berwarna warni, dapat diketahui bahwa ular beracun raksasa itu sudah pasti seekor ular yang berbahaya sekali, barang siapa terpangut, niscaya jiwanya akan melayang.

Terkesiap Ku See hong menyaksikan kejadian ini, telapak tangan kanannya segera digetarkan ke muka, lima gulung desingan angin tajam yang memekikkan telinga segera dilontarkan ke muka menyergap kepala aneh dari ular beracun itu.

"Sreeet..! Sreeet..! Sreeet..! Sreeet..! Sreeet..!"

Lima gulung desingan angin tajam yang sanggup membelah batu cadas, bersarang telak diatas kepala aneh si ular berbisa itu, tapi anehnya ternyata binatang itu sama sekali tidak menderita luka apa-apa.

Ketika ular berbisa berwarna warni itu menyaksikan ada orang menyergapnya, sepasang mata anehnya yang mirip lampu lentera segera memancarkan semerbak sinar hijau yang menggidikkan hati, lalu sambil mengangkat kepalanya ia memperdengarkan pekikan nyaring yang mendirikan bulu roma, mulutnya dipentangkan lebar lebar dan menyemburkan segumpal asap beracun yang berwarna warni.

Secepat sambaran petir, kabut beracun itu menyambar kewajah Ku See long.

Mimpi pun Ku See bong tidak menyangka kalau ular berbisa itu begitu ganas dan berbahaya, tubuhnya cepat-cepat berkelit kesamping dan melompat kearah dinding tebing lainnya, sementara telapak tangan kirinya kembali diayunkan kemuka.

Segulung angin pukulan yang tak kalah hebatnya sekali lagi menggulung kedepan.

Agaknya ular berbisa yang berwarna warni itu cukup mengerti akan kelihayan ilmu pukulan yang dilancarkan Ku See hong, kepalanya yang aneh segera dimiringkan ke samping, kemudian tubuh bagian depannya diangkat keatas.

'Plaak!' dengan diiringi suara nyaring, pukulan tadi bersarang telak diatas badan ular bebisa yang keras bagaikan baja itu, al-hasil ular tadi masih juga tidak menderita apa apa.

Kembali suara pekikan aneh yang memekikkan telinga berkumandang memecah keheningan, ular berbisa yang tubuhnya amat besar itu membalikkan badannya, kemudian ekornya yang panjang langsung menggulung ke tubuh Ku See hong.

Kekuatan yang menyertai sabetan ekor ini betul-betul mengerikan hati, deruan angin dahsyat menggetarkan seluruh angkasa.

Dengan kecepatan yang luar biasa, Ku See hong melompat kemuka.

"Blaaam....!"

Suatu benturan keras berkumandang, dinding karang dalam gua itu segera bergetar keras, pasir dan batu beterbangan diangkasa, ternyata sudut dinding gua itu sudah tersapu ambruk sebagian.

Ku See hong segera terkesiap sekali, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya.

"Cri ing..."

Di ringi suara dentingan yang sangat nyaring, Ku See hong telah meloloskan sebilah pedang mestika yang memancarkan cahaya merah.

Cahaya tajam yang memancar keluar dari pedang itu berwarna bening, tapi lamat-lamat memancar selapis kabut tipis yang berwarna merah menyelimuti senjata tersebut, tampak indah dan menawan.

Ketika ular beracun berwarna warni itu, menyaksikan Ku See hong meloloskan pedang Hu-thian seng-Kiam, mulutnya segera dipentangkan lebar-lebar, kemudian sambil berpekik nyaring, gumpalan asap beracun segera disemburkan keluar.

Akan tetapi, ketika mendapat tiga depa dari kabut merah yang menyelimuti pedang mestika Hu-thian seng-kiam tersebut, tahu-tahu kabut racun itu menyebar keempat penjuru dan menguap ke atas.

Kabut beracun berwarna hijau tua, sedang cahaya pedang berwarna merah darah, ketika kedua macam warna itn saling membentur satu sama lainnya, segera timbullah beraneka warna yang amat indah.

Lambat laun, kabut beracun yang disemburkan ular berwarna warni itu makin menipis, seluruh badannya makin lemah dan kepalanya yang anehpun turut terkulai ketanah, dua biji mata anehnya yang berwarna hijau kian lama kian bertambah lemah.

Sebaliknya kabut merah yang menyelimuti pedang Hu-thian seng-kiam tersebut kian lama kian bertambah tebal hampir saja menyelimuti seluruh badan Ku See hong sedemikian aneh dan saktinya keadaan tersebut, sehingga tak malu kalau disebut sebagai pedang mustika paling aneh didunia ini.

Cahaya gembira segera terpancar keluar dari balik mata Ku See hong, sedemikian girangnya dia sehingga matanya hanya mengamati pedang Hu-thian seng-kiam tersebut tanpa berkedip, dia lupa untuk turun tangan, juga lupa untuk membunuh ular beracun tersebut.

"Blaaaam.....! Blaaammm.....!"

Ledakan demi ledakan yang memekikkan telinga segera menggetarkan angkasa, menyusul kemuaian seluruh gua itu bergoncang keras.

Tak lama kemudian tampak batu dan pasir berguguran ke atas tanah dengan menimbulkan suara nyaring.

Mungkin ada sebagian besar batu karang yang telah ambruk.

Mendengar suara tadi, Ku See hong baru merasa terkejut dan tersentak kaget pedang Hu-thian Seng-kiamnya digetarkan keras menciptakan berlapis lapis gulungan garis busur yang melingkar, seolah-olah cahaya bianglala yang menyebar ke angkasa.

Kemudian diiringi suara gemerincingan nyaring, laksana kilatan cahaya tajam, pedang itu segera membacok keatas kepala berbentuk segi tiga dari ular beracun itu.

Anehnya, kali ini ular beracun itu tidak menghindar ataupun memberi perlawanan, namun dalam kenyataannya bacokan yang dilancarkan Ku See hong itu memang dilakukan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam keadaan tak mampu menghindarkan diri,"Crii ng...!"

Mata pedang itu segera menembusi kepala ular beracun tersebut bagaikan sedang memotong tahu saja.

Pekikan keras berkumandang memecahkan keheningan, percikan darah segar memancar kemana-mana.

kepala si ular yang berbentuk segi tiga itu segera kena terbacok oleh senjata Ku See hong sehingga hancur tak karuan lagi bentuknya.

Ku See hong segera merendahkan badannya, sekilas cahaya bianglala segera memancar keluar, hawa pedang mendesir, ular raksasa yang panjangnya empat kaki itu sudah terpotong potong menjadi puluhan bagian oleh ayunan pedang Hu-thian seng-kiam tersebut, bau amis segera memenuhi seluruh gua.

Sambil menggenggam pedang Hu-thian seng-kiam, Ku See hong melompat keluar dari gua itu.

Ketika sorot matanya memperhatikan keadaan disekitar sana, tampak lebih kurang dua kaki dihadapannya telah muncul dua buah batu karang yang sangat besar menyumpal jalan lewat, yang tersisa tinggal ruang kosong selewat satu kaki.

Tapi, pada ruang kosong yang satu kaki lebarannya itu kini berdiri seekor laba-laba raksasa yang membentuk selapis sarang laba-laba yang besar dan berwarna putih, diatas sarang tadi tertempel banyak sekali belalang beracun, sedang laba-laba tersebut lagi sibuk melalap belalang belalang beracun tersebut.

Diam diam Ku See hong merasa terperanjat, pikirnya.

"Paling tidak aku harus menempuh perjalanan sejauh tiga puluh kaki melewati gua ini sebelum lolos dari tempat ini, tampaknya didalam gua yang lebar didepan sanapun banyak terdapat binatang-binatang beracun. Aaai... tampaknya bila aku tidak segera berusana untuk meninggalkan gua ini, bila sampai saatnya ambruk, saat itu meski aku berilmu silat amat hebat pun, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat..."

Berpikir sampai disitu, dengan mementangkan sepasang matanya bulat-bulat, telapak tangan kirinya segera didorong kemuka melepaskan segulung angin pukulan yang maha dahsyat untuk membayar sarang laba laba tersebut...

Tapi, Ku See hong segera merasakan telapak tangannya seolah-olah menyentuh segumpal benda yang amat lunak dan mempunyai daya pental yang kuat, tak ampun badannya mencelat kebelakang.

Dengan terkesiap dia mundur dua langkah, tampak sarang laba-laba itu hanya sedikit bergerak, namun sama sekali tidak menderita kerusakan apa-apa.

Tampaknya laba-laba raksasa itu sudah memiliki sifat yang tajam dan pintar, melihat orang yang manyergapnya, tubuh yang besar segera melompat turun keatas tanah.

"Blaaam...!"

Di ringi getaran keras, ketika cakar panjang laba-laba raksasa itu mencengkeram diatas sebuah batu cadas yang besar, seketika itu juga batu cadas itu hancur tak karuan lagi bentuknya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki binatang tersebut.

Ku See hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, dia tak berani berayal lagi.

Pedang Hu-thian seng-kiamnya segera digetarkan membentuk garis bianglala panjang yang secepat kilat membalik ke bawah dan menusuk tubuh laba-laba raksasa tersebut.

Laba-laba raksasa itu berpekik aneh, cairan hijau segera memancar kemana-mana.

Dalam waktu singkat tubuhnya sudah kena dicincang oleh Ku See hong hingga tak karuan lagi bentuknya.

Ku See hong kembali menggetarkan pedangnya, cahaya senjata berputar lewat ketika ia mengayunkan senjatanya berulang kali diatas sang laba-laba tadi, menyusul tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dasyat, serentak serangan laba-laba itu sudah kena tersapu bersih.

Dia tak berani berdiam terlalu lama lagi disitu, dengan kecepatan luar biasa tubuhnya segera melompat masuk ke dalam gua yang sangat besar itu, namun ketika matanya memandang sekeliling tempat itu seketika itu juga tubuhnya mundur beberapa langkah dengan perasaan terkesiap.

Ternyata banyak batu cadas telah berguguran didalami gua yang lebarnya mencapai dua puluhan kaki itu, diantara bongkahan2 batu karang itu penuh dengan sarang laba2 yang membentang kian kemari, dipusat tiap lingkaran sarang laba2 itu, tampaklah seekor laba2 berkaki delapan yang berwarna hijau kerabu-abuan.

Yang lebih mengerikan lagi adalah diatas tanah disekeliling permukaan gua itu diliputi oleh selapis gelombang merah yang bergolak kian kemari.

Ternyata yang dimaksudkan sebagai gelombang merah itu adalah sekelompok semut-semut berwarna merah yang amat besar sekali.

Semut-semut raksasa tersebut berkaki panjang dan berjuta-juta ekor banyaknya, permukaan gua yang paling tidak dua puluh kaki luasnya itu hampir dipenuhi oleh semut-semut tadi.

Rupanya gerombolan semut-semut raksasa berwarna merah itu bermunculan dari sebuah celah dinding batu yang merekah dan berhamburan keluar.

Ku See hong terkesiap sekali, ia tahu kelompok semut merah bertubuh raksasa ini pasti mengandung racun yang sangat jahat, seandainya sampai tergigit, tak ayal lagi nyawanya pasti akan melayang meninggalkan raga kasarnya.

Apalagi setelah pemuda itu melihat jelas keadaan disekitar sana, dia semakin mengeluh lagi, ternyata sedemikian banyaknya semut2 merah itu berhamburan keluar dari sarangnya, membuat seluruh permukaan maupun dinding batu yang ada disitu dipenuhi oleh binattng itu, bahkan mulut gua didepan sanapun dilapisi jutaan semut merah.

Hakekatnya mustahil lagi baginya untuk melangkah keluar dari tempat itu.

Seandainya disana hanya ada semut-semut merah saja, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya, paling banter dia hanya perlu berganti napas sekali saja untuk mencapai mulut gua.

Tapi kenyataannya tidak segampang itu, hampir seluruh celah dan tempat kosong dalam gua dipenuhi oleh sarang laba-laba yang kuat, untuk bisa melompat keluar dari situ, paling tidak dia harus menghancurkan empat lapis sarang laba-laba terlebih dahulu, padahal apabila badannya sampai terperosok kedalam rombongan semut merah raksasa itu, niscaya habis sudah jiwanya.

Ku See hong menjadi sangat gelisah, ia betul betul kehilangan akal dalam keadaan begitu, padahal semut merah masih berhamburan keluar dari sarangnya dan kini mulai merambat ke arah mana ia berdiri sekarang.

Mendadak....

Ku See hong mengambil sarung pedangnya ditangan kiri, kemudian tubuhnya meluncur ke depan, serentetan cahaya gemerlapan yang menyilaukan mata secepat kilat menerjang ke arah sarang laba-laba pertama.

"Sreeet... Sreeet....!"

Desingan tajam membelah angkasa, sarang laba-laba yang pertama telah tersayat menjadi beberapa bagian.

Sementara itu tubuh Ku See hong telah meluncur ke bawah tanah, dalam keadaan begini sarung pedang ditangan kirinya secepat kilat menutul diatas permukaan tanah, badannya segera melambung kembali dan meluncur ke arah sarang laba-laba kedua.

Perbuatan yang dilakukan tadi segera diulangi kembali, dan menghancurkan sarang laba-laba tersebut dengan pedang mustika Hu-thian seng-kiam yang berada ditangan kanannya.

Hanya didalam waktu singkat, secara beruntun Ku See hong telah berhasil menghancurkan lapisan sarang laba-laba, kini sarung pedangnya sekali lagi menutul diatas permukaan tanah dan tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur keluar dari gua.

Tiba-tiba Ku See hong menyadari akan sesuatu pikirnya.

'Aduuuh celaka..!

Gua ini berjarak lebih kurang tujuh puluhan kaki dari permukaan tanah, jika aku meluncur dengan begini saja kebawah, walaupun sudah mengerahkan segenap rawa murni yang kumiliki, kendatipun tak sampai mati paling tidak juga akan terluka parah.' Ingatan tersebut baru saja melintas lewat, tubuhnya telah meluncur sejauh lima kaki lebih dari mulut gua, kemudian dengan cepat badannya merosot turun kebawah.

Dengan sepasang mata terpentang lebar, dia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu namun tiada tempat yang bisa dipakai untuk berganti napas, padahal badannya telah meluncur kebawah dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.......

Waktu itu senja telah menjelang tiba matahari sore sedang memancarkan cahaya ke empat penjuru...

Mendadak Ku See hong teringat kembali dengan taktik melambung didalam ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, dengan cepat ia menghimpun tenaga dalamnya, lalu seperti segumpal kapas lunak pelan pelan badannya melayang turun ke bawah.

Ku See hong segera membentangkan sepasang lengannya, kedua ujung kakinya saling berpijak pada punggung kaki, tubuhnya bagaikan segumpal kapas melayang turun dengan ringan.

Angin berhembus kencang mengibarkan bajunya, di bawah timpaan cahaya matahari sore yang menyoroti badannya, gerakan tubuh tersebut nampak indah menawan.

Hanya didalam sekejap mata saja Ku See hong telah berhasil mencapai permukaan tanah dengan selamat.

Dia mendongakkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang, gumamnya sambil menghela napas.

"Tak kusangka ilmu meringankan tubuh yang kumiliki telah mencapai ke tingkatan yang begitu tinggi..."

Memandang bukit karang yang menjulang tinggi keangkasa, tanpa terasa ia menghela napas sedih, dalam benaknya terbayang kembali akan si kakek yang seorang diri.

Dimasa hidupnya dulu dia sudah hidup menyendiri, sesudah mati mayatnya akan tenggelam kedalam bumi, dalam dunia yang luas, mungkin hanya dia seorang yang mempunyai nasib seburuk itu.

Sementara itu, dari atas puncak batu karang itu seakan akan bergoncang keras dan tiap saat bakal ambruk ketanah.

Sedangkan dari permukaan sekeliling batu karang itu telah muncl retakan-retakan besar yang dalam sekali.

"Aaaai....!"

Sekali lagi Ku See hong menghela napas sedih, benaknya terkenang kembali semua pengalaman yang dialaminya selama dua bulan terakhir ini.

Semua kejadian serasa bagaikan impian, terutama diantaranya pengalaman yang menimpa Bun-ji koan-su, Keng Cin sin dan Kakek Yang Menyendiri tadi.

Ketiga orang itu merupakan orang yang tak 333 akan terlupakan sepanjang hidupnya, tapi ketiga-tiganya sudah tiada lagi didunia ini....

Teringat diri Keng Cin sin, air matanya jatuh bercucuran bagaikan hujan gerimis, ia merasa sedih sekali.

Selama hidup belum pernah dia alami kesedihan seperti ini, ia tak pernah bersikap lemah dengan mengucurkan air mata, hanya kepadanya Keng Cin sin, bayangan gadis itu serasa melekat selalu didalam benaknya.

Selama berkelana dalam dunia persilatan dimasa lalu, walaupun banyak kesulitan telah dialaminya, namun dia melewati sambil menggertak gigi, tapi sekarang tidak, tepatnya belakangan ini.

Dia baru mengerti kalau kehidupan manusia itu sebenarnya tidak gampang, bagaimana pun juga didunia ini banyak terdapat persoalan yang bisa menghancur lumatkan perasaan orang.

Tapi, justru karena pelbagai pengalaman dan penderitaan yang dialami inilah dia menjadi lebih matang, bahkan jauh lebih pengalaman dari pada orang yang berusia setengah umur.

Dalam suasana dan keadaan seperti ini, ia sudah memikirkan lagi ucapan yang selalu merupakan kebanggaannya, yakni 'Enghiong hanya melelehkan darah tidak melelehkan air mata!'....Dia membiarkan air matanya jatih bercucuran dengan derasnya.

Ia mendongakkan kepalanya memandang langit yang gelap, hanya bintang yang bertaburan tiada rembulan.

Dengan penuh kesedihan Ku See hong berpekik nyaring lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya bergerak menuju ke arah barat.

Dia ingin mencari puncak bukit lain pada jarak satu Li dari sana dan melatih ketiga jurus pedang yang tercantum pada dalam kitab kecil peninggalan Kakek Menyendiri itu, disamping ia ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bukit karang yang menjulang tinggi keangkasa itu longsor dan ambruk.

Ditengah gelapnya malam, keempat penjuru hanya penuh dengan pepohonan serta batu karang, angin menghembus kencang, bayangan hitam bergerak gerik seolah-olah kawanan iblis yang menanti mangsanya menghantarkan kematian....

Semenjak minum cairan darah Naga Bumi, tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong telah mencapai kemajuan yang pesat sekali.

Oleh karena gabungan dari beberapa macam sari mustika yang bercampur didalam tubuhnya, hawa murni yang dimilikinya sekarang dapat beredar tiada habisnya, kekuatan yang sangat kuat itu bagaikan gulungan ombak ditengah samudra yang menggulung tiada habisnya.

Tubuhnya bergerak begitu enteng bagaikan segumpal kapas yang tak berbobot, setiapkali lompatan tubuhnya mencapai sejauh sepuluh kaki lebih dari posisi semula, tak ubahnya bagaikan burung walet yang sedang terbang di angkasa.

Kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sekarang boleh dibilang telah mencapai pada puncaknya, mungkin dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tiada banyak orang lagi yang dapat menandingi kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.

Dibawah sorot cahaya bintang, seperti sambaran petir saja badannya bergerak kemuka, makin lama gerakan tubuhnya semakin cepat, seakan akan kakinya tidak menempel pada permukaan tanah, membuat orang hanya melihat sekilas cahaya berkelebat lewat, tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Dalam waktu singkat, Ku See hong telah tiba diatas sebuah puncak bukit sejauh satu Li dari tempat semula dan berdiri di puncak bukit karang tersebut.

Sekeliling tempat itu tampak pepohonan yang rindang tumbuh dengan amat suburnya, dengan amat jelas sekali ia dapat menyaksikan keadaan dari bukit diseberang itu.

Betul Ku See hong telah makan cairan Tee liong hiat-poo sehingga kekuatannya bertambah, namun setelah beberapa malam tak pernah beristirahat, begitu suasana menjadi tenang rasa lelah segera menyerang seluruh tubuhnya.

Maka diapun duduk bersila diatas tanah untuk mengatur napas, tak selang berapa saat kemudian ia sudah berada dalam keadaan lupa segala galanya.

Tatkala sadar kembali dari semedinya, fajar telah menyingsing, hari ini goncangan yang menimpa bukit seberang bergema semakin keras, bahkan puncak bukit dimana ia berada sekarangpun turut dilanda goncangan yang amat keras.

Dari dalam sakunya Ku See hong mengeluarkan kitab kecil peninggalan Kakek Yang Menyendiri itu, lalu mulai mempelajari ketiga jurus ilmu pedang tersebut.

Walaupun tulisan yang tercantum dalam kitab itu telah dipelajari dan dikupas dengan penuh ketelitian, bahkan diterangkan pula oleh gambar, tapi berhubung jurus pedang itu terlalu dalam artinya, lagipula sangat lihay, ia belum berhasil juga untuk memahami makna yang sesunggunnya.

Setelah melalui pemikiran yang seksama selama dua hari dua malam, akhirnya Ku See hong berhasil memahami garis besar dari Jurus pertama.

Kejut dan heran segera menyelimuti seluruh perasaannya, ternyata jurus pedang ini dengan jurus Hoo-han seng-huan yang diwariskan Bun ji koan su kepadanya, seakan-akan memiliki kekuatan dan kehebatan yang hampir sejalan, namun kedua macam kepandaian itu tak bisa digunakan secara bersamaan, melainkan hanya bisa digunakan secara terpisah pisah..., kalau tidak, kekuatan yang dihasilkan pasti akan beberapa kali lipat lebih dahsyat lagi..!

Pada dasarnya, Ku See hong memang seorang yang gila ilmu silat, begitu menemukan rahasia dari kepandaian tersebut, ia menjadi girang setengah mati.

Sepanjang hari, segenap pikiran dan perhatiannya tercurahkan pada ketiga jurus pedang itu.

Hanya saja selama ini dia tidak mempraktekan secara langsung, melainkan hanya memikirkannya didalam benak nya.

Ada kalanya dia garuk kepala sambil memandang awan diangkasa dengan wajah termangu, tapi saperti juga orang yang semedi, tiap kali ia termangu maka hal ini berlangsung sampai setengah harian lamanya.

Akan tetapi setiap kali berhasil memecahkan persoalan pelik yang sedang dihadapinya, ia menjadi kegirangan setengah mati sehingga lupa daratan.

Pekikan nyaring dikumandangkan berulang kali, seakan-akan orang yang lagi tertawa tergelak.

Setelah menghabiskan waktu selama lima hari lima malam, Ku See hong baru berhasil mengingat sebagian kecil saja dari gerakan ketiga jurus ilmu pedang itu.

Pagi itu merupakan hari ke tujuh setelah Ku See hong minum cairan mestika Tee liong hiat poo.

Hari ini cuaca tampak agak luar biasa, fajar belum lagi menyingsing diufuk sebelah timur, langit sudah diliputi oleh cahaya terang, awan diangkasa tidak lagi berwarna putih seperti sedia kala, melainkan berwarna kuning keemas-emasan.

Suasana dipagi hari itu ibaratnya suasana senja dikala matahari hendak tenggelam dilangit barat, sedemikian suramnya suasana ketika itu, sehingga orang yang tak tahu keadaan, tentu akan mergira senja telah menjelang tiba.

Gemuruh keras yang semula berkumandang dari bukit sebelah, kini berubah menjadi hening sepi..., sedemikian sepinya sehingga mendatangkan suasana yang menyeramkan, tiada angin yang berhembus lewat, pohon dan dedaunan tiada yang tergoncang, seakan-akan dunia sudah kiamat.

Seluruh jagad seakan akan diliputi oleb keseraman, kengerian dan kemurungan.......

Ku See hong berdiri tegak dipuncak bukit itu sambil memandang kearah tebing karang yang menjulang keangkasa diseberang sana.

Bukit ini nampak berdiri kokoh dengan angkernya, siapapun tak-akan percaya kalau bukit yang begitu kokoh akan longsor dan tenggelam kedalam bumi.

Mendadak.....

Peristiwa yang mengerikan telah mulai berlangsung, tanah mulai retak retak, gempa dahsyat menggoncangkan seluruh permukaan bumi....

"Blaaammm......blaaammm.....blaaamm!"

Ledakan demi ledakan dahsyat menggema dari puncak bukit karang itu, demkian kerasnya suara ledakan tersebut serasa memekikkan telinga, dan lagi ledakan demi ledakan menggelegar tiada putusnya.

Menyusul ledakan keras itu, bumi bergoncang keras dan batu serta tanah pun mulai berguguran.

Ku See houg dapat menyaksikan timbulnya retakan retakan besar diatas dinding karang yang tegak lurus dan menjulang tinggi ke angkasa itu......

"Blaaammm...! Blaaammm...! Ggrrrr........"

Suatu kekuatan getaran gempa yang maha dasyat melanda tiba.

Ku See hong segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, kakinya tak mampu berdiri tegak lagi sehingga tak ampun tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah, akan tetapi dengan cepat dia melompat bangun lagi.

"Kraaai....! Kraaakk..........!"

Retakan demi retakan membelah seluruh permukaan bukit itu, dengan jelas Ku See hong dapat melihat pepohonan bertumbangan, lalu diatas permukaan bikit yang semula menghijau itu muncul beribu ribu buah retakan yang merekah.

"Blaaamm.....! Blaaamm......! Blaamn..., Kraak..... pleetakk....!"

Pelbagai bunyi keras menggelegar saling menyusul, bumi bergoncang semakin keras, dunia serasa berputar kencang.

Ku See hong dengan mengandalkan kekuatan tubuhnya yang tinggi segera mempertahankan diri sekuat tenaga untuk melawan getaran demi getaran yang menghebat itu.

Diantara getaran demi getaran serta ledakan demi ledakan yang memekikan telinga inilah, puncak bukit yang menjulang tinggi keangkasa itu mendadak retak dan berguguran kebawah, ketika menyentuh bumi segera bergema suara ledakan yang tak terlukiskan dengan kata kata, pasir dan batu segera bertebangan kemana mana.

Dinding bukit yang tegak lurus turut merekah menjadi dua bagian, kemudian diiringi gemuruh yang amat nyaring, mulai berguguran keatas tanah, seluruh bukit pun mulai amblas kedalam tanah di kuti beterbangannya pasir dan batu sehingga langit serasa berubah menjadi gelap gulita.

"Aaaai.... daratan telah tenggelam kedalam perut bumi........!"

Pekik Ku See hong dengan perasaan terkejut.

Rupanya sekitar satu Li disekeliling bukit karang itu mendadak merekah dan muncul sebuah lingkaran yang besar sekali, kemudian seluruh permukaan disekitar lingkaran tadi amblas ke dalam bumi.

Seketika itu juga, angin puyuh menderu-deru, segulung desingan angin, yang sangat kuat menyapu seluruh jagad.

Paras muka Ku See hong berubah hebat, cepat-cepat ia mendekam atas tanah untuk melindungi diri.

Ledakan demi ledakan masih berkumandang silih beganti, gemuruh yang memekikkan telinga menggema diseluruh angkasa.

Semua perpohonan yang tumbuh diatas bukit dimana Ku See hong berdiri sekarang turut bertumbangan diatas tanah dan berguguran kedalam jurang.

Bukit dan seluruh permukaannya makin bergoncang semakin keras, mengikuti getaran itu, pelan pelan permukaan tanah tenggelam ke dasar bumi di ringi desingan angin puyuh yang luar biasa dahsyatnya.

Ku See hong mendekam rapat rapat diatas bumi,peluh dingin telah membasahi seluruh jidntnya.

Dia tahu walaupun bukit dimana ia berada sekarang tidak turut tenggelam, namun tekanan udara disekeliling bukit itu sangat kuat dan berat sehingga membuat napas menjadi sesak dan peredaran darah didalam tubuhnya mengembang kencang, sungguh merupakan suatu penderitaan yang menyiksa badan.

Tiba-tiba....

Ku See hong menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke seluruh badan, lalu seenteng kapas dia melambung keudara mengikuti gulungan angin puyuh yang sedang menderu2 itu dan meleset ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Dengan suatu gerakan yang sangat indah, dia meloloskan diri dari pusingan angin puyuh yang menenggelamkan daratan itu.

Dengan tenggelamnya bukit karang itu kedalam perut bumi, maka semua tumbuhan maupun kehidupan yang berada satu Li diseputar tempat itu turut terkubur pula kedasar tanah, dalam waktu singkat bekas tanah dimana bukit itu berdiri tadi berubah menjadi sebuah telaga lumpur yang amat besar.

Lumpur didalam telaga itu mendidih seperti bubur, udara panas yang menyengat membuat asap putih membumbung tinggi keangkasa.

Peristiwa ini benar-benar sangat mengerikan sekali seakan-akan dunia baru saja tercipta.

Matahari telah tenggelam ke langit barat, remang remangnya udara senja telah menyelimuli seluruh jagad.

Semua tumbuhan dua li di seputar telaga berlumpur mendidih itu telah layu dan mati, suatu pemandangan yang tragis.....

Terhembus angin malam yang dingin, udara makin lama makin gelap, suasana pun makin lama semakin suram....

Pemuda yang baru saja mengalami suatu pemandangan menyeramkan dan lolos dari kematian itu menghela napas pedih, pelan-pelan dia beranjak dan meninggalkan tempat yang suram dan mengerikan itu, lenyap dibalik kegelapan nun jauh didepan sana....

Kini yang tertinggal hanyalah sebuah telaga yang luas dengan lumpur yang mendidih......

Yaa, kecuali itu hanya batu-batu cadas serta tanah yang gersang, tiada tumbuhan, tiada kehidupan.....

Tempat disitu seakan-akan sudah mati, seakan-akan sudah kiamat dan tiada kehidupan lagi........

Angin malam berhembus lewat, langit semakin gelap......

suasana terasa makin mengenaskan.

00000OdwO00000 Bab 16 PERMULAAN musim salju yang dingin, mengikuti bergugurannya daun dan bebungaan telah menjelang tiba dalam kehidupan manusia tanpa menimbulkan suara........

Matahari dipermulaan musim begini sama sekali tidak menyengat tubuh, malah sebaliknya mendatangkan perasaan hangat dan nyaman bagi umat manusia......

Disebuah jalan raya di Gi-keh-wan yang merupakan jalan penting menuju ke kota Tiang-sah, tampak seorang pemuda berpedang antik sedang melakukan perjalanan ditengah sorot matahari yang hangat.....

Sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan, memandang pepohonan yang gundul disepanjang jalan, terlintas perasaan murung dan sedih diatas wajahnya.

"Aaaai ...!"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang.

Apa arti dari helaan napas itu?

Apakah melambangkan kesepian dan sebatang kara?

Mendadak.....

Sepasang alis matanya berkenyit, mukanya menjadi dingin kaku dan keketusan serta keteguhan hati tersungging diujung bibirnya, hal mara membuat kegagahan serta kangkuhan semakin memancar diwajahnya.

Dia....

tak lain adalah Ku See hong!

Gi-keh-wan merupakan kota terakhir sebelum tiba dikota Tiang-sah.

Kebanyakan saudagar dan pelancong yang tidak berhasil mencapai kota Tiang sah, sebagian besar akan menginap disini.

Itulah sebabnya, kota ini jauh berbeda dengan kora kota yang lain.

Tampak bangunan berloteng berdiri sepanjang jalan kota, bukan saja ramai penduduknya, perdagangan ditempat itupun amat makmur.

Waktu itu adalah menjelang tengah hari,itulah saatnya orang bersantap siang.

Hampir semua rumah makan penuh dengan tamu.

Pelan pelan Ku See hong berjalan kedepan sebuah rumah makan yang agak sepi.

Ia mendongakkan kepalanya keatas, tampak olehnya rumah makan itu memakai merek "Cui-Sian cui-loo".

Sementara itu dua orang pelayan telah menyongsong kedatangannya, sambil membungkukkan badan dan tertawa katanya.

"Tuan silahkan masuk! Dirumah makan kami tersedia arak paling baik serta sayur kenamaan dari selatan maupun utara. pelayan baik, servis memuaskan, tanggung tuan akan merasa puas........"

Ku See hong mendengus dingin, pelan-pelan dia naik keatas loteng.

Rumah makan Ciu-sian ciu-loo merupakan rumah makan yang masuk hitungan dalam kota Gi-keh-wan, tempat duduknya luas dan bisa mencapai dua tiga ratus orang,apa lagi sekarang adalah tengah hari, pelbagai macam manusia berkumpul disana membuat suasana yang ramai.

Ku See hong segera memilih sebuah tempat duduk yang dekat dengan jendela....

Pelayan menyodorkan daftar makanan, Ku See hong minta sekati arak Cong goan-ciu dan beberapa macam sayur, lalu dahar dengan kepala tertunduk.

Waktu itu perasaannya sedang gundah dan sedih, hal ini membuat pemuda yang dasarnya memang angkuh semakin segan untuk memperhatikan tamu-tamu disekitarnya.

Padahal, suasana didalam rumah makan Cui-sian ciu-loo pada hari ini sedikit berbeda dengan keadaan dihari-hari biasa.

Dilihat dari senjata tajam yang mereka bawa, serta sorot mata mereka yang tajam, setiap orang dapat segera mengetahui kalau mereka merupakan jago jago silat yang berilmu tinggi.

Sebenarnya para tamu yang berada diatas loteng itu sedang berbincang-bincang dengan suara yang ramai, akan tetapi, semenjak menyasikan kemunculan Ku See hong, seketika itu juga suasana berubah menjadi hening.

Beratus pasang mata serentak dialihkan ke wajahnya dengan perasaan kaget dan tercengang.

Mungkin mereka telah dibuat terpesona oleh sikap Ku See hong yang angkuh, gagah dan luar biasa itu.

Dihadapan Ku See hong duduk dua orang manusia yang aneh, mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh keangkuhan diri Ku See hong.

Setelah melirik sekejap dengan sinar mata sinis, mereka lanjutkan kembali pembicaraannya.

Seorang diantara mereka berdua adalah seorang lelaki bercambang yang memakai baju biru sepatu rumput dan berdandan sebagai seorang penebang kayu, tubuhnya tinggi besar dan mengerikan sekali, mukanya hitam pekat bagaikan pantat kuali.

Duduk disitu, perawakannya persis seperti sebuah pagoda kecil.

Sedangkan orang yang lain adalah seorang lelaki setengah umur yang berwajah putih dan berdandankan seorang peramal, tubuhnya kecil dan pendek hingga merupakan kebalikan dari rekannya namun wajahnya menampilkan kecedasan serta kemampuan yang luar biasa.

Sekilas pandangan saja, siapa pun akan tahu kalau dua orang manusia itu adalah jago-jago persilatan yang sudah lama berkecimpungan didalam dunia persilatan, sehingga pengalamannya luas sekali.

Terdengar lelaki tinggi besar yang berdandan sebagai penebang kayu itu sedang berkata dengan suaranya yang serak, bagaikan gembrengan bobrok.

"Saudara In...!, Barusan kau bilang dalam dunia persilatan akan mengalami lagi suatu badai pembunuhan, sebenarnya apa maksudmu?"

Peramal berbaju putih itu mengangkat cawan araknya dan meneguk setegukan, lalu sahutnya.

"Lui lote..., dengan watakmu yang berangasan serta pengalamanmu berkelana dalam dunia persilatan selama banyak tahun, masa tidak kau ketahui akan beberapa macam persoalan penting yang telah terjadi dalam dunia persilatan belakangan ini? Kalau cuma itu saja tidak tahu, sia-sia saja kau disebut Sin-hong hwe-ciau (Penembang Kayu Api Berangin Sakti)...!"

Lelaki yang disebut si Penebang kayu Api itu segera meraung gusar, teriaknya lantang.

"In heng, siapa .yang tak tahu kalau kau disebut orang sebagai Biau-ki-siangsu (Peramal Sakti Berotak Pintar), sudah sepantasnya, kalau pengetahuanmu lebih luas daripada pengetahuanku, apa yang perlu dibanggakan? Sudanlah, tak usah jual mahal, cepat katakan!"

Begitu dua orang manusia aneh itu 'melaporkan' namanya, kontan semua tamu yang berada disekeliling tempat itu merasakan hatinya bergetar keras, siapapun tak ada yang menyangka kalau dua orang manusia aneh itu tak lain adalah Lam-ciau Pak-siang...!

(Penebang Kayu dari Selatan, Peramal dari Utara) yang amat termashur itu.

Yang dimaksudkan sebagai Lam-ciau (Penebang Kayu dari Selatan) dan Pak-siang (si Peramal dari utara) tak lain adalah Siu-hong hui-ciau (Penebang kayu Api) Lui-Ki serta Biau-ki siang-su (Peramal Sakti Berotak Cerdas) In-Han-im.

Kedua orang ini, yang satu hidup di selatan, yang lain hidup di utara.

Dalam satu pertarungan sengit yang mereka lakukan selama satu hari satu malam dan berakhir dengan keadaan seri..., dari lawan mereka jadi teman dan terikatlah suatu persahabatan yang sangat akrab.

Cara kerja mereka amat setia kawan, namun terhadap kaum sesat, merekapun turun tangan amat keji.

Sedemikian anehnya watak kedua orang itu, sehingga boleh dibilang sama sekali tak punya hubungan dengan umat persilatan......

Biau-ki siang-su, In Han-im, memandang sekejap adik angkatnya yang sedang amat gelisah itu, kemudian tertawa terbahak-bahak, katanya pelan.

"Lui lote, kalau dilihat dari kegelisahanmu itu, tampaknya kaupun takut kalau sampai beberapa peristiwa itu melibatkan pula dirimu?"

"Saudara In, jangan terlalu menghina kemampuan sendiri!" , teriak Sin hong hwee-ciau Lui-Ki dengan lantang;

"Sudah dua puluhan tahun lebih Sin-hong hwee-ciau malang melintang dalam dunia persilatan, bukit golok, kuali minyak telah kujelajahi semua, masa aku bisa kuatir terlibat? Hmm....siaute tak lain hanya ingin mengetahui persoalan apa saja sehingga dapat menimbulkan kegoncangan hebat didalam dunia persilatan ?"

Tanpa terasa semua tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu sama-sama memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama, mereka ingin tahu peristiwa apakah yang hendak diucapkan oleh Biau-ki siang-su tersebut.

-oo0dw0oo-Jilid.

11 KU SEE HONG sendiri, walaupun menunjukkan sikap yang acuh, seakan-akan dunia mau kiamatpun dia tak ambil perduli, sesungguhnya dengan sepasang mata yang tajam, dia telah awasi setiap tamu yang berada diruangan itu.

Menyaksikan perhatian orang yang begitu serius, diam-diam diapun turut merasa terkesiap.

Telinganya yang tajam telah menangkap jelas semua pembicaraan dari Lam-ciau serta Pak-siang, dia pun ingin tahu peristiwa apakah yang telah menimbulkan kegugupan bagi umat persilatan.

Tampak Biau-ki siang-su In Han im menarik muka, lalu berkata dengan serius.

"Lui lote..., persoalan ini bukan hanya satu saja, bahkan setiap peristiwa merupakan kejadian yang cukup menggetarkan hati orang..!"

Setelah berhenti sebentar untuk menarik napas panjang, ia melanjutkan lebih jauh.

"Peristiwa aneh yang PERTAMA adalah. Tentang suara nyanyian aneh yang diketahui setiap orang semenjak tiga belas tahun berselang itu......."

"Sebenarnya setiap umat persilatan menaruh curiga kalau nyanyian itu merupakan nyanyian dari Bun-ji koan-su, sìmanusia sakti dari dunia persilatan`, untuk membalas dendam atas dikurubutinya dia dipuncak Toa-soat-san pada dua puluh tahun berselang!.., Dia dengan menggunakan nyanyian itu untuk memancing kaum laknat tersebut masuk ke dalam perangkapnya dan membunuh mereka satu persatu.!"

"Siapa tahu dugaan umat persilatan selama ini ternyata tidak benar! ... ,karena nyanyian aneh itu bukan dibawakan oleh Bun-ji-koan-su, melainkan oleh seorang pemuda yang tidak dikenal.............!"

Baik Lam-ciau maupun Pak-siang adalah manusia manusia yang luar biasa, ternyata pandangan serta penilaian mereka terhadap para Bu-lim cianpwee pun lain daripada yang lain.

Tidak seperti orang lainnya, mereka tidak ingin pandangan tersebut terpengaruh oleh kesan-kesan sampingan lainnya....

Sebagaimana diketahui, Bun-ji-koan-su dianggap oleh umat persilatan sebagai seorang gembong iblis yang amat keji, tapi sekarang Biau-ki-siang-su telah menyebutnya sebagai seorang `Manusia Saktì, sedangkan terhadap para jago yang mengajar Bun-ji-koan-su dianggapnyàkawanan laknat`!.., penilaian yang amat berani ini segera menimbulkan rasa kaget dan tercekat oleh semua jago persilatan yang hadir disitu.

Ku See-hong merasa terharu sekali, dia sama sekali tidak menyangka kalau didalam dunia persilatan masih terdapat dua orang manusia gagah seperti Lam-ciau dan Pak-siang yang berani mengemukakan pandangan yang jujur dan adil terhadap gurunya .

Sementara itu, terdengar Sin-hong-hwee ciau Lui-Ki menyela.

"Saudara In, siapakah pemuda itu?

Menurut perkataanmu itu belum tentu pandangan umat persilatan terhadap persoalan ini salah, siapa tahu kalau pemuda ini adalah murid atau ahli waris dari Bun-ji koan-su?

Ku See hong yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa terperanjat, ia tak menyangka kalau Sin hong hwee ciau yang tampaknya kasar dan berangasan ini, sesungguhnya terhitung pula seorang manusia yang cermat dan luar biasa, hal ini menunjukkan kalau nama besar mereka bukanlah nama kosong belaka.

Biau-ki siang-su In Han im meneguk secawan arak, lalu berkata.

"AKu kurang begitu jelas tentang nama dan julukan pemuda itu, tapi menurut dugaanku, dia memang ahli waris dari Bun-ji koansu.!"

Sin hong hwee ciau Lui-Ki menghela napas panjang.

"Aaaai...... kalau memang begitu, ... teka-teki sekitar hilangnya sekawanan jago persilatan pada delapan belas tahun berselang bisa kita selidiki lewat muridnya Bun-ji koan-su ini?"

"Lui lote, jangan kau anggap semua persoalan bisa diselesaikan dengan gampang."

Kata Biau ki siang-su menggeleng.

"Kawanan jago yang hilang lenyap itu sama sekali TIADA hubungannya dengan Bun-ji koan-su, tapi dia pasti tahu hasil perbuatan siapakah itu..!"

Sin hong hwee ciau Lui-Ki semakin terkejut bercampur keheranan, katanya satelah termenung sebentar.

"Saudara In, perkataanmu makin lama semakin tidak kupahami, betul-betul membuat bingung hati orang saja."

Sikap Biau ki siangsu In Han im berubah makin misterius lagi, katanya lebih jauh.

"Sesungguhnya peristiwa lenyapnya kawanan jago pada delapan belas tahun berselang adalah suatu rencana keji untuk menghilangkan saksi-saksi yang amat licik ... ., adapun orang yang melakukan perbuatan terkutuk ini tak lain adalah kawanan manusia laknat yang berhati busuk...!"

Baru saja berbicara sampai disitu, mendadak dari sudut rumah makan itu meluncur datang beberapa rentetan cahaya tajam yang disertai dengan desingan angin tajam, secepat sambaran kilat beberapa titik cahaya itu menyambar keatas jalan darah penting di punggung Biau-ki siang-su.

Serangan senjata rahasia yang dilancarkan itu amat mendesak sifatnya, lagi pula memiliki kecepatan yang luar basa.

Dalam waktu singkat senjata rahasia tadi sudah berada tiga depa didepan Biau-ki siangsu, tampaknya Peramal dari utara ini segera akan kena terserang.....

Disaat yang kritis itulah, Biau-ki siang-su merasakan datangnya segulung angin yang sangat aneh membuat beberapa titik cahaya tajam itu berputar di angkasa dan .....

"Sreeet..!"

Di ringi desingan angin tajam telah meluncur balik ke tempat asalnya.

Dua kali dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan, lalu dari sudut ruang loteng itu tampak ada sosok tubuh roboh terkapar diatas tanah, diatas jalan darah mereka masing masing tertancap tiga batang paku bersegi delapan, yang memancarkan cahaya tajam, darah kental bercucuran dari ketujuh lubang inderanya, sedang jiwa mereka telah melayang meninggalkan raganya.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat semua orang merasa amat terperanjat, bahkan semua orang mengira Biau-ki siang-su lah yang telah melancarkan serangan balasan tersebut, diam-diam mereka memuji setinggi langit atas kelihayan kungfu dari Lam-ciau pak-siang.

Sementara semua orang terpecah pikirannya, disudut meja didepan Ku See hong telah melayang datang seorang pemuda berbaju putih.

Diatas punggung pemuda itu tersoreng sebuah pedang perak berbentuk ular, wajahnya terhitung amat tampan, alis matanya lenting dengan mata yang jeli, bibirnya tipis menbengkok kebawah, gerak geriknya angkuh dan dingin.

Dengan sorot mata penuh rasa terima kasih, Biau-ki siang-su In Han im memandang sekejap kearah pemuda tampan berbaju putih itu.

Paras muka pemuda berbaju putih itu dingin seperti salju dan sama sekali tanpa perasaan, dangan suara yang dingin merasuk tulang katanya.

"Lanjutkan perkataanmu itu!"

Melihat keangkuhan dan keketusan sang pemuda berbaju putih itu, timbul perasaan yang bercampur aduk dalam hati Biau-ki siangsu serta Sin hong hwee ciau sehingga paras mukanya berubah hebat.

Ku See hong memiliki ketajaman mata yang luar biasa, sewaktu senjata rahasia menyerang ketubuh Bu khi siang-su tadi, dia sudah mengetahuinya dengan jelas.

Tapi baru saja dia hendak turun tangan untuk membantu, ternyata pemuda berbaju putih yang aneh itu sudah mendahuluinya, menyaksikan kemampuannya untuk merontokkan senjata rahasia tadi, dia merasa amat terkesiap sekali.

Betul dia juga seorang yang angkuh, namun setelah menyaksikan kepongahan pemuda berbaju putih itu timbul juga perasaan tak sedap dalam hatinya, tanpa terasa dengan sorot mata yang tajam dia melirik sekejap kearah pemuda berbaju putih itu.

Kebetulan sekali, pemuda barbaju putih itu pun sedang memperhatikan Ku See hong dengan sorot matanya yang tajam menggidikkan begitu sepasang mata mereka saling bertemu, kedua belah pihak sama-sama mendengus dingin dengan nada sinis.

Sekalipun demikian, diam-diam mereka merasa terkesiap juga oleh keketusan dan sikap dingin lawannya, tanpa terasa mereka lantas berpikir.

'Tak nyana kalau dikolong langit masih terdapat manusia yang begini angkuh dan dingin seperti aku, tapi siapakah dia.....?

Yaa, siapakan orang ini....?' Kejadian aneh itu hanya berlangsung dalam waktu singkat, menanti semua jago yang berada dalam ruangan itu mendengar dua kali dengusan dingin dan mengalihkan sorot matanya ke wajah Ku See hong serta pemuda berbaju putih itu, kedua orang pemuda itu, sudah termenung dengan pikirannya sendiri-sendiri, seakan akan mereka tidak merasakan pandangan terkejut dan keheranan dari orang orang itu.

Tiba-tiba Sin hong hwee ciau Lui-ki berteriak dengan suara lantang.

"Saudara In, bagaimana selanjutnya? Cepat lanjutkan!"

Biau Ki siang-su adalah orang yang cerdas, sekerangpun dia sudah tahu kalau dua orang pemuda yang berada di hadapannya ini masing-masing memiliki ilmu silat yang amat lihay.

Sebagai peramal diapun dapat melihatkan kalau dua orang pemuda ini masing-masing memancarkan hawa kelurusan dan kejujuran, sudah pasti bukan anggota kaum sesat..., hanya saja mereka memiliki sikap angkuh dan dingin saja .....

Mendadak satu ingatan melintasi dalam benak Biau ki siangsu In Han im, pekiknya kemudian didalam hati.

'Aaaah,...

mungkinkah kedua orang ini..?' Ketika Sin hong hwee ciau Lui-Ki menyaksikan paras muka Biau-ki siang-su berubah-ubah tak menentu, dengan cemas kembali dia berseru.

"Saudara In, siaute ingin cepat cepat mengetahui keadaan yang sebenarnya, kenapa kau tidak berbicara?"

Biau-ki siang-su In Han im segera tersentak bangun dari lamunannya, diam-diam pekiknya dalam hati. 'Sungguh menyesal...' Dasar memang berotak cerdas, buru-buru katanya sambil tertawa.

"Lui lote, kenapa kau musti gelisah? Barusan aku sedang memikirkan satu persoalan, baru saja pikiranku kebingungan, kau telah berteriak sehingga aku teringat kembali. Intrik keji yang kubicarakan tadi memang sesungguhnya benar-benar telah terjadi...! Beberapa hari lagi sudah pasti semuanya akan terungkap, pokoknya peristiwa itu menyangkut soal dendam kesumat didalam dunia persilatan serta rencana busuk sekawanan manusia laknat yang ingin menguasai seluruh dunia persilatan...!"

Ku See hong tahu kalau Biau-ki siang-su tidak mau mengungkapkan duduknya persoalan pada saat ini, dia lantas berpikir.

'Agaknya bila ingin mencari tahu masalah tentang guruku Bun-ji koan-su serta musuh besar kedua orang tuaku, mungkin hanya dia seorang yang tahu.

Aku harus melindungi keselamatan jiwanya secara diam-diam....!' 'Tapi siapakah pemuda berbaju putih ini?

Kalau benar demikian, sudah pasti dia adalah seorang musuh yang tangguh.' Sementara itu Bian-ki siang-su In Han im, telah menyumpit sayur dan disuap kedalam mulutnya, kemudian melanjutkan.

"Peristiwa KEDUA adalah. Peristiwa yang menyangkut sisa-sisa anggota setia dari Kim-to-pang. Suatu perkumpulan paling besar dalam dunia persilatan telah dibasmi orang! Ternyata Sin tong tongcu San tian han jiu (Cakar 351 Dingin Sambaran Kilat), Sangkoan-Ik, sekalian tiga empat ratus orang telah dibantai orang secara kejam...!"

Ku See hong segera merasakan darah didalam tubuhnya mendidih paras mukanya berubah hebat, tapi dia masih tetap berusaha keras untuk menahan diri agar wajahnya tidak berubah.

Sebaliknya pemuda berbaju putih itu masih tetap bersikap dingin dan kaku, wajahnya sama sekali tanpa perubahan emosi.

Sementara itu Biau-ki siang-su secara diam-diam memperhatikan pula paras muka kedua orang muda itu, ketika Ku See hong terpengaruh oleh gejolak emosi, hal itupun diketahui olehnya dengan jelas, dengan begitu, dia semakin jelas mengetahui akan asal usul Ku See hong serta pemuda berbaju putih itu.

Terdengar Sin hong hwee ciau Lui-Ki berteriak dengan gusar.

"Saudara In, siapakah pembunuh keji itu...? Brutal amat perbuatannya, siaute bersumh akan membalas dendam bagi korban yang telah tewas secara mengerikan itu!"

Biau-ki siang-su In Han im segera tertawa terbahak-bahak.

"Huaahh..... haahh...... haaahh..... Lui lote, sudah ada orang yang hendak membalaskan dendam bagi kematian mereka, cuma sayang dia hanya seorang diri, mungkin kekuatannya masih tidak cukup, maka boleh saja bila kita hendak membantu usaha orang itu..."

Setelah meneguk secawan arak, dia melanjutkan.

"Pembunuh keji itu tak lain adalah orang-orang istana Huan-mo-kiong dari Lam-hay yang sudah seratus tahun tak pernah menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan.!"

Setelah mendengar perkataan itu Ku See hong baru merasa terperanjat, ternyata Biau-ki siang-su memang bukan bernama kosong belaka!

.....mungkinkah dia adalah seorang dewa?

Kalau tidak, kenapa dia bisa mengetahui semua peristiwa ini dengan jelas 352 lagipula seperti tahu kalau dari Kim-to-pang sudah mempunyai ahli waris.

Biau-ki siang-su tertawa ringan, seakan2 dia hendak menghilangkan kecurigaan dalam hati Ku See hong, katanya lagi.

"Perkumpulan Kim-to-pang sudah dibasmi orang pada dua puluh tahun berselang, sisa anggotanya yang masih setia telah mengasingkan diri ketempat terpencil dan tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi. Dalam anggapan mereka, sekejam-kejamnya para manusia laknat yang telah membasmi Kim-to-pang pada dua puluhan tahun berselang, juga tak akan membunuh mereka lagi."

"Sebagaimana diketahui dalam suatu pertarungan yang berlangsung pada seratus tahun berselang antara jago pedang nomor wahid dari dunia persilatan, Hu-hay it-kiam melawan pemilik Huan mo kiong di Lam-hay dulu...., Hu-hay it-kiam telah berhasil menangkan sebilah pedang (Huan-mo-kiam, dan orang2) Huan-mo-kiong untuk tidak melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan! Konon pedang pendek itu kemudian diwariskan kepada ketua Kim-to-pang Ku siam cong ....! Ketika perguruan Kim-to-pang dibasmi orang, Ku Kiam cong telah menyerahkan pula pedang Huan-mo-kiam itu kepada San-tian han-jiau Sangkoan-Ik untuk menyimpannya."

"Setelah banyak tahun hidup terasing dilaut selatan, belakangan ini rupanya Han-thian it-kiam Cia Cu Kim, telah berambisi kembali untuk merajai dunia persilatan. Dia telah mengumpulkan sampah-sampah masyarakat dari dunia persilatan, untuk menunjangnya guna mencapai apa yang dia harapkan."

"Akan tetapi niat tersebut belum bisa diwujudkan berhubung pedang Huan-mo-kiam masih berada ditangan umat persilatan didaratan Tionggoan, karena menurut perjanjian dulu, barang siapa yang memegang pedang tersebut, dia berhak untuk membunuh setiap anggota istana Huan-mo kiong yang berani memasuki daratan Tionggoa."

"Oleh karena itu, sebelum orang-orang Huan-mo kiong melakukan penyerbuan atas daratan Tionggoan, maka pekerjaan pertama yang harus dilakukan lebih dulu adalah merebut kembali pedang Huan mo kiong tersebut.!"

"Nah, ditinjau dari sini, bukankah jelas terbebaskan bahwa orang yang telah membantai para anggota setia dari perkumpulan Kim-to-pang itu tak lain adalah orang-orang Huan mo kiong?"

Setelah mendengar penjelasan tersebut Ku See hong merasa kagum sekali atas kecerdasan serta kepandaian Biau-ki siang-su untuk memecahkan persoalan itu.

Sambil tertawa Sin hong hwee ciau Lui-Ki berkata.

"Saudata In, kau memang hebat sekali, tapi... bukankah kau pernah bilang kalau Kim-to-pang sudah mempunyai keturunan ..... ? Siapakah orang itu....?"

"Sebelum (lama)berselang, dari Huan mo kiong di Lam-hay telah tersiar keluar suatu kabar berita yang menggemparkan. Konon ada seorang pemuda yang gagah perkasa telah menyerbu ke dalam Huan-mo-kiong seorang diri dan membunuh banyak sekali jago lihay istana Huan mo kiong. Kemudian ia kena dibekuk oleh pihak Huan mo kiong dengan siasat yang busuk..., tapi dia berhasil hidup meski sudah menderita 'Lima Macam Siksaan' hebat, sehingga akhirnya berhasil kabur dari Huan mo kiong."

"Andaikata orang ini tidak memiliki dendam kesumat sedalam lautan dengan orang-orang Huan mo kiong di Lam-hay,.. siapakah yang kesudian untuk bermusuhan dengan mereka? Konon pemuda itu she Ku, bernama See-hong dan mengaku sebagai ahli waris dari Bun-ji koan-su, si Pendekar aneh dari dunia persilatan itu!"

"Sebagaimana diketahui, ketua Kim-to-pang dulu bernama Ku-Kiam-cong, sedangkan pemuda ini pun she Ku, ....bukankah hal ini menandakan kalau Ku-Kiam-cong mempunyai keturunan?"

Kembali Ku See-hong merasakan hatinya terkesiap setelah mendengar uraian itu...

Dia tidak mengira kalau Biau-ki siang-su 354 bisa memperoleh semua berita tersebut dengan begitu cepat dan jelas.....

Sementara itu Biau-ki siangsu In Han-im telah menghela napas sedih, lanjutnya.

"Huan-mo-kiong dari Lam-hay telah memiliki kekuatan serta pengaruh yang besar sekali, seandai-kata dia sampai melakukan penyerangan ke daratan Tionggoan, entah reberapa banyak umat persilatan yang bakal mengalami musibah tersebut? ......Padahal didaratan Tionggoan sendiripun terdapat kawanan manusia laknat yang telah membentuk suatu organisasi yang amat kuat, (dan)mungkin beberapa waktu lagi mereka akan mulai melakukan pembataian secara terang-terangan dalam dunia persilatan! Bayangkan saja, betapa berbahayanya keadaan dunia persilatan pada saat ini!"

Sim-hong-hwee-ciau Lui-Ki menghela napas pula dengan hati yang sedih, katanya kemudian.

"Seandainya Bu-lim-koy-kiat, (Pendekar aneh dari dunia persilatan) Bun-ji koan-su masih hidup didunia ini, kawanan iblis dan badut-badut dunia persilatan itu pasti tak akan berani bertindak dengan begitu berani, aaa.i..... sayang benar kematian dari Bun-ji-koan-su!"

Dengan nada yang misterius kembali Biau-ki siang-su In Han im berkata.

"Semua peristiwa ini masih belum begitu aneh!, Belakangan ini didalam dunia persilatan telah muncul pula seorang pemuda yang aneh, ilmu silatnya tiada tandingan didunia ini...! dan pemuda itu kerjanya justru menantang jago-jago kenamaan untuk beradu kepandaian. Setiap kali berhasil mengalahkan musuhnya, dia selalu bertanya kepada pihak lawannya dengan sepatah kata. 'Apakah kau sudah takluk dengan ilmu silat aliran Cing hay-pay?'..."

"Bila lawannya mengatakan tidak puas, dia segera melancarkan seranganya lebih lanjut untuk membunuh orang itu.., sebaliknya jika mengatakan takluk, dia melepakan orang itu begitu saja."

Paras muka Sin-hong hwee-ciau Lui-Ki berubah menjadi hijau membesi, serunya kemudian dengan gusar.

"Benarkah didunia ini terdapat bocah keparat yang gila seperti itu? Aku orang she-Lui ingin sekali bertemu dengannya, ingin kuketahui apakah dia mempunyai tiga kepala enam lengan atau tidak!" 'Aduh celaka..!' pekik Biau-ki Siang-su In Han im diam-diam, 'Seandainya pemuda berbaju putih itu adalah dia.., ... pemuda aneh dari Cing-hay, sudah pasti besar sekali kesulitan yang bakal dihadapinya.' Ku See hong sendiripun merasa gusar sekali, diam-diam ia bertekad untuk menjumpainya, dia ingin tahu pemuda macam apakah pemuda aneh dari Cing-hay yang latah itu. Terdengar Biau-ki siang-su In Han im kembali melanjutkan kata-katanya.

"Ilmu silat yang dimiliki pemuda aneh dari Cing-hay ini konon mirip sekali dengan ilmu silat dari aliran Hu-thian seng-kiam yang termasyur pada tiga tatus tahun berselang itu, selain aneh juga saktinya luar biasa...!!"

Mendengar nama Hu-thian Seng-kiam disinggung, paras muka Ku See hong berubah hebat,...

sebab dia ingin cepat-cepat mengetahui segala sesuatu tentang Hu-thian-seng-kiam tersebut.

Hampir saja dia hendak mengutarakan asal-usulnya dan meminta Biau-ki siang-su untuk menerangkan hal ikhwal tentang Hu-thian Seng-kiam tersebut.

Untung saja Sim-hong hwee-ciau Lui-Ki telah mendahului Ku See hong untuk menanyakan hal yang sama.

"Saudara In, apa yang dimaksudkan dengan aliran Hu-thian Seng-kiam itu? Siapakah dia?"

Biau-ki siang-su In Han im tertawa, katanya.

"Soal Hu-thian seng-kiam memang jarang(tidak banyak) yang diketahui oleh umat persilatan pada saat ini kecuali kawanan locianpwe yang sudah lama termasyur, ....tapi bila kusebutkan nama lainnya, mungkin kau akan mengetahuinya dengan jelas."

Selama pembicaraan berlangsung, pemuda berbaju putih ini hanya duduk dengan wajah dingin kaku tanpa emosi seakan-akan semua kejadian yang berlangsung dalam dunia persilatan sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya.

Biau-ki siangsu In Han im mencoba untuk melirik sekejap pemuda berbaju putih itu.

Ketika tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, dia pura-pura menghembuskan napas panjang, kemudian katanya lagi.

"Pernahkah kau dengar tentang kisah seorang Kakek yang suka menyendiri pada tigaratus tahun berselang...?"

"Saudara In, apakah kau maksudkan Ang-soat-kiam-cu yang disebut orang sebagai Ci-hong-lo jin (Kakek Penyendiri) itu...?!"

Tanya Sin hong hwee ciau Lui-Ki dengan wajah terperanjat. Biau ki siang-su In Han im mengangguk tiada hentinya....

"Yaa-, dialah Ang-soat-kiam-cu yang suka menyendiri sehingga akhirnya, disebut orang 'Ci-hong lo jin' yang merupakan musuh umum seluruh umat persilatan di dunia."

Mendengar perkataan itu, Ku See hong merasa terkejut bercampur girang.., mimpipun dia tidak menyangka kalau pedang Hu-thian seng kiam yang digembolnya sekarang tak lain adalah pedang Ang Soat Kiam yang (oleh) seluruh umat persilatan dianggap sebagaìPedang Mestika Nomor Satu didunià!!

Tapi cerita tentang Ci-hong lo jin tersebut masih kurang jelas baginya, dia hanya tahu kalau kakek itu memang benar-benar merupakan seorang kakek kesepian yang suka menyendiri.

Sementara itu Sin hong hwee ciau Lui-Ki telah bertanya lagi dengan wajah tidak habis mengerti.

"Kalau dia memang Ang soat Kiam-cu (Pemilik Pedang Bianglala Merah) Ci-hong lo jin cianpwe, mengapa pula dinamakan orang sebagai Hu-thian seng-kiam?"

Biau-ki siangsu In Han im menghela napus panjang , ujarnya.

"Selain ilmu silatnya sangat lihay, Ci-hong lo jin juga memiliki kepandaian lain yang luar biasa, baik soal ilmu perbintangan, ilmu tanah, ilmu bangunan,.... semuanya dikuasahi olehnya, dia boleh dianggap sebagai manusia aneh ajaib nomor wahid dikolong langit.! Tapi orang ini berwatak dingin dan suka menyendiri, selain itu juga amat membenci segala kejahatan. Kebetulan situasi dunia persilatan pada waktu itu sangat rawan, kejahatan meraja-lela... Sebagai seorang pendekar sejati, tentu saja dia bertekad untuk menolong umat persilatan dari penindasan dan ketidak-adilan. Akibatnya, banyak sekali kaum laknat yang tewas ditangannya.! Dengan ilmu silatnya yang lihay serta Pedang Ang-soat poo-kiam yang luar biasa tajamnya, lama-kelamaan kehadirannya menimbulkan rasa dengki umat persilatan kepadanya, apalagi setelah merekàkesemsemòleh pedang mustikanya yang luar biasa. Akhirnya orang persilatan menganggapnya sebagai 'musuh umum', mereka bersama-sama memusuhinya dan berusaha merampas pedang Ang-soat poo-kiam tersebut, hingga akhirnya terjadilah suasana yang serba kacau dalam dunia persilaan.! Kawanan manusia yang memusuhi Ci-hong lo jin ketika itu, selain jago-jago dari pelbagai partai, manusia-manusia golongan putih maupun hitam, bahkan saudara seperguruannya, anak muridnya, istrinya dan putranya JUGA berusaha dengan menggunakan pelbagai macam muslihat untuk membunuh serta merobohkan dirinya dengan menggunakan cara paling rendah, paling keji dan paling terkutuk, mereka berusaha merobohkannya. Perasaan Ci-hong lo jin ketika itu benar-benar hancur luluh, mimpipun ia tak menyangka kalau orang yang saling dekat dengan dirinya pun bisa memusuhinya dan berusaha merampas pedang mestika Ang-soat poo-kiam itu, sehingga akhirnya hal ini menimbulkan napsunya untuk membunuh. Dengan menggunakan pedang Ang soat poo-kiam, dia segera melakukan pembunuhan secara besar-besaran..., Setiap orang yang berniat jahat kepadanya, dibunuhnya tanpa ampun, diantara mereka termasuk juga saudara seperguruannya, muridnya, istrinya dan putra-nya...! Bisa dibayangkan bagaimanakah penderitaan dan tersiksanya batin orang itu ketika terpaksa melakukan pembantaian secara besar-besaran. Konon pembantaian yang berlangsung ketika itu mengakibatkan darah meng-anak sungai, bangkai bertumpuk bagaikan bukit, bau busuknya darah hampir menyelimuti seluruh jagad !!! Setelah terjadi peristiwa yang mengerikan itu, Ci-hong lo jin mendongkkan kepalanya sambil tertawa seram...., suaranya keras dan melengking hingga menusuk pendengaran, selain memedihkan hati juga membawa suasana yang menyeramkan.........."

"Setelah tertawa selama sehari semalam, dia baru mendongakkan kepalanya menghadap kelangit sambil mengucapkan kata-kata yang mengandung ramalan, katanya. 'Aku Ci hong lo jin memang telah ditakdirkan hidup sebatang kara, tanpa sanak tanpa keluarga....! Pedang Ang-soat poo-kiam, mulai kini kusebut Hu Thian Seng Kiam !! Tiga ratus tahun kemudian, aliran Hu-thian seng-kiam akan muncul kembali didalam dunia persilatan untuk menyelamatkan umat persilatan dari pembantaian...!' "

Setelah mengucapkan perkataan itu Ci-hong lo jin pun lenyap tak berbekas.., Selama tigaratus tahun kemudian pedang Ang-soat poo-kiam juga tak pernah mucul lagi dalam dunia persilatan...

.!' "Tapi Ci hong lo jin adalah seorang tokoh aneh yang luar biasa, setiap perkataannya mengandung maksud yang mendalam.

Kini tigaratus tahun sudah lewat, kemungkinan besar inilah saatnya bagi Hu-thian-seng-kiam untuk muncul kembali dalam dunia persilatan........!"

"Saudara In, kalau begitu pemuda aneh dari Cing-hay itu adalah ahli waris dari Hu-thian-seng-kiam?"

Tanya Sin-hong-hwee-ciau Lui-Ki dengan gelisah. Kembali Biau-ki siang-su In Han im menghela napas sedih.

"Benarkah pemuda aneh dari Cing-hay itu adalah ahli waris dari Hu-thian-seng-kiam...?, hal itu hanya merupakan dugaan dari umat persilatan saja, sebab pada waktu itu Ci-hong lo jin juga merupakan anggota perguruan dari Cing-hay-pay! Sekalipun pemuda aneh dari Cing-hay itu bukan orang yang dimaksudkan Ci-hong lo jin, dia pastilah anggota perguruan dari Cing-hay-pay..."

"Aaaai....! Dunia persilatan yang sekarang sudah penuh dengan kekacauan, andaikata pedang mestika Ang-soat poo-kiam benar-benar muncul kembali dalam dunia persilatan, akibatnya tentu tak terlukiskan dengan kata-kata. Apalagi belakangan ini nyanyian aneh telah muncul kembali didalam dunia persilatan! Kawanan jago dari pelbagai partai telah berbondong-bondong mengejar pemuda she Ku itu untuk mengetahui kata-kata dari syair lagu yang bisa menunjukkan dimanakah kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip disimpan,-dengan munculnya pedang mestika dan kitab pusaka ini..., sudah pasti kedua macam benda itu akan berubah menjadi sumbu kiamatnya dunia persilatan.!"

Setelah mendengarkan penuturan dari Lam-ciau dan Pak-siang tadi, Ku See hong merasakan hatinya bergolak keras, apalagi setelah mengetahui kisah Ci-hong lo jin yang begitu mengenaskan, diam-diam ia turut bersedih hati atas nasib malang yang menimpa kakek itu.

Baik Ci-hong lo jin, maupun gurunya Bun-ji koan-su, kedua orang itu sama-sama mengalami nasib yang mengenaskan sekali,-kenapa Thian selalu melimpahkan nasib yang buruk kepada umatnya?

Kini, dalam tubuhnya telah terdapat dua macam mestika peninggalan dari dua orang tokoh sakti itu, yang mana kedua-duanya menyangkut nasib umat persilatan didunia ini, òohh.....

Ku See hong, wahay Ku See hong!

Tahukah kau betapa beratnya tugas dan kewajiban yang diletakkan diatas bahumu?

Bukan saja aku harus membalaskan dendam pribadiku, juga harus memikirkan nasib dari berjuta-juta umat persilatan di dunia ini.

Tapi dalam dunia persilatan dewasa ini hampir tiada seorang manusiapun yang berhati mulia, seandainya duduk persoalan yang sebenarnya berhasil diketahui, kemungkinan juga nasibnya dikemudian hari akan mirip pula dengan nasib Ci-hong lo jin serta Bun-ji-koan-su, atau bahkan mungkin akan lebih tragis lagi.

'Aaaaai........!

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh sekarang hanya bunuh!

Bunuh...!

Dan Bunuh..!!!

Biarlah darah dari kawanan manusia2 laknat itu mencuci semua noda yang telah mengotori dunia...!' Berpikir sampai disitu, sepasang alis mata Ku See-hong segera berkenyit, dari balik matanya mencorong keluar sinar yang menggidikkan hati, itulah perlambang dan keputusan yang telah diambilnya..., keputusan yang dingin tegas dan penuh dengan darah.!

Kalau mengikuti keputusan yang diambil dalam hati Ku See-hong, nasib dunia persilatan pun turut ditentukan.

Betulkah watak Ku See hong begitu kejam dan keji?

Tidak..., bukannya dia sudah mempunyai watak semacam ini semenjak dilahirkan didunia ini, dia bukan seorang yang haus darah, diapun tak suka akan segala macam pembunuhan..., tapi pengalaman tragis yang dialaminya semenjak kecil, serta segala macam peristiwa keji memalukan yang telah berlangsung didunia dewasa ini, membuat dia lebih banyak melihat dan banyak mendengar, kesemuanya ini menimbulkan suatu tekad yang luar biasa dalam hatinya.

Tapi, untuk mewujudkan cita-citanya itu, hanya 'PEMBUNUHAN' yang dapat mencapainya, membasmi kaum siluman dan manusia laknat dari muka bumi, untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadaan bagi umat persilatan.

Mendadak terdengar Sin hong hwee ciau Lui-Ki tertawa terbahak2, suaranya keras bagaikan suara genta yang diburyikan bertalu-talu, kemudian serunya.

"Saudara In, mengapa kawanan tikus bernyali kecil itu sudah kabur semua dari sini?"

Kiranya entah sejak kapan tamu yang semula memenuhi ruangan loteng itu, kini sudah lenyap tak berbekas, bahkan pemudam berbaju putih itupun entah sedari kapan sudah pergi dari situ.

Dalam ruangan loteng yang begitu luas, kini tinggal Lam-ciau pau siang dan Ku See hong tiga orang saja.

Sepasang mata Biau-ki siarng-su In Han im yang sebenarnya selama ini sedang mengamati perubahan mimik wajah Ku See hong tanpa berkedip, seperti baru bangun dari mimpinya dia baru tersentak kaget setelah mendengar perkataan itu.

Dengan cepat dia memmeriksa keadaan disekitar tempat itu.

Betul juga jangan seorang manusiapun, bahkan kedua sosok mayat yang terkapar diatas tanahpun sudah turut lenyap tak berbekas.

Paras muka Biau-ki siang-su In Han im yang menunjukkan kecerdasan otaknya itu,segera mengalami perubahan pula, tapi sejenak kemudian sudah lenyap tak berbekas, bahkan sekarang dia malah menunjukkan sikap seolah-olah tidak menaruh perhatian.

Ku Se hong pun turut merasakan suasana yang kurang beres pada waktu itu, dia merasa seakan-akan disekeliling tempat itu telah diliputi oleh hawa pembunuhan yang luar biasa.

Pada saat itulah, seorang pelayan datang mendekat kehadapan Biau-ki Siang-su dengan wajah ketakukan dan wajan murung, lalu dengan nada tersendat-sendat katanya.

"Tuu....tuan, rumah makan kami aa....akan ditutup lee.....lebih aa...awal pada hari ini, maaf sekali haa....harap ......."

Sin heng hwee ciau Lui-i segera berpaling dan mamandang keadaan udara diluar jendela, ketika dilihatnya jarak dengan saat senja masih awal, tanpa terasa teriaknya keras-keras.

"Mak`nya, kalian lagi berdagang apa? Masa masih waktu begini sudah akan menutup pintu? Apakah kuatir kalau bapakmu tidak membayar hidangan yang kumakan? Jangan kau bikin aku naik pitam tahu? Kalau sampai kuhajar sampai jumpalitan, jangan salahkan diriku nanti!"

Biau-ki siang-su In Han im bukan orang bodoh, dilihat dari gelagatnya dia segera mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, maka sambil menjura ujarnya.

"Saudara tak usah kuatir, seandainya sampai terjadi hal-hal yang tak di nginkan, kami masih sanggup untuk menanggung semua kerugian yang diderita ditempat ini. Jangan kuatir, pasti akan kuberi pembayaran yang cukup tinggi pada kalian nanti."

Begitu selesai berkata dia lantas merogoh kedalam sakunya dan mengambil keluar sekeping uang emas yang segera diberikan kepada pelayan tersebut.

Uang emas berwarna kuning, uang perak berwarna putih, sekalipun pelayan itu merasakan ancaman pada jiwanya, tapi setelah mendengar perkataan dari Biau-ki siang-su beserta uang perak didepan mata, terpaksa dia hanya mengucapkan terima kasih sambil mengundurkan diri dari situ.

Mendadak Biau-ki siang-su In Han im bangkit berdiri dan berjalan ke hadapan Ku See hong.

Kemudian setelah memberi hormat, tegurnya.

"Tolong tanya apakah sauhiap berasal dari marga KU .....?"

Ku See hong merasa amat terperanjat, dia tak menyangka kalau orang persilatan mempunyai ketajaman mata yang luar biasa.

Pada dasanya dia memang menaruh kesan baik terhadap Lam-ciau Pak-siang, dan lagi dia pun mempunyai banyak persoalan yang ingin memohon petunjuknya, hanya saja dasar wataknya yang dingin dan angkuh dia segan untuk mengadakan hubungan sembarangan orang dengan begitu saja.

Tapi setelah disapa oleh Biau-ki-siang-su dengan cara yang sopan dan hormat, dia menjadi rikuh untuk merahasiakan keadaan yang sesungguhnya.

oooo0dw0oooo Bab 17 KU SEE HONG segera bangkit berdiri dan memperlihatkan sekulum senyuman ramah, sambil balas memberi hormat, sahutnya dengan suara lantang.

"Tidak berani, tidak berani, aku memang she Ku, . ...entah siapa nama saudara?"

Walaupun Biau-ki siang-su In-Han-im tahu kalau pemuda gagah yang berada dihadapannya sekarang adalah Ku See hong yang dicurigai olehnya, namun dia tak menyangka kalau Ku See hong telah merubah sikapnya yang dingin itu dengan sikap yang begini hangat.

Biau-ki siang-su menjadi gembira sekali, katanya sambi tertawa nyaring.

Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap 5

Baca Juga: Si Racun Dari Barat 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert