Eps 4 Istana Hantu - Kim Tiaw
Baca online Istana Hantu - Kim Tiaw
Cersil Istana Hantu - Kim Tiaw.
sudah menerjang maju dan menggunakan pedangnya menusuk dada Tiang Le.
Akan tetapi pedang itu tiba-tiba tertahan oleh sebuah sabuk sutera merah, ternyata Bwe Lan sudah turun tangan menghadang si tosu.
dengan murid Bu-tek Sianli.
Pantas berani bertingkah dan sudah bosan hidup!
Kalau -pek-pay sampai keakar-yang mati di tangan Pendekar Lengan Buntung ini.
Sambil menjerit keras ia sudah menerjang maju dan menggunakan pedangnya, dahsyat menyambar tubuh Tiang Le.
Namun tamunya ini disambut oleh kakek bongkok A Toan, dan bersamaan dengan gebrakan Bu Ci Goat, ke duapuluh lebih orang-orang gagah dari Thay-san-pay, Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay ini sudah bergerak maju dan merangsek Tiang Le.
Pertempuran menjadi pecah beberapa bagian.
Tiang Le dikeroyok oleh Kun-lun Sam-lo-jin, sedangkan Bu Ci Goat dan Giam-ong Ma Ek merangsek Bwe Lan yang menahan gerakan mereka yang hendak mengeroyok Tiang Le.
Sudah barang tentu melihat nyonya ini yang dikenalnya sebagai murid Bu-tek Sianli membela suaminya.
Giam-ong Ma Ek dan Bu Ci Goat menjadi marah dan sengit, mereka merangsek Bwe Lan.
Namun nyonya ini pernah menjadi murid kesayangan Bu-tek Sianli, sudah barang tentu kepandaiannya sangat tinggi dan sabuk sutera yang dimainkannya sangat lihai dan dapat menandingi permainan pedang di tangan Bu Ci Goat dan Giam-ong Ma Ek.
Bersamaan dengan bergebraknya tamu-tamu yang mendaki Tiang-pek-san ini, murid-murid Tiang-pek-pay juga tidak tinggal diam.
Dan maju melayani murid-murid Thay-san-pay yang limabelas orang itu.
Perkelahian berlangsung di atas puncak Tiang-pek-pay.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu sesosok tubuh kecil langsing telah berkelebat dan menyerang Kun-lun Sam-lo-jin yang tengah mengeroyok Tiang Le.
Pukulan-pukulan tangan kiri gadis yang baru datang ini hebat bukan main, lebih ganas dari pada Tiang Le sendiri.
Memang karena Hong Kwi telah begitu marah melihat ayahnya dikeroyok bertiga oleh tosu-tosu Kun-lun-pay ini.
Datangnya puteri Pendekar Lengan Buntung ini, Kun-lun Sam-lo-jin menjadi terdesak.
Pada waktu itu, Hay San Taysu, si tosu tinggi besar yang memegang tongkat itu melayani gadis ini.
Alangkah terkejutnya hati tosu kedua dari Kun-lun Sam-lo-jin ini merasa ilmu silat gadis itu tidak di bawah kepandaian Tiang Le sendiri.
Tahulah ia bahwa gadis ini telah mewarisi ilmu kepandaian dari ayahnya yang berjulukan Pendekar Lengan Buntung yang hebat itu.
Akan tetapi Hong Kwi yang sudah dibikin marah hatinya, tak memberi kesempatan lagi kepada Hay San Taysu dan begitu tangan kirinya bergebrak menggunakan jurus-jurus Tok-pik-kun-hoat yang luar biasa itu.
Tiba-tiba entah bagaimana caranya tubuh tosu yang tinggi besar terpental ke belakang dan toyanya yang besar dan berat itu terlepas dari pegangan tangannya.
Ternyata gerak tangan kilat dari gadis ini telah berhasil menerobos dari pertahanan putaran toya lawan dan begitu terkena pukulan Hong Kwi, keruan saja tosu ini menjadi meringis-ringis menahan sakit pada perutnya yang telah kena sodok tangan kecil si gadis.
Saking sakit dan mulesnya dirasakan perutnya Hay San Taysu sampai mengeluarkan air mata!
duh yang bukan-bukan?
Biarlah menyerang.
Pada saat itu terdengar bentakan dari Tiang Le, -mengelak menghindarkan diri dari sabetan pedang Lung Nam Taysu.
Mendengar suara ayahnya, Hong Kwi melihat ke samping kiri.
Dilihatnya A Toan dan Lie Su Hian tengah dikeroyok oleh empat orang dari Thay-san-pay.
Sekali menggerakkan tubuhnya gadis itu telah berkelebat dan sekali tangannya bergerak, dua orang murid Thay-san-pay sudah terjengkang dan mengaduh-aduh karena tulang iganya telah terpukul tangan kiri gadis ini.
Sementara itu Bwe Lan yang menghadapi tokoh dari Bu-tong-pay dan Thay-san-pay sebentar saja ia sudah dapat mendesak Giam-ong Ma Ek.
Dan pada jurus kelimapuluh dua, sabuk suteranya telah berhasil membelit pedang lawan dan sekali menyentak, pedang di tangan Giam-ong Ma Ek telah terlepas dari pegangannya.
Belum lagi hilang kagetnya kedua tokoh Bu-tong-pay ini, tiba-tiba sabuk itu bagaikan ular hidup di tangan Bwe Lan meluncur cepat mengarah iga lawan.
Cepat Giam-ong Ma Ek membuang diri ke belakang dan menghindarkan totokan sabuk yang lihai itu.
Namun biarpun sudah demikian cepat ia membuang diri ke samping, tetap saja sabuk di tangan Bwe Lan sudah berhasil menotok pundak Giam-ong Ma Ek.
Sehingga tokoh Bu-tong-pay ini, roboh tanpa dapat menggerakkan tubuh lagi.
Bersamaan dengan itu, Bwe Lan yang sudah mempelajari ilmu gerak tangan kilat dari suaminya, telah berhasil memukul Bu Ci Goat hingga saking kerasnya benturan lengan ini, Bu Ci Goat tak kuasa lagi memegang pedangnya dan menjerit kesakitan karena lengannya dibakar oleh api yang sangat panas.
Pada saat itu, tiba-tiba dari arah gedung Tiang-pek-pay mengebul asap hitam membumbung tinggi.
Murid-murid Tiang-pek-pay yang melihat gedungnya terbakar, cepat mencelat dan berusaha mematikan api yang berkobar-kobar.
Akan tetapi begitu lima orang murid Tiang-pek-pay masuk ke dalam gedung yang bagian belakangnya sudah terbakar itu, tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan dan sesosok bayangan dengan amat cepatnya berkelebat lenyap.
Tiang Le cepat mengejar bayangan itu, akan tetapi ia sudah tidak keburu lagi.
Karena bayangan itu sudah lenyap dan tidak kelihatan lagi kemana larinya.
Pendekar ini menggeramkan giginya begitu melihat lima orang muridnya telah menggeletak di lantai dengan tubuh hangus terbakar dan ternyata telah mati dalam keadaan yang mengerikan.
Cepat-cepat ia keluar dan membentak keras.
Suaranya yang menggunakan khikang tingkat tinggi bergema, -lun-pay, Bu-tong-pay dan Thay-san-pay.
Bagus sekali perbuatan Para orang gagah dari ke tiga partai yang melihat kajadian ini menjadi heran bukan main.
Dari pihak mereka tidak ada yang begitu rendah untuk membakar rumah.
m -orangnya yang tengah sibuk memadamkan api.
persidangan partai-Tiang Le menjadi mendongkol bukan main.
Akan tetapi ia tidak menjadi gemas kepada orang-orang ini, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya menjadi korban, dari perbuatan orang jahat yang sengaja meminjam namanya dalam perbuatan jahatnya.
Ia sekarang malah ingin sekali tahu siapakah barusan yang telah membakar gedungnya.
Nyaris gedungnya lenyap ditelan api kalau tidak buru-buru muridnya memadamkan api itu.
yang tertuduh juga berhak untuk mengetahui siapakah antek-anteknya yang barusan hendak membakar gedungku dan me Giam-ong Ma Ek menghela napas dan mengelus-memang berbahaya sekali bagi orang yang masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, bathin belum kuat sehingga kepandaiannya hanya dipergunakan untuk melakukan perbuatan jahat dan menyombongkan dirinya.
-tong-pay itu tidak adil, baik kau dengarkan penuturanku.
Ketua kami dari Bu-tong-pay telah lenyap, murid-murid kami melihat sekelebatan bayangan yang menculik ketua kami adalah seorang lengan buntung.
yang mengenaskan di dalan hutan itu, di kaki gunung Lu-liang-san.
Bukti lain, ketua Kun-lun-pay dan Thay-san-pay juga telah binasa.
menyatakan betapa engkau begitu sombong, Sung Tiang Le.
Sekarang kami telah Tiang mengerutkan alisnya.
Benar-benar hebat.
Orang jahat yang sudah melakukan kejahatan-kejahatan ini sengaja memakai namanya dan mengadu domba, lagi mudah diduga bahwa orang itu tentu berilmu tinggi.
Kalau tidak, masakan ia dapat menculik ketua partai-partai besar demikian mudah.
Cuwi sekalian, dengarkanlah keteranganku.
Ini tentu ada orang jahat yang hendak mengadu domba.
Kalau memang cuwi percaya kepadaku berikanlah aku waktu untuk melakukan perbuatan yang cuwi tuduhkan kepadaku, namun karena orang jahat itu sengaja mencemarkan namaku dan partai Tiang-pek-pay, sudah barang tentu, aku tidak akan tinggal diam!
, bahwa aku Sung Tiang Le bersumpah untuk membantu cuwi memecahkan persoalan yang sengaja memang dilakukan oleh orang jahat untuk merusak namaku dan mengadu domba!
Aku Sung Tiang Le, akan menghadapi cuwi sekalian dan tidak mundur setapakpun.
-benar sombong sekali.
Apa kau kira aku tidak sanggup -san-pay dengan marah lalu melangkahkan kakinya maju, pedangnya dikelebatkan di depan muka Tiang Le, akan tetapi yang sungguh-sungguh menyerangnya adalah tangan kirinya mencengkeram ke pundak Pendekar Lengan Buntung itu.
Tiang Le tersenyum pahit.
Tidak menangkis atau mengelak, terdengar bunyi kain robek disusul oleh seruan kaget dari Bwe Lan yang siap hendak menerjang tokoh Thay-san-pay ini.
Namun belum lagi ia bergerak, Lung Nam Taysu mengangkat tangann}a memberi isyarat kepada Bu Ci Goat untuk tidak menyerang.
memusuhi Tiang-pek-pay, akan tetapi kau tadi sudah bersumpah untuk menyelidiki persoalan ini dan membongkar tentang pembunuhan atas ketua-ketua partai besar.
a Lung Nam Taysu tosu dari Kun-lun-pay yang cerdik ini.
Ia tahu bahwa pihaknya belum tentu dapat mengalahkan Sung Tiang Le dan anak isterinya yang lihai-lihai ini.
Maka ia mengambil siasat yang jitu.
Karena ia tahu kalau persoalan ini diambil dengan jalan kekerasan, belum tentu mereka dapat menawan Tiang Le, malah jangan-jangan dari pihaknyalah yang berjatuhan banyak korban.
Tadi mendengar Tiang Le bersumpah untuk menyelidiki perkara ini, ia lantas ber kata.
-partai besar ini dan membawanya -sama cuwi h tua di dalam hutan itu dan menyelidikinya.
Akan tetapi awaslah kau Tiang Le, kalau kau tidak berhasil membongkar tentang penculikan dan pembunuhan ini, kami tiga partai besar akan menyerbu Tiang-pek--ong Ma Ek.
Lan mempelototi matanya memandang tokoh Bu-tong-pay ini.
Menurut hatinya ingin sekali ia menggempur orang-orang ini, akan tetapi Tiang Le sudah berkata kepadanya, -moay, tenanglah.
Urusan ini sungguh sangat ruwet sekali.
Biar aku akan turun -koko, aku harus ikut, kalau kau kenapa-kenapa, tidak ada yang tahu.
Biarlah aku ikut bersamamu.
Biar Hong Kwi bersama A Toan dan Su Melihat betapa tak mungkin memang ia meninggalkan Bwe Lan, lalu Tiang Le Kemudian ia berkata kepada A Toan, -lopek, kau pimpinlah partai kita.
Sebelum aku kembali jangan turun gunung -cu, mudah-mudahan perkara ini boleh beres dan dapat segera an untuk berpelesiran, ada yang membentak adalah Bwe Lan.
Memang hanya dengan ibunya Hong Kwi merasa segan dan takut.
Maka dengan bersungut-sungut pergilah ia memasuki gedungnya.
Demikianlah, tiga hari Tiang Le dan Bwe Lan turun gunung, tahu-tahu Hong Kwi juga sudah turun gunung bersama Wang Ie dan mereka hanya menitipkan surat kepada A Toan dan Su Hian.
Sudah barang tentu, ke dua orang kakek ini hanya menghela napas berat saja karena mereka tidak dapat mencegah kepergian Hong Kwi.
Lagi mereka tak perlu berkuatir karena sesungguhnya kepandaian Hong Kwi jauh lebih tinggi dari pada mereka.
Karena Hong Kwi sudah mewarisi ilmu silat tinggi dari ayah bundanya!
Akan tetapi yang membuat mereka heran, mengapa Wang Ie juga turun gunung?
Untuk apakah anak itu.
Heran!
Memang sikap pemuda itu sangat aneh sekali, lebih-lebih pada akhir-akhir ini!
Demikianlah seperti yang telah diceritakan di bagian depan Wang Ie dan Hong Kwi bertemu dengan Nguyen Hoat, akhirnya Wang Ie mengambil jalan sendiri karena hatinya merasa tidak enak benar apabila mengenang sikap Hong Kwi dan Nguyen Hoat yang kelihatannya begitu akrab.
Dan, ini membuat ia merasa tidak senang melihat keakraban itu.
Entah kenapa!
ooOOoo Kurang lebih duapuluh lima orang yang terdiri dari orang-orang Kun-lun-pay, Thay-san-pay dan Bu-tong-pay telah sampai di sebuah rumah tua di tengah-tengah hutan kecil itu.
Tiang Le dan Bwe Lan harus mengakui bahwa rumah tua ini sangat menyeramkan sekali keadaannya.
Beramai-ramai mereka memasuki rumah tua yang amat menyeramkan itu.
Rumah itu bertingkat dua, di dalamnya penuh dengan kabang-kabang dan debu yang tebal di atas meja, menandakan sebuah rumah yang tidak lagi berpenghuni.
Sampai ke belakang-belakang rumah itu Tiang Le dan tokoh-tokoh partai persilatan lainnya menyelidiki keadaan rumah tua ini.
Di belakang rumah tua itu, terdapat sebuah telaga.
Sunyi sekali suasana di tempat ini.
Rumput-rumput dan alang-alang tumbuh tinggi dan pohon-pohon besar yang terdapat di situ penuh dengan kelalawar hitam, membuat keadaan di tempat itu sangat menyeramkan!
Air telaga yang sudah hampir mengering karena tidak turun-turun hujan, menampakkan dasarnya sudah penuh lumpur.
Di atas pohon yang rimbun daunnya itu banyak sekali terdapat sarang laba-laba, daun-daun kering beterbangan di tanah.
Sangat kotor sekali keadaan di tempat ini.
Tiang Le?
Lihatkah kau tadi rangka-rangka manusia yang berserakan di halaman gedung itu.
Ketua kami terdapat tergantung di Tiang Le dengan curiga.
Le?
Buat apa bersandiwara seperti ini?
Kau hendak menyelidiki apakah, rumah ini sudah Kemudian mereka berdiam diri di tempat itu.
Masing-masing menyelidiki keadaan rumah tua yang sangat menyeramkan ini.
Kun-lun Sam-lo-jin, tiga orang kakek Kun-lun-pay yang masih merasa penasaran memasuki lagi rumah tua itu dengan pedang di tangan.
Akan tetapi belum lama mereka masuk, tiba-tiba terdengar jeritan kematian mereka dari dalam rumah tua itu.
Mendengar ini Tiang Le dan Bwe Lan, disusul pula oleh banyak orang berkelebat masuk ke dalam.
Apa yang mereka lihat?
Sungguh membuat bulu roma berdiri.
Tiga orang kakek dari Kun-lun telah didapati mati dengan seluruh muka hitam dan hangus.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa keras mengakak sepe -ha-ha, bagus Sung Tiang Le telah berkunjung ke istana hantu.
Manusia she Sung lekas kau berlutut dan menghormat kepada Thay-Tiang Le dan orang-orang gagah yang lainnya menoleh ke belakang.
Alangkah kagetnya mereka ketika tiba-tiba tembok yang sebelah kiri itu bergetar hebat dan terbuka seperti pintu rahasia.
Tiba-tiba dari balik tembok yang penuh kabang-kabang itu muncul banyak orang yang keadaannya sangat menyeramkan!
asuk untuk berkunjung ke -riapan memegang tombak berkata mempersilahkan Tiang Le dan orang-orangnya untuk masuk.
Semua orang tua di situ saling pandang dengan heran.
Tiang Le tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Tentu orang-orang ini yang barusan membunuh Kun-lun Sam-lojin!
Akan tetapi mengapa begitu mendadak kejadiannya?
Siapakah orang yang di balik tembok itu?
-lun Sam-lo-memandang tajam orang yang berambut riap-riapan itu.
-bengcu Yang Mulia mengundang kalian untuk masuk ke Istana.
Siapa kami tentu saja pelayan-pelayan Istana Hantu.
Nah, Tiang Le memandang kepada Bwe Lan.
teriak Bu Ci Goat mengajak orang-orangnya untuk masuk ke ruang dalam.
Tokoh dari Thay-san-pay ini merasa curiga kepada orang-orang di dalam itu.
Jangan-jangan orang-orang inilah yang telah mencelakakan ketua mereka.
Siapa tahu, karena kalau diingat mereka mendapatkan mayat ketua mereka tergantung di depan rumah itu.
Karena merasa curiga dan penasaran, tokoh Thay-san-pay ini sengaja berjalan duluan.
Akan tetapi terlebih dahulu, Tiang Le telah mencelatnya dan mencegah tokoh Thay-san-pay ini bertindak.
-tayhiap, nanti dulu!
Urusan tentang kematian ketua kalian adalah urusanku, oleh sebab itu baiklah aku yang bertanggung jawab dalam hal ini.
Harap cuwi sekalian meninggalkan tempat ini dan kembali ke Kun-lun-san untuk mengabarkan kematian Kun-lun Sam-lo-dengan matanya.
Tentu saja Giam-ong Ma Ek yang cerdik dapat menangkap arti perkataan Pendekar Lengan Buntung ini dan lekas-lekas ia berkata, -demikian Giam-ong Ma Ek menarik tangan Bu Ci Goat dan memerintahkan kepada anak buahnya untuk keluar dari rumah tua ini.
Sedangkan Tiang Le dan Bwe Lan sudah mencelat maju masuk ke dalam balik tembok tua itu, yang bergeser kembali dan menutupi pintu rahasia itu.
Sampai di dalam ruangan itu, alangkah kagumnya hati Tiang Le dan Bwe Lan, ternyata mereka berada di sebuah ruangan yang sangat megah sekalian keadaannya diduga tentu inilah ruangan di bawah tanah dari rumah tua yang tadi mereka masuki.
Entah gedung apa ini namanya.
Tiba-tiba sebuah tembok di depan terbuka.
Nampak seorang pemuda tampan, berusia sekitar duapuluh lima tahun berdiri di atas singgasana sambil memegang sebuah tongkat yang berwarna hitam.
Orang muda itu, nampak sangat berwibawa sekali.
Di kiri kanan muda itu berdiri dua orang kakek yang rambutnya riap-riapan panjang sebatas paha, yang sebelah kiri si kakek mata satu.
Senjatanya terbuat dari tombak, dan seorang kakek lagi yang rambutnya juga riap-riapan menutupi mukanya, berlengan buntung.
Melihat kakek ini, berdebar dada Tiang Le.
Akan tetapi yang membuat ia terheran-heran ialah melihat betapa Bu-tek Sianli dan Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo, dan Nakayarinta juga sudah berada di tempat itu dengan sikap yang menghormat kepada orang muda ini.
Di antara mereka yang tidak berlutut hanyalah kakek Nakayarinta itu.
Tokoh ini datang dari India dan ia merasa, dirinya sendiri juga seorang raja, sedangkan di sebelah kiri orang muda yang berwajah agung dan angker itu nampak pula Kwan-tiong Tok-ong yang hanya memberi hormat seperti seorang beragama Budha memberi hormat, merangkap kedua tangan di depan dada sambil menjura, dan nampak ia berlutut dan duduk seperti orang bersila.
Orang muda itu adalah Thay-bengcu, duduk di atas kursi gading yang terbuat dari ukiran emas yang berkilauan dan indah sekali, pakaiannya juga mewah dan mentereng.
Tidak jauh dari dua orang kakek itu, terdapat enam orang gadis-gadis cantik menjaga segala keperluannya.
Akan tetapi yang membuat Tiang Le dan Bwe Lan kaget setengah mati melihat betapa gadis-gadis itu berdiri di samping kanan dan kiri orang muda itu tak bergerak, nampak wajahnya sayu dan kehilangan sinar kegembiraannya.
Agak jauh dari tempat duduk Thay-bengcu berbaris pengawal yang terdiri dari orang-orang muda yang juga berkeadaan seperti patung, ada kurang lebih limabelas orang.
Ada yang memegang tombak, toya dan golok ruyung dan penggada.
Sikap mereka angker sekali dan berdiri tegak dalam sikap menghormat dan takut.
Di bagian ruangan yang tampak dari sini nampak pula barisan-barisan pengawal yang terdiri dari kakek-kakek tua yang berpakaian tidak keruan.
Ada yang tambal-tambalan, ada yang bercelana pendek, akan tetapi mereka inipun berdiri dengan sikap yang menghormat.
Seorang dari barisan orang-orang muda yang duduk tidak jauh dari Thay-bengcu -bengcu yang mulia!
Sung Tiang Le dan isterinya dari Tiang-pek-s!
Hadapkan mereka kehadapanku, orang muda itu nampak puas sekali dan matanya memancar berseri-seri.
Tiang Le dan Bwe Lan maju ke depan.
Melihat keangkeran orang muda ini, hatinya menjadi terkejut sekali.
Ia memperhatikan tulisan yang bertulis di atas bangku singgasana yang diduduki orang muda itu berbunyi demikian, -sedangkan di sebelah kiri dan kanan masing-masing bertulisan dengan huruf-huruf emas yang indah kata-kata.
Begitu pandangan matanya terbentur dengan tatapan orang muda yang menamakan dirinya Thay-bengcu ini, Tiang Le dan Bwe Lan terkejut sekali.
Karena dari tatapan pemuda itu, sudah nampak mencerminkan tenaga khi-kang yang luar biasa!
Thay-bengcu memandang ke arah Bwe Lan dengan kening berkerut dan lalu ia menoleh ke kiri dan bertanya kepada Bu-tek Sianli dengan suara yang penuh wibawah.
-li-mengikut Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le, -tek Sianli dengan sikap menghormat.
Thay-bengcu menganggukkan kepalanya.
Dan kini menatap Sung Tiang Le.
Ia tersenyum mengejek waktu tatapannya bertemu dengan sinar mata pemuda itu.
Hantu dan berada di bawah kekuasaan Thay-bengcu Yang Mulia.
Lekas kau berlutut dan mengakui dosa-Nakayarinta si kakek muka hitam menggerak-gerakan tongkatnya memandang Tiang Le dan Bwe Lan berganti-ganti.
idak mengerti apakah artinya persidangan ini dan tidak tahu pula mengapa aku di suruh menghadap.
Juga aku belum tahu Tiba-tiba Bu-telah mengobrak abrik Sian-li-pay dan membawa lari muridku, apakah kau hendak menyangkal dihadapan Thay--tek Sianli, apa maksudmu?
Siapa Thay--bengcu adalah pemimpin besar kami dalam dunia persilatan, hay ular cobranya dan menekan pundak Tiang Le untuk berlutut.
Pemuda ini mengibaskan tangannya ke arah tongkat sambil berkata.
Baik Tiang Le maupun Nakayarinta, pemegang tongkat itu menjadi terkejut akan akibat pertemuan tongkat dengan tangan.
Tiang Le merasa tangannya bergetar, demikian besar tenaga lwekang yang disalurkan dalam tongkat tadi.
Akan tetapi sebaliknya pendeta dari Anapurna ini menjadi terkejut sekali karena tongkatnya telah terpental mundur setelah kena dikibas oleh tangan Tiang Le.
Kemudian Pendeta ini maklum bahwa di dunia kang-ouw jarang ada orang yang kuat menangkis tongkatnya hanya dengan kibasan tangan belaka, maka tidak anehlah ia terheran-heran melihat tongkatnya ditangkis oleh tangan kiri Pendekar Lengan Buntung ini yang masih begini muda usianya.
Namun ia menjadi penasaran dan malu maka tanpa banyak cakap ia lalu menyerang Tiang Le dengan tongkat hitamnya!
Tiang Le menjadi sibuk sekali.
Dari angin pukulan tongkat, tahulah ia bahwa ia menghadapi seorang yang berilmu tinggi.
Melihat bahwa kakek tua hitam bongkok ini sudah melancarkan serangan bertubi-tubi dan lagi ia melihat betapa Bu-tek Sianli dan Te Thian Lomo sudah bangkit berdiri siap untuk mengeroyoknya, diam-diam Pendekar ini sangat kuatir sekali akan keselamatan isterinya, menghadapi seorang kakek Nakayarinta saja sudah demikian hebatnya, apalagi bila orang-orang ini turun tangan, akan celaka dia!
yang amat lihai itu.
menyambarnya pedang yang berkelebat menusuk leher Tiang Le.
Yang menyerang ini adalah Bu-tek Sianli.
Kini Tiang Le mengeluh benar.
Apalagi ketika ia mendengar bentakan Bwe Lan yang sudah mengeluarkan senjata pula melawan Te Thian Lomo dan Thay-lek-hui-mo.
Kini baru menghadapi seorang kakek muka hitam saja ia sudah dibuat sibuk dan merupakan lawan yang cukup berat.
Tiba-tiba baru saja ia bendak bergebrak dengan jurus-jurus Tok-pik-kun-hoat, terdengar suara tepukan tangan tiga kali dan tahu-tahu para penyerangnya sudah mengundurkan diri ke tempat masing-masing.
Tiang Le dan Bwe Lan saling berhadapan dengan senjata di tangan memandang ke arah orang muda yang disebut Thay-bengcu itu.
itulah yang merupakan kegemaranku untuk bersekutu dengan para orang gagah di dunia ini.
Kau adalah tamuku, akan tetapi juga setelah masuk ke Istana Hantu, kalian -bengcu.
locianpwe di sini hendak menangkap kami.
Padahal kami tidak pernah mempunyai permusuhan apa-apa dengan para cianpwe di sini, sehingga kami berkehendak datang kehadapan cianpwe.
berlaku kurang adil dan tidak tahu kesopanan, menyerang seorang tamu yang telah datang menghadap dengan baik--baik.
Nah, sebagai seorang tamuku yang baik, mari kupersilahkan kau duduk dan terimalah Orang muda yang dipanggil Thay-bengcu tersenyum memperlihatkan sederetan gigi yang putih bersih teratur.
Dalam bersenyum seperti itu, kagum juga hati Tiang Le dan Bwe Lan melihat ketampanan pemuda ini.
Entah siapa orang muda tampan ini sehingga dalam usia yang masih amat muda itu, kelihatannya sangat disegani oleh orang-orang gagah di tempat ini.
Tiang Le mengangkat tangannya di depan dada seperti orang memberi hormat dan berkata, apakah kiranya Belum lagi Thay-bengcu menjawab, tiba-tiba Nakayarinta maju ke depan dan hendak mencengkeram pundak Tiang Le.
Pemuda itu cepat menggeser kakinya dan mengelak.
Nakayarinta membentak keras.
pat ini adalah untuk membuat pengakuan bahwa kau kini berada di tangan Thay---bengcu adalah pemimpin besar kami dalam partai persilatan.
Di dalam urusan dunia kang-ouw, Thay-bengcu yang mengatur dan mengepalai seluruh orang-orang gagah di seluruh Tiongkok.
Dan ia mempunyai wewenang yang tinggi dan segala perintahnya tidak boleh diganggu gugat.
-bengcu, tokoh di daerah Utara dan Selatan sudah setuju tentang pengangkatan ini.
Tinggal para ciangbunjin dari partai-partai besar saja yang harus mengesahkan.
Sengaja kami mengundang kemari, untuk mensahkan Thay-Tiang Le melirik ke arah orang muda yang disebut beng-cu oleh meceka.
Ia mempunyai pandangan tajam dapat menduga bahwa orang muda yang menjadi Thay-bengcu itu tentulah seorang pemuda sangat tinggi ilmu silatnya.
Dari pandangan mata yang penuh hawa sin-kang itu saja sudah menandakan bahwa orang ini mempunyai kepandaian tinggi.
Kalau tidak masakan Bu-tek Sianli, Nakayarinta dan lain-lainnya takluk kepada orang muda, ini hebat!
Kalau Bwe Lan tidak pernah tertarik akan urusan ini, adalah Tiang Le.
Sungguh sebuah persoalan yang luar biasa sekali.
Ia mengenal siapa-siapa berada di Istana Hantu ini.
Dari Bu-tek Sianli saja dapat dibuktikan betapa pihak ini adalah sudah menempuh jalan hitam yang telah terkenal dengan segala kejahatannya.
Akan tetapi karena orang macam Bu-tek Sianli ini selalu tidak puas akan hidupnya, maka sejak partai Sian-li-pay yang dipimpinnya ambruk oleh sebab tindakan Pendekar Lengan Buntung Sung Tiang Le maka ia lalu bersekutu dengan orang-orang segolongan dengannya, seperti Nakayarinta, Te Thian Lomo, Thay-lek Hui-mo dan keluarga Kwan-tiong Tok-ong.
Dan juga karena munculnya seorang pemuda lihai menamakan dirinya Thay-bengcu dan sebagai pay-cu Istana Hantu, maka orang-orang semacam Bu-tek Sianli ini terus saja menggabungkan diri.
Sehingga kumpulan kaum hek-to ini semakin kuat saja, dan mereka ini dengan berbagai cara sudah menaklukan orang-orang gagah untuk masuk sekutunya.
Hanya beberapa partai besar saja, seperti Kun-lun-pay, Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay belum mengakui berdirinya Istana Hantu ini dan diam-diam mereka menentangnya dan tidak sudi bersekutu dengan orang-orang Istana Hantu.
Sesungguhnya tujuan pergerakan Istana Hantu ini, bukan saja hendak menaklukan orang-orang gagah di seluruh daratan Tiongkok, melainkan juga mempunyai maksud yang di luar dugaan Pemerintah Mongol.
Diam-diam Thay-bengcu itu menyusun kekuatan dan suatu ketika kelak, apabila kaum dunia persilatan ini sudah berada di bawah kekuasaannya, baginya betapa mudahnya meruntuhkan kerajaan Cin yang dibawah kekuasaan bangsa Mongol itu.
Oleh sebab itulah, sengaja memang Thay-bengcu ini memanggil semua orang-orang gagah dan menaklukannya, tak terkecuali Pendekar Lengan Buntung sekalipun.
-bengcu ini mendengar akan kehebatan ilmu silatmu, maka ia hendak mengulurkan kerja sama yang baik dan persahabatan yang erat untuk kepentingan kang-ouw dan mengusir penjajah tanah air kita.
Jikalau kau telah masuk ke dalam sekutu kami mudah saja untuk bersahabat dengan partai-partai besar dingin, ia dapat meraba ke mana tujuan pembicaraan Nakayarinta tadi.
Ia hendak diperalat untuk menghubungi tokoh-tokoh partai persilatan.
Gila!
Kalau orang-orang ini sudah menguasai seluruh orang-orang gagah di kolong langit ini.
Betapa akan berbahaya sekali dan ketentraman dunia tidak akan dapat dipertanggung jawabkan.
Apalagi cita-cita orang Istana Hantu ini hendak menumbangkan pemerintahan Cin, alangkah berbahayanya!
Karena urusanku tentang politik yang menjadi tujuan kalian, bukanlah urusanku dan kami pihak Tiang-pek-pay tidak ingin turut campur.
Akan tetapi satu hal yang sengaja memang kami datang ke tempat ini hendak bertanya, -lun-pay, Bu-tong-Berkata demikian, Tiang Le memandang tajam ke arah seorang kakek yang rambutnya riap-riapan menutupi mukanya sehingga wajah itu tidak terlihat dengan jelas akan tetapi lengan yang buntung sebatas pundak itu, membuat Tiang Le dan Bwe Lan menjadi curiga dan memandangnya dengan tajam.
Tiba-tiba kakek yang dicurigainya itu tertawa bergelak-gelak dan sepasang matanya yang tajam seperti matahari mau menyapu pandangan Tiang Le dan Bwe Lan, suaranya yang serak terdengar bergelombang.
-ha-ha Sung Tiang Le.
Rupanya itu maksud kedatanganmu ke tempat ini?
Aku yang berbuat memang, aku yang bertanggung jawab.
Betul, aku yang menculik ketua-ketua partai Bu-tong-pay, Thay-san-pay dan Kun-lun-pay, karena mereka itu manusia-manusia sombong yang tidak mau bersekutu dengan kami.
-kawannya itu, nasibmu akan seperti mereka.
Kau akan kami gantung di depan rumah tua itu dan sengaja menjadi umpan binatang buas!
dapat keluar dari Istana Hantu dalam keadaan bernyawa, dan orang-orangmu di Tiang-pek-Akan tetapi makian Tiang Le ini disambut oleh suara ketawa dari Thay-bengcu.
Suara ketawanya halus dan merdu seperti suara wanita saja, membuat Tiang Le dan Bwe Lan menoleh dan memandang marah kepada orang itu.
k Cu, kau layanilah manusia lengan buntung itu.
Ingin kusaksikan sampai di mana kehebatannya seperti yang diceritakan oleh Bu-tek Sianli dan Melihat Tiang Le hendak bertempur dengan kakek lengan buntung yang rambut nya riap-riapan ini, Bwe Lan mengeluarkan sabuk sutera merahnya dan siap hendak menerjang si kakek, namun suara Bu-tek Sianli terdengar bergema di ruangan itu a perdulinya -ha-ha!
Bu--bengcu tertawa memperlihatkan giginya yang putih rapih.
Bu-tek Sianli buru-buru berlutut dan menganggukkan kepalanya.
ngat hubungan hamba dengan bekas murid -pik-kiam--bengcu ini biarpun terdengar nyaring dan bersih seperti suara wanita, akan tetapi sangat berwibawa dan merupakan ultimatum yang harus dipatuhi oleh orang-orang Istana Hantu ini.
Bong Kek Cu sendiri berlutut dan menghampiri Tiang Le.
Tahu bahwa kakek buntung inilah yang telah menodai namanya, maka tanpa banyak cakap lagi, Tiang Le telah mengerakkan tubuhnya.
Dan tanpa dapat diduga oleh Bong Kek Cu, lebih dulu ia mengirim pukulan ke arah pundak kakek buntung ini.
Kakek yang pernah mendengar akan kehebatan si Pendekar Lengan Buntung ini, tentu saja cepat mengelak ke kiri dan membalas menangkis dengan tangan kanannya dengan sekuat tenaga.
Biarpun Bong Kek Cu mengerahkan tenaga Tin-yo-kang dalam tangkisannya ini, namun tetap saja ia terhuyung beberapa langkah ketika hawa pukulan Tiang Le mendorongnya.
Ia benar-benar merasa heran sekali, juga terkejut karena secara aneh sekali pemuda lengan buntung itu kembali telah menyerangnya.
-tek Sianli yang merasa panas sekali hatinya telah membentak dari samping dan sinar hitam yang menyilaukan mata meluncur ke arah punggung Tiang Le dari belakang.
Tiang Le terpaksa menarik kembali serangannya terhadap Bong Kek Cu dan membalikkan tubuh.
Ia melihat serangan tongkat nenek Bu-tek Sianli hebat juga sedangkan tongkat hitam itu sendiri membikin ia agak jeri.
Tiang Le maklum bahwa tongkat yang di tangan Bu-tek Sianli itu bukanlah sembarang tongkat biasa melainkan sebuah tongkat hitam berisikan sebuah pedang pusaka yang ampuh.
Pedang Pek-liong-pokiam yang ampuh sekali dan tak boleh dibuat main-main.
Datangnya serangan tongkat hitam si nenek ini iapun mengelak ke kiri dan melangkah mundur.
Bu-tek Sianli mendesak, sedangkan Bong Kek Cu juga mengirimkan pukulan Tin-yo-kang dari samping bertubi-tubi.
Serangan ini sebenarnya tidak membingungkan hati Tiang Le, akan tetapi yang membikin ia gugup dan berkawatir sekali adalah begitu didengarnya Bwe Lan juga sudah bergebrak menyerang Bu-tek Sianli.
Kini melihat betapa isterinya sudah mulai bertempur, Tiang Le bersilat mendekati, ia bersiap-siap untuk menolong isterinya akan tetapi tentunya kalau hanya melayani Bu-tek Sianli, Bwe Lan memang sudah dapat menandingi Nenek ini.
Bukan saja karena memang kepandaiannya itu bersumber dari ilmu silat bekas gurunya ini, namun juga selama ini Bwe Lan sudah melatih diri dengan ilmu silat Tiang Le yang bernama Tok-pik-kun-hoat sehingga walaupun tidak selihai waktu dimainkan oleh Tiang Le, namun nyonya ini cukup membuat nenek Bu-tek Sianli menjadi terkejut dan heran!
EMENTARA itu Thay-bengcu yang duduk di singgasana kursi kebesaran itu sampai berdiri melihat Tiang Le dan Bwe Lan bersilat.
Ia benar-benar terkejut dan heran menyaksikan betapa Pendekar Lengan Buntung itu dapat menandingi Bong Kek Cu dan Nakayarinta yang terkenal dengan tokoh-tokoh kelas berat.
Sampai hampir limapuluh jurus itu ia melihat betapa Bong Kek Cu dan Nakayarinta belum dapat mengalahkan Tiang Le.
Pemuda yang menamakan dirinya Thay-bengcu ini berseri-seri wajahnya menyaksikan jalannya pertempuran yang luar biasa ini.
Para pengawal yang tadinya berdiri tegak dan gagah di kiri kanan Thay-bengcu, segera bergerak dan mengurung tempat itu.
Dan merupakan pagar hidup yang kokoh kuat setiap waktu akan bergebrak turun mengeroyok Pendekar Lengan Buntung yang mengagumkan ini.
Sedangkan isteri Pendekar Lengan Buntung yang gagah ini nampak bersilat memainkan sabuk suteranya didesak oleh Bu-tek Sianli dan dua orang kakek yang telah turun gelanggang atas perintah Thay-bengcu.
Dua orang kakek yang mengeroyok Bwe Lan adalah Thian-beng Sin-kun dan seorang kawannya, yakni seorang tosu (pendeta menganut agama To) yang berambut panjang bernama Pok Siok Say-ong.
Tosu ini adalah seorang pendeta perantau dari pegunungan Go-bi-san dan ilmu silatnya juga berdasarkan ilmu silat Go-bi-pay, hanya sudah banyak berubah karena dia sesungguhnya bukanlah murid asli dari Go-bi-pay.
Pok Siok Say-ong adalah seorang tokoh dari Go-bi-pay yang telah terjun ke dunia hitam dan menganut agama sesat, yang bernama agama Ngo-kauw, (lima kepercayaan).
Dua orang kakek ini Thian-beng Sin-kun dan Pok Siok Say-ong terkenal sekali akan ilmu pedang dan tongkat, mereka bergebrak maju mendesak Bwe Lan membantu Bu-tek Sianli.
Namun Liang Bwe Lan adalah isteri Pendekar Besar Sung Tiang Le yang terkenal akan ilmu silatnya yag bernama Tok-pik-kun-hoat dan Gerak Tangan Kilat yang luar biasa.
Meskipun ia belum memahami seratus persen akan tetapi baru tiga bagian saja, hebatnya bukan main!
Jilid 9 Sehingga Bu-tek Sianli menjadi penasaran dan marah, bercampur malu karena sampai hampir limapuluh jurus lebih ini ia belum mampu merobohkan bekas muridnya ini, terlalu!
Biarpun dikeroyok oleh tiga orang yang mempunyai kepandaian tingkat tinggi ini, Bwe Lan tidak merasa gentar sedikitpun.
Ia mainkan sabuk suteranya laksana ular merah yang gesit dan lincah.
Kadang-kadang yang membuat ketiga lawannya ini keder dan ngeri adalah gebrakan-gebrakan tangan kiri nyonya ini yang luar biasa sekali dahsyatnya membuat tongkat hitam di tangan Bu-tek Sianli tergetar hebat apabila terserempet angin pukulan tangan kiri bekas muridnya.
Malah dalam tujuhpuluh jurus itu, Pok Siok Say-ong yang memandang ringan akan gerakan tangan kilat lawannya, membuat pendeta ini bergerak agak lambat dan pada saat itu pula sebuah sodokan tangan kiri Bwe Lan yang dimiringkan bergerak cepat menyambar lambung si pendeta.
Keruan saja menyaksikan kecepatan tangan ini, Pok Siok Say-ong terkejut sekali dan karena tidak dapat menghindarkan diri lagi, terpaksa ia mengangkat tangan kirinya menangkis.
-ong terpelanting ke belakang, pada saat itu sebuah sabuk sutera merah menyambar dengan dahsyatnya.
-ong, keruan saja pendeta ini mengeluarkan keringat dingin dan terasa napasnya sesak, gerakan semakin lambat.
terjengkang ke belakang dan muntahkan darah segar.
Pada saat itu Bwe Lan menggerakkan sabuknya hendak menghabisi nyawa si pertapa sesat ini, namun sebuah gerakan yang halus dan bau anyir telah menyegat hidungnya.
Tahu-tahu Kwan-tiong Tok-ong telah mempergunakan senjatanya yang dinamakan Cap-tok-mo-jiauw (Sepuluh cakar setan beracun) dan telah mulai menyerangnya!
Melihat munculnya Kwan-tiong Tok-ong ini, Tiang Le yang pernah merasai kelihaian si Raja Racun keruan saja memberi peringatan kepada isterinya sambil bergebrak menggunakan gerak tangan kilat menghantam dada Nakayarinta.
-moay, hati-Tentu saja biarpun tidak diperingatkan oleh suaminya, Bwe Lan telah dapat menduga akan senjata yang aaeh ini.
Dan buru-buru ia masukkan pil merah ke mulutnya untuk menghindarkan rasa amis dan muak dari sepasang senjata tangan yang berbau amis bukan main itu.
Datangnya Kwan-tiong Tok-ong ini Bwa Lan mempercepat gerakannya.
Sekarang ia mainkan sabuk sutera dan tok-pik-kiam-hoat pada tangan kirinya yang kadang-kadang bagaikan geledek menyambar tangannya bergerak menggunakan jurus-jurus ilmu silat yang maha dahsyat!
Sebagai ahli silat kelas tinggi, mencium bau yang keluar dari sepasang cakar setan itu maklumlah nyonya ini bahwa ia menghadapi senjata beracun yang berbahaya dan hebat.
Pula dilihat dari cara bersilat si Raja Racun ini diam-diam Bwe Lan mengeluh.
Tak disangkanya sama sekali bahwa kedatangannya ke tempat ini justru mencari kayu penggebuk dan mencari kematian sendiri.
Siapa sangka justru di tempat ini muncul tokoh-tokoh kaum hek-to yang benar-benar bagaikan iblis-iblis bermunculan di siang hari.
Kini menghadapi Bu-tek Sianli, Thian Beng Sin-kun dan Kwan-tiong Tok-ong.
Bwe Lan sibuk sekali.
Dari angin pukulan tangan cakar setan itu saja, tahulah ia bahwa ia menghadapi seorang yang berilmu tinggi.
Akan tetapi melihat betapa kedudukkannya sekarang ini amat terjepit dan sukar untuk meloloskan diri, Bwe Lan bersilat dan mengamuk hebat!
Sementara itu Tiang Le didesak hebat oleh Nakayarinta, Bong Kek Cu dan Te Thian Lomo dan Thay-lek-hui-mo yang sudah mengurung pula, membuat ia benar-benar menjadi sasaran sibuk dan terdesak mundur.
Betapapun saktinya Sung Tiang Le, kini di keroyok oleh tokoh-tokoh hitam tingkat tinggi membuat ia sukar untuk bergerak banyak.
Apalagi menghadapi tongkat di tangan pendeta dari Anapurna yang hebatnya bukan main ini membuat ia menjadi kewalahan.
Dan hampir saja pundaknya terserempet tongkat di tangan Te Thian Lomo kalau saja ia tidak buru-buru mengelak dan membalas dengan pukulan gerak tangan kilat yang luar biasa dahsyatnya.
Menghadapi pukulan yang merupakan kilat menyambar ini, tak keburu bagi Te Thian Lomo untuk menangkis.
Keruan saja lambungnya telah terhantam angin pukulan tangan kiri Tiang Le yang dahsyat.
-layang putus talinya, tubuh Te Thian Lomo terpental jatuh ke dekat Thay-bengcu.
Tiang Le yang merasa penasaran dan masih sakit hati oleh musuh besarnya ini, bergerak cepat berkelebat menyusul tubuh Te Thian Lomo mengirim pukulan maut untuk yang kedua kalinya.
yang bernama Thay-bengcu itu yang telah mencelat dan menangkis pukulan Tiang Le.
Tiang Le terkejut bukan main, tiga pukulan mautnya hanya dapat ditangkis dengan tangan kiri dan tidak menimbulkan reaksi, malah dari telapak tangan yang kecil halus itu ia merasa menghantam benda yang lunak dan dingin sehingga tiga pukulannya amblas ke dasar lautan yang dalam.
Dan sikutnya terasa kesemutan.
Tahulah Tiang Le bahwa orang muda ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian sin-kang luar biasa.
Begitu ia menoleh, pemuda tampan tersenyum mengejek dan berkata sambil duduk kembali di bangku kebesarannya.
Tiang Le merasa penasaran dan mendongkol bukan main.
Begitu datangnya dua serangan dari Nakayarinta dan Te Thian Lomo, ia menggunakan langkah ajaib dan meloloskan diri dari kepungan lawan, langsung tubuhnya terbang menyambar pemuda mengirim pukulan dari atas dengan telapak tangan terbuka.
Akan tetapi sungguh mengagumkan sekali.
Begitu melihat datangnya serangan dahsyat ini, pemuda tampan yang menamakan dirinya Thay-bengcu itu malah masih tenang-tenang saja dan mengangkat tongkatnya ke atas menggoyangkan setengah berputar.
biasa sehingga Tiang Le merasa dari putaran tongkat itu keluar hawa dingin yang luar biasa.
Cepat ia menarik kembali tangan kirinya dan menggerakkan kedua kakinya menendang dalam posisi di atas.
-bengcu.
Sungguh hebat sekali tendangan ini, angin pukulan kedua kakinya saja membuat para siuli di depannya mengangkat kedua tangan menangkis.
Dan merasakan sebuah gelombang dahsyat yang menyambar, keruan saja siuli-siuli di dekat Thay-bengcu mengundurkan diri dan telah mencabut sepasang siang-kiamnya, siap menempur Tiang Le.
g, jangan kurang ajar terhadap Thay-bengcu, lekas gerakannya luar biasa cepatnya.
Bayangan-bayangan orang ini terus menyerbu Tiang Le dengan gerakan-gerakan yang dahsyat.
Tiga orang kakek rambut riap-riapan dan yang berpakaian seperti pengemis menggunakan sepasang tangannya mendorong ke arah kepala Tiang Le, sedangkan ke dua orang kakek itu adalah pemegang golok dan jepitan dapur yang telah kita kenal bernama A Kay dan A Yong.
Jepitan yang panjang dan berkarat itu hebat sekali sehingga mengeluarkan suara menciut, dan menjerit waktu jepitan itu dirapatkan menggunting.
Namun Tiang Le dengan segera telah mainkan langkah-langkah ajaib sehingga walaupun ia terkurung rapat, ia masih dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan lawan!
Akan tetapi, biarpun ia sudah bergerak cepat, tetap saja sebuah pukulan jarak jauh yang dilancarkan oleh dua orang kakek itu, meyentuh pundaknya sehingga ia terhuyung-huyung dua langkah.
terdengar Nakayarinta memberi peringatan menggunakan tongkat ular cobranya mendesak.
Thay-bengcu mencoba membujuk karena ia merasa kagum akan sepak terjang Pendekar Lengan Buntung ini dan merasa sayang kalau orang yang begini sakti dan hebat akan binasa di tangan para sekutunya.
Lagi, biarpun orang itu berlengan buntung, namun tak dapat disangkal bahwa Sung Tiang Le mempunyai wajah yang cukup menarik dan tampan.
Oleh sebab itulah Thay-bengcu selalu memperhatikan keadaan Tiang Le.
Akan tetapi mendengar seruan-seruan lawannya yang menyuruh ia berlutut dan masuk ke dalam sekutunya, Tiang Le menjadi sengit dan marah.
Tiba-tiba berkelebat sebuah sinar perak yang bergulung-gulung melindungi badannya dan membalas dengan serangan-serangan yang dahsyat.
Kini Tiang Le menunjukkan pedangnya ke arah Thay-bengcu itu, entah mengapa ia merasa penasaran dan marah bukan main kepada orang muda ganteng ini.
Beberapa anak buah Thay-bengcu sudah maju menyerang, akan terapi begitu terdengar suara keras, tombak-tombak dan pedang patah dan lima orang telah roboh dengan tubuh mandi darah.
-benar keras kepala!
Apakah kau tidak memikirkan keselamatanmu dan isterimu?
Apakah kau kira dapat lolos dari Istana Hantu lebih baik menyerah dan mari kita bicara baik-merdu.
Untuk beberapa lama Tiang Le meragu mendengar suara ini.
Suara ini seperti suara wanita, sambil mengelak serangan Beng Kok Cu ia melirik dan alangkah terkejutnya dan heran hatinya melihat betapa Thay-bengcu tengah memandangnya dengan sinar mata kagum, mata itu demikian jelita!
Siapakah Thay-bengcu ini?
Demikian Tiang Le berpikir keheranan.
Akan tetapi ia tak perlu berpikir lama-lama, karena pada saat itu golok besar dan jepitan dapur dari pelayan-pelayan Istana Hantu ini sudah berkelebat cepat dan mengurung Tiang Le, cepat Pendekar Lengan Buntung ini memutar senjatanya.
itu terpotong menjadi dua, mereka menjadi terkejut bukan main dan meloncat mundur.
Pada saat itu Nakayarinta dan Bong Kek Cu telah melancarkan serangan-serangan bertubi-tubi dan merupakan badai yang mengamuk hebat sekali.
Pada saat itu Tiang Le dikejutkan oleh jeritan lirih dari Bwe Lan yang telah roboh dan pingsan akibat hawa racun yang dilancarkan oleh Kwan-tiong Tok-ong dari sepasang lengan cakar setan yang beracun itu.
Pada saat itu Tiang Le sudah lelah sekali, juga punggung yang tadi terhantam tongkat Nakayarinta terasa sakit dan nyeri.
Untung saja Pendekar Lengan Buntung ini memiliki sin-kang yang cukup tinggi sehingga pukulan tongkat kakek pertapa itu tidak meremukkan tulang pundaknya, hanya terasa sakit dan nyeri.
Namun biarpun ia sudah lelah dan sibuk dikeroyok oleh orang-orang pandai ini, akan tetapi begitu mendengar jeritan Bwe Lan, isterinya cepat sekali Tiang Le bergebrak dengaa jurus tok-pik-kiam-hoat yang terlihat menggunakan tipu Naga Sakti Menggetarkan Gunung, sehingga begitu pedang pusaka buntungnya bergebrak terdengar jeritan kaget dari Bong Kek Cu dan Nakayarinta yang mencelat mundur ke belakang.
Akan tetapi tiga orang pengeroyoknya lagi yaitu pelayan Istana Hantu yang memegang golok dan besi jepitan itu menjerit ngeri karena entah bagaimana caranya tahu-tahu sebuah sinar perak bagaikan kilat menyambar telah menabas paha dan lengan.
Darah merah mengucur dari lengan A Kay dan A Tong yang mengeroyoknya.
Begitu kepungan ini mengendur, dengan gerakan gin-kang yaug luar biasa gesitnya tahu-tahu tubuh Tiang Le telah mencelat cepat dan telah menyambar tubuh Bwe Lan yang telah pingsan.
Pada waktu itu Bu-tek Sianli yang sudah dibuat gemas oleh sebab muridnya yang murtad ini segera mengayunkan tongkat sekuatnya menghantam kepala Bwe Lan.
Namun sebuah kilat menyambar dari samping dan serangkum hawa pukulan yang amat dahsyat menggetarkan tongkatnya hingga menyeleweng dari sasaran.
Begitu ia menengok tahu-tahu Bwe Lan telah berada dalam kempitan Pendekar Lengan Buntung yang telah jauh melompat dan dengan menggunakan kesaktiannya.
Tiba-tiba tembok sebelah kiri jebol oleh terjangan tubuh Tiang Le.
Thay-bengcu berdiri dan berteriak marah, -bengcu telah memberi aba-aba kepada orang-orangnya untuk mencegat Tiang Le dari pintu samping.
Sedangkan Nakayarinta, Bu-tek Sianli, Thay-lek-hui-mo dan Bong Kek Cu telah mencelat dan mengejar Tiang Le.
Tiang Le memasuki sebuah ruangan di bawah tanah.
Ia menjadi bingung bukan main karena begitu ia mencelat ke dalam tiba-tiba ruangan yang tadinya terbuka, kini otomatis bergerak sendiri menutup jalan.
Sehingga ia kini berada di sebuah jalan yang lurus ke depan dan dari depan nampak orang-orang Istana Hantu barisan panah mendatangi siap menarik gendewanya.
Sedangkan dari belakang nampak Nakayarinta dan tokoh-tokoh kaum hek-to lainnya mendatangi berlarian cepat, terdengar suara Nakayarinta tertawa mengejek.
-ha-ha, Pendekar Lengan Buntung, jangan harap kau dapat meloloskan diri dari Istana Hantu.
Lebih baik kau lemparkan pedangmu dan menyerah kalau kalian ingin hayo kau layani aku Tiang Le memaki sengit dan berdiri dengan tegak.
Tubuh Bwe Lan ditaruh di atas punggungnya, sedangkan tangan kirinya memegang pedang buntung yang diacungkan ke depan.
Siap menghadapi pertempuran!
Thay-bengcu menjadi gemas dan penasaran.
Tenyata Tiang Le tidak mau lagi diajak bersekutu, maka dengan kemarahan hebat ia memerintahkan kepada anak buahnya untuk menghujani panah, dan ia sendiri sudah mencabut sepasang pedangnya yang berkeredep-keredep saking ampuh dan hebatnya sepasang pedang Liong-cu-kiam ini, dan tokoh-tokoh lainnya berdiri tegak memagari jalan.
Dengan senyum dikulum Thay-bengcu berteriak, Mendengar aba-aba ini, Tiang Le menjadi tekejut dan siap dengan senjata di tangan.
Kalau tak menghadapi lawan bagaimana tangguhpun, ia masih dapat melayani.
Kini menghadapi serbuan beribu-ribu anak panah, ia tak dapat berbuat lain kecuali melindungi dirinya dan tanpa dapat membalas.
Duaratus anggota Istana Hantu, di depan itu menarik anak panahnya.
Mereka ini adalah pasukan Istana Hantu bagian panah yang sudah terlatih.
Setelah mendengar aba-aba dari Thay-bengcu, mereka bergerak mundur dan menghujani Pendekar Lengan Buntung dengan ratusan panah.
Sungguh hebat sekali!
Ternyata barisan panah bukan hanya satu jurusan, karena begitu tembok terbuka di kanan kiri dan belakang, tahu-tahu bermunculan barisan panah yang menghamburkan panah-panahnya.
Sehingga penyerangan ini berlangsung dari empat jurusan, depan, belakang samping kanan dan kiri.
tubuh istrinya di punggung.
Akan tetapi betapa terkejutnya hati Pendekar Lengan Buntung ini, karena hujan anak panah itu dibarengi pula dengan jarum-jarum beracun dari Kwan-tiong Tok-ong dan Bu-tek Sianli yang berhamburan cepat dan halus.
Dan beruntun sehingga serangan anak panah dan jarum-jarum beracun tidak pernah berhenti.
-pedangnya sehingga tubuhnya terselimut oleh putaran pedang yang luar biasa cepatnya, terbungkus oleh sinar perak yang berhasil meruntuhkan banyak anak panah dan berpuluh-pukuh jarum berbisa.
-bengcu, kau benar manusia keji dan pengecut kalau kau memang jantan hayo ki -ha-ha, Sung Tiang Le!
Siapa bilang aku keji dan pengecut.
Sudah kusambut secara baik-baik kau masih kurang terima.
Hmm, apakah kau begitu sombong sehingga berhasil keluar dari Istanaku dalam keadaan bernyawa Suara halus terdengar tergetar dan kemudian disusul oleh serangan banyak anak panah yang menyambar lagi tak berhenti-hentinya.
Sesungguhnya, sekiranya Tiang Le tidak memondong tsteri dan tidak menguatirkan keadaan isterinya ini.
Ia sudah sejak tadi merangsek orang-orang pengecut ini.
Akan tetapi karena punggungnya memondong tubuh Bwe Lan, gerakannya tidak begitu leluasa dan kurang gesit sehingga dalam serangan kedua, biarpun ia sudah memutarkan pedang buntungnya sedemikan rupa, namun tetap saja tiga buah anak panah menancap di lengan kirinya yang memutar pedang.
Tiang Le menggigit bibirnya menahan rasa ngeri yang luar biasa.
Ternyata ujung anak panah itu dibubuhi racun sehingga terasa gatal-gatal dan nyeri bukan main.
Akan tetapi pendekar yang gagah perkasa ini terus mengamuk dan mempertahankan diri dan tidak akan menyerah!
-tiba terdengar jeritan isterinya.
Tiang Le tersentak dan menoleh.
Ternyata sebuah jarum beracun sianli-tok-ciam yang dilontarkan oleh Bu-tek Sianli menyentuh pundaknya dan menancap, akan tetapi juga bersamaan dengan pundaknya yang terluka itu Bwe Lan tersadar dan mencelat dari punggung Tiang Le.
Terasa sekali punggungnya gatal bukan main, namun sekelebatan saja Bwe Lan sudah menyadari bahwa punggungnya terkena senjata Sianli-tok-ciam dari Bu-tek Sianli, maka cepat-cepat ia merogoh sakunya dan menelan sebuah pil merah, diberikan pula kepada Tiang Le.
Pil merah itu adalah pil penolak racun yang pernah ia pelajari di Pulau Bidadari!
-jahanam keparat!
Rasakanlah pemba Jeritan ini disusul berkelebatnya sinar merah dan begitu sabuk sutera di tangan nyonya itu bergerak, lima orang yang sedang menarik gendewa menjerit ngeri ketika sabuk merah itu tiba-tiba bagaikan ular hidup telah menyambar mereka dan melilit lehernya dan sekali sentak saja sekali gus lima orang pemanah itu terangkat ke atas dan nyawanya melayang seketika itu, juga ketika tangan kiri bergerak menyambar dahsyat!
-penyerangnya yang lain mundur dan berusaha memasang kembali anak panahnya.
Akan tetapi pada saat itu Tiang Le sudah menerjang maju dan membobolkan barisan panah.
Pedang Buntung itu bergerak-gerak menyambar dan terdengar jeritan-jeritan mengerikan waktu sepuluh orang Istana Hantu roboh seketika dalam keadaan tubuh mandi darah.
Tiang Le dan Bwe Lan kini benar-benar mengamuk hebat, celakalah orang-orang barisan panah Istana Hantu ini.
Begitu dua orang suami isteri itu sampai ke tempat itu, bagaikan membabat rumput saja pedang dan sabuk sutera merah berkelebat bagaikan malaikat pencabut nyawa.
Bong Kek Cu dan dua orang pelayan dapur Istana Hantu yang tadi bersenjatakan jepitan dan golok besar maju menerjang.
Namun Tiang Le mengerahkan seluruh kepandaiannya, keuletan dan tenaganya untuk melindungi diri dan juga balas menyerang.
Begitu munculnya dua orang pelayan Istana Hantu yang sudah terluka ini, dalam tiga gebrakan pedang di tangan kiri Tiang Le bergerak cepat dan dalam detik itu pula berturut-turut terdengar jeritan dari A Kay dan A Yong yang menggeletak roboh dengan kepala putus, sedangkan Bong Kek Cu terserempet lengannya dan menjerit kaget melompat mundur.
Pada saat itu Tiang Le sudah gemas kepada orang ini, bergerak cepat dan sekali pedang buntungnya berkelebat.
Lengan kanan Bong Kek Cu putus sebatas pundak dan terdengar jeritan kakek buntung itu bagaikan babi disembelih!
Kini tokoh-tokoh Istana Hantu mulai menerjang maju.
Nakayarinta, Bu-tek Sianli bergerak menerjang Tiang Le, dan dibantu oleh gerakan sepasang pedang yang luar biasa dari Thay-bengcu.
Sebuah benturan yang keras membuat tangan kiri Tiang Le tergetar ketika pedang buntungnya tertangkis oleh pedang kiri Thay-bengcu, yang tersenyum mengejek.
-tiba Tiang Le menyilangkan pedang buntungnya dan tangan kirinya bergerak mengeluarkan jurus gerak tangan kilat yang luar biasa itu.
Saking hebatnya pukulan gerak tangan kilat yang disertai tenaga sin-kang tinggi ini, membuat Nakayarinta yang terserempet angin pukulan tangan itu terhuyung ke samping.
Akan tetapi Thay-bengcu dengan gerakan pedang yang aneh telah menggunakan siku kanannya menyambut pukulan ini.
bernama Thay-bengcu itu berteriak kaget dan kagum ketika merasa lengan kanannya menjadi lumpuh.
Namun sungguh patut dipuji karena hanya sedetik itu pula, Thay-bengcu ini sudah menggerakkan kembali sepasang siang-kiamnya mendesak Tiang Le.
Melihat munculnya tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi ini, Tiang Le menjadi kewalahan bukan main.
Apalagi setelah kini dirasakan lengannya menjadi nyeri dan kaku akibat tiga batang anak panah yang menancap di lengannya dan bekas pukulan dari Nakayarinta itu masih terasa nyeri di pundaknya.
Pada saat itu saking bingungnya ia, gerakannya menjadi lambat dan sebuah pedang di tangan kiri Thay-bengcu berhasil menerobos masuk dan Tiang Le menggigit bibir menahan nyeri luar biasa.
Ternyata pangkal lengannya robek sampai kelihatan tulangnya.
Bukan main sakitnya dan Tiang Le merasakan kepalanya berdenyut-denyut dan ia terhuyung-huyung hendak roboh.
Cepat-cepat ia mengempos hawa murni menenangkan diri.
Melirik Bwe Lan yang tengah mengamuk dikeroyok oleh banyak orang-orang, dan mengirimkan suara melalui khi-kang yang dikirimkan untuk isterinya, Sesudah berkata demikian tiba-tiba Tiang Le berhenti, bersila, dan menerima tiga buah gebukan dari Nakayarinta, Bu-tek Sianli dan Te Thian Lomo.
Akan tetapi sungguh hebat, Pendekar Lengan Buntung ini tidak bergeming sedikitpun.
Hanya nampak dari sepasang mata itu yang berair saking hebatnya pukulan-pukulan ini.
Kalau saja ia tidak mengerahkan sin-kang di tubuhnya, tentu tubuh itu sudah hancur lebur.
Akan tetapi pemuda ini, dalam keadaan pakaian atas robek-robek berdiri tegak dan pandangannya menyapu sekalian orang di situ.
Ia mengerahkan tenaga khi-kangnya berseru keras, -manusia goblok!
Lihat, mengapa aku yang kau tempur tolol.
Aku Thay-demikian Tiang Le menunjuk kepada Thay-bengcu yang bergerak hendak menyerangnya.
Akan tetapi, alangkah ajaib dan luar biasa sekali karena tiba-tiba Nakayarinta.
dan Bu-tek Sianli dengan Te Thian Lomo dan banyak lagi orang-orang Istana Hantu menyerbu Thay-bengcu yang tentu saja menjadi heran dan kelabakan bukan main menghadapi penyerbuan dari para sekutunya ini.
Terpaksa ia putarkan sepasang siang-kiamnya dan mencelat mundur sambil membentak pula mempergunakan khi-kangnya berseru keras, Suara ini biarpun terdengar nyaring dan merdu, namun dikerahkan dengan tenaga khi-kang yang tinggi sehingga merupakan suara menggeledek di angkasa, bergema di ruangan itu.
Dan terdengar amat menusuk anak telinga bagi mereka yang berada di ruangan itu dan menggetarkan hati sehingga mereka yang merangsek Thay-bengcu menahan senjatanya dan memandang dengan membelalakkan matanya.
Apa yang mereka lihat sesungguhnya?
Sungguh aneh tadi mereka telah menyerang Thay-bengcunya sendiri.
Gila!
Buru-buru mereka berlutut dengan pikiran yang tak habis herannya melihat kejadian ini.
Thay-bengcu membanting-semua!
Menangkap dua ekor tikus sawah saja tidak becus, malah hampir mencelakakan diriku.
Benar-pandangan kami kira Thay-mempunyai tingkat tinggi dalam kedudukannya memberanikan diri berkata, namun dari suaranya terdengar mengeletar penuh rasa takut dan hormat.
Sementara yang lainnya hanya menganguk-anggukkan kepala saja seperti ayam mematuk gabah, tak berani membuka mulut dan bersuara.
Pemuda tampan yang berjuluk Thay-bengcu itu nampak mundar mandir di ruang itu dan berkata keras, -tiong Tok-ong dan Sian Jiu Nio-nio, aku perintahkan kalian segera mencari Pendekar Lengan Buntung dan membawanya kemari, mati atau hidup!
-tiong Tokong perlahan.
Pendekar Lengan Buntung s Demikian Thay-bengcu memaki dan meninggalkan mereka.
Inilah hebat mendengar makian pemuda tampan ini tiada seorangpun yang berani membuka mulut.
Thay-bengcu!
ooOOoo Udara masih mendung, bekas turunnya hujan.
Matahari mengintip cerah setelah awan-awan hitam yang tadinya menutupi angkasa telah menumpahkan air matanya membasahi bumi yang gersang ini akibat musim kemarau yang panjang.
Hujan yang turun tadi siang, merupakan udara sejuk yang melingkupi suasana di kaki bukit Lu-liang-san.
Jalan-jalan di dalam hutan itu masih becek bekas turunnya hujan yang tidak lama tadi.
Daun-daun masih nampak basah, berbutir-butir air hujan menetes dari daun-daun di atas pohon itu.
Udara di dalam hutan itu sejuk sekali, walaupun matahari mulai memancarkan sinarnya kembali.
Mengintip di balik segumpalan awan hitam yang hendak berlalu ditiup angin.
Dan burung-burung yang tadinya bersembunyi di sarangnya, kini berterbangan kembali setelah diketahuinya bahwa hujan sudah berhenti.
Burung-burung itu ada yang bertengger di dahan yang basah dan mematuk-matukkan paruhnya, ada pula yang mencicit-cicit panjang dan terbang tinggi bergerombolan.
Nampaknya burung-burung itu begitu riang terbang setinggi-tingginya di dalam udara yang lembab.
Pada saat itu, terdengar suara orang sedang bercakap-cakap, suara seorang wanita.
Suara yang merdu dan dan tampaklah dua orang wanita dari tikungan jalan sedang duduk di atas pelana kudanya.
Wanita yang di sebelah kiri, adalah seorang wanita setengah tua, berpakaian serba putih bersih dan dilihat dari wajahnya, mudah saja diduga bahwa wanita setengah tua ini adalah wanita yang cantik, garis-garis pada wajahnya yang mengerisut itu tidaklah mengurangi kecantikan dari bentuk raut muka dan mata yang demikian jelita.
Wanita setengah tua itu, sungguh patut dikasihani, karena pada lengan kirinya sudah buntung sebatas pundak, sehingga lengan baju yang tidak berlengan itu berkibar-kibar tertiup angin.
Dan yang seorang lagi.
Mempunyai wajah yang hampir sama dengan wanita itu, matanya juga sama jelinya.
Hanya sedikit pada hidung wanita itu agak mancung dan bagus dan mulutnya kecil, mempunyai sepasang bibir yang basah dan segar.
Usianya sekitar tujuhbelas tahun, seorang gadis remaja.
Bersuara merdu dan manja.
h perjalanan ke Tiang-pek-di sebelahnya.
Nyonya itu menoleh dan memandang kepada anaknya.
Memandang dengan penuh sayang dan cinta kasih.
Wanita setengah tua itu tersenyum manis dan bibirnya yang masih indah itu bergerak menjawab.
bernama Lily itu bersemangat.
Dalam berkata barusan tangannya yang kecil itu terkepal dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.
Melihat ini senang sekali hati si ibu.
Lily menoleh dan merendengi jalan kudanya di samping ibunya.
Le?
Apakah dia yang membuntungi lengan ibu, ahh, betapa kejamnya laki-laki itu.
Akan tetapi ibu, bagaimana sih sehingga lengan itu bisa buntung, apakah dalam pertempuran?
Buntung itu, tentu seperti tay-ong, ya ibu, penuh cambang bauk dan mukanya.......
sangat kejam dan telah membuntungi lenganmu.
Tentu Pendekar Lengan Buntung seperti raja perampok yang ganas dan kejam.
Kalau ketemu denganku, hendak kubuntungi Walau bagaimana kau harus hati--kong Sin Kun Bu-tek, dan Mereka tidak bercakap-cakap lagi.
Karena ibu itu tertunduk dan menarik kendali kudanya sehingga kuda berjalan lebih dulu.
Dalam detik itu, bayangan bersama dengan Tiang Le melekat di ruang matanya.
Alangkah mesranya, apabila ia teringat kenang-kenangan manis di lembah Tai-hang-san itu, alangkah menggai membisiki nama itu.
Sebuah nama yang amat disayangnya, dan juga paling dibenci apabila ia melihat adegan-adegan yang menyakitkan hati di pantai Po-hay.
Dan mengapa Tiang Le tidak jadi menikah dengan Pei Pei dan kawin dengan Bwe Lan, murid Bu-tek Sianli itu, mengapa?
Apakah Tiang Le telah menyia-nyiakan Pei Pei, dan kawin dengan Bwe Lan, setan!
Dia mata keranjang, aku benci.
Benci!
Setetes air mata meloncat dari kelopak mata yang mempunyai telaga yang jernih airnya itu.
Melihat ibunya menangis, Lily terheran.
baru juga sampai di bukit Lu-liang-san.
Kira-kira seminggu lagi kita batu sampai di Tiang-pek-belum lagi ibu itu menarik kendali kudanya, tiba-tiba Lily berkata cepat.
Belum habis Lily berkata, tiba-tiba pandangan Bwe Hwa yang tajam telah mengenali orang yang di depannya itu.
Bibirnya berbisik gemetar.
cepat ke depan.
Tidak berapa lama ia sudah tiba di depan sana dan ia melihat seorang laki-laki lengan buntung setengah tua dan seorang perempuan cantik sepantar ibunya.
Untuk beberapa lama Lily tertegun.
Ia melihat laki-laki setengah tua yang lengannya buntung sebelah kanan itu berjalan dengan muka pucat dituntun oleh seorang perempuan cantik setengah tua.
Laki-laki tersebut nampak gagah dan menyeramkan berjalan terseok-seok di atas tanah yang becek dan berair.
Pakaiannya compang-camping, bajunya bernoda darah, di pundak kiri dan di punggung kelihatan tiga batang anak panah menancap, pangkal lengan kirinya terluka hebat dan dari situ mengalir darah.
Dalam keadaan terluka hebat itu laki-laki lengan buntung itu nampak berjalan dipapah oleh wanita cantik yang nampaknya tengah kepayahan juga.
Lily menghentikan kudanya dan bertanya, Tiang Le melepaskan pegangan tangan isterinya dan menoleh ke arah gadis yang datang-datang melontarkan pertanyaan seperti itu.
Tiang Le mengerutkan alisnya.
Bukan karena pertanyaan gadis ini, akan tetapi merasakan sakit yang luar biasa pada pangkal lengannya sehingga ia menggigit bibirnya.
Tiang Le tenang.
Ia dan isterinya sudah berhasil meloloskan diri dari Istana Hantu, akan tetapi karena keadaannya terluka, sehingga perjalanan sangat lambat sekali dan suatu ketika kelak, ia harus berhati-hati menghindarkan diri dari kejaran-kejaran orang-orang Istana Hantu.
Kini melihat gadis ini datang-datang bertanya demikian, Tiang Le dan Bwe Lan menjadi curiga.
lan sekali, Pendekar Lengan Buntung, aku dan ibu sedang mencarimu.
Kau -datang memaki kami.
Kau ini anak siapa sih, begitu kurang ajar.
Hati-hati mulutmu membentak marah, namun Tiang Le memberi isyarat dengan pandangan matanya.
yo hadapi pedangku!!
Kata ibu kau dengan suara gemetar dan gugup.
itu dengan marah, dan tanpa banyak cakap lagi dia telah mengelebatkan pedangnya Akan tetapi sungguh diluar dugaannya gadis ini.
Tiang Le tidak mengelakkannya ataupun menangkisnya.
Sehingga Lily menjadi kaget dan cepat-cepat dia mengegoskan pedangnya ke kiri dan menyerempet pundak Tiang Le.
Lengan kanan laki-laki buntung itu bercucuran darah yang mengucur dari pundak kanannya.
Tiang Le menggigit bibirnya menahan sakit dan memandang gadis itu dengan tidak berkedip!
mengeluh memegangi lukanya.
Sementara Lily yang menjadi penasaran membentak marah membantingkan kakinya ke tanah.
nar-benar sombong, mengapa kau tidak menangkis seranganku?
suaminya terluka oleh pedang gadis ini membuat gerakan mendorong ke depan.
Sebuah angin pukulan menyambar si gadis.
Namun gadis ini dengan senyum mengejek mengangkat tangan kirinya dan membalas memukul.
Diam-diam nyonya ini menjadi terkejut bukan main ketika merasa tangannya kesemutan oleh benturan telapak tangan puteri Bwe Hwa ini.
Tahulah ia bahwa gadis ini telah mempunyai lwekang yang hampir mencapai sempurna.
-uara Tiang Le tergetar dan merangkul lengan isterinya.
Pada saat itu luka Tiang Le bertambah parah, wajahnya semakin pucat.
Ke dua kakinya sudah menggigil, bukan saja karena luka-luka itu yang membuat ke dua kakinya menggigil akan tetapi serangan tekanan bathin ini yang membuat ia merasa lemah bukan main.
Apalagi pada saat itu berkelebat sebuah bayangan, tahu-tahu Bwe Hwa telah berdiri di depan memandanginya.
--Lily maju ke depan dan berkata kepada ibunya, yang Bwe Hwa tidak menjawab.
Hanya ia mengangguk pelan.
Belum lagi Bwe Hwa menyahut, Lily Sudah menerjang Pendekar Lengan Buntung.
Pedang pusakanya berkelebat cepat menusuk dada Tiang Le dengan gerakan yang luar biasa gesitnya.
Akan tetapi pada saat itu Bwe Lan sudah tahu bahwa suaminya sudah payah dan tidak melayani gadis ini, segera ia mencabut tongkatnya dan menangkis pedang Lily yang bergebrak menerjang Tiang Le.
Benturan tongkat kecil itu membuat tusukan pedang si gadis tertahan dan begitu melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah wanita setengah tua itu, Lily memekik marah dan tahu-tahu ia telah menerjang Bwe Lan.
bentakan Lily ini dibarengi dengan gerakan menyabet pinggang nyonya itu.
Namun dengan mengegoskan diri ke samping dan mainkan jurus langkah ajaib, nyonya Pendekar Lengan Buntung ini sudah dapat berkelit dan balas mengirimkan serangan tongkatnya pula.
n--ha--ha-tedengar keras menggema di hutan kecil itu.
kau benci bunuhlah aku, bunuhlah.......
akan tetapi, jangan kau menyuruh anak kita untuk -hwa-kiamnya dan mendekati Tiang Le.
--jang, Tiang Le.
Namun Pendekar Lengan Buntung ini dengan mata tidak berkedip memandang sayu kepada perempuan lengan buntung itu.
-moay, mati ditanganmu tidak mengapa, senang bergerak menusuk dada Tiang Le.
Akan tetapi seperti tadi, Tiang Le sama sekali tidak menangkis atau mengelak, membiarkan dadanya tertembus pedang.
Tentu saja Bwe Hwa yang sesungguhnya tidak sampai hati menusuk dada Pendekar Lengan Buntung itu, menjadi terkejut dan cepat-cepat dia menarik kembali pedangnya.
Entah mengapa di hatinya tidak tega membiarkan Pendekar ini tertusuk pedang, gerakannya tadi juga hanya sebagai gertakan saja.
Namun sesungguhnya pendekar ini tidak menangkis pedang, malah memandangnya sayu.
Terbentur oleh pandangan ini, tiba-tiba Bwe Hwa menangis dan membanting-bantingkan kakinya sengit.
-anak ya?
Takut anak dan isterimu mampus di --tiba Tiang Le terhuyung-huyung dan kepadanya dirasakan berat bukan main.
Ketika Bwe Hwa melihat betapa kaki Pendekar itu menggigil dan luka di lengan itu masih tertancap oleh tiga batang anak panah, ia menjadi kasihan dan terharu.
Pedang Pek-hwa-kiam yang sedianya hendak ditusukkan ke dada pemuda pendekar itu menjadi menggigil dan lunglai masuk ke dalam sarungnya.
Melihat keadaan Tiang Le yang amat mengenaskan ini, sebenarnya sejak tadipun ia merasa tidak tega untuk mencelakakan Tiang Le, namun ia mengeraskan hatinya.
Dan hendak menerjang laki-laki buntung itu, siapa sangka Tiang Le tidak melayaninya malah dalam keadaan seperti ini.
Pakaian putih Pendekar itu sudah berlumuran darah bekas luka dari pedang yang diserempetkan Lily, ditambah lagi rupa-rupanya Tiang Le ini habis menghadapi pertempuran.
Maka entah mengapa, perasaan dendamnya yang semula berkobar-kobar menjadi lumer seketika melihat keadaan Tiang Le seperti ini.
Ia sendiri merasa heran sekali, mengapa hatinya tiba-tiba menjadi lemah dan menaruh iba hati kepada Pendekar yang tadinya dimusuhi setengah mati, yang lebih aneh lagi, tiba-tiba perasaan iba itu naik membuat air matanya bertitik turun ketika melihat Tiang Le terhuyung-huyung hendak jatuh.
Akan tetapi segera ia maju menyambut tubuh Tiang Le, karena Pendekar yang perkasa ini sudah limbung, dan tentu akan roboh kalau saja tidak buru-buru Bwe Hwa menyambarnya.
Dan Tiang Le telah jatuh pingsan dalam pelukan Bwe Hwa!
Pada saat itu tiba-tiba dari kiri kanan jalan berlompatan banyak orang mengurung tempat itu.
Seorang kakek tua renta muka hitam memegang tongkat ular cobra tertawa bergelak-gelak menggetarkan suasana di dalam hutan.
-ha-ha!
Bagus Toanio kau tetah menangkap Pendekar Lengan Buntung, mari Bwe Hwa yang tidak kenal orang-orang ini cepat memeluk tubuh Tiang Le yang telah pingsan dan bertanya kepada si kakek muka hitam, -he..
kami adalah orang-orang Istana Hantu.
Pendekar Lengan Buntung ini menjadi buronan kami.
Untung kau telah dapat menangkapnya, lekas serahkan kepada kalian tid telah melintangkan Pek-hwa-kiam siap untuk melindungi Tiang Le.
Sementara itu, Bwe Lan yang bertempur dengan Lily menjadi terkejut melihat kedatangan orang-orang Istana Hantu yang pernah ia rasai kelihaiannya ini.
Cepat sekali ia menggerakkan tongkatnya merangsek Lily dan begitu ada kesempatan, tubuhnya berkelebat.
Amat cepat sekali gerakan ini, tahu-tahu Bwe Lan sudah mengirim pukulan mendorong ke arah Bwe Hwa yang tidak melihat gerakan ini.
Namun begitu pegangan tangannya terlepas dari rangkulan Tiang Le, tahu-tahu Bwe Lan sudah menyambar Tiang Le dan berkelebat pergi.
punggung nyonya ini.
Namun Bwe Lan yang tidak menghiraukan orang-orang ini, cepat mempergunakan gin-kangnya mencelat jauh dan sekali berkelebat.
Ia sudah lenyap memanggul tubuh suaminya.
Nakayarinta dan Kwan-tiong Tok-ong mengejar.
Namun Bwe Hwa yang sudah dibuat sengit kepada orang-orang yang dianggapnya telah membuat ia kehilangan Tiang Le menjadi marah, dan cepat tubuh Bwe Hwa berkelebat dan langsung menyerang Nakayarinta.
begitu, tubuh Bwe Hwa yang masih melayang di udara itu mengirimkan jurus-jurus berbahaya dari Pek-hwa-kiam-sut.
Tentu saja Nakayarinta yang tidak mengenal wanita buntung lengan ini memandang ringan terhadap Bwe Hwa dan ia hanya mengibaskan jubah menghadapi serangan pedang Pek-hwa-kiam.
merasa sambaran pedang yang luar biasa anehnya ini, dan tahu-tahu kibasan jubahnya sudah robek terbabat pedang perempuan lengan buntung ini.
Merasa bahwa yang dikejar tidak kelihatan bayangannya lagi, Nakayarinta dan Kwan-tiong Tok-ong membalikkan tubuh menghadapi Bwe Hwa.
-gara engkau sehingga dia lolos dari tanganku.
Kalian ini -hwa-kiam di tangan Bwe Hwa menyerbu si kakek Nakayarinta bagaikan gelombang pasang yang luar biasa ganasnya.
Kwan-tiong Tok-ong menjadi marah dan menggereng keras dan tubuhnya tahu-tahu telah melompat ke atas dan kedua tangannya sudah memegang sepasang senjata yang mengerikan, yakni Cap-tok-ngo-jiauw dan secepat kilat ia menerjang Bwe Hwa yang sudah menggerakkan pedangnya menggempur Nakayarinta.
Sian Jiu Nio-nio berteriak nyaring, tahu-tahu rambutnya yang panjang menyambar Bwe Hwa bagaikan ribuan tongkat yang bergerak cepat mengarah sepuluh jalan darah di tubuhnya.
Melihat betapa orang-orang ini dengan cara yang curang telah mengeroyok ibunya, Lily mengeluarkan pekik panjang dan begitu tubuhnya berkelebat menyambut Sian Jiu Nio-nio dengan pedang Toat-beng-kiam di tangan.
Pada saat itu, sehabis jeritan si gadis tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan besar di atas tahu-tahu sebuah burung rajawali raksasa telah turun menggempur Kwan-tiong Tok-ong, menggunakan sayapnya menampar sepasang cakar setan yang bergerak-gerak mengancam Bwe Hwa.
Raja racun ini mengira bahwa yang datang adalah Kwan Kong Beng puteranya yang menunggang burung garuda, maka ia bersuit keras dengan girang.
-eng, cakar perempuan Akan tetapi betapa terkejutnya si Raja Racun karena burung yang disangkanya binatang peliharaannya itu tahu-tahu sudah menerjang turun dan langsung mengirimkan serangan sayap menggempur Kwan-tiong Tok-ong.
Karena gerakan sayap ini demikian cepat, si Raja Racun menjadi heran dan mengangkat tangannya menangkis.
Akan tetapi alangkah heran hatinya karena burung rajawali ini seperti tahu akan keampuhan sepasang tangan itu tidak berani menyampok malah ia menggunakan sayap kanan memukul punggung Kwan-tiong Tok-ong.
-tiong Tok-ong terhuyung ke belakang.
Dan mendelikkan matanya, memaki.
jarak jauh ke atas.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan karena burung ini demikian gesit dan dalam sedetik itu pula sudah dapat menghindarkan diri dari angin pukulan yang datang itu dan mencoet panjang, terbang ke atas, seakan-akan burung ini tahu bahwa hawa pukulan kakek tinggi besar itu mengandung racun yang tidak boleh dipandang ringan, maka burung yang cerdik ini siang-siang sudah terbang tinggi.
Pada saat itu, tiga batang piauw yang dilemparkan oleh seorang anggota Istana Hantu, dengan cepat sudah dapat disampok oleh cengkeraman rajawali dan tiba-tiba entah bagaimana caranya, burung yang luar biasa ini menggerakkan cakarnya yang mencengkeram tiga batang piauw ke arah penyambitnya.
Gerakan yang tidak disangka-sangkanya ini membuat tiga orang Istana Hantu dibawah tidak dapat menghindarkan diri lagi akan datangnya pisau terbang yang meluncur cepat dari atas itu.
Jeritan ngeri terdengar membarengi suara tertahan dan kaget dari tiga orang Istana Hantu yang tersambar piauw menancap di punggung, senjata makan tuan!
-tiba entah dari mana datangnya Kwan Kong Beng telah muncul bersama burung garudanya.
Hebat sekali perkelahian antara burung garuda dengan burung rajawali di angkasa itu.
Sedangkan Kwan Kong Beng yang melihat bahwa dua orang wanita di bawah itu cukup lihai, segera ia mencelat ke bawah dan menyerang Bwe Hwa!
Ternyata biarpun Kong Beng bersikap ketolol-tololan dan ayal-ayalan, kini tahu bahwa dua orang wanita ini tidak boleh dipandang ringan.
Segera ia membantu ayahnya mengeluarkan pukulan-pukulan dahsyat dengan tangan kanan yang diputar-putar memukul ke arah perempuan setengah tua yang gesit dan ganas ini.
Namun Bwe Hwa benar-benar mengamuk menghadapi orang Istana Hantu yang ternyata pernah dikenalnya ini.
Ia mainkan Pek-hwa-kiam-sut dengan gerakan-gerakan bagaikan guntur memecah bumi.
Bayangan-bayangan putih dari perempuan setengah tua ini, merupakan maut yang bersiap-siap hendak mencabut nyawa, karena kemana bayangan Bwe Hwa berkelebat.
Salah seorang anggota Istana Hantu yang tidak mempunyai kepandaian tinggi terluka hebat oleh terjangan pedang pendek putih Pek-hwa-kiam yang haus darah ini, membuat para pengeroyoknya yang memang tingkatnya rendah hanya mengurung tempat itu dan memandang ke arah jalannya pertempuran.
Sementara itu, Lily yang menghadapi Sian Jiu Nio-nio, si nenek berambut panjang ini, mengeluarkan pedang Toat-beng-kiamnya.
Hebat sekali sepak terjang gadis ini.
Pedangnya berkelebat-kelebat ganas sekali.
Memang Lily sengaja mainkan jurus-jurus Pek-hwa-kiam-sut.
Yang pernah dipelajari dari ibunya, sedangkan tangan kirinya merupakan pukulan-pukulan geledek yang membuat Sian Jiu Nio-nio keder karena begitu tangan kiri gadis itu bergebrak ia merasakan lengannya menjadi lumpuh dan jantungnya sakit.
Untung saja pada saat Sian Jiu Nio-nio menerjang maju mengeroyok gadis ini dengan tongkat kecilnya yang dibantu oleh Kwan Kong Beng yang telah mengalihkan serangannya menyerang gadis yang lihai ini.
Dikeroyok empat orang ini, biarpun bagaimana lihai, akhirnya menjadi kewalahan juga.
Dan gerakan-gerakan pedangnya agak terhimpit karena banyaknya tokoh-tokoh kang-ouw yang telah mengeroyoknya.
Apalagi setelah Nakayarinta, memberi aba-aba kepada orang Istana Hantu yang berjumlah tidak lebih tigapuluh orang itu untuk membantunya dan menangkap kedua perempuan ini hidup-hidup.
Begitu mendengar aba-aba ini, orang-orang Istana Hantu segera menyerbu dan sebentar saja di dalam hutan itu terjadi pertempuran hebat.
Melihat bahwa dirinya dikeroyok begini banyak orang, Lily mengeluarkan pekikan nyaring.
Tiba-tiba tangan kirinya bergerak-gerak lambat namun penuh hawa sin-kang tingkat tinggi.
Dan begitu tangan kiri itu bergebrak, terdengar pekik mengerikan dari sepuluh orang-orang Istana Hantu yang telah roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Inilah pukulan-pukulan maut yang dipelajari dari kakeknya Sin Kun Bu-tek yang luar biasa itu.
Melihat sepuluh orang sudah roboh mati dalam gebrakan-gebrakan tangan kiri dari gadis yang lihai ini, Sian Jiu Nio-nio dan Thung Hay Nio-nio menjadi marah bukan main.
Tongkatnya bergerak luar biasa dahsyatnya, sedangkan senjata rambut itu bagaikan ratusan tombak menyerbu ke arah si gadis bergulung-gulung.
Saking repotnya Lily menghadapi serangan ini, ia tak keburu menangkis sebuah pukulan tongkat kecil Thung Hay Nio-nio pada punggungnya.
Karena tadi ia berusaha keras menghindarkan diri dari sabetan-sabetan rambut yang lihai dari Sian Jiu Nio-nio yang lihai, maka terpaksa sambil mengerahkan hawa sin-kang di pundaknya menerima pukulan tongkat kecil Thung Hay Nio-nio.
-nio menjadi hancur menghantam tubuh yang penuh hawa sin-kang itu.
Perempuan ini terkejut dan heran.
Sebaliknya Lily menjerit keras merasakan jantungnya tergetar hebat oleh serangan yang lihai ini.
Cepat-cepat ia mencelat ke atas dahan pohon dan mengerahkan sin-kang melindungi jantung.
Tiba-tiba ia merasa kepalanya berdenyut-denyut begitu mendengar seruan ibunya yang menjerit lirih dan roboh di tangan Nakayarinta.
Untung pendeta dari Anapura tidak bermaksud untuk mencelakakan perempuan lengan buntung ini.
Ia memang sengaja untuk menawannya saja dan dibawa ke Istana Hantu, dan maka dari itu Bwe Hwa terhindar dari serangan maut Kwan-tiong Tok-ong yang siap melancarkan pakulan mematikan.
Namun pendeta muka hitam ini telah mencegahnya.
an-tiong Tok-ong bertanya heran dan memandang Nakayarinta penasaran.
-cu akan murka.
Lebih baik kita hadapkan wanita ini, karena gara-gara dia kita kehilangan Pendekar Lengan Mendengar kata-kata itu, Kwan-tiong Tok-ong tidak membantah lagi.
Cepat iapun berkelebat menyusul bayangan Nakayarinta yang telah memondong Bwe Hwa.
Hanya ia berkata kepada isterinya, -nio, bereskan saja gadis itu, tawan hidup-Sehabis berkata demikian si Raja racun itu sudah lenyap dan berkelebat pergi, diikuti oleh orang-orang Istana Hantu menyusul pemimpinnya kembali ke markas.
Sedangkan Thung Hay Nio-nio dan Sian Jiu Nio-nio bersama Kwan Kong Beng menghadang gadis yang mencelat ke atas dahan pohon itu.
-orang Istana Hantu, -bengcu mengakui segala kesalahan, mungkin Paduka Yang Mulia akan memberi ampun kepadamu yang masih Terdengar Thung Hay Nio-nio berkata perlahan.
Karena ia merasa sayang kalau gadis yang begini cantik jelita akan binasa di tangan orang-orang Istana Hantu!
Akan tetapi, sungguh di luar dugaan dari mereka.
Lily mengeluarkan jeritan marah bukan main.
Dan sekali berkelebat ia sudah menerjang Thung Hay Nio-nio menggunakan pedangnya menusuk nenek ini.
Namun alangkah herannya gadis ini karena begitu pedangnya tertangkis oleh tongkat nenek itu, ia merasakan tubuhnya lemas bukan main.
Dan tiba-tiba kepalanya menjadi pening dan terhuyung-huyung memegangi kepalanya yang terasa berat bukan main.
Tiba-tiba Sian Jiu Nio-nio menggerakkan rambutnya yang panjang.
Amat cepat sekali gerakan ini, sehingga Kwan Kong Beng yang hendak mencegah tindakan nenek ini tak keburu lagi.
Terdengar suara tulang lengan patah, tubuh Lily terlempar jauh dan gadis ini jatuh dalam keadaan terguling miring.
Ternyata tulang tangan gadis itu telah patah di bagian siku membuat Lily menggeliatkan badannya menahan sakit bukan main.
Dari matanya menetes air mata saking hebatnya rasa nyeri yang menusuk-nusuk ke jantung.
Gadis ini menggigit bibir dan berusaha hendak bangkit namun dirasakan tubuhnya lemas bukan main.
-ha--jurus dari kakek gila Sin Kun Bu--nio tertawa bergelak sambil mengangkat muka ke atas.
-nio, jangan kau celakakan gadis itu, hadapkan ia segera ke Istana Hantu, kami -nio menarik tangan puteranya, namun Kong Beng berkata.
-perempuan-Tarikan Thung Hay Nio-nio ini membuat tubuh Kong Beng agak terpelanting, namun ia masih menoleh ke belakang dan berkata kepada Sian Jiu Nio-Akan tetapi Sian Jiu Nio-nio tidak menyahut.
Ia masih tertawa bergelak-gelak menengadahkan mukanya ke atas.
Pikirannya yang tidak normal itu membuat penyakit lamanya kumat kembali, rambut yang panjang itu bergerak-gerak bagaikan tangan-tangan yang hendak mencekik leher si gadis.
Tiba-tiba matanya bercahaya aneh dan menyeramkan.
Dari kelopak mata yang sudah tua itu menetes air mata yang berjatuhan bercampur dengan air liur yang keluar pula dari mulutnya.
Lidanya menjilat-jilat bibirnya dan begitu ia menundukkan kepalanya untuk siap menghancurkan kepala gadis itu.
Tiba-tiba ia menjadi terbelalak melihat seorang pemuda tampan sederhana telah bersimpuh di samping si gadis mengurut-urut lengan yang tadi terkena pukulannya itu, sedangkan si gadis nampak seperti orang tidur tak sadarkan diri.
Pemuda ini wajahnya sangat tampan, akan tetapi dilihat dari cara berpakaiannya, agaknya orang muda ini tentu penduduk dusun yang miskin.
Di sana sini pada bajunya nampak tambal-tambalan, kendati demikian pakaian yang terbuat dari kain kasar itu cukup bersih.
Orang muda itu berusia sekitar sembilanbelas tahun, sepasang matanya laksana bintang pagi yang cerah menyinarkan.
Pandangan tajam menusuk jantung.
Pemuda ini bersimpuh di samping si gadis yang rebah membelakangi, sedangkan ia tengah mengurut-urut pangkal lengan yang telah remuk itu.
Dalam keadaan demikian pemuda sederhana itu menoleh dan tersenyum.
Pemuda sederhana itu menyembulkan senyum dan berkata tenang, -cepat.
Apa kau tidak takut akan Dipermainkan seperti ini Sian Jiu Nio-nio menjadi semakin kalap.
Tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw tidak ada yang berani mempermainkan dirinya oleh, pemuda ini.
Aneh sejak kapan pemuda ini datangnya, kenapa ia tidak tahu?
Padahal ia biasanya mempunyai pendengaran telinga yang tajam.
Mengapa kali ini dia tidak tahu kedatangan pemuda itu?
Kapan datangnya, dan siapa orang muda yang mempunyai pandangan tajam menembus jantung ini?
-nenek peot, ah kau........
kau berani menghinaku.
Apa kau mempunyai nyawa rangkap --hik-hik-hik --bo (kuntilanak) mukamu jelek, rambutmu panjang penuh -nio dan rambutnya bergerak menampar.
Dalam kemarahannya ini ia hendak membikin sekali mampus pemuda sederhana ini dengan sekali sabet dengan rambutnya.
Inilah kelihaian Sian Jiu Nio-nio.
Rambutnya yang panjang terurai sebatas pantatnya itu merupakan ribuan kawat baja yang bergerak tegang mengirimkan totokan jalan darah ke arah punggung si pemuda.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan Sian Jiu Nio-nio yang menjadi terkejut dan heran melihat pemuda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak.
Serangkum pukulan rambut yang dahsyat itu diterima dengan pundaknya yang ketika itu telah membelakanginya.
Rasa penasaran dan heran ini membuat nenek itu menjadi gemas dan marah.
Segera ia mengerahkan pukulan rambutnya lebih hebat lagi dengan maksud melemparkan pemuda yang dianggap sangat bodoh sekali membiarkan pundaknya terhantam pukulan rambut.
yang hebat itu!
Untuk beberapa saat tubuh pemula itu tergetar hebat.
Sebaliknya Sian Jiu Nio-nio terkejut bukan main merasakan seluruh rambutnya seperti menyentuh besi baja yang keras dan panas, sampai ke kulit kepalanya dirasakan panas dan nyeri.
Namun melihat pemuda itu tidak bergeming dan masih tetap membelakanginya seakan-akan tidak merasakan pukulan rambutnya tadi, nenek ini melangkah maju hendak mengirimkan pukulan kedua dengan tangannya yang diputar-putarkan di atas kepala.
Akan tetapi, belum lagi ia menjatuhkan pukulan tangannya.
Tiba-tiba ia terbelalak melihat pemuda itu kini berdiri dan tersenyum mengejek kepadanya.
-bo, masih ada lagikah pukulan tahumu?
Enak sekali rasanya, tulang belakangku yang tadinya terasa pegal-pegal itu kini lenyap.
--bo, apa kau nggak Sian Jiu Nio-nio memelototkan matanya.
Kalau tidak mengalami sendiri pasti ia tidak percaya.
Ia biasanya membanggakan pukulan rambutnya yang sudah terlatih dan dapat menghancurkan batu gunung dengan sekali tampar.
Dan pernah hanya dengan beberapa lembar rambutnya ia dapat memukul mati seekor kerbau gila yang sedang ngamuk.
Malah tokoh-tokoh Istana Hantu seperti Te Thian Lomo, Thay-lek-hui-mo dan Nakayarinta, tak berani manerima pukulan rambutnya yang dahsyat ini.
Akan tetapi pemuda ini, sungguh luar biasa!
Saking herannya dia, sampai untuk beberapa lama ia berdiri bengong seakan-akan ia tidak percaya melihat kejadian tadi.
Setankah orang itu?
Masa menghadapi pukulan rambutnya tidak kenapa-kenapa, malah masih bisa tersenyum.
Benar-benar tak masuk diakal!
Apakah ia tadi hanya kebetulan saja tidak mengerahkan lwekang di rambutnya sehingga pemuda itu tidak terluka.
Atau apakah tiba-tiba tenaga lwekangnya yang tadi disalurkan ke seluruh rambutnya tiba-tiba menjadi bocor dan tidak ampuh lagi?
Sian Jiu Nio-nio mengibaskan kepalanya.
Terdengar suara keras, karena batu besar yang berada di tepi jalan itu hancur berantakan dan mengeluarkan bunga api saking keras pukulan rambutnya barusan.
atu yang nggak punya salah dipukuli.
Benar-Hampir meledak rasanya kemarahan yang tersembunyi di dalam dada nenek itu, sehingga saking marahnya, ia mengeluarkan gerengan keras.
Dan tahu-tahu serangkum rambut yang panjang itu sudah menyambar dahsyat ke arah si pemuda.
Ketika itu si pemuda sudah berjongkok di dekat tubuh Lily yang masih menggeletak terlentang di tanah.
Dan merasa ada hawa pukulan yang menyambar dari belakang, cepat pemuda itu membalikkan tubuhnya dan memegangi kepalanya, seperti orang yang ketakutan kepalanya terkemplang rambut yang panjang dan berombak-ombak itu.
Akan tetapi dalam keadaan berjongkok seperti itu tiba-tiba ia mementangkan kakinya dan membuat pasangan bhe-si yang kukuh dan kuat.
g penuh tenaga lwekang itu hertemu di atas kepala si pemuda yang ditutupi tangan, terdengar suara keras seakan-akan batok kepala si pemuda hancur berantakan.
Akan tetapi sungguh ajaib bukan kepala si pemuda itu yang hancur berantakan melainkan puluhan rambut si nenek itulah yang pada beterbangan rontok.
Dan Sian Jiu Nio-nio sendiri terpental mundur, karena merasa pukulan rambutnya tadi membalik menyerang kepalanya sendiri.
Ribuan bintang berputar-putar di atas kepalanya.
Seluruh rambutnya berdiri tegang dan rasa panas terasa membakar di atas kepalanya.
Sian Jiu Nio-nio memandang si pemuda dengan pandangan membelalak.
Kepalanya bergoyang-goyang karena merasa pening dan telinganya mendengar bunyi mengiung yang keras.
Sian Jiu Nio-nio cepat meramkan matanya dan mengerahkan hawa murni ke atas kepala yang terasa pening bukan main.
Ia merasa badannya seperti diayun-ayun dan sepasang kakinya menggigil keras.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan sakit, tahulah ia bahwa ia sudah terluka.
Segera ia menjatuhkan diri dan bersila memusatkan tenaga sin-kang di dada.
Setelah merasa bahwa kepalanya tidak terasa pening lagi dan sesak napasnya lenyap, Sian Jiu Nio-nio membuka matanya dan menengok.
Ternyata pemuda setan itu sudah tidak kelihatan lagi, lenyap bersama gadis yang terluka tadi.
Segera ia bangkit perlahan, berdiri dan memandang ke tempat di mana tadi pemuda itu berada.
Matanya celingukan ke sana kemari.
Tiba-tiba pandangan matanya tertumbuk oleh sebuah tulisan di batu yang tadi telah dipukul olehnya.
ULISAN itu diguratkan oleh jari telunjuk dan membekas dalam seperti diukir pada batu yang keras itu.
Berbunyi.
-bo, hari ini Giam-lo-ong mengampuni nyawamu.
Akan tetapi awas kau!
Melihat tulisan ini, keruan saja Sian Jiu Nio-nio melarikan diri dan ketakutan setengah mati.
Siapa dia.......
siapa pemuda itu?
Dalam larinya tunggang langgang itu nenek ini tak habisnya berpikir dan tiba-tiba ia merasakan seluruh bulu tengkuknya berdiri dan cepat-cepat ia melompat jauh lari semakin cepat dengan hati penuh kengerian!!!
ooOOoo Ya, siapakah dia?
Siapa pemuda yang sederhana dan sakti ini?
Untuk mengenal pemuda perkasa ini baiklah kita menengok keadaan Pei Pei di jurang maut di pegunungan Ta-pie-san.
Seperti kita ketahui, Pei Pei yang malang itu terjatuh ke jurang oleh sebab tendangan Bu-tek Sianli yang keji dan ganas itu.
Akan tetapi bersyukurlah kita bahwa menjelang ajalnya ini secara kebetulan sekali seorang yang ke dua kakinya buntung tengah berada di tepi jurang di tengah-tengah tebing yang amat tinggi itu.
Jilid 10 Kebetulan ia berhasil menyelamatkan nyawa Pei Pei yang terjatuh, sehingga perempuan muda ini tidak terbanting seperti dugaan Tiang Le dan Bwe Lan yang mencari-cari di atas tebing itu.
Bersama nenek yang bernama Bong Kwi Nio itulah Pei Pei tinggal di sebuah gua yang terdapat di tebing pegunungan Ta-pie-san.
Nenek Bong Kwi Nio yang kedua kakinya buntung sangat sayang sekali kepada Pei Pei dan menganggap anak sendiri.
Ini membuat Pei Pei terharu dan kasihan kepada nenek yang malang ini, rasanya ia lebih suka tinggal menyendiri di tempat ini bersama si nenek yang dianggap sebagai neneknya sendiri.
Akan tetapi setelah beberapa bulan Pei Pei tinggal di gua itu, atas pertolongan Bong Kwi Nio, Pei Pei melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sung Tiang Hin.
Lampu pelita yang tadinya hampir padam kini menyala kembali menerangi gua di tebing pegunungan Ta-pie-san itu.
Hari-hari dilaluinya dengan penuh kebahagiaan.
Bocah cilik yang bernama Sung Tiang Hin ini, sangat mirip sekali dengan ayahnya Sung Tiang Le, sehingga Pei Pei sangat sayang sekali kepada anak tunggalnya ini.
Begitu pula Bong Kwi Nio.
Setelah Tiang Hin berumur sepuluh tahun, nenek ini mulai mendidik Tiang Hin dengan ilmu silat yang pernah ia pelajari dari gambar-gambar di dalam dinding gua itu.
Sedangkan Pei Pei memberi pelajaran ilmu sastra kepada anak ini sehingga dalam usia hampir limabelas tahun Tiang Hin boleh dikata telah menjadi pemuda remaja yang pandai ilmu silat dan sastra (bun-bu-cwan-jay)!
Semakin dewasa, wajah Tiang Hin mirip sekali dengan ayahnya sehingga membuat Pei Pei seringkali rindu untuk bertemu dengan Tiang Le, suaminya.
Kurang lebih hampir duapuluh tahun Pei Pei dan Bong Kwi Nio tinggal di tempat itu, yakni di sebuah gua yang terdapat di dalam jurang yang, tak berdasar, yang berada di puncak Ta-pie-san, yang sebetulnya merupakan lereng tersebut dari bukit itu.
Kalau di samping Pei Pei memberi pelajaran sastra kepada anaknya ini, juga ia menerima gerakan-gerakan ilmu silat yang ia dapat pelajari dari gambar-gambar di dinding gua.
Bong Kwi Nio juga tidak tinggal diam.
Nenek ini melatih Tiang Hin dari dasar-dasar ilmu silat tinggi yang sebetulnya adalah ciptaan Sui-kek Siansu, akan tetapi karena ia tidak tahu judul ilmu silat ini maka Bong Kwi Nio memberinya nama ilmu silat Sui-kek-sin-ciang, sehingga dalam usia hampir limabelas tahun kemudian Tiang Hin langsung mempelajarinya dari kitab yang terdapat di dalam sebuah gua itu!
Sehingga atas gemblengan Bong Kwi Nio dan kitab peninggalan Sui-kek Siansu ini, dalam usia hampir sembilanbelas tahun.
Tiang Hin bukan saja sudah matang ilmu silatnya, namun ia benar-benar digembleng kebathinan oleh ibu dan neneknya!
Memang sejak Bong Kwi Nio tinggal di gua ini hampir tujuhpuluh tahun......., ia merasa ketenangan bathin dan ketentraman hidup hasil dari pada kesendirian hidupnya di gua ini.
Di tempat yang sunyi ini, nenek itu mendapatkan ketentraman hidup, apa lagi setelah Tiang Hin lahir.
Diam-diam nenek ini memusatkan pikirannya ke alam rohani dan mempertinggi pelajaran-pelajaran kebathinan yang ia dapat baca dari kitab-kitab yang terdapat di dalam gua itu, sehingga tak heran Tiang Hin selalu menerima pelajaran-pelajaran kebathinan yang sangat berharga itu.
Sehingga dalam usia yang masih sangat muda ini, Tiang Hin telah berpikir masak dan mempunyai pandangan hidup yang jauh!
Pada suatu hari, Pei Pei nampak murung bukan main.
Ia memandang jauh ke sebuah lembah yang menghampar di bawah tebing ini.
Nampak dari sini, di bawah sana itu rumah-rumah penduduk dusun kelihatan kecil dan seperti kotak-kotak kecil yang hanya kelihatan samar-samar saja.
Ia sudah lama sekali merindukan untuk kembali ke dunia ramai, baru sekarang ini terasa benar setelah Tiang Hin menjadi seorang pemuda.
Biar bagaimanapun, ia harus mencari jalan untuk keluar dari neraka ini.
Berhari-hari ia memikirkan persoalan ini, sehingga hari itu Tiang Hin menghampirinya dan menegur.
Pei Pei menoleh dan mengusap rambut anaknya yang berlutut di depannya.
-ji.
Popo bilang katanya Hin-usah kuatir.
Jangan pikirkan itu.
Di sini ada nenek, aku dan kau yang sangat mencintaiku, untuk apa kita berpikir yang tidak--ji, biar bagaimanapun juga kita harus berupaya untuk keluar dari jurang ini.
Atau apakah kita diam saja, di sini, dan mati terkubur hidup-hidup.
-Pei Pei terdengar perlahan dan ia mengisak.
ia dijuluki orang Pendekar Lengan Buntung.
-benar -ji.
Sekarang mungkin ayahmu berada di Tiang-pek-san.
u berpikir bagaimana caranya kita harus keluar dari neraka ini.
Aku tak ingin kau bersendiri di tempat ini Hin-ji, kau masih mempunyai seorang -pagi mencari jalan.
Masak kita tidak keluar dari sini.
-ji.
Tebing di sana itu terlalu tinggi untuk kita dapat ke puncak, tak mungkin kita daki, sedangkan di samping kanan dan kiri gua ini terbentang jurang yang maha dalam.
-hidup-usah kuatir.
Di dalam segala sesuatu, baiklah serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
dari jurang ini.
Tentu Thian lebih berkuasa, ia yang akan mengatur dan memberi jalan asalkan kita Demikianlah berhari-hari itu, Tiang Hin dan Pei Pei mencari jalan keluar dan menyelidiki keadaan di jurang ini.
Akan tetapi sampai berbulan-bulan lamanya, ternyata mereka tidak menemukan jalan yang kiranya dapat keluar dari jurang ini.
Hingga Tiang Hin yang berhati tabah, akhirnya berkata, -Pei Pei memandang anaknya, -ji, tak boleh itu terjadi.
Biar bagaimanapun juga kita harus keluar dari ndangannya ke atas tebing yang tidak kelihatan puncaknya, tertutup oleh awan di atas.
Tebing yang tinggi itu penuh dengan pepohonan yang tumbuh di sana, kadang-kadang nampak putih-putih oleh sebab tanah kapur yang tidak ditumbuhi pepohonan.
Awan putih menutupi puncak tebing itu saking tingginya.
Pei Pei juga mendongakkan kepalanya ke atas.
memandang ke atas.
Hin.
Tiba--ji.....
mengapa sekarang kau yang berputus asa?
Bukankah kau sudah mempelajari ilmu silat tinggi dan tenaga sin-kang kurasa dapat membantu engkau keluar dari sini!
-ji.
Dengan menggunakan ilmu cecak -ji, akan tetapi kurasa jalan inilah satu-satunya.
Tak -kek Siansu bisa keluar dari gua ini tentu merayap di tebing itu, masakan ia bisa terbang ke atas.
Kalau Sui-kek Siansu suhu bisa merayap, mengapa dah mempunyai kesaktian yang luar biasa.
-ji.
Eh, mengapa kau begini lemah Popo.
Kita mendaki tebing itu.....
mudah-dalam gua kemudian keluar lagi bersama-sama Bong Kwi Nio.
-datang si nenek menegur.
in tidak ada.
Jalan satu-satunya kita harus mendaki tebing itu.
Mati dan hidup kita harus berusaha Melihat ibunya hampir menangis, Tiang Hin menghampiri Poponya dan berkata..Jalan satu-Bong Kwi Nio menggelengkan kepala.
-ji, tebing ini sangat tinggi.
Bagaimana kalau kita -tangan.
ibu, popo.
Aku hendak bertemu dengan ayah dan ibu juga sudah rindu sama ayah.
Popo Bong Kwi Nio memandang ke atas.
-wejangan kepadaku, bahwa kita hidup ini harus berusaha dan berharap kepada Thian.
berhasil tidaknya mengapa kita tidak mengharap kepada Thian Yang Maha Kuasa?
hu Sui-kek Siansu dapat keluar dari sini hanya melalui jalan Bong Kwi Nio menoleh dan memandang cucunya ini.
Melihat wajah Tiang Hin yang begitu serius, nenek ini menarik napas panjang dan akhirnya berkata.
bisa bilang apa-apa.
Hanya aku kuatir Hin-.
Harap Popo tidak menguatirkan kami.
O ya, -seri dan penuh harapan membayang di wajahnya.
-ji.
Tak perlu lagi kembali ke dunia ramai.
Biarlah dari sini aku berdoa u -tangisanlah mereka ini.
Bagi Pei Pei sebetulnya sangat berat sekali hatinya berpisah dengan nenek yang sangat dicintainya ini.
Budi baik nenek ini sukar sekali untuk terkatakan.
Karena nenek inilah yang pernah menyelamatkan jiwanya sehingga terlahir puteranya Tiang Hin di tempat ini.
Sekarang, ia akan meninggalkannya nenek ini.
Seakan-akan perpisahan ini merupakan kematian saja.
k berhutang budi denganmu.
Entah bagaimana aku dapat membalasnya?
Popo.......
kau turutlah kami mendaki tebing itu .
Marilah kita tinggalkan Suara Pei Pei terisak dan memandang nenek yang kedua kakinya buntung itu, dan tengah bersimpuh di depan gua.
Tangan si nenek mengelus rambut Pei Pei.
Thian yang menentukan.
usahakanlah agar keberangkatan kalian ini tidak sia-sia.
Kegagalan berarti maut yang menyambut kalian.
dunia ramai, akan menyusahkan bagi yang hidup saja.
Biarlah aku di tempat ini.
ngkatlah.
Hati-hati Hin-ji, jagailah ibumu, mudah-mudahan kalian Tiang Hin berlutut memeluk nenek ini dan mengangis tersedu--yap ke atas tebing itu, mohon doa sembahyangmu agar itu dan berlutut tiga kali dihadapan si nenek.
Bhong Kwi Nio buru-buru mengangkat bangun Pei Pei dan katanya.
an begitu Pei Pei, lekaslah kau berangkat, dan sudahkah kau bersiap-siap dengan alat-alatmu untuk mendaki.
Hati-hati Hin-ji, apalagi di sebelah sana itu terdapat tanah kapur yang mudah longsor.
Kalian pergunakanlah tenaga sin-kang merayap seperti cecak.
Ak -ji.
Aku akan selalu berdiam di sini Demikianlah Pei Pei dan Tiang Hin menuju ke jurang sebelah kiri dan mempergunakan sepasang pedang yang diambilnya di dalam goa.
Akan tetapi setelah sampai di tebing sebelah sana itu, alangkah girangnya pemuda itu melihat pada dinding-dinding tebing yang banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon yang mempunyai akar yang kuat-kuat dan ulet.
Dengan girang sekali Tiang Hin menoleh kepada ibunya, Sebaiknya dengan bantuan akar-akar ini kita dapat memanjat ke atas.
duluan, biar anak memanjat di bawah.
Hati-hati ibu, akar ini licin -Pei Pei mencoba untuk tersenyum.
Matanya basah memandang anaknya yang sangat dicintainya.
Melihat mata ibunya basah, Tiang Hin mengusap pipi ibunya dengan sayang, -Tiang Hin memandang ibunya yang telah menjambret akar pohon yang bergelayutan itu.
Kemudian dengan ke dua kakinya ia menjejakkan tebing yang penuh dengan akar-akar pohon itu.
Melihat ibunya sudah memanjat, pemuda itu cepat mempergunakan gin-kangnya mencelat ke atas dan menyambar sebuah akar pohon.
Sekali lagi ia menoleh ke arah gua dan berteriak kepada neneknya yang tengah memandang di luar gua itu.
-hati Hin-Dan mendengar seruan yang terakhir ini, Tiang Hin menjadi tabah dan ia terus merayap bergelayutan dari akar pohon ke akar pohon lainnya yang lebih tinggi.
Ia terus menggunakan cara berpegangan pada akar pohon ini sambil berkali-kali ia memberi peringatan kepada ibunya.
Demikianlah, dua orang itu mulai merayap naik.
Mulanya memang tidak terlalu sukar merayap ke atas dengan berpegangan pada akar-akar pohon yang cukup kuat ini.
Akan tetapi setelah mereka sudah sampai ketinggian seratus meter, tiba-tiba perjalanan terasa amat sukar bukan main.
Berapa kali tubuh Pei Pei hampir tergelincir akibat akar pohon yang dipegangnya jebol.
Dan untung Tiang Hin berada di bawahnya dan cepat-cepat telah memegang lengan ibunya.
Tiba-tiba udara menjadi mendung.
Kabut tebal menaungi di atasnya dan hujan turun dengan lebatnya.
Hal yang tak tersangka-sangka ini terjadi sudah.
Kedua orang yang sedang merayap itu bertambah sukar lagi dalam keadaan yang sangat licin ini.
Tubuh ke duanya sudah bermandikan air hujan dan basah kuyup.
Ketika itu Pei Pei sudah lemah sekali.
Beberapa kali ia hampir jatuh dan kehilangan pegangan kalau tidak buru-buru Tiang Hin menyambar tangan ibunya dan menyodorkan akar pohon yang lebih kuat.
--lama akar ini menahan tubuh kita akan Tiang Hin kuatir sekali melihat keadaan ibunya yang sudah lelah ini.
Ia sendiri kalau tidak mempunyai sin-kang yang luar biasa ditubuhnya, niscaya tak dapat bertahan lama melakukan perjalanan merayap seperti ini.
Sekali saja pegangan tangan pada akar pohon itu terlepas, niscaya akan terguling tubuhnya masuk ke jurang.
Namun demikian, dalam keadaan yang amat sukar dan berbahaya ini, Tiang Hin selalu memperhatikan keadaan ibunya.
-aian hujan yang lebat suara ibunya mengeluh.
Cepat dan cekatan Tiang Hin mendekati ibunya dan memeluk tubuh ibunya yang tak kuasa untuk berpegangan itu.
sampai ke atas sana --ji.
Kau mengingatkan aku jangan lama-akar pohon yang lain.
Dengan amat sukar sekali Pei Pei memanjat ke atas.
Ia benar-benar sudah lelah sekali, hampir-hampir tak kuat mengangkat tubuhnya memanjat.
Untung Tiang Hin tidak lengah dan senantiasa menjaga ibunya.
Dan berkali-kali ia menyalurkan hawa sin-kang ke pundak ibunya supaya ibunya dapat tenaga baru, dengan demikian perlahan dan lambat mereka terus merayap ke atas.
Sementara itu hujan bertambah deras.
Udara dingin bukan main membuat Pei Pei bertambah pucat sekali kelihatannya.
Sedangkan Tiang Hin sendiri, merasa tubuhnya sakit-sakit terkena duri-duri pohon yang menyeret dan membeset kulit tubuhnya.
Sepatu yang dipakainya sudah bolong-bolong dan hancur dan bajunya basah kuyup, robek sana sini terkait akar-akar pohon.
Akan tetapi mereka ini sungguh tabah.
Biarpun Pei Pei sudah lelah bukan main dan kedua kaki dan tangannya terasa menggigil, namun ia terus merangkak ke atas dengan dibantu Tiang Hin yang juga kelihatan sudah lelah sekali karena menahan tubuh ibunya dari bawah.
Sekali saja pegangan tangan terlepas, pasti tubuhnya akan hancur di bawah jurang.
Untuk melakukan perjalanan merayap seperti ini, mereka benar-benar mempunyai ketabahan yang luar biasa pada saat itu.
Agak sukar mencari orang kedua yang seperti Tiang Hin, yang begini tabah, ulet dan mempunyai tenaga sin-kang yang demikian tinggi dan tanpa ia sadari.
Apalagi setelah tiba di bagian tebing yang penuh dengan tanah-tanah kapur, hampir-hampir saja Tiang Hin celaka karena pegangan tangannya yang memondong tubuh ibunya terlepas.
Namun pemuda ini demikian tabah dan tidak pernah takut.
Begitu tubuhnya meluncur ke bawah, cepat ia mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya dan menjambret akar pohon, membetulkan letak posisi pada pegangan tangannya pada ibunya.
Kemudian dengan menggunakan ilmu merayap di atas dinding tangan dan kaki pemuda ini bagaikan melekat di tepi tebing dan perlahan-lahan ia menarik ibunya yang sudah kepayahan bukan main.
Akhirnya berkat keuletan dan ketabahan Tiang Hin dalam usahanya ini, sampailah mereka di atas tebing.
Alangkah senangnya hati Tiang Hin menghirup udara puncak gunung yang begitu menyegarkan.
Akan tetapi begitu ia menarik tangan ibunya, ternyata ibunya telah kepayahan bukan main.
Napasnya satu-satu dan mengap-mengap kecapean seperti ikan kehabisan air.
Melihat keadaan ibunya seperti ini, pemuda itu terkejut dan cepat-cepat memeriksa tubuh ibunya yang kemudian dicelentangkan di atas rumput tebal di pinggiran jurang.
--tiba Pei Pei memuntahkan darah segar menyembur dada anaknya.
Wajahnya semakin pucat dan napasnya kelihatan mengap-mengap bukan main.
Perempuan setengah tua ini memandang anaknya sayu.
Tiang Hin membuka jubah luarnya dan dengan bajunya ia menyeka darah yang ke luar dari pinggiran mulut.
Pandangan ibunya semakin meredup.
Ternyata Pei Pei sudah terluka dalam yang amat hebat akibat menahan letih waktu mendaki tebing tadi.
Hanya kekerasan dan kemauan yang keras saja yang membuat Pei Pei berhasil bertahan sampat di puncak ini.
Namun demikian ternyata paru-parunya telah pecah.
-Pei Pei memuntahkan darah lagi.
Kaget sekali pemuda ini melihat keadaan ibunya seperti ini, cepat ia mencelat turun gunung dan bermaksud hendak mencari ahli pengobatan.
Akan tetapi, di puncak gunung ini di mana ada shin-se.
Ia berlari-lari menuju dusun, akan tetapi orang-orang dusun inipun tidak mengerti ilmu pengobatan.
Maka dengan bingung dan tak tahu lagi apa yang mesti ia perbuat.
Tiang Hin berkelebat ke arah puncak mempergunakan gin-kangnya yang tinggi.
Hingga melihat pemuda sederhana itu tahu-tahu sudah lenyap, gemparlah penduduk dusun di kaki gunung Ta-pie-san.
Bagaimana pemuda itu tahu-tahu bisa menghilang dihadapan mereka?
Banyak penduduk dusun menduga tentu semacam hantu yang menjelma menjadi seorang pemuda, maka tahayul ini membuat beberapa penduduk lantas saja membakar menyan agar terhindar dari mara bahaya.
Sementara itu, begitu sampai di puncak Tiang Hin berteriak kaget melihat ibunya ternyata telah tak bernyawa.
Seluruh baju pada dadanya terdapat banyak darah yang keluar dari mulut, cepat-cepat pemuda itu mengangkat kepala ibunya yang penuh berlumuran darah.
Bagaikan orang gila Tiang Hin berlari cepat menuruni puncak sambil memondong tubuh ibunya.
Ia tidak menyadari kala itu tubuhnya bagaikan bayangan saja berkelebat cepat berloncatan dari jurang ke jurang.
Tiang Hin seperti orang hilang ingatan memanggil-manggil nama ibunya sambil berlari cepat tak tentu arah tujuan.
Air matanya bercucuran menangisi ibunya.
Tiba-tiba, seorang hwesio tua tahu-tahu telah memegang lengannya dan berkata, Bagaikan disiram oleh air dingin di atas kepala, Tiang Hin tersadar dan menghentikan larinya.
Dilihatnya di depannya nampak seorang hwesio tua tengah berjongkok dan memeriksa luka di kaki seorang pengemis yang terkapar di tepi jalan.
Melihat hwesio ini membawa ramuan obat-obatan, Tiang Hin menjadi girang sekali dan buru-buru berlutut di depan hwesio tua itu.
--suhu yang berhati welas asih segera menyembuhkan ibuku, lo-Dengan tidak menengok hwesio tua itu berkata sambil tangannya tetap membalut kaki pengemis yang terluka, -lekas Tiang Hin menundukkan mukanya memandang ibunya.
Dilihatnya ibu itu diam tak bergerak, ia memegang lengan ibunya terasa dingin.
bercahaya lagi.
Pelan-pelan ia melepaskan rangkulannya dan kemudian memandang si hwesio tua.
Dan sepasang mata hwesio itu nampak tajam akan tetapi lembut menandakan kesempurnaan bathin hwesio ini, lalu tersenyum, menduga.
Berbahagialah segala manusia yang telah mempersiapkan diri menjelang tibanya kematian yang gelap itu.
menjemputnya, berbahagialah bagi mereka yang mati, karena dengan hanya kematian ia akan terbebas dari tuntutan hidup yang menyengsarakan badan!
-Tiang Hin yang sampai saat ini belum pernah mengenal orang mati, menjadi bingung.
Mimpipun tak pernah ia waktu di jurang itu, bahwa orang mati itu harus ditanam dan dikuburkan, dan di sembahyangkan.
Karena soal-soal kematian dan cara-cara mengurus orang mati, tak pernah ia dengar dari nenek dan ibunya.
Memang harus diakui bahwa Tiang Hin ini, berhubung hidupnya belum mengenal masyarakat.
Sehingga ibunya matipun tak tahu bagaimana dia harus perbuat.
Hwesio tua itu memandang pemuda itu, seakan-akan ia merasa heran mendengar perkataan pemuda ini tadi.
Akan tetapi dengan penuh kesabaran, hwesio ini berkata.
itu lalu berjalan.
Tiang Hin dengan memondong mayat ibunya berjalan mengiringi hwesio tua itu.
Sampai di dalam hutan, hwesio itu berhenti dan berkata, dup agar mayat si mati tidak membusuk.
prikemanusiaan, rasa bakti kepada orang yang mati untuk merawatnya dalam saat -suhu, biarlah siauwte mengeluarkan pedangnya dan dengan menggunakan lwekangnya yang tinggi, sebentar saja ia telah membuat sebuah lubang yang cukup besar.
Melihat gerakan pemuda ini dalam menggali lubang, diam-diam hwesio ini terkejut bukan main.
Itulah pengerahan tenaga sin-kang yang luar biasa!
Setiap gerakan pedang pemuda itu yang menggali tanah, seperti dipacul oleh sepuluh mata pacul yang kuat dan besar sehingga dalam waktu beberapa menit saja pemuda itu telah membuat lubang yang cukup dalam dan besar.
Demikianlah atas petunjuk-petunjuk hwesio tua ini, Tiang Hin memakamkan ibunya di sebuah hutan di bawah sebuah pohon besar.
Sesudah selesai pemakaman itu, lalu Tiang Hin membuat tanda berupa tulisan di sebuah batu besar yang diletakkan di muka pekuburan.
Lalu ia memasang hio dan berlutut di muka pekuburan yang masih baru itu.
Terdengar anak muda itu berbisik, petunjukmu ibu agar aku boleh segera sampai di Tiang-pek-Hwesio tua itu terkejut dan sesudah dilihatnya pemuda itu berdiri, ia lalu bertanya, -pek-Tiang Hin tersenyum.
-suhu, sebenarnya aku adalah putera Pendekar Lengan Buntung.
Sengaja memang aku hendak ke sana untuk menemui ayah.
Apakah kau kenal dengan ayahku lo-Le Pendekar Lengan Buntung yang gagah perkasa itu.
Suhuku pernah menyebut pendekar yang gagah perkasa itu, orang muda.
-liong-sie.
Senang sekali hati -suhu!
Maaf, siauwtee hendak segera menuju ke Tiang-pek-san, apakah lo-suhu tahu letaknya pegunungan Tiang-pek-Hin menjura hormat.
Hwesio itu tertawa senang.
-pek-san masih cukup jauh, kalau berjalan cepat harus melintas bukit Lu-liang-san.
Eh, apakah -suhu, maaf siauwte tidak dapat lama-pemuda ini berkelebat lenyap dan gerakan ini membuat si hwesio menjadi kagum bukan main.
Ia sebetulnya murid Thian Thian Losu, di Siauw-lim-pay tentu saja mengenal baik akan Pendekar Lengan Buntung itu.
Biarpun belum pernah bertemu, akan tetapi sekarang bertemu dengan puteranya saja ia sudah dibuat kagum bukan main!
Rasa kagum ini membuat ia segera melangkahkan kakinya menuju ke kuil Han-liong-sie dan bercerita kepada tua-tua di kelenteng tersebut.
ooOOoo Sementara itu, Tiang Hin berlari cepat sekali.
Jarang sekali berhenti kalau bukannya perutnya berkeroncongan minta diisi.
Ia hendak segera sampai di Tiang-pek-san dan bertemu dengan ayahnya, Pendekar Lengan Buntung yang gagah perkasa itu.
Senang sekali hatinya, bisa menjumpai ayah seperti Pendekar Lengan Buntung yang kesohor.
Maka dari itu cepat-cepat ia mempergunakan gin-kangnya berlarian menuju ke arah Utara.
Ketika itu hari hampir menjelang senja ketika ia memasuki sebuah dusun kecil di tepi hutan.
Akan tetapi alangkah herannya dia, ketika di luar dusun itu terdengar orang bertempur.
Cepat-cepat Tiang Hin melangkahkan kakinya dan alangkah gemas hatinya ketika melihat bahvva seorang gadis tengah dikeroyok oleh puluhan orang-orang kasar.
Tadinya Tiang Hin hendak membantu gadis itu, akan tetapi melihat cara gadis ini bersilat amat hebat dan bersenjatakan sebuah kipas dan suling, keruan saja Tiang Hin menjadi memandang ke arah jalannya pertempuran dengan hati kagum.
Ternyata gadis yang dikeroyok ini, demikian lihay.
Begitu kipasnya bergerak mengebut, begitu pula dua-tiga orang-orang kasar itu terjungkal dan telah tertotok oleh gagang kipas, sedangkan yang lebih mengagumkan lagi adalah gerakan-gerakan suling ditangan si gadis.
Sungguh aneh dan ajaib sekali.
Tentu saja Tiang Hin yang telah mempelajari ilmu sastra dapat menangkap gerakan-gerakan yang kadang-kadang seperti huruf-huruf yang digerakkan oleh suling di tangan gadis ini.
Sama lihainya seperti kipas di tangan kirinya tadi, suling inipun luar biasa sekali karena begitu gadis ini bergebrak menulis huruf-huruf di udara.
Tiba-tiba entah bagaimana caranya lima orang kasar yang mengeroyoknya terpelanting roboh, dan bagaikan kilat tangan si gadis bergerak cepat dan menyambar tubuh seorang laki-laki yang bercambang bauk.
Dan dengan merenggut baju di lehernya, tiba-tiba laki-laki cambang bauk itu bagaikan dibawa terbang ke atas dan tahu-tahu ia sudah berada di atas pohon yang tinggi tergantung.
Terdengar suara gadis itu berkata ketus, mempergunakan suara khi-kang sehingga terdengar oleh mereka bagai petir yang memekakkan anak telinga.
-laki tinggi besar bercambang bauk yang tergantung di atas pohon yang tinggi itu berkata jeri dan memandang ke bawa ketakutan.
Sedangkan duapuluh anak buahnya yang lain cepat-cepat berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
-tanya dengan suara keren dan bertolak pinggang.
-Tangan gadis itu bergerak.
Serangkum angin pukulan menyambar ke atas dan terdengar ranting pohon patah dan tubuh kepala rampok itu terdengar jatuh ke tanah bergedebuk dan meringis menahan sakit karena pantatnya terhantam batu.
Sakit dan mulas.
Gadis itu menyepak tubuh laki-laki cambang bauk itu dan membentak, Maka bagaikan anjing digebuk pantatnya orang-orang kasar itu mengangkat kaki seribu dan berlari terbirit-birit.
Pada suatu saat itu bermunculan banyak penduduk dusun yang terus saja menjatuhkan diri berlutut dihadapan si gadis.
-sat terima kasih atas pertolongan Pouw-sat yang telah mengusir perampok-Buru-buru gadis ini berjongkok menarik punggung kakek itu.
-sat yang harus kalian sembah-membangunkan si kakek.
-perampok itu.
Kalian h kami mengetahui nama rupanya menjadi kepala dusun di sini bertanya sambil menjurah.
Gadis itu tersenyum dan tidak menyahut melainkan melirik ke arah sulaman baju di dadanya yang bergambar walet merah terbang di langit biru.
Para orang-orang dusun itu melihat pula gambar yang terhias indah itu.
Keruan saja salah seorang pemuda yang ikut-ikutan berlutut berkata lantang, Lopek itu melirik ke arah seorang pemuda sederhana yang berkata tadi, kemudian dengan tertawa girang kakek ini lalu berkata kepada gadis itu, -an-kaget, karena tiba-tiba saja gadis itu lenyap dari pandangan mata, juga pemuda sederhana tadi turut lenyap pula.
Aneh.
Sementara itu, jauh di luar dusun pada sebuah jalan kecil yang penuh debu, seorang pemuda berlarian mengejar seorang gadis yang rupanya sengaja tidak menghiraukan panggilan pemuda itu.
Namun gadis itu tidak menengok atau menghentikan kakinya, malah tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap.
Ia kini menggunakan gin-kangnya berlari cepat.
Setelah jauh dan merasa pemuda ini tidak lagi mengejarnya, ia tiba di sebuah sungai di tepi hutan kecil.
Si gadis berhenti dan duduk pada sebuah batu di pinggir sungai.
Ia menanti perahu yang masih ditengah-tengah itu, yang sedang menuju ke tepi.
Akan tetapi alangkah herannya hati gadis ini begitu menengok ke belakang, dilihatnya pemuda tadi telah berdiri di belakangnya sambil bersedekapkan tangan memandang jauh ke arah sungai.
Tiba-tiba gadis itu berdiri dan bertolak pinggang.
Sikapnya galak dan kata-katanya terdengar ketus, Tiang Hin tersenyum dan seperti seorang kota yang terpelajar, yang tahu akan tata kesopanan, ia mengangkat kedua tangannya dan berkata.
aku tak pernah merasa membuntutimu.
Untuk apa -memandang penuh selidik.
-manggilmu.
Nih, sapu tanganmu jatuh.....
aku tadi bermaksud mengembalikannya.
Sayang dan tahu-tahu sapu tangan merah yang disodorkan Tiang Hin sudah herpindah tangan ke tangan si gadis itu.
Kemudian tanpa bilang apa-apa gadis itu lalu menggerakkan tubuhnya mencelat ke arah perahu yang sudah menepi.
Kemudian ia memerintahkan kepada tukang perahu untuk mendayung perahunya ke tengah, akan tetapi tiba-tiba Tiang Hin berteriak, Si kakek tukang perahu lantas mendayung perahunya ke tepi.
Tiang Hin dengan berpegangan pada tangan si kakek telah menarik ke dalam perahu dan ia mendengar gadis itu menggerutu, Tiang Hin menoleh.
Akan tetapi gadis itu telah membalikkan tubuhnya membelakangi.
Ia melihat gadis ini usianya tidak lebih dari delapanbelas tahun dari potongan tubuhnya ramping dan menggairahkan, kulitnya kuning langsat berpakaian sutera merah yang indah, wajah gadis itu cantik, akan tetapi sombong terlalu, demikian pikir Tiang Hin.
Kemudian tanpa bilang apa-apa kepada gadis itu, ia duduk di samping si kakek dan mengambil sebuah dayung dan turut mendayung.
Senang sekali kakek tukang perahu ini melihat penumpangnya telah mau membantunya mendayung perahu.
Memang pada saat itu arus sungai agak deras dan perahunya mengambil arah yang berlawanan dengan arus sungai itu sehingga terasa perahunya berat.
Untung pemuda ini terus membantu.
Dan alangkah herannya kakek ini begitu perahunya didayung oleh pemuda sederhana itu, perahunya meluncur dengan amat cepat memecah arus sungai.
Diam-diam tukang perahu ini kagum melihat cara pemuda ini mendayung.
Ia sendiri, yang sudah puluhan tahun menjadi tukang perahu belum tentu dapat mendayung perahunya secepat itu.
Sampai di laut luas, malampun tiba.
Bulan hersinar terang di ujung laut merupakan bola merah yang bersinar memancarkan sinar emasnya.
Air laut yang tertimpa cahaya keemas-emasan itu berkilat-kilat diusap bulan.
Beberapa perahu lain kelihatan jauh di sebeleh sana.
Merasa bahwa suasana ini menjadi kaku dan sepi, karena gadis itu ternyata diam saja.
Tiba-tiba Tiang Hin berdiri dan bernyanyi mengetuk-ngetukkan tangkai dayungnya ke badan perahu memberi irama pada nyanyiannya.
Suaranya bersih dan merdu.
Kata-kata yang dilagukan adalah nyanyian yang pernah ia pelajari dari ibunya waktu di jurang Ta-pie-san.
Terdengarnya lagu itu sedih dan pilu.
Sudah lama tak kembali peristiwa lama teringat kembali seperti dalam mimpi bertemu dengan kekasih hati yang penuh cinta seperti dahulu.......
Teringat masa lalu bergembira bersama-samamu bunga merah dan hijau bersemi lagi musim salju di gunung berganti tahun dan bulan cepat menghilang bagaikan angin Kasih.......
aku di sini menanti!
Habis Tiang Hin membawakan nyanyian ini, tiba-tiba gadis itu menoleh kepadanya dan berkata -nyanyi melulu kayak orang gila.
Mending suaramu pa kau yang marah.
Aku menyanyi karena hatiku ingin menyanyi Si kakek tukang perahu buru-buru memegang lengan si pemuda.
aik bertengkar.
Hidup rukun dan damai, demikian ujar-memandang ke bulan.
Sebetulnya Tiang Hin ingin membalas memaki namun si kakek tukang perahu menyentuh lagi tangannya memberi isyarat untuk berdiam dan tidak meladeni gadis galak itu.
etiap orang pasti suka menyanyi.
Hati yang riang membawa mulut untuk bernyanyi, dan ini membawa umur panjang dan banyak rejeki ha-ha-kayak nenek-Tiba-tiba gadis itu menoleh dan tahu-tahu sebuah tamparan melayang di pipi Tiang Hin.
menden gadis itu menggerakkan kipasnya dan mengibas.
Terdengar suara keras, pinggiran perahu somplak dikebut oleh pukulan si gadis.
u menumpang perahu ini........
bertemu memasuki sungai Huang-ho, malam begini airnya deras.
Kau hebat, tenagamu seperti is yang membelakangi itu memaki.
Akan tetapi sekarang Tiang Hin diam saja, karena sebuah perahu besar mendekati perahunya dan sebuah kepala melongok dari dalam perahu.
Tiba-tiba si tukang perahu menjadi pucat.
Segera memutar perahunya dan menjauhi.
Akan tetapi tiba-tiba perahunya bergoyang-goyang keras ternyata perahu besar itu sudah menubruk perahunya.
Terdengar jeritan orang itu, dan tak lama kemudian di dalam perahu besar itu terdengar suara hiruk pikuk beradunya senjata.
Ternyata gadis perkasa itu sudah melompat ke atas perahu besar dan menerjang orang-orang yang di dalam perahu itu.
Tentu saja Tiang Hin yang berada di dalam perahu kecilnya tidak pernah menyadari bahwa gadis baju merah itu tengah menghadapi pertempuran yang hebat di atas perahu besar.
Baru setelah agak lama ditunggu-tunggu gadis itu tidak muncul lagi, pemuda ini menjadi curiga dan cepat-cepat ia berkata kepada tukang perahunya dan memberikan uang.
menyelidiki gadis itu.
Tentu ia tertawan di tangan orang-orang jahat di atas perahu itu.
sudah mengelebatkan tubuhnya menghilang dari pandangan si kakek.
Pemuda itu telah mencelat ke atas perahu besar.
Ia sengaja mempergunakan gin-kangnya sehingga datangnya ini tidak diketahui oleh orang-orang di dalam perahu, dan berindap mengintai ke dalam.
Alangkah terkejutnya pemuda itu, ketika melihat gadis baju merah tadi ternyata telah tertawan oleh dua orang kakek yang berambut riap-riapan.
Kakek ini biarpun kelihatannya berpakaian sutera yang indah dan mahal namun kelihatannya seram sekali.
Rambutnya menutupi muka sehingga sukar mengenali orang itu.
Sedangkan di dalam nampak puluhan orang laki-laki yang kelihatannya seperti bajak laut.
Dan di lantai perahu itu menggeletak gadis baju merah tadi, rupanya sudah terkena totokan lihai.
Terdengar kakek rambut riap-riapan yang tanda elang di dadanya sebagai kepala bajak Elang Sakti berkata dengan suara yang keras dan parau, dua orang tuanya dari Kong-hwa-san.
Segera kirim surat ke Kong-hwa-pai untuk menjemput gadis ini, sementara kita kirimkan gadis ini ke Istana Hantu untuk dihadapkan kepada Thay--ditugaskan untuk mengantar gadis ini ke Istana Hantu.
Akan tetapi orang tinggi kurus berwajah pucat yang duduk di sebelah kepala bajak itu berkata cepat--ong, gadis ini berbahaya sekali kalau terlepas.
Kepala bajak yang rambutnya riap-riapan menutup kepala itu mengangguk-angguk, -Hwesio tinggi besar yang memegang toya itu, tersenyum lebar dan dengan kan ada manusia -suhu sekarang juga membawa gadis ini ke Istana Hantu.
Sampaikan kami dari Huang-ho Sie-eng kepada Thay-bengcu.
Sekedar jasa lo--ong!!
Biarlah uang itu untuk kalian saja, pinceng tidak memerlukan -suhu jangan terlalu seji-Didesak demikian oleh kepala bajak itu akhirnya hwesio ini menerima juga hadiah yang disodorkan oleh kepala bajak itu, tetapi tiba-tiba hwesio ini menggerakkan toyanya ke samping dan terdengar suara keras, dinding perahu jebol dan sesosok tubuh berkelebat cepat menyelinap dan hilang.
Hwesio ini merasa penasaran sekali, dengan cepat ia menggerakkan tubuhnya melongok ke luar, ternyata di luar tidak ada siapapun juga.
--suhu, sebaiknya sekarang saja kita berangkat supaya besok pagi bisa Kepala bajak itu memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengeluarkan perahu kecil, nampak bayangan hwesio itu berkelebat ke atas perahu kecil dan terus saja perahu itu didayung oleh sepasang lengannya yang besar dan kuat.
Perahu kecil itu meluncur dengan cepat.
Sebuah bayangan berkelebat ke atas perahu besar.
Terdengar jeritan mengerikan dari dua orang anggota bajak yang tiba-tiba merasakan tubuhnya terangkat naik dan melayang keluar perahu.
Ternyata Tiang Hin telah bergerak menggunakan pukulan-pukulan mautnya, setiap kali tubuhnya berkelebat dua-tiga orang anak buah bajak itu terlempar keluar dari perahu.
Dua orang kepala bajak keluar dan membentak marah.
bentakan kepala bajak ini disertai dengan angin pukulan yang keras ke arah pemuda itu.
Namun Tiang Hin yang sudah tidak lagi memberi hati kepada kepala bajak ini.
Ia mengangkat tangannya dan mengerahkan tenaga sin-kang di tangan membalas mendorong.
aut itu terlempar ke belakang membentur dinding perahu dengan amat kerasnya.
Hebat sekali pukulan tangan kanan pemuda itu, sehingga dalam segebrakan saja kepala bajak itu sudah terpental dan memuntahkan darah segar.
Melihat kehebatan pemuda ini, dua orang lainnya menyerbu dan membentak Sebuah pisau pendek berkelebat di depan pemuda itu yang dengan mudah saja mengelak dan mengirim serangan siku yang ditonjokkan ke depan.
rhantam sikutnya Tiang Hin dan dari hidungnya keluar kecap.
Belum lagi hilang kagetnya tiba-tiba dengan gerakan jurus Menangkap Ikan, Melempar Jala, tahu-tahu tangan kiri Tiang Hin bergerak cepat dan tubuh orang berwajah pucat itu sudah terlempar ke laut.
Hebat sekali sepak terjang Tiang Hin ini, memang sejak tadipun ia sudah menyerbu dan mengobrak abrik sarang bajak ini akan tetapi melihat tadi di situ ada seorang hwesio, segan rasanya hati orang muda ini untuk mengacau.
Maka tadi ia mengintip saja.
Siapa sangka justru hwesio tadi dapat mendengar dan mengirim serangan tongkatnya yang membuat jebol dinding perahu.
Untung ia berlaku waspada mendengar pukulan kuat dari balik perahu.
Cepat ia mencelat dan terjun ke air menempelkan tubuhnya ke dinding perahu di dalam air sehingga waktu si hwesio keluar tadi, hwesio itu tidak melihat yang Tiang Hin bersembunyi di dalam air.
Sekarang melihat hwesio itu, pergi dan melawan gadis baju merah.
Cepat Tiang Hin bergerak dan mengobrak-abrik orang-orang bajak ini.
Heran sekali dia, karena ternyata bajak-bajak ini terdiri dari orang-orang kasar saja dan begitu tubuhnya berkelebat, sebentar saja ke limapuluh bajak-bajak itu sudah dilemparkan ke laut dalam keadaan tubuh terluka!
Beberapa menit saja ke limapuluh bajak laut itu sudah masuk ke dalam air, pada penghabisan sekalinya Tiang Hin cepat mengeluarkan jurus yang terhebat mempergunakan gin-kangnya melompat ke air dan berjalan di air, seperti orang berjalan di darat saja, tangannya tiba-tiba terayun dan salah seorang kepala bajak yang berwajah pucat kurus ini ditarik ke atas dan membentak keras.
--ong (raja laut) sudah lama melihat tingkah laku kalian yang mengotori kediamanku ini.
Hayo lekas katakan Suara Tiang Hin sengaja dikeraskan menggunakan tenaga khi-kang sehingga terdengar oleh kepala bajak, muka pucat seperti guntur yang menggelegar di langit.
Keruan saja mendengar suara yang menggeledek ini, dan melihat pemuda itu dapat berdiri di atas air laut dengan seenaknya saja, orang itu bertambah pucat mukanya dan tubuhnya menggigil keras.
-ota Istana Hantu...
ia membawa gadis pay-cu Kong-hwa-pay untuk diserahkan kepada Thay-bengcu di -liang-karena tiba-tiba tangan Tiang Hin yang mengangkat tubuh kepala bajak itu terlepas sehingga orang itu gelagapan dan terus tenggelam.
Setelah mendapat keterangan ini, segera Tiang Hin berkelebat cepat berlarian di atas air laut.
Dan sebentar saja ia sudah dapat membayangi perahu yang ditumpangi hwesio yang bernama Ban Beng Hosiang itu.
Sebetulnya pemuda ini ingin sekali menerjang hwesio ini akan tetapi karena ia ingin juga menyelidiki Istana Hantu, maka hatinya tertarik dan ia hanya membayangi saja ke mana perginya hwesio itu.
Alangkah kagetnya hati pemuda ini, begitu sampai di darat, tiba-tiba ia melihat gadis yang ditawannya oleh hwesio itu mencelat tinggi dan langsung menyerang si hwesio.
Tentu saja hwesio ini menjadi heran dan cepat ia mengelak dari serangan kipas yang dikebutkan si gadis ke mukanya.
Pucat hwesio ini begitu merasa hawa pukulan yang luar biasa dinginnya mengusap muka.
Cepat ia melompat mundur dan menarik senjata toyanya.
membentak marah kepada gadis ini.
Diam-diam ia heran bukan main, mengapa gadis ini tiba-tiba bisa melepaskan totokannya yang lihai.
Tadi malam ia lihat gadis itu masih berada di dalam totokannya.
Tak disangkanya bahwa gadis ini telah dapat melepaskan diri dari ilmu totoknya yang lihay itu.
Jarang sekali orang yang dapat melepaskan diri dari totokannya.
ooOOoo Benarkah gadis ini dapat meloloskan diri dari totokan Ban Beng Hosiang yang lihay?
Sesungguhnya bukan demikianlah jadinya.
Tadi waktu hwesio ini memondong si gadis dari atas perahunya dan berkelebat masuk ke dalam hutan, tiba dua orang muda lewat di depannya.
Yang seorang gadis cantik jelita menunggang kuda.
Dan seorang lagi, seorang pemuda tampan dan dilihat dari cara mereka melarikan kuda ini, mudah diduga bahwa dua orang muda itu bukanlah orang sembarangan.
Memang mereka itu adalah Nguyen Hoat dan Hong Kwi yang melakukan perjalanan ke utara.
Dan secara kebetulan sekali Hong Kwi melihat seorang hwesio memondong seorang gadis yang kelihatannya tak berdaya dalam totokan.
Segera saja waktu si hwesio itu berlalu di sampingnya, Hong Kwi menggerakkan tangannya dan dengan amat cepatnya, telah dapat membebaskan totokan yang lihai di tubuh gadis itu.
Kemudian ia mengajak temannya membalapkan kudanya lebih cepat lagi.
Tentu saja Ban Beng Hosiang tidak pernah bermimpi bahwa dua orang yang baru lewat itu telah membebaskan totokan pada tubuh si gadis yang dipondongnya.
Baru ia kaget setengah mati ketika tiba-tiba gadis dalam pondongannya mencelat ke atas dan mengirim serangan kipas yang luar biasa.
Hebat sekali serangan kipas ini, namun seperti tadi gadis baju merah ini ternyata tidak dapat mengalahkan Ban Beng Hosiang.
Hwesio ini ternyata sakti dan lihai ilmu toyanya, apalagi pukulan-pukulan tangan kiri hwesio itu sungguh hebat dan kuat.
Maka sebentar saja gadis baju merah ini sudah terdesak hebat oleh permainan toya si Hwesio.
Tentu saja, mimpipun tidak pernah gadis baju merah ini bahwa yang dihadapinya ini adalah tokoh kedua dari Siauw-lim-pay yang bernama Ban Beng Hosiang.
Murid langsung dari ciangbunjin (ketua) Siauw-lim-sie yang bernama Thian Thian Losu, ketua Siauw-lim-pay yang sakti itu.
Akan tetapi sayang sekali bahwa hwesio tua ini mempunyai bathin yang rendah sekali, ia tak puas hidup di Siauw-lim-sie maka ia mengembara dan bertemu dengan Thay-bengcu.
Berkat hadiah-hadiah yang sangat muluk-muluk yang dijanjikan akhirnya Ban Beng Hosiang tertarik dan bersekutu dengan orang-orang Istana Hantu.
Tugasnya adalah mencari pay-cu Kong-hwa-pay, yang bernama Khu Ho Siang itu.
Akan tetapi pendeta ini menjadi kecewa setelah diketahuinya bahwa Ho Siang ternyata menolak tawarannya untuk bersekutu dangan Istana Hantu maka Ban Beng Hosiang segera kembali ke Istana Hantu.
Namun siapa sangka justeru di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan puteri Ho Siang yang bernama Hwe Lan ini.
Maka segera saja ia menawannya untuk dibawa ke Istana Hantu sebagai pancingan untuk memanggil ayahnya ke Istana Hantu!!!
Oleb sebab inilah, ia sengaja tidak membunuh gadis ini.
Ia berusaha untuk menawannya saja.
Maka ia perlihatkan permainan toya Siauw-lim-si yang terlihay.
Tentu saja menghadapi tokoh Siaw-lim-pay ini, Hwe Lan menjadi sibuk bukan main dan ia berusaha menghirdarkan diri dari serangan-serangan toya yang luar biasa ganasnya.
Namun biarpun gadis ini terdesak hebat tidak gampang-gampang bagi Ban Beng Hosiang untuk menawannya hidup-hidup, maka hampir seratus jurus itu ia hanya dapat mendesak si gadis dan belum dalam menawannya.
Tiang Hin yang melihat gadis baju merah yang galak ini terdesak, segera ia hendak terjun membantu, akan tetapi belum lagi ia bergerak, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan.
Tahu-tahu seorang pemuda telah menerjang si Hwesio dengan pukulan dahsyat dan aneh.
Sambil menerjang demikian pemuda itu menoleh kepada si gadis dan berkata.
Aneh sekali.
Kali ini Hwe Lan tidak marah-marah seperti waktu dengan Tiang Hin tadi.
Malah gadis itu tersenyum manis sambil mengelak ke kiri menghindarkan serangan toya si hwesio yang lihai.
-hati, toyany Hwe Lan memberi peringatan kepada pemuda tampan itu.
Dan ia kagum bukan main melihat bahwa cara pemuda bersilat ini sangat aneh dan sungguh lucu, kadang-kadang seperti orang menari, kadang-kadang seperti orang yang ketakutan berloncatan ke sana ke mari.
Namun demikian patut dipuji bahwa gerakan-gerakan pemuda ini sungguh cepat dan lincah.
Yang membuat kaget dan heran adalah Tiang Hin, dari tempat persembunyiannya ini.
Ia dapat melihat betapa pemuda itu bersilat mirip dengan apa yang pernah ia pelajari pada gambar-gambar dinding gua di dalam jurang itu.
Hanya bedanya gerakan-gerakan pemuda itu kelihatannya lucu dan hampir bukan merupakan orang bersilat.
Namun demikian pada dasar gerakan-gerakan kaki dan tangan sangat mirip sekali dengan ilmu silatnya yang dipelajarinya.
Tentu saja Tiang Hin tidak tahu bahwa pemuda itu adalah Wang Ie.
ooOOoo Seperti telah dituturkan dalam bagian depan, Wang Ie memisahkan diri dari Nguyen Hoat dan Hong Kwi, ia menuju ke arah utara, mengembara seorang diri.
Akan tetapi hanya seminggu lamanya Wang Ie merasakan hidupnya menjadi kosong dan hampa.
Ia terkenang kepada Hong Kwi, menurut hatinya ingin sekali ia kembali kepada gadis itu, akan tetapi ia merasa malu dan tidak enak hati karena dilihatnya hubungan Hong Kwi dengan Nguyen Hoat demikian akrab.
Pada suatu hari, di sebuah rumah makan ia melihat Hong Kwi dan Nguyen Hoat berlalu di jalan itu.
Ingin hatinya menegur, akan tetapi entah mengapa.
Mulut ini tiba-tiba menjadi bisu.
Ia diam saja dan secara diam-diam ia membuntuti sumoaynya ini.
Ternyata Hong Kwi dan Nguyen Hoat menuju ke arah utara pula, maka ia terus membuntuti dengan berlari cepat.
AMUN karena ia selalu berjalan di belakang secara sembunyi-sembunyi, dan lagi kurang cepat, akhirnya Wang Ie kehilangan jejak.
Ia memasuki hutan dan tidak melihat Hong Kwi.
Dengan hati yang resah dan ngelamun, ia berjalan sambil tertunduk.
Tiba-tiba telinganya yang terlatih dan tajam mendengar suara senjata beradu di depan hutan sebelah sana itu, cepat Wang Ie menuju ke sana.
Alangkah heran hatinya melihat bahwa seorang gadis terdesak hebat oleh seorang hwesio.
Maka tanpa banyak cakap lagi ia terus menerjang hwesio itu.
Dimainkan jurus-jurus ilmu silat sin-khauw-kun-hoat yang luar biasa itu.
Tidak heran, tentu saja Tiang Hin yang melihat pemuda itu bersilat menjadi terheran-heran karena sesungguhnya ilmu silat yang dimainkan oleh Wang Ie adalah berdasarkan ciptaan Sui-kek Siansu, maka gerak tangan dan kaki hampir bersamaan.
Hanya bedanya ilmu silat sin-khauw-kun-hoat yang dimainkan Wang Ie lebih asli dan masih berbau menurut gerakan-gerakan monyet.
Sedangkan yang Tiang Hin pelajari dari dinding itu sudah banyak digubah oleh Sui-Sehingga biarpun kelihatan agak berlainan, namun pada dasarnya sama.
Karena Sin-khauw-kun-hoat adalah inti dari Thian-te Bu-tek-cin-keng, lebih asli dan murni.
Jilid 11 Sebab itu begitu Wang Ie bergebrak, dalam beberapa jurus saja Bu Beng Hosiang menjadi kewalahan bukan main.
Dan pada jurus yang kelima belas, tiba-tiba ia merasa dadanya terasa sakit dan nyeri.
Akan tetapi hwesio ini menjadi marah dan penasaran, tiba-tiba ia mengirimkan pukulan kuat ke arah punggung pemuda itu, dan cepat toyanya menyambar ke arah Hwe Lan.
Sudah barang tentu gadis ini berkelit cepat menghindarkan diri dari sabetan toya dan balas mengirimkan totokan sulingnya ke arah punggung hwesio itu.
Akan tetapi gadis ini menjadi kecele, karena ternyata punggung hwesio itu demikian kebal dan tidak terluka atau terpengaruh oleh totokan si gadis.
Hanya hwesio itu terhuyung-huyung mundur ketika untuk yang ke dua kalinya tangan kanan Wang Ie berhasil menerobos ke dada si hwesio dan meraba dada itu.
Akibatnya, bagaikan disentuh besi baja yang dibakar panas, terasa dadanya menjadi panas bukan main, napasnya sesak.
Dan Ban Beng Hosiang muntahkan darah segar sambil matanya memandang ke arah pemuda itu membelalak.
-suhu, apakah masih kurang?
Ingat dalam sepuluh hari kau tidak menyembuhkan luka di dalam dadamu itu, jangan salahkan aku kalau giam-lo-ong akan mencabut nyawa lo-suhu.
-suhu jahat sih, rasain dah lu ketula!
Makanya jadi seorang hwesio nggak boleh berbuat jahat.
Thian sangat mengutuk.
Heran!
Untuk apa sih bertempur dengan ng Hosiang muntahkan darah lagi, mendekap dadanya yang terasa sakit bukan main.
Napasnya sesak.
-Bu Beng Hosiang tidak menyahut karena sukar untuk berbicara, napasnya sesak, kemudian ia menggerakkan tubuhnya dan berkelebat lenyap dengan hati penuh kengerian.
Hwe Lan menghampiri pemuda itu dan memandangnya kagum.
Wang Ie juga menjura.
Tiba-tiba Hwee Lan menarik tangan Wang Ie dan berkata, Tadi dialah yang telah membebaskan aku dari totokan hwesio keparat itu, mari lekas kita kejar!
Mereka menuju ke s Ie dan mereka terus berlarian dengan amat cepat.
Sayup-sayup Tiang Hin mendengar suara dua orang muda itu bercakap-cakap dengan mesra sekali.
Dari kejauhan terdengar suara si pemuda bertanya kepada gadis baju merah.
Suara si gadis terdengar semakin tenggelam jauh.
Di pinggir jalan kecil itu Tiang Hin termenung seorang diri.
Ia tak habis heran, mengapa gadis baju merah itu yang terhadap dirinya semalam begitu galaknya dan ketus, mengapa dengan pemuda yang bernama Wang Ie itu demikian akrab.
Diam-diam Tiang Hin melirik ke arah pakaiannya.
Sekarang ia merasa rendah diri.
Tentu saja gadis manakah yang memperhatikan dirinya yang seperti jembel ini?
Pakaiannya penuh tambalan.
Akh, memang aku yang tak tahu diri.
Dalam melamun demikian Tiang Hin melangkahkan kakinya.
Ia menuju ke sebuah pancuran di dalam hutan itu dan mencuci muka, kemudian ia bersalin pakaian mengganti dengan pakaian yang bersih.
Lama sekali Tiang Hin berdiri di dekat air pancuran itu, mengawasi air bening yang mengalir pada selokan kecil.
Dengan kakinya ia menguiskan rumput-rumput di bawah kakinya kemudian menatap ke arah sepatunya yang sudah minta diganti ini.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara orang mengeluh, cepat dengan sekali lompatan ia telah berlari ke arah suara itu.
Alangkah heran hatinya, ketika sampai di tempat itu ia melihat seorang gadis jatuh terlentang oleh pukulan rambut si nenek.
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 9
Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 5