Eps 4 Pohon Kramat - Khu Lung
Baca online Pohon Kramat - Khu Lung
Cersil Pohon Kramat - Khu Lung.
"Dua-duanya tidak akan berhasil menyelesaikan pertarungan ini,"
Mata orang tua bungkuk itu sangat tajam sekali.
"Tidak ada habisnyakah pertempuran ini?"
"Saksikanlah perlahan-lahan. Dua jago kelas berat itu masih berkutet masing-masing mencari kemenangan, Tapi mereka sama kuat, sama ulet, tidak seorang pun yang dapat mengalahkan pihak lawan." 000-0dw0-000 Bercerita tenteng pertempuran yang terjadi diantara Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam.Seperti apa yang telah diramalkan oleh siorang tua bungkuk yang masih mendampingi Tan Ciu tidak satu pun dari kedua jago itu yang dapat mengalahkan lawan mereka. Pertempuran masih berlangsung terus. Deru angin yang ditimbulkan oleh pukulan-pukulan dua jago itu mendesak semua orang yang menonton pergi jauh. Dan yang terakhir, wakil ketua Benteng Penggantungan juga dipaksa menjauhi lapangan. Tangan Sin Hong Hiap diraihkan, menyakar kearah wajah Tan Kiam Lam. Cepat sekali gerakan tadi. Tan Kiam Lam menggunakan tangan kiri. menutup serangan itu, berbareng, dengan tangan kanannya, ia mengirim satu pukulan. Gerakan mereka berada diluar dugaan para penontonnya. Setiap tangkisan pasti disertai dengan serangan balasan yang tidak kalah hebatnya. Terdengar suara beradunya telapak tangan, dua bayangan itu terpisah. Wajah dua orang yang bertempur telah menjadi pucat, masih terlihat ketegangan-ketegangan yang belum selesai, butiran peluh mulai mengetel turun dari jidat dua jago itu. Setelah terpisah Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap mulai mengadakan penyerangan baru. mereka harus berubah taktik perang, hal itu penting mengingat kekuatan lawan yang luar biasa. Kali ini gerakan mereka lambat, masing-masing berputar, tapi, tidak segera melakukan penyerangan. Diatas dua orang yang sedang bersitegang itu. Tan Ciu dan kakek bungkuk melakukan percakapan.
"Lihat!"
Berkata orang tua bungkuk.
"Bila kau mengikuti pertandingan tadi ilmu kau akan mendapat kemajuan pesat."
"Sayang aku tidak dapat mengikuti setiap jurus serangan mereka."
Tan Ciu b>erkata terus terang.
"Didalam rimba persilatan, mungkinkah tidak ada orang yang dapat mengatasi dua orang ini?"
Tan Ciu bertanya.
"Menurut apa yang kutahu, sampai sekarang masih belum ada seorang yang dapat mengalahkan Tan Kiam Lam atau Sin Hong Hiap."
Dua orang yang baru disebut, Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap mengeluarkan suara lengkingan mereka, pertempuran sengit terjadi lagi.
Hanya terlihat dua bayangan yang bergulung-gulung menyelubungi tubuh mereka.
Tiba-tiba Tan ciu berteriak.
"Celaka."
"Mengapa?"
Orang tua bungkuk memandang heran.
"Hampir aku melupakannya."
"Apa yang kau lupakan?"
"Seorang gadis menantikan dimulut lembah."
"Ha... Gadis2 selalu menyelubungimu."
Orang tua bungkuk itu tertawa. Wajah Tan Ciu menjadi merah.
"Jangan menggoda."
Ia berkata.
"Bila aku tidak cepat menemuinya, didalam waktu tiga jam setelah perpisahan tadi, ia segera menerjang masuk kedalam Benteng Penggantungan."
"Biar saja mengamuk didalam Benteng Penggartungan. Tan Kiam Lam tidak sempat menghadapi musuh kedua. Kau tidak perlu menguwatirkan keselamatannya."
"Hal ini tidak boleh terjadi."
Berkata Tan Ciu.
"Mengapa?"
Orang tua bungkuk itu tidak mengerti.
"Aku belum mau turut dengannya. Aku harus menemui Co Yong dahulu."
"Maksudmu."
"Akan kuberi tahu kepadanya tentang kesulitanku."
"Ingin meninggalkan aku?"
"Hanya sementara."
"Huh! Begitn enak?"
Bentak orang tua bungkuk itu.
"Kau memang pandai main asmara. Aku melarang kau meninggalkau Benteng Penggantungan."
"Mengapa?"
"Aku membawa kau keluar dari kamar tahanan dan aku wajib membawa kau kembali kekamar tahanan itu lagi."
"Kau takut kepada Tan Kiam Lam?"
"Pertanyaan yang lucu."
Berkata kakek bungkuk.
"Bila kau tidak takut padanya. bagaimana dapat dikurung didalam kamar tahanannya?"
Tiba-tiba, terdengar suara benturan yang bergelegar, itulah tenaga tenaga Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap yang bergumul menjadi satu.
Setelah itu, dua bayangan terpisah.
Tan Kiam Lam di Utara dan Sin Hong Hiap diselatan.
Masing-masing memandang lawan tanpa berkedip.Bagaikan dua ekor binatang buas mereka ingin menemukan mangsanya.
Sayang hal itu tidak bisa terjadi, kekuatan mereka seimbang.
Tangan Tan Kiam Lam dimajukan kedepan, inilah persiapan untuk meneruskan pertandingan itu.
Sin Hong Hiap mengangkat sebelah tangannya.
jago tua ini pun belum kalah.
Tan Kiam Lam telah dapat melihat kelemahan lawannya.
tenaga dalam lawan bukanlah tandingannya, ia harus memaksa Sin Hong Hiap mengadu tenaga dalam, terus menerus, sehingga jago copot tenaga.
Sin Hong Hiap juga dapat melihat kelemahan Tan Kiam Lam, bila dapat menggunakan ilmu meringankan tubuh, main putar-putaran beberapa jam, pasti ia mempunyai banyak kesempatan untuk menjatuhkan si ketua Benteng Penggantungan.
Pendekar Dewa Angin, Sin Hong Hiap mempunyai kecepatan yang luar biasa ia harus menggunakan keahliannya itu.
Tan Kiam Lam juga ingin menggunakan kepusakaannya, itulah ilmu tenaga dalam.
Masing-masing mempunyai pikiran mereka.
Bila yang satu ingin cepat-cepat menyelesaikan pertempuran itu, lainnya ingin mengulur waktu.
Tiba-tiba ....
Tan Kiam Lam bergerak terlebih dahulu, ia memukul kearah Sin Hong Hiap.
tiga kali, atas, tengah dan bagian bawah.Sin Hong Hiap meluncur keatas kepala orang, dari sana.
ia menurunkan tangannya, mengarah batok kepala ketua Benteng Penggantungan itu.
Dan sekali lagi, berkutetan ilmu silat itu berlangsung.
Sepuluh juru.....
Dua puluh jurus....
Tiga puluh jurus...
Masih belum ada tanda-tanda baik yang akan memenangkan pertandingan itu.
Seperti apa yang telah dikemukakan oleh orang tua bungkuk kedalam Benteng Penggantungan pertempuran yang seperti itu tidak mungkin mencapai satu hasil kemenangan.
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap tidak boleh kalah.
juga tidak dapat memenangkan pertandingan itu.
Tiba tiba.......
Satu bayangan melesat cepat, langsung menerjunkan dirinya kedalam pertempuran.
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap masih ngotot seru, mereka tidak memperdulikan masuknya orang itu, dua pasang tangan mengganti arah, pukulan-pukulan jatuh kepada orang tersebut.
Tan Ciu menjerit.
Orang tua bungkuk terkejut.
bukan mustahil dia orang jadi gepeng remuk, serangan bersama dan tenaga Tan Kiam Lam serta Sin Hong Hiap bukanlah tenaga yang mudah diterima.
Kejadian yang diluar dugaan terjadi, Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap terdorong mundur.
Pertempuran ituterhenti, orang yang datang berhasil memisahkan dua jago itu.
Siapakah yang mempunyai kekuatan luar biasa dapat memisahkan Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap.
Disana berdiri seorang gadis berbaju putih, itulah Cang Ceng Ceng.
Tan Ciu melebarkan mulutnya besar-besar.
Orang tua bungkuk mengoceh.
"Heran. .. ,Heran.., . Sungguh tidak kusangka ... Tidak kusangka....."
"Mengapa?"
Tan Ciu memandang dengan sinar mata heran.
"Tidakkah kau lihat, bahwa Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap berhasil dipisahkan olehnya?"
Tan Ciu tidak menyangka bahwa Cang Ceng Ceng mempunyai kekuatan yang berada diatas Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap, maka ditinggalkannya gadis tersebut didepan Benteng Penggantungan, bila tidak, tentu ia dapat mengajak dirinya.
Orang tua bungkuk berkata.
"Gadis inikah yang kau maksudkan?"
"Betul."
"Uh, aku telah menjadi katak didalam tempurung. Ternyata masih banyak tokoh silat muda yang berkepandaian tinggi."
Berbicara Cang Ceng Ceng yang telah memisahkan pertempuran itu, memandang dua orang dan berkata kepada mereka.
"Siapakah ketua Benteng Penggantungan?"Tan Kiam Lam mengerutkan kedua alisnya, ia membuka suara.
"Ada urusan apa?"
Cang Ceng Ceng berkata.
"Aku harus bicara dengannya."
"Tentang urusan apa?"
"Aku ingin meminta orang."
"Meminta orang? siapakah orang yang ingin kau minta itu?"
"Tan Ciu."
"Tan Ciu?"
"Betul. Kami telah berjanji, dikatakan olehnya. Ia masuk kedalam Benteng Penggantungan, bila tidak keluar lagi. pasti telah terjadi sesuatu, aku harus menolongnya. Dan ternyata, sehingga saat ini ia belum menampilkan diri lagi."
Tan Kiam Lam tertawa, katanya.
"Tan Ciu telah berhasil menemuiku, kini masih berada didalam benteng."
"Kau Tan Kiam Lam?"
Bertanya Cang Ceng Ceng.
"Mengapa?"
Tan Kiam Lam tertawa.
"Beri kesempatan kepadaku untuk menemuinya."
Berkata Cang Ceng Ceng.
"Dapatkah nona menunggu sebentar."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Urusan kami ini segera selesai."
Ia maksudkan urusan pertempurannya dengan Sin Hong Hiap yang belum mendapat penetapan.
"Kalian masih ingin meneruskan pertempuran?"
Cang Ceng Ceng bertanya kepada Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap."Betul."
Hampir berbareng, dua orang itu memberi jawaban.
"Tidak mungkin kalian dapat menghasilkan sesuatu keputusan."
Berkata Cang Ceng Ceng.
"Mengapa?"
"kalian memiliki keahlian yang setaraf. Tidak mungkin dapat mengalahkan satu diantaranya. Kecuali menggunakan akal licik. Hal itu pun akan mengakibatkan kematian. Dan bila seorang yang belum mati itu penasaran, kemungkinan besar menjadi nekad, mungkin mengakibatkan kematian seorang lainnya. Hal yang seperti diatas mempunyai kemungkinan yang paling kecil. Lebih besar, mati karena kehabisan tenaga, copot sukma."
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap memuji kepintaran yang seperti ini. Masing-masing diam ditempat. Dan Cang Ceng Ceng berkata lagi.
"Belum ada permusuhan yang mendalam mengapa tidak kalian dapat mendamaikan perkara?"
Tan Kiam Lam berkata.
"Kukira sulit."
Cang Ceng Ceng memandang Sin Hong Hiap.
"Bagaimana pendapatmu?"
"Seharusnya ada ketetapan, siapa yang memenangkan pertandingan ini."
Berkata Pendekar Dewa Angin itu. Cang Ceng Ceng berpikir sebentar, kemudian berkata.
"Baiklah. Tapi ada banyaknya bila kalian bersedia mengganti cara pertempuran."
"Mengganti cara pertempuran?"
"Betul. Kalian tidak perlu mengadu jiwa. Tapi aku yang mengeluarkan acara, akan ku pertonton satu gerakan, bila siapa yang dapat menyebut tepat. Berarti orang itulah yang mempunyai pandangan mata lebih tajam. Ia ditetapkan sebagai pemenang pertandingan. Dan bila sama-sama berhasil menyebut nama itu, aku membuat gerakan2 yang berikutnya sampai ada satu penentuan."
Tan Kiam Lam menganggukkan, ia menyetujui usul ini.
"Baik."
Ia berkata cepat. Sin Hong Hiap juga tidak keberatan.
"Aku dapat menerima saran ini."
Ia berkata.
Tentu saja, saran Cang Ceng Ceng itu sangat menguntungkan mereka, tanpa berkeringat, mereka dapat menyebut gerakan tipu silat dari golongan mana juga.
Itulah hasil pengalaman-pengalaman mereka yang lama.
Cang Ceng Ceng sudah mulai siap.
Tiba-tiba Tan Kiam Lam berkata.
"Tunggu dulu."
Dan dipandangnya Sin Hong Hiap seraya bertanya.
"Bagaimana dengan pertaruhan yang telah kita tetapkan."
"Masih berlaku."
Berkata Sin Hong Hiap. Cang Ceng Ceng tidak dengar perjanjian yang telah ditetapkan oleh Tan kiam Lam dan Sin Hong Hiap, maka ia bertanya kepada mereka.
"Pertaruhan apa?"
"Nona tidak perlu tahu,"
"Baiklah. Kini aku akan mulai."
"Silahkan."
Berkata Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap.Tubuh Cang Ceng Ceng melejit tinggi, meluncur cepat, lurus keatas.
Disana ia berjumpalitan dua kali, setelah itu, dengan enteng melayang turun kebawah, dikala hampir menginjak tanah, lagi-lagi ia berjumpalitan sangat bagus, sangat menarik, itulah gerakan meringankan tubuh yang sempurna.
Kejadian berikutnya ialah, Cang Ceng Ceng berdiri dihadapan Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap.
Tan Ciu dan orang tua bungkuk turut menyaksikan tontonan itu.
Mereka meleletkan lidah.
Orang tua bungkuk mengeluarkan ocehan.
"Buh, buh....Ilmu apakah yang dimainkan olehnya."
Tentu saja orang tua bungkuk itu tidak mengetahui ilmu apa yang dikerahkan oleh Cang Ceng Ceng, Tan Kiam Lam juga tertegun.
Ilmu apakah yang Cang Ceng Ceng gunakan tadi, ilmu itu bukan tipu Lee ie hoan-seng, juga bukan Teng-tiam-seng.
Gerak tipu Le ie hoan-seng berarti ikan emas berjumpalitan.
Ia mementingkan lincahnya gerakan.
Tipu Hee-teng-tiam-seng berarti.
Cabang menotol air, ia mengutamakan lompat dan tipu yang Cang Ceng Ceng gerakan tadi bukanlah dua macam tipu itu.
Terdengar Cang Ceng Ceng berkata.
"K a t a k a n l a h !"
Tan Kiam Lam mengerutkan keningnya Sin Hong Hiap mengketapkan mulutnya. Ia pun tidak bisa bicara.
"Katakanlah"
Berkata lagi Cang Ceng Ceng kepada dua jago dihadapannya.
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap ingin menyebut nama gerakan itu dengan segera.
Tetapi siapapun tidakdapat menyebutnya ilmu yang digerakkan oleh Cang Cerg Ceng tadi adalah ilmu yang belum pernah terlihat oleh mereka.
Cang Ceng Ceng menengok kekanan, disana Tan Kiam Lam tidak dapat memberikan jawaban.
Gadis berbaju putih itu menengok kekiri, disini Sin Hong Hiap juga tidak bisa menyebut tipu gerakannya.
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap ingin merebut kemenangan, tetapi tidak dapat menyebut nama gerakan yang Cang Ceng Ceng perlihatkan kepada mereka, keadaan itu sangat menegangkan...
Bagi Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap, keadaan seperti itu adalah sangat canggung sekali.
Boleh dibayangkan didalam rimba persilatan.
mereka berdua adalah jago yang belum pernah dikalahkan, tetapi hanya dengan satu gerakan seorang gadis yang tidak ternama, tidak seorang dari mereka yang dapat menyebutnya, hal inilah sangat menjengkelkan sekali.
Yang lebih menjengkelkan lagi, bila tidak dapat menyebut gerakan Cang Ceng Ceng itu mereka harus menerima kekalahan.
keadaan yang seperti itu menyebabkan kemarahan Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap.
Cang Ceng Ceng tersenyum memandang dua orang dihadapannya, perbedaan yang sangat menyolok sekali bila dibandingkan dengan keadaan Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap.
Cang Ceng Ceng berkata.
"Bagaimana?"
Tidak ada jawaban.Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap telah berusaha mengolah isi pengalaman mereka, tipu apa yang diperlihatkan oleh gadis berbaju putih itu?
Mengapa sangat aneh sekali!
Tetapi hasilnya sangat mengecewakan, mereka tak dapat menyebut nama gerakan itu.
Cang Ceng Ceng berkata.
"Katakan, aku mulai menghitung, bila kuhitung hingga lima puluh, kalian tidak dapat menyebut nama gerakan tadi, kalian kalah."
Wajah Sim Hong Hiap pucat pasi. wadjah Tan Kiam Lam matang biru.
"Satu... dua... tiga..."
Cang Ceng Ceng terus mulai menghitung angka2 tersebut.
Tan Kiam Lam dan Sin Hang Hiap masih berusaha mencari jawaban untuk menyebut nama gerakan Cang Ceng Ceng tadi, .....
Keadaan sejenak itu tegang lagi.
"Empat puluh... Empat puluh satu.... empat puluh dua. , ."
Cang Ceng Ceng tetap menghitung angka-angka itu.
Tentu saja, Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam tidak dapat memberikan jawaban mereka.
Belum pernah ada gerakan yang seperti diperlihatkan oleh Cang Ceng Ceng tadi.
tentu saja mereka tidak tahu, apa nama gerakan ilmu silat itu.
"Lima puluh."
Ahirnya Cang Ceng Ceng selesai menghitung angka yang telah ditetapkan. Hati Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap mencelos. Cang Ceng Ceng berkata.
"Kalian berdua kalah."
Putusan gadis berbaju putih itu tepat.Sin Hong Hiap tidak dapat menyebut nama gerakannya.
Demikian pun Tan Kiam Lam, jago ketua Benteng Penggantungan itu juga tidak dapat menyebut nama gerakannya.
Maka putusan adalah.
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap kalah, tak ada kemenangan bagi mereka.
Terdengar suara Sin Hong Hiap berteriak.
"Aku tidak dapat menerima putusan ini."
Tan Kiam Lam juga mengajukan protes.
"Aku juga tak dapat menerima putusanmu."
Cang Ceng Ceng memandang dua jago itu alis matanya berkerut, berkata gadis ini kepada mereka.
"Dengan alasan apa, kalian tidak dapat menerima putusanku?"
Sin Hong Hiap berkata.
"Didalam ilmu silat, semua orang tidak terbatas pada sesuatu macam ilmu saja, ribuan macam tipu gerakan yang aneh sulit dan entah berapa banyak macam lagi. Ilmu yang kau pelajari tidak dapat kita sebut, demikian pun tipu yang kami pelajari setiap orang tidak sama."
Tan Kiam Lam berkata.
"Aku pun mempunyai pendapat yang sama dengan apa yang Sin tayhiap kemukakan." -ooo0dw0ooo-Jilid11 CANG Ceng Ceng berkata.
"Kalian berdua sungguh tidak mengenal aturan, aku sudah mengadu tipu dengan kalian, tetapi maksudku baik. Siapa yang dapat memenangkan pertandingan. orang itu harus tahu,mengapa kalian tidak dapat menyebut sama gerakan tipuku. oleh karena itu seharusnya menyerah kalah."
Tan Kiam Lam dan Sin Hong Hiap saling pandang.
"Perlihatkanlah lain tipu gerakannya!"
Berkata Tan Kiam Lam.
Cang Ceng Ceng memperlihatkan gerakan lainnya.
Seperti juga dengan gerakan yang pertama.
Tan kiam Lam dan Siu Hong Hiap tidak dapat menyebut nama tipu yang Cang Ceng Ceng perlihatkan itu.
Kejadian berikutnya ialah Cang Ceng Ceng memperlihatkan gerakan-gerakan lainnya, sangat aneh dan sangat luar biasa tipu itu belum pernah terlihat didalam rimba persilatan.
maka dua jago yang memandang dan menyaksikan tidak dapat menyebut sama sekali.
Cang Ceng Ceng berkata.
"Kalian berdua sudah seharusnya menyerah kalah."
Tan Kiam Lam mengguman.
"Dengan demikian, kami berdua....."
"Siapapun tidak dapat memenangkan pihak lainnya."
Berkata Cang Ceng Ceng memberi keputusan.
"Kalian berdua sama kuat."
Tan Kiam Lam memandang Sin Hong Hiap katanya.
"Bagaimana pendapat Sin Tayhiap?"
"Aku dapat menyetujui putusan ini."
Berkata Sin Hong Hiap dengan nada tawar. Ia sangat kecewa sekali. Tan Kiam Lam berkata.
"Sin TayHiap, bila masih mempunyai kesempatan. boleh kita bertanding lagi."
Kata-kata si ketua BertengPenggantungan itu diajukan kepada si pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap. Sin Hong Hiap menganggukkan kepalanya.
"Baik."
Jawabnya singkat, tapi cukup mengesankan, Akhirnya pertempuran dari Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam tidak mendapatkan ketetapan, tidak seorang pun dari mereka yang memenangkan pertandingan.
Mereka sama kuat sama ulet.
Cang Ceng Ceng berhasil memisahkan pertandingan itu.
Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam telah menghilangkan rasa idndam mereka.
Kini Sin Hong Hiap menghadapi Cang Ceng Ceng dan berkata.
"Nona, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?"
"Silahkan."
Berkata Cang Ceng Ceng.
"Kau kawan Tan Ciu ?"
"Betul."
"Bolehkah aku menyampaikan sedikit kata-kata kepadanya ?"
"Entah urusan apa ?"
"Satu hari aku akan mencarinya."
"Mengapa mencari Tan Ciu ?"
"Aku akan menuntut balas atas kematian muridku."
Cang Ceng Ceng belum mengetahui apa yang telah terjadi diantara Sin Hong Hiap dan Tan Ciu.
Maka ia agak bingung juga mengbadapi kata Sin Hong Hiap tadi.
Sin Hong Hiap tidak banyak memberi keterangan tentang terjadinya persengketaan dengan Tan Ciu, setelahberkata, ia membalikkan badan, tubuhnya melesat cepat bagaikan angin lewat, bayangan itu telah pergi jauh.
Sin Hong Hiap meninggalkan Benteng Penggantungan.
Tan Kiam Lam masih berdiri ditempatnya.
Agaknya ia sedang memikirkan suatu soal yang sangat rumit.
Soal yang sangat penting baginya.
Ia harus baik-baik menghadapi persoalan itu.
Bercerita kakek bungkuk dan Tan Ciu.
Setelah pertandingan selesai, kakek bungkuk itu berkata.
"Mari kita kembali."
Tan Ciu mengkerutkan keningnya, ia ingin sekali menemui Cang Ceng Ceng, katanya.
"Kembali kemana?"
"Darimana kita datang, kesitulah kita harus kembali."
Berkata kakek bungkuk itu.
"Kembali kekamar tahanan?"
"Tentu."
"Aku tidak mau kesana lagi."
"Mengapa?"
"Aku ingin menemui nona Cang."
"Legakanlah hatimu. ia ingin mencarimu, sudah pasti kau dapat bertemu dengannya.' "
Berilah kesempatan kepadaku untuk bicara dengannya,"
Berkata Tan Ciu yang ingin menemui Cang Ceng Ceng.
Yah!
Tentu saja, orang tiua bungkuk itu tidak mengijinkan Tan Ciu bicara dengan Cang Ceng Ceng, karena Tan Kiam Lam masih berada disana.
tentu saja ketua Benteng Penggantungan itu mengetahui rahasiadirinya, maka orang tua bungkuk itu tak memberi ijin.
"Kembalilah dahulu."
"Mengapa terburu-buru."
"Pasti Tan Kiam Lam mengajaknya kedalam."
"Mengajak Cang Ceng Ceng kedalam Benteng Penggantungan?"
"Betul, sebelum Tan Kiam Lam masuk kedalam benteng Penggantungan, kita orang sudah berada dalam kamar tahanan."
"Aku takut kepadanya. Jangan kau mencelakakan diriku."
Tanpa banyak memberi kesempatan kepada Tan Ciu, orang tua bungkuk itu menyeret si pemuda dan kembali kedalam tahanan Benteng Penggantungan.
Terpaksa Tan Ciu mengikuti orang tua bungkuk tersebut.
Tiba-tiba ...
Orang tua bungkuk yang menggandeng Tan Ciu melakukan perjalanan masuk kedalam Benteng Penggantungan itu menghentikan langkahnya, matanya yang tajam menyapu kearah rimba seolah-olah ada sesuata yang aneh.
Tan Ciu tertegun, mengikuti arah pandangan mata orang.
ia menengok kearah rimba tidak terlihat sesuatu.
Orang tua bungkuk mengejar, seraya ia membentak.
"Siapa?"
Satu bayangan melesat cepat, dan lenyap tidak terlihat. Orang tua bungkuk mengangkat kedua pundaknya, kepala berangguk-angguk.Tan Ciu mengadakan pertanyaan.
"Siapa orang itu ?"
"Kau tidak melihat ?"
"Tidak."
Berkata Tan Ciu.
"Seorang yang mempunyai wajah yang mirip sekali dengan Tan Kiam Lam."
Berkata orang tua bungkuk.
"Oh. dia Tan Kiam Pek."
Berkata Tan Ciu.
"Betul."
Sungguh-sungguh Tan Ciu tak mengerti, dengan alasan apa Tan Kiam Pek juga berada ditempat Benteng Penggantungan?
Dan tentang pertempuran hebat yang telah terjadi diantara Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam disaksikan juga olehnya.
Mengapa?
Mengapa Tan Kiam Pek ingin menimbulkan huru-hara ini?
Dengan alasan apa Tan Kiam Pek memancing pertempuran Sin Hong Hiap dan Tan Kiam Lam?
Kakek bungkuk berkata.
"Kau mengatakan bahwa Tan Kiam Pek yang memancing Sin Hong Hiap ke Benteng Penggantungan?"
Bertanya kakek bungkuk.
"Betul."
Berkata Tan Ciu.
"Oh..... mengertilah sudah."
"Mengerti tentang apa?"
"Tan Kiam Pek mempunyai maksud-maksud tujuan tertentu."
"Aku masih belum mengerti."
Berkata Tan Ciu memandang orang tua bungkuk itu.Berkata lagi sikakek bungkuk.
"Tan Kiam Pek berada ditempat ini menyaksikan pertempuran yang sudah terjadi diantara Tan Kiam Lam Sin Hong Hiap."
"Tentu ....."
Berkata Tan Ciu.
"Maksud Tan Kiam Pek sangat jelas, menyaksikan dan mengintip pertempuran dari kedua tokoh tadi, maksudnya ialah ingin mengetahui perobahan-perobahan tipu silat dari mereka. Dan bila ia dapat menyaksikan ilmu-ilmu yang tiada tara itu, bukankah menjadi seorang tokoh silat tanpa tandingan?"
"Betul, tadi, bila aku mempunyai maksud tujuan yang sama, aku pun dapat mencuri beberapa tipu silat mereka."
Berkata Tan Ciu. Orang tua bungkuk itu tertawa, Katanya.
"Mari kita kembali kedalam penjara."
Tan Ciu diseret masuk lagi.
Bercerita Tan Kiam Lam didepan pintu Bentengg penggantungan.
Jago ini masih belum mengerti jelas mengapa Sin Hong Hiap menantang dirinya, mengapa dikatakan ia yang menjanjikan pertempuran itu!
Gadis berbaju putih Cang Ceng Ceng tertawa, ia menggigil.
"Hai mengapa kau?"
Tan Kiam Lam terkejut, tersipu-sipu ia berkata.
"Maafkan."
Cang Ceng Ceng berkata.
"Bawa diriku untuk bertemu dengan Tan Ciu."
Ketua Benteng Penggantungan menganggukkan kepalanya, dan berpaling kebelakang, disana terdapat orang-orangnya, satu diantaranya ialah wakil Benteng Panggantungan, dan berkatalah kepada orang itu.
"Hu-pocu."
"Siap."
"Bawa nona ini masuk kedalam Benteng Penggantungan."
Perintah Tan Kiam Lam.
"Baik,"
Berkata si wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen. Cang Ceng Ceng memandang Tan Kiam Lam dan mengajukan pertanyaan.
"Bagaimana dengan dirimu,?"
"Aku harus mengurus sesuatu, setelah itu segera masuk juga."
"Baiklah."
Berkata Cang Ceng Ceng.
Maka wakil ketua benteng Penggantungan Co Yong Yen mengajak Cang Ceng Ceng masuk kedalam benteng itu.
Memandang lenyapnya bayangan Co Yong Yen dan Cang Ceng Ceng, Tan Kiam Lam menyapukan pandangannya kepada Pek Hong dan Cie Yan.
panggilnya pada mereka.
"Pek-hiancu, Cie-hiancu!"
Pemuda berbaju putih Pek Hong dan orang tua dingin Cie Yan segera membawakan sikap yang siap siaga.
"Pocu ada perintah!"
Berkata mereka berdua segera. Tan Kiam Lam menganggukkan kepala dan berkata.
"aku mengutus kalian untuk menyelidiki sesuatu hal.""Urusan apakah itu?"
"Siapa yang berani menggunakan namaku mengundang si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap ke Benteng Penggantungan."
"Baik."
"Ingat,"
Berkata Tan Kiam Lam gagah. Dua orang ini berhenti lagi.
"Kuberi waktu sepuluh hari, dan perkara ini harus jelas, mengerti?"
"Mengerti."
"Manakala kalian berdua tidak dapat menunaikan tugas dengan baik, kalian akan mendapat hukuman."
Berkata Tan Kiam Lam kepada kedua orang itu.
Pek Hong dan Cie Yan segera menjalankan perintah.
Mereka memberi hormat kepada Tan Kiam Lam dan meninggalkan Benteng Penggantungan.
Kini Tan Kiam Lam seorang diri, ia berdiri didepan Benteng Penggantungan, matanya berputar kedatangan Cang Ceng Ceng yang sangat mendadak itu mengejutkan dirinya.
Apa lagi mengingat ilmu kepandaian gadis itu yang sangat tinggi sekali, bagaimana ia harus menghadapinya.
Tan kiam Lam segera mendapat suatu akal.
Ia mendengus.
"Hem .... aku harus..."
Dengan membawa senyuman iblisnya.
Tan kiam Lam masuk kedalam Benteng Penggantungan.
Disini telah menunggu Cang Ceng Ceng dengan tidak sabaran.
Sebentar kemudian ia melihat kedatangan Tan Kiam Lam, segera ia memapakinya dan bertanya.
"Dimana Tan Ciu berada?"Tan Kiam Lam menggapaikan tangannya berkata.
"Mari kau ikut kepadaku."
Cang Ceng Ceng mengikuti Tan Kiam Lam.
Dan ketua Benteng Penggantungan mengajaknya kedalam ruangan rahasia dibawah tanah.
Tan Kiam Lam mempunyai maksud menjual dodolnya, ia tidak mengajak Ceng Ceng ketempat kamar tahanan, tetapi menuju ke suatu ruangan.
Cang Ceng Ceng mengerutkan kedua alisnya, memandang kepada ketua Benteng Pengantungan tersebut dan bertanya kepadanya.
"Dimana Tan Ciu?"
Tan Kiam Lam menunjuk ke suatu bangku dan berkata.
"Silahkan nona duduk."
Cang Ceng Ceng semakin heran, tetapi ia mengikuti petuniuk Tan Kiam Lam, duduk dibangku yang telah ditetapkan.
Tan Kiam Lam mengambil tempat dihadapan gadis berbaju putih itu ia pun duduk.
Cang Ceng Ceng membuka suara.
"Tan Kiam Lam. maksudku untuk menemuimu bukan saja ingin bertemu dengan Tan Ciu, ada suatu hal lain ingin kuajukan kepadamu."
Tan Kiam Lam menatap gadis berbaju putih itu tajam-tajam dan ia berkata.
"Tentang hal apa?"
"Kau adalah kawan baik Kui-tho cu bukan?"
Bertanya Cang Ceng Ceng.
"Bukan, aku tidak kenal dengan Kui-tho cu."
Tan Kiam Lam menyangkal."Sungguh tidak kenal?"
Gadis berbaju putih Cang Ceng Ceng meminta ketegasan.
"Aku memang tidak kenal dengan orang yang kau katakan itu."
Berkata Tan Kiam Lam, Cang Ceng Ceng menggunakan otaknya berpikir, seharusnya hanya Tan Kiam Lam yang mengetahui dimana Kui tho cu itu berada, dan ia harus menemui Kui tho-cu.
Tan Kiam Lam tertawa, ketua Benteng Penggantungan ini berkata.
"Kini giliranku yang ingin mengajuan pertanyaan ini kepadamu."
Cang Ceng Ceng mendongakkan kepala. katanya.
"Katakanlah."
"Ilmu kepandaianmu hebat sekali, siapakah yang menjadi gurumu ?"
"Guruku melarang menyebut namanya."
Berkata Cang Ceng Ceng.
"oh... bolehkah mengetahui nama nona ?"
"Aku Cang Ceng Ceng."
Berkata gadis itu.
"Ouw... Nona Cing aku ada urusan lain."
"Katakanlah lekas."
"Kau kawan Tan Ciu."
"Betul."
"Kawan baik."
"Hemmmmm."
"Kekasihmu."
Kekasih?... Cang Ceng Ceng agak tertegun mendapat pertanyaan seperti ini. memang ia belum terpikir sampai kesitu.
"Aku tidak tahu,"
Akhirnya Cang Ceng Ceng memberikan jawaban seperti ini.
"Tentunya kau sangat cinta kepadanya bukan?"
"Hemmm ...."
Cang Ceng Ceng menganggukkan kepala lemah. Tan Kiam Lam dapat menduga tepat, dari sinar mata gadis itu ia mengetahui bahwa Cang Ceng Ceng cinta kepada Tan Ciu, hal ini penting bagi dirinya.
"Ehm. Tan Ciu membalas cintamu?"
Bertanya lagi Tan Kiam Lam.
"Aku ... aku tidak tahu."
Berkata Cang Ceng Ceng gugup.
"Tapi, kukira ia tidak benci kepadaku."
Sambung gadis baju putih.
"Maksudmu, besar kemungkinannya. Tan Ciu juga cinta kepadamu ?"
Tan Kiam Lam mengajukan pertanyaan ini dengan mata tidak berkesiap.
Cang Ceng Ceng menganggukkan kepalanya lagi.
= oo-OdwO-oo = Bercerita Tan Kiam Lam dan Cang Ceng Ceng dalam kamar ruangan dibawah tanah.
Tan Kiam Lam telah mendapat kepastian babwa Cang Ceng Ceng sangat mencintai Tan Ciu, rencananya semakin masak lagi.
"Nona, sungguh-sungguh cinta kepada Tan Ciu?"
Bertanya Tan Kiam Lam."Hei..... mengajukan pertanyaan ini sampai berulang kali?"
Cang Ceng Ceng agak naik darah. Dengan sabar Tan Kiam Lam berkata.
"Kukira kau telah terperdaya olehnya."
Cang Ceng Ceng tertegun, dengan tidak mengerti ia bertanya.
"Apa arti kata-katamu ini?"
"Ah .... seharusnya tidak boleh kukatakan kepadamu."
Berkata Tan Kiam Lam. Cang Ceng Ceng bangkit dari tempat duduknya, ia berkata dengan suara keras.
"Katakan sekali lagi."
Tan Kiam Lam berkata dengan pelahan.
"Sebaiknya kau lupakan kata-kataku tadi."
"Tidak mungkin, katakanlah."
"Aku....."
Tan Kiam Lam sengaja tidak meneruskan kata-katanya, dengan demikian ia lebih menambah minat gadis itu untuk mengetahui apa yang dikatakan olehnya.
Dengan wajah beringas Cang Ceng Ceng maju setapak, katanya segera.
"Katakan. bila tidak, dengan sekali pukulan aku dapat menghancurkan kepalamu."
"Baiklah."
Seolah-olah Tan Kiam Lam dipaksa. Cang Ceng Ceng menantikan jawaban ketua Benteng Penggantungan itu.
"Aku akan berkata, tapi kau jangan bersedih, Tan Ciu adalah seorang pemuda yang suka mempermainkan wanita."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Apa?""Tan Ciu adalah seorang pemuda yang sering mempermainkan wanita."
"B e t u l ?"
"Betul, Aku tidak berbohong kepadamu."
Dengan suara yang penuh derita Cang Ceng Ceng berkata.
"Gadis mana yang telah dipermainkan olehnya?"
Dengan menghela napas Tan Kiam Lam berkata.
"Wakil ketua Benteng Penggantungan kami, itulah wanita yang mengantarkanmu tadi, ia mempunyai seorang murid yang bernama Co Yong, bersua dengan Tan Ciu, setelah mereka berkenalan, gadis inilah yang dipermainkan oleh Tan Ciu, ditinggalkannya begitu saja..."
Wajah Cang Ceng Ceng berubah menjadi pucat, ia berteriak.
"Aku tidak percaya .... aku tidak percaya... ."
"Tidak percaya, karena permainan Tan Ciu tadi Co Yong menjadi gila."
"Tidak. .. tidak mungkin.... Tan Ciu bukanlah pemuda seperti apa yang kau katakan."
Cang Ceng Ceng berteriak suaranya sangat aneh.
Penuh dengan ketegangan dan ketakutan, tidak enak didengar.
Disini letak kejahatan dari Tan Kiam Lam.
Sudah jeias dan gamblang sekali bahwa rentetan kejadian itu adalah susulan berencana yang telah dikeluarkan.
Lebih dari pada itu, Tan Kiam Lam masih mempunyai rencana jahat babak ketiga.
Terdengar Tan Kiam Lam berkata.
"Kau tidak percaya?"
"Aku tidak percaya."
Kata Cang Ceng Ceng.
"Ingin melihat bukti?"
Cang Ceng Ceng memandang ketua Benteng Penggantungan itu, ingin sekali mengeluh. betul tidaknya dari kata-kata atau keterangannya.
"Mari kau ikut aku untuk melihatnya."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Melihat siapa?"
"Co Yong"
"Baik,"
"Ikutlah dibelakangku."
Tan Kiam Lam mengajak Cang Ceng Ceng turun Keruangan dibawah tanah, disinilah letak kamar tahanan Benteng Penggantungan.
Cang Ceng Ceng mengikuti dibelakangnya.
Pikirannya sedih, Tan Ciu adalah seorang pemuda yang gagah dan cakap, itulah idaman setiap wanita, termasuk juga Cang Ceng Ceng.
Bila betul apa yang Tan Kiam Lam katakan tadi, Tan Ciu seorang pemuda tukang mempermainkan wanita, hal itu akan mengecewakan.
Maka Cang Ceng Ceng sangat bersedih.
Tan Kiam Lam menikung kelain lorong, Cang Ceng Ceng tetap mengikuti.
Kini mereka sudah berada didasar bangunan rahasia, lapat-lapat terdengar suara tangisan.
Tan Kiam Lam menghentikan langkahnya, Ia menoleh kearah Cang Ceng-ceng.
"itulah tangisannya."
Mereka berjalan maju lagi, disuatu kamar tahanan terbuat dari pada batu terlihat seorang gadis berwajah pucat rambutnya kusut, pakaian tidak karuan macam, itulah murid Co Yong Yen yang bernama Co Yong,Cang Ceng Ceng harus percaya kepada kenyataan.
Seperti apa yang Tan Kiam Lam katakan.
Tan Ciu adalah seorang pemuda hidung belang, tukang mempermainkan wanita.
Gadis yang bernama Co Yong ini adalah salah satu korban-korbannya.
Ia maju mendekati kamar tahanan itu, dan mengajukan pertanyaan.
"Hei. Siapa kau?"
Co Yong masih menangis ia mendoogakkan kepala, memandang Cang Ceng Ceng, tiba-tiba menubruk.
"Tan Ciu ..."
Berkata Co Yong.
"Akhirnya kau juga tiba ... akhirna kau tiba, sudah lama Kuharapkan kedatanganmu ini,"
Hampir saja Co Yong menubruk jeruji besi kamar tahanan itu, tapi akhirnya ia berhasil mencengkeram Cang Ceng Ceng.
Seperti apa yang Tan Kiam Lam katakan Co Yong sudah menjadi gila, ia tidak sadar siapa orang dihadapannya, ia tidak dapat membedakan pria atau wanita, kedatangan Cang Ceng Ceng dianggap Tan Ciu.
Dan Co Yong tertawa besar, itulah tingkah laku seorang yang sudah berpikiran tidak waras lagi.
Hati Cang Ceng Ceng dirasakan tenggelam.
Ia telah menghadapi kenyataan.
Dibiarkan saja tangan Co Yong mencengkeram dirinya.
Tiba-tiba, Co Yong menarik tangan Cang Ceng Ceng, dengan histeries ia berteriak.
"Bukan ... bukan... kau bukan dia... kau.. .ada iblis... iblis ... ihh... blis..pergi ...pergi ... kau iblis kepala..."
Didorongnya rtbuh Cang Ceng Ceng, dan Co Yong menangis lagi.
Tubuh Cang Ceng Ceng menggigil keras.Co Yong menangis, sebentar kemudian tertawa.
tidak lama ia menangis lagi.
Tertawa dan menangis silih berganti, Co Yong memandang Cang Ceng Ceng.
Menyaksikan kejadian itu.
Cang Ceng Ceng sangat bersedih.
Ia mendekati Co Yong dan bertanya.
"Kau bernama Co Yong?"
"Hei, hei!...Betul! Aku Co Yong ... Heh. bukan... aku bukan Co Yong! ... Namaku Co Yong ? ...bukan, aku...bukan ha..ha ... ha, ha ...ha.. ."
Dia tertawa, tertawa histeris, Cang Ceng Ceng mengucurkan air mata.
Tan Kiam Lam tersenyum iblis, ia sangat puas dengan sandiwaranya itu , Dilain bagian dari kamar tahanan dibawah tanah Benteng Penggantungan itu.
sepasang mata lain mengintip, menyaksikan kejadian seperti ini.
Terlihat Tan Kiam Lam maju mendekati Cang Ceng Ceng dengan menepuk pundak gadis berbaju putih itu ia berkata.
"Kini seharusnya kau harus percaya. Tan Ciu bukanlah pemuda idaman. percayalah Tan Ciu telah menganggu banyak gadis. Co Yong hanya satu diantaranya, bila bukan Tan Ciu yang menganiaya dirinya, tidak mungkin ia menjadi gila seperti ini."
Cang Ceng Ceng mematung ditempat. Ia kecewa kepada Tan Ciu. Ia kasihan kepada Co Yong dan ia putus harapan kepada masa depan dirinya sendiri. Menarik gadis berbaju putih itu. Tan Kian Lam berkata.
"Mari..."Cang Ceng Ceng menghindari seretan orang dan tidak mau pergi.
"Tidak, aku tidak mau pergi."
Cang Ceng Ceng berkata.
"M e n g a p a?"
"Aku harus mengobatinya.....ia sangat menderita!"
Menyaksikan kejadian yang dialami oleh Co Yong, Cang Ceng Ceng sangat bersedih, dan ia mempunyai maksud untuk mengobati gadis sengsara itu.
Maka ia ingin menolongnya.
Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh Cang Ceng Ceng, kejadian itu bukanlah mustahil, dengan mudah ia dapat menyembuhkan penyakit Co Yong.
Tetapi, mungkin Tan Kiam Lam melulusi usul Cang Ceng Ceng itu?
Tidak.
Tentu tidak.
Co Yong gila karena hasil perbuatannya Tan Kiam Lam sengaja mempermainkan gadis itu sehingga pikiran Co Yorg terganggu.
Bila Cang Ceng Ceng berhasil mengobati penyakit Co Yong, tentu saja segala rahasianya terbongkar, dan apa yang dapat dilakukan lagi?
Bila Tan Kiam Lam mau, dengan mudah ia dapat membunuh Cang Cang Ceng.
Gadis berbaju putih itu masih kurang pengalaman tak tahu babwa dirinya sudah berada dimulut harimau.
dimulut srigala berjubah manusia.
Tapi Tan Kiam Lam tidak membunuh Cang Ceng Ceng.
Ia ingin menggunakan Cang Ceng Ceng.
Itulah satu dari sekian banyak rencananya.
Dengan wajah berubah Tan Kiam Lam berkata.
"Kau ingin menolongnya ?"
"Betul?"
Berkata Cang Ceng Ceng singkat."Mengapa kau ingin menolong seorang gadis yang menjadi seterumu ?"
"Karena Tan Ciu telah merusak kehidupannya, maka aku harus menyembuhkan penyakit Co Yong, agar ia dapat menuntut balas."
Tan Kiam Lam berkata.
"Baiklah, sebentar aku akan memberi perintah kepada orang-orangku untuk membawanya. Memang Co Yong sangat kasihan ..."
Sangat jelas, maksud Tan Kiam Lam agar Cang Ceng Ceng menyembuhkan penyakit Co Yong diruang atas.
Bukan dikamar tahanan ini.
Cang Ceng Ceng masih belum bergerak dari tempatnya.
Menggandeng gadis berbaju putih itu Tan Kiam Lam berkata.
"Nona Cang, mari kita naik keatas dahulu."
Dan dengan setengah digandeng oleh Tan Kiam Lam, Cang Ceng Ceng meninggalkan kamar tahanan batu dibawah tanah Benteng P^ggantungan itu.
Dan sepasang mata yang menyaksikan drama kejadian tadi, menunggu sampai Tan Kiam Lam dan Cang Ceng ceng pergi jauh, dengan satu perasaan yang penuh dendam mengeluarkan tertawa dingin.
Siapakah orang yang mengintip ini?
Untuk sementara, kita tinggalkan orang ini dan mengikuti perjalanan Cang Ceng-ceng dengan Tan Kiam Lam.
Sang ketua Benteng Penggantungan telah mengajak Cang Ceng Ceng naik keatas, mereka menuju kekamar rahasia.
Didalam kamar rahasia, dengan tersenyum puas Tan Kiam Lam berkata.
"Sudah percaya?"Dengan menunjukkan wajahnya yang penuh ketidak puasan, Cang Ceng ceng berkata.
"P e r c a y a."
Kini sudah waktunya Tan Kiam Lam merealiseir rencananya yang terakhir. Tentu saja, tidak ada orang ketiga yang dapat mengganggu usaha itu. Dengan wajah merah Cang Ceng Ceng berkata.
"Dimana kini Tan Ciu berada."
"Mengapa kau menanyakan dirinya."
"Aku mau membunuh!"
"Ingin membunuh Tan Ciu?"
"Benar. Laki-laki yang semacam ini harus dibunuh!"
"Bagus."
Tan Kiam Lam memberi pujian.
Tiba-tiba Tan Kiam Lam mengangkat tangan sangat tinggi sekali, hal itu mengejutkan Cang Ceng ceng.
Dari mata Tan Kian Lam bercahaya satu sinar yang sangat aneh sekali.
Cang Ceng-ceng tidak mengerti, ia memandang dengan penuh perasaan teka-teki.
Setapak demi setapak, Tan Kiam Lan mendekati Cang Ceng ceng, Cang Ceng ceng mematung, sepasang matanya tertarik kepada cahaya yang sangat aneh itu.
Inilah ilmu Ie-sin Tay-hoat.
Kini Tan Kiam Lam sedang mengerahkan ilmu Ie sin Tay-hoat mengosongkan isi pikiran Cang Ceng Ceng.
Sebagaimana layaknya seorang yang kena hypnotis, sepasang mata Cang Ceng ceng telah menjadi redup, semakin lama semakin redup dan akhirnya.
terketup.
Pikirannya bimbang, daya keperibadiannya lenyap samasekali, runtuh berantakan ....
ilmu Ie sin Tay-hoat tidak gagal.
Cang Ceng-ceng telah masuk perangkap Tan Kiam Lam.
Ia tidak tahu bahwa ilmu itu sudah mengosongkan semua pikirannya, maka tidak mengalihkan sepasang sinar mata, dan karena itulah ia terpedaya.
Hal ini disebabkan karena Cang Ceng-ceng tidak tahu betapa lihaynya ilmu Ie sin Tay-hoat, dan karena itulah ia tidak ada persiapan sama sekali.
Seharusnya, dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh gadis berbaju putih ini, ilmu Ie sin Tay-hoat tidak mungkin membawa hasil.
Tapi hal itu diharuskan kesiap siagaan, ia harus mengerahkan kekuatan tenaga dalam melawannya.
Cang Ceng ceng tidak menduga bahwa Tan Kiam Lam memiliki ilmu Ie sin Tay-hoat yang jahat.
kini ia telah terpedaya.
Tan Kiam Lam mengerahkan terus ilmu jahat itu.
segasang matanya semakin lama semakin tajam, perlahan demi perlahan, pemikiran Cang Ceng Ceng telah tiada sama sekali.
Cang Ceng Ceng merasakan dirinya seperti berada disuatu tempat yang penuh kabut samar-samar segala sesuatu tidak terlihat lagi.
Kini mulut Tan Kiam Lam terbuka, dan suaranya terdengar.
"Kau... kau harus mendengar perintahku."
Cang Ceng-ceng menganggukkan kepalanya. Tan Kiam Lam mengajukan pertanyaan.
"Siapa namamu?"
"Cang Ceng-ceng."
Berkata gadis yang kena di Ie sin Tay-hoat itu."Beirapa umurmu?"
"Delapan belas tahun."
"Siapa gurumu?"
"Aku.. tidak tahu."
"Pria atau wanita?"
"Pria."
Tan Kiam Lam mengeluarkan suara tertawanya yang seperti iblis dan ia melangsungkan tanya jawab itu.
"Apa yang sedang kau lihat?"
Cang Ceng ceng membuka kedua matanya lagi, tapi mata ini telah kehilangan cahayanya sama sekali, redup, kaku dan tipis.
Terlihat seorang berdiri dihadapannya, itulah Tan Kiam Lam.
Cang Ceng Ceng melihat Tan Kiam Lam sedang berdiri.
Seolah-olah ketua Benteng Penggantungan itu menderita sesuatu jatuh dari tebing tinggi, dan sedang berteriak-teriak meminta pertolongan orang.
Cang Ceng ceng terkejut, ia membentang matanya lebih besar lagi, dan samar-samar terlihat tubuh Tan Kiam Lam penuh dengan darah....
ketua Benteng Penggantungan itu berteriak...menjerit...melengking.....
sungguh menyeramkan sekali.
Itu hanya khayalan Cang Ceng Ceng.
Cang Ceng ceng masih melihat Tan Kiam Lam jatuh kedalam api yang membara...teriakannya semakin seram.....
api itu berkobar semakin hebat.
Dan tiba-tiba Cang Ceng-ceng mengeluarkan satu jeritan juga, tubuhnya melesat menubruk Tan Kiam Lam.Segala sesuatu samar-samar lagi.
Didalam keadaan yang tidak ingat kepada dia aslinya, Cang Ceng ceng ingin memberikan pertolongan kepada seseorang yang dilihatnya seperti jatuh dari tebing tinggi itu, orang itu masuk kedalam api neraka, dan ia wajib menolongnya.
Tan Kiam Lam berhasil, kini ia dapat menguasai pikiran Cang Ceng ceng.
Seorang gadis berada didalam rangkulannya seorang lelaki setengah umur.
Itulah Cang Ceng Ceng yang telah dihypnotis oleh Tan Kiam Lam.
Tan Kiam Lam meletakkan tubuh gadis itu pada sebuah kursi ia mengeluarkan tertawa iblis.
Cang Ceng ceng melompat lagi, menubruk ketua Benteng Penggantungan itu.
Inilah reaksi dari ilmu Ie-sin Tay-hoat.
Tan Kiam Lam mengangukkan kepala, kini betul-betul ia memastikan bahwa ilmunya telah sukses.
Ia merangkul tubuh gadis itu.
"Kau bersedia menjalankan segala perintahku?"
Berkata Tan Kiam Lam. Cang Ceng ceng menganggukan kepala.
"Bersedia."
"Siapakah yang memperlakukanmu dengan baik sekali?"
"Kau."
"Siapakah yang paling kau benci?"
"Tan Ciu."
"Kau benci kepada Tan Ciu ?"
"Betul, Aku benci sekali kepadanya.""kau ingin membunuhnya ?"
"Pasti, membunuhnya."
Tan Kiam Lam berkata lagi.
"Kau akan taat kepada segala perintahku ?"
"Tentu saja taat."
"Dengar, dengarkanlah perintahku yang pertama, ingat baik-baik semua kepandaianmu dan catatlah beri catatan itu kepadaku, mengerti?"
"Mengerti ?"
"Mulailah."
Cang Ceng-ceng menganggukan kepala.
Ia melepaskan dirinya dari rangkulan ketua Benteng Penggantungan itu.
Mengambil alat-alat tulis, dan mencatat segala ilmu kepandaiannya.
Itulah perintah yang diberikan kepadanya Perintah yang harus ditaati.
Inilah salah satu maksud tujuan Tan Kiam Lam, seperti apa yang diketahui, gadis berbaju putih Cang Ceng ceng mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi, dan ia harus mendapatkan ilmu itu.
Cara mendapatkan ilmu Cang Ceng Ceng itu yang termudah ialah menghipnotis gadis berbaju putih itu, kemudian dengan membari satu perintah, dengan mudah ia akan mendapatkan catatan-catatan ilmu dari Cang Ceng Ceng.
Dengan menyatuhkan ilmu kepandaian yang didapatkan dari Cang Ceng Ceng, siapakah yang dapat menandingi dirinya lagi?
Kejadian ini sangatlah berbahaya sekali.
Dia adalah seorang jahat, seorang yang terjahat sekali, dan dengan ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi, beium ada orang yang dapat menandinginya.
Ilmu kepandaiannya itu akanditambah tinggi lagi, setelah mendapatkan ilmu kepandaian Cang Ceng Ceng.
Dan kejadian telah berlangsung.....
Cang Ceng Ceng mencatat ilmu kepandaiannya.
....
Seorang gadis berbaju putih.
yang telah kena ilmu Ie-sin Tay-hoat, Tan Kiam Lam sedang mencatat ilmu kepandaian yang dimilikinya, ilmu kepandaian itu akan diserahkan kepada orang yang berada didepannya.
Tan Kiam Lam mengambil bangku dan duduk.
ia menyaksikan kejadian itu, senyuman iblisnya terlihat seram sekali.
Berceritera didalam kamar tahanan.
orang tua bungkuk telah mengajak Tan Ciu kembali kedalam sel mereka.
Tan Ciu memandang orang tua itu, ia bertanya.
"Cianpwe. mengapa kau rela dikeram didalam tempat yang seperti in ?"
"Kau ingin tahu alasannya?"
"Ingin sekali."
Orang tua bungkuk itu mendonggakkan kepalanya keatas, ia sedang mengenangkan masa mudanya. Tan Ciu menantikan cerita dengan sabar. Kini orang tua bungkuk itu berkata.
"Aku berada didalam kamar tahanan dibawah tanah ini hanya karena sesumbarku."
"Sesumbar?"
Berkata Tan Ciu bingung.
Orang tua bungkuk itu menganggukkan kepala,"Betul.
Itulah karena kecongkakanku sendiri.
Mungkin kau tidak percaya, tapi inilah kenyataan.
Pada tiga puluh tahun berselang, tidak ada orang yang dapat menandingiku, bukan saja menandingi, belum pernah ada orang yang dapat menerima tiga jurus pukulanku."
Tan Ciu bergumam.
"Hanya tiga jurus?"
Orang tua bungkuk itu menganggukkan kepalanya.
"Betul. Aku malang melintang didalam rimba persilatan tanpa tandingan. Belum pernah ada jago silat yang dapat menghadapi tiga pukulanku, paling banter mereka hanya dapat menerima satu atau dua jurus saja, dan pada jurus yang ketiga pasti mereka kujatuhkan. Termasuk juga jago kelas satu."
Kata-kata ini terlalu sombong sekali, hampir Tan Ciu tidak percaya, ia memandang orang tua bungkuk iru dengan sinar mata yang penuh ragu-ragu.
"Bagaimana kau dapat dikalahkah oleh Tan Kiam Lam dan dikurung didalam kamar tahanannya?"
Bertanya Tan Ciu.
"Bukan dikalahkan olehnya."
Berkata orang tua bungkuk itu.
"Tapi dikalahkan oleh kata-kataku yang sangat sombong.
"Dikalahkan oleh kata-katamu sendiri?"
"Betul. Aku dikalahkan oleh kata-kataku sendiri, aku pernah sesumbar siapa yang dapat menerima tiga jurus ilmu pukulanku aku akan taat kepadanya."
Tan Ciu memandang orang tua itu, keterangannya agak tidak mudah diterima. Orang tua bungkuk tertawa, katanya."Kau tidak percaya?"
Tan Ciu menyengir. Haruskah ia percaya? Tapi tidak mungkin ia tidak percaya. Sesaat kemudian, ia menggeleng-geleng kepala.
"Aku kurang percaya."
"Kau tidak percaya bahwa ilmu kepandaianku berada diatas Tan Kiam Lam?"
"Kau mempunyai ilmu kepandaian dikalahkan oleh Tan Kiam Lam? Mengapa kau berada didalam tahanan ini?"
"Sudah kujawab tadi kepadamu aku kalah karena kata-kataku sendiri."
"Ceritakanlah."
"Sudah kukatakan, siapa saja yang dapat menerima tiga pukulanku, aku akan tunduk kepadanya dan tidak akan berjalan didalam rimba persilatan lagi."
"Tapi kau tidak mengatakan bahwa dirimu bersedia dikurung seperti binatang didalam tempat gelap ini."
"Betul. Dan Tan Kiam Lam itu sangat cerdik sekali. sebelum bertempur ia meminta syarat lain, dikatakan olehnya bahwa bila ia dapat menerima tiga pukulanku, aku diwajibkan melakukan dua hal. Dan aku melulusi permintaan itu."
"Dua ucapan apakah yang diajukan kepadamu?"
"Permintaan pertama ialah membuat Benteng Penggantungan ini."
"Hei..?!"
Tan Ciu terkejut dan berteriak.
"Kau yang membuat Benteng Penggantungan?"
"Mengapa bukan? Akulah yang membuat Benteng Penggantungan. Maka segala rahasia segala jalan, segala bangunan yang berada didalam Benteng Penggantungan ini, tidak satu pun yang luput dari penilaianku.'itulah semua rencana-rencanaku. Akulah yang mengarsitekinya akulah yang menjadi insinyurnya."
"Ow....pantas kau dapat keluar masuk dengan bebas."
Tan Ciu mulai percaya.
"Dan permintaan yang kedua ialah, aku diwajibkan mengurung diri sendiri didalam kamar tahanan ini. tidak boleh meninggalkan lembah Siang-kiat."
"Tidak ada pengecualian."
"Kecuali bila aku dapat menerima cintanya seorang wanita, itu waktu aku bebas dari janjiku. Aku bebas meninggalkan Benteng Penggantungan."
"Aduh....hal ini mana mungkin dapat terjadi?"
Tan Ciu harus percaya keterangan orang tua bungkuk itu.
hal itu menang mungkin terjadi ia dapat keluar masuk dengan bebasnya, bila tak ada sesuatu yang aneh.
hal ini tak mungkin terjadi.
Dan kata akhir, bila orang tua bungkuk ini meninggalkan Benteng Penggantungan, lebih dahulu, ia harus menerima cinta seorang gadis.
inilah yang tidak mungkin sama sekali, boleh dibayangkan, seorang tahanan di bawah tanah yang sangat rahasia, orang yang tidak pernah mendapat kunjungan orang lain mana mungkin mendapat cinta, apa lagi cinta seorang wanita?
Penilaian Tan Ciu kepada orang tua bungkuk itu harus dirubah.
Inilah seorang jantan yang dapat menepati janji.
Sunyi beberapa saat, dan akhirnya Tan Ciu yang membuka suara lebih dahulu.
"Ada suatu yang ingin kutanyakan padamu."
"Katakanlah."
"Telah kau saksikan ilmu kepandaian nona Cang didepan Benteng Penggantungan tadi."
"Betul."
"Bagaimana penilaianmu tentang ilmu kepandaian Cang Ceng ceng?"
"Maksudmu, kau membandingkan ilmu kepandaianku dan ilmu kepandaian nona Cang itu?"
"B e t u l."
"Ilmunya hebat. Kukira kami mempunyai kepandaian setingkat, mungkin aku berada sedikit dibawah dirinya."
Tan Ciu telah menyaksikan ilmu kepandaian Cang Ceng ceng dan itulah ilmu kepandaian yang sangat menakjupkan, maka bisalah dikatakan, kakek bungkuk ini tidak dapat memadainya, hal itu memang mungkin sekali.
Percakapan mereka berhenti sampai disitu.
Diketahui Tan Kiam Lam sedang mengajak Cang Ceng ceng masuk kedalam Benteng Penggantungan.
Maksud dari gadis berbaju putih itu ialah menemui Tan Ciu, dan seharusnya Cang Ceng-ceng mengajak masuk ke dalam kamar tahanan dibawah tanah ini.
Tan Ciu melongok kearah pintu masuk, disana tidak terlihat ada orang yang datangi walau waktu sudah berselang lama sekali, mengapa masih belum terlihat.
Si pemuda mengerutkan alisnya seraya berkata.
"Mengapa belum terlihat mereka datang?"
Orang tua bungkuk memberikan penyahutan."Betul. Seharusnya mereka sudah tiba..."
"Mungkinkah ...mungkinkah ....ada sesuatu hal diluar dugaan?"
Berkata Tan Ciu.
Mereka menantikan kedatangan Cang Ceng ceng, tapi gadis berbaju putih itu sedang mengalami suatu penderitaan.
Hal ini tidak diketahuinya.
Tan Ciu dan orang tua bungkuk itu saling pandang .
"Kukira kawan wanitamu itu telah dibius oleh Tan Kiam Lam."
Berkata siorang tua bungkuk.
Sekujur bulu badan Tan Ciu bergidik bangun.
Ia menggigil dingin.
Hal ini bukanlah tak mungkin, mengingat pengalaman dan kejahatan Tan Kiam Lam.
Dengan suara gemetar ia berkata.
"Mengalami pemindahan sukma."
"Hmmm......."
"Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh Cang Ceng ceng. mungkinkah . .. mungkinkah dapat dikalahkan?...."
Berkata Tan Ciu ragu. Ia pernah menyaksikan ilmu kepandaian Cang Ceng ceng dan ilmu kepandaian itu tidak perlu diragukan lagi. Orang tua bungkuk berkata.
"Bila dalam keadaan tidak ada kesiap siagaan hal ini besar kemungkinan terjadi."
Tan Ciu tertegun. Bila betul apa yang diduga oleh orang tua bungkuk ini, dimisalkan Cang Ceng ceng mengalami pemindahan sukma, akibat dan hal itu sangat besar sekali.
"Aku harus segera menolongnya."
Berkata Tan Ciu berteriak keras."Sekarang?"
Berkata orang tua bungkuk itu memandang si pemuda.
"Betul."
Berkata Tan Ciu singkat. Orang tua bungkuk menganggukkan kepalanya. seraya ia berkata.
"Baiklah, Biar kubuka totokan jalan darahmu dengan gerakannya yang gesit, dengan jari2nya yang lincah orang tua itu menotok jalan jarah Tan Ciu.
Jalan-jalan darah tersebut telah tertotok oleh Tan Kiam Lam, hal itu akan mengakibatkan gangguan gerakan dan kebebasan si pemuda.
Maka ia membebaskannya.
Tan Ciu bernapas sebentar, menyalurkan peredaran darahnya keseluruh tubuh dan terasa sangat baik sekali, tidak terdapat gangguan.
Mereka berdua meninggalkan kamar tahanan dibawah tanah.
Ditengah perjalanan.
orang tua bungkuk itu menoleh dan memandang Tan Ciu, seraya ia berkata.
"Segala sesuatu langkah harus dipikirkan masak-masak, jangan terlalu gegabah. Harus memandang diriku."
"Baik,"
Berkata Tan Ciu singkat.
Dan mereka melanjutkan perjalanannya.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara lengkingan tertawa yang sangat panjang.
Tan Ciu terkejut, dan memandang orang tua bungkuk ia berkata.
"Sungguh menyeramkan."
Orang tua bungkuk menghentikan langkahnya, ia bertanya."Kau kenal dengan suara itu?"
"Tidak. Siapakah yang berteriak seperti ini?"
"Gadis she Co itu, Co Yong."
"Ha ha, ha, ...."
Terdengar lagi suara bising Co Yong. Tan Ciu melompongkan mulutnya.
"Ia telah gila."
Orang tua bungkuk itu menambah keterangan yang lebih jelas.
"Hei? Apa?"
Tan Ciu berteriak. Itulah sesuatu yang terberat bagi si pemuda, Diketahui Co Yong masih hidup, tetapi ia tidak tahu bahwa Co Yong telah menjadi gila.
"Nona Co telah menjadi gila?"
Tan Ciu bergumam, Orang tua bungkuk itu menganggukan kepala.
"Mengapa?"
Tan Ciu bertanya lagi.
"Inilah salah satu rencana jahat Tan Kiam Lam. Ia membuat Co Yong gila, seumur hidup ia menjadi gila. Dan setelah itu ia akan mati karenanya."
Tan Ciu berteriak.
"Aku harus menemuinya, aku harus menolongnya ..."
Orang tua bungkuk itu berpikir sebentar, kemudian berkata.
"Baik, aku akan mengajakmu bertemu dengan Co Yong dahulu."
Dan arah mereka berganti, kini menuju kearah datangnya suara lengkingan Co Yong tadi.
Sebagai arsitektur dari bangunan Benteng Penggantungan, orang tua bungkuk itu dapat memahamisegala seluk beluk keadaan, dengan mudah ia dapat mengajak Tan Ciu ketempat Kamar tahanan Co Yong.
Membuka satu pintu rahasia.
Tan Ciu dan orang tua bungkuk itu telah masuk kesuatu ruangan yang sangat gelap.
Dengan menudingkan jari tangan kearah suatu tempat, orang tua bungkuk itu berkata.
"Itulah Co Yong,"
Tan Ciu memeriksa dengan seksama, matanya dikedip-kedipkan, dan kini ia telah menjadi biasa dengan keadaan ditempat gelap itu terlihat seorang gadis dengan rambut tidak terurus, terurai panjang berada dibalik terali besi.
Itulah Co Yong!
Tapi Co Yong yang kini Tan Ciu saksikan bukanlah Co Yong yang dahulu itu, bila dahulu Co Yong sangat cantik.
gerakannya lincah dan berilmu kepandaian sangat tinggi, kini tanda -tanda itu sudah tak terduga lagi.
Gadis dihadapannya adalah seorang yang betul-betul menjadi gila, kumal kotor, dengan rambutnya yang kusut tidak teratur.
pakaiannya yang sobek-sobek dan dekil itu, mungkinkah Co Yong yang dahulu dikenal olehnya?
Tan Ciu maju mendekati.
Kini ia dapat melihat jelas sekali, gadis gila itu adalah gadis yang pernah dikenal olehnya, itulah betul-betul Co Yong.
"Nona Co itu betul gila."
Tan Ciu bergumam.
"Ng....."
"Mengapa?"
"Orang yang telah dibuat gila oleh Tan Kiam Lam akan mengalami keadaan yang lain temasuk gadis ini. Ia gila untuk seumur hidupnya. Dan perlahan-lahan ia mati, mati karena tidak tahan menderita penyakit gila itu."
Tan Ciu menjerit, keras.
"Tidak.... Tidak boleh terjadi hal seperti ini. Aku harus segera menolongnya."
Didalam tahanan kamar istimewa.
Co Yong yang telah menjadi lelah karena berteriak-teriak menjerit-jerit tertawa ha.
ha, ha, ha, menangis menggerung-gerung, dan akhirnya ia tidur berbaring dipojok yang gelap itu.
Tan Ciu mendekati sehingga memegang jeruji besi kamar tahanan dan ia menggigil.
"Nona Co....."
Co Yoag tidak mendengar suara panggilan ia masih meringkuk berbaring. Tan Ciu berteriak lebih keras.
"Nona Co......"
Teriakan ini bergema diseluruh ruangan, Co Yong tersentak kaget dengan pandangan sinar mata sangat sayu, ia memandang kearah orang yang memanggil itu. Tan Ciu dan Co Yong saling pandang.
"Siapa kau?"
Kata-kata ini keluar dari mulut Co Yong.
"Nona Co, aku Tan Ciu....."
"Tan Ciu.... Hi hi.....ha.....ha..ha ...ha... ha. ...ha Siapa Tan Ciu, aku tidak kenal."
Berkata Co Yong dengan wajah pucat sekali. Bagaikan disayat dengan pisau, hati Tan Ciu terasa sangat pedih.
"Nona Co, tidak kenalkah kepadaku."
"Ha ha ha ha ha..... kenal?....oh ya, aku kenal kepadamu.....kau adalah pemuda jahat itu, kau adalahpencuri isi hariku, tapi kau jahat, aku harus membunuhmu!"
Co Yong menubruk kearah pintu. Tan Ciu menyingkir kebelakang. Orang tua bungkuk turut menyaksikan segala kejadian tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam. Co Yong berkata lagi.
"Hayo . ..kemari kau ... aku cinta kepadamu ...mari sini..."
Gila!
Betul-betul Co Yong sudah jadi gila!
Siapakah yang mengakibatkan kegilaan Co yong ini?
Tan Kiam Lam.
Dan siapa yang memaksakan kejadian tersebut?
Tan Ciu tak seharusnya ia memaksa Co Yong membuka rahasia Benteng Pengantungan, sehingga mengakibatkan gadis tersebut tersiksa sehingga seperti apa yang dilihat olehnya.
Tan Ciu mematung ditempat!
Hatinya dirasakan hancur luluh, ia menyesal atas perbuatannya yang telah dilakukan pada Co Yong, biar bagaimana secara tidak langsung, ia harus memikul tanggung jawab itu.
Tan Ciu berpaling kearah orang tua bungkuk itu dan berkata.
"Cianpwe, tolonglah lekas agar ia dapat sembuh kembali."
Orang tua bungkuk berkata.
"Apa yang kau akan lakukan setelah menolongna?"
"Aku akan segera cari Tan Kiam Lam."
"Menuntut balas?""Aku harus membunuhnya."
"Dengan ilmu kepandaianmu, tidak ada bedanya dengan telur diujung tanduk. Kau bukanlah tandingan Tan Kiam Lam."
"Seharusnya, ..."
"Aku bersedia menolong gadis itu. dan setelah berhasil, kau harus mengajaknya meningsalkan tempat ini."
"Mengajak Co Yong meninggalkan Benteng Penagantungan?"
"Betul dan harus berjanji, kau harus baik-baik memeliharanya."
"Aku berjanji akan baik-baik memperlakukan dirinya."
"Baik."
Dengan mudah orang tua bungkuk itu dapat masuk kedalam sel tahanan.
dibukanya segala sesuatu dengan alat yang telah tersedia, ia harus mengobati gadis sengsara itu.
Menyaksikan ada orang yang datang, tubuh Co Yong melesat, ia berteriak.
"Kau iblis. .. aku akan membunuhmu ....."
Tentu saja gerakan Co Yong tidak membawa hasil, dengan cepat dan gesit orang tua bungkuk itu telah menotok Jalan darah si gadis, robohlah tubuh gadis tersebut.
Dari luar kamar tahanan Tan Ciu menyaksikan kejadian tersebut.
Orang tua menggerakkan jari-jarinya dengan mengerahkan tenaga dalam menotok beberapa bagian tubuh gadis tersebut.
Dengan kepandaian orang tua bungkuk itu, tentu saja tidak sulit baginya untuk menyembuhkan penyakit Co Yong.Sepasang matanya yang lain turut menyaksikan kejadian tersebut.
Tan Ciu tidak sadar ia sedang memusatkan seluruh perhatian kepada gerakan-gerakan jarinja, ia harus dapat menyembuhkat Co Yong secepat mungkin.
Tiba-tiba ...
Orang yang mengintip mereka mengeluarkan suara.
"Saudara Tan."
Tan Ciu tidak mendengar suara panggilan itu. Seluruh perhatiannya masih ditujukan kedalam sel kamar tahanan Co Yong.
"Saudara Tan..,."
Memanggil lagi suara tersebut dengan lebih keras.
Kali ini suara itu menggema diseluruh ruangan.
Tan Ciu membalikkan badannya, ia dapat melihat sepasang mata yang mengintai kearah mereka lalu segera ia membentak.
"Siapa?"
"Aku! Aku Thung Lip."
Jawab orang itu.
"Hei.... kau siapa?. .. Thung Lip . ..?"
"Betul. Aku Thung Lip."
Hal itu sungguh berada diluar dugaan Tan Ciu tidak disangka sicendekiawan Serba Bisa Thung Lip berada didalam kamar tahanan Benteng Penggantungan.
Tan Ciu mendekati sel kamar tahanan Thong Lip.
Diperhatikannya sebentar, dan segera dikenalinyalah orang tua yang pernah mengepalai satu rombongan untuk memecahkan rahasia pohon Penggantungan, tetapi tidak berhasil itu.Keadaan Thung Lip didalam kamar tahanan Benteng Penggantungan tentu saja tidak dapat disamakan dengan dahulu kala, lebih kurus, pucat dan rambutnya pun tidak teratur rapi bersih, siapakah yang percaya orang ini seorang jago tua yang pernah mengepalai rimba persilatan?
Terdengar Thung Lip membuka suara.
"Bagaimana kau berada ditempat ini?"
"Dan mengapa kau ditangkap oleh mereka?"
Bertanya Tan Ciu kepada Thung Lip.
"Aku ditangkap oleh mereka."
"Oleh siapa? Co Yong Yen? atau Tan Kiam Lam?"
"Co Yong Yen."
"Bagaimanakah permusahanmu dengan Co Yong Yen?"
"Sangat panjang untuk diceritakan. Saudara Tan, kau pernah berkata bahwa kakakmu yang bernama Tan Siang itu mencari aku?"
"Betul."
"Mungkin! Hal ini mungkin dapat terjadi, Kuduga ia telah datang berkunjung kerumahku. Tapi ia tidak berhasil menemuiku." -ooo0dw0ooo-Jilid12
"AKU percaya keteranganmu itu. Kini aku telah mengetahui siapa yang menjadi orang tuamu."
"Aku pun sudah tahu,"
Kata Tan Ciu.
"Coba kau katakan."
"Ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam itu sebenarnya ayahku. Sedangkan Melati Putih adalah ibuku."
"Ternyata kau sudah tahu,"
Kata Thung Lip.
"Ada suatu hal yang ingin kutanyakan kepadamu,"
Berkata Tan Ciu.
"Katakanlah."
"Pernah didesas-desuskan bahwa ibuku melakukan sesuatu yang tidak patut."
"Hal itu tak kuketahui,"
Berkata Thung Lip.
"Tan Kiam Lam pernah berkata, bahwa kau sudah mengetahui hal ini. Dikatakannya pula bahwa kau pasti suka untuk menjadi saksi."
"Kentut."
Berkata Thung Lip.
"Ia bohong. Jangan kau percaya keterangannya."
Tan Ciu menganggukkan kepala, tentu saja ia lebih percaya kepada Thung Lip daripada percaya kepada Tan Kiam Lam. Mereka terdiam beberapa saat, dan achirnya Tan Ciu berkata.
"Bagaimanakah hubunganmu dengan Co Yong Yen?"
Thung Lip memandang kelangit-langit batu kamar tahanan itu seolah-olah sedang mengenangkan kejadian lamanya. Beberapa saat kemudian ia berkata.
"Sewaktu-waktu. Co Yong Yen pernah menjadi istriku. Itulah masa kami menghadapi musuh bersama, orang itu bernama Permaisuri dari Kutub Utara. Kami berkumpul digunung Oey san, dan Co Yong Yen berpesan kepadaku agar aku cepat-cepat kembali menemuinya. tidak disangkatatkala aku kembali menemuinya telah kulihat Co Yong Yen dibunuh orang....."
"Siapa yang membunuh Co Yong Yen?"
Bertanya Tan Ciu.
"Aku tidak tahu."
Berkata Thung Lip.
"Sehingga hari ini, setelah aku ditangkap olehnya dan dijebloskan kedalam kamar tahanan Benteng Penggantungan. dari mulutnya dapat kuketahui sedikit keterangan, diketahui olehnya bahwa setelah aku kembali dari pertempuran itu, aku telah bersetubuh dengannya, kemudian membunuhnya?"
"Tapi kau tidak membunuhnya. bukan?"
"Sudah kukatakan kepadamu, bahwa aku tidak membunuhnya. Dan aku pun malah telah melihat sendiri ia telah dibunuh orang."
"Tapi Co Yong Yen kokoh berkata bahwa kau yang membunuhnya ?"
"Betul."
Berkata Thung Lip.
"Siapakah orang yang menggunakan wajahku itu melakukan kejahatan dugaannya!"
"Hanya Tan Kiam Lam lah yang melakukan kejahatan !"
Menyambung cerita Thung Lip dan Tan Ciu. Mereka sedang bercakap-cakap didalam kamar tahanan Benteng Penggantungan dibawah tanah. Tan Ciu berkata.
"Dikatakan bahwa Co Yong Yen ditolong oleh Tan Kiam Lam."
"Betul."
Berkata Thung lip. Tan Kiam Lam menolong Co Yong Yen, bagaimana ia dapat membunuh Co Yong Yen! Tan Ciu menjadi bingung."Pernahkah dengan cerita tentang Permaisuri dari Kutub Utara?"
"Dikatakan bahwa setelah Permaisuri dari Kutub Utara dibunuh oleh kalian, mayatnya digantung diatas Pohon Penggantungan."
"Tidak. Hal ini tidak benar."
"Mungkinkah ada sesuatu rahasia lain?"
"Memang betul kami betul telah mengurung dan mengeroyok permaisuri dari Kutub Utara, tapi kami tidak membunuhnya, bahkan ia berhasil melarikan diri dari kurungan dan bergerak bebas. Ia sama sekali belum mati."
Tan Ciu menjadi bingung, dengan heran ia mengajukan pertanyaan.
"Siapakah yang digantung diatas pohon Penggantungan?"
"Inilah yang membingungkan kita orang."
Berkata Thung Lip.
"Pada pagi hari keduanya, kita mendengar berita tentang pembunuhan pada diri Permaisuri dari Kutub Utara. dikatakan bahwa jago wanita telah digantung oleh orang diatas Pohon Panggantangan."
"Mengapa kalian tidak menyangkal berita tersebut?"
"Demi nama kita orang semua, tidak seorang pun yang menyangkal berita tersebut."
"Dan akhirnya Permaisuri Kutub Utara itu tidak mati."
"Betul."
"Siapa yang menolong Permaisuri dari Kutub Utara lagi?"
Bertanya Tan Ciu.
"Mungkinkah Tan Kiam Lam?"
"Kukira bukan."
Berkata Thung Lip.
"Aku percaya. Terus terang kuterangkan kepadamu bahwa Tan Kiam Lambelum pernah melakukan sesuatu kebaikan. Bia rpun dia adalah ayahmu, tapi aku harus barterus terang. Jangan salahkan kepada sifatku ini,"
"Aku tidak menyalahkanmu. Kini Co Yong Yen telah percaya kepada Tan Kiam Lam bahwa ketua Benteng Penggantungan itulah yang menolong dirinya, tentu dianggap berhutang budi kepadanya, segala keterangan orang tidak akan dipercaya olehnya-"
"Ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, dikala kau masuk kedalam rimba Pohon Penggantungan, pernahkah melihat pencipta Pohon Penggantungan?"
"Belum!"
"Belum?"
Tan Ciu menganggukkan kepala. Si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip berkata.
"Saudara Tan, kuharap kau dapat membikin terang perkara ini, aku tidak pernah melakukan perbuatan yang terkutuk itu kepada Co Yong, tetapi dakwaannya tetap seperti itu harap kau dapat membikjn jelas perkara."
"Baik, aku bersedia melulusi permintaanmu,"
Berkata Tan Ciu.
"Sebelumnya, aku mengucapkan banyak terima kasih."
Berkata Thung Lip. Tan Ciu memandang orang itu dengan perasaan kasihan.
"Oh.... hampir aku melupakan sesuatu..,,!"
Berkata Thung Lip.
"Soal apakah itu?"
Tanya Tan Ciu.
"Belum lama Tan Kiam Lam mengajak se orang gadis yang bernama Cang Ceng Ceng, mereka masuk kedalamkamar tahanan ini dan memperhatikan keadaan nona Co Yong untuk beberapa waktu, membicarakan persoalan yang menyangkut dirinya,"
"Kemudian?"
Tan Kiam Lam mengatakan pula kepada nona Cang Ceng Ceng, bahwa nona Co Yong telah menjadi gila karena perbuatanmu. Dikatakannya kau adalah seorang pemuda yang suka mempermainkan wanita."
"Oh ..."
"Berhati-hatilah, Nona Cang Ceng Ceng itu seperti sangat sedih sekali."
Berkata Thung Lip.
"Lamakah mereka disini?"
"Tidak? Kini mereka telah berada dilain ruangan,"
Berkata Thung-Lip. Tan Ciu sedang berpikir, mengapa Tan Kiam Lam mengajak Cang Ceng ceng masuk ke kamar tahanan ini? Thung Lip berkata lagi.
"Bila dugaanku tidak salah, Tan Kiam Lam akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan nona Cang Ceng-ceng! Kukira dengan ilmu kepandaian Ie-sin Tay-hoatnya ia dapat membuat orang tidak berdaya. Hal ini harus mendapat perhatian, dimisalkan Cang Ceng-ceng berada dibawah kekuasaannya dengan mudah Cang Ceng-ceng dapat melakukan sesuatu yang tidak menguntungkanmu. Kau harus berhati-hati. Ah.....aku curiga kepada orang ini, kukira dia bukan Tan Kiam lam?"
Tan Ciu tersentak bangun dari lamunannya hatinya mencelos.
"Apa?"
Teriaknya keras."Kau tidak percaya bahwa ketua Benteng Penggantungan bukan Tan Kiam Lam!"
Ditatapnya wajah sijago tua yang kumal itu.
"Betul, Kukira dia bukan Tan Kiam Lam."
Berkata Thung Lip.
"Mengapa?"
"Apa yang telah dilakukan kepadamu tidak patut. Itu bukanlah suatu perbuatan seorang ayah kepada anaknya. Tidak mungkin Tan Kiam Lam dapat melakukan perbuatan tersebut."
Kecurigaan ini pernah timbul dalam pembicaraan Tan Ciu, ia memang meragukan dan mengharap bahwa ketua Benteng Panggantungan itu bukanlah jelmaan ayahnya.
Tapi kenyataan telah terbentang didepan matanya, ketua Benteng Penggantungan itu adalah Tan Kiam Lam, itulah orang tua lelaki.
Mungkinkah seorang ayah dapat melakukan perbuatan seperti apa yang Tan Kiam Lam lakukan kepada Tan Ciu.
Berpikir sampai disini Tan Ciu mengeluarkan keluhan napas panjang.
"Kau dapat merasakan keanehan ini ?"
Thung Lip mengajukan suatu pertanyaan.
"Betul,"
Berkata Tan Ciu.
"Aku harus mencoba dirinya."
"Apa yang akan kau coba?"
"Aku harus mencoba dan menjajal, betulkah dia yang menjadi ayahku ?"
Tiba tiba ..!
Terdengarlah suatu suara geseran kaki dari dalam kamar tahanan!
Ternyata orang tua bungkuk itu telah selesaimemberi pengobatan kepada Co Yong, ia telah bangkit berdiri dan berjalan datang.
Tan Ciu meninggalkan Thung Lip, memapaki orang tua bungkuk itu dan memanggi.
"Cianpwe ... ."
Orang tua bungkuk menyusut keringatnya ternyata ia telah lelah sekali.
Tan Ciu kemudian memandang kearah Co Yong, dilihatnya gadis itu tengah berbaring, agaknya sedang tidur pulas sekali.
Orang tua bungkuk berkata.
"Ia telah bebas dari kesengsaraan. Sebentar kemudian ia akan sadar. Dan penyakit ingatannya telah kusembuhkan, kau ada obat untuk penyegar badan?"
"Ada."
Dari dalam saku bajunya Tan Ciu mengeluarkan obat Seng-biat-hoan-bun-tan diserahkan kepada orang tua bungkuk itu.
Menerima pemberian obat Tan Ciu, orang tua bungkuk kembali.
Obat Seng-biat-boan-bun-tan dipilihnya sebutir dan dimasukkan kedalam mulut Co Yong.
Dan sekali lagi ia mengurut-urut.
Beberapa lama kemudian....
tubuh Co Yong yang tidur pulas itu mengeliat.
Perlahan-lahan ia membuka matanya.
Ternyata ia sudah sadar.
Tan Ciu segera masuk kedalam kamar tahanan itu, dengan menubruk tubuh Co Yong sambil berteriak.
"Nona Co..."
Co Yong telah membuka matanya.
berputar-putar disapukan pandangan matanya kesekeliling ruangan.
tiba-tiba mendengar ada orang yanp memanggil namanya, maka ia menatap dengan sinar matanya kearah wajah Tan Ciu.
Untuk seketika ia belum dapat melihat dengan jelas, bagaikan impian yang baru sadar, hal itu masih membingungkannya.
"Kau ..."
Berkata sigadis dengan suara sangat lemah. Tan Ciu menghampiri lebih dekat lagi.
"Siapa kau,... ?"
Bertanya Co Yong.
"Ah ..."
Co Yong mengeluarkan keluhan tertahan.
Nama ini telah berkesan didalam hati dan pikirannya, sudah mendarah daging dan nama inilah selalu dikenang olehnya.
Tanpa ia mendengar lagi, tentu ia tersentak bangun, urat syarafnya menjadi tegang.
Tan Ciu hampir mengucurkan air mata, dengan sedih ia berkata.
"Nona Co, kau ... tidak kenalkah kepadaku?..."
Lama sekali Co Yong memperhatikan wajah Tan Ciu, dan akhirnya mengenali akan wajah kekasihnya.
"Tan Ciu ..."
Akhirnya kata-kata ini telah keluar dari mulut Co Yong, ia telah sembuh dari penyakit ingatannya.
Satu hal yang sangat menggirangkan Tan Ciu.
Ia mengulurkan kedua tangannya.
Co Yong membalas rangkulan itu, dan ia membiarkan dirinya berada dalam dekapan pelukan Tan Ciu.
Sepasang kekasih yang telah lama tak bersua, kini saling rangkul-rangkulan.
Co Yong menangis sesenggukkan.
Segala sesuatu yang telah dideritanya harus dikeluarkan, dan hanya air matalah yang dapat mengalirkan segala kesengsaraan hidup.
Tan Ciu memanggil perlahan."Nona Co ..."
"Oh, ... Tan Ciu ... akhirnya kau tiba juga."
Berkata Co Yong tiba-tiba.
"Aku akhirnya berhasil menjumpaimu."
Berkata Tan Ciu.
"Aku cukup merasa puas . .."
"Nona Co...."
"Aku sudah merasa puas dapat menjumpaimu kembali. Mati pun kembali. Mati pun kita aku rela. .. ."
Berkata Co Yong lelah.
Tan Ciu juga sedih, ia turut mengucurkan air mata.
Kesedihannya tidak dapat dibendung lagi.
Walaupun ia seorang pemuda, tetapi perasaan semacam itu tetap ada.
Terdengar suara Co Yong berkata.
"Tan Ciu tahukah kau, betapa rinduku padamu?"
"Aku tahu."
Kata Tan Ciu perlahan.
"Dikala aku sadar kembali, kukira aku tidak dapat menjumpaimu lagi... ternyata aku dapat menjumpaimu. ...mungkinkah di alam mimpi? mungkinkah aku sedang bermimpi..."
"Tidak. Inilah suatu kenyataan."
"Kenyataan? Sungguh-sungguh aku berada disebelahmu ?"
Co Yong masih ragu-ragu.
"Betul."
Berkata Tan Ciu menatap.
"Tan Ciu ..."
Co Yong memanggil perlahan namanya dengan tidak bersikap memandang pemuda itu.Tan Ciu memegang kedua pipi Co Yong yang telah menjadi pucat, dan tiba-tiba saja ia menempelkan bibirnya kewajahnya itu.
Co Yong menggigil dingin.
Tapi rasa hangat itu telah menghilangkan semua-muanya.
Ciuman seorang pemuda membawa kebahagiaan baginja.
Dan sesudah itu membawa harapan untuk dihari kemudian.
Mereka saling rangkul dan kedua pasang bibir itu bertemu menjadi satu.
Orang tua bungkuk mendehem.
"Hmm... masih banyak waktu untuk berkasih-kasihan, bukan sekarang..."
Co Yong mendorong tubuh Tan Ciu, wajahnya yang pucat itu bersemu dadu ia menjadi malu. Memandang kearah orang tua bungkuk itu sebentar dan dengan penuh tanda tanya ia bertanya kepada Tan Ciu.
"Siapa dia?"
"Dialah yang telah menyembuhkan penyakit ingatanmu."
"Penyakit ingatan? Apakah aku menjadi gila? Aku telah gila? Diakah yang menyembuhkan penyakit gilaku?"
"Betul!"
Berkata Tan Ciu perlahan. Mengenangkan semua kejadian yang telah lewat beberapa saat berselang, Co Yong berkata dengan suara menggumam.
"Oh...... jelaslah kini, Pocu telah melakukan sesuatu yang jahat kepadaku."
"Betul, ia juga kejam. Bila tidak ada cianpwee ini, penyakit gilamu mungkin sukar disembuhkan. Lekaslah menghaturkan terima kasihmu kepadanya."
Co Yong lantas memberi hormat dan mengucapkan terima kasih yang sebenar-besarnya kepada orang tua buugkuk tersebut. Orang tua bungkuk mengulapkan tangannya dan berkata.
"Lekaslah kalian tinggalkan tempat ini."
"Meninggalkan tempat ini?"
Co Yong masih bingung. Tan Ciu berkata.
"Betul. Aku harus mengajakmu meninggalkan Benteng Penggantungan."
"Kemana kita pergi?"
Tanya Co Yong.
"Kemanapun boleh Co Yong, kita harus selalu bersama-sama. Aku cinta padamu. Maukah kau ikut serta denganku?"
"Aku bersedia."
Co Yong menundukan kepala rendah. Orang tua bungkuk berkata.
"Mari, kalian ikut dibelakangku."
Mengikuti dibelakang orang tua bungkuk itu, Tan Ciu dan Co Yong meninggalkan kamar tahanan Benteng Penggantungan.
Menikung lagi dua kali, orang tua bungkuk itu menghentikan langkahnya dan berkata kepada mereka.
"Setelah keluar dari suatu pintu rahasia kalian berdua sudah berada dibelakang Benteng Penggantungan. Dibelakang gunung ada satu jalan kecil ambilah jalan itu untuk meninggalkan tempat jahat ini."
Tan Ciu dan Co Yong berjalan pergi.
Tiba-tiba Tan Ciu merasakan bahwa orang tua bungkuk itu tidak mengikutinya, ia membalikkan badan, dan betul saja terlihat orang tua tersebut berdiri diam.
Ia balik kembali, katanya.
"Cianpwte mengapa cianpwee tidak turut serta?"
"Aku? aku akan tetap berdiam ditempat ini,"
Berkata orang tua bungkuk itu.
"Apa akibatnya bila Tan Kiam Lam telah mengetahui kita melarikan diri? Apa yang akan dilakukannya terhadapmu?"
"Legakanlah hatimu. Ia tidak dapat berbuat sesuatu kepadaku."
"Cianpwe entah bagaimana harus kami nyatakan terima kasih kami kepadamu."
"Sudah! Lekas kalian pergi."
Tan Ciu dan Co Yong meninggalkan kamar rahasia itu, dan juga meninggalkan orang tua bungkuk itu.
= o OdwO o o = Meninggalkan cerita Tan Ciu dan Co Yong, dan mengikuti drama Tan Kiam Lam beserta dengan Cang Ceng ceng.
Dengan ilmu kepandaiannya yang sangat jahat.
Tan Kiam Lam telah berhasil menguasai alam pikiran gadis tersebut.
Dengan muiah ia dapat memberikan perintah apa saja yang dikehendakinya.
Apa saja yang dimauinya!
Setelah berhasil memberi perintah kepada Cang Ceng ceng untuk mencatat semua ilmu kepandaian gadis berbaju putih yang lihay itu.
Tan Kiam Lam mengantongicatatannya, dan rencana berikutnya sudah mulai akan dilakukan.
Tan Kiam Lam memandang gadis itu, napsu birahinya timbul seketika.
Ia berkata.
"Bukalah Pakaianmu."
Tidak ada alasan untuk menolak, Cang Ceng-ceng melakukan perintah itu, satu persatu ia mulai membuka pakaiannya.
Tan Kiam Lam menyaksikan satu pemandangan yang bagai membakar hatinya, dadanya bergelora dengan hebat.
"Tidurlah disana."
Tan Kiam Lam memberi perintah selanjutnya.
Dengan tanpa pakaian, Cang Ceng-ceng berjalan ketempat yang ditunjuk, ia membaringkan dirinya.
Tan Kiam Lam mulai melakukan sesuatu yang diluar batas manusia bermoral, dengan semau-maunya ia menciumi seluruh tubuh gadis tersebut, sebentar lagi.
ia akan dapat melampiaskan nafsu kebinatangannya.
Cang Ceng-ceng tidak dapat menahan rasa gelinya, ia tertawa cekikikan.
Tan Kiam Lam menyerang dengan semakin kalap.
segala dari tubuh gadis itu diserangnya secara membabi buta.
Tertawa Cang Ceng-ceng semakin geli saja tertawanya, didalam keadaan antara sadar dan tidak ia dapat melakukan segala apa yang diperintahkan Tan Kiam Lam.
Rasa geli itu masih ada maka cekakak cekikik ia tertawa.
Suara tertawa inilah yang menggagalkan rencana Tan Kiam Lam.Tan Ciu yang berpandangan tajam sudah dapat mendengar suara tersebut.
Dan pemuda itu terkejut, menghentikan langkahnya memasang kuping lebih jauh.
Co Yong menjadi bingung, ia memandang pemuda itu dan bertanya.
"M e n g a p a ?"
Tan Ciu berkata dengan perlahan.
"Tunggulah disini sebentar, aku akan melakukan sesuatu. Sekali-kali janganlah kau pergi kemana-mana."
Setelah memberi pesan itu, Tan Ciu melejitkan tubuhnya meninggalkan Co Yong.
Dengan mengikuti arah datangnya suara ia sudah berhasil tiba diluar kamar Tan Kiam Lam.
Dikala Tan Kiam Lam hampir berhasil, tiba-tiba terdengar suara jendela didobrak, seorang pemuda telah muncul dihadapannya.
"Kau?"
Tan Kiam Lam membelalakan matanya. Tan Ciu membentak dengan keras.
"Binatang kau!"
Pikiran Cang Ceng ceng telah berada dibawah kekuasaan Tan Kiam Lam, ia melihat kedatangan pemuda itu, tapi tidak mengenalinya.
Lupa bahwa dirinya tidak berpakaian sama sekali, ia masih berbaring ditempatnya.
Tan Kiam Lam memberi perintah padanya.
"Lekas berpakaian."
Cang Ceng-ceng mengenakan pakaiannya. Kini Tan Kiam Lam menghadapi Tan Ciu, ia membentak pemuda itu.
"Apa maksudmu?"
"Hemm . , ."
Tan Ciu mendengus! "Apa maksudmu?"
Tan Kiam Lam tidak mengerti, bagaimana Tan Ciu dapat keluar dari kamar tahanan bagaimana dapat membebaskan totokan-totokannya? "Dengan cara bagaimana kau keluar?"
Berkata Tan Kiam Lam.
"Kau tak perlu tahu,"
Kata Tan Ciu singkat.
Berpikir sebentar, dan Tan Kiam Lam dapat menduga tentang kejadian larinya pemuda itu, dengan adanya sibungkuk didalam kamar tahanan hatl itu memang suatu hal yang tidak menguntungkan baginya.
"Ouw ..."
Tan Kiam Lam menganggukkan kepala.
"Mengertilah aku."
"Mengerti apa?"
Berkata Tan Ciu.
"Si bungkuk yang melepaskan dirimu?"
"Betul. Dialah yang membebaskan diriku, Bagaimana?"
"Rejekimu memang bagus."
Berkata Tan Kiam Lam kepada Tan Ciu. Tan Ciu menggeram.
"Tan Kiam Lam, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu."
"Ha, ha, ha,.."
Tan Kiam Lam tertawa. Tan Ciu maju dua langkah.
"Sebelum kau mati, tanyakanlah semua hal yang kau tidak tahu, agar kau dapat mati dengan puas.?"
Berkata Tan Kiam Lam.
"Kau ayahku?"
Bertanya Tan Ciu.
"Bila bukan anakku, sudah lama kau mati tahu?"
Berkata Tan Kiam Lam.Tan Ciu menggeleng-gelengkan kepala, katanya.
"Kau bukan Tan Kiam Lam!"
Tan Kiam Lam tersentak bangun, ia mengalami satu getaran hebat, katanya.
"Siapa bilang bukan?"
Tan Ciu menatap tajam wajah sang ketua Benteng Penggantungan, pemuda itu dapat melihat sesuatu yang tidak beres.
"Kau menyangkal?"
Berkata lagi si pemuda.
"T e n t u."
"Mengapa?"
"Karena aku adalah Tan Kiam Lam."
"Kau bukan Tan Kiam Lam."
Berkata Tan Ciu lebih keras! "Mengapa kau mempunyai pendapat seperti ini?"
Katanya.
"Karena aku dapat melihat seorang Tan Kiam Lam yang lain."
Berkata Tan Ciu.
"Tak mungkin."
Berkata Tan Kiam Lam keras.
Tan Ciu memperhatikan segala gerak-gerik dan segala kelakuan dan sikap ketua Benteng Penggantungan.
sangat teliti sekali, ia mengharapkan bahwa keterangan Thung Lip yang mengatakan bahwa orang yang dihadapinyal ini bukan Tan Kiam Lam.
"Tan Kiam Lam,"
Panggil Tan Ciu.
"Kau tidak bodoh. Pikirlah. Mengapa Sin Hong Hiap mengatakan bahwa kau menantangnya bertanding diluar Benteng Penggantungan."
"Mengapa?"
"Berpikiriah sebentar.""Aku tidak mengerti."
Tan Ciu tertawa, katanya.
"Itulah Tan Kiam Lam asli yang menantangnya diluar Benteng Penggantungan."
"Tidak mungkin."
"Mungkin saja."
"Tidak! Itulah Tan Kiam Lam palsu."
"Yang menantang Sin Hong Hiap adalah Tan Kiam Lam asli. Kau palsu!"
Tan Kiam Lam tertegun, tubuhnya gemetaran.
seolah-olah menemukan sesuatu yang paling tegang.
Tiba-tiba saja satu perasaan yang tidak enak menyerang dirinya.
Dengan keterangan ini, dugaan bahwa Ketua Benteng Penggantungan bukan Tan Kiam Lam semakin besar.
Bila betul dia Tan Kiam Lam, tentunya tahu masih mempunyai seorang saudara kembar yang bernama Tan Kiam Pek?
Tan Kiam Lam masih tetap menyangkal.
"Akulah Tan Kiam Lam"
Tan Ciu berdengus.
"Siapakah Tan Kiam Lam yang diluar Benteng Penggantungan?"
"Imitasi! Barang tiruan?"
"Kukatakan bahwa dialah yang asli. Dan kau Tan Kiam Lam palsu. Tan Kiam Lam tiruan. Tan Kiam Lam imitasi."
Tan Kiam Lam bergumam.
"Tidak mungkin. ...Tidak mungkin.... Ia telah mati."
"Siapakah yang telah mati?"
Bertanya Tan Ciu keras.Ketua Beateng Penggantungan itu terkejut, cepat-cepat ia memulihkan dirinya, dengan sinar mata yang sangat merah, ia menatap anak muda yang berada dihadapannya.
"Pergi! Lekas kau pergi dari tempat ini. Jangan turut campur urusanku."
Tan Ciu berkata.
"Kau tidak bodoh. Seharusnya mengerti bahwa kau bukan Tan Kiam Lam. Tan Kiam Lam yang asli telah menantang Sin Hong Hiap bertempur sedangkan kau tidak tahu."
"Tidak mungkin. .. ."
Apa yang dikatakan tidak mungkin?
Keterangan yang Tan Ciu berikan kepadanyakah tidak mungkin atau...
.Kehadirannya Tan Kiam Lam asli yang tidak mungkin?
Jawaban ini hanya diketahui oleh si ketua Benteng Penggantungan tersebut.
Tan Ciu berkata.
"Aku masih dapat menyebut alasan lainnya."
"Katakanlah lekas."
"Akan kukatakan, mengapa ada dua Tan Kiam Lam."
"Sudah kukatakan bahwa orang itu adalah pemalsu."
"Mengapa bukan kau katakan kau yang memalsukannya?' "Tidak mungkin."
Dengan berbelit-belit Tan Ciu mulai memasuki pembicaraan acaranya.
"Kau tidak mempunyai saudara?"
Yang diartikan dengan tidak bersaudara Tan Ciu memaksudkan Tan Kiam Pek.
Bila Tan Kiam Lam salahmemberi jawaban tidak tahu, tidak tahu akan adanya orang yang bernama Tan Kiam Pek.
Pasti palsu.
Tan Kiam Lam bergumam.
"Saudaraku?....."
"Mungkinkah kau mempunyai saudara?"
Bertanya Tan Ciu.
"Mungkinkah dia?"
"Siapa."
"Tan Kiam Pek!" -"Tan Kiam Pek itukah saudaramu?"
Tan Kiam Lam menganggukan kepala berkata.
"Betul. Dialah yang sering mengganggu usaha orang. Saudara kembarku ini sering bersitegang. Puluhan tahun yang lalu ia telah kembali lagi. Tidak kusangka ia telah kembali lagi, Pasti dia. Pasti dia...... Ternyata ia telah kembali."
Tan Ciu bungkam.
Apa yang dapat dikatakan lagi?
Sudah jelas bahwa ketua Benteng Penggantungan yang berada dihadapannya adalah Tan Kiam Lam asli.
Bukan saja mengetahui nama Tan Kiam Pek, lebih dari pada itu dikatakan juga bahwa orang itu saudaranya.
Jelas, ketua Benteng Penggantungan adalah Tan Kiam Lam.
Tan Ciu berdiri mematung.
Apa yang dapat dilakukan olehnya.
Kepada ayah yang sangat jahat?
Tan Kiam Lam membuka suara.
"Kini kau sudah tidak meragukan lagi tentang keaslianku?"
"Belum. Aku masih kurang percaya."
Berkata Tan Ciu.Tan Kiam Lam menyengir seram, ia mendekati pemuda itu dan berkata.
"Percaya atau tidak percaya. hal ini sudah tidak menjadi soal lagi. Yang jelas kau tidak akan hidup lama."
"Kau ingin membunuh?"
"Betul."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Aku tidak mempunyai jalan lain, terpaksa, aku tidak dapat mengampuni lagi."
"Aku tidak membutuhkan pengampunanmu."
Berkata Tan Ciu gagah.
"Bagus,"
Berkata Tan Kiam Lam yang sudah mulai siap.
Tan Ciu juga tidak lengah walaupun orang yang berada didepannya adalah sang ayah, Diantara kebenaran dan kejahatan tidak dapat dijadikan satu, mereka sedang bersitegang, Tiba-tiba Tan Ciu berteriak.
"Hia, sudah jelas, wajah aslimu terbuka, Telah berulang kali kau katakan bahwa kau seorang baik. Dan si Telapak Dingin Han Thiat Ciu orang jahat, Kini kedokmu telah terbuka! Kau jahat, tentunya kau inilah si Telapak Tangan Dingin Han Thiat Ciu! Begitu, bukan?"
Tan Kiam Lam terbelalak tangannya yang sudah hampir bergerak itu berhenti karenanya. Tan Ciu berkata.
"Kau kira aku mudah dihina?".
"Apa maumu?"
"Kini kau telah membuka rahasiamu sendiri, kau telah melakukan kejahatan yang tiada caranya. Dosamu tak akan mendapat pengampunan."
"Walaupun aku telah melakukan kejahatan apa yang kau mau?"
Tan Kiam Lam masih bersikap temberang."Sebelum aku mati, aku akan berusaha menentangmu."
"Kau segera akan mati."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Belum tentu."
Berkata Tan Ciu gagah.
Diantara kedua orang itu telah terjadi ketegangan yang memuncak.
Kecuali Tan Kiam Lam dan Tan Ciu, masih ada seorang lainnya, itulah sigadis berbaju putih Cang Ceng Ceng, sayang gadis itu telah di Ie-hun Tay-hoat, pikirannya adalah otak Tan Kiam Lam.
Ia berdiri menyaksikan kedua orang yang berhadapan dekat itu.
Tiba-tiba ...
Terdengar suara geraman Tan Kiam Lam disertai dengan gerakan tangan ketua Benteng Penggantungan itu, ternyata ia itu telah memukul sipemuda, arahnya ialah batok kepala Tan Ciu.
Tan Ciu menyingkir dari arah serangan itu mengenyampingkan diri, dari sini ia mengirim satu bacokan tangannya yang hebat, Gerakan Tan Kiam Lam sangat luar biasa, diwaktu yang sama ia telah mengirim serangannya yang kedua.
Mereka saling serang, tempat yang diancam adalah kedudukan bahaya, masing-masing membatalkan serangan itu, demikian, sama saja artinya dengan menghindari ancaman musuh, hal itu bukan berarti menghentikan pertempuran, sebelum dapat melihat jelas, bagaimana dua tubuh itu terpisah.
Mereka pun telah berhadapan, maka lagi serangan berikutnya telah lepas.
kini tak dapat dihindari lagi, Tubrukkan terjadi ...
Bumm ...
Bagaikan ledakan yang bunyi keras.Tubuh Tan Ciu terdorong mundur sehingga sepuluh tombak ...
Oak!...
memuntahkan darah segar, tubuhnya bergoyang-goyang kehilangan posisi keseimbangan badan.
Ternyata tenaga latihan Tan Kiam Lam berada jauh diatas pemuda itu, maka ia berhasil melukainya.
Tan Ciu mengempos tenaga, tapi tidak berhasil, lukanya parah, tubuhnya jatuh ketanah, ia duduk numprah.
Tan Kiam Lam menggereng.
ia mengangkat tinggi tangannya, siap menamatkan riwayat hidupnya pemuda bandel itu.
Tan Ciu memeramkan kedua matanya, ia tidak berdaya, menyerahkan nasib kepada takdir alam.
Disini terjadi keanehan ....
Tangan Tan Kiam Lam yang turun kearah sasaran itu, tidak disertai tenaga, sangat perlahan dan kemudian meninggalkan mangsanya yang tidak berdaya.
Tan Ciu menutup mata terlalu lama, beberapa saat, ia membuka kedua mata itu, disaksikan kejadian aneh tersebut, ia menjadi heran.
Mengapa?
Mengapa Tan Kiam Lam tidak membunuh dirinya?
Mungkinkah hubungan keluarga yang memberatkan putusan jahat si ketua Benteng Penggantungan?
Tan Kiam Lam masih mematung ditempat.
Tan Ciu tidak sabar, ia membuka suaranya yang sudah menjadi lemah, katanya.
"Tan Kiam Lam mengapa tidak membunuhku?"
Tan Kiam Lim masih mengatup mulutnya."Jangan kau melewatkan kesempatan bagus."
Berkata Tan Ciu.
"Lewat hari ini, Jangan harap dapat membunuhku lagi."
Tan Kiam Lam tertawa berkakakan, katanya.
"Ha, ha, ha. ha.......Kesempatan tetap berada dipihakku."
"Ucapanmu ini terlalu besar. Suatu hari, kau akan menyesalkannya kembali."
Berkata Tan Ciu.
"Suatu hari, pasti aku membunuhmu."
"Kukira, kau mengimpi terlalu cepat."
"Mangkinkah kau dapat melawanku?"
"Hari ini tidak. Tapi pada suatu hari entah hari yang mana, setelah aku berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang lebih tinggi aku menantangmu."
"Itu waktulah, aku akan membunuhmu."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Mengapa tidak sekarang? Mungkinkah takut ada pembalasan? Takut kepada seseorang."
"Baiklah. Akan kubuktikan kepadamu bahwa aku tidak pernah takut kepada siapapun juga."
"Ingin membunuh?"
"Tentu."
"Bunuhlah."
"Tidak perlu menggunakan tanganku."
Berkata Tan Kiam Lam tersenyum iblis. Tan Ciu terbelalak, ia tidak mengerti. Dengan tangan siapa ketua Benteng Penggantungan itu akan membunuh dirinya? "Mungkinkah kau melupakan pada kawanmu?"
Inilah suara Tan Kiam Lam, Tan Ciu tersentak bangun dari lamunannya.
"Kawanku?"
Ia tidak mengerti.
"Kawanku yang mana?"
"Lupa bahwa disini masih ada seorang gadis yang bernama Cang Ceng Ceng?"
Tan Ciu melirik kearah gadis berbaju putih yang baru disebut oleh Tan Kiam Lam, gadis yang sudah tiada kesegarannya.
Sayu dan lesu, bagaikan sesosok mayat hidup yang baru bangkit dari tanah kuburan.
Tiba-tiba suatu perasaan menyerang Tan Ciu, seluruh bulu tengkuknya berdiri.
Bergema rinding, ia dapat memahami arti kata-kata ancaman Tan Kiam Lam tadi.
Bila Tan Kiam Lam menghipnotis Cang Ceng-ceng untuk membunuh dirinya...
Akh..., Sungguh menyeramkan.
Suara Tan Kiam Lam yang seperti iblis itu bergema lagi.
"Tentunya kau cinta kepada Cang Ceng-ceng bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Yang ini sangat penting. Kukira kau sudah dapat menduga akan maksud dari kata-kata tadi."
"Kau ingin menggunakan tangan Nona Cang untuk membunuh diriku."
"Kau pintar. Sekali duga pun tepat. Bila kau mati dibawah tangan orang yang dikasihi tentunya sangat penasaran, bukan? Tentunya! Sangat tidak terima, bukan? Nah rasakanlah getaran jiwa ini."
Tan Ciu menggeretek gigi, dirinya tidak berdaya, ia membentak.
"Kau bajingan.""Ha, ha, ha....."
Tan Ciu berkerongkol, lupalah kepada luka dirinya, tidak dapat ia menyabarkan dirinya lagi, tiba-tiba tubuhnya melesat, dan memukul kearah Tan Kiam Lam.
Orang yang kita sebut itu tersenyum-senyum saja ditempatnya, jelas diketahui bahwa pemuda itu akan mengalami kegagalan.
maka ia tidak gentar sama sekali.
Tubuh Tan Ciu meninggalkan tanah.
tetapi dirasakan sangat berat, tubuh tersebut segera jatuh kembali, bergedebruk ditanah.
"Ha, ha ha .... Tan Kiam Lam tertawa. Tan Ciu memplototkan mata. Dan Tan Kiam Lam membuka mulut, ia memandang targetnya.
"Nona Cang. .."
Cang Ceng Ceng terjengit ia mendongakkan kepala dan memandang Tan Kiam Lam.
"Bunuh orang ini."
Tan Kiam Lam memberikan perintah, Suara Tan Kiam Lam adalah perintah 'maut'.
Cang Ceng Ceng segera menjalankan perintah itu, ia mendekati mangsanya.
Tan Ciu telah mati kutu, ia memandang gadis berbaju putih itu dengan sinar mata yang meminta belas kasihan.
Biar bagaimana, diantara Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng pernah terjalin api asmara.
menerima sinar mata sipemuda, Cang Ceng Ceng tergoyah, kini ia berpaling ketempat Tan Kiam Lam.
"Membunuh orang Ini?"
Ia meminta ketegasan "Betul,"
Berkata Tan Kiam Lam."Mengapa?"
Bertanya Cang Ceng-ceng "Jangan banyak tanya."
Bentak ketua Benteng Penggantungan itu.
"Lupakah bahwa pemuda inilah yang menggangu kesenangan kita?"
"Kesenangan kita?"
Cang Ceng-ceng berkemat-kemik.
"Betul, bila bukan kedatangannya orang ini kau telah berada didalam sorga kesenanganmu,"
"Sorga kesenangan?"
"Dia adalah pemuda yang pernah mempermalukan dirimu, tahu."
Menerangkan lagi Tan Kiam Lam.
"Ng ..."
Cang Ceng ceng menganggukkan kepalanya.
"ia telah mempermainkan aku? ....Ng ... Aku harus membunuhnya."
"Itulah dengar perintah dan membunuhnya segera."
"Baik. segera kubunuh."
Cang Ceng-ceng menuju kearah Tan Ciu kembali.
"Kau memang pintar."
Pujian Tan Kiam Lam kepada Bonekanya.
"Maka aku cinta padamu. Aku adalah orang baik! Dan dia jahat. Kau harus membunuh orang jahat. Kau harus cinta kepada orang baik?"
"Kau seorang baik!"
Berkata Cang Ceng-ceng.
"maka aku cinta padamu."
Kata-kata tadi ditunjukkan kepada Tan Kiam Lam!
Maka orang yang bersangkutanlah yang diberikan kata-kata cinta tadi!
Hal ini maklum, mengingat semua perasaan dan ingatan Cang Ceng-ceng masih berada dibawah kekuasaan ketua Benteng Penggantungan itu!
Cang Ceng ceng sudah ditekadbulatkan untuk membunuh Tan Ciu.
kaki gadis tersebut menuju kearah Tan Ciu!
Tan Ciu menunggu datangnya malaikat elmaut dengan perasaan takut.
Inilah kematian yang paling disegani oleh setiap manusia, tidak selayaknya, Kita mati dibawah tangan orang yang dikasih dan mengasih.
Jarak Cang Ceng-ceng dan Tan Ciu semakin dekat....
Si pemuda berteriak.
"Nona Cang, inilah aku."
Suara itu adalah suara orang yang sudah berada didepan pintu kematian.
"Siapa kau?"
Berkata Cang Ceng-ceng.
"Aku Tan Ciu."
"Tan Ciu?"
Cang Ceng ceng berusaha menarik kesannya kepada orang ini.
"Betul. Tan Ciu."
Selak Tan Kiam Lam.
"Nona orang itu Tan Ciu, pemuda yang telah mempermainkan cintamu, maka kau harus membunuh."
"Aku harus membunuh Tan Ciu?"
Berkata Cang Ceng-ceng.
"Tentu. Dia adalah orang jabat."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Orang jahat?"
Berkata Cang Ceng.ceng.
"Orang jahat harus dibunuh. Aku harus membunuhmu."
"Nona Cang."
Si pemuda masih berusaha.
"Lupakah kau kepada Tan Ciu?"
"Tan Ciu harus taat kepada perintah nasib, alam telah mentakdirkan kejadian ini, agaknya tidak dapat ditolak lagi."
Si pemuda menatap wajah Cang Ceng.ceng, sangat pucat, tidak bercahaya, itulah wajah seorang mayat hidup. Cang Ceng-ceng telah berada didepan Tan Ciu, gadis itu berkata.
"Hayo, bangun. Lekas mengadakan perlawanan. Aku tidak akan membunuh kepada orang yang tidak dapat perlawanan,"
Tan Ciu telah kehilangan kekuatan geraknya, ia ngelepot ditanah, tidak ada niatan untuk menangkis setiap serangan yang akan dilontarkan kepada dirinya.
"Eh. kau tidak mau melawan?"
Berkata lagi Cang Ceng-ceng.
"Melawan?"
Tan Ciu menyengir kuda.
"Betul. Kau harus melawan. Tidak mau aku membunuh orang yang sudah tidak dapat mengadakan perlawanan sama sekali."
Tan Ciu menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berkata.
"Aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan!"
"Tidak ada tenaga?"
Cang Ceng-ceng mengkerutkan kedua alisnya.
"Tetapi kau harus berusaha mempertahankan diri untuk hidup. Larilah. .. Seharusnya kau berusaha untuk melarikan diri."
"Lari? , ..Melarikan diri?"
"Betul."
Jawab Cang Ceng-ceng.
"Kau harus melarikan diri. Maka aku mempunyai cukup alasan untuk membununmu." 'Aku tidak akan melarikan diri."
Berkata Tan Ciu tegas."Bagaimana aku boleh membunuhmu?"
Cang Ceng-Ceng berkata. Tan Kiam Lam segera membentak.
"Pukul saja sudah."
Bagaikan didalam kekuasaan oleh seorang iblis, tangan Cang Ceng Ceng bergerak.
memukul Tan Ciu sudah tidak berdaya itu.
Setiap orang wajib mempertahankan jiwanya dari kehidupan yang lebih lama, menerima serangan, walaupun mengetahui bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan untuk menangisnya Tan Ciu mengangkat tangan memapaki datangnya pukulan!
Huuuuukkk........
Tubuh Tan Ciu terpukul pergi.
Sangat jauh sekali.
Kemudian jatuh diatas tanah lagi, dari mulutnya si pemuda sudah mengeluarkan darah yang lebih banyak.
Mengelepot beberapa kali, kepala Tan Ciu terkulai, berciuman dengan tanah dan tidak ingat orang.
Ia pingsan.
Cang Ceng Ceng telah kehilangan rasa prikemanusiaannya, ia melayangkan diri, mengikuti terbangnya tubuh lawan itu, siap mengakhiri jiwa pemuda tersebut.
Disaat ini.......
Melayang datang satu bayangan.
langsung menubruk ketubuh Tan Ciu dan berteriak.
Itulah wakil ketua murid Benteng Penggantungan Co Yong Yen yang bernama Co Yong gadis yang belum lama disembuhkan penyakit ingatannya,., .
Tangan Cang Ceng Ceng tertarik mundur.
Belum ada perintah untuk membunuh gadis baru datang, maka ia diam.Co Yong menengadahkan kepalanya, air mata telah membanjir kanal dikedua pipinya, ia memandang Tan Kiam Lam, seolah-olah memohon pengampunan.
Tan Kiam Lam menyengir kejam.
"Tidak kusangka, kau berani melarikan diri, keluar dari Benteng Penggantungan."
Co Yong membuka suara.
"Pocu, bebaskanlah dirinya dari siksaan."
"Maksudmu ingin meminta pengampunan."
". ..."
Co Yong mengiyakan jawaban ini tanpa suara.
"Kau mengimpi."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Pocu, kau boleh menahanku lagi."
Berkata Co Yong.
"Tidak perlu."
"Kau boleh membunuhku."
Berkata Co Yong.
"Hm... Enak, he? Ingin mati bersama-sama?"
Tan Kiam Lam memang seorang kejam. Sedikit pun orang tidak boleh tidak menerima siksaan.
"Pocu, aku memohon kepadamu, Janganlah membunuhnya."
"Tidak....!"
Didalam keadaan yang serba buntu itu. Co Yong menjadi nekat, wajahnya berbangkit kembali, timbul niatannya untuk mengadu jiwa.
"Aku tidak mengiiinkan kau membunuhnya."
Sigadis berkata dengan gagah.
"Kau belum kuat untuk menjaga keamanannya."
"Aku akan berusaha."
Berkata Co Yong.Tan Kiam Lam tidak banyak debat, ia memandang Cang Ceng-ceng dia berkata.
"Bunuh Tan Ciu dahulu."
"Baik."
Cang Cang-ceng menotok jalan kematianya pemuda itu.
Co Yong telah siap sedia, ia menangkis serangan Cang Ceng-ceng tadi.
Ilmu kepandaian Cang Ceng Ceng berada diatas Tan Kiam Lam, walau pun berada didalam keadaan otak kosong, ilmu kepandaian itu belum dilenyapkan, ia tidak mau mengantarkan dirinya dipukul orang, menyingkir sebentar dan menyerang dari lain jurusan.
Untuk sementara, jiwa Tan Ciu dapat bebas dari ancaman.
Bagaikan seekor kucing mempermainkan mangsanya.
Co Yong adalah 'tikus' dari jago wanita muda itu.
Manakala Co Yong sudah tidak dapat mempertahankan diri, satu aliran tenaga menyelak masuk, menangkis pukulan Cang Ceng-ceng, menolong Co Yong.
Itulah si bungkuk dari dalam kamar taha-nn Benteng Penggantungan.
Tan Kiam Lam sangat terkejut, segera ia membentak.
"Hei, mengapa kau keluar dari kamar tahanan?"
"Betul aku telah keluar dari kamar tahanan."
Berkata otang tua bungkuk tersebut.
"Apa maksud dan tujuanmu meninggalkan tempat itu?"
"Ingin berolah raga sebentar. Tulang-tulangku telah terasakan sangat pegal, sudah dua puluh tahun aku tidak memainkan ilmu silat."
Tan Kiam Lam membentak."Manusia bungkuk, jangan kau mengganggu. usahaku."
"Aku tidak akan mengganggu usahamu, bila tidak ada hubungannya dengan pemuda ini, tapi kini telah menyangkutkan soal ini dengannya, aku harus turut serta."
"Ma k s u d m u ?"
"Bebaskanlah dirinya."
"T i d a k !"
Orang tua bungkuk itu tertawa terkekeh-kekeh. Katanya.
"Tan Kiam Lam, kau lebih kejam dari pada binatang. Diketahui bahwa harimau tidak akan menelan anaknya sendiri, tapi, kau, seorang yang sudah menjadi ayah, ingin membunuh anak kandung?"
"Kau,ingin mengadakan larangan?"
Suara Tan Kiam Lam sangat tidak puas.
"Aku tidak menginginkan adanya tragedi sedih ini terbentang dihadapan kedua mataku."
Berkata orang tua bungkuk itu.
"Lalu?"
"Kuharap, supaya kau dapat membatalkan maksudmu."
"Manusia bungkuk sudah lupakah kepada janjimu sendiri?"
Tan Kiam Lam memberi peringatan.
"Ha, ha, ha....."
Orang tua bungkuk itu tertawa.
"Belum pernah ketelan janji sendiri. Tidak mungkin aku dapat melupakan janji yang telah kulepas kepada orang. Aku tidak pernah mengobral janji. Maka dapat mengingat setiap janji yang kuberikan itu. Kujamin bukan chegue kosong."
"Bagus. Segeralah kembali kedalam kamar tahananmu."
Berkata Tan Kiam Lam."Janjiku tidak akan keluar dari Lembah Sing-kiat. Tidak terbatas berada didalam kamar tahanan saja."
"Putusanmu telah bulat, ingin turut campur urusan ini?"
Bertanya Tan Kiam Lam meminta ketegasan.
"Tentu."
"Perhatikanlah gadis itu baik-baik."
Tan Kiam Lam menunjuk Cang Ceng-ceng. Orang tua bungkuk menengok kearah gadis yang ditunjuk dan ia menunjukkan tertawanya.
"Bagus."
Ia memberikan pujian.
"Matamu belum lamur tentu dapat menyelami betapa tinggi ilmu kepandaian gadis ini bukan?"
Berkata Tan Kiam Lam. Orang tua bangkuk menganggukkan kepala.
"Tentu tahu."
Tentu saja ia tahu, ia pernah menyaksikan bagaimana Cang Ceng-ceng mengetengahi pertempuran Tan Kiam Lam dan Sin Hong Kiap diluar Benteng Penggantungan.
"Mungkinkah kau dapat mengalahkan dirinya?"
Tan Kiam Lam buka suara.
"Aku belum pernah menempurnya, bukan?"
Berkata orang tua itu.
"Ilmu kepandaiannya berada diatasku."
Berkata Tan Kiam Lam.
"Kukira kau tidak akan sanggup menandinginya.
"Aku dapat berusaha mengimbangi kekuatan setiap orang."
Berkata orang tua bungkuk.
"Bila aku turut serta pertempuran itu mungkin kau dapat melayani gabungan dua jago kelas satu."
"Boleh dijajal."
Berkata orang tua bungkuk menantang.
"Bagus."
Dan Tan Kiam Lam memandang Cang Ceng-ceng berkata.
"Bunuh kakek usil ini."
"Segera kubunuh."
Berkata Cang Ceng-ceng.
Membarengi kata-katanya, tubuh gadis yang telah dimayat hidupkan itu bergerak luar biasa gesitnya, ketangkasannya belum dipunahkan, ia masjh digolongkan kedalam jago kelas satu.
Didalam sekejap mata, telah menyerang orang tua bungkuk sampai dua kali.
Orang tua bungkuk itupun seorang yang tanpa tandingan, bila Cang Ceng ceng dapat menyerang cepat, ia pun dapat menangkis lebih cepat lebih dari pada itu, tangannya pun tidak kosong sambil bertahan, ia pun memberi kiriman serangan balasan.
Cang Ceng-ceng dan orang tua bungkuk telah bergulat.
Co Yong membelakangi Tan Ciu yang sudah jatuh pingsan, ia dapat turut menyaksikan pertandingan hebat itu.
Suatu ketika, orang tua bungkuk melesat.
lewat ditempat yang tidak jauh dari Co Yong, dan berkata kepada gadis tersebut.
"Lekas bawa Tan Ciu meninggalkan tempat ini."
Dan ia merangsek Cang Ceng Ceng dengan kekuatan hebat.
Co Yong sadar akan bahaya.
Ia menggendong tubuh Tan Ciu, siap melarikan diri meninggalkan Benteng Penggantungan.
Tan Kiam Lam tertawa seram, ia menghadang kepergiannya dan berkata.
"Kau kira mudah meninggalkan tempatku?"
Orang tua bungkuk sudah dapat memperhitungkan hal ini, sebelum Tan Kiam Lam dapat menahan kepergian CoYong dan Tan Ciu.
ia mengirim satu serangan maut kearah ketua Benteng Penggantungan itu.
Gerakan Tan Kiam Lam terhadang.
Co Yong melesat dengan punggung menggendong tubuh Tan Ciu.
Cang Ceng-ceng tidak tinggal diam, dengan gerakannya yang gesit, ia pun memukul orang bungkuk.
maka kakek ini dipaksa meninggalkan Tan Kiam Lam, Gerakan tadi terjadi didalam waktu yang sangat singkat sekali, boleh dikata pada saat yang sama, karena tidak satu gerakan pun yang lambat, maka agak sulit diikuti dengan mata biasa.
Orang tua bungkuk tidak berani lengah, ia harus berhati-hati melayani Cang Ceng-ceng.
Tan Kiam Lan mendapat kebebasan lagi.
Tapi bayangan Co Yong dan Tan Ciu telah lenyap dari pandangan mata.
Tanpa membuang-buang waktu, ketua Benteng Penggantungan itu segera membikin pengejaran.
Orang tua bungkuk tidak dapat memisahkan diri.
serangan-serangan Cang Ceng-ceng terlalu berbahaya, lengah sedikit, darahnya akan mengambang ditempat itu.
Meninggalkan pertempuran Cang Ceng-ceng dan orang tua bungkuk, mengejar kejadian Tan Kiam Lam, Co Yong dan Tan Ciu.
Ilmu Co Yong jauh berada dibawah Tan Kiam Lam.
Pada tubuh gadis itu pun menggendong orang, hal ini mengurangi kecepatan larinya.
Tan Kiam Lam telah berhasil mengejar.
Tangan kejam Tan Kiam Lam terjulur ke depan.
Dengan suaranya yang seperti kepala bajingan itu, ia berkata."Kemana kau pergi?"
Co Yong menyengot kesamping.
Tapi Tan Kiam Lam lebih cepat, ia memukul gadis tersebut....Hukkk!
...
Tubuh Tan Ciu lepas dari gendongan Co Yong sedangkan si gadis jaruh terperosok.
Tan Kiam Lam tidak bernama Tan Kian Lam bila ia tidak mempunyai kekejaman yang melebihi manusia biasa.
Tangan mautnya menjulur lagi ....
Tiba tiba ....
Terdengar satu suara dingin membentak.
"Hentikan gerakkan itu?"
Seorang wanita berpakaian merah telah menampilkan dirinya, penuh kewibawaan pada wajahnya terbayang keagungan, Tan Kiam Lam gagal membunuh orang.
Wajahnya memandang wanita baju merah itu dan terjadilah perubahan, wajah si ketua Benteng Penggantungan menjadi pucat.
hampir ia berteriak saking kagetnya, ia terus mundur sampai tiga tombak.
Kejadian ini belum pernah dialami oleh Tan Kiam Lam Mahluk manapun tidak pernah ditakuti olehnya.
Hanya munculnya wajah inilah yang paling mengejutkan.
Mengapa?
Mengapa Tan Kiam Lam takut berhadapan dengan wajah wanita berbaju merah itu ?
Dengan ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi dengan otaknya yang sangat cerdas, mungkinkah masih ada persoalan yang tidak dapat diatasi olehnya ?Kunci jawaban berada pada wanita berbaju merah itu.
Jelas, bahwa Tan Kiam Lam kenal kepada wajah tersebut.
Dan munculnya wanita berbaju merah ini sungguh berada diluar dugaannya.
-ooo0dw0ooo-Jilid13 MANAKALA Tan Kiam Lam ingin mengadakan pembunuhan, muncul seorang wanita berbaju merah, gerakan Tan Kiam Lam berhasil dihentikan olehnya.
Dilihat sepintas lalu, Tan Kiam Lam kenal kepada wanita berbaju merah ini, sebaliknya.
wanita tersebut tidak mengenali wajah Tan Kiam Lam, terdengar ia berkata.
"Siapa kau?"
Tan Kiam Lam disadarkan dari lamunannya, ia terkejut sekali, suatu peringatan kepada dirinya bahwa wanita baju merah itu sudah tidak mengenali wajahnya.
"Kau siapa?"
Seolah-olah tidak kenal. Tan Kiam Lam mengajukan pertanyaan yang sama.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Berkata wanita baju merah itu.
"Aku adalah ketua Benteng Penggantungan."
Tan Kiam Lam berkata.
"Kesalahan apa yang telah dilakukan oleh mereka? Tega benar kau menurunkan tangan jahat?"
Bertanya wanita baju merah itu yang menunjuk Tan Ciu dan Co Yong.
"Kau tidak perlu tahu."
Berkata Tan Kiam Lam."Mengapa tidak boleh tahu?"
Berkata wanita baju merah.
"Aku kenal kepada pemuda itu. Namanya Tan Ciu, bukan?"
"Betul."
"Kau telah melukainya?"
"Ng..."
"Aku mempunyai urusan dengannya."
Berkata wanita baju merah.
"Aku akan membawa pergi dirinya."
Wajah Tan Kiam Lam berubah.
"Hanya dengan alasan ini, kau ingin mengambil orang?"
Ia tidak puas.
"Alasan apa yang kau mau?"
Berkata Wanita tersebut suaranya sangat dingin.
"Alasan yang harus masuk diakal."
"Huh. Siapa yang berani melarang kemauanku?"
"A k u."
"Bagus! Kau kira, namun itu dapat menakutkanku ?"
"Bila kau berani mengambil dirinya dari tanganku, mengapa aku tidak berani melarangmu!"
"Bagus ... Bagus...Lihatlah ... Aku segera mengambil dan membawa dirinya."
Kata wanita itu, ia bergeser langkah, mendekati Tan Ciu.
Tan Kiam Lam ada niatan untuk mencegah, tapi kepandaian sang lawan luar biasa, dapatkah dia mencegah?
Badannya gemetaran Wanita itu menoleh, disaksikan gerakkan diam itu, lalu tertawa,"Bagaimana?"
Ia mengeluarkan suara cemooh.
"Mengapa tidak mencegahku?"
Tan Kiam Lam tidak berhasil menguasai diri tubuhnya bergerak disertai dengan gerakkan keras ia menyerang wanita itu.
Wanita berbaju merah itu menyingkir kesamping dari sini ia mengirim serangan balasannya.
Tan Kiam Lam merendahkan dirinya, maka serangan itupun tidak mengenai sasaran dari sini, ia menempatkan dirinya kearah yang menguntungkan, dan mengirim serang balasan.
Tatkala cepat untuk diceritakan, didalam waktu satu tepukan tangan mereka telah bergebrak empat kali, masing-masing mengirim empat serangan dan menghindari empat ancaman lawan.
Manakala Tan Kiam Lam dan wanita baju merah itu saling gebrak dengan kecepatan kilat.
Co Yong telah sadarkan diri, lukanya sangat parah, pukulan Tan Kiam Lam bukanlah pukulan biasa.
seluruh isi jereonnya berger-geseran dari tempat semula.
Dilihat olehnya ada dua gulungan yang saling gumul itu, matanya terbelalak, tidak diketahui.
jago dari mana yang sedan menolong dirinya.
Bertepatan pada saat itu ...
Dua bayangan yang bergumul itu terpisah, Tan Kiam Lam mundur dari tempat kedudukannya sampai beberapa tombak.
Wanita berbaju merah mengeluarkan suara.
"Bagaimana?"
Tan Kiam Lam semakin seram untuk meneruskan pertandingan, tubuhnya pun mulai bergoyang lagi.
Ia tak menjawab pertanyaan itu.
Wanita tersebut telah memenangkan pertandingan tadi, dengan puas ia tertawa, kemudian berkata.
"Wahai, ketua Benteng Penggantungan, dengarkan aku baik-baik, pemuda itu harus kubawa. Dan kau dilarang mengadakan pengejaran."
Ia menoleh kearah Tan Ciu berbaring.
"Aaaaa... .!"
Tiba-tiba wanita baju merah itu mengeluarkan suara jeritan. Tempat dimana tadi Tan ciu terbaring sudah kosong, tidak ada selembar mahlukpun ditempat itu.
"Kemanakah lenyapnya Tan Ciu?"
Wanita baju merah itu bergumam.
"Siapa yang melarikan lagi?"
Pertanyaan yang sama sedang menyerang Tan Kiam Lam.
Manusia pandai manakah yang dapat membawa orang dari samping sisinya dan wanita baju merah ini?
Hal ini sungguh-sungguh memecahkan kepala mereka.
Wanita itu telah mengambil langkah cepat, tubuhnya melesat dan mengadakan pengejaran.
Tan Kiam Lam terbenam didalam lamunannya, hal itu berlangsung untuk beberapa saat.
Bagaimana ia tidak terpatung, mengetahui bahwa orang-orang berkepandaian tinngi mulai bermunculan kembali?
"Dia?...
Bagaimana hidup lagi?"
Tan Kiam Lam bergumam.
"Aku tak mengimpi? Tapi... ia hidup lagi... Ilmu kepandaiannya lebih tinggi....Darimana didapat ilmu silat itu?...Sudah waktunya aku menyembunyikan, diri.... Bila tidak... Huh... Aku harus melatih ilmu yang dapatmengatasinya... ilmu yang dapat mengatasinya semua orang. setelah itu.,, Hm... Aku harus memperdalam ilmuku...."
Bagaimana sekian lama, Tan Kiam Lam telah menebalkan keyakinannya, tubuhnya melesat.
dan meninggalkan tempat kejadian.
Pulang kebenteng Penggantungankah orang ini?
Tidak!.
Tan Kiam Lam mengetahui, bahwa penyamarannya segera terbuka.
Benteng Penggantungan tidak dapat dijadikan sarang lagi.
Mengambil arah yang bertentangan dengan benteng itu, ia pergi.
Sampai disini.
cerita telah meningkat kearah klimaks, cerita berikutnya menanjak langsung keatas.
Menyusul Tan Ciu ...
Tatkala matahari pagi bercahaya terang.
Tan Ciu telah berada disebuah rumah gubuk, Ia masih belum sadarkan diri.
Orang yang menolong sipemuda bukan Co yong.
Si gadis juga berada didalam keadaan luka.
tidaklah mungkin mempunyai itu kekuatan untuk menggendongnya.
Siapakah yang menolong kedua orang ini?
Seorang wanita berbaju hitam yang mengenakan kerudung tutup muka berwarna hitam juga berada diluar rumah gubuk itu.
Wanita inilah yang telah menolong Tan Ciu dari segala bahaya.
Bukan satu kali saja, ia mengeluarkan tangan bantuannya.
Siapa dia ?Hal ini masih berupa satu kabut teka teki.
Wanita baju hitam itu melongok kedalam.
dilihat dua sosok tubuh masih terbaring.
Itulah Tan Ciu dan Co Yong.
Seorang gadis berbaju hitam berjalan mendekatinya.
Wanita berkeruduug itu diam saja.
Si gadis turut melongok kedalam dan berteriak.
"Adik Ciu!"
Wanita berkerudung cepat mencegah.
"Jangan bangunkan dirinya."
Gadis itu tidak menyetujui usul ini, Ia ingin mengajukan usul protes, katanya.
"Tapi. ..."
Wanita berkerudung membentak.
"Jangan membantah."
"Ibu..."
"Tan Sang."
Bentak wanita berkerudung.
"Lupakah kepada pesanku?"
Tan Sang? Mungkinkah Tan San tidak mati? Siapa yang tergantung pada pohon Penggantungan? Terdengar gadis baju hitam yang dipanggil Tan Sang itu berkata.
"Apa ia bisa mati ditempat ini?"
"Belum waktunya."
"Mengapa?"
"Hal ini akan mengganggu dirinya."
Tan Sang dapat diberi mengerti iapun menganggukkan kepalanya.
Menyetujui pendapat itu.
Walau agak berat untuk berpisah dengan sang adik, Tan Ciu adalah adik kandung satu-satunya itulah yang membuat ia berat.
"Mari."
Berkata wanita berkerudung hitam "Kuatkan imammu. Mari kita pergi."
Mata Tan Sang basah dengan butiran2 yang bening, itulah air mata.
Dua wanita itu meninggalkan rumah gubuk dimana Tan Ciu dan Co Yong masih terbaring.
Beberapa saat kemudian.....
Co Yong sadarkan diri lebih dahulu.
dilihat Tan Ciu yang terbaring disampingnya, ia sangat terkejut segera ia berteriak.
"Tan Ciu.....!"
Tidak ada jawaban, seolah-olah memanggil sesosok mayat yang menunggu dikebumikan.
Didorongnya tubuh itu.
tidak ada reaksi, Didorong-dorongnya lagi sehingga beberapa kali.
Co Yong masih mengharapkan keajaiban.
Masih tidak ada reaksi.
Co Yong menangis senggukkan.
Ia sangat bersedih, sangkanya Tan Ciu telah meninggal dunia.
Manakala ia memegang denyutan nadi si pemuda, saking lemahnya gerakaan itu, ia tidak dapat merasakannya.
Tiba tiba ...
Satu suara derap langkah kaki bertindak kearahnya, datang dari arah belakang sigadis.
Co Yong berlompat balik, segera ia membentak.
"S i a p a?!"
Satu bayangan merah telah berada di dalam gubuk itu, Co Yong segera mengenali kepada wanita yang ingin menolong mereka dari cengkraman Tan Kiam Lam.Co Yong menduga, wanita berbaju merah inilah tentunya yang menolong mereka dari kesulitan.
Segera ia memberi hormat, berkata.
"Cianpwe, terima kasih kepada pertolonganmu."
Wanita berbaju merah ini mendekati Co yong dan Tan Ciu. ia menggelengkan kepala katanya.
"Bukan aku yang menolong kalian."
Co Yong sadar, dikala ia mendapat totokkan.
wanita baju merah ini masih menempur Tan Kiam Lam.
siapakah yang menjauhkan mereka dari Tan Kiam Lam?
Wanita baju merah itu masih berjalan maju.
Co Yong menaruh curiga, apa maksud kedatangannya?
Segera ia mengajukan pertanyaan.
"Cianpwe, kau?"
"Aku mencarinya,"
Tukas wanita baju merah itu yang menudingkan jari kearah tempat dimana Tan Ciu masih berbaring.
"Ada urusankah denganya?"
Bertanya Co yong. Wanita baju merah itu tertawa. berkata.
"Jangan khawatir. aku mencarinya bukan mencari urusan."
"Maksud cianpwe?"
"Anak Tan Kiam Lam, bukan?"
"Betul."
"Aku ingin bertanya kepadanya. dimanakah ayahnya itu berada."
Berkata wanita baju merah. Mata Co Yong terbelalak."Cianpwee ingin mencari Tan Kiam Lam."
Ia bergumam tidak mengerti.
"Belum lama mereka bertempur seru. Bagaimana ingin menanyakannya lagi?"
Wanita baju merah tidak dengar akan gumam Co Yong, ia sudah berada didepan Tan Ciu, memperhatikannya sekian lama dan berkata.
"Biar kutolong dirinya dahulu."
Dari dalam saku bajunya, mengeluarkan obat berwarna merah diselipkan kedalam mulut Tan Ciu, dan menepuk-nepuk beberapa jalan darah pemuda itu.
Sebentar kemudian, Tan Ciu telah siuman, Ia mengeliat bangun.
Co Yong berteriak girang.
"Tan Ciu, akhirnya kau bangun juga!"
Tan Ciu memandang keadaan disekeliling itu rumah gubuk tersebut masih terlalu asing baginya. Co Yong memanggil lagi.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Agak baik."
Si pemuda memberi jawaban.
"Syukurlah."
"Eh, bagaimana aku dapat berada ditempat ini?"
Tan Ciu mengajukan pertanyaan.
"Cianpwe inilah yang menolongmu."
Co Yong memberikan keterangan. Tan Ciu memberi hormat.
"Terima kasih kepada Cianpwe.".
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu."
Berkata wanita berbaju merah itu.
"Boanpwe akan memberikan segala jawaban"
Berkata Tan Ciu."Namamu Tan Ciu?"
"Betul."
"Putra Tan Kiam Lam.
"Tidak boanpwe sangkal."
"Pertanyaanku yang pertama ialah. pertanyaan tentang ayahmu. Dan sekalian mengucapkan terima kasih kepadamu."
"Terima kasih kepada boanpwe?"
Tan Ciu mengkerutkan jidatnya.
"Kau telah menolong Ong Leng Leng, dan aku adalah gurunya" . Wanita berbaju merah itu memberi keterangan. Oooo... Ternyata wanita ini adalah guru dari si Jelita Merah Ong Leng Leng! Tan Ciu mengerti akan duduk perkara, ia berkata.
"Nona Ong baik?"
"Satu tahun lalu, pernah dikatakan olehnya bahwa kau pernah memberikan pertolongan. Hutang budi ini tidak akan kami lupakan. Setelah itu ia pergi entah kemana, kami belum berjumpa lagi."
"Ng..."
"Tentang ayahmu, dimanakah kini ia berada?"
Berkata lagi guru si Jelita Merah.
"Tan Kiam Lam yang cianpwe maksudkan?"
Tan Ciu tidak mengerti.
"Ayahmu bernama Tan Kiam Lam, bukan?"
"Cianpwe ingin mencarinya?"
"Betul. Ada urusan yang belum kuselesaikan dengannya."
"Ketua Benteng Penggantungan itulah yang bernama Tan Kiam Lam."
"Hee !?....."
Wanita berbaju merah berteriak keras.
Bila diketahui bahwa ketua Benteng Penggantungan itulah yang bernama Tan Kiam Lam, ia tidak akan melepaskannya.
Co Yong juga sangat terkejut.
Wanita baju merah berkata lagi.
"Kau katakan bahwa ketua Benteng penggantungan itu yang bernama Tan Kiam Lam?"
"Tidak salah lagi. Cianpwe kenal dengannya!"
"Tidak. Bila kukenal. Tentu tidak akan kubiarkan ia pergi begini saja."
"Cianpwe berhasil mengalahkannya?"
Co Yong menceritakan kejadian tadi, dimana wanita baju merah ini menempur Tan Kiam Lam.
"Cianpwe ingin menemui Tan Kiam Lam, ada urusan apakah yang penting?"
"Aku ingin menanyakan seseorang."
"Bagaimanakah gelar nama orang itu?"
"Si Telapak Dingin Han Thian Chiu"
Tan Ciu terkejut.
Bila keterangan Tan Kiam Lam tidak salah, orang yang bernama Han Thian Chiu itu adalah musuh dirinya.
Bagaimana guru si Jelita Merah bertanya tentangnnya.
Tan Ciu mengajukan pertanyaan.
"Tan Kiam Lam mengetahui tempat bersemayamnya Han Thian Chiu?"
"Sebarusnya. ia tahu dimana Han Thian Chiu itu menetap.
"M e n g a p a ?"
"Mereka adalah kawan yang terbaik."
"Kawan yang terbaik?"
Lagi-lagi Tan Ciu berteriak.
mungkinkah hal ini terjadi?
Dikatakan oleh Tan Kiam Lam bahwa orang yang bernama Han Thian Chiu itulah yang ditakuti, maka ketua Benteng Penggantungan tersebut menyembunyikan diri didalam lembah sepi, membuat satu benteng kokoh untuk menghindari diri dari kejarannya.
Bagaimana boleh dibantah bahwa Tan Kiam Lam kenal baik dengan Han Thian Chiu?
Bahkan mereka bersahabat baik?
-oo-OdwO-oo-TAN CIU masih bingung dan tidak mengerti.
Wanita baju merah berkata.
"Tan Kiam Lam dan Han Thian Chiu adalah kawan baik, mereka pasti tahu tempat kediaman dari kawan kawan itu."
"Tidak mungkin."
Tan Ciu berteriak.
"Mengapa tidak mungkin?"
"Dikatakan oleh Tan Kiam Lam"
Bahwa Han Thian Chiu itu adalah musuh besar dirinya."
"Keterangan ini tidak benar. Mereka adalah saudara seperguruan, suheng dan sutee."
"A a a a a a a ...!"
Tan Ciu jelas dan mengerti, ternyata Tan Kiam Lam telah menipu dirinya, segala obrolan kosong.
dasar penipu ulung.
Dengan alasan apa, Tan Kiam Lam menceritakan kejadian itu?
Tan Ciu menggoyang-goyangkan kepala, berkata.
"Tidak benar. Kau tahu jelas tentang keadaan Tan Kiam Lam dan Han Thian Chiu mengapa tidak kenal kepada wajah mereka?"
Wanita baju merah memberi keterangan.
"Yang kukenal adalah waiah Han Thiam Chiu, dari orang ini kuketahui bahwa masih ada saudara seperguruannya yang bernama Tan Kiam Lam. Tapi aku belum pernah menjumpai Tan Kiam Lam."
Tan Ciu diam tepekur. Wanita baju merah berkata lagi.
"Ong Leng Leng tidak menceritakan hal ini kepadamu?"
"Ia pernah mengatakan, pada suatu hari ia akan menceritakan keadaan dirinya. Kukira termasuk juga kejadjan ini. Tapi sehingga saat ini, ia belum mempunyai itu kesempatan untuk bercerita."
Wanita berbaju merah berkata.
"Ong Leng Leng tidak pernah menyebut namaku?"
"Belum."
"Pernah dengar nama Permaisuri dari Kutub Utara?"
"Cianpwe pribadikah yang mendapat julukan itu?"
"Kau memang pandai."
Permaisuri dari kutub Utara menganggukkan kepala."Aaaaaa..."
"Diluar dugaan ?"
"Diceritakan orang bahwa cianpwe telah tiada."
"Sampai hari ini, aku masih dapat bernapas."
"Dikatakan oleh mereka, setelah kau dibunuh orang, mereka menggantung jenazahmu di atas Pohon Penggantungan."
"Disana, aku berhasil ditolong orang."
"Siapa yang menggantung cianpwe diatas Pohon Penggantungan?"
"Si Telapak Dingin Han Thian Chiu."
"Han Thian Chiu!"
"Kukatakan kepadamu, bahwa Han Thian Chiu adalah orang yang kucintai, itu waktu, aku belum cukup dewasa, maka mudah masuk kedalam perangkapnya, dergan kata-kata yang manis dengan janji-janji yang seperti madu aku menyerahkan diri. Tidak lama, aku melahirkan seorang anak perempuan, ternyata Han Thian Chiu tidak cinta kepadaku, setelah bosan ditinggalkan begitu saja."
Mata si Permaisuri dari Kutub Utara basah dengan air mata.
"Demikian Ong Leng Leng terlahir?"
"Bukan. Dia bukannya Ong Leng Leng."
"Kemanakah kemudian anak itu?"
"Hampir kubunuh putri yang tak kenal dosa itu. selain terbayang kenangan wajah ayahnya yang kejam. Karena kepergian Han Thian Chiu, sifatku berubah, mulai membenci semua lelaki yang hidup didunia. Tidak sedikityang telah kujadikan korban, kematian-kematian orang2 banyak ini menimbulkan kemarahan umum si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip mengajak orang-orangnya mengeroyok aku, sehingga terjadi drama Pohon Penggantungan, aku digantung diatas pohon itu."
"Bagaimana Han Thian Chiu itu menggantung cianpwe?"
"Suatu hari ia kembali. Tentu saja rasa senangku tidak kepalang. Kukira ia sudah insaf dan betul-betul cinta kepadaku, maka ia kembali lagi, Ia pandai membujuk rayu, dibawah buaian asmara yang sudah hampir menjadi abu, sekali lagi kuserahkan diriku. Didalam keadaan setengah sadar dan tidak sadar, ia menotok jalan darahku. menggantungkan diatas pohon Penggantungan."
Tan Ciu menggeretek gigi.
"Sungguh kejam."
"Maka dengan tekun, aku melatih diri maksud ingin menuntut balas kepadanya."
Berkata si Pemaisuri dari Kutub Utara.
"Hanya Tan Kiam Lam yang mengetahui tempat persembunyian Han Thian Chiu?"
"Kukira Tan Kiam Lam harus tahu."
"Mudah diselesaikan, kau boleh pergi ke Benteng penggantungan bertanya kepadanya."
"Segera kudatangi Benteng Penggantungan itu."
"Ketua Benteng Penggantungan itulah yang bernama Tan Kiam Lam."
"Heran."
Tiba-tiba Permaisuri dari Kutub Utara mengerutkan alisnya.
"Tan Kiam Lam adalah ayahmu, mengapa begitu kejam, ingin menurunkan tangan jahat membunuh putra sendiri?"
"Diantara kami tak ada keserasian paham."
"Keserasian paham tidak akan memisahkan hubungan keluarga. Tidak mungkin ada seorang ayah yang ingin membunuh anaknya, kecuali bukan hasil kandungan ayah itu?"
"Maksudmu, Tan Kiam Lam itu bukan ayahku ?"
"Aku agak kurang percaya."
Tan Ciu menundukkan kepala, bagaimana ia tidak bingung menghadapi persoalan yang sangat rumit seperti ini. Tiba-tiba si Permaisuri dari kutub Utara membentak.
"Siapa?"
Tubuhnya melesat keluar dari gubuk rumah itu.
Tan Ciu dan Co Yong turut lari keluar.
disana.
terlihat permaisuri dari Kutub Utara sedang berhadapan dengan seorang penjemis tua.
Itulah pengemis yang mengaku Serba tahu menyebut dirinya sebagai si tukang Ramal Amatir.
"Kau ? ..."
Tan Ciu agak heran. Permaisuri dari Kutub Urara menurunkan tangannya kebawah, dengan patuh memanggil.
"Cianpwe ..."
Tan Ciu mundur satu langkah, tak disangka, dengan ilmu kepandaian permaisuri dari Kutub Utara yang disegani itu pun memanggil Cianpwe, bukankah si Tukang Ramal Amatir mempunyai tingkat derajat yang sangat tinggi?
Terlihat pengemis tua itu tertawa Ha ha-hi hi hi.
ia berkata.
"Eh, kau belum mati?"
Kata-kata itu ditujukan kepada Permaisuri dari Kutub Utara.Wanita baju merah itu berkata.
"Atas kemurahan hati Tuhan, kematian boanpwee dibatalkan."
"Masih ingin membunuh orang?"
Tegas lagi pengemis tua itu.
"Mana boanpwee berani."
"Syukurlah! Sipatmu telah dapat berubah."
Tanpa memperdulikan Permaisuri dari Kutub Utara, si pengemis Tukang Ramal Amatir memandang Tan Ciu dan berkata.
"Toh. berapa lama kucari-cari dirimu. Tidak kusangka, kau berani menyelusup masuk kedalam Benteng Penggantungan. Setengah mati aku meramalkan tempat pesembunyianmu itu."
Tan Ciu maju mendebat kata-kata si pengemis.
"Di Pohon Penggantungan, kau telah meninggalkan aku dahulu. Bagaimana menyalahkan orang. Mana kutahu. kemana kau pergi menyembunyikan diri?"
"Ha, ha . , ."
"Takut kucopot batang lehermu?"
Bertanya lagi Tan Ciu kepadanya.
"Mengapa harus menyerahkan batok kepalaku?"
Cemooh sipengemis.
"pertaruhan dikalahkan olehmu. Akulah yang seharusnya memotes batang leher kecilmu itu."
"Huh, bagaimana kutahu, aku telah kalah?"
"Suatu hari kau akan tahu bahwa pertaruhan itu telah dimenangkan olehku."
"Tidak mungkin.""Ha...ha... kertas cacatanku masih berada padamu?"
"Masih."
"Bagus! Jagalah baik-baik. Nasibmu ditentukan olehnya, tahu?"
"Huh ... Hmm ..."
Si Tukang Ramal Amatir berbalik kearah Permaisuri dari Kutub Utara kepadanya ia berkata.
"Kudengar kalian sedang memperbincangkan urusan Tan Kiam Lam maka aku turut campur."
Permaisuri dari Kutub Utara menganggukkan kepala. Ia membenarkan kata-katanya si pengemis tua. Pengemis itu berkata lagi.
"Juga membicarakan soal Han Thian Chiu?"
"Betul."
Berkata si wanita baju merah.
"Semua urusanku tidak luput dari pada mata cianpwee yang lihay."
"Ha ...ha . , ."
Si pengemis tua tertawa.
"Sudah jelas perkara apakah yang dapat mengelabui mataku? Dan jangan kalian kaget kutahu Tan Kiam Lam itu sudah tiada!"
"Aaaaa...!"
"Apa?"
Tan Ciu dan Permaisuri dari Kutub Utara berteriak bareng.
Sebagai seorang yang masih mempunyai hubungan keluarga.
Tan Ciu tidak dapat melepas darah dagingnya begitu saja.
walau sang ayah berbuat jahat, sebagai seorang anak yang berbakti.
ia turut berprihatin.
"Cianpwe mengatakan bahwa ayahku sudah mati?"
Ia meminia ketegasan.Si Tukang Ramal Amatir menganggukken kepala seolah-olah, ramalannya ini sudah terlaksana.
"Siapakah orang yang menjadi ketua Benteng Penggantungan itu?"
"Kau percaya. bahwa si Ketua Benteng Penggantungan sebagai jelmaan Tan Kiam Lam?"
"Mungkinkah bukan Tan Kiam Lam?"
"Dia bukan Tan Kiam Lam!"
Tan Ciu mengerutkan kedua alisnya. Mungkinkah kata-kata itu dapat dipercaya? Segera ia mengutarakan kecurigaannya.
"Bagaimana kau tahu bahwa dia bukan Tan Kiam Lam?"
"Dia tidak mirip Tan Kiam Lam."
"Tidak mirip?"
"Betul. Tidak mirip Tan Kiam Lam."
"Aku tidak mengerti."
"Heem......."
Si pengemis tua itu berdehem.
"Tahukah kedatangan si pendekar Dewa Acgin Sin Hong Hiap ke Benteng Penggantungan?"
"Pamanku yang bernama Tan Kiam Pek itu yang menjanjikannya bertempur didepan Benteng Penggantungan."
"Tepat. Tahukah alasannya. mengapa Tan Kiam Pek menantang Sin Hong Hiap menempurkan dirinya didepan Benteng Penggantungan?"
"Aku bukan tukang ramal! Aku tak tahu."
"Aku telah bertemu dengan Tan Kiam Pek dan ia telah bercerita kepadaku."
Berkata si tukang ramal Amatir itu.
"Apakah alasan yang dikemukakan olehnnya"
"Alasan pertama, ingin membuktikan bahwa ketua Benteng Penggantungan bukanlah Tan Kiam Lam."
"Dan ia berhasil?"
"Tentu. Telah dipastikan olehnya bahwa ketua Benteng Penggantungan itu bukanlah Tan Kiam Lam."
"Alasannya?"
"Sebagai seorang saudara, Tan Kiam Pek tahu jelas akan kebiasaan sang saudara, dan hal ini tidak terdapat pada Tan Kiam Lam palsu."
"Apakah kebiasaan Tan Kiam Lam yang paling khas."
"Manakala ia bertempur. pasti ia menggunakan tangan kanan, sedangkan ketua Benteng Penggantungan itu pandai menggunakan tangan kiri, ketidakserasian yang paling menyolok mata."
Tan Ciu dapat diberi mengerti. Pengemis tua itu berkata lagi.
"Tujuan berikutnya dari rencana Tan Kiam Pek sebagai berikut, ia ingin mengetahui ilmu-ilmu silat dari kedua orang yang bertempur itu, dengan demikian ia dapat menambah pengalaman. Dimisalkan betul, ia berhasil mempelajari ilmu silat dari kedua jago tersebut. pada suatu hari, ia dapat menandingi Tan Kiam Lam."
Tan Ciu berkata.
"Jadi. tidak dapat disangsikan lagi, bahwa Tan Kiam Lam itu adalah Tan Kiam Lam palsu."
"Tentu saja.""Tapi....Tapi....."
"Masih meragukan keteranganku?"
Bertanya sipengemis tua. Tan Ciu berkata.
"Mengapa mempunyai wajah Tan Kiam Lam."
"Wajah itu mudah diubah."
"Maksud Cianpwe, wajah siketua Benteng penggantungan telah diubah oleh seorang tokoh make up yang lihay?"
Siapakah akhli make up yang sangat lihay ini?
Si Tukang Ramal Amatir tidak segera menjawab pertanyaan ini, sebaliknya memandang kearah permaisuri dari Kutub Utara, dengan perlahan-lahan dan tandas, ia berkata.
"Itulah si Telapak Dingin Han Thian Chiu,"
"Aaaaa . ..!"
Permaisuri dari Kutub Utara mempentang kedua matanya lebar-lebar.
"Kau menuduh, seolah-olah bahwa ketua Benteng Penggantungan itu sebagai jelmaan Han Thian Chiu?"
Permaisuri dari Kutab Utara meminta ketegasan.
"Betul."
Si pemuda menganggukkan kepala.
"Dengan ilmu kepandaian menghias mukanya Han Thian Chiu dapat mengubah siapa pun juga. Termasuk juga Wajah Tan Kiam Lan."
Permaisuri dari Kutup Utara mengoceh.
"Han Thian Chiu. ..? Han Thian Ciu."
Tiba-tiba ia bertepuk keras.
"Betul. ia pandai menggunakan tangan kiri. Tatkala barumelihat wajahku, ia gemetaran takut. Ternyata ia bingung karena kehadiran aku, ia bingung karena aku tidak mati."
Si Tukang Ramal Amatir berkata lagi.
"Tentunya, Tan Kiam Lam telah dianiaya olehnya. Dengan demikian, dengan menggunakan wajah Tan Kiam Lam, ia memunculkan dirinya didalam rimba persilatan. Menjadikan dirinya sebagai seorang ketua Benteng Penggantungan."
Tan Ciu mempunyai pendapat yang sepaham, sangatlah masuk diakal.
bila ketua Benteng Penggantungan itu ingin membunuh dirinya mengingat bahwa dirinya bukanlah putra si jahat.
Permaisuri dari Kutub Utara menggerak tubuhnya, ia melesat jauh.
Terdengar suara bentakan si pengemis tua.
"Hei. apa yang kau ingin kerjakan?"
Tubuhnya turut melesat. sebentar kemudian berhasil menghadang wanita baju merah itu.
"Ingin ke Benteng Penggantungan?"
Demikian ia dapat menduga isi hati orang.
"Betul, aku harus segera membunuh Han Thian Chiu,"
"Akh..."
Sipengemis tua menghela napas.
"Telah dua puluh tahun, kunanti-nantikan saat yang seperti ini."
Berkata lagi Permaisuri dari Kutub Utara. Tan Ciu turut membuka suara.
"Aku turut serta."
"Bagus,"
Berkata permaisuri dari Kutub Utara itu.
"Mari kita bersama-sama membikin perhitungan dengannyaMenghindari diri sipengemis tua, Tan Ciu dan Permaisuri dari Kutub Utara menuju Benteng Penggantungan.
Si tukang Ramal Amatir tidak mau ketinggalan, diajaknya Co Yong dan berkata.
"Mari kita turut menyaksikan keramaian."
Co Yong telah mengikatkan hatinya kepada Tan Ciu, kemana pemuda itu pergi.
iapun terus turut serta, kini diketahui bahwa Tan Ciu harus mencari orang yang telah memalsukan ayahnya, bagaimana ia tidak turut serta?
Iring-iringan ini menuju kearah Benteng Penggantungan.
Sebagai perintis jalan adalah Permaisuri dari Kutub Utara, direndengi oleh Tan Ciu.
Dibelakang mereka adalah sipengemis tua menyebutkan dirinya sebagai si Tukang Ramal Amatir, tidak ketinggalan juga Co Yong.
Sebentar kemudian.
Tan Ciu beserta ketiga kawannya telah didepan Benteng Penggantungan.
Keadaan sangat sepi, tidak ada penjagaan juga tidak terlihat ada orang yang mencegat perjalanan mereka.
Mengapa?
Mengapa dapat terjadi kejadian seperti ini?
Ternyata, didalam Benteng Penggantungan telah terjadi perubahan.
Munculnya Permaisuri dari Katub Utara sangat mengejutKan ketua Benteng itu, mengetahui bahwa penyamarannya segera terbuka, ia pun segera melarikan diri.
Keadaan di Benteng Penggantungan sangat tenang.
Tiba-tiba.....Keempat orang itu dikejutkan oleh terdengarnya suara rintihan seseorang.
Mereka mengikuti datangnya suara dan menemukan seorag yang menggeletak ditanah dalam keadaan luka.
Tan Ciu bertindak gesit, segera dikenali orang tua bungkuk yang telah membantu dirinya melarikan diri.
"Cianpwe....!"
Ia berteriak. Orang tua bungkuk itu tidak dapat melihat, ia berkata lemah.
"Siapa?"
"Aku."
Jawab si pemuda.
"Aku Tan Ciu."
Permaisuri dari Kutub Utara berteriak.
"Aaaa , . .! Kau berada ditempat ini?"
Ternyata ia kenal pada orang tua bungkuk itu. Tan Ciu mengajukan pertanyaan.
"Cianpwe kenal dengannya? Siapakah dia?"
"Dia adalah Kui Tho Cu,"
Permaisuri dari Kutub Utara memberikan jawaban.
"Aaaa,..! si bungkuk Kui Tho Cu?!"
"Betul!"
Tan Ciu tahu betul bahwa Cang Ceng-ceng juga mencari seorang bungkuk yang bernama Kui Tho Cu, tidak disangka bahwa orang yang mau dicari oleh gadis berbaju putih itu telah dilukai olenya juga.
Mereka telah bertemu, segera mereka bertempur, dan tentunya Kui Tho Cu jatuh dibawah tangan Cang Ceng Ceng.
Tan Ciu pernah menanyakan keadaan Kui Tho Co kepada ketua Benteng Penggantungan itu, demikian juga Cang Ceng Ceng, tapi disangkal dan tidak diberi tahu.
Sehingga terjadi kejadian seperti ini.Tan Ciu mengeluarkan dua butir obat Seng Hiat Hoan hun-tan, ditelankannya kedalam mulut Kui Tho Cu.
Permaisuri dari Kutub Utara menggerak-gerakkan jarinya, menotok beberapa jalan darah orang tua bungkuk itu, ia ingin mempercepat proses pengobatan.
Luka Kui Tho Co sangat berat.
masih ia menggeliat, tidak ada tenaga untuk menengok lagi.
Tan Ciu memandang wanita baju merah itu dan mengajukan pertanyaan.
"Masih ada harapan?"
Ilmu kepandaian Permaisuri dari Kutub Utara tinggi sekali dan lihai, ia tahu bagaimana keadaan luka yang diderita oleh manusia bungkuk itu, ia berkata.
"Biar kuusahakan sedapat mungkin."
Dikerahkan tenaganya, dan siap memasangkan telapak tangan kepunggung orang, maksudnya menyalurkan tenaga dalam. Si Tukang ramal amatir segera menyusul dan berteriak.
"Tugas ini serahkan kepadaku."
Permaisuri dari Kutub Utara mengundurkan diri, menyerahkan tugas tersebut padanya. Pengemis tua itu segera menyalurkan tenaga kearah sibungkuk. Permaisuri dari Kutub Utara berkata.
"Mari kita mencarinya."
"Baik!"
Sahut Tan Ciu yang tidak sabar untuk mengetahui rahasia ketua Benteng Penggantungan Co Yong berteriak.
"Tan Ciu...!"Si pemuda menghentikan langkahnya. menoleh kearah gadis itu dan berkata.
"Ada apa ?"
"Ilmu kepandaian gadis berbaju putih itu tidak berada dibawah si ketua Benteng Penggantungan. Dibawah kekuasaan Ie-hun Tay-hoat mana mungkin ia membedakan kawan dan lawan. Ada lebih baik untuk menunggu sebentar."
"Jangan takut."
Berkata Permaisuri dari Kutub Utara.
"Masih ada diriku bukan?"
Co Yong menggeleng-gelengkan kepala.
"Ada lebih baik menunggu cianpwe ini."
"Masakah aku kalah dengan Han Thian Ciu?"
Berkata Permaisuri dari Kutub Utara tidak puas "Kau akan dikalahkan oleh Cang Ceng Ceng."
"Belum tentu."
"Ilmu kepandaianmu dapat memenangkan orang tua bungkuk ini?"
Permaisuri dari Kutub Utara tertegun, ilmu kepandaiannya berada dibawah tingkat Kui Tho Cu.
sedangkan manusia bungkuk itu dapat dikalahkannya, bagaimana ia dapat memenangkan pertandingan?
Permaisuri dari Kutub Utara dapat diberi mengerti, ia harus menungga hasil dari penyembuhan Kui Tho Cu.
Beberapa saat kemudian Si Tukang Ramal Amatir melepaskan saluran tenaganya, Kui Tho Cu menoleh dan bersempokan mata dengan pengemis tua itu.
"Eh, kau belum mati?"
Ia terkejut sekali."Kentut busuk, bila kau mati. Siapa yang menyembuhkan lukamu?"
Bentak pengemis tua yang mempunyai sifat angin-anginan! "Untung kau tiba pada saatnya,"
Berkata Si manusia bungkuk. Tan Ciu maju mengadakan pertanyaan.
"Cianpwe, bagaimana kau terluka ?"
Kui Tho Cu. mendelikkan mata, katanya.
"Telah kau saksikan, bukan? Aku ditempur oleh kawan wanitamu itu. Dan tentu saja, aku kalah dibawah tangannya."
"Kini, dimanakah ia berada ?"
"Ia juga menderita luka."
Tan Ciu berteriak girang.
"A a a a ... ia juga menderita luka? Syukurlah, kita segera dapat mengalahkan mereka."
"Lukanya tidak lebih ringan dari luka yang kuderita."
Berkata Kui Tho Cu memberi keterangan.
"Pernah lihat ketua Benteng Penggantungan itu?"
"Tidak, entah kemana ia telah pergi."
Bebetapa bayangan melayang datang, mereka adalah wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen, si pemuda dingin Pek Hong, wanita berbaju hitam Kang Leng, Cie Yan dan lain-lain.
Co Yong Yen menghadapi rombongan Tan Ciu dan berkata.
"Tan Ciu, tidak kusangka, kau dapat mengajak konco-konco yang banyak sekali."
"Aku ingin menjumpai ketua kalian."
Tan Ciu membentak keras.
"Ia tidak ada."
Berkata Co Yong Yen memberi keterangan.Pengemis tua turut maju, dengan senyuman yang angin-anginan, ia berkata.
"Nona Co, masih kenalkah kepadaku?"
Co Yong Yen menatap tajam-tajam si Tukang Ramal Amatir. Tiba-tiba terjadi perubahan yang mendadak. wajahnya pucat pasi, dengan patuh ia memberi hormat.
"Cianpwe...."
"Tidak kusangka,"
Berkata si pengemis tua.
"Kau telah menduduki jabatan wakil ketua Benteng Penggantungan.... Syukur.... Syukur,.. Aku harus mengucapkan selamat kepadamu."
"Cianpwe pandai berkelakar."
"Beruntung kau masih ingat kepadaku."
"Bagaimana tidak? itu waktu, cianpwe telah menolong diriku dari kesusahan. hal ini..."
"Tolonglah panggil keluar ketua kalian."
Berkata si Tukang Ramal Amatir singkat.
"Ia belum kembali kebenteng."
Co Yong Yen yang memberi keterangan.
"Bohong."
Bentak Tan Ciu keras.
"Sungguh."
Berkata Co Yong Yen.
"Kami pun sedang berusaha mencarinya. Masih belum berhasil."
Tukang Ramal Amatir berpikir sebentar, ia berkata.
"Kukira ia telah melarikan diri."
"Melarikan diri?"
"Betul. Hal ini sudah berada didalam perhitungannya. Munculnya kau didepan dirinya menggetarkan nafsu hidup Han Thian Chiu."
Ia memandang Permaisuri dari kutub utara. Wanita berbaju merah itu menganggukkan kepala, ia dapat menyetujui dugaan tersebut, katanya.
"Betul, kukira ia telah melarikan diri. Munculnya aku dihadapannya telah meruntuhkan semua iman-imannya, pasti aku menuntut balas, dan uutuk menghindari tekanan itu, ia menyembunyikan diri jauh-jauh. Ia terlalu gesit bagiku."
Kui Tho Cu berkata.
"Bila tidak mempunyai kegesitan yang melebihi orang, mana mungkin dapat membangun itu Benteng Penggantungan."
Pengemis tukang ramal memandang Co Yong Yen berkata.
"Nona Co, bila kami ingin membakar Benteng Perggantugan. apa langkah yang kau ambil."
"Kami akan mempertahankan sedapat mungkin."
Jawab wakil ketua benteng itu.
"Ketua kalian telah melarikan diri, apa yang harus dipertahankan."
"Demi kemulian benteng, jiwa kamipm akan kami persembahkan."
"Bagus! kata-kata yang penuh kekasatriaan. Tapi kalian bukanlah tandingan kami."
"Budi Tan Kiam Lam terlalu besar."
"Dia bukan Tan Kiam Lam."
"Ha?!"
"Percayalah keteranganku. Dia bukan Tan Kiam Lam. Dia adalah si Telapak Dingin Han Thian Chiu. Ilmu mengubah mukanya sangat mahir sekali. Tak seorang punyang dapat membedakan persamaan itu. Dan kau.... kau pernah benci kepada si Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip itu orang yang pernah mempekosa tersebut itupun adalah jelmaan Han Thin Chiu juga,"
"A a a a a a......."
Tan Ciu segera maju berkata.
"Dimanakah nona Cang berada?"
"Didalam."
Tubuh Tan Ciu melesat, menuju kearah yang telah ditunjuk.
Satu suara rintihan terdengar keluar dari salah satu kamar.
si pemuda melesatkan dirinya kedalam kamar tersebut.
Cang Ceng ceng terbaring disuatu tempat tidur, keadaan lukanya tidak ringan, terlihat gadis berbaju putih itu sedang menerima penderitaan.
Tan Ciu berteriak sedih.
"Nona Cang......"
Cang Ceng.ceng lompat bangun, reflek ilmu kepandaiannya yang tertinggi belum lenyap, menengok dan terlihat kedatangan si pemuda.
"Kau?... ."
Ia mengerutkan alisnya.
"Betul. Aku Tan Ciu."
"Apa maksudmu datang kembali lagi?"
"Aku harus menolongmu."
"Pergi! Aku tidak membutuhkan pertolonganmu."
Tan Ciu menghentikan langkahnya. Wajah Cang Ceng ceng menunjukan kemarahan. ia membentak,"Jangan kau maju lagi. Setapak saja lagi mendekatiku. segera kubunuhmu."
"Nona Cang... kau telah terluka... Tidak dapat kubiarkan begitu saja."
Tan Ciu mendekati tempat tidur itu. Bagaikan berhadapan dengan maut, mata Cang Ceng Ceng menjadi liar, gadis itu segera lompat dari tempat tidurnya, ia menerkam si pemuda. Tan Ciu berteriak.
"Nona Ceng...!"
Dan ia menyingkirkan diri dari serangan Cang Ceng Ceng, tidak mungkin ia dapat menerima serangan itu.
Tubuh si gadis menubruk tempat kosong, sempoyongan, hampir menubruk tembok.
Tan Ciu mengulurkan tangannya, maksudnya memayang orang.
Cang Ceng Ceng membentak.
"Pergi ... Pergi kau ..."
Satu pukulan pula dihadiahkan kepada si pemuda.
Tan Ciu tidak tega membiarkan tubuh gadis tersebut menubruk benda lain, ia berusaha menghindari diri perlahan, karena itulah terkena pukulan, beruntung Cang Ceng Ceng menderita luka yang agak parah, maka pukulan itu tidak merusak tubuhnya.
Walaupun demikian, karena menggunakan tenaga besar, luka Cang Ceng Ceng membuat bibirnya si gadis telah basah dengan darah.
Memandang wajah sigadis, dengan adanya darah yang berceceran, Tan Ciu menggigil dingin sangat seram.
Cang Ceng ceng membentak.
"Masih tidak mau pergi ?"
Hanya kata-kata itu yang dapat dikeluarkan.
tubuh si gadis telah melemas, terjatuh ditanah.
Tan Ciu segeramemayangnya, ia mengeluarkan obat Seng-hiat hoan-hun tan, maksudnya ingin mengobatinya.
Terdengar satu suara yang membentak.
"Jangan..!"
Si pengemis tua, orang yang menamakan dirinya sebagai tukang ramal itu telah berada dibelakang Tan Ciu. Dialah yang mengadakan pencegahan.
"Cianpwe melarang memberikan pertolongan kepadanya?"
Bertanya Tan Ciu.
"Betul."
"Mengapa ?"
"Setelah disembuhkan. dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, siapakah yang dapat mengalahkannya."
Kui Tho Cu turut masuk kedalam kamar itu.
Tan Ciu memandang si bungkuk, meminta pendapatnya.
Manusia bungkuk itu mengangkat pundak, saran apa yang dapat diberikan olehnya.
Diketahui betul Tan Ciu menyintai gadis itu.
bagaimana ia melarang memberi obat?
Bila disetujui maksud si pemuda, setelah Cang Ceng Ceng sembuh, siapakah yang dapat mengalahkan dirinya?
Apa yang Tan Ciu dapat lakukan kepada Cang Ceng Ceng?
Tidak dapat menolongnya, juga tidak dapat membiarkan begitu saja, gadis tersebut menderita luka berat.
Adanya Cang Ceng Ceng masuk kedalam Benteng Penggantungan dikarenakan membela dirinya, sehingga kena ilmu Ie-hun Tay-hoat Han Thian Chiu.
Ia harus turut tanggung jawab.
Tan Ciu memandang si Tukang Ramal Amatir.Pengemis tua itu berkata.
"Berusahalah membebaskan dirinya dari kekangan ilmu Ie-hun Tay hoat itu."
"Cianpwe tidak dapat menolong ?"
"Aku tidak mempunyai itu kepintaran."
Tan Ciu memandang Kui Tho Cu. Dan sibungkuk pun berkata.
"Aku tiada guna."
"Mungkinkah tidak ada orang yang dapat menghilangkan ilmu Ie-hun Tay-hoat?"
"Kecuali si Telapak Dingin Han Thian Chiu."
"Mana mungkin . .."
Beberapa orang berjalan masuk lagi, mereka adalah Permaisuri dari Kutub Utara, Co Yong dan wanita berbaju hitam Kang Leng.
Mata Co Yong basah dengan air mata, wajahnya kumel sekali.
Tan Ciu tak tahan mengajukan pertaayaan.
"Eh, kau mengapa ?"
Co Yong menangis semakin sedih.
"Nona Co...."
Panggil lagi Tan Ciu. Kang Leng tampil memberi keterangan.
"Sebelum kau meninggalkan Benteng Penggantungan pernah kuceritakan sedikit tentang keadaan Benteng Penggantungan, termasuk asal usul Nona ini, bukan?"
"Aku tidak mengerti."
Berkata Tan Ciu.
"Co Yong... Bukan ... Namanya adalah Pek Co Yong, pocu kami menyerahkannya kepada Hu Pocu, tegasnya untuk mendidik ilmu surat dan juga ilmu silat, tapi tidak diceritakan asal usul dirinya?"
Permaisuri dari Kutub Utara turut bicara.
"Ternyata. dia adalah putriku ini."
Tan Ciu berteriak! "Aaaaaa....!"
Kang Leng memberikan keterangan yang lebih jelas.
"Nama Cianpwee ini adalah Pek Pek Hap dan dia adalah Pek Co Yong."
Ditudingnya gadis yang sudah basah dengan air mata itu!
Tan Ciu pernah mengadakan janji untuk sehidup semati dengannya.
Tidak disangka perubahan situasi dapat berkembang seperti ini, Tubuhnya gemetaran, menggigil dingin!
Pek Co Yong menangis semakin sedih!
Tan Ciu berkata.
"Kau! Kau Putri Han Thian Cu?"
Pek Co Yong menganggukkan Kepala lemah.
Tan Ciu semakin bingung, Diketahui bahwa Han Thian Cu itu sebagai musuh besar, bagaimana ia akan mengawini putri musuh?
Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap berkata.
"Oo, anakku ..."
Pek Co Yong menangis sesenggukkan didalam rangkulan ibunya. Pek Pek Hap mengelus-elus rambut putrinya, katanya.
"Janganlah kau bersedjh lagi ..."
Pek Co Yong menjerit.
"Tidak ... Tidak ...Aku tidak mau menjadi putrinya. Dia bukan ayahku? Hal ini tak dapat disangkal sama sekali, Aku tidak mau ... Aku tidak mau!"
Pek Pek Hap menghela napas.
"Aku mengerti kesulitannya, tapi?... Ia telah merusak kebahagianhidupku. Tidak sedikit kebahagiaan orang yang telah rusak dibawah tangan ayahmu itu."
"Uh ... uh . .."
Tan Ciu maju menghampiri, ia berkata.
"Nona Pek, tidak seharusnya kita dirundung kemalangan ini."
"Aku tidak dapat melupakanmu."
Berkata Pek Co Yong.
"Demikian juga dengan keadaan diriku."
"Kehilanganmu, aku akan kehilangan pegangan hidup."
Berkata si gadis.
"Kau harus berani menerima kenyataan."
"Jodoh kita tidak mungkin terlaksana...."
Suara Pek Co Yong sangat perlahan sekali.
Hanya Tan Ciu seorang yang dapat mengikuti suara itu.
Tidak dapat disangka.
Jodoh mereka terganggu!
Biar bagaimana Tan Ciu harus membunuh Han Thian Chiu, sedangkan orang itu ayah si gadis.
Tan Ciu berkata.
"Gagalnya perjodohan kita tidak akan mengganggu masa depan, kau harus berusaha hidup. kita harus berusaha menguasainya."
"Aku sudah bosan hidup, aku ingin mati,"
"Berpikirlah Secara tenang."
"Tentu saja kau dapat berpikir tenang."
Berkata pek Co Yong.
"Setelah melepaskan diriku kau masih ada seorang Cang Ceng Ceng. Tapi... bagaimana dengan keadaan diriku?"
Kata-kata yang sangat menyayatkan hati.
Sangat masuk diakal.Tan Ciu dapat melupakan kejadian itu.
karena masih ada calon lainnya, itulah Cang Ceng Ceng.
Bagaimana dengan keadaan Pek Co Yong yang tidak mempunyai pilihan kedua?
Tan Ciu berkata.
"Kudoakan. agar kau menemukan seorang pemuda yang lebih baik dariku..."
"Tidak mungkin sama sekali..."
"Kukira dapat. Berusahalah."
"Huh? Kau tidak dapat menyelami hati seorang gadis, ia hanya dapat menerima satu kali ketukan pintu percintaan! Hanya satu kali, seterusnya, itulah bukan cinta lagi."
"Kenyataan tidak dapat dielakan! Apa yang dapat kita tinggalkan! Sudah tentu dapat dicari kembali!"
Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap turut menghibur sang putri.
"Co Yong, kuatkanlah imanmu. Apa yang dikatakan olehnya harus mendapatkan perhatian. Walau pun kalian tidak dapat hidup bersatu. Kuharap saja dapat mempertahankan hubungan baik itu."
"Tidak ...Bukan persahabatan yang kubutuhkan ...Aku membutuhkan cintanya...."
Sang ibu berkata.
"Kau .. .Tidak mungkin kau mendapat cintanya lagi."
Pek Co Yong memandang ibu itu tertegun beberapa saat. tiba-tiba ia lompat keluar, meninggalkan semua orang.
"Co Yong..."
Tan Ciu mencoba mencegah.
"Co Yong... ."
Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap segera mengejar sang putri.Sebentar kemudian, Pek Co Yong telah keluar dari Benteng Penggantungan.
Baca Juga: Bentrok Para Pendekar 2
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 10