Ceritasilat Novel Online

Dendam Sejagad Legenda Kematian 4

Eps 4 Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Baca online Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung

Cersil Dendam Sejagad Legenda Kematian - Khu Lung.

"Ku sauhiap, namamu telah menggetarkan dunia persilatan belakangan ini, aku orang she In merasa amat kagum, sungguh tak kusangka aku dapat bersua dengan sauhiap ditempat ini. Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu keuntungan bagiku, bila tidak menampik, bagaimana kalau kita berbincang-bincang disini?"

Ku See-hong segera tersenyum.

"Aku tak lebih cuma seorang tukang silat kasaran...., tidak berani kuterima pujian saudara itu."

Biau-ki siang-su segera berpaling kearah Sin-hong-hwee-ciau, kemudian katanya.

"Lui lote, cepat kemari, dialah murid Bun-ji-koan-su yang baru saja kubicarakan,...Ku See-hong, Ku-sauhiap!"

Walapun sekilas pandangan Sin-hong-hwee-ciau Lui-Ki adalah seorang manusia kasar, sesungguhnya dia adalah seorang yang berperasaan halus, secara diam-diam diapun melakukan perhatian yang seksama terhadap Ku See hong maupun pemuda berbaju putih itu.

Maka setelah mendengar kalau orang itu tak lain adalah Ku See hong, buru-buru dia berjalan mendekat dan tertawa terbabak-bahak.

"Huuaahhhh......haaahhh.... haaahhh..... sungguh tak kusangka, sungguh tak kusangka, rupanya kau-lah yang bernama Ku See hong! Ku Sauhiap, mari, mari, aku Lui-Ki ingin sekali bersahabat denganmu, haaaahhh.....haaahhh......"

Secara diam-diam Ku See hong sendiri pun merasa kagum sekali akan kegagahan dan keterbukaan Sin-hong-hwee-ciau, dengan cepat dia maju menyongsong sambil tertawa ringan, sahutnya.

"Selamat berjumpa, selamat berjumpa, aku orang she Ku tak lebih hanya seorang prajurit tak bernama dalam dunia persilatan, mana mungkin bisa dibandingkan dengan Lam-ciau-Pak-siang yang sudah bernama besar itu? Kesediaan kalian untuk berkenalan, sungguh membuat aku orang she Ku merasa terharu sekali."

Setelah berbasa-basi sebentar, ketiga orang jago itupun menambah sayur dan arak, kemudian mulai berbincang dari timur sampai ke barat; bahkan begitu cocoknya hubungan mereka, sehingga dalam ruangan tersebut penuh dihiasi dengan gelak tertawa nyaring mereka.

Suasana dingin, kaku mengerikan dan tegang tanpa terasa berubah menjadi suasana hangat serta penuh kedamaian.

Dalam waktu singkat, sang surya telah tenggelam ke langit barat, cahaya matahari senja memancarkan cahaya keemasannya menyoroti seluruh jagad dan menciptakan suatu rangkaian pemandangan alam yang sangat indah bila mendekati senja.

Kemudian kegelapan malampun mulai menyelimuti seluruh jagad, angin dingin yang menyayat badan berhembus lewat menggigilkan badan, mendatangkan suasana yang serius dan hening disitu.

Orang berlalu-lalang dijalan raya pun bertambah sepi, karena mereka sedang menyembunyikan diri dibalik kehangatan rumah mereka sendiri......

Ku See-hong dan Lak-ciau-Pak siang masih berbincang-bincang tiada hentinya, cahaya lentera menyoroti wajah mereka yang merah, puluhan kati arak keras teluh mereka bertiga teguk, namun tiada pengaruh mabuk yang menyelimuti mereka.

Sebagai orang yang berilmu tinggi dan bertenaga dalam sempurna, takaran minum arak mereka amat mengejutkan, sebab mereka dapat mempergunakan tenaga murni mereka yang sepurna untuk memproses pengaruh alkohol dalam arak, itulah sebabnya walaupun meneguk seribu cawan juga tak akan mabuk.

"Toookkk....toookkk......"

Dari arah jalan raya berkumandang dua kali suara kentongan.

Menyusul kemudian dari luar loteng Cui-sian-loo berkumandang datang suara tertawa dingin yang menyeramkan bagaikan suara pekikan kuntilanak, lalu seseorang berkata dengan dingin dan nada menghina.

"Lam ciau Pak siang, aku rasa kalian sudah cukup makan minum bukan? Dengan begitu kalian sudah bisa menjadi setan yang mati kenyang, mengapa tidak cepat-cepat keluar untuk menghantar kematian....heehh.... heehh.....!!"

Ucapan tadi diakhiri dengan suara gelak tertawa seram yang memekikkan telinga pula.

Sin hong hwe ciau Lui-Ki amat gusar, ia segera membentak keras, tubuhnya yang besar bagaikan pagoda itu melompat ke udara dan berputar dengan suatu gerakan aneh kemudian melayang turun ke atas tanah dengan enteng dan meluncur kembali ke depan secepat sambaran kilat.

Buru-buru Biau-ki-siang-su In Han im merogoh ke dalam sakunya mengambil sekeping uang perak dan diletakkan ke atas meja, setelah itu serunya dengan lantang.

"Ku lote, harap duduk menanti disini, aku akan pergi sebentar untuk kembali kemari lagi!"

Selesai berkata, bagaikan seekor burung rajawali yang terbang di angkasa, dia menerjang pula ke depan menyusul Sin hong hwee ciau.

Ku See hong berkerut kening, lalu dengan sorot mata memancarkan cahaya yang menggidikkan hati, serunya dengan lantang.

"Bagaimana kalau aku orang she Ku juga ikut menonton keramaian?"

Dengan gerakan tubuh seperti sukma gentayangan, dia melejit kemuka dan melayang ke samping Biau-ki siang-su.

Demontrasi ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna ini benar-benar luar biasa sekali, begitu suaranya berkumandang orangnya turut tiba, hal mana membiat Biau-ki siang-su diam-diam merasa terkejut bercampur kagum.

Padahal ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sudah terhitung nomor wahid didalam dunia persilatan...., tapi kenyataannya pemuda itu bisa sekali berkelebat mencapai belasan kaki jauhnya bahkan berhasil pula menyusul dirinya.

Dibawah sorot cahaya rembulan, tampak empat sosok bayangan manusia berlarian diatas jalan raya sepi, mereka saling berkejaran dengan suatu kecepatan luar biasa.

Selisih jarak antara bayangan2 manusia itu tidak ada empat lima puluh kaki lebih.

Agaknya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bayangan manusia paling depan itu cukup tangguh.

Kecepatannya melebihi sambaran petir, walaupun Sin hong hwee ciau berada dipaling muka, tapi jaraknya makin lama semakin bertambah jauh dengan pihak lawan.

Tiba-tiba Ku See hong berpaling kearah Biau-ki siang-su sambil serunya.

"Aku orang she Ku akan berangkat selangkah lebih dulu untuk menghadang kawanan tikus yang berada didepan itu!"

Begitu selesai berkata, dia lantas mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring.

Dalam pekikan nyaring tadi, tubuh Ku See hong bergerak semakin cepat lagi, bagaikan segulung asap ringan dengan kecepatan yang paling tinggi dia meluncur kedepan.

Tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong pada waktu itu sudah memcapai pada puncak kesempurnaan, begitu dia menghimpun tenaga dalamnya, hawa murni segera beredar diseluruh tubuhnya dengan kecepatan tinggi.......

Dengan mengandalkan himpunan tenaga dalam inilah, tubuhnya bagaikan seekor burung elang segera melayang diangkasa dengan kecepatan yang luar biasa.

Begitu kepandaian tingkat tingginya dikembangkan, bagaikan, bagaikan sebuah garis hitam saja tubuhnya melesat menembusi angkasa dengan kecepatan yang sukar di kuti dengan pandangan mata.

Berada ditengah udara, menggunakan kesempatan dikala badannya berbelok atau berputar, ia dapat menghimpun hawa murninya dengan cepat, tubuhnya seakan-akan bergerak diangkasa saja, selain cepat juga lincah sekali.

Dalam waktu singkat, Biau-ki siang-su telah ketinggalan puluhan kaki jauhnya, demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang amat lihay ini kontan saja membuat Biau-ki siangsu yang dihari-hari biasa selalu tinggi hati menjadi terkesiap dan kagum.

Diam diam Biau-ki Siangsu In Han im segera berpikir.

'Sekalipun Ku See hong adalah muridnya pendekar aneh dari dunia persilatan Bun-ji koan-su, tapi usianya masih begitu muda, sekalipun sejak keluar dari rahim ibunya dia sudah belajar silat, belum tentu ilmu meringankan tubuhnya dapat memperoleh kemajuan yang melampaui umat persilatan pada umumnya'.

Tentu saja Biau-ki Siangsu sama sekali tak tahu, bukan saja Ku See hong telah melatih ilmu Kan-kun mi-siu kang khi ...!, Anak muda itu pun telah mempelajari ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong ...., selain daripada itu diapun telah mendapat warisan tenaga murni Bun-ji koan-su hasil latihan selama enampuluh tujuh tahun.., Ditambah lagi bakatnya memang bagus dan barhasil menghirup Tee-Liong-Hiat-po yang tak ternilai harganya.

Bebeberpa macam mestika dunia persilatan terhumpun menjadi satu dalam tubuhnya, hal mana membuat ia menjadi seorang manusia berkat yang sangat luar biasa....!

Dalam waktu singkat Ku See hong berhasil menyusuli Sin hong hwee ciau, gerakan tubuhnya sama sekali tidak, mengendor, dengan gerakan tubuh yang enteng seakan akan tak berbobot secepat sambaran petir dia mengejar bayangan manusia yang berada didepan itu.

Gerakan subuh Ku See hong betul-betul cepatnya bukan kepalang, dalam waktu singkat bayangan manusia yang berada didepan itu sudah tersusul sampai jarak sejauh delapan kaki saja.

Sekulum senyuman segera menghiasi bibirnya, dengan suara keras bentaknya.

"Sobat dimuka, harap beristirahatlah sebentar!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, tubuh Ku See hong melejit kemuka sejauh delapan sembilan kaki.

Dikala tenaga lompatannya sudah melemah inilah, mendadak sepasang lengannya diayunkan ke atas, seluruh tubuhnya melengkung bagaikan udang bago..., kemudian diantara gerakan pangkal kakinya, gerak tubuh yang semakin melemah itu tahu tahu sudah meluncur enam tujuh kaki lebih kedepan dengan kecepatan tinggi.

Dengan gaya lompatannya yang luar biasa itu, jarak sejauh empat lima belas kaki segera berhasil dilampaui.

Ilmu meringankan tubuh yang begini tinggi membetot sukma ini, benar benar luar biasa hebatnya, hakekatnya sama sekali diluar pikiran orang banyak.....

Dikala ucapan Ku See hong berkumandang tadi, bayangan manusia yang berada didepan itu sudah mendengar suara ujung baju yang tersampok angin, dengan cekatan dia lantas melirik kebelakang.

Apa yang kemudian terlihat olehnya membuat orang itu amat tercekat.

Tampak sesosok bayangan manusia meluncur tiba dengan kecepatan tinggi, sedemikian cepatnya geraksn itu seakan-akan burung elang yang sedang terbang di angkasa saja.

Sementara itu, ujung kaki Ku See hong telah menempelkan diatas tanah lalu dengan suatu gerakan indah badannya berputar, telapak tangan kirinya diayunkan ke depan.

Bayangan manusia di muka itu tiba-tiba saja melihat bayangan setan berkelebat didepan matanya dan jalan perginya pun terhalang.

Dalam keadaan begini, ia tak sempat lagi untuk melihat jelas paras mukanya, sepasang telapak tangannya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan dasyat yang mengerikan sekali, badannya melejit ketengah udara lalu secepat kilat meluncur ke depan.

Dengan gerakan ini maka diapun terlepas dari ancaman Ku See hong yang amat lihay itu.

Menyaksikan cara pihak lawan menghindarkan diri dari serangan dasyatnya itu, Ku See hong segera menyadari kalau musuhnya berilmu tinggi dan sukar dihadapi.

Sulit rasanya untuk menemukan seseorang jagoan selihay ini didalam dunia persilatan.

Begitu lolos dari sergapan maut Ku See-hong, dengan enteng bayangan manusia itu melayang turun empat kaki dari posisi semula, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring..., suara pekikan tersebut tajam menusuk telinga.

Menyusul kemudian, dari kejauhan sana pun berkumandang pula suara pekikan aneh yang bergema tiba mengikuti hembusan angin malam.

Suaranya melengking bagaikan tangisan setan atau serigala, membuat bulu kuduk orang pada diri semua.

Setelah itu maka terdengarlah suara pekikan aneh berkumandang saling bersahut-sahutan, agaknya tidak sedikit jumlah orang yang berdatangan ke situ.

Begitu mendengar pekikan aneh tadi, wajah Ku See-hong yang dingin kaku itu segera terhias kekejian yang mengerikan, dia tahu bayangan manusia itu sedang mengundang kedatangan rekan-rekannya, tapi Ku See hong menyambut (hal tersebut) dengan gembira, dia lebih suka kalau ada serombongan manusia laknat datang menghantar kematiannya.

Maka dia tidak secara langsung melancarkan sergapan ke arah orang itu hanya sorot matanya saja yang tajam mengawasi pendatang-pendatang itu tanpa berkedip.

Dibawa cahaya rembulan, tampak olehnya kalau orang itu adalah seseorang kakek kurus kering berkulit hitam, ia menggunakan jubah panjang berwarna hitam dengan sebuah busur panjang berwarna merah darah menghiasi dadanya.

Hati Ku See hong seakan-akan sedang meneteskan darah, itulah darah panas penuh rasa dendam, sinar matanya memancarkan cahaya berapi-api, lalu dengan suara menggeledek bentaknya.

"Tua bangka celaka, apakah kau adalah manusia laknat dari perkumpulan Thi-kiong-pang?"

"Seeet! Sreeetl"

Desingan angin tajam berhembus lewat, Sin-hong hwee-ciau Lui-Ki dan Biau-ki siang-su In Han-im secara beruntun telah menubruk datang pula.

Agaknya kakek ceking berbaju hitam itu adalah seorang gembong iblis yang berpengalaman, walaupun dia terkejut dan merasa seram, oleh kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ku See-hong, tapi mana tahan menghadapi pertanyaan dari Ku See hong yang begitu menghina?

Dengan suara yang dingin menyeramkan dia mendengus dingin tanpa berbicara, sedangkan sepasang matanya yang kecil mengamati Ku See hong dari atas sampai ke bawah.

Mendadak suatu perubahan aneh melintas diatas wajahnya, tapi dengan cepat telah pulih kembali, menjadi wajah kejam dan buas....

Dari sini membuktikan kalau pada mulanya dia digetarkan oleh kelihayan Ku See hong, tapi kemudian setelah tahu kalau pihak lawan tak lebih hanya seseorang pemuda ingusan, keberanianya telah muncul kembali dan diapun segera unjuk gigi.

Ketika Biau-ki siang-su In Han im sudah melihat jelas siapa gerangan lawannya, ia juga merasakan hatinya bergetar keras, tapi dengan cepat pula dia tertawa dingin.

"Aaah..., kukira siapa yang begitu bernyali berani mencari gara-gara dengan aku orang she In ... , rupanya Sin kiong Tongcu dari perkumpulan Busur Baja, Cau sang hui (terbang diatas angin) Ciong-Keh-teng, huuahhh....haaahh...... haaahh....... hutang kita pada tiga tahun berselang memang sudah seharusnya kalau dibikin beres !"

Si kakek ceking berbaju hitam atau Cau sang hui Ciong Keh-teng segera tertawa serak dengan suara menyeramkan, kemudian ujarnya dingin.

"Biau ki Siangsu, aku rasa sudah seharusnya kalau malam ini kaupun mulai menghitung-hitung usia sendiri, heeehhh...... heeehhh.....heehhh! Siapakah keparat ini...? Apakah diapun hendak menemani kalian berdua untuk berangkat kembali ke alam baka?"

Sin hong hwee ciau Lui-Ki segera membentak keras.

"Tua bangka Ciong, apakah kau sudah bosan hidup? Orang lain mungkin takut dengan pengaruh iblis dan perkumpulan Thi-kiong pang kalian, tapi Lam-ciau Pak-siang adalah manusia yang tidak takut langit tidak takut bumi....!"

Tiba-tiba Cau sang hui Ciong Keh-teng mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, begitu menukas ucapan Sin hong hwee ciau yang belum selesai, ujarnya dengan suara yang rendah dan dalam.

"Lam-ciau Pak-siang, aku harap kalian sedikit tahu diri, Thi-kiong pang tak pernah melepaskan `duri dalam matà dengan begitu saja! Heeehhh...heeehhh.... heeehhh...., hari ini kalian begitu berani membicarakan soal keadaan dunia persilatan diloteng Cui-tianglo secara terang-terangan, bahkan memandang remeh umat persilatan yang ada didunia ini ....bukan begitu saja, Hmm...! Kau malah menyanjung nyanjung kehebatan Bun-ji koan-su, tapi sayang setan tua itu sudah mampus semenjak duapuluh tahun berselang. Baiklah, biar kami Thi-kiong pang berbuat `kebaikan` dengan mengirim kalian ke akhirat untuk berjumpa dengan setan tua itu!"

Mendadak Ku See hong mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, suaranya amat nyaring dan sangat memekikkan telinga, Dibalik gelak tertawa tersebut dapat terdengar hawa amarah, dendam kesumat, serta rasa sedih yang bercampur aduk.....

Kemudian, ia menghentikan tertawanya, lalu dengan sorot mata memancarkan cahaya pembunuhan yang menggidikkan hati, ujarnya dingin.

"Ciong Keh-teng, malam ini kau pasti mampus...! Kalau toh.......kawanan tikus dari Thi-kiong-pang kalian sudah berdatangan semua, ...mengapa tidak suruh mereka keluar semua untuk menghantar kematiannya...!"

Paras muka Ku See hong penuh diliputi oleh hawa napsu membunuh yang amat tebal, suaranya pun dingin menggidikkan hati ...

, sepatah demi sepatah pelan-pelan diucapkan, membuat suaranya cukup menggetarkan sukma.

Ciong Keh-teng yang mendengar suara tertawa itu, kontan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dia segera sadar kalau pada malam ini, ia telah berjumpa dengan seorang musuh yang amat tangguh.

Tempat dimana mereka berada sekarang, adalah sebuah kompleks tanah pekuburan yang amat luas.

Sejauh mata memandang hanya gundukan tanah dengan batu nisan yang berserakan dimana-mana.

Sekeliling pekutburan tersebut, tumbuh puluhan batang pohon Siong yang rata-rata tingginya mencapai tiga empat kaki, rantingnya memanjang kesana kemari dengan daun yang lebat, bila terhembus angin maka terdengarlah suara gemerisik yang amat nyaring.

Kadangkala terdengar suara burung malam yang berpekik serta bunyi jangkrik yang memecahkan keheningan, kesemuanya itu menambah keseraman dan kengerian disekitar tempat itu.

Sementara itu, dari atas gundukan tanah pekuburan telah bermunculan enam sosok bayangan manusia, bagaikan sambaran burung elang .....

"Sreeet! Sreeet!"

Di ringi desingan angin tajam, mereka terjun ke tengah arena dan mengepung Ku See hong sekalian.

Menyaksikan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ke enam sosok bayangan manusia itu, paras muka Lam-ciau Pak-siang segera berubah amat hebat....

Rupanya ke enam orang anggota Thi-kiong-pang tersebut tak lain adalah ke enam orang Hiangcu dibawah pinpinan Sin-kiong tongcu..., rata-rata berilmu tinggi dan merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan.

Ketika Cu-sing-hui Ciong Keh-teng menyaksikan orang-orangnya sudah berdatangan semua, keberaniannya semakin besar, sambil tertawa dingin segera jengeknya.

"Enghiong dari manakah saudara ini? Aduh lagaknya sombong benar .....!"

Walaupun begitu, nada ucapannya sudah tidak sebuas tadi lagi, jelas dia merasa agak keder juga oleh keseraman wajah serta ketajaman mata dari Ku See hong.

Paras muka Ku See hong tetap kaku tanpa emosi, dengan nada sinis ujarnya.

"Manusia-manusia kelas tiga macam kalian masih belum pantas untuk mengetahui namaku..., sekarang, bersiap saja untuk menerima kematian!"

Anggota perkumpulan Thi-kiong-pang rata-rata adalah manusia bengis yang banyak melakukan kejahatan, naik pitamlah mereka setelah mendengar kejumawaan Ku See hong.

Kontan saja dengan kening berkerut, mata melotot, mereka awasi si anak muda itu tanpa berkedip.

Tadi, Cau-sang hui Ciong Keh-teng mau merendahkan diri untuk mencari tahu nama lawannya, hal ini tak lain karena dia agak keder oleh sikap musuhnya yang luar biasa, tapi setelah menyaksikan keangkuhannya yang begitu tebal, tanpa terasa kemarahannya meluap juga.

Kontan saja dia mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara tertawanya yang menggidikkan hati.

'"Heeehhh.....heeehhh.....

heeehhh,.....

malam ini, aku orang she Ciong ingin sekali menyaksikan sampai dimanakah kelihayan dari kau si bocah keparat sehingga begitu besar lagaknya dan bertindak semena-mena terhadap kami!"

Sementara suasana makin menegang, Biau-ki-siang-su In Han Im telah meninjau situasi yang dihadapinya, ia tahu ilmu silat yang dimiliki Ku See hong lihay sekali, paling tidak ia masih sanggup untuk menang-kan Cau-sang-hui..., itu berarti dia berdua harus melawan enam orang sisanya, dan dia yakin kekuatannya berdua di paksakan,masih sanggup untuk melayani mereka...

Dasar orangnya memang cerdik dan cekatan, setelah meninjau keadaan yang dihadapi, Biau-ki siang-su menjadi agak lega hatinya, setelah tertawa nyaring, katanya.

"Ciong Keh-teng, masih selisih jauh sekali bila kau ingin mengandalkan ilmu silat `kucing kaki tigàmu untuk bertarung melawannya! Aku rasa lebih baik kau selesaikan dulu hutangmu pada tiga tahun berselang dengan kami berdua!"

Tergerak hati Cau sang hui Ciong Keh-teng, setelah mendengar ucapan itu dia segera tertawa licik.

"Bagus sekali! Bagus sekali! Boleh saja bila kau ingin mampus lebih dahulu, pokoknya siapa duluan siapa belakangan, selisih waktunya sudah pasti tak akan terlalu lama.!"

"Orang she Ciong...!"

Bentak Sin hong hwee ciau dengan suara menggeledek.

"Apa gunanya ngebacot melulu dengan mulut baumu itu? Kalau memang jagoan, hayo maju, mari kita bereskan mati hidup kita diujung tinju! "

Agak geli juga hati Ku See hong setelah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau lelaki kasar dan berangasan macam Sin hong hwee ciau ternyata lihay juga dalam bersilat lidah.

Cau sao hui Ciong Keh-teng segera tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan.

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh.... Lui-Ki, jika kau pingin cepat-cepat mampus, baiklah, aku orang she Ciong menghantar keberargkatanmu lebih dulu!"

Baru saja katàdulù diucapkan keluar, sepasaag kaki Cau sang hui Ciong Keh-teng sudah menjejak tanah, secepat sambaran petir tubuhnya menerjang maju kemuka, telapak tangan kirinya berputar menciptakan segulung desingan angin tajam, sementara telapak tangan kanannya bagaikan sebilah pisau tajam menyodok kedepan dari suatu sudut serangan yang sangat aneh.

Sebagai seorang jago kawakan yang sudah banyak tahun berkecimpung dalam dunia persilatan, sudah barang tentu Sin hong 376 hwee ciau Lui-Ki cukup mengenali kelihayan dari jurus serangan tersebut.., dengan gusar dia membentak keras, kakinya berputar seperti pusaran angin berpusing, tubuhnya yang tinggi besar segera melayang sejauh tiga depa ke depan dan berbalik menerjang sayap kiri tubuh lawan.

Diantara getaran lengannya yang besar dan kasar, secara beruntun dia telah lepaskan tiga buah serangan berantai, menyusul kemudian kaki kirinya diayunkan kemuka menendang jalan darah Im-kok hiat dilutut sebelah kiri lawan.

Agaknya Ciu sang hui Ciong Keh-teng tidak menyangka kalau Sin hong hwee ciau yang tampaknya kaku bebal serta lamban itu ternyata memiliki kelincahan yang luar biasa.

Sambil terawa dingin telak tangan kirinya diayunkan kedepan, tubuhnya segera turut berputar pula dengan kencang......

"Weess. .. .!"

Telapak tangan kanannya dengan membawa deruan angin pukulan yang berat seperti gulungan ombak samudra, menghajar jalan darah Yang-wong hiat ditubuh Sin hong hwee ciau.

Buat seorang ahli silat hanya dalam satu gebrakan saja sudah dapat diketahui apakah musuhnya berisi atau tidak, maka begitu mereka berdua saling menyerang sebanyak dua gebrakan, kedua belah pihak segera sadar kalau musuhnya bukan seorang lawan yang enteng.

Sepintas lalu Sin hong hwee ciau Lui-Ki tampaknya seperti kasar dan berangasan, padahal dia adalah seorang yang cermat dan seksama.

Begitu pertarungan berkobar, ia segera menyadari kalau tenaga pukulan musuhnya bukan saja tidak selisih jauh dengan kekuatannya, malah dalam hal ilmu meringankan tubuh serta keanehan jurus serangannya, musuh lebih tinggi setingkat daripada diri sendiri.

Kenyataan tersebut dengan cepat membuat Sin hong hwee ciau yang selalu memandang tinggi diri sendiri itu, merasa malu sendiri.

Diam-diam Sin hong hwee ciau Lui-Ki segera menggigit bibirnya dan bertekad hendak beradu jiwa dengan orang itu, telapak targannya yang besar seperti kipas segera diputar memainkan bayangan pukulan yang berlapis lapis, dalam waktu singkat semua jalan darah penting ditubuh lawan sudah dikurung olehnya.

Pada dasarnya dia berperawakan tinggi besar, tenaga pukulannya pun sudah termasyur karena hebatnya, tampaklah serangan tersebut dengan membawa deruan angin pukulan yang amat kencang segera menggulung kemuka dengan hebatnya.

Dari gerak jurus serangan yang dipergunakan lawannya, Cau sang hui Ciong Keh-teng segera sadar kalau musuhnya hendak beradu kekuatan dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna, sambil membentak keras, secepat kilat kakinya berputar kencang dan bergerak kian kemari mengandalkan kelincahan tubuhnya.

Dalam keadan begini, kititiran angin pukulan Sin hong hwee ciau yang bertubi-tubi itu semuanya mengenai sasaran yang kosong.

Suatu ketika, Cau sang hui Ciong Keh-teng berhasil menemukan peluang yang sangat baik, sambil tertawa seram sepasang telapak tangannya segera diputar sambil dirangkap menjadi satu, lalu secara tiba-tiba dibalikkan keluar.

Segulung angin pukulan yang amat dahsyat segera mengalir keluar mengikati gerak telapak tangannya itu bagaikan bendungan yang jebol saja, serangan itu dengan cepatnya menghantam tubuh Sin hong hwee ciau.

Tampanya Sin hong hwee ciau Lui-ki berniat untuk beradu kekerasan, ia tak ambil perduli resiko yang bakal dihadapi, sambil membentak keras tiba-tiba sepasang tangannya diayunkan pula kedepan melepaskan dua gulung tenaga pukulan yang maha dasyat untuk menyambut datangnya ancaman lawan.

Ketika itu Ku See hong telah berhasil menemukan kalau dibalik serangan dan Cau sang hui terselip serangan mematikan yang maha keji, tampaknya orang itu memang bertujuan untuk memancing Sin 378 hong hwee-ciau agar menyambut datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan.

Dalam kaget dan tercekatnya, buru-buru ia membentak keras.

-oo0dw0oo-Jilid.

"SAUDARA Lui, jangan kau sambut serangan itu dengan keras lawan keras...!"

Seraya berseru, tubuh Ku See hong bagaikan sukma gentayangan saja segera menerjang kesamping Sin hong hwee ciau, telapak tangan kirinya diayunkan kedipan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Deruan angin pukulan itu menerobos masuk lewat celah-celah antara kedua gulungan tenaga pukulan tersebut dan langsung menyergap jalan darah kematian dipinggang Cau sang hui Ciong Keh-teng.

Tenaga dalam yang dimilikinya sekarang telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, meski serangan tersebut dilancarkan dengan begitu saja, namun dibalik serangan tersebut justru terselip ancaman mematikan yang mengerikan.

Sesungguhnya Cau sang hui Ciong Keh teng berhasrat untuk mencelakai Sin hong hwee ciau secara diam-diam ketika tenaga pukulan masing-masing pihak saling membentur nanti, dia akan segera mengeluarkan ilmu pukulan paling keji untuk membinasakan lawannya.

Tapi, setelah dilihatnya ada sesosok bayangan manusia menerjang tiba sekarang, lalu muncul segulung angin pukulan yang sangat kuat menembusi ancaman yang dilancarkan olehnya terkesiaplah gembong iblis ini, dia tak berani menyambut dengan kekerasan, sambil menghimpun tenaganya mendadak tubuhnya melejit ke atas.

Kepandaian yang paling diandalkan Cau-sang-hui Ciong Keh teng dihari-hari biasa adalah ilmu meringankan tubuh, tampak tubuhnya melejit ke tengah udara dengan kecepatan luar biasa, begitu mencapai ketinggian dua kaki, dia segera berjumpalitan dan melayang turun dua kaki dari posisi semula.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan olehnya ini memang menunjukkan kelihayan kepandaiannya, hal mana membuat Ku See hong segera berkerut kening.

Rupanya dia sedang berpikir didalam hatinya, Cau Sang-hui Ciong Keh-teng didalam perkumpulan Thi kiong pang tak lebih hanya seorang jago kelas satu belaka, tapi ilmu silatnya sudah mencapai sedemikian lihaynya, bisa diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki pangcu serta para Hu-hoat nya pasti tak terkirakan.

Selain itu, diapun teringat dengan pesan terakhir dari San tian han jiau (Cakar dingin secepat kilat) paman Sangkoan menjelang ajalnya, menurut paman Sangkoan, musuh besarnya adalah perkumpulan Thi-kiong pang serta Tian-khi pang, tapi dibalik layar masih ada dalangnya...., dari sini dapat diketahui bahwa otak atau dalang dibalik layar itu tentu memiliki ilmu silat yang amat dahsyat, kalau tidak bagaimana mungkin kedua buah perkumpulan besar ini dapat dikuasai olehnya?

Àaaai...!

Apa yang dikatakan suhu memang benar, kekuatan dari pihak lawan amat dahsyat, sehingga bahkan dia sendiripun tak berani menghadapinya dengan kekerasan.' Begitulah, setelah malayang turun keatas tanah, Cau sang hui CiongKeh-teng segera tertawa dingin, lalu sindirnya dengan nada sinis.

"Huuuh... ., namanya saja Sin hong hwee-ciau yang tersohor di dunia, tak tahunya cuma manusia kerdil yang mengharapkan perlindungan diri seorang bocah muda, heeehhh.....heeehh....... heeehh....... bila kabar ini sampai tersiar keluar, aku ingin tahu, apakah kau masih punya muka untuk berjumpa dengan rekan rekan persilatan!"

Cau sang hui Ciong Keh-teng merasa agak terkesiap menghadapi kepandaian silat Ku See hong yang tinggi tak terukur itu, dia sadar bahwa kepandaiannya seorang diri tak mungkin bisa menangkan anak muda itu.

Maka timbullah niatnya untuk memanasi hati Sin hong hwe ciau yang berangasan agar dia melancarkan serangannya lebih dahulu, kemudian dengan suatu serangan kilat dia hendak menyingkirkan orang ini lebih dulu.

Bila musuhnya berhasil disingkirkan, baru lah dia akanbekerja sama dengan ketiga orang hiangcu-nya untuk mengalahkan Ku See hong.

Sin hong hwe Ciau Lui-Ki merasa gusar sekali, sekalipun dia tahu kalau tujuan musuh hanya untuk memanasi hatinya, tapi orang mati meninggalkan nama, macan mati menirggalkan kulit, bagaimana mungkin dia bisa menahan penghinaan serta cemoohan tersebut.

"Tua bangka she Ciong, aku akan beradu jiwa denganmu!"

Berbareng dengan suara bentakan tersebut, angin pukulan dan bayangan tendangan segera menyambar ke tubuh Cau san hui Ciong Keh-teng dengan kedahsyatan seperti hembusan angin puyuh.

Angin pukulan yang maha dahsyat segera bermunculan diangkasa bagaikan mega yang berlapis-lapis, kekuatannya luar biasa sekali, sedemikian rapatnya ancaman itu sehingga setitik celah pun tak ada.

Serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan marah, kelihayannya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Paras muka Cau sang hui Keh-teng segera berubah hebat, sambil tertawa seram sepasang telapak tangannya di ayunkan ke udara menciptakan serangkaian angin pukulan yang menyelimuti seluruh angkasa bagaikan sarang laba-laba.

Untuk sesaat, kedua orang itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit.

Tampak debu dan pasir beterbangan memenuhi seluruh angkasa, udara menjadi sesak dan badan berputar amat kencang, sulit untuk membedakan mana Cau-sang-hui dan mana Sin-hong-hwee-ciau.

Kekuatan tenaga pukulan dari kedua belah pihak pun ibaratnya bukit yang berguguran, kehebatannya luar biasa.

Sementara pertarungan sengit masih berlangsung disebelah sini, dipihak lain Biau-ki-siang-su In-Han-im juga sedang dikurung oleh enam orang hiangcu tersebut.

Enam batang busur baja seperti enam ekor ular sakti menciptakan cahaya hitam yang memenuhi angkasa, jurus demi jurus serangan dilancarkan beruntun tertuju pada bagian bagian mematikan di tubuh Biau-ki-siang-su.

Mana dahsyat, keji lagi.

Betul Biau-ki-siang-su In Han-im terhitung seorang tokoh persilatan yang tersohor namanya, tapi bagaimana mungkin dia bisa tahan menghadapi serangan gabungan dari ke enam orang itu?

Baru beberapa gebrakan, ia sudah terdesak sampai kacau balau tak karuan, dengan cepat posisinya terdesak dibawah angin dan terancam ancaman maut.

Sepasang alis mata Ku See hong segera berkenyit, sorot matanya memancarkan sinar pembunuhan yang menggidikkan hati, pekikan nyaring yang memekikkan telinga dengan cepat berkumandang memecahkan keheningan........

Ku See hong segera melompat ke udara seperti seekor burung raksasa, sesudah berputar satu lingkaran, lalu bagaikan naga sakti terbang di angkasa, dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia terjang ke arah ke enam orang Hiangcu yang sedang mengerubuti Biau-ki-siang-su In Han im tersebut.

Ketika salah satu diantara ke enam orang Hiangcu itu menyaksikan Ku See hong menerjang datang dengan kecepatan luar biasa-, busur baja ditangannya segera diputar satu lingkaran menciptakan selapis cahaya hitam yang menyilaukan mata, kemudian di sertai suara guntur dan angin yang mende ru deru, ia hantam batok kepala Ku See hong.

Kawanan Hiangcu itu merupakan jago jago kelas satu dalam dunia persilatan yang berilmu tinggi, tenaga dalam yang mereka miliki pun amat sempurna, tak terlukiskan dahsyatnya serangan yang dilancarkan itu.

"Cri ing!"

"Crii ng..!"

Dentingan nyaring menggelegar bersama dengan datangnya sambaran dari busur baja itu.

Bukan cuma jurus serangannya saja yang amat cepat, ancamannya juga mengerikan sekali.

Berada ditengah udara, mendadak Ku See hong berjumpalitan ke samping meloloskan diri dari ancaman berbahaya itu, lalu sambil tertawa dingin mendadak tubuhnya berkelit kesamping, bagaikan sukma gentayangan dia sudah berpujar ke sebelah kananHiangcu tersebut.

Agaknya Hiangcu tersebut tidak menyangka kalau sergapan kilatnya berhasil dihindari lawan dengan amat mudah, tapi diapun cukup pintar dan cekatan, begitu serangannya gagal, badannya berputar dan melejit sejauh delapan depa dengan gesit, sementara busur bajanya diayunkan ke muka menciptakan selapjs cahaya tingkatan yang dalam bagaikan samudra.....

"'Sreeet!"

Di ringi suara desingan tajam, busur baja itu bagaikan seekor ular lincah mendadak menyerang jalan darah Pay-gi hiat di punggung Ku See hong.

Jurus serangan ini selain keji juga ganas tapi indah sekali gerakannya.

Ku See hong mendengus dingin, kakinya berputar secara aneh, ke lima jari tangan kirinya direntangkan bagaikan cakar elang dan mencengkeram busur baja itu secara tiba-tiba, kemudian sambil menyentil, benda itu digetarkan keras-keras.

Hiangcu itu segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan kesemutan, tahu-tahu busur baja itu terlepas dari cekalan, 383 sementara tubuhnya turut terseret pula ke depan oleh segulung tenaja kuat itu sehingga terseret kedepan.

Ilmu Ki-nah-jiu-hoat yang dipergunakan Ku See hong kali ini betul-betul sangat lihay dan luar biasa, begitu busur baja tersebut berhasil dirampasnya, kebetulan Hiangcu itu pun sedang menerjang datang, hal mana segera menimbulkan napsu membunuh didalam hatinya.

Busur baja yang berada ditangan kirinya dengan membawa desingan angin tajam segera dibabat kedepan.

Tak sempat menjerit kesakitan lagi, batok kepala Hiangcu itu segera terpapas oleh busur baja yang tajam itu, ditengah percikan darah segar, batok kepala itu menggelinding sejauh tiga kaki lebih.

Cara membunuh orang semacam ini boleh dibilang tak pernah dijumpai sebelumnya, kekejamannya cukup menggidikkan hati orang.

Sambil menggengam busur bajanya erat-erat ditangan kiri, Ku See hong bergerak makin kedepan, kali ini dia menyambar ke samping seseorang hiangcu yang lain, tangan kirinya diputar dan busur baja itu dengan menciptakan selapis cahaya hitam langsung membacok tubuh Hiangcu tersebut.

Dikala menangkap bergemanya suara desingan angin tajam dari arah belakang, Hiangcu itu segera berpaling ke belakang, dengan cepat dia telah bertemu dengan sepasang sorot mata yang tajam seolah-olah hendak menembusi ulu hati orang saja.

Dalam terperanjatnya, busur bajanya segera disapu ke depan dengan gerakan datar menyusul kemudian tubuhnya ikut berkelebat pula keluar.

Busur baja ditangan kiri Ku See hong segera mencukil pelan, busur baja lawan dengan cepat tercukil sehingga terlepas dari cekalan.

Seperti bayangan setan, Ku See-hong segera melompat maju kedepan, busur bajanya sekali lagi menyapu ke muka dengan jurus serangan yang aneh, ganas dan buas.

Serentetan jeritan aneh yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan, diantara percikan darah yang memancar ke empat penjuru, Hiangcu itupun menjadi setan tanpa kepala ....Dalam sekali lompat saja, Ku See hong telah membunuh dua orang Hiangcu dari perkumpulan Thi-kiong-pang.

Serentetan gerakan ini dilakan tak lebih dalam sekejap mata, kenyataan yang amat menggidikkan hati ini kontan saja membuat keempat orang Hiangcu lainnya menjadi gempar, serentak mereka berlompatan keluar dari arena pertarungan.

Dengan mundurnya keempat orang hiangcu tersebut, Biau-ki-siang-su In Han Im baru memperoleh kesempatan untuk mengatur napas mimpipun dia tak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Ku See hong telah mencapai tingkatan yang begitu tinggi, tapi setelah menyaksikan caranya membunuh orang, bergidik juga hatinya.

Dia lantas sadar bahwa dunia persilatan telah muncul seorang pembunuh, malah kemungkinan besar keganasannya tidak berbeda dibawah kebuasan Bun-ji-koan-su dimasa lalu.

Dalam pada itu, hawa napsu membunuh dari Ku See hong telah berkobar, menyaksikan keempat orang Hiang-cu itu mundur ia segera memperdengarkan suara tertawa panjang yang menggidikkan sukma........

Seperti bayangan saja dia mengejar kemuka, busur bajanya berputar bagaikan serentetan cahaya hitam yang menyilaukan mata, bagaikan ombak samudra saja, dengan cepatnya menyebar ke empat penjuru dan menggulung semua rintangan yang dihadapinya.

Sebagai anggota Thi-kiong-pang, ke empat orang Hiangcu itu sudah memperoleh pendidikan yang cukup ketat, mereka sadar bahwa meacerai-beraikan kekuatan tak lebih hanya mempercepat kematian sendiri, maka timbul ah tekad mereka untuk menggabungkan kekuatan mereka yang ada untuk bersama-sana menghadapi serangan lawan.

Serentak keempat orang itu memperdengarkan suara pekikan anehnya sebagai tanda, empat buah busur baja bergabung menciptakan berlapis-lapis cahaya dingin yang tebal bagaikan sebuah bianglala panjang, dalam waktu singkat tenaga itu sudah menyambar keempat punjuru dan membendung datangnya hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari si anak muda itu.

Tapi gejala semacam itupun hanya berlangsung untuk sesaat, dalam waktu singkat suasana tadi tercerai-berai kembali oleh terjangan hawa pembunuhan yang menggetarkan sukma.

Seluruh benak Ku See hong ketika itu sudah dipenuhi oleh hawa napsu mengerikan, sorot matanya memancarkan cahaya bengis yang menggetarkan sukma lalu tertawa dingin.

Suara tertawanya kedengaran bagaikan hembusan angin dingin muncul dari gudang-salju, membuat siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Setelah tertawa dingin busur baja ditangan kiri Ku See hong segera meluncur kedepan seperti sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya, serangan itu tertuju kearah salah seorang diantara keempat orang Hiangcu tersebut, sementara tangan kanannya pada saat yang hampir bersamaan melepaskan segulung desingan angin pukulan yang dingin dan kuat menyerang kearah orang yang sama.

Hiangcu itu segera merasakan timbulnya segulung desingan angin pukulan berhawa dingin yang menyesakkan napas menekan keatas wajahnya.

Mendadak serentetan cahaya hitam meluncur tiba pula dengan kecepatan tinggi, sedemikian cepatnya sehingga ia tak sempat melihat jelas benda apakah itu.

Jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan tahu-tahu badannya sudah tertembus oleh sambaran busur baja itu hingga tembus dipunggungnya.

"Blaamm.......!"

Ditengah benturan dahsyat badannya termakan pula oleh tenaga pukulan yang sanggup menghancurkan batu cadas itu.

Tak ampun lagi, keempat anggota badannya tercerai-berai, daging dan darah berserakan memenuni permukaan tanah, kematiannya benar-benar mengerikan.

Berhasil menghabisi nyawa orang itu, Ku See hong segera merentangkan kelima jari tangan kirinya, setelah membuat satu lingkaran busur lalu disentilnya kedepan.

"Sreet.., sreet..!"

Ditengah desingan yang menderu-deru, lima gulung angin serangan yang tajam menyergap Hiangcu lainnya.

Sedemikian cepatnya serangan itu dilancarkan, seolah olah baru saja tangan kirinya menyambitkan busur baja itu,tangan kanannya turut bergerak pula.

Baru saja salah seorang Hian Su, diantara tiga orang yang masih hidup, mendengar rekannya menjerit kesakitan, segulung desingan angin tajam yang luar biasa hebatnya telah menembusi lapisan cahaya busur bajanya yang tebal.

Didalam kaget dan tercekatnya, serentak ketiga orang itu melompat mundur ke belakang.

Tapi sayang, gembong pembunuh muda itu sudah terlanjur mengincar seorang korbannya, secepat-cepatnya orang itu berkelit, toh waktunya tetap terlambat selangkah.

'Sreet...!

Sreet...!' ditengah desingan angin tajam, serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan.

Bagian mematikan dari tubuh bagian atas orang itu tahu-tahu sudah ditembusi oleh kelima gulung desingan angin tajam itu hingga tembus kedalam dadanya, darah segar segera memancar keluar seperti sumber mata air.

Tubuhnya yang tinggi kekar itu kontan mercelat sejauh enam tujuh langkah oleh hembusan angin pukulan 387 yang sangat kuat itu sehingga badannya roboh terkapar ditanah dan tewas seketika.

Dua orang sisanya segera sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, bila sekarang tidak kabur, bisa jadi jiwanya akan terancam.

Maka mereka berdua segera menyebarkan dirikekiri dan kanan kemudian melesat kedepan untuk menyelamatkan diri.

Ku See hong bepekik panjang dengan suara yang membetot sukma, tubuhnya seperti seekor burung elang raksasa segera meluncur ke tengah udara dengan kecepatan tinggi.

Mendadak......., pada saat itulah serentetan pekikan nyaring kembali bergema memecahkan keheningan .....

Kini ditangan Ku See hong telah bertambah dengan sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya merah yang berkilauan.

Itulah pedang Ang-soat-kiam yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada tigaratus tahun berselang atau sekarang lebih dikenal sebagai pedang mestika Hu-thian seng-kiam!

Pada saat pedang itu dilancarkan, tubuh Ku See hong telah membaur menjadi satu dengan cahaya pedang yang memancar bagaikan air terjun itu, secepat kilat berkelebat lewat ditengah udara.

Sedemikian cepatnya cahaya pedang tersebut berkelebat lewat sehingga pada hakekatnya sukar untuk membedakan mana cahaya pedang dan mana yang cahaya bianglala.

Serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan.

Tubuh si Hiangcu yang melayang di angkasa itu sudah terpapas kutung menjadi tiga bagian ditengah udara, darah segar berhamburan kemana-mana, kematiannya benar-benar mengerikan.

Berada ditengah udara, tiba-tiba Ku See hong memutar badannya, lalu membentak keras, seluruh tubuhnya telah berputar arah dan meluncur ke arah seseorang lainnya.

Gerakan pedangnya berkelebat lewat seperti hembusan angin puyuh, selapis cahaya tajam meluncur ke depan menciptakan selapis bukit pedang yang berwarna warni.

Selapis hawa pedang yang menggidikkan hati dengan cepat menyergap ke arah tubuh si Hiangcu yang baru saja akan melayang turun keatas tanah itu.

Serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan, sebutir batok kepala telah terpapas hancur oleh kilatan cahaya pedang, darah segar segera memancar ke mana mana dan kematiannya amat mengenaskan.

Setelah itu....

seluruh hawa pedang yang menyilaukan maka menjadi pudar, Ku See hong dengan wajah dingin seperti es dan bertangan kosong telah berdiri kaku diatas tanah, sementara sepasang matanya yang tajam menggidikkan hati menatap ke enam sosok mayat yang tak utuh itu tanpa berkedip.

Sedihkah dia?

Atau merasa gembira dengan hasil yang berhasil dicapainya kini?

Biau-ki siang-su In Han im merasakan pandangan matanya seolah olah menjadi kabur..., dia hanya merasa selapis kabut merah yang menyilaukan mata berkelebat lewat didepan mata, lalu dalam beberanpa kali kelebatan saja, dua orang yang terakhirpun telah roboh binasa diatas tanah.

Ternyata ilmu pedang yang dpergunakan Ku See hong adalah salah satu jurus serangan dari tiga jurus ilmu pedang yang tercantum dalam kitab kecil peninggalan Si hong Lo jin yang disebut Hui-hong-che ki-hiat seng-wi (Bianglala tiba-tiba Muncul Bau A mis dan Memancar)...!

Si-hong lo jin adalah seorang tokoh sakti yang luar biasa dari dunia persilatan, ilmu pedangnya boleh dibilang sudah merajai seluruh kolong langit.

Sebelum ajalnya tiba, dia telah menghimpun semua inti sari ilmu pedang yang ada didunia ini, dengan mengorbankan waktu selama tiga tahun untuk menciptakan jurus pedang baru.

Bisa dibayangkan betapa sakti dan luar biasanya jurus serangan hasil ciptaannya itu, selain ganas juga lihay sekali.

Setelah meloloskan pedang Hu-thian seng-kiamnya dari dalam sarung tadi, Ku See hong segera melebur tubuhnya menjadi satu dengan senjata tersebut untuk membunuh seseorang ditengah udara, kemudian sambil membalikkan badan dia membunuh pula Hiangcu yang terakhir, semua gerakan ini dilakukannya dengan kecepatan luar biasa.

Oleh karena itu, Biau-ki siang-su In Han im hanya merasakan berkelebatnya cahaya bianglala didepan mata, sedemikian cepatnya gerakan itu sehingga pada hakekatnya ia tak sempat menyaksikan gerakan Ku See hong sewaktu mencabut pedang maupun menyarungkan kembali pedangnya.

Mendadak....., Dari arah sebelah sana berkumandang suara dengusan tertahan, lalu tampaklah bahu kiri Sin hong hwee ciau Lui-Ki kena dihajar telak oleh serangan Cau seng hui Ciang Keh-teng sehingga muntah darah segar, dengan sempoyongan tubuhnya segera mundur sejauh beberapa langkah.

Sementara pertarungan sengit berkobar tadi, Cau sang hui Ciong Keh-teng telah mengetahui kalau enam orang hiangcu-nya telah mati secara mengerikan semua ditangan pemuda itu.

Dengan hati yang amat sakit seperti ditusuk pisau, dia segera mengeluarkan sejurus serangan mematikan yang amat ganas, dengan telak ancaman itu bersarang ditubuh Sin hong hwee-ciau.

Saat ini, kobaran hawa napsu membunuhnya sudah membara dalam dadanya, ia bertekad untuk membunuh setiap musuh yang dijumpainya, melihat Sin hong hwee ciau mundur dengan membawa luka, sudah barang tentu dia tak akan melepaskan korbannya dengan begitu saja.

Serentetan suara pekikan nyaring mirip jeritan setan atau lolongan serigala dengan cepat bergema memecahkan keheningan.

Secepat sambaran petir Cau sang hui Ciong keh-teng mengejar kedepan, kesepuluh jari tangannya direntangkan lebar-lebar dengan membawa serentetan desingan angin pukulan yang tajam, ia cengkeram belasan buah jalan darah penting ditubuh bagian atas Sin hong hwee-ciau.

Pada dasarnya dia memang sudah berniat untuk membunuh lawannya, tentu saja kekuatan yang disertakan dalam serangan itu luar biasa sekali hebatnya.

Sejak termakan pukulan dahsyat dari Cau sang hui Ciong Keh-teng tadi, Sin hong hwee ciau Lui-Ki sudah merasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, coba kalau tenaga dalamnya tidak sempurna, niscaya selembar jiwanya sudah melayang.

Walaupun begitu, pada saat itu ia sudah tak sanggup lagi untuk menghindarkan diri dari sergapan maut itu, tampaknya ia segera akan tewas diujung telapak tangan lawan.

Ketika Biau-ki siang-su In Han im menyaksikan adik angkatnya berada ditepi jurang kematian, dengan cepat dia membentak keras, tubuhnya segera melayang maju ke depan.

Tapi sesosok bayangan manusia lain bagaikan sambaran setan gentayangan saja tahu-tahu sudah tiba lebih dulu disisi tubuh Siu hong hwee-ciau, sebuah pukulan yang bertenaga lembek segera meluncur keluar dari balik telapak tangan kanannya.

Mendadak....

udara serasa diliputi kabut tebal dan angin menderu-deru, kemudian menyusul munculnya selapis cahaya merah yang berkilauan, daya tekanan yang timbul diempat penjuru pun makin lama semakin memberat bagaikan gencetan bukit karang.

000OdwO000 Bab 18

"BLAAAAMMM ....!"

Benturan keras yang memekikkan telinga segera bergema bersamaan dengan saling membenturnya dua gulung kekuatan yang maha dahsyat.

Desingan angin tajam segera memancar ke empat penjuru.......

Rambut panjang Cau sang hui Ciong Keh-teng terurai kacau ke bawah, noda darah membasahi ujung bibirnya paras mukanya pucat kehijau-hijauan, kulit mukanya mengejang keras menahan penderitaan.

Dengan sempoyongan tubuhnya mundur sejauh empat lima langkah dari posisi semula, lalu dengan sorot mata yang memerah membara, dia awasi wajah Ku See hong dengan penuh kegusaran.

Paras muka Ku See hong sendiripun dingin seperti es, matanya memancarkan cahaya menggidikkan, dengan suara yang kaku, katanya.

"Ciong Keh-teng, sekarang kau sudah berada di ambang pintu kematian, agar kau mampus dalam keadaan jelas, maka akupun akan memberi sedikit keterangan kepadamu, aku bersikap demikian kepada kalian karena perbuatan keji kalian telah menggusarkan Thian dan merisaukan umat persilatan."

Sauya-mu tak lain adalah putranya Ku-Kiam-cong, pangcu dari perkumpulan Kim-to-pang yang bernama Ku See hong ...."

"Manusia aneh dari dunia persilatan Bun-ji-koan-su adalah guruku!"

"Nah, beberapa macam dendam kesumat sedalam lautan ini tentunya pantas bukan bila kutuntut balas?! Sekarang, kau boleh mampus dengan perasaan lega!"

Ketika selesai mendengarkan perkataan dari anak muda itu, paras muka Cau-sang-hui C iong Keh-teng yang semula berwarna pucat pias itu, kini telah berubah makin mengenaskan, kulit wajahnya mengejang keras membentuk garis garis kerutan yang,penuh dengan rasa mengerikan....

Mati adalah suatu kejadian yang akan dialami setiap manusia.

Tapi bila seseorang sudah berada diambang pintu kematiannya entah bagaimanapun buas dan kejinya dia, sedikit banyak rasa sedih dan menyesal akan timbul juga diatas wajahnya.

Yaa, sesungguhnya dari dulu sampai sekarang, hanya berapa orangkah yang bisa memandang kematian sebagai sesuatu kejadian yang wajar?

Semut saja masih ingin hidup, apalagi manusia...

Pelan-pelan Ku See hong mengangkat telapak tangan kanannya, kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar, kemudian diantara sentilan dan getaran tangannya, lima gulung desingan angin tajam segera meluncur keluar dari ujung jarinya.

Mendadak.....

Serentetan jeritan ngeri yang memekikkan telinga berkumandang membelah keheningan malam.

Tampak sepasang tangan Can sang hui Ciong Keh menekan diatas dada serta lambungnya, lalu dengan wajah pucat pias keabu-abuan selangkah demi selangkah ia mundur ke belakang, darah kental bercucuran dari ujung dada dan bibir, lambungnya.

Sepasang mata Cau sang hui Ciong Keh-teng terbelalak lebar-lebar, sorot mata tajam memancar keluar dari balik matanya, tapi sekarang bukan sarot mata yang diliputi rasa benci dan buas.

Tapi sorot matanya sekarang adalah sorot mata yang lembut, penuh rasa penyesalan,rasa malu dan iba .....

Bibir Cau sang hui Ciong Keh-teng bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu,tapi tenaganya sudah tidak memenuhi keinginan hatinya, tapi anehnya dia masih tetap berdiri tegak, matanya masih tetap menatap wajah Ku See hong tanpa barkedip.

Akhirnya dari tenggorokannya berkumandang suara gemuruh yang parau dan tidak jelas.

"Ku sauhiap, loo.... lohu tidak mee...me..nyesal mee....meski tewas di ...ditangan...mu.., tapi ........Ban-sia-kaucu tee...te..lah menggerakkan kekuatannya uuu...untuk menguasai jaa...ja... jagad............ kau......!"

Yaa, bila seseorang sudah tahu kalau ajalnya hampir tiba, apa yang diucapkan sebagai akhir katanya adalah kata-kata yang bernada jujur dan penuh kebajikan.

Beberapa patah kata dari Cau sang hui Ciong Keh-teng ini diucapkan dengan nada yang mengenaskan, membuat semua orang yang mendengarkan serta merta merasakan hatinya menjadi iba.

Dengan suatu gerakan cepat Biau-ki siang-su In Han im segera menubruk kemuka, setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba saja hatinya merasa gemetar keras.

"Saudara Ciong..!"

Serunya dengan gelisah "Tolong berbicara agak jelas, Ban-sia kaucu hendak melaksanakan rencana kejinya terhadap siapa? Cepat katakan! Cepat katakan..!"

Agaknya Cau sang hui Ciong Keh-teng masih sempat mendengar perkataannya itu, bibirnya bergetar seperti mau menjawab akan tetapi tiada suara yang terdengar, cengkeraman maut dari malaikat kematian telah merenggut selembar jiwanya dari tubuh kasarnya.

Ku See hong segera menghela napas sedih, gumamnya.

"Heran, mengapa manusia selalu keras kepala, sebelum ajalnya menjelang tiba ia enggan menjadi sadar, aaai....! Inilah suatu tragedi bagi umat manusia; juga merupakan watak paling jelek dari umat manusia..... selama hidup Ciong Ken-teng melakukan banyak kejahatan, seluruh tubuhnya penuh dengan dosa tapi menjelang saat ajalnya, dia telah menemukan kembali kemuliaan hatinya, bila dibandingkan dengan orang-orang berdosa yang sampai manjelang ajalnya tiba pun tak mau bertobat, ia memang jauh lebih tangguh! "

Biau-ki siang-su In Han im turut menghela napas sedih, pelan-pelan dia menghampiri Sin hong hwee ciau, merogoh kedalam sakunya mengeluarkan sebuah botol kecil, lalu mengeluarkan sebutir pil dan dicekokkan kedalam mulutnya.

Pelan-pelan Ku See hong turut berjalan mendekat, lalu tanyanya dengan suara lembut.

"Paman In, siapakah yang dimaksudkan sebagai Ban-sia kaucu oleh Ciong Keh teng menjelang ajalnya tadi?"

Biau-ki siang-su in Han Im menghela napas panjang.

"Aaai.... ancaman bahaya maut yang mengancam dunia persilatan belakangan ini adalah kelompok dari perkumpulan Ban-sia kau. Tentang keadaan yang sebenarnya dari Ban-sia-kau dan organisasi macam apakah perkumpulan itu, aku belum sempat menyelidikinya sampai jelas, konon kaucu-nya adalah seorang wanita, tapi ilmu silatnya begitu lihay sehingga tak tertuliskan dengan kata-kata !"

Ku See hong termenung dan berpikir sebentar, lalu tanyanya lagi.

"Apakah Ban-sia-kau yang telah menguasahi Thi-kiong pang serta Jian-khi pang?"

Biau-ki siang-su In Han im segera mengangguk.

"Yaa, benar. Ban-sia kau memang merupakan perkumpulan yang telah menguasahi Thi kiong pang dan Jian khi pang menurut dugaanku, Ban-sia-kau sudah pasti ada hubungannya dengan pertarungan berdarah di bukit Soat-san tempo dulu, lenyapnya sekawanan jago lihay didalam dunia persilatan pun besar kemungkinan merupakan rencana keji dari Ban-sia-kau........!!"

Begitu mendengar tentang pertarungan berdarah di bukit Soat-san, Ku See hong segera merasakan darah panas didalam tubuhnya mendidih, gurunya dan kedua orang tuanya telah terlibat dalam pertempuran berdarah itu, kemudian terbunuh pula secara mengenaskan, siapakah dalang dari semua peristiwa berdarah ini?

Mendadak.....

Biau-ki-siang-su In-Han-im bertanya kepada Ku See hong.

"Ku lote..., sebelum mati apakah gurumu pernah mengungkap keadaan yang sebenarnya tentang peristiwa berdarah di bukit Soat-san?"

Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, menjelang ajalnya Bun-ji koan-su memang telah mengisahkan ceritanya yang mengenaskan, ia menyuruhnya agar mengingat selalu kisah tersebut, tapi melarang untuk diberitahukan kepada orang lain.

Betul Biau-ki-siangsu terhitung seorang pendekar kaum lurus dalam dunia persilatan, namun dia tak ingin mengingkari sumpahnya terhadap gurunya.

Maka dengan wajah berat hati serta nada minta maaf, Ku See-hong berkata.

"Paman In, menjelang ajalnya guruku memang pernah membicarakan tentang peristiwa dibukit Soat-san, tapi dia orang tua pernah berpesan agar aku tidak membocorkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu harap kau suka memaafkan kesulitanku ini."

"Aaaai ... !"

Biau-ki siangsu In-Han-im menghela napas sedih.

"Setiap orang yang turut hadir dalam pertempuran di bukit Soat-san, asal dia termasuk seorang berjiwa lurus, kalau bukan jejaknya tak diketahui lagi,... pasti tewas secara mengenaskan! Yang tersisa pun kini hanya tinggal manusia-manusia laknat berhati busuk dan keji."

"Dalam dunia persilatan yang begini luas, hanya kau seorang yang mungkin mengetahui duduk persoalan ini yang sebenarnya ...!"

"Orang persilatan memang mengutamakan soal kepercayaan, aku cukup memahami kesulitanmu itu, harap jangan merasa sedih. Sekarang aku akan berusaha untuk mengungkapkan semua jejak atau titik terang yang berhasil kuketahui kepadamu, bila bahan bahan keteranganmu tentang pertarungan dibukit Soat-san sehingga berhasil menyelidiki usal usul dari Ban-sia kaucu tersebut. Andaikata kau dapat menyelamatkan umat persilatan dari suatu badai pembunuhan, jasa ini benar-benar suatu jasa yang amat mulia."

Ku See hong merasa amat terharu, serunya dengan cepat.

"Paman In, aku benar-benar berterima kasih sekali atas kasih sayangmu, budi kebaikan ini terukir dalam dalam dilubuk hatiku sampai matipun tak dapat kulupakan. Terus terang kukatakan, dendam kesumat diriku sendiri juga ada sangkut pautnya dengan peristiwa ini, jika teka-teki ini dapat diungkapkan, sekalipun harus mendaki bukit golok atau terjun kecuali berisi minyak mendidih sampai hancurpun, aku pasti akan berusaha untuk melenyapkan kaum laknat tersebut!"

"Selama hidup aku In Han im, tak pernah menaruh perhatian terhadap orang lain......"

Kata Biau-ki siang-su In Han im kemudian dengan penuh perhatian.

"Tapi semenjak bertemu dengan lote, aku merasa amat menguatirkan sekali tentang keselamatanmu, aku merasa seakan-akan mempunyai ikatan batin denganmu, apalagi dikalangan kaum lurus dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya kau seorang yang mengetahui rahasia pertempuran berdarah dibukit Soat-san. Bila hal ini sampai diketahui oleh gembong-gembong iblis tersebut, sudah dapat dipastikan keselamatan jiwamu pasti akan terancam setiap saat!"

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, katanya dengan penuh kebencian.

"Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir, beruntung atau sengsara sudah merupakan nasib, bila kawanan gembong iblis itu berani datang mencari gara-gara denganku.... Hmmm! Akan kuberikan suatu pertunjukan bagus kepada mereka satu persatu akan kujagal mereka sampai ludas!"

"Ku lote...!"

Kata Biau-ki siang-su In Han im.

"Meskipun kau memiliki ilmu silat yang amat tinggi, namun musuh berjumlah banyak dan lagi merupakan gembong-gembong iblis dan pentolan-pentolan Liok-lim yang termashur namanya didunia ini, sepasang tangan sukar melawan empat tangan, aku harap kau suka bertindak lebih berhati-hati janganlah terlalu menuruti emosi. Ketahuilah, nasib dari beribu-ribu umat persilatan serta kewajiban untuk menegakkan kembali keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan telah terjatuh ditanganmu seorang, kematianmu memang soal kecil tapi akibatnya besar!"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Ku See hong merasakan hatinya terkesiap, pikirnya; 'Dulu suhu tidak menjelaskan sebab musababnya justeru lantaran takut kalau aku bertindak secara gegebah..., betul ilmu silat yang kumiliki belakangan ini telah mendapat kemajuan yang pesat, apalagi akupun memiliki pedang Ku-thian-seng-kiam yang sangat tajam,tapi untuk menghadapi musuh yang berjumlah begitu banyak, aku memang merasa kecil sekali, aaai...!

Nasibku telah ditakdirkan begini, siapa pula yang bisa merubahnya?

Apalagi jika pedang Hu-thian seng-kiam sampai diketahui orang sebagai pedang Ang-soat-kiam -nya Sihong lo jin dimasa lalu, bukan cuma orang-orang dari golongan sesat, saja yang akan merebutkannya, bahkan orang-orang dari golongan putih pun akan secara terang-terangan memusuhi aku.' Berpikir sampai diini, Ku See hong betul-betul merasa amat sedih, murung dan kesepian.

Tapi selang beberapa saat kemudian, dengan kening berkerut dan nada yang tegas dia berkata.

"Bagaimanapun juga, aku akan memikul tanggung jawab atas mati-hidupnya dunia persilatan, tapi aku Ku See-hong sudah ditakdirkan hidup seorang diri. Musuhku mungkin bukan cuma orang-orang dari kaum sesat saja, melainkan seluuh umat persilatan yang ada didunia ini."

Terkesiap sekali Biau-ki siang-su In Han im setelah mendengar perkataannya itu. Dengan perasaan tidak mengerti segera tanyanya.

"Apa maksud perkataan itu?"

"Paman In "

Ujar Ku See Hong dengan sedih, rahasia di balik kesemuanya itu akan kau pahami sendiri dikemudian hari, sekarang maafkanlah kalau aku tak dapat memberitahukan kepadamu."

Biau-ki siangsu In Han im adalah seorang yang cerdas, semenjak berjumpa denga Ku See hong, dia sudah merasakan bahwa pemuda ini memiliki banyak keistimewaan yang berbeda dengan manusia biasa.

Dalam hal apapun dia selalu mendatangkan suatu perasaan rahasia dan misterius membuat orang jadi tak habis mengerti.

Maka setelah mendengar perkataan itu, dia lantas tahu kalau asal usul maupun kehidupan selanjutnya dari pemuda itu bukanlah suatu kehidupan yang biasa...

Dengan cepat Biau-ki siang-su In Han im mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya kemudian.

"Situasi didalami dunia persilatan dewasa ini sudah bukan masalah perselisihan antara perguruan atau dendam kusumat antara perorangan lagi, Keadaannya sekarang betul-betul sudah kalut dan kacau balau sehingga segenap umat persilatan boleh dibilang sudah terlibat dan bersama-sama menuju ke hari Kiamat...!"

"Kini sembilan Partai besar dari daratan Tionggoan sudah tak dapat berpeluk tangan belaka; mereka masing-masing telah mengirim jago-jago lihaynya untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya, namun kunci paling penting diantara sekian masalah masih tetap terletak pada tubuh Ban-sia kaucu tersebut!"

"Oleh sebab itu, tugas pertama yang harus dilaksanakan sekarang adalah menyelidiki siapakah kaucu dari Ban-sia-kau tersebut, serta sampai dimanakah cakar iblis mereka telah dibentangkan, ....kalau didengar dari ucapan Ciong Keh teng menjelang saat ajalnya tadi, tampaknya rencana busuk Ban-sia kaucu untuk menguasai dunia persilatan sudah mulai dilaksanakan!"

"Pendapat paman In memang tepat sekali!"

Puji Ku See hong .

"Kini api sudah membakar alis mata, yang jauh tak akan memadamkan api didepan mata, tugas paling penting yang harus kita kerjakan sekarang adalah mencari tahu lebih dulu keadaan yang sebenarnya dari perkumpulan Ban sia kau tersebut."

Menurut penyelidikanku baru-baru ini, dapat kusimpulkan bahwa perkumpulan Ban-sia kau tersebut bukan saja ada sangkut pautnya dengan pertempuran dibukit Soat-san, bahkan yang menjadi ketuanya sepertinya juga mempunyai sangkut-paut yang erat sekali dengan Bun-ji koan-su locianpwe ...!"

"Ku lote, coba pikirkanlah, diantara orang penting yang terlibat langsung dalam pertarungan dibukit Soat-san tempo hari, siapakah yang paling besar kemungkinannya menjadi ketua dari perkumpulan Ban-sia-kau ?"

Ku See hong segera termenung sambil memutar otak. Cerita yang pernah didengarnya dari Bun-ji koan-su tempo hari melintas kembali didalam benaknya satu persatu. Mendadak Ku See hong menjerit kaget.

"Aaah ... , jangan-jangan mereka? Benar-benar hanya kedua orang ini yang paling besar kemungkinannya. Ooh suhu! Betapa mengenaskannya nasibmu,.....semua yang tidak kau beritahukan kepadaku dimasa lalu kini sudah tertera jelas, aku pasti akan melaksanakan menurut kehendak hatimu, entah bagaimanapun juga, aku pasti akan memenuhi keinginanmu itu, tak akan kusia-siakan harapan kau Orang Tua! Legakanlah hatimu ...!!"

Ku See hong berpekik dengan pedih, air matanya berucuran deras, dalam hatinya ia meresa amat benci kepada orang itu, ia bersumpah akan membuatnya mati dalam keadaan mengerikan...!

Pada saat itu Ku See hong sedang diliputi oleh rasa sedih dan gusar yang tak terlukiskan dengan kata, darah panas bergelora didalam dadanya, api dendam membakar seluruh tubuhnya.

Dipengaruhi oleh gejolak emosi, dia segera mendongakkan kepalanya sambil menyanyikan lagu "Dendam Sejagad".

DENDA M kesumat membentang bagai jagad, Bukit tinggi berhutan lebat disisi sebuah kuil.

Sungai besar didepan kuil berombak besar, Dendam kesumat sepanjang abad!

DENDA M kesumat membentang bagai Jagad, Burung gagak bersarang dirumput dikala senja.

Cinta kasih berlangsung dari muda sampai tua.

Memetik kampak membuat lagu.

Nadanya dendam!"

Menitik air mata darah untuk siapa?

Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa.

DENDA M kesumat membentang bagai Jagad.

Ji koan pernah berbuat salah.

Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya?

Salju terbang air laut semuanya hambar.

DENDA M kesumat membentang bagai Jagad.

Curah hujan membuyarkan awan.

Air mengalir akhirnya surut.

Dendam kesumat tak akan pernah luntur..........

oooOdwOooo TENAGA DALAM yang dimiliki Ku See hong belakangan ini telah memperoleh kemajuan yang pesat.

Suara nyanyian yang dibawakannya segera menggetarkan seluruh jagad, selain suaranya mengandung daya iblis yang membetot sukma, suaranya pun menggema tiada hentinya diseluruh angkasa.

Dalam membawakan lagùDendam Sejagad` kali ini, perasaan Ku See hong jauh lebih sedih dan menderita, dia merasa makin simpatik terhadap tragedi yang telah menimpa gurunya, diapun memuji kecerdasan Bun-ji Koan-su dalam mendalami kepandaiannya, semua perasaan yang bercampur-baur itu segera dilampiaskan keluar melalui suara nyanyian maut itu.

Hal ini membuat anak muda tersebut makin menyukai lagunya, dia merasa lagu tersebut merupakan lagu yaag paling mengenaskan dan paling memedihkan hati didunia ini.....

Rupanya pada saat ini Ku See hong telah berhasil memahami arti kata dari nyanyian "Dendam Sejagad".

Nada bait kedua dan bait ketiga jelas melambangkan seluruh penderitaan serta percobaan yang pernah dialami Bun-ji koan-su dalam sejarah kehidupannya.

Makin mendalami arti kata dari bait syair lagu "Dendam Kesumat" , Ku See hong merasakan hatinya makin sedih, tanpa terasa diapun teringat kembali dengan Keng-Cin-sin, si gadis cantik yang berkorban baginya.

Seluruh perasaan cintanya yang membara dan selama ini terpendam dalam hati kecilnya segera dilampiaskan keluar, ibarat ombak samudra yang bergulung saling berkejaran, selamanya tak akan pernah berakhir, sementara titik air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya .......

Waktu itu persis kentongan ketiga tengah malam.

Rembulan berada diangkasa memancarkan cahayanya yang indah dan menawan, bintang-bintang bertaburan diangkasa menghiasi langit yang gelap.

Tapi suasana disekitar tempat itu penuh diliputi oleh kesuraman, keheningan, keseraman yang mengerikan.

Mayat demi mayat bergeletak diatas tanah tanpa berkutik, ketika angin barat yang kencang berhembus lewat menimbulkan suara gemerisik daun pek-yang yang berguguran.

Jeritan keras burung malam bercampur dengan nyanyian yang membetot sukma ini, menjadikan suasana seram.

Dengan termangu-mangu seperti orang yang kehilangan ingatan, Biau-ki siangsu serta Sin-hong-hwee-biau berdiri tak berkutik disitu, demikian pula dengan Ku See hong yang lagi dirundung kesedihan.

Ditengah tanah pekuburan yang penuh berserakan batu nisan, mereka berdiri bagaikan tiga sosok mayat hidup.

Bila secara kebetulan ada orang yang datang kesitu, niscaya mereka akan ketakutan setengah mati.

Mendadak, pada saat itulah ....Dari balik pekuburan yang berserakan itu pelan-pelan berjalan keluar se-sosok mayat hidup yang mengenakan pakaian serba putih!

Bukan ...

,`dia bukan mayat hidup', melainkan seorang pemuda berbaju putih yang berwajah sedingin es !

Sebilah pedang berbentuk ular yang berwarna kuning perak tersoreng dipunggungnya.

Gerakan tubuh orang itu sangat ringan seperti sukma gentayangan, kakinya tidak menginjak tanah, tanpa menimbulkan sedikit suara-pun dia mendekati Ku See-hong sekalian, lalu berhenti tak bergerak pada jarak dua kaki dihadapan mereka.

Dengan sorot mata yang dingin bagikan salju, diawasinya tiga orang yang berada dihadapannya bergantian.

Tiba-tiba sekulum senyum sinis penuh cemoohan tersungging diujung bibirnya.

Setelah hening beberapa saat, pemuda berbaju putih itu mendongakkan kepala dan tertawa seram.

Suaranya dingin menggidikkan hati, sedemikian menggidikkan sehingga sama sekali tidak membawa bau kehidupan manusia.

Dengungan keras menggema di angkasa ,menyusul berakhirnya tertawa dingin itu.

Dari sini bisa diketahui kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan.

Mendengar suara tertawa yang menusuk telinga bagaikan beribu ekor kuda lari bersama itu-, mecorong sinar menggidikkan dari balik mata Ku See hong, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah orang itu.

Diam-diam ia agak terkesiap, tapi selanjutnya dengusan dingin penuh hinaan bergema memenuhi angkasa.

Bian-ki siang-su In Han im serta Sia hong hwee ciau Lui-Ki segera tersadar kembali oleh tertawa itu.

Begitu melihat siapa pendatangnya, Biau-ki siangsu merasa terkesiap-, ia sadar kalau suatu pertempuran sengit tak dapat dihindari jika orang itu benar seperti apa yang diduganya, maka berarti tiada keyakinan lagi Ku See hong, untuk menangkan pertarungan ini.

Andaikata pemuda she Ku itu sampai kalah, maka sudah dapat dipastikan, nasib tragis menanti didepan mata.

Dengan wajah dingin dan kaku serta sikap yang angkuh dan jumawa pemuda berbaju putih itu menegur dengan suara dalam.

"Siapa yang telah membawakan nyanyian barusan?"

Ku See hong berkerut kening, dari balik matanya terpancar pula sinar keangkuhan yang jauh lebih tebal, sambil mendongakkan kepalanya dia tertawa panjang, suaranya nyaring bagaikan pekikan naga.

Kemudian sambil berhenti tertawa ujarnya dengan suara yang jauh lebih dingin daripada pemuda berbaju putih itu.

"Saudara lebih baik kurangi sedikit sikap congkakmu dihadapan pembawa lagu itu !"

Paras muka pemuda berbaju putih itu masih tetap dingin tanpa emosi, ia termenung sebentar, lalu ujarnya dingin.

"Kalau begitu kau adalah murid manusia aneh dari dunia persilatan Bun-ji koan-su yang bernama Ku See hong!?"

Baik, sikap maupun nada suaranya amat angkuh dan jumawa sedikitpun tiada rasa kehangatan.

Suara semacam itu hanya membuat bulu kuduk pada bangun berdiri, dan peluh dingin jatuh bercucuran.

Ku See hong mendengus dingin.

"Saudara, kalau begitu kau pastilah Cing-hay khi sau yang tersohor karena keangkuhannya itu?"

Katanya pula sinis. Agak terkesiap pemuda berbaju putih itu, setelah mendengar perkataan lawan, tapi diluaran dia tetap berkata dengan wajah tanpa emosi.

"Hmm, tampaknya cukup tajam juga pandangan matamu, bagus, sekarang aku hendak bertanya kepadamu-, taklukkah kau dengan ilmu silat dari Cing hay pay?"

"Akupun hendak bertanya kepadamu taklukkah kau dengan ilmu silat dari Bun-ji koan-su ...?"

Ku See hong balik bertanya.

Tampaknya pemuda berbaju putih itu seperti tak pernah menyangka kalau Ku See hong bakal mengajukan pertanyaan serupa, setelah tertegun sesaat dengan cepat wajahnya pulih kembali dalam sikap yang dingin dan kaku.

Dengan senyum tak senyum dia berkata.

"Bagus! Bagus sekali! Agaknya malam ini aku sudah bertemu dengan musuh yang tangguh."

Setelah hening sejenak, mendadak dengan wajah dingin dan suara keras dia membentak. ' Ilmu silat dari daratan Tionggoan cuma permainan buruk dari anak kecil, aku orang she Ciu tidak takluk! "

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See hong, dia segera balas membentak.

"Ilmu silat aliran Ciang hay pay hanya ilmu sesat dari golongan hitam, ilmu yang tak seberapa itu lebih mirip permainan anak kecil, tentu saja aku orang she Ku pun tidak takluk !!"

"Bagus, bagus, kalau begitu tak ada salahnya jika kita saling mencoba kepandaian masing-masing.!"

Ujar pemuda berbaju putih itu sambil tertawa hambar.

"Bagus sekali!"

Jengek Ku See hong pula sambil tertawa dingin.

"kalau cuma beradu mulut belaka sama sekali tak ada gunanya, lebih baik kita saling beradu kepandaian saja!"

"Biau-ki siangsu In Han im cukup sadar seandainya dua orang jagoan muda ini sampai saling bertarung, sudah pasti akibatnya akan mengerikan.

Òrang bilang bila dja ekor harumau berkelahi, salah satu diantaranya pasti terlukà.

Betul si pemuda berbaju putih itu sombong dan jumawa, namun wajahnya memancarkan sinar kegagahan..., jelas dia bukan serang manusia buas dari golongan sesat.

Dalam keadaan dunia persilatan yang sedang terancam bahaya maut, dimana pengaruh iblis sedang meraja-lela, andaikata dua orang jago itu sampai bertarung dan sama-sama terluka, bukankah hal ini akan sangat merugikan kepentingan umat persilatan dari golongan golongan lurus didunia ini..

?' Biau-ki siangsu In Han im segera putar otak sambil berpikir keras, mendadak dia maju dua langkah kedepan, lalu ujarnya deagan suara lantang.

"Ciu sauhiap ...., Ku sauhiap, ujung langit adalah tetangga, empat penjuru adalah saudara, untuk saling mengukur kepandaian mah boleh saja, tapi tak perlu saling ngotot untuk beradu jiwa, lebih baik pertarungan dibatasi saling menutul saja, Asal menang kalah sudah ditentukan, pertarungan tak usah dilanjutkan dan alangkah baiknya bila kalian bisa damai sebagai teman."

"Ketahuilah, dunia persilatan dewesa ini sedang diliputi oleh ancaman badai yang amat dasyat, setiap orang sedang dicekam perasaan takut dan jiwa setiap orang diancam maut, suatu bencana besar sudah mulai berkembang dalam dunia persilatan, aku harap 406 sauhiap berdua suka bekerja sama saja untuk melawan datangnya ancaman maut yang sedang mengincar umat persilatan daripada membuang tenaga untuk saling mengukur kepandaian, toh sumber dari ilmu silat sesungguhnya adalah sama?"

Ketika mendengar perkataan dari In Han in yang amat gagah dan masuk diakal itu, baik Ku See hong mau pun pemuda berbaju putih itu sama-sama merasakan hatinya bergetar, tapi dasar anak muda yang berdarah panas, mungkinkah mereka dapat mengesampingkan pertarungan tersebut dengan begitu saja?

Dalam pada itu, pemuda berbaju putih tersebut telah berseru dengan suara dingin.

"Orang she Ku, silahkan kau lancarkan seranganmu !"

"Orang she Ciu !"

Balas Ku See hong dengan wajah sedingin es.

"Kau datang dari Cing-hay, hitung-hitung sebagai tamu yang datang dari jauh, lebih baik kau saja yang melancarkan serangan lebih dahulu!"

Ku See hong adalah pemuda yang angkuh dan dingin, ia tidak 'memandang serius setiap pertarungan yang kemungkinan akan berlangsung.

Akan tetapi, berhadapan dengan pemuda berbaju putih itu entah mengapa tiba tiba saja hatinya terasa tegang dan wajahnya berubah menjadi amat serius.

Dia cukup mengetahui betapa, seriusnya persoalan yang sedang dihadapinya, maka dia semakin tak berani memandang secara gegabah, begitu berdiri tegak, segenap perhatiannya dipusatkan menjadi satu, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan seluruh kesiagaannya ditingkatkan setinggi-tingginya.

Pemuda berbaju putih itu sendiripun tak berani bertindak secara gegabah, dia tahu pemuda yang berada dihadapannya itu meski diluarannya tampak biasa, sesungguhnya dia memiliki ilmu silat yang belum pernah dihadapi sebelumnya, diam-diam hawa murni yang dimilikipun dihimpun menjadi satu.

Empat jalur sinar mata yang tajam menggidikan hati segera saling bertatapan tanpa berkedip, suasana disekeliling tempat itupun menjadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.

Ditengah suasana hening yang menggidikkan hati itu, penuh diliputi keseraman, kengerian serta ketegangan yang memuncak.

Hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh angkasa, setiap saat suatu pertarungan yang menggidikkan hati kemungkinan besar akan meletu serta berkobar.

Mendadak pemuda berbaju putih itu tertawa dingin dengan suara menyeramkan.

Suara tertawa dingin itu rendah dan berat menggetarkan sukma, membuat Lam-ciau pak-siang yang menonton jalannya pertarungan itu segera merasakan hatinya turut tercekat.

Menyusul kemudian terdengar suara seseorang mendengus dingin.

"Weess....!"

Ditengah desingan angin tajam, segulung angin pukulan yang sangat tajam dan kuat segera meluncur kemuka.

Diantara pusaran angin berpusing yang menyebar keempat penjuru, Ku See hong dan pemuda berbaju putih itu berdiri saling bertatapan muka empat mata bertemu, dengan masing masing memancarkan cahaya kegusaran.

Lam-ciau pak-siang yang menyaksikan kejadian itu sama-sama merasa terkesiap...

rupanya berbareng dengan bergemanya suara tertawa dingin tadi, pemuda berbaju putih dan Ku See hong telah saling bertukar satu pukulan dengan kecepatan luar biasa!

ooooOdwOoooo Bab 19 SAKING CEPATNYA gerakan tubuh kedua belah pihak didalam melakukan penyerangan tadi, ternyata dengan ketajaman mata Lam-ciau pak-siang pun tak sempat melihat jelas dengan jurus apakah kedua belah pihak saling bertukar pukulan.

Tapi mereka sempat juga menyaksikan tubuh kedua orang itu saling menerkam dengan kecepatan tinggi, tangan kanan masing-masing pihak melepaskan sebuah pukulan aneh dari suatu sudut yang tak terduga, kemudian masing-masing pihak telah balik kembali keposisinya semula.

Setelah terjadinya bentrokan secepat kilat itulah, perasaan masing-masing pihak bertambah hebat, pikirnya hampir berbareng.

Ùntung aku mempunyai ketajaman mata yang luar biasa, coba tidak, bisa jadi aku sudah mampus diujung serangannya itu.` Suasana tegang, menyeramkan masih tetap menyelimuti seluruh angkasa, bagaikan mengikuti berlalunya sang waktu, makin lama suasana semacam itu semakin menebal.

Di bawah timpaan cahaya rembulan dan bintang, pemuda berbaju putih dan Ku See hong masing-masing menggerakkan langkah kaki mereka yang pelan dan berat, mendekati pihak lawannya....

Bagi jago lihay yang sedang bertarung, bila ada setitik kelemahan saja yang terbuka, niscaya peluang tersebut akan dimanfaatkan lawannya untuk merobohkan lawan, maka geseran kaki mereka berdua pun dilakukan secara beraturan, setitik kelemahanpun sama sekali tak boleh terlihat.

Makin lama makin mendekat ....Kini jarak kedua belah pihak sudah tinggal tiga depa, tapi berhubung tiada kesempatan yang bisa dimanfaatkan, serta merta mereka berdua sama-sama menghentikan gerakan tubuhnya.

Dengan suatu gerakan cepat Ku See hong mengangkat telapak tangan kirinya ke atas, sementara tangan kanannya dengan mengepal kencang disilangkan didepan dada.

Pada saat yang bersamaan, pemuda berbaju putih itupun mengangkat telapak tangan kanannya menghadap langit dengan telapak tangan kiri disilangkan didepan dada, kaki kiri diluruskan ke belakang sementara kaki kanan agak menekuk, bentuknya sangat aneh.

Dikombinasikan wajahnya yang dingin menyeramkan, posisinya sekarang cukup membikin hati siapapun bergidik........

Lam-ciau pak-siang adalah seorang tokoh persilatan yang sudah lama termashur dalam dunia persilatan, pemandang gaya serangan yang ditunjukkan ke dua orang itu, diam-diam mereka merasa kagum sekali atas kelihayan ilmu silat yang dimiliki kedua orang pemuda tersebut.

Sebab didalam gaya serangan mana, pada hakekatnya mustahil bagi orang untuk menyarangkan serangannya ditubuh lawan, sebab hampir semua bagian yang penting dan mematikan ditubuh lawan telah terlindung rapat, entah jurus serangan macam apapun yang digunakan lawan, sulit bagi lawan untuk meloloskan diri dari jurus serangan ampuh yang tersembunyi dan mematikan.

Begitulah, dua orang jago muda yang berilmu tinggi itu saling berhadapan tanpa bergerak..., Seperminum teh sudah lewat tanpa terasa, namun kedua belah pihak belum juga melakukan suatu tindakan.

Padahal, sekalipun tubuh mereka tak bergerak, otak mereka berputar bagai putaran roda kereta, dengan suatu kecepatan yang luar biasa mereka berusaha memeras otak dan mencari gerakan yang bisa dipakai untuk mematahkan pertahanan lawan.

Mendadak.....

Ujung kaki kanan pemuda berbaju putih itu dihentakkan keras-keras keatas tanah, kemudian seluruh badannya menyusup keluar bagaikan kilatan cahaya kilat, gerakan mundur tanpa melancarkan serangan ini jelas merupakan suatu pancingan untuk memancing pihak lawan melancarkan serangan.

Walaupun Ku See hong tahu kalau gerakan pancingan, namun pemuda yang angkuh dan keras hati ini berhasrat besar untuk mencoba kelihayan jurus serangan lawan.

Maka dia mendengus sinis, ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong yang maha dahsyat segera dikerahkan, berada di udara tubuhnya laksana kilatan cahaya bintang meluncur ke luar.

Dalam waktu singkat dia telah mengikuti gerakan tubuh pemuda berbaju putih itu melayang turun ke tanah.

Pemuda berbaju putih itu segera mendengus dingin, tubuhnya bagaikan gulungan ombak ditengah samudra segera menggulung balik ditengah gulungan mana sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan, kakinya melancarkan tendangan bersama dengan gerakan aneh.

Dalam sekejap mata, dia telah lepaskan duabelas tendangan dengan delapan belas buah pukulan terantai, kecepatannya benar-benar menyilaukan mata.

Angin pukulan menderu-deru dan menyesakkan napas, bagaikan gunung yang ambruk saja, seluruh angkasa penuh dengan pusaran angin yang amat menyilaukan mata.

Ku See hong membentak gusar, sepasang lengannya diputar pula dengan cepat melancarkan serentetan pukulan dahsat.

Angin pukulan yang lembut tapi menyesakkan napas, bagaikan jaring langit, dengan membawa kekuatan yang maha dahsyat segera menggulung kedepan.

Begitu rapatnya ancaman tersebut sehingga sukar untuk menemukan setitik celah kosong pun.

-oo0dw0oo-Jilid.

13 BAYANGAN telapak tangan, bayangan kaki berhamburan memenuhi angkasa, untuk sesaat sulit buat orang untuk mengetahui jurus serangan apakah yang mereka pergunakan.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah melancarkan seratus dua puluhan kali tendangan serta tigaratus enampuluhan 411 pukulan, tapi kedua belah pihak sama-sama tak sunggup melukai lawan.

Semakin cepat gerakan tubuh mereka berputar, jurus serangan yang di pergunakan pun makin lama semakin gencar dan dahsyat.

Menyaksikan pertarungan sengit yang belum pernah di jumpai sebelumnya ini, Lam-ciau dan Pak-ciang diam-diam menghela napas panjang.

Pada hakekatnya jurus serangan yang dipergunakan kedua orang ini amat dasyat, lihay dan jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan,...

Bila dibandingkan dengan ilmu silat yang mereka miliki, jelas sekali perbedaanya ibarat bintang dan kunang kunang.

Meski kagum dengan kelihayan kungfu orang, Biau-ki siangsu In Han im pun diam-diam merasa lega, dia bersyukur dikolong langit dewasa ini masih terdapat dua orang pendekar sejati yang memiliki ilmu silat amat lihay, ini berarti umat persilatan makin ada kesempatan(harapan) untuk meloloskan diri dari ancaman bencana.

Namun diapun merasa amat gelisah, sebab dalam pertarungan yang berlangsung begitu sengit sudah jelas akhirnya pasti ada yang luka.

Lalu apa yang harus dilakukan sekarang untuk menanggulangi situasi semacam itu?

Ku See hong sendiri semakin bertarung semakin terkejut..., dia merasa bukan saja tenaga dalam lawan amat sempurna, hawa pukulannya yang bersambunganpun ibarat gulungan ombak ditengah samudra, jurus-jurus serangan yang digunakan rata-rata aneh, lihay, ganas dan jarang dijumpai dikolong langit.

Ia kaget oleh ilmu silat lawan...., demikian pula halnya dengan si pemuda berbaju putih yang juga merasa terkejut oleh tenaga dalam dan jurus serangan yang dimiliki Ku See hong.

Yang paling mengejutkan hatinya adalah diantara jurus-jurus serangan yang digunakan lawan, ternyata ada sebagian yang mirip sekali dengan ilmu silat aliran Cing-hay pay, tapi bila dibandingkan maka terasa pula perbedaan yang amat jauh.

Kenyataan ini membuatnya benar-benar merasa tidak habis mengerti.

Sedari dahulukala, ilmu silat aliran Cing-hay pay sudah merupakan suatu kepandaian silat yang berdiri sendiri, padahal ilmu silat yang dimilikinya sekarang justru dipelajari dari kitab pusaka Pek-ke cinkeng, sebuah kitab pusaka yang memuat ilmu sakti aliran Cing-hay.

Mungkinkah pihak lawan pernah mengintip kitab pusaka tersebut serta menyadap ilmu rahasia dari Cing-hay pay?

Akan tetapi, bila diperhatikan lebih seksama, maka terasa kalau jurus serangan tersebut sama sekali tidak mirip dengan ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Pek-ke-cinkeng.

Mengapa bisa demikian?

Rupanya Ku See hong yang berhasil memperoleh jurus pedang dari peninggalan Si-hong lo jin, setelah menekuninya selama dua bulan lebih, bukan saja ketiga jurus gerakan pedang itu berhasil dikuasahi dengan matang, bahkan diapun berhasil pula memahami banyak sekali jurus ampuh yang aneh-aneh dan sakti...

Si Kakek menyendiri atau Si-hong lo jin, merupakan manusia paling aneh dalam dunia persilatan jaman itu, setiap patah kata yang ditulis olehnya pada hakekatnya mengandung suatu pelajaran silat yang sangat mendalam.

Misalnya saja ketiga jurus ilmu pedang peninggalannya itu, jangan dilihat hanya tediri dari tiga gerakan belaka..., pada hal jurus itu dicipiakan dengan susah payah dan harus mengoroankan banyak tenaga dan pikiran.

Tentu saja diantara gerakan mana terkandung pula pelbagai ilmu rahasia dari perbagai perguruan serta aliran didunia ini.

Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Cing-hay pay, otomatis dalam sepuluh jurus yang diciptakan olehnya, ada delapan diantaranya yang berbau ilmu silat Cing-hay pay.

Tak heran kalau jurus jurus serangan yang kemudian berhasil dipahami dan dikuasahi Ku See hong, mustahil dapat melepaskan diri dari jurus-jurus serangan aliran Cing-hay pay, namun bila diteliti 413 dengan seksama maka akan terlihat bahwa gerakan silatnya sama sekali terlepas dari gerakan ilmu silat Cing-hay pay.

Bagaimana mungkin bisa demikian?

Rupanya ketika Si-hong lo jin menciptakan tiga jurus ilmu pedang itu, dia bukan cuma berdasarkan ilmu silat aliran Cing-hay pay saja, melainkan telah menghimpun segenap inti sari pelajaran ilmu pedang yang ada dipelbagai aliran dan pelbagai perguruan didunia ini, otomatis gerak serangannya jauh berbeda dengan aliran ilmu silat Cing-hay pay.

Apalagi setelah kepandaian itu muncul atas ilham dan pengertian Ku See hong, selisihnya boleh dibilang semakin jauh lagi.

Malah oleh Ku See hong jurus serangan yang sebenarnya digunakan pedang telah dirubahnya menjadi pukulan, bayangkan saja bagaimana mungkin gerakan itu bisa mirip dengan aliran C iang-hay-pay?

Tak heran kalau si anak muda berbaju putih itupun dibikin melonggo dan tidak habis mengerti.

Begitulah, makin bertarung kemarahan Ku See hong makin berkobar, tiba-tiba dia berpekik keras, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah sepasang tangannya diputar mcmbentuk satu lingkaran besar mendadak sepasang tangannya di tolak kedepan.

Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat, bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera meluncur ke muka.

Serangan itu dilancarkan secara tiba-tiba, kekuatannya pun cukup membut orang berubah muka.

Mencorong pula serentetan cahaya mata yang menggidikan hati dari balik mata pemuda berbaju putih itu, sepasang telapak tangannya disilangkan lalu dilontarkan ke muka bersama-sama, hembusan angin puyuh bagaikan jala langit yang disertai suara desingan tajam, lansung menyambar kedepan.

Ku See-hong merupakan seorang pemuda yang cerdas, dia tahu tenaga dalam lawan sama sekali tidak berada dibawah kepandaiannya, bila mereka harus beradu tenaga, sudah pasti akan 414 menyebabkan luka atau kematian, maka sewaktu melancarkan serangan i u tadi, sesungguhnya dibalik ancaman mana terselip pula suatu tipu muslihat.

Sebagaimana diketahui, dalam pertarungan antara sesama jago lihay, bukan hanya tenaga dalam saja yang diandalkan, melainkan juga kecerdasan serta kelincahannya dalam menghadapi keadaan, yang lebih penting lagi adalah memaafkan kesempatan paling baik guna meraih suatu kemenangan.

Disaat pemuda berbaju putih itu siap melancarkan serangan dengan mengayunkan sepasang telapak tangannya ke depan, tiba-tiba dia membuyarkan serangannya sambil menyusup ke samping kiri lawan dengan gerakan Mi-khi biau-tiong yang aneh tapi sakti itu.

Di ringi bentakan keras, sepasang tangan Ku See hong membentuk, satu gerakan lingkaran busur dari samping, kemudian dengan membawa segulung tenaga serangan yang lembek bagaikan samudra, secepat kilat meluncur kedepan.

Pepatah bilang.

'Kebenaran meningkat sedepa, kejahatan meningkat setombak'.

Pemuda berbaju putih itu bukan manusia sembarangan, sudah barang tentu rencana licik dari Ku See hong pun sudah dapat ditebak olehnya, maka jikalau Ku See hong melancarkan serangan ke depan itulah ......Mendadak pemuda berbaju putih itu menarik pula segenap tenaga serangannya, kaki badannya berputar, telapak tangan kanannya diayunkan kedepan.

Serentetan cahaya tajam berbentuk bintang bagaikan letusan mercon yang berantai menggelegar ditengah udara.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See hong setelah dilihatnya pihak lawan mengambil tindakan untuk beradu kekerasan, diam diam hawa pukulannya dilipatkan menjadi dua kali, sepasang lengannya segera digetarkan membentuk gerak gelombang yang dahsyat.

Hawa pukulan tak berwujud yang melingkar-lingkar, bagaikan hembusan angin puyuh, dengan membawa deruan yang memekikkan telinga langsung meluncur kemuka.

"Blaaaa! Blaaam! Blaaam ... ....!"

Ditengah serangkaian benturan keras, desingan angin pukulan yang tajam segera memancar ke empat penjuru...

Tiba-tiba saja Ku See hong merasakan datangnya segulung tenaga tak berwujud yang menembusi jaringan hawa murninya sendiri dan menekan amat dahsyat sehingga sukar untuk bernapas, tak kuasa lagi tubuhnya mencelat setinggi satu kaki lebih dari pososi semula, namun ia tidak mengalami cedera apa-apa.

Sementara itu pemuda berbaju putih itu pun merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, hal mana membuat hatinya amat terperanjat.

Dalam gugupnya, secepat kilat telapak tangan kirinya melancarkan tiga puluh serangan nerantai melalui suatu sudut yang aneh.

Ketiga jurus serangan itu merupakan jurus pembunuh yang amat dahsyat dan mematikan dari pemuda berbaju putih itu, dia tak mengira kalau ketiga gulung hawa pukulan yang begitu dahsyatnya itu, sama sekali tidak menimbulkan cendera apa-apa meski sudah bersarang telak dibadan Ku See hong ..

Tiba-tiba saja paras muka si pemuda berbaju putih yang dingin kaku itu berubah menjadi menyeringai seram, ....berubah bukan lantaran terluka melainkan berobah karena tarperanjat.

Mendadak.....

paras muka pemuda terbaju putih itu pulih kembali seperti sedia kala, dengan suara yang dingin memasuk ketulang sungsum dia berkata.

"Orang she Ku, sinkang apakah yang barusan kau pergunakan? Beranikah kau sambut lagi tiga buah pukulan dari aku orang she Ciu?"

"Ku See hong cukup sadar, seandainya dia tidak memiliki hawa Kan-kun mi-siu khikang yang melindungi badannya sehingga ketiga gulung hawa pukulan tersebut kena dipunahkan, mungkin semenjak tadi pula dia sudah menemui ajalnya.

Sekalipun demikian, diam-diam dia pun merasa dendam atas kekejaman pemuda berbaju putih itu, mendengar perkataan tersebut dia lantas mendengus dingin, kemudian sambil tertawa sinis katanya.

"Aaah, cuma ilmu silat biasa dari daratan Tionggoan, tidak terhitung sesuatu ilmu sinkang yang ajaib, maaf kalau aku tak dapat memberitahukannya kepadamu, ....kini menang kalah belum ketahuan, rasanya kita pun tak usah mengulur waktu lagi."

Berapa patah kata ini diucapkan dengan nada menyindir, kontan saja membuat sekujur badan pemuda berbaju putih itu gemetar keras, giginya saling beradu gemerutukan, sementara sinar matanya memancarkan kebencian yang meluap.

"Orang she Ku, kau jangan kelewat tekebur, sebentar aku orang she Ciu pasti akan membuat kau berlutut sambil minta ampun! "

Serunya. Ku See hong berkerut kening, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara dingin ia menukas.

"Tak usah banyak bicara, kalau punya kepandaian cepat saja dikeluarkan biar aku orang she Ku saksikan, sebenarnya ilmu silat dari aliran Cing-hay pay itu memiliki kelihayan sampai dimana..."

Dalam hati kecilnya pemuda berbaju putih itu benar benar merasa marahnya luar biasa, tapi diluaran sikapnya masih tetap santai, sambil tertawa hambar katanya.

"Orang she Ku, nampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan mengucurkan air mata, barusan kita telah mencoba ilmu pukulan, sekarang tak ada salahnya jika kita saling beradu kepandaian diujung senjata!"

Biau'ki siangsu In Han im adalah seorang jago kawakan yang luas pengetahuannya dan cerdas otaknya, tadi diapun menyaksikan betapa tubuh Ku See hong termakan oleh serangan dahsyat si pemuda berbaju putih, tapi nyatanya dia tak mengalami luka apapun, halmana segera menbuat hatinya tertegun.

Maka sewaktu pemuda berbaju putih itu bertanya kepada Ku See hong tadi, dalam benaknya dia pun memutar otak untuk menemukan ilmu silat apakah yang diandalkan Ku-See-hong tersebut.

Mendadak ia menjerit kaget didalam hati.

`Jangan-jangan ilmu sinkang yang dimiliki Bun-ji koan-su dimasa lalu?

Aaah, tapi mustahil...

dia masih muda, mana mungkin ilmu sakti yang penuh kerahasiaan itu bisa dipelajarinya?` Dipihak lain, Ku See hong merasakin hatinya bergear keras setelah mendengar tantangan pihak lawan uktuk beradu senjata, dengan cepat dia berpikir, `Bila pedang Hu-thian-seng-Kiam ini diloloskan keluar, niscaya indentiatasnya akan segera dikenal orang, setiap jago persilatan pasti akan tahu kalau pedang itu tak lain adalah pedang Ang-soat-kiam yang digilai umat persilatan selama ini, padahal dari posisiku sakarang, tidak seharusnya mendatangkan banyak kesulitan buat diriku sendiri, aai....

paling baik kalau jangan diperlihatkan untuk sementara waktu....

!` Berpikir sampai disini, sekulum senyuman dingin segera menghiasi ujung bibirnya, lalu berkata.

"Pedangku ini bila diloloskan dari sarung tentu akan membunuh orang, padahal aku belum membencimu sampai merasuk ke tulang sumsum, maka aku rasa lebih baik kuhadapi dirimu dengan sepasang kepalan kosong saja!"

Pemuda berbaju putih itu adalah seorang pemuda yang angkuh, aneh dan tinggi hati, malam ini dia sudah banyak kail melakukan 418 tindakan yang bertentangan dengan kebiasaannya, hal ini dikarenakan ia dibikin keder oleh ilmu silat Ku See hong.

Akan tetapi sewaktu didengarnya pihak lawan hendak mempergunakan sepasang telapak tangan kosong untuk menghadapi senjatanya, dia segera menganggap hal ini sebagai suatu penghinaan, suato cemoohan..., seketika itu juga timbul hawa napsu membunuh didalam dadanya.

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik matanya, setelah tertawa seram katanya.

"Orang she Ku, kau sendiri yang memberi jalan kematian bagimu sendiri, sampai waktunya jangan salahkan kalau aku orang she Ciu akan bertindak kejam kepadamu."

Ku See hong tertawa dingin.

"Mana, mana.... bila aku orang she Ku tak becus sehingga tewas diujung pedangmu sudah pasti aku tak akan menyesal atau menyalahkan kepada orang lain!"

Mendengar perkataan itu, kembali pemuda berbaju putih itu terperanjat, segera pikirnya.

`Bagaimanapun lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu, mustahil baginya untuk berhasil menanggulangi kelihayan sinkangku serta ilmu pedangku yang tiada taranya didunia ini.

Tapi kalau dilihat dari sikap lawan yang begitu acuh, seakan-akan sudah mempunyai suatu rencana yang matang didalam hati jangan-jangan dia telah persiapkan suatu tipu daya.

Aku tak boleh gegabah, aku harus menghadapinya dengan amat berhati-hati.` Padahal Ku See hong sendiri pun merasa gelisah sekali, ia tahu dengan tangan kosong sulit baginya untuk menahan sepuluh jurus serangan pedang dari pemuda berbaju putih itu, tapi diapun merasa enggan untuk segera meloloskan pedang Hu-thian seng-kiam tersebut.

Dasar wataknya memang angkuh, setelah mendengar kalau Ku See hong akan menghadapinya dengan tangan kosong belaka, meski pemuda berbaju putih itu tahu bahwa menangpun bukan sesuatu yang patut di banggakan baginya, terkulum senyuman dingin juga diujung bibirnya.

"Orang she Ku...!"

Katanya kemudian "..

..aku tahu kau gagah dan berjiwa jantan, lapi akupun ingin memberitahukan kepadamu, bila kau harus menghadapi pedang Gin-coa-kiam (Pedang Ular Perak) -ku dengan tangan kosong, sebelum sepuluh gebrakan kau pasti akan tewas diujung pedangku, meski aku orang she Ciu memang menganggap kemenangan itu kurang mengena bagiku, maka sebelum pertarungan dimulai, terlebih dulu aku tidak menetapkan suatu peraturan dengan dirimu."

Kagum juga Ku See hong oleh kegagahan orang, mendengar ucapan itu segera katanya.

"Orang she Ciu, kau mempunyai peraturan apa, silahkan diutarakan, aku orang she Ku akan mendengarkan dengan seksama."

Paras muka pemuda berbaju putih itu berubah menjadi serius sekali, katanya dengan suara dalam.

"Sekarang aku hendak menggunakan nyawaku sebagai barang taruhan, bila aku tak dapat melukai dirimu dalam sepuluh gebrakkan, akan kugorok leherku di hadapanmu detik itu juga..., tapi bila kau tak kuasa menahan diri, maka dalam sepuluh gebrakan ini setiap saat kau boleh loloskan senjatamu untuk menghadapiku, ... Cuma saja begitu senjata kau loloskan, atas sepuluh jurus pun menjadi batal, pertarungan baru akan berakhir bila salah seorang diantara kita terluka !"

Mencorong sinar terang dari balik mata Ku See hong setelah mendengar perkataan itu, katanya dengan wajah bersungguh sungguh.

"Bilamana dalam sepuluh jurus aku Ku See hong sampai meloloskan senjataku, maka dalam sepuluh jurus kemudian aku akan melukaimu, ....kalau gagal, akupun akan menggorok leherku dihadapanmu!"

Biau-ki siang-su In Han im menjadi gelisah setengah mati menyaksikan kedua orang pemuda itu siap-siap bersua jiwa..., serunya tiba-tiba dengan cemas.

"Ku Sauhiap..., Cu Sauhiap..., diantara kalian tidak terikat dendam sakit hati, buat apa mesti bercekcok tanpa suatu alasan tertentu? Aku lihat lebih baik pertarungan tersebut diakhiri sampai disini saja, entah bagaimana menurut pendapat kalian?"

Mendengar perkataan itu, Ku See hong lantas teringat kembali dengan tugas berat yang sedang dipikul sekarang serta dendam kesumat yang musti dituntut balas, dengan cepat dia merasa ucapan dari Biau-ki siang-su tepat sekali.

Membayangkan kecerobohan sendiri, peluh dingin bercucuran deras, diam-diam ia mendamprat ke-sembrono-an sendiri.

Tapi ucapan seorang lelaki sejati lebih cerat dari sebuah bukit karang..., apalagi nasi telah menjadi bubur, apa boleh buat?

Terpaksa harus pasrah pada nasib.

Melihat kedua orang itu hanya membungkam, Biau ki siang-su In Han im segera berkata lagi.

"Ku Sauhiap.., Ciu Sauhiap.., kalian berdua adalah bakat aneh yang sukar dijumpai dalam seratus tahun mendatang, apalagi memiliki ilmu silat yang begitu sempurna, ....apa artinya beradu jiwa gara-gara soal sepele? Berpikilah tiga kali sebelum bertindak."

Ku See hong hanya membungkam dengan wajah hambar, sama sekali tanpa emosi. Sebalikya pemuda baju putih itu merenung sebentar, tiba-tiba katanya dengan suara sedingin es .

"Orang she Ku, lancarkan seranganmu!"

"Hati-hatilah kau orang she Cu!"

Ku See hong terpaksa menanggapi sambil tertawa getir.

Begitu selesai berkata, Ku See hong lantas mengayunkan sepasang telapak tangannya kemuka, kesepuluh jari tangannya yang dipentangkan lebar-lebar, disentil sambil digetarkan....Sepuluh gulung desingan angin tajam yang disertai hembusan angin puyuh serentak menyergap jalan jalan darah kematian ditubuh pemuda berbaju putih itu dengan kecepatan seperti kilat.

Sementara Ku See hong melancarkan serangannya, pemuda berbaju putih itu pun telah meloloskan pedang ular peraknya, sekilas cahaya tajam yang berkilauan bak rembulan diudara segera memancar keempat penjuru.

Kilatan yang tajam menunjukkan kalau senjata itu adalah sebuah senjata mestika yang amat tajam.

Begitu pedang ular peraknya di loloskan, pemuda berbaju putih itu segera menggetarkan lengan kanannya..., lapisan cahaya yang berkilauan segera memancar keluar, dari tubuh pedang itu dan berhamburan kemana-mana, hawa pedang yang merasuk, tulangpun seperti gulungan ombak ditengah samudra, menyapu keluar menyongsong datangnya kesepuluh gulung desingan angin jari tangan tadi.

Berapa kali benturan keras ditengah udara menimbulkan suara desisan yang amat memekikkan telinga, tatkala hawa serangan yang dipancarkan Ku See hong membentur hawa pedang yang rapat, seperti batu kecebur di samudra luas, lenyap dan musnah dengan begitu saja...

Pedang ular perak dari pemuda berbaju putih itu segara membentuk lingkaran lingkaran hawa pedang yang amat tebal, jurus serangan yang kedua dengan membawa desisan yang tajam membelah angkasa, langsung menyerang ketubuh Ku See hong.

Serangan ini benar-benar amat ganas dahsyat dan mengerikan, dimana pedang berwarna perak itu menyambar lewat,....

bagaikan air bah saja segera menerjang kemana-mana dan menyusup masuk kedalam setiap lubang pori-pori yang ada.

Ku See hong tahu kalau pemuda berbaju putih itu terhitung jagoan lihay kelas satu didalam dunia persilatan dewasa ini, oleh 422 sebab itu tatkala tenaga serangannya kena dipunahkan tadi.

dia lantas tahu kalau hal ini pasti akan memancing pihak lawan untuk melancarkan serangan dengan jurus pedang yang lebih ganas.

Begitu menjumpai gerak pedang lawan, paras mukanya berubah hebat, ia tak berani berayal lagi, tubuhnya dengan cepat merendah kebawah, lalu dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong yang sangat di andalkan kemampuan-nya untuk berkelit kesamping secara aneh.

Menyaksikan Ku See hong mempergunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, diatas wajah sipemuda berbaju putih yang tampan segera terlintas suatu perubahan yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata....

sepertinya dia sudah mendapat firasat bakal kalah.

Sorot mara bengis dengan cepat memancar keluar dari balik matanya, ia membentak keras, jurus demi jurus serangan yang mematikan segera berhamburan keluar tak terbendung, sebab dia tahu bila dia tidak menggunakan jurus2 serangan yang keji dan dahsyat untuk mendesak musuhnya, mustahil baginya untuk memaksa lawan meloloskan senjatanya sebelum sepuluh jurus...!

Sambil membentak nyaring, seperti bayangan tubuh saja pemuda berbaju putih itu menempel terus dibelakang tubuh Ku See hong yang berusaha menghindarkan diri dari lingkaran pengaruh pedangnya itu.

Suatu ketika telapak tangan kirinya secepat sambaran kilat menciptakan beribu-ribu sosok bayangan telapak tangan yang secara tiba-tiba menggulung dan meluncur keluar dengan cepat.

Selapis hawa pukulan yang dahsyat ibadat beribu-ribu ekor Kuda yang lari bersama,berhembus pula menyusul serangan tersebut.

Mendadak......

Pemuda berbaju putih itu melejit ketengah udara, pedang ular peraknya berputar membentuk gerak lingkaran, cahaya tajam berlapis-lapis seperti bukit, lalu berhamburan keluar seperti air yang menjebolkan bendungan.

Ditengah bayangan pedang yang datang secara bergelombang, pedang ular perak itu meluncur dan melejit menciptakan tiga gulung hawa pedang, yang tajam bagaikan tiga jalur tongkat panjang, sungguh membuat bulu roma orang berdiri.

Dalam waktu singkat, jurus ketiga dan jurus ke empat meluncur ke depan bersama-sama, ....kedasyatannya cukup menggetarkan perasaan siapapun jua.

Ku See hong berdiri tegak di posisi semula, melihat datangnya pukulan dan serangan pedang yang tiba secara bertubi-tubi itu, terkesiaplah hatinya, ia tahu tiga jalur hawa pedang lawan itu semuanya merupakan serangan yang mematikan, bila dirinya tidak memiliki jurus serangan yang tangguh, niscaya sulit untuk lolos dari kematian.

Ku See-hong segera berkerut kening, matanya memancarkan cahaya dingin yang menggidikan hati, sambil mendongakkan kepalanya dia segera berpekik nyaring...

Menyusul suatu gerakan yang sangat aneh, tubuhnya menerjang masuk ke balik gulungan angin pukulan yang menderu-deru seperti gulungan ombak samudra itu, kemudian tubuhnya melengkung sambil melejit,sepasang kakinya meninggalkan permukaan tanah, ....seperti seekor udang bago lagi meletik, tahu-tahu ia sudah melambung sejauh tiga depa !!

Bersama dengan gerakan tadi, sepasang lengan Ku See hong telah menggapai secara ngawur, cahaya berkilauan membias kemana-mana, seluruh tubuhnya memancarkan sinar seperti teriknya matahari....Tatkala hawa pedang serta angin pukulan yang dilancarkan pemuda berbaju putih itu membentur diatas dinding cahaya yang membara itu, bergemalah suara ledakan demi ledakan yang memekikkan telinga ......

Tiba-tiba Ku See-hong merentangkan sepasang tangannya ke kiri dan kanan, dua gulung hawa pukulan yang kuat dari kiri dan kanan langsung melesat kedepan mengancam bagian mematikan ditubuh pemuda berbaju putih itu.

Inilah jurus kedua dari ilmu Hoo-han-seng-huan yang benamakan Jin-hay-hu-seng (lautan manusia timbul tenggelam).

Pemuda berbaju putih itu memang bermata jeli, tatkala ia saksikan sepasang lengan Ku See-bong memancarkan cahaya berkilauan tadi, kulit mukanya segera mengejang keras, ...

dengan memaksakan diri dia himpun segenap hawa murni yang berada dalam tubuhnya untuk melindungi sekujur badannya, lalu, secara tiba-tiba saja bagaikan pusaran angin berpusing dia menggelinding keluar.

Ditengah putaran tubuhnya yang mengguling, hawa murni dalam tubuhnya segera memancar keluar secara beruntun menciptakan selapis hawa khi-kang yang kuat; sementara telapak tangan kirinya secepat kilat pula melancarkan beberapa buah pukulan dahsyat yang memekikkan telinga.

Hawa pedang membumbung tinggi ke angkasa dan berbunyi gemerincing.

"Blaamm, blaaamm....!"

Dua kali ledakan dahsyat bergema memecahkan keheningan.

Jurus Jin-hay-hu-seng yang maha lihay dari Ku See hong tadi, akhirnya berhasil dipatahkan oleh pancaran hawa murni yang mengerikan dari pemuda berbaju putih itu.

Ku See hong betul2 merasa terperanjar sekali menyaksikan ilmu silat lawan, ia tak mengira jurus Hoo-han seng-huan yang tiada taranya itu akhirnya berhasil dipatahkan orang.

Pemuda berbaju putih itu sendiri, meski diluaran dia seperti berhasil meloloskan diri dari jurus Hoo-han seng-huan tersebut secara aman dan sempurna, padahal isi perutnya telah mengalami luka dalam yang cukup parah...!

Seandainya ia tidak cepat menyadari akan bahaya, sehingga tak sempat mengerahkan hawa Tay-sih kun-goan khikang yang dipelajarinya hingga mencapai pada 425 puncaknya, niscaya selembar jiwanya sudah melayang menunggalkan raganya sedari tadi....Kekalahan yang berulang kali segera membangkitkan hawa napsu membunuh dalam hati pemuda berbaju putih itu, dengan cepat dia mundur kebelakang, lalu secara tiba-tiba menerjang kembali kedepan bagaikan gulungan ombak samudra, tubuhnya berputar kencang secara aneh dan menggidikkann hati mereka yang melihatnya.....

Ditengah perputaran yang cepat, aneh dan mempesonakan hati itu, gulungan hawa khikang Tay-ih kun-goan yang panas dan menyengat badan memancar keluar dari pori pori tubuhnya, yang mana terhimpun menjadi dua gulung angin puyuh yang dahsyat menerjang tubuh Ku See hong.

Ku See hong amat terkejut menyaksikan ancaman itu, hawa murni yang terhimpun dalam tubuhnya segera disalurkan memenuhi seluruh dada, kemudian sepasang telapak tangannya digetarkan dengan tenaga pukulan yang berat dan dalam, bagaikan samudra, langsung menyambar ke muka menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Ketika gulungan hawa panas dan hawa dingin itu saling menumbuk menjadi satu ditengah udara..., bergemalah suara ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga !

Dengusan tertahan bergema diantara pusaran angin tajam yang menyebar keempat penjuru .....

Ku See hong merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras, peredaran darahnya membara seperti disengat panas, sakitnya bukan alang-kepalang.

Seluruh badannya terasa terangkat dan terpental tinggi tinggi oleh segulung hawa pukulan yang dahsyat, dia harus berjumpalitan beberapa kali sebelum dapat turun kembali ke atas tanah dengan selamat ...

, namun peluh sudah membasahi jidatnya, noda darah pun mengotori ujung bibirnya.

Pemuda berbaju putih itu makin terperanjat lagi setelah mengetahui Ku See hong tidak tewas seketika meski sudah terkena pukulan Tay-ih kun-goan khikang-nya yang maha dahsyat itu..., Dia mulai berpikir-pikir, mungkinkah pihak lawan telah berhasil melatih ilmu kebal terhadap senjata hingga tak kuatir ditembusi tenaga pukulan?

Tay-ih kun-goan khikang adalah suatu ilmu sinkang yang ganas dan dahsyat dari aliranl Cing-hay pay, keistimewaan dari ilmu sakti ini adalah memiliki tenaga pantulan yang maha besar, semakin besar menghadapi tenaga tekanan dari luar, semakin besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan....

Ilmu khikang semacam ini sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada ilmu Boan-yok sinkang atau kepandaian sederajat lainnya.

Bagaimanapun sempurnanya tenaga dalam seseorang, bilamana sampai terkena serangan hawa khikang yang sangat panas itu, seketika jiwanya akan melayang, isi perutnya akan hhancur dan nadinya akan pecah.

Sedemikian dahsyatnya ilmu tersebut boleh dibilang tiada khikang lainnya yang sanggup menandingi kelihayannya itu.

Maka tatkala Ku See hong terhajar telak oleh pukulan Tay-ih kun-goan khikang tapi tak sampai menewaskannya, peristiwa ini segera mendatangkan perasaan tandatanya besar dalam hatinya.

Padahal darimana dia tahu kalau Ku See hong telah berhasil menguasai semacam ilmu rahasia yang maha sakti, yakni Kan-kun mi-siu khikang!

Ilmu sakti ini secara kebetulan juga merupakan ilmu tandingan dari ilmu Tay-ih kun-goan khikang sehingga tatkala hawa pukulan yang panas menyengat badan itu menyentuh dibadan Ku See hong, ilmu Kan-kun mi-siu khikang segera menghasilkan suatu daya kekuatan yang luar biasa.

Apalagi ketika tenaga Im dan tenaga Yang saling membaur jadi satu dalam suatu keadaan yang tak terduga, hawa panas yang menyengat tersebut segera dipunahkan hingga tak berbekas.!

Kendatipun demikian, Ku See hong toh tak tahan juga menghadapi sisa sergapan dan tenaga pantulan yang tersebar keempat penjuru itu.

Sekuat tenaga Ku See hong menahan siksaan hawa panas yang membakar didalam badannya.

Ketika hampir saja dia tak mampu menahan diri, mendadak dari arah pusarnya, segulung hawa dingin yang membumbung naik keatas ubun-ubunnya seperti gulungan ombak samudra, seketika itu juga hawa panas yang menyengat badan itu lenyap tak berbekas....

Menggunakah kesempatan yang amat singkat, ia segera menghimpun hawa murninya untuk mengitari semua jalan darah penting didalam badannya, kemudian sambil mendengus dingin, sepasang telapak tangannya dilontarkan kembali kemuka dengan kecepatan tinggi.

Hawa pukulan yang dahsyat bagaikan selapis dinding lawa yang dingin dan tak berwujud mendesak kedepan menyelimuti seluruh badan pemuda berbaju putih itu dan menyusup kedalam seluruh bagian badannya.

Dalam waktu singkat hawa dingin yang merasuk tulang mendekam diseluruh arena, sedemikian dinginnya sampai Lan ciau dan Pak siang mundur beberapa langkah kebelakang.

Suasana disekitar tempat itu segera terjadi perubahan yang amat besar, tiga gulung hawa panas yang amat dahsyat itu menggelinding kedepan menghajar tubuh Ku See hong, sementara pukulan yang datang dari arah tengah seperti air yang menjebol bendungan, dengan disertai kekuatan yang mengerikan segera meluncur kemuka.

"Blaaammmm .....!?"

Sekali lagi terjadi ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.....

Paras muka Ku See hong berubah menjadi mengerikan, rambutnya kusut, darah segar muntah keluar dari mulutnya, secara beruntun dia mundur sejauh tiga empat langkah kebelakang.

Pemuda berbaju putih itu sama sekali tidak berbelas kasihan begitu berhasil dengan serangannya, dia segera membentak keras.

"Jurus ke tujuh !!"

Kakinya melangkah ke tengah lalu menyerobot ke muka, tangan dan kaki diayunkan bersama seperti kelabang berkaki seribu, dia melepaskan serangkaian pukulan dan tendangan yang berantai.

Gerakan yang cepat, kekuatan yang dahsyat, dalam sekejap mata mengancam keselamatan jiwa musuhnya.!

Merah membara sepasang mata Ku See hong menahan geram dan marah, tiba-tiba dia melontarkan pula sepasang tangannya ke depan ...

Selapis angin pukulan berhawa dingin dengan kekuatan yang melebihi ukuran biasa, langsung menerjang tubuh si anak muda berbaju putih yang sedang bergerak kedepan...., serangan inipun mengerikan sekali.!

Sebetulnya pemuda berbaju putih itu amat bernapsu untuk melukai Ku See hong dalam sepuluh gebrakan, tapi setelah menyaksikan ancaman yang tiba, ia tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, seperti sukma gentangan ia segera berkelit kesamping, begitu lolos dari ancanan yang tiba, bentaknya lagi.

"Jurus ke delapan !"

Pedang ular perak bergetar keras meletupkan selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata, di ringi suara desingan angin tajam serangan itu segera meluncur ke muka dan menyusup kedalam setiap celah-celah disekitar badan Ku See hong.

Paras muka Ku See hong mengejang keras menahan penderitaan, tiba-tiba kakinya memainkan lagi ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong dan mengegos kesamping secara aneh dan jitu.

Sayang gerakan ini terlalu lambat .....

"Sreet..."

Bunyi sambaran pedang yang tajam telah berkelebat lewat, tahu-tahu di atas bahu kiri Ku See hong telah muncul sebuah robekan panjang bekas tersambar pedang..., darah kental dengan cepat mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya.

Ternyata pemuda berbaju putih itu tidak berbenti sampai disitu saja, kakinya segera berputar kencang lalu menyusul kedepan sambil membentak gusar.

"Jurus ke sembilan !!"

Pedang ular perak itu kembali digetarkan keras-keras, cahaya pedang semakin menyilaukan mata, hawa pedang yang tajam dengan membawa desingan angin yang memekikkan telinga, meluncur kemuka secepat kilat.

Sedemikian cepatnya serangan itu meluncur datang, boleh dibilang belum pernah dijumpainya sebelumnya.

Tiba-tiba Ku See hong tertawa panjang dengan suara yang mengerikan, suaranya keras bagaikan pekikan monyet di selat Wusia, seperti juga lolongan serigala ditengah malam, sungguh memekikkan telinga.

Dari balik matanya memancar keluar sinar tajam yang menggidikkan hati..., ia nampak stpertl orang kalap, orang buas yang tak berperasaan sama sekali.

"Cri ingg .....!"

Serentetan suara gemerincing yang memekikkan telinga menyayat keheningan angkasa.

Tahu-tahu dalam genggaman Ku See hong telah bertambah dengan sebilah pedang..!!

Pedang mestika yang memancarkan cahaya berkilauan, ...

inilah pedang Hu-thian seng-kiam yang maha sakti itu.

Begitu pedang Hu-thian seng-kiam diloloskan dari sarungnya...., paras muka pemuda berbaju putih itu berubah hebat!

Dengan cepat pedang ular perak yang berada ditangan kanannya berputar kencang menciptakan selapis dinding cahaya yang amat menyilaukan mata, berlapis-lapis hawa pedang yang tajam dengan cepat menyelimuti seluruh badannya.

Ku See hong segera mengangkat pedang Hu-thian seng-kiam sambil mengebasnya ke belakang, kakinya berputar setengah lingkaran, lalu ...

"Cri itt...!"

Pedang mestika itu sudah meluncur ke depan menusuk dada lawan....Tutulan pedang itu di lancarkan dengan mempergunakan sebuah gerakan jurus serangan yang ditinggalkan kakek Si-hong lo jin, tampaknya seperti sederhana, datar, biasa dan enteng sama sekali tak bertenaga....

Padahal dibalik serangan tersebut justru terkandung suatu ancaman mematikan yang luar biasa sekali, bahkan kedahsyatannya sanggup menembusi baja.

"Cri ing!"

Pedang sakti Hu-thian seng-kiam telah menembusi kabut pedang pelindung badan yang dipancarkan oleh pedang ular perak dari pemuda berbaju putih itu.

Serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata tiba-tiba memancar ke empat penjuru dan langsung menyergap duabelas buah jalan darah penting ditubuh pemuda berbaju putih itu.

Arah sasarannya tidak menentu.

Perubahan jurusnya begitu sakti dan hebat sehingga sukar diduga dengan tepat.

Pucat pias paras muka pemuda berbaju putih itu menghadapi ancaman tersebut..., dia tahu kalau jiwanya sudah berada diambang kematian!

Dia pun tahu apa sebabnya Ku See hong tidak mencabut pedangnya sedari tadi..., sekarang dia baru menyesal kejumawaan serta kepongahan sendiri.

Bila seorang sedang menghadapi kematian sudah pasti dia akan memberikan perlawanan dengan sekuat tenaga..., dengan cepat pemuda berbaju putih itu menyusut mundur ke belakang, pedang ular perak-nya segera menciptakan berjuta-juta titik cahaya bintang untuk menyosong datangnya ancaman dari Ku See hong.

Hawa napsu membunuh telah menggelora dalam dada Ku See hong, sekali lagi dia berpekik panjang dengan suara yang memekikkan telinga......

"... Inilah jurus yang ke-Sepuluh ! .....Hu-hong-cha-ki-hiat-seng-wi (Bianglala Terbang Muncul tiba-tiba Anyir Darah Menyebar) ...!"

Bentak Ku See hong menggelegar.

Tubuhnya melambung keatas, setelah berputar satu persatu lingkaran, kemudian berjumpalitan tiga kali, persis seperti naga sakti turun dari langit.

Pedang Hu-thian seng-kiam ditangannya memancarkan cahaya tajam yang m.enyilaukan mata, bagaikan sebuah bianglala panjang segera membentang ditengah angkasa....Sewaktu mengundurkan diri tadi, pemuda berbaju putih itu sempat menyaksikan serentetan cahaya bintang yang menyilaukan mata, bagaikan sambaran kilat meluncur datang.

Dalam kejutnya, pedang ular peraknya disentak kebelakang, cahaya pedang membalik berputar kencang dan menciptakan kabut pedang yang melingkar-lingkar serta berlapis-lapis.

Dalam waktu singkat dua bilah pedang saling membentur ......Mendadak Biau-ki-siang-su In Han im menjerit keras.

"Ku sauhiap, berbelas kasihanlah dengan seranganmu...!"

"Trii ng! Trii ing....!"

Terdengar dua kali dentingan nyaring berakumandang di angkasa.

Menyusul kemudian jerit kesakitan yang memilukan berkumandang diudara, cahaya bianglala yang tajam dari pedang Hu-thian seng-kiam pun segera sirap dan lenyap.............

Ku See hong berdiri kaku dengan sepasang matanya memancarkan cahaya membunuh yang menggidikkan, paras mukanya sangat aneh, sukar dilukiskan dengan kata-kata......

Pemuda berbaju putih itu berdiri dengan badan penuh berlepotan darah, pakaiannya yang berwarna putih sudah robek belasan bagian, dari setiap mulut luka itu, darah jatuh becucuran.

Wajahnya berubah menjadi mengerikan, sekujur badannya gemetar keras, bibirnya terkatup membentuk satu garis lengkung.

Ia sedang merasa sakit yang luar biasa, sementara sepasang tangannya memegang pedang ular perak yang menancap ditanah guna menahan badannya yang lemah.

Kulit mukanya mengejang keras, sambil menahan rasa sakit yang menghebat katanya dengan suara gemetar.

"Orang she Ku, walaupun aku Ciu Heng thian baru muncul dalam dunia persilatan, namun selama beberapa bulan ini secara beruntun telah mengalahkan puluhan orang jago lihay dalam dunia persilatan! Aku yakin ilmu silatku sudah tiada tandingannya didunia ini..., tak kusangka hari ini harus menelan kekalahan ditanganmu. Cuma meski aku kalah pada malam ini, aku kalah dengan bangga, karena jurus serangan yang kau gunakan adalah jurus pedang Cang-Ciong-ciat-mia-kiam yang merupakan ilmu paling rahasia dari Cing-hay pay kami, bahkan pedang yang kau gunakan pun merupakan pedang Ang-soat-kiam milik Si-hong lo jin, seorang tokoh aneh dari Cing-hay pay !"

"Setelah menderita kalah ditanganmu malam ini, aku Ciu Heng thian, sudah tak punya muka lagi untuk hidup didunia ini, mau dijatuhi hukuman apa terserah kepadamu..., aku orang she Ciu tak akan berkerut kening. Tapi sebelum mati, aku orang she Ciu ingin memohon sesuatu kepadamu, dan ini pun merupakan permintaan yang kuajukan untuk pertama kalinya kepada orang lain..., aku rasa kau pasti akan meluluskannya bukan...?"

Paras muka Ku See hong dingin seperti es, sikapnya kaku tanpa perasaan namun sepasang matanya justru memancarkan sinar yang sangat aneh.

Biau-ki siang-su In Han im, sebagai seorang jago yang berpengalaman, dengan cepat dapat memahami makna yang sebenarnya dari sorot mata Ku See hong tersebut.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian berhenti sejenak, lalu setelah menghela napas sedih lanjutnya.

"Sejak dulu sampai sekarang, perguruan Cing-hay pay selalu mewariskan kepandaian silatnya kepada murid tunggal, setelah aku orang she Ciu meninggal nanti, ilmu silat Cing-hay pay juga akan turut musnah dari dunia persilatan. Maka dari itu persolan yang kupinta sekarang adalah melanjutkan perkembangan ilmu silat Cing-hay pay kami, mengingat hubunganmu dengan Si-hong lo jin, tentunya kau dapat menerima permintaanku ini bukan? Untuk budi kebaikanmu itu, biar aku orang she Ciu bayar dalam penitisan yang akan datang ...!"

Begitu selesai berkata, Ciu Heng thian segera menggerakkan pedang ular peraknya untuk menggorok leher sendiri....

Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat..., tubuh Ku See hong bagaikan sambaran sukma gentayangan telah meluncur ke depan, tangan kanannya mencengkeram tepi pedang ular perak itu erat-erat, sementara paras mukanya yang dingin dan kaku tanpa perasaan tadi, kini berubah menjadi lembut.

Ujarnya kemudian dengan suara lantang.

"Saudara Ciu, mengapa kau harus menghabisi nyawa sendiri tanpa menyelidiki dulu duduknya persoalan...? Sesungguhnya siaute-pun masih terhitung murid perguruan Cing-hay bun kalian..! Aaai..., semuanya ini memang kesalahan siaute... mengapa tidak menerangkan duduknya persoalan sejak semula dan tetap mengumbar napsu dengan mengajakmu melangsungkan pertarungan yang tak berguna ini? Siaute harap saudara Ciu suka memakluminya dan menyelesaikan persoalan secara damai, untuk itu sebelumnya siaute ucapkan banyak terima kasih..."

Sejak bertemu dengan Ku See hong untuk pertama kalinya, si Pedang ular perak Ciu Heng thiam pun menaruh rasa kagum terhadap lawannya, tapi dasar wataknya memang dingin dan angkuh, hal ini memaksanya untuk mencoba kemampuan dari Ku See hong......

Berbicara menurut keadaan semula, maka kesalahan sebetulnya terletak dipihaknya karena memang dialah yang terlalu memaksa musuhnya untuk melangsungkan pertarungan tersebut siapa tahu Ku See hong menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mengakui kesalahan tersebut dipihaknya, cukup dilihat dari hal ini saja, dari hati kecilnya segera muncul suatu perasaan terharu yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tanpa terasa sepasang matanya berkaca-kaca, dengan amat terharu ujarnya.

"Saudara Ku, tidak kusangka kau adalah seorang pemuda yang berilmu tinggi berjiwa besar, tidak suka mencari kemenangan dan senang berteman, siaute benar-benar amat berterima kasih, sekali atas kebesaran jiwamu itu. Kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya!"

Ku See hong memang seorang pemuda yang mengangkat tinggi soal persahabatan, pada mulanya dia hanya mendongkol oleh kesombongan serta kejumawaan Ciu Heng thian, menyusul kemudian dia merasa kalau Ciu Heng thian memiliki semangat jantan seorang lelaki sejati yang hebat, yang mana segera membuat pandangannya sama sekali berubah.

Kini dia malah merasa kalau lawannya adalah seorang yang berperasaan hangat.

Selama berkelana dalam dunia persilatan Ku See hong memang ingin sekali dapat teman seorang jagoan yang bernyali, berjiwa besar dan pemberani seperti pemuda itu.

Maka didorong oleh luapan emosi, dia segera menggemgam tangan, Ciu Heng-thian sambil katanya dengan suara gemetar.

"Saudara Ciu, kita sama-sama orang perantauan, walaupun hari ini kita tanpa sengaja, bila kau tidak keberatan, siaute bersiap sedia untuk mengikat diri menjadi Sahabat karib denganmu."

"Saudara Ku adalah seorang pendekar besar yang berjiwa besar, sedang aku Ciu Heng thian hanya manusia apa? Untung bisa berteman dengan sahabat seperti kau, masa aku akan menolaknya? Apalagi saudara Ku telah melimpahkan budi kebaikan kepadaku, sekalipun harus menyebrangi lautan api, aku Ciu Heng-thian tak akan menampik, apalagi cuma berteman?"

Ku See hong menggenggam pergelangan tangan kanannya semakin kencang, katanya penuh luapan emosi.

"Kebesaran jiwa saudara Ciu sungguh membuat siaute merasa kagum, bila kau berkata begini terus, aku jadi merasa malu untuk berkata lebih jauh. Kini situasi dalam dunia persilatan telah berubah, kaum kurcaci mencari untung dengan menindas rakyat, kaum perampok menguasai wilayah orang dan saat kiamat bagi dunia persilatan sudah hampir mendekat, bila saudara Ciu bersedia untuk bersatu padu denganku dan..........."

Mencorong sinar mata tajam dari balik mata si pedang ular perak Ciu Heng thian, dengan cepat dia menukas ucapan dari Ku See hong sambil berkata dengan lantang.

"Saudara Ku, sampai mati pun siaute bersedia mendampingimu untuk bersama-sama membuat pekerjaan besar dengan menumpas kaum durjana dan. menegakkan keadilan didunia, biarlah langit dan matahari menjadi saksi bagi sumpah keadilanku ini!"

Setelah menyaksikan keadaan berkembang begitu jauh Biau ki siangsu In Han Im segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....... haaahhh...... haaahhh....... selama seratus tahun belakangan ini. dunia persilatan penuh segala macam perubahan, satu peristiwa belum padam muncul persoalan lain, bagaikan gelombang air pasang saja, satu belum mundur, yang lain sudah menyusul, tapi akhirnya keadilan juga yang akan meredekan hal ini."

"Haaahhh..... haaahh..... haaahh.... akhirnya beribu-ribu jiwa umat persilatan dapat ditolong juga, haaahhh ....haaahhh...... haaahh.... Ku Sauhiap, Lam ciau Pak siang yakin selama hidup belum pernah melakukan kesalahan, maka bila Sauhiap berdua tidak menampik, pada malam ini juga kami berdua manusia tak berguna bersedia untuk mendampingi kalian."

Ku See hong berpaling dan segera tertawa.

"Kita mempunyai cita-cita yang sama dan tujuan yang sama pula, apalagi kita merasa cocok sekali satu dan lainnya dalam perjumpaan ini, sayang aku orang she Ku masih mempunyai dendam kesumat yang musti dituntut balas, selain itu akupun mempunyai pedang Hu thian seng-kiam, sumber dari segala kekalutan dan bencana..., aku tak berani meramalkan bagaimanakah untung atau bencanaku di kemudian hari........"

OooOdwOooo Bab 20 SIN HONG HWEE CIAU LUI KI segera tertawa terbahak-bahak.

"Hu-thian seng-kiam telah muncul kembali dalam dunia persilatan, tujuannya tak lain adalah hendak membasmi kaum durjana dari muka bumi. Seandainya kawanan siluman itu datang mencari gara-gara, sudah barang tentu kitapun akan melangsungkan pembunuhan secara besar-besaran!"

Mendadak Si pedang ular perak Ciu Heng thian berteriak kaget.

"Saudara Ku, beberapa hari berselang aku telah membunuh seorang anggota perkumpulan Jian khi pang, sewaktu kuperiksa orang itu, dapat diketahui bahwa perkumpulan Ban-shia-kau telah melaksanakan tujuan kejinya untuk menumpas umat persilatan dan 437 menguasai seluruh jagad, selain itu mereka pun merencanakan suatu pembasmian secara besar-besaran terhadap pendekar-pendekar dari golongan putih!"

Mendengar perkataan itu, paras muka Biau ki Siangsu In Han im segera berubah hebat, buru-buru serunya.

"Ciu sauhiap, tahukah kau cakar iblis mereka telah direntangkan ke mana saja?"

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tidak menjawab sebaliknya malah bertanya.

"Aku ingin bertanya mengapa kawanan Liok-lim yang berada diwilayah Kang-lam berbondong-bondong berangkat kepuncak Hoat hong diwilayah Ou-lam untuk mengadakan suatu pertemuan besar pemilihan Bengcu pada bulan sembilan -tanggal enam nanti?"

"Waah kalau begitu pihak Ban shia kau hendak turun tangan terhadap para pendekatr di Kanglam?"

Seru Biau ki siangsu In Han Im dengan suara agak gemetar. Pedang ular perak Ciu Heng thian manggut-manggut.

"Pendapat In tayhiap memang benar, rupanya Ban-shia-kau bermaksud hendak mengembangkan wilayah kekuasaannya dengan menjaring lebih banyak benggolan-bengeolan Liok-lim untuk berpihak kepadanya. Dalam pemilihan Bengcu yang mereka selenggarakan diwilayah Kanglam kali ini pun telah ditentukan suatu rencana busuk, yaitu bermaksud untuk menjaring semua orang gagah yang berada di wilayah Kanglam, bila diantara mereka ada yang tidak bersedia untuk bekerja sama, maka secara keji mereka akan membunuhnya, hingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai."

Hu thian seng kia m Ku See hong yang mendengar perkataan itu menjadi marah sekali, mencorong sinar buas dari balik matanya.

"Ban-shia-kau, perkumpulan kaum bedebah! Aku bersumpah tak akan membiarkan mereka untuk melaksanakan rencana rencana busuk tersebut!"

Teriaknya. Biau ki siangsu In Han Im menghela napas sedih, ucapnya.

"Kemungkinan besar diantara kawanan jago kaum Liok-lim yang berada di wilayah Kanglam pun kini sudah disusupi oleh anjing-anjing Ban-shia-kau, bisa dibayangkan bagaimanakah akibat dari pemilihan besar, pemilihan Bengcu yang diselenggarakan pada bulan sembilan pada tanggal enam nanti."

Tiba-tiba Sin hong hwee ciu Lui Ki berpaling kearah Ku See hong sambil bertanya.

"Ku lote, siapakah Kaucu dari perkumpulan Ban-shia-kau tersebut? Mungkin kau sudah mempunyai gambarannya bukan?"

Ku See hong merasa amat terkejut setelah mendengar pertanyaan itu.

Segera pikirnya.

`Cermat betul jalan pemikiran orang ini, betul aku sudah menduga kalau ketua dari perkumpulan Ban-shia-kau adalah perempuan jalang itu...,tapi peristiwa ini menyangkut ke-aib-an dari guruku, apakah harus ku ungkapkan secara blak-blakkan?` Ternyata Ku See hong telah menduga kalau ketua dari perkumpulan Ban-shia-kau adalah istri gurunya, Bun ji koan-su, yang bernama Ceng Lan Hiang tersebut....

Sebagaimana diketahui, peristiwa berdarah yang terjadi diatas puncak Ciat-hong di bukit Soat-san tempo hari merupakan suatu peristiwa pengeroyokan yang amat dirahasiakan oleh pelaku-pelakunya, sementara mereka yang tersangkut dalam peristiwa itu pun sebagian besar adalah manusia-manusia munafik yang berlagak sok suci dan sok bijaksana, ...andaikata diantara mereka terdapat pendekar sejati, maka setelah terjadinya peristiwa itu, kalau bukan lenyap ...tentulah mati secara mengenaskan sehingga diantara kaum pendekar sejati yang ada didunia ini dan mengetahui duduk persolan yang sebenarnya, boleh dibilang tinggal Ku See hong seorang......

Ceng Lan hiang sebetulnya adalah putri dari Thi Kiam Kim Ciang (Pedang Baja Telapak Tangan Emas) Cong Ih huang....., demi rencananya untuk mencelakai Bun-ji koan-su ,dia telah menikah dengan tokoh persilatan tersebut.

Tapi, peristiwa ini tak ada seorang manusia pun yang tahu, karenanya hingga kini orang tak pernah menyangka kalau Bun-ji koan-su sebenarnya sudah beristri, lebih-lebin tak ada yang tahu kalau kehidupan tokoh sakti itu sesungguhnya berakhir ditangan istri kesayangannya sendiri.

Peristiwa semacam ini boleh dibilang merupakan peristiwa yang amat memalukan, Ku See hong sebagai muridnya sudah barang tentu enggan untuk menyiarkan kisah yang memalukan ini kepada semua orang.

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Ku See hong, akhirnya dia mengambil keputusan untuk tidak membongkar rahasia tadi.

"Saudara bertiga..."

Ujarnya kemudian "Walaupun pada saat ini aku orang she Ku sudah tahu siapa gerangan ketua dari Ban-shia-kau tersebut, namun berhubung persoalan ini menyangkut nama baik guruku, maka sulit bagiku untuk mengutarakannya keluar, ...untuk itu harap kalian maklum."

"Padahal, nama Ban-shia Kaucu pun merupakan nama yang masih asing bagi pendengaran kaum pendekar golongan putih dari dunia persilatan, hingga sekalipun nama itu kusebutkan, belum tentu kalian akan mengenali orangnya.` "

Aku dengan orang-orang dari Ban-shia-kau mempunyai dendam kesumat yang lebih dalam daripada samudra, aku tak akan membiarkan kaum durjana itu berbuat semena-mena didalam dunia ini, suatu hari, aku pasti akan menyuruh mereka semua rasakan pembalasan yang paling mengenaskan!"

Si pedang ular perak Ciu Heng thian segera berkata dengan suara lantang.

"Kini pengaruh iblis sudah meraja-lela, mereka sudah bersekongkol dengan berbagai perguruan besar di dunia ini, sementara kaum yang dianggap sebagai golongan murni boleh dibilang sangat minim sehingga cuma terdiri dari beberapa orang, bila kita berempat harus menghadapi khalayak yang begitu banyak, jelas hal ini mustahil bagi kita untuk meraih kemenangan, aku pikir, tindakan paling penting yang harus kita laksanakan sekarang adalah mencari tahu markas besar pihak lawan, kalau bisa kita langsung menyerbu ke sarangnya dan melenyapkan pentolannya. Demikian ancaman bahaya baru bisa disingkirkan, kini saudara Ku sudah mengetahui siapa gerangan Kaucu dari perkumpulan Ban-shia-kau, terangkan kepada kami dimanakah letak sarang iblis mereka?"

Ku See hong menghela napas panjang.

"Aaai.... di manakah letak markas besar Ban-shia-kau tidak begitu jelas bagiku, tapi bila kita mau mengorbankan sedikit tenaga dan pikiran, rasanya tidak sulit untuk mengetahuinya."

Pada saat itulah mendadak...........

Dari arah sebelah barat tanah pekuburan itu berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat memekikan telinga, suara pekikan tersebut kedengaran aneh sekali.

Ketika berkumandang mengikuti hembusan angin malam, lamat-lamat terasanya bagaikan isak tangis setan, seperti juga suara lolongan serigala, membuat siapa saja yang mendengarnya segera merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Menyusul suara yang mengerikan tadi, terdengar seorang tertawa dingin lalu berkata.

"Bocah keparat she Ku, Ban-shia-seng-kau merupakan pemimpin tertinggi didalam dunia persilatan saat ini..., kau anggap nama baik kami boleh dinodai dengan begitu saja olehmu? Hmmm....hmmm.... bocah keparat, jika kau merasa punya kepandaian ayolah ikuti aku, mari kita saksikan sampai dimanakan kelihayan dari Lian-hun ki-ong dari perkumpulan suci kami heeemm....heemmm...."

Suara bisikan itu lirih seperti nyamuk, namun setiap patah katanya dapat terdengar jelas, bahkan sangat menggetarkan telinga.

Dari balik mata Ku See hong segera memancar keluar sorot mata tajam yang menggidikkan hati, diiringi suara pekikan nyaring, tubuhnya melejit ke udara dan meluncur kedepan, diantara berkibarnya ujung baju, terhembus angin dengan kecepatan luar biasa ia meluncur ke arah mana berasalnya suara tadi.

Waktu itu sudah mendekati kentongan ke empat; bintang bertaburan di angkasa, angin dingin berhembus menusuk tulang, diantara heningnya suasana terdengar suara tertawa menyeramkan bergema dari balik tanah pekuburan sana, kemudian muncullah sesosok bayangan manusia berwarna abu-abu yang meluncur keluar bagaikan burung elang.

Ditinjau dari kecepatan gerak orang itu, dapat diketahui kalau ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai puncak kesempurnaan.

Tatkala bayangan tubuh Ku See hong lenyap dibalik kegelapan malam tadi, mendadak Si Pedang ular perak Ciu Heng thian mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara tertawa panjang yang seram memekikkan telinga......

Dibalik tertawanya itu jelas tercermin nada yang begitu licik, begitu busuk dan menyeramkan.

Itulah suatu penampilan yang amat buas, ganas, keji dan menggidikkan hati....

Begitu menangkap suara tertawa panjang yang amat mengerikan itu Biau ki Siangsu In Kan im dan Sin hong hwee ciau Lui Ki segera merasakan hatinya bergetar keras, dengan empat mata mereka yang tajam bagaikan sembilu, mereka bersama-sama memandang kearah wajah Ciu Heng thian yang licik dan buas itu...

...

Kontan paras muka mereka berubah hebat, dengan cepat kedua orang itu tahu bahwa mereka sudah berada diambang pintu kematian.!

Ya, cuaca dilangitpun gampang berubah-ubah, apalagi kehidupan manusia di dunia ini.

Tahu wajah, tahu orangnya ...

tak akan tahu hatinya, siapakah yang bisa menduga akan, kebusukan, kelicikan serta kemunafikan seseorang yang tersembunyi dibalik hatinya??

Diam-diam Biau ki Siangsu In Ham im sangat menyesali kekhilafan sendiri , selama ini dia selalu merasa bangga karena kemampuannya untuk menilai orang dari raut wajahnya..., sungguh tak disangka pada malam ini dia harus melakukan suatu kesalahan yang amat besar.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa licik beberapa saat lamanya, ....mendadak ia berhenti tertawa.

Dengan sekulum senyaman menyeringai menghiasi ujung bibirnya, bagaikan bayangan setan dia menerjang kearah Lam ciau Pak Siang, wajahnya nampak begitu menyeramkan, begitu licik dan menggidikkan hati.

Sepasang mata Sin hong hwee ciau Lui Ki segera memancarkan cahaya berapi-api, dengan suara keras dia membentak.

"Bocah keparat she Ciu, kau............. kau sungguh amat licik dan rendah, aku.... aku akan beradu jiwa denganmu !"

Sambil berkata dia siap menerjang kedepan.

Biau ki Siangsu In Ham Im lebih cerdik daripada rekannya, sekalipun dia dihadapkan pada ancaman bahaya maut yang menyeramkan, namun pikirannya tak sampai menjadi kalut.

Sambil menarik tangan Sin hong hwee ciau, bisiknya lirih.

"Lui lote, cepat tenangkan pikiranmu pertarungan yang bakal berlangsung merupakan suatu pertarungan yang akan menentukan mati hidup kita, jangan bertindak kelewat gegabah!"

Walaupun Sin hong hwee ciau Lui Ki merupakan seorang yang berangasan, namun dia cukup tahu betapa gawat dan seriusnya persoalan yang dihadapinya sekarang, sebab bilamana mereka berdua sampai tewas ditangan manusia laknat ini, bisa jadi dendam 443 sakit hatinya tak pernah akan terbalas untuk selamanya, bahkan keselamatan jiwa Ku See hong pun terancam oleh bahaya maut!

Karena itu setelah pelbagai ingatan berkecamuk didalam benaknya, dengan segala kemampuan yang dimilikinya dia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaan dalam hatinya dan berusaha untuk menenangkan kembali pikirannya.

Terdengar si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram lagi belulang kali, lalu berkata.

"In Ham Im, percuma kau disebut orang sebagai Biau-ki Siangsu,' heehhh...... heeeehhh..... heeehhh...... siapa sangka kalau kau telah menyerahkan nyawamu sendiri ketangan raja akhirat, heehhh...... heeeehhh..... heeehhh......" -oo0dw0oo-

Jilid 14 DIAM-DIAM Biau-ki-siang-su In Han-im menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak di nginkan, sedang diluar wajahnya ia tetap bersikap tenang, sahutnya pelan;

"Ciu Heng-thian, perubahan drastis semacam ini tak akan bisa diduga siapapun juga, yang bakal mati pada malam inipun masih merupakan tanda tanya besar, bila liangsim pun masih mampu berbicara, saat inilah merupakan saat yang paling baik bagimu untuk melepaskan kesesatan dan kembali kejalan kebenaran, karena kau masih mempunyai kesempatan untuk menolong dirimu sendiri"

"In Han im!"

Kata si pedang ular perak Ciu Heng thian sinis.

"hati bajik dan perasaan welasmu itu lebih baik kau dermakan kepada sukma-sukma gentayangan di alam baka nanti saja!"

Walaupun Biau-ki-siangsu In Han im tahu kalau usahanya untuk menyadarkan kembali pemuda ini agar kembali ke jalan yang benar tak nanti menjadi kenyataan, namun satu-satunya jalan baginya sekarang adalah berusaha untuk mengulur waktu sebisanya sambil menunggu kedatangan Ku See hong.

Maka dengan sikap yang masih tetap tenang Biau ki siang su In Han im berkata.

' Ciu Heng-thian, tahukah kau bahwa karma tetap berlaku bagi umat manusia, apakah kau tidak takut terhadap pembalasan karma dikemudian hari?"

Sekali lagi si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram.

'Heeehhh...heeehhh...heeehhh...

In Han Im, sekarang aku sudah mengetahui akan siasat busukmu itu, hmmmm, hmmm, sayang percuma saja kau menanti, Ku See hong tak bakal kembali lagi kemari!"

Mendengar perkataan itu paras muka Biau ki siang su In Han im segera berubah hebat, tapi hanya sejenak kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala, kembali dia berkata.

"Sejak dulu sampai sekarang, kaum dujana tak ada yang bisa lolos dari keadilan dan kebenaran, hanya persoalannya, berbeda waktu belaka, cepat atau lambat akhirnya kau pasti akan terkena pembalasannya juga"

"Hmmm, In Han im!

Kematian sudah berada didepan mata, tapi kau masih sempat berkhotbah terus, hmmm ....hmmm ...

sungguh merupakan suatu perbuatan yang sangat menggelikan' Kini, Biau-ki siang su In Han im betul-betul sudah merasa putus asa, tapi dia toh tak mau menyerah dengan begitu saja, kembali ujarnya.

' Pintu Buddha terbuka lebar bagi orang yang mau bertobat, lepaskan golok pembunuhmu dan bertobatlah atas dosa dan kesalahanmu, Aku harap kau suka berpikir tiga kali sebelum mengambil tindakan' Paras muka si Pedang ular perak Ciu Heng thian telah berubah menjadi mengerikan sekali, kelicikan dan kebusukan sudah semakin 445 menyelimuti wajahnya, suara tertawa dingin yang menggidikkan hati sekali lagi bergema memenuni angkasa.

"In Han im, kematian sudah berada di depan matamu, lebih baik padamkan saja keinginanmu itu!"

Heeehhh-heeehhh-heehhh bagi manusia yang berpengalaman picik semacam kau juga ingin berkecimpungan dalam dunia persilatan.

Hmm!

Pada hakekatnya perbuatan kalian itu benar-benar tak tahu diri.

' Terus terang saja kuberitahukan padamu, Sejak setengah bulan berselang aku Ciu Heng thian sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Ban shia kau kini, kedudukan ku adalah wakil ketua dari Ban shia kau, adapun kedatanganku sekarang adalah untuk melaksanakan perintah dari kaucuku guna menyelidiki asal mula munculnya suara nyanyian dari Bun ji koan su, sekarang segala sesuatunya sudah kuterangkan sejelasnya kepadamu, aku rasa kalian pun boleh mampus dengan mata terpejam rapat.

Heehh...

heeehhh .....

Sampai disitu sekali lagi dia perdengarkan suara tertawa licik-nya yang penuh disertai dengan perasaan bangga.

Dalam keadaan seperti ini, Biau ki siang su In Han im sudah benar-benar putus asa, sekarang dia hanya bisa menyesali dirinya yang bermata tak berbiji sehingga terjebak dalam perangkap manusia durjana.

Oooh Thian, mengapa manusia-manusia durjana itu dibiarkan memperoleh kedudukan dan kesempatan untuk melakukan kejahatannya?

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian segera tertawa seram dengan nada yang amat licik.

"In Han im, tadi mengapa kalian ingin mengetahui siapakah kaucu kami itu?"

Setelali berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Heeehhhh ... heeehhh... heeehhh... bagaimanapun sebentar lagi kalian akan berangkat meninggalkan dunia ini, beritahu kepada 446 kalian pun tak menjadi soal ..Ketahuilah, kaucu dari Ban shia kau tak lain adalah istrinya Bun ji koan su si setan tua itu yang bernama Ceng Lan hiang. 'Heeehhh...heeehhh... nama ini amat asing bukan bagi kalian? Tentunya kalian tak pernah menyangka bukan, kalau Bun ji koan su yang dianggap sebagai jagoan oleh kalian ternyata punya bini? Padahal kalian mana tahu kalau Bun ji koan su sesungguhnya adalah seorang manusia histeris yang menyeramkan?"

Betapa gusarnya Biau ki siangsu In Han im ketika mendengar orang itu mencemooh dan menghina Bun ji koan su, sambil melotot besar bentaknya keras-keras.

"Bocah keparat she Ciu, tutup bacot anjingmu, seorang lelaki sejati boleh dibunuh pantang dihina, seandainya kami Lam ciau pak siang mati ditanganmu pada hari ini, sekalipun jadi setan kami tetap akan menyeretmu ke dalam neraka"

Mencorong sinar keji dan buas dari balik mata pedang ular perak Ciu Heng thian, serunya.

"In Han im, sekarang serahkanlah nyawa kalian! Aku orang she Ciu akan siang malam menantikan kedatangan kalian sebagai setan iblis, tapi kalian musti ingat, jika sebagai setan iblis sekali lagi kalian mampus, maka kalian akan berubah menjadi bayangan setan yang tak bakal bisa menitis kembali untuk selamanya, heeehhh... heeehhh..."

Suara tertawa dingin yang menyeramkan kembali bergema menggetarkan sukma...

Tubuh Ciu Heng thian bagaikan bayangan sukma menerjang maju ke muka, telapak tangan kanannya secepat kilat diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat..

Dimana serangan tersebut dilancarkan, hawa pukulan yang maha dahsyat disertai gerakan berputar segera meluncur ke muka bagaikan gulungan ombak samudra, pasir dan batu segera beterbangan memenuhi angkasa dan menerjang ke arah Lam ciau pak siang dengan sangat hebatnya.

Tadi, Lam ciau pak siang telah menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Ciu Heng thian,, maka begitu dilihatnya angin serangan yang maha dahsyat itu meluncur datang, serentak mereka membentak keras kemudian bersama-sama melejit ke samping untuk menghindarkan diri.

Sambil tertawa dingin tiba-tiba Ciu Heng thian mementangkan sepasang telapak tangannya ke kiri dan ke kanan, dua gulung angin pukulan yang sangat hebat seperti hembusan angin topan, dengan disertai suara desingan tajam yang memekikkan telinga langsung menyergap tubuh Lami Ciau dan Pak Siang.

Perubahan jurus serangan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, jauh berbeda dengan jurus serangan pertama, selisih antrara kedua buah serangan itupun kecil sekali.

Waktu itu Lam ciau pak siang masih melambung di udara, dan belum sempat melayang turun ke atas tanah, tahu-tahu gulungan angin pukulan yang menyesakkan napas telah meluncur tiba dengan hebatnya.

Menghadapi ancaman yang begitu dahsyatnya itu Lam ciau pak siang merasa amat terperanjat, masing-masing pihak segera menggunakan jurus serangan yang paling hebat untuk melejit kesamping, seluruh badannya segera berputar bagaikan gangsingan, secara drastid sekali mereka meloloskan diri dari ancaman maut tersebut.

Sin-hong hwee ciau segera membentak nyaring begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah, tubuhnya yang tinggi besar itu dengan membawa gulungan angin yang kencang menerkam kedepan, sepasang telapak tangannya dengan disertai desingan angin tajam yang menggidikan hati secepat kilat melepaskan tiga buah pukulan berantai ke tubuh C iu Heng thian.

Ketiga buah serangan itu dilancarkan dalam keadaan gusar, kedahsyatannya bukan alang kepalang.

Begitu pukulannya dilepaskan, seperti gelombang dahsyat yang mangamuk ditengah samudra saja, dengan hebatnya segera menggulung kedepan ....

Dipihak lain, Biau-ki-siang-su In han im pun melancarkan serangan dengan kepandaian saktinya pada saat yang bersamaan, bayangan kaki, pukulan tangan bagaikan jaring laba-laba mengurung musuhnya secara ketat dan rapat.

Semua jurus serangan yang dahsyat itu tertuju ke bagian-bagian tubuh yang mematikan disekujur badan lawan, bagaimanapun lihay Ciu Heng-thian, dalam keadaan seperti ini buru-buru dia gunakan ilmu gerakan tubuh yang lihay untuk menghindarkan diri.

Biau ki-siang-su In Han-im tahu, soal mati hidup dirinya adalah urusan kecil, tapi nasib dunia persilatan merupakan masalah besar, bila mereka berdua tak bisa bertahan hingga kembalinya Ku See-hong, sudah pasti sampai di akhirat pun mereka akan menanggung penderitaan.

Maka setelah memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang mengenaskan, angin pukulan serta bayangan kaki seperti angin puyuh menerjang tiada hentinya....

Bila seseorang sudah nekad untuk beradu jiwa maka semua serangan yang dilancarkan otomatis memiliki kekuatan yang mengerikan.

Dalam waktu singkat bayangan telapak tangan menyelimuti seluruh angkasa, sedemikian berlapis-lapisnya kekuatan serangan itu hingga hampir setiap ruang kosong tertutup rapat...

Diteter secara ganas dan dahsyat oleh Lam-ciau pak-siang, si Pedang ular perak Ciu Heng thian terdesak mundur berulang kali, lama kelamaan kejadaian ini membangkitkan sifat buasnya.

Mendadak ia mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara pekikan keras yang membetot sukma..

Dengan cepat ia menghimpun tenaga Tay ih kun goan khikangnya yang maha dahsyat itu kedalam telapak tangannya.

Segulung demi segulung tenaga pukulan yang dalam bagaikan samudra meluncur kedepan, dalam waktu singkat udara disekeliling tempat itu sudah berubah menjadi panas menyengat badan.

Sepuluh gebrakan kemudian walaupun ilmu silat yang dimiliki Biau ki siangsu In Han im sangat lihay, namun semua gerakannya terhadang oleh hawa murni yang dipancarkan Ciu Heng thian sehingga semua kelihayannya tak sanggup dipancarkan.

Sebaliknya, Ciu Heng thian yang khusus meneter In Han im justru makin menyerang semakin menghebat, serangan demi serangannya yang dahsyat memaksa In Han im mundur terus tiada hentinya, bahkan keselamatan jiwanya makin terancam.

Sementara itu Sin hong hwee ciau Lui Ki yang terlibat pula didalam pertarungan itu secara diam-diam telah menghimpun pula tenaga dalam yang dimilikinya, dia telah mengeluarka ilmu Ceng pit kang yang paling diandalkan seumur hidupnya untuk melaku kan perlawanan.

Tampak sepasang lengannya membesar satu kali lipat, dibalik warna merah muncul warna kehitam-hitaman yang amat mengerikan, di ringi bentakan nyaring, menda-dak sepasang lengannya didorong ke muka secara aneh, segulung angin kencang yang berputar dengan cepatnya meluncur ke tubuh lawan.

Si pedang ular perak C iu Heng thian segera meningkatkan kewaspadaannya begitu menyaksikan sepasang lengan Sin hong hwee ciau berubah menjadi hitam membengkak, ia tahu serangan yang dilancarkan itu sudah pasti amat beracun dan mematikan.

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat dalam benak Ciu Heng thian, angin pukulan yang menyesakkan napas itu bagaikan jaring langit dan perangkap bumi meluncur kedepan dan mengurung seluruh tubuhnya rapat-rapat..

Diam-diam Ciu Heng thian merasa terkesiap, ia tak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki Lam ciau pak siang sudah mencapai taraf yang begitu hebatnya, tanpa terasa hawa napsu membunuhnya berkobar.

Diam-diam hawa khikang Tay ih kun goan sinkangnya dikerahkan mencapai sepuluh bagian, kemudian sepasang tangannya di getarkan semakin kencang, memaksa Biau ki siang su In Han im menjadi keteter hebat dan keadaannya makin mengenaskan.

Ketika angin pukulan Ceng pit kang yang dilancarkan Sin hong hwe ciau Lui ki menyentuh satu depa didepan badan Ciu Heng thian, tahu-tahu dia seperti merasa membentur diatas sebuah dinding baja yang tak berwujud yang amat kuat, ternyata daya kekuatannya tak sanggup menerjang lebih ke depan.

"Blaaamm!"

Terdengar bunyi benturan keras yang memekikkan telinga bergema memecahakn keheningan, tenaga pukulan maha dahsyat yang dilontarkan oleh Sin hong hwee ciau itu tahu-tahu sudah dipunahkan hingga tak berbekas oleh angin pukulan Tay ih kun goan khikang yang tak berwujud dari Ciu Heng thian.

Menyusul kemudian terdengarlah suara pekikan ngeri yang memilukan hati bergema memenuhi seluruh angkasa.

Tubuh Sin hong hwee ciau Lui ki yang tinggi besar itu bagaikan layang-layang yang putus tali segera mencelat sejauh tiga kaki dengan nadi yang putus, darah segar memancar keluar dari lubang indranya, ia mati secara mengenaskan.

Begitulah seorang pendekar sejati akhirnya harus berpulang kealam baka karena dianiaya dan dicelakai oleh seorang manusia laknat yang berhati busuk.

Mendadak...

sekali lagi terdengar suara pekikan keras yang membetot sukma bergema memenuhi angkasa, Biau ki siangsu In Han im bagaikan gulungan angin berpusing menerjang maju kesamping tubuh Ciu Heng thian, sepasang telapak tangannya yang penuh dengan tenaga dalam segera melancarkan bacokan dari suatu sudut yang aneh sekali.

Dimana serangan dari In Han im dilancarkan, beberapa gulung angin pukulan yang tajam di ringi suara desingan tajam telah meluncur kedepan dan menerjang tubuh C iu Heng thian.

Betapa sedih dan hancurnya perasaan Biau ki siangsu In Han im setelah menyaksikan adik angkatnya mati secara mengenaskan, sambil menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, dengan mempergunakan jurus serangan yang paling tangguh dia lepaskan serangan mematikan.

Sedemikian dahsyatnya serangan itu, ibaratnya bendungan yang jebol diterjang air bah.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tak pernah mengira kalau jurus serangan yang dilancarkar In Han im bisa sedemikian cepat nya, lagipula arah serangannya adalah bagian tubuh yang harus diselamatkan, padahal tenaga dalamnya waktu itu belum sempat terhimpun kembali.

Segulung angin pukulan yang dahsyat dan menyesakkan napas seperti ambruknya bukit Tay san segera menekan keatas kepalanya.

Kontan dia merasakan kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, nadinya seperti membengkak besar, sakitnya bukan kepalang.

Tak terlukiskan rasa terkesiap dalam hati Ciu Heng thian, buru-buru sepasang tangannya disilangkan kemudian di ringi bentakan gusar mendadak sepasang tangan nya didorong kemuka.

"Plaaakkk. ...!"

Suatu benturan nyaring segera bergema memecahkan keheningan.

Angin pukulan tajam segera berputar kencang sambil menimbulkan suara desingan tajam, dengan cepatnya hembusan angin itu di memancar keempat penjuru.

Ciu Heng thian merasakan kuda-kudanya tergempur, dengan sempoyongan dia mundur sejauh tiga empat langkah, wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Biau ki Siangsu In Han im sendiripun kena dilemparkan tubuhnya sejauh satu kaki lebih, tapi ketika terjatuh kembali ke tanah ia berdiri tegak dengan tubuh kaku.

Kulit wajahnya segera mengejang keras dengan pancaran garis-garis kebencian yang dalam, rambutnya terurai kalut, mata nya merah membara sehingga keadaannya tampak sangat mengerikan....

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram, katanya dengan suata yang dingin.

"In Han iln, sebenarnya aku orang she Ciu hendak menghabisi nyawamu dengan begitu saja, heeehhh... heeehhh...heeehhh... tapi sekarang aku telah merubah maksudku semula, aku hendak menyuruh kau untuk merasakan siksaan yang paling keji lebib dulu sebelum mampus secara mengerikan"

Biau ki siang su In Han im tahu kalau kekuatan yang dimilikinya sudah punah, nadi yang berada didalam tubuhnya telah membengkak besar seperti mau meledak, sementara hawa darah yang bergolak dalam dadanya membuat dia tak sanggnp untuk menghimpun sedikit tenagapun, apa yang bisa dilakukan sekarang tak lebih hanyalah melototkan sepasang matanya yang merah membara dengan penuh kebencian.

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian segera menunjukkan wajah seram dan buasnya yang mengerikan, lalu sambil senyum tak senyum dia berkata.

"In Han im, mungkin kau pernah mendengar bukan bahwa didalam ilmu silat terdapat semacam ilmu yang disebut khi im ciok meh hoat (ilmu membalikkan nadi) bukan?

Begitu mendengar ucapan tersebut, paras muka Biau ki siangsu In Han im segera berubah menjadi pucat pias dan makin mengerikan.

Sekali lagi si Pedang uiar perak Ciu Heng thian tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh...heeehhh.... bagaimana? Apakah kaupun memahami kepan-daian semacam ini?"

Seluruh badan Biau ki siang su In Han im sudah lemas tak bertenaga, dia hanya bisa menerima cemoohan dan penghinaan manusia laknat itu dengan pasrah, ia betul-betul putus asa dan tidak mempunyai harapan lagi untuk meloloskan diri.

Mendadak Ciu Heng thian mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suara tertawa nya bagaikan tangisan setan, seperti juga suara lolongan serigala hingga kedengaran nya amat menusuk pendengaran.

Ditengah gelak tertawanya itu, tubuhnya seperti bayangan sukma segera menerjang kemuka dan berhenti disamping kiri Biau ki siang su In Han im, kelima jari tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar, kemudian secara beruntun melepaskan serangkaian totokan berantai..Gerak serangannya aneh tapi cepat, sekalipun In Han im berada dalam keadaan sehat juga jangan harap bisa menghindarkan diri.

Apalagi isi perutnya sekarang sudah menderita luka dalam yang amat parah, sakitnya bukan alang kepalang!!

sudah barang tentu ia tak dapat meloloskan dari dari ancaman tersebut.

Tak ampun lagi semua ancamannya segera bersarang diatas badannya.

Begitu berhasil menotok semua jalan darah dan urat penting ditubuh In Han im, Ciu Heng thian segera menggerakkan telapak tangan kirinya membuat musuhnya roboh terkapar kembali.

Memandangi lawannya yang terkapar, si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram.

'Heeehhh...

heeehhh...

heeehhh...

In Han im, sekarang kau boleh rasakan siksaan yang paling keji didunia ini, kemudian nantikan lah nadi-nadimu meledak sebelum ajalmu tiba, haaahhh...

haaahhh...

haaahhh, inilah akhir yang akan kau alami"

Terhajar oleh totokan berantai dari C iu Heng thian tersebut Biau ki siangsu In Han im merasakan seluruh urat nadi didalam tubuhnya melilit menjadi satu, peredaran darahnya berbalik sehingga menyumbat jalan darahnya, sementara aliran hawa panas mengalir terbalik dan menerjang ke atas otak.

Seketika itu juga dia merasakan seluruh badannya mengejang keras, seolah-olah terdapat beribu-ribu ekor ulat dan semut yang menggigit disekujur badannya, selain gatal sakit juga amat menyiksa badan.

Penderitaan semacam itu pada hakekatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, seperti ada sebilah pedang tajam yang sedang menyongkel setiap bagian badannya.

Peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh badannya, mata yang membelalak besar kini hampir melotot keluar, muka yang pucat pun berubah semakin mengerikan.

Tapi dia masih berusaha keras untuk menahan penderitaan dan siksaan yang maha dahsyat itu, sebab dia tak ingin merintih serta menunjukkan kelemahannya didepan musuhnya.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian betul-betul berhati buas dan kejam melebihi binatang, melihat musuhnya tersiksa, dia malah makin kegirangan, sambil tertawa keji katanya dingin menyeramkan.

"In Han im, sekarang aku akan memotongi semua otot didalam badan agar saat kematian yang bakal merengut nyawamu makin panjang, tapi juga akan menambah siksaan yang akan menggilas tubuhmu. Heeehhh... heeehh. ."

Seraya berkata, ia lantas melolos pedang ular peraknya dari pungggung, kemudian diantara berkelebatnya cahaya tajam, mata pedang yang tajam itu bekerya keras membetoti semua otot dalam tubuh In Han-im.

Bayangkan saja betapa menderitanya In Han-im menghadapi siksaan brutal seperti itu, tapi dia tidak mengeluarkan sedikit suarapun, meski badahnya gemetar keras, darah mengucur deras, namun ia tetap mempertahankan diri dengan sekuat tenaga.

Dalam waktu singkat, In Han-im telah berubah menjadi manusia darah, wajahnya lebih pucat daripada mayat.

Penderitaan yang menyiksa tubuhnya sekarang betul-betul sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia sampai berguling-gulingan diatas tanah untuk menahan penderitaan tersebut.

Sayangnya, gerakan itu bukan saja tidak mengurangi penderitaannya, malah sebalik nya justeru menambah hebat penderitaan.

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian segera menarik kembali pedangnya dan tertawa seram.

"Heeeehhh...heeeehhh In Han-im, sekarang kau pasti telah menikmati kebahagiaan bukan? Nah aku boleh memberitahukan kepadamu, apa yang kau rasakan sekarang baru suatu permulaan, kenikmatan yang lebih mengasikkan justru akan kau rasakan dibelakang nanti" 'Kemudian setelah tertawa dingin dia melanjutkan.

"Silahkan berbaring disini sambil merasakan kenikmatan hidup, maaf aku orang she Ciu tak bisa menemani lebih lama"

Di ringi suara tertawa yang amat nyaring, bayangan tubuh Ciu Heng-thian berkelebat di udara dan lenyap tak berbekas.

Yaa, apa yang dikatakan memang benar nasib tragis dari In Han-im memang masih berada dibelakang.

Tatkala bayangan iblis dari Ciu Heng hian sudah lenyap dari pandangan mata, penderitaan yang menyerang tubuhnya ternyata beratus kali lipat lebih dahsyat..Ia mulai memperdengarkan suara pekikan keras bagaikan binatang yang terluka, begitu mengenaskan, begitu menusuk pendengaran.

Sambil menjerit dan berguling dan mencoba untuk mengurangi penderitaan, tapi rasa sakit makin mengurung dirinya, bahkan makin lama semakin dahsyat dan hebat...

Penderitaan yang makin lama semakin menghebat ini, membuat ia tak sanggup untuk menahan lebih jauh, diapun merasakan daya tekanan yang menghimpit tubuhnya makin dahsyat seperti hendak menghimpitnya menjadi cairan darah, seperti hendak meremukkan badannya dan meng-hancurkannya menjadi beribu-ribu keping.

Penderitaan semacam ini sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Tapi Biau ki siangsu In Han im masih tetap mempergunakan kecerdasan otaknya serta kemauan yang besar untuk menahan penderitaan tersebut dengan sepenuhi tenaga.

Kekuatan apakah yang sebenarnya menunjang dia sehingga membuat In Han im sanggup untuk mempertahankan diri?

Itulah Ku See hong, dendam kusumat serta nasib dunia persilatan dimasa mendatang.

Bagaimanapun juga, dia berusaha keras untuk mempertahankan diri, menahan diri sehingga Ku See hong balik kesana dan menceriterakan segala sesuatunya kepada permuda itu, kemudian ia baru bisa meninggalkan dunia yang fana ini untuk kembali ke alam baka.

Ia tak ingin cepat-cepat menghabisi nyawanya, sebab ia tahu betapa pentingnya arti kehidupan yang tak seberapa lama itu bagi semua orang, yaa buat keselamatan dunia persilatan.

Sseandainya ia sampai mati, maka semua rahasia besar itu akan dibawa masuk ke liang kubur, itu berarti manusia laknat Ciu Heng thian akan meraja lela, keselamatan Ku See hong akan terancan, dan nasib dunia persilatan bisa terjatuh ke tangan mereka.

Sungguhpun tersiksa hebat, ia bertekad untuk mempertahankan diri selama mungkin, syukur kalau bisa menanti hingga Ku See hong kembali ke sana.....

ooo0dw0ooo BAB 21 SEMENTARA itu Ku See hong dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang paling sempurna mengejar bayangan manu-sia tersebut sepenuh tenaga, sedemikian cepatnya ia bergerak, dalam sekilas pandangan saja sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Tapi gerakan tubuh orang itupun tak kalah cepatnya, hanya didalam beberapa kali lompatan, ia sudah hilang dibalik kegelapan sana bagaikan segulung asap.

Ku See hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, pikirnya.

Orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan Ban shia kau benar-benar tak boleh dipandang enteng, ditinjau dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang ini, jelas ia merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan, tak heran perkumpulan Thi kiong pang dan Jian khi pang yang amat besarpun bersedia menerima perintah dari Ban shia kau.

Sebelum meninggal suhu pernah berkata kalau si perempuan terkutuk Ceng Lan hiang telah berhasil mendapatkan se

Jilid kitab Ban shia cinkeng, ucapan itu jelas bukan gertak sambel belaka, itu berarti ilmu silat yang dimllikinya pasti lihay sekali."

Disamping itu kedua orang murid murtad suhu sudah pasti akan membantu perbuatan Ceng Lan hiang pula, aaai...

untuk menghadapi kekuatan yang begitu besar, mustahil aku bisa bekerja sendiri.

'Entah Ciu Heng thian bersedia untuk membantuku atau tidak?

Bila ia bisa membantu usahaku, tak lama kemudian siluman-siluman iblis itu tentu bisa ditaklukan!' Walaupun dalam benaknya dipenuhi oleh pelbagai macam pikiran, namun gerakan tubuhnya sama sekali tidak mengendor, malahan makin lama semakin cepat, akhirnya dia seperti tak menyentuh tanah saja, bagaikan burung elang yang terbang diangkasa, tubuhnya bergerak ke depan dengan kecepatan tinggi.

Tenaga dalam yang dimilikinya sekarang telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, apalagi tenaga murni itu sudah saling bergabung dengan tenaga im dan yang dalam badannya, maka hawa murni tersebut dapat beredar tiada hentinya bagaikan 458 gulungan ombak yang saling mengejar di tengah samudra, seolah-olah bersambung tiada hentinya.

Kurang lebih setengah perminuman the kemudian, dari jarak seratus kaki Ku See hong telah berhasil memperkecil jaraknya menjadi beberapa puluh kaki, sementara seratus kaki dihadapannya terbentang sebuah hutan yang amat lebat.

Bayangan manusia yang berlarian di depan itu nampak amat terperanjat sekali sewaktu dilihatnya Ku See hong telah mengejar semakin dekat, padahal dia menganggap ilmu meringankan tubuh yang dilikinya sekarang sudah terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, malah dalam perguruannyapun dia cuma kalah dengan kaucunya, dua orang penanggung jawab serta wakil ketuanya.

Ku See hong takut kalau orang yang berada dihadapannya itu keburu masuk kedalam hutan, ia segera berteriak keras.

"Setan kaparat yang berada didepan, tadi kau masih berani berbicara sesumbar mengapa saat ini malah kabur terbirit-birit' Hanya dalam waktu singkat bayangan manusia yang berada didepan itu sudah berada tiga puluh kaki dari hutan.

Terdengar bayangan manusia yang berada didepan itu memperdengarkan suara tertawa anehnya yang menyeramkan, begitu suara tertawa berkumandang dalam dua tiga kali lompatan saja badannya sudah melompat sepuluh kaki lebih kedepan.

Sekarang Ku See hong sudah berada sepuluh kaki dibelakangnya, melinat ini dia menjadi panik, sambil membentak keras kecepatan badannya ditingkatkan, bagaikan seekor burung alap-alap badannya mener-kam ke bawah dengan dahsyat.

Sesungguhnya bayangan manusia yang berada didepan itu bukan berniat masuk ke dalam hutan, melainkan cuma menjalankan siasat busuknya untuk menjebak lawan, maka sewaktu badannya melompat ke depan untuk kedua kalinya, mendadak ia menghentikan gerakan badannya, kaki kiri nya membuat gerakan setengah lingkaran, secara lincah badannya telah berputar kembali.

Pada saat itulah secara kebetulan Ku See hong menerjang tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sesaat ketika badannya berputar, orang itu sudah mengayunkan sepasang telapak tangannya ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tenaga pukulan mendesing bagaikan pisau dan menderu-deru di tengah udara.

Ku See hong sama sekali tak menyangka kalau musuhnya begitu licik dan keji, sebelum ia menyadari akan datangnya bahaya tampaklah bayangan telapak tangan telah menyelimuti seluruh angkasa dan menggulung tiba dengan ketatnya, begitu dahsyatnya ancaman tadi sehingga menggidikkan bulu roma setiap orang.

Kedua belah pihak sama-sama bergerak dengan kecepatan tinggi, apa yang terjadi pun berlangsung dalam sekejap mata.

Ku See hong memang lihay, dalam cemasnya satu ingatan segera melintas dalam benaknya, mendadak ia menggunakan tak tik Biau siu ji siu (terbang melayang bagaikan tipuan) dari ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong guna menyelamatkan diri.

Ketika tubuhnya yang menerjang tiba menyentuh pada gulungan angin puyuh yang maha dahsyat itu, badannya secara aneh melayang ke samping seenteng bulu.

Ternyata ilmu Biau siu ji siu tersebut merupakan sejenis ilmu gerakan badan yang khusus mengandalkan tenaga dalam untuk membuat badannya seenteng bulu, bagai-manapun dahsyatnya angin pukulan orang, bila terkena badannya tenaga itu akan lenyap seperti menghantam kapas, melayang ke udara dengan sangat entengnya.

Ilmu gerakan tubuh ini pernah dipraktekkan oleh Ku See hong sewaktu tubuhnya terjatuh dari atas puncak tebing di laut lam hay dari ketinggian lima enam puluh kaki itu.

Begitulah, seenteng bulu tubuh Ku See hong melayang sejauh lima enam kaki dari tempat semula dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi orang itu tak berkedip.

Waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, sang surya sudah mulai muncul dari ufuk sebelah timur, tampaklah orang itu adalah seorang lelaki berbaju abu-abu yang berperawakan kurus kering, ia memiliki muka berbentuk kuda dengan kulit badan yang putih hampir tidak berwarna darah, dari balik matanya yang cekung terpancar keluar serentetan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu membuat orang yang memandang terasa menjadi ngeri.

Orang ini tak lain adalah salah seorang diantara empat thamcu yang berada dalam perkumpulan Ban-shia-kau, yakni thamcu dari ruang Tee-hun-thiam, orang menyebut nya sebagai To-soat-bu-liang (menginjak salju tanpa bekas) Tham Hun-ki.

Perlu diketahui, ke empat ruangan yang dimaksudkan dalam Ban shia-kau terdiri dari ruang Sin-hwee-thiam, Im-hong-tham dan Tee-hun thiam.

Kiranya organisasi Ban-shia-kau tersusun amat rapi, dibawah kedudukan Kaucu adalah dua orang penanggung jawab yang menguasahi mati hidup segenap anggota perkumpulan, mereka berdua dibantu oleh empat orang pelindung hukum.

Dibawah mereka berdua adalah Hu-kaucu atau wakil ketua, dibawahnya lagi adalah Empat kau-tham dengan setiap bagian terdapat satu orang thamcu dibantu, empat orang Hiangcu, dibawah hiangcu adalah anggota biasa.

Bisa dilihat betapa luasnya organisasi tersebut sehingga boleh dibilang melebihi perkumpulan manapun.

Tee hun-thamcu .....

menginjak salju tanpa bekas Tham Hunlki nampak terkejut sekali setelah menyaksikan demontrasi ilmu gerakan tubuh yang dilakukan Ku See hong, paras mukanya berubah hebat, tapi hanya sejenak kemudian sikapnya telah berubah menjadi tenang kembali.

Ia segera tertawa dingin dengan suara yang rendah dan berat, kemudian katanya.

"Orang she Ku, sekalipun kau amat cerdik, tapi kali ini kau pun termakan juga oleh siasat wakil kaucu kami, heeehhh... heeehhh... heeehhh... aku lihat umurmu pun tak akan bertahan lebih lama lagi"

Ku See-hong yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi kebingungan, ia tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan, setelah mendengus dingin dengan nada sinis katanya.

"Manusia laknat berhati busuk, bila mengandalkan kepandaian secetek itu pun kau sudah ingin merenggut nyawaku, Hmm.. perbuatan itu betul-betul tak tahu diri..."

Tentu saja si menginjak salju tanpa bekas Tahm Hun khi cukup mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari Ku See hong, tapi dia tetap yakin kalau masih sanggup untuk bertarung dengan lawannya, maka sambil tertawa seram katanya.

Òrang she Ku, kau harus sedikit tahu diri, ketahuilah orang Ban shia kau adalah manusia-manusia yang tidak gampang diusik, bila kau masih saja tak tahu diri, hmmm ....

sekarang juga kau boleh rasakan kelihayanku!' Ku See hong mengerutkan dahinya kencang-kencang, mencorong sinar mata yang menggidikkan hati dari balik matanya, ia berseru dengan suara dingin.

' Setiap manusia yang tergabung dalam perkumpulan Ban shia kau, cepat atau lambat pasti akan kubunuh diujung pedangku!' "Haaahhh...

haahhh .....

haaahhh ....mana, mana...' Si Menginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"saat kematianmu sudah didepan mata, tapi kau masih saja tak tahu diri, betul-betul manusia yang bermata tak berbiji!"

Tujuan dari To soat bu liang Tham Hun-khi pada saat ini adalah mengulur waktu selama mungkin agar Ciu Heng thian mempunyai waktu yamg cukup untuk membunuh Lam ciau pak siang, maka ia sengaja membawa pembicaraan tersebut ke sana kemari tanpa tujuan.

Sekali lagi Ku See hong memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang mengerikan.

' Heeehhh...

heeehhh...

heeehhh...

kau tak usah banyak berbicara lagi, kini malaikat maut telah mementangkan cakar setannya, bersiap-siaplah kau untuk berangkat menghadapnya!"

To soat bu liang Tham Hun khi mendongak kan kepala dan memeriksa keadaan cuaca, ketika ia merasa Ciu Heng thian sudah berhasil dengan serangannya, sekulum senyuman yang mengerikan segera tersungging di ujung bibirnya, disusul kemudian menggemalah suara gelak tertawa nyaring..Mendadak ia menerjang maju ke muka, sepasang telapak tangannya didorong bersama melancarkan pukulan dahsyat dengan membawa deruan angin tajam secepat kilat angin pukulan itu menerjang ke muka.

Ilmu silat yang paling diandalkan To soat bu liang Tham Hun khi adalah ilmu meringankan tubuh, tak heran kalau gerak serangannya ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Ku See hong hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa telah menerkam kearahnya.

Paras muka Ku See hong segera berubah hebat, telapak tangan kanannya diayunkan kemuka, serentetan cahaya tajam yang berbentuk bintang, bagaikan serentetan mercon yang meledak, dengan cepatnya menyongsong ke muka.

To soat bu liang Tham Hun khi adalah seorang manusia licik yang berakal panjang, sekilas pandangan saja ia telah melihat kilau dibalik serangan yang dilancarkan Ku See hong terselip suatu kekuatan yang luar biasa, tentu dia tak berani menyambut dengan kekerasan.

Tiba-tiba terasa serangannya dibuyarkan lalu sambil berputar setengah lingkaran, ia membentak keras.

Sekali lagi badannya menerjang maju ke muka, angin pukulan bayangan kaki seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu banyak nya, di mbangi dengan hawa pukulan yang dahsyat, langsung menerjang kebagian mematikan ditubuh Ku See hong dari sudut yang aneh.

Berada dibawah serangan berantai Tham Hun khi yang memancar bagaikan gulungan samudra, Ku See hong segera memutar sepasang tangannya membentuk gerakan melingkar dan tiba-tiba mendorongnya kemuka.

Selapis angin pukulan yang dahsyat, bagaikan selembar jaring yang tebal menggulung kemuka menyongsong datang nya ancaman lawan.

To soat bu liang Tham Hun khi memang tak malu disebut jagoan lihay, ia benar-benar memiliki ilmu silat yang dahsyat, sekali lagi dia membentak keras, seluruh badannya seperti pusaran angin berpusing menerobos masuk kedalam celah kosong dari pukulan berantai lawan, sepasang tangan dijojoh kemuka bagaikan tombak.

Kali ini dia mengancam jalan darah Yan noo hiat dan Ciang tay hiat di badan Ku-See hong, sementara kaki kirinya secepat kilat menyambar jalan darah Hee im hiat ditubuh anak muda itu.

Serangan semacam ini selain ganas dahsyat juga teramat keji..Ku See hong mendengus dingin mendadak kaki kanannya berbalik menendang jalan darah wi tiong hiat diatas kaki kiri lawan, kemudian sepasang telapak tangannya saling menyilang mengunci datangnya ancaman lawan dengan kekerasan.

Jurus serangan ini dilancarkan dengan mengkombinasikan suatu gerakan tubuh yang sangat indah, bahkan serangan yang dilancarkan dengan kakinya itu selain berhasil mengunci serangan musuh, dapat pula melancarkan serangan balasan, benar-benar merupakan satu jurus serangan yang amat lihay.

Semenjak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah To soat bu liang Tham Hun khi menjumpai jago sedemikian lihaynya, dimana setiap jurus serangannya selalu tertuju untuk menekannya dalam keadaan apa boleh buat mendadak ia buyarkan serangan ditengah jalan kemudian melompat keluar dari arena.

Terhadap manusia buas semacam ini Ku See hong tak pernah berbelas kasihan, sambil membentak nyaring tubuhnya seperti turut menerjang kemuka, sementara sepa-sang telapak tangannya menyerang secara bergantian.

Serangan demi serangan dengan jurus membabat, membacok mendorong menyam-but dan memotong, semuanya digunakan secara berganti-gantian.

Semua ancaman dilancarkan dengan dahsyat, ganas dan gencar seperti hujan badai.

Ternyata To soat bu liang Tham Hun khi termasuk seorang jagoan yang ulet.

Dia tidak menyerah dengan begitu saja, badannya berkelebat secara aneh, dan serangannyapun meluncur keluar seperti air bah yang menggulung lewat, dibawah serangan Ku See hong yang maha dahsyat itu ternyata diapun membawa tenaga ancaman yang hebat menggulung keluar.

Malahan ancaman tersebut tibanya dari suatu sudut yang aneh dengan ruang gerak yang sempit tapi sama sekali tidak mengurangi kedahsyatannya.

Begitulah dua orang jago lihay dari dunia persilatan segera mengandalkan kepandaian silat yang dimiliki untuk saling menyerang dan mendesak lawannya.

Pertempuran ini betul-betul merupakan suatu pertempuran yang amat seru.

Hawa puseran yang dahsyat seperti geledek berhembus kencang disekeliling hutan itu dan merubah wilayah seluas tujuh delapan kaki itu menjadi tempat amukan badai Dua pulu jurus begitu saja lewat, seluruh jidat To soat buliang Tham Hun-khi sudah dibasahi oleh keringat, namun serangan demi serangan yang dilancarkan musuh tetap gencar dan dahsyat.

Sementara pertempuran masih berlang-sung amat sengit mendadak ....

Suara pekikan keras yang memekikkan telinga berkumandang datang dari arah sisi hutan.

Suara pekikkan yang memekikkan telinga itu seperti suara panggilan seseorang.

Tapi kalau didengar lebih seksama maka terasa pula seperti suara teriakan seseorang yang sedang bergembira.

Begitu pekikkan tadi sirap terdengarlah seseorang berseru dari tempat kejauhan.

"Te-hun thamcu, kau diperintahkan segera kembali!"

Ku See hong telah merasakan seperti suara pekikan dan suara pembicaraan orang itu seperti amat dikenal olehnya, hal ini membuatnya merasa amat terkejut, suatu firasat tak enak mendadak melintas di dalam benaknya.

Sebaliknya Ta soat bu liang Tham Hun khi yang mendengar seruan tersebut segera tahu kalau Ciu Heng thian telah berhasil melaksanakan tugasnya, ingatan untuk mengundurkan diri dari sana segera terlintas dalam benaknya.

Sambil tertawa seram, Ta soat bu liang Tham Hun ki segera memperketat serangan nya, secara beruntun dia lancarkan empat gulung pukulan dahsyat yang memaksa Ku See hong terdesak mundur sejauh rmpat langkah.

Menggunakan kesempatan inilah dengan cepat tubuhnya melejit ke tengah udara dan melesat kearah hutan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan.

Sepasang mata Ku See hong berubah menjadi merah membara dan memancarkan sinar kebuasan, saking mendongkolnya dia sampai mendepak-depakkan kakinya keatas tanah, akhirmya dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meluncur balik ketempat semula.

Waktu itu hatinya betul-betul merasa gelisah sekali, dia segera mempercepat langkahnya menuju ke tempat semula.

Tak selang beberapa saat kemudian, tibalah pemuda itu di kompleks tanah pekuburan itu.

Sang surya telah berada diatas udara, sinar yang keemas-emasan memancarkan sinar terangnya menyoroti seluruh jagad.

Dengan sorot mata yang tajam Ku See hong mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu, namun bayangan tubuh dari Lam ciau pak siang serta Ciu Heng thian sudah tak nampak lagi..

Tiba-tiba Ku See hong menangkap suara rintihan lirih berkumandang dari sisi tanah pekuburan itu, tak berani berayal lagi secepat kilat dia melompat turun ke bawah dengan kecepatan tinggi.

Dengan cepat ia menangkap mayat Sin hong hwee ciau Lui Ki yang tergeletak kaku di tanah, kemudian diapun menyaksikan tubuh Biau ki siangsu In Han im yang sedang berguling-guling di tanah dengan sekujur badannya bermandikan darah.

Merah membara sepasang mata Ku See hong setelah menyaksikan kejadian itu, sambil membentak keras dia segera menerjang ke samping tubuh Biau ki siangsu In Han im sambil tegurnya.

"Paman In, Paman In! Siapa yang telah mencelakai kalian? Cepat katakan, cepat katakan!"

Waktu itu sekujur badan Biau ki siangsu In Han im seperti diremuk menjadi berkeping-keping, tersiksanya bukan kepalang, namun dia masih tetap memper-tahankan diri sambil menantikan datanganya Ku See hong.

Akhirnya dengan wataknya yang keras kepala dia berhasil mencapai apa yang diharapkan, namun saat itu ajalnya sudah semakin dekat, dalam keadaan sadar tidak sadar ia seperti mendengar suara panggilan Ku See hong, pelan-pelan diapun membuka kembali matanya yang penuh berdarah dan mengawasi Ku See hong dengan pandangan mata yang sayu.

Jelas dia tak percaya kalau orang yang berada dihadapannya adalah Ku See hong, mungkin dia mengira apa yang dilihat hanyalah pandangan semu menjelang tibanya ajal.

Dengan sepasang mata berkaca, Ku See hong berteriak keras.

"Paman In, aku yang telah datang! Aku adalah Ku See hong, kau... apakah kau sudah melihat jelas?"

Wajah Biau ki siangsu In Han im yang mengenaskan itu tampak mengejang keras, titik air mata berlinang dari wajahnya, tidak bukan air mata, melainkan darah!

Setelah menggerakkan bibirnya sekian lama, akhirnya dia berbisik dengan suara yang lemah.

"Ku... Ku lote, kaukah yang datang?"

"Paman In, aku yang datang, betul aku Ku See hong, oooh .... apa yang telah terjadi disini? Sedang bermimpikah aku?"

Suara dari Ku See hong kedengaran gemetar dan keras, nadanya parau sehingga mendatangkan suasana yang amat pedih bagi siapapun yang mendengarnya.

Setelah merasa yakin kalau yang datang adalah Ku See hong, In Han im nampak gembira sekali, jauh melebihi rasa sakit yang sedang menyiksa tubuhnya?

' Ku lote"

Katanya kemudian dengan suarta gemetar.

"harap kau suka maafkan lohIu yang telah salah menilai orang, sungguh menggemaskan kawanan laknat itu berhati keji ...' "

Paman In, cepat katakan! Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Sela Ku See hong cemas. Biau ki siangsu In Han im menghela napas sedih, katanya.

"Ku lote, lohu dan adik angkatku telah terbunuh oleh si Pedang ular perak Ciu Heng thian, si manusia berhati binatang, manusia laknat tersebut, dia adalah wakil ketua dari Ban shia thian kau, sungguh menggemaskan ternyata lohu pun kena dikelabuhi olehnya" ' Ooh... rupanya perbuatan dari Ciu Heng thian!"

Seru Ku See hong dengan pancaran sinar kebencian yang amat tebal.

"binatang keparat, aku bersumpah akan mencincang tubuhnya menjadi berkeping-keping'' "

Ku lote, cepatlah berangkat ke lembah Yu-ming-kok dibukit Soat-hong-san, kalau sampai terlambat, beberapa ratus lembar nyawa manusia tentu akan musnah pula di tangan manusia durjana tersebut "

Saat itu, Ku Seng-hong tak dapat mengendalikan perasaan sedih yang menyerang tubuhnya, dia tahu In Han im adalah seorang ksatria sejati, tapi Thian telah menjatuhkan siksaan yang begitu keji kepadanya, apakah Thian tidak mengingin kan keadilan dan kebenaran ditegakkan dibumi ini?

Setelah menghela napas sedih, ia berkata.

Paman In, sekalipun tubuhku bakal hancur, keadilan dan kebenaran tetap akan kutegakkan, aku ingin membasmi semua manusia laknat tersebut dari muka bumi "

Tampaknya ajal sudah semakin dekat buat Biau ki-siang-su In Han-im, seperti juga lentera yang hampir padam, cahayanya pasti akan menjadi terang benderang sebelum akhirnya mati.

Tiba-tiba saja Biau-ki-siang-su In Han-im nampak jauh lebih segar, dengan nada yang halus dan penuh perhatian dia berkata.

"Ku lote, kau mempunyai bait nyanyian dari Bun-ji-koan-su serta pedang Ang-soat kiam dari Si hong lo jin, kedua berita ini sudah pasti telah tersebar luas dalam dunia persilatan, ini berarti keselamatan jiwamu terancam bahaya maut.

Meski ilmu silat yang 469 kau miliki sangat lihay, namun sepasang tangan tak bisa mengalahkan empat tangan ...

aaai.....

Berbicara sampai disitu Biau-ki-siang-su In Han-im tak dapat mengendalikan rasa pedih dalam hatinya lagi, dia menghela napas panjang.

"Aai .... para pendekar sejati penegak keadilan dalam dunia persilatan banyak yang telah mati dan lenyap tak ujung rimbanya, boleh dibilang kau harus hidup sebatang kara didunia ini tanpa bantuan orang lain, aaai .... gunakanlah kecerdikanmu untuk mengatasi semua kesulitan yang kau hadapi."

Ku lote, kau harus memahami betapa berbahaya dan liciknya umat persilatan didunia ini, mereka lebih banyak menipu orang dengan kemunafikannya dari pada membantumu, ketahuilah kelicikan tak bisa dihadapi dengan ilmu silat, maka kau harus selalu waspada terhadap setiap manusia yang ada disekelilingmu' Ku See hong tahu bahwa kesempatan In Han im hidup didunia ini sudah tak banyak lagi, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia mengangguk.

"Paman In, aku tahu tentang hal itu, kau tak usah kuatir, sebelum semua perempuan durjana didunia ini kupunahkan, aku bersumpah tak akan berhenti membunuh. ."

Ketika mengucapkan perkataan itu dari balik matanya segera terpancar keluar hawa napsu membunuh yang mengerikan ....

Hal ini melambangkan kalau badai yang penuh dengan genangan darah sudah mulai melanda dunia persilatan.

Tiba-tiba In Han im mengeluh pelan sambil menahan tubuhnya yang gemetar keras, wajahnya mengejang keras menahan penderitaan yang hebat, tapi ia tidak berdiam diri, kembali katanya.

"Ku lote, sejak kini keadilan.. dan kebenaran di dalam dunia persilatan harus kau tegakkan seorang diri, baik-baiklah berjuang, arwah kami berdua dialam baka pasti akan merestuimu, semoga kau bisa menegakkan kebenaran dalam dunia persilatan dan melenyapkan semua durjana dari muka bumi, lohu..,. lohu mohon pamit lebih dahulu' Akhirnya In Han im, seorang pendekar besar yang berjiwa kesatria ini mengakhiri perjalanan hidupnya di alam semesta ini dan kembali keakhirat. Ia meninggal dengan begitu tentram, meninggal dunia setelah selesai mengucapkan pesannya. Walaupun In Han im telah meninggal, namun kegagahan, kebajikan serta kemuliaan budinya akan tetap tinggal di dunia ini. Ku See hong merasakan kesedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata setelah menyaksikan kematian In Han im, dia membenci kawanan manusia laknat itu, merasa tidak terima atas ketidak adilan Thian. Terdengar ia bergumam. 'Tampaknya nasib buruk selalu membuntuti diriku, sejak kecil aku harus kehilangan kedua orang tuaku, lalu menyusul guruku Bun ji koan su, empek Sangkoan It, kekasihku Keng Cin sin, dan sekarang sahabat Sin hong hwee ciau serta Biau ki siangsu.."

Bergumam sampai disini, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya lalu berseru lagi dengan lantang.

"Oooh Thian! Selanjutnya masih ada peristiwa tragis apalagi yang hendak kau limpahkan kepadaku ....?' Aku bersumpah akan membunuh dan menumpas segenap manusia laknat itu dari muka bumi, aku tidak perduli caci maki orang lain, aku hendak melakukan pembantaian secara besar-besaran, dengan pedang Hu thian seng kiam, aku akan melumuri seluruh dunia ini dengan darah kental dari kawanan manusia jahanam itu"

Berbicara sampai disitu, ' Cri ng!"

Dia telah meloloskan pedang Hu thian seng kiam tersebut.

Cahaya tajam berwarna merah yang amat menyilaukan mata dengan cepat memancar ke empat penjuru.

membuat seluruh jagad tiba-tiba saja berubah menjadi merah padam.

Kabut tebal berwarna merah yang terpancar keluar dari pedang Hu thian seng kiam makin lama semakin menebal, lamat-lamat diseluruh angkasa terasa terendus bau amis yang amat memuakkan.

Nasib dunia persilatan pun ditentukan, mulai sekarang badai pembunuhan paling brutal sepanjang sejarah sudah akan dimulai.

oooo0dw0oooo BULAN sembilan tanggal enam waktunya tengah malam buta, tempatnya lembah Yu beng kok, dipuncak Soat hong propinsi Ou-lam.

Suatu pertempuran berdarah yang sangat mengerikan telah berlangsung disana.

dua ratusan lembar jiwa manusia tewas secara mengerikan didalam pertempuran berdarah tersebut.

Lembah Yu beng kok penuh dengan noda darah, mayat bergeleparan dimana-mana, darah yang mengalir menganak sungai, pemandangan waktu itu mengerikan sekali.

Ketika itu tengah malam sudah lewat, waktu sudah mendekati kentongan keempat.

Ditengah lembah Yu beng kok tampak sesosok beyangan manusia meluncur datang dengan kecepatan bagaikan petir, dia adalah seorang pemuda yang tampan Ku See hong adanyal Rembulan yang berbentuk bulan sabit memancarkan sinarnya yang bening diamgkasa, Ku See hong hanya berdiri diluar lembah Yu beng kok, tak berani melangkah masuk ke lembah barang selangkahpun, karena dia tahu bahwa kedatangannya terlambat, pembantaian brutal telah berlangsung ditempat tersebut.

Angin dingin yang menggidikkan hati berhembus lewat, tiba-tiba Ku See hong mengendus bau amisnya darah yang amat tebal.

Kesemuanya itu sudah memberi kete-rangan yang amat jelas kepada Ku See hong, dalam sebuah Yu beng kok sudah penuh bergelepar mayat-mayat manusia dalam keadaan mengerikan.

Ku See hong dengan membawa perasaan hati yang berat pelan-pelan berjalan masuk kedalam lembah tersebut.

Apa yang kemudian terpapar dihadapan matanya adalah suatu pemandangan yang begitu kejam, begitu buas dan mendirikan bulu roma.

Darah mulai meleleh keluar dari balik mata Ku See hong, darah yang menggantikan air mata.

Dendam kesumat yang membara hatinya hampir saja membuatnya mata gelap.

Ia merasa amat sedih, amat menyesal .......

Disisi telinganya, dia seakan-akan mende-ngar pesan dari Biau ki siangsu In Han Im.

"Ku lote, segera berangkatlah ke lembah Yu beng kok di bukit Soat hong, kalau sampai terlambat, beratus lembar jiwa akan berakhir pula ditangan kaum laknat ....' Air mata berderai-derai membasahi pipinya, ia tak sanggup mengendalikan perasaan sedih didalam hatinya lagi, dia berpekik penuh kepedihan. ' Oooh paman In! Gara-gara Ku See hong kembali ada dua ratusan lembar jiwa manusia punah. Makilah aku! Dampratlah aku! Aku benar-benar berdosa, aku benar-benar telah melakukun suatu kesalahan besar!" . Ku See hong menyalahkan diri sendiri, malu kepada diri sendiri, dia merasa hatinya seolah-olah mengucurkan darah .... rasa menyesal menyelimuti seluruh perasaannya. Dia benci! Mendendam sampai merasuk ketulang .... Ban shia kau adalah pembunuh biadab, pembunuh kejam yang tidak berperi kemanusiaan. Kesedihan dan kepedihan yang meluap-luap akhirnya menggetarkan perasaannya tanpa sadar ia lantas mendongakkan kepala nya dan membawakan lagu Dendam sejagad. Bukit tinggi berhutan lebat disisi kuil... Suara nyanyian yang membetot sukma diimbangi dengan suara sedih dan duka yang membara, membawa suara tersebut mengalun sampai di tempat yang jauh sekali... jauh ke tengah awang-awang..Mendadak ..... Dari balik keheningan malam berkuman-dang datang suara petikan harpa yang nyaring dan membawakan lagu pedih. Irama harpa tersebut segera menyadarkan kembali Ku See hong dari kepedihan yang membara..Tapi, pada saat itu pula suara permainan harpa yang merdu pun secara tiba-tiba terhenti pula di tengah jalan. Mendadak..... ' Cri ng... cri ng...tingg... tti ing..."

Kembali bergema suara petikan harpa tersebut.

Serta merta Ku See hong menghimpun seluruh perhatiannya untuk mendengarkan dengan seksama.

Mula-mula irama harpa itu membawakan lagu yang rendah, berat dan sedih kemudian makin lama suaranya bertambah berat dan memedihkan hati, membuat siapapun yang mendengar irama tersebut segera merasakan sesuatu perasaan yang tak enak.

Ku See hong memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu memasang telinganya baik-baik mendengarkan permainan harpa tersebut, akhirnya selangkah demi selangkah dia dekati sumber dari suara itu.

Setelah diamatinya sekian lama, Ku See hong dapat menyimpulkan bahwa permainan harpa itu dipancarkan lewat suatu 474 kepandaian sim hoat tenaga dalam yang sangat lihay, sehingga irama yang dipancarkan oleh permainan harpa itu mendatangkan suara yang keras, nyaring, dan sangat berpengaruh bagi yang mendengarkan.

Ku See hong merasa walau irama harpa itu memedihkan, namun lagu yang dibawakan justru bagaikan rintihan seseorang, keluhan sedih dari seseorang ....

' Siapakah yang membawakan permainan harpa ini?, Ku See hong segera bergumam, Siapakah orang itu?

Mengapa dia dapat membawakan irama harpanya menjadi begitu sedih dan memedihkan hati.......?

Siapakah dia?

Siapakah dia?"

Perasaan ingin tahu membuat anak muda itu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat kedepan sana.

Ku See hong seringkali membawakan lagu Dendam sejagad dengan irama yang menyebar ke empat penjuru agar lawan-lawannya tak berhasil menemukan sumber suara tersebut, maka sekarang walaupun permainan irama harpa itupun memancar ke angkasa, tapi setelah didengarnya sejenak dengan seksama, ia segera mengetahui dari manakah sumber dari suara tersebut.

Waktu itu, tengah malam sudah semakin larut...

Rembulan masih memancarkan cahaya yang lembut menyinari seluruh puncak bukit Soat hong yang sepanjang tahun dilapisi salju.

Ku See hong berdiri tegak di tengah bukit sambil memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, dengan sorot matanya yang tajam.

Mendadak, pada saat itulah suara petikan harpa tersebut kembali berkumandang ...

'Cri ng...crring...

crring...' Iramanya masih tetap membawakan irama yang sedih, irama yang memedihkan hati.

Sekilas pendengaran nadanya seperti sedih....

seperti murung......

seperti merintih.....

seperti kagum.......

Seperti pula air sungai yang mengalir tenang dan musim semi telah menjelang tiba.

Irama lagu yang bercampur aduk, membuat orang sukar untuk menduga bagaimanakah perasaan yang diungkapkan keluar.

Irama lagu itu benar-benar sebuah irama lagu yang luar biasa, irama lagu-lagu yang serasa tiada keduanya di dunia ini.

oooo0dw0oooo BAB 22 BEGITU irama harpa tersebut berkumandang kembali, bagai seekor burung elang Ku See hong segera melayang ke depan dan meluncur ke atas sebuah puncak bukit yang indah.

Dalam sekejap mata, Ku See hong telah tiba diatas oucak bukit itu, ketika sorot matanya beralih dan memandang sekeliling tempat tersebut, tak tahan dia lantas menghela napas memuji.

"Aaai..! Benar-benar alam dewata yang sangat indah dan permai..."

Demikian ia bergumam. -ooo0dw0ooo-

Jilid 15 TERNYATA kurang lebih dua puluh kaki dihadapan Ku See hong, terbentang sebuah air terjun yang amat besar ....Kalau dibilang besar sekali memang tidak, tapi ukuran air terjun terhitung ukuran besar.

Airnya mengalir kebawah dari atas tebing yang terjal dan menghantam diatas batuan besar dibawahnya, butiran air memancar ke empat penjuru menciptakan selapis kabut air raksasa yang berbentuk bagaikan selapis cermin itu.

Air yang tertampung di bawah tebing membentuk dua buah jalur sungai dan mengalir turun kebawah permukaan puncak dalam dua arah yang berlawanan, suara air yang memercik, ditambah pepohonan siong yang tumbuh disebelah sana, membuat pemandangan alam disekeliling tempat itu terasa lebih indah dan permai.

Yang lebih indah lagi adalah terlihat seorang gadis berbaju putih yang berperawakan ramping, sedang duduk diatas batu ditepi air terjun sambil memetik senar-senar harpa.

' Cri ng...

cri ng.."

Irama harpa yang merdu memancar keluar dari balik harpa kuno itu.

Mendadak Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras, dia merasa bayangan punggung gadis itu sangat dikenal olehnya, mirip sekali dengan bayangan punggung Keng Cin sin yang telah tiada.

Walaupun gadis cantik berbaju putih itu duduk menghadap kearah air terjun itu namun bayangan punggungnya nampak begini ramping, begitu mungil, rambutnya terurai sebahu, tak usah dilihat paras mukanyapun dia sudah tahu kalau gadis tersebut adalah seorang gadis yang cantik jelita..

Pakaian putihnya berkibar terhembus angin, apalagi berada ditempat yang terpencil seperti ini, orang bisa salah menduganya sebagai bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Akan tetapi irama lagu yang dibawakan masih merupakan irama lagu yang sedih perih dan memikukan hati.

Memandang bayangan punggung gadis itu, tanpa terasa dalam benak Ku See hong muncul kembali bayangan tubuh dari Keng Cin sin serta peristiwa tragis yang pernah dialaminya.

Rasa sedih dan hati yang terluka parah dalam hati Ku See hong, dengan cepat terpengaruh oleh irama sedih dari irama harpa itu.

Lambat laun hatinya terasa seperti mengucurkan darah, air mata bercucuran membasahi pipinya, untuk sesaat dia berdiri termangu disitu, bagaikan sebuah patung arca.

Mendadak permainan harpa itu berhenti, tapi Ku See hong yang romantis masih berdiri melamun peristiwa paling tragis yang dialaminya dalam istana Huang mo kiong di Lam hay masih saja mencekam seluruh benaknya, seluruh pikiran maupun perasaannya seakan-akan telah balik keperistiwa lama.

Sementara itu gadis cantik bagaikan bidadari itupun masih duduk memeluk harpanya sambil mengawasi air terjun di hadapannya dengan pandangan termangu2 ia seperti merasakan sesuatu kepedihan yang amat sangat.

Tiba tiba ia menghela napas panjang.

Helaan napas tersebut kedengaran begitu merdu, begitu lembut, tapi amat nyaring.

Oleh suara helaan napas tersebut, Ku See hong merasakan darah panas dalam dadanya bergoncang keras.

bagaikan baru mendusin dari impian, buru-buru dia memusatkan kembali perhatiannya dan memandang lagi kearah gadis cautik itu.

Ternyata dia masih tetap duduk ditempat semula.

Setelah menghela napas panjang terdengar gadis itu mulai bersenandung lirih....

Nada yang sedih, bait-bait syair yang penuh sedu sedan membuat orang yang mendengarkan turut beriba hati.

Ketika gadis itu sedang bersenandung, bagaikan sesosok bayangan setan Ku See hong segera meluncur ke depan dan berhenti lebih kurang dua kaki dibelakang gadis tersebut.

Mendadak....

gadis itu bangkit berdiri lalu berpaling.

Aaaah, betapa cantik dan menariknya gadis itu...

Sewaktu Ku See hong dapat melihat jelas paras mukanya yang cantik itu, mendadak sekujur tubuhnya bergetar keras, bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi, paras mukanya berubah hebat, dia seperti merasa sangsi, keheranan, terkejut juga kegirangan.

Ia sangsi dan keheranan karena dia sebetulnya sukma gentayangan ataukah setan penasaran?

Dia terkejut dan gembira karena ia masih hidup, bahkan sekarang berdiri didepan mata.

Ternyata paras muka gadis itu begitu mirip dengan Keng Cin sin ....

Keng Cin sin yang telan mati dipulau Huan mo to di Laut selatan, segala sesuatunya begitu mirip, entah paras mukanya, matanya, bulu matanya, hidungnya maupun potongan badannya, tiada sebagian pun yang tidak mirip.

Benarkah dia adalah Keng Cin sin?

Benarkah dia belum mati?

Sebaliknya paras muka gadis itu sama sekali tidak diliputi oleh perasaan kaget atau keheranan, sepasang matanya yang penuh kemurungan sedang mengawasi wajah Ku See hong tanpa berkedip.

Gadis itu nampak begitu anggun, begitu menarik bagaikan sekuntum bunga teratai putih.

Sambil mengamati terus paras muka gadis itu, tiada hentinya Ku See hong menjerit dalam hatinya.

"Dia adalah Keng Cin sin, yaa dia sudah pasti adalah Keng Cin sin, dia belum mati, dia masih hidup segar bugar dihadapanku, coba lihatlah sepasang matanya, mimik wajahnya, inilah mimik wajah Keng Cin-sin ketika pertama kali kujumpai dirinya, tak mungkin bisa salah lagi, dia... dia adalah adik Sin yang kupikirkan, kurindukan siang dan malam... ."

Pelbagai pikiran terasa dia maju beberapa langkah ke depan, lalu berseru keras.

"Adik Sin, apakah kita sedang bermimpi? Adik Sin, tahukah kau betapa rindu ku kepadamu...."

Gadis cantik itu nampak keheran-heranan, seperti merasa bingung oleh seruan tersebut, sepasang matanya yang jeli memancarkan sinar keheranan, dia hanya mengawasi seluruh tubuh 479 Ku See hong tanpa berkedip, sementara mulutnya masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Kembali Ku See-hong maju beberapa lanngkah ke depan, kini jaraknja tinggal tiga depa dari gadis cantik berbaju putih itu, bahkan lamat-lamat dia dapat mendengus bau harum tubuhnya, bau harum seorang gadis perawan, bau harum sangat dikenal olehnya dan tak akan pernah dilupakan olehnya sepanjang masa.

Dengan suara lembut kembali, Ku See hong berkata.

"Adik Sin, senja itu aku sempat mendentgar jeritan ngerimu yang memilukan hati, hampir saja kukira kau sudah meninggalkan dunia ini dan selama hidup tak pernah bisa bersua lagi, waktu itu hatiku benar-benar hancur tak karuan.

Aku tidak menyangka kalau kau masih hidup di dunia ini, mengapa kau tidak datang mencariku....

mengapa kau tidak rindu kepadaku ......

Kesadaran Ku See-hong boleh dibilang sudah dipergaruhi oleh bayangan tubuh Keng Cin-sin, sampai mati dia menganggap gadis yang berada dihadapannya sekarang adalah Keng Cin-sin dari pulau Huah-mo-to di Lam hay, oleh karena itu tiada hentinya dia mengutarakan perasaan hatinya yang selama ini terpendam terus dalam benaknya....

Mendengar kata-kata cinta yang diutarakan si anak muda itu, Gadis berbaju putih tersebut segera berkerut kening, sedengkan paras mukanya juga tampak berubah makin kebingungan.

Ku See-hong makin gelisah ketika di lihatnya gadis itu tidak berbicara maupun bergerak, sekali lagi serunya.

"Adik Sin, mengapa kau tidak berbicara?

Tahukah kau betapa rinduku kepadamu, aku mendambakan sepatah katamu......

berbicara lah, janganlah membisu terus.....' Tiba-tiba gadis berbaju putih itu tersenyum, dengan suara yang merdu merayu katanya.

"Hei sebenarnya apa sih yang sedang kau bicarakan?"

Nada suaranya begitu mirip dengan suara Keng Cin sin, merdu dan indah didengar bagaikan kicauan burung nuri.

Kesemuanya ini membuat Ku See-hong semakin yakin kalau gadis yang berada dihadapannya adalah Keng Cin sin.

Dengan sangat gelisah bercampur cemas, pemuda itu segera berseru.

"Adik Sin, kau sudah tidak kenal diriku lagi? Aku adalah Ku See-hong, Ku See-hong yang telah ditangkap Sau-kiongcu dari pulau Huan-mo to di Lam-hay, akulah Ku See hong yang telah disiksa secara keji oleh Cia sau-kiongcu, kan....."

"Pulau Huan mo to di Lam hay?' gadis berbaju putih itu semakin kebingungan dan tidak habis mengerti, ''belum pernah kudengar nama pulau ini..' Ku See hong betul-betul merara amat sedih setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan suara yang memilukan hati.

"Adik Sin, apakah kau sedang mengajak ku bergurau? Aku adalah Ku See hong! Aku adalah Ku See hong yang sangat mencintai mu!"

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba gadis berbaju putih tersebut tertawa cekikikan.

"Hei, mungkin otakmu sudah sinting atau tidak waras? Kalau tidak, mengapa kau mengoceh sembarangan?"

Sekalipun sedang memaki Ku See hong, tapi suaranya kedengaran begitu lembut dan halus, sama sekali tidak menunjukkan sikap marah, malahan kecantikan wajahnya bertambah menarik dalam keadaan seperti ini!.

Ku See hong memang seorang pemuda yang berwajah dingin berhati kaku dan keji tanpa perasaan, tapi sesungguhnya dalam hati kecilnya tertanam perasaan yang amat kaya, begitu ia jatuh hati kepada seorang gadis maka sampai berapa ribu tahun lagipun rasa cintanya itu takkan pernah bisa berubah.

Dan hal ini merupakan suatu kelebihan yang dimiliki pemuda tersebut.

Sewaktu berada di pulau Huan mo to, rasa cintanya yang tertanam dalam-dalam dihati nya telah digali dan dikembangkan oleh kasih sayang Keng Cin sin, cinta yang mulai berkembang itu mulai membekas di dalam hatinya dam tak pernah berubah kembali.

Itulah sebabnya meski ia mendengar gadis itu mendampratnya, memakinya dan men-cemooh dirinya, namun ia tidak merasa gusar, juga tidak merasa tersinggurg, malahan dengan nada yang pedih ia berkata lagi.

' Adik Sin, dulu kau begitu cinta, begitu sayang kepadaku, sekalipun tubuhku harus hancur lebur perasaan kasih sayangmu itu tak akan pernah kulupakan, sekarang walau pun kau memakiku, memukulku, membunuh ku, aku tak akan pernah berkerut kening` Sebaliknya waktu itu gadis berbaju putih terlebih mengira Ku See hong adalah seorang yang sinting atau seorang hidung bangor yang bermaksud untuk menggaetnya dengan sengaja mengucapkan kata-kata bohong.

Tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat, selapis hawa napsu membunuh yang amat tebal segera menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara dingin ia berkata.

'Jika kau tidak segera pergi meninggalkan tempat ini, sebentar tubuhmu pasti akan hancur lebur menjadi bubuk "

Saat itu kesadaran Ku See hong boleh di bilang sudah hilang, dalam benaknya cuma ada bayangan tubuh dari Keng Cin sin saja.

Dia hanya tahu kalau gadis yang berada dihadapannya adalah kekasih hatinya, terhadap ancaman dari gadis itu, justru dia tidak menganggapnya sebagai suatu masalah gawat.

Sambil tertawa pedih kembali dia berkata.

"Adik Sin, kehidupanku hari ini adalah pemberian darimu, maka sekarang walaupun aku harus mati diujung telapak tanganmu, aku akan menerimanya dengan senang hati, sekalipun aku sudah mati, namun cinta kasihku kepadamu tak pernah akan berubah, tak akan berubah untuk selama-lamanya!' Aaaai..."

Cinta memang mempunyai kekuatan iblis yang mengerikan, walaupun setiap manusia tahu bahwa cinta berarti kuburan, neraka bagi manusia, tapi toh mereka akan mencobanya juga dengan mata terpejam, bahkan sekalipun nama harus rusak dan harus binasa, mereka tetap melakukannya tanpa ragu."

Tapi apa sebabnya?

Apa yang menjadi penyebabnya?

Karena napsu birahi?

Ataukah cinta yang murni?, Hingga kini belum ada orang yang bisa memberi jawaban yang pasti.

Dari dulu hingga sekarang, siapakah dalam masyarakat yang bisa melupakan cinta kasih?' jago darimanakah yang bisa menghindarkan diri dari godaan cinta.

Sepasang mata si nona cantik berbaju putih itu dari awal sampai akhir mengawasi terus mimik wajah Ku See hong sewaktu berbicara tanpa berkedip, tapi dia tidak berhasil menemukan setitik kelicikan atau kebusukan diatas wajahnya...` Tampaknya ia dibuat terharu juga oleh begitu dalamnya rasa cinta Ku See hong terhadap Keng Cin sin, tiba-tiba paras mukanya berubah kembali menjadi sedia kala, sambil menghela napas sedih ujarnya.

'Bukan aku yang hendak membunuhmu, melainkan orang lain yang hendak membunuhmu, sekarang lebih baik menyingkirlah dari sini, pergilah jauh-jauh meninggalkan tempat ini, kalau tidak, bila sampai terlambat maka kau tak akan sempat lagi untuk melarikan diri "

Tiba-tiba mencorong sinar api dendam yang membara dari balik mata Ku See hong, serunya dengan penuh kegusaran.

' Aku Ku See hong tak akan takut menghadapi kawanan manusia durjana dan manusia laknat dari Huan mo kiong, aku akan menggunakan segenap kemampuan dan jiwa ragaku untuk melindungi keselamatan jiwamu, aku tak akan membiarkan mereka melukai dirimu, walau hanya seujung rambutpun.

Adik Sin, minta kepadamu sudilah percaya kepadaku"

Mendengar perkataan itu, wajah nona berbaju putih yang selama ini selalu tenang pun menjadi beriak dan bergelombang oleh lemparan batu kecil dari Ku See hong itu.

Wajahnya memperlihatkan sinar mata penuh rasa kuatir, seperti juga perasaan kuatir yang dipancarkan dari mata Keng Cin sin ketika mencegah Ku See hong untuk memasuki istana Huan mo kiong.

Yaa, pancaran sinar mata itu begitu mirtip, segala sesuatunya bagaikan jelmaan dari Keng Cin sin, mungkinkah dia betul-betul adalah Keng C in sin asli?

"Siapakah yang dapat memberikan jawaban yang pasti atas teka-teki ini...

Kecuali pada saat ini muncul lagi seorang Keng Cin sin yang lain, tapi mungkinkah itu?

Serentetan pertanyaan ini sulit untuk dijawab, yang bisa dilakukan hanya menanti ....

menanti.

dan menanti terus ....

Dengan wajah penuh perasaan kuatir, nona berbaju putih itu berkata lagi dengan lirih.

"'Aaaai ... yang bermaksud untuk membunuhmu bukan orang-orang dari istana Huan mo kiong, melainkan adalah .....' Sesungguhnya gadis itu akan mengatakan yang sebenarnya, tapi suatu teguran yang muncul dari lubuk hatinya membuat ia segera membungkam diri dalam seribu bahasa. Sambil mengertak gigi menahan emosi Ku See hong berkata dengan penuh kebencian. ' Adik Sin, manusia laknat manapun yang berada dalam dunia ini tak nanti bisa mengusikmu, aku tidak takut mereka datang mencari gara-gara denganku, aku hendak punahkan mereka dari muka bumi, agar menerima pembalasan yang setimpal" . Mendadak paras muka gadis berbaju putih itu berubah hebat, bentaknya dengan suara keras.

"Kau harus segera pergi dari sini!

Sekarang juga harus pergi, kalau tidak jangan salahkan kalau akan bertindak keji kepadamu.' Selesai mengucapkan perkataan itu, tidak nampak gerakan apa yang digunakan tahu-tahu gadis berbaju putih itu sambil membopong harpanya sudah melayang maju sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Gerakan tubuh yang begitu indah dan lembut tersebut benar-benar amat memper-sonakan hati, tapi juga menunjukkan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan.

Terkesiap hati Ku See-hong setelah menyaksikan paras dingin dan penuh diliputi napsu membunuh yang menyelimuti wajah gadis ini, cepat-cepat pikirnya.

"Mungkinkah dia bukan Keng Cin-sin dari pulau Huan-mo-kiong di lautan selatan? Tidak, tidak, dia pasti adalah Keng C in sin ... mungkin saja ia sengaja berbuat demikian karena takut aku terpengaruh oleh cinta muda-mudi sehingga melupakan cita-cita ku yang sebenarnya atau mungkin ia benar-benar sudah berubah?"

Ia kemudian berpikir lebih jauh.

'Kalau didengar dari suara petikan harpanya begitu sedih, menyendiri dan menyedihkan hati, mungkin dia tak mau aku karena dalam hatinya terkandung suatu rahasia hati yang sukar diutarakan .......' Pelbagai ingatan dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya, sementara gadis berbaju putih itu sudah tiba disisi sungai kecii ditepi bukit.

Pemuda itu menjadi sangat gelisah, segera teriaknya keras-keras.

"Adik Sin, tunggu sebentar, ada persoalan penting yang hendak kusampaikan kepadamu, kau ....."

Nada ucapan penuh dengan kesedihan dan keperihan hati, sungguh membuat hati orang beriba.

Sambil berkata lagi, tiba-tiba Ku See hong melompat ke depan dan melayang ke belakang punggung si nona berbaju putih itu.

Dengan suatu gerakan cepat gadis berbajiu putih itu membalikkan badannya, lalu dengan kening berkerut dan hawa pembunuhan yang menyelimuti wajahnya, ia berkata dingin.

"Bila kau berani menyusulku lebih jauh, seketika juga akan kusuruh kau mampus diujung telapak tanganku"

"Adik Sin, malam ini kau bisa berubah menjadi begini rupa karena akulah yang telah mencelakaimu dosaku benar-benar sangat besar, sampai mati pun dosa ini sukar ditebus, kau ... ."

Seraya berkata dia lantas merentangkan tangannya lebar-lebar siap memeluk tubuh gadis itu..

Setelah menyaksikan perbuatan Ku See hong yang begitu kurang ajar, nona berbaju putih itu semakin menyangka kalau Ku See hong adalah seorang lelaki hidung bangor, napsu membunuhnya segera muncul kembali, sambil membentak keras dia mengigos kesamping menghindarkan diri dari terjangan Ku See hong.

Kesadaran Ku See hong waktu itu betul-betul sudah dipengaruhi oleh cinta buta, begitu tubrukannya kosong dengan cepat berkisar setengah lingkaran dan sekali lagi menubruk ke muka.

Ketika menghindarkan diri tadi, secara diam-diam gadis berbaju putih itu sudah menghimpun tenaga dalamnya kedalam lengan kiri, maka setelah dilihatnya Ku See hong menubruk datang sekali lagi, dia segera tertawa dingin dengan suara menggidikkan..Kali ini dia tidak berkelit ataupun menghindar, kelima jari tangan kanannya disentilkan ke depan ....

' Sreet, sreet, sreet.."

Lima gulung desingan angin jari tangan yang tajam dengan cepat dan dahsyat langsung menghajar jalan darah Yu bun, Ko kok, Sang ci, Mong gi, serta ki bun lima buah jalan darah penting.

Padahal waktu itu Ku See hong sedang menerjang datang dengan kecepatan luar biasa, lagipula dia tak menyangka kalau gadis itu bakal melancarkan serangan secara tiba-tiba, oleh karena 486 itu, diapun tidak mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi badan.

Tak ampun lagi ke lima buah serangan dahsyat itu segera menghajar telak diatas lima buah jalan darah penting ditubuhnya.

' Blaaamm ...

blaaammm !'' benturan keras segera bergema memecahkan keheningan.

Dengusan tertahan segera berkumandang di udara, darah segar menyembur keluar dari mulut Ku See hong, paras mukanya juga berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tak ampun dia mundur dua langkah ke belakang dan pelan-pelan roboh lemas diatas tanah..

Tapi, sianak muda itu masih sempat tersenyum, sambil menahan penderitaan dan rasa sakit yang mencekam dalam tubuhnya, ia berkata dengan suara pedih.

"Adik Sin, aku tidak menyalahkan kau yang telah melancarkan serangan keji kepadaku, karena cinta kasih yang kau berikan kepadaku lebih dalam daripada samudra, sekalipun badan harus hancur, akupun tak dapat membayar budi kebaikanmu itu. Sekarang sebelum ajalku tiba aku hendak mengutarakan isi hatiku, entah kau telah berubah menjadi bagaimana, aku tetap mencintaimu, sekarang aku telah mencintaimu, di alam bakapun aku tetap mencintaimu, aku..."

Berbicara sampai disini, pemuda itu muntah darah lagi, seluruh badannya mengejang keras dan kemudian tergelepar diatas tanah tak berkutik lagi..

Paras muka gadis berbaju putih itu tampak berubah hebat sesudah mendengar perka-taan itu, rasa sedih dan menyesal segera muncul dan menyelimuti hatinya.

Begitu Ku See hong roboh ke tanah, dia segera berpekik sedih, air matanya berderai, serunya dengan pedih.

"Ku sauhiap, aku yang salah, aku telah melakukan melakukan kesalahan, aku benar-benar berdosa kepadamu, juga berdosa kepada segenap umat persilatan di dunia ini, aaai... mengapa aku begini pikun? Mengapa aku melakukan perbuatan sebodoh ini?"

Suaranya amat sedih, menyesal dan penuh rasa penyesalan.

Inilah wataknya yang benar, sifatnya yang masih polos dan belum terpengaruh oleh kejahatan tapi toh dia sudah melakukan suatu kesalahan justru karena itu pula dia telah menciptakan suatu sejarah yang amat memilukan hati.

Di ringi pekikan sedih dan penyesalan, gadis berbaju putih itu tidak memperdulikan lagi noda darah ditubuh pemuda itu, dia segera menubruk kedalam pelukan Ku See-hong dan menangis tersedu-sedu.

Isak tangisnya benar-benar memilukan hati, kali ini bolen dibilang untuk pertama kalinya dia menangis dengan sedih.

Suara air terjun yang gemuruh seakan-akan tak dapat menghilangkan suara tangisan nya yang memedihkan hati, sekeliling tempat itu seolah-olah diliputi oleh suasana murung dan sedih...

Setelah menangis sekian waktu, akhirnya gadis berbaju putih itu memeluk tubuh Ku See hong dan pelan-pelan bangun berdiri dengan airmata membasahi pipinya, dia berkata sedih.

"Tanpa sebab tanpa musabab aku telah membunuhnya, aku telah melakukan kesalahan terhadapnya, aku hendak membopongnya, mencari suatu tempat yang berpemandangan indah, menangisi selama tiga hari, kemudian menguburnya, dan mendampingi terus disisi kuburannya. Aku tahu dia terlampau kesepian, seperti juga aku, seorang lemah yang ditinggalkan semua orang ...."

Setelah berbicara sampai disitu, hati keci nya seakan-akan tersentuh, air matanya segera jatuh berderai dengan derasnya, membasahi pipi Ku See hong yang pucat.

Sambil membopong jenajah Ku See hong, pelan-pelan dia berjalan menuruni bukit dengan menelusuri sungai Tiba-tiba....pada saat itulah dari seberang sungai kecil itu berkumandang suara pekikan aneh yang tinggi melengking dan menggidikkan hati.

Begitu mendengar suara pekikan tersebut sekilas rasa ngeri dan takut segera menyelimuti wajah si nona berbaju putih itu, sebenarnya dia hendak melemparkan jenasah Ku See -hong kesamping, akan tetapi ketika sepasang matanya menatap kembali paras mukanya yang pucat dan mengenaskan itu, suatu teguran yang muncul dari dasar hati kecilnya membuat ia mengurungkan niat tersebut.

Dengan cepat selapis hawa amarah menghiasi wajahnya, lengannya yang memeluk tubuh Ku See hong pun semakin kencang.

Baca Juga: Mayat Kesurupan Roh Khu Lung

Baca Juga: Beruang Salju 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert