Hadiah Membawa Bencana 3

Eps 3 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.

Omitohud‟ keduanya memutar tongkat besinya yang mengeluarkan suara mengaung dan angin santar.mereka menyerang dari kanan-kirinya Bo yong Kang mengarah orang punya dada.

Bo yong Kang yang digencet oleh sepasang tongkat lawannya segera gerakkan tubuhnya melejit keudara hingga serangan kedua hweshio itu mengenai tempat kosong.

Tapi mereka terus merangsek dan mengirim pukulan yang dinamai "Angin Menyapu Sisa Awan‟ mengarah ke pinggang dan belakang tubuhnya Bo yong Kang.

Tapi Bo yong Kang terlalu gesit untuk dapat disentuh badannya oleh tongkat kedua paderi itu.

Mereka kelihatan sangat 232 penasaran melihat musuhnya begitu licin, lalu keluarkan banyak tipu pukulan tongkat pelajaran dari Si Lek.

Hingga jalannya pertandingan berubah menjadi bertiga, kemudian pada cemplak pula keduanya berseliweran sangat seru.tubuh Bo yong Kang tampak berkelebatan dikepung oleh sepasang tongkat yang mengeluarkan angin santer menderu-deru.

Sungguh hebat ilmu meringankan tubuhnya Bo yong Kang.

Suatu ketika dengan berani Tay Tok Hweshio meju merangsek, tongkatnya menotok ke arah pundak musuh.

Tindakan ini justru ada makan Bo yong Kang, siapa setelah berkelit tangannya diulur merampas tongkat Tay Tek Hweshio.

Tay Tong Hweshio mencoba menolong adik seperguruannya, ternyata sudah terlambat sebab tongkat Tay Tek Hweshio sudah berpindah tangan.

Tay Tok Hweshio berdiri bengong, dengan kemalu-maluan melihat senjatanya dirampas begitu mudah oleh musuhnya.

Tay Tong Hweshio dilain pihak menggeram, tongkatnya merabu tubuhnya Bo yong Kang.

Sebenarnya Bo yong Kang bisa menggunakan tongkat rampasannya itu sebagai senjata untuk menangkis tongkatnya Tay Tong Hweshio, akan tetapi karena ia sudah berjanji akan melayani kedua kepala gundul itu dengan tangan kosong maka ia tidak mau menggunakannya.

Ia terus menggunakan kelincahan bergeraknya.

Tak lama lantas 233 tongkatnya Thay Tong Hweshio juga sudah dapat dirampas oleh Bo yong Kang.

Dengan sepasang tongkat ditangannya Bo yong Kang tertawa gelak-gelak.

"Taysu berdua harap suka memaafkanku yang sedikit kurang hormat!"

Katanya. Berbareng dengan itu ia mematahkan dua tongkat besi si hweshio Si hek itu dengan seenaknya saja sehingga Tay Tong dan Tay Tek yang menyaksikannya menjadi melongo.

"Bagaimana, apa kita bertanding sampai disini saja atau Taysu berdua ada apa-apa yang masih mau diperlihatkan di depan si orang she Bo yong?"

Kata Bo yong Kang.

"Omitohud!"

Kata Tay Tong Hweshio.

"Baiklah, besok malam kami menunggu kedatangan sicu di gua Sian jin tong. Letaknya dari sini menuju keselatan kira-kira limapuluh li jauhnya. Kalau pada pertandingan malam itu kami masih kalah, kami akan pulang ke Si hek untuk melapor pada guru kami dan minta supaya mengumpulkan tokoh rimba persilatan sebagaimana yang dimaksud oleh Bo yong sicu."

Bo yong kang belum membuka mulut, Li Cong Bun telah menyela .

"Hmm.. kau ini hweshio yang tidak tahu diri masih banyak rewel. Ketahuilah pamanku ini seorang yang sabar. Dia hanya mematahkan sepasang tongkat kalian. Coba kalau barusan 234 aku yang menghadapi kalian berdua, hmm… jangan harap kalian bisa pulang ke Si hek lagi. Kami tak tahu dalam goa Sian jin tong itu telah kalian pasangi perangkap apa? Gunung golok ataukah pedang, apakah itu gua harimau atau sarang naga, kami tidak peduli. Kami tidak takut, pasti besok malam kami akan datang."

Tay Tong Hweshio dan saudaranya bingung disemprot oleh Li Cong Bun. Bbelum sempat Tay Tong Hweshio membuka mulut Li Cong Bun sudah meneruskan kata-katanya yang pedas.

"Aku benci sekali pada kalian, kelihatannya saja seperti orang yang beribadat pakai jubah orang beragama, tapi hati kalian masih kotor dan penuh kepalsuan. Awas kalau besok malam kalian ketemu aku. Jangan sesalkan aku tak akan memberi ampun."

Tay Tong Hweshio sangat gusar, matanya berputar-putar menatap Li Cong Bun tapi tangannya tidak berani bergerak menyerang. Ia masih bicara tenang, katanya.

"Li sicu masih begini muda, kata-katamu menusuk sekali hati orang. Sicu menghina pada semua hweshio suci, apakah tidak takut nanti berdosa dan dineraka nanti mendapat hukuman? Inceng hari ini mengaku kalah, tetapi besok malam kita boleh berjumpa lagi. Pinceng pasti akan menghadapi sicu sendiri, jangan kuatir. Kita boleh lihat nanti siapa yang lebih unggul!" 235 Li Cong Bun tertawa bergelak mendengar ocehannya Tay Tong Hweshio.

"Toa hweshio, betul-betul lucu kau bicara."

Kata Cong Bun.

"Dalam dunia kangouw saat ini sudah keruh oleh segala siluman jahat,. Aku dan pamanku akan mewakili Tuhan untuk menjalankan keadilan, membasmi penjahat yang berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Memenggal batang lehernya orang-orang yang menindas sesamanya yang tidak berdosa. Jadi kalau kami berdua akan ke neraka, rasanya Raja Akherat akan menolak menghukum perbuatan-perbuatan kami itu karena sudah berbuat banyak jasa.. ha..ha..ha Tong Hweshio, apakah kau masih belum puas bertempur? Apa masih mau mencoba tajamnya Pedang Penakluk Iblis?"

Tay Tong hweshio tidak menjawab hanya matanya berputar dan mukanya tampak bengis seolah-olah mau menelan Li Cong Bun yang menertawakan dirinya.

Mau mendebat lagi kata-katanya Li Cong Bun tidak berani, karena melihat wajahnya anak muda itu meskipun tertawa tapi ada mengandung kegusaran dan penuh dengan nafsu membunuh.

"Baiklah sampai besok malam…"

Kata Tay Tong Hweshio sambil ngeloyor mengajak Tay Tok Hweshio pergi dari situ. 236 Setelah dua hweshio itu sudah tidak kelihatan bayangannya, Li Cong Bun berkata kepada pamannya.

"Bo yong susiok, bagaimana kita harus bertindak terhadap dua kepala gundul itu, Apakah boleh aku bereskan saja jiwanya? Harap susiok memberi pendapat sebab aku tidak mau nanti membuat kesalahan yang membuat hatimu menjadi kesal…"

Bo yong Kang tersenyum mendengar bicaranya sang keponakan. Ia merasa betul-betul Cong Bun seperti sudah mengakui dirinya sebagai pengganti ayahnya almarhum.

"Dua kepala gundul itu kalau kita lepaskan begitu saja,"

Kata Bo yong Kang.

"Tentu mereka akan menghasut kambratnya dan akan memusuhi kita tak habis-habisnya. Kita sendiri tidak bisa bertindak seperti orang-orang dari rimba hijau membasmi musuh sampai aku kenal ampun. Maka itu sebaiknya kita bikin mereka tunduk dan mundur teratur dengan sendirinya."

Lam Thiam Gie akur dengan pikirannya Bo yong kang.

Sambil menikmati pemandangan alam yang permai, perlahan-lahan jalankan kudanya terus dari puncak untuk beristirahat dan bertukar pikiran untuk menghadapi dua hweshio dari Si hek tadi.

Besoknya pada waktu sore, mereka bertiga terus menuju keselatan mencari Goa Sian Jin Tong yang jauhnya kira-kira limapuluh li.

237 Sampai ditempat tujuan tiba-tiba Lam Thiam Gie menunjuk pada suatu puncak dan berkata.

"Goa Sian Jin Tong adanya di puncak itu. Aku sendiri belum pernah masuk. Menurut katanya orang, jalanan disitu amat sukar dan berliku-liku. Didalam goa ada goanya lagi. Benar-benar tempat itu amat rahasia. Orang biasa tidak berani masuk ke dalamnya. Dilihat dari tantangannya dua hweshio itu akan membereskan urusan di gua Sin Jin Tong pasti mereka telah mengetahui seluk beluknya di dalam goa itu. Makanya mereka berani menantang, tentu sudah ada kepastian mereka bakal mendapat kemenangan. Dari sebab itu seharusnya kita berlaku hati-hati, kalau bisa kita jangan masuk kedalamnya sebab sangat berbahaya."

Tidak menunggu Bo yong Kang berkata, Li Cong Bun menjawab terlebih dahulu.

"Lam pepe, bagaimana rahasia juga goa itu dibikin rasanya tidak lebih dri barisan patkwa. Menurut keadaannya tidak mudah ditinggali orang. Aku muncul dalam dunia kangaouw maksudnya hendak mencari pengalaman umtuk dipakai pegangan sebagai seorang pendekar. Kalau menghadapi perkara sulit lantas tidak berani menerjang, lebih baik aku diam mengasingkan diri saja dalam goa supaya diri sendiri selamat dari bahaya. Dengan Pedang Penakluk Iblis maksudnya hendak membasmi penjahat menyelamatkan 238 orang-orang yang tertindas secara sewenang-wenang."

Bo yong Kang tidak berkata apa-apa atas reaksi keponakannya, akan tetapi Lam Thiam Gie yang mendengar itu lantas tertawa bergelak-gelak.

"Li hiantit, aku harus puji semangatmu ada hebat sekali, tapi kita harus berhati-hati jangan sampai terpedaya oleh mereka. Kalau kita mati konyol, apakah tidak harus dibuat sayang? Seban kematian kita ada merugikan kepada rakyat yang hendak kita tolong dan sebaliknya menguntungkan gerombolan penjahat yang hendak kita basmi. Kau pikir benar tidak pikiranku?!"

"Mari kita ke puncak itu!"

Menyela Bo yong kang seolah-olah memutuskan pembicaraan dua orang itu.

Mereka lalu menghampiri gunung yang ditunjuk oleh Lam Thiam Gie tadi.

Dengan semangat mereka mendaki untuk mencari goa Sian Jin Tong.

Sampai ditengah-tengah perjalanan ke puncak, tiba-tiba mereka ketemu dengan sebuah goa.

Inilah yang dinamai goa Sian Jin Tong sebab Tay Tong Hweshio dengan tangan kosong tampak ada berdiri di depan goa tengah menantikan kedatangan mereka.

Tay Tong Hweshio ketika melihat tiga orang itu sedang naik, dengan mengerahkan tenaga dalamnya telah berkata.

"Sicu bertiga telah benar-benar menepati janji. Pinceng berdua menunggu di dalam goa."

Setelah berkata, segera Tay Tong Hweshio gerakkan kakinya masuk ke dalam goa.

Jaraknya masih jauh dengan Bo yong Kang ketika Tay Tong Hweshio meneriaki mereka, maka tidak heran kalau ketika Bo yong Kang dengan dua kawannya sampai di mulut goa, sudah tidak kelihatan mata hidungnya Tay Long Hweshio.

"Dua orang hweshio itu tingkah lakunya sangat licin dan misterius. Aku kira mereka tentu sudah mempunyai daya untuk membinasakan kita. Sekarang kita sudah sampai di sini sebaiknya memasuki goa. Cuma saja kita harus berhati-hati benar, apalagi Bun jie, kau jangan sembrono bertindak. Kalau nanti berbuat yang tidak-tidak, aku nanti tidak senang padamu!"

Demikian Bo yong Kang memperingatkan keponakannya.

Kemudian dengan sangat berhati-hati mereka memasuki goa.

Mereka memejamkan matanya dulu sejenak, untuk mengumpulkan semangat dan membiasakan penglihatannya dari tempat yang terang ke tempat yang gelap.

Ketika mereka membuka matanya pula, mereka melihat ada sinar terang sejauh tujuh delapan kaki dari mereka berada.

Mereka masuk terus.

Memang harus diakui bahwa goa Sian Jin Tong itu sangat 240 indah.

Pada akhir goa besar itu ada sebuah kamar berbentuk patkwa.

Tiap-tiap kamar yang ada disitu ada lubang goanya.

Diantara kamar-kamar itu ada kamar yang menyerupai kamar istirahatnya.

Dimana Bo yong kang berdiri sejenak meneliti.

Kemudian Bo yong Kang ajak dua kawannyamasuk ke dalam kamar itu.

Semakin kedalam semakin sunyi dan suram-suram akhirnya gelap gulita.

Li Cong Bun lalu menghunus pedang pusakanya.

Ternyata itu adalah pedang yang dapat memancarkan cahaya dalam kegelapan.

Terlihat dinding-dinding goa itu amat licin.

Pada setiap tdinding sejarak dua tombak pasti ada lobang kecil.

Melihat keadaan goa itu, diam-diam Bo yong Kang akui goa itu dibikin sangat bagus, siapa untuk membikin goa itu orang sudah mengeluarkan uang berapa banyak.

Dan hweshio yang masuk kesitu tidak kedengaran suaranya dan tidak muncul kembali.

Apakah mereka sengaja memancing mereka masuk kesitu dan mengurung sampai binasa?

Begitu selagi berdiri di goa kecil, tiba-tiba ada serangan gelap yang dilancarkan dengan tenaga yang mengarah belakangnya Li Cong Bun.

Anak muda itu sejak masuk ke dalam goa Sin jin tong sudah siap sedia dengan ilmunya Hian bun kang maka diketahui bahwa serangan itu adalah Ilmu Toa chin in yang 241 sangat diandalkan di Si hek.

Pada saat derangan itu sudah datang dekat, Li Cong Bun berkata .

"Hei, hweshio banci, kau mau mencari mampus sendiri?"

Sambil berkata ia mengibaskan tangan kirinya menangkis serangan gelap tadi.

Segera terdengar suara jeritan ngeri.

Lam Thian Gie segera memburu ketempat yang menjerit tadi, tapi ternyata sudah tidak kelihatan orangnya.

"Lam pepe."

Kata Li Cong Bun.

"Orang-orang itu tidak perlu dicari. Sebab dari suaranya tadi, pasti si kepala gundul itu mendapat luka parah."

Baru saja habis berkata, tiba-tiba dari samping kanan ada berbunyi "wet‟ sesosok bayangan hitam sudah menyerang pada Li Cong Bun.

Entah benda apa yang menyerang itu, Li Cong bun lalu gerakkan tangan kirinya hendak memukul bayangan tadi.

Tiba-tiba Lam Thian Gie yang melihat barang apa yang menyambar pada Li Gong Bun, telah berseru.

"Li hiantit, jangan sentuh barang itu!"

Dalam kaget Li Cong Bun menarik serangannya dan berkelit ke samping.

Benda yang menyambar itu mengenai tempat kosong dan jatuh di tanah.

242 Ketika diteliti, ternyata benda itu adalah seekor ular warna merah api.

Ular yang telah terlatih oleh majikannya.

Ular berbisa ini dapat ditangkap dan dimasukkan kedalam bumbung untuk dipakai sebagai senjata rahasia.

Li Cong Bun sangat mendongkol.

Sekali tebas saja ular itu sudah menjadi dua potong.

Kemudian berkata pada Bo yong Kang dengan suara cemas.

"Bo yong susiok, kau lihat hweshio Si hek itu amat kejam dan jahat terhadap kita, apakah pantas begitu diberi hidup?"

Bo yong Kang hanya tertawa mendengar keponakannya uring-uringan.

Mereka berjalan lagi di depan kamar batu terakhir mereka berdiri meneliti.

Dilihatnya di situ ada tiga buah goa.

Setelah bersangsi sejenak, mereka terus masuk ke dalam goa yang tengah.

Didepannya goa ini lebar tetapi disebelah dalam jalannya berbelak belok.

Mereka lihat ada sinar lampu.

Meminjam penerangan itu, mereka terus masuk sampai pada sinar terakhir dimana ada sebuah pintu.

Diluar pintu mereka lihat ada banyak tulang-tulang manusia.

Rupanya mereka yang masuk ke dalam goa Sian Jin Tong itu telah menemui kematiannya.

Setelah sampai disinar terakhir barulah mereka mengetahui kalau sinar terang tadi keluar dari pintu sebuah kamar batu yang 243 tertutup rapat.

Bo yong Kang menghampiri pintu itu, dengan ringan ia mendorong dan pintu itu lantas terbuka.

Kamar batu itu amat lebar.

Pada kedua belah, ada pintu kecilnya.

Ditengah-tengahnya ada dua tingkat tangga batu, dimana ada diletakkan tiga buah peti mati.entah siapa punya jenazah karena tidak ada tanda-tanda apa atas peti-peti itu.

Sampai pada waktu itu mereka baru sadar kalau goa Sian Jin Tong itu adalah sebuah kuburan kuno.

Dilihat dari bangunannya rupanya goa itu dibuat oleh kawanan penjahat dari rimba hijau.

Karena takut jikalau sudah mati jenazahnya akan dirusak oleh musuh-musuhnya sebagai pembalasan maka dengan tidak menghiraukan besarnya biaya telah dibangun tempat misterius ini untuk menyimpan mayat-mayat mereka.

Dari pintu kamar batu itu sampai ke tempat peti mati diletakkan berjarak tujuh delapan kaki ada sebuah jalan sempit.

Mereka ketika kaki keluar dari kamar itu, tiba-tiba terdengar suara "

Krak‟ pintu sudah tertutup dengan sendirinya dan pintu lainnya jalan keluar juga otomatis tertutup sendiri lantaran Bo yong Kang bertiga jadi terkurung di dalam kamar batu itu.

Mereka dengar gelak ketawanya Tay Tong dan Tay Tek Hweshio disebelah luar.

244 Melalui sebuah lubang angin yang hanya cukup untuk sebuah kepala orang, Tay Tong Hweshio berkata kepada Bo yong Kang yang sudah menjadi orang tawanannya.

"Ha..ha..ha..ha.. Bo yong sicu, bagaimana sekarang? Kemana kegagahan yang kemarin itu? Ilmu silatmu memang tinggi, akan tetapi sekarang tidak ada gunanya didalam kurungan kamar batu ini. Aku merasa kasihan, karena itu aku tidak akan membunuh kalian, hanya akan menbiarkan kalian kelaparan sepuluh hari lamanya."

Bo yong Kang bertiga benar-benar menemukan jalan buntu.

Mereka sangat gusr kepada hweshio jahat itu, tetapi apa yang bisa dilakukan?

Hanya dengan hati mendelu saja mendengarkan Tay Tong Hweshio ngoceh.

"Bo yong sicu, supaya kau dengan kawan-kawanmu tidak mati penasaran, aku beritahukan riwayat tempat ini.

Goa Sian Jin Tong adalah sebuah kuburan kuno tempat menyimpan tulang belulang dari Bajak Laut bernama Khi teng Kiau pada jaman permulaan bahala Ceng.

Aku telah menemukan gambar peta jalanan-jalanan dan pintu rahasia dalam goa ini, maka aku berani memikat kalian datang.

Li Cong Bun yang paling tidak sabaran, ia menyesal kemarin siang tidak penggal saja batang leher hweshio keparat itu untuk mencegah bencana yang menimpa pada petang itu.

Tapi apa bisa diperbuat, ia dan dua 245 kawannya terkurung dalam kuburan kuno dan hanya bisa menanti kematian saja.

Sebentar kemudian terdengar pula Tay Tong Hweshio bicara .

"Kalian tentu akan mati penasaran kalau tidak kuberitahukan, lantaran apa kami ingin membinasakan kalian. Coba kemarin siang itu Li sicu yang galak menyerahkan pedangnya si nikow siluman dengan baik-baik, tentu kalian tidak akan mengalami kejadian yang tidak mengenakkan seperti sekarang. Delapan kepala dari partai kami ada membuat pengumuman, siapa-siapa yang dapat menemukan pedangnya Tay Han Sin ni dan memenggal orang yang membawa-bawa pedangnya akan diberi hadiah menjadi ketua umum dari partai kami. Coba kau pikir Bo yong sicu, apakah hadiah itu tidak menarik bagi muridnya Si hek pay? Kami berdua datang di Tionggoan perlunya mencari orang tersangkut siapa tahu nasib baik menimpa kami. Sebetulnya kami sudah putus asa lantaran sudah lama mencari dengan sia-sia. Malah ada yang mengatakan cita-citanya Tay Han Sin ni tidak ada yang meneruskan. Siapa kira kemarin kami bertemu dengan kalian.. ha..ha..ha.."

Tiba-tiba saja Tay Tong Hweshio terus tertawa tidak henti-hentinya hingga membuat Tay Tek Hweshio yang berada disampingnya merasa sangat heran.

"Hei, suheng kau kenapa?"

Kata Tay Tek Hweeshio sambil menepuk-nepuk bahunya.

Tapi pertanyaan Tay Tek Hweshio tidak digubris, alah tertawa Tay Tong Hweshio lebih menyeramkan menyerupai seorang gila yang tengah kerasukan setan.

Bo yong Kang di dalam kurungan juga merasa heran mendengar tertawanya Tay Tong Hweshio lain daripada yang semula, malah semakin mereka perhatikan suara ketawanya itu dengan apa yang terjadi dalam tangsi Gui Ang Siauw.

Semua pelayan-pelayannya yang tertawa demikian terus tiada hentinya sampai putus jiwanya.

Apakah mungkin si Iblis Beacun muncul lagi ditempat itu dan memberi pertolongan lagi kepada mereka?

Memang benar Tay Tong Hweshio telah terkena panahnya si Iblis Beracun yang aneh itu.

Cuma saja si kepala gundul itu tinggi ilmu silatnya dan tenaga dalamnya juga hampir mencapai kesempurnaan maka ia tidak sampai tertawa bergulingan di tanah seperti yang terjadi atas pelayan-pelayannya Gui Ang Siauw.

Tay Tek Hweshio melihat keadan suhengnya sangat payah, mukanya pucat tak dapar berbicara.

Berkali-kali ditanya kenapa.

Jawabnya hanya sorot matanya seperti yang memohon pertolongannya.

Meskipun Tay Tek Hweshio sangat menyedihkan.

Sebentar kemudian ia telah memuntahkan darah berwarna 247 hitam dan telah menarik napasnya yang penghabisan tanpa memberitahukan kepada sutenya ia kena diserang penyakit apa yang demikian tiba-tiba kejadiannya.

Tay Tek Hweshio amat sedih.

Ia mengucurkan air mata atas kematian suhengnya yang tinggi kepandaiannya, cerdik dan banyak akalnya.

Dalam keadaan ragu-ragu memikirkan kematian suhengnya yang amat misterius, lalu jongkok mengucapkan doa untuk arwahnya sang suheng supaya mendapat tempat yang baik di alam baka.

Dilain pihak, Bo yong Kang merasa curiga ketika dengan tiba-tiba ocehannya Tay Tong Hweshio tidak kedengaran lagi.

Mereka jadi saling pandang sejenak.

Apa yang terjadi disebelah luar kepingin mereka tahu.

Ketika mereka memeriksa sekitar kamar, mendadak matanya Li Cong Bun tertarik pada beberapa lubang angin di dinding sebelah atas, Cuma bagaimana mereka bisa mencapai lubang angin itu karena untuk lompat kesitu tak ada pegangan sama sekali.

Matanya Lam Thiam Gie tiba-tiba mengawasi pada sebuah bangku panjang dari batu yang kiranya dapat digerakkan.

Ia menghampiri dan memeriksa.

Betul saja bangku panjang itu dapat digerakkan.

Ia lalu memanggil kawan-kawannya datang memeriksa.

"Bo yong hiante, bagaimana kalau kita gotong batu ini ke tepi dinding buat 248 kita melongok melalui lubang angin keluar. Kita ingin tahu apa sebenarnya telat terjadi di sebelah luar? Sebab si kepala gundul itu ocehannya mendadak lantas lenyap seolah-olah ia mendapat gangguan sesuatu yang membuat dia tidak sempat membuka mulutnya lagi."

Bo yong Kang angguk-anggukkan kepalanya sambil mengawasi pada bangku itu.

Ia pikir beratnya tentu bukan main.

Ia setuju dengan usulnya Lam Thiam Gie.

Mereka lantas bekerja.

Benar saja dengan pertolongan bangku itu mereka sudah bisa melihat ke sebelah luar dengan melalui lubang-lubang angin yang terdapat disekitar dinding kamar itu.

Justru baru saja mereka melihat ke sebelah luar, tiba-tiba pelita yang dipasang di kanan kiri ruangan seperti yang kekurangan minyak.

Tay Tek Hweshio kelihatan sedang jongkok, kemak-kemik didekat suhengnya yang sudah tidak bernapas lagi.

Bo yong Kang dan kawan-kawannya melihat kejadian itu amat kaget, mereka heran dari sebab apa Tay Tong Hweshio yang begitu segar bugar mendadak telah menutup mata?.

Tengah mereka tertegun, tiba-tiba api pelita yang sudah dekat mati, telah meledak dan mengeluarkan asap hijau yang terang sekali.

Tay Tek Hweshio yang sedang memusatkan pikirannya berdoa telah dibuat kaget oleh ledakan pelita tadi.

Meskipun tidak begitu keras.

Ia menoleh matanya 249 terbelalak tiba-tiba melihat dalam bumpalan asap hijau yang terang tadi, lapat-lapat ia melihat seperti ada manusianya.

Ketika ditegasi itu bukannya manusia tetapi kerangka manusia yang perlahan-lahan dengan dibungkus oleh asap hijau telah menghampiri padanya.

Tay Tek Hweshio bukan main kagetnya.

Ia cepat bangkit tak berani menyambut kedatangannya kerangka manusia tadi.

"Tengkorak hidup…, oh mayit hidup… dia… dia… demikian ia menggerutu sendirian dalam ketakutannya.

Ketika ia dapat menggerakkan kakinya yang semula tidak mau menurut, ia cepat lari meninggalkan jenazahnya Tay Tong Hweshio untuk menyelamatkan dirinya dari cengkraman tengkorak hidup.

Tengkorak itu tidak mengejar, ia menghampiri mayatnya Tay Tong Hweshio.

Bo yong Kang dan teman-temannya berdebaran hatinya menyaksikan kejadian yang amat gaib itu.

Mereka terbelalak matanya mengikuti apa yang akan terjadi lebih jauh setelah tengkorak hidup itu menghampiri mayatnya Tay Tong hweshio.

Asap hijau yang membungkus dirinya perlahan-lahan menjadi buyar tetapi ketika mau buyar sama sekali tiba-tiba telah meletus dikedua sampingnya tengkorak itu asap hijau yang masih baru-baru yang kembali membungkus dirinya/ 250 Setelah ia mengawasi sejenak pada mayatnya Tay Tong Hweshio, tiba-tiba tengkorak hidup itu menari-nari mengitari ruangan.

Apa yang membuat Bo yong Kang dan teman-temannya tidak habis mengerti, tengkorak itu sambil menari-nari lucu sekali telah menjura bebeerapa kali ke arah mereka yang sedang menonton melalui lobang angin.

Sebentar kemudian tengkorak itu berhenti menari, asap hijau yang membungkis dirinya juga sudah buyar.

Bo yong Kang dan kawan-kawannya melihat tengkorak itu memasang pelita batu sehingga dalam goa itu menjadi terang.

"Bo yong susiok, apa benar dia itu adalah tengkorak hidup?"

Tanya Li Cong Bun perlahan.

"Yah.

Apa kita bisa bilang sebab buktinya kita melihat dengan mata kepala sendiri, jawab pamannya.

Memang begitu keadaannya.

Mereka tidak mau percaya tidak bisa sebab mereka lihat melek-melek di depan matanya tengkorak hidup yang menari-nari.

Li Cong Bun ketika berpaling kepad Lam Thiam Gie menanyakan apa yang telah urungkan niatnya ketika mendengar Bo yong Kang berkata sendirian.

"Setan alas.. dia bukan mayat dan bukan tengkorak hidup, tapi… si Iblis Beracun…"

Li Cong Bun kaget.

Cepat ia melongok lagi.

Benar saja ia lihat Iblis Beracun Se Bun Pa sedang membuka pakaiannya yang membungkus dirinya seperti tengkorak manusia.

Betul-betul hebat kepandaiannya.

Se Bun Pa menyaru sebagai tengkorak hidup sebab persis betul apalagi dirinya dibungkus oleh asap hijau yang membuat kelihatannya ia samar-samar dalam gumpalan asap bikinannya yang sangat gaib.

"Bo yong Tayhiap, sampai kita bertemu lagi."

Kata Se Bun Pa sambil menjura.

Dalam sekejap saja ia menghilang dari ruangan itu.

Betul-betul dia orang jahat.

Coba susiok pikir, dia tahu kita dikurung dalam kamar batu ini, dia begitu saja meninggalkan kita.

Mana bisa orang sejahat itu kembali menjadi orang baik-baik?"

Li Cong Bun gemas sekali kelihatannya.

Saking mendongkol, ia cabut Pedang Penakluk Iblis, dibacukkan pada dinding kamar.

Tentu saja tidak menghasilkan apa-apa.

Meskipun lelatu api pada meletik seperti kembang api akibat beradunya pedang dengan batu dinding, tetap saja dinding batu yang tebal itu tak dapat ditembus oleh pedangnya Li Cong Bun.

252 Dalam uring-uringannya, ketika ia hendak mencaci lagi akan kekejaman si Iblis Beracun, tiba-tiba terdengar suara "krak‟ "krak‟ dan kemudian semua pintu yang menutup tadi telah terbuka dengan sendirinya.

Bo yong Kang sangat heran, tetapi Li Cong Bun sudah tidak sabaran.

Ia melompat lebih dulu keluar dari kamar tahanan itu diikuti oleh Bo yong Kang dan Lam Thiam Gie dengan pikiran keheran-heranan siapakah yang telah menolong mereka?.

Mereka tidak sempat mengobrol.

Yang penting adalah mereka keluar lebuh dulu dari goa celaka itu.

Mereka mencari-cari jalan keluar, akhirnya mereka tercapai juga maksudnya setelah terlebih dulu berputar-putar.

Mereka merasa lega ketika dapat mengendus lagi hawa udara yang segar.

Baru saja mereka hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara bergedubrakan yang hebat sekali.

Apakah itu?

Ketika mereka berpaling ke arah goa, ternyata pintu goa itu telah tertutup.

Bo yong Kang menghela napas.

"Untung kita sudah keluar. Kalau kita tengah berada di dalam dan pintu itu tertutup rapat, bagaimana dengan nasib kita?" 253 Lam Thiam Gie dan Li Cong Bun membisu diam-diam mereka membetulkan perkataannya Bo yong Kang tadi.

"Tapi Bo yong susiok, sebenarnya apa maksudnya si Iblis Beracun yang berulang-ulang menolong kita dalam kesusahan?"

Tanya Li Cong Bun. Bo yong Kang belum menjawab, tiba-tiba Lam Thiam Gie tertawa berkata.

"Li hiantit, seperti kukatakan dulu si Iblis Beracun mau mohon damai dengan kalian. Dia ingin hapuskan balas membalas dendam. Ia rupanya mau kalian sadar bahwa dia benar-benar mau menebus dosanya.."

"Tapi dia adalah musuh besarku."

Memotong Li Cong Bun, bagaimana aku dapat menghapuskan permusuhan begitu saja? Dia sudah membunuh ayahku. Aku yang sebagai anaknya bagaimanapun juga akan menuntut balas."

Bo yong Kang tidak berkata apa-apa, muka Li Cong Bun kelihatannya gusar.

Dalam hati diam-diam ia juga bimbang akan kelakuannya si Iblis Beracun yang misterius itu, beberapa kali sudah menolong jiwa mereka.

Memang benar kata-katanya Lam Thiam Gie tadi bahwa si Iblis Beacun mau bikin mereka sadar bahwa ia betul-betul ingin menebus dosa.

254 Lam Thiam Gie juga alihkan pembicaraan pembicaraannya ketika melihat anak muda itu kelihatannya sangat gusar.

Demikianlah, mereka lalu cemplak lagi masing-masing kudanya dan meneruskan perjalanannya lebih jauh.

Seperti yang sudah-sudah, kembali dalam perjalanan ini sambil menikmati pemandangan alam yang permai.

Mereka bertiga bercakap-cakap dengan gembira.

Sudah tentu kejadian di guoa Sian jin tong merupakan bahan pokok mereka bertukar pikiran.

Tanpa terasa, perjalanan mereka sudah sampai diperbatasan propinsi Ce Kiang dan Hok Kian.

Ketika melewati gunung Hong Leng san tiba-tiba Lam Thiam Gie menunjuk ke salah-satu puncak seraya berkata.

"Bo yong hiante dan Li Hiantit, disana aku ada membangun sebuah rumah batu kecil. Sudah lama aku tidak pergi melihat, maka sekarang aku ingin kesana dulu. Sebentar malam kalian berdua datang ke tempat itu untuk beristirahat barang satu dua hari."

Bo yong Kang tertawa.

"Ya, toako sudah lama tidk pulang, memang seharusnya rumah itu dilihat. Kami berdua sudah tentu sebentar malam akan datang kesana."

Jawabnya.

"Aku membangun rumah itu sebenarnya bermaksud kalau-kalau ada orang kangouw yang kesasar, dapat meneduh disitu untuk 255 sementara."

Kata Lam Thiam Gie.

"Perhubungan kita masih belum lama berkenalan, rasanya sangat erat. Maka sebentar malam aku ingin mengatakan apa-apa kepada kalian berdua yang keluar dari hatiku pribadi. Harap kalian jangan lupa datang."

Lam Thiam Gie setelah tertawa lantas memajukan kudanya dan pergi naik ke puncak Cit Cui Ku hong.

Setelah Lam Thiam Gie pergi jauh, Li Cong Bun menanya pada pamannya, Sebenarnya apa yang hendak dikatakan oleh orang tua itu.

Bo yong kang hanya mengatakan boleh jadi orang tua itu akan memberi nasehat kepada mereka berdua.

Menantikan sang malam tiba, paman dan keponakan telah melewatkan waktunya dengan jalan-jalan menikmati pemandangan yang permai dan sunyi tenteram disekitarnya tempat itu.

Setelah sang malam tiba, mereka lalu bedal kudanya naik ke puncak dimana Lam Thiam Gie membangun rumahnya.

Ketika mereka sampai, benar saja disitu ada sebuah rumah dari batu, keadaannya sangat tenteram, disamping rumah ad kelihatan air terjuh yang menarik sekali.

Dipintu rumah sudah menantikan Lam Thiam Gie menyambut mereka dengan muka tertawa-tawa.

Berdua setelah masuk kedalam dilihat diatas sebuah meja batu sudah diatur barang 256 hidangan dan minuman.

"Lam toako, kau tergesa-gesa pulang lebih dulu rupanya hendak menyiapkan barang makanan untuk kami berdua, ha ha ha ha…"

Bo yong Kang bergurau.

Lam Thiam Gie dengan ramah mempersilakan mereka berdua duduk di atas kursi batu.

Tetapi sebelum duduk, Bo yong Kang dan Li Cong Bun terbelalak matanya berdiri bengong ketika melihat di sudut dari ruangan itu terlihat sebuah peti mati.

Lam Thiam Gie tertawa bergelak melihat kelakuannya dua orang itu.

"Bo yong hiante dan Li hiantit, tentu kaget melihat ada peti mati di sini. Mari.. mari kita lihat..!"

Ia mengajak tamunya.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun mengikuti Lam Thiam Gie.

Tuan rumah segera membuka tutup peti mati, benar saja didalamnya tidak ada mayatnya, hanya ada kasur, bantal dan selimut lengkap seolah-olah itu adlah tempat tidur.

Setelah menutup lagi peti tadi, Lam Thiam Gie ajak dua sahabatnya menghampiri meja hidangan lagi, dimana mereka berkumpul duduk dengan muka berseri-seri.

"Lam toako, barusan aku kira ada isinya maka dalam hati merasa heran, siapa yang telah meninggal dan belum dikebumikan 257 jenasahnya?

Tetapi sekarang setelah mengetahui kosong, hatiku merasa lega.

Tapi toako, sebenarnya peti itu tempat apa, didalamnya aku lihat ada bantal dan kasur seperti biasa ditiduri orang?

Demikian Bo yong Kang menanya.

Lam Thiam Gie tertawa riang.

Ia mempersilakan dua sahabatnya tenggak araknya kemudian ia berkata.

"Bo yong Hiante memang benar, peti mati itu adalah tempat tidur orang dan orangnya adalah aku sendiri.

Aku di beberapa tempat sunyi dan permai ada membangun lima buah rumah yang masing-masing dilengkapi dengan peti mati tempat aku tidur dan tutupnya adalah merupakan kelambunya.

Aku biasa kalau tidur dalam peti suka aku kunci rapat-rapat.

Maklumlah aku sudah tua, kalau kebetulan ajalku sampai, pikirku aku sudah berada dalam peti tak usah mereporkan orang lain pula.

"Toako, kau terlalu….!"

Menyela Bo yong Kang.

Lam Thiam Gie tertawa..

bukankah itu ada baiknya?

Aku sudah tidak punya sanak famili yang dapat mengambil tahu kematianku..

ya..ya… aku dalam beberapa tahun belakangan ini telah insyaf akan perbuatanku yang tidak benar…"

Bo yong Kang dan Li Cong Bun heran mendengar perkataannya Lam Thiam Gie. Sementara itu Lam Thiam Gie nampak menghela nafas beberapa kali.

"Eh aku jadu lupa,"

Katanya gembira lagi.

"Mari.. mari kita minum. Aku menyuguhkan kepada kalian arak baik sebagai tanda ikatan persahabatan dalam perjalanan kita selama beberapa waktu berselang."

Ia kelihatan repot menuangkan arak di cawan dua tetamunya.

Bertiga tampak gembira menenggak arak dengan dantapan sekadarnya.

Tba-tiba Lam Thiam gie pejamkan matanya sejenak setelah ia menenggak arak paling belakang.

Ketika ia membuka lagi matanya, kelihatan ada perubahan yang tidak disangka-sangka.

Tampak matanya guram entah kenapa.

SEBAGAI seorang tua yang sudah banyak pengalaman ingin aku memberikan satu dua patah kata kepada kalian berdua, entah apakah kalian keberatan atau tidak?"

Katanya.

"Oh tidak malah kami berdua akan merasa sangat berterima-kasih akan nasehat dari toako. Silakan bicara!"

Bo yong Kang menjawab dengan girang. Setelah batuk-batuk sebentar Lam Thiam Gie berkata.

"Ilmu silat kalian tidak mengecewakan, malah jaarang mendapat tandingan pada masa sekarang. Cuma pengalaman kalian masih belum banyak. Bo yong hiante sebenarnya kau sudah merantau di banyak tempat seterusnya berhati-hati dalam segala hal. Apalagi 259 mengingat pada tahun depan tanggal tiga bulan tiga akan melakukan pertempuran di Ciu Tiok san. Musuhmu itu sangat jahat dan kejam, tidak mau mengalah. Mereka banyak akal liciknya, seharusnya kau menjaga kewaspadaan dan jangan pandang enteng kepada mereka!"

Bo yong Kang heran mendengar bicaranya Lam Thiam Gie.

"Hei.. toako, pertemuan di Cui tok san itu nanti, bukankah sudah berjanji akan membantu kami, kenapa toako bicara demikian?"

Lam Thiam Gie menghela napas.

"Bo yong hiante memang katamu itu betul.

Tapi ya udara tak dapat diramalkan bakal terang atau hujan.

Demikian juga dengan manusia ada malang dan mujurnya pada saat yang tidak diketahui.

Menurut dugaanku, umurku tak sampai pada tahun depan musim semi.

Karena disepanjang jalan pergaulan kita amat erat maka aku tidak boleh tidak aku harus membuka suatu rahasia kepada kalian.

Bo yong Kang tidak mengerti kemana juntrungan bicaranya sang sahabat itu sedangkan Li Cong Bun yang mendengar Lam Thiam Gie berkata hendak membuka rahasia, diam-diam dalam hatinya menanya, kau hendak membuka rahasia apa?

Sebelum Lam Thiam Gie melanjutkan bicaranya, Li Cong Bun bertanya.

"Lam pepe, 260 rahasia apakah itu yang hendak diberitahukan kepada kami?"

Lam Thiam Gie tersenyum.

"Li hiantit sabar sedikit."

Katanya.

"Harap kalian berdua jangan kaget. Coba pikirkan, kalian datang keselatan untuk menempuh perjalanan ribuan li jauhnya. Sudah berapa kali kalian menghadapi bahaya maut?"

Berbareng ia lalu menuangkan arak dari poci ke tanah, segera arak itu tampak mendidih.

Paman dan keponakan itu sangat kaget melihat kejadian demikian, mereka mengira bahwa mereka telah minum arak beracun yang dapat membikin hangus dan putus usus-usus.

Wajah mereka berubah seketika.

Pucat dan merasa sangsi.

Lam Thiam Gie mengetahui alam pikirannya dua orang itu, maka sambil tersenyum ia berkata.

"Kalian jangan kaget. Tunggu setelah sulapanku selesai barulah mengajukan pertanyaan."

Sambil berkata ia membuka tutup poci arak.

Ternyata di dalamnya ada dua tempat ialah arak biasa dan arak beracun yang sangat keras.

Bukan main Bo yong kang dan Li Cong Bun kagetnya.

Sebelum mereka mengajukan pertanyaan.

Lam Thiam Gie sudah ambil cawan arak paman dan keponakan dan dituang isinya 261 ke tanah, ternyata tidak berdidih seperti tadi.

Tetapi ketika arak dalam cawannya sendiri yang barusan diminum, ketika dituang telah bergolak mengeluarkan asap seolah-olah arak itu ada apinya.

Setelah bengong sejenak menyaksikan kejadian itu, mereka jadi kaget dengan tiba-tiba sebab mereka mengerti kalau Lam Thiam Gie telah meminum arak yang ada racunnya.

Mereka cepat berdiri.

Li Cong Bun cepat keluarkan tanduk badak dinginnya untuk memunahkan racun.

"Lam popo,"

Kat Li Cong Bun sambil menyodorkan benda pemunah racun.

"Kau isaplah benda ini untuk memunahkan racun dalam dirimu. Barang ini adalah pemberian dari Tay supek Bu Ju Taoso, sangat manjur. Seharusnya pepe tidak berlaku begini rupa. Kenapa kau mendadak seperti yang sudah bosan hidup?"

Bo yong kang repot mengambil air yang dengan tanduk badak dingin yang digerus itu dapat diminumkan kepada si korban untuk memunahkan racun yang bekerja di dalam perutnya.

Lam Thiam Gie amat berterima kasih atas kecintaan dua sahabat itu, tapi ia gelangkan kepala kemudian berkata.

"kalian adalah sangat baik, aku mengucapkan terima kasih atas perhatian itu. 262 Tetapi bukannya tanduk badak dingin yang dapat memunahkan racun dalam perutku. Aku masih mempunyai benda yang amat mengherankan untuk kalian lihat! Nah, kaian pada ambil tempat duduk lagi."

Bo yong Kang dan Li Cong Bun menurut, masing-masing pada duduk di kursi pula.

Ia tertawa getir, kemudian tangannya meraba kupingnya, dicopot ditaruh ditelapak tangannya diperlihatkan kepada dua orang itu.

Mereka sangat terkejut melihat kuping yang dicopot.

Lantas saja Bo yong Kang ingat akan itu bingkisan yang membawa bencana hingga Li Hoay Bin ayahnya Li Cong Bun mati konyol.

Dalam keragu-raguan darahnya mendidih, ia berteriak kerass.

"Kau…. Apakah kau si Iblis…."

Tapi perkataannya belum habis mendadak terdengar suara berisik dari terdengarnya barang berat.

Beberapa lingkaran baja telah keluar dari dinding rumah dan meringkus paman dan keponakan itu sebelum mereka dapat bergerak.

Itulah Lam Thian Gie alias Cian tok Jin mo (si Iblis Beracun) yang cepat memencet alat rahasia yang terdapat dibawah meja untuk meringkus orang yang hendak membalas dendam pada dirinya.

263 Terlihat dirinya dalam keadaan tidak berdaya, dalam kuasa musuh besarnya, paman dan keponakan itu merasa sangat cemas.

Tapi Bo yong Kang mencoba berlaku tenang ingin melihat perkembangan lebih jauh atas perbuatannya si Iblis Beracun maka ia mencegah ketika Li Cong Bun mau obral caciannya.

Lam Thiam Gie mengambil kedok yang berbau obat lalu dipasang di wajahnya.

Ia menekan-nekan sejenak lalu membukanya lagi.

Lalu tertawa gelak-gelak menghadapi Bo yong Kang.

"Bo yong tayhiap jangan gelisah, apakah kau masih mengenali kepadaku ini?"

Ternyata wajah Lam Thiam Gie telah berubah menjadi si Iblis Beracun uang Bo yong kang kenali benar. Dalam hati ia mengeluh.

"Ya, Se Bun Pa."

Bo yong Kang kemudian berkata dengan suara tenang.

"Aku sangat memuji akan kecerdikanmu, sehingga aku dan keponakanmu jatuh dalam kekuasaanmu. Cuma saja aku merasa heran. Kita dari An hui berjalan bersama-sama. Boleh dikatakan kita berkumpul bersama-sama dalam pergaulan yang sangat erat. Kenapa waktu itu kau tak turun tangan dan baru sekarang dalam rumah batu ini kau membuka rahasia dan menunjukkan muka aslimu? Tolong jelaskan maksudmu sebenarnya bagaimana? Supaya dengan keteranganmu itu 264 kami berdua mati tak membawa rasa penasaran!"

Li Cong Bun yang dilarang memaki-maki iblis tua itu, lalu templekkan kemarahannya kepada lingkaran-lingkaran baja yang meringkus dirinya.

Ia kerahkan sepenuh tenaganya, tapi sia-sia daja karena lingkaran-lingkaran itu selain menekan jalan darahnya juga ia menjepit pinggangnya sangat teguh kokoh.

Ia boleh dikatakan susah berkutik.

Ketika mendengar bicaranya Bo yong Kang, tiba-tiba Lam Thiam Gie yang sekarang sudah kembali menjadi si Iblis Beracun Se bun Pa telah mengucurkan air matanya.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun menjadi sangat heran, kenapa Iblis Berbisa yng sangat kejam yang membunuh orang dengan tak berkedip kini telah mengucurkan air mata kesedihan?.

"Kalian jangan salah mengerti mendapat perlakuan ini. Aku Sebun Pa. kalau memang bermaksud jahat, ditengah perjalanan saja aku habisi jiwa kalian tnpa mesti menunggu sampai saat ini. Aku meringkus kalian adalah karena kuatir nanti kalian terburu nafsu dan menempur diriku sebelum aku dapat berbicara dengan jelas tentang maksudku yang sebenarnya."

Bo yong Kang tenang-tenang saja mendengarkan. Sedang Li Cong Bun diliputi 265 oleh perasaan ragu dan sangat penasaran tidak bisa menelan mentah-mentah bicara musuh besarnya yang ada di depan matanya.

"Seprti kalian lihat,"

Kat pula si Iblis Beracun.

"Aku telah menenggak arak beracun, tapi untuk membuat bekerjanya racun perlahan, aku terlebih dahulu telah menelan pil hingga dapat menahan jiwaku tamat sampai aku habis bercerita kepada kalian tentang permusuhanku dengan Li Hoay Bin."

Si Iblis Beracun menghela napas dan terbatuk-batuk sebentar kemudian meneruskan bicaranya.

"Aku karena amat jahat dan kejam, maka dalam kalangan kanouw orang memberi aku nama si Iblis Beracun.

Waktu itu aku malang melintang berbuat kejahatan dengan tidak mendapat halangan apa-apa.

Tapi pada suatu hari aku telah bertemu dengan Li Hoay Bin yang hendak membasmi kejahatan.

Waktu itu dengan manis Li Hoay Bin meminta aku membuang segala adat jahatku dan kembali ke jalan yang baik, tapi mana aku dapat menerima nasehatnya itu, sebab waktu itu aku sedang jumawanya dan tidak melihat mata terhadap siapapun juga, karena kepandaianku yang kuanggap sangat tinggi dan aku pandai membuat ragun."

"Kau jadi bertempur dengan ayahku bukan?"

Menyela Li Cong Bun. 266

"Betul!"

Jawabnya.

"Karena kita tidak mendapat kecocokan maka kita telah bertempur untuk menetapkan siapa yang lebih unggul. Akhirnya, Li Hoay Bin telah memberi padaku satu tanda mata, ialah sebelah kupingku kena ia kupas. Li Hoay Bin telah mengampuni dan melepas aku. Setelah ia memberi nasehat supaya aku merubah kelakuanku menjadi orang baik-baik. Tetapi hatiku yang tidak mau mengalah dan besar kepala telah membuat aku mendendam hati kepada Li Hoay Bin yang semestinya aku berbuat kebaikan seperti apa yang dinasehatkan oleh si orang she Li. Sejak saat itu aku telah mencari segala akal untuk melakukan pembalasan. Sampailah pada hari itu, ketika Li Hoay Bin yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke limapuluh, aku telah mengirim bingkisan maut yang menyebabkan orang she Li itu melayang jiwanya…."

"Hmm..!

Li Cong Bun menggeram, matanya melotot beringas, ia sudah kepingin hajar saja orang tua yang kejam itu dan mengirim jiwanya ke akherat, akan tetapi apa yang bisa ia perbuat?

Karena ia masih teringkus oleh beberapa lingkaran baja yang membuat ia tidak bisa berkutik untuk meloloskan dirinya.

Cuma dalam hatinya saja ia sangat mendendap.ia tidak berani mencaci sesuka hatinya karena waktu ia mau mebuka mulut sudah dilarang oleh kedipan Bo yong Kang 267 susioknya.

Terpaksa ia membisu dengan hati mendidih.

Bo yong tayhiap dan Li siauhiap, tentu kalian menduga bahwa aku merasa kehilangan ats kematian musuh yang membuat aku kehilangan sebelah telingaku.

"Terang. Iblis kejam. Kau tentu berjingkrakan setelah membunuh ayahku. Kalau kau seorang laki-laki, bebaskan aku. Kita berhadapan untuk menentukan siapa boleh hidup dalam dunia ini!"

Demikian Li Cong Bun berkata. Rupanya ia sudah tidak bisa menahan amarahnya yang meluap-luap.

"Sabar dulu Li siauhiap!"

Kata si Iblis Bercun, mukanya tertawa tetapi sudah nampak hilang cahayanya.

"Aku sudah bertekad bulat untuk menebus kematiannya Li Hoay Bin, aku harus mati."

Bo yong Kang melengak keheranan. Si Iblis mau ambil tindakan pendek?

Jilid 8 SEBELUM ia membuka mulut menanya si Iblis Beracun telah meneruskan bicaranya.

"Tidak betul aku kegirangan seperti yang dikatakan Li Siauhiap tadi. Sebab ketika aku tidak berlalu jauh dari rumahnya Li Hoay 268 Bin, kalau tidak boleh dikatakan aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika Li Hoay Bin membuka bingkisanku dan kemudia ia bergemetaran rebah melayang jiwanya. Menyaksikan kejadian itu hatiku sangat duka. Aku pergi dari rumahnya Li Hoay Bin dengan hati yang sangat menyesal atas perbuatanku itu…."

"Ya, kau menyesal, apakah ada gunanya?"

Menyela lagi Li Cong Bun yang sudah tidak tahan yang sudah tidak tahan lagi membendung amarahnya.

"Ayahku tidak bisa hidup lagi karena kemenyesalanmu itu. Dia sudah mati dan kau harus mengganti jiwanya, kau mengerti!"

Si Iblis Bercun tidak marah dijengek-jengeki Li Cong Bun, ia kelihatan tenang-tenang saja malah tersenyum.

"Li Siauhiap, perkataanmu memang betul,"

Ia berkata pula.

"Aku setelah itu lalu menyekap diri lama juga di tempatku di Kiu hoa san. Belakangan ketika aku menemukan sebuah kitab ilmu silat yang ajaib, pikiranku berubah. Pikirku, aku menyekap diri terus menerus berduka atas kematiannya Li Hoay Bin, apa gunanya? Lebih baik aku meyakinkandengan baik-baik kitab ilmu silat itu. Setelah mahir, aku boleh keluar lagi di kalangan kangouw. Tapi kali ini aku muncul bukan untuk berbuat kejahatan lagi sepperti yang lampau. Demikian aku mewujudkan angan-anganku itu, Cuma saja untuk menyelesaikan 269 urusan dengan Li siauhiap aku belum mendapat jalannya. Aku sangat menyesal…"

"Menyesal.. menyesal!"

Li Cong Bun kembali menyela.

"Aku sudah bilang tidak ada gunanya! Iblis kau. Lekas lepaskan aku untuk mengambil juwamu!"

Teriak Li Cong Bun. Bo yong Kang geleng-geleng kepala mendengar keponakannya sangat gusar.

"Li Siauhiap, kau sabar dulu."

Jawab Iblis Beracun. Ia tetap tenang bicaranya dan tak marah atas kata-katanya Li Cong Bun yang menusuk hati.

"Aku memang harus mati tetapi aku tidak mau mati ditangan orang lain."

"Jadi kau mau mati bagaimana?"

Tanya Bo yong kang.

"Aku mau mati atas perbuatanku sendiri, kalian sebentar lagi buktikan. Kini kalian jangan ganggu penuturanku dulu, sebab nanti tak dapat mempertimbangkan keputusan secara adil."

Bo yong Kang setelah memberi isyarat pada keponakannya, menjawab.

"Silakan!"

"Aku dengan secara kebetulan telah berjumpa dengan kalian di telaga Cauw cow, terus aku mengikuti kalian. Kalian tidak tahu aku siapa, yang dikenal bahwa aku ini aku bernama Lam Thiam Gie bukan? Selama perjalanan kita bertiga, aku selalu membantu kalian. Perbuatan-perbuatan kalian yang aku saksikan selama itu diam-diam membuat aku 270 memuji tinggi jiwa kependekaran kalian. Setelah aku pikir matang-matang, aku mengambil kesimpulan untuk membuka rahasia di dalam rumah ini siapa diriku, mengaku dosaku dan menebus dosaku dengan kematian…"

Bicara sampai disini, ia berhenti batuk-batuk sebentar dan matanya tampak seperti lampu kekurangan minyak, mukanya pucar dan badannya bergemetaran.

Seolah-oleh ia sudah tak tahan akan bekerjanya racun dalam perutnya.

Perlahan-lahan ia mengeluarkan satu botol warna putih dari sakunya.

Setelah dikocok sebentar lalu diminumnya saat itu tangannya menekan perut dan matanya dipejamkan seperti dedang mengulpulkan tenaga baru.

Bo yong Kant terharu menyaksikan keadaan Iblis Beracun, sedang Li Cong Bun yang barusan meluap-luap amarahnya, kini melihat keadaan Se bun Pa yang sudah dekat mati hatinya juga merasa tak tega.

Ia bengong ketika melihat Bo yong kang dari sela-sela matanya ada menetes air mata.

"Lam toako, jadi itu kejadian di Mo Leng hong ada perbuatanmu yang menolong kami berdua? Pelayan-pelayannya Gui Ang Siauw yang jatuh bergelian perutnya sakit apa kau yang melakukan?"

Lam Thiam Gie alias si Iblis Beracun menganggukkan kepala dan tersenyum getir. 271

"Tapi Lam toako, bagaimana itu kejadian di goa Sian Jin Tong?"

Tak mungkin kau yang menjadi tengkorak hidup, karena waktu itu ada bersama-sama kami,"

Kata pula Bo yong kang yang terheran-heran atas perbuatan si Iblis Beracun yang misterius yang ia tak dapat mengenalnya kalau dirinya sendiri tak membuat pengakuan.

Se bun Pa tertaw mendengar kat-katanya Bo yong kang.

"Bo yong Tayhiap, memang benar yang memegang peranan waktu itu bukan aku."

"Siapa?"

"Se bun Ceng, keponakanku."

"Yang di atas menara?"

"Juga Sebun Ceng."

"Yang berkedok dabn berpakaian hitam di Mo leng Hong?"

Nyeletuk Li Cong Bun.

"Dia Se bun Ceng."

Jawabnya. Bo yong Kang menggeleng-geleng kepala.

"Lam toako, hebat betul kau membawa peranan.memang kalau kau mau, kami berdua tidak bisa apa-apa terhadap kau yang demikian lihai."

"Aku hanya akan hidup beberapa jam lagi. Sebelum ajalku sampai aku ingin menyatakan isi hatiku yang sejujurnya. Kita bermula sebagai musuh besar, belakangan menjadi 272 sahabat erat, sungguh ini tidak dapat aku lupakan. Tapi aku sudah bertekad bulat, bahwa hanya dengan kematianku Li Siauhiap baru merasa puas untuk menagih hutang jiwa ayahnya padaku, bukankah begitu Li Siauhiap?"

Se bun Pa menanya dengan senyumnya yang sudah layu.

Li Cong Bun tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian si Iblis Beracun ulurkan tangannya kebelakang lalu duduk.

Darimana ia ambil potongan lengan manusia yang darahnya masih menetes.

Dengan bercucuran air mata ia telah berkata.

"Ya, aku sejak kecil tidak punya sanak saudara dan hanya keponakanku Se bun Ceng sejak kecil mengikuti aku. Ia telah kena pengaruh kejahatan dan kekejamanku, mka ia malang melintang berbuat kejahatan tanpa ada yang berani menghalang-halangi. Radi siang ia datang kemari. Aku sudah minta dia merubah perbuatannya untuk kelanjutan hidupnya. Ia ada sangat sayang dan menghormat kepadaku, maka tanpa ragu-ragu ia telah menerima baik nasehatku. Malah segai tanda bahwa ia tidak akan membikin kapiran pesanku dia telah menebas kutung lengannya ini sebagai bukti atas sumpahnya dia."

Si Iblis beracun tidak dapat meneruskan bicaranya, karena tenggorokannya seperti tertutup saking sedihnya.

Mau atau tidak, Bo yong kang dan keponakannya menyaksikan 273 kejadian itu telah pula meneteskan air matanya sedih.

Sejenak keadaan kamar itu menjadi sunyi senyap.

"Bo yong Tayhiap."

Tiba-tiba si Iblis Beracun memecahkan kesunyian.

"Aku harap kalian berdua jikalau di belakangan kali berjumpa dengan keponakanku itu, dukalah memberi nasehat supaya dia betul-betul kembali ke jalan yang baik. Kalau dia dapat berbuat demikian, roh ku di alam baka juga akan merasa sangat girang dan merasa berterima kasih atas kalian punya bantuan…"

Tampak Se bun Pa benar-benar sudah sangat lelah.

Bo yong kang membisu, matanya mengawasi pada keponakannya seolah-olah menanya pad pikirannya sang keonakan yang tersangkut langsung dalam dendaman hati hendak menuntut balas akan kematian ayahnya.

Li Cong Bun tundukkan kepalanya.

Ia seperti yang sedang memikirkan jalannya kehidupan manusia.

Tiba-tiba ia angkat kepalanya dan berkata nyaring .

"Ya, berul seperti ujarnya Sang Buddha, kita meletakkan pisau terus menjadi dewa. Apakah dendaman itu tak dapat dihilangkan? Nah Se bun Pa, sejak saat ini aku hapuskan dendam hati padamu. Aku tak akan menuntut balas lagi, legakan hatimu! Sekarang yang 274 penting harus menolong memunahkan racun yang kau telah minum tadi."

Bo yong Kang endengar perkataannya Li Cong Bun, mukanya seketika telah berubah menjadi terang.

Ia sendiri memang diam-diam sudah menghapuskan niatnya untuk menuntut balas kepada si Iblis Beeracun itu yang keadaanya sudah dekat mati, tapi ia tidak mau menyatakan itu karena kuatir akan mentinggung perasaannya Li Cong Bun yang tersangkut langsung dalam menuntut balas itu.

Kini ia mendengar sendiri Li Cong Bun menghapuskan dendam hatinya.

Tentu saja ia menjadi girang.

Sementara si Iblis Beracun juga tampak tersenyum-senyum puas.

Li Siauhiap, pernyataanmu itu membuat aku sangat girang.

Selama tiga puluh tahun ini, belum pernah aku menunjukkan wajahku yang asli.

Tapi sekarang, dimana ajalku dekat sampai, aku mau unjukkan kepada kalian berdua..."

Ia berkata sambil loloskan kedok kulit tipisnya yang menutup wajahnya yang asli, segera Bo yong kang dan Li Cong Bun terlihat didepannya ada seorang tua bermuka putih pucat.

Rupanya tak kena sorot matahari untuk sekian lama.

Begitu welas asih roman itu, hingga Bo yong Kang dan Li Cong Bun terpesona beberapa lamanya.

Diam-diam dalam hatinya menanya, apakah dia si Iblis Beracun yang kejam telengas?

Kenapa mukanya tak bengis dan menakutkan?

275 Pada wajah yang welas asih, putih kepucat-pucatan itu.

Dipelipisnya keluhatan tand cap sebagai orang buangan pemerintah.

Melihat Bo yong Kang mengawasi pada tand itu, dengan sedih ia berkata .

"Bo yong Tayhiap, kau tentu heran tanda cap orang buangan pada pelipisku ini."

Sambil meraba pada pelipisnya.

"Kau nanti tak heran kalau sudah dapat tahu bagaimana asalnya aku mendapat cap itu. Dulunya aku adalah seorang pendekar yang memusuhi pembesar-pembesar bejat yang biasanya nyeleweng. Dalam suatu peristiwa aku telah kena ditangkap. Mereka telah memberikan tanda pada pelipisku sebagai orang jahat. Belakangan ketika aku bisa meloloskan diri, aku telah membuat pembalasan dan menyikat habis-habisan para pembesar yang menyeleweng itu. Seterusnya aku telah melakukan berbagai kekejaman di berbagai tempat, hingga aku tergolong dalam kalangan orang berjalan hitam…."

Tiba-tiba Sebun Pa memegangi perutnya dengan muka meringis-ringis menahan sakit.

"Nah, racun dalam perutku sudah bekerja hebat. Aku akan lekas meninggalkan dunia yang fana ini. Dan ini..!"

Sambil menunjukkan se

Jilid kitab.

"Adalah Kitab ratusan obat bisa yang aku ketemukan dalam sebuah jurang dari gunung Kauw lo san. Lantaran aku hafal betul dengan isinya buku itu, maka orang telah memberi julukan padaku 276 si Iblis Beracun. Supaya kitab ini tak jatuh pada orang yang tidak bertanggung jawab seperti aku dulu, maka didepan kalian sebelum aku mati, aku hendak membakarnya…"

Sebun Pa tampak sudah tidak tahan dengan mendidihnya racun dalam perutnya yang telah memutuskan usus-ususnya.

Sambil membakar buku obat racun itu, tangannya memegangi perutnya.

Mukanya sudah jangan ditanya lagi.

Sangat pucat dan keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

"Lam toako, lekas lepaskan kami. Kau jangan berbuat begitu. Kau harus hidup terus untuk memberi contoh untuk orang-orang yang melakukan kejahatan dan mereka sadar sebelum bencana menimpa dirinya.. lekas Lam toako…!"

Bo yong kang kelihatan sangat gugup melihat si Iblis Beracun sudah hampir mendekati kematiannya.

Li Cong Bun juga kelihatan gelisah tapi tidak berdaya karena lingkaran baja masih menguasai didinya.

Se bun Pa yang keadaanya ingat dan tidak, masih dapat memencet perkakas rahasia yang membuat Bo yong Kang dan Li Cong Bun terlepas dari ringkusannya lingkaran baja yang kuat itu.

Terus mereka memburu pada si Iblis Beracun yang sudah sangat payah.

277 Bo yong Kang memberikan totokan pada jalan darahnya supaya Sebun Pa ingat lagi akan dirinya tapi itu hanya untuk sementara waktu saja.

Li Cong Bun ingat akan obat Bun mia Leng tan dari Bu U Toato.

Tanpa ragu-ragu lagi ia keluarkan dari sakunya dijejalkan pada mulutnya Se bun Pa.

Se bun Pa ketika membuka matanya nampak disisinya ada Bo yong Kang dan Li Cong Bun, dengan penuh rasa kuatir mulutnya tersenyum getir.

Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua buah botol.

"Boyong Tayhiap,"

Katanya dengan suar perlahan.

"Ini ada dua botol obat untuk merubah muka. Yang berwarna hijau untuk merubah dan yang putih untuk memulihkan wajah yang asli. Mungkin dalam perjalananmu ada memerlukan, bawalah! Aku… sudah… sela mat .. ting.."

Terputus-putus bicaranya dan itu ada menjadi tanda bahwa malaikat elmaut sudah tidak sabaran menunggu si Iblis Beracun yang banyak rewel.

Cian tok Jim mo atau si Inlis Bercun telah mangkat….

Dengan air mata bercucuran duua orang pendekar itu telah merawat dengan baik jenazahnya Se bun Pa dimasukkan ke peti tempat ia biasa tidur.

Tidak dikebumikan supaya Se bun Ceng besok lupa datang menjenguk jenazah sang paman.

278 Di depan peti mati Se bun Pa mereka bernanji akan menghapuskan permusuhan dengan Se bun Ceng.

Jikalau dikemudian hari Se bun Ceng benar-benar telah berubah menjadi orang baik-baik, mereka akan memberikan bantuan manakala diperlukan oleh keponakannya itu.

Mereka tinggal semalam lagi di rumahnya Se bun Pa.

pada keesokan harinya pagi-pagi mereka naik kudanya lagi turun gunung Cit cui san yang berpuncak sangat indah menarik.

Berjalan belum lama, Bo yong Kang melihat kudanya Se bun Pa ada mengikuti dari belakang.

Hatinya terharu lalu hentikan kudanya sampai pada kuda Se bun Pa datang mendekat.

Sambil mengelus-elus lehernya Bo yong Kang berkata.

"Majikanmu dusah meninggal dunia, kini kau boleh sesukamu menjelajah dalam gunung ini asal saja kau bisa menjaga diri, jangan sampai kau diterkam binatang buas.

Bo yong Kang menutup perkataannya sambil menepuk pantatnya, kuda Se bun Pa seperti mengerti bicaranya orang, setelah ditepuk ia lantas berjingkrak dan meringkik kemudian lari meninggalkan tempat itu ke arah utara.

Ketika Bo yong Kang dan keponakannya sedang bengong mengawasi perginya kuda Se bun Pa, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda dari jurusan tenggara yang lari nendatangi dengan kecepatan kilat.

Bo yong Kang pasang 279 kupingnya, ia seperti mengenal kuda siapa yang datang itu.

"Bun jie, aku seperti kenali suara lari dan meringkiknya kuda itu, coba kau dengarkan!"

Kata Bo yong Kang kepada keponakannya. Sebentar kemudian Li Cong Bun melihat dari jurusan tenggara mendatangi seekor kuda putih yang tengah lari sendirian tidak ada yang menunggangi.

"Hei, Bo yong susiok, kuda itu bukannya kuda si enci baju putih pada delapan tahun yang lalu kita bertemu dia..?"

Serunya.

Bo yong Kang melihat memang benar kudanya si nona baju putih, tapi heran kemana penunggangnya si cantik menarik?

Tidak ayal lagi Bo yong Kang lalu keprak kudanya sendiri menyusul.

Ketika mendengar ringkiknya kuda Bo yong Kang, kuda si nona yang mengenali telah hentikan larinya, sambil putar tubuhnya lalu datang menyongsong Bo yong Kang.

Cepat Bo yong kang turun dari tunggangannya, ia mencekal les kuda si nona.

Sambil menepuk-nepuk beberapa kali dengan penuh kasih sayang.

Tiba-tiba Bo yong kang melihat binatang itu dekat bagian kempolannya seperti terbacok pedang.

Ketika ia memeriksa benar saja kuda putih itu luka.

280 Hati Bo yong Kang gelisah.

Pikirnya, kuda itu lari sendirian tanpa penunggangnya, pasti majikannya telah mendapat halangan.

Oleh karena kuda itu tidak bisa diajak bicara maka Bo yong Kang kebingungan sendiri, kemana ia akan mencari si nona yang tentu berada dalam bahaya.

Li Cong Bun sementara itu sudah sampai.

Melihat pamannya bengong sambil memeluk lehernya si kuda putih, diam-diam ia dapat menebak apa yang sedang dipikirkan sang paman.

Ia turun dari kudanya menghampiri.

"Bo yong susiok, kenapa susiok jadi terbengong-bengong. Kita haris mencari si enci baju putih sebab tentu dia ada dalam kesulitan."

"Bun jie, kemana kita harus mencarinya?"

"Susiok ini aneh, kuda tidak bisa bicara, akan tetapi ia mengerti seperti manusia. Maka kit lepaskan saja ia lari, nanti kita buntuti, tentu ia akan ajak kita ke tempat majikannya yang terhalang."

"Bun jie, kau sungguh pintar."

Jawab sang paman lega.

"Mri kita lekas pergi!"

Kata Li Cong Bun yang lantas kedut les kudanya dan lantas lari pesat mengikuti si kuda putih.

Bo yong Kang juga cepat naiki kudanya menyusul.

281 Benar saja kuda putih yang membawa berita itu telah balik lagi ke jurusan darimana ia sudah lari mendatangi.

Ia seperti mengerti bahwa sekarang ia ada membawa bala bantuan maka ia lari terus sebagai penunjuk jalan kepada Bo yong Kang dan Li Cong Bun.

Disepanjang jalan, sang paman tidak lupa mengulangi pujiannya atas pikirannya sang keponakan yang pintar, hingga mau tidak mau Li Cong Bun jadi geli sendiri di dalam hatinya.

Mengenangkan pertemuannya tempo hari dengan si nona baju putih, Bo yong Kang merasakan seperti pertemuan itu berbayang di depan matanya ia ingat bagaimana si nona sesudah pergi meninggalkannya telah balik kembali dan menjajal kepandaiannya yang waktu itu memang belum mahir.

Si nona telah menasehati agar ia belajar lagi lima tahun baru datang menyatroni Si leng cee.

Sepanjang melamun dan larikan kudanya dengan pesat mengikuti si kuda putih, tanpa terasa perjalanan sudah sampai di gunung Tong hong san dalam propinsi Hek kian.

Kuda si nona terus naik ke puncak.

Setelah berada di suatu tempat yang cukup tinggi tiba-tiba ia berhenti dan berjingkrak meringkik.

"Sudah sampai. Bun jie mari, kita cari tahu"

Kata Bo yong Kang sambil turun dari kudanya diikuti oleh Li Cong Bun.

282 Mereka melihat ke sekitar tidak jauh dari mereka.

Berdiri mereka telah melihat satu bangunan klenteng (kuil).

Mereka lalu berjalan menghampiri, ketika sampai disambut oleh seorang Tosu tua yang air mukanya manis budi.

Dengan tertawa ia bertanya.

"Sicu berdua betul-betul hebat, gunung Tong kong san ini dikitari oleh banyak jalanan yang jelek dan becek, tapi tanpa menghiraukan itu semua sicu berdua telah datang di sini. Boleh pinto mendapat tahu maksud kedatangan kalian! Apakah memang hanya untuk bertamasya saja datang ke sini?"

Bo yong Kang melihat Tosu itu amat sopan santun dan manis budi lalu memperkenalkan namanya dan Li Cong Bun.

Tosu itu juga memberkenalkan namanya It Ceng To jin dan dalam kuil itu sebagai kepalanya.

Dengan manis budi mereka diundang masuk oleh It Ceng Tojin.

Dalam ruangan tetamu, sambil makan kue mereka bercakap-cakap.

Tiba-tiba It Ceng menanya pad pokoknya urusan.

"Bo yong sicu berdua datang disini sudah tentu ada urusan penting, sebab pinto dapat melihat dari air muka kalian, sebenarnya ada urusan apa?"

"Totiang harap maafkan, kami tidak ingin memutar-mutar bicara. Terus terang saja mau 283 menanyakan apakah si nona Gan Su Nio, kepala Si leng cee bagian tangsi Burung Hong Kumala ada dalam kelenteng ini?"

Li Ceng Bun mendahului Bo yong kang menjawab. It Ceng Taysu kaget mendengar pertanyaan itu.

"Li sicu, aku seumur hidup tidak punya sangkut paut dengan Si leng cee, mana bisa nona Gan Su Nio ada datang ke sini. Mungkin Li sicu merdua salah alamat."

Bo yong Kang ketika mau membuka mulut, tidak jadi, karena It Ceng Tojin berkata lagi.

"Oh ya, pinto kemarin baru pulang habis mencari obat-obatan. Tidak tahu apa yang terjadi pada hari-hari belakangan ini. Kalau sicu suka, baiklah sicu berdua menginap buat beberapa hari, menanti pulangnya pinto punya sute, mungkin dia dapat memberi keterangan."

Sehabis berkata ia menoleh kepada pelayannya, kepada siapa ia menanyakan tentang sutenya apakah sudah pulang atau belum.

Ternyata sang sute sudah pulang kemarin malam dengan naik kuda putih.

Baru ia turun tiba-tiba kuda itu telah melarikan diri.

Ia sangat gemas dan mengejarnya.

Sampai saat itu ia masih belum pulang.

It Ceng mendengar keterangan itu, tiba-tiba wajahnya berubah.

Ia menggerendeng 284 sendirian.

"Sute disini sudah lama menjadi tosu, tapi hati jahatnya ternyata belum tercuci bersih. Kelakuannya masih seperti dulu lagi. Apakah lantaran dia akan timbul huru-hara lagi?"

"Sicu berdua mencari nona Gan tentu ada sebab-sebabnya. Bolehkah pinto mendapat tahu, nati kita pecahkan persoalanya bersama-sama."

Kata It Ceng Taysu. BO yong Kang yang berhati tenang lantas menjawab.

"Nona Gan dengan kami berdua adalah sahabat karib. Kebetulan ketika kami berdua di puncak Cit cui san ketemu dengan kuda tunggangannya lari sendirian. Melihat itu, kami menduga bahwa majikannya mendapat halangan. Maka setelah kami memeriksa kuda itu yang ternyata telah mendapat luka dari bacokan pedang, lalu kami mencari tahu dimana majikannya berada. Kuda itu sangat pintar dan mengerti maksud orang, maka ia sudah mengajak kami berdua ke sini. Untuk membuktikan sebaiknya kuda itu dipanggil!"

Setelah berkata, Bo yong Kang menyuruh Li Cong Bunmemanggil kuda tersebut.

Li Cong Bun keluar, lari ke tempat tinggi, dimana ia keluarkan siulan nyaring.

Tidak lama kemudian dari kejauhan mendatangi kuda putih, merah dan hitam.

Tiba-tba dari satu jalanan kecil Li Cong Bun 285 melihat ada muncul seorang yang berpakaian tosu mencegat larinya si kuda putih sambil membentak.

"Kuda celaka, akhirnya kau toh balik lagi?"

Tosu itu menutup bicaranya sambil mengirim pukulannya hingga Li Cong Bun kaget.

Jaraknya si kuda putih jauh juga, maka ia tidak keburu memotong.

Ia lalu keluarkan biji caturnya.

Disentilkan melewati hidungnya si tosu, yang jadi kaget dan mundur lagi.

Seketika ia sedang memikirkan siapa yang telah mengirimkan senjata gelap kearahnya.

Tiba-tiba si kuda putih sudah berjingkrak sambil mengeluarkan suara ringkikannya hendak menubruk si tosu.

Hati sang tosu mendelu si kuda melawan dirinya, maka ia cepat mundur beberapa langkah, kemudian mau mengayun tangannya mengirim pukulan, tapi pukulan itu ditarik pulang, karena dari sebelah belakang Li Cong Bun dengan tertawa dingin ia bertanya.

"Apakah kau yang bernama It Beng Tojin?"

Dalam kaget It Beng Tojin cepat putar tubuhnya. Kiranya yang menanya itu hanya seorang pemuda berusia lima belas enam belas tahunan. Lantas saja ia membawa sikapnya yang sombong dan angkuh.

"Ya betul, aku It Beng Taysu. Kau murid siapa dan datang ke sini ada urusan apa?"

Tanyanya.

286 Li Cong Bun melihat sikapnya It Beng Tijin ada beda jauh dengan It Ceng yang ramah tamah.

Caranya ia menjawab pertanyaan orang ada begitu kasar, maka Li Cong Bun juga banyak rewel.

Sambil menunjik pada kuda putih, ia berkata.

"Kuda ini lagi baik-baik, kenapa kau mau mencegat dan memukulnya?"

Bo yong Kang dan It Ceng Tojin mendengar ringkikannya kuda putih juga pada keluar melihat.

Tampak Cong Bun sedang bertengkar dengan seorang tosu tinggi besar.

It Beng Tojin yang ditegur Li Cong Bun merasa tidak senang.

"Hei, kau bocah darimana begitu kasar? Memangnya kuda putih ini milikmu?"

Kalau bukan milikmu perlu apa kau ambil peduli? Kau rupanya adalah seorang tosu jahat tukang penganiaya kuda, makanya juga aku lihat kau main pukul saja."

It Beng Tojin yang beradat berangasan, seketika itu menjadi sangat marah mendengar bicaranya Li Cong Bun yang tidak sedap untuk didengar telinganya.

"Setan kecil, kau jangan berdusta di depanku. Kau mana ada harga untuk memiliki kuda putih ini. Kau tahu bahwa kuda putih ini adalah miliknya Nona Gan…" 287 Kata-katanya belum habis sudah dipotong oleh Bo yong Kang yang sementara itu bersama It Ceng Tojin sudah sampai di situ.

"katamu meng betul, sekarang kudanya ada di sini, orangnya ada dimana?"

It Beng Tojin tidak menjawab, matanya melotot mengawasi Bo yong kang. Ketika ia mau membuka mulut ia didahului oleh It Ceng Tojin "

"Sute, selama aku setengah tahun tidak ada di sini mencari bahan obat-obatan, kau rupanya melupakan bahwa dirimu sudah menjadi orang beribadat, terus bikin hubungan dengan Si leng cee. Kita yang memeluk agama harus mentaati ajaran Buddha, jangan campur-campur urusan kejahatan, sebab kita kelak akan mendapat hukuman dan menjadi musuhnya seluruh pendekar kangouw yang membela keadilan. Dia sicu ini adalah Bo yong Kang Tayhiap dari Liauw leng dengan Li Siauhiap keponakannya di sini mencari nina Gan, maka jikalaukau mengetahui dimana adanya nona Gan baik kau memberitahukan kepada Bo yong Tayhiap."

In Beng Tojin yang mendengar bicara suhengnya, seolah-olah ada berpihak kepada tetamuya, hatinya merasa tidak senang.

Mukanya seketika sudah berubah merah, ia mundur dua tiga langkah sembari mengawasi pada Bo yong Kang dan Li Cong Bun.

"Suheng, bicaramu barusan sama sekali salah."

Katanya.

"Kita berkepandaian ilmu silat tinggi, perlu apa menyembunyikan diri di pegunungan yang sepi ini? Kalau kau menyepi, aku tidak bisa berkata apa-apa, tapi aku akan balik ke dunia yang ramai. Tiga bulan yang lalu aku sudah bertemu dengan seorang kawan lama. Dengan perantaraannya aku diberi jabatan dalam markas Si leng cee. Di situ aku banyak kawan yang berilmu silat tinggi yang dapat mengguncangkan dunia persilatan. Aku pikir ilmu silatku cukup tinggi dalam markas Si leng cee tentu ada gunanya…."

"Sute, kau …."

"Tunggu dulu aku bicara habis, suheng. Kau tahu Po Kun Peng dari tangsi Klajengking ada memuji-miji tinggi kepandaianmu. Dia minta aku untuk mengundang suheng menggabungkan diri dengan Si leng cee. Kita suheng dn sute dapat bekerja pada satu majikan, bukankah itu ad baiknya? Sama-sama kita menciptakan kesenangan dunia. Untuk apa kita gadangin segala kuil borok dan setiap malam hanya terdengar suaranya binatang-binatang liar daja dalam pegunungan yang sunyi ini…"

"Sute kau nganglong, kau harus jawab bicaraku semula. Lekas katakan pada dua tetamu kita dimana adanya nona Gan Su Nio?" 289 It Beng Tojin tertawa bergelak-gelak,.

"Kalau tetamu ini bisa menjatuhkan aku dulu dalam suatu pertandingan aku nanti akan memberitahukan dimana adanya nona Gan."

It Ceng Tojin mendelu melihat sutenya kepala batu.

Li Cong Bun sudah tidak sabaran kelihatannya, tapi Bo yong Kang dengan kedipan matanya mencegah ia bergerak dahulu.

It Ceng Tojin sebenarnya mau marah tapi tidak enak bertengkar dengan sutenya di depan tetamunya yang baru dikenal maka terpaksa ia unjuk wajah yang tenang-tenang saja.

Setelah menghela napas ia berkata pula.

"Y sute… sebenarnya kita bersaudara bukannya dari satu perguruan. Karena pad tahun yang lampau kita mempunyai satu tujuan maka kita sudah berdiam dalam kuil ini menjadi tosu. Aku tidak bisa membuang waktuku yang sudah mengasingkan diri sepuluh tahun lamanya. Jikalau kau mau ambil tindakan menurut napsu hatimu sendiri, itu terserah kau, aku tidak dapat menghalang-halangi. Cuma aku mau tahu soalnya nona Gan Su nio itu. Bila mengukur ilmu silatmu, kau bukannya tandingannona Gan Su Nio dari tangsi Hong dalam Si leng cee. Maka aku percaya tentu kau sudah menggunakan senjata gelapmu lagi yang kau sudah bersumpah tidak akan menggunakannya lagi, betul tidak? Apa 290 kau tidak takut dengan pengaruhnya Sileng cee?"

It Beng melihat suhengnya seperti yang bertentangan pikiran dengannya, maka setelah ia diam sejenak lalu memperdengarkan ketawanya bergelak-gelak.

"Suheng, meskipun Sileng cee merupakan satu markas besar, empat tangsi didalamnya ada memegang kekuasaan. Aku termasuk dalam tangsi Kalajengking dengan Pho Kun Peng sebagai kepalanya, maka aku tak takut berbuat dosa kepad Si leng cee karena perbuatan yang sudah aku lakukan terhadap nona Gan adalah atas perintahnya Pho Lengcu. Aku merubuhkan nona Gan Su Nio memang ada menggunakan obat pulasnya yang manjur. Kalau tidak mana dapat aku menjatuhkan padanya. Saat ini barangkali nona Gan sudah berada disampingnya Pho Lengcu… ha..ha..ha.."

Mendengar bicaranya It Beng Tojin, bukan main Bo yong Kang marahnya sampai badannya gemetaran.

Meskipun demikian, ia masih dapat menahan amarahnya dn kembali mengedipi Li Cong Bun supaya jangan turun tangan dulu.

Mendengar penuturannya It Beng Tojin, kini Bo yong kang mengerti Pho Kun Peng yang membenci dirinya begitu hebat.

Sepanjang jalan-jalan sejak ia meninggalkan tangsi Hwe Pek It, terus menerus diganggu dan mau dibikin celaka oleh orang-orangnya she Pho.

Sampai sebegitu jauh perbuatan itu hanya 291 merupakan teka-teki yang tak dapat dipecahkan oleh Bo yong Kang.

Sekarang ia tahu sebab musababnya Pho Kun Peng memusuhi dirinya karena orang she Pho itu menyintai nona Gan Su Nio.

Ia rupanya gemas pada Bo yong Kang yang sudah merebut hatinya si nona baju putih yang telah lama menjadi idaman hatinya.

Bo yong Kang yang sudah menjadi meluap kemarahannya, tidak bisa menahan sabar lagi.

Ia bertindak menghampiri It Beng Tojin telah berkata padanya.

"Bo yong sicu, jangan turun tangan dulu. Aku masih ada urusan sedikit hendak diselesaikan dengan sute angkat yang tidak berguna ini!"

Pendekar dari Liauw tog itu tidak jadi melampiaskan amarahnya.

Ia mundur lagi dan mempersilakan It Ceng Tojin maju mendekati sutenya.

Dari sakunya tosu tua itu telah mengeluarkan sebilah pisau kecil, dilemparkan pada It Beng Tojij sambil berkata.

"Nah sute, sesuai dengan janji kita tempo hari, lantaran kau menggunakan lagi obat pulasmu yang berbahaya itu, persaudaraan angkat kita putus sampai di sini. Silakankau memotong bajuku!"

"Oo waktu itu aku mengasingkan diri, memang tak perlu menggunakan obatku itu. Tetapi sekarang aku keluar lagi berkecimpung 292 dalam kalangan kangouw aku membutuhkan senjata gelapku itu. Dalam perebutan keunggulan, obat demikian sangat dibutuhkan. Sekarang karena mengungkat-ungkat janji kita setahun yang lalu, aku juga tak keberatan untuk memotong bajumu, sebagai tanda persaudaraan kita putus!"

Berbareng lantas ia memotong ujung jubahnya It Ceng Tojin.

It Beng Tojinsangat licik dan telengas.

Diam-diam ia telah menyiapkan tenaga dan membokong It Ceng tojin dengan pukulan mengarah dada.

It Ceng Tojin sampai mundur lima langkah kemudian ia memuntahkan darah segar dari mulutnya terus rubuh pingsan.

Li Cong un memburu memberikan pertolongan pad tosu tua itu.

Melihat suhengnya sudah dirubuhkan, It Beng Tojin tertawa bengis.

Tosu tua keparat, kini tahu sutemu punya lihai, mulai dari sekarang kuil ini pindah menjadi miliknya Si leng cee."

Setelah berkata demikian, ia putar tubuhnya menghadapi Bo yong Kang.

"Hmm…!"

Ia menggeram.

"Kau dengan Gan Su Nio memangnya ada hubungan apa? kamu juga mencari mati datang di goa Thian ceng kok ini. Siluman tua keparat sudah kena pukulan 293 telapak tanganku yang sahsyat, mana bisa dia hidup lagi. Anak kecil itu percuma sana memberikan pertolongannya. Kau panggil dia kemari supaya tidak berabe dan sekaligus membereskan kalian berdua!"

Bo yong Kang kali ini betul-betul tidak mau kasih hati lagi tosu murtad itu menjual lagaknya.

Dengan hebat ia mengirim tiga serangan telapak tangannya hingga si tosu murtad telah terdesak mundur.

Bertempur belum berapa gebrakan, sikunya It Beng Tojin sudah kena dikuasai oleh Bo yong kang.

"Tosu murtad, betul betul kau telah rusak nurani membentur batu. Tadi dengan tangan kiri ini kau telah membunuh suhengmu. Sekarang tangan kiri ini akan kubikin remuk…."

Berbareng terdengar suara "pletak‟ patah tulang tangannya It Beng Tojin telah dibikin patah oleh Bo yong kang.

It Beng menjerit kesakitan, kemudian rubuh di tanah.

Supaya tosu itu tidak kabur, maka Bo yong Kang menotok jalan darah di bagian kakinya hingga kedua kakinya dirasakan lemas dan sulit digerakkan.

Ia rebah dengan menderita kesakitan karena tulang tangan kirinya dipatahkan tadi.

Sementara itu Bo yong Kang menghampiri Li Cong Bun yang sedang repot menolong It Ceng Tojin yang masih pingsan.

"Bagaimana, apakah dia tidak berbahaya lukanya?"

Tanya Bo yong kang. 294

"Aku sudah memberikan pertolongan, keadaannya sudah tidak berbahaya lagi. Cuma masih perlu jalan pernapasannya dipulihkan. Harapsuiok menolongnya."

Dua orang itu turun tangan bersama menotok dan memijit-mijit jalan darah paling penting untuk membikin si korban menjadi sadar pula.

Tak lama kemudian It Ceng tojin dapat membuka matanya.

Ia melihat Bo yong Kang dan Licong Bun berada di sisinya.

Lantas saja ia mengira dua orang itu yang memberi pertolongan kepadanya.

Maka ia lantas mengucapkan terima ksihnya.

Disamping itu ia menanyakan prihal sutenya itu bagaimana?.

Bo yong Kang menghibur tosu tua itu.

"Totiang buat apa memanggil dia sute lagi? Dia adalah seorang jahat dan kejam. Sekarang dia masih rebah ditanah. Aku masih perlu menanyakan tentang Gan Lihiap. Eh, Bun jie, coba kau tanyakan padanya dimana adanya enci Gan biar totiang ini aku pondong ke dalam…"

Bo yong Kang mengakat tubuhnya It Ceng Tojin dan dipondong ke dalam kuil.

Direbahkan di atas pembaringannya.

Sementara Li Cong Bun telah menghampiri It Beng Tojin.

Dengan kakinya ia menendang tubuhnya sehingga terbukalah totokannya.

Ia lantas berdiri sambil mengeluh kesakitan.

Dengan ujung pedang mengancam didadanya It Beng Tojin, Li Cong Bun menanyakan dimana 295 adanya Gan Su Nio.

Ternyata It Beng Tojin masih belum kapok karena madih dapat menjual muka bengisnya di depan Li Cong Bun.

"Bocah."

Kata It Beng menghina.

"Kau kira dengan pedangmu itu dapat menggertak aku? Hmm… kau jangan ngimpi. Kau akan mati, markas Sileng cee akan mencari kau untuk mencincang tubuhmu menjadi bergedel!"

"Tosu murtad, apa kau kira tidak bisa membikin kau bicara..ha..ha..ha…"

"Bocah setan, kau jangan banyak lagak. Cobalah, aku tidak nanti akan gentar barang serambut oleh gertakan sambal kau!"

Li Cong Bun tidak banyak bicara lagi.

Secepat kilat ia menyerang dan menootok jalan darahnya yang terpenting sehingga seketika itu It Beng Tojin merasakan seperti tubuhnya digigit ribuan semut gatal.

Lantas saja ia bergulingan sambil menjerit-jerit dan keringatnya keluar menetes-netes sebesar kang kedele.

BO YONG KANG yang sementara itu sudah datang di situ, melihat It Beng Tojin masih membandel, lalu berkata.

"Kau masih belum mau cerita? Baik, aku mau lihat, apakah kau masih tahan atau tidak. Sebentar aku akan menotok di lima jalan darahmu yang terpenting yang akan membuat kau menderita dalam tujuh hari. Merasakan tubuhmu panas seperti digarang 296 semut dan usus-ususmu seperti digoreng. Setelah itu semua menjadi pecah. Dari tubuhmu akan mengalirkan darah hitam pada lima lubang dan kau akan binasa amat sengsara!"

It Beng Tojin terkejut, ia memang tahu ada lima totokan yang berbahaya itu, maka seketika itu hatinya menjadi ciut lalu meratap minta diampuni.

"Hmm!"

Li Cong Bun menggeram.

"Aku kira tadinya benar-benar kau adalah seorang yang kuat yang tahan penderitaan. Nah, Bo yong susiok, sekarang aku buka totokanku. Kalau sebentar dia masih membandel. Kau boleh menotok dengan ilmu yang dikatakan tadi. Kita lantas tinggalkan padnya, jangan ambil pusing lagi!"

It Beng Tojin setelah dibuka totokannya dan jalan darahnya mengalir sebagaimana biasa lagi lalu bangkit dan berkata.

"Si Burung Hong Kumala sekarang ada di taman di puncak gunung tertinggi dari gunung Tay hun san di pinggir Rawa Naga…."

Bo yong Kang dan keponakannya saking mengawasi.

Mereka percaya dengan keterangan si tosu.

Bo yong Kang kaget melihat Li Cong Bun menghunus pedangnya.

Tapi ternyata ia tidak melakukan pembunuhan.

Hanya menggunduli kepalanya si tosu sembari berkata, 297

"Kau seorang tidak berbudi, setelah masuk dalam gerombolan Si leng cee lantas membunuh suhengmu padahal kau sudah mengangkat saudara sekian lama. Kau seorang jahat. Aku gunduli kepalamu supaya kau insyaf atas perbuatanmu dan kembali ke jalan yang baik. Kalau dibelakang hari aku ketemu kau berbuat jahat, aku tidak akan ampuni jiwamu. Nah sekarang kau boleh angkat kaki."

It Beng Tojin dengan kepala digunduli dan menderita sakit pada tangan kirinya yang dipatahkan oleh Bo yong Kang, seketika itu telah angkat kali dan menghilang di dalam rimba yang lebat.

Diam-diam Bo yong Kang pikirkan kelakuan sang keponakan.

Tadinya Li Cong Bun sangat telengas dan tidak mengenal ampun.

Sesuai dengan apa kata Ceng Leng Cinjin dan Bu Ju supeknya bahwa Cong Bun adalah seorang pemberani membasmi kejahatan.

Tetapi setelah mendapat pengalaman dikurung dalam kamar batu dan menyaksikan Se bun Pa yang berjuluk si Iblis Beracun, menyaru sebagai Lam Thiam Gie dan telah dipakai pegangan oleh Li Cong Bun dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Buktinya It Beng Tojin yang jahat itu dapat ia ampuni.

Demikian ketika mereka kembali ke dalam kuil mereka dapati It Ceng Tojin kelihatan sudah baikan.

Itu menyatakah bahwa obat yang diberikan kepadanya sangat manjr.

Meskipun begitu, menurut mereka, It Ceng Tojin harus 298 beristirahat setengah bulan lamanya baru bisa pulih seperti semula.

Mendengar bahwa It Beng Tojin diberi jalan bidup.

IT Ceng Tojin sangat girang dan memuji atas perbuatan sangat bijaksana dari Li Cong Bun yang memberi kesempatan untuk orang berbaik pikir dari jalan jahat kembali ke jalan baik.

It Ceng Tojin bilang untuk menolong Gan Su Nio perlu membawa pemunahnya obat pulas dari It Beng Tojin membuat Bo yong Kang merasa sangat menyesal ia tidak minta dari si tosu murtad itu.

Kalau mau disusul jug sulit, mau disusul kemana, sedang menolong Gan Su Nio juga sangat penting.

Bo yong Kang minta ditunjukan di sebelah mana leteknya tempat yang dikatakan oleh It Beng Tojin dimana adanya Gan Su Nio ditahan.

"Gunung Tay han san itu juga dikenal dengan nama Hud leng."

Menerangkan It Ceng Tojin.

Ia letaknya berendeng dengan gunung Tong kong san ini.

Pada puncak yang tertinggi ad sebuah rawa yang terkenal dengan nama "Rawa Naga‟ rawa itu sangat dalam.

Di tepi rawa ada bangunan kuil kuno, Gan Lihiap mungkin dia ditahan dalam kuil tersebut.

Kau kelihatan sangat tergesa-gesa mau menolong Gan Lihiap, maka kalau menempuh jalanan besar akan terlalu jauh.

Lebih baik kalian memotong jalanan dari sini menuju keselatan sedikit kesebelah barat, besok 299 petang tentu kalian dapat sampai ditempat itu.

"Mereka telah mendapat petunjuk It Ceng Tojin lalu berpamitan.

It Ceng tidak dapat mengantar tamunya karena ia belum bisa turun dari pembaringannya.

Benar saja seperti apa yang dikatakan It Ceng Tojin mereka telah sampai di tempat yang dimaksud.

Dengan tidak susah payah mencari lagi.

Tiba-tiba Bo yong Kang mendengar Li Cong Bun menyatakan pikirannya.

"Bo yong susiok, disepanjang jalan kit diintai oleh mereka. Kali ini kita lebih baik jangan terang-terangan tetapi dengan diam-diam melakukan penyelidikan untuk mendapat tahu tempat tahanannya enci Gan sebelah mana, baru kita turun tangan. Bagaimana pikiran susiok?"

"Memang pendapatmu baik sekali,"

Jawab Bo yong Kang.

"Kini sebaiknya mencari tempat untuk beristirahat dulu, sebentar malam baru kita mendaki bukit dan melakukan penyelidikan."

Berdua mereka mencari tempat untuk beristirahat, kebetulan mereka dapatkan sebuah goa kecil yang cocok untuk mereka gunakan beristirahat.

Kasihan Bo yong Kang yang sangat memikirkan akan nasibnya Gan Su Nio, tampak sangat gelisah.

Tidak dapat beristirahat 300 dengan tenang.

Siang itu dirasakan olehnya berlalu dengan sangat lambat.

Akhirnya sang petang tiba.

Mereka lalu keluar dari goa.

Dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, dala sekejap saja telah sampai di puncak bukit, dimana mereka benar saja menemukan sebuah rawa.

Tidak jauh dari situ ada bangunan kuil.

Diatas pintunya ada tertulis "Kuil Naga‟.

Mereka mencari keterangan tanpa hasil prihal dirinya Gan Su Nio, tapi ada kabar uang menarik pula bagi mereka.

Menurut katanya seorang tosu.

Dari kuil itu besok malam dalam kuil itu ditempat ruangan besar akan diadakan rapat kilat dibawah pimpinan tertinggi dari Si leng cee.

Tambak banyak anak buahnya Si leng cee sudah menyiapkan segala-galanya untuk kebutuhan musyawarah penting itu.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun terpaksa harus menunggu sampai besok malam, menyatroni lagi tempat itu untuk mencari tahu tentang dirinya Gan Su Nio dan menyelidiki soal apa yang akan dibicatakan dalam rapat kilat itu.

Mereka telah mengambil keputusan tidak akan pertempur kalau tidak terpaksa.

Supaya wajahnya tidak dikenali.

Maka Bo yong Kang dan Li Cong Bun telah menggunakan obatnya si Iblis Beracun Se Bun Pa untuk merubah muka asli.

Ketika masing-masing 301 sudah berubah wajahnya satu dengan lainnya dengan meminjam penerangan rembulan saling lihat.

Keduanya jadi tertawa geli.

Memang manjur sekali obat it, sebab wajahnya Li Cong Bun yang tampan telah berubah menjadi kuning kepucat-pucatan seperti orang yang berumur empat puluh tahun.

Sedangkan Bo yong Kang berubah wajahnya menjadi amat jelek berwarna hijau dan banyak jerawatan.

Pada saat itu sudah ramai dengan orang-orang yang berkumpul dalam kuil itu.

Menggunakan kerampatan orang tidak melihat perbuatannya, Bo yong Kang dan Li Cong Bun menyelinap ke belakang kere yang berada tidak jauh dari tempat dimana rapat itu hendak diadakan.

"Bun jie,"

Kata Bo yong Kang dengan suara perlahan.

"Semua yang berkumpul tentu ilmu silatnya tinggi-tinggi. Kita datang hanya untuk mengetahui hal rahasia, bukannya untuk bertempur, maka kalau nati ada kejadian yang tidak terduga, misalnya kau sampai harus bertempur, kau jangan mencari kemenangan, kau harus mengalah dan turun gunung aku menunggu di goa yang siang tadi kita mengaso. Aku sendiri akan diamdiam disini untuk mendengar apa yang mereka bicarakan dalam rapat kilat itu."

Li Cong Bun anggukkan kepala tanda ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang paman.

302 Tiba-tiba terdengar suara pertanda prihal kedatangan kepala dari mereka berkumpul.

Suara yang ramai tadi mendadak menjadi sirap semuanya menantikan dua orang ke ruangan rapat.

Ketika mereka muncul, ramai-ramai pada berangkat memberi hormat dengan mengeluarkan suar seruan "SAT‟!

Setelah mengambil tempat duduknya, salah satu dari dua orang itu telah berkata .

"Ya, Hoat Goan Taysu, rapat ini adalah sangat penting. Maka bukan saja orang luar tidak boleh masuk, malah orang sendiri dari berbagai tangsi kita, tanpa ada panggilan, dilarang naik ke puncak sini. Harap Taysu mengerti dan sudilah kiranya mengatur penjagaan disekitar tempat ini. Bo yong Kang tadinya mengira yang memimpin pertemuan itu adalah si Kalajengking Pho Kun Peng, tetapi bukan dia suaranya memerintah tadi tidak ia kenal. Hoat Goan Taysu sebagai kepala dari kuil "

Rawa Naga‟ juga merangkap menjadi orang Si leng cee lantas menjawab dengan suara nyaring.

"Lapor pad Lengcu Hoat Goan sudah memerintahkan empat murid kepala untuk melakukan penjagaan."

"Bagus, bagus,"

Terdengar pula orang tdi berkata.

"Aku minta pada Empat Pendekar dari Tay heng bantu menjaga, harap sekalian 303 berhati-hati sebab rapat ini ada penting dirahasiakan terhadap siapapun juga. Silahkan!"

Empat orang diantara orang yang berkumpul itu telah bangkit dari duduknya.

Setelah manggut memberi hormat yang tadi bicara lalu ke,uar dari ruangan itu untuk melakukan kewajibannya.

Orang yang memberi perintah itu tampaknya sangat berwibawa, maka Bo yong Kang meskipun tidak melihat dengan mata kepala sendiri karena kealingan kere, ia dapat menduga bahwa yang berkata-kata itu adalah Song Sam Ceng, kepala dari markas besar Si leng cee, orang yang paling tinggi ilmu silatnya dari empat kepala tangsi dalam Si leng cee.

Dengan perlahan-lahan Bo yong Kang berkata pada keponakannya.

"Bun jie orang itu tentu tidak salah lagi adalah si Garuda Hitam Song Sam Ceng. Kepalanya Si leng cee. Rapat kilat ini dikepalai olehnya, tentu adalah sangat penting. Maka diam-diam kau harus pasang telinga supaya dapat menangkap semua apa yang mereka bicarakan."

Li Ceng Bub hanya angguk-anggukkan kepala. Orang itu memang benar Song Sam Ceng, dan ia terdengar telah bicara lagi.

"Si leng cee sejak didirikan sampai sekarang telah mengalami kemakmuran.

Sangat berpengaruh dan ditakuti oleh banyak patrai-304 partai persilatan.

Apa mau pada delapan tahun berselang Ho Ceng Bu telah menanam bibit permusuhan dengan keluarga Li Hoay Bin di Lam Co Si.

"Pelajar Hati Besi‟ Bo yong Kang telah membawa anak tunggalnya Li Hoay Bin yang bernama Li Cong Bun meloloskan diri dari kebinasaan. Mereka berdua kemudian selama delapan tahun telah mendapat bimbingan BU JU Taoso dan Ceng Leng Cinjin. Mereka telah mendapat kepandaian cukup tinggi rupanya. Sebab belum lama ini dengan berani telah datang di gunung Cui tiok san tempat markas besar kita, menantang bertanding dengan Ho Ceng Bu. Kebetulan Ho Ceng Bu tidak berada dalam tangsi maka Hwe lengcu dari tangsi naga telah diminta datang kembali tahun depan tanggal tiga bulan tiga untuk melakukan pertandingan."

Orang-orang yang hadir pada diam, tak seorangpun yang berani menyela bicaranya Song Sam Ceng yang berwibawa itu.

"Mereka ada sangat sombong,"

Melanjutkan Song Sam Ceng, setelah sejenak ia mengawasi pada semua hadirin.

"Di Mo hun jong, cabang kita, mereka telah merusak hingga banyak jiwa telah binasa karenanya. Diantara dua saudara dari "

Tiga Pendekar Tay ouw‟ telah turut binasa. Maka untuk pertempuran tahun depan harus kita bersiap sedia untuk menghadapi mereka."

Song Sam Ceng berhenti sebentar bicaranya. setelah kerutkan alisnya ia 305 meneruskan.

"Menurut kekuatan kita sekarang ini, kita sudah unggul dari segala partai lainnya dalam rimba persilatan, maka kita tidak takut Bo yong kang dan Li Cong Bun bahkan gurunya walaupun datang ialah Bu Ju Toato dan Leng Ceng Cinjin kita juga tidak takut. Kita juga bissa minta bantuan guru-guru kita untuk menghadapinya. Cuma saja, untuk bicara terus terang, kita kini ada bahaya keambrukan."

Semua hadirin kaget mendengar Song Sam Ceng bicara sampai disitu.

Satu dengan lainnya saling pandang, seolah-oleh ingin mengutarakan pikirannya tetapi tidak berani mengeluarkannya di depan kepala Si leng cee yang sangat berpengaruh itu.

"Saudara-saudara sekalian,"

Kata pula Song Sam Ceng sambil unjuk ketawa getir.

Kita menghadapi bahaya keambrukan bukannya pihak luar, tetapi karena perbuatan orang-orang kita sebelah dalam.

Si leng cee ketika didirikan semua taat menjalankan tugasnya masing-masing.

Hekerja dengan sepenuh tenaga untuk kemajuannya perkumpulan.

Akan tetapi sekarang setelah berpengaruh bukannya dipupuk supaya lebih subur lagi malah perlahan-lahan menjadi meroyan.

Orang Si leng cee sekarang banyak yang berhati bengkok, tidak satu hati seperti permulaan.

Apa heran kalau Si leng cee sekarang tengah menghadapi keambrukan?

Hei Ceng Bu Hiocu, kau sudah mengikuti aku sekian tahun 306 lamanya, bagaimana dengan pengetahuanmu tentang apa yang kukatakan baru …."

Jilid 9 HO CENG BU dengan suara gemetar menjawab.

"Pikiran Lengcu memang benar!, tapi …. Bicaranya belum lampias, tiba-tiba Song Sim Ceng membentak.

"Hei, siapa yang dibelakang kere itu?"

Semua orang terkejut, matanya pada mengawasi ke arah kere itu.

Li Cong Bun kertak gigi ketika namanya Ho Ceng Bu disebut.

Ia sangat gemas pada musuh besarnya itu yang membunuh ibunya.

Lantaran beradunya gigi, maka suaranya dapat ditangkap oleh Song Sam Ceng yang lihai.

Mengetahui bahwa dirinya tidak bisa sembunyi terus, maka Li Cong Bun keluar menunjukkan diri.

"Ha..ha..ha.."

Ia tertawa tengal! "

Barusan aku lewat di gunung Hud leng ini, dan melihat-lihat pemandangan di Rawa Naga, tidak disangka telah berjumpa dengan kalian orang-orang dari Si leng cee yang terkenal dalam dunia kangouw mengadakan rapat di sini.

Tadi aku mendengar bahwa kalian mengalami kesulitan.

Untuk itu aku dapat 307 mengatasi asal saja kalian suka memberikan kedudukan Lengcu padaku.

Li Ceng Bun bicara sambil menyapu wajahnya sekalian hadirin.

Yang duduk di tengah-tengah tentu adalah Song Sam Ceng, kepalanya lancip, lehernya melesak, tangan dan kakinya pendek seperti kura-kura, disebelah kirinya ada duduk seorang yang kepalanya seperti macan tutul, matanya seperti alap-alap, usianya kira-kira lima puluh tahun.

Dia itu adalah Ho Ceng Bu, wakil pimpinan dari tangsi Garuda dan pembunuh ibunya.

Melihat musuh besarnya, Li Cong Bun sudah tidak tahan, dengan marahnya ia lantas turun tangan.

Sementara itu Song Sam Ceng melihat Li Cong Bun muncul dari belakang kere merasa heran, karena wajah anak muda itu tidak seimbang dengan badannya.

Mukanya seperti yang sudah banyak umur, tapi badannya agak sangat kuat.

Anak muda itu berdiri di sana seperti memandang enteng pada semua yang hadir disitu.

Diam-siam Sog Sam Ceng menggunakan kepandaiannya untuk mencari tahu, apakah selainnya orang yang muncul dari belakang kere itu masih ada yang lainnya pula?.

308 Ia memberi isyarat pada Ho Ceng Bu untuk menyambut tamu yang tidak diundang itu.

Dia lalu bangkit berdiri menghampiri Li Cong Bun.

"Sahabat,"

Ia berkata.

"Kau rupanya sudah makan hati beruang dan menelan nyali harimau, makanya begitu berani di depannya kepala dari Si leng cee menjual lagak. Kau sebetulnya siapa? Coaba kasitau namamu sebelum tuan rumahmu Ho Hiocu turun tangan untuk memberi hajaran pada kau si orang liar."

Ho Ceng Bun diam-diam girang hatinya karena yang melayani dirinya adalah orang she Ho yang ia arah sudah lama.

Ia maju lebih dekat sambil tepuk-tepuk dadanya.

Li Cong Bun menjual lagak di depan Ho Ceng Bu, katanya.

"Ho Hiocu, sebenarnya kau tidak perlu tahu siapa aku? Yang penting adalah markasmu yang sudah lama mendapat nama akan ambruk. Kecuali aku yang menolongnya, tidak ada lain orang yang dapat mempertahankan kebangkrutan partaimu. Memang kalau tidak ditunjukkan bukti, kau tidak akan percaya pada kepandaianku maka itu kau boleh coba. Mari, marilah kita mengadu tenaga. Bukankah kau yang bergelar "

Si Telapakan Tangan Sakti‟. Aku kepingin coba menyambut seranganmu yang lihai itu."

Song Sam Ceng setelah menyelidiki mendapat kepstian tidak ada orang lain pula, lalu perhatiannya ditumpahkan pada Li Cong 309 Bun, siapa ia anggap benar-benar sangat tabah hatinya.

Didepan jago-jago terkenal ia masih bisa unjuk kesombongannya, pasti ia bukannya orang sembarangan.

Siapakah dia itu?

Pikirnya sebentar kalau ia melihat caranya sitamu tak diundang itu melakukan pukulannya lantas bisa diketahui ia sebenarnya ada keluaran partai mana.

"Hei, Ho Hiocu, kau jangan anggap enteng pada orang itu. Kau harus menempur dengan sekuat tenagamu supaya ia kenal dengan "

Telapak Tangan Sakti‟ mu!"

Melihat kesombongan Li Cong Bun, tambahan pula mendapat seruan dari atasannya supaya ia menggempur musuhnya tidak tanggung-tanggung maka seketika itu Ho Ceng Bu telah mengerahkan tenaganya sampai sembilan bagian.

"Orang edan"

Teriaknya dengan murka.

"Meskipun kau ada manusia dari baja aku akan menggempur sampau hancur padamu!"

Seiring dengan kata-katanya dengan gerakan "Samudera menimbulkan gelombang‟ terdengar suara "

Wut..!‟ dibarengi angin santer ia mengirim serangan telapak tangannya mengarah pinggang Li Cong Bun.

Melihat datangnya serangan Li Cong Bun tertawa gelak-gelak, tapi diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya yang ampuh.

Dalam selimut pukulan Siauw Lim si, ia menangkis serangan musuh hingga Ho Cong Bu 310 terpental sejauh lima enam kaki.

Matanya melotot penuh rasa heran mengawasi pada lawannya.

Ia rasakan tangannya yang kanan bukan main sakitnya.

Li Cong Bun Juga tidak menang begitu saja sebab ia rasakan tenaga lawan ada besar, hingga merasakan jalan darahnya mendidih.

Ho Cong Bu sejak melakukan pembunuhan dalam rumah Li Hoay Bin insyaf bahwa Bo yong Kang yang menjadi saudara angkatnya Li Hoay Bin akan menuntut balas dikemudian hari bersama-sama dengan anaknya si orang she Li, maka ia sudah gunakan waktunya selama delapan tahun untuk terus menerus melatih diri mempertinggi kepandaiannya.

Untuk itu ia sering dibawa oleh Song Sam Ceng ke tempat gurunya di gunung Ko le kang dimana ia mendapat petunjuk bukan hanya dari gurunya Song Sam Ceng tapi juga dari gurunya Pho Kun Peng sebab kedua orang itu selamanya tinggal berduaan tidak suka berpisahan.

mereka itu adalah Thian lam Siang koay (Sepasang Siluman dari Thian lam) terkenal hebat ilmu silatnya di kalangan rimba hijau.

Li Cong Bun sekarang sadar perlunya berhati-hati menghadapi musuh kuat seperti tadi ia memandang remeh serangannya Ho Ceng Bu, kemudian kenyataannya ada hebat sekali hingga ia rasakan darahnya mandek mengalir, dadanya sesak.

Ia lalu mengatur pernapasan sebentar.

Sedangkan Ho Ceng Bu yang mendapat luka parah merasa ragu-ragu untuk turun 311 tangan kedua kalinya.kalau ia berhasil, kalau gagal ia tidak tahu akan nasibnya dilihat dari beradunya tenaga tadi, tenaga sang lawan lebih unggul dari tenaga dalamnya sendiri.

Selagi dalam sangsi ia lihat Song Sam Ceng menggapai dan ia suruh ia duduk mengaso sementara.

Kepala Si leng cee itu telah berdiri menghambiri Li Cong Bun dan berkata dengan suara yang aneh.

"Sahabat, gerakan barusan menangkis pukulan sungguh mengagumkan aku sayang di balik itu kau menyembunyikan apa-apa. Sebaiknya kau tidak berlaku pengecut menyembunyikan asal-usulmu. Kalau kau berterus terang, kau boleh duduk di samping diriku."

Song Sam Ceng bicara dengan menggunakan ilmu "

Suara Setan Menyapa Sukma‟ yang membikin anak buahnya merasa heran dan lucu karena Song Sam Ceng menggunakan suara demikian baru mereka dengar sekarang.

Sebaliknya Li Cong Bun dan Bo yong Kang yang mendengar suara itu sangat kaget karena mereka mengetahui kalau orang yang mengeluarkan suara itu tak mahir betul tenaga dalamnya pasti akan diserang secara mudah oleh musuhnya.

Song Sam Ceng menggunakan ilmu ini pertama untuk menyerang pada Li Cong Bun dan kedua untuk mencari tahu apa didalam sepuluh 312 tombak masih ada orang lagi yang bersembunyi atau tidak.

Ketika ia melihat Li Cong Bun tidak terkena pengaruhnya suara iblis yang menakutkan itu, pikirnya ilmu itu sia-sia saja dikeluarkan.

Song Sam Ceng diam-diam kemudian berkata.

"Sebagai ke Bun pikirnya ia tak dapat menyerang dengan akal muslihat, harus ia menyerang dengan tenaga sejati. Tiba-tiba ia mendengar Li Cong Bun tertawa bergelak.

"Song Sam Ceng."

Ia kemudian berkata.

"Sebagai kepala dari Si leng cee kau memang perlu mempunyai kepandaiain seperti yang diunjukkan tadi. Tetapi kau mungkin belum tahu bahwa aku justru kepala dari sekalian setan siluman dan hantu-hantu dalam gunung, maka suaramu tadi mana bisa membuat aku menjadi ketakutan. Kalau kau mau lihat permainan seperti yang kau maksudkan, dengan hanya batuk dan dehem saja aku dapat menggetarkan angkasa raya dan dalam kemah ini mungkin semua benda akan rubuh oleh karenanya. Kau tak percaya? Coba kau saksikan dengan mata kepalamu sendiri…"

Li Cong Bun benar-benar hebat menjual lagaknya.

Tetapi memang sebenarnya ia mempunyai kepandaian yang demikian sebab segera ia buktikan dengan suara batuk-batuknya kemudian berdehem beberapa kali hingga hadirin jatuh bangun dan pada ketakutan, sebab rumah itu menjadi tergetar, tiang-tiang bergerak dan wuwungan rumah 313 seakan-akan mau rubuh tak tahan oleh getaran suaranya Li Cong Bun yang dahsyat.

Li Cong Bun menggunakan Ilmu "

Raungan Singa Menggetarkan Sngkasa‟ Hanya Song Sam Ceng dan Ho Ceng Bu yang tidak terpengaruh oleh demonstrasi tenaga dalam Li Cong Bun yang hebat iru.

Ilmunya kelihatan dapat menindih ilmunya Song Sam Ceng lalu maju dan menghampiri lalu berdiri tegak sejarak satu tombak dari Li Cong Bun, sambil menjura ia berkata.

"Kau betul-betul berilmu tinggi, silakan masuk untuk bercakap-cakap!"

Ia mengundang tetapi sebenarnya ia mengirim serangan yang dinamai "Memukul Udara Kosong‟.

Hanya tangannya menjura dari kejauhan tapi ada mengandung serangan tenaga yang hebat, tidak kelihatan menyerang pada musuh.

Semula Li Cong Bun tidak apa-apa, tetapi ketika tenaga serangan itu ditambah mau tak mau ia mundur tiga tindak.

Li Cong Bun jadi mendongkol.

Seketika itu ia meraba pedangnya, ia mau menghunus, tapi urung ketika ia ingat ia harus bisa menahan napas berhubung dengan pentingnya mencari Gan Su Nio disembunyikan dimana?

Sebagai gantinya pedang berkilat di tangan Li Cong Bun dengan suara hormat telah berkata kepada Song Sam Ceng.

"Sahabat kepala dari Si leng cee tidak keliru kalau orang mengatakan tentang kelihaianmu. Nah sekarang kau hendak mengadakan rapat, silakan diteruskan aku tidak akan merecoki lagi. Nanti ada waktunya kita bertemu di gunung Cui ciok san. Selamat tinggal, sampai ketemu lagi…"

Li Cong Bun tutup kata-katanya dengan badannya melesat ke angkasa, berlalu dari tempat itu.

Perbuatan mana membuat Sam Aong Ceng sangat mendongkol.

Karenanya seketika itu ia juga telah melesat mengejar Li Cong Bun.

"Perlahan dulu sahabat!"

Serunya.

"Kau sudah datang seenak hati, sekarang mau berlalu begitu saja, benar-benar kau tidak memandang mata pada kami. Keluar dari rawa naga ini begitu gampang, seperti yang kau duga sahabat!"

Seiring dengan kata-katanya, jari-jarinya cemacan diulur, mencengkram pada pinggang Li Cong Bun.

Anak muda itu memang sudah memperhitungkan bahwa kabyrnya tentu akan dikejar oleh orang kuat dari Si leng cee.

Ia berlagak pilin ketika pinggangnya mau dicengkram oleh jari-jarinya Song Sam Ceng yang runcing.

Tapi ketika sudah begitu dekat jari-jari itu menyentuh bajunya, ia keluarkan ilmunya "Burung Bangau Meluncur Ke 315 kolam‟, hingga cengkraman musuh mencengkram angin.

Berbareng ia telah menotolkan kakinya, badannya melesat lagi sejauh tiga tombak, tapi Song Sam Ceng tidak mau ketinggalan.

Iapun loncat melesat menyusul jejak Li Cong Bun.

Mereka jadi kejar-kejaran dengan sangat hebat sekali.

Ketika dua jago itu saling lari, Ho Ceng Bu berkata pada kawan-kawannya menyatakan pikirannya.

"Dunia ini amat lebar dan besar, kita orang-orang Si leng cee jangan enak-enakan dan menganggap diri sudah kuat. Lihatlah itu orang tadi yang membuat onar, ilmunya amat tinggi dan ilmu lari cepatnya pun sangat bagus. Begitu indah ia mempertunjukkan kegesitannya naik-turun. Sungguh aku baru menyaksikannya sekarang. Aku rasa meskipun Lengcu sendiri yang menguber padanya, rasanya amat sukar untuk menangkapnya."

Dalam ruangan itu ramai orang membicarakan bahaya sitamu aneh dan Lengcunya yang mengejar.

Sapu pihak bilang Lengcunya akan berhasil, stu pihak mengatakan tetamunya tak akan kecendak dan dapat ia tangkap.

Diam-diam Bo yong Kang dalam persembunyiannya mendengar mereka bercakap-cakap.

Hatinya bersyukur bahwa keponakannya kini sudah dapat memperhitungkan untung 316 ruginya dalam menghadapi musuh.

Ia harap saja Li Cong Bun tidak berubah pikirannya.

Mendadak disitu tempat ia unjukkan nafsu bertempurnya dan berkelahi dengan Song Sam Ceng.

Sebab kalau kejadian, gagallah rencananya mendapat tahu apa yang dirundingkan dalam rapat kilat itu.

Tidak lama tampak Song Sam Ceng sudah berjalan masuk sambil mencekal ikat pinggang, mukanya kelihatan lesu.

Orang banyak menyambut dengan tidak mengeluarkan kata apa-apa.

Setelah duduk di kursinya Song Sam Ceng berkata.

"Aku tidak nyana orang itu ada tinggi ilmu silatnya. Ketika aku mengejar, ia berhenti menanti kedatangan orang untuk bertempur. Dalam tiga jurus aku bertempur, aku hanya berhasil merampas ikat pinggang ini. Ia benar-benar sangat lihai. Setelah tiga jurus, ia tidak mau meneruskan pertempuran dan lari turun gunung dengan cepat sekali. Meskipun aku sudah keluarkan ilmu lari cepatku yang istimewa, ternyata ilmu larinya tidak berada disebelah bawahku sebab terus ia tidak dapat dicandak."

Song Sam Ceng menghela napas sejanak, ia berdiam kemudian berkata pula.

"Orang itu amat hebat ilmu tenaga dalam dan ilmu silatnya, maka Si leng cee sangat membutuhkan orang macam demikian. Kalau bisa orang itu kita taklukkan hingga menjadi 317 pembantu kita yang berharga. Kalau sampai tidak bisa, terpaksa kita harus singkirkan dirinya, sebab ia merupakan lawan kuat yang tidak dapat dipandang enteng."

Mereka yang mendengar hanya angguk-angguk kepalanya. Tidak ada satupun berkata mengeluarkan pendapatnya. Rupanya mereka itu herih terhadap kepala Si leng cee yang sangat tersohor itu.

"Nah sekarang aku ada banyak urusan yang hendak dirundingkan untuk mana tidak boleh sembarangan orang dengar. Aku persilakan semua saudara keluar kecuali Ho Ceng Bu dan saudara Li dari Koan tiong boleh diam terus untuk aku ajak berunding. Harap sekalian di luar melakukan penjagaan dengan hati-hati. jangan sampai ada musuh menerobos ke dalam tanpa diketahui. Semua tidak boleh meninggalkan pos nya sebelum memberi sandi dengan kibaran bendera Bong Sembilan Naga…."

Kecuali Song Sam Ceng, Ho Ceng Bu dan dua saudara Li dari Loan tiong, semuanya pada bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan rapat itu.

Setelah melihat semua sudah berlalu, lantas ia bicara kepada tiga orang yang hadir disitu.

"Sejak aku pulang menemui suhu di gunung Ko le kong, aku mendapat tahu kalau Bo yong Kang dan Li Cong Bun telah menetapkan waktu 318 bulan tiga tanggal tiga tahun depan akan mengunjungi pula marksa kita di gunung Cui tiok san untuk membuat perhitungan. Memang betul mereka berdua adalah murid-murid dari Bu Ju Toato dan Ceng Leng Cinjin untuk mana harus kita bersiap-siap melindungi nama baik perkumpulan kita."

"Mereka datang hendak mencari aku bukan?"

Ho Ceng Bu menyela.

"Memang begitu adanya. Tetapi mereka sesumbar akan memusuhi Si leng cee sebab mereka anggap perkumpulan kita adalah perkumpulan orang-orang jahat. Jadi mereka memusuhi kau sama juga memusuhi perkumpulan kita bukan?"

Ho Ceng Bu anggukkan kepalanya.

"Selainnya itu, kita menghadapi soal lain lagi, ialah Hwa Sok Tang yang berjuluk si "

Naga Bersayap‟ sejak meninggalkan markas kita di Cui tok san telah menimbulkan perubahan dalam kalangan pendekar di kangouw mereka tampaknya sangat membenci kepada kita.

Ketika hal ini diketahui oleh Pho Kun Peng Lengcu ia amat marah.

Diam-diam diluar tahunya Lengcu dari tangsi "Naga‟ yang sudah menjadi suhengnya Hwe Siok Tang, dengan membawa tujuh pembantunya yang tinggi ilmu silatnya telah pergi ke propinsi Kang Souw dan menangkap Hwe Siok Tang bersama putrinya mereka sekarang ada dikurung dalam tangsi Garuda.

Sebenarnya Lengcu dari tangsi 319 Kalajengking itu terburu napsu tindakannya.

Oleh karenanya aku jadi serba salah untuk memutuskannya.

Mau membunuh Hwe Siok Tang dengan puterinya tidak berani, mau melaporkan juga tidak berani.

Hal ini kalian lebih baik rahasiakan, sebab kalau kedengaran oleh Lengcu dari tangsi Naga mana mau mengerti sutenya kita bikin punya suka…"

Ho Ceng Bu dan dua saudaranya Li diam saja tidak mengatakan apa-apa. Ketika Song Sam Ceng menghentikan bicaranya dan menghela napas beberapa kali.

"Soal lain lagi adalah soal yang lebih sukar pula untuk diatasi. Makanya aku ajak kalian rapat untuk mencari suatu pemecahan agar urusan dapat berjalan rapi dan tidak menerbitkan bencana akan perkumpulan kita."

Demikian Song Sam Ceng meneruskan bicaranya.

Mukanya tampak geram.

Ho Ceng Bu dan dua yang lainnya terkejut mendengar suaranya Song Sam Ceng.

Juga Bo yong Kang tidak terkecuali.

Ia ini dengan bernafsu pasang kupingnya untuk mencuri dengar apa yang dikatakan lebih jauh oleh Song Sam Ceng.

"Ya, Pho Kun Peng, suteku itu sebenarnya paling pandai mengatur urusan, akan tetapi aku heran kenapa dia mengabaikan urusan besar? Sudah lama dia jatuh cinta kepada Gan Su Nio dari tangsi "

Hong‟.

Pikirnya dengan perlahan-lahan dia akan menyatakan cintanya 320 pada nona Gan, tetapi siapa tahu ketika Bo yong Kang muncul, si nona kelihatannya ada jatuh hati pada si orang she Bo yong itu.

Ketika aku dengan Ho Ceng Bu menemui suguku di gunung Ko lo kang, dalam tindakan hendak menyingkirkan saingannya Pho Kun Peng telah menyiarkan maklumat kepada siapa saja yang dapat membawa kepalanya Bo yong Kang dan Li Cong Bun akan diberi hadiah besar dan diangkat menjadi Hiocu.

Dia sendiri lalu menyusul Gan Su Nio ke Lam hay dengan pikiran akan menjebak Gan Su Nio supaya jatuh dalam kekuasaannya.

Ketika aku pulang, aku mendengar akan maksudnya yang tidak baik itu.

Maka aku menyusul untuk memberi nasehat supaya ia urungkan maksudnya.

Tapi aku menyesal tak dapat menjumpai dia.

Belakangan aku tahu bahwa Gan Su Nio katanya sudah dibikin pingsan dengan obat pulas.

Bersama Pho Kun Peng berada dalam goa yang amat rahasia di Gunung Lam in long dalam propinsi Ce lam.

Setelah mendengar itu ingin mencegah perbuatan suteku itu, tapi rasanya sudah terlambat.

Si nona tentu sudah diganggu kehormatannya.

Sekarang bagaimana pikiran Ho hiocu?"

Ia menanya kepada Ho Ceng Bu.

"Lengcu,"

Jawab Ho Cong Bu.

"menurut pikiranku, Gan Su Nio adalah seorang gadis yang keras hati dan kepandaiannya tinggi. Rasanya tidak akan gampang-gampang menyerahkan dirinya kepada Pho Kun Peng, Lengcu, apalagi kalau dia sudah siuman, 321 jangan harap Pho lengcu dapat meraba dirinya."

Song Sam Ceng angguk-anggukkan kepalanya. Kelihatannya ia setuju dengan pikirannya Ho Cong Bu.

"Setelah kita bertindak salahharus kita teruskan tindakan kita itu, jangan sungkan-sungkan lagi."

"Kau pikir bagaimana jalan untuk mengatasinya?"

"Ya Lengcu.. tapi..!"

Ho Ceng Bu tak dapat meneruskan bicaranya. Song Sam Ceng mengerti kesukaran apa yang hendak dikatakan oleh Ho Ceng Bu.

"Ya, aku tahu apa yang hendak kau katakan, Cuma kau sungkan mengeluarkannya. Kita harus bertindak maju. Seperti kau barusan kata, buat apa kau harus ragu-ragu untuk mengucapkan apa-apa. Aku tahu kepandaiannya Gan Su Nio tinggi, ilmu pedangnya sangat hebat. Kecuali aku, tidak ada orang yang dapat mengalahkannya dalam markas kita. Gurunya adalah Biauw Hoat Sin ni dari Lam hay yang tabiatnya aneh. Orang tua ini dengan Bu Ju Toato dan Ceng Leng Sinjin merupakan "

Tri Tunggal‟ dalam rimba persilatan.

Karena muridnya diperlakukan tidak beres dalam markas kita tentu Biau Hoat Sin ni tidak tinggal diam.

Oleh karena itu Si leng cee akan bermusuhan dengan nikow tua itu.

Mungkin dia akan dibantu oleh dua kawannya Bu Ju Taysu dan Ceng Leng Cinjin.

322 Tapi kita tak takut sebab kita juga bisa minta bantuan guru-guru kita yang sudah lama mengasingkan diri… "

"Lengcu.."

Tiba-tiba satu dari dua bersaudara Li itu menyela.

"Lengcu barusan bilang sukar untuk diselesaikannya. Apakah tidak lebih baik berdamai saja?"

"Ha ha ha ha… "

Song Sam Ceng tertawa.

"Siapa bilang urusan tidak dapat diselesaikan, Cuma pikiranmu tak seperti Ho Ceng Bu yang sangat sempurna. Nah, Ho Hiocu, kau ceritalah menurut pikiranmu bagaimana, apakah sepikiran denganku?"

Ho Ceng Bu tertawa nyengir, ia bangga mendapat pujian dari orang atasannya.

"Menurut pikiranku, Lengcu kasitahu pad Pho Lengcu. Jikalau dia sudah mencapai maksudnya, baik dia jangan injak dua perahu, Gan Su Nio baik disingkirkan jiwanya, kemudian kita siarkan bahwa nona itu telah dibunuh oleh Bo ong Kang. Kalau sudah kejadian demikian, tentu si Nikow siluman dari Lam hay akan menjadi sangat gusar dan mencari Bu Ju Toato dan Ceng Leng Cinjin untuk diajak perhitungan. Ini bukankah mendapat dua keuntungan tidak terduga? Sebab kalau mereka bertempur mati-matian, kesudahannya kita yang mendapat keuntungan ialah kita minta bantuan suhu Lengcu untuk menumpas itu tiga siluman tua. Dengan demikian, kita jadi menjagoi lagi dalam 323 kalangan rimba persilatan tanpa ada apa-apa yang menghalangi. Bagaimana pendapat ini, baik atau tidak?"

Song Sam Ceng bertepuk tangan. Mukanya berseri-seri gembira.

"Ho hiocu, bukan saja aku mupakat, tapi pikiranmu itu ada bersamaan dengan pikiranku juga. Selain kita selesaikan juga jiwanya Hwe Sok Tang dan puterinya kita bereskan sekalian. Dengan demikian adi kita menyingkirkan bibit-bibit penyakit hingga kita dikemudian hari dapat dengan sesuka hati berkuasa dalam rimba persilatan."

Setelah berkata demikian, Kepala Si leng cee itu merogoh keluar dari sakunya 3tiga pucuk surat.

"Nah, kalau begitu Si leng cee akan kehilangan dua Lengcu dari tangsi "

Hong‟ dan "Naga‟, seharusnya disiapkan orang yang akan menggantikannya, supaya diwaktu Bo yong Kang dan Li Ceng Bu datang kita sudah lengkap lagi dengan empat kepala tangsi menghadapiya.

Ini ada tiga pucuk surat yang akan minta kalian bertiga menyampaikannya.

Yang satu dibawa oleh Ho Hiocu, untuk Auw yang Ti yang tinggal menyepi di goa It Goan di gunung Sian san, dan dua surat lainnya dibawa oleh dua saudara Li untuk Thian Tiang Kian alias si Lutung Sakti di Lok yang dan si Rase Genit Pho Sam Jun di Kiang si.

Harap kalian bertiga suka bujuk mereka supaya mereka dapat bergabung dengan Si leng cee, karena 324 dengan bantuan mereka perkumpulan kita akan menjadi sangat kuat."

Mereka bangkit dari tempat duduknya masing-masing untuk menjalankan tugasnya.

Sebelum berangkat Song Sam Ceng telah memesan.

Apa yang kita bicarakan barusan adalah sangat rahasia.

Hati-hati jangan sampai bocor.

Ho Hiocu, sekarang kau boleh mengibarkan bendera bunga naga semilan supaya yang mengikuti rapat dapat bubaran.

Kau dapat menjalankan tugasmu, aku tunggu kabar di markas kita cunung Cui tiok san!"

Bo yong Kang ditempat mengumpat telah mendengar semua pembicaraan rencana keji itu, hatinya amat puas.

Tiba-tiba hatinya amat gelisah memikirkan Gan Su Nio dalam cengkramannya Pho Kun Peng.

Menggunakan kesempatan selagi orang ramai-ramai bubaran, ia menyelinap dan lari turun gunung menemui Li Cong Bun di tempat yang sudah dijanjikan.

Berdua dengan tidak banyak cakap lalu menuju ke Ceng kiang selatan.

Dalam perjalanannya Bo yong Kang baru menceritakan apa yang ia dengar dalam rapat rahasia dari penjahat itu.

Lalu diambil keputusan lebih dahulu menolong Gan Su Nio di gunung Lam in tong.

Kemudian Cui tiok siok san untuk menolong Hwe Siok Tang dan puterinya.

325 Mereka telah melakukan perjalanan tanpa henti.

Belakangan Li Cong Bun menyampaikan pendapatnya untuk istirahat dahulu, menghilangkan rasa letih dan mengumpulkan semangat.

Kemudian beru perjalanan diteruskan.

Apalagi mereka masih belum tahu dimana letaknya gunung Lam in tong itu.

Bo yong Kang tidak keberatan.

Mereka lalu berhenti menghampiri sebuah pohon besar kemudian enjot tubuhnya hingga di atas dahan dimana mereka duduk mengaso.

Mereka ganjal perutnya dengan rangsum kering lalu bersemedi beberapa lamanya.

Setelah merasakan seluruh badannya mulai segar lagi, mereka pada membuka matanya, saling pandang sambil tersenyum.

Pada saat mereka hendap melompat turun dari atas pohon, terlihat oleh Li Cong Bun di atas satu puncak seperti ada bayangan yang lari seperti angin, berlari dipinggiran jurang.

Ketika ditegasi ia ternyata adalah Song Sam Ceng ketua dari Si leng cee.

"Bo yong susiok, itu apa bukannya Song Sam Ceng?"

Ia bertanya pada pamannya.

"Bo yong susiok, lebih baik kita jangan bertempur. Kita ikuti saja kemana dia menuju. Nanti kita bisa tahu dimana adanya enci Gan."

Bo yong Kang anggukkan kepalanya.

326 Mereka lalu menguntit dengan hati-hati sekali, karena mereka tahu kepandaiannya orang yang dikuntit itu adalah sangat tinggi.

Tidak lama mereka kehilangan orang yang dikuntitnya.

Mereka melengak sejenak tapi tidak putus asa, sebab kemudian mereka meneruskan perjalanannya mencari sekeliling tempat tadi Song Sam Ceng telah menghilang.

Tidak beberapa lama mereka sudah dapat menemui sebuah goa yaitu goa rahasia yang dimiliki oleh Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng berdua.

Itu adalah sebuah goa besar entah bagaimana keadaan didalamnya?

Tak jauh dari mulut goa kira-kira sepuluh tombak, ada sebuah batu besar dibelakang mana mereka dapat bersembunyi untuk mengawasi gerak-geriknya Song Sam Ceng lebih jauh.

Tiba-tiba Song Sam Ceng muncul di mulut goa, matanya celingukan.

Ia melihat sejarak beberapa tombak jauhnya ada pohon yang bergoyang-goyang.

Dikiranya itu adalah musuh yang menguntit, maka ia mengirim serangan yang dahsyat sekali.

Segera terdengar suara menjerit.

Tubuhnya Song Sam Ceng enteng seperti burung telah meluncur ke tempat tadi suara menjerit keluar.

327 Apa yang dilihat?

Ternyata itu bukannya manusia, hanya seekor srigala yang ketakutan lari sembunyi ketika Bo yong Kang dan Li Cong Bun enjot tubuhnya bersembunyi di belakang batu besar tadi.

Setelah mengetahui bukannya orang yang ia hajar tadi ia merasa lega hatinya, ia lantas lompat lagi ke mulut goa, terus masuk ke dalamnya.

Ditengah jalan tiba-tiba ia diserang oleh suatu serangan yang hebat sekali, hingga cepat ia mengerahkan tenaganya untuk menyambut dan balas menyerang.

Suara jeritan ngeri lantas terdengar.

Itulah suaranya Pho Kun Peng.

Song Sam Ceng amat kaget.

"Suheng, kenapa kau menyerang aku?"

Tanya Pho Kun Peng dengan suara lemah.

"Tapi kenapa kau menyerang aku?"

Berbalik menanya Song Sam Ceng.

Dua-duanya telah menegur satu sama lain dengan lucu sekali kelihatannya.

Pho Kun Peng tertawa lemah, tubuhnya limbung, tangannya cepat-cepat memegangi dinding goa.

Tidak lama ia telah menyemburkan darah segar dari mulutnya.

Melihat sutenya dalam keadaan demikian Song Sam Ceng tercekat hatinya.

Ia menduga tentu ada terjadi apa-apa yang tidak beres 328 dengan dirinya sang sute, apalagi sute itu telah kena pukulannya yang hebat, terang ia tidak kuat mempertahankan dirinya lagi.

Perlahan-lahan Pho Kun Peng telah rubuh pingsan.

Song Sam Ceng menolong sang sute dan diletakkan pada sebuah batu besar.

Memberi pil nya untuk mencegah lukanya menjalar pada bagian dalam.

Kemudian ia meijat-mijat pada beberapa bagian jalan darahnya Pho Kun Peng.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun dengan hati-hati sekali telah sudah datang lebih dekat dan dapat melihat kejadian itu.

Diam-diam Bo yong Kang merasa bersyukur sebab Gan Su Nio tentu sudah ditolong oleh seorang pandai maka keadaannya Pho Kun Peng jadi demikian rupa.

Dengan pertolongannya Sang suheng perlahan-lahan Pho Kun Peng dapat membuka matanya.

Ia girang melihat Song Sam Ceng ada di sisinya.

"Sute kau kenapa? Sebetulnya kau sudah ketemu siapa sampai mendapat luka parah begini rupa? Apa Bo yong Kang yang datang menolong sumoy?"

Song Sam Ceng hujani adik seperguruannya dengan serentetan pertanyaan.

Pho Kun Peng tampak sudah mulai sembuh tapi belum kuat.

Ia perlu beristirahat untuk beberapa waktu lamanya untuk dapat 329 mendapatkan kembali kekuatan dan tenaganya seperti biasa.

Mendengar suhengnya menghujahi pertanyaan, kelihatan ia menghela napas.

"Suheng,"

Ia akhirnya berkata.

"Aku sungguh malu kalau mengingat akan kegoblokanku. Bicara terus terang, aku sudah lama aku ada hati pada sumoy. Belakangan dengan munculnya Bo yong Kang, aku lihat hatinya sumoy tertarik oleh orang she Bo yong itu. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai, maka pikiran gila telah timbul dalam hatiku. Aku pikir akan mencemari dulu kehormatan sumoy. Kalau sudah ada kejadian begitu, bagaimanapun juga sumoi akan menerima nasib menjadi istriku."

Pho Kun Peng berhenti sebentar, matanya menatap wajah suhengnya.

Takut kalau-kalau suhengnya itu marah dan menyalahkan perbuatannya.

Tapi Song Sam Ceng diam saja sehingga Pho Kun Peng dapat meneruskan ceritanya dengan hati lega.

"Ketika aku tahu sumoi pergi ke Lam Pay untuk bersujud pada suhunya, diam-diam aku menyusul dengan It Beng Tojin, seorang bekas bajak laut di sekitar propinsi Hok kian yang sekarang menjadi orang kita.

Aku beruntung dapat menjumpai sumoi di perjalanan dan dengan pertolongan obat pulas dari It Beng Tojin beruntung aku dapat membuat sumoi tak 330 sadarkan diri, terus aku bawa kemari.

Siapa tahu, mesti kelihatan tak sadarkan diri, badannya tak dapat bergerak tapi semangatnya masih hidup.

Aku tidak tega dan ragu-ragu menodai kehormatannya.

Kemudian pikirku kalau tidak keraskan hati dan berlaku tega akan gagal rencanaku.

Demikian, barusan ini aku coba bertindak seperti yang kupikirkan, tapi apa mau dikata, sebelum aku berhasil dengan maksudku, tiba-tiba di mulut goa ada yang berkata.

"Omitohud!"

Aku kaget karena suara itu dikeluarkan dengan tenaga dalam kuta hingga dapar membikin pengang telinga yang mendengar.

Ia menggunakan ilmu "Raungan Singa‟.

Aku yang mengganggu dirinya sumoi lalu keluar melihat.

Ketika sampai di mulut goa tiba-tiba ada satu benda bundar menyerang dan aku menyambuti.

Ketika diperiksa, ternyata itu ada benda miliknya Tiat Bo Taysu.

Aku seketika itu marah-marah dan memaki-maki padanya.

Aku mengatakan tidak seharusnya orang beribadat berkeliaran dan mencari urusn di hutan.

Aku tidak takut pada bundaran dan pada "raungan singa‟ nya.

Bagaimana dia jawab?

Katanya orang harus berbuat baik pada sesama supaya mendapat berkah.

Ketika dia sedang ngoceh lalu aku menyerang dengan tenaga kombinasi lunak dan keras menggunakan kedua telapak tanganku, tetapi dia tidak bergerak sedikitpun.

Malah aku rasakan tiba-tiba tenagaku telah dipunahkan oleh suatu tenaga yang tidak kelihatan, hingga aku rasakan terbalik jalan 331 darahku.

Ketika itu aku lihat wajahnya berubah pucat dan aku mau menyerang lagi, tapi dia sudah bergerak lebih dulu mengirim serangan hebat dengan telapak tangannya.

Meskipun aku dapat menangkisnya tapi mendapat luka parah di dalam.

Ketika untuk kedua kalinya ia menyerang, badanku menjadi limbung dan dengan sekejap sudah memondong sumoi dibawa pergi."

"Sebelum meninggalkan mulut goa dia telah berkata bahwa sumoi akan diserahkan pada gurunya Biauw Hoat Sin ni di Lam hay. Ia akan memberitahukan tentang kejadisn itu dan gurunya tentu akan datang untukmembuat perhitungan. Aku tidak ambil pusing bicaranya sebab ketika itu aku sedang rasakan kesakitan dan mataku berkunang-kunang. Ketika aku mulai segaran mendadak aku mendengar ada suara yang bertindak masuk. Aku kira si kepala gundul kembali lagi maka aku mengirim serangan hebat. Tidak tahunya suheng yang datang dan aku kena pukulan suheng hingga muntah darah…"

Song Sam Ceng terkejut mendengar keterangan sang sute yang panjang lebar. Setelah manggut-manggut sambil kerutkan alisnya ia berkata.

"Sute, kau biasanya sangat cerdik, tapi kali ini kenapa egitu tolol? Daging sumoi belum kau makan, sudah mendapat bahaya maut begitu rupa. Kau tahu itu Biau Hoat Sin ni 332 kalau benar-benar memusuhi kita, sangat sukar untuk melayaninya. Sebab dia amat lihai. Kalau dia turun tangan sendiri, entah bagaimana dengan nasibnya marksa besar kita di Cui tok san. Lagian kau mencari urusan, kau tidak membinasakan Hwe Siok Tang dengan puterinya akan tetapi ditahan di belakang kuil. Hal ini kalau diketahui oleh jiko mu, pasti dia akan memutuskan persaudaraan angkatnya dengan kau. Bo yong Kang dan Li Cong Bun jika mengetahui hal ini juga mereka bisa datang kesini dengan tidak menunggu lagi pada waktu yang dijanjikan. Kau mengerti?"

Pho Kun Peng kelihatan terima salah. Ia tidak memberikan penyahutan atas teguran suhengnya yang ia amat hormati dan takuti. Setelah menghela napas, Song Sam Ceng meneruskan bicaranya.

"Sungguh sayang, dengan susah payah kita membangun markas kita, dalam sekejap bisa hancur lebur karena serbuan musuh-musuh kuat dari sebelah luar."

"Suheng, aku terima salah."

Jawab Pho Kun Peng sambil tundukkan kepala.

"Sekarang urusan sudah sampai begini jauh. Yang dikuatirkan adalah kedatangannya Biauw Hoat Sin ni yang tidak ada yang bisa menandingi kepandaiannya dalam markas kita. Nah sekarang kau kelihatannya sudah mulai sembuh, juga tidak ada urusan apa-apa lagi. 333 Sekarang baik kau pergi ke gunung Ko lo kang, melaporkan pada dua guru kita duduknya urusan dan minta dua orang tua itu punya pendapat bagaimana baiknya. Kau tidak perlu kembali ke markas besar kita lagi. Menurut pikiranku, dua orang tua itu tentu akan bersedia turun tangan untuk membalas dendam kepada Tei Tunggal itu."

"Baik, aku akan pergi menemui insu."

Jawab Pho Ken Peng. Song Sam Ceng melihat wajahnya Pho seperti mengandung hawa marah yang besar maka sebelum ia berangkat telah dinasehati.

"Sute, tidak baik kau mau menuruti napsu amarahmu. Kali ini kau pergi ke gunung Ko le kang, sangat penting. Cepat-cepat pergi dan lekas-lekas pulang. Hati-hati di jalan. Kalau ketemu dengan Biauw Hoat Sin ni sebab kalau ada apa-apa dan terjadi dengan orang lihai itu. Janga timbulkan peristiwa yang bujan-bukan dalam perjalanan pulang ke gunung Cui liok san mengerti? Eh jangan lupa minta itu "

Tiga Pusaka Thiansan pada suhu untuk kita menghajar musuh!"

Pho kun Peng angguk-anggukkan lagi kepalanya.

Berdua kemudian telah berpisah.

bo yong Kang dan Li Cong Bun ketika mereka sudah pergi jauh lalu masuk ke dalam goa.

Setelah memeriksa keadaan disekitarnya Bo yong Kang menghela napas.

"Bun jie, It Beng Tojin yang kita sudah ampuni itu telah mendustai kita, hingga kita berputar-putar mencari tempat yang ditunjukkannya. Syukur Gan Su Nio telah ditolong oleh Tiat Bok Taysu, tapi sebenarnya dia itu dari partai mana? Kita dapat mengalahkan Pho Kun Peng, tetapi kalau bertanding dengan dia belum tentu kita dapat menjatuhkannya."

Bo yong Kang nampak tidak senang sebab belum tahu akan nasibnya Gan Su Nio yang dibawa oleh Tiat Bok Taysu yang ia belum kenal.

"Bo yong susiok,"

Kata Li Cong Bun.

"Taysu itu adalah musuhnya Si leng cee. Kelak kita akan berjumpa dengan dia. Sekarang kita tidak perlu memikirkan hal itu. Keta perlu bertindak cepat dalam tindakan kita selanjutnya. Apakah kita pergi menolong Enci Gan dulu atau mau pergi menolong Hwe Tayhiap dengan putrinya itu yang sekarang dalam sarang penjahat atau kita mencegah itu tiga utusan yang meminta bala bantuan memanggil Auw yang Ti, Thian Tiang Kian dan Po San Jun?"

"Yah,"

Kata Bo yong kang, menurut pendapatku, Gan Su Nio sudah lolos dari bahaya dan diantar oleh Liat Bok Taysu ke Lam hai, tidak perlu kita pikirkan lagi.

Itu tiga orang yang dipanggil.

Auw yang Ti berada diantara orang-orang jalan hitam dan putih, ilmu silatnya lihai, kalau sampai dia menerima undangan, kita tambah lagi seorang 335 musuh yang kuat.

Letak tempatnya berdekatan dengan gunung Hud leng.

Maka surat yang disampaikan oleh Ho Ceng Bu tentu sudah sampai padanya, kita tidak dapat mengejarnya."

"Thian Tiang Kian?"

Nyeletuk Li Cong Bun.

"Orang she Thian yang bergelar si Lutung Sakti itu sifatnya sangat sombong. Mungkin dengah hanya surat saja dia akan menolak undangan. Pho Sam Jun yang dikenal julukannya si Raja Genit dan cabul, banyak lelaki cakap menjadi korbannya. Ia menumpuk dosa sudah banyak. Maka aku harap tahun depan musim semi bisa berhadapan dengan perempuan celaka ini di markas besar Si leng cee. Supaya aku dapat pindahkan jiwanya ke akherat menemui Giam Lo Ong (Raja Akherat). Sekarang paling perlu kita menolong Hwe Tayhiap dan puterinya. Kita jangan bertempur di sana. Hanya kita memberikan pertolongan secara diam-diam saja. Biarlah musuh tahu kepandaian kita sangat tinggi, bisa keluar masuk da;am markas penjahat sesuka hati kita. Bagaimana pikiranmu?"

Li Cong Bun acungkan jempolnya.

"Kau benar-benar bisa memperthitungkan urusan, susiok. Mari kita berangkat mengikuti jejaknya Song Sam Ceng yang sedang menuju kesana!" 336 Paman dan keponakan langsung meninggalkan tempat itu. Mereka lupa akan halnya Pho Kun Peng yang pergi ke gunung Ko le kang untuk menjumpai Thian Lam Siang Koay (Sepasang siluman dari Thian lam) Song Sam Ceng disepanjang jalan berpikir semua sudah diatur beres. Hwe Siok Tang dengan putrinya akan disingkirkan jiwanya. Jetenya (Hwe Pek It) dari tangsi naga, kalau tahu kejadian itu akan dibasmi sekalian. Ada kemungkina Bo yong kang dan Li Cong Bun datang ke markasnya dengan tidak menurut janji, maka ia percepat perjalanannya. Ketika dia sampai di gungung Ong bu hanya tinggal beberapa li saja untuk sampai ke markas besar di Cui tiok san, ia sudah dapat melihat gelagat tidak baik bahwa dalam markasnya sudah timbul huru-hara. Waktu keadaan sudah petang, tiba-tiba ada sesosok bayangan mendatangi dari sebelah barat dan lantas menyerang pada dirinya Song Sam Ceng.

"Pada malam yang gelap ini, kau dengan tergesa-gesa lari. Ada kejadian apa dalam markas kita?"

Orang yang dipanggil Jite itu adalah si Naga Sakti Hwe Pek It Lengcu dari tangsi Naga dan orang kuat kedua dari Si leng cee.

Matanya Hwe pek it penuh dengan sorot kegusaran, wajahnya sangat bengis, seantero bajunya penuh dengan darah.

Ia menghentikan 337 larinya sejenak sepuluh tindak dari tempat Song Sam Ceng berdiri.

"Lengcu tangsi Garuda!"

Kata Hwe Pek It dengan suara dingin.

"Kau sudah tahu duduknya urusan, buat apa kau masih banyak pura-pura? Hmm, aku tidak nyana si orang she Hwe mendapat perlakuan begini rupa. Untuk apa kita menjadi saudara angkat?"

Seiring dengan kata-katanya Hwe Pek It talah merobek baju dan dilemparkannya pada Song Sam Ceng.

Inilah tanda bahwa persaudaraan mereka telah putus.

Song Sam Ceng tahu bahwa kalau saat itu ia melepaskan Hwe Pek It, berarti bahwa ia melepaskan harimau ke gunung.

Dikemudian hari tentu akan menjadi bibit bahaya.

Maka seketika itu timbullah pikiran jahatnya hendak membinasakan Hwe Pek It.

Mulutnya masih keluarkan perkataan akhir, tapi diam-diam ia mengerahkan tenaganya untuk menyerang pada Hwe Pek It.

"Jite, kau jangan salah mengerti. Kita bersaudara sudah sepuluh tahun lamanya. Kalau ada kesalahan apa-apa sebaiknya kta berdamai. Kalau aku bersalah aku akan terima dan bagaimana aku akan dihukum aku juga bersedia menerimanya."

Ia berkata sambil bertindak maju mendekati.

Tenaganya sudah dikerahkan.

338 Hwe Pek It bukan anak kemarin sore sebab gerakannya Song Sam Ceng itu sudah dia kenali hendak menyerang dirinya.

Ia melompat jauh beberapa tombak ke dalam rimba.

"Ha ha ha… "

Ia tertawa.

"Song Sam Ceng, kau hanya dilahir saja bermuka manis, tapi dalam hatimu menyimpan kekejaman dan ketelangasan tiada taranya. Lihat di bahumu, kau sudah mengerahkan tenaga dalammu untuk menyerang aku dengan telapak tanganmu yang membinasakan. Apa kau kira aku tidak tahu? Ah Song Sam Ceng, kau keliru kalau mau kau anggap aku bisa dibinasakan olehmu dengan begitu saja."

Hwe Pek It tidak dapat meneruskan bicaranya karena tiba-tiba memegangi sikunya yang kesakitan.

Ia sadar bahwa dirinya sudah kena dibokong senjata gelap.

Selagi ia meringis-ringis kesakitan tiba-tiba Song Sam Ceng membentak.

"Hey, siapa bersembunyi di dalam rimba?"

Segera terdengar jawaban yang berbicara pada Hwe Pek It.

"Orang she Hwe jangan sembarangan main gila. Tahukah kau sudah terkena jarum yang berbisa? Kalau kau semakin marah, semakin cepat jiwamu melayang. Dalam Si leng cee mana dapat orang mengingkari janji, apalagi terhadap Lengcu tangsi naga. Kau dapat bertahan dari senjata gelapku itu dalam sepuluh hari lamanya. Cepat-cepat kau pergi 339 ke puncak Kiu hoan san untuk mencari bunga Siang lan yang masih kuncup untuk memunahkan bisa yang sudah menjalar dalam tubuhmu. Kalau kau berajal, itu bukan urusanku."

Hwe Pek It bukan main gusarnya. Sayang ia tak berdaya. Sambil menekan-nekan sikunya yang sakit ia berkata dengan gusar.

"Senjata gelapmu kalau sampai tidak membinasakan jiwaku, pasti dikemudian hari ada hitungannya. Nah beritahukan namamu!"

Orang itu tertawa bergelak-gelak.

"Oh sungguh kecewa kau sebagai Lengcu dari tangsi Naga tidak bisa mengenali pemilik dari jarum sakti itu. Kalau kau hendak menuntut balas, kau boleh datang di markas besar di Cei Tiok san mencari aku."

Kemudian tidak terdengar lagi suaranya hingga Hwe Pek It meninggalkan tempat itu.

Song Sam Ceng merasa heran.

Ia kepingin tahu siapa orang itu.

Ketika ia hendak membuka mulut bertanya, tiba-tiba muncul dari dalam rimba seorang tua berusia kira-kira lima puluh tahun.

Song Sam Ceng pikir orang itu tentu bukannya musuh.

Maka ia memberi hormat sambil memperkenalkan diri dan menanyakan nama orang tua itu.

"Song Lengcu, aku Auw yang Ti sudah menyepi lima belas tahun lamanya di goa It Goan. Tidak heran kalau tidak dikenali olehmu." 340 Song Sam Ceng terkejut endengar jawaban si orang tua. Ia telah mendengar Ho Ceng Bu untuk mengundang orang tua itu. Sekarang dengan tiba-tiba sudah muncul di depannya. Sungguh hal itu membuat ia girang bukan main.

"Sudah lama aku mendengar akan kehebatan ilmu silat Huw yag toako."

Ia berkata.

"Aku memang sudah lama ingin berjumpa dengan kau, tapi karena diganggu banyak urusan saja maka saban kali batal. Aku ada menyuruh Ho Ceng Bu untuk mengundang padamu. Apalagi kau datang karena undanganku itu? Barusan saja toako datang?"

"Memang begitu."

Jawab Ouw Yang Ti.

Ketika aku menerima suratmu, malam itu juga aku dengan Ho Ceng Bu telah berangkat ke markas Cui tiok san.

Barusan aku sampai telah menyaksikan Hwe Pek It berontak karena gara-gara adiknya yang dikurung di dalam tangsi Garuda.

Menggunakan kesempatan Ho Ceng Bu yang bertempur dengan Hwe Pek It, maka aku datang sembunyi di sini, perlunya untuk menewskan si orang she Hwe… "

"Orang itu sudah memutuskan sumpah angkat sodara,"

Memotong Song Sam Ceng "Betul ada berbahaya sekali untukmarkas kita.

Tapi kau setelah melukai dengan senjata gelap, perlu apa kau menolong dirinya menunjukkan supaya dia pergi ke Kui hong san mencari kembang untuk obatnya?

" 341 Auw yang Ti tertawa panjang mendengar pertanyaan Song Sam Ceng.

Song Lengcu,"

Katanya.

"Aku cepat turun gunung perlunya supaya dapat membantu dengan cepat kau naik menjadi rajanya rimba persilatan. Di puncak Kiu hoa san mana ada kembang begituan. Hanya ada sebuah goa yang didiami oleh si orang hutan bertangan satu yang ganas. Kalau dia tidak tahan karena bisanya jarum beracun dia akan mati di tengah jalan. Sebaliknya kalau dia dapat sampai dipuncaknya Kiu hoa san dia toh mati oleh si orang hutan. Dengan demikian, kau tak usah turun tangan sendiri. Musuh sudah mati bukan?"

Song Sam Ceng girang sambil angguk-anggukkan kepalanya. Tangannya diulur menepuk-nepuk bahunya.

"Auw yang Toako, dengan datangnya kau membantu markas kami, terang kami seperti harimau yang tumbuh sayap. Kemudian Auw yang toako boleh menunjukkan ilmu-ilmu silat Auw yang toako yang tinggi. Aku akan mengangkat Auw yang toako menjadi lengcu dari tangsi Naga sebagai pengganti Hwe Pek It. Dengan bantuan Auw yang toako, aku percaya maksud kita tercapai untuk menjadi kepala dari rimba persilatan!"

Auw yang Ti menjawab dengan merendahkan diri.

Berdua sambil berjalan bercakap-cakap.

342 Tak lama mereka sudah sampai di markas besar dimana Ho Ceng Bu datang menyambut dan melaporkan peristiwa yang terjadi dalam markas Si leng cee.

Bagaimana sebenarnya Hwe Pek It dari tangsi Naga Sakti berontak?

Pembaca dapat mengikuti kisahnya di bawah ini.

Si leng cee dibentuk oleh empat orang, yaitu Song Sam Ceng, Hwe Pek It, Pho Kun Peng dan Gan Su Nio.

Mereka membentuk partai baru itu dengan rencana hebat akan mengandung pengaruh sehingga partai-partai persilatan lainnya menjadi tunduk.

Empat orang itulah bersumpah mengangkat saudara satu dengan lainnya.

Ialah sehidup sejiwa senang susah bersama-sama.

Tahun bertenu tahun benar saja, benar saja oleh karena kegiatannya empat orang itu yang bersatu hati, Si leng cee telah menonjol diantara partai-partai persilatan.

Si leng cee yang terdiri dari empat tangsi masing-masing ada kepalanya sendiri (Leng cu) yaitu tangsi Garuda dikepalai oleh Song Sam Ceng, tangsi naga oleh Hwe Pek It, tangsi Kalajengking oleh Pho Kun Peng dan tangsi Hong oleh Gan Su Nio.

Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng adalah murid-murid dari Thian lam Siang koay merupakan suheng dan sute.

Yang paling tinggi kepandaiannya diantara Lengcu itu 343 adalah Song Sam Ceng.

Belakangan ketika melihat partainya mendapat kemajuan pesat dan pentang pengaruh beritu rupa.

Song Sam Ceng perlahan-lahan lalu unjuk pengaruh hingga dirinya merupakan kepalanya boleh dibilang diantara empat tangsi itu.

Kekuasaan dari kepala masing-masing tangsi dengan tentu dibatasi olehnya.

Tidak heran kalau orang-orang bawahannya Song Sam Ceng banyak yang ugal-ugalan mengandalkan pengaruh dari majikannya.

Mereka suka berbuat sewenang-wenang diluaran.

Hingga nama Si leng cee yang semula begitu tersohor dan dibuat jeri belakangan dibenci dan dikutuk oleh jago-jago dalam rimba persilatan.

Pho Kun Peng yang menjadi Lengcu dari tangsi Kalajengking kelakuannya buruk, jahat hatinya dan kejam.

Dengan menyender pada suhengnya Song Sam Ceng punya pengaruh ia bikin Lengcu dari dua tangsi lainnya yaitu tangsi Naga dan tangsi Burung Hong agar menaruh perindahan pada dirinya.

Pengaruh Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng alama-lama menjadi semakin besar dalam Si leng cee sehingga Hwe Pek It hanya namanya saja sebagai kepala tangsi Naga sebab kekuasaan boleh dikatakan di tangannya Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng.

Hatinya orang she Hwe ini perlahan-lahan menjadi tawar.

Apalagi ketika Hwe Siok Lang adiknya bersama puterinya ada menemaninya sepuluh 344 hari lamanya dalam tangsinya telah memberi bisikan padanya tentang tidak bagusnya nama Si leng cee diluaran dan mengharap supaya Hwe Pek It lekas undurkan diri, jangan sampai kerembet-rembet dapat nama rusak hatinya menjadi kusut.

Jilid 10 KETIKA adiknya telah berlalu dari tangsinya, ia telah mempertimbangkan nasehatnya Hwe Siok Tang.

Diam-diam ia merasa duka sebab apa yang dikatakan oleh adiknya mungkin ada betul.

Juga ia merasa dalam tangsinya makin hari makin tidak betah karena romannya Song Sam Ceng seperti sudah jemu padanya.

Pada suatu malam, dalam pikirannya yang ruwet, ia telah hiburkan hatinya dengan membaca pelajaran ilmu silat.

Ia duduk sendirian dalam kamar bukunya.

Tiba-tiba pinti kamar terpentang seperti didorong oleh tenaga yang kuat.

Suatu benda yang merupakan anak panah meluncur persis jatuh di atas mejanya.

Hwe Pek It terkejut bukan main.

Ia cepat ambil anak panah itu.

Ternyata ada bertuliskan .

Baca Juga: Pendekar Setia 9

Baca Juga: Bunga Pedang Embun Hujan Kanglam 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger