Eps 5 Pohon Kramat - Khu Lung
Baca online Pohon Kramat - Khu Lung
Cersil Pohon Kramat - Khu Lung.
Pek Pek Hap berusaha mengejar putri tersebut, beberapa saat kemudian, ia berhasil, dicegatnya jalan lari gadis itu dan membentak.
"Co Yong..."
Pek Co Yong menggeram.
"Minggir."
"Jangan kau mengambil putusan nekad."
"Jangan kau ikut campur."
Butiran air mata membasahi wajah Permaisuri dari Kutup Utara itu.
Ia sangat bersedih.
Ia hanya mempunyai seorang putri.
Telah lama dipisahkan Han Thian Chiu kini berhasil berkumpul menjadi satu.
Semua harapan dilepas kepada putri tunggal tersebut, dengan demikian, kesedihan yang ditimbulkan oleh Han Thian Chiu bisa terlupakan.
Tak disangka hanya persoalan cinta, Pek Co Yong meninggalkan dirinya.
Bagaimana tidak bersedih?
"Co Yong Yen..."
Ia berkata dengan ratapan hati.
"Dengarlah kata-kata ibumu..."
"Cukup."
Pek Co Yong berteriak.
"Aku tidak mau dengar...."
"Kau harus dengar kata-kata ibumu .. ."
Pek Pek Hap berusaha mendekati putri itu.
"Tidak ... tidak ..."
"Dengar, jangan kau menjadi tolol."
"Jangan kau maju lagi dari tempat ini," -ooo0dw0ooo-Jilid14
"CO YONG..."
Biar bagaimana.
Pek Pek Hap harus menarik kembali putri tersebut kedalam rangkulan dirinya.
Pek Co Yong membentak, tangannya dikibaskan, memukul kearah sang ibu.
Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap menyingkir dari serangan itu, gesit sekali, ia telah berada dibelakang Pek Co Yong, tangannya bergerak menotok jalan darah gadisnya.
Pek Co Yong tidak berhasil mengelakkan lagi dari totokan ibu lihay itu.
Ia jatuh kedalam pelukkannya.
"Co Yong..."
Pek Pek Hap memanggil perlahan. Air mata seorang ibu telah membasahinya.
"Ibu.. ."
Pek Co Yong menangis sesunggukan.
"Jangan kau berbuat tolol."
Kata sang ibu.
"Bu, aku sudah bosan hidup didunia yang seperti ini."
"Lihatlah dikemudian hari."
"Mengapa Tuhan tidak adil? Mengapa menjatuhkan malapetaka ini kepada kita?"
"Kita wajib hidup. Setiap manusia yang hidup didunia wajib mempertahankan dirinya dari segala macam penderitaan. Seperti sekarang ibumu alami. berapa banyak godaan hidup yang menekan. berapa banyak penderitaan telah kualami. Haruskah aku menyerah? Haruskah kubiarkan tak berakhir? Tidak. Semua telah terjadi. Segala derita kupikul sehingga hari ini."
"Ibu..."
"Kita wajib mempertahankan diri dari segala godaan hidup. Hanya seorang putri yang kupunyai... tegakah kaumeninggalkan ibumu seorang diri?... Co Yong, kau adalah putriku. Bila ibumu dapat mempertahankan hidup merana, mungkinkah kau tidak sanggup menerimanya?"
"Ibu."
"Kuatkan imanmu, hidup adalah penderitaan, kita wajib mengatasinya.
Kita akan bergandengan tangan, kita bahu membahu menyingkirkan kesulitan-kesulitan itu.
Pek Co Yong dapat diberi mengerti, ia menganggukkan kepalanya.
Wajah si Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap bercahaya terang, terlihat senyuman walau penuh air mata.
senyuman itu sangat cerah sekali.
"Kau adalah anak gadisku yang baik."
Ia berkata puas.
Dengan bergandengan tangan mereka balik kedalam Benteng Penggantungan.
Permaisuri dari Kutub Utara Pek Pek Hap berhasil menahan kepergian gadisnya.
Didalam Benteng Penggantungan berkumpul banyak orang, mereka adalah sipengemis Tukang Ramal Amatir, si Bungkuk Kui Tho Cu, wakil ketua Benteng Penggantungan Co Yong Yen, wanita berbaju hitam Kang Leng dan Tan Ciu.
Mereka sedang merundingkan cara-cara yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit Cang Ceng Ceng.
Memandang Co Yong Yen, Tan Ciu mengajukan pertanyaan.
"Nona Co, sebagai wakil ketua benteng mungkin kau tahu, bagaimanakah untuk memunahkan ilmu Ie-hun Tay-hoat?"
"Kukira sangat sulit."
Pengemis Tukang Ramal Amatir berkata.
"Nona Co, setelah kau berjanji untuk melepaskan diri dari Benteng Penggantungan, tidak perlu kau takut kepada si Telapak Dingin Han Thian Chiu. Kukira kau dapat memberi petunjuk yang baik."
Sibungkuk Kui Tho Cu turut berkata.
"Betul. Kita dapat membangun suatu Benteng Penggantungan baru. Tanpa takut kepada ancamannya manusia durjana itu."
Co Yong Yen dapat diberi mengerti, ia memberikan keterangannya.
"Kecuali ketua Benteng Penggantungan. hanya seorang lagi yang dapat menghilangkan ilmu Ie-hun Tay-hoat."
"Si apakah orang itu?"
"Penghuni Guha kematian."
"A a a a a ...!"
Pengemis Tukang Ramal Amatir dan si bungkuk menunjukkan wajahnya yang tegang, sebagai dua tokoh terkemuka, tokoh-tokoh golongan tua, hanya dua orang ini yang mengetahui, siapa yang dimaksud dengan Penghuni Guha Kematian itu.
Diceritakan orang banyak bahwa Penghuni Guha Kematian sangat kejam dan telengas, tidak ada orang yang tahu pasti, lelaki atau wanita, tidak ada orang yang dapat menceritakan dengan lebih terperinci, bagaimana sifat Penghuni Guha Kematian itu.
Tan Ciu tidak tahu menahu tentang Penghuni Guha Kematian, dan ia bertanya.
"Bagaimana sifat-sifatnya Penghuni Guha Kematian itu?"
Co Yong Yen menggelengkan kepala.Memandang si Tukang Ramal Amatir, Tan Ciu menyampaikan pertanyaan yang sama.
"Tentunya cianpwe tahu...."
Penghuni Guha Kematian adalah seorangg tokoh maut, seorang tokoh silat yang menyeramkan.
belasan tahun yang lalu, tersiar berita tentang adanya Guha Kematian ini.
Beberapa tokoh silat ingin mengecek kebenarannya beramai-ramai mereka memasuki Guha kematian .
"Satu persatu mati didalam guha itu?"
Tan Ciu menduga kepada kekejamannya.
"Mereka tidak mati, hanya ..."
"Tidak ada seorang pun yang mati ?"
"Betul."
"Apa pula keseraman dari guha tersebut?"
"Tidak seorang pun dari tokoh-tokoh silat yang masuk kedalam Guha Kematian yang mati, tapi tidak seorang pun dari mereka yang hidup normal, mereka telah menjadi linglung dan sinting, otak mereka telah dimiringkan."
"Ohhh . .."
"Hidup seperti itu adalah lebih menderita daripada kematian."
"Apakah dibuktikan kebenaran ini?"
Kui Tho Co turut berkata.
"Tidak perlu disangsikan lagi. Aku pernah melihat beberapa dari orang-orang berotak miring itu."
Tan Ciu mengerutkan alisnya. Dipandangnya keadaan Cang Ceng Ceng yang telah dibaringkan ditempat tidur, iasegera mengambil putusan, dengan mengertek gigi ia berkata.
"Sungguhkah bahwa si Penghuni Guha Kematian itu dapat menyembuhkan orang yang telah di Ie-hun Tay-hoat?"
Co Yong Yen memberikan kepastiannya.
"Pasti!"
"Bagaimanakah kau tahu pasti ?"
"Pocu kami pernah menyebut hal ini."
Yang dimaksud dengan sebutan pocu adalah ketua Benteng Penggantungan mereka. Tan Ciu segera mengambil putusan, katanya.
"Baik. Segera kutemukan Penghuni Guha Kematian itu."
Si pengemis tua tersentak kaget.
"Hei, kau ingin pergi kesana?"
Ia menatap si pemuda itu.
"Hanya jalan yang satu ini yang dapat kuharapkan."
"Inipun jalan kematian."
"Kematian bagiku. Kehidupan baginya."
"Tidak dapat kami biarkan kau mencari kematian seperti itu."
"Hanya menjadi seorang sinting, orang yang sakit ingatan, belum tentu mati, bukan?"
"Apa akibatnya, setelah kau menjadj seorang yang tiada ingatan?"
"Setiap jalan yang dapat menyembuhkannya harus ditempuh."
"Bila Penghuni Guha Kematian itu tidak mau menolong Cang Ceng Ceng?""Kukira ia mau."
"Berpikirlah masak-masak dahulu."
"Telah kupikir dengan masak."
Dan Tan Ciu meminta diri kepada semua orang.
Tekadnya yang ingin pergi keguha kematian tidak dapat diubah lagi.
Kui Tho Cu masih ingin mencegah, hanya tidak ada alasan yang dapat diutarakan.
Ia diam.
Pengemis Tukang Ramal amatir berkata.
"Silahkan. Kau boleh berusaha."
"Dimanakah letak tempat Guha kematian itu?"
"Didaerah pegunungan Ceng-in."
"Terima kasih."
Digendongnya tubuh Cang Ceng Ceng dan meninggalkan ruangan itu. Tiba dipintu ia membalikkan kepala memandang Co Yong Yen dan berkata kepadanya.
"Lupa memberitahu kepadamu. Cendekiawan Serba Bisa Thung Lip menantikan dikamar tahanan bawah."
Co Yong Yen menganggukkan kepala.
"Segera kutemui dirinya."
Tan Ciu siap pergi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, kini memandang si Tukang Ramal Amatir dan berkata kepadanya.
"Cianpwe, ada sesuatu yang ingin menyusahkanmu."
"Tentang apa?"
Dari dalam saku bajunya, Tan Ciu mengeluarkan se
Jilid kitab. Diserahkannya kitab tersebut dan berkata.
"Didalam kitab ini tercatat ilmu silat maha tinggi, tidak sejurus pun yang tidak luar biasa, Ambillah."
"Darimana kau dapat?"
Bertanya si pengemis itu.
"Atas petunjuk guruku dengan adanya sebuah gambar peta, disuatu guha dipegunungan yang sepi, aku telah mendapatkannya sayang latihan tenagaku tidak sempurna. tidak berani melatih terlalu banyak. Hanya sebagian dari catatan-catatan ilmu silat yang dapat kupelajari."
Tukang Ramal Amatir tertegun, bertanya.
"Mengapa kau serahkan kepadaku?"
"Kepergianku ini belum tentu dapat kembali lagi. Sungguh sayang bila se
Jilid kitab pusaka turut terpendam. Terimalah."
"Biar kusimpan untuk sementara. Bila kau masih membutuhkan kau boleh meminta kembali."
Berkata pengemis tua itu. Tan Ciu mengayun langkahnya, sepasang mata si pemuda berumbuk dengan lain pasang mata. Itulah sepasang mata Pek Co Yong yang telah menghadang dirinya.
"Nona Pek....."
Ia meminta jalan. Pek Co Yong berkata dengan kejut.
"Tekad kepergianmu tidak bisa diubah lagi?"
Tan Ciu menganggukkan kepala.
"Baiklah."
Co Yong menghela napas lemah.
"Biar kuantar dirimu sampai didepan."
Tan Ciu tidak menolak etikad baik ini, teringat hubungan mereka yang sudah lama.
mengingat belum tentu mereka dapat berjumpa kembali dan mengingat hari depan mereka yang sudah menjadi sangat suram.Pek Co Yong mengiringi kepergian Tan Ciu, mereka keluar dari Benteng Penggantungan.
Waktu menjelang magrib.
bayangan mereka terpeta panjang, dengan menggendong tubuh Cang Ceng Ceng, Tan Ciu tidak bicara.
Pek Co Yong membayangi pemuda itu dengan langkah berat, tidak lama lagi, mereka segera berpisah, mungkin perpisahan untuk seumur hidup mereka.
Mereka berjalan sama-sama, tapi tidak sebuah kata pun yang diucapkannya.
Setengah lie lagi.
Tan Ciu menghentikan langkahnya.
Pek Co Yong menatap wajah sipemuda, ia ingin menanam satu kenangan yang paling mendalam.
"Nona Pek."
Berkata si pemuda perlahan.
"Terima kasih kepada kesediaanmu yang mau mengantarkanku sampai sejauh ini."
"Baik-baiklah diperjalanan,"
Air mata Pek Co Yong menjadi basah.
"Selamat berpisah."
"Tidak kusangka. Begitu cinta kau kepadanya. Sehingga bersedia mengorbankan diri sendiri untuk menyembuhkan penyakitnya."
"Apa yang telah kuberikan kepadamu. lebih dari pada itu."
Berkata si pemuda.
"Aku tidak percaya."
Berkata si gadis.
"Aku nyaris binasa karena ingin menolongmu .... Itu waktu kau terluka, dengan menerjang segala macam bahaya, aku memasuki perkumpulan Iblis Merah.. aku berhasil mengambil obat. Seharusnya kau tahu ....dalammataku, posisi kedudukanmu masih berada diatas nona ini."
"Sungguh?"
Tidak dapat disangkal sama sekali. Pek Co Yong mengucurkan air mata dengan deras. Tan Ciu turut bersedih. ia berkata.
"Sayang, nasib mempermainkan kita."
"Nasibku memang buruk."
Pek Co Yong menyusut air mata.
"Pergilah. Selamat tinggal."
Tanpa menoleh lagi, Tan Ciu membawa Cang Ceng Ceng meninggalkan Benteng Penggantungan, meninggalkan lembah Siang-kiat.
Keluar dari mulut lembah.
Tan Ciu mempercepat langkahnya.
Ia menuju kearah pegunungan Ceng-in.
Tiba -tiba terdengar ada suara bentakan!
"Dapatkah saudara itu menghentikan langkahnya?"
Tiga orang berbaju kuning telah melintang ditengah jalan, mereka menghadang perjalanan si pemuda.
"Apa maksud kalian?"
Bertanya Tan ciu kepada ketiga orang itu.
"Tempat inikah yang diberi nama lembah Siang-kiat?"
Berkata orang berbaju kuning yang ditengah, orang itu lebih tua dan kedua kawannya.
"Betul."
Tan Ciu membenarkan pertanyaan.
"Dilembah inikah letak Benteng Penggantungan?"
"B e n a r .""Terima kasih."
Sambil mengajak kedua kawannya, orang tua berbaju Kuning itu berkata.
"Mari kita melanjutkan perjalanan."
Cepat bagaikan kilat, ketiga bayangan itu langsung masuk kedalam lembah Siang-kiat, tujuannya adalah Benteng Penggantungan.
Tan Ciu masih tertegun ditempat.
Siapakah ketiga orang berbaju Kuning itu?
Dilihat dari gerak-gerik, tidak seorang pun yang berkepandaian rendah, apa maksud tujuannya ke Benteng Penggantungan?
Siapakah ketiga orang itu?
Mari kita mengikutinya.
Ketiga orang berbaju kuning menuju ke-arah Benteng Penggantungan.
Yang berjalan ditengah adalah seorang tua.
dia adalah kepala regu dari ketiga orang tadi.
Satu dikanan dan satu dikiri, mereka mengawasi si kepala regu Yang kanan berhidung bengkung, inilah manusia yang paling berbahaya.
Yang disebelah kiri berwajah cakap, wajah cakap belum berarti mempunyai hati yang bersih.
Siapakah yang tahu, rencana apa yang sedang dijelemitkan olehnya.
Tiba-tiba si wajah cakap menghentikan langkanya.
"Tunggu dulu!"
Ia berteriak. Orang tua itu mengerutkan keningnya diketahui bahwa si wajah cakap menjadi penasehat mereka. Tidak sedikit rencana-rencana buruk keluar dari hatinya.
"Ada sesuatu yang aneh?"
Ia mengajukan pertanyaan.
"Tidakkah kalian melihat keanehan?"
Berkata si wajah cakap itu."Dimanakah letak keanehan?"
Bertanya sihidung bengkung.
"Pemuda tadi."
"Mengapa?"
Sang kepala regu bertanya.
"Darimana ia keluar ?"
"Aia ...."
Si hidung bengkung terteriak.
"Ia meninggalkan lembah Siang kiat!"
"Betul."
"Bolehkah memisalkan, ia keluar dari Benteng Penggantungan."
"Aiaa..." 'Tentu kalian perhatikan wajahnya."
"A a a a ..."
"Itulah wajah yang digambarkan olehnya."
"Betul!"
"Pemuda inilah yang kita cari?"
"Pasti."
"Hampir kita lepaskan kesempatan ini."
"Hampir saja ia terlolos dari tangan kita. Mari kita tanyakan dirinya,"
Berkata si orang tua berbaju kuning.
Ketiga-tiganya balik kembali mengejar Tan Ciu.
Tan Ciu yang sedang menggendeng Cang Ceng Ceng, tidak hujan tidak angin telah dibentak-bentak oleh tiga orang berbaju kuing.
Kemudian ditinggalkan begitu saja.
Ia meneruskan perjalanan dengan rasa dongkol.Berderu-deru aogin datang, tiga bayangan yang telah pergi itu melesat kembali, mereka berteriak keras.
"Saudara didepan, diharap menahan langkah kakimu!"
Tan Ciu berbalik.
menantang mereka dan memperhatikannya.
Seorang yang agak tua berjalan ditengah, dikanan adalah si hidung bengkung.
dikirinya adalah sihati busuk.
Apalagi yang ingin ditanyakan kepada dirinya?
Ketiga orang berbaju kuning itu memperhatikan wajah dan potongan badan si pemuda lebih seksama dan lebih lama.
Tan Ciu menentang pandangan mereka!
"Masih ada pertanyaan lain?"
Ia membuka suara lebih dahulu, Orang tua berbaju kuning yang diapit oleh kedua kawannya bergumam.
"Betul! Sangat cocok dengan gambaran yang diberikan olehnya."
Tan Ciu masih belum mengerti bahwa dirinya sudah berada dibawah pengawasan orang. Ia bertanya.
"Apa yang kalian cocokkan."
Orang itu tertawa, sangat misterius sekali.
"Kau baru meninggalkan Benteng Penggantungan!"
Ia bertanya. Tan ciu menganggukkan kepala.
"Betul."
"Orang yang bernama Tan Ciu?"
Bertanya lagi orang tua itu.
Betapa buteknya pun pikiran si pemuda, mana pula mendapat pertanyaan seperti ini, ia pun sadar bahwa adasesuatu yang tidak beres.
Ia tidak segera menjawab pertanyaan itu.
Tentunya ada sesuatu yang dikandung oleh ketiga orang berbaju kuning tersebut.
= o o OdwO o o = Tiga orang berbaju kuning tidak kenal Tan Ciu, tapi mereka dapat menyebut nama si pemuda agak aneh!
Tan Ciu tidak segera memberikan jawaban.
"Siapa kalian bertiga?"
Ia harus tahu, siapa dan bagaimana nama sebutan ketiga orang itu.
"Kau belum lagi menjawab pertanyaanku."
Berkata siorang tua.
"Mengapa haruss menjawab segala pertanyaan kalian?"
Wajah orang tua berbaju kuning ditekuk.
"Kau Tan Ciu?"
Ia mengulangi pertanyaan.
"Apakah maksud pertanyaan ini?"
"Kau mengakui pertanyaan kami?"
"Aku tidak mengaku."
"Kau bukan Tan Ciu?"
"Ada urusan apa mencarinya?"
"Ada....."
Orang tua itu menyeringai sinis dengan penuh kemisteriusan, ia berkata.
"Ada sesuatu rahasia yang harus disampaikan kepadanya."
"Rahasia apa?"
"Kau Tan Ciu."
"Betul."Wajah ketiga orang berbaju kuning menunjukkan rasa girang mereka.
"Putra Tan Kiam Lam?"
Bertanya lagi si orang tua baju kuning.
"Tidak salah."
"Murid si Putri Angin Tornado."
"Sangat tepat."
"Hampir kami kehilangan jejakmu."
Berkata orang tua itu kejam.
"Apa maksud kalian sebenarnya."
Bertanya Tan Ciu.
"Kami mendapat tugas untuk menemukanmu."
"Tugas? Apa tugas kalian ?"
"Ikutlah kepada kami."
"Kemana ?"
"Jangan tanya disaat ini. Nanti setelah tiba ditempat tujuan kau akan segera mengerti sendiri."
Tan Ciu sangat tidak puas.
"Aku tidak ada waktu."
Ia berkata ketus.
"Biar bagaimana, waktu ini harus kau ada kau."
Berkata ketiga orang berbaju kuning itu, mereka memaksa.
"Ingin menggunakan kekerasan?"
"Ha ha ha ..."
"Ketahuilah bahwa nona ini sedang menderita sakit dan harus segera disembuhkan, semuanya harus diselesaikan setelah ia sembuh."
"Berapa lama kau harus suruh kami menunggu sampai dia sembuh?"
"Waktu ini belum dapat kutetapkan."
"Mengapa ?"
"Aku harus membawanya ke Guha Kematian."
"Apa? Ke Guha Kematian ?! ...Kau ingin masuk kedalam guha maut itu ?"
"Betul."
"Wah, permintaanmu tidak dapat kami kabulkan. Kau harus ikut segera. Manusia manakah yang masuk kedalam Guha kematian dapat muncul kembali didalam keadaan normal."
Wajah Tan Ciu berubah.
"Bila aku menolak ?"
"Jumlah kami ada tiga orang. Kami dapat memaksa kau segera turut serta."
"Baik, akan kulayani permintaan kalian."
"Dari golongan manakah kalian bertiga ?"
Dari baju seragam kuning itu, Tan Ciu menduga kepada salah satu golongan dari dalam rimba persilatan.
"Belum waktunya kau tahu."
Jawab orang tua yang menjadi pemimpin mereka.
"Kalian mau maju satu persatu, atau main keroyokan yang kalian mau ?"
Si wajah bajingan cakap mencalonkan dirinya.
"Tan Tongcu, serahkan kepadaku."
Ia meminta tugas.Orang tua yang dipanggil Tan Tongcu tidak segera mengabulkan permintaan itu. Ia memandang kearah sihidung bengkung.
"Biar aku yang membantu keramaian."
Ia berkata.
Tan Tongcu itu menganggukkan kepala.
Ia setuju.
Dua orang berbaju kuning menjepit Tan Ciu.
si hidung bengkung dan disebelah kiri adalah si bajingan wajah cakap.
Tan Ciu masih diliputi oleh rasa bingung, siapakah orang-orang berbaju kuning ini?
belum pernah ada permusuhan dengan golongan yang menggunakan seragam kuning, mengapa mereka mengancamnya?
Terdengar sihidung bengkung berkata.
"Kami tidak suka menarik keuntungan dengan adanya bebanmu itu. Letakkanlah gadis yang terluka itu ditanah, agar kita dapat bertempur dengan lebih leluasa lagi."
Si hidung bengkung memang pandai bicara, maksud sangat jelas, bila mereka tidak sanggup melawan pemuda ini, Tan Tongcu, orang tua yang menjadi kepala regu mereka itu dapat mencomot Cang Ceng Ceng dan melarikannya ketempat jauh, dengan demikian, mereka masih dapat memancing datang si pemuda.
Bila dikatakan tak mau menarik keuntungan.
kata-kata itu adalah kata-kata obrolan kosong.
Dengan majunya mereka berdua, sudah terang gamblang dan jelas, mereka menarik keuntungan dari jumlah orang yang terlebih banyak.
"Hehem..."
Tan Ciu mengeluarkan suara dari hidung.
"Apa yang kau denguskan?"
Bentak si bajingan wajah cakap."Biar aku yang berunding dengannya."
Berkata sihidung bengkung. Ia mengirim satu kerlingan mata, kerlingan tanda isyarat. Si wajah bajingan cukup mengerti. Ia mengundurkan diri. Tan Tongcu segera berteriak.
"Biarkan aku yang menghadapinya."
Ia khawatir pembantu-pembantunya tidak kuat menghadapi Tan Ciu, maka ia sendiri turun, Si hidung bengkung juga mengundurkan diri.
Orang tua berbaju kuning dan Tan Ciu telah berhadap-hadapan.
Tan Ciu melepaskan Cang Ceng Ceng, dengan tenang, ia siap menghadapi serangan lawannya.
Tan Tongcu ini menggeram.
"keluarkan senjatamu."
Pada tangannya telah bertambah sebatang pedang, gerakannya gesit sekali.
Tidak terlihat bagaimana ia mengeluarkan pedang itu.
Tan Ciu juga menarik pedang dari tempatnya.
Tiba-tiba......
Orang tua berbaju kuning yang dipanggil Tan Tongcu itu telah melejit, ia mengirim satu tusukan pedang.
Hebat.
Dari jurus pertama serangan lawan.
Tan Ciu dapat membedakan betapa tingginya ilmu kepandaian orang tua ini.
Ia menutup serangan tersebut.
Tangkisan pedang si pemuda mengandung tiga perubaban, bagaimana pun perubahan lawan pasti dapat ditangkis olehnya.
Dan betul saja Tan Ciu dapat menyingkirkan serangan itu.Traaaanngg.....
Dua orang terpisah.
Begitu cepat mereka terdesak mundur, begitu cepat pula, masing2 merangsek.
Setiap orang mengirim tiga tusukan pedang.
setiap tusukan mengandung dua unsur, menyerang dan bertahan.
Wajah si orang tua baju kuning berubah.
Hati Tan Ciu menjadi gentar.
Kepandaian lawan tidaklah berada dibawah dirinya.
Mengingat masih ada lawan yang menunggu giliran, Tan Ciu harus cepat-cepat menyelesaikan pertempuran itu.
Timbul niatnya untuk mengadu jiwa.
Tan Tongcu telah menyerang lagi.
Tan Ciu melayaninya setiap serangan dengan serangan pula, itulah cara mati untuk bersama.
Semakin lama, pertempuran itu bertambah seru.
Sebentar kemudian puluhan jurus telah dilewatkan.
Si hidung bengkung dan si bajingan cakap gatal tangan.
"Lihat,"
Berkata si hidung bengkung.
"Bilakah Pertempuran selesai?"
"Mereka sama kuat, sama hebat."
Si bajingan cakap menganggukkan kepala.
"Meringkus si gadis yang terluka."
"Tapi Tongcu bisa celaka."
"Bila kau bersedia..."
"Apakah maksudmu, suruh aku terjun kedalam gelanggang pertempuran?"
"Betul."
Si wajah bajingan mengeluarkan pedang, benar saja ia sudah mengirim dua tusukan, arahnya punggung belakang Tan Ciu.
Digempur seorang berbaju kuning, Tan Ciu berat untuk menyingkirkan serangan-serangannya, kini ditambah seorang musuh lagi, bagaimana ia tidak cepat kalah?
Keringat membasahi sekujur badannya.
Tan Tongcu menyerang dari bagian depan.
si wajah bajingan menusuk punggung pemuda itu.
Tan Ciu melupakan keselamatan jiwanya, Pedang dibolak balikkan menyerang tiga kali.
Terdengar suara ceramah dua orang.
Telah pada pecah dan rusak kulit ditubuh Tan Ciu oleh si bajingan tampan, karena masing-masing telah menerima satu tusukan.
Goyahlah posisi kedudukan mereka.
Tan Ciu bersedia memasang posisi baru, disaat ini datang pukulan, tanpa dapat ditolak, ia terjatuh.
Itulah pukulan Tan Tongcu yang tepat mengenai lawannya.
Ditambah dua kali totokan lagi, Tan Ciu berhasil dibuat mati kutu.
Si wajah bajingan tampan menyeringai.
"Kepandaiannya hebat."
"Lekas periksa tubuhnya."
Tan Tongcu memberi perintah.
Si hidung bengkung sudah merogoh seluruh kantong baju Tan Ciu, agaknya sedang mencari sesuatu.
Apa yang diinginkan oleh ketiga orang berbaju kuning ini ?
Didalam kantong baju Tan Ciu hanya terdapat satu botol obat Seng-hiat-hoan-hun-tan.
Tidak ada benda lain.Si hidung bengkung tidak berhasil menemukan barang yang dicari.
Dikeluarkan botol obat Seng-hiat-hoan hun-tan dan dimasukkan kembali.
"Tidak ada."
Ia memberi laporan. Tujuan mereka bukan pada obat Seng-hiat hoan-hun-tan. Apakah yang diingini olehnya? Tan Tongcu memandang si wajah bajingan cakap dan berkata.
"Coba kau periksa sekali lagi."
Si wajah bajingan cakap mengulangi pemeriksaan, sekujur badan Tan Ciu telah digerayangi, lebih jelas dan lebih lama, ia pun gagal menemukan barang yang dikehendaki.
"Tidak ada."
Ia putus harapan.
"Tidak mungkin!"
Tan Tocgcu berteriak.
"pasti berada dibadannya."
"Sangat mengherankan."
"Mengapa tidak ada padanya ?"
"Mungkiakah telah diserahkan kepada seseorang?"
"Oh. diserahkan kepada lain orang?"
"Pasti!"
"Celaka, tidak ada pada dirinya."
"Tan Tongcu, kompes dirinya."
Tan Tongcu itu menganggukkan kepala.
jarinya bergerak cepat menghidupkan jalan-jalan darahnya Tan Ciu yang telah dibekukannya.
Tan Ciu siuman kembali.
Luka yang diderita tidak ringan, dan dibawah ancaman orang berbaju kuning itu, ia belum dapat bergerak.
"Katakan."
Bentak Tan Tongcu.
"Dimana kitab Thian-mo Po-liok ?"
Segala kepangpetan hati sipemuda terbuka, ternyata maksud tujuan orang-orang berbaju kuning ini pada kitab pusaka yang telah diserahkan kepada si Tukang Ramal Amatir.
"Ooo.... Kalian menginginkan kitab tersebut."
Ia tertawa enteng.
"Betul. Dimana kau letakkan kitab tersebut."
"Eh. bagaimana kau tahu, bahwa aku memiliki kitab Thian mo Po-liok?"
Adanya kitab Thian-mo Po-liok pada Tan Ciu hanya diketahui oleh beberapa gelintir orang. Bagaimana dapat tersebar luas? Tan Ciu harus menjetahui rahasia itu. Tan Tongcu memberikan jawaban ketus.
"Kau tidak perlu tahu."
Tan Ciu mengasah otak.
Rahasia kitab didapat dari gurunya.
tidak ada orang ketiga, entah mengapa, mendadak sontak, guru tersebut telah lenyap.
Bila menghubungkan kejadian hari ini.
tentunya ada hubungan yang sangat erat.
Mungkinkah si Putri Angin Tornado Kim Hong Hong telah celaka dibawah tangan orang-orang ini?
"Hei!"
Bentak Tan Tongcu.
"mengapa kau tidak bicara?"
"Apa yang harus kukatakan?"
"Dimana kau sembunyikan kitab Thian-mo-po-liok?"
"Kalian ingin tahu?"
"Tentu."
"Aku akan memberikan jawaban ini. setelah kalian menjawab beberapa pertanyaanku, Tidak pantas, bila kesempatan hak bertanya di monopoli oleh kalian. Sudah waktunya aku mendapat giliran mengajukan pertanyaan."
"Sebutkan pertanyaan-pertanyaanmu itu."
"Dimana kini guruku berada?"
"Gurumu?"
"Ya! Putri Angin Tornado Kim Hong Hong."
"O o o o o ..."
"Tentunya kalian dapat tahu rahasia kitab Thian-mo Pa-liok darinya, bukan?"
"Betul."
"Dimana ia berada?"
"Ia telah tiada."
"Mati!?"
"Betul."
"Oh...Siapa yang membunuhnya?."
"Ayahnya sendiri."
"Ayah guruku?"
Tan Ciu memancarkan sinar mata penasaran.
"Mana mungkin! Tidak bisa! Mana mungkin seorang ayah membunuh putri sendiri?"
"Mengapa tidak mungkin? Kenapa cinta kepada Sim In, si Putri Angin Tornado Kim Hong Hong melarikan pusaka ayahnya, itulah Singa Emas Kim Say Cu. dimana terdapat gambar pusaka, ia telah berkhianat. dan hukuman itu ialah mati."
"Siapakah orang yang tidak mempunyuai hati manusia, he? membunuh putri kandung sendiri?"
"Ketua kami."
"Siapa ketua kalian? Perkumpulan apakah yang dibangun olehnya?"
"Jangan kau tanyakan tentang hal ini. Kini giliranmu memberikan jawaban. Dimana kitab Thian-mo Po-liok disembunyikan?"
"Ceritakan dahulu tentang keadaan ketua kalian itu?"
Wajah Tan Tongcu berubah merah dan biru bergantian. Ia membentak.
"Kau ingin mati dibawah tanganku?!"
Berkata Tan Tongcu.
Ia menotok keras jalan darah pegal linu si pemuda.
Dengan tiba-tiba bagaikan ada ribuan semut menyerang tubuh Tan Ciu, mendapat satu tekanan berat, suatu penderitaan yang luar biasa.
Ia mengertak gigi dan masih tidak tahan, akhirnya mengeluarkan gerengan.
Tan Tongcu tertawa puas.
"Tidak mau mengatakan juga?"
Ia mengancam.
"Kau mengimpi."
Tan Tongcu menambah siksaannya. Butiran2 keringat yang besar-besar berjatuhan dari jidat Tan Ciu, Namun demikian. si pemuda tetap berkukuh. Tidak mau ia membuka rahasia.
"Katakan."
Bentak lagi Tan Tongcu.
"Ti....dak."
Tan Ciu sudah benar-benar tidak sanggup menerima siksaan-siksaan itu, akhirnya ia jatuh pingsan. Hal ini berada diluar dugaan orang-orang berbaju kuning."Dasar kepala batu."
Mengoceh Tan Tongcu.
"Kita bangunkan lagi. Dan siksa dengan siksaan yang lebih berat."
"Seorang kepala batu tidak dapat dilawan dengan kekerasan."
"Gorok saja lebernya beres."
"Tapi bagaimana dengan kitab Thian mo Po-liok?"
"Betul, Hanya dia seorang yang tahu."
"Mengapa kaucu menginginkan kitab itu?"
Kaucu sama artinya dengan ketua sesuatu aliran.
"Siapakah yang tidak suka kepada kitab pusaka ?"
"Kita serahkan kepada kaucu?"
Tan Tongcu menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan gadis itu?"
Ia menunjuk kearah Cang Ceng Ceng.
"Ia tidak ada gunanya bagi kita, tinggalkan saja."
"Mari kita berangkat."
Tiga orang berbaju kuning siap berangkat pergi, mereka batal memasuki lembah Siang-kat.
Pada punggung si hidung bengkung tergendong Tan Ciu.
Hanya belasan tombak ...
Tiba-tiba terdengar satu bentakan yang menggelegar keras!
"Berhenti !"
Seorang berselubungkan kain hitam dimukanya telah menghadang didepan ketiga orang berbaju kuning.
"Turunkan pemuda itu!"
Demikian orang berbaju hitam itu membentak. Siapa dan bagaimana sebutan tuan yang mulia?"
Berkata Tan Tongcu kepada yang menghadang jalan.
"Kukatakan, segera turunkan pemuda itu!"
Bentak lagi si kerudung hitam.
"Bila kami tidak mau turut."
Si wajah bajingan cakap menantang.
"Oh, ingin membangkang? Inilah bagianmu,"
Berkata orang berselubung kain hitam itu, ia menggerakkan tangan.
Terdengar jeritan si wajah bajingan, tubuhnya pecah dan darah merah bersemburan.
Tubuh wajah bajingan itu telah jatuh, tubuh Tan Ciu juga turut jatuh.
Tan Tongcu dan si hidung bengkung terkejut sekali melihat itu.
"Masih berani menantang?"
Membentak lagi orang itu dengan sikap galak.
Tan Tongcu tidak dapat menahan kemarahannya, ia membentak keras, tubuhnya menubruk maju, mengirim satu pukulan.
Ilmu tenaga dalam Tan Tongcu luar biasa, serangan tadi pun memberi tahu lebih dahlu sangat jahat sekali.
Walau pun berkepandaian tinggi, tidak berani si baju hitam menerima serangan itu, tubuhnya melesat mundur, tapi secepat kilat.
tubuhnya kembali mengarah Tan Tongcu.
Tan Tongcu berganti arah, memapaki pukulan tersebut.
Buummm ...!!
Terdengar suara yang sangat gemuruh, tubuh Tan Tongcu terdesak mundur, sangat jauh."Bagaimana ?"
Orang berbaju hitam itu mengejek.
"Ilmu kepandaianmu membuat orang takluk."
Berkata Tan Tongcu.
"Terima kasih. Bila kau tahu diri. silahkan pergi."
"Tapi aku belum mengetahui nama tuan yang mulia."
"Pemilik Pohon Penggantungan."
"Aaaaaaaa......."
Tan Tongcu dan si hidung bengkung terkejut, nama Pemilik Pohon Penggantungan terlalu seram, ternyata mempunyai ilmu kepandaian luar biasa! "Kau......kau yang menjadi pemilik Pohon Penggantungan?"
Ia bertanya gugup.
"Tidak percaya."
"Hari ini kami menyerah kalah."
Dan tanpa menengok kearah tubuh Tan Ciu yang belum sadarkan diri.
kedua orang berbaju kuning itu minggat pergi.
Meninggalkan mayat si Wajah bajingan yang sudah tiada bentuk.
Orang berbaju hitam itu menyeret tubuh Tan Ciu.
berpikir sebentar.
dan meletakkannya lagi, ia mengubah rencana!
Percayakah pembaca bahwa orang ini sebagai Pemilik Pohon Penggantungan?
Dia seorang laki-laki, dan Tan Ciu harus kenal kepada wajahnya, itulah si Ketua Benteng Penggantungan Tan Kiam Lam.
Bukan, bukan Tan Kiam Lam.
Dia adalah si Telapak Dingin Han Thian Chiu Hei, Mengapa Han Thian Chiu menolong Tan Ciu ?Jangan terburu napsu pembaca, Han Thian Chiu mempunyai rencananya sendiri.
terlihat ia mengeluarkan gumaman.
"Seharusnya aku tidak membunuhmu, tapi keadaan telah berkembang seperti ini.
Mau tidak mau aku harus mengorbankan dirimu.
Sengaja ia menolong Tan Ciu dari tangan orang-orang berbaju kuning, sengaja dikatakan kepada mereka bahwa dirinya sebagai Pemilik Pohon Panggantungan.
Maka orang-orang berbaju kuning yang berkekuatan besar itu akan menuntut balas kepada Pemilik pohon Penggantungan.
Inilah maksud tujuan Han Thian Chiu.
Kini ia ingin membunuh Tan Ciu.
Ia tidak puas membunuh orang yang sedang meram seperti mayat, ia membuka totokan pemuda itu.
Tan Ciu membuka kedua matanya.
Masih terlalu suram, samar-samar seperti ada seseorang berdiri dihadapannya.
Han Thian Chiu tertawa kejam.
"Masih kenal kepadaku?"
Tan Ciu dapat melihat jelas si wajah orang ini.
"Kau...."
Hampir ia tidak percaya kepada kenyataan.
"Betul. Aku."
Berkata Han Thian Chiu dengan jelas.
"Kau yang menolong diriku?"
"Betul!"
"Dimana aku berada?"
"Sedang berada didalam perjalanan yang sedang menuju kearah dunia alam baka."
"Bagus. Tapi sebelum aku mati, aku ingin mengetahui lebih dulu tentang keadaan ayahku."
Berkata Tan Ciu."Ayahmu telah mati."
Berkata Han Thian Chiu.
"Dibawah tanganmu?"
"Boleh dikata demikian."
"Tidak takut mendapat tuntutan. Aku harus membikin perhitungan denganmu. Hutang darah harus dibayar dengan darah juga!"
"Haaa, haaa .... Kau juga segera akan menyusul ayahmu dilain dunia."
Tan Ciu mendongakkan kepala yang tertunduk, dengan gagah berkata.
"Betul. Aku akan binasa, tapi masih banyak orang yang akan mencari dirimu."
"Haa...haaa.....Siapakah yang berani mencari diriku?"
"Jangan terlalu cepat puas pada diri sendiri. Ketahuilah bahwa tidak sedikit orang2 yang berkepandaian tinggi seperti Cang Ceng Ceng ..."
"Haa...ha, haaa....Cang Ceng Ceng telah memberikan ilmu catatannya kepadaku, dengan ilmu kepandaianku, ditambah dengan ilmu lain. siapakah yang dapat mengalahkanku?"
Han Thian Chiu sangat puas. Han Thian Chiu memandang Tan Ciu, ia mengajukan pertanyaan.
"Masih ada soal lain yang belum jelas?"
Tan Ciu berdengus.
"Bertekuk lututlah minta pengampunan."
Kata Han Thian Chiu.
"Kau mengimpi,"
Jawab Tan Ciu ketus.
"Bagus, Pergilah kau menyusul ayahmu dialam baka."
Berkata Han Thian Chiu, ia mengangkat tinggi tangan itu, siap membunuh si pemuda.Tiba-tiba ... Terdengar satu bentakan yang keras.
"Tahan!"
Seorang berkerudung hitam tampak muncul dihadapan mereka, orang inilah yang mengadakan pencegahan! "Siapa?"
Memandang orang itu, Han Thian Chiu bertanya.
"Nama siapa yang telah kau gunakan?"
Balik tanya orang tersebut.
"Kau Pemilik Pohon Penggantungan?"
"Betul!"
Tan Ciu tersentak kaget, memandang orang yang baru datang, mungkinkah orang itu yang menjadi ibunya. Han Thian Chiu tertawa dingin.
"Ingin menolong anakmu ?"
Pemilik Pohon Penggantungan berkata dengan nada dingin.
"Jangan kau ingin mengorek rahasia orang, Dia anak siapa, kau tidak perlu tahu."
Han Thian Chiu menggerakkan tangan, memukul kearah ubun-ubun Tan Ciu.
Orang berkerudung yang baru datang meraihkan tangan dan melempar benda-benda halus kearah Han Thian Chiu.
Terlihat lima bintik hitam melayang kearah lima jalan darah penting Han Thian Chiu.
Bila Han Thian Chiu meneruskan maksud yang ingin membunuh Tan Ciu.
setelah Tan Ciu mati.
dia sendiri pun tidak akan berhasil menghindari serangan senjata rahasia musuh.Maka ia membatalkan niatnya, ia lompat tinggi.
Lima lembar daun menancap dipohon, daun itulah yang menolong Tan Ciu dari kematian.
Dikala Han Thian Chiu melompat tinggi, setelah menyerang dengan senjata rahasia, tubuh Pemilik Pohon Penggantungan lompat maju, ia menerjang Han Thian Chiu.
Han Thian Chiu masih ada niatan untuk membunuh Tan Ciu.
tapi dirinya diserang, jiwa sendiri lebih penting, ia mengerahkan telapak tangan menyambuti datangnya serangan.
Karena keterlambatan tersebut.
Han Thian Chiu diserang sehingga berulang kali.
Pemilik Pohon Penggantungan memang luar biasa, tanpa istirahat, ia menyerang sehingga 12 kali.
Han Thian Chiu berusaha menyingkirkan diri dari hujan serangan tadi.
Ia lihay, walau pun terdesak, setiap langkah penangkisan mengandung ancaman.
Tan Ciu terluka.
Matanya masih dapat digunakan.
orang berkerudung hitam yang datang belakangan agak kecil, itulah bentuk potongan seorang wanita, itulah orang yang pernah menolong dirinya.
Wanita berkerudung hitam ini disebut sebagai Pemilik Pohon Penggantungan mungkinkah sang ibu, si Melati Putih?
Tan Ciu dikejutkan oleh suara bentakkan Han Thian Chiu.
"Terimalah hadiahku."
Tiga batang jarum halus mengancam Tan Ciu.Wanita berkerudung terkejut, ia harus menolong pemuda itu, tubuhnya melayang, menyampok jatuh ketiga jarum halus yang Han Thian Chiu lepas untuk membunuh Tan Ciu.
Han Thian Chiu tertawa berkakakan.
tubuhnya telah berada ditempat jauh, kesempatan tadi telah digunakan baik-baik.
"Pemilik pohon Penggantungan, selamat tinggal."
Dan tubuhnya melayang semakin jauh. Hanya satu titik kecil. kemudian lenyap. Tan Ciu kemudian berteriak.
"Jangan biarkan dia lari. Ia adalah Telapak Dingin Han Thian Chiu!"
Pemilik Pohon Penggantungan tidak menggubris teriakan si pemuda.
"Mengapa tidak kau bunuh dirinya."
Bertanya lagi Tan Ciu.
"Ia bukanlah Tan Kiam Lam."
"Aku tahu."
Pemilik Pohon Penggantungan berkata singkat.
"A a a a a a, kau ...!"
Wanita berkerudung telah mengetahui penyamaran Han Thian Chiu.
Maka tidak terkejut lagi.
Tan Ciu belum tahu jelas, siapa wanita berkerudung ini.
Diketahui Melati Putih sakit hati kepada Hun Thian Chiu.
bila betul orang yang berada didepannya sebagai orang yang menjadi ibunya.
tentu mengejar Han Thian Chiu.
Kini tidak.
Siapakah Pemilik Pohon Penggantungan?
Pemilik Pohon Penggantungan membalik badan, ia siap pergi.
Dengan suara gemetar Tan Ciu berteriak.
"Tunggu dulu!"Wanita berkerudung itu menghentikan langkah kakinya, berbalik memandang Tan Ciu.
"Ada apa?"
Ia bertanya.
"Kau....."
"Aku adalah Pemilik Pohon Penggantungan."
"Pemilik Pohon Penggantungan adalah Melati Putih. Kau Melati Putih."
"Bukan."
"Kau bukan ibuku?"
"ibumu? Bukan!"
Suara itu tidak mengandung perasaan, sangat dingin. Tan Ciu semakin bingung. Orang ini bukan ibunya, mengapa berusaha menolong dirinya sampai lebih dari satu kali? "Tidak mungkin!"
Tan Ciu berteriak.
"Apa yang tidak mungkin?"
"Hal ini tidak mungkin terjadi.. .kau tidak berterus terang."
Wanita berkerudung itu gemetar, dibalik kerudung hitamnya telah basah dengan air mata.
"Kau harus percaya dengan kenyataan."
Ia berusaha menahan getaran jiwanya.
"Ada banyak orang yang mengatakan bahwa Pemilik Pohon Penggantungan adalah ibuku."
Berkata Tan Ciu.
"Siapa yang mengatakan? Si Ketua Benteng Penggantungan tadi ?"
"Betul, Dan lain orang pun mengucapkan kata-kata yang sama."
"Siapa orang itu?"
"Tan Kiam Pek,"
Wanita berkerudung itu tersentak bangun.
"Tidak mungkin"
Ia berteriak.
"Aku tidak kenal kepadanya."
"Betul-betul kau bukan ibuku?"
Tan Ciu meminta ketegasan.
"Aku ... Bukan."
"Baik."
Berkata Tan Ciu.
"Aku harus percaya. Tapi suatu hari, bila terbukti akan kepalsuan dari keteranganmu ini, aku Tan Ciu tidak dapat memaafkanmu."
"Aku tidak membutuhkan maafmu."
"Terima kasih atas pertolonganmu,"
"Tidak ada pertanyaan lain? Aku harus segera pergi."
"Tunggu dulu!"
Tan Ciu dengan sendirinya tidak mau membiarkan wanita berkerudung hitam itu pergi begitu saja.
"Apalagi yang ingin kau tanyakan?"
Berkata Pemilik Pohon Penggantungan.
"Kau telah menolong diriku. Itu budi. Tapi kau juga membunuh kakakku, itu dendam. Budi dan dendam tak dapat dicampur baurkan."
"Ha, ha .... kakakmu? Tan Sang yang kau maksudkan ?"
"Betul."Tentu saja. Tan Ciu tidak tahu bahwa Tan Sang itu belum mati.
"Maksudmu?"
Bertanya pemilik Pohon Penggantungan.
"Aku harus menuntut dendam buat kakakku."
Berkata Tan Ciu.
"Berapa tinggikah ilmu kepandaianmu, sehingga berani menantangku?"
Cemooh Pemilik Pohon Penggantungan itu.
"Hari ini aku lemah. Tapi pada suatu hari, aku pasti berhasil meyakinkan ilmu yang lebih tinggi."
"Bagus. Aku tunggu kedatanganmu."
Dan tubuh wanita berkerudung hitam itu melesat meninggalkan Tan Ciu.
Tan Ciu menemukan Cang Ceng Ceng yang masih belum sadarkan diri.
Ia menggendongnya dan melanjutkan perjalanan.
tujuannya adalah Guha Kematian.
Gunung Ceng in ...
Telah satu hari Tan Ciu berada digunung Ceng-in.
Hanya ini yang diketahui.
Lebih jelas, ia sudah tidak tahu lagi.
Tan Ciu mempunyai tekad yang membaja, segala sesuatu tidak dapat mengganggu usahanya tersebut.
Ia meneruskan usahanya untuk menemukan Guha Kematian.
Dari pagi, siang, sore dan akhirnya hari menjadi gelap.
Tan Ciu belum berhasil menemukan Guha Kematian.
Ia melakukan perjalanan dengan kaki yang amat berat dirasa.
Tiba-tiba ....
Butiran-butiran air hujan mulai berjatuhan hari pun segera bergemuruh.Tan Ciu berlari-lari di jalan pegunungan.
Dihari gelap, terlihat jelas adanya api penerangan.
Tan Ciu membawa Cang Ceng Ceng ketempat itu, Itulah rumah kayu yang kecil, api penerangan keluar dari jendela.
"Ada orangkah didalam?"
Tan Ciu mengetuk pintu.
"Siapa?"
Terdengar suara seorang wanita.
"Aku orang yang sesat dijalanan."
Tan Ciu memberikan jawaban.
Terdengar suara papan gemeresak, dan setelah itu keadaan menjadi sunyi.
Setelah menunggu beberapa saat, masih belum terlihat pintu dibuka.
Tan Ciu tidak sabar dan berkoar lagi.
"Nona..."
Tidak ada jawaban.
"Hei, Kemanakah tuan rumah?"
Tan Ciu ingin mendorong pintu.
Juga tidak ada jawaban.
Mengingat keadaan yang sudah mendesak dan mengingat keadaan Cang Ceng Ceng yang tidak boleh terlalu lama ketimpa hujan, Tan Ciu mendorong pintu itu.
Pintu rumah tidak terkunci, dengan mudah dapat dibuka olehnya.
Tan Ciu telah mendorong pintu rumah kayu disuatu tempat sepi.
digunung Ceng-in dengan menggendong tubuh Cang Ceng Ceng.
ia masuk kedalam rumah tersebut.
"A a a a a . ...!"
Tan Ciu mengeluarkan jeritan tertahan.
Apakah yang telah dilihat olehnya?
Sebuah peti mati menjogrok ditengah-tengah ruangan tidak terlihat ada bayangan orang.
Kemanakah suara wanita tadi?
Inilah yang sedang dipikirkan oleh Tan Ciu.
Kemanakah wanita tadi?
Ia memandang ruangan tersebut, tidak ada orang.
Rumah kayu itu terlampau kecil.
tidak ada ruangan lainnya, kecuali ruangan yang dijogrokan peti mati tadi.
"Dimanakah pemilik rumah?"
Tan Ciu berteriak.
Tidak ada jawaban.
Tentunya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik peti mati merah itu, Tan Ciu meletakkan tubuh Cang Ceng Ceng, menghampiri peti mati berwarna merah dan membuka kayu penutup.
dengan mudah.
tutup peti mati dapat dibuka, ternyata tidak dipantek mati.
Tan Ciu memanjangkan leher, melongok isi peti mati.
Tan Ciu mundur kebelakang.
Tubuhnya bergerak merinding.
Bulu tengkuknya tegak bangun.
Tentunya ada sesuatu didalam peti, mungkinkah jenazah orang mati?
Benar.
Didalam peti mati terbaring sesosok tubuh yang tidak bernapas.
Masih utuh belum lapuk, tentunya mati belum lama.
Siapakah yang mati ditempat itu?
Seorang wanita?
Bukan.
Disana terbaring mayat seorang laki-laki masih sangat muda, umurnya berkisar diantara belasan tahun.Tan Ciu mengusap keringat dingin yang telah membasahi sekujur dirinya.
Tiba-tiba......
Terdengar suara seorang wanita.
"Lekas tutup kembali."
Arah datangnya suara adalah dari belakang Tan Ciu Itulah suara wanita yang pertama tadi didengar.
Tan Ciu menjatuhkan tutup peti mati, maka terkatup kembalilah tempat penyimpan jenazah tersebut.
Begitu Tan Ciu membalikkan kepala, lagi-lagi ia dikejutkan oleh pemandangan yang dilihat.
"A a a a a a...!!"
Seorang wanita dengan rambut terurai panjang telah menatapnya dengan sinar mata tajam, wanita berambut panjang inilah yang menyuruh ia menutup peti mati.
"Siapa kau?"
Tan Ciu membentak.
"Jangan takut."
Berkata wanita berambut panjang itu.
"Aku adalah seorang manusia."
"Aku tidak mengatakan kau setan."
Berkata Tan Ciu.
"Tapi gerakanmu tadi telah membuktikan perasaan takutmu,"
Tan Ciu memberanikan diri.
"Ha..ha.. Siapakah pemilik rumah ini?"
"Aku."
Wanita berambut panjang itu memberi jawaban singkat.
"kau? Kau yang menjawab pertanyaanku pertama itu?"
"Betul.""Tatkala aku masuk kedalam rumah, mengapa tidak berhasil menemukanmu?"
"Aku bersembunyi dibawah tanah."
"Dibawah tanah ?" -0oooOdwOooo0-Jilid15
"BETUL. Yang kuartikan tinggal di bawah tanah, bukanlah berarti mati. Kamar tidurku yang kuartikan berada dibawah tanah."
"Mengapa harus tinggal dibawah tanah?"
"Aku tidak ingin melihat peti mati itu. Maka menempatkan diriku dibawah tanah. Tadi, bila kau tidak membuka tutup peti mati aku pun tidak bersedia memunculkan diri."
"Mengapa?'* "Drama ini sangat sedih sekali."
"Drama?"
Tan Ciu tidak mengerti.
"Ada hubungankah dengan pemuda yang berada didalam peti mati itu?"
Wanita berambut panjang menganggukkan kepalanya. Maka rambut yang sudah terurai itu terbuka, terlihat wajahnya, umurnya berkisar diantara empat puluhan.
"Siapakah laki-laki itu?"
Bertanya Tan Ciu.
"Kekasihku."
"Kekasih?"
Tan Ciu lebih-lebih tidak mengerti, seorang wanita yang sudah hampir empat puluh tahun mempunyai seorang kekasih yang boleh dikatakan masih kanak-kanak.Hujan diluar rumah semakin deras.
bagaikan dituang dari atas langit bergemuruh deras.
"Aku harus bermalam disini."
Berkata Tan Ciu.
"Dia menderita luka, tidak boleh terlalu lama disiram hujan."
Tan Ciu menunjuk kearah Cang Ceng Ceng yang terbaring disudut rumah kayu itu. Wanita berambut panjang mengangukkan kepala. ia tidak keberatan.
"Seorang diri cianpwe tinggal dirumah ini?"
Bertanya lagi Tan Ciu. Wanita berambut panjang itu mengandung kabut misterius. si pemuda mulai tertarik.
"Hanya seorang."
Wanita tersebut membenarkan dugaan Tan Ciu.
"kecuali itu, dia tetap mengawani diriku,"
Ia menunjuk kearah peti mati merah.
"Dia? ...."
"Betul. Dia bukan manusia lagi. Tapi aku tidak dapat dipisahkan dengannya."
Berkata wanita rambut panjang itu dengan nada suara sedih.
"Kau sangat cinta padanya?"
Tan Ciu mengajukan pertanyaan.
"Sangat cinta sekali."
Jawab orang yang ditanya.
"Dia telah mati. Maka. kau harus mengebumikan jenazahnya."
"Tidak mungkin."
Wanita berambut panjang menggelengkan kepala.
"Mengapa?"
"Setelah kutanam jenazahnya aku akan hilangan orang yang satu-satunya paling dekat denganku. Aku tidak mempunyai lain pamili lagi."
Suaranya semakin sedih. Dan akhirnya ia pun menangis. mengucurkan air mata. Tan Ciu dapat memahami, betapa cintanya wanita setengah umur ini kepada sang kekasih. Timbul rasa simpati kepadanya.
"Jenazah itu akan membusuk."
Ia memberi peringatan akan adanya pembusukan.
"Tidak. Tubuhnya akan tetap seperti itu."
"Tidak mungkin. Setiap orang yang sudah tidak bernapas akan membusuk. hanya tulang belulang yang dapat ditinggalkan sebagai kenang-kenangan."
Wanita berambut panjang itu tertawa.
"Tapi telah tiga puluh tahun ia berbaring disitu. Tanpa ada pembusukan."
"Aaaa ...!"
Tan Ciu terbelalak.
"Tiga puluh tahun?"
"Betul. Lebih dari tiga puluh tahun ia terbaring disitu."
Haruskah Tan Ciu percaya kepada keterangan itu? Dilihat sikap orang yang bersungguh-sungguh. tentunya bukan isapan jempol. Wanita berambut panjang berkata lagi.
"Sungguh! Lebih dari tiga puluh tahun ia terbaring ditempat itu, seperti apa yang tadi kau lihat. Tidak ada perubahan sama sekali."
"Belum pernah kudengar ada orang mati yang tidak membusuk."
Berkata Tan Ciu.
"Seharusnya. setiap ada orang mati membusuk. Tapi aku telah meletakkan sebutir mutiara Jit goat-cu dengan mulutmengulum mutiara tersebut, dagingnya tak akan membusuk. Seperti apa yang kau lihat, ia tetap hidup."
Tan Ciu mengerti, mengapa jenazah didalam peti mati tidak membusuk. Ternyata disertai dengan mutiara Jit-goat-cu.
"Cianpwe menunggu dirumah ini sehingga lebih dari tiga puluh tahun?"
Tan Ciu menatap wanita berambut panjang tersebut.
"Betul."
Tan Ciu ragu-ragu.
"Berapakah umur cianpwe?"
Ia bertanya.
"Dapatkah kau menduga?"
Balik tanya wanita itu.
"Tentunya belum empat puluh tahun."
Tan Ciu mengeluarkan dugaan.
"Salah. Umurku telah genap 55 tahun."
Tan Ciu agak kurang percaya, wanita ini tidak muda, tapi juga belum tua. Rambutnya masih hitam mengkilat, bagaimana berumur lima puluh lima tahun? "Tidak percaya?"
Wanita itu tertawa.
"Kulihat, cianpwe masih muda."
"Ha, ha, ..Aku sudah tua. Umurku sudah tua, lebih tua lagi adalah hatiku yang tidak mempunyai kesegaran hidup. Sudah waktunya aku menyusul dia dialam baka."
"Manakala ia tahu akan kesunyian hati cianpwe. tentunya mati dengan puas, mati dengan mati tertutup rapat."
"Salah."
Berkata wanita itu.
"Ia sangat benci kepadaku."
"Benci?"
"Tentu. Karena ia mati dibawah tanganku. Bagaimana tidak membenci? Dialam baka, tentunya mengutuk-ngutuk diriku."
"Aaaa....cianpwe yang membunuhnya?"
"Hal itu sudah terjadi lama sekali."
Tan Ciu dibuat bingung lagi.
Bila wanita membunuh seseorang, tentunya tidak cinta.
Dan ini tidak mungkin, wanita dihadapannya sangat cinta kepada sang kekasih, mana mungkin mengadakan pembunuhan?
"Cianpwee, sangat cinta kepada laki-laki ini?"
Bertanya lagi Tan Ciu.
"Bila tidak cinta padanya, tentu tidak mau menunggu ditempat ini sehingga tiga puluh tahun bukan?"
"Cianpwe cinta padanya mengapa membunuhnya?"
"Sulit diterima bukan?"
"Memang agak tidak mudah dimengerti."
"Ingin mengetahui cerita yang menyangkut diri kami?"
Tan Ciu tertawa.
"Hujan telah mengantarkan aku ketempat ini baiknya sudah wajib untuk mendengar cerita cianpwe."
Demikian ia meringankan ketegangan diantara mereka.
"Aku akan bercerita tentang segala kejadian itu....Dengan harapan, setelah selesai kau mengetahui duduk perkara, kau dapat melakukan sesuatu untukku."
"Apakah tugas yang cianpwe hendak berikan?"
Bertanya Tan Ciu.
"Tidak sulit untuk kau kerjakan."
Tan Ciu tidak menolak tawaran tersebut.
Ia sangat tertarik kepada pengalaman mudanya wanita rambut panjang itu, tentunya luar biasa.
Tan Ciu memasang kuping panjang-panjang.
Dan wanita itu mulai bercerita.
"Aku Thio Ai Kie......"
Entah mengapa, ia menghentikan katanya, memandang kearah luar, matanya menunjukkan sinar tajam.
"Mengapa?"
Bertanya Tan Ciu tak mengerti.
"Ada orang datang."
Berkata wanita yang bernama Thio Ai Kie itu.
Tan Ciu memandang keluar.
tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan, Ia memasang kuping juga tidak ada urusan lain.
kecuali suara hujan yang masih belum berhenti.
"Ada orang?"
Tan Ciu kau kurang percaya.
"Benar."
Berkata Thio Ai Kie.
"Ia sedang menuju kearah kita."
"Aah. tidak kudengar adanya suara langkah kaki itu."
"Kini jaraknya semakin dekat. hanya seratus meter lagi."
Bila apa yang dikatakan oleh wanita itu benar hal itu sungguh sulit dibayangkan.
Mungkinkah dapat mendengar suara derap langkah seseorang yang masih berada dijarak seratus meter?
Sedangkan keadaan itu masih turun hujan?
Suara berisiknya angin ribut turut mengganggu.
Betapa hebat ilmu pendengaran wanita yang bernama Thio Ai Kie ini.
Thio Ai Kie berkata.
"Aku hendak bercerita tanpa gangguan. Tapi orang ini akan segera tiba.""Ia masih datang?"
"Arahnya tidak berubah. Kukira ia akan datang untuk menghindari serangan hujan."
"Tentunya kemari?"
"Betul... Eh... Heran. rumahku belum pernah mendapat kunjungan orang. Hari ini, setelah kedatanganmu, muncul lagi orang ini. ia datang lebih dekat."
Kuping Tan Ciu sudah dapat menangkap suara derap langkah kaki orang yang baru datang, ia harus memuji ketajamannya kuping Thio Ai Kie.
dapat mendengar suara yang dua kali lipat dari pendengaran dirinya.
Tiba tiba ....
Terdengar suara pintu diketuk orang "Siapa ?"
Bertanya Thio Ai Kie.
"Seorang pengembara yang ditimpa hujan. dapatkah memberi kelonggaran untuk meneduh."
"Silahkan."
Pintu itu didorong, dan seorang tua berjalan masuk. Melihat wajah itu, tiba-tiba Tan Ciu berteriak.
"Kau!?"
Orang itu pun melihat adanya Tan Ciu. ia juga terkejut.
"Kau?"
Terlihat sekian perobahan pada wajahnya yang menjadi terang. Kedua orang itu saling pandang, Thio Ai Kie menyaksikan hal tersebut memandang kedua tamunya, ia bertanya.
"Kalian saling kenal ?"
"Lebih dari kenal."
Katanya.
"Kedatanganku ketempat ini dengan maksud tujuan mencari dia."
Siapakah yang mencari Tan Ciu?
Orang yang mengejar Tan Ciu sehingga sampai digunung Ceng-in adalah si Pendekar Angin Sin Hong Hiap.
Bagaimana Sin Hong Hiap dapat mengejar datang?
Bagaimana ia tahu bahwa Tan Ciu sedang menuju gunung Ceng-in ?
Ini adalah suatu pertanyaan.
Memandang Tan Ciu beberapa saat.
lalu Hong Hiap berkata kepadanya.
"Ho ho.... bila tidak diganggu oleh hujan, perjalanan akan kuteruskan, gagallah aku menemukanmu."
"Kedatanganmu khusus mencari aku?"
Bertanya Tan Ciu heran.
"Betul, sebelum kau masuk kedalam Gua Kematian, aku harus menemukanmu."
Disebutnya nama Gua Kematian. membuat Thio Ai khie membelalakkan mata. Tan Ciu berkerut.
"Bagaimana kau tahu, aku sedang melakukan perjalanan ke Gua Kematian?"
Ia menatap wajah pendekar tua itu.
"Mengapa tidak tahu? Setiap perbuatan tidak mungkin dirahasiakan, bukan?"
"Maksudmu?"
"Menuntut balas. Aku harus membunuhmu."
Berkata Sin Hong Hiap tegas.
"Jauh-jauh kau mengejar datang untuk membunuh seseorang?"
"Betul. Dendam kematian muridku harus mendapat wajah yang paling sempurna. Bila kubiarkan kau masuk kedalam Gua Kematian, setelah kau menjadi seorang linglung sinting, tiada guna dan tiada arti sama sekali. Kau harus tahu, membunuh seseorang harus menanggung akibat. Kau membunah muridku, maka aku harus membunuhmu."
Wanita berambut panjang, Thio Ai Kie turut bicara.
"Kalian ada menaruh dendam ?"
"Betul"
Berkata si Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.
"Pemuda ini bernama Tan Ciu ia telah membunuh muridku."
Thio Ai Kie memandang Tan Ciu.
"Kau telah membunuh murid orang?"
Ia meminta kepastian.
"Benar."
Tan Ciu tidak menyangkal.
"Mengapa membunuh orang?"
Tegur lagi Thio Ai Kie. Tan Ciu bercerita soal kematian Chiu-it Cong, segala sesuatunya diceritakannya dengan jelas.
"Betulkah cerita itu?"
Thio Ai Kie memandang Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap. Jago tua itu menganggukkan kepala.
"Kematian yang dicari sendiri."
Berkata Thio Ai Kie.
"He...."
Sin Hong Hiap terbelalak.
"Julukanmu pendekar Dewa Angin, kata-kata Pendekar itu tidak mudah didapat. Mengapa mempunyai murid yang seperti itu? Kematiannya akan membebaskan dirimu dari kekotoran dunia, mengapa harus menuntut balas."
Sin Hong Hiap mendebat.
"Chio It Cong dilahirkan sebagai muridku segala sesuatu harus diserahkan kepadaku. Orang luar tidak berhak ikut campur."
"Dimisalkan aku yang menemukan kejadianku, aku pun akan membunuh Chio It Cong."
Wajah Sin Hong Hiap berubah.
"Ternyata kalian telah bersekongkol?"
Ia sangat marah. Thio Ai Kie berkata dingin.
"Pada tiga jam yang lalu, aku belum kenal dengan orang yang bernama Tan Ciu ini."
"Mengapa membela dirinya?"
Tegur Sin Hong Hiap.
"Kebenaran ada dipihaknya."
"Kebenaran berada dipihak yang berkuasa."
Sin Hong Hiap berdengus.
"Gunakanlah sedikit aturan."
"Aku tidak kenal, apa itu artinya aturan."
Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap agaknya telah naik pitam. Wanita rambut panjang Thio Ai Kie tidak mau kalah. dengan geram ia membentak.
"Sin Hong Hiap. lekas kau keluar dari rumahku."
Ia mengusir, Sin Hong Hiap tertawa dingin.
"Ingin main keras?"
Ia tidak takut.
"Sebelum aku malah memaksa kau keluar dari sini. Ada baiknya kau tahu diri. Keluarlah!"
Berkata Thio Ai Kie.
"Ha ha... Aku segera meninggalkan rumah ini setelah berhasil membunuh Tan Ciu."
"Tidak mungkin.""Bagus! Akan kubuktikan kepadamu, siapa yang berkuasa. dialah yang menang."
Sin Hong Hiap menutup kata-katanya dengan satu pukulan.
Arah tujuannya bukan wanita rambut panjang itu, tapi batok kepala Tan Ciu, ia benci kepada pemuda itu, Tan Ciu adalah orang yang telah menghilangkan jiwa muridnya juga menjatuhkan nama Sin Hong Hiap yang ternama.
Langkah Sin Hong Hiap telah berpikir masak-masak, bila ia bergebrak dengan wanita rambut panjang itu, mengingat ilmu kepandaian orang yang seperti berada diatas Tan Ciu, tentu memakan waktu lama, entah bagaimaua akhir pertempuran mereka.
Thio Ai Kie tidak tinggal diam.
Tubuhnya melesat menggulung pukulan Sin Hong Hiap Sin Hong Hiap telah menduga akan adanya gangguan itu.
maka ia bergerak cepat, memukul Tan Ciu dengan kecepatan kilat.
Di samping tak lupa ia mengadakan penjagaan diri, Menangkis dan menyingkirkannya.
Sin Hong Hiap bergerak lebih dahulu, Thio Ai Kie menyusul belakangan, tapi kecepatan wanita rambut panjang itu sungguh luar biasa.
bukan saja berhasil menangkis serangan Sin Hong Hiap yang mengancam Tan Ciu, lain serangan yang mengancam pendekar tua itu tidak gagal.
Buumm, Bummm......
Telapak tangan Thio Ai Kie telah mampir dipunggung dibelakang Pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap.
Darah merah muncrat dari mulut sipendekar Angin.
Inilah akibat dari kecongkakkan Sin Hong Hiap mendapat nama puluhan tahun, belum pernah dikalahkan orang, apalagi berhadapan dengan wanita berambut panjang yangdianggap sipil, ia hanya menggunakan setengah bagian, dengan sisa tenaga lainnya tetap menyerang Tan Ciu.
Karena itulah, ia menderita kerugian.
Tan Ciu terbelalak.
Dengan jatuhnya Sin Hong Hiap terbuktilah betapa hebat ilmu kepandaian wanita yang bernama Thio Ai Kie ini.
Wajah Sin Hong Hiap terlihat sangat seram, bibirnya meleleh darah, matanya disipitkan.
hanya sebelah.
Rasa benci penasaran.
sakit hati dan dendam bercampur menjadi satu.
"Baik."
Akhirnya ia berkata lemah.
"Aku Sin Hong Hiap menerima kekalahanku. Lain kali, aku akan balik kembali mengadakan pembalasan."
Tubuhnya melesat ingin keluar dari pintu. Thio Ai Kie lebih cepat, ia sudah menghadang kepergian si jago tua. serta merta mengeluarkan bentakan.
"Tunggu dulu!"
"Apa lagi yang kau mau ?"
Sin Hong Hiap mempentang kedua matanya.
"Aku harus menahan kepergianmu."
Kata Thio Ai Kie.
"Bagus! Belum tentu aku dapat mati dibawah tanganmu."
Sin Hong Hiap telah menderita luka yang tidak ringan, suaranya pun agak lemah.
"Aku tidak berniat membunuhmu."
Berkata Thio Ai Kie.
"Maksudmu."
"Melarang kau meninggalkan rumah ini."
"Bagus. Aku harus menerjang keluar."
Berkata Sin Hong Hiap yang disertai gerakan tubuhnya.Thio Ai Kie tidak berpeluk tangan, tangannya bergerak-gerak, menutup jalan si Pendekar Dewa Angin.
Beberapa kali Sin Hong Hiap menerjang, beberapa kali pula ia tertahan.
Kecepatan Thio Ai Kie luar biasa.
kini menggunakan jari 'Cret!' menotok jalan darah Sin Hong Hiap.
Si jago tua itu jatuh tubuhnya.
Tan Ciu sangat berterima kasih kepada wanita berrambut panjang itu, bila tidak ada Thio Ai Kje yang membantu dirinya, pasti ia terluka dibawah tangan Sin Hong Hiap.
Mungkin pula ia sudah mati saat ini.
"Atas bantuan cianpwe, aku Tan Ciu mengucapkan terima kasih,"
Demikian berkata si pemuda.
"Aku benci kepada manusia-manusia congkak sebangsa Sin Hong Hiap."
Berkata Thio Ai Kie.
"Bagaimana cianpwee hendak menempatkan dirinya?"
Bertanya Tan Ciu dengan jari tangan menunjuk kearah Sin Hong Hiap yang jatuh tengkurap.
"Biarkan saja ia tidur ditempat itu. Setelah selesai kita bercerita, akan kuusahakan, bagaimana harus menyelesaikan dirinya."
Tan Ciu tidak mengusut terlalu panjang, Thio Ai Kie berkata gemas.
"Bila bukan karena kedatangannya ceritaku sudah selesai. Ia banyak mengganggu waktu kita. Eh. masih bersediakah kau mendengarkan ceritaku?"
Tan Ciu menganggukkan kepala.
"Oh. kudengar kau hendak masuk kedalam Goa Kematian?""Betul!"
"Apa maksudmu masuk kedalam gua itu?"
Bertanya Thio Ai Kie.
"Aku harus menolong dirinya."
Berkata Tan Ciu sambil menunjuk kearah Cang Ceng Ceng. Thio Ai Kie memandang gadis itu sebentar, kemudian bertanya.
"Lukanya berat?"
"Sangat berat."
"Mengapa harus masuk kedalam Gua Kematian?"
"Lukanya bukan luka biasa. Ia mendapat tekanan ilmu Ie-hun Tay-hoat."
"Ie-hun Tay-hoat?"
Bertanya Thio Ai Kie tersekut.
"Betul. Dikatakan orang. hanya Penghuni Gua Kematian yang dapat menghilangkan tekanan ilmu Ie-hun Tay-hoat."
Thio Ai Kie menganggukkan kepalanya.
"Tidak dapat disangkal."
Ia berkata.
"Tapi. pernahkah dengar tentang peraturan Gua Kematian?"
"Merusak alam pikiran orang yang memasukinya. Itukah peraturannya ?"
"Betul. Dan setiap orang yang telah masuk kedalam Gua Kematian, ia akan menjadi sinting linglung."
"Aku tahu."
Berkata Tan Ciu.
"Aku rela mengorbankan diriku."
"Demi keberuntungannya bukan?"
Thio Ai Kie menunjuk kearah Cang Ceng Ceng, Tan Ciu membenarkan pertanyaan itu. Thio Ai Kie berkata kepada Tan Ciu.
"Cerita yang akan kukisahkan ada hubungannya dengan Penghuni Guha Kematian itu,"
"Ooo..."
Tan Ciu semakin tertarik.
"Namaku Thio Ai Kie,..."
Wanita itu mulai bercerita.
"Dia Kho Liok."
Tangannya menunjuk kearah peti mati merah ditengah-tengah ruangan. Tan Ciu mengerti, tentunya pemuda yang didalam peti mati itulah yang dimaksudkan bernama Kho Liok.
"Kecuali kami berdua, tokoh ketiga adalah kakakku yang bertama Thio Bie Kie."
Meneruskan cerita Thio Ai Kie.
"Kami bertiga terlibat didalam kisah percintaan."
Tan Ciu sudah menduga akan hal itu, ia memasang kuping lebih tajam. Thio Ai Kie meneruskan ceritanya.
"Kakakku sangat sayang kepadaku. kami dibesarkan bersama, tanpa ada kasih sayang orang tua, mereka telah tiada. Kami hidup bersama beberapa saat dan berguru kepada seorang nenek ahli silat yang bernama Kui Boh Cu. Dikala aku genap berumur dua puluh tahun, tidak sedikit pemuda-pemuda yang melamarnya, tapi semua lamaran itu ditolak ia tidak mau meninggalkan diriku. aku dianggap anak kecil, selalu membimbing diriku. Dikatakan olehnya, sebelum aku mendapatkan jodohku, ia tidak akan menikah dengan orang. Ia lebih suka diam dirumah, sedangkan aku sering berkelana, dengan ilmu kepandaian yang kumiliki, aku berhasil mendapatkan gelar Pendekar Wanita Berbaju Hitam....."
Thio Ai Kie menghentikan ceritanya, ia bermuram durja, tentunya sedang mengenang akan kejadian masa silamnya.Tak lama Thio Ai Kie merenung, lalu meneruskan pula ceritanya.
"Karena kebinalan aku itulah. aku berkenalan dengan seorang pemuda yang bernama Kho Lok."
Sambung cerita wanita itu.
"Kami saling jatuh cinta. Orang-orang yang mengiri pada cinta kami memberi tahu kepadaku. dikatakan bahwa pemuda bernama Kho Liok inilah ahli wanita. tukang mempermainkan wanita. penggoda wanita. Tapi tidak kuterima kisikan-kisikan itu. Di sampingku. Kho Liok sangat baik dan patuh. tidak mungkin seorang hidung belang. kami sangat puas merantau kebeberapa tempat, dibawah buaian asmara kami melupakan semua kedukaan dunia."
"Dan kalian menikah?"
Tan Ciu mengemukakan dugaan.
"Belum."
Berkata Thio Ai Kie.
"Desas-desus semakin santer segera kutanyakan kepada dirinya. dari mana asal desas desus itu. Ia menyangkal, dikatakan bahwa mereka tak tahu menahu, kecuali aku, ia belum pernah jatuh cinta kepada orang. Itu waktu aku meninggalkan kakakku, maka ia tak tahu juga tak dapat meminta pendapatnya. Kata-kata Kho Liok yang berkesan ialah, ia mengatakan telah melakukan suatu kesalahan besar. Kutanyakan, kesalahan apakah yang telah diperbuat? Ia tidak mau memberi keterangan yang lebih jelas. Betul-betul aku sangat cinta kepadanya. Maka urusan itu tidak kutarik panjang."
Tan Ciu mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian.
"Pada suaru hari."
Thio Ai Kie melanjutkan cerita.
"Kami bercakap-cakap tentang keluarga masing-masing. kukatakan bahwa aku masih mempunyai seorang kakak yang bernama Thio Bie Kie, wajahnya berubah. Dengan acuh tak acuh ia mendengarkan cerita itu tanpa suara. Dandengan alasan sakit kepala ia berpisah. Itulah perpisahan untuk jangka waktu yang lama, tanpa pamit lagi ia meninggalkan diriku."
"Mungkinkah ada sesuatu yang menyangkut Thio Bie Kie cianpwe?"
Tan Ciu mengemukakan pendapat. Thio Ai Kie menganggukkan kepala.
"Musuh Thio Bie Kie?"
Bertanya lagi Tan Ciu.
"Bukan."
"Mengapa ia lari tanpa pamit?"
"Dia adalah kekasih Thio Bie Kie."
"A a a a ...."
"Ia mengatakan, pernah melakukan suatu kesalahan, itulah yang dimaksudkan. Sebelum kami berkenalan. Thio Bie Kie telah berhubungan dengannya, itu waktu aku sedang berkelana, maka tidak tahu hal tersebut. Bila aku tahu adanya hubungan diantara mereka, tentu aku dapat menghindari kisah percintaan."
"Kalian kakak dan adik sangat mengasihi, seharusnya mudah diselesaikan, bukan?"
Berkata Tan Ciu.
"Akupun memikirkan begitu, segera pulang dan kutemui, Thio Bie Kie, kuceritakan semua kejadian, kuceritakan tentang semua yang menyangkut Kho Liok. Thio Bie Kie tidak mendengar habis semua kisahku tatkala mendengar nama Kho Liok disebut, ia jatuh pingsan....Aku bingung. Cepat-cepat kusadarkan Thio Bie Kie. setelah ia sadar dari pingsannya, dengan marah mencaci maki diriku, belum pernah aku melihat ia marah besar seperti itu. Aku takut sekali. Ternyata kisah percintaannya dengan Kho Liok tidak sengaja, mereka telah melewati batas-batas persahabatan. tanpa disengaja cinta kakakku kepada KhoLiok hanya sepihak, sedangkan Kho Liok tidak cinta padanya. Kisah mereka dimulai setelah Kho Liok terluka, ia lari mendapatkan Thio Bie Kie. luka itu luar biasa, dikelabui musuh sehingga menerima bisa racun yang jahat. Thio Bie Kie berusaha menyembuhkan dirinya, didalam keadaan setengah sadar, mereka telah mengadakan hubungan yang melampaui batas, Setelah Pho Liok sembuh. dikatakan ia harus menuntut balas. dan ia pergi... Pergi untuk tidak kembali lagi. Thio Bie Kie merana, tapi aku tidak diberi tahu tentang penderitaan itu. Aku meninggalkan kakakku. kucari Kho Liok dibeberapa tempat. akhirnya aku berhasil menemukannya. Kutegur mengapa dia berani mempermainkan kami kakak beradik? Dikatakannya ia tidak bermaksud mempermainkan kami, orang yang dicintai adalah aku, sedangkan hubungan dengan Thio Bie Kie dilakukan tanpa sadar, itu waktu bisa racun belum semua keluar, ditambah dengan cinta Thio Bie Kie kepada dirinya, maka terjadilah tragedi tersebut... Aku cinta kepada Kho Liok tapi aku lebih cinta kepada kakakku. Kuanjurkan kepadanya agar kembali kesamping Thio Bie Kie, ia menolak. Kami bertengkar dengan hasil kesudahan matinya dia dibawah tajamnya pedangku."
"Aaaa .."
Tan Ciu mengerti akan duduknya perkara dari hasil percintaan segitiga.
"Bukan maksudku untuk membunuh Kho Liok."
Meneruskan cerita Thio Ai Kie. Suaranya menjadi sember. air matanya telah membasahi wajah setengah tua itu.
"Dengan sedih aku menggendong jenazahnya, kubawa pulang dan kutemukan Thio Bie Kie kuceritakan segala kejadian yang telah terbentang dihadapannya, kesalahan tersebut tidak dapat diperbarui lagi."
"Thio Bie Kie cianpwee tidak dapat memaaffkan?"
Bertanya Tan Ciu.
"Dengan jatuh bangun dari pingsannya, ia menangis sesambatan, mengapa aku berlaku ceroboh, membunuh orang yang kami cintai?
Dikatakan aku kejam, tidak mau ia mempunyai seorang adik kejam, sifat-sifatnya berubah hampir menjadi gila, kulihat perubahan pada wajahnya, aku tinggalkan begitu saja.
Mulai hari itu aku tinggalkan oleh dua orang yang kukasihi, Kho Liok mati.
Thio Bie Kie lari, Untuk menebus dosaku, aku menetap disini, kukawani jenazah Kho Liok sehingga hari ini."
"Tidak ada kabar beritakah dengan Thio Bie Kie cianpwe?"
Bertanya Tan Ciu.
"Dia adalah Penghuni Guha Kematian yang akan kau kunjungi itu."
"Aaaaaa......"
"Sifatnya telah berubah, aku diancam dilarang memasuki guhanya. setiap orang yang masuk kedalam guha tersebut akan mengalami tekanan jiwa. otaknya dimiringkan, mereka menjadi sinting dan linglung."
Thio Ai Kie selesai mengisahkan cerita tentang percintaan dan sebab musabab dari keluarga mereka. Selesai mengisahkan cerita lama, Thio Ai Kie berkata.
"Dapatkah kau membantu diriku."
"Akan boanpwe usahakan."
Berkata Tan Ciu.
"Kukira tidak sulit untuk kau lakukan."
Berkata Thio Ai Kie.
"Permintaanku tidak banyak. Apalagi mengingat kau sedang menuju kearah Guha Kematian. lebih mudah lagi. Tolong kau sampaikan rasa penyesalanku kepada Thio Bie Kie. Mau tidaknya ia menerima rasa penyesalanku, terserah kemudian hari."
Tan Ciu memberikan janjinya, ia menerima tugas tersebut.
"Dan aku mempunyai lain permintaan."
Berkata lagi Thio Ai Kie.
"Katakanlah."
Tan Ciu memandang wanita berambut panjang itu.
"Tolong kau kebumikan jenazahnya."
Thio Bie Kie menunjuk kearah peti mati merah yang berisi mayat Kho Liok. Tan Ciu terbelalak.
"Bukankah ingin kau kawani terus menerus?"
Ia tahu betul akan hal itu, maka tidak segera melulusi permintaan orang.
"Kini, pikiranku telah berubah."
Berkata Thio Ai Kie.
"Kukira sulit."
Berkata Tan Ciu.
"Setelah kukebumikan dirinya. Mungkin kau bongkar kembali, Kau akan mengawani dirinya."
Thio Ai Kie menggeleng-gelengkan kepala. Katanya tegas.
"Aku tidak mengebumikan dirirya, karena aku tidak tega. Tapi kau orang lain, kukira akan dapat menolong diriku."
"Baiklah."
Tan Ciu tidak keberatan.
Pada hari berikutnya, didepan rumah kayu itu telah bertambah satu makam baru itulah makam Kho Liok.
Tan Ciu menyaksikan Thio Ai Lie bersembahyang.
Beberapa saat kemudian, Thio Ai Kie bangkit, memandang Tan Ciu seraya wanita itu berkata.
"Aku mengucapkan terima kasih kepadamu.""Dengan senang hati. Aku melakukan pekerjaan ini."
Tan Ciu merendah.
Sebelum jenazah Kho Liok dikebumikan, Thio Ai Kie pernah meminta mutiara Jit goat-cu, yang pada sebelumnya berada dalam mulut jenazah Kho Liok.
Kini, dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan lagi mutiara tersebut diserahkan kepada Tan Ciu dan berkata kepada si pemuda.
"Ambillah mutiara ini."
Tan Ciu mundur, dengan menggeleng-gelengkan kepada menolak.
"Tidak dapat kuterima hadiah pemberianmu."
"Kukira, kau akan membutuhkannya. Mutiara Cit goat-cu dapat menghilangkan semua bisa racun. dapat tahan panasnya api dan dapat mengusir dinginnya es, sangat mujijat untuk pengobatan-pengobatan. Aku tidak membutuhkannya. Terimalah."
Setelah dipaksa. Tan Ciu menerima pemberian yang sangat berharga itu.
"Terima kasih."
Ia berkesan baik kepada Thio Ai Kie.
"Kau ingin menjumpai kakakku?"
Bertanya Thio Ai Kie. Tan Ciu menganggukkan kepala.
"Sudah berpikir masak-masak, akan akibat yang akan kau derita?"
Tanya lagi Thio Ai Kie. Lagi-lagi Tan Ciu menganggukkan kepala.
"Hanya jalan ini yang dapat kutempuh untuk menolong Cang Ceng Ceng dari kesengsaraan."
"Tapi. kau akan menggantikan dirinya. kau akan lebih sengsara."
"Sudah boanpwe pikirkan masak masak."
"Kudoakan saja kau berhasil."
Berkata Thio Ai Kie."Terima kasih."
Berkata Tan Ciu.
"Kau tahu dimana letak Guha Kematian?"
Bertanya lagi Thio Ai Kie.
"Boanpwe membutuhkan keterangan yang lebih jelas. Tentunya cianpwe tidak keberatan untuk memberi tahu, bukan?"
Thio Ai Kie memberi tahu letak tempat Guha Kematian.
Membawa Cang Ceng Ceng.
Tan Ciu mengambil berpisah dengan wanita itu mereka harus melanjutkan perjalanan.
kearah Guha Kematian.
Dengan adanya petunjuk Thio Ai Kie, secara mudah Tan Ciu berhasil menemukan Guha Kematian.
Disuatu lereng lembah, pada bawah tebing curam yang sangat tinggi, terdapat sebuah guha dengan tulisan 'GUHA KEMATIAN'.
Tak gentar dengan menggendong tubuh Cang Ceng Ceng.
Tan Ciu memasuki guha tersebut.
Guha tersebut tidak terjaga, sangat gelap, jauh didepannya, baru terlihat titik terang.
Hal itupun menandakan betapa panjang dari isi Goba Kematian.
Berjalan setengah bagian, tiba-tiba terdengar ada suara yang membentak.
"Berhenti."
Datangnya suara dari lorong gelap lain, ternyata Guha Kematian mempunyai cabang. Tan Ciu menghentikan langkahnya. Terdengar lagi suara itu berkata.
"Dengan maksud apa kau berada ditempat ini?"
Itulah suara seorang wanita.Tan Ciu memberikan jawaban.
"Boanpwe harus menyembuhkan seseorang."
"Kau tahu bahwa kau telah memasuki Guha Kematian."
"Boanpwe tahu."
Jawab Tan Ciu tenang.
"Dengan tentang peraturan Guha Kematian?"
"Cukup paham."
Suara wanita itu terhenti sebentar, kemudian berkata.
"Kuanjurkan kepadamu ada lebih baik untuk kembali. Segeralah keluar dari guha ini."
Tan Ciu tidak takut kepada gertakkan itu.
"Dengan siapakah boanpwe berhadapan?"
"Seharusnya kau tahu."
Berkata suara itu.
"Penghuni Guha Kematian ?"
"Heemm ..."
"Boanpwe ada urusan, maka boanpwe tidak akan keluar guha sebelum urusan itu berhasil."
"Berpikirlah lagi, apa akibatnya, bila seseorang berani masuk kedalam Guha Kematian?"
"Sudah boanpwe pikirkan. dapatkah bertemu muka?"
"Aku tidak bersedia menemui orang."
"Bounpwe mohon dengan sangat."
"Permohonan itu kutolak."
"Kawan wanitaku sangat membutuhkan pertolongan."
"Itu urusanmu. Bukan urusanku."
Berkata penghuni Guha Kematian ketus.
"Dia segera mati.""Sudah kukatakan, bukan urusanku."
"Tapi..."
"Tanpa tapi. Lekas kau keluar."
"Aku telah berada ditempat ini. Mengapa harus keluar lagi?"
"Ingin mencari kematian ?"
"Ha. ha ... ."
"Apa yang kau tertawakan ?"
"Kukira kau bukan Penghuni guha Kematian."
"Mengapa kau mempunyai pikiran seperti itu ?"
"Tidak cocok dengan apa yang digambarkan orang,"
"Apa yang orang gambarkan tentang diriku?"
Suara wanita didalam lorong guha gelap itu tergetar agaknya ingin tahu, apa yang dunia luar ceritakan tentang keadan guha Kematiannya.
"Kau Thio Bie Kie?"
Bertanya Tan Ciu.
"Eh....."
Disebutnya nama Thio Bie Kie sangat mengejutkan.
"Mengapa tidak menjawab?"
Tegur lagi si pemuda.
"Bagaimana kau tahu, ada orang bernama Thio Bie Kie?"
Suara itu semakin bergetar.
didalam dunia persilatan, siapakah yang mengetahui bahwa Penghuni Guha Kematian bernama Thio Bie Kie?
Dan Tan Ciu dapat menyebut nama itu.
Suatu hal yang mengejutkan orang yang bersangkutan.
"Ingin tahu?"
Berkata lagi Tan Ciu berada diatas angin."Katakan. dari mana kau tahu nama itu?"
Bentak suara yang belum terlihat.
"Akan kuberi tahu kepadamu. setelah kita bertema muka, secara tuan rumah dan seorang tamu. Bukan seperti keadaan ini, didalam keadaan gelap gulita."
"Aku tidak bersedia menerima tamu,"
Itulah suara wanita didalam Guha Kematian.
"Kau kira setelah menyebut nama Thio Bie Kie, aku dapat menerima kedatanganmu, kau mengimpi."
Tan Ciu mengasah otak. Bagaimana ia dapat menemui orang ini? Kecuali menggunakan tipu saja.
"Aku menemukan seseorang ..,"
Ia ingin menggunakan kelemahan Tho Bie Kie.
"Siapa yang telah kau temukan?"
Bertanya suara wanita didalam kegelapan itu.
"Seorang yang bernama Kho Liok,"
Berkata Tan Ciu sambil menunggu reaksi orang. Suara penghuni Guha Kematian tidak terkejut, terdengar ia membentak.
"Kemudian!".
"Kho Liok menceritakan tentang keadaan dirimu."
Berbohong Tan Ciu, Ia menduga sedang berhadapan dengan Thio Bie Kie.
"Tidak mungkin. Suara wanita itu berteriak.
"Kho Liok sudah tidak ada!"
"Kau salah."
Berkata Tan Ciu.
"Sungguh2 aku telah melihat Kho Liok."
Wajah jenazah Kho Liok yang Tan Ciu maksudkan. Tapi ia tidak menyebut dengan jelas sengaja memancing keluar lawan.
"Kau menemuinya didalam impian."
Berkata penghuni guha Kematian itu.
"Sungguh."
Berkata Tan Ciu dengar suara pasti.
"Dimana?"
"Didalam sebuah rumah kayu."
Lagi-lagi Tan Ciu main lidah, entah rumah kayu yang mana yang dimaksudkan olehnya, mungkin rumah kayu Thio Ai Kie. mungkin juga rumah kayu didalam liang kubur Kho Liok. Suara wanita itu berteriak.
"Tidak mungkin ... Ooooo ...!!"
Dengan kepintaran otaknya, ia maklum bahwa dirinya sedang ditipu mentah-mentah dengan tenang ia berkata.
"Aku mengerti ... Kau sedang menggunakan akal untuk memancing diriku keluar menemuimu. bukan? Putuskanlah harapanmu ini. Semua itu tidak dapat mengelabui diriku."
"Tidak percaya? Aku adalah murid Kho Liok."
Semakin lama Tan Ciu semakin mengelindur jauh.
"Ha. ha .. siapa namamu ?"
"Tan Ciu."
"Apa ?! ... Tan Ciu ?! . ."
Dari lagu suara orang yang tersentak dan terputus hati Tan Ciu hampir mencelat.
Agaknya orang itu pernah mendengar dirinya, maka sangat terkejut.
Dikala orang tersebut mendengar nama Thio Bie Kie disebut, ia terkejut!Mendengar nama Tan Ciu disebut, ia lebih terkejut lagi.
= oooOdwOooo = Wanita yang berada didalam Guha Kematian terkejut karena Tan Ciu menyebut namanya.
itulah tidak masuk diakal, karena jarang sekali orang yang mengetahui dirinya telah menjadi penghuni Guha Kematian.
Tan Ciu menyebut nama dirinya dan wanita didalam guha gelap itupun lebih terkejut, ini agak tidak mudah dimengerti.
Apakah yang dikejutkan olehnya ?
"Hei...."
Tan Ciu berteriak.
"Kenalkah kepadaku?"
"Uh... Uh... mengapa harus kenal kepadamu?"
Suara itu memberikan jawaban yang samar-samar.
"Mengapa kau terkejut ?"
"Aku terkejut? Heh.... Nama Tan Ciu ini pernah kudengar."
"Siapa orang itu? Siapa yang memberi tahu namaku ?"
"Orang yang pernah masuk kedalam Guha Kematian. Kau putra Tan Kiam Lam bukan? Tidak perduli putra siapa. ada lebih baik bila kau bersedia meninggalkan guha."
"Bila tidak? Kau akan membunuh?"
"Aku belum pernah membunuh orang."
"Hanya memiringkan otak orang,"
Berkata Tan Ciu.
"Itupun lebih kejam dari pada pembunuhan."
"Hee, he. he . , . Kau pintar."
"Aku bersedia menanggung segala resiko, setelah kau menyembuhkan penyakit kawan wanitaku ini."
"Tidak mungkin."
"Tolonglah."
Tan Ciu mulai memohon.
"Dengarlah kata-kata peringatanku, segera kau meninggalkan Guha Kematian."
"Tidak . , . Ti ...dak . ."
Tan Ciu menjadi kalap, ia menerjang masuk.
Terdengar berkesiurnya angin, satu serangan menyerang pemuda itu.
Tan Ciu mengadakan tangkisan.
datang lagi lain serangan, bertubi-tubi.
didalam keadaan gelap gulita.
Tan Ciu berdaya.
tiba-tiba dirasakan kepalanya berat ada jari yang menotok dirinya, matanya terkatup tububhnya roboh, ia jatuh pingsan.
Keadaan masih tetap gelap .....
Satu bayangan menenteng Tan Ciu dengan lain tangan membawa tubuh Cang Ceng Ceng.
Bayangan inilah yang berdebat sekian lama diperut guha tadi.
Kemanakah Tan Ciu dibawa?
Bayangan itu sangat langsing, dengan menenteng dua tubuh.
ia dapat bergerak dengan leluasa, keadaan didalam guha sangat apal sekali.
Dengan menekan satu tombol.
lalu guha terbuka, berbeda dengan keadaan guha yang semula, guha ini sangat terang, Wajah wanita yang Tan Ciu kira sebagai Panghuni Guha Kematian ini telah terpetang jelas.
Ia belum tua, sangat muda, terlalu muda.
Tan Ciu telah jatuh pingsan.
maka tidak dapat menyebut nama si gadis.
bila Tan Ciu melihat pasti ia terkejut, inilah si Ular Golis dari eks perkumpulan Ang mo kauw.
Ang-mo kauw berarti perkumpulan Iblis Merah.Perkumpulan yang dibangun dan akhirnya jatuh dibawah tangan Sim In.
Dia bukan Thio Bie Kie?
Bukan.
Dia adalah murid Thio Bie Kie.
Si Ular Golis yang pernah Tan Ciu temukan di perkumpulan Ang mo kauw.
Kini mudah dimengerti, tatkala ia mendengar nama Tan Ciu, ia sangat terkejut.
Itulah pemuda yang pernah menolong dirinya.
Tidak dapat ia membiarkan pemuda tersebut rusak dibawah tangan gurunya.
Ular Golis adalah murid Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie, Membawa Tan Ciu dan Cang Ceng Ceng, si Ular Golis memasuki sebuah ruangan yan terang benderang, didalam ruangan itu berduduk seorang wanita berbaju hitam.
itulah penghuni Guna Kematian Thio Bie Kie, orang menjadi guru si Ular Golis.
"Ada orang masuk kedalam Guha Kematian?"
Bertanya Thio Bie Kie.
"Betul."
"Eh. mengapa kau membawa kemari ?"
"Dia ada urusan dan ingin bertemu dengan suhu."
"Mengapa tidak merusak pikiran otaknya?"
Thio Bi Kie mengadakan teguran.
"Suhu . .. Dia...dia mengetahui namamu."
"Oooo..."
"Dikatakan lagi, dia adalah murid Kho Liok cianpwe,"
"Aaaa....!"
Thio Bie Kie berteriak. Badannya gemetaran.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin .. !"
Dan akhirnya ia berhasil menguasai keterangan hati.
"Tidak mungkin!! Telah tiga puluh tahun ia mati...""Dari mana ia tahu nama itu?"
"Tentunya telah bertemu dengan Thio Ai Khie."
Thio Bie Kie mengeluarkan dugaan.
"Dia menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri, dikatakan membutuhkan pertolonganmu."
"Membawa seorang gadis yang terluka? Beratkah luka gadis itu."
"Sangat berat sekali."
"Yang gadis boleh kita terima. Dan setiap laki-laki adalah manusia kurang ajar, pemuda inipun tidak terkecuali, geser saja otaknya. Beres."
"Suhu ..."
"Mengapa?"
"Boleh aku mengajukan permohonan untuknya?"
Ular Golis ingin membalas budi yang Tan Ciu lepas kepadanya. Manakala Thio Bie Kie mengabulkan permintaan itu, ia luput dari kematian.
"Aku heran, mengapa kau tidak melakukan tugasmu dengan baik, ternyata ada sedikit cerita dibalik batu."
Berkata Thio Bie Kie.
"Suhu pada satu tahun yang lalu, dialah yang menyelamatkan jiwaku dari kematian."
Ular Gelis memberi penjelasan.
"Mungkinkah aku tidak pernah menyelamatkan jiwamu dari kematian?"
Bertanya Penghuni Guha Kematian itu.
"Suhu . ."
"Hm... Aku dapat menduga, siapa adanya pemuda ini. Dia adalah orang yang bernama Tan Ciu itu, bukan ?"
"Betul."
"Cintakah kau kepadanya."
Ular Golis menundukan kepala. Sangat rendah kebawah. Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie berkata dengan suara dingin.
"Apa dia juga cinta kepalamu?"
"Dia tidak tahu, apa yang terkandung didalam hatiku."
Berkata Ular Golis lemah.
"Lupakah kepada ceritaku? Aku menjadi korban dari korban perasaanku. Laki-laki tidak boleh dipercaya. Dan dia akan merusak hidupmu."
"Suhu . ."
"Kau sungguh mengecewakanku."
"Suhu, maafkan muridmu yang tidak dapat melakukan tugas ini. Suhu bersedia memberi pengampunan ?"
Thio Bie Kie memandang Tan Ciu karena hubungannya dengan Kho Liok, ia membenci setiap lelaki, termasuk juga Tan Ciu. Matanya beralih kearah Cang Ceng Ceng, dan ia berkata.
"Siapa gadis itu ?"
Ular Golis memberikan jawaban.
"Dikatakan kawan wanitanya ?"
"Hm... Laki-laki yang seperti ini tidak patut dibiarkan hidup segar, pandai mengambil hati Wanita, tukang memikat hati wanita."
Dengan sinar mata penuh kebencian. ia menggangkat tangannya. Ular Golis sangat paham akan sifat-sifat yang dimiliki sang guru, ia berteriak."M i n g g i r !"
Ular Golis menubruk baju, bertiarap diatas tubuh Tan Ciu dan sesambatan.
"Suhu, bunuhlah aku dahulu."
Thio Bie Kie menatap wajah sang muridnya, wajahnya yang galak telah berubah menjadi lemah. ia menurunkan tangannya.
"Oh... Cintamu salah tempat."
Ular Golis menatap wajah guru itu.
"Suhu bersedia mengampuni jiwanya?"
Ia meminta kepastian.
"Bukalah totokannya."
Thio Bie Kie memberi perintah.
Ular Golis melihat perobahan wajah guru itu.
segera ia tahu bahwa jiwa Tan Ciu dapat ditolong.
dengan beberapa totokan, ia menghidupkan jalan darah si pemuda yang disumbat.
Tan Ciu menggeliat bangun, terkenang akan kejadian yang belum lama dialami, sangkanya sudah mati, segera ia bergumam.
"Mungkinkah aku belum mati ?"
Terdergar suatu suara menyahuti.
"Bila tidak ada muridku yang mengajukan permohonan, tentunya kau telah mati."
Tan Ciu memandang kearah datangnya suara itu. sinar penerangan terang mempetakan gambar seorang wanita.
"Kau . .?"
Ia tidak kenal kepada Penghuni Guha Kematian.
"Aku adalah Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie."
"A a a a . .."
Per-lahan2 Tan Ciu memperhatikan isi guha itu, matanya tertumbuk dengan sepasang mata si Ular Golis, lagi2 ia berteriak.
"Aaa...!"
Ia berteriak.
"Masih kenal denganku?"
Ular Golis tertawa getir.
"Ular Golis?"
Hal ini berada diluar dugaan Tan Ciu, bagaimana Ular Golis dapat berada didalam Guha Kematian.
"Betul."
Gadis itu menganggukkan kepalanya, Tan Ciu sedang ber-pikir2 didalam perkumpulan Ang-mo-kauw Ular Golis telah menyerahkan obat Seng-hiat-hoan-hun-tan mungkin ada hubungan dengan Thio Bie Kie?
"Bagaimana kau berada ditempat ini?"
Ia ingin mengetahui duduk kejadian.
"Aku yang menolong dirinya,"
Berkata Penghuni Goha Kematian Thio Bie kie.
Ular Golis adalah anggota Ang mo-kauw, setelah Sim-in mati dengan sendirinya perkumpulan itu membubarkan diri.
Hari ini si gadis telah menjadi anak buah Guha Kematian.
Terdengar lagi Thio Bie Kie berkata.
"Berani kau masuk kedalam Guha Kematian. Nyalimu sungguh besar, he?"
"Ingin merusak otak pikiranku?"
Bertanya Tan Ciu.
"Inilah peraturan kami."
Berkata Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie. Tan Ciu tidak gentar. dengan tenang berkata.
"Aku berani masuk kemari. Hal ini sudah kuperhitungkan. Kawan wanitaku ini terkena olehpengaruh ilmu Ie-hun Tay-hoat, tolonglah kau memberi kebebasan."
"Akan kuusahakan."
Berkata Thio Bie Kie.
"Terima kasih. Kini aku menyerahkan diri."
Berkata Tan Ciu.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu"
Berkata lagi Penghuni Guha Kematian.
"Tentunya, kau telah berhasil bertemu dengan Thio Ai Kie ?"
"Ia tinggal tidak jauh dari sini."
Jawab Tan Ciu.
"Apa yang diceritakan kepadamu?"
"Kulihat kau telah salah paham. Kehidupannya jauh lebih menderita darimu. Ia sangat sengsara, penderitaan batin itu sukar dilenyapkan, Maksudku . .."
"Cukup."
Bentak Thio Bie Kie.
"Aku tidak mau mendengar cerita ini."
Walaupun demikian.
Karena Thio Ai Kie itu adalah satu2nya adik kandung.
satu-satunya orang yang paling dicintai.
perasaannya tidak lepas dari getaran kalbu.
terlihat jelas dari gerak geriknya yang berlainan.
"Bila kau tidak bersedia mendengar cerita aku tidak akan memaksa kau memasang kuping."
Berkata Tan Ciu.
"Kalian, kaum laki-laki adalah kaum penipu."
Berkata Thio Bie Kie penuh derita.
"Tidak ada seorang yang pernah kutipu,"
Berkata Tan Ciu.
"Bagaimana hubunganmu dengan muridku?"
Bertanya Penghuni Guha Kematian itu. Tan Ciu memandang si Ular Golis."Dia cinta padamu."
Berkata Thio Bie Kie.
"Oh ..."
Diluar dugaan Tan Ciu. Ia sangat terkejut.
"Bila bukan dia yang memohon pengampunan tidak mungkin Kau dapat mempertahankan kesegaran otakmu."
Tan Ciu tertegun. Tidak disangka bahwa gadis itu jatuh cinta pada dirinya. Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie berkata dengan sungguh-sungguh.
"Jalan yang terbentang dihadapanmu hanya ada dua jurusan."
Tan Ciu memandang wanita itu.
"Katakanlah."
"Jalan pertama, aku dapat memberi ampun kepadamu, dangan syarat harus menikah dengan muridku."
"A a a a a ...!"
Tan Ciu berteriak kaget. Tidak pernah disangka. dirinya akan dijodohkan dengan Ular Golis. Hal ini sulit untuk diterima. Memandang wanita tua itu. dengan menggoyangkan kepala ia berkata.
"Permintaan Cianpwe menyulitkan orang."
Thio Bie kie memancarkan sinar mata penasaran.
"Kau menolak."
"Boanpwe menolak."
Disamping mereka, si Ular Golis Sauw-tin menundukkan kepala. jawaban itu sudah berada didalam perhitungan dirinya. Thio Bie Kie membentak.
"Mengapa? Martabat muridku tidak dapat mengimbangimu?"
"Jodoh seseorang tidak dapat ditentukan dari seimbang atau tidak seimbang martabat-martabat mereka."
Tan Ciu menemukan alasan."Mengapa kau menolak mengawini muridku?"
Bertanya lagi Thio Bie Kie.
"Bila aku berniat mengawini dirinya. aku dapat bicara langsung dengannya. Tanpa adanya paksaan orang ketiga."
"Maksudmu aku tidak boleh memaksa."
"Kira-kira demikian."
"Bagus! Berani kau menentang diriku?"
Thio Bie Kie tidak puas.
"Cinta bukanlah sesuatu yang boleh diperintah oleh seseorang,"
Tan Ciu tidak gentar kepada Penghuni Guha Kematian.
Thio Bie Kie memperhatikan wajah si pemuda terlalu berani, sangat menantang.
berambekan besar, bertabiat keras, sangat luar biasa!
Kesan kepada Tan Ciu menjadi baik.
Teringat kepada cintanya yang mengalami kegagalan, mungkinkah jodohnya dengan Kho Liok dapat diperintah oleh seseorang.
Kenangan lama membuat Thio Bie Kie melamun.
Tan Ciu sangat puas dan ia berkata.
"Bagaimana dengan jalan kedua?"
Thio Bie Kie mengangkat pundak, ia berkata singkat. Sangat singkat, hanya satu patah kata.
"K e m a t i a n !"
Tan Ciu melototkan matanya. Ia masih muda tentu tidak ingin memilih jalan kematian. Thio Bie Kie berkata.
"Hanya dua jalan yang akan kusebutkanlah yang terbentang dihadapan dirimu."
Tan Ciu bungkam, menerima jalan yang telah ditentukan orang. ia tidak mau. Menentang petunjuk itu, berarti mempercepat riwayat hidupnya. Ular Golis Siauw Tin membuka mulut.
"Suhu ..."
"Jangan kau turut bicara!"
Thio Bie Kie membentak murid itu. Ular Golis bungkam. Thio Bie Kie memperhatikan Tan Ciu dan membentak pemuda itu.
"Lekas kau pilih dua jalan itu!"
"Tidak ada jalan ketiga?"
"Tanpa jalan lain."
"Apa boleh buat aku harus memilih jalan yang kau sebut belakangan."
Berkata Tan Ciu.
Suatu hal yang berada diluar dugaan Thio Bie Kie.
Ia menyediakan dua jalan kepada pemuda itu.
satu adalah jalan kematian, dan satu lainnya tersedia gadis cantik, jalan kebahagiaan.
Dengan alasan apa, Tan Ciu menolak kesenangan memilih kematian ?
Mungkinkah si pemuda tidak takut mati?
Tidak mungkin.
Semua orang akan berusaha menghindari diri dari kematian, menjauhi kematian.
termasuk juga pemuda yang berada didepannya.
Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie mengeluarkan suara gerengan, kini mengangkat tangannya, bertindak maju mendekati pemuda itu.
Ular Golis menjadi kaget, ia berteriak.
"Suhu . .!"
"Tutup mulut."
Bentak wanita itu.
"Pergi kau menyingkir jauh-jauh."
Ular Golis sudah membuka mulut.
maksud ingin memohon lagi.
dibentak seperti itu.
hatinya menjadi ciut, ketahui jelas.
segala langkah sang guru sangatlah keras, tidak boleh diganggu.
Thio Bie Kie telah maju satu tapak.
Tiba-tiba Tan Ciu berteriak.
Wajah Thio Bie Kie menjadi terang.
Dengan puas ia berkata.
"Bersedia menerima tawaranku?"
"Tidak."
Berkata Tan Ciu.
"Apa lagi yang ingin kau kemukakan?"
Bertanya wanita itu. Ia mengerutkan alis.
"Sebelum aku mati, ada beberapa patah kata yang ingin kukatakan. pesan ini kutujukan kepada muridmu."
O00de-^-wi00O Jilid16 IA menunjuk kearah Ular Golis. Gadis itu telah basah dengan air mata, cepat-cepat ia berkata.
"Apa yang ingin kau katakan ?"
Tan Ciu berkata.
"Aku mendapat pesan dari Thio Ai Kie cianpwe untuk menyampaikan rasa penyesalannya kepada gurumu. Aku tidak berhasil, kini jiwaku sudah berada diambang pintu kematian, tugas ini kuserahkan kepadamu ..."
"Akan kuusahakan."
Berkata Ular Golis Siauw-tin, sikapnya sangat sedih.
"Permintaanku yang kedua ialah, tolong kau sampaikan khabar kematianku kepada seorang kakek bungkuk yang bernama Kui Tho Cu. dia berada didalam Benteng Penggantungan."
Ular Golis menganggukkan kepalanya, ia menyanggupi tugas itu.
"Dan dari Kui Tho Cu itu, kau dapat mengetahui orang yang harus kubunuh tolong wakilkan diriku membunuh orang itu. Bersediakah?"
Sekali lagi Ular Golis menganggukkan kepala.
"Terima kasih."
Tan Ciu mengakhiri percakapan itu. Kini ia menghadapi Thio Bie Kie, menyerahkan diri kepada Penghuni Guha kematian.
"Bunuhlah."
Ia berkata.
Atas sikap si pemuda yang sangat berani, Thio Bie Kie harus menaruh salut, walaupun demikian, ia harus mempertahankan gengsinya.
ialah dikatakan ingin memburuh pemuda itu dan kata-kata ini harus dilaksanakan, tangannya diangkat lagi.
Tan Ciu mengerti, hal ini tidak dapat dielakkan.
ada baiknya ia bersikap Kesatria.
Mati tanpa keluhan suara.
Manakala Thio Bie Kie hendak menurunkan tangan maut, tiba-tiba wajahnya berkerut.
matanya berpaling kearah pintu guha seolah-olah terdengar sesuatu hendak melihat sesuatu yang belum diketahui.
Tan Ciu memandang segala perubahan itu dengan rada berkesiap.
Ular Golis Siauw Tin berteriak.
"Suhu, ada orang datang."Thio Bie Kie menganggukkan kepala. ia berkata pada sang murid.
"Jaga baik-baik orang ini."
Tubuhnya melesat, meninggalkan mereka. Datangnya orang itu disaat yang tepat. Tan Ciu terhindar dari kematian. Ular Golis mendekati pemuda itu, ia memanggil perlahan.
"Tan Ciu, sangat menyesal. aku tak dapat berbuat sesuatu, guruku terlalu keras serta berkepala batu, sulit untuk berdebat dengannja,"
"Aku tahu."
Berkata Tan Ciu tertawa getir.
"Eh, bagaimanakah harus memanggilmu?"
"Namaku Siauw Tin. panggil saja dengan nama sebutan itu."
"Siauw Tin, bukan maksudku memandang rendah atau menghina dirimu, penolakanku atas usul gurumu yang ingin memaksakan perjodohan kita berdasarkan kenyataan."
"Seharusnya kau menerima tawaran itu."
Berkata Siauw Tin. Hati Tan Ciu tergetar.
"Mengikat tali hubungan suami isteri denganmu? Mungkinkah kau bersedia?"
"Aku tidak keberatan. Dimisalkan kau tidak cinta padaku, akupun tidak memaksa. Jalan yang terbaik ialah turuti dahulu segala kemauan guruku, setelah itu dikemudian hari kita dapat menentukan hidup sendiri, boleh kita berpisah lagi setelah kita keluar dari GuhaKematian kau bebas memilih gadis lain sebagai isteri yang sah."
"Aku tidak dapat menodai namamu."
"Turutlah nasehatku, maka kau dapat bebas dari kematian. Aku berjanji, aku tidak akan mengikat kebebasanmu untuk memilih istri."
"Kau sudah berpikir tentang segala akibat dari langkah ini ?"
"Berpikirlah kepada keselamatan jiwamu."
"Aku berteiima kasih kepada pengorbananmu."
"Kau bersedia menerima usulku?"
"Baiklah."
"Aku berjanji, aku tidak mengekang kau memilih istri."
Cerita diatas adalah cerita didalam Guha Kematian. Diluar Guha kematian, satu bayangan muncul cepat memasuki guha gelap itu. Thio Bie Kie memapaki datangnya bayangan itu, ia membertak.
"Siapa!"
Bayangan itu berhenti, dengan suara penuh derita memanggil.
"Cie cie... ."
Dia adalah penghuni rumah kayu, wanita berambut panjang Thio Ai Kie, adik dari penghuni Guha Kematian. Thio Bie Kia berhenti dengan ketus ia berkata.
"Siapa yang kau panggil? Aku tidak kenal kepadamu.""Ciecie. lupakah kepala suara adikmu?"
Bertanya Thio Ai Kie sedih.
"Tidak dapatkah kau memaafkan kesalahanku ?"
"Aku tidak mempunyai adik."
Berkata Thio Bie Kie dingin.
"Ciecie. aku mohon pengampunan."
"Cukup."
"Ciecie."
"Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jangan sekali-kali kau memasuki tempat ini lagi. Lekas keluar!"
"Ciecie..."
"Segera kubunuh dirimu. Tahu?"
"Kau tidak dapat memaafkan kesalahanku."
"Lekas kau pergi."
Penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie mengusir adik itu.
"Baik kau tidak dapat memberikan pengampunan, kedatanganku ini ada maksud tujuan lain, kuharap kau tidak mengganggu Tan Ciu."
"Hmm .... Tan Ciu? ...Segera akan kubunuh pemuda itu."
"Aku memohon keikhlasan hatimu."
"Aku bukan seorang pemurah."
Thio Ai Kie putus harapan. Timbul rasa kecewanya. Tiba-tiba ia menjadi panas hati, dengan kemarahan yang meluap-luap, ia berkata.
"Kau kejam?"
Thio Bie Kie mengeluarkan suara dari hidung.
"Hanya karena seorang laki-laki, kau menjadikan dirimu sebagai manusia aneh, kau merusak diri sendiri. Kau telah merusak penghidupan tenang."
"Kau adalah biang keladi kekacauan."
Berkata Thio Bie Kie.
"Kau telah membunuh dirinya."
"Aku sangat menyesal."
Berkata Thio Bie Kie.
"ia yang segala sesuatu telah terjadi. apa yang dapat kulakukan? Kecuali beruraha mengenang kesalahan itu? Tidak seperti dirimu mengerusak diri sendiri, mengerusak diri orang. Selama ini, berapa banyakkah orang yang telah kau rusak, apakah yang kau dapat dari hasil perbuatanmu itu ?"
"Kepuasan."
"Aku telah melakukan suatu kesalahan tanpa disengaja. Tapi kau melakukan kesalahan2 yang kau ketahui, betapa jahatnya perbuatanmu itu."
"Tutup mulutmu."
"Aku salah. Kau juga salah. Aku berusaha membenarkan kesalahanku. mengapa kau kukuh menyiksa diri sendiri?"
"Huh. ingin memberi nasehat kepadaku."
"Betul. Hari ini aku ada niatan untuk memberi nasehat kepadamu."
"Bagus! Kau sudah berani. hee?"
Wajah Thio Bie Kie membawakan sikap pembunuhan.
Ia harus membunuh adik perempuan ini.
Disertai dengan bentakannya, ia telah menyerang Thio Ai Kie.
Serangan itu mengandung kekuatan yang memecah gunung membelah laut.
latihan tenaga dalam sipenghuni Guha Kematian memang luar biasa.Thio Ai Kie dipaksa mengadakan perlawanan, ia berkata.
"Ciecie, kau terlalu sekali."
Pertama kali Thio Ai Kie mengunjungi Guha Kematian, hampir ia mati dibunuh tangan kejam itu, Itu waktu.
ia tidak mengadakan perlawanan, rasa penyesalan yang tak terhingga telah memasrahkan dirinya.
Kini ia mengerti, orang yang sudah mati tidak dapat dibangkitkan kembali.
dan ia harus menolong orang yang belum mati.
Tan Ciu tentu berada didalam bahaya.
Kakak beradik itu mempunyai ilmu silat yang tinggi, begitu bergerak, sulit untuk membedakan kedua bayangan, mereka gesit, mereka cepat, saling serang dan saling bertahan.
Masing-masing harus mempertahankan diri mereka.
Drama baru yang akan mengotori sejarah dunia, dua saudara sedaging bertanding, disamping mereka adalah jurang maut, siapa lengah pasti binasa, mati ditangan saudara sendiri!
Dalam sekejap mata, masing-masing telah mengeluarkan lima kali serangan.
Dua wanita bergebrak didalam mulut Guha Kematian, mereka adalah sepasang perdedar kakak beradik Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie.
Sepuluh jurus lagi telah dilewatkan.
Belum ada tanda-tanda akan berakhirnya pertandingan itu.
yang satu gesit yang satu lincah.
yang satu lihay dan yang lainnya kosen, ilmu kepandaian mereka adalah hasil didikan seorang guru.
Masing-masing dapat mengetahui.
tipu-tipu bagaimana yang akan dilontarkan oleh lawannya.Dua bayangan menyusuri Guha Kematian, mereka keluar dari dalam menuju kearah dua orang yang sedang berkutet seru itu.
Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie mengirim satu pukulan, setelah itu mereka terpisah.
Dua pasang mata menuju kearah dua bayangan yang keluar dari dalam perut guha itu, Mereka adalah Tan Ciu dan Siauw Tin.
Thio Bie Kie memandang Siauw Tin.
sikapnya sangat marah.
"Mengapa kau mengijinkan dia meninggalkan tempat?"
Demikianlah kira-kira teguran guru tersebut kepala sang murid yang ditugaskan menjaga Tan Ciu.
Thio Ai Kie memandang Tao Ciu, ia girang melihat keselamatan sipemuda yang belum terganggu.
Tan Ciu segera mengenali kepada penghuni rumah kayu berambut panjang itu, ia menunjukan hormatnya.
"Cianpwe. ."
Thio Ai Kie membalas dengan satu anggukkan kepala.
"Bagaimana kalian bergebrak tangan?"
Berkata Tan Ciu kepada kedua wanita itu.
"Jangan kau turut campur urusan ini."
Berkata Thio Bie Kie. Thio Ai Kie berkata.
"Ia ingin membunuh diriku. Apa boleh buat. Aku harus melayaninya."
"Kalian adalah adik dan kakak, seharusnya..."
Tan Ciu ada maksud untuk menjadi juru pemisah. Thio Bie kie membentak.
"Hei. ingin campur tangan urusan orang?"Tan Ciu berusaha menyabarkan diri, dengan tenang ia berkata.
"Begitu bencikah kau kepada adik kandung sendiri?"
"Aku harus membunuh adik yang merusak kehidupanku."
Berkata Thio Bie Kie.
"Dimisalkan kau berhasil membunuhnya, hasil apakah yang kau dapat dari pembunuhan itu?"
"Kurang ajar!"
Thio Bie Kie sangat marah, tangannya dilayangkan memukul pemuda itu.
Thio Ai Kie telah siap sedia, begitu melihat gerakan sang kakak.
tubuhnya telah melesat menyelak ditengah kedua orang itu.
ia menangkis serangan yang ditujukan kearah Tan Ciu.
Kakak beradik itu bertempur kembali, Tan Ciu membentang bacot.
"Thio Bie Kie cianpwe ..."
Thio Bie Kie tidak melayani panggilan pemuda itu, dirinya sedang digencar serangan serangan oleh sang adik. ia menangkis setiap serangan itu.
"Thio Bie Kie cianpwe, tidak ada alasanmu untuk membunuh adik kandungmu sendiri."
Berteriak lagi Tan Ciu. Kini Thio Bie Kie merangsek Thio Ai Kie, mendengar kata-kata si pemuda. ia mengundurkan serangannya, serta merta mendebat.
"Ia juga membunuh orang yang kukasihi."
"Kesalahan itu telah ditebus, betapa menderita ia karenanya, penderitaan ini lebih berat dari segala penderitaan yang ada."
"Maka, aku harus membunuhnya."
Berkata lagi Thio Bie Kie sambil menyingkirkan diri dari serangan Thio Ai Kie. Tan Ciu masih tidak mau menutup mulut. ia berkata.
"Dimisalkan kau berhasil membunuhnya, mungkinkah Kho Liok cianpwe dapat bangkit dari liang kubur? Apa lagi mengingat ilmu kepandaian kalian yang sama kuat, mungkinkah dapat membunuh Thio Ai Kie cianpwe dengan mudah?"
Thio Bie Kie tertegun, ia terpaku ditempat.
Hampir-hampir menjadi korban pukulan sang adik.
Beruntung Thio Ai Kie tak ada niatan untuk membunuh kakak itu, ia menarik pulang serangan dan berdiri disamping dinding guha.
Pertempuran terhenti karenanya.
Tan Ciu berkata lagi.
"Kenangkanlah kembali penghidupan kalian dimasa kecil, kalian hanya hidup berdua, tolong menolong dan bantu membantu, betapa mesra hidup seperti itu. Satu sama lain saling mencinta, kalian adalah kakak beradik teladan. Binalah kembali kemesraan hidup itu."
"Tidak seharusnya ia membunuh orang yang kucintai."
Thio Bie Kie berteriak.
"Berpikirlah lagi, cinta tidak dapat diabadikan secara sepihak, kau cinta kepada Kho LioK cianpwe, tapi cintakah Kho Liok cianpwe kepadamu. Janganlah kau mementingkan diri sendiri saja, berpikirlah kepada kebahagiaan adikmu. dia adalah orang yang Kho Liok cianpwe cintai. cinta ini tidak dapat kau rebut begitu saja."
Thio Bie Kie membelalakan mata, kemudian meruntuhkan pandangan itu ketanah."Berpikirlah. siapa diantara kalian berdua yang Kho Liok cianpwe cintai?"
Tegur lagi Tan Ciu kepada penghuni Guha Kematian itu.
"Oh......."
Thio Bie Kie mengeluarkan keluhan tertahan.
"Mungkinkah kau tidak tahu cinta orang?"
Desak lagi Tan Ciu kepadanya.
Thio Bie Kie lebih mengerti tentang cinta.
Dia maklum bahwa orang yang Kho Liok betul-betul cintai bukanlah dirinya.
Kho Liok lebih cinta kepada Thio Ai Kie, hubungannya dengan Kho Liok berdasarkan budi yang telah ditanam.
berlangsungnya hubungan mereka berada didalam keadaan lupa daratan.
dikala Kho Liok belum berhasil menguasai kejernihan pikirannya.
Demikian hal itu terjadi.
Tan Ciu menerusKan pembicaraannya.
"Cinta bukanlah semacam barang dagangan, karena itu ia tidak dapat dipaksakan. Mengambil contoh kejadian tadi, kau memaksa aku mengawini Siauw Tin, apa akibat kejadian itu bila aku menerima tawaranmu? Kukira akan seperti Kho Liok cianpwe denganmu"
Thio Bie Kie diam ditempat. Tan Ciu menyambung lagi pembicaraannya.
"Kini Kho Liok cianpwe telah tiada, dialam baka ia pasti bersedih, atas ketidak akurannya kalian dua saudara."
Ini waktu si Ular Golis Siauw Tin turut membujuk sang guru.
"Suhu ada baiknya kau menerima rumusan Tan Ciu."
Thio Ai Kie juga memanggil.
"Cie cie, aku berjanji untuk menyenangkan dirimu..."Tiba-tiba Thio Bie Kie telah berteriak.
"Bagus. Kalian telah mengadakan persekongkolan, kalian menghina diriku ... Uh . .. nasibku memang sial sekali..."
Ia membalikkan badan, lari masuk kedalam guha gelap.
Semua orang terpaku.
Sayup-sayup terdengar suara tangis isak Thio Bie Kie, datangnya dari guha dalam.
Thio Ai Kie, Tan Ciu dan Siauw Tin melangkahkan kaki mereka, menuju kearah guha dalam.
Sebentar kemudian, mereka berhasil menemukan Thio Bie Kie, si penghuni Guha Kematian yang sedang menangis sesenggukkan ditempat pembaringan.
Tan Ciu memandang Siauw Tin.
Dan gadis yang dipandang menganggukkan Kepalanya, dengan suara perlahan ia berkata.
"Kukira. bujukanmu telah berhasil."
"Mungkinkah ia marah kepadaku?"
"Aku percaya, ia dapat mengubah sifat-sifat lamanya."
Disaat Itu. Thio Ai Kie telah mendekati sang kakak. Ia memanggil perlahan.
"Cicie...."
Thio Bie Kie menangis semakin keras. Thio Ai Kie bersujud dihadapan kakaknya dengan sedih ia berkata.
"Cicie. mungkinkah kau tidak dapat memaafkan kesalahanku?"
Thio Bie Kie mendongakan kepala, dengan mata basah, ia memandang adik itu.
Tiba-tiba Thio Ai Kie menubruk, ia turut menangis mengucurkan air mata.
Thio Bie Kie membiarkan dirinya dipeluk, sikapnya masih tetap dingin."Ciecie."
Panggil lagi Thio Ai Kie.
"Bila kau tetap membenciku, bunuhlah aku, aku sudah bosan hidup, apa guna hidup sebatang kara? Hidup merana seperti ini?"
Tiba-tiba Thio Bie Kie balas memeluk adiknya.
kini ia telah insaf, tiada guna membenci adik itu.
telah lama ia kehilangan kasih sayang seorang adik, dan kini adik itu telah kembali.
Mereka saling panggil.
"Moay-moay , ."
"Ciecie ..."
Mereka saling peluk, mereka menangis bersama.
Kesalah pahaman berhasil dilenyapkan, kakak beradik itu telah saling memaafkan kesalahan masing-masing, kini mereka telah berhasil kembali.
Tan Ciu dan Siauw Tin turut menyaksikan kejadian tadi, merekapun mengeluarkan air mata, air mata terharu, air mata gembira, mereka terharu atas kejadian yang menimpa diri Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie.
mereka gembira karena berhasil menyatukan kembali dua saudara itu.
Berapa lama kejadian berlangsung ...
Suatu saat, Thio Ai Kie meloloskan diri dari rangkulan dan pelukan kakaknya, ia memanggil perlahan.
"Ciecie ..."
Thio Bie Kie menyusut air matanya.
"Ciecie ..."
Panggil lagi Thio Ai Kie.
"Kau telah memaafkan kesalahanku?"
Thio Bie Kie anggukkan kepala perlahan.
"Semua itu telah lewat ..."
Ia mengoceh perlahan.
"Betul, semua telah lewat, kita harus memulai dengan hidup baru."
Demikian Thio Ai Kie berkata."Kita telah tua . ."
"Aku menyesal sekali ..."
Berkata Thio Ai Kie.
"Mengapa aku dapat membunuh dirinya?"
"Dimanakah kini kau menaruh jenazahnya."
Bertanya Thio Bie Kie.
"Telah dikebumikan."
"Ooooo . .."
"Ciecie, masih dapatkah kau menyayang diriku. Menyayang seperti dijaman kanak-kanak kita?"
"Tidak seharusnya kita berpisah, hanya gara-gara seorang lelaki, tidak seharusnya kita saling benci."
"Oh, ciecie .., kau baik sekali."
Mereka memandang kearah Tan Ciu.
"Kita orang-orang harus berterima kasih kepadanya."
Berkata Thio Ai Kie. Thio Bie Kie menganggukkan kepala. Siauw Tin berteriak girang.
"Suhu, tentunya kau tidak mengganggu orang lagi, bukan?"
Thio Ai Kie terkejut.
"Kau hendak membunuh Tan Ciu?"
Ia bertanya cepat.
"Kini tidak."
Thio Bie Kie menggelengkan kepala.
"Dia adalah seorang pemuda baik."
Tan Ciu menunjukkan hormatnya ia berkata.
"Terima kasih kepada kemurahan hati Cianpwe."
Siauw Tin melirik kearah pemuda itu, dan mereka tertawa mengerti.Thio Bie Kie berkata.
"Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih. Kau telah menolong kami dari kesepian. Kau telah menyatukan kami dari kembali."
Thio Bie Kie, Thio Ai Kie, Tan Ciu dan Siauw Tin merasa puas akan kesudahan dari kejadian itu.
Kedatangan Tan Ciu telah melenyapkan keangkeran Guha Kematian.
Mulai dari saat itu.
mereka melenyapkan peraturan-peraturan yang mengganggu ketenangan orang.
-oOdwOo -Didalam sebuah guha.
berdiri tiga wanita dan seorang laki-laki, mereka adalah Thio Bie Kie.
Thio Ai Kie.
Siauw Tin dan Tan Ciu.
Dipembaringan, tertidur seorang gadis berbaju putih, itulah Cang Ceng-ceng.
Tan Ciu berkata.
"Cianpwe, lekaslah menolong dirinya,"
Thio Bie Kie berkata.
"Jangan khawatir, telah kujanjikan untuk menolong dirinya. Kau boleh melegakan hati."
"Telah terlalu lama ia dikekang oleh ilmu Ie-hun Tay-hoat."
Tan Ciu memberikan keterangan.
"Aku tahu. Sebelumnya aku hendak bertanya, bagaimana hubunganmu dengannya?"
"Kawan biasa."
Berkata Tan Ciu.
"Kawan biasa?"
Mengulang Thio Bie Kie.
"Bukan kekasihmu."
"B e t u l."
"Timbul niatanku untuk menyerahkan sesuatu kepadamu?"
Kemudian memandang sang adik, dan Thio Bie Kie berkata.
"Moay-moay umur kita sudah tua bukan?"
"Maksudmu?"
Thio Ai Kie belum mengerti.
"Apa guna kita mengangkangi ilmu kepandaian, tanpa digunakan?"
Thio Ai Kie segera dapat menduga maksud tujuan kakak itu.
"Kau artikan."
"Ada baiknya menyerahkan ilmu kepandaian kita, dengan demikian. kita dapat membalas budi jasanya."
"Setuju."
Thio Ai Kie berteriak.
Tan Ciu tertegun.
Kejadian yang berada diluar dugaannya, Maksudnya Tan Ciu masuk kedalam Guha Kematian untuk menolong Cang Ceng-ceng.
tentu harus mengadakan sedikit pengorbanan, jiwanya sudah siap disumbangkan.
Kini ia batal mati.
bahkan mendapat hadiah ilmu silat.
Sungguh diluar dugaan.
Siauw Tin menarik lengan baju si pemuda dan berkata kepadanya.
"Lekas kau ucapkan terima kasihmu."
"Mengucapkan terima kasih?"
"Betul. Mereka akan memberi pelajaran ilmu silat kepadamu."
"A a a a ... Mana boleh?"
Thio Bie Kie berkata.
"Mungkinkah segan kepada ilmu silat Guha Kematian? Ilmu sesat kau kira?"
"Oh. tidak pernah terpikir sampai kesitu."
Cepat Tan Ciu berkata.Thio Ai Kie juga berkata.
"Tan Ciu, kau hendak melawan orang-orang kuat menuntut balas. Bila kau bersedia menerima ilmu silat kami, tentu mendapat kemajuan yang pesat."
Tan Ciu mengucapkan terima kasihnya. Thio Bie Kie berkata.
"Ilmu kami tidak mudah dipelajari, kau harus tinggal didalam Guha Kematian untuk beberapa waktu."
"Tentu."
Tan Ciu tidak keberatan. Menunjuk kearah Cang Ceng-ceng, Thio Bie Kie berkata.
"Kau dapat ditinggalkan olehnya."
"Akh, cianpwe pandai bergurau. Ternyata cianpwe sangat ramah, seperti tadi, sangat galak sekali."
Thio Bie Kie tertawa.
Siauw Tin mengikuti percakapan mereka, didalam hati gadis ini, timbul semacam perasaan yang sulit dikeluarkan.
Thio Bie Kie telah menghampiri perbaringan, memegang dan memeriksa urat nadi Cang Ceng-ceng, tiba-tiba ia berteriak.
"Hee, mengapa boleh terjadi seperti ini?"
Tan Ciu terkejut.
"Mengapa?"
Si pemuda menjadi khawatir.
"Ia dikekang oleh ilmu Ie-hun Tay-hoat, dirinya menderita luka parah, setelah itu ditotok lama, peredaran darahnya menjadi beku, ketiga macam tekanan ini memberatkan lukanya."
"Tentu cianpwe dapat menyembuhkannya, bukan?"
Bertanya Tan Ciu penuh harapan."Aku tidak berdaya."
Berkata Thio Bie Kie.
"A a a a a .. .!"
Wajah Tan Ciu berubah.
"Tidak dapat ditolong sama sekali?"
"Betul. Aku tidak dapat menolongnya?"
"Uh... Cianpwe , . tolonglah... ."
"Ha. ha. ha . .!"
Tiba-tiba Thio Bie Kie tertawa. Tan Ciu tidak mengerti. Thio Bie Kie berkata.
"Bila bukan kekasihmu, mungkinkah kau prihatin seperti ini?"
Tan Ciu mengerti, ternyata Penghuni Guha Kematian sedang menggoda dirinya.
"Cianpwe membikin orang bingung saja."
Ia berkata.
"Aku ingin mengetahui hatimu."
Berkata Thio Bie Kie.
"Sesungguhnya.luka kawan wanitamu ini memang agak berat."
"Tapi Cianpwe dapat menyembuhkannya, bukan ?"
"Tentu. aku membutuhkan waktu dua hari tanpa gangguan. Kalau boleh meninggalkan ruangan ini."
Tan Ciu menganggukkan kepalanya. Thio Ai Kie berkata.
"Cicie, aku harus pulang dahulu. Sin Hong Hiap masih berada didalam rumahku."
Tan Ciu terkejut.
"Bagaimanakah kejadian itu?"
Ia bertanya.
"Dia telah menjadi tamuku. Sikapnya yang tidak memandang orang telah berhasil kutekan. Kini ia tahubahwa didalam dunia, masih tak sedikit orang berkepandaian tinggi yang dapat mengalahknnnya."
"Bagus. Kukira, ia tak akan mengganggu diriku lagi."
"Tentu saja. Setelah mewarisi ilmu kepandaian ciecieku, siapakah yang dapat menandingimu?"
"Cianpwe memuji."
Setelah meminta diri.
Thio Ai Kie meninggalkan Guha kematian, kembali kerumah kayunya.
Siauw Tin mengajak Tan Ciu keluar dari ruangan itu, membiarkan sang guru mengobati Cang Ceng Ceng.
Menyusuri lorong-lorong didalam guha itu, Tan Ciu dan Siauw Tin bercakap-cakap.
"Pernahkah gurumu menyembuhkan seseorang yang menderita tekanan ilmu Ie-hun Tay-hoat."
Demikian Tan Ciu bertanya.
"Belum."
Tan Ciu menghela napas.
"Jangan khawatir,"
Siauw Tin memberi hiburan.
"Guruku telah memberi kesanggupan, pasti ia dapat menyembuhkannya."
Dimulut si Ular Golis mengucapkan kata2 seperti itu, didalam hati, rasa sedihnya tidak kepalang. Tanpa disadari dua butir air mata jatuh ketanah. Tan Ciu terkejut.
"Eh, kau mengapa?"
Si pemuda bertanya.
"Ternyata kau sangat cinta kepadanya."
Berkata Siauw Tin penuh cemburu. Siauw Tin cemburu kepada Cang Ceng-ceng,Tan Ciu berkata.
"Dia telah menolong diriku."
Siauw Tin cemberut.
"Mungkinkah aku tidak pernah menolong dirimu?"
Ia menegur si pemuda.
Sangat jelas tujuan arti kata-kata Siauw Tin sebagai berikut.
'Dia menolong dirimu maka kau jatuh cinta.
Dikala aku menolong dirimu mengapa kau tidak mau menyintaiku?' Tan Ciu tertawa.
dan berkatalah ia.
"Aku tahu. Kau telah menolong diriku. Tidak akan kulupakan budi ini!"
"Siapa yang kesudian dilupakan."
Bersungut sengit si gadis.
"Maksudmu?"
"Aku lebih senang mendapat perhatianmu."
"Tentu, aku selalu memperhatikan dirimu."
"Hah....Cinta yang kumaksudkan."
Berkata Siauw Tin menyeploskan kata-kata tadi, setelah itu, ia menundukkan kepala malu. Aah... .Hal ini sudah berada didalam dugaan si pemuda.
"Sayang kau sudah mempunyai seorang Cang Ceng-ceng."
Berkata lagi Siauw Tin lemah.
"Siauw Tin...."
Si gadis mengegoskan diri.
ia menangis sedih, Tanpa dirasakan, kedua makhluk itu berpelukan.
Dibawah tatapan Siauw Tin yang terlalu panas, hati Tan Ciu menjadi gugup.
Ia menciumi gadis itu.Mereka berbisik-bisik, bercerita dan merasakan kegembiraan, kemesraan dan manisnya asmara.
Siauw Tin bercerita, setelah Tan Ciu meninggalkan Ang-mo-kauw.
Datang Ketua Benteng Penggantungan Han Thian Chiu tentu saja.
SI Telapak Dingin masih menggunakan wajah Tan Kiam Lam, ia membunuh semua isi dari perkumpulan itu, semua kejahatan dijatuhkan kepada Tan Kiam Lam.
Dan perkumpulan Ang-mo-kauw hancur berantakan.
Beruntung Thio Bie Kie lewat ditempat itu secara kebetulan.
Siauw Tin ditolong olehnya.
Demikian ia menjadi murid sipenghuni Guha Kematian.
Tan Ciu mendengar cerita itu dengan penuh perhatian.
Suatu waktu, tiba-tiba Siauw Tin berkata.
"Eh, ada orang yang masuk guha?"
"Mungkinkah susiokmu balik kembali?"
Tan Ciu mengemukakan dugaannya. Yang diartikan dengan susiok Siauw Tin adalah Thio Ai Kie.
"Bukan."
Siauw Tin menggelengkan kepala.
"Belum lama ia pergi, mana mungkin ia begitu cepat kembali?"
"Menurut dugaanmu...."
"Mari kita melihatnya."
Siauw Tin menggandeng tangan si pemuda menuju kemulut guha.
Tan Ciu dan Siauw Tin bersembunyi didalam guha.
mereka menunggu kedatangan orang-orang itu.
Terdengar suara seorang wanita yang memberi perintah.
"Kalian menunggu disini. biar aku yang masuk kedalam."
Terdengar langkah orang ini yang memasuki guha Kematian. Siauw Tin segera membentak.
"Berberti !"
Orang itu terkejut. segera menghentikan langkah.
"Tongcu Guha Kematian?"
Suara itu agak gemetaran, ia bertanya. Tongcu berarti pemilik atau penghuni guha. Siauw Tin tidak menjawab, sebaliknya membentak lagi.
"Apa maksudmu mengunjungi Guha Kematian!?"
Suaranya saagat galak, seolah-olah dia adalah penguasa didalam Guha Kematian. Wanita yang baru datang tidak berani bersikap kurang ajar, dengan hormat berkata.
"Kami ingin menyampaikan sesuatu."
"Sebutkan dulu namamu!"
Bentak lagi si Ular Golis.
"Hu-hoat dari perkumpulan Kim-ie-kauw Kim Sam nio."
Berkata wanita itu.
"Ada urusan apa kau kemari?"
"Atas perintah Kauwcu. Kami Kim Sam Nio mendapat tugas untuk menyampaikan undangan, kauwcu kami sangat mengagumi ilmu kepandaian Tongcu, bila tongcu tak keberatan Kim-ie-kauw bersedia memberi suatu kedudukan."
"Hendak mengajak aku masuk kedalam perkumpulan Kim ie-kauw!"
Bertanya Siauw Tin galak. Ia membawakan sikapnya yang agung dia adalah wakil dari sang guru, setiap waktu dapat memberi putusan.
"Kami menyediakan kedudukan wakil kauwcu kepada cianpwe."Siauw Tin berkata dingin.
"Terima kasih. Huh! Wakil ketua Kim ie kauw? Kalian perkumpulan baju kuning menganggap diri kalian hebat? Menyerahkan kedudukan ketua pun akan kutolak. Apalagi kedudukan wakit kauwcu, huh! .., ."
"Maksud ketua kami agar."
"Cukup! Beri tahu kepadanya. Penghuni Guha Kemaitan menolak menggabungkan diri."
"Akan kami beritahu kepada ketua kami."
Demikan berkata wanita berbaju kuning yang bernama Kim Sam Nio itu.
"Eh. mengapa kau belum pergi?"
Tegur Siauw Tin. Ternyata Kim Sam Nio belum keluar dari Guha Kematian.
"Kami masih ada urusan kedua."
"Lekas katakan."
"Kami ingin menanyakan seseorang..."
"Sebutkan nama orang itu."
"Seorang pemuda yang bernama Tan Ciu. Tentunya dia telah masuk kedalam guha."
Hati Siauw Tin tergetar. segera ia berkata.
"Betul! Mengapa menanyakan dirinya ?"
"Tan Ciu membawa Seorang gadis berbaju putih memasuki Guha Kematian, maksudnya ingin meminta pengobatan."
"Betul ada hubungan apa denganmu ?"
SaTU rombongan orang berbaju kuning mendatangi Guha Kematian.
Mereka berada dibawah pimpinan Hu-hoat perkumpulan itu, namanya Kim Sam Nio.
Setelahmengatur orangnya, Kim Sam Nio memasuki Guha Kematian.
Ia menanyakan tentang soal Tan Ciu.
Siauw Tin belum tahu maksud tujuan dari lawan itu.
maka ia mengajukan pertanyaan.
kim Sam NiO menjawab.
"Tan Ciu telah membunuh orang kami, karena itu, ketua wajib menangkapnya. Mohon bantuan Tongcu untuk menyerahkannya kepada kami."
"Hmmm ..."
Siauw Tin berdengus.
"Tongcu keberatan?"
"Tentu."
"Baik. Kim Sam Nio sekalian meminta diri,"
"Silahkan. Segera kalian enyah dari tempat ini."
Suara Siauw Tin sangat galak.
Kim Sam Nio membalikkan badan, dan ia keluar dari Guha Kematian.
Tan Ciu telah mengikuti percakapan mereka, ia heran.
bagaimana orang2 berbaju kuning itu tahu bahwa dirinya memasuki Guha Kematian ?
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab.
Kim Sam Nio mengajak orang-orangnya pergi dari tempat itu.
Siauw Tin mengajak Tan Ciu kembali, dan pemuda itu harus bermalam didalam Guha Kematian.
Dua hari kemudian ...
Dibawah rawatan penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie, penyakit tekanan Ie-hun Tay-hoat yang mengekang Cang Ceng-ceng berhasil disembuhkan.
kesehatan gadis itu telah pulih kembali.Siauw Tin telah mengajak Tan Ciu menemuinya.
Dikala melihat pemuda itu, dengan bingung Cang Ceng-ceng menarik bajunya, ia mengajukan pertanyaan.
"Eh. bagaimana aku berada ditempat ini?"
Tan Ciu bercerita tentang segala yang telah menimpa diri gadis tersebut. Cang Ceng-ceng berteriak.
"Aku telah terkena Ie-bun Tay-hoat ?"
"Betul. Maka kuajak dirimu, dan beruntung dapat disembuhkan oleh Thio Bie Kie cianpwe."
"Celaka,"
Berteriak lagi Cang Ceng-ceng.
"Dikala aku lupa daratan, bajingan itu memaksa aku memberi tahu semua ilmu kepandaianku. Ilmu kepandaian telah kucatat dan kuberikan kepadanya."
"Betul!"
"Aku harus segera memberi tahu kejadian ini kepada guruku."
Berkata Cang Ceng-ceng.
"Pergilah . .."
"Dan kau?"
Cang Ceng-ceng memandang Tan Ciu.
"Untuk sementara. aku harus menetap ditempat ini."
"Mengapa?"
Bertanya Cang Ceng-ceng heran.
"Aku harus mempelajari ilmu kepandaian Thio Bie Kie cianpwe."
Thio Bie Kie memberi sedikit penjelasan, setelah itu ia berkata kepada Siauw Tin.
"Siauw Tin antarkan ia keluar."
Setelah mengucapkan terima kasih. Dengan diantar oleh Siauw Tin dan Tan Ciu, Cang Ceng-ceng keluar dari Guha Kematian. Tiba dimulut guha, Siauw Tin berkata.
"Kami hanya dapat mengantar sampai disini."
Cang Ceng-ceng tidak segera pergi, tapi memandang kearah Tan Ciu. Si pemuda berkata.
"Baik. Biar kuantar kau beberapa li lagi."
Dan meninggalkan siauw Tin dimulut guha, ia merendengi Cang Ceng-ceng berjalan.
Siauw Tin memandang dua bayangan itu, hatinya hancur luluh, ia masuk kedalam guha dengan mata basah.
Bercerita Tan Ciu dan Cang Ceng-ceng.
Mereka berjalan beberapa Waktu, kemudian menghentikan langkah.
"Terima kasih. Kau tidak perlu mengantarkanku lagi."
Demikian Cang Ceng-ceng berkata.
"Selamat jalan."
Tan Ciu siap kembali kedalam Guha Kematian.
"Tunggu dulu!"
Cang Ceng-ceng memanggil.
"Ada apa?"
Tan Ciu balik kembali.
"Ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu."
"Katakanlah . .."
Si gadis menundukkan kepala.
"Aku tahu..."
Dari sinar mata Cang Ceng-ceng. Tan Ciu dapat menduga kata-kata apa yang akan dikeluarkan oleh gadis itu.
"Aku girang karena kau sudah tahu, Tapi aku harus mengulang juga. kuharapkan kau tidak lupa kepadaku....."
"Aku tidak lupa kepadamu."
Berkata Tan Ciu.
"Mendapat janjimu. Aku puas Jangan kau lupakan kawan lama setelah ketemu dengan seorang kawan yang lebih baru!"
Tan Ciu memegang tangan orang lebih kencang, ia sangat terharu.
"Legakanlah hatimu !"
Ia berjanji! Cang Ceng-ceng puas, ia tertawa. Tan Ciu berkata.
"Selamat jalan."
"Selamat jalan."
Dan Cang Ceng Ceng melepaskan diri.
meninggalkan Tan Ciu, meninggalkan Guha Kematian.
Tan Ciu menunggu sampai bayangan gadis itu lenyap dari pandangan matanya baru ia balik kembali, masuk kearah Guha Kematian.
Kita mengikuti perjalanan Cang Ceng Ceng yang lebih jauh dari Guha Kematian.
Manakala gadis baju putih itu hendak memasuki sebuah rimba, terdengar satu bentakan keras, berkata.
"Hentikan langkah dengan segera!"
Beberapa bayangan menghadang jalan, mereka adalah orang-orang berbaju kuning, anggota Kim ie-kauw.
Satu diantaranya adalah orang yang pernah menangkap Tan Ciu orang yang bernama Tan Tongcu, dia juga anggota perkumpulan Kim-ie kauw.Seorang lainnya adalah wanita yang pernah masuk kedalam Guha Kematian, Hu-hoat dari Kim ie-kauw yang bernama Kim Sam Nio.
Menunjuk kearah Cang Ceng Ceng.
Tan Tongcu memberi keterangan.
"Gadis inilah yang kita maksudkan."
Kim Sam Nio menganggukan kepala. Ia mengerti, apa yang harus dilakukan olehnya. Cang Ceng ceng membentak.
"Apa maksud kalian menghadang jalan pergi orang."
Kim Sam Nio maju mendekatinya. Ia berkata mesem-mesem.
"Nona, bolehkah saya mengetahui nama sebutanmu ?"
"Aku Cang Ceng-ceng."
"Kawan Tan Ciu ?"
"Betul."
"Nah segeralah ikut kepada kami. Kemarkas besar Kim ie-kauw."
"Mengapa?"
Cang Ceng-ceng mengerutkan alisnya.
"Kami hendak merundingkan sesuatu denganmu. Berkata Kim Sam Nio.
"Katakanlah saja ditempat ini,"
Berkata Cang Ceng-ceng.
"Ada lebih baik membicarakan hal itu dimarkas kami saja."
Cang Ceng-ceng tidak setuju, mengemukakan alasan.
"Aku hendak melakukan perjalanan pulang, tidak dapat ikut kalian,"
Kim Sam Nio berkata dingin.
"Kami tak akan mengganggu terlalu lama.""Aku menolak."
"Mana boleh."
"Mengapa tidak boleh?"
"Kami dapat memaksamu, tahu!"
"Eh, kalian tidak tahu aturan?"
Cang Ceng Ceng memandang orang-orang berbaju kuning.
"Aturan hanya berada dalam tangan orang yang berkuasa."
Berkata Kim Sam Nio.
"Bagus! Tentunya kalian menganggap diri kalian sajalah yang berkuasa, bukan ?"
"Kami tak dapat menangkap Tan Ciu. kami harus menawan orang yang mempunyai hubungan dekat dengannya. itulah kau! Setelah kau berada didalam Kim-ie kaiuW. mau tak mau. Tan Ciu harus mengantarkan diri."
Tentu saja Kim Sam Nio belum tahu betapa lihaynya ilmu kepandaian Cang Ceng-ceng.
Ilmu kepandaian gadis ini berada diatas Tan Ciu mana mungkin dapat menangkap dengan mudah.
Cang Ceng-ceng telah siap sedia, ia memasang persiapan tempur.
"Ingin metggunakan kekerasan ?"
Ia menantang.
Kim San Nio mengirim satu kerlingan mata, itulah tanda kepada kedua orang berbaju kuning maksudnya memberi peringatan kepada mereka menangkap musuh itu.
Dua orang berbaju kuning lompat kedepan.
menjepit kedudukan Cang Ceng-ceng.
Mereka telah berada dikanan dan kiri gadis tersebut.
Satu menarik keluar pedang, dan lainnya bersenjata golok, berbareng mengadakan ancaman.Wajah Cang Ceng-ceng berubah, terlihat selapis hawa pembunuhan, Tiba-tiba, terdengar suara bentakan gadis itu, Cang Ceng-ceng menghardik kedua lawannya.
Disaat yang sama, orang berbaju kuning yang memegang golok menyerang kaki.
orang yang memegang pedang menabas senjatanya, mengancam perut gadis itu.
Gerakan mereka sama cepatnya.
Begitu bergerak, segera terdengar suara jeritan dua orang.
itulah kedua orang berbaju kuning, tubuh mereka terpental.
golok dan pedang terbang jatuh ketanah.
lepas dari tangan pemiliknya.
ternyata kedua orang berbaju kuning telah menjadi korban keganasan Cang Ceng-ceng mereka telah mati disaat itu juga.
Kim Sam Nio terlompat.
Ia kaget sekali.
Wajah Tan Tongcu berubah, ilmu kepandaian musuh sangat luar biasa, bagaimana mereka dapat menangkapnya?
Cang Ceng-ceng membentak mereka.
"Berani kalian menantang, inilah contoh kalian!"
Ia menudingkan jari kearah dua orang berbaju kuning yang sudah tiada napas. Kim Sam Nio berhasil menenangkan getaran jiwanya dengan dingin ia berkata.
"Ilmu kepandaianmu sungguh tinggi. Itulah berada diluar perkiraan kita orang?"
"Bagus! Kau tahu bahaya? Lekas enyah dari tempat ini."
"Ha, ha, ha. ..."
Kim Sam Nio tertawa.
"Apa yacg kau tertawakan?"
Cang Ceng-ceng membentak."Mentertawakan dirimu.
Kau terlalu muda, tidak tahu besarnya dunia.
Kau pandai, masih ada orang yang lebih lihai darimu dan masih ada orang yang lebih gagah darimu.
Ilmu silat tidak terbatas pada ukuran-ukuran tertentu.
Ilmumu tinggi, tapi kami tak takut."
"Maksudmu?"
Cang Ceng-ceng belum mengerti.
"Mengajak kau kemarkas perkumpulan Kim ie-kauw."
"Jawabku singkat. Tidak mau."
"Kami dapat memaksamu."
"Bagus. Paksalah. Akan kulihat, bagaimana kalian mengalahkan diriku?"
Kim Sam Nio memandang kawannya, ia memanggil.
"Tan Tongcu."
Dan dia menganggukkan kepala, inilah suatu tanda untuk bekerja sama.
Mata Kim Sam Nio melirik, tangannya tidaK tinggal diam, secepat itu, iapun memukul Cang Ceng-ceng.
Tan Tongcu mendapat isyarat mata, ia bersenjata tongkat, begitu tongkat diayun, ia turut menggencet Cang Ceng-ceng.
Kecepatan dua orang yang kita sebut diatas sangat cepat sekali Orang yang diserang pun tidak kalah gesit.
Cang Ceng Ceng dapat menandingi Han Thian Chiu.
bukan jago biasa, begitu dua serangan datang ia sudah menangkis ke kanan dan kiri.
Kim Sam Nio mengirim serangan yang kedua.
Demikian pula keadaan Tan Tongcu, setelah mengalami kegagalan ia tak tinggal diam.
Cepat sekali ketiga orang itu saling gempur, Ilmu kepandaian Tan Tongcu luar biasa.
dan Kim Sam Nioberada diatas laki-laki berbaju kuning juga mempunyai ilmu kepandaian tinggi.
Mereka adalah jago-jago utama dari perkumpulan baju kuning Kim ie-kauw.
Maksudnya dengan bekerja sama, mudah menangkap Cang Ceng Ceng.
Kini mereka membentur kenyataan si gadis pun bukanlah lawan empuk, kekuatannya berada diatas dua orang.
Walaupun dua lawan satu, mereka tak berhasil menarik keuntungan.' Sepuluh jurus telah dilewatkan.
Mereka masih mengukur ilmu silat masing-masing.
Kim Sam Nio melesat tinggi, dari atas menukik kebawah.
bagaikan seekor burung alap-alap yang hendak menerkam mangsanya, ia mengincar Cang Ceng-ceng.
Cang Ceng ceng menarik napas, 'sret', ia mengeluarkan pedang, dua lawannya tangguh, ia harus cepat-cepat mengalahkan mereka.
Dengan pedang itu ia hendaK memapas putus jari-jari Kim-Sam Nio, Tongkat Tan Tongcu menyempong kesamping, kemudian menyerempet kaki gadis.
Cang Ceng ceng menyerang dan diserang.
Kim Sam nio mengempos tenaga, tubuhnya membumbung naik keatas, menghindari tabasan pedang musuh.
Tongkat Tan tongcu datang, maka Cang Ceng Ceng menarik pedang yang mengincar Kim Sam nio, si gadis harus menghindari diri dari serangan tongkat itu.
Tubuh Kim Sam Nio melayang turun lagi, dari dalam saku wanita berbaju kuning itu ia mengeluarkan sapu tangan, cepat2 ditaburkan kearah Cang Ceng Cang.Kabut putih berhamburan disekitar kepala gadis berbaju putih itu.
Itulah obat bius.
Cang Ceng Ceng hendak mengejar Tan Tongcu, ia gagal, lalu hendak menusuk Kim Sam Nio disaat itulah kepalanya dirasatan berat, matanya tertutup tanpa sadarkan diri lagi.
ia jatuh menggeletak, Kim Sam Nio dan Tan Tongcu saling pandang wajah mereka tersungging senyuman.
Kesudahan itu sudah berada didalam dugaan dengan menaburkan obat bius, mereka berhasil meringkus lawan tersebut.
Beberapa saat......
Hawa obat bius telah mereda.
tubub Cang Ceng Ceng menggeletak ditanah.
Kim Sam Nio tertawa dingin, ia berkata.
"Bawa kemarkas kita."
Itulah perintah yang ditujukan kepada Tan Tongcu. Tan Tongcu mendekati tubuh Cang Ceng-ceng, menyeretnya, digendong dan siap berangkat pulang. Tiba-tiba .... Terdengar satu suara bentakan.
"Jangan bergerak."
Seorang wanita tua telah menampilkan diri berdiri dan menghadang jalan pergi Tan Tongcu dan Kim Sam Nio.
Siapakah wanita itu ?
Dia adalah sipenghuni rumah kayu, Thio Ai Kie, adik dari penghuni Guha Kematian Thio Bie Kie.
Thio Ai Kie menyodorkan tangan.
"Serahkan gadis itu kepadaku."
Ia memberi perintah, Meminta Cang Ceng-ceng. Kim Sam Nio maju dua tapak."Dia putrimu?"
Ia bertanya.' "Dia adalah kawan wanita tuan penolongku."
Berkata Thio Ai Kie.
"Hendak menolong ?"
"Tentu."
"Dia telah menjadi orang tawanan kita. Semua orang dilarang ikut campur tangan."
"Siapa kalian?"
"Anggota Kim-ie-kauw."
"Huh. semua orang boleh takut kepadamu kalian."
"Thio Ai Kie berjalan maju mendekati Tan Tongcu.
maksudnya ingin merebut Cang Ceng Ceng dari tangan laki-laki berbaju kuning itu.
Tan Tongcu mundur kebelakang.
Kim Sam Nio maju menghadang kemajuan Thio Ai Kie.
"Berhenti!"
Kim Sam Nio membentak keras.
"Aku harus menolong dirinya."
Thio Ai Kie berkata tegas. Tan Tongcu meletakan telapak tangannya diatas kepala Cang Ceng-ceng, tepat dibagian ubun-ubun.
"Berani kau maju setapak lagi, dia segera kubunuh mati."
Demikian laki-laki berbaju kuning itu mengancam.
Thio Ai Kie menghentikan langkahnya.
Kim Sam Nio mendapat angin.
Ternyata jiwa gadis berbaju putih yang bernama Cang Ceng-ceng itu begitu penting, dengan menggunakan badannya sebagai tameng, mungkinkah mereka tidak dapat membawa pulang kedalam markas Kim ie kauw.Dengan tertawa dingin.
wanita berbaju kuning ini berkata.
"Tentunya, kau inilah yang menjadi penghuni guha kematian?"
Kim Sam Nio tidak tahu.
bahwa dia sedang berhadapan dengan adik dari Penghuni Guha Kematian.
Karena munculnya Thio Ai Kie dari sekitar daerah itu.
dan mengatakan Cang Ceng-ceng sebagai kawan Tan Ciu.
Ia menduga Thio Bie Kie.
Thio Ai Kie berdehem.
Katanya.
"Boleh dikatakan demikian."
Dia pun akan menetap di guha Kematian, karena itu dia tidak menyangkal dugaan Kim Sam Nio.
"Huh, kau tidak tahu diuntung, kauwcu kami mengundang, dengan jabatan wakil kauwcu kau tidak mau menerima? Apa maksud tujuanmu? Hendak menjadi jago tanpa nama, tidak mau bersahabat dengan tetangga?"
Kim Sam Nio mengoceh, maksudnya agar orang yang disangka sebagai Penghuni Guha Kematian itu mau menggabungkan diri dengan perkumpulan Kim ie-kauw.
"Mengapa harus menerima tawaran kauwcu kalian?"
Thio Ai Kie memandang dua orang berbaju kuning itu.
"Betapa hebat kekuasaan Kim ie-kauw. dengan menggabungkan diri, bukankah berarti menambah tenaga Guha Kematian?"
"Cis. aku tidak membutuhkan tambahan tenaga."
"Baiklah. Kata-katamu akan kami sampaikan kepada kauwcu kami."
Kim Sam-nio dan Tan Tongcu meninggalkan Thio Ai Kie.
Tentu saja Cang Ceng-ceng dibawa serta, dipaksa turutserta kedalam markas perkumpulan Kim ie kauw.
menjadi orang tawanan mereka.
Thio Ai Kie tidak berdaya.
Sebelum meninggalkan Thio Ai Kie.
Kim Sam Nio ada meninggalkan pesan.
demikian kata-kata yang diucapkan.
"Tolong beri tahu kepada Tan Ciu, bila ia menghendaki kawan wanitanya, dipersilahkan mengadakan kunjungan kemarkas besar Kim-ie kauw."
Dua tubuh itu bergerak, dan kemudian lenyap.
OodwoO Didalam Guha Kematian ...
Tan Ciu tidak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa Cang Ceng ceng.
si pemuda sedang menekunkan diri, mempelajari ilmu.
Ilmu silat Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie, Thio Ai Kie telah pindah kedalam Guha Kematian, diceritakan pengalamannya kepada sang kakak.
Thio Bie Kie terkejut, mereka mengadakan perembukan.
Bila memberi tahu hal itu kepada Tan Ciu, tentu mengganggu pelajarannya.
Mereka mengambil putusan untuk menutup berita itu.
Putusan terakhir diputuskan mengirim si Ular Golis Siauw Tin pergi kemarkas besar perkumpulan Kim ie-kauw, mengadakan penyelidikan, bagaimana keadaan Cang Ceng-ceng, dan mewajibkan gadis itu memberi laporan.
Siauw Tin berangkat, meninggalkan Guha Kematian.
Hari demi hari waktu dilewatkan.
Tan Ciu berhasil mempelajari apa yang diajarkan kepada dirinya.Thio Ai Kie dan Thio Bie Kie mengadakan kesepakatan, mereka mencurahkan sebagian tenaga dalam mereka, disalurkan kedalam tubuh Tan Ciu, karena itu.
si pemuda memiliki tenaga gabungan, kekuatannya naik dua kali lipat.
Tan Ciu mendapat semua pelajaran dari apa yang dimiliki oleh kedua jago wanita itu, termasuk ilmu Ie-hun tay-hoat dan cara-cara penggunaannya!
Thio Ai Kie tidak mau kalah.
Mengetahui sang kakak menurunkan ilmu Ie-hun-tay-hoat.
diapun menurunkan ilmu kepandaiannya yang bernama Hong-lui Kiu-sek, Hong-lui Kiu sek berarti Sembilan Jurus Angin dan Geledek yang Bergelegar.
Sepuluh hari kemudian.
Tan Ciu mengucapkan terima kasihnya kepada kakak beradik Thio Bie Kie dan Thio Ai Kie, Thio Ai Kie berkata.
"Gunakaniah ilmu kepandaianmu ditempat yang benar."
Tan Ciu memberikan janjinya. Thio Bie Kie berkata lagi.
"Kami telah tua. tidak membutuhkan ketenaran nama. Kau tidak dipaksa menetap didalam Guha kematian. Pergilah mengembara mencari pengalaman."
Tan Ciu berterima kasih kepada dua orang itu, memasuki Guha Kematian.
ia mendapatkan ilmu ilmu kepandaian hebat, mendapat tambahan tenaga dalam.
Kecuali itu, jasa Tan Ciu yang paling besar adalah dihapuskan peraturan untuk menyintingkan orang-orang yang memasuki Goha Kematian.
Thio Bie Kie sadar dari kesalahan itu, semua orang telah disembuhkan, ia telah bertemu dengan adiknya, mereka berdua bersama.
Tanpamembutuhkan keramaian-keramaian dan kerepotan lainnya.
Ditempat itu.
Tan Ciu tidak menemukan Siauw Tin, segera ia mengajukan pertanyaan.
Thio Bie Kie memberikan jawaban.
"Selama kau melatih ilmu silat, agar tidak mengganggu ketenanganmu, agar kau dapat mencurahkan semua pusat perhatian, sengaja kami menyimpan berita ini."
"Apakah yang telah terjadi?"
Bertanya Tan Ciu dengan hati berdebaran.
"Tentunya, kau tidak lupa kepada Cang Ceng-ceng ?"
"Mengapa?"
Tan Ciu sangat terkejut. Dia kembali lagi? Mungkinkah terjadi sesuatu di antara .... Tan Ciu tidak jadi drama kejadian, menduga telah terjadi tolak senjata diantara kedua gadis itu.
"Tenangkanlah hatimu."
Berkata Thio Ai Kie.
"Bagaimana dengan Cang Geng-ceng dan Siauw Tin."
Siauw Tin tidak mengapa. Tapi. Cang Ceng-ceng telah menjadi orang tawanan perkumpulan Kim ie-kauw.
"Aaaa. .. , lagi-lagi orang-orang berbaju kuning itu."
"Betul Mereka telah menahan Cang Ceng-ceng. kemudian membawanya kemarkas perkumpulan tersebut."
"Aaa.."
Tan Ciu mengerti.
"Dan bagaimana dengan Siauw Tin?"
"Dia telah ditugaskan untuk menyelidiki keadaan perkumpulan Kim ie-kauw."
Thio Bie Kie memberi keterangan."Baik."
Berkata Tan Ciu.
"Segera kupergi ketempat itu."
"Berhati-hatilah kepada mereka."
Berkata Thio Ai Kie. Tan Ciu menganggukkan kepala, tanda ia akan memperhatikan pesan itu, kemudian meminta diri.
"Tunggu dulu."
Berteriak Thio Bie Kie. Tan Ciu menghentikan langkahnya, menoleh dan memandang si Penghuni Guha Kematian.
"Cianpwe masih ada pesanan lain?"
Ia bertanya.
"Tahukah kau dimana letak markas besar perkumpulan Kim-ie kauw?"
Tan Ciu tertegun! "Aaaa ... Dimanakah letak markas besar perkumpulan Kim-ie kauw ?"
"Dilembah Ngo-liong, dari gunung Ngo-liong-san."
Tan Ciu telah meninggalkan Guha Kematian menuju kearah gunung Ngo liong-san.
Ngo-liong-san adalah nama dari suatu daerah pegunungan.
terdiri dari beberapa puncak, gunung saling susun, seperti tumpukan tanah tinggi.
Tan Ciu telah menjelajahi keadaan di daerah pegunungan itu.
Ia sedang mencari-cari dimana letak tempat lembah Ngo-liong!
Tiba-tiba ....
Sesuatu bayangan melesat, menghadang kepergian si pemuda.
Tan Ciu mundur beberapa tapak, siap menghadapi musuh!
Berdiri dihadapan pemuda adalah seorang tua."Aaaa.....!"
Tan Ciu berteriak kaget. Itulah si Telapak Dingin Han Thian Chiu, Ia belum mengubah wajah, masih menggunakan kedok Tan Kiam Lam.
"Kau? . ."
Tan Ciu mundur satu langkah lagi.
"Betul! Aku .. ."
Berkata orang itu.
Tan Ciu sangat marah.....bur.....
tangannya bergerak, memukul orang itu, Gerakan si pemuda sangat cepat, karena tidak ada prasangka sama sekali, hampir-hampir mengenai sasarannya.
OoodwooO Jilid17 MENGGELINCIR kesamping, orang itu dapat meloloskan diri, segera mengeluarkan bentakan.
"Hei. kau sudah gila?"
Tan Ciu menahan serangan yang sudah siap dilontarkan. Ia membentak.
"Siapa Kau?"
"Perhatikanlah jelas-jelas, siapa diriku."
Berkata orang itu.
Tan Ciu menggunakan sepasang matanya, meneliti orang berada didepannya, ada tiga orang yang mempunyai wajah seperti ini.
kecuali si Telapak Dingin Han Thian Chiu masih ada Tan Kiam Pek dan Tan Kiam Lam sepasang saudara kembar itulah paman dan ayahnya.
Tan Kiam Lam mempunyai andeng-andeng hitam dikuping kiri.Tan Kiam Pek mempunyai tahi lalat hitam dikuping kanan.
Itulah perbedaan diantara kedua orang itu.
Satu lagi, adalah Han Thian Chiu.
dengan ilmu merias dan mengubah wajah yang sangat sempurna, iapun memiliki wajah yang sama dengan saudara kembar itu memegang peranan sebagai Tan Kiam Lam.
Maka menggunakan tahi lalat hitam dikuping kiri.
Tan Ciu memperhatikan orang yang didepannya, Orang itu berandeng-andeng hitam ditelinga kanan, itulah Tan Kiam Pek!
"Paman?!..."
Si pemuda masih ragu-ragu.
"Betul. Aku adalah Tan Kiam Pek."
Berkata orang itu. Tan Ciu unjuk hormatnya.
"Maafkan siautit yang telah berani berlaku kurang ajar."
"Kau menduga kepada siketua Benteng penggantungan?"
"Ada sesuatu yang harus siautit beritahu kepadamu. ketua Benteng Penggantungan bukanlah ayah."
"Aku sudah tahu."
Berkata Tan Kiam Pek.
"Bagaimana paman tahu?"
"Aku menjanjikan si pendekar Dewa Angin Sin Hong Hiap meneruskan pertandingan didepan Benteng Peaggantungan, dengan maksud melihat bagaimana reaksinya."
Bertutur Tan Kiam Pek.
"Rencanaku berhasil. orang itu menggunakan tangan kanan. Inilah bukti pertama."
"Kemudian."
"Kuperhatikan lagi gerak gerik tipu silatnya, itupun berbeda, kupastikan seratus persen bahwa ketua Benteng Penggantungan bukanlah Tan Kiam Lam."
"Paman telah berkunjung ke Benteng Penggantungan?"
"Baru saja kupergi dari benteng itu."
"Bagaimana keadaan mereka."
"Benteng Penggantungan telah menjadi puing."
"Aaaa ..."
"Benteng Penggantungan telah kedatangan musuh kuat. semua penghuni benteng itu telah mati."
"Semua telah mati? Bagaimana dengan keadaan Permaisuri dari Kutup Utara Pek Pek Hiap, pengemis lihai yang mengaku sebagai Tukang Ramal Amatir, si Bungkuk Kui Tho Cu sekaliafn?"
"Ketiga orang yang kau sebutkan tidak berada di Benteng Penggantungan."
"Tidak mungkin. Mereka pasti di Benteng Penggantungan."
"Diantara mayat-mayat yang menjadi korban tidak terdapat tubuh mereka."
"Siapakah orang yang menghancurkan Benteng Penggantungan?"
"Belum diketahui."
"Mungkinkah si Telapak Dingin Han Thian Chiu."
Tan Ciu mengemukakan pendapat.
"Tidak mungkin. Manusia itu tidak mempunyai keberanian untuk balik kembali."
"Bagaimana keadaan Pek Co Yong?"
"Ia menderita luka yang sangat berat.""Aaa.... Bagaimana si Cendikiawan Serba Bisa Thung Lip?"
"Telah binasa."
"Juga tidak luput dari kematian."
"Sungguh kejam."
"Luar biasa kejam. Tokoh jahat ini berkepandaian tinggi, kita harus berhati-hati."
Tan Ciu menarik tangan baju Tan Kiam Pek, dan berkata kepadanya.
"Mari kita berangkat."
"Kemana?"
Bertanya Tan Kiam Pek.
"Ke Benteng Penggantungan. Kau katakan Pek Co Yong menderita luka parah, kita harus segera memberi pertolongan."
"Mengapa kau berada ditempat ini?"
Bertanya Tan Kiam Pek.
"Maksudku hendak menolong Cang Ceng Ceng."
Menjawab orang ditanya.
"Gadis berbaju putih yang berkepadaian silat yang sangat tinggi itu?"
"Betul."
"Nah, tugasmu disini belum berhasil, bagaimana ingin kembali ke Benteng Penggantungan? Legakan hatimu, kukira Pek Co Yong berada didalam keadaan aman. Ada baiknya, kau menolong Cang Ceng Ceng lebih dahulu."
"Betul. Aku harus menolong Cang Ceng Ceng lebih dahulu."
Bergumam Tan Ciu."Eh siapa yang menangkap kawan wanitamu itu?"
Bertanya Tan Kiam Pek.
"Kim-ie kauw! Orang-orang Kim-ie kauw!"
Menjawab si pemuda.
"Kim ie kauw?"
Tan Kiam pek mengerutkan jidat.
"Mengapa aku tidak pernah mendengar nama perkumpulan ini ?"
Perkumpulan baju kuning baru saja menonjolkan gigi tentu saja Tan Kiam Pek tidak tahu.
Mereka melakukan perjalanan bersama, tujuannya menolong Cang Ceng-ceng.
Mendapat bantuan sang paman.
Tan Ciu bernyali besar, pengalaman dan ilmu kepandaian Tan Kiam Pek boleh diandalkan, bantuan tersebut penting baginya.
Mereka menyelidiki Pegunungan Ngo liong-san.
"Nah, lihat, disana ada seorang berbaju kuning."
Tan Kiam Pek menunjuk kesatu arah.
Seorang anggota Kim ie-kauw sedang mengadakan perondaan, inilah lembah Ngo-liong.
Tan Ciu tentu melihat adanya orang berbaju kuning itu.
kini ia tidak salah jalan.
Mereka telah tiba ditempat markas besar perkumpulan Kim ie-kauw.
"Biar kubekuk dahulu orang itu,"
Ia berkata. Tan Kiam Pek menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak setuju.
"Nanti dulu,"
Ia mencegah.
"Aku harus menyembunyikan diri. Kau mengatakan terus terang kedatanganmu meminta orang. Harus menggunakan aturan, tata cara dan sopan santun yang mempunyai etikadbaik dapat meredakan ketegangan. Bila musuh berkepala batu, aku siap mengobrak-abrik sarang mereka,"
Tan Ciu menyetujui usul sang paman.
Ia diwajibkan untuk meminta orang secara sopan.
Tan Kiam Pek akan membayangi dirinya dari tempat gelap, tidak menampilkan diri.
Bila Tan Ciu berhasil.
tenaga gelap itu tetap ditempat gelap.
atau menampilkan diri keadaan telah aman dan damai, tidak membutuhkannya.
Tapi bila gagal.
ia menjadi seorang momok jahat.
mengobrak-abrik sarang orang.
Tan Kiam Pek segera menyembunyikan dirinya.
Tan Ciu menghampiri si penjaga lembah.
Orang berbaju kuning itu membalikkan badan tampak olehnya.
seorang pemuda cakap dan tampan berjalan datang.
"Berhenti ditempat itu,"
Orang berbaju kuning itu memberi perintah, Tan Ciu menghentikan langkah kakinya.
"Apa maksud tujaan saudara?"
Bertanya orang tersebut.
"Berkunjung kemarkas besar perkumpulan Kim ie kauw."
"Sebutkan nama saudara!"
"Tan Ciu."
"Apa?!"
Orang itu tersentak kaget.
"Tan Ciu?!"
"Betul. Katakan kepada ketua kalian, aku Tan Ciu berkunjung datang."
"Aku akan memberi tahu kedatanganmu, tunggulah sebentar."
Berkata orang itu.Tan Ciu menganggukkan kepala, kedatangannya secara jantan, meminta orang tawanan.
maka harus tahu aturan.
Orang itu telah membalikkan badan.
ia meninggalkan Tan Ciu.
maksudnya memberi tahu dan laporan tentang kedatangan si pemuda.
Tan Ciu menunggu laporan.
Berdiri didepan mulut lembah Ngo-liong.
Tidak lama kemudian terdengar suara desiran angin yang bergeser keras.
dua gadis berparas cantik berlari-lari datang, menjumpai kedatangan si pemuda.
Mata Tan Ciu membelalak, paras kedua gadis tersebut sangat Cantik sekali.
Baju yang mereka kenakan sangat kontras, Satu berpakaian merah sedan yang satu berpakaian putih.
Gadis yang mengenakan pakaian merah itu membuka suara.
"Kau yang bernama Tan Ciu?"
"Tidak salah."
Si pemuda memberikan jawaban.
"Kami berdua ditugaskan menyambut kedatanganmu."
Berkata yang berpakaian putih.
"Segera ajak diriku menemui kauwcu kalian."
Berkata Tan Ciu kepada sepasang gadis itu.
"Silahkan jalan didepan."
Berkata gadis yang berpakaian merah.
Tan Ciu mengucapkan terima kasih.
Ia berjalan didepan mereka.
Sepasang gadis merah putih mengikuti dibelakang si pemuda.
Tiga orang itu melakukan perjalanan.
menuju kearah lembah.Dibelakang si pemuda, sepasang gadis merah putih itu saling pandang.
mereka menganggukkan kepala.
Itulah satu tanda boleh bergerak.
Masing-masing menjepit Tan Ciu, dikiri dan kanan mengeraskan jari, menotok jalan darah pemuda itu.
Tan Ciu terkejut, desiran angin dari kedua gadis yang hendak membokong dirinya berkesiur dan berdesir, ia hendak menghindari serangan gelap itu.
Melesat kesamping.
"Mengapa kalian..."
Baca Juga: Golok Halilintar 10
Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 4