Eps 4 Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Baca online Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung
Cersil Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung.
Gak Lam-kun menjadi tertegun ia tidak menyangka kalau Lui Seng thian pun mengerti irama Mi tin loan hun ki sehingga ia ikut terpancing pula sampai disitu.
Agaknya si panah inti geledek yang membunuh orang dalam tujuh langkah Lui Seng thian dapat menebak isi hati Gak Lam-kun, ia lantas menengadah dan memperdengarkan gelak tertawa yang seram dan memekikkan telinga.
Sesungguhnya Gak Lam-kun memang tidak menaruh kesan baik terhadap keganasan serta kekejian senjata rahasia milik Lui Seng thian, ia lebih-lebih tak senang sehabis mendengar gelak tertawanya yang mengerikan itu sepasang alis matanya kontan berkernyit.
Baru saja ia hendak menegur kenapa dia tertawa, Jit poh lui sim ciam telah berkata dengan suara menyeramkan.
"Gak Lam-kun, apakah kau menaruh curiga bahwa akupun memahami irama Mi tin loan hun ki (irama pengalut tenaga pembingung sukma) dari Soat san thian li? Haaahh... haaahh... haahh ketahuilah, aku bisa sampai disini karena diamdiam menguntil dibelakangmu, waktu itu lantaran aku lihat kau masuk kedalam barisan bunga tapi muncul kembali ditempat semula, maka kudahului dirimu naik keatas atap rumah, siapa tahu... haaahh... haaahh... haaahh... aku toh tetap terkurung disini"
Diam-diam terkejut juga Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Orang persilatan memang, kebanyakan licik, banyak tipu muslihatnya dan berbahaya sekali, coba kalau Lui seng thian bermaksud untuk mencelakai diriku, sudah pasti aku sudah terkena sergapan mautnya"
Jilid 9 Jit Poh Lui sim ciam telah tertawa dingin sambil menegur lagi.
"Gak lote, tidakkah kau merasakan bahwa bangunan ini aneh sekali....?!"
"Kau toh sudah mencobanya sendiri, buat apa kau tanyakan kembali kepadaku....?"
Jawab Gak Lam kun ketus.
"Bangunan ini sangat aneh, tapi yang aneh justru terletak pada halaman bangunan ini sendiri aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang tidak beres. Gak Lam kun tidak memahami apa maksud perkataannya itu, ia lantas bertanya.
"Maaf, aku terlalu bodoh dan tak dapat memahami perkataanmu itu....!"
Kembali Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian tertawa seram.
"Haaah....haaah....haaah....Gak lote masa kau lupa. Aku toh pernah berkata bahwa dibalik bangunan ditengah pulau terpencil ini sesungguhnya tersimpan suatu rahasia besar?"
Gak Lam kun balik tertawa dingin.
"Lui locianpwe apakah kau maksudkan rahasia besar itu terdapat didalam bangunan besar ini?"
Mendengar perkataan itu, sekarang ganti Jit poh lui sim ciam Lui seng thian yang merasa terperanjat, pikirnya dengan cepat.
"Jangan-jangan ia sudah tahu kalau rahasia besar yang tersimpan dibalik lencana pembunuh naga sesungguhnya terdapat dalam bangunan gedung ini....?"
Tiba-tiba Lui seng thian melompat bangun, dengan wajah yang menyeramkan dia acungkan tabung tembaga itu kehadapan Gak Lam kun, kemudian setelah tertawa dingin katanya.
"Gak Lam kun, aku sudah mengetahui jelas tentang asal usulmu, sekarang aku ingin menanyakan sesuatu hal kepadamu, jika kau berani membohongi aku atau sengaja merahasiakan dihadapanku, jangan salahkan kalau kusuruh kau rasakan betapa dahsyat dan beracunnya Jit poh lui sim ciam ku ini....!"
Terkesiap juga Gak Lam kun menghadapi ancaman senjata rahasia beracun yang telah diarahkan kedadanya itu, tapi wajah tetap dingin dan dihiasi senyuman menghina.
"Lui locianpwe!"
Katanya.
"apakah kau memang khusus mencari kemenangan dengan andalkan senjata rahasiamu itu?"
Lui Seng thian tertawa seram.
"Haaahhh....haaahhh....haaahhh.... mana.... mana, setiap jago yang hidup dalam dunia persilatan sudah lumrah kalau khusus melatih sejenis senjata atau kepandaian sebagai kekuatan andalannya, heeehhh.... heeehhh.... heeehhh.... seperti juga senjata panah inti geledek ini, sesungguhnya sengaja kuciptakan untuk menghadapi Yo Long serta Soat san thian li si perempuan rendah itu, tapi situasi dalam dunia persilatan dewasa ini telah berubah, siapakah yang tidak ingin merebut kedudukan tinggi dan nama besar dalam dunia persilatan dengan mengandalkan kemampuan serta kepandaian silatnya...."
"Oh, kalau begitu Lui locianpwe hendak mempergunakan senjata rahasia yang sangat beracun itu untuk menghadapi diriku"
Lui Seng thian tertawa.
"Tidak berani, tidak berani, aku cuma berharap agar Gak lote bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku!"
"Sebelum kudengarkan pertanyaan yang hendak kau ajukan itu, terlebih dulu aku ingin memberitahukan sesuatu hal pula kepadamu, aku Gak lam kun tidak akan menjawab pertanyaan yang kau ajukan."
Perlu diketahui, Gak Lam kun adalah seorang yang keras kepala, bertekad besar dan tinggi hati sudah barang tentu ia tidak tahan untuk menerima gertakan dari Lui Seng thian yang memaksanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dibawah ancaman senjata rahasia beracun andalannya.
Betul juga, selapis hawa amarah yang diliputi nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Lui Seng thian yang jelek, jelas ia murka sekali setelah mendengar perkataan itu.
Mendadak Gak Lam kun melompat keudara dengan kecepatan luar biasa.
"Berhenti!"
Bentak Lui Seng thian.
"kau benar-benar kepingin mati?.... lihat serangan!"
Ditengah bentakan nyaring, tujuh buah senjata rahasia segera dilontarkan kedepan.
Bagaimanapun juga Lui Seng thian tidak sampai mempergunakan senjata rahasia mautnya yakni Jit poh lui sim ciam, tapi mengayunkan tangan kirinya melepaskan tujuh buah panah pendek dari ujung bajunya.
Perlu diterangkan disini, bahwa panah inti geledek adalah suatu senjata rahasia yang maha dahsyat, apabila senjata rahasia itu telah dilepaskan maka korbannya pasti akan tewas tak tertolong.
Sekalipun dimulut Lui Seng thian mengancam akan membunuhnya, padahal dihati kecilnya ia masih belum berharap untuk membinasakan anak muda itu.
Terkesiap juga Gak Lam kun ketika merasakan tibanya ancaman dari ketujuh batang senjata rahasia tersebut ia pernah menyaksikan kedahsyatan dari senjatanya, maka bisa dibayangkan betapa mengerikannya kedatangan tujuh batang senjata secara berbarengan itu....
Sedikit banyak pemuda itu menguatirkan juga keselamatan jiwanya, ia tak tahu apakah ia sanggup meloloskan diri dari ancaman tersebut atau tidak....
Dalam kaget dan ngerinya, Gak Lam kun tidak berayal lagi, tubuh yang sedang melambung diudara itu segera meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi kemudian sepasang kakinya kembali menjejak permukaan rumah dan untuk kesekian kalinya ia melambung lagi keatas.
Dalam lompatannya kali ini, Gak Lam kun telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Harus diketahui, seorang yang lemah tidak bertenaga apabila sedang menghadapi bahayapun bisa memiliki kekuatan sebesar beberapa ratus kati, apalagi Gak Lam kun yang terancam bahaya kematian?
Ternyata daya lompatnya itu merupakan suatu lompatan yang tak mungkin bisa diulangi kembali kendatipun ilmu meringankan tubuhnya telah dilatih sepuluh tahun lagi, dalam sekejap mata ia sudah melewati permukaan rumah sejauh belasan kaki....
"Blaaang....!"
Tiba-tiba kaki Gak Lam kun menginjak tempat kosong, sebelum hawa murninya sempat dirubah tubuhnya sudah terperosok jatuh kebawah.
Gak Lam kun membersihkan debu yang menempel ditubuhnya lalu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ternyata ia telah berbasil melepaskan diri dari kurungan ilmu barisan yang aneh itu sekarang tubuhnya berada ditengah sebuah halaman kecil.
Gak Lam kun memeriksa kembali keadaan disekitarnya ditemuinya pada tiga bagian halaman rumah itu semuanya terdapat sebuah jalan tembus, cuma setiap jalan tembus itu luasnya cuma satu kaki, kedua belah sisinya merupakan dinding bangunan yang tidak berjendela atau pintu lain, hanya pada bagian tengah bangunan besar terdapat dua buah pintu besar berwarna merah cuma pintu itu tertutup rapat.
Dibawah sinar rembulan, terasa suasana disekeliling tempat itu sunyi sepi dan terasa agak menyeramkan.
Gak Lam kun kembali memperhatikan sekejap sekeliling sana, akhirnya pelan-pelan ia berjalan menuju kearah jalan disebelah barat sana....
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Gak Lam kun menghentikan langkahnya dan memandang kearah depan dengan wajah tertegun.
Ternyata ia telah tiba lagi disebuah halaman kecil dengan tiga buah jalan tembus dihadapannya, bentuk halaman tersebut persis seperti halaman yang pertama tadi, ketika hal ini dicocokkan dengan letak bintang diangkasa pemuda itu semakin terkejut lagi.
Tadi ia merasa berjalan menuju kebarat, tapi sekarang ia berada diarah tenggara, sepasang alis mata Gak Lam kun makin berkernyit, karena sepasang jalan yang dilaluinya barusan jelas tanpa tikungan atau belokan sama sekali bahkan jalan itu sangat lurus dan datar kenapa tanpa disadari ia sudah berada diarah tenggara?
Gak Lam kun kembali memutuskan untuk mengambil jalan tembus yang menuju ketimur, kurang lebih setelah berjalan, sejauh enam tujuh puluh kaki didepan sana muncul lagi sebuah halaman dengan tiga buah jalan tembus, hanya saja kali ini anak muda tersebut telah berada disudut barat laut....
Gak Lam kun benar-benar keheranan, coba kalau bukan dialami sendiri, ia tak akan percaya kalau didunia ini terdapat sebuah bangunan rumah dengan segala sesuatu yang diatur menurut kedudukan sebuah ilmu barisan.
Pemuda itu mulai bingung, mau dilanjutkan perjalanan itu, ia tak tahu bagaimana caranya memecahkan barisan tersebut, tidak dilanjutkan jelas tak mungkin, akhirnya saking murungnya ia menengadah memandang rembulan diudara dan menghela napas panjang....
Mendadak ia mendengar desingan angin lembut berhembus datang dari arah belakang.
Dengan cekatan Gak Lam kun memutar badannya memandang kearah mana berasalnya desingan angin lembut tadi....
Seorang kakek berjenggot panjang berwajah merah bercahaya dan menggembol sebilah pedang antik dipunggungnya telah berdiri tiga kaki dihadapan mukanya, orang itu sedang memandang kearahnya dengan sinar mata yang tajam.
Ketika empat mata saling bertemu, mereka hanya saling berpandangan lama sekali, kedua belah pihak sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun.
Diam-diam Gak Lam kun berpikir.
"Entah darimana datangnya kakek ini? Ilmu meringankan tubuhnya pasti lihay sekali, kalau tidak kenapa tidak kurasakan kehadirannya meski sudah berada tiga kaki dibelakangku? Yaa, dia pasti adalah seorang jago persilatan yang berilmu sangat tinggi."
Lama....
lama, sekali, Gak Lam kun masih juga tidak mendengar suara teguran ataupun suatu gerakan, orang itu tetap berdiri kaku ditempat semula.
Timbul juga perasaan tercekat dalam hatinya, segera pemuda itu berpikir dihati.
"Jangan-jangan dia adalah sesosok sukma gentayangan atau sukma penasaran....?"
Terhadap bangunan gedung itu Gak Lam kun memang sudah menaruh perasaan waswas, sekarang setelah menyaksikan kemunculan orang tanpa menimbulkan suara, apalagi muncul pula ingatan tersebut, tanpa terasa ia mundur beberapa langkah kebelakang.
Tapi iapun kuatir dirinya disergap secara tiba-tiba maka ia tak berani memutar badan.
Tapi, kendatipun ia sudah mundur sejauh tujuh delapan kaki, kakek berwajah bersih seperti dewa itu belum juga melakukan suatu gerakan, Gak Lam kun segera bertekad untuk kabur dari situ, tiba-tiba ia putar badan dan kabur kearah jalan tembus kesebelah utara.
Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat ia bergeser sejauh enam tujuh puluh kaki dari tempat semula, tapi begitu ia mendongakkan kepalanya, hampir saja Gak Lam kun menjerit kaget....
Kurang lebih delapan kaki didepan sana kembali muncul sebuah halaman kecil, si orang tua yang membawa pedang antik itu tahu-tahu sudah berdiri menanti ditengah halaman itu.
"Berhenti!"
Terdengar kakek berbaju hijau itu membentak dengan suara yang rendah tapi berat.
Berdebar keras jantung Gak Lam kun, tapi ia menurut dan menghentikan juga langkah kakinya kemudian pelan-pelan memutar badannya.
Kakek berbaju hijau yang menggembol pedang antik itu selangkah demi selangkah maju menghampiri kearahnya, kurang lebih delapan sembilan depa dari hadapan pemuda itu ia haru berhenti.
Tegurnya dengan suara dingin bagaikan es.
"Apakah kau bernama Gak Lam kun?"
Sekali lagi Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, tapi jawabnya juga.
"Aku adalah Gak Lam kun, tolong tanya siapa nama saudara?"
Paras muka kakek berbaju hijau itu agak tergerak, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut sebaliknya malah berkata dengan suara hambar.
"Sanggupkah kau sambut tiga jurus serangan pedangku?"
"Kita tak pernah saling mengenal, antara kitapun tak punya dendam sakit hati atau perselisihan apa-apa, buat apa musti bermain kekerasan dengan senjata?"
"Jika kau tak bersedia menyambut tiga jurus pedangku, maka untuk selamanya kau akan terkurung ditempat ini"
Kata kakek berbaju hijau itu lagi dengan suara dingin. Mendengar perkataan itu Gak Lam kun segera berpikir.
"Sekalipun ilmu silatku masih belum menandingimu, tapi untuk tiga puluh gebrakan rasanya masih sanggup untuk mempertahankan diri, apalagi ia cuma minta menghadapi tiga jurus serangannya belaka.... kalau didengar dari perkataannya itu agaknya bila aku sanggup menahan ketiga buah serangan pedangnya, dia akan memberi petunjuk kepadaku untuk keluar dari kepungan ini...."
Berpikir sampai disitu, Gak Lam kun yang keras kepala segera tersenyum, katanya.
"Kalau toh lotiang berharap agar boanpwe menyambut ketiga jurus serangan, akupun akan menyanggupinya, cuma setelah kejadian, aku harap kau jangan menghalangi kepergianku"
Kakek berbaju hijau itu segera tertawa dingin.
"Heeehh.... heeehh.... memangnya kau masih ingin tetap tinggal disini?"
"Kedatangan boanpwe ditengah malam buta ini bukan lantaran tanpa sebab, aku rasa lotiang pasti mengetahui pula maksud kedatanganku"
"Selama hidupku belum pernah aku berbicara sebanyak ini dengan orang lain, tapi malam ini aku telah melanggar kebiasaanku dengan berbicara lebih banyak kepadamu. Ketahuilah halaman ini penuh diliputi alat rahasia yang berlapis-lapis, setiap rumput kayu, batu bahkan kerikil kecilpun diatur menurut suatu posisi ilmu barisan yang maha sakti, jika kau tidak bersedia mengundurkan diri dari sini, maka hal ini akan mendatangkan kerugian untukmu"
Gak Lam kun tertawa ewa.
"Maksud baik lotiang biar kuterima dalam hati saja, mati hidup seorang manusia aku rasa tak akan bisa diduga oleh siapapun"
Mendengar perkataan itu, si kakek berbaju hijau itu menjadi tertegun, lalu katanya sambil tertawa.
"Baik! Kalau begitu sambutlah lebih dahulu tiga buah tusukan pedangku ini!"
Baru selesai perkataan itu diucapkan, Gak Lam kun merasakan pandangan matanya menjadi silau dan tahu-tahu kakek berbaju hijau itu sudah berada dihadapannya, ia berdiri dengan mencekal sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya kebiru-biruan.
Gak Lam kun merasa terkejut juga menyaksikan kecepatan orang itu dalam mencabut pedangnya, ia tahu kakek berbaju hijau itu pasti seorang ahli pedang yang berilmu tinggi.
Tentu saja pemuda itu lebih-lebih tak berani berayal lagi, pedang pendek yang berada dalam sakunya segera dicabut keluar.
Sekilas cahaya putih dengan cepat memancar keempat penjuru berpadu dengan cahaya biru dari pedang kakek tersebut, ini menunjukkan kalau kedua bilah pedang tersebut sama-sama merupakan pedang mustika yang mahal harganya.
Kakek berjubah hijau itu pelan-pelan mengangguk, lalu pujinya dengan suara pelan.
"Sudah lama kudengar orang berkata bahwa pedang Giok siang kiam milik Lam hay sin ni adalah sebilah pedang mustika yang langka dalam dunia persilatan, setelah kulihat sendiri sekarang terbuktilah bahwa berita tersebut bukan berita kosong belaka"
Gak Lam kun kembali merasa terkejut, pikirnya.
"Aaah.... ternyata dugaanku memang tidak salah ketua perguruan panah bercinta Bwe Li pek memang muridnya Lam hay sin ni, kalau tidak tak mungkin Lam hay sin ni akan menyerahkan pedang mustika miliknya itu kepada orang lain"
Dalam pada itu si kakek berjubah hijau itu sudah menyiapkan pedangnya, lalu sambil tertawa ia berkata.
"Gak Lam kun dalam dunia dewasa ini jarang sekali ada orang yang sanggup menerima tiga buah serangan pedangku, kau harus perhatikan baik-baik karena ketiga buah seranganku justru merupakan tiga jurus inti yang mencakup segenap kekuatan serta kehebatan dari ilmu pedangku"
Gak Lam kun berdiri dengan pedang disilangkan didepan dadanya, ia berdiri sekokoh batu karang jawabnya dengan dingin.
"Silahkan menyerang dengan sepenuh tenaga! Boanpwe akan pertaruhkan nyawaku untuk menerima seranganmu itu!"
Menyaksikan cara Gak Lam kun memegang pedangnya sambil berdiri angker diam-diam kakek berjubah hijau itu manggut berulangkali.
Tiba-tiba kakek berbaju hijau itu meluruskan pedangnya sejajar dengan dada sepasang matanya terpejam rapat, wajahnya berubah menjadi serius sekali.
Waktu itu Gak Lam kun telah menghimpun pula segenap tenaga dalamnya kedalam telapak tangan, ia sudah bersiap sedia menyambut serangan pertama dari lawannya.
Sebelum melakukan persiapan tadi, sesungguhnya ia sedikit memandang enteng ketiga jurus serangan lawan, tapi sekarang ia tak berani gegabah ia merasa bahwa musuhnya mungkin benar-benar memiliki ilmu pedang yang tiada tandingannya didunia ini.
Mendadak kakek berjubah hijau itu mementangkan sepasang matanya, setajam sembilu sorot matanya dan pandangan itu tertuju pada ujung pedang yang berada dalam genggamannya itu.
Berbareng dengan gerakan itu pelan-pelan si kakek berjubah hijau itu menggetarkan pedang birunya lalu ditusuk kedada Gak Lam kun dengan suatu gerakan mendatar.
Serangan itu kelihatannya sederhana tanpa sesuatu yang aneh, tapi bagi penglihatan seorang ahli pedang, serangan tersebut justru merupakan suatu serangan pedang tingkat tinggi.
Tiba-tiba paras muka Gak Lam kun berubah hebat, mimik wajahnya menunjukkan perasaan ngeri, kaget, kagum dan tercekat.
Tapi dalam waktu singkat paras mukanya kembali berubah, yaitu perasaan kecewa, perasaan nekad dan semangat yang berkobar.
Sementara paras muka Gak Lam kun mengalami dua kali perubahan, ujung pedang yang memancarkan sinar biru itu sudah berada tiga inci didepan dadanya.
Gak Lam kun segera menggerakkan pedang pendeknya untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Criing!
Criing!
Criing....
tiga kali dentingan nyaring berkumandang memenuhi angkasa.
Kilatan warna biru dan bianglala warna putih dalam sekejap mata yang singkat telah saling membentur sebanyak tiga kali....
Hawa pedang segera membumbung tinggi keangkasa, tapi sekejap kemudian tiba-tiba lenyap tak berbekas....
Tubuh Gak Lam kun terdesak mundur sejauh tiga kaki, tapi ia masih berdiri sambil memeluk pedang, tapi sorot matanya telah pudar, peluh sebesar kacang membasahi jidatnya.
Jelas dalam bentrokan itu ia merasa betapa ngototnya serta mengalami rasa kaget serta ngeri yang kelewat batas.
Kakek berbaju hijau itu sendiri masih tetap berdiri dengan sikap tenang, namun sekilas rasa kaget sempat menghiasi wajahnya, jelas ia kagum atas kehebatan Gak Lam kun yang masih muda namun telah berhasil mencapai kepuncak kesempurnaan dalam permainan pedangnya itu.
Mendadak kakek berbaju hijau itu masukan kembali pedangnya kedalam sarung, lalu dengan dingin berkata.
"Tiga jurus sudah lewat, kau memang benar-benar murid seorang kenamaan. Bila kau sedia meninggalkan gedung ini, silahkan mundur dulu lewat timur kemudian berputar kebarat, dengan cepat barisan ini akan kau tinggalkan, bila berjumpa lagi dikemudian hari mungkin kita akan menjadi musuh yang saling bertentangan bagaikan api dan air, nah sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini!"
Selesai mengucapkan kata-kata tersebut kakek berbaju hijau itu lantas menuju kelorong sebelah selatan dan pelan-pelan mengundurkan diri dari situ.
Gak Lam kun meraba rambut diatas jidatnya yang kutung dengan tangan kirinya, kemudian menghela napas panjang, pedangnya dimasukkan kembali kedalam sarung.
Bagaimanapun juga, perasaannya telah bergetar keras karena dalam menghadapi ketiga jurus serangan tersebut, hampir saja nyawanya lenyap diujung pedang lawan.
Tak bisa dibantah lagi ilmu pedang dari kakek berbaju hijau itu telah dilatih hingga mencapai tingkat yang tiada tandingannya didunia ini, coba ia menyerang satu jurus lebih banyak, sudah pasti dia tak akan mampu untuk menghadapinya.
Sesungguhnya semangat Gak Lam kun berkobar-kobar, akan tetapi sekarang ia merasa agak lemas dan putus asa, ia tak mau tinggal terlalu lama lagi disitu, maka menurut petunjuk dari kakek berbaju hijau tadi iapun mengundurkan diri dari situ.
Mendadak....
beberapa ucapan terakhir dari kakek berbaju hijau itu membangkitkan kembali sikap ingin menangnya, ia mendengus dingin lalu bergumam.
"Baiklah! Bila ada jodoh aku pasti akan minta petunjuk darinya.... aku ingin tahu apakah ilmu silatnya memang betul-betul tiada tandingannya didunia ini!"
Gak Lam kun segera sadar dari lamunan, tanpa terasa kembali dia berpikir.
"Siapakah kakek itu? Siapakah diantara jago-jago silat dewasa ini yang memiliki ilmu pedang selihay itu?"
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya tanpa terasa serunya tertahan.
"Dia adalah See ih kiam seng (malaikat pedang dari See ih) Siang Ban im?! Hanya dia seorang yang dapat memiliki ilmu pedang selihay itu.... kalau tidak siapa lagi didunia ini yang berhak mendapatkan gelar sebagai malaikat pedang lagi?"
Tiba-tiba kedengaran seseorang membentak nyaring.
"Siapa disitu?"
Mendengar teguran tersebut Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, buruburu badannya berkelebat lewat dan menyembunyikan diri disisi dinding rumah sebelah kanan.
Ternyata pada waktu itu Gak Lam kun telah berjalan dilorong terakhir yang menuju kesebelah utara, jaraknya dengan jalan keluar tinggal tiga empat puluh kaki lagi dan bentakan itupun berkumandang datang dari luar lorong.
Agaknya orang itu menunggu cukup lama, tapi setelah dilihatnya tiada jawaban yang terdengar dia lantas bergumam pula.
"Jangan-jangan telingaku yang salah mendengar, Hoa heng, kau mendengar suara manusia atautidak?"
Perlu diterangkan disini, gumaman Gak Lam kun tadi diucapkan dengan suara yang amat lirih, sekalipun ditengah malam y-ng sunyi tapi bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang amat sempurna jangan harap bisa menangkap suara orang lain dari jarak sejauh tiga empatpuluh kaki itu.
Kedengaran seseorang menyahut dengan suara yang nyaring.
"To heng, lebih baik jangan panik begitu, gedung ini penuh dengan ilmu barisan serta alat jebakan, kecuali kau seorang, siapa pula yang bisa jalan-jalan seenaknya didalam sana sekalipun kau tidak salah dengar tapi orang itupun belum tentu bisa keluar dari kurungan dengan selamat!"
Orang itu segera tertawa kering.
"Hoa heng, lebih baik kurangi jilat pantatmu nyaris kita akan terkurung malam ini disini."
"Lihay, sungguh teramat lihay"
Lanjut orang she Hoa itu.
"coba kalau ilmu kepandaian yang dimiliki To-heng tidak hebat dan luar biasa, siaute betul-betul akan terkurung disini dan mati kelaparan."
Tampaknya orang yang lain adalah seorang tosu, dia termenung sejenak kemudian baru berkata.
"Hoa heng, bukan aku sengaja menyombongkan diri, dalam dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang jarang sekali ada orang yang pandai segala ilmu barisan semacam aku."
"Bukan cuma jarang hakekatnya sama sekali tiada yang kedua!"
Sambung orang she Hoa itu cepat-cepat. Tosu itu termenung lagi sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.
".... tapi alat jebakan serta barisan yang diatur dalam gedung ini benar-benar sudah memusingkan kepalaku"
"Terlalu sungkan, terlalu sungkan...."
Orang she Hoa itu tertawa ringan. Rupanya tosu itu sudah dibuat marah, katanya cepat dengan suara yang dingin.
"Hoa heng, aku bicara sungguh-sungguh, antara kita berdua toh sudah terikat oleh perjanjian, masakah aku bakal membohongi dirimu dengan kata yang sengaja kubuat-buat?"
Orang she Hoa itu segera tertawa.
"Tidak berani, tidak berani, harap to heng jangan salah paham dengan maksudku pula?"
"Kita telah berhasil melewati barisan dalam kebun bunga dan bangunan gedung diluar sana, segala sesuatunya meski sakti dan aneh untung semuanya telah kita lewati dengan aman, tapi tahukah kau bahwa ilmu barisan yang lebih lihay dan alat jebakan yang lebih hebat masih ada dibelakang sana? Konon alat-alat jebakan yang dipasang disekitar tempat penyimpanan mustika sedemikian hebatnya, sehingga walaupun kau memiliki peta petunjuk dari Lencana pembunuh naga, toh masih tetap setengah incipun sukar dilewati, yaa.... percuma memang walaupun kita mempunyai lencana itu, sebab bagaimana pun hal ini masih menyulitkan sebelum diadakan suatu penyelidikan yang seksama tak nanti aku berani sembarangan memasukinya"
Gak Lam kun yang sempat mencuri dengar pembicaraan itu menjadi amat terkejut, dia tidak mengira kalau lencana pembunuh naga sesungguhnya menyimpan begitu banyak rahasia dunia persilatan.
Perlu diterangkan disini, menjelang saat kematiannya meskipun Yo Long menerangkan kepadanya bahwa Lencana pembunuh naga adalah suatu mustika dunia yang diincar dan menjadi idaman setiap umat persilatan, namun ia sama sekali tidak menerangkan rahasia apakah yang tersimpan dibalik lencana tersebut.
Oleh sebab itu terhadap pelbagai macam rahasia yang berada dibalik lencana pembunuh naga, Gak Lam kun masih tetap bingung dan tidak habis mengerti.
Siapakah dua orangitu?
Tak disangka olehnya kalau dunia persilatan demikian licik dan berbahayanya, padahal tidak sedikit jumlah jago persilatan yang berkumpul diatas pulau terpencil itu, tapi kedua orang itu secara diam-diam bisa sampai disini, kalau didengar dari pembicaraan mereka rupanya sebelum itu mereka sudah tahu tentang rahasia didalam gedung itu.
Kedengaran orang she Hoa itu tertawa ringan, lalu berkata.
"Kalau begitu bagaimana pun juga kita harus mendapatkan lencana pembunuh naga itu?"
Tosu tersebut tertawa dingin.
"Hoa heng dewasa ini para peserta yang telah berdatangan kemari untuk saling memperebutkan lencana pembunuh naga terdiri dari pihak Thi eng pang, Cing ciam bun beserta para jago dari aliran See thian san, aku lihat kekuatan kita betul-betul paling minim dan lemah."
"Jangan khawatir saudara To"
Jawab orang she Hoa itu sambil tertawa "siaute mempunyai sebuah rencana bagus yang tanggung bisa menjirat beberapa orang jago lihay"
Tosu itu tertawa kering.
"Heee.... heeehh.... heeh.... apakah kau maksudkan Say loji serta Kongsun Po....?"
"Toa heng kecerdasanmu memang luar biasa"
Puji orang she Hoa itu lagi sambil tertawa "tapi kau lupa, toh masih ada seorang Yan lo sat (iblis perempuan cantik) Hoang Im?"
"Saudara Hoa, yakinkah kau bahwa beberapa orang itu pasti dapat kaujerat?"
"Kini keadaan situasinya telah berubah, tentu saja dengan senang hati mereka bersedia untuk bekerjasama dengan kita, apalagi aku masih mempunyai daya pikat lain yang tentu akan merangsang mereka semua"
Mendengar perkataan itu, tosu tersebut tertawa bangga.
"Haaahhh.... haaahhh.... haaaahhh.... bagus, bagus sekali, kalau begitu kuserahkan persoalan ini kepada saudara Hoa"
Orang she Hoa itu ikut pula tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.... haaahhh.... saudara To, mari kita tinggalkan tempat ini"
Selesai dengan ucapan tersebut, secara lamat-lamat Gak Lam kun mendengar suara langkah kaki itu makin lama makin menjauh dan akhirnya lenyap dibalik keheningan.
Gak Lam kun menghembuskan napas panjang, pelan-pelan diapun berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
Tapi kini satu persoalan berkecamuk dalam benaknya, sambil berjalan ia berpikir.
"Kedua orang itu je1as semuanya adalah jago-jago yang bernama besar dalam dunia persilatan, entah siapakah dia?"
Pelan-pelan Gak Lam kun berjalan keluar dari mulut lorong itu, dihadapannya terbentang sebuah lembah bukit yang sepi, rupanya tempat itu merupakan sudut tenggara gedung besar itu.
Baru saja si anak muda itu keluar dari lorong, mendadak muncul sesosok bayangan hitam yang bagaikan sesosok sukma gentayangan berkelebat menghampirinya, kelima jari tangannya bagaikan cakar setan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kirinya.
Sergapan yang dilakukan sangat mendadak ini mempunyai gerakan yang amat cepat dan luar biasa.
Seketika itu juga Gak Lam kun merasakan datangnya ancaman, tapi gerakan tangan musuh sungguh teramat cepat, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah tersentuh olehnya.
Dalam terkejutnya, buru-buru Gak Lam kun mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat, dengan suatu gerakan manis ia menghindar sejauh lima enam depa dari posisi semula.
Tapi baru saja kakinya berdiri tegak, kembali datang segulung angin pukulan yang sangat berat menghantam jalan darah Hong hu hiat pada bahu kirinya.
Tercekat hati Gak Lam kun, dia tidak mengira kalau sergapan musuh dilakukan sedemikian cepatnya hingga tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk berganti napas, satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, sekali lagi dia gunakan gerakan Liong heng sin hoat yang maha sakti itu untuk berkelebat lewat sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
Kali ini dia kuatir kalau musuhnya menguntil terus dibelakang, maka seraya menghindarkan diri, telapak tangan kirinya diputar kebelakang melancarkan pula sebuah pukulan, setelah itu secepat kilat badannya berputar kebelakang dan mengawasi sekeliling tempat itu.
Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang tosu setengah umur berjubah warna kuning, bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, berwajah pucat seperti mayat dan membawa sebuah senjata hudtim yang terdiri dari benang emas.
Disampingnya berdiri pula seorang pelajar berusia empat puluh tahunan berwajah tampan, romantis dan menggembol sebilah pedang diatas bahunya.
Hanya sekilas pandangan saja Gak Lam kun sudah tahu kalau mereka berdua adalah dua orang yang bercakap-cakap tadi, tak terlukiskan rasa kaget dan ngerinya pemuda itu, dia tidak menyangka kalau mereka berdua sedemikian liciknya sehingga meski sudah berlalu dari situ, ternyata secara diam-diam melakukan sergapan.
Sekalipun demikian, dari sini dapat diketahui pula bahwa ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki telah mencapai puncak kesempurnaan, sebab dengan ketajaman pendengarannya ternyata ia tidak mengetahui akan kehadiran kembali mereka berdua.
Tosu berjubah kuning itupun kelihatan tertegun kemudian sambil tertawa seram katanya.
"Aku lihat ilmu silatmu cukup sempurna, kecerdasanmu pun boleh juga dipupuk?"
Waktu itu Gak Lam kun sudah merasa amat marah karena tanpa sebab kedua orang itu menyergapnya dan nyaris ia kena dipecundangi, dengan suara dalam serunya kemudian.
"Aku rasa kamu berduapun merupakan jago-jago persilatan yang punya nama dan kedudukan, kenapa kalian lakukan tindak penyergapan yang rendah dan memalukan itu"
Sastrawan ganteng tertawa tergelak.
"Haaahh.... haaah.... haaah.... siapa pula dirimu? Kalau bicara begitu tak tahu diri? Hmmm.... kalau menyergappun suatu perbuatan rendah, lantas aku ingin bertanya kalau menyadap pembicaraan rahasia orang lain merupakan perbuatan yang rendah atau tidak?"
Gak Lam kun mengerutkan dahinya, kembali ia berseru dengan marah.
"Saudara, ucapanmu itu terlalu dibuat-buat, kau anggap hanya kalian saja yang boleh mendatangi gedung ini dan orang lain tidak boleh mendatanginya"
Tosu berjubah kuning itu tertawa seram, senjata hudtimnya disisipkan kebelakang bahunya, kemudian selangkah demi selangkah dia menghampiri si anak muda itu.
Dibalik wajahnya yang kurus dan jelek, terlintas kebuasan, kelicikan, kekejaman, kesombongan dan keangkeran yang tebal membuat mimik wajahnya kelihatan begitu seram dan menggidikkan hati.
Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Gak Lam kun mendengus dingin dengan segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tiba-tiba tosu berjubah kuning itu tertawa dingin tubuhnya menubruk kedepan, kelima jari tangan kirinya secepat kilat mencengkeram tulang persendian pada sikut lengan kanan pemuda itu.
Gerakan serangan tersebut bukau saja dilakukan dengan suatu jurus yang aneh lagi pula jauh berbeda dibandingkan dengan ilmu Kin na jiu yang berlaku pada umumnya.
Gak Lam kun sangat terperanjat, buru-buru dia miringkan tubuhnya kesamping untuk menghindarkan diri.
Tapi tosu berjubah kuning itu langsung menerjang maju kedepan lutut kanannya segera diangkat dan disodokkan ketubuh bagian bawah lawan.
Tendangan maupun pukulan itu bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, dan lagi disertakan juga tenaga pukulan yang sangat kuat.
Tampaknya tidak sempat lagi Gak Lam kun untuk menghindar ataupun membendung datangnya ancaman tersebut, kelihatan sebentar lagi dia bakal terluka ditangan tosu berjubah kuning itu.
Mendadak Gak Lam kun mengangkat kaki kanannya lalu kaki kirinya bergeser keluar, tubuhnya berputar kesamping begitu menghindar diri dari serangan gabungan yang datang dari depan, telapak tangan kanannya berputar kesamping dan balas melancarkan sebuah pukulan yang tak kalah dahsyatnya.
Tindakan dari Gak Lam kun ini bukan saja aneh lagi pula diluar dugaan orang, bukan saja serangan musuh dapat dihindari, serangan balasanpun amat gencar, hanya dalam satu gebrakan ia berhasil memperbaiki posisinya yang terdesak menjadi kedudukan yang menguntungkan.
Rupanya tosu berjubah kuning itu tidak menyangka kalau musuhnya demikian cekatan, oleh serangan balasan yang dilancarkan dengan tenaga besar itu ia malah berbalik kedesak mundur sejauh tiga langkah lebar.
Dengan penasaran tosu berjubah kuning itu menerjang maju lagi kedepan, sekali lagi telapak tangannya disapu kemuka melancarkan serangan balasan, diiringi suara tertawa dingin yang menyeramkan, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia menerjang maju kemuka.
Kali ini gantian Gak Lam kun yang merasa tertegun, dia tidak menyangka kalau gerakan menubruk yang dilakukan musuhnya untuk kedua kalinya ini jauh lebih cepat daripada serangan yang pertama, bahkan dilakukan hampir bersamaan waktunya dengan gerak mundur tadi.
Ia merasa bahwa tenaga pukulan yang menghembus keluar dari telapak tangan lawan mengandung unsur kekuatan panas yang kuat, tenaganya jauh berada diatas kepandaian Giok bin sin ang (si kakek sakti berwajah pualam).
Gak Lam kun tak berani bertindak gegabah ia tak mau menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, kaki kanannya lantas diangkat dan tubuhnya bergeser kesamping, dalam sekejap mata ia sudah menyingkir sejauh lima depa dari posisi semula.
Bagaikan sesosok bayangan tosu berjubah kuning itu menguntil dari belakang, sebuah pukulan kembali dilancarkan mengimbangi gerakan tubrukannya ketubuh pemuda itu.
Dengan jurus Tham lip ki cu (merogoh saku mengambil mutiara) tangan kiri si tosu berjubah kuning itu menyambar sepasang mata Gak Lam kun sementara tangan kanannya dengan mempergunakan ilmu Ki na jiu hoat yang sangat aneh mencengkeram pergelangan tangan kiri pemuda itu.
Rupanya tosu berjubah kuning itu sudah berhasil menyusul baik rencana penyerangan, bukan saja semua serangan dilakukan dengan kecepatan yang mengagumkan, apalagi ilmu ki na jiu hoat tersebut boleh dibilang merupakan suatu kepandaian maha sakti yang jarang ditemui dalam dunia persilatan.
Dari sini semakin terbuktilah bahwa tosu berjubah kuning itu tak lain adalah seorang tokoh persilatan yang mempunyai nama serta kedudukan yang amat tinggi.
Meskipun ilmu silat yang dimiliki Gak Lam kun sendiri tidak termasuk lemah, akan tetapi oleh karena terlalu memandang enteng musuh, akibatnya ia kehilangan posisi yang menguntungkan, dalam keadaan demikian tak mungkin lagi baginya untuk menghindarkan diri dari ancaman musuh.
Dalam keadaan kritis ia lantas mengeluarkan jurus Tay bong tian gi (burung elang raksasa mementangkan sayap) untuk menangkis ancaman tangan kiri si tosu berjubah kuning yang mengancam sepasang biji matanya itu....
oooOooo Sayang seka1i pemuda itu lupa serangan Ki na jiu yang dilancarkan musuhnya lewat tangan kanan justru berlipat kali lebih membahayakan tahu-tahu pergelangan tangan kirinya terasa menjadi kaku, dan urat nadinya sudah terjatuh ditangan lawan.
Gak Lam kun merasa sangat terkejut, menggunakan kesempatan ketika tangan kanan tosu berjubah kuning itu belum mengerahkan tenaga, jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya segera disentik kedepan.
Segulung desingan angin serangan yang tajam dan kuat segera menyambar urat nadi pada pergelangan tangan kanan tosu tadi.
Perubahan ini jauh diluar dugaan siapapun, tosu berjubah kuning itupun tidak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Gak Lam kun telah mencapai taraf sedemikian tingginya, urat nadi pada pergelangan tangan kanannya tahu-tahu merasa kesemutan dan ia sudah kena diserang oleh tenaga sergapan anak muda itu.
Setelah jari-jari tangan kirinya melancarkan sentilan tadi, Gak Lam kun lantas memutar telapak tangan kanannya satu lingkaran dan kemudian dilontarkan kebelakang, tosu berjubah kuning itu kena didesak lagi sehingga mundur sejauh tiga empat langkah.
Dengan demikian, kedua belah pihak sama-sama dikejutkan oleh kelihayan ilmu silat lawannya, empat mata saling bertemu dan bertatapan tanpa berkedip, untuk sesaat mereka berdua sama-sama tidak berani melakukan sergapan untuk ketiga kalinya.
Sastrawan tampan yang mengikuti jalannya pertarungan dari samping menunjukkan pula perasaan kaget dan tercengang, sambil tertawa tergelak dia lantas mengejek.
"Thian yu to heng, rupanya ilmu silatmu belakangan ini telah peroleh kemajuan pesat, malam ini siaute benar-benar merasa puas dengan kehebatanmu?"
Ucapan yang setengahnya mengandung ejekan dan sindiran itu sesungguhnya bermaksud untuk memanasi hati lawan.
Mendengar ucapan itu, paras muka Gak Lam kun berubah hebat, ia merasa yaa kaget yaa marah.
Ternyata ia telah berhasil menebak siapa gerangan orang yang berada dihadapannya sekarang.
Tosu berjubah kuning itu mungkin adalah Kui to (tosu setan) Thian yu cinjin yang merupakan musuh paling tinggi ilmu silatnya diantara sisa tujuh orang musuh besar gurunya, sedangkan sastrawan ganteng itu mungkin adalah orang kelima yang dinamakan orang sebagai Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi.
Kenyataannya manusia yang bernama Kui to (tosu setan) Thian yu cinjin memang berilmu silat amat lihay, tapi yang mengherankannya adalah Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi, menurut catatan Cin jin liok, jelas dikatakan bahwa ilmu silatnya hanya bisa menangkan Kongsun Po serta Ou Yong hu, tapi kenyataannya ternyata jauh diluar sangkaan.
Ditinjau dari tenaga sergapan yang ia lancarkan tadi, bisa diketahui bahwa ilmu silatnya jauh diatas kepandaian Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say khi pit, mungkinkah dia sengaja menyembunyikan ilmunya?
Kalau memang demikian, jelaslah sudah bahwa lelaki sejati berpedang baja Hoa kok khi sesungguhnya adalah seorang manusia licik yang banyak sekali tipu muslihatnya.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam kun, diam-diam pikirnya.
"Setiap orang yang berada dalam dunia persilatan memang amat licik dan sukar diraba jalan pikirannya, untuk membalaskan dendam bagi guruku aku musti tahu keadaannya lebih dulu sebelum melakukan tindakan"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa pemuda itu tertawa dingin kepada Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi katanya.
"Hei, bukankah kau adalah laki-laki sejati berpedang baja yang banyak disebut-sebut oleh orang persilatan?"
Agak tertegun si lelaki berpedang baja Hoa kok khi setelah mendengar perkataan itu, tapi sebentar kemudian ia telah tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... haaaah.... sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan, boleh aku tahu siapa namamu?"
Sekuat tenaga Gak Lam kun berusaha mengendalikan kobaran api dendam yang membara dalam hatinya, dengan suara yang amat tenang dia menjawab.
"Aku hanya seorang prajurit tak bernama dalam dunia persilatan, apa gunanya kau menanyakan soal namaku?"
Thian kiam kuncu Hoa kok khi tertawa ringan.
"Sudah belasan tahun aku Hoa kok khi jarang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan sungguh tak kusangka keadaan dalam dunia telah mengalami banyak perobahan, seorang prajurit tak bernama dari dunia persilatanpun memiliki kepandaian silat selihay ini"
"Belum tentu setiap orang yang sehari penuh melakukan perjalanan dalam dunia persilatan mengetahui keadaan dalam dunia persilatan jauh lebih jelas dari mereka yang mengasingkan diri"
Sambung Gak Lam kun "mengenal namaku juga bukan suatu yang luar biasa sebagai orang muda dari dunia persilatan siapa yang tidak tahu bahwa peristiwa besar ditebing Yan po gan dimasa lalu telah mengangkat nama Kui to Thian yu Cinjin serta Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi sekalian?"
Mendengar perkataan itu, paras muka Thian yu cinjin maupun Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi segera berubah hebat.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Thiat kiam kuncu Hoa Kok Khi mencorong sinar tajam dari balik matanya, ia bertanya.
"Aku dengar belakangan ini dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago muda yang mempunyai ilmu silat amat tinggi, tampaknya kaulah yang bernama Gak Lam kun."
Terkesiap hati Gak Lam kun sesudah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau berita tersebut sudah tersiar demikian cepatnya keseluruh dunia persilatan.
"Jangan-jangan orang persilatan juga tahu kalau aku adalah muridnya Yo Long dan selama ini aku pula yang telah munculkan diri sebagai Tok liong cuncu?"
Kekuatiran tersebut segera mencekam seluruh perasaan anak muda itu.
Gak Lam kun tersenyum.
Aku tak lebih cuma seorang anak muda yang baru terjun dalam dunia persilatan, sebutan yang terlalu muluk tak berani kuterima.
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... haaaah.... kau terlalu sungkan, kau terlalu sungkan, dengan andalkan beberapa jurus saktimu tadi, sebutan sebagai seorang jago lihay pantas kau gunakan hanya saja aku orang she Hoa juga ingin sekali mencoba ilmu silatmu yang sebenarnya."
"Aku bisa memperoleh kesempatan untuk mencoba kepandaian silatku dengan seorang jago kenamaan bagiku hal ini sungguh merupakan suatu keberuntungan."
Rupanya secara diam-diam Gak Lam kun telah menyusun rencana baik, ia tahu ilmu silat yang dimiliki Kui to Thian yu cinjin teramat lihay mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk mengalahkannya, apalagi sekarang ditambah pula seorang Hoa Kok khi, semakin tipislah harapannya untuk meraih kemenangan.
Oleh karena itu, bila ilmu silat yang dimiliki Thiat kiam kuncu terbukti seperti apa yang ditulis dalam kitab catatan musuh-musuh besar, maka dengan mempergunakan kesempatan itu dia akan membinasakannya, kemudian baru menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi jago yang maha sakti ini.
Jalan pikiran Gak Lam kun memang bagus tapi mana dia tahu kalau Tniat kiam kuncu pun ketika itu sedang menyusun rencananya.
Perlu diterangkan disini, meskipun tenaga dalam dan ilmu silat merupakan inti kekuatan yang diandalkan jago-jago persilatan, tapi biasanya kecerdasan jauh lebih hebat daripada ilmu silat.
Ketika Gak Lam kun baru saja menyelesaikan kata-katanya, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi telah melancarkan terjangan kedepan.
Ia tidak menggerahkan telapak tangannya, pun tidak menggerakkan kakinya, ia hanya bergerak menghampiri kehadapan Gak Lam kun seakan-akan ia memang bersiap-siap menghantarkan tubuhnya untuk digebuk.
Gak Lam kun agak tertegun tapi ia segera tertawa dingin, sambil memutar badan kakinya bergeser kesamping, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan kebahu kanan orang itu.
Bagi seorang ahli silat serangan yang dilancarkan dapat diketahui bahwa ia berilmu atsu tidak, semenjak Gak Lam kun menyaksikan gerakan tubuhnya yang aneh tadi, dia sudah tahu kalau Thiat kiam kuncu adalah seorang musuh tangguh yang tak boleh dipandang enteng.
Betul juga, gerakan aneh yang dilakukan Thiat kiam kuncu tadi seakan-akan memberi gambaran kepada orang kalau ia tidak mengerti ilmu silat tapi, begitu serangan tiba, sepasang bahunya segera diturunkan kebawah dan secara kebetulan sekali berhasil menghindarkan diri dari ancaman tersebut.
Dengan demikian meskipun seandainya serangan tadi mengenai bahu Thiat kiam kuncu namun tenaga pukulannya sudah banyak yang punah, dan seranganpun menjadi lemas.
Pada saat itulah, Thiat kiam kuncu telah manfaatkan kesempatan baik itu untuk menerjang maju kedepan, sepasang telapak tangannya secara beruntun melancarkan bacokan berantai....
Dalam sekejap mata ia telah melepaskan dua belas buah pukulan yang mematikan.
Bayangan telapak tangan meluncur kesana kemari, desingan angin pukulan menderuderu bagaikan putaran roda.
Gak Lam kun segera terdesak hingga mundur berulangkali, saat ini dia cuma bisa menangkis dan tak mempunyai tenaga untuk melancarkan serangan balasan.
Diam-diam berkerut juga alis mata Thiat kiam kuncu, dia tak menyangka kalau Gak Lam kun sanggup menghindari kedua belas buah pukulan yang dilancarkan secara berantai itu dengan selamat.
Sementara ia masih tertegun, Gak Lam kun telah membentak gusar.
"Sreeet! Sreeet! Sreeet!...."
Secara beruntun telapak tangan kirinya melepaskan pula tiga buah bacokan kilat yang memaksa gerak maju Hoa Kok khi menjadi terhalang.
Sekali berhasil merebut posisi yang menguntungkan, Gak Lam kun tak mau melepaskan kesempatan baik itu dengan begitu saja, tiba-tiba ia menerjang maju kedepan sambi1 melancarkan sebuah tendangan kilat ketubuh Hoa Kok khi dengan kaki kirinya.
Deruan angin tajam menyambar-nyambar, secepat kilat Gak Lam kun telah melancarkan tujuh buah tendangan kilat.
Tendangan cepat yang dilakukan oleh Gak Lam kun ini merupakan serangkaian ilmu tendangan yang dahsyat dan jarang ditemui dalam dunia persilatan.
Kecepatannya benar-benar sangat mengagumkan, ibaratnya gulungan ombak yang saling susul menyusul menghantam tepian karang.
Karena posisinya mulai terdesak sehingga pihak lawan memegang peranan untuk melakukan desakan, terpaksa Thiat kiam kuncu Hoa kok khi harus memutar sepasang telapak tangannya sedemikian rupa untuk menciptakan selapis bayangan telapak tangan yang tebal guna melindungi seluruh badannya.
Pertarungan mereka berdua kian lama berlangsung kian sengit, setiap pukulan yang mereka gunakan rata-rata diarahkan pada jalan darah kematian ditubuh lawan, deruan angin serangannya hampir menyelimuti wilayah seluas beberapa depa disekeliling sana.
Daun dan ranting berguguran, suara gemerisik karena pepohonan yang goncang menambah ramainya suara disekeliling sana.
Ketika itu, mereka berdua telah saling berebut posisi dengan sepenuh tenaga, hampir semua perubahan jurus serangannya dilakukan dengan gerakan paling aneh dan paling tangguh.
Si tosu setan Thian yu Cinjin yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi gelanggang diam-diam merasa terkejut, pikirnya.
"Pinto sudah menduga kalau Hoa Kok khi itu licik dan banyak tipu muslihatnya, ia jarang mengunjukkan taraf kepandaian yang dimilikinya tak nyana kalau kepandaiannya telah mencapai taraf sehebat ini. Tapi Gak Lam kun itulah menakutkan lagi dengan usia semuda ini taraf kepandaian silatnya sudah mencapai sedemikian hebatnya, coba kalau diberi kesempatan lama sepuluh tahun lagi, dunia persilatan niscaya akan berada dibawah kekuasaannya...."
Berpikir sampai disitu timbul niatnya untuk turun tangan serta melenyapkan pemuda itu dari muka bumi.
Tapi karena diapun ingin mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Hoa Kok khi, untuk sementara waktu niatnya yang pertama tadi diurungkan, sambil berpeluk tangan diam-diam ia mulai mengamati jurus jurus serangan yang digunakan Thiat kiam kuncu.
Kui to Thian yu cinjin bukan seorang yang bodoh, diapun seorang imam yang berakal licik, sejak bekerja sama dengan Hoa Kok khi, ia sudah tahu bahwa begitu lencana pembunuh naga berhasil didapatkan, atau begitu mereka berhasil memasuki tempat penyimpanan harta, suatu pertarungan sengit diantara mereka tak akan terhindarkan lagi, sebab itu sebelum kejadiannya berlangsung, dia musti mendalami lebih dulu taraf kepandaian yang sesungguhnya dimiliki Hoa Kok khi.
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi bukan manusia sembarangan, tentu saja diapun cukup memahami siasat licik dari Thian yu cinjin yang ingin menyadap jurus serangannya dalam pertarungan ini.
Ditengah berkobarnya pertarungan seru, tiba-tiba Hoa kok khi melancarkan sebuah serangan kedepan, sampai ditengah jalan gerakan itu mendadak berputar dan menerobos lewat sepasang telapak tangan Gak Lam kun dan langsung menghantam dada si anak muda itu.
Melihat datangnya terobosan tersebut, Gak Lam kun mencoba hendak menangkisnya sayang tak sempat lagi.
Terpaksa segenap tenaga dalamnya dihimpun kedalam bahu lalu secepat kilat dilontarkan kedepan.
Pukulan itu secara kebetulan menghantam tepat diatas bahu Gak Lam kun....
Rupanya Thiat kiam kuncu Hoa kok khi cukup memahami sampai dimanakah kehebatan dari bahu lawan, dalam gugupnya ia membuyarkan dua bagian tenaga dalamnya.
Ketika telapak tangan dan bahu saling bertemu, segera terasalah segulung tenaga pantulan yang amat kuat menerjang keluar, mau tak mau Hoa kok khi terdorong juga kebelakang sejauh dua langkah lebih.
Ternyata didalam melancarkan tangkisan dengan bahunya itu Gak Lam kun telah mempergunakan ilmu Tan suai cian (bantingan bahu) semacam ilmu pantulan yang amat dahsyat.
Sebagaimana diketahui, apabila bahu orang dirapatkan satu sama lain, maka akan timbullah sebuah tulang yang menongol keluar, dengan tulang itulah dia telah menahan serangan musuh kemudian tenaga dalam yang terkandung dalam bahu menyusul memantul keluar.
Dengan cara ini bukan saja serangan musuh dapat ditahan, sekaligus bisa mementalkan pula serangan musuh sebesar tenaga yang dipergunakan lawan, atau dengan perkataan lain, semakin besar serangan yang dipergunakan lawan, semakin besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan.
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tidak mengetahui apakah Gak Lam kun telah berhasil menguasai ilmu Tan suai cian tersebut atau tidak, maka tenaga pukulannya buru-buru dibuyarkan beberapa bagian.
Setelah benturan terjadi, Hoa Kok khi baru merasa terperanjat, sebab terbuktilah sudah kalau Gak Lam kun telah melatih kepandaian tersebut hingga mencapai tingkatan kelima.
Setelah memantulkan kembali tenaga lawan, Gak Lam kun ikut menubruk kedepan, secepat kilat telapak tangan kanannya ditolak kedepan menghantam tubuh musuh.
Serangan tersebut boleh dibilang dilancarkan berbarengan dengan gerakan bahu yang dilakukan tadi.
Berbicara menurut keadaannya ketika itu sesungguhnya sulit bagi Hoa Kok khi untuk menghindarkan diri dari ancaman lawan.
Namun Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi yang banyak akal busuknya ini tidak gugup menghadapi ancaman maut, ia tahu keadaan sudah kepepet sekali, mau tak mau dia musti mengeluarkan ilmu simpanannya.
Seperti juga apa yang dilakukan Gak Lam kun tadi ternyata Hoa Kok khi pun mempergunakan ilmu Tan suai cian untuk menyambut serangan tangan kanan si anak muda itu dengan bahunya.
Gak Lam kun tidak menyangka kalau Hoa Kok khi dapat pula mempergunakan jurus kepandaian itu untuk membuyarkan serangannya jelas tak mungkin lagi, dan....
"Blaang!"
Telapak tangannya langsung beradu keras dengan bahu lawan.
Terdengar suara dengusan tertahan menggema memecahkan kesunyian, Thiat Kiam kuncu terhantam sehingga mundur tujuh delapan langkah dari posisinya semula.
Gak Lam kun masih tetap berdiri ditempat semula tapi lengan kanannya terasa linu dan kesemutan sakitnya bukan kepalang.
Waktu itu pemuda tersebut merasa keheranan, ia dengan pasti mengetahui bahwa Hoa Kok khi telah memantulkan seluruh tenaga pukulannya dengan ilmu Tan suai cian, bahkan lengan kanannya menjadi kesemutan dibuatnya, tapi diluar dugaan ternyata isi perutnya tidak ikut terluka, ataukah mungkin tenaga dalamnya kurang sempurna?
Atau mungkin....?
Teringat akan yang terakhir ini Gak Lam kun merasa amat terkejut, buru-buru dia mengatur hawa murninya untuk mengelilingi sekujur badannya, terbukti isi perutnya sama sekali tidak terluka, hal ini semakin meyakinkan dia bahwa tenaga dalam dari Hoa Kok khi lah yang kurang sempurna.
Padahal Gak Lam kun mana tahu kalau Hoa Kok khi ketika itu sedang beradu kecerdasan dengan Thian yu cinjin!
Ia memang sengaja menyembunyikan kepandaian silatnya agar tidak terlalu menyolok.
Coba kalau Hoa Kok khi benar-benar memantulkan tenaga pukulannya yang disertai dengan kekuatan mautnya tak bisa diragukan lagi Gak Lam kun pasti akan terluka parah.
Kiu to Thian yu Cinjin segera memburu maju kedepan, tegurnya.
"Saudara Hoa, bagaimana keadaanmu?"
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa lebar.
"Masih mendingan dan tak sampai terluka dalam, bocah keparat ini memang rada hebat!"
"Hoa heng, biar pinto yang membalaskan sakit hatimu itu!"
Seru Thian yu Cinjin kemudian dengan suara dingin.
Selesai berkata, si tosu setan segera meloloskan hudtim bulu emasnya dan pelan-pelan menghampiri Gak Lam kun....
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi segera tertawa terbahak-bahak, serunya dengan lantang.
"Thian yu to heng, sakit hati atas sebuah pukulan ini bila tidak siaute balas malu aku menjadi seorang pria!"
Dari tempat kejauhan kembali ia lepaskan sebuah bacokan kilat ketubuh Gak lam kun.
Gak Lam kun bukan seorang bodoh, sudah barang tentu diapun mengetahui bahwa kedua orang itu bermaksud jelek terhadapnya, jelas lantaran mereka adalah jago-jago kenamaan, maka kalau secara terang-terangan mengatakan hendak menghadapinya bersama, hal ini pasti akan menurunkan derajatnya, maka digunakanlah sandiwara tersebut untuk menyelimuti rencana mereka yang sesungguhnya.
Benar juga, serangan yang dilancarkan Hoa Kok khi segera mengunci jalan mundur Gak Lam kun sementara bersamaan waktunya hudtim bulu emas ditangan Kui to Thian yu cinjin secepat kilat telah menyambar datang mengancam batok kepalanya.
Serangan gabungan dari dua orang jagoan lihay ini boleh dibilang keji, ganas dan mengerikan, didalam perkiraan kedua orang itu, Gak Lam kun pasti tak akan mampu meloloskan diri dengan selamat.
Paras muka Gak Lam kun berubah juga setelah menyaksikan hebatnya serangan gabungan tersebut, buru-buru dia keluarkan ilmu gerakan tubuh Liong heng sin hoat yang maha sakti itu untuk menghindarkan diri dari sabetan senjata hudtim dari Thian yu Cinjin.
Ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng liong sin hoat memang suatu gerakan tubuh yang sakti dan mengagumkan, Thian yu cinjin betul-betul dibikin tidak habis mengerti, padahal ia tahu kalau semua jalan mundur bagi Gak Lam kun telah tertutup, tapi nyatanya pemuda itu toh berhasil meloloskan diri dari kepungan.
Untuk sesaat lamanya, tosu setan itu sampai terkesima dibuatnya.
Sementara dia masih termenung, Gak Lam kun telah meloloskan pedang pendek Giok siang kiam dari sakunya.
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tidak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk melancarkan serangan lebih dulu, ia segera membentak keras, sepasang telapak tangannya secara beruntun dibabat keluar, dua gulung tenaga pukulan yang dahsyatnya bagaikan ambruknya bukit tay san langsung menerpa kedepan.
Gak Lam kun tidak berani menyambut datangnya serangan dengan keras lawan keras, cepat tubuhnya melejit keudara, segulung hembusan angin puyuh segera menggulung lewat dari bawah kakinya, coba sedikit ia terlambat menghindar, niscaya tubuhnya akan hancur termakan serangan itu.
Baru saja lolos dari ancaman Hoa Kok khi, Kui to Thian yu Cinjin telah menubruk lagi dari belakang, telapak tangan kirinya dengan jurus Sin liong Tham jiau (naga sakti unjukkan cakar) mencengkeram kepalanya sementara senjata hudtim ditangan kanannya dengan jurus Poan koan boan poh (hakim pengadilan memeriksa catatan) menggulung pergelangan tangan kanan pemuda itu.
Gak Lam kun menggetarkan pergelangan tangannya dan menyerang dengan menggunakan jurus aneh, pedang pendeknya dengan gerakan seperti menotok seperti juga sedang membacok dibawah kilatan cahaya yang menyilaukan mata secara beruntun mengancam jalan darah Hian ki, Tong bun, Ciang tay tiga buah jalan darah kematian.
Jitu sekali serangan tersebut, kendatipun Thian yu Cinjin memiliki ilmu silat tinggi, sulit juga baginya untuk mematahkan serangan tersebut, karena posisi tidak menguntungkan, buru-buru tosu itu menarik kembali serangannya dan mundur tiga langkah.
Menggunakan kesempatan itu Gak Lam kun menciptakan segulung hembusan angin pedang yang tajam untuk melindungi tubuhnya, tubuhnya melejit keudara lalu menggunakan pancaran dari angin pedang tadi ia keluarkan ilmu Leng gong siu tok (menyeberang lewat tengah udara) dan melayang sejauh enam tujuh kaki dari tempat semula.
Ternyata Gak Lam kun tahu bahwa kepandaian silatnya seorang diri teramat minim, tak mungkin ia bisa menghadapi dua orang musuh tangguh sekaligus sebab itu timbullah pikirannya untuk kabur dulu dari situ, untuk kemudian bila ada kesempatan dilain saat kedua orang itu baru akan dibunuhnya....
siapa tahu, baru saja kakinya menginjak permukaan tanah dari samping tubuhnya telah berkumandang suara tertawa dingin dari Hoa kok khi.
Menyusul suara tertawa dingin tadi sebuah pukulan dahsyat telah dibabat kearah tubuhnya dari belakang.
Mimpipun Gak Lam kun tidak mengira kalau ilmu meringankan tubuhnya yang demikian sempurna ternyata masih kalah satu tingkat bila dibanding dengan kepandaian Hoa kok khi untuk sesaat sulit bagi pemuda itu untuk menghindarkaa diri.
Dalam keadaan begini ia menjadi nekad, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu lalu telapak tangan kirinya didorong kebelakang dan bersiap sedia menerima pukulan itu dengan keras lawan keras.
Siapa tahu pukulan yang dilancarkan itu ternyata sama sekali tidak menjumpai halangan, karena keheranan maka tanpa terasa dia menarik kembali serangannya itu.
Pada saat itulah segulung tenaga pukulan berhawa dingin mengikuti tenaga yang ditarik kembali itu memyusup kedalam tubuhnya, kenyataan tersebut sangat mengejutkan hatinya, buru-buru ia menyalurkan hawa murninya untuk melindungi isi perut, semua jalan darah penting ditutup dan hawa dingin yang sudah terlanjur menyusup kedalam tubuhpun berusaha didesak keluar.
Sayang sebelum usahanya itu mendatangkan hasil Kui to Thian yu Cinjin telah menyusul kedepan dan menghadang disehelah kanan belakang Gak Lam kun, sebuah pukulan dilepaskan pula dengan telapak tangan kirinya.
Waktu itu Gak Lam kun telah terkena sergapan maut Hoa Kok khi, serta merta serangan dahsyat dari Thian yu Cinjin sulit pula baginya untuk menghindarinya, apalagi serangan itupun merupakan sejenis ilmu pukulan berhawa dingin, yang mengerikan.
Tampaknya sebentar lagi Gak Lam kun bakal terluka parah oleh pukulan mematikan itu.
Disaat yang kritis mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan kesunyian.
Mengikuti suara tertawa dingin tadi, segulung angin pukulan yang lembut langsung menggulung kedepan dan menerjang serangan maut dari Thian yu Cinjin itu.
"Blaaang....!"
Kedua gulung tenaga itu saling bertemu satu sama lainnya, terjadilah suatu gemuruh yang memekikkan telinga.
Oleh tenaga pantulan dari benturan tersebut, Thian yu Cinjin merasakan sepasang bahunya bergetar keras, tubuhnya terdorong mundur setengah langkah dari posisi semula.
Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya, kurang lebih tiga kaki dihadapannya berdiri seorang gadis cantik jelita yang mengenakan baju berwarna kuning emas, disisinya berdiri pula seorang sastrawan berbaju biru.
Siapakah kedua orang itu?
Ternyata mereka bukan lain adalah Kim eng thamcu (thamcu elang emas Ki Li soat dan Lan ceng sin thamcu (Thamcu elang biru Cian seng kui si sastrawan aneh seribu bintang) Wan Kiam ciu, dua orang jago tangguh dari perkumpulan Thi eng pang.
Kui to Thian yu Cinjin kembali tertawa dingin.
"Selamat berjumpa, selamat berjumpa!"
Katanya.
"tidak kusangka dua orang toa thamcu dari Thi eng pang juga telah berdatangan kepulau terpencil ini, heeehh.... heeehh.... heeehhh...."
Kim eng thamcu Ki Li Soat tertawa dingin sindirnya pula dengan nada sinis "Akupun tidak menyangka kalau dua orang jago tangguh yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan telah melakukan perbuatan terkutuk serendah ini dengan mengerubuti seorang pemuda ingusan"
Mendengar sindiran tersebut, si tosu setan Thian yu cinjin merasa malu bercampur marah, sebenarnya ia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi setelah terbayang kembali bahwa pukulannya berhasil menghapuskan pengaruh tenaga serangannya tadi lagi pula mengetahui kalau thamcu ini merupakan orang pertama yang paling diandalkan ketua Thi eng pang, niat tersebut segera diurungkan.
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tergelak pula seraya berkata.
"Sungguh mengagumkan! Sungguh mengagumkan! Ki thamcu memang seorang jago perempuan yang tersohor namanya diseluruh dunia, setelah perjumpaan hari ini kubaru ketahui bahwa namamu bukan kosong belaka"
Pelan-pelan Cian seng ki su Wan kiam ciu maju kedepan, lalu katanya dengan dingin.
"Saudara Hoa, baik-baikkah kau selama ini? Sudah hampir dua puluh tahun lamanya kita tak pernah bersua muka!"
"Baik sekali, baik sekali"
Jawab Thian kiam kuncu Hoa kok khi sambil memberi hormat "setelah berpisah pada dua paluh tahun berselang, tidak kusangka kalau Wan heng telah menjadi seorang toa thamcu dari perkumpulan Thi eng pang, siaute benar-benar ikut gembira atas kesuksesanmu ini"
Cian seng Kisu Wan kiam ciu mendengus dingin.
"Dua puluh tahun tidak berjumpa tampaknya ilmu silat yang dimiliki Hoa heng telah mengalami kemajuan pesat kalau dugaanku tidak salah, rupanya ilmu Tay siu im khi telah berhasil kau kuasai secara sempurna....!"
Hoa kok khi tersenyum.
"Saudara wan terlalu memuji siaute tak berani menerimanya. Haaahh.... haahhh.... haaahh.... ilmu Tay siu im khi adalah sejenis kepandaian berhawa dingin yang amat sakti dan sukar dipelajari, dengan kebebalan otak siaute, mana mungkin ilmu tersebut bisa kupelajari secara sempurna? Haahh.... haaah.... cuma hadiah kitab pusaka Tay siu khi dari saudara Wan tempo hari memang sangat membantuku, disini siaute ucapkan banyak terima kasih dulu atas kerelaan hatimu"
Paras muka Cian seng Ki su Wan Kiam ciu berubah hebat, tapi segera ia tertawa dingin tiada hentihya.
"Heee.... heeeh.... heeeh.... Saudara Hoa, kau jangan terlalu sombong, dulu siaute hanya menyesal karena ilmu silatku bukan tandinganmu sehingga kitab pusaka Tay siu im khi tersebut berhasil kau rampas, tapi sepuluh tahun kemudian ketika kitab tersebut kau kembalikan kepadaku.... Hmm.... hmm.... Ternyata kau berniat busuk dengan menyerahkan se
Jilid kitab Tay siu im khi palsu kepadaku, membuat jiwaku nyaris ikut terbang meninggalkan raga"
"Haaah.... haaah.... haaah saudara Wan, kalau begitu kedatanganmu sekarang adalah ingin melakukan perhitungan lama dengan siaute?"
Tukas Hoa Kok khi sambil tertawa tergelak.
"Saudara Hoa, dahulu kita adalah sahabat karib tapi dengan cara yang rendah dan biadab kau telah mencelakaiku, mengkhianati persahabatan kita, kesemuanya ini membuat siaute benar-benar tak tahan untuk menyimpan terus rasa kesal dalam hatiku."
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi kembali tertawa lebar, ujarnya dengan suara lembut.
"Kalau memang saudara Wan masih teringat dengan persahabatan kita dimasa lalu, aku lihat pertarungan ini lebih baik ditiadakan saja, apalagi sampai dimanakah ilmu silat yang dimiliki saudara Wan, siaute juga mengetahui sangat jelas, siapa menang siapa kalah aku rasa hatimu tentu lebih terang bukan?"
Jelas perkataan itu dia maksudkan bahwa Cian seng Ki su pada hakekatnya bukan tandingannya.
"Aah, belum tentu!"
Teriak Wan Kiam ciu gusar. Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa enteng.
"Saudara Wan, antara kami dengan perkumpulanmu cepat atau lambat akhirnya pasti akan terlibat dalam suatu pertarungan sengit dipulau ini, tetapi jika Wan heng memang sudah tidak sabar menunggu, tentu saja dengan senang hati siaute akan melayanimu"
Dengan suatu gerakan cepat Wan Kiam ciu mengeluarkan sebuah cambuk lemas yang penuh dengan kaitan perak dari sakunya, lalu dengan suara berat berkata.
"Saudara Hoa. sambutlah seranganku ini!"
Tangan kanannya lantas digetarkan dan hawa murninya disalurkan kedalam cambuk tersebut dengan jurus Kim ciam teng hay (jarum emas memaku samudra) ia langsung menyodok jalan darah Hu ciat hiat pada lambung Hoa Kok khi.
Seenteng awan yang bergerak diangkasa, Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi menyingkir tiga depa kesamping.
Siapa tahu Wan kiam ciu telah memperhitungkan sampai kesitu, cambuk lemasnya kembali diputar sedemikian rupa hingga melejit secara aneh menyusul kemudian telapak tangan kirinya memainkan ilmu pukulan cian seng ciang hoat (pukulan seribu bintang) untuk mengimbangi permainan cambuk lemasnya itu.
Jilid 10 Bayangan cambuk dengan dahsyatnya menyelimuti angkasa, bintang-bintang berwarna perak meluncur kesana kemari, angin pukulan yang menderu-deru menambah seramnya suasana, serangan tersebut betul-betul suatu kombinasi serangan yang maha hebat.
Karena kurang hati-hati, Thiat kiam kuncu terdesak hebat dan berulang kali harus mundur kebelakang.
Gak Lam kun yang berdiri disamping arena sambil mengatur nafas dan mengobati isi perutnya yang terluka dapat mengikuti jalannya penarungan itu dengan jelas ia menghela nafas panjang tak disangkanyanya kalau begitu banyak jago lihay yang terdapat dalam dunia persilatan ini, terutama Cian seng Kisu dari Thi eng pang tersebut, kehebatan ilmu silatnya sudah cukup baginya untuk menjadi pemimpin suatu perkumpulan besar.
Setelah didesak berulangkali oleh permainan cambuk Wan Kiam ciu sehingga berulangkali Hoa Kok khi harus menghadapi ancaman maut, lama kelamaan naik darah juga orang itu, sambil tertawa dingin dia lantas mengejek.
"Saudara Wan, ilmu silatmu memang luar biasa, maaf kalau siaute musti bertindak kurang ajar kepadamu"
Diantara berkelebatnya, bayangan cambuk serta bayangan telapak tangan, tiba-tiba ia menerobos maju kedepan sambil melancarkan sebuah babatan kilat.
Cian seng Kisu Wan Kiam ciu tidak mau unjukan kelemahannya, kaki kanannya segera maju setengah langkah, tubuhnya berputar kencang dan cambuknya disodok keatas membabat lengan lawan dengan jurus Ing hong toan cau (menyongsong angin memotong rumput).
Dengan memakai kaki kirinya sebagai poros Thiat kiam kuncu berputar secepat gangsingan, dia mundur beberapa depa, lalu sepasang telapak tangannya secara bergantian melancarkan pukulan dalam sekejap mata ia telah melepaskan empat buah pukulan, bahkan pukulan demi pukulan dikeluarkan dengan kekuatan yang makin hebat.
Sekuat tenaga Wan Kiam ciu memutar cambuknya nenciptakan setengah lingkaran bayangan perak setelah angin cambuk memunahkan empat buah pukulan lawan, dia berebut kedepan sambil melancarkan tiga buah serangan cambuk, sayang serangan tersebut semuanya berhasil dipukul balik oleh tenaga pukulan Hoa Kok khi.
Setelah pertarungan berlangsung beberapa jurus Cian seng kisu baru merasakan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Kok khi, jelas orang itu sudah berhasil menguasai rahasia utama dari ilmu Tay siu im khi yang maha dahsyat tersebut.
Buru-buru dia mengatur pernapasannya dan menyiapkan senjata untuk menghadapi segala kemungkinan tapi ia sendiri sama sekali tidak memulai dengan serangan baru.
Thiat kiam kuncu tertawa terbahak-bahak, sambil melompat mundur tiga langkah katanya.
"Saudara Wan, sekarang bukan waktu yang cocok bagi kita untuk beradu jiwa, bagaimana kalau kita sudahi pertarungan pada malam ini sampai disini saja?"
Tidak menunggu jawaban lagi, dia lantas putar badan dan berkata pula kepada Thian yu Cinjin.
"Thian yu to heng, mari kita pergi"
Kui to (si tosu setan) Thian yu Cinjin tertawa dingin.
"Malam ini sepasang mataku benar-benar terbuka lebar, aku baru tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Hoa heng jauh lebih sempurna dari apa yang pinto duga semula"
Thiat kiam Kuncu tertawa tergelak.
"Haaah... haah... sama-sama, sama-sama To heng pandai menyembunyikan kepandaian, kesempurnaanmu jauh lebih diluar dugaan orang"
"Saudara jangan pergi dulu!"
Tiba-tiba Kim eng thamcu Ki Li soat berseru "dengan memberanikan diri, pun thamcu minta petunjuk beberapa jurus ilmu pedangmu"
"Aaaa..! Ki thamcu terlalu sungkan, aku orang she Hoa dengan senang hati akan menyambut tantanganmu"
"Kenapa tidak kau loloskan senjatamu?"
Ejek Ki Li soat sambil tertawa dingin. Hoa Kok khi tersenyum.
"Kita toh cuma saling mengukur kepandaian, aku yakin nona Ki tidak akan merenggut nyawa aku orang she Hoa, maka lebih baik kugunakan sepasang telapak tanganku untuk menerima pedang nona"
Paras muka Ki Li soat berubah selapis hawa dingin menyelimuti wajahnya, pelan-pelan dia meloloskan sebilah pedang dari belakang punggungnya pedang itu tidak memancarkan sinar tajam atau cahaya berkilauan, karena senjata tersebut ternyata adalah sebilah pedang bambu.
Semua orang baru kaget setelah mengetahui bahwa pedang yang dipergunakan adalah sebilah pedang bambu yang tipis seperti lapisan pisau pikir orang-orang itu.
"Tanpa memiliki tenaga dalam yang sempurna tak mungkin ia bisa mempergunakan lapisan bambu yang begini tipis sebagai senjata andalannya, wah... dia pasti seorang jago yang menakutkan!"
Gak Lam kun tahu kalau gadis tersebut adalah pemimpin para thamcu dalam perkumpulan Thi eng pang, ilmu silatnya pasti lihay sekali, tapi diapun tidak menyangka kalau tenaga dalamnya telah mencapai tingkatan yang dikatakan orang memetik daun melukai orang, menyentil kedelai menotok jalan darah orang.
Paras muka Tniat kiam kuncu Hoa Kok khi agak berubah pula, ia tahu senjata tersebut merupakan sebilah senjata yang mematikan, dia tak berani memandang enteng lagi, segenap perhatiannya dipusatkan menjadi satu untuk bersiap-siap melancarkan serangan.
Tiba-tiba pedang bambu ditangan kanan Ki Li soat yang lemas itu menegang keras, jari-jari tangan kirinya memegang gagang pedang dengan lembut sedang kaki kanannya diseret kearah kiri belakang lalu setelah memutar badannya dengan kepala masih menghadap kedepan ia berbisik.
"Maaf"
Pedang bambu itu pelan-pelan didorong kedepan dengan jurus Hui pau liu sian (air terjun mengalirkan sumber air) ujung pedangnya bergerak lambat kedepan dan menusuk dada kiri Hoa Kok khi.
Sepintas lalu gerakan ini tampak sangat indah ibaratnya bidadari yang sedang berjalan diatas awan akan tetapi dibalik gerakan yang sederhana dan tiada sesuatu yang istimewa itu justru tersimpan gerakan To coan im yang (memutar balikkan im yang) yang merupakan perubahan kedua dari gerakan tersebut, asal musuh menghindari serangan pertama, maka dari gerakan menusuk, pedang itu akan berubah menjadi gerakan sapuan yang menyusul kedepan menyambar tubuh bagian tengah.
Sewaktu serangan kedua ini menyusul kedepan dengan membabat bagian tengah tubuh, maka gerakannya dari lambat akan berubah menjadi cepat, sedemikian cepatnya sehingga tak mungkin bagi musuhnya untuk menghindarkan diri.
Boleh dibilang jurus serangan itu merupakan dua jurus berantai yang maha lihay.
Selapis rasa tegang dan serius menghiasi wajah Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi, tapi ia tidak menghindari serangan tersebut, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan menahan gerakan pedang itu sementara telapak tangan kanannya dengan jurus Ci kou thian bun (menyembah langsung pintu langit) membacok batok kepala musuh.
Dibalik serangannya itu dia sertakan pula segulung tenaga dingin yang menusuk tulang, sedemikian dingin dan tajamnya hawa serangan itu, membuat orang akan bergidik rasanya.
Mendadak bentakan nyaring menggelegar diudara, telapak tangan kiri Ki Li soat meluncur kedepan, sementara pedang bambu ditangan kanannya berubah gerakan.
"Breeet..."
Diiringi suara tertawa nyaring, seperti bayangan setan dalam angin dingin Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi telah mundur tujuh langkah, ketika ia menundukkan kepalanya tampak ujung baju pada pergelangan tangan kanannya telah robek besar.
"Lihay, lihay, betul-betul sangat lihay"
Serunya sambil tertawa "ilmu pedang nona Ki memang sungguh luar biasa sekali, sayang dalam dua jurus pedang kebanyakan sebuah pukulan, bila ada jodoh aku orang she Hoa pasti akan mohon petunjukmu lagi, sekarang terpaksa aku mohon diri lebih dulu.
Gak Lam kun yang mengikuti jalannya pertarungan diam-diam menghela napas, ternyata didalam melancarkan serangannya tadi Ki Li soat memang telah kelebihan sebuah pukulan.
Meskipun sekilas pandangan gadis itu berhasil menangkan pertarungan, tapi ia justru telah mengingkari perkataannya sendiri yakni dua pedang kelebihan satu pukulan.
Sesungguhnya hal ini terpaksa dia lakukan karena pukulan Hoa kok khi yang terlampau lihay hal tersebut memaksanya harus menggunakan pukulan untuk memusnahkan bahaya, jadi dengan demikian menurut peraturan dunia persilatan hasil pertarungan itu adalah seri alias sama kuat.
Walaupun kedua orang itu melangsungkan pertarungan dengan gerakan cepat tapi dari serangan-serangan itu bisa diketahui pula sampai dimanakah sempurnanya ilmu silat mereka serta kecerdasan dan daya refleknya.
Ki Li soat masih berdiri ditempat semula dengan wajah sedingin es, sedikitpun tanpa emosi.
Thiat kiam kuncu Hoa kok khi berpaling kepada Gak Lam kun kemudian ujarnya sambil tersenyum.
"Gak lote, maaf sekali, kau telah terkena pukulan Tay siu im khi ku, bila kau bersedia bertukar syarat denganku, besok tengah hari silahkan kau menantikan kedatanganku disini"
Selesai berkata sambil tertawa ringan ia dan Thian yu Cinjin berlalu dari situ.
Air muka Gak Lam kun yang sesungguhnya merah dadu, kini telah berubah menjadi pucat pasi, matanya setengah terpejam dan mimik wajahnya secara lamat-lamat menunjukkan kesakitan yang luar biasa.
Ki Li soat masukan kembali pedangnya kedalam sarung, pelan-pelan ia maju menghampiri si anak muda itu.
Mendadak Gak Lam kun membuka matanya, dengan sinar mata tajam ditatapnya wajah Ki Li soat sekejap, kemudian setelah tertawa hambar ia memejamkan kembali matanya.
Sekalipun hanya pandangan sekejap, namun sepasang sinar matanya yang tajam bagaikan aliran listrik bertegangan tinggi telah menembusi dasar hati Ki Li soat.
Secara tiba-tiba saja sepasang keningnya berkerut, wajahnya menunjukkan kekesalan dan sedih, sambil menatap wajah Gak Lam kun ia berdiri termangu...
Waktupun berjalan lewat ditengah keheningan.
Tiba-tiba Gak Lam kun membuka kembali matanya, sekulum senyuman tersungging diatas wajahnya yang pucat, sambil menyeka keringat dengan ujung bajunya ia berkata.
"Nona Ki, aku orang she Gak akan mengingat selalu budi pertolonganmu kepadaku, kini aku telah terkena pukulan Tay siu im khi dari Hoa Kok khi, hawa racun telah menyusup ketubuhku dan menyerang isi perutku, kini Sam yang, sam im dan sam meh ku sudah terluka oleh hawa dingin beracun tersebut, dengan keadaan seperti ini aku tahu kalau usiaku tak akan melewati tujuh hari, aku mati bukan urusan, tapi ada satu persoalan membuatku menjadi tidak tenang yakni tempo hari aku tak sanggup menyelamatkan jiwa saudara Si Tiong pek"
OoooooOoooooo Menyinggung kembali soal Si Tiong pek, Ki Li soat merasakan hatinya bergetar keras ia menghela, nafas panjang.
"Mati hidup manusia ada ditangan Thian, mengenai persoalan komandan pasukan Thiat eng tui kami, aku harap kau tak usah selalu memikirkannya dihati, yang penting sekarang adalah luka yang diderita Gak siangkong! Bila kau bersedia, mungkin pangcu kami masih sanggup untuk mengobati lukamu itu"
Gak Lam kun tersenyum.
"Ilmu silat nona Ki sangat tinggi, tentunya kaupun tahu bahwa Tay siu im khi adalah semacam pukulan hawa beracun yang dilancarkan keluar dalam sebuah pukulan tenaga murni tingkat tinggi, dengan meminjam hawa pukulan itulah sari racun dipaksakan masuk kedalam urat nadi..."
Ki Li soat tertegun setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa tanyanya dengan sedih.
"Apakah lukamu itu tak mungkin bisa diobati?"
Menyaksikan sikapnya yang begitu menaruh perhatian, sekulum senyuman penuh rasa terima kasih kembali menghiasi wajah yang pucat, sorot matanya berkilat, katanya.
"Seandainya barusan ada orang membantuku untuk menembusi Sam im dan Lak meh ku, setelah beristirahat beberapa hari lukaku itu pasti akan sembuh dengan sendirinya, tapi sekarang sudah terlalu lambat untuk dikatakan lagi..."
Berkaca-kaca sepasang mata Ki Li soat setelah mendengar perkataan itu mungkin karena ikut cemas dan gelisah atas keadaan lukanya, tanpa disadari airmata bercucuran.
Gak Lam kun terharu sekali, ia semakin merasa bahwa gadis itu adalah seorang gadis cantik yang baik hati, penuh belas kasihan dan berhati polos.
Ini bisa dibuktikan dari sikapnya barusan, tanpa hubungan persahabatan diantara mereka bahkan malah berada dalam posisi saling bermusuhan, ternyata ia menaruh simpatik kepadanya, dari sini bisa diketahui bahwa hatinya memang benar-benar polos.
Selang sejenak kemudian, Ki Li soat menghela napas dan berkata sambil tertawa.
"Sebelum pergi Hoa Kok khi toh sudah meninggalkan pesan, aku rasa dia pasti mempunyai cara penyembuhan..."
"Nona Ki, dugaanmu memang tak salah dia memang mempunyai cara penyembuhan atas luka tersebut"
Kata Cian seng Kisu Wan Kiam ciu sambil tertawa dingin "tapi syarat yang dia ajukan pasti akan jauh lebih berharga daripada nilai selembar nyawa"
"Sekalipun tanpa pertukaran syarat tak nanti akan kuterima bantuan pengobatannya"
Tukas Gak Lam kun sambil tertawa ewa "Nona Ki silahkan kalian berlalu!"
Sehabis berkata dia lantas memberi hormat dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Dengan termangu-mangu Ki Li soat mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dibalik kegelapan, titik airmata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dia sendiripun tidak tahu apa sebabnya begitu menaruh simpatik kepadanya diapun tak tahu mengapa ia harus mencucurkan airmata kepedihan baginya.
"Nona Ki!"
Wan kiam Cu berkata nyaring "aku lihat asal usul orang ini amat mencurigakan kenapa kita lepaskan dengan begitu saja?"
"Wan thamcu, tahukan kau murid siapa dia?"
Setelah berhenti sebentar dan menghela nafas lanjutnya.
"Orang itu bukan lain adalah ahli waris dari Tok liong cuncu Yo long yang namanya tersohor dalam dunia persilatan"
Sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cian seng Kisu Wan Kiam ciu.
"Nona Ki, kalau begitu mari kita susul dia dan membunuhnya"
"Wan thamcu masa kau tidak tahu bila perkumpulan kita ada maksud membinasakan orang ini, semalam ayah angkatku telah turun tangan keji kepadanya"
Kata Ki Li soat dengan dingin "sekarang aku ingin bertanya kepadamu pula, Tok Liong cuncu Yo Long sesungguhnya masih hidup atau sudah mati? Tahukah kau?"
"Menurut pengakuan dari Ou Yong hu, Yo Long telah terjatuh kedalam jurang Yan po gan dibukit Hoa san, sudah tentu sembilan puluh persen tak mungkin bisa hidup"
"Kalau Yo Long masih hidup kita tak usah mengikat seorang musuh tangguh dengannya, kalau sudah mati tentu saja kita lebih-lebih tak usah membunuh orang she Gak itu"
Cian seng Kisu Wan Kiam ciu tidak mengerti maksud dari ucapannya itu dia lantas bertanya.
"Nona Ki, apa maksud perkataanmu itu?"
Sambil tertawa Ki Li soat berkata.
"Teka teki sekitar mati hidupnya Yo Long masih merupakan sebuah tanda tanya besar bagi setiap umat persilatan, sekarang kita ambil contoh seandainya Yo Long telah tiada, lantas siapakah yang akan mewakilinya untuk menerima Lencana pembunuh naga dari Soat san thian li? Apalagi jika kita binasakan Gak Lam kun, bukankah tindakan kita ini sama artinya dengan membantu pihak See Thian san pay untuk mengangkangi Lencana pembunuh naga tersebut? Pangcu telah berpesan kepadaku, bila berjumpa lagi dengan Gak Lam kun kita musti berusaha untuk membaikinya mengikat tali persahabatan dengannya, bahkan bila perlu memanjakan agar dia bersedia kita gunakan, atau paling tidak jangan membuat dia memusuhi kita."
"Berbicara dari kekuatan yang hadir dipulau ini sekarang, boleh dibilang hanya Thi eng pang kita dengan perguruan panah bercinta saja yang memiliki kekuatan paling besar, sekalipun ilmu silat pangcu amat lihay, tapi kepandaian dari Lam hay sin ni juga lihay sekali, kalau Gak Lam kun sampai ditarik oleh pihak perguruan panah bercinta, kejadian ini bagi perkumpulan kita boleh dikatakan sebagai suatu kerugian yang sangat besar sekali"
Cian seng kisu Wan Kiam ciu manggut-manggut.
"Nona Ki benar-benar burung hong diantara manusia, pendapatmu memang hebat sekali!"
Ki Li soat gelengkan kepalanya berulangkali, setelah menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh.
"Gak Lam kun adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan berwatak keras kepala selamanya ia selalu luntang lantung seorang diri tampaknya agak sulit untuk merangkulnya agar memihak kepada perkumpulan kita padahal jago lihay yang dewasa ini berkumpul disini sudah tak terhitung jumlahnya boleh dibilang belum pernah terjadi kejadian semacam ini selama beratus tahun dalam dunia persilatan, aaai... jika sampai terjadi bentrokan langsung, pastilah sudah banyak korban yang akan berjatuhan, akibatnya dunia persilatan akan menjadi lemah sekali!"
"Nona Ki!"
Ujar Cian seng Kisu dengan cepat "buat apa kau merisaukan persoalan itu? Kini ibaratnya airpun susah dibendung, terpaksa kita harus mengembangkannya sesuai dengan rencana yang telah digariskan."
Dengan sepasang mata yang tajam Ki Li soat menatap wajah Wan Kiam ciu lekat-lekat, kemudian iapun menghela nafas panjang.
"Wan thamcu, memang ada baiknya kalau kita segera berangkat pulang untuk melaporkan dulu kejadian ini kepada pangcu."
Selesai berkata dua orang itupun pelan-pelan berlalu dari situ dibawah timpaan sinar matahari pagi.
ooooooOoooooo Dengan menelusuri bukit tebing yang mengitari sekeliling bangunan gedung itu Gak Lam kun bergerak menuju ketimur.
Ia cukup menyadari, ilmu Tay siu im khi yang bersarang ditubuhnya akibat serangan dari Thiat kiam kuncu amat parah sekali, kepandaian tersebut merupakan sejenis ilmu pukulan beracun Im tok sin kang dari aliran perguruan Pek kut bun, para korban kecuali mendapat pengobatan langsung dari pemukulnya boleh dibilang tiada pertolongan lain kecuali jalan kematian.
Sekalipun demikian, untuk memperoleh pengobatan khusus dari pihak Pek kut bun itupun tak bisa melampaui batas waktu selama sembilan jam, maka Thiat kiam Kuncu berjanji kepadanya untuk bertemu pada tengah hari nanti, tentu saja bila syarat yang diajukan dapat diterima, racun itu baru akan disembuhkan dengan suatu cara pengobatan khusus.
Tentu saja Thiat kiam Kuncu mengajukan pertukaran syarat hanya merupakan sebuah usul belaka, tapi Gak Lam kun yang keras kepala dan tinggi hati telah mengambil keputusan untuk tidak menundukkan kepala apalagi minta ampun dari musuh besarnya, ia lebih rela mati secara mengerikan tujuh hari kemudian akibat bekerjanya racun keji itu daripada takluk dan menyerah kepada lawan.
Teringat soal kematian tiba-tiba saja Gak Lam kun merasakan pikiran maupun perasaannya menjadi begitu kosong dan hampa.
Mati!
Tentu saja ia tidak takut, sewaktu masih kecil dulu ia teringat kembali akan si kakek yang patut dikasihani, serta teringat juga bahwa tugas yang dibebankan diatas pundaknya hingga kini belum terselesaikan, padahal tak lama kemudian ia harus berpisah dari dunia ini, rasa sedih seketika menyelimuti seluruh perasaannya, ia berusaha menahan lelehan airmatanya, tapi toh akhirnya butiran airmata mengalir juga membasahi pipinya.
Dibalik butiran-butiran airmatanya itu entah terselip berapa banyak perasaan yang beraneka ragam yang bercampur aduk menjadi satu...
Budi dan dendam belum terselesaikan...
Ciang ping, kekasihnya telah menitipkan adik lelakinya kepada dia untuk dirawat...
Semua kesedihan, kegembiraan, pahit getir dan aneka ragam penderitaan lain yang dialami selama ini, sebentar lagi akan berpisah untuk selamanya...
Aaaai!
Dengan amat pedihnya Gak Lam kun menghela nafas panjang, ia tahu masalah tersebut dengan perasaan apa boleh buat terpaksa harus ditinggalkan dengan begitu saja tujuh hari kemudian.
Dewasa ini yang bisa ia lakukan hanya berusaha keras untuk mengendalikan diri agar luka didalam nadinya tak sampai kambuh, dalam tujuh hari yang amat singkat ini, masih banyak urusan yang harus ia selesaikan, paling tidak seorang musuh besar harus dibunuh, bila masih sempat diapun harus menyambut kedatangan Lencana pembunuh naga, lalu mencari seorang sahabat yang dapat dipercaya menitipkan Ji Kiu liong adik kekasihnya agar dirawat serta melimpahkan tanggung jawab yang sangat berat ini kepada orang lain, dengan begitu dia baru bisa mati dengan tenang tanpa harus risau oleh masalah lain.
Teringat sampai masalah yang terakhir itu tiba-tiba terlintas bayangan dari Bwe Li pek dihadapan mata Gak Lam kun, ia merasa hanya dialah satu-satunya orang yang bisa memikul tanggung jawab berat ini.
Gak Lam kun mendongakkan kepalanya menentukan arah tujuan, lalu ia percepat langkahnya menuju kedepan sana.
Buncu dari perguruan panah bercinta telah berjanji dengannya untuk bertemu pada kentongan kelima, dimana dia hendak mengembalikan pedang Giok siang kiam tersebut kepadanya, kini kentongan kelima, sudah lewat, sinar fajar telah memancar kemanamana, dalam gelisahnya Gak Lam kun segera mengerahkan segenap tenaga ilmu meringankan tubuhnya untuk bergerak menuju kegedung sebelah tenggara.
Mendadak...
Dari balik kabut pagi yang tipis dan remang-remang, ia menyaksikan sesosok bayangan manusia berbaju hitam yang kurus kecil sedang berjalan mendatangi dari arah tenggara.
Sekalipun tubuh Gak Lam kun sudah terluka oleh pukulan Tay siu im khi, bukan berarti ilmu silatnya telah punah, dalam sekali lirikan saja ia telah mengetahui bahwa orang itu bukan lain adalah Thamcu panji hitam dari perkumpulan Thi eng pang Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu.
Pertemuan yang tidak terduga ini segera menimbulkan hawa napsu membunuh yang tebal didalam benak Gak Lam kun.
Dengan cepat ia menghentikan langkah tubuhnya, sementara Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu rupanya masih belum tahu kalau orang yang berada dihadapannya adalah Gak Lam kun, pelan-pelan ia berjalan menghampirinya.
Kurang lebih tiga empat kaki kemudian, Kakek ular dari lautan timur baru mendongakkan kepalanya, begitu menjumpai Gak Lam kun berada dihadapannya, kontan saja paras mukanya berubah hebat, ia menjadi tertegun dan berdiri mematung disana, untuk sesaat tidak diketahui olehnya apa yang musti dilakukan?
Gak Lam kun tertawa dingin dengan seramnya dengan suatu gerakan cepat sepasang tangannya bekerja keras melepaskan jubah luarnya yang berwarna hijau pupus itu sehingga tampak jubah naganya yang berwarna kuning keemas-emasan.
Menyusul kemudian wajahnya yang ganteng ditutup pula oleh selembar topeng berbentuk naga, tangannya mengenakan cakar naga perenggut nyawa dan sekejap mata kemudian, Gak Lam kun telah berubah menjadi Tok liong Cuncu Yo Long yang nama besarnya pernah menggetarkan perasaan banyak orang dimasa lalu.
Tak terlukiskan rasa panik, takut dan ngeri yang berkecamuk dalam perasaan si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu dewasa ini, bayangan kematian sudah mulai menghantui pikiran maupun perasaannya, utusan pencabut nyawa yang setiap hari ditakuti dan dirisaukan, akhirnya muncul juga dihadapan mukanya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh..."
Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu memperdengarkan suara tertawa seramnya yang rendah dan berat, suara tertawanya itu diperdengarkan berulangkali dengan maksud untuk menutupi rasa ngeri, panik dan takut yang hampir menguasai seluruh pikiran maupun perasaannya itu.
Lama, lama sekali, pelan-pelan ia baru berkata.
"Ternyata dugaan lohu tidak keliru, rupanya Tok liong Cuncu yang belakangan ini muncul dalam dunia persilatan tidak lain adalah hasil penyaruan dari Gak sauhiap!"
Gak Lam kun mendengus dingin dan memperdengarkan ilmu Liong gin heng (dengusan naga sakti) nya, kemudian dengan nada menyeramkan ia berkata.
"Ou Yong hu! Kalau engkau sudah tahu, itu lebih bagus lagi kau sudah berhutang selama hampir delapan belas tahun lamanya atas hutang berdarah diatas tebing Yan po gan aku pikir ada baiknya kalau hutang tersebut kau bayar secepatnya"
Mendengar perkataan itu, kembali si kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu merasakan jantungnya berdenyut keras, sekalipun ia sudah menduga bahwa Gak Lam kun bakal mengucapkan kata-kata tersebut kehadapannya tapi setelah kedengaran dalam telinganya sekarang, tak urung menimbulkan juga perasaan ngeri, seram dan takut dalam hatinya.
Sekuat tenaga Ou Yong hu berusaha menenangkan hatinya, lalu sambil tertawa seram katanya.
"Gak sauhiap, bila kau membinasakan aku maka sahabat cilikmu itupun tidak akan hidup lebih jauh!"
Sekali lagi Gak Lam kun mendengus dingin.
"Hmm...! Seandainya kau Ou Yong hu benar-benar sanggup menyembuhkan luka beracun yang diderita Ji Kiu liong, tentu saja aku orang she Gak akan memenuhi janji dengan mengampuni selembar jiwamu, sayangnya Kwik To telah menyerahkan Ji Kiu liong kepada Buncu dari perguruan panah bercinta? Semua kejadian itu telah kuikuti semua dengan mata kepala sendiri, maka sekarangpun kau tak usah banyak bersilat lidah, lebih baik siapkanlah kekuatan untuk bertarung melawan setan pencabut nyawamu nanti"
Setelah mendengar ucapan tersebut, si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu baru merasa amat terperanjat, mimpipun ia tak menyangka kalau semua kejadian tersebut telah diikuti semua oleh Gak Lam kun dengan mata kepala sendiri.
Mendadak...
Ou Yong hu memutar badannya dan siap kabur dari situ.
Kalau dia bisa bergerak cepat, ternyata gerakan tubuh Gak Lam kun jauh lebih cepat lagi, seperti sesosok bayangan setan, tahu-tahu dia sudah berkelebat kehadapan mukanya.
Tak terlukiskan rasa ngeri dan kaget Ou Yong hu, tongkat berkepala ularnya segera disodok kedepan dengan jurus Tok coa toh sim (ular beracun menjulurkan lidah).
Namun serangan tersebut ternyata hanya sebuah serangan tipuan, begitu serangan sudah dilepaskan, tongkat itu cepat ditarik kembali, sementara tubuhnya lantas melejit keudara dan berusaha keras kabur dari tempat itu.
Dengan sinis dan penuh penghinaan Gak Lam kun mendengus dingin.
"Hmm...! Kauanggap bisa kabur dari cengkeramanku?"
Ejeknya dengan suara menyeramkan.
Secepat sambaran kilat telapak tangan kirinya ditabok kemuka, segulung angin taufan yang maha dahsyat langsung menerjang kearah punggung Ou Yong hu.
Rupanya si kakek ular dari lautan timur ini cukup tahu akan kehebatan serangan tersebut, buru-buru ia mengerahkan ilmu bobot seribu untuk meluncur turun keatas permukaan tanah.
Segulung desingan angin tajam kembali menyambar lewat, tahu-tahu kelima jari tangan Gak Lam kun yang memakai cakaran naga yang tajam itu sudah menusuk jalan darah Tay meh, Giok ki, Wi to, Im tok serta Tay ho lima buah jalan darah penting.
Sesungguhnya si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu adalah seorang ahli silat yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna, tapi karena panik dan ketakutan, ini mengakibatkan tenaga dalamnya tak bisa dihimpun sebagaimana mustinya.
Tapi sekarang, setelah ia sadar bahwa sulit baginya untuk lolos dalam keadaan selamat, jagoan dari Thi eng pang ini segera membulatkan tekadnya untuk beradu jiwa, menghadapi saat-saat kritis yang mengancam keselamatan jiwanya, tiba-tiba saja ia kerahkan segenap tenaga dalam yang dilatihnya selama puluhan tahun ini untuk melepaskan sebuah serangan kilat.
Toya ditangan kanannya diputar sedemikian rupa oleh Ou Yong hu untuk melindungi seluruh tubuhnya, sedangkan telapak tangan kirinya dengan menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya melepaskan sebuah bacokan kilat kedepan.
Serangan tersebut telah disertakan segenap kekuatan yang dimilikinya bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.
Terasalah desingan angin tajam menderu-deru bagaikan amukan gelombang samudra yang dipermainkan oleh angin puyuh, serangan tersebut langsung menerjang tubuh Gak Lam kun.
Menghadapi ancaman seperti itu.
Gak Lam kun mendengus dingin, tiba-tiba telapak tangan kanannya mengerahkan ilmu Tok liong ci jiau (cakar maut naga beracun), hawa sakti segera memancar keluar dan menyelimuti seluruh udara.
"Blaaang..!"
Suatu bentakan dahsyat yang memekikkan telinga tak dapat dihindari lagi.
Ou Yong hu mendengus tertahan secara beruntun ia mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.
Paras mukanya segera berubah menjadi pucat pasi seperti mayat kulit wajahnya mengejang keras menunjukkan lekukan-lekukan garis yang penuh penderitaan, toya kepala ular ditangan kanannya telah ditancapkan keatas tanah, dengan sekuat tenaga ia berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sementara dari balik sorot matanya memancar keluar sinar buas yang penuh dengan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam.
Gak Lam kun mendengus dingin, paras mukanya dibalik topeng naga yang mengerikan memancarkan keseraman dan sama sekali tanpa luapan emosi, sedangkan sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang dingin dan mengandung arti yang sukar dipahami.
Selangkah demi selangkah ia berjalan semakin kedepan dan mendekati diri Ou Yong hu.
Mendadak!
Serentetan jeritan aneh yang tinggi melengking dan memekikkan telinga berkumandang diudara, serta mencabik-cabik keheningan malam yang mencekam seluruh jagad.
Raut wajah Ou Yong hu berkerut semakin kencang, mendadak terjadi perubahan hebat, pelan-pelan suatu hawa membunuh yang keji, mengerikan dan buas menyelimuti seluruh wajahnya.
Tubuhnya secara lurus menerjang ketubuh Gak Lam kun, dari tongkat kepala ular yang berada ditangan kanannya tiba-tiba memancar keluar serentetan sinar hijau berupa cairan racun yang baunya luar biasa amis dan busuk...
Inilah kepandaian beracun yang merupakan ilmu andalan Ou Yong hu, kiranya pada ujung toya berkepala ular itu sesungguhnya berupa ruang kosong, didalam rongga kosong tadi disimpanlah cairan bisa dari seribu ekor ular yang paling berbisa.
Ketika ia sudah menyambut serangan Tok liong ci jiau dari Gak Lam kun tadi, sekalipun hawa murninya mengalami kerusakan besar, namun kerugian tadi tak sampai diperlihatkan diatas wajahnya, agar pihak lawan tidak mengetahui sampai dimanakah sesungguhnya luka yang ia derita.
Sebab ia cukup tahu dengan segala kekuatan yang dimilikinya sekarang, ia sadar kekuatan tubuhnga masih belum sanggup untuk menangkan Gak Lam kun, satu-satunya kemungkinan baginya untuk mempertahankan hidup adalah menyemburkan cairan racun diujung toya berkepala ularnya secara tiba-tiba dan diluar dugaan.
Asal Gak Lam kun terkena sedikit saja dari racun jahat itu, dalam waktu singkat sekujur tubuhnya akan membusuk yang mengakibatkan dia akan mati secara mengerikan.
Oleh karena itu, ketika raut wajah Ou Yong hu sedang berkerut kencang tadi, secara diam-diam ia menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk dihimpun keujung toyanya dan mendesak cairan racun agar berkumpul menjadi satu dikepala ular.
Menanti Gak Lam kun sudah berada satu tombak dari jaraknya, serangan kilatpun segera dilancarkan.
Sesungguhnya dengan serangan mautnya itu, si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mempunyai kesempatan untuk berhasil sampai sembilan puluh persen, sayang ia lupa akan sesuatu, dia lupa kalau Tok liong cuncu Yo Long telah mengetahui akan ilmu kepandaian andalannya itu.
Didalam catatan Ciu jin liok (catatan musuh besar) dengan amat jelas Yo Long telah menerangkan ilmu andalan dari Ou Yong hu itu, sementara Gak Lam kun sendiripun telah menduga bahwa disaat menjelang kematiannya ia pasti akan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk memancarkan cairan racun dalam tongkat kepala ular itu.
Maka disaat Ou Yong hu menerjang maju kedepan, serentetan suara pekikan nyaring segera berkumandang menjulang hingga keangkasa...
Tiba-tiba saja tubuh Gak Lam kun berputar bagaikan sebuah gangsingan, dengan suatu gerakan yang sangat lincah sekali dan diluar dugaan tahu-tahu ia sudah berhasil meloloskan diri dari sergapan maut itu.
Gak Lam kun tidak berhenti sampai disitu saja, kelima jari tangan kanannya segera dipentangkan lebar-lebar, begitu disentil dan digetarkan maka meluncurlah lima jalur tenaga serangan yang tajam yang langsung menerjarg kesisi kanan Ou Yong hu.
Dengan sempoyongan sekali lagi Ou Yong hu terpental sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.
Ditinjau dari sekujur badannya yang gemetar keras serta goncangan dari toya ditangan kanannya, hal ini segera membuktikan bahwa ia betul-betul sudah lemas dan kehabisan tenaga sehingga kekuatan untuk berdiri tegakpun sudah tidak dimiliki lagi.
Pelan-pelan Ou Yong hu memalingkan kepalanya, ujung bibirnya bergetar lirih melontarkan serentetan ucapan yang sangat lemah dan pelan.
"Orang she Gak, cepatlah turun tangan untuk membunuh diriku!"
Tiba-tiba Gak Lam kun mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya amat keras bagaikan lolongan srigala, begitu tajam dan mengerikan membuat siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Tiba-tiba ia berhenti tertawa, serentetan sinar mata setajam sembilu memancar keluar dari balik matanya dengan nada sinis dan penuh penghinaan ia berseru.
"Heeeh... heeeh... heeeh... sebelum menerima siksaan yang paling kejam, kau sudah pingin minta ampun? Sebagai seorang enghiong ho han, berani berbuat berani pula menanggung resikonya, guruku sudah menderita siksaan dan penderitaan selama hampir lima belas tahun akibat ulah serta kekejaman kalian semua, apakah kau tidak sanggup untuk menerima sedikit siksaan dan penderitaan menjelang saat kematianmu tiba...?"
Sambil berkata, pelan-pelan Gak Lam kun bergerak maju kedepan, tangan kirinya dengan cepat mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ou Yong hu hal ini menyebabkan si kakek ular dari lautan timur tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan.
Cakar naga yang dikenakan ditangan kiri Gak Lam kun telah membesi dalam urat nadi pada pergelangan tangan kanan Ou Yong hu, darah segar telah mengucur keluar dengan derasnya, raut wajahnya yang semula telah memucat kini berubah kian memucat lagi.
"Sreeet..! Breeet..!"
Kelima jari tangan kanan Gak Lam kun yang bercakar naga telah membesi pula kelima buah jalan darah penting didadanya, lima gulung hawa murni segera bocor keluar mengikuti kelima buah lubang luka tersebut.
Entah bagaimana kemudian secara tiba-tiba saja Ou Yong hu memperdengarkan jeritan lengkingnya macam seekor babi yang disembelih.
Butiran keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar melalui sepasang poripori tubuhnya, sepasang biji matanya telah melotot keluar, bibirnya melebar dan wajahnya menyeringai seram, hal ini menyebabkan raut wajahnya berubah menjadi begitu seram, begitu jelek, mengerikan dan tak sedap dipandang.
Gak Lam kun tertawa dingin cakar naga tangan kanannya tiba-tiba diangkat keatas lalu ditusuk kearah sepasang mata Ou Yong hu dengan suatu kecepatan yang luar biasa.
Jeritan ngeri yang menyayat hati kembali berkumandang memecahkan kesunyian sepasang biji mata Ou Yong hu telah tercukil keluar, darah kental mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya.
Tapi urat-urat yang menghubungkan biji mata dengan kelopak matanya belum putus, sementara jari-jari tangannya masih mengorek diantara kelopak matanya yang kosong dsn penuh berlepotan darah itu.
Suatu pemandangan yang mengerikan sekali, bayangkan saja andaikata cakar naga yang begitu tajam mengorek-ngorek diantara kelopak mata yang kosong dengan urat syaraf yang sama sekali belum putus.
Ou Yong hu memperdengarkan jeritan lengking yang menyayatkan hati, sambil menggigit bibir menahan rasa sakit ia menjerit-jerit seperti orang kalap.
"Orang she Gak... kau teramat keji... kau kejam sekali..."
Mendadak kelima jari tangan Gak Lam kun beralih kemulut Ou Yong hu, menyusul kemudian pancaran darah kental segera menyembur keluar dari mulutnya itu.
Ketika tangan kanan Gak Lam kun ditarik keluar, maka diantara jepitan jari tangannya telah bertambah dengan sebuah lidah yang penuh berlepotan darah.
Sekarang Ou Yong hu sudah tak sanggup berteriak minta tolong atau mohon ampun lagi, jeritan-jeritan sakitnya hanya kedengaran seperti raungan parau yang tak sedap didengar, bahkan setiap kali ia berteriak, darah kental ikut pula menyembur keluar.
Tampaknya rasa dendam dan hawa amarah yang berkobar didalam dada Gak Lam kun belum juga berakhir, cakar naga ditangan kanannya seperti kalap mencakar, menarik, membetot dan merobek sekujur tubuh Ou Yong hu secara keji.
Setiap kali melancarkan cengkeraman, lima buah mulut luka yang sangat dalam segera muncul diatas tubuhnya begitu dalam cengkeramannya itu sehingga tulang putih pun sampai terlihat sekejap mata kemudian darah kental telah membasahi seluruh tubuhnya.
Puluhan kali cakaran kemudian seluruh badan Ou Yong hu dari atas kebawah sudah tiada yang utuh lagi darah kental telah membasahi seluruh tubuhnya waktu itulah Gak Lam kun baru menghentikan cara penganiayaannya yang brutal kejam dan tak kenal perikemanusiaan itu.
Pelan-pelan topeng naganya dilepaskan cakar naga perenggut nyawa dicopot dan iapun mengenakan kembali jubah hijaunya.
Sinar matanya yang dingin menyeramkan dialihkan sekejap keatas wajah Ou Yong hu yang masih mengejang keras dan berguling kian kemari sambil melolong ngeri itu.
Mukanya sama sekali tanpa emosi, air mukanya yang dingin dan ketus sedikitpun tidak memancarkan rasa kasihan atau iba hati.
Dengan tenang diperhatikan sekejap keadaan Ou Yong hu yang tersiksa dan amat menderita menjelang saat ajalnya, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi meninggalkan lawannya yang sekarat dan menjelang tibanya sakratul maut.
Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah jauh meninggalkan tempat itu, dari balik semak belukar baru muncul dua buah batok kepala manusia, menyusul kemudian berdirilah dua orang jago persilatan.
Dengan langkah tubuh yang sangat berhati-hati mereka menghampiri kesisi tubuh Ou Yong hu, sedangkan perasaan hatinya anat tidak tenteram, denyut nadinya terasa berdetak lebih cepat daripada keadaan semula.
Keadaan Ou Yong hu yang seram dan mengerikan benar-benar sangat mengejutkan perasaan kedua orang itu.
Mau tak mau mereka harus bersiap sedia pula sebab pembalasan yang begitu brutal dan mengerikan itu tak lama kemudian akan menimpa pula mereka berdua.
Akhirnya tubuh Ou Yong hu yang berguling-guling berhenti juga, tapi seluruh badannya masih mengejang keras karena kesakitan, gemetar keras membuat badannya seperti bergelombang, rintihan parau yang tak sedap didengarpun mendesis tiada hentinya dari balik bibirnya yang telah tak berlidah itu.
Darah kental meleleh keluar segumpal demi segumpal, keadaan semacam itu betul betul mengerikan sekali dan mendirikan bulu kuduk siapapun yang melihatnya.
Kakek gemuk pendek yang ada disebelah kiri itu tiba-tiba berbisik lirih.
"Saudara Kongsun, coba kau lihat cara bajingan itu membunuh orang betul betul amat brutal, kejam dan tak mengenal peri kemanusiaan"
Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun Po yang bermuka licik dan penuh dengan segala tipu muslihat itu mendehem beberapa kali, kemudian baru sahutnya.
"Say heng bagaimanapun juga kita harus berusaha untuk melenyapkan orang ini dari muka bumi!"
"Tapi... dengan kekuatan kita berdua aku rasa masih belum sanggup untuk menundukkan orang itu"
Ujar Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit.
Ou Yong hu yang berada diatas permukaan tanah rupanya masih sempat mendengar pembicaraan dari kedua orang itu, tenggorokannya kembali memperdengarkan suara gemerutuk yang amat parau dan mengerikan.
Ditinjau dari suaranya itu, seakan-akan ia sedang mohon bantuan dari kedua orang itu untuk membebaskannya dari siksaan yang tak tertahankan lagi itu.
Si Rase berekor sambilan Kongsun Po tertawa kering, lalu katanya kemudian.
"Tua bangka she Ou, beristirahatlah dengan tenang, kami pasti akan membalaskan sakit hatimu itu"
Selesai berkata demikian, teiapak tangannya segera dibabat kebawah, diantara gulungan angin tajam itu, nyawa Ou Yong hu pun terlepas dari tubuh kasarnya yang amat menyiksa diri itu, kini tinggalkan sesosok mayat yang kaku dan berada dalam keadaan menyeramkan.
Rase berekor sembilan Kongsun po kembali tertawa seram, katanya kembali.
"Say heng, setelah kita mempunyai bukti nyata dengan mayat dari tua bangka she Ou ini, rasanya tidak sulit untuk memancing kemarahan khalayak ramai, marilah kita bekerja sama untuk melenyapkan bangsat itu dari muka bumi"
Baru selesai ia berkata, terdengar seseorang telah menyambung sambil tertawa ringan.
"Saudara Kongsun, sekalipun caramu itu tidak jelek, tapi situasi yang kita hadapi sekarang jauh berbeda, siapakah diantara jago persilatan didunia dewasa ini yang tidak tahu kalau persoalan ini menyangkut soal balas membalas yang telah berlangsung turun temurun?"
Mendengar perkataan itu, si Rase berekor sembilan serta si Kakek sakti berwajah pualam segera berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut...
Tampak seorang laki-laki tampan yang amat romantis berdiri kurang lebih beberapa kaki dibelakang mereka, siapa lagi orang itu kalau bukan Thiat kiam Kuncu Hoa Kok khi.
Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit merasa agak tertegun, ia tidak mengira kalau secara diam-diam Hoa Kok khi telah menyusup hanya beberapa kaki saja dibelakang mereka.
Coba kalau tidak mendengar suara teguran tersebut, mungkin mereka berdua masih belum menyadari akan kehadirannya, untung ia tidak bermaksud mencelakai mereka, coba kalau tidak demikian, mungkin nyawa mereka berdua sudah melayang semenjak tadi.
Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa terkekeh-kekeh, kemudian serunya.
"Heeeeh... heeeehh... heeeeehh... rupanya saudara Hoa juga telah sampai dipulau ini Hmm... hmm... tampaknya kau juga ikut menyaksikan tragedi itu bukan?"
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tersenyum.
"Betul kita semua telah ikut menyaksikan adegan tersebut, namun tak seorangpun diantara kita yang secara sukarela bersedia menolong jiwa tua bangka she Ou itu"
"Saudara Hoa, apa maksud dari ucapanmu itu?"
Tegur kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit. Kembali Hoa Kok khi tertawa.
"Perkataanku sama sekali tidak mengandung arti tertentu aku cuma maksudkan andaikata kita bertiga mau menolong tua bangsa she Ou, paling tidak ia tak akan mampus secara demikian mengerikan, tapi... haaaahhh... haaaah... haaaahh... kita semua samasama mempunyai kepentingan pribadi, ternyata tidak seorangpun diantara kita yang turun tangan memberi bantuan!"
Si Rase berekor sembilan Kongsun Po tertawa kering, katanya pula.
"Perkataan saudara Hoa memang benar juga, tapi kaupun harus tahu apa alasan kami sehingga tidak turun tangan untuk memberi bantuan..?"
"Haaah... haaah... haaah... mana, mana!"
Thiat kiam Kuncu tertawa tergelak.
"pada hakekatnya tua bangka she Ou adalah kuku garudanya perkumpulan Thi eng pang, jika ia dibiarkan hidup terus akibatnya hanya akan menambah kekuatan dari perkumpulan Thi eng pang saja"
"Saudara Hoa memang betul-betul orang pintar yang mengetahui untung ruginya suatu persoalan"
Puji rase berekor sembilan Kongsun po dengan suara serak cuma dari antara sahabat-sahabat tebing Yan po gan yang telah berkumpul disini sekarang, kecuali tua bangka Ou dan Kwik To situa renta itu, kita bertiga sudah seharusnya mengambil suatu tindakan cerdik"
"Benar! Benar sekali! Justru siaute memang ada maksud untuk mengajak saudara berdua merundingkan persoalan ini"
Sambung Thiat kiam kuncu tertawa.
"Saudara Hoa, Apalagi yang perlu kita rundingkan? Jelaslah sudah bahwa bila bersatu kita teguh bila bercerai kita runtuh, aku rasa kita masing-masing juga telah mengetahui sampai dimana letak kelihayan dari masalah ini"
Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tertawa bangga, katanya.
"Bagus sekali,bagus sekali, kalau begitu siaute pun tak ingin banyak berbicara lagi, Kui to Thian yu to-heng ada dilembah bukit sebelah depan sana mari kita menyusul kesitu untuk bersama-sama merundingkan persoalan besar ini"
Sehabis berkata dia lantas berangkat lebih dulu meninggalkan tempat itu.
Si Rase berekor sembilan Kongsun Po dan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit saling berpandangan sekejap, akhirnya merekapun berangkat mengikuti dibelakang rekannya.
Setelah membinasakan Ou Yong hu, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Gak Lam kun, ia selalu bertanya kepada diri sendiri apakah caranya turun tangan kelewat brutal atau tidak..?
Pertanyaan semacam itu seringkali akan memenuhi benak seseorang dikala ia selesai membunuh seseorang tapi bagaimanapun berusaha memutar otak tiada jawaban yang berhasil didapatkan, selama tiga tahun belakangan ini, boleh dibilang jalan pemikirannya selalu menjumpai pertentangan-pertentangan yang saling bertolak belakang.
Tanpa terasa sampailah Gak Lam kun digedung kediaman Bwe Li pek, dibawah sorot Cahaya matahari, tampak Bwe Li pek dengan tenang berdiri diatas sebuah jembatan kayu, ia berdiri sambil bergendong tangan dan sedikitpun tidak berkutik, seakan-akan ketika itu ia sedang memikirkan sesuatu persoalan?
Tiba-tiba Bwe Li Pek berpaling, diantara sepasang biji matanya yang jeli tampak basah oleh airmata, mukanya murung dan layu noda airmata masih membekas diatas wajahnya.
Sambil tertawa sedih, ia lantas bertanya.
"Apakah kau telah membunuh Ou Yong hu?"
Pertanyaan tersebut membuat Gak Lam kun menjadi tertegun, selang sesaat kemudian ia baru menjawab.
"Yaa, aku telah membunuhnya? Apakah nona Bwe telah menyaksikan pula peristiwa tersebut?"
Tiba-tiba dari balik mata Bwe Li pek yang jeli memancar keluar sinar yang lembut dan hangat tanyanya dengan suara lirih.
"Mengapa kau selalu memandang begitu serius masalah dendam sakit hati..?"
Seka1i lagi Gak Lam kun dibikin tertegun oleh pertanyaan itu, kali ini ia berdiri termangu sampai setengah harian lamanya tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Bwe Li pek segera menghela napas panjang, katanya lagi.
"Tahukah kau bagaimana akibatnya dari bunuh membunuh yang tiada akhirnya ini?"
"Ucapan nona Bwe memang sangat tepat, cuma aku ingin bertanya kepadamu, seandainya kau mempunyai sakit hati atas terbunuhnya orang tuamu, apakah kau tidak berusaha untuk membalasnya?"
Kata Gak Lam kun dengan suara dingin.
Ketika mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya, secara diam-diam ia berusaha untuk meresapi pertanyaan dari Gak Lam kun serta berusaha untuk mencari jawabannya yang tepat.
"Seandainya kau terikat dendam karena pembunuhan atas ayahmu, apakah kau harus membayarnya..? Apakah kau harus menuntut dan menagihnya..?"
Ji Cing ping wahai Ji Cing ping!
Ia telah meninggalkan kau, hubungan cinta telah berakhir, karena apakah ini?
Karena apakah ini?
Karena membalas dendam?
Karena sakit hati?
Yaa, benar!
Demi membalas sakit hati!
Tapi, kenapa kau tidak segera membalas dendam?
Kenapa tidak kau lakukan?
Dengan cara yang keji dan tak berperi kemanusiaan ia telah membunuh orang tuamu, kaupun pernah menggunakan Bi jin ki (siasat perempuan cantik) untuk mencelakai jiwanya...
beberapa kali ingin membunuhnya...
tapi sampai sekarang kenapa kau belum juga turun tangan?
sebaliknya malah berulangkali membantunya?
Mungkinkah karena cinta?
Mungkinkah bibit cinta masih tertanam dalam hatimu?
Akhirnya ia tertawa getir dan bersenandung dengan suara yang amat lirih.
"Airmata mengering dalam kedukaan, jauh terkenang masa yang silam... manusia nun jauh diujung langit..."
Bergumam sampai disitu, tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan berjalan menuju keutara.
Gak Lam kun menyaksikan perbuatan diatas wajahnya, iapun mendengar senandungannya itu, tapi pikirannya terasa bimbang dan kosong, ia tak tahu apa salahnya dengan pertanyaan yang ia ajukan tadi?
Dengan cepat Gak Lam kun memburu beberapa langkah kedepan, kemudian serunya.
"Nona Bwe, bersediakah kau untuk berhenti sebentar saja..."
Bwe Li pek berpaling dan tertawa, sahutnya.
"Perasaan kesemsem hanya menambah beribu-ribu kesedihan apa gunanya kau..."
Ketika berbicara sampai disitu, ia tak dapat mengendalikan luapan perasaannya lagi, butiran airmata tampak jatuh bercucuran membasahi pipinya...
Terkesiap Gak Lam kun sesudah mendengar ucapan tersebut, untuk sesaat lamanya ia sampai berdiri tertegun.
ooooooooooooo0000000000ooooooooooooo Jangan-jangan ia sudah menaruh bibit cinta kepadaku?
demikian pikirnya dihati.
"wah, celaka juga begini! Kalau bilang tidak, apapula maksudnya dengan mengucapkan katakata seperti itu, aaai..! Apakah ia tidak tahu kalau aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi..."
Sekalipun sedang bermimpi Gak Lam kun juga tak akan mengira kalau Bwe Li pek, ketua perguruan panah bercinta yang berdiri dihadapannya sekarang tak lain adalah Ji Cin peng, kekasih yang paling dihormati dan paling disayangi sepanjang hidupnya, atau dengan perkataan lain dia bukan lain adalah encinya Ji Kiu liong.
Padahal berbicara sesungguhnya, jangankan Gak Lam kun tidak tahu sekalipun Ji Kiu liong sendiri juga tidak mengira kalau Bwe Li pek bukan lain adalah encinya yang sudah mati dua tahun.
Rupanya ia telah merubah wajahnya sedemikian rupa dengan ilmu menyaru muka, tak heran kalau tak seorangpun yang dapat mengenali kembali raut wajah aslinya.
Tentang hubungan cinta dan dendam antara Ji Cin peng dengan Gak Lam kun, akan diceritakan kemudian pada bagian yang lain!
Sementara itu Gak Lam kun telah menghela napas sedih, katanya.
"Nona Bwe, benarkah kau hendak pergi dengan begitu saja?"
Tiba-tiba Ji Cing pen menggigit bibirnya, dengan tangan kiri ia melepaskan ikat kepalanya sehingga rambut yang panjang dan hitam segera terurai kebawah, sementara tangan kanannya merobek jubah panjangnya yang berwarna putih dan tampaklah seperangkat pakaian ringkas berwarna gelap yang berukirkan burung hong putih diatas dadanya.
Dengan pakaiannya yang ketat terlihat pula lekukan tubuhnya yang mungil dan indah, ini semua menambah kecantikan dan daya pesona dari gadis tersebut.
Gak Lam kun yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun dengan sepasang mata terbelalak lebar, potongan badan semacam ini terasa amat dikenal olehnya, sebab itulah potongan badan Ji Cin peng, kekasihnya yang telah tiada.
Secara tiba-tiba saja Gak Lam kun teringat kembali dengan kenangan lamanya, disaat mereka berdua masih berdampingan serta melewatkan kehidupan mereka dengan penuh kemesraan dan kehangatan...
untuk sesaat ia merasa emosinya meluap didalam dada, airmata pun tanpa terasa jatuh bercucuran.
Airmata Ji Cin peng setetes demi setetes meleleh keluar, saat ini dia hanya berharap agar ia tak mengenali wajah aslinya, maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Sekalipun ia berniat untuk membalas dendam atas sakit hatinya, tetapi...
bibit cinta yang sudah terlanjur tertanam dalam hatinya membuat ia selalu tak tega untuk melaksanakan niatnya itu.
Bukan saja Ji Cin peng telah melahirkan seorang anak lelaki untuk Gak Lam kun, lagipula ia memang betul-betul sangat mencintainya.
Tapi, Gak Lam kun justru adalah musuh besar pembunuh orang tuanya...
Ia berusaha mengendalikan jalan pikirannya, berusaha untuk tidak mencintai pembunuh orang tuanya, tapi dasar hati kecilnya justru berkata bahwa ia benar-benar mencintai musuh besarnya ini.
Pengendalian perasaan yang saling bertentangan ini selama banyak tahun selalu berkecamuk dan menghantui jalan pikirannya, tapi selalu saja Ji Cin peng gagal untuk mengambil suatu keputusan yang pasti.
Ia amat menyesal, ia menyesal kepada dirinya karena tidak seharusnya ia mencintai pemuda itu.
Sambil menangis terisak kata Ji Cin peng.
"Sejak dua tahun berselang aku telah mengangkat sumpah, aku tidak akan memperlihatkan wajah asliku sebagai seorang gadis dihadapan orang lain, hari ini aku telah menjumpaimu dengan wajah asliku, itu berarti jodoh kita telah berakhir, sejak ini kita akan dihalangi oleh ujung langit yang berbeda serta tanah perbukitan yang beribu-ribu li panjangnya, kau ketimur aku kebarat dan sulit untuk saling berjumpa kembali. Kau... kau haruslah baik-baik menjaga diri!"
Selesai berkata, ia lantas putar badan sambil melompat pergi dari situ, sesaat kemudian tubuhnya sudah berada lima kaki jauhnya dari kedudukan semula.
Entah mengapa, tiba-tiba Gak Lam kun berteriak keras-keras.
"Nona Bwee..! adik Peng..!"
Ucapan "adik Peng"
Ternyata mendatangkan daya pengaruh yang luar biasa, seketika itu juga Ji Cin peng merasakan hatinya amat sakit seperti ditusuk-tusuk dengan pisau belati, tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya, airmata seperti hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya.
Dengan dua tiga kali lompatan Gak Lam kun telah memburu kesamping tubuhnya, melihat rambutnya yang kalut terhembus angin, matanya yang basah oleh airmata, ia merasa hatinya sedih hingga tanpa terasa airmata ikut bercucuran.
Ji Cin peng dapat menyaksikan keadaan pemuda itu, terutama wajahnya yang begitu layu dan sedih, airmatanya yang setetes demi setetes meleleh keluar membasahi tubuhnya...
ia hanya berdiri termangu seperti sebuah patung arca, tidak berbicara pun tidak bergerak.
Lama kelamaan luluh juga perasaan gadis itu, diambilnya sebuah sapu tangan dari sakunya lalu disekanya airmata yang membasahi wajah Gak Lam kun.
Dalam keadaan itu, Ji Cin peng seakan-akan sudah melupakan sumpahnya, ia tak sanggup mengendalikan jalan pikirannya yang telah ditekan selama dua tahun belakang ini, dia seakan-akan telah berubah menjadi seorang manusia yang lain.
Kesombongan dan keangkuhannya kini telah berubah menjadi cinta kasih yang lembut, badannya berdiri makin menempel disisi pemuda itu, bau harum yang tersebar keluar dari tubuhnya menambah daya pesona dan rangsangan yang membuat orang menjadi mabuk.
Ketika Gak Lam kun mengendus bau harum itu jantungnya kontan berdenyut lebih cepat dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, sepasang tangan Ji Cin peng yang lembut dan halus itu tahu-tahu sudah digenggamnya erat-erat.
Ketika empat mata saling bertemu, kedua orang itu sama-sama bungkam dalam seribu bahasa.
Padahal dalam keadaan seperti ini mereka memang tak perlu berkata apa-apa lagi, pertemuan antara empat buah mata sudah cukup mengontak batin masing-masing, hubungan batin itu jauh lebih menang dari beribu-ribu kata mesra.
Ketika sepasang tangan Ji Cin peng digenggam erat-erat, rasa cintanya yang memang sudah tertekan lama sekali dalam hatinya kini betul-betul tak dapat dikendalikan lagi.
Akhirnya ia menempelkan wajahnya diatas dada Gak Lam kun, kemudian tubuhnya bersandar dalam pelukan mesra anak muda tersebut.
Berhadapan dengan gadis cantik rupawan yang indah bagaikan sekuntum bunga ini, tentu saja Gak Lam kun tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, dia merentangkan sepasang tangannya dan memeluk gadis itu dengan penuh kehangatan.
Tiba-tiba...
kenangan lama secepat kilat melintas dalam benak Ji Cin peng, ia merasa kepalanya bagaikan diguyur dengan sebaskom air dingin, hatinya merasa amat tercekat dan otaknya menjadi sadar kembali, pelan-pelan ia mendorong Gak Lam kun yang masih mendekap tubuhnya erat-erat itu.
Gak Lam kun segera mundur selangkah lalu sambil tertawa sedih katanya lirih.
"Maaf nona Bwe, harap kau suka memaafkan kecerobohanku barusan, sebab potongan badanmu serta segala tingkah lakumu membuat aku menjadi teringat kembali dengan kekasihku yang telah tiada..."
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, tidak bisa ditahan lagi airmata jatuh bercucuran membasahi wajah Gak Lam kun.
Dari sini dapat diketahui bahwa cinta Gak Lam kun terhadap Ji Cin peng betul-betul sudah mendalam sekali hingga merasuk kedalam tulang sumsum...
Ketika mendengar ucapan itu, Ji cin peng merasakan hatinya seperti ditembusi dengan sebatang anak panah sekujur badannya gemetar keras, sepasang matanya berkaca-kaca dan memandang kearah wajah Gak Lam kun tanpa berkedip, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Gak Lam kun berhenti sejenak, lalu kembali katanya.
"Atas pertolongan nona Bwe yang selalu membantu diriku, serta kesediaan nona untuk menganggapku sebagai seorang sahabat, aku Gak Lam kun akan mengukir selalu semua kebaikan nona didalam hati, bila perbuatanku barusan telah menyinggung perasaanmu, akupun mohon agar nona sudi memaafkannya"
Pelan-pelan Ji Cin peng pulih kembali dalam ketenangannya, ia tertawa ewa lalu bertanya.
"Tadi, kau menyebutku sebagai adik Peng, bolehkah aku tahu apakah nama itu adalah nama dari kekasihmu?"
Dengan amat sedih Gak Lam kun tertawa getir.
Dia bernama Ji Cin peng, yaitu encinya Ji Kiu liong, adik angkatku itu, raut mukanya banyak bagian yang mirip dengan wajahnya, mana cantik, lembut dan baik hati lagi...
aaai..."
Dengan sedih ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar ia baru berkata lebih jauh.
"Sayang gadis secantik dia harus diberi usia yang begitu pendek, aku harus berpisah untuk selamanya dengan dia kekasihku seorang..."
Kembali Gak Lam kun tak dapat mengendalikan luapan emosinya, airmata yang meleleh keluar makin deras lagi membasahi pipinya.
Ji Cin Peng merasa ususnya seperti dililit dengan jepitan, hatinya sakit seperti disayatsayat pisau, kesedihan yang mencekam perasaannya saat ini benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Dengan perasaan yang sedih dan murung diam-diam ia berbisik dalam hati kecilnya.
"Engkoh Gak... ooh engkoh Gak... akulah adik Peng mu! Tapi... tapi... kau adalah musuh besar pembunuh orang tuaku, aku tak dapat kawin dengan seorang musuh besar pembunuh orang tuaku, tapi aku mecintaimu, aku benar-benar amat menyayangimu, aku tak ingin membinasakan dirimu."
"Oh Thian! Apa yang harus dilakukan sekarang? dendam sakit hati terbunuhnya orang tua lebih dalam dari samudra sebagai putra putrinya dendam sakit hati tak boleh tidak dibalas, kalau tidak bagaimanakah pertanggungan jawabku terhadap arwah ayah dan ibu dialam baka?"
"Ooh..! Ohh... ibu..! Maafkanlah aku, kasihanilah bocah cilik itu jika Gak Lam kun sampai mati, akupun tak ingin hidup lebih jauh, tapi bocah itu baru berusia dua tahun, bagaimanapun juga ia tak boleh hidup sebatangkara tanpa ayah tanpa bunda..."
Ji Cin peng sesungguhnya adalah seorang anak yang berbakti tapi setelah menghadapi pilihan antara cinta dan dendam, ia menjadi bingung dan kalut, ia tak tahu musti menjatuhkan pilihannya kemana...
Tiba-tiba dari sakunya Gak Lam kun mengeluarkan pedang pendek tersebut, sambil diangsurkan kedepan ia berkata.
"Nona Bwe, terima kasih banyak atas pedangmu yang bersedia kau pinjamkan kepadaku, dan sekarang akupun akan menepati janji dengan mengembalikan pedang ini kepadamu"
"Apa salahnya kalau kau gunakan beberapa hari lagi?"
Bisik Ji Cin peng sambil menghela napas sedih. Gak Lam kun tertawa getir, ujarnya.
"Saat kematiaa dari aku orang she Gak sudah hampir tiba, aku kuatir pedang mustika ini akan hilang bila berada ditanganku, maka lebih baik kukirim kembali daripada meminjamnya lebih jauh."
Ketika mendengar perkataan itu, Ji Cin peng menjadi tertegun, segera tanyanya.
"Apa kau bilang? Apa yang kau maksudkan?"
Gak Lam kun tertawa ewa.
"Usia aku orang she Gak hanya tinggal tujuh hari saja!"
Katanya. Mendengar kata-kata tersebut, paras muka Ji Cin peng kembali mengalami perubahan hebat, serunya dengan suara gemetar.
"Kau... tujuh hari lagi kau akan mati, ke... kenapa?"
Rasa sayang, kuatir, ingin tahu dan sedih hampir seluruhnya tertuang dalam ucapannya itu. Gak Lam kun merasa amat senang menyaksikan kekuatiran orang, ia menghela napas sedih, sahutnya.
"Aku orang she Gak bisa memperoleh perhatian serta rasa kasih sayang dari seorang perempuan macam kau, sekalipun mati akupun akan mati dengan perasaan tenang"
Dalam pada itu wajah Gak Lam kun diliputi ketenangan, dan kedamaian, ia sama sekali tidak merasakan sedih atau ngerinya menghadapi kematian.
Sebab dalam hidupnya, asal bisa memperoleh perhatian dari seorang gadis secantik itu, ia sudah merasa amat puas sekali.
Ketika Ji Cin peng menyaksikan pemuda itu tidak menjawab, perasaannya makin bergolak, katanya lebih jauh.
"Kenapa tidak kau katakan? Hayolah katakan! Kenapa kau bakal mati..? Kenapa..?"
Sekali lagi Gak Lam kun menghela napas panjang.
"Aaai... nona Bwee, terima kasih banyak atas perhatianmu, kendatipun aku orang she Gak sudah berada dialam baka nanti, tak akan kulupakan budi kebaikanmu itu, aaa..! kenapa aku harus mati? Karena aku telah terkena pukulan beracun Tay siu im khi dari Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi. Padahal aku masih banyak urusan yang belum terselesaikan, masa aku pingin mampus tanpa sebab. Inilah nasibku, nasib telah menentukan agar aku menyambut datangnya tangan maut..."
Tak terkirakan rasa sedih Ji Cin peng mendengar uraian tersebut, hatinya bagaikan disayat-sayat dengan pisau, tanyanya dengan penuh perasaan gelisah.
"Kapankah kau terkena ilmu pukulan Tay siu im khi tersebut?"
Gak Lam kun mendongakkan kepalanya memandang sang surya yang telah menunjukkan tengah hari, lalu menghela napas sedih.
"Kejadian itu sudah berlangsung tujuh jam berselang, luka itu selamanya tak mungkin bisa diobati lagi"
Agak tertegun Ji Cin peng sesudah mendengar kata-kata itu, ia tampak termenung sebentar untuk memikirkan persoalan itu, tampaknya ia sedang berusaha memikirkan bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka akibat pukulan beracun itu.
Tiba-tiba ia menengadah kembali, lalu ditatapnya Gak Lam kun dengan serius katanya.
"Seandainya aku mempunyai cara pengobatan untuk menghindari kematian yang bakal kau alami tujuh hari mendatang, apakah kau bersedia menerima pengobatan tersebut"
Berita ini sangat mengejutkan Gak Lam kun.
Sebagaimana diketahui si anak muda itupun terhitung seorang jago silat kelas satu dalam dunia persilatan, tentu saja dia cukup mengetahui sampai dimanakah lihaynya ilmu pukulan Tay siu im khi tersebut, dia pun tahu barangsiapa terkena ilmu pukulan beracun tadi maka lukanya tak akan tersembuhkan lagi.
Sekalipun ada yang bisa menyembuhkan, itupun terbatas hanya beberapa orang saja, tak mungkin dalam waktu sesingkat itu, dia dapat menemukan orang-orang yang dimaksudkan.
Maka setelah mendengar tawaran itu, timbul kembali harapan hidup dalam hati Gak Lam kun, segera ujarnya.
"Jangankan manusia, binatang, burung bahkan semutpun kepingin hidup lebih lama didunia ini cuma aku percaya bahwa penyakitku sudah tak mungkin bisa diobati lagi. Ji Cin peng manggut-manggut.
"Akupun tahu bahwa penyakitmu itu adalah suatu penyakit yang tak ada obatnya, sekalipun dunia persilatan amat luas, menurut apa yang kuketahui hanya ada tiga empat orang saja yang dapat menyembuhkan luka akibat pukulan Tay siu im khi itu..."
Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar seseorang tertawa tergelak, menyusul kemudian ujarnya dengan suara lantang.
"Empat orang yang nona maksudkan rupanya adalah Tok liong Cuncu Yo long, Soat san thian li, Lam hay sin ni dan masih ada seorang lagi entah siapa? Apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?"
Ditengah pembicaraan itu, dari ruang sebelah barat daya muncul seorang laki-laki setengah umur yang berwajah tampan, siapa lagi orang itu kalau bukan Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi!
Melihat musuh besarnya muncul didepan mata, Gak Lam kun segera merasakan hawa amarah berupa api dendam yang berkobar dalam dadanya bergolak hebat.
Jilid 11 Ji Cin peng agak terkejut juga ketika menyaksikan kemunculan Hoa Kok khi ditempat itu, mencorong sinar tajam dari balik matanya yang jeli, setelah menatap sekejap wajah lawannya dengan pandangan sedingin es, ia bertanya ketus.
"Boleh aku tahu, apakah saudara adalah manusia yang bernama Thiat kiam kuncu (lelaki sejati berpedang baja) Hoa Kok khi?"
"Tidak berani, tidak berani, akulah orang she Hoa apakah nona adalah ketua dari perguruan panah bercinta?"
Ji Cin peng mendengus dingin.
"Hmm..! Ada persoalan apa kau datang kemari?"
Tegurnya kemudian setelah berhenti sejenak. Dengan ujung matanya Hoa Kok khi menyapu sekejap wajah Gak Lam kun, lalu sambil tertawa ringan ia menjawab.
"Perkataan dari nona memang tidak salah, adapun kedatangan aku orang she Hoa adalah untuk mencari Gak lote. Gak Lam kun mendengus dingin.
"Hmm..! Hoa Kok-khi, kalau kau memang datang untuk menghantar kematianmu sendiri, jangan salahkan kalau aku orang she Gak akan bertindak keji kepadamu"
Sekali lagi Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok-khi tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaah... haaah... Gak Lote, kau jangan salah paham, aku orang she Hoa datang kemari justru hendak mengajakmu untuk membicarakan suatu usaha barter"
"Barter apalagi yang hendak dibicarakan?"
Gak Lam kun semakin naik darah.
"kau tak usah kuatir, aku orang she Gak tidak akan menerima syaratmu sekalipun aku bakal mati. Hoa Kok khi tertawa.
"Tapi kau musti tahu racun dari Tay siu im khi tak akan bisa dibebaskan oleh siapa pun!"
Dengan sinis dan penah nada menghina Gak Lam kun mendengus dingin, katanya. 4
"Sebagai seorang lelaki sejati, hidup tak perlu digirangkan, kenapa mati musti dirisaukan? Kau tak usah menggunakan ancaman mati untuk menggertak aku orang she Gak... Hmm! Tapi sebelum menjelang saat kematianku, kaupun jangan harap bisa lolos dari kematian pula ditanganku"
Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi kembali tersenyum.
"Kagum, kagum, sungguh mengagumkan!"
Pujinya.
"kau memang betul-betul seorang manusia yang luar biasa, aku orang she Hoa paling mengagumi manusia berjiwa ksatria semacam kau, karena akupun tidak tega untuk turun tangan membinasakan dirimu, coba kalau tidak..."
Mendengar perkataan itu, kemarahan Gak Lam kun kontan saja berkobar kembali, ia tertawa dingin dengan nada yang menyeramkan, kemudian ejeknya dengan sinis.
"Hmm... anggapanmu kau sanggup membunuhku dengan kepandaian silat yang kau miliki?"
Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi kembali tertawa.
"Gak lote!"
Demikian katanya.
"berbicara menurut ilmu silat yang kau miliki, tidak banyak jago persilatan didunia ini yang sanggup memiliki ilmu silat setarap denganmu, boleh dibilang ilmu silatmu sudah cukup menjagoi seluruh dunia, tapi kalau ingin memimpin umat persilatan terpaksa kepandaianmu musti dilatih puluhan tahun lagi. Sedang mengetahui kepandaian silat yang aku orang she Hoa miliki, entah bagaimanakah pendapat dari Gak lote?"
"Tentu saja jago pilihan!"
Sahut Gak Lam kun dengan suara yang sangat hambar. Hoa Kok khi tersenyum.
"Terima kasih banyak, terima kasih banyak atas pujianmu"
Katanya.
"sejak dua puluh tahun berselang aku orang she Hoa sudah disebut orang jago nomor satu dalam dunia persilatan, sampai kini aku rasa nama baik tersebut belum sampai kunodai, haahh... haaahh... haaahh... terlepas dari taraf ilmu silat yang kita miliki, menyinggung soal pengetahuan dalam dunia persilatan maupun kecerdasan otak, aku orang she Hoa percaya masih sanggup untuk mengalahkan Gak lote. Kentongan kelima berselang, ketika kau membunuh si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu secara keji, bila aku muncul tepat pada waktunya untuk menghalangi niatmu itu, aku yakin kau tak akan sanggup membunuh orang she Ou itu seperti apa yang kau kehendaki, waktu itu si Kakek sakti berwajah pualam dari bukit Sian ngo tay san dan Kongsun po dari bukit Hoa san juga bersembunyi disekitar sana, bayangkan sendiri lote sanggupkah kau melawan kerubutan dari empat orang jago lihay sekaligus?"
Ketika mendengar ucapan tersebut, Gak Lam kun merasakan hatinya bergetar keras, sukar dilukiskan betapa terkejutnya begitu berbahaya dan banyak tipu muslihatnya coba kalau waktu itu mereka muncul berbareng, kemudian bersama-sama mengerubutinya, tak bisa disangkal lagi jiwanya lebih banyak terancam bahaya maut daripada keberuntungan.
"Hoa Kok khi!"
Tiba-tiba Ji Cin peng menegur dengan suara dingin sekarang sanggupkah kau mengobati luka racunnya itu? Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi mengelus jenggotnya dan tersenyum.
"Asal dia menyanggupi untuk sebuah permintaanku, tanggung penyakitnya itu akan lenyap hingga tak berbekas"
Tiba-tiba Ji Cin peng menubruk maju tiga langkah serunya lagi dengan suara dingin.
"Apakah obat itu berada disakumu?"
Sambil berkata, kelima jari tangan kirinya segera direntangkan kemudian secepat kilat melancarkan cengkeraman kedepan. Hoa Kok khi tergelak-gelak, teriaknya dengan suara lantang.
"Obat itu tidak berada dalam sakuku bagaimanapun juga tidak seharusnya nona merampas dengan menggunakan kekerasan!"
Sambil berkata diapun melepaskan sebuah pukulan dahsyat kemuka dengan jurus Ki hong teng ciau (burung hong terbang, ular sakti melihat).
"Dengan cara menyergap kau telah melukai orang lain apa salahnya jika kugunakan cara yang sama pula untuk menghadapi dirimu?"
Bentak Ji Cin peng dengan marah.
Dengan cekatan ia menghindarkan diri dari serangan Hoa Kok khi, kemudian sambil memutar lengan dia lepaskan tiga buah serangan totokan, hal mana memaksa Hoa Kok khi mau tak mau harus mundur dua langkah untuk melepaskan diri.
Diam-diam Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi berpikir didalam hatinya.
"Ilmu silat yang dimiliki perempuan ini sungguh amat lihay, dalam tiga buah serangan jarinya ini, hampir kesemuanya merupakan ilmu mengebut baju menolak jalan darah yang maha dahsyat... aku tak boleh memandang enteng dirinya!"
Hawa murninya segera dihimpun kembali menjadi satu, kemudian secara beruntun ia lepaskan lima buah serangan berantai.
Kelima buah serangan itu tampaknya sangat enteng, biasa dan amat sederhana, padahal dibalik kesederhanaan itu justeru terselip perubahan jurus yang tak terlukiskan hebatnya, dalam waktu singkat seluruh serangan jari tangan Ji Cin peng hampir telah terbendung semuanya.
Melihat kehebatan lawannya, diam-diam Ji Cin peng mengerutkan dahinya, kemudian berkata.
"Rupanya kelima buah serangan yang kau pergunakan barusan, semuanya merupakan jurus-jurus pukulan berhawa dingin dari perguruan Pek kut bun..."
Selesai berkata tubuhnya kembali menerjang kemuka, telapak tangan kirinya seperti sebuah cakar burung elang langsung menyapu kedepan, sementara ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya melancarkan totokan langsung kemuka.
Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi segera merasakan dibalik serangannya itu terkadang banyak perubanan yang sangat aneh dan luar biasa karenanya untuk sesaat ia tak sanggup mencarikan pemecahan untuk mematahkan ancaman tersebut dan lagi diapun tak berani menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, terpaksa tubuhnya harus melompat kesamping untuk menghindarkan diri.
Ji Cin peng menghentikan tubuhnya, lalu berkata dengan dingin.
"Hmm..! Tampaknya kau memang seorang manusia yang tahu mutu serangan, kenapa tidak kau sambut pukulan Ci cit kan kun (langsung menunjuk alam jagad) ku itu secara langsung? Hoa Kok khi tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaah... haaah... ilmu silat yang nona miliki jauh diatas dugaan aku orang she Hoa, aku betul-betul merasa kagum denganmu!"
"Hmm! Jika tahu diri, lebih baik cepat serahkan obat pemunahnya kepadaku. Tiba-tiba terdengar Gak Lam kun membentak dengan penuh kegusaran.
"Nona Bwe, bantuanmu itu biar kuterima didalam hati saja, tapi maaf aku tak dapat menerimanya dengan begitu saja. Kena dibentak oleh Gak Lam kun, untuk sesaat lamanya Ji Cin peng berdiri tertegun, hampir saja airmatanya jatuh bercucuran. Dengan wajah yang merah padam, Gak Lam kun kembali berpaling kearah Hoa Kok khi kemudian bentaknya.
"Hoa kok khi, dendam baru perhitungan lama kita lebih baik kita selesaikan sekarang juga. Nah sambutlah seranganku ini!"
"Sreeet... dengan jurus sin liong jut sui (naga air) ia melancarkan sebuah pukulan langsung kedepan. Serangan itu dilancarkan Gak Lam kun dalam keadaan gusar kekuatannya benar-benar hebat dan mengerikan sekali, seandainya sampai kena pada sasarannya, tak bisa diragukan lagi orangnya tentu akan tewas atau paling tidak terluka parah. Kedua orang itu sudah pernah terlibat satu kali dalam suatu pertarungan sengit, dengan sendirinya mereka berduapun sama-sama telah memahami pula sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki lawannya, maka begitu melancarkan serangan, dia telah mempergunakan tenaganya mencapai tujuh bagian. Hoa kok khi segera silangkan tubuhnya sambil menghindarkan diri kesamping, kemudian telapak tangannya diputar lalu disodok kedepan dengan jurus Peng ho kas tong (sungai es mulai membeku) Dengan jurus Liu thian jiu (tangan langit mengalir) Gak Lam kun menyambut pukulan dari Hoa kok khi itu dengan tangan kirinya, kemudian sambil berpekik nyaring tubuhnya kembali menerjang kedepan. Hoa Kok khi segera memutar tangan kanannya dengan jurus im hong say tee (angin dingin menyapu bumi) selapis bayangan telapak tangan segera tercipta menyelimuti seluruh angkasa dibalik bayangan yang amat tebal itu terseliplah tenaga pukulan berhawa dingin yang amat menusuk tulang, agaknya dia bermaksud hendak menahan gerak maju dari Gak Lam kun. Siapa tahu gerakan tubuh dari Gak Lam kun ternyata sangat aneh dan jauh diluar dugaan, bukan saja ia dapat menghindarkan diri dari lapisan bayangan telapak tangan yang melindungi tubuh Hoa kok khi, malah tubuhnya sempat menerjang maju lebih kedepan. Gerakan tubuh yang aneh dan maha sakti itu tak lain tak bukan adalah ilmu gerakan Ji gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat yang tiada tandingannya dikolong langit itu. Bukan saja gerakan tersebut membuat Hoa Kok khi merasa sangat terperanjat, sekalipun Ji Cin peng yang berada disamping ikut pula merasakan semangatnya berkobar kembali, ia merasa hanya dengan suatu gerakan aneh ternyata, jurus serangan macam apapun tak sanggup untuk membendung gerakan majunya. Sesudah bergerak maju kedepan, Gak Lam kun menggerakkan sepasang tangannya secara bersama dengan telapak tangan ditangan kiri ilmu jari ditangan kanan secara beruntun dia lancarkan beberapa buah serangan berantai. Didalam waktu singkat si anak muda itu telah melepaskan lima buah bacokan dan sembilan totokan. Kelima buah pukulan dan sembilan buah totokan itu bukan saja kesemuanya dilancarkan dengan kecepatan luar biasa lagipula amat keji dan tidak kenal ampun, semua sasaran tertuju pada jalan darah kematian, sebuah pukulan terarah pula pada bagianbagian penting setiap serangan itu semuanya berbobot dan sanggup mencabut nyawa manusia. Termakan oleh serangkaian pukulan berantai yang dilancarkan hampir bersamaan waktunya itu, Hoa Kok khi terdesak mundur berulangkali ketika ia berhasil lolos dari ketiga belas buah serangan itu, secara kebetulan tubuhnya juga mundur sejauh tiga belas langkah. Gak Lam kun segera tertawa dingin, katanya.
"Hoa Kok khi, beranikah kau menyambut jurus pukulan Ngo ci tan sian (lima jari menyentil harpa) yang akan kulancarkan ini?"
Tanpa menanti jawaban telapak tangan kirinya melancarkan sebuah serangan tipuan kedepan, sementara kelima jari tangannya didorong kedepan sejajar dengan dada.
Ketika menyaksikan gerakan itu, Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi tampak agak tertegun, ia merasa jurus serangan itu belum pernah dijumpai selama hidupnya, lamatlamat iapun merasakan bahwa dibalik kelima jari tangannya yang mengendor, sesungguhnya tersimpan suatu gerakan membunuh serta perubahan yang amat lihay, ia tak berani menyambutnya dengan keras lawan keras, terpaksa sepasang kakinya menjejak tanah dan tubuhnya segera mundur beberapa depa dari posisi semula.
Sekulum senyuman dingin yang penuh dengan ejekan dan nada menghina menghiasi ujung bibirnya, kemudian terdengarlah Gak Lam kun menyindir sinis.
"Hoa Kok khi, mengapa kau tak berani menyambut seranganku itu dengan kekerasan?"
Lelaki sejati berpedang baja Hoa Kok khi tersenyum.
"Suatu jurus lima jari mementil harpa yang sangat hebat!"
Pujinya.
"aku rasa dibalik serangan tersebut tentunya mengandung pula tenaga sakti Tok liong ci jiau?"
Seraya berkata ia melompat kedepan dan menerjang kembali si anak muda itu, telapak tangannya dibacok kedepan dengan sejajar dada, lalu katanya lebih lanjut.
"Gak lote, bagaimana kalau kaupun merasakan juga sebuah jurus Hong yu pin tiok (Angin dan hujan turun bersama) ku ini?"
"Kenapa tidak?"
Bentak Gak Lam kun pula dengan suara keras.
Tangan kanannya segera diayunkan kedepan, lalu disambutnya serangan dari Hoa Kok khi itu dengan keras lawan keras.
Hoa Kok khi tertawa dingin tiba-tiba saja gerakan tangannya merendah kebawah, kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar dan dari sebuah gerakan pukulan langsung tiba-tiba saja berubah menjadi suatu sambaran miring.
Gak Lam kun segera menggoyangkan telapak tangannya, tiba-tiba saja jari telunjuk dan jari tengahnya berputar satu lingkaran, kemudian dengan suatu gerakan cepat menyentil kedepan.
Sejak melancarkan serangan saling beradu sampai gerak serangan sesungguhnya kedua orang itu sama-sama melakukan tiga kali perubahan didalam setiap kali perubahan terkandunglah jurus serangan mematikan yang dahsyat dan mengerikan.
Terdengar Gak Lam kun dan Hoa Kok khi sama-sama mendengus dingin kemudian kedua orang itu sama-sama melompat kebelakang.
Dalam bentrokan pukulan yang terjadi secara diam-diam dan sama sekali tidak menimbulkan suara itu, tampaknya kedua belah pihak sama-sama telah menderita luka dalam.
Sesudah mundur kebelakang cepat-cepat kedua orang itu memejamkan matanya untuk beristirahat.
Kalau paras muka Hoa Kok khi berubah menjadi pucat pias, maka paras muka dengan ketajaman mata Ji Cin peng yang luar biasa itu, ternyata ia tidak berhasil mengetahui dengan cara bagaimanakah kedua orang itu menderita luka, diapun tidak mendengar suara benturan kekerasan akibat bentrokan dari pukulan kedua orang itu.
Buru buru Ji Cin peng melompat kedepan menghampiri si anak muda itu, lalu bisiknya.
"Kau terluka?"
Suaranya penuh kesedihan, rasa kuatir, rasa kasihan dan penuh rasa perhatian! Sepasang mata Gak Lam kun yang terpejam rapat pelan-pelan membuka sedikit, lalu manggut-manggut.
"Ehmm! Cuma luka yang ia deritapun tidak terhitung ringan!"
Sahutnya lirih. Diam-diam Ji Cin peng membesut airmata dipipinya, lalu bertanya kembali.
"Parahkah lukamu?"
Gak Lam kun tersenyum.
"Aku pikir memang tidak enteng! Luka ditambah luka, pokoknya aku toh cuma mempunyai selembar nyawa!"
Mendengar perkataan itu Ji Cin peng merasa semakin pedih hatinya, ia merasa hatinya seperti tersayat-sayat oleh pisau tajam, titik airmata tak terbendung lagi segera meleleh keluar membasahi pipinya.
Mendadak Hoa Kok khi membuka kembali sepasang matanya, setelah menatap wajah Gak Lam kun sekejap sambil tersenyum katanya.
"Pukulan dari Gak lote itu memang betul betul sangat lihay hampir saja selembar nyawa aku orang she Hoa ikut terenggut, kalau toh kau enggan membicarakan soal barter tersebut, terpaksa aku musti mohon diri lebih dahulu"
Selesai berkata ia lantas putar badan dan siap meninggalkan tempat itu.
"Hoa Kok khi!"
Dengan suara dingin Gak Lam kun segera menegur.
"sampai kini aku toh belum mampus, masa kau hendak angkat kaki dengan begitu saja?"
Secepat sambaran petir ia menerjang maju ke depan dengan jurus Sam yang kay tay (tiga kekuatan panas membuka bukit) ketiga jari tangannya secara gerakan mendatar menerobos kedepan dan secara terpisah mengancam tiga buah jalan darah penting ditubuh Hoa Kok khi.
Serangannya belum sampai, tiga gulung desingan angin jari tangan sudah menekan badan lebih duluan.
Menghadapi ancaman tersebut Hoa Kok khi merasa sangat terkejut pikirnya.
"Betapa kuat dan ampuhnya angin serangan jari tangan itu!"
Cepat-cepat tubuhnya miring kesamping menghindarkan diri dari datangnya ancaman tadi, tangan kirinya dengan jurus To coan im yang (memutar balikkan im yang) menerobos kemuka, dibalik serangan yang kuat terkandung pula suatu ilmu Ki na jiu (ilmu menangkap dengan tangan kosong) yang lihay, ia ancam urat nadi pada pergelangan tangan musuh.
Gak Lam kun tertawa dingin, totokan tiga jarinya tiba-tiba berubah gerakan, diantara perputaran jari-jari tangannya tahu-tahu ia sudah berebut untuk mencengkeram pergelangan tangan Hoa Kok khi lebih dulu.
Kalau dua jago lihay sedang bertarung maka menang kalah seringkali ditentukan hanya dalam sekejap mata, karena kurang hati-hati Hoa Kok khi segera harus menelan kerugian besar, urat nadi pada pergelangan tangannya terasa menjadi kaku dan tahu-tahu urat nadinya sudah kena dicengkeram oleh Gak Lam kun.
Tapi bagaimanapun juga, Hoa Kok khi adalah seorang jago kawakan yang berilmu tinggi dan berpengalaman luas, meski terancam jiwanya ia tidak menjadi panik gugup Begitulah, kendatipun Gak Lam kun berhasil merebut posisi diatas angin dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan lawan, namun sebelum si anak muda itu sempat mengerahkan tenaganya untuk menggencet urat nadi penting itu, mendadak kelima jari tangan kanannya membalik pula keatas lalu mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Gak Lam kun, sekalipun waktunya berselisih namun perselisihan itu boleh dibilang kecil sekali.
Setelah kehilangan posisinya yang menguntungkan, apalagi kelima jari tangannya yang mencengkeram urat nadi pada pergelangan Gak Lam kun ternyata tidak tepat letaknya.
Hoa Kok khi segera berpikir dalam hati kecilnya.
"Sekarang aku sudah menderita kerugian akibat kehilangan posisi yang menguntungkan, aku tak boleh membiarkan ia mengerahkan tenaga dalamnya lebih dulu... Karena berpikir demikian, hawa murninya segera dikerahkan keluar dengan cepat. Padahal pada waktu itu kelima jari tangan Gak Lam kun telah pula mengerahkan tenaganya, kontan saja kedua belah pihak sama-sama merasakan hatinya bergetar keras urat pada pergelangan tangannya menjadi kencang dan sakit bagaikan dijepit oleh japitan baja. Dalam keadaan beginilah pelan-pelan Ji Cin peng berjalan maju kedepan dan menghampiri kedua orang itu. Gak Lam kun mengerti apa yang dipikirkan gadis itu, tapi ia merasa perbuatan yang rendah, terkutuk dan memalukan itu tidak sepantasnya dilakukan, walau dikerjakan gadis itu tapi kenyataannya demi kepentingannya... Maka dengan suara keras pemuda itu segera berteriak.
"Adik Bwee, kau tidak boleh... tidak boleh berbuat demikian sebab... perbuatan itu tak bisa kuterima... sampai matipun aku tak akan mati dengan mata meram..."
Mendengar perkataan itu Ji Cin peng tertegun, ia mencintainya ia tak ingin pemuda itu mati maka mau tak mau dia harus melakukan sergapan yang rendah dan terkutuk itu demi menyelamatkan jiwa kekasihnya...
Sementara ia masih tertegun kedengaran Gak Lam kun mendengus tertahan, tubuhnya digetar mundur sejauh tiga empat langkah oleh tenaga dalam Hoa Kok khi, sementara cekalan pada pergelangan tangan masing-masing pun segera terlepas.
Hoa Kok khi sendiripun mundur dua langkah dengan sempoyongan, lalu sambil tertawa katanya.
"Nona Bwee, apakah kau ingin menyergapku mumpung ada kesempatan baik yang tersedia?"
Hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Ji Cin peng, ia tertawa dingin lalu menjawab.
"Mana, mana sekarang tak bisa dibilang sebagai sergapan mumpung ada kesampatan!"
Sambil mengucapkan kata-kata itu, hawa murninya segera disalurkan kedalam telapak tangannya lalu didorong kedepan, maksudnya ia hendak menghajar Hoa kok khi sehingga terluka dalam seketika itu juga.
Siapa tahu baru saja hawa murninya dilontarkan keluar, tiba-tiba ia merasa ada segulung hawa pukulan yang amat panas serta segulung hawa pukulan yang dingin menusuk tulang secara bersamaan waktunya menggulung tiba dari kiri dan kanan.
Dengusan tertahan menggema memecahkan kesunyian, dengan sempoyongan Hoa kok khi mundur kebelakang lalu tubuhnya roboh terjengkang diatas tanah...
Sebaliknya Ji Cin peng sendiripun mundur dua langkah dengan wajah pucat pias, namun dibalik sorot matanya yang gusar ia melotot kearah seorang tojin berbaju kuning dengan wajah tertegun.
Siapakah tosu itu?
Ternyata dia adalah Kui to (tosu setan) Thian yu Cinjin.
Rupanya ia datang tepat pada saat Ji Cin peng sedang melepaskan pukulan dahsyatnya tadi, diam-diam ia segera melancarkan pula sebuah pukulan dengan ilmu Ang yan ciang (pukulan api membara).
Perlu diterangkan, Ang yan ciang merupakan kepandaian andalannya, dalam perkiraan imam tersebut pukulan yang dilancarkan paling tidak dapat melukai gadis tersebut.
Siapa tahu, akibat dari bentrokan tersebut hawa darah yang berada dalam dadanya bergolak keras, hampir saja kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, kenyataan tersebut tentu saja sangat mengejutkan hatinya.
Menurut apa yang dia ketahui, dalam dunia persilatan dewasa ini jarang sekali ada orang yang mampu menerima sebuah pukulan Ang yan ciangnya tanpa cedera atau terluka, apalagi pada saat yang bersamaan tadi Hoa Kok khi sedang melancarkan pula sebuah pukulan dahsyat dengan hawa pukulan berhawa dinginnya.
Sementara itu, Ji Cin peng sendiripun ikut merasa terperanjat, karena didalam serangannya tadi ia telah sertakan tenaga sakti Boa yok sin kang dari Lam hay sin ni yang maha sakti itu.
Gak Lam kun maupun Hoa Kok khi sama-sama sudah terjatuh dan duduk diatas tanah.
Sedangkan si Tosu setan Thian yu tojin maupun Ji Cin peng sama-sama menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan musuh tangguh, untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tidak melancarkan serangan tapi diam-diam mengerahkan hawa murninya untuk mengendalikan golakan-golakan darah didadanya.
Keheningan yang luar biasa segera mencekam daerah disekeliling tempat itu, meski dipagi hari namun mendatangkan pula suatu perasaan hening yang serius.
Angin musim gugur berhembus kencang, daun dan ranting beterbangan dan menimbulkan suara yang amat gemerisik.
Tiba-tiba seorang mendengus tertahan, ternyata Gak Lam kun yang sedang duduk bersila itu roboh terjengkang ketanah.
Ji Cin peng sangat terkejut menyaksikan kejadian itu, buru-buru ia melompat kedepan dan berjongkok disampingnya, kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya ia mulai menguruti dada Gak Lam kun.
Sayang usahanya itu tidak mendatangkan hasil apa-apa, Gak Lam kun masih tetap tergeletak tidak sadarkan diri.
Kenyataan tersebut amat mengalutkan pikiran Ji Cin peng, sorot matanya segera dialihkan kewajah Hoa Kok khi.
Dalam keadaan begitulah tiba-tiba ia melompat bangun, lalu ujarnya.
"Nona Bwee, tenaga dalam yang kau miliki memang luar biasa sekali!"
Ji Cin peng tertegun, ia tak menyangka kalau Hoa Kok khi bisa sadar kembali sedemikian cepatnya sesudah nadi penting ditubuhnya terluka oleh pukulan Boan yok sinkangnya tadi, hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang aneh dan diluar dugaan.
Teringat kembali keadaan dari Gak Lam kun, dengan nada marah ia lantas membentak.
"Hoa Kok khi, jika kau tak bisa menolongnya, maka kaupun jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat!" 000000O000000 Thiat kiam kuncu Hoa Kok khi tersenyum.
"Kalau aku tidak terluka lebih dulu oleh bentrokan tadi, dalam setengah menit saja aku bisa melepaskan diri dari cengkeraman nadiku!"
Terhadap kcnampuan Hoa Kok khi untuk menembusi urat Meh hiat sendiri yang terluka Ji Cin peng merasa kaget bercampur tercekat, pikirnya diam-diam.
"Ilmu silat yang dimiliki orang ini memang betul-betul hebat sekali, tampaknya keselamatan jiwa Gak Lam kun lebih banyak celakanya daripada rejeki!"
Berpikir sampai disitu hawa amarah dalam dada Ji Cin peng tak terbendungkan lagi bahunya bergerak sedikit dan tubuhnya telah menerjang beberapa kaki jauhuya, ia lantas snembentak.
"Betulkah tenaga dalammu sudah pulih kemba1i seperti sedia kala?"
"Yaa, sembilan puluh persen telah pulih kembali kalau sekarang kita harus bertarung maka hal ini hanya akan mempercepat proses kematiannya saja, lagipula bicara menurut kemampuan yang kita miliki belum tentu nona bisa meraih keuntungan banyak, maka aku pikir lebih baik kita jangan bertarung saja"
Sebetulnya hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Ji Cin peng, ia bermaksud untuk menggunakan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk melukai Hoa Kok khi.
Kini, setelah mendengar perkataan itu buru-buru ia menahan tubuhnya yang sedang bergerak maju, lalu katanya dengan dingin.
"Wahai orang she Hoa kalau kau bisa menyembuhkan sakitnya apapun yang kau inginkan aku sanggup memberikannya kepadamu"
Betapa girangnya Hoa Kok khi setelah mendengar janji itu, dengan wajah berseri ia lantas berseru.
"Dapat dipercayakah ucapan nona itu?"
Ji Cin peng sangat marah.
"Ucapanku lebih berat dari sebuah bukit karang, masa aku akan mengingkari janji?"
"Haaahhh... haaahhh... haaah..."
Hoa Kok khi tertawa terkekeh-kekeh.
"sebagai seorang ketua suatu perguruan dan sebagai burung hong diantara manusia, tentu saja perkataan nona Bwe dapat dipercaya, masa aku orang she Hoa menaruh curiga?"
"Sudah, tak usah banyak bicara, apa yang kau inginkan? Katakan dengan cepat!"
Hoa Kok khi tersenyum.
"Aku tidak menginginkan barang apa-apa dari nona"
Katanya.
"apa yang kuinginkan tak lebih hanya mengharapkan agar nona bersedia mengabulkan sebuah permintaanku"
Diam-diam Ji Cin peng berpikir dihati.
"Permintaan apa yang dia inginkan? Tapi sudah pasti adalah suatu permintaan yang sulit dilaksanakan, cuma... asal penyakit yang diderita Gak Lam kun bisa sembuh, apapun yang ia harapkan aku bersedia untuk melakukannya"
Berpikir sampai disini gadis itu lantas berkata lagi.
"Persoalan apa yang kau inginkan? Hayo cepat katakan!"
Hoa Kok khi tertawa.
"Soal ini biar kita bicarakan setelah kusembuhkan dirinya nanti, yang penting asal nona menyanggupi lebih dulu!"
Katanya.
Sekalipun Ji Cin peng tahu bahwa orang itu adalah seorang manusia yang licik dan banyak akal muslihatnya seperti rase, tapi demi menyelamatkan jiwa Gak Lam kun, sekalipun selembar jiwanya harus dikorbankan mau tak mau harus disanggupi juga.
Maka setelah termenung sejenak diapun mengangguk.
"Baiklah, kuturuti kehendakmu itu, Nah, sekarang tolonglah dia lebih dahulu!"
Hoa Kok khi lantas berpaling kearah Thian yu Cinjin lalu katanya.
"Thian yu to heng tolong periksalah sampai kapan dia baru akan sadar kembali?"
Sebelum Si tosu setan Thian yu Cinjin menjawab Gak Lam kun yang berbaring diatas tanah itu mendadak melompat bangun seraya berseru.
"Tidak usah kau repot-repot menolongku!"
Tindakannya ini segera membuat tiga orang jago linay dari dunia persilatan tersebut menjadi tertegun. Hoa Kok khi termangu sejenak, kkemudian sambil tersenyum ujarnya.
"Gak lote, kau memang betul-betul seorang manusia berbakat aneh dari dunia persilatan sedari kapan kau telah sadar kembali?"
Pelan-pelan Gak Lam kun bangkit berdiri, setelah tertawa dingin jawabnya.
"Aku sudah sadar lama sekali, apa yang kalian bicarakan telah kudengar semua dengan jelas."
Berbicara sampai disini ia berhenti sejenak, lalu dengan sinar mata yang lembut dan penuh rasa terima kasih ditatapnya muka Ji Cin peng, lalu setelah menghela nafas sedih katanya.
"Nona Bwe, budi kebaikan yang kau berikan kepada aku orang she Gak akan terukir selalu dalam hatiku, tapi aku tidak percaya kalau ia memiliki kemampuan untuk mengobati lukaku ini, sekalipun dia mempunyai obat untuk menyembuhkan lukaku, belum tentu aku bersedia menerima pengobatannya. Nah, berhubung aku Gak Lam kun masih mempunyai urusan penting lainnya, terpaksa aku akan mohon diri lebih dulu"
Selesai berkata, dengan langkah lebar buru-buru ia tinggalkan tempat tersebut.
Gerakan tubuhnya sangat cepat, hampir tidak mirip dengan seseorang yang sedang meronta melawan elmaut, malah boleh dibilang ia sama sekali tidak mirip dengan orang yang terluka apapun.
Ji Cin peng hanya termangu-mangu sambil memandang tingkah lakunya itu, ia baru sadar kembali dari lamunannya sambil berteriak.
"Gak siang kong... Gak siang kong..! Harap kau berhenti dulu sebentar!"
Suara teriakannya itu agak bernada gemetar, sepertinya gadis itu sudah tak sanggup mengendalikan lagi perasaan sedih dan dukanya.
Mendengar teriakan itu, terpaksa Gak Lam kun harus menghentikan langkah kakinya dan berpaling.
Seperti seekor burung walet, dengan cepat Ji Cin peng memburu kehadapannya, sepasang biji matanya yang besar dan jeli telah penuh airmata, ditatapnya pemuda tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang...
ltulah tatapan wajah yang murung, penuh kepedihan hati!
Tapi rasa cintanya kepada pemuda itu terpancar keluar secara gamblang dari sinar matanya.
Gak Lam kun menghela napas sedih, gumamnya dengan suara lirih.
"Selamat tinggal orang yang kukasihi, aku dapat teringat selalu akan dirimu, kau adalah orang kedua yang kucintai selama kehidupanku didunia ini karena bentuk tubuhmu serta cinta kasihmu yang sayu terlalu mirip dengannya, adik Peng kekasih sayangku yang telah tiada! Tapi akupun mencintaimu, sayang... sikapmu yang begitu agung, begitu suci bersih membuatku merasa rendah diri, lagi pula kehidupanku sudah tinggal beberapa hari saja..."
Ji Cin peng hanya berdiri dihadapannya dengan termangu, memandang mulutnya yang bergumam, melihat titik airmatanya yang meleleh keluar dan membasahi dadanya...
Menyaksikan kemurungan dan kesedihan yang menyelimuti dirinya, gadis itu menghela napas sedih, diambilnya secarik saputangan dan pelan-pelan disekanya airmata yang membasahi pipi Gak Lam kun itu.
Secara diam-diam tosu setan Thian yu cinjin dan Hoa Kok khi telah berlalu dari sana, suasana disekeliling tempat itu telah pulih kembali kedalam keheningan.
Namun perasaan Gak Lam kun dan Ji Cin peng bagaikan gelombang dahsyat ditengah samudra bebas, bergelora dan bergulung tiada hentinya, siapapun tidak berbicara, siapapun tak tahu apa yang musti dilakukan.
Setelah berdiri saling termenung sekian lamanya, Gak Lam kun baru berkata pelan.
"Nona Bwee, bila kau tiada perkataan lain, aku hendak mohon diri terlebih dahulu"
"Lukamu begitu parah, andaikata disergap oleh orang lagi..? Gak Lam kun tertawa getir, tukasnya.
"Didalam dua hari yang singkat ini, aku yakin masih sanggup untuk menahan serangan dari jago lihay macam apapun"
Mendengar jawaban tersebut, paras muka Ji Cin peng segera berubah sangat hebat.
"Jadi kau... kau telah mengerahkan tenaga dalammu secara paksa..? Hal ini mana boleh? Apakah kau telah mengerahkan ilmu Huan pu hwee kong sinkang (ilmu sakti mengembalikan cahaya kekehidupan)?"
Gak Lam kun mengangguk pelan.
"Benar, aku telah menggunakan ilmu Huan pu hwe kong sinkang ajaran guruku, sisa kekuatan yang berada dalam nadi-nadi keng meh telah kudesak semua untuk berhimpun menjadi satu, didalam dua hari ini kekuatan saktiku tak akan menghilang, tapi itu berarti kehidupanku telah menyurut semakin pendek"
Selesai mendengar perkataan itu, airmata Ji Cin peng bercucuran semakin deras, ia tahu ilmu Huan pu hwee kong adalah suatu kepandaian rahasia yang maha sakti, sekalipun seseorang yang jiwanya sudah terancam bahaya maut jika menggunakan kepandaian ini maka segenap kekuatan tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala, namun kejadian inipun berarti menghilangkan kesempatan untuk menyembuhkan penyakitnya dengan bahan obat-obatan, kecuali kematian tiada jalan kedua yang dapat ditempuhnya lagi.
Ji Cin peng amat mencintainya, setelah tahu bahwa nyawa kekasihnya tinggal dua hari saja, ia tak dapat mengendalikan rasa sedih dan duka yang berkecamuk dalam dadanya, sambil menangis terisak ia berteriak keras.
"Engkoh Gak... kenapa kau musti berbuat demikian..."
Tubuhnya segera dijatuhkan kedalam rangkulan Gak Lam kun.
Untuk sesaat lamanya Gak Lam kun merasa yaa terkejut yaa girang, ia balas memeluk gadis itu erat-erat, ia merasa hal tersebut merupakan 34 suatu kenikmatan serta kebahagiaan diluar dugaan yang bisa dinikmatinya menjelang kematian.
Gak Lam kun bukan malaikat, bukan pula dewa, seorang malaikat sendiripun akan terpesona, terbuai oleh kasih sayang seorang gadis yang cantik dan agung seperti Ji Cin peng, apalagi dia tak lebih hanya seorang manusia biasa.
Isak tangis Ji Cin peng makin lama semakin mengibakan hati, keadaannya waktu itu bagaikan seekor anak domba yang merengek-rengek mencari induknya.
Dia ingin menceritakan keadaan sesungguhnya kepadanya...
Tapi mendadak...
Gak Lam kun mendorong tubuhnya dan melepaskan diri dari pelukannya, kemudian dengan langkah cepat ia berlalu meninggalkan tempat itu.
Ji Cin peng tertegun, kemudian teriaknya keras-keras.
"Engkoh Gak, engkoh Gak... kau berhenti dulu... engkoh Gak..."
Suaranya semakin mengibakan hati, membuat siapapun yang mendengarnya merasa sedih dan ikut murung. Gak Lam kun menghela napas sedih, katanya.
"Selamat tinggal kekasihku yang menawan hati, aku akan selalu mengingat-ingat raut wajahmu yang cantik jelita itu... tapi aku harap kau dapat melupakan aku, sebab aku tak dapat mengangkangi dirimu, hal tersebut hanya akan menambah kesedihan hatimu belaka..."
Gak Lam kun bagaikan seorang gila, ia kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu...
Ji Cin peng sangat sedih, ia merasa benak maupun dadanya serasa hampa belaka, ia merasa seluruh semangat dan kehidupannya seakan-akan telah dibawa pergi oleh Gak Lam kun, membuatnya berdiri termangu sekian lama ditempat...
Entah berapa lama sudah lewat, helaan napas panjang yang sedih tiba-tiba menyadarkannya kembali dari lamunan.
"Nenek Siau..."
Ji Cin peng segera memutar badannya dan menjatuhkan diri kedalam pelukan seorang perempuan berambut putih yang menggembol sepasang pedang dibelakangnya.
Dengan lembut perempuan berambut putih itu berkata.
"Anak peng, kau jangan bersedih hati sehingga merusak tubuhmu sendiri, kendalikanlah perasaan cintamu yang meluap-luap itu"
"Nenek, aku tak mampu..."
Keluh Ji Cin peng. Perempuan tua berambut putih itu menghela napas panjang.
"Aaaai... kalau memang demikian, mengapa waktu itu kau latih ilmu Ciat eng kang (ilmu menolak cinta)?"
Ucapan tersebut segera menyadarkan kembali Ji cin peng dari lamunannya ia menjadi teringat kembali dengan sumpahnya...
ia tidak mencintainya ia harus membunuhnya dan membalaskan dendam bagi kematian dua orang tuanya...
Tapi hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, ia telah berusaha sepenuh tenaga untuk menenteramkan hatinya tapi tidak berhasil.
Ia tahu bahwa dihadapannya telah terpentang suatu masa percobaan yang menakutkan sekali, terutama beberapa hari belakangan ini ia harus lebih dapat mengendalikan perasaan cintanya, sebab ia mulai merasa bahwa dirinya makin lama semakin terjerumus kembali kedalam lautan cinta, sekali bertindak kurang hati-hati, akibatnya ia betul-betul akan tenggelam ditengah samudra cinta yang tak bertepian itu.
Sementara itu Gak Lam kun sudah kabur menuju kearah daerah pegunungan disebelah utara pulau gersang tersebut...
Dibawah sinar matahari, tampaklah aneka warna bunga liar tumbuh dengan suburnya disana sini, persis seperti perasaan hatinya ketika itu, beraneka warna dan saling bercampur aduk menjadi satu.
Tapi sesudah keindahan akan datang kegelapan, yang membuat kau tak dapat menyaksikan lagi semua keindahan tersebut, karena sinar matahari telah condong kelangit barat.
Dengan termangu-mangu Gak Lam kun berdiri dibawah sinar senja, memandang aneka bunga dihadapannya dengan terpesona...
Pikiran maupun perasaannya ketika itu adalah kosong, hampa, tiada sesuatu yang melintas.
Dalam waktu singkat, matahari telah tenggelam dibalik samudra jauh didepan sana.
Senja pun menjelang tiba dan menyelimuti seluruh jagat.
Angin musim gugur berhembus lewat, malam terasa lebih dingin dan menusuk tulang.
Pelan-pelan Gak Lam kun sadar kembali dari pikirannya yang gundah dan kalut.
Rembulan telah muncul diufuk timur, menembusi lapisan awan hitam dan memancarkan sinarnya yang keperak-perakan kepermukaan jagad.
Baca Juga: Beruang Salju 9
Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 4