Eps 5 Pendekar Cacad - Gu Long
Baca online Pendekar Cacad - Gu Long
Cersil Pendekar Cacad - Gu Long.
"Aku tinggal di rumah penginapan Hong-tok-ciu-lau, kapan saja aku akan menantikan kedatanganmu. Sekarang Siangkoan-lojin sudah terluka, terutama pada sekitar urat nadi Liau-lok-keng-meh, jika kau tidak segera mengurut jalan darahnya dengan menggunakan tenaga dalam, seperempat jam lagi dia akan muntah darah tiada hentinya, dalam keadaan seperti itu, meski ada obat dewa pun jangan harap bisa menyelamatkan jiwanya."
Dingin perasaan Mo Siau-pak mendengar itu, meski tangan kanannya sudah meraba gagang pedang, namun senjata itu tak dicabut. Dia tertawa dingin, lalu ujarnya.
"Baiklah! Aku Mo Siau-pak pasti akan menyambangimu."
Dalam pada itu Jian-ciat-suseng sudah berada sejauh tujuh-delapan depa dari tempat semula, dia tidak mungkin berpaling atau memberikan reaksi, dengan langkah tetap terus menelusuri sungai.
Dari kejauhan dia nampak begitu menyendiri dan kesepian.
Benar, sejak dia terjun kembali ke dunia persilatan, selama tiga bulan terakhir ini dia telah mengunjungi gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong.
Dia pun telah berkunjung ke kuil Nikoh Keng-tim-an.
Namun tak seorang ditemukan, pada dasarnya dia sudah seorang diri, sekarang semakin merana dan menyendiri lagi.
Hari ini, sewaktu berada di Hong-tok-ciu-lau, dia telah bertemu dengan seorang kenalan lama, pendekar sastrawan dari kota Im-ciu Thia Leng-juan, sebenarnya dia ingin sekali bercakap dengannya, namun satu ingatan lain membuatnya harus mengurungkan niatnya itu.
Dia tahu dengan tenaga dalam maupun ilmu silatnya sekarang, cukup baginya untuk menjagoi dunia persilatan, namun meski dia berhasil meraih gelar tokoh nomor wahid di kolong langit, apakah artinya semua itu?
Nama Jian-ciat-suseng sudah cukup menggetarkan sukma setiap umat persilatan di kolong langit, dia tahu saat guntur menggelegar dan hujan badai berhembus akan tiba, oleh sebab itu dia harus secepatnya menyelesaikan masalahmasalah yang mengganjal hatinya, kemudian secepatnya mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan mencicipi kehidupan yang penuh bahagia.
Seseorang yang sangat mencintainya kini hidup sebatangkara di rumah gubuk di tengah bukit yang terpencil, dia tak boleh meninggalkan dirinya terlalu lama.
Dalam perjalanannya ke ibukota kali ini, seandainya jejak orang-orang Put-gwa-cin-kau belum juga ditemukan, terpaksa dia harus pulang ke gunung secepatnya, sebab perjalanan di Bu-lim telah membuatnya jemu, bosan dan muak.
Entah sejak kapan Jian-ciat-suseng telah berhenti di tepi sungai, menundukkan kepala dan memandang arus air dengan terpesona.
Mendadak dia mengangkat kepala dan menegur dengan suara sedingin salju.
"Mengapa kalian berempat mengikutiku terus?"
Sewaktu bicara, mata Jian-ciat-suseng masih saja memandang arus air sungai dengan termangu, berpaling pun tidak.
Rupanya entah sedari kapan, di belakangnya telah muncul tiga orang pemuda berbaju perlente dan seorang gadis berbaju merah, mereka berempat bukan lain dari Hui-eng-sukiam.
Pemuda kurus bertahi lalat yang merupakan pimpinan Huieng-su-kiam yakni Gin-ho-eng (Burung sungai perak) Tio Im segera menuju ke depan dan menyahut dengan hormat,"
Huieng-su-kiam membuntuti. saudara karena kami ada satu persoalan yang hendak dibicarakan!"
Jian-ciat-suseng belum juga berpaling, hanya tanyanya dengan suara hambar.
"Masalah apa?"
"Kami empat bersaudara memohon padamu untuk menerima kami sebagai anak buahmu."
Ketika mendengar perkataan itu, pelan-pelan Jian-ciatsuseng membalik badan dan mengawasi wajah Hui-eng-sukiam dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu, dia mengawasi orang-orang itu dari atas sampai ke bawah, namun mulutnya tetap membungkam.
Dengan suara merdu Yu Hong-hong berkata.
"Ilmu silat Tayhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tentu saja kemampuan kami berempat tak banyak membantu, namun kami empat bersaudara amat mengagumi sepak terjang Tayhiap dan ingin sekali membaktikan diri padamu, entah sebagai pembawa barang atau pesuruh sekali pun, hal ini akan merupakan suatu kebanggaan bagi kami. Itulah sebabnya kami memohon kepada Tayhiap sudilah menerima kami."
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, ujarnya pelan-pelan.
"Ai, baiklah aku bersedia menerima kalian."
"Sungguhkah itu?"
Yu Hong-hong tak kuasa menahan rasa gembiranya, dia segera berteriak.
"Kau ... kau tidak membohongi kami?"
Sekali lagi Jian-ciat-suseng menghela napas panjang.
"Ai, aku tak membohongi kalian, yang kubutuhkan sekarang adalah melakukan suatu usaha besar yang akan menggemparkan dunia persilatan."
Dia berhenti sejenak dan mengangkat kepala memandang sekejap ke arah Hui-eng-su-kiam, kemudian lanjutnya.
"Aku bukan menerima kalian sebagai pesuruhku, melainkan mengundang kalian berempat untuk menggabungkan diri dalam perkumpulanku, yakni perkumpulan Tiong-yang-hwe!"
Pelan-pelan Jian-ciat-suseng mengangguk.
"Benar, hari ini adalah bulan sembilan tanggal sembilan dari Tiong-yang, perkumpulan kami ini merupakan perkumpulan yang didirikan pada saat ini di kala kalian Hui-eng-su-kiam menggabungkan diri, oleh sebab itu kunamakan perkumpulan ini sebagai Tiongyang-hwe."
Kemudian setelah termenung sejenak, dia menyambung lebih lanjut.
"Di balik semua itu, sebetulnya masih mengandung satu makna lain, yakni aku pernah mati sekali dan sekarang bangkit kembali ke alam semesta. Entah bagaimana pendapat kalian tentang nama ini?"
Lo-sam dari Hui-eng-su-kiam yakni Siau-hiang-eng (Burung harum) The Goan-ho segera bertepuk tangan sambil berseru lantang.
"Bagus, bagus! Nama Tiong-yang-hwe memang bagus, tidak perlu memakai 'pang' cukup memakai 'hwe', menunjukkan kesan halus dan berseni, sehingga tidak ada hawa kekerasan sama sekali."
Dan perkumpulan Tiong-yang-hwe pun secara resmi didirikan pada saat itu, dunia persilatan pun bertambah lagi dengan satu organisasi baru.
Ketua Tiong-yang-hwe dijabat oleh Jian-ciat-suseng, kecuali ketua, untuk sementara waktu tidak diangkat jabatan lain.
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng mengunjuk sikap serius, katanya dengan suara dalam.
"Setiap perkumpulan yang didirikan pasti mempunyai peraturan perkumpulan, cita-cita, maksud tujuan, serta tata-cara, namun sekarang karena belum ada waktu untuk menyelesaikan hal ini, maka yang kita pegang sebagai prinsip sekarang adalah kepercayaan, mulai hari ini Hui-engsu-kiam sudah merupakan bagian dari Tiong-yang-hwe, aku harap kalian suka memegang prinsip hidup kita, yaitu setia, berbakti, bajik, cinta kasih, dapat dipercaya, setia-kawan, kerukunan dan kedamaian. Asalkan kalian melaksanakan kedelapan prinsip ini, sudah pasti perbuatan kalian benar."
"Orang yang bergabung dengan perkumpulan kita, bilamana melakukan pelanggaran, sudah tentu akan memperoleh hukuman yang sangat berat."
"Tugas utama perkumpulan sekarang adalah mengembangkan pengaruh organisasi serta menerima anggota baru, tapi perkumpulan kita tidak memandang perlu mencari anggota sebanyak-banyaknya, yang penting adalah mereka yang berhati murni dan benar-benar berkemampuan tinggi, jadi setiap orang yang bergabung harus memiliki ilmu silat dan watak yang baik, sebelum dilakukan penyelidikan yang seksama, siapa pun tak akan diterima menjadi anggota."
Dengat sikap hormat dan serius, Hui-eng-su-kiam mendengar wejangan Jian-ciat-suseng, tak seorang pun yang bersuara.
Ketika pemuda itu telah menyelesaikan kata-katanya, Yu Hong-hong baru menghela napas panjang, katanya lirih.
"Kami berempat merasa bangga bisa menjadi anggota Tiong-yanghwe, namun ada satu hal yang membuat kami malu untuk menjadi bagian Tiong-yang-hwe."
Dengan sorot mata tajam Jian-ciat-suseng memandang sekejap ke arah gadis itu, tukasnya.
"Apakah kalian merasa ilmu silat yang kalian miliki terlalu cetek?"
"Benar!"
Yu Hong-hong manggut-manggut.
"Ilmu silat Huieng-su-kiam terlalu cetek, sesungguhnya kami masih belum pantas untuk bergabung dengan Tiong-yang-hwe."
Jian-ciat-suseng tersenyum.
"Ilmu silat yang kalian miliki sekarang sudah boleh dibilang mencukupi, untuk menjadi seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, maka harus memiliki tiga syarat utama, yakni guru yang pandai, waktu yang cukup, serta kecerdasan yang melebihi orang lain. Bilamana ketiga syarat itu kurang satu, maka sekali pun dia merupakan jago yang berilmu tinggi, mustahil dapat mencapai tingkatan sempurna."
"Sekarang akan kukatakan asal-usulku kepada kalian agar kalian tahu kisah perjalananku menempuh pelajaran ilmu silat, cuma orang persilatan belum mengetahui jelas tentang asalusulku ini, aku harap setelah kalian tahu nanti, janganlah disebar-luaskan kepada orang lain. Perlu kalian catat, dalam menghadapi persoalan, semakin kita dapat merahasiakan sesuatu, sesungguhnya hal ini semakin baik."
"Petunjuk Hwecu memang sangat tepat, kami pasti akan menuruti petunjuk Hwecu,"
Kata Gin-ho-eng Tio Im dengan suara lantang. Perlahan Jian-ciat-suseng berkata.
"Guruku yang pertama adalah almarhum Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, Bengcu persekutuan dunia persilatan."
Mendengar nama itu, dengan terkejut Yu Hong-hong segera bertanya.
"Kalau begitu kau adalah si Toan-jong-hongliu Yu ...."
Sambil menggeleng kepala, Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, sahutnya.
"Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui adalah Ji-suhengku, aku adalah murid terakhir Bu-lim Bengcu, mungkin kalian tak mengenal namaku, sebab sebelum aku terjun dan berkelana di Bu-lim, aku sudah diusir dari perguruan oleh guruku. Di bawah bimbingan Oh Ciong-hu bengcu almarhum, aku sudah memperoleh pendidikan ilmu silat selama dua belas tahun, aku mulai belajar ilmu silat sejak berusia tujuh tahun."
"Setelah dikeluarkan dari perguruan, aku telah berjumpa dengan seorang tokoh berilmu tinggi dimana aku memperoleh pelajaran berbagai ilmu silat dari aliran yang ada di dunia ini selama tujuh tahun, siapakah tokoh ini untuk sementara waktu namanya aku rahasiakan lebih dulu, tapi dia adalah guruku yang kedua."
"Guruku yang ketiga adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay, dia hanya sempat memberi pelajaran silat semalam kepadaku, namun kepandaian silat yang diwariskannya kepadaku justru merupakan rahasia ilmu silat kaum lurus, itulah sebabnya dalam waktu singkat aku telah berhasil menguasai ilmu berbagai aliran."
Mendengar sampai di sini, Hui-eng-su-kiam merasa terperanjat, Oh Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio merupakan dua tokoh yang maha sakti dalam Bu-lim, tak disangka dua tokoh sakti itu ternyata guru Hwecu mereka, tak heran ilmu silat ketua mereka lihai sekali.
Tapi siapakah nama yang sebenarnya dari ketua mereka?
Dari balik mata Hui-eng-su-kiam segera terlintas sinar mata penuh tanda tanya.
Pelan-pelan Jian-ciat-suseng melanjutkan kembali.
"Sekali pun aku telah berjumpa dengan tiga orang guru pandai dan mempelajari hampir seluruh ilmu silat yang ada di dunia ini, namun berhubung waktu yang kurang, aku belum dapat meresapi seluruh intisari kepandaian itu."
"Akibatnya tiga tahun berselang aku telah dibunuh orang."
"Tapi Thian memang maha pengasih, nampaknya ajalku belum tiba sehingga nyawaku dikembalikan lagi ke alam semesta ini. Tiga tahun lamanya kuselami dan kupelajari semua kepandaian silat yang pernah kupelajari, akhinya jerihpayahku tidak sia-sia, aku berhasil menemukan kunci ilmu silat sesungguhnya."
"Sejak mulai belajar silat hingga mencapai keberhasilan seperti saat ini, aku membutuhkan waktu dua puluh tiga tahun lamanya, coba bayangkan sendiri baru berapa tahun kalian berlatih ilmu silat? Itulah sebabnya seperti apa yang kukatakan tadi, untuk menjadi seorang jago silat yang berilmu tinggi, tak mungkin bisa dibina dan dipupuk dalam waktu singkat."
Tiba -tiba Yu Hong-hong bertanya.
"Bolehkah aku bertanya, bukankah nama Hwecu adalah Ko Hong?"
Jian-ciat-suseng tersenyum.
"Nama Ko Hong adalah nama samaran yang telah kugunakan tiga tahun lalu, nama itu bukan namaku yang sesungguhnya."
Mendengar hal ini, Hui-eng-su-kiam bersama-sama menjerit kaget.
"O, rupanya kau adalah pendekar misterius Ko Hong yang amat termasyhur namanya tiga tahun lalu, kami benar-benar merasa gembira, sungguh tak disangka kami telah bertemu pemimpin tulen yang ampuh dan benar-benar berkemampuan."
Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, katanya kemudian, '"Dikarenakan berbagai alasan, tiga tahun berselang bukan saja aku telah berganti nama menjadi Ko Hong, bahkan telah mengubah pula wajah asliku, maka semua orang tak mengetahui asal-usul dan nama asliku."
"Sesungguhnya nama asliku adalah Bong Thian-gak. Di kemudian hari kalian boleh memanggil namaku ini secara langsung."
Rupanya Jian-ciat-suseng ini bukan lain adalah Bong Thiangak.
Rupanya setelah meninggalkan Song Leng-hui, Bong Thiangak langsung berangkat dari kota Lok-yang menuju ke gedung Bu-lim Hengcu di kota Kay-hong.
Siapa tahu gedung Bu-lim Bengcu telah berubah menjadi gedung kosong yang tak berpenghuni.
Dia pun berangkat ke kuil Keng-tim-an untuk mencari Keng-tim Suthay, siapa tahu kuil pun dalam keadaan kosong tak berpenghuni.
Hanya dalam tiga tahun, situasi dunia persilatan telah mengalami perubahan besar.
Padahal cita-cita serta tujuan yang utama kemunculan Bong Thian-gak kali ini adalah melenyapkan Put-gwa-cin-kau dari muka bumi.
Siapa tahu gerak-gerik maupun jejak Put-gwa-cin-kau seakan-akan punah begitu saja dari muka bumi.
Dalam putus asanya dan tiada cara lain yang bisa diperbuat, akhirnya Bong Thian-gak mulai menantang semua jago lihai dari berbagai partai dan perguruan untuk merobohkan mereka satu per satu.
Hanya dalam tiga bulan saja ia telah berhasil merobohkan ratusan jago persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng pun semakin membekas dalam hati para jago persilatan.
Sesungguhnya dia berbuat demikian karena terpaksa, tak bisa disangkal lagi dia ingin memancing kemunculan rekanrekan lamanya yang telah menyembunyikan diri agar tampil kembali ke dalam Bu-lim.
Di samping itu, tentu saja dia ingin memancing munculnya orang-orang Put-gwa-cin-kau.
Pada saat bersamaan dengan munculnya kembali Bong Thian-gak, dalam Bu-lim dihebohkan oleh munculnya seorang iblis perempuan yang amat lihai, Si-hun-mo-li (Iblis wanita perenggut nyawa).
Berdasar penuturan orang, Bong Thian-gak menduga perempuan itu adalah Jit-kaucu Thay-kun.
Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak mendengar kabar bahwa Si-hun-mo-li telah muncul di ibukota, maka dia pun segera berangkat ke kota terlarang dengan tujuan hendak membuktikan apakah Si-hun-mo-li itu benar Thay-kun atau bukan.
Dalam hati Bong Thian-gak, Thay-kun telah menempati posisi yang amat penting, walau antara mereka belum pernah mengucapkan kata cinta, namun dalam hati kecil kedua orang itu sesungguhnya sudah bersemi setitik bunga cinta.
Cuma sayang bibit cinta itu sudah hancur dan musnah sejak tiga tahun berselang.
Dengan kesetia-kawanan, demi peri-kemanusiaan, Bong Thian-gak merasa wajib untuk menyelidiki mati-hidup Thaykun.
Apalagi mati hidup Thay-kun menempati pula posisi yang maha penting dalam Bu-lim.
Bong Thian-gak berkata lagi.
"Sejak kini kedudukan kalian berempat dalam Tiong-yang-hwe menempati posisi yang amat penting, tentu saja apabila ilmu silat yang kalian miliki tidak lihai dan melebihi orang lain, sulit untuk menanggung tugas berat ini."
"Oleh sebab itu aku mengambil keputusan hendak mewariskan semacam ilmu pedang maha sakti yang bisa dikuasai dalam waktu singkat untuk kalian berempat."
Tak terlukiskan rasa kaget dan gembiranya Hui-eng-sukiam mendengar janji itu, pertama-tama Yu Hong-hong yang menjatuhkan diri berlutut lebih dulu, katanya.
"Budi kebaikan yang Hwecu berikan tak pernah kami berempat lupakan."
Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi.
"Seseorang yang berlatih ilmu silat bukanlah bertujuan untuk mencari nama atau merobohkan orang lain, baik-buruknya kepandaian silat pun tergantung mental dan watak seseorang, jika orang itu berangasan atau buas dan kejam, maka mustahil ilmu silatnya dapat mencapai kesempurnaan, dalam hal ini kalian belum dapat memahami secara keseluruhan, namun di kemudian hari bila ilmu silat yang kalian miliki sudah memperoleh kemajuan pesat, sudah pasti akan kalian sadari ucapan ini bukan omong kosong belaka."
"Ilmu pedang yang hendak kuwariskan kepada kalian sekarang sebenarnya hanya terdiri dari satu jurus saja, namun di balik satu jurus itu sebenarnya mengandung tiga gerakan yang berbeda."
"Dari ketiga gerakan itu, hanya terdapat satu gerakan yang merupakan jurus serangan, sedang dua gerakan yang lain merupakan jurus pertahanan."
"Ilmu pedang satu jurus dengan tiga gerakan ini walaupun cuma satu gerakan yang merupakan gerak serangan, tapi serangan itu sangat ganas, dahsyat dan luar biasa, begitu serangan dilepaskan, korban pasti roboh, oleh sebab itu aku ingin berpesan kepada kalian, andaikata keadaan tidak terpaksa, jangan sekali-kali kalian gunakan gerak serangan itu secara sembarangan."
Serentak Hui-eng-su-kiam berkata.
"Kami akan menuruti perintah Hwecu, bila melanggar, kami bersedia menerima hukuman."
Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat ini, lalu berkata pula.
"Sekarang mari kita mundur ke balik hutan sebelah sana dan mulai berlatih ilmu pedang."
Selesai berkata, Bong Thian-gak segera mengajak Hui-engsu-kiam berjalan menuju ke dalam sebuah hutan kecil di sebelah kanan jalan.
Bong Thian-gak memungut sebatang ranting kering, kemudian pelan-pelan berkata.
"Jurus pedang dinamakan Coatin-toh (Peta barisan ular), dari namanya tentu kalian sudah memahami, cara menggunakan jurus serangan ini adalah sambil bertahan melancarkan serangan."
"Gerakan pertama disebut Coa-tin-in-sian (Barisan ular mulai tampak), menghadapi jurus serangan macam apa pun, kaki kiri mundur selangkah sambil memutar badan setengah lingkaran, pedang bergerak dari ketiak kiri melintang ke depan."
"Gerakan kedua disebut Siu-heng-gi-wi (Cabut badan bergeser tempat), merupakan gerak lanjutan, kaki kanan bergeser selangkah ke kanan, tanpa mengubah posisi pedang, badan berganti posisi, pedang kanan pun berubah ancaman, dengan mata pedang menusuk permukaan tanah."
"Sedangkan gerakan ketiga disebut Coa-si-ci-toh (Lidah ular menjulur keluar), menjatuhkan badan ke arah lawan, namun pedang yang menusuk ke arah bawah tiba-tiba meletik dan menusuk ke arah belakang."
"Jurus Coa-tin-toh ini boleh dipergunakan secara beruntun, boleh juga digunakan tersendiri, tapi daya pengaruh yang dipancarkan tentu saja jauh lebih besar bila kita menggunakannya secara beruntun."
"Satu jurus dengan tiga gerakan ini kelihatannya seperti sederhana sekali, namun untuk memahami intisarinya kalian harus berlatih puluhan kali, dengan begitu kalian bisa maju setapak lebih ke depan dan melatihnya hingga mencapai kesempurnaan, pengaruhnya akan jauh lebih besar lagi."
"Asal satu jurus dengan tiga gerakan ini sudah kalian kuasai, sekali pun menghadapi seorang jago pedang yang berilmu sangat tinggi, tidak susah untuk menusuk hulu hatinya."
"Nah, sekarang aku akan pulang dulu ke Hong-tok-ciu-lau, aku berdiam di kamar nomor tiga puluh enam, selesai berlatih nanti kembalilah ke sana."
Begitu selesai berkata, Bong Thian-gak membalikkan badan keluar dari hutan kecil itu dan kembali ke penginapan Hongtok-ciu-lau.
oo Bulan sembilan di wilayah utara, udara terasa sangat dingin merasuk tulang.
Rembulan tertutup awan, bintang menyembunyikan diri, malam itu sangat gelap-gulita.
Dalam kamar nomor tujuh puluh sembilan Hong-tok-ciulau, nampak cahaya lentera masih bersinar terang, kendati tengah malam sudah lewat.
Kamar itu ditempati dua orang berbaju putih, wajah kedua orang itu aneh sekali, yakni berwarna hitam dan putih yang bercampur aduk, jelek dan aneh bukan kepalang.
Perawakan tubuh mereka kurus kering dan jangkung, matanya melotot besar dan menyinarkan sinar kebuasan.
Waktu itu kedua orang itu sedang duduk di ruang tamu, agaknya mereka sedang menantikan seseorang.
Mendadak orang di sebelah kiri berkata.
"Kentongan ketiga sudah lewat, aneh, mengapa mereka belum juga datang?"
Orang yang di sebelah kanan menyahut dengan suara yang menyeramkan pula.
"Menurut keterangan si perantara, tengah malam nanti dia pasti datang."
Baru selesai dia berkata, cahaya lentera berguncang keras, lalu terendus bau harum yang menyegarkan.
Serentak kedua orang aneh itu mendongakkan kepala.
Kedua orang itu terperanjat dengan mata terbelalak lebar.
Rupanya di ruang tamu itu sudah berdiri seorang gadis cantik rupawan, sepasang biji matanya yang sangat jeli dan membetot sukma sedang mengawasi kedua orang berbaju putih yang jelek dan aneh itu tanpa berkedip.
Tiba-tiba sekulum senyum manis menghiasi wajahnya yang cantik hingga terlihat sepasang lesung pipinya yang indah.
Pada dasarnya dia memang berwajah cantik bak bidadari dari kahyangan, ditambah pula dengan senyuman yang menawan, boleh dibilang siapa pun pasti akan terpikat olehnya.
Terutama senyumannya itu, begitu indah dan cantik membuat sukma orang serasa mau terbang rasanya.
Kedua orang aneh berbaju putih itu seakan-akan tak berani mempercayai apa yang terpampang di depan matanya, mereka berpaling bersama, kemudian salah seorang di antaranya segera menegur pelan.
"Kau ... kau ... kau ... adalah Si-hun-mo-li?"
Sesungguhnya pertanyaan orang aneh itu berlebihan, sebab Si-hun-mo-li tidak akan sembarangan menampakkan diri, dia memerlukan perantara untuk mencari langganannya.
Si-hun-mo-li baru akan muncul bagai sukma gentayangan apabila si perantara sudah mengaturkan segalanya.
Kedua orang aneh berbaju putih ini merupakan bajingan cabul yang termasyhur di kolong langit, mereka memang gemar main perempuan, tapi setelah berjumpa dengan Sihun-mo-li hari ini, mereka berdua ketakutan, ngeri dan jeri menghadapi kecantikannya itu.
Menurut kabar yang tersiar di Bu-lim, barang siapa bermain cinta dengan Si-hun-mo-li, maka sukmanya akan lenyap.
Berita yang tersiar itu menggidikkan siapa pun yang mendengar.
Tapi sungguhkah itu?
Atau cuma isapan jempol belaka?
Oleh karena mereka berdua belum membuktikan sendiri, maka kedua orang ini pun belum tahu.
Si-hun-mo-li tidak menjawab pertanyaannya, sekulum senyuman kembali menghiasi wajahnya yang cantik.
Senyuman untuk kedua kalinya ini membuat kedua orang aneh berbaju putih itu tak dapat menggeser matanya.
Sebab pada saat itulah Si-hun-mo-li telah melepas mantel luarnya sehingga nampak pakaian dalamnya yang tipis dan berwarna kuning menerawangkan tubuh bagian dalamnya yang putih mulus dan membetot sukma itu ....
Ya, gadis itu memang memiliki tubuh yang indah, memukau hati, merangsang napsu birahi dan membuat hati orang berdebar keras.
Orang aneh yang bersuara seperti jeritan setan itu berseru lantang.
"Loji, apakah kau sanggup bersabar? Perempuan ini benar-benar menggairahkan, sekali pun seperti apa yang dikabarkan orang. Semalam bercinta sukma melayang, kita patut mencobanya, cuma apakah dia bersedia melayani kita secara bergilir?"
Orang berbaju putih lainnya segera menyahut.
"Lotoa, aku sudah tak mampu menahan diri, selama hidup belum pernah kujumpai wanita yang begitu cantik dan menawan hati seperti dia."
Si-hun-mo-li tersenyum lagi, senyuman untuk ketiga kalinya.
Menyusul kemudian pakaian tipis pun pelan-pelan terlepas dari atas badannya.
Tampaknya kedua orang berbaju putih itu sudah tak mampu menahan diri lagi, secepat kilat mereka bertindak.
"Blam", pintu ruangan sudah ditutup rapat-rapat. Di bawah cahaya lentera, terlihatlah tubuh pfempuan yang bugil dan indah terpapar di depan mata. Mata kedua orang berbaju putih itu melotot memancarkan napsu birahi, tiada hentinya mengawasi tubuh bugil Si-hunmo-li. Biar besok harus mati, malam ini mereka merasa wajib mencari kepuasan. oo Keesokan harinya, di kamar nomor tujuh puluh sembilan Hok-tok-ciu-loo telah ditemukan dua sosok mayat. Mereka tewas dalam keadaan telanjang bulat, tertutup oleh kain dan baju yang kotor. Yang lebih menggemparkan masyarakat adalah kedua orang itu bukan lain adalah Hek-liong-kang-siang-cho (sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang) yang termasyhur namanya di Bu-lim. Kepandaian silat serta kecabulan kedua orang jelek dari Hek-liong-kang ini sudah cukup membuat orang persilatan pusing dan bergidik, tapi nyatanya mereka berdua ditemukan tewas dalam keadaan menyedihkan. Bahkan tewas di tangan Si-hun-mo-li yang cantik tapi berhati keji. Selama tiga bulan ini, belum pernah ada seorang lelaki pun di Bu-lim yang lolos dalam keadaan hidup setelah bermain cinta semalam suntuk dengan Si-hun-mo-li. Tentu saja tiada orang tahu macam apakah Si-hun-mo-li itu hingga memukau hati orang. Di kolong langit ini sesungguhnya hanya seorang saja yang pernah melihatnya, baik wajah maupun tubuh bagian rahasianya sekali pun. Tapi siapakah dia? Orang itu tak lain adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak. Dalam benak Bong Thian-gak, dia hanya berpendapat bahwa Si-hun-mo-li adalah Thay-kun. Sebab di kolong langit dewasa ini, tidak mungkin ada perempuan kedua yang memiliki perawakan badan begitu memukau perasaan laki-laki dan memiliki kekuatan yang begitu besar sehingga lelaki mana pun bersedia mengorbankan jiwanya. Bong Thian-gak yang berada dalam kamar nomor tiga enam Hong-tok-ciu-lau sedang duduk di ruang tamunya dengan wajah serius, sedang di empat kursi lainnya duduklah Hui-eng-su-kiam. Lima orang dari Tiong-yang-hwe hanya duduk termenung saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu berkata.
"Benar, aku ingin bertemu dengan Sihun-mo-li, sebab tujuanku kemari adalah ingin bertemu dengannya."
"Tentu saja kami tak berani memaksa Hwecu membatalkan niat itu,"
Kata Yu Hong-hong dengan sedih.
"Cuma ... bila Hwecu ingin bertemu dengannya, jangan berangkat seorang diri."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Tak usah kuatir,"
Katanya.
"Si-hun-mo-li tak bakal melahapku."
Sewaktu mendengar ucapan ini, merah padam wajah Yu Hong-hong karena jengah, bibirnya yang sudah bergetar hendak bicara segera diurungkan, sementara kepala pelanpelan ditundukkan rendah-rendah.
Tio Im berkata.
"Kepandaian silat maupun ketenangan Hwecu memang melebihi siapa pun, cuma aku tidak tahu dengan cara apakah Hwecu ingin bertemu Si-hun-mo-li? Konon dia tidak muncul setiap saat."
Bong Thian-gak menyahut.
"Ai, sesungguhnya persoalan inilah yang membuatku kesulitan, tentu aku harus mencari dulu si perantara."
Siau-hiang-eng The Goan-ho yang selama ini cuma membungkam tiba-tiba menimbrung.
"Menurut pendapatku baik si perantara maupun Si-hun-mo-li, bisa jadi semuanya berdiam pula dalam rumah penginapan ini"
"Samte, tersiar di Hong-tok-ciu-lau ini terdapat seratus delapan buah kamar, dengan cara apa kita bisa memeriksa semua kamar?"
Seru Boan-thian-eng (Burung pembalik jagad) Bu Siau-hong.
"Sekali pun tidak bisa juga harus diperiksa, kita tak boleh berpeluk tangan membiarkan Si-hun-mo-li mencelakai laki-laki lain lagi, siapa tahu suatu ketika dia akan mencari kita semua?"
"Tio Im,"
Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya.
"Apakah kau sudah berhasil memperoleh daftar tamu yang menginap di tempat ini?"
"Lapor Hwecu,"
Jawab Gin-ho-eng Tio Im dengan hormat.
"daftar nama para tamu sudah kuperoleh, tapi sebagian besar orang yang punya nama, mencantumkan nama palsu mereka di buku, misalkan saja Mo Siau-pak dari Kim-liong-kiam-sanceng serta Siangkoan-lojin, mereka tinggal di sini, namun di daftar tidak ditemukan namanya."
"Nama asli mereka tentu saja tak akan tercantum dalam daftar itu,"
Bong Thian-gak tertawa. Mendengar itu, semua orang lantas tertawa saling berpandangan penuh pengertian. Tiba-tiba Yu Hong-hong berseru dengan manja.
"Bonghwecu ...."
Karena sorot mata nona itu berkedip dan mengawasi dirinya tanpa henti, tanpa tetasa Bong Thian-gak bertanya.
"Hong-hong, kau ada urusan apa?"
"Ada satu masalah ingin kutanyakan kepada Hwecu, tapi apakah Hwecu mengizinkan?"
"Katakan saja terus terang, kita kan sudah orang sendiri."
"Apakah Hwecu kenal dengan ... dengannya?"
Tanya Yu Hong-hong agak tergagap. Tergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar pertanyaan itu, sahutnya.
"Aku hanya menduga saja, tidak terlalu pasti, itulah sebabnya aku harus melihat dengan mata kepala sendiri sebelum memastikan."
Tanya jawab kedua orang ini mengejutkan Gin-ho-eng Tio Im bertiga, serentak mereka berpikir.
"Yang dimaksud Sumoay sebagai dia, sudah pasti Si-hun-mo-li."
Sementara mereka masih berpikir, Yu Hong-hong telah berkata lagi dengan merdu.
"Hwecu teliti dan cermat, kecerdikanmu melebihi siapa pun, aku percaya apa yang kau duga tak akan meleset, bisa jadi Si-hun-mo-li benar adalah orang yang diduga oleh Hwecu."
"Hong-hong, apa yang hendak kau ucapkan? Tak usah ragu-ragu, katakan saja semuanya!"
Setitik air mata tampak menggenang di kelopak mata Yu Hong-hong, katanya.
"Aku kuatir setelah Hwecu bertemu dengannya, dia akan mencelakai jiwa Hwecu."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Andaikan Sihun-mo-li benar-benar orang yang kuduga, dia tak akan mencelakai jiwaku, bahkan siapa tahu dia enggan bertemu denganku."
"Ai, sebenarnya aku boleh saja mengatakan siapa dia, tapi meski sudah kusebut namanya pun belum tentu kalian kenal, lebih baik tak usah dikatakan saja."
Kembali Yu Hong-hong bertanya.
"Seandainya Si-hun-mo-li betul-betul adalah orang yang telah diduga Hwecu, maka apakah tindakan yang akan Hwecu lakukan?"
Bong Thian-gak mengangkat kepala dan termenung beberapa saat, lalu gumamnya.
"Semoga saja bukan dia."
"Berita yang tersiar di Bu-lim, dia dilukiskan sebagai setan iblis, perempuan siluman, gadis cabul, tapi aku meragukan kebenarannya. Itulah sebabnya aku harus bertemu dengannya, aku perlu membicarakan persoalan ini dengannya, sebab di saat kami berpisah dulu, dia adalah seorang gadis pemurung dan mudah putus asa, besar kemungkinan dia sudah tak bebas lagi."
Seandainya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun, Bong Thian-gak tahu gadis itu patut dikasihani, sebab dia tahu Cong-kaucu tak menanti akan melepaskan dirinya begitu saja.
Bila Thay-kun masih hidup, sekali pun tubuhnya adalah tubuh kasar miliknya, namun roh dan jiwanya sudah pasti bukan miliknya.
Tentu saja segala sesuatunya itu baru dapat menjadi jelas bila Bong Thian-gak telah bersua dengannya.
Untuk beberapa saat lamanya Hui-eng-su-kiam berdiri kaget, tertegun dan kebingungan mendengar perkataan Bong Thian-gak itu, mereka tidak tahu hubungan apakah yang pernah terjalin antara Hwecunya ini dengan Si-hun-mo-li.
Menyaksikan kesedihan dan kemurungan yang menghiasi wajah Bong Thian-gak, Yu Hong-hong menghela napas panjang, katanya.
"Harap Hwecu sudi memaafkan kelancanganku menanyakan masalah itu hingga mengungkap kembali kenangan pahit Hwecu di masa lampau."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Hong-hong, aku tak menyalahkan dirimu, aku hanya berharap agar kalian berempat mempercayai diriku, Bong Thian-gak tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe."
"Kami empat bersaudara sejak tiga tahun lalu membentuk Huieng-su-kiam, selama ini kami selalu bersama, ada kesulitan dipikul berbareng, hari ini kami telah menyerahkan diri untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe, berarti mati-hidup kami telah diserahkan pada Hwecu, sejak kini bila Hwecu ada perintah, maka baik mendaki bukit golok maupun terjun dalam minyak mendidih, kami empat bersaudara tak akan menampik."
Ucapan Tio Im ini diutarakan dengan tegas dan penuh kegagahan. Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Aku sangat bangga dapat memperoleh bantuan kalian berempat, semoga saja Tiong-yang-hwe bisa termasyhur di Bu-lim."
Setelah berhenti sejenak, dia menyambung lagi.
"Sekarang aku mempunyai suatu tugas yang hendak kuserahkan pada kalian berempat, sebelum matahari terbenam hari ini, kita berlima memisahkan diri ke lima arah melakukan pemeriksaan seksama terhadap setiap umat persilatan yang tinggal dalam Hong-tok-ciu-lau ini, tapi ingat! Apabila keadaan tidak memaksa, jangan sampai bentrok secara kekerasan."
"Baik,"
Sahut Hui-eng-su-kiam serentak.
Begitu perintah diturunkan, Hui-eng-su-kiam dan Bong Thian-gak berlima segera berpencar ke lima penjuru untuk mulai bertugas.
Bong Thian-gak menuju ke arah tengah, dia berjalan lebih dulu menuju ke kamar nomor tujuh, dia tahu ruangan ini ditempati oleh Thia Leng-juan.
Kamar itu yang termegah di Hong-tok-ciu-lau, satu di antara dua belas kamar istimewa, empat penjuru dikelilingi dinding rendah, pada arah timur dan barat dinding terdapat dua buah kebun bunga kecil, ada gunung-gunungan, gardu dan air mengalir.
Bong Thian-gak berdiri di luar dinding di halaman belakang di sebelah utara.
Rumah itu tertutup rapat, tampaknya Thia Leng-juan sedang keluar kamar.
Bong Thian-gak berdiri termenung beberapa saat, mendadak dia melompati dinding rendah itu dan langsung menuju ke kamar bagian belakang.
Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara teguran dengan suara dingin seperti es.
"Thia-tayhiap sedang keluar, memasuki kamar tanpa permisi, apakah kau tak kuatir disebut orang kurang adat?"
Suara teguran itu cukup dikenalnya, pelan-pelan Bong Thian-gak membalik badan. Terlihat majikan muda Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Siaupak sedang berdiri di belakang tubuhnya.
"Mo-siaucengcu mencari aku?"
Tegur Bong Thian-gak hambar. Mo Siau-pak tertawa dingin.
"Kau telah melukai Siangkoan-lotoa, karena itu Mo Siau-pak tak akan melepas dirimu begitu saja."
Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya dengan suara hambar.
"Di sini tiada orang, bila ingin bertarung, cabutlah pedangmu dan lancarkan seranganmu!"
"Pedangku tak pernah disarungkan tanpa hasil, kau tidak melolos pedangmu?"
"Sudah kukatakan, kalau ayahmu Mo Hui-thian mungkin masih pantas bagiku untuk mempergunakan pedang, bila kau menganggap tindakanku ini suatu penghinaan, lebih baik kau jangan turun tangan."
Berubah hebat paras muka Kiu-liong-sin-kiam Mo Siau-pak, bentaknya.
"Baik, kalau kau enggan menggunakan senjata, terpaksa aku akan mengalah tiga jurus, sekarang lancarkan dulu seranganmu."
"Hanya cukup dengan satu gebrakan saja kau akan keok, percaya tidak dengan perkataanku? Makanya aku selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk melancarkan serangan lebih dulu."
Mo Siau-pak benar-benar dibikin gusar oleh ucapan itu, sambil tertawa dingin secepat kilat tubuhnya menerjang ke muka.
Tatkala tubuhnya berada berhadapan dengan Bong Thiangak, pedang naga sembilannya dilolos dengan tangan kanan.
Cahaya pedang menyambar bagaikan bianglala lewat di sisi tubuh Bong Thian-gak.
"Cring", dentingan nyaring berkumandang memecah keheningan. Akibat bentrokan itu, Mo Siau-pak mencelat. Sedangkan pedang sembilan naganya rontok ke atas tanah, meski hawa pedang masih memancar, sayang sudah kehilangan kemampuan untuk melukai orang. Jian-ciat-suseng benar-benar hanya menggunakan satu jurus serangan saja dan Mo Siau-pak telah menderita kekalahan total. Bukan hanya menderita kekalahan saja, Mo Siau-pak bahkan tak sempat mengetahui jurus serangan apakah yang telah dipergunakan lawan untuk merontokan pedang dalam genggamannya itu. Dia hanya merasa pergelangan tangannya sakit sekali, tahu-tahu pedangnya sudah rontok ke atas tanah. Mo Siau-pak benar-benar tidak percaya dia menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja, tapi kenyataan sudah di depan mata, Jian-ciat-suseng memang tidak bergeser selangkah pun.
"Bret", pakaian bagian lengan kanan Jian-ciat-suseng rontok secara tiba-tiba ke atas tanah dan robek menjadi dua. Pada saat itulah terdengar Bong Thian-gak berkata.
"Kelihaian ilmu pedangmu sungguh di luar dugaanku, andaikata lenganku ini masih utuh, niscaya lenganku ini sudah pasti kau kutungi."
Perkataan Bong Thian-gak ini sama sekali tidak membuat paras muka Mo Siau-pak berubah, sebab dia tahu serangan pedangnya bukan menyerang melalui sisi sebelah kanan, ujung lengan baju kanan lawan tersayat putus oleh karena dia berhasil merontokkan pedangnya lebih dulu, saat tubuhnya berputar, ujung lengan baju kanan yang berkibar tak terkendali dan tersayat putus oleh mata pedangnya.
Beberapa patah kata Jian-ciat-suseng barusan, tidak lebih hanya sebagai hiburan bagi seorang yang baru menderita kekalahan.
Mendadak terdengar suara tawa bergema, dengan perasaan kaget Bong Thian-gak dan Mo Siau-pak berpaling.
Dari balik halaman rumah pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berbaju biru, dia bukan lain adalah pendekar sastrawan Im-ciu Thia Leng-juan.
Sambil tersenyum Thia Leng-juan berjalan menghampiri mereka, lalu membungkukkan badan mengambil pedang sembilan naga yang tergeletak di tanah, katanya.
"Hari ini mata orang she Thia baru terbuka, serangan pedang Mosiaucengcu benar-benar dahsyat, sedangkan pukulan Cuangcu ini pun hebat. Kalian berdua sama-sama tangguh dan hebat, setali tiga uang, siapa pun tak ada yang kalah."
Sembari berkata dia membawa pedang sembilan naga itu dan diangsurkan ke depan Mo Siau-pak. Tiba-tiba Mo Siau-pak menghela napas panjang, lalu berbisik.
"Ai, aku telah kalah, cuma yang membikin hatiku tak puas adalah mengapa saudara membiarkan aku kalah dalam satu gebrakan, tiada jago lihai yang mampu mengalahkan aku dalam satu gebrakan, kecuali ... kecuali ayahku sendiri."
Setelah menyerahkan pedang, Thia Leng-juan membalik badan dan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, kepada Bong Thian-gak dia bertanya.
"Mungkinkah saudara datang untuk mencari aku orang she Thia!"
Tergerak hati Bong Thian-gak ketika dilihatnya Thia Lengjuan tidak mengenali dirinya, pikirnya.
"Ya, benar! Dulu aku telah menyaru wajah dan sekarang muncul dengan wajah asli, tak heran Thia Leng-juan tak mengenali diriku lagi!"
Kemudian sambil tersenyum dia menyahut.
"Benar, aku memang ingin menyambangi pendekar sastrawan dari Im-ciu!"
Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tak usah bertarung pun aku orang she Thia mengakui aku bukan tandinganmu."
Rupanya Thia Leng-juan mengira Bong Thian-gak mencarinya untuk menantang duel.
Perbuatan Thia Leng-juan sebelum bertarung sudah mengaku kalah pun merupakan perbuatan yang mustahil dilakukan orang lain, mungkin di kolong langit ini tiada manusia yang bisa berbuat seperti ini.
"Ai,"
Bong Thian-gak menghela napas.
"Jian-ciat-suseng bukan seorang yang gemar mencari gara-gara tanpa alasan, harap Thia-tayhiap jangan salah sangka."
"Kalau begitu, ada urusan apa kau mencariku? Aku orang she Thia siap mendengar penjelasanmu,"
Kata Thia Leng-juan sambil tertawa. Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata.
"Seingatku, tiga tahun lalu Thia Leng-juan pernah berada di gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong."
Sampai di situ, dia lantas membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
Sementara paras muka Thia Leng-juan berubah hebat, tapi hanya sebentar saja sekulum senyuman sudah kembali menghiasi wajahnya, dia berkata pula.
"Ya, aku pun merasa seakan-akan pernah bersua denganmu di suatu tempat."
Hati Bong Thian-gak bergetar, sebenarnya ia ingin mengungkap asal-usul sendiri, tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa di balik sorot mata Thia Leng-juan seakanakan terpancar serentetan sinar membunuh yang mengerikan.
Maka dengan kening berkerut, sahutnya hambar.
"Tengah hari kemarin, kita pernah bersua di tempat makan."
"Bukan hanya kemarin."
"Kalau begitu, dapatkah Thia-tayhiap menerangkan dimanakah kita bersua lagi?"
Bong Thian-gak balik bertanya. Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, justru aku orang she Thia tak bisa mengingatnya kembali."
"Padahal kita baru bersua pertama kali di kota terlarang ini."
"Hahaha, aku orang she Thia memang tidak pandai melayani tamu, silakan saudara dan Mo-siaucengcu masuk untuk minum teh!"
Sembari berkata, Thia Leng-juan segera berjalan lebih dulu menuju ke ruang tamu. Tapi secara tiba-tiba Mo Siau-pak merangkap tangan menjura seraya berkata.
"Mo Siau-pak masih ada urusan lain yang mesti diselesaikan, karena itu ingin mohon diri."
Begitu selesai berkata, dia lantas membalik badan dan melompat keluar tembok pekarangan.
Thia Leng-juan tidak bermaksud menahan tamu, dia meneruskan perjalanannya menuju ke halaman depan diikuti Bong Thian-gak di belakangnya.
Tak selang lama mereka berdua sudah tiba di depan undak-undakan pintu kamar.
Sembari membuka pintu, Thia Leng-juan berkata.
"Tahukah kau, semalam di rumah penginapan ini sudah terjadi peristiwa besar?"
"Soal direnggutnya dua sukma sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang oleh Si-hun-mo-li?"
Sahut Bong Thian-gak hambar.
Thia Leng-juan tertawa ringan, kemudian mendorong pintu dan mendonggakkan kepala.
Tiba-tiba saja suara tawa Thia Leng-juan terhenti.
Bong Thian-gak mendonggakkan kepala, tapi apa yang kemudian terlihatnya membuat dia terperanjat.
Rupanya sembilan pedang darah yang berwarna menyala telah mengancam tenggorokan Thia Leng-juan.
Pedang darah itu muncul dari balik kamar dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.
Oleh karena peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan, lagi pula teknik yang digunakan si penyergap untuk melancarkan serangan terlampau lihai, oleh karena itu pada hakikatnya tidak sempat lagi bagi Thia Lengjuan untuk menghindar, dia segera kena ditawan.
Orang yang memegang pedang Hiat-kiam adalah perempuan berkerudung kain merah.
Rambutnya yang hitam memanjang terurai ke belakang bahu, kecuali matanya yang jeli, sepasang tangan yang putih halus, hampir anggota tubuh lainnya terbungkus di balik kain berwarna merah itu.
"Kau adalah anggota perguruan pedang darah?"
Thia Lengjuan menegur dengan tenang.
Hiat-kiam-bun atau Perguruan pedang darah merupakan suatu organisasi paling rahasia yang muncul di Bu-lim semenjak lenyapnya Put-gwa-cin-kau dari peredaran dunia.
Kay-pang dan Hiat-kiam-bun merupakan dua perkumpulan yang paling termasyhur di Bu-lim saat ini.
Hiat-kiam-bun termasyhur di Bu-lim karena penyergapannya dan teknik membunuh orang yang tidak meninggalkan bekas, membuat orang tak menduga sebelumnya.
Siapakah ketua mereka?
Ternyata tak seorang pun tahu.
Anggota mereka selalu membawa pedang berwarna merah darah dan mengenakan pakaian berwarna merah, sehingga nampak begitu menyeramkan dan menggidikkan.
Terdengar perempuan berkerudung merah memerintah dengan suara sedingin es.
"Cepat masuk ke dalam atau pedang ini akan segera menembus tenggorokanmu!"
Oleh karena ancaman itu, Thia Leng-juan tak bisa berkutik, terpaksa dia harus menurut perintah dan masuk ke dalam kamar.
Pelan-pelan perempuan itu ikut mundur ke dalam, namun ujung pedang merahnya tetap menempel di tenggorokan Thia Leng-juan.
Bong Thian-gak ikut melangkah masuk, mendadak terdengar perempuan berkerudung merah memerintah.
"Tutup pintu dan jangan punya pikiran lain atau tenggorokan orang ini akan segera berlubang."
Perkataan itu jelas merupakan peringatan, terpaksa Bong Thian-gak harus turut perintah dan menutup pintu, kemudian berdiri di samping sambil menanti perubahan situasi.
Dia merasa anggota Hiat-kiam-bun selain memiliki kepandaian silat lumayan, orangnya pun amat cekatan, tenang dan pandai melihat gelagat.
Dengan suara masih tenang, Thia Leng-juan bertanya.
"Apakah Hiat-kiam-bun hendak merenggut nyawaku?"
"Bila Buncu kami menghendaki nyawamu, kau sudah tak dapat bicara sedari tadi,"
Sahut perempuan itu dingin. Thia Leng-juan tersenyum.
"Kalau begitu, mengapa pedang nona masih menempel terus di tenggorokanku?"
"Buncu menginginkan kau mengucapkan beberapa patah kata, bila menolak, nyawamu akan segera kurenggut!"
"Mana Buncu kalian?"
"Buncu kami bukan sembarangan orang dapat menjumpainya."
Thia Leng-juan tertawa ringan.
"Sekarang nona menempelkan pedang di tenggorokanku, apakah bermaksud hendak memaksaku berbicara?"
Baru selesai dia berkata, mendadak dia meringankan kepalanya ke samping dengan maksud hendak menghindari tudingan ujung pedang lawan.
Siapa tahu baru saja ia menggerakkan kepala, tahu-tahu terasa tenggorokan sakit sekali.
"Jika kau berani bergerak lagi secara sembarangan, pedangku tidak akan kenal ampun."
Rupanya pedang pendek yang berada di tangan perempuan berkerudung merah itu sudah menggores luka kulit tenggorokannya, darah segar segera memancar keluar.
Agak berubah paras muka Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, dia merasa perempuan ini memiliki kecerdasan luar biasa.
Kenyataan sukar bagi Thia Leng-juan untuk melepaskan diri dari ancaman bahaya begitu saja.
Berpikir sampai di sini, diam-diam timbul keinginan Bong Thian-gak untuk membantu Thia Leng-juan terlepas dari cengkeraman lawan.
Terdengar perempuan berkerudung merah berkata.
"Thiatayhiap pentang matamu lebar-lebar, orang-orang Hiat-kiambun berani datang mencarimu, berarti kami memiliki kemampuan menghadapimu, oleh sebab itu baik-baiklah menjawab pertanyaanku, kemungkinan besar kau masih dapat mempertahankan selembar nyawamu."
Dengan senyum manis masih menghiasi wajahnya, Thia Leng-juan berkata.
"Nona, kau ada urusan apa? Katakan saja terus terang."
Mendadak terdengar Bong Thian-gak berkata.
"Nona, pedangmu belum dapat dipakai membunuh orang."
"Mengapa belum dapat dipakai membunuh orang?"
Tanyanya dengan tertegunnya. Paras Bong Thian-gak sama sekali tidak mengunjuk perubahan, hanya katanya dengan suara hambar.
"Pedang nona kalau memang bisa dipakai untuk membunuh orang, apa salahnya coba ditusukkan ke depan?"
Sembari berkata pemuda itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Berhenti!"
Bentak perempuan itu dengan suara menggelegar.
"Bila kau berani maju selangkah lagi, dia ...."
Belum habis dia berkata, Bong Thian-gak sudah mendesak ke arahnya dengan kecepatan bagaikan sukma gentayangan.
Perempuan itu terperanjat, belum pernah dia saksikan kepandaian silat semacam ini, cepat dia menggerakkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan yang amat dahsyat ke arah jalan darah Ciang-tay-hiat di dada Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak segera menggerakkan lengan kirinya, tangan yang kuat seperti jepitan baja itu mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kencang, sementara lengan kosongnya melancarkan bacokan.
"Cring", dentingan nyaring bergema memecah keheningan. Dengan terperanjat gadis berkerudung merah itu mundur tiga-empat langkah, sementara matanya mengawasi pedang pendeknya yang kutung sebagian dengan wajah tertegun dan melongo. Rupanya pedang pendek yang berada di tangan kanannya itu sudah digetarkan oleh pukulan Bong Thian-gak hingga patah menjadi dua bagian. Demonstrasi tenaga dalam ini kontan membuat setiap orang yang hadir di situ menjadi terperanjat dan pecah nyalinya.
"Siapa kau?"
Dengan terkesiap dan kaget gadis itu menegur. Thia Leng-juan tertawa, mewakili Bong Thian-gak sahutnya.
"Dia adalah Jian-ciat-suseng."
Sambil bicara, secepat kilat Thia Leng-juan berkelit ke samping.
Kepandaian silat Thia Leng-juan memang sudah lama termasyhur di Bu-lim, kalau tidak bergerak, tubuhnya tetap kaku seperti batu karang, namun jika sudah bergerak, kecepatannya melebihi sambaran petir.
Dalam terkejut dan terkesiapnya, cepat perempuan itu memutar pedang kutung di tangan kanannya menciptakan serentetan cahaya pelangi berwarna cerah, kemudian langsung membacok ke bahu kanan Thia Leng-juan.
Di tengah gelak tertawa yang memekakkan telinga, Thia Leng-juan mengeluarkan ilmu simpanan Siau-lim-pay yang disebut Poh-liong-jin (Ilmu menangkap naga).
Dengan gerakan yang luar biasa, dia mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu, sementara kaki kanan pada saat bersamaan menendang alat kelamin gadis itu.
Satu serangan terdiri tiga gerakan berbeda, serangan Thia Leng-juan ini selain cepat, sempurna juga keji dan tidak berperi-kemanusian.
Terutama yang membikin orang terperanjat adalah tendangan Thia Leng-juan yang secara langsung mengarah bagian rahasia gadis itu, pada hakikatnya tindakan keji ini tak mungkin bisa dilakukan oleh seorang pendekar besar sejati, sebab serangan itu selain terkutuk, rendah, sadis, juga amoral.
Lawan adalah seorang wanita, bila pria, maka perbuatan Thia Ieng-juan mengarah alat kelamin lawan masih belum terhitung amoral.
Berubah wajah Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, serunya dengan suara dalam.
"Thia-tayhiap, jangan bertindak keji."
Dari jurus serangan yang digunakan Thia Leng-juan, Bong Thian-gak mengerti orang berniat menghabisi nyawa musuhnya.
Sayang seruan Bong Thian-gak ini agak terlambat, walaupun gadis itu dapat menghindari cengkeraman dan pukulan ke arah dadanya, namun gagal menghindari tendangan ke arah kelaminnya.
"Aduh!"
Jeritan kesakitan yang menyayat hati berkumandang.
Gadis berkerudung merah berikut pedangnya tahu-tahu sudah mencelat hingga menumbuk dinding, kemudian pelanpelan terduduk di tanah.
Bong Thian-gak dapat menyaksikan dengan jelas semburan darah segar memancar dari tubuh bagian bawahnya.
Dia belum mati, sepasang matanya yang sayu mengawasi Bong Thian-gak tanpa berkedip, dilihat dari mimik wajahnya, gadis itu seperti hendak mengutarakan sesuatu kepada anak muda itu.
Bong Thian-gak berjalan ke depan, namun Thia Leng-juan telah mendahului, dengan menggenggam kutungan pedang di tangan kanan dia tusuk dada gadis itu hingga tembus.
Dengusan tertahan kembali bergema, dengan sorot mata penuh kebencian, gadis itu menatap wajah Thia Leng-juan lekat-lekat, lalu serunya tertahan.
"Kau ... kau sungguh amat keji."
Dengan dua serangan yang mematikan bersarang di tubuhnya, gadis berkerudung merah itu tak mampu bertahan lagi, kepalanya segera terkulai lemas dan putus nyawa.
Bong Thian-gak segera maju ke muka dan pelan-pelan melepas kain kerudung yang menutupi wajah gadis berbaju merah itu.
Dia berwajah bersih dan cantik, tapi sekarang tewas dengan wajah penuh perasaan dendam dan benci.
Menyaksikan semua ini, Bong Thian-gak menghela napas sedih, ujarnya.
"Thia-tayhiap, mengapa kau harus membunuhnya?"
Thia Leng-juan tertawa dingin.
"Hehehe, orang-orang Hiat-kiam-bun termasyhur karena kebuasan dan kekejamannya, mereka senang menyergap dan membunuh orang, salahkah jika kulenyapkan seorang pembunuh dari muka bumi? Hahah..selama tiga bulan lebih malang melintang dalam Bu-lim, orang yang terbunuh di tangan Jian-ciat-suseng pun mencapai ratusan orang lebih!"
Ketika mendengar perkataan itu, pelan-pelan Bong Thiangak membalikkan badan, tiba-tiba saja ia menyaksikan selapis perasaan licik dan sinis menghiasi wajah Thia Leng-juan, tergerak hatinya, diam-diam dia berpikir.
"Thia Leng-juan telah berubah, dia sudah tidak mirip Thia Leng-juan tiga tahun lalu."
Menyaksikan kenyataan ini, Bong Thian-gak semakin tak berani mengungkap keadaan yang sebenarnya. Mendadak dia membalikkan badan dan beranjak pergi.
"Eeh, saudara! Harap tunggu sebentar,"
Tiba-tiba Thia Leng-juan berteriak.
"Masih ada urusan apa?"
Tanya Bong Thian-gak sembari berpaling. Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, saudara memang seorang aneh, bukankah kau sengaja kemari untuk mencariku orang she Thia?"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Benar, tapi sekarang aku sudah tidak memerlukan hal ini lagi."
"Apakah saudara marah lantaran menyaksikan aku membunuh seorang anggota Hiat-kiam-bun?"
"Tendanganmu itu terus terang sangat memuakkan."
Sekali lagi Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, aku tidak memiliki kepandaian silat selihai saudara, oleh sebab itu dalam melancarkan serangan mau tak mau harus kupakai nerangan keji yang mematikan, padahal orang-orang Hiat-kiam-bun ...."
Dia tidak berkata lebih lanjut, sedangkan Bong Thian-gak tahu dia hendak berkata.
"Terhadap orang-orang Hiat-kiambun, kita tak perlu membicarakan peraturan dunia persilatan lagi."
Bong Thian-gak menengok sekejap ke arahnya, lalu berkata.
"Aku lihat gadis ini berwajah bersih dan menarik, tampaknya bukan jenis penjahat berhati keji."
"Paras muka Si-hun-mo-li cantik jelita seperti bidadari, orangnya pun mulus dan cerah, tapi kenyataannya dia justru perempuan berhati ular yang membunuh orang tanpa berkedip."
"Kau pernah bersua Si-hun-mo-li?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak. Thia Leng-juan tertawa.
"Kalau pernah bertemu, aku tak akan hidup sampai sekarang."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, aku rada tidak percaya."
"Tidak percaya apa?"
Bong Thian-gak tidak berkata lebih lanjut. Tapi Thia Leng-juan telah salah mengartikan maksud Bong Thian-gak sebagai.
"Aku tidak percaya, setelah bertemu Sihun-mo-li, aku akan mati."
Maka gelak tertawanya semakin bertambah keras, ucapnya.
"Hahaha, kalau kau tidak percaya, mengapa tidak mencobanya sendiri?"
Mendadak tergerak hati Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, segera tanyanya.
"Bagaimana caraku menjumpainya?"
"Aku bukan si perantara, tentu saja aku tak dapat mengajakmu bertemu dengannya,"
Kata Thia Leng-juan sambil tertawa.
"Tapi aku pernah mendengar orang bilang, asal di hatimu berkeinginan bertemu Si-hun-mo-li, maka perempuan itu akan datang sendiri menjumpaimu."
"Ah, masa di kolong langit terdapat kejadian seaneh ini?"
Seru Bong Thian-gak dengan kening berkerut.
"Banyak kejadian aneh akan kau jumpai di dunia ini, sebab tidak percaya pun kau pasti akan menjadi percaya akhirnya."
"Baik! Aku memang ingin bertemu dengannya, bahkan maksud] kedatanganku kemari memang ingin bertemu dengannya."
"Wah, itu lebih baik lagi, siapa tahu tengah malam nanti Sihu. mo-li akan berkunjung ke dalam kamarmu."
"Tengah malam nanti dia benar-benar akan datang?"
Kembali sepasang mata Bong Thian-gak berkilat. Thia Leng-juan tertawa.
"Asal kau ingin bertemu dengannya, perasaan halusnya pasti a merasakan hal itu."
"Kalau begitu aku mohon diri."
Sembari berkata Bong Thian-gak menjura, kemudian membalik badan dan berlalu dari situ.
Tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasakan suatu firasat aneh terhadap Thia Leng-juan, dia dapat melihat sorot mata Thia Leng-juan berkedip tiada hentinya sepanjang pembicaraan, ini menunjukkan dalam hati mempunyai suatu maksud dan tujuan tertentu.
Sebenarnya Bong Thian-gak masih berniat mencari tahu kabar tentang Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sekalian kakak seperguruannya, tapi sekarang niat itu harus diurungkan untuk sementara waktu.
Karena dia tahu dunia persilatan adalah suatu dunia yang penuh dengan mara bahaya, tiga tahun terakhir ini bisa jadi Thia Leng-juan telah berubah, berubah menjadi seorang laknat licik, kejam dan banyak akal muslihatnya.
Sambil berjalan Bong Thian-gak memutar otak.
Mendadak dari depan sana terdengar seseorang bersuara.
"Lapor, Bong-hwecu!"
Dia lihat Yu Hong-hong sedang berlarian mendekat dengan wajah gugup dan kebingungan.
"Hong-hong, apa yang telah terjadi?"
Bong Thian-gak segera menegur dengan wajah keheranan.
"Bu Siau-hong dan The Goan-ho telah ditangkap orangorang Kay-pang."
"Hah? Apa yang telah terjadi hingga mereka tertangkap?"
Tanya Bong Thian-gak dengan perasaan bergetar.
"Sewaktu melakukan pemeriksaan atas kamar nomor sembilan puluh sembilan, The Goan-ho menemukan di dalam kamar itu berdiam banyak orang, dia pun menghubungi Bu Siau-hong untuk melakukan penyelidikan, siapa tahu orang yang berdiam dalam kamar itu adalah anggota Kay-pang, sewaktu mereka menyaksikan munculnya Bu Siau-hong dan The Goan-ho di sana, dianggapnya ada musuh sedang memata-matai mereka, maka ditangkaplah kedua orang itu."
"Terjadi pertarungan?"
Tanya Bong Thian-gak dengan kening berkerut.
"Secara beruntun Bu Siau-hong dan The Goan-ho telah melukai lujuh orang Kay-pang, tapi akhirnya mereka dikalahkan oleh seorang Jago muda."
Mendengar sampai di sini, Bong Thian-gak menghela napas.
"Ai, Kay-pang merupakan perkumpulan yang sedang jayajayanya dalam Bu-lim dewasa ini, dengan tindakan Bu Siauhong dan The Goan-ho yang telah melukai ketujuh anggota mereka, niscaya akan besar sekali kesulitan yang bakal dijumpai."
"Hwecu, sesungguhnya kami tak seharusnya mencari garagara untukmu, apa lagi dalam situasi seperti ini, tapi orangorang Kay-pang tidak tahu aturan."
Diam-diam Yu Hong-hong merasa amat girang, namun ia tidak memperlihatkan rasa girangnya itu, katanya setelah menghela napas panjang.
"Hwecu adalah seorang ketua perkumpulan, mana boleh kita jumpai mereka begitu saja?"
"Kemunculan Tiong-yang-hwe dalam Bu-lim, cepat atau lambat tentu akan berakibat bentroknya kita dengan orangorang Kay-pang, tak usah banyak bicara lagi, sekarang juga kita harus pergi menemui orang-orang Kay-pang, kalau tidak, niscaya Bu Siau Bong dan The Goan-ho akan menderita."
Yu Hong-hong tidak bicara lagi, lekas saja mereka pun berangkat menuju ke kamar nomor sembilan puluh sembilan.
Kamar nomor sembilan puluh sembilan adalah kamar terbesar di Hong-tok-ciu-lau, dalam halaman tersendiri itu terdapat tujuh buah bilik dan sekelilingnya terdapat pagar pekarangan yang tingginya mencapai beberapa kaki.
Ketika Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong tiba di depan pintu, terdengarlah suara yang amat mereka kenal sedang berseru dengan suara lantang.
"Kalian orang-orang dari Kaypang benar-benar kelewatan menghina orang, aku she Tio sudah minta maaf kepada kalian, mengapa kalian masih juga belum melepas orang?"
Bong Thian-gak tahu itu suara Gin-ho-eng Tio Im, maka dia mempercepat langkahnya menuju ke sudut dinding. Pada saat itulah Yu Hong-hong berseru.
"Ketua Tiong-yanghwe telah tiba, harap orang-orang Kay-pang muncul untuk menyambut."
Di halaman terlihat ada sembilan orang berbaju putih penuh tambalan berdiri tegak, Tio Im sedang berdiri dikurung oleh mereka.
Ketika mendengar seruan Yu Hong-hong tadi, kesembilan orang berbaju putih itu nampak tertegun, lalu bersama-sama mengalihkan sorot matanya.
"Tiong-yang-hwe!"
Nama itu terasa sangat asing dalam Bu-lim, oleh sebab itu setelah memandang ke arah Bong Thian-gak dan Yu Honghong, tiba-tiba saja kepalanya mendongak dan terbahakbahak dengan kerasnya.
Gelak tawa itu penuh dengan nada menghina, mengejek dan memandang rendah.
Jelas keadaan Bong Thian-gak yang cacat dan buntung tangannya membuat mereka memandang hina kepadanya.
Menyaksikan kesembilan orang itu tertawa terbahak-bahak, tanpa terasa Yu Hong-hong mengerutkan dahi, kemudian bentaknya nyaring.
"Hei, sudah tuli semua kalian? Hwecu kami telah datang, mengapa kalian tidak mengundang penerima tamu untuk menyambut kedatangan beliau?"
Tiba-tiba Bong Thian-gak berbisik.
"Hong-hong, jangan gusar, mari kita saja yang menghampiri mereka."
Sembari berkata Bong Thian-gak berjalan mendekati mereka.
Tatkala Gin-ho-eng Tio Im menyaksikan Bong Thian-gak berjalan mendekat, dia segera membalikkan badan hendak memberi hormat kepadanya, tapi tiba-tiba saja salah satu orang berbaju putih itu telah membentak keras.
"Mundur!"
Sebuah pukulan dahsyat langsung ditujukan ke arah dada Gin-ho-eng Tio Im.
Dengan cekatan Gin-ho-eng Tio Im berkelit ke samping sambil membalikkan pergelangan tangannya ke kanan, belum sempat pedang dilolos keluar, tiba-tiba Bong Thian-gak sudah berteriak.
"Tio Im, jangan bertindak gegabah!"
Kemudian sambil menjura kepada kesembilan orang berbaju putih itu, katanya lagi.
"Sembilan saudara pelindung hukum Kay-pang, bila aku Bong Thian-gak melakukan kesalahan sukalah memberi petunjuk."
Benar juga, kesembilan orang ini memang benar-benar pelindung hukum Kay-pang, salah seorang di antaranya berwajah putih dan gemuk pendek, agaknya merupakan komandan kesembilan orang itu.
Dia memutar sepasang mata elangnya mengawasi Bong Thian-gak beberapa kejap, kemudian tanyanya dengan suara dingin.
"Jadi kau adalah ketua Tiong-yang-hwe?"
"Benar memang aku!"
Jawab Bong Thian-gak tertawa.
"Apakah Hui-eng-su-kiam adalah anak buahmu?"
Kembali kakek gemuk pendek itu bertanya.
"Tiong-yang-hwe belum lama didirikan, jumlah anggota kami baru lima orang."
"Saudara sebagai ketua perkumpulan, mengapa memerintahkan anak buahmu melakukan perbuatan terkutuk dengan menyusup ke halaman rumah orang, kemudian mengintip rahasia orang?"
Senyum manis masih tetap menghiasi wajah Bong Thiangak, katanya.
"Kami tidak tahu tempat ini sudah disewa perkumpulan kalian, coba kalau tahu, tak nanti kami menyusup kemari."
Beberapa patah kata Bong Thian-gak ini boleh dibilang sudah cukup mengalah dan memberi muka kepada pihak Kaypang. Sayang kakek gemuk itu tak tahu diri, sambil tertawa dingin katanya lagi.
"Setiap orang yang berani melanggar peraturan Kay-pang, maka dia harus menerima pemeriksaan lebih dahulu dan menjalani hukuman, walaupun kau adalah seorang ketua, sayang kami tidak memberi muka padamu, kuanjurkan lebih baik cepat tinggalkan tempat ini."
Mendadak Bong Thian-gak menarik muka dan menegur.
"Siapa yang ditugaskan untuk mewakili perkumpulan kalian di kota ini?' Kakek gemuk itu tertawa dingin.
"Seorang pelindung hukum Kay-pang mempunyai hak untuk bicara, setiap satu perkataan kami berarti perintah, kuharap kau segera angkat kaki."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, dengan suara dalam tanyanya lagi.
"Siapa yang ditugaskan mengepalai tempat ini? Kalau kalian masih membungkam, terpaksa aku menggunakan kekerasan."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, dia sengaja mengerahkan tenaga dalam, setiap patah kata yang keluar dari mulutnya seperti guntur menggelegar, mendengung hingga jauh, membuat semua hadirin merasakan hawa darah di dada bergelora dan terasa tak nyaman.
Sembilan orang berbaju putih itu terhitung pelindung hukum yang tangguh, kepandaian silat mereka tidak lemah, akan tetapi mendengar perkataan Bong Thian-gak dengan suara auman singa itu, tak terlukis rasa terkejut di hatinya, sadarlah mereka kalau kepandaian silat orang ini cukup lihai.
Sambil tertawa dingin kakek gemuk pendek itu berkata.
"Auman singa saudara tak akan mengejutkan Tongcu kami, Giok-bin-giam-lo To Siau-hou pun sudah cukup lama mendampingi Pangcu kami."
Begitu nama To Siau-hou disebut, Bong Thian-gak tertegun, pikirnya.
"Oh, rupanya dia, To Siau-hou tidak tewas oleh pukulan Jit-kaucu Thay-kun, tentu saja kejadian ini merupakan suatu keajaiban, kalau begitu ketua Kay-pang benar-benar seorang yang maha sakti."
Sementara itu si kakek gemuk pendek yang menyaksikan paras muka Bong Thian-gak berubah tak menentu, disangkanya pemuda ini dibikin keder oleh nama besar To Siau-hou, tanpa terasa serunya dengan perasaan bangga.
"Bagaimana? Bila saudara pernah mendengar nama besar To Siau-hou, lebih baik cepat mencawat ekor dan enyah dari tempat ini!"
Tiba-tiba Bong Thian-gak tertawa dingin, serunya.
"Tio Im, beri pelajaran kepada manusia takabur ini, tapi jangan sampai merengut jiwanya, cukup melukainya saja."
Sejak tadi Gin-ho-eng Tio Im sudah dibikin mendongkol oleh tingkah-laku pongah musuh, tapi tiada tempat untuk melampiaskan rasa dongkolnya.
Begitu mendengar perintah, dia segera membalikkan pergelangan tangan dan "Cring", ia melolos pedang dari sarungnya.
Di antara getaran pergelangan tangannya, tampak setitik cahaya bintang menusuk ke perut kakek gemuk itu dengan kecepatan luar biasa.
Agaknya kakek bertubuh gemuk pendek itu tidak menyangka serangan pedang Tio Im dilancarkan sedemikian cepatnya, dalam kaget dan ngerinya, cepat dia memutar badan sambil bergeser ke sisi kiri.
Siapa tahu Gin-ho-eng Tio Im sudah bertekad melukai musuhnya, maka dia sudah bersiap mengeluarkan ilmu Coatin-toh yang diwariskan Bong Thian-gak kepadanya.
"Kena!"
Bentaknya dengan lantang.
Gin-ho-eng Tio Im membungkukkan tubuh, sementara pedangnya yang berada di tangan kanan sudah bergerak dari bawah secara aneh langsung menusuk secepat kilat.
Jeritan tertahan bergema, bahu kiri kakek gemuk pendek itu benar-benar terkena tusukan, darah segar segera memancar keluar dan membasahi pakaiannya yang berwarna putih.
Betapa terkejut dan gusarnya delapan orang berbaju putih lainnya menyaksikan komandannya menderita kalah dalam dua gebrakan saja, diiringi bentakan nyaring, serentak kedelapan orang itu melabrak maju bersama.
Mendadak terdengar bentakan nyaring.
"Kalian lekas mundur!"
Kedelapan orang berbaju putih itu bersama-sama menghentikan gerakan tubuh mereka yang sedang menerjang ke muka, lalu berpaling ke samping.
Di atas undak-undakan pintu kamar telah berdiri seorang pemuda berbaju putih yang berwajah tampan, bertubuh kekar dan gagah perkasa, sebilah pedang bersarung bambu tersoreng di pinggangnya.
Sekilas pandang saja Bong Thian-gak segera mengenali pemuda di atas undak-undakan itu adalah Giok-bin-giam-lo To Siau-hou, raut wajahnya tidak banyak mengalami perubahan, tapi sikapnya jauh lebih tenang, serius dan kereng.
Dengan sorot mata tajam To Siau-hou mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, bahkan mengamati dari atas kepala sampai ke ujung kaki, setelah itu dia baru berkata sambil tertawa dingin.
"Sungguh tak kusangka Jian-ciatsuseng telah menjadi ketua Tiong-yang-hwe."
Ketika kesembilan Huhoat Kay-pang mendengar nama Jianciat-suseng, serentak paras muka mereka berubah hebat, mimpi pun mereka tak pernah mengira ketua Tiong-yang-hwe ini bukan lain adalah Jian-ciat-suseng yang amat termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini.
"Ah, syukur aku selamat!"
Seru kakek gemuk pendek itu.
Dia bersyukur cukup bernasib baik hingga bukan Jian-ciatsuseng yang dihadapinya tadi, kalau tidak, niscaya selembar jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya.
Sambil tersenyum, Bong Thian-gak berkata.
"Tiong-yanghwe baru didirikan tiga hari berselang, tentu saja bila nama dan kedudukan kami dibandingkan perkumpulan kalian, keadaannya ibarat rembulan dengan kunang-kunang."
Paras muka To Siau-hou berubah serius sekali, ujarnya kemudian.
"Kalau Tiong-yang-hwe dipimpin Jian-ciat-suseng, sudah pasti masa depannya akan semakin cerah."
"Terima kasih, terima kasih!"
Bong Thian-gak tertawa. Dengan kening berkerut, kembali To Siau-hou berkata.
"Dengan kehadiran saudara sendiri untuk minta kembali orangmu, semestinya To Siau-hou harus segera menyerahkannya kepadamu, namun aku tahu nama besar Jian-ciat-suseng akhir-akhir ini ibarat matahari di tengah angkasa, setiap umat persilatan yang berjumpa denganmu tak urung pasti akan menantangmu berduel, oleh sebab itu mumpung ada kesempatan, aku pun ingin minta petunjuk darimu."
"To-siauhiap masih muda dan berjiwa panas, masalah bertanding ilmu silat memang suatu hal yang tak bisa dihindari, cuma aku rasa pertarungan pada saat dan keadaan seperti ini kelewat sembrono dan tidak cocok, maka aku ingin memilih waktu lain saja untuk menantikan petunjuk darimu."
To Siau-hou termenung sebentar, tiba-tiba ucapnya kepada kesembilan orang berbaju putih itu.
"Kalian lepaskan Boan Thian-eng serta Siau Hiang-eng!"
Buru-buru Bong Thian-gak menjura seraya katanya.
"Kesediaan To-tongcu memberi muka padaku, tak pernah oraing she Bong lupakan."
"Tengah hari besok, kita bertemu di Hong-leng, pintu kota sebelah utara,"
Ucap To Siau-hou dingin.
"Baik, sampai waktunya aku pasti datang."
Baru selesai berkata, Boan Thian-eng, Bu Siau-hong serta Siau-hiang-eng dan The Goan-ho sudah berjalan keluar dari ruang tengah.
Selain pakaian mereka yang terkena percikan darah, segala sesuatunya tetap normal dan lengkap seperti sedia kala.
Dengan cepat mereka menemui Bong Thian-gak.
"Mari kita pergi,"
Ucap Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Seusai berkata, dia melangkah keluar lebih dulu dari pintu halaman dan langsung kembali ke kamar nomor tiga puluh enam.
Hui-eng-su-kiam tidak banyak komentar, mereka membuntuti di belakangnya, lalu duduk di kamar mereka.
Sesudah duduk, Bong Thian-gak memandang mereka sekejap, lalu pelan-pelan berkata.
"Tampaknya kota terlarang sudah menjadi pusat perkumpulan segenap jago lihai dari berbagai aliran dan perguruan yang ada saat ini, menurut apa yang kuketahui, dua perkumpulan raksasa dewasa ini, Hiatkiam-bun dan Kay-pang telah menampakkan diri secara terang-terangan."
"Padahal Tiong-yang-hwe kita baru saja didirikan, anggotanya cuma kita berlima, dengan kekuatan ini, mustahil kita bisa menandingi kekuatan lawan yang begitu besar, karenanya kusarankan kepada kalian agar mengurangi segala tindak-tanduk yang menyolok mata, kalau tidak, kita bisa dikeroyok dan Tiong-yang-hwe bisa mati dalam rahim sebelum dilahirkan."
Ucapan Bong Thian-gak barusan membuat Hui-eng-su-kiam menundukkan kepala rendah-rendah, serentak mereka berkata.
"Kami berempat merasa bersalah kepada Hwecu atas peristiwa yang terjadi, kami bersedia menerima hukuman dari Hwecu."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Kalian tidak membuat gara-gara, tiada kesalahan yang perlu dijatuhi hukuman. Apa yang barusan kuucapkan tidak lebih hanya memperingatkan kalian saja agar tahu diri."
Terhadap sikap terbuka, bijaksana dan kebesaran jiwa Bong Thian-gak, Hui-eng-su-kiam merasa amat kagum dan menaruh hormat, mereka betul-betul tunduk atas keagungan pemimpinnya ini.
Tiba-tiba Hwe-im-eng Yu Hong-hong berkata.
"Lapor Hwecu! Dari dalam kamar nomor seratus delapan, kutemukan banyak perempuan asing berkumpul di situ, sebelum aku melakukan penyelidikan, Jiko sudah terlibat dalam pertarungan, oleh karena itu aku belum sempat menyelidiki lebih jauh."
Tergerak hati Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian.
"Hong-hong, mari ikut aku menengok ke situ, sedang Tio Im bertiga segera mencari berita ke kota!"
Dengan memisahkan diri dalam dua rombongan, berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.
Yu Hong-hong dan Bong Thian-gak dengan langkah pelan berjalan menuju halaman besar paling belakang sana.
Kamar nomor seratus delapan merupakan kamar besar terpojok dalam rumah penginapan itu, letaknya di sudut barat dan sekeliling ruangan dilapisi dinding pendek.
Dinding perkarangan sebelah barat merupakan dinding yang paling tinggi, makin ke belakang makin rendah.
Kamar itu termasuk terpencil dan tersepi dalam penginapan itu.
Dengan pelan Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong berjalan menuju ke depan tembok pekarangan itu, sekeliling halaman itu sunyi senyap tak terdengar sedikit suara pun.
"Aneh!"
Yu Hong-hong berbisik.
"Baru saja kutemukan perempuan berlalu-lalang di sini, mengapa dalam waktu singkat sudah sepi?"
"Tentu mereka mengawasi gerak-gerik kita dari balik tembok pekarangan sana, kalau kita melakukan penyelidikan dengan cara begini, mustahil kita dapat memperoleh berita yang diperlukan, mari kita berjalan mengitari tembok pekarangan saja."
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba pintu halaman dibuka orang.
Dengan terbukanya pintu, dari balik halaman muncul seorang gadis muda, langsung berjalan menghampiri Bong Thian-gak dengan langkah cepat.
"Majikan kami mempersilakan saudara minum teh,"
Ujarnya sambil tersenyum. Yu Hong-hong berkerut kening, lalu bertanya.
"Siapakah majikan kalian? Mungkin salah orang?"
"Tak bakal salah,"
Sahut nona berbaju hijau itu sambil tertawa merdu.
"Biarpun jago persilatan banyak berkumpul di kota terlarang ini, namun hanya seorang yang berlengan tunggal."
Waktu menjawab, nona itu tidak menyinggung sama sekali nama majikannya. Bong Thian-gak tersenyum.
"Harap nona menunjuk jalan!"
"Kita akan masuk?"
Yu Hong-hong berbisik.
"Kita tak dapat menampik undangannya begitu saja?"
"Tapi undangan semacam ini tampaknya sedikit tak beres."
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah Yu Honghong, lalu sahutnya lagi.
"Setelah datang, mengapa harus menolak?"
Yu Hong-hong tersenyum penuh arti, sementara dalam hati pikirnya.
"Ilmu silat yang memiliki Hwecu sangat lihai, buat apa aku menguatirkan keselamatannya? Kalau tidak memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan? Kita memang berniat mencari tahu siapa gerangan yang berdiam dalam halaman itu?"
Sementara itu si nona berbaju hijau yang berjalan di muka sudah memasuki pintu halaman dengan langkah cepat.
Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong segera ikut masuk ke dalam, tiba-tiba saja pandangan mereka terasa silau.
Ternyata dalam ruangan itu dipasang tujuh batang lilin besar, terangnya seperti berada di siang hari bolong, setiap sudut dan orang yang berada dalam ruangan itu terlihat jelas.
Pada sisi dinding utara dan selatan masing-masing berderet delapan belas orang perempuan berbaju dan berkain cadar merah membawa pedang pendek berwarna merah darah pula.
Sementara itu dari arah belakang kembali terdengar suara langkah manusia, menyusul sembilan orang perempuan berkerudung merah dengan membawa pedang pendek berjalan masuk ke dalam ruangan.
Pintu ditutup rapat, sedang kesembilan perempuan berkerudung merah itu berdiri berjajar di depannya, menghadang jalan pergi orang.
Dari keadaan yang terpampang di depan mata, Yu Honghong segera tahu pihak lawan tidak berniat baik, namun berhubung dilihatnya sikap Bong Thian-gak masih tetap tenang seolah-olah seperti tidak pernah terjadi sesuatu, terpaksa dia harus menenteramkan perasaannya sambil menunggu perubahan selanjutnya.
Nona berbaju merah tadi menunjuk ke arah meja dan kursi di ruang tengah, lalu katanya.
"Harap kalian berdua duduk lebih dulu, sebentar lagi majikan kami akan muncul."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bila aku dapat bersua dengan ketua Hiat-kiam-bun hari ini, tidak sia-sia perjalananku kali ini."
Seraya berkata, dia dan Yu Hong-hong lantas duduk di kursi sudut tenggara.
Baru saja duduk, dari bilik sebelah berat terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang.
Orang pertama yang berjalan masuk lebih dulu adalah seorang gadis berbaju merah berkerudung merah pula.
Perempuan itu tidak membawa pedang pendek, namun di balik bahunya tersoreng sepasang pedang panjang, rambutnya yang mulus terurai di bahu, tubuhnya ramping dan menawan hati, kalau dilihat dari umurnya mungkin tak lebih dari dua puluh empat tahun.
Mengikut di belakangnya bukan wanita, melainkan tiga orang aneh berperawakan tinggi besar berjubah merah darah dan berjalan kaku seperti mayat hidup.
Ketiga orang aneh berjubah merah itu tidak membawa senjata, namun tampang serta perawakannya mengerikan dan menggidikkan, mendatangkan daya pengaruh yang lebih mengerikan ketimbang perempuan-perempuan berkerudung merah lainnya.
Perempuan berkerudung merah yang menyoreng pedang berjalan menuju ke tempat duduk tuan rumah, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun duduk di situ, sementara ketiga orang aneh tadi berdiri berjajar di belakangnya.
Pikir Bong Thian-gak.
"Perempuan inikah ketua Hiat-kiambun? Belum habis berpikir, terdengar perempuan berkerudung merah yang menyoreng pedang berseru dingin.
"Gotong kemari mayat itu!"
Bersama dengan suara mengiakan, dari halaman belakang muncul empat orang gadis berkerudung merah, mereka menggotong sebuah papan persegi panjang, di atasnya berbaring sesosok mayat perempuan berbaju merah pula.
Di atas dada mayat tertancap sebilah kutungan pedang, sementara di antara belahan pahanya, tepatnya di atas kemaluanya tampak darah masih mengucur dengan derasnya.
"Oh, dia!"
Pekik Bong Thian-gak dalam hati.
Sang korban adalah nona berkerudung merah yang dibunuh secara keji oleh Thia Leng-juan dalam kamar nomor tujuh tadi, tapi mengapa secepat itu mayatnya sudah digotong kemari?
Bagaimana dengan Thia Leng-juan sendiri?
Apakah dia telah lertimpa suatu musibah?
Ingatan itu dengan cepat melintas dalam benak Bong Thian-gak.
Dalam pada itu keempat gadis berkerudung merah itu sudah menggotong masuk mayat tadi dan diletakkan di tengah ruangan, kemudian mengundurkan diri ke samping.
Pada saat itulah si nona berkerudung merah yang menyoreng pedang mencorongkan sepasang matanya yang dingin mengawasi wajah Bong Thian-gak lekat-lekat, kemudian tegurnya dingin.
"Hari ini, Hiat-kiam-bun telah kehilangan seorang pembantu setia, atas kematian yang mengenaskan itu segenap anggota Hiat-kiam-bun bertekad hendak membalas dendam baginya, benar-benar tak disangka arwah sang korban telah membantu usaha kita dan pembunuhnya bisa datang dengan segera."
Berubah paras muka Bong Thian-gak mendengar perkataan itu, cepat tegurnya.
"Maksud Buncu, aku yang telah membunuhnya?"
"Aku bukan ketua Hiat-kiam-bun, aku tak lebih hanya wakil ketua kedua, sedang yang tewas adalah wakil ketua kesembilan."
"Oh, kalau begitu siapakah Buncu Hiat-kiam-bun?"
"Sampai sekarang kedudukan ketua Hiat-kiam-bun masih lowong, untuk sementara waktu semua persoalan perguruan ditangani oleh Cong-hubuncu. Aku adalah wakil ketua kedua, boleh dibilang pentolan nomor dua perguruan Hiat-kiam-bun, biarpun kau menjadi ketua Tiong-yang-hwe, namun kedudukanmu tak jauh dari kedudukanku sekarang."
"Mengapa kursi ketua Hiat-kiam-bun masih tetap lowong?"
Tanya Bong Thian-gak.
"Selama berkecimpung dalam Bu-lim, Hiat-kiam-bun tidak punya rahasia yang kuatir diketahui orang, apa sebabnya kedudukan ketua Hiat-kiam-bun masih kosong? Adalah karena pendiri Hiat-kiam-bun masih belum diketahui jejaknya sampai sekarang, maka kedudukan itu tetap lowong sampai saat ini, nah, semua keterangan sudah aku berikan, kau Jian-ciatsuseng pun termasuk manusia yang tahu keadaan, siapa membunuh orang dia harus membayar dengan nyawa, bersiaplah untuk menerima kematian!"
Tiba-tiba Yu Hong-hong membentak gusar.
"Enak amat kalau bicara, kau anggap Tiong-yang-hwe bisa dipermainkan semaumu?"
Sebaliknya Bong Thian-gak bertanya sambil tersenyum.
"Jihubuncu, tolong tanya, apakah kau saksikan sendiri aku orang she Bong yang membunuh Kau-hubuncu partai kalian?"
Agaknya pertanyaan ini mencengangkan Ji-hubuncu Hiatkiam-bun, ia tertegun dengan berdiri melongo untuk beberapa saat, kemudian baru berkata.
"Biar pun tidak kuketahui, namun Thia Leng-juan jelas tidak mempunyai kemampuan untuk membunuhnya."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak berkerut kening sambil pikirnya.
"Jika kukatakan Kau-hubuncu tewas di tangan Thia Leng-juan, dengan kemampuannya bagaimana mungkin Thia Leng-juan dapat menandingi sedemikian banyak jago jago lihai Hiat-kiam-bun? Bila kuakui, maka mereka pun tak akan melepaskan diriku."
Saat ini Bong Thian-gak benar-benar dibuat serba susah dan tak mampu mengambil keputusan, tak heran dia membungkam. Kembali Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun berkata.
"Kau-hubuncu sedang mendapat tugas menyelidiki suatu rahasia besar, mungkin dia telah menemukan rahasia besar itu sehingga musuh membunuh secara keji."
"Mula pertama musuh menggunakan tendangan yang terkutuk Kou-im-tui untuk menendangnya, kemudian menancapkan kutungan pedang di jantungnya hingga menyebabkan kematian, cukup dilihat dari jurus serangan itu, jelas sudah pembunuh adalah manusia laknat yang buas dan biadab!"
Tiba-tiba mencorong sinar aneh dari mata Bong Thian-gak, tanyanya.
"Bila aku mau membunuh Kau-hubuncu, perlukah kugunakan jurus Kou-im-tui?"
"Kalau memang bukan perbuatanmu, siapa pembunuhnya?"
Bong Thian-gak tertegun sejenak, lalu balik bertanya.
"Dimana kau temukan jenazahnya?"
"Di dalam kamar nomor tujuh, Thia Leng-juan yang mengutus orang datang mengabarkan musibah ini."
"Menurut Thia Leng-juan, siapakah pembunuhnya?"
"Kau, Jian-ciat-suseng!"
Jawaban Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun ini amat dingin dan hambar.
"Apakah Ji-hubuncu percaya dengan perkataan Thia Leng-juan?"
Dengan tenang Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku memang rada tak percaya!"
Yu Hong-hong yang mendengar perkataan itu segera menyahut.
"Kalau tidak percaya, mengapa kau menuduh Hwecu kami sebagai pembunuhnya?"
"Aku tidak mengatakan aku sama sekali tidak percaya,"
Kata Jihubuncu dengan suara dingin.
"Terus terang saja kukatakan padamu, di saat Kau-hubuncu partai kalian tewas secara mengenaskan, aku orang she Bong memang hadir di arena, tapi bukan aku pembunuhnya, percaya atau tidak, terserah kepadamu."
"Mengapa tidak kau katakan siapa pembunuhnya?"
Bong Thian-gak menghela napas sedih, sahutnya kemudian.
"Ai, aku hanya berharap kau percaya bahwa pembunuhnya bukan aku."
"Bila tak kau katakan siapa pembunuhnya, berarti kau pembunuh Kau-hubuncu kami,"
Ujar Ji-hubuncu dengan suara menyeramkan.
"Karenanya kau harus meninggalkan selembar nyawamu hari ini."
Kembali Bong Thian-gak tersenyum.
"Jika kalian ingin menahanku, maka hal ini harus kalian lakukan dengan membayar sangat mahal."
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun manggut-manggut, sahutnya.
"Ya, ucapanmu memang benar, itulah sebabnya sampai sekarang aku masih belum menurunkan perintah untuk menyerang,"
"Kau tidak memerintahkan penyerangan, karena kau ingin tahu lebih dulu rahasia apakah yang berhasil diselidiki oleh Kau-hubuncu, bukankah demikian?"
Bong Thian-gak tersenyum. Ucapan itu mengejutkan Ji-hubuncu, namun ia mengangguk juga.
"Dugaanmu benar, aku memang ingin mengetahui rahasia itu."
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Sayang sekali aku sendiri pun tak mengetahui rahasia itu, kecuali kau katakan dulu masalah apakah yang kau perintahkan kepada Kau-hubuncu untuk diselidiki, dari sana mungkin aku bisa menebaknya."
Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun termenung beberapa saat, kemudian ujarnya.
"Aku memerintahkan Kau-hubuncu kami untuk menyelidiki jejak Buncu kami."
Kembali Bong Thian-gak berkerut kening.
"Dia sedang mencari jejak ketua Hiat-kiam-bun?"
Ji-hubuncu itu mengangguk.
"Benar, Hiat-kiam-bun tak boleh tiada ketua, semenjak tiga tahun berselang setiap saat kami selalu mencari jejak ketua kami itu, namun hingga kini masih merupakan tanda tanya besar, oleh sebab itu aku bersikap sungkan kepadamu hari ini tak lain adalah berharap agar kau mau bicara sejelas-jelasnya, agar rahasia yang ditemukan Kau-hubuncu diketahui pula oleh kami, dari situ mungkin kami bisa menemukan jejak Buncu Hiat-kiam-bun."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera berpikir.
"Kalau begitu Thia Leng-juan mengetahui jejak ketua Hiatkiam-bun, kalau tidak, mengapa Kau-hubuncu itu mencarinya untuk berbicara?"
Mendadak pemuda itu bertanya.
"Siapakah nama ketua kalian? Bersediakah kalian ungkapkan, apakah kukenal dengannya atau tidak."
"Sebelum jejak ketua kami diketahui, tak akan kami sebutkan namanya,"
Jawab Ji-hubuncu tegas. Bong Thian Gak menghela napas panjang.
"Ai, tampaknya aku pun tak dapat membantu kalian."
Dengan suara berat dan dalam Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun berkata lagi.
"Bicara soal ilmu silat Jian-ciat-suseng memang sangat lihai, tapi jika segenap jago lihai Hiat-kiam-bun mengepungmu, biar kau punya sayap pun jangan harap bisa terbang meninggalkan ruangan ini, maka kunasehati, berpikirlah tiga kali sebelum bertindak."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku merasa logat bicara nona sangat kukenal, seperti pernah berjumpa di suatu tempat, bersediakah kau melepas kain kerudungmu agar dapat kulihat raut wajah aslimu?"
Tergerak hati Ji-hubuncu, katanya pula.
"Betul, nada suaramu serta potongan badanmu seperti pernah kujumpai di suatu tempat, namun tak dapat kuingat secara pasti."
"Benar, mungkin tiga tahun lalu nona pernah bersua denganku,"
Kata Bong Thian-gak dengan suara dalam.
"Dan mungkin juga aku pun pernah bersua denganmu, cuma sekarang masing-masing merahasiakan paras muka yang dulu, maka biarpun sekarang bersua kembali, kedua belah pihak sama-sama tidak mengetahui siapakah lawan."
"Tak usah banyak bicara lagi,"
Tukas Ji-hubuncu dingin.
"Hari ini kau akan mati ataukah ingin hidup?"
"Tentu saja masih ingin hidup,"
Jawab Bong Thian-gak dengan suara hambar.
"Kalau ingin hidup, cepat katakan siapa pembunuh Kauhubuncu kami?"
"Boleh saja,"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Cuma kau harus memperlihatkan dulu paras mukamu."
Ji-hubuncu mendengus dingin.
"Selamanya aku tak pernah bertukar syarat dengan orang lain."
Mendadak Bong Thian-gak bangkit, kemudian katanya.
"Kalau begitu terpaksa aku mohon diri lebih dulu."
Yu Hong-hong turut bangkit, kemudian bersama Bong Thian-gak membalikkan badan dan berjalan keluar ruangan itu. Tiba-tiba Ji-hubuncu membentak nyaring.
"Berhenti!"
Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan, mendadak ia menyaksikan Ji-hubuncu sudah melolos pedang.
Pedang berwarna merah darah, jauh lebih menyolok daripada pedang-pedang lainnya, seolah-olah sebilah pedang yang baru saja digunakan membunuh orang dan masih berlepotan darah.
Dengan pedang itu Ji-hubuncu menuding ke langit sambil melakukan gerakan-gerakan aneh, menyusul gerakan itu, tiga orang aneh yang berdiri di belakangnya mengawasi pedang darah itu dengan sorot mata yang mengerikan dan menggidikkan.
Tampaknya apabila pedang Ji-hubuncu itu menunjuk ke depan, maka tiga orang aneh itu akan melaksanakan perintahnya seperti orang kalap.
Sambil tertawa dingin Ji-hubuncu berkata.
"Hiat-kiam-bun bisa menggetarkan seluruh kolong langit antara lain karena kami ditunjang oleh lima algojo yang tangguh, bila pedang darah ini kutudingkan ke arahmu, maka penjagal-penjagal berbaju merah ini akan membunuhmu secara keji dan kalap."
"Algojo-algojo berbaju merah ini bukan manusia, melainkan setan iblis, biarpun kau Jian-ciat-suseng mempunyai kepandaian silat yang lebih hebat pun, jangan harap bisa membunuhnya, karena mereka mempunyai beribu lembar jiwa, mati satu tumbuh seribu dan setiap kali mati mereka bisa hidup kembali."
Setengah percaya setengah tidak, Bong Thian-gak tanpa terasa bertanya.
"Sungguhkah itu?"
"Aku tidak bohong."
Tiba-tiba Yu Hong-hong melolos pedang dan berdiri di sisi kiri Bong Thian-gak dengan siap siaga.
"Aku tak ingin bermusuhan dengan Hiat-kiam-bun, aku pun tak ingin mencoba kekuatan algojo-algojo berbaju merah itu, namun bila Ji-hubuncu mendesak terus, terpaksa kami harus membela diri sepenuh tenaga."
Sembari berkata dia mundur ke belakang selangkah demi selangkah, sedangkan Yu Hong-hong yang berada di sisi kirinya ikut mundur pula dengan hati-hati dan tak berani gegabah.
Menyaksikan hal ini, ujung pedang darah Ji-buncu Hiatkiam-bun yang menuding ke langit pun pelan-pelan digerakkan turun ke bawah.
Tiga pasang mata orang berjubah merah itu pelan-pelan bergerak pula ke bawah mengikuti gerakan pedang darah itu.
Mendadak Ji-hubuncu berteriak keras.
"Ma Kong, bunuh mereka!"
Berbareng dengan teriakan itu, pedang darahnya segera menuding ke arah Bong Thian-gak.
Jeritan keras seperti teriakan setan segera berkumandang.
Orang berjubah merah yang berada di posisi tengah melejit ke depan secepat terbang, kemudian dengan cepat menerkam tubuh Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong.
Yang mengerikan adalah gerak-gerik orang berjubah merah itu sedikit pun tidak mirip manusia, gayanya sewaktu menerkam seolah-olah sedang terbang.
Yu Hong-hong membentak nyaring, pedangnya menciptakan titik cahaya bintang segera membacok tubuh orang berjubah merah itu.
Mendadak orang berjubah merah itu memutar lengan kanan menangkis datangnya bacokan pedang itu.
"Cring", Yu Hong-hong merasa pergelangan tangan kanannya sakit, senjatanya tahu-tahu sudah dipukul mental oleh tangkisan lawan. Kejadian ini benar-benar menggidikkan, ternyata lengan si orang berjubah merah itu tidak mempan ditusuk atau pun dibacok, Selesai mementalkan pedang lawan, orang berjubah merah itu segera mengayunkan pula telapak tangan kanannya mencengkeram tubuh Yu Hong-hong. Yu Hong-hong segera melejit ke samping dan memutar tubuh, sekali lagi pedangnya melancarkan tusukan ke depan.
"Cring", bunyi dentingan nyaring kembali bergema. Kali ini tusukan pedang Yu Hong-hong persis menusuk ke lambungnya, tapi pedang yang terbuat dari baja asli itu malah patah menjadi dua bagian. Rupanya sekujur tubuh si algojo berbaju merah itu kebal tusukan senjata, kejadian ini kontan membuat Yu Hong-hong tertegun, dia lupa cakar kanan orang sudah berada tiga inci di depan tenggorokannya. Bong Thian-gak yang menyaksikan mara bahaya itu segera membentak, secepat kilat tangan kirinya menyambar pinggang Yu Hong-hong sambil melompat mundur, dengan gerakan manis dia telah menyelamatkan si nona dari cengkeraman maut lawan. Gagal dengan cengkeraman mautnya, orang berjubah merah itu menjerit aneh, kali ini dia menerkam Bong Thiangak . Bong Thian-gak sudah menduga musuh akan menerkam ke arahnya, cepat dia menurunkan Yu Hong-hong. Sambil membentak gusar, segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan.
"Blam", ledakan keras yang memekakkan telinga berkumandang. Dada si orang berjubah merah terhajar telak, sedemikian dahsyat serangan itu membuat orang aneh itu terdorong mundur tiga-empat langkah. Bong Thian-gak berkerut kening menyaksikan itu, padahal kekuatan tadi mengandung ribuan kati, betapa pun hebatnya seorang tokoh persilatan mustahil bisa menyambut dengan kekerasan. Tapi kenyataan lawan malah menerima serangannya itu sambil membusungkan dada tanpa takut. Agaknya pukulan yang maha dahsyat tadi telah mengobarkan api kebuasan dan keganasan orang berjubah merah itu, sambil berpekik keras, sekali lagi dia menyerang Bong Thian-gak. Kali ini Bong Thian-gak sudah menggenggam gagang pedang kayunya, apabila orang berjubah merah itu menyerang lagi, dia akan membalas dengan mempergunakan jurus pedangnya. Sejak Bong Thian-gak muncul di Bu-lim, belum pernah ada orang yang sanggup menerima jurus serangannya, maka setiap kali pedangnya digunakan, korban pasti berjatuhan. Betul pedangnya hanya terbuat dari kayu, namun disaluri tenaga dalam yang sangat sempurna, pada hakikatnya pedang itu lebih tajam daripada pedang mestika. Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam.
"Hong-hong, di bahumu masih terdapat sebilah pedang lain, cepat cabut keluar apabila pedangku tidak mendatangkan manfaat yang kuharapkan, terpaksa aku harus meminjam pedangmu itu."
Mendengar perkataan itu, dengan cepat Yu Hong-hong melolos pedangnya yang tersoreng di bahu.
Sementara itu si orang berjubah merah sudah menjerit keras dan menerkam dengan ganas.
Diiringi bentakan nyaring, Bong Thian-gak melolos pedangnya.
"Crit", desingan tajam mendesis, kemudian bergema teriakan setan yang menggidikkan hati. Pedang kayu Bong Thian-gak telah menembus tiga inci di bawah pusar orang berjubah merah itu hingga tembus, menyusul dengan suatu gerakan cepat kaki kanan Bong Thiangak melepaskan tendangan yang membuat tubuh musuh mencelat. Orang berjubah merah itu tewas, namun dari mulut lukanya tiada cairan darah yang meleleh keluar. Mencorong sinar aneh dari balik mata Ji-hubuncu Hiatkiam-bun, tiba-tiba ujarnya.
"Benar-benar jurus pedang yang luar biasa, tak nyana tubuh si algojo berbaju merah pun tembus. Namun jangan keburu bangga, sebentar lagi Ma Kong akan bangkit kembali, sekarang dia cuma jatuh semaput."
Paras muka Bong Thian-gak segera berubah serius, serunya.
"Hong-hong, berikan pedangmu kepadaku."
Ternyata tusukan pedang kayu Bong Thian-gak dengan cepat sudah ditarik dan dimasukkan ke sarungnya, sementara lengannya menerima angsuran pedang dari Yu Hong-hong.
Setelah menggenggam pedang baja, ia berseru lantang.
"Ji-hubuncu, kau adalah seorang yang cerdik, pedang kayuku saja bisa menembus tubuh si algojo berbaju merah itu apalagi dengan pedang baja di tangan. Aku orang she Bong percaya masih bisa mematahkan seluruh bagian tubuhnya. Aku tidak percaya bila seseorang sudah tercincahg menjadi tujuhdelapan bagian, dia masih dapat hidup kembali."
Sambil tertawa dingin, Bong Thian-gak berkata lebih lanjut.
"Untuk mendididk dan melatih lima algojo berbaju merah ini, aku yakin pihak Hiat-kiam-bun telah banyak mengeluarkan pikiran dan tenaga, bila Ji-hubuncu menginginkan kerja kerasmu selama ini porak-poranda dalam sekejap mata, maka terpaksa aku akan memusnahkan mereka dari muka bumi."
"Padahal sesungguhnya, antara aku orang she Bong dengan perguruan kalian tidak mempunyai ikatan dendam ataupun sakit hati, aku pun tak ingin melenyapkan algojoalgojo kalian itu, nah Ji-hubuncu, aku sudah cukup memberi penjelasan, harap kau jangan mendesak diriku lebih jauh."
Setelah itu Bong Thian-gak berkata kepada Yu Hong-hong.
"Ayo kita segera mundur dari sini!"
Mendadak kesembilan gadis berkerudung merah yang berdiri di depan pintu menggerakkan senjata dan maju menyambut kedatangan mereka. Tiba-tiba terdengar Ji-hubuncu berseru nyaring.
"Mundur, biarkan mereka mengundurkan diri dari sini!"
Mendapat perintah itu, kesembilan gadis berkerudung merah segera menyingkir ke kiri dan ke kanan. Dengan suara lantang Bong Thian-gak berseru.
"Terima kasih Ji-hubuncu atas kemurahan hatimu, sampai jumpa di lain waktu."
Dia membuka pintu dan bersama Yu Hong-hong mengundurkan diri dari situ.
Setibanya di luar pagar halaman, Yu Hong-hong mendongakkan kepala memandang matahari yang bersinar terik, tak tahan lagi gumamnya.
"Ai, seperti baru saja bermimpi buruk!"
"Siapa bilang bermimpi buruk? Kita mengalami semua sebagai kenyataan,"
Kata Bong Thian-gak sambil mengembalikan pedang baja gadis itu.
"Tapi hakikatnya melebihi setan iblis dari neraka, benarbenar menggidikkan,"
Bisik Yu Hong-hong dengan jantung masih berdebar. Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Ai, seandainya tidak kusaksikan dengan mata kepalaku, aku benar-benar tak percaya akan peristiwa yang mengerikan ini."
Yu Hong-hong bertanya pula dengan polos.
"Hwecu, bukankah kau dapat memusnahkan kelima setan iblis itu? Mengapa kau tidak memanfaatkan kesempatan tadi untuk membinasakan mereka?"
Bong Thian-gak kembali menghela napas panjang.
"Tadi sebenarnya aku sendiri pun tidak yakin akan berhasil memotong-motong tubuh mereka dengan menggunakan pedangmu, sesungguhnya Ji-hubuncu termakan oleh gertak sambalku."
Yu Hong-hong mengedipkan mata berulang-kali, lalu bertanya lagi.
"Bukankah pedang kayu Hwecu berhasil menembus tubuh setan iblis itu? Bila diganti dengan sebilah pedang baja, masakah tak mampu mencabik-cabik tubuh mereka? Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Untuk mengerahkan tenaga melepaskan tusukan, tenaga yang kita gunakan akan jauh lebih besar, terutama bagi seorang jago yang bertenaga dalam sempurna, memakai pedang kayu atau pedang sungguhan sebenarnya tidak berbeda jauh, kecuali pedang yang kita pergunakan adalah sebilah pedang mustika yang dapat mematahkan benda apa saja."
"Wah, jika di kemudian hari Hiat-kiam-bun melepas kelima algojonya malang-melintang dalam Bu-lim, bukankah akan tercipta bibit bencana besar bagi umat persilatan."
"Sekarang aku sedang berusaha menanggulangi kejadian itu, untung saja kita diberi kesempatan mengetahui rahasia Hiat-kiam-bun itu, kalau tidak, akibatnya di kemudian hari tentu akan semakin serius."
Bicara punya bicara, Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong sudah sampai di halaman kamar nomor tiga puluh enam.
oo Malam semakin kelam, suasana amat sepi dan tidak terdengar suara apa pun.
Cahaya lentera masih memancar keluar dari bilik kamar nomor tiga puluh enam.
Bong Thian-gak duduk di depan meja sambil terpekur dan merenung seorang diri.
Tiba-tiba di luar kamar terdengar suara gemerisik yang amat lirih.
Biarpun ada daun kering yang rontok terhembus angin pun tidak akan lolos dari pendengaran Bong Thian-gak, apalagi suara gemerisik yang mengundang kecurigaan.
"Siapa di situ?"
Sambil membentak sorot mata Bong Thiangak dialihkan keluar jendela dengan cepat.
Mendadak ia menyaksikan sesosok bayangan tubuh yang ramping dan indah berdiri di tengah halaman.
Bagaikan disambar geledek Bong Thian-gak membatin.
"Ah! Si-hun-mo-li! Ia benar-benar telah datang."
Sementara itu bayangan indah di luar jendela masih diam tak bergerak, namun sepasang matanya yang jeli justru memancarkan cahaya tajam yang indah, sorot mata itu sedang mengawasi Bong Thian-gak yang berada di balik jendela tanpa berkedip.
Dengan suara rendah Bong Thian-gak menegur.
"Kalau sudah datang, mengapa tidak masuk? Pintu tidak ditutup!"
V Siapa tahu baru selesai perkataan itu diucapkan, terdengar suara cekikikan merdu, lalu bayangan indah di luar sana lenyap.
Bong Thian-gak terkejut, dengan cepat dia melompat keluar melalui jendela dan naik ke atas wuwungan rumah.
Di bawah cahaya bintang dan rembulan, tampak sesosok bayangan tubuh indah sedang bergerak di ujung atap rumah sebelah sana.
Bong Thian-gak mengembangkan Ginkangnya dan melakukan pengejaran secara ketat.
"Bagaimana pun juga aku tak boleh membiarkan dia lolos dari pengejaranku."
Inilah keputusan yang diambil Bong Thian-gak, oleh karena ia tak sempat melihat jelas paras muka Si-hun-mo-li, maka tidak diketahui olehnya apakah Si-hun-mo-li itu benar Thaykun atau bukan.
Pengejaran dilakukan Bong Thian-gak dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Bayangan indah di depan sana pun berlari tak kalah cepatnya.
Dalam waktu singkat keduanya sudah berada di luar kota, akan tetapi Bong Thian-gak belum juga berhasil memperpendek jarak di antara mereka.
Sekarang pemuda itu baru terperanjat, segera pikirnya.
"Ai, tak nyana ilmu meringankan tubuh yang dia miliki begitu cepat, tapi aku tak boleh kehilangan jejak, tidak gampang mengundang kehadirannya ... bila kali ini aku tak berhasil menjumpainya, maka selamanya tak akan berjumpa lagi."
Sementara berbagai ingatan berkecamuk dalam benak Bong Thian-gak, ia semakin mempercepat gerak tubuhnya, seperti sedang terbang saja kaki tidak menempel tanah.
Akhirnya jarak antara mereka berhasil diperpendek.
Di hadapan mereka tiba-tiba muncul sebuah gedung berloteng yang amat megah.
Bayangan langsing di depan sana menerobos masuk ke dalam rumah yang berlapis-lapis itu dan sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap.
Bong Thian-gak menerjang masuk ke dalam bangunan itu, namun suasana di sekeliling sana sepi dan hening, seolah-olah sebuah kota mati saja.
Tentu saja bayangan Si-hun-mo-li turut lenyap, dia seolaholah tertelan oleh kegelapan malam.
Ketika Bong Thian-gak menginjak daun-daun kering yang berserakan di tanah, segera disadari olehnya bahwa di perkampungan itu sudah lama ditinggalkan orang dan tak berpenghuni lagi.
Si-hun-mo-li tentu bersembunyi di dalam sana ...
ya, dia pasti berada di dalam gedung itu.
Bong Thian-gak tidak putus-asa, pelan-pelan dia menelusuri bangunan itu dan melakukan pencarian dengan seksama.
"Heran, mengapa Si-hun-mo-li tak berani menjumpai diriku? Ya, dia sudah mengenali aku ... kalau begitu dia tentu Jit-kaucu Thay-kun."
Teringat akan Thay-kun, dalam benak Bong Thian-gak terlintas kembali pengalamannya pada tiga tahun lalu, di kaki bukit Cui-im-hong di luar kota Lok-yang, dimana mereka berdua sama-sama mengunjungi rumah si tabib sakti Gi Jiancau.
"Ai, bila Thay-kun sampai tertimpa sesuatu musibah, tanggungjawabku akan bertambah berat."
Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas, sementara tubuhnya sudah melalui tiga lapis halaman dan hampir setiap ruangan sudah diperiksa dengan seksama, namun ia belum juga menemukan bayangan perempuan itu.
Biarpun saat ini Bong Thian-gak sudah jadi suami Song Leng-hui, namun dalam hati masih tetap dipenuhi bayangan Thay-kun.
Semua peristiwa yang dialami, tubuhnya yang indah dan cantik, serta pesan wanti-wanti Ku-lo Sinceng, pendeta agung Siau-lim-si itu.
Biarpun suasana dalam Bu-lim dewasa ini sudah mengalami perubahan besar, tapi Bong Thian-gak percaya Put-gwa-cinkau tak akan lenyap begitu saja.
Selama tiga bulan terakhir ini, dia sudah menyelidiki keadaan dunia persilatan secara diam-diam, Bong Thian-gak tahu Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau memang telah berkunjung ke markas besar Kay-pang di wilayah Sucwan.
Itulah sebabnya tersiar berita yang mengatakan Congkaucu Put-gwa-cin-kau telah dikalahkan oleh Pangcu kaum pengemis dalam suatu duel yang sengit, akibatnya dia terikat dan tak berani mengembangkan sayapnya lagi.
Ikatan itu adalah pihak Put-gwa-cin-kau wajib mengasingkan diri dan tak boleh muncul kembali di Bu-lim.
Bisa jadi ikatan itu berlaku dalam batas waktu tiga tahun.
Sebab dari kemunculan Si-hun-mo-li yang baru tiga bulan, Bong Thian-gak mengambil kesimpulan bahwa Si-hun-mo-li bisa jadi adalah salah satu alat Put-gwa-cin-kau untuk melenyapkan umat persilatan dari dunia ini.
Pada tiga tahun berselang, Thay-kun telah ditangkap oleh Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Tak mungkin Cong-kaucu melepaskan Thay-kun begitu saja, bisa jadi Thay-kun dijadikan iblis wanita pembetot sukma.
Walaupun semua peristiwa itu merupakan dugaan Bong Thian-gak, namun apa yang diduganya itu memang cukup beralasan, untuk membuktikan kebenaran dugaannya itu terpaksa dia harus menemui Si-hun-mo-li.
Gedung itu sangat besar, bisa jadi pemiliknya di masa lampau adalah seorang pembesar kaya, biarpun sudah lama gedung itu ditinggal penghuninya, namun semua gununggunungan, gardu, loteng dan pagar, masih mencerminkan keindahan dan kemegahan seperti dulu.
Setiap sudut bangunan telah diperiksa Bong Thian-gak dengan seksama, namun dia tak berhasil menemukan bayangan perempuan itu.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thiangak, bagaikan sukma gentayangan Bong Thian-gak melompat naik ke atas loteng tertinggi, kemudian menyembunyikan diri di situ.
Pemandangan di bawah loteng terbentang luas, ia dapat dengan jelas mengawasi setiap gerak-gerik sekeliling bangunan itu.
Mendadak Bong Thian-gak seperti mengendus selapis bau harum bunga anggrek yang amat tipis.
Bau harum itu seolah-olah datangnya dari ujung langit sana yang menyebar kemana-mana.
Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, namun di seputar sana tiada bunga anggrek, tiada pula bunga lain, tapi bau harum itu makin lama makin tajam, Bong Thian-gak merasa seolah-olah pernah mengendus bau harum itu.
Mendadak pula paras muka Bong Thian-gak berubah hebat.
Ia teringat sekarang, bau anggrek itu pernah diendusnya tiga tahun berselang, tatkala dia berada di kaki bukit Cui-im-hong di luar kota Lok-yang, tepatnya di rumah tabib sakti Gi Jian-cau.
Waktu itu Congkaucu Put-gwa-cin-kau muncul.
Belum habis ingatan itu lewat, Bong Thian-gak telah menyaksikan munculnya sebuah tandu besar di tengah kebun di depan sana, tandu itu berhenti di atas sebuah gardu.
Apa yang dilihat sekarang sungguh mengejutkan Bong Thian-gak hingga jantungnya berdebar keras.
"Mungkin Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau muncul."
Dendam kusumat yang dipendam sejak tiga tahun lalu segera berkobar kembali, Bong Thian-gak merasakan darah dalam tubuhnya mendidih, hampir saja dia hendak menerkam ke depan.
Untung selama tiga tahun melatih diri secara tekun di bukit terpencil membuat wataknya lebih tenang dan pandai mengendalikan diri, akhirnya ia berhasil mengendalikan gejolak perasaan benci dan dendam yang berada di dalam dadanya.
Rupanya pada saat itu Bong Thian-gak menyaksikan munculnya berpuluh sosok bayangan orang di sekeliling tandu.
Biarpun ilmu silat Bong Thian-gak sekarang sudah mencapai tingkat yang luar biasa, namun dia belum yakin dapat menandingi kekuatan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, apalagi musuh berjumlah lebih banyak, ia semakin tak berani bertindak gegabah.
Tiga tahun berselang, hampir saja ia tewas di tangan lawan.
Sungguh tak disangka kemunculan kembali tiga tahun kemudian dengan cepat mempertemukan dia dengan Congkaucu Put-gwa-cin-kau.
Tiba-tiba dari balik tandu besar berkumandang suara seseorang dengan nada merdu.
"Sam-kaucu, selama tiga bulan ini, tugas yang kau laksanakan amat memuaskan hatiku, bertambahnya pembantu semacam kau di dalam Put-gwa-cin-kau, hakikatnya seperti harimau tumbuh sayap."
Mendengar panggilan "Sam-kaucu", Bong Thian-gak terkejut, pikirnya.
"Bukankah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau sudah terbunuh tiga tahun lalu di pagoda Leng-im-po-tah di luar kota Kay-hong? Waktu itu aku bersama Toa-suheng Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang melaksanakan pembunuhan ini, dimana jenazahnya dihancurkan Thia Lengjuan dengan obat penghancur mayat. Mengapa bisa muncul Sam-kaucu lagi sekarang? Jangan-jangan dia adalah Samkaucu baru yang belum lama bergabung dengan mereka."
Berpikir sampai di sini, Bong Thian-gak segera mengarahkan pandangan matanya ke arah depan sana.
Di muka tandu besar itu berlutut seorang berperawakan biasa sedang menjura pada Cong-kaucu yang berada di dalam tandu besar, lalu katanya dengan hormat.
"Terima kasih, Cong-kaucu."
Mendengar logat suara orang itu, Bong Thian-gak tertegun, pikirnya dalam hati.
"Heran, suara ini amat kukenal, sebenarnya siapakah Sam-kaucu yang baru itu?"
Sementara itu Cong-kaucu yang berada di dalam tandu telah berkata kembali.
"Sam-kaucu, mengenai tugas yang kau lakukan di kota terlarang, sudah sebagian besar kau rampungkan, saat ini sebagian jago lihai dari berbagai perguruan telah muncul di dalam kota, yang masih tersisa pun tinggal beberapa pentolan saja, mungkin tak sampai setengah bulan lagi, sebagian besar akan berkumpul di wilayah Hopak ini."
"Bukan suatu tugas yang sederhana bagi Put-gwa-cin-kau kita menghadapi jago lihai sedemikian banyak, maka aku sengaja berkunjung ke wilayah Hopak untuk memberi komando inti kekuatan Put-gwa-cin-kau kita. Ji-kaucu serta komandan pertama pasukan pengawal tanpa tanding sekalian dalam waktu singkat akan datang semua ke Hopak, sampai waktunya orang yang akan memberi komando adalah aku, Jikaucu, Sam-kaucu, komandan pertama pasukan pengawal tanpa tanding serta komandan kedua pasukan tanpa tanding."
"Baik, terima kasih banyak atas perhatian Cong-kaucu yang telah mencantumkan pula diri hamba dalam kelompok komandan,"
Jawab Sam-kaucu dengan hormat. Kembali Cong-kaucu berkata.
"Sam-kaucu, belakangan ini di Bu-lim telah muncul Jian-ciat-suseng, apakah kau tahu asalusul orang itu?"
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi amat terperanjat, segera pikirnya.
"Benar-benar tak kusangka Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah menaruh perhatian kepadaku."
Sementara itu Sam-kaucu termenung sejenak, kemudian sahutnya.
"Lapor Cong-kaucu, malam ini Si-hun-mo-li berangkat mengunjungi Jian-ciat-suseng, hamba rasa dia tak akan lolos dari cengkeraman Si-hun-mo-li."
Mendengar perkataan itu, pelan-pelan Cong-kaucu menyahut.
"Sam-kaucu, dalam melaksanakan pekerjaanmu kali ini kau bertindak kelewat gegabah dan menyerempet bahaya, dewasa ini Jian-ciat-suseng sudah termasuk di antara deretan jago lihai dalam Bu-lim, sebelum kau selidiki dengan jelas asal-usul Jian-ciat-suseng, sudah kau utus Si-hun-mo-li menghadapinya, jika Si-hun-mo-li tak mampu menyelesaikan tugasnya atau menemui celaka di tangan Jian-ciat-suseng, bukankah usaha kita selama ini akan sia-sia belaka."
Teguran itu membuat Sam-kaucu menundukkan kepala, tanpa menjawab ia berdiri kaku di tempat. Setelah berhenti sesaat, Cong-kaucu berkata lagi.
"Samkaucu, aku tahu, kau percaya setiap lelaki yang bertemu Sihun-mo-li, dia tak akan mampu memberi perlawanan, bukankah demikian?"
"Lapor Cong-kaucu, hamba memang berpendapat begitu,"
Jawab Sam-kaucu agak tergagap.
"Tak heran Sam-kaucu mempunyai pendapat begitu, terus terang kukatakan, sepasang mata Si-hun-mo-li sebetulnya sudah melatih ilmu Si-hun-tay-hoat (Ilmu pembetot sukma) yang merupakan kepandaian rahasia perguruan Mi-tiong-bun di Tibet, setiap umat persilatan yang memandang sepasang matanya pasti akan terpikat dan terpengaruh pikirannya, tapi di Bu-lim ini masih terdapat dua tokoh silat yang memiliki kemampuan untuk mematahkan pengaruh Si-hun-tay-hoat itu."
"Siapakah kedua orang itu?"
Tiba-tiba Sam-kaucu bertanya.
"Dia adalah Kay-pang Pangcu dan Cengcu Kim-liong-kiansan-ceng!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Aku rasa Jian-ciat-suseng pun bisa jadi memiliki kemampuan untuk mematahkan pengaruh Si-hun-tay-hoat itu."
"Darimana Cong-kaucu bisa tahu Jian-ciat-suseng memiliki kemampuan itu?"
Tanya Sam-kaucu Cong-kaucu termenung sejenak, kemudian ujarnya.
"Senjata yang digunakan Jian-ciat-suseng adalah pedang, bagi seorang jago lihai ahli pedang, kepandaian yang harus dilatih terlebih dahulu adalah melatih ketajaman mata dan ketepatan hati, ditinjau dari kemampuan Jian-ciat-suseng mengalahkan begitu banyak jago lihai dalam tiga bulan terakhir ini, sudah jelas ilmu pedangnya tidak kalah dibanding ilmu pedang Cengcu Kim-liong-kian-san-ceng Mo Hui-thian dan Kay-pang Pangcu. Ketiga orang ini sama-sama mengandalkan ilmu pedang mereka yang lihai."
"Biarpun aku belum tahu dengan jelas asal-usul Jian-ciatsuseng, namun aku memuji kehebatan ilmu pedangnya, dia merupakan salah satu musuh tangguh Put-gwa-cin-kau kita."
"Nasehat Cong-kaucu akan hamba camkan dalam hati,"
Sahut Sam-kaucu dengan hormat Tiba-tiba Cong-kaucu bertanya lagi.
"Beberapa bulan lalu, Sam-kaucu pernah mengatakan bahwa perkampungan ini punya peralatan lengkap dan bisa digunakan sebagai kantor cabang perkumpulan kita di wilayah Hopak, harap Sam-kaucu mengajak diriku melihat-lihat keadaan di sekitar sini!"
"Perkampungan ini adalah bekas istana raja muda Mo-laycing-ong di masa lampau, biarpun bangunan megah ini enak dipandang, namun belum merupakan yang terhebat, karena bangunan utama terletak di bawah tanah."
Pelan-pelan Cong-kaucu berkata pula.
"Raja muda Mo-laycing-ong, adik sepupu kaisar Ching Ko-cou, orang ini berotak cerdas dan kepandaiannya jauh melampaui kaisar Ching Kocou sendiri. Tatkala kaisar Ching Ko-cou melakukan pembersihan terhadap bekas-bekas pembesar setianya, hanya Mo-lay-cing-ong yang lolos dari pembersihan itu, ia tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi di dalam istana bawah tanah ini?"
"Cong-kaucu memang cerdas dan cermat, jauh melampau siapa pun, betul waktu itu Mo-lay-cing-ong bersembunyi di istana bawah tanah ini."
"Aku pernah berkunjung ke dalam istana itu serta menemukan delapan belas sosok kerangka, satu di antaranya berperawakan tinggi besar, sedang yang lain berperawakan kecil dan lembut, kemungkinan adalah kerangka raja Mo-laycing-ong beserta ketujuh belas selirnya."
"Aku dengar kekayaan raja muda Mo-lay-cing-ong tiada taranya, apakah Sam-kaucu berhasil menemukan sesuatu di bawah istana sana?"
"Menurut daftar yang dibuat kaisar Ching Ko-cou atas orang-orang yang dikehendakinya, nama raja muda Mo-laycing-ong terdaftar sebagai musuh nomor satu, konon yang paling menakutkan adalah harta kekayaan raja muda itu."
"Setelah kusaksikan bangunan istana dalam perkampungan ini, terpikir olehku bisa jadi semua harta kekayaan raja muda Mo-lay-cing-ong berada di istana bawah tanahnya, tapi karena istana itu dilengkapi alat rahasia, aku belum sempat menggeledah setiap ruangan yang berada di situ, itulah sebabnya hingga kini aku belum menemukan harta karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong itu."
"Sam-kaucu tak usah kuatir, aku telah mengundang seorang ahli bangunan dan ilmu tanah untuk menangani persoalan ini, mungkin dalam beberapa hari mendatang rahasia istana tanah Mo-lay-cing-ong akan berhasil kita temukan."
"Cong-kaucu telah mengundang seorang ahli bangunan dan ilmu tanah?"
Baru selesai ucapan itu diutarakan, mendadak terdengar seseorang menyambung dengan suara dingin.
"Aku Jikauculah orangnya!"
Bersama dengan selesainya ucapan itu, dari balik bangunan lain tiba-tiba muncul sekelompok bayangan orang yang langsung berjalan menuju ke arah gardu itu.
"Oh, cepat amat kedatangan Ji-kaucu!"
Cong-kaucu yang berada dalam tandu berseru kegirangan.
"Aku malah menduga besok malam Ji-kaucu baru akan tiba di Hopak, tak disangka kau bisa datang sehari lebih awal, mari ... mari ... mari ... Sam-kaucu belum pernah bicara dengan Jikaucu, biar kuperkenalkan dahulu kalian berdua."
Sementara pembicaraan berlangsung, Ji-kaucu beserta ketujuh-delapan anak buahnya telah berkumpul di depan tandu besar itu. Ji-kaucu memberi hormat lebih dulu kepada tandu besar itu, ujarnya.
"Ji-kaucu menyampaikan salam sejahtera untuk Cong-kaucu."
"Tak usah banyak adat, kedatangan Ji-kaucu memang sangat kebetulan, baru saja aku tiba di Hopak dan belum mencari tempat pemondokan, harap Ji-kaucu mencarikan sebuah ruangan dalam istana ini sebagai tempat pemondokan."
Sementara itu Sam-kaucu telah memberi hormat kepada Jikaucu.
"Sam-kaucu menyampaikan selamat bertemu pada Jikaucu."
"Tak usah banyak adat,"
Kata Ji-kaucu pula dingin.
"Sudah begini lama Cong-kaucu tiba di sini, mengapa Sam-kaucu belum mencarikan tempat pemondokan bagi Cong-kaucu?"
"Hamba memang mengundang Cong-kaucu untuk memasuki ruang bawah istana."
"Mengapa Sam-kaucu masih belum menunjuk jalan?"
Tegur Ji-kaucu dingin.
"Kalau begitu dipersilakan Cong-kaucu dan Ji-kaucu mengikuti diriku."
Selesai berkata, dia beranjak lebih dulu menuju ruangan sebelah barat.
Tandu besar serta kedua puluh orang serentak mengikut di belakangnya, tak selang beberapa saat kemudian bayangan mereka telah lenyap di balik kegelapan sana.
Dengan menyembunyikan diri di atas wuwungan loteng, Bong Thian-gak dapat menyaksikan rombongan itu memasuki sebuah ruangan gedung kecil di tengah halaman lapis keempat.
Sementara itu cahaya lentera memancar keluar dari gedung tadi.
Menyaksikan rahasia besar itu, berbagai pertanyaan yang mencurigakan dan tidak dipahami olehnya bermunculan menyelimuti benak anak muda itu.
Sebenarnya siapakah Sam-kaucu itu?
Mengapa suaranya begitu dikenal?
Berhubungan jarak mereka kelewatan jauh, maka Bong Thian-gak tidak sempat menyaksikan dengan jelas paras muka setiap orang yang hadir di sana.
Dari pembicaraan mereka, bisa jadi Si-hun-mo-li, si momok perempuan yang disegani dan ditakuti setiap umat persilatan tak lain adalah Jit-kaucu Thay-kun.
Tapi mengapa Thay-kun bisa berubah jadi manusia seperti itu?
Tatkala Jit-kaucu Thay-kun belum mengkhianati Put-gwacin-kau, kedudukannya dalam partai begitu tinggi dan terhormat sehingga pada hakikatnya hanya berada pada urutan kedua setelah Cong-kaucu, tapi kini dia justru dikendalikan oleh Sam-kaucu, dari sini dapat disimpulkan bahwa gadis itu memang sudah dicelakai oleh ketuanya sendiri.
Bila jadi Thay-kun yang sekarang hanya robot hidup tanpa pikiran dan kesadaran.
Yang paling mengejutkan Bong Thian-gak adalah di gedung itu ternyata masih terdapat sebuah istana yang konon sangat megah.
Mo-lay-cing-ong adalah seorang panglima perang kenamaan ketika tentara Ching menyerbu daratan Tionggoan, konon sewaktu raja muda Mo-lay-cing-ong membawa tentara menyerbu daratan, dia telah merampok semua harta kekayaan rakyat kecil hingga dalam waktu singkat dia telah menjadi panglima perang terkaya di seluruh negeri.
Ketika Ching Ko-cou naik tahta, dia mendapat laporan bahwa raja muda Mo-lay-cing-ong sedang mencari tentara dan membeli kuda dengan niat melakukan pemberontakan, kejadian ini mengejutkan sang raja sehingga dia bertindak lebih dulu dengan menjatuhi hukuman pancung kepala atas semua keluarga raja muda itu.
Tapi kaisar Ching Ko-cou tak pernah berhasil membunuh raja muda Mo-lay-cing-ong, karena tak seorang pun yang tahu dimanakah dia menyembunyikan diri.
Ketika Mo-lay-cing-ong hilang, tahta kerajaan waktu itu telah beralih ke tangan kaisar Yong Cing, ini membuat sang kaisar tak pernah tenang dan memerintahkan anak buahnya lebih giat melakukan pencariannya atas jejak si raja muda itu.
Dari pembicaraan Cong-kaucu dengan Sam-kaucu, tampaknya raja muda Mo-lay-cing-ong telah menyembunyikan diri di istana bawah tanahnya ketika itu.
Bila rahasia besar ini sampai tersiar, bisa dibayangkan betapa gemparnya seluruh dunia.
Intan permata dan emas perak hasil rampokan raja muda Mo-lay-cing-ong dari rakyat bangsa Han bisa jadi disimpan juga di dalam istana bawah tanah ini, siapakah yang tidak silau menyaksikan harta karun yang tak ternilai harganya itu?
Barang siapa berhasil menemukan harta karun itu, dia akan segera menjadi jutawan yang tiada bandingannya di seluruh negeri.
Bila harta karun itu sampai dikuasai pihak Put-gwa-cin-kau, maka Put-gwa-cin-kau akan segera menguasai seluruh dunia persilatan dan menjadi pemimpin dunia.
Itu berarti kekacauan dan kekalutan akan merajarela di seluruh negeri, hidup rakyat kecil tak pernah tenang, bencana manusia pun akan muncul berulang-ulang.
Bong Thian-gak segera menyadari betapa beratnya kewajiban dan tugasnya setelah berhasil menyadap rahasia besar itu, karena bukan cuma menyangkut dunia persilatan saja, tapi sudah mencapai kolong langit.
Bagaimana pun juga, dia tak boleh membiarkan pihak Putgwa-cin-kau mendapatkan harta karun raja muda Mo-lay-cingong itu.
Dia pun tak dapat membiarkan harta karun itu jatuh ke tangan kerajaan Ching.
Sebab harta karun itu milik bangsa Han, hasil rampokan raja muda Mo-lay-cing-ong dari rakyat bangsa Han ketika dia menyerbu daratan Tionggoan dulu.
Sekarang dia sebagai bangsa Han wajib melindungi keutuhan harta karun milik rakyatnya, sehingga tidak dikangkangi pihak kerajaan Ching.
Harta karun itu sudah sewajarnya dikembalikan kepada rakyat yang berhak memilikinya, rakyat bumi putera anak keturunan kaisar Hong Te.
Dalam waktu singkat Bong Thian-gak merasa darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, pikirannya kalut, dia telah mengambil keputusan melakukan usaha besar bagi umat persilatan.
Mendadak terdengar beberapa kali jerit kesakitan berkumandang dari arah gedung kecil di sebelah barat.
Perubahan ini terjadi sangat mendadak, sama sekali di luar dugaan, untuk beberapa saat Bong Thian-gak tidak mengetahui apa gerangan yang telah terjadi?
Dengan cepat pemuda itu menengok ke arah sumber suara.
Tiba-tiba tiga sosok bayangan orang meluncur keluar dari balik gedung kecil itu dengan kecepatan tinggi.
Salah seorang di antaranya bergerak cepat dan gesit, bagaikan sambaran petir dia melampaui dua orang yang lain dan langsung meluncur ke arah Bong Thian-gak berada.
Bersamaan dengan berkelebatnya tiga sosok bayangan orang itu, dari arah belakang muncul pula seorang berbaju hijau yang melakukan pengejaran dengan pedang terhunus.
Gerakan tubuh orang itu pada hakikatnya jauh lebih cepat daripada gerakan burung elang, tampak dia melejit dengan enteng dan tahu-tahu sudah melewati kepala kedua orang berbaju hitam di mukanya.
Cahaya pedang berkelebat, dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecah keheningan malam.
Tahu-tahu kedua orang berbaju hitam itu sudah kena tusukan pedang dan roboh terjengkang ke atas tanah.
Selesai membunuh kedua orang itu, orang tadi mengangkat kepala memandang ke depan, ketika dilihatnya korban ketiga sudah kabur ke depan sana, ia tertawa dingin, lalu sambil melejit dia melakukan pengejaran secepat kilat.
Ilmu meringankan tubuh orang itu benar-benar sangat lihai, di saat sang korban sudah kabur ke gedung dimana Bong Thian-gak menyembunyikan diri, orang itu sudah bisa melampaui orang berbaju hitam dan melayang turun di mukanya, sementara pedangnya langsung dibabatkan ke muka.
Tampaknya kepandaian silat orang berbaju hitam itu tidak lemah, melihat jalan perginya dihadang orang, tubuhnya yang hampir menumbuk orang itu segera berputar setengah lingkaran dan berhenti, dengan begitu dia pun berhasil lolos dari tusukan pedang orang itu.
Bong Thian-gak dapat melihat dengan jelas bahwasanya orang itu tak lain adalah Ji-kaucu.
Sedangkan orang berbaju hitam yang sedang melarikan diri itu adalah seorang kakek kurus kering.
Bertemu Ji-kaucu, kakek berbaju hitam tadi nampak sedikit tegang, gugup dan ketakutan, tapi sebagai seorang jago kawakan Bu-lim, dengan cepat pula dia berhasil mengendalikan perasaan dan bersikap tenang kembali.
"Permainan pedangmu sungguh cepat dan buas!"
Jengeknya sambil tertawa dingin.
"Tujuh anak buahku mati di tanganmu!"
Paras muka Ji-kaucu dingin menyeramkan, sama sekali tak nampak perubahan apa pun, katanya kaku.
"Kau pun jangan harap bisa lolos dari kematian!"
Mendadak kakek berbaju hitam itu tertawa seram.
"Kau adalah satu-satunya orang paling buas dan kejam yang pernah aku orang she Long jumpai sepanjang hidup."
"Hm, Hek-ki-to-cu Long Jit-seng terhitung seorang buas dan keji pula di sekitar kepulauan di laut timur."
Mendengar perkataan itu, kakek berbaju hitam itu nampak terkejut dan berubah paras mukanya.
"Tajam amat pandangan matamu, ternyata kau masih mampu mengenali diriku."
"Ilmu silat Hek-ki-to-cu Long Jit-seng hanya biasa saja, namun ilmu lain seperti iNgo-heng-pat-kwa, ilmu perbintangan dan ilmu bangunan, ilmu tanah dan ilmu membaca peta justru termasyhur di seluruh kolong langit."
Bong Thian-gak yang menyadap pembicaraan itu dari atas wuwungan rumah dapat menangkap semua pembicaraan itu dengan jelas, dia memang pernah juga mendengar nama besar Long Jit-seng sebagai seorang ahli dalam ilmu-ilmu itu.
Padahal Long Jit-seng berdiam di pulau Hek-ki-to yang berada di tengah lautan timur, jauh-jauh dia mendatangi kota terlarang dan muncul di gedung penuh rahasia itu, sebagai orang yang cerdas Bong Thian-gak segera dapat menebak maksud dan tujuan.
Jangan-jangan Long Jit-seng sendiri pun mengetahui juga tentang rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong?
Sementara itu Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau terlampau memuji, biarpun ilmu kepandaian itu amat kukuasai, sayang masih belum cukup untuk melindungi keselamatan jiwaku sendiri."
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Ai, jika kau bersedia menjawab beberapa pertanyaanku dengan sebaik-baiknya, bisa jadi ilmu yang kau miliki itu dapat menjamin pula keselamatan jiwamu."
"Pertanyaan apa yang hendak kau ajukan? Cepat diutarakan!"
"Kau mendapat perintah dari siapa untuk menyusup ke dalam istana bawah tanah?"
Long Jit-seng tertawa tergelak.
"Selama hidup belum pernah Long Jit-seng diperintah orang, apalagi tunduk di bawah lutut orang lain."
Ketika mendengar perkataan itu, mencorong sinar membunuh dari balik wajah Ji-kaucu, kembali dia berkata dengan suara sedingin salju.
"Rahasia istana bawah tanah Mo lay-cing-ong ditemukan oleh Sam-kaucu perkumpulan kami, kecuali dia membocorkan rahasia itu, mustahil ada orang bisa mengetahui."
"Mengapa kau tidak menuduh Sam-kaucu kalian yang telah bersekongkol denganku?"
"Sam-kaucu baru saja menggabungkan diri dengan perkumpulan kami, Cong-kaucu sangat menaruh kepercayaan kepadanya dan aku pun amat percaya kepadanya."
"Jika demikian, mengapa kau masih curiga?"
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Lantas darimanakah pihak Hek-ki-to memperoleh rahasia ini?"
"Harta karun Mo-lay-cing-ong sudah diketahui orang seantero jagad. Hehehe, apalagi ketika Mo-lay-cing-ong membangun istana bawah tanah ini, dia telah mengundang seorang ahli tukang kayu."
"Siapakah orang itu?"
Tukas Ji-kaucu.
"Dia adalah Susiok-co, adik kakek!"
"Jadi karena itu kau mengetahui rahasia itu?"
"Betul, sejak tiga puluh tahun berselang aku sudah mengetahui rahasia itu."
"Lantas mengapa kau tidak melakukan pencarian sejak dulu, namun hari ini baru dilakukan?"
"Ilmu bangunan Susiok-co tiada bandingan di dunia ini, terutama ilmu alat rahasia, ya, boleh dibilang tiada kemungkinan bagi orang lain untuk memecahkan."
"Jadi maksudmu, alat rahasia dalam bangunan istana bawah tanah itu cuma dia seorang yang bisa membuka dan mencapai dimana harta karun itu tersimpan?"
Seru Ji-kaucu sambil tertawa dingin tiada hentinya. Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kalau dilihat dari kemampuan menemukan alat rahasia dalam ruang gedung begitu masuk tadi... terbukti kau pun seorang yang mahir di dalam ilmu bangunan, hehehe ... cuma saja bila kau ingin membuka kedelapan puluh satu bilik bawah tanah serta keempat puluh sembilan lorong rahasianya, aku pikir seumur hidup tak akan dapat kau lakukan."
"Kau telah membantuku melaksanakan sebagian besar tugasku, rasanya aku tak perlu banyak membuang tenaga lagi dengan percuma,"
Jengek Ji-kaucu dingin. Paras muka Long Jit-seng berubah hebat mendengar perkataan itu, segera tanyanya.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Aku tahu kau sudah membuang banyak tenaga dan pikiran untuk meraba peta dasar bangunan bawah tanah itu, asal kuperoleh peta rahasia yang telah kau persiapkan itu, bukankah aku bisa membuka setiap bilik dan lorong rahasia itu secara mudah dan cepat?"
Ucapan itu mengejutkan Long Jit-seng, namun paras mukanya sama sekali tak berubah, katanya cepat sambil tertawa dingin.
"Kau benar-benar sangat lihai, betul aku memang sudah mempersiapkan sebuah peta lengkap tentang seluruh bangunan istana bawah tanah itu, namun peta itu tak berada di sakuku sekarang."
"Peta itu pasti ada di sakumu,"
Seru Ji-kaucu. Long Jit-seng sadar, bilamana dia ingin meloloskan diri dari cengkeraman maut Ji-kaucu, kuncinya terletak pada peta itu. Menyadari hal itu, Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, engkau selalu yakin tebakanmu selamanya tepat, namun kau gagal menebak secara tepat kali ini?"
"Bila aku berani membunuhmu, buat apa banyak bicara hal-hal yang tak berguna denganmu?"
"Jadi mati-hidupku tergantung pada keputusanku bersedia bekerja sama atau tidak?"
Long Ji Seng tertawa semakin keras.
"Hek-ki-to-cu termasyhur sebagai manusia licik dan banyak akal muslihatnya, tentu saja kau dapat membedakan bukan, mana yang menguntungkan dan yang merugikan sebelum mengambil keputusan yang menguntungkan bagi dirimu sendiri."
Long Jit-seng kembali tertawa terbahak-bahak.
"Kau amat licik, berhati busuk dan berbahaya, bila tujuanmu sudah tercapai, akhirnya aku bakal mati juga di tanganmu."
"Tapi sedikit banyak kau bisa hidup lebih lama."
Dari pembicaraan kedua orang itu, bisa diketahui betapa licik dan berbahayanya kedua orang ini, mereka sama-sama cerdas dan bertujuan dalam, kedua belah pihak sama-sama tidak saling percaya.
Ibarat dua ekor rusa bertemu, mereka saling menipu, saling memasang perangkap untuk menjebak lawan.
Sudah barang tentu Long Jit-seng berada pada posisi yang tidak menguntungkan, sebab dia tahu, bagaimana pun juga kepandaian silatnya masih belum sanggup menandingi lawan.
Dalam sekali gebrakan saja pihak lawan mampu menghabisi ketujuh anak buahnya yang berilmu tinggi, peristiwa ini sudah menggidikkan hati Long Jit-seng, apalagi dalam istana bawah tanah masih terdapat begitu banyak jagojago lihai.
Andaikata pihak Put-gwa-cin-kau benar-benar menghabisi nyawa Long Jit-seng, biarpun dia hendak kabur ke ujung langit pun jangan harap bisa lolos dalam keadaan selamat.
Bong Thian-gak yang mengamati semua peristiwa itu dari atas wuwungan rumah dengan cepat dapat menebak jalan manakah yang bakal dipilih Long Jit-seng.
Sudah jelas jalan "kehidupan"
Yang bakal dipilih olehnya.
Mendadak Bong Thian-gak memperdengarkan suara dinginnya yang menggidikkan dari atas wuwungan rumah.
Tertawa seram itu muncul sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan orang, seketika itu juga Ji-kaucu dibuat terkesiap dan kaget setengah mati.
Mimpi pun dia tak pernah menyangka kalau di situ bakal hadir pihak ketiga yang bersembunyi di atas wuwungan rumah yang berjarak sedemikian dekat dengannya tanpa disadari.
Padahal ia percaya pada ketajaman mata maupun pendengaran sendiri, daun rontok pada jarak sepuluh tombak pun takkan lolos dari pendengarannya, suasana gelap gulita pun bisa dilihat olehnya dengan jelas, tapi mengapa ia tak menangkap suara apa pun?
Nyatanya orang itu dapat lolos dari pendengaran maupun penglihatannya, dari sini bisa diketahui bahwa ilmu silat lawan betul-betul sangat lihai.
"Jago lihai darimanakah yang bersembunyi di atas? Harap segera menampilkan diri."
Dengan suara menyeramkan dan mata bersinar tajam Jikaucu mengawasi wuwungan dengan pandangan tak berkedip.
"Mengapa Ji-kaucu tidak berani naik ke atas?"
Sahut Bong Thian-gak dingin.
"Jadi engkau tak berani turun?"
Jengeknya.
"Siapa bilang aku tak berani?"
Selesai bicara, tubuh Bong Thian-gak segera meluncur turun dari wuwungan rumah, langsung menerkam Ji-kaucu.
Tubrukan Bong Thian-gak dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, dalam sekejap tubuhnya sudah sampai di atas kepala Ji-kaucu, segulung tenaga maha dahsyat langsung menekan ke atas kepala lawan.
Sesungguhnya ilmu silat Ji-kaucu sangat lihai, namun sekarang dia pun tak mempunyai keyakinan untuk berhasil lolos dari ancaman maut itu.
Dalam keadaan begini, Ji-kaucu segera memutar pedangnya menciptakan selapis kabut pedang melindungi batok kepalanya, lalu secepat kilat tubuhnya menyingkir ke samping.
Long Jit-seng adalah seorang cerdas, dia tak mau membuang kesempatan yang sangat baik ini untuk meloloskan diri, secepat kilat dia melejit dan kabur dari tempat itu.
Sesungguhnya tujuan Bong Thian-gak menampakkan diri tadi adalah memberi kesempatan kepada Long Jit-seng untuk melarikan diri, maka dia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Ji-kaucu untuk berganti napas, angin pukulan kedua kembali dilontarkan dengan kekuatan luar biasa.
Cepat Ji-kaucu melejit ke samping, tapi angin pukulan lain tahu-tahu sudah menyambar datang dari arah kiri.
Ji-kaucu benar-benar tidak menduga gerakan lawan begitu cepat, aneh dan luar biasa.
Pada serangan pertama, ancaman datang dari atas ke bawah, maka pada serangan kedua dia telah mengubah arah dengan menerjang dari sisi kiri.
Ji-kaucu tertawa dingin, kali ini dia tidak menghindar, segulung angin pukulan dilepaskan dari sisi kiri untuk menyongsong datangnya ancaman lawan.
"Blam", kedua gulung angin pukulan itu saling bentur, terjadilah angin berputar yang menerbangkan dedaunan kering dan debu. Akibat bentrokan ini, sepasang kaki Ji-kaucu goyah dan mundur liga langkah secara beruntun. Sepanjang hidup belum pernah dia menghadapi pukulan dahsyat seampuh ini, dalam gusarnya Ji-kaucu segera melolos pedang dan melejit ke arah sisi lawan sambil melancarkan sebuah tusukan. Reaksinya cukup cepat, tapi gerakan tubuh Bong Thian-gak jauh lebih cepat lagi. Bong Thian-gak menjejakkan kaki kanannya dan melompat ke atas wuwungan rumah, dengan demikian cahaya pedang Ji-kaucu hanya menyambar lewat di bawah kakinya saja. Gagal dengan serangan pedangnya, Ji-kaucu dongkol setengah mati, sambil menjejakkan kaki dia mengejar ke atas wuwungan rumah. Tapi gerakan Bong Thian-gak jauh lebih cepat, begitu tubuhnya berkelebat, tahu-tahu dia sudah berada jauh di sana.
"Hei, kalau jantan kenapa tidak kau hentikan langkahmu?"
Bentak Ji-kaucu mendongkol.
Sambil membentak dia mengejar terus secara cepat.
Dalam pada itu dari arah gedung bermunculan beberapa sosok bayangan orang, tampaknya orang itu dibuat terkejut oleh ledakan!
dahsyat akibat benturan dua kekuatan angin pukulan tadi.
Di antara bayangan-bayangan itu, nampak sesosok bayangan orang bergerak paling cepat, langsung hendak menghadang di depan Bong Thian-gak.
Sayang sekali gerakan tubuh Bong Thian-gak masih jauh lebih cepat lagi, ia tak sampai terhadang oleh lawan.
Sementara itu Ji-kaucu telah menyusul pula ke sana, mendadak dia berteriak keras.
"Sam-kaucu, tak usah dikejar lagi"
Ternyata bayangan orang yang mengejar paling cepat adalah Sam-kaucu, ia menghentikan gerakan tubuhnya begitu memperoleh perintah, tapi segera tegurnya.
"Ji-kaucu, mengapa kita biarkan musuh kabur begitu saja?"
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Ilmu meringankan tubuh orang itu amat cepat, yakinkah Sam-kaucu berhasil menyusulnya?"
Sam-kaucu mendongakkan kepala, empat penjuru amat sepi tak terdengar suara apa pun, sementara bayangan tubuh Bong Thian-gak yang semula berada di depan sana, kini sudah lenyap.
Dengan wajah tertegun Sam-kaucu berkata.
"Wah, cepat benar gerakan tubuh orang itu, siapakah dia? Paras muka Ji-kaucu berubah sangat tak sedap dilihat, namun dia menjawab dengan suara dingin.
"Jika dilihat dari ujung lengan baju kanannya yang kosong terhembus angin, tampaknya dia adalah seorang berlengan tunggal."
Walaupun saat kejar mengejar tadi Ji-kaucu belum berhasil melihat raut wajah lawan, namun bayangan tubuh Bong Thian-gak, terutama ujung lengan baju kanannya yang kosong dapat terlihat olehnya dengan nyata.
"Ah, dia adalah Jian-ciat-suseng!"
Seru Sam-kaucu tanpa terasa dengan paras muka berubah.
"Sam-kaucu, bukankah kau mendapat perintah untuk menyusun persiapan besar di wilayah Hopak, bagaimana persiapan yang telah kau lakukan hingga jejak kita dapat dibuntuti lawan?"
"Selama aku berada di kota terlarang, yakin belum ada seorang pun yang menemukan jejakku, apalagi identitasku."
"Lantas bagaimana Jian-ciat-suseng bisa sampai di gedung ini?"
"Barusan kulihat Si-hun-mo-li kembali ke istana bawah tanah, bisa ditebak Si-hun-mo-li gagal dalam tugasnya dan justru dialah yang memancing kehadiran Jian-ciat-suseng."
Berubah hebat air muka Ji-kaucu.
"Kalau begitu pembicaraanmu dengan Cong-kaucu serta segala macam rahasia kita telah diketahui oleh Jian-ciatsuseng!"
"Tentang masalah itu, kita baru bisa menganalisanya setelah tahu bagaimana cerita Ji-kaucu sampai menemukan jejak Jian-ciat-suseng."
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Sam-kaucu mengapa kau tidak berterus terang saja mengatakan bahwa aku pun turut terkecoh oleh kehadiran Jian-ciat-suseng sehingga gerak-geriknya tidak kuketahui sama sekali?"
"Tidak berani, aku tak berani berpendapat demikian."
"Sam-kaucu, apakah kau mengetahui tempat tinggal Jianciat-suseng?"
Tiba-tiba Ji-kaucu menegur dengan suara dingin menyeramkan.
"Kamar nomor tiga puluh enam Hong-tok-ciu-lau."
"Dalam tiga hari, Sam-kaucu harus berhasil membunuh Jian-ciat-suseng dengan cara apa pun."
"Cong-kaucu telah berpesan, sementara kita tak akan membunuh Jian-ciat-suseng."
Ji-kaucu segera menarik muka mendengar perkataan itu, katanya kemudian.
"Kalau begitu segera kubicarakan masalah ini dengan Cong-kaucu, mungkin saja dia mau berubah pikiran."
Selesai berkata dia lantas meluncur turun dari atas wuwungan rumah dan langsung menuju ke gedung kecil tadi, Sam-kaucu mengikut di belakangnya. Mendadak Ji-kaucu berpaling seraya berkata.
"Long Jitseng telah melarikan diri, harap Sam-kaucu segera mengirim orang mengejarnya, bila gagal membekuknya hidup-hidup, mati pun tak apalah."
"Harap Ji-kaucu mengutus orang untuk membantuku,"
Sahut Sam-kaucu cepat. Sementara itu enam orang berjubah hijau telah bermunculan dari balik gedung. Mendadak Ji-kaucu berseru kepada seorang berjubah hijau yang gemuk pendek.
"Ang Teng-siu, lekas bawa tiga orang dan bersama Samkaucu pergi mengejar Long Jit-seng!"
"Baik!"
Jawab orang gemuk pendek itu dengan sikap hormat. Dengan cepatnya dia telah memilih tiga orang rekan untuk mendampinginya, lalu sambil berjalan ke depan Sam-kaucu dia berkata dengan lantaYig.
"Ang Teng-siu siap menerima komando Sam-kaucu!"
"Tak usah banyak bicara, ayo kita berangkat,"
Seru Samkaucu.
Kelima orang jago lihai Put-gwa-cin-kau itu dengan cepat berangkat meninggalkan gedung itu mengejar Long Jit-seng.
Long Jit-seng keluar dari gedung dengan kecepatan luar biasa, ia kabur secepatnya meninggalkan tempat itu.
Long Jit-seng mengerti, bila orang-orang Put-gwa-cin-kau telah berhasil membunuh orang yang membantunya, dengan cepat mereka akan mengejarnya kemari, maka dia memilih daerah yang sepi di barat kota untuk menyelamatkan diri.
Sesudah menempuh perjalanan setengah jam dengan kecepatan tinggi, sampailah dia di tanah kuburan di sebelah barat kota, di situlah Long Jit-seng baru menghentikan perjalanannya.
Suasana di kompleks pekuburan itu hening, sepi dan mengerikan..Batu-batu nisan yang terbengkalai porak-poranda menjadikan sekeliling sana sebagai tempat persembunyian yang paling ideal.
Dengan langkah mantap Long Jit-seng langsung menerobos masuk ke dalam kompleks tanah kuburan itu.
Mendadak dari atas sebuah batu nisan Long Jit-seng menyaksikan munculnya sesosok bayangan orang.
Long Jit-seng terperanjat, cepat ia mendongakkan kepala.
Orang itu berperawakan jangkung dengan wajah cakap, termasuk seorang pemuda yang bermata tajam.
Sebilah pedang tersoreng di pinggangnya, sementara lengan baju kanannya nampak kosong, mengikuti hembusan angin malam, ujung baju itu bergoyang tiada hentinya.
Waktu itu dia sedang memandang ke wajahnya dengan senyum di kulum.
Seandainya tiada senyumannya yang ramah, niscaya Long Jit-seng akan menyangka dia sebagai setan gentayangan di tanah kuburan itu.
Dengan terkesiap dan jantung berdebar keras Long Jit-seng menegur.
"Kau ini sebetulnya manusia atau setan?"
"Manusia,"
Sahut Bong Thian-gak sambil tersenyum.
"Kalau begitu kau ini musuh atau sahabat?"
"Musuh atau sahabat tergantung pada keputusanmu."
Paras muka Long Jit-seng berubah hebat, tanyanya lagi dengan gemetar.
"Jadi kau adalah anggota Put-gwa-cin-kau?"
"Tidak, aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau."
Rupanya Hek-ki-to-cu menjadi ketakutan setengah mati karena mengira Bong Thian-gak adalah anak buah Put-gwacin-kau, hatinya baru merasa lega setelah mengetahui dugaannya meleset.
Sambil menghela napas pelan-pelan dia bertanya.
"Ada urusan apa kau menghadang jalan pergiku?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Baru saja aku mendirikan sebuah perkumpulan baru dan sekarang sedang 'mencari umat persilatan yang bisa diterima sebagai anggota baru perkumpulan, aku tertarik denganmu."
Tergerak hati Long Jit-seng mendengar tawaran itu, segera tanyanya.
"Apa nama perkumpulan itu? Siapa pemimpinnya?"
"Tiong-yang-hwe, akulah Hwecunya."
Mendadak Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kau tahu siapakah aku?"
"Long Jit-seng dari lautan timur, seorang tokoh persilatan mahir banyak ilmu."
"Ah, jadi engkau yang membantu meloloskan diriku tadi?"
Long Jit-seng terkejut. Kembali Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku tak ingin melihat kau terbunuh atau diperalat Jikaucu."
"Hahaha, mengapa tidak kau katakan bahwa kau tak ingin melihat harta karun raja muda Mo-lay-cin-ong terjatuh ke tangan orang-orang Put-gwa-cin-kau?"
Long Jit-seng tergelak makin keras. Tiba-tiba Bong Thian-gak menarik muka, kemudian berkata.
"Orang-orang Put-gwa-cin-kau tak akan melepas dirimu begitu saja, orang yang menurunkan perintah membunuh atas dirimu adalah Ji-kaucu. Padahal jagoan berilmu tinggi seperti Ji-kaucu banyak terdapat dalam Putgwa-cin-kau, sedang anak buahmu? Adakah jagoan dari Hekki-to yang memiliki kepandaian untuk menandingi Ji-kaucu?"
"Perkataanmu memang benar,"
Long Jit-seng tertawa.
"tapi sayang, biarpun aku bergabung dengan perkumpulan kalian pun sulit rasanya untuk meloloskan diri dari kematian."
Mencorong sinar tajam dari mata Bong Thian-gak, ujarnya dengan suara nyaring.
"Biarpun Tiong-yang-hwe belum berkekuatan untuk melawan kekuasaan Put-gwa-cin-kau, namun aku yakin masih sanggup melindungi keselamatan jiwamu."
"Engkaukah Jian-ciat-suseng yang belakangan ini termasyhur namanya dalam Bu-lim?"
"Betul,"
Bong Thian-gak tertawa.
"aku memang seorang cacat."
Tiba-tiba Long Jit-seng berkata lagi.
"Sepanjang hidupku, aku hanya tahu menurunkan perintah dan memerintah orang lain, belum pernah kuperoleh perintah orang lain untuk mengerjakan sesuatu. Oleh sebab itu, aku ingin melihat dahulu kepandaianmu."
Bong Thian-gak tertawa.
"Bila kau bersedia menggabungkan diri dengan Tiong-yanghwe, berarti kau adalah Kunsu (juru pikir) Tiong-yang-hwe, hal ini sama artinya kau hanya memberi perintah kepada orang lain dan bukan orang lain yang memberi perintah kepadamu."
Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Kau adalah ketua Tiong-yang-hwe, berarti seorang Kunsu masih tetap di bawah tingkatan seorang Hwecu bukan?"
"Long-kunsu,"
Bong Thian-gak tertawa.
"kau ingin mencoba keistimewaanku? Boleh saja, cuma dibanding kecerdasan otak dan akal muslihatmu, aku mengaku kalah darimu."
Long Jit-seng tertawa nyaring.
"Soal mengatur siasat dan menyiapkan tipu muslihat, tentu saja bidang itu merupakan pekerjaan seorang Kunsu. Sedangkan sebagai ketua, syarat yang dibutuhkan selain ilmu silat yang tinggi dia mesti memiliki budi pekerti yang baik. Sebab biarpun ilmu silat seseorang sangat tinggi, bila dia tidak memiliki kemampuan seorang pemimpin dan kebajikan serta budi pekerti yang baik, jadinya sebuah perkumpulan yang kaku, sebuah perkumpulan tanpa nyawa, biasanya perkumpulan semacam ini tak pernah bisa menggetarkan dunia persilatan."
"Aku mempunyai semacam kemampuan untuk menilai orang dari wajah seseorang dan aku mengerti kau memang memiliki budi pekerti serta kewibawaan sebagai seorang pemimpin. Yang belum kuketahui sekarang adalah kepandaian hebat yang kau miliki."
"Dengan cara apa Kunsu hendak mencoba kepandaian silatku?"
Tanya Bong Thian-gak sambil tersenyum. Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Sesungguhnya bidang ilmu silat tak perlu dicoba lagi, sebab dengan nama besar Jian-ciat-suseng, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan seluruh dunia persilatan."
"Sungguh tak kusangka begitu cepat Long Jit-seng bersedia menggabungkan diri dengan Tiong-yang-hwe, kejadian ini sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi Bong Thiangak,"
Pemuda itu berseru dengan nada terharu. Long Jit-seng membenahi pakaiannya, lalu maju ke hadapan Bong Thian-gak dengan hormat, dia membungkukkan badan menjura sambil berkata nyaring.
"Hwecu di atas, Long Jit-seng memberi salam atas kebesaran Hwecu."
Buru-buru Bong Thian-gak membangunkan Long Jit-seng sambil menyahut.
"Long-kunsu tak usah banyak adat...."
Belum habis dia berbicara, tiba-tiba Bong Thian-gak merasakan urat nadi pada pergelangan tangan kirinya dicengkeram orang, dengan lima jari tangannya yang kuat.
Pada saat bersamaan, telapak tangan kiri Long Jit-seng disodokkan ke muka.
Mimpi pun Bong Thian-gak tak menyangka Long Jit-seng bakal melancarkan serangan dengan cara sedemikian kejinya.
Perlu diketahui, urat nadi pergelangan tangan merupakan salah satu dari tiga tempat mematikan di tubuh manusia, begitu urat nadi dicengkeram orang, betapa pun besarnya kekuatan tidak mungkin bisa dikerahkan lagi.
Masih mending bagi mereka yang bertangan utuh, Bong Thian-gak hanya berlengan tunggal, bagaimana mungkin dia bisa meloloskan diri?
Itulah sebabnya serangan Long Jit-seng benar-benar merupakan sergapan maut yang kejam dan tak berperikemanusiaan.
Bong Thian-gak tidak tahu bagaimana cara untuk menghindarkan diri ataupun berbuat sesuatu, namun dia tetap berdiri tegak dengan senyum di kulum, dengan dada dibusungkan dia menyambut datangnya sergapan Long Jitseng itu.
"Blam", pukulan dahsyat Long Jit-seng menghajar telak di atas dada Bong Thian-gak. Dengan cepat Long Jit-seng merasakan telapak tangan kirinya sakit panas dan pedas, seolah-olah baru saja menghantam sepotong lempengan besi baja. Pada saat itulah Bong Thian-gak memutar pergelangan tangan kirinya dengan leluasa, seakan-akan pergelangan tangannya terdiri dari kapas yang lunak, tahu-tahu saja sudah terlepas dari cengkeraman baja kelima jari tangan kanannya! Long Jit-seng tertegun, mimpi pun dia tak menyangka ilmu silat Bong Thian-gak telah mencapai tingkatan begitu hebat. Sambil tersenyum Bong Thian-gak berkata.
"Tipu muslihat Long-kunsu benar-benar hebat, jika caramu ini digunakan untuk mencoba kepandaian orang, memang sulit bagi orang lain untuk menghindar."
Long Jit-seng menghela napas panjang.
"Hwecu memang pantas disebut seorang Tay-enghiong. Bukan cuma berkepandaian silat tinggi, Hwecu pun welas-asih dan bijaksana."
"Sesungguhnya barusan aku berniat jahat dengan niat menghabisi nyawa Hwecu dalam sekali pukulan. Sedangkan Hwecu pun sudah dapat meraba niat jahat diriku, namun kenyataan kau sama sekali tidak mengungkapnya."
"Ai ... atas kejadian ini Long Jit-seng sungguh merasa menyesal, aku tidak pantas menjadi anggota Tiong-yanghwe!"
Beberapa patah kata Long Jit-seng itu diucapkan dengan tulus hati dan sejujurnya.
Bong Thian-gak pada dasarnya memang pemuda yang berjiwa besar, sungguh ia dibuat sangat terharu oleh kejadian itu.
Akhirnya sambil tersenyum Bong Thian-gak berkata.
"Kata Nabi besar, tiada orang yang luput dari kesalahan. Asal kau bersedia bertobat, dosa apa pun bisa dimaafkan. Tiong-yanghwe sangat membutuhkan orang-orang berbakat seperti Hekki-to-cu."
Berkilat mata Long Jit-seng, segera ujarnya dengan suara lantang.
"Sekarang dan detik ini juga Long Jit-seng bergabung dengan Tiong-yang-hwe, selama hidup aku bersumpah akan setia sampai mati kepada Hwecu dan selalu mendampingimu, bila suatu hari aku melanggar sumpah, biar Thian menjatuhkan hukuman berat kepadaku dan mati dengan hulu hati tertembus pedang."
Selesai mengucapkan sumpah, Long Jit-seng segera menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali ke arah langit.
"Long-sianseng, kesetiaan dan ketulusan hatimu mengharukan hatiku,"
Kata Bong Thian-gak kemudian. Air mata jatuh berlinang membasahi wajah pemuda itu, dengan cepat dia membimbing bangun Long Jit-seng yang masih berlutut, kemudian pelan-pelan ujarnya.
"Longsianseng, mari kita pulang!"
"Hwecu tinggal dimana?"
"Rumah penginapan Hong-tok-ciu-lau."
"Tempat itu tak boleh didiami lagi."
"Ehm, ucapanmu memang benar,"
Bong Thian-gak mengangguk.
"entah bagaimanakah pendapat Sianseng?"
"Lebih kurang tiga li di luar kota terlarang terdapat kuil Hong-kong-si, Hongtiang kuil itu Hong-kong Hwesio adalah sahabat karibku, bila Hwecu tidak keberatan lebih baik markas Tiong-yang-hwe dipindahkan saja untuk sementara waktu ke situ."
Bong Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian sahutnya.
"Kuil Hong-kong-si pasti merupakan kompleks kaum ibadah, rasanya kurang pantas bagi kita orang-orang kasar dunia persilatan untuk mengganggu ketenangannya."
Long Jitseng tersenyum.
"Di dalam kuil Hong-kong-si hanya berdiam Hong-kong Hwesio serta kedua muridnya saja,"
Tukasnya.
"Dalam kuil yang begitu luas hanya didiami mereka bertiga?"
Bong Thian-gak heran. Long Jit-seng manggut-manggut sambil tertawa.
"Hong-kong Hwesio adalah seorang berwatak aneh, belum pernah ada seorang Hwesio pun yang cocok hidup bersamanya, maka itulah kuil Hong-kong-si tak pernah menerima anggota baru."
"Apakah dia akan setuju bila kita menempati kuilnya?"
Tanya pemuda itu sambil berkerut kening. Long Jit-seng tertawa.
"Dalam satu tahun ada tiga ratus enam puluh lima hari, boleh dibilang sepanjang hari Hong-kong Hwesio dan kedua orang muridnya hidup mengasingkan diri dalam sebuah kamar gelap tak tembus cahaya, biar langit ambruk atau permukaan tanah merekah mereka bertiga tak bakal meninggalkan kamarnya. Oleh sebab itu kita tak usah meminjam kepada mereka, kita secara langsung pindah saja ke situ."
Makin mendengar, Bong Thian-gak semakin terkejut, tanyanya kemudian.
"Apakah mereka tidak bersantap?"
"Rangsum yang disimpan dalam kamar membukit, sepanjang tahun mereka tidak bakal kekurangan rangsum atau air." 'Ai, cara hidup mengasingkan diri Hong-kong Hwesio ini benar-. benar mengagumkan,"
Tanpa terasa Bong Thian-gak menghela napas.
"Hwecu, kalau begitu kita putuskan demikian saja,"
Kata Long Jit-seng kemudian.
"besok sebelum senja tiba, kita semua pindah ke kuil Hong-kong-si."
"Kini Long-sianseng adalah Kunsu Tiong-yang-hwe, tentu saja segala sesuatunya akan berjalan menurut perkataanmu,"
Bong Thian-gak tertawa. Long Jit-seng tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Hwecu begitu percaya menyerahkan beban berat itu kepadaku, mungkin aku tak bisa memikul tanggung jawab ini."
Mendadak paras Bong Thian-gak berubah, serunya cepat.
"Ssstt, ada orang datang, bisa jadi mereka adalah anggota Put-gwa-cin-kau."
Baru selesai dia berkata, empat sosok bayangan orang telah menerobos masuk ke dalam kompleks tanah kuburan itu.
Jelas orang-orang itu sudah mengetahui jejak Bong Thiangak maupun Long Jit-seng, maka tanpa berhenti mereka langsung menuju ke arah mereka berada.
Bong Thian-gak diam-diam terkejut, pikirnya.
"Heran, mengapa para pendatang segera mengetahui lokasi kami secara tepat?"
Belum habis ingatan itu melintas, keempat sosok bayangan orang itu sudah berhenti di hadapan mereka.
Mereka berempat adalah orang berjubah panjang hijau, sebilah pedang tersoreng di pinggang masing-masing, sebagai pemimpin adalah seorang pemuda gemuk pendek berkulit putih.
Sementara itu orang gemuk pendek itu tampak tertegun juga setelah bertemu Bong Thian-gak serta Long Jit-seng.
Berkilat sepasang mata Bong Thian-gak, dia merasa orang gemuk pendek itu seakan-akan pernah bersua di suatu tempat, paras mukanya sangat dikenal, setelah tertegun sejenak, berbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya.
"Hehehe, tampaknya kehadiran kalian berempat bermaksud untuk membekuk diriku?"
Jengek Long Jit-seng sambil tertawa dingin. Salah seorang menengok sekejap ke arah pemuda gemuk pendek itu, lalu berkata.
"Komandan regu Ang, orang inilah Hek-ki-to-cu Long Jit-seng!"
Mendadak Bong Thian-gak berseru tertahan, lalu pikirnya.
"Ang Teng-siu! Kalau begitu dia adalah orang kepercayaan Thay-kun."
Tiga tahun berselang di suatu perkampungan petani, Ang Teng-siu dan seorang dayang Thay-kun telah bekerja sama membunuh seorang pembantu Ji-kaucu, waktu itu Ang Tengsiu pernah memberi pertanyaan kepada Bong Thian-gak bahwa Thay-kun adalah majikannya.
Sementara itu Ang Teng-siu telah berseru dengan suara dalam.
"Bunuh mereka semua!"
Begitu perintah diberikan, ketiga orang berjubah panjang itu serentak melolos pedangnya sambil berjalan mendekat.
"Berhenti!"
Bentak Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Di tengah bentakan, Bong Thian-gak melompat ke muka dan menghadang di hadapan Long Jit-seng.
Tiga bilah pedang panjang ketiga orang itu serentak menusuk tubuh Bong Thian-gak dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Bong Thian-gak tertawa dingin, tubuhnya selincah ikan melejit lewat di antara celah-celah ketiga pedang itu, kemudian telapak tangan kirinya diayunkan ke muka dan ...
dua kali dengusan tertahan bergema.
Kedua orang berjubah hijau itu masing-masing terhajar dadanya oleh serangan Bong Thian-gak sehingga terdorong mundur sejauh tiga-empat langkah, pedang mereka terlilit oleh lengan baju kanan Bong Thian-gak yang kosong sehingga sebilah di antaranya mencelat ke udara.
Dalam satu gebrakan saja Bong Thian-gak berhasil menaklukkan ketiga orang berjubah hijau itu, kesempurnaan ilmu silat orang ini segera menggetarkan hati semua orang.
Untung saja Bong Thian-gak masih punya belas kasihan dengan meringankan tenaga serangannya, coba tidak, bisa jadi ketiga orang berjubah hijau itu akan tewas.
Berubah hebat paras Ang Teng-siu, dengan cepat ia menyerbu ke muka, sebuah pukulan dilontarkan ke arah Bong Thian-gak dengan kecepatan luar biasa.
Bong Thian-gak menggeser langkah kakinya ke samping, tahu-tahu tubuhnya sudah beralih ke samping, setelah itu bentaknya.
"Tahan!"
"Apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
Tanya Ang Teng-siu dengan wajah tertegun.
"Bukankah kau she Ang bernama Teng-siu?"
Tegur Bong Thian-gak sambil menarik muka.
"Betul!"
Jawab Ang Teng-siu terkejut.
"darimana kau bisa tahu namaku? Siapa pula kau?"
Sambil tertawa dingin Long Jit-seng segera menimbrung.
"Ketua Tiong-yang-hwe... Jian-ciat-suseng!"
Mendengar nama itu, air muka Ang Teng-siu berubah hebat, serunya kemudian.
"Sudah lama kudengar nama besarmu, apakah kau kenal diriku?"
"Apakah Ang-heng mendapat perintah untuk menangkap Hek-kito-cu?"
Kembali Bong Thian-gak bertanya dengan suara dalam.
Ang Teng-siu termenung sambil berpikir sejenak, kemudian baru menjawab, 'Dengan kehadiran saudara, bagaimana mungkin kami bisa melakukan penangkapan terhadap Tocu?"
"Kalau memang begitu, cepat kalian berempat mengundurkan diri dari sini!"
Sebelum Ang Teng-siu sempat menjawab, mendadak dari balik kompleks tanah kuburan yang amat luas itu berkumandang suara seseorang dengan suara merdu.
"Jian-ciat-suseng, kalian sudah terkepung."
Seruan ini sungguh mengejutkan Bong Thian-gak, dia tak pernah mengira di kompleks tanah kuburan itu pun sudah tersembunyi musuh yang siap menyerang.
Dengan cepat Long Jit-seng berpaling.
Dari balik nisan yang porak-poranda dan menyeramkan itu, sekejap mata telah bermunculan dua puluh sosok bayangan orang berbaju merah, mereka semua berdiri di depan nisan kuburan.
Memandang dari kejauhan, yang terlihat hanya sorot mata mereka yang hijau berkilat seperti api setan.
Dari posisi mereka berada, Bong Thian-gak dan Long Jitseng memang benar-benar sudah terkepung.
"Apakah Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun yang berada di situ?"
Bong Thian-gak segera menegur nyaring. Yang berdiri paling dekat dengan Bong Thian-gak adalah seorang perempuan berkerudung merah, dia segera menjawab dengan merdu.
"Betul, memang aku."
"Ji-hubuncu, dengarkan baik-baik,"
Seru Bong Thian-gak dengan suara lantang.
"aku orang she Bong tak ingin mempunyai perselisihan dengan pihak Hiat-kiam-bun, bila Jihubuncu adalah orang pintar, harap kau segera mengundurkan diri dari sini!"
"Mundur boleh saja,"
Sahut Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun sambil tertawa seram.
"Asal kau tinggalkan Long Jit-seng di sini."
Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Long Jit-seng terbahakbahak.
"Hahaha, aku orang she Long sudah tua dan tak bertenaga, bila nona menginginkan aku, aku tak berani menerima!"
"Yang kami inginkan adalah harta karun Mo-lay-cing-ong,"
Kata Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun dengan suara dingin.
"asal kau Hek-ki-to-cu bersedia bekerja sama, Hiat-kiam-bun tak bakal melupakan jasamu itu."
"Mana ... mana ...."
Hek-ki-to-cu tertawa.
"sayang sekali Hiat-kiam-bun datang terlambat, sebab aku sudah bergabung dengan perkumpulan Tiong-yang-hwe."
"Soal itu aku bisa membicarakan dengan Hwecu kalian."
Sebagai orang pintar, Bong Thian-gak segera dapat meraba duduknya persoalan mendengar pembicaraan itu, agaknya pihak Hiat-kiam-bun juga sudah mengetahui tentang rahasia harta karun milik raja muda Mo-lay-cing-ong itu dan agaknya Long Jit-seng juga telah membicarakan syaratnya dengan pihak Hiat-kiam-bun.
Maka setelah tertawa dingin, Bong Thian-gak berkata.
"Cara menyerobot yang dilakukan Hiat-kiam-bun tak bisa diterima kami."
"Biarpun ilmu silat Jian-ciat-suseng tiada tandingan, namun jangan harap bisa menandingi kerja sama tiga orang penjagal berbaju merah kami. Tempo hari ketika masih berada di rumah penginapan, tentunya kau sudah pernah merasakan kelihaian penjagal berbaju merah bukan? Jadi aku tak usah memperkenalkan lagi."
Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memandangnya lekat-lekat, lamat-lamat dia dapat melihat di belakang Jihubuncu Hiat-kiam-bun tiga pasang mata yang menggidikkan sedang mengawasi dirinya dengan sorot mata hijau menyeramkan.
Penjagal berbaju merah memang merupakan algojo-algojo andalan Hiat-kiam-bun.
Kalau di dalam pertarungan kemarin Bong Thian-gak masih punya keyakinan, maka sekarang dia sama sekali tidak berkeyakinan untuk bisa menandingi ketiga algojo itu.
Melihat pemuda itu bungkam dan sampai lama belum menjawab, Ji-hubuncu berkata lagi sambil tertawa.
"Di bawah pimpinanmu, aku percaya dalam waktu singkat Tiong-yanghwe bisa tampil sebagai suatu perkumpulan besar dalam Bulim, sebagai seorang Tay-enghiong, Tay-hokiat, dia mesti seorang yang tahu gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Jian-ciat-suseng masih bisa mencari kedudukan besar di kemudian hari, kali ini kau mesti menerima dulu keadaan."
Bong Thian-gak mendongkol bercampur geli, dia lantas berkata.
"Aku benar-benar berhasrat menyaksikan raut wajahmu, ingin kulihat bibir macam apakah yang kau miliki sehingga begitu pandai bicara."
"Asal kau bersedia melepaskan Hek-ki-to-cu, aku pun bersedia memperlihatkan wajah asliku."
"Aku tahu wajahmu sangat jelek, karenanya aku tak ingin melihatnya lagi,"
Tukas Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Ternyata perkataan itu membuat Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun terbungkam, sampai lama sekali dia tak bicara lagi.
Untuk beberapa saat suasana di sekeliling tempat itu menjadi sunyi senyap, tegang dan mengerikan.
Ang Teng-siu dan ketiga orang berbaju hijau berdiri di tempat semula, mereka juga membungkam.
Mendadak terdengar Ji-hubuncu berkata.
"Ang Teng-siu, kau sudah berhasil menemukan Buncu?"
Mimpi pun Bong Thian-gak tak mengira kalau Ang Teng-siu pun berkomplot dengan pihak Hiat-kiam-bun, berarti kedatangan Ang Teng-siu berempat ke situ tadi bukan sungguh-sungguh hendak mencari Long Jit-seng, melainkan sebelum kejadian Ang Teng-siu memang sudah punya janji dengan pihak Hiat-kiam-bun.
Dengan sikap menghormat, sahut Ang Teng-siu.
"Lapor Jihubuncu, jejak Buncu sudah kami ketahui dengan jelas, cuma saat ini bukan saatnya untuk bicara, maaf kalau aku tak bisa memberi laporan sekarang."
Mendadak Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya lantang.
"Ji-hubuncu, untuk menyusupkan Ang Teng-siu ke dalam Put-gwa-cin-kau memang bukan suatu pekerjaan gampang, bisa jadi banyak tenaga dan pikiran telah digunakan. Malam ini, bila aku bisa lolos dari pengejaran kalian dan kulaporkan kejadian ini kepada pihak Put-gwa-cinkau, dapat dipastikan Ang Teng-siu tak bisa melanjutkan pekerjaannya menyusup ke dalam tubuh Put-gwa-cin-kau."
"Hm, tampaknya reaksi pikiranmu benar-benar cepat!"
Jengek Ji-hubuncu dingin. Bong Thian-gak tertawa.
"Mana ... mana ... ikan dan telapak beruang tak mungkin bisa diperoleh bersama-sama, Ji-hubuncu, kau jangan kelewat tamak!"
Tiba-tiba Ji-hubuncu Hiat-kiam-bun menghela napas, lalu berkata.
"Jian-ciat-suseng, silakan bawa Hek-ki-to-cu meninggalkan tempat ini!"
"Terima kasih atas kemurahan hati Ji-hubuncu!"
Selesai berkata, pemuda itu berpaling ke arah Long Jit-seng dan berkata lebih lanjut.
"Long-sianseng, mari kita pergi!"
Tapi baru saja Bong Thian-gak berjalan dua langkah, mendadak dia berpaling lagi sambil bertanya kepada Ang Teng-siu.
"Ang Teng-siu, masih kenal padaku?"
Ang Teng-siu tertegun, lalu menggeleng kepala.
"Kita baru bersua untuk pertama kali ini, bagaimana mungkin bisa kenal?"
Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Bong Thiangak berkata.
"Kita pernah bertemu walau Ang-heng belum ingat. Siapa tahu dengan Ji-hubuncu kalian pun merupakan sahabat lama? Waktunya memang sudah lama sehingga tidak ingat lagi."
Habis berkata dia lantas beranjak pergi. Long Jit-seng mengikut di belakang Bong Thian-gak dengan mulut membungkam, setelah menempuh perjalanan beberapa saat Long Jit-seng berkata.
"Hwecu benar-benar seorang naga sakti di antara manusia, sungguh tak nyana Ji-hubuncu Hiatkiam-bun yang paling sukar dihadapi pun bersedia memberi muka padamu."
Bong Thian-gak menghela napas.
"Ai, Ji-hubuncu membiarkan kita pergi dengan selamat lantaran jejak Buncu mereka dipandang jauh lebih berharga dari apa pun. Ai, semoga mereka bisa menemukan Buncunya."
"Siapa Buncu mereka?"
Tanya Long Jit-seng tercengang. Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas.
"Bila dugaanku tak salah, bisa jadi Buncu Hiat-kiam-bun adalah Si-hun-mo-li."
Long Jit-seng terkejut.
"Maksud Hwecu, Si-hun-mo-li adalah Buncu Hiat-kiambun?"
Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Apa yang barusan kukatakan hanya merupakan dugaan saja, tapi tujuh puluh persen mungkin benar, ai ... mengenai hal ini baru bisa jelas bila dirunut kejadian tiga tahun berselang ... baiklah persoalan ini kita bicarakan di kemudian hari saja."
Ternyata setelah berjumpa Ang Teng-siu hari ini, dia segera memperoleh jawaban yang tepat atas beberapa teka-teki yang selama ini belum terjawab olehnya.
Tiga tahun berselang, di dalam perkampungan petani yang menjadi markas kantor cabang Put-gwa-cin-kau kota Kayhong, dia telah bertemu Ang Teng-siu.
Ang Teng-siu adalah anak buah Jit-kaucu Thay-kun, sedang Ang Teng-siu pun anggota Hiat-kiam-bun, dengan cepat Bong Thian-gak jadi teringat ucapan Thay-kun serta Keng-tim Suthay waktu itu.
"Sembilan hari lagi di Bu-lim bakal muncul sebuah perkumpulan baru."
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala Gu Long
Baca Juga: Golok Bulan Sabit 7