Eps 4 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung
Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung
Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.
"Hwe Siok Teng dengan puterinya ditahan di tempat ini." 345 Ia meneliti anak panah itu yang terbuat dari bambu merah yang terdapat di tangsi "
Garuda‟ ditanam di belakang sebuah kuil. Dilain tempat tidak ada macam bambu semikian. Hwe Pek It jadi berpikir.
"Aku sudah mengantar Jite dan keponakanku sampai sepuluh li jauhnya, apa bisa jadi mereka dikurung di tempat itu? Ia ingat Pho Kun Peng yang jahat. Dia itu tidak memandang pada persaudaraan, kalau mau membikin celaka orang terus saja melakukannya. Ia cepat mengambil keputusan untuk menyelidiki kabar disamping oleh anak panah tadi. Ketika ia berjalan sampai di depan gedungnya Song Sam Ceng, tiba-tiba dicegat oleh tiga Hiocu dari tangsi kalajengking. Mereka adalah tiga bersaudara she teh yaitu. teh Hoa Beng, teh Hou Liang dan teh Hoa Kok. Mereka semua adalah anak buahnya Pho Kun Peng yang sangat dipercaya dan mereka hatinya amat jahat dan kejam. The Hoa Beng yang tertua ada menjadi kepalanya. Ia berjuluk si "
Iblis Pencabut Nyawa‟. Hwe Pek It ketika melihat mereka hatinya sudah seratus persen percaya akan berita yang dikirim dengan perantaraan anak panah. Dengan tertawa-tawa teh Hoa Beng menyahut.
"Oh Lengcu dari tangsi Naga. Apakah hendak menemui Song dan Pho Lengcu? Sayang 346 sekali mereka ada urusan penting dan sampai kini belum kembali."
Hwe Pek It juga tertawa.
"Ya aku juga tidak hendak menemui kedua Lengcu itu, hanya berhubung dengan malam ini bulan sangat terangnya, jalan-jalan mengikuti maunya sang kaki mengajak kemana. Barusan aku ada timbul pikiran melihat-lihat pemandangan di belakang Si leng cee, dimana ada ditanam bambu merah. Tapi kenapa kalian juga ada di sini?"
Si Iblis Pencabut Nyawa teh Hoa Beng dengan suara tenang menjawab.
"Maaf Lengcu, kebetulan Ho Hiocu dari tangsi Garuda tidak ada, semuanya sedang menjalankan tugas. Kami bertiga ditugaskan untuk menjaga disitu. Mereka memesan bahwa tempat ditempat yang Lengcu maksudkan ada tersimpan rahasia yang tidak boleh dikunjungi orang tanpa diketahui oleh Song Lengcu dan Pho Lengcu!"
Dari jawaban ini, Hwe Pek It sudah bisa menduga bahwa betul adiknya ada dikurung di tempat itu. Katanya dalam hati.
"Ya teh Hiocu, kau maksudkan kau hendak melarang aku masuk di pekarangan itu bukan?"
The Hoa Beng jadi serba salah. Ia tundukkan kepalanya sejenak.
"Kami tiga bersaudara tidak menghalangi Lengcu tapi apa mau karena mendapat perintah 347 dari sebelah atasan. Ho hiocu baru saja pulang, apakah Lengcu suka menanti sebentar disini, aku akan melaporkan padanya supaya Lengcu dapat bersama-sama dengan Ho Hiocu masuk ke dalam."
Hwe Pek It tidak senang karena pikirannya betul-betul sekarang ia tidak punya wewenang maka dengan gusar ia berkata .
"Tempat ini ada kami berempat Lengcu yang menciptakannya, tapi tidak disangka aku Hwe Pek It tidak boleh berjalan-jalan di tempatnya sendiri. Ho Ceng Bu itu orang macam apa? Kalian melihat dia, terang kau orang tidak memandang padaku!"
Melihat Lengcu dari tangsi naga itu sangat marah, maka teh Hoa Beng berkata.
"Baiklah, aku dengan samte masuk menemani Lengcu dan Jite menunggu di luar!"
Sambil matanya memberi isyarat kepada teh Hoa Liang.
"Jite harus baik-baik kau menjaga sendirian di sini!"
Mereka bertiga terus masuk ke dalam gedung Song Sam Ceng.
Hwe Pek It dalam hati berpikir kalau is sudah menolong adik dan keponakannya, ia akan memutuskan perhubungan sebagai saudara angkat dengan Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng.
Selanjutnya ia akan cuci tangan dan mengasingkan diri di pegunungan, tidak ingin turut campur lagi urusan dunia kangouw.
348 The Hoa Liang sementara itu telah mencari Ho Ceng Bu untuk melaporkan tentang kunjungannya Hwe Pek It.
Kebetulan Ho Ceng Bu bersama-sama Auw yang Ti lagi jalan-jalan melihat sekitarnya markas sehingga teh Hoa Liang harus mencari-cari dulu, baru diketemukan.
Mendengar laporannya teh Hoa Liang, Ho Ceng Bu lalu menanyakan pikirannya Auw yang Ti bagaimana baiknya untuk mengatasi peristiwa itu.
Setelah berpikir sejenak, Auw yang Ti pikirannya.
"Hmm! Keadaan sudah jadi begini, sebaiknya kita basmi saja semuanya supaya tidak meninggalkan bibit bencana di kemudian hari. Nah sekarang Ho laote dan teh Hiocu pergi kesana untuk membikin selesai urusan. Kalau Hwe Pek It dapat dibikin sabar itu lebih baik, tapi kalau dia berkeras sehingga terjadi pertempuran kita sikat saja semuanya. Karena aku tidak kenal dengan Hwe Pek It maka aku dengan diam-diam saja bersembunyi membantu."
Ho Ceng Bu dan teh Hoa Liang pikir itulah jalannya baik, maka mereka berdua lantas meninggalkan Auw yang Ti.
Belum mereka berjalan sepuluh tombak, tiba-tiba mendengar bentakan Hwe Pek It yang menerjang keluar dari belakang gedungnya Song Sam Ceng dengan badan berlumuran darah.
349 The Hoa Beng memang jahat dan kejam, maka pada waktu ia berjalan bersama adiknya mengantar Hwe Pek It ke tempat tahanan, diam-diam sudah menyiapkan senjata gelapnya ialah senjata beracun dan lembing kebil.
Ketika sampai di tempat tahanan, kenyataan orang-orang dalam kamar itu sudah tidak ada lagi.
Hwe pek It hanya mendapatkan sepotong kain yang berkibar-kibar di atas bambu bertuliskan "Dari Siok Tang‟.
Ia berdiri bengong.
The Hoa Beng melihat itu lantas memberi isyarat pada adiknya untuk turun tangan.
Seketika itu senjata gelap dari kakak beradik itu menyerang ke belakang kepalanya Hwe Pek It.
Jago dari tangsi Naga ini tidak begitu empuk sebagaimana diduga semula sebab semua senjata gelap itu dapat dikelit.
Malah senjata lembing yang dipukul balik, satu diantaranya telah menembus dadanya teh Hoa Kok yang coba ngiprit menelad engkonya yang sudah ngiprit lebih dulu.
Kontan seketika itu ia rubuh dan binasa.
teh hoa Beng dikejar oleh Hwe Pek It.
Setelah dekat, dengan tenaga keras ia mengirim serangan sehingga bahu kanannya teh Hoa Beng terlepas dari tubuhnya.
Tentu saja ia jatuh di tanah dengan mandi darah.
Hwe Pek It yang sudah menjadi sangat gemas sudah lantas menghampiri dan menghajar batok kepalanya hingga pecah berantakan.
Kemudian ia kembali ke tempat tahanan tadi untuk menyelidiki 350 lebih jauh.
Ternyata pada sepotong kain yang dikibarkan pada ujungnya bambu itu ada tulisan lengkap berbunyi .
AKU DENGAN SOAN JI DICULIK DAN DITAHAN DISINI.
SYUKUR TADI MALAM ADA BINTANG PENOLONG, DENGAN DIAM-DIAM TELAH MELEPASKAN KAMI BERDUA.
TAHUN DEPAN, BULAN TIGA TANGGAL TIGA, PADA TEPAT WAKTUNYA BO YONG KANG DAN LI CONG BUN MEMBUAT PERHITUNGAN DALAM MARKAS SI LENG CEE, AKU AKAN DATANG UNTUK BELAJAR KENAL DENGAN PHO KUN BENG.
HARAP TOAKO BERHATI-HATI!
SONG SAM CENG DAN PHO KUN PENG ADA MEMBENCI TOAKO.
Hwe Prk It menghela napas setelah membaca surat tersebut.
Pikirnya kini ia sudah tak dapat menjadi Lengcu lagi di tangsi Naga.
Ia tidak perlu menantikan pulangnya mereka pula.
Lebuh baik sekarang meloloskan diri dari cengkramannya mereka.
Diam-diam ia merasa sedih karena sudah sepuluh tahun berkumpul dan berjuang bersama-sama untuk memanjukan partainya, sekarang ternyata dua orang itu telah berlaku kejam dan tak memandang mata padanya.
Semakin dipikir hatinya Hwe Pek It semakin marah.
Ia meninggalkan tempat itu dengan pakaian berlumuran darahnya teh Hoa Liang.
"Hwe Lengcu."
Kata teh Hoa Liang dengan hormat.
"Buat apa sampai begini marah? Toako dan samte ada dimana? Kenapa mereka tak muncul bersama-sama lengcu?"
"Hmm!"
Hwe Pek It menggeram.
"Mereka berdua sangat jahat, telah membokong aku dengan senjata gelapnya, sudah tentu aku tak memberi ampun lagi dan mereka berdua aku sudah binasakan!"
The Hoa Liang terkejut, air mukanya berubah marah.
Dengan air mata bercucuran ia cabut golok gergajinya dan menyerang Hwe Pek It.
Tapi serangannya dipunahkan oleh tenaga telapakan tangannya Ho Cong Bu hingga ia sempoyongan dan rubuh di tanah.
Sementara itu Ho Cong Bu berkata pada Hwe Pek It.
"Oo Hwe Lengcu, jangan marah dulu. Dua orang itu memang berdosa besar dan pantas mendapat kematiannya. Tapi Song Lengcu belum pernah perlakukan tidak baik padamu. Oh itu dia Song Lengcu sudah pulang!"
Hwe Pek It tidak mengira kalau Ho Ceng Bu akan memukul teh Hoa Liang.
Mendengar Song Sam Ceng sudah pulang, maka teh Hoa Liang cepat bangkit dan melarikan diri.
Tak tahunya Hwe Pek It yang sudah marah padanya tak memberikan jalan hidup.
Orang she Hwe itu maju beberapa tindak, badannya berputar.
Satu pukulan kosong dari jarak jauh sudah cukup membuat 352 orang she teh itu menjerit dan rubuh binasa seketika itu juga.
"Ho Ceng Bu, kau ini hanya bermulut manis dan mudah ketawa, tapi hatimu lebih jahat dari seekor srigala. Dengan mengandalkan pad rombongan penjahat, kau terus membuat celaka orang. Kini jiwamu tidak akan lolos dari tanganku!"
Ho Ceng Bu tak menjawab.
Justru sikapnya orang she Ho itu membuat darahnya Hwe Pek It meluap.
Ia gerakkan tangannya menyerang ke arah Ho Ceng Bu, tapi dengan lincah diegos oleh lawannya Ho Ceng Bu tidak balas menyerang.
Ia hanya menjaga dirinya saja menantikan cukongnya sendiri yang nanti turun tangan.
Satu kali mereka telah beradu tangan.
Hwe Pek It telah tertolak mundur tiga tindak.
Hwe Pek It terkejut sejenak, setelah bertempur enam tujuh jurus Hwe Pek It tahu akan tenaganya lawan sampai dimana.
Maka dengan tertawa ia berkata.
"Ho Ceng Bu, aku kira kau ikut Song Sam Ceng sudah belajar ilmu silat yang sangat ajaib, tidak tahunya kepandaianmu hanya disitu-situ saja. Jangan menyesal, terpaksa aku melanggar pantangan membunuh untuk mengirim jiwamu ke akherat menemani tiga saudara teh yang sudah menunggu di sana…" 353 Seiring dengan ditutupnya kata-katanya, Hwe Pek It telah mengerahkan tenaga dalamnya yang hebat menyerang Ho Ceng Bu. Pertempuran kali ini ada kesudahannya, sebab setelah enam tujuh jurus berlalu tulang bahunya Ho Ceng Bu sudah terpukul kesakitan dan ia numprak di tanah. Kini ia terpaksa hanya menantikan kematiannya. Hwe Pek It dengan tertawa-tawa puas menghampiri akan menamatkan akan riwayatnya si orang she Ho. Tetapi pukulannya ternyata dipunahkan oleh seorang Tosu dan seoranh Hweshio. Ialah It Pek Tojin dan To Kek Hweshio. Berbareng Ho Ceng Bu bergulingan untuk menyelamatkan dirinya tapi tidak urung batu dan pasir yang kena angin pukulannya Hwe Pek It telah pada beterbangan dan memukul pada badannya. Hwe Pek It saktu itu sudah melihat disekitarnya sudah berdiri tiga Hiocu, yaitu Hiocu dari tangsi Naga, Kalajengking dan Hong, semuanya pada memberi hormat pada Hwe Pek It dan pada berdiri tegak tidak berkata apa-apa. Hwe Pek It berkata.
"Kalian dengan menurut aturan markas ada menghormati padaku. Aku juga ingat sudah sepuluh tahun lamanya kita galang gulung maka aku dapat mengampuni jiwanya Ho Ceng Bu. Kalau lain kali ketemu aku, dia masih belum berubah jiwa srigalanya dan mengganas 354 kepada sesamanya aku tidak akan mengampuni lagi dan nyawanya akan aku cabut tanpa memandang pada siapapun juga."
Setelah berkata-kata ia lantas meninggalkan tempat itu lari ke gedungnya di tangsi Naga dalam mana ia memilih barang-barang yang ia suka untuk dibawa keluar dari markas itu.
Ia sudah tidak menghiraukan dengan kedudukannya sebagai Lengcu dari tangsi naga.
Ia keluar dengan tergesa-gesa.
Ditengah jalan ia kesomplokan dengan Song Sam Ceng dan dilukai oleh jarum beracunnya Auw yang Ti sebagaimana dituturkan disebelah atas.
DALAM omong-omong dengan Auw yang Ti, Song Sam Ceng menyatakan pikirannya tidak habis mengerti dengan cara bagaimana Lengcu dari tangsi Naga telah mendapat tahu halnya Hwe Siok Tang dan puterinya akan dikurung dalam tangsi Garuda.
"Ha ha ha, Hwe Lengcu, memang hal itu perlu diselidiki."
Jawab Auw yang Ti. Hwe Pek It sudah kena jarum beracun, rasanya tak mungkin dia bisa hidup. Sekarang perlu kita selidiki orang-orang diantara kita sendiri."
"Bagaimana toako pikir baiknya kita bertindak?"
"Kita harus mencari tahu siapa yang sudah membocorkan rahasia ditahannya Hwe Siok 355 tang. Kalau dalam markas kita ada bersembunyi penghianat itu lebih berbahaya dari musuh kita sebelah luar…"
"Aku pikir juga begitu,"
Memotong Song Sam Ceng.
Kita hendak memperbaiki markas kita, maka tidak boleh seorangpun yang tidak bersatu hati.
nah Ho Ceng Bu akan aku tugaskan untuk menyelidiki penghianat itu.
Kalau kau sudah ketemukan dan kau tidak sempat melaporkan dulu padaku, kau boleh sesuka hatimu mengambil keputusan.
Aku beri kau kekuasaan penuh untuk bertindak dan belakangan baru lapor."
Ho Ceng Bu telah terima perintah smbil anggukkan kepala.
"Masih ada lagi Hwe Lengcu."
Kata Auw yang Ti tertawa.
"Soal apa itu?"
Tanya Song Sam Ceng.
"Soalnya adalah jalanan ke tempatnya Hwe Siok Tang ditahan itu, bukankan ada diatur menurut rencana, sehingga tidak gampang-gampang orang dapat masuk kedalam tanpa kesasar putar-putar lebih dulu?"
Song Sam Ceng anggukkan kepala.
"Nah mengapa Hwe Siok Tang dengan puterinya begitu gampang meloloskan diri?"
"Aku juga ada memikirkan kejadian itu." 356
"Sekarang mari ajak aku melihat keadaan jalanan ke tempat tahanan itu supaya aku dapat melihat dan mempelajarinya."
Song Sam Ceng lalu mengajak Auw yang Ti mengajak melihat-lihat sampai ditempat Hwe Siok Tang ditahan.
Tidak jauh dari kamar tahanan itu tampak bangkainya teh Hoa Kek dan teh Hoa Beng masih menggeletak.
Song Sam Ceng lalu menyuruh anak buahnya untuk mengubur sua mayat itu.
Auw yang Ti dengan teliti telah mempelajari keadaan disitu.
Tidak lama mereka telah kembali ke gedung Song Sam Ceng dimana dua orang itu sambil minum teh telah bercakap-cakap pula.
"Hwe Lengcu,"
Tiba-tiba Auw yang Ti berkata sambil tertawa.
"Siapa yang membuat jalan rahasia itu?
Sebab menurut pendapatku, orang yang membuatnya ada sangat bodoh.
Jalanan yang diatur demikian untuk orang yang mengerti ilmu silat tinggi, orang tidak ada susahnya untuk dipecahkan rahasianya.
Maka tidak heran kalau Hwe Siok Tang sudah dapat meloloskan dirinya.
Song Sam Ceng tidak menjawab, tampak mukanya berubah seperti yang merasa jengah.
Auw yang Ti mengerti kalau jalanan rahasia itu dibuat menurut rencananya Song Sam Ceng.
Untuk membikin supaya orang tidak merasa jengah lebih lama maka Auw yang Ti dengan 357 ketawa telah berkata.
"Hwe Lengcu, sekarang jalanan rahasia itu sudah dipecahkan orang. Coba nanti aku yang atur. Tanggung orang bisa masuk namun tidak bisa keluar. Caranya aku mengatur jalanan rahasia itu adalah menurut teorinya dari Cu Kat Kong Beng yang termasyur di jaman Sam Kok."
Song Sam Ceng girang mendengar bicaranya Auw yang Ti.
"Auw yang toako, kau baik sekali.
Aku akan merasa berterima kasih kalau kau sudi membuang waktu untuk mengaturnya.
Mari kira lihat lagi.
Kau boleh memberitahukan padaku cara bagaimana kau hendak mengaturnya.
Auw yang Ti ketawa, lalu bangkit dan berjalan keluar bersama-sama Song Sam Ceng.
Di luar tiba-tiba ia merandek, lalu balik lagi ia menghadap sebuah pohon yang tumbuh tidak jauh dari tempat berdirinya.
"Sahabat, diwaktu malam yang sunyi telahdatang bertemu dengan diam-diam, sesungguhnya kaurang baik kalau tidak ada penyambutan. Maka aku mewakili tuan rumah untuk menyuguhkan air teh kepadamu…"
Seiring dengan kata-katanya Auw yang Ti telah ramah untuk menyuguhkan air teh itu meluncur seperti ada tangan yang memeganginya.
Air tehnya tak setetespun ada yang tumpah hingga membuat Song Sam Ceng yang menyaksikannya amat merasa kagum dengan 358 tenaga dalamnya sang sahabat yang demikian hebat.
Lalu terdengar seorang yang tertawa gelak disusul oleh lompatannya sesosok bayangan dari atas pohon.
Ia ia menyambuti cangkir teh tadi dengan seenaknya saja dan setetespun tidak kelihatan airnya tumpah.
Ia mengirim balik cangkir itu sambil berkata.
"Seorang laki-laki sejati tidak nantinya menerima air dari sumber penjahat. Sekalipun merasa haus. Nah aku kembalikan tehmu ini!"
Ho Ceng Bu yang ada turut menemani Ouw yang Ti dan Song Sam Ceng bercakap-cakap, mau unjuk aksinya di depan dua orang itu.
Ketika cangkir meluncur ia coba menyambuti tapi apa lacur ia yang masih belum sembuh lukanya kena dihajar oleh Hwe Pek It tidak tahan dengan tenaga sambaran cangkir itu sehingga seketika air teh dalam cangkir sudah muncrat kena mukanya.
Ia sangat malu telah gagal mau mengunjuk aksinya.
Sama sekali ia tidak menduga kalau orang yang mengirim pulang cangkir teh itu bertenaga demikian besar.
Matanya mengawasi pada dua orang tadi.
Ia tidak kenal, wajahnya kehijau-hijauan dan banyak perontolan bekas jerawat.
Tapi orang yang turun belakangan dari pohon berdiri dibelakangnya, orang tadi ia kenali sebab orang itu adalah orang yang telah membikin 359 onar dalam kuil Rawa naga di gunung Hud leng.
Song Sam Ceng sementara itu juga mengenali tapi ia tidak kenal dengan seorang kawannya yang bermuka kehijau-hijauan jelek.
Mengetahui bahwa dua orang itu bukan orang sembarangan maka Song Sam Ceng telah melarang orang-orangnya untuk turun tangan secara ceroboh.
Dua orang itu tak lain daripada Bo yong Kang dan Li Cong Bun.
Mereka masih tetap mengubah wajahnya dengan obat hadiah dari si Iblis Beracun Se bun Pa.
Seperti diketahui Bo yong Kang dan Li Cong Bun telah menguntit perjalanannya Song Sam Ceng.
Ketika ia masuk dalam markas Si leng cee di Cui tiong san mereka melihat keadaan di situ sibuk dan wajah dari setiap orang nampak gelisah.
Mereka lalu menyelidiki tempat ditahannya Hwe Siok Teng.
Ternyata orang itu dan putrinya telah ditolong orang.
Sedang Hwe Pek It, Lengcu dari tangsi Naga sudah meninggalkan tangsinya tidak mau berurusan lagi dengan Si leng cee.
Mereka dengan berani telah ke tangsi Garuda dengan maksud untuk mencari Ho Ceng Bu untuk menuntut balas.
Mereka telah mengumpat diatas pohon, tapi siapa nyana perbuatan mereka itu tidak bisa lolos dari matanya Auw yang Ti yang lihai.
360 Ketika telah berhadapan dengan kawanan penjahat itu, Li Cong Bun telah berkata.
"Song Lengcu, selamat ketemu lagi. Aku setelah bertempur di puncak Hud leng telah berjanji akan menemui kau lagi bukan? Malam ini aku datang, pertama untuk minta kembali sepotong ikat pinggangku. Kedua karena dalam Si leng cee telah ada lowongan Lengcu aku harap kau suka berikan padaku lowongan Lengcu dari tangsi Naga itu. Tentu kau tidak akan keberatan bukan?"
Song Sam Ceng tidak menjawab. Ia kerutkan alisnya sejenak, kemudian tertawa bergelak-gelak. Tetapi sebelumnya Song Sam Ceng membuka suara Auw yang Ti mendahului berkata.
"Hai kalian berdua jangan main sandiwara disini. Siapa begitu bodoh kena dikelabui oleh kalian? Sekarang katakan dengan si Iblis Beracun Se bun Pa itu ada punya hubungan apa?"
Bo yong Kang dan Li Cong Bun kaget sekali mendengar bicaranya Auw yang Ti yang demikian jitu. Betul-betul orang lihai, pikirnya. Sebelum mereka menjawab mereka telah berkata pula.
"Sahabat, obat merubah muka dari Sebun Pa itu boleh mengelabui orang lain, tapi aku tidak. Menurut kabar, tahun depan ada dua orang bernama Bo yong Kang dan Li Cong Bun yang akan datang kesini, apakah bukannya kalian berdua?" 361 Song Sam Ceng terkejut karena dua orang itu yang merupakan musuh ada mengikuti dirinya dari puncak Hudleng sampai di markasnya. Ia tahu mereka adalah muridnya "
Dwi Tungal‟.
Di lain pihak Ho Ceng Bu terkejut karena ia ingat tempo hari di kuil Rawa naga mengadu kekuatan dengan Li Cong Bun, ia telah jadi pecundangnya hingga sampai sekarang masih keder terhadap Li Cong Bun.
Bo yong Kang mendengar bicaranya auw yang Ti merasa sangat heran orang she Auw yang demikian tajam matanya.
Mengetahui dirinya ada menggunakan obat Se bun Pa untuk merubah mukanya.
Mendapat bantuan orang semacam Auw yang Ti benar-benar Sileng cee sangat mujur seolah-oleh harimau tumbuh sayap.
Mengetahui bahwa dirinya telah dikenali, maka mereka tidak perlu bersandiwara lagi.
Dengan tenang Bo yong Kang dan Li Cong Bun sambil bergandengan berjalan masuk ke ruangan tamu dari tangsi Garuda.
Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Bo yong Kang berkata.
"Sahabat Auw yang, pandanganmu memang sangat tajam. Kami berdua memang tidak salah adalah Bo yong Kang dan Li Cong Bun. Kedatangan kami adalah hendak menemui Lengcu dari tangsi Garuda."
"Ha ha ha."
Auw yang Ti tertawa.
"Bagus, memang kalian harus berkenalan satu sama 362 lain dahulu, supaya dalam pertemuan tahun depan kalian tidak ragu-ragu lagi mengenali satu dengan lainnya."
Sementara itu Song Sam Ceng sudah maju dan perkenalkan diri.
Mereka tampak tidak seperti musuh.
Kedua pihak kelihatan gembira dan pada ambil tempat duduk menghadapi meja panjang.
Rupanya ruangan itu digunakan juga sebagai tempat rapat.
Sebentar saja pelayan-pelayan telah menyiapkan hidangan dan minuman di atas meja.
Setelah air teh hangat ditenggak oleh masing-masing, tiba-tiba Song Sam Ceng bicara.
"Bo yong Tayhiap, kau dengan aku baru sekarang ketemu untuk mana aku merasa sangat girang. Ketika pertama kali kalian datang di sini ialah ditetapkan tanggal tiga bulan tiga tahun depan akan dibereskan dendaman Li siauhiap dan orangku Ho Ceng Bu disini. Tapi aku merasa heran di puncak Hud leng dalam kuil rawa naga Li Siauhiap dari sebab apa telah mengintip pertemuan rahasia uurusan markas kami? Selainnya itu kalian juga malam ini datang dengan diam-diam dalam markas kami Cui tiok san ini apakah maksud kalian? Apakah cara kedatangan yang demikian itu ditempatnya orang boleh dinamakan perbuatannya seorang pendekar? Perbuatan kalian itu seolah-olah tidak memandang sebelah mata kepada aku si orang she Song!" 363 Bo yong Kang mendengar teguran Lengcu dari tangsi garuda tertawa bergelak-gelak.
"Song Lengcu,"
Katanya.
"perkataanmu memang benar, tapi aku ingin menanya. Dari sebab apa Lengcu dari tangsi Kalajengking memerintahkan cabang-cabang dari Si leng cee untuk mengambil kepalaku? Siapa orang yang dapat memenggal kepalaku orang itu bukan saja mendapat hadiah 1sepuluh kati emas, tapi juga pangkat Hiocu. Apakah perbuatan seperti itu seorang pendekar?"
Song Sam Ceng tak bisa menjawab.
"Song Lengcu,"
Berkata pula Bo yong Kang.
"Peristiwa di Hud leng itu hanya dengan cara kebetulan saja. Kami berdua datang malam ini adalah hendak minta penjelasan dari Lengcu, kenapa orang-orang Sileng cee terus menerus ingin mencelakakan dalam sepanjang perjalanan kami? Kami tidak keberatan tanggal yang sudah dijanjikan diundurkan jika dari pihak Si leng cee ada mempunyai halangan. Sebaliknya jika mau dimajukan, sekarang juga kami sudah bersedia untuk mengiringi kemauan pihak Si leng cee !"
Bo yong Kang bicara dengan suara nyaring. Song Sam Ceng dan Auw yang Ti hanya saling pandang tidak membuka suara. Setelah berhenti sejenak, Bo yong Kang meneruskan bicaranya.
"Kami taat kepada guru-guru kami untuk menjadi pendekar yang budiman, menolong yang lemah membasmi yang jahat. Maka untuk membasmi kejahatan, kami sudah mempertaruhkan jiwa kami untuk melakukannya. Meski untuk itu menempuh rintangan yang berbahaya memasuki goa harimau atau terjun ke laut. Dengan sepasang kepalan dan sebilah pedang kami akan menerjang semua rintangan dan membasmi kejahatan."
Song Sam Ceng dan Auwyang Ti berubah mukanya, ketika mendengar bicaranya Bo yong kang yang dianggapnya sangat sombong. Tapi mereka tak menyela bicaranya si "Pelajar Hati Besi‟ yang meneruskan .
"Antara kita berdua pihak sebenarnya bukan hanya mengenai Li Cong Bun dan Ho Ceng Bu. Aku bicara terus terang bahwa Si leng cee sejak berdiri sampai sekarang telah melakukan perbuatan yang mengingkari hukum alam. Banyak kejahatan dan kekejaman telah diperbuat, hingga siapa saja yang mendengar namanya Si leng cee tak satupun yang tidak menggelengkan kepala dan merasa seram. Pada bulan tiga tanggal tiga tahun depan kami datang kemari lagi adalah pertama hendak membereskan hutang jiwa Ceng Bu dan kedua untuk membikin jernih rimba persilatan yang selama ini telah dibikin keruh oleh sepak terjangnya Si leng cee!"
Song Sam Ceng tidak bisa menjawab bicaranya Bo yong Kang yang boleh dibilang 365 semuanya masuk diakal. Auw yang Ti sebaliknya setelah tersenyum lalu berkata.
"Bo yong laote, kau benar-benar adalah seorang laki-laki sejati. Kau bicara dengan tidak pakai tedeng aling-aling. Apa yang kau katakan memang ada yang benar terjadi. Tapi ketahuilah bahwa perbuatannya Lengcu dari tangsi Kalajengking itu adalah diluar tahunya Song Lengcu yang waktu itu ada bepergian mengunjungi suhunya di Han Lam. Ketika Song Lengcu pulang dan mengetahui hal itu, ia telah memberikan teguran pedas kepada Lengcu dari tangsi Kalajengking. Nah sekarang kau berjumpa dengan Song Lengcu boleh berunding dalam pertemuan tahun depan dipihak siapapun yang mengalami kerugian tak boleh menyesal. Aku menjamin pada kau, mulai saat ini sampai tahun depan bulan tiga tanggal tiga tak seorangpun dari pihak Si leng cee yang akan mengganggu padamu. Kau boleh bebas berkecimpungan dalam dunia kangouw tanpa ada halangan dari Si leng cee. Kalau sampai ada gangguan pula, tanpa memandang kedudukan dari Lengcu sampai anak buah biasa oeh Lengcu akan diberi hukuman yang setimpal. Tapi ingat, kalau kalian masuk lagi kemari dengan cara menggelap atau tidak datang pada waktu yang sudah dijanjikan tahun depan, bukannya aku berkata sombong, kalian kemana saja pergi tak akan terlolos dari si orang she Auw yang!" 366 Song Sam Ceng tertegun menyaksikan Auw yang Ti mengambil putusan demikian cepat dan tepat sekali. Bo yong Kang dilain pihak berpikir.
"Apakah mungkin nasibnya Si leng cee masih belum waktunya ambruk?
Sebenarnya Si leng cee sudah lemah karena Lencu Kalajengking dan Lengcu Hong sudah bentrok, tambahan pula Lengcu dari tangsi naga juga sudah berontak.
Kini mendapat bantuannya si orang she Auw yang Ti yang selain cerdik dan pandai,ilmu silatnya sangat tinggi, apa mungkin Si leng cee akan terhindar dari bahaya keambrukan?
Bo yong Kang sedang terlelap dalam pikirannya.
Auw yang Ti dilain pihak memberi isyarat kepada Song Sam Ceng.
"Oh ya, Bo yong Tayhiap dan Li Siauhiap, meski sudah dua kali datang kesini, tetapi aku hitung seperti aku Song Sam Ceng baru ketemu satu kali. Tadi kalian datang, kami tak menyambut dengan hormat, aka kini mau berlalu sepantasnya aku, Auw yang toako dan Ho Ceng Bu mengantar pada kalian."
Bo yong Kang hanya tersenyum.
Kemudian mereka berlima keluar dari ruangan.
Sepanjang perjalanan keluar dari tangsi Garuda Song Sam Ceng telah memberikan keterangan ini dan itu mengenai keadaan disitu kepada dua tetamu yang tidak diundang itu.
367 Bo yong Kang dan Li Cong Bun diam-diam mempunyai anggapan bahwa Song Sam Ceng ini diluarnya saja bermuka manis budi, akan tetapi hati dan batinnya sangat jahat dan kejam.
Orang yang mempunyai hati demikian memang pantas untuk menjadi kepala kawanan penjahat.
Setelah berasa diluar markas besar Si leng cee itu, ketika satu sama lain mengambil selamat berpisah, tiba-tiba Auw yang Ti berkata.
"Oh ya, kalian berdua memakai obat mengubah air muka aku menduga tentu kalian ada dari partai si Iblis Beracun Se Bun Pa. iblis tua itu masih ada hutang lama padaku, maka kalau kalian berjumpa padanya, tolong Bo yong Tayhiap memberitahukan, kalau dia ada waktu, sukalah ia datang padaku disini untuk membereskan hutang lama itu."
"Tentu akan kami sampaikan pesanan Auw yang toako."
Jawab Bo yong kang.
Sebenarnya Bo yong Kang hendak memberitahukan kematiannya si iblis beracun itu akan tetapi tidak jadi.karena dia ingat, kalau diberitahukan tentang hilangnya jago racun ini dari dunia ini, niscaya Auw yang Ti dan kawan-kawannya menjadi lebih dapat hati karena tidak ada musuh kuat yang dipandangannya.
Paman dan keponakan itu lalu meneruskan perjalanannya.
368 Berjalan kira-kira duapuluh li mereka berhenti sejenak.
Bo yong Kang sambil geleng-geleng kepala tertawa, berkata pada keponakannya.
"Bun jie, sungguh lucu perjalanan kita. Semua yang dimaksud sia-sia saja. Seperti yang hendam menolong Gan Sunio sudah didahului oleh Tiat Bok Taysu yang menolongnya. Kemudian kita mau menolong Hwe Siok Tang, juga sudah keburu ditolong orang lain. Ha ha ha… kau pikir lucu tidak?"
Li Cong Bun juga tertawa mendengar pamannya berkelakar.
Ketika kita menyatroni Si leng cee, tampak mereka terkejut dengan kedatangan kita.
Aku kagum dengan Auw yang Ti.
Siapa dengan lontaran cawan araknya yang dibarengi dengan tenaga dalamnya yang mahir, benar-benar sangat lihai.
Dia sebenarnya sudah menyepi sepuluh tahun lamanya, tapi heran dia mau datang membela Si leng cee yang sudah mau ambruk.
Betul-betul Bun jie tahun depan kita akan menghadapi musuh kuat dan harus kita mencari bantuan.
Demikian Bo yong Kang menyampaikan pendapatnya.
Li Cong Bun angguk-anggukkan kepala.
"Memang orang itu ada sedikit a lot ditempurnya,"
jawabnya.
"Bukan hanya cerdik otaknya, ilmu silatnya tinggi juga, dia sangat teliti.
Pkir saja, kita telah mengubah air muka kita demikian bagusnya.
Dia masih bisa menebak keadaan diri aslinya 369 dan mengatakan kita enggunakan obatnya Se bun Pa.
tapi susiok jangan kuatir, dengan Pedang Pusaka Penaklub Iblisku dapat melawannya.
Bo yong Kang kerutkan alisnya mendengar bicaranya Li Cong Bun yang paling belakang.
"Bun jie,"
Katanya.
"waktu kita di rumah baru Se bun Pa, kau mendengar kata-kata Sebun Pa amat memuji bahwa seorang yang jalan jahat dapat berbalik menjadi orang baik-baik. Kita jangan mengadu kepandaian kita yang tinggi dan tajamnya pedang untuk sewenang-wenang membunuh sesama manusia sebab itu sangat tidak baik."
Li Cong Bun mengerti barusan ia bicara kesalahan, ia lalu alihkan pembicaraan ke jurusan lain.
"Ya, susiok, kita sudah berjanji dengan Auw yang Ti dan Song Sam Ceng untuk masing-masing tidak menghindari dan melanggar apa yang sudah dibicarakan bukan? Nah, sekarang muka kita tidak karuan macam. Sebaiknya susiok lekas kasi keluar obat memulihkan muka asli kita supaya diperjalanan kita tidak membuat orang yang melihat kita merasa aneh."
Bo yong Kang tersenyum, ia angguk-anggukkan kepalanya.
Dari sakunya kemudian mengeluarkan obat pemberian Se bun Pa.
masing-masing menelan sebutir pil.
Benar saja obat itu sangat manjur, sebab dalam 370 sekejapan saja muka mereka berubak kemuka aslinya.
Li Cong Bun saat itu teringat akan kudanya, si Api kuda susioknya dan si Angin dan kudanya si Burung Hong Kumala Gan Su Nio si Kemala manis ada dititipkan ditempatnya It Ceng Lojin.
Ia berkata pasa pamannya.
"Bo yong susiok, sekarang kita sudah tidak ada urusan lagi. Perjalanan kita untuk pertemuan di markas besar Si leng cee masih ada empat bulan lagi waktunya. Sekarang apa tidak lebih baik mengambil kuda kita untuk jalan-jalan ke Lam hay, dimana kita bisa ketemu enci Gan yang sudah delapan tahun tidak ketemu?"
Bo yong Kang mendengar disebutnya nama si nona baju putih, tanpa merasa ia memegang pedang lemas pemberian si nona tempo hari.
Ia jadi bengong sejanak.
Sebentar kemudian kelihatan geleng-geleng kepala.
"Bun jie, kau ingat kuda "
Naga‟ yang ternama paling lama umurnya hanya tigapuluh tahun kudaku si Angin dan si Api kudamu pemberian Thio pepe.
Meskipun tenaganya sangat kuat kalau kita hitung-hitung masih berapa lama lagi dapat kita pergunakan?
Aku pikir tempat It Ceng Tojin di gunung Tong kong san adalah suatu tempat yang sunyi dan aman, biarkan saja kuda kita itu hidup disana tak usah menghamba lagi pada kita."
"Habis, susiok apa tidak mau ke Lam hay?"
Nyeletuk Li Cong Bun.
"Aku sebenarnya sangat memikirkan pada nona Gan, cuma saja seumur hidup tidak bisa bicara secara mesra terhadap seorang perempuan, maka aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang membuat perkenalan kita menjadi lebih dekat. Cuma menurut katanya kedua suhu kita, suhunya nona Gan seorang yang bertabiat sangat aneh ganjil. Pada tigapuluh tahun yang lampau, dia pernah bersumpah tidak mau menginjak pula Tionggoan (Tiongkok), juga melarang orang sembarangan menginjak tempatnya. Kali ini dia mengetahui muridnya telam mendapat perlakuan yang tidak baik dari Pho Kun Peng, tentu dia sangat marah. Seandainya kita kesana lantas menimbulkan kesalahan sedikit saja tentu akan terjadi bentrokan dan ini tentu adalah tidak enak untuk nona Gan yang derba salah untuk mengatasi… "
"Habis susiok tidak mau menemui enci Gan? kembali Li Cong Bun menyela.
"Bukan begitu,"
Jawab Bo yong Kang.
"Biauw Hoat Sin ni gurunya nona Gan kini sudah menaruh dendam pada Si leng cee, maka tahun depan dalam pertempuran kita di markas besar kawanan penjahat itu menurut dugaanku, bukan saja Bwe Hoat Sin ni dan Nona Gan yang akan datang, tetapi juga Hwe Siok Tang dengan puterinya juga tentu datang. Malah 372 bukan mustahil Hwe Pek It yang terkena jarum beracunnya Auw yang Ti jikalau tidak binasa tentu juga akan muncul untuk menuntut balas. Nah pada saat itu kawan karib dan musuh besarnya pada berkumpul, bukankah itu ada baik?"
Bo yong Kang berhenti bicara dan memandang pada keponakannya yang berdiri bengong mendengarkan bicaranya sang paman. Ketika diawasi sang paman Li Cong Bun seperti tersadar lalu menanya.
"Habis menurut pikiran susiok sekarang kita harus kemana?"
"Sekarang baiknya kita berkelana dikalangan kangouw untuk berbuat kebaikan menundukkan kawanan penjahat, setelah itu baru kita memikirkan rencana kita kemudian."
Jawab pamannya.
"Li Cong Bun sangat memuji pikirannya sang paman, siapa tidak karena dirinya sendiri telah menyampingkan kepentingannya orang banyak.
Maka setelah dia angguk-anggkukkan kepalanya dengan tersenyum ia menanya.
"Bo yong Susiok, kau sudah berkeputusan demikian, sekarang kita harus pergi kemana dulu?"
"Di sekitar propinsi Ouw Lam ini ada banyak pendekar aneh dan ganjil."
Jawabnya.
"Sekarang sebaiknya kita bikin perjalanan ke 373 selatan. Kita melihat-lihat terlebih dahulu pemandangan dengan awan nan indah diangkasa disuatu tempat yang dinamai "
Awan Impian‟ kemudian menikmati kegaiban alam berubah serentetan goa-goa dan telaga Tong leng yang indah permai. Bagaimana kau pikir? "
Li Cong Bun sangat girang, sungguh menarik sekali bicaranya sang paman itu. Sambil tertawa girang cepat-cepat ia berkata.
"Mari, mari kita menuju kesana…!"
Tempat yang dinamai "
Awan Impian‟ itu dulunya merupakan dua sungai, adanya diantara dua propinsi Ouw Pak tapal batas sungai besar daerah selatan dan utara.
Yang disebelah selatan sungai itu dinamai "Impian‟ dan yang disebelah utaranya "Awan‟.
Oleh jalannya waktu yang berabad-abad kedua sungai itu telah menjadi satu hingga dinamakan "
Awan Impian‟ sejak dahulu pemandangan disitu ada sangat permai dan menawan hati hingga sampai sekarang juga keadaannya tampak tidak berubah.
Hari sudah dekat tahun baru, maka hawanya amat dingin.
Ketika mereka sampai di telaga "Merah‟ merasa perutnya lapar.
Mereka mampir pada salahsatu rumah makan dimana mereka sambil menikmati pemandangan indah telah menangsal perutnya.
Matanya Li Cong Bun sejak tadi telah mengawasi saja ke telaga.
Tiba-tiba kedengaran ia berkata.
"Bo yong susiok, coba 374 kau lihat itu orang di pinggir telaga. Sudah lama aku melihat ia sedang mengail ikan. Hawa begini dingin, bagaimana telaga itu bisa ada ikannya?sungguh lucu orang itu."
Bo yong Kang berpaling ke jurusan yang ditunjuk oleh keponakannya.
"Bun jie,"
Katanya sambil tersenyum.
"Kau keliru, aku juga ingat sajaknya Lauw Cu Haow yang terkenal dengan . SEORANG TUA MENAIKI PERAHU MENGAIL IKAN DI SUNGAI DINGIN BERSALJU. Apalagi kalau dilihat ait dalam telaga itu masih belum membeku menjadi es. Meskipun hawa amat dingin, ikan-ikan amsih lahapnya terhadap umpan-umpan yang lezat. Tapi bagaimanapun juga kita masih penasaran, maka sebaiknya kita hampiri orang itu untuk menanyakan apa-apa yang dapat membuat kita puas."
"Mari, mari kita kesana!"
Li Cong Bun mengajak.
Keduanya lalu keluar dari rumah makan setelah keduanya membayar barang makanan yang disikatnya barusan.
Ketika mereka jalan hampir dekat, tiba-tiba Li Cong Bun tertawa geli sehingga membuat Bo yong Kang merasa heran.
"Bun jie, kau kenapa?"
Tanyanya.
"Bo yong susiok, ada-ada saja penglihatan. Masalah seorang Hweshio yang mengail di pinggir telaga itu, coba kau 375 lihat! Bukankan seorang hweshio dilarang makan atau membunuh barang berjiwa, tetapi kenapa ia mengail ikan? Ha ha ha… betul-betul menggelikan hati."
"Ha ha ha.. betul betul menggelikan hati."
Bo yong Kang juga merasa heran. Mereka datang mendekati dan berdiri di belakangnya si hweshio beberapa lamanya, ternyata pelampung kail tidak juga kelihatan bergerak. Tiba-tiba Li Cong Bun menanya.
"Taysu, kau mengail waktu udara demikian dinginnya, apakah hanya untuk mencari hiburan saja?
Perlahan-lahan hweshio itu memalingkan kepalanya.
Ketika sepasang mata kebentrok tampak keduanya menjadi kaget.
Begitu juga dengan Bo yong Kang.
Hweshio itu lalu melemparkan kailnya lalu bangkit, kemudian tertawa gelak-gelak.
"Aku kira siapa, tidak tahunya Bo yong sicu dan Li Siauhiap yang datang. Bagaimana sejak perpisahan, apakah kalian baik-baik saja?"
Hweshio itu menanya. Li Cong Bun sudah mengenali hweshio itu tapi ia masih ragu-ragu.
"Taysu ini siapa?"
Tanyanya.
"Ha ha ha ha..,"
Hweshio itu tertawa lagi.
"Li Siauhiap, masih tidak mengenali 376 aku? Di puncak Mo hun leng gunung Koa cong san kita pernah bertempur bukan?. Bo yong sicu berhati baik dan menasehati aku agar dari kejahatan berbalik menjadi orang baik, maka aku yang dulunya bernama San hoa Bu dengan julukan si Kipas Maut, sekarang menjadi hwesho dengan nama Bu Hwe. Mungkin kalian tidak mengenali aku, coba lihat ini benda dulu tanda mata dari Bo Yong sicu!"
Sambil berkata ia mengaluarkan bokhi kecil yang dibikin dari kipas mautnya oleh Bo yong Kang dengan menggunakan ilmu tenaga lunak dan keras.
Berdua kini tak sangsi lagi bahwa hweshio didepannya itu benar adalah si Kipas Maut Sun Hoat Bu.
Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Sun Hoat Bu benar-benar telah mentaati nadehatnya buat menjadi orang baik.
Pertamuan itu menggirangkan kedua pihak.
Tidak henti-hentinya Sun Hoat Bu alias Bu Hwe Hweshio menghaturkan terima kasih kepada Bo yong Kang sehingga sekarang ia telah cuci tangan dari orang jahat dan berubah menjadi orang yang beragama.
"Pertemuan ini sangat menggirangkan,"
Kata Bu Hwe Hweshio.
"Marilah kalian berdua mampir di tempatku untuk kita bercakap-cakap."
Ia mengundang sambil punggut alat pengailnya. Li Cong Bun yang awas dapat 377 melihat alat kail itu tidak ada alat kail ikannya, hanya tali saja dengan pelampung.
"Hei, alat pengail ini tidak ada kailannya, cara bagaimana taysu dapat mengail ikan?"
Li Cong Bun menanya dengan heran. Bu Hwe Hweshio menghela napas, sambil berjalan ia menjawab.
"Li Siauhiap belum tahu bahwa setelah aku mengasingkan diri disini betul-betul insyaf bahwa nama besar dan kemuliaan di dunia itu hanya merupakan awan dan hidup manusia hanya sebagai impian saja. Kalau bisa hidup tenang mensucikan diri menebus dosa dari perbuatan-perbuatanku yang lampau aku sudah merasa sangat tenang dan tenteram. Sayang sekali dalam minggu-minggu ini ketenteraman pikiranku terganggu oleh perbuatannya anak buah dari Si leng cee di telaga Merah yang menindas pada penduduk disekitarnya. Mau tidak mau aku lantas turun tangan untuk menolong mereka yang kena tertindas dan menempur kawanan anak buah Si leng cee itu. Cuma saja kini aku kuatir kalau diriku dikenali oleh salah satu diantaranya pemimpin cabang itu pasti akibatnya akan tidak enak untuk diriku. Maka sejak itu pikiranku enjadi tidak tenang. Aku pokiran ingin pindah, tetapi sang hati tak dapat meninggalkan tempat disini yang permai dengan pemandangan. Aku tidak tahu dimana sebenarnya di dunia ini ada tempat yang 378 tenang tenteram dan selamat untuk diriku mengasingkan diri?"
"Taysu, kenapa kau mesti pindah? Memang tempat ini sangat cocok untuk Taysu menjalankan ibadat."
Kata Li Cong Bun yang tidak tahu kemana juntrungannya perkataannya Bu Hwe Hwishio.
"Ya, telaga merah telah menimbulkan urusan,"
Jawab Bu Hwe Hwishio menghela napas.
"Kalau tidak pindah tentu orang-orang dari pusat Si leng cee akan datang dan membuat perhitungan.
Aku bukannya takut mati tapi karena tidak ingin lagi mencampuri urusan dunia maka aku segan untuk menyambut kedatangan mereka.
"Taysu, kau keliru,"
Kata pula Li Cong Bun.
"Aku setuju kau merubah perbuatanmu dari orang jahat menjadi orang baik dan mensucikan diri akan tetapi aku tidak setuju mempunyai semangat oleh karenanya menjadi mati. Kita orang-orang yang mempunyai ilmu silat harus mempunyai semangat yang tetap. Mempunyai keinginan membela kebenaran dan menumpas kejahatan. Kini banyak orang menderita oleh tindasannya kawanan orang jahat dan kejam. Mana bisa kita sebagai orang yang hendak membela keadilan tinggal berpeluk tangan saja melihat? Tidak, aku tidak setuju sebagai orang gagah kau tak mau sumbangkan tenagamu untuk membela keadilan. Jangan kau baru saja ceburkan diri kedalam kalangan orang beribadat. Sedang akupunya 379 Taysu Pek Bu Jin juga hatinya masih bergelora untuk menumpas kejahatan!"
Berbicara mengenai kemungkinan Thian lam Siang koay (Sepasang siluman dari Thian lam) gurunya Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng turun tangan dalam rimba persilatan untuk membantu murid-muridnya, Bo yong Kang menerangkan .
"Tentang itu tidak harus kita kuatirkan. Karena dengan turunnya mereka, juga kita punya dua gurupun Ceng Leng Cinjin dan Bu Ju Taoso tak akan tinggal diam!"
Demikian mereka bercakap-cakap berjalan telah sampai di tempatnya Bu Hwe Hwishio.
Ternyata itu bukan merupakan satu kuil, hanya sebuah rumah gubuk biasa.
Didalamnya tidak ada patung untuk dipuja, juga tidak ada meja sembahyang dan lilin.
Hanya di tanah ada bantalan buat orang berlutut dan pada dinding ada tertulis perkataan Buddha.
Bo yong Kang dan Li Cong Bun disilahkan duduk di kursi sementara Bu Hwe Hwishio sendiri duduk diatas bantalan sembahyang.
Sejurus kemudian Bu Hwe Hwishio tertawa berkata.
"Aku masuk menjadi Hweshio, dalam rumah ini tak ada patung untuk dipuja. Aku harap kalian tak menertawakan kelakuanku ini."
"Tak perlu adanya patung, asal hati kita bersujud dan tulus hati memuja Sang Buddha tentu sembaahyang kita setiap kali akan diterima. Aku turut bergirang Taysu telah 380 mengambil tindakan tepat ini untuk menebus dosa yang lampau."
Demikian Bo yong Kang menyatakan pikirannya.
Selagi mereka bercakap-cakap dengan gembira, tiba-tiba sebatang anak panah meluncur dari sebelah luar dan menancap pada huruf Buddha yang ada di dinding.
Anak panah itu berbentuk kepala ular, dilepas oleh seorang yang berada di atas pohon yang tumbuh tak jauh dari gubuknya Bu Hwe Hwishio sebab kelihatan pohon itu masih bergoyang-goyang.
Rupanya baru saja orang yang bersembunyi itu meloncat turun dan melarikan diri.
Li Cong Bun yang melompat keluar mengejar sia-sia saja.
Ketika balik lagi ke dalam mereka mencabut anak panah tadi yang membawa sehelai kertas bertuliskan .
Sam Hoat Bu, Hiocu dari tangsi "Kalajengking‟.
Lekas pulang sekarang.
Kalau membangkang sebentar malam jam tiga Lengcu akan memberi hukuman."
Li Cong Bun tiba-tiba berkata.
"Bo yong susiok, tempo hari di gunung Lam in tong kita dengar Pho Kun Peng pergi ke gunung Ko le kang untuk menemui gurunya dan mengambil senjata wasiat yang dinamai "
Tiga Pusaka Thian Lam‟, tetapi kenapa mendadak dia sudah ada di sini?" 381
"Tidak salah omonganmu."
Jawab Bo yong Kang.
"Tetapi sejak itu sampai sekarang sudah lama juga, tentu dia sudah kembali dan dalam perjalanan kita dengan dia ketemu di sini. Kita harus menolong Bu Hwe Hweshio, sekalian kita mau tahu kelihayannya "
Tiga Pusaka Thian lam itu!"
Bu Hwe Hwishio sejak tadi mendengarkan paman dan keponakan itu bicara telah mengerutkan alisnya. Ia tertawa kemudian berkata.
"Ya, banyak terima kasih atas perhatian kalian berdua. Pada masa lampau aku menjadi Hiocu dari tangsi Kalajengking dalam Si leng cee. Setelah pertempuran di Mo han leng di gunung Koa cong san menurut pantas aku harus melaporkan kesudahannya pekerjaanku. Setelah itu aku baru mengundurkan diri. Tetapi aku telah melarikan diri, tak memberikan laporan, maka aku punya pekerjaan sebenarnya belum selesai. Persoalan demikian memang tak pantas, maka malam ini aku akan menghadap sendiri, persoalannya kalian tidak perlu campur tangan. Setelah aku menyesaikan persoalan kepada Pho Kun Peng, barulah aku membikin pemberesan dengan dia sebagaimana mestinya, kalau tidak begitu, selamanya hatiku tidak bisa tenteram."
Bo yong Kang mendengarkan itu angguk-anggukkan kepalanya. 382
"Taysu,"
Katanya.
"Memang sikapmu itu aku sangat puji, Cuma saja kau menghdapi si Kalajengking licik dan kejam, sama juga kau mengantarkan diri kepada binatang harimau. Aku pikir itu tidak baik, maka biarlah aku dengan Ceng Bun bersembunyi untuk membantumu. Kau jangan kuatir, semua akan beres."
Bertiga setelah makan malamm Bo yong Kang dan Li Cong Bun siap-siap menyembunyikan diri, sedang Bu Hwe Hwishio bersemedi menunggu kedatangannya Pho Kun Peng.
Betul saja ketika jam tiga tepat ada orang yang menggunakan ilmu mengirimkan suara jarak jauh yang mengatakan.
"Sun Hoat Bu besar benar nyalimu! Kau telah mengingkari peraturan kita maka kau harus terima binasa!"
Bo yong Kang menarik tangannya Li Cong Bun diajak keluar rumah menuju ke dalam rimba.
Dari jauh mereka lihat di pinggir sungai ada tiga orang berdiri.
Satu yang dikiri memegang gaetan, yang sebelah kanan memegang golok gergaji dan yang di tengah berdiri bertangan kosong.
Keadaan saat itu ada sunyi senyap.
Dengan perlahan-lahan dan tenang Bu Hwe Hwishio keluar dari gubuknya menghampiri Pho Kun Peng dan dua kawannya.
383 Melihat Bu Hwe Hwishio ketika sampai di depannya tidak memberi hormat, si Kalajengking telah menegur.
"Hei Sun Hoat Bu! Benar benar kau sudah makan nyali beruang barangkali makanya kau besar kepala. Lengcu dari tangsi Kalajengking ada di sini, kenapa kau tidak memberi hormat untuk menerima hukuman?"
"O mi to hud!"
Bu Hwe Hwishio kat sambil rangkap kedua tangannya di dada.
Kenapa kau begitu tergesa-gesa?
Aku sekarang sudah masuk menjadi Hweshio.
Selainnya pada Sang Buddha aku tidak memberi hormat yang begitu tinggi.
Kau menyuruh aku menerima hukuman, sebenarnya aku telah berbuat kesalahan apa?"
Jilid 11 MAJU SETINDAK.
"Aku ini An Toa hay,"
Katanya.
"Aku bertugas menghukum semua anak buah Si leng cee yang melanggar aturan. Kau masih bertanya apa lagi..?"
Ia memalingkan kepalanya pada Pho Kun Peng dan menanya.
"Pho Lengcu, orang ini Sun Hoat Bu, setelah kalah bertempur terus melarikan diri membikin malu saja pada markas kita. Hukuman 384 cincang mati apa akan dilaksanakan disini saja?"
Pho Kun Peng diam sejenak, kemudian sambil goyang-goyang tangannya berkata.
"Hmm.. ! Nanti dulu, aku mau ajukan pertanyaan padanya!"
Berbareng menghadapi Bu Hweshio dan berkata.
"Sun Hoat Bu, kau ini adalah persaudaraan dari "
Tiga Siluman Tay Ouw‟ Sejak kau masuk dalam markas kami, aku Pho Kun Peng telah memperlakukan kau dengan sangat baik dan hormat.
Pertempuran kalah menang sudah menjadi kebiasaan dalam dunia persilatan.
Tapi aku tidak mengerti dari sebab apa kau setelah kalah tidak mau memberikan laporan, sebaliknya telah melarikan diri?
Juga akan kematiannya dua saudara kau itu ditangannya Bo yong kang dan Li Cong Bun seolah-olah kau tidak ambil pusing sama sekali.
Kau terus saja tinggal di sini.
Kau pura-pura menjadi Hweshio, apa perbuatanmu itu bisa disebut pantas?"
Bu Hwe Hwishio tidak menjawab, hanya sepasang tangannya dirangkap didepan dadanya.
Mulutnya mengeluarkan kata O mi to hud tidak henti-hentinya.
Pho Kun Peng melihat sikapnya Bu Hwe Hwishio demikian semakin marah.
"Hmm…! Kau kalah dan melarikan diri,"
Kata pula Pho Kun Peng.
"Karena aku memandang kita sudah lama berkumpul, maka aku tidak mengambil tindakan apa-apa. 385 menurut pantas setelah kau masuk menjadi hweshio, tak lagi campur urusan dunia. Tapi herannya kenapa kau masih memusuhi anak buahku di telaga merah?"
Bu Hweshio masih terus membisu.
"Sun Hoat Bu,"
Melanjutkan Pho Kun Peng.
"Kau sudah banyak membuat kesalahan, bahkan panahku kau anggap sepi. Betul seperti katanya An Toa Hay barusan, kau seharusnya dihukum cincang. Tapi mengingat kau dan aku sudah bergaul lama, maka jika kau suka balik lagi padaku akan aku hapuskan semua kesalahanmu itu. Kau sudah berkumpul lama denganku tentu kau sudah tahu adat tabeatku. Nah pilihlah satu antra dua, Mau kembali ke tangsi Kalajengking atau mau binasa dibawah golok?"
Kalau tadi Bu Hwe Hwishio merem melek mendengarkan bicaranya Pho Kun Peng setelah Lengcu dari tangsi Kalajengking itu mengakhiri omongannya telah membuka lebar matanya danmenjawab.
"O mi to hud! Sun Hoat Bu adalah dulu yang bertempat dipuncak Mo hun leng gunung Koa Cong San, tetapi yang sekarang berdiri di depanmu adalah Bu Hwe Hwishio. Semua sudah berubah, lain dulu lain sekarang. Apa yang sudah kejadian pada waktu yang lampau aku sudah tak pikirkan lagi. Lebih baik kau tak bicarakan urusan kangouw didepannya seorang hweshio seperti aku!" 386 Pho Kun Peng tak marah mendengar bicaranya Bu Hwe Hwishio, sebaliknya malah ia tertawa gelak-gelak sambil berpaling kepada An Toa hay ia berkata.
"Lihat, apa yang dia kata tadi tidak ada gunanya. Biarpun Kwn Im yang bertangan seribu dan Jie Lay Hud yang dapat menolong semua manusia, mereka tak bisa menolong orang ini dari hukuman cincang! Ha ha ha ha..!"
"O mi to hud!"
Kedengaran Bu Hwe Hwishio berkata pula.
"Aku tahu ada mereka, tapi aku tak takut ada hukuman mereka asal aku dapat makan setan. Nah, Pho Kun Peng, kau jangan banyak omong yang tidak berguna. Aku lebih baik mati untuk mengakhiri dosa-dosaku yang lampau daripada ikut kau lagi untuk menumpuk dosa!"
Pho Kun Peng tertawa gelak-gelak.
"Hoat Bu, Hoat Bu."
Katanya.
"Kau mau makan setan?
Oh aku baru dengar seorang hweshio mau makan setan.
Nah aku ada mempunyai banyak darah, daging yang kau dapat makan sampai kenyang, makan hayo makanlah…!
Ha ha ha… An Toa Hay, terlebih dahulu potonglah bahunya!
Ia teriaki algojonya.
An Toa hay menerima perintah, lantas gerakkan golok gergajinya untuk menebas kutung bahunya Bu Hwe Hwishio yang saat itu 387 sama sekali tidak bergerak dan tampak tenang-tenang saja menghadapi bahaya maut.
Ketika golok itu turun menebas, urung sendirinya karena An Toa Hay dibikin kaget oleh teriakannya Pho Kun Peng.
"Hei didalam rimba ada sapa?"
Berbareng dua bayangan orang tampak meluncur terus didepannya An Toa Hay.
Dengan menggunakan jari Sakti, salah satu dari dua bayangan itu telah menyentil golok gergajinya An Toa Hay sehingga patah dua.
Tentu saja kejadian ini membuat si algojo ketakutan.
Dengan muka pucat telah melarikan diri.
"Lihay!"
Diam-diam Pho Kun Peng memuji orang yang menyentil golok tadi.
Ketika ia memperhatikan lebih jelas, ternyata dua bayanga itu adalah musuh besarnya yaitu Bo yong kang dan Li Cong Bun.
Yang menyentil golok tadi adalah Bo yong Kang.
"Hmm..!?"
Ia menggeram.
"Pantas Sun Hoat Bu kepala batu, tidak tahunya ada bersandar pada kalian berdua? Dulu dalam tangsi Naga lantaran Hwe Lengcu mencegah tidak jadi kita bertempur, kebetulan kita sekarang bertemu, aku si orang she Pho kepingin belajar kenal dengan si Pelajar Hati Besi!" 388 Bo yong Kang tahu bahwa musuhnya itu belum pulang ke markasnya, tentu ditangannya ada membawa Tiga Pusaka Thianlam yang ampuh. Li Cong Bun sangat benci pada Pho Kun Peng, saat itu ia sudah menghunus pedangnya tpi Bo yong Kang mencegah.
"Bun jie, biarlah kali ini aku yang turun tangan."
Pho Kun Peng paling jerih denga Pedang Penakluk Iblis Li Cong Bun, maka hatinya lega ketika melihat Li Cong Bun masukkan pula pedangnya dalam warangkanya.
Ia tidak takut menghadapi pedangnya Bo yong Kang yang dia anggap tidak seampuh seperti pedangnya Li Cong Bun.
"Pho Kun Peng!"
Bentak Bo yong Kang.
"Kau adalah srigala bermuka manusia, kejam dan buas. Aku tidak mau rewel lagi, katakanlah kau mau bertempur menggunakan senjata atau bertangan kosong?"
"Dengan senjata pedang..!"
Jawabnya tengik sambil mengeluarkan senjata pedang kecil yang panjangnya hanya beberapa kaki saja.
Bo yong Kang melihat pedang itu demikian hatinya tercekat.
Biasanya pedang kalau semakin pendek semakin berbahaya.
Apa itu adalah salah satu senjata ampuh dari tiga pusaka Thian lam?
Kalau benar tentu yang dinamai "Pwdang Berbisa‟.
Demikian Bo yong 389 kang menduga-duga kemudian menghunus pedang panjangnya "Pedang Swastika (To lo kiam).
"Aha..! kau menggunakan Pedang Berbisa satu diantara tiga senjata ampuh dari Thian lam untuk melawanku? Nah mulailah. Kenapa belum menyerang?"
Bo Yong kang berkata sambil mengawasi pada pedang pendek di tangannya Pho Kun Peng.
Si Kalajengking Pho Kun Peng terkejut.
Ia heran o yong Kang dapat mengenali pedang pusakanya.
Tapi pikiran ia mesti menang dalam pertandingan itu maka ia tidak ambil pusing bahwa Bo yong Kang sudah tahu pedangnya itu.
Dengan jumawa ia berkata.
"ha ha ha.. bagus, kau sudah kenali pedangku. Jangan jerih, paling-paling kau hanya kuat sepuluh jurus saja menandingi aku lantas akan menjadi korbannya pedangku yang ampuh!"
Berbareng ia menyerang dengan tipu silat "Bidadari Menarik Selendang‟, gayanya indah menarik.
Bo yong Kang siap sedia dengan pedang didepan dadanya.
Pho Kun Peng diam-diam menertawakan Bo yong Kang hanya tahu namanya pedang tetapi tidak thu keajaibannya sampai dimana.
Karena pedang pendek itu, selain tajam juga ada mengandung air racun.
Kalau alat yang menyimpan air racun itu ditekankan lantas 390 meluncur air racunnya itu keluar sejauh beberapa kaki, kalau kena tubuh, kontan orang yang terkena akan mati.
Air berbisa itu kalau sudah dipergunakan tiga kali sudah habis dan harus diisi pula baru dapat digunakan lagi.
Gurunya pernah memesan.
"Kalau tidak sangat terpaksa, air racun itu tak boleh digunakan misalnya menghadapi musuh yang sangat lihai, sukar merebut kemenangan, air beracun itu baru boleh digunakan‟.
Setelah berubah gaya serangannya, Pho Kun Peng ulur dari tangannya hendak menotok pada bahu kanannya Bo yong Kang yang memegang pedang.
Bo yong Kang tersenyum lalu pindahkan pedang ke tangan kiri sedang tangan kanannya mengirim serangan dengan gaya Nelayan Menebarkan Jala, itulah serangan dengan tenaga keras, disambut pula oleh Pho Kun Peng dengan tenaga keras.
Ketika kedua tenaga itu beradu tampak Bo yong kang mundur beberapa tindak dan Pho Kun Peng melihat itu lantas tertawa nyengir, hatinya kegirangan.
"Ayya! Tidak nyana si Pendekar hati Besi tenaganya hanya segitu saja..!"
Pho Kun Peng menyindir.
"Tidak perlu pakai Tiga pusaka Thian lam juga maksud akan tercapai."
Air mukanya tiba-tiba tampak bengis.
Sambil memekik ia melompat ke udara .
kemudian ia mengirim serangan dahsyat kepada musuhnya.
391 Bo yong Kang barusan hanya pura-pura saja kena digetarkan oleh serangan Pho Kun Peng, justru ia membuat si Kalajengking menjadi kegirangan dan mengira benar-benar tenaga Bo uong Kang hanya segitu saja.
Tidak tahunya ketika ia melesat ke udara dan menyerang si Pelajar hati Besi telah menemui sasaran kosong malah bagi dirinya begitu ia turun di tanah, disampingnya telah berdiri Bo yong Kang yang membarengi serangan ke bahunya.
Suara pletak terdengar.
Tulang bahunya si Kalajengking telah patah.
Hingga ia bergulingan di tanah.
Bo yong Kang berpaling kepada keponakannya.
"Bun jie, orang yang galak seperti harimau itu aku sudah kasi bagiannya. Dia mau mencincang Bu Hwe Hwishio sekarang dia boleh rasakan perbuatannya yang kejam dan telengas!"
Li Cong Bun hanya tersenyum sebagai jawabannya.
Pho Kun Peng sudah bangun lagi, menyerang dengan beringas.
Kali ini Bo yong Kang tidak kasih hati.ia menangkis dengan tenaga delapan bagian, hingga si Kalajengking mundur beberapa kaki.
Dengan pedangnya Bo yong kang balas menyerang.
Menghadapi pedang musuh yang panjang.
Si Kalajengking Pho Kun Peng tidak berani alpa.
Ia mengerahkan semangat dan unjuk kegesitan 392 lompat sana sini menghindari serangan Bo yong kang.
Betul-betul hebat ilmu pedangnya Bu Ju Taoso "
Naga MencengkramMustika‟ sebab dalam sekejap saja Bo yong kang menggunakan ilmu pedang itu telah mengurung si Kalajengking sehingga kelihatannya susah bernapas.
Pertandingan sudah berjalan sepulih jurus lebih.
Si Kalajengking nekat lalu mengeluarkan salah satu tipu yang lihai dari "Serangan Siluman dari Thian lam‟ untuk menerobos keluar dari kurungan.
Pedang pendeknya berkilat-kilat kehijau-hijauan dalam kurungan sinar pedang Bo yong kang.
Melihat itu, Bo yong Kang ubah ilmu serangannya dengan "Pedang Pengejar Sukma‟ dari Ceng Leng Cinjin.
Lebih hebat lagi gerakannya ilmu pedang ini, maka Pho Kun Peng jadi gelisah.
Pikirannya kalau tidak menggunakan "
Tiga Pusaka Thian lam‟ cara bagaimana ia dapat keluar dari kurungan ilmu pedangnya Bo yong kang/ Serangan Bo yong kang yang bertubi-tubi benar-benar sukar disingkirkannya.
Ia keluarkan ilmu tipuan yang dinamai Angin Puyuh meniup rumput.
Ia jatuhkan diri bergulingan dibarengi dengan kegesitannya yang luar biasa meraba kakinya yang lawan kemudian menggempur antara bagian pinggang dan bahu lawan.
Tapi ini hanya gerakan pura-pura saja sebab setelah ia mendapatkan 393 kesempatan lolos dari kepungan lantas tubuhnya melesat tinggi kemudian turun di depannya Bo yong Kang lagi hingga Bo yong kang menjadi heran.
Heran karena musuh bukannya kabur setelah lilos dari kurungan sinar pedangnya, tapi ini malah maju.
Ia curiga pedang pendek musuh ada apa-apanya yang berbahaya maka ia tidak berani gegabah menyerang lagi.
Si Kalajengking Pho Kun Peng berdiri sambil nyengir, ia goyang-goyang pedang pendeknya deakan-akan orang yang mengocok botol obat.
Rupanya dengan gerakan itu ia sedang membuat air racun berkumpul di ujung pedangnya dan tinggal alat rahasianya akan meluncur keluar menyerang musuhnya.
Ia sudah menduga pasti bahwa jiwanya Bo yong Kang tidak akan ketolongan.
Mukanya si kalajengking yang licik licin cengar cengir mencurigakan sang lawan.
"Bo yong Kang, ilmu pedangmu memang tinggi. Nah coba sekarang kau sambut seranganku dengan gaya "
Tali Pengikat Sukma‟, hati-hati!"
Kata si Kalajengking, berbareng ia menyerang lawannya.
Bo yong Kang tidak mengetahui pedang pendek itu veracun.
Ia melayani musuh dengan anteng-anteng saja.
Tiba-tiba Pho Kun Peng mengarahkan ujung pedangnya pada dada dan perutnya lawan.
Sambil tertawa si Kalajengkng telah menekan alat rahasia di 394 pedang pendeknya.
Sebentar saja lantas meluncur air racun yang berbau amis.
Bu Hwe Hweshio yang memperhatikan gerak geriknya si Kalajengking merasa curiga, maka ia kisiki Li Cong Bun untuk menolong pamannya jika menghadapi bahaya.
Maka begitu si Kalajengking meluncurkan air beracunnya, tepat biji caturnya telah membentur ujung pedang hingga jadi sedikit miring dan air racun itu tidak mengenai sasarannya.
Bo yong Kang sangat kaget, ia tertegun ketika melihat rumput-rumput yang terkena air racun itu pada hangus.
Ia jadi gusar sekali tapi sebelum ia buka suara, Li Cong Bun sudah lompat melesat dan turun didepannya Pho Kun Peng dengan pedang terhunus hingga si Kalajengking kaget dan mundur beberapa tindak.
Li Cong Bun sudah sangat marah, maka dua orang anak buahnya si Kalajengking seketika itu juga telah menjadi korban pedang pusakanya.
Mereka tidak berkesempatan untuk membela diri karena serangan Li Cong Bun cepat laksana kilat.
Si Kalajengking melihat maksud jahatnya digagalkan, dua anak buahnya dalam sekejap dibinasakan oleh Li Cong Bun, bukan main marahnya.
Tapi kemarahan itu tidak diunjukkna pada air mukanya.
Malah kedengaran ia tertawa bergelak-gelak yang tidak enak sekali didengar oleh telinga, 395 sampai binatang-binatang dalam rimba sampai lari serabutan.
Diam-diam ia menyiapkan dua senjata pusakanya yang lain yaitu "bom api‟ dan "tali urat naga‟.
Panjangnya kira-kira satu kaki.
Pada ujung tali dipasang kepala naga-nagaan.
Senjata ini bisa dimainkan secara lemas dan keras.
Tidak mempan oleh segala senjata tajam digunakan khusus untuk menotok jalan darah dan merampas senjata.
Sambil pegangi senjata tali pusaka itu, si Kalajengking tidak memperhatikan Li Cong Bun.
Ia hanya menghadapi Bo yong Kang dan berkata.
"Bo yong Kang, apakah kau hendak mengandalkan orang banyak menjatuhkan aku? Kalau seorang laki-laki, mari kau hadapi aku dengan senjata taliku ini, aku mau lihat sampai dimana kepandaiannya yang disebut pendekar jempolan!"
Li Cong Bun sudah sangat mendongkol hatinya, telah mendahului pamannya menjawab dengan kata-kata kasar.
"Hei, aku kira tadinya Si leng cee ada gedungnya setan dan gerombolan siluman yang menakutkan. Tidak tahunya hanya orang semacam kau ini saja yang tidak tahu malu, jahat, kejam dan hidung lagi. Aku merasa sayang pedangku dipakai menyentuh lehermu yang kotor, maka aku mau melesat budi, 396 sekarang kau boleh berlalu, aku ampunkan jiwamu!"
Si Kalajengking merasa sangat dihina sekali oleh kata-katanya Li Cong Bun.
Pikirnya ia harus melepaskan senjata.
Tiga pusaka Thianlan sekaligus, baru hatinya menjadi puas.
Sebab diantaranya orang tiga itu sedikitnya dua sudah harus binasa ditangannya.
Ia terus memajukan senjata talinya.
Disampingnya ia bersiap dengan dua senjata ampuh lainnya untuk mengambil korban.
Bo yong Kang dan Li Cong Bun melihat si kalajengking memainkan talinya betitu saja tidak bergerak menyerang maupun mundur.
Mereka tidak tahu apa sebenarnya maksud Pho Kun Peng itu.
Lalu Li Cong Bun menanyakan pada si hweshio anmun ia sendiri menjawab tidak tahu.
Menggunakan kesempatan tiga orang itu pasang omong, si Kalajengking lantas menyerang dengan "Bom Apinya‟ kepada Bo yong Kang dan Bu hweshio dan senjata talinya meluncur pada Li Cong Bun.
Melihat tali itu meluncur ke arahnya, Li Cong Bun sudah siap sedia menutup semua jalan darahnya terhadap kemungkinan yang tidak enak.
Pedangnya dilintangkan untuka menyampok sesuatu senjata rahasia.
397 Senjata tali itu ketika berada di atas kepala Li Cong Bun mendadak telah meledak dan sepuluh jarum emas menyambar ke berbagai bagian tubuhnya Li Cong Bun siapa lalu memutar pedangnya untuk melindungi diri, jarum-jarum yang tersampok dan jatuh di tanah telah meledak lagi dan menyebarkan jarum-jarum emas lembut dan berbahaya sekali bagi korbannya.
Bo yong Kang dilain pihak telah diserang oleh "bom api‟.
Ia tidak tahu sampai dimana berbahayanya benda itu, maka dengan pedangnya hendak menangkis tapi urung ketika mendengar teriakan, Bo yong sute, cepat-cepat kau menyingkir, benda itu tak dapat disentuh!"
Berbareng dengan itu, satu benda empuk seperti kapas telah menyambuti "bom api‟ itu.
Ketika beradu, bom api telah meledak.
Apa mau pecahan apinya akibat ledakan tadi beberapa keping diantaranya telah menyambar pada Bu Hwe hweshio hingga lengannya satu putus oleh karenanya.
Bo yong Kang sendiri telah melompat jauh.
Ketika mendengar teriakannya orang tadi yang ia kenali suaranya siapa yang datang menolong dirinya.
"Tiga Pusaka Thian lam‟ sebenarnya ada tiga macam senjata ampuh yang khusus dibuat gurunya Song Sam Ceng dan Pho Kun Peng ialah untuk dipakai pada pertemuan dengan Bo yong kang tahun depan bulan tiga tanggal tiga.
398 Kini senjata itu telah digunakan oleh Pho Kun Peng sebelum waktunya dan justru semuanya telah menemui kegagalan, bukan main si Kalajengking merasa cemas hatinya.
Ia sangat gemas kepada orang yang menggagalkan usahanya.
Ketika ia mencari tahu siapa adanya orang itu, matanya bentrok dengan Tiat Bok Taysu yang tempo hari juga telah menggagalkan niatnya untuk merusak kehormatannya si Burung Hong Kemala Gan Su Nio.
Memang baik peruntungannya Gan Su Nio, kebetulan sekali ada muncul Tiat Bok Taysu yang turun tangan menolongnya.
Kalau tidak tentu kehormatannya dinodai.
Buat dirinya seorang perempuan seperti Gan Su Nio mana dapat menanggung malu.
Tentu ia akan membunuh diri daripada pasrah menjadi isterinya si Kalajengking yang jahat dan licik.
Si kalajengking rada jerih berhadapan dengan Tiat Bok Taysu, maka ia hanya bisa sesumbar.
"Tiat Bok, kau sudah beberapa kali membikin gagal usahaku. Sakit hati ini tidak akan hapus kalau tidak dicuci oleh darahmu, maka aku mengundang kau untuk datang tahun depan tanggal tiga bulan tiga ditempatku. Aku mau lihat apakah kau bisa lolos atau tidak dalam pembalasanku.."
Sehabisnya berkata, si Kalajengking lantas meninggalkan tempat itu menghilang dalam rimba yang lebat.
399 Dihati Bo yong Kang kegirangan sebab kini ia tahu bahwa Tiat Bok Taysu bukan lain orang daripada suhengnya sendiri ialah Teng Goan murid dari supeknya.
Berseri-seri ia memburu pada Tiat Bok Taysu.
Tangannya dipegang erat-erat dan menyatakan rasa girang dan rindunya terhadap suheng yang baik hari itu.
"Aku kira siapa, banyak waktu aku pikirkan, tidak tahunya Tiat Bok Taysu adalah suheng sendiri. Kau baik sekali suheng, sebab kalau tidak kau teriaki tadi, tentu aku bentur senjata si jahat itu dengan pedangku dan aku bisa mati konyol. Terima aksih suheng."
"Sute, kenapa kau berkata begitu?"
Kita adalah orang sendiri, sepantasnya saja tolong menolong. Bukankah aku ada janjikan padamu kalau waktuku mengijinkan aku akan turun tangan membantu padamu. Sute, bagaimana dengan pelajaranmu?"
Bo yong Kang dengan ringkas telah menuturkan perjalanannya, kemudian mendapat didikan lebih jauh dari supeknya dan Ceng Leng Cinjin.
"Kepandaianku dibanding dengan dulu, memang sekarang ada lumayan juga,"
Akhirnya ia berkata merendah sambil tersenyum.
"Bagus bagus."
Kata Teng Goan sambil angguk-anggukkan kepala.
"Mana Cong Bun sekarang?" 400
"Cong Bun, lekas datang kemari menemui suheng!"
Bo yong kang teriaki keponakannya siapa dengan cepat sudah datang dihadapannya. Cong Bun berseri-seri menjura di depan Tiat Bok Taysu.
"Suheng, selamat bertemu. Semoga suheng semuanya sehat dan bahagia."
Teng Goan alias Tiat Bok Taysu tersenyum, matanya tajam memandang wajahnya Cong Bun yang tampan dan keren. Kemudian ia manggut-manggut.
"Dia sudah besar…."
Katanya seperti berkata pad diri sendiri.
Cong Bun gagah dan mantap hatinya.
Semoga dengan kepandaianmu yang tinggi itu kau tidak salah menggunakannya.
Harus bisa menahan napsu membunuh.
Kita perlu menginsyafkan pikiran orang dari jahat menjadi baik, sebelum kita turun tangan membunuh!"
"Terima kasih atas nasehat suheng,"
Jawab Ceng Bun.
Diam-diam ia merasa berterima kasih pada suhengnya itu sebab sampai sebegitu jauh memang napdu membunuhnya besar sekali, hampir-hampir ia tidak bisa kendalikan kalau tidak ad Bo yong Kang yang mengingatinya.
Sebenarnya siukur dari umur, Teng Goan ad lebih tua jauh dari Li Cong Bun dan pantasnya menjadi susiok.
Tapi dalam 401 tingkatan perguruan mereka boleh dikatakan ada sama derajat.
Teng Goan murid Bu Ju Taoso dan Li Cong Bun murid Ceng Leng Cinjin dan Bu Ju Taoso juga.
Begitu juga dengan Bo yong Kang sudah terlebih dahulu ia memanggil susiok maka panggilan pada Bo yong Kang tak diubah.
LI Cong Bun menghormati bukan dari tingkatan perguruan.
Hanya dari tingkatan porang tuanya almarhum ialah Bo yong Kang adalah adik angkatnya Li Hoay Bin ayah Cong Bun.
"Aah ..!"
Tiba-tiba Teng Goan seperti kaget.
"Kita keenakan bicara. Siapa itu taysu disana?"
Sambil tangannya menunjuk pada Bu Hwe hweshio yang rebah dengan berlumuran darah pada lengannya yang kutung.
Bo yong Kang dengan ringkas telah menceritakan siapa adanya Bu Hwe hweshio.
Mari kita pergi lihat!"
Mengajak Teng Goan.
Mereka sebentaran saja sudah merubung dirinya Bu Hwe hweshio.
Teng Goan telah mengeluarkan obatnya untuk menolong menghentikan darah segar yang keluar terus dari lengannya yang luka.
Kalau tadi Bu Hwe tampak payah benar dan keluar rintihan tertahan lantaran sakit pada lukanya, kini setelah makan obatnya Tiat Bok Taysu tampak ada segaran.
Ia membuka matanya dan melihat pada tiga orang yang merubung pada dirinya.
402 Ia tidak mengeluarkan kata-kata hanya menghela napas beberapa kali.
"Taysu,"
Kata Teng Goan tiba-tiba.
"Harap kau tidak sesalkan aku, sebab semua itu adalah kesalahanku. Aku tergesa-gesa memuhankan serangan senjata jahat dari si Kalajengking. Tak tahunya pecahannya bom api itu telah mengenai lengan Taysu sehingga menjadi cacat."
Bu Hwe hweshio geleng-gelengkan kepalanya.
"Bukannya itu aku buat susah hati."
Jawabnya perlahan.
Aku sejak diberi jalan hidup oleh Bo yong Tayhiap dan insyaf atas perbuatanku yang salah, aku sudah tak hiraukan lagi jiwaku.
Hari ini aku kehilangan lenganku satu, memang ada baik sekali, hitung-hitung tanda dari kelakuanku yang jahat diwaktu dahulu.
Yang membuat aku susah hati adalah dari sebab dalam dunia ini terus saja kacau, tidk ada damainya.
Si leng cee sudah lama melakukan kejahatan, menutur pantas sudah waktunya partai itu ditumpas musnah.
Tapi Pho Kun Peng si Kalajengking jahat itu telah mendapat lagi senjata yang demikian ampuhnya, maka tahun depan dalam pertemuan Bo yong tayhiap dan kawan-kawan dengan Si leng cee pasti menemui kesukaran karena itu.."
Ia berhenti sejenak, seolah-olah untuk mengumpulkan napasnya lagi. 403
"Tapi aku percaya, kejahatan yang merajalela yang dilakukan oleh Si leng cee itu akan dapat dimusnahkan oleh kedua pendekar yang budiman seperti Bo yong Tayhiap dan Li Siauhiap.."
Kembali Bu Hweshio berhenti, matanya menatap pada Teng Goan yang ketika itupun mengawasi padanya dengan perasaan kasihan.
"Aku ini seorang yang banyak dosa, aku kuatir kalau menjadi orang suci tak akan diterima oleh sang Buddha, maka aku mohon pertolongan supaya aku diperbolehkan mengikut Taysu sehingga aku mendapat bimbingan yang tepat dan hatiku tidak merasa sangsi sangsi lagi diriku sudah berobah menjadi orang beribadat."
"Mengingat akan penuturannya Bo yong kang tentang dirinya Bu Hwe hweshio, Teng Goan diam sejenak sebelum menjawab perkataanya. Kemudian sambil tertawa berkata.
"Taysu, aku girang kau dapat merubah diri dari jahat menjadi baik. tak usah kau begitu merendah. Kita menjadi kawan saja sudah cukup."
Kepada Bo yong kang Teng Goan berkata.
"Sute, aku sudah menolong Gan Su Nio dan dikirim pulang ke Lam hay, kau menjadi girang bukan?" 404 Bo yong kang menatap wajahnya suheng yang bergurau tampak air mukanya kemerah-merahan, hanya bisa berkata.
"Terima kasih suheng…"
"Nah sekarang aku mau cerita padamu."
Berkata pula Teng Goan.
"Penting yang kau harus ketahui adalah tabiatnya Biau Hoat Sin ni yang aneh. Aku mengantarkan nona Gan hanya sampai di tepi pulau sebab aku tidak ingin kepentrok dengan niko tua itu. Maka itu aku harap sute suka bersabar ia menemui dulu Gan Su Nio karena Biauw Hoat Sin ni tidak suka kuilnya didatangi oleh lelaki. Aku sebenarnya sedang meyakinkan ilmu Kebuddhaan, tapi karena gara-gara urusan kau jadi terlambat aku meyakinkan. Nah sekarang aku mau balik ke Heng san. Pada tahun depan pertemuan kalian di Si leng cee aku sudah campur lagi..!"
Ia kemudian menghampiri mayat dua orang yang dibunuh oleh Li Cong Bun, sambil menunjuk dua mayat itu ia berkata.
"Anak Bun, kau membunuh dua orang jahat ini sudah sepantasnya. Tapi aku harap selanjutnya sukalah kau memberi kelonggaran kepada para korban pedangmu yang tajam, kalau mereka masih bisa dibujuk untuk kembali ke jalan yang baik itu adalah sangat baik. sebisa-bisanya kita harus menghindari sesuatu pembunuhan tanpa memberi kesempatan kepada si jahat untuk kembali menjadi orang baik-baik." 405 Li Cong Bun merah selembar mukanya, ia jengah mendengar kata-katanya Teng Goan yang tajam menusuk akan tetapi adalah suatu nasehat yang baik sekali untuk ia gunakan sebagai pegangan dalam mengumbar napsunya membunuh. Sementara itu Teng Goan alia Tiat Bok Taysu lantas berpaling pada Bu Hwe hweshio dan menanyakan bagaimana pikirannya sekarang siapa telah menjawab.
"Rasa sakit dilenganku yang kutung setelah mendapat obatmu sudah jadi sembuh. Kini aku rasanya tidak mempunyai keinginan apa-apa, rasanya pikiranku kosong…"
"Ha ha ha, Taysu,"
Teng Goan berkata pula.
"Meskipun kita hidup menjadi seabad, toh akhirnya kita akan menemui hari akhir kita. Lihatlah itu Raja, Perdana Menteri, Puteri elok jelita, dan semua pendekar ulung, semua tidak dapat mengecap penghidupannya yang kekal, akhirnya mereka akan menemui ajalnya dan masuk ke lubang kubur. Kita manusia, apa yang diharap dan diburu? Semuanya itu kosong. Tidak ada ketenangan dan ketenteraman hati selama kita terlibat dalam suasana keruh oleh kejahatan dan perbuatan sewenang-wenang maka itu paling baik kita menyepi di pegunungan. Jauh dari napsu serakah, jauh dari segala gangguan, kita dapat menikmati pemandangan alam dengan penuh girang dan bahagia, sementara kita menantikan waktu untuk 406 dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa… Nah marilak ikut aku jalan-jalan ke Heng san. Sebaiknya kau menemani aku mengasingkan diri. Disini sudah bukan tempatmu lagi.."
Setelah berkata, Tiat Bok Taysu telah menarik tangannya Bu Hwe hweshio.
Dalam sekejapan saja orang berilmu itu telah menghilang didalam rimba yang lebat setelah mengulapkan tangannya pada Bo yong kang dan Li Cong Bun sebagai tanda pamitan.
Li Cong Bun melihat Tiat Bok Taysu dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa begitu gesit menghilang didalam rimba diam-diam mengagumi orang punya kepandaian yang tinggi.
Tadinya ia anggap orang yang paling tertinggi kepandaiannya tidak tahu orang lain lebih tinggi dari padanya.
Ia menghela napas sendiri pikirnya kepandaian itu betul-betul susah diukur dan dibuat sombong.
Bo yong Kang mendengar bicaranya Tiat Bok Taysu tadi merasa cemas dalam hatinya karena sang suheng itu tahun depan tak dapat membantu padanya.
Sedangkan ia justru ia ada memerlukan bantuan untuk menghadapi jago-jago Si leng cee.
Setelah bengong sekian lamanya ia lalu mencabut pedangnya yang menancap di tanah.
Berdua lalu mengubur mayatnya An Toa hay dan kawannya dengan hati duka.
Kemudian mereka meninggalkan tempat itu jalan ke pinggir telaga merah.
407 Selama berjalan, Bo yong Kang tidak berkata apa-apa.
Pikirannya dibikin gegetun oleh pengalamannya yang saban-saban terhindar dari bahaya maut.
Coba barusan kalau tidak ada suhengnya yang turun tangan menolong, entah bagaimana dengan dirinya?
Tentu sudah hancur berkeping-keping menjadi korbannya bom api dari si Kalajengking Pho Kun Peng.
Sementara menanti waktunya bertempur di gunung Cui tiok san, tiba-tiba kini ia tidak tahu harus menuju kemana?
Li Cong Bun yang melihat pamannya membisu seperti memikirkan jalan buntu telah berkata dengan tertawa.
"Bo yong susiok, pada waktu Se bun Pa meninggal dunia bukankah dia memesan supaya kita suka damai pada Ko ceng cu di Lo san Se bun Ceng yang telah membunuh adiknya? Nah sekarang kita lebih baik pergi kesana. Pertama kita mencari Ko Cengcu, menyampaikan permintaannya Se bun Pa. kedua, kita bisa sekalian mampir pada Thau Pang Totiang di Bu Tong san. Juga kita boleh mencari Touw Peng si Pendekar Pedang Thian Liong. Mereka itu ada semuanya berjanji tahun muka dalam pertempuran kita di Si leng cee akan memberikan bantuannya. Jangan ada mereka mempunyai kemampuan silat tinggi, asal saja dapat bantu semangat saja kepada kita, bukankah itu ada baik?"
Bo yong Kang seperti sadar dari impiannya ketika mendengar bicaranya sang keponakan. 408 Ia angguk-anggukkan kepalanya.
"Mari kita pergi kesana!"
Katanya.
Mereka lalu bikin perjalanan ke propinsi An Hui.
Ketika mereka sampai di La san tempatnya Ko Ching telah disambut oleh tuan rumah dengan kegirangan.
Ko Ching yang masih dalam kedukaan karena kematiannya sang adik telah ditamat oleh Toaw Peng sahabatnya yang paling dekat untuk bantu menghiburnya.
Maka paman dan keponakan itu tidak usah mencari-cari Toaw Peng lagi sebab kebetulan ia masih berada di tumahnya Ko Ching.
Berempat berkumpul dengan sangat gembira.
Masing-masing telah membicarakan perjalananya selama berpisah.
Seetelah lama mereka bicara Bo yong Kang lalu timbulkan urusannya Se bun Pa yang minta didamaikan urusannya Se bun Ceng.
Tidak dinyana mendengar bicaranya Bo yong Kang, jago dari gunung Lo san itu telah tertawa bergelak-gelak.
"Ya Bo yong ko,"
Katanya setelah menghabiskan tertawanya.
"Soal adiaku itu tidak perlu diusik-usik lagi, aku sudah cukup mengerti. Seperti itu si Iblis Beracun yang sangat ganas kejam, dalam kesadarannya sudah bisa berbalik menjadi orang baik baik keponakannya juga tentu begitu adanya. Kalian benar, mereka paman dan keponakan itu dapat menjadi orang baik-baik aku juga tidak akan mengingat lagi soal kematian adikku." 409 Bo yong Kang mendengar bicaranya Ko Ching bisa tahu halnya Se bun Pa yang telah insyaf dari orang jahat berubah menjadi orang baik. Ia ingat betul ketika Se bun Pa minum racun dan mengaku dosanya, tidak ada lain orang kecuali dirinya dan Li Cong Bun yang menghadapinya. Maka dalam herannya ia menanya pada Ko Ching cara bagaimana ia dapat tahu bahwa Se bunPa telah berbalik menjadi orang baik-baik? "Soalnya ada sederhana saja,"
Jawab tuan rumah.
"Pada bulan yang lalu ada seorang Hwesshio berlengan satu datang kesini. Ketika bertemu muka aku mengenali wajahnya, akan tetapi lupa dimana pernah bertemu dengannya. Akhirnya dia yang memperkenalkan namanya bahwa dia adalah Se bun Ceng yang dengan si Martil Emas telah membuat onar di Lo san dan membunuh adikku."
"Saat itu bukan main kagetku lantas aku mencabut pedang dan lantas menerjang serta membunuh padanya untuk membalas sakit hati atas kematian adikku. Tapi dia telah goyang-goyang tangannya supaya aku jangan terburu napsu dan minta aku mendengar dulu apa yang dia mau ceritakan."
"Aku terpaksa bersabar, dia menerangkan bahwa pamannya Se bun Pa telah mengubah mukanya menjadi Lam Thiam Gie dan menolong dia dari kemurkaan orang banyak waktu 410 menewaskan adikku yaitu dengan jalan berpura-pura menotok jalan darahnya yang berbahaya. Sejak itu Se bun Ceng telah berdiam dalam rumah batu di puncak Cit cui hong. Dia tahu apa yang pamannya bicarakan dengan kalian berdua. Se bun Pa amat percaya dan mengagumi perbuatan-perbuatan mulia dari kalian berdua, maka dia teelah membuka rahasia dirinya dengan tidak sungkan lagi…"
"Aku tidak melihat ada Se bun Ceng."
Memotong Bo yong Kang dengan keheran-heranan.
"Bo yong ko."
Meneruskan Ko Ching.
"Itulah karena Se bun Ceng berada di luar rumah mencuri dengar pembicaraan. Dia tahu pamannya ada minta perantaraan kalian berdua untuk mendamaikan denganku pada Se bun Ceng itu maka ia datang terlebih dahulu dari kalian. Dia minta ampun, untuk kesalahannya itu bersedia menerima hukuman jikalau aku masih penasaran dan tidak suka mengampuninya."
"Habis paman telah memberi ampun kepadanya?"
Nyeletuk Li Cong Bu. Ko Ching tertawa.
"Dia kata bahwa dia sudah masuk menjadi orang beribadat untuk menebus dosanya. Aku lihat memang benar airmukanya berubah menjadi sabar, maka setelah aku menghela napas aku telah menyatakan menghapuskan segala dendaman. Mendengar putusanku dia tidak mengucapkan 411 terima kasih, dia hanya merangkap kedua tangannya di dada dan berdoa "
O mi to hud‟ lantas dia minta aku antarkan untuk menengok pada kuburannya adikku.
Di depan kuburan dia kemak-kemik seperti yang berdoa untuk beberapa lamanya.
Pada saat dia hendak berlalu, aku menanyakan tempat tinggalnya kini dan dia mengatakan bahwa dia masih tetap tinggal dipuncak Kiu hoa san.
Disana dia menjalankan ibadah sebagai hweshio sampai dia mati katanya dia tidak akan pindah dari tempatnya itu."
Ceritanya Ko Ching telah membuat Bo yong Kang dan Li Cong Bun sekarang terang akan duduknya urusan dan merasa puas.
Kemudian mereka telah merundingkan tentang rencana pertempuran di gunung Cui tiok san nanti.
Mereka mengerti bahwa dalam Si leng cee ada jago-jago kuat seperti Song Sam Ceng, Pho Kun Peng dan Ho Ceng Bu, bahkan belakangan mendapat bantuan auw yang Ti yang cerdik dan ilmu silatnya sangat lihai.
Lantaran mana, meski merasa bahwa pihaknya sendiri juga terdiri dari bukan orang-orang sembarangan, tetapi untuk menyerbu begitu saja kesana mereka masih ragu-ragu untuk memperoleh kemenangan.
Mereka setuju, selama beberapa bula belum sampai pada waktunya pertemuan itu berlatih dengan giat, memperhebat kepandaiannya masing-masing, supaya pada waktunya dipakai, kepandaiannya itu dapat digunakan dengan leluasa.
412 Kalau Bo yong Kang dan kawan-kawan hendak berlatih dan memperkuat diri, ternyata di pihaknya Si leng cee juga telah diatur persiapan yang hebat.
Dibawah pimpinannya Auw yang Ti yang cerdik dan hebat ilmu silatnya, Si leng cee telah mengalami perubahan besar-besaran hingga kawanan penjahat itu bukan main girangnya.
Song Sam Ceng tidak henti-hentinya mengumpak-umpak kecerdikannya Auw yang Ti.
Bahkan telah menawarkan pangkat Lengcu dari tangsi naga yang lowong, tapi Auw yang Ti telah menolak kedudukan mulia itu.
Ia usul supaya kedudukan kepada Ho Ceng Bu, seorang yang sudah banyak jasanya untuk Si leng cee dan juga orang she Ho itu merupakan orang lama.
**** Dua saudara Li yang dikirimkan ke propinsi Ouw lam dan Kiang si untuk mengundang dua jago kuat dalam rimba persilatan kebetulan telah sampai dan melapurkan hasil pekerjaannya kepada Song Sam Ceng.
Cocok dengan dugaannya Bo yong Kang.
Si Lutung Sakti Thian Tiang Khian telah menolak mentah-mentah undangannya Song Sam Ceng.
Sedangkan si Rase Genit Pho Sam Jun di gunung Kauw lo san dalam propinsi Kiang si, benar saja seperti dugaannya Bo yong Kang bahwa ia telah menerima baik undangan itu 413 dan terus berangkat meninggalkan tempatnya untuk menghamba pada Si leng cee.
Song Sam Ceng yang terus membujuk Auw yang Ti supaya menerima jabatan Lengcu dari tangsi naga, telah ditolak oleh orang she Auw yang itu, maka kedudukan itu akhirnya diberikan kepada Ho Ceng Bu, sedangkan lowongan dari tangsi Burung Hong diberikan kepada si Rase Genit Pho Sam Jun.
Jabatan penting sebagai penasehat umum telah diterima baik oleh Auw yang Ti.
Jadi dalam segala urusan penting dan rahasia, harus Song Sam Ceng berunding dulu dengan Auw yang Ti sebelum mengambil keputusan.
Ho Ceng Bu dari pangkat Hiocu dari tangsi Garuda telah naik pangkat tinggi menjadi Lengcu dari tangsi Naga.
Namun itu dari sebab pertolongannya Auw yang Ti.
Maka ia sangat berterima kasih sekali kepada Auw yang Ti.
Selanjutnya mereka menjadi sahabat karib.
Auw yang Ti sebagai penasehat umum telah mengajukan usulnya supaya dalam Si leng cee diadakan perubahan besar-besaran jika mau menjagoi dikalangan rimba persilatan.
Untuk mencapai maksud itu bukan saja diadakan penguatan disebelah dalam,tapi juga diluaran harus bisa merebut simpati rakyat.
Suatu undang-undang keras harus dibuat ialah siapa-siapa yang melanggar undang-undang keras harus dihukum sebagaimana layaknya.
Ini untuk mencegah penyelewengan yang 414 dilakukan oleh anak buah Si leng cee yang tidak bertanggung jawab.
Mereka yang sudah dibenci oleh kalangan kangouw harus diberhentikan.
Dengan perubahan yang demikian hebat pasti ada harapan Si leng cee akan merebut lagi simpatinya rakyat dan dapat hidup makmur tanpa dapat gangguan dari orang-orang gagah yang menentang kejahatan.
Song Sam Ceng sudah percaya betul seratus prosen kepada Auw yang Ti, maka dengan sangat girang ia terima baik usulnya Auw yang Ti dan minta orang she Auw yang itu mengatur bagaimana baiknya.
Tindakan segera dijalankan oleh Auw yang Ti yang sementara itu sudah mengatur "jalan rahasia‟ untuk masuk ke ruang tahanan.
Telah melaporkan pada Song Sam Ceng hasil pekerjaannya.
Ketua umum dari Si leng cee dengan diiringi oleh Auw yang Ti, Ho Ceng Bu dan lain-lainnya orang penting dalam markas Si leng cee telah melakukan peninjauan pada hasil pekerjaannya Auw yang Ti.
Tapi memang benar hebat bikinannya Auw yang Ti karena orang bisa masuk tetapi tidak dapat keluar lagi dari jalan rahasia itu.
Dibanding dengan ikinannya Song Sam Ceng tempo hari, jauh bedanya hingga Song Sam Ceng tidak berhentinya memuji-muji atas kecerdikan otaknya Auw yang Ti.
Kalau Auw yang Ti repot mengatur persiapan untuk menghadapi pertempuran besar sementara si Kalajengking Pho Kun Peng enak-415 enakan saja bermain asmara dengan si Rase Genit Pho Sam Jun.
Sejak gagal mendapatkan dirinya Gan SU Nio, si Burung Hong Kumala yang cantik jelita.
Si Kalahengking menjadi sangat cemas hatinya.
Ia pusing kepala untuk dapat melepaskan rindunya pada seorang yang menarik hatinya.
Banyak perempuan di dalam markasnya tidak ada yang menarik betul perhatiannya, hanya buat main-main saja dengan tidak mendapatkan kepuasan.
Adalah ketika si Rase Genit datang, benar-benar Pho Kun Peng jadi mabuk oleh kecantikannya Pho Sam Jun.
bermula berkenalan mereka dapat mengunjuk perasaan sungkan-sungkan dan masing masing pada menjaga kehormatan diri.
Akan tetapi setelah beberapa hari Pho Sam Jun dalam markas, segera juga timbul hubungan yang sangat akrab diantara mereka.
Susah untuk mencari Pho Kun Peng di tangsi Kalajengking, sebab boleh dikatakan setiap waktu ia tak dapat berpisah dengan si Rase Genit.
Ia selalu berada di tangsi Hong.
Pho Sam Jun selannya mempunyai wajah yang cantik jelita, tubuhnya yang lemah gemulai menggairahkan juga sangat ahli membakar hati korbannya.
Tidak heran kalau si Kalajengking sudah jadi mabuk betul-betul oleh suara merdu merayu dari si Jelita Pho Sam Jun.
416 Si Garuda Hitam Song Sam Ceng sebagai suhengnya si Kalajengking bukan tidak tahu perbuatannya sang sute yang sudah tergila-gila begitu kepada si Rase Genit, akan tetapi ia tidak bisa mencegah.
Karena ia bukan saja sangat sayang kepad sutenya itu, juga ia merasa bahwa Pho Kun Peng berbuat demikian adalah untuk melampiaskan rindunya kepada Gan Su Nio yang gagal didapatnya.
Sering ia menghela napas sendirian memikirkan sutenya.
Kini sudah dekat waktunya pertandingan besar dalam markas itu, tapi Pho Kun Peng masih enak-enakan saja seakan-akan ia melupakan kepada pernajnian dengan Bo yong Kang itu.
Dilain pihak, Bo yong Kang telah memikirkan Biauw Hoat Sin ni gurunya Gan Su Nio.
Katanya saja nikow tua itu adatnya ganjil dan aneh, tapi mengetahui bahwa muridnya telah dibuat sewenang-wenang oleh orang kelihatannya diam-diam saja, sama sekali tidak ada reaksinya.
Pikir Bo yong Kang, kalau orang tua itu mau bikin sudah begitu saja, terang dalam pertemuan bulan tiga tanggal tiga nanti, Biauw Hoat Sin ni tidak akan muncul.
Ini sudah tentu berarti kurangnya seorang tokoh terkuat di pihaknya.
Jalannya hari cepat sekali.
Segera sudah sepuluh hari lagi saja pertemuan di gunung Cui tiok san.
417 Song Sam Ceng merasa girang bahwa pihaknya cukup kuat.
Ia dapat memastikan pihaknya akan memperoleh kemenangan gilang gemilang.
Setelah pertemuan itu, selanjutnya Si leng cee boleh mementangkan sayap dan menjagoi di kalangan rimba persilatan.
Perubahan dalam Si leng cee sudah diatur demikian rapih.
Untuk membersihkan bahwa Si leng cee sudah "
Bersih‟ maka rintangan-rintangan yang biasa diadakan oleh Si leng cee untuk orang mencapai markas besar, kini sudah dihapuskan.
Sejarak sepuluh li dari tempatnya markas di Gunung Cui tiok san pada banyak tempat ditaruh orang untuk menyambut tamu-tamu atau lebih tepat dikatakan musuh-musuhnya.
Dibelakang gedung Song Sam Ceng yang luas lebar menghadapi jalan rahasia telah dibangun dua buah gubuk dan sebuah panggung berkelahi (Luitay).
Setiap pagi dan sore Auw yang Ti dan Song Sam Ceng mengadakan pemeriksaan sendiri dengan teliti di sekitar tempat itu.
Pada suatu pagi, tepat lagi empat hari pertemuan diadakan, Auw yang Ti dan Song Sam Ceng setelah mencuci muka lantas seperti melakukan pemeriksaan di tempat itu.
Ini kali mereka menemui hal yang tidak diduga-duga matanya terbelalak ketika melihat pada tiang itu ada berkubar sepotong kertas, entah siapa yang menancapkan disitu.
418 Dalam penasarannya, Song Sam Ceng segera enjot tubuhnya mengambil kertas itu.
Ternyata kertas itu sepucuk surat, yang menggambarkan prihal kedatangan musuh-musuhnya.
Seketika itu wajahnya Song Sam Ceng telah berubah.
"Song Lengcu, kau kenapa?"
Tanya Auw yang Ti tertawa melihat si Garuda Hitam seperti yang merasa cemas hatinya.
"Auw yang toako, kau bacalah surat ini!"
Jawabnya sambil menyerahkan surat tersebut.
Surat itu berbunyi.
Song Lengcu, Kau boleh bersiap-siap kedatangan Bo yong Kang dan Li Cong Bun.
Selainnya membawa banyak kawan dari dunia persilatan, juga akan muncul si Garuda Bersayap Hwe Siok Tang bersama Hwe Giok Soan.
Perlu Lengcu ketahui juga bahwa Gan Su Nio dengan gurunya Biauw Hoat Sin ni dari Lam hay tidak ketinggalan akan muncul dalam pertemuan.
Entah siapa yang menulis surat itu karena tidak dibubuhi tanda tangan.
Bagaimanapun juga, Song Sam Ceng merasa tergetar hatinya melihat diantaranya yang 419 datang adalah Biauw Hoat Sin ni dari Lam hay.
Itu nikow tua yang sangat susah diajak urusan dan kepandaiannya justru yang paling tinggi lihai diantara yang disebut dalam surat tersebut.
Ia belum mendapat kabar tentang gurunya Thian lam Siang koay, apakah dua orang itu akan datang membantunya.
Gurunya berada di gunung Kole kang dalam propinsi Hun lam.
Jaraknya sangat jauh sedang waktunya ada sangat mendesak, maka kalau mau mengabarkan pada mereka itu tak mungkin dapat ditempuh dengan mudah atau akan terlambat.
Kini, keadaan sudah mendesak begitu rupa, apa daya?
Setelah memikirkan sejenak Song Sam Ceng lantas unjuk ketawanya yang aneh.
Dalam pikirannya sudah didapat suatu keputusan ialah jikalau terpaksa karena tak dapat manandingi musuh-musuhnya, ia akan ambil tindakan kejam yang tiada taranya.
Kiranya hanya diketahui dirinya sendiri dan Auw yang Ti dalam suatu tempat rahasia telah disimpan obat pasang ialah semacam dinamit.
Song Sam Ceng menanam barang-barang itu ditempat tetamu disekitar panggung ilitay.
Jadi jika seandainya obat pasang itu diledakkan sekelompok tetamu itu yang akan menjadi korbannya.
Sedang orang-orangnya sendiri, siang-siang akan dibisiki untuk 420 menyingkir dari bahaya yang maha dahsyat itu.
Dengan tidak ragu-ragu lagi maksud itu, setelah mendapat persetujuan Auw yang Ti telah dikerjakan.
Beberapa anak buahnya yang berjasa turut menanam secara rapi benda dahsyat itu, bukannya satu persatu diberi hadiah, tapi sebaliknya satu demi satu telah dibunuh mati.
Kekejaman dilakukan karena Song Sam Ceng kuatir kalau mereka dikasi hidup bisa membocorkan rahasia.
Pada suatu sore, selagi Auw yang Ti dengan Pho Kun Peng berunding tentang penyambutan tetamu, ada seorang anak buahnya yang melaporkan tentang datangnya dua Hiocu ialah Tiauw Hun dan Tiauw Cian.
Kedatangan mereka sungguh kebetulan sudah tentu ada sangat menggirangkan pada Pho Kun Peng dan teman-temannya karena saat itu ada dibutuhkan orang-orang kuat untuk menyambut tetamu atau lebih tepat musuh Si leng cee.
Seperti pembaca tentu masih ingat, dalam suatu pertandingan di tangsi Naga atas anjurah si Kalajengking Pho Kun Peng.
Tiauw Hun telah dikerjai ilmunya Li Cong Bun, ialah menggetarkan otot-otot dengan tenaga dalam yang hebat, sehingga Tiauw Hun yang mau mencengkram dirinya Li Cong Bun dengan sepuluh kuku jarinya yang runcing dan beracun telah gagal, malah boleh dikata senjata makan tuan.
Karena kuku-kukunya yang tajam telah melesak dalam jarinya sendiri 421 sehingga Tiauw Hun rubuh pingsan karena bekerjanya racun.
Tiauw Cian kemudian membawa saudaranya pulang menemui gurunya untuk berobat dan disana mempertinggi pula ilmu silatnya untuk kemudian turun gunung berhamba lagi pada Si leng cee.
Sekalian hendak balas sakit hati untuk kerugian yang diderita oleh Tiauw Hun.
Dua orang she Tiauw itu adalah saudara kembar dan terkenal dengan julukannya sebagai "Sepasang Iblis‟ karena kekejaman dan keganasannya terhadap korbannya.
Ketika mereka menghadap Pho Kun peng dengan suara ramah telah berkata.
"Sungguh kebetulan kedatangan kalian berdua, sebab tiga hari lagi adalah pertemuan diantara kita dengan musuh-musuh kita tempo hari ialah Bo yong Kang dan Li Cong Bun. Tiauw Hiocu tentu ingin membalas sakit hatinya untuk kerugian yang diderita tempo hari dari Li Cong Bun bukan?!"
Tiauw Hun anggukkan kepalanya, parasnya berubah bengis, hingga betul-betul merupakan satu iblis jahat jika orang melihat wajahnya saat itu.
"Memang begitu. Pho Lengcu,"
Jawab Tiauw Hun.
"Kerugian yang menjadikan sepuluh jariku patah oleh Li Cong Bun, terang aku akan menuntut balas sampai berhasil. Seperti aku pernah mengatakan, aku belum merasa puas 422 kalau belum melampiaskan dendam hatiku. Selama berada dengan guruku, aku sudah pelajari ilmu yang hebat, ialah yang dinamai "
Jari Dewa‟. Sengaja dengan tergesa-gesa aku datang kesini karena ingat pada tanggal tiga bulan tiga musuhku akan datang kesini."
Pho Kun Peng minta lihat jari-jari Tiauw Hun siapa tidak keberatan dan perlihatkan itu dengan bangga.
Si Kalajengking lihat jari-jarinya Tiauw Hun yang patah oleh getaran otot-otot Li Cong Bun, semua sudah diganti dengan jari-jari palsu yang berwarna kuning kehijau-hijauan.
Dalam jari-jari itu ada diisi racun yang jahat tiada taranya sebab kalau orag kena dicengkram oleh jari-jari itu, kontan jiwanya akan melayang tidak tahan lantaran bekerjanya racun.
Si Kalajengking diam-diam sangat girang.
Pikirnya baik sekali kalau semua jari-jarinya yang terpatah itu diganti dengan jari-jari palsu dan diisi racun.
Sebab ini berguna untuk menjatuhkan musuh.
Menurut keterangannya Tiauw Hun, selain jari-jari itu ada berbisa, juga ada simpan senjata gelap diantara jari-jari itu.
Senjata mana jikalau dilepas akan beterbangan hebat sekali menyerang musuh.
Kalau musuh bukan jago yang benar-benar ulung, jangan harap bisa lolos dari senjata gelap yang lepas dari jari-jari itu.
Jilid 12 DIAM-DIAM si Kalajengking membayangkan kalau Tiauw Hun nanti berhadapan dengan Li Cong Bun, apakah orang she Tiauw itu mampu menjatuhkan si orang she Li yang lihai kemampuannya?
Masih suatu pertanyaan, tapi bagaimanapun juga si Kalajengking sudah merasa puas dengan kedatangannya dua saudara Tiauw itu sebab justru waktu itu pihaknya ada membutuhkan orang-orang berkepandaian tinggi.
Kalau dua iblis kembar itu menang, ya memang itu yang diharap.
Tapi kalau kalah dan binasa ditangannya Li Cong Bun, tentu akan menimbulkan amarahnya Kui Jun Cinjin dari Kong Tong pay yang menjadi gurunya mereka.
Kui Jin Cinjin adalah seorang ganas dan kejam.
Ia tidak tonjolkan dirinya dalam dunia kangouw oleh karena sebelah pahanya lumpuh.
Kalau sampai ada apa-apa terjadi atas dirinya dia punya murid, bukan mustahil orang tua itu akan keluar dari sarangnya dan menuntut balas.
Inilah ada suatu hal yang menguntungkan bagi Si leng cee.
Si Kalajengking Pho Kun Pang tersenyum-senyum kegirangan, akan tetapi Song Sam Ceng 424 diam saja.
Ia tidak mau mengatakan apa-apa sebaliknya sengan Auw yang Ti.
"Ya kedua Hiocu datang dengan membawa kepandaian datang untuk membalas dendam memang ada baik sekali."
Katanya "
Tapi ingat, pertempuran yang akan terjadi adalah pertemuan dari jago-jago yang dalam kalangan rimba persilatan.
Aku harap saja kedua Hiocu dapat berlaku hati-hati dalam menghadapi musuh.
Tindakan yang diambil harus diperhitungkan dulu, jangan sampai merugikan pihak kita.
Bertempurlah dengan hati mantap dan sekuat tenaga supaya dapat mengangkat nama Si leng cee."
Sepasang iblis itu manggut-manggut kepalanya. Kami berdua saudara sudah mengambil keputusan pasti akan membalas dendam."
Jawab Tiauw Cian.
"Untuk mana kami rela mengorbankan jiwa, tapi jangan kuatir pasti kami akan berhasil.
Pho Kun Peng tertawa.
Dengan matanya ia memberi isyarat supaya dua orang itu berlalu dari hadapan mereka.
Song Sam Ceng masih membisu, tapi Auw yang Ti yang tajam matanya, melirik saja sudah mendapat tahu kelakuannya si Kalajengking.
Hari sudah semakin dekat pada tanggal tiga.
Demikian pada keesokan hari pertemuan terjadi, si Kalajengking dibikin girang oleh kedatangan seorang Hweshio yang mencari 425 padanya.
Hweshio itu adalah kepala dari tigabelas hweshio kosen dari Si Hek pay.
Maka ketika ia mendapat laporan tentang kedatangannya hweshio itu, dengan bangga ia menyetakan pikirannya dihadapan Song Sam Ceng dan Auw yang Ti.
"Ini betul-betul ada sangat kebetulan. Yang datang itu ada Li Bu Taysu dari Si Hek pay. Diantara tigabelas hweshio kosen di Si Hek pay, ia adalah yang paling tinggi ilmu silatnya. Dengan aku dia sangat baik. Dia ada mengutus anak muridnya ke Tionggoan. Perlunya untuk mencari pedang warisannya Tay Han Sin ni ialah Pedang Penakluk Iblis yang pernah menjatuhkan dan membinasakan Hoat Goan Taysu dari Si Hek pay. Kepada orang yang memiliki pedang Tay Han Sin ni itu, dianggapnya adalah ahli waris dari musuhnya. Kepada siapa Si Hek pay akan menuntut balas."
"Tapi hal itu ada hubngan apa dengan partai kita?"
Menyela Song Sam Ceng.
"Suheng, dengar dulu aku cerita."
Meneruskan si Kalajengking.
"Aku telah mengetahui bahwa pedang yang dimaksudkan justru ada dimiliki oleh Li Cong Bun, salah satu musuh kita. Maka dengan lantang aku mengabarkan hal itu kepada Li Bu Taysu minta dia datang untuk mengenali pedang pusaka itu ditangan Li Cong Bun dalam pertemuan kita besok.. ha ha ha. Dia sekarang sudah datang. 426 Sungguh merupakan pembantu yang berharga untuk pihak kita. Nah suheng, apa tidak lebih baik kita empar saudara dari Si leng cee bersama-sama dengan Auw yang toako keluar mengambil pedangnya, sebab dia kedudukannya di Si Hek pay ada tinggi."
Song Sam Ceng yang hatinya terus dalam gelisah tidak mempunyai pembantu lagi yang dapat diandalkan, kini mendengar penuturannya sang sute, hatinya menjadi sangat girang.
Wajahnya yang tadi muram kini nampak ramai tersenyum.
"Bagus, bagus, marilah kita keluar menyambut!"
Ia mengajak para saudaranya dan Auw yang Ti.
Dalam perjalanan menyongsong tetamu, Pho Kun Peng ada memberi keteranganbahwa dalam Si Hek pay yang tertinggi kepandaiannya adalah Peng Kui Cio dan Ie.
Yang nomor dua adalah Li yang datang ini.
Semuanya ada berjumlah tiga orang.
Kalau bisa mengundang empat saja diantaranya, Biauw Hoat Sin ni tak usah ditakuti lagi.
Tuan rumah menyambut dengan ramah tamah atas kedatangan tetamunya.
Li Bu Taysu tampak mengenakan jubah kuning.
Hidungnya seperti hidung singa dan mulutnya besar.
Wajahnya keren, matanya tajam berkilat menandakan bahwa kepandaiannya tinggi.
427 Pada perjamuan yang meriah atas kedatangannya tetamu yang berilmu tinggi, juga telah disinggung-singgung tentang kedatangannya Biauw Hoat Sin ni dri Lam hay yang memperkuat pihak lawan.
Mendengar itu Li Bun Taysu tertawa gelak-gelak.
"Lengcu sekalian boleh legakan hati.
karena dengan diketahuinya Pedang Penakluk Iblis yang muncul lagi dalam dunia kangouw maka selainnya aku sekarang sudah sampai disini juga sekalian kawan-kawanku juga sudah dalam perjalanan kemari.
Besok tentu mereka sudah pada sampai maka kita tak usah kuatirkan lagi pada itu nikow tua yang kabarnya ilmu silatnya amat tinggi.
Demikian jago dari Si Hek pay itu menghibur orang-orang Si leng cee.
Song Sam Ceng dan kawan-kawan mendengar bahwa semua hweshio Si Hek dikerahkan datang ke Tionggoan untuk merebut Pedang Penakluk Iblis dan membalas dendam kepada yang memilikinya sebagai wakil dari Tay Han Sin ni menjadi kegirangan dan mengamalkan bahwa pihaknya tentu akan memperoleh kemenangan.
Tiba-tiba Auw yang Ti bangkit dari duduknya, sambil mengangkat cawan araknya ia berkata.
"Aku si orang she Auw yang, sudah lama mendengar nama Taysu yang besar dan lihai, 428 maka menyesal sekali baru sekarang aku dapat berkenalan. Maka itu Taysu terimalah arakku ini sebagai tanda menghormat atas kedatanganmu disini!"
Li Hu Taysu bangkit untuk menyambuti.
Diam-diam ia memperhatikan gerakannya Auw yang Ti.
Sebagai jago yang banyak pengalaman ia lantas tahu bahwa orang she Auw yang itu hendak menjajal ia punya kekuatan tenaga dalam.
Ia sudah siap sedia dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyambuti, tapi tidak urung ia menjadi sangat terkejut ketika menerima cawan arak yang diberikan padanya oleh Auw yang Ti.
Benda yang kecil itu beratnya dirasakan sampai ribuan kati.
Maka dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalam keduanya barulah ia dapat mengimbangi tekanan yang berat itu.
Sambil minum arak yang disuguhkan oleh Auw yang Ti, jago silat Si Hek itu telah mengeluarkan peluhnya dan diam-diam pikirannya tersadar bahwa di Tionggoan ada orang yang tinggi ilmu silatnya.
**** KITA tinggalkan mereka yang sedang berjamu dengan gembira dan balik kepada Bo yong Kang dan Li Cong Bun.
Dengan Touw Peng dan Ko Ching sebagai teman berlatih mereka 429 terus meyakinkan ilmu silatnya sehingga mendapatkan kemajuan baik sekali.
Pada pertengahan bulan kedua, dari Bu Tong Pay ada datang Thauw Pang Tojin bersama sutenya Tauw Jen dengan dua muridnya sehingga sekarang jumlah yang akan ke Cai tiok san menjadi delapan orang.
Pada suatu hari mereka telah berangkat meninggalkan Lo san.
Setelah menempuh perjalanan berhari-hari mereka sudah melewati sungai Kuning dari mana jaraknya ke tempat tujuannya hanya tiga puluh li saja.
Hari itu adalah bulan tiga tanggal satu.
Mereka telah mengambil tempat beristirahat di sebuah penginapan dalam desa kecil dengan maksud pada besok harinya tanggal dua mereka boleh meneruskan perjalanannya dan segera sampai di tempat tujuannya karena sudah tidak jauh lagi dari situ.
Diwaktu sore mereka berkumpul makan.
Sedang enaknya mereka makan malam, tiba-tiba Li Cong Bun berkata.
"Bo yong susiok, aku agak heran dengan makanan ini."
"Bun jie, kau heran kenapa?"
"Susiok, coba perhatikan rasanya hidangan yang kita makan. Rasanya seperti kita sudah pernah makan tetapi lupa dimana kita sudah 430 makan hidangan yang selezat ini, coba susiok perhatikan!"
Bo yong Kang setelah mendengar keponakannya yang berkata demikian, ia juga mendadak menjadi heran dan membetulkan apa yang dikatakan oleh Li Cong Bun.
Ia sedang mengingat-ingat, tiba-tiba Li Cong Bun berkata pula.
"Oh ya, sekarang baru aku ingat. Kita makan hidangan yang lezat ini ketika kita berada di rumahnya Se bun Pa pepe."
"Kau betul Bun jie kita pernah makan hidangan rasanya seperti ini di rumahnya Lam..
eh Se bun toako.
Betul-betul mengherankan jawab Bo yong Kang.
Kawan-kawannya yang lain pada heran.
Sambil tersenyum Bo yong Kang telah menceritakan pengalamannya bahwa Lam Thiam Gie yang dianggap sebagai sahabat karibnya adalah si Iblis Beracun Se bun Pa musuh besarnya.
Kemudian dendaman telah dihapuskan setelah mengetahui Se bun Pa benar-benar bertobat dan mendekati ajalnya.
Diceritakan bagaimana ia diundang makan oleh Lam Thiam Gie alias Se bun Pa dalam rumah batunya di puncak gunung.
Semuanya merasa tertarik dengan penuturannya Bo yong Kang.
431 Sementara itu perut sudaah kenyang, mendadak dirasakan mata sangat mengantuk.
Perlahan-lahan mereka sudah tidak kuat lagi mempertahankan matanya dan pada mendekam di pinggir meja tidur pulas.
Entah berapa lama mereka tidur, tahu-tahu ketika mendusin dapatkan dirinya bukan dipinggirnya meja, akan tetapi sudah berbaring ditempat pembaringannya sendiri dalam kamar.
Kejadianyang mengherankan itu membuat mereka sangat kaget dan ngeri.
Kaget karena hal itu ada mengherankan sekali, ngeri karena mengingat kejadian itu kalau dilakukan oleh musuh, terang mereka waktu itu sudah tinggal namanya saja.
Jiwanya sudah lama melayang diantar oleh tajamnya senjata musuh yang ganas dan kejam.
Li Cong Bun lantas mencari keterangan kepada pengurus Rumah Penginapan tapi dari pengurus rumah penginapan sampai pada pelayan-pelayannya tidak ada yang dapat memberi keterangan yang diinginkan sebab mereka juga seperti dengan Li Cong Bun dan kawan-kawannya telah lupa karena saking kantuknya.
"Sungguh kejadian yang ajaib sekali…."
Menggerendeng Bo yong Kang sambil kerutkan alisnya.
"Hey Bo yong susiok, kemana aku punya pedang?"
Teriak Li Cong Bun kaget ketika 432 memeriksa Pedang Penakluk Iblis tidak ada ditempatnya.
Semua orang pada kaget dan pada memeriksa masing-masing barangnya akan tetapi tidak ada yang lain yang kehilangan kecuali pedang pusakanya Li Cong Bun tadi.
Di tempat pedangnya ditaruh, Li Cong Bun telah mendapatkan sepotong surat.
"aha susiok ini ada surat tentu ketahuan siapa yang ambil pedangku!"
Kata Li Cong Bun sambil membeberkan surat itu dan dibaca.
Bo yong Kang sementara itu sudah menghampiri dan ikut membaca.
Bagaimanapun juga yang lain-lainnya merasa kepingin lihat bunyinya surat yang dibaca oleh Li Cong Bun dan Bo yong Kang.
Akan tetapi mereka tak dapat menimbrung ramai-ramai karena kuatir surat itu adalah surat rahasia yang hanya boleh diketahui oleh Bo yong Kang dan Li Cong Bun saja.
Bunyinya surat adalah sebagai berikut .
Untuk menggempur jago-jago Si leng cee dalam pertemuan tanggal tiga bulan ini kalian perlu menggunakan tenaga penuh.
Aku lihat kalian ada sangat letih, maka sudah menggunakan arak pulasku yang dapat menambah tenaga baru aku bikin kalian tidur mengaso untuk beberapa lamanya.
Semula aku menduga pasti kalian akan menang tak usah dikuatirkan 433 orang-orang Si leng cee itu.
Tapi apa mau dikata, pagi ini aku mendapat kabar yang membuat suasana menjadi berubah.
Kawanan hweshio dari Si Hek akan membantu turun tangan dengan tujuan untuk merampas Pedang Penakluk Iblis.
Menurut dugaanku, pada petang hari ini, mereka tentu sudah sampai di markas Si leng cee.
Kawanan hweshio itu adalah jago-jago kelas satu tentu kalian tak tahan menghadapinya.
Oleh karena keadaan sangat mendesak dan berbahaya, maka aku pinjam sebentar pedangnya Cong Bun untuk mengundurkan mereka sampai beberapa ratus li dari Cui tiok san.
Dengan begitu, kalian dengan tenteram boleh melakukan pembasmian pada kawanan penjahat dari Si leng cee.
Harap kalian hati-hati diperjalanan karena bisa mendapat serangan gelap.
Penting diperhatikan Jari Maut Terbang musuh yang dapat membahayakan jiwa kita.
Selainnya tak usah dikuatirkan…."
Se bun Pa.
Bo yong kang dan Li Cong Bun membaca surat itu sangat terkejut apalagi melihat tanda pengirimbya adalah Se bun Pa yang sudah lama mati.
Kenapa kini dia muncul 434 lagi?
Sungguh hal itu membuat mereka tidak habis pikir.
Saat itu sudah tengah hari.
Tiba-tiba Li Cong Bun tertawa kemudian berkata pada pamannya.
"Bo yong susiok, hidangan yang kita makan itu benar saja disuguhi Se bun pepe. Yang membikin aku tidak mengerti. Bukankan Sebu pepe sudah meninggal dunia? Tetapi kenapa dia mendadak muncul lagi?"
Bo yong Kang tidak menjawab, otaknya sedang bekerja untuk memecahkan halnya Sebun Pa yang sudah bisa hidup lagi.
Ia perhatikan tulisannya.
Benar itu adalah tulisannya Se bun Pa yang ia kenali betul dan rupanya surat itu tadi pagi ditulisnya.
Setelah berpikir dan saban-saban ia kerutkan alisnya, akhitnya berkelabat dalam otaknya suatu pikiran yang dikiranya masuk akal.
"Bun jie, aku tahu sekarang kenapa Se bun toako bisa hidup lagi."
Katanya.
"Sebabnya?"
Tanya Li Cong Bun heran. Kawan-kawannya yang lain juga tampak tidak sabaran untuk mendengar penuturannya Bo yong Kang yang kini sudah mendapat pemecahan halnya Se bun pa hidup lagi.
"Kau masih ingat ketika aku bawa kau ke Liang san untuk minta kau diambil sebagai muridnya supek?"
Tanya Bo yong Kang.
"Ya, aku masih ingat betul."
"Nah, waktu itu supek bukan menolak, karena kau katanya bukan jodohnya menjadi murid supek. Tetapi karena mengingat kedatangan kita cuma cuma saja maka supek telah memberikan kau hadiah sebutir pil yang dinamai Bia Miauw Leng tan. Supek telah memesan pil itu hanya sekali saja bisa menolong jiwamu, makanya kau hati-hati menggunakannya kalau tidak kelewat perlu. Orang itu sangat manjur untuk menolong orang yang kena racun. Bagaimana hebatnya jiga asal si korban masih bernapas tentu bisa sembuh olehnya…"
"Ah,"
Li Cong Bun tiba-tiba memotong sambil keprak meja.
"Kini aku mengerti sudah. Se bun Pa pee dapat hidup kembali tentu karena pil mustajab itu."
"Ya memang begitu rupanya."
Kata Bo yong Kang lagi.
"Aku itu dalam gugup hendak menolong jiwanya, kau sudah tidak sayang untuk memasukkan pil mujijat itu ke dalam mulutnya. Saat itu memang benar ia sangat lelah dan akan mati. Kita tidak bisa saksikan lebih lama. Siapa tahu rupanya obat mustajab itu belum bekerja benar-benat dalam perutnya. Ketambahan racun yang diminum oleh Se bun toakoada sangat ganas. Setelah 436 bekerja betul, obat mustajab itu rupanya sudah memunahkan segala pengatuh racun dalam dirinya, maka ia sudah sembuh dan hidup kembali. Untung waktu itu kita hanya memasukkan dia kedalam peti mati. Coba kalau kita terus tanam dengan petinya, tentu runyam. Dia bisa hidup tapi akan mati kembali karena pengap dalam kuburan."
Li Cong Bun angguk-anggukkan kepalanya dengan air muka girang.
Anak muda itu meras girang karena munculnya Se bun Pa terang ada merupakan pembantu yang istimewa dalam maksudnya untuk membasmi Si leng cee.
Meski dulunya ia sangat benci dan gemas kepada si Iblis Beracun itu.
Sekarang ternyata setelah ia menghapuskan segala dendamannya, sangat mengagumi sepak terjangnya Se bun Pa yang sangat lihai yang tidak dapat dilawan oleh musuh-musuhnya yang manapun juga.
Sementara Tauw Peng Tojin dan Ko Ching serta lain-lainnya juga terus girang dengan adanya Se bun Pa lagi membantu dipihaknya sementaranya mereka terbangun.
Setelah dapat tidur begitu lama, mereka telah benar-benar mendapatkan semangat baru.
Diam-diam mereka menghargai tindakannya Se bun Pa yang telah menolong mereka dengan diam-diam.
Sebab merekapun insyaf kalau menggempur musuh dalam keadaan letih, terang akan jelek kesudahannya.
437 Setelah mengetahui semua semangatnya sudah segar, maka Bo yong Kang berkata.
"Nah saudara-saudara sekalian, sekarang kita dusah cukup mengaso, mari kita meneruskan perjalanan kita."
Ko Ching dan lain-lainnya merasa setuju, maka mereka seketika itu juga telah meninggalkan desa kecil itu untuk pergi ke Si leng cee. Di perjalanan Bo yong Kang berkata pada keponakannya.
"Bun jie, karena pedang pusaka dipinjam oleh Se bun pepe maka kau boleh gunakan Bwe hoa kiam milik ayahmu saja.
Li Cong Bun anggukkan kepalanya.
Dalam perjalanan itu mereka bercakap-cakap lagi tentang peristiwa yang mereka alami.
Mereka sangat memuji atas kelakuan Se bun Pa yang tadinya begitu telengas dan kejam sekarang sudah berubah menjadi orang baik-baik.
Dengan pertolongannya seorang iblis semacam Se bun Pa berarti satu keuntungan bagi golongan orang-orang yang memusuhi kejahatan.
Perjalanan mereka kira-kira sudah dua puluh li, tiba-tiba Li Cong Bun dengan suara nyaring berkata pada pamannya.
"Bo yong susiok, dalam surat Se bun pepe dikatakan kita harus berhati-hati karena dalam perjalanan kita bakal menemui 438 rintangan, tapi sampai kini kelihatannya tidak ada gerakan apa-apa dari pihak musuh!"
"Ya kita baru melakukan setengah perjalanan,"
Jawab Bo yong Kang.
"Masih belum tahu dengan perjalanan selanjutnya.
Kau lihat saja disekitar tempat ini rapat dengan pepohonan, siapa tahu kalau ada orang yang bersembunyi dan hendak mencelakakan kita.
Maka itu kita harus waspada.
Mereka itu ada licin dan licik, kita harus perhati-hati sekali untuk mengelakkan kejahatannya.
Baru saja Bo yong Kang menutup rapat mulutnya, tiba-tiba dari suatu puncak ada kelihatan meluncur dua bayangan manusia.
"Hei awas, mereka ada dua, Iblis Kembar yang ganas!"
Seru dua murid Bu tong hampir berbareng.
"Sepasang cakarnya ada beracun yang sukar dipunahkan!"
Mendengar itu Touw Pang Tojin tertawa bergelak-gelak.
"Kau jangan kuatir."
Katanya.
"Aku kenal kepada mereka adalah Tiauw Cian dan Tiauw Hun dan iblis kembar yang ganas Tiauw Hun tempo hari sudah dipecundangi oleh Li Siauhiap sampai pingsan karena kuku-kukunya yang beracun meledak memakan dagingnya sendiri. Kemudian mereka ke gunung mencari gurunya untuk belajar lagi. Kini rupanya mereka datang untuk menuntut balas bagaimana juga mana mereka bisa menang terhadap Li Siauhiap yang kepandaiannya sangat tinggi!" 439 Perkataan Thouw Pang Tojin begitu habis, dua iblis itu sudah menghadang di depan mereka. Li Cong Bun mengawasi dua orang itu yang bertubuh tinggi kurus, dua-duanya bermuka kuda dan berhidung bengkok, matanya sipit. Yang stu mengenakan baju putih dan yang lainnya baju hitam. Ia kenal mereka adalah dua iblis yang tempo hari sudah pernah berhadapan dengannya.
"Bun jie,"
Berbisik Bo yong Kang. .Mereka ada licik dan jahat, kau jangan lengah menempur mereka. Ingat sama Se bun Pa dalam suratnya tentang jari maut terbang!"
Li Cong Bun anggukkan kepalanya.
Diam-diam dia mengagumi kelakuannya Se bun Pa yang siang-siang sudah mengetahui kekuatan lawan dan senjatanya musuh.
Ia menghadapi dua musuh itu dengan sama-sama membisu dan matanya saja masing-masing saling melotot.
Dua iblis kembar itu berdiri sejajar satu tombak dari Li Cong Bun.
Mereka sangat mendongkol dan meluap amarahnya ketika nampak Li Cong Bun meniru-niru aksinya.
Keduanya hampir bareng berkata.
"Hmm…! Kau jangan berlagak gila. Sekarang kami pasti akan membalas dendam untuk kerugian yang lampau. Nah sekarang hunuslah pedangmu. Coba rasakan dua iblis dari Bun yang punya Sepasang Tali Pencabut Roh!" 440 Berbareng mereka telah mengeluarkan senjatanya dari balik bajunya yaitu tali sepanjang empat kaki melingkar-lingkar berwatna merah. Li Cong Bun tertawa gelak-gelak.
"Ha ha ha ha.."
Katanya tenang.
"Kalian harus tahu bahwa pedang ini adalah warisan dari mendiang ayahku. Selainnya untuk memenggal kepalanya Ho Ceng Bu untuk membalas dendam orang tuaku, ia tidak gampang digunakan untuk lain keperluan. Apalagi untuk memenggal kepala kalian bibit penyakit dan berdarah kotor. Baiklah untuk melayani talimu Pencabut Roh, aku gunakan ini saja…"
Li Cong Bun berbareng memetik cabang pohon.
Ia kemudian acungkan itu di depak dua orang lawannya dengan wajah dingin dan sangat menghina.
Dua Iblis Kembar itu sudah tak sabar lagi, lalu majukan senjata talinya menerjang pada Li Cong Bun.
Indah kelihatan mereka memainkan talinya.
Yang satu menyerang diatas dan satunya lagi menyerang bagian tengah.
Senjata tambang itu meski lemas tampaknya tapi bisa lurus keras karena dibarengi tenaga dalam kedua iblis kembar itu yang mahir.
441 Li Cong Bun menggunakan cabang pohon sebagai pedang untuk melayaninya.
Beberapa kali iblis itu bahunya kena disentuh cabang pohon sebagai pedang untuk melayaninya.
Beberapa kali iblis itu bahunya kena disentuh cabang pohon ditangan Li Cong Bun akan tetapi mereka bertenaga kuat dan tak sampai rubuh.
Meskipun demikian, mereka sadar bahwa musuhnya ada sangat lihai dan mereka harus bergebrak dengan penuh waspada.
Li Cong Bun pikir, jikalau pertandingan seperti itu berlarut-larut akan meminta waktu.
Pertandingan penting bukannya sekarang tetapi nanti di markas Si leng cee.
Maka lebih baik pertempuran itu diakhiri selekasnya.
Memikir kesitu Li Cong Bun sekali bersiul panjang lalu merubah gaya serangannya dengan ilmunya yang ampuh.
"Pedang Pengejar Sukma‟.
Cabang pohon itu ditangannya dimainkan dengan sangat lincah seakan-akan pedang tulen.
Mengeluarkan angin yang santer sekali.
Dua musuhnya merasakan seperti juga mereka dikurung musuh dari penjuru angin.
Dimana matanya dipentang, disitu nampak wajahnya Li Cong Bun yang berseri-seri.
Sungguh hebat ilmu pedangnya anak muda itu sebab sebentar saja lantas tampak babak yang menentukan.
442 Li Cong Bun mengirim serangan pura-pura kepada Tiauw Hun, ditengah jalan serangan itu membelok dan menyerang bahu Thiauw Cian.
Sementara tangannya dan senjata talinya telah terlepas dai pegangannya.
Tiauw Hun melihat engkonya menjadi pecundang darahnya mendidih.
Tambangnya lalu dilemparkan dan tubuhnya berbareng melesat tinggi.
Dari mana ia menukik dan menyerang Li Cong Bun dengan cakarnya yang beracun.
"Orang she Li, kau boleh sambut seranganku ini…!"
Bentaknya.
Li Cong Bun setelah melihat gerak-gerik dari dua saudara itu sangat percaya akan nasehatnya Se bun Pa.
musuh dapat menerbangkan jari mautnya.
Ia terus mengawasi pada jari-jarinya Tiauw Hun yang sebelumnya ia tak tahu kalau dalam jari-jari itu ada disimpan racun hebat.
Li Cong Bun terus menggunakan kelincahannya berkelit menghindari serangan senjata gelap.
Sampai kapan berakhirnya pertandingan itu?
Apa tidak lebih baik ia binasakan saja musuhnya sebelum ia mengeluarkan senjata gelap?
Setelah mengambil keputusan, ia telah mengerahkan tenaga saktinya dikumpulkan di tangan.
Sekali memutarkan badannya telapakan tangannya bekerja menyambuti serangan cakar beracun dari Tiauw Hun.
Kalau saja cakar bercunnya Tiauw Hun dapat menyentuh telapakan tangannya Li Cong Bun, meskipun 443 Tiauw Hun kontan binasa karena tenaga sakti Li Cong Bun, tapi anak muda itu tidak urung menemui ajalnya disebabkan jari-jarinya si iblis yang sangat berbisa.
Untung sebelum telapak tangan Li Cong Bun bersentuhan, satu bayangan hitam membentur cakarnya Tiauw Hun hingga serangannya nyeleweng dan serangannya Li Cong Bun sebaliknya telah menemukan sasarannya sangat telak sampai tubuh Tiauw Hun terpental tujuh delapan tombak.
Saat itu isi perutnya berantakan, mulutnya mengeluarkan darah segar.
Setelah berkelonjatan, sebentar kemudian ia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Thiaw Cian yang melihat saudaranya binasa, matanya celingukan henddak melarikan diri.
Ia tidak berani menghadapi musuhnya yang tangguh itu sendirian.
Siapa tahu Bo yong Kang tidak mau melepaskan dirinya siapa telah lompat mengejar dan mengirim totokan yang jitu hingga si Iblis kena tertangkap hidup-hidup.
Sementara itu Li Cong Bun mencari bayangan orang tadi, tapi sudah tidak kelihatan lagi.
Ia hanya menemukan benda yang membentur cakar Tiauw Hun tadi.
Bersama Bo yong Kang ia meneliti barang itu.
Ternyata benda itu adalah satu lengan manusia yang sudah kering.
Mereka ingat itu adalah lengan Se Bun Ceng.
444 Bo yong Kang menghela napas.
"A, se bun toako kau… kau pelindung dari kami berdu..aa.."
Ia menggerutu sendirian tidak lampias.
Li Cong Bun dilain pihak sangat memuji pada Se bun Pa yang cerdik dan sungguh-sungguh kelihatan melindungi pada mereka berdua, sebab coba kalau tidak ada Se bun Pa tadi yang turun tangan, ia akan binasa bersama si Iblis.
Ia mengagumi si Iblis Bercun yang mulanya adalah menjadi musuh besarnya.
"Bo yong susiok,"
Akhirnya ia berkata pada pamannya.
"Kembali kali ini kita ditolong oleh Se bun pepe. Sungguh dia ada seorang yang baik sekali. Nah kini Ciauw Tian yang susiok sudah kena tangkap, baik kita masukkan saja ke dalam karung dan dibawa ke markas Si leng cee. Didalam satu pernamuan nanti kita perlihatkan pada mereka, bahwa mereka tidak memegang janji dan telah memasang rintangan dalam perjalanan kita menuju ke sarangnya."
Bo yong Kang dan kawan-kawannya yang lain merasa setuju dengan usulnya Li Cong Bun sebab perbuatan itu sedikit banyak akan melumpuhkan semangat sombong dari kawanan penjahat iru.
Ko Ching turun tangan.
Ia memasukkan Tiauw Cian kedalam karung dan dipanggul 445 kemudian meneruskan perjalanan mereka ke gunung Cui tiok san.
Ketika mereka tinggal sepuluh li lagi sampai di pintu gerbang markas Si leng cee telah disambut oleh para petugas yang sudah dilatih sempurna oleh Auw yang Ti.
Mereka kelihatan sangat hormat menyambut para tamunya.
Di pintu masuk ke markas mereka disambut oleh Auw yang Ti sendiri dengan air muka berseri.
Tampak ia menyatakan rasa girangnya.
Setelah Bo yong Kang memperkenalkan kawan-kawannya.
Auw yang Ti bertanya.
"Bo yong Tayhiap, betul-betul kau menepati janji. Aku mendapat tugas untuk menyambut tetamu. Mari ikut aku ke ruangan tamu dimana kalian dapat beristirahat. Besok pagi baru kita bicara hal pertandingan."
Bo yong Kang dan kawan-kawan mengikuti di belakang Auw yang Ti.
Diam-diam Bo yong Kang merasa sayang bahwa orang seperti Auw yang Ti yang cerdik dan tinggi ilmu silatnya mengada sampai kena kelibat dan menjadi pembantunya kawanan penjahat.
Pikirannya besok pagi, ia sendiri yang akan melayani Auw yang Ti bertempur.
Ia akan membujuk orang she Auw yang itu kembali ke jalan putih (kebenaran).
446 Demikian pada keesokan harinya Auw yang Ti sendiri yang mengundang mereka untuk hadir dalam perjamuan makan minum dalam ruangan yang besar.
Setelah semua berkumpul, Li Bu Tian kepala dari tigabelas hweshio Si Hek matanya terus terusan mengawasi pedangnya Li Cong Bun.
Pada saat itu dari luar orang memberikan laporan bahwa si Naga Bersayap Hwe Siok Tang bersama puterinya sudah datang.
Song Sam Ceng saat itu berpikir setelah perjamuan habis sebentar akan dilakukan pertempuran mati hidup.
Ia hanya keder terhadap Biauw Hoat Sin ni.
Bo yong Kang, Li Cong Bun dan lainnya ia tidak pandang mata sama sekali.
Tidak lama Hwe Siok Tang dengan puterinya berjalan masuk.
Pertemuan Hwe Siok Tang dengan Bo yong Kang dan kawan-kawan benar-benar menggirangkan.
Li Cong Bun melihat Hwe Giok Soan kelakuannya seperti dulu saja polos dan tidak malu-malu hingga ia bisa mengobrol dengan enteng bersama si gadis menceritakan pengalamannya masing-masing sejak berpisahan.
Song Sam Ceng meras heran Biauw Hoat Sin ni, Gan Su Nio dan si Naga Sakti Hwe Pek In belum kelihatan muncul.
Pikirannya lebih baik pertandingan dimulai sekarang sebab 447 suasana ada menguntungkan pihaknya.
Kalau nanti mereka sudah datang ada sedikit runyam untuk membereskannya.
Setelah mengambil putusan, ia berdiri sambil mengangkat cawan araknya ia berkata kepada pihak Bo yong Kang.
"Saudara-saurada, aku mengucapkan selamat datang kepada kalian. Seperti diketahui, berkumpulnya saudara-saudara sekalian hari ini adalah berpokok pada soal dendaman Li Siauhiap dan Ho Ceng Bu. Semua sudah mengetahui duduknya urusan maka kini tidak perlu dibeberkan lagi. Sebaiknya pertandingan kita ditetapkan tujuh kali bertanding dan suatu syarat ialah kalau pihak kami kalah kami akan membubarkan Si leng cee. Sebalinknya kalau menang, kalian harus akui kemenangan Thian Lam Pay atas Siauw Lim dan Bu Tong. Semuanya harus tunduk kepada Si leng cee yang akan melebarkan sayapnya besar-besaran mungkin akan membuka ratusan cabang di berbagai tempat. Si leng cee akan merupakan induknya dari rimba persilatan."
Si Naga Bersayap Hwe Siok Tang lalu bangkit dari duduknya dan menjawab.
"Ya, Lengcu punya maksud untuk melebur semua partai memang sangat gagah kedengarannya, Cuma saja bagaimana dengan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan oleh anak buah Si leng cee yang memalukan?
448 Mereka telah menumpuk dosa, selalu mengingkari segala peraturan rimba persilatan.
Kesemuanya itu sudah diketahui oleh umum.
Sam Song Ceng berubah mukanya, ia kerutkan alis.
"Kalau ada anak buahku yang tak pantas perbuatannya, saudara boleh beritahukan padaku agar aku dapat tahu jelas!"
Jawabnya.
"Hmm!"
Menggeram Hwe Siok Tang.
Sekarang aku mau ajukan bukti di depan mata.
Li Hoay Bin ayahnya Li Siauwhiap.
Dalam hidupnya ada sangat baik dan dihormati oleh siapapun juga dalam kalangan kangouw.
Ia tak pernah berbuat jahat, tapi pada saat ia berulang tahun yang ke lima puluh dimana ia bersumpah dan mematahkan pedangnya untuk tidak campur pula dalam urusan kangouw, mendadak ketika itu datang Ho Lengcu dari tangsi Naga yang kala itu masih menjadi Hiocu dan dikenal dengan si Telapak Tangan Sakti Ho Ceng Bu membawa anak buahnya membuat onar orang punya rumah sehingga istri Li Hoay Bin yang tidak berdaya saat itu sedang sakit telah dibunuh secara kejam.
Hal ini coba Song Lengcu pikir apakah tidak melanggar hukum alam dan melanggar prikemanusiaan?"
Ho Ceng Bu yang dibuka rahasianya didepan orang banyak, bukan main tidak enak hatinya dan merasa gusar.
449 Sementara itu si Kalajengking Pho Kun Peng hatinya berdebaran.
Ia kuatir rahasia dirinya dengan Gan Su Nio juga dibongkar oleh Hwe Siok Tang lalu seketika itu dengan mata melotot dan beringas ia membentak.
"Hei anjing tua, kau jangan banyak bacot tidak karuan…"
"Pho Lengcu,.."
Memotong Hwe Siok Tang dengan tenang.
"Matamu melotot-lotot seperti bangsat tak usah kau unjuk disini.
Sebentar di panggung luitay kita boleh bereskan.
Cuma aku mau menanya sekarang, bagaimana Lengcu dari Hong dan Naga?
Song Sam Ceng bingung, tidak menyangka Hwe Siok Tang akan bertanya demikian.
Justru pada saat itu ada orang melapor tentang kedatangan Gan Su Nio bekas Lengcu dari tangsi Hong.
Dengan dandanan seperti bias serba putih, tampak Gan Su Nio masuk dalam ruangan dengan sikap tabah tenang.
Song Sam Ceng hatinya berdebaran.
Dikiranya Gan Su Nio datang bersama gurunya.
Tetapi ketika mendapat keterangan dari orangnya bahwa si nona hanya datang sendirian hatinya mulai lega dan berani lagi untuk menghadapi lawan-lawannya.
Gan Su Nio ambil tempat duduk ketika dipersilakan oleh Auw yang Ti yang telah melakukan penyambutan yang ramah seperti terhadap Bo yong Kang dan kawan-kawan.
450 Kepada Song Sam Ceng tidak lupa Gan Su Nio memberi hormat, tetapi kepada si Kalajengking sikapnya lain sekali.
Matanya melotot menatap dengan penuh penasaran sekalipun si Kalajengking unjuk roman ramah tamah.
Hwe Siok Tang tiba-tiba mengulangi pertanyaannya tadi.
"Bagaimana Song Lengcu?"
Katanya. Song Sam Ceng belum menjawab, Pho Kun Peng telah mendahului.
"Hwe Siok Tang, kalau kau mau tahu Gan Su Nio dan Hwe Pek It telah menghianati partai makanya mereka telah meninggalkan tangsinya masing-masing.
"Oh Pho Kun Peng!"
Nyeletuk Gan Su Nio. Kau disini mau putar balik duduknya perkara. Seorang tidak tahu malu! Hari ini aku akan adu jiwa dengan kau!"
Pho Kun Peng tidak memjawab, ia hanya menyeringai ketawa.
Sementara itu hatinya nona Gan tidak tahan buat tidak melirik pada Bo yong Kang yang sudah delapan tahun lamanya tidak bertemu.
Dua pasang mata bertemu meskipun tidak mengatakan apa-apa tapi cukup bagi kedua pihak dimengerti berapa dalam kecintaan masing-masing.
Si nona tersenyum manis 451 menggiurkan sehingga Bo yong Kang yang melihatnya diam-diam merasa hatinya berdebat.
Nona yang diidam-idamkan sekarang telah berada didepan matanya.
Sayang banyak tetamu disitu.
Kalau tidak, tentu ia sudah menghampiri untuk menanyakan ini dan itu sejak mereka berpisahan.
Gan Su Nio melihat Bo yong Kang tidak lebih tua dari delapan tahun yang lalu, malah ada lebih tampan dan menarik hati.
dalam hatinya diam-diam berkata, sungguh beruntung kalau diriku mendapatkan pasangan pemuda seperti Bo yong Kang ini.
Seperti tertarik oleh tenaga gaib, diam-diam Gan Su Nio bangkit dari duduknya dan menghampiri Li Cong Bun.
Anak muda itu tahu bahwa si nona sebenarnya bukan bermaksud menghampiri padanya, tapi kepada pamannya, Cuma saja jalan yang ditempuh itu hanya untuk mengelabui mata orang saja.
Setelah dekat, Li Cong Bun dengan jenaka berkata.
"Oh enci, sudah sekian tahun lamanya tidak jumpa, bagaimana Kouw-kouw (bibi) ada baik-baik saja? kami berdua selamanya mengenangkan Kouw-kouw."
Gan Su Nio melihat dekarang Li Cong Bun sudah dewasa.
Berwajah tampan dan gagah.
452 Sejenak ia mengenangkan pada peristiwa yang lampau, dimana seorang anak kecil nangkring di punggung kuda menyaksikan ia menjajal kepandaiannya Bo yong Kang.
Anak kecil itu kini sudah dewasa, berwajah tampan dan gagah.
Dilihat dari gerakannya dan matanya yang tajam menusuk terang Cong Bun sekarang telah menjadi orang yang berkepandaian silat tinggi.
Sambil melemparkan senyuman dan melihat pad Bo yong Kang nona Gan berkata.
"Ya sejak tempo hari kita berpisah di pegunungan Li liang san sampai sekarang sudah delapan tahun lebih. Aku juga sangat mengenangkan pad kalian berdua. Sekarang kau sudah dewasa, menjadi seorang pemuda gagah, tapi sebaliknya kouw-kouw sudah tua bukan?"
Nona Gan berkata sambil tersenyum dan membereskan rambut kepalanya yang agak kusut, kemudian duduk disebelahnya Li Cong Bun.
Bo yong Kang melirikpun belum bercakap-cakap dengan si nona tapi dari kedipan mata dan saling melempar senyuman sudah lebih dari cukup masing-masing menyatakan rasa kangennya yang sudah lama tidak berjumpa.
Kelakuan dua orang itu tidak lepas dari perhatian Pho Kun Peng.
Rasa cemburunya seketika itu timbul meluap-luap, mukanya merah padam menahan amarah.
453 Si Rase genit Pao Sam Jun melihat kecintaannya seperti yang menaruh cemburu besar dan marah kepada Gan Su Nio dan Bo yong Kang telah memperdengarkan suara ketawanya yang genit tapi dingin hingga Pho Kun Peng tersadar dari pikirannya yang gelo.
Setelah melirik pada si Rase Genit lalu ia berkata.
"Ya semuanya tidak mau disalahkan. Semuanya mau membenarkan dirinya sendiri, sekarang lebih baik putuskan dengan kekuatan. Sebentar di luitay kita mengadu kepandaian siapa yang kalah dialah yang salah."
Semua orang sudah menjadi panas oleh perkataannya si Kalajengking yang jahat. Mereka semua sudah pada bangkit mau menuju ke tempat panggung luitay tapi tiba-tiba Ko Ching berteriak.
"Hei saudara-saudara, nanti dulu masih ada satu urusn belum dibereskan.
Bo yong Kang dan kawn-kawan berpaling sambil melihat Ko Ching sedang mengangkat karung dan ditaruh diatas meja perjamuan.
Semua orang yang tidak tahu isinya karung menjadi heran.
"Song Lengcu,"
Ko Ching berkata pada Song Sam Ceng.
"Ini adalah hadiah untuk kehormatan markasmu yang berbuat baik dan adil. Sukalah Lengcu menerimanya…!"
"Ah saudara Ko, kau sangat baik mana dapat aku menerima hadiahmu."
Jawab Song Sam Ceng merendah, kemudian ia memberi isyarat pada Ho Ceng Bu untuk membukanya.
Ketika karung itu dikeluarkan isinya ternyata Siauw Cian yang sedang pingsan.
Song Sam Ceng kerutkan alisnya.
Ia pikir, sekarang telah tertangkap perbuatan anak buahnya yang tidak baik, maka untuk mengunjuk bukti bahwa Si leng cee sekarang telah memegang aturan keras, ia harus ambil tindakan kejam.
"Ji-te,"
Ia berkata pa Ho Ceng Bu.
"Anak buah kita berbuat yang tidak baik pada tetamu kita, buat apa dikasi hidup?
Ho ya, lekas habisi jiwanya.
Ho ceng bu yang kejam tidak menanti perintah dua kali, lantas mengangkat tangannya dibarengi oleh kekuatan tenaga dalamnya.
Ia memukul Tiauw Cian yang tengah pingsan hingga seketika itu juga roh nya menyusul adiknya ke alam baka.
Setelah itu Song Sam Ceng yang takut pihaknya Bo yong kang akan menimbulkan lain soal pula yang memusingkan dan membuat nama jelek Si leng cee, maka cepat-cepat ia berkata.
"Terima kasih atas bantuan saudara-saudara sudah tolong tangkapkan anak buah kami yang jahat.
Nah sekarang marilah aku 455 membuka jalan untuk pergi ke panggung luitay.
Bo yong Kang dan kawan-kawannya telah mengetahui bahwa ia sudah kehabisan akal untuk mengelakkan kejahatannya, maka lantas mau cepat-cepat bertempur saja.
Semuanya pada tertawa gelak-gelak menyaksikan kelakuannya si Garuda Hitam Song Sam Ceng.
Bo yong Kang, Gan Su Nio dan Li Cong Bun berjalan bertigaan dibelakang mereka yang hendak pergi kke panggung luitay.
Sengaja Li Cong Bun berjalah didepan dua kekasih itu untuk memberi kesempatan pamannya berbicara dengan nona Gan.
Mereka berbicara dengan gembira sekali, dalam tempo singkat masing-masing menumpahkan rasa kangennya yang sudah sekian tahun tidak berjumpa muka.
Sekitar panggung luitay itu sudah diatur pembagian tempat-tempat duduk mereka.
Pihak tuan rumah dan pihaknya Bo yong Kang.
Ternyata di pihaknya Bo yong kang sudah datang delapan orang.
Ternyata masih ada tiga lagi yang ditunggu ialah Hwe Pek It dan anaknya dengan Biauw Hoat Sin ni menjadi semuanya berjumlah sebelas orang.
Song Sam Ceng diam-diam memperhatikan puhaknya Bo yong Kang.
Ia hitung-hitung ada empat lima orang yang lihai, maka kalau pihaknya tamu majukan salah satu diantaranya, perlu juga dipihaknya 456 mengajukan jago yang lihai.
Jangan sampai kalah, hingga mengecilkan semangat pihaknya.
Ia melirik pada Auw yang Ti itu kelihatan berlagak pilon.
Ia seolah-olah tidak mau memberi nasehat apa-apa terus membiau malah mukanya juga berpaling kelain tempat.
Li Cong Bun yang melihat Song Sam Ceng ragu-ragu lantas berdiri dan berkata.
"Nah sekarang kita sudah sampai disini, tidak perlu banyak menunggu.
Kalau jago-jago pilihan lain dari pihak Si leng cee masih belum mau turun tangan, biarlah aku yang mulai berhadapan dengan Ho Ceng Bu untuk membereskan perhitungan lama.
Ho Ceng Bu sudah hendak bangkit, tetapi mendadak muncul didepannya Li Bu Taysu dari Si Hek yang berkata.
"Ho sicu, ijinkanlah aku yang menghadapi Li sicu, sebab dari jauh-jauh aku datang kesini maksudnya adalah hendak menghadapi Li sicu."
Setelah mempersilakan Ho Ceng Bu duduk lagi Li Bu Taysu lantas enjot tubuhnya melesat ke panggung luitay.
Li Cong Bun mengerti sebab apa hweshio itu hendak menempur padanya.
Ialah disebabkan Pedang Penakluk Iblis miliknya Tay Han Sin ni.
Pada saat ia hendak melesat menyusul Li Bu Taysu, tiba-tiba seorang yang duduk disampingnya telah mencegah.
Ketika 457 diawasi ternyata ada susioknya Touw Peng, si Pendekar Pedang Thian liong ialah To Hui Siansu seorang hweshio yang terkenal kuat dalam Siauw Lim si.
Dengan suara ramah tamah ia berkata.
"O mi to hud! Li Siauwhiap adalah orang penting dari pihak kita. Tak perlu cepat-cepat bertanding, biarlah kasi aku yang menghadapi orang itu!"
Setelah berkata, dengan perlahan To Hui Siansu jalan menghampiri panggung luitay.
Li Cong Bun terpaksa urungkan niatnya, tapi diam-diam ia merasa girang sebab To Hui Siansu adalah seorang jago yang boleh diandalkan.
Gan Su Nio dan Bo yong Kang meskipun sangat mesra dan seakan-akan tak ingin berpisah lagi, tapi merasa likat juga didepannya orang banyak.
Dengan Hwe Giok Soan, nona Gan cepat sekali mengikat tali persahabatan, apalagi nona Hwe selainnya ilmu silatnya tinggi juga kelihatannya ada menyukai sekali kepada Li Cong Bun.
Nona Gan merasa girang, diam-diam memuji pilihannya Hwe Giok Soan yang jitu.
Melihat dua hweshio sudah berada diatas luitay, Gan Su Nio menanya pada Li Cong Bun.
"To Hui Siansu adalah membela kau naik luitay tapi Li Bu Taysu dari Si Hek pay, 458 yang sudah lama orang-orang dari partai itu tidak menginjak Tionggoan. Bolehnya mau naik panggung untuk berhantam dengan kau, apakah ada mempunyai permusuhan dengan dia?"
Seraya ambil tempat duduk disebelahnya, Li Cong Bun menjawab.
"Oa, Gan Kouw-kouw tentu belum tahu duduknya urusan. Aku di gunung Pek Thian san telah menemukan Pedang Penakluk Iblis yang dulu menjadi miliknya Tan Han Sin ni dan yang dipakai memenggal kepalanya Hoat Goan Taysu dari Si Hek pay yang kemudian mendendam sakit hati pada Tay Han Sin ni. Siapa yang membaea Pedang Penakluk Iblis dianggapnya adalah ahli waris dari Tay Han Sin ni dan dipandang sebagai musuhnya mereka yang harus mereka binasakan untuk mencuci malu atas kebinasaannya Hoat Goan Taysu. Sekarang kabarnya sudah masuk "
Tiga hweshio kosen‟ dari Si Hek pay. Perlunya untuk mencari tahu siapa ahli warisnya Tay Han Sin ni dan yang memiliki pedangnya."
Selanjutnya Li Cong Bun juga telah memberitahukan tentang Se bun Pa meminjam pedang ditengah perjalanan ke markas Si leng cee.
Gan Su Nio angguk-anggukkan kepalanya mendengar keterangan itu.
Guruku Biauw Hoat Sin ni dengan Tay Han Sin ni sebetulnya adalah adik dan enci dalam satu perguruan.
Entah kenapa dua orang 459 bersaudara itu tabiatnya aneh-aneh.
Baca Juga: Pohon Kramat 5
Baca Juga: Pendekar Setia 4