Ceritasilat Novel Online

Dendam Sejagad Legenda Kematian 2

Eps 2 Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Baca online Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Cersil Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung.

Sepuluh jari tangannya yang tajam mirip cakar setan dipentangkan lebar-lebar dan siap menerkam mangsanya.

Kobaran api amarah dan dendam mencorong keluar dari balik mata Ku See-hong yang jeli, dia membentak keras, sepasang lengannya diputar secara aneh lalu menubruk lagi ke depan.

Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat berpekik aneh, tubuhnya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang itu melintas dengan gerakan aneh, lalu secepat kilat berputar ke sisi kiri Ku See-hong.

Cakar setannya yang tajam dengan cepat menyambar ke bawah.

Ku See-hong merasakan bahu kirinya sakit sekali bagaikan diiris dengan pisau, lima buah bekas luka yang memanjang sekali lagi muncul di atas bahunya akibat sambaran dari Siang-khi-kui-pok tersebut, saking sakitnya dia mundur sampai sejauh dua tiga langkah lebih.

Di pihak lain, Siong-cing-kui-pok (Siluman Iblis Bermata Bengis) Sin Jian-siau telah menggerakkan sepasang lengan iblisnya untuk menyerang ke depan.

"Sreet! Sreet!"

Desingan angin tajam yang memekikkan telinga menggema di angkasa.

Ku See-hong merasakan kakinya gemetar keras, lalu mendengus tertahan, baju bagian punggungnya tercabik-cabik hancur, kulitnya robek besar tersambar oleh sepasang cakar setan Siong-cing-kui-pok yang tajam, darah segar berceceran membasahi seluruh badannya.

Jin-sat-kui-pok tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu, lengannya diputar kemudian, Wees dia melepaskan sebuah pukulan tinju ke depan.

Setelah itu sepasang telapak tangannya kembali diayunkan ke depan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Segulung tenaga pukulan yang sangat kuat ibaratnya gulungan ombak dahsyat di tengah samudra, dengan membawa daya kekuatan yang mampu menghancurkan batu karang, segera menggulung Ku See-hong.

Padahal Ku See-hong baru dapat berdiri tegak, melihat datangnya angin pukulan yang demikian dahsyatnya itu, ia menjadi amat terkejut.

"Blaaamm...!"

Suatu ledakan keras kembali terjadi.

Ku See-hong kembali terhajar oleh serangan itu sehingga terpental ke arah lain.

Di pihak sana, Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat sudah tahu kalau Ku See-hong memiliki semacam ilmu silat yang aneh sekali.

Tanpa suatu kepandaian yang lihay, sulit untuk merenggut nyawa si anak muda tersebut.

Maka secara diam-diam lantas ia menghimpun tenaga beracunnya yang telah dilatih selama puluhan tahun itu.

Perawakan tubuhnya yang sebenarnya kurus kering itu, tahu-tahu menggelembung seperti membengkak secara tiba-tiba.

Bersamaan itu pula, tulang belulang yang berada di dalam tubuhnya juga gemerutukan keras.

Setelah berkumandang serentetan bunyi ledakan yang nyaring itu, badannya yang kurus kering tahu-tahu menyusut pula sehingga lebih pendek separuh bagian.

Jin-sat-kui-pok dan Siong-cing-kui-pok juga tidak tinggal diam, serentak mereka salurkan pula tenaga beracunnya untuk bersiap-siap melancarkan serangan mematikan.

Kemudian, tiga orang iblis dari Leng-cuan sam-pok yang bengis dan berhati keji itu pelan-pelan berjalan mendekati Ku See-hong.

Mereka segera menyebarkan diri membentuk posisi segitiga.

Keadaan Ku See-hong pada waktu itu sudah mengenaskan sekali.

Sekujur badannya penuh dengan luka, darah segar menodai badannya, rambut yang panjang terurai kalut, bajunya sobek dan compang-camping, keadaannya mengenskan sekali.

Ketika itu dengan wajah yang mengejang serta sorot mata yang memancarkan kebengisan, ia melototi ketiga orang itu penuh kemarahan.

Angin musim gugur berhembus lewat dan menggoyangkan pepohonan, bayangan pohon yang bergerak-gerak seakan-akan berubah menjadi cakar setan yang sedang dipentangkan, bunyi deruan yang kencang seolah-olah jeritan iblis yang mengerikan.

Sedemikian seram dan menakutkannya suasana di sekeliling tempat itu, membuat bulu roma orang pada bangun berdiri.

Bayangan tubuh Leng-cuan-sam-pok yang terbias sinar bintang, memanjang di atas permukaan tanah, sudut kepungan mereka kian lama bertambah kecil.

Ku See-hong berusaha memutar otaknya mati-matian untuk memecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Akan tetapi bagaimana pun juga, dia selalu gagal untuk memahami gerakan tangan dari Bun-ji koan-su tersebut.

Sekarang ia sudah menyaksikan, lengan-lengan kurus dari Leng-cuan-sam-pok membengkak besar, kulitnya pelan-pelan berubah pula menjadi merah membara seperti baranya api.

Selain itu diapun menemukan, tiap kali mereka melangkah maju ke depan, sebuah bekas telapak kaki yang dalam segera muncul di atas permukaan tanah, padahal diapun tahu permukaan tanah di situ lebih keras daripada batu karang.

Kalau dilihat dari tindakannya yang diambil Leng-cuan-sam-pok di mana mereka telah mengeluarkan pukulan beracunnya, dapat diketahui bahwa orang-orang itu sudah bertekad hendak membinasakan Ku See-hong di ujung pukulan beracun mereka yang mengerikan itu.

Dari sini dapat diketahui pula sampai di manakah kekejaman serta kebusukan hati mereka.

Diam-diam Ku See-hong berpekik di dalam hatinya.

"Suhu, oooh suhu. Bantulah tecu, bantulah diri tecu agar cepat memahami rahasia jurus Hoo-han seng-huan tersebut, kalau tidak, tecu bakal mampus di ujung tangan ketiga orang setan iblis itu."

Dalam pada itu, Leng-cuan-sam-pok sudah berada lebih kurang lima depa di hadapan Ku See-hong.

Mendadak....

Tiga makhluk aneh tersebut sama-sama berpekik aneh, suaranya yang keras dan menyeramkan itu menggelegar membelah kesunyian malam.

Enam buah telapak tangan yang merah membara dan berbau amis, secepat kilat mengayunkan ke depan dan melontarkan enam gulungan kobaran bara beracun yang berwarna hijau.

Di ringi desingan tajam yang luar biasa bagaikan gulungan ombak di tengah samudera langsung menghajar ke depan.

Serangan itu ganas, kejam, dan hebat, seperti air bah yang menjebolkan bendungan, langsung menghajar tubuh lawan.

Ku See-hong terperanjat sekali, apalagi setelah menyaksikan kabut hijau berbau amis yang disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat itu muncul dari pelbagai sudut yang aneh dan menggencet tubuhnya di tengah arena itu.

Blaaamm!

Blaaamm!

Blaaamm!

Benturan keras menggelegar secara beruntun.

Ku See-hong merasakan hawa darah di dalam tubuhnya bergolak sangat keras, benaknya bagaikan kosong melompong dan ...

"Bluuum"

Tubuh Ku see-hong tergeletak jatuh di tanah.

Melihat Ku See-hong sudah terhajar telak oleh serangan mereka yang beracun, Leng-cuan-sam-pok segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

Suara mereka keras seperti jeritan setan iblis dan seram bagaikan lolongan serigala liar.

Di balik gelak tertawanya yang panjang berat dan memekikkan telinga tadi, terselip pula rasa bangga dan gembira yang tak terkirakan.

Dalam keadaan sadar tak sadar, mendadak Ku See-hong seperti terbayang kembali bayangan tubuh Bun-ji-koan-su yang sedang menggerakkan tangannya secara aneh di ringi gerakan tubuh yang luar biasa, kemudian dalam kilatan cahaya tajam, jalan darah di atas tubuhnya seakan-akan tertotok.

Ku See-hong yang tergeletak kaku di tanah, mendadak memperdengarkan teriakan keras yang memekikkan telinga.

"Haaah! Aku sudah memahami jurus Hoo-han-seng-huan! Aku sudah memahami jurus Hoo-han-seng-huan tersebut!"

Menyusul teriakan tersebut, Ku See-hong dengan suatu gerakan yang sangat aneh segera melompat bangun dari atas tanah.

Leng-cuan-sam-pok hanya tertawa tergelak terus dengan bangganya.

Mereka baru tertegun setelah melihat tubuh Ku See-hong melompat bangun secara tiba-tiba.

Dengan cepat lengan mereka diputar membentuk satu gerak lingkaran.

Di tengah kegelapan, terlihatlah gulungan angin dingin yang mirip pusaran angin berpusing di atas bumi, menggulung ke muka dan menyapu Ku See-hong.

Ku See-hong menggerakkan kakinya dan menerobos masuk ke balik gulungan angin berpusing yang maha dahsyat itu.

Secara aneh, mendadak seluruh badannya melengkung dan melejit, tubuhnya melompat tinggalkan permukaan tanah, lalu seperti udang bago dia meletik tiga depa ke udara.

Bersamaan itu juga, sepasang lengan Ku See-hong berputar kayun secara aneh, suara letusan demi letusan yang nyaring menggema di angkasa.

Selapis cahaya tajam yang berkilauan segera terhias di seluruh angkasa.

Sepasang lengannya direntangkan ke kiri kanan, dua gulung angin pukulan yang putih bersih seperti kemala mendadak meluncur ke arah Jin-sat-kui-pok serta Siong-gan-kui-pok dan menghajar jalan darah penting di atas dadanya.

Inilah gerakan kedua dari ilmu Hoo-han-seng-huan yang disebut Jin-hay-hu-seng (Lautan Manusia Timbul Tenggelam).

Terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan.

Dua sosok tubuh yang tinggi besar itu mencelat sejauh dua kaki lebih dan...

"Bluuuk"

Terbanting di atas tanah.

Sebuah mulut luka yang besar sekali muncul di atas dada Jin-sat-kui-pok serta Siong-gan-kui-pok.

Darah segar seperti pancuran segera berhamburan di mana-mana.

Begitulah, dua orang gembong iblis yang kejam dan tersohor dalam dunia persilatan, akhirnya tewas di ujung telapak tangan Ku See-hong setelah mempergunakan jurus J in-hay-hu-seng dari ilmu Hoo-han-seng-huan yang telah menggetarkan seluruh dunia persilatan itu.

Mimpipun Ku See-hong tidak menyangka bahwa serangannya dengan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sanggup membinasakan Jin-san-kui-pok serta Siang-gan-kui-pok tanpa memberi kesempatan bagi lawannya banyak berkutik.

Dia mengira dirinya masih berada di alam impian, untuk sesaat lamanya dia berdiri termangu-mangu di situ sambil mengawasi dua sosok mayat yang terkapar dalam keadaan mengerikan di hadapannya itu.

Sejak meloncat bangun dari tanah sampai mengeluarkan jurus tangguh untuk membunuh dua orang gembong iblis itu, serentetan gerakan tersebut dilakukan Ku See-hong dalam waktu yang amat singkat.

Waktu itu, Siang-khi-kui-pok Phu Im-sat sudah dibikin pecah nyalinya oleh kelihayan lawan, tiba-tiba jeritnya.

"Hoo-han-seng-huan?!"

Tiba-tiba secepat hembusan angin kencang dia membalikkan badan dan melompat sejauh empat kaki dari situ, kemudian tanpa membuang waktu lagi dia melarikan diri terbirit-birit dari situ.

Ku See-hong yang mendengar Siang-khi-kui-pok menjeritkan kata Hoo-han-seng-huan juga amat terkejut, dengan cepat ia tersadar kembali dari lamunannya, tapi ketika itu Siang-khi-kui-pok sudah berada tujuh kaki dari tempat semula.

Pada saat itulah....

Mendadak dari atas pohon Pek yang lebih kurang enam kaki di depan Ku See-hong berkumandang suara bentakan yang amat nyaring, Jcin...

"Sreeet"

Segulung angin pukulan tajam mendesis.

Dari atas puncak pohon yang delapan kaki tingginya itu, meluncur keluar sesosok bayangan tubuh yang ramping dan kecil.

Lalu dengan gerakan yang cepat dia sudah meluncur ke bawah dan melayang turun persis di hadapan Siang-khi-kui-pok.

Waktu itu, keadaan Siang-khi-kui-pok ibaratnya anjing yang baru kena digebuk, ketika melihat datangnya bayangan manusia dari tengah udara, ia segera meraung keras, dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dua gulung angin pukulan segera dilontarkan ke muka.

Bayangan manusia yang ramping itu kembali membentak nyaring, sepasang telapak tangannya melancarkan selapis bayangan telapak tangan yang rapat bagaikan jaring laba-laba.

Lalu tubuhnya melejit kembali di udara, dua bayangan kaki menyusul tiba.

Gerakan 128 tubuhnya yang lincah dan gerakan jurus serangannya yang indah, sungguh merupakan suatu perpaduan yang serasi.

Mendadak....

Jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan.

Selembar nyawa Siang-khi-kui-pok segera melompat keluar dari tubuh kasarnya dan menyusul nyawa Jin-sat-kui-pok serta Siong-jin-kui-pok yang sudah keluar dari raganya lebih dulu itu.

Sedangkan tubuh kasarnya mencelat sejauh empat lima kaki sebelum tergeletak untuk selamanya di sana.

Diam-diam Ku See-hong merasa terperanjat juga setelah menyaksikan kemampuan bayangan manusia itu sewaktu membunuh Siang-khi-kui-pok.

Baru saja ingatan terbersit melintas lewat, mendadak pemuda itu mengendus bau harum semerbak berhembus lewat di depan tubuhnya.

Bayangan tubuh yang ramping tadi, bagaikan selembar kapas yang terhembus angin, dengan entengnya melayang turun tepat di hadapan Ku See-hong.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sempurna serta gerak serangan bagaikan sambaran setan ini menggidikan hati Ku See-hong, dengan wajah berubah hebat dia mundur tiga empat langkah ke belakang dengan perasaan was-was.

Agaknya si anak muda itu sudah dibikin keder oleh kehebatan orang itu.

Tiba-tiba....

Suara cekikikan yang merdu merayu kembali berkumandang di angkasa.

Suara tertawa itu begitu merdu dan begitu merayu sehingga cukup mempesonakan hati orang.

Sedangkan pemuda itu masih melongo, suara tertawa itu mendadak berhenti lalu kedengaran seseorang mendamprat dengan suara yang dingin seperti es.

"Bocah tolol, kau anggap sudah ketemu setan di siang hari bolong...? Coba pentang dulu matamu lebar-lebar...."

Di bawah sinar bintang terlihat seorang gadis cantik yang tinggi semampai bergaun biru dan berambut panjang telah berdiri di hadapannya.

Gadis itu memang cantik sekali bak bidadari dari kahyangan, selain matanya jeli bagaikan bintang timur, hidungnya mancung, bibirnya kecil mungil, kulit badannya juga putih mulus bagaikan susu murni.

Akan tetapi, waktu itu dia berdiri dengan wajah sedingin es, mata mendelik besar dan hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Hal ini membuat gadis tersebut ibaratnya sekuntum bunga mawar yang berduri....

Sejak kecil Ku See-hong sudah mengalami musibah yang mengenaskan, sepanjang tahun di hidupnya mengembara dalam dunia persilatan dan dicemooh orang banyak, penderitaan serta kesengsaraan yang dideritanya itu membuat ia memiliki watak yang aneh serta pandangan yang sempit.

Terutama sekali terhadap kaum wanita, entah mengapa, dalam hati kecilnya bisa timbul perasaan benci yang tebal.

Sekalipun terhadap perempuan yang bagaimanapun cantiknya, dia juga tak pernah merasa terpikat apalagi tertarik.

Apalagi setelah selama beberapa hari ini ia mendengar kisah cerita Bun-ji koan-su yang mengisahkan tragedi serta pengalaman pahit yang dialaminya selama hidup, kesemuanya itu membuat pandangannya terhadap perempuan bertambah ekstrim, dia memandang perempuan seakan-akan ular yang amat berbisa sekali.

Begitulah Ku See-hong yang sombong dan tinggi hati, mana tahan setelah mendengar caci maki si nona cantik berbaju biru itu?

Sambil mendengus gusar dari matanya segera terpancar keluar sinar mata yang menggidikkan hati.

"Nona!"

Serunya ketus.

"Begitu datang lantas mencaci maki orang apakah tidak merasa kalau perbuatanmu akan menurutkan martabatmu di depan orang?"

Berkedip-kedip sepasang mata si nona cantik berbaju biru yang jeli itu, serunya.

"Kau maksudkan aku?"

Sambil berkata begitu, dengan jari tangannya yang lentik dia tuding ke ujung hidung sendiri sehingga keadaannya tampak konyol. Ku See-hong mendengus dingin, dengan nada sinis serunya.

"Hmm. Bila kau menganggap dirimu itu amat cantik sehingga merasa perlu untuk memasang aksi dan menarik perhatian di hadapanku, maka kukatakan kepadamu terus terang, kau telah salah mengincar manusia. Aku orang she Ku tidak bakal terpikat oleh tingkah lakumu yang konyol itu. Hmm.... Di sini hanya ada kau dan aku, kalau bukan kau yang kumaksudkan memangnya aku lagi berbicara dengan orang lain?"

Kehormatan si nona benar-benar merasa tersinggung setelah mendengar caci maki dan cemoohan seorang pria yang diucapkan secara terang-terangan di depan matanya itu.

Apalagi dia adalah seorang gadis cantik yang biasanya selalu disanjung serta dipuji-puji orang.

Tapi anehnya nona cantik berbaju biru itu tidak menjadi marah setelah mendengar cemoohan tersebut, malah sebaliknya, sekulum senyuman manis segera menghiasi wajahnya yang cantik.

Sambil memutar biji matanya yang jeli katanya lagi dengan suara merdu.

"Mengapa sih kau musti galak-galak begitu? Aku cuma bergurau saja apalah salahnya?"

Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak dengan kening berkerut dia mendamprat lagi.

"Lelaki busuk, coba kalau aku tidak bermaksud untuk mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadamu, sedari tadi aku sudah membunuh dirimu, lebih baik sedikitlah tahu diri."

Paras mukanya ketika itu diliputi oleh hawa nafsu membunuh yang tebal, sepasang alis matanya berkenyit dan wajahnya dingin seperti es, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

Ku See-hong menjadi tercengang sekali oleh perubahan sikap orang, diam-diam pikirnya.

"Perempuan ini benar-benar aneh sekali, marah senang, susah diduga. Perubahan wataknya juga tak menentu sudah pasti dia bukan seorang perempuan baik-baik."

Berpikir sampai di situ, selapis hawa dingin yang kaku segera menyelimuti wajah Ku See-hong, bentaknya dengan gusar.

"Hei, apa maksudmu memaki aku sebagai lelaki bau? Hmm. Kalau kau berani memaki lelaki bau, lelaki bau terus, jangan salahkan kalau aku orang she Ku tak akan berlaku sungkan lagi kepadamu...."

"Apakah kau tidak ingin dimaki orang sebagai lelaki bau?"

Seru gadis cantik berbaju biru itu lagi sambil tertawa cekikikan.

"... tapi suhuku selalu menyuruh aku menyebut kalian sebagai lelaki bau, malah katanya, makin ganteng tampang orang itu, semakin pantas kalau mereka dibunuh... masa ucapan guruku tidak benar?"

Mendengar perkataan itu, Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.

"Masa di dunia ini terdapat manusia yang begitu aneh serta begitu sempit pikirannya sehingga murid sendiripun diajarkan untuk membunuh pria-pria tampan di dunia ini? Aaa... Mungkin gurunya juga seseorang yang pernah mengalami kegagalan di dalam soal cinta?"

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Ku See-hong, kemudian setelah mendengus dingin katanya.

"Nona, perkataan gurumu itu tentu saja salah besar. Kalau ingin membunuh orang harus dibedakan dulu mana yang baik dan mana yang jahat, mana boleh memandang rendah nyawa orang lain? Hmm. Bila kau berani sembarangan membunuh orang yang baik, aku orang she Ku yang pertama-tama akan mencarimu untuk membuat perhitungan."

Senyuman yang semula menghiasi wajah gadis cantik berbaju biru itu kembali lenyap tak berbekas, kemudian dengan wajah dingin bagaikan es ia berkata.

"Hm... Kau lagi membicarakan soal teori apa? Memangnya ingin menasehati aku? Aku mau tanya, dari mana kau pelajari jurus Hoohan-seng-huan tersebut? Di dapat dari mencuri? Kalau tidak mengaku terus terang, jangan menyesal kalau kubunuh dirimu biar mati secara mengenaskan."

Naik pitam Ku See-hong sesudah mendengar ucapan itu, dengan suara menggelegar segera bentaknya.

"Perempuan sialan, dengan dasar apa kau ingin menyelidiki asal-usulku...?"

Sekulum senyuman manis segera menghiasi kembali ujung bibir nona cantik berbaju biru itu, bentaknya.

"Kau ingin tahu? Ilmu silat-lah dasarku."

Tubuhnya direndahkan lalu telapak tangannya secepat sambaran kilat diayunkan ke depan, angin pukulan yang tajam bagaikan pisau menderu-deru di udara dan langsung menghantam ke tubuh anak muda tersebut.

Baik soal ilmu pukulan maupun soal ilmu gerakan tubuh, semuanya dilakukan secara sempurna dan luar biasa hebatnya.

Ketika itu, Ku See-hong telah berhasil memahami jurus Hoo-han-seng-huan yang diwariskan gurunya Bun-ji koan-su kepadanya.

Begitu melihat datangnya serangan maut dan si nona berbaju biru itu, kontan saja timbul kesan yang jelek sekali terhadap lawannya itu.

Maka di kala serangan maut itu sudah berada di depan mata, alis matanya segera berkenyit, sinar mata dingin yang menggidikkan hati mencorong keluar, sambil menengadah dia berpekik keras.

Berbareng dengan menggemanya suara pekikan tersebut, tiba-tiba sepasang telapak tangannya digetarkan kian kemari, di tengah desingan angin tajam tercipta sebuah lingkaran cahaya yang amat menyilaukan mata.

Menyusul terpancarnya cahaya berkilauan yang berlapis-lapis tadi, tubuhnya mendadak miring ke samping, seluruh tubuhnya melintang lima depa di udara.

Dalam posisi yang aneh kemudian sepasang kakinya dijejakkan ke udara dan melayang kembali ke tanah.

Pada saat dasar kakinya telah menempel di tanah, tubuh bagian atas Ku See-hong yang miring itu menerobos masuk ke tengah gulungan angin pukulan dahsyat yang dilancarkan oleh gadis cantik berbaju biru itu....

"Sreeet..."

Desingan angin tajam serasa membelah di angkasa.

Segulung cahaya putih yang amat menyilaukan mata, bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung menerobos ke depan dan menyerang jalan darah Thian-khi-hiat di tubuh gadis berbaju biru itu.

Gerakan yang barusan dipergunakan bukan lain adalah jurus ketiga dari Hoo-han-seng-huan yang bernama Tee-jin-hun-gak (Sukma Gentayangan Di Dasar Neraka).

Gadis cantik berbaju biru itu sebenarnya adalah murid kesayangan seorang tokoh sakti dunia persilatan yang termasyhur namanya di dunia ketika itu.

Kelihaian ilmu silatnya boleh dibilang luar biasa sekali, sehingga cuma beberapa gelintir manusia saja yang sanggup menghadapi ancaman serangannya.

Tapi, ketika ia menyaksikan datangnya serangan dahsyat dari Ku See-hong itu, kontan saja paras mukanya berubah hebat.

Sambil membentak keras, selendang sutera di atas bahunya itu meluncur ke depan dengan membawa desingan angin tajam...

"Sreet! Sreeet!"

Gulungan itu langsung menyongsong datangnya cahaya putih tersebut.

Tubuhnya sementara itu juga tak berani bertindak gegabah, dengan mempergunakan suatu gerakan yang indah dia segera berputar lalu melayang ke samping.

Perlu diketahui, tiga gerakan aneh yang sakti di dalam jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sesungguhnya merupakan hasil ciptaan dari Bun-ji koan-su setelah mempelajari dan menyelidiki secara tekun isi kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip tersebut.

Jurus serangan itu boleh dibilang lihay sekali dan mencakup seluruh intisari ilmu silat yang berada di dunia ini...

cuma sayangnya pada waktu itu Ku See-hong belum berhasil menguasai serta memahami makna yang sesungguhnya dari ketiga buah gerakan itu, sehingga boleh dibilang kehebatannya belum mencapai sebagaimana mestinya.

Sekalipun demikian, akan tetapi ketika ia gunakan kepandaian maha dahsyat tersebut ternyata hasilnya betul-betul luar biasa dan sama sekali di luar dugaan.

"Breeet...!"

Kedua selendang sutera yang berada di sepasang bahu nona cantik berbaju biru itu terpapas kutung menjadi tiga-empat bagian, sementara ikat pinggangnya yang berwarna biru juga turut putus menjadi dua bagian....

Mimpipun nona cantik berbaju biru itu tak pernah menyangka kalau gerak menghindar yang sesungguhnya dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa itu, ternyata belum berhasil menghindari serangan lawan.

Kontan saja sepasang alis matanya berkenyit, hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, mencorong sinar tajam yang dingin dan menggidikkan dari balik matanya yang jeli itu.

Ditatapnya wajah Ku See-hong tanpa berkedip.

Sejak seribu tahun yang lalu, tiga gerakan dalam jurus Hoo-hanseng-huan tersebut sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan.

Belum pernah ada seorang manusia pun yang berhasil meloloskan diri dari ancaman tersebut dalam keadaan selamat.

Jadi sesungguhnya, keberhasilan si nona cantik berbaju biru itu meloloskan diri dari ancaman maut jurus itu tanpa menimbulkan luka, adalah merupakan suatu kejutan bagi umat persilatan.

00d=w00 Bab TENTU saja, keberhasilan si nona itu pun separuhnya dikarenakan jurus serangan yang dipergunakan oleh Ku See-hong pada hari ini, belum mencapai pada kekuatan yang sebenarnya.

Kalau memang demikian, lantas apa sebabnya selama hampir seribu tahun lamanya ini belum pernah ada seorang jago persilatanpun yang sanggup memecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut?

Sesungguhnya, bila jurus serangan ini dipergunakan, maka akan muncullah beberapa ciri khas yang luar biasa dan aneh sekali, yaitu di kala menggerakkan tangannya di udara, selalu akan muncul kilatan cahaya yang berkilauan...

seluruh tubuh si penyerang itu seakan-akan diselimuti oleh kilauan cahaya yang tajam sekali bagaikan sinar matahari, sehingga sukar bagi orang lain untuk menduga gerakan macam apakah yang sedang dilakukannya itu.

Selain daripada itu, di dalam setiap gerakan jurus itu, meski terdapat beberapa macam perubahan yang berbeda, tapi kecepatannya sedemikian hebatnya sehingga serangkaian gerakan tersebut boleh dibilang dilakukan hampir pada saat yang bersamaan.

Sejak dulu sampai sekarang, tak seorang jago silat pun di dunia ini yang tahu sebenarnya terdapat berapa macam perubahan di balik setiap gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Orang lebih-lebih tak tahu sampai di manakah keanehan maupun kesaktian dari gerakan jurus tersebut.

Ketika Ku See-hong melancarkan serangan dengan mempergunakan jurus Tee-jin-hun-gak tadi, sebetulnya dia hanya bermaksud untuk menakuti-nakuti gadis itu saja.

Di luar dugaan, tenaga serangan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak samudra itu ternyata benar-benar terpancar keluar, malahan pada mulanya dia masih tak berani percaya kalau serangannya itu sanggup menahan sergapan maut dari nona cantik itu.

Maka ketika dilihatnya nona cantik berbaju biru itu benar-benar terdesak hebat sehingga menjadi mengenaskan sekali keadaannya...

untuk sesaat ia menjadi tertegun dan berdiri kaku di tempat.

Gadis cantik berbaju biru itu membentak keras, tubuhnya melayang ke muka dengan gerakan yang enteng seperti kapas, telapak tangannya yang putih bagaikan kemala, secara beruntun melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai, kemudian kakinya menutul permukaan tanah dan melayang ke udara.

Dari suatu sudut yang aneh secara tiba-tiba melepaskan empat buah tendangan berantai.

Setelah dibikin marah oleh serangan musuhnya, serangan balasan dari gadis cantik berbaju biru itu menjadi sangat keji dan sama sekali tidak terkandung belas kasihan.

Jurus-jurus serangan itu dilancarkan berangkai dan tiada hentinya, sekaligus semua ancaman itu dikeluarkan, bahkan kesempurnaan dari jurus serangannya itu boleh dibilang jarang ditemui di kolong langit.

Secara beruntun Ku See-hong mendengus beberapa kali, tubuhnya sudah terkena dua buah pukulan dan lututnya kena ditendang satu kali, kesemuanya ini membuat pemuda itu kesakitan, dan jatuh terduduk di atas tanah.

Melihat Ku See-hong sudah terjatuh ke tanah, nona cantik berbaju biru itu baru tertawa cekikikan.

"Haaahh... haaahh... haaahh... orang she Ku, rupanya kulit badanmu benar-benar tebal dan kuat seperti baja, dipukul keras pun tak sampai mampus tapi... nonamu bertekad hendak menghajarmu sampai babak belur malam ini sehingga merangkak di tanah."

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan. Jilid. 05

"KECUALI sekarang juga kau berlutut di depan nonamu dan menyembah tiga kali, mungkin saja nona masih bersedia mengampuni jiwamu."

Ku See-hong yang berulang kali dipaksa mencium tanah, benar-benar merasa marah sekali, saking mendongkolnya dia sampai menggertak giginya keras-keras.

"Lonte busuk!"

Akhirnya dia membentak gusar.

"Aku orang she Ku memang tak sanggup menangkan dirimu, kau juga boleh bunuh boleh cincang tubuhku, tapi jika kau berani mempermainkan aku atau mencoba untuk mencemooh aku... Hmm! Aku akan memaki tiga keturunanmu!"

Mendengar perkataan itu, si nona cantik berbaju biru itu mengernyitkan alis matanya, sinar merah mencorong keluar dari matanya yang jeli, tapi sejenak kemudian telah lenyap tak berbekas.

Kembali ujarnya sambil tertawa cekikikan.

"Orang she Ku, rupanya kau punya semangat. Cuma... bila malam ini kau tak mau menjawab pertanyaan nonamu, hmm! Akan kupermainkan dirimu seperti joged monyet!"

"Lonte busuk! Aku akan beradu jiwa denganmu!"

Bentak Ku See-hong dengan kening berkerut.

Kembali tangannya bergerak aneh, rupanya ia sudah bersiap-siap untuk mempergunakan tiga gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan lagi.

Setelah merasakan kerugian yang cukup besar di tangan pemuda itu, si nona cantik berbaju biru itu bertindak lebih cerdik, sebelum pemuda itu sempat melancarkan serangannya, secepat angin badannya menyelinap ke belakang Ku See-hong.

Kemudian sambil membentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba diayunkan ke depan.

"Ploook!"

Terdengar suara benturan nyaring menggema memecahkan keheningan.

Di atas pipi Ku See-hong segera muncul lima buah bekas jari tangan yang merah membara, menyusul kemudian lima jari tangan kanannya yang dipentangkan lebar-lebar langsung menyambar baju Ku See-hong dan membantingnya ke depan.

Ku See-hong segera merasakan keseimbangan badannya hilang, tubuhnya lantas berguling tiga kali di atas tanah dan akhirnya jatuh terjerembab mencium tanah.

Selain hidungnya bocor, mukanya bengkak ditambah lagi rambutnya terurai dan badannya belepotan darah, keadaannya benar-benar mengenaskan sekali.

Melihat pemuda itu sudah mencium tanah, sambil menutup bibirnya dengan jari tangan yang lentik, nona cantik berbaju biru itu segera tertawa cekikikan.

Pelan-pelan dia berjalan ke samping anak muda itu, kemudian sambil ulurkan tangan kirinya dia berkata.

"Orang she Ku, tulangmu sudah pada rontok, belum? Mari, nona membangunkan dirimu."

Cemoohan dan hinaan yang berulang kali dilimpahkan si nona kepadanya, membuat Ku See-hong yang tinggi hati itu menjadi naik darah, matanya merah membara kalau bisa dia ingin sekali membacok tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping, Apalagi setelah meyaksikan tingkah laku serta ucapan si nona yang setengah mengejek, darah terasa sirap keluar.

"Lonte busuk!"

Bentak Ku See-hong dengan geramnya.

"Jika malam ini aku orang she Ku dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup, di kemudian hari pasti akan kusayat kulit badanmu, sekarang aku minta kau... kau... enyah dari sini...!"

Saking gusarnya Ku See-hong sampai merasa tak sanggup melanjutkan kata-katanya, seluruh badannya tampak gemetar keras.

Ketika mendengar perkataan itu, nona cantik berbaju biru itupun kelihatan agak tertegun, tapi setelah termangu beberapa saat lamanya, sikap itu pulih kembali seperti sediakala.

Ia tertawa ringan, lalu katanya dengan merdu.

"Aduh mak, bagaimana sih kamu ini? Dengan bersungguh hati orang sudah membantumu, kenapa kau malah menjadi marah-marah hebat? Baiklah, anggap saja aku yang bersalah, kalau ingin menghajar aku, nah, hajarlah aku sepuas hatimu."

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan polos, manja dan membawa sifat kekanak-kanakan, kesemuanya ini membuat gadis itu tampak bertambah cantik dan menarik.

Untuk sesaat lamanya Ku See-hong berdiri melongo sehingga tak tahu apa yang musti dilakukan, tapi rasa bencinya kepada gadis itu sudah merasuk ke tulang sumsum.

Dia menganggap gadis itu adalah seorang gembong iblis perempuan yang berhati keji bagaikan ular berbisa dan membunuh orang tanpa berkedip.

Maka dengan wajah hijau membesi, dia mendengus dingin.

"Hmmm... Sikapmu yang suka berlagak itu hanya bisa dipakai untuk menggaet anjing-anjing geladak yang sudah buta matanya atau mengidap penyakit edan. Hmmm.... Jika kau berani banyak berbicara lagi, jangan salahakan kalau aku orang she Ku akan mulai memaki dirimu lagi."

Nona cantik berbaju biru itu mengerutkan dahi dan menghela napas sedih, katanya dengan lembut.

"Kenapa sih kau begitu tidak percaya denganku? Sebenarnya aku merasa benci sekali terhadap orang lelaki macam kalian itu, tapi sekarang entah apa sebabnya, setelah bertemu denganmu, aku sepertinya tidak begitu benci lagi."

Sepasang matanya yang jeli mongerling ke wajah Ku See-hong berulang kali.

Di balik kejelian matanya itu terkandung rasa cintanya yang mendalam, apalagi wajahnya memang cantik, sesungguhnya cukup membuat hati orang terpikat.

Ku See-hong merasakan jantungnya berdebar keras, suatu perasaan aneh yang hangat dan belum pernah dirasakan sebelumnya.

Secara lamat-lamat muncul dari dasar hatinya perasaan aneh yang susah dilukiskan dengan kata-kata itu, boleh dibilang belum pernah dirasakannya semenjak dilahirkan.

Ketika dilihatnya Ku See-hong hanya membungkam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan manja si nona cantik berbaju biru itu kembali berkata.

"Sebetulnya aku diutus oleh guruku untuk menyelidiki seorang musuh besarnya pada malam ini.

Tapi belakangan ini suara nyanyian anehnya yang tiba-tiba terputus sampai beberapa hari mendadak berkumandang kembali.

Hal ini menimbulkan rasa keheranan di hatiku....

"Barusan, aku melihat kau muncul dari dalam kuil itu. Bahkan aku lihat kau sama sekali tidak berpengaruh oleh daya pikat irama pembetot sukma itu, maka aku menjadi keheranan bercampur kaget. Menanti kau bertarung melawan Leng-cuan sam-pok dan mempergunakan jurus Hoo-han-seng-huan milik si orang aneh tersebut, aku baru berani memastikan bahwa kau pasti mempunyai hubungan yang luar biasa sekali dengan manusia aneh itu... Aaaih, apakah kau bersedia untuk memberitahukan kepadaku tentang beberapa masalah?"

Ku See-hong yang mendengar perkataan itupun merasa terkejut sekali, ia tahu musuh besar gurunya terlalu banyak, bila dia terlalu sering mempergunakan ilmu sakti dari Bun-ji koan-su tersebut, maka akhirnya orang persilatan pasti tahu kalau dia adalah muridnya.

Aaai...

Padahal ia belum begitu menguasai tentang jurus-jurus silat tersebut, bagaimana baiknya sekarang?

Hmmm.

Bukankah suhu seringkali menyuruh aku mempergunakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut untuk membunuh musuh?

Musuh besar gurunya begitu banyak, lebih baik dibunuh saja mereka yang berani datang mencarinya, apa lagi yang musti ditakuti?

Ketika Ku See-hong berpikir sampai di situ, selapis hawa nafsu membunuh yang mengerikan segera melintas di atas wajahnya.

Terdengar nona cantik berbaju biru itu kembali menghela napas panjang, katanya lagi.

"Aku tahu kau tak akan menjawab pertanyaanku itu, tapi akupun tak tega mempergunakan cara yang keji untuk memaksamu. Aaai... Aku benar-benar merasa serba salah."

Ku See-hong merasa sangat tidak puas dengan perkataan itu, ia segera mendengus dingin, katanya ketus.

"Siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan, sekalipun aku orang she Ku diancam dengan golok di tengkuk, tak nanti keningku akan berkerut, apalagi merengek minta diampuni. Jika kau ingin mempergunakan cara yang lebih keji lagi, mengapa tidak kau cobakan kepadaku?"

Nona cantik berbaju biru itu lama sekali tidak menampilkan perubahan apa-apa setelah mendengar perkataan itu, dia cuma berdiri termenung di situ, keningnya berkerut, agaknya banyak persoalan yang sukar dipecahkan olehnya.

Bintang bertaburan di angkasa, suasana terasa kelabu....

Tanpa terasa Ku See-hong berdiri termenung di tempat dan terkenang kembali kejadiannya di masa lampau.

Gadis cantik berbaju biru itupun berdiri termangu di sana bagaikan sedang mengigau dalam impian, dia bergumam lirih.

"Dia pasti bukan anak muridnya Bun-ji koan-su, kalau dia adalah murid kesayangannya, ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali. Apalagi locianpwe yang berwatak aneh itu sudah bersumpah tak akan menerima murid lagi, mana mungkin dia akan menerima pemuda ini sebagai ahli warisnya? Tapi kalau dilihat orang she Ku ini, kelihatannya ia benar-benar sangat aneh dan rahasia sekali, siapa pula yang mengajarkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut kepadanya? Tampaknya dia seperti memilki pula sejenis kepandaian yang aneh sekali dalam tubuhnya. Kepandaian itu tampaknya mampu untuk menahan serangan dari siapapun. Kalau dilihat dari tenaga dalamnya saja, dia sudah cukup mampu menjadi jago kelas satu dalam dunia persilatan, tapi mengapa ia tidak mengerti soal jurus silat? Aaai... kejadian ini sungguh membingungkan hati orang, apakah mungkin manusia aneh yang berdiam di kuil ini bukan Bun-ji koan-su?"

Walaupun nona cantik berbaju biru itu tampaknya seperti orang yang binal dan tak berotak, sesungguhnya kecerdasan otaknya luar biasa sekali, jadi orang pun sangat teliti.

Mendadak....

Ku See-hong merasakan nadi penting pada pergelangan tangan kanannya dicengkeram oleh sebuah tangan yang halus dan lembut, menyusul kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara yang dingin bagaikan es.

"Orang she Ku apakah kau adalah ahli waris dari Bun-ji koan-su? Cepat katakan berterus terang!"

Ku See-hong segera merasakan sekujur badannya menjadi kesemutan, peredaran darahnya berjalan terbalik yang mengakibatkan seluruh tenaga serta kekuatannya seakan-akan lenyap tak berbekas.

Dasar keras kepala dan berwatak angkuh, kendatipun mengalir terbaliknya darah di dalam tubuhnya menyebabkan Ku See-hong merasa amet menderita dan kesakitan, tapi dia hanya menggertak 143 gigi saja sambil menahan diri.

Ku See-hong menjengek sinis, dengan wajah menghina dia tertawa dingin tiada hentinya.

"Sejak tadi aku orang she Ku sudah tahu kalau kau adalah seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, ternyata dugaanku tidak salah. Hmmm! Tidak gampang untuk memaksa aku berbicara, lebih baik matikan saja hatimu itu!"

Si nona cantik berbaju biru itupun berdiri dengan wajah sedingin es, alis matanya berkenyit dan ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh... heeehh... heeehh... akan nonamu lihat kau bisa bertahan sampai kapan!"

Tangan kanannya yang mencengkeram nadi Ku See-hong segera digoncangkan keras-keras, ini membuat Ku See-hong kesakitan setengah mati.

Saking sakitnya, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh badan Ku See-hong, mulut luka yang tadi tersambar cakar Leng-cuan sam-pok tersebut, terasa sakitnya bukan kepalang.

Ilmu sakti membalikkan aliran darah manusia yang jauh bertolak belakang dengan keadaan manusia biasa ini betul-betul amat keji dan kejam.

Jangan toh tubuh Ku See-hong terdiri dari darah dan daging, sekalipun terdiri dari baja kuat pun tak akan tahan.

Tak sampai setengah perminum teh kemudian, ia sudah tak kuasa menahan diri lagi, isi perutnya terasa sakit bercampur gatal, seakan-akan ada beribu-ribu batang anak panah yang menembusi hatinya.

Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi sekujur badannya, sementara mulutnya mulai merintih.

Sistem membalikkan peredaran darah manusia yang diterapkan di tubuh Ku See-hong ini sesungguhnya lihay sekali.

Yang paling penting adalah ketepatannya mengarah sasaran jalan darah di tubuh orang.

Entah musuh berilmu tinggi atau tidak, asal sudah terkena serangan maka segenap tenaga perlawanannya akan musnah tak berbekas, saat itulah dengan mengandalkan aliran hawa murni yang ada dalam tubuhnya mengendalikan peredaran darah di 144 tubuh lawan, agar aliran darah lawan mengalir terbalik dan menyerang isi perut.

Kepandaian yang bisa memutar balikkan peredaran darah manusia ini terdiri dari beberapa macam, tapi kegunaannya sama, meski caranya berbeda.

Salah satu di antaranya dinamakan Hud-hiat-ni-hiat (Mengayun Jalan Darah Membalikkan Peredaran Darah).

Kepandaian ini mempergunakan ilmu totokan jalan darah yang khusus untuk menyumbat jalan darah penting di tubuh manusia.

Barang siapa terkena totokan itu, maka darah yang beredar dalam tubuh dan delapan nadinya akan terbalik menyerang ke hati.

Cuma cara ini reaksinya agak lamban.

Macam yang lain adalah kepandaian yang dipergunakan nona berbaju biru itu, kepandaian tersebut dinamakan Cui-khi-jian-hiat (Menyumbat Hawa Menghancurkan Darah), ilmu yang dipergunakan adalah ilmu cengkeraman Kina-jiu-hoat, sedang yang diancam juga jalan darah penting di tubuh lawan.

Setelah jalan darah penting lawan kena dicengkeram, biasanya dia akan mempergunakan tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyumbat peredaran darah lawan agar aliran darah itu berbalik menyerang isi perut.

Cuma cirinya, orang yang tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, jangan harap bisa mempergunakan cara semacam ini.

Ku See-hong merasakan kesakitan yang luar biasa sekali, kulit mukanya sampai mengejang keras karena harus menahan penderitaan, sementara sorot matanya memancarkan sinar kebencian dan dendam menatap wajah gadis berbaju biru itu tanpa berkedip.

Mendadak....

Ku See-hong mendengus tertahan...

mendadak tangan kanannya melepaskan diri dari cengkeraman gadis berbaju biru itu, kemudian tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat aneh langsung melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah gadis berbaju biru itu.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat gadis berbaju biru itu menjadi terperanjat sekali, mimpipun ia tak menyangka kalau Ku See-hong bisa meloloskan diri dari cengkeraman Kina-jiu-hoatnya, apalagi menghadapi serangan yang datangnya sangat aneh dan tangguh tersebut.

Dalam kejutnya gadis berbaju biru itu segera memutar lengan kirinya sambil dikebutkan ke depan, serentetan titik cahaya bintang yang berkilauan bagaikan serentetan bunyi letusan yang berantai bergema memecahkan keheningan.

Dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan cepatnya saling bertemu antara yang satu dengan lainnya.

"Blaaamm...!"

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga segera bergema memcahkan keheningan.

Angin pukulan yang sangat kuat itu segera menimbulkan desingan angin tajam yag menyambar ke empat penjuru, keadaan mengerikan sekali.

Akibat dari bentrokan kekerasan itu, tubuh Ku See-hong hanya tergetar sedikit dan mundur dua langkah, mencorong sinar gembira dari balik wajahnya, tidak seperti tadi bermuram durja.

Ketika menyambut tenaga pukulan dari Ku See-hong tadi, gadis berbaju biru itupun diam-diam berseru.

"Wouw... hebat betul tenaga pukulan orang ini! "

Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya dan berpekik amat nyaring, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan...

"Weess!"

Sebuah pukulan dahsyat langsung dibabat ke tubuh gadis berbaju biru itu.

Gerak serangan yang dilancarkan inipun dilakukan dengan suatu gerakan yang sangat aneh dan luar biasa, di mana angin pukulannya dilepaskan, angin pukulan yang bagaikan gulungan ombak raksasa di tengah samudra langsung menggulung ke muka.

Melihat datangnya ancaman tersebut gadis berbaju biru itu berkerut kening, lengan kirinya yang halus dengan cepat menciptakan gerakan satu lingkaran busur sementara telapak tangan kanannya secepat sambaran petir meluncur ke muka dengan gerakan sakti.

Segulung hawa pukulan yang lembut dan halus, tanpa menimbulkan sedikit suara pun menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Blaaamm...!"

Suatu ledakan keras yang disertai dengan pancaran hawa murni ke empat penjuru segera menyelimuti seluruh angkasa di sekeliling tempat itu.

Sepasang bahu Ku See-hong bergetar keras, tapi kakinya sama sekali tidak bergeser dan tetap tegak di tempat semula, mukanya tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Gadis berbaju biru itu makin terkesiap setelah menyambut serangan dari Ku See-hong untuk kedua kalinya, dengan cepat dia berpikir.

"Heran, kenapa serangan yang dilancarkan orang ini makin lama semakin hebat? Padahal di dalam melepaskan serangan tadi, kugunakan tenaga dalamku sebesar enam bagian. Nyatanya sama sekali tak dapat melukai dirinya. Bukankah ia sama sekali tak mengerti akan jurus silat ketika pertarungan dilangsugkan tadi? Kenapa dua kali serangan yang terjadi sekarang ini seluruhnya menggunakan jurus-jurus tangguh yang belum pernah kujumpai dalam dunia persilatan?"

Dalam pada itu, sekulum senyuman dingin telah tersungging di ujung bibir Ku See-hong, ujarnya dengan angkuh.

"Nona betul-betul seorang tokoh sakti yang berilmu tinggi, tenaga dalam yang kau milikipun amat sempurna, harap kau sambut kembali sebuah pukulanku ini!"

Berbicara sampai di situ, pelan-pelan Ku See-hong mengangkat telapak tangan kirinya, jari tangan dilengkungkan dan...

"Hiiaaat...!"

Di ringi bentakan keras, telapak tangan kanannya diayunkan ke muka dengan cepat, menyusul kemudian telapak tangan kirinya juga didorong sampai ke tengah jalan.

Angin pukulan 147 yang maha dahsyat, ibaratnya gumpalan awan di angkasa dengan cepat menyelimuti seluuh tempat dan menggulung tiba dengan hebatnya.

Gadis berbaju biru itu amat terperanjat, bagaikan angin puyuh tubuhnya berputar kencang, hawa pukulan yang lembut segera memancar keluar dari sekeliling tubuhnya.

Di tengah gulungan angin pukulan yang berpusing, tiba-tiba berkumandang suara benturan nyaring..."

Bluuuk!

Bluuuk!

Bluuuk!

Tahu-tahu hawa pukulan kedua belah pihak sama-sama lenyap tak berbekas.

Terkesiap sekali gadis bebaju biru itu menghadapi kemampuan Ku See-hong yang luar biasa itu, sebab.

penambahan tenaga dalam, perubahan gerakan, serta kemunculan jurus serangan dari si anak muda itu hakekatnya melanggar kebiasaan dunia persilatan.

Atau mungkin dia adalah seorang manusia licik yang berakal busuk, pandai merahasiakan diri serta berilmu silat tinggi?

Berpikir demikian, mencorong sinar pembunuhan dari balik matanya yang jeli, ujarnya kemudian dengan suara dingin.

"Orang she Ku, rupanya kau adalah manusia licik, berakal busuk dan pandai merahasiakan diri. Hmm, malam ini jangan harap kau bisa lolos dari cengkeraman nonamu!"

Kemudian diiringi hentakan keras serunya kembali.

"Orang she Ku, sambutlah sebuah serangan dari nonamu!"

Di tengah seruannya, dengan menghimpun tenaganya sebesar sepuluh bagian, gadis berbaju biru itu mengayunkan sepasang tangannya ke depan.

Serangan ini dilancarkan dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, tentu saja hebatnya luar biasa.

Begitu pukulan dilepaskan, tenaga pukulan yang dahsyat seperti angin puyuh segera menggetarkan pepohonan siong yang berada beberapa kaki jauhnya dari sana.

Hampir sekujur badan Ku See-hong diselimuti oleh tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan ambruknya bukit Tay-san itu, boleh dibilang tak setitik celah kosongpun yang berhasil ditemukan.

Di kala Ku See-hong melancarkan serangan untuk ketiga kalinya tadi, sesungguhnya isi perut pemuda itu sudah digetarkan oleh serangan lawan, tapi dasar keras kepala, dia segan menunjukkan kelemahan di hadapan orang.

Buru-buru hawa murninya disalurkan untuk mengendalikan gejolak hawa murni di dalam hatinya kemudian setelah pusatkan pikirannya, dia bersiap-siap melancarkan kembali serangannya.

Maka tergetarlah perasaannya setelah mendengar perkataan dari gadis itu.

Tapi pihak musuh tidak memberi kesempatan lagi baginya untuk berpikir panjang, tenaga pukulan yang menggetarkan hati itu sudah menggulung tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Kali ini sepasang telapak tangan Ku See-hong juga ditolak keluar dengan sejajar dada.

Ku See-hong hanya merasakan tenaga tekanan yang menimpa tubuhnya kali ini ibaratnya bukit Tay-san yang menindih kepala.

Sekujur badannya tergetar keras oleh tenaga tekanan hawa pukulan itu sehingga hawa darahnya bergolak keras.

Seketika itu juga badannya terlempar ke udara dan melayang sejauh dua kaki lebih dari tempat semula, tapi ia masih sempat melayang turun di atas tanah dengan selamat tanpa menderita luka apapun.

Tertegun gadis berbaju biru itu sehingga untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, dia benar-benar mengira sudah bertemu dengan setan.

Dengan tenaga pukulannya yang mencapai sepuluh bagian itu, batu berada seratus langkah di hadapannya pun akan hancur menjadi bubuk, kenapa pemuda itu tidak menderita luka apa-apa?

Kepandaian macam apakah itu?

Pelbagai ingatan dengan cepat berkecamuk dalam benak gadis berbaju biru itu, sementara tubuhnya di ringi bentakan nyaring segera menerjang ke hadapan Ku See-hong, sepasang telapak tangannya bagaikan kupu-kupu yang menari di antara aneka bunga, menimbulkan pusaran angin berpusing yang amat kencang.

Dengan cepat gerakan tubuhnya juga ikut berkembang, perubahan yang aneh bermunculan berulang-ulang, angin pukulan tajam bagaikan pisau.

Serangan yang dilancarkan juga semuanya mengancam bagian-bagian mematikan di tubuhnya, serangan itu begitu ganas, buas dan keji.

Pada mulanya Ku See-hong benar-benar kena didesak sehingga harus berputar kian kemari dengan repotnya, dia harus mempergunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang sangat lihay itu untuk berkelit dan menghindar kesana kemari, tapi kemudian jurus sakti mulai bermunculan, makin bertarung semakin mantap.

Kenyataan ini segera menimbulkan pelbagai kecurigaan dan tidak habis mengerti buat orang lain.

Sesungguhnya akibat dari pertarungan yang dikobarkan si nona berbaju biru itu serta ejekan dan cemoohan yang dilontarkan olehnya pada malam ini, hakekatnya telah menggali sumber ilmu silat maha sakti yang bakal dimiliki oleh Ku See-hong di kemudian hari.

Ternyata, di kala Ku See-hong terkena ilmu Cui-khi-jian-hiat dari si nona berbaju biru sehingga mengakibatkan jalan nadinya tercengkeram dan merasakan siksaan akibat mengalir terbaliknya peredaran darah....

Pemuda yang keras hati ini segera memeras otaknya dan berusaha untuk menemukan cara untuk memecahkan keadaan tersebut.

Diapun lantas mengasah otaknya dan berusaha untuk memecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Siapa tahu, begitu otaknya berputar, Ku See-hong segera menemukan bahwa jurus serangan itu hampir boleh dibilang mengandung pelbagai gerakan jurus silat yang sangat tangguh, setiap gerakannya mengandung arti yang dalam dan perubahan yan tak terhitung jumlahnya.

Pada dasarnya Ku See-hong memang seorang lelaki yang tergila-gila oleh ilmu silat, setelah mengetahui rahasia tersebut ia menjadi 150 terkesima dan segera terlelap dalam pemikiran yang mendalam.

Untuk sesaat lamanya diapun melupakan penderitaan akibat dari aliran darahnya yang membalik....

Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Ku see-hong berhasil memahami pula beberapa jurus serangan aneh dari balik ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Mendadak si anak muda itupun merasakan munculnya segulung aliran hawa panas dan dingin dari dalam pusarnya.

Seketika itu juga aliran darahnya yang membalik segera menjadi tenang kembali.

Maka Ku See-hong lantas mengeluarkan ilmu gerakan aneh yang barusan dipecahkan itu untuk meronta lepas dari cengkeraman gadis berbaju biru itu.

Perlu diketahui, Bun-ji koan-su Him C i Seng adalah seorang manusia yang berotak brilian dan lihay.

Semenjak lima puluh tahun berselang ia sudah amat lihay, apalagi setelah memperoleh kitab pusaka Cang-ciong pit-kip serta memahami isi dari kitab tersebut.

Dua puluh tahun berselang, dia mengalami suatu musibah yang merupakan tragedi paling besar dalam hidupnya.

Dalam keadaan sedih dan putus asa, sepanjang hari dia hanya memperdalam ilmu yang diperolehnya dari kitab Cang-ciong pit-kip tersebut untuk menghabiskan waktu senggang.

Setiap waktu dia selalu melatih ilmu tenaga dalam tingkat tingginya.

Oleh sebab itu, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang beberapa kali lipat lebih dahsyat dibandingkan dengan lima puluh tahun berselang ketika ia baru pertama kali terjun ke dunia persilatan dulu.

Ketika Ku See-hong masuk ke dalam kuil kuno itu, dalam sekilas pandangan saja ia sudah tertarik kepada pemuda itu, dia bertekad untuk melatih si anak muda itu agar menjadi sekuntum bunga aneh dalam dunia persilatan pada seratus tahun belakangan ini.

Maka Bun-ji koan-su lantas mempergunakan semburan api dari inti bumi, guyuran air sejuk dari sumber bawah tanah dan pukulan tongkat untuk menembusi semua nadi penting di seluruh tubuh Ku See-hong agar dia bisa memperoleh keadaan bagaikan berganti tulang saja.

Selain kemudian ia wariskan ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yang luar biasa itu kepadanya, selanjutnya Bun-ji koan-su juga tak segan-segannya menggunakan cara Tiong-giok-tay-hoat untuk menyalurkan segenap tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun ke tubuh Ku See-hong yang berakibat dia harus mati kekeringan.

Sebaliknya gadis berbaju biru itupun memiliki serangkaian ilmu silat yang lihay sekali.

Sejak pertarungan pertama kali tadi, ia sudah dibuat terkejut oleh kemampuan Ku See-hong, ia merasa tenaga pukulan musuh makin lama semakin tangguh jurus serangan yang dipakai juga makin lama semakin aneh.

Yang lebih terkesiap lagi adalah daya tahan Ku See-hong terhadap tenaga serangan, walaupun setiap pukulan mautnya selalu berhasil menghajar telak di tubuh lawan, namun si anak muda itu masih tetap sehat wal'afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Kenyataan tersebut segera menimbulkan berbagai pikiran dalam benaknya.

Mungkinkah Ku See-hong adalah jelamaan dari sukma gentayangan atau setan iblis?

Ku See-hong sendiri, walaupun diam-diam, merasa terperanjat sekali oleh kepandaian sakti yang dimiliki gadis berbaju biru itu, tapi dia yakin memiliki beberapa macam kepandaian sakti yang dapat melindungi keselamatan jiwanya hingga tidak sampai mati dibunuh.

Maka di samping ia layani serangan-serangan musuh yang gencar dan dahsyat, diam-diam dia pun berusaha mengupas jurus-jurus ampuh yang lebih mendalam dari gerakan Hoo-han-seng-huan tersebut.

Setiap kali ia berhasil memahami satu jurus serangan, segera dipraktekkan terhadap gadis berbaju biru itu, yang mana memaksa gadis tersebut harus mengerahkan tenaga yang amat besar untuk meloloskan diri.

Sekarang, bukan saja Ku See-hong sama sekali tidak mendendam terhadap gads berbaju biru itu, sebaliknya ia merasa berterima kasih 152 sekali kepadanya, dia bersedia melangsungkan terus pertarungan sengit itu selama mungkin.

Dalam pada itu waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, suasana di depan kuil kuno itu tetap di puti oleh keseraman, kengerian dan keheningan.

Di tengah bunyi pohon yang terhembus angin, tertiup juga pusaran angin kencang yang menderu-deru.

Di tengah berkobarnya pertempuran sengit itu, dari arah timur mendadak muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Sungguh cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Hanya dalam sekejap mata saja, seperti sukma gentayangan ia sudah tiba di bawah sebatang pohon.

Sepasang matanya yang tajam mengawasi tak berkedip gadis baju biru dan Ku See-hong yang sedang bertanding sengit.

Sinar aneh memancar keluar dari balik matanya.

Mendadak orang di bawah pohon itu mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suaranya nyaring seperti pekikan naga yang menjulang hingga ke udara dan memecahkan keheningan malam.

Sungguh teramat sempurna tenaga dalam yang dimiliki orang itu, hal mana bisa dibuktikan dari suara pekikannya yang nyaring itu.

Baru saja pekikan itu berkumandang, pekikan lain bersahut-sahutan dari empat penjuru dan bergema tiada hentinya.

Kalau didengar dari suaranya jelas jumlah mereka tidak sedikit.

Dalam waktu singkat suara pekikan yang bergema dari empat penjuru itu bergema makin lama semakin mendekati, menyusul kemudian empat sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa bermunculan dari empat arah delapan penjuru dan menuju ke samping bayangan manusia tadi....

Sejak kedatangan bayangan manusia yang pertama tadi, gadis berbaju biru itu sudah merasa.

Tiba-tiba sepasang telapak tangannya melancarkan sebuah serangan dengan jurus yang aneh sekali, yang mana memaksa Ku See-hong mundur tujuh delapan langkah dari posisi semula.

Kemudian sambil memutar biji matanya dan tersenyum manis kepada Ku See-hong, katanya lembut.

"Orang she Ku, kau jangan melulu gunakan aku seorang untuk teman latihan, tuh lihat. Sudah ada banyak jago yang datang menggantikan aku, berilah kesempatan bagiku untuk beristirahat."

Gadis berbaju biru itu adalah seorang gadis yang amat cerdik, tentu saja diapun tahu kalau Ku See-hong telah memanfaatkan kesempatan pertarungan itu untuk melatih ilmu silatnya.

Justru karena itu, gadis berbaju biru itu tidak melancarkan serangan yang mematikan terhadap dirinya, kalau tidak...

dengan kepandaian yang dimiliki Ku See-hong sekarang ini, masih bukan tandingan dari gadis tersebut.

Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu.

Diam-diam pikirnya.

"Tabiat dari gadis ini sungguh aneh dan sukar diraba, sebentar ia bersikap bermusuhan sebentar lagi ia bersikap bersahabat. Entah apa maksud hatinya yang sebenarnya? Kalau didengar dari perkataannya barusan, rupanya ia sudah tahu kalau kugunakan kesempatan dalam pertarungan tadi untuk mengupas kepandaian silatku."

Setelah berpikir sampai di situ, dengan wajah tetap dingin bagaikan salju, Ku See-hong tertawa dingin, katanya.

"Terima kasih banyak atas maksud baik nona, seandainya pendatang itupun bermaksud untuk mencari gara-gara dengan aku orang she Ku, tentu saja akan kugunakan diri mereka sebagai kelinci percobaan."

Baru selesai dia berkata, dari balik kegelapan terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin.

"Budak setan, kau betul-betul seorang perempuan liar yang tidak beres perangainya. Lagi-lagi kau menggaet lelaki gentong nasi pada malam ini, heeehh... heeehh.... Malam ini lohu pasti akan mengirim kau untuk berpulang ke akhirat."

Ku See-hong segera mendengus gusar, katanya dengan nada menghina.

"Saudara, caramu berbicara sangat kasar dan tak tahu diri, tampaknya kau sudah bosan hidup."

Gelak tertawa nyaring bagaikan gembrengan bobrok yang berdentang menggema di angkasa, kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara menyeramkan.

"Kalau begitu, kau tentunya seorang yang bertulang keras. Baik, lohu akan mencoba kemampuanmu."

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, dari balik kegelapan berjalan keluar seorang kakek tua berjubah panjang, berperawakan pendek kecil dan bermuka panjang.

Ia bertangan kosong, jenggot putihnya sepanjang setengah jengkal dan menatap sekujur badan Ku See-hong dengan sinar mata tajam.

Di belakang kakek kecil bermuka panjang itu mengikuti empat orang lelaki berbaju ringkas yang masing-masing menggondol sebilah pedang di punggungnya.

Sesudah mengetahui jelas siapa gerangan yang datang, gadis berbaju biru itu segera tertawa terkikik-kikik.

"Aku kira siapa yang telah datang? Rupanya lagi-lagi kalian anak monyet dari Lam-hay-huan-mo-kiong. Apakah lelaki busuk itu yang memerintahkan kalian untuk datang menangkapku?"

Kakek ceking bermuka panjang itu mendehem beberapa kali, kemudian sahutnya sambil tertawa.

"Aaah, terlalu sungkan, asal nona Im Yan cu bersedia balik kembali ke rangkulan sau-kiongcu kami, tentu saja kami tak akan menyusahkan dirimu, kalau tidak terpaksa akan kami taklukkan dirimu dengan mempergunakan kekerasan."

Paras muka Im Yan cu atau gadis berbaju biru itu segera berubah menjadi dingin seperti es. Dengan kening berkerut dan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, ia berkata dengan dingin.

"Kau boleh pulang dan beritahu kepada lelaki busuk itu, jangan dianggap karena bapaknya adalah saudara seperguruan dari guruku lantas dia mau main paksa. Huuuh, jika nonamu sampai naik pitam, tidak sungkan lagi akan kubasmi kalian semua dari muka bumi."

Kakek ceking bermuka panjang itu tertawa dingin, katanya.

"Baik soal wajah maupun dalam hal kedudukan, bagaimanakah dari siau-kongcu kami yang tidak pantas untuk mendampingimu? Hmmm! Apakah kau sudah jatuh hati kepada lelaki goblok itu?"

Sembari berkata dengan sorot matanya yang tajam penuh kebencian, kakek ceking itu berpaling ke arah Ku See-hong.

Sebagai seorang pemuda yang cerdik, setelah mendengar pembicaraan tersebut Ku See-hong segera mengetahui hubungan apakah yang terjalin antara Im Yan cu, si gadis cantik itu dengan orang-orang tersebut.

Selain dari pada itu diapun merasakan hatinya amat terkesiap, sebab semenjak lima puluh tahun berselang, istana Huan-mo-kiong di Lam-hay sudah amat tersohor namanya di dalam dunia persilatan.

Anggota Huan-mo-kiong tak pernah melakukan perjalanan di antara Tionggoan.

Konon ilmu silat merekapun terhitung suatu kepandaian manunggal yang memiliki jurus-jurus serangan yang luar biasa anehnya.

Sementara itu, Im Yan cu telah mengerling sekejap ke arah Ku See-hong dengan sinar mata yang lembut dan penuh perasaan cinta kasih, kemudian kepada kakek ceking tadi katanya sambil tertawa.

"Kalau benar, mau apa kau? Nonamu memang benar-benar telah jatuh hati kepadanya, kau boleh segera pulang dan laporkan persoalan ini kepada sau-kiongcu kalian."

Mendadak....

Serentetan suara dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan.

Dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat bagaikan sambaran kilat kakek ceking itu melayang ke samping Ku See-hong, kemudian kedua jari telunjuk dan jari tengah 156 tangan kanannya dengan kecepatan tinggi menotok jalan darah C i-ciat-hiat di tubuh pemuda itu, sementara kelima jari tangan kirinya mencengkeram ke arah urat nadi lawan.

Serangan ini bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, dan lagi arah serangan adalah dua buah jalan darah penting di tubuh lawan....

Dalam terperanjatnya, secepat kilat Ku See-hong membalikkan badannya, telapak tangan kanan dibalik kemudian langsung membabat pergelangan tangan kakek ceking tersebut.

Ilmu silat yang dimiliki kakek ceking itu memang luar biasa sekali, dengan cepat pergelangan tangan kanannya ditarik ke belakang menghindarkan diri dari bacokan tangan Ku See-hong, kemudian secara tiba-tiba ia menerjang ke depan dengan sodokan jari dan sodokan sikut.

Dua serangan dilancarkan berbareng, kemudian menyusul pula kaki kanannya melayang ke depan menghajar jalan darah toa-hek-hiat di bawah pusar Ku See-hong.

Sejak pertarungan serunya melawan Im Yan cu tadi, sudah banyak jurus serangan aneh yang berhasil dipahami Ku See-hong.

Dengan cekatan dia miringkan badannya ke samping menghindari sikutan kakek ceking itu, kemudian bukannya mundur dia malah maju lebih ke depan.

Kedua jari tengah dan telunjuk tangan kanannya diayunkan ke muka menotok badan kakek ceking itu, sementara kaki kanannya diangkat dan menendang ke muka, dengan ujung kakinya dia menotok jalan darah Hu-lian-hiat di atas badan lawan.

Dalam istana Huan-mo-kiong di Lam-hay, kakek ceking tersebut mempunyai kedudukan yang tinggi sekali, ilmu silat yang dimilikinya pun belum pernah menemui tandingan.

Tapi tidak disangka olehnya kalau Ku See-hong memiliki ilmu silat sedemikian lihaynya.

Saking kaget dan terkesiapnya dia sampai mundur dua langkah ke belakang.

Im Yan cu yang menonton jalannya pertarungan tersebut, diam-diam menganggukkan kepalanya, selintas rasa girang yang sangat aneh menghiasi wajahnya.

Walaupun beberapa jurus serangan yang dilakukan oleh kedua orang itu dalam melangsungkan pertarungan jarak dekat tak tampak kehebatannya, tapi dalam pandangan mata seorang yang ahli, justru jauh lebih seru dan berbahaya daripada pertarungan apapun.

Pertempuran itu pada hakekatnya merupakan suatu pertempuran yang mempengaruhi mati hidup mereka.

Sedemikian cepatnya perubahan jurus tersebut, hingga pertarungan tersebut hanya berlangsung dalam beberapa detik saja....

Di kala si kakek ceking itu mundur ke belakang, lelaki berbaju hitam yang berdiri di empat penjuru itu ada dua di antaranya yang segera meloloskan pedang dan menyerang.

Di antara kilatan cahaya tajam yang berkilauan, tampak dua bilah pedang itu menyerang jalan darah penting di seluruh badan Ku See-hong.

Dengan cepat Ku See-hong menggerakkan kakinya sambil berputar untuk meloloskan diri dari ancaman pedang itu, kemudian sambil membentak keras tangan kirinya diayun ke depan.

"Weeess..."

Sebuah pukulan dahsyat dibacokkan ke tubuh lelaki baju hitam yang berada di sebelah kanan, segulung angin puyuh yang disertai dengan desingan angin tajam langsung meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

"Blaaamm..."

Diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, lelaki kekar itu terbawa oleh angin serangan yang maha dahsyat tersebut sehingga mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.

Darah segar muncrat keluar dari mulutnya, setelah kaki tangannya gemetar keras, tewaslah orang itu dalam keadaan mengenaskan.

Termangu-mangu Ku See-hong menyaksikan peristiwa itu, dia tak menyangka kalau ayunan telapak tangannya yang begitu sederhana ternyata berhasil membinasakan musuhnya.

00d~w00 Bab SUARA bentakan gusar menggelegar memecahkan keheningan.

Lelaki yang satunya itu segera menggerakkan pedangnya menciptakan bertitik-titik cahaya bintang yang berkilauan, secara ganas dia menusuk punggung Ku See-hong keras-keras.

Begitu mendengar suara desingan tajam bergema dari belakang, dengan cepat Ku See-hong berpaling.

Ternyata ujung pedang yang berkilauan itu sudah tinggal tiga inci dari atas badannya.

Dalam gelisah dan cemasnya telapak tangan kirinya segera dilontarkan ke belakang kemudian badannya berputar kencang, tangan kanannya dengan gerakan yang cepat tapi aneh mencengkeram pergelangan tangan kanan lelaki tadi.

Dalam suatu perputaran yang di kuti dengan getaran, pedang tersebut tahu-tahu sudah berpindah tangan.

Gerakan tubuh Ku See-hong ketika menghindarkan diri tadi merupakan gerakan yang sakti dari Mi-khi-biau-tiong, sedangkan jurus serangan yang digunakan untuk merampas pedang lelaki tersebut merupakan suatu jurus serangan yang belum lama berhasil dipahami olehnya.

Lelaki berbaju hitam itu hanya merasakan pergelangan tangan kanannya menjadi sakit, tahu-tahu pedangnya sudah berpindah ke tangan musuh.

Tanpa terasa dengan perasaan terkesiap dia mundur ke belakang.

Selisih waktu yang dibutuhkan Ku See-hng untuk membunuh seorang musuh dan merampas pedang seorang lawannya boleh dibilang singkat sekali, sebab itulah si kakek ceking yang berilmu silat sangat lihay pun tidak sempat memberikan pertolongannya.

Mencorong sinar mata bengis dan buas dari balik mata kakek ceking itu, sambil tertawa seram dengan penuh kegusaran, katanya.

"Tampaknya ilmu silatmu hebat juga. Hmmm! Cuma sayang kau telah membunuh seorang anggota Huan-mo-kiong dari Lam-hay, jangan harap kau bisa hidup lebih lama lagi di dunia ini."

Walaupun Im Yan cu merasa girang karena ilmu silat yang dimiliki Ku See-hong telah memperoleh kemajuan yang pesat, namun diapun merasa terperanjat sekali karena pemuda itu telah membunuh seorang anak murid dari Huan-mo-kiong.

Dia cukup mengetahui akan kebuasan serta kekejaman orang-orang Lam-hay, itu berarti dalam pengembaraannya dalam dunia persilatan di kemudian hari, Ku See-hong akan banyak menemui kesulitan di tangan anak murid istana Huan-mo-kiong.

Ku See-hong yang baru pertama kali mencoba kehebatan ilmu silatnya, menjadi girang sekali setelah menyaksikan keberhasilannya.

Mendengar perkataan itu, sambil tertawa seram, ujarnya.

"Apa sih hebatnya dengan Huan-mo-kiong dari Lam-hay? Aku orang she Ku akan selalu menantikan pembalasan dendam dari kalian."

Selama puluhan tahun belakangan, belum pernah pihak Huan-mo-kiong mengalami penghinaan sebesar apa yang dialaminya sekarang ini, maka di kala menyaksikan sikap sinis Ku See-hong terhadap orang-orang Huan-mo-kiong, kontan saja kedua orang lelaki berbaju hitam lainnya menjadi naik pitam.

Sambil membentak keras, pedang mereka disertai dengan desingan angin tajam yang menyayat badan, bagaikan dua ekor ular sakti langsung membacok ke tubuh Ku See-hong.

Mencorong sinar mata pembunuhan yang mengerikan dari balik mata Ku See-hong, di ringi pekikan nyaring yang memekikkan telinga, badannya menerjang maju secara aneh.

Sepasang lengannya membentuk gerakan bayangan busur dari samping badan, lalu sambil membentak sepasang tangan kiri kanannya dibacok menyilang.

Dua gulung angin pukulan yang berat dan dalam bagaikan samudera, secara terpisah menyerang kedua orang lelaki berbaju hitam itu.

Gerak serangan yang dilancarkan pemuda itu semuanya aneh dan luar biasa cepatnya.

Kekuatan daya serangan tersebut ibaratnya 160 ombak samudra yang menggulung di tengah topan, kehebatannya sungguh mengerikan.

Walaupun kedua orang lelaki berbaju hitam itu memiliki dasar ilmu silat yang bagus, namun bagaimana mungkin bisa menahan serangan dahsyat yang sangat mengerikan itu.

Di tengah dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati, dua orang lelaki yang tinggi besar itu terlempar sejauh dua kaki lebih oleh tenaga serangan yang maha dahsyat itu sehingga tubuhnya sama sekali tak berkutik lagi untuk selamanya.

Jelas mereka telah tewas di ujung angin pukulan Ku See-hong yang sangat lihay itu.

Hawa pembunuhan yang sangat mengerikan ini sudah jelas merupakan suatu ancaman yang cukup mengerikan perasaan siapa saja.

Tak terlukiskan rasa gusar si kakek ceking ketika dilihanya sudah tiga orang anak buahnya yang tewas di tangan musuh dalam sekejap mata.

Sambil membentak gusar tubuhnya bagaikan pusaran angin puyuh segera menerjang ke depan, tangan kiri memainkan jurus Tui-po-cu-lan (Mendorong Ombak Menahan Riak), sementara tangan kanan memainkan jurus Heng-toan-san-gak (Memutuskan Bukit Karang), satu jurus dengan dua gerakan serta tenaga yang berbeda bersama-sama meluncur ke muka.

Begitu angin serangan dilepaskan, angin puyuh yang tajam seperti sebuah jala yang tak berwujud, langsung menggulung tiba.

Kedahsyatannya cukup menggetarkan perasaan siapa saja.

Walaupun Ku See-hong telah mempelajari beberapa macam kepandaian sakti yang penuh rahasia dari Bun-ji koan-su, meski pertarungannya selama beberapa kali dalam semalaman menambah rasa kepercayaannya pada diri sendiri, tapi ia sendiri sama sekali tidak mengerti sebetulnya sudah berapa banyak kepandaian yang berhasil dia pahami dan berapa banyak pula yang bisa dia pergunakan.

Hawa murninya segera dihimpun ke dalam pusar, menyaksikan serangan yang dilancarkan pihak lawan sangat kuat dan dahsyat, 161 dia sedikitpun tak berani bertindak gegabah.

Tangan kirinya pun melepaskan segulung tenaga pukulan yang lembut untuk memancing serangan langsung pihak musuh, sementara tubuhnya melayang lima jengkal ke samping menghindarkan diri dari ancaman itu.

Lalu badannya melambung, sepasang kakinya secara beruntun melancarkan tendangan kilat mengancam jalan darah W-too-hiat serta Ki-lian-hiat di bawah perut lawan.

Begitu serangan menggulung tiba, tenaga pukulan serasa menekan di dada, lalu tulang kakipun terasa sakit sekali bagaikan disyat-sayat dengan pisau.

Diam-diam Ku See-hong merasa terperanjat, segera pikirnya.

"Tubuhku terlindung oleh aliran tenaga aneh yang amat hebat, sedangkan kakiku sama sekali tidak. Entah bagaimana jadinya bila kakiku sampai terkena serangan...?"

Mendadak dia menarik kembali sepasang kakinya, lalu badan sedikit bergetar.

Badannya sudah jumpalitan di tengah udara dan melayang mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

Kakek ceking itu mendengus dingin dengan nada yang menyeramkan, sambil berebut maju ke depan, sepasang telapak tangannya melancarkan bacokan berulang kali.

Gulungan tenaga pukulannya seperti gulungan ombak di tengah samudera meluncur datang berlapis-lapis.

Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong karena marah, sambil menggertak gigi tangan kiri kanannya secara aneh melancarkan pukulan-pukulan berantai.

Ternyata kedahsyatannya pun mengerikan sekali, setiap serangan yang dilepaskan tentu membawa desingan angin tajam yang mampu untuk menghancurkan batu nisan.

Sebagaimana diketahui, secara resmi Ku See-hong belum pernah mempelajari serangkaian ilmu pukulan.

Jurus-jurus serangan yang dipergunakannya sekarang kebanyakan adalah merupakan kupasan-kupasan yang berhasil ditemukannya sendiri dari tiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Akan tetapi, nyatanya serangan yang dipergunakan secara mengawur hanya berdasarkan perasaan saja itu, justru telah berubah menjadi serangkaian ilmu pukulan yang ganas, buas dan lihaynya bukan alang-kepalang....

Pada waktu itu, dia telah mendapatkan tenaga murni warisan Bun-ji koan-su yang telah dilatih selama puluhan tahun, kemudian mempelajari pula ilmu Khikang Kan-kun Mi-siu yang maha sakti tersebut, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang mengalir tiada hentinya seperti air dari gunung, kuat, lancar dan tiada berputusan....

Kenyataan ini bukan saja jauh di luar dugaan si kakek ceking tersebut, sekalipun Ku See-hong juga merasakan rasa kaget dan tercengang.

Ia tak mengira kalau di dalam tubuhnya terdapat tenaga dalam yang begini sempurnanya.

Akan tetapi, diapun tahu bahwa kesemuanya ini adalah warisan berharga yang disalurkan Bun-ji koan-su kepadanya.

Kiranya sampai detik itu Ku See-hong masih belum tahu kalau tenaga murni yang dipunyai Bun-ji koan-su telah disalurkan semua ke dalam tubuhnya hingga mengakibatkan tokoh maha sakti itu tewas akibat kekeringan.

Demikianlah serangan demi serangan yang dilancarkan Ku See-hong kian lama kian bertambah kuat, dibandingkan dengan serangan si kakek ceking yang makin lama semakin gencar menciptakan suatu keadaan yang seimbang.

Dengan demikian pertempuran yang melibatkan kedua orang inipun makin lama semakin sengit.

Beberapa gebrakan kemudian, tenaga pukulan mereka berdua sudah meliputi wilayah seluas dua kaki lebih.

Daun kering dan ranting kecil yang berserakan di tanah sudah ikut melayang-layang di udara, deruan angin pukulan yang dahsyat semakin memekikkan telinga.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertempuran seru yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Im Yan cu yang berilmu silat sangat tinggi pun, saat itu dibikin kaget bercampur tercengang setelah menyaksikan kejadian itu.

Dari tadi sampai sekarang dia mengawasi terus kepandaian silat yang dimiliki Ku See-hong, yang membuatnya terperanjat adalah kungfu yang dimiliki Ku See-hong tersebut kian detik kian bertambah maju pesat.

Kenyataan semacam ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang aneh sekali, hal mana membuat si nona yang cerdik pun dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti.

Ketika baru pertama kali berputar tadi, Ku See-hong masih kelihatan asing sekali dengan jurus-jurus serangannya.

Sambil bertarung menghadapi musuh, diam-diam dia memutar otak untuk memikirkan perubahan-perubahan selanjutnya guna menghadapi ancaman lawan.

Tapi lambat laun serangan-serangan yang dipergunakan olehnya makin lama semakin dahsyat, jurus-jurus serangannya pun semakin aneh dan sakti, maka seluruh perhatiannya pun segera dipusatkan ke tubuh lawan, otomatis tenaga serangannya juga semakin bertambah kuat dan hebat.

Sebenarnya kakek ceking itu seorang jago kawakan yang sudah pernah mengalami beratus-ratus kali pertempuran seru.

Akan tetapi belum pernah dia jumpai seorang musuh tangguh yang begitu anehnya seperti Ku See-hong.

Tanpa terasa hawa murninya dihimpun kembali, lalu turun tangan dengan sepenuh tenaga.

Mendadak saja tenaga serangan yang terpancar keluar dari balik telapak tangannya semakin kuat.

Pukulan demi pukulan yang dilancarkan ibarat bacokan kampak yang membelah bukit, desingan angin tajam semakin menderu-deru.

Dalam hati kecilnya dia lantas berpikir.

"Entah siapakah suhu bocah ini? Mungkinkah seperti suhu kiongcu kami dan Im Yan cu yang merupakan seorang tokoh sakti dari dunia persilatan? Tapi masih ada jagoan mana lagi dalam dunia persilatan dewasa ini yang memiliki kepandaian silat jauh melebihi kiongcu kami, Han-thian It-kiam (Pedang Sakti Dari Langit) C ia Cu-kim?"

Sambil melayani suatu pertempuran yang seru dan gencar, tiada hentinya kakek ceking itu memutar otak untuk menduga-duga asal-usul perguruan dari Ku See-hong.

Tapi mana ia sangka kalau Ku See-hong sesungguhnya adalah murid terakhir dari Bun-ji koan-su, si manusia berbakat dari dunia persilatan yang selama seratus tahun belakangan ini tiada tandingannya di kolong langit?

Sudah barang tentu hubungan seperti ini tak akan diduga oleh siapapun juga, kecuali bila Ku See-hong menggunakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Ku See-hong sendiripun diam-diam merasa amat terperanjat ketika dilihatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan makin lama semakin gagah dan tenaga pukulannya makin lama semakin dahsyat, pikirnya.

"Heran, kakek ceking yang sedikitpun tidak menarik ini mengapa bisa memiliki tenaga pukulan yang sedemikian dahsyat dan hebatnya?"

Berpikir sampai di situ, Ku See-hong lantas mengambil keputusan untuk menghadapi dengan jurus sakti Hoo-han-seng-huan yang terdiri dari tiga gerakan itu.

Di pihak lain, sementara itu si kakek ceking juga bersiap-siap menggunakan jurus serangan yang mematikan untuk membinasakan lawannya.

Terdengar suara bentakan nyaring menggelegar memecahkan keheningan, tiba-tiba tulang belulang di sekujur badan si kakek ceking itu memperdengarkan suara gemerutuk yang memekikkan telinga.

Setelah melompat ke udara mendadak tubuhnya berhenti tak bergerak, tangan kanannya secara aneh melancarkan tiga buah pukulan dahsyat ke arah Ku See-hong.

Tampak serentetan cahaya berkilauan seperti sinar bintang menggulung dengan hebatnya ke arah depan.

Segulung hawa pukulan yang kuat, bagaikan gulungan ombak dahsyat di tengah samudra langsung meluncur ke depan....

Satu ingatan dengan cepat melintas di dalam benak Ku See-hong, itulah gerakan pertama dari jurus Hoo-han-seng-huan yang disebut Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung).

Pekikan nyaring yang menggetarkan angkasa tiba-tiba berkumandang dari mulut Ku See-hong, kemudian lengannya berputar secara aneh.

Di antara perputaran tadi, cahaya tajam yang berkilauan segera memancar keluar dari sekujur badannya.

Bagaikan sukma gentayangan saja, secara aneh Ku See-hong menerjang ke muka dan meluncur masuk ke balik gulungan angin pukulan tersebut.

"Sreeett,"

Serentetan cahaya putih secepat kilat meluncur ke depan.

Menyusul kemudian, kakek ceking itu memperdengarkan pekikan ngeri yang memilukan hati menjelang saat kematiannya.

Sebuah batok kepala yang sudah hancur dan penuh berlepotan darah menggelinding di atas tanah, darah segar bercucuran membasahi seluruh permukaan tanah, sungguh mengerikan sekali kematiannya.

Menyaksikan akibat dari serangannya itu, untuk sesaat lamanya Ku See-hong menjadi tertegun, mimpipun dia tak menyangka kalau jurus Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung) yang dipergunakannya itu memiliki daya kekuatan yang begini dahsyatnya.

Im Yan cu sendiripun dibikin sampai terbelalak matanya dengan mulut melongo sampai lama sekali dia baru bisa menghembuskan napas panjang.

Kekejaman dan kebrutalan Ku See-hong di dalam melancarkan serangannya menimbulkan perasaan bergidik dalam hati kecilnya, apalagi dalam satu malaman saja, ia telah membinasakan beberapa orang jago lihay kelas satu di dalam dunia persilatan.

Pada saat itulah, mendadak....

Dari kejauhan sana berkumandang suara pekikan panjang yang amat memekakkan telinga.

Suara pekikan itu rendah tapi berat, menggetarkan perasaan Im Yan cu maupun Ku See-hong yang berada di sana.

Menyusul kemudian, tampaklah sesosok bayangan manusia entah dari mana datangnya, tahu-tahu sudah berdiri lebih kurang tiga kaki di hadapan Ku See-hong tanpa menimbulkan suara barang sedikitpun juga.

Orang itu mengenakan pakaian serba hitam, mukanya coreng-moreng dengan beraneka warna hingga kelihatan jelek sekali.

Dia berdiri kaku di situ tanpa bergerak maupun mengucapkan sepatah kata.

Bukan saja dandanan orang itu tampak sangat aneh lagipula arah kedatangannya juga sukar diduga, hingga mendatangkan suatu perasaan aneh yang menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya.

Bergidik hati Im Yan cu setelah menyaksikan sorot mata orang yang amat tajam, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki manusia aneh ini amat lihay, bahkan dia sendiripun belum mampu untuk menandinginya....

Tapi siapakah dia?

Benarkah dalam dunia persilatan masih terdapat manusia aneh yang begini lihaynya?

Sekali lagi Im Yan Cu mengamati paras muka manusia aneh itu dengan seksama, akhirnya dia baru tahu kalau manusia aneh itu hanya mengenakan selembar topeng kulit manusia.

Tak heran kalau mukanya begitu jelek dan mengerikan.

Ku See-hong sendiripun segera mempertinggi kewaspadaannya ketika melihat akan kemunculan lawan yang begitu mendadak.

Perasaan halusnya telah berkata bahwa orang itu datang karena hendak mencari dirinya.

Benar juga, dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati, manusia aneh bertopeng itu mengawasi sekejap mayat-167 mayat yang terkapar di tanah akibat termakan oleh tiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong tadi, yakni.

Jian-sat-kui-pok, Tu-cing-kui-pok, serta si kakek ceking.

Pada mulanya sinar mata itu masih memperlihatkan keragu-raguannya, tapi sejenak kemudian telah berubah dengan sinar buas yang teramat mengerikan.

Diawasinya wajah Ku See-hong itu tanpa berkedip.

Im Yan cu yang lebih berpengalaman segera dapat merasakan sesuatu yang tak beres pada manusia aneh itu.

Ia dapat melihat betapa besarnya hasrat manusia aneh itu hendak membunuh Ku See-hong.

Tanpa terasa ia lantas berpikir.

"Ilmu silat yang dimiliki manusia aneh bertopeng ini bukan kepalang lihaynya, aku jelas tak sanggup untuk menandinginya. Andaikata ia benar-benar akan menyerang dengan keji terhadap Ku See-hong, kendatipun dia memiliki khikang pelindung badan yang sangat aneh, kuatirnya dia tetap tak akan tahan juga."

Berpikir sampai di situ, diam-diam Im Yan cu menghimpun tenaga dalamnya untuk mempersiapkan diri.

Tak terlukiskan rasa tegang yang mencekam perasaannya sekarang, dia sendiripun tidak mengerti apa sebabnya dia bisa ikut-ikutan menjadi sedemikian tegangnya.

Bagaimana dengan Ku See-hong sendiri?

Tentu saja diapun tidak terkecuali, malah selain rasa tegang, diapun merasakan hatinya sangat tidak tenteram.

Kemunculan manusia aneh bertopeng itu seketika merubah suasana di sekitar tempat itu menjadi lebih tegang dan mengerikan, mengikuti berlalunya sang waktu, suasana yang istimewa dan serba mencekam itu kian lama terasa kian bertambah tebal....

Mendadak manusia aneh bertopeng itu tertawa dingin dengan suaranya yang menggidikkan hati, kemudian kepada Ku See-hong tegurnya dengan nada ketus.

"Kaukah yang membinasakan ketiga orang yang terkapar di atas tanah itu?"

Yang dimaksudkan adalah ketiga orang yang tewas oleh jurus Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong itu.

Kendatipun Ku See-hong merasakan sesuatu rasa takut yang sangat aneh di dalam hati kecilnya semenjak berjumpa dengan manusia aneh bertopeng itu, tapi keangkuhan serta kekerasan kepalanya membuat ia pantang menyerah dengan begitu saja.

Dengan wajah dingin bagaikan es dia mendengus ketus, lalu jawabnya dengan sinis.

"Betul, akulah yang menghantar keberangkatan mereka, mau apa kau...?"

Tercekat perasaan manusia aneh bertopeng itu sehabis mendengar perkataan tersebut, diam-diam pikirnya.

"Aneh, kenapa dia bisa memiliki keberanian sebesar ini?"

Berpikir demikian, manusia aneh itu bertopeng itu segera mendengus dingin, lalu katanya.

"Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan Bun-ji koan-su si makhluk tua itu? Sekarang dia berada di mana?"

Secara beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan, yang mana membuat Ku See-hong benar-benar merasakan hatinya amat terperanjat, tapi dia pun merasa gusar sekali, sebab dia menyebut gurunya sebagai seorang makhluk tua.

Ku See-hong sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, malahan dengan dingin dia balik bertanya.

"Lantas siapa pula kau? Buat apa kau ajukan pertanyaan tersebut kepadaku?"

Sekali lagi manusia aneh bertopeng itu merasa terkesiap tapi di luaran dia tetap berkata dengan dingin.

"Kau tak usah mengurusi siapa aku. Sebelum ajalmu tiba nanti kau bakal mengetahui dengan sendirinya."

"Kalau begitu pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan pun jangan harap bisa memperoleh jawaban yang sebenarnya dari diriku."

Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa seram.

"Heeehh... heeehh... heeehh... buat apa mesti menunggu jawabanmu lagi?"

Ejeknya.

"Dari mimik wajahmu ketika berkata tadi, aku telah memperoleh jawaban yang sesungguhnya."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Ku See-hong berpikir lagi.

"Orang ini betul-betul jahat dan busuk, tapi siapakah orang ini?"

Sementara itu, manusia aneh bertopeng itu sudah berkata lagi dengan suara yang menyeramkan.

"Heeehh... heeehh... heeehh... Kan-kun Mi-siu khikang, ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong-sin-hoat, tiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan, rupanya sudah kau pelajari semuanya?"

Mendengar ucapan ini, Ku See-hong merasakan hatinya semakin terkesiap.

"Mungkinkah aku telah bertemu dengan setan?"

Demikian ia membatin.

"Kalau tidak apa sebabnya ia bisa mengetahui seluruh kepandaian rahasia perguruanku?"

Im Yan cu juga tampak tercengang bercampur kaget setelah mendengar perkataan itu.

Dari penuturan suhunya ia pernah mendengar tentang ketiga macam kepandaian sakti andalan Bun-ji koan-su tersebut.

Mungkinkah Ku See-hong adalah muridnya?

Dan mungkinkah ketiga macam ilmu silat maha sakti tersebut telah berhasil dipelajarinya?

Satu ingatan dengan cepat melintas pula di dalam benak Ku See-hong, ia jadi teringat kembali dengan pesan dari Bun-ji koan-su.

"Ilmu Khi-kang Kan-kun-mi-siu-kang-khi adalah ilmu sakti yang paling top dalam kepandaian silat, jika kepandaian sakti ini sampai 170 diketahui oleh umat persilatan maka kehidupanmu di dunia ini akan berubah menjadi sangat berbahaya, ingat... ingat...!"

Teringat akan hal itu, Ku See-hong segera berlagak pilon, bagaikan tidak memahami perkataan orang, dia lantas berseru.

"Hei, apa yang kau katakan? A ku sama sekali tidak mengerti!"

Manusia aneh bertopeng itu terkekeh-kekeh menyeramkan, katanya.

"Heeehh... heeehh... heeehh... tidak kusangka kalau kau pun seorang manusia licik yang pandai berlagak pilon, kalau begitu akan kuhantar keberangkatanmu malam ini juga!"

Baru selesai dia berkata, Im Yan cu telah menerjang maju dengan gerakan lincah, sambil tertawa dingin segera tegurnya.

"Hei, kau ingin menjadi seorang nelayan beruntung yang tinggal memungut hasil? Hmm, tidak akan segampang itu, dia adalah musuh besarku, malam ini aku hendak mencincangnya sendiri menjadi berkeping-keping, aku tidak memperkenankan siapapun untuk mencampuri urusan ini."

Setelah menyaksikan gerakan tubuh dari Im Yan cu tadi, manusia aneh bertopeng itu tertawa dingin, kemudian setelah mendengus tegurnya.

"Siapakah kau? Berani benar berbicara besar di hadapanku, hmmm... nanti, kau boleh sekalian turut berangkat bersamanya!"

Im Yan cu tertawa terkekeh-kekeh dengan merdunya.

Suara tertawanya indah dan lembut bagaikan kicauan burung nuri, suaranya penuh mengandung daya pikat yang membetot sukma.

Agak tertegun manusia aneh bertopeng tersebut oleh gelak tertawa orang, dengan cepat dia berpikir.

"Heran, kenapa bocah perempuan ini bisa demikian miripnya dengan sumoayku? Di tengah kemerduan suara tertawanya, terdapat semacam daya pikat yang sanggup menggetarkan sukma orang?"

Sementara itu, perasaan Ku See-hong lambat laun telah menjadi tenang kembali.

Dia hendak membiarkan kedua orang itu bertarung sendiri lebih dulu, kemudian secara diam-diam ia baru akan ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu.

-oo0dw0oo-Jilid.

6 Im Yan cu telah berhenti tertawa.

Dengan muka yang dingin kaku tanpa emosi katanya ketus.

"Nonamu bernama Im Yan cu, mau apa kau?"

Ucapan si manusia aneh bertopeng pun berubah menjadi jauh lebih halus dan lembut, dia lantas bertanya.

"Tolong tanya nona, siapa nama gurumu? Buat apa musti saling berbentrok dengan kekerasan?"

"Hmmm. Kau masih belum berhak untuk menanyakan soal guruku, bila punya kepandaian silahkan saja turun tangan, selama hidup guruku cuma mempunyai seorang saudara seperguruan dan seorang musuh besar, dengan semua jago persilatan di dunia ini beliau tak ada sangkut pautnya, mengerti...?"

Ku See-hong yang mendengar perkataan itu juga merasa keheranan, diam-diam ia lantas berpikir.

"Heran, kenapa tabiat gurunya juga begitu aneh dan kukoay-nya? Dalam dunia seluas ini cuma dua orang saja yang dikenalnya, mungkin musuh besar yang dia maksudkan tadi adalah guruku Bun-ji koan-su...."

Manusia aneh bertopeng sendiripun tak berhasil menebak asal-usul perguruan Im Yan cu meski dia cerdik dan luas pengetahuannya, maka sambil tertawa dingin dengan suara menyeramkan katanya.

"Baik. Kalau begitu, jangan salahkan jika aku turun tangan keji kepadamu...."

"Tak usah sok dulu,"

Ejek Im Yan cu sambil tertawa merdu.

"Siapa tahu kalau kekejian nonamu berpuluh-puluh kali lipat lebih hebat daripada dirimu?"

Di tengah pembicaraan tersebut, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan.

"Weeess..."

Segulung angin pukulan tak berwujud yang lembut langsung meluncur ke depan dan menghantam jalan darah penting di dada manusia aneh tadi.

Semenjak tadi Im Yan cu sudah tahu kalau manusia aneh bertopeng itu memiliki ilmu silat yang amat lihay, maka begitu turun tangan dia lantas mempergunakan jurus sakti yang ganas dan mematikan.

Manusia aneh bertopeng itu memang seorang jagoan, yang pandai melihat serangan orang, mendadak dia membalikkan tubuhnya dan melayang mundur sejauh beberapa langkah dari tempat semula, tangan kirinya kemudian menyambar ke muka dan secepat kilat mencengkeram bahu Im yan cu.

Dengan cekatan Im Yan cu mengigos ke samping, lalu sambil membalikkan tangannya melancarkan serangan dengan jurus Hui-tim cing-tam (Membersihkan Debu Berbicara Santai) dia balas mencengkeram nadi penting di atas tangan kiri manusia aneh tersebut.

Sungguh cepat gerak serangan dari manusia aneh bertopeng itu.

Perubahan yang dilakukan juga amat aneh dan sakti, baru saja kebasan tangan Im yan cu menyambar ke depan, ia telah merubah serangan cengkeramannya menjadi babatan.

Pergelangan tangannya sgera direndahkan ke bawah, setelah melepaskan diri dari sambaran tangan Im yan cu, jari tangannya setegang tombak langsung menjojoh jalan darah Ciang-keng-hiat di atas bahu Im yan cu.

Jurus serangan ini lihay sekali, belum lagi ujung jarinya mengenai di sasaran, segulung desingan angin tajam telah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Sekalipun Im Yan cu berilmu silat sangat tinggi, diapun tak berani bertindak gegabah, cepat badannya miring ke belakang lalu dengan enteng melesat mundur sejauh beberapa kaki.

Manusia aneh bertopeng itu tertawa seram, dengan sorot mata setajam sembilu dia tatap sekejap wajah Ku See-hong, kemudian dengan gerakan tubuh yang cepat seperti sambaran petir ia menerjang maju ke muka.

Ku See-hong amat terkesiap, segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun menjadi satu, secepat kilat sebuah pukulan dilontarkan ke muka.

Di tengah desingan angin pukulan yang memekikkan telinga, bagaikan gunung yang ambrol, gulungan tenaga pukulan yang maha dashyat dengan cepat meluncur ke depan.

Sekali lagi manusia aneh berkerudung itu memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang menggetarkan sukma, sepasang ujung bajunya dikebaskan ke muka bersamaan dengan gerak maju tubuhnya.

Seketika itu juga, segenap tenaga pukulan yang dilancarkan Ku See-hong dengan sepenuh tenaga itu seakan-akan terjerumus ke dalam bungkusan selapis hawa pukulan yang lembut dan empuk, kemudian dalam waktu singkat lenyap tak berbekas.

Im Yan cu segera membentak keras ketika menyaksikan manusia aneh bertopeng itu menerjang ke arah Ku See-hong, sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan, segulung tenaga pukulan yang amat berat dengan cepat mengancam jalan darah penting di belakang punggung manusia aneh itu....

Sambil tertawa seram, telapak tangan kiri manusia aneh bertopeng itu tiba-tiba ditarik ke belakang, kemudian tubuhnya berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan aneh, setelah itu telapak tangan kanannya mendadak dimuntahkan keluar.

Segulung desingan angin tajam secepat kilat menggulung ke tubuh Ku See-hong dengan hebatnya.

Tenaga pukulan yang dilontarkan itu bagaikan gulungan ombak dahsyat di tengah samudara yang berlapis-lapis, seolah-olah menggulung tiada habisnya dan tiada hentinya.

Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong, sekali lagi dia melontarkan sepasang telapak tangannya ke depan, gulungan angin yang maha dashyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra dengan cepatnya meluncur ke muka.

"Blaaamm..."

Satu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga menggelegar memecahkan kehengingan, ketika dua gulung angin pukulan itu saling bertumbukan antara yang satu dengan yang lainnya, terjadilah putaran angin berpusing yang kencang....

Dalam desingan angin yang tajam inilah dengan sempoyongan Ku See-hong mundur sejauh enam tujuh langkah ke belakang.

Noda darah pelan-pelan meleleh keluar daru ujung bibirnya, rambut yang panjang menjadi kacau balau tak karuan, mukanya pucat mengenaskan, ditambah pula bajunya yang terkoayk-koayk dan bernoada darah, membuat keadaannya benar-benar mengerikan.

Tiba-tiba....

"Blaaam!"

Suatu benturan keras yang memekikkan telinga kembali menggema di udara.... Ku See-hong mendengus tertahan, tubuhnya tahu-tahu mencelat sejauh tiga kaki ke udara dan "Plaaak!"

Roboh terkapar di atas tanah. Im Yan cu menjerit kaget, kemudian teriaknya dengan penuh kemarahan.

"Makhluk aneh, kau berani bertindak keji dengan pergunakan ilmu To-im-ciat-yang (Memancing Hawa Im, Menyambut Hawa Yang) untuk mencelakai dirinya!"

Di tengah teriakan tersebut, telapak tangan Im Yan cu segera direntahkan sambil mengembangkan serangakaian serangan-serangan gencar yang dahsyat dan mengerikan.

Manusia aneh bertopeng itu tertawa terkekeh-kekeh dengan licik dan seram.

"Heeehh... heeehh... heeehh... Nona Im,"

Demikian ia berkata.

"Bukankah barusan kau berkata hendak membunuhnya dengan tanganmu sendiri...? Sekarang aku telah pergunakan ilmu To-im-ciat-yang untuk meneruskan tenaga pukulanmu untuk membunuhnya, bukankah tindakanku ini amat indah dan menguntungkan dirimu? Kenapa kau malah menjadi marah-marah besar?"

Ternyata di kala Im Yan cu melancarkan sebuah pukulan dahsyat untuk menyerang manusia aneh bertopeng tadi, tangan kirinya telah mengeluarkan ilmu sakti To-im ciat-yang uantuk menyalurkan tenaga serangan dari gadis itu untuk balik menyergap diri Ku See-hong.

Padahal di kala Ku See-hong dan manusia aneh berkerudung itu beradu tenaga tadi, isi perutnya sudah mengalami goncangan keras sehingga darah segar muntah keluar dari mulutnya, apalagi setelah termakan oleh serangan dahsyat yang dilancarkan Im Yan cu, kontan saja pemuda tersebut tak kuat menahan diri.

Pandangan matanya menjadi gelap, benaknya menjadi kosong melompong dan akhirnya robohlah dia tidak sadarkan diri.

Im Yan cu amat menguatirkan keselamatan jiwa Ku See-hong, maka di dalam melancarkan serangan-serangannya sekarang, hampir semuanya digunakan jurus-jurus tangguh yang mengerikan.

Tapi manusia aneh bertopeng itu memang lihay sekali, bagaimanapun dahsyatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan, manusia aneh itu masih bisa menghindarkan diri dengan enteng dan santai.

Im Yan cu mengerutkan dahinya rapat-rapat, paras mukanya berubah menjadi amat menyeramkan, sambil membentak nyaring dengan kesepuluh jari dipentangkan dia lepaskan sepuluh gulung desingan angin tajam yang menderu-deru.

Sungguh dahsyat ancaman tersebut, dalam waktu singkat dua belas buah jalan darah penting di tubuh bagian atas manusia aneh 176 tersebut sudah terjebak di tengah gulungan angin serangan si nona yang teramat hebat itu....

Tiba-tiba mencorong sinar mata tajam yang menggidikkan hati dari balik mata manusia aneh bertopeng itu, ujung bajunya segera dikebaskan ke muka melancarkan serangkaian angin pukulan tajam untuk menolak datangnya ancaman kesepuluh jalur desingan angin serangan dari Im Yan cu.

"Blaaamm! Blaaamm! Blaaamm...!"

Serentetan bunyi ledakan yang keras bergema memenuhi angkasa, dalam sekejap mata tenaga serangan kedua belah pihak sama-sama sudah lenyap tak berbekas.

Im Yan cu membentak keras, telapak tangan kanannya segera dibabat ke depan, sedangkan telapak tangan kirinya dengan membawa desingan angin tajam langsung menghantam dada manusia aneh bertopeng itu.

Si manusia aneh bertopeng itu merupakan seorang jago lihay yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan, setelah didesak berulang kali oleh serangan Im Yan cu yang makin dahsyat, akhirnya sifat buas dan bengisnya segera timbul kembali.

Sambil tertawa dingin sepasang lengannya diputar membentak satu lingkaran lalu dengan gerakan membacok dan menangkis sepasang kakinya berbareng melayang ke depan menendang tubuh bagian bawah dari Im Yan cu.

Merah padam selembar wajah Im Yan cu karena jengah, dalam gusarnya mendesis muak kemudian tubuhnya berkelebat ke samping menghindarkan diri dari tendangan berantai tersebut.

Kemudian telapak tangan kanannya tiba-tiba membalik ke atas, dari serangan pukulan segera dirubahnya menjadi serangan mencengkeram, dengan cepat ia cengkeram urat nadi penting di tubuh lawan, sementara kelima jari tangan kirinya menyentil ke muka dan menotok jalan darah Seng-hiat, Wi-ciat dan Hu-tu-hiat, tiga buah jalan darah penting di tubuh manusia aneh itu.

Sejak melancarkan serangan, berubah jurus sampai meneter lawannya, boleh dibilang Im Yan cu melakukan kesemuanya itu dengan cepat serta kelihayan yang mengerikan.

Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa dingin, sambil miringkan badan dan berputar kencang, sepasang telapak tangannya diputar melancarkan gulungan angin pukulan yang segera memunahkan ancaman lawan yang datang secara bertubi-tubi itu.

Kedua gulung ujung bajunya yang lebar bagaikan dua ekor ular yang lincah sambil membalik dan menggulung dengan cepat dan tajam membelenggu sepasang nadi penting di atas pergelangan tangan Im Yan cu.

Mendadak tubuh Im Yan-cu berputar kencang secara aneh, sakti dan dahsyat, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra.

Di tengah putaran tubuh yang aneh dan kencang itulah, aliran hawa sakti yang bergulung-gulung aneh memancar ke tubuh manusia aneh bertopeng itu dengan tiada hentinya.

Mendadak....

Im Yan cu membentak keras, tubuhnya tiba-tiba melayang dan menerjang maju ke muka, telapak tangan, jari tangan serta kakinya melancarkan jurus-jurus sakti secara berbarengan.

Dengan begitu dahsyatnya semua ancaman tersebut ditujukan ke tubuh manusia aneh bertopeng itu.

Demikianlah, jika dua orang tokoh sakti dari dunia persilatan terlibat dalam suatu pertempuran sengit, maka akibatnya terjadilah suatu pertempuran maha seru yang melibatkan segenap kepandaian sakti yang mereka miliki....

Tampak bayangan manusia beterbangan kian kemari, angin pukulan menderu-deru bagaikan angin puyuh, bukan saja membuat pasir dan batu kerikil beterbangan di angkasa, daun dan ranting pun ikut berguguran ke atas tanah....

Tenaga dalam yang dimiliki manusia aneh bertopeng itu memang benar-benar sangat lihay, bukan cuma jurus serangannya yang aneh dan sakti, perubahannya begitu banyak sehingga membuat orang susah untuk menanggulanginya.

Lapisan demi lapisan angin pukulan yang bersusun seperti bukit, bagaikan hujan badai yang disertai angin kencang menyapu arena sedemikian hebat dan mengerikannya suasana waktu itu, hingga cukup membetot sukma.

Im Yan cu tidak gentar barang sedikitpun juga, dengan lincah dan gesit tubuhnya melompat kian kemari meloloskan diri dari ancaman, kemudian tak kalah hebatnya dia lepaskan pula serangan-serangan dahsyat yang semuanya mempergunakan jurus-jurus sakti yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Dengan kekuatan yang hampir seimbang ini, maka meski pertempuran sudah berlangsung empat lima ratus jurus, keadaan tetap seri, sedang di hati masing-masing pun saling mengagumi akan kelihayan ilmu silat lawannya.

Sementara itu, rembulan telah muncul dari balik bukit dan memancarkan sinar keperak-perakannya menyoroti seluruh jagad.

Tapi suasana dalam hutan di depan kuil kuno itu tetap suram dan menyeramkan, karena di puti oleh kabut yang sangat tebal.

Pertempuran yang berlangsung antara manusia aneh bertopeng melawan Im Yan cu sudah mencapai pada bgian yang paling tegang, menang kalah sebentar akan ketahuan, tapi kedua orang itupun semakin mendekati jurang pemisah antara mati dan hidup.

Sebab kepandaian silat yang dipergunakan kedua orang itu sekarang adalah serangan-serangan yang mempergunakan hawa murni tingkat tinggi yang paling sempurna sekali, salah bertindak berarti jiwanya akan melayang meninggalkan raga.

Dari balik biji mata si manusia aneh bertopeng yang tajam, telah mencorong keluar serentetan cahaya buas yang penuh kebencian.

Dia mendengus dingin, mendadak jari tangannya menyentil ke depan.

"Crit! Cring!"

Di tengah desingan tajam yang memekikkan 179 telinga, dalam waktu singkat ia telah mengancam enam buah jalan darah penting di tubuh Im Yan-cu.

Menyusul kemudian tubuh manusia aneh bertopeng itu segera melambung ke udara bagaikan burung elang, tangan dan kaki bersamaan melancarkan serangan.

Dalam waktu singkat ia telah melepaskan enam buah pukulan dan tiga buah tendangan berantai.

Serangan inipun dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa serta jurus serangan yang ampuh, lihay, ganas dan buas.

Benar-benar cukup mendirikan bulu kuduk orang.

Paras muka Im Yan-cu dingin bagaikan es, matanya melotot penuh kegusaran, sambil membentak nyaring, jari tangannya yang lembut dan putih itu digerakkan berulang kali melancarkan beberapa kali sentilan jari.

Desingan angin tajam segera menderu-deru, dengan dahsyat ancaman tersebut menahan serangan jari tangan si manusia aneh berkerudung yang sedang menggulung datang.

Siapa tahu pandangan matanya mendadak menjadi kabur, telapak tangan dan tendangan kaki manusia aneh berkerudung itu kembali bermunculan dari empat arah delapan penjuru dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sedemikian dahsyatnya ancaman itu sehingga sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Di tengah kurungan angin pukulan serta bayangan tendangan lawan, sepasang telapak tangan Im Yan cu bergerak kian kemari bagaikan kupu-kupu menghisap madu.

Dalam waktu singkat dia lancarkan pula sembilan buah pukulan dahsyat.

Hawa serangan yang maha dahsyat sgera melanda seluruh jagad, di tengah amukan angin pukulan yang tajam tadi, dengan enteng dan lincahnya Im Yan cu berlompatan kian kemari.

Mendadak...

pada saat itulah si manusia aneh berkerundung itu membentak keras, menyusul kemudian serangan mematikan yang amat dahsyat berhamburan kemana-mana.

Tampaklah sepasang tangannya bergetar kian kemari secara aneh, setiap pukulan dilancarkan dua serangan dahsyat segera melanda di udara.

Selain daripada itu, dalam setiap gerak serangan yang dipergunakannya itu, hampir semuanya dilancarkan melalui suatu sudut yang aneh sekali.

Pukulan yang berantai seolah-olah datangnya secara berbarengan pada saat yang sama.

Kehebatan dan kelihayan jurus serangannya itu, boleh dibilang tak pernah dijumpai sebelumnya di dunia ini.

Begitu serangan tersebut dilontarkan oleh manusia aneh berkerudung tadi, udara di sekeliling tempat itu segera dliputi gelombang hawa tekanan kian lama kian bertambah besar, daerah seluas dua kaki serasa penuh dengan tekanan udara yang kuat.

Sementara di tengah berpusing segulung angin tajam yang menyayat badan.

Berbarengan dengan dipancarkannya serangan mematikan dari Im Yan cu juga dilancarkan pada saat yang bersamaan.

Tampak tubuh Im Yan cu yang menyentuh tanah mendadak melambung kembali ke udara.

Kemudian secara tiba-tiba badannya menyusut kecil di udara, sementara sepasang lengannya dipentangkan lebar-lebar.

Seluruh gaunnya yang berwarna biru bergetar menciptakan sususan-susunan gelombang yang aneh.

Tiba-tiba....

Im Yan cu merapatkan tangannya lalu melurus ke depan.

Seluruh badannya bagaikan sebatang anak panah yang tajam, secepat kilat meluncur ke arah manusia aneh berkerudung itu.

Pada saat ujung jari tangannya sudah mencapai enam depa dari tubuh manusia aneh itu...

mendadak sekujur tubuhnya bergetar keras, kemudian meluncur ke bawah.

Sedetik sebelum badannya menempel tanah, secara aneh sepasang lengannya itu dipentangkan lebar-lebar.

Suatu daya yang mengerikan pun segera terbentang di depan mata.

"Sreeet! Sreeet! Sreeet!"

Serentetan cahaya tajam berkilauan memenuhi udara, lalu terdengar manusia aneh berkerudung itu mendengus tertahan.

Menyusul kemudian berkumandang pula serentetan bunyi pekikan aneh yang amat memilukan hati....

Dengan sekujur badan gemetar keras, manusia aneh berkerudung hitam itu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan sekejap kemudian sudah jauh meninggalkan tempat itu.

Jelas di bawah serangan aneh dari Im Yan cu, manusia aneh berkerudung itu sudah menderita luka dalam yang tidak ringan....

Memandang sampai bayangan tubuh manusia berkerudung itu lenyap dari pandangan mata, Im Yan cu baru menghela napas panjang, gumamnya.

"Aaai... entah siapakah manusia aneh berkerudung itu? Begitu lihay ilmu silat yang dimilikinya dan sakti jurus serangan yang dipergunakannya, entah dia berasal dari perguruan mana....?"

Coba kalau tidak kugunakan ilmu sakti dari perguruan.

HAY JIN CIANG (Ilmu Pukulan Unggas)...

sudah pasti aku akan tewas termakan serangan terakhir itu...

yaa, ilmu pukulan Hay-jin-ciang sungguh hebat sekali, sayang suhu cuma mewarisi satu jurus saja kepadaku."

Mendadak Im Yan cu berpaling, lalu menjerit kaget.

"Hei, dia lari ke mana?"

Yang dimaksudkan adalah Ku See-hong.

Waktu itu di sekitar sana sudah tidak nampak lagi bayangan tubuh dari anak muda tersebut, entah sejak kapan ia sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Im Yan cu kembali menghela napas panjang.

00d0w00 Bab "MANUSIA she Ku ini pun betul-betul manusia aneh,"

Demikian ia bergumam lirih.

"Sudah jelas ia terhajar telak sehingga terluka parah, kenapa bayangan tubuhnya tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas? Masa ia telah berhasil melatih semacam ilmu yang tahan pukulan?"

Tiba-tiba dengan gemas dia bergumam lagi.

"Lelaki she Ku itu amat misterius sekali, aaai.... Entah mengapa, sejak bertemu muka dengannya, aku jadi seperti tidak membenci orang lelaki lagi, bahkan...."

Bergumam sampai di situ, tanpa terasa sepasang pipinya berubah menjadi merah dadu, apalagi di bawah timpaan sinar mentari, dia tampak lebih cantik dan mempesonakan hati. Kembali Im Yan cu bergumam.

"Luka dalam yang dideritanya akibat pukulan itu parah sekali, lagipula ia seperti mempunyai hubungan dengan Bun-ji koan-su.... Kalau membiarkan seorang manusia yang cetek pengalaman macam dia berkelana seorang diri di dalam dunia persilatan, hal ini benar-benar berbahaya sekali. Orang persilatan kebanyakan licik dan berhati busuk, dia... kendatipun memiliki ilmu silat lihay juga tak baik...."

Im Yan cu mendongakkan kepalanya memandang sekejap matahari yang berada di awang-awang, tubuhnya segera bergerak dan lenyap kembali dari depan kuil kuno yang penuh keseraman itu.

Rupanya setelah Ku See-hong kena terhajar oleh tenaga pukulan Im Yan cu yang disalurkan manusia aneh berkerudung ke tubuhnya, lewat ilmu Too-im-ciat-yang tersebut, hawa darah di dalam tubuhnya segera mengalami gejolak keras yang menyebabkan ia jatuh tak sadarkan diri.

Tapi tak lama kemudian ai telah sadar kembali.

Ketika itu kentongan kelima sudah lewat, sedang Im Yan cu sedang terlibat dalam pertarungan yang amat seru melawan manusia aneh berkerudung itu.

Diam-diam Ku See-hong menghela napas panjang.

Ia tahu entah pihak manapun yang bakal menang, kedua-duanya tidak menguntungkan baginya, maka menggunakan kesempatan baik tersebut, secara diam-diam dia lantas ngeloyor pergi dari situ.

Luka dalam yang diderita Ku See-hong kali ini sungguh teramat parah.

Hawa murni di dalam tubuhnya seakan-akan sudah kena terhajar sampai buyar tak karuan, hawa darahnya segera mengalir terbalik, jalannya menjadi gontai dan sempoyongan hampir roboh, namun kesadarannya belum hilang.

Suatu tekad yang besar muncul dalam hatinya dan sambil menahan sakit dia melakukan perjalanan ke depan.

Makin jauh dia berjalan, luka parah yang dideritanya semakin parah, terasa hawa panas di dalam dadanya menerjang ke atas, sepasang kakinya seakan-akan sudah tidak menuruti perintahnya lagi.

Dalam keadaan begini, akhirnya dia menghela napas dan merasa harus beristirahat sebentar, tapi ingatan tersebut justru segera membuyarkan tekad di dalam hatinya.

Walau begitu, perjalanan yang dilakukan tanpa arah tujuan itu telah membawa dirinya menembusi beberapa buah bukit.

Sekarang dia telah berada tak jauh dari sebuah tanah perkuburan yang luas dan lebar.

Tampak kuburan itu sangat kacau balau keadaannya dan sama sekali tak terawat.

Batu nisan banyak yang hancur, gundukan tanah banyak yang berlubang.

Meski di tengah siang hari bolong, namun suasana di sekitar tempat itu terasa seram dan mengerikan sekali.

Dengan ujung bajunya dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya, kemudian setelah memperhatikan sekejap pemandangan di sekeliling tempat itu, dengan susah payah dia menyeret sepasang kakinya dan pelan-pelan memasuki tanah pekuburan tersebut.

Sambil berjalan, tiada hentinya Ku See-hong bergumam.

"Luka yang kuderita sekarang teramat parah, mungkin masihkah ada suatu penemuan aneh lagi yang bakal kujumpai? Aaai, lebih baik mati di tempat ini saja."

Batu nisan yang berserakan dan gundukan tanah yang berjajar mendadak menimbulkan suatu perasaan pedih dalam hatinya, diam-diam ia berpikir seorang diri.

"Aaai... walaupun menjadi jagoan sepanjang masa, setelah mati kerangka tubuhnya juga akan terlantar di dalam tanah pekuburan. Orang hidup saling mengejar harta dan nama, sepanjang hari membanting tulang bekerja keras, padahal apalah gunanya semua perjuangannya itu bila hayat telah meninggalkan badan?"

Ingatan tadi begitu melintas dalam benaknya, semua kegagahannya serasa punah tak membekas tekad yang selama ini mempertahankan tubuhnya, kontan membuyar, kakinya sempoyongan, hampir saja ia jatuh terjerembab ke atas tanah.

"Koak koak koak..."

Bunyi burung gagak menambah suramnya suasana....

Di atas beberapa batang pohon siong tak jauh dari Ku See-hong, terbang melayang empat lima ekor burung gagak.

Ketika mendengar pekikan burung yang menusuk telinga itu, mendadak Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras.

Kejadian demi kejadian yang memedihkan hatinya di masa lalu kembali muncul di dalam hatiya.

Ia teringat kembali dengan ayah-ibunya yang mati secara mengenaskan, dia teringat pula Bun-ji koan-su yang sampai mati tetap membawa dendam....

Beberapa orang itu telah melimpahkan budi dan kasih sayang tak terlukiskan dengan kata-kata kepadanya, tapi meninggalkan pula dendam berdarah yang lebih dalam dari samudra untuk ia selesaikan....

Terbayang sampai di situ dia baru merasa terkesiap.

Diam-diam tegurnya kepada diri sendiri.

"Ku See-hong, wahai Ku See-hong.... Nyawamu sih kecil, tapi dendam kesumat orang tuamu harus dibalas, apalagi Bun-ji koan-su telah mewarsikan tiga macam ilmu kepadamu. Sampai detik-detik kematiannya, ia masih menitipkan harapannya yang besar kepadamu. Betul dengan watak aneh dari ia orang tua, sampai saat terakhirnya dia tidak meminta apa-apa kepadamu, tapi betapa besarnya dia menitipkan harapn tersebut kepadamu, betapa besarnya harapan dia orang tua agar kau bisa menyelesaikan keinginannya. Apalagi kau telah bersumpah di depan jenasahnya tapi sekarang, kau telah meremehkan nyawamu sendiri, kau gampang berputus asa, maunya mengambil keputusan pendek... Wahai Ku See-hong, manusia macam apakah dirimu ini...?"

Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat di dalam benaknya, muncul kembali semangat untuk melanjutkan hidup di dalam hatinya, semangatnya ikut berkobar pula.

Sambil mendongakkan kepalanya ia memandang pesoan awan di angkasa, angin musim gugur yang dingin berhembus lewat dan mengibarkan ujung bajunya.

Dalam benaknya seali muncul bayangan dari Bun-ji koan-su, telinganya serasa mendengung kembali pesan terakhir dari gurunya.

Darah panas di dalam dadanya tiba-tiba bergelora dan mendidih, semua kemasgulan dan kemurungan yang mengganjal dadanya terasa menyesakkan napas, tak kuasa lagi ia mendogakkan kepalanya dan berpekik panjang.

Suara pekikannya itu nyaring seperti pekikan naga....

Tinggi, keras menembusi awan dan menggema dalam lembah.

Suaranya memantul dan mendengung tiada hentinya.

Namun di balik pekikan tadi justru terbawa suasana sedih, pedih dan murung.

Tiba-tiba, pekikan nyaring itu terputus sampai di tengah jalan, terdengar Ku See-hong mendengus tertahan....

Sebagaimana diketahui, luka dalam yang diderita pemuda itu sama sekali belum sembuh, tapi sekarang harus mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk berpekik panjang, hala mana menyebabkan jalan darahnya mengalmi luka yang semakin parah, lagi tentu saja kondisi badannya menjadi semakin buruk.

Akhirnya dia tak tahan dan muntah darah segar, kemudian tubuhnya roboh ke tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Tubuhnya tepat roboh di samping sebuah kuburan di bawah sebatang pohon pen yang lebar.

Entah berapa lama sudah lewat mendadak Ku See-hong merasa pipinya menjadi dingin, tubuhnya gemetar keras dan segera tersadar kembali dari pingsannya.

Ketika ia membka kembali matanya, tampak awan hitam menyelimuti seluruh angkasa dan menutupi cahaya sang surya, kilat menyambar-nyambar, guntur menggelegar, ternyata hujan sedang turun dengan derasnya.....

Sekujur badan Ku See-hong basah kuyub oleh air hujan, dengan cepat sinar matanya dialihkan ke arah sebuah gardu bobrok lebih kurang dua kaki dari sana.

Dengan cepat badannya jumpalitan di udara dan meluncur ke arah dalam gardu bobrok tadi.

Setelah tiba di dalam gardu, Ku See-hong baru menjerit tertahan karena kaget.

"Haaah? Heran, kenapa luka parahku secra tiba-tiba bisa membaik sendiri...?"

Pemuda itu merasa pergolakan hawa darah di dlaam dadanya telah menjadi tenang kembali, badannya tidak terasa sakit seperti tadi.

Rupanya ia telah memperoleh warisan hawa murni dari Bun-ji koan-su yang telah mencapai puluhan tahun hasil latihan itu.

Di samping memiliki pula ilmu Kan-kun-mi-siu-kang yang maha sakti tersebut.

Berhubung dia tidak segera mengatur pernapasan setelah menderita luka dalam yang amat parah itu.

Kemudian harus melakukan pula perjalanan yang jauh sebelum akhirnya memaksakan diri untuk berpekik nyaring...

kesemuanya ini menyebabkan dia jatuh pingsan.

Tapi justru karena pingsan, pemuda itu malah mendapat cukup banyak waktu untuk beristirahat.

Lambat laun gejolak hawa murni di 187 dalam dadanya juga menjadi tenang kembali, kesadaran pun berangsur pulih kembali.

Demikianlah, setelah berhasil menenangkan perasaannya, Ku See-hong baru bergumam.

"Kenapa aku begini tolol, tak tahu mengatur napas untuk mengerahkan tenaga dalam...? Tanah pekuburan ini sangat luas dan terpencil letaknya, mungkin tiada orang yang bakal sampai ke sini, kenapa tidak kugunakan kesempatan ini untuk menyembuhkan sisa lukaku, kemudian sekalian memperdalam jurus Hoo-han-seng-huan yang maha sakti itu?"

Ternyata semenjak terjadinya pertarungan sengit di depan kuil kuno kemarin, bukan saja Ku See-hong telah menambah pengetahuan serta pengalamannya dalam menghadapi musuh, lagipula dia berhasil juga mendalami banyak sekali kepandaian sakti.

Semua yang berhasil diperolehnya itu membuat pikirannya semakin terbuka untuk mendalami kepandaian silat yang dimilikinya, otomatis menimbulkan pula semangatnya untuk memperoleh kemajuan.

Dia berharap dari ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut dia dapat memperoleh kepandaian sakti yang lebih banyak lagi.

Dalam soal ilmu silat, maka yang menjadi kunci rahasianya adalah pengertian tentang dasar ilmu tersebut.

Bila dahsyatnya dasar tersebut sudah dipahami maka selanjutnya segala sesuatunya pun akan lebih lancar lagi.

Ketika Bun-ji koan-su mewariskan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut kepadanya tempo hari, saat itu keadaannya ssudah payah sekali.

Apa yang bisa dilakukannya tak lebih hanya melakukan gerakan secara garis besarnya saja, namun berhubung ilmu itu mengandung makna yang lebih mendalam, maka Ku See-hong tak lebih cuma ditinggal sekilas kenangan saja.

Menanti ia sungguh-sungguh bertarung dengan jago kelas satu dari dunia persilatan, dan bikin kocar-kacir tak karuan, sang pemuda yang keras hati ini baru menghimpun semua semangat dan tenaganya untuk berusaha mengenang kembali semua kesan yang telah diperolehnya itu.

Untung dia memiliki kecerdasan yang tinggi serta daya tangkap yang hebat, jadinya ia malah berhasil memahami makna dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Setelah itu, dia terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang seru melawan Im Yan cu.

Dalam pertarungan ini lebih besar lagi hasil yang berhasil diraihnya.

Banyak rahasia ilmu silat yang di hari-hari biasa mungkin sulit dipecahkan, ternyata berhasil dipahami olehnya dalam semangat dan perjuangan yang amat hebat itu.

Otomatis, pelbagai cara mempelajari ilmu silat serta pelbagai jurus silat yang lihay pun berhasil dipecahkan.

Kemajuan pesat yang berhasil diraih dalam waktu singkat ini, tanpa terasa menimbulkan pula daya tarik bagi Ku See-hong untuk menyelidiki serta mendalami ilmu silatnya lebih jauh, sebab dia sadar andaikata kepandaian silatnya tak becus, maka tanggung jawab yang berada di atas bahunya juga sukar untuk diwujudkan.

Saat itu, dalam hati Ku See-hong telah muncul suatu harapan yang sangat kuat, apa yang dia ingin lakukan tanpa segan-segan segera dilaksanakan.

Dengan cepat pemuda itu duduk bersila di atas meja batu dalam gardu bobrok itu, lalu menuruti pecahan rahasia ilmu silat yang berhasil dipahaminya, dia mulai mengerahkan hawa murninya untuk mengatur pernapasan....

Dengan dibuangnya semua pikiran dari dalam benaknya serta pemusatan perhatiannya ke satu titik, dengan cepat pemuda itu mendapatkan tubuhnya makin lama semakin segar.

Dalam waktu singkat Ku See-hong merasa hawa murni di dalam tubunya makin lama semakin terhimpun menjadi satu, kemudian muncul segulung aliran tenaga yang sangat aneh dari pusar menerjang naik ke atas dan menyebar ke seluruh badannya.

Baru satu lingkaran hawa murninya hanya mengelilingi badan, ia sudah berada alam keadaan lupa diri.

Lewat seperminum teh kemudian, dari seluruh badan Ku See-hong segera muncul suatu perubahan yang sangat aneh.

Dari sekeliling badannya tiba-tiba muncul selapis kabut yang mengelilingi seluruh badannya.

Kabut putih itu menyerupai awan putih di angkasa yang melapisi semua badannya.

Di dalam keadaan demikian, walaupun ada hembusan angin tajam yang menerpa badannya, gumpalan kabut putih tetap menggumpal dan sama sekali tidak membuyar.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya kabut putih yang sangat indah itu seakan-akan terhisap kembali semuanya ke dalam tubuh Ku See-hong, menyusul kemudian diapun membuka matanya kembali....

Memandang gundukan tanah pekuburan yang tersebar di mana-mana serta memandang pepohonan yang bergoyang terhembus angin, tanpa terasa pemuda itu menghela napas sedih.

Kiranya hujan telah berhenti waktu itu, awan hitam telah membuyar dan udara pun telah kembali.

Sang surya telah tenggelam di langit barat meninggalkan bianglala senja yang sangat indah....

Senja telah menjelang, berarti malam pun segera tiba.

Bunyi jangkrik mulai melagukan irama dendam, angin pun berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan rumput serta dedaunan, tanah pekuburan itu terasa makin kelabu dan sepi....

Setelah melakukan semadi untuk mengobati lukanya, gejolak hawa darah di dalam tubuh Ku See-hong bukan saja telah menjadi tenang kembali, lagi pula badan serta semangatnya menjadi segar kembali, hawa murni yang terhimpun di dalam badannya terasa penuh.

Sinar matanya lebih tajam dan jelas tenaga dalamnya kembali telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat....

Perlu diketahui.

Kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Bun-ji koan-su sesungguh sudah tiada tandingannya lagi di dunia ini.

Dengan ilmu Tiong-giok-tay-hoat dari kalangan Buddha, secara diam-diam ia telah menyalurkan segenap kekuatannya itu ke tubuh Ku See-hong yang menyebabkan ia menemui ajalnya karena kekeringan...

hal semacam ini boleh dibilang belum pernah terjadi di dunia ini.

Betul hawa murni yang diterima Ku See-hong tidak menyeluruh, sehingga tidak membawa tingkatan hawa murninya mencapai tingkatan paling top seperti yang dimiliki Bun-ji koan-su...

akan tetapi paling tidak ia telah memperoleh tiga sampai empat bagian dari semua tenaga tersebut.

Walaupun tenaga tadi belum sampai menyusup semua ke dalam nadinya dan bisa dimanfaatkan sepenuhnya, tapi dikombinasikan dengan Kan-kun-mi-siu khikang yang diperolehnya itu membuat setiap kali pemuda itu termakan pukulan dari luar atau selesai melakukan semedi satu kali, hawa murni tadi lebih banyak yang terhisap ke tubuh dan bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Keadaan semacam ini boleh dibilang luar biasa sekali, atau dengan perkataan lain, hal mana sesungguhnya merupakan suatu rejeki yang amat besar bagi pemuda itu.

Selama berada dalam kuil dulu, Ku See-hong sudah terlatih memiliki keberanian yang melebihi orang lain, maka sekarang, walaupun berada di tanah pekuburan yang menyeramkan, diapun sama sekali tidak merasa takut.

Waktu itu, segenap pikiran dan semangatnya dikumpulkan menjadi satu, segenap ingatan maupun pikiran yang lain terbuang jauh-jauh dari benaknya, apa yang dipikirkan sekarang hanyalah mendalami ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut serta berusaha untuk mengupas pelbagai jurus ilmu sakti lainnya yang terdapat di balik jurus-jurus serangan itu....

Pada dasarnya Ku See-hong memang seorang pemuda yang cerdas, begitu segenap pikiran dan perhatiannya dikumpulkan menjadi satu, kembali ada banyak jurus serangan serta kunci silat lainnya yang berhasil ditelaah olehnya, dan sekarang dia betul-betul mengerti bahwa jurus Hoo-han-seng-huan tersebut sesungguhnya adalah suatu kepandaian maha sakti yang tiada taranya di dunia ini.

Di balik jurus serangan itu bukan saja mengandung intisari kepandaian yang luas dan dalam, dalam setiap gerak serangannya 191 juga mengandung unsur kekuatan tak terduga....

lagipula memiliki makna yang tak terkirakan hebatnya.

Dalam kejut dan girangnya, Ku See-hong makin terbuai dalam pelajarannya, segenap perhatian, pikiran maupun perasaannya hanya terpusatkan pada kepandaiannya itu, sehingga hampir saja dia melupakan segala sesuatu lainnya....

Rembulan telah bersinar terang di ujung langit, dalam waktu yang amat panjang ini, Ku See-hong telah berhasil memahami serangkaian ilmu silat yang belum tentu dapat dimiliki atau dipahami oleh umat manusia lainnya dalam jangka waktu puluhan tahun....

Waktu itu rembulan bersinar terang di angkasa dan memancarkan cahaya keperak-perakan, pelan-pelan Ku See-hong melangkah keluar dari dalam gardu bobrok itu mendongakkan kepalanya dan memandang cuaca.

Ia tahu, waktu itu kentongan kedua sudah lewat.

Mendadak....

Ku See-hong berdiri tegak bagaikan sebuah batu karang, semua pikiran dan tenaganya terpusat menjadi satu, setelah itu di ringi suara bentakan yang keras dan memekikkan telinga, sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan.

Dari kesepuluh jari tangannya, yang terpentang lebar terpancarlah desingan angin tajam yang memekikkan telinga.

"Sreeett! Sreeett! Sreeett!"

Desingan demi desingan tajam menyambar membelah angkasa.

Dari ujung jari Ku See-hong tiba-tiba memancarkan keluar sepuluh jalur cahaya putih yang tak berwujud, yang menyambar dengan kecepatan luar biasa masing-masing menyerang dua batang pohon di hadapannya.

"Pleetaak... pleeetak... blaaamm... blaaamm...!"

Setelah bergema suara keras itu, pohon siong yang besar dan luar biasa tingginya itu mendadak patah menjadi dua bagian dan roboh ke bawah.

Melihat kepandaian yang dicobanya berhasil dengan sukses, timbul semangat yang menyala-nyala dalam hatinya, sekali lagi pemuda itu memutarkan membalikkan sepasang telapak tangannya, menyusul kemudian terdengar suara bentakan keras menggelegar di angkasa.

Dua gulung tenaga pukulan tak berwujud yang maha dahsyat, di ringi suara gemuruh yang memekikkan telinga, dua batang pohon lagi tumbang ke tanah.

Ku See-hong semakin bersemangat, sekali lagi dia melontarkan sepasang tangannya ke depan.

Gulungan angin pukulan ibaratnya gulungan air yang baru jebol dari bendunga, dengan kecepatan yang luar biasa menggulung ke atas dua batang pohon lain.

Di mana angin pukulan itu berhembus lewat, kedua batang pohon itu tak lebih cuma bergoyang pelan tanpa menunjukkan reaksi lainnya.

Mendadak Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan gelak tertawa panjang yang memekikkan telinga.

Di balik suara tertawa tersbut, terkandung luapan rasa bangga yang tak terhingga, nampak jelas betapa girangnya perasaan anak muda itu....

Di saat gelak tertawa Ku See-hong masih berkumandang itulah...

segulung angin tajam berhembus lewat, tiba-tiba daun dan ranting pohon besar itu berguguran ke atas tanah, menyusul kemudian terdengar suara gemuruh yang sangat keras bergema di angkasa....

Dua batang pohon yang sangat besar itu tahu-tahu tumbang ke atas tanah mulai sebatas pinggang, dari bekas-bekas potongan itu kelihatan bubuk halus beterbangan kemana-mana.

Rupanya isi pohon itu sudah dibikin hancur lumat oleh pukulan tangannya.

Tiba-tiba Ku See-hong berhenti tertawa, lalu dengan wajah sedingin es gumamnya lirih.

"Semangat, tenaga dan kekuatan merupakan tiga unsur yang saling mempengaruhi, jika terjadi jalinan hubungan antara ketiganya akan jadilah Huan-pu-kui-tin, tenaga pukulan berisi tampak bagaikan tak berisi. Itulah pertanda kalau puncak kesempurnaan telah tercapai.... Huan-pu ki-tin... Huan-pu kui-tin.... Betulkah kepandaianku telah berhasil kucapai hingga puncak kesempurnaannya?"

Bergumam sampai di situ, Ku See-hong merasa kegirangan sehingga hampir saja melupakan segala-galanya, segera teriaknya keras-keras.

"...Sungguhkah kesemuanya ini? Sungguhkah kesemuanya ini? Mengapa secepat ini aku berhasil mencapainya...? Kenapa...?"

Dengan usaha yang sangat mudah ia berhasil menggunakan apa yang berhasil dikupas dalam kepandaian itu menjadi suatu kenyataan, lagi pula menurut keadaan yang terlihat itu, hal mana justru merupakan gejala dari suatu keadaan yang dinamakan Huan-pu kui-tin.

Dalam kejut dan girangnya tak heran kalau dia menjadi sangsi, benarkah hal tersebut merupakan suatu kenyataan?

Benarkah dia berbakat bagus dan memiliki kecerdasan yang luar biasa?

Dalam termenungnya itu, pelbagai pikiran cepat muncul di dalam benaknya, tapi setelah semua alasan itu diteliti lebih lanjut, terasa olehnya bahwa semua persoalan cukup dijadikan sebagai alasan mengapa ia bisa mencapai kesuksesan dengan begitu cepatnya....

Tiba-tiba Ku See-hong teringat kembali dengan saat-saat menjelang kematian Bun-ji koan-su, keadaan gurunya yang loyo dan lemas seperti lentera kehabisan minyak itu...

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, dengan cepat dia berpikir.

"Ketika Bun-ji koan-su dikerubuti beratus orang jago di atas puncak bukit Soat-san, meski ia dibuat cacad dan tubuhnya terjatuh ke dalam jurang, nyatanya ia tak sampai mati. Kemudian selama belasan tahun lamanya diapun sanggup membunuh jago-jago lihay yang mengunjungi kuilnya secara misterius. Dari sini terbuktilah kalau ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali. Tapi setelah berjumpa dengan diriku, mengapa dia lantas berubah menjadi kakek loyo yang sudah hampir mendekati ajalnya? Jangan-jangan...."

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba Ku See-hong berseru.

"Betul...! Betul...!"

"Sudah pasti hawa murni suhu yang selama ini merupakan kekuatan yang memelihara kehidupannya telah disalurkan kepadaku secara diam-diam, kalau tidak, mengapa secepat itu aku berhasil menguasai ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yangmaha dahsyat itu? Oooh suhu... wahai suhu. Mengapa tidak kau katakan hal itu kepadaku? "

Begitu besar budi kebaikan yang kau limpahkan kepadaku, bagaimana caranya aku membalas semua budi kebaikan tersebut? "

Ku See-hong merasakan darah panas di dalam tubuhnya bergelora keas dan mendidih, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Mendadak....

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong, dengan tekad yang bulat dia berseru.

"Suhu! Kau bersikap begitu baik kepadaku, budi kebaikanmu keada tecu lebih dalam dari samudra, untuk selanjutnya tecu pasti akan mengingat selalu di dalam hati, aku pasti akan berusaha untuk membalaskan dendam sakit hatimu, aku pun akan membalas budi kebaikanmu."

Dalam waktu singkat, kentongan ketiga kembali menjelang tiba.

Ketika Ku Se-hong teringat kembali tragedi yang menimpa Bun-ji koan-su, dia merasa terdorong oleh emosi yyang meluap, sehingga tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan membacakan lagu "Dendam Sejagad"

Yang merupakan suara hati dari Bun-ji koan-su itu.

Dendam Sejagad DENDA M kesumat membentang bagai jagad.

Bukit tinggi berhutan lebat di sisi sebuah kuil.

Sungai besar di depan kuil berombak besar.

Dendam kesumat sepanjang abad.

DENDA M kesumat membentang bagai jagad.

Burung gagak bersarang di rumput di kala senja.

Cinta kasih berlangsung dari muda sampai tua Memetik kampak membuat lagu.

Nadanya dendam.

Menitik air mata darah untuk siapa?

Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.

DENDA M kesumat membentang bagai jagad.

Ji-koan pernah bebuat salah.

Menyandang golok menunggang kuda, apalagh gunanya?

Salju terbang air laut semuanya hambar.

DENDA M kesumat membentang bagai jagad.

Curah hujan membuyarkan awan.

Air mengalir akhirnya surut.

Dendam kesumat tak akan pernah luntur....

Irama lagu bernada iblis yang membetot sukma itu menjulang tinggi ke angkasa dan terbawa angin sampai di tempat kejauhan.

Kesunyian yang mencekam dan irama lagu yang memedihkan hati teralun di angkasa dan mendengung tiada hentinya.

Ketika selesai membawakan lagu tersebut, seluruh wajah Ku See-hong telah basah oleh air mata.

Dengan termangu-mangu dia memandang jagad yang luas, dia ingin menemukan bayangan Bun-ji koan-su, tapi tak dapat.

Udara tampak bersih, bintang berkedip-kedip menyinari angkasa, Bun-ji koan-su adalah sebuah bintang di ujung langit sana, meski orangnya telah tiada, namun kenangan serta lagunya yang penuh perasaan akan berada terus di dunia, dan Ku See-hong akan selalu membawakannya....

Entah sudah berapa lama Ku See-hong mengamati udara, akhirnya sambil menghela napas sedih, dia duduk kembali di meja batu dalam gardu dan bersemedi kembali.

Sebetulnya Ku See-hong memang seorang yang gila ilmu, setelah keberhasilannya mengupas pelbagai kepandaian sakti ia tak pernah membuang waktunya dengan sia-sia.

Dia selalu memusatkan pikiran dan perhatiannya untuk menyelidiki kepandaian sakti.

Setiap kentongan ketiga sudah tiba diapun membawakan lagu "Dendam Sejagad"

Dengan suara lantang untuk mengenang gurunya yang telah tiada dan berdoa bagi arwah Bun-ji koan-su Him Ci-seng yang telah tiada.

Tanpa terasa, Ku See-hong sudah berdiam selama tiga hari tiga malam di tengah tanah pekuburan yang sepi, seram, dan terpencil itu.

Latihan semedi dari Ku See-hong pun makin lama semakin sempurna.

Setiap kali duduk bersemedi, dia hampir membutuhkan waktu selama seharian penuh.

Hari-hari itu, ketika ia mulai bersemedi di pagi hari, dalam sekejap mata, mata telah menjelang tiba kembali.

Hari itu, ketika Ku See-hong baru sadar dari semedinya, tiba-tiba ia mendengar seseorang tertawa cekikikan, buru-buru anak muda itu membuka matanya dan menengok ke arah mana berasalnya suara tertawa itu.

Sinar mata tajam yang menggidikkan hati memandang keluar dari balik matanya.

Pada saat itulah, mendadak terdengar bentakan nyaring...

"Hei orang she Ku, sambutlah ini!"

"Weeess..."

Hembusan angin kencang meluncur tiba.

Ku See-hong segera menyaksikan ada sesosok bayangan tubuh yang tinggi besar meluncur datang ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.

Waktu itu Ku See-hong sudah mengenali suara siapakah itu, sepasang alis matanya segera berkenyit tangan kanannya segera disentilkan ke depan, desingan angin tajam yang memekikkan telinga dengan dahsyatnya menghantam bayangan hitam tadi.

"Blaaamm...!"

Benturan keras bergema di udara.

Menyusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memenuhi angkasa, termakan oleh angin pukulan Ku See-hong yang amat tajam tadi, bayangan hitam tersebut segera terbabat menjadi dua bagian.

Darah segar berhembus kemana-mana dan menyiarkan bau amis yang menusuk hidung.

Ketika Ku See-hong telah melihat jelas siapa gerangan bayangan hitam itu, dengan suara keras dan penuh kegusaran ia lantas membentak nyaring.

"Im Yan cu, kau perempuan rendah yang berhati keji, mengapa kau pergunakan nyawa orang sebagai bahan gurauan? Kau iblis perempuan berhati busuk, malam ini aku orang she Ku pasti akan mencabut selembar jiwamu!"

Di bawah sinar rembulan, tampaklah di atas sebuah gundukan tanah pekuburan berdiri seorang gadis yang cantik jelita; dia bukan lain adalah Im Yan cu.

Ketika mendengar suara makin dari anak muda tersebut, Im Yan cu segera tertawa cekikikan, katanya.

"Hei, kenapa sih kau ini? Kenapa sikapmu kepadaku selalu begitu galak? Memangnya aku telah salah membunuh?"

Ku See-hong menjadi tertegun, sorot matanya yang tajam dengan cepat memandang sekejap sekeliling tempat itu, tapi dengan cepat hatinya menjadi amat terperanjat.

Pemandangan yang terbentang di depan matanya ketika itu betul-betul seram, ngeri dan cukup mendirikan blu roma.

Ternyata di sekeliling tanah pekuburan itu tergeletak bersosok-sosok mayat yang bergelimpangan di sana-sini, ada yang tergeletak 198 kaki di atas tanah ada pula yang terkapar di atas gundukan tanah pekuburan keadaannya benar-benar mengerikan.

Bentuk tubuh merekapun amat seram dan luar biasa ngerinya, ada yang kepalanya putus, ada yang anggota badannya terpapas, ada pula yang isi perutnya berhamburan...

bau amis darah tersebar dari empat penjuru.

Menyaksikan pemandangan seperti itu, diam-diam Ku See-hong bergidik dan merasakan bulu romanya pada bangun berdiri.

Sebagai pemuda yang cerdik, dengan cepat dia mengetahui apa yang menyebabkan kematian jago-jago persilatan itu.

Ternyata Ku See-hong sudah empat malam berdiam di dalam komplek tanah pekuburan itu, tiap malam pada kentongan ketiga dia selalu membawakan lagu "Dendam Sejagad"

Dengan keras dan lantang, hal mana membuat para jago persilatan yang sedang keheranan dan mencari-cari apa sebabnya lagu seram yang membetot sukma itu tiba-tiba lenyap dari dalam kuil bobrok tersebut, berduyun-duyun datang ke situ.

Maka di kala pada malam ke-empat suara nyanyian tersebut bergema lagi dari tanah pekuburan tadi, berduyun-duyun kawanan jago persilatan itu berdatangan ke sana.

Begitulah, sewaktu Ku See-hong sedang bersemedi pagi tadi, tak sedikit jago persilatan yang sedang menyelidiki asal nyanyian itu sampai di sana, salah seorang di antaranya adalah Im Yan cu.

Padahal waktu itu Ku See-hong sedang melatih semacam ilmu tenaga dalam tingkat tinggi, asal ia mendapat gangguan atau serangan yang datang dari luar, maka akibatnya pemuda itu akan mengalami "jalan api menuju neraka".

Masih mendingan kalau cuma terluka parah, bisa jadi selembar jiwanya akan turut melayang.

Pada mulanya jago-jago persilatan itu masih belum berani mendekati Ku See-hong, kemudian setelah melihat jelas bahwa orang itu tak lebih hanya seorang pemuda tampan, serentak merekapun melancarkan sergapan maut ke arahnya.

Maka demi melindungi selembar jiwa Ku See-hong, Im Yan cu segera melakukan pembantaian secara besar-besaran.

Waktu itu Ku See-hong sudah berada dalam keadaan lupa diri, sekalipun langit ambruk dia juga tak akan merasa, sudah barang tentu diapun tidak tahu kalau di sampingnya sedang berlangsung suatu pertarungan sengit yang benar-benar mengerikan.

Demikianlah, walaupun Ku See-hong merasa agak ngeri menyaksikan kekejaman Im Yan cu dalam melangsungkan pembantaian, namun karena dia merupakan tuan penolongnya dalam peristiwa kali ini, maka pemuda itu buru-buru menjura memberi hormat seraya katanya dengan lantang.

"Nona Im, aku orang she Ku merasa berterima kasih sekali atas pertolongan yang kau berikan kepadaku sehingga aku lolos dari bencana pada malam ini. Untuk budi kebaikan itu, di kemudian hari aku pasti akan berusaha untuk membalasnya, selain itu akupun minta maaf akan kekasaranku karena ketidaktahuanku tadi."

Mendadak paras muka Im Yan cu berubah menjadi dingin seperti es, setelah mendengus dingin, katanya dengan ketus.

"Hmmm! Siapa yang kesudian menerima pembalasan budimu itu? Huuuh... Aku membunuh orang-orang itu tak lain karena aku berpikir demi kepentinganku sendiri."

Mendengar perkataan itu, Ku See-hong menjadi tertegun, pikirnya.

"Tabiat dari perempuan ini benar-benar aneh sekali, baru saja berbicara dengan wajah berseri, tiba-tiba saja berubah kembali menjadi dingin tak berperasaan...."

Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata dengan lantang.

"Aku Ku See-hong selama hidup tak pernah menerima budi kebaikan orang dengan begitu saja. Pokoknya barang siapa pernah melepaskan budi kepadaku maka hal ini pasti akan kuingat selalu di dalam hati, sekalipun badan harus hancur, suatu ketika budi itu pasti akan kubayar."

Im Yan cu tertawa dingin dengan nada sinis, ujarnya dengan ketus.

"Huuuh... pura-pura berlagak sok tahu budi. Hmm! Sungguh menjemukan!"

Mendengar ucapan tadi, mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See-hong, katanya pula dengan gusar.

"Im Yan cu, aku orang she Ku adalah seorang lelaki sejati yang bisa membedakan mana budi dan mana dendam, apa yang kuucapkan tak akan kuingkari untuk selamanya. Aku bukan manusia rendah yang ada ucapan tanpa wujudnya."

Tiba-tiba Im Yan cu tertawa cekikikan, lalu katanya pula dengan suara dingin.

"Sungguh beruntung sekali aku, Im Yan cu dapat berkenalan dengan seorang Kuncu, seorang lelaki sejati seperti kau, tapi nanti kau akan menyesal dengan perkataanmu tadi. Nah, sekarang aku hanya ingin memohon sesuatu kepadamu, sanggupkah kau untuk melakukannya?"

Agak terperanjat Ku See-hong setelah mendengar perkataan itu, tapi dengan tegas dia menjawab.

"Apa permintaan nona silahkan diutarakan secara berterus terang, asal aku orang she Ku sanggup melakukannya, pasti akan kulakukan dengan sepenuh tenaga."

Paras muka Im Yan cu dingin kaku tanpa emosi, katanya dengan suara dingin.

"Nonamu cuma menghendaki batok kepalamu itu, bersediakah kau untuk memenggalnya dan diberikan kepadaku?"

Suaranya dingin kaku tanpa emosi dan lagi amat tegas, sama sekali tidak dibuat-buat ini membuat Ku See-hong merasa terkesiap dan segera terbungkam dalam seribu bahasa.

Dari balik sorot mata Im Yan cu segera terpancar keluar serentetan cahaya yang sangat aneh.

Diawasinya perubahan mimik wajah si anak muda itu, kemudian ejeknya dingin.

"Bagaimana? Kau merasa menyesal? Hmm! Tadi saja, lagaknya besar dan omongnya segede gajah."

Dari atas wajah Ku See-hong pun terpancar keluar serentetan cahaya yang aneh sekali, katanya pelan.

"Bila nona menghendaki batok kepala ini, aku orang she Ku tidak akan menampik, cuma akupun hendak mengajukan satu permintaan kepadamu, dapatkah kau memberi kelonggaran waktu selama tiga tahun kepadaku?"

Bila sudah sampai waktunya nanti, batok kepalaku ini pasti akan kuserahkan sendiri kepadamu, tapi jika kau bersikeras menghendaki batok kepalaku pada saat ini, terpaksa aku akan persilahkan kau untuk memenggalnya sendiri."

Ketika selesai mengupcakan perkataan itu, dari balik mata Ku See-hong pun terpancar keluar serentetan cahaya aneh yang menggidikkan hati, ia menatap wajah Im Yan cu tanpa berkedip.

Im Yan cu segera tertawa ringan katanya.

"Baik, daripada membangkang lebih baik menurut saja, sekarang juga nonamu akan memenggal batok kepalamu."

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Ku See-hong membentak keras.

"Aku sorang she Ku hendak mengajukan satu pertanyaan kepadamu."

Kemudian setelah berhenti sebentar terusnya lagi.

"Siapakah gurumu? Suhuku Bun-ji koan-su ada dendam sakit hati macam apa dengan dirimu?"

Dihadapkan oelh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ku See-hong itu, Im Yan cu menjadi tertegun.

Ternyata dia sendiripun tidak tahu dendam sakit hati seperti apakah yang terjalin antara gurunya dengan Bun-ji koan-su.

Maka setelah tertegun beberapa saat lamanya, dengan suara dingin dia berkata.

"Nama guruku tak akan diketahui oleh orang-orang persilatan... aku rasa kaupun tak perlu tahu, bagaimanapun juga kau toh sudah mendekati ajalnya, buat apa kau banyak ertanya? Sedangkan mengenasi dnedam sakti hati yang terjalin antara suhuku dengan Bun-ji koan-su, bahkan aku sendiripun tidak tahu, dari mana aku isa menerangkannya kepadamu?"

Mendengar perkataan tersebut, mendadak Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan gelak tertawa panjang yang keras dan membetot sukma.

Suara tertawanya itu penuh mengandung kesedihan, kepedihan dan kekosongan...

Begitu keras dan melengkinganya suara tertawa itu, selain membumbung jauh ke angkasa, juga menimbulkan getaran keras di sekeliling tempat itu, membuat suasana di dalam komplek tanah pekuburan itu menjadi lebih seram dan menggidikkan hati.

Im Yan cu sendiri pun dibuat berubah wajahnya setelah mendengar gelak tertawa itu, diam-diam pikirnya.

"Baru beberapa hari tidak bersua dengannya, kenapa tenaga alamnya bisa memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya? Jika dia sampai menggunakan jurus-jurus yang mematikan nanti, sudah pasti aku harus menggunakan banyak tenaga untuk menghadapinya...."

Sementara dia masih termenung dan berpikir sampai ke situ, mendadak suara tertawa yang keras itu berhenti sama sekali.

Suasana menjadi sepi dan hening....

Sesudah berhenti tertawa paras muka Ku See-hong berubah menjadi dingin dan kaku tanpa emosi, sorot matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, membuat orang merasa tercekat rasanya, kemudian dengan suara yang dingin ia berkata.

"Im Yan cu, sebagai seorang murid, sudah menjadi kewajibanmu untuk membalaskan dendam bagi sakti hati gurumu, cuma kalau toh 203 kau sendiri juga tak tahu dari mana timbulnya perselisihan antara gurumu dengan guruku, sudah barang tentu kau juga tak bisa menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah di dalam peristiwa ini. Aku orang she Ku anjurkan kepadamu, lebih baik janganlah melakukan pembalasan dendam secara membabi buta."

"Betul aku orang she Ku pernah berhutang budi kepadamu, tapi akupun tak ingin mati tanpa diketahui sebab musababnya, oleh sebab itu hutang ini sudah pasti aku orang she Ku bayar kepadamu. Jika kau berkeras kepala juga dan ingin membalas dendam saat ini, silahkan saja andalkan kepandaianmu untuk melakukannya."

Im Yan cu mengerling sekejap dengan sepasang biji matanya yang jeli, lalu sambil tersenyum katanya.

"Ku See-hong, kenapa sih kau marah-marah seperti lagi sewot? Kalau kau enggan menyerahkan batok kepalamu, yaa sudahlah, kenapa musti mengucapkan teori yang panjang lebar seperti itu?"

Ku See-hong segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya.

"Perempuan ini betul-betul sangat aneh... girang, marah tak menentu, sesungguhnya permainan busuk apa lagi yang hendak dia lakukan terhadap diriku...?"

Bagaikan segulung hembusan angin, dengan enteng Im Yan cu melayang turun ke atas tanah, kemudian dengan langkah yang lemah gemulai dia berjalan menghampiri Ku See-hong, sekulum senyuman menghiasi wajahnya membuat hati orang berdebar.

"Ku See-hong,"

Demikan dia berkata dengan merdu dan manja.

"entah mengapa, sedari berjumpa denganmu, aku selalu ingin marah-marah saja atau ingin menghajar dirimu, kalau sudah begitu hatiku baru terasa gembira rasanya, anggap saja kejadian tadi seperti asap yang lenyap di angkasa, sekarang, bagaimana kalau kau temani aku untuk bergebrak lagi beberapa jurus?"

Nadanya polos dan bersifat kekanak-kanakan, sepasang matanya yang bulat besar juga memancarkan cahaya lembut yang penuh dengan cinta kasih, langkah yang lembut ditambah potongan badannya yang tinggi semampai, membuat orang menjadi terpesona dibuatnya.

Sejak kecil, dari dalam hati Ku See-hong telah muncul suatu perasaan aneh, yakni membenci kaum wanita....

Senyuman Im Yan cu yang mengandung nafsu membunuh serta perubahan wataknya yang tak menentu, kesemuanya itu mendatangkan perasaan antipati dalam hatinya.

Maka dia lantas mendengus dingin setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan dingin.

"Im Yan cu, kau tak usah jual tampang di hadapanku, soal berkelahi aku orang she Ku juga tidak mempunyai kegembiraan tersebut. Budi kebaikan yang kuterima hari ini pasti akan kubalas di kemudian hari. Nah, sekarang aku ingin mohon diri lebih dahulu."

Selesai berkata, Ku See-hong segera membalikkan badan dan berjalan pergi dari situ.

Dia benar-benar tak ingin berkumpul dengan perempuan semacam ini.

Im Yan cu mengerdipkan sepasang matanya lalu tertawa, senyuman itu sungguh mempesona.

Hati lelaki mana saja yang bertemu dengannya sudah pasti akan terpikat dan jatuh hati.

00d0w00 Bab 10 TAPI sekarang, setelah mendengar ucapan Ku See-hong yang dingin kaku itu dia menjadi tertegun dibuatnya, hampir saja dia mengira si anak muda itu buta atau tak tahu perasaan.

Maka ketika dilihatnya Ku See-hong akan pergi dari situ, paras mukanya segera berubah hebat, bentaknya.

"Berhenti kau!"

Pelan-pelan Ku See-hong membalikkan badannya, lalu mencorong sinar tajam dari balik matanya, dengan dingin dia berkata.

"Nona Im, kau masih ada urusan apa lagi? Cepatlah katakan, kalau tidak, maaf kalau aku orang she Ku tak dapat lebih lama lagi menemani kau." -oo0dw0oo-

Jilid 7 SEAKAN-AKAN menerima suatu penghinaan yang amat besar, mendadak Im Yan cu mendengus karena mendongkol, kemudian air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Tergetar keras perasaan Ku See-hong setelah menyaksikan gadis itu mengucurkan air matanya, dia berpikir.

"Mungkin dalam hatinya terdapat suatu persoalan yang amat memedihkan hatinya, aku sebagai seorang lelaki sejati, tidak seharusnya bersikap demikian kepadanya sehingga membuat dia menjadi mendongkol. Aaai... watak setiap orang sebetulnya baik semua, cuma watak gadis ini agak aneh saja, siapa tahu kalau keanehannya itu dipengaruhi oleh gurunya...?"

Setelah berhasil menjelaskan sendiri kesulitan orang, sikapnya pun turut berubah menjadi lebih lembut dan halus, katanya pelan.

"Nona Im, kau mempunyai rahasia apakah yang menyulitkan dirimu? Silahkan kau katakan, bila aku orang she Ku bisa melakukannya pasti akan kubantu sedapat mungkin."

"Banyak urusan!"

Bentak Im Yan cu.

"Pergi kau dari sini, makin jauh semakin baik, hayo pergi!"

Ucapan yang terakhir itu ternyata sudah mendekati setengah menjerit, meski demikian, namun suara hatinya ketika itu justru merupakan kebalikan dari teriakannya tadi, betapa tak inginnya dia membiarkan Ku See-hong pergi meninggalkan tempat itu.

Ku See-hong yang tidak memahami perasaan perempuan dan seluk beluknya wanita segera menghela napas panjang, gumamnya.

"Perempuan, wahai perempuan... kau memang makhluk yang sukar untuk dihadapi."

Selesai bergumam, tubuhnya segera melayang ke tengah udara dan di tengah desingan angin tajam, tubuh Ku See-hong yang gagah perkasa itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Memandang bayangan punggung Ku See-hong yang lenyap di balik kegelapan itu, Im Yan cu yang cantik jelita bagaikan bidadari itu tak dapat menahan luka di hatinya lagi, tak bisa dicegah diapun menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.

Seorang gadis remaja yang baru mekar perasaan cintanya selalu memang panas dan bergairah, ketika ia bertemu dengan seorang lelaki yang mencekoki perasaannya, maka diapun berusaha mengesampingkan sifat malunya untuk menunjukkan perasaan cinta yang berkobar terhadap lawan jenis yang ditujunya itu.

Akan tetapi di kala mendapatkan sikap yag jauh di luar kehendaknya, bahkan pihak lawan menunjukkan sikap segannya, maka gadis itupun merasa harga dirinya tersinggung, tak hran kalau Im Yan cu merasakan haitnya benar-benar amat pedih.

Bila seorang gadis lemah yang tak punya orang tua dan hidup sebatang kara macam dia tidak memiliki sifat yang keras dan iman yang teguh, biasanya dia akan mengambil keputusan pendek bila menghadapi pukulan batin semacam ini.

00dw00 Waktu itu, kentongan kedua telah menjelang.

Langit bersih dan jagad terasa hening....

Rembulan memancarkan sinar lembutnya dari angkasa dan menyinari jalan pegunungan yang sepi.

Pada saat itulah nampak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa sedang berkelebat lewat.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini telah mencapai pada puncak kesempurnaan yang luar biasa.

Pada mulanya dia sendiripun tak tahu kalau dirinya memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian lihaynya.

Tatkala dia merasakan kalau ilmu ginkangnya telah mencapai ke tingkatan seperti itu, maka secara menggila diapun mengerahkannya sekuat tenaga, sebab dengan begitu rasa sesal di dalam hatinya baru dapat terlampiaskan.

Angin berhembus lewat menggoyangkan pepohonan, bayangan manusia itu dengan enteng dan cepat berkelebat lewat, selain suara gemerisiknya dedaunan yang terhembus angin, di sekeliling sana amat sepi, hening dan tenang.

Dengan berlarian secepat sambaran petir itu, dalam waktu yang singkat Ku See-hong telah melewati belasan buah puncak bukit.

Mendadak....

Dia menghentikan diri di atas tebing curam, tepat di hadapan sebuah jeram yang luasnya delapan sembilan kaki, lalu mendongakkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang.

Ia merasa semua kekesalan dan kemurungan yang mengganjal dalam dadanya selama ini dapat dilampiaskan keluar bersamaan dengan hembusan napas itu, dadanya terasa lega sekali.

Pelan-pelan Ku See-hong berjalan ke muka dan melengok ke dasar jeram tersebut, ternyata dalamnya mencapai dua puluhan kaki.

Air terjun tumpah ke bawah dari puncak bukit dan menumbuk di atas batu-batu cadas di dasar jeram.

Percikan air muncrat ke empat penjuru dan menimbulkan suara 'ting tang ting' yang merdu, hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan menciptakan pula serangkaian perpaduan suara yang lembut dan syahdu.

Mendadak....

Serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati lamat-lamat berkumandang datang dari kejauhan sana.

Suara tersebut berkumandang secara beruntun dan merupakan jeritan sekarat menjelang tibanya ajal, selain itu terdengar pula serentetan suara tertawa dingin yang amat seram, keras dan mengerikan hati.

Perpaduan suara yang beraneka ragam itu menciptakan suatu irama nada yang mengerikan di tengah kegelapan malam itu dan cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya.

Perasaan Ku See-hong yang tajam dengan cepat dapat menyadari kejadian apakah yang telah berlangsung di situ....

Suatu pembunuhan berdarah karena luapan dendam.

Dengan tenang dia berdiri tegak di tempat semula, sementara sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam pelan-pelan menyapu sekeliling jeram itu dan memeriksa asal mulanya suara jeritan tadi.

Namun kecuali aliran air sungai serta hembusan angin yang mendesis, suasana di sekeliling tempat itu masih tetap sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Jeritan ngeri serta gelak tertawa menyeramkan yang bergema tadi, meski berlangsung secara beruntun, tapi oleh karena suara itu menggema secara tiba-tiba, lagipula sekejap mata kemudian segala sesuatunya telah menjadi tenang kembali, maka Ku See-hong menghentikan pencariannya dan diam-diam berpikir.

"Pembunuhan berdarah semacam itu, mengapa bisa berubah menjadi tenang kembali dalam waktu singkat? Kalau begitu ilmu silat yang dimiliki orang itu sudah pasti lihay sekali atau mungkin korbannya adalah orang-orang yang tak pandai berilmu silat."

Berpikir sampai di situ, Ku See-hong segera beranjak dan melangkah pergi ke arah mana berasalnya suara itu, kemudian melakukan pencarian dengan seksama.

Dengan menelusuri jeram tersebut ia berjalan lebih kurang seratus kaki lebih mendadak sorot matanya menemukan sesuatu.

Di sebelah kanan jeram, dia menemukan sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu jembatan itu berdiri dari sebuah balok kayu yang dipalangkan dari tebing seberang ke tepi tebing sebelah sini.

Di ujung jembatan sebelah depan sana, di balik rimbunnya dedaunan tergantung sebuah lentera merah yang tergantung tinggi dan bergoyang ketika terhembus angin.

Ku See-hong mengerutkan dahinya, suatu pemandangan yang mengerikan seakan-akan terlintas dalam benaknya.

Jeram yang menganga di bawahnya amat dalam, sedang jembatan itu tergantung di atas awang-awang, meski lebarnya dua jengkal tapi bawah jeram tersebut merupakan gulungan air dengan ombak yang dahsyat serta arus yang deras, bila seseorang tidak bernyali dia akan pusing kepalanya bila berdiri di situ jangankan lewat, berdiripun tak berani.

Maka setelah menyaksikan bentuk jembatan itu Ku See-hong segera tahu kalau orang yang menghuni di sana sudah pasti jago persilatan yang mengerti ilmu silat.

Dalam sekejap mata, Ku See-hong telah berjalan menuju ke bawah tebing seberang.

Ketika ia mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya, tampaklah di samping jembatan tersebut terdapat sebuah hutan.

Di balik hutan terdapat sebuah rumah kecil yang terbuat dari batu, sinar lentera tampak keluar dari balik rumah tersebut.

Lentera merah yang terlihat tadi, tergantung di atas rumah batu itu.

Ku See-hong segera menghimpun tenaga dalamnya, kemudian sambil menyingsingkan baju dia melompat ke depan dan mengintip ke dalam rumah tadi.

Paras mukanya mendadak berubah hebat, untung saja selama berdiri di kuil kuno dulu sudah biasa terlatih untuk menghadapi hal-hal yang menyeramkan, kalau tidak....

Kiranya di dalam rumah batu itu, di samping meja tergeletak dua sosok mayat.

Sekilas pandangan tampak kedua sosok mayat itu memiliki perawakan tubuh yang tinggi kekar.

Mereka mengenakan baju ringkas berwarna emas dengan sebuah golok besar bergaris emas yang memancarkan sinar tajam tersoreng di pinggangnya.

Batok kepala kedua orang itu sudah dibikin gepeng sehingga paras mukanya sukar terlihat lagi.

Setelah menyaksikan dandanan dari kedua orang lelaki itu wajah Ku See-hong segera diliputi oleh kabut hitam, pikirnya.

"Kalau dilihat dari dandanan mereka, tampaknya kedua orang itu mengenakan dandanan dari anggota perkumpulan Kim-to-pang yang dulu didirikan oleh kedua orang tuaku, semenjak ayah ibu mati terbunuh, seluruh perkumpulan Kim-to-pang juga bubar tak karuan...."

Terbayang kembali kematian kedua orang tuanya yang dibunuh orang secara mengerikan, tanpa terasa titik ar mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Dengan cepat pikiran dan perasaannya juga terjerumus dalam kepedihan yang bukan kepalang.

Cahaya lentera dalam ruangan itu masih menyoroti tubuh kedua sosok mayat itu.

Ini semua membuat tanah pebukitan yang hening dan sepi itu terasa makin mengerikan dan menggidikkan hati.

Ku See-hong tertegun beberapa saat lamanya, kemudian menghela napas sedih.

Sepasang matanya memperhatikan kedua sosok mayat itu sekejap, lalu sambil menelusuri undak-undakan batu di sisi kiri rumah kecil itu, menuruti tebing tadi.

Suaana di bawah tebing amat sepi dan hening, bintang-bintang di angkasa juga bertaburan menyiarkan cahaya yang redup, di bawah tebing merupakan sebuah tanah persawahan yang luas, di belakang sawah adalah bangunan rumah yang rapat menyerupai sebuah perkampungan.

Cahaya lentera tampak memancar keluar dari antara bangunan rumah itu.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Ku See-hong.

Dia sedang berpikir, betulkah di dalam perkampungan itu berdiam para pengikut setia ayah ibunya yang tergabung dalam Kim-to-pang?

Benarkah mereka mengasingkan diri di sana sambil berusaha untuk melanjutkan perjuangan perkumpulannya?

Makin lama Ku See-hong merasakan hatinya semakin tidak tenang.

Setelah mendengar jeritan ngeri yang bergema tadi, kemudian menyaksikan suasana mengerikan yang terbentang di depan mata, suatu firasat jelek tiba-tiba saja muncul dalam hatinya.

Dengan cepat dia menyeberangi tanah persawahan itu.

Tampak di sebelah kiri sana terbentang sebuah sungai yang lebarnya dua kaki.

Air mengalir dengan derasnya, sedang di sebelah kanan tampak tanah perbukitan menjulang tinggi ke angkasa di bawah pantulan cahaya rembulan, menciptakan suatu pemandangan yang indah.

Di depan sana berdiri sebuah bukit yang tinggi.

Di kaki bukit berdiri sebuah bangunan perkampungan, ketika berjalan makin dekat tampaklah bangunan loteng dan gardu semakin jelas.

Di luar halaman perkampungan itu berdirilah sebuah dinding perkampungan yang tingginya beberapa kaki, pintu gerbang yang berwarna hitam pekat didirikan menghadap ke arah selatan.

Waktu itu pintu terbuka lebar, di atas pintu tertancap dua bilah golok emas yang menyilang.

Di bawah pancaran sinar remblan tampak cahaya emas yang berkilauan.

Ku See-hong berhenti sebentar di depan pintu.

Kemudian mengulur tangannya untuk menepuk gelang pintu keras-keras.

Ketika gelang pintu yang terbuat dari emas itu saling beradu terdengarlah bunyi dentingan yang amat merdu.

Tapi, suasana di dalam ruangan tetap sepi, bahkan keheningan tersebut erbawa pula suasana yang menyeramkan.

Ku See-hong merasa hatinya makin berat, keningnya berkerut kencang, baru saja kakinya melangkah masuk ke balik pintu, bau amis darah yang sangat tebal dengan cepatnya menyelimuti di seluruh angkasa.

Apa yang terbentang di depan matanya hampir saja membuat anak muda itu tertegun, benar-benar suatu pemandangan yang amat menggidikkan hati.

Di dalam halaman di balik pintu gerbang bercat hitam itu berbaringlah tiga puluhan sosok mayat.

Kalau dilihat dari dandanan maupun keadaan mereka, tak bisa disangkal lagi orang-orang itu memang berasal dari satu rombongan dengan kedua orang lelaki kekar yang dijumpainya tadi.

Tubuh mereka tidak dijumpai luka barang sedikitpun juga, tapi kepalanya sudah dihajar orang sampai hancur berantakan.

Mayat mereka bergelimpangan tak karuan, agaknya sebelum dibunuh mereka telah terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit.

Cahaya rembulan yang lembut menyinari noda darah di atas tanah.

Cahaya lampu yang redup terpancar keluar dari balik ruangan menambah keseraman suasana tempat itu.

Paras muka Ku See-hong berubah menjadi sangat berat, kalau dilihat dari bekas luka di atas mayat-mayat itu, dapat diketahui bahwa pembunuhan yang keji itu benar-benar memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, dan lagi sudah pasti bukan satu orang.

Paling tidak ada dua atau tiga orang yang terlibat.

Dari antara jago-jago lihay dalam dunia persilatan yang pernah dijumpainya belakangan ini, hanya Im Yan cu serta manusia aneh berkerudung itu saja yang memiliki kepandaian sehebat itu.

Lalu siapakah orang-orang itu?

Kenapa membunuh begitu banyak orang?

Apalagi orang-orang yang dibunuhnya itu seperti anggota setia dari Kim-to-pang?

Pelan-pelan Ku See-hong berjalan masuk ke dalam ruang tengah, mendorong pintu ruangan dengan tangan kirinya....

"Kraaakkk..."

Suara mencicit yang tajam memecahkan keheningan yang mencekam seluruh bangunan tersebut.

Pintu ruangan telah terbuka lebar tapi di dalamnya tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Kembali dia menelusuri ruangan itu dengan langkah pelan, lalu keluar lewat pintu sebelah kiri.

Di luar ruangan merupakan sebuah beranda, bangunan di sana indah dan menawan.

Di luar beranda nampak sebuah jalan kecil beralaskan batu putih yang jauh menjorok ke dalam.

Tiba-tiba Ku See-hong menyaksikan pula di kedua belah sisi jalan kecil itu, terkapar dua sosok mayat lelaki bercambang yang memakai jubah berwarna kuning emas, golok emas yang tergantung di pinggangnya baru tercabut separuh, tubuhnya yang tidak ditemukan luka, cuma kepalanya yang basah oleh darah.

Noda darah itu meresap sampai jauh ke dalam tanah di tepi jalan itu.

Kembali Ku See-hong berjalan belasan langkah menelusuri jalan itu, di sana ia temukan pula dua sosok mayat gemuk yang memakai jubah berwarna kuning pula.

Dua bilah golok emas yang berbentuk aneh mencelat jauh sekali dari sisi mayat itu.

Rambutnya penuh noda darah dan kepala merekapun hancur tak ada wujudnya.

Beberapa langkah lebih ke depan, terlihat pula sesosok mayat dari seorang kakek berjenggot panjang serta empat orang lelaki bercambang.

Tubuh merekapun tidak dijumpai luka, tapi kepalanya penuh dengan noda darah.

Di ujung jalan kecil itu, di dalam gardu persegi enam tampak enam tujuh sosok mayat terkapar tak karuan bentuknya, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kurus ada pula yang gemuk, tapi kematian mereka mengerikan sekali.

Kendatipun Ku See-hong bernyali besar, tak urung hatinya dibikin bergidik juga setelah menyaksikan peristiwa itu, juga bergidik oleh kelihayan ilmu silat yang dimiliki pembunuh itu, juga bergidik oleh kekejian lawannya.

Selain daripada itu, muncul juga suatu perasaan marah dan sedih dalam hatinya, sebab orang-orang itu mirip sekali dengan anggota Kim-to-pang yang didirikan ayah-ibunya.

Ku See-hong tidak percaya kalau di dalam halaman itu sudah tiada seorang manusiapun, maka dia melanjutkan pemeriksaannya ke depan.

Setelah melewati gardu persegi enam sampailah dia di sebuah halaman luas.

Tapi apa yang terlihat membuat darahnya mendidih, giginya digertak kencang-kencang dan sinar matanya memancarkan pancaran cahaya yang menggidikkan hati.

Dia merasa benci, benci yang tak terkirakan.

Dia mendendam terhadap kebuasan pembunuh itu.

Kekejaman orang itu benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.

Ternyata di dalam halaman tersebut berserakan mayat yang jumlahnya mencapai tiga empat puluh sosok dalam keadaan mengerikan...

ternyata pembunuh kejam itu membunuh tanpa pilih bulu, baik anak kecil ataupun kaum wanita tak ada yang berhasil lolos dari pembunuhan biadab itu.

Perasaan Ku See-hong ketika itu penuh diliputi oleh peraaan sedih dan marah.

Dari balik sorot matanya yang tajam terpancar keluar sinar kemarahan yang menggidikkan hati, diam-diam ia bersumpah akan membalaskan dendam bagi kematian orang-orang itu, dia akan menggunakan cara yang sama kejinya, sama biadabnya dan sama buasnya untuk membalas dendam kepada pembunuh brutal itu.

Hal 19-20 robek....

Tiba-tiba muncul seorang kakek dalam keadaan terluka yang sangat mengerikan.

"Kalian pembunuh kejam yang berhati binatang sekalipun lohu berubah menjadi setan pun tetap akan menggaet nyawa kalian, kau... kau...!"

Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan penuh emosi, seluruh tubuh kakek kurus itu gemetar keras dan gontai kesana kemari, wajahnya yang menyeringai menyeramkan segera menunjukkan kesakitan hebat, sehingga kata-kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan lagi.

Betapa girangnya Ku See-hong menyaksikan kakek kurus itu belum mati, dengan cepat dia melompat ke muka dan menghampirinya.

Kakek kurus itu mengira Ku See-hong hendak melancarkan serangan mematikan ke arahnya, dengan cepat dia membentak.

"Kau manusia berhati binatang, lohu akan beradu jiwa denganmu!"

Berbicara sampai di situ dia lantas menghimpun sisa tenaga dalam yang dimilikinya, dengan jari-jari tangan yang hitam pekat dan kurus kering ia sambar musuhnya, jari-jari tangannya yang direntangkan bagaikan cakar besi, ibaratnya sepuluh bilah pedang tajam langsung mencengkeram tubuh Ku See-hong.

Terkesiap juga hati Ku See-hong menghadapi ancaman tersebut, sebab jurus serangan yang dipergunakan kakek itu selain aneh juga cepatnya bukan kepalang sehingga membuat orang tak tahu bagaimana caranya menghindarkan diri.

Ia tak berani membendung ancaman tersebut dengan kekerasan, maka dengan mengerahkan ilmu Mi-khi-biau-tiong ia berkelit ke samping secara gesit dan aneh.

Agaknya isi perut kakek ceking itu sudah mengalami luka yang cukup parah, batok kepalanya pun terkena sebuah pukulan yang mematikan, kesadarannya sekarang tak lebih karena memperoleh tunjangan hawa murninya yang sempurna, sehingga dengan mengandalkan sehembus napas yang belum membuyar ia tetap mempertahankan diri.

Sekarang setelah serangannya gagal mencapai sasaran dan sisa hawa murninya membuyar ia tak sanggup untuk mempertahankan diri lagi, tubunya roboh terkapar ke atas tanah, napasnya tersengkal-sengkal, namun sorot matanya yang belum membuyar itu masih mengawasi wajah Ku See-hong dengan penuh kebencian.

Ku See-hong tahu bahwa kakek ini telah salah menganggap dirinya sebagai seorang pembunuh, buru-buru serunya.

"Lo-pek... lo-pek, jangan marah dulu, boanpwe bukan seorang pembunuh, melainkan seorang perawat jalan belaka."

Sementara itu, si kakek kurus itu sudah dapat melihat jelas kalau pendatang itu adalah seorang pemuda yang tampan, apalagi setelah mendengar suara dari Ku See-hong, dengan cepat ia tersadar bahwa si anak muda itu bukanlah pembunuh berhati binatang seperti apa yang diduganya semula.

Walaupun begitu, hati kecilnya merasa terkesiap sekali, sebab dengan suatu gerakan yang begitu mudah pemuda itu telah berhasil menghindarkan diri dari serangan mematikannya yang dahsyat itu, padahal seingatnya hanya beberapa gelintir manusia saja dalam dunia persilatan yang mampu melakukan hal itu.

Dengan gelisah Ku See-hong segera bertanya.

"Lopek, lopek, apakah kau hendak memberitahukan kepada boanpwe, siapa-siapa saja pembunuh keji yang telah melakukan pembantaian secara brutal itu?"

Sepasang mata si kakek kurus yang mulai sayu itu mendadak menatap wajah Ku See-hong tanpa berkedip, agaknya dia sedang berusaha untuk menemukan kembali kenangan serta ingatannya yang sudah mulai membuyar itu.

Ku See-hong sendiripun meraa amat curiga sewaktu dilihatnya orang kakek kurus itu hanya membungkam sambil mengawasi wajahnya tanpa berkedip, pikiran dan prasaannya menjadi kalut sekali, sebab dia kuatir kakek itu mati dengan begitu saja, sehingga pembunuhan brutal ini sama sekli tak diketahui olehnya.

Dengan nada gelisah kembali Ku See-hong bertanya.

"Lopek, lopek, apakah kau masih bisa berbicara? Cepat katakan, boanpwe akan membalaskan dendam bagi kalian."

Tiba-tiba selintas perasaan aneh menghiasi wajah si kakek kurus yang mengenaskan itu, bibirnya bergetar dan muncullah serentetan perkataan yang amat lemah.

"Si... siapa... siapa namamu?"

Ku See-hong merasa girang sekali ketika dilihatnya kakek itu masih dapat berbicara, dengan cemas katanya.

"Boanpwe she Ku, bernama See-hong.... Lopek, cepat kau katakan, siapakah pembunuh itu?"

Mimik wajah kakek kurus itu berubah semakin misterius dan aneh, dengan suara gemetar dia berkata.

"A... apakah... apakah di atas lengan kirimu, di antara lekukan sikutmu terdapat sebuah tahi lalat berwarna merah?"

Tak terlukiskan rasa kaget Ku See-hong sesudah mendengar perkataan itu.

Ia tak habis mengerti mengapa kakek itu bisa tahu kalau di antara lekukan sikutmu terdapat tahi lalat berwarna merah, padahal sejak berusia dua tahun dulu, kedua orang tuanya sudah mati terbunuh secara mengenaskan, sedangkan dia sendiri dibesarkan oleh mak-inangnya di mana orang tua inipun meninggal dunia sewaktu dia berusia delapan tahun....

Praktis tiada sanak keluarganya lagi sejak waktu itu.

Tapi, dari manakah orang tua ini bisa mengetahui ciri tersebut dengan begitu jelas?

Sementara itu, tatkala si kakek kurus itu melihat rasa kaget bercampur rasa tercengang menghiasi wajah pemuda itu, tahulah dia bahwa dugaannya memang benar.

Tiba-tiba saja dari balik sorot matanya yang sudah mulai memudar itu muncul serentetan cahaya yang aneh sekali.

"Nak..."

Dia berkata gemetar.

"Siapa... siapakah orang tuamu? Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?"

Melihat kakek itu menanyakan nama orang tuanya, secara tiba-tiba Ku See-hong yang pintar segera menyadari sesuatu.

Dia tahu si kakek kurus beserta orang-orang yang telah tewas terbunuh itu kemungkinan besar adalah bekas-bekas anggota perkumpulan Kim-to-pang yang masih setia kepada orang tuanya.

Air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajah Ku See-hong, serunya dengan suara keras.

"Lopek, apakah kalian bekas anggota perkumpulan Kim-to-pang? Boanpwe... boanpwe... ayahku bernama Ku Kiam-cong, sedang ibuku bernama Lik-ih-li (Perempuan Berbaju Hijau) Hoangpo Yan...."

Sekujur badan kakek kurus itu gemetar semakin keras, dua titik air mata darah jatuh bercucuran membasahi pipinya. Dengan penuh emosi dia berseru.

"Sau pangcu, kau... kau tidak membunuh bukan? Apakah lohu... apakah lohu sedang bermimpi?"

"Lopek jangan memanggil aku sau-pangcu, aku tak sanggup menerima panggilanmu itu,"

Kata sang anak muda amat emosi sekali air matanya jatuh bercucuran semakin deras.

"Lohu tak lain adalah tongcu dari ruang Sin-tong dalam perkumpulan Kim-to-pang yang didirikan ayahmu dulu. Orang menyebutku San-tian-han-jiau, Cakar Dingin Sambaran Kilat Sangkoan Ik. Sungguh beruntung sekali lohu dapat bersua muka denganmu sebelum menutup mata untuk selamanya... pangcu suami istri dapat mempunyai seorang anak seperti kau, berada di alam bakapun arwah mereka dapat beristirahat dengan tenang...."

"Empek Sangkoan, masih sanggupkah kau untuk mempertahankan diri?"

Tanya Ku See-hong dengan cemas.

"Katakan dulu siapa pembunuh keji itu? Terangkan pula segala sesuatu alasannya."

Dengan suatu gerakan yang amat cepat Ku See-hong membangunkan tubuh San-tian-han-jiu Sangkoan Ik, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

Ia hanya bisa mengawasi kakek yang setia kepada perkumpulannya ini dengan teramat sedih.

Sorot mata kasih sayang memancar keluar dari balik mata Si Cakar Dingin Sambaran Kilat Sangkoan Ik, kemudian ia berkata.

"Nak, musuh-musuh besarmu hampir semuanya berilmu silat sangat lihay, cara kerjanya pun amat buas, kejam dan tidak mengenal ampun. Setelah kau ketahui siapakah pembunuhnya nanti, aku minta kau jangan membalas dendam secara membabi buta. Ingatlah Pangcu hanya mempunyai kau seorang untuk melanjutkan keturunannya, bila kau sampai mengambil tindakan yang gegabah bagaimana pula tanggung jawabmu nanti kepada orang tuamu di alam baka...?"

"Ketika kau baru lahir dulu, siang malam lohu selalu membopong dirimu, apalagi lohu memang tidak mempunyai keturunan, aku telah menganggap kau sebagai anak kandungku sendiri, itulah sebabnya aku harap kau bisa baik-baik menjaga diri...."

Ketika berbicara sampai di situ, San-tian-han-jiu merasakan darah di dalam rongga dadanya bergolak keras, tanpa terasa ucapannya terpotong sampai di separuh jalan dan tak sanggup untuk melanjutkan lebih jauh....

Setelah mendengar keterangan itu, Ku See-hong juga baru tahu apa sebabnya kakek itu bisa tahu kalau di lekukan sikutnya terdapat sebuah tahi lalat berwarna merah, kiranya sedari ia masih bayi dulu kakek ini sudah mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan dirinya.

Kenyataan ini seketika menimbulkan gejolak emosi di dalam dadanya, sambil sesenggukan menahan isak tangisnya, dia berkata.

"Empek Sangkoan, Hong-ji akan menuruti perkataanmu, Hong-ji telah berhasi mempelajari beberapa macam ilmu sakti dari guruku Bun-ji koan-su Him Ci-seng, aku yakin kemampuanku masih dapat dipergunakan untuk membunuh musuh-musuh besarku itu."

Sinar mata tercengang memancar keluar dari balik mata San-tian han-jiau Sangkoan Ik, serunya agak gemetar.

"Nak, apakah manusia berbakat setan Bun-ji koan-su Him Ci-seng masih hidup di dunia ini?"

"Setelah suhu mewariskan tiga macam kepandaian sakti kepada Hong-ji, ia telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini,"

Sahut pemuda itu dengan wajah amat sedih.

Tadi, ketika San-tian han-jiu mendengar pengakuan dari Ku See-hong yang mengatakan bahwa dia adalah muridnya Bun-ji koan-su, mula-mula dianggapnya dia sudah salah mendengar, maka pertanyaan tersebut diulangi sekali lagi.

Tapi sekarang, setelah tahu dengan pasti bahwa Ku See-hong memang benar-benar adalah muridnya Bun-ji koan-su, tak terlukiskan rasa girang di dalam hatinya.

Itu berarti dendam kesumat mereka ada harapan untuk dilampiaskan.

"Nak..."

Seru Sangkoan Ik dengan penuh emosi.

"Kau... rejekimu sungguh amat besar, oooh... Sekalipun harus mati, lohu akan mati dengan mata meram."

Berbicara sampai di situ, suaranya makin lama makin lemah, seluruh badannya gemetar keras menahan penderitaan yang luar biasa, kulit mukanya mengejang keras, sementara wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti sesosok mayat.

"Empek Sangkoan...!"

Jerit Ku See-hong dengan amat sedihnya.

"Sadarlah... sadarlah dahulu, siapa-siapakah musuh besar kita? Kau... kau belum mengatakannya."

San-tian-han-jiau berkerut kening dan pelan-pelan memejamkan matanya, tapi ia segera membuka kembali matanya.

Darah dalam jantungnya waktu itu telah membeku dan tak sanggup untuk mengalir ke dalam seluruh badannya lagi.

Setelah termenung beberapa waktu, dia baru dapat berbicara dengan suara parau yang sangat lemah.

"Nak, musuh besar pangcu adalah... Perkumpulan Thi-kiong-pang serta... serta Cian-khi-pang... masih ada dalang lain yang berdiri di belakang layar. Di kemudian hari orang itu pasti akan berhasil kau temukan.... Sedangkan orang-orang yang membunuh segenap sisa anggota Kim-to-pang pada malam ini adalah... Huan-mo kiangcu dari Lam-hay, Han-thian It-kiam (Pedang Sakti dari Han-thian) Cia Cu-kim sekalian...."

"Dendam ini menyangkut soal hubungan sakit hati guru ayahmu de... dengan ayah dari Han-thian-it-kiam. Juga menyangkut sebuah 'benda' kepercayaan milik aliran Lam-hay-bun. Saa... sayang benda itu... telah mereka rampas kembali. Kemungkinan besar Lam-hay Huan-mo-kiong akan melakukan penyerbuan lagi ke daratan Tionggoan, mereka... mereka adalah manusia-manusia yang berbahaya, buas dan berilmu tinggi. Besar kemungkinan mereka akan menerbitkan kembali badai bencana di seluruh dunia persilatan.... Lohu sungguh merasa tak punya muka untuk... untuk berjumpa muka dengan kedua orang tuamu... aku menyesal tak mampu melindungi benda itu dengan sebaik-baiknya...."

Tapi setelah berbicara sampai di situ, di atas wajah Han-jiau santian Sangkoan Ik yang pucat pias, tersungging sekulum senyuman yang amat lembut.

Begitulah, di ringi senyuman tadi akhirnya dia telah meninggalkan dunia yang fana ini untuk mendapatkan ketenangan selamanya....

Dengan meninggalnya Sin-tong tongcu dari perkumpulan Kim-to-pang ini, maka berakhir pula segenap jago lihay perkumpulan Kim-to-pang yang masih tersisa di dunia ini.

Kenyataan semacam ini benar-benar merupakan suatu kenyataan yang sangat tragis....

Ku See-hong, pemuda keras kepala yang mempunyai hati teguh ini tidak menangis tapi air mata jatuh bercucuran dengan amat derasnya membasahi seluruh wajahnya, padahal kepedihan yang mencekam perasaannya sekarang sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

= (Soal benda yang dipersengketakan antara pihak Huan-mo-kiong dari Lam-hay dengan Kim-to-pang akan diungkap di belakang cerita ini)= Mendadak....

Dari balik mata Ku See-hong yang basah oleh air mata, terpancar keluar cahaya yang menggidikkan hati, keningnya berkerut lalu mendengus dingin dengan nada yang amat sinis.

Tubuhnya melejit ke tengah udara dan melayang secepat kilat, tahu-tahu dia sudah berada di luar halaman bangunan tersebut.

Di tengah keheningan malam dan di bawah cahaya rembulan yang redup, di sebelah selatan tanah perbukitan itu tampak ada empat sosok bayangan manusia sedang berlarian dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Sekulum senyuman sinis yang menggidikkan hati segera tersungging di ujung bibir Ku See-hong, dia percepat gerakan tubuhnya untuk menjejar dari belakang.

Dalam waktu singkat Ku See-hong telah berhasil menyusul keempat sosok bayangan manusia di depan itu, jaraknya tinggal lima enam kaki belaka.

Dengan suara menggeledek pemuda itu segera membentak.

"Empat saudara yang berada di depan, harap tunggu sebentar!"

Agak terkesiap keempat sosok bayangan manusia itu tatkala mendengar suara bentakan yang menggeledek tersebut.

Sementara mereka tertegun, Ku See-hong yang berada di belakangnya telah melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang mengerikan menerjang ke tengah-tengah antara keempat sosok bayangan manusia itu.

Walaupun serangan itu dilancarkan dari jarak lima kaki, tapi oleh karena tenaga dalam yang dimiliki Ku See-hong belakangan ini telah memperoleh kemajuan yang pesat, maka angin pukulan tersebut bagaikan amukan ombak dahsyat di tengah samudra, menggulung ke depan.

Agaknya ilmu silat yang dimiliki keempat sosok bayangan manusia itupun tidak lemah.

Tampak mereka mengegos ke samping dengan cekatan sekali, masing-masing mempergunakan gerakan yang aneh tapi sakti, kemudian sambil membentak, bayangan manusia berkelebat lewat dan berbalik menerjang ke arah Ku Seehong.

Angin pukulan bayangan kaki segera memenuhi seluruh angkasa.

Berkobarlah suatu pertarungan yang amat seru di tempat itu.

Serangan gabungan yang dilakukan keempat orang ini sungguh luar biasa sekali, angin pukulan datang berlapis, tendangan keji menderu-deru seperti angin puyuh, semua ancaman tersebut datang dari arah delapan penjuru dan bersama-sama tertuju ke tubuh anak muda itu.

Paras muka Ku See-hong berubah hebat sesudah menyaksikan jurus serangan yang dipergunakan musuhnya.

Bahna nafsu membunuh segera berkobar, sambil berpekik nyaring dia membentak.

"Kawanan tikus dari Lam-hay Huan-mo-kiong, serahkan nyawa kalian!"

Pekikan nyaring dan bentakan keras segera bergema bercampur aduk menjadi satu....

Ku See-hong melakukan suatu gerakan busur yang bercahaya tajam dengan tangan kanannya, kemudian tubuhnya menerjang ke muka secara tiba-tiba, segulung desingan angin tajam yang disertai kilatan cahaya menyerang orang yang berada di sebelah kiri itu.

Jeritan ngeri yang memilukan hati sgera berkumandang memecahkan keheningan, tahu-tahu batok kepala orang itu sudah terbacok hancur menjadi berkeping-keping dan tewas seketika itu juga.

Tiga orang sisanya betul-betul tahu diri, serentak mereka perdengarkan suara pekikan yang aneh sekali, kemudian dengan memisahkan diri ke tiga penjuru yang berbeda, seperti anjing-anjing 224 yang kena digebuk, mereka kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Sorot mata Ku See-hong memancarkan sinar merah yang berapi-api karena gusar, menyusul dua kali lompatan ke muka, jari tangannya digetarkan.

Lima gulung desingan cahaya putih segera memancar ke empat penjuru.

Lagi-lagi berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Orang yang kabur menuju ke arah barat itu tahu-tahu sudah terkena serangan dan tewas seketika.

Sementara Ku See-hong melakukan pembunuhan di situ, dua sosok bayangan manusia yang lain telah manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menyelamatkan diri.

Tahu-tahu bayangan tubuh mereka bedua sudah lenyap tak berbekas.

Senyum sinis yang mengerikan segera tersungging di ujung bibir Ku See-hong, dengan mempergunakan suara yang dingin seperti salju, dia berkata lantang.

"Manusia-manusia laknat dari Lam-hay Huan-mo-kiong, ingat saja pembalasanku nanti. Ehmm... secara keji dan buas kalian telah membasmi perkumpulan Kim-to-pang kami, membantai setiap anggota perkumpulan kami secara keji dan brutal, tak seorang pun yang kalian biarkan hidup. Baik... ingat saja baik-baik, suatu ketika aku pun akan mempergunakan cara yang sama seperti apa yang kalian lakukan hari ini untuk membantai kalian semua."

"Mulai detik ini, aku Ku See-hong bersumpah akan membunuh habis kalian anjing-anjing keparat dari Lam-hay Huan-mo-kiong, aku akan membunuh terus sampai semua orang-orangmu punah, sampai istana Huan-mo-kiongmu rata dengan tanah, bila aku tidak mewujudkan sumpah yang kuucapkan pada hari ini biar langit dan bumi mengutuk diriku...."

Selesai mengucapkan sumpahnya itu, Ku See-hong memperlihatkan sorot mata berapi-api yang penuh disertai rasa benci dan dendam yang amat tebal dan menusuk tulang seakan-akan kalau bisa dia ingin membasmi semua musuhnya yang ada di dunia ini.

Setelah berdiri termangu beberapa saat lamanya, pemuda itu lantas menengadah dan berpekik nyaring.

Suara pekikan tersebut melengking tinggi dan memanjang di tengah udara....

Di balik suara pekikan tersebut, penuh terkandung rasa sedih dan marahnya yang membara.

Seakan-akan badai dunia persilatan yang penuh berbau anyir darah sudah berada di ambang pintu.

Berbareng dengan selesainya suara pekikan tadi, mendadak Ku See-hong melejit ke depan dan berangkat menuju ke istana Huan-mo-kiong di Lam-hay....

00d-w00 Bab 11 DI TENGAH lautan Lam-hay yang amat luas, tersebar berpuluh-puluh pulau kecil.

Kepulauan tersebut telah terlepas sama sekali dengan daratan.

Huan-mo-kiong terletak di sebelah timur lautan Lam-hay di atas sebuah pulau misterius dan menyeramkan, para nelayan di sekitar sana selalu menaruh perasaan ngeri dan was-was terhadap pulau itu.

Oleh sebab itu belum pernah ada orang yang berani melakukan penyelidikan terhadap keadaan pula tersebut.

Ilmu silat aliran Lam-hay sudah termasyhur dalam dunia persilatan karena keanehan dan kesaktiannya Hun-mo-kiongcu pemilik pulau Huan mo-to tersebut, yakni Han-thian it-kiam (Pedang Sakti Langit Dingin) Cia Cu-kim, sudah termasyhur sekali namanya di seantero jagad.

Dulu, ayah Cia Cu-kim yang bernama Hu-hay it-kiam (Pedang Sakti Laut Seberang) Cia Long-po pernah memimpin anak muridnya menyerbu ke daratan Tionggoan, membantai umat persilatan dan berusaha menanamkan pengaruh mereka di sana.

Waktu itu tak seorang jagoanpun dari sembilan partai besar dunia persilatan yang sanggup membendung serbuan mereka itu.

Ketika dalam dunia persilatan bertambah gawat dan tampaknya segera akan terjatuh ke tangan Hu-hay it-kiam Cia Long-po beserta begundalnya, untung saja ada dalam dunia persilatan, seorang pendekar yang berilmu tinggi...

dia tak lain adalah guru Ku Kiam-cong, pedang nomor wahid dalam dunia persilatan Thio-pek-siong.

Mereka berdua berjanji akan melangsungkan duel pedang di dalam istana Huan-mo-kiong, untuk menentukan masa depan berjuta-juta umat persilatan di daratan Tionggoan, serta ketentuan apakah orang-orang dari Lam-hay Huan-mo-kiong akan berhasil menguasai daratan Tionggoan atau tidak.

Dalam suatu pertarungan sengit yang kemudian berlangsung dalam istana Huan-mo-kiong, antara Bu-lim-tit-it-kiam Thio Pek-siong melawan Ku-hay-it-kiam Cia Long-po, secara mengejutkan sekali Thio Pek-siong berhasil menangkan lawannya.

Sebagai umat persilatan yang menjunjung tinggi setiap perkataan yang diucapkan, terpaksa Hu-hay-it-kiam Cia Long-po harus menyerahkan pedang mestika alirannya, yaitu pedang Huan-mo-kiam kepada Bu-lim-tit-it-kiam Thio Pek-siong serta berjanji untuk tak akan muncul kembali dalam daratan Tionggoan.

Sejak saat itu, pedang pendek Huan-mo-kiam disimpan oleh Bu-lim-tit-it-kiam Thio Pek-siong.

Menjelang saat kematiannya, ia telah menyerahkan pedang pendek Huan-mo-kiam itu kepada muridnya Ku Kiam-cong (ayah dari Ku See-hong).

Sayang pada dua puluh tahun berselang perkumpulan Kim-to-pang telah musnah di tangan orang...

Sebelum meninggal dunia, Ku Kiam-cong telah menyerahkan pedang pendek itu kepada Sin-tong tongcunya yakni San-tian-han-jiau Sangkoan Ik.

Hu-hay-it-kiam Cia Long-po sendiri menjelang saat menghembuskan napasnya yang penghabisan, telah berpesan pula kepada putranya Han-thian-it-kiam Cia Cu-kim, seandainya golongan mereka memiliki kekuatan yang cukup, maka pedang pendek Huan-mo-kiam tersebut harus berusaha untuk direbut kembali.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim, adalah seorang manusia licik dan berotak cerdas, dia pun mempunyai ambisi yang sangat besar.

Setelah kematian ayahnya dia mulai menyusun rencana untuk 'melalap' daratan Tionggoan, serta membalas dendam bagi sakit hati ayahnya.

Maka, diapun secara diam-diam mulai menghimpun sampah-sampah masyarakat di dalam dunia persilatan untuk berpihak kepadanya, kemudian menjadikan Huan-mo-kiong di Lam-hay sebagai sarang perompak.

Han-thian it-kiam Cia Cu-kim yang menutup diri selama lima puluh tahunan, benar-benar telah berhasil memiliki serangkaian ilmu silat yang luar biasa sekali hebatnya, selain itu gembong-gembong iblis yang berhasil dihimpun olehnya juga tak terhitung jumlahnya, hal mana membuat ambisi iblis tua ini untuk menguasai seluruh dunia persilatan semakin berkobar-kobar.

Sasaran pertama yang menjadi incarannya sudah barang tentu perkumpulan Kim-to-pang yang menyimpan pedang pendek Huan-mo-kiam.

Sebab bila pedang pendek Huan-mo-kiam tersebut belum diambil kembali, maka menurut peraturan, pihak Huan-mo-kiong yang turun-temurun, semua anggota perguruan tersebut dilarang menginjakkan kakinya lagi di daratan Tionggoan.

Di sinilah pangkal sebab mengapa para anggota setia dari perkumpulan Kim-to-pang yang masih tersisa mengalami nasib yang mengenaskan sekali.

Langit berawan, ombak bergulung-gulung terhembus angin kencang.

Sebuah sampan kecil berlayar menembusi gulungan ombak, memercikkan bunga air dan melaju ke muka.

Di atas sampan itu duduk seorang pemuda yang tampan.

Sepasang matanya memancarkan cahaya dingin yang menggidikkan hati, ia sedang memandang ke tempat kejauhan, memandang setitik hitam di ujung langit situ....

Siapakah pemuda ini?

Dia tak lain adalah Ku See-hong.

Cahaya matahari telah memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru dan memantul di atas permukaan langit.

Langit nan biru, suasana nan hening, mendatangkan perasaan nyaman bagi siapapun juga.

Segulung angin laut berhembus lewat membawa udara yang asn dan amis.

Sampan Ku See-hong dengan seelmbar layar persegi tiganya menembusi ombak berlayar dengan tenangnya ke depan.

Gelombang laut tidaklah begitu besar, hanya angin laut berhembus sepoi menimbulkan gulungan kecil yang satu demi satu saling berkejaran.

Sejauh mata memandang hanya lautan yang luas terbentang di depan mata dan bersatu dengan langit di ujung sana, mendatangkan perasaan yang lapang dan luas bagi siapapun yang memandangnya.

Kadangkala satu dua ekor burung manyar terbang merendah dan meliuk-liuk menukik kesana kemari, mendatangkan perasaan damai di hati semua orang....

Ku See-hong mendayung terus sampannya dengan penuh bersemangat, setiap dayungan mmbuat perahunya meluncur ke depan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, apalagi terhembus oleh angin lembut, membuat lajunya sampan itu melebihi larinya sang kuda.

Dalam waktu singkat, matahari yang indah telah melepaskan sinar keemas-emasannya yang memabukkan, pelan-pelan menembusi air samudra yang hijau dan menyorot ke arah kedalaman lautan.

Pemandangan alam yang terbentang waktu itu begitu cantik sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, mungkin hanya orang yang berada di tempat kejadian saja yang dapat merasakannya.

Lambat laun, di ujung langit kejauhan sana muncul setitik hitam yang kecil, tampaknya pulau Huan-mo-to sudah berada di depan mata.

Pelan-pelan tapi pasti, pulau itu makin lama semakin mendekat, sekarang Ku See-hong telah dapat menyaksikan segala sesuatu yang berada di atas pulau tersebut.

Lalu perahu pun makin lambat sementara suara ombak yang memecah di tepian pantai semakin terdengar jelas.

Akhirnya ia mencapai tepi pantai berpasir yang lembut.

Dengan gesit Ku See-hong melompat turun ke daratan, sebuah pantai berpasir yang berbentuk bukit kecil terbentang di depan mata.

Setelah melewati bukit berpasir itu, di atasnya baru merupakan permukaan tanah biasa.

Di atas tanah tertera selapis batu kerikil yang lembut tampaknya batuan itu digunakan sebagai bahan untuk membendung tanah agar tidak terjadi tanah longsor.

Dengan mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna, Ku See-hong berlarian di balik pepohonan yang tumbuh di tepi jalan menuju ke ujung jalan berlapis batu, kemudian membelok ke sebelah kanan, tiba-tiba pemandangan alam yang terbentang di hadapannya berubah.

Pepohonan yang tumbuh di sisi jalan makin tipis dan jarang, tapi di antara sela-sela pohon dengan pohon, tumbuh aneka rumput dan bunga yang indah.

Memandang dari kejauhan, yang terlihat hanya warna merah, kuning, hijau yang berwarna-warni, lamat-lamat terendus pula bau harum semerbak yang memabukkan.

Waktu itu, kegelapan malam sudah mulai menyelimuti seluruh jagad.

Suatu malam yang sepi telah menjelang tiba, walaupun rembulan belum muncul dari balik awan, namun kerlipan bintang yang berkerlip di angkasa memancarkan cahaya yang redup, itulah sebabnya semua pemandangan alam di sekelliling tempat itu dapat terlihat dengan jelas.

Tanpa terasa Ku See-hong telah memperlambat langkahnya, dari balik matanya terpancar keluar sinar tajam yang menggidikkan, dengan cekatan dia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ternyata pulau Huan-mo-to yang begitu luas, sama sekali tak tampak sesosok bayangan manusiapun.

Keheningan yang amat mengerikan mencekam seluruh jagad, hanya lamat-lamat saja kedengaran suara ombak yang memecah di tepian.

Walaupun dendam kesumat berkobar di dalam dadanya, walaupun dia datang ke Huan-mo-kiong untuk membalas dendam, namun perasaannya saat ini berat sekali.

Dia cukup tahu akan kemampuan orang-orang Huan-mo-kiong yang rata-rata berilmu tinggi, dia juga tahu akan kekejaman mereka serta alat-alat rahasia mereka yang berbahaya, kesemuanya ini menimbulkan perasaan tidak tenang dalam hatnya, membuat hatinya kebat-kebit tak karuan.

Berada dalam keadaan begini, dia sangat berharap bisa bersua muka dengan seseorang, bisa terjadi pertarungan yang sengit, daripada harus menghadapi keheningan yang mengerikan...

tapi justru lamat-lamat terkandung hawa pembunuhan yang mengerikan.

Padahal sejak Ku See-hong melangkahkan kakinya ke atas pulau Huan-mo-to, dia sudah tahu kalau keadaannya lebih banyak mara bahayanya daripada rejeki.

Mendadak....

Ku See-hong menghentikan langkahnya dengan wajah berubah, sorot mata aneh terpancar keluar dari balik matanya, ternyata lebih kurang dua puluh kaki di hadapan sana terbentang sebuah hutan bunga Tho yang amat luas, di belakang hutan tersebut muncul bangunan-bangunan yang tinggi, megah dan kokoh.

Yang aneh adalah di sekeliling bangunan seperti bangunan keraton itu, terpancar keluar semacam asap putih, yang mirip asap bukan asap, kabut bukan kabut, warnanya keemas-emasan bercampur hijau tua yang menyelimuti sekeliling bangunan.

Kabut itu menggumpal menjadi satu tanpa membuyar, hal ini membuat orang merasa sulit untuk melihat jelas bentuk dari bangunan itu.

Sementara Ku See-hong masih termenung sambil berdiri termangu-mangu, mendadak dari balik hutan bunga tho itu meluncur keluar sesosok bayangan putih bagaikan burung walet menembusi ombak, dalam sekejap mata ia telah melayang turun di hadapan muka Ku See-hong.

Agak berubah paras muka Ku See-hong setelah menyaksikan kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bayangan putih itu.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dia awasi orang itu, tapi keningnya segera berkerut dan wajahnya menunjukkan setitik cahaya keheranan.

Ternyata dua kaki di hadapan Ku See-hong telah berdiri seorang gadis berbaju putih yang berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, rambutnya yang hitam panjang, terurai ke bawah berkibar terhembus angin.

Di bawah sepasang alis matanya yang lentik bagaikan bulat sabit, tampak sepasang biji mata yang sayu dan memancarkan sinar kemurungan, sedang mengawasi wajah pemuda itu tak berkedip.

Gadis cantik jelita seperti bunga ini, meski menunjukkan sikap tanpa emosi yang kaku namun wajahnya yang cantik jelit itu memancarkan sinar keanggunan yang suci bersih, membuat siapa saja yang berjumpa dengannya segera menaruh kesan baik.

Dengan muka dingin dan kaku, diam-diam Ku See-hong berpikir dalam hatinya.

"Heran, mengapa di dalam istana Huan-mo-kiong yang menyerupai sarang perampok ini bisa terdapat gadis cantik yang begini anggun? Hmm! Kebanyakan perempuan hanya suci di luar, padahal hatinya keji seperti seekor ular berbisa..."

Kesannya terhadap kaum wanita memang amat jelek sekali serta memiliki sesuatu cara pandang yang picik.

Betul kesannya terhadap gadis berbaju putih ini baik, namun pandangannya yang sempit membuat pemuda itu segera terpengaruh oleh pandangannya itu.

Tiba-tiba terdengar gadis berbaju putih itu berkata dengan suara yang amat lembut.

"Sauhiap, kau datang dari mana? Siapa namamu? Ada urusan apa kau datang ke istana Huan-mo-kiong?"

Ku See-hong tahu bahwa gadis itu telah mengira dirinya sebagai tamu pihak Huan-mo-kiong.

Tanpa terasa ia mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan cahaya menggidikkan dan suara sedingin salju, katanya dengan cepat.

"Aku bernama Ku See-hong, datang ke pulau Huan-mo-to ini untuk membunuh semua manusia laknat yang bergabung dalam istana Huan-mo-kiong ini."

Paras muka nona berbaju putih itu segera berubah hebat, sejak dilahirkan belum pernah ia dengar ada orang berani mendatangi pulau Huan-mo-to untuk membalas dendam, apalagi mengemukakan maksud kedatangannya secara begitu terang-terangan.

Pada mulanya ia masih mengira pemuda ini sudah gila, tapi setelah menyaksikan wajah yang gagah dan dingin membawa hawa pembunuhan tersebut, tanpa terasa ia tertegun juga.

Setelah hening sejenak, akhirnya gadis itu berkata lagi.

"Ku sauhiap, tahukah kau setiap anggota Huan-mo-kiong memiliki ilmu silat yang sangat lihay dengan tindakan yang keji dan tidak mengenal ampun? Setiap orang yang berani mendatangi pulau Huan-mo-to belum pernah ada yang bisa pulang dalam keadaan selamat?"

Mendadak Ku See-hong mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaahh... haaahh... haaahh... Huan-mo-kiong tidak lebih cuma tempat kelompok manusia-manusia rendah yang terdiri dari sampah masyarakat dunia persilatan, setelah aku orang she Ku berani datang kemari untuk mencari balas, tentu saja akupun tak akan takut menghadapi segala macam tipu muslihat dari kalian semua. Kini cepat laporkan kepada gembong iblis terkutuk Han-thian it-kiam Cia Cu-kim, katakan kalau keturunan dari Kim-to-pangcu datang kemari untuk menuntut kembali keseratus lembar nyawa anggota kami yang dibunuhnya pada sebulan berselang!"

Nona berbaju putih itu segera berkerut kening, paras mukanya juga turut berubah menjadi dingin seperti es, katanya.

"Guruku Han-thian it-kiam Cia Cu-kim telah berangkat ke daratan Tionggoan semenjak dua bulan berselang, hingga kini dia belum kembali.... Sekarang kedua kalinya kuperingatkan kepadamu, sebelum orang-orang Huan-mo-kiong pada pulang, lebih baik cepat-cepatlah tahu diri dan mengndurkan diri dari sini, kalau tidak kau bisa mati tanpa liang kubur di tempat ini."

Mendongkol sekali hati Ku See-hong setelah mengetahui kalau biang keladinya tak ada di rumah, dia segera tertawa dingin.

"Kalau memang tua bangka itu tidak ada di rumah, lain kali aku orang she Ku pasti akan mencarinya lagi untuk direnggut nyawanya, malam ini akan kumusnahkan dahulu sarang iblisnya... bila kau tahu diri, cepatlah tinggalkan tempat ini, aku orang she Ku mengingat kau masih memiliki watak manusia, tak akan kuusik dirimu."

Diam-diam nona berbaju putih itu menghela napas panjang, pikirnya kemudian.

"Betul-betul seorang pendekar muda yang keras kepala dan tinggi hati, aaai... kasihan jika dia harus menemui ajalnya pula di dalam istana Huan-mo-kiong.... Keng Cin-sin, wahai Keng Cin-sin, kau sudah penuh dengan dosa dan menyalahi hukum Thian, apakah kau akan membiarkan pendekar muda ini kembali terkubur di sini? Kau tak boleh membiarkan orang ini mengorbankan pula jiwnya di tangan kaum laknat tersebut...."

Untuk sesaat lamanya perlbagai ingatan berkecamuk dalam benak nona berbaju putih itu. Tiba-tiba wajahnya menjadi cerah kembali, dengan lembut katanya.

"Ku Sauhiap, aku tahu kalau kau angkuh dan keras kepala, lagipula mempunyai dendam kesumat sedalam lautan, tak nanti kau akan mundur dengan begitu saja dari sini, cuma aku ingin bertaruh 234 dulu denganmu, bila kau sanggup mengalahkan aku dalam tiga jurus, silahkan kau masuk ke dalam istana Huan-mo-kiong. Kalau tidak, cepatlah mengundurkan diri dari sini, ketahuilah tindakanku berbicang-bincang denganmu pada malam ini sudah melanggar peraturan rumah tangga kami dan seharusnya menerima hukuman mati..."

Terkesiap hati Ku See-hong sesudah mendengar perkataan itu, segera pikirnya.

"Mungkinkah gadis ini adalah sekuntum bunga teratai putih yang benar-benar masih suci dan belum ternoda?"

Tapi dasar wataknya memang angkuh, dengan wajah dingin seperti es, segera katanya.

"Maksud baik nona biar aku orang she Ku terima di dalam hati saja. Kalau memang begitu, maaf kalau aku akan berbuat lancang."

Sementara berkata, dengan suatu gerakan yang cepat seperti sambaran kilat Ku Se-hong bergerak maju ke depan.

Telapak tangan kirinya membuat satu gerakan melingkar yang aneh sekali, semenara tangan kanannya digetarkan keras-keras.

Lima gulung desingan angin tajam yang disertai dengan hembusan angin dahsyat dengan cepat menyergap ke atas jalan darah penting di tubuh Leng-sin si nona berbaju putih.

Serangannya semakin ganas dan dahsyat, jurus serangannya juga hebat sekali.

Menyaksikan serangan itu, paras muka si nona berbaju putih Keng Cin-sin segera berubah hebat, dengan cepat badannya mengegos ke samping dan meloloskan diri dari sergapan Ku See-hong yang cepat bagaikan sambaran petir itu, kemudian dengan enteng sekali badannya maju ke depan.

Telapak tangan yang putih dan halus itu, kiri kanan melancarkan serangan, telapak tangan kirinya melancarkan pukulan tenaga Yang-kang yang hebat tenaga pukulannya menderu-deru, sebaliknya telapak tangan kanannya melancarkan sebuah jurus pukulan yang bertenaga Im-kang, lemah gemulai seakan-akan sama sekali tak bertenaga.

Ku See-hong sama sekali tidak menyangka kalau gerakan menghindar dan gerakan melancarkan serangan balasan yang dilakukan gadis itu bisa dilakukan dengan begitu aneh dan cepatnya.

Dalam keadaan terkesiapnya, jurus serangan tangguh segera dilancarkan berulang kali, sementara kakinya melangkah dengan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, secara aneh tapi pasti tubuhnya melejit ke samping kanan lawannya, lalu kesepuluh jari tangannya disentilkan bersama.

Desingan angin tajam mendesing memekikkan telinga, segulung gulungan tenaga serangan bagaikan sepuluh bilah pedang terbang berbareng mengancam sepuluh tempat jalan darah penting di tubuh lawan.

Keng Cin-sin, si nona berbaju putih itu membentak keras, tubuhnya bergetar indah sepasang telapak tangannya diputar membentuk segulung tenaga pukulan yang lembut dan tiba-tiba saja balik menggulung ke atas tubuh Ku See-hong.

Perasaan Ku Se-hong waktu itu sudah diliputi oleh perasaan bergidik bercampur kaget, dia sudah tahu kalau nona berbaju putih ini memiliki kepandaian silat yang maha lihay, sedikitpun tidak berada di bawah Im Yan cu, sekalipun ada selisihnya, juga minim sekali.

Maka setelah berpikir sejenak, tubuhnya lantas melayang sejauh empat kaki jauhnya mengikuti ke hembusan angin pukulan yang kuat itu.

Sebaliknya Keng C in-sin yang sudah bertarung dua jurus dengan Ku See-hong, meski dia tahu kalau pemuda ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, namun dia yakin kemampuan semacam itu masih belum mampu untuk menghadapi kakak seperguruannya...

Sau-kiongcu dari istana Huan-mo-kiong.

"Ku sauhiap,"

Kata Keng Cin-sin kemudian dengan suara dingin.

"Ucapan seorang kuncu berat bagaikan bukit Thay-san, kini tinggal satu jurus yang terakhir...."

Paras muka Ku See-hong juga berubah menjadi dingin dan kaku, ucapnya pula.

"Harap nona perhatikan baik-baik, di dalam serangan yang terakhir ini akan kupergunakan sebuah jurus serangan yang mematikan, begitu digunakan... aku sendiripun tak dapat mengendalikannya kembali. Bila kau menganggap tidak memiliki kemampuan untuk menghindarinya, harap segera mundur dengan cepat...."

Agak termangu-mangu Keng Cin-sin setelah mendengar ucapan tersebut, mungkinkah dia benar-benar memiliki ilmu silat yang begini hebatnya?

Tapi ketika menyaksikan ucapan Ku See-hong yang begitu serius, dia tak berani pula bertindak gegabah.

Diam-diam ia mempersiapkan diri lalu mundur ke belakang, dia bukannya takut mati, tapi sekarang ia belum boleh mati....

"Hati-hati!"

Bentak Ku See-hong dengan suara dingin.

Mendadak seapsnag lengannya diputar dan digerakkan dengan suatu gerakan aneh, tiba-tiba saja seluruh badannya melambung ke tengah udara, menyusul kemudian sepasang kakinya bergetar secara aneh...

seluruh tubuhnya tahu-tahu sudah melayang kembali ke atas tanah.

Pada saat ujung kakinya hampir menyentuh permukaan tanah itulah tiba-tiba Ku See-hong menerjang ke depan...

"Blaaamm...! "

Di ringi kilatan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata, suatu ledakan keras berkumandang memecahkan keheningan.

Untung saja sebelum serangan tersebut dilancarkan, Keng Cin-sin telah memperoleh peringatan dari Ku See-hong, tiba-tiba saja dia merasakan sekujur badannya seakan-akan terbungkus di balik cahaya keemas-emasan yang amat menyilaukan mata.

Ia tahu jurus serangan ini terlampau ganas...

Dalam terkesiapnya dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya dia melompat ke belakang.

Namun, baru saja badannya meninggalkan permukaan tanah, matanya telah berkunang-kunang dan kepalanya amat pening.

Dia merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang aneh membuat napasnya menjadi sesak.

Dalam terkesiapnya buru-buru dia menjejakkan kakinya ke tanah, dengan menghimpun tenaga dalam yang ada di dalam pusar, dia percepat gerakannya untuk melompat mundur.

Kendatipun gerakan yang dilakukan olehnya dilakukan cukup cepat, dan lagi sebelum serangan dilancarkan ia telah memperoleh peringatan dulu, namun tiga gerakan dari jurus Hoo-han-seng-huan tersebut memang terlampau dahsyat....

Ditambah pula tenaga dalam yang dimiliki Ku See-hong makin hari makin bertambah pesat.

Kesempurnaan tenaga dalamnya sekarang sudah berlipat ganda bila dibandingkan sewaktu bertarung melawan Im Yan cu tempo hari.

Terdengar nona berbaju putih itu mendengus tertahan, badannya terkena sambaran ekor tenaga serangan dari jurus Tee-cian-hun-ih (Sukma Sengsara Neraka Mengerikan) itu, hingga badannya mencelat sejauh empat kaki.

Baju putih yang dikenakan itu sudah robek sebagian besar sehingga kulit badan yang berwarna putih itu lamat-lamat kelihatan.

Merah padam selembar wajah Keng Cin-sin karena jengah, dengan agak cemas dia lantas berseru.

"Hati-hati dengan akal muslihat dan tipu daya mereka!"

Di tengah seruan tersebut, bayangan putih tampak berkelebat lewat, bagaikan sukma gentayangan dia sudah menyusup masuk ke dalam hutan bunga tho itu.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari balik hutan bunga tho itu kembali berkumandang suara bentakan yang keras, menyusul bergemanya suara tertawa aneh yang mengerikan.

"Sreeett... sreeett...!"

Dua sosok bayangan manusia, bagaikan sukma gentayangan munculkan diri dari balik pepohonan.

Kemudian dalam beberapa kali lompatan saja telah berada di hadapan Ku See-hong.

Dilihat dari ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, dapat diketahui kalau ilmu silat yang mereka miliki tidak lemah.

Dari balik mata Ku See-hong yang tajam segera memancarkan sinar menggidikkan hati, disapunya sekejap pendatang itu, lalu mendengus dingin dengan nada sinis.

"Rupanya kalian dua orang manusia laknat yang berhawa sesat ingin datang menghantar kematian. Baik, aku orang she Ku akan menghantar dulu keberangkatan kalian...."

Ternyata dua orang yang munculkan diri itu adalah manusia aneh Im-Yang, bertubuh aneh dan kurus kering seperti tengkorak, selain mukanya berwarna pucat keabu-abuan, bibirnya tampak lancip dengan tulang pipi yang sempit.

Kedua orang manusia aneh ini terbiasa bersikap bengis, buas dan tidak mengenal ampun, sudah barang tentu mereka tidak tahan menghadapi sikap Ku See-hong yang begitu sinisnya itu.

Salah seorang di antaranya, seorang manusia aneh berjubah panjang warna hijau segera berteriak aneh, kemudian serunya.

"Anjing cilik, kematian sudah berada di ambang pintu masih berani bicara takabur. Hmm! Lohu akan segera mengirimmu pulang ke rumah kakek moyangmu...."

Di tengah teriakan tadi, dia meloloskan sebuah senjata aneh yang berwarna hitam, lalu dengan membentuk selapis cahaya busur berwarna perak yang amat rapat, disertai desingan angin tajam yang menderu-deru, langsung menggulung ke tubuh Ku See-hong.

Kiranya dua orang manusia aneh itu tak laian adalah Sim-tongcu yang paling beracun dalam istana Huan-mo-kiong...

Im-Yang Siang-mo (Sepasang Iblis Im Yang).

Bukan cuma bengis dan kejam saja, kedua orang inipun termasyhur karena kebuasannya yang lebih mendekati tak kenal perikemanusiaan.

Sudah cukup lama kedua orang ini bersembunyi di balik hutan bunga tho, mereka pun cukup mengetahui betapa lihaynya kepandaian silat yang dimiliki Ku See-hong, maka dari itu, begitu 239 turun tangan, mereka lantas mengeluarkan senjata andalannya yang paling beracun Sah-hi-ci (Duri Ikan Hiu).

Begitulah, sementara senjata Duri Ikan Hiu di tangan kanannya menciptakan gelombang cahaya tajam yang berlapis-lapis, tangan kirinya juga dipentangkan seperti cakar setan untuk menciptakan lapisan hawa tajam yang segera menyelimuti seluruh angkasa.

Ku See-hong sudah mempunyai perhitungan yang cukup matang di dalam hatinya, diam-diam dia berpikir.

-oo0dw0oo-

Jilid 8

"JIKA ingin menghemat tenaga aku harus mempergunakan jurus serangan paling aneh, paling dahsyat dan paling cepat untuk membinasakan kedua orang manusia aneh ini."

Karena itu melihat datangnya ancaman tersebut, Ku See-hong tak berani berayal, dengan cepat dia kembangkan ilmu gerakan tubuh Mi-siu-biau-tiong untuk menghindarkan diri, kemudian dalam kesempatan tersebut, jurus serangan yang ampuhpun segera dilancarkan.

Tampaknya Ku See-hong dengan mempergunakan kecepatan yang mengaburkan pandangan mata berputar dan berkelebat secepat sambaran kilat, jurus serangan dilancarkan berulang kali, kedahsyatannya mengejutkan membikin orang menjadi tertegun dan tak habis berpikir.

Iblis aneh berbaju aneka warna itu memutar pula Duri Ikan Hiu-nya melancarkan serangan ke atas bawah, selapis garis busur yang melingkar-lingkar dan berlapis-lapis segera tercipta di udara ibaratnya cahaya bianglala di angkasa, sinar tajam amat menyilaukan mata.

Sementara itu telapak tangan kirinya menyusul putaran senjata tersebut menciptakan pula bayangan busur yang berlapis-lapis, hawa pukulan yang berat dan tajam segulung demi segulung meluncur keluar bagaikan gulungan gelombang di tengah samudra.

Ilmu silat aliran Huan-mo-kiong di lautan Lam-hay ini memang benar-benar luar biasa sekali, namun diapun tidak lebih hanya jago kelas dua dalam istana Huan-mo-kiong, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya jago-jago kelas satu mereka.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling bergebrak sebanyak belasan jurus.

Hawa nafsu membunuh telah berkobar dalam benak Ku See-hong, sambil berpekik nyaring, tubuhnya meloloskan diri dari lingkaran tenaga pukulan lawan, dengan suatu gerakan yang sangat aneh, kemudian secepat sambaran kilat telapak tangan kanannya dilontarkan ke depan.

Dalam melancarkan serangan ini, Ku See-hong telah menggunakan tenaga dalamnya sebesar enam bagian, kekuatan pukulannya dahsyat seperti raksasa membelah bukit.

Di tengah hembusan angin berpusing, udara menderu-deru, pasir dan batu kerikil beterbangan, keadaan benar-benar mengerikan sekali.

Di mana angin tajam mendesing, terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan keheningan, iblis aneh berbaju aneka warna itu mencelat tiga kaki ke belakang dan ....

"Blaamm! "

Roboh terkapar di tanah lalu menemui ajalnya seketika itu juga.

Tiba-tiba berkumandang kembali suara tertawa seram yang mengerikan, dua gulung angin pukulan yang lembut tapi kuat tahu-tahu sudah menyergap ke punggung Ku See-hong.

"Blaaam...! "

Dengan disertai dentuman keras, tenaga sakti Kan-kun-mi-siu yang dilatih Ku See-hong dalam tubuhnya telah membuyarkan tenaga serangan itu secara otomatis, kemudian ia membalikkan badannya, dengan sorot mata yang memancarkan kebengisan, dia lepaskan kembali sebuah pukulan dahsyat ke tubuh iblis aneh berbaju merah itu.

Tampak tenaga serangan yang dilancarkan Ku See-hong itu membawa berbagai angin desingan tajam, yang memekikkan telinga, seperti bendungan yang jebol saja, angin pukulan dahsyat dengan hebatnya meluncur ke depan...

Agaknya iblis aneh berbaju merah itu sama sekali tak menyangka kalau kedua buah angin pukulan lembutnya yang sanggup menghancurkan batuan cadas sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa-apa meski sudah terkena di tubuh lawan secara telak.

Untuk sesaat lamanya dia sampai berdiri termangu-mangu.

Pada saat itulah, segulung tenaga pukulan yang menyesakkan napas telah meluncur datang dan menekan dadanya berat-berat, seketika itu juga dia merasakan kepalanya pusing sekali, darah yang mengalir di dalam tubuhnya seperti mau meletus, sakitnya bukan kepalang.

Jeritan ngeri yang memilukan hatipun segera berkumandang memecahkan keheningan, iblis aneh berbaju merah itu tahu-tahu sudah tewas dengan darah kental bercucuran dari ketujuh lubang inderanya.

Saat kematian bagi Im-Yang Siang-mo meski tidak berbarengan, namun selisih waktu di antara merekapun minim sekali.

Setelah berhasil membinasakan sepasang iblis tersebut, Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring, kemudian secepat kilat meluncur ke arah hutan pohon tho tersebut.

Baca Juga: Kekaisaran Rajawali Emas 2

Baca Juga: Legenda Kelelawar 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert