Hadiah Membawa Bencana 1

Eps 1 Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Baca online Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung

Cersil Hadiah Membawa Bencana - Khu Lung.

Sumber. Buku Koleksi Awie Dermawan

https.//www.facebook.com groups/Kolektorebook/ HADIAH MEMBAWA BENCANA Karya . Khu Lung Sumber. Buku Koleksi Awie Dermawan

https.//www.facebook.com/groups/Kolektorebook/

Jilid 01 -22 Penerbit . U. P. M E L A T I J A K A R T A DISCLAIMER

Kolektor E-Book

adalah sebuah wadah nirlaba bagi para pecinta Ebook untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Ebook ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk melestarikan buku-buku yang sudah sulit didapatkan di pasaran dari kepunahan, dengan cara mengalih mediakan dalam bentuk digital.

Proses pemilihan buku yang dijadikan objek alih media diklasifikasikan berdasarkan kriteria kelangkaan, usia, maupun kondisi fisik.

Sumber pustaka dan ketersediaan buku diperoleh dari kontribusi para donatur dalam bentuk image/citra objek buku yang bersangkutan, yang selanjutnya dikonversikan kedalam bentuk teks dan dikompilasi dalam format digital sesuai kebutuhan.

Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.

Salam pustaka!

Team Kolektor Ebook 3 HADIAH MEMBAWA BENCANA

Jilid 1 Rimba Pohon Tho.

Sepanjang sepuluh li rimba pohon tho itu nampaknya tak berbatas dan tak berakhir.

Berbaris di sepanjang tanah tanah luas itu bunga-bunga tho yang warnanya merah dari jauh nampaknya seperti bergelombang kemerah-merahan.

Kalau musim semi telah nberakhir diantara beterbangan burung-burung dan kupu-kupu tiupan angin telah membikin rontok daun bunga-bunga merah itu sehingga terbang beterbangan di angkasa kemudian berjatuhan diantara salju yang putih.

Mendengar burung-burung berkicau, mengandung semerbaknya harumnya bunga, menyaksikan bunga tho beterbangan diangkasa oleh tiupannya sang angin betul-betul menikmati itu semua seolah-olah kita berada dalam impian.

Tapi sebenarnya itu adalah suatu keadaan yang membuat pikiran kusut menjadi lega membawa kida dalam lamunan nan jauh di awan… Apakah rimba pohon tho itu ada suatu tempat yang amat tenteram dan bahagia?

Oh 4 sayang sekali tidak demikian adanya, ia mengandung riwayat berdarah..

Kekejaman, ketelegasan dan keserakahan manusia yang tidak puas-puasnya.

Tetapi di samping semua itu, sejak dahulu kala tempat itu terkenal banyak mengeluarkan jago-jago lelaki dan perempuan, tua dan muda yang pada mengangkat namanya dalam rimba persilatan.

Suatu kenyataan yang tak dapat dibantah oleh siapapun juga.

Rimba pohon tho itu letaknya di kota Lam co dalam propinsi Kam siok tidak jauh di sebelah kirinya desa benteng yang bernama Hong seng.

Pada suatu sore pemandangan tampak sedang permainya dari kejauhan nampak ada mendatangi seorang penunggang kuda yang melarikan kudanya ke jurusan rimba.

Tiba di mulut rimba, ia menghentikan kudanya.

Sejenak mengawasi kesekitarnya lalu berkata dalam sendirian.

"Oa.. sudah lima tahun lamanya aku tidak datang ke sini. Bunga-bunga nampaknya seperti dahulu kala. Tidak jauh dari si ada rumahnya toako yang akan merayakan hari ulang tahunnya. Syukur aku sanpai tepat pada waktunya, meskipun untuk itu akusudah menempuh puluhan ribu li…"

Penunggang kuda itu adalah seorang pemuda berusia kira-kira 32 tahun, paras mukanya 5 tampan, perawakannya gagah dan mengenakan pakaian sebagai pelajar.

Alisnya bagus, matanya bersinar dan di pinggangnya ada menyoren sebilah pedang panjang.

Kudanya berbulu hitam mulus ada satu kuda jempolan yang dinamai "Kuda Angin", kuku kakinya putih meletak laksana salju.

Dalam kegirarangan akan menemui toakonya, penunggang kuda itu tiba-tiba melihat ada orang tani yang hendak menghabisi jiwanya dengan cara menggantung diri pada sebuah pohon kira-kira 10 tindak daripadanya.

Ia lau memanjukan kudanya dan menabas kutung tambang yang menjerat leher orang yang nekad tadi.

Tubuhnya jatuh di tabah separuh pingsan.

Pemuda itu lalu turun dari kudanya.

Ia jongkok dan memeriksa keasaan si korban.

Ia tidak apa-apa.

Ketika ditanya sebab apa ia mengambil keputusan nekad, orang itu menjawab sambil geleng-geleng kepala.

"Saudara.. sebaiknya kau biarkan saja aku menggantung diri…."

"Kau memangnya kenapa? Coba kau tuturkan padaku, mungkin aku dapat menberikan pertolongan."

Kata si anak muda. Orang itu menghela nafas. 6

"Tidak jauh dari sini ada rumahnya Li Hoay Bin."

Menutur orang itu.

"Dia kini tengah merayakan hari ulang tahunnya yang ke 50. Aku she Cu, karena dulu pernah menerima budinya Li toako, aku sudah menjual sawahku sebanyak 10 bouw dan uangnya dipakai membeli jinsom, maksudku barang ini akan kuberikan kepada Li toako. Apa lacur dalam perjalanan ke rumah Li toako barusan aku dicegat oleh seorang yang berbaju dan bertopeng hitam. Barang antaranku itu telah dirampas. Aku jadi urung ke rumahnya Li toako, dalam kecemasan aku sudah mengambil keputusan pendek seperti barusan kau saksikan sendiri."

Orang muda itu berpikir. Baik hatinya sebaiknya ia memberikan pertolongan untuk merampas pulang barang antarannya.

"kau tak usah berlaku nekad‟"

Katanya menghibur.

"Aku akan cari orang itu dan merampas pulang barang antaran.

Kalau berhasil aku nantu kembalikan di rumahnya Li toako, sebab justru aku juga akan ke rumahnya.

Nah, sekarang kau baik-baik jalan ke rumah Li toako.

Setelah mendapat tahu ke jurusan mana penjahat itu kaburnya, maka pemuda itu lalu cempak kudanya dan dikaburkan ke jurusan yang ditunjuk.

Belum lama ia mengejar, tiba-tiba ia hentikan kudanya, karena dicegat oleh orang 7 berbaju dan bertopeng hitam yang muncul dari gerombolan pepohonan .

"Kebetulan!"

Pikir pemuda itu, lalu turun dari kudanya.

"orang ini tentu ad penjahat yang dicarinya. Sebaiknya aku lekas turun tangan untuk merampas pulang barang si orang tadi bernasib malang itu."

Ketika sudah berhadapan dengan si penjahat, pemuda itu menanya.

"Sahabat, kau mencegat aku ada urusan apa?"

Sambil mengacungkan goloknya yang tajam orang itu menjawab.

"Jangan banyak rewel. Tinggalkan kuda dan buntalanmu. Kau boleh berlalu tanpa aku ganggu seujung rambutpun!"

Pemuda itu tertawa dingin.

"Sahabat, aku mau menberikan barang-barang yang kau minta, Cuma aku harus tanya kawanku dulu, dia mau kau atau tidak?"

Orang bertopeng itu rupanya kaget mendengar pemuda itu ada kawannya. Cepat ia menanya.

"Mana kawanmu? Lekas tinggalkan barang-barang dan kudamu, aku tidak ada tempo lama disini!"

"Ini dia kawanku.."

Jawab pemuda itu sambil kasi unjuk sepasang kepalannya.

"Setan! Kau berani main gila?"

Orang itu mendongkol dengan sengit ia menyerang dengan goloknya.

8 Ternyata penjahat itu tidak ada gunanya sebab ketika goloknya kena dipegang dan didorong lantas saja tubuhnya sempoyongan seperti layangan putus.

Tanpa menengok pula ke belakang ketika goloknya kena dirampas, penjahat itu sudah terbirit-birit lari meninggalkan si pemuda yang jadi sangat geli melihat kelakuannya penjahat tidak berguna itu.

Ia memeriksa sejenak golok rampasannya, ketika mengetahui barang itu tidak ada gunanya lalu dilemparkan.

Kemudian ia memeriksa di tempat si penjahat barusan telah unjukkan cecongornya, pada salah satu cabang pohon ia menemukan satu kotak kecil berbentuk persegi dibungkus dengan kain sutera berlapis-lapis.

Ia jemput kotak itu, kemudian cemplak kudanya dilarikan Li Hoay Bin.

Bertalian dengan ulang tahunnya yang ke 50, orang she Li itu rias rumahnya dengan sangat sederhana.

Semua orangnya Li Hoay Bin kenali pemuda itu adalah saudara angkat majikannya maka kedatangannya tanpa pertanyaan telah disambut dengan hormat.

Setelah turun dan menyerahkan kuda pada satu orangnya tuan rumah lalu ia masuk dengan membawa kotak yang ia ketemukan di cabang pohon dan dianggapnya ada jinsom istimewa miliknya 9 seorang tamu yang berlaku nekad belum lama tadi.

Li Hoay bin melihat masuknya anak muda itu lalu bangkit dari tempat duduknya menyongsong dengan berseri-seri.

"Jite!"

Serunya "

Kau datang dari luar perbatasan menempuh puluhan ribu li hanya untuk memberi selamat ulang tahunku saja, sungguh membikin hati merasa tidak enak.

Perayaan ulang tahunku kali ini adalah seperti tahun-tahun yang lampau.

Nah, sekarang kau sudah datang, mari aku perkenalkan kepada sekalian tamu yang hadir di sini."

Li Hoay Bin berkata sambil menggandeng saudara angkatnya diajak menemui para tamunya kepasa siapa ia berkata.

"Saudara-saudara sekalian, inilah ada saudara angkatku Bo yong Kang satu pendekar di luar perbatasan berempat di sepanjang gunung Pek-san dan sungai Hek cui, dunia kang ouw memberi julukan kepadanya.

"Pelajar Hati Besi."

Para tamu menyambut dengan hangat perkenalan ini.

Tuan rumah agaknya gembira sekali melayani para tamunya terutama kepada Bo yong Kang saudara angkatnya yang datang dari tempat jauh dan lama tidak ketemu.

Ia sibuk melayani ini dan itu.

Bo yong Kang nampak tidak hadir isterinya Li Hoay Bu.

"Toako, aku tidak lihat toaso 10 apakah dia selamat dan sehat-sehat saja?"

Tanyanya ketawa. Li Hoay Bin kerutkan alisnya, tampak awan kedukaan pada air mukanya, akan tetapi hanya sebentar saja ia segera bergembira pula.

"Jite, toaso mu sudah beberapa hari ini kurang enak badan, maka dia tidak bisa keluar menyambut tetamu. Nah kau wakili aku menyambut tetamu minum arak, aku masuk sebentar melihat toasomu…."

Katanya sambil bangkit dari duduknya.

"Silakan toako"

Jawab Bo yong Kang. Tidak lama Hoay Bin sudah kembali lagi dengan membawa sebilah pedang. Sambil nunjukkan pedang ditangannya, ia menjura kepada sekalian tetamunya.

"Saudara-saudar sekalian"

Ia berkata "

Pedang Hoay Bin ini meskipun tidak setajam pedang pusaka, tetapi dengan mengandal tajam pada senjata ini pada tahun-tahun yang lampau Hoau Bin beruntung telah mengangkat nama.

Setelah mencapai umur 40 tahun hatiku mulai tawar berkecimpung dalam dunia kang-ouw maka telah mengasingkan diri di sini sudah delapan tahun lamanya.

Aku sudah jemu dengan ilmu silat.

Maka anakku Cong Bun Yang kini sudah berumur delapan tahun sedikit tidak mengerti ilmu silat karena kau tidak mendidiknya.

Kebetulan sekalian saudara ada hadir di sini aku mohon kalian menyaksikan tentang aku mengundurkan diri dari dunia 11 kang-ouw, aku akan butakan mata dan tulikan kuping tidak akan mengambil pedang lagi, tidak akan mengambil pusing lagi urusan demikian…."

Li hoay Bin menutup kata-katanya dengan menghunus pedang dari sarungnya.

Ia pegang senjata itu dengan tangan kiri, dilintangkan di depannya kemudian jari tangannya yang kanan dengan menggunakan ilmu "Tiat ci sin kang‟ (tenaga jari besi sakti) menentil belakang pedang itu.

Suara nyaring segera terdengar dan pedang itu dalam sekejap mata saja sudah menjadi tiga potong jatuh di tanah.

No yong Kang dan para tamu lainnya tidak menghalang-halangi perbuatan Hoay Bin, hanya mereka merasa agak heran, karena caranya pendekar mengundurkan diridari dunia Kang-ouw dilakukan seperti Hoay Bin tadi baru mereka menyaksikan saat itu.

Tiba-tiba satu pelayan masuk dengan membawa sepucuk surat diretimakan pada Hoay Bin.

Pelayan itu menerangkan, surat itu dibawa oleh seorang tinggi besar menunggang kuda, dan setelah menyerahkan surat telah naik kudanya pula dengan tergesa-gesa dan kaburkan tunggangannya, sehingga tidak ada kesempatan menanyakan surat iru dari mana.

"Tak apa"

Kata Hoay Bin sambil membuka surat itu.

Bunyi suratnya hanya pendek saja .

12 Malam ini Jam satu aku datang untuk memberi selamat Ulang Tahun.

Ho Ceng Bu, si Telapak Tangan Sakti.

(Hiocu dari Si leng cee Tangsi Garuda) Bunyi surat dibacakan dengan suara keras oleh Hoay Bin, hingga senua hadirin dapat mendengarnya.

Bo yong Kang tak tahu menahu, tapi tamu-tamu lainnya mendengar sebutan nama Si Leng cee kelihatan pada berubah air mukanya dan saling memandang satu dengan yang lain.

Hoay Bin lihat kelakuan itu, lalu masukkan surat dalam sakunya kemudian sambil ketawa ia berkata.

"Ho Hiocu itu memang ada mempunyai ganjalan hati dengan aku, sayang kedatangannya itu ilmu pedang ciptaanku sendiri "

Gaya Bunga Bwee‟ Kini aku harus mentaati sumpahku, tadi sebentar malam kalau dia datang aku bersedia menabas batang leherku sendiri.

Memang beberapa tahun lalu partai Si leng cay mendapat kemajuan pesat, karena dibantu oleh banyak pendekar yang berilmu tinggi.

Sayang perbuatannya suka sewenang-wenang dan telengas kejam, hanya kepala tangsi burung "Hong Kumala‟ yang baik…"

Hoay Bin berhenti sebentar dan menghela nafas, lalu melanjutkan.

"Aku sebentar malam 13 harus bersedia menyambut kedatangannya tetamu istimewa itu. Maka harap sekalian saudara tak buat kecil hati. Pesta ulang tahun ini aku tutup sampai disini saja. Maafkan.. selamat berpisahan..!"

"Toako.."

Memotong Bo yong Kang sambil menggebrak meja dengan bernafsu sekali.

"Kemana kekosenannu yang menggetarkan rimba persilatan pada beberapa tahun yang lalu"

Ilmu pedang ciptaanmu "Gaya Bunga Bwee dengan 29 gaya yang lihai kemana perginya?

Aku benar-benar tak mengerti.

Baik, kau sudah bersumpah tidak mau tahu lagi soal persilatan, akan tetapi aku si oarang she Bo yong ada di sini, masa dapat uncang-uncang kaki melihat saudara angkatnya dalam bahaya kehancuran rumah tangganya.

Dengan pedang panjang, golok terbang dan sepasang kepalanku ini aku setidak-tidaknya akan melindungi keselamatan keluarga toako.!"

"Bo yong jite, kau jangan marah dulu. Memang aku tahu kau adalah saudara angkatku yang paling ku puji-puji kejujuran dan kesetiaanmu. Sebentar sebentar kalau aku sudah antar tamu-tamu semuanya meninggalkan pesta kita nanti berunding bagaimana baiknya."

Hoay bin menghibur.

Ia tersenyum melihat kegagahan sang saudara angkat yang hendak melindungi keselamatan rumah tangganya.

14 Demikian, setelah tetamu pada bubar semua tinggal Bo yong Kang dan tuan rumah berdua berunding sambil minum arak.

Hoay Bin telah menutur pada Bo yong Kang dengan serius.

"Sebetulnya dalam kalangan Bulim (rimba persilatan, pada wktu ini yang kepandaiannya tertinggi hanya tiga orang, yaitu ke satu Ceng Leng Cinjin di gunung Pek Thian san, ke dua Biauw Hoat Sin ni di Lam hay dan ke tiga Bu Ju Toato, supekmu di gunung Heng-san bagian selatan. Cuma saja dalam sepuluh tahun ini tiga orang ini sudah pada mengasingkan diri dan tidak mau campur tangan lagi urusan dalam dunia kang-ouw justru pada waktu ini ada banyak penjahat muncul membikin celaka rakyat, diantaranya ada partai persilatan yang dipimpin empat orang, yaitu Garuda Hitam Song Sam Ceng, Naga Sakti Whe Pek It, Kalajengking Phu Kun Peng dan Burung Hong Kumala Gan Su Nio satu lihiap yang baik hatinya."

Hoan Bin berhentikan sebentar ceritanya, lalu teguk araknya beberapa kali.

Bo yong Kang tidak mau menyela dalam penuturannya sang saudara angkat, ia tenang-tenang mendengarkan ketika Hoay Bin melanjutkan.

"Partai itu pecah empat tangsi yang dinamai Si leng cee, yaitu tangsi "

Garuda, Naga, Kalajengking dan Hong, tegasnya empat 15 tempat perguruan silat.

Pada masing-masing bagian itu ada dua belas orang kuatnya yang berilmu silat tinggi membantunya.

Tidak heran kalau Si leng cee pada tahun-tahun belakangan ini menonjol dan banyak partai persilatan lainnya yang telah dibikin tunduk."

"Itu ada soal partai Si leng cee, tapi bagaimana permasalahan toako dengan si oang she Ho yang sebentar malam akan menyatroni toako di sini?"

Menyela Bo yong Kang yang tidak sabaran kelihatannya.

"Oh, soal si Tapak Tangan Sakti Ho Ceng Bo mendendam padaku karena adiknya yang bernama Ho Hiong pada tahun lain telah kubunuh mati. Ho Hiong menjadi ketua berandal di gunung Bong san, sepak terjangnya kejam sekali, selainnya merampas harta benda orang juga dia sering merampas anak bini orang secara kejam. Malah anak mantuku yang tidak bersalah dosa telah dibunuhnya. Kedatangan Ho Ceng Bu sudah tentu hendak menuntut balas akan kematian saudaranya itu."

"Apa kepandaiannya si orang she Ho itu begitu tinggi sehingga agaknya tidak memandang mata pada toako kalau dilihat dari suratnya itu?"

Menyelak Bo yong Kang. Hoay Bin menghela nafas.

"Yah tentang kepandaian memang tinggi. Tempo hari dari 16 aku. Kini dia masuk dalam ilmu pedang! Belakangan ini aku mendapat kabar dia telah berlatih giat sekali, perlunya untuk menuntut balas akan kekalahannya tempo hari dari aku. Kini dia masuk dalam partai Si leng cee bagian dari Garuda."

Ia berhenti sejanak kembali meneguk arak untuk membasahi ternggorokannya. Setelah menghela napas ia melanjutkan.

"Soal balas membalas memang sudah lumrah, Cuma aku toaso mu yang berpenyakitan. Dalam usia lanjut tampaknya nafsu bertempurnya telah mulai padam, dia sebal melihat pedang. Maka tadi aku di depan orang banyak mengangkat sumpah akan mengundurkan diri dari dunia kang-ouw maksudnya untuk mengecap hidup bahagia dengan toasomu, tapi ya dasar nasib, maka juga ada saja gangguan. Aku berterima kasih atas kesediann kau hendak melindungi keselamatan keluargaku, tapi kau harus tahu juga bahwa partai Si leng cee ada besar sekali pengaruhnya. Rasa-rasanya kota Lam co ini akam menjadi tempat kuburannya aku Li Hoay Bin yang bernasib malang.."

Houw Bin tampak berduka. Sebaliknya Bo yong Kang hatinya sangat panas. Sinar matanya berkilat-kilat. Setelah meneguk araknya lalu berkata dengan nyaring.

"Toako membunuh Ho Hiong memang sepantasnya. Tetapi yang tidak tahu malu adalah Ho Ceng Bu yang hendak menuntut balas atas saudaranya yang jahat itu. Soal mati hidup, kau dan aku 17 berdua tidak usah dipikirkan, yang perlu kita harus pikirkan toaso dan anakmu supaya selamat. Kau sudah bersumpah tidak akan menyempuri urusan persilatan, biarlah aku si orang she Bo yong yang akan menyambut kedatangannya musuh. Aku tidak peduli musuh itu berapa banyak dan liai-liai tapi yang pasti aku akan bikin mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di ruangan ini. Toako boleh legakan hatimu dan teruskan pasang lilim merayakan ulang tahunmu. Aku Bo yong Kang yang akan mengusir musuh-musuh toako yang datang ke sini..!"

Hoay Bin kagum akan setia kawan Bo yong Kang. Tangannya lalu di ulur ke suatu sudut dekat meja, dari mana ia keluarkan sebilah pedang panjang. Dengan tertawa tertawa ia berkata.

"Jite, pedang yang dipatahkan dimedan pesta bukanlah pedang yang bertahun-tahun berjasa dan mengangkat namaku, pedang keramat itu, ini dianya"

Bo yong Kang tertegun. Ia tidak mengira toakonya bisa bersandiwara demikian.

"Orang busuk itu menekan aku sangat kelewatan, maka akupun tidak segan-segan, maka akupun tidak akan segan-segan menjilat sumpahku tadi di medan pesta. Kini dengan pedangku dan pedngmu di tangan tidak usah kuatir kedatangan kawanan pengecut itu. Kita akan sama-sama membasmi, biar jangan 18 seorangpun dikasih lari pulang.!"

Kata Hoay Bin, ia kertak giginya. Wajahnya berubah menjadi keren sekali.

"Habis sekarang bagaimana dengan toaso dan anakmu?"

Tanya Bo yong Kang.

"Toasomu tidak boleh sekali kena kaget penyakitnya bisa tambah berat, maka lebih baik jangan diberitahukan ada kejadian ini.

Sedangkan anakku Coan Bun sebaiknya disembunyikan di rumah babu tua bernama Li Seng kata Hoay Bin.

"Terserah toako saja atur bagaimana baiknya."

Jawab Bo yong Kang. Li Seng lalu dipanggil menghadap.

"Lo seng"

Kata Boay Bin.

"Mungkin malam ini kita mengalami bencana yang tidak diinginkan, seperti kau barusan tentu kau mendengar percakapanku dengan jiwa. Sekarang kau bawa anak Bun bersembunyi di rumahmu untukmenghindari kemungkinan yang tidak diinginkan."

Kepada yang lain-lainnya, teman sekerja dalam rumah ini, kau beritakan kalau kalian sebentar malam ada kejadian apa-apa, jangan ribut-ribut supaya mereka tidak mengantarkan jiwanya percuma, mengerti?"

"Mengerti."

Sahut Li Seng dengan air mata yang tidak tertahan telah bercucuran.

19 Li Seng berlalu dengan pikiran amat duka.

Ia menjalankan tgasnya dengan baik apa yang diperintahkan oleh majikannya.

Sementara itu, waktu kedatangan musuh sudah dekat, maka Bo yong kang menyuruh pelayan untuk mengambilkan pedang panjangnya.

Bo yong Kang dan Li Hoay Bin meneruskan minum araknya.

Tiba-tiba orang she Bo yong ingat akan kotak si petani she Cu yang dirampas orang dan telah dapat dirampas balik olehnya.

Seketika itu ia bangkit untuk mengambilnya, lalu diserahkan kepada Hoay Bin.

"Toako, bingkisan ini adalah pemberian dari seorang petani. Katanya dia pernah menerima budi baik toako. Telah menjual sawahnya dan uangnya dibelikan jinsom istimewa yang terdapat dalam kotak ini untuk dihadiahkan kepada toako bertalian dengan ulang tahun toako."

"Mana petaninya, apakah barusan kau lihat diantara para tetamu kita?"

Bo yoong Kang dia. Ia ingat-ingat, tapi barusan ia tidak melihat petani dimaksud.

"Tidak ada,"

Jawab Bo yong Kang.

"Aku tidak dapat lihat dia, tapi toako, aku yang bawa ini ada lantarannya. Inilah si petani yang hendak membawa barang ini kepada toako ditengah jalan telah dicegat oleh penjahat 20 dan kena dirmpas. Saking menyesal dan cemas, maka dia sudah nekad dan mau menggantung diri. Untung kebetulan aku lewat dan dapat menolong padanya. Ketika aku tahu dia dikerjain penjahat, aku lalu mengejar si perampas setelah pertempuran pendek, aku telah dapat merampas pulang benda yang hendak dihadiahkan pada toako ini."

Hoau Bin tidak menjawab, ia hanya kerutkan alisnya.

Sepanjang uang ia tahu, sampai sebegitu jauh disekitar tempatnya itu belum pernah ada kejadian kejahatan.

Sekali ini ia mendengar kabar perampasan dari Bo yong Kang diam-diam merasa heran.

"Apa dia katakan namanya siapa?"

Tanya Hoay Bin.

"Dia hanya mengatakan dirinya she Cu,"

Jawab Bo yong Kang.

Hoay Bin lalu meneliti barang pemberian itu bentuknya persegi panjang.

Ketika diperiksa lebih jauh, ternyata isinya adalah kotak besi dilapisi dengan tiga lapis kayu.

Lapisan pertama merah, tapi lapisan kedua dan ketiga, kainnya berwarna hitam.

"Apa benar kotak ini isinya jinsom?"

Kata Hoay Bin sambil membuka kotak itu.

Bo yong Kang seperti ingat sesuatu, ia mau mencegah tetapi sudah terlambat.

Kotak itu sudah dibuka oleh Hoay Bin.

21 Apa isinya?

Isinya ternyata bukan jinsom istimewa, tapi hanya kapor putih yang membungkus sepotong telinga orang-orang sudah kering.

Bo yong Kang berubah wajahnya melihat isinya kotak.

Pikirnya orang main gila terhadap toako.

Hatinya sangat gusar, tapi tidak berkata apa-apa dan matanya mengawasi pada Hoay Bin yang seketika itu tengah memikirkan sesuatu.

Tiba-tiba tampak badannya gemetar.

Tangannya menjumput sepotong telinga dengan sepucuk surat yang terdapat di bawahnya.

Setelah ia membaca surat itu , lalu menengadahkan mukanya ke atas.

Ia menghela napas.

"Benar saja dia yang mengantar barang ini. Dia sudah oleskan racun pada kotak ini. Oh jite kau jangan raba ko…"

Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena seketika itu tubuhnya dirasakan lemas dan rubuh ke kursi, melayang jiwanya.

"Nimgkisan maut!"

Berseru Bo yong Kang sambil menubruk kakak angkatnya yang telah meelayang jiwanya tanpa meninggalkan apa-apa.

Bo yong Kang menjerit.

Ia menangis gegerungan.

Ia meremas-remas rambutnya sendiri seperti orang kalap.

Pikuli kepala dan dadanya.

Ia menyesal bukan main atas perbuatannya yang sudah memberikan bingkisan 22 maut itu kepada saudara angkatnya.

Ia sudah menghunus pedangnya untuk menyusul roh saudara angkatnya.

Akan tetapi pikiran sehatnya telah berkelebat dalam otaknya.

Pikirannya tidak benar ia mengambil tindakan demikian sebab kalau ia juga mati, siapakah yang akan melindungi istri dan anaknya sang toako?

Memikir kesini, ia lalu meminum araknya untuk menenangkan pikirannya.

Kemudian dengan menggunakan sumpit perak ia sentuh surat dalam kotak tadi, bunyinya hanya singkat saja.

"UNTUK HADIAH ULANG TAHUNMU. DALAM KOTAK YANG SUDAH AKU BERI RACUN KERAS. AKU KIRIM TELINGAKU YANG KAU POTONG TEMPO HARI. HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA MENGHADAP RAJA AKHERAT!"

Dari kenalan lama .

Kiu Hio san Cian tok Jin mo.

SE BUN PA Bo yong Kang bengong setelah membaca surat tersebut.

Ia ingat Cian tok Jin mo (manusia iblis berbisa) itu adalah seorang penjahat besar di sekitar propinsi Ah wie bagian selatan, ahli dalam obat racun dan 23 pandai mengubah air muka orang dengan menggunakan obatnya.

Setelah benahi kotak bercun, Bo yong Kang melihat jam sudah dekat satu malam.

Pedang panjangnya disenderkan di pojok kursi.

Sebagai gantinya ia gantung di pinggangnya pedang Bwee ho kiam saudara angkatnya.

Ia berdiri menghadap mayat Hoay Bin di kursi, meminta restunya.

"Toako, ampunkan perbuatan yang tidak disengaja hingga membinasakan dirimu. Aku berjanji, selanjutnya aku akan mewakili toako melindungi anak isterimu. Tenangkanlah hatimu di alam baka. Aku tidak akan membikin kapiran kepercayaanmu. Sementara aku akan menghadapi musuh-musuh toako. Harap roh toako membantu tenaga supaya aku dapat membinasakan musuh-musuh toako atau setidaknya dapat mengusir mereka pergi."

Bo yong Kang berhenti sampai disitu, karena telinganya mendengar ada suara kaki yang berjalan di atas genteng.

Ia menduga akan musuh toakonya yang sudah datang, maka ia sudah mersiap-siap.

Sesosok bayangan nampak melayang turun dari atas genteng.

Benar saja yang di atas adalah Ho Ceng Bu, siapa menepati betul akan janjinya jam satu datang.

Bu yong Kang melihat Hu Cong Bu kepalanya sebagai kepala macan tutul, matanya seperti mata burung elang, umurnya kira-kira 50 24 tahun.

Ia menghampiri tamu istimewa itu di depan pintu sambil ia bertanya.

"Apa sahabat yang datang adalah Ho Ceng Bu yang hendak menghaturkan selamat ulang tahun?"

Ho Cong Bu kaget. Ia tidak kenal Bu yong Kang, akan tetapi orang itu kenal namanya.

"Kau siapa?"

Tanyanya.

"Aku datang hendak ketemu dengan si orang she Li, tapi cara bagaimana kau bisa kenal namaku?"

"Aku Bo yong Kang yang biasa mondar mandir di luar perbatasan, yaitu diantara gunung Pek san dan sungai Hek cui. Li Hoay Bin adalah saudara angkatku."

"Hmm!"

Ho Cong Bu keluarkan di hidung.

"Aku baru datang, aku tidak tahu keadaan rimba persilatan di Tionggona. Hanya yang aku dengar ada partai Si leng cee katanya yang suka berbuat sewenang-wenang menyusahkan kepada rakyat. Orang mendengar disebutnya Si leng cee lantas ketakutan setengah mati, tapi aku Bu yong Kang ingin mengetahui sampai dimana pengaruhnya partai yang suka berbuat sewenang-wenang itu…"

"Sahabat"

Memotong Ho Beng Bu.

"Kau jangan sembarangan membuka mulut!"

Seorang laki-laki sekali bicara harus menanggung akibatnya.

Ho Hiocu kau mau apa aku bersedia mengiringi kehendakmu untuk mewakili toako Li Hoay Bin!

" 25 Ho Ceng Bu sangat mendongkol mendengar tantangannya Bo yong Kang.

Tapi ia ingat bahwa guru Bo yong Kang adalah adik seperguruan dari Bu Ju Toato salah satu dari tiga pendekar yang tertinggi kepandaiannya, maka itu terpaksa ia menelan kemendongkolannya.

Ia tidak berani berlaku sembrono apalagi ia mengingat akan pesan si Garuda Hitam Song Sam Ceng kepada anak muridnya supaya sebisa bisanya menjauhkan diri dari bentrokan dengan salah satu dari tiga pendekar termasyur itu.

"Sahabat Bo yong Kang,"

Katanya dengan suara dingin.

Namamu aku dengar juga terkenal dalam rimba persilatan.

Menurut peraturan Si leng cee, siapa yang berani bentrok dengan partai kami orang itu harus mati.

Tapi buat kau aku bikin perkecualian lantaran memandang mukanya kau punya supek Bu Ju Toato.

Aku mengerti kau tidak tahu duduknya persoalan antara aku dengan si orang she Li, maka aku bisa memafkan.

Kini kau boleh tahu bahwa aku dengan susah payah beberapa tahun mempertinggi kepandaianku, perlunya untuk menuntut balas akan kematian adikku Ho Hiong yang dibinasakan oleh Li Hoay Bin.

Maka sabarlah dahulu, aku akan bikin perhitungan dulu dengan si orang she Li, setelah itu aku akan bersedia melayani kau… "

"Li toako sayang tidak beruntung kini sudah tidak dapat menemani kau…"

"Hah…! Seru Ho Ceng Bu terkejut.

"Dia sudah terkena racun dari akal busuknya Cian tok Jin mo Se bun Pa!"

Kata bo yong Kang.

"Celaka tigabelas!"

Seru Ho Ceng Bu sambil membanting-banting kakinya.

"Kalau begitu sia-sia saja waktu yang kugunakan mempertinggi kepandaianku tidak bisa dipakai untuk melampiaskan sakit hatiku. Meskipun demikian sahabat Bo yong Kang, tolong kau bawa aku ke depan mayatnya Hoay Cin untuk mengunjuk hormatku yang penghabisan."

"Ho Hiocu, mari ikut aku!"

Bo yong Kang mengajak tamunya masuk ke ruangan dimana mayatnya Li Hoay Bin masih kedapatan duduk di atas kursi.

Ho Cong Bu menghampiri setelah berhadapan ia dapat kenyataan memang musuhnya itu sudah binasa karena racun jahat.

Setelah memandang lama juga pada mayat dihadapannya ia berkata sendiri.

"Orang she Li, aku si orang she Ho sungguh tidak beruntung menuntut balas sakit hatiku karena kau sudah mangkat terlebih dahulu. Meskipun begitu, terimalah hormat yang penghabisan." 27 Berbareng ia menjura sambil membongkokkan badan. Kelihatannya ia benar-benar memberi hormat, tetapi ia telah mengerahkan tenaga dalamnya menyerang dengan pukulan Im Ciang. Perbuatan mana tidak lepas dari perhatiannya Bo yong Kang yang seketika itu telah menyela dan menyambuti serangan hebat tadi. Mayatnya Li Hoay Bin tidak sampai berantakan tapi tubuhnya Ho Ceng Bu bergoyang goyang ketika serangannya disambuti oleh Bo yong kang. Beradunya tenaga dari kedua orang ini benar-benar dahsyat, sebab kerai meja yang ada di sekitarnya telah berantakan tidak tahan dengan sambaran tenaga yang tidak kelihatan. Ho Ceng Bu melotor matanya pada Bo yong Kang. Bukan main gusarnya karena serangannya yang dapat membuat perut Li Hoay Bin berantakan telah digagalkan oleh si oarang she Bo yong. Dalam malunya ia berkata.

"Tidak apa Hoay Bin mati, masih ada isteri dan anaknya terhadap mereka aku bisa membalas dendam!"

Bo yong Kang panas hatinya mendengar omongan pengecut itu, tapi sebelum ia bergerak, tiba-tiba mendengar suara tantangan riuh di bagian belakang rumah.

Sebentar saja muncul dua orang tinggi besar membawa kepala orang yang darahnya masih berketel-ketel.

Mereka menghadap Ho Cong Bu, salah satu diantaranya berkata.

"Lapor pad Ho cu, ini ada kepala isterinya Li Hoay Bin, tapi anaknya tidak tahu diumpetkan di mana!"

"Geledah! Terus geledah sampai dapat!"

Teriak Ho Ceng Bu.

Bo yong Kang hampir pingsan menyaksikan kejadian di depan matanya.

Toasonya telah dikutungi kepalanya begitu rupa, sedangkan anaknya belum tahu bisa ketolongan atau tidak.

Dalam marahnya, ia gerakkan badannya melesat ke udara kemudian menukik dan menyerang Ho Ceng Bu yang sedang bertolak pinggang memberi komando kepada orang-orangnya.

Melihat serangan datang, Ho Beng Bu lalu menangkis dengan tipu pukulan Thian ong To tak (raja langit menarik pagoda).

Kedua tangan beradu keras sekali, sehingga lantai yang diinjak Ho Ceng Bu pecah berantakan.

Tubuh orang she Bo itu mundur sampai enam tindak.

Rambutnya berdiri seperti bulu landak.

Dan matanya dirasakan berkunang-kunang.

Bo yong Kang dilain pihak, meskipun menang, tapi tak urung merasakan kepalanya pusing dan badannya bergemetaran.

Pertempuran segebrakan tadi saja, sudah masing-masing sudah tak berani menyerang.

Keduanya pada terdiam memulihkan tenaganya pula yang barusan diobral.

Kemudian Ho Ceng Bu masuk ke ruang besar diikuti oleh Bo yong kang dimana tampak babu 29 tua Li Seng dengan seorang anak lelaki umur tujuh delapan tahun sedang menangis.

Dua anak buahnya Ho Cong Bu lantas menburu dan pedangnya ditempelkan pada leher anak kecil tadi sehingga menangis jerit-jerit ketakutan.

Bo yong Kang melihat kejadian itu hatinya hancur luluh, matanya tiba-tiba dirasakan gelap dan hampir jatuh pingsan.

Pikirnya celaka anak toako jangan harus menyusul ayahnya di tangan orang jahat.

Saking marahnya ia memuntahkan darah segar.

Ho Ceng Bu dengan kejamnya telah memerintahkan anak buahnya memenggal kepala anak kecil tadi hingga dalam sekejap saja kepala anak kecil yang tak berdosa itu sudah berpisah dari lehernya dan Li Seng menangis menggerung-gerung.

Bo yong Kang menjadi kalap.

Dengan tidak mempedulikan keadaan dirimuya yang terluka didalam barusaan mengukur kekuatan barusan dengan Ho Cong Bu orang she Bo yong itu telah mencengkram kedua oraang tinggi besar.

Dengan tenaganya yang kuat ia melemparkan mereka jauh-jauh sehingga jeritan tertahan dan suara bergedubrakan jatuhnya tubuh mereka telah kedengaran keras sekali.

Dua orang itu jatuh separoh pingsan.

Rasa sakit pada bahunya bekas cengkeraman Bo yong Kang yang seperti jepitan besi membuat mereka 30 meringis ringis mau menangis murung kelihatannya.

"Aku akan adu jiwa dengan kau!"

Bo yong Kang berteriak lalu menyerang Ho Cun Bu dengan sisa tenaganya yang masih ada.

Ho Cong Bu memang sudah terluka dalam lebih hebat dari Bo yong Kang.

Ia tak tahan menyambut serangan saudara angkatnya Li Hoay Bin yang gencar sudah seperti kesetanan hingga tubuhnya terpental seperti layangan dan jatuh di depannya dua orang tadi yang dilemparkan oleh Bo yong Kang.

Darah segar segera menyembur dari mulutnya Ho Ceng Bu hingga dua anak buahnya menjadi sangat kuatir dengan keselamatannya.

Mereka cepat membimbing Hio cu nya, salah satu diantaranya telah memberi pil untuk menahan keluarnya darah yang saban-saban dimuntahkan oleh orang she Ho itu.

Lari..

lekas bawa aku lari..!

katanya lemah.

Dua orangnya menurut, maka dalam sekejap saja tiga cecunguk itu sudah meninggalkan ruangan yang beriwayat dari jago Bwee hoa kiam.

Bo yong Kang sangat letih.

Ia merasa bersyukur kawanan penjahat itu sudah berlalu sebab kalau mereka bertiga turun tangan mengeroyok, entah bagaimana jadinya dengan dirinya yang telah terluka parah.

31 Dalam keadaan letih dan sangat duka ia lupa untuk menelan pil pemberian gurunya yang mustajab yaitu Po mia Leng tan.

Ia hanya ingat bahwa toakonya telah binasa.

Ia lau menubruk dan peluki mayat Li Hoay Bin.

Karena duka dan lelahnya ia telah jatuh pingsan sambil memeluk tubuhnya Li Hoay Bin yang sudah dingin kaku.

Entah berapa lama ia pingsan ketika ia tersadar ia dapatkan dirinya berbaring di atas pembaringan yang empuk dalam sebuah kamar yang dirias sederhana tapi bersih dan menyenangkan.

Saat itu ia kaget ketika mendengar suara tangisan.

Ketika ia tegasi yang menangis itu adalah babu Li Seng tak jauh dari tempat ia berbaring.

"Perempuan celaka!"

Ia mengutuk dalam hatinya.

"Guna apa kau peras air mata, sedang anak toakoku kau korbankan mentah-mentah di depan mataku!"

Ia bangkit dengan gusar.

"Badak celaka, untuk apa kau menguras air matamu di hadapanku? Lebih baik aku mampusi kau supaya di alam baka kau dapat pertanggungkan perbuatanmu di hadapan roh toako!"

Bo yong Kang berkata sambil menghampiri Li Seng tapi ketika ia hendak menjambak rambutnya Li Seng berkata.

"Tahan!" 32

"Kau mau bicara apa lagi, budak tidak setia!"

Bentak Bo yong Kang.

"Iya.. kau dengar dulu aku ceritera setelah mana bila kau merasa perlu aku menyerah untuk Ji ya bunuh mati…"

Kata Li Seng pula sambil menahan isak tangisnya. Bo yong Kang heran. Ia tarik pulang tangannya yang sudah di luar untuk menjambak rambutnya Li Seng.

"Ji ya… anak yang dibunuh itu bukan anak Bun yang dipercayakan ke padaku, tetapi dia adalah cucuku sendiri…."

Bo yong Kang melegak mendengar keterangannya Li Seng.

"Ji ya, ketika aku lihat jatuh pingsan aku lekas menghampiri dan memeriksa keadaan Ji ya dan benar saja aku dapatkan Ji ya. Aku pikir Ji ya datang dari tempat jauh setidak-tidaknya Ji ya ada membawa obat untuk menyembuhkan luka akibat pertempuran. Aku lantas mencari obat itu dalam saku Jiya dan benar saja aku mendapatkan sebuah kantong berisi pil po mia. Aku keluarkan sebutir pil dan lantas kasi masuk ke dalam mulut Ji ya kemudian aku pindahkan jiya ke kamar majikanku. Aku terus menunggu Ji ya dengan penuh kekuatiran dan sekarang Ji ya sudah mendusin hatiku juga merasa girang.."

"Ah kau… habis toa…?? 33

"Ji ya.."

Memotong Ti Seng.

"Aku tahu Jiya kalau sudah sadar dan melihat keadaan dalam rumah ini belum beres akan menjadi sangat duka hatinya maka aku dengan dibantu oleh kawan-kawan lainnya dalam rumah ini sudah membereskan semua urusan yaitu jenazah ayah dan ibu anak Bun sudah dikebumikan dengan rapih."

"Li Seng.. kau betul."

"Ji ya tahu berapa lama Ji ya pingsan?"

Kembali budak tua itu memotong dengan omongan yang rapih hingga kembali Bo yong Kang membisu mendengar ceritanya.

"Sudah dua hari Ji ya sudah tidak ingat orang. Baik sekarang aku panggil Cong Bun datang menemui Ji ya ya!"

"Dia ada di mana Li Seng?"

Tanya Bo yong Kang.

"Dia seorang anak yang baik sekali dan cerdik.

Semoga Ji ya membimbing dia untuk mencari guru yang pandai supaya dibelakang hari dapat menuntut balas akan sakit hati orang tuanya.

Kini ia ada di luar kamar ini.

Li Seng berkata sambil bangkit dan jalan ke luar.

Bo yong Kang melongo.

Diam-diam ia menyesal akan kecerobohannya sudah menyangka Li Seng berbuat khianat.

Li Seng benar-benar adalah seorang budak tua yang setia dan ingat akan jiwa besar majikannya hingga rela 34 mengorbankan cucunya untuk menolong jiwa anak majikannya.

Satu perbuatan mustahil, tapi itu adalah suatu kenyataan.

Sebentar saja Li Seng masuk dengan mengantar anak laki-laki umur delapan tahun.

"Ini dia, Cong Bun, anak tunggal dari majikanku."

Li Seng memperkenalkan dengan suara terharu. Li Cong Bun tidak mesti diperintah lagi lantas menjalankan penghormatan kepada Bo yong Kang yang menjadi susiok (paman).

"Susiok tolong aku carikan guru yang pandai supaya aku dapat menuntut balas akan kematian ayah dan ibuku."

Katanya dengan tenang dan gagah.

Meskipun begitu, tidak tertutup pada sepasang matanya yang jernih ada mengembang air kesedihan.

Bo yong Kang melihat anak itu mirip betul paras toakonya.

Hatinya merasa disayat oleh pisau belati.

Ia sangat pilu mendengar kata-katanya Li Cong Bun yang demikian tenang dan gagah.

Segera ia mengulur tangannya dan memeluk anak itu dan menangis seperti akan kecil.

Demikianlah ada kecintaannya Bo yong Kang terhadap saudara angkatnya.

Ia tidak sadar bahwa anak kecil itu kuat hatinya dan ia sendiri sebagai jago yang pernah malang 35 melintang dalam rimba persilatan seperti anak kecil menangis.

"Bun Jie, kau jangan kuatir. Bagaimanapun juga kau harus mendapatkan guru yang pandai untuk menuntut balas. Musuh-musuh ada kuat-kuat. Kalau mendapat guru kepalang tanggung percuma saja pengharapannya roh ayah dan ibumu di alam baka..!"

Li Cong Bun membisu, tapi ia angguk-anggukkan kepalanya.

Bo yong Kang lalu menyuruh Li Seng menyediakan barang bekalan untuk perjalanan dengan Cong Bun.

Malam itu Bo yong Kang masih menginap di rumahnya Li Boay Bin.

Pada keesokan harinya Bo yong Kang bersama Li Cong Bun bersiap-siap hendak berangkat.

Kepada Liseng, Bo yong Kang meninggalkan pesan.

"Li Seng, kau baik –baik menjaga rumah. Anggaplah rumah barang-barang milik toako seperti juga milikmu sendiri. Entah berapa lama Bun jie berguru dan bisa kembali ke sini, tapi bagaimanapun juga Bu jie selanjutnya akan menganggap kau sebagai orang tuanya sendiri. Budimu yang besar dia tidak bisa lupakan, kau mengerti?"

Li Seng yang pintar bicara kali ini membisu, Cuma bisa angguk anggukkan kepala diiring dengan isak tangisnya.

"Kau jangan berduka. Bun jie dengan aku tidak akan kurang suatu apa!"

Menghibur Bo yong Kang.

"Ji ya.. aku akan mendoakan agar kalian selamat dalam perjalanan dan anak Bu lekas-lekas mendapatkan guru yang pandai. Kedatangan kembali kalian dalam waktu pendek sangat diharapkan oleh Li Seng."

Sebelum berangkat Bo yong Kang ajak Cong Bun menyambagi kuburan Hoay Bin dan isterinya.

Di depan kuburan mereka sambil berlutut diikuti oleh Ceng Bun, Bo yong Kang mohon restu toako dan toasonya minta diberi petunjuk kemana ia harus membawa Cong Bun untuk mencari guru.

Setelah sembahyang, Bo yong Kang lalu ajak Coan Bun naik kuda.

Dalam perjalanan tanpa tujuan Bo yong Kang kebingungan sendiri, kemana ia harus bawa keponakannya itu.

Masa itu yang ilmu silatnya tertinggi adalah "Tri Tunggal"

Yang terkenal, yaitu Ceng Leng Cin jin di gunung Thian san.

Piauw Hoat Sin ni di Lamkay dan supeknya Bu Ja Toato di Heng san.

Akhirnya ia mengambil keputusan menyerahkan Cong Bun dibawah bimbingan sang supek di Heng san.

Setelah naik-turun gunung yang jalannya berliku-liku akhirnya Bo yong Kang dan Li Cong Bun sampai juga ke tematnya Bu Ju 37 Toato.

Rumah orang pandai itu hanya terdiri dari beberapa gubuk, dibangun di samping air terjun.

Di sekitarnya ditanami pohon-pohon siong.

Di atas pintu gerbang ada tertulis .

"MASUK KE SINI HATI TENTERAM DAMAI, KELUAR DARI SINI BERARTI LAHIR PULA SEGALA YANG PENUH PENDERITAAN."

Kedatanga Bo yong Kang dan Li Cong Bun disambut oleh Teng Goan. Murid merangkap pelayan dari Bu Ju Toato.

"Selamat bertemu lagi Teng suheng."

Kat Bo yong Kang, siapa lantas menjabat tangan Teng Goan yang disodorkan.

Lama mereka tidak berjumpa, kini dapat berjumpa pula.

Sudah tentu saja keduanya merasa sangat girang.

Atas pertanyaan Teng Goan, Bo yong Kang memberitahukan maksud kedatangannya untuk minta supeknya menerima Cong Bun menjadi muridnya.

"Itulah bagus, tapi entahlah apakah insu dapat menerimanya."

Jawab Teng Goan.

Matanya mengawasi Li Cong Bun yang berparas dan cerdik kelihatannya.

Teng Goan menghela napas ketika mendengar Bo yong Kang menuturkan nasib apa yang menimpa ayah dan ibunya Li Cong Bun.

"Ya, dunia memang penuh kekacauan. Aku di sini lebih bahagia menempuh kehidupan mengasingkan diri. Tetapi marilah kita temui 38 insu. Mudah-mudahan anak yatim piatu ini diterima menjadi muridnya."

Mereka bertiga lalu masuk ke ruangan dalam.

Dimana bo yong Kang dimana melihat supeknya sedang bersemadi dengan memejamkan separo matanya.

Ia menghampiri sambil menuntun Cong Bun kemudian diajak berlutut dihadapan orang pandai itu.

Lama mereka berlutut, baru kemudian Bu Ju Toato berkata.

"Kalian Bangulah!"

"Teecu Bo yong Kang datang menghadap kepada supek selamanya dalam keadaan sehat walafiat."

"Kau datang ke sini dengan membawa anak ini ada urusan apa?"

Tanya Bu Ju Toato.

Bo yong Kang dengan suara duka lantas menuturkanprihal bencana yang menimpa rumah tangganya Li Hoay Bin.

Maksud Li Cong Bun adalah untuk menuntut balas nanti terhadap musuh-musuh ayahnya.

Bu Ju Toato mengerutkan alisnya setelah mendengan Bo yong Kang cerita.

Kemudian ia geleng-geleng kepala.

"Aku sebagai pemeluk Buddha harus menunjukkan cinta kasih diantara sesama manusia. Tidak seharusnya aku memberikan pelajaran untuk membalas dendam. Apalagi aku lihat anak ini betul tulang-tulangnya baik untuk menerima pelajaran ilmu silat, akan tetapi badannya penuh dengan hawa pembunuhan. Dia tidak 39 cocok untuk menjadi muridnya Buddha. Menyesal kedatanganmu dari jauh jauh ini hanya sia-sia saja."

"Tay supek, aku mohon bagaimanapun juga kau akan menerima aku sebagai muridmu."

Memohon Li Cong Bun dengan suara nyaring, tetapi kedua matanya mengembang air mata. Bo yong Kang menunjang permohonan keponakannya itu.

"Anak baik,"

Kata Bu Ju Toato sambil mengeluarkan tangannya mengelus-elus kepalanya Cong Bun.

"Kau yang mempunyai tulang bakat begini bagus, jangan kuatir tidap dapat guru yang pandai. Siapapun juga suka menerima kau sebagai muridnya. Sayangnya aku tidak dapat melanggar maunya takdir. Kau dengan aku tidak berjodoh. Meskipun begitu, karena kau datang dari tempat jauh, aku tidak tega kau meninggalkan tempat ini dengan tidak mendapatkan apa-apa dari aku. Maka aku akan berikan pil Ban mia leng tan. Pil ini dalam tempo enam tahun aku hanya dapat membuatnya sembilan butir. Khasiatnya dapat menyembuhkan luka-luka kena racun bahkan dapat menambah tenaga dalam. Ia hanya akan menyelamatkan kau sekali saja, makanya kau harus hati-hati jangan menggunakanya sembarangan. Pesanku jikalau dibelakang hari kau sudah pandai ilmu silat. Jadilah pendekar yang berbudi. Ini adalah kebaikan tidak sedikit. Jangan terlalu banyak melakukan pembunuhan!" 40 Dari sebuah pundi-pundi ia mengeluarkan pil mujarab itu, bentuknya seperti gundu dan diberikan kepada Cong Bun, siapa dengan sangat hormat telah menerima dan mengucapkan terima kasih. Kepada Bo yong Kang, jago yang sudah mengasingkan diri itu berkata.

"Bo yong Kang, kau masih ingat dengan perkataanku dahulu, ketika kau datang bersama gurumu almarhum.

Terang-terangan aku mengatakan bahwa tabiatmu sombong dan kaku sekali.

Kalau tidak menemui banyak godaan yang berat-berat kau tidak dapat menjadi pendekar kelas satu.

Nah kedatanganmu semula dengan penuh kepercayaan, tapi sekarang telah kecele, tentu dalam hatimu tidak rela.

Tapi kau harus ingat, jodoh itu tidak bisa dipaksa.

Cong Bun tidak berjodoh menjadi muridku, tidak apa, masih ada jalan lain.

Di gunung Pek Thian san dalam goa Leng hwee kok ada Ceng Leng Cinjin yang berilmu lebih tinggi dari aku.

Kau coba pergi ke sana minta pertolongan.

Melihat wajahmu, kau seperti masih belum sembuh dari luka parah, maka untuk menempuh perjalanan yang begitu jauh ke gunung Pek Thian san rasanya tenagamu tidak cukup.

Jilid 2 Nah ini aku beri kau pil Goan tan, meskipun kemustajabannya tidak seperti pil yang barusan aku berikan kepada Cong Bun, tetapi untuk membantu tenagamu ia berguna sekali.

Setelah kau mengaso dan keadaanmu cukup bertenaga, kau boleh pergi ke sana."

Kalau menurut adatnya Bo yong Kang, sudah kepingin sekali pergi tanpa pamit kepada supeknya itu.

Tapi mengingat Li Cong Bun yang ia pandang sebagai jiwanya diberi pil istimewa maka iapun menahan sabar.

Meskipun demikian rasa penasaran tidak bisa dikendalikan dalam hatinya.

"Supek.."

Katanya "

Supek tidak mau menerima Cong Bun sebagai murid dan menyuruh kami pergi ke Pek Thian san, apakah kami akan pergi ke sana atau tidak masih belum tahu.

Teecu merasa heran sekali, menurut kata supek, pelajaran Buddha karena kasih mengasihi diantara sesama, tapi supek boleh diam-diam saja menyepi di pegunungan tidak turun gunung untuk membereskan kejahatan di dalam kalangan rimba persilatan supaya mereka dapat kasih mengasihi diantara sesamanya."

Bu Jo Toato tersenyum tidak menjawab kemudian memejamkan matanya. 42 Bo yong Kang gemas ia mau membuka mulut lagi tetapi urung karena ditarik oleh Teng Goan.

"Kau tidak perlu gelisah mau suruk kau pergi pada Ceng leng Cin jin, pasti dia mempunyai maksud lebih baik. Kau tahu pil Bang mia leng tan itu, sejak kecil aku melayani insu, baru kali ini aku melihat pil itu diberikan kepada orang. Hal itu tentu ada maksudnya. Ilmunya, Tenaga Sakti dan Pedang Pengejar Sukma luar biasa hebat dalam rimba persilatan, juga ada lebih mudah dipelajarinya daripada ilmu yang aku yakinkan dari insu. Apalagi Cinjin belum punya murid untuk menurunkan kepandaiannya apalagi dia melihat anak ini pasti dia merasa suka dan senang menerimanya. Setelah belajar di sana harap sute lain tahun memberi kabar padaku di sini supaya aku bisa memberikan dorongan kepada insu akan memberikan bantuan kepada anak ini sebagai pembasmi kejahatan. Nah mari sekarang kami antar kalian ke tempat yang lekuk-lekuk itu."

"Mari."

Jawab Bo yong Kang.

Mereka bertiga bangkit dan keluar dari ruangan terus menuju ke tepi jurang yang curam.

Li Cong Bun lalu dikempit oleh Teng 43 Goan.

Sekali genjot tubuhnya ia melayang turun ke bawah jurang seolah-olah burung terbang.

Perbuatan itu telah diikuti oleh Bo yong Kang yang merasa tenaganya sekarang telah pulih kembali.

Pikirnya selain pil pemberian supeknya, dalam teh tadi yang diminumnya tentu ada dicamput obat kuat maka setelah mereka ada di bawah Bo yong Kang berkata.

"Suheng, kau sungguh baik sekali. Terima kasih untuk teh yang barusan aku minum, rasanya tenagaku jadi bertambah."

Tang Goan tersenyum. Dari sakunya lalu mengeluarkan satu pil sebesar lengkeng yang warnanya hitam.

"Sute, terimalah pil Bok wan ini. Meskipun tidak mustajab dalam pengobatan tetapi ia mustajab untuk mentingkirkan kesulitan. Setelah berada di Tionggoan bila menemui kesulitan dalam perjalananmu, kau dapat memperlihatkan pil Bok wan ini, tentu akan selamat. Kalau tidak ungkulan untuk meladeni orang-orang Si leng cee sebaiknya kau langsung saja ke gunung Pek Thian san aku tanggung tidak ada yang merintanginya. Nah sute, aku akan mengantar sampai di sini saja, semoga kau baik-baik di perjalanan dan selamat sampai di tempat tujuan."

"Suheng."

Kata Bo yong Kang sambil memegang erat tangan Teng Goan.

"Kau amat baik, entah aku dapat membalas atau tidak budimu yang besar ini." 44

"Sute, kenapa kau brkata demikian. Kita orang sendiri. Tentu ada keharusan untuk saling menolong. Nah selamat jalan!"

Mereka kelihatannya berat untuk berpisah.

Dalam meneruskan perjalanannya, Bo yong Kang merasa sangat sedih.

Semula semua harapannya akan mendapat pertolongan supeknya jadi amblas.

Entah apakah ia bisa sampai ke Pek Thian san?

apakah Ceng Leng Cinjin dapat menerima Cong Bun sebagai muridnya?

Kalau diterima tentu tidak sia-sia perjalanannya ke sana, tapi seandainya ditolak seperti yang dilakukan Bo Yu Toato, bagaimana nanti ia harus bertindak?

Perjalanannya telah sampai didaerah Li liang san.

Selagi sedang enaknya tiba-tiba telinganya mendengar derapan kaki kuda mendatangi.

Sepuluh penunggang kuda kelihatan muncul dari dalam rimba, dua diantaranya telah menghadang perjalanan Bo yong Kang.

Dua penghadang berumur kira-kira empat puluh tahun.

Tangan kanannya memeegang sebuah pentungan besi bergigi, tangan kirinya kosong, sedang di pelana kudanya ada tergantung sepasang gaetan.

Satu diantaranya sambil menjura di atas kuda telah menanya.

"Sahabat, apa aku berhadapan dengan Pelajar Hati Besi Bo yong Kang?" 45

"Kau tepat sekali sahabat, memang aku yang rendah adalah Bo yong Kang, kau ada urusan apa dengan aku?"

"Kami sepasaang jago Li Liang Beng Piauw dan Bang Bouw mendapat perintah menyambut dan mengundang saudara mampir di markas Si leng cee bagian tangsi Garuda dimana Ho Hiocu kini adalah majikan."

"Sahabat, tolong sampaikan pada Ho Hiocu aku tidak mempunyai waktu untuk memenuhi undangannya. Harap saja lain kali aku akan datang sendiri kesana tanpa diundang lagi!"

Jawab Bo yong Kang.

Beng Piauw dan Beng Houw tidak senang dengan jawaban itu, matanya melotot.

Keduanya lantas gerakkan senjata pentungannya untuk menyerang, tapi Bo yong Kang tidak mau kasi kesempatan pada lawan.

Dengan menggunakan tenaga dalam ia kirim serangan tangan ke dadanya Beng Houw, siapa seketika itu telah jatuh dari kudanya dan muntah darah segar.

Beng Piauw menjadi gusar.

Ia teriaki kawan-kawannya mengepung Bo yong Kang.

Akan tetapi si orang she Bo yong lebih cerdik sebab saat itu ia sudah menyingkir jauh-jauh dari mereka.

Dalam melanjutkan perjalanannya, ia memikirkan kejahatannya Ho Ceng Bu.

Dalam hati merasa sangat benci.iang mengharap suatu hari ia dapat menyatroni Si leng cee 46 dan membikin perhitungan dengan si orang she Ho.

Sedang melamun menjalankan kudanya perlahan-lahan, tiba-tiba dicegat oleh dua orang beragama, jalan seorang hwesio dan seorang tosu.

Melihat gerakan dan sinar matanya yang tajam, Bo yong Kang mengerti bahwa kedua orang itu bukan orang sembarangan.

Dalam hati ia mengeluh sebab dalam perjalanannya itu kalau saban mesti menghadapi tikoh-tokoh kuat, apakah mungkin ia sampai di tujuan?.

Ia membenarkan bahwa ia bernama Bo yong Kang ketika ditanya oleh dua orang yang mencegatnya.

Sebelum mereka membuka mulut lebih jauh, Bo yong Kang ingat akan Bok wan pemberian Teng Goan.

Ia lalu merogoh dan diperlihatkan kepada dua orang it, siapa segera wajahnya berubah seketika itu juga.

Bo yong Kang ketika hendak menerangkan halnya Bok wan itu tiba-tiba mendengar suara kliningan pada leher kuda.

Dari jauh nampak seorang berkuda putih melarikan kudanya dengan kencang sekali.

Ketika sampai, diantara mereka ternyata ia adalah seorang wanita berbaju putih, parasnya cantik menarik hati.

Bo yong Kang mengenali kudanya adalah "Kuda Kumala"

Yang garang dan larinya pesat sekali.

Diam-diam ia mengagumi si nona menunggang kuda, sebab tidak sembarangan 47 wanita yang dapat menaiki Kuda Kemala.

Si nona selain menunggang kuda putih, berpakaian serba putih sampai ke sarung pedangnya juga putih.

Bo yong Kang terpesona oleh kecantikan si nona yang luar biasa.

Diam-diam ia menanya dirinya sendiri.

"Apakah nona yang begini cantik adalah komplotannya orang jahat?"

Si nona mengerti bahwa dirinya dikagumi oleh pemuda yang cakap ganteng di depannya, maka dengan muka berseri-seri ia berkata.

"Sahabat, siapa namamu, kenapa kau membunuh anak buah kami?"

Bo yong Kang sebenarnya bertaniat sombong dan kaku, tetapi ditanya oleh si nona yang unuk kelakuan sopan santun ditambah pula kecantikannya yang mempesona hatinya membikin Bo yong Kang lunak sikapnya yang kaku.

Dengan tertawa ia menjawab.

"Nona aku bernama Bo yong Kang, bersama dengan keponakan ini aku habis menyambangi supek ku Bu Ju Toato di Heng san, tiba-tiba aku dicegat oleh tocu nona. Oleh karena hendak terburu-buru melanjutkan perjalanan, aku tak sengaja kesalahan tangan membbinasakan jiwanya. Harap nona suka memaafkan. Selain itu aku ingin menanya, dari sebab apa nona mempersulit perjalananku?"

Si nona yang tidak tahu menahu persoalannya, ditanya demikian menjadi merah 48 selebar mukanya.

Ia sebenarnya dengan cara kebetulan saja berpapasan dengan Bang Piauw, siapa memohon pertolongannya supaya membalaskan kematian saudaranya Beng Hauw yang binasa di tangan Bo yong Kang sama sekali tak tahu duduknya urusan.

Kini ia ditegur si anak muda jadi gelagapan.

Lalu menanya pada si hwisio dan tosu.

Lantaran apa di sepanjang jalan mengadakan rintangan atas perjalanan Bo yong Kang dan mereka itu dalam Si leng cee masuk bagian mana?"

Ini sebenarnya adalah persoalan pribadi Ho Hio cu yang memberi perintah kami keluar mencegat perjalanan sicu Bo yong, makanya kami tak membawa bendera bagian mana.

Barusan pinceng melihat sicu Bo yong memperlihatkan benda wasiat dari Tiat Bok Taysu, maka kami tak berani menghalang-halanginya."

Mendengar keterangan itu si nona lalu tertawa dingin.

"Ho hiocu terlalu mengandal Lengcu tangsi Garuda yang sangat menyayang padanya, maka ia dapat berbuat sewenang-wenang mengeluarkan perintah untuk urusan pribadinya. Makanya ketika aku menyelidiki di sekitar daerh kita, orang-orang kita sendiri. Biarlah persaolan ini akan aku rundingkan dengan kawan-kawan sekerja supaya diadakan perbaikan dalam perkumpulan kita. 49 Sekarang saudara Bo yong ada mempunyai benda wasiat dari Tiat Bok taysu seharusnya kita tidak boleh menghalangi lebih jauh akan perjalanannya. Sekarang coba kalian beritahukan masih ada halangan-halangan apa lagi dalam selanjutnya perjalanan saudara Bo yong?"

Nona baju putih itu rupanya berpengaruh sebab si hwesio dan si tosu tampaknya sangat hormat kepadanya.

"Berapa banyak penghalang lagi pinto tidak tahu."

Jawab tosu.

"Cuma pinto dengan rintangan-rintangan untuk mencegat sahabat Bo yong ini disiapkan dari gunung Li liang san sampai diperbatasan propinsi Sam se.

Nona baju putih kerutkan alisnya yang lentik, kemudian ia tertawa.

"Bo yong ko, aku mohon kau memaafkan atas perbuatan anak buah dari Si leng cee, tanpa mendapat perintah dari yang berwenang mengganggu kau dalam perjalanan.

Nanti aku ketemu dengan Lengcu tangsi Garuda tentu aku akan adukan supaya mereka akan mendapat hukuman.

Aku mengerti kau kesusu hendak melanjutkan perjalanan.

Mari aku akan antar kau sampai di perbatasan Sam se untuk menebus dari kesalahan anak buah Si leng cee.

Bo yong Kang kagum si nona cantik mengeluarkan kata-katanya merendah dan hormat.

"Nona,"

Jawabnya "Kau sungguh baik sekali.

Aku senang kau mengadakan tempo untuk mengantar kami.

Sayang, coba dalam Si leng cee banyak orang-orang yang berlaksana seperti kau, tentu nama Si leng cee harum dalam rimba persilatan."

Si nona tidak menjawab, hanya tersenyum dan kerlingkan matanya yang menawan membuat Bo yong Kang yang gemar dengan paras elok seketika itu berdebaran hatinya.

Diam-diam ia mengeluh, kenapa hatinya menjadi demikian tidak tahu diri?

Perjalanan dilanjutkan dengan peradaan lega, bahkan amat menggembirakan hati si orang she Bo yong karena didampingi oleh siok tia.

Dalam omong-omong, si cantik menanya pada Bo tong Kang.

"Bo yong ko, kau kelihahatannya seperti yang tidak senang terhadap perkumpulan kami, kalau kau tidak berkeberatan aku ingin tahu dari sebab apa kau bermusuhan dengan Ho Ceng Bu?"

Bo Yong Kang dengan suara duka lalu menuturkan tentang bingkisan maut dari Se Bun Pa hingga jiwanya Li Hoay Bin telah melayuang.

Kedatangan Ho Cong Bu yang kejam telah memenggal batang leher isterinya Li Hoay Bin hingga ceng Bin menjadi anak yatim piatu.

Lebih jauh prihal maksud perjalanannya juga diberitahukan pada si nona tanpa merahasiakan apa-apa.

Rupanya Bo 51 yong Kang percaya betul pada si cantik yang kelihatan menaruh simpati pada dirinya.

"BO yong ko, kau tak usah berduka,"

Menghibur si nona.

"Aku harap perjalananmu akan berhasil dan anak ini mendapatkan kepandaian tinggi untuk menuntut balas kematian orang tuanya. Pengharapanmu akan membaalas dendam pada Ho Ceng Bu dan Se bun Pa menurut pandanganku akan terlaksana. Cuma saja aku harap setelah soal-soal itu terjadi, urusan tidak menjadi panjang oleh karenanya balas membalas tidak ada habisnya. Ini sungguh tidak baik sekali."

"Terima kasih, nona"

Jawab Bo yong kang.

"Memang aku harap demikian, sebab aku juga bukan seorang gila ingin mencari musuh dalam dunia kangouw. Kau sungguh baik memberi nasehat yang berharga. Aku tak dapat mengatakan dengan perkataan apa aku harus membilang terima kasih atas perhatianmu ini..!"

"Bo yong Ko, kau jangan omong begitu."

Menyela si nona.

"Aku bicara dengan menuruti kata hatiku saja. Apa itu betul apa tidak aku tidak tahu…."

Matanya yang tajam kembali mengerling pada si anak muda diiringi oleh senyumannya yang menawan, hingga Bo yong Kang yang menyaksikan itu hampir lupa bahwa dirinya saat itu sedang naik kuda.

"Ah dia benar benar cantik laksana bidadari …"

Ia memuji diam-diam dalam 52 hatinya sendiri.

Iapun menyambut senyuman si nona dengan mesranya.

Belu, lama mereka berkenalan tapi tampaknya ada begitu erat dan tidak ingin berpisah hingga masing-masing jadi kaget sendiri dan menanya dalam hatinya.

"Kenapa jadi begini? Kenapa dia begitu menarik hatiku?"

Dan, tapal batas Sam se sudah dilalui hingga si nona tiba-tiba pembicaraan ditutup dengan senyuman mesra dari kedua pihak.

Mungkin ini adalah permulaan dari jalinan asmara.

Tanpa merasa mereka sudah melewati daerah Li liang san .

tapal batas San se sudah dilalui hingga si nona tiba-tiba kaget dan tahan kudanya.

"Bo yong ko"

Si nona ketawa.

"Aku mengantar kau meskipun ribuan li akhirnya toh kita akan berpisah juga. Nah aku sampai di sini saja ambil selamat berpisah. Selanjutnya perjalanan kau tidak akan mendapat halangan apa-apa lagi."

Bo yong Kang bengong mendengar bicaranya si nona.

"Kau jangan banyak pikir, kalau ada jodoh kita akan berjumpa pula…!"

Kata si nona tersenyum tapi wajahnya tampak ada kemerah-merahan. 53

"Nona, lagi sekali aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu, semoga Tuhan memberkahi maksudku. Jikalau sudah berhasil sudah tentu aku akan mencari kau."

"Ah… "

Si nona berkata.

"Sungguhkah janjimu itu Bo yong ko?"

Bo yong kang anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Bo yong susiok,"

Nyeletuk Li Cong Bu.

"Kenapa kita harus berpisahan? Bukankah lebih baik kita sama-sama meneruskan perjalanan? Alangkah mesranya kuda putih dan kuda hitam berendeng jalan, tidakkah kau sendiri melihatnya?"

Si nona tertegun mendengar kata-kata Li Cong Bun.

"Kau bisa saja Bun-Jie….!"

Kata Bo yong Kang tertawa.

Si nona aju putih sementara itu selembar mukanya merah, akan tetapi senyumannya yang seperti besi berani (magnet) tidak lenyap dari mulutnya yang mungil.

Dengan perasaan berat akhirnya mereka telah berpisah.

**** Belum beberapa li Bo yong Kang meneruskan perjalanannya tiba-tiba ia mendengar suara kliningan kuda.

Ketika ia menoleh ke 54 belakang ternyata si nona baju putih sedang larikan kudanya mendatangi.

Setelah berhadapan si nona berkata.

"Bo yong ko, aku lupa barusan satu hal."

"Hala apa itu nona..?"

"Coba kau hunus pedangmu!"

"Maksudmu?"

Tanya Bo yong Kang keheran-heranan.

"Kau jangan ragu-ragu, aku ingin mencoba ilmu silatmu berapa tinggi."

Berbareng si nona menghunus pedang lemasnya hingga Bo yong Kang kaget.

Itulah pedang tidak sembarangan orang dapat menggunakan, karena memainkan pedang pedang lemas demikian barus dibarengi dengan tenaga dalam yang mahir sekali.

Bo yong Kang jadi bingung.

"Jangan kuatir Bo yong ko, mari kita turun dari kuda untuk mengadu kepandaian. Aku tak bermaksud jahat, hanya kepingin tahu saja kepandaianmu sampai dimana."

Bo yong Kang lalu turun dari tunggangannya meninggalkan Cong Bun sendirian di atas kuda.

Ia menghunus pedangnya menghadapi si nona yang saat itu sedang kibaskan pedang lemasnya hingga bersuara mengaung dan menimbulkan angin kencang.

55 Bo yong Kang biasanya sangat sombong dan tak mau mengalah terhadap siapapun juga.

Tapi kali ini berhadapan dengan si nona kesombongannya seperti hanyut dibawa air sungai.

Air mukanya tersenyum-senyum menghampiri si nona.

"Silakan nona aku sudah siap!"

Tantangnya.

Setelah melemparkan senyuman pada si pemuda si nona baju putih itu tanpa sungkan-sungkan telah menyerang dengan pedang lemasnya.

Tidak sampai makan waktu panjang si nona lantas tahu sampai dimana kepandaian pemuda yang menarik hatinya itu.

Sedangkan Bo yong Kang yang mengetahiu kepandaiannya tidak nempil pada si nona lalu menarik pulang serangannya dan berkata.

"Nona, kepandaianmu sangat tinggi aku si orang she Bo yong tak dapat melayanimu."

"Bo yong ko,"

Jawab si nona.

"Bukannya soal tinggi rendahnya diantara kita, hanya aku barusan mengukur kepandaianmu. Dengan kepandaian yang dimiliki sekarang kau hanya dapat menandingi Kalajengking dan Naga tidak dapat menandingi Garuda Hitam. Kau harus berlatih lagi lima tahun bimbingannya orang pandai. Kebetulan perjalananmu hendak ke Pek Thian san, memang ada baik sekali kalau bisa mendapat bimbingan Ceng Leng Cinjin. Harap kau 56 maafkan kalau kata-kataku ini ada menyinggung perasaanmu sebab aku punya kebiasaan untuk berlaku terus terang. Nah terimalah pedangku ini sebagai tanda perkenalan. Dikemudian hari bila kalian baik kau sendiri maupun keponakanmu kembali ke Tionggoan, sebelum mencari musuh-musuhmu, harap mencari dulu pemilik pedang ini sebab bagaimanapun aku akan membantu kalian dengan sungguh-sungguh hati."

Nona baju putih itu sambil menyerahkan pedangnya pada Bo yong kang, air mukanya merah karena merasa jengah.

Bo yong Kang terkesima oleh pemberian itu.

Ia membisu sejenak sambil menatap wajah ayu si nona yang cantik menarik.

"Nona…."

Akhirnya ia berkata.

"Kembali kau sudah membuang budi padaku dengan nasehatmu yang sangat berharga yang mana aku akan perhatikan betul-betul. Jangan kuatir, kami segera mencari kau dulu diwaktu memasuki Tionggoan lagi. Semoga kau baik-baik saja selama kita berpisah."

Nona baju putih itu nampak mengembang air mata, rupanya terharu dengan perpisahan itu hingga Bo yong Kang juga berat untuk meninggalkannya.

Setelah menyusut air matanya dengan saputangannya yang menyiarkan bau harum menyambar keheningannya Bo yong Kang, si nona lalu jeplak kudanya dan berkata.

"Nah 57 sekarang kita berpisah betul-betul semoga kalian dalam perjalanan selamat, tidak kurang suatu apa…."

Si nona mengucapkan kata-katanya sambil kepruk kudanya hingga kuda putinya berjingkrak dan membawa lari si nona pesat sekali.

Bo yong Kang berdiri bengong sekian lamanya sambil mengawasi bayangan si nona sampai hilang dari pandangannya.

Hatinya dirasakan tertarik oleh menghilangnnya si nona.

Barulah ia sadar ketika mendengar Li Cong Bun menegur.

"Susiok, kau kenapa? Coba kasi aku lihat pemberian enci tadi.. mari aku lihat..!"

Bo yong Kang menghampiri si bocah yang sedang nangkring di atas kuda Bo yong kang yang tinggi besar.

Kepadanya diperlihatkan pedang lemas si nona ternyata pedang itu terbuat dari batu giok yang berwarna putih ditengah-tengahnya terlukis burung hong yang sedang terbang sangat indahnya.

Ia menyesal sudah begitu lama berjalan sama-sama dengan si nona tidak menanyakan namanya si cantik, tapi ia percaya bahwa nona itu tentu adalah si Burung Hong Kumala dari Si leng cee salah satu pimpinan dari perkumpulan yang terkenal baik dan mempunyai pribadi yang luhur.

58 Kemudian ia ceplak lagi kudanya dan meneruskan lagi perjalanannya.

Setelah keluar dari Giok bun kwan pintu masuk ke Tionggoan, Bo yong Kang arahkan kudanya menuju ke jurusan barat laut.

Sepanjang jalan mereka menderita oleh serangan angin yang membawa pasir beterbangan dan hawa dingin akhirnya mereka tiba di lembah Seng seng.

Tiba-tiba Bo yong Kang ingat akan satu pendekar ulung di daerah ini ialah Thio Tit Jun bergelar Kim say (Si singa emas).

Bo yong Kang lalu mencari rumahnya jago tua itu.

Ketika bertemu maka Thi Tit Jun amat girang melihat Bo yong Kang seolah-olah ketemu ayahnya dengan siapa ada bersahabat rapat.

Bo yong Kang dan Cong Bu mendapat perlakuan ramah tamah dan dijamu oleh tuan rumah.

Dalam omong-omong Bo yong Kang minta pendapatnya jago tua itu prihal Si leng cee.

"Ayah mu ada persahabatan karib dengan aku mau menerangkan prihal Si leng cee kepadamu. Dalam perkumpulan itu yang baik dan jujur hatinya sebagai pemimpin adalah si Burung Hong Kumala, sedang yang hatinya jeles dan jahat adalah si kalajengking. Yang mempunyai kepandaian tertinggi adalah Garuda hitam. Kecuali semua pemimpin-pemimpinnya pandai-pandai ilmu silat nya juga anak 59 buahnya banyak yang berkepandaian tinggi. Oleh karena itu pengaruhnya jadi semakin menonjol!"

Berbicra tentang Cong Bun yang sedang mencari guru padai. Thio Tit Jun berkata.

"Anak ini bagus sekali tulang-tulangnya untuk menjadi pendekar terpandai. Aku sendiri ingin sekali menurunkan kepandaianku apa yang aku miliki semuanya akan tetapi rasanya tidak ada faedahnya."

"Kenapa tidak ada faedahnya?"

Tanya Bo yong Kang.

"Itulah karena bakatnya yang sangat bagus . ia harus mendapat bimbingan seorang pandai dan tinggi ilmu silatnya baru tepat, sebab dikemudian hari anak ini pasti akan menonjol kepandaiannya dalam rimba persilatan."

Boyongkang memberitahukan tentang supeknya supaya membawa Cong Bun ke tempatnya Ceng Leng Cinjin di daerah Thiansan.

"Bagus… ini baru betul!"

Kata Thio Tit Jun sambil geprak meja kegirangan.

"Memang usul supekmu itu, kau harus menurut,"

Bo yong Kang membisu, air mukanya tampak seperti yang ragu-ragu.

"Bo yong hiante, kau legakan hatimu. Jangan kuatir aku tinggal diam memeluk tangan dalam usahaku. Aku dan Ceng Leng 60 Cinjin telah mendapat penyesuaian hati, akan dapat bersama-sama kau mengantarnya ke sana. Jikalau kau mendapat kesulitan apa-apa aku tentu akan membantumu."

"Bo yong Kang angguk-anggukkan kepalanya.

Air mukanya sekarang berubah gembira.

Lima hari lamanya mereka tinggal di rumah Thio Tit Jun.

Pada hari keenam, pagi-pagi sekali mereka sudah berkemas-kemas hendak berangkat ke gunung Pek Thian san.

Bu yong Kang dengan Li Cong Bun naik kuda hitam, sedangkan Thio Tit Jun naik kuda berbulu merah si Api.

Jalanan di dunung Thian san itu terbagi dalam dua jurusan keselatan dan ke utara.

Mereka telah mengambil jurusan yang tersebut belakangan.

Setelah sampai di tempat yang bernama Tit Hoa, Tho Tit Jun berkata.

"Bo yong hiantit, sampai di sini kita tidak dapat meneruskan perjalanan dengan berkuda. Kita harus berjalan kaki ke sana. Mari kita mampir di tempat sahabat karibku untuk menitipkan tunggangan kita."

"Bagaimana baik susiok pikir,"

Sahut Bo yong Kang pikir masih terus bersangsi bahwa Li Cong Bun nanti bisa diterima menjadi muridnya Ceng Leng Cinjin orang nomor satu dari tiga orang terpandai pada masa itu.

"Bo yong hiantit"

Kata pula Thio Tit Jun.

"Kau jangan kuatir sebab kedatangan ini membawa usulnya kau punya supek, bukan 61 semata-mata atas kemauan sendiri. Aku percaya Ceng Leng Cinjin tak akan keberatan menerima Cong Bun menjadi muridnya, baik kita lihat saja nanti."

Sementara itu mereka sudah sampai di rumah sahabatnya Thio Tit Jun.

dua ekor kuda lalu diserahkan kepada orangnya tuan rumah, dimasukkan dalam istal untuk dipelihara menanti baliknya pula sekalian tetamunya dari kunjungan ke Pek Thian san.

**** DIANTARA dua puncak gunung Thian san yang menjulang tinggi, ada sebuah goa yang dinamai Leng Bwee Kok.

Dengan diterangi sang dewi malam, dibawahnya sebuah pohon siong tua tampak ada dua orang yang sedang asyik main catur.

Satu yang bermuka terang memainkan biji putih, lawannya yang rambutnya menggerai memainkan biji hitam.

Mereka itu adalah Toojin dan Toato.

Dua tokoh terkenal dalam rimba persilatan pada masa itu yaitu Beng Leng Cinjin dan Bu Ju Toato.

Dalam permainan itu, biji-biji putih telah terkurung oleh biji-biji hitam dan hanya dengan banyak bikin pengorbanan raja pihak putih dapat menyelamatkan diri dari kepungan pihak hitam.

Dalam keadaan terdesak itu tiba-tiba Ceng Leng Cinjin yang memegang biji putih telah tertawa.

"Ah sunggu sayang dipermulaan aku tidak mau berlaku telengas hingga sekarang biji-biji caturku menjadi terdesak. Cuma dengan berlaku mati matian saja dapat aku menyelamatkan diri…."

Demikian Ceng Leng Cinjin menyatakan kemengkalannya. Bu Ju Toato unjuk tertawa bangga.

"Ha ha ha!"

Ia tertawa.

"Kau yang sudah mensucikan diri masih mempunyai nafsu untuk bertempur mati-matian, apalagi dengan keadaan orang biasa. Keadaan catur kita ada sedemikian rupa, tak bedanya dengan keadan dunia yang kalut dan penuh dengan kejahatan, apakah kau masih ingat dengan pertempuran di gunung Thay san beberapa puluh tahun yang lampau?"

Ceng Leng cinjin menatap wajah sahabatnya "Ya aku ingat."

jawabnya.

"Itulah karena kau berbaik hati telah membikin lolos Thian lam Siangkoay.

Mereka kini tinggal di sebuah pulau jauh dan telah melatih ilmu silatnya lebih tinggi berdasarkan kitab pelajaran ilmu silat yang mereka dapatkan secara kebetulan.

Kini mereka bukan saja berkepandaian tinggi, bahkan telah membangun semacam markas yang dinamai Si leng cee dan telah berbuat sewenang-wenang terhadap sesama manusia.

Kalau mau dicari kesalahannya adalah kau yang salah telah melepaskan dua siluman itu hingga sekarang mereka dapat merajalela.

63 Sebenarnya kau yang harus turun tangan untuk menumpasnya atau setidak-tidaknya kau harus menurunkan kepandaianmu yang tinggi kepada seorang murid supaya bisa membereskan kejahatan yang merajalela itu.

"Ya aku ingat soal nya Thian lam Siang koay hingga kini sudah 30 tahun berselang aku tidak kira mereka telah menimbulkan kekacauan dalam rimba persilatan. Memang mereka tinggi ilmunya saat itu kita bertempur satu hari satu malam baru dapat mengatasi kepandaiannya. Aku bukan sengaja meloloskan mereka waktu itu karena waktu itu mereka mau bertobat, aku jadi tidak tega!"

"Hmm.. tidak tega. Karena itu justru kau menanam bibit bencana bagi rimba persilatan. Sekarang bagaimana halnya dengan anak yang aku ceritakan padamu?"

Ceng Leng Cinjin angguk-anggukkan kepalanya.

"Ya baik sekali jika menurut katamu anak itu bakatnya luar biasa, memang baik sekali aku turunkan kepandaian kita digabung dan ditumplekkan padanya, supaya dia dikemudian hari menjadi pendekar tidak kepalang tanggung. Aku akur dengan usulmu."

Bu Ju Toato angguk-anggukkan kepalanya.

"Tapi kau harus tinggal di sini selama lima tahun untuk mengajarnya Ilmu kau Naga Mencengkram Mustika dan ilmu pedangmu To lo 64 kiam yang berhuruf swastika digabung dengan ilmuku "

Tenaga Sakti serta Pedang Pengejar Sukma‟.

Semua kita turunkan pada anak itu pasti dapat mengalahkan si Garuda Hitam dan mengobrak abrik Si Leng cee jikalau perkumpulan ini tidak merubah perbuatannya yang sewenang-wenang.

Cuma saja untuk dapat melatih pelajaran yang kita turunkan itu sampai mahir betul, anak itu harus mengambil waktu sembilan sampai sepuluh tahun baru boleh turun gunung.

Bu Jo Toato angguk-anggukkan kepalanya.

"Memang begitu betul anak itu bakatnya luar biasa tapi masih ada cacadnya yaitu adatnya berangasan dikuatirkan melakukan pembunuhan dengan hanya menuruti hatinya saja, ini menjadi bertentangan dengan ajaran agama kita.

"Ha, kau jangn berpura-pura jadi orang alim, berapa banyak jiwa yang melayang ditanganmu pada tigapuluh thun berselang. Membasmi penjahat, menjunjung kebenaran, itu adalah kewajiban seorang pendekar, Cuma saja…"

Ceng Leng Cinjin tidak meneruskan bicaranya ia diam sejenak kemudian dengan suara nyaring berkata.

"Goa Leng bwee kek di Pek Thian see ini ada sukar dicapai oleh orang yang tidak kenal jalannya apalagi malam terang bulan kesini. Yang datang di 65 belakang batu besar itu kalau bukan Thio Tay hiap siapa lagi?"

Bu Ju Toato berpaling ke jurusan yang dikatakan kawannya.

Benar saja ia melihat Kin say Thio Tit Jun dan Bo yong Kang bersama Cong Bun dalam gendongannya sedang mendatangi.

Toato itu kagum dengan lihainya sang kawan.

Sebab yang datang masih dalam jarak kira-kira sepuluh tombak sudah diketahui kedatangannya.

Ketika Thio Tit Jun dan kawan-kawan sampai, dua tokoh terkenal itu lalu menjura dengan hormat.

"Tidak dikira kedatangan aku si orang she Thio sangat mujur sekali, sudah ada Bu Ju Taysu yang datang terlebih dahulu, hingga aku tak perlu memberitahukan lagi maksud kedatangan ini."

Bo yong Kang tidak mengira bahwa dua orang yang sedang asyik bermain catur di bawahnya sinar bulan purnama adalah supeknya bersama Ceng Leng Cinjin, orang yang hendak dicarinya.

Maka bersama Li Cong Bun lantas berlutut di depannya dua orang itu untuk mengunjuk hormat.

Bu Ju Toato dan Ceng Leng Cinjin tertawa gelak-gelak mendengar Thio Tit Jun kepada siapa Ceng Leng Cinjin berkata.

Setelah 66 menjura Bo yong Kang dan Li Cong Bun bangun dari berlututnya.

"Thio Tayhiap, kau baik sekali dengan tidak mengenal lelah dari jauh telah mengantarkan anak ini ke sini. Tentang dirinya semua telah diceritakan oleh Bu Ju Taysu. Akupun sudah mengambil keputusan untuk mendidik anak ini sampai mahir dalam kepandaian silat. Setelah tiga tahun ia ada di sini Bu Ju Taysu berjanji akan datang kemari untuk mengajari dia ilmu pukulan tangan kosong dan ilmu pedang. Kira-kira dalam tempo delapan tahun belajar kepandaiannya sudah boleh dengan siapa saja benggolan dari Si Leng cee."

Diam-diam bersama Bo yong Kang dalam hati Thio Tit Jun memuji peruntungannya Cong Bun yang demikian baik sekali mendapat guru sampai dua berbareng.

"Sungguh baik peruntungannya anak ini.

Aku mengharap dia tekun belajar dan kelak kemudian hari dapat menjadi benggolan rimba persilatan, bisa membereskan kekacauan akibat kawanan orang jahat yang berbuat sewenang-wenang.

Aku dalam tahun yang lampau selagi jalan-jalan di Tibet selatan dengan tidak disengaja telah menolong orang untuk mana dia telah menghadiahkan dua buah soatson padaku.

Satu aku sudah pakai, yang satu lagi dengan rela aku berikan pada anak ini untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya."

Thio Tit Jun sambil berkata telah mengeluarkan satu bungkusan lalu diterimakan pada Ceng Leng Cinjin siapa menyambuti dan diperiksa barang itu, kemudian manggut-manggut kepalanya tersenyum.

Sambil menatap wajahnya Li Cong Bun yang cakap dan gagah Ceng Leng Cinjin berkata.

"Anak, barang pemberian dari tayhiap ini sangat berharga dan dapat membantu dalam latihanmu selama tiga tahun. Masih anak-anak begini kau begitu baik peruntunganmu, aku harap kau suka belajar sungguh-sungguh dalam bimbinganku. Aku ada punya peraturan keras. Aku tidak suka dengan anak yang belajar malas-malasan dan tidak taat kepada segala petunjukku aku bisa mengusir seketika itu juga, tidak seorangpun yang dapat memintakan ampun untuk aku merubah keputusan."

Li Cong Bun meskipun masih anak-anak tapi sangat cerdik. Setelah kaget sebentar mendengarkan kata-katanya Ceng Leng Cinjin cepat ia berlutut dan berkata.

"Tecu berjanji akan belajar dengan rajin dan mentaati segala petunjuk suhu, harap suhu boleh teguhkan hati…."

Ceng Leng Cinjin tertawa gelak-gelak dan suruh Li Cong Bun bangun. Bu Ju Toato dilain pihak mengawasi Bo yong Kang lalu berkata.

"Kau ini sebenarnya ada bahan yang baik juga, hanya sayang sifatmu berangasan dan tak teguh hatimu 68 hingga sukar mendapat pelajaran ilmu silat yang tinggi.

Aku sengaja melatih kesabaranmu menyuruh kau bikin perjalanan ribuan li datang ke mari.

Sebetulnya setelah kau berangkat dari Heng San aku juga segera menguntit perjalananmu.

Nona berbaju putih itu lihai sekali ilmu silatnya, dia tentu adalah salah satu pemimpin dari Si Leng cee yang dipanggil si Burung Hong Kumala.

Nama sejatinya adalah Gan Su Nio.

Kepandaian silatnya aku lihat seperti termasuk Lam hay pay, apakah dia ada hubungan dengan Biauw Hoat Sin ni?

Aku lihat nona itu ada menaruh hati padamu, dikemudian hari pasti dia akan merasa tidak senang terhadap perbuatannya orang-orang Si Leng cee yang sewenang-wenang dan mungkin ia akan berontak melawan pimpinan lainnya.

Sekali-kali kau jangan melalaikan cinta kasihnya yang keluar dari hati yang suci murni."

Bu Ju Toato berhenti sejenak, ia lihat Bo yong Kang kemerah-merahan wajahnya dan membisu seperti patung mendengar halnya si nona baju putih diungkat-ungkat oleh supeknya.

"Sekarang Cong Bun biarkan disini dididik dalam pelajaran pokok oleh Ceng Leng Cinjin. Kau sendiri ikut aku ke Heng San untuk memperdalam kepandaianmu. Setelah tiga tahun, kau boleh datang lagi disini untuk mendapat bimbingan Ceng Leng Cinjin dan saat itu kau bisa bersama-sama lagi dengan Li 69 Cong Bun. Nanti setelah sampai waktunya kalian berdua boleh turun gunung untuk bertanding dengan bengolan bengolan dari Si Leng cee."

Bo yong Kang tadinya adalah seorang pemuda yang tinggi hati memandang rendah pada orang, ia anggap dirinya sendiri yang paling jagoan.

Kini setelah diberi petunjuk oleh dua orang Locianpwee Bu Ju Toato dan Ceng Leng Cinjin adatnya lantas berubah sama sekali.

Ia melihat dua Locianpwe ada menaruh perhatian atas dirinya dan bersedia untuk memberi pelajaran lebih tinggi.

Dalam hatinya ia merasa sangat berterima kasih dan menyesalkan atas kelakuannya yang sudah-sudah.

Dengan suara rendah dan menghormat, Bo yong Kang mengucap terima kasih pada dua tokoh terkenal itu atas perhatian mereka hendak mendidik dirinya dalam ilmu silat yang lebih tinggi pula.

Setelah urusan beres maka Bu Ju Toato mengajak Bo yong Kang untuk balik ke Heng San.

Melihat Li Cong Bu, hati Bo yong Kang merasa tidak tega.

Ia akan berpisah begitu mendadak.

Dengan air mata berlinang ia memberi nasehat.

"Bun jie, kau baik-baik di sini belajar iweekang pada suhumu, lagi tiga tahun kita bertemu lagi dan aku akan mendampingi kau belajar ilmu silat. Kau tak perlu berkecil 70 hati. Thio yaya masih menemanimu beberapa hari lamanya…"

BU Ju Toato melihat Bo yong Kang dan Li Ceng Bun menangis saling peluk lalu tertawa gelak-gelak.

"Bo yong Kang, dimana hatimu yang seperti baja? Kau jangan berlaku demikian lemah. Perpisahan hanya tiga tahun saja. Sebentar saja sudah berlalu. Hayo lekas bersiap, kita harus lekas ke Heng san!"

Bo yong Kang lepaskan pelukannya kemudian mengikuti Bu Ju Toato meninggalkan tempat itu.

Mereka menggunakan ilmu lari cepat maka sebentar saja mereka sudah lenyap dari pandangan.

Kim say Thio Tit Jun juga setelah tinggal tiga hari lalu mengambil selamat berpisah dari Ceng Leng Cinjin dan Li Cong Bun, pulang ke tempatnya di lembah Sang seng.

Setelah tetamunya berlalu Leng Ceng Cin jin lalu mengolah soatsom dicampuri dengan bahan-bahan obat lainnya dibuat menjadi tiga butir pil sebesar lengkeng.

Li Cong Bun mulai pelajaran dengan rahasia semedi.

Sebelumnya Ceng Leng Cin jin memberi nasehat kepada muridnya itu.

"Aku ini selamanya belum pernah menerima murid. Kali ini aku terima kau, karena memandang pada mukanya Bu Ju Taysu. Aku 71 harap setelah pandai selainya kau menuntut balas dendam kau harus membasmi juga kejahatan-kejahatan yang kini merajalela dalam dunia persilatan. Aku dengan Bu Ju Taysu sebenarnya dapat menyingkirkan mereka itu, tetapi karena tingkatan derajat tak mau turun tangan sendiri-sendiri, maka kita akan mendidik kau yang akan menjadi wakol dari kita untuk membereskan urusan itu. Kalau nanti ada dua orang tua aneh, Thian lam Siang Koay turun tangan karena urusannya diaduk-aduk olehmu, aku dan Bu Ju Taysu yang nanti menghadapinya."

Li Cong Bun diam sajamendengarkan bicaranya sang guru.

"Soatson dari Kim say Thio Tayhiap sangat besar gunanya. Setelah aku bikin butiran pil dicampur dengan obatku sendiri, setiap tahun boleh kau makan sebutir. Ia akan membikin selain badanmu dirasakan nyaman dan segar, juga menambah kekuatan tenaga dalammu, juga memudahkan kau menerima pelajaran ilmu pukulan dan pedang. Aku tahu ayahmu adalah seorang pendekar yang ulung. Ia melihat kau dikemudian hari akan menjadi pendekar yang luar biasa. Maka ia tidak mau memberi pelajaran sendiri padamu, karena takut kau salah belajar menjadi sia-sia dengan bakatmu yang bagus. Maka aku akan turunkan kepandaianku padamu. Harap kau belajar dengan sungguh-sungguh, jangan kau bikin aku 72 kapiran dengan tenagaku yang sudah dibuang-buang."

Li Cong Bun berjanji akan menurut perintah suhunya.

Ia belajar iwekang dengan tekun.

Di waktuluang ia suka jalan-jalan di tempat yang banyak pohon bunga bwee untuk mengendus harumnya bunga.

Ada kalanya kalau melihat bunga-bunga yang layu nyangkut di dahan-dahan, kalau ia tidak manjat untuk membikin bersih ia akan menimpuk dengan batu.

Setengah tahun segera sudah lewat.

Pada suatu hari ia menimpuk pada bunga-bunga bwee yang layu di dahan pohon.

Ternyata timpukannya meleset berulang-kali.

Timpukannya bukan membikin bunga-bunga yang layu itu pada jatuh.

Akan tetapi bunga-bunga yang masih pada segar kelihatan pada rusak karena timpukannya itu.

Ia jadi penasaran.

Lalu ia enjot tubuhnya menulcut ke atas dahan.

Hatinya merasa heran sebab ia dapat meluncur seolah-olah tidak pakai tenaga.

Ia insyaf itu adalah hasil ia belajar bersemedi.

Pil yang kedua diberikan oleh Ceng Leng Cin jin diwaktu Li Cong Bun sudah setahun lamanya.

Kepadanya tidak diberikan lain pelajaran selain bersemedi dan beberapa petunjuk untuk meyakinkan iweekang.

Meskipun demikian Cong Bun terus giat dengan latihannya.

73 Segera sang waktu dan setengah tahun sudah lewat.

Tiga butir pil soatsom telah ditelan habis oleh Li Cong Bun.

Pada waktu itu saban kali ia menimpuk pada bunga-bunga yang layu di dahannya, tidak ada satupun yang tidak dapat dijatuhkan.

Bahkan dengan genggaman batu-batu kecil yang ia lontarkan dapat membikin jatuh beberapa bunga bwee.

Diwaktu ia melompat jaraknya sudah jauh lebih tinggi.

Sekarang sudah bisa dua tombak.

Demikianlah adanya kemajuan.

Ketemu lagi pada musim dingin.

Setelah Li Cong Bun melihat di atas pohon bwee ada tujuh delapan kuntum bunga yang sudah layu, lalu memunggut batu sebesar telur.

Setelah itu dihancurkan di dinding gunung menjadi sepuluh butir.

Lalu menimpuk bunga bunga yang sudah layu itu, ternyata satu demi satu timpukannya itu kena dengan jitu pada sasarannya hingga hatinya bukan main girangnya.

Tiba-tiba mendengar tidak jauh dari belakangnya sang guru memanggil.

"Bun Jie, coba kau kemari!"

Li Cong Bun menghampiri gurunya. Setelah berhadapan sang guru menanya.

"Kau sudah berapa lama belajar di sini?"

"Kira-kira dua setengah tahun."

Sahut Cong Bun.

"Dan bagaimana kemajuannya?" 74

"Teecu tidak tahu akan kemajuannya. Hanya sejak teecu berlatih bersemedi dirasakan badan amat ringan dan sehat malah tak takut akan hawa dingin. Suhu dapat menyaksikan sendiri sekarang ada turun salju dan hawanya sangat dingin dan teecu hanya mengenakan baju tipis saja."

"Nah melatih diri sampai tingkatan ini sebenarnya tidaklah mudah. Aku barusan melihat kau menyambit bunga dengan batu amat tepatnya, coba sekarang ambil batu yang lebih besar tak usah dihancurkan di dinding gunung. Kau bersemedi sebentar duduk di atas batu setelah menyemputnakan tenagamu kau gunakan tangan kananmu memukul batu tadi dengan ringan saja. Pergi cobalah."

Lo Cong Bun tidak tahu apa maksudnya.

Ia menurut saja perintah sang suhu.

Betul juga apa katanya sang guru setelah ia menyempurnakan tenaganya bersemedi ia memukul batu tadi telah hancur menjadi delapan butir.

Sekarang suhunya menyuruh ia dengan gaya seperti ia menyambit bunga bwee tadi boleh sambitkan butiran batu itu kena mukanya sang guru dengan sekuat tenaganya.

Perintah mana sudah tentu Cong Bun sungkan lakukan, akan tetapi setelah diperintah beberapa kali baru ia menurut dan menyambitkan batu-batu itu kepada sang guru ternyata semuanya tidak mengenai sasarannya sebab begitu dekat ke dadanya butiran batu telah membelok lewat kesamping.

75 Kemudian mana apa serupa ketika LI Cong Bun disuruh menyerang bagian muka gurunya.

Sungguh mengherankan sang guru tidak bergerak dari berdirinya, tetapi batu-batu yang dilontarkan dengan sekuat tenaga oleh Li Cong Bun ketika semuanya sudah dekat menyentuh sasarannya telah membelok ke samping.

Li Cong Bun terkesima melihat kejadian yang mengherankan itu.

"Nah sekarang kau menyaksikan dengan keheranan kegaiban yang dilihat barusan. Itulah hasilnya latihan Iweekang yang kuajarkan padamu. Latihan harus dipusatkan pada pernapasan membekukan urat syaraf dan mengumpulkan semua tenaga dan semangat. Menjadikan hawa murni urat syaraf dan semangat berjalan dan berkumpul menjadi satu. Dengan semangat menekan hawa dengan hawa mengalirkan tenaga dengan tenaga menguatkan urat syaraf tiga hal ini terus menerus bergilir berjalan datang pergi."

Panjang lebar sang guru telah memberikan petunjuk petunjuk dari hal melatih Iweekang (tenaga dalam) sangat sulit untuk diyakinkan, tetapi lantaran Li Cong Bun otaknya cerdas dan terdorong oleh keinginan untuk mendapat ilmu yang sempurna betul untuk menuntut balas maka kesemuanya itu dapat dipelajari olehnya dengan baik.

76 Tiga tahun kemudian.

Pada suatu malam, jagat diterangi oleh sinar bulan yang terang benderang tampak Ceng Leng Cin jin berdiri di mulut goa tengah menyaksikan Li Cong Bun berlatih gaya Garuda pentang sayap dirubah garuda menerkam korban dari tiga empat tombak tingginya tubuhnya meluncur jatuh, saat akan sampai di tanah badannya miring dan membiluk ujung kakinya ringan sekali menootol batu badannya terbalik sembari mengayun tangannya menyerang pada pohon bwee yang jaraknya tiga tombak daripadanya segera tampak menancap tiga buah biji catur berbaris rapi seperti bunga bwee pada pohon yang menjadi sasaran tadi.

Ceng Leng Cin jin bukan main girangnya melihat muridnya sudah demikian pandai.

Selagi hendak mengeluarkan pujiannya, tiba-tiba dari jauh melihat datangnnya Bu Ju Toato dan Bo yong Kang, maka ia berteriak pada muridnya untuk menyambut kedua orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya.

Li Cong Bun yang sudah kangen pada Bo yong Kang, mendengar suhunya mmenyuruh menyambut kedatangan dua orang itu, segera melesat setinggi tiga tombak.

Dengan menggunakan ilmu lari cepatnya ia menyongsong kedua orang itu.

"Bo yong susiok, kau…. Kau…."

Li Cong Bun berteriak dengan tidak bisa mengeluarkan 77 kata-katanya yang tegas karena hatinya sangat kegirangan ketika nampak Bo yong Kang berada didepan matanya.

Li Cong Bun menubruk Bo yong Kang, mereka saling peluk dengan penuh kasih sayang.

"Bun jie kau selama ini baik-baik saja..?"

Kata Bo yong Kang sambil mengelus-elus rambutnya sang keponakan yang dicintai sebagai jiwanya itu.

"Bo yong susiok, aku girang sekali melihat kau sehat-sehat saja…."

Jawabnya gembira.

"Harap kita jangan berpisah lagi susiok!"

Bo yong Kang tertawa.

"Kita selalu berdampingan untuk selanjutnya. Bun jie kan akan mendapat pelajaran ilmu pedang yang tinggi dari supek…."

Li Cong Bun baru ingat bahwa di situ ada Bu Ju Toato, maka cepat-cepat ia menghampiri mau berlutut, tapi Bu Ju mencegah.

"Anak baik, kau tidak perlu menjalankan penghormatan. Bo yong Kang, coba kau lihat anak ini kemajuannya berupa tidak selama tiga tahun berpisah dengan kita..?"

Bo yong Kang yang memang sedari tadi merasa kagum dengan ilmu mengentengi tubuhnya sang keponakan yang sangat tinggi lalu memeriksa lebih jauh keadaan tubuhnya Li Cong Bun.

Diam-diam ia memuji bimbingan Ceng Leng Cin jin yang amat sempurna.

Karena 78 dalam waktu tiga tahun saja anak itu sudah berubah banyak keadaan tubuhnya.

Matanya bersinar, iweekang ditaksir mencapai tingkat tinggi.

Waktu itu Li Cong Bun baru mencapai umur sebelas tahun, maka didalam usia delapan belas tahun anak itu pasti akan mencapai tarap tertinggi kepandaiannya.

Bo yong Kang kegirangan ia menyampaikan pendapatnya kepada Bu Ju Toato yang telah angguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.

Mereka berjalan sambil beromong-omong dengan gembira sampai di mulut goa Bu Ju Toato disambut oleh Ceng Leng Cin jin dengan gembira temabn bermain catur sudah datang kembali.

Malah kali ini Bo Jo Toato akan berdiam lama di gua Leng hwee kok untuk menurunkan pelajarannya kepada Ceng Bun.

Dari Ceng Leng Cinjin, selama tiga tahun itu sudah dapat dipelajari ilmu "Pedang Pengejar Sukma‟ dan tenaga sakti.

Sekarang Li Cong Bun menerima pelajaran dari Bu Ju Toato ilmu pedang Swastika (To lo kiam) dan "Naga Mencengkram Mustika‟.

Bo yong Kang sebaliknya mengutamakan ilmu pedang Swastika (To lo kiam) dan "Naga Mencengkram Mustika‟.

Dibantu oleh gaya "Pedang Pengejar Sukma‟ dan tenaga sakti.

Selama berdampingan itu Bo yong Kang telah memberi pelajaran membaca dan menulis kepad keponakannya yang dikasihi itu.

Otaknya yang cerdas dan semangatnya yang 79 bergelora membuat Li Cong Bun maju pesat dalam pelajaran Bun dan Bu (ilmu surat dan ilmu silat) hingga Bo yong Kang diam-diam merasa amat girang dan bangga.

Diam-diam suka merenungkan Bingkisan Maut..!

"Ah itu bingkisan maut yang membuat toako binasa yang sangat penasaran…."

Jilid 3 DEMIKIAN kembali sudah lewat lima tahun Li Cong Bun tinggal bersama Bo yong Kang susioknya di gua Leng hwee kok.

Kini badannya Li Cong Bun lain dari dahulu, kini ia sudah menjadi pemuda tampan dan cakap.

Tubuhnya kelihatan gagah menarik serta sinar matanya tajam menusuk karena Iweekangnya sudah mahir betul.

Sebaliknya Bo yong Kang telah berusaha menambah banyak kepandaian tinggi.

Juga adatnya yang sombong angkuh telah berubah menjadi seorang yang ramah-tamah dan merendah.

Romannya tidak berubah seperti delapan tahun berselang.

Sekalipun usianya sekarang telah mencapai empat puluh tahun.

Tetap cakap dan gagah yang telah menarik hatinya sicantik baju putih.

Pada suatu pagi setelah bersemedi dan tahu bahwa gurunya dan lain-lainnya masih 80 dalam bersemedi Li Cong Bun telah keluar dari goa jalan-jalan disekitar gunung sembari berlatih.

Setelah sampai diantara puncak yang berjurang dalam sekali, ia memandang kebawah jurang yang keadaannya amat permai dan menarik hati.

Tiba-tiba diantara rimba-rimba ia melihat ada suatu sinar yang menyorot keluar.

Ia terus mengawasi, ternyata itu adalah sinar hijau, lama baru sinar itu menghilang.

Benda apakah yang mengeluarkan sinar demikian gemilang?

Ia pada hatinya sendiri.

Sayang ia tidak diperbolehkan untuk keluar jauh-jauh dari goa.

Kalau tidak tentu ia akan turun ke dalam jurang untuk memeriksanya.

Setelah lama tidak kelihatan mencorotnya sinar tadi, maka Li Cong Bun turun dari puncak gunung ke goa dan memberitahukan halnya sinar hijau itu kepada suhu dan susioknya.

Mendengar laporan itu Bu Jo Toato tertawa.

"Ceng Keng Toheng, apakah itu mungkin adalah sinarnya pedang Tay Han Sin ni yang dibuang olehnya karena benci karena dibikin rompal oleh senjata musuhnya?"

"Dugaan Tayjin mungkin benar. Memang di sekitar tempat ini dulu telah terjadi pertempuran pihak hitam dan putih. Dalam jurang yang dikatakan Bu Jie tadi Tay Han 81 Sin ni telah bertempur dengan seorang hwesio dari Tibet sampai tiga hari tiga malam barulah ada keputusan kepalanya si hwesio dibikin terpental dari tubuhnya. Tapi sebelumnya itu , pedang pusakanya yang ampuh "

Pedang Penakluk Iblis telah dibikin rompal oleh senjatanya si hwesio yang dinamai "Pentungan Bulan Sabit‟.

Bahkan amarahnya Sin ni telah melemparkan pedang itu dan bersumpah tidak akan menggunakannya lagi."

"Memang di situ tempat pertempurannya."

Kata Bu Jo Toato.

"Sebaiknya sebentar malam setelah berlatih, Bo yong Kang dan Bu Jie pergi ke tempat itu, siapa tahu ada berjodoh mendapatkan pedang pusaka itu."

Leng Ceng Cinji n setuju dengan pikiran kawannya itu.

Ketika sang malam sampai, benar saja setelah berlatih sebentar Bo yong Kang lalu mengajak Li Cong Bun untuk pergi melihat ke bawah jurang tentang benda yang dibicarakan tadi siang.

Mereka memberi jurusan mencarinya ialah Bo yong Kang mencari ke sebelah utara dan Li Cong Bun ke jurusan selatan.

Satu dengan yang lain berjanji kalau menghadapi bahaya memberi tanda dengan siulan supaya dapat mereka berdua menghadapinya.

Bo yong Kang setelah menyelidiki dalam bambu tidak ada apa-apa yang dapat dicurigai pikirnya akan balik lagi akan menemui Li 82 Cong Bun.

Apa mau tiba-tiba ia mendengar suara berkeresek dan seperti ada orang yang sedang mengunyah makanan.

Perlahan-lahan menghampiri ke tempat iru untuk mengintai.

Hatinya terkejut ketika melihat ada mahluk aneh didepan matanya.

Ia menyaksikan manusia tapi bukan manusia, kepalanya sebesar gentong, matanya besar seperti kliningan, begitu juga mulutnya besar dan mengeluarkan caling.

Ia sengan duduk di tanah.

Kalau berdiri tingginya sedikitnya ada satu tombak lebih.

Tangannya panjang dan amat kurus, di tangan kanannya sedang memegang ular berbisa yang panjang sekali dan mulutnya enak sekali tampaknya sedang mengunyah ular.

Diam-diam Bo tong Kang bergidik.

Ular itu sangat berbisa seperti dapat dilihat dari bekasnya ia menggeleser rumput-rumput yang dilaluinya telah layu dan berwarna hitam, tapi heran, dengan enak saja mahluk aneh itu sang ular telah dimakan mentah-mentah.

Tiba-tiba bau amis telah masuk ke dalam hidungnya.

Buru-buru Bo yong Kang mengeluarkan pil pemunah racun dari sakunya dan ditelannya.

Dua tombak kira-kira dari tempat dimana mahluk aneh itu duduk tampak seperti ada mendatangi lain mahluk aneh.

Bo yong Kang tertarik hatinya untuk melihat apa 83 yang terjadi kemudian karena mahluk aneh yang sedang makan ular tampaknya beringas dan keluarkan raungan yang menggema seolah-olah itu adalah tanda penyambutan akan kedatangan musuhnya.

Sebentar kemudian benar saja muncul mahluk lain, mahluk aneh berupa kura-kura, besarnya 28 kaki persegi.

Badannya lemas sekali berwarna merah.

Empat kakinya gemuk-gemuk dan kepalanya panjang.

Di atasnya ada meringkik seekor ular berbisa mata satu yang galak sekali rupanya.

Karena begitu datang dekat dengan mahluk aneh tadi sang ular sudah angkat kepala dan lidahnya dikeluarkan bersuara "kuak-kuak!"

Dua mahluk aneh itu berada satu tombak jauhnya satu dengan yang lain.

Masing-masing matanya melotot mengawasi musuhnya.

Bo yong Kang diam-diam merasa senang akan melihat perkelahian dua mahluk aneh itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara berkeresekan, ia menduga akan Li Cong Bun yang datang, maka ia memberi isyarat dengan lontaran bambu supaya keponakannya itu berhati-hati.

Benar saja Li Cong Bun yang datang, ketika pemuda itu mau membuka mulut, Bo yong Kang taruh jari telunjuknya di mulut, suatu isyarat supaya keponakannya itu jangan ribut.

Kemudian ia memberi pil memunah racun untuk ditelan oleh Li Cong Bun.

Berdua mereka menyaksikan pertempuran dari dua mahluk aneh tadi.

Mahluk berbadan kura-kura 84 dengan kepala ular telah mengeluarkan asap bisa yang berwarna hitam, bau amis telah masuk dalam lubang.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun menutup hidungnya.

Ketika itu dua mahluk dua mahluk aneh itu sudah mulai bertempur setelah masing-masing mengeluarkan raungan, seolah-olah yang memanggil bala bantuan.

Seru sekali dua mahluk itu bertempur.

Masing-masing ngotot hendak membinasakan musuhnya.

Tiba-tiba dari dalam rimba bambu ada muncul seorang raksasa.

Tangan kanannya membawa pedang yang berkilauan sinarnya hijau menyilaukan mata.

Li Cong Bun kenali itulah sinar hijau yang ia lihat dari puncak gunung.

Betul saja itu adalah pedang pusaka itu miliknya Tay Han Sin ni yang kini dimiliki oleh raksasa tadi.

Li Cong Bun sangat tertarik oleh pedang pusaka itu.

Maka tanpa berunding lagi dengan susioknya, maka diam diam ia mengeluarkan dua biji caturnya dan disentilkan ke arah matanya si raksasa.

Benar-benar jitu sentilan Li Cong Bun, sebab seketika itu juga si raksasa meraung keras dan tangannya membekap mukanya.

Darah mengalir dari kedua belah matanya dan seketika itu juga ia telah menjadi buta.

Dengan kecepatan kilat Li Cong Bun melesar dan merampas pedang dari tangannya raksasa yang sedang repot oleh sepasang matanya yang mendadak menjadi buta karena 85 sentilan dua buah biji catur oleh Li Cong Bun.

Raksasa itu menggereng dan mengubar Li Cong Bun hingga Bo yong Kang menjadi gelisah.

Disaat hendak memanggil keponakannya, tiba-tiba mendengar suaranya Ceng Leng Cin jin yang berkata.

"Bu jie, jangan sembarangan!"

Li Cong Bun melompat ke depan gurunya dan dengan hormat menyerahkan pedang rampasan tadi.

Si raksasa masih berputar-putar mencarinya, sedang dua mahluk aneh masih terus bertarung mati-matian seolah-olah tidak menghiraukan kedatangannya manusia di situ.

Ceng Leng Gin jin menyambuti dan memeriksa pedang pusaka itu.

Ia manggut-manggutkan kepalanya.

"Benar inilah adanya pedang pusaka dariTay Han Sin ni sebagaimana dapat dilihat dari rompalan kecil sebesar beras di ujungnya."

Ia menyerahkan pedang itu pad Bu Jo Toato untuk memeriksanya.

"Dua siluman gunung yang hidup sudah banyak tahun di sini dengan makanannya ular berbisa sebenarnya tidak membuat apa-apa, malah membantu manusia menyingkirkan ular-ular berbisa. Mereka boleh dikasi tinggal hidup, akan tetapi itu mahluk badan kura-kura dan kepala ular ada sangat jahat 86 membuat susah pada manusia yang kebetulan kesompokan dengannya."

To heng benar"

Kata Bu Jo Toato sambil menyerahkan kembali pedang pusaka tadi. Binatang badan kura-kura dan kepala ular itu memang sangat berbisa dan mungkin yang dinamai "

Kura-kura Berkepala Ular tersebut dalam cerita, hanya dapat dibinasakan dari matanya, sedang badannya kendati pedang tajam bagaimanapun juga tidak mempan membinasakannya karena badannya kebal keras seperti baja.

Sebaiknya kalau sudah kita bunuh, kita tanam jauh-jauh supaya bisanya tidak tersebar dan mengambil korban manusia yang tidak berdosa."

Ceng Leng Cin jin angguk-anggukkan kepalanya.

Ia segera bertindak dengan menggunakan biji-biji catur mengarah matanya mahluk aneh itu dalam sekejapan sudah bergelisahan di tanah dan kemudian putus jiwanya.

Selainnya yang bertanding dengan si siluman gunung, mahluk badan kura-kura dengan kepala ular masih ada dua lagi kawanannya yang telah dibinasakan oleh Ceng Leng Cin jin dengan cara serupa.

Kemudian bangkainya telah ditanam baik-baik supaya hawa bisanya tidak berhamburan dan meminta korban manusia.

Setelah beres, dalam perjalanan pulang Ceng Leng Cin jin telah berkata pada Li Cong Bun.

Sembari nasehat sekadarnya untuk bekal dalam perjalanannya dikemudian hari.

"Ketika kalian berdua pergi, baru ingat bahwa di dekat gunung ini ada hidup dua siluman gunung. Pertama kali aku pernah melarang kau pergi jauh-jauh dari goa justeru karena adanya dua siluman itu yang tenaganya besar dan badnnya tidak dapat dipotong oleh senjata tajam. Maka begitu kalian berangkat, aku dengan Tay supekmu membuntuti dari belakang. Tidak hanya kita dapat menemui "

Kura-kura Berkepala Ular yang bercun itu."

"Aku lihat ketika kau mellihat pedang, timbul hatimu yang serakah. Dengan tidak mengukur diri sendiri punya kepandaian sudah berani-berani merampas pedang dari tangannya siluman gunung itu. Coba kalau tidak keburu kita berdua datang, entah apa jadinya dengan kau, mungkin jiwamu sudah melayang. Dengan demikian bukankah kita punya jerih payah untuk menurunkan ilmu kepadamu menjadi sia-sia? Jangankan kau. Tay supekmu sendiri tidak berani sembarangan turun tangan terhadap siluman gunung yang bertubuh kebal itu."

Li Cong Bun tundukkan kepalanya membisu.

"Bun jie, kau harus resapi betul-betul nasehat suhumu!"

Kata Bo yong Kang.

"Kini kau sudah lolos dari bahaya maut. Aku tidak menyalahkan perbuatanmu yang dilakukan tanpa disadari oleh kau itu. Tapi selanjutnya aku harap kalau mau turun tangan 88 kau harus berhati-hati. Aku serahkan kau dibawah bimbingannya Bo yong susiokmu. Nah ini senjata "

Pedang Penakluk Iblis"

Aku serahkan kepadamu!

Tetapi ingat baik-baik, jika tidak keliwat mendesak jangan sekali digunakan karena sejak saat Tay Han Sin ni membunuh hwesio Sihek, seterusnya telah timbul permusuhan balas membalas.

Maka kalau Sihek pay mendapat tahu munculnya kembali pedang ini tentu akan terjadi kekerasan yang tidak diinginkan."

Li Cong Bun angguk-anggukkan kepalanya dengan tidak mengeluarkan suara.

"Aku lihat,"

Meneruskan Ceng Leng Cin jin.

"Meskipun kalian telah menelan pil bikinannya Tay supekmu Bu Ju, masih belum dapat memunahkan racun dari binatang "

Kura-kura Berkepala Ular"

Itu.

Maka aku berikan kalian obat pil ku sendiri Chim sim Leng tam untuk mencegah timbulnya penyakit dari racun binatang berbis itu.

Aku harap selanjutnya kau betul-betul berlatih agar pengharapanmu untuk membalas dendam tidak akan sia-sia.

Selanjutnya itu juga jika kau sudah turun gunung dapat menjalankan tugas seperti yang kami berdua harapkan, mengangkat nama harum dalam rimba persilatan.… "

Li Cong Bun yang menerima nasehat yang panjang lebar dari suhunya itu batinnya amat terharu.

Air matanya mengembang saking merasa sangat berterima kasih atas kebaikan kegua locianpwee itu yang telah mendidiknya 89 sampai mempunyai kepandaian tinggi.

Maka sejak itu ia berlatih dengan lebih bersungguh-sungguh.

Dengan tidak terasa Li Cong Bun tinggal dalam gua Leng Bwee kok sudah delapan tahun.

Sedang Bo yong Kang sudah lima tahun mempertinggi ilmu silatnya.

Pada suatu hari mereka dipanggil ke kamar bukunya Ceng Leng Cin jin dimana ketika mereka masuk kedua locianpree yang mendidik mereka menjadi orang-orang yang berkepandaian tinggi sudah ada di situ.

Ceng Leng Cin jin telah berkata.

"Ya, sekarang kalian punya tenaga lunak dan keras sudah dapat digunakan mulai besok pagi, kalian berdua boleh turun gunung, pergi ke tionggoan untuk membalas dendam. Bantu untuk membersihkan kejahatan-kejahatan dalam kalangan kangouw, berbuat kebaikan kepada masyarakat. Jadilah pendekar-pendekar yang menjunjung tinggi keadilan. Janga sekali melakukan pembunuhan jika tidak sangat terpaksa. Meskipun dalam Si leng cee banyak orang berkepandaian tinggi, kalian tidak usah merasa kuatir menandinginya. Hanya kepada Se Bun Pa kalian harus berhati-hati. Orang she Bun itu benar kepandaian silatnya tidak seberapa, akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya sangat luar biasa dan pandai menggunakan bahan-bahan racun untuk menyerang musuhnya baik dengan jalan berterang maupun jalan mengendap. Tepat 90 sekali dengan gelarnya Cian tok Jin Mo (Manusia Iblis Seribu Bisa). Orangnya pun licin dan licik, terutama ia mencelakakan orang dengan jalan menggelap mata terhadap padanya itu kalian harus berhati-hati. ingatkah kalian pedang pusaka ini?"

Bo yong Kang dan Cong Bu angguk-anggukkan kepalanya.

Habis Ceng Leng Cin jin bicara lalu disambung oleh Bu Ju Toato sembari menyerahkan serupa benda seperti tanduk panjangnya tiga dim, nerkata pada Bo yong Kang.

"Benda ini bernama "

Tanduk Badak Dingin‟.

Kalau kalian di perjalanan kena makan racun benda ini boleh digurus campur air dan diminum.

Sangat mujarab sebab seketika itu bisa yang telah masuk di perut akan punah dengan sendirinya oleh obat mustajab ini.

Kau itu masih mentah dalam kalangan kangouw, seharusnya kau yang memberi bimbingan dan petunjuk.

Adatmu yang kaku sombong dulu harap dibuang.

Satu hal yang perlu aku wanti-wanti adalah kalau kau berjumpa lagi dengan si nona baju putih, jangan kau anggap sepi.

Aku lihat dia menaruh perhatian kepadamu keluar dari hatinya yang suci.

Kelak dimemudian hari mungkin dia menjadi pembantu kau yang paling dekat… "

Bo yong Kang mendengar disebutnya si nona baju putih, seketika itu air mukanya merah 91 karena jengah, tetapi diam-diam batinya menjadi girang bahwa supeknya kelihatan merasa setuju dengan si nona baju putih yang pernah membikinnya terpesona oleh kecantikannya yang luar biasa dan kelakuannya yang ramah tamah dan polos.

Bo yong Kang dan Li Ceng Bun berkemas-kemas untuk meninggalkan gia Leng bwee kok.

Ceng Leng Cin jin telah membikin sarung pedang dari kulit ular untuk Pedang Penakluk Iblis hingga pedang itu kini ada tempatnya.

Dengan pedang pusaka itu digantung di pinggang dan pedang peninggalan ayahnya Bwee hoa Kiam disoren di punggungnya berbaju warna hijau dan jaket warna merah muda, tampaknya Li Cong Bun semakin tampan dan gagah.

Bo yongkang masih berdandan seperti seorang pelajar.

Baju berwarna hijau dan di pinggangnya tergantung ia punya pedang panjang "Tiat Tam Sie"

Yang berarti "pelajar berhati besi"

Memang cocok dengan gelarnya Bo yong Kang yang tampan dan cakap.

Gelaran itu sebenarnya lebih cocok untuknya pada delapan tahun yang lalu ketika mana adanya yang sangat sombong membuat lawannya menjadi jerih.

Sekarang tabiatnya banyak berubah karena selama delapan tahun ia dibimbing oleh Bu Ju Toato supeknya yang berbudi telah memberinya banyak nasehat berfaedah untuk menjadi seorang pendekar yang berhati 92 mantap, pantang mundur akan tetapi rendah hati terhadap siapapun juga.

Dua ratus biji catur dalam kantong kulit ular tidak ketinggalan menjadi bekal Li Cong Bun.

Anak muda ini kini mahir sekali menggunakan biji catur sebagai senjata rahasia tunggalnya.

Setelah mohon doa restu dari kedua locianpwee yang dengan tujuan ke Tionggoan.

Dalam perjalanan melewati pembimbing mereka hingga memperoleh kepandaian yang sangat tinggi, Bo yong Kang dan Li Cong Bun lalu turun gunung tempat si Suga Emas Thio Tit Jun di lembah Seng seng mereka mampir.

Dimana Bp yong Kang telah mengambil kudanya yang tempo hari telah dititipkan pada seorang temannya dan kini sudah ada pada Thio Tit Jun.

pertemuan mereka sangat menggirangkan.

Dengan ramah tuan rumah mengajak tetamunya bicara di tengah rumah.

Dalam omong-oming Thio Tit Jun terus saja mengawasi Li Cong Bun yang kini berubah segala-galanya.

Dahulu ia orang yang lemah dan tidak mengerti apa-apa dalam hal ilmu silat.

Akan tetapi sekarang setelah delapan tahun jumpa kembali telah menjadi seorang pemuda yang cakap tampan dan badannya kuat.

Secara iseng-iseng ia ulur tangannya menekan pundaknya anak muda itu dengan menggunakan tenaga, tetapi tekanan itu dianggap sepi oleh Ceng Bun.

"Thio yaya, kau jangan main-main. Aku masih terlalu cetek pelajarannya dan masih mengharap petunjuk dari yaya."

Thio Tit Jun kagum sekali sebab tekanannya yang dapat membuat remuk tulang-tulang dianggap sepi oleh Li Cong Bun, lebih-lebih omongannya anak muda itu yang merendah membuat ia merasa sangat suka kepadanya.

"Ah, sungguh tidak mengecewakan dengan susah payah sang dwi tunggal menurunkan pelajaran kepandaian karena kau akan merupakan pendekar ternama dibelakang hari. Umurmu masih begini muda, tetapi kepandaianmu sudah begitu tinggi, tidak berada di sebelah bawahnya kau punya Bo yong susiok. Nah dahulu aku sudah berjanji akan membantu kalian, maka setlah nanti aku sudah siap-siap aku nanti akan mengantar perjalanan kalian ke Tionggoan sekalian disana aku akan menemui teman-teman yang sudah lama tidah bertemu."

Bo yong Kang tidak enak hatinya, maka ia berkata.

"Tho pepe, sebaliknya kami tidak ingin membuat repot padamu buat mengantar perjalanan kami ke Tionggoan. Sebab lainnya kami bertugas untuk menuntut balas juga ada lain-lain urusan yang hendak dikerjakan menurut pesan supekku."

Thio Tit Jun tak menjawab, hanya tertawa gelak-gelak saja.

94 Mereka tinggal di rumah Thio Tit Jun tiga hari lamanya.

Pada malam perpisahan, Thio Tit Jun telah mengadakan suatu perjamuan.

Selagi gembiranya mereka makan, mendadak Thio Tit Jun berkata pada Li Cong Bu.

"Bun jie.. rupanya sudah tak sabaran untuk menuntut balas, maka aku juga tidak boleh menahan terlalu lama perjalanannya. Sudah lama aku dengar kepandaiannya sang "

Dwi Tunggal"

Tetap[I belum pernah mendapat kutikan untuk menjajalnya.

Kini kebetulan Bun jie sudah mendapatkan warisan ilmunya yang tinggi, maka aku ingin menjajalnya sampai dimana kepandaian Bun jie.

Hayo mari sini Bun jie kita main-main sebentar."

LiCong Bun mendengar tuan rumah ingin menjajal dirinya merasa tak enak hati.

"Thio yaya berkepandaian tinggi. Mana bisa aku yang rendah melayaninya?"

Jawab Li Ceng Bun.

"Bun jie,"

Nyeletuk Bo yong Kang.

"Thio pepe hendak mencoba kau, kenapa kau menolak? Dia salah satu pendekar ulung, kalau sebentar kau main-main dengannya ada apa-apa yang salah, bukankah kau mendapat petunjuk yang berharga?"

"Ha.ha..ha..ha"

Tertawa Thio Tit Jun.

"Aku orang she Thio kepandaiannya masih perlu denga pengunjakan orang lain, cara bagaimana aku bisa memberi petunjuk pada murid sang Dwi Tunggal? Nah Bun jie kau 95 jangan malu-malu, marilah kita mencoba-coba…"

Setelah berkata dengan tak menantikan jawaban Li Cong Bun pada suatu lapangan yang cukup lebar.

Li Cong Bun terpaksa mengiringi keinginannya orang tua itu.

Setelah berhadapan, Li Cong Bun sebagai pihak muka, telah mempersilakan orang itu mulai dengan serangannya.

Thio Tit Jun yang memang ingin mencoba kepandaian anak muda itu, dengan tidak sungkan-sungkan telah menyerang dengan pukulan-pukulan keras.

Mereka bertempur makin lama makin hebat, hingga Bo yong Kang yang menonton di pinggir menjadi agak kuatir.

"Bun jie, kau menyerang kurang hebat. Anggap saja aku seperti musuhmu. Coba keluarkan ilmu menyerangmu yang paling berbahaya. Lihat, aku sendiri akan menyerangmu dengan sungguh hati."

Benar saja setelah mengucapkan kata-katanya Thio Tit Jun telah ubah cara bersilatnya dan mengeluarkan ilmu simpanannya untuk emnatuhkan Li Cong Bu.

Melihat gelagat kurang baik, maka Li Cong Bun juga tidak sungkan-sungkan lagi.

Ia telah kerahkan ilmunya, hingga angin santer yang ditercikan oaleh kepalanya anak muda itu membikin kaget Thio Tit Jun yang 96 menonton pinggiran terpaksa mundur karena tidak tahan.

Ternyata pertandingan paling belakang ini sangat seru.

Sampai di situ Bo yong Kang tidak bisa tinggal diam.

Karena pikirannya kalau masing-masing panas hati, bisa jadi runyam.

Persahabatan nanti bisa menjadi musuh.

Cepat ia pergunakan ilmu rajawali mementang sayap menghalang di depan Li Cong Bun.

Kedua lawan itu mundur lima enam tindak.

"Sudah cukup, sebaiknya percobaan sampai disini saja Tho pepe!"

Katanya Bo yong Kang sambil tertawa. Melihat Bo yong Kang turun tangan memisahkan, Thio Tit Jun tertawa bergelak-gelak.

"Bo yong hiantit, katanya.

"Betul-betul Bun jie hebat kepandaiannya. Aku punya latihan puluhan tahun yang aku buat andalan malah pukulan simpananku aku keluarkan ternyata tidak dapat menjatuhkan keponakanmu, maah aku jadi keteter. Coba dia tidak main-maindengan serangannya, niscaya aku dijatuhkan sedari siang-siang."

Li cong Bun mendengar pujian itu menjawab dengan merendah.

"Thio yaya, kau bisa saja putar duduknya perkara. Kalau tadi kau berlaku sedikit telengas saja, aku sudah kena dipukul jatuh."

Thio Tit Jun diam-diam ia memuji anak muda itu pintar mambawa diri dan dapat menutup orang punya perasaan malu.

Sebab 97 dengan sudah dengan sebenarnya ia sudah kalah kalau benar-benar Li Cong Bun keluarkan kepandaiannya "

Dengan senjaranya Pedang Penakluk Iblis warisan Tay Han Sin ni yang dimiliki dan kepandaian yang tinggi, aku percaya Bun jie tidak sukar membalas dendam dan mengangkat nama dalam rimba persilatan sebagai pendekar budiman, Cuma aku ingin menasehati, kalau kau ketemu orang jahat, jangn kau memandang sepi kepandaian orang, sebab kelakuan demikian dapat merugikan diri sendiri.

Kau harus dapat mengambil keputusan terhadap siapa kau berhadapan harus telengas dan terhadap siapa kau dapat mempunyai dosanya.

Jangan lalai dengan kewaspadaan yang bisa mengakibatkan penderitaan."

Demikian nasehat jago tua itu kepada Li Cong Bun.

"Thio yaya, kau sungguh baik.

Semoga nasehatmu ini selamanya akan menjadi kaca dihadapanku.

Banyak terima kasih atas perhatianmu padaku.

Li Cong Bun suaranya agak parau karena menahan kesedihan ingat kepada ayah bundanya.

Perjamuan dilanjutkan dengan penuh kegembiraan.

Demikian keesokan paginya, pagi-pagi sekali Bo yong Kang dan Li Cong Bun meninggalkan rumahnya Thio Tit Jun.

sebagai kenang-kenangan persahabatan, jago tua itu telah menghadiahkan kuda jempolannya si Api kepada Li Cong Bun.

Bukan main girangnnya anak muda itu, sebab dengan 98 didapatkannya kuda itu, ia selanjutna dapat menunggang kuda senditi tidak harus bareng menunggang kudanya Bo yong Kang.

Setelah mendapat doa restu dari jago tua itu, Bo yong Kang dan keponakannya lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke timur pintu Giok bun wan.

Sudah tentu tujuan yang pertama-tama adalah pulang ke rumah Cong Bun untuk sembahyang di kuburan Li Hoay Bun dan istrinya.

Supaya tidak membuat berabe lagi, maka mereka sudah mengambil hio dan lilin.

Kemudian pada waktu malam barulah masuk ke rumah Li Cong Bun.

Li Seng, budak wanita tua yang setia, saat itu sudah nyenyak tidur.

Kedatangan mereka membuat orang-orang seisi rumah amat kegirangan.

Mereka lalu membangaunkan Li Seng.

Budak setia itu menyambut dengan penuh rasa girang.

Malah dari kedua matanya telah meleleh air mata saking sedihnya, ingat kepada kedua majikannya almarhum.

Ia girang sekali nampak Li Cong Bun berbadan tegap dan kuat, mukanya cakap dan tampan.

Pagi-pagi sekali keesokan harinya, Bo yong Kang dan keponakannya pergi ke kuburan.

Li Cionng Bun menangis tersedu-sedu di depan kunuran ayah bundanya.

Sedang Bo yong 99 Kang juga tidak terluput menetes air mata ingat kepada bingkisan maut dari Ciam tok Jin mo Se bun Pa.

tapi Bo yong Kang sekarang lain tabiatnya dengan dahulu.

Ia banyak sabar, maka ia telah menghibur keponakannya supaya jangan terlalu sedih sebab dalam waktu singkat tentu dapat membalas sakit hatinya ayah bundanya.

Kepada Li Seng, Bo yong Kang memesan supaya jangan diributkan tentang kepulangannya mereka, sebab kalau didengar oleh orang-orang jahat itu kalau tidak membikin celaka dengan gelap-gelapan, tentu akan melarikan diri dan sukar nanti untuk mencarinya.

Li Seng angguk-anggukkan kepala dan berjanji akan turut pesanan Bo yong jiya yang baik budi itu.

Dengan diam-diam Bo yong Kang telah meninggalkan rumahnya mendiang Li Hoay Bin bersama keponakannya.

Jalan tidak seberapa jauh tiba-tiba Li Cong Bun berkata kepada susioknya.

"Susiok, keadaan di sini seperti dahulu saja diwaktu aku masih kecil sika datang main-main.

Hanya penduduknya tampak banyak perunahan.

Rupanya mereka telah menderita tindakan kejam dari Si leng cee.

Maka tujuan kita selanjutnya akan menuntut balas kepada musuh-musuh kita, juga kita harus menolong rakyat membebaskan mereka dari penderitaannya.

"Kau benar Bun jie."

Sahut sang paman.

"Semangatmu benar-benar menggelora."

Bo yong kang tersenyum tapi pikirannya seperti melayang ke arah lain. Li Cong Bun seperti dapat menebak apa yang dipikirkan pamannya, maka ia berkata pelan.

"Susiok, delapan tahun sudah kita meninggalkan tempat ini. Di waktu kita dalam perjalanan hendak pergi pada Tay supek tempo hari, apakah susion masih ingat di tengah jalan kita bertemu dengan siapa? Siapakah yang telah memberi tanda barang kenang-kenangan kepada susiok?"

Bo yong Kang melengak mendengar perkataanya Li Cong Bun.

"Dia.. dia.. si.."

"Bo yong susiok, dia memang si nona baju putih."

Menyela Li Cong Bun tersenyum.

"Aku berpendapat nona baju putih itu adalah orang yang baik. Bukankan waktu itu susiok ada janji kalau kita menginjak Tionggoan lagi akan mampir di tempatnya. Sebaiknya kita menemui nona itu. Kesatu kita menepati janji kita menengok dia. Kedua untuk menyelidiki siapa-siapa bengolah Si leng cee yang kepandaiannya tertinggi dan Ketiga untuk minta keterangan kepadanya apakah "

Si Telapakan Tangan Sakti‟ Ho Ceng Bu masih ada dalam markas Si leng cee. Bagaimana pikiran susiok? " 101 Bo yong Kang merasa setuju dengan pikiran keponakannya.

"Aha.. Bun jie.."

Katanya.

"Kini kau sudah bisa merancang tindakan-tindakan yang menguntungkan bagi kita. Aku setuju dengan pikiranmu tadi. Mari kita pergi."

Li Cong Bun girang mendapat pujian Bo yong susioknya yang dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.

Sebab ia sekarang sudah yatim piatu.

Mereka keprak kudanya mencari tempatnya si nona baju putih.

TEMPATNYA si nona baju putih adalah di propinsi San so, distrik Yang sia bagian barat daya, harus melewati propinsi Ho lam terus berputar ke perbatasan desa Hian cie dimana ada gunung Ong bu san yang tingginya 800 tumbak dan lebarnya beberapa ratus li.

Meskipun kecil, gunung itu sangatlah permai, maka orang suka bilang "Dalam 40 gunung yang permai adalah Ong bu."

Pada saat Bo yong Kang dan keponakannya memasuki daerah pegunungan Ong bu bulan sedang terangnya dan ketika itu adalah permulaan musim gugur.

Melihat pemandangn yang permai dan menarik hati, Bo yong Kang merasa gembira sekali.

"Bun jie,"

Ia kata pada keponakannya.

"Mereka telah memilih tempat ini sebagai 102 markas besarnya sungguh tidak salah. Keadaan di sini sunyi, tenang dan membikin hati rasanya sangat lega. Di dalam tempat yang seperti ini tidak heran kalau ada bersembunyi orang-orang kuat dari rimba persilatan. Apakah Ho Ceng Bu masih bersikap bermusuhan atau tidak dengan kita tapi sebaiknya kita beramah tamah dulu dengan dia untuk kita menyelidiki kekuatan pihak sampai berapa besarnya, kau pikir bagaimana?"

Li Cong Bun tersenyum, ia tidak lantas menjawab.

Hanya berpikir akan delapan tahun yang lampau, dimana susioknya ada demikian gagah perkasa dan berangasan.

Akan tetapi sekarang ternyata demikian tenang dan hati-hati.

seolah-olah nasehatnya sang Tay supek agar ia jangan berlaku sombong karena orang pandai masih ada melebihi kepandaiannya, orang yang tinggi ilmunya masih ada yang melebihi tingginya telah melekat dalam sanubarinya.

"Bo yong Kang susiok, dibandingkan dengan delapan tahun yang lampau aku melihat sifat-sifatnya Bo yong susiok yang baru dilahirkan pula, nah bedanya tabiatmu seperti langit dengan bumi…."

Kata Li Cong Bu tersenyum.

"Kau bisa saja Bun jie…"

Bo yong Kang tersenyum.

Demikian paman dan keponakan itu sepanjang jalan bercakap-cakap dengan 103 gembira.

Tiba-tiba Bo yong Kang menghentikan kudanya diikuti oleh Li Cong Bun.

Mereka memasang kupingnya.

Ada apakah mereka begitu memperhatikan?

Itulah merayunya suara seruling yang ditiup oleh seorang yang ahli dalam alat musik demikian.

Li Cong Bun tidak begitu mengerti akan lagu-lagu yang tidak enak atau tidak enak, akan tetapi Bo yong Kang lain keadaanya.

Ia seorang yang ahli dalam Bun dan Bu (ilmu sastra dan silat).

Juga mengerti akan lagu-lagu yang bagus dan jelek.

"Bu jie."

Katanya sambil mengawasi pada keponakannya yang acuh tak acuh mendengar suaranya seruling itu.

"Yang meniup seruling itu tentu adlah seorang yang berilmu tinggi dalam rimba persilatan. Selain merayunya suara seruling itu demikian meresap dan mencengkram dalam hati sanubari kita, juga isi kata-taka dalam lagu itu ada sngat sopan dan dalam artinya."

Li Cong Bun hanya anggukkan kepalanya tidak mengatakan apa-apa.

"Bun jie, sebaiknya kita mencari tahu orang yang meniup seruling itu, siapa tahu daripadanya kita dapat mendengar keterangan tentang Si leng cee."

Li cong Bun setuju dengan pikirannya sang paman.

Mereka lalu turun dari kudanya dan setelah masing-masing menambatkan kudanya 104 pada sebuah pohon, lalu dengan menggunakan ginkangnya menghampiri tempat darimana keluarnya suara seruling tadi.

Setelah menyelusup diantara rimba pohon siong, suara seruling itu semakin nyata nyelusup ke telinga.

Lagu yang barusan tenang dan gembira mendadak telah erubah dengan lagu yang mengandung kegagahan diiringi oleh suara nyanyian yang bersemangat dan nyaring.

Berjalan tidak berapa lama, dari kejauhan mereka melihat yang meniup seruling itu adalah seorang nona berbaju merah tengah bersandar pada sebuah pohon.

Jari-jari tangannya yang halus lentik tampak memain diantara lubang seruling rapih sekali kelihatannya.

Itulah seruling dari batu giok yang menempel pada bibirnya si nona yang mungil menarik.

Di samping si nona ada berdiri seorang tua berbaju putih dengan jenggot panjang.

Sia lah yang menyanyikan lagu bersemangat tadi.

Tiba-tiba si nona berhentikan meniup serulingnya.

Sambil tersenyum-senyum berkata pada si orang tua.

"Ayah, bagaimana tiupan serulingku baruan, bagus atau tidak? Apakah latihanku sudah mencapai kemajuan?"

Sikap si nona sangat manja berkata kepada ayahnya. 105

"Giok soan, sebaiknya kau meniup lagu gembira untuk menyambut kedatangannya para tetamu di dalam rimba yang sunyi ini.."

Jawab sang ayah ketawa senang.

Bo yong Kang dan Li Cong Bun tertegun mendengar kata-kata si orang tua sebab mereka tahu ilmu meringankan tubuhnya ada amat tinggi, tapi toh masih dapat diketahui kedatangannya oleh orang tua itu.

Dari sini sudah dapat diketahui tingginya ilmu si orang tua.

Pikirnya, tidak perlu bersembunyi endengarkan, maka mereka lalu unjukkan diri di depan anak dan ayah tadi.

Sambil menjura memberi hormat Li Cong Bun berkata.

"Lotiang.. maafkan kami sudah mencuri dengar tiupan serulingnya puterimu yang amat merdu itu. Pamanku sampai terpesona mendengarkannya, sungguh sedap kedengarannya."

Li Cong Bun memilih kata-katanya yang diucapkan itu, ia sendiri sebenarnya tifak tahu apa-apa tentang lagu merdu atau tidaknya yang ditiup oleh si nona.

Kata-katanya yang sopan dan memuji itu membuat si nona buka lebar matanya mengawasi Cong Bun yang cakap dan tampan.

Ketika dua pasang sorot mata beradu si nona buru-buru tundukkan kepalanya dengan wajah kemerah-merahan diam-diam dalam 106 hatinya merasa senang dengan pujiannya si anak muda tadi.

Sementara si orang tua tertawa gelak-gelak mendengar perkataan Li Cong Bun.

"Kau terlalu merendah anak muda,"

Kata pula si orang tua.

"tidak ada soal tentang mencuri dengar, tiap-tiap orang bebas untuk menikmati keindahan alam dibawah terang bulan yang permai seperti malam ini. Aku Hwe Siok Tang dan anakku ini Giok Soan namanya. Entah apa maksud kalian dimalam terang bulan begini berjalan-jalan di daerah pegunungan, sudilah kiranya kau berdua memberitahukan nama supaya kita berdua bisa mengikat tali persahabatan."

Bo yong Kang dpat kenyataan orang tua itu kocak sifatnya.

Melirik pada si nona ia dapat menilai kecantikannya Giok Soan tidak berada di sebelah bawah dari si nona baju putih Gan Su Nio yang ia jumpai pada delapan tahun berselang.

"Aku yang rendah bernama Bo yong Kang dan ini adalah keponakanku bernama Li Cong Bun."

Jawab Bo yong Kang merendah.

Dalam perjalanan ke Ong bu barusan kami mendengar merayunya siara seruling yang ditiup oleh puteri cianpwee, kami telah hentikan perjalanan kami untuk menikmati lagu merdu yang ditiupnya.

Numpang tanya apakah Cianpwee yang dalam dunia kangauw dijuluki "Naga Bersayap..?

Tapi … " 107 Siok Tang melihat Bo yong Kang belum habis kata-katanya mendengar berhenti lantaran mengerti maksudnya, maka ia maju beberapa tindak dengan tertawa berkata.

"Itu julukan kosong saja. Aku sejak kecil sudah minum pil mujarab, mata telingaku amat terang. Kalau tidak, mana dapat aku mengetahui kedatangan kalian dengan ilmu meringankan tubuh yang demikian tinggi. Bo yong laotee, aku sudah mendengar namamu dengan julukan Pelajar Berhati Besi yang terkenal, sayang pertemuan kita baru saja sekarang terjadi. Sebagai orang kangouw kita harus berterus terang. Kepergianmu ke Ong bu tentu ada sangkutannya dengan Si leng cee. Memang betul dengan Hwe Pek It kepala tangsi naga emas Si leng cee aku tersangkut satu she. Kedatanganku kesini bersama anak perempuanku hanya untuk jalan-jalan saja. Setelah sepuluh hari lamanya kami juga akan pulang kembali tidak turut campur urusan Si leng cee."

Bo yong Kang melihat Hwe Siok Teng adalah seorang yang polos dan jujur, maka ia juga tidak merahasiakan lagi maksud kedatangannya.

"Hwe tayhiap,"

Katanya.

"Sebetulnya keponakanku ini dengan Si leng cee ada mempunyai perhitungan yang hendak dibereskan. Sukalah kau menjadi orang perantara supaya kami bisa masuk ke dalam markas Si leng cee?" 108 Diam-diam Hwe Siok Tang mengagumi keberanian dua orang itu hendak membikin perhitungan dengan Si leng cee yang terkenal sebagai suatu partai yang amat berpengaruh. Sebagai jago yang biasa mengulurkan pertolongan kepada orang yang lemah maka dalam hati ia berjanji kalau dua orang itu dalam kesukaran akan memberikan pertolongannya.

"Aku si orang tua dengan senang mengantar kalian."

Jawabnya dengan tegas.

Bo yong Kang girang lalu mengucapkan terima kasihnya.

Setelah mengambil kudanya, Bo yong Kang dan Li Cong Bun jalan sama-sama dengan Hwe Siok Tang dan puterinya.

Ternyata Hwe Giok Soan bukannya seorang nona pemaluan sebab disepanjang jalan mulutnya ramai turut berbicara.

Dengan begitu, Cong Bun menjadi tidak kikuk lagi berbicara dengan si nona.

Baru saja mereka berkenalan, tetapi kelihatannya hubungannya erat sekali seperti kenalan lama.

Belum berapa lama mereka berjalan, lantas sampai di depan desa dimana ada ditancap papan merek "Perkampungan Ciu Tiok san.

Penjaga di situ melihat Siok Tang dengan puterinya datang bersama dua kawannya telah menyambut dengan sangat hormatnya.

Sambil tertawa Hwa Siok Tang berkata.

"Dua tetamu 109 ini adalah sahabat karibku. Kau boleh membikin bersih tempat tinggalku. Siapkan tempat tidur lagi. Teman-temanmu yang lain boleh pelihara kuda-kudanya sahabatku ini. Kalian boleh memberitahukan kepada Leng cu sudah cukup."

Berempat setelah di ruangan tamu, dilihatnya memang sekitar tempat di situ amat baik sunyi dan permai pemandangannya.

Belum lama mereka beromong-omong, seorang pelayan menghampiri Kwe Siok Tang memberi kabar bahwa Leng cu (Kepala) malam itu ada urusan dan tidak dapat menemui tetamunya.

Besok baru dapat melayani tetamu.

Meskipun melihat Hwe Siok Tang dan puterinya ramah tamah dan jujur,tetapi mengingat dirinya kini sudah masuk dalam goa harimau, Bo yong Kang dan Li Cong Bun tidak berani melalaikan kewaspadaannya.

Lantaran mana mereka malam itu jadi tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Pada hari kedua hwa Ciok Soan tampak sudah ganti pakaian yang indah dan cocok dengan tubuhnya, sehingga kecantikannya semakin menonjol.

Nona tidak pemaluan itu dengan dikawani oleh Li Cong Bun di bawah jendela tampak sedang tersenyum-senyum bercakap-cakap penuh dengan kegembiraan.

Diam-diam Bo yong Kang dan Hwe Siok Tang menonton kelakuannya dua anak muda itu 110 keduanya lalu berpandangan dan akhirnya tersenyum girang.

Setelah berempat basahi tenggorokannya dengan teh hangat lalu mereka keluar melihat-lihat keadaan dalam desa itu.

Diam-diam hatinya terkejut ketika melihat keadaan di situ diatur ada demikian kuat, tidak gampang-gampang masuk dan mengacau.

Setelah mereka pulang kembali ke tempatnya, tidak lama diluar ada terdengar ada orang yang bicara dengan suara nyaring.

"Ha..ha..ha.. saudara telah membawa tamu agung, bolehkah diajak kenal denganku sekarang?"

Seirama dengan kata-kata itu lantas masuk kedalam ruangan seorang tinggi besar, rambut dan jenggotnya putih, bersemangat gembira seorang tua yang berbadan amat sehat.

Hse sSiok Tang berdiri dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan orang tua itu.

"Toako,"

Katanya sambil tertawa.

Saudara ini adalah Bo yong Kang dan orang kenal dia dengan julukannya Pelajar Berhati Besi.

Dan ini adalah keponakannya yang bernama Li Cong Bun.

Tadi malam selagi aku dengan Giok Soan menikmati rembulan yang terang telah berjumpa dengan mereka dan membawa mereka kemari untuk belajar kenal dengan toako.

" 111 Kemudian Hwa Siok Tang berpaling kepada Bo yong Kang dan Li Cong Bun memperkenalkan seorang tua berbadan sehat tadi. katanya.

"Ini adalah toato Hwe Pek It yang di kalangan rimba persilatan ddipanggil Naga Sakti dan menjadi kepala dari tangsi Naga Emas dalam Si leng cee.

Hwe Pek It mendengar nama Bo yong Kang dan keponakannya mukanya ketika itu berubah.

Dalam omong-omong belum lama mendadak ada muncul empat orang, satu hwesio dan satu tosu serta dua orang bersaudara kembar yang umurnya kira-kira lima puluh tahun.

Bo yong Kang kenali Hwesio dan Tosu tersebut adalah dua orang yang menghalangi perjalanannya tempo hari yang telah disemprot dan disuruh pulang oleh si nona baju putih, sedang yang dua lagi ia tidak kenal.

Dalam pertemuan itu mereka diajar kenal dengan Bo yong Kang dan Li Cong Bun.

Ternyata si hwesio bernama Toa kak dan si Tosu bernamaIt Peng.

Sedang sua orang kembar itu adalah Han yang Ji kwi ( Dua setan dari Han Yang) bernama Tiauw Hun dan Tiauw Cian.

Empat orang ini adalah hiocu pembantu kepala dari tangsi Naga Emas dalam Si leng ce dibawah perintahnya Hwe Pek It.

Setelah masing-masing pada angkat sloki araknya dan ditenggak Hwe Pek It lalu 112 menanya pada Bo Yong Kang tentang kedatangan itu ada apa.

Bo yong Kang tersenym sejenak dengan tenang menjawab.

"Hwe Lengcu, bicara terus terang kedatangan kami kesini adalah hendak mencari Ho Ceng Bu dengan siapakah keponakanku ini hendak membikin perhitungan atas perbuatannya yang telah membunuh ibunya tempo hari. Yang pertama sekali maksud kedatangan kami adalah hendak menemui yang punya barang ini."

Bo yong Kang keluarkan pedang lemasnya si nona baju putih yang tempo hari diberikannya untuk kenang-kenangan.

Kepala dari naga emas kaget melihat pedang si nona baju putih tapi tidak kentara pada wajahnya.

Tiba-tiba ia tertawa bergelak-gelak!"

Bo yong Tayhiap, aku sangat senang padamu yang polos dan jujur, tanpa tedenga aling-aling menerangkan maksud kedatangan kalian.

Cuma saja sungguh sayang justru kedua orang itu kini sedang tidak berada dalam markas kami.

Tapi begini saja, nanti bulan tiga tanggal tiga tahun depan aku akan mengadakan suatu pesta, dimana kalian boleh datang mengajak kawan-kawan untuk membereskan perhitungan."

"Hwe Lengcu, tolong beritahukan kemana perginya pemilik barang ini?"

Bo yong Kang sekali lagi perlihatkan pedang lemas si nona baju putih. 113

"Dia ada urusan di Lam hay untuk bersembahyang."

Jawab Hwe Pek It tertawa.

Bo yong Kang diam sejenak, rupanya ia sedang memikirkan tindakan selanjutnya.

Si nona baju putih pergi ke Lamhay di tangsi Naga Emas juga sudah tidak ada urusan karena Kepalanya telah menetapkan bulan tiga tanggal tiga tahun depan baru membereskan perhitungan.

Pikirnya, lebih baik ia dengan Li Cong Bun jalan-jalan ke propinsi Kangouw Cek Kiang dan An hwi untuk mencari Si Bun Pa siapa tahu si iblis beracun itu akan berpapasan di perjalanan.

Boleh sekalian menuntut balas akan kematian Hoay Bin ayahnya Cong Bun.

Setelah mengambil keputusan lalu ia berkata.

"Hwe Lengcu, pada lain tahun bulan tiga tanggal tiga yang kau katakan tadi, aku setuju sekali. Pada waktunya sudah tentu aku dan keponakanku akan kesini untuk membikin perhitungan dan…"

Bo yong Kng tidak meneruskan bicaranya karena mendengar suara di luar pintu yang berkata.

"Hari ini aku tidak mengarti kenapa jika bolahaya begitu lemah? Dalam markas kita mana dapat orang dengan mudah boleh keluar masuk begitu saja sesuka hatinya?"

Hwe Siok Tang mendengar perkataan itu lantas kenali siapa yang datang. 114

"Ha..ha..ha..ha, Pao Lengcu, dua tetamu ini adalah sahabat karibku, kau jangan salah mengarti! Denga Ho Ceng Bu mereka hendak membuat perhitungan, tapi untuk itu telah ditetaplan oleh kepala Naga Emas pada tanggal tiga bulan tida tahun depan. Kini pertemuan kita hanya untuk persahabatan saja. Harap kau tak membikin kacau keadaan!"

Ketika orang itu muncul adlah seorang muda berbaju hijau.

Umurnya kira-kira tiga puluh lina tahun, ia bukan lain dari Pho Kun Peng alias si Kalajengking.

Bo yong Kang melihat lagak tengik dari si orang she Pho, hanya mengawasi dengan sikap adem, tetapi sebaliknya dengan Li Cong Bun, maklum orang muda berdarah panas.

Seketika itu Li Cong Bun sudah bangkit dari duduknya dan berkata dengan suara mengejek.

"Kami datang kesini diajak oleh Hwe Tayhiap dengan puterinya secara baik, siapa nyana dalam Si leng cee selainnya ada satu dua orang yang mengarti aturan sopan, yang lainnya adalah kawanan kurcaci!"

Dalam perjamuan ini, selainnya Hwe Pek It, Hwe Siok Tang dan puterinya yang tertawa saja mendengar ucapannya Li Cong Bun tadi.

Lainnya dengan serentak berbangkit dan menunjukkan perasaan kegusarannya.

Tapi herannya Pho Kun Peng tidak marah.

Ia dengan ketawanya yang mengandung kelicikan berkata dengan suara dingin.

"Kami dalam Si leng cee tidak peduli siapapun selain menepati janji. Kalau belum sampai temponya bulan tiga tanggal tiga tahun depan, kami tidak akan membunuh kau. Sekarang aku minta Tiauw Hun coba kasi pelajaran pada anak yang masih bau tetek ini supaya dia tau rasa!"

Hwe Pek It melihat Pho Kun Peng datang-datang lantas membikin onar, dalam hati merasa tidak senang, apalagi melihat Hwe Siok Teng dan puterinya telah mangunjukkan perasaan gusarnya.

Ia kuatir ayah dan anak itu nanti turun tangan membantu tetamunya, urusan akan menjadi runyam.

"Samte,"

Katanya dengan suara getir kepada Pho Kun Peng.

"Kau janga keliru melihat orang. Bo yong Tayhiap tinggi ilmu silatnya. Kau jangan pandang Li siauhiap ini kecil badannya, aku kira Tiauw Hun belum tentu dapat menandinginya. Nah sekarang begini saja. Untuk mencoba, baik pertandingan dilakukan dalam tiga jurus saja. Juga Cuma berbatas pada saling towel. Bukannya bunuh membunuh. Hayo, siapa yang hendak melemaskan urat-uratnya, boleh turun di kalangan, akuu dengan adikku dan keponakanku disini hendak menonton saja. Katakan saja sebagai wasitnya."

Pho Kun Peng mendengar bicaranya kepala tangsi Naga Emas lantas berkata kepada dua saudara Tiauw.

"Tiauw Hiocu, kau dengar Hio Lengcu tadi berkata, tamu tamu kepandaiannya 116 tinggi, maka kalian harus dengan sungguh-sungguh menjatuhkannya. Semua urusan sebagai akibat persoalan kalian aku yang akan menanggungnya, jangan takut-takut. Hajar saja padanya sampai minta ampun!"

Bo yong Kang tertawa mendengar kata-katanya Pho Kun Peng, lalu memberi isyarat kepada Li Cong Bun untuk berlaku hati-hati dalam pertempuran.

Dengan muka berseri-seri Cong Bun masuk di kalangan berkelahi.

Baca Juga: Rahasia Mo Kau Kaucu Khu Lung

Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger