Ceritasilat Novel Online

Lencana Pembunuh Naga 3

Eps 3 Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung

Baca online Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung

Cersil Lencana Pembunuh Naga - Khu Lung.

Dengan suatu gerakan berputaran yang cepat manusia berbaju abu-abu itu memutar badannya, lalu telapak tangannya dikebaskan keluar melancarkan sebuah pukulan untuk membendung serangan dari Say Khi-pit, sementara tangan kirinya dengan jurus Hui-hong hud liu (pusaran angin melambaikan pohon Liu) melepaskan serangan balasan.

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi-pit merasa amat gusar sekali karena manusia berbaju abu-abu itu ikut melibatkan diri dalam pertarungan itu segera bentaknya.

"Bagus sekali, siapa kau? Berani benar tak tahu diri dihadapanku..?"

Sambil berkata dengan cepat ia menyerbu kedepan dan melancarkan sebuah sodokan kejalan darah manusia berbaju abu-abu itu.

Dengan cekatan manusia berbaju abu-abu itu berkelit kesamping, kemudian secara beruntun melancarkan tiga buah bacokan berantai.

Sungguh dahsyat dan buas pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu, perubahan jurus pukulan maupun tendangan yang tertuju dalam serangan ganas, buas dan sakti, tentu saja arah sasaran yang tertuju dalam serangan itu adalah tempat-tempat yang mematikan ditubuh manusia, tampaknya mati hidup mereka berdua telah ditetapkan pertarungan maut tersebut.

Sementara Gak Lam kun telah lenyap dibalik tikungan rumah sebelah depan sana.

"Weess..! Weess..!"

Secara beruntun manusia berbaju abu-abu itu melancarkan dua buah pukulan berantai yang memaksa Giok bin sin ang harus melompat mundur sejauh tiga langkah.

Begitu musuhnya berhasil dipaksa mundur, sambil tertawa terbahak-bahak kata manusia berbaju abu-abu itu.

"Haaaahhh...haaahhhh...haaahhh sudah lama kudengar ilmu silat yang dimiliki Say Khi pit sangat lihay melebihi siapapun, setelah perjumpaan hari ini kubuktikan sendiri bahwa nama besarmu memang bukan nama kosong belaka, haaahhh...haaahh... haaahhh... kini orangnya sudah pergi, dan lagi kitapun tak punya perselisihan atau sakit hati apa-apa, aku rasa pertarungan juga tak perlu dilanjutkan lagi"

Sehabis berkata dia lantas melompat keudara, bagaikan burung elang yang terbang keangkasa tahu-tahu ia sudah berada diatas atap rumah dan berlalu dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Meskipun baru bertarung beberapa gebrakan saja, namun Giok-bin-sin ang Say Khi-pit dapat merasakan betapa tangguhnya ilmu silat lawan, bahkan tidak berada dibawah taraf kepandaiannya, dia menjadi heran dan tidak habis mengerti, siapa gerangan orang itu?

"Heran, siapakah orang tadi?"

Demikian ia berpikir.

"padahal tidak terlalu banyak jago persilatan yang memiliki ilmu silat setangguh ini kenapa aku tidak kenali orang itu?" 0000O0000 Dikala Say Khi-pit terlibat pertarungan sengit melawan manusia berbaju abu-abu itu, menggunakan kesempatan yang sangat baik Gak Lam-kun telah berjalan keluar dari perkampungan tersebut dengan langkah cepat, selewatnya beberapa buah halaman, akhirnya ia menyelinap kedalam halaman sebelah barat. Setelah menderita luka keracunan akibat pagutan ular berbisa, gerak gerik Gak Lam kun sudah tidak segesit dan secepat tadi, dia cukup menyadari mara bahaya yang sedang mengancamnya, apabila secara langsung dia keluar dari gedung itu. Kongsun Po atau musuh-musuh tangguh lainnya berhasil menyusulnya, tak bisa disangsikan lagi, jiwanya pasti akan terancam maut. Gak Lam-kun berjalan terus dengan sekuat tenaga, lambat laun dadanya terasa sesak dan sukar bernapas, langkah kakinya makin lama makin berat dan susah, kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang, terutama kaki. Anak muda itu makin sadar bahwa racun ular dalam tubuhnya segera akan mulai bekerja. Sekalipun begitu, kesadarannya masih belum hilang, dalam hati kecilnya masih terlintas tekadnya yang kuat, sambil menahan penderitaan dan siksaan yang hebat ia berjalan terus menuju kearah barat. Perkampungan itu betul-betul luasnya bukan kepalang, halamannya saja mencapai angka seratus, ketika Gak Lam-kun tiba digedung paling barat, tampaklah dihadapannya terbentang tanah perbukitan yang tandus dan sepi. Waktu itu, racun ular yang mulai bereaksi dalam tubuhnya makin lama semakin parah, ia merasa dadanya makin sesak, perutnya mual sekali seperti mau tumpah, sepasang kakinya seakan-akan sudah tidak menuruti perintah lagi. Pemuda itu menghela napas panjang, dia tahu andaikata racun ular itu tidak mendapatkan pengobatan tepat pada waktunya, besar kemungkinan ia akan tewas. Terbayang akan kesemuanya itu semangat jantannya hampir buyar semua, dengan sempoyongan ia berjalan kebawah sebuah pohon siong dan duduk bersila disana. Tiba-tiba Gak Lam kun merasakan segulung angin sejuk berhembus lewat, sungguh terperanjat perasaannya telapak tangannya cepat disilangkan didepan dada siap melancarkan serangan, tapi sebelum ia keburu melakukan suatu tindakan, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah dicengkeram orang. Gak Lam kun segera menengadahkan kepalanya, ternyata orang itu adalah Jit-pohtoan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To atau manusia berbaju abu-abu tadi. Betapa geramnya pemuda itu dengan penuh emosi hardiknya.

"Kwik To mau apa kau..?"

Belum habis kata-katanya, manusia berbaju abu-abu itu sudah mengayunkan telapak tangan kirinya sebiji obat yang dijepit dengan jari tengah dan jari telunjuknya itu tahutahu sudah dimasukan dalam mulut Gak Lam kun.

Begitu terkena air liur, obat itu segera melumer dan berikut air liurnya mengalir kedalam perut.

Selesai dengan perbuatannya itu, manusia berbaju abu-abu itu baru tertawa tergelak.

"Haaahhh...haaahhh...haaahhh... Gak siangkong, memangnya kau anggap julukan Jitpoh-toan hun hanya panggilan kosong belaka bagiku? Haaahh...haaahhh... haaahhh..."

Betapa tercekatnya perasaan Gak Lam kun sehabis mendengar perkataan itu, ia pentangkan mulutnya lebar-lebar dan berusaha menumpahkan obat tersebut, tapi walaupun sudah muntah tiga kali dan perutnya hampir terkuras, cairan obat itu belum berhasil juga dikorek keluar.

Pada saat itulah, mendadak lambungnya terasa sakit sekali seperti dililit-lilit, sedemikian dahsyatnya rasa sakit yang menyerang perutnya membuat pemuda itu merasa lebih baik mati daripada tersiksa.

"Uuaak..?"

Gak Lam-kun muntah darah kental, kemudian tubuhnya tersungkur dan tak berkutik lagi.

ooooo Setelah meninggalkan Gak Lam-kun, dengan pikiran yang bingung dan kosong Si Tiong pek berjalan keluar dari gedung tersebut, berhadapan dengan maut yang setiap saat akan merenggut nyawanya, ia tak tahu harus kemanakah dia pergi?

Tiba-tiba telinganya menangkap suara gulungan ombak yang membentur batu karang, ketika ia menengadah kedepan, tampaknya tanpa disadari ia telah tiba diatas sebuah tebing curam yang berada disebelah timur pulau tersebut.

Dibawah tebing itu merupakan sebuah jurang beratus-ratus kaki tingginya dengan batu karang yang mencuat kesana sini, jika ia berdiri kurang hati-hati hingga terpeleset kebawah, tidak bisa disangsikan lagi, tubuhnya pasti akan remuk berkeping-keping.

Dengan pandangan sayu ditatapnya ombak yang saling berkejar-kejaran ditengah samudra, dibawah sorot cahaya sang surya, burung manyar dan burung laut terbang kian kemari mencari mangsa, suatu perpaduan pemandangan yang indah sekali.

Tak kusangka lagi Si Tiong pek menghela napas sedih.

"Aaaai...mungkinkah aku Si Tiong pek harus mati dalam keadaan seperti ini?"

Keluhnya.

Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba timbul kembali niatnya untuk mencari hidup, ia segera duduk bersila diatas tanah dan pelan-pelan mengerahkan hawa murninya.

Tapi begitu ia mencoba untuk mengatur napas, dadanya segera menjadi sesak dan hawa murninya bagaikan tersumbat, nyaris ia tak dapat bernapas, hatinya menjadi tercekat dan harapannya untuk hidup segera terputus sama sekali, perasaan bergidik muncul dari dasar hatinya dan mencekam seluruh perasaannya.

"Entah berapa lama lagi aku bisa hidup?"

Demikian pikirnya.

"bila racun ular dan luka dalam yang kuderita kambuh bersamaan waktunya, niscaya aku bakal mati dalam keadaan yang mengerikan, daripada tersiksa pada akhirnya kenapa tidak kubereskan dulu nyawaku mumpung racun ular dan luka dalamku belum mulai kambuh?"

Berpikir sampai disini, pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ketepi tebing.

Sedetik menjelang perpisahannya antara mati dan hidup, pemuda itu merasakan hatinya pedih dan hampa, tanpa terasa airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Mendadak... Si Tiong-pek menangkap suara nyanyian yang amat memedihkan hati diantara gulungan ombak yang menerjang batuan karang, lamat-lamat nyanyian itu kedengaran sebagai berikut.

"...bertanya pada masyarakat, apakah cinta itu? Haruskah mati atau bidup untuk mendapatkannya..? Oh, jagat yang luas, mega yang tebal... Langit selatan bumi utara, burung walet saling beterbangan..."

Suara nyanyian itu amat memedihkan hati, membuat orang amat berduka. Untuk sesaat lamanya Si Tiong pek menjadi tertegun, menyusul kemudian pikirnya.

"Aneh! Kenapa suara nyanyian itu bisa berasal dari dasar telaga..?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya. Si Tiong-pek segera menghela napas panjang, gumamnya.

"Kemungkinan besar suara nyanyian itu berasal dari dalam sebuah gua dekat tebing karang sana, tapi siapa pula perempuan itu? Kenapa dia menyanyikan lagu yang begini sedih dan memedihkan hati?"

Nyanyian perempuan itu sekali demi sekali diulang terus menerus, tapi yang dinyanyikan melulu hanya bait lagu itu saja, bahkan suaranya makin lama semakin memedihkan hati...

Yaa, demikian mengharukannya suara nyanyian tersebut, membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut melelehkan airmatanya karena sedih.

Kembali Si Tiong pek berpikir.

"Kini aku sudah menjelang menemui ajal, apa salahnya kalau kugunakan kesempatan baik ini untuk menambah pengalamanku yang terahir kalinya."

Setelah berpikir sampai disitu, dia lantas memperhatikan keadaan tebing disekeliling tempat itu kemudian pelan-pelan turun kebawah.

Tak lama kemudian, ia sudah mengitari tebing curam itu dan menuruninya, sekarang yang terbentang dihadapannya cuma batu-batu karang ditepi pantai.

Ombak yang menggulung-gulung diatas permukaan laut menggempur diatas batu karang dan memercikkan butiran-butiran air keseluruh penjuru...

Karena perasaan ingin tahunya, Si Tiong pek tak ambil perduli akan sulitnya jalan yang dihadapinya, pelan-pelan dengan berpijak pada batu-batu karang yang licin ia sampai juga didasar jurang sementara itu suara nyanyian yang memedihkan hati itu sudah tak kedengaran lagi.

Menggunakan sepasang matanya yang tajam Si Tiong pek memperhatikan kembali keadaan disekelilingnya, mendadak ia temukan sebuah mulut gua yang lebarnya tiga depa dan tingginya enam depa berada kurang lebih dua kaki dari atas permukaan air segera pikirnya kembali.

"Rasanya suara nyanyian itu kecuali berasal dari dalam gua tak mungkin datang dari arah lain!"

Berpikir demikian, dengan langkah yang lebih berhati-hati lagi Si Tiong pek menelusuri tebing dan mendekati mulut gua itu.

Suasana dalam gua itu gelap gulita hingga susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, pelan-pelan ia berjalan masuk kedalam, kurang lebih sepuluh kaki kemudian ia sudah harus menikung sebanyak tiga kali, sementara lorong tersebut masih terbentang jauh kedalam sana.

Semakin kedalam suasananya semakin gelap gulita, entah berapa jauh lagi baru akan sampai didasar gua tersebut?

Akhirnya ia berhenti dan berusaha menenangkan kembali hatinya, kemudian ia berpikir.

"Biasanya gua-gua karang dipulau yang terpencil banyak digunakan sebagai tempat bersembunyinya ular-ular beracun atau binatang-binatang buas, kini ilmu silatku sudah punah, kalau sampai diserang...waah, celakalah aku..."

Teringat sampat disitu, hatinya menjadi ragu-ragu, tapi bila teringat kembali bahwasanya ia sudah bakal mati pemuda itu segera tertawa pedih dan melanjutkan kembali perjalanannya.

Ternyata gua itu panjang sekali, diam-diam Si Tiong-pek telah mengukur bahwa pada saat itu ia sudah berada dalam kedalaman empat puluh kaki lebih, tanahnya makin lama sekali makin becek, angin dingin yang menggidikkan hati berhembus datang dari depan sana, entah angin tersebut asal mulanya darimana?

Mendadak terdengar suara teguran seorang perempuan yang bernada girang dan setengah gemetar berkumandang dari balik gua itu.

"Kekasihku kau disitu?"

Si Tiong pek tertegun.

"Siapakah perempuan itu? Siapakah kekasihnya?"

Demikian ia berpikir. Ketika perempuan itu tidak mendengar suara jawaban, tiba-tiba ia menghela napas sedih seraya bergumam.

"Oooh... Yo-long, kau sungguh amat keji! Tahukah kau, mengapa suhu berdiam seorang diri selama delapan belas tahun ditempai semacam ini? Hakekatnya aku sedang menantikan kedatanganmu untuk kembali kedalam pelukan suhu"

Mendengar perkataan itu, Si Tiong pek merasa hatinya terperanjat, segera pikirnya.

"Yo long..? Yo long..? Bukankah dia adalah si bakat setan yang tersohor dalam dunia persilatan sebagai manusia paling aneh dikolong langit Tok liong Cuncu Yo-long? Wah, kalau benar-benar demikian, perempuan ini pastilah gurunya Tok liong Cuncu yang penuh diselimuti teka teki itu..."

Sementara itu, dari dalam gua karang itu kembali terdengar suara yang memilukan hati dari perempuan itu.

"Yo-long suhu tidak menaruh perasaan dendam apapun juga kepadamu, aku hanya berharap kau suka kembali lagi dalam pelukanku dan hidup bersama-sama disini... Yolong, cepatlah datang kemari! Tahukah kau suhu sudah delapan belas tahun menantikan kedatanganmu, merindukan kasih sayangmu"

Si Tiong pek segera mengerutkan dahinya, ia berpikir lagi.

"Aneh benar wah... janganjangan hubungan Tok-liong Cuncu dengan perempuan ini bukan cuma hubungan antara guru dan murid saja, rasa-rasanya dibalik kesemuanya itu masih terselip hubungan cinta kasih..?"

Yaa benar, tokoh aneh nomor satu dalam dunia persilatan, Tok-liong Cuncu Yo long memang mempunyai kisah percintaan yang lain daripada yang lain dan penuh dengan kisah duka nestapa yang mengharukan.

Suara yang menggenaskan dari perempuan itu lagi-lagi kedengaran.

"Yo long, apakah pikiran dan perasaanmu belum berubah? Apakah hatimu masih sebeku es, wajahmu sekeras baja..?"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, tampaknya perempuan itu sedang terpengaruh emosi suaranya sampai kedengaran begitu parau dan gemetar.

Mendadak Si Tiong pek merasakan separuh badan bagian kanannya menjadi kesemutan, linu dan sakitnya bukan kepalang, betapa terkesiapnya pemuda itu, dia sadar luka dalam yang telah menjalar sampai kedalam urat syarafnya itu sudah mulai kambuh, berarti jiwanya sebentar lagi akan berakhir, saking pedihnya tanpa terasa ia menghela napas lirih...

Meskipun helaan napas itu lirih sekali, tapi perempuan yang berada dalam gua itu dapat mengenali sebagai bukan suara Yo long.

Tiba-tiba dengan suaranya yang keras bagaikan geledek ia membentak nyaring.

"Siapa kau?"

Belum sempat Si Tiong pek menjawab, tiba-tiba ia merasakan munculnya segulung angin pukulan lembut berhembus keluar dari balik gua, baru saja ia berusaha untuk menghindarkan diri kesamping tahu-tahu sekujur badannya sudah terkurung oleh tenaga pukulan itu.

Ia merasa hawa murni yang membelenggu tubuhnya itu mendadak dihisap kembali, seperti besi yang terkena pengaruh besi semberani, dengan sempoyongan ia terhisap maju kedalam sana.

Sebagaimana diketahui, waktu itu luka dalam yang diderita Si Tiong-pek sudah mulai bekerja, rasa sakit yang dideritanya sekarang sukar ditahan lagi, setelah tubuhnya terhisap oleh tenaga murni yang maha kuat itu, ia merasakan badannya lebih payah lagi, bukan saja semua persendian tulangnya menjadi kesemutan, lemas dan bunyar, badannya jadi lemah tak bertenaga, ia cuma bisa tergeletak ditanah tak mampu berkutik barang sedikitpun juga.

Tiba-tiba ia mendengar suara teguran yang menyeramkan berkumandang datang.

"Hey bocah cilik, siapa kau? Kenapa datang kemari?"

Si Tiong-pek adalah seorang pemuda yang licik dan panjang akalnya, ia tahu jika kedudukan dan asal usulnya yang sebenarnya sampai diutarakan keluar, kemungkinan besar perempuan aneh itu akan membinasakannya, atau paling tidak akan membiarkan racun keji dalam tubuhnya bekerja hingga merenggut selembar jiwanya.

Sebaliknya jika ia berbohong, dengan kemampuannya sebagai gurunya Tok liong Cuncu siapa tahu kalau racun ular dan luka dalam yang dideritanya bisa disembuhkan malah?

Berpikir sampai disitu Si Tiong pek segera menghela napas sambil berkata.

"Oooh... Sucou, oh...Sucou! Ampunilah kesalahan tecu ini..."

Sambil berkata ia lantas berpaling kearah perempuan tersebut.

Terlihatlah seorang perempuan yang buruk sekali rupanya dan rambut yang panjang kulit yang hitam berkilat seperti setan buas duduk disampingnya.

Tampang wajahnya memang jelek dan menyeramkan akan tetapi bila kau perhatikan potongan badannya, maka tampak langsing, montok dan padat berisi payudara perempuan itu, apalagi kulit tangannya dibalik pakaian tampak putih mulus, bersih dan halus sekali.

Si Tiong-pek yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun ia merasa perempuan itu aneh sekali.

Mendadak sinar matanya terhenyak sebentar dilengan kanan perempuan aneh itu, ia temukan sebuah gelang baja membelenggu pergelangannya itu sementara sebuah rantai yang panjang sangat panjang menghubungkan gelang tersebut dengan dinding batu kemala putih yang berada empat kaki jauhnya dari situ.

Kiranya suasana dalam ruang gua itu tidak segelap lorong gua didepan sana, sebab empat buah dindingnya terbuat dari batu marmer yang putih berkilat, lagipula diatap dinding gua terdapat pula sebiji butir mutiara sebesar buah kelengkeng yang memancarkan sinar berkilauan.

Dibawah pancaran sinar bening yang dingin suasana dalam ruangan batu itu dapat terlihat jelas, ternyata dibagian bawah sekeliling ruangan itu terdapat ruang kecil dengan airnya berwarna hijau, begitu beningnya air tersebut sehingga ikan-ikan yang berenang dapat terlihat jelas.

Jelas dasar kolam kecil itu berhubungan dengan dasar lautan, atau dengan perkataan lain airnya adalah air laut.

"Apakan kau adalah muridnya Yo-long?"

Terdengar perempuan aneh berambut panjang itu membentak keras.

"mengapa ia tidak datang sendiri?"

Sekali lagi Si Tiong-pek tertegun sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.

"Konon Tok-liong Cuncu Yo Lak-long masih hidup didunia ini, bahkan telah muncul kembali dalam dunia persilatan, jika kukatakan padanya bahwa ia sudah mati lantas suatu ketika ia bertemu lagi dengan Tok-liong Cuncu, bagaimana jadinya nanti..?"

Dalam pada itu, ketika perempuan aneh berambut panjang itu melihat lawannya hanya membungkam diri, telapak tangan kirinya segera berkelebat kedepan dan mencengkeram jalan darah Ki-thiam hiat disikut kanan Si Tiong pek, kemudian bentaknya.

"Hayo cepat katakan! Hayo cepat katakan! Kenapa Yo-long tidak datang sendiri?"

Ketika persendian tulang sikutnya kena dicengkeram, Si Tiong-pek segera merasakan hawa darah dalam isi perutnya bergolak keras, sedemikian hebatnya pergolakan tersebut sehingga hawa sesat itu menyumbat tenggorokannya, bukan kepalang sakitnya dada dan isi perutnya ketika itu, tanpa sadar ia merintih.

Perempuan aneh berambut panjang itu berseru tertahan, lalu teriaknya keheranan.

"Hey, jika kau adalah muridnya, mengapa demikian tak becusnya kau?"

Sambil berkata dia lantas mengendorkan cengkeramannya. Si Tiong-pek menghembuskan napas panjang, sahutnya dengan napas tersengkal.

"Aku sudah terkena sergapan orang jahat, luka yang kuderita sekarang parah sekali, sebentar lagi jiwaku bakal melayang..."

Dengan tatapan sorot mata yang tajam, perempuan aneh berambut panjang itu menatap wajah Si Tiong-pek tanpa berkedip, kemudian dirabanya pula sekujur badan pemuda itu sekian lama, akhirnya dengan suara dingin ia berkata.

"Betul, luka dalam yang kau derita memang parah sekali, tapi aku sanggup menyembuhkan luka yang kau derita itu"

Betapa girangnya Si Tiong pek setelah mendengar perkataan itu, tapi rasa gembiranya hanya dirahasiakan didalam hati, sedang diluar ia pura-pura menghela napas.."Aaaai...Sucou, luka yang kuderita bukan luka sembarangan luka, mungkin sudah tiada harapan lagi bagiku untuk melanjutkan hidupku didunia ini..."

Dengan suara dingin kembali perempuan aneh berambut panjang itu berkata.

"Memang tidak banyak jagoan tangguh dalam dunia persilatan yang bisa menyembuhkan luka yang kau derita itu, lukamu disebabkan karena serangan dahsyat tenaga dalam musuh yang dilancarkan dikala kau sedang berusaha menghimpun tenaga dalammu, sebab itu hawa murni yang terhimpun menjadi beku didalam urat nadi, itulah yang dikatakan orang sebagai Jalan api menuju neraka. Kalau keadaan itu saja yang kau alami masih mendingan tampaknya setelah menderita jalan api menuju neraka kau dilukai lagi olah sejenis makhluk yang amat beracun, mungkin orang lain tak akan bisa menyembuhkan luka parah ini tapi aku masih mampu untuk menolong. Ketika Si Tiong pek mendengar bahwa apa yang dilukiskan tentang keadaan lukanya memang persis seperti apa yang dialaminya, diam-diam diapun lantas berpikir.

"Kalau dilihat dari apa yang dikatakan, rupanya selembar jiwaku memang masih dapat diselamatkan, aku harus berusaha agar ia mau menyembuhkan luka parahku ini"

Setelah berpikir sampai disitu harapannya untuk hidup muncul kembali, katanya kemudian.

"Sucou, aku dilukai oleh irama Sang goan ki yang lihay itu, lalu dipagut pula oleh ular beracun."

Mendengar kata-kata itu, perempuan aneh berambut panjang itu segera mendongakkan kepalanya lalu bergumam.

"Sang-goan-ki! Sang-goan-ki! Ternyata kau dilukai oleh Soat-san-thian-li perempuan siluman itu..."

Ketika menggumamkan kata-kata tersebut wajahnya berkejang keras sehingga kulit mukanya pada berkerut semua, lama sekali ia duduk termangu-mangu dengan mulut membungkam, rupanya sedang ia kenang kembali kisah pengalamannya dimasa lampau yang penuh dengan penderitaan dan kedukaan itu.

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu membentak keras.

"Hey, kau bilang Yo long masih berbaikan dengan siluman perempuan itu..?"

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada emosi sampai-sampai rambutnya yang panjang ikut bergetar keras.

Tiba-tiba telapak tangan kirinya ditekankan keatas dada Si Tiong pek, persis diatas jalan darah Hian-ki-hiatnya, asal tenaga dalamnya dipancarkan keluar, tak bisa diragukan lagi Si Tiong pek pasti akan mati dalam keadaan yang mengerikan.

Si Tiong pek agak tertegun sewaktu mendengar ucapan yang tidak dipahami ujung pangkalnya itu, tetapi sebagai seorang pemuda yang cerdas, ia sadar bahwa keadaannya saat ini berbahaya sekali, satu kali dia salah berbicara berarti jiwanya akan melayang meninggalkan raga.

Maka sesudah termenung beberapa saat lamanya, diapun bertanya.

"Sucou, perempuan yang manakah yang kau maksudkan sebagai perempuan siluman itu?"

Aneh! Ketika mendengar pertanyaan itu, pergolakan emosi dalam hati perempuan aneh berambut panjang itu segera menjadi tenang kembali, malah ia bergumam.

"Yo Lak-long wahai Yo Lak-long, mungkin kau sudah melupakan perempuan itu, maka tidak kau ceritakan keadaan tersebut kepada muridmu..."

Setelah berhenti sebentar, ia menghela napas panjang lalu katanya kembali.

"Aaaaai... beritahu kepadaku, apakah Yo long pernah membicarakan tentang diriku kepadamu?"

Si Tiong-pek termenung sejenak, lalu menjawab.

"Sucou, apabila suhu tak pernah membicarakan tentang dirimu kepadaku, mana mungkin aku bisa sampai disini?"

Betapa girangnya perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba ia tertawa terkekehkekeh...

Dibalik gelak tertawanya yang amat nyaring itu terselip begitu banyak perasaan, baik itu perasaan sedih, duka..

Kesepian, seorang diri...

Gembira, bangga...

Selama ini Si Tiong-pek memperhatikan terus perubahan mimik wajahnya, dikala gelak tertawanya berakhir, terlihatlah butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya...

Gelak tertawa telah berakhir, kini yang kedengaran hanya isak tangis yang mengharukan.

Didalam waktu yang relatif singkat ini, Si Tiong pek berhasil meraba garis besar keadaan yang sedang dihadapinya ia tahu perempuan aneh itu bukan saja menjadi gurunya Yo long diapun menjadi kekasihnya, kemudian mungkin disebabkan suatu kejadian tertentu Yo-long tidak mencintainya lagi, maka diapun mengurung diri selama delapan belas tahun disana.

Aaaai..!Perempuan yang menggenaskan ternyata cintanya kepada Yo long telah mencapai taraf sedemikian hebatnya.

Isak tangis perempuan aneh berambut panjang itu makin lama semakin menggenaskan kian lama kian mengharukan hati orang.

Mula pertama Si Tiong-pek masih tidak merasakan apa-apa terhadap isak tangis tersebut tapi akhirnya menjadi kecut dan tanpa terasa airmatanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Si Tiong-pek sendiri tidak bisa mengatakan mengapa dia sampai ikut menangis ia cuma merasa bahwa dibalik isak tangis perempuan aneh berambut panjang itu terkandung suatu daya pengaruh aneh yang membuat orang ikut terpengaruh.

Mendadak perempuan aneh berambut panjang itu berhenti menangis, bentaknya lagi.

"Apakah semua perkataanmu tak ada sepotong katapun yang palsu?"

Setelah dibentak olehnya, Si Tiong-pek baru merasa bagaikan sadar dari impian, ia menjadi tertegun.

"Heran, kenapa aku ikut menangis..?"

Pikirnya. Paras muka perempuan aneh berambut panjang itu kembali berubah, dicengkeramnya tubuh Si Tiong-pek dengan tangan kirinya, lalu bentaknya kembali.

"Hay,sudah kau dengar perkataanku?"

"Perkataan apa?"

Tanya pemuda itu kebingungan.

"Benarkah Yo-long masih rindu kepadaku?"

Bentak perempuan aneh berambut panjang itu dengan mata mendelik. Ingin tertawa rasanya Si Tiong-pek setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Perempuan ini terlalu mencintai Yo Lak long, sehingga cintanya itu hakekatnya lebih mendekati kalap"

Dalam benak anak muda itu sekarang sudah tersusun suatu rencana matang, maka dengan wajah yang bersungguh-sungguh dia menjawab.

"Suhu benar-benar amat rindu kepadamu, jika ada sepotong kataku yang bohong, biar aku mati secara menggenaskan!"

"Kalau memang begitu, mengapa ia tidak datang menjengukku?"

Kembali perempuan aneh berambut panjang itu membentak. Si Tiong-pek menghela napas panjang.

"Aaaai... suhu merasa malu dan menyesal, ia merasa tak punya muka untuk menjumpai kau orang tua lagi!"

Begitu mendengar ucapan tersebut, perempuan aneh berambut panjang itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehhh...heeehhh...heeehhh... bocah cilik, pandai amat kau berbicara yang bukanbukan"

Dari gelak tertawa tersebut, Si Tiong-pek dapat merasakan bahwa ia sedang merasa gembira.

"Cucu murid mana berani berbohong kepada sucou?"

"Lantas sekarang dia berada dimana? Aku segera akan pergi mencarinya..!"

"Suhu berada pula diatas pulau ini, cuma aku lihat Sucou tidak dapat bergerak dengan leluasa..."

"Kalau begitu cepat bebaskan aku dari rantai kunci kecintaan ini?"

Seru perempuan ini ketus.

"Apa? Rantai kecintaan?"

Pikir Si Tiong pek dengan wajah tertegun dan mulut melongo. Tiba-tiba paras muka perempuan aneh berambut panjang itu berubah hebat, bentaknya.

"Bagaimana? Apakah Yo Lak-long tidak berpesan kepadamu agar membukakan rantai kecintaan?"

"Tidak!"

Sahut pemuda itu tanpa sadar. Kontan saja perasaan perempuan aneh berambut panjang itu bergolak keras, lalu sambil tertawa seram teriaknya.

"Bagus...bagus sekali! Kau harus mampus"

Si Tiong pek ikut tertawa dingin, katanya pula lambat-lambat.

"Jika kau ingin membinasakan diriku, cepatlah turun tangan dengan segera, aku tidak akan menyesal barang sedikitpun juga"

Mendadak sikap perempuan aneh berambut panjang itu berubah seratus delapan puluh derajat dan hangat katanya.

"Anak kunci untuk membuka rantai kecintaan berada dalam ruang rahasia disudut timur sana, kesanalah dan ambil anak kunci tersebut..!"

Si Tiong pek menurut, dia menuju keruang timur betul juga diatas dinding yang berwarna putih terdapat sebuah tombol rahasia, ketika tombol tersebut ditekan dengan ujung jarinya terdengarlah suara gemerincingan yang nyaring berkumandang memecahkan kesunyian.

Diatas dinding ruang berwarna putih yang tertutup rapat itu, tiba-tiba muncul sebuah pintu rahasia ternyata dibalik pintu ada sebuah ruangan rahasia yang lain.

Dalam ruangan tersebut ternyata berisikan kitab-kitab kuno yang banyak sekali, sepintas lalu mirip dengan kamar baca, disebelah kiri ruangan terdapat sebuah meja tulis, diatas meja tergeletak beberapa

Jilid kitab dan diantara keliling kitab itu terletak sebuah anak kunci yang berwarna emas.

Dengan langkah cepat Si Tiong pek menghampiri meja tulis itu dan mengambil anak kunci emas itu, tanpa sadar matanya melirik sekejap tumpukan kitab disampingnya.

Mendadak sorot matanya tertarik oleh empat huruf besar yang tercantum dihalaman terdepan dari se

Jilid kitab tipis, tulisan itu berbunyi demikian.

"HAY-CIONG-KUN-BOH"

"Hay-ciong-kun-boh!"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.

"Bukankah kitab ini ada hubungannya dengan manusia aneh yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada tiga ratus tahun berselang..?"

Demikian pikirnya. Sementara dia masih melamun! perempuan aneh beramput panjang yang berada diluar ruangan telah membentak.

"Hey, sudahkah kau dapatkan anak kunci emas untuk membuka rantai kecintaan?"

Si Tiong-pek tidak berpikir panjang lagi, sambil menyelam minum air, ia sambar juga kitab pusaka "Hay ciong kun boh"

Tersebut dan segera dimasukkan kedalam sakunya.

"Sudah, anak kunci itu sudah kudapatkan!"

Sahutnya. Dengan sikap yang santai selangkah demi selangkah ia berjalan balik kesamping perempuan itu.

"Aduuuh..!"

Tiba-tiba Si Tiong pek menjerit kesakitan, lalu sambil mendekap perutnya ia terhuyung-huyung, mukanya berubah menjadi hitam pekat, ternyata racun ular yang berada dalam tubuhnya telah mulai bekerja.

Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak lamat-lamat Si Tiong-pek merasa perempuan aneh berambut panjang itu menekankan telapak tangannya diatas tubuhnya, segulung aliran hawa murni yang panas segera merembes masuk lewat jalan darah Miabun hiat dan tersebar kesegala penjuru tubuh...

Kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.

Ketika Si Tiong-pek sadar kembali dari pingsannya, ia merasa seluruh tubuhnya yang semula sakit dan tersiksa kini sudah tak terasa lagi, cuma badannya menjadi lemas tak bertenaga, seakan-akan baru saja sembuh dari penyakit berat.

Si Tiong pek segera melompat bangun dari atas tanah...

"Criing..! Criing..!"

Tiba-tiba ia mendengar bunyi gemerincingan memecahkan kesunyian dilanjutkan pergelangan tangan kanannya terasa berat sekali sehingga gerak geriknya tidak leluasa.

Ketika ia perhatikan lengan kanannya dengan penuh keheranan, kontan saja hatinya menjadi terperanjat.

Ternyata sebuah gelang baja yang sangat kuat telah membelenggu lengan kanannya itu.

"Tak usah keheranan!"

Tiba-tiba terdengar suara lembut dari perempuan aneh berambut panjang itu menggema dari sisi telinganya.

"gelang baja itu terbuat dari inti lima jenis logam yang dicampur menjadi satu, bukan saja tak mempan dibacok dengan senjata, gelang yang membelenggu pergelangan tanganmu itu mempunyai sifat per yang sangat kuat, bagaimanapun kau berusaha untuk melepaskan diri, jangan harap gelang itu bisa kau copot dari situ lagipula semakin keras kau meronta semakin kencang pula gelang itu membelenggu tanganmu. Nah, sekarang aku hendak pergi mencari Yo Lak long bila ia tidak berhasil kutemukan maka kau boleh hidup sepanjang masa dalam gua batu itu, air dalam kolam adalah air tawar, bila lapar boleh kau tangkap sendiri ikan-ikan disana, mau minum juga ada air tawar yang tersedia, pokoknya kau terjamin tak sampai mati kelaparan. Beristirahat saja disini dengan tenang, asal suhumu berhasil kutemukan dengan sendirinya dia akan datang kemari untuk membebaskan dirimu. Waktu itu akupun bersedia pula mewariskan ilmu silat tinggi kepadamu agar kau bisa menjagoi dalam dunia persilatan"

Perkataan dari perempuan aneh berambut panjang yang kedengarannya begitu enteng dan santai justru ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong bagi pendengaran Si Tiong pek siksaan dan penderitaan yang tiada akhirnya ini bukan sembarangan orang bisa mengalaminya.

Tak terlukiskan rasa marah, benci dan dendam Si Tiong pek menerima kenyataan tersebut, ia segera tertawa dingin.

"Heeeehh...heeehhh...heeehhh...siluman iblis bertampang jelek, kau tak usah berbangga dulu, terus terang kuberitahukan kepadamu, kekasihmu Tok-liong Cun-cu Yo Long telah tewas ditebing Yan-po-gan dibukit Hoa-san pada delapan belas tahun berselang, selama hidup jangan harap kau bisa berjumpa lagi dengannya"

Sekarang gilirannya perempuan aneh berambut panjang yang terbelalak kaget, matanya melotot lebar penuh kekosongan, ditatapnya Si Tiong-pek dengan termangumangu...

Lama, lama sekali, akhirnya ia memperdengarkan suara tertawanya yang panjang tapi seram bagaikan tangisan setan iblis.

"Haaahhh...haaahh...haaahhh...haaahhh... ia benar-benar sudah mati...siapa yang telah membinasakan dirinya... haaahhh... haaahhh... Yo Long, wahai Yo Long... aku tidak menginginkan kematianmu... siapakah... siapakah pembunubmu? Haahh.. haahh dia belum mati, Lak-long, tidak akan mati... Yo Long wahai Yo Long aku tak dapat kehilangan dirimu...haahhh... haaahh...haaahh..."

Dalam waktu singkat, perempuan aneh berambut panjang itu sudah berubah seperti orang gila, ia berkaok-kaok sejadi-jadinya, sebentar tertawa tergelak sebentar menangis tersedu, keadaannya semakin mengerikan.

Mimpipun Si Tiong-pek tidak menyangka kalau beberapa patah katanya itu sudah cukup membuatnya menjadi gila, untuk sesaat pemuda itu menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu melotot kearah Si Tiong-pek dengan penuh kebencian, sambil tertawa dingin katanya.

"Kau pasti adalah pembunuh dari Yo Long, aku hendak membinasakan dirimu... aku hendak mencincang tubuhmu..."

Sambil mengancam, perempuan aneh berambut panjang itu mengayunkan telapak tangan kanannya segulung angin pukulan yang sangat kuat dan dahsyat secepat sambaran kilat menerjang ketubuh Si Tiong pek.

Sejak mendengar kata-kata ancaman tadi, Si Tiong-pek sudah waspada dan bersiapsiap menghadapi serangan maut dari lawannya, maka begitu angin pukulan yang menyesakkan napas itu menindih tubuhnya buru-buru ia berkelit kesamping untuk menghidarkan diri.

Sekalipun pukulan yang mengarah langsung kedadanya berhasil dihindari anak muda itu, rupanya sisa angin pukulan yang melebar kesamping telah menyerempet pinggangnya...

Tidak ampun lagi pemuda itu menjerit kesakitan, sambil muntah darah segera badannya tergeletak ditanah dan tak bisa berkutik lagi.

Perempuan aneh berambut panjang itu segera terkekeh kekeh dengan seramnya.

"Heeehhh...heeehhh...heeehhh... mampus! Sudah mampus! Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Yo Long wahai Yo Long, kau berada dimana? Kau tak dapat meninggalkan diriku seorang Yo Long."

Secepat sambaran kilat perempuan aneh berambut panjang itu berkelebat keluar ruangan, jeritan-jeritan kalapnya yang memilukan hati makin lama semakin menjauh dari pendengaran sehingga akhirnya lenyap sama sekali.

Bagaimanakah dengan nasib Si Tiong-pek yang dirantai dalam gua?

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan lebih dulu.

0000O0000 Bintang-bintang bertebaran dilangit yang kelam, cahaya yang lembut dan redup berkelip-kelip menyinari jagat, rembulan yang purnama mulai tampak dari balik awan di ufuk sebelah timur.

Sinar keperak-perakan yang lembut menyoroti sebatang pohon siong dan memantulkan cahayanya diwajah seorang pemuda tampan berbaju hijau yang sedang duduk bersila disitu.

Pemuda itu duduk bersila tak berkutik bagaikan seorang pendeta, uap putih mengepul dari atas kepalanya dan menciptakan awan yang amat tebal, rupanya ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menembusi seluruh jalan darah penting dalam tubuhnya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian ia membuka kembali sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam, lalu menghela napas panjang.

"Aaaai...aku tak sudi menerima budi kebaikan dari musuh besarku, sungguh tak kusangka ia memaksa untuk melepaskan budinya kepadaku, Kwik To wahai Kwik To! Meskipun aku Gak Lam kun telah menerima bantuan kali ini, akan tetapi aku tak akan melupakan dendam sakit hati atas kematian yang menimpa guruku"

Dengan pandangan termangu, sorot matanya dialihkan keangkasa dan memandang awan yang berkejaran, ia merasakan perasaannya, hampa dan pikirannya kosong.

Mendadak...serentetan suara nyanyian yang memilukan hati lamat-lamat berkumandang dari tempat kejauhan dan memecahkan keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu.

Mula-mula nyanyian itu masih berada ditempat kejauhan, makin lama semakin dekat sehingga akhirnya bait-bait nyanyian itu dapat terdengar olehnya dengan jelas.

".....Bertanya pada masyarakat, apakah cinta itu? Haruskah mati atau hidup untuk mendapatkannya..? Oh, jagat yang luas, mega yang tebal... Langit selatan bumi utara, burung walet saling beterbangan..."

Begitu mendengar suara nyanyian tersebut.

Gak Lam-kun merasakan hatinya terkesiap, sebab nyanyian itu terasa begitu kenal begitu hapal dalam benaknya sehingga ia sediripun dapat membawakan diluar kepala.

Bukan hanya sekali dua kali saja ia mendengar nyanyian tersebut, hampir setiap hari nyanyian itu pasti berkumandang, sebab tiap hari bila tengah malam telah tiba, gurunya selalu menyanyikan lagu tersebut.

Bagaimana mungkin Gak Lam-kun tidak terperanjat setelah mendengar kembali nyanyian tersebut ditengah keheningan malam seperti ini?

Mimpipun tak pernah disangka olehnya bahwa nyanyian tersebut bakal didengarnya kembali diatas pulau yang terpencil ini.

Tiba-tiba suara nyanyian tersebut terputus sampai ditengah jalan.

Menyusul kemudian suara tertawa panjang yang menyeramkan dan mendirikan bulu kuduk orang menyayat-nyayat keheningan yang mencekam seluruh jagad, ditengah gelak tertawa tersebut menggema pula teriakan-teriakan yang amat nyaring.

"Oooh...kekasihku...ooooh...sayangku... dimanakah kau sekarang? Dimanakah kau berada..."

Suara orang itu amat memilukan hati, bagaikan anak domba yang mencari induknya seperti juga ibu yang menangisi anaknya, membuat siapapun yang mendengar suara itu ikut merasa terharu dan melelehkan airmatanya...

Gak Lam kun tertegun, secara sigap ia segera menyadari bahwa nyanyian, gelak tertawa dan teriakan tersebut dipancarkan seseorang dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sempurna.

0000000O0000000 Kalau ditinjau dari daya pengaruh yang diakibatkan dari suara nyanyian, gelak tertawa dan teriakan tersebut, jelaslah terbukti bahwa tenaga dalam orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya didunia ini.

"Siapakah dia?"

Tiba-tiba gelak tertawa aneh yang tinggi melengking dan tak sedap didengar berkumandang datang dari kejauhan.

Pelan-pelan Gak Lam-kun bangkit berdiri, lalu melongok kearah mana berasalnya suara itu, sesosok bayangan manusia laksana sambaran petir sedang meluncur datang kearahnya.

Ketika tiba beberapa kaki dihadapan Gak Lam kun, tiba-tiba bayangan manusia yang sedarg melintas dengan cepatnya itu menghentikan gerakan tubuhnya.

Dibawah cahaya rembulan tampak orang itu adalah seorang perempuan yang berwajah jelek berbaju compang camping dan mempunyai rambut sepanjang pinggang.

Sesudah melihat jelas tampang orang itu, Gak Lam kun baru merasa terperanjat, pikirnya dengan cepat.

"Mungkinkah suara nyanyian tadi berasal dari perempuan gila itu..?"

Sementara pemuda itu masih termenung, dengan sepasang matanya yang jeli perempuan aneh berambut panjang itu sudah mengamati wajah Gak Lam kun dengan seksama, lalu sambil tertawa dingin tegurnya.

"Hey, siapakah kau? Mengapa berada disini? Pernahkah kau jumpai kekasihku?"

Pertanyaan yang diajukan tanpa ujung pangkalnya itu disampaikan dengan kata-kata yang cepat, hal ini membuat Gak Lam-kun diam-diam harus mengerutkan dahinya.

Betapa geramnya perempuan aneh berambut panjang itu setelah menyaksikan wajah Gak Lam-kun yang ketus sikapnya yang enggan menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba bentaknya lagi.

"Hey, rupanya kau yang telah membinasakan kekasihku? Kau...kau harus mampus!"

Tanpa banyak membuang waktu, sebuah bacokan keras segera diayunkan ketubuh Gak Lam-kun...

Mengikuti gerakan bacokan tersebut, segulung angin pukulan yang sangat kuat segera menyambar kedepan dan menindih dada lawan.

Sungguh tercekat perasaan Gak Lam-kun, mimpipun ia tak menyangka kalau perempuan aneh berambut panjang itu bakal melancarkan serangan secepat itu, lagipula angin yang dihasilkan orang itu ternyata belum pernah dijumpainya selama ini.

Ia tak berani menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras, dengan cekatan tubuhnya berkelit tiga langkah kesamping dan menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian serunya dengan lantang.

"Hey locianpwe, tunggu sebentar..! Jangan melancarkan serangan dahulu!"

Rupanya perempuan aneh berambut panjang itupun merasa terkejut bercampur heran setelah menyaksikan Gak Lam-kun berhasil menghindarkan serangannya semudah itu, sambil mengayunkan kembali telapak tangan kirinya ia membentak.

"Kekasihku telah kau bunuh, apalagi yang hendak kau katakan? Apalagi yang hendak kau katakan?"

Dari kejauhan kembali dia lancarkan sebuah pukulan dengan telapak tangan kirinya.

Dalam serangannya yang dilancarkan kali ini ternyata tidak membawa sedikitpun hawa pukulan yang mendesis, malah sepintas lalu seperti orang yang sedang berpura-pura melancarkan serangan.

Namun paras muka Gak Lam-kun segera berubah menjadi serius, dengan telapak tangan kirinya melindungi badan, kelima jari tangan kanannya dipentangkan lebar-lebar untuk melancarkan pula sebuah pukulan kearah depan.

"Blaaamm...!"

Ketika dua gulung angin pukulan itu saling bertemu ditengah udara, terjadilah ledakan dahsyat yang memekikkan telinga.

Jilid 7 Dalam waktu singkat hawa murni memancar keempat penjuru, gulungan angin puyuh tersebar keempat penjuru dan menerbangkan debu dan pasir disekelilingnya, dalam radius tujuh kaki benda apapun terbawa semua keudara.

Ledakan dahsyat memekikkan telinga ini belum pernah dijumpai dalam dunia persilatan sebelumnya.

Setelah menyambut hawa pukulan bersifat lembut yang dipancarkan perempuan aneh berambut panjang itu, Gak Lam-kun merasakan hawa darah di rongga dadanya bergolak keras, betapa terperanjatnya pemuda itu, cepat-cepat telapak tangan kirinya diayunkan kembali kemuka dengan kecepatan tinggi, ia berusaha untuk memusnahkan sisa kekuatan yang masih tersisa dari pukulan lawan itu dari sekitar badannya.

Kemudian setelah bebas dari ancaman, Gak Lam-kun baru menegur dengan suara dingin.

"Siapakah nama kekasihmu itu? Aku sama sekali tidak kenal dengannya, kenapa aku mesti mencelakai dirinya?"

Ketika perempuan aneh berambut panjang itu menyaksikan Gak Lam-kun berhasil memunahkan serangannya yang kedua, mimik wajahnya agak bergerak, lalu sekulum senyum menghiasi ujung bibirnya.

"Kenapa?"

Katanya.

"masa kau tidak kenal dengannya, lantas tahukah kau siapa yang kenal dengannya?"

Diam-diam Gak Lam-kun menyadari bahwa perempuan yang sedang dihadapinya adalah perempuan gila, tapi harus diakui ilmu silatnya memang cukup menggentarkan perasaan siapapun, sekalipun sewaktu tersenyum mukanya kelihatan jelek dan menyeramkan, tapi dua baris giginya kelihatan begitu putih, bersih dan rata.

Diam-diam ia berpikir.

"Aneh benar perempuan ini, bila ditinjau dari potongan badannya, jelas dia adalah seorang perempuan cantik, tiada sebagianpun dari tubuhnya yang cacad atau kurang sempurna, tapi justru raut mukanya berwarna merah hitam tak menentu, ditambah lagi daging merah terkuar dimana-mana membuat tampangnya kelihatan begitu jelek dan mengerikan lagi, disamping itu suaranya juga kadangkala tinggi melengking amat menusuk pendengaran, bagaikan jeritan setan dari neraka, tapi kadangkala merdu merayu bagaikan burung Nuri yang sedang berkicau, siapakah sebetulnya orang ini..?"

Ingatan tersebut berputar tiada hentinya dalam benak Gak Lam-kun, setelah pusing dibuatnya diapun tersenyum sambil berkata.

"Locianpwe, bolehkah aku tahu siapa nama kekasihmu itu?"

Paras muka perempuan aneh berambut panjang itu berubah menjadi serius, hardiknya.

"Hey, ngaco belo, apaan kamu ini? Long ji adalah kekasihku, calon suamiku, tapi ia pun merupakan muridku."

Gak Lam-kun menjadi kaget dan tertegun lalu menghela napas panjang, pikirnya.

"Jelaslah sudah perempuan ini memang perempuan gila, sayang sekali dengan ilmu silatnya yang tinggi... aaai, setelah kuketahui bahwa dia adalah perempuan edan, kenapa aku musti berdebat terus, dengan perempuan edan semacam dia?"

Mimpipun Gak Lam-kun tidak menyangka kalau perempuan yang berada dihadapannya sekarang adalah Sucounya, sayang sebelum ajalnya tiba Tok-liong Cuncu Yo Long sama sekali tidak mengungkapkan kisah cintanya dengan perempuan tersebut.

Demikianlah, setelah berpikir sebentar, Gak Lam-kun lantas memberi hormat sambil berkata.

"Locianpwe, aku tidak kenal dengan Long ji mu, akupun tidak tahu siapa yang kenal dengan dirinya, maaf aku masih ada urusan yang harus kukerjakan sekarang, jadi terpaksa aku harus mohon diri terlebih dahulu..."

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan siap meninggalkan tempat itu.

Bagaikan bayangan setan saja tahu-tahu perempuan aneh berambut panjang itu sudah berkelebat kemuka dan menghadang tiga depa dihadapan Gak Lam-kun, dengan hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia membentak nyaring.

"Nama besar Long-ji ku menggetarkan seluruh dunia, tak seorang umat persilatanpun yang tidak kenal dengannya, kalau kau tidak kenal dengan Long-ji ku, apa pula gunanya tetap hidup dikolong langit?"

Tangannya diayunkan dan sebuah pukulan dahsyat kembali dilancarkan ketubuh Gak Lam-kun.

Segulung hawa pukulan yang dingin menggidikkan hati, mengikuti gerakan telapak tangan tersebut langsung menerjang ke dada Gak Lam-kun.

Berubah hebat paras muka anak muda itu, dengan suatu gerakan aneh ia mengegos kesamping dan berputar ke sisi kanan perempuan aneh berambut panjang itu, kemudian dengan serius katanya.

"Locianpwe, jika kau bertindak secara sembrono terus menerus, maaf bila boanpwe terpaksa harus bertindak kurangajar!"

Perempuan aneh berambut panjang itu sama sekali tidak menggubris, sebelum Gak Lam-kun sempat melancarkan serangannya, telapak tangan kirinya sudah dikebaskan tiga kali masing-masing mengancam tiga buah jalan darah penting di dada lawan.

Tak terlukiskan rasa kaget Gak Lam-kun menghadapi serangan tersebut, untuk kedua kalinya dia gunakan kembali ilmu langkah yang sangat ampuh itu untuk melepaskan diri dari ancaman, kemudian jari tangan kirinya direntangkan, dengan gerak serangan yang tak kalah anehnya ia cengkeram persendian tulang sikut ditangan perempuan itu.

Agaknya perempuan aneh berambut panjang itu dapat merasakan datangnya bahaya, tangan kanannya segera dikebaskan kebawah, sementara tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan lagi mengarah jalan darah penting di pinggang Gak Lam-kun.

Dengan suatu lompatan si anak muda itu menghindarkan diri dari ancaman, lalu telapak tangannya berputar membacok kebawah dengan kecepatan tinggi.

Baik menghindar maupun dikala melancarkan serangan balasan semua gerakan tersebut dilaksanakan dengan kecepatan serta ketepatan yang mengagumkan.

Sebaliknya, jurus serangan yang digunakan perempuan aneh berambut panjang itu sepintas lalu seperti jurus serangan biasa, tapi jurus-jurus serangan biasa itu dalam penggunaannya ternyata berubah menjadi satu ancaman yang disertai dengan tenaga penghancur yang mengerikan, seolah-olah dari balik gerak serangan yang sederhana, sesungguhnya mengandung perubahan jurus yang amat sakti.

Dalam keadaan demikian, kendatipun, jurus serangan balasan yang dipergunakan Gak Lam-kun mempunyai perubahan yang bagaimanapun saktinya namun setiap kali selalu berhasil dipunahkan dengan begitu saja oleh jurus sederhana yang dipergunakan perempuan aneh berambut panjang itu.

Untung Gak Lam-kun masih mempunyai ilmu gerakan tubuh Ji gi ngo heng Jit eng liong heng sin hoat, coba kalau tidak, sejak tadi ia sudah terluka ditangannya.

Beberapa saat kemudian, dua orang itu sudah bergebrak sebanyak belasan jurus lebih.

Setiap kali didesak oleh pukulan-pukulan gencar dari perempuan aneh berambut panjang itu, tiap kali pula Gak Lam-kun harus mundur untuk menghindarkan diri, lama kelamaan hal ini menimbulkan kemarahannva.

Telapak tangan kiri pukulan tangan kanan segera dilancarkan bersamaan waktunya, tentu saja serangan-serangan itu dilancarkan dengan disertai tenaga pukulan yang dahsyat.

Serangkaian pertarungan yang sedang berlangsung ini benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan, terlepas dari jurus serangan yang dipergunakan perempuan aneh tersebut, cukup meninjau dari setiap pukulan, setiap sodokan dan setiap tendangan yang dipergunakan Gak Lam-kun, semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang jarang dijumpai dikolong langit.

Dibawah desakan dan terjangan Gak Lam-kun dengan pukulan dan tendangannya yang bertubi-tubi, perempuan aneh berambut panjang itu segera memperlihatkan pula rasa kaget dan tercengangnya.

Tiba-tiba ia meluruskan sepasang telapak tangannya ke depan, pergelangan tangannya agak ditekuk ke bawah, kemudian segulung angin pukulan lembut pelan-pelan dilontarkan ke depan.

Tapi setiap kali angin pukulan itu terbentur dengan jurus serangan yang dipergunakan oleh Gak Lam-kun, hawa pukulan itu seakan-akan terbendung sama sekali, setiap kali pukulan itu terpental dan tak mampu dikembangkan.

Akhirnya dengan jengkel perempuan aneh berambut panjang itu menarik kembali serangannya.

"Hey, siapakah kau?"

Bentaknya kemudian.

"Aku She Gak bernama Lam kun!"

Jawab pemuda itu hambar.

"Gak Lam-kun...Gak Lam-kun..?"

Seperti orang yang sedang mengigau, perempuan aneh berambut panjang itu mengulangi nama tersebut sampai berpuluh-puluh kali, suaranya lirih sekali.

Entah beberapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia membentak keras.

"Gak Lam-kun, kau harus mampus!"

Kena dibentak oleh perempuan itu, Gak Lam-kun tersentak kaget, serunya tanpa terasa.

"Kenapa aku harus mampus?"

Perempuan aneh berambut panjang itu manggut-manggutkan kepalanya, lalu dengan lembut berkata.

"Kenapa kau harus mampus? Sebab kau bisa mempergunakan ilmu silat dari Long-jiku!"

"Ilmu silatku berasal dari ajaran guruku sendiri, ilmu silat dia orang tua sudah mencapai taraf yang luar biasa, jurus silat dari perguruan manapun didunia ini telah dikuasai semua olehnya, tentu saja termasuk juga ilmu silat dari Long ji mu itu"

"Wahai Gak Lam-kun, siapa nama gurumu? Aku hendak membunuh dirinya..!"

Bentak perempuan aneh berambut panjang itu dengan penuh kegusaran. Gak Lam-kun segera menghela napas panjang.

"Aaaaai...guruku sudah tiada, jangan harap kau bisa beradu kepandaian dengannya"

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu menengadah dan tertawa seram.

"Haaahhh... haahhh... haaahhh... sudah mampus? Haahhh... haahhh... haaahhh... rupanya semua orang dikolong langit sudah pada mampus, Long-ji juga sudah mampus. Oooh...Long-ji ku yang patut dikasihani, kau berada dimana? Kau berada dimana? Yo Long, Yo Long, begitu tegakah kau tinggalkan aku seorang? Yo Long...oooh Yo Long betapa kejamnya hatimu, Yo Long..."

Sambil menjerit-jerit seperti orang gila, secepat sambaran kilat perempuan aneh berambut panjang itu menjejakkan kakinya ke atas tanah dan berkelebat menuju ke arah timur.

Teriakan-teriakannya dan jeritan-jeritannya penuh diliputi nada duka nestapa yang tebal, bukan saja mengharukan perasaan siapapun yang mendengarkan, bahkan bikin orang melelehkan air mata tanpa terasa...

Sewaktu Gak Lam-kun mendengar perempuan aneh berambut panjang itu, menyebutnyebut nama gurunya, ia merasa terkejut sekali, segera teriaknya dengan suara lantang.

"Eeeh... locianpwe... locianpwe..! Tunggu sebentar, tunggu sebentar!"

Tapi gerakan tubuh dari perempuan aneh berambut panjang itu memang terlalu cepat dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Yang masih terdengar hanya suara jeritannya yang memilukan hati.

"Yo Long! Oooh... Yo Long! Jangan kau tinggalkan diriku, jangan kau tinggalkan aku seorang diri, Yo Long..."

Menyaksikan kesemuanya itu. Gak Lam-kun hanya bisa menghela napas sedih pikirnya.

"Bila kutinjau dari ilmu silat yang dimiliki perempuan ini, jelas ia sudah berhasil mencapai taraf paling sempurna yang tiada taranya didunia ini, mungkinkah Yo Long yang sedang dicari-cari olehnya adalah guruku? Tidak! Tidak mungkin! Mungkin masih ada Yo Long yang lain, memang terlalu banyak manusia didunia ini, yang mempunyai nama marga dan nama kecil yang sama"

Setelah termenung beberapa waktu. Gak Lam-kun menengadah dan memandang awan diangkasa, lama kemudian ia baru menghela napas panjang.

"Diantara musuh-musuh besar pembunuh suhuku, sudah ada empat orang diantaranya yang muncul dipulau terpencil ini, diantara mereka berempat, ada dua orang yang sudah mengetahui asal usulku, apabila mereka sampai bekerja sama untuk menghadapi diriku,tentu aku tak kuat menghadapi mereka, aaaai... jika tidak kulenyapkan dulu beberapa orang diantara mereka, malu rasanya aku terhadap kebaikan suhu selama ini"

Akhirnya setelah menghela napas panjang dia mengeluarkan sebuah topeng kepala naga dari sakunya dan dikenakan diatas wajahnya secara sempurna, kemudian ia lepaskan jubah hijaunya sehingga tampaklah pakaian berwarna emas yang berada dibaliknya.

Sesudah itu, Gak Lam-kun merogoh pula kedalam saku jubah berwarna emas itu dan mengeluarkan senjata Toh-hun-liong-jiau (cakar naga perenggut nyawa) senjata andalan Yo Long dikala masih menjelajahi dunia persilatan tempo dulu.

Ternyata senjata itu berupa sepasang sarung tangan berwarna kuning emas, cuma sarung tangan ini jauh berbeda dengan sarung tangan biasa, yakni pada ujung kelima jarinya tersembul cakar emas yang panjangnya satu setengah cun dengan bentuk yang melengkung seperti cakar naga.

Dengan cekatan Gak Lam-kun mengenakan sarung tangan itu ditangannya, dibawah sorot sinar rembulan terlihatlah sepuluh jari cakar mautnya memantulkan sinar gelap yang gemerlapan, sekilas pandangan semua orang akan mengetahui bahwa cakar itu tajamnya luar biasa.

Perlu diterangkan disini, kesepuluh buah jari cakar naga yang berada pada ujung sarung tangan Toh-hun-liong-jiau tersebut, dibuat Tok-liong Cuncu Yo Long dengan campuran baja dan emas murni, bukan saja tajamnya melebihi sebilah pedang mestika, bahkan sarung tangan itupun kebal terhadap segala bacokan ataupun tusukan pedang mestika.

Selesai berdandan, dengan sangat hati-hati Gak Lam-kun menyusupkan baju hijaunya kedalam saku, lalu sekali melompat, laksana sambaran kilat ia meluncur kembali ke arah bangunan gedung tersebut.

Setelah mengenakan dandanan istimewa semacam ini, Gak Lam-kun tak berani terlalu gegabah sehingga jejaknya ketahuan orang dengan langkah yang sangat berhati-hati ia menyusup dari satu halaman ke halaman yang lain, dalam waktu singkat ia telah tiba diluar halaman dimana mereka pernah dikurung oleh barisan ular beracun kemarin.

Ia menghimpun tenaga dalamnya, kemudian setelah mengincar sebatang pohon siong dekat pekarangan sana, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera melesat kepuncak pohon itu, sementara sepasang matanya yang tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Suasana halaman itu sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, jangankan manusia, bangkai ular yang penuh berserakan ditanah kemarinpun kini sudah tersapu bersih.

Gak Lam-kun tak berani bertindak gegabah, ditunggunya sejenak dari atas pohon siong sambil mengamati situasi disekeliling tempat itu...

Tapi suasana tetap hening dan sepi, diantara hembusan angin musim rontok yang sepoi-sepoi, hanya bayangan daun yang bergoyang diatas permukaan tanah serta pasir yang mendesis terhembus angin.

Meski suasana terasa hening, tapi keheningan tersebut membawa suasana seram yang menggidikkan hati.

Ketika Gak Lam-kun merasa suasana disana amat tenang dan tidak nampak sesosok bayangan manusiapun, dengan enteng ia melayang turun kembali keatas tanah, lalu sekali melompat pemuda itu menyusup ke arah gedung dimana perempuan berbaju perak yang memetik khim semalam berdiam.

Setelah melampaui dua buah halaman luas, sampailah pemuda itu diluar gedung dimana gadis itu tinggal.

Halaman diluar gedung itu luas sekali, pohon-pohon siong tumbuh berjajar di empat penjuru, Gak Lam-kun segera memilih sebatang pohon siong yang tumbuh dekat halaman bagian barat, lalu dengan hati-hati sekali melompat kebawah pohon tadi.

Pemuda itu merasa perlu berhati-hati, dalam gerak-geriknya, sebab dia tahu empat orang dayang yang tinggal digedung itu adalah jago-jago tangguh yang berilmu tinggi.

Sebelum melompat keatas, Gak Lam-kun memperhatikan lebih dahulu dahan pohon tersebut ternyata dari akar sampai ranting yang pertama tingginya mencapai lima kaki, bila seseorang tidak memiliki ilmu peringan tubuh yang sempurna, jangan harap dengan sekali lompatan bisa mencapai ranting pohon itu.

Dengan cekatan Gak Lam-kun memperhatikan keadaan pohon itu lalu menimbang pula kekuatan yang dimilikinya, setelah menghimpun hawa murninya ia getarkan sepasang lengannya lalu meluncur naik keatas, ketika tiba ditengah jalan, tangan kirinya menyambar sebatang ranting bercabang dan sekali berjumpalitan tahu-tahu tubuhnya sudah berdiri diatas dahan pohon.

Berbicara dari taraf ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak Lam-kun, sesungguhnya ia dapat mencapai dahan pohon siong itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun, sayang sepasang tangannya mengenakan sarung tangan cakar naga perenggut nyawa, ketika ujung cakarnya yang tajam menggurat dahan pohon, segera berkumandanglah suara guratan yang lirih sekali.

Padahal suara itu lirihnya bukan kepalang, jangankan orang yang berada dikejauhan sekalipun berdiri disampingnya belum tentu bisa menangkap suara tersebut.

Akan tetapi, baru saja sepasang kakinya berdiri tegak, mendadak dari dua kaki disamping kiri, dari balik rimbunnya daun siong yang lebat, berkumandang suara tertawa aneh yang menyeramkan.

Suara itu tidak terlalu keras, namun membawa nada menyeramkan yang cukup menggidikkan hati orang.

Walaupun Gak Lam-kun dibuat tertegun oleh gelak tawa seram yang munculnya sangat mendadak itu, tapi ia masih dapat mengenali suara tersebut sebagai suara manusia.

Diam-diam hawa murninya segera dihimpun untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, sementara diluar ia bersikap seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, seolah-olah suara tertawa aneh tadi sama sekali tidak terdengar olehnya.

Setelah suara tertawa aneh tadi berkumandang, suasana pulih kembali dalam keheningan.

Kecuali angin berhembus lembut dan daun yang saling bergoyang, tak kedengaran suara aneh yang lainnya.

Kurang lebih seperminum teh kemudian karena tidak mendengar juga suara aneh lainnya, lama kelamaan Gak Lam-kun tak dapat menahan diri, dia lantas memutar tubuhnya dan siap menghampiri ke arah mana berasalnya suara tertawa aneh tadi.

Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya, mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara yang dingin, rendah dan berat.

"Jangan sembarangan bergerak, kau telah berada dibawah ancaman panah geledek Jit poh-lui-sim-ciam-ku, nah kemarilah dengan tenang, ada beberapa persoalan hendak kutanyakan kepadamu!"

Ucapan itu bukan saja bernada berat, dan lagi kedengaran dingin dan menyeramkan.

Sejak pertama kali tadi Gak Lam-kun sudah memperhatikan dengan seksama tempat persembunyian dari si pembicara tersebut, ia telah bertekad jika tempat persembunyiannya sudah diketahui dengan pasti maka sebuah serangan tiba-tiba mungkin akan berhasil menaklukkan orang itu.

Maka setelah mendengar ancaman tersebut dia hanya mendengus dingin tiada hentinya.

Dengusan itu sangat aneh, nadanya dingin kaku dan membuat orang merasa sangat tidak enak hati, tapi rendah dan berat bagaikan suara itu bisa terdengar oleh siapapun juga yang berada tiga kaki disekeliling tempat itu.

Ternyata Gak Lam-kun telah menggunakan kepandaian Liong-gin-heng (dengusan naga sakti) ajaran gurunya untuk menggetarkan perasaan musuh, sementara sepasang matanya dengan tajam mengawasi terus tempat persembunyian orang itu.

Kiranya tempat yang digunakan orang itu sebagai tempat persembunyiannya mempunyai daun yang istimewa rimbunnya, sekalipun dibawah cahaya rembulan, yang terlihat cuma sesosok bayangan manusia belaka, bagaimanakah bentuk badan dan raut wajah orang itu ternyata sukar ditentukan.

Mendengar "pekikan naga"

Dari Gak Lam-kun tersebut, kembali orang itu tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan katanya.

"Dandanan atau dengusan naga saktimu memang mirip sekali dengan gaya Tok-liong Cuncu Yo Long, sayang kau tak bisa membohongi aku, Heeehh... heeehhh... bocah cilik, bukankah demikian?"

Mendengar ucapan tersebut, Gak Lam-kun merasa terperanjat yang tak terkirakan hebatnya, dia tak mengira kalau jejak atau rahasia penyaruannya ketahuan orang.

"Siapa kau?"

Akhirnya dia menegur, kalau kau memang ingin menjumpai aku untuk menanyakan suatu masalah, kenapa tidak segera munculkan diri..?"

Pelan-pelan orang itu berkata.

"Sekalipun kusebutkan namaku, belum tentu kau akan mengetahuinya. Justru lantaran kusaksikan ilmu meringankan tubuhmu sewaktu melompat naik keatas pohon siong tadi melampaui kehebatan orang lain, maka kulanggar kebiasaanku dengan datang menjumpaimu, coba kalau diam-diam melepaskan serangan mautku, niscaya pada saat ini nyawamu sudah lenyap di ujung anak panah Jit poh lui sim cian (panah tujuh langkah pencabut nyawa) ku"

Ketika didengarnya perkataan orang itu makin lama semakin tidak sungkan-sungkan Gak Lam-kun naik darah, tapi dia bukan seorang pemuda yang bodoh, ia tahu dari kepandaian orang itu untuk mengenali penyamarannya hanya dalam sekejap mata, ini sudah membuktikan kalau dia bukan manusia sembarangan.

Sambil menahan rasa mangkel, kesal dan golakan perasaannya ia menjawab.

"Kalau memang demikian, aku akan menyambangi dirimu!"

Seraya berkata tangan kanannya dikebaskan, kemudian tubuhnya meluncur ke arah mana berasalnya suara tadi.

Benar juga, orang yang menyembunyikan diri dibalik pepohonan itu sama sekali tidak turun tangan melancarkan sergapan, sebagai pemuda yang berilmu tinggi dan bernyali besar, Gak Lam-kun menerobosi daun-daun pohon yang lebat dan berdiri diatas sebuah dahan kurang lebih tiga depa diluar gerombolan daun tadi.

Ketika ranting-ranting pohon disingkapnya dengan kedua belah tangannya, hampir saja Gak Lam-kun menjerit kaget setelah menyaksikan orang yang berada disana.

Pada salah sebuah dahan pohon dengan daun yang lebat, duduklah seorang kakek bertampang jelek, berambut putih sepanjang punggung, mempunyai raut wajah jelek mengerikan dengan bibir yang tebal, hidung yang datar, mata rada juling, jidat lebar serta masing-masing sebuah codet diatas pipinya, sebuah tabung bulat berwarna hitam berada dalam genggamannya...

Tabung bulat itu besarnya selengan dengan panjang dua depa, sesungguhnya bukan suatu benda yang terlalu menarik perhatian, tapi siapapun tahu bahwa benda yang amat sederhana itu justru merupakan sebuah alat pembunuh yang sangat jahat, keji dan menggetarkan hati siapapun jua.

Tabung bulat itu kosong tengahnya dan terdapat tujuh buah lubang kecil, didalam setiap lubang kecil itu masing-masing tersimpan sebatang anak panah Jit-poh-liu-sim cian yang maha lihay.

Kakek aneh itu meletakkan tabung bulat tersebut disampingnya, lalu sambil menunjuk kesebuah dahan pohon disisinya dia berkata.

"Duduklah disana, ada persoalan hendak kutanyakan kepadamu!"

Gak Lam-kun menurut dan duduk diatas dahan pohon yang dimaksudkan, ia masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan tatapan mata yang tajam kakek aneh itu mengamati Gak Lam-kun beberapa kejap, kemudian sambil tertawa katanya.

"Bila dilihat dari ilmu meringankan tubuhmu yang sempurna serta dandananmu yang aneh, tentunya kau adalah murid kesayangan dari Tok liong Cuncu Yo Long bukan?"

"Rupanya saudara pernah berjumpa dengan guruku?"

Tanya Gak Lam-kun agak tertegun.

"Benar..."

Jawab kakek aneh itu dengan mata yang membalik-balik keatas.

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, giginya saling bergemerutuk keras, jelas ia menaruh perasaan dendam dan benci yang amat mendalam sekali terhadap Tok liong Cuncu Yo Long.

Menyaksikan kejadian itu, diam-diam Gak Lam-kun menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Kemudian pelbagai ingatan melintas kembali dalam benaknya, ia berpikir.

"Dari tujuh belas orang musuh guruku yang tercantum dalam kitab catatan musuh-musuh besar, kecuali sepuluh orang diantaranya yang sudah tewas, dari sisa tujuh orang yang masih ada, kini telah muncul Jit-poh toan-hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To, Giok-bin sin ang (kakek sakti berwajah kemala) Say khi pit, Kiu wi hou )rase berekor sembilan) Kongsun Po dan Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu diatas pulau terpencil ini, sementara tiga orang lainnya yang hingga kini belum muncul. Kui to(imam setan) Thian yu Cin jin yang merupakan orang paling dahsyat kepandaian silatnya, menyusul kemudian adalah Yan lo sat (iblis perempuan cantik) Hong im, dan akhirnya adalah jago yang menduduki urutan kelima Che kiam kuncu (Laki-laki ksatria pedang uang) Hoa kok khi, kecuali mereka semua, belum pernah kudengar kalau suhu masih mempunyai musuh lainnya..."

Sementara itu si kakek aneh itu sudah tertawa dingin dengan seramnya, kemudian katanya lebih jauh.

"Yo long adalah musuh cintaku, akupun tidak takluk dengan kehebatan ilmu silatnya, berulangkali aku ingin menjajal kepandaiannya, sayang tak ada kesempatan, namun aku kagum juga oleh kehebatan ilmu silatnya, akupun merasa kasihan atas tragedi serta musibah yang menimpanya dalam dunia persilatan, cuma kejadian itu sudah berlangsung pada dua puluh tahun berselang, kini Yo long sudah mati tapi perempuan rendah itu masih tetap hidup"

Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia menghela napas panjang matanya tertuju keatas awan dan kepalanya bergeleng berulangkali, bisa dirasakan betapa sedih dan murungnya perasaan orang itu.

Agak terperanjat Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Darimana dia bisa tahu kalau guruku sudah tiada? Siapa orang ini? Mengapa suhu tak pernah membicarakan tentang dirinya?"

Gak Lam-kun melakukan perjalanan dalam dunia persilatan semenjak tiga tahun berselang, hanya sebagian besar ia bergerak disekitar daratan Tionggoan, jadi terhadap budi dendam yang menyangkut tentang kakek aneh ini boleh dibilang ia sama sekali tak tahu.

Kakek aneh itu melirik sekejap ke arah Gak Lam-kun, kemudian setelah tertawa dingin katanya lagi.

"Rupanya kau masih curiga dengan perkataanku bukan? Terus terang kuberitahukan kepadamu, kekasihku tempo hari telah direbut oleh Yo long, sebenarnya beberapa kali aku ingin membunuhnya secara diam-diam, latar belakang mengenai kehidupan Yo Long pun sudah banyak yang berhasil kuselidiki, maka ketika belakangan ini tersiar kabar yang mengatakan bahwa ia muncul kembali dalam dunia persilatan, aku segera mengecek kebenaran dari kabar itu, akhirnya berhasil kuketahui bahwa Tok-Liong Cuncu yang konon telah muncul kembali itu sesungguhnya adalah kau...yaaa, tak kusangka memang dengan usiamu yang demikian muda ternyata berhasil memiliki kecerdasan serta tingkat ilmu silat yang sedemikian tingginya..."

Setelah mendengar perkataan itu, Gak Lam-kun baru mengakui bahwa dunia persilatan memang terlalu banyak jago lihay yang tersembunyi.

Tipu muslihat serta kejahatan yang terjadi dalam dunia persilatan sukar diduga asal datangnya.

"Cianpwe!"

Kata Gak Lam-kun kemudian dengan suara lembut.

"siapakah perempuan yang kau maksudkan itu?"

"Dia bukan lain adalah Soat san thian li yang telah tiba digedung ini. Kecantikan wajahnya tiada bandingan didunia ini, cuma cintanya tidak setia, dia suka ganti-ganti pacar dan lagi pikirannya terlampau cupat, ia hanya tahu ingin menangnya sendiri..."

Diam-diam Gak Lam-kun mengernyitkan alis matanya, pikirnya.

"Bila didengar dari pembicaraan suhu mengenai Soat-san thian-li, agaknya suhu pernah berhutang budi kepada perempuan itu, sebaliknya manusia aneh ini malah menjelek-jelekkan Soat-santhian-li, jelaslah sudah bahwa dia sendirilah yang sempit jalan pikirannya"

Berpikir sampai disitu, dengan suara tawar dia lantas bertanya.

"Locianpwe, apakah kau mengundangku kemari karena ingin memberitahukan persoalan ini saja?"

Agaknya manusia bertampang jelek sedang terkenang kembali pengalamannya dimasa silam, kepalanya terdongak keatas sambil memandang awan dengan termangu-mangu, ketika selesai mendengar perkataan dari Gak Lam-kun, tiba-tiba ia berpaling sambil membelai dua buah codet dipipinya, lalu katanya dengan dingin.

"Kau jangan menuduh aku yang bukan-bukan, apa yang kukatakan tentang watak Soat San-thian-li adalah pengakuan yang sesungguhnya, kau tahu, pipiku ini justru rusak ditangannya"

"Oooh...kalau begitu kedatanganmu pada malam ini adalah untuk menunggu kesempatan guna melampiaskan rasa dendam dalam hatimu?"

Tanya Gak Lam-kun hambar.

"Soal membalas dendam adalah soal kedua selain itu masih ada satu tujuan lagi"

"Apakah tujuanmu itu?"

Dengan sinar mata setajam sembilu kakek bertampang jelek itu menatap lekat-lekat topeng naga di wajah Gak Lam-kun, setelah itu dengan sikap serius tanyanya.

"Jangan kau tanyakan dulu apa tujuanku yang lain, sekarang tolong jawab dulu kepadaku, bersediakah kau membantu usahaku?"

"Itu tergantung pada urusan apakah yang bisa kubantu!"

Dengan suara agak marah kata kakek bertampang jelek itu.

"Tahukah kau tentang rahasia perkampungan ini?"

Gak Lam-kun tertegun, pikirnya.

"Masa didalam perkampungan ini ada rahasianya?"

Karena keheranan dan ingin tahu maka tanyanya.

"Rahasia apakah itu?"

Si kakek bertampang jelek itu berpikir sebentar, lalu jawabnya.

"Rahasia itu sesungguhnya adalah suatu rahasia yang sangat berharga, yang dapat bikin orang persilatan menjadi gila. Hingga kini hanya beberapa gelintir manusia saja yang mengetahui rahasia ini, maka bila kau bersedia membantuku, tentu saja rahasia tersebut akan kujelaskan kepadamu seterperinci mungkin, tapi bila kau tidak bersedia membantu, akupun tak akan memaksa"

Timbul juga kecurigaan dalam hati Gak Lam-kun, katanya kemudian setelah berpikir sebentar.

"Terangkan dulu rahasia apakah yang kau katakan amat berharga itu, dan berilah kesempatan kepadaku untuk mempertimbangkannya, setelah itu baru bisa kuputuskan apakah bersedia membantumu atau tidak"

Kakek bertampang jelek itu tertawa angkuh.

"Mau membantu atau tidak, lebih baik sekarang juga kau putuskan. Hmm! Jangan kau anggap Jit poh lui sin ciam (panah inti guntur) Lui Seng thian adalah seorang manusia yang sudi minta bantuan orang!"

Gak Lam-kun mendengus dingin.

"Hmmm! Kau tak sudi minta bantuanku, kenapa aku harus membantu dirimu pula?"

Sehabis berkata tiba-tiba ia berputar badan dan melompat ke dahan lain, kini jaraknya dengan Jit-poh-lui sim-ciam Lui Seng-thian berselisih antara satu kaki lebih.

Demikianlah, untuk sesaat kedua orang itu duduk saling berhadapan dari tempat kejauhan, siapapun tidak berbicara lagi melainkan termenung memikirkan rahasia hati sendiri-sendiri.

Tiba-tiba dari sudut kegelapan disebelah utara sana berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring menyusul kemudian seorang berseru dengan lantang.

"Saudara Lo, dimanakah kita akan beradu kekuatan?"

"Didepan sana, ditengah lapangan kosong"

Jawab orang yang lain dengan suara mengerikan.

Berbareng dengan selesainya perkataan itu seorang manusia berkerudung berbaju abuabu dan seorang kakek kurus pendek berbaju hitam masing-masing melayang datang dari bawah pohon dimana Gak Lam-kun berada, kemudian dengan kecepatan luar biasa berkelebat menuju ke arah tanah lapang kurang lebih empat lima kaki jauhnya.

Kedua orang itu bukan lain adalah Jit poh tui hun Kwik To dan See ih Tok seng Lo Kay seng yang semalam berjanji akan mengadakan pertarungan satu lawan satu.

See ih tok seng (malaikat racun dari See ih Lo Kay seng yang berbaju hitam berdiri menghadap ke selatan, dengan suara dingin ia berkata.

"Kwik heng, apakah kalian orangorang dari perguruan Cing cian bun telah berdatangan semua?"

Jit poh toan hun Kwik To tertawa ringan.

"Sebentar lagi mungkin mereka akan berdatangan, cuma kau tak usah kuatir, perselisihan kita diselesaikan juga oleh kita sendiri, orang lain tak akan mencampuri urusan ini semisalnya saja See ih sam seng lainnya dan Soat san Thian li sekalian berdatangan semua kemari, tentu saja mereka juga tak akan mencampuri urusan ini bukan?"

"Tepat sekali, tepat sekali!"

Jawab See ih tok seng Lo Kay seng dengan nada mengerikan.

"selama orang-orangmu tidak turun tangan, tentu saja kamipun tak akan menyergap orang lain secara diam-diam"

Mendadak Jit poh toan hun Kwik To berpaling ke arah gedung sebelah barat, kemudian tegurnya dengan suara dalam.

"Jago lihay darimanakah yang telah datang? Setelah berada disini, mengapa harus menyembunyikan diri macam cucu kura-kura?"

Baru habis teguran tersebut, gelak tertawa seram berkumandang kembali memecahkan kesunyian.

"Haaahhh...haaahhh...haaahhh... Selamat bertemu kembali saudara Kwik, sejak perpisahan kita ditebing Yan po gan pada belasan tahun berselang, tak kusangka kau telah berubah menjadi anteknya perguruan panah bercinta"

Dua sosok bayangan manusia bagaikan burung rajawali terbang diangkasa menyambar kebawah dengan kecepatan luar biasa, ternyata yang muncul adalah Giok bin sin ang (kakek sakti berwajah pualam) Say Khi pit serta Kiu wi hou (rase berekor sembilan) Kongsun Po.

Sambil tersenyum kembali si Rase berekor sembilan Kongsun Po berkata lantang.

"Saudara Kwik, kau benar-benar bersikap kurang bersahabat, setelah berjumpa dengan sobat-sobat lama yang telah berpisah belasan tahun lamanya, mengapa kau mengenakan terus kain cadarmu itu, atau jangan-jangan wajahmu telah mengalami perubahan?"

Jit poh toan hun Kwik To tertawa terbahak-bahak, ia menarik lepas kain cadarnya sehingga terlihatlah raut wajahnya yang merah bercahaya dengan alis mata yang tebal dan mata yang besar, gagah sekali tampang wajahnya itu.

Setelah puas tertawa, dengan wajah membesi Kwik To berkata lagi.

"Saudara Say, saudara Kongsun, mau apa kalian datang kemari?"

Kongsun Po terkekeh dengan suara parau.

"Heeee...heeee...heeee...ketika kudengar bahwa sahabat lama yang telah terpisah selama belasan tahun ada janji dengan orang lain, sebagai sesama saudara tentu saja kami datang untuk menyaksikan apakah ilmu silat yang dimiliki sahabat kita ini telah peroleh kemajuan yang pesat atau tidak?"

"Kongsun-heng"

Kata Jit poh toan hun Kwik To hambar.

"kalau hendak mengucapkan sesuatu, mengapa tidak kau utarakan saja secara berterus terang..?"

"Aaah...mana, mana..."

Kiu wi hou Kongsun Po kembali tertawa kering.

"baiklah, setelah kau berkata demikian maka kamipun akan buka kartu bicara secara blak-blakan sesungguhnya kedatangan kami berdua adalah ingin menyaksikan wajah Soat san thian li yang cantik jelita itu serta wajah dari ketua perguruan panah bercinta yang cuma kami dengar namanya tapi belum pernah kami saksikan raut wajahnya itu"

Malaikat racun dari See ih Lo Kay-seng tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... apakah saudara ini tidak merasa terlalu sungkansungkan? Seandainya dipulau gersang yang terpencil letaknya ini tiada lencana pembunuh naga, mungkinkah kalian bakal terpancing untuk datang kemari?"

Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit tertawa lebar.

"Lencana pembunuh naga memang merupakan benda mestika yang dapat membuat mata orang menjadi merah, tapi belum tentu kami datang kesini hanya lantaran benda semacam itu"

Jit poh toan hun Kwik To lantas berpaling ke arah Say Khi pit dan Kongsun Po seraya katanya.

"Kalian berdua adalah orang-orang kangouw berpengalaman, tentunya kalian juga mengetahui bukan pertarungan dunia persilatan tentang suatu duel satu lawan satu!"

"Saudara Kwik, kau tak usah kuatir,"

Kata si Rase berekor sembilan Kongsun Po dengan cepat.

"aku dan Say-heng hanya ingin menonton keramaian saja, kedua belah pihak samasama tidak akan dibantu"

Pada saat itulah, mendadak dari balik keheningan berkumandang suara dengusan naga yang menggetarkan sukma...

Ketika mendengar suara dengusan naga tersebut, Giok bin sin ang Say Khi pit dan Kiu wi hou Kongsun Po sama-sama berubah wajahnya, dengan cekatan mereka memutar badannya, lalu dengan dua pasang biji mata yang memancarkan perasaan takut mereka menyapu sekejap sekeliling tempat itu...

Akhirnya mereka temukan Tok liong Cuncu yang mengenakan topeng naga dengan sepasang tangannya mengenakan cakar naga perenggut nyawa serta mengenakan baju naga berwarna kuning, bagaikan sebuah patung arca berdiri kurang lebih dua kaki dibelakang mereka.

See ih tok seng Lo Kay seng sendiripun tampak agak tertegun ketika menyaksikan kemunculan Tok liong Cuncu ditempat itu.

Diantara sekian banyak orang, hanya Jit poh toan hun Kwik To seorang tetap berdiri dengan wajah sedingin es, sedikitpun tidak menampilkan perasaan kaget atau ngeri.

Sesaat kemudian, Kongsun Po dan Say Khi pit baru berhasil menenangkan kembali hatinya, si Rase berekor sembilan itu lantas berpaling ke arah Kwik To seraya ujarnya.

"Saudara Kwik, langganan lama kita telah datang..."

Gak Lam-kun kembali memperdengarkan dengusan Liong leng heng yang dingin dan rendah untuk menukas pembicaraan si Rase berekor sembilan yang belum habis, kemudian bagaikan sukma gentayangan pelan-pelan ia mendekati kedua orang itu.

0000000o000000 Seketika itu juga suasana dalam arena tersebut berubah menjadi kaku dan tegang...

Dengan menirukan suara Yo Long seperti dulu, pelan-pelan Gak Lam-kun menegur.

"Kenapa kalian tidak segera bunuh diri? Mau menunggu sampai kapan lagi..?"

Sekalipun rasa ngeri dan ketakutan menghadapi maut menyelimuti perasaan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit serta Rase berekor sembilan Kongsun Po, akan tetapi dalam keadaan tercekam oleh perasaan takut tersebut kadangkala akan muncul juga sebercak harapan untuk mempertahankan hidupnya, mereka tak sudi menyerahkan jiwanya dengan begitu saja, mereka harus melakukan perlawanan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Apalagi setelah melalui latihan yang tekun dan bersungguh-sungguh selama belasan tahun, mereka yakin masih mempunyai kemampuan untuk beradu kekuatan dengan Tok liong Cuncu yang cukup membuat pecah nyali setiap umat persilatan itu, lagipula bukankah disitu masih ada Kwik To dan Say Khi pit?

Selain dari pada itu, mereka tahu semenjak terjatuh kedalam jurang ditebing Yan po gan, Tok liong Cuncu Yo Long telah menderita luka yang cukup parah, ini ditambah lagi dengan racun jahat yang telah diminum sebelum pertarungan dimulai, berarti meski tidak sampai tewas, ilmu silatnya sudah jelas tak mungkin bisa pulih kembali seperti sedia kala.

Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya melintas dalam benak mereka, kemudian sambil tertawa seram Si Rase berekor sembilan Kongsun Po berkata.

"Heeehhh... heeehhh... heeehh... bagus... Yo Long! Belasan tahun tidak berjumpa rupanya kau makin lama semakin bertambah ganas..!"

Sekali lagi Gak Lam-kun mendengarkan dengusan naga Liong Gin heng nya, lalu seperti sukma gentayangan ia menyerang maju kedepan, pergelangan tangan kirinya berkelebat lewat dan langsung mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Kongsun Po, cepat nian ancaman tersebut.

Semenjak tadi si Rase berekor sembilan Kongsun Po telah bersiap sedia menghadapi serangan lawan sekalipun Gak Lam-kun menyerang dengan kecepatan luar biasa, namun ia berhasil juga menghindarkan diri dari ancaman tadi.

Dengan gerakan yang tak kalah cepatnya telapak tangan kirinya menangkis serangan Gak Lam-kun dengan jurus Tui po cut lam (mendorong membantu ombak).

"Say loji saudara Kwik"

Teriaknya "malam ini mari kita bersama-sama menyaksikan ilmu silat dari manusia latah ini setelah belasan tabun tidak bersua"

Jelas sudah maksud dari kata-katanya itu, yakni minta kepada dua orang itu agar bersama-sama membantunya untuk mengerubuti Tok liong Cuncu. Dengan dingin Gak Lam-kun berkata.

"Kongsun Po. lebih baik kau berkumpul saja dengan ketujuh belas orang yang lain didalam neraka!"

Secara beruntun sepasang tangannya melancarkan empat buah serangan berantai.

Keempat buah serangan tersebut rata-rata sangat lihay dengan gerakan yang sakti serta sukar diduga, empat buah pukulan dilancarkan berangkaian seakan-akan dilepas secara bersamaan...

Kongsun Po menjadi kelabakan setengah mati untuk menangkis seluruh ancaman tersebut jelas tidak gampang, terpaksa ia melompat kebelakang dan mundur sejauh tujuh langkah.

Gak Lam-kun mendengus dingin, bagaikan bayangan ia menyusul maju kemuka, telapak tangan kirinya dibabat kemuka melancarkan sebuah pukulan aneh maha sakti dengan jurus Long tai cau gan (gulungan ombak menghantam karang).

Begitu jalan mundur Kongsun po tergencet, telapak tangan kanannya dengan kelima jari yang dibentangkan menyerang lagi kedepan dengan jurus Im siau ngo gak (awan tebal menyelimuti lima bukit), dibalik ancaman itu disertakan juga hawa sakti Tok liong ci jiau (cakar maut naga beracun) yang mengerikan itu.

Sungguh dahsyat ancaman dari Gak Lam-kun itu, bukan saja jurus serangannya ampuh membuat orang sukar menahannya, bahkan dilancarkan dengan mempergunakan beberapa macam tenaga yang berbeda besar kecilnya.

Dalam waktu singkat, dari atas bawah depan dan belakangnya seakan-akan muncul selapis kekuatan yang mengunci jalan mundur musuhnya, ini semua memaksa Kongsun Po mau tak mau harus menyambut serangan Tok liong ci jiau ditelapak tangan kanan Gak Lam-kun secara keras lawan keras.

Sebenarnya si Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit sedang memperhatikan ilmu silat Gak Lam-kun sambil mengambil kesimpulan-kesimpulan, tapi setelah menyaksikan dalam beberapa gebrakan saja Kongsun Po berhasil dipaksa sehingga tak sanggup melakukan perlawanan lagi, hatinya mulai terperanjat.

Dikala ia masih terkesiap sambil berdiri tertegun, hawa sakti Tok liong ci jiau dari Gak Lam-kun yang dilancarkan dengan jurus Im so ngo gak (awan tebal menyelimuti lima bukit) telah mengurung segenap batok kepala Kongsun Po.

Untung Say Khi pit telah mengadakan persiapan jauh sebelumnya, begitu dilihatnya Kongsun Po menjumpai bahaya maut, dia segera berpekik nyaring kemudian sambil melompat keudara sepasang telapak tangannya berbareng didorong kedepan.

Segulung tenaga pukulan yang lebih dahsyat dari ombak ditengah samudera dengan cepatnya menumbuk punggung Gak Lam-kun.

Serangan tersebut telah dilancarkan dengan mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, sebab berhadapan dengan Tok liong Cuncu Yo long yang disegani setiap umat persilatan ia harus bertindak cepat, karena bila lawan sampai diberi kesempatan untuk mengadakan persiapan, maka akibatnya kendatipun ia dan Kongsun Po serta Kwik To turun tangan bersama, belum tentu mereka sanggup menghadapi serangan maut dari Yo Long, atau dengan perkataan lain jiwa mereka bertiga pada hakekatnya berada dalam cengkeraman lawan.

Oleh sebab itulah begitu turun tangan ia lantas mempergunakan tenaganya sebesar dua belas bagian, ia berharap dikala Gak Lam-kun tidak siap pukulan itu berhasil membinasakan dirinya atau paling tidak melukai isi perutnya.

Berbareng disaat Giok bin sin ang Say Khi pit melancarkan serangan mautnya, si Rase berekor sembilan Kongsun Po telah menghimpun pula segenap kekuatan tenaga dalamnya untuk menyambut ancaman lawan, sebab keadaaan memaksanya mau tak mau harus menerima pukulan itu secara keras lawan keras.

Dan pukulan ini menyangkut soal mati hidupnya, maka dia musti berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan kehidupannya.

Terkesiap juga Gak Lam-kun menghadapi kejadian semacam ini, ia tahu sekalipun pukulan saktinya pasti dapat membinasakan Kongsun Po atau paling sedikit membuatnya terluka parah, tapi sergapan Giok bin sin ang Say Khi pit dari belakang yang disertai dengan hawa pukulan yang maha dahsyat, itu mungkin akan membinasakan juga dirinya atau paling tidak mengakibatkan isi perutnya bergoncang.

Situasi menjadi sangat gawat, pemuda itu agak sulit untuk menentukan pilihannya dalam waktu singkat...

Sementara itu angin pukulan Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit yang kuat telah tiba dibelakang punggungnya, sedangkan tenaga perlawanan yang dilancarkan Kongsun Po bagaikan amukan ombak samudra juga telah menggulung tiba...

Gak Lam-kun tak bisa berpikir panjang lagi tiba-tiba tenaga sakti Tok liong ci jiau nya ditarik kembali, lalu dengan gerakan sangat aneh badannya bergeser tiga depa kesamping kanan.

"Weees..! Weeees..!"

Pukulan kiri kanan dari Gak Lam-kun telah membabat keluar dengan kecepatan tinggi.

Sesungguhnya perubahan gerak badan dari anak muda tersebut sudah berada dalam dugaan Kwik To, tapi ketika pukulan yang dilancarkan setelah badannya bergeser tiga depa kesamping dengan kecepatan tinggi itu jauh diluar dugaannya, diam-diam ia merasa kagum juga oleh kelihayan ilmu silat yang dimiliki Gak Lam-kun.

Kwik To juga tahu bahwa Tok liong Cuncu yang berada dihadapannya sekarang merupakan penyaruan dari Gak Lam-kun, andaikata Yo Long sendiri yang memiliki kepandaian semacam itu, dia tak akan terkejut atau keheranan lagi.

Say Khi pit dan Kongsun Po yang menyaksikan Gak Lam-kun berkelit kesamping juga merasa amat terkejut, sebab dengan demikian tenaga pukulan mereka berdua justru akan saling berpapasan.

Untunglah kedua orang itu merupakan jago nomor satu dalam dunia persilatan dewasa ini, dalam kejutnya buru-buru mereka menarik kembali serangannya lalu sambil memutar badan mereka muntahkan kembali segulung tenaga pukulan dahsyat untuk menyongsong datangnya ancaman dari Gak Lam-kun yang tiba dari arah samping itu.

Sekalipun gerakan mereka berdua untuk membuyarkan serangan, dilakukan dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun akhirnya serangan dari Gak Lam-kun tiba pada sasarannya lebih duluan.

Tenaga lwekang yang dimiliki kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit jauh lebih sempurna daripada rekannya, maka disaat gerakan yang pertama telah dilancarkan tadi, serangan kedua yang disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat telah dimuntahkan keluar lagi.

Akan tetapi disaat dua gulung tenaga pukulan tersebut saling menumbuk antara yang satu dengan lainnya, tubuh Say Khi-pit segera tergetar keras sehingga mencelat tujuh delapan depa jauhnya keudara, ketika mencapai permukaan tanah lagi, dia harus mundur tiga empat langkah lagi dengan sempoyongan, hampir saja tubuhnya tak terbendungkan.

Bukan matanya saja yang berkunang-kunang, telinganya ikut terasa mendengung keras seperti ditusuk-tusuk dengan jarum.

Menanti ia dapat mengatur napas kembali serta mendongakkan kepalanya, tampaklah Si Rase berekor sembilan Konsun Po sedang berjongkok dengan tangan sebelah menguruti dada, napasnya tersengal-sengal dan mukanya sangat pucat, agaknya tidak enteng luka dalam yang dideritanya itu.

Gak Lam-kun sendiri berdiri disamping dengan tenang, sikapnya amat biasa seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.

Selang sejenak kemudian, Gak Lam-kun mendengus dingin, kemudian pelan-pelan ia maju kedepan menghampiri si Rase berekor sembilan Kongsun Po yang masih berjongkok itu.

Sekonyong-konyong...pekikan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian bayangan manusia saling berkelebat lewat, dalam waktu singkat delapan belas orang laki-laki berbaju biru yang menggembol pedang elang baja dipunggungnya telah munculkan diri dalam gelanggang, mereka adalah kedelapan belas elang baja yang tergabung dalam pasukan Thiat eng tui dibawah pimpinan Si Tiong pek.

Sebagai kepalanya ternyata adalah seorang kakek kurus yang kecil dan pendek, dia bukan lain adalah Tang hay coa siu (kakek ular dari lautan timur) Ou Yong hu.

Begitu munculkan diri, dengan kecepatan paling tinggi kedelapan belas elang baja itu meloloskan pedang masing-masing, cahaya perak gemerlapan dan menyiarkan hawa dingin yang menggidikkan hati, pelan-pelan mereka menggeserkan tubuhnya menyebar kesamping, agaknya orang-orang itu bermaksud hendak mengepung Gak Lam-kun.

Menyaksikan peristiwa tersebut, Gak Lam-kun menjadi tertegun dan segera menghentikan langkah kakinya, sebab dia tahu kalau si Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu telah mengetahui rahasia penyamarannya.

Sementara itu betapa leganya perasaan Kiu wi hou dan Giok bin sin ang setelah menyaksikan kemunculan Ou Yong hu dengan membawa serta kedelapan belas elang baja dari pasukan Thiat eng tui tersebut, mereka sadar kendatipun orang-orang tersebut masih bukan tandingan Tok liong Cuncu, akan tetapi dengan kehadiran mereka justru akan mempermudahkan niat mereka untuk mencari kesempatan mengambil langkah seribu dari situ.

Giok bin sin ang Say Khi pit mengatur napasnya sebentar untuk mengendalikan hawa darahnya yang bergolak, setelah itu sambil tertawa terbahak-bahak katanya.

"Saudara Ou, tidak kusangka kalau kau akan muncul tepat pada saatnya..haaha... haaahhh... haaahhh..."

"Bukan cuma aku saja yang telah datang coba lihatlah! Orang-orang dari perguruan panah bercintapun telah berdatangan semua"

Kata si Kakek ular dari lautan timur dengan suara ewa.

Baru selesai perkataannya itu, bayangan manusia tampak berkelebat dari arah timur menyusul kemudian muncullah empat orang manusia dengan gerakan tubuh yang enteng.

Sebagai kepala rombongan adalah seorang sastrawan berbaju putih, dia bukan lain adalah Bwee Li-pek, dikiri kanan kedua belah sampingnya mengikuti seorang perempuan berambut putih yang menggembol sepasang pedang dipunggungnya, pakaian mereka amat bagus dan mentereng, sedangkan dibarisan terbelakang adalah seorang kakek berjenggot panjang sedada, dia bukan lain adalah Tan ciang ceng kan kun (Telapak tangan tunggal yang menggetarkan jagad) Siangkoan Ik.

Menyusul kemunculan keempat orang itu, dari belakang muncul kembali delapan belas orang manusia berbaju putih, potongan badan kedelapan belas orang itu secara kebetulan justru merupakan kebalikan dari delapan belas elang baja dari pasukan Thiat eng tui tersebut, karena tubuh mereka rata-rata kurus kering seperti lidi.

Bwe Li pek membawa anak buah perguruan panah bercintanya bergeser ke arah selatan, Jit poh toan hun Kwik To segera memberi hormat kepada Bwe Li pek dan mengundurkan diri kesamping perempuan tua berambut putih.

Senjata yang digembol oleh kedelapan belas manusia berbaju putih dari perguruan panah bercinta adalah sebuah gendewa besar dengan tabung panah yang penuh dengan anak-anak panah, cuma bentuk panah itu lain daripada yang lain, bukan saja tidak berbulu pada tangkainya, bentuknya jauh lebih panjang dan ramping daripada anak panah biasa.

Setelah berdiri mengambil posisi, kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu cepat melepaskan gendewanya dan memasang dua batang panah mereka diatas busur tersebut, ujung anak panah semuanya tertuju ke arah tubuh delapan belas elang baja dari Thiat eng tui.

Paras muka Bwe Li pek, ketua dari perguruan panah bercinta amat dingin tanpa emosi, sulit buat orang untuk menduga bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.

Kemunculan sekian banyak orang secara tiba-tiba serta pelbagai perubahan yang berlangsung secara beruntun dengan cepat membuat suasana ditengah gelanggang berubah menjadi beku dan kaku.

Meski demikian dibalik benak masing-masing orang justru berputar pelbagai ingatan yang beraneka ragam.

Karena perubahan yang berlangsung diluar dugaan itu, untuk sementara waktu Gak Lam-kun menghentikan pula semua kegiatannya.

Akan tetapi suasana hening dan sepi semacam ini tidak bertahan terlalu lama...

Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang lagi suara tertawa panjang yang menggidikkan hati.

Disela-sela tertawa panjangnya yang memilukan dan menggidikkan hati itu, terdengar pula jeritan-jeritan seram yang mendebarkan sukma.

"Long ji... oh Long ji... kau berada dimana? Yo long... wahai Yo long... kembalilah kesisiku, aku tak dapat kehilangan kau"

Mendengar teriakan tersebut, Gak Lam-kun menjadi amat terperanjat, ia tak berani tinggal terlalu lama lagi disitu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia melompat setinggi enam kaki ke tengah udara, kemudian bersalto beberapa kali bagaikan kuda langit terbang di awan, dengan kecepatan bagaikan petir ia kabur keluar dari halaman gedung tersebut...

Sungguh amat luar biasa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki si anak muda itu, untuk sesaat lamanya para jago yang hadir dalam gelanggang menjadi berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Baru saja bayangan tubuh Gak Lam-kun lenyap dari pandangan mata, sesosok bayangan manusia lain bagaikan seekor burung elang menerobos hutan menyambar datang dan muncul di arena, ternyata dia adalah seorang perempuan aneh berambut panjang.

Semua orang segera merasakan suara tertawanya itu bukan saja jauh membumbung ke angkasa, lagi pula suaranya tajam memekikkan telinga, apabila tenaga dalam yang dimilikinya tidak sempurna, jelas tak mungkin bisa melakukan kesemuanya itu.

Mereka lebih terperanjat lagi setelah menyaksikan gerakan tubuh orang itu lebih gesit dari burung elang.

Jangankan Giok bin sin ang dan lain-lainnya, bahkan Bwe Li pek dari perguruan panah bercinta serta Jit poh lui sim ciang Lui Seng thian yang bersembunyi diatas dahan pohon pun mengakui bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki perempuan itu jauh berada diatas kepandaian mereka sendiri.

Dengan sepasang matanya yang jeli perempuan aneh berambut panjang itu memandang sekejap sekeliling gelanggang, mendadak ia berpaling ke arah Giok bin sin ang Say Khi pit kemudian pelan-pelan menghampirinya.

Terkejut juga si kakek sakti berwajah pualam ini, segera pikirnya dengan perasaan tercekat.

"Aku merasa tak pernah kenal dengan perempuan ini, dalam dunia persilatan juga tak pernah kudengar namanya, waah... kalau begitu kedatangannya menghampiriku jelas tidak mengandung maksud baik..."

Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, Say Khi pit segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Perempuan aneh berambut panjang itu berhenti lebih kurang satu kaki didepan Say Khi pit, lalu tegurnya dengan dingin.

"Hey! tua bangka, kau pernah melihat Long ji ku?"

Giok bin sin ang Say Khi pit tertegun. Lalu tanyanya dengan keheranan.

"Siapakah Long ji mu itu?"

"Long ji adalah kekasihku, siapa kau?"

Bentak perempuan aneh berambut panjang itu dengan marah.

"tua bangka sialan, kau pantas dibikin mampus, masa cuma soal itu saja tidak tahu"

Telapak tangannya segera diayun kedepan segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan menerjang ketubuhnya.

Kecepatan gerak si perempuan aneh berambut panjang dalam melancarkan serangannya itu sungguh cepat bagaikan sambaran kilat karena terlalu cepat ancaman itu tiba didepan matanya, untuk sesaat sulit bagi Kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit untuk menghindarkan diri, terpaksa sepasang telapak tangannya didorong kemuka untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Tapi baru saja hawa murninya disalurkan ia segera merasakan gelagat kurang menguntungkan, sebab kekuatan angin pukulan yang dihasilkan lawan hampir boleh dibilang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Dalam kejut dan terkesiapnya buru-buru ia menarik kembali pukulannya sambil melompat mundur kekelakang.

Kendatipun demikian, ekor angin serangan yang dilancarkan perempuan aneh berambut panjang itu sempat mementalkan tubuhnya sejauh lima enam langkah, isi perutnya menyusul ikut bergetar keras dan...

"Uaaak!"

Ia muntah darah kental.

Peristiwa ini sungguh diluar dugaan siapapun juga, kontan saja membuat suasana disekitar gelanggang menjadi gempar, semua orang terkejut dan semua orang merasa jantungnya berdebar keras.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dimiliki kakek sakti berwajah pualam Say Khi pit termasuk golongan jago yang cukup lihay, akan tetapi nyatanya sekarang, ia tergetar sampai muntah darah kental hanya karena tersambar oleh kebasan si perempuan aneh berambut panjang yang amat enteng dan sederhana itu.

Kejadian tersebut, sungguh membuat orang lain tercengang dan diluar dugaan.

Seketika itu juga suasana menjadi gempar, para jago pada berbisik membicarakan persoalan itu.

Sementara semua orang masih dibuat terkesiap oleh kelihayan lawan, perempuan aneh berambut panjang itu pelan-pelan sudah berjalan kembali menghampiri Malaikat racun dari See ih Lo Kay-seng.

Paras muka si Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng segera berubah menjadi amat serius, dengan sepasang matanya yang lebih tajam dari sembilu ditatapnya perempuan aneh berambut panjang itu lekat-lekat, kemudian tegurnya ketus.

"Kau adalah anggota perguruan Hay sim pay?"

Perempuan aneh berambut panjang itu tertegun, tiba-tiba ia balik bertanya.

"Siapa kau? Darimana kau bisa tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat juga ilmu silat aliran Hay sim it pay? Pernahkah kau berjumpa dengan Long ji ku?"

Menghadapi rentetan pertanyaan yang balik diajukan kepadanya itu, Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng menjadi tertegun, untuk sesaat ia terbungkam dan tak tahu bagaimana musti menjawab.

Perlu diterangkan, perguruan Hay sim it pay bersumber dari pulau Hay sim to yang berada diwilayah Cing hay, konon pada tiga ratus berselang dalam dunia persilatan telah muncul seorang manusia aneh maha sakti yang bernama Hay Ciong ji, dialah pendiri dari perguruan Hay sim it pay tersebut.

58 Tapi semenjak kemunculan Hay Ciong ji pada tiga ratus tahun berselang, dalam dunia persilatan tak pernah dijumpai orang dari aliran Hay sim it pay lagi, sebab itu ilmu silat aliran Hay sim it pay jarang sekali diketahui dalam dunia persilatan.

Begitu mendengar tentang Hay sim it pay satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bwe Li pek, ia menjadi teringat kembali dengan kata-kata gurunya.

"Tok liong Cuncu (rasul naga beracun) Yo Long adalah seorang jago dari perguruan Hay sim it pay, sejak kecil ia dibesarkan oleh Hay sim li dan diberi pula pelajaran ilmu silat, tapi pada akhirnya Hay sim li justru jatuh cinta sendiri kepada Yo Long..."

Teringat sampai disitu, paras mukanya berubah hebat, kembali pikirnya.

"Janganjangan perempuan aneh berambut panjang itu adalah Hay sim li yang dikatakan amat cantik bak bidadari dari kahyangan dengan ilmu silatnya yang tiada tandingannya dikolong langit?"

Ditengah keheningan tersebut seorang pemuda berbaju hijau diam-diam berjalan menghampiri arena dan berdiri dipihak perguruan panah bercinta, orang itu bukan lain adalah Gak Lam-kun.

Ternyata Gak Lam-kun yang mendengar suara dari perempuan aneh berambut panjang itu berkumandang dari kejauhan, segera merasakan gelagat tidak menguntungkan baginya, dia kuatir Yo Long yang sedang dicari perempuan itu adalah gurunya, sebab jika dugaannya benar, maka pertemuannya dengan perempuan itu pasti akan mengakibatkan ia dianggap sebagai gurunya, itu berarti banyak kesulitan yang bakal dijumpainya.

Selain daripada itu, disekitar gelanggang telah bermunculan pula sekian banyak jago lihay, apabila orang-orang itu sampai bekerja sama untuk mengerubutinya, hal itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya.

Maka setelah mempertimbangkan sejenak untung ruginya, Gak Lam-kun memutuskan untuk cepat-cepat mengundurkan diri dari sana, disuatu tempat yang tiada manusia lain ia berganti pakaian hijaunya, lalu memburu kesitu untuk menonton keramaian.

Sementara itu Bwe Li pek telah menjura kepada Gak Lam-kun setelah mengetahui kemunculan anak muda itu.

"Saudara Gak, baik-baiklah kau? Sehat-sehatkah selalu selama ini?"

Gak Lam-kun tersenyum.

"Waaah...rupanya siaute datang terlambat satu langkah, sedang Bwee heng sekalian sudah tiba lebih duluan"

Han Hu hoa menunjukkan pula sekulum senyumannya yang manis, seraya memberi hormat kepada Gak Lam-kun katanya.

"Gak lote, lagi-lagi kita berjumpa muka!"

Gak Lam-kun segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaah... haaah... yaa, itulah yang dikatakan orang jika memang berjodoh berselisih seribu li akhirnya juga ketemu, tapi kalau tidak berjodoh bertemu mukapun tidak saling mengenal sejak berpisah dengan nona Han diatas telaga Tong ting ou, tidak kusangka kalau kita kembali akan bersua diatas pulau terpencil ini, aku merasa benarbenar amat beruntung karena bisa bersua kembali dengan wajah cantikmu"

Ketika mendengar suara dari Gak Lam-kun tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu memutar badannya kemudian pelan-pelan menghampirinya.

Menyaksikan Hay sim li, atau perempuan aneh berambut panjang itu mendekati ke arah mereka, serentak kedelapan belas orang manusia berbaju putih dari perguruan panah bercinta itu menarik gendewa masing-masing sambil mengarahkan ujung anak panahnya ke arah perempuan tersebut.

"Berhenti!"

Bentak mereka serentak.

"kalau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau panah bercinta tidak berperasaan"

Menyaksikan situasi tegang itu, buru-buru Gak Lam-kun membentak.

"Panah bercinta jangan buru-buru dilepaskan!"

Mendengar itu. Bwe Li pek segera mengulapkan tangan kanannya yang putih halus sambil berkata.

"Delapan belas panah bercinta, jangan bertindak secara gegabah!"

Serentak kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu menurunkan kembali busur masing-masing, cuma pengawasan sama sekali tidak dikendorkan, gerak-gerik perempuan aneh itu masih saja diikuti dengan seksama.

Perempuan aneh berambut panjang itu berjalan kehadapan Gak Lam-kun, kemudian setelah tertawa merdu tegurnya.

"Gak Lam-kun, rupanya kau juga datang kemari, heeeh... heeeh..."

Dia setengah waras setengah tidak, entah apa yang sedang dibayangkan waktu itu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Sekali lagi semua orang dibuat terkesiap sehabis mendengar gelak tertawanya itu, sebab bukan saja suara tertawanya sangat merdu dan sedap didengar, bahkan mengandung pula semacam daya pengaruh iblis yang dapat mencekam perasaan orang.

Gak Lam-kun mengernyitkan alis matanya, tapi ia masih tertawa kembali katanya.

"Locianpwe, rupanya kau juga datang, apakah sedang mencari Long ji mu itu?"

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu menghentikan gelak tertawanya, kemudian dengan suara yang lembut dan merdu merayu sahutnya.

"Yaa! Gak Lam-kun, apakah kau telah bertemu dengan Long ji ku?"

Suaranya begitu merdu merayu, seandainya semua orang tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tidak akan percaya kalau suara tersebut berasal dari mulut seorang perempuan bertampang jelek.

Sementara itu sejak tadi Bwe Li pek mengawasi terus raut wajah perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba ia menemukan setitik bagian yang mencurigakan, sambil menghela napas pikirnya kemudian.

"Tak dapat diragukan lagi perempuan itu pastilah Hay sim li, gurunya Tok liong Cuncu Yo Long, menurut kata suhu kecantikan Hay sim li tiada bandingannya dikolong langit kesemuanya ini karena dia mengandalkan ilmu menyamarnya yang sangat hebat. Perempuan aneh bertampang jelek yang berada dihadapanku sekarang jelas adalah merupakan salah satu dari penyamarannya, atau mungkin ia mengenakan selembar kulit manusia diatas wajahnya..."

Jilid 8 Dipihak lain Gak Lam-kun telah berkata lagi setelah menghela napas panjang.

"Locianpwe, bolehkah aku tahu julukan Long ji mu didalam dunia persilatan? Asal boanpwe, mengetahui julukannya itu pasti akan kubantu Locianpwe untuk menemukannya atau menyampaikan kabar kepadanya"

Tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu berubah menjadi amat murung dan sedih setelah menghela napas panjang jawabnya.

"Long ji ku itu tak lain adalah Tok liong Cuncu Yo Long yang tersohor namanya dalam dunia pesilatan!"

Sungguh tak sedap suara helaan napasnya itu membuat setiap orang yang mendengarnya menjadi ikut murung kesal dan sedih.

Dengan cepat Bwe Li pek dan Gak Lam-kun menyadari bahwa setiap perubahan sikap dari perempuan yang berada dihadapannya ini sesungguhnya tersembunyi suatu daya pengaruh iblis yang cukup menggetarkan sukma dan perasaan siapapun.

Setelah mendengar julukan gurunya disebut oleh perempuan itu, Gak Lam-kun tidak ragu lagi kalau orang yang sedang dicari olehnya tidak lain adalah gurunya sendiri tapi ada satu hal yang tidak dipahami Gak Lam-kun, mengapa gurunya tak pernah menjelaskan kepadanya tentang perempuan ini serta apa hubungan diantara mereka?

Seingatnya sepanjang hidup didunia ini gurunya pernah mengadakan hubungan cinta dengan tiga orang perempuan saja, pertama adalah Soat san Thian li, kedua adalah Lam hay sin ni yang kini hidup mengasingkan diri sebagai pendeta, dan ketiga adalah Yan lo sat (perempuan iblis cantik) Hong Im yang lantaran cinta menjadi dendam.

Sebetulnya rasa cinta Yan lo sat Hong Im terhadap gurunya paling besar, tapi cemburunya justru paling besar juga, ia tak sudi membiarkan gurunya mengadakan hubungan cinta dengan orang lain, ketidak berhasilannya untuk mencegah Yo long berhubungan dengan perempuan lain mengakibatkan timbulnya perasaan dendam dalam hatinya, sebab itulah ia bertekad untuk turut serta dalam peristiwa ditebing Yan po gan serta mencelakai jiwa kekasihnya.

Keempat orang jago lihay yang pernah terlibat dalam pembunuhan atas Tok liong Cuncu ditebing Yan po gan segera merasakan jantungnya berdebar keras, terutama setelah mengetahui bahwa kekasih dari perempuan aneh berambut panjang yang sangat lihay itu bukan lain adalah korban yang telah mereka kerubuti.

Mereka mulai was-was, seandainya dia tahu jika Yo Long tewas ditebing Yan po gan akibat ulah mereka, dengan kepandaian silatnya yang maha dahsyat jelas perempuan tersebut merupakan bibit bencana terbesar bagi keselamatan jiwa mereka.

Si Rase berekor sembilan Kongsun Po yang terkenal karena kelicikan serta kebusukan hatinya segera merenungkan kembali kejadian tersebut, tiba-tiba suatu rencana busuk timbul dalam hatinya.

Gak Lam-kun telah memusatkan kembali pikirannya, dengan suara lantang ia lantas berkata.

"Locianpwe, konon Tok liong cuncu Yo Long masih hidup didunia ini, malah katanya tak lama kemudian dia akan datang kebukit Kun san untuk menyerahkan Lencana pembunuh naga tersebut, waktu itu locianpwe pasti akan bersua kembali dengannya, apa gunanya kau musti mencari dia orang tua dengan sikap macam orang kehilangan sukma?"

Sekali lagi perempuan aneh berambut panjang itu menghela napas panjang.

"Aaaai..! Gak Lam-kun, aku tahu hatimu sangat baik, cuma muridnya Yo Long pernah berkata kepadaku kalau Yo Long telah mati dipuncak Yan po gan dibukit Hoa san, mungkinkah ia berbohong kepadaku?"

Si Kakek ular dari lautan timur serta tujuh langkah pemutus nyawa Kwik To yang mengetahui asal usul Gak Lam-kun sebenarnya diam-diam mengernyitkan alis matanya setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian.

"Murid Yo Long bukan lain adalah Gak Lam-kun yang berada didepan mata, darimana mungkin bisa muncul kembali seorang murid yang lain..? Aneh, benar-benar sangat aneh!"

Gak Lam-kun sendiripun lagi berpikir.

"Entah bajingan keparat siapa yang mengakungaku sebagai murid Yo Long untuk berbuat onar..?"

Tiba-tiba si Rase berekor sembilan Kongsun Po menyambung setelah tertawa serak.

"Yo Long belum mati, kau ditipu oleh muridnya!"

Perempuan aneh berambut panjang itu menjadi tertegun, tiba-tiba bentaknya.

"Mengapa muridnya membohongi aku? Kalau Yo Long belum mati, sekarang ia berada dimana?"

Rase berekor sembilan Kongsun Po sudah mempunyai perhitungan sendiri didalam hatinya, sambil tertawa seram kembali ia berkata.

"Tok liong Cuncu Yo Long betul-betul belum mati, baru saja ia berada disini, bila kau bersedia menunggunya disini, maka dia pasti akan datang kemari untuk menjumpaimu. Agaknya perempuan aneh berambut panjang itu merasa gembira sekali, dengan berseri katanya.

"Kau tidak bohong bukan? Yo Long telah pergi kemana?"

"Mengapa aku musti membohongimu? Setiap orang yang hadir disekitar gelanggang menyaksikan sendiri bagaimana Tok Liong cuncu Yo long mmuncul ditempat ini, tentu saja aku tidak tahu kemana ia telah pergi"

Mendengar jawaban tersebut, airmata segera jatuh bercucuran membasahi wajah perempuan aneh berambut panjang itu, segera gumamnya dengan amat sedih.

"Yaa, aku tahu... dia pasti pergi karena tahu kalau aku hendak datang... ya, dia pasti enggan bertemu lagi denganku..."

Tiba-tiba ia mendengarkan jeritan lengking, kemudian teriaknya seperti orang kalap.

"Ooo... Yo long, betapa kejamnya hatimu... Yo long wahai Yo long... kau berada dimana? Cepatlah keluar... Yo long... cepat keluar... aku ingin bertemu denganmu..."

Ditengah jeritan lengkingnya yang amat memilukan hati, tiba-tiba perempuan aneh berambut panjang itu berlalu dari sana dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Gak Lam-kun hanya bisa menghela napas setelah menyaksikan kejadian tersebut, bisiknya dengan lirih.

"Orang yang pantas dikasihani, aaiiii..."

Sebetulnya si Rase berekor sembilan Kongsun Po sedang berencana untuk menahan perempuan aneh berambut panjang itu disitu, sebab ia tahu kepergian Tok liong Cuncu tadi kemungkinan besar untuk menghindari pertemuannya dengan perempuan ini, maka apabila ia tetap tinggal disana, Yo Long yang amat menakutkan itu tak nanti akan muncul kembali disitu, bila urusan disana telah beres, dengan segala akal muslihat serta mulutnya yang manis dia hendak menipunya dan mempergunakan tenaganya.

Tapi kenyataannya sekarang, dengan berlalunya perempuan aneh berambut panjang itu berarti rencananya berantakan pula.

Sepeninggal perempuan aneh berambut panjang itu, tiba-tiba Malaikat racun dari See ih berpaling kearah Gak Lam-kun kemudian berjalan menghampirinya, dengan suara yang dingin menyeramkan ia berkata.

"Apakah engkau adalah jago lihay yang telah melukai Nian Eng hau sute ku itu?"

"Tidak berani, tidak berani"

Jawab Gak Lam-kun ketus.

"dalam kejadian waktu itu, Ou thamcu dari Thiat eng pang juga ikut menyaksikan, siapa benar siapa salah rasanya ia juga tahu. Meski demikian aku merasa menyesal sekali telah salah melukai Nian tayhiap,"

Malaikat racun dari See ih memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin dan rendah, lalu katanya.

"Aku orang She Lo merasa kagum sekali oleh ilmu sikat saudara yang melampaui orang lain itu, kalau bisa ingin sekali kumohon beberapa jurus petunjuk!"

"Setiap waktu tentu kulayani keinginanmu itu"

Kata Gak Lam-kun dengan ketus.

"merupakan suatu kebanggaan bagiku dapat menyaksikan ilmu silat aliran See thian san, andaikata harus matipun aku akan mati dengan hati tentram. Pelan-pelan ia lantas maju ketengah arena.

"Berhati-hatilah Gak sauhiap"

Kata malaikat racun dari See ih kemudian sambil menjura.

"lohu segera akan mulai melancarkan serangan!"

Mendadak ia menerjang maju kedepan sambil melancarkan sebuah pukulan yang maha dahsyat. Gak Lam-kun menggerakkan pula telapak tangannya sambil berkata dengan nada hambar.

"Ingin kuketahui sampai dimanakah kehebatan tenaga pukulanmu itu?"

Ketika sepasang telapak tangan saling beradu, segera terjadilah suatu ledakan yang memekikkan telinga, Gak Lam-kun terdorong mundur sejauh tiga langkah sebaliknya Lo Kay seng masih berdiri tenang ditempat semula, namun sekilas perasaan tercengang segera menyelimuti wajahnya.

Sekalipun dipandang dari kejadiannya Gak Lam-kun seolah-olah masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki Lo Kay seng, namun dalam pandangan para jago ahli justru sebaliknya, kiranya dalam bentrokan yang pertama tadi, Lo Kay seng telah menderita sedikit luka ringan akibat serangan pantulan yang digunakan oleh si anak muda itu.

Setelah berhasil dengan serangannya, Gak Lam-kun mempertahankan gayanya sebagai seorang laki-laki ksatria, ia tidak melancarkan serangan lebih jauh sebaliknya cuma berdiri tenang ditempat semula.

Lo Kay seng mengatur sebentar hawa murninya, ketika diketahui bahwa kerugian yang dideritanya tidak terlalu besar, cepat badannya menerjang maju lagi dengan kecepatan tinggi, sebuah tendangan segera dilancarkan mengarah lambung Gak Lam-kun.

Gak Lam-kun menggoyangkan tubuhnya menghindar kesamping lalu sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Lo kay seng tertawa dingin, telapak tangan kanannya dikebaskan melancarkan sebuah pukulan dahsyat untuk membendung ancaman dari Gak Lam-kun, kemudian telapak tangan kirinya dengan jurus Thiat khi to jut (penunggang baja muncul mendadak) melancarkan serangan balasan.

"Wees..! wees..!"

Begitu berhasil merebut kedudukan diatas angin, secara beruntun telapak tangan kanannya melepaskan tiga buah serangan berantai diiringi tendangan kaki kiri dan kanannya.

Bukannya mundur Gak Lam-kun malah menerobos maju kedepan, sepasang telapak tangannya mengembangkan pula serangkaian pukulan dahsyat untuk membendung tendangan-tendangan maut itu, semua gerakan yang dipergunakan boleh dibilang merupakan jurus-jurus serangan untuk bertarung dalam jarak dekat.

Makin lama pertempuran berlangsung makin sengit, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan semuanya dipergunakan bukan saja dengan kecepatan tinggi, tenaga pukulan yang disertakan pun luar biasa hebatnya...

Pertarungan antara mereka berdua hakekatnya merupakan pertarungan untuk menentukan mati hidup mereka, semua ancaman hampir tak sebuahpun yang tidak tertuju pada bagian badan yang mematikan, ini membuat para jago yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan itu merasa jantungnya berdebar keras.

Ditengah serunya pertarungan tersebut, tiba-tiba malaikat racun dari see ih Lo Kay seng mengeluarkan jurus See lay tok ing (irama sunyi dari barat) menghantam kedada lawan.

Jurus serangan tersebut merupakan salah satu jurus mematikan dalam aliran See thian san, bukan saja aneh dan sakti gerakannya bahkan membuat musuhnya menjadi bingung sebab sepintas lalu serangan tersebut seperti suatu totokan tapi mirip pula sebuah babatan.

Gak Lam-kun terkesiap, buru-buru dia mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Jit gi ngo heng jit seng liong heng sin hoat untuk bergeser tiga depa kesamping kiri.

"Gak sauhiap, hati-hati!"

Tiba-tiba Lo Kay seng berseru sambil tertawa dingin.

Ditengah seruan tersebut, jurus mematikan yang sengaja disembunyikan dibalik jurus See lay tok ing tersebut segera dilancarkan, tampak telapak tangan kanannya tiba-tiba terbalik keatas kemudian mengancam urat nadi pada pergelangan tangan kanan Gak Lamkun.

"Hmm... Tidak segampang itu"

Jengek si anak muda ketus.

Tiba-tiba kelima jari tangan kanannya berputar menyambar diatas pergelangan tangan kanan Lo Kay seng, oleh sambaran tersebut Lo Kay seng segera merasakan urat nadi pada pergelangan tangan kanannya menjadi kaku, akibatnya tangan kanan yang sesungguhnya sedang mengancam pergelangan tangan musuhpun menjadi miring kesamping dan tidak menemui sasarannya...

Perubahan jurus serangan ini sungguh amat manis dan sedap dipandang, tanpa terasa semua jago berpekik dihati masing-masing.

"Sebuah serangan yang amat bagus!"

Gak Lam-kun dengan demikian berhasil menang satu gebrakan dari lawannya, cepat Lo Kay seng mundur dua langkah, dengan tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan ia berkata dengan dingin.

"Gak sauhiap, ilmu silatmu benar-benar amat sempurna, dengan tebalkan muka lohu ingin minta petunjuk lagi dalam kepandaian senjata"

Sebelum Gak Lam-kun mengucapkan sesuatu, Jit poh toan hun Kwik To telah maju kemuka sambil tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Lo Kay seng, kau jangan melayani orang lain terus menerus, bagaimana dengan pertikaian diantara kita? Bagaimanapun juga urusan kita musti diselesaikan pada malam ini juga, maka kuanjurkan kepadamu lebih baik pertarungan babak berikutnya ditiadakan saja"

Malaikat racun dari See ih tertawa seram.

"Kwik To!"

Demikian katanya.

"sekalipun aku harus bertarung tiga babak lagi memangnya kau anggap aku tak punya keyakinan untuk memenangkan dirimu..?"

Jit poh toan hun Kwik To kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahakbahak.

"Haahh...haahh...haahh...sulit! Sulit! Tiga hari tidak bertemupun bisa mengakibatkan perubahan yang besar apalagi kita sudah dua puluh tahunan tak pernah bersua muka..?"

"Yang kau katakan tentang kau atau diriku?"

Tukas Malaikat racun dari See ih ketus.

"Kau atau aku adalah sama saja, cuma aku orang she Kwik tidak ingin mempergunakan keuntungan tersebut"

"Baiklah!"

Kata Lo Kay seng kemudian "bagaimana kalau penyelesaian diantara kita diundur tiga hari lagi?"

Jit poh toan hun Kwik To tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh...haaahhh...haaahhh...bagus sekali, bagus sekali! Cuma sebelumnya aku hendak berkata lebih dulu, ujung senjata itu tak bermata, bagaimana seandainya kau mati dalam pertarungan itu?"

"Hmmm..! Kalau mampus anggap saja nasibku lagi jelek, atau mungkin kau lebih suka kalau melihat aku mati ditangan orang lain saja?"

"Aaah..! Kita sama-sama tidak mempunyai dendam sakit hati apa-apa, kalau cuma ingin mencoba kepandaian silat saja, kenapa harus mempergunakan nyawa sebagai taruhan?"

Sela Gak Lam-kun tiba-tiba. Jit poh toan hun Kwik To sama sekali tidak menggubris perkataan dari Gak Lam-kun itu, lagi-lagi dia berkata.

"Tidak berani! Tidak berani! Loheng tersohor sebagai malaikat racun, aku percaya kau masih mempunyai kepandaian simpanan untuk menolong jiwamu sendiri"

Terkesiap juga Gak Lam-kun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya diam-diam.

"Kwik To berulangkali membantuku, entah apa maksud sesungguhnya? Coba kalau tidak diingatkan olehnya, hampir saja aku lupa kalau Lo Kay seng masih mempunyai ilmu racun yang maha sakti..."

Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng mendengus dingin.

"Hmmm..! Kwik To, seandainya aku orang she Lo hendak merebut kemenangan dengan mengandalkan ilmu racunku, aku yakin kau Tionggoan tok hu (si Tabib keji dari Tionggoan) tak akan lolos dari cengkeramanku"

Dari pembicaraan tersebut dapat diketahui bahwa dalam pertarungannya melawan Gak Lam-kun dia tidak ingin menyergap si anak muda itu dengan mengandalkan kepandaian racunnya.

Mendengar itu, Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah...haaah...haaah...mana, mana, kalau begitu aku orang she Kwik telah mempergunakan hati kecil seorang siaujin untuk menilai kebijaksanaan seorang kuncu"

Tiba-tiba dari sakunya Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng mengeluarkan sebuah senjata Kim seng lun (roda bintang emas), diantara rentangan telapak tangannya kekiri dan kekanan, ternyata roda tersebut telah berubah menjadi lima buah roda bintang emas yang amat tipis, lantaran kelima roda itu besarnya sama dan lagi menempel antara yang satu dengan yang lainnya, maka sulit buat orang lain untuk membedakan satukah senjata roda itu atau limakah?

"Gak sauhiap, silahkan kau siapkan senjatamu, demikian Lo Kay seng berkata.

"lohu hendak mempergunakan kelima buah roda bintang emas itu untuk menyambut permainan beberapa jurus seranganmu"

Oo Terkesiap juga Gak Lam-kun setelah menyaksikan senjata lawan, pikirnya dengan cepat.

"Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Lo Kay seng benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, ia merupakan seorang musuh yang tangguh dalam dunia persilatan dewasa ini, biasanya orang yang menggunakan senjata tersebut kebanyakan cuma menggunakan dua biji senjata roda yang lebih dikenal sebagai Jit gwat lun (roda matahari dan rembulan) tapi sekaligus Lo Kay seng dapat mempergunakan lima buah roda bintang emas. Jelas sulit bagiku untuk melayani kelima senjata rodanya dengan tangan kosong belaka padahal kecuali Toa hun liong jiau (cakar naga perenggut nyawa) aku tidak membawa senjata lainnya, wah bagaimana enaknya sekarang..."

Sementara Gak Lam-kun masih sangsi dan tidak dapat mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu.

"Saudara Gak entah pedang ini cocok dengan seleramu atau tidak?"

Bersama dengan berkumandangnya ucapan itu, tampak ketua dari perguruan panah bercinta Bwe Li pek muncul sambil ditangan kirinya membawa sebilah pedang pendek, lalu sambil tersenyum senjata itu diangsurkan kehadapan si anak muda.

Gak Lam-kun tersenyum.

"Terima kasih banyak saudara Bwe atas pinjaman pedangmu itu"

Katanya. Dengan sepasang tangannya ia menyambut pedang pendek itu mendadak ia mengendus bau harum semerbak yang amat menusuk hidung, Gak Lam-kun segera tertegun, pikirnya kemudian.

"Sudah tiga kali kucium bau harum aneh semacam ini dari tubuhnya, jangan-jangan..?"

Ketika Gak Lam-kun berpaling kembali, Bwe Li pek telah memutar badannya sambil mengundurkan diri dari situ.

"Criiing..!"

Bunyi lengking tajam yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, diantara berkelebatnya segulung cahaya putih, pedang pendek itu sudah diloloskan dari sarungnya.

Pedang itu putih mulus bagaikan kumala, tajam dan berkilau, sekilas pandangan saja orang akan tahu bahwa pedang tersebut adalah sebuah pedang mustika yang amat tajam.

"Pedang bagus, pedang bagus!"

Puji Gak Lam-kun dalam hati kecilnya.

Setelah meloloskan pedangnya, Gak Lam-kun mundur tiga langkah kebelakang dan berdiri dengan pinggang ditekuk, lima jari tangan kanannya direntangkan sejajar dada sedang tangan kirinya memegang pedang sebatas alis mata, dengan sinar mata setajam sembilu ditatapnya Lo Kay seng tajam-tajam.

"Nah saudara, silahkan turun tangan!"

Katanya. Lo Kay seng yang menyaksikan gaya pembukaan dari Gak Lam-kun pun merasa amat terkejut, pikirnya.

"Orang ini benar-benar seorang manusia berbakat aneh dari dunia persilatan tampaknya dalam pertarungan adu senjata tajampun aku harus terlibat lagi dalam suatu pertarungan yang amat seru"

Tergerak juga perasaan Bwe Li pek setelah menyaksikan jurus pedang dari Gak Lamkun, terutama kemampuan pemuda tersebut memainkan pedang ditangan kiri dan tangan kanannya tak lupa menyerang dengan kepandaian Tok liong ci jiau, hal ini sungguh merupakan suatu kejadian yang jarang dijumpai dikolong langit.

Mendadak...

Suara desingan nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa, sebuah roda Kim seng lun yang berada ditangan kiri Lo Kay seng dilontarkan kearah Gak Lam-kun.

Ketika anak muda itu membacok dengan pedang kirinya, diiringi desingan angin tajam tiba-tiba roda Kim seng lun tersebut berputar kebelakang punggungnya, lalu kembali ketangan Lo Kay seng.

Dengan sendirinya bacokan itupun mengenai sasaran yang kosong.

"Ngiing...ngiing...ngiing...ngiing..!"

Bunyi desingan tajam kembali berdesing memenuhi seluruh angkasa, cahaya emas berkilauan darimana-mana diiringi biasan cahaya perak, lima batang roda Kim seng lun dari lima arah yang berbeda menerjang datang hampir bersamaan waktunya...

Serangan tersebut merupakan sebuah serangan yang maha dahsyat gerakan itu dinamakan gerakan Ban lun hud (selaksa roda membiaskan sinar sang Buddha).

Paras muka Gak Lam-kun agak berubah, pergelangan tangannya digoyangkan berulangkali, tiba-tiba ia menggunakan pula sebuah jurus tangguh yang merupakan suatu jurus pedang tingkat tinggi yakni Yang Kong bu ciau (sinar matahari memancar kemanamana).

Diantara perputaran pedang pendek ditangan kirinya itu, terciptalah berlapis-lapis cahaya tajam yang melindungi sekujur tubuhnya.

Kendatipun Yang Kong bu ciau dinamakan satu gerakan, pada hakekatnya terselip berbagai perubahan yang beruntun, bukan saja perubahannya dahsyat, gerakannya juga tangguh.

Serentetan cahaya bianglala berwarna putih dengan cepat melesat keudara dan mengelilingi kelima buah roda Kim seng lun tersebut, suasananya waktu itu ibaratnya selapis awan tebal yang mengelilingi rembulan dan bintang.

Begitu turun tangan, kedua belah pihak segera terlibat dalam suatu pertarungan sengit yang menentukan mati hidup mereka, kejadian tersebut dengan cepat menarik perhatian para jago disekitar gelanggang untuk mengikuti jalannya pertarungan dengan lebih seksama lagi.

Lima gumpal cahaya emas dan selapis hawa pedang yang mengerikan hampir memenuhi seluruh angkasa, meski demikian ternyata sama sekali tidak kedengaran sedikit suarapun.

Mendadak...

lima buah roda dari Lo Kay seng itu mempersatuksn diri lalu, berbareng menerjang kedada Gak Lam-kun, tentu saja kekuatannya ibarat lima ekor kerbau yang menyerbu bersama kesatu arah.

Gak Lam-kun membentak keras, cahaya putih berputar mengikuti arah pergeseran langkah kakinya yang maju mundur, diantara getaran ujung pedangnya, tiba-tiba lima jalur sinar putih memancar keluar, sedang selaksa roda membiaskan sinar Buddha mendadak menjadi sirap...

Gak Lam-kun berdiri serius sambil memeluk pedang, sementara Lo Kay seng hanya berdiam diri sambil memperhatikan kelima buah roda Kim seng lunnya yang tergeletak diatas tanah.

Akhirnya setelah menghela napas katanya.

"Gak sauhiap, ilmu silatmu benar-benar sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang luar biasa, aku orang she Lo sungguh merasa amat kagum, baiklah kita akhiri pertarungan malam ini sampai disini saja. Sehabis berkata ia memungut kembali kelima buah roda Kim seng lunnya dari tanah dan dimasukkan kembali kedalam saku. Gak Lam-kun menyarungkan pula pedangnya lalu sambil tertawa dan menjura katanya.

"Terima kasih banyak atas petunjuk ilmu silat yang telah Lo tayhiap berikan pada malam ini, kesemuanya tersebut sungguh mendatangkan manfaat yang tak terhingga buat aku orang she Gak."

Kemudian sambil mengangsurkan pedang pendek itu kehadapan Bwe Li pek, katanya lagi sambil tertawa.

"Terima kasih banyak untuk pinjaman pedang dari saudara Bwe, harap pedang ini suka diterima kembali."

Bwe Li pek tertawa ramah, katanya.

"Saat ini adalah saatnya banyak urusan dalam dunia persilatan, apa salahnya kalau saudara Gak meminjamnya untuk beberapa waktu lagi."

"Baiklah, daripada kutampik maksud baikmu, terpaksa siaute akan meminjamnya untuk sementara sampai besok. Dari balik sinar mata Bwe Li pek yang tajam seperti sembilu, tiba-tiba terpancar sekilas cahaya lembut bagaikan hembusan angin sepoi, katanya lagi.

"Bila saudara Gak merasa tidak keberatan, biar kuhadiahkan pedang itu sebagai kenang-kenangan untukmu, anggaplah hal ini sebagai tanda mata untuk mempererat jalinan hubungan kita."

"Tidak berani, tidak berani, setiap orang yang termasuk kuli silat tidak pantas untuk menyoren pedang mustika semacam ini"

Ujar Gak Lam-kun tertawa.

"Kalau begitu, kembalikanlah pedang itu bila kita bertemu kembali besok malam."

Gak Lam-kun menyimpan pedang pendek itu kedalam sakunya, lalu berkata dengan lantang.

"Kentongan kelima esok, siaute pasti akan tiba tepat pada waktunya!"

Sementara itu Jit poh toan hun (tujuh langkah pemutus nyawa) Kwik To pelan-pelan maju kedepan, sambil memberi hormat kepada Lo Kay seng ia berkata.

"Saudara Lo, bagaimana dengan permintaan aku orang she Kwik semalam mengenai masalah Soat san Thian li?"

"Dalam soal ini hanya terbatas untuk Buncu seorang"

Jawab See ih tok Seng Lo Kay seng dengan suara menyeramkan.

"bila kalian ingin datang bergerombol, maka maaf jika hal ini tak bisa dikabulkan"

Bwe Li pek segera tertawa angkuh.

"Adapun maksud aku orang she Bwe tidak lebih cuma ingin menyambangi Soat san Thian li, kami tidak mempunyai rencana atau tujuan lain, dan segenap anggota perguruanku akan menanti disini!"

"Bwe ji, biar aku ikuti dirimu"

Bisik perempuan berambut putih yang berada disamping kanannya dengan lembut. Bwe Li pek segera berpaling dan tertawa.

"Nenek, legakan hatimu, tak nanti Soat san Thian li akan nenelan diriku bulat-bulat"

Berbicara sampai disitu ia lantas memberi hormat kepada Gak Lam-kun, kemudian pelan-pelan menghampiri Lo Kay seng, katanya.

"Tolong bawalah aku kesana"

"Blaaam..."

Mendadak terdengar ledakan nyaring menggeletar memecahkan keheningan...

Dalam waktu singkat muncullah serentetan cahaya hijau yang menyambar ketubuh Bwe Li pek dengan kecepatan luar biasa.

Cahaya hijau itu meluncur tiba dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan katakata, bagaikan serentetan benang hijau yang berada tujuh delapan kaki jauhnya tahu-tahu dalam sekejap mata telah melesat dihadapan mata Bwe li pek.

Terkesiap juga Buncu dari perguruan panah bercinta itu, tidak sempat melihat jelas lagi senjata rahasia apakah itu, pergelangan tanganrya digetarkan cepat dan jari tangannya segera menyentil kedepan.

"Blaaam..!"

Termakan oleh tenaga sentilan Tan ci sin thong (jari tunggal yang tembus kemana-mana) dari Bwe Li pek, cahaya hijau yang telah berada tiga depa dihadapannya itu segera terbendung dan terpental keempat penjuru.

"Blaam..!"

Sekali lagi benang hijau yang terpental itu meledak dan kemudian berubah menjadi tujuh buah titik bintang api berwarna hijau yang segera menyebar keempat penjuru.

Dua diantaranya langsung meluncur kearah Bwe Li pek, sedangkan lima buah titik hijau lainnya segera memancar mengancam Malaikat racun dari See ih Lo Kay seng serta dua orang laki-laki kekar dari Thi eng pang dengan kecepatan tinggi.

Baik Bwe Li pek maupun Lo Kay seng tidak berani menerima serangan tersebut dengan kekerasan, dengan perasan bergetar keras masing-masing berkelit kesamping.

Lain halnya dengan dua orang lelaki kekar dari pasukan delapan belas elang baja, untuk berkelit sudah tak sempat lagi, yang satu segera terkena pada lengannya sedang yang lain terkena pada paha kanannya, kedua-duanya bukan termasuk tempat yang mematikan.

Akan tetapi, dua orang laki-laki kekar dari perkumpulan elang baja itu serentak roboh ketanah, jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian mengikuti bergulingnya tubuh kedua orang itu kesana kemari.

Senjata rahasia yang demikian lihay dan beracunnya belum pernah didengar ataupun disaksikan sebelumnya dalam dunia persilatan, kontan saja peristiwa itu mendatangkan kegemparan serta kepanikan bagi seluruh orang yang berada disekitar arena.

Kedua orang laki laki bertubuh tegap itu masing-masing memperdengarkan jeritan lengking yang mengerikan serta lolongan minta tolong, itulah pekikkan terakhir menjelang hidupnya didunia Ini, sedemikian menggenaskannya membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri semua.

Jeritan ngeri yang memilukan hati itu masih juga berkumandang tiada hentinya, kesemua ini semakin menambah seramnya suasana.

Akan tetapi semua jago yang hadir dalam arena tak berhasil mengetahui apa sebabnya kedua orang itu menjerit ngeri, mereka hanya menyaksikan tubuh kedua orang itu secara lamat-lamat memancarkan cahaya hijau, mungkin itulah penyebab yang mengakibatkan mereka menemui ajalnya.

Mendadak dari luar arena berkumandang suara tertawa panjang yang memekikkan telinga, menyusul kemudian dua sinar emas yang menyilaukan mata meluncur keudara dan langsung menyambar ketubuh laki-laki yang sedang berguling diatas tanah itu.

Diikuti dua kali jeritan kesakitan, kedua orang, laki-laki kekar itu telah berhenti berguling, akan tetapi cahaya hijau ditubuh mereka masih juga menggulung-gulung tiada hentinya.

Diantara berkelebatnya bayangan manusia, kini ditengah arena telah bertambah dengan seorang kakek berjubah panjang yang berambut putih diiringi tiga orang manusia yang berpakaian aneka macam.

Kakek itu berwajah bersih, berjenggot putih sepanjang dada, jubah hijau selutut, bermuka merah bercahaya dan sedikitpun tidak tampak ketuaannya terutama sekali matanya besar alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam menggidikkan hati.

Dalam genggaman tangan kanannya membawa sebuah tongkat toya bukan toya yang pada gagangnya berukirkan elang baja yang sedang mementangkan sayap dengan ekor yang sangat panjang, inilah senjata andalan dari Thi eng sin siu (kakek sakti elang baja).

Dari antara tiga orang yang ikut datang, terlihat orang pertama adalah seorang sastrawan berusia setengah umur yang berjubah biru, orang kedua adalah seorang kakek kurus kering seperti bambu yang memakai jubah berwarna putih keperak-perakan, sedangkan orang ketiga adalah seorang gadis cantik jelita yang seluruh badannya seperti memancarkan sinar keemas-emasan.

Sekalipun tidak ditanyakan semua orang juga tahu bahwa kakek itu adalah pentolan dunia persilatan yang ternama dalam dunia dewasa ini, pangcu dari perkumpulan Thi eng pang, Thi eng sin siu Ou Bu hong.

Sastrawan berbaju biru adalah salah seorang diantara empat thamcu dibawah panji perkumpulan elang baja, yang merupakan thamcu dan panji elang biru, orang menyebut sebagai Cian seng khi si (sastrawan aneh seribu bintang) Wan Kiam ciu.

Si kakek kurus kering adalah Thamcu panji elang perak Gan tiong ciang (telapak tangan ditengah karang) Kwan Kim ceng.

Sedangkan gadis cantik jelita itu adalah jago lihay nomor dua dalam perkumpulan Thi eng pang Kim eng ki thamcu atau Thamcu panji elang emas Ki Li soat.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong menyapu sekejap sekeliling arena dengan sorot matanya yang tajam, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak tegurnya.

"Diantara yang hadir disini, siapakah yang merupakan anak murid Jit poh lui sim ciam panah inti geledek yang mencabut nyawa dalam tujuh langkah) Lui seng thian?"

Dari balik kegelapan segera terdengar seseorang menjawab sambil tertawa menyeramkan.

"Heehhh...heehhhh...heehhh...Ou Bu hong lohu sendiri yang telah datang!"

Kakek sakti elang baja segera berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut, maka tampaklah seorang kakek berwajah jelek pelan-pelan memasuki gelanggang, ditangannya menggenggam sebuah tabung bulat yang terbuat dari tembaga.

Gak Lam-kun cuma menonton semua peristiwa itu dari samping, ia kenali kakek bertampang jelek itu tak lain adalah Lui seng thian yang bersembunyi dibalik pohon itu.

Sekarang ia baru terkejut dan ngeri atas keganasan, kekejian serta kehebatan dari anak panah inti geledek yang dapat mencabut nyawa dalam tujuh langkah itu, seandainya Lui seng thian sampai turun tangan jahat kepadanya tadi, peristiwa itu sungguh merupakan suatu kejadian yang amat menakutkan.

Kecuali Gak Lam-kun, kakek sakti elang baja serta Malaikat racun dari See ih yang sedikit mengetahui tentang diri Lui Seng thian, hampir boleh dibilang tak seorang jagopun mengetahui asal-usulnya, tapi semua orang dapat merasakan bahwa manusia tersebut pasti merupakan seorang gembong iblis yang susah dihadapi, terutama setelah menyaksikan senjata rahasianya yang cukup menggetarkan sukma itu.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong segera tertawa dingin, lalu katanya ketus.

"Bagus! Bagus sekali! Tak nyana setelah kau Lui Seng thian muncul kembali didalam dunia persilatan, ternyata berani memusuhi diriku. Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian berhenti kurang lebih tiga kaki dihadapannya, dengan dingin ia menjawab.

"Ou pangcu adalah seorang enghiong yang termashur diseluruh dunia persilatan, jago darimanakah yang berani mencari urusan dengan dirimu? Sebelum persoalan ini berkembang lebih lanjut, perlu aku terangkan lebih dulu bahwa kedua sosok nyawa anggota perkumpulanmu bukan sengaja mampus oleh Lak hap im hwee (enam gabungan api dingin) yang kulepaskan, aku sama sekali tidak berniat untuk membinasakan mereka, akan tetapi jika kau Ou Bu hong ingin mencari balas kepadaku tentu saja setiap saat aku Lui Seng thian bersedia untuk melayaninya. Perlu diterangkan bahwa semua jago yang hadir digelanggang ketika itu hampir sebagian besar merupakan jago-jago kenamaan yang termashur dalam dunia persilatan, setiap orang kalau bukan memiliki ilmu silat yang tinggi tentu memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dengan kemunculan kakek sakti elang baja beserta ketiga orang thamcunya serta merta ikut merubah pula kekuatan dalam gelanggang, secara otomatis antara perguruan panah bercinta dengan perkumpulan elang baja pun tercipta dua kekuatan paling besar yang seimbang. Ou Bu hong merupakan seorang pemimpin yang cerdik dan mempunyai otak encer, sudah barang tentu diapun cukup memahami situasi yang sedang dihadapinya waktu itu, dia juga tahu bahwa Jit poh lui sim ciam Lui seng thian adalah seorang iblis yang sukar dihadapi, kendatipun ia telah mengucapkan kata-kata tantangan bukan berarti perkumpulan Thi eng pang harus menghadapi lebih dahulu. Maka setelah mempertimbangkan sejenak untung ruginya. Ou Bu hong segera mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh...haahhh...haahhh...bagus, bagus, kalau begitu utang ini akan kucatat atas namamu Lui Seng thian!"

Mendadak...Sreet!

Sreet!

Sreet!...

serentetan hujan panah mendesing memenuhi angkasa.

Secara tiba-tiba kedelapan belas orang manusia berbaju putih dari perguruan panah bercinta telah melepaskan masing-masing dua batang anak panah, diantara kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata, tiga puluh enam batang panah secara berbareng meluncur kearah tubuh Lui seng thian.

Kiranya para jago dari perguruan panah bercinta merasa marah sekali setelah menyaksikan Bwe Li pek diserang oleh kakek berwajah jelek itu, maka serentak mereka melancarkan serangan balasan.

Sungguh dahsyat dan cepat dua batang panah yang masing-masing dilepaskan oleh kedelapan belas orang manusia berbaju putih itu, tiga puluh enam batang panah itu dengan cepatnya memenuhi daerah sekitar tiga kaki disekeliling tubuh Lui Seng thian, sungguh mengerikan sekali keadaannya ketika itu.

Tapi Lui Seng thian sendiri juga bukan orang bodoh, ia telah menduga bahwa orangorang dari perguruan panah bercinta bakal melancarkan sergapan kearahnya, maka baru saja suara gendewa berbunyi, secepat kilat tubuhnya sudah melambung lima enam kaki tingginya keudara dan langsung menerjang kearah orang-orang dari perguruan panah bercinta berada...

Bwe Li pek mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek jelek itu sangat lihay, dan lagi ia membekal senjata rahasia yang maha dahsyat, apabila orang itu dibiarkan mendekati orang-orangnya niscaya akan banyak jago perguruan panah bercinta yang terluka bahkan tewas.

Oleh karena itu baru saja Lui Seng thian melompat keudara seperti bayangan hitam Bwe Li pek menyusul pula dari belakang, jago tersebut melompat setinggi enam tujuh kaki keudara dan menghadang jalan pergi Lui Seng thian diudara.

Sekalipun menyusul belakangan, ternyata Bwe Li pek berhasil tiba lebih dulu ditempat tujuan, sebuah pukulan dahsyat secepat kilat dilancarkan kedepan.

Sebetulnya Lui seng thian bermaksud untuk melepaskan panah inti geledeknya dari tengah udara dengan maksud ingin melukai beberapa orang anggota perguruan panah bercinta, akan tetapi berhubung jalan perginya terhadang oleh Bwe Li pek dan lagi pula sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan kearahnya, terpaksa ia harus menggetarkan telapak kirinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaang...suatu ledakan nyaring kembali menggelegar ditengah udara. Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian berjumpalitan beberapa kali ketengah udara sebelum melayang turun keatas permukaan tanah, sebaliknya Bwe Li pek melayang turun dengan tenangnya seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwa apapun. Dengan terjadinya peristiwa ini maka dengan cepat menimbulkan pula pandangan baru kawanan jago lainnya terhadap kekuatan perguruan panah bercinta, semula mereka memandang rendah kekuatan yang dimiliki Bwe Li pek karena dianggapnya masih ingusan dan tak tahu apa-apa, tapi sekarang terbukti bahwa kekuatannya ternyata tidak berada dibawah kekuatan perkumpulan Thi eng pang yang maha besar itu. Dalam pada itu perempuan berambut putih dan Han Hu hoa dari perguruan panah bercinta secepat kilat telah melompat kekiri dan kanan Bwe Li pek, kedua orang itu masing-masing menghimpun tenaga dalamnya bersiap sedia melancarkan serangan. Jit poh lui sim ciam Lui seng thian tidak berani melakukan serangan untuk kedua kalinya setelah serangan yang pertama kali tadi, ini disebabkan karena terlalu pandang rendah kekuatan lawannya sehingga cuma mempergunakan tenaga sebesar empat bagian, akibatnya isi perutnya kena digetarkan oleh kekuatan Bwe Li pek yang menyebabkan terluka ringan. Dengan sorot mata setajam sembilu kakek sakti elang baja Ou Bu hong mengamati wajah Bwe Li pek sekian lama, kemudian tegurnya.

"Nona, meskipun hanya sebuah pukulan tapi cukup untuk membuka lebar-lebar sepasang mataku, boleh aku tahu nona berasal dari perguruan mana dan murid siapa?"

Gak Lam-kun merasakan jantungnya berdebar keras, kendatipun para jago lainnya juga sama-sama tertegun sebab mereka tidak mengira kalau ketua perguruan panah bercinta ternyata adalah seorang nona.

Bwe Li pek sendiripun mengernyitkan alis matanya sambil berpikir.

"Semenjak kecil aku sudah terbiasa mengenakan pakaian lelaki, lagi pula sudah kupelajari sedikit kepandaian menyamar, selama beberapa tahun ini berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mengetahui penyamaranku, hanya dalam sekilas pandangan saja?"

Berpikir sampai disitu tanpa terasa lagi ia menundukkan kepalanya sambil memperhatikan beberapa kejap dandanan sendiri.

Ou Bu-hong segera tertawa terbahak-bahak, sambil menuding kearah Thamcu elang emas Ki Li soat katanya.

"Penyaruan nona memang terhitung sangat hebat andaikata Ki thamcu tidak memberitahukan hal ini secara diam-diam kepadaku, sampai melamur pun aku tidak akan mengetahui rahasia ini, apalagi semua gerak gerik nona tak ubahnya seperti pria-pria sejati lainnya. Setelah rahasianya dibongkar, tentu saja Bwe Li pek merasa tak enak hati untuk menyangkal lebih jauh, setelah tertawa dingin katanya dengan gusar.

"Hmm..! Sekalipun aku suka mengenakan pakaian pria, apa sangkut pautnya dengan kalian semua?"

Bagaimanapun jua kebiasaan seorang gadis tidak terlepas dari tubuhnya, dimana rahasianya berhasil dibongkar dihadapan umum, serta merta berkobar juga hawa amarah dalam hatinya.

Ou Bu-hong tersenyum.

Seorang perempuan mengenakan pakaian pria bagi dunia persilatan merupakan suatu kejadian yang lumrah, haaah...

haaah...

haaah...

putri angkatku Ki thamcu juga sering mengenakan pakaian pria untuk berkelana dalam dunia persilatan.

Bwe Li pek cuma tertawa dingin sambil mengalihkan sinar matanya memandang awan diangkasa terhadap pertanyaan dari Ou Bu hong itu, dia tak mendengarkan maupun menjawab.

Kakek sakti elang baja Ou Bu hong kembali memandang sekejap sekeliling gelanggang, tiba-tiba tanyanya kepada Ou Yong hu.

"Ou thamcu, kemana perginya komandan pasukan elang baja?"

Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu mengalihkan sinar matanya kewajah Gak Lamkun, kemudian sambil menjura katanya.

"Gak sauhiap, tolong tanya kemana perginya Si Tiong pek dari perkumpulan kami saat ini?"

Pelan-pelan Gak Lam-kun maju kedepan lalu menghela nafas sedih.

"Semalam Si heng bersama siaute datang menyelidiki perkampungan ini, sayang ia kena dilukai oleh irama Sang goan ki yang mengakibatkan jalan api menuju neraka, pagi tadi ia telah berpisah denganku, tidak kuketahui kemana ia telah pergi?"

Agak tergetar perasaan kakek sakti elang baja dan sekalian anggota perkumpulan Thi eng pang setelah mendengar perkataan itu, terutama sekali Kim eng thamcu Ki Li soat, wajahnya berubah dan airmata mengambang dalam kelopak matanya, semua orang tahu bahwa jalan api menuju neraka merupakan pantangan terbesar bagi seseorang yang belajar ilmu silat sebab kendatipun luka dalam tersebut berhasil disembuhkan, sekalipun tidak sampai mati paling sedikit akan mengakibatkan cacad.

Tiba-tiba Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu membentak dengan suara lantang.

"Gak Lam-kun, bukankah kau telah mencelakainya secara diam-diam? Kenapa sekarang kau katakan..."

Jit poh toan hun Kwik To segera tertawa dingin dan menukas pembicaraannya yang belum selesai, katanya.

"Ou Yong hu, kau jangan memfitnah orang yang bukan-bukan, dengan mata kepalaku sendiri aku orang she Kwik menyaksikan betapa Si Tiong pek memasuki perkampungan ini untuk melakukan penyelidikan, kemudian bagaimana ia terluka oleh Sang goan ki dan diserang gerombolan ular beracun dimana tubuhnya terpagut seekor ular beracun. Bukan aku saja. Say Khi pit dari Siau ngo tay serta Kongsun Po dari Hoa san pun mengalami nasib yang sama."

Setelah mendengar perkataan itu, kakek sakti elang baja merasakan kepalanya seperti disambar petir disiang hari bolong, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu.

Sebagaimana diketahui, Si Tiong pek adalah murid kesayangannya yang paling dimanja dan merupakan satu-satunya, bahkan dia pula yang merupakan tumpuan harapannya selama ini, bagaimana mungkin hatinya menjadi tidak pedih setelah mengetahui keadaan Si Tiong pek yang mendekati setengah mati itu?

Gak Lam-kun menghela napas panjang, katanya.

"Aku merasa amat bersedih hati atas nasib buruk yang telah menimpa diri Si Tiong pek, tapi Thian selalu melindungi umatnya, semoga saja ia berhasil menemukan keberuntungan"

Pada saat itulah secara tiba-tiba Kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu membisikkan sesuatu ketepi telinga Ou Bu hong.

Menyusul kemudian Kakek sakti elang baja Ou Bu hong dengan sorot mata yang tajam dan buas menatap wajah Gak Lam-kun lekat-lekat.

Terkesiap hati Gak Lam-kun, dia tahu apa yang telah dibisikkan kakek ular dari lautan timur Ou Yong hu kepada Kakek sakti elang baja.

Tiba-tiba Ou Bu hong menengadah dan tertawa panjang, suaranya keras memekikkan telinga telapak tangan kirinya segera didorong kemuka melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Gak Lam-kun.

Sepintas lalu pukulan itu seolah-olah tidak mempergunakan tenaga besar, malah seperti sebuah pukulan mainan, padahal justru mengandung himpunan tenaga murni yang maha dahsyat.

Gak Lam-kun pun tahu bahwa gembong iblis tersebut mempunyai ilmu silat yang sangat dahsyat dari perubahan wajahnya dapat diketahui bahwa orang itu bermaksud membinasakannya dalam sekali pukulan, untung ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh, kalau tidak, sulit rasanya untuk mempertahankan diri dari ancaman tersebut.

Dalam keadaan gawat dan jiwanya terancam oleh mara bahaya tersebut, Gak Lam-kun tidak terlalu memikirkan soal rahasia dirinya lagi, hawa sakti Tok liong ci jiau segera dihimpun dalam telapak tangan kanannya diantara rentangan kelima jari tangannya, segulung desiran angin tajam segera memancar kedepan.

"Aaaah..! Tenaga sakti Tok liong ci jiau?"

Pekik Say Khi pit yang berada disisi arena dengan terperanjat.

Ketika tenaga pukulan yang dilancarkan kakek sakti elang baja Ou Bu hong saling bertemu dengan tenaga sentilan Gak Lam-kun yang maha dahsyat itu diudara, tiba-tiba saja dia merasakan hatinya bergetar keras, sepasang matanya melotot besar dan maju selangkah kedepan, mendadak telapak tangan kirinya didorong kembali setengah depa lebih kemuka.

Gak Lam-kun segera merasakan timbulnya suatu gulungan tenaga yang maha kuat bagaikan gulungan ombak disamudra memantul balik ketubuhnya, ia merasa sangat terperanjat, telapak tangan kirinya ikut dikebaskan pula kedepan...

Tiba-tiba saja Ou Bu hong merasakan timbulnya segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat menghantam tubuhnya mengikuti kebasan telapak tangan kiri dari Gak Lam-kun.

Rasa kaget dihati kakek sakti elang baja Ou Bu hong sukar dilukiskan lagi dengan katakata, cepat toya elang baja ditangan kanannya dibuang kesamping lalu cepat-cepat telapak tangan kanannya dikebaskan kedepan...

"Blaaang..? suatu benturan nyaring mengakibatkan terjadinya ledakan yang memekikkan telinga, tenaga pukulan dari Ou Bu hong segera mendesak mundur tenaga pukulan Gak Lam-kun itu. Berhasil dengan serangannya itu, kakek sakti elang baja membentak keras bagaikan guntur, pukulan dahsyatnya yang kedua kembali dilontarkan kedepan. Terdengar Gak Lam-kun mendengus tertahan, badannya mundur setengah langkah, tapi tenaga pukulannya toh berhasil juga untuk membendung dorongan angin pukulan Ou Bu hong yang kuat. Dengan demikian maka antara kedua orang segera terlibat dalam suatu pertarungan adu tenaga dalam yang amat sengit keempat orang thamcu dari Thi eng pang dengan cepat menyebarkan diri kebelakang Ou Bu hong sambil bersiap sedia, mereka takut ada orang yang tiba-tiba melancarkan serangan dari belakang. Tiba-tiba si Rase berekor sembilan Kongsun Po melompat kebelakang punggung Gak Lam-kun dengan suatu gerakan cepat, tapi sebelum kakinya sempat menempel diatas permukaan tanah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak sambil tertawa dingin.

"Kembali kau!"

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menerjang kemuka menyongsong kedatangan tubuhnya.

Oleh karena masih berada diudara, sulit bagi Kiu wi hou Kongsun po untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa ia harus mendorong sepasang telapak tangannya kedepan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaaang..."

Ternyata tenaga pukulan itu amat dahsyat, oleh bentrokan tersebut badannya terpental sampai sejauh lima enam langkah lebih, hatinya semakin tercekat.

Setelah berhasil menenangkan hatinya, Kongsun Po baru mendengus dingin, katanya.

"Kwik To, sebenarnya apa maksudmu dengan perbuatan tersebut?"

Jit poh toan hun Kwik To tertawa dingin.

"Bagaimanapun juga saudara Kongsun adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, bila perbuatanmu melakukan sergapan ini sampai tersiar luas dalam dunia kangouw, hal ini akan sangat mempengaruhi nama baik serta martabat saudara Kongsun dimata orang banyak..."

Si Rase berekor sembilan Kongsun po tertawa seram.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... masih ingatkah kau dengan peristiwa dipuncak Yan po gan? Digunung Hoa san? Tujuh belas orang jago mengerubuti seorang jago, hmm, apakah perbuatan itu merusak nama baik kita semua?"

"Saudara Kongsun"

Kata jit poh toan hun Kwik To dengan ketus.

"bila kau singgung kembali peristiwa dipuncak Yan po gan, jangan salahkan kalau aku Kwik To tidak akan mengenal teman dan bersikap keji kepadamu..."

Betapa gemas dan mendendamnya si rase berekor sembilan Kongsun po, kalau bisa ingin sekali ia lumatkan manusia yang bernama Kwik To itu.

Tapi iapun menyadari bahwa situasi yang terbentang dihadapannya sekarang sangat tidak menguntungkan posisinya, dengan jumlah jago yang begitu banyak dari perguruan panah bercinta jelas ia akan konyol sendiri kalau berani mencari urusan.

Sebab itu terpaksa ia harus mengendalikan perasaan dendam dan benci dalam hatinya, setelah tertawa kering katanya.

"Bagus! Bagus! Suatu hari aku Kongsun Po ingin menyaksikan bagaimanakah nasib akhir dari manusia yang bernama Kwik To!"

Dipihak lain, Gak Lam-kun yang masih kalah setingkat tenaga dalamnya dibandingkan dengan Ou Bu hong, telah terdesak mundur berulangkali kebelakang, ia tahu bila keadaan tersebut dibiarkan berlangsung terus, maka akhirnya Gak Lam-kun pasti akan mati kehabisan tenaga.

Jit poh lui sin ciam Lui seng thian segera berseru dengan suara menyeramkan.

"0u Bu hong, bila orang itu kau bunuh, jangan harap lencana pembunuh naga bisa kau dapatkan!"

Mendengar perkataan itu, kakek sakti elang baja Ou Bu hong segera tertawa terbahakbahak.

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... keadaanku sekarang ibaratnya sedang menunggang dipunggung harimau, mau turun juga susah sekali bagaimana baiknya menurut pendapatmu?"

Lui seng thian merasa ucapan itu ada benarnya juga, sebab dalam suatu pertarungan beradu tenaga dalam, kecuali salah satu pihak terluka atau tewas sulit memang untuk menghentikannya ditengah jalan.

Gak Lam-kun segera mendengus dingin.

"Diantara kita berdua tak pernah terikat dendam sakit hati atau perselisihan apa pun pertarungan adu jiwa semacam ini sangat tidak menguntungkan kedua belah pihak, sebaliknya justru menguntungkan orang lain, seandainya kau bersedia mendengarkan perkataanku, aku mempunyai suatu cara untuk mengatasi kesulitan ini."

Ou Bu hong sendiri juga tahu bagaimana peliknya suasana waktu itu, apabila pemuda itu berhasil dibinasakan olehnya, kemungkinan besar Soat san thian li akan membatalkan perjanjiannya dan tidak jadi menyerahkan lencana pembunuh naga tersebut, dan otomatis diapun akan tidak berhasil merampasnya dari tangan Gak Lam-kun lagipula tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu tidak terpaut banyak darinya, sekalipun ia berhasil membinasakan dirinya paling tidak dia sendiripun akan banyak sekali mengorbankan kekuatan sendiri.

Berbicara sesungguhnya, tenaga dalam yang dimiliki Ou Bu hong lebih tinggi tiga empat puluh tahun hasil latihan bila dibandingkan dengan Gak Lam-kun, tapi berhubung Gak Lam-kun melawan tenaga dalamnya dengan ilmu sakti dari aliran yang bersifat lembek, maka kekuatan dari Ou Bu hong berhasil dibendung olehnya.

Hal mana hanya dipahami oleh dua orang saja dari sekian banyak jago yang hadir dalam gelanggang dewasa itu, seandainya rahasia tersebut sampai terbongkar maka akibatnya Gak Lam-kun segera akan binasa diujung telapak tangan Ou Bu hong.

Kedua orang itu bukan lain adalah Thamcu dari Panji emas Ki Li soat serta Bwe Li pek dari perguruan panah bercinta.

Sementara itu si kakek sakti elang baja telah berpikir sejenak, kemudian sambil tertawa katanya.

"Bagaimanakah caramu itu? Coba kau katakan!"

"Cukup asal kau tarik kembali lima bagian tenaga dalammu!"

Kata Gak Lam-kun. Ou Bu hong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah... haaah... haaah... apakah kau mempunyai niat jahat terhadapku?"

Thamcu panji elang emas Ki Li soat yang berada disamping segera berseru dengan suara merdu.

"Gihu (ayah angkat), ikuti saja perkataannya andaikata ia bermaksud jahat, putrimu percaya masih sanggup untuk mendesak balik kekuatannya...!"

Perlu diketahui, selama hidupnya Ou Bu hong tidak pernah kawin, setelah menerima gadis tersebut sabagai anak angkatnya, dihari biasa dia selalu memanjakan dan menyayanginya terutama atas kecerdasan serta bakat ilmu silat yang dimilikinya, boleh dibilang Ou Bu hong selalu mengagumi dan menyanjungnya.

Karenanya setelah mendengar perkataan itu ia lantas tertawa sambil mengangguk.

"Baiklah, akan kuturuti perkataanmu itu!"

Katanya. Gak Lam-kun yang mendengarkan perkataan itu merasa terperanjat, segera pikirnya pula.

"Jangan-jangan ia pun mengetahui caraku mengerahkan tenaga..?"

Sementara ia masih termenung, Ou Bu hong telah berkata kepada si anak muda itu.

"Pada hitungan yang ketiga, bersiap-siaplah... satu... dua... tiga.."

Begitu angka ketiga diucapkan, Gak Lam-kun segera merasakan berkurangnya tenaga tekanan ia tak berani berayal lagi telapak tangan kirinya segera dibalik sambil dikebaskan keatas...

"Weess..."

Gulungan tenaga pukulan Ou Bu hong yang kuat bagaikan gulungan gelombang itu segera terpancing keudara, entah kepandaian apa yang telah dipergunakan tahu-tahu tenaga tadi telah terpelanting kearah lain hingga lenyap.

Sepasang bahu Gak Lam-kun bergetar keras...

dan secara beruntun ia mundur tujuh delapan langkah kebelakang.

Sekonyong-konyong...

pada saat itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring...

ting tang ting...

bunyi irama khim yang tajam.

Suara tabuhan khim itu berasal dari tempat yang amat jauh sekali...

"Blaang..!"

Suatu ledakan keras terjadi, tiba-tiba gumpalan asap berwarna merah meluncur keudara dari langit sebelah barat dan meledak disana.

Ou Bu hong segera berpaling kearah Gak Lam-kun sambil memberi hormat, katanya.

"Ilmu silat yang dimiliki murid Yo Long memang cukup tangguh, bila dikemudian hari ada kesempatan aku pasti akan mohon petunjuk lagi"

Sehabis berkata ia melompat pergi dari situ, dalam waktu singkat tubuhnya sudah berada empat kaki jauhnya dan tempat semula diikuti para jago Thi eng pang lainnya.

Jit poh lui sim ciam Lui seng thian ikut tertawa dingin dengan seramnya tiba-tiba ia melompat keudara dan menyerbu kedalam bangunan yang berlapis-lapis itu.

Kiranya See ih tok seng Lo Kay seng beserta Giok bin sin ang dan Kiu wi hou yang semula berada diarena, entah semenjak kapan telah ngeloyor pergi dari situ.

Bwe Li pek mengernyitkan alis matanya, dengan suara yang merdu ia berkata.

"Perubahan terjadinya peristiwa ini sangat tiba-tiba, Kwik To! Apakah beritamu bisa dipercaya?"

"Lapor nona Bwe, berita itu sedikitpun tidak salah!"

Jawab Jit Poh toan hun dengan nada bersungguh-sungguh. Mendengar itu, dengan wajah serius Bwe Li pek segera berkata.

"Kwik To. Siau naynay, kalian sekalian membawa segenap anggota perguruan menyusul kesana untuk mengadakan pengecekan bila benar-benar sudah pergi usahakan mengadakan kontak, jangan sampai terkena siasat memancing harimau turun gunung, sedang aku dan Han Hio nio akan tetap tinggal dipulau ini."

Selesai berkata, Kwik To, nenek berambut putih, Siangkoan It beserta delapan belas orang manusia berbaju putih itu berlalu dari situ dengan kecepatan tinggi.

Sepeninggal anakbuahnya Bwe Li pek segera menjura kepada Gak Lam-kun sambil berkata.

"Gak siangkong, sampai jumpa lagi esok pagi!"

Dua orang perempuan itupun berlalu dari situ menyusul kearah mana Jit poh lui sim ciam melenyapkan diri.

Gak Lam-kun benar-benar tak dapat menebak kejadian misterius apakah yang telah terjadi disana ketika ditinggal seorang diri ditempat tersebut tiba-tiba ia merasakan suatu kesepian dan keheningan yang amat mencekam.

Akhirnya setelah mengatur hawa murninya, Gak Lam-kun melompat masuk kedalam halaman dimana gadis berbaju perak berdiam semalam, pemandangan disana tetap seperti sedia kala, tapi suasananya amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Dengan enteng dia melompat naik keatas atap rumah, diperhatikannya sebentar suasana sekitarnya, ketika terbukti bahwa disitu benar-benar tiada seorang manusiapun, anak muda itu mulai berpikir.

"Jangan-jangan Soat san thian li telah berlalu? Tapi kalau didengar dari arah permainan khim tersebut, jelas suara itu berasal dari belakang halaman sana."

Terpikir sampai disitu, dengan sorot matanya yang tajam Gak Lam-kun segera berpaling kebangunan dibelakang halaman sana.

Dibawah sinar rembulan dan bintang tampaklah delapan buah bangunan loteng yang sangat megah bertengger disudut timur barat utara maupun selatan.

Gak Lam-kun berhenti untuk merenungkan sejenak arah berasalnya irama khim Mi tin loan hun ki (irama pembingung tenaga pengalut sukma) yang dimainkan Soat san thian li tadi, kemudian secepat sambaran kilat tubuhnya melayang kearah delapan buah bangunan loteng itu.

Ternyata Soat san thian li telah berjanji pada saat penyerahan lencana pembunuh naga nanti, ia akan mainkan irama Mi tin loan hun ki tersebut sebagai pertanda.

opoooOooooo Sejak irama khim tadi berkumandang, Gak Lam-kun telah mengetahui bahwa permainan khim tersebut dipancarkan dengan ilmu Mi tin loan hun ki, lagi pula bersumber dari dalam loteng yang menjulang kelangit atau daerah sekitarnya.

Pada saat Gak Lam-kun bergerak menuju kearah delapan buah bangunan loteng itu, dari atas atap bangunan tersebut berdirilah seperti sesosok bayangan sukma, kakek berwajah jelek dan berambut putih sepundak, dia tak lain adalah Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian.

Setelah tertawa dingin berulangkali dengan suara menyeramkan, secepat kilat ia menguntit kearah mana Gak Lam-kun pergi.

Dalam waktu singkat Gak Lam-kun telah tiba didepan kedelapan buah bangunan loteng itu, diantara hembusan angin semilir dan dibawah cahaya bintang yang gemerlapan serta rembulan yang separuh bulat, tampak kedelapan buah bangunan loteng itu begitu megah, kokoh dan menyeramkan.

Atap rumah yang berjajar serta saling bersambungan berdempetan langsung dengan delapan buah bangunan loteng tersebut, bangunan itu benar-benar luar biasa, cukup dilihat dari kesemuanya itu dapat diketahui bahwa luas bangunan mencapai berhektarhektar luasnya.

Gak Lam-kun menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan kening berkerut ia melayang turun kebawah dan masuk kebalik bangunan tersebut.

Halaman bangunan yang kokoh dan megah kecuali dipenuhi dengan bangunan rumah dan berjejer serta loteng yang menjulang keangkasa, disekeliling tembok pekarangan yang lebar telah dipenuhi dengan pohon-pohon bunga yang rapat.

Yang lebih istimewa lagi ternyata setiap gerombolan bebungahan tersebut secara kebetulan menutup setiap pintu masuk menuju kebangunan loteng tadi dan diantara setiap gerombolan bunga yang lebat berdiri sebatang pohon siong yang tinggi dan besar membuat halaman itu tampak lebih megah dan menawan.

Diam-diam Gak Lam-kun menghela napas panjang, pikirnya.

"Sungguh tak kusangka diatas pulau yang terpencil ini ternyata terdapat sebuah bangunan semegah itu..."

Berpikir demikian, pelan-pelan Gak Lam-kun masuk melalui sudut barat daya, setelah melewati gerombolan semak dan bunga serta membeloki juga beberapa tikungan akhirnya ia sudah melampaui semak belukar itu sejauh belasan kaki lebih.

Akan tetapi, menanti Gak Lam-kun memperhatikan kembali keadaan disekelilingnya, kontan saja ia berdiri tertegun dengan wajah penuh rasa kaget...

Ternyata dihadapannya tidak terlihat lagi kedelapan buah bangunan loteng itu, dimana ia berdiri sekarang tidak lain adalah pintu masuk dimana ia berjalan masuk tadi, kedelapan buah bangunan loteng itu justru berada dibelakangnya.

Gak Lam-kun pada dasarnya adalah seorang pemuda yang cerdik dan cekatan dengan cepat ia tahu bahwa gerombolan semak dan bunga itu ditanam menurut kedudukan suatu ilmu barisan yang amat sakti.

Sekalipun demikian Gak Lam-kun yang tinggi hati tidak percaya kalau barisan selihay itu sanggup membelenggu dirinya.

Ia merasa cukup mempunyai bekal dalam ilmu barisan terutama dibawah petunjuk gurunya Tok liong cuncu Yo Long.

Setelah termenung sambil memperhatikan sekejap posisi ilmu barisan itu akhirnya Gak Lam-kun memutuskan untuk menerobos masuk lewat bagian tengah gerombolan semak itu.

Setelah berputar melalui beberapa tikungan akhirnya ia muncul dari mulut semak tadi tapi kembali ia menjadi tertegun setelah memperhatikan keadaan disekitar sana.

Apa yang terjadi?

Ternyata ia telah balik kembali kemulut masuk semula, bahkan sepasang kakinya balik kembali keatas bekas telapak kaki semula.

Gak Lam-kun segera putar badan sambil memperhatikan kembali barisan bunga itu dengan seksama, sepasang keningnya tiba-tiba berkerut kencang, karena terbukti sudah kalau barisan tersebut benar-benar amat rumit dan kalut.

Kalau dibilang seperti barisan pat kwa, ternyata tidak mirip pat kwa, kalau dibilang seperti barisan Ngo heng nyatanya bukan ngo heng, untuk sesaat dia tak tahu barisan apakah itu?

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Gak Lam-kun.

"Kenapa aku tidak melompat keatas atap rumah untuk coba memecahkan barisan ini?"

Berpikir sampai disitu si anak muda itu segera melompat keatas rumah dan melewati dua buah bangunan rumah sekaligus.

Beberapa bangunan sudah dilewatkan kembali menurut perhitungan Gak Lam-kun ia sudah melewati belasan buah bangunan selama ini, tapi jaraknya dengan bangunan loteng disebelah selatan yang selisihnya cuma tujuh delapan buah rumah itu masih tetap terpaut lima enam buah bangunan rumah.

Kali ini Gak Lam-kun benar-benar merasa terperanjat, mimpipun ia tidak menyangka kalau bangunan rumahpun dibangun sesuai dengan kedudukan suatu ilmu barisan.

Kini ia sudah terjebak ditengah-tengah barisan rumah, mau masuk tidak bisa mau keluar juga tidak dapat, ia sungguh-sungguh menjadi bingung dan tidak habis mengerti.

Pada saat itulah dari balik kegelapan kurang lebih beberapa kaki disebelah kiri terdengar seseorang sedang tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan.

"Gak Lam-kun, lebih baik duduklah untuk beristirahat malam ini, anggap saja kita buang tenaga dengan percuma!"

Gak Lam-kun kenali suara itu sebagai suara dari Jit poh lui sim ciam Lui Seng thian, pelan-pelan ia lantas berjalan menghampirinya.

Tampak seorang kakek berwajah jelek sedang duduk diatas atap rumah sambil mengatur napasnya yang terengah-engah, dia bukan lain adalah Jit poh lui sim cim Lui Seng thian.

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 4

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert