Eps 1 Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Baca online Hikmah Pedang Hijau - Gu Long
Cersil Hikmah Pedang Hijau - Gu Long.
Hikmah Pedang Hijau Wu Qing Bi Jian (Swordman Journey ) Karya .
Gu Long Saduran .
Gan KL Scan djvu .
axd002 Sumber djvu .
dimhad Edited .
kolaborasi di dimhad Edited .
kolaborasi di dimhad (Lovecan, Agam, MCH, Lavender, edisaputra,dll) Ebook oleh .
Dewi KZ
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/
http.//dewikz.byethost22.com/
http.//cerita-silat.co.cc/
http.//ebook-dewikz.com
Jilid 01 .
Robekan kain sutera Tian Pek Jalan itu lurus membentang sampai di sini, lalu melingkar.
Tempat yang dilingkari itu adalah sebidang hutan yang rada lebat, menyusur ke tengah hutan itulah jalan ini terus menembus ke sana.
Meski sudah dekat senja, namun hawa musim panas bulan enam masih tetap membuat orang kegerahan.
Desir angin sedikitpun tidak terdengar, suasana sunyi senyap.
Semula jalanan itu tiada nampak seorangpun, tapi dari kejauhan kini mendadak debu mengepul tinggi, berbondong-bondong beberapa ekor kuda tampak dilarikan kemari setiba di depan hutan, serentak para penunggang kuda itu berhenti.
Baik kelima ekor kudanya maupun para penunggangnya tampak rada aneh, penunggangnya memakai seragam baju sutera hijau muda diberi wiru benang emas.
Bagi orang yang cukup makan asam garam, sekali pandang saja akan tahu pakaian sutera mereka itu pasti tidak mungkin terbeli oleh orang biasa.
Yang lebih aneh adalah pedal pelana kelima ekor kuda itupun bercahaya mengkilap keemasan.
Di bawah sinar matahari, kelima orang itu dengan kuda tunggangnya menjadi gemerlapan dengan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.
Sejenak kelima penunggang kuda itu berhenti di situ, lalu mereka menjalankan kudanya pelahan-lahan ke dalam hutan.
Salah seorang laki-laki yang bergodek mendorong ke belakang ikat kepalanya yang berhias sebutir mutiara, lalu memandang sekelilingnya sambil berpegangan pelana, katanya kemudian kepada teman yang berada di sampingnya.
"Tempat ini terasa sejuk dan tenang, kukira bolehlah kita mengaso saja di sini. Toh sudah pasti sasaran kita itu akan lewat di sini, biarlah kita tunggu saja di sini dari pada capai-capai mencegatnya ke sana. Jika sekali ulur tangan segera kita padamkan 'lenteranya' (maksudnya matanya), nah, baru menyenangkan rasanya"
Lelaki bercambang itu tidak saja tegap dan gagah, suaranya juga lantang, dari logatnya dapat diketahui orang dari kota raja.
Anehnya tokoh macam begini mengapa memakai baju demikian?
Di balik keanehannya menjadi rada-rada ajaib pula.
Habis berkata, tanpa menunggu tanggapan orang lain, segera ia sisipkan cambuknya pada sisi pelana, cepat ia melompat turun.
Dari gerakannya yang gesit dan tangkas itu agaknya kungfunya tidak rendah.
Kawannya, seorang lelaki tinggi kurus, lantas mendengus.
"Hm, coba lihat, jelas selama ini Loji telah menelantarkan kungfunya, baru menempuh perjalanan sedikit saja dia sudah kepayahan, kalau bisa akan terus menjatuhkan diri ke atas kasur. Cara bicaranya juga seenaknya saja seakan-akan beberapa orang itu adalah anak buahnya, cukup sekali menjulur tangan dan segalanya akan beres."
Orang yang disebut "Loji" (orang kedua) itu menyengir, ia tepuk pantat kudanya sehingga binatang tunggangan itu lari ke samping sana. Dengan tertawa lalu ia berkata.
"Toako, bicara terus terang aku memang rada payah Kalau saja tidak mengingat kita telah makan tidur lebih setahun di tempat orang serta mendapat pelayanan yang memuaskan, huh, siapa yang sudi bersusah payah lari ke sini di bawah sinar matahari seterik ini?"
Lelaki godek tegap itu menjengek, lalu berkata pula.
"Toako, rasanya beberapa potong daging yang akan datang dari kota raja itu belum terpandang di mata diriku si Ji pah-thian ini, sekalipun mereka menonjolkan juga orang dari Yan-keng piaukiok, coba kau pikir, Toako, si tua bangka dari Yang-keng-piaukiok itu mampu memperbantukan tenaga andalan macam apa kepada kawanan cakar alap2 (istilah olok2 terhadap petugas yang sok menindas kaum kecil)."
Orang yang dipanggil sebagai "Toako"
Yang bertubuh tinggi kurus itu kembali mendengus, tiba2 ia melirik ke sana dan membentak dengan suara tertahan.
"Loji, kurangilah ocehanmu!"
Ke empat kawannya serentak memandang ke arah lirikan si jangkung itu, terlihatlah seorang lelaki dengan baju yang rombeng dan memegang se
Jilid buku rongsokan sedang duduk bersandar pohon di tepi jalan sana, matanya tampak terpejam, agaknya sudah tertidur, kedua kakinya yang bersepatu butut diselonjorkan dengan setengah terpentang.
Si godek tadi bergelak tertawa, katanya sambil menuding lelaki rudin itu.
"Toako, terlalulah kau, Tampaknya kau menjadi tambah was-was sejak kita terjungkal dahulu itu, masa kaum jembel begini juga kau kuatirkan?"
Si jangkung yang dipanggil sebagai Toako itu tidak menanggapinya, ia melompat turun dari kudanya, lalu mendekati pohon yang agak jauh di sana serta berduduk di situ sambil memejamkan mata untuk mengumpulkan semangat.
Saat itu ada angin meniup, si godek yang mengaku berjuluk "Ji-pah-thian" (gembong kedua) membuka dada bajunya agar bisa mendapat angin, Lalu ia mengusap cambangnya yang berkeringat dengan tangannya yang kasar itu.
Gumamnya dengan tertawa.
"Wah, alangkah nikmatnya jika dapat minum es limun pada waktu panas begini."
Baru habis berkata, seketika matanya terbelalak, mendadak dilihatnya di samping si jembel yang lagi tidur di bawah pohon itu tertaruh sebuah mangkuk porselen bertutup.
Di atas tutup mangkuk tampak mengembun butiran air, agaknya di dalam mangkuk itu benar2 berisi "es limun"
Seperti apa yang dikatakan si godek tadi.
Mangkuk bertutup itu berwarna biru saphir, halus mengkilap, jelas benda tembikar yang bernilai tinggi.
Tapi si godek ini orang kasar, tidak tahu barang baik, yang diincar hanya butiran air di atas tutup mangkuk serta membayangkan isi mangkuknya yang segar itu.
Waktu ia berpaling, dilihatnya ke empat saudaranya sedang tersenyum padanya, Iapun menyengir, lalu mendekati si jembel, ia depak sebelah kaki orang yang selonjor itu.
Keruan orang itu kaget dan terjaga bangun, dengan matanya yang sepat ia pandang orang yang menyepaknya itu, tampaknya dia merasa bingung.
Sekarang si godek yang berjuluk Ji-pah-thian itupun dapat melihat jelas si jembel ini masih sangat muda, wajahnya putih bersih, tergolong cakap, alisnya panjang lentik menarik.
Namun Ji-pah-thian ini memang orang kasar dan juga dogol, suka meremehkan urusan apapun juga.
Melihat pemuda jembel itu sudah mendusin, dengan menyeringai ia lantas tuding mangkuk biru itu dan bertanya dengan suara kasar.
"He, Siaucu (bocah), apa isi mangkuk itu!"
Dengan matanya yang masih ngantuk pemuda jembel itu menjawab..
"Isi mangkuk ini adalah limun peras, sudah semalaman kudinginkan dengan es batu, sampai sekarang belum lagi kuminum."
Si godek bergelak tertawa, tanpa terasa ia menelan air liurnya, katanya pula sambil menuding mangkuk biru itu.
"Bagus... bagus sekali! Tuanmu sedang kehausan, lekas berikan es limunmu itu!"
Pemuda jembel itu kucek2 matanya yang masih sepat, tampaknya ia tidak mengerti, dengan tergagap2 ia menjawab.
"Tapi..... tapi es limun ini akan ku minum sendiri, tidak ..... tidak boleh kuberikan padamu."
"Apa kau bilang? Berani kau tolak permintaan Toaya!"
Bentak Ji-pah-thian dengan mata melotot.
"Ketahuilah, hari ini hatiku sedang gembira, maka kuminta air es dengan baik. Hmm, kalau tak tahu diri, sekali tendang bisa keluar kuning telurmu ... ."
Belum selesai ia bicara, si jangkung di bawah pohon sana telah menghardik.
"Loji, jangan berisik." --Lalu katanya pula.
"Losam, coba dengarkan! Bukankah sasaran kita, telah datang?"
Salah seorang yang kekar pendek segera mendekam dan menempelkan telinganya di permukaan tanah, sesaat kemudian dengan wajah berseri dia menjawab.
"Toako, pendengaranmu memang tajam, sasaran kita telah datang! Semuanya ada tiga kereta dan sembilan kuda, jaraknya masih ada satu panahan, mungkin seperminum teh lagi akan tiba di sini."
Orang yang bernama Ji-pah-thian itu tak sempat pikirkan minum es lagi, ia loncat ke luar hutan dan memandang ke depan.
Debu tebal menyebar di angkasa, lapat-lapat terdengar suara roda kereta dan derap kuda, walaupun berangasan, gerak tubuh orang ini cukup cekatan, ia menyusup kembali ke hutan, ia halau kawanan kuda yang sedang makan rumput agar berlari menjauh.
Lalu ia lolos golok dan berkata.
"Hai, kawan baik, kau telah istirahat cukup lama, sekarang kita harus cari rejeki."
Ke empat orang lainpun segera siap siaga, sementara derap kuda dan suara putaran roda kian mendekat, paras merekapun bertambah tegang.
Rupanya kejadian itu mengejutkan pemuda rudin tadi, dengan tangan gemetar keras ia tak tahu apa yang mesti dilakukannya.
Si godek tadi mendengus, ia meloncat ke depan orang dan tempelkan golok di atas kuduknya seraya mengancam.
"Anak muda, kalau ingin hidup duduklah di sini dan jangan bergerak, kalau tak tahu diri, hm, bisa kutabas tubuhmu menjadi dua."
Pemuda itu semakin gemetar, begitu takutnya sampai air es dalam mangkuk tercecer.
Dengan rasa sayang Ji-pah thian memandang sekejap air es yang berceceran di tanah itu, sementara ke empat orang lainnya telah bersembunyi di belakang pohon.
salah satu di antaranya berseru.
"Loji, sasaran telah datang ......cepat sembunyi!"
Dalam keadaan begitu, Ji-pah-thian tak sempat mengurusi air es lagi, ia bersembunyi di belakang pohon dan alihkan perhatian ke jalan raya.
Dua ekor kuda mendahului muncul di luar hutan, di atas pelana berduduk seorang pria kurus dan seorang gemuk.
Setiba di dalam hutan, dua orang itu menarik napas panjang belum sempat mengucapkan sesuatu, dari balik pohon bergema bentakan nyaring.
"Sahabat, berhenti! Yanin ngo pah-thian (lima gembong dari Hopak) sudah lama menunggu kedatangan kalian!"
Wajah pria gemuk itu berkerut, sedang air muka si kurus berubah pucat.
Sebelum mereka bertindak apa2, kelima orang tadi telah muncul di depan mereka.
Pria gemuk itu terperanjat, hampir saja jatuh dari kudanya, ia pandang sekejap sekitar sana, sedapatnya ia tenangkan hatinya yang tegang.
Si godek melompat maju dan menghardik.
"Hei The gendut, hayo serahkan barang kawalanmu, kemudian cawat ekormu dan enyah dari sini, mengingat badanmu yang gemuk, aku Le Bun-pa bersedia mengampuni jiwamu."
Kiranya pria kasar ini adalah seorang bandit yang namanya tersohor di sungai Tiang kang.
Ji pah-thian atau gembong kedua dari Yan-in-ngo-pah-thian.
Kelima gembong bandit dari Ho-pak ini tak pernah mendirikan markas atau bersarang, mereka adalah kawanan "Rimba hijau"
Yang tersohor karena keganasannya, mereka pernah melakukan beberapa kali perampokan besar hingga namanya kian menanjak.
Sementara itu si gemuk she The yang berdandan sederhana itu adalah opas dari utara sungai Kuning yang terkenal sebagai Bang-leng-koan (Pembesar gemuk) The Pek-siu, ia tak pernah menduga kalau Yan-in-ngo-pak-thian berani membegal barang pemerintah yang dikawalnya di siang hari bolong.
Ia menjura dan tertawa, lalu katanya.
"Ooh, kukira siapa, tak tahunya adalah Le-tangkeh, ke mana saja selama ini Le-tangkeh, sebetulnya aku ingin menyambangimu, sayang aku tak tahu alamat kalian, tak nyana kita bakal berjumpa di sini."
Ia loncat turun dari kudanya, setelah memberi hormat lalu ia berkata pula.
"Le-tangkeh, tentunya kau tak marah bukan? Terimalah hormat kami berdua"
Le Bun-pa menengadah dan ter-bahak2, sikapnya congkak dan sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap lawan.
Muka Th Pek-siu berubah pucat kehijauan, jantungnya berdebar keras.
Walaupun barang yang dikawalnya adalah barang2 berharga, tapi pertama lantaran tak ada orang yang menduga di jalan raya antara Ceng-wan dan Ki-lan yang selamanya aman ini bakal terjadi pembegalan, maka orang yang dibawanya tidak banyak.
Kedua, belakangan ini tiada orang pandai di kalangan petugas, maka ia sadar tak mungkin pihaknya sanggup menghadapi Yan-in-ngo-pak-thian.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, dalam hati, dia menggerutu.
"Tua bangka dari Yan keng piaukiok itu memang terlalu, masa cuma utus seorang anak muda dungu untuk bantu mengawal barang2 ini ..... Ai, bila barang ini sampai dibegal, siapa yang akan bertanggung jawab?"
Sementara itu Le Bun-pa telah berhenti tertawa, dengan suara kasar ia membentak lagi.
"Hei, The gendut, sudah lama tak bertemu, lagakmu tak berbeda seperti dulu. Hmmm, lebih baik jangan coba main tipu di hadapan Le-toayamu. Kalau tahu diri, cepat angkat tangan dan enyah dari sini, toh barang dalam kereta itu bukan milikmu."
Biasanya kalau bertemu dengan maling kecil atau bajingan cilik, cukup ia melotot maka urusan akan beres.
Tapi sekarang bertemu dengan perampok besar, The gemuk ini cuma bisa menyengir saja sambil munduk2.
Sebenarnya ia ada hubungan baik dengan Yan-in-ngo-pak-thian, tapi sekarang orang sama sekali tak memberi muka kepadanya, maka meskipun senyum masih menghias wajahnya, namun senyum itu lebih tepat dikatakan sebagai menyengir.
Dengan tajam Le Bun-pa menyapu pandang sekelilingnya, lalu ter-bahak2, ia berpaling kepada si jangkung yang merupakan pemimpinnya, yaitu Toa-pak-thian (gembong pertama) Le Bun-hou, katanya sambil tergelak.
"Toako, perkataanku tak keliru bukan? Coba lihat, sekali kucomot barang itu akan terus berpindah tangan ....."
Belum habis bicaranya, tiba2 dari belakang Bang-leng-koan muncul seorang pemuda berwajah tampan, dengan suara nyaring ia membentak.
"Bajingan tengik darimana, berani membegal barang kawalan Yan keng piaukiok? Hmm, besar benar nyalimu?""
Le Bun-pa menyurut mundur selangkah, diawasinya pemuda itu dari atas hingga ke bawah dengan sorot mata tajam, kemudian ia menengadah dan ter bahak2 tertawa yang penuh nada ejekan.
Walaupun pemuda itu berwajah tampan, namun pakaiannya amat sederhana dan tindak tanduknya seperti orang desa, sama sekali tidak mirip seorang jago pengawal.
Sebagai gembong bandit terkenal, sudah tentu Le Bun-pa tak pandang sebelah mata terhadap pemuda ingusan seperti itu.
Kembali ia ter-bahak2, lalu membentak.
"Bocah ingusan, kalau bosan hidup, carilah jalan lain untuk mampus! Ketahuilah, golok pusakaku ini tak pernah kujagal bocah ingusan seperti kau!"
Bang-leng-koan sendiripun mengerutkan dahinya sewaktu melihat kemunculan pemuda itu, dalam hati diam2 ia memaki.
"Bocah ingusan, benar2 tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, dengan sedikit ilmu silat seperti itu berani menantang Yan-in-ngopah-thian? Huh, ingin mampus barangkali. Sungguh tak tersangka Yan-keng-piaukiok yang terkenal bisa mengangkat seorang bocah ingusan sebagai Piausu ( juru kawal ), kalau terjadi peristiwa seperti ini coba bagaimana akibatnya?"
Sembari berpikir, tiba2 ia tertawa dan berkata.
"Le-tangkeh, sekarang tentunya kau tahu bukan? Walaupun barang ini milik negara, tapi bukan tanggung jawabku melainkan tanggung jawab perusahaan Yan-keng-piaukiok, kalau kau tidak percaya, coba periksa sendiri, bukankah pada setiap kereta tertancap panji pengenal Ji-lopiauthau dari perusahaan Yan-keng?"
Dasar manusia licik, setelah tahu gelagat kurang menguntungkan, cepat2 ia alihkan tanggung jawab itu kepada orang lain, sementara matanya mengerling pemuda tampan tadi, dalam hati ia membatin.
"Kau sendiri yang cari gara2, akan kulihat bagaimana caramu mengatasi masalah ini!"
Pemuda tampan itu tertawa dingin, sekali tangannya bergerak, tahu2 ia telah menghunus sebatang pedang yang bercahaya hijau tajam.
Air muka Le Bun-pa, The Pek-siu serta keempat Ngo pak-thian yang lain sama berubah hebat, bahkan pemuda rudin yang berada di bawah pohonpun nampak keheranan, siapapun tak menyangka seorang pemuda desa yang kelihatan bodoh itu ternyata memiliki senjata yang tajam dan ampuh, siapapun tahu pedang itu pasti pedang mestika.
Setelah menghunus pedangnya, pemuda itu kelihatan bertambah gagah, dengan mata melotot ia awasi Le Bun-pa tanpa berkedip, kemudian tegurnya.
"Saudara, kalau kau hendak membegal barang kawalan kami, silakan bertanya dulu kepada pedangku ini, apakah dia mengizinkan atau tidak!"
Le Bun-hou, si jangkung yang merupakan tertua dari Yan-in-ngo-pak-thian itu maju selangkah ke depan, katanya dengan suara dalam.
"Pandangan Jiteku kurang tajam dan tak tahu siapakah sahabat cilik ini, untuk itu terimalah permintaan maafku ini!"
Ia berhenti sebentar, lalu melirik sekejap ke arah The Pek-siu, kemudian berkata pula.
"Sahabat cilik, engkau masih muda dan tampan, aku yakin kau berasal dari perguruan ternama, apa gunanya jual nyawa buat kaum cakar alap2, masa kau tidak merasakan bahwa tindakanmu ini sama sekali tak ada harganya?"
Pemuda itu melotot, ia tunggu setelah lawan selesai bicara baru menjawab dengan lantang "Aku Tian Pek, masih muda dan tak berpengalaman, aku tak kenal tata cara seperti itu, yang jelas Ji-lopiautau telah menyerahkan tanggung jawab barang kawalan ini kepadaku, maka aku harus mengantar barang2 ini hingga tiba di tempat tujuan dengan selamat, bila para sababat suka memberi muka kepadaku, harap berilah jalan lewat bagi kami, di kemudian hari aku pasti akan membalas budi kebaikan ini, kalau tidak ....."
"Kalau tidak bagaimana?"
Tukas Le Bun pa dengan gusar.
Orang ini berwatak berangasan, walaupun ia tahu bahwa pedang mestika pemuda itu tentu mempunyai asal usul yang besar, tapi sikap lawannya yang jumawa membuat ia kehabisan sabar.
Sambil membentak ia menerjang maju, cahaya golok berkilauan, secepat kilat ia membacok tubuh pemuda yang mengaku bernama Tian Pek.
Tian Pek mundur selangkah sambil egoskan bahunya ke samping, berbareng pedang mestikanya diiringi cahaya hijau yang dingin menangkis ke atas.
Walaupun golok Le Bun-pa terbuat dari baja murni, namun ia tak berani adu kekerasan dengan senjata lawan, ujung golok berputar membentuk gerakan setengah lingkaran, dari jurus "membelah gunung Hoa-san"
Kini berubah menjadi jurus "angin puyuh menderu-deru", golok menabas dari samping.
Tapi pemuda itupun tidak lemah, gerak-geriknya cukup gesit dan lincah, sebelum serangan Le Bun pa tiba, cepat dia berputar, dengan jurus Hong Kong-tian-ci (Burung Hong pentang sayap) pedangnya menerobos cahaya golok dan mengancam dada lawan.
Cepat Le Bun-pa melompat mundur ke belakang, walau begitu peluh dingin membasahi tubuhnya, sedikit terlambat ia menghindar niscaya pedang lawan bersarang di dadanya.
Menyaksikan jalannya pertarungan itu, Le Bunhou berkerut dahi, ia tahu ilmu pedang yang dimainkan pemuda she Tian hanya ilmu pedang Sam-cay kiam yang sederhana dan umum.
namun gerak tubuh lincah dan serangannya mantap.
Tapi setelah nyaris termakan ujung pedang musuh, Le Bun-pa menjadi murka, ia membentak dan kembali menerjang maju, beruntun ia lancarkan dua kali bacokan.
Menang pada jurus pertama, Tian Pek menjadi rada angkuh, matanya melotot dan memandang ujung golok lawan tanpa berkedip, ketika lawan membacok tiba, ia bergeser ke samping dengan mudah serangan itu terhindar lagi.
Tidak sampai sepuluh gebrakan, Le Bun pa yang dogol dan bengis itu sudah keteter hingga hampir saja ia tak mampu bertahan.
Melihat pemuda itu berada di atas angin.
The Pek-siu jadi gembira, pikirnya.
"Wah, tak nyana bocah ingusan ini memiliki ilmu silat yang tangguh kalau aku bisa tarik dia jadi anggota petugas, tentu aku bakal mendapat pembantu yang kuat."
Tapi ketika sorot raatanya terbentur pandang dengan keempat gembong bandit yang lain, rasa gembira tadi seketika tersapu lenyap. Rupanya Le Bun-hou sedang memberi tanda kepada "Losam".
"Losu"
Dan "Longo"
Ketika dilihatnya Loji mereka terdesak hebat.
Mereka segera mengeluarkan senjata andalan masing2, dipimpin oleh Le Bun-hou yang bersenjatakan sepasang Poan-koan-pit, mereka menyerbu ke dalam gelenggang sambil membentak.
"Saudara2 sekalian, hayo kita bekuk dulu bocah keparat itu!"
Kecuali Poan-koan-pit yang digunakan Le Bun-hou, Losam (orang ketiga) bersenjata tombak Losu bertoya dan Longo (kelima) memakai pedang Song bun-kiam, senjata mereka satu sama lain berbeda.
Sekalipun senjata yang dipakai beraneka ragam, akan tetapi kerja sama mereka berlima cukup rapat, begitu Le Bun-hou membentak, keempat saudaranya lantas putar senjata dan rnengerubut pemuda Tian Pek habis2an.
Tian Pek sendiri diam2 merasa gembira karena hasil jerih payahnya berlatih selama ber tahun2 tanpa bimbingan guru ternyata tidak sia2 dan cukup tangguh, bahkan salah seorang dari Yan-in-ngo-pah thian yang tersohor hampir mampus di ujung pedangnya.
Siapa tahu baru saja timbul rasa senangnya, empat macam senjata segera mengancam dari empat penjuru, keruan ia terkesiap, jantung berdebar keras.
Pemuda itu sadar untuk menghadapi salah satu di antara mereka mungkin masih sanggup, tapi bila mereka maju berlima niscaya ia akan mati konyol.
Waktu itu Bang-leng-koan dan temannya go -kau, (monyet kurus), dua opas kurus dan gemuk itu sudah dibikin ketakutan setengah mati, tubuh mereka menggigil dengan peluh dingin membasahi tubuhnya.
Keadaan menjadi gawat, tampaknya pemuda she Tian itu akan binasa di ujung senjata lawan nya ....
Pada saat itulah, tiba2 terdengar gelak tertawa yang nyaring berkumandang di udara.
Lima bersaudara keluarga Le itu terkejut, apalagi setelah mengetahui bahwa gelak tertawa itu berasal dari pemuda jembel yang bersandar di bawab pohon tadi.
Dengan langkah sempoyongan, tangan sebelah membawa mangkuk biru, sedang tangan lain memegang kitab butut, pemuda itu mendekati gelanggang sambil tertawa bila orang tak melihat sendiri, siapapun tak akan menduga gelak tertawa yang nyaring itu berasal dari pemuda jembel ini.
Le Bun-hou adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman, alis bekernyit, dalam hati ia berpikir.
"Ah, kembali aku salah lihat, tak nyana pemuda jembel itupun seorang jago lihay, nasibku benar2 lagi sial, kenapa aku harus bertemu dengan orang macam begini dalam keadaan demikian?"
Tanpa terasa kedua pihak yang sedang bertempur sama berhenti, masing2 mundur ke belakang sambil memandang pemuda jembel itu dengan tercengang.
Pemuda itupun telah berhenti tertawa, matanya menyipit, ia angkat mangkuknya dan menghirup seteguk air es dari celah2 mangkuk.
"He, kenapa berhenti?"
Serunya kemudian.
"Hayolah, lanjutkan pertarungan ini, aku ingin lihat cara bagaimana lima orang lawan seorang? Hihi, kalau kalian berhenti, aku jadi kecewa ......."
Le Bun-pa menjadi gusar, dengan napas terengah2 dan mata melotot ia membentak.
"Manusia rudin, tadi sudah kupesan supaya jangan sembarangan bergerak dari tempatmu, mau apa kau campur urusan ini? Hoo, rupanya kau ingin ditendang hingga keluar kuning telurmu?"
Walaupun sudah kecundang sekali, tapi ia belum kapok, tampaknya ia malahan pentang tangan hendak mencengkeram pemuda jembel itu. Pemuda itu menyipitkan matanya dan tertawa geli, katanya.
"Eh, kulihat kau ini kereng dan gagah, tapi kenapa bicaramu tak keruan, seperti anak liar yang tak berpendidikan saja. Mari-mari, lekas meyembah tiga kali padaku, nanti kuberi ajaran nabi kepadamu,' tanggung tingkahmu nanti akan berubah, tak akan liar lagi seperti ini."
Keruan Le Bun-pa naik pitam, tanpa bicara lagi ia menubruk maju, tangannya yang besar seperti kipas terus mencengkeram tengkuk orang.
Dengan ketakutan pemuda jembel itu mundur ke belakang, badannya gemetar dan mukanya pucat, peluh dingin kelihatan membasahi keningnya.
Le Bun-hou rnengerut dahi meayaksikan perbuatan adiknya, cepat ia membentak.
"Jite, tahan!"
Segera ia hendak mendekati adiknya, siapa tahu tiba2 sinar tajam berkelebat dari samping, ternyata pemuda she Tian itu telah melancarkan suatu tusukan kedepan, ke arah Le Bun-pa..
"Sahabat!"
Pemuda itu berseru.
"kalau pingin bergebrak, silakan berurusan dengan aku, kenapa menyusahkan orang lain yang tak bersalah?"
"Benar, benar, ucapan sahabat memang tepat!"
Sambung si pemuda jembel tadi sambil menyurut mundur.
"kalau ingin pamer kekuatan, carilah orang lain, kenapa cari diriku? Ketahuilah, kalau mangkuk biruku sampai pecah, maka aku akan minta ganti padamu!"
Le Bun-hou berkerut kening pula, ia segera menghardik.
"Sahabat she Tian, harap tahan! Jite, kaupun berhenti!"
Dengan cepat ia menghadang di muka Le Bun pa, kemudian ia menjura kepada pemuda jembel tadi, ujarnya.
"Meski saudara tak mau perlihatkan aslimu, tapi pandanganku belum lagi rabun, kutahu anda ini pasti seorang tokoh lihay. Ya, perbuatan kami bersaudara mungkin kurang sedap dipandang, soalnya kami mempunyai kesulitan yang tak dapat diucapkan, kuharap anda sudi memberi muka kepada kami, setelah urusan di sini selesai, suatu ketika kami pasti akan berkunjung ke tempat anda untuk menyampaikan rasa terima kasih kami."
Sebagai jago kawakan yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia persilatan ini memang tajam penglihatannya, berulang kali ia menjura dan minta maaf kepada pemuda jembel itu, tujuannya tak lain adalah berharap agar orang itu jangan turut campur dalam urusan ini, agar daging lezat yang sudah ada di depan mulut ini jangan sampai terlepas lagi.
Siapa tahu pemuda itu lantas balas menghormat sambil berkata.
"Ah, mana aku berani menerima penghormatanmu ini. Apalagi kau hendak berkunjung ke rumahku, wah, jangan, rumahku terlalu kecil, mungkin tempat untuk berdiri bagimu saja tak muat."
Sambil berkata pemuda itupun mengerutkan dahi, rupanya tiba2 didengarnya kumandang suara derap kuda dari balik hutan sana.
Air maka Le Bun-hou juga berubah hebat, buru2 ia menjura pula kepada pemuda tadi sambil berkata.
"Kalau begitu, aku mohon maaf lebih dulu! ' Pokoknya suatu ketika kami pasti akan berkunjung ke rumahmu untuk menyatakap terima kasih."
Kepada rekan2nya ia lantas membentak.
"Saudara2 ku, hari sudah sore, hayo, cepat selesaikan tugas kita!"
Senjata Poan-koan-pitnya bergerak, kembali ia terjang pemuda she Tian itu dengan ganas.
Siapa tahu sebelum senjata mengenai sasaran.
mendadak pandangannya jadi kabur dan tahu2 pemuda jembel tadi telah mengadang di depannya.
Dalam pada itu derap kaki kuda semakin mendekat, dari luar hutan muncul tiga penunggang kuda.
Paras Yan-in-ngo-pak-thian, Bang leng-koan serta Soh-kau sama2 berubah hebat setelah mengetahui siapa yang datang, Sesaat -kemudian, dengan muka berseri Bang-leng-koan lantas menyongsong kedatangan ketiga orang itu.
Dengan tersenyum ia menjura dalam dan berkata.
"Oooh, sudah lama tak berjumpa dengan engkau orang tua, apakah baik2 saja selama ini? Hamba selalu sibuk, maka sampai sekarang belum sempat menyambangi engkau orang tua!"
Ketiga orang yang baru muncul itu adalah tiga kakek2 berjubah ungu, usia mereka di antara lima puluhan, sinar matanya tajam berwibawa.
Dalam pada itu Le Bun-hou juga sudah melewati pemuda rudin dan Tian Pek yang mengadang di depannya terus mendekati ketiga kakek itu serta memberi hormat.
"Angin apakah yang membawa para Locianpwe ke sini?"
Demikian ia menyapa.
"Le Bun-hou menyampaikan hormat kepada Cianpwe bertiga."
Kakek kurus kecil yang berada paling depan hanya mendengus tanpa mengucapkan sepatab kata pun.
Tiba2 ia melayang turun dari kudanya, tanpa memandang sekejappun terhadap Yan-in-ngo-pah-thian serta Ban-leng-koan yang ter-bungkuk2, ia menghampiri pemuda jembel tadi serta memberi hormat.
Tindakan orang tua ini sangat mengejutkan semua orang, siapapun tak menduga Mo-in-sin-jiu (tangan sakti di balik awan) Siang Cong-thian yang tersohor di dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuh serta tenaga dalamnya kini ternyata bersikap munduk2 terhadap seorang pemuda jembel.
Sambil tertawa pemuda rudin itu menegakkan badannya, sinar tajam terpancar dari matanya, tampangnva yang rudinpun seketika tersapu lenyap mengikuti perubahan sikapnya itu.
"Siang-loko!"
Ia berkata sambil tercenyum.
"sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, baru saja Yan-in-ngo-pah-thian hendak menyembe!ih diriku, wah, kalau kau sedikit terlambat datang, niscaya jiwaku sudah melayang."
Mo-in-sin-jiu adalah seorang tokoh yang disegani baik dari kalangan hitam maupun putih, terutama setelah ia hajar mampus Tiat ki-kim-to (golok emas penunggang kuda) Tay Tang gi, seorang perampok besar di gunung Gan tang-san.
Mendengar perkataan tersebut, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah Le Bun-hou dengan penuh kegusaran.
Dipandang seperti itu, Le Bun-hou jadi ketakutan, paras mukanya kembali berubah pucat bagai mayat.
Sementara itu Mo-in-sin-jiu telah menjura pula kepada pemuda rudin itu seraya berkata.
"Sungguh tak nyana, karena kedatanganku yang terlambat sehingga Kongcu dihina oleh kawanan keroco ini, biarlah kubekuk mereka semua untuk dijatuhi hukuman yang setimpal!"
Pemuda rudin itu tertawa geli, ia maju ke depan dan berkata.
"Siang-heng, aku cuma bergurau, masa kau anggap sungguhan?" -Lalu ia menghampiri Le Bun-hou yang ada di sampingnya, sambil menyodorkan mangkuk biru itu, katanya lagi.
"Le-jihiap, bukankah kau minta air es kepadaku? Nah, sekarang minumlah!"
Sejak kemunculan tiga kakek tadi, sikap congkak Le Bun-pa sudah lenyap tak berbekas.
ia bertambah kikuk atas sikap pemuda itu, paras muka-nya berubah merah seperti kepiting rebus, untuk sesaat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Pemuda rudin itu tertawa, ia tepuk bahu Tian Pekyeng masih melotot dengan bukunya yang butut.
lalu tegurnya.
"Saudara Tian, ilmu pedangmu bagus sekali, aku kagum pada kegagahanmu, jika tidak menolak bagaimana kalau mampir dulu di rumahku setelah urusan selesai? Ketahuilah, meski aku ini miskin, tapi aku gemar sekali mengikat persahabatan dengan siapapun."
Merah jengah wajah Tian Pek, jawabnya.
"Kongcu terlalu memuji, atas bantuan Kongcu yang telah menolongku dari maut, Tian Pek tak akan melupakannya untuk selamanya, di kemudian hari aku pasti akan menyambangi Kongcu sekalian menyampaikan rasa terima kasihku."
Pemuda rudin itu mengangguk sambil tertawa.
"Bagus, bagus, akan kunantikan kedatanganmu setiap waktu!"
Ucapnya. Kepada Le Bun-hou iapun berkata.
"Le tayhiap, apakah engkau sudi memberi muka kepadaku dan sudilah lepaskan mereka pergi? Jika Le tayhiap cuma membutuhkan sekadar ongkos hidup, seratus atau seribu tahil perak boleh minta kepadaku saja!"
Ucapan itu sangat melegakan hati The Pek-siu, sambil menarik napas panjang ia berpikir.
"Sungguh besar mulut pemuda ini, sekali buka suara lantas tawarkan seribu tahil perak, jangan2 dia adalah salah satu diantara keempat pemuka dunia persilatan?"
Waktu itu Le Bun hou sedang menjura dan menyengir, ia menjawab.
"Perintah Kongcu tak berani kami lawan, apalagi pemberian dari Kongcu, kami lebih2 tak berani menerimanya, belehkah kami tahu siapa nama Kongcu yang mulia agar hamba dapat memberi pertanggungan-jawab kepada majikan kami."
Semua orang kelihatan kaget, tak menduga kalau lima bersaudara keluarga Le yang lihay ini ternyata masih mempunyai majikan. Pemuda rudin itu menjawab sambil tersenyum.
"O, sungguh tak kusangka, sungguh tak kusangka, rupanya Yan-in-ngo-pah thian yang tersohor juga masih mempunyai majikan." --Lalu ia tatap Le Bun-hu tanpa berkedip dan melanjutkan.
"Apakah saudara Le bersedia untuk memberitahukan kepadaku, siapa gerangan majikan kalian itu? Masa pembegalan yang kalian lakukan sekarang ini atas perintah majikan kalian?"
"Kongcu, buat apa kau urusi manusia seperti itu?"
Seru Mo in-sin jiu tiba2 sambil menghampiri pemuda itu.
"Perintahkan saja kepada pihak Yan keng piaukiok untuk melanjutkan perjalanan! Kalau kau sungkan2 kepada manusia seperti mereka bisa jadi kepala mereka akan makin bertambah besar."
Bagaimanapun juga Le Bun hou adalah seoprang jago kenamaan di dunia persilatan, paras mukanya kontan berubah hijau ke-pucat2an karena olok2 itu, namun ia tak berani mengumbar amarahnya.
Sedapatnya ia tahan perasaannya, katanya kemudian.
"Walaupun kami bersaudara tidak lebih cuma Bu-beng-siau-cut (manusia tak punya nama) dalam dunia persilatan, namun majikan kami bukan orang persilatan biasa, setiap insan persilatan kiranya akan memberi muka kepadanya..... ." 'Omong kosong! Begitu banyak kau omong kosong,"
Bentak Mo-in-sin-jiu dengan mata melotot "Kalau mau, nama majikanmu cepat kaukatakan, kalau tak suka bicara cepat enyah dari sini, beritahu kepadanya bahwa aku orang she Siang telah mencampuri urusan ini, kalau dia tidak terima boleh cari saja padaku."
Air muka Le Bun-hou berubah pucat hijau, tidak kepalang rasa gusarnya, tapi ia tak berani bertindak apapun, sambil tertawa dingin ia lantas berseru.
"Loji, Loam, kalau toh Siang-locianpwe sudah berkata begini, mau apa kita tetap di sini? Hayo, berangkat!"
Kemudian ia tambahkan kepada Bang-leng-koan yang masih berdiri di samping sana.
"Hehe, orang she The, anggaplah engkau masih untung! Tapi, hehehe, ingin kuberitahu dulu kepadamu, dua buah peti dalam kereta itu tetap menjadi incaran kami, mengenai siapa majikan kami pikirlah sendiri, yang pasti kalau kau masih ingin berkecimpung di Kangouw, cepatlah persembahkan barang itu kepada kami, kalau tidak ... .hm, akibatnya kautahu sendiri."
Walaupun perkataan itu ditujukan kepada The Pek-siu, hakikatnya sengaja diperdengarkan kepada Mo in-sin-jiu.
Si Tangan Sakti Siang Cong-thian, bukan orang bodoh, ia sudah tiga puluhan tahun berkelana di dunia persilatan, tentu saja apa yang dimaksudkan orang dapat dipahami olehnya segera ia melompat ke depan Le Bun-hou, bentaknya sambil bertolak pinggang.
"Keparat, besar amat nyalimu. Kata2 seperti itupun berani kau ucapkan? Hmm,"
Baik, hari ini justeru hendak kutahan kalian di sini, akan kulihat macam apakah tampang majikanmu itu, apakah dia punya tiga kepala dan enam tangan dan dapat berbuat apa padaku orang she Sang ini."
Habis berkata, sekali bergerak dengan tangan saktinya ia cengkeram dada Le Bun-hou.
Cepat Lotoa dari Yan-in-ngo-pah-thian itu berkelit, tangan Siang Coug-thian segera menekan ke bawah, tiba2 tangan kiri mengancam pergelangan lawan.
Buru2 Le Bun-hou mengebaskan tangan kirinya dan melompat mundur, siapa tahu kecepatan gerak orang she Siang ini benar2 luar biasa sekali, belum sempat ia ganti napas, tahu2 Siang Cong-thian telah membentak.
"Roboh!"
Sambil mendesak maju tangan kirinya menyerang dengan gaya semula, sementara tangan kanan berputar menggaet pergelangan tangan kanan Le Bun-hou terus dibetotnya.
Seketika Le Bun-hou merasakan setengah badannya kaku, ia terbetot maju beberapa langkah, untung kuda2nya cukup kuat sehingga tak sampai roboh mencium tanah.
Betapa lihay ilmu silat Mo-in-sin-jiu terbukti dengan keoknya pemimpin Yan-in-ngo-pah-thian hanya dalam satu gebrakan saja, diam2 semua orang tarik napas dingin.
Pemuda yang bernama Tian Pek pun diam2 merasa malu sendiri, rasa kecewa dan putus asa terlintas pada wajahnya, semula dia mengira dengan ilmu silatnya sendiri mampu untuk cari nama di dunia persilitan, dendam berdarah sedalam lautan pun akan dapat dibalas.
Tapi sekarang tampaknya semua angan2nya akan tersapu lenyap, ia tahu bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan orang lain.
Ia menghela napas sedih dan tunduk kepala, masa depannya terasa suram.
Tentu saja perasaan setiap orang pada waktu itu berbeda antara yang satu dengan yang lain, terutama sekali keempat bersaudara keluarga Le, air muka mereka berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, mau maju tak berani, mau mundurpun malu, untuk sesaat mereka menjadi tak tahu apa yang harus dilakukan.
Dengan pandangan tajam Siang Cong-thian tatap wajah keempat bersaudara keluarga Le itu, bentaknya.
"Kalian enyah semua dari sini, beritahu kepada majikan kalian bahwa Le Bun-hou telah kutangkap, kalau dia punya kepandaian, silakan cari aku orang she Siang, setiap waktu kutunggu kedatangannya!"
"Siang-heng, watak berangasanmu sama sekali tak berbeda seperti dulu."
Ucap pemuda rudin itu dengan tersenyum.
"pantas kawanan tikus dunia persilatan sama gentar bila mendengar nama Mo-in-sin-jiu. Tapi, Siang-heng, buat apa sih kau marah2 begitu?"
Ia bangunkan Le Bun-hou, lalu katanya lagi dengan tertawa.
"Le-tangkeh, engkau sendiri juga keterlaluan, masa nama majikan sendiripun tak sudi diberitahukan pada orang? Cepatlah katakan, masa akupun tak berharga untuk mengetahui nama majikanmu?"
Setelah dirobohkan hingga terkapar di tanah, pakaian mewah yang dikenakan Le Bun-hou jadi kotor dan penuh debu, mukanya berubah jadi pucat kehijauan, diam2 hatinya sangat gemas.
Sekian lama ia mengertak gigi menahan emosinya, akhirnya dengan gemas is berkata.
"Kekalahan yang kuderita ini hanya bisa menyalahkan ilmu silatku sendiri yang tak becus, namun ......"
Ia berpaling ke arah Siang Cong thian, sambil gigit bibir katanya lebih jauh.
"Siang-tayhiap, kalau engkau memang tak puas dengan perkataanku tentang majikan kami, buat apa kau turun tangan terhadap orang tak becus seperti kami ini? Kalau berani, silakan cari majikan kami ..... hm, apakah kau merasa majikan kami juga tak berharga untuk kau hajar?' Siang Cong-tbian naik pitam, matanya melotot, bentaknya lantang.
"Bangsat she Le, rupanya kau bosan hidup......Pemuda rudin yang ada di sampingnya segera melerai, katanya sambil tersenyum.
"Siang-beng, jangan marah dulu, tenangkan hatimu, mari kita dengarkan lebih jauh apa yang dia katakan, Siaute jadi mulai tertarik pada orang ini, kalau dugaanku tidak keliru, sebeatar lagi tentu ada cerita yang menarik!"
Dalam pada itu dengan mata melotot Le Bun-hou masih menatap Siang Cong-thian tanpa berkedip, ia unjuk empat jari tangannya dan melanjutkan ucapannya dengan ketus.
"Majikan kami berdiam di kota Lam-keng, she Kim, dia pula yang perintahkan kami membegal barang tersebut. Siang locianpwe, kukira kau pasti tahu bukan siapakah dia? Hai! Cuma kurasa, dengan kedudukan Siang-locianpwe yang begitu terhormat, tentunya beliau tak kau pandang dengan sebelah mata bukan?"
Mo-in-sin-jiu yang biasanya tinggi hati dan malang melintang tanpa tandingan, tiba2 mengunjuk mimik wajah yang aneh, walaupun ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, namun getaran batin yang ia terima jelas terlihat.
Air muka Ban leng-koan dan Soh-kau pun ikut berubah hebat, mereka berpandangan sekejap dengan bibir bergerak seperti mau mengucapkan sesSuatu.
tapi tak sepatah katapun yang kedengaran.
Tiba2 pernuda rudin tadi menengadah dan terbahak2, suaranya nyaring menggetar sukma, tanpa terasa semua orang alihkan perhatian terhadap pemuda itu.
Le Bun-hou kelihatan tertegun, semula ia menduga semua orang akan kaget, setelah tahu siapa majikannya, bisa jadi barang yang diincar itupun akan diserahkan tanpa banyak cincong, walaupun ia juga menduga pemuda rudin itu pasti punya asal usul yang luar biasa tapi jika dibandingkan majikannya tentu sangat jauh.
Oleh sebab itulah betapa tercengangnya demi mendengar gelak tertawa orang.
Sambil ter bahak2 pemuda rudin itu melangkah maju, ia buka tutup mangkuknya yang berwarna biru dan ditunjukkan kepada orang she Le itu.
Le Bun-hou memandang sekejap tutup mangkuk itu, maka terbacalah beberapa huruf yang tertera di tutup porselen itu.
"An lok Kongcu paling romantis". Tulisan itu berwarna merah dengan gaya tulisan yang indah, di bawahnya tertera pula beberapa huruf.
"Untuk Ceng-heng, dari Hoan Hui". Begitu habis membaca tulisan itu, Le Bun-hou merasa matanya jadi ber-kunang2, hampir saja ia jatuh semaput. Pelahan ia menengadah, dilihatnya pemuda rudin itu sedang memandangnya sambil tersenyum, cepat ia tunduk kepalanya rendah2, sepatu butut yang dikenakan pemuda itu kini terasa jauh lebih berharga daripada semula, siapakah berani bilang sepatu butut An Lok Kongcu sama sekali tak ada harganya? Le Bun hou yang gagah sekarang dibikin gelagapan, sekarang baru ia sadar bahwa cukongnya belum apa2 kalau dibandingkan dengan pemuda rudin alias An lok Kongcu tersebut. Sementara An-lok Kongcu sedang ter bahak2, katanya.
"Le tongkeh tentunva kau sudah tahu siapakah diriku? Nah, sekarang cepatlah pulang dan beritahu kepada Kim kongcu, katakan bahwa dalam peristiwa ini aku In Ceng telah ikut campur, hahaha ...."
Sesudah berhenti tertawa lalu sambungnya.
"Walaupun aku belum pernah berjumpa dengan Siang-lin Kongcu, tapi sudah lama kukagumi namanya, tolong sampaikan salamku untuk Kim-kongcu."
Setelah mengetihui siapa lawannya, Le Bun-hou tak berani berlagak lagi, ia mengiakan berulang kali sambil munduk2. An-lok Kongcu tersenyum, ujarnya.
"Setelah urusan diselesaikan, akupun takkan menahan Le-tangkeh lebih jauh, bila ada minat silakan mampir ke rumahku di kota Soh ciu selama beberapa hari, haha .... Nah, saudara Le, kau boleh berangkat sekarang."
Sikap Le Bun-hou sekarang telah berubah 180, kembali ia munduk2 sambil mengundurkan diri, sejenak kemudian merekapun tiba di tepi hutan.
Yan-in-ngo-pah-thian yang gagah dan garang kini harus berlalu dengan muka yang lesu dan lemas.
Selama peristiwa itu berlangsung, Tian Pek hanya mengikuti dari samping dengan mata terbelalak, terurama ketika menyaksikan kehebatan An-lok Kongcu, darah, dalam dadanya terasa bergolak, ia merasa malu pada kemampuannya sendiri.
Sambil memandang bayangan Yan-in-ngo-pah-tbian yang mcnjauh, Mo-in-sin-jiu tertawa dingin, ia berkata.
"Tingkah laku orang yang bercokol di Lam keng itu kian hari kian bertambab bruntal, In-kongcu .... engkau ...."
An lok Kongcu In Ceng tertawa, tukasnya' "Siang-losu, pohon besar mendatangkan angin, nama besar mendatangkan iri, Bukan dia saja, namaku yang busuk inipun mungkin juga tersebar di dunia persilatan.
Maklumlah, berita yang tersiar di dunia persilatan tak boleh dipercaya seratus persen."
Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya.
"Kurasa orang yang bernama Yan-in-ngo-pah-thian tadi mungkin hanya mencatut nama Siang-lin Kongcu untuk bikin keonaran di luaran. Aku sudah sering menemui kejadian seperti ini, Siang-losu, apa kau masih ingat keonaran diterbitkan Lu-loliok tempo hari? Bukankah ia juga mencatut namaku? Kalau bukan Hoan-toaya mengetahui watakku, entah apa yang bakal terjadi?"
Meski Mo-in-sin-jiu masih kelihatan sangsi, mau-takmau iapun mengiakan berulang kali.
Tian Pek yang sudah kagum kini semakin tunduk melihat kebesaran jiwa An-lok Kongcu, diam2 ia memuji akan kegagahan pemuda itu.
Sembilan orang petugas yang sejak tadi sembunyi di belakang kereta barang.
kini ber gegas2 maju ke depan, sambil memberi hormat mereka memuji tuan penolongnya setinggi langit.
"Hamba sekalian betul2 punya mata tapi lamur,"
Kata mereka.
"ternyata tak seorangpun yang tahu akan kehadiran engkau orang tua. Ai untung In-kongcu sudi memberi bantuan sehingga tidak terjadi apa2, untuk bantuan tersebut hamba sekalian mengucapkan terima kasih. Sayang hamba masih ada tugas sehingga tak dapat mampir, lain bari kami tentu akan menyambangi engkau orang tua." -Lalu mereka ber-paling dan mengucapkan pula beberapa patah kata pujian terhadap Siang Cong-thian. An-lok Kongcu tersenyum, dia ulapkan tangannya sambil berkata.
"Kalian tak perlu berterima kasih kepadaku, kebetulan saja aku menjumpai peristiwa ini, apalagi sudah sepantasnya kalau kita saling tolong menolong."
Kiranya pemuda rudin ini tak lain tak bukan adalah salah satu di antara Su-toa-kongcu (empat tuan muda) yang amat kaya raya di wilayah Kang lam.
waktu itu dengan sorot mata yang tajam ia sedang mengawasi wajah Tian Pek, lalu katanya dengan tersenyum.
"Suadara, ilmu silatmu bagus sekali, semoga di kemudian hari kita bisa sering berkumpul, rumahku berada di luar kota Soh-ciu yang disebut perkampungan In-bong-san-ceng, bila saudara kebetulan lewat di Soh-ciu. jangan lupa untuk mampir beberapa hari di rumahku."
Setelah berhenti sebentar, lalu ia melanjutkan "Oya, setiba kembali nanti, tolong sampaikan salamku kepada Ji-lopiautau."
Tian Pek mengangguk pelahan sambil masukkan kembali pedangnya ke sarungnya, meskipun belum lama pemuda ini menjadi Piausu.
tapi dia adalah keturunan jago silat kenamaan, kebesaran jiwa orang membuatuya rikuh sendiri.
Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, tiba2 terasa bayangan berkelebat, entah bagaimana caranya, tahu2 pedang mestika yang sudah dimasukkkan ke dalam sarungnya itu telah dirampas orang.
Tian Pek terperanjat, walaupun ilmu silatnya tidak tinggi, tapi kepandaian yang dimilikinya sekarang cukup kiranya untuk membela diri, siapa tahu pedang mestika kesayangannya dalam sekejap mata saja dapat dirampas orang.
Waktu ia menengadah, ternyata orang yang merampas pedangnya bukan lain adalah seorang kakek kurus kecil yang datang bersama Mo-in-sin-jiu tadi.
Waktu itu si kakek sedang mempermainkan pedangnya dengan santai, se-olah2 pedang tersebut adalah miliknya sendiri.
Tian Pek mengerutkan dahinya rapat2, dengan gusar ia mcnegur.
"Sahabat, siapa kau? Apa maksudmu merampas senjataku?"
An-lok Kongcu juga agak tercengang, iapun melangkah maju hendak mcnegur, tapi sebelum bicara, kakek kurus itu telab menyentil pedang hingga mendenging nyaring, dengan serius ia bertanya; 'Sahabat cilik, darimana kau dapatkan pedang ini?"
"Bukan urusanmu!"
Jawab Tian Pek dengan gusar.
Sambil membentak kepalan kiri langsung menonjok dada kakek itu, sedang tangan kanan secepat kilat hendak merampas kembali pedangnya.
Dasar anak muda yang berdarah panas, ia tak peduli apa maksud orang, karena pedangnya dirampas, maka ia menyerang lebih dulu.
Siapa tahu baru saja telapak tangannya ber-gerak, tiba2 pandangannya jadi kabur, kakek kurus itu telah lenyap.
Tian Pek terkesiap, ia putar badan sambil ayun tangannya lagi.
Tapi kedua tangannya lantas tak mampu bergerak pula, tahu2 sudah dicengkeram orang hingga tenaganya punah dan tak bisa berkutik.
"Saudara, jangan terburu napsu,"
Ujar seorang sambil tertawa.
"ada urusan boleh kita bicarakan secara baik!"
Kiranya orang yang memegang tangannya ada1ah An-lok Kongcu.
Tian Pek tertegun dan menarik kembali tangannya, semula ia mengira nama besar An-lok Kongcu diperoleh berkat bantuan anak buahnya yang kebanyakan orang kosen.
Sekarang baru diketahui bahwa dugaannya keliru sama sekali, An-lok Kongcu sendiri betul2 memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.
Walaupun tahu kepandaian silatnya masih selisih jauh dibandingkan orang lain, Tian Pek tetap tak tahan rasa gusarnya.
"In-kongcu, kau mau apa?"
Teriaknya "Bila Kongcu menghendaki pedangku, katakan terus terang, pasti akan kuberikan dengan rela, kenapa Kongcu main rampas pakai kekerasan?"
An-lok Kongcu tetap tersenyun, ucapan itu sama sekali tidak menyinggung perasaannya "Saudara, kau salah paham ...."
Katanya sambil menepuk bahu Tian Pek, lalu ia berpaling dan ujarnya kepada si kakek kurus tadi.
"Hoa-losu, janganlah bergurau dengan orang, hayolah kembalikan pedangnya!"
Kemudian ia ter-gelak2 sambil menuding kakek kurus itu, ujarnya lebih jauh.
"Saudaraku, kemarilah, kuperkenalkan jago tua ini kepadamu. Dia adalah Tui-hong bu ing (mengejar angin tanpa bayangan) Hoa Ceng-cwan, Hoa-losu si pencuri sakti nomor satu di dunia. Kau jangan kuatir, Hoa-losu takkan merampas pedang orang dengan kekerasan."
Sikap Tui-hong-bu-ing tetap ketus dan dingin, pelahan ia mendekati Tian Pek, tegurnya dengan suara dalam.
"Hei, darimana kau dapatkan pedang ini? Siapa namamu? Siapa yang memberi pelajaran ilmu silat padamu?"
Pertanyaan ini diucapkan dengan beruntun, ia sama sekali tak gubris perkataan An-lok Kongcu se-olah2 tak mendengar perkataan pemuda itu, sikap yang aneh ini bukan saja membuat air muka An-lok Kongcu berubah, Mo-in-sin-jiu sendiri-pun mengunjuk rasa marah.
Air muka Tian Pek berubah jadi pucat, matanya melotot, jawabnya dengan suara lantang.
"Hoa locianpwe, aku, aku sudah lama mendengar nama-besarmu, kutahu engkau adalah seorang jago kosen, tapi aku tetap tak mengerti, berdasar apa kau ajukan pertanyaan2mu itu kepadaku?"
Tui-hong bu ing tertawa dingin.
"Sahabat, kalau kau tidak menjawab pertanyaanku, sekarang juga aku orang she Hoa akan cincang kau hingga ber-keping2!"
Ancamnya. Perkataan ini kembali membuat semua orang terperanjat. An-lok Kongcu juga serba susah, katanya cepat.
"Hoa-losu, apa yang kau lakukan ini? Berilah muka kepadaku, kembalikan pedang itu kepadanya!"
Setelah berhenti sebentar lalu ia tambahkan.
"Kalau tidak, orang tentu akan meogira aku yang me-ngincar pedangnya!"
Tui-hong-bu-ing mundur selangkah ke belakang, air mukanya berubah jadi hijiu membesi, bukan mengembalikan pedang itu, sebaliknya ia malah berkata.
"In-kongcu, banyak sekali musuhmu yang men-cari2 aku, dalam keadaan kepepet aku lari kepadamu dan ternyata kau pandang diriku sebagai tamu ter-hormat, untuk kebaikanmu itu selama hidup Hoa Ceng-cwan merasa berterima kasih, setiap ucapan In-kongcu pasti akan kuturut walau aku harus terjun kelautan api atau memanjat ke bukit golok, tapi ..."
Sinar matanym tiba2 beralih ke arah Tian Pek, lalu sambungnya dengan suara dalam.
"Tetapi dalam urusan ini aku tak dapat turut perkataanmu, aku harus tanyakan asal-usul pedang ini hingga jelas, aku harus tahu asal-usul pemuda ini, kalau ia tak mau menjawab, sekalipun aku bukan orang yang suka menganiaya kaum muda, terpaksa hari ini aku barus melanggar kebiasanku ini."
Air muka pencuri sakti yang pernah menguras barang berharga tiga belas keluarga kenamaan di ibu kota dalam waktu semalam ini, seketika berubah jadi dingin menyeramkan, selesai bicara ia terus menubruk ke sana, sekali berputar, cahaya pedang berkelebat.
"Kraak", sebatang pohon besar telah ditebas kutung menjadi dua bagian. Ketika pohon itu tumbang, pencuri sakti itu kembali melejit ke udara, sebuah pukulan dilepaskan hingga batang pohon ilu mencelat jauh, habis itu baru ia melayang turun ke atas tanah. Sesudah mendemontrasikan ilmu silatnya yang lihay, Hoa Ceng-cwan berdiri tegak dengan kuda2 yang kuat, teriaknya dengan kereng.
"Barang siapa berani mencampuri urusanku, biarpun bapakku sendiri, tetap aku akan beradu jiwa dengan dia!"
An-lok Kongcu terkenal karena kebesaran jiwa-nya, namun menghadapi kejadian ini tak urung paras mukanya berubah hebat.
Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Mo-in-sin-jiu telah lompat ke depan seraya mendamperat.
"Hoa-losu! Apa yang kau lakukan ini? Kau berani bersikap kurang ajar terhadap Kongcu?"
Hoa Ceng-cwan mendengus, ia berpaling dan berkata.
"Siang Cong-hian, kita sudah bersahabat selama puluhan tahun, masa kau tidak kenal pada watakku? Coba lihat, pedang apakah ini? Pedang ini milik siapa?"
Karena emosi hingga napasnya kelihatan agak memburu.
Siang Cong-thian melengak, dia awasi pedang mestika itu beberapa kejap, mendadak seperti teringat akan sesuatu air mukanya segera berubah hebat, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi, ia menyurut mundur sementara matanya tetap menatap pedang tersebut tanpa berkedip.
Waktu itu air muka Tian Pek juga berubah pucat hijau, tiba-tiba ia membentak.
"Hoa-tayhiap, kutahu engkau adalah jago kenamaan di dunia persilatan, sedang aku tak lebih cuma seorang bocah ingusan, walau begitu aku tetap tak mau bicara, ingin kulihat apa yang akan dilakukan seorang tokoh kenamaan seperti kau ini atas diriku!"
Habis bicara berulang-ulang ia mendengus, dada sengaja dibusungkan tinggi-tinggi dan mata melotot bulat. Sejenak kemudian ia berkata lagi .
"Hoa-tayhiap, kuharap pedang itu segera dikembalikan kepadaku, Jika tidak, selama hayat masih dikandung badan, aku tetap akan berusaha merebut kembali pedang itu walau jiwaku harus menjadi taruhan."
"Jadi kau benar2 tak mau bicara?"
Tanya Hoa Ceng cwan sambil melangkah maju.
"Tidak! Kau mau apa? Kembalikan pedangku!"
Jawab Tian Pek tegas.
"Hehehe. baik, hari ini juga kucabut jiwa anjingmu!"
Teriak jago tua itu sambil menerjang maju.
Sret!
Sret!
Dua kali babatan menyambar ke tubuh Tian Pek, desiran angin tajam menderu-deru, siapa pun tak menduga seorang jago kenamaan Bu-lim ternyata turun tangan keji terhadap seorang pemuda ingusan.
An-lok Kongcu tak tinggal diam, cepat ia maju mengadang, dengan mangkuk birunya dia tangkis serangan orang sambil membentak.
"Hoa-losu, kau sungguh-sungguh mau turun tangan?"
Walau pun serangan yang dilancarkan Hoa Ceng-cwan secepat kilat itu sudah setengah jalan, tapi mau tak mau terpaksa ia tahan serangannya, ujung pedang seketika berhenti persis di depan mangkuk biru itu, maju beberapa senti lagi niscaya mangkuk tersebut akan hancur.
An-lok Kongcu tampak berdiri tenang, katanya.
"Hoa-losu, kalau engkau benar2 mau turun tangan, sepantasnya katakan dulu alasan2nya!-' Tangan Hoa Ceng cwan yang memegang pedang kelihatan gemetar, agaknya ia sedang menahan gejolak emosinya, ujung pedang yang gemetar sampai beradu dengan mangkuk biru itu bingga menimbulkan suara dentingan nyaring. namun tangan An-lok Kongcu yang memegang mangkuk itu tetap tak bergerak. Ketika sorot mata mereka saling bertemu, tanpa terasa Hoa Ceng-cwan menyurut mundur selangkah, bagaimanapun juga ia tak berani bergebrak dengan An-lok Kongcu. Akhirnya sambil menghela napas dan menggeleng kepala ia berkata.
"In-kongcu, mengapa kau campur urusan ini?"
Sementara itu Siang Cong-thian telah memburu maju pula, ia sambut mangkuk biru itu dari tangan An lok Kongcu, kemudian katanya dengan suara berat.
"In kongcu, perbuatan Hoa losu mempunyai alasan yang kuat, lebih baik Kongcu jangan ikut campur urusan ini."
Pelahan An-lok Kongcu turunkan tangannya ia menjadi ragu2, ia tahu sudah lama Siang Cong-thian berkelana di dunia persilatan, pengalaman dan pengetahuannya sangat luas, diapun merupakan seorang jago kosen, kalau tokoh seperti inipun menganjurkan kepadanya agar jangan mencampuri urusan ini, agaknya dibalik peristiwa ini pasti ada hal2 yang luar biasa.
Ia pun tahu Hoa Ceng-cwan bukan orang yang suka bertindak secara gegabah, juga tak mungkin ingin membunuh pemuda itu lantaran mengincar pedang mestikanya.
Musuh Hoa Ceng-cwan di dunia persilatan memang banyak, tapi An-lok Kongcu yakin tak nant1 Pencuri Sakti ini mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan pemuda she Tian ini.
Tapi mengapa ia memaksa pemuda itu untuk bicara?
Apa sebabnya dan apa alasannya?
Makin dipikir An-lok Kongcu jadi semakin bingung, akhirnya ia berdehem dan berkata.
"Hoa-losu, kalau kau anggap psrsoalan ini amat penting bagimu, maka aku tak akan ikut campur lagi, tapi "
Ia berhenti sebentar dan tarik napas panjang2, kemudian melanjutkan.
"Menurut pendapatku, lebih baik terangkan persoalan ini secara blak2an, mumpung di sinipun hadir sahabat2 dari luar kalangan kita, sebab kalau tidak, jika berita ini sampai tersiar, bukan saja nama baik Hoa-losu akan tercemar, akupun jadi ikut2an dicemoohkan orang lain, Hoa-losu, harap bicaralah terus terang, kalau kau anggap persolan ini tiada sesuatu yang perlu dirahasiakan maka uraikan saja dengan blak-blakan."
Walaupun dimulut ia berkata begitu, dalam hati ia berpikir.
"Hoa-losu ini benar2 aneh sekali, apa sih manfaatnya memaksa orang untuk memberitahukan asal-usul pedangnya dan apa pula gunanya mengetahui nama serta asal usul orang lain? Ah, pasti-ada suatu rahasia dibalik persoalan ini!"
Sementara itu Tian Pek lantas berteriak pula.
"Ya, benar, Hoa-tayhiap, berdasar apa kau ajukan pertanyaan itu? Pedang mestika itu milikku. mengapa kau merampasnya dariku? Hayo katakan, apa alasannya kau berbuat demikian?"
Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan mendengus dengan pandangan tajam ia menatap pemuda itu dengan tak berkedip, hawa napsu membunuh menyelimuti mukanya yang kurus, tiba2 ia menegur.
"Benarkah kau tak tahu maksud pertanyaanku ini? Jadi kau benar2 tak tahu apa alasannya? Sahabat, lebih baik tak usah berlagak pilon dihadapanku, hehehe, kalau kau ingin menipuku, perhitunganmu pasti salah besar!"
Tian Pek tertegun, untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. An-lok Kongcu nenyapu pandang sekejap ke arah pemuda itu, mendadak ia berkata pula.
"Hoa-losu, walaupun antara aku dengan pendekar muda ini baru berjumpa untuk pertama kalinya, tapi aku yakin dia bukan sebangsa munusia licik yang suka ber-pura2, lebih baik Hoa-losu terangkan saja apa alasanmu, bila alasan tersebut cukup baik dan jujur, aku percaya pendekar muda ini tak akan membungkam terus!" -Bicara sampai di sini, ia mengerling sekejap ke arah Tian Pek. Dengan sorot mata penuh rasa terima kasih pemuda she Tian itu balas pandangan orang, sinar matanya yang tajam memancarkan semangat seorang ksatria, hal ini semakin meyakinkan An-lok Kongcu bahwasanya apa yang dilihat memang tidak keliru-Diam2 ia ambil keputusan bila Hoa Cing-cwan tak mampu mengucapkan alasannya, maka ia lebih baik menyalahi jago tua tersebut daripada membiarkan pemuda itu didesak terus menerus. Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan menghela napas panjang, ujarnya.
"Ai, setelah Kongcu berkata begitu, terpaksa aku harus terangkan persoalan ini sejelasnya, hanya saja.."
Sinar matanya beralih ke wajah Siang Cong-thian katanya pula.
"Siang-heng, kurasa kau sudah tahu bukan mengapa aku berbuat demikian? Lebih baik Siang-heng saja yang tuturkan masalah ini. meskipun sahabatku itu sudah lama meninggal, tapi setiap kali teringat masa lampau, hatiku menjadi pedih!"
Mendadak matanya terbelalak, dengan emosi ia berseru.
"Bila kejadian ini sudah kuterangkan dan ternyata masih ada orang menganggap perbuatanku tak bertanggung-jawab, detik itu juga aku akan gorok leherku dan bunuh diri, tak perlu orang lain turun tangan kepadaku."
Mendengar kata2 tegas demikian, Tian Pek mengerut kening, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi rasanya sukar keluar dari bibirnya.
Siang Cong-thian menghela napas panjang, sambil membelai jenggotnya yang putih, katanya.
"Kongcu, pernahkah kau dengar tentang peristiwa besar yang terjadi pada dua-tiga puluhan tahun yang lalu? Peristiwa itu menyangkut nasib seorang pendekar besar yang disegani dan dihormati oleh setiap insan persilatan?"
Ia berhenti sebentar, ketika dilihatnya An-lok Kongcu mulai tertarik oleh penuturannya, segera ia melanjutkao.
"Dua-tiga puluh tahun berselang, di dunia persilatan terdapat seorang pendekar besar yang disegani dan dihormati setiap orang, selama hidupnya selalu berbuat jujur dan suka menolong sesamanya, kawan persilatan dari mana pun banyak yang mendapat bantuannya, ratusan tahun belakangan ini dalam dunia persilatan belum pernah terdapat manusia berbudi seperti dia."
"Siang-losu, apakah kau maksudkan Pek lek-kiam si pedang geledek Tian In-thian, Tian-tay-hiap?"
Tukas An-lok Kongcu.
Ketika mendengar nama tersebut air muka Tian Pek yang pada dasarnya sudah putih kini kian pucat, tiba2 ia putar badan dan kabur keluar hutan.
Siapa tahu, baru saja ia bergerak, mendadak Hoa Cing-cwan membentak keras.
"Sahabat, mau lari ke mana? Berhenti kau!"
Entah dengan gerakan apa, tahu2 ia sudah melayang jauh ke sana, Tian Pek merasakan pandangannya menjadi kabur dan Hoa Cing-cwan dengan muka beringas telah mengadang di depannya.
Tian Pek terkesiap, ia putar badan dan hendak kabur lagi lewat samping orang.
Tapi betapapun cepatnya ia lari, apakah ia mampu menandingi ilmu meringankan tubuh Hoa Cing-cwan yang tersohor?
Bayangan orang berkelebat, tahu2 jalannya teradang pula, dengnn tangan kirinya Pencuri Sakti itu terus tutuk jalan darah Ing-coan-hiat di bawah tetek orang sambil membentak.
"Anak monyet, mau kabur? Huh, jangan mimpi di siang bolong."
Merasakan desiran tajam mengancam dada, Tian Pek geser kakinya sambil meliuk pinggang, tangan kinnya memotong pergelangan tangan lawan, sementara tubuhnya berputar, gerakan ini dilakukan dengan tak kalah cepatnya.
Walaupun Tian Pek berbakat sangat bagus untuk belajar silat, diapun rajin beilatih secara tekun, tapi sayang tiada mendapatkan bimbingan guru pandai, ilmu silatnya jika dibandingkan oraug lain boleh dibilang masih selisih jauh.
Baru saja serangan tersebut dilancarkao, mendadak sikutnya terasa kaku dan sekujur tubuh tak dapat bergerak lagi, maka sadarlah pemuda itu bahwa jalan darahnya tertutuk.
Diam2 ia menghela napas, ia benci pada setiap manusia di dunia ini, mengapa orang memaksa dia untuk mengaku asal-usulnya dikala ia sendiri tak ingin mengungkapnya kembali?
Setelah mentutuk jalan darah di sikut Tian Pek, tangan Hoa Cing-cwan terus rnencrobos ke bawah ketiaknya, dengan bentakan keras, dia lempar tubuh pemuda itu ke arah Siang Cong-thian.
Mo-in-sin-jiu sambut datangnya tubuh dengan kedua tangannya, begitu enteng ia sambut tubuh orang seakan-akan menerima benda yang enteng sekali, lalu ia melemparkan tubuh pemuda itu ke tanah.
Hoa Cing-cwan sendiri sementara itu sudah melayang kembali ke tempat semula, ditatapnya sekejap An lok Kongcu dengan dingin, sedang mulutuya tetap membungkam.
An lok Kongcu berkerut kening, ia merasa bingung atas kejadian itu, apa yang terjadi ini sama sekali di luar dugaannya, maka ia hanya melenggong belaka.
Ia tak mengira si anak muda itu akan kabur ter-birit2 demi mendengar nama Pek-lek-kiam, ia tak tahu apa sebabnya, pikirnya di dalam hati.
"Mungkinkah pemuda yang masih muda belia ini mempunyai hubungan yang erat dengan kematian Pek-lek-kiam Tian-tayhiap pada dua-tiga puluh tahun yang lalu itu?"
Ketika ia pandang pedang mestika yang masih herada di genggaman Hoa Cing cwan, tiba2 terpikir pula olehnya.
"Ah, jangan2 pedang mestiku ini adalah 'Pek-hiat-kiam' milik Tian-tayhiap dahulu? ' Dalsm pada itu Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan sedang berkata dengan dingin.
"In kongcu, kukira sekarang engkaupun tahu sebabnya kupaksa dia mengakui asal usul pedang ini? Dengan pedang hijau ini entah sudah berapa banyak perbuatan mulia yang telah dilakukan Tian-tayhiap? Tapi rupanya Thian kurang adil. Ia membiarkan Tian-tayhiap binasa dalam keadaan yang serba misterius, siapapun tak tahu sebab2 kematiannya, In-kongcu "
Suaranya lambat laun berubah keras dan nyaring, sambungnya pula.
"Maafkanlah kalau kataku agak kasar, engkau masih muda dan tak sempat menyaksikan kematan Tian-tayhiap yang mengerikan di danau Tong-ting-ouw, tapi aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Sudah terlalu banyak budi kebaikan yang kuterima dari Tian-tayhiap, akan tetapi sewaktu kulihat mayat Tian-tayhiap yang menggeletak di tepi Tong-ting-ouw dalam keadaan mengenaskan itu, aku .... aku ternyata tak tahu siapakah pembunuhnya!"
Ia menghela napas sedih, sekuat tenaga ia ber-usaha menekan pergolakan perasaannya, sesaat kemudian ia berkata kembali "Dua puluh tahun setelah kejadian aku selalu berusaha mencari dan menyelidiki siapakah pembunuh Tian-tayhiap, tapi semua usahaku ternyata gagal total, aku tetap tak berhasil mengetahui siapakah pembunuh sadis itu-Tapi sekarang, rupanya Thian melindungi aku, akhirnya aku berhasil menemukan titik terang dalam peristiwa ini."
An-lok Kongcu yang mengikuti penuturan tersebut dengan seksama, pelahan tundukkan kepala sambil menghela napas sedih, baru sekarang ia paham duduk perkara yang sebenarnya.
Hoa Cing cwan yang kurus kecil itu menghela napas panjang, ia menengadah sejenak, lalu berkata lagi dengan sedih.
"In kongcu, apakah kau dapat membayangkan bagaimana perasaanku tatkala ku-ketahui bahwa pedang yang digunakan pemuda ini bukan lain adalah pedang milik Tian-tayhiap almarhum? In-kongcu, apabila aku gagal untuk mengetahui asal-mula pedang ini dan siapakah yang memperolehnya untuk pertama kali, bagaimanakah pertanggungan-jawabku terhadap tuan penolongku di alam baka? Terhitung seorang manusiakah bila kubiarkan dendam kesumat Tian-tayhiap ini tenggelam begitu saja?"
An lok Kongcu jadi bungkam, ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut.
Berapi-api sinar mata Hoa Cing cwan, tiba2 ia berjongkok dan tepuk bahu Tian Pek hingga tutukannya tadi bebas, setelah itu sambil menempelkan ujung pedang di tenggorokan pemuda itu ia menghardik.
"Sahabat, semua pembicaraanku tentu dapat kau ikuti dengan jelas bukan? Kutahu engkau masih muda dan tak mungkin tersangkut dalam pembunuhan berdarah atas diri Tian-tayhiap, aku hanya ingin tahu darimana kau peroleh pedang ini? Kuharap kau menjawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya kalau berani bohong..... Hmm!"
Sedikit menggetar, ujung pedang menggores lewat tiga senti di depan tenggorokan pemuda itu, lalu sambungnya.' "Akan kugorok lehermu sehingga darahmu bercucuran di ujung pedang ini!"
An-lok Kongcu menghela napas, ia lihat anak muda itu tetap bungkam dengan sinar mata berkilat, sedikitpun tidak unjuk rasa takut atau ngeri, diam2 ia memuji.
"Bagaimanapun juga pemuda ini tak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati!"
Pada saat itulah tiba2 pemuda itu bergesar ke belakang dan bangkit berdiri.
"Kau cari mampus?"
Bentak Hoa Cing-cwan dengan gusar, cahaya pedang hijau segera berkelebat.
Tapi pemuda Tian Pek tidak melakukan gerakan apa2, sebaliknya ia terus berlutut dan menyembah tiga kali terhadap kakek Hoa dengan sikap yang sangat menghormat.
An-lok Kongcu menghela napas panjang, diam2 ia menggeleng kepala dan berlalu dari situ.
Senyura sinis tersungging pula di ujung bibir Mo-in-sin-jiu Siang Cong-thian, andaikata pemuda itu tetap berkeras kepala sampai akhir, kemungkinan besar mereka akan memberikan bantuannya, tapi tindakan pemuda itu sekarang sungguh tindakan yang pengecut dan memalukan, tak heran kalau sikap kedua orang itu seketika berubah jadi sinis, bahkan memandang hina pemuda itu.
Tui-hong-bu-ing Hoa Cing-cwan sendiripun tertegun, ia tarik kembali pedangnya.
Perlahan pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantongan kecil, dari dalam kantongan ini dikeluarkannya sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari kain sutera karena sudah terlalu lama, warna kain tersebut sudah luntur dan lusuh sekali.
Dengai sikap yang serius dan hati2 ia angsurkan bungkusan kain sutera itu kehadapan Hoa Cing-cwan, sedang mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
An-lok Kongcu telah berada di luar hutra, ia sedang berpaling sambil berseru.
"Siang-losu mari kita pcrgi,. .. ."
Belum habis ia berkata, tiba2 dilihatnya Hoa Cing-cwan sedang menjura kepada pemuda Tian Pek dengan sikap yang kikuk dan sama sekali berbeda daripada sikapnya tadi, sinar matanya penuh pancaran rasa kaget dan heran, ia sambut kantong kain sutra itu dengan tangan yang gemetar.
Tian Pek tampak agak tertegun, tapi segera ia berkata dengan hormat.
"Locianpwe, bagaimana kalau kau kembalikan pedang itu kepadaku?"
Sementara itu An-lok Kongcu telah membatalkan niatnya untuk pergi, dengan sorot mata heran2 kaget ia mengawasi kedua orang itu.
demikian pula dengan Siang Cong thian, ia pandang rekannya dengan keheranan.
Mengejar angin tanpa bayangan alias si Maling Sakti Hoa Cing-cwan sedang memegang bungkusan kain tadi dsngan ter-mangu2, lama sekali tak berbicara, akhirnya orang tua itu menghela napas panjang, secepat kilat ujung pedang hijau berputar dan diarahkan ke tenggorokan sendiri, cahaya hijau berkelebat, darah segarpun muncrat.
Tanpa bicara apapun tokoh kosen yang amat disegani dalam dunia persilatan itu telah membunuh diri dan mati dalam keadaan mengenaskan, tangannya yang kurus itu masih menggenggam kain sutera itu, pedang mestika yang berwarna hijau bening tergeletak di atas dadanya, menyinari raut wajahnya yang mengerikan.
Peristiwa ini berlangsung dengan cepat dan sama sekali di luar dugaan, seketika semua orang termangu mangu, siapapun tak menduga Hoa Cing-cwan bisa bunuh diri, sebab bukan saja ia tak mengucapkan sesuatu sebelum perbuatan nekat itu, bahkan tanda2 ke situpun tak ada.
Mo in-sin-jiu adalah seorang jagoan yang ber-hati dingin, tak urung paras mukanya berubah juga menyaksikan kejadian teisebut, segera ia angkat jenazah rekannya, dilihatnya bekas luka di atas tenggorokan kakek itu sangat dalam, kepalanya terkulai, kulit nukanya berkerut seperti menahan rasa sakit yang luar biasa, mimik wajah itu entah disebabkan penderitaan sebelum ajal ataukah karena pergolakan emosi.
Angin dingin berhembus membuat badan Siang Cong-thian bergidik, ia berpaling, dilihatnya Tian Pek sedang berdiri kesima dengan muka pucat hijau, saking kagetnya pemuda itu sampai tak mampu berkata2.
Persahabatan Siang Cong-thian dengan Hoa Cing-cwan telah berlangsung puluhan tahun lamanya, memandangi jenasah rekannya yang berada dalam pangkuannya pelbagai kejadian terbayang dalam benaknya, ia tahu betapa watak Hoa Cing-cwan, kekerasan hati serta keteguhan iman mereka tak jauh berbeda, tak mungkin kawannya ini bunuh diri lantaran sesuatu pukulan batin.
Tapi apa sebabnya ia bunuh diri setelah melihat kantong kain sutera vang sudah lusuh tadi?
Ia baringkan kembali mayat Hoa Cing-cwan, di-pentangnya tangan yang menggeggam kain sutera yang telah merenggut nyawa seorang tokoh dunia persilatan itu, kain itu diambilnya dan diperiksa dengan seksama.
Jilid 2 .
Leng-hong kongcu, si tanpa perasaan Kain itu tidak lebih hanya secarik kain biasa, meski pun dahulu warnanya indah tapi sekarang sudah lusuh dan berubah jadi kuning, tiada sesuatu keistimewaan.
malahan jahitan sekeliling kain sudah terlepas mirip ditarik dengan paksa.
Lalu apa rahasia yang terkandung di balik secarik kain kecil itu?
Mendadak Mo-in sin-jiu menubruk ke depan bagaikan sambaran elang, telapak tangan yang kuat langsung mencengkeram dada pemuda itu.
Tian Pek sama sekali tidak bergerak, iapun tidak berusaha menghindar atau menangkis, sinar matanya memandang ke tempat jauh, se-olah2 tak tahu kalau dirinya sedang diserang.
Siang Cong-thian membentak, sikutnya bergetar keras, cengkeramannya memutar ke bawah dan memegang pergelangan tangan si anak tnuda, sementara kain kumal tadi ditunjukkan kehadapannya.
"Barang apa ini?"
Hardiknya.
Perlahan Tian Pek menengadah, sorot matanya tampak sayu, ia cuma menggeleng tanpa menjawab-Cengkeraman Mo in-sin jiu kian diperkeras dengan sorot mata tajam ia awasi pemuda itu tanpa berkedip, kembali ia membentak.
Sahabat, siapa kau sebenarnya?
Benda apakah kain lusuh ini?"
Rasa sakit yang merasuk tulang sumsum lengan kiri Tian Pek jadi kaku dan kesemutan, namun ia tetap bertahan, tiada rintihan kesakitan yang keluar dan mulutnya, kembali ia hanya menggeleng.
Walaupun kain lusuh itu berasal dari sakunya, tapi seperti pula orang lain, ia sendiripun terkejut oleh peristiwa yang sama sekali di luar dugaan itu, ia kaget oleh daya pengaruh kain lusuh itu, karena dia smdinpun tak tahu apa sebabnya?
Mo-in sin jiu berkerut dahi, ia puntir lengan lawan keras2 sehingga Tian Pek mendengus kesakitan.
Pemuda itu sadar bila puntiran itu diperkeras niscaya pergelangan tangannya akan patah.
Dasar bandel dan keras kepala, pemuda itu tak sudi minta ampun apalagi me-rengek2 minta di-lepaskan, ia sendiripun tak tahu apa yang mesti dikatakannya, sebab kain lusuh itu memang berasal dari sakunya dan Hoa Cing-cwan bunuh diri juga lantaran melihat kain lusuh itu.
Diam2 ia menghela napas dan berpikir.
"Ai, hakikatnya aku sendiripun tak tahu bakal terjadi peristiwa semacam ini, kalau kutahu Tui-hong-bu-ing bakal bunuh diri karena kain lusuh itu, tak nanti kuperlihatkan kain itu kepadanya ...."
Ia menengadah, dilihatnya An lok Kongcu sedang menghampirinya, ditepuknya tangan kiri Siang Cong-thian yang masih memuntir tangannya itu, terpaksa jago tua itu kendurkan puntirannya.
Air muka Siang Cong thian agak berubah, ia menegur dengan suara dalam.
"Kongcu, apa yang kau lakukan?"
An lok Kongcu tidak menjawab, ia berpaling dan berkata kepada Tian Pek.
"Saudara, engkau juga she Tian, apakah engkau adalah keturunan Pek-lek kiam Tian-locianpwe?"
"Aku tak becus dan tak berani memalukan nama ayahku, Tapi, ai, tak nyana Kongcu dapat menebaknya dengan tepat!"
Kata Tian Pek tegas. meskipun pergelangan tangannya masih terasa sakit, namun ia tak mengeluh sedikitpun. An-lok Kongcu tersenyum, katanya.
"Nah, betul kan' Kalau saudara bukan keturunan Tian-tayhiap, rasanya engkau takkan barlutut di hadapan Hoa-losu tadi."
Kembali Tian Pek menghela napas.
"Sejak mendiang ayahku terbunuh, meskipun aku tak tahu siapakah pembunuhnya, tapi tak sedetikpun kulupakan dendam berdarah ini."
Ia mamandang sekejap jenazah Hoa Cing-cwan yang membujur di tanah, setelah menghela napas. ujarnya pula.
"Hoa-locianpwe setia kawan. ia sangat menghormati mendiang ayahku, siapa tahu dia ....Ai!"
Helaan napas panjang mengakhiri perkataan itu, ia merasa amat berterima kasih sekali terhadap An lok Kongcu, karena sejak dilahirkan nasibnya selalu jelek, jarang ada orang yang menaruh perhatian kepadanya.
Tapi sekarang bukan saja An-lok Kongcu telah melindunginya berulang kali, lebih dari itu iapua dapat memahami keadaannya walaupun perjumpaan itu baru terjadi untuk per-tama kalinya.
'Kalau begitu, benda apakah ini?"
Tanya Mo in-sin jiu pula sambil menyodorkan kain lusuh tadi. Tian Pek menghela napas dan menggeleng. jawabnya.
"Aku sendiri tak tahu, akupun tak tahu kenapa Hoa-locianpwe bunuh diri setelah melihat kain itu ... ."
Tiba2 sesuatu pikiran terlintas dalam benaknya, seketika ia membungkam. An-lok Kongcu tersenyum.
"Aku percaya saudara adalah seorang lelaki sejati yang tak suka berdusta, kupercaya penuh keteranganmu, cuma. kejadian ini memang saneat aneh, rasanya tak mungkin bisa dipecahkan dengan begitu saja"
Ia berhenti sebentar, ia jemput pedang mestika yang bersinar ke-hijau2an itu dan menyerahkannya kembali ke tangan Tian Pek, lalu melanjutkan.
"Pedang ini adalah senjata yang amat tajam, kurasa tidak sedikit orang persilatan yang mengetahui asal mulanya, selama pedang ini masih kau bawa, sulitlah bagimu untuk merahasiakan asal-usulmu."
Pikiran Tian Pek amat kalut, ia sambut pedang itu, ucapnya.
"Sungguh beruntung aku dapat berkenalan dengan saudara, andaikata tiada bantuanmu entah bagaimana jadinya diriku ini? Ai, aku tak becus dan tak punya kepandaian apa2. entah bagaimana aku harus membalas budi kebaikanmu ini?"
Baru saja tanginnya menyentuh gagang pedang itu, mendadak dari tengah hutan berkumandang suara gelak tertawa orang, sesosok bayangan dengan kecepatan luar biasa tahu2 menyambar tiba, menyusul Tian Pek merasakan sikutnya jadi kesemutan, sekilas terlihat seorang pria yang berperawakan jangkung hanya dalam sekejap saja sudah lenyap di balik pepohonan sana.
Sungguh cepat gerak tubuh orang itu, ilmu meringankan tubuhnya boleh dibilang sudah mcncapai puncak kesempurnaan, bukan saja Tian Pek tak sempat mengikuti jalannya peristiwa, bahkan Mo-in-sin-jiu serta An-lok Kongcu pun tercengang.
Pedang mestika yang semula dipegang oleh An-lok Kongcu kini sudah lenyap tak berbekas.
An lok Kongcu membentak keras, segera ia mengejar ke arah bayangan tadi, Mo-in-sin-jiu mendengus, setelah menyapu pandang sekejap sekeliling tampat itu, iapun menyusul mengejar ke sana.
Tian Pek berdiri ter-mangu2 memandangi kepergian beberapa orang itu, sesaat kernudian baru sadar dari lamunannya, cepat2 iapun mengejar dari belakang.
Teriakan2 gelisah berkumandang dari belakang, suara itu tentunya berasal dari kawanan Piausu lain-nya, namun Tian Pek tak menggubris lagi, ia malah percepat larinya.
Meski ia berlari kencang dengan penuh tenaga, tapi hanya sebentar saja ia telah kehilangan jejak Mo-in-sin jiu, ia tak tahu kemanakah ketiga orang tadi.
Hutan itu cukup luas, tapi hanya sebentar saja ia telah menerabas ke balik hutan sana, rembulan sudah bersinar di angkasa, suasana sunyi senyap, tiada sesosok bayangan manusiapun kelihatan.
Tian Pek menarik napas panjang, ia lepaskan kancing bajunya agar angin malam mengembus di dadanya, ia merasa pikirannva kalut, pelbagai kejadian ini membuatnya bingung.
Yang paling aneh adalah kematian "Tui-hong-bu-ing"
Hoa Cing-cwam, kalau dia adalah sahabat karib mendiang ayahnya, mengapa setelah melihat kain lusuh itu dia lantas bunuh diri?
Kenapa sebelum bunuh diri, mimik wajahnya diliputi pergolakan emosi?
Ia menghela napas, gumamnya sendiri.
"Rahasia apakah yang tersimpan dalam kain sutera itu?"
Suatu masalah belum beres, masalah lain lantas terjadi.
Ia tahu Siang Cong thian adalah jago kenamaan di dunia persilatan, An lok Kongcu juga tokoh sakti yang disegani orang, lalu siapakah yang telah merampas pedang mestikanya itu tepat di hadapan mereka berdua?
Dadanya terasa sesak bagaikan ditindih batu seberat ribuan kati, berbagai kekesalan yang tertimbun selama ini kini menumpuk menjadi satu dan membuatnya terkenang pada masa lalu ....
Dahulu, ketika ia masih seorang bocah yang tak tahu urusan, ia dan ibunya merindukan ayahnya yang sudah lama tak pernah pulang.
Malam itu udara amat cerah, rcmbulan bersinar dengan terangnya di angkasa apa yang mereka rindukan akhirnya terwujud juga, sebelum hari Tiong-ciu ayah-nya telah pulang.
Tapi ayahnya tidak pulang dengan wajah penuh senyum seperti tahun2 sebelumnya beliau pulang dengan badan penuh luka serta merintih tiada hentinya.
Walaupun kejadian itu sudah lama berselang, Tian Pek mcrasa se akan2 baru terjadi kemarin, ia masib ingat jelas sekujur tubuh ayahnya berpe-lepotan darah, desir angin malam se-akan2 berubah jadi rintihan yang memilukan bati.
Pemuda itu menghela napas panning, ia keluar-kan lagi kantong kecil itu dari sakunya.
tanpa di-buka ia tahu apa isinya karena setiap hari benda itu selalu digenggam dan dibuat mainan.
Isi kantung itu hanya secomot rambut, seutas benang sutera, sebiji gotri baja, sebiji kancing tembaga, sebuah mata uang tembaga serta cabikan kain yang lusuh itu.
Semua benda itu diterimanya waktu ayahnya raendekati ajalnva, waktu itu beliau masih sempat mcnyebutkan nama enam orang dan berpesan agar benda2 itu diberikan kepada mereka bila berjumpa dikemudian hari.
Akhirnya ia masih ingat ayahnya berbisik sambil menuding pedang hijau itu dengan tangan gemetar.
"Kau harus baik2.."
Tapi sebelum ucapan itu diselesaikan, ayahnya keburu meninggal.
Meski usianya ketika itu masib kecil, tapi ia tahu ayahnya bukan orang sembarangan, ia heran mengapa ayahnya mati seperti orang biasa, bahkan mati dengan muka yang berkerut menahan penderitaan?
"Kau harus menggunakan pedang ini baik2 untuk menuntut balas bagi kematianku,"
Demikian dengan penuh kesedihan ia merangkai kata2 sang ayah yang tak sempat diselesaikan.
Sudah sekian tahun ia tak lupa pada perkataan itu, ia merasa sedih dan menderita karena ucapan itu, sebab ia tak tahu siapakah pembunuh yang telah membiaasakan ayahnya.
Itulah masa menderita yang tak terhingga, begitu menderitanya sehingga hampir saja ia putus asa, ia dan ibunya tak pernah terjun ke dunia persilatan juga tak seorangpun yang tahu kalau Pek-Lek-kiam Tian In-thian masih mempunyai anak isteri, walaupun karena itu mereka tak sampai dibunuh oleh pihak lawan, tapi karena itu pula mereka tak pernah memperoleh bantuan.
Maka mereka lantas berkelana kian kemari, mereka berharap bisa mempelajari ilmu silat yang lihay, tapi kecewalah mereka, sampai ibunya meninggal karena penderitaan hidup yang hebat, Tian Pek hanya sempat mempelajari beberapa jurus-ilmu pedang yang sangat umum.
Kendatipun pemuda itu mempunyai bakat yang baik serta kemauan yang keras, namun semua itu tidak membuat ilmu silatnya lebih tangguh, kalau dibandingkan dengan ilmu silat tokoh2 persilatan sungguh masih selisih amat jauh.
Berdiri di tengah hembusan angin malam, Tian Pek merasa malu, sedih dan kecewa.
"Walaupun aku tahu siapakah pembunuh ayahku, lalu apa yang dapat kulakukan? Jangankan menuntut balas, untuk menjaga pedang warisannya saja aku tak mampu, Ai, aku benar2 tak becus!"
Suasana tetap hening tak nampak sesosok bayangan manusiapun, yang terdengar hanya suara cengkerik serta desir angin malam yang berpadu dengan suara serangga itu dan menciptakan irama yang mengibakan hati.
Ia menghela napas panjang dan melanjutkan perjalanan dengan pelahan, ia merasa masa depan-nya sesuram alam sekelilingnya sekarang, hampir saja ia lupa akan segala-galanya.
ia merasa kecewa dan putus asa sehingga persoalan apapun tak dihiraukan lagi olehnya.
Setelah jenasah ibunya dikebumikan.
ia berkelana seorang diri di dunia Kangouw, untuk hidup saja amat sulit bagi pemuda tak berpengalaman seperti dia, apalagi harus menyelesaikan tugas-tugasnya?
Berkat tekadnya yang kuat, akhirnya ia behasil bekerja pada sebuah perusahaan ekspedisi yang tersohor, walaupun kejadian yang kebetulan, namun juga melalui perjuangan yang tidak ringan.
Tapi sekarang, ia melupakan segalanya, lupa kalau ia masih memikul tanggung-jawab atas pekerjaannya.
ia terus berjalan tanpa tujuan.
Ia berharap An-lok Kongcu berhasil merebut kembali pedang pusaka itu baginya, tapi andaikan pedang itu dapat direbut kembali, kejadian inipun merupakan suatu pukulan batin bagi Tian Pek.
Bagaimaoa tidak?
ia adalah seorang pemuda yang tinggi hati, tentu saja ia kerharap rebut kembali pedang itu tanpa bantuan orang lain.
Cahaya rembulan menerangi malam yang gelap dan menciptakan bayangan tubuhnya yang panjang, mendadak ia terperanjat ketika diketahui ada suatu bayangan lain mengikut dibelakangnya, meskipun tidak kedengaran langkah orang, tapi selain bayangan sendiri ada pula sesosok bayangan lain, ini menunjukkan bahwa ada orang sedang menguntit perjalanannya.
Ia sangat terperanjat, sebelum ia putar badan, tiba2 orang yang ada di belakangnya membentak;
"Kurangajar. kau telah bocorkan jejakku, kuhajar kau sampai mampus!"
Kembali Tian Pek terperanjat, pikirnya.
"Kapan sih aku pernah bocorkan rahasianya? Apa ia tidak saiah kenal orang?"
Dengan cepat ia berpaling, entah sejak kapan seorang kakek gemuk pendek telah berdiri di hadapannya. Dilihatnya kakek itu sedang melototi bayangan tubuh sendiri, kembali ia memaki.
"Kau berani membocorkan rahasiaku, kuhajar kau sampai mampus!"
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan pada bayangan tubuhnya yang tercetak di permukaan tanah.
Blung, pasir batu beterbangan, betapa dahsyat pukulan itu terbukti dengan munculnya sebuah lubang besar di atas bayangan tubuhnya itu sehingga merusak bentuk bayangan itu.
Kakek gemuk itu tidak berhenti sampai di situ, kembali ia lancarkan beberapa pukulan sehingga angin pukulannya men-deru2, pasir muncrat mengotori tubuh Tian Pek.
Tian Pek tertegun dan berdiri ter-mangu2 menyaksikan kehebatan orang, dalam waktu singkat bayangan kakek itu semakin tak berbentuk bayangan manusia lagi.
Dengan terkejut ia berpaling, dilihatnya kakek itu sedang memandangnya dengan sinar mata tajam, ia tunjuk liang di tanah sambil ter bahak2, ujarnya.
"Hahaha, makhluk jelek begini harus di-mampuskan. Betul tidak bocah she Tian?"
"Darimana ia tahu aku she Tian?"
Pikir Tian Pek dengan heran.
Tapi setelah wajah orang itu diamatiaya dengan seksama, tahulah Tian Pek kakek itu bukan lain adalah kakek ketiga yang muncul bersama Hoa Cing-cwan serta Siang Cong-thian tadi, hanya saja ia tidak terlalu memperhatikan orang ini, maka setelah bertemu lagi jadi pangling.
Tapi apa maksudnya muncul di sini serta mengintil di belakangnya?
Sementara ia termenung, kakek itu telah ulur-kan tangannya yang kecil gemuk ke arahnya dan berkata.
"Bocah she Tian, serahkan benda itu kepadaku."
Ia ter bahak2 lalu melanjutkan.
"Aku ingin tahu apa isi kantong itu sehingga sekali dilihat saja lantas merenggut nyawa si tua she Hoa ..Hahaha, kalau aku juga punya kantong wasiat seperti itu, wah, betapa bahagianya aku!"
Tanpa terasa Tian Pek mundur selangkah, ia memberi hormat dan berkata.
"Maaf Cianpwe, benda itu adalah barang peninggalan mendiang ayahku, tak dapat kuserahkan kepada Cianpwe ...."
Kakek gemuk itu mendengus, senyum manis yang semula menghiasi wajahnya lenyap eketika, ia menghardik;
"Mau serahkan tidak?" -Kembali terpancar sorot matanya yang bengis seperti ia melototi bayangan tubuh sendiri tadi. Jeri juga Tian Pek teringat pada pukulanya yang dahsyat tadi, ia menghela napas dan diam2 mengeluh.
"O, dasar sial, kenapa hari ini kujumpai kejadian2 yang sukar dimengerti serta manusia2 yang sukar diajak bicara?"
Karena hati kesal.
sesaat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Rupanya kakek itu menjadi tak sabar, perlahan ia menghampiri.
Selamanya tak pernah Tian Pek mengelak sesuatu persoalan, tapi lain sikapnya sekarang, ia merasa apa gunanya berurusan dengan orang begini.
Ia bergeser ke belakang lalu berseru.
"Maaf Cianpwe, aku tak dapat menemani kau lagi, aku masih banyak urusan!"
Tanpa menanti jawaban dia putar badan dan kabur ke tengah hutan. Mendadak terasa angin mendesir, pandangan Tian Pek jadi kabur, tahu2 kakek gemuk itu sudah mengadang di depsnnya dan menjengek.
"Bocah cilik, kau mau kabur? Hehehe, jangan mimpi! Kau kira kakimu bisa lebih cepat daripada aku Hui It-tong?"
Sekalipun Tian Pek belum lama terjun ke dunia persilatan.
setelah medengar nama orang, tak urung tubuhnya menggigil juga, diam2 ia mengeluh "Ai, dasar lagi sial, kenapa aku bisa ketemu manusia ini dalam keadaan seperti begini?"
Batinnya.
Kakek yang bernama Hui It-tong ini bukan saja berilmu silat tinggi, tindak tanduknya sukar diduga, jago kenamaan manapun sedikit-banyak jeri jugi berbadapan dengan jago tua ini.
Tian Pek mengerling dan berusaha mencari akal, tiba2 ia melihat bayangan Hui It-tong, segera ia tuding bayangan itu, serunva keras2.
"Hui-locianpwe, coba lihat! Makhluk yang tak tahu diri itu muncul kembali!"
Hui It tong melirik sekejap atas bayangan sendiri, telapak tangannya segera diayun dan akan melancarkan serangan.
Tian Pek amat girang.
asal jago tua itu melepaskan serangan segera ia akan kabur pada kesempatan itu.
Siapa tahu tiba2 Lak-jiu tong-sim (Tangan keji berhati bocah) menarik kembali serangannya lalu ter-bahak2.
''Hahaha, biarlah dia datang kalau memang sudah datang, kau angggap aku ini goblok dan gumpang kau tipu?
Hehehe, jangan mimpi!
Hayo serahkan benda itu kepadaku."
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, secepat kilat ia menyambar kantong kecil di tangan Tian Pek.
Anak muda itu menbentak cepat2 ia melompat mundur ke belakang.
Tapi Hui It tong lantas ber-gelak tertawa, sekali meraih, Tian Pek merasakan pergelangan tangan kirinya kesemutan, tahu2 kantong kecil itu sudah dirampas orang.
Pemuda itu kaget dan alihkan pandang kesana, dilihatnya Hui It tong sudah berada dua tombak jauhnya dari tempat semula dan sedang berjalan ke dalam hutan dengan berlenggang.
Betapa malu dan gusar Tian Pek ia menjadi kalap dan tak pedulikan segala apa pun, segera ia mengejar ke dalam hutan.
Hotan itu cukup lebat, meskipun tampaknya Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong berjalan dengan santai, tapi dalam kenyataan kecepatannya sukar dilukiskan, ketika Tian Pek mengitari beberapa batang pohon dan menerjang tiba, tahu2 Hui It-tong sudah kabur jauh dari tempat semula.
Waktu itu si kakek sedang ambil keluar secomot rambut dari dalam kantong terus dibuang ke tanah, lalu makinya.
"Wah, rupanya bocah ini agak sinting, tak kusangka bocah ini seorang goblok! Tadinya aku mengira isi kantong ini adalah barang-barang bagus, eh, tak tahunya cuma barang rongsongan begini, Huuh, sialan!"
Sambil mengomel dia ambil keluar mata uang, gotri.
biji kancing tembaga dan serat Sutera itu lalu dicecer di tanah, setelah itu ia loncat ke atas tangan kirinya menarik setangkai ranting lemas, sementara tangan kanan bergerak ke atas menggantung kantong kain tersebut di ujung ranting pohon itu.
Tian Pek coba menengadah ke atas, ia lihat ranting itu tiga tombak tmgginya, walau begitu Hui It-tong yang bergelantungan di atas ranting tersebut sama sekali tidak sampci terperosot, tubuhnya bagaikan kapas yang enteng bergelantung, Walaupun ranting itu lemas namun masih cukup kuat untuk menahan badannya yang gemuk.
Tian Pek naik pitam.
ia membentak dan segera meloncat keatas, tapi hanya mencapai setinggi dua tombak.
lalu merosot kembali ke bawah.
Hui It-tong terbahak-bahak geli, ia berjumpalitan dan berdiri di atas ranting itu sementara sinar matanya yang penuh ejekan dilontarkan pada pemuda itu.
Tian Pek tampak murka, ilmu silat yang dimiliki makhluk tua itu jauh di atasnya, tapi ia tak peduli, dengan nekat ia menerjang pula ke atas.
Kali ini ia herhasil mencapai ketinggian dua tombak lebih, ranting lemas itu tak jauh lagi di atas kepalanya, cepat tangannya meraih ke atas, tapi sayang ujung jarinya hanya sempat menyentuh ujung ranting dan tak mampu melayang satu inci lebih tinggi ke atas, terpaksa dengan hati mendongkol ia merosot kembali ke bawah.
Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong ter-bahak2 sambil bertepuk tangan kegirangan seperti menyaksikan suatu pertunjukan yang lucu.
mendadak badannya miring ke belakang dan seperti terjungkal ke bawah.
Tian Pek mendengus, ia sudah siap asalkan tubuh orang tua itu terjatuh ke tanah, secepat kilat dia akan sarangkan bogem mentahnya ke tubuh orang.
Tapi Tian Pek jadi kecelik, tampaknya saja Hui It tong terjungkal ke bawah, tapi sekali berputar, tahu2 tubuhnya menegak lagi ke atas ia main akrobat seperti kera dan sudah duduk kembali di atas ranting tadi.
Bahkan sambil tertawa ia mengejek.
"Hahaha, bocah cilik, kecelik ya? Nah, asal kau mampu melompat kesini, kantong rombengan ini segera ku-kembalikan padamu."
Walaupun sepasang kakinya yang bergelantunpan di udara bergoyang ke sana ke sini, ternyata ranting kecil yang lemas itu hanya tertekan sedikit ke bawah, dari sini dapatlah dibuktikan bahwa orang itu meskipun suka gila2an, tapi kenyataannya ilmu silatnya memang amat tinggi.
Tian Pek menghela napas, ia merasa putus asa dan tak punya semangat lagi, tapi sebelnm ia berlalu dari situ, tiba2 satu pikiran berkelebat dalam benaknya, diam2 ia memaki dirinya sendiri.
"Tian Pek wahai Tian Pek, beginikah perbuatan seorang lelaki sejati? Baru msngalami sedikit kesulitan sudah putus asa dan patah semangat, dengan jiwa kerdil seperti ini mana kau mampu melakukan perbuatan besar? Daripada hidup sebagai pengecut lebih baik kau mampus saja!"
Darah panas seketika bergolak dalam dadanya ia terus menyerbu ke bawah pohon, kali ini ia merambat naik lewat dahan pohon, tapi sebelum ia mencapai sasarannya, terdengarlah manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, suara tertawa itu kian lama kian bertambah jauh, tatkala Tian Pek menengadah, ternyata kakek gemuk itu sudah lenyap tak berbekas.
Angin malam berhembus mengguncangkan ranting dan daun, gelak tertawa yang mengandung nada mengejek serta perasaan bangga itu telah lenyap, suasana kembali tenggelam dalam kesunyian.
Dengan termangu-mangu Tian Pek memandang sekeliling tempat itu, ia lihat kantong kecil itu masih berkibar di ujung ranting, diam2 ia memanjat ke atas untuk mengambilnya.
Apa lacur ranting itu panjangnya lebih lima kaki, sedang panjang tangannya tak sampai tiga kaki, bagaimanapun kantong itu gagal ditangkapnya.
Kantong itu ber-goyang2 terembus angin, se-akan2 meng-gapai2 padanya.
Tian Pek menggertak gigi, ia tambah nekat, ia terus menubruk ke depan tanpa perhitungan, ketika kantong itu berhasil disambar olehnya, ia sendiripun terjatuh kebawah, untung kuda2nya cukup kuat hingga cuma ter-huyung2 dan tak sampai jatuh terguling.
Untuk sesaat rasa malu, gusar, kecewa dan mendongkol bercampur-aduk, ia tambah gemas ketika diketahui kantong tersebut kini sudah kosong, yang masih tertinggal hanya cabikan kain yang lusuh itu.
Walaupun sinar bulan menembus daun pepohonan, namun pikiran pemuda itu tetap diliputi kegelapan.
Ia melanjutkan perjalanan tanpa tujuan, se-akan2 telah lupa darimana ia datang dan ke mana dia akan pergi.
yang berkecambuk dalam benaknya hanyalah rasa kesal serta kecewa yang menyayat hati, diam2 ia memaki ketidak becusan sendiri.
Bukan saja titipan sahabatnya tak dapat dilaksanakan, pesan mendiang ayahnya pun tak mampu dilakukannya, semua benda itu pemberian ayahnya sebelum meninggal sekarang telah lenyap, betapa malu pemuda itu terhadap arwah ayahnya di alam baka.
Ia mulai melakukan pencarian di sekitar tempat itu, ia berharap dapat menemukan kembali benda2 yang dicecerkan manusia aneh yang gila itu, tapi mungkinkah usahanya itu berhasil?
Dalam ke-adaan remang2, bayangan manusia saja tak terlihat jelas, apalagi mencari benda sekecil itu?
Sekian lama sudah lewat tanpa terasa, akhir-nya ia berhenti mencari dan berusaha menekan perasaannya yang kalut, kemudian ia lihat dirinya telah berada kembili di tempat semula di mana ia bertemu dengan Yan-in-ngo-pah-thian serta An-lok Kongcu tadi, suasana tetap amat sunyi, tak kelihatan sesosok bayangan mauusiapun, bahkan jenazah Hoa Cing-cwan entah oleh siapa dan sejak kapan juga sudah diangkut pergi.
Tian Pek menghela napas panjang, siapa yang menduga di tempat sunyi ini belum lama berselang telah banyak terjadi peristiwa yang akan mempengaruhi pula hidupnya di masa mendatang, banyak masalah yang tak dipahaminya di waktu lampau sekarang telah dipahaminya, sebaliknya banyak masalah yang telah dipahami dimasa lalu sekarang malah membuatnya bingung.
Ia menengadah, memandang rembulan yang bersinar di angkasa, pikirnyar "Entah sekarang sudah jam berapa?
Baiklah aku benstirahat sebentar di sini.
bila fajar menyingsing aku harus mencari kembali barang2 peninggalan ayah, Ai, toh aku sudah tiada tempat tujuan, lebih lama berada disini juga bukan soal lagi."
Dengan limbung ia menemukan sepotong batu dan berduduk bersandar di dahan pohon, pikiran-nya kian bertambah kusut dan tanpa terasa akhirnya ia tertidur.
Fajar telab menyingsing, tapi Tian Pek masih pulas dalam impiannya, ia merasa ibunda sedang membelai rambutnya dan menina bobokannya.
Lapat2 ia merasa bahunya di tepuk2 orang ketika ia membuka matanya, suara teguran yang lembut segera berkumandang di sisi telinganya.
"Angin dingin berembus kencang, kenapa kau tidur di sini? Tidak takut masuk angin?"
Tian Pek membuka matanya, ia lihat seorang nyonya cantik setengah baya berdiri di hadapannya dan sedang memandangnya dengan sinar mata yang penuh kasih sayang.
Tian Pek gelagapan, ia tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Perempuan cantik itu tersenyum ramah, katanya "Anak muda jika selagi muda tidak sayang pada kesehatan sendiri, setelah tua nanti kau baru menyesal!"
Tian Pek terkesiap, cepat ia merangkak bangun, ia jadi terharu mendengar kelembutan suara serta perhatian perempuun itu terhadapnya, ingin sekali dia ucapkan bebarapa patah kata, tapi tak tahu apa yang harus dikatakannya, ia hanya bisa berdiri ter-mangu2 saja.
Nyonya cantik itu tersenyum, setelah menghela napas panjang, lalu berkata pula.
"Seorang pemuda harus mempunyai cita2 tinggi dan perlu banyak ke luar rumah, tapi. ai, apakah di dunia ini masih ada tempat lain yang lebih hangat daripada di rumah sendiri? Coba lihat mukamu yang lesu dan kusut, tampaknya engkau sudah terlalu lama berkeliaran di luar. Anak muda, jangan kau anggap aku terlalu cerewet, lebih baik, lebih baik pulanglah kau!"
Habis bicara dia putar badan terus berlalu dan situ.
Memandangi bayangan punggungnya yang makin menjauh, Tian Pek merasa darah panas dalam dadanya bergolak keras, ia tak dapat menguasai diri lagi, tiba2 ia berseru sambil menghela napas;
"Aku aku tak punya rumah!"
Dua titik air mata tanpa terasa meleleh membasahi pipinya.
Perempuan cantik itu sudah berlalu jauh, tapi ketika mendengar perkataan itu, mendadak berhenti dan berjalan balik.
Tian Pek menyeka air mata yang membasahi pipinya, katanya sambil menghela napas.
"Selama hidup, belum pernah kujumpai orang baik seperti nyonya, aku ..aku jadi tak tahan "
Sorot matanya beralih ke arah kejauhan, ia lihat di ujung hutan sana sebuah kereta yang indah mentereng diparkir di sana, empat orang kekar bersenjata lengkap duduk di atas kuda mengiring di samping kereta, dengan alis terkernyit dan sikap tak senang mereka sedang berpaling ke sini.
Tergerak hati pemuda itn, buru2 ia berseru.
"Nyonya, bila ada urusan silakan berangkat, selanjutnya aku pasti akan menyayangi jiwaku."
Di mulut ia berkata begitu, dalam hati ia berpikir lain.
"Huuh! Apa sih harganya selembar jiwa? Kenapa mesti disayang? Coba kalau tidak mengingat dendam kematian ayah, mati sekarangpun tak perlu kusesalkan Sayang aku belum tahu siapa musuh besar ayahku, lagi barang peninggalan ayah telah kucecerkan."
"Anak muda,"
Nyonya cantik itu bertanya dengan lembut.
"kulihat kau masih muda, tapi mengapa ucapanmu begitu rawan se-olah2 ada kesulitan yang tak dapat kaupecahkan? Ai, kebanyakan orang muda memang suka murung. Coba kalau sudah tua seperti aku, meski menanggung kesusahan juga sungkan untuk diucapkan. Anak muda, mengapa kau tidak tersenyum saja? Masa depanmu masih cemerlang, bersemangatlah untuk menyambut kedatangan masa depanmu dan menikmati dengan baik."
Ucapan perempuan itu sangat lembut, Tian Pek ingin selalu mendengarkan perkataannya itu.
Ia menengadah, dilihatnya kemurungan yang melekat di wajah perempuan itu se-akan2 jauh lebih mendalam daripadanya.
ia jadi heran.
"Pakaian yang dikenakan perempuan ini sangat indah, wajahnya agung, kalau bukan isteri orang berpangkat tentu isteri saudagar besar, masa orang kaya seperti diapun terdapat banyak kesulitan? Sungguh aneh!"
Demikian pikir Tian Pek. Setelah termenung sebentar, ia berpikir lebih jauh.
"Aku tidak kenal dengan dia, tapi sikapnya terhadap diriku begini baik dan simpatik, jelas dia adalah seorang baik hati dan berbudi, jika ia sendiri sedang mengalami kesulitan. kenapa aku tidak membantu untuk memecahkan kesulitannya?"
Anak muda ini hanya tahu bila ada orang baik kepadanya, maka sepuluh kali lipat ia akan lebih baik kepada orang itu, untuk sementara kesulitan yang mencekam benaknya dikesampingkannva, ia tak mau tahu apakah kesulitan orang bisa di atasi atau tidak, sambil busungkan dada ia berkata pula.
"Nyonya, kulihat kau sendiripun menanggung sesuatu masalah yang merisaukan hatimu, bagaimana kalau kau katakan padaku? Meskipun aku tak becus. tapi aku masih mempunyai sedikit kekuatan, asal urusan itu dapat kukerjakan, pasti kubantu nyonya dengan sepenuh tenaga."
Perempuan cantik setengah baya itu tertawa, katanya.
"Aku tidak kenal dengan kau, sebab apa kau ingin mmbantuku?"
Tian Pek tertegun, ia jadi gelagapan.
"Nyonya, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu, sejak aku berkelana tak pernah ada orang yang memperhatikan diriku, tapi sekarang nyonya sangat menaruh perhatian kepadaku, bila aku dapat menyumbangkan tenaga untuk nyonya, o, betapa gembiranya aku!"
Nyonya cantik berusia setengah baya itu merasa terharu oleh perkataan Tian Pek itu, ia menghela napas, katanya.
"Ai, anak bodoh, kebetulan saja aku lewat di sini dan melihat kau berbaring di udara terbuka, kukuatir kau kedinginan, maka kubangunkan kau, apakah perbuatanku ini kau anggap luar biasa? Bila aku ada kesulitan dan minta kau melakukannya bagiku, bukankah kau yang terlalu bodoh?"
Tian Pek menghela napas.
"Aku tak pintar bicara, apa yang kupikirkan seringkali tak dapat kukatakan keluar!"
"Kalau tak dapat diucapkan lebih baik jangan kau katakan,"
Sela nyonya cantik itu sambil goyangkan tangannya.
"Pokoknya aku tahu bahwa kau adalah seorang anak baik. maksud baikmu akan selalu kuingat di dalam hati. Ai! Apabila hati anak Jing bisa sebaik hatimu, sungguh aku akan bersyukur. Kenapa Thian selalu membiarkan orang yang baik hati hidup menderita?"
Dengan sinar mata yang lembut dia awasi Tian Pek beberapa saat, kemudian ia berkata lagi.
"Jangan lupa pada perkataanku, buanglah jauh2 segala kerisauan, di dunia masih banyak orang yang tak punya rumah, sebagai orang muda janganlah cepat putus asa. ketahuilah segala keindahan yang ada dalam hidupmu harus diciptakan dan dibangun dengan kekuatan sendiri, bila kau tak ber-cita2 dan segan berjuang, maka sepanjang masa hidupmu akan selalu sengsara."
Sambil tersenyum pelahan ia putar badan dan berlalu.
Memandangi bayangan punggung orang yang kian menjauh, Tian Pek merasa se-akan2 baru saja ditinggalkan seorang yang dikasihinya, dia ingin memburu ke sana dan bertanya mengapa ia sendiri tidak membuang jauh2 segala keresahannya?
Tapi nyonya cantik itu telah masuk ke dalam keretanya, empat orang pria kekar yang mengiring di sisi kereta berpaling dan melotot sekejap ke-arahnya penuh kebencian, diiringi suara cambuk berangkatlah kereta itu meninggalkan hutan.
Dengan ter-mangu2 Tian Pek berdiri di bawah pohon, ucapan nyonya cantik itu se-akan2 masih mendengung di sisi telinganya.
" ....masa depanmu yang cemerlang sedang menanti .... segala keindahan yang ada di dalam kebidupan harus dicipta dan dibangun dengan perjuangan sendiri...."
Ia meresapi makna dari ucapan tersebut, tanpa terasa ia jadi melamun.
Derap kaki kuda yang ramai menyadarkan kembili pemuda itu dari lamunannya, ia menengadah, terlihatlah tiga ekor kuda dengan kecepatan tinggi sedang lari masuk ke hutan dan menghampirinya, ia kenal ketiga orang ini bukan lain adalah laki2 kekar yang mengiringi nyonya setengah baya tadi.
Tian Pek merasa terkejut bercampur keheranan, ia tak tahu apa sebabnya ketiga orang ini muncul kambali setelah berlalu.
Dengan gerak tubuh yang enteng ketiga orang itu melompat turun dari kudanya, dengan langkah yang tegap sambil menyeringai mereka mendekati Tian Pek.
Pelipis mereka tampak menonjol tinggi, badannya kekar dan menyandang senjata dipunggung, sekilas pandang dapat diketahui ilmu silat mereka pasti tidak lemah.
Sementara itu dengan air muka penuh rasa gusar mereka menghampiri Tian Pek, tapi mulut membungkam tanpa bicara apa2.
Tian Pek keheranan.
"Aneh, aku tak kenal mereka, mengapa tampaknya mereka marah padaku? Aneh benar kejadian ini? Ai, mengapa aku selalu harus bertemu dengan pelbagai kejadian yang memusingkan?"
Belum lenyap pikiran itu berkelebat dalam benaknya, ketiga orang kekar itu membentak keras, dari tiga jurusan mereka terus menerjang.
Tian Pek terkejut, cepat mundur dua langkah, tubuhnya telah menempel di dahan pohon, dengan sepenuh tenaga ia lancarkan dua pukulan dengan jurus Pak ong-toat-ka ( raja bengis lepas jubah perang ) dan Ji hong-si-pit (seperti tertutup seperti terkunci), untuk menangkis sekaligus balas menyerang.
Tiga orang itu tertawa dingin, bentaknya.
"Bocah keparat, serahkan jiwa anjingmu? Huh, mau adu jiwa dengan tuanmu hanya dengan ilmu silat cakar ayam seperti ini? Jangan mimpi di siang bolong"
Serentak mereka melancarkan kembali tiga serangan berantai.
Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Tian Pek tidak tinggi, apalagi pedangnya telah hilang dan badannya penat tentu saja ia bukan tandingan ketiga orang itu yang menyerang dengan sengit, setelah mematahkan beberapa jurus serangan dengan susah payah.
Tian Pek berpikir.
"Aku toh tiada dendam atau sakit hati apa2 dengan kalian, kenapa tanpa bicara kalian hendak merenggut nyawaku?"
Dasar pemuda yang keras kepala, sudah tentu pertanyaan semacam itu tak sudi diutarakan, jika ia bertanya berarti akan menunjukkan kelemahan din sendiri, matipun dia tidak sudi.
Di pihak lain, ketiga orang itu ber-ulang2 tertawa dingin, serangan yang mereka lancarkan kian lama kian bertambah keji, arah yang mereka tuju pun bagian2 berbahaya di tubuh munusia.
Suatu ketika Tian Pek kurang cermat.
dadanya kena dihantam.
"Duuk", hampir saja tulang iganya patah. Namun pemuda itu tidak mengeluh atau merintih kesakitan, dengan jurus Lek-pih hoa-san (Membelah bukit Hoa-san) serta Hek hou-tau-sim (harimau hitam mencuri hati) tiba2 ia lepaskan dua pukulan berantai diikuti gerakan Cin poh liau-in (maju ke depan membelah mega), kakinya menendang pinggang orang yang ada di sebelah kanan. Pukulun dan tendangan itu dilancarkan dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, tiga orang kekar itu terdesak mundur selangkah, terutama sekali orang yang ada disebelah kanan, nyaris perutnya termakan tendangan kilat tadi. Dengan gusar segera ia cabut sebilah golok besar yang terselip dipunggungnya, teriaknya sambil membacok.
"Sasaran keras, gunakan senjata dan bereskan dia!"
Berkelebat sinar golok diiringi desiran angin tajam langsung membacok tubuh Tian Pek, sementara dua orang rekannya juga lolos senjata sambil menubruk maju dengan ganas.
"Hei, keparat sialan!"
Seru mereka sambil ter-bahak2.
"kau tahu, sebab apa tuan2 akan menjagal dirimu? Hehehe, rupanya hidupmu yang lalu terlalu banyak berbuat dosa, maka dalam penitisan ini kau harus mati sebagai setan penasaran!"
Tian Pek terkejut bercampur gusur, ia berusaha berkelit ke kiri dan menghindar ke kanan, dengan susah payah akhirnya ketiga serangan lawan berhasil dihindari.
Siapa tahu baru saja ia menarik napas lega, cahaya golok kembali menyambar.
dalam keadaan begini tak mungkin lagi baginya untuk menghindar, tanpa ampun kakinya termakan bacokan dengan telak.
Diam2 Tian Pek mengeluh, ia tahu gelagat jelek, walaupun mati-hidup tak terpikir lagi, tapi teringat akan dendam kesumat ayahnya, pemuda itu merasa mati tak tenteram bila tugas itu belum berhasil diselesaikan.
Semangatnya kembali berkobar, dengan sepenuh tenaga ia layani serangan lawan, rasa sakit di kakinya tak dihiraukan lagi.
Mendadak.
"ciass", lengan kirinya kembali tersambar golok musuh hingga muncul sebuah luka panjang. Dalam keadaan demikian. meskipun semangat tempurnya ber-kobar2 tapi rasa sakit di tubuhnya membuat pemuda itu tak sanggup mempertahankan diri, ia jadi nekat. sambil membentak ia menubruk ke depan dan memeluk pria sebelah kanan erat2, ia hendak adu jiwa dengan musuhnya itu. Keadaan amat kritis tampaknya jiwa pemuda itu bakal melayang di ujung senjata lawan .... Syukur pada saat itu mendadak dari luar hutan berlari masuk seekor kuda, sebelum tiba orang yang ada di atas kuda lantas membentak.
"Tan Cing. Tan Heng, hentikan perbuatan kalian!"
Suara bentakan itu nyaring dan merdu.
orang itu ternysta bukan lain daripada nyonya cantik setengah baya tadi.
Ketiga orang itu saling pandang sekejap, lalu mundur ke belakang, orang yang ada di kanan masih memaki.
"Bocah keparat, kalau kau berani bicara lagi dengan nyonya kami . .."
"Plok", sebuah tamparan mendadak mampir di pipinya. Dengan terkejut orang itu menengadah, wajahnya berubah hebat, tahu2 si nyonya cantik sudah berada di depannya.
"Hei, apa katamu? tegur nyonya itu dengan gusar. Pria kekar itu meringis kesakitan, namun tak berani menjawab sepatah katapun. Kembali nyonya cantik itu menjengek.
"Hm, tingkah-laku kalian kian lama kian tak genah. sedikit2 lantas main serang, coba pentang matamu, lihatlah, usianya kan sebaya dengan Jing-siauya? Sekalipun Loya tahu aku berbicara dengan dia juga tak nanti dia akan menegur, tapi kalian tidak lebih hanya budak2 hina yang pandai menjilat, berani kalian campur urusanku? Untung aku segera memburu kemari, kalau tidak bukankah anak muda ini sudah kalian bunuh?"
Paras ketiga orang itu berubah hebat, namun mereka tak berani bicara, kepala mereka tertunduk rendah2.
"Cepat enyah dari sini!"
Kembali nyonya cantik itu membentak.
Dengan munduk2 ketiga orang itu mundur ke belakang.
kemudian putar badan dan kabur dari situ, bukan saja mereka tak berani berpaling, kuda merekapun ditinggalkan begitu saja.
Tian Pek sama sekali tidak hiraukan rasa sakit pada lukanya walaupun sebetulnya rasa sakit yang dideritanya terasa merasuk tulang, ketika berjumpa untuk pertama kalinya tadi, ia mengira nyonya cantik ini adalah seorang perempuan lemah malahan ia menyatakan akan membantu segala, tapi setelah menyaksikan cara nyonya itu menampar pengiringnya, barulah diketahui bahwa ilmu silat orang sebenarnya jauh lebih hebat daripada kepandaiannya.
Pemuda itu lebih kagum lagi setelah dilihatnya nyonya itu memaki anak buahnya habis2an.
sebalik-nya ketiga orang itu bukan saja tak berani membantah, bahkan kelihatan sangat ketakutan.
"Siapa gerangan perempuan ini? Besar amat pengaruhnya!"
Demikian pikir Tian Pek. Serelah ketiga orang tadi keluar hutan barulah nyonya cantik itu berpaling dan menghampiri Tian Pek.
"Terima kasih nyonya atas bantuanmu!"
Seru Tian Pek sambil menyengir.
"Kalau engkau tidak datang tepat pada waktunya .."
Belum habis ucapannya, tiba2 nyonya itu menudingnya sambil berseru tertahan. Tian Pek tertegun dan menengadah, ia lihat nyonya cantik itu sedang menatap wajahnya dengan penuh perhatian.
"Amk muda, tahukah kau bahwa kau menderita sakit?"
Tegurnya lembut. Tian Pek tersenyum getir dan menggeleng.
"Tadi aku tidak terlalu memperhatikan"
Ujar nyonya itu lagi.
"aku hanya merasa tidak sepantasnya kau tidur di udara terbuka, tapi sekarang Ai, coba, kalau sampai hawa dingin merasuk ke dalam tulang bagaimana jadinya.."
Tian Pek ter-mangu2, ia merasa betapa lembut dan kasih sayangnya nyonya cantik ini, selama hidup belum pernah ia alami kejadian seperti ini-Seketika ia menjadi kesima.
Akhirnya pemuda itu sadar dari lamunannya, buru2 ia menjura seraya berkata.
"Sejak muda aku mengembara seorang diri, kebaikan nyonya sungguh sangat mengharukan hatiku, budi kebaikan ini akan selalu terukir di dalam hatiku."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya kemudian.
"Aku merasa tubuhku cukup kuat, walaupun sudah terluka, kuyakin masih sangeup mempertahankan diri, nyonya tak usah merisaukan keadaanku!"
Nyonya cantik itu menggeleng kepala berulang kali, ucapnya;
"Ai, anak muda, tahukah kau, meskipun di luar tak kau rasakan, tapi sinar matamu telah pudar, menurut pandanganku, bukan saja kau telah terluka, bahkan sakit bagian dalam juga parah sekali. Ketahuilah, bagi orang yang belajar silat, kalau tidak sakit mendingan, begitu sakit maka keadaannya akan jauh lebih parah daripada orang biasa. Ai, kau masih muda, banyak masalah yang belum kau ketahui, percayalah padaku, tak nanti kubohongi kau!"
"Benarkah aku terluka parah dan sakit?"
Batin Tian Pek. Ia coba atur pernapasan, betul juga, bagian dada terasa sakit seperti sesak, ini menandakan bagian dalam sudah terluka. Nvonya cantik itu menghela napas, katanya lagi.
"Turutilah perkataanku, pulanglah ke rumah atau carilah seorang sahabat karibmu, baik2 beristirahat dan rawatlah lukamu "
Ia keluarkan sebuah kotak kecil yang mungil dan tertatahkan mutu manikam, dari dalam kotak itu dia ambil keluar sebuah bungkusan kecil, ketika kain pembungkus itu dibuka, ternyata isinya adalah sebutir pil warna merah darah.
Diambilnya pil merah itu dengan jepitan jari, lalu diangsurkan ke depan mulut Tian Pek.
"Karena kelalaianku, hampir saja nyawamu melayang di tangan manusia2 dungu itu dan sekarang kau terluka parah, ai ! Meskipun kau takkan salahkan aku, tapi dalam hati aku merasa tidak enak, pil merah ini sudah banyak tahun kusimpan, ambil dan makanlah, mungkin akan memberikan banyak manfaat bagimu!"
Tian Pek terima obat itu, ia lihat pil yang berwarna merah itu bergelindingan di tangannya, mendadak pemuda itu teringat pada nasibnya sendiri, dengan sedih ia bergumam lirih.
"Aku... aku tak punya rumah, juga tak punya sahabat, aku tak punya rumah..tak punya sahabat!"
Rasa sedih yang melampaui batas membuat darah bergolak dalam dadanya, ia merasa pil merah yang bergelindingan ditelapak tangannya makin lama semakin cepat dan berubah menjadi bara yang membakarnya akhirnya darah segar tertumpah keluar dari mulutnya, ia mundur dengan sempoyongan dan akhirnya roboh.
Sesaat sehelum ia jatuh pingsan, ia masih sempat mendengar jeritan kaget si nyonya cantik.
Dalam keadaan tak sadar, Tian Pek cuma merasakan guncangan dan suara roda kereta, terdengar pula suara gemercik air, namun sebegitu jauh benaknya tetap keruh, terkadang ia merasa dirinya telah kembali kepada masa kanak2 dulu dan berada dalam pangkuan ibunda yang tercinta, lain saat merasa dirinya sedang bertempur dengan beberapa pengerubut yang bersenjata tajam, sebentar menang.
sebentar lagi dirinya malah dirobohkan musuh dan tubuh sendiri seperti di-sayat2 oleh senjata musuh yang tajam itu.
Akhirnya semua khayalan itu lenyap, suasana menjadi hening kembali.
Dengan bimbang ia membuka matanya, benak-nya terasa kosong, pandangannya juga buram.
Selama beberapa hari ini memang dilewatkannya dalam keadaan tak sadar.
dengan sendirinya akan timbul keadaan demikian sekarang.
Agak lama juga sorot matanya yang buram dan kaku itu bergerak sedikit, lambat laun benda yang dipandangnya mulai kelihatan jeias.
Ternyata dirinya berada dalam sebuah kamar yang mewah, di tepi pembaringan ada sebuah meja kecil yang terbuat dari batu kemala hijau, di atas meja terletak sebuah hiolo kecil, asap dupa yang berbau harum mengepul memenuhi seluruh ruangan.
"Rumah siapakah ini?"
Inilah ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya.
"Kenapa aku ini? Apa yang terjadi? Bukarkah aku sedang mengawal Barang? Ah, tidak, aku sudah tinggalkan rombongan mereka."
Semua kejadian yang dialaminya malam itu, satu persatu terbayang kembali dalam benaknya. Tian Pek yakin pastilah nyonya cantik itu yang telah menolongnya ketika ia jatuh pingsan waktu itu.
"Tapi siapakah dia? Kenapa dia menolong aku?"
Barang siapa berjumpa dengan nyonya itu pasti akan menduga kalau dia adalah nyonya seorang pembesar atau nyonya hartawan, tapi bila teringat kembali tindakannya yang menghukum ketiga orang anak buahnya, jelas nyonya itu berkepandaian tinggi, lalu siapa gerangan nyonya cantik itu?
Entah lewat berapa lama pula, Tian Pek merasa pikirannya bertambah ruwet, ia coba meronta bangun tapi seluruh badan terasa lemas dan sama sekali tak bertenaga, akhirnya ia menghela napas dan memandang keluar jendela.
"Andaikata ayahku tidak mati, o ....betapa bahagianya hidupku ini! O, ayah, sebelum mengembuskan napas terakhir mengapa tak kaukatakan siapa pembunuh yang telah membinasakan dirimu itu. Tapi sekaiipun aku tahu, lalu apa gunanya? Aku tidak lebih cuma seorang pemuda yang tak berguna, untuk menjaga barang peninggalan ayah-pun tak mampu, apalagi membalaskan sakit hatinya."
Rasa sedih dan pilu kembali menyelimuti benaknya, tanpa terasa ia menghela napas panjang.
Tiba2 ia merasakan sesuatu yang aneh, hatinya berdebar keras sepasang sorot mata yang dingin menyeramkan sedang mengawasi wajahnya tanpa berkedip.
Ruangan itu tak bercahaya, tapi sinar rembulan memancar masuk lewat jendela, ia lihat orang itu berjubah biru wajahnya tampan dan berkulit halus, tapi juga keiihatan angkuh dan dingin.
Tian Pek merasakan jantungnya berdebar keras meskipun sedang sakit, ia percaya pendengarannya masih cukup tajam, suara cengkerik dan embusan angin di luar jendelapun masih dapat didengar dengan jelas, apalagi suara langkah manusia.
Tapi sejak kapan orang itu muncul di sini?
Bukan saja ia tak tahu, bahkan sedikit suarapun tak terdengar olehnya.
Pemuda yang tampan tapi bersikap angkuh itu se-akan2 muncul dengan sendirinya seperti badan halus saja.
Dengan sinar mata yang dingin menyeramkan, pemuda itu menghampiri pembaringan, lalu menegur ketus.
"Siapa kau?"
"Aku .... aku.."
Tian Pek gelagapan.
"Aku tak peduli siapa kau, hayo cepat enyah dari sini!"
Hardik pemuda itu lagi dengan mata melotot. Mendapat perlakuan yang kasar, Tian Pek menjadi gusar. ia tertawa dingin.
"Saudara, siapakah kau? Aku tak pernah kenal kau, bila bicara hendaknya tahu aturan sedikit!"
Air muka pemuda itu kaku dingin, sinar matanya yang tajam menatap wajah lawan bagaikan tusukan pedang ia mendengus, lalu berkata pula sepatah demi sepatah.
"Kau tahu siapakah diriku? Kau tahu tempat apakah ini?"
Kembali Tian Pek tertegun, dalam hati ia membatin.
"Siapakah orang ini? Tempat apakah ini? Mungkinkah dia tuan rumah tempat ini? Tapi....mengapa nyonya cantik yang berwajah agung itu membaringkan aku di sini tanpa sepengetahuan-nya?"
Pelbagai kecurigaan timbul dalam benaknya, hawa amarahpun berangsur mereda, ia berusaha meronta bangun, tapi sayang tubuhuya masih lemas tak bertenaga, baru saja badannya terangkat sedikit, ia roboh kembali ke atas pembaringan.
Agaknya pemuda itupun terkejut, tapi dengan cepat ia mendengus.
"Hm, rupanya kau terluka, lalu siapa yang membawa kau kemari?"
Ia maju mendekat dan membenarkan letak Hiolo di atas meja kecil itu, kemudian dengan ketus katanya lagi.
"Kurangajar, dupa liur-nagaku juga berani dipasang!"
"Jadi engkau adalah tuan rumah tempat ini?"
Seru Tian Pek terperanjat.
"Hm, kalau aku bukan tuan rumah, memangnya kau tuan rumahnya?"
Tian Pek menjadi rikuh sendiri setelah mengetahui pemuda itu adalah tuan rumahnya, cepat dengan nada minta maaf ia berkata.
"O, ma .... maaf! Aku benar2 tak tahu tempat manakah ini, dan tak tahu pula bagaimana caranya aku bisa tiba di sini? Kalau engkau adalah tuan rumah di sini, tolong gotonglah aku keluar dari sini. Ai, aku..."
"Apa? Jadi kau tidak tahu tempat apakah ini? Dan tak tahu cara bagaimana tiba di sini? Huh, omong kosong!"
Damperat pemuda itu dengan mata melotot. Tiba2 is putar badan lalu bentaknya lagi;
"Aku tak peduii kau terluka atau tidak, pokoknya segera enyah dari sini. Bila sampai aku sendiri yang turun tangan ... Hm, nasibmu bisa lebih mengenaskan!"
Dalam hati Tian Pek merasa menyesal, meski mendongkol, tapi iapun dapat memaklumi sikap pemuda itu, sebab kalau dia sendiripun mengalami kejadian ini, umpama ada orang tidur di atas pembaringannya tanpa sepengetahuannya, tentu iapua akan marah.
Sedapatnya ia tahan peraenannya, ujarnya "Memang sepantasnya aku berlalu dari sini bila engkau memang tuan rumah di sini, aku hanya mohon kepadamu janganlah memaksa orang dengan kata2 yang kasar, ketahuilah kedatanganku kemari bukan atas keinginanku sendiri!"
"Tak perlu banyak omong,"
Sela pemuda itu.
"pokoknya kalau dalam seminuman teh kau belum enyah dari sini, terpaksa akan kuusir dengan kekerasan ...."
Betapapun sabarnya Tian Pek juga ada batas-nya, setelah mendapat perlakuan sekasar itu jadi tak tahan juga, jawabnya segera.
"Huh, terhituns Enghiong (ksatria) apa kau ini? Kukira kau cuma berani terhadap orang yang sedang sakit."
"Hm, jadi kaukira bila kau tidak sakit lantas aku tak berani padamu?"
"Siapa tahu memang begitu?!"
Jengek Tian Pek.
Sebenarnya Tian Pek tidak ingin ribut, semula ia bermaksud memheritahu kedatangannya ini mungkin dibawa oleh nyonya cantik itu, tapi sejauh itu ia tidak tahu siapa nama orang, pula bila ingat pada sikap serta percakapan si nyonya dengan pengiring2-nya, ia menjadi kuatir keterangannya mungkin akan membikin susah orang.
"Tian Pek wahai Tian Pek, lebih baik kau dilempar keluar oleh pemuda ini daripada menyusahkan oraag lain ...."
Deimkian ia membatin Tak terpikir olehnya bila kedatangannya adalah kerena dibawa nyonya cantik itu, besar kemungkinan nyonya itu mempunyai alasan yang kuat dan mungkin pula nyonya itu mempunyai hubungan yang erat dengan pemuda ini, kalau tidak bagaimana bisa terjadi seperti sekarang ini?.
Pemuda tadi memandang sekeliling tempat itu tiba2 ia menghampiri pembaringan dan duduk di samping Tian Pek, dengan cepat ia cengkeram urat nadinya.
Tian Pek terkejut bercampur heran, tapi badannnya memang lemas tak bertenaga, mau melawanpun tak sanggup, dalam keadaan begini ia mandah pergelangannya dipegang orang.
Waktu ia pandang lawannya, ia lihat pemuda itu berkerut kening rapat2, sejenak kemudian ia cekal pula pergelangan tangan Tian Pek yang lain, sesudah termenung sejenak, dengan rasa heran dan terperanjat ia berjalan mondar-mandir dalam ruangan, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapuin ia berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dibalik pintu, Tian Pek keheranan, pikirnya.
"Bukankah pemuda itu mengusir aku? Kenapa ia malah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun sesudah memeriksa denyut nadiku? Mungkinkah ada sesuatu yang aneh?"
Ia berpikir lebih jauh.
"Walaupun tidak terasa sakit, tapi sekujur badanku amat lemas dan tak bertenaga, kesadaranku punah selama beberapa hari, rupanya sakit yang kuderita cukup parah, meski begitu, kenapa aku tidak merasakan penderitaan sehabis sakit? Kenapa bisa begini?"
Ia merasa apa yang dialaminya selama beberapa hari benar2 luar biasa, tidak sebuah persoalan-pun yang berlangsung secara wajar, ia berusaha mem-buang jauh2 ingatan tersebut dan tidak ingin memikirkan kembali, sorot matanya dialihkan keluar jendela.
Angin mengembus sepoi2 menggoyangkan pohon liu, bau harum menyebar di seluruh ruangan membuat suasana bertambah nyaman, sebagai orang miskin belum pernah menjumpai kemewahan seperti ini, Tian Pek berpendapat asal-usul nyonya cantik dan pemuda sombong itu tentu luar biasa, walaupun dihati ia tak ingin memikirkan persoalan yang sama sekali tiada sangkut paut dengan dirinya itu, tapi pikiran yang kalut membuatnya mau-tak-mau harus memikirkannya juga.
Sementara dia masih melamun, tiba2 terdengar suara ketus si pemuda sombong tadi berkumandang kembali dari luar pintu.
"Beberapa hari ini udara sangat panas, kukira kalian pasti malas untuk bekerja, lebih baik ambil cuti musim panas saja!"
Bayangan orang berkelebat, sambil bergendong tangan, dengan memandang langit2 ruangan pemuda sombong itu muncul kembali walaupun mukanya kaku tanpa emosi namun cukup membuat jeri siapapun yang memandangnya.
Tian Pek pandang keluar sana, dilihatnya empat lelaki kekar yang berpakaian ringkas mengikut jauh di belakangnya dengan tangan lurus ke bawah, walaupun gerak-geriknya masih cekatan dan gagah, namun muka mereka pucat, rasa takut jelas keiihatan pada wajah mereka, agaknya cuma beberapa patah kata si pemuda sombong tadi telah cukup membuat mereka ngeri.
Sementara itu si pemuda congkak sedang mendengus.
sambil menuding Tian Pek yang berbaring di pembaringan ia bertanya dengan suara ketus.
"Siapa orang ini' Enak saja tidur di atas pembaringanku. Hm, kutahu kalian sudah biasa hidup leha2, tapi mata kalian kan belum buta? Apakah kalian tak melihat semua ini?"
Keempat orang kekar itu semakin ketakutan meski ucapan pemuda itu tidak keras.
Dengan tak tenang Tian Pek ikuti jalannya peristiwa itu, timbul rasa kasihan dalam hatinya dem1 melihat rasa takut keempat orang itu, pikirnya.
"Ai, sama2 manusia, mengapa ada orang yang harus di-kasihani seperti mereka?"
Melihat kecongkakan pemuda itu, timbul juga rata dongkol dalam hati kecilnya, pikirnya pula.
"Orang ini masih muda belia, tapi lagaknya sok menang sendiri, seolah2 tiada seorangpun yang ter-pandang olehnya."
Tapi pikiran lain segera berkelebat dalam benaknya.
"Hal inipun tak dapat menyalahkan dia. Andaikata ada orang berbaring di atas pembaringanku dan orang itu sama sekali tak kukenal, mungkin aku pun demikian."
Ia ingin segera bangkit dan meninggalkan tempat ini, ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk memberi penjelasan kepada pemuda sombong itu, Tapi sayang, hasrat ada tenaga tak sampai, baik berdiri maupun bicara tak sanggup dilakukan olehnya, untuk beberapa saat ia merasa malu, sedih.
gusar dan mendongkol, dia hanya bisa termangu sambil mengawasi orang.
Dengan sorot mata yang tajam pemuda itu kembali melotot ke arah keempat pria kekar tadi, serunya.
"Jika kalian sudah merasa cukup berisirahat silakan segera turun tangan dan angkut orang ini keluar ruangan!"
Nadanya sungkan tapi suaranya ketus, matanya memandang langit2, sama sekali tak di pandang lagi orang lain.
Dengan munduk2 keempat orang kekar itu mengiakan, mereka segera menghampiri Tian Pek.
Tian Pek tahu sebentar lagi dirinya pasti akan digotong keluar oleh keempat orang itu.
seketika darahnya bergolak pula.
dengan sepenuh tenaga ia membentak.
"Berhenti!"
Keempat orang itu berhenti serentak, sementara orang yang berjalan paling akhir berpaling sekejap ke belakang dengan rasa jeri.
Namun pemuda jumawa itu masih tetap memandang langit2 ruangan tanpa peduli, se-olah2 sama sekali tidak mendengar bentakan Tian Pek.
Rasa malu, gusar, mendongkol berkecamuk dalam dada Tian Pek, ia rela mati di tempat daripada digotong keluar, sebab hal itu merupakan suatu penghinaan yang besar baginya.
Sementara keempat orang kekar itu tadi telah melangkah maju pula menghampiri pembaringan.
Sekali lagi Tian Pek membentak gusar, dengan sikutnya ia coba menopang tubuhnya untuk bangkit, ia lebih rela merangkak keluar kamar itu daripada harus digotong orang.
Tapi sayang, sepasang lengannya yang biasanya sangat kuat kini terasa lemas tak bertenaga, Baru saja badannya meronta bangun, dengan lemas terkulai kembali di atas pembaringan.
Dengan putus asa akhirnya ia pejamkan matanya rapat2, ia harus menerima penghinaan dengan pasrah, sekalipun hatinya terasa amat sakit bagaikan di-iris2.
Langkah yang berat dari keempat orang itu kian mendekat pembaringan.
"Tahan!"
Tiba2 dari luar jendela berkumandang suara bentakan nyaring.
Dengan hati berdebar Tian Pek membuka matanya, ia lihat sesosok bayangan hitam melayang masuk.
Gerak tubuh orang sangat enteng dan cepat-nya sukar dilukiskan, baru saja ia berkedip tahu2 orang sudah berdiri di depan pembaringan.
Empat orang kekar tadi menjerit kaget tertahan lalu sama berhenti dan memberi hormat, sikap mereka sangat hormat dan tubuh yang dibungkukkan hingga lama belum juga ditegakkan kembali.
Pemuda sombong itupun alihkan pandangannya dari langit2 rumah ke atas tubuh si pendatang ini alis matanya berkernyit, ia melangkah maju dan tegurnya.
"Mau apa kau datang kemari? Sekalipun nadanya tak senang hati, tapi tak sedingin dan seketus tadi. Diam2 Tian Pek heran.
"Siapakah orang ini? Kenapa sikap keempat orang kekar itu begitu tunduk dan hormat padanya?"
Pendatang yang berbaju hitam itu berdiri membelakangi pembaringan. walaupun Tian Pek tak dapat melihat raut wajahnya, tapi dari potongan tubuhnya yang ramping ia tahu bahwa orang itu pasti perempuan.
"Mungkinkah dia ini nyonya cantik setengah baya yang agung dan berwibawa itu?"
Pikir Tian Pek.
Ramping amat pinggang gadis itu, potongannya indah dan padat berisi, rambutnva digelung dengan tusuk kundai yang indah, tangannya putih mulus dengan jari yang panjang, bentuk badan seperti ini sama sekali berbeda dengan potongan si nyonya cantik itu.
Tian Pek tambah sangsi, ia merasa bukan saja asal-usul si nyonya cantik, pemuda sombong serta gadis baju hitam ini penuh teka-teki, bahkan bangunan rumah yang megah ini se olah2 menyimpan sesuatu rahasia yang maha besar.
"Siapakah mereka sebenarnya? Tempat apakah ini?"
Pertanyaan ini bcrkecamuk dalam benaknya.
"Mungkinkah rumah seorang jago persiiatan? Atau rumah orang kaya? Atau mungkin istana pembesar atau bangsawan?"
Ia lihat kecuali tangannya lurus ke bawah, perempuan baju hitam itu sama sekali tak bergerak, dari tempat semula, tubuhnya berdiri kaku di depan pembaringan, meskipun raut wajahnya tak nampak, tapi Tian Pek dapat merasakan betapa dingin, angkuh tapi cantik dan agungnya.
Suasana jadi dingin memheku, keempat pria kekar tadi saling berpandangan sekejap, diam2 mereka geser kaki dan rupanya bendak berlalu dari ruangan itu Belum jauh mereka bergeser, tiba2 perempuan baju hitam itu membentak lagi.
"Berhenti!"
Dengan hati kebat-kebit empat orang itu berhenti, berdiri kaku di tempat dan sama sekali tak berani berkutik lagi.
"Apa yang telah kalian lakukan tadi?"
Tegur perampuan baju hitam. Walaupun suaranya lembut, tapi nadanya dingin dan kaku, jauh berbeda dengan potongan tubuhnya yang menggiurkan.
"Ai, kenapa juga begini dingin dan ketus suara nona ini? Aneh, benar2 aneh!"
Pikir Tian Pek.
Ia hanya bisa berbaring saja tanpa berkutik kendati-pun apa yang terjadi dalam kamar ini erat hubungannya dengan dia, akan tetapi kecuali menonton saja boleh dikatakan apapun tak dapat dilakukan olehnya, bahkan bicarapun tidak.
Sebaliknya orang2 yang berada dalam kamar tupun tak ada yang menaruh perhatian lagi padanya, se-akan2 dalam ruangin itu tiada terdapat seorang seperti dia.
Dengan sorot mata ketakutan keempat orang tadi memandang sekejap ke arah nona baju hitam kemudian cepat2 mei unduk kembali, lalu dengan suara gemetar menjawab.
"Kongcuya memerintahkan kami untuk menggotong keluar Siangkong (tuan muda) ini, maka maka "
"Hm, penurut amat kalian!"
Sindir nona baju hitam sambil mendengus. Ia lantas berpaling ke arah pemuda jumawa itu, kemudian, tegurnya dengan dingin.
"Jadi kau yang suruh mereka menggotong keluar orang itu?"
"Mau apa kau ikut campur urusan ini7"
Kata pemuda jumawa itu dengan dahi berkerut.
"Apa aku tak boleh suruh orang menggotong keluar seorang yang sama sekali tak kukenal dari atas pembaringanku? Apa sangkut-pautnya dengan kau?"
Sambil mendengus ia berpaling dan melotot gusar ke arah keempat orang tadi.
Empat orang itu semakin ketakutan, dengan sinar mata ngeri mereka melirik sekejap pemuda jumawa itu, sebentar melirik pula ke arah si nona baju hitam, bibir mereka bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi tak sepatah-katapun yang keluar.
"Begitu macamnya seorang tokoh persilatan yang termashur karena kecerdasan dan akalnya?"
Omel si nona baju hitam dengan ketus.
"Hm, kulihat otakmu sebetulnya goblok dan akalmu terbatas sekali, apa kau tak dapat berpikir jika pemuda ini tiada asal-usul tertentu bagaimana mungkin dia lari kemari untuk merawat lukanya? Kau kira orang seisi rumah ini sudah mampus semua?"
Sorot mata sang pemuda yang angkuh tetap menatap keempai pria kekar itu, katanya tanpa menoleh.
"Kukira lebih baik kalian mampus semua saja daripada cuma setengah hidup setengah mati, hm ...."
"Siapa yang kau maksudkan?"
Tiba2 nona baju hitam itu melompat ke depan pemuda jumawa tadi.
"Jelaskan perkataanmu itu!"
Pemuda jumawa itu melirik sinis jawabnya kemudian.
"Hm, kenapa mesti bersitegang? Aku kan tidak maksudkan dirimu!' "Hm, kutahu sekarang kau adalah seorang pahlawan besar, seoraang pendekar tersohor dalam dunia persilatan, tentu saja tak kau pandang sebelah mata pada encimu yang tolol seperti diriku ini! Tapi .... hm, masa kau juga tak pandang sebelah mata terhadap ibu?"
Air muka pemuda jumawa itu berubah hebat, tiba2 ia berpaling.
"Apa katamu? Kau maksudkan beliau yang membawa pemuda asing ini untuk merawat lukanya di sini?"
Setelah mendengar tanya-jawab itu baru Tian Pek tahu duduk perkara yang sebenarnya pikirnya.
"O, kiranya pemuda ini adalah putera nyonya cantik itu."
Teringat pada kemurungan si nyonya waktu bioara padanya, kembali ia berpikir.
"Kenapa ia murung dan kesal? Tidak seharusnya ia bersikap sedih Begitu. Dari ucapannya, agaknya dia kecewa terhadap puteranya, mengapa begitu? Bukankah puteranya ganteng dan muda, juga punya nama tersohor di dunia persilatan, sedang aku "
Teringat keadaan sendiri, Tian Pek menghela napas dan tak berani berpikir lebih jauh.
Pembaringan yang empuk, selimut yang halus membuat tubuhnya terasa nyaman tapi sorot mata sang pemuda yang begitu dingin dan memandang hina.
membuat tubuhnya seolah2 berada dalam gudang es.
Sementara itu si nona baju hitam sedang berkata lagi.
"Jika bukan suruhan ibu, siapa yang berani membawa orang ini masuk ke kamarmu "
Tiba2 bicaranya berhenti, Tian Pek merasa pandangannya jadi kabur dan tahu2 ' plak-plok, plak-plok", suara tamparan nyaring berkumandang susul-menyusul Dengan keheranan ia berpaling, dilihatnya keempat orang pria kekar itu tadi berdiri di depan pintu sambil memegangi pipi sendiri, rasa kaget dan takut tampak menyelimuti wajah mereka.
Sedang si pemuda jumawa tampak melototi si nona baju hitam dengan sorot mata gusar.
Tian Pek jadi terkejut, ia berpikir.
"Mungkinkah dalam waktu sesingkat tadi ia telah menempeleng keempat orang itu? Cepat benar gerak tubuhnya!"
Jelek2 Tian Pek pernah giat berlatih silat, tapi setelah menyaksikan kelihayan nona baju hitam itu, hatinya jadi terperanjat, ia sadar jika kepandaian yang telah dilatihnya selama ber-tahun2 itu dibandingkan dengan kepandaian si nona maka ibaratnya cahaya rcmbulan berbanding cahaya kunang2.
Dengan tatapan tajam, pemuda jumawa itu awasi wajah si nona, lama sekali baru ia berseru.
"Cici, engkau tahu anak buah siapakah mereka itu?"
"Hm, kecuali Leng-hong Kongcu (Tuan muda angin dingin) Buyung Seng-yap. siapa lagi yang sesuai menjadi majikan mereka?"
Jengek si nona. Tian Pek terperanjat demi mendengar nama itu.
"O, rupanya pemuda ini adalah satu di antara empat Kongcu terkenal, yaitu Leng-hong Kongcu yang paling tak berbudi."
Meskipun belum lama ia terjun ke dunia persilatan, tapi nama besar Bn-lim-su-kongcu (empat tuan muda dari dunL persilatan) sudah amat tersohor hingga diketahui oleh setiap orang, maka iapun tahu bahwa di antara ke empat orang Kongcu itu maka An-lok Kongcu paling romantis, Toanhong Kongcu piling susah dicari jajaknya, Leng-hong Kongcu paling tak berperasaan dan tak berbudi, Siang-lin Kongcu paling simpatik.
Berpikir sampai di sini, Tian Pek alihkan pandangannya pada wajah Leng-hong Kongcu, ia lihat meskipun pemuda itu sedang gusar, namun wajahnya tetap kaku tanpa emosi, dalam hati ia ia lantas berpikir "Ai orang bilang Leng-hong Kongcu adalah seorang manusia tak berperasaan, ternyata berita ini bukan berita kosong belaka, dalam kenyataan ia benar2 tak kenal arti perasaan."
Leng-hong Kongcu mencibir bibirnya yang tipis sambil mengawasi dara baju hitam tanpa berkedip, lalu mendengus. katanya.
"Hehe, bagus, bagus sekali, suugguh tak nyana, bukan saja aku tak dapat mengatur kamarku sendiri, untuk menghukum anak-buahku pun terpaksa harus merepotkan diri-mu, baik, baik .... baik sekali ...."
Diiringi suara teitawa dingin ia terus putar badan dan berlalu.
Melihat kepergian majikannya, keempat orang kekar tadi tampak agak tertegun, mereka melirik sekejap ke arah si nona baju hitam dengan ketakutan, keadaan mereka mengenaskan sekali, mau mundur takut tetap di situ salah, terpaksa dengan air muka serba susah mereka berdiri melongo.
Dara baju hitam itu sendiri masih tetap berdiri tak bergerak di tempat semula, tubuhnya tampak agak gemetar, lama sekali ia tertegun, akhirnya sambil menghela napas sedih ia berkata kepada keempat orang itu.
"Kongcu sudah pergi, untuk apa kalian masih berdiri di situ?"
Seperti mendapat pengampunan besar, buru2 keempat orang itu mengiakan dan segera berlari pergi.
Ruang yang indah dan mewah pulih kembali dalam kesunyian, Tian Pek berbaring di atas pembaringan diam2 menarik napas lega, walaupun rasa tak tenang masih menyelimuti hatinya.
Ia sadar kendatipun ancaman pengusiran untuk sementara waktu dapat dihindari, namun itu tidak langgeng sifatnya, karena setiap saat ancaman serupa dapat terjadi pula, padahal lukanya belum sembuh, maka diam2 ia cemas dan kuatir.
Iapun sangat berterima kasih terhadap si nona biju hitam itu, tapi seketika ia jadi gelagapan dan tak tahu cara bagaimana mengutarakan perasaannya.
Tiba2 nona baju hitam itu menghela napas panjang, dengan suara rawan ia berkata.
"Adikku tak tahu adat kemanusiaan, harap Siangkong suka memaafkan kelatahan serta kejumawaannya itu!"
Tian Pek gelagapan dan tak tahu cara bagaimana mesti menjawab, sebab bagaimanapun juga dialah yang bersalah dan dia yang harus minta maaf, karena dia sendiri yang berbaring di pembaringan orang.
Dalam hati ia menyesal, dipandangnya bayangan punggung dara baju hitam itu dengan ter-mangu2, lalu menjawab.
"Aku hidup sebatang kara dan ter-lunta2. O, betapa terima kasihku atas kebaikan nona, jika engkau ucapkan kata2 seperti itu pula, aku jadi malu sendiri."
Beberapa patah kata yang pertama diucapkan karena luapan rasa kecewa dan menyesal, tapi segera ia merasa tak pantas mengucapkan kata2 semacam itu dibadapan seorang gadis yang tak dikenal, maka nada ucapannya segera berubah, sementara dalam hati ia menegur din sendiri.
"Bagaimana sih aku ini? Masa bicarapun tak becus?"
Tak tersangka si nona baju hitam juga lantas menghela napas setelah mendengar perkataannya ia bergumam.
"Hidup sebatang kara dan mengembara ter-lunta2 juga tiada jeleknya? Hidup bebas begtu jauh lebih baik daripada hidup dalam sangkar sekalipun sangkar itu terbuat dari emas "
Nada penyesalannya ternyata jauh melebihi ucapan Tian Pek tadi. Tian Pek jadi melongo, pikirnya.
"Aneh benar gadis ini, dia toh hidup di tengah keluarga orang kaya dan serba berkecukupan, minta apa saja pasti ada orang yang berebut uutuk memenuhinva, tapi kenapa perkataannya begitu kesal dan begitu sedih?"
Tanpa terasa ia teringat kembali pada kemurungan yang menyeiimuti wajah si nyonya cantik itu, merasa se-akan2 setiap orang yang berdiam di dalam gedung megah ini sama dirundung persoalan yang memusingkan kepala, membuat mereka hidup tak bahagia.
Tapi apa yang menjadi beban pikiran mereka?
Sementara ia masih termenung, dara baju hitam itu telah putar badan, jantung Tian Pek berdebar keras, tanpa terasa ia pandang wajahnya.
Seketika ia tertegun dan sorot matanya tak tergeser lagi.
Sukar baginya untuk melukiskau betapa cantiknya si nona.
Gadis itu berpakaian serba hitam, raut wajahnya yang ingin dilihat Tian Pek tertutup oleh selembar sutera tipis warna hitam.
yang terlihat hanyalah alisnya yang lentik serta biji matanya yang bening, begitu indah dan mempersonakan membuat anak muda itu benar2 tergiur, membuatnya merasa dunia ini hangat kembali.
Jilid 3 Ketika sorot mata mereka saling bertemu, nona baju hitam itu tundukkan kepalanya rendah2, lama sekali ia baru menengadah dan berpandangan kembali dengan Tian Pek.
Keheningan kembali mencekam seluruh ruangan, dengan pandangan yang penuh kesedihan tiba2 dara itu putar badan dan berjalan ke arah pintu tanpa berpaling lagi.
Tian Pek terkesiap, diam2 ia menyesal dan malu sendiri karena bisa timbul perasaan tergiur serta perasaan aneh yang timbul ketika pandangan mereka bertemu tadi.
Ketika tiba di am bang pintu, gadis itu berhenti dan menghela napas panjang.
lalu berkata.
"Kau sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari, badanmu tentu lemah sekali, sebentar akan kusuruh orang meogantar makanan untukmu...."
Setelah berhenti sebentar, ia berkata lagi.
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, kulakukan semua ini karena permintaan seseorang."
Habis berkata tanpa berpaling is terus berlalu dari situ.
Beberapa patah perkataan yang pertama diucapkan dengan lembut, tapi ucapan terakhir berubah dingin dan ketus.
se-olah2 dua orang yang mengucapkan kata2 itu.
Memandangi bayangan punggung orang Tian Pek cuma melongo saja, beberapa patah kata orang yang terakhir amat menusuk perasaannya.
Pikirannya jadi kalut, ia merasa ada banyak persoalan yang tak dapat di selami' olehnya, di antara sekian banyak masalah.
persoalan yang paling membingungkannya adalah siapakah nona baju hitam yang sebentar hangat sebentar dingin itu.
"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, kulakukan semua ini karena permintaan seseorang."
Perkataan itu diulanginya sampai beberapa kali, tiba2ia seperti terjerumus pula ke dalam kesepian dan kepedihan yang sukar dilukiskan.
Dengan perasaan gundah ia bereskan rambutnya yang kusut.
Walaupun lengannya masih terasa sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit.
"Meski aku berutang kepada gadis itu, tapi dia sama sekali tiada hubungan apa2 denganku, siapa dia dan siapakah aku? sikapnya boleh dibilang sudah cukup baik, buat apa aku mesti murung karena soal ini.?"
Demikian walaupun dia ingin melupakannya, tapi entah mengapa, hal ini selalu timbul lagi dalam benaknya. Ia merasa sedih atas sikap dingin si dara baju hitam itu. diam2 ia berpikir pula.
"Dia bilang apa yang dilakukannya ini adalah karena mengingat permintaan seseorang, siapakah orang itu? Kenapa ia terima permintaan orang itu dan apa hubungan di antara mereka"
Suara deheman ringan berkumandang dan luar, seorang pelayan cilik berbaju hijau melangkah masuk dengan membawa sebuah mangkuk bertutup yang terbuat dari kemala hijau, setiba di depan Tian Pek dia memberi hormat, lalu berkata.
"Kongcu, sialahkan minum kuah ini"
Tutup mangkuk dibuka dan asap putih mengepul dari mangkuk kecil itu, bau harum sedap memenuhi seluruh ruangan, sebelum ingatan lain berkelebat dalam benaknya, tahu2 dayang baju hijau itu sudah angsurkan mangkuk tersebut ke hadapannya, sementara tangan yang lain mengarnbil send ok dan mulai menyuap kuah jinsom itu ke dalam mulut Tian Pek.
Dengan pikiran hampa Tian Pek menghabiskan kuah jinsom yang disuap ke mulutnya itu, semangat terasa jadi segar kembali, tapi dalam hati tambah sedih, la merasa se akan 2 sedang menerima sedekah dari orang lain, dan sedekah yang diberikan kepadanya itu dilakukan karena atas permitaan seseorang, padahal ia sendiripun tak tahu siapakah orang itu.
Terpikir sampai disini, hampir saja kuah jimson yang telah masuk perutnya tertumpah kembali, tiba2 ia lihat sesosok bayangan muncul kembali di depan pintu diikuti suara tertawa merdu yang memecahkan kesunyian.
Tian Pek mengerutkan dahi, dalam keadaan seperti ini tak enak baginya mendengar suara tertawa bagini.
Bayangan orang yang baru muncul itu membawa pula sebuah mangkuk warna hijau, orang itu adalah seorang gadis yang berwajah cantik jelita.
Dara itu tersenyum, tanyanya dengan lembut.
'"Kongcu, apakah engkau ingin makan sedikit ?
Ai, tahukah kau sudah berapa hari engkau tidak makan apa2 ?"
Suara yang merdu itu terdengar oleh Tian Pek se-akan 2 ejekan yang menusuk hati, ia berkerut dahi.
"Hm, sedekah. Kembali sedekah..."
Demikian pikirnya dengan mendongkol, mendadak ia berteriak.
"Bawa keluar! Bawa keluar!"
Tertegun juga gadis itu, ia berhenti di depan ranjang dan berkata.
"Eh, kenapa sih kau ini?"
Tegurnya dengan lembut, suaranya tetap merdu dan halus..Diam2 Tian Pek menghela napas, ia rada menyesal bersikap kasar terhadap gadis itu, bagaimanapun juga orang kan bermaksud baik, sikapnya itu jelas tidak sopan dan tak tahu adat.
"Terima kasih atas kebaikan nona,"
Ujar Tian Pek.
"hanya saja.... .lebih baik bawa keluar saja."
Sekalipun kata 2 nya sudah jauh lebih ramah, tapi ia belum berpaling, ia berharap bila ia menoleh nanti, dalam ruangan itu akan tinggal dia sendiri, agar ia bisa merenungkan semuanya itu dengan tenang.
Siapa tahu gadis itu lantas tertawa cekikikan, lalu berkata.
"Eh, kalau memang ogah makan ya sudahlah, kenapa bersikap begini segala"-? Tahukah kau, betapa susah dan bingungnya orang membantu kau, tapi kau......kau malah mengusir aku keluar"
Tian Pek terkesiap, cepat ia berpaling , seorang gadis cantik berbaju sutera halus dan bersanggut tinggi berdiri di tepi pembaringan, meski masih muda, namun wajahnya menampilkan sikap yang agung.
Baru Tian Pek menyadari dirinya telah salah menduga, ternyata gadis ini bukanlah dayang baju hijau tadi.
"Tapi siapakah dia? Kenapa ia mengucapkan kata 2 seperti itu?"
Demikian timbul kecurigaaan dalam hati Tian Pek. Sementara itu dara cantik itu sedang mengamati wajahnya dengan pandangan halus, tiba2 ia tertawa dan berkata pula.
"Eh, bicara sesungguhnya, tidak pantas kau bersikap begitu galak terhadapku. Tahukah kau, untuk membantu dirimu, telah banyak mendatangkan kesulitan, bagiku tapi kau ..... kau ternyata tidak tahu diri."
Ia taruh nampan yang dibawanya itu di atas meja kecil, kemudian ia berduduk di tepi pembaringan, katanya lagi.
"Hayolah makan dulu, biar kusuapi kau, kalau ingin marah lagi marah saja padaku, tapi jangan kelewat batas, sebab kalau jadi sakit, wah bisa susah."
Tian Pek jadi melongo, ditatapnya gadis itu dengan termangu 2 .
Ia merasa tak pernah kenai gadis ini, bertemupun belum pernah, tapi sikap dan cara bicara gadis ini seolah-olah sedang menghadapi sahabat karipnya yang sudah lama ia kenaI.
"Bahkan ia mengaku membantu diriku!"
Pikirnya, tapi bantuan apa?
Tian Pek hanya bisa geleng kepala dengan penuh tanda tanya.
Angin sejuk berhembus masuk lewat jendela, terendus bau harum khas perempuan, ia merasa gadis itu duduk semakin dekat dengan dirinya.
bahkan raut wajahnya yang cantik hampir saja menempel mukanya, meski dia tiada perasaan buruknya terhadap anak dara itu, namun ia merasa sikapnya yang terIalu berani ini sudah kelewat batas, hal ini menimbulkan rasa jemu baginya.
Dengan serius ia lantas berkata.
"Aku tak merasa kenal dengan nona, andaikata aku memang utang budi kepadamu, suatu ketika budi kebaikan ini pasti akan kubalas. Sekarang aku tidak ingin makan apapun, apalagi antara pria dan wanita ada batas2nya, kalau kita berada sendirian dalam satu kamar tanpa orang ketiga, kemungkinan besar akan dicurigai orang untuk ini kuharap nona suka memperhatikannya."
Dasarnya tidak pandai bicara, beberapa patah kata itu diucapkan dengan kaku dan tak lanncar bahkan setiap kata yang hendak diucapkan harus dipikirkan dulu.
Gadis itu sama sekali tak menjawab, tangannya yang satu menyanggah di sisi poembaringan.
sedang tangan yang lain bertopang dagu.
sorot matanya bening memandang langit2 ruangan.
Se-akan2 tidak mendengar apa yang diucapkan Tian Pek.
Sehabis anak muda itu bicara, baru dia mengerling sekejap padanya, sambil memandang ujung kaki sendiri lalu bergumam.
"Andaikata memang utang budl kepadamu? Andaikata....Ia tertawa nyekikik dan mengerling pula wajah pemuda itu lalu ia menegas.
"Masa kaukira aku ini omong kosong?"
Ia tuding anak muda itu dengan jarinya yang lentik, Kemudian menambahkan. '"Eh, terus terang kuberitahukan padamu, kalau tiada aku..... hihihi.... .. mungkin kau sudah digotong keluar dan ini."
Tian Pek memandangnya dengan terkesima, seketika ia tak tahu bagaimana perasaannya, pikirnya.
"Kalau begitu, dia inilah yang menyuruh nona baju hitam itu datang kemari......"
Tapi segera terpikir pula.
"Lalu siapakah dia ini? Apakah iapun saudara sakandung Leng hong Kongcu?"
Diamati wajah gadis itu tajam2 ia merasa wajah gadis yang cantik manis ini jauh berbeda dibandingkan dengan sikap ketus dara dengan si nona baju hitam serta kejumawaan Leng-hong Kongcu, tapi ada juga kemiripan diantara wajah mereka.
Ia tak mengerti mengapa kakak-beradik yang berasal dari ayah ibu yang sama bisa mempunyai sifat yang begini berbeda, lalu iapun merasa kasihan atas nasib nyonya cantik yang malang itu bayangkan saja betapa risau dan beratnya pikiran sang ibu memikirkan sifat putera puterinya yang berlainan itu.
Sementara ia masih melamun, gadis itu menegurnya lagi sambil tertawa "He, kau dengar tidak perkataanku tadi?"
Tian Pek sadar dari lamunannya, dia baru ingat pertanyaan orang tadi belum dijawabnya.
"Tapi, cara bagaimana aku harus menjawabnya?"
Demikian ia membatin.
"Haruskah berterima kasih?"
Bagi pemuda yang keras kepala. Ia tak sudi berbuat demikian, sulit baginya untuk mengutarakan perasaan seperti itu. Otaknya berputar mencari jawaban, sementara ia berpikir pula.
"Ibunya telah menyelamatkan jiwaku, tapi kakaknya mengusir aku, encinya membebaskan aku dari kesulitan itu dan ternyata dia ini lah yang suruh, tapi..... aku tidak kenaI gadis ini.
"Ai sebenarnya apa yang terjadi? Mereka toh sekeluarga, kenapa hubungan mereka satu sama lain begitu ruwet dan kacau balau?"
Pikiran yang sudah kalut kini semakin kacau sehingga untuk beberapa saat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Hei, kaudengar tidak perkataannya?"
Tiba 2 terdengar pula teguran yang dingin berkumandang dari samping.
Tian Pek terkesiap dan berpaling, entah sejak kapan di sisi pembaringannya sudah bertambah lagi seorang, orang ini mengenakan pakaian yang penuh tambalan, rambutnya kusut, jenggotnya lebat tak terawat, terutama sorot matanya yang tajam membuat hatinya tercekat.
Kemunculan manusia aneh yang tak terduga serta teguran yang dingin mencekat hati ini membuat Tian Pek tak manpu berbicara.
Gadis ayu tadi tetap duduk di tempat semula dengan tersenyum manis, ia tak pernah berpaling untuk memandang manusia aneh itu, se-akan2 kehadirannya sudah diketahuinya.
"Eh, kaudengar tidak perkataanku"
Kembali manusia aneh itu menegur.
Tian Pek tertegun sambil mengawasinya, ia tak mampu menjawab.
Manusia aneh itu mendengus, mendadak ia mencengkeram ke depan, ujung bajunya yang bekibar membawa deru angin serangan yang dahsyat.
Senyum manis yang semula menghiasi bibir gadis itu seketika lenyap, cepat ia putar badan sambil memeluk tangan manusia aneh itu, kemudian ia berbisik apa2 di telinganya.
Sorot mata ganas yang semula terpancar dari mata manusia aneh itu seketika lenyap tak berbekas, ditatapnya gadis itu dengan pandangan lembut, kemudian tanpa berpaling secepat kilat ia melayang keluar kamar.
Jendela itu amat kecil dan tertutup separuh, namun hal itu bukan alangan bagi manusia aneh itu untuk keluar.
entah bagaimana caranya, tahu2 ia sudah menerobos keluar.
Kedatangannya yang ,tiba2 perginya juga sangat mendadak, Tian Pek hanya memandangi bayangan punggungnya dengan terkesima, ia merasa seperti mimpi saja.
Setelah manusia aneh itu berlalu, pelahan gadis itu berpaling, sambil tertawa cekikik ia menegur.
"He, kau takut tidak padanya'?"
"Siapa orang itu? Kenapa aku mesti takut padanya?"
Sahut Tian Pek sambil menggeleng.
"Kau tidak takut? Tahukah kau betapa lihay ilmu silatnya? Jangankan aku, Toako dan ayahpun sangat memuji kelihayan ilmu silatnya, cuma selama ini dia tak pernah berkelahi dengan orang lain, maka tiada seorangpun yang tahu sampai dimanakah kelihayan ilmu silatnya yang sebenarnya. Walau begitu, hehe, kalau ada orang berani recoki diriku, langsung saja dia akan turun tangan dan menghajar orang itu sampai setengah mati."
Ia berhenti sebentar dan duduk kembali di sisi pembaringan, kemudian sambungnya.
"Suatu hari dari Lupak datang seorang bernama Sam-er-oh tiap (kupu kupu bersayap tiga) menyembangi ayah, ketika bertemu dengan aku di kebun, dia anggap aku bisa dipermainkan dengan begitu saja, bahkan mengucapkan beberapa patah kata yang tdk senonoh, sungguh hatiku malu bercampur gusar, ingin sekali kuhajar mampus bangsat itu, tapi sebelum aku turun tangan, paman Lui telah muncul, orang tua itu se-akan2 selalu berada di sampingku. Huh, melihat kemunculan paman Lui, bukannya bangsat itu minta maaf. dia malah jual tampang dan berlagak sok, tanpa banyak omong paman Lui segera menghajar keparat itu sehingga mampus dibawah semak2 bunga mawar, rupanya mampuspun ia ingin jadi setan romantis."
Kata2 itu diakhiri dengan suara tertawa cekikikan. Sambil mendengarkan penuturannya, dalam hati Tian Pek berpikir.
"Siapakah manusia aneh itu? Kenapa ia bisa berdiam di tengah keluarga yang serba misterius ini dengan leluasa?"
Kemudian iapun berpikir lagi.
"Siapakah ayahnya? Kenapa sampai seorang Cay-hoa-cat (Penjahat pemetik bunga, perusak perempuan) juga datang menyembangi dia?"
Diam 2 iapun heran mengapa nona cantik ini tidak pantang omong, segala apapun diucapkan begitu saja tanpa canggung.
Tian Pek tidak tahu bahwa sejak kecil gadis ini sudah terbiasa hidup manja, ia tak kenal apa artinya malu, apalagi takut segala.
"Hihi, andaikata aku tidak berdiri di sampingmu tadi, mungkin sekali dicengkeram paman Lui nyawamu sudah melayang,"
Habis berkata, tiba2 si nona menghela napas, dan memandang jauh keluar jendela.
Tian Pek tertegun, ia tak menduga sikap gadis itu sedemikian gampang berubah, sebentar tertawa riang, sebentar kemudian menghela napas sedih.
Sementara dia masih keheranan, gadis itu berkata pula.
"Sungguh aneh sekali, sejak mama membawa pulang kau, pada pandangan pertama aku lantas menyukai kau...."
Walaupun ia masih polos dan manja, namun perkataan selanjutnya tuk sanggup diteruskan, pipinya menjadi merah dan kepalanya tertunduk.
Lama dia membungkam, kemudian sambil membelai rambut sendiri katanya lagi.
"Oleh karena itulah. ketika mama tak dapat menjenguk kau setiap hari, akulah yang saban hari mendampingi dirimu"
"Hari ini Toako baru saja pulang dari Tay Ouw, ku tahu urusan bisa runyam, karena dengan watak Toako yang buruk itu dia pasti akan melempar kau keluar kamar, padahal mama tak di rumah, sedang aku amat jeri pada Toako, setelah kupikir pulang pergi, akhirnya kuminta bantuan Toaci untuk menanggulangi persoalan ini. Tahukah kau tabiat Toaci berbeda jauh daripada watakku, dalam setahun belum tentu dia mengucapkan sepuluh patah kata. Setelah bersusah payah setengah harian kumohon, akhirnya ia menyanggupi juga permintaanku, tapi kau.
" . ternyata kau tak tahu budi."
Dalam hati kecilnya Tian Pek merasa kurang senang dengan sikap si nona yang binal, namun setelah mengetahui betapa baiknya gadis itu menaruh perhatian kepadanya, tak urung timbul juga rasa terima kasihnya yang mendalam.
Ia tersenyum dan berkata.
"Kebaikan nona sangat mengharukan hatiku, tentu saja akan selalu kuingat kebaikanmu ini."
"Huh, siapa yang suruh kau berterima kasih padaku, siapa yang sudi menerima budi kebaikanmu"
Tiba2 gadis itu mengomel dengan wajah cemberut. Sementara Tian Pek tertegun, gadis itu kembali tertawa cekikikan, sambil mempermainkan bajunya ia berkata.
"Asal kautahu aku ini baik kepadamu, serta jangan galak2 lagi bersikap kepadaku, itu, sudah cukup menggembirakan aku'"
Walaupun Tian Pek cukup prihatin, tak urung tergetar juga perasaanya, ia merasa perasaan gadis itu begitu murni, begitu sungguh2 tanpa tedeng aling, semua ini membuat hatinya sangat terharu.
Apalagi sejak kecil la sudah hidup sendirian, setelah dewasa belum pernah ia merasakan kehangatan kasih sayang orang.
Untuk beberapa waktu pemuda itu hanya termangu2 memandang gadis Itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Eh, siapa namamu?"
Gadis itu bertanya sambil mempermainkan ujung bajunya.
'"Aku sudah tanya mama, tapi mama sendiripun tak tahu.
Aneh benar!
Padahal watak mama tak jauh berbeda dengan watak enciku, di hari biasa wajahnya selalu dingin dan kaku, jarang kulihat beliau tertawa, tapi perhatiannya atas dirimu sangat besar, ia sangat menguatirkan keselamatanmu, pada mulanya aku mengira kalian pasti sudah kenal lama.
Eh, tak tahunya beliau sendiripun tak tahu siapa namamu, bukankah kejadian ini sangat mengherankan "
Tian Pek menghela napas. kejadian yang sudah lewat kembali berkelebat dalam benaknya, la berpikir.
"Ai, seandainya nyonya cantik itu tidak menolong aku tepat pada waktunya, mungkin aku sudah mampus di tengah hutan yang sunyi Itu. Begitu besar aku berutang budi kepadanya, ternyata aku belum tahu siapa namanya yang mulia itu."
Ia lantas berpaling ke arah gadis itu, dengan suara lembut ia bertanya.
"Ibumu agung dan berbudi luhur, budi kebaikan yang telah beliau berikan kepadaku takkan kulupakan untuk selamanya, bila nona tidak keberatan, dapatkah kau beritahukan siapa nama beliau agar akupun...."
Gadis cantik itu tertawa ngikik dan menyela.
"Hihihi, tak nyana lagakmu waktu bicara persis seperti seorang pelajar rudin, sungguh lucu, lucu sekali ...."
Merah jengah selembar muka Tian Pek, untuk sesaat, ia bungkam. Melihat pemuda itu dibuatnya kikuk, anak dara itu berkata pula.
"Ayahku she Buyung, engkoh dan encik u juga she Buyung, coba kauterka, aku she apa ?"
Tian Pek jadi melengak, ia merasa gadis ini terlalu polos dan lucu, masa pertanyaan semacam inipun diajukan kepadanya, memangnya dia dianggap seorang yang tolol? Kendatipun begitu, ia menjawab juga.
"Nona tentu juga she Buyung seperti kakak dan encimu!"
"Keliru, kau keliru besar,"
Dara 1tu menggelengkan kepala dan bertepuk tangan.
"Aku tldak she Buyung, sku she Tian seperti juga she ibu."
Mukanya berseri2 , agaknya hal ini sangat menggirangkan hatinya.
"Wah, kalau begitu, pantaslah aku tidak bisa menebaknya, siapa yang bakal menduga sampai ke situ?"
Kata Tian Pek sambil tertawa geli. Sementara itu di dalam hati la berpikir.
"0, tak kusangka Nyonya cantik itu ternyata berasal satu marga dengan aku."
Terdengar anak dara itu tertawa cekiklkan dan berkata pula.
"Tampaknya kau bukan orang persilatan ya, masa nama keluarga kamipun belum pernah ka dengar ?"
Tian Pek tertegun dan menatap wajahnya, kebetulan gadis itupun sedang memandang kearahnya. Gadis itu tertawa, ujarnya.
"Eh, kau ingin tahu namaku tidak? Aku bernama Tian Wan-ji, dan siapa namamu? Apa aku juga boleh tahu? Apakah orang tuamu masih ada? Di mana? Punya kakak dan adik? Punya....."
Tiba2 gadis Itu berhenti dan tundukkan kepala sambil tersenyum kikuk, tambahnya.
"Dan punya isteri? ......"
Pertanyaan yang diajukan secara beruntun itu .semuanya menusuk perasaan Tian Pek, ia tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian menghela napas dan menggeleng.
"Aku juga she Tian, namaku Tian Pek, ayah jbuku telah..... telah meninggal semua, aku hidup sebatangkara, tanpa sanak tanpa keluarga dan tidak punya rumah, dendam sakit hati ayahku sampai sekarangpun belum sempat kutuntut balas."
Sudah lama persoalan yang merisaukan ini terpendam di dalam hati, belum pernah ia curahkan isi hatinya kepada orang lain, tapi sekarang setelah berjumpa dengan gadis yang polos dan lincah ini tanpa sadar semua kekesalan dan kemurungannya diutarakan seluruhnya.
Mendengar jawaban tersebut, mata Tian Wan-ji menjadi merah dan akhirnya tak tahan lagi air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya yang cantik jelita itu.
Begitulah perasaan manusia memang aneh.
Ada sementara orang yang telah bersahabat banyak tahun, tapi di antara mereka tak pernah saling mengutarakan isi hatinya, sebaliknya ada sebagian orang yang baru saja berkenalan, seluruh isi hatinya lantas di beberkan keluar.
Begitulah keadaan Tian Pek sekarang makin bicara semakin sedih hatinya hingga sukar dikendalikan lagi, dia lupa lawan bicaranya adalah seorang gadis yang belum lama dia kenal, seluruh isi hatinya diutarakan semua.
Sesaat itu kamar yang indah inipun se-akan2 dicekam suasana kemurungan.
Baru saja anak muda Itu selesai berkata, mendadak sesosok bayangan berkelebat masuk lewat jendela dan langsung menerjang ke depan Tian Pek dan mencengkeram lengannya.
"Siapa kau"
Dia menghardik.
"Apa hubunganmu dengan Tian In-thian?"
Tian Pek amat terkejut dan sebelum ia sempat berbuat sesuatu, tahu2 pergelangan tangannya telah dicengkeram orang, rasa sakit merasuk tulang la terkejut bercampur heran, ia tidak tahu darimana orang ini bisa mengetahui nama ayahnya, lebih2 tak tahu kenapa orang bersikap begitu kasar padanya.
Dengan cepat ia menengadah, ternyata orang yang mencengkeram tangannya itu bukan lain adalah manusia aneh berambut kusut dan berpakaian compang-camping yang dipangil paman Lui tadi.
Tian Pek adalah pemuda yang tinggi hati, semakin diperlakukan kasar, semakin ngotot ia mempertahankan diri, apalagi kalau ada orang hendak memaksa dirinya dengan kekerasan, sekalipun golok ditempelkan di atas kuduknya, tak nanti ia berkerut dahi ataupun mengedipkan matanya.
Demikian sekalipun cengkeraman paman Lui ini sangat keras bagaikan japitan baja sehingga membuat lengannya amat sakit bagaikan patah.
namun ia tetap tidak mengeluh atau menggubris.
mulutnya tetap terkatup rapat2 .
"Hayo bicara, siapa kau?"
Hardik paman Lui pula dengan secara lantang, matanya melotot dengan sinar tajam.
"Apakah engkau keturunan Tian In-Thian?"
Jelas sekali paman Lui sedang dipengaruhi emosi, tatkala mengucapkan pertanyaan tersebut, sepasang tangannya gemetar keras dan tanpa disadari tenaga cengkeramannya atas tangan Tian Pek pun bertambah berat beberapa bagian.
Rasa sakit merasuk ke tulang sumsum, apalagi luka parah yang diderita Tian Pek baru saja sembuh, berada dalam keadaan seperti ini, ia betul2 merasa tersiksa, hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri.
Sakalipun badannya kesakitan hebat, namun Tian Pek masih tetap mengertak gigi dan tutup mulut.
ia tak peduli apakah manusia aneh itu melotot bengis padanya, dia tetap bungkam dalam seribu bahasa.
Tian Wan-ji yang duduk di sampingnya jadi tak tega, apalagi setelah dilihatnya paras pemuda itu berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat sebesar kacang kedelai menghias jidatnya.
Di samping kasihan iapun merasa kagum, ia kagum atas kejantanan pemuda itu, sekalipun badannya tersiksa hebat dan sangat menderita, akan tetapi ia tak sudi mohon ampun, bahkan merintih pun tidak.
Timbul rasa tak senang hati atas sikap kasar paman Lui nya, segera ia berseru.
"Paman, hayo cepat lepas tangan! Coba lihat, tangannya yang kau cengkeram hampir patah, mana mungkin dia mau menjawab pertanyaanmu ?"
Biasanya paman Lui amat sayang kepada Wan-ji, segala permintaan gadis itu selalu dipenuhinya tanpa membantah namun sekarang paman Lui sama sekali tidak mengubris perkataannya, bahkan ketenangannya di hari biasapun lenyap.
Wan-ji makin mendongkol karena bukan saja paman Lui-nya tidak mengendorkan cengkeraman, malahan dengan sorot mata yang tajam dan penuh rasa kesedihan ia tatap wajah pemuda itu tanpa berkedip.
"Ooh ..In-thlan ....In-thlan ....benarkah Thian maha adil dan meninggalkan keturunan bagimu ....? Ah, dugaanku pasti tak meleset, memang engkaulah orangnya ....Ya, engkaulah orangnya ....aku Lui ......"
Dengan gemas paman Lui melototi Tian Pek, kemudian menengadah dan berkomat kamit seperti sedang berdoa dengan wajah serius.
"Aduh, celaka -..!"
Tiba 2 Wan ji menjerit.
"Hai, paman Lui ....paman Lui..lihatlah, dia telah mati ..."
Bagaikan baru sadar dari mimpi, paman Lui berpaling, ia lihat muka Tian Pek pucat pasi seperti kertas.
matanya terpejam rapat, napasnya kelihatan sudah berhenti.
Perlu diketahui, paman Lui ini seorang jago silat yang lihay di dunia persilatan, ketika Pek-Iek-kiam Tian In-thian masih hidup, mereka adalah saudara angkat yang erat sekali hubungannya.
seringkali mereka berkelana bersama dan entah berapa banyak perbuatan mulia yang mereka lakukan berdua .
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 2
Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 4