Hadiah Membawa Bencana 2

Eps 2 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.

Tauw Hun setelah mendapat perkenan dari atasannya, Hwe Pek It, baru berani masuk kalangan menghadapi si anak muda yang tenang-tenang saja kelihatannya.

Hwe Giok Soan berdebaran hatinya, karena ia tahu betul bahwa "Dua Setan dari Han yang‟ itu tinggi tenaga dalamnya dan telengas.

Dengan suara gugup ia berkata pada ayahnya.

"ayah, coba kau lihat Tiauw Hun sudah memusatkan tenaga di bahunya. Itu Li…"

"Hei, kau tak usah kuatir!"

Memotong ayahnya.

"Dalam Si leng cee banyak orang yang berilmu silat tinggi. Siapapun juga telah mengetahuinya. Kalau orang ilmunya tidak lebih tinggi dari mereka, mana berani memasuki Goa Harimau? Coba kau lihat mukanya Bo yong Tayhiap, dia kelihatan tenang-tenang 117 saja. Tiauw Hun bukan tandingannya Li Siauwhiap!"

Giok Soan menoleh pada Bo yong Kang siapa menyambut dengan senyuman tenang.

Matanya mengedipi seolah-olah isyarat supaya si nona tenang-tenang saja.

Baru hatinya Giok Soan sedikit legaan melihat Bo yong Kang begitu tenang.

Dengan aksi lompat-lompatan Tiauw Hun menyamperi Li Cong Bun.

Setelah menunjukkan sikap yang menyeramkan bagi orang-orang penakut, Tauw Hun berkata.

"Sahabat, kau boleh meyerang!"

Jilid 4

"Aku jauh-jauh datang kesini sebagai tetamu. Pribahasa mengatakan "

Naga Kuat Tidak Akan Menelan Ular Diatas Tanah‟, maka silakan Tiauw Hiocu menyerang!"

Tiauw Hun sangat gusar mendengar lawannya begitu menghina.

Segera serangan hebat yang mengandung angin santar dilancarkan.

Tetapi Li Cong Bun tinggal enak-enaknya saja berdiri tanpa bergerak untuk menangkis atau balas 118 menyerang.

Dengan sendirinya angin itu telah tertolak balik.

Tiauw Hun marah sekali, ia gunakan lengan bajunya yang seperti golok menyerang lawannya juga.

Seperti serangan tadi telah dikirim balik dengan tenaga tidak kelihatan.

Ia penasaran lalu mengeluarkan cakar setannya.

Secepat kilat menyerang pada dada Li Cong Bun.

Benar-benar sukar diukur kepandaiannya Li Cong Bun, sebab saat itu ia masih tenang-tenang saja, menganggap sepi serangan cakar setan musuhnya.

Diam-diam ia menyedot hawa dalamnya.

Ia meniup begitu cakar setan mau menyentuh dadanya.

Sungguh lucu sekali jari-jarinya Tiauw Hun yang kurus telah tertolak mundur begitu rupa sehingga yang menyaksikan kejadian itu terpesona.

Bo yong Kang menyaksikan keponakannya mempermainkan musuhnya tampak tersenyum-senyum.

Sebaliknya Pao Kun Peng matanya jelilatan bringas dan marah sekali.

Hwe Giok Soan dilain pihak ketika sadar dari ketegangannya lantas tepuk tangan bersorak.

"Hebat kau Li koko…"

Ia memuji penuh rasa girang.

Diam-diam ia mengakui kebenaran penglihatan sang ayah.

Sementara itu pertandingan tidak berakhir hanya dengan tiga jurus saja, tapi diteruskan sebab kalap oleh Tiauw Hun.

Sebentar saja mereka bergebrak sudah tiga 119 puluh jurus darimana sudah mengunjuk nyata keunggulannya di pihak Cong Bun.

Ia hanya main-main saja melayani Tiauw Hun tidak membalas menyeranag.

Setelah merasa cukup mempermainkan musuhnya, Li Cong Bun dengan tertawa berkata.

"Tiauw Hiocu, kita tidak bermusuhan satu dengan yang lain. Kita berhenti sampai disini saja bertanding. Anggaplah pertandingan ini tidak ada kalah dan menang."

Tiauw bukannya mengerti gelagat, sebaliknya ia telah mengirim serangan berantai dari tiga jurusan, atas tengah bawah.

Melihat lawannya tidak tahu diri, Li Cong Bun jadi mendongkol juga.

Ia pura-pura lengah, membuat Tiauw hun mengira kali ini ia berhasil akan menjatuhkan musuhnya, maka dengan tertawa ia berkata.

"Aku kira ilmu silatmu sangat tinggi, tidak tahunya kau mampus dibawah cakar si orang she Tiauw…!"

Ia sambil mengangkat tangannya sepuluh jarinya mencengkram berbareng pada bahunya Li Coang Bun.

Semmua orang kaget menyaksikan kejadian yang mengerikan itu kecuali Bo yong Kang tinggal tenang-tenang, Cuma alisnya tampak dikerutkan.

Li Cong Bun sendiri tenang-tenang saja ketika bahunya dicengkeram oleh Tiauw Hun.

120 Sebentar kemudian terdengar jeritan tertahan.

Orang menduga Li Cong Bun jadi korban, malah Hwe Giok Soan sudah mendekap mukanya dengan air mata berlinang.

Ketika orang pada membuka matanya lebar-lebar, ternyata yang rubuh dan menjerit tadi adalah Tiauw Hun yang rubuh pingsan.

Sepuluh jarinya mengeluarkan darah tidak henti-hentinya yang membuat penonton jadi terheran-heran.

Hwe Giok Soan tampak berseri-seri.

Lupa pada air matanya yang tadi berlinang-linang di pipinya yang montok boloh.

Tiauw Cian cepat menghampiri saudaranya yang menggeletak pingsan.

Ketika ia memeriks, ternyata kuku beracunnya sudah masuk-masuk ke dalam jarinya sendiri.

Ia segera keluarkan pil pemunah racun, diberikan kepada saudaranya untuk ditelan.

Bo yong Kang berdiri dengan suara keren ia omeli keponakannya.

"Bun jie, kau tidak memikirkan ringan dan beratnya turun tangan. Hwe Lengcu sudah menetapkan kalau kita mau bikin perhitungan adalah pada bulan tiga tanggal tiga tahun depan. Sekarang kau menggunakan ilmu yang menggetarkan sepuluh jari lawanmu sampai putus. Lain kali kalau kau menggunakan ilmu itu aku akan memberi hukuman padamu.." 121 Setelah mengomeli keponakannya Bo yong kang dengan merendah telah minta maaf pada Tiauw Cian atas perbuatan keponakannya tadi, akan tetapi Tiauw Cian unjuk muka kurang senang. Ia permisu pada Hwe Pek It untuk pulang menemui gurunya Kut jiu Cin jin dima aia dengan saudaranya akan melatih lagi ilmunya yang lebih tinggi. Kelak kemusian kalau sudah sempurna kepandaiannya akan datang lagi membantu Si leng cee. Hwe Pek It mau mengucapkan apa-apa tapi urung. Sebagai gantinya ia hanya menghela napas. Sementara itu Liau Cian sudah memanggil saudaranya keluar dari ruangan, sementara Li Cong Bun sudah balik lagi ke tempat duduknya semula. Pho Kun Peng penasaran tetapi wajahnya tenang-tenang saja.

"Bo yong Tayhiap, kalau kau tidak keberatan, aku ingin minta pelajaran darimu."

Katanya menantang tetapi dengan ketawa liciknya. Bo yong Kang sudah bangkit berdiri tapi dicegah oleh Hwe Pek It.

"Kita sudah berjanji akan membereskan perhitungan tahun depan, buat apa harus mengadakan onar lebih jauh. Harap Bo yong Tayhiap dan saute bersabar sampai waktunya pertemuan itu tiba. Tentu kalian akan merasa puas." 122 Bo yong Kang duduk lagi, sementara {ho Kun Peng makin tidak puas. Ia pura-pura memberi arak pada Bo yong Kang. Siapa mengira orang she Pho itu akan melancarkan serangan gelap dibalik kelakuannya yang hormat itu, akan tetapi ternyata Pho Kun Peng hanya main main saja. Hwe Pek It melihat keadaan sudah selesai. Hatinya sangat girang, maka ia minta tolong pada Hwe Siok Tang untuk membawa lengki (bendera perintah)menghantarkan tamunya itu pulang, agar dlam pernalanan tidak mendapat gangguan dari orang-orang Si leng cee. Siapa yang berani akan diberi hukuman berat. Hwe Siok Tang suka menerima tugas itu. Maka pada keesokan harinya dengan puterinya, Bo yong Kng dan Li Cong Bun minta diri pada Hwe Pek It. Mereka setelah menempuh perjalana sepuluh li, sudh wktunya mereka berpisah, akan tetapi kelihatannya mereka sangat berat. Betul perkenalan mereka hanya dalam waktu singkat saja, tapi dirasakan oleh mereka sudah meresap betul. Apalagi Hwe Giok Soan tampaknya sangat berat untuk berpisah dengan Li Cong Bun. Sepasang matanya yang jernih tampak kemerah-merahan seperti mau menangis.

"Bo yong laote,"

Kata Hwe Siok Tang.

"Kita bergaul hanya dalam tempo pendek saja, tetapi aku rasanya seperti kita sudah kenal puluhan tahun. Aku bertenu di tempat Hwe Pek 123 It beberapa kali saja lantas mengetahui dalam tangsinya banyak anak buahnya yang berbuat kejahatan. Siapa menanam bibit pasti akan mendapat buahnya. Inilah sudan menjadi hukum karma. Apalagi diantara para anak buahnya saling berebut kekuasaan. Kalau nanti ada musuh menyerbu dari luar, mudah sekali tangsinya dibikin hancur. Aku sudah memberu nasehat padanya supaya dia membubarkan saja orang-orangnya. Jangan sampai dia mendapat nama busuk. Entah apa nasehatku itu dia turuti atau tidak?"

Bo yong Kang tersenyum sambil angguk-anggukkan kepalanya.

"Li Siauhiap adalah seorang muda dengan kepandaian tinggi jarang ada tandingannya, maka dikemudian hari dia akan menjadi pendekar besar yang sukar diukur pepandaiannya, tapi Bo yong laote, hal apa sebenarnya yang menjadi dendaman Li siauhiap untuk menuntut balas kepada Ho Cong Bu? Kalau laote tidak berkeberatan aku merasa girang sekali mendengar. Siapa tahu si orang tua dapat digunakan tenaganya membantu pada kalian."

Kata pula Hwe Siok Tang dengan ketawa.

Bo yong Kang pikir orang tua dan puterinya itu adalah orang jujur dan bisa dipercaya memegang rahasia, maka ia tidak berkeberatan untuk menuturkan sebab-sebabnya permusuhan hingga si orang she Hwe yang mendengrnya angguk-anggukkan kepalanya 124 berkali-kali menghela napas.

Sementara nona Hwe Giok Soan nampak mengembeng air mata mengingat nasibnya Li Cong Bun yang kelilangan orang tuanya demikian rupa.

Meskipun sangat berat, akhirnya toh mereka telah berpisah setelah berjanji pada lain kesempatan mereka akan berjumpa kembali.

Bo yong Kang dan Cong Bun meneruskan perjalanannya dari propinsi San se lewat Ho lam masuk ke An hui dimana ada terdapat gunung Kim hoa san sarangnya si iblis bernama Si bun Pa.

ketika mereka tiba di bagian tengah propinsi tersebut mereka menjumpai satu telga dinamai Caoe cow yang indah pemandangannya.

Untuk menikmati pemandangan yang permai itu, Bo yong Kang dn Li cong Bun lewatkan sang malam menginap dalam sebuah rumah penginapan disitu.

Pada keesokan harinya, aman dan keponakan itu berjalan-jalan di sepanjang tepi telaga.

Mereka agaknya gembira sekali menyaksikan pemandangan yang menarik sekitar telaga itu.

Sedang asyiknya mereka puaskan matanya dengan pemandangan yang demikian meresap dalam hati tiba-tiba ada sebuah perahu yang berhenti di tepi telaga.

Dalam perahu itu ada dua orang tinggi besar tubuhya upah pemilik perahu.

125 Ketika melihat Bo yong Kang dan Li Cong Bun lewat di depannya, salah satu oang itu mennawarkan perahunya untuk dipakai jalan-jalan sekitar telaga.

"Siangkong,"

Katanya.

"Perahu ini bersih dan tersedia arak dan makanan untuk jalan-jalan berperahu sambil minum dan makan hidangan lezat. Cobalah!, bukannya kami hendak menyombongkan diri, tentu siangkong dan kongcu senang menaiki perahu kami yang lengkap segala-galanya dan juga murah sewanya…"

Bo yong Kang tertarik dengan tawaran itu.

"Bun jie, bagaimana pikiranmu kalau kita berperahu menikmati pemandangan telaga ini?"

"Itu baik sekai,"

Jawab Li Cong Bun. Bo yong Kng lalu berkat pada si tukang perahu.

"Biklah, kalian sediakan kami arak dan makanan untuk teman kami menikmati pemandangan alam!"

Bo yong Kang ajak Li Cong Bun lompat ke perahu itu.

Bereka ambil tempat duduk yang sudah tersedia.

Perahu juga lantas dijalankan ke tengah telaga.

Alangkah menarik dan gembira hati berperahu smbil menyaksikan pemandangan, sedang makanan lezat \dan arak ada di depan mata.

Li Cong Bun terkenang pada nona Giok Soan.

Dalam hari berpikir alangkah baiknya 126 kalau dia bersama-sama waktu ini, meniup serulingnya yang merdu.

Terpesona oleh pemandangan disitu maka Bo yong Kang suruh tukang perahu jangang mngayuh, biarkan saja sang perahu berumbang-ambing sendirinya.

Tidak jauh dari perahunya Boyong Kang nampak ada perhu kecil, dalam mana ada dua tetamunya yang kira-kira usianya empat puluh tahun dan lima puluh tahun.

Mereka juga tengah menghadapi hidangan yang disajikan oleh si tukang perahu.

Bo yong Kang melihat orang tuaan melihat ke jurusannya dan tersenyum sambil angguk-anggukkan kepala yang mana disambut olehnya sebagaimana mestinya.

Pada saat Bo yong Kang dan Li Cong Bun hendak menyerbu hidangan, terdengar orang di dalam perahu itu berkata.

"Ji wi, tolong perkenalkan nama kalian, besok di gunung Lo san yang letaknya di tengah-tengah telaga ini, ada pertandingan adu kepandaian yang hebat sekali.

Kalau kalian ada minat serta berani, sebaiknya datang menyaksikan adu kepandaian ini yang jarang terjadi.

Mendengar ada pertandingan adu silat, Cong Bun girang hatinya.

Sebelum susioknya menjawab pertanyaan orang tadi,ia mendahului.

"Aku she Li dan ini pamanku she Bo yong. Apa maksudnya kalian kalau ada hati berani menonton?" 127 Sementara itu Bo yong Kang sudah menanya pada dua pemilik perahunya, sebab apa tetamu di lain perahu berkata demikian rupa. Melihat matanya Bo yong kang yang tajam dan berkilat, mereka keluhatannya jerih, salah satu diantaranya memberi eterangan.

"Oh kalau begitu siangkong tidak tahu bahwa di gunung Lo san ad sepadang pendekar yang bermusuhan dengan kawanan dari rimba hijau dari propinsi An hui sebelah selatan. Besok dengan membawa kawan-kawannya masing-masing mereka akan berhadapan satu dengan lainnya untuk menyeselaikan permusuhan. Sudah tentu sesudahnya pertandingan yang hebat dan pasti ada mengalirkan darah karena golok dan pedang tidak mengenal kasihan. Karena banyak orang yang merasa ngeri dan tidak tega dan ngeri hatinya, maka harus orang yang berani hatinya baru dapat nonton pertempuran itu. Bo yong Kang manggut-manggutkan kepalanya, kemudian paman dan keponakan itu mulai dengan santapan yang dihidangkan. Bo ying Kang merasakan arak yang diminumnya itu enak maka minta kepada pemilik perahu berkan ia sebotol lagi untuk diminum di lain tempat. Pemilik perahu lalu mengambil dan berikan sebotol arak terisi di dalam porselen yang lebarnya panjang berwarna putih serta memberi keterangan bahwa arak itu buatan Lam leng ko yang dinamai "

Arak wangi nomor satu.

" 128 Bo yong Kang sambil tertawa membuka tutup botol arak itu lalu dituang kedalam cangkirnya. Maksudnya mau mencoba arak itu apa lebih enak rasanya dari arak yang ia sudah tenggak tadi. Siapa sangka begitu arak dari botol porselen itu masuk perutnya, dirasakn berdidih pans hingga Bo yong Kang sangat kaget.

"Racun!"

Ia mengeluh sambil menutup jalan darahnya supaya racun tidak menjalar.

"Bu jie, lekas keluarkan obat tanduk badak dingin! Aku terkena racun."

Li Cong Bu kaget bukan main, lalu memberi petolongan.

Orang yang memberikan arak tadi melihat Bo yong Kang melempar botol araknya denganmuka pucat duduk diam bersemedi, pikirnya racun dalam arak itu sudah bekerja dalam tubuhnya dan sebentar lagi si korban bakal binasa.

Lalu ia tertawa gelak-gelak.

"Ha..ha..ha.., kalian berdua berdosa pada Si leng cee, maka juga telah mendapatkan arak beracun. Kau anak kecil ini, setelah pamanmu binasa, sebentar kau akan merasakan sedapnya air telaga…"

Belum lampias omongannya tunuhnya orang itu telah terpental rubuh dengan menyemburkan darah segar dari mulutnya.

Sambil merangkak ia menyeburkan dirinya ke dalam telaga diikuti oleh satu kawannya pula yang jadi ketakutan setengah mati.

129 Ternyata Li Cong Bun saking marahnya sudah menghajar orang itu sebelum bicaranya habis.

Kemudian Li Cong Bun lalu gerus "Tanduk badak dingin‟ tadi.

Setelah dicampur air lalu diminumkan pad Bo yong Kang.

Orang tua yang berada di perahu kecil, juga mengetahui kejadian itu, maka ketika Cong Bun kebingungan perahunya dibikin bocor oleh kawannya orang jahat, lalu minta anak muda itu pindah ke perahunya.

Li Cong Bun tidak sngkan-sungkan lagi, maka ia kempit tubuh pamannya dibawa melesat melompat ke perahunya si orang tua tadi.

Juga pemilik perahu dari perahu kecil sudah tidak keluhatan batang hidungnya, rupanya sudah nyebur ketakutan.

Perahu kecil itu tampak kegertan ditumpangi oleh empat orang tetapi basih bisa berjaln tetap didayung oleh kawannya orang tua tadi.

Bo yong Kang setelah muntah-muntah mengeluarkan racun yang masuk dalam perutnya kelihatannya ada sedilit baikan ia membuka matanya dan menghela napas.

"Si leng cee betul-betul kejam dan telengas. Coba tidak ada obatnya supek, jiwanya tentu sudah melayang. Biarlah tahun depan dalam menepati janji kita ke gunung Cai Tiok san aku akan sapu bersih orang-orang Si leng cee itu." 130 Orang yang mudaan dalam perahu itu tertawa pada yang tuaan.

"Ia ini dandanannya seperti pendekar sinar jahat dalam arakmu. Syukur Tuhan telah menolong umatnya yang berhati baik."

Bo yong Kang mengawasi orang itu.

Ternyata ia adalah seorang Tosu muda.

Lalu pandangannya pindah pada orang yang tuaan.

Ia ini dandanannya seperti pendekar, sinar matanya bersorot tajam.

Dapat diduga tentu tenaga dalamnya hebat.

"Aku merasa berterima kasih atas perhatian jiwie telah memberi tempat kepada kami berdua. Bolehkah kami mendapat tahu nama jiwie yang mulia?"

Kata Bo yong Kang.

Tosu itu perkenalkan namanya.

Thauw Pang Tojin dan yang satunya Lam Thiam Gie.

Dalam omong-omong ternyata Thauw Pang Tojin sebetulnya diundang oleh tuan rumah dari gunung Lo san yaitu dua saudara Ko.

Perlunya untuk membantu tenaga menghadapi musuh-musuhnya persaudaraan Ko.

Lam Thiam Gie adalah seorang pendekar yang sudah mengasingkan diri.

Namanya terkenal di daerah Kang lam.

Kedatangan diditu adalah hendak menonton pertandingan adu kepandaian di gunung Lo san.

Dengan cara kebetulan Thauw Pang Tojin dan Lam Thiam Gie telah berkenalan dalam perjalanan, kebetulan satu tujuan, maka mereka telah jalan bersama-sama.

131 Setelah perahu dikayuh ke pinggir dan mereka pada naik ke daratan lalu berpisah, setelah berjanji besok hari mereka berempat akan berangkat sama–sama ke Lo san.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun setelah berada dalam rumah penginapannya lalu ia merundingkan kejadian yang barusan dialami.

"Menurut dugaanku,"

Kata Li Cong Bun.

"Perbuatan itu diatur oleh orang she Pho dari tangsi kalajengking. Ketika ia berada dalam perjamuan di ruangan Naga Emas di gunung Cui tiok san, aku melihat air mukanya Pho Kun Peng sangat membenci pada susiok. Apa susiok dengan dia ada punya permusuhan?"

"Aku sendiri juga merasa demikian adanya, tapi aku tidak kenal dengan Pho Kun Peng. Dari sebab apa dia hendak mencelakai diriku? Nah Bun jie, kini sudah tahu bahwa perjalanan kita telah diamat-amati oleh orang Si leng cee, maka selanjutnya kita harus lebih berhati-hati. Jangan sampai menemui kejadian seperti yang barusan kita alami. Malah itu tanduk badak kau harus jaga betul jangan sampai hilang."

Demikian pada keesokan harinya jam tiga sore Bo yong Kang dn Li Cong Bun pergi ke pinggir telag dimana sudah menunggu Tauw Pang Lojin dan Lam Thian Gie.

Mereka berempat lalu naik perahu menuku ke Lo san.

132 Tuan rumah dua saudara Ko bernama Ko Ching dan Ko chun telah menyambut dengan hormat atas kedatangan mereka dan diajak masuk ke ruang tamu.

Thiauw Pang Tojin menanyakan apakah masih ada orang yang ditunggu lagi sebagai kawan dan bagaimana duduknya persoalan sampai timbul permusuhan?.

Mendengar itu Ko Ching telah tertawa gelak-gelak.

"Soalnya ada kecil saja peristiwa itu."

Tutur tuan rumah.

"Dahulu ketika aku kebetulan lewat di propinsi An hui selatan aku menyaksikan perbuatan jahat dari si Martil Emas Ci Goan kepala dari Ci leng cee yang tengah merampok orang yang berjalan di tempat itu. Aku turun tangan mencegahnya, hanya waktu itu telah terjadi pertempuran aku dengan Ci Goan. Pertandingan telah berkesudahan seri, tetapi rupanya Ci Goan belum puas dan menetapkan malam ini ia akan menempur pula aku untuk mendapat kepuasan siapa yang lebih unggul. Karena di pihak Ci Goan ad membawa konco-konconya yang kuat, maka aku telah minta bantuannya pendekar pedang Touw Peng. Pikirku dengan bantuannya sudah cukup, tapi siapa tahu aku mujur dapat kunjungan Totiang sekalian…."

"Eh, siapa-siapa yang akan muncul di pihak musuh, apa sudah diketahui?"

Memotong Tiauw Pang Tojin. 133

"Menurut kabar, selain si Martil Emas Ci Goan, masih ada empat kawannya yang berkepandaian tinggi. Malah juga katanya ikut iru penjahat dari gunung Kui Hoa san Si bun…."

"Ow, penjahat Se bun itu bukan dimaksudkan si Iblis Beracun Se bun Pa? apa malam ini dia juga turut datang?"

Bo yong Kang menyelak."

"Menurut kabar sudah tujuh delapan tahun ini Se bun Pa sudah tidak aktif lagi dalam kalangan persilatan.

Tanpa seorangpun yang mengetahui dia sekarang ada dimana.

Yang aku maksudkan tadi adalah keponakannya yang bernama Se bun Ceng.

Menurut kaabar dia lebih lihai daripada pamannya.

Entahlah saudara ada punya perhitungan dengan Se bun Pa?"

Bo yong Kang tiba-tiba ingat akan bingkisan yang membawa bencana dari si orang she Se bun itu kegusarannya meluap tanpa disadari hingga sebuah meja menjadi korban hingga hancur berantakan kena dipukulnya.

Tapi segera ia merasa menyesal dan mohon maaf pada tuan rumah.

"Bo yong laote,"

Kata Lam Thiam Gie ketawa.

"Dari sebab apa kau begitu membenci kepada Se bun Pa? aku juga sangat benci pada manusia inblis beracun itu. Kalau benar dia yang datang, yang pertama maju melawan adalah aku sendiri. Aku tidak akan ampuni 134 jiwanya untuk hidup terus mencelakai sesamanya."

Sebenarnya Bo yong Kang tidak ingin memberitahukan persoalannya Se bun Pa itu, tetapi karena mendengar kata-katanya Lam Thiam Gie tadi maka ia lantas menceritakan duduknya perkara soal bingkisan maut yang membikin toakunya Li Hoay Bin melayang jiwanya.

Belum habis ia bercerita, mendadak munsul seorang berumur kira-kira empat puluh tahun berbaju hijau dengan tertawa nyengir telah menghampiri Kho Ciang dan Kho Chun dan berkata.

"Ci Goan Hweshio dengan kawan-kawannya malah penjahat dari Kui lo san juga sudah pada datang. Sebaiknya kita berlaku menurut peraturan kangouw, jika pergi menyambutnya.. Eh ada banyak tamu disini,harap toako tolong perkenalkan aku."

Ternyata orang itu adalah si Pendekar Pedang Touw Peng.

Ko Ching setelah memperkenalkan Touw Peng pada Tiauw Peng Tojin dan lain-lainnya lalu menyusul saudara mudanya yang telah keluar lebih dulu menyambuti.

Sementar tuan rumah pergi menjemput tetamu, maka Tauw Pang Tojin dan kawan-kawan dilayani oleh Touw Peng.

Tidak berapa lama lantas kelihatan masuk si Martil Emas Ci Goan Hweshio diiring kawan-kawnnya sepasang 135 jagoan dari Cin yang Beng Tian hong dan Thio It Ho serta Se bun Ceng.

Mukanya mereka bengis-bengis, tiada enak dilihat layaknya sangat sombong-sombong hingga memuakkan Bo yong Kang dengan kawan-kawan yang melihatnya.

Mereka kelihatan tidak memandang mata pada yang hadir di situ kecuali kapada tuan rumah.

Bang Thian Hong tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berkata kepada Ko Ching, Sahabat Ko, waktu dulu di perjalanan dalam propinsi Bu hui selatan kau sudah merugikan pada Ci Goan Taysu, kini baru dapat berjumpa kembali.

Kita orang-orang kangouw yang jahat dan baik memang tidak dapat bersatu seperti minyak dan air.

Kita tidak perlu kecocokan siapa salah siapa benar, kini kedua pihak sudah berhadapan, kekuatan dalah yang menentukan.

Tetapi sebelum kita bertempur, baik ditetapkan suatu syarat dulu, kalau pihak kami yang kalah kalian boleh berbuat sesukamu atas diri kami orang tetapi sebaliknya jikalau pihakmu yang pecundang, kau harus pindah tempat dan serhkan tempatmu ini, bagaimana apa kamu akur?"

Ko Ching berpikir sejenak, pihaknya ada lebih kuat, mengapa tidak berani menerima syarat yang diajukan oleh lawan? Maka dengan 136 hati mantap ia menjawab perkataan Beng Thian Hong.

"Aku sebenarnya hendak menghapuskan saja urusan kecil yang ditiup sekarang menjadi gajah, tetapi karena sahabat telah mengajukan syarat demikian yang tentu tak mungkin aku menolaknya maka aku terima baik dengan senang hati. Mari, marilah kita pergi ke lapangan tempat berlatih silat dimana kita boleh mencari kaputusan siapa lemah dan siapa kuat!"

Sambil berkata Ko Ching telah bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju ke lapangan tempat berlatih silat diikuti oleh yang lainnya.

Si Martil Emas Ci Goan Hweshio berjalan paling depan ia kelihatan tidak sabaran.

"Sahabat KO,"

Tiba-tiba ia berkata.

"Tempo hari kira bertempur di pegunungan Ci in san, belum ada keputusan. Maka hari ini kita mengadu tenaga paling sedikit lima ratus jurus baru puas."

Kho cin tertawa, sebelum ia menjawab, diampingnya terdengar ketawanya Li Cong Bun siapa menertawakan kesombongannya Ci Goan Hweshio alias si Martil Emas.

Si kepala gundul jahat adatnya berangasan maka melihat Li Cong Bun menertawakan bicaranya tadi lantas timbul marahnya seketika.

"Hei bocah, apa yang menyebabkan kau menertawakan aku?"

Bentaknya. Li Cong Bun tersenyum tenang-tenang saja.

"Loa Hweshio, benar aku tertawakan kau yang mau bertempur sampai lima ratus jurus tanpa kau mencar tahu bahwa dalam lima jurus saja martil ditanganmu dapat dibikin terbang."

"Anak haram!"

Bentaknya bengis.

"Kau jangan berkata yang gila-gila, kalau dalam lima jurus kau bisa bikin terbang martilku namanya Ci Goan boleh dicoret saja dari dunia kangouw!"

Li Cong Bun minta ijin dari Bo tong Kang untuk mewakili tuan rumah siapa melihat suasana sudah panas begitu telah menganggukkan kepalanya.

"Bun jie, sebenarnya dalam pertandingan ini tuan rumah yang seharusnya turun tangan, tapi setelah kau iseng mulut hingga membuat Ci Goan Taysu marah mau tidak mau kau harus layani padanya. Pesanku jangan sembarangan melukai orang dan sekali-sekali jangan tonjolkan ilmu kita yang sejati! Nah pergilah kau layani dia!"

Li Cong Bun dengan berseri-seri masuk lapangan dan menghadapi Ci Goan yang sudah sedari tadi menantikannya dengan tidak sabaran. Sambil menjura Li Cong Bun berkata.

"Toa Hwesiao, kini kita sudah berhadapan.

Barusan 138 aku katakan dalam lima jurus martilmu sudah dapat terbang.

Aku akan pegang janjiku itu.

Andaikata aku menyimpang dari kesanggupanku, aku nanti minta maaf padamu dan membikinkan laagi senjata martilmu itu supaya menjadi dua pasang.

Tapi ingat, kalau omonganku terbukti, kau harus meninggalkan gunung ini dan menyekap diri dalam kuil benar-benar menjalankan tanganmu sebagai orang suci, membaca kitab dan menjadi seorang peramah…."

"Kentut busuk!"

Memotong Ki Goan. Selagi enaknya Li Cong Bun ngoceh seolah-olah tidak memandang mata sekali kepad kepala dari tangsi Si leng cee yang namanya sudah terkenal dalam kalangan kangouw.

"Kau enak saja ngoceh apa hudyamu dapat mengampuni omongan kosongmu yang sangat menghina itu? Kau lihat, sebentar hudyamu akan bikin kau menangis tersedu-sedu minta netek.. ha..ha..ha..!"

"Toa Hweshio, kau jangan bergurau. Kau jangan terlalu kejam. Kalau begitu aku tidak jadi melawan kau!"

Li Cong Bu pura-pura seperti yang jerih dan hendak mundur lagi ke luar lapangan.

"Mau kemana?. Ha..ha..ha! sebelum kepalamu berkenalan dengan martilku, mana dapat leluasa kau keluar lapangan. Sebentar lagi setelah kepalamu hancur baru boleh keluar digotong oleh kawan-kawanmu!" 139 Ci Goan Hwwesio berkata dengan jumawa sambil menghadang di depan Li Cong Bun.

"Kalau kau memaksa juga berkelahi, apa boleh buat, narilah!"

Li Cing Bun berkata dengan tenang-tenang saja sambil balik lagi ke tempat berdirinya tadi.

Orang banyak yang menonton kelakuan dua orang itu terheran-heran, malah ada yang merasa kuatir bahwa si anak muda yang telah mengeluarkan perkataan sombong akan menjadi korbannya martil emas dari Ci Goan Hweshio yang besar.

Tapi Bo yong Kang sikapnya acuh tak acuh.

Kadang-kadang tersenyum geli melihat keponakannya mempermalukan lawannya.

"Tiga puluh tahun aku malang melintang dalam kalangan kangouw. Belum pernah menerima hinaan hebat seperti aku terima sekarang dari kau. Anak celaka, jangan sombong, jaga seranganku yang pertama!"

Seiring dengan katanya, Cie Goan Hweshio telah melakukan serangan dengan gaya gledek menggetarkan benda semua.

"Twa Hweshio, tungu dulu!"

Kata Li Ceng Bun sambil engoskan serangan Cie Goan.

"kau mau apa lagi? Sudah tidak ada waktu untuk bicar. Lekas kau bersiap-siap untuk menerima seranganku!"

Kat Cie Goan dengan sikap memandang rendh sekali. 140

"Bukan begitu."

Jawab Li Cong Bun sambil nyengir.

"Dalam jurus itu aku bagibagi. tiga jurus aku menghindari seranganmu tanpa balas menyerang dan yang dua jurus lagi aku balas menyerang sampai senjata terlepas dari tanganmu, akur?"

"anak gila, kesombonganmu ini akan berakinbat pecahnya kepalamu!"

Teriak Cie Goan Hweshio yang sudah menjadi amat marah dan panas sekali hatinya oleh omongan omongan Li Cong Bun yang diucapkan dengan ramah tamah tapi menusuk sekali ke ulu hatinya.

Penonton yang mendengar bicaranya Li Cong Bun pada geleng-geleng kepala.

Sebagian menyangka Li Cong Bun sudah jadi gila dan tidak tahu bahaya, sebab Cie Goan Hweshio itu dengan senjata sepasang martil emas telah malang melingtang puluhan tahun dalam dunia kangouw dan jarang menemukan tandingan.

Lebih gila lagi masas Li Cong Bun di lapangan dengan membawa secangkir ait the, entah apa itu maksudnya, penonton menghadapi teka-teki.

Dengan hati berdebar-debar mereka menggikuti perkembangan lebih jauh.

Boleh kau ulangi seranganmu yang barusan kita anggap saja tak jadi!

mengejek Li Cong Bun, sehingga saking panas hatinya dan sangat marah.

Cie Goan rasakan perutnya 141 mulai meledak.

"Anak sombong, kau lihat seranganku!"

Benar saja Cie Goan mengulangi serangannya dengan dahsyat.

Dengan martil di tangan kana dan kirinya ia menyerang dengan sekuat tenaganya.

Tapi ia heran sekali serangannya itu seperti tertolak balik oleh tenaga dahsyat yang tidak kelihatan maka sengannya itu berhenti separuh jalan.

Ia melihat lawannya masih enak enakan saja sambil memegang cangkir araknya berdiri berseri-seri.

Ia kemalu-maluan, tapi ia tidak percaya anak muda itu mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali, maka ia lalu ubah serangannya.

Kali ini ia gunakah gaya menyapu ribuan tentara dengan senjata melintang ke arah pinggang lawan.

Tangan kirinya yang memegang martil mengirim pukulan miring.

Kali ini kalau Li Cong Bun dapat menghindarkan dirinya ia akan susulkan tipu pukulan "Senjata martil mengetarkan gunung dan sungai‟ pasti anak muda itu tidak bisa loloskan diri.

Siapa nyana selagi Cie Guan melancarkan serangannya, entah cara bagaimana ia bergerak, tahu-tahu Li Cong Bun sudah ada di belakangnya sambil tertawa berkata.

"Toa Hweshio, masih ada tiga jurus lagi. Harap kau baik-baik memegang erat senjata 142 martilmu. Aku kasihan maka aku beri peringatan terlebih dahulu…"

Cie Goan kertak gigi saking sengit. Lawannya ada demikian licin untuk dijatuhkan. Lalu ia menggunakan tipu pukulan "

Membalikkan badan memukul haruimau‟ secepat kilat ia putar tubuhnya dan sepasang martilnya yang diputar mengeluarkan angin menderu telah menyerang lagi ke pinggangnya Li Cong Bun.

Tetapi anak muda itu sangat gesit.

Sambil menepuk sepasang senjata martilnya, lawannya mencelat ke udara dan meluncur turun sejauh beberapa tombak dari lawannya.

Cie Goan bengong sejenak.

Ia rasakan tangannya gemetar seperti ditekan oleh benda yang beratnya ribuan kati ketika ditepuk oleh Li Cong Bun.

Menggunakan kesempatan Li Cong Bun belum berdiri betul dari meluncur turunnya tadi Cie Goan telah kirim serangannya yang dahsyat.

Ia sudah perhitungkan kebiasaannya si anak muda akibat serangannya paling belakang itu maka juga ia membentak.

"Anak celaka, kau belum juga menyerah kepada hudyamu…?"

Tapi Li Cong Bun yang sudah perhitungkan serangan Cie Goan, dengan tidak gugup telah menotolkan kakinya di tanah, badannya berputar, entah bagaimana tahu-tahu satu martilnya Cie Goan telah terbang ke udara.

Kemudian sambil tertawa-tawa Li Cong Bun 143 telah melesat dan mengambil pulang martilnya itu.

Cie Goan terpesona oleh gerakan gesit luar biasa dari si anak muda, tiba-tina ia mendengar Li Cong Bun berkata di depannya.

"Toa Hweshio, kau rupanya banyak bergerak, makanya mukamu menjadi merah. Nah terimalah air teh dari aku untuk menghilangkan hausmu..!"

Seiring dengan perkataannya iamengerahkan tenaga dalamnya.

Air teh dalam cangkir yang dipegangnya sedari tadi bertempur setetespun tidak tumpah seperti seutas tali meluncur kearahnya Cie Goan Hweshio.

Bukan main kagetnya si kepala gundul dikira Li Cong Bun menyalurkan tenaga dalamnya ke air teh hendak melukai padanya.

Tetapi kenyatannya ia tidak merasa terluka ketika disiram air teh tadi.

Cuma saja perlahan-lahan ia tidak tahan karena kedinginan sampai menggigil.

Saat itu sudah empat jurus lewat hasil apa-apa, tidak heran kalau hatinya Cie Goan Hweshio menjadi cemas, malu dan gelisah.

Diam-diam ia kerahkan tenaga dalamnya dan melancarkan serangan terakhir dengan senjata martilnya yang hanya satu lagi.

Tapi gagal.

Mudah saja Li Cong Bun menangkis dengan senjata martil yang ia bikin terbang tadi dan kini martil kedua juga telah ia bikin terbang keudara.

"Bagaimana Toa Hweshio?"

Tanya Li Cong Bun sambil tertawa.

Dengan mata melotot bengis ia mengawasi Li Cong Bun sejarak jauh juga dri padanya.

Ia membisu mendengar tegurannya si anak muda, tetapi diam-diam merasa malu dipermainkan Li Cong Bun di depan orang banyak membuat ia sangat kesal.

Ia yang biasanya kepala besar tidak takut sama siapa saja, kini dijatuhkan mentah-mentah dalam lima oleh seorang muda yang pantas menjadi cucunya.

Ia kertakkan gigi, matanya berputar buas, tapi ia tidak berdaya untuk melawan lagi musuhnya terlalu tinggi kepandaiannya dibandingkan dengan dirinya.

Setelah ia menghela nafas, mendadak rasakan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang dan sebentar kemudian sudah jatuh pingsan….

Dengan sepadang martil emas ditangannya, Li Cong Bun berkata.

"Toa Hweshio, kita hanya bertanding main-main saja, kenapa kau sampai taruh di hati? Baiklah hih aku kembalikan sepasang senjata martil emasmu yang kau banggakan…."

Li Cong Bun melontarkan martil itu persis menimpa kepalanya si kepala gundul yang lupa orang tidak ampun lagi otaknya menjadi berarakan dan jiwanya seketika itu juga 145 telah melayang menghadap Giam lo Ong atau Raja akherat.

Li Cong Bun merasa bersalah atas perbuatannya tadi, maka ia tidak berani memandang wajah Bo yong Kang.

Ia lalu duduk pula di tempatnya.

Di sekitar lapangan tempat berlatih silat itu dipasangi kursi tempat orang menonton mereka yang menyaksikan kemenangan Li Cong Bun yang begitu mudah dari si penjahat terkenal semuanya pada geleng kepala dan hampir tidak percaya kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Ko Ching lalu perintahkan orangnya untuk mebereskan mayatnya Cie goan Hweshio.

Diam-diam ia girang atas kematian musuhnya yang galak itu dan ia sangat berterima kasih kepada Li Cong Bun tetapi ia tidak berani mengucapkan itu secara terang-terangan didepannya orang banyak.

Demikian martil melayang jiwanya turut melayang.

Melihat kawannya mati konyol Tho It Ho bangkit dari duduknya menghampiri Li Coang Bun dan berkata.

"Sahabat Li, usiamu begini muda, tetapi kau sangat telengas. Cie Goan Taysu tak dapat memandangi kau malah kena dipermainkan, tapi kau masih tega untuk membinasakan jiwanya secara kejam. Aku si orang she Tho ingin meminta pelajaran dari 146 kau maka hunuslah pedang yang digembok di pinggangmu itu."

Tho It Ho tantang sambil cabut sepasang Poan koan pit senjata semacam alat tulis.

Biasanya senjata ini khusus untuk dipakai menotok jalan darah yang berbahaya.

Si pendekar pedang Touw Peng melihat Tho It Ho mau turun tangan merasa kuatir Li Cong Bun yang berusia muda kena diperdaya.

Ia tahu betul ilmu silat Tho It Ho tinggi maka sengaja ia juga bangkit dari duduknya dan datang menyelak, katanya.

"Shabat Tho, kau tak usah menyalahkan Li siauwhiap, semua orang telah menyaksikan dia melemparkan senjata bukan disengaja hendak membinasakan Cie Goan Taysu, secara kebetulan lantaran nasibnya Cie Goan Taysu mesti mati ketimpa martilnya sendiri bolehnya lemparan itu justru tepat mengenai kepalanya hingga jiwanya binasa."

"Kau hendak membela anak telengas itu?"

Tho It Ho memotong.

"Ha.. ha..ha."

Souw Peng tertawa.

"Aku bukannya membela, tapi aku kemukakan hal yang benar. Maka kalau kau penasaran kau boleh mainkan senjata Poan koan pit untuk menempur pedangku. Aku tahu senjatamu itu sudah mendapat nama harum, senjatamu ampuh, tapi aku si orang si Touw kepingin coba-coba sampai dimana keampuhannya." 147 Thio It Ho tertawa gelak-gelak ketika melihat Touw Peng menghunus pedangnya.

"Mari, mati.. kita boleh coba-coba..!"

Serunya.

Kemudian tidk sungkan-sungkan lagi ia telah menerjang pad Touw Peng dengan senjat poan koan pit nya.

Dengan tenang Touw Peng memainkan pedngnya.

Serangan-serangan dilancarkan oleh Thio It Ho dengan tidak mengenal kasihan selalu ditujukan pada orang punya jalan darah yang berbahaya.

Tetapi ternyata Touw Peng adalah seorang ahli pedang yang ulung.

Bagaimana juga Thio It Ho ngotot, semua serangannya tidak ada satu yang masuk dan mengenai sasarannya.

Dengan begitu, pertandingan segera sudah melewati lima puluh jurus.

Tiba-ting Touw Peng merubah taktik serangannya yang membikin Tho It Ho bingung.

Belum berapa lama dengan tipu serangan Musim semi tiba-tiba mengusir awan, Touw Peng berhasil membikin senjata Poan koan pit terbang dengan satu sontekan yang manis sekali dengan ujung pedangnya.

Tho It Ho jadi bengong.

"Sahabat, baik aku mengalah"

Kata Touw Peng berbareng ia loncat dari kalangan pertempuran, balik ke tempat duduknya semula.

Tho It Ho amat malu senjatanya dibikin terpental oleh sontekan pedangnya musuh.

148 Juga bajunya sobek di bagian dadanya.

Ia mengetahui musuhnya tidak menghendaki jiwanya.

Sebab kalau tidak, dadanya sudah ditembus oleh pedang lawan.

Dengan muka merah menahan malu ia mundur teratur.

Ko Ching lihat dalan pertempuran lima kali, sudah dua kali peroleh kemenangan, hatinya bukan main girang, maka denganmuka berseri-seri ia menyambut Touw Peng.

Dilain pihak So Bun Ceng, keponakannya Se Bun Pa yang mukanya menyeramkan seperti kokok beluk, sambil menggoyang-goyangkan kipasnya bangkit dari duduknya menghampiri Touw Peng.

"Sahabat Touw, jangan lari dulu. Masih ada kau Se Bun Ceng yang ingin minta pelajaran dari ilmu pedangmu Naga Terbang yang hebat. Mari, mari maju lagi!"

Ia menantang seraya berjalan masuk ke kalangan pertempuran.

Ko Chiu Kun sebagai tuan rumah merasa tidak enak kalau terus menerus mengandalkan kekuatan tetamunya maka Ko Chun cepat mengalangi Touw Peng menjawab tantangannya Se Bu Ceng.

"Shabat, kalau kau sudah kegatalan untuk bertempur aku Ko Chun dapat melayanimu untuk beberapa jurus…."

Ko Chun yang beralias Si Naga Perak, umurnya baru tiga puluh tiga tahun,ia pandai 149 memain di air dan telah menyiapkan ilmu berenang tersendiri.

Ia orangnya jujur.

Tidak suka unjuk kelakuan jumawa.

Ko Ching berpendapat bahwa, diantara empat lawannya yang datang ke sarangnya adalah Se Bun Ceng yang sangat dikuatirkan.

Justru kini ia dilayani oleh adiknya.

Ia tidak bisa menghalang-halangi maksud adiknya itu.

Maka apa boleh buat, ia tinggal diam, tapi ia waspad dan pasng mata.

Sewaktu-waktu sang adik dalam bahaya ia akan memberikan bantuannya.

Seperti juga dengan Sa Bun Pa, pamannya Sa Bun Peng tidak mempunyai kepandaian silat tidak begitu mahir.

Tidak heran kalau dalam sebantaran saja ia telah terkurung oleh angin pukulannya Ko Chun.

Tapi Se bun Ceng masih ketawa-ketawa saja.

Ia seperti mempunyai andalan unguk merubuhkan musuhnya.

Bo yong Kang yang melihat kelakuannya So bun Ceng hatinya tercekat.

Ia berkata pada Lam Thiam Gie, Lam toako, aku luhat gerak gerik Se Bun Ceng itu seperti mengandung maksud keji, apa tidak baik aku turun tangan menangkapnya untuk menanyakan dimana adanya Se Bun Pa..?"

"Saudara Bo yong,"

Jawab Lam Thiam Gie, sudah delapan tahun aku mencari-cari Se bun Pa, tapi belum tau dimana dia ada bersembunyi.

Jangankan keponakannya, anaknya sendiri tidak mengethui ayahnya ada di mana.

150 Untuk menangkap iblis tua itu,tak usah kau turun tangan, biarlah aku…."

Bicara Lam Thiam Gie berhenti karena ia mendengar teriakan ngeri dari Ko Chun siapa kelihatan sudah rubuh meloso tidak ingat orang.

"Ahh penjahat ini amat kejam, terpaksa kau melanggar pantangan membunuh yang sudah tiga puluh tahun lamanya."

Berbareng tubuhnya Lam Thiam Gie melesat tinggi seperti burung terbang dan turun di kalangan pertempuran setelah badannya berputar dua kali.

Tepat saat itu Sa Bun Ceng selagi hendak menamatkan jiwanya Ko Chun serangannya dapat ditangkis oleh Lam Thiam Gie, Ia gusar sekali.

Dengan mata mendelik ia menyerang Lam Thiam Gia, tapi ia bukan tandingan orang she Lam karena dalam pertandingan segebrakan pertama saja kedua bahunya sudah dirasakan kesemutan kena totokan.

Ketika ia mau melompat melarikan diri, terlambat karena totokan dari jarak jauh menyusul dan ketika itu juga Se bun Ceng lemas badannya rubuh dengan keluarkan rintihan memohon dikasihani.

Pertandingan Ko Chun dan Se bun Ceng sebenarnya menguntungkan yang tersebut duluan.

Sse bun Ceng didesak terus, serangan berantai dilancarkan begitu hebat hingga orang she Se bun menjadi terdesak.

Apa mau 151 dikata mendapat kesempatan baik Ko Chun mmengirim totokannya.

Jarinya dismbut oleh jarum beracunnya Se bun Ceng.

Tidak ampun lagi ia jadi gemetaran, kemudian rubuh pingsan setelah mengeluarkan teriakan yang menyayat hati.

Ko Ching ketika menghampiri adiknya dan mendapat kenyataan telah menghembuskan napasnya yang penghabisan, bukan main sedihnya.

Ia menjadi kalap dan hendak menyerang Se bun Ceng.

Tapi musuh ternyata telah dirubuhkan oleh Lam Thiam Gie.

Sepasang jagoan Cin yang nampak turun ke lapangan menghampiri Se bun Ceng.

Selagi merasa repot memberikan pertolongan, tiba-tiba Lam Thiam Gie berkata kepada mereka dengan suara sungguhan.

"Lohu, di Kanglam sudah tiga puluh tahun mentaati ppantangan membunuh, berjanji tidak akan melakukan pembunuhan lagi, akan tetapi lohu melihat kekejamannya Se bun Ceng merasa amat gemas dan lupa akan janji itu.

Dengan ilmu totok ,Sentilan Jari Sakti‟ lohu telah menotok jalan darahnya yang terpenting.

Dalam tempo tujuh hari pasti dia akan memuntahkan darah hitam dan terus binasa.

Dalam pertandingan ini kalian sudah kalah.

Nah bawalah pergi kawan-kawan kalian yang mati dan setengah mati.

Lohu harap kalian selanjutnya dapat merubah perbuatan-152 perbuatan jahat yang sudah-sudah untuk kembali untuk menjadi orang baik-baik.

Beng Tiang Hong dan Tho It Ho tak menjawab apa-apa, dengan hanya anggukkan kepala sebagai tanda pamitan mereka telah bawa pergi mayatnya Ci Goan Hweshio dan Se bun Ceng yang dalam keadaan empas-empis mau mati.

Ko Ching tahu bahwa dengan mengandalkan hanya bantuan si pendekar Pedang Touw Peng, tidak mungkin dapat menundukkan musuhnya yang tangguh.

Ia bersyukur telah mendapat bantuannya Li Cong Bun dan Lam Thiam Gie, maka meskipun hatinya berduka oleh karena kematian sang adik, tak luput ia mengadakan pesta untuk menghormati para tamunya yang sudah mengeluarkan tenaga membantu padanya.

Ketika perjamuan akan berakhir, Bo yong Kang menegur keponakannya.

"Bun jie, tempo hari kau bertanding dengan Tiauw Hun di ruangan Naga Emas, kau telah mematahkan cakarnya. Aku menyesal kau telah mengeluarkan kepandaian kita yang sejati. Sebab lantaran ini, maka Pho Kun Peng telah mengatur orang-orangnya untuk mencelakakan kita terus-terusan. Tadi kau bertanding dengan Ci Goan, kau berada di atas angin dan mempermainkannya. Coba kau tanya pada dirimu sendiri, apakah kau tak merasa menyesal dengan perbuatanmu itu? Lain 153 kali aku harap kau jangan berbuat demikian lagi…!"

Li Cong Bun mendengar teguran pamannya, tak bisa menyahut, hanya tundukkan kepala merasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya.

Thouw Peng Tojin yang menyaksikan kelakuan dan ilmu silatnya Li Cong Bun yang tinggi diam-diam memuji dn merasa suka terhadap pemuda itu.

Kini melihat Li Cong Bun tidak mempunyai perkatan untuk menjawab teguran sang paman ia lalu menyela .

"Oh itu Tiauw Hun adalah salah satu dari Dua Setan dari Ham yang,"

Yang terkenal kejahatannya.

Kalian berdua sudah dapat menjatuhkan padanya, lagian itu kejadian dalam tangsi Si leng cee di Cui tiok san yang merupakan tempat berkumpulnya gembong gembong jago silat.

Benar-benar aku sangat memuji.

Aku mendengar kabar kalian akan menetapkan janji akan tampil kesana untuk mengadakan perhitungan, entah waktunya itu kapan?

Aku meskipun tidak berkepandaian tinggi, tapi ingin turut serta kesana untuk ikut membasmi kawanan penjahat yang menyusahkan rakyat itu."

Kam Thiam Gie dan Ko Ching mendengar kata-kata Thauw Pang Tojin tadi, mereka juga telah mengajukan diri untuk ikut membantu perjuangan membasmi penjahat itu.

Bo yong Kang sangat girang mendengar tiga tokoh kuat 154 dalam dunia persilatan itu mau membantu padanya, justru ia memang ada kekurangan pembantu.

Ketika mereka mohon diri dari tuan rumah, ternyata telah ditahan oleh tuan tumah yang menyatakan rasa kurang puasnya berkumpul hanya sebentaran lantaran mana mereka jadi tinggaldi gunung Lo san lagi dua hari barulah mereka berpamitan pada tuan rumah, yang mengantar mereka dengan mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuannya menghadapi musuh-musuhnya yang kuat.

Thauw Pang Tojin karena sudah lama merantau maka ia harus pulang dulu ke Bu Tong San, sedangkan Lam Thiam Gie karena sedang merantau tanpa tujuan, telah mengikuti perjalanan Bo yong Kang dan Li Cong Bun menuju ke bagian selatan.

Sebagai jago tua yang sudah ulung dalam perantauan, maka sepanjang jalan yang dilalui Lam Thiam Gie telah memberi banyak petunjuk tentang keadaan di suatu tempat hingga membuka matanya Bo yong Kang dan Li Cong Bun yang kurang pengalaman.

Bertiga sepanjang jalan kelihatan amat gembira bercakap-cakap dan satu dengan lainnya saling menertawakan pengalamannya.

Pada hari ketiga, karena gembira menikmati pemandangan alam yang permai sampai lupa bahwa sang siang telah ditukar dengan sang malam.mereka buru-buru mencari rumah 155 penginapan.

Apa mau dikata, meskipun perjalanan sudah dipercepat, masih belum nampak keluar dari pegunungan dan ketemukan salah satu rumah-rumah penginapan.

Selagi asyik mereka berkuda tiba-tibaLi Cong Bun hentikan kudanya.

Sambil menunjuk ke pinggir jurang ia berkata.

"Bo yong susiok, coba lihat pada pinggiran jurang itu yang banyak pohon siong aku lihat seperti ada yang bunuh diri dengan menjerat lehernya…"

Seiring dengan kata-katanya, ia mengeluarkan sebuah biji catur dan menyentilkan mengenai dengan tepat mengenai tali yang menjerat leher si korban hingga jatuh di tanah itu.

Jilid 5 Cepat–cepat mereka menghampiri.

"Cong Bun, kau jangan sembarangan meraba mayat itu!"

Kata Bo yong Kang ketika melihat keponakannya dengan cepat mau memeriksa tubuh si korban.

Li Cong Bun mundurkan diri.

Bo yong Kang dan Lam Thiam Gie yang maju menghampiri dan memeriksa keadaan si korban.

"Astaga…! Bukankan ini adalah Tho It Ho?"

Seru Lam Thiam Gie kaget. 156

"Betul dia, siapa yang telah mengambil jiwanya?"

Sahut Bo yong Kang.

Dilihat dari keadaannya Tho It Ho sudah mati lama.

Sebelum digantung, ia telah kena racun lebih dulu.

Rupanya dari tujuh lubang pada badannya ada mengalirkan darah, sungguh kematian itu ada mengenaskan.

Mereka lama memeriksa dulu disekitarnya kembali telah mendapatkan mayatnya Beng Thian Hong dalam keadaan seperti dirinya Tho It Ho.

Dengan begitu Ciu yang Siang si telah menjadi tamat riwayatnya.

"Ini bukan lain tentu ada perbuatannya si iblis berbisa Sa Bun Pa!"

Kata Lam Thiam Gie dengan suaaara gemas.

Bo yong Kang menghela napas, ia ingat akan bingkisan maut yang dikirim oleh Se Bun Pa lebih dulu ia ketemu seorang yang menjerat lehernya hendak bunuh diri.

Setelah ditolong si korban mengatakan bahwa ia membunuh diri karena jinsom istimewanya yang hendak dihadiahkan kepada Li Hoay Bin telah dirampas oleh orang.

Ketika ia mengubar dan merampas balik bingkisan jinsom itu dari seorang yang berkedok dan berpakaian hitam ternyata isinya bukan jinsom… ia ada bingkisan maut yang membikin Li Hoay Bin jago Bwe Hoa Kiam telah melayang jiwanya.

157 Mengingat akan pengalamannya sendiri itu maka Bo yong Kang barusan telah teriaki keponakannya supaya jangan sembarangan memeriksa mayat si korban.

Melihat Bo yong Kang berdiri bengong Lam Thiam Gie lalu berkata.

"Ah aku dengan Se bun Pa dulu ada hersahabat baik pada sepuluh tahun berselang kita berbalik menjadi musuh besar. Tentang perbuatannya yang begini macam benar-benar ada diluar dugaan orang. Mungkin karena melihat keponakannya mendapat luka karena diajak mereka, Se bun Pa menjadi gusar dan membunuh mereka dengan racunnya yang sangat berbisa. Oh,sungguh kejam…!"

"Ya, memang penjahat itu harus disingkirkan dari dunia..!"

Jawab Bo yong Kang dengan suara gusar dan gemas sekali.

"Sayang aku tidak bisa ketemu padanya, kalau bisa aku ingin makan daging belah tubuhnya benjadi delapan potong dengan pedangku ini. Barulah aku merasa puas dan rohnya Toako di dunia baka niscaya akan merasa puas dan tenteram. Sayang seperti yang Lam toako katakan. Orang itu sangat sukar ditemukan!"

Dalam perjalanan selanjutnya, Lam Thian Gie ada ajukan pertanyaan, apakah suhu Bo yong Kang dan Li Cong Bun ad bernama Bo Ju Toato yang tinggal di Heng san?

Mereka tidak mau sembarangan menyebutkan suhunya, maka keduanya telah alihkan 158 pembicaraan ke soal lain.

Setelah memberikan jawaban yang kurang terang.

Demiianlah, ketika melewati puncak gunung, telah menemui sebuah kuil.

Meskipun tidak besar, tapi klenteng itu sangat indah rupanya.

Diatas pintu masuk ada tertulis "Kim Kin Sie‟.

Lam Thian Gie menghampiri dan mengetok pintunya.

Tidak lama seorang hweshio telah membukakan pintu dan menanyakan maksud kedatangan tiga orang itu.

"Kami bertiga telah kemalaman di tengah perjalanan, maka mohon pertolongan suhu memberikan tempat mondok untuk kami melewati sang malam. Besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan."

Kata Thiam Gie sambil menjura. Diluar dugaan hweshio itu sangat ramah-tamah.

"Sien sekalian mendapat kesusahan tempat mondok, sudah tentu pinceng tidak keberatan memberi tempat. Sebenarnya kalian dari mana malam-malam masih berkeranan di pegunungan yang sunyi ini?"

Lam Thiam Gie memberi alasan yang masuk diakal, katanya lagi mencari sahabat karibnya tapi sebelum ketemu sudah kemalaman di jalan dan mau mencari rumah penginapan tidak dapat maka terpaksa minta pertolongan kepada yang huni kuil.

159 Setelah menambatkan kudanya di belakang kuil, Bo yong Kang bertiga lalu mengikuti hweshio tadi dibawa ke sebuah kamar yang letaknya tidak jauh dengan kuda-kudanya ditempatkan.

"Nah, sie sekalian boleh mengaso di sini."

Kata si hweshio.

"Aku mengerti tentu kalian sangat lapar, maka sebentar aku akan suruh orang hangati hidangan untuk penahan lapar. Nah pinceng pergi dulu."

Si hweshio cepat sekali berlalu, sehingga Lam Thiam Gie tidak keburu mengucapkan terima ksihnya atas kebaikan orang beribadat itu.

Tidak berapa lama, dua hwesio kecil membawa senampan berisi tiga porsi bakmi masih panas, asapnya masih ngepul dan masuk ke lubang hidung, wangi sekali.

Mereka sedang laparnya, maka saat itu sudah lantas sudah mau pindahkan hidangan itu kedalam perutnya masing-masing.

Tapi tiba-tiba sumpit mereka dibikin berhenti setengah jalan karena terdengar meringkiknya kuda.

Bo yong Kang kenali kuda yang meringkik-ringkik, maka ia dengan Li Cong Bun bangkit dari duduknya menyabperi, kuatir ada apa-apa terjadi dengan kudanya yang disayangi itu.

Mereka kembali lagi setelah mengetahui kudanya tidak apa-apa.

160 Sementara itu, Lam Thiam Gie yang curiga ada orang main gila, telah keluarkan jarum peraknya, dicelupkan ke dalam mangkok bakmi.

Ketika dicabut lagi, jarum itu telah berwarna hitam.

Terang bakmi itu beracun hingga Lam Thiam Gie dan dua kawannya menjadi sangat gusar.

Untuk mendengar ringkikan kuda yang seolah-olah memberi isyarat supaya majikannya jangan makan hidangan beracun itu.

Justru saat itu seorang hweshio gemuk muncul dengan ketawa-ketawa.

Tetapi ketika melihat Lam Thiam Gie sedang memandang jarum peraknya sudah berwarna hitam, hweshio itu sangat terkejut.

Cepat ia undurkan diri pula mau lari dari situ.

Li Cong Bun bangkit dari duduknya dan berteriak.

"Hweshio bangsat jangan lari kau! Kita tidak punya dendam apa-apa, kenapa kau mau meracuni kami bertiga?"

Tahu bahwa tida tamunya lihai-lihai maka si hweshio tidak berani melawan, hanya tangannya diulur ke dinding menekan sebuah pesawat rahasia yang segera telah mengasih dengar bunyi nyaring bergedabrakan.

Ternyata sehelai papan tembaga yang tebal telah turun dari atas dan menutupi kamar dimana Bo yong Kang dan kesua kawannya berada.

Mereka bertiga jadi saling pandang.

Ketika diperhatikan, ternyata jendela kamar 161 itu pakai jeruji besi yang besar-besar, rupanya khusus dibuat untuk menjebak orang.

Bo yong Kang dan Lam Thiam Gie sama-sama ketawa melihat dirinya dikurung dalam kamar tahanan.

"Lam toako, aku hanya dengar ada "

Rumah makan hitam‟, tidak dinyana hari ini kita bolehnya terjebak dalam "kuil hitam‟ ha..ha..ha.."

Bo yong Kang tertawa. Tiba-tiba dari atas kamar terdengar suara ketawa seram lalu disusul dengan kata-katanya yang kasar.

"Sejak dahulu markas Si leng cee terkenal dalam kalangan kangouw, tidak sembarangan orang yang berani datang. Kalian bertiga benar tidak tahu diri berani datang ke tempat rimba persilatan yang suci dalam desa ini. Betul-betul kalian rupanya sudah bosan hidup. Sebelum mampus, baiknya kalian tahu juga bahwa Pho Kun Peng telah mengeluarkan perintah luas, siapa yang bisa menangkap kalian dan membawa kepalanya ke markas besar akan dibaiki kedudukannya menjadi kepala. Ha.. ha..ha.. sekarang aku sudah mendapat karunianya Hudya dan dapat menangkap kalian, betul-betul untung dan akan menerima pangkat yang tidak rendah. Setelah kalian menjadi bangkai, tetamu lainnya juga akan mendapat giliran dan biarlah aku nanti bacakan kitab suci untuk rohnya yang mati penasaran.." 162 Lam Thiam Gie tidak marah mendengar bicaranya si hweshio yang sombong, mlah ia tertawa bergelak-gelak. Silain pihak, Bo yong Kang setelah mendengar bicaranya hweshio tadi diam-diam berpikir, sebab apa Pho Kun Peng begitu sakit hati terhadap mereka, sebab mereka toh belum pernah bentrok apalagi menaruh dendam sakit hati. Hatinya tidak enak kalau ingat adanya Lam Thiam Gie bersama-sama di situ, karena orang she Lam itu telah menghadapi bencana karena telah ikut-ikutan dengan mereka. Lam Thiam Gia namak Bo yong Kang saban-saban kerutkan alisnya lantas dapat menebak apa yang dipikirkan jago berhati besi itu ,aka sa,bil menepuk-nepuk bahunya ia berkata.

"Bo yong hiante, kau tak usah merasa cemas, buat aku yang sudah malang melintang dalam dunia kangouw menghadapi bahaya adalah sudah menjadi biasa lagi. Kini kita sudah bergaul sangat erat, sudah tentu kesusahan masing-masing harus dipikul bersama-sama. Untuk membasmi penjahat yang sudah biasa malang-melintang dalam dunia kangouw memang sudah berusaha mengumpulkan kawan-kawan yang satu tujuan, hanya saja itu akan dilakukan kelak kemudian. Kini kita dicelakakan oleh hweshio jahat itu, sebaiknya meneliti dari jurusan mana dia dapat membinasakan kita, dimana kita bisa bersiap-siap untuk menghindari bahaya." 163 Bo yong Kang manggut-manggut.

"Kau memang seorang sahabat yang setia dengan ucapanmu tadi membikin hatiku merasa lega. Lam toako…."

Mereka bertiga lantas meneliti keadaan kamar di situ.

Diatas ternyata ditutup oleh besi yang kuat yang hanya ada beberapa lunang angin saja.

Justru mereka sedang memandang kepada beberapa lubang kecil, tiba-tiba kelihatan masuk asap dari luar.

Melihat ini Bo yong Kang mengerti bahwa asap itu tentu beracun, maka ia lalu keluarkan obat pil pemunahnya diberikan kepada kedua kawannya sedang ia sendiri menelan satu.

Bo yong Kang coba dekati jeruji besi jendela dan hendak mematahkan satu persatu, akan tetapi besi-besi jeruji itu amat a lot, meskipun sudah bengkok namun tak dapat dipatahkan.

Meskipun sudah menelan pil pemunah racun, tiga orang itu tidak tahan ketika mencium bau amis yang diantara masuk oleh asap-asap yang berwarna kuning.

Dalam keadaan yang gawat begitu, tiba-tiba Li Cong Bun mendapat suatu pikiran.

"Bo yong ssusiok, dalam keadaan terpaksa seperti sekarang ini apaakah tidak lebih baik kita mencoba ketajamannya pedang wasiat kita?" 164 Li Cong Bun ada membawa Pedang Penakluk Iblis ialah pedang pusaka miliknya Tay Han Sin ni almarhum. Menurut pesan gurunya kalau tidak begitu perlu, yangan sekali-kali menggunakan pedang itu sebab ia akan membawa buntut kerewelan. Tetapi mengingat keadaan berbahaya seperti yang dihadapi sekarang, yang mungkin mereka akan mati konyol dalam kamar itu, maka Bo yong Kang anggukkan kepala tanda setuju. Mendapat persetujuan sang paman, Li Cong Bun lantas hunus pedang wasiatnya. Kemudian diputar yang mengeluarkan angin keras dan mengaung suaranya. Benar saja asap kuning itu seperti takut akan pedang pusaka itu, karena pada bubar dan molos pergi ke lubang-lubang tadi itu masuk. Lam Thiam Gie yang melihaat keajaiban pedang pusaka itu dalam hatinya amat memuji. Disaat Li Cong Bun memutar pedangnya mengusir asap yang berbahaya itu lalu menghampiri jendela. Dengan beberapa sabetan saja jeruji-jeruji jendela itu pada putus dan kini telah terbuka satu jalan keluar bagi mereka. Tentu saja kesempatan itu tidak dilewatkan, mereka pada menerobos keluar, dimana mereka melihat si hweshio masih enak-enakan nangkring di atas kamar sembari meniup asap racun ke dalam kamar. 165 Ketika ia berpaling, ternyata orang-orang tangkapannya sudah lolos keluar ia jadi sangat kaget. Ia melompat ke bawah, maksudnya mau melarikan diri. Apa mau dikata, Li Cong Bun yang sudah sangat gemas padanya telah melompat lebih cepat dang menghadang di depannya. Sebelum ia membuka mulut untuk meminta ampun, pedang penakluk iblis sudah menyambar pinggangnya, dan seketika itu juga tubuhnya menjadi dua potong rubuh ditanah dengan menyemburkan darah segar. Jiwanya sudah terang telah melayang seketika itu juga. Dan kawannya yang hendak kabur juga ditebas tubuhnya menjadi dua potong. Bo yong Kang melihat keponakannya kembali membinasakan orang, lalu berseru.

"Bun jie kenapa kau tidak mau menurut nasihatku.. wktu di Lo san juga tidak mentaati pesan gurumu dan Bu Ju supek?"

Kali ini teguran sang paman tidak disambut bungkam sambil tundukkan kepala terima salah. Li Cong Bun dengan hormat telah menjawab.

"teguran susiok aku sudah membinasakan Ci Goan Hweshio aku terima dan aku berjanji tidak akan berbuat serupa itu lagi, tapi sekarang urusan ada lain. Anjing-anjing Si leng cee itu berbuat sangat kejam hendak membinasakan kita dengan racunnya yang sangat berbisa, coba barusan kalau saja kita tidak mengandalkan ketajamannya Pedang 166 Penakluk Iblis, apa bisa kit keluar. Tentu kita semua akan mati konyol!"

Bo yong Kng pelototkan matanya, tapi Li Cong Bun dengan tenang meneruskan bicaranya.

"Aku menarik kesimpulan kamar rahasia tadi yang hampir menjadi kuburan kita enntah sudah berapa banyak meminta korban. Kui Kim kin si ini memang sengaja dijadikan jagal oleh orang-orang Si leng cee, maka siapa yang tidak jadi panas hati dan ingin membasminya?"

Li Cong Bun berhenti sejenak menatap wajahnya Bo yong Kang yang kini kelihatan menjadi lunak lagi.

"Susiok pikir,"

Melanjutkan Li Cong Bun.

"Delapan tahun kita susah payah mencari pengetahuan ilmu silat tinggi, apakah itu Cuma untuk membalas dendam De bun Pa dan Ho Ceng Bu saja? Suhu dan Tay supek Bu Ju ketika kita turun gunung ada mengatakan, disamping tujuan kita membalas dendam kepada musuh-musuh kita juga jangan dilupakan untuk membasmi orang-orang jahat yang membuat rakyat menderita. Mereka tidak mencegah kita berbuat ugal-ugalan. Kita ingat akan Tay Han Sin ni dengan pedang ini di tangannya, dia sebagai pemeluk agama Buddha masih tidak dapat menahan amarah terhadap kejahatan dan dalam semalaman saja dia sudah membunuh tidak kurang dari enam puluh tujuh orang penjahat. Itulah pembunuhan yang hebat sekali, tetapi toh namanya terkenal dan 167 sampai sekarang dijunjung tinggi, kenapa? Itulah karena ia melakukan pembunuhan besar-besaran adalah untuk menolong rakyat dari gencetannya orang-orang jahat."

Bo yong Kang mendengar alasannya sang keponakan masuk diakal meke ia tidak mengatakan apa-apa.

Diam-diam ia terkenang akan masa delapan tahun yang lalu ketika ayah bundanya dibinasakan oleh kawanan penjahat Cong Bun sedikitpun tidak meneteskan air mata.

Hatinya teguh seperti baja.

Pada waktu ia bawa Ceng Bun ke gunung Heng san supeknya mengatakan bahwa anak itu dalam tubuhnya penuh dengan hawa pembunuhan, tidak mau terima ia sebagai muridnya karena bertentangan dengan agama yang dipeluknya.

Rupanya memang Ceng Bun ditakdirkan sebagai pembasmi penjahat maka tak dapat dihalang-halangi.

Entah kelak dikemudian hari masih berapa banyak pula orang-orang jahat yang akan terpental batok kepalanya dibawah tajamnya Pedang Penakluk Iblis.

Li Cong Bun melihat pamannya diam saja dikiranya marah terhadapnya maka dengan tertawa ia berkata pula.

"Harap susiok maafkan untuk keterangan aku yang panjang lebar barusan, mungkin akan menyinggung perasan susiok. Semoga saja selanjutnya aku tidak membunuh orang lagi. Susiok biasanya sangat sayang padaku maka perbuatanku yang sudah tentu dapat 168 dimaafkan. Nah marilah sekarang kita menengok kuda kita!"

Bo yong Kang seperti baru tersadar, dengan tidak mengatakan apa-apa ia mengikuti Li Cong Bun dan Lam Thian Gie berjalan ke belakang kali melihat masing-masing kudanya.

Mereka mendapati masing-masing kuda tunggangannya tidak kurang suatu apa, tapi tidak jauh dari situ ada menggeletak si kepala gundul yang menyambut mereka ketika pertama datang ke kuil jagal itu.

Kepalanya pecah, otaknya berantakan.

Dismpingnya ada golok tajam.

Rupanya ia mau membunuh kuda-kuda bagus itu.

Tidak tahunya ia kena disepak oleh kudanya Bo yong Kang yang mengerti seperti manusia.

Bo yong Kang peluk kuda kesayangannya dan dielus-elus dengan penuh kasih sayang.

Kemudian berpaling kepada keponakannya dan berkata.

"Bun jie, selanjutnya kita bertindak berdasarkan pri kemanusiaan. Yang hatus diberi ampun kita ampuni supaya dapat berbalik baik, yang jahat harus kita sapu bersih. Memang benar kata-katamu dalam markas Si leng cee itu banyak orang jahat yang suka sewenang-wenang, menekan rakyat baik-baik harus kita membasminya untuk menentramkan hati rakyat. memang perlu apa kita mencari ilmu kalau tidak mau digunakan untuk memperbaiki kebobrokan dalam dunia 169 kangouw. Belakang hari, kalau kedua locianpwee mencela, kita berdua boleh bertanggung jawab."

"Li Cong Bun anggukkan kepalanya seraya tersenyum girang. Ia mengerti bahwa pamannya kini sudah insyaf akan kebenaran apa-apa yang ia telah katakan barusan. Saat itu mereka merasakan perutnya yang lapar, lalu menyerbu dapur dan menyikat makanan yang ada di situ. PAGI-PAGI ketika fajar menyingsing, mereka telah membakar musnah kuil yang banyak tempat rahasianya itu, kemudian meneruskan perjalanannya ke selatan ke propinsi…. HALAMAN 25 – 32 HILANG 170 …. maut…"

Bo yong Kang menggerutu setelah memperhatikan potongan tubuh orang yang muncul di jendela tadi.

Setelah masing-masing menelan Kayiok Leng san (Pil Pemunah Racun) lalu berjalan masuk ke dalam pagoda.

Ternyata pintunya tidak terkunci sedang surat yang barusan siang, kini sudah tampak diganti kata-katanya, berbunyi .

Pelajar Berhati Besi silakan masuk dari sini!

Keadaan dalam pagoda itu benar-benar menyeramkan.

Mereka terkejut ketika kesomplokan dengan tengkorak kemudian disusul dengan suara gelabakan terbangnya burung-burung liar dan suaranya kera-kera gunung yang cecowetan sedih.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari sebelah atas yang menggema dalam pagoda itu.

Keadaan disitu seolah-olah ada setannya yang sedang mengeluh meminta ganti jiwa.

Tetapi keadaan yang demikian itu tidak membuat mundur hatinya Bo yong Kang dan Li Cong Bun yang hendak membalas dendam.

Ketika menaiki tingkat ke dua, di sini ada penerangan sebuah pelita diatas meja dimana ada tiga buah cangkir arak dan di bawahnya ada selembar kertas yang bertuliskan .

Mohon Pelajar Berhati Besi meneteskan darah pemutus usus!

Bo yong Kang tak senang melihat itu.

Terdorong oleh kemendongkolannya, ia tak 171 menghiraukan arak dalam cangkir-cangkir itu, ada racun-racunnya atau tidak.

Lantas saja menenggak kering semua.

Inilah menandakan bahwa pendekar itu tidak takuti apapun juga yang akan merintangi di depannya.

Heran, si Iblis Beracun tidak menaruh racun dalam arak itu.

Lam Thiam Gie yang semula kaget dengan kelakuannya Bo yong Kang yang menghirup saja arak yang ada di situ, kini melihat arak itu tak ada racunnya, ia mengacungkan jempolnya memuji akan ketabahannya Bo yong Kang.

Bo yong Kang melihat pelita itu semakin lama semakin berubah apinya.

Kini api itu sudah berwarna hijau tua.

Dengan ketawa Bo yong Kang berkata.

"Setan tua, namamu sudah tersohor kemana-mana. Perlu apa mesti main-main dengan caramu yang licin dan pengecut ini?"

Belum habis bicaranya, tiba-tiba api pelita itu padam.

Dari sebelah atas tampak ada berkelip.

Ketika diselidiki ternyata ada dari tingkat ke dua itu bisa langsung mencapai tingkat paling atas.

Cuma saja, untuk dapat melompat demikian tinggi orang harus mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.

Keadaan menjadi sunyi senyap.

172 Bo yong Kang taksir tingginya ada lima tombak.

Ia lalu keluarkan ilmu "Naga Naik Keangkasa".

Sekali meloncat ia telah berada di puncak pagoda itu.

Sampai di atas ia dibikin kaget oleh musuhnya yang tinggal enak-enakan bersandar pada jendela.

Bo yong Kang marah betul musuhnya begitu memandang enteng padanya.

Ia lalu menghampiri diikuti oleh Lam Thiam Gie dan Li Cong Bun yang sementara itu juga naik ke atas.

Tiba-tiba Lam Thiam Gie tertawa.

"Bo yong hiante. Si iblis tua itu telah menipu kita. Menurut pandanganku, orang yang di jendela itu bukanlah orang betul. Coba kau periksa!"

Benar saja ketika diperiksa ternyata itu hanya orang-orangan yang dibuat mirip tubuh dan romannya Se bun Pa.

Mereka kemudian dapatkan ada seutas tambang yang meluncur ke bawah dari endela.

Ini ada tanda bukti bahwa si iblis berbisa sudah kabur.

Tak lama nereka dapat lihat ada sesosok bayangan berkelebat di luar rimba.

Tubuhnya persis seperti orang-orangan yang ada di jendela itu.

"Pelajar berhati besi,"

Tiba-tiba mereka mendengar orang itu berkata.

"Maafkan lohu malam ini tak dapat melayani kau, karena ada 173 urusan yang lebih penting. Selamat tinggal sampai kita jumpa.."

Bayanga itu kemudian menghilang ditelan oleh rimba belantara.

Bo yong Kang menghela nafas.

Ia dan kawan-kawannya tak dapat mengejar iblis yang licin dan licik itu karena ilmu meringankan tubuhnya ada sangat lihai, lagipula mereka berada di atasnya puncak pagoda dan iblis beracun sudah di bawah dan tinggal menggerakkan kakinya menghilang ke dalam rimba.

Mereka kemudian pada turun lagi tanpa mengalami pertemburan.

Bo yong Kang tidak mengerti dengan kelakuannya si Iblis beracun itu maka lalu menanyakan pendapatnya Lam Thiam Gie.

"Gerak-gerik si iblis tua itu memang sangat misterius."

Jawab Lam Thiam Gie.

Tetapi melihat kelakuannya barusan, aku kira dia tak mengandung maksud begitu jahat terhadap kalian berdua.

Entahlah aku sendiri juga tidak mengerti dengan kelakuannya yang aneh itu.

Sebab ia sudah berjanji akan berjumpa pula dengan kita.

Sebaiknya di sepanjang perjalanan kita harus berhati-hati."

Setelah mereka berada di bawah lagi, lalu pada cemplek pula kudanya meneruskan perjalanan.

Pada waktu tengah hari mereka 174 tiba di desa Ciang hoa.

Mereka lalu mencari salah satu rumah makan yang baik dimana mereka disambut dengan ramah dan tersenyum-senyum oleh pemilik rumah makan.

Hisangan lezar segera disuguhkan.

Terang dalam sekejap saja makanan itu telah disikat habis oleh mereka bertiga.

Ketika sudah selesai makan, Bo yong Kang mau membayar makanannya telah dibikin telengak oleh pemilik rumah makan yang berkata.

"Terima kasih, kalian tidak usah membayar karena semua harga makanan telah dibayar terlebih dahulu oleh seorang yang menyebut dirinya adalah kawan karib dari kalian."

"Siapa orangnya?"

Tanya Bo yong Kang.

"Aku tidak kenal padanya akan tetapi dia sangat royal. Dia ada menitipkan sepucuk surat untuk disampaikan pada kalian. Nah inilah dia…."

Pemilik rumah makan keluarkan sehelai surat diterimakan pada Bo yong Kang.

Bo yong Kang menduga bahwa perbuatan itu tentu ada perbuatan Se bun Pa.

Dengan amat hati-hati Bo yong Kang membuka surat itu karena dikuatirkan ada racunnya.

Bunyinya pendek saja .

"Kau datang ke selatan, akulah yang menjadi tuan rumah. Untuk menebus kesalahan janji di pagoda, aku sajikan hidangan dan 175 makanlah apa saja yang ada. Janganlah kuatir ada racunnya!"

Walaupun surat itu ada tanda tangannya, tapi Bo yuong Kang sudah kenali itu adalah tulisannya Se bun Pa.

ia tidak ambil pusing apa yang sudah kejadian.

Hanya diam-diam berjanji, kalau kemudian ia bisa menemui si iblis tua itu akan digempur hancur lebur.

Mereka meneruskan perjalanan pula.

Waktu hari mulai petang mereka sampai di desa Kian Tok.

Keadaan sekitar sekitar situ amat sunyi dan seram bisa membuat berdiri bulu roma.

Dibawah sinar bulan purnama yang suram, lapat-lapat seperti ada suara sesambatan memanggil-manggil namanya "Pelajar Berhati Besi…"

Li Cong Bun saat itu seperti melihat sesuatu, ia teriaki pamannya.

"Bo yong susiok, lihat apakah itu?"

Bo yong Kang melihat ke arah yang ditunjuk Li Cong Bun.

Disana tampak batu kuburan.

Tiba-tiba dari batu kuburan itu ada keluar warna kehijau-hijauan.

Sebentar-sebentar menjerajas seperti kembang api menerangi diatasnya batu kuburan, pada mana tampak seperti ada tulisan.

"Datanglah padaku pelajar berhati besi!"

Dengan menerobos diantara rumput-rumput alang-alang yang tinggi, Bo yong Kang 176 menghampiri bat kuburan yang tadi. Di situ tampak ada sebuah meja batu kecil. Bo yog Kang membaca bunyinya tulisan .

"Lohu karena berjumpa dengan kalian tidak terduga, maka jadi ingat akan dendaman tujuh delapan tahun yang lampau. Lohu tahu kalian akan membinasakan lohu. Tapi kalian harus tahu juga, Se leng cee tiap hari berada tidak jauh dari kalian. Maka pada saat apapun lohu dapat menyerang kalian dengan dengan mudah seperti sekarang. Bo yong tayhiap, kau lihat di kakimu sudah kena paku beracun tiga buah. Kalau kau tidak menghilangkan kepala paku, biar bagaimana tingkat kepandaianmu tentu sudah melayang jiwamu!"

Membaca sampai disitu, Bo yong Kang kaget sampai mengeluarkan keringat dingin.

Ia memeriksa, ternyata pada tangga batu yang diinjaknya, benar saja ada tiga batang paku yang masing-masing kepalanya sudah dikuntungi, sudah tidak ada racunnya pula kalau diinjak.

Setelah menentramkan kagetnya, ia melanjutkan membaca .

" …. Kesemuanya ini menunjukkan bahwa lohu sudah tidak mau berbuat jahat lagi. Sayang dendam kalian tak dapat diubah. Kalian berdua sudah menempuh perjalanan ribuan li ke selatan, sepantasnya lohu menyambut kalian untuk membikin beres perhitungan…" 177 Bo yong Kang setelah membaca surat itu berdiri bengong sejenak. Li Cong Bun yang melihat keadaan Bo yong Kang, kuatir hatinya dapat berubah maka telah memperingatkan akan kelicinan dan kelicikan iblis tua itu, jangan sampai kena ditipu olehnya. Di sepanjang jalan sudah melihat kenyataan akan kekejaman ublis tua itu. Bukti paling belakang apa yang dialami oleh Thian Hong dan Thio It Ho yang digantung di pohon setelah diracuni secara mengenaskan.

"Kau jangan keliru, sebetulnya aku bengong sejenak adalah memikirkan akan kejadian yang lewat belum dapat dibalasnya."

Kata Bo yong Kang.

"Nah sekarang marilah kita meneruskan perjalanan!"

Bo yong Kang lantas berjalan diikuti oleh kedua orang kawannya.

Bertiga berkuda ditengah rimba telah diserangan hujan angin keras.

Setelah melewati daerah pegunungan, tiba mereka menemui sebuah rumah gubuk.

Mereka menghampiri untuk numpang berteduh, apa mau ketika berada di depan gubuk, hidung mereka mencium bau amis.

Hati mereka tercekat, menduga bahwa dalam rumah itu tentu sudah terjadi perkara darah.

Cepat Lam Thiam Gie membuka pintu gubuk.

"Astaga,"

Didalamnya ada seorang lelaki tua berumur kira-kira enam puluh tahun sudah rubuh binasa dengan tangan kanannya 178 memegangi sebilah golok.

Pada dadanya ad menancap sebatang paku, senjata yang dinamai "Pek Houw Teng‟ (Paku Harimau Putih).

Di lain bagian rumah gubuk ada sepasang paha malang melintang.

Ini adalah pahanya seorang perempuan tua.

Dalam kamar ad telentang di atas pembaringan seorang nona cantik.

Pakaiannya sudah robek disana-sini dan separuh telanjang.

Rupanya ia melawan keras ketika mau dirampas kehormatannya, maka lantas dibunuh.

Dilantai tampak darah berceceran.

Satu tubuh anak kecil umur tiga empat tahun menggeletak dengan kepala suddah hancur berantakan.

Bo yong Kang menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, hatinya meras sangat tidak tega.

Lam toako, empat orang dalam rumah ini telah menjadi korban kejahatan.

Sungguh malu sekali kalau kita tak dapat membalas sakit hatinya mereka…"

Li Cong Bun mendahului Lam Thiam Gie menjawab.

"Menurut dugaanku, tentu perbuatan ini dilakukan oleh si Iblis Beracun Se bun Pa. dimulutnya saja mau bertobat tapi hatinya sangat kejam. Tidak bisa meninggalkan kekejamannya."

Lam Thiam Gie mendengar itu lalu ketawa.

"Li hiantit, dugaanmu salah. Mereka itu dibunuh dengan senjata tajam, tentu ada orang telengas yang datang kemari membasmi 179 mereka. Caranya Se bun Pa membunuh orang bukannya begitu, dia selalu menggunakan racun sebagai senjatanya."

Sebelum mereka mengambil keputusan lebih jauh, tiba-tiba dari kejauhan ada mendatangi seorang pemuda berumur kira-kira tiga puluh tahun.

Tangannya membawa bungkusan dan pada punggungnya menggendong kayu bakar.

Ia masuk ke rumah sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya sebab ia merasa kagum sekali dengan tiga ekor kuda yang ditambat di luar.

Dikiranya sang ayah sedang melayani tamu-tamunya yang berkuda bagus itu.

Betapa kagetnya setelah berada di dalam ia menyaksikan keluarganya telah dibunuh demikian rupa.

Mendadak syaraf-syarafnya terganggu, tidak tahan menyambut rasa pilu dan kesedihan yang telah disaksikannya.

Ia jadi seperti orang gila laganya.

Melihat Bo yong Kang berada dekat padanya, ia telah menyerang dengan kalap.

Bo yong Kang tahu keadaan pemuda itu, maka ia ulur dua jarinya menotok pada jalan darah Tay han hiat hingga pemuda itu tidak bisa bergerak, baru ia diberi keterangan bahwa mereka kebetulan lewat di situ mampir, buklannya orang jahat yang membinasakan keluarganya.

Malah untuk kekejaman itu mereka bersedia untuk mewakili menuntut balas kepada kawanan penjahat yang kejam itu.

180 Ketika pemuda itu dibuka totokannya, ia lalu masuk ke kamarnya.

Tidak menjawab akan bicaranya Bo yong Kang tadi.

Sebentar kemudian terdengar suara gedubrakan.

Ternyata pemuda itu telah jatuh pingsan melihat isterinya meti di pembaringan dan anaknya yang masih kecil pecah kepalanya dab otaknya berserakan.

Hatinya tidak tahan menyaksikan semua pemandangan yang mengerikan itu.

Lam Thiam Gie jadi repot memijiti tubuhnya.

Tidak lama ia siuman lagi.

Ketika ingat akan keluarganya yang dibinasakan secara mengenaskan itu, ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.

Li Cong Bun melihat kejadian itu, hatinya sangat tidak tega.

Sambil menghunus pedangnya, ia berkata pada pemuda itu.

"Saudara, empat jiwa sudah tidak bernafas, menangispun sudah tidak ada gunanya, maka lekaslah kau kasi keterangan, siapa kiranya yang telah membunuh mereka, supaya aku dapat membalaskan sakit hatimu dengan mengandalkan kepada pedangku ini."

Pemuda itu berhenti menangis, menatap wajahnya Li Cong Bun sejenak.

Lalu memperkenalkan dirinya bernama Yo Hong, ayahnya bernama Yo Tian Eng.

Dulu waktu menjabat pekerjaan polisi di propinsi Kang souw, ayahnya amat terkenal namanya.

Belakangan setelah berusia lanjut telah 181 mengundurkan diri.

Dengan membawa keluarganya, Tian Beng telah mengasingkan diri dalam gubuk itu, melewatkan hari tuanya dengan tenteram.

Tian Eng yang sudah mencicipi asam garamnya dunia kangouw, telah menyuruh anaknya menjadi seorang pedagang saja untuk memelihara rumah tangganya.

Tapi apa mau dikata bencana yang tak diduga-duga telah menimpa keluarga Yo itu.

Isterinya Yo Hong yang cantik paras rupanya yang menjadi bibit bencana.

Di puncak mo hen teng ada berkumpul empat penjahat.

Yang pertama bernama Tho Ie Gie, kedua Ciau Jun, ketiga Pa Hion dan keempat Gui Ang Siauw seorang wanita genit.

Mereka berkumpul di situ merupakan tangsi cabang dari Si leng cee.

Ciauw Jun yang beralis si Ular Gunung paling suka bermain perempuan.

Pada suatu hari ia lewat di rumahnya Yo Hong, menyapa lihat isterinya Yo Hong yang sangat cantik maka hatinya yang jahat timbul untuk memilikinya.

Sudah lama Ciauw Jun ada minta Yo Tiang Eng naik gunung untuk membantu dalam tangsi Mo hun leng, tetapi selalu permohonan itu ditolak.

Malah anaknya Yo Hong tidak diperkenankan campur tangan urusan kanouw.

Yo Hong kali ini pulang ke rumah karena sudah tiga bulan lamanya lamanya ia 182 bepergian.

Ia melihat kejadian sedih dalam rumah tangganya membuat ia tidak memikirkan akan sebab-sebabnya pembunuhan kejam itu.

Mendengar penuturan Yo Hong, tiga pendekar itu merasa sangat gemas kepada kawanan penjahat yang suka berlaku sewenang-wenang.

Demikian keluarga Yo yang binasa telah diatur rapi penguburannya, maka Bo yong Kang ajak sekalian Yo Hong ke Mo hun leng dengan pengharapan pikirannya Yo Hong dapat kembali pula sebab sampai sebegitu jauh ia suka bengong-bengong saja, malah suka menyerang orang kalau otaknya lagi tidak beres.

Dalam perjalanan ke gunung Mo hun leng, mungkin karena bergembira entah bagaimana hatinya Cong Bun, ia menyanyi-nyanyi mengungkapkan isi harinya, bahwa dengan pedang pusakanya yang berkilau-kilauan ia akan membasmi kawanan penjahat.

Selagi menyanyi-nyanyi, tiba-tiba tiga orang yang bertubuh tinggi besar muncul dari pinggiran jalan dan mencegat perjalanan mereka.

Kepala mereka diikat dengan kain warna hijau.

Salah satu diantaranya telah enegur dengan keras.

"Hei bocah, kau datang kemari ad urusan apa? Apa kau tidak tahu Mo hon leng tidak boleh sembarangan dimasuki orang, apalagi seperti kau yang berteriak-teriak menyanyi-nyanyi tidak karuan?" 183 Li Cong Bun mendengar teguran kasar itu tiba-tiba tertawa gelak-gelak. Ia menghunus pedangnya yang tajam, dimainkan hingga mengeluarkan angin keras. Pohon-pohon disekitarnya menjadi bergoyang-goyang.

"Siauya datang untuk menjalankan keadilan, datang kemari mau mencari kepala kalian. Lekas panggil si Ular Gunung Ciauw Jun!"

Li Cong Bun ada keliwat congkak di pandangan tiga orang yang mencegat tadi.

Tetapi karena mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana lihai anak muda itu memainkan pedangnya, lagian ada dua orang kawannya yang tentu bukan orang sembarangan, maka mereka tidak berani gegabah.

Setelah menanyakan siapa adanya empat orang itu, lalu mundur dan melaporkan kepada atasannya.

Setelah Li Cong Bun menyimpan kembali pedangnya yang belum lama, lantas tampak banyak orang datang dipimpin oleh si Ular Gunung Ciauw Jun yang perawakannya kurus tinggi.

Mukanya menunjukkan kelicikan dan khianat.

Di belakangnya ada mengikuti Pa Hong yang badannya tinggi besar dan memelihara jenggot.

Ciouw Jun ketika sudah berhadapan dengan empat orang itu tampak terkejut melihat Yo Hong ada ikut serta, tapi tidak kentara di 184 wajahnya yang licin dan licik.

Sambil tertawa ia menjura, katanya.

"Tadi orangku melaporkan kedatangan kalian. Kalau aku tidak keliru mendengar laporan, kalian adlah Bo yong Tayhiap, Li Tiauhiap dan Kang Lam Tayhiap. Menyesal toako dan sumoyku tidak sempat datang menyambut karena ada urusan. Tetapi tidak peduli kedatangan kalian ada untuk apa, sekali sudah masuk daerah kami, harap mampir dulu ke dalam tangsi kami untuk omong-omong!"

Bo yong Kang kerutkan alisnya, ia mendongkol terhadap kata-katanya Ciauw Jun yang sombong, maka ia lalu tertawa bergelak-gelak.

"Sahabat aku yang tahu mana lebih kuat tangsi di sini dengan tangsi Naga Emas dalam markas besar Si leng cee? Sepanjang jalan aku telah mendapat kebaikannya Pho leng cu. Sungguh aku membilang terima kasih. Sekarang aku ingin menemukan pemimpinmu, apakah kau suka memberi jalan pada kami?"

"Oh tentu.. tentu, mari ikut kami masuk!"

Ciauw Jun tertawa kemudian balikkan tubuhnya berjalan masuk.

Li Cong Bun yang melihat lagaknya Ciauw Jun yang menyebalkan sudah lantas mau turun tangan tetapi dicegah oleh pamannya.

185 Orang ini macamnya memang penjahat.

Peristiwa di rumahnya keluarga Yo tentu dia yang terbitkan, amat berbahaya untuk mengasi dia hidup enak dalam dunia.

Kita harus membasminya, tapi kau harus bersabar dulu, tokh akhirnya kau yang akan membasmi kotoran dunia itu.

Apa kau tidak dengar sepanjang jalan kita diintai oleh orang-orangnya Si leng cee?

Kini kebetulan mereka ada di atas gunung sekalian boleh kita bereskan!"

Li Cong Bun angguk-anggukkan kepalanya.

Mereka lalu dibelakangan Ciauw Jun.

ketika masuk dalam ruangan, di situ sudah ada orang bermuka kuning dan badannya gemuk dan didampingi oleh seorang wanita baju merah yang genit kelakuannya.

Melihat Ciauw Jun dan Pa hiong sudah mengantar masuk tetamunya, dua orang tadi bangun dan melakukan penyambutan.

Selainnya mereka, ternyata masih ada tida orang lagi yang terus duduk dan tidak bergerak.

Lam Thiam Gie ketika melihat mereka terus berbisik pada Bo yong Kang.

"Aku tidak mengira bahwa Tayouw Sam koay (Tiga siluman telaga Tau ouw) juga berkomplot dengan Si leng cee. Tiga orang ini amat lihai ilmu silatnya, diantara mereka si Kipas Maut San Ho Bun adalah yang paling tinggi ilmu silatnya, maka harus hati-hati kalau menghadapinya sebab ia 186 sekali menyerang ada banyak macam senjata yang dipergunakan."

Bo yong Kang angguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil tertawa-tawa dia ambil tempat duduk. Seorang gemuk dengan muka kuning tadi bangkit dari tempat duduknya, lalu bicara .

"Kalian tetamu sudah hadir, aku sendiri Tho Ie Gie kepala tangsi Mo hun leng cabang dari Si leng cee. Wanita yang duduk itu adalah sumoyku Gui Ang Siauw. Yang duduk dibagian tempat pemimpin itu adalah yang dahulu terkenal seperti tiga pendekar telaga Tay ouw yang kesatu Sun Hoat Bu alias si Kipas Maut, kedua Beng Hwee dan ketiga So Kun Cun. Bertiga pendekar ini sekarang menjadi Hiocu dari tangsi Kalajengking dalam Si leng cee. Aku sudah mendengar dua pendekar Bo yong tayhiap dan Li Siawhiap. Yang manakah mereka itu diantara kalian?"

Bo yong Kang tertawa menjawab.

"Oh ini adalah Lam Thiam Gie yang sudah lama mengasingkan diri di gunung. Dulu dia terkenal sebagai Kang Lam Tayhiap dan ini adalah Yong Hong, tentu kau telah mengenalinya."

"Maksud Bo yong Tayhiap datang ke sini ada urusan apa?"

Tanya Tho Ie Gie.

"Maksudnya adalah keadilan buat Yo Hong ini yang telah dibinasakan keluarganya oleh si Ular Gunung Ciauw Jun. Ayah, ibu, istri 187 dan anaknya empat jiwa telah dibunuh mati secara kejam!"

Bo yong Kang datang-datang jatuhkan tuduhannya pad Ciauw Jun karena ia sudah menduga pasti bahwa perbuatan kejam itu dilakukan olehnya.

memang dugaan itu tidak meleset.

ketika Tho Ie Gie melirik pada Ciauw Jun si Ular Gunung unjuk ketawa yang licik.

"Hmm!"ia menggeram.

"Kau tahu, sepasang tangannya Ciauw Ji taya paling sedikit sudah bikin melayang depalan puluh jiwa. Soal empat jiwa dalamm rumahnya Yo Hong itu tidak masuk hitungan. Tuduhanmu itu memang betul karena perempuan cantik itu tak tahu diri, maka Ciauw Ji taya menghabisi jiwanya. Kalian karena urusan ini terus datang ke sini puncak Mo hun leng kini kalian mau berbuat apa terhadap Ciauw Ji taya?.. ha..ha..ha… silakan sahabat!"

Li Cong Bun sudah sangat marah dan lantas sudah mau menyerang tapi diberi isyarat oleh Bo yong Kang supaya bersabar dulu.

"Ya kalau memang kau sudah mengaku aku, mudah saja akan diperhitungkannya."

Jawab Bo yong Kang tersenyum dingin.

Bo yong Kang lihat Yo Hong sudah sedikit mendusin, maka dikeluarkan pil nya dikasi Lam Thiam Gie supaya diberikan kepada Yo 188 Hong.

Sementara itu matanya melirik pada Tay Ouw Sam koay.

"Sam wi jadinya datang dari gunung Cui Lok san? Aku dengan keponakan sebenarnya sudah berjanji dengan tangsi kalian bahwa pada musim semi bulan tiga tanggal tiga akan datang di sana membuat perhitungan. Tapi herannya sebab apa dari Si leng cee secara keji telah merintangi kami? Apakah ini memang ada peraturan dari Si leng cee? Coba sam wie berikan keterangan kepadaku!"

Si Rajawali Sakti Su Cun Cun keluarkan suara dari hidung kemudian menjawab.

"Kalian ada dendaman dengan Ho Cong Bu sekalian sudah mengadakan perjanjian, maka kalian dianggap telah berdosa kepada sekalian kawan kami. Jangan harap bisa hidup sampai waktunya janji itu. Disepanjang jalan kalian telah banyak membikin celaka anak buah kami. Ini sudah menambah lagi dosa kalian. Maka sekarang jangan banyak rewel. Kalau kau ada mempunyai kemampuan, boleh kita adu kepandaian di lapangan tempat berlatih silat!"

"Hmm! Kata-katamu memang tegas, aku puji kau seorang polos. Aku bersedia mengiringi kemauanmu!"

Jawab Bo yong Kang sambil tertawa.

Kepala tangsi Tho Ie Gie menyatakan akur, ia lalu bangkit dan memimpin semua orang 189 berjalan keluar pergi ke lapangan tempat berlatih silat.

Gui Ang Siauw alias si Dewi Api api berparas cantik menarik, ketika melihat Li Cong Bun yang cakap hatinya telah berdebaran tak karuan.

Melihat orang pada lererot pergi ke lapangan, sengaja ia jalan berdekatan dengan anak muda itu.

Dengan suara perlahan bicara dengan Li Cong Bun.

"Adik kecil, kau masih begini muda sudah bisa menjatuhkan Tiauw Houw yang terkenal telengas, bagaimana sih bisa begini?"

Melihat kelakuannya Gui Ang Siauw yang amat genit, membuat Li Cong Bun sebal.

"Kalau kau tidak percaya, kau boleh coba sendiri. Siapa yang kesudian menjadi adik kecilmu!"

Jawabnya ketus.

"Hiyo,"

Kata Guai Ang Siauw sambil ketawa genit.

"Aku bicara baik-baik, lantas saja kau marah-marah, kenapa sih?"

Jilid 6

"HEI, NONA GUI, kau harus tahu diri sedikit…"

Teriak Bo yong Kang ketika melihat Li Cong Bun sudah naik darah karena digoda oleh perempuan genit itu.

190 Tho Ie Gie ketika sampai ditempat lalu mempersilakan orang melihat-lihatnya.

Memang lapangan itu cukup besar.

Persediaan senjata untuk berlatih juga cukup.

Cuma pada bagian penghabisan lapangan itu yang sebelah timur ternyata terus ke jurang yang curan dan kalau orang jatuh kesana terang sudah tak ada harapan bisa ketemu nasi lagi.

Setelah semua orang duduk di pinggir lapangan latihan itu, Li Cong Bun melihat keadaanya Yo Hong sangat kasihan, hatinya panas seketika.

Maka sambil menuding si Ular Gunung Ciauw Jun ia berkata.

"Si leng cee sepanjang jalan telah mengatur barisan untuk mencelakai kami. Ini aku tidak akan recoki. Yang penting sekarang adalah tanggung jawabmu terhadap empat jiwa yang kau bunuh mati begitu saja. Nah sekarang kau boleh membikin suatu kalangan untuk bertempur supaya aku dapat menuntut balas empat jiwa yang sudah kau binasakan itu!"

Bo yog Kang dan Li Cong Bun setelah meninggalkan perkampungan Coi tiok san.

Si jahat Pho Kun Peng telah menyebar orang-orangnya untuk membikin celaka pada dua orang itu dengan janji siapa saja yang bisa membaw kepalanya mereka ke pusat akan diberikan ganjaran yang besar.

Disamping pangkat Hiocu, juga hadiah sepuluh kati emas.

Tidak heran kalau banyak orang-191 orangnya Pho Kun Peng yang giat betul-betul untuk merebut hadiah yang besar itu.

Demikian kejadian dengan si Ular Gunung Ciauw Jun.

mendengar tantangan Li Cong Bun, bukan main girangnya.

Pikirannya siapa tahu kalau rezeki kesasar dapat memperoleh pangkat Hiocu dan sepuluh kati emas.

"Tunggu aku bikin kalangan dimana kita boleh bertempur."

Jawab Ciauw Jun.

kemudian ia panggil orang-orangnya dan dibisiki kupingnya.

Setelah mendapat bisikan, orang-orang itu pada bubaran dan sebentar kemudian datang kembali membawa patok-patok dari bambu banyak sekali.

Patok-patok itu satu persatu ditancapkan di lapangan hingga menjadi barisan patok bambu.

Setelah rapi diatur, Ciauw Jun berseri-seri berkata pada Li Cong Bun.

"Nah aku sudah siap. Dasar ajal kalian berdua sudah sampai. Eh, mendadak datang ke Mo hun leng sini untuk mengantarkan jiwa. Kita boleh bertanding di atas patok-patok itu sesukamu bertempur. Kau boleh menggunakan senjata rahasiamu yang paling ampuh. Siapa yang keluar tidak menginjak patok dianggap kalah. Bagaimana, apa kau berani?"

Li Cong Bun geli dalam hatinya melihat Ciauw Jun repot-repot mengatur barisan patok 192 itu.

Ketika ayahnya masih hidup, karena barisan patok itu ada tersohor di kalangan kangouw pernah diceritakan padanya supaya suatu waktu kebetulan ia bertanding diatas patok itu supaya waspada.

Meskipun tidak mempelajari barisn itu, tapi ia sudah hapal betul dalam otaknya.

Ketika ia meneliti barisan itu memang tidak salah diatur seperti yang ayahnya pernah cerita padanya.

Semuanya terdiri dari dua belas batang patok.

Tiap lima patok ditancap merupakan bunga Bwee.

Dilihat dari jauh memang tampak seperti sekuntum bunga Bwee besar, tiap barisannya berbentuk patkwa.

Tiap batang empat kaki panjangnya.

Satu kaki dipendam di tanah, yang tiga kaki menonjol kelihatan.

Tiap-tiap patok ujungnya dibikin sangat runcing hingga yang untuk belum mahir betul dengan barisan itu tidak berani sembarangan bertempur diatas patok-patok bambu itu.

Ketika si Ular Gunung Siauw Jun menanyakan dia berani atau tidak bertempur di atas patok-patok itu, dengan tersenyum Li Cong Bun menganggukkan kepalanya.

Ciauw Jun lalu membuka baju luarnya bikin erat tali pinggangnya.

Setelah memberi hormat pada Li Cong Bun lantas mencelat dan sebentar saja ia telah berada diatas patok.

Lompatannya tidak tinggi, tapi jauh suatu bukti bahwa ia ada menguasai dua macam ilmu meringankan tubuh.

193 Ketika Li Cong Bun hendak menyusul lompat ke atas patok, Lam Thiam Gie berbisik dikupingnya.

"Li hiantit, hati-hati! aku lihat ia buka bajunya, di bahu kirinya seperti ada menyimpan apa-apa. Aku kira itu tentu adalah senjata rahasia yang dinamai "

Panah Pengejar Roh‟ yang sangat tersohor. Paling baik hiantit jangan kasi kesempatan dia menggunakan senjata rahasia itu."

Li Cong Bun anggukkan kepalanya.

Anak muda itu kemudian enjot tubuhnya dan sebentar saja sudah berhadap-hadapan dengan lawannya.

Diam-diam Li Cong Bun memperhatikan, benar saja pada bahu kirinya ada benda yang menonjol.

Jaraknya patok-patok itu ditanam satu dengan lainnya ada dua setengah kaki.

Dalam lima batang, empat dipasang rendah, sisanya tinggi menancap tidak dalam.

Ini yang dinamai empat isi satu kosong.

Yang satu sukar diinjak karena menancapnya tidak dalam.

"Sahabat,"

Kata Li Cong Bun.

"Kau mengundang bertanding di atas barisan patok yang merupakan bunga bwee ini, tentu kepandaianmu amat mahir.

Nah, sekarang boleh mulai dengan menyerangmu untuk membuka mataku dan menambah pengalaman.

Ciauw Jun sudah siap dengan senjata rahasianya, maka setelah tertawa-tawa lalu ayun tangannya.

Tiga buah Pek houw teng (Paku harimau putih) telah meluncur ke arah perutnya Li Ceng Bun.

194 Melihat senjata rahasia itu, Li Cong Bun ingat akan kematian ayah Yo Hong yang binasa karena paku harimau putih itu.

Untuk menghindari serangan senjata rahasia itu Li Cong Bun melompat ke atas.

Lalu lain serangan menyusul juga tidak mengenai sasarannya, karena anak muda itu saban-saban menotolkan kakinya dan badannya ngapung ke udara.

Melihat senjata pakunya tidak berhasil Ciauw Jun lalu keluarkan lagi senjata rahasianya yang lain yang mengarah ke tubuhnya Li Cong Bun dari segala jurusan.

Tapi ini juga tidak dapat mengenai tubuhnya si anak muda yang gesit dan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa.

Caranya membuat dirinya melesat ke udara kelihatannya seenaknya saja.

Ia hanya meminjam tenaganya patok bambu untuk bikin dirinya ngapung menghindari serangan lawan.

Salah satu senjata rahasia Ciauw Jun yang mengancam dari empat jurusan, telah kena dijepat oleh dua jarinya Li Cong Bun.

Dengan ketawa ia berkata.

"Ular Gunung, aku kembalikan senjatamu ini!"

Sambil ayun tangannya.

Senjata itu telah memukul senjata yang diluncurkan Ciauw Jun hingga berbalik dan hampir saja mencelakai Ciauw Jun kalau ia tidak cepat-cepat meloncat ke lain patok menghindari bahaya.

"Ciauw Jun, kau jangan tergesa-gesa sebelum senjata rahasiamu keluar semua. Percayalah, aku belum mau melukai dirimu.."

Li Cong Bun tertawa.

Ciauw Jun melengak sebentar.

Ia rupanya tahu bahwa Li Cong Bun sudah mengetahui ia ada membekal "Panah Pengejar Roh‟.

Sebetulnya senjata rahasia ini bukan miliknya sendiri, hanya boleh minjam sekadar untuk melindungi dirinya.

SETELAH unjuk ketawanya yang licik, Ciauw Jun berkata.

"Li siauhiap, kau benar-benar lihai. Nah sekarang terimalah lagi serangan senjata rahasiaku…."

Berbareng ia melontarkan sepuluh senjata rahasianya sekaligus mengancam dirinya Li Cong Bun dari segala jurusan, kiri kanan atas bawh menutup jalan menghindarnya.

Dari bahu kirinya ia mengambil pula senjata rahasia "

Panah Pengejar Roh‟ disentilkan sekalian sebatang anak panah melesat mengeluarkan sinar putih berkredepan laksana perak.

Li Cong Bun baru tahu tentang lihainya senjata itu, maka ia terus merogoh sakunya mengeluarkan dua biji catur.

Tapi sudah terlambat, terpaksa ia gunakan kakinya menekan patok amblas hingga tinggal sekaki tingginya.

Sambil miring badannya berputar hingga senjjata berwarna perak itu dapat dihindarkan.

Kemudian ia melompat setinggi 196 tiga kaki pindah ke patok lain untuk menyingkir dari bahaya serangan senjata rahasia.

"Kurang baik kalau semua seranganmu itu tidak dibalas. Nah sekarang terimalah dua buah biji caturku…."

Kata Li Cong Bun sambil mengayun tangannya dan dua buah biji catur putih dan hitam meluncur pesat sekali.

Ia menggunakan gaya "Tenaga Lunak‟ dan biji didepan putih diikuti oleh yang hitam.

Yang putih melayangnya lurus sedang yang hitam melintang.pada pertengahan perjalanan tiba-tiba berubah, yang hitam jadi yang di depan dan yang putih disampingnya.

Dengan pesat sekali dua buah biji catur itu menyerang ke arah tubuh Ciauw Jun bagian jalan darah yang penting.

Dalam gugup Ciauw Jun coba enjot tubuhnya untuk pindah tempat tapi terlambat.

Biji catur putih telah berputar diudara sejenak telah mengenai dengan jitu sekali pada jalan darahnya Hong yang hiat.

Saat itu juga tubuhnya dirasakan kesemutan, matanya berkunang-kunang, gelap kemudian hendak rubuh di atas bambu yang runcing.

Untung saat itu ada si Rajawali Sakti So Cu Cun yang melihat dan dengan sebat sudah menolong dirinya Ciauw Jun kemudian dilemparkan ke arah Tho Ie Gie.

197 Ketika berbalik tubuhnya hendak menandingi Li Cong Bun, tiba-tibaLam Thiam Gie sudah berdiri di atas salah satu patok bambu runcing itu.

"Li hiantit, silakan mengaso dulu. Aku si tua ingin melemaskan urat-uratku."

Kata Lam Thiam Gie sambil tertaw. Li Cong Bun tersenyum lalu melompat turun setelah berkata.

"Baik, harap Lam pepe suka berlaku hati-hati!"

Melihat Lam Thiam Gie menandingi dirinya maka diam-diam So Cu Cun merasa girang. Dalam hatinya ia pikir pasti akan menang.

"Lam Tayhiap,"

Ia berkata sambil menjura.

"Apa kita bertanding dengan tangan kosong atau pakai senjata? Kalau di atas patok bambu kau pikir merasa kikuk untuk menggerakkan badanmu, aku juga tidak keberatan untuk bertanding di tanah."

Lam Thiam Gie tertaw bergelak-gelak.

"Aku si orang tua sebenarnya tidak punya kemampuan apa-apa, semuanya hanya minta belajar pad orang yang berilmu tinggi. Mari bertanding di atas patok bambu saja! Aku ingin mendapat pelajaran dari So Hiocu punya ilmu pukulan Rajawali Sakti menyambar mangsanya yang tersohor."

So CU Cun berubah wajahnya, ia tidak nyana ilmu simpanannya diketahui oleh Lam Thiam gie.

Ilmu itu jarang sekali ia 198 pergunakan, jilakau tidak kelewat perlu maka ia merasa terheran-heran si orang she Lam dapat mengetahui.

"Orang she Lam, kami bertiga saudara datang sebenarnya untuk berurusan dengan Bo yong Kang dan si bocah Li, maka untuk menghadapi kau barangkali aku tidak harus mempertunjukkan ilmu itu!"

Kata So Cu Cun dengan jumawa sikapnya.

Seiring dengan kata-katanya, So Cu Cun telah enjot tubuhnya dan sebentar saja sudah berhadapan dengan Lam Thiam Gie.

Tanpa banyak rewel mereka lantas saling serang dengan seru.

Masing-masing menggunakan kepandaiannya untuk merebut kemenangan dalam tempo pendek akan tetapi sampai berjalan tiga puluh jurus kedua puhak masih sama unggulnya.

Rupanya kepandaian mereka setimpal betul.

Melihat serangannya tidak ada satupun yang masuk maka SU Cu Cun telah merubah gerakannya.

Dengan gaya lompatan angkasa ia melompat tinggi.

Lam Thiam Gie mengerti dengan gerakan ini, lawannya hendak menggunakan ilmu simpanannya yang dinamai Rajawali Sakti menyambar mangsanya untuk menyerang busuh.

Lam Thiam Gie pura-pura tidak tahu.

Dengan enaknya setindak demi setindak ia geser kakinya pindah ke patok.

Tiba-tiba tersengar suara tertawa seram.

So Cu Cun 199 dengan tangan kiri menutup dadanya tangan kanan dipakai menyerang.

Ia meluncur seperti burung rajawali menyambar mangsa.

Lam Thiam Gie mendakan badannya kemudian berputar menghindari serangan lawan.

Berbareng dengan kegesitannya ia dapat bahu musuh yang menyerang tak menemukan sasrannya.

Lantaran mana So Cu Cun jadi kehilangan keseimbangan dan jatuh terplanting di atas bambu runcing.

So Hiocu, kita hanya main-main saja, buat apa kau begitu sungguh-sungguh.

Nah rupanya patok-patok bambu ini sudah pada emoh.

Marilah kita pindah kelain tempat."

Seiring dengan perkataannya, dengan gesit ia menyambar badannya So Cu Cun dan melompat turun ke bawah.

So Cu Cun amat malu ketika sudah berada di tanah.

Sikapnya berbeda dengan waktu ia naik ke atas patok.

Ia demikian jumawa sekali.

Si Kipas Maut Siu Hoat Bu melihat samtenya dikalahkan hatinya sangat tidak tenang.

Sebagai kepala dari Tay ouw Sam kuay (Tiga siluman dari telaga Tay ouw) harus ia menebus kekalahan saudaranya supaya mukanya menjadi terang.

Maka seketika itu ia menghampiri Lam Thiam Gie dan berkata.

"Sahabat, jangan pergi dulu ke tempatmu. Aku si orang she Sun ingin minta pelajaran 200 dari kau yang berkepandaian tinggi. Samte ku telah menjadi pecundang, itulah menyatakan dia tidak mempunyai kebisaan. Aku tahu kepandaianmu tinggi, tapi dengan melupakan kebodohanku untuk menolong muka kami Tay ouw Sam kay terpaksa aku minta pelajaran dari kau!"

Lam Thiam Gie kerutkan alisnya berpikir apakah ia dapat melayani Sam Hoat Bu yang ia tahu betul kepandaiannya ada sangat tinggi. Dalam keragu-raguannya tiba-tiba datang Bo yong Kang yang berkata.

"Lam Toako sudah keluarkan banyak tenaga, biarlah aku yang melayani sahabat ini main main beberapa jurus. Lagipula mereka menghendaki aku dan Ceng Bun, jadi sebaiknya aku yang turun tangan."

"Bagus.."

Jawab Lam Thiam Gie tertawa.

"Aku si orang tua yang tidak berguna boleh mengalah…"

Sambil terus Lam Thiam Gie menghampiri tempat duduknya disampingnya Li Cong Bun.

Si Kipas Maut Hoat Bu merasa cemas tidak dapat membalas kekalahan samtenya kepada Lam Thiam Gie sendiri, sebab kini yang akan dihadapi adalah lawan berat untuknya.

Selagi ia hendak membuka mulut bicara, tiba-tiba muncul si genit Gui Ang Siauw sambil tersenyum-senyum ramah diwajahnya yang genit ia berkata, 201

"Sam hiocu, kau sebagai kepala kami orang, kenapa begitu tergesa-gesa mau turun tangan? Biarlah kasi siauwmoy yang menghadapi orang she Bo yong ini!"

Matanya sambil mengerling genit kepada Bo yong Kang.

Sun Hoat Bu sebenarnya tidak senang perempuan genit itu ikut-ikutan campur urusan karena Bo yong Kang bukan lawan yang empuk, tapi untuk membuat hatinya Gui Ang Siauw merasa puas, ia lalu berkata.

"Kalau nona Gui ada kegembiraan aku tidak keberatan mengalah. Kalau sebentar kau tidak tahan dan keteter, lekas kau mundur dan aku yang akan menandingi Bo yong Tayhiap!"

Seiring dengan kata-katanya, Sun Hoat Bu mundur kepinggir antapkan si nona Gui mendekati Bo yong Kang yang menjadi kemalu-maluan sendiri karena Gui Ang Siauw tidak henti-hentinya mengajak main mata padanya.

Ternyata nona nona genit itu bukannya bermaksud benar-benar bertempur, hanya mencoba memikat hatinya Bo yong Kang yang berwajah tampan dan gagah.

Tubuhnya yang langsing menggairahkan berjalan lenggak-lenggok seperti yang sedang menari.

Semula Bo yong Kang geli tapi lama-lama menjadi sebal.

Pikirnya, sebaiknya perempuan genit ini lekas-lekas disuruh berlalu.

Jangan banyak membuang waktu.

Setelah mengambil keputusan, kebetulan Gui Ang Siauw datang semakin dekat.

Tidak 202 tempo lagi Bo yong Kang ulur tangannya menotok ke bahunya si nona hingga si nona menjerit karena merasakan seperti tulang bahunya patah.

Sakitnya bukan main.

Tidak lama kemudian ia lari terbirit-birit keluar dari kalangan pertemburan.

Bo yong kang pikir, kepandaiannya si Kipas Maut Sun Hoat Bu sangat tinggi dan ia menjadi kepala disitu.

Sebaiknya ia menangkap kepalanya, baru lainnya akan tunduk.

Maka setelah Bui Ang Siauw disuruh ngacir dengan persenan yang berarti ia lalu menghadapi si Kipas Maut.

"Sun Hiocu, aku dengar kau hendak memberi pelajaran padaku dan keponakanku. Nah sekarang kau boleh mulai turun tangan. Aku si oang she Bo yong akan maju lebih dahulu menghadapi utusan dari Si leng cee."

Sun Hoat Bu tidak tahu kepandaiannya Bo yong Kang sampai dimana tingginya, maka diam-diam ia memberi isyarat kepada dua saudaranya Beng Hwee dan So Cu Cun berikut anak buahnya, kalau ia sebentar dikalahkan dalam pertempuran semuanya harus lekas turun tangan menggerubuti.

Ia percaya dua tangan tak menang menghadapi banyak tangan maka dengan hati lega maju.

"Bo yong Tayhiap, aku dengar kepandaianmu sangat tinggi, maka aku ingin menjajal kekuatan tenag dalammu melalui tangan kosong. Setelah ini barulah kita bertanding 203 dengan menggunakan senjata. Bagaimana, kau pikir apa mufakat?"

"Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Aku turut saja bagaimana yang Sun Hiocu pikir baik. Silakan Sun Hiocu tunjukkan kepandaian lebih dulu!"

Jawab Bo yong Kang.

Si Kipas maut tampak ramah tamah sikapnya, beda jauh dengan saat pertama bertemu.

Ia menyuruh anak buahnya menumpuk sepuluh buah batu-bata, setelah selesai disusun ia berkata pada Bo yong Kang.

"Nah pertama kita bertanding dengan getaran telapak tangan. Aku terlebih dahulu yang mencobanya, bagaimana, apa kau tidak keberatan?"

"Terserah padamu, aku hanya mengikuti saja kemauanmu."

Sun Hoat bu tertaw.

Segera ia mengerahkan tenaga dalamnya, disalurkan pada telapak tangannya.

Dengan gerakan yang seperti membacok telapakan menyentuh perlahan pada batu-bata yang disusun tadi kemudian ia memeriksa batu-bata tadi satu demi satu, ternyata bata yang pertama masih utuh.

Hatinya sangat girang, tapi sebelum ia membuka mulut tampak Bo yong Kang telah angguk-anggukkan kepala dan tersenyum kemudian berkata.

"Lihai.. lihai…. Tidak heran kalau nama Sun Hiocu amat terkenal dalam dunia kangouw. 204 Sun Hiocu, batu-bata yang berapa yang kau sudah bikin pecah?"

Sun Hoat Bu melongo.

Ia tidak mengira kalau Bo yong Kang sudah mengetahui kepandaiannya itu.

Tapi bagaimana juga nantinya merasa tenang melihat kawan-kawannya sudah siap.

Pikirnya tida orang ini datang memang mau mencari mampus!

"Ah, baru yang ketujuh saja pecah."

Jawabnya dengan bangga.

Ia menyuruh orang-orangnya membongkar batu tersusun itu, benar saja pada batu yang ke tujuh saja yang pecah dan menjadi lima sampai tujuh keping.

Bo yong Kang angguk-anggukkan kepalanya.

"Sun Hiocu, maaf mungkin aku akan membikin pecah batu yang ke sembilan.

Coba tolong orang-orangmu susun pula bata seperti tadi.

Sun Hoat Bu kaget bukan main mendengar omongannya Bo yong Kang, sebab pikirnya kalau benar lawan itu ada mempunyai kemampuan membikin pecah bata yang ke sembilan, terang tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaannya.

Boleh digunakan sesuka hati.

Apa betul begitu?

Sungguh ia kepingin menyaksikannya.

Ketika batu bata itu sudah disusun kembali, ia hanya melihat Bo yong Kang mengangkat tangannya, tapi sama sekali tidak 205 bergerak apalagi menyentuh tumpukan batu-bata.

Dalam hati ia merasa heran.

"Bo yong Tayhiap, ayo lekas kau pukulkan tanganmu pada batu-bata itu supaya kita dapat melihat kesudahannya apa yang kau katakan."

Bo yong Kang tertawa gelak-gelak.

"Sun Hiocu,"

Katanya "Buat apa tangan harus diturunkan lagi sebab batu-bata itu toh sudah pecah dengan sendirinya.

Cuma saja aku beluh tahu bata yang keberapa yang telah pecah, maka harap Sun Hiocu menyuruh orang untuk memeriksanya."

Sun Hoat Bu melongo, ia tidak percaya akan omongannya Bo yong Kang, maka lalu ia suruh orang-orangnya memeriksa satu persatu, trnyata bata yang ke tujuh dan kesembilan yang pecah, yang ke delapan hanya rengat saja.

Sun Hoat Bu berdiri tertegun menyaksikan kegaiban yang dipertunjukkan Bo yong Kang, sebab ia hampir tidak mau percaya kalau ia tidak melihat dengan mata kepala sendiri.

"Sun Hiocu, kau jangan heran!"

Bo yong Kang merendah.

"Aku barusan hanya dapat memecahkan bata yang ke tujuh dan ke sembilan, sedangkan yang ke delapan hanya rengat saja. Baik kita hitung seri saja pertandingan ini, boleh dikata kita sama kuatnya. Sekarang coba Sun Hiocu keluarkan 206 apa masih ada ilmu yang hebat lagi untuk membuka mataku."

Sun Hoat Bu tertawa terpaksa.

"Bo yong Tayhiap, sebaiknya kita sekarang bertanding menggunakan senjata-senjata sebagaimana yang sudah dijanjikan barusan."

Jawabnya.

"Ow, begitu juga baik, mari kita mulai!"

Kata Bo yong Kang, kemudian ia segera menghunus pedangnya.

Jago dari Liauw tong itu sebenarnya hendak melayani si Kipas Maut Sun Hoat Bu dengan tangan kosong, tetapi ia sangsi melihat kipas besinya sang lawan yang berat.

Ia menduga kepandaian Sun Hoat Bu tidak boleh dianggap enteng.

Baru pertandingan dimulai, Sun Hoat Bu telah mengirimkan serangan dengan senjata kipasnya hendak menotok jalan darah pada tubuh lawan, tapi dengan cepat dapat dihindari oleh Bo yong Kang.

Melihat serangannya menemui tempat kosong, cepat ia berganti gaya.

Kali ini ia pakai tipu pukulan yang dibarengi dengan suara bentakan keras.

Kipas mautnya sudah membeber bulat dan mengeluarkan angin dahsyat.

Bo yong Kang menangkis serangan itu dengan pedang di tangan kirinya.

Tidak saja hanya menangkis, tapi ia meneruskan pedangnya menusuk.

Sedang tangan kanannya membantu menyerang lawan.

Melihat tipu pukulannya tadi juga gagal, Sun Hoat Bu hendak merubah pula tipu 207 serangannya.

Tapi seketika itu pedangnya Bo yong Kang diiringi oleh serangan telapak tangan sudah menyerang dirinya dengan hebat sekali.

Ia menghindarkan diri dengan melompat ke kanan, tapi tidak urung bahu kanannya kena angin serangan lawan yang dahsyat sehingga diraskan kesemutan.

Bagaimana besar tenaga yang dikirim oleh Bo yong Kang tadi, terbukti dari timbulnya sebuah lobang besar pad tempat berdirinya Sun Hoat Bu tadi, sedang pasir dan batu-batu kecil telah beterbangan oleh ngin pukulannya tadi.

Bo yong Kang mengerti lawannya tangguh dan lihai, sebab serangan pedang diiring oleh serangan telapak tangannya tadi bukannya sembarangan serangan yang gampang dipunahkan oleh pihak lawan.

Maka ia lantas pindahkan pedang dipegang oleh tangan kanannya.

Ia getarkan pedangnya ketika ia menyerang busuhnya.

Melihat serangan lihai, Sun Hoat Bu cepat jatuhkan diri di tanah.

Tangan kirinya sekali menekan tanah dengan gaya "Ular berbisa membalik badan‟ ia bergulingan, bukannya mundur tapi maju menghampiri lawannya.

Setelah dekat, kipas mautnya meluncur hendak menotok jalan darah di bagian perut orang.

Memang tinggi ilmunya Sun Hoat Bu.

208 Ketika musuh datang mendekat, Bo yong Kang gunakan tipu serangan "Burung merak menyisir bulunya‟ langsung mau menebas bahu kanan musuh.

Tiba-tiba ia melihat Sun Hoat Bu wajahnya kegirangan melihat ia menyerang demikian, maka ia merubah serangannya dan kini ia ambil belakang bahunya lawan yang menjadi serangan-serangan sembari miring.

Melihat serangannya Bo yong Kang berubah setengah jalan, maka hatinya si Kipas Maut jadi terkejut.

Ia tak mau kipasnya beradu dengan pedangnya lawan, maka seketika itu ujung kakinya menotol tanah terus melesat beberapa tombak jauhnya.

Betul betul musuh lihai, pikir Bo yong Kang.

Sebentar kemudian tampak kipas besinya musuh mulur dari satu kaki lebih menjadi dua kaki, orangnya jalan mengitar dengan menuruti patkwa sambil tidak henti-hentinya mengulur kipas kejurusan Bo yong Kang.

Sambaran kipas itu menekan semakin berat ketika Bo yong Kang coba bertahan.

Bo tyong Kang menduga kipas itu bukan hanya bisa mulur saja tapi mungkin ada kegunaan lainnya pula, maka ia tidak berani sembarangan menyerang dengan pedangnya.

Dengan mengerahkan ilmu tenaga dalamnya, sambil memalangkan pedangnya di dada, ia menanti perkembangan lebih jauh dari gerak musuh liahai itu.

209 Si Kipas Maut Sun Hoat Bu gerakkan kakinya semakin lama semakin cepat, juga kipasnya digoyangkan gencar hingga Bo yong kang merasa dirinya seperti dikurung oeh ilmu kipas musuh.

Li Cong Bun melihat pertempuran itu diam-diam merasa tidak mengerti susioknya diam saja tidak balas menyerang.

Sementara Lam Thiam Gie yang ulung dalam dunia kangouw sudah tahu bahwa dalam kipas besinya Sun Hoat bu ada disembunyikan jarum beacun dan obat pembius.

Kalau orang kena jarum beracun itu racunnya sangat jahat dan tak dapat ditolong lagi kalau tidak ada pemunahnya yang ada pada dirinya pemilik senjata beracun itu.

Sedang obat biusnyapun sangat berbahaya, orang yang terkena akan lemas tubuhnya dan jatuh dan tidak ingat keadaan disekitarnya pula.

Meskipun tidak begitu mengerti akan keganasannya kipas Sun Hoat Bu, tapi diam-diam ia sudah berjaga-jaga kalau pamannya terancam bahaya segera ia akan turun tangan menolongnya.

Lam Thiam Gie juga kelihatan sudah siap sedia.

Bo yong kang melihat musuhnya sudah seperti mendapat angin, ia lalu menggunakan gaya pukulan "Memindahkan dan Mendorong Gunung‟ menyerang musuhnya.

Tapi Sun Hoat Bu sangaat awas, badannya miring ke sebelah kiri menghindari serangan 210 lawan, kemudian perdengarkan suara tertawanya yang menyeramkan.

Lalu ia menggoyangkan kepalanya, segera bau harum telah menusuk hidung dan beberapa sinar perak berkeredepan menyerang pada Bo yong Kang.

Melihat serangan senjata rahasia yang dilancarkan secara tiba-tiba itu, Bo yong Kang tidak keburu menyingkirkan diri.

Ia lalu menutup semua jalan darahnya untuk menyambut sambaran jarum berbisa.

Itu dapat ia lakukan dengan baik.

Akan tetapi serangan bau jarum yang menusuk hidungnya tak dapat ia menolaknya, hingga perlahan-lahan dirasakan tubuhnya lemas dan ia jatuh pingsan.

Sun Hoat Bu melihat musuhnya lemas, tertawa bergelak-gelak.

Sebelum berhenti tertawanya di depan sudah berdiri Li Cong Bun dengan bengis bahna gusarnya.

"Orang busuk jangan tertawa dulu, masih ada aku si orang she Li yang akan melayani caramu berkelahi dengan pengecut!"

Seiring dengan kata-katanya, Li Cong Bun tidak mau kasi hati pada musuhnya.

Ia menyerang dengan tipu pukulan angin puyuh menyapu korban yang sangat hebat.

Untuk Sun Hoat Bu masih sempat mengelakkan serangan dahsyat itu dengan melompat keluar dari kalangan berkelahi.

211 Meski ilmu meringankan tubuhnya amat lihai, ternyata si Kipas Mauat tidak dapat menggunakannya, karena barusan sebagian pahanya sudah tergores pedangnya Bo yong kang.

Sambil meringis-ringis menahan kesakitan ia lalu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk serentak turun tangan untuk menggempur Li Cong Bun.

Beng Hwee, So Cu Cun, Tho Ie Gie, Chauw Jun dan Pa hiong lima orang terus keluar maju menyerang Li Cong Bun yang sedang mata merah karena pamannya dicurangi.

Lebih dulu Li Cong Bun sambar tubuhnya Bo yong Kang dan dilemparkan kepada Lam Thiam Gie untuk diberi pertolongan.

"Lam pepe,"

Katanya.

"Tolong Bo yong Susiok. Semua bangsat brengsek ini biar aku yang sikat sendiri."

Kemudian ia menghadapi lima lawannya yang menjadi sangat gusar mendengar kata-katanya Li Cong Bun yang demikian sombong. Mereka terus saja menerjang beramai-ranai.

"Bagus, memang lebih baik kalian maju semua supaya Siauwya kalian tak membuang banyak waktu!"

Seru li Cong Bun.

Berbareng ia hunus pedangnya dan menyambut semua lawan.

Ia putar pedangnya dengan ilmunya yang istimewa hingga hanya berkilau-kilauan sinar pedang kehijau-hijauan yang kelihatan sedang orangnya tidak 212 kelihatan.

Seolah-olah Li Cong Bun terbungkus oleh sinar hijau tadi.

Tidak lama kemudian kedengaran suara "Trang, trang, trang!"

Yang sangat berisik.

Ternyata tongkat besinya Tho Ie Gie siang kauw (sepasang golok) Pa Hong dan Golok gergajinya Beng Hue semuanya sudah terkutung.

Sun Hoat Bu saat itu sudah mengobati lukanya dan diperban.

Melihat Li Cong Bun begitu gagah, lalu ia berteriak-teriak menganjurkan kawan-kawannya jangan kasi lolos anak muda itu ia sendiri menyerbu bantu kengerubut.

Sementara Bo yong Kang berkat pilnya Lam Thiam Gie yang mustajab untuk memunahkan racun, maka sebentar saja ia sudah bisa siuman dari pingsannya.

Ia melihat keponakannya sendirian dikerubuti oleh enam orang jagoan penjahat, hatinya tenang-tenang saja.

Ia percaya akan kesaktian Li Cong Bun yang sangat tinggi dan tidak akan terkalahkanoleh mereka.

Enam penjahat ternama mengepung Li Cong Bun yang hanya seorang tak mampu berbuat apa-apa.

Sngguh memalukan.

Maka si Kipas maut Sun Hoat Bu berteriak-teriak mengempos semangat kawan-kawannya supaya turun tangan sungguh-sungguh untuk mengangkat namanya Si leng cee.

Bo yong Kang bangkit dan menghampiri pertempuran, maksudnya hendak menyerbu 213 membantu keponakannya.

Tiba-tiba muncul Gui Ang Siauw dengan tersenyum-senyum genit dan ditangannya membawa sebatang pipa besi.

Tho Ie Gie melihat wanita genit itu muncul hatinya girang lalu menyerukan kawannya untuk mundur.

"Sekalian mundur! Biarkan sumoyku unjuk kelihaiannya…."

Di lain piha Lam Thianm Gie juga berteriak untuk Bo yong kang dan Li Cong Bun agar berhati-hati.

Berbareng dengan itu, pipa besi di tangan Gui Ang Siauw sudah dilontarkan dari mana keluar meluncur lima enam bola api sebesar mangkok beterbangan diangkasa berwarna hijau.

Bola api itu tak lama kemudian meledak dan tiap bola menjadi sepuluh bola kecil hingga kelihatannya bagus sekali melayang-layang di udara.

Ini adalah senjata berbisa yang sangat diandalkan oleh si wanita genit.

Melihat bahaya, Bo yong Kang dan Li Cong Bun telah mengelarkan ilmunya yang hebat untuk melindungi diri.

Tapi lacur dengan dirinya Lam Thiam Gie dan Yo Hong.

Lam Thiam Gie punggungnnya terbakar, sedangkan Yo Hong ddanya kena tersambar api beracun hingga dua-duanya bergulingan di tanah sambil keluarkan suara rintihan kesakitan.

Bo yong Kang yang melihat pihaknya mengalami kerugian hatinya sangat kesal.

214 Tak puas dengan senjata api beracunnya, si Dewi Api Gui Ang Siauw telah mengeluarkan panah apinya untuk menyerang musuhnya.

Li Cong Bun sangat mendongkol.

Ia keluarkan biji caturnya untuk memukul jatuh senjata lawan.

Tiga orang penjahat kembali menerjang padanya hingga mau ttak mau ia harus meladeni bertempur.

Sedangkan Gui Ang Siauw sambil duduk pada sebuah batu besar tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan Lam Thiam Gie dan Yo Hong menderita kesakitan sebagai akibat senjata rahasianya yang berupa bola api.

Ia suruh pelayan-pelayannya menyerang lagi pada dua korban dengan senjata bola apinya.

Dalam keadaan serupa itu, Lam Thiam Gie terpaksa melanggar sumpahnya untuk tidak menggunakan lagi senjata rahasianya yang hebat.

Seketika itu ia merogoh sakunya.

Entah senjata apa yang dikeluarkan sebab begitu diayun kepada pelayan-pelayan yang melontarkan bola-bola api kepadanya segera juga pelayan-pelayan itu pada tertawa menyeramkan.

Kejadian ini rupanya seperti penyakit menular, sebab kemudian telah menular diantara anak buahnya kawanan penjahat.

Mereka tertawa seperti orang edan sambil memegangi perutnya kemudian bergulingan di tanah.

Dalam keadaan yang kalut itu tiba-tiba ada berkelebat datangnya sebatang anak panah berwarna ungu, menancap di tanah tak jauh dari Gui Ang Siauw.

Si genit kaget, cepat-cepat mencabut anak panah 215 itu kemudian memeriksa siapa yang telah melepaskannya.

Pada sebuah batu besar ia melihat ada seorang berbaju hitam dan berkedok hitam tengah berdiri.

Gui Ang Siauw bukan main kagetnya setelah melihat siapa adanya orang itu.

Setelah tertegun sejenak ia lalu berseru.

"Saudara-saudara, lekas menyingkirkan diri dari si Iblis Beracun telah memusuhi kita!"

Ia sendiri begitu habis mengeluarkan seruannya, lantas ngiprit lari.

Sementara itu Bo yong Kang tidak ijinkan musuh-musuhnya berlalu seenaknya saja.

Dengan gaya serangan yang istimewa ia telah membuat Sun Hoat Bu mundur delapan sampai sembilan kaki kemudian pedangnya berkelebat dan tubuhnya Tho Ie Gie telah terkuutung menjadi dua potong hingga darah berceceran di tanah.

Bo yong Kang terus merangsek.

Kembali pedangnya diayun mengarah tubuhnya Ciauw Jun, tapi ini awas, lekas enjot tubuhnya keudara, sayang ia tidak terluput karena Bo Yong kang mengirim pukulan tenaga dalamnya keudara.

Ia terpukul dan meluncur jatuh pada batu besar, dimana ada Yo Hong sedang duduk merasakan kesakitan oleh bola api tadi.

Yo Hong yang melihat musuh besarnya didepan mata dalam keadaan setengah pingsan, tidak ayal lagi menubruk dan menggigit orang punya jalan nasi (tenggorokan) dengan sengit dan kalap.

Mereka bergulat tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi, sebab tahu-tahu 216 mereka sudah mendekati tepi jurang kemudian kedua-duanya jatuh terjerumus.

Lam Thiam Gie yang menyaksikan kejadian ngeri itu tidak tega hatinya, ia merasa duka sambil menutup matanya.

Dilain pihak,Bo yong Kang dengan gerakan pedang seribu tangan, To lo kiamnya mencecar Kipas Maut Subn Hoat Bu hingga penjahat ulung itu boleh dikatakan telah terkurung oleh pedangnya Bo yong kang yang hebat.

Li Cong Bun yang melihat pamannya telah membinasakan Tho Ie Gie dan Ciauw Jun semangatnya telah bertambah.

Ia percepat menyerang hingga membuat tiga lawannya, Po Hiong, Beng Hwee dan So Cu Cun menjadi kewalahan.

Satu persatu akhirnya sudah dapat dibereskan oleh pedangnya Li Cong Bun yang tajam.

Setelah membunuh tida lawannya, cepat Li Cong Bun memeriksa kemana perginya si Iblis Beacun yang baru saja telah memunculkan dirinya, akan tetapi sia-sia saja, ia tidak mendapatkan si Iblis Beracun punya bayangan sekalipun.

Bol yong Kang melihat Sun Hoat Bu tidak berdaya dikurung oleh pedangnya, juga melihat sudah membinasakan tiga musuhnya, hatinya tidak tega kalau juga membabat si Kipas Maut, maka seketika itu ia hanya menotok jalan darah Toa Leng Hiat pada bagian tubuh musuhnya, hingga senjata kipas 217 besi di tangannya telah jatuh ke tanah.

Orangnya juga setelah mengeluh sejenak lantas menyusul rubuh pingsan.

Sebentar kemudian Bo yong Kang membuka totokannya dan Sun Hoat Bu mendusin lagi sari pingsannya.

Ia merasa sangat malu dengan kekalahannya.

Ia tidak berani bangkit ketika Bo yong Kang sambil memegangi kipasnya berkata.

"Kau dengan kipasmu yang menyimpan jarum beracun dan obat bius, entah sudah banyak memakan korban. Sungguh kau orang yang sangat kejam sekali. Menurut pantasku, tidak bisa mengampuni jiwamu. Akan tetapi mengingat berapa banyak orang yang telah binasa bergelimpangan karena kejahatannya, aku boleh tinggalkan selembatr jiwamu untuk melapor pada markas besarmu tentang apa yang sudah terjadi di sini."

Bo yong Kang berhenti sejenak mengawankan pada Sun Hoat Bu yang kelihatan rebah tidak berani berkutik.

"Kau boleh kasitau pada majikanmu, jangan dengan cara pengecut memegat orang dan membokong secara hina, sebab pada bulan tiga tanggal tiga kami toh akan datang secara berterang ke markas besarmu untuk membikin perhitungan. Awas,kalau masih mau mencoba menghalangi perjalanan kami secara tidak tahu malu. Jangan sesalkan kami akan bertindak kejam. Kami akan membikin rata 218 markas Si leng cee dengan bumi dan tidak seorangpun yang dapat lolos dari kematian…."

Bo yong Kang gerkata sambil meremas-remas kipas besinya Sun Hoat Bu.

Ia menggunakan tenaga saktinya membuat kipas besi itu menjadi segumpal besi murni, kemudian berubah menjadi Bokhi (kentongan diwaktu hweeshio sedang sembahyang) kecil.

Perbuatan itu diawasi oleh si Kipas Maut dengan penuh rasa kagum.

Atas perintah Bo yong Kang ia bangun dan berdiri sambil tundukkan kepala.

"Kini aku sudah mengampuni jiwamu. Kau boleh berlalu melapor kepada majikanmu dan sekalian membawa ini…"

Bo yong Kang menutup kata-katanya sambil melemparkan Bokhi kecil tadi, diterima oleh Sun Hoat Bu dengan hati lega, sebab dirinya tidak sampai dibinasakan lawannya.

Ia memandang lama juga pada barang yang ada di tangannya itu.

Boki kecil yang terbuat dari kipas besinya yang telah mengangkat namanya dalam dunia kangouw.

Pikirannya mendadak menjadi terang.

Rupanya hatinya yang jahat mengalami perubahan setelah melihat benda kecil itu.

Suatu benda yang membuat pikirannya melayang ke perbuatan-perbuatan suci yang dilaksanakan oleh orang-orang yang beribadat.

219 Ia merangkap kedua tangannya menjura kepada Bo yong Kang, Li Cong Bun dan Lam Thiam Gie.

Kemudian meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Setelah Sun Hoat Bu berlalu, Bo yong Kang kedengaran menghela napas.

"Moga-moga orang yang sejahat dia itu akan berubah menjadi orang baik-baik…"

Katanya.

Kemudian ketika melihat pelayan-pelayan seperti orang gila dan bergulingan di tanah, hatinya tidak tega melihat penderitaan mereka, maka seketika itu ia gerakkan telapak tangannya yang mengandung tenaga gaib.

Segera mereka yang menderita penyakit gila itu tidak lama kemudian pada mati.

Lam Thiam Gie yang terluka tadi, kini lukanya sudah dibalut lukanya oleh Li Cong Bun dan minum obat pemunah racun.

Tiba-tiba ia berkata pada Bo yong Kang.

"Bo yong hiante, sungguh hebat pertempuran tadi. Sayang, meskipun kita sudah dapat membinasakan lawan, tidak urung dari pihak kita juga mendapat kerugian dengan tewasnya Yo Hong. Bo yong Kang angguk-anggukkan kepala dengan perasaan duka. Li Cong Bun sementara itu hatinya terheran-heran oleh kejadian orang-orang pada tertawa seperti orang gila tidak henti-220 hentinya bergulingan di tanah seolah-olah sudah hilang ingatannya. Ia menduga itu semua tentu perbuatannya si Iblis Beracun. Bo yong susiok, itu Iblis Beracun membantu kita sampai demikian rupa, sebenarnya apa maksudnya?"

Ia menanya pada pamannya.

Bo yong Kang tidak dapat menjawab, ia sendiri juga tidak tahu Iblis Beracun itu telah menolong mereka , apa maksudnya?

Apakah ia telah menjalankan muslihat untuk mencelakai diri mereka?"

Sebelum Bo yong Kang membuka mulut, Lam Thiam Gie tiba-tiba muncul dari balik batu sembari unjukkan panah berwarna ungu miliknya si Iblis Beracun. Sambil tertawa ia berkata pada Li Cong Bun.

"Li hiantit, kau lihat ini panah berbisa yang hebat sekali dari si Iblis Beracun Se bun Pa. panah ini adalah panah terlihai dari Iblis tua beracun itu. Orang yang kena terpanah akan tertawa terus menerus sampai usus-ususnya putus dengan sendirinya. Tidak dapat tertolong jika bukan dengan obat-obat pemunah dari pemilik anak panah beracun ini."

Bo yong Kang yang mendengar keterangan Lam Thiam Gie menjadi kaget, tidak nyana si iblis tua itu ada demikian telengas.

Dibalik 221 kekagetannya ia heran kenapa si Iblis Beracun itu tidak memanah dirinya yang menjadi musuh besarnya, sebaliknya telah memanah pada anak buah kawanan penjahat?"

Betul-betul sukar dimengerti tindakannya Se bun Pa itu. Ketika Boyong Kang menanyakan pikirannya Lam Thiam Gie, ia ini menjawab.

"Menurut pikiranku, iblis tua itu rupanya telah sadar dari perbuatan jahatnya.

Dia sengaja membantu kalian adalah dia ingin menebus dosanya untuk kesalahannya tempo hari.

Dia ingin kalian mengampuni atas dosa-dosanya itu.

Aku tahu benar dia adalah seorang jahat dan kejam, tidak sembarangan ia menjanjikan orang.

Nah kalian buktikan sendiri pada waktu dikuburan tempo hari, dia ada berjanji akan menyelesaikan persoalan dengan seadil-adilnya.

Kini dia sudah berbuat jasa besar membantu kalian, tandanya dia ingin supaya dendam diantara kalian itu dihapuskan.

Menurut pikiranku sebaiknya dendam kalian dihapuskan saja sehingga kita dapat meneruskan perjalanan dengan hati tenang dan tenteram.

Kita lihat gerakan.

Bo yong Kang diam sejenak.

"Yah sekalipun iblis tua itu bertobat dan ingin menjadi orang baik-baik, balas dendam kita tak dapat diabaikan begitu saja. Sekarang sebaiknya diperjalanan kita lebih berhati-hati, jangn 222 sampai masuk perangkapnya si iblis tua itu, apa memang telah bertobat?"

Lam Thiam Gie tidak berkat apa-apa lagi mendengar jawabannya Bo yong Kang.

Ia hanya tertawa.

Ketika itu semua mayat sudah dibereskan eleh anak buah kawnan penjahat.

Setelah memberi pesan supaya mereka membubarkan diri dan tidak akan melakukan kejahatan lagi, Bo yong Kang bertiga lantas cemplek kudanya meninggalkan sarang agen Si leng cee itu meneruskan perjalanan.

Sepanjang jalan mereka menikmati pemandangan alam yang indah-indah membuat mereka segan untuk meninggalkan tempat indah yang dilewatinya itu secara terburu-buru.

Pada suatu hari, ketika mereka naik sampai ditengah-tengahnya puncak Ciang thian Cui Hong, tiba-tiba mendengar dibelakangnya ada suara kaki bersepatu mengikuti mereka.

Ketika Bo yong Kang menoleh kebelakang, ternyata yang naik itu adlah dua orang hweeshio.

Tampaknya dua orang beribadat itu menyusul pada mereka, sebab dua orang suci itu telah menggunakan ilmu jalan cepat.

Sebentar saja dua orang beribadat itu sudah menyusul dan melewati mereka, kemudian menghadng didepan.

Sambil merangkapkan tangannya, salah satu hweeshio itu menjura dn memperkenalkan diri.

223 Bo yong Kang bertiga yang telah menghentikan kudanya dan mengawasi gerak-geriknya dua orang hweeshio yang menghadang di depannya, melihat salah satu diantaranya telah menjura memberi hormat sambil memperkenalkan namanya, merasa heran, sebab mereka tidak kenal dengan hweeshio-hweeshio itu.

"Pinceng dan suteku ini."

Kata hweeshio yang menjura sambil menunjuk pada kawannya, bernama Tay Tong dan Tay Tek.

Harap kalian tak menjadi kecil hati atas perbuatan pinceng berdua, karena kami tertarik oleh senjata pedang yang ada di punggung Siauwya kelihatannya bukan seperti senjata sembarangan.

Bolehkah kami melihat untuk sebentar saja?"

Bo yong Kang belum sempat membuka mulut, tiba-tiba Li Cong Bun sudah berkata.

"Pandangan Taysu benar-benar lihai. Dengan sekelebatan saja sudah bisa menduga barang baik. Tidak halangan untuk Taysu lihat…"

Sambil menghunus pedangnya dan diserahkan kepada Tay Tong Hweeshio.

Tay Tong dan Tay Tek memeriksa dengan seksama, tiba-tiba tampak pada air mukanya berubah seperti yang terkejut.

Sejurus kemudian pedang itu dikembalikan kepada Li Cong Bun.

"Amitohud!"

Tiba-tiba Tay Tong Hweeshio berkata.

"Pinceng tak mengira bahwa Pedang 224 Penakluk Iblis muncul lagi di dunia dan digunakan dalam dunia kangouw. Apakah sicu tahu tentang pedang riwayat pedang ini dan siapakan nama sicu?"

Ia menanya pad Li Cong Bun.

"Namaku Li Cong Bun,"

Jawab si anak muda.

"Pedang ini dijaman dahulu digunakan oleh Tay Han Sin ni untuk membasmi penjahat. Riwayatnya sangat termasyur. Kini Taysu tiba-tiba menanyakan hal riwayatnya, apakah Taysu ada sangkut paut dengan Si hak pay?"

"Omitohud! Siau sudah tahu, memang ada baiknya. Kami berdua memang dari Si hek pay. Meskipun dengan sicu kami tidak ada dendam, tetapi ketahuilah pedang ini ada bermusuhan dengan partai kami. Sekarang kami hendak memohon dengan hormat, apakah sekiranya sicu dapat menyerahkan pedang ini untuk kami bawa ke Si hek?"

Li Cong Bun diam-diam ketawa geli dengan lagaknya dua hweeshio itu. Pikirnya, tak ada hujan tak ada angin datang-datang mau minta pedang, memangnya barang murah? Sambil tersenyum ia menjawab.

"Bahwa pedang ini ada bermusuhan dengan partai kalian, memang juga tak ada sangkut pautnya dengan aku. Tapi, sekali pedang ini ada padaku, artinya…. Aku yang menjadi tuannya. Nah sekarang jika aku tidak mau memberi pada kalian akan berbuat apa pada diriku?" 225 Tay Tong Hweeshio membisu sejenak.

"Hmm…! Tiba-tiba ia keluarkan suara dari hidung.

"Orang she Li, kalau begitu kau mewakili tanggung jawab perbuatan si nikow siluman yang sangat ganas tempo dahulu di Pek thian san, berarti kau menjadi musuh dari semua pemeluk agama Si Hek. Kau boleh rasakan akubat sikapmu pada saat itu."

Li Cong Bun tertawa bergelak-gelak.

"Taysu membuka mulut berkata Si hek, menutup mulutmu juga berkata Si hek, sebenarnya Taysu dari Si hek pay ada mempunyai kepandaian apa yang harus orang kagumi dan merasa takluk?"

Tay Tong Hweeshio amat marah mendengar bicaranya Li Cong Bun. Ia menganggap sangat sombong.

"Pinceng tidak punya kepandaian apa-apa tapi sicu boleh coba-coba saja."

Sambil angkat tangannya menyerang pada Cong Bun. Melihat Tay Tong Hweeshio turun tangan, Bo yong Kang kebutkan lengan bajunya memunahkan serangan dahsyat itu sambil berkata.

"Hey, Taysu sebagai orang beribadat mana boleh lupa daratan main marah saja. Kami bertiga sedang jalan-jalan menikmati pemandangan, tidak ada sangkut paut dengan kalian, bolehnya kenapa kalian menjadi beringas begitu? Memang betul pedang itu 226 diketemukan di Pek Thian san. Kami tidak tahu dosanya Tay Han Sin ni berapa besar. Yang kami tahu dia sangat dipuji-puji perbuatannya dalam kalangan rimba persilatan. Kalau partai kalian ada mempunyai dendam yang belum diselesaikan, sebaiknya kalian mengumpulkan tokoh-tokoh dari dunia persilatan, mengumumkan sebab-sebabnya dendamnya itu. Kemudian barulah dipertimbangkan secara adil, karena keponakanku berani memiliki pedang itu tentu berani menanggung segala resikonya. Kalian hanya dengan beberapa patah kata saja hendak memiliki pedang secara paksa, betul-betul Taysu memandang enteng pada kami orang. Segala perbuatan jangan terburu napsu, harus dipikir tenang-tenang dahulu, coba bagaimana Taysu pikir?"

Sebenarnya Tay Tong Hweeshio dan sutenya Tay Tek Hweeshio di daerah Su hek sangat terkenal namanya.

Sebagai turunan kedua dari pendekar ulung biasanya amat sombong dan memandang rendah pada orang punya kepandaian.

Tetapi barusan ia mengirim serangan dengan tenaga yang kuat sekali kepada Li Cong Bun, dengan amat mudah dipatahkan oleh Bo yong Kang.

Diam-diam ia merasa keder dan menduga bahwa tiga orang didepannya itu bukannya bangsa orang yang dapat dibuat sesuka hatinya.

227 Setelah mengawasi dengan sorot mata kurang puas kepada Bo yong Kang, ia berkata dengan suara dingin.

"Sicu sebetulnya siapa? Jangan rewel pakai mengumpulkan orang segala, sebab kalau sekarang kalian lolos saja, dimana pinceng dapat mencarinya lagi?"

Bo yong Kang mengetahui bahwa dalam partai Si hek ada banyak orang kuatnya yang berilmu tinggi.

Sejak Hoat Goan Taysu dari Si Hek Pay dibinasakan di Pek Thian San oleh Tay Han Sin ni dengan pedang penakluk iblis, boleh dikatakan anak-anak murid partai Si hek dilarang menginjak Tionggoan.

Kini mendadak ada dua hweeshio dari Si hek yang berani muncul di Tianggoan, pasti mereka berdua mempunyai kepandaian yang tinggi.

Sengaja mereka mencari seteru dengan orang-orang dari partai persilatan di Tionggoan dengan maksud menunjukkan kepandaiannya dan menindih partai yang dikalahkannya.

"TAYSU,"

Jawab Bo yong Kang.

"Tak usah Taysu kuatir tidak dapat menemukan kami berdua. Asal Taysu ke Pek Thian san di antara Leng bwee kok dan gunung Hek san puncak Cit ci hong, dua tempat itu sewaktu-waktu dapat menjumpai kami berdua."

Tay Tong Hweeshio angguk-anggukkan kepalanya, meskipun dalam hati agak terkejut, diluarnya ia kelihatan tenang-tenang saja.

"Tapi sicu punya nama?"

"Orang-orang persilatan menyebutku si Pelajar Hati Besi Bo yong Kang."

"O, jadi kau adanya si Pelajar Hati Besi? Goa Leng Bwee kok di Pek Thian san dan Puncak Cit ci hong di Heng san, kalau tidak keliru, dua tempat itu adalah tempat tinggalnya Ceng Leng Cinjin dan Bu Ju Taysu. Kalian berdua adalah muridnya Dwi Tunggal. Pantasan sombong. Tapi ketahuilah bahwa Dwi Tunggal itu tidak mengejutkan kami sebagai anak murid Si Hek pay. Sekarang kita jangan rewel soal pedang lagi. Marilah kita menjajal masing-masing punya kepandaian. Pinceng berdua saudara ingin menjajal sampai dimana tingginya ilmu silat dari Dwi Tunggal yang sudah lama tidak muncul dalam dunia persilatan."

Jilid 7 LAM THIAM GIE dan Li Cong Bun tertawa melihat lagaknya dua hweshio itu. Sedangkan Bo yong Kang yang mendengar tantangannya Tay Tong Hweshio telah tertawa menjawab.

"Sebenarnya kami tidak ingin bertempur, tapi karena Taysu memaksa, apa boleh buat. 229 Nah silakan Taysu memilih dengan cara bagaimana kita bertempur!"

Bo yong Kang berkata sambil turun dari kudanya. Tay Tong Hweshio mendengar boleh memilih caranya bertempur, hatinya menjadi girang dan diam-diam melirik pada Tay Tek Hweshio.

"Baiklah, pinceng sekarang mulai."

Kata Tay Tong Hweshio.

Sebentar kemudian terlihat ia pejamkan matanya, seakan-akan lagi mengerahkan tenaga dalamnya.

Ketika ia membuka matanya pula, dengan memegangi tongkat sebagai tunjangan tangan kirinya mendorong ke arah batu besar di lereng gunung.

Entah cara bagaimana tenaga dalammnya telah bekerja, sebab lantas kelihatan pada batu besar itu "Cap Tangan‟.

Bo yong Kang melihat itu lantas mengetahui bahwa itu adalah ilmu silat yang dinamai "Toa Chin In‟ (cap tangan besar) dari Si hek pay.

Meskipun kelihatannya Tay Tong menunjukkan kepandaian itu belum begitu mahir tetapi tidak boleh dipandang sembarangan.

Bo yong Kang tertawa sejenak kemudian berkata.

"Cap tangan itu kalau diketahui oleh orang yang tidak mengerti akan berbahaya sekali, karena itu akan dikira bikinan Dewa atau Setan. Adanya di tempat yang berbahaya. 230 Kalau orang paksa ingin melihatnya pasti akan mendapat celaka, jatuh tergelincir, maka sebaiknya aku gempur saja bikin berantakan."

Segera ia mengerahkan tenaga dalamnya sebelum menggempur batu besar yang adanya di lereng gunung itu. Ia berkata pad Li Cong Bun.

"Bun jie, sebentar kalau batu itu aku sudah gempur rubuh, kau barengi sekalian supaya menjadi hancur tak berbekas untuk menghilangkan bencana!"

Li Cong Bun anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Sebentar kemudian lantas terdengar bunyi keras sekali.

Batu besar itu tidak tahan menerima gempuran tenaga dalam Bo yong Kang yang dahsyat, hingga seketika itu meluruk turun dan disambut oleh serangan Li Cong Bun.

Benar saja batu besar itu menjadi hancur berantakan tak berbekas lagi cap tangan tadi.

"Bo yong Kang sicu, pinceng kagum atas hebatnya kepandaianmu."

Kata Tay Tong Hweshio sambil cengar cengir. Tapi pinceng masih ada cara permainan lain yang ingin petunjuk dari padamu!"

Bo yong Kang melihat hweshio itu tidak tahu diri menjadi tidak senang. Dengan suara dingin ia berkata, 231

"Oh aku tahu maksud Taysu, bukankah mau mempertunjukkan ilmu silat Hwe leng bukan? Aku juga belum tahu tenagaku yang terbatas dapat melayani ilmu Taysu atau tidak, tapi biarlah aku untung-untungan menggunakan sepasang telapak tanganku untuk menghadapi Taysu berdua punya sepasang tongkat!"

Tay Teng Hweshio melirik pada Tay Tek hweshio malu-malu sejenak lalu berkata.

"Baiklah, kalau Bo yong sicu mau begitu pinceng percaya akan kehebatannya ilmu "

Sepasang Orang Kuat‟. Nah, marilah kita mulai!"

Tay Tong Hweshio dan saudaranya mundur beberapa tindak kemudian maju lagi. Setelah mengeluarkan perkataan "

Baca Juga: Kereta Berdarah 8

Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas Gan Kl

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger