Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 2

Eps 2 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

Orang dari golongan Kiu-hoa-san yang tadi malam berada di kota Lam-yang kecuali aku masih ada adik seperguruanku Kim Yan, tetapi Kim Yan sejak kemarin telah kehilangan jejaknya, apalagi kekuatan tenaga Kim Yan masih selisih jauh kalau dibanding dengan mereka, selain daripada itu, antara mereka juga tidak ada permusuhan apa-apa sudah tentu tidaklah mungkin ia melakukan perbuatan keji atas diri mereka.

Aku sendiri dan Kim Yan meskipun mengerti pukulan itu tetapi ilmu pukulan itu adalah ilmu pukulan tertinggi dan terampuh dari golongan Kiu-hoa-pay, jikalau tidak mempunyai dasar latihan sudah tigapuluh atau limapuluh tahun, tidak mungkin dapat menggunakan sampai sedemikian hebat.

Usia sumoy masih demikian muda, dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan tenaga demikian sempurna, bahkan aku sendiri juga tak memiliki kekuatan demikian, maka orang yang membinasakan It-yang-Tojin dan Cu-bo-kiam ini sudah terang perbuatan orang lain.

Namun siapa?

Kecuali suhunya ialah Kiu-hoa Lojin sendiri yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang setinggi itu, di antara golongan Kiu hoa pay sudah tidak dapat dicari orang keduanya.

Tetapi, tidaklah mungkin mereka mati di bawah tangan Kiu-hoa Lojin, sebabnya sederhana sekali, Kiu-hoa Lojin adalah seorang tokoh terkemuka yang terkenal kebijaksanaannya, sejak dilakukan pertandingan persahabatan dengan Tiga Dewa dari golongan pengemis pada tiga puluh tahun berselang, dia belum menginjakkan kaki di dunia Kang-ouw lagi.

Selama tiga puluh tahun, ia tidak pernah turun dari kediamannya di Gunung kiu-Hoa-san, apakah tiga puluh tahun kemudian ia masih timbul pikiran ingin menjagoi rimba persilatan lagi?

Andaikata orang tua itu timbul pikirannya hendak menerjunkan diri di kalangan kang-ouw lagi, tetapi seorang berkepandaian tinggi yang sudah tak ada taranya seperti ia itu, di masa dahulu saja ia belum pernah turun tangan ganas membinasakan lawannya secara demikian keji, apakah di masa tua sifat itu bisa berubah?

Tetapi kenyataan yang dihadapinya merupakan suatu bukti yang kuat, dua orang itu memang benar mati dibawah serangan ilmu Thian-seng-jiauw dari golongan Kiu-hoa-san, kecuali Kiu-hoa Tojin sendiri, tiada seorang yang memiliki kekuatan demikian tinggi, apa mau Touw Liong sendiri tidak percaya kalau suhunya turun gunung dan melakukan perbuatan yang sekeji itu.

Setelah Touw Liong habis berpikir, seperti keadaan diliputi oleh kabut misteri, ia hanya dapat berkata kepada imam itu untuk membersihkan dirinya.

"Bolehkah kiranya totiang memberikan waktu kelonggaran beberapa hari, supaya aku dapat melakukan penyelidikan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, kemudian aku akan hubungi sendiri ke Gunung Kiong-laysan untuk memberi penjelasan?"

Imam itu mengeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Tidak bisa! Hari ini sekalipun engkau hendak menyangkal sampa mulutmu berbusa, aku juga tidak percaya."

Touw Liong tidak berdaya, selagi hendak cerita terus terang bahwa ia sendiri tidak memiliki kekuatan tenaga demikian tinggi, mendadak merasa ada desiran angin menyambar belakang kepalanya, karena ia tidak keburu berpaling, terpaksa menggunakan kepalan tangannya untuk menyambar ke belakang, di luar dugaannya, setelah terdengar suara keras, sebuah papan yang melayang hendak menyambar kepalanya, telah dihancurkan oleh serangan tangannya tadi.

Imam tua itu setelah menyaksikan keadaan demikian lantas berkata sambil mengeleng-gelengkan kepala.

"Kau tadi mengatakan tidak mempunyai kekuatan tenaga yang demikian hebat, bukankah itu suatu kebohongan besar? Sebagai satu laki-laki seharusnya berani berbuat juga berani bertanggung jawab, percuma saja kau di kalangan rimba persilatan mendapat sedikit nama, tetapi perbuatanmu ternyata seperti kepala harimau, berekor ular, kau sudah tak berani mengakui perbuatanmu sendiri, aku sendiri sesungguhnya merasa malu untukmu, kau kata tidak mempunyai kekuatan tinggi, sekarang cobalah kau lihat apa itu yang kau lakukan?"

Touw Liong agak bingung mendengar perkataan imam itu, ia terpaksa menurut, lalu unjukkan matanya ke lantai, dan apa yang dilihatnya?

Benar-benar sangat mengejutkan dirinya.

Sekitar tempat ia berpijak terdapat hancuran kayu yang bekas tersampok dengan tangannya, dan keajaiban itu lebih-lebih dengan terdapatnya lobang-lobang kecil di atas lantai, jika bukan dilakukan oleh seorang berkepandaian tinggi dan memiliki kekuatan tenaga dalam sudah sempurna, bagaimana dapat melakukan perbuatan semacam itu?

Dengan adanya bukti itu, sekalipun ia hendak menyangkal juga tidak bisa lagi.

Kini mengertilah ia, bahwa golongan Kiu-hoa-san yang memiliki kekuatan tenaga menggunakan ilmu serangan Thian-seng-jiauw di samping suhunya, masih ada dirinya sendiri.

Tetapi apa yang terjadi atas diri dan orang itu, sesungguhnya bukan dia yang melakukan.

Di dalam keadaan demikian, ia terpaksa meminta sambil mengerling kepada imam itu.

"Totiang, ketahuilah olehmu, aku si orang she Touw, selama aku turun gunung, memang aku sudah banyak melakukan perbuatan yang banyak menimbulkan takut pada kawanan orang jahat tetapi aku bukanlah bangsa pengecut, aku berani berbuat juga berani bertanggung jawab. Dalam peristiwa mengenai suhengmu itu ternyata masih tidak mendapat kepercayaan darimu, urusan sudah jadi begini rupa kalau, kalau totiang menganggap itu adalah perbuatanku, karena kenyataan dan bukti-bukti itu, aku juga agak sulit untuk membantah. Sekarang baiklah! Biarlah aku yang menanggung resiko, tapi aku minta totiang memberikan waktu dua hari, besok lusa tengah malam aku tunggu totiang di panggung tempat mementil kecapi untuk memberikan keadilan kepadamu."

Muka imam itu tampak berkerenyit, menunjukkan sikap apa boleh buat, kemudian berkata dengan nada suara dingin.

"Baiklah! Besok lusa jam tiga malam, jikalau kau tidak datang, setidak-tidaknya arwahmu harus sampai di tempat itu, andaikata orangnya juga tidak datang, kau jangan sesalkan kalau kita bertindak keterlaluan, golongan Thaysan dan Kiong-lay dalam waktu satu bulan nanti akan menuntut balas dendam ke Gunung Kiu-hoa-san."

Touw Liong menerima baik tantangan itu dan kemudian keluar dari kuil tersebut.

Tanpa sadar ia menarik nafas panjang, kejadian dan peristiwa aneh-aneh telah terjadi, dan semua itu telah menimpa di atas dirinya.

Begitu melangkah dari kuil, pikirannya sangat kusut, ia juga tidak tahu kemana harus pergi, soal mana yang harus diurus lebih dahulu?

Setelah berpikir, segera ia ambil keputusan hendak pergi lebih dulu ke perkampungan misteri untuk mencari Lie Hu San, tidak sudah baginya untuk mencari jejak Kim Yan.

Tiba di tempat itu, ia segera mengetuk pintu dan kedatangannya disambut oleh salah seorang penjaga perkampungan tersebut.

Touw Liong menyebutkan namanya, dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Tetapi penjaga pintu itu berkata.

"Pek sancu tadi malam sudah pergi hingga sekarang belum kembali."

"Pangcu golongan pengemis bagian utara datang kemari atau tidak?"

Penjaga pintu itu kembali menggelengkan kepala.

Dalam keadaan demikian, Touw Liong terpaksa balik pulang lagi dengan tangan hampa, sepanjang jalan ia berpikir.

Siapakah sebetulnya yang membinasakan Cu-bokiam dan It-Yang Tojin?

Apakah benar itu perbuatan suhu?

Tetapi kemudian ia bantah sendiri pikiran itu, sebab ia tahu gurunya tidak mungkin melakukan perbuatan keji itu.

Tanpa dirasa ia sudah memasuki kota, dengan menuruti langkah kakinya, ia masuk ke rumah makan dan langsung menuju ke kupel Cu-kat-ting.

Ia minum dan makan seorang diri, entah berapa banyak arak yang sudah masuk ke dalam perutnya?

Sementara itu beberapa orang yang duduk dekat meja dekat dirinya, ramai membicarakan urusan rimba persilatan.

Touw Liong melirik, beberapa orang yang agaknya merupakan orang-orang rimba persilatan, satu di antaranya lelaki setengah umur, lain lagi seorang tua berambut putih, di samping itu masih ada laki-laki bertubuh kekar dan berwajah merah dan penuh keringat.

Terdengar suara orang tua berjenggot putih itu berkata .

"Manusia di jaman sekarang sudah tidak karuan macamnya, orang-orang yang merupakan sahabat karib, karena urusan harta, tidak segan saling bunuh, sahabat karib demikian masih bebas sekali melakukan pembunuhan dan mengambil jiwanya, setelah saudara tuanya mencari dirinya untuk membuat perhitungan, ia bahkan turun tangan menghabiskan dan memusnahkan kepandaian orang sahabat karibnya itu."

Lelaki bertubuh kekar itu terkejut, bertanya dengan nada suara terheran-heran.

"Apakah Touw Liong dapat menggunakan ilmu serangan yang ampuh itu?"

Orang tua itu tertawa panjang dan menjawab dengan tenang.

"Siaute, dalam dunia Kangouw banyak hal-hal yang aneh, Lie Hui Hong tadi pagi telah dibawa orang dengan kereta lewat kota ini, barang kali di bawa ke kampungnya Hui-Liong-chung! Kejadian itu telah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana aku bisa bohong? Lie Hui Hong sudah dimusnahkan ilmu kepandaiannya, dan orang yang memusnahkan kepandaiannya itu justru menggunakan gerak tipu terampuh Thian-sing-jiauw golongan Kiu-hwa-san, coba kau pikir, kalau bukan orang she Touw itu yang melakukan, siapa lagi yang sanggup berbuat demikian?"

Setelah Touw Liong mendengar pembicaraan mereka itu, tahulah ia bahwa dalam waktu belum satu malam, Thian-sing-jiauw sudah mencelakakan diri tiga orang, apa mau semua orang telah menuduh Touw Liong yang melakukan perbuatan itu.

Setelah Touw Liong mendengarkan pembicaraan orang itu, ia bangkit dari tempat duduknya, perbuatan itu sangat mengejutkan orang-orang yang sedang ramai berbicara, sehingga mereka menghentikan pembicaraannya dan memandang Touw Liong dengan mata kesimak.

Touw Liong hendak maju untuk memberi keterangan, tetapi kenyataan bahwa orang-orang itu hanya orang-orang kangouw biasa, maka ia menahan kemarahannya, dengan muka berseri-seri dan dengan suara lunak bertanya kepada orang tua tadi.

"Bapak, sudah berapa lama Lie Hui Hong lewat di kota ini?"

"Lewat pintu kota timur menuju ke kota Tio Yang Lie, kejadian itu kira-kira setengah jam berselang!"

Jawab orang tua tadi sambil menunjuk ke timur. Touw Liong hanya mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan menuju keluar. Orang tua tadi mendadak gemetar dan bertanya kepada Touw Liong.

"Siauwko, kau ini ..."

"Touw Liong."

Demikian Touw Liong menjawab sambil menoleh dan kemudian melanjutkan perjalanannya.

Jawaban itu mengejutkan orang-orang yang ada di situ, hingga mereka saling berpandangan sebentar, satu sama lain bertanya dengan suara perlahan.

"Oo, jadi dia itulah Touw Liong!"

Di atas jalan raya yang menuju ke kota Lam-Yang ini, Touw Liong berjalan tergesa-gesa menyusul Lie Hui Hong.

Pagi hari, Touw Liong sudah memasuki kota tersebut.

Tio-yang-lie merupakan sebuah kota yang cukup besar, di situ terdapat banyak toko, jalanan ramai, orang yang berjalan hendak berdagang di pagi hari itu ramai sekali.

Touw Liong begitu menginjak kota Tio-yang-lie matanya ditujukan pada setiap kereta yang berjalan melalui kota itu, menurut perhitungannya, kereta yang ditumpangi oleh Lie Hui Hong saat itu mestinya sudah tiba di kota ini.

Kota yang sangat ramai itu, manusianya berjubel-jubel sehingga jalan harus berhimpit-himpitan.

Touw Liong yang berjalan berhimpit-himpitan dengan orang banyak, tiba-tiba bertuburukan dengan seorang nenek yang berambut putih yang membawa sebuah tongkat.

Di luar dugaannya, sebelum bertubrukan, ujung tongkat itu sudah lebih dahulu menotok jalan darah Hay-to-hiat, di belakang kepalanya.

Touw Liong sungguh tidak menduga bahwa nenek yang berbadan loyo itu telah menyerang dirinya secara tiba-tiba, ketika ia merasakan dirinya diserang sudah tidak keburu untuk menyingkir, dalam keadaan tergesa-gesa, buru-buru ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, untuk melindungi sekujur tubuhnya, namun demikian ia masih terlambat setindak, bagian jalan darah Hay-te-hiat dirasakan bersemutan, oleh karenanya ia lantas jatuh terduduk.

Nenek itu kemudian mendekat, dan meninggalkan dirinya.

Touw Liong masih belum sempat melihat wajah dan usia nenek itu, tahu-tahu sudah terserang olehnya.

Itu masih belum terhitung apa-apa, ketika nenek itu menyenggol dirinya secepat kilat, mengulurkan tangannya dan menyesapkan sebuah benda ke dalam saku Touw Liong, setelah itu ia berkata dengan suara dingin.

"Anak busuk! Tiga hari! Ingat! Lusa jam tiga malam, aku akan ambil jiwamu di atas panggung mementil kecapi!"

Perkataan nenek itu tak dapat didengar oleh orang banyak, mereka hanya melihat anak muda itu jatuh ke tanah, dan tidak bisa bangun lagi, sudah tentu mereka diherankan oleh perbuatan Touw Liong itu, hingga semua memandangnya dengan perasaan terheran-heran.

Rasa malu telah merasuk dalam otak Touw Liong, melihat mata orang banyak, ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya untuk melompat bangun apa mau sekujur badannya dirasakan lemas, ia tidak dapat bergerak, maka akhirnya ia terhuyung ke kiri, matanya mengawasi nenek tadi yang menghilang di antara orang banyak.

Semua orang yang menyaksikan rebut trheran-heran, ada yang berkata, ia kemasukan angin jahat, ada yang kata, mungkin ia telah ...

Touw Liong segera mendapat akal, ia tersenyum kepada orang yang mengelilinginya, kemudian berkata sendiri.

"Mungkin benar, Tuan."

Di antara orang-orang itu, segera tampak dua laki-laki yang menghampiri Touw Liong, yang membantu membimbing tangannya, kemudian segera mengajaknya ke sebuah rumah penginapan yang terletak di seberang jalan.

Hingga tengah hari, keadaan Touw Liong masih tetap, badannya dirasakan lemas, ia terlentang di dalam kamar sebuah penginapan, ketika tangannya merogoh ke dalam saku ia mendapatkan sebuah panji kecil berwarna hitam, kemudian berkata pada diri sendiri.

"Aneh! Mengapa panji ini yang sudah hilang bisa kembali ke dalam sakuku?"

Touw Liong memeriksa dengan teliti panji di tangannya, wajahnya berubah seketika, sebentar merah sebentar pucat, bukan kepalang terkejutnya.

Panji wulung yang semula ada di dalam sakunya, adalah sebuah panji yang berukuran tidak lebih dari lima dim, berukiran lukisan awan gelap di angkasa, di tengah-tengah awan tampak sinarnya sinar pedang yang disinari oleh sinar matahari.

Gagangnya terbikin dari bahan batu giok warna ungu sepanjang tujuh dim, sedangkan panji yang sekarang berada di dalam tangannya, bukan saja tidak ada gagangnya, tetapi panjinya sendiri juga terdapat banyak perbedaan.

Sama-sama panji wulungnya, sama-sama tersulam lukisan akan gelap di angkasa, tetapi pantulan sinar pedang yang disinari oleh sinar matahari yang terdapat di tengahtengah awan, sudah diganti dengan lukisan burung hong terbang.

Gambar lukisan di dalam dua buah panji itu jauh berlainan, tetapi ada tiga titik yang bersamaan.

Kesatu, kedua-duanya semuanya tersulam lukisan awan gelap di angkasa, kedua-duanya merupakan panji wulung.

Kedua, warna dari dua buah panji itu sudah luntur, jadi merupakan barang-barang kuno yang sudah tua usianya, ketiga, sulamsulaman yang terdapat di atas panji itu, semua dari buah tangan seseorang.

Pada seratus tahun berselang, panji wulung ini pernah muncul, seluruhnya berjumlah dua belas buah, apakah dua belas buah itu semuanya ada terdapat perbedaan?

Tiada seorangpun yang pernah melihat, juga tiada seorangpun yang dapat memberi jawaban, juga tak perlu rasanya untuk dipelajari, yang penting ialah panji yang sekarang berada di tangan Touw Liong ini berlainan dengan panji yang terlebih dahulu di tangannya, jadi jelaslah sudah bahwa panji yang berada di tangannya ini bukanlah panji yang dulu didapatkannya di atas meja kamar penginapannya.

Tetapi sejak kapankah panji itu ditukarkan oleh orang?

Apakah itu dilakukan oleh orang yang tadi malam dijumpai di perkampungan misteri?

Dan kapan panji itu dimasukkan ke dalam sakunya.

Tetapi kalau panji itu nenek tua tadi yang memasukkan ke dalam sakunya, apakah nenek tadi muridnya panji wulung?

Tidak perduli panji itu ditukar bolak-balik lenyap dan ketemu kembali, mungkin itu ada perbuatan panji wulung yang sengaja membuat kabur pikiran korbannya, ataukah ada sepasang manusia yang berlaku sebagai panji wulung?

Kalau benar panji wulung itu ada dua orang, maka tak lama kemudian ia akan dapat menyaksikan kejadian ramai.

Apabila panji wulung itu sengaja berbuat demikian untuk mempermainkan korbannya, maka ia juga tidak mengerti apa maksud sebenarnya panji wulung itu terhadap dirinya!

Soal ini dipikirnya bolak-balik oleh Touw Liong, ia telah mendapat kenyataan bahwa Cu-bo-kiam dan It Yap Tojin serta Lie Hui Hong bertiga, semua terluka di bawah serangan ilmu Thian-seng-jiauw, di dalam hal ini jelas mengandung maksud tertentu, dan sedikit banyak ada hubungannya dengan panji wulung.

Alasannya sederhana sekali, pertama tidak mungkin gurunya turun dari Gunung Kiu-hwa-san; kedua, adik seperguruannya seorang yang sifatnya halus, juga tak mungkin berbuat demikian keji, apalagi ia juga belum memiliki kekuatan tenaga setingkat itu.

Bagi dirinya sendiri, sudah tentu tidak melakukan perbuatan itu.

Maka ia segera menarik kesimpulan bahwa orang yang menggunakan Thian-sing-jiauw untuk melukai orang, sembilan puluh persen adalah perbuatannya panji wulung.

Sementara dengan cara bagaimana panji wulung mengetahui golongan Kiu-hwa memiliki kepandaian ilmu simpanan itu?

Hampir sehari penuh pikiran Touw Liong ditujukan kepada persoalan itu, akhirnya ia menarik kesimpulan, apabila hendak mengetahui keadaan sebenarnya, satu-satunya jalan ialah menangkap orang yang main gila itu.

Yang paling mengherankan padanya ialah nenek yang berkepandaian itu, bukan saja sepak terjangnya sangat misteri, turun tangannya juga sangat ganas.

Ada satu hal yang membuat orang tidak habis mengerti, nenek itu turun tangan menotok jalan darah Touw Liong, apakah maksud yang sebetulnya?

Dengan kekuatan tenaga seperti ia, nenek itu sebetulnya sangat mudah untuk mengambil jiwa Touw Liong, atau setidak-tidaknya memusnahkan kepandaian ilmu silatnya, tetapi mengapa ia berbuat demikian?

Sebaliknya hanya menotok jalan darah hay-tay-hiat untuk mengembalikan dirinya, supaya dalam waktu satu jam atau setengah Touw Liong berada dalam keadaan kehilangan tenaga.

Setelah dipikirnya dalam-dalam, Touw Liong dapat menebak sikap dan maksud nenek itu.

Sadarlah ia, bahwa nenek tua itu bermaksud, supaya ia kehilangan tenaga dalam waktu setengah jam, untuk mencegah ia mengejar Lie Hui Hong, dan supaya ia tidak mengetahui siapa yang menggunakan ilmu serangan Thian-sing-jiauw yang melakukan keganasan beruntun ini.

Setelah berpikir demikian, maka ia lalu menarik nafas dan berkata kepada diri sendiri.

"Perbuatan nenek itu telah mencegah aku, dengan demikian kereta Lie Hui Hong tentunya sudah berada sejauh lima puluh pal dari sini, keadaanku sekarang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, nampaknya hari ini benar-benar sudah tidak dapat mengejar padanya!"

Tangan Touw Liong meremas-remas panji wulung ia semakin berpikir semakin mendongkol, dengan mendadak ia bangun dan memasukkan panjinya ke dalam sakunya, ia coba mengerahkan tenaganya, dan mengatur pernafasannya.

Jalan darah lainnya semuanya baik, hanya jalan darah Hai-tay-hiat seperti kemasukan sebuah benda halus...?

Jikalau darah itu mengalir ke bagian tersebut, seolah-olah terhalang, sehingga setengah badannya merasa kesemutan.

Ia mengerutkan alisnya, dan menggumam sendiri, kemudian ia duduk bersila, mengerahkan semua kekuatannya, ia berusaha menjoblos sendiri jalan darah haitay-hiat yang terganggu itu.

Setengah hari telah berlalu, Touw Liong lompat turun dari pembaringan, dia memesut keringat yang membasahi dahinya, setelah menarik nafas panjang, lalu keluar dari kamarnya, dengan memandang matahari yang sudah doyong ke barat, ia berkata kepada diri sendiri sambil mengertek gigi.

"Aku justru tidak percaya segala ilmu gaib, aku hendak mengejar terus untuk mendapat keterangan yang sejelas-jelasnya."

Meskipun ia tahu bahwa perjalanannya itu banyak rintangan dan banyak bahaya, tetapi ia sudah tidak menghiraukan jiwanya sendiri, ia tidak memikirkan segala bahaya, ia bertekad hendak menyelidiki peristiwa itu.

Di atas jalan kearah kota Lam-yang, tampak seekor kuda dilarikan dengan sangat kencang.

Penunggangnya adalah seorang imam tua berusia kirakira lima puluh tahun, di belakang punggung imam itu menyoren sebilah pedang panjang.

Sepasang mata imam tua itu memancarkan sinar matanya yang tajam berkilauan, agaknya membiarkan dirinya dibawa kabur oleh sang kuda, sementara itu ia terus menundukkan kepala seperti berpikir keras, tangannya dikepal-kepal, tangan kanannya tampak menghitung-hitung.

"Tanggal satu jam satu, tanggal tiga ... tiga perempat ..."

Demikian ia berkata sendiri.

Pada saat itu, dari hadapan, tampak seorang pemuda berlari menuju ke arahnya.

Pemuda itu tidak lain daripada Touw liong, jago muda dari Kiu-hwa-san.

Dua orang yang berpapasan itu agaknya sedang memikirkan urusannya sendiri-sendiri, hingga masingmasing tidak menghiraukan satu sama lain, meneruskan jalannya sendiri-sendiri.

Touw Liong yang berjalan kira-kira tiga tombak, tiba-tiba teringat sesuatu, ia lalu berpaling mengawasi imam kurus kering yang berada di atas kuda, kemudian memanggilnya.

"Hai! Totiang! Silahkan berhenti sebentar!"

Imam kurus itu seolah-olah baru tersadar dari mimpinya, ia menarik tali kudanya, memutar seraya berkata.

"Ada urusan apa?"

Selagi bertanya, matanya berputaran, memandang Touw Liong dari atas ke bawah sampai ke bagian kaki. Touw Liong maju menghampiri dan berkata sambil memberi hormat.

"Numpang tanya, apakah totiang baru datang dari kota?"

Imam itu menganggukkan kepala dan balas bertanya.

"Apa kau dari kota Lam yang?"

Touw Liong juga menganggukkan kepala dan menjawab.

"Dua jam berselang, apakah totiang tidak berjumpa dengan sebuah kereta yang ditarik dengan keledai?"

Imam itu menunjukkan muka heran, sambil melongo ia balas menanya.

"Saudara kecil, apakah yang kau maksudkan adalah kereta yang ditumpangi oleh chungcu dari kampung Huiliong-chung?"

"Betul, apakah totiang kenal dengan Li-chungcu?"

"Li-chungcu seorang gagah, sayang kali ini sudah habis riwayatnya."

Berkata imam itu sambil menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Touw Liong perlahan-lahan menundukkan kepala dan imam itu menambahkan beberapa keterangan.

"Ia terluka di bawah serangan tangan Thian-sing-jiauw dari golongan Kiu-hwa sisa hidupnya boleh dikata sudah tidak ada artinya lagi!"

Kata imam itu dengan tiba-tiba, ia dapat lihat sikap Touw Liong yang agak aneh maka segera bertanya.

"Kau hendak menyusul Lie-chungcu?"

Touw Liong angkat muka dan membenarkan pertanyaan itu.

"Ada perlu apa kau menyusul dia?"

Tanya imam itu merasa tertarik oleh perasaan herannya.

"Untuk menanyakan ia terluka di tangan siapa?"

Jawab Touw Liong sambil menghela nafas. Imam itu mendongakkan kepala dan tertawa terbahakbahak.

"Saudara kecil, kau benar-benar seorang yang simpatik, dengan mencapekkan hati kau menyusul Lie-chungcu, kau tidak menanyakan hal lainnya hanya hendak menanya ia terluka di tangan siapa. Soal ini sangat mudah sekali, aku boleh menjawab kepadamu."

Touw Liong tercengang, akhirnya ia bertanya juga.

"Silahkan, siapa yang melukai Lie-chungcu?"

"Bukankah ini sangat mudah, orang yang melukai Liechungcu adalah orang dari golongan Kiu-hwa-pay!"

"Bukan orang dari golongan Kiu-hwa, tetapi masih ada orang lain lagi yang melukai Lie Hui Hong."

"Orang lain lagi ...?"

Touw Liong tidak memberikan keterangan, ia hanya menguatkan keterangannya.

"Benar! Ia terluka di tangan orang lain, bukan terluka di tangan orang golongan Kiu-hwa."

Sehabis berkata, ia lalu memberi hormat, memutar tubuhnya dan berlalu. Imam kurus itu memandang bayangan belakang Touw Liong, mulutnya komat-kamit mengucapkan bunyi kata.

"Masih ada orang lain lagi."

Dengan mendadak ia teringat sesuatu, maka lalu mendatangi dan memanggil Touw Liong.

"Saudara kecil! Coba kau ceritakan siapa orangnya yang melukai Lie Hui Hong?"

Touw Liong membuka dua tangannya, menjawab sambil menggelengkan kepalanya dan ketawa getir.

"Aku sendiri juga tak dapat menyebutkan sebelum hal ini menjadi terang, siapakah penjahat yang sebenarnya, masih belum dapat aku katakana."

Kemudian ia berkata pula.

"Aku justru hendak menyelidiki soal ini, maka aku perlu menyusul Lie Hui Hong."

Imam kurus itu mendelikkan matanya, kemudian bertanya.

"Saudara kecil ini siapa?"

"Aku Touw liong."

Imam kurus itu terperanjat, berulang-ulang mengucapkan kata-kata.

"Touw tayhiap! Touw tayhiap!"

Touw Liong membungkukkan badan memberi hormat seraya berkata.

"Aku seorang bodoh yang hanya mendapat nama kosong belaka, bolehkah aku numpang tanya bagaimana sebutan totiang?"

"Pinto Ngo Yang."

Wajah Touw Liong berubah dengan segera, ia buru-buru bertanya.

"Kalau begitu totiang adalah salah satu dari tiga jago golongan King-lay-pay disebut Ngo Yang Totiang."

"Benar, pinto adalah seorang dari tiga pemain pedang Kiong-lay-pay."

"Ai!"

Demikian Touw Liong menarik nafas kemudian berkata.

"Kedatangan totiang terlambat setindak! Sute totiang tadi pagi telah kedapatan mati di kuil The-Thian-kwan bersama Cu-bo-kiam dari Gunung Thay-san."

"Ada kejadian serupa itu?"

Tanya Ngo Yang sambil kertek gigi, kemudian balas bertanya.

"Tahukah Touw tayhiap suteku itu binasa di tangan siapa?"

Touw Liong mengeleng-gelengkan kepala, dan menjawab sambil menghela nafas.

"Justru lantaran soal ini maka aku tadi menghentikan perjalanan totiang."

Ngo Yang totiang menggumam sendiri, matanya tampak berputaran, agaknya merasa curiga maka lalu bertanya dengan suara keras.

"Betulkah It Yang mati di bawah serangan ilmu Thiansiang-jiauw golonganmu?"

Touw Liong menggangukkan kepala membenarkan pertanyaan itu.

"Huh..."

Ngo Yang totiang mengeluarkan suara dingin dan kemudian berkata sambil menuding pecutnya ke arah Touw Liong.

"Harap Touw tayhiap memberikan keadilan kepadaku."

"Ketahuilah oleh totiang, ilmu Thian-sing-jiauw dari golonganku, memang benar suatu ilmu yang sangat ampuh, tetapi jikalau bukan seorang yang memiliki kekuatan tenaga dalam sudah sangat sempurna, tidak mungkin dapat menggunakan ilmu serangan itu untuk melukai apa lagi untuk membinasakan orang. Di dalam golonganku, kecuali suhu, aku sendiri dan sumoyku masih belum memiliki kekuatan tenaga dalam setinggi itu. Totiang barangkali masih belum lupa, pada tiga puluh tahun berselang suhu telah mengadakan perjanjian dengan Tiga Dewa dari golongan pengemis, yang tidak akan mencampuri urusan dunia rimba persilatan lagi, selama itu juga belum pernah turun gunung barang selangkah, maka itu, aku tadi katakan bahwa orang yang membinasakan sutemu dan yang melukai Lie Hui Hong jelas bukanlah suhu, dan jelas pula adalah perbuatan orang lain."

"Perbuatan orang lain?"

Berkata Ngo Yang sambil tertawa terbahak-bahak.

"Perbuatan Touw tayhiap yang hendak menutupi dosa sendiri, apakah tidak akan menjadi buah tertawaan orang banyak? Kematian suteku di bawah serangan ilmu Thian-sing-jiauw sudah merupakan suatu kenyataan, dan ilmu itu adalah ilmu dari golonganmu yang tidak diturunkan kepada siapa pun juga kecuali muridmuridnya. Sekarang aku tidak peduli siapa yang membinasakan suteku itu, aku hanya hendak tanya bentulkah ilmu Thian-sing-jiauw itu adalah ilmu simpanan dari golongan Kiu-hwa? Karena Touw tayhiap adalah anak muridnya, seharusnya mendapat warisan ilmu itu, apalagi peristiwa itu terjadi pada kemarin malam, dan kau juga berada di kota Lam Yang, maka dalam hal ini Touw tayhiap tidak akan terlepas tanggung jawabnya!"

"Keteranganku agaknya percuma saja, totiang toh tidak akan dapat mengerti. Aku orang she Touw tidak takut akan mempertanggungjawabkan soal ini, untuk nama baik perguruanku, terpaksa aku bertanggung jawab sepenuhnya atas kematian sutemu."

"Bagus..."

Ngo Yang totiang lantas turun dari kudanya, berjalan menghampiri dan berkata.

"Hutang darah harus dibayar dengan darah. Touw tayhiap kalau benar suka mempertanggungjawabkan suteku, nah silahkan kau menyerahkan batok kepalamu, di depanku untuk kupersembahkan kepada arwah suteku, supaya ia dapat pulang ke rakhmattulah dengan mata meram."

Touw Liong dengan cepat mundur selangkah, tangannya diulur untuk menahan maju Ngo Yang, dengan satu gerakan tangannya ia berkata.

"Tunggu dulu! Batok kepalaku, kalau totiang ingin ambil untuk kau persembahkan di hadapan arwah adik seperguruanmu, aku memang tidak akan menyalahkan totiang, hanya pada waktu ini aku merasa sangat keberatan. Pertama, untuk membersihkan nama baik perguruanku, aku tidak melepaskan kewajiban untuk menyelidiki pembunuhnya yang sebenarnya, kedua, ai...! Aku masih harus menepati janji untuk pertempuran yang menetapkan mati hidupku."

Ngo Hiang tercengang dan balas bertanya.

"Menurut pikiranmu?"

"Soal yang kita hadapi sekarang ini, bukan Cuma merupakan persoalan kematian sutemu seorang diri saja, murid kepala Kiam-goan totiang dari gunung Thay-san, The Hiong yang juga sudah mati dan Lie Hui Hong yang dimusnahkan kepandaiannya serta nama baik golongan kita, semuanya memerlukan diadakan perhitungan. Maka aku hendak minta totiang sabar sedikit, sebaiknya totiang berikan waktu beberapa hari supaya aku dapat menyelidiki lebih jelas. Saat itu, aku akan datang sendiri ke gunung Kionglai, sudah pasti aku akan memberikan keadilan dan kepuasan kepadamu."

Ngo Hiang miringkan kepalanya untuk berpikir, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Tidak bisa, harus menunggu demikian lama, sesungguhnya berat bagiku seandai hari lusa kau Touw tayhiap mati dalam pertempuran. Bukankah kematian suteku itu tidak dapat kubalas dengan tanganku sendiri?"

"Bagaimana menurut pikiran totiang?"

Demikian Touw Liong balas menanya.

"Kita tiga jago dari golongan Kionglai, meskipun hanya tiga orang tetapi tiga orang itu merupakan satu badan, kematian It-yang merupakan satu urusan besar bagi kita, yang tidak dapat kita abaikan begitu saja, bagaimanapun juga kita harus mencari orang yang melakukan kejahatan itu!"

"Totiang hendak mencari siap untuk mengadili orang yang membunuh sutemu?"

"Siapa yang hutang, siapa harus membayar. Suteku mati di bawah serangan ilmu Thian-sing-jiauw. Sudah tentu harus mencari orangnya yang memiliki ilmu Thian-singjiauw untuk menggantikan jiwanya."

Imam kurus itu berputaran sekian lama, tidak lain hendak meminta Touw Liong mengganti jiwa. Touw Liong mengkerutkan alisnya, berkata dengan gagah sambil tertawa.

"Manusia sejak tahun kapan siap yang tidak mati? Aku Touw Liong bukan seorang yang takut mati, aku tadi sudah memberikan penjelasan demikian banyak, akan tetapi totiang toh masih tetap tidak mau mengerti, apa boleh buat terpaksa kita selesaikan secara laki-laki. Baiklah! Kepala di atas badanku, kalau totiang menghendaki, silahkan ambil sendiri!"

"Hai..."

Imam kurus itu perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian menggerakkan pedangnya menyerang Touw Liong.

Touw Liong geser kakinya, mengelakkan serangan ganas dari imam tadi.

Dari pengalamannya tadi malam yang dengan satu kali gerakan tangannya telah mementalkan golok emas di tangan Lie Hui Hong, Touw Liong mengetahui bahwa kekuatan tenaga dalamnya sendiri telah mendapat kemajuan pesat secara mendadak, kini ketika menggeser kakinya dan dengan seenaknya mengelakkan serangan imam tadi, dengan mudah berhasil mengelakkan serangan yang ganas itu.

Oleh karenanya semangatnya bertambah besar ia memikirkan masih banyak urusan yang harus dilakukan bagaimana harus melayani imam kurus ini.

Maka ia segera ulur tangannya dan menyampok pedang panjang imam itu.

Suatu keajaiban telah terjadi, pedang panjang di tangan Ngo-yang telah tersampok jatuh, hal mana Touw Liong sendiri juga hampir tidak percaya.

Bab Touw Liong sedikitpun tidak menyangka bahwa Ngoyang yang mendapat julukan sebagai salah satu tiga jago dari golongan Kiong-Lay, ternyata hanya begitu saja kepandaiannya, begitu ia turun tangan sudah berhasil menyampok pedangnya, ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang tidak habis dimengerti.

"Bocah, bagus sekali perbuatanmu!"

Demikian Ngoyang berkata dengan mata mendelik.

"Aku tadi kesalahan tangan, harap supaya totiang maafkan,"

Berkata Touw Liong sambil mengejek.

Setelah minta maaf, ia meninggalkan totiang itu dalam keadaan kesima.

Setelah tertegun sekian lamanya, ngo-yang memungut pedangnya dan lompat kembali ke atas kudanya, ia hanya dapat mengawasi bayangan Touw Liong yang dengan perlahan-lahan menghilang dari depan matanya.

Ia sungguh tidak mengerti dengan kepandaiannya sendiri yang sudah lama terkenal di rimba persilatan, masih tidak berdaya menghadapi anak muda yang usianya belum lebih dari dua puluh tahun, itu masih tidak apa begitu anak muda itu bergerak, tanpa diketahui dengan cara bagaimana ia melakukan serangan pembalasan, pedangnya sendiri sudah jatuh di tanah.

Kalau begitu bagaimana untuk selanjutnya?

Ia semakin memikir semakin mendongkol, juga semakin penasaran, oleh karenanya maka segera kaburkan kudanya untuk mengejar.

Kuda itu meskipun kurus, tetapi larinya sangat pesat, dalam waktu sekejab mata, sudah kabur setengah pal lebih.

Setelah berpisah agak dekat, Ngo-yang dengan suara keras berkata.

"Hai, bocah she Touw! Kau hendak kabur kemana? Apa kau tidak lihat siapa yang menunggu kau di atas jembatan itu?"

Touw Liong mengawasi di atas jembatan seketika itu merasa terkejut.

Diam-diam ia mengenes sendiri.

Apa sebetulnya telah terjadi?

Kiranya kira-kira sepuluh tombak di hadapannya terbentang sebuah sungai besar, di atas sungai itu melintang sebuah jembatan, di atas jembatan berdiri seorang imam yang usianya sudah lanjut, imam berambut putih itu tangan kirinya diletakkan di atas pundak seorang imam bermuka sawo matang yang tangannya membawa sebilah pedang.

Di belakang dua imam itu berdiri dua belas imam pertengahan umur yang masing-masing menyangking pedang di tangannya, di bawah sinar matahari pedang itu memancarkan sinarnya yang berkilauan.

Melihat sikap imam rambut putih ini, Touw Liong diamdiam terperanjat, dengan tiba-tiba ia teringat kepada salah seorang tokoh terkuat yang terkenal aneh sifatnya di dalam rimba persilatan.

Tanpa sadar ia menggumam sendiri.

"Ketua golongan Kiong-lay, It-ci Cun-gwan Ciang Ko hi."

Teringat nama Chiang Ko Hi, matanya tanpa dirasa beralih kepada imam di sisinya yang bermuka sawo matang, ia lalu menggumam lagi sendiri.

"Kepala dari tiga jago, Tiong-yang Siangjin."

Sementara itu dalam otaknya lalu berpikir.

Masih ada satu hari setengah aku harus menghadapi pertempuran mati hidup dengan panji wulung tidak kusangka sebelum berhadapan dengan panji wulung, sudah timbul berbagai persoalan yang menyulitkan diriku.

Kini golongan Kionglay sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, mungkin kali ini sulit bagiku untuk melalui rintangan ini.

Selagi ia menghela nafas, imam kurus yang ada di belakangnya berseru kepada imam berambut putih yang berada di atas jembatan.

"Suhu! Bocah ini menggunakan ilmu pukulan Thiansing-jiauw membunuh mati sam sute, kita tak dapat melepaskan padanya begitu saja."

Imam tua yang berdiri di atas jembatan, rambut dan jenggotnya tampak berkiter-kiter, oleh tiupan angin, sejenak ia seperti terkejut, kemudian menyahut dengn suara nyaring.

"Urusan ini aku sudah tahu, hari ini jangan harap bisa lolos dari tanganku."

Imam berambut putih itu berdiri tegak di atas jembatan tanpa bergerak, ia memberi isyarat kepada imam berwajah sawo matang yang berdiri di sisinya, imam itu membungkukkan badan dan memberi hormat, berkata dengan sangat hormatnya.

"Tecu menerima baik perintah suhu!"

Pedang panjangnya lalu diangkat tinggi, dua belas imam pertengahan umur yang berada di belakang dirinya segera berlompatan turun dari atas jembatan.

Secepat kilat tiga belas imam itu sudah berada di depan mata Touw Liong, imam berwajah sawo matang tadi dengan pedangnya menuding Touw Liong dan berkata kepada dua belas imam di belakangnya.

"Tangkap dia!"

"Tunggu dulu!"

Demikian imam kurus yang menyusul Touw liong segera melompat di atas kudanya dan mencegah mereka bergerak, katanya pula.

"Suheng sabar dulu! Mereka tidak dapat menghadapi bocah ini harus ...."

Kata-katanya mendadak dihentikan.

Tiga jago dari golongan Kiong-lay sudah lama mereka biasa bekerja sama, hingga satu sama lain saling mengerti, maka imam berwajah sawo matang itu setelah mendengar perkataan imam kurus tadi lantas diam, matanya menatap Touw Liong sejenak, pedangnya diangkat tinggi dan membuat lingkaran di tengah udara.

Dua belas imam lainnya segera mengambil tindakan, dua orang ini masih tetap berdiri di tempatnya, dan yang sepuluh lagi maju menyerbu dengan pedang terhunus.

Imam kurus hanya dengan pedang di tangan memberi isyarat dengan mata kepada imam muka sawo matang, kemudian berdua mereka maju berbareng menyerang Touw Liong.

"Ouw!"

Demikian Touw Liong berseru, ia kini mengerti apa sebabnya Ngo-yang tadi tidak melanjutkan katakatanya, ternyata hendak turut bertempur bersama suhengnya itu.

Oleh karena merasa malu terhadap diri sendiri, maka tidak mau menjelaskan maksudnya dengan terus terang.

Dua belas imam tadi telah mengurung Touw liong dengan rapat, pedang mereka menyerang bertubi-tubi, hal mana membuat Touw Liong sangat gusar, sejak ia turun gunung belum pernah dikepung oleh demikian banyak tokoh-tokoh kuat dari rimba persilatan, maka ia menarik nafas panjang, dalam mengahadapi serangan pedang dari demikian banyak lawan ia telah menghibur dirinya sendiri.

"Bagaimanapun juga kalau toh mesti mati, hari ini mati, besok juga mati, mati di tangan orang-orang dari golongan Kiong Lay, juga merupakan suatu kehormatan bagiku."

"Minggir!"

Demikian imam muka sawo matang itu memberikan perintahnya dan dua belas imam yang mengepung Touw Liong nampak menarik diri dan masingmasing berdiri di tempatnya sendiri.

Imam muka sawo matang tadi berdiri di tengah-tengah, dengan mata marah memandang Touw Liong, ternyata ucapan Touw Liong tadi sangat menyinggung perasaannya, maka ia perintahkan orang-orangnya menarik kembali serangannya.

Ia maju selangkah dengan muka merah padam, berkata dengan suara dingin.

"Kita tiga jago golongan Kiong-lay seumur hidup belum pernah melakukan perbuatan curang, belum pernah menjadi buah tutur kawan-kawan rimba persiltan. Kali ini untuk menghadapi kau tidak terkecualian. Barisan pedang yang terdiri dari dua belas orang ini hanya untuk menghadapi lawan yang benar-benar kuat luar biasa, tetapi kau rasanya masih belum dapat mendapat kehormatan setinggi itu, maka tidak perlu menggunakan banyak tenaga, sebaiknya biarlah pinto sendiri yang minta pelajaran darimu lebih dulu!"

Ngo-yang diam-diam mengeluh, dia berkata sambil ketukkan kakinya di tanah.

"Celaka! Nama baik suhu akan hancur lebur pada hari ini. Kita tiga jago dari Kiong-lay hari ini benar-benar akan mengalami nasib buruk."

Jilid 4 Imam berwajah sawo matang melirik Ngo-yang sejenak, kemudian kebutkan lengan jubahnya dan menyerbu Touw Liong.

Touw Liong minggir ke samping, mengelakkan tikaman ujung pedang imam itu, kemudian bertanya sambil mendongak.

"Totiang, apakah totiang bukan Tiong-yang totiang yang orang-orang sebut sebagai salah satu dari tiga jago Kionglay-pay?"

Imam itu yang serangannya mengenai tempat kosong, wajahnya menunjukkan perasaan heran, ia berpaling dan menatap wajah Touw Liong, kemudian menjawab sambil mengganggukkan kepala.

"Benar!"

Bocah she Touw, kau ternyata memiliki kepandaian cukup lumayan! Pinto sebenarnya adalah Tiong-yang, sekarang serahkanlah jiwamu!"

Ia menggerakkan pula pedang di tangannya, untuk kedua kalinya menyerang Touw Liong.

Kaki Touw Liong menjejak melesat setinggi empat tombak, kemudian mengeluarkan suara pekikan panjang, di tengah udara ia memutar kemudian lompat melesat ke atas jembatan.

Tindakannya itu di luar dugaan dua jago Kiong-lay tadi, mereka berseru kaget, bersama dua belas imam yang lain, balik ke atas jembatan.

Namun gerakan Touw Liong cepat bagaikan kilat, dengan sikap sangat menghormat ia berada di hadapan imam berambut putih, imam berambut putih itu masih berdiri tegak dengan mulut bungkam memandang Touw Liong.

Touw Liong memberi hormat dan berkata.

"Murid dari Kiu-hoa-pay Touw Liong, disini menghadap ketua Kiong-lay Chiang locianpwe!?"

Imam tua itu mengebutkan lengan jubahnya, sehingga menimbulkan angin keras dan mengeluarkan suara menderu-deru, baju Touw Liong nampak berkibaran, namun badannya sedikitpun tidak bergerak.

Kebutan imam rambut putih itu yang tidak berhasil menggerakkan Touw liong membuatnya terheran-heran, hingga wajahnya berubah seketika.

Dengan suara marah, dia memberikan perintah kepada dua muridnya yang sudah menghampiri padanya.

"Tiong-yang dengar, lekas tangkap bocah ini!"

Dua jago Kiong-lay itu belum pernah menyaksikan suhunya demikian marah, jelas dan mengertilah mereka bahwa urusan ini sangat serius, mereka mengerti baik sifat suhunya, maka kedua-duanya segera menerima baik perintah itu dan menyerbu Touw Liong dengan pedang terhunus.

Dengan alis berdiri Touw Liong mengeluarkan bentakan keras.

"Tunggu dulu!"

Dua jago itu terpaksa menghentikan serangannya, dan Touw Liong maju selangkah berkata kepada imam berambut putih itu sambil membongkokkan badannya.

"Harap Chiang jangan marah, aku hendak memberi sedikit keterangan."

Chiang Ko Hi masih tetap marah dengan nafas memburu ia berkata.

"Jangan banyak bidara, kata-katamu itu kau simpan saja dan tunggu sampai ketemu dengan suhumu, kau boleh bicra di hadapannya!"

Touw Liong terkejut, ia tahu tindakan apa yang akan diambil oleh imam itu, ia lalu berpaling memandang ke belakang sejenak, sementara itu dua jago dari Kiong-lay sudah membentuk barisannya bersama dua belas imam pertengahan umur tadi.

Touw Liong mendongakkan kepala memandang matahari yang sudah mendoyong ke barat, dalam hatinya timbul perasaan sedih, dia merasa terharu terhadap dirinya sendiri, saat itu ia telah menghadapi dua belas orang kuat dari Kiong-lay seolah-olah seekor kambing yang menantikan ajalnya.

Namun ia tidak mau menyerah begitu saja, kembali ia mengeluarkan suara pekikan panjang, pedangnya dihunus dan maju menyerbu barisan tadi.

Wajah Chiang Ko hi tidak menunjukkan perasaan apaapa, ia hanya memandang belakang Touw Liong dan berkata sambil menghela nafas.

"Alangkah indahnya matahari sore sayang sudah dekat waktunya harus terbenam!"

Kata-kata itu tidak diketahui benar maksudnya, ia benarbenar merasa sayang karena matahari yang hampir terbenam ke barat, ataukah menyesalkan Touw Liong yang segera akan binasa di dalam barisan pedang?

Ia gapekan kepalanya kepada Touw Liong agaknya ingin berkata apa-apa, hanya kata-kata itu tidak dikeluarkan dari mulutnya, sedangkan Touw Liong juga sudah lompat melesat ke dalam barisan pedang.

Chiang Ko Hi menarik nafas lagi, memandang berkelebatnya sinar pedang, lalu berkata pada dirinya sendiri.

"Barisan ini telah kuciptakan dengan menggunakan waktu hampir tiga puluh tahun, juga merupakan modal bagiku, tidak kusangka orang pertama yang mencoba barisan ini adalah seorang tingkatan muda yang tidak dikenal dari golongan Kiu-hoa-pay ... sungguh sayang! Membinasakan dia, tidak ada artinya, bahkan merusakkan nama baik dari golongan kita Kiong-lay-pay sendiri. Bahkan kalau binasakan dia ... setan tua dari Kiu-hoa-san itu sesungguhnya tidak boleh dibuat main-main!"

"Tahan!"

Demikian Chiang Ko Hi memerintahkan anak buahnya menghentikan serangannya.

Sesaat kemudian dua belas anak buah golongan Kionglay yang mengepung Touw Liong lalu pada lompat minggir sejauh satu tombak; masing-masing berdiri dengan meluruskan tangannya; sedang ditengah-tengah medan pertempuran Touw Liong berdiri tegak, wajahnya menunjukkan sikap terheran-heran.

Chiang Ko Hi perlahan-lahan turun dari atas jembatan, dia mengulurkan dua jari tangannya kepada Tiong-yang tojin untuk memberi isyarat, Tiong-yang tojin untuk mengahampiri suhunya, sambil berlutut dia menyerahkan pedang kepada imam tua itu.

Chiang Ko Hi menyambuti padang dari tangan muridnya, digerak-gerakkannya sebentar, gerakan itu menghembuskan angin menderu-deru, dengan sikap serius ia berjalan ke hadapan Touw Liong dengan nada suara dingin ia bertanya.

"Bagaimana rasanya barisan dari dua belas pedang itu?"

Mata Touw Liong bergerak-gerak, memandang suasana di sekitarnya, ia sebetulnya tidak suka kebentrok dengan pemimpin golongan Kiong-lay-pay itu, dengan sikap merendah ia menjawab.

"Ini adalah barisan pedang terhebat yang pernah kujumpai dalam seumur hidupku."

Sebetulnya sejak ia turun gunung barangkali baru pertama kali ini menghadapi barisan pedang. Chiang Ko Hi unjukkan senyum kecut dan menganggukanggukkan kepala. Lama sekali, ia baru bertanya lagi.

"Apakah It-yang bukan kau yang membunuh?"

Touw Liong mengeleng-gelengkan kepala menjawab.

"Ketahuilah totiang, aku sebetulnya tidak memiliki kekuatan tenaga demikian hebat untuk menggunakan ilmu dari golongan itu. Dengan nada suara dingin Chiang Ko Hi membantah keterangan Touw Liong, ia berkata.

"Tidak! Kau memiliki kekuatan tenaga dalam sehebat itu, ketahuilah olehmu, dengan kekuatan tenaga dalammu sekarang ini, untuk menggunakan ilmu Thian-sing-jiauw sudah lebih daripada cukup."

Touw Liong terkejut mendengar keterangan itu, sementara Chiang Ko Hi melanjutkan perkataannya.

"Tadi ketika aku bertemu muka denganmu, aku telah mengebutkan lengan jubahku, aku sudah menggunakan lima puluh persen kekuatan tenaga dalamku, tetapi kebutanku itu ternyata tidak membuat kau bergerak, apalgai menjatuhkan kau. Suatu bukti betapa tinggi kekuatan tenaga dalammu, dan kedua, waktu kau tadi menyerbu dalam barisan dua belas pedang itu, meskipun baru bertempur dua jurus, tetapi kau sedikitpun tidak mendaapat luka apa-apa. Ditinjau dari dua hal ini, kau sebetulnya memiliki cukup kekuatan tenaga menggunakan ilmu Thiansing-jiauw untuk melukai orang."

"Betulkah aku memiliki kekuatan tenaga dalam sedemikian hebat?"

Tanya Touw Liong sambil mundur dua langkah, kemudian menggeleng-geleng dan kepala seolaholah menyangkal kata-katanya sendiri.

Apakah ia harus menyangkal?

Tetapi kenyataannya memang ada, ia sendiri memang sudah mendapat kemajuan pesat.

Tidak mengakui, karena orang itu bukannya ia sendiri yang membunuh.

Apa yang paling mengherankan padanya, ialah kekuatan tenaga itu dari mana datangnya?

Ia sendiri juga tak mengerti.

Akhirnya ia menggeleng-gelengkan kepala, dan menyangkal dengan kata-katanya.

"Memang benar aku belum pernah menggunakan ilmu Thian-sing-jiau, juga belum pernah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang dari golongan baik."

Chiang Ko Hi salah mengerti, ia berkata dengan nada suara dingin.

"Kalau kudengar dari kata-katamu, kau agaknya tidak pandang golongan Kiong-lay-pay sebagai golongan baik!"

Touw Liong buru-buru membantah.

"Kiong-lay-pay adalah pusat dari sepuluh partai pedang besar dalam rimba persilatan, bagaimana tidak terhitung golongan baik?"

Hawa amarah Chiang Ko Hi agak reda, tetapi perasaan mendongkol dalam hatinya masih belum lenyap, sambil lambaikan pedangnya ia berkata dengan nada suara dalam.

"Kita tidak perlu banyak bicara, engkau suka ikut dengan baik kepadaku pergi ke gunung Kiu-hoa-san untuk mencari suhumu, ataukah perlu aku menggunakan sedikit tenaga?"

Touw Liong berpikir sejenak, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Kedua-duanya aku tidak dapat terima."

"Kupinta dengan baik kepadamu ternyata kau masih membandel, sekarang aku sudh tidak perlu berlaku sungkan lagi. Baiklah! Sekarang kuberikan suatu soal sulit untuk kau lakukan. Di dalam rimba persilatanadalah ilmu pedang golongan Kiu-hoa yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus itu yang paling kesohor, dan kedua ..."

Imam tua itu sengaja mengulur panjang nadanya, sedangkan matanya melirik Touw Liong. Touw Liong lalu mengerti, berkata sambil tertawa.

"Tentang ilmu pedang, dalam rimba persilatan biasanya golongan Kiong-lay dan golongan Kiu-hoa merupakan ilmu pedang tertinggi, kedua-duanya itu kedudukannya berimbang."

"Hari ini kuberikan kau suatu kelonggaran, kesempatan untuk lari,"

Sebentar dia berdiam, matanya menatap Touw Liong, lalu berkata pula.

"Ini adalah satu-satunya kesempatan bagimu."

Touw Liong membuka lebar matanya, memberi hormat setengah aturan, katanya.

"Aku terima baik usulmu."

"Kta tinggalkan pedang, bertanding dengan tangan kosong. Jikalau kau sanggup melayani aku sepuluh jurus, hari ini kubebaskan kau daripada kematian. Perkara Ityang, aku bisa datang sendiri ke gunung Kiu-hoa untuk mencari suhumu."

Wajah Touw Liong menunjukkan perasaan terkejutnya, sebab sepasang tangan kosong imam itu ini, dengan dua belas jurus ilmu pedang golongan Kiu-hoa-pay, sama-sama merupakan ilmu yang sangat kesohor dalam rimba persilatan.

Hari ini sekalipun Kiu-hoa Lojin datang sendiri, jikalau tidak menggunakan ilmu Thian-sing-jiauw, tidak berani dengan mudah menerima baik tantangan imam tua itu.

Jikalau Touw Liong bertempur dengan menggunakan pedang, mungkin masih sanggup melayani tiga atau lima jurus, sekarang Chiang Ko Hi usulkan bertanding dengan tangan kosong, ini berarti suatu keputusan mati baginya.

Touw Liong merasa berat menerima usul itu, namun Chiang Ko Hi sudah berkata lagi.

"Aku tidak keberatan kau menggunakan ilmu Thian-sinjiauw. Kalau kau menggunakan ilmu Thian-sing-jiauw melawan aku, dengan kekuatan tenaga yangkau miliki sekarang ini, sepuluh jurus sesungguhnya sangat mudah sekali."

Mendengar ucapan itu, mengertilah sudah Touw Liong, bahwa maksud Chiang Ko Hi ialah memaksa Touw Liong menggunakan ilmu Thian-sing-jiauw, dengan demikian hingga imam itu dapat membuktikan kesalahannya.

Touw Liong menghela nafas, ia menggelengkan kepala sambil tersenyum getir, sementara dalam hatinya berpikir, hingga sekarang aku baru percaya apa artinya bahwa jahe itu semakin tua semakin pedas.

Chiang Ko Hi benar-benar lihai, melihat Touw Liong diam saja, dia mendesak dengan kata-katanya lagi.

"Jikalau kau tidak memiliki kekuatan tenaga sehebat itu, juga tidak apa, asal kau berlutut di hadapanku untuk minta ampun, kemudian ikut aku ke gunung Kiu-hoa, dan mengaku dosamu di depan suhumu sendiri."

Ucapan itu tidak bedanya dengan menuduh Touw Liong sebagai penjahat. Sudah tentu Touw Liong menjadi marah, maka semua perasaannya dan semua kegusarannya lantas meluap katanya dengan gagah.

"Kalau begitu biarlah, dengan tidak mengukur tenagaku sendiri, aku bersedia menyambut seranganmu sampai sepuluh jurus."

Ia berpikir esok malam jikalau menghadapi Panji Wulung kalau ia tidak beruntung mengalahkannya juga mesti mati, dan hari ini demi nama baik suhunya, kalau kalah di tangan ketua Kiong-lay-pay juga mati, bagaimanapun juga, kalau kematian itu toh ada harganya, lebih pagi satu hari atau lambat satu hari apa artinya?

Daripada hidup lebih lama satu hari harus menerima hinaan, toh lebih baik mati sehari lebih pagi secara laki-laki.

Oleh karena berpikir demikian, maka akhirnya ia terima baik tantangan imam tua itu.

Sementara itu dalam hatinya sudah diperhitungkan.

"Aku tidak pikir untuk memperpanjang hidupku, aku juga tidak akan menggunakan ilmu Thian-sin-jiauw, supaya kau tidak dapat alasan untuk menuduh aku.

"Baik! Baik!"

Demikian Chiang Ko Hi berkata, bibirnya menunjukkan senyum kejam.

Pedangnya dikembalikan kepada Tiong-yang.

Touw Liong juga simpan kembali pedangnya, alisnya dikerutkan, memikirkan cara bagaimana untuk menghadapi lawannya.

Tadi Chiang Ko Hi kata, ia sanggup menyambuti kebutan jubahnya yang menggunakan kekuatan tenaga lima bagian, tanpa bergerak.

Ia diam-diam menetapkan siasat bagaimana untuk menghadapi lawan kuat itu.

Sementara itu Chiang Ko Hi sudah berkata lagi.

"Sambutlah, bocah! Kalau kamu sudah menyambut serangan sepuluh jurus kau boleh bebas dan boleh lari sesukamu kemana kau hendak pergi."

Touw Liong sesungguhnya sangat mendongkol, hingga wajahnya menunjukkan perasaan gusarnya.

Chiang Ko Hi memerintahkan semua anak-anak murid supaya mundur, hingga di situ terdapat lapangan cukup luas untuk bertempur.

Ia lalu berdiri di tengah-tengah lapangan dan mulai pasang kuda-kuda, kemudian memberitahukan bahwa ia hendak melakukan serangan yang pertama.

Serangan pertama dilakukan dengan tangan kiri, kemudian tangan kanannya menyusul sampai tiga kali.

Serangan ini menimbulkan hembusan angin hebat, Touw Liong yang diam-diam sudah siap, mengerahkan sepenuh bagain kekuatan tenaganya, menyambuti serangan itu.

Tatkala dua serangan itu saling beradu, badannya tergoyang-goyang, kekuatan tenaga dua orang ternyata sangat berimbang, masing-masing hanya mundur setengah langkah.

Jurus pertama berakhir dengan sama kuat.

Chiang Ko Hi sangat marah, dia mengerahkan sepuluh bagian kekuatan tenaganya kedalam dua lengannya, kemudian membentak dengan suara keras.

"Bocah, sambutlah seranganku yang kedua!"

Ucapan itu diikuti serangan yang hebat.

Touw Liong tidak berani berlaku ayal, ia menyambuti serangan lawannya dengan kedua tangan.

Kesudahan dari itu, ia terpental mundur setengah langkah.

Chiang Ko Hi hanya bergoyang-goyang sebentar, akhirnya ia dapat pertahankan kedudukannya, sedikitpun tidak mundur.

Kini ia dapat buka mulut besar, katanya dengan suara bangga.

"Sudah dua jurus, bocah, kau hati-hati menyambuti seranganku yang ketiga!"

Serangan yang ketiga itu sudah tentu lebih hebat daripada yang kedua.

Serangan itu dirasakan oleh Touw Liong bagaikan gunung es yang menindih, sehingga ia hampir tidak bisa bernafas, tetapi ia masih berusaha untuk menyambuti serangan itu.

Selanjutnya serangan keempat, kelima dan terus sampai kedelapan bertubi-tubi datangnya.

Touw Liong sudah mandi keringat.

Touw Liong yang sudah menyambuti hingga delapan jurus, ia tahu bahwa serangan terakhir Chiang Ko Hi pasti merupakan serangan yang mematikan, bahkan mengeluarkan seluruh kekuatan tenaganya, bagaimanapun juga rasanya ia tidak dapat menyambuti serangannya yang terakhir itu.

Jikalau ia keraskan hati untuk menyambuti, kesudahannya pasti mengenaskan.

Tetapi ia sudah bertekad hendak bertempur hingga tenaga yang penghabisan, hanya persoalan yang dihadapinya itu ia tidak dapat melepaskan begitu saja.

Sang waktu terus berlalu, tidak memberi kesempatan baginya untuk berpikir lagi.

Hembusan angin bagaikan ombak yang datang menggulung dirinya, hingga ia buruburu menyiapkan diri untuk menyambuti serangan itu.

Dalam keadaan tergesa-gesa timbullah akalnya, kedua kakinya menjejak tanah, badannya melesat tinggi lima tombak, mengelakkan serangan Chiang Ko Hi yang sangat hebat itu.

Chiang Ko Hi benar-benar tidak menduga Touw Liong akan berbuat demikian, ia membentak dengan suara marah.

"Bocah, apakah kau masih pikir hendak menyingkir? Jurus kesepuluh ini akan menamatkan riwayatmu."

Tanpa menunggu Touw Liong turun lagi, serangan Chiang Ko Hi ditujukan ke tengah udara hendak memapaki Touw Liong yang hendak turun ke tanah.

Serangan itu ternyata mengenakan denga telak kepada Touw Liong, bagaikan layang-layang yang putus talinya, Touw Liong telah terpental keatas dan terbang keluar dari medan pertempuran, lalu jatuh di atas jembatan.

Jatuhnya itu dengan gaya yang sangat indah sekali, ia dapat berdiri dengan tegak di atas jembatan, sikapnya biasa, bedanya hanya nafasnya sedikit memburu.

"Hai! Sudahlah!"

Chiang Ko Hi mengeluh sendiri bagaikan ayam jago yang kalah bertempur, dengan kedua tangannya ia memerintahkan kepada Tiong-yang Tojin.

"Jalan! Mari kita pulang ke Kiong-lay-san!"

"Suhu, bagaimana dengan dendam sakit hati It-yang sute?"

Bertanya Tiong-yang sambil membungkukkan diri.

"Sudahlah! Urusan ini kita tangguhkan saja sampai sepuluh tahun kemudian!"

Tiong-yang mengerti maksud suhunya, itu berarti bahwa suhunya untuk menghadapi Touw Liong satu bocah yang masih sangat muda dan masih belum banyak pengalaman, toh masih belum sanggup apalagi untuk mencari suhunya di gunung Kiu-hoa-san?

Dengan demikian sakit hati It-yang tidak terbalas, bahkan mungkin pihaknya sendiri yang akan mendapat malu.

Maka urusan untuk membalas itu, sekarang sudah tak ada harapan lagi, semua harapannya harus ditujukan kepada usaha latihannya untuk sepuluh tahun lagi, sehingga ilmu barisan dua belas imam itu terlatih benar-benar.

Touw Liong diam-diam lega hatinya.

Sedang Tiongyang Tojin maju beberapa langkah dan berkata kepada suhunya.

"Suhu! Bocah ini tidak boleh kita diamkan, kalau kita diamkan berarti meninggalkan suatu bencana di kemudian hari, meskipun kita melatih sepuluh tahun lagi, tetapi sepuluh tahun kemudian, mungkin ia sudah mendapat kemajuan lebih pesat lagi, maka itu ... hari ini jikalau kita tidak mengambil tindakan tegas, barang kali di kemudian hari akan membawa bencana yang tak akan habishabisnya."

Chiang Ko Hi tertarik oleh perkataan muridnya, ia mengangguk-anggukkan kepala, matanya melirik kearah Touw Liong yang berdiri di atas jebmatan dengan menunjukkan sikapa keberatan berkata.

"Ucapan yang sudah kukeluarkan bagaimana harus tidak ditepati? Bocah itu sudah menyambuti sepuluh jurus seranganku bahkan sedikitpun tidak terluka."

"Suhu, mari berjalan dulu biarlah tecu yang membereskan urusan ini,"

Kata Tiong-yang dengan suara perlahan. Chiang Ko Hi berpikir sejenak, akhirnya berkata sambil menghela nafas.

"Akal ini memang baik, dapat menyingkirkan bocah itu, juga tidak mengingkari janji terhadapnya. Tetapi aku masih khawatir, apakah kau memiliki kekuatan tenaga untuk membereskan bocah itu?"

"Suhu jangan khawatir, serangan terakhir suhu telah melukai tubuh dalam bocah itu. Dengan tecu seorang, rasanya tidak susah untuk membinasakannya."

"Nampaknya memang benar bocah itu terluka parah, baik juga! Berlakulah dengan bersih, aku tunggu kau di kota Lam-yang."

Tiong-yang mengantarkan suhunya berlalu dari tempat itu, Touw Liong masih berdiri bagaikan patung di atas jembatan.

Matahari memancarkan sinarnya keemas-emasan, angin barat meniup kencang.

Chiang Ko Hi sudah berlalu bersama tiga belas muridnya, keadaan di situ sepi sunyi.

Hanya Touw Ling seorang diri yang masih tegak berdiri di atas jembatan, tidak menunjukkan sikap apa-apa.

Di bawah jembatan, di tengah-tengah jalan raya, Tiongyang tojin wajahnya menunjukkan sikap yang tidak menentu, sejenak dua tangannya dikepal-kepal, dia mencoba berjalan ke atas jembatan.

Terpisah waktu sesaat itu, ia sedikit banyak agaknya timbul perasaan menyesal, ia menghunus pedang panjangnya, dengan berindap-indap berjalan menuju ke atas jembatan.

Terpisah kira-kira satu tombak dengan Touw Liong ia berhenti.

"Bocah, aku sekarang hendak turun tangan! Kau jangan salahkan aku!"

Demikian ia memberi peringatan kepada Touw Liong.

Touw Liong sedikitpun tidak menunjukkan perubahan sikap apa-apa, ia hanya menggerakkan biji matanya yang sudah tidak bercahaya.

Touw Liong memang benar terluka tidak ringan.

Tiong-yang tojin berusaha menindas emosinya yang berkobar-kobar, ia mengeluarkan suara batuk-batuk, kemudian berkata dengan nada suara mengejek.

"Bocah! Sekarang ini jikalau kau suka rebah, aku akan mengampuni jiwamu!"

Touw Liong masih tidak bergerak, sepasang matanya dipejamkan, tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.

Bibir Tiong-yang menunjukkan senyum egoisnya, lambat-lambat ia maju menghampiri, ujung pedangnya ditujukan ke belakang punggung Touw Liong, kemudian berkata dengan bangga.

"Mati di bawah pedangku, juga merupakan kehormatan besar bagimu!"

Bahaya setapak demi setapak mendekati Touw Liong, namun Touw Liong masih tetap memejamkan mata, seolah-olah tidak merasa.

Selagi Tiong-yang hendak menggerakkan pedangnya untuk menekan belakang punggung Touw Liong, tiba-tiba dari bawah meluncur hawa dingin menyerang dirinya.

Ia sudah mengerti apa artinya itu, tidak keburu ia mengelak, secepat kilat jalan darahnya Ling-tay-hiat sudah tertotok.

Pedang di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah, kedua matanya mendelik, dan ia sendiri sekarang rebah terlentang di atas jembatan.

Siapa orangnya yang menotok dirinya?

Ia belum melihat dengan jelas, dan ia mendelikkan matanya, sebentar badannya menggeliat, dan kemudian tamatlah riwayatnya.

Touw Liong yang memejamkan matanya sedang mengatur pernafasannya untuk memulihkan kekuatan tenaganya masih tetap dalam keadaan demikian.

Ia tahu bahwa saat itu terjadi perubahan besar di hadapan matanya, tetapi ia sedang memulihkan kekuatan tenaganya, maka tidak berani membuka matanya.

Sang waktu berlalu terus, tak lama kemudian matahari sudah terbenam ke barat, di atas jalan raya tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, seekor kuda kurus menuju ke jembatan.

Penunggangnya bukanlah si imam kurus Ngo-yang, melainkan Chiang Ko Hi yang sikapnya dingin.

Dengan sangat mendongkol dan hati cemas Chiang Ko Hi menuju ke atas jembatan, kemudian lompat turun dari kudanya, ia tidak ambil perduli dengan Touw Liong, sebaliknya memandang muridnya lebih dulu, ia memeriksa sekujur badannya, tiba-tiba tampak olehnya di bagian jalan darah Ling-tay-hiat terdapat sebuah tanda luka, ia lalu dongakkan kepala, dengan mata gusar memandang Touw Liong yang masih berdiri tegak tanpa bergerak.

Kemudian ia berkata.

"Kembali kau bocah, sudah menggunakan ilmu Tianseng-jiauw yang sangat ganas itu."

Perlahan-lahan ia letakkan Tiong-yang di atas jembatan, memungut pedang panjangnya, sedang ujung pedang ditujukan kepada Touw Liong dengan wajah gusar berkata.

"Bocah, hari ini akan mengeluarkan hatimu untuk melihat hatimu itu merah ataukah hitam?"

Sehabis berkata, ujung pedangnya ditusukkan ke depan dada Touw Liong.

Mendadak berkelebat sesosok bayangan orang.

Touw Liong sudah menghilang dari depan Chiang Ko Hi, hingga serangan imam ini mengenakan tempat kosong.

Kejadian ini, membuatnya sangat marah benar-benar, pedangnya digerak-gerakkan kesana-kemari sehingga menimbulkan hembusan angin hebat, sementara mulutnya membentak.

"Bocah, kau sungguh jahat! Hari ini bagaimanapun juga aku akan mencincang tubuhmu, baru merasa puas."

"Ciangbunjin harap sabar!"

Demikian suara yang keluar dari mulut Touw Liong, yang berdiri di tengah-tengah jembatan sambil menyoja kepadanya.

"Apa yang perlu dikatakan lagi? Apakah dia juga bukan mati dibawah ilmumu Thian-seng-jiauw?"

Berkata Chiang Ko Hi dengan nada gusar. Bab 10 Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Ciangbunjin adalah seorang beribadat, sesuatu perbuatan darimu seharusnya dipikir dulu masak-masak. Pertama, kau tidak seharusnya mengingkari janjimu sendiri, tidak seharusnya setelah kau menyerang sepuluh jurus lalu tidak menepati janjimu, diam-diam kau menyuruh Tiongyang membunuh aku. Kedua, tidak seharusnya kau tidak memeriksa lebih dahulu, lantas marah terhadap orang yang tidak bersalah. Kau kurang bisa berpikir dengan baik, aku terluka oleh seranganmu yang terakhir, aku sedang berusaha memulihkan kekuatan tenagaku sendiri, dari mana aku masih ada sisa kekuatan untuk membunuh orang?"

Ucapan Touw Liong itu memang benar, hingga Chiang Ko Hi diam-diam membenarkan juga.

Ia kini berada dalam keadaan serba salah, ucapan Touw Liong itu merupakan suatu tamparan hebat baginya, ia tidak tahu bagaimana harus berbuat?

Touw Liong melihat hati ketua Kong-lay-pay itu tergerak, lalu berkata sambil menunjuk kepada jembatan.

"Luka Tiong-yang totiang di bagian jalan darah Ling-tayhiat, waktu ia menghembuskan nafasnya juga tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga, suatu bukti bahwa kematiannya itu disebabkan karena ia diserang orang secara mendadak, terhadap orang yang membokong dirinya itu, Tiong-yang totiang juga belum melihat dengan jelas, sedang orang yang membokong itu jikalau turun tangan dari belakang, aku seharusnya melihat, jikalau dari hadapanku tidak mungkin dapat melakukan serangan demikian hebat. Maka serangan orang itu pasti dilakukan dari samping belakang, mungkin berdirinya Tiong-yang totiang waktu itu agak miring sedikit."

"Jadi kau maksudkan, orang yang menyerang dari belakang itu sembunyi di bawah jembatan dari situ melancarkan serangan tangan berat?"

Touw Liong menganggukkan kepala mengiyakan.

Chiang Ko Hi menancapkan pedangnya di atas jembatan, lalu berjalan menuju ke kepala jembatan.

Di bawah jembatan, air mengalir tenang, beberapa tangkai daun kering mengambang dan mengalir di atasnya.

Jembatan itu adalah sebuah jembatan model kuno yang panjangnya kira-kira tujuh delapan tombak, di bawahnya terdapat tiga lobang, jembatan yang terbuat dari batu itu sudah penuh lumut, menunjukkan bahwa usia jembatan itu sudah tua sekali.

Di permukaan batu, terdapat beberapa baris tulisan yang ditulis dengan jari tangan, tulisan itu berbunyi.

"Orang yang membunuh Tiong-yang bukanlah Touw Liong! Orang yang akan membunuh Chiang Ko Hi adalah aku!"

Di bawah tulisan itu terdapat lukisan sebuah panji segitiga selebar kira-kira lima dim.

Touw Liong yang menyaksikan itu hatinya bergetaran sedang Chiang Ko Hi memandang lukisan panji kecil itu dengan mengerutkan alisnya.

Rupanya ia tidak begitu mengerti, dengan wajah seperti masih ragu-ragu ia bertanya kepada diri sendiri.

"Dewasa ini, siapakah orang yang menggunakan tanda panji semacam ini?"

Touw Liong menghela nafas dan menjawab.

"Panji Wulung."

"Panji Wulung?!"

Tanya Chian Ko Hi kaget hingga hampir lompat. Touw Liong menganggukkan kepala.

"Bagaimana kau tahu?"

Tanya Chiang Ko Hi tidak percaya. Touw Liong mengeluarkan panji wulung dari dalam sakunya dan diberikan kepada Chiang Ko Hi, katanya.

"Silahkan Chiang-bunjin periksa sendiri!"

Dengan tangan gemetar Chiang Ko Hi menyambuti panji kecil warna hitam dari tangan Touw Liong, kemudian berkata.

"Ya Tuhan! Ini memang benar! Panji Wulung ... Kau telah menerimanya?"

Touw Liong menjawab sambil menunjuk kepada tulisan di batu jembatan.

"Harap ciangbunjin berlaku hati-hati! Panji Wulung selamanya berbuat seperti apa yang dikatakan, awas terhadapnya yang akan bertindak tidak menguntungkan bagi ciangbunjin. Ai ... sementara aku sendiri, sudah satu hari satu malam aku menerima panji ini."

Chiang Ko Hi menghela nafas, dengan nada suara simpatik ia berkata.

"Sayang usiamu masih begini muda, hidupmu tinggal satu setengah hari saja! Ai! Aku pernah merasa sayang terhdapmu, baiklah matahari di waktu sore, meskipun indah sinarnya, sayang tidak lama akan terbenam! He! Aku juga tidak tahu masih bisa hidup berapa lama lagi? Sedang dendam kesumatku ... dalam hidup ini ... Ah! Dendam sakit hati atas kematian muridku, entah kapan aku bisa menuntutnya!"

Dua orang itu menjadi sama-sama senasib. Touw Liong terhadap Chiang Ko Hi mendadak timbul rasa simpati, ia berkata dengan suara perlahan.

"Di sini terlalu banyak persoalan, menurut pikiranku, Chiang-bunjin seharusnya meninggalkan jauh-jauh dari tempat yang banyak pertikaian ini."

Chiang Ko Hi menganggukkan kepalanya, berkata dengan suara sedih.

"Aku akan menjauhkan diri dari segala pertikaian, barangkali sudah tidak mungkin lagi! Aku sendiri juga tidak tahu, masih bisa hidup berapa lama lagi."

Ia berjalan lagi ke atas jembatan dengan langkah kaki limbung, lalu turunkan tangannya mengangkat jenazah munridnya, kemudian meletakkan di atas punggung kuda.

Dengan melawan angin kencang, kudanya dikaburkan menuju ke barat.

Dalam waktu hanya sekejab saja, usia Chiang Ko Hi seolah-olah sudah berubah menjadi lebih tua, semangatnya yang semula menyala-nyala kini telah lenyap bagaikan asap ditiup angin.

Touw Liong memandang bayangan Chiang Ko Hi yang perlahan-lahan lenyap dari hadapan matanya, barulah memasukkan kembali panji wulungnya dalam sakunya, kemudian berkata kepada dirinya sendiri.

"Panji Wulung benar-benar pembawa celaka! Selama seratus tahun, bayangannya masih selalu hidup dan menimbulkan kenangan menakutkan di dalam hati manusia."

Ia berdiri terpencil di atas jembatan memandang sinar matahari yang sudah mendoyong ke barat, ia tidak tahu malam itu ia harus ke selatan atau ke utara, karena terlambat hampir setengah hari, untuk menyusul Lie Hui Hong sudah tidak mudah lagi.

Ia memandang kearah yang jauh dengan matanya yang sayu, dari mulutnya tercetus kata-kata perlahan yang bertanya kepada dirinya sendiri.

"Entah bagaimana macamnya orang yang mengaku Panji Wulung itu? Mengapa ia dapat mencuri ilmu Thian-seng-jiauw dari perguruanku untuk membunuh? Lalu sekarang ia kembali turun tangan untuk membinasakan Tiong-yang yang berarti juga menolong jiwaku?"

"Apakah benar ia takut sebelum waktu tiga hari tiba aku sudah mati, sehingga ia tidak dapat mengambil batok kepalaku?"

"Siapakah Panji Wulung itu?"

Ia tahu Panji Wulung seolah-olah bayangan yang selalu membayangi dirinya sendiri.

Ia mulai langkahkan kakinya, berjalan terus menuju ke jalan raya yang kedua sisisinya terdapat banyak lading yang sudah mulai kering.

Keadaan di sekitarnya sepi sunyi, di atas jalan raya itu tidak terdapat seorangpun juga.

Satu hari telah berlalu dengan cepat, malam telah tiba, sinar bulan menyinari jagat raya yang sepi sunyi.

Pada waktu itu, suara binatang malam terdengar di sana sini, Touw Liong berjalan seorang diri, memikirkan nasibnya yang mungkin hanya tinggal hidup satu hari atau satu malam saja.

Ia berjalan seperti seorang yang sudah kehilangan tenaga, maka untuk berhenti mengaso di bawah pohon yang rindang.

Ia memejamkan matanya untuk memulihkan tenaganya.

Selagi hendak membuka matanya untuk melanjutkan perjalanannya, samara-samar di hadapannya seperti tampak bayangan seseorang.

Dengan perasaan kaget ia mendadak membuka mata; saat itu justru bayangan seseorang lewat di hadapannya.

Bayangan orang itu seperti tidak asing baginya, ialah seorang paderi tua yang kepalanya gundul dan memakai jubah warna kelabu.

Paderi itu seperti pernah dilihatnya, tapi untuk sesaat ia tidak ingat dimana ia pernah ketemu.

Selagi Touw Liong memikir-mikirkan, bayangan paderi itu bergerak bagaikan angin, dalam waktu sekejab mata saja sudah berjalan sejauh lima tombak.

Dalam hati Touw Liong diliputi tanda tanya, diam-diam bertanya kepada diri sendiri.

"Siapa paderi itu?"

Tertarik oleh perasaan ingin tahu, Touw Liong lalu angkat kaki dan pergi mengejar.

Gerakan kaki paderi itu luar biasa cepatnya, seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah, ilmu lari pesat yang sudah mencapai taraf tingakt tertinggi itu merupakan orang yang jarang ditemukan oleh Touw Liong.

Dalam ingatannya orang yang memiliki ilmu lari pesat macam itu kecuali gurunya sendiri yang dapat dibandingkan dengan kepandaian orang itu, benar-benar sudah untuk mencari yang keduanya.

Dalam otaknya tiba-tiba timbul suatu pertanyaan aneh apakah dia itu orang yang menamakan dirinya Panji Wulung?

Karena timbulnya pikiran demikian, maka ia lalu mengerahkan kekuatan tenaganya dengan menggunakan seluruh kepandaiannya, terus mengejarnya.

Ia mengejar sampai sejarak tiga pal, suatu kejadian lain membuatnya lebih terkejut, ia mendapat kenyataan bahwa kaki yang mengejar paderi tadi, dalam waktu cepat itu ternyata sudah berhasil mengejanrya.

Ternyata ilmu lari pesatnya itu sedikitpun tidak kalah dengan paderi tua itu.

Hal itu sangat mengejutkan dirinya, ia benar-benar tidak tahu dengan cara bagaimana kekuatan tenaga dan kepandaiannya sendiri dalam waktu satu hari telah mendapat kemajuan demikian mendadak?

Orang yang berada di depannya itu ialah orang dari golongan agama.

Ia berani memastikan bahwa orang itu bukanlah si Dewa Arak.

Akan tetapi siapa?

"Hai!"

Mendadak Touw Liong teringat diri seseorang.

Bukan kepalang terkejutnya dia pada saat itu, buru-buru ia menghentikan kakinya dan berpikir sambil menepaknepakkan kepalanya sendiri.

Bagaimana aku berlaku demikian gila?

Jikalau aku benar-benar dapat mengejarnya, bukankah berarti mencari kesulitan sendiri?

Urusan di dalam dunia ini kadang-kadang memang demikian aneh.

Touw Liong merasa jeri terhadap orang itu, ia baru berhasil menahan langkah kakinya sendiri, tetapi paderi yang berada di hadapannya juga menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, alisnya yang panjang nampak berdiri, matanya memancarkan sinar tajam, setelah menatap Touw Liong sejenak ia bertanya dengan heran.

"Kau siapa?"

Benar saja, dugaan Touw Liong tidak salah.

Paderi itu Touw Liong pernah melihat, ia adalah paman guru Lie Hui Hong, yang pernah dilihatnya di dalam kuil Lang-in Siansie, yang kala itu sedang duduk bersemedi di atas ranjang kayunya.

Demi ditegut oleh paderi tua itu, hati Touw Liong berdebaran, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Paderi tua itu perlahan-lahan menghampiri dan kembali mengajukan pertanyaannya.

"Kau murid siapa, mengapa terus mengikuti aku?"

"Aku yang rendah ini adalah Touw Liong,"

Demikian Touw Liong terpaksa menjawab dengan gelagapan.

"Touw Liong?!"

Paderi itu terkejut, tiba-tiba membentak sambil mendelikkan batanya.

"Bocah! Aku justru sedang mencarimu!"

Meskipun Touw Liong sudah tahu sebab apa mencari dirinya, tetapi ia pura-pura bertanya.

"Ada keperluan apa siansu mencari aku?"

"Perlu apa mencari kau? Tidak apa-apa, hanya ingin mengambil nyawamu."

"Aku dengan losiansu belum pernah bertemu muka, kita satu sama lain juga tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa aku harus menyerahkan jiwkau kepada losiansu?"

Demikian Touw Liong balas menanya.

"Aku tidak perlu menerangkan dosamu. Jikalau kau merasa penasaran, dengarlah baik-baik! Aku perkenalkan diriku lebih dulu, aku adalah Hong-hui Tianglo dari gereja Lang-in San-sie, juga menjadi paman gurunya Lie Hui Hong."

Touw Liong pura-pura berlaku tenang dengan sikap seperti biasa ia mendengarkannya, kemudian menyatakan kagumnya kepada paderi itu.

"Tidak perlu kau memuji aku! Suhumu dalam rimba persilatan mempunyai kedudukan tinggi, kau denganku terhitung orang-orang yang sama tingkatnya, ucapan cianpwe tidak berani aku menerimanya."

Paderi tua itu menolak pemberian hormat Touw Liong. Touw Liong tidak membantah, masih tetap dengan sikapnya yang menghormat kepada orang tingkatan tua, ia berkata.

"Cianpwe hendak memerintah apa, sekalipun harus terjun ke dalam api maupun ke dalam air, bonapwe tidak akan menolak."

"Jangan banyak bicara! Aku sekarang hendak menanya padamu, kau harus mati atau tidak?"

"Terserah kepada lo-siansu!"

"Pertama, kau sudah mengangkangi batu Khun-ngogiok, itu masih belum cukup, bahkan membunuh orang yang menjadi pemiliknya. Kau telah membinasakan Lie Hui Pek, apa maksudmu?"

"Dalam soal ini, ternyata mengandung fitnahan hebat, untuk sementara ini boanpwe tidak dapat memberi penjelasan kepada cianpwe, urusan ini terpaksa kuminta untuk ditunda dulu sehingga menjadi jelas, kalau urusan ini sudah terang, sudah tentu tidak susah untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah."

"Kedua, orang yang menggunakan ilmu serangan Thianseng-jiauw melukai Lie Hui Hong di kota Lam-yang ..."

"Itu dilakukan oleh orang lain, orang yang melukai Lie Hui Hong dengan ilmu Thian-seng-jiaw bukan orang dari golongan Kiu-hoa."

"Ilmu ampuh dari golongan Kiu-hoa, adalah warisan dari Sam Hong Cosu. Pada dewasa ini kecuali orang dari golongan Kiu-hoa tidak ada lain orang yang mampu menggunakan. Terang Lie Hui Hong terluka di bawah serangan tangan Thian-seng-jiauw, mengapa kau timpakan dosanya kepada orang lain? Kau kata itu dilakukan oleh orang lain, siapakah orangnya?"

Tanya paderi tua itu marah.

"Jikalau lo-cinapwe tidak percaya, boanpwe dapat menunjukkan bukti untuk menunjukkan bahw boanpwe tidak bersalah."

"Baiklah! Kau bawa aku dulu untuk melihat buktimu, kemudian kita perlahan-lahan memperhitungkan rekening ini."

"Mari cianpwe ikut, nanti pasti akan tahu sendiri."

Tanpa menunggu reaksi paderi itu, Touw Liong sudah berjalan dulu, balik menuju ke jembatan.

Paderi tua tiu tidak berdaya terpaksa mengikutinya.

-----00000-----Jembatan tua itu sepi sunyi, air sungai yang mengalir di bawahnya tetap tenang, di atas jembatan tampak seorang tua dan seorang muda, mereka adalah Hong Hui Siansu dan Touw Liong.

Dua orang itu memandang batu jembatan.

Touw Liong menunjukkan rasa terkejut dan terheran-heran, sedang Hong Hui nampak bingung.

Kemudian terdengar kata-kata Touw Liong seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri.

"Jelas di atas batu ini belum lama berselang terdapat tulisan dengan jari tangan, bagaimana dalam waktu sekejab saja sudah terhapus? Oleh kekuatan tenaga dalam pula!"

"Omong kosong, kulihat kau masih mempunyai akal apa lagi, sebaiknya kau mengaku saja dengan terus terang,"

Berkata Hui Hong dingin. Touw Liong masih tidak mau menyerah begitu saja, ia tidak mau melepaskan tiap detik untuk membersihkan dirinya sendiri, katanya.

"Boanpwe sedikitpun tidak membohong, tulisan di bawah jembatan ini ada orang yang melihatnya, boleh dijadikan saksi."

"Siapa? Orang lain lagi yang menyaksikan?"

"Ketua golongan Kiong-lay-pay, Chiang Ko Hi."

"Kau maksudkan, kau hendak suruh aku pergi mencari Chiang Ko Hi untuk menanyakan soal itu?"

"Boanpwe hanya ingin mencari pokok pangkalnya persoalan ini, tidak akan membiarkan sutitmu dalam penasaran terus-menerus."

"Di atas batu jembatan itu tertulis apa saja? Coba kau bacakan untukku!"

"Orang yang membunuh Tiong-yang bukanlah Touw Liong, orang yang akan membunuh Chiang Ko Hi itulah aku."

Demikian ia menyebut tulisan yang pernah dilihatnya.

"Kau bocah ini sungguh licik, akal semacam itu dapat dipakai untuk mengelabui mata Chiang Ko Hi, tetapi aku tidak! Jelas bahwa tulisan ini lebih dulu sudah kau tulis di atasnya, yang sengaja hendak mengakali Chiang Ko Hi."

Touw Ling menggeleng-gelengkan kepala dan balas menanya.

"Sekarang tidak usah bicarakan soal itu, tahukah locianpwe, tulisan itu siapa yang menulis?"

"Siapa?"

Touw Liong perlahan-lahan mengeluarkan Panji Wulung dari dalam sakunya lalu dibebernya dan berkata pula.

"Pemilik panji inilah yang menulisnya!"

"Panji Wulung???"Hong Hui agak terkejut.

"Di atas batu itu juga terlukis panji semacam ini."

Hong Hui mengerutkan alisnya, dengan menunjuk panji wulung di tangan Touw Liong, bertanya dengan nada suara terkejut.

"Kau telah menerima panji ini?"

Touw Liong menganggukkan kepala.

"Sudah berapa hari lamanya?"

Tanya Hong Hui setengah percaya setengah tidak.

"Dua hari! Seharusnya pada besok malam jam tiga sudah habis batas waktu yang ditetapkan oleh panji wulung ini."

Kemudian ia balas menanya.

"Jikalau lo-siansu ada mempunyai kegembiraan, sudilah kiranya besok malam losiansu datang turut menyaksikan!"

"Baiklah!"

Paderi tua itu terima baik undangan Touw Liong, lalu berkata dengan nada suara dalam.

"Ada jodoh untuk menyaksikan panji wulung, juga tidak percuma hidupku ini. Di tempat mana besok malam aku harus datang?"

Touw Liong nampak berpikir sejenak, kemudian berkata dengan alis berdiri.

"Di atas panggung mementil kecapi, di kota Lam-yang."

"Panggung mementil kecapi?"

Balas tanya paderi tua itu.

"Kuperingatkan padamu bocah, jangan kau main gila lagi terhadapku, jikalau tidak, kau bisa lolos dariku pada hari ini tetapi tidak akan lolos pada lima belas hari kemudian, aku bisa pergi mencarimu di gunung Kiu-hoa, untuk membuat perhitungan dengan gurumu sendiri."

"Apakah cianpwe kira boanpwe orang semacam itu? Cianpwe tak usah khawatir."

Kemudian ia menambah keterangan lagi.

"Sebaiknya cianpwe mengejar saudara Hui Hong lebih dulu untuk menanyakan keterangan lebih jauh, sebetulnya terluka di tangan siapa."

"Sudah tentu! Kedatanganku ini justru hendak minta keterangan kepada Hui Hong." -----00000-----Di atas jembatan itu Touw Liong mengantarkan berlalunya seorang tokoh kuat dalam rimba persilatan, setelah paderi tua itu berlalu, ia mendongakkan kepala memandang rembulan di atas langit, kemudian berkata kepada diri sendiri sambil menghela nafas.

"Hong Hui Taysu pergi mengejar Lie Hui Hong, kesempatan ini baiklah kugunakan untuk kembali ke kota Lam-yang!"

Kota Lam-yang masih tetap dengan keadaannya yang serupa, yang berbeda ialah di waktu siang hari keadaan demikian ramai, dan sekarang di waktu malam nampak sepi sunyi.

Touw Liong dengan melalui jalanan yang sepi balik menuju ke kota itu.

Touw Liong berjalan seenaknya, jalannya sangat perlahan sekali, dalam waktu satu jam baru mencapai kirakira sejarak sepuluh pal.

Dalam perjalanan yang lambat itu, ia telah menemukan hal-hal aneh yang terjadi di kota itu, sepuluh pal di luar kota, di sebuah rimba di kanan jalan raya, tampak berdiri sebuah kuil.

Kuil itu memperdengarkan suara genta yang nyaring, nampaknya para paderi sedang melakukan sembahyang pagi, dari jauh suara paderi yang memuji pujian nama Budha terdengar nyata.

Di jalanan raya yang menuju kuil itu terpancang dua buah lentera yang terang-benderang, di samping itu juga dibangun sebuah pintu gerbang dari kertas, di atasnya tertulis dengan kata-kata "PERSEMBAHYANGAN BESAR".

Di bawah pintu gerbang itu tampak dua paderi setengah umur yang masing-masing membawa senjatanya yang berupa sianthung.

Sikap mereka seolah-olah sedang menghadapi musuh besar, mata mereka sebentar-sebentar ditujukan ke jalanan.

Ketika Touw Liong berjalan di bawah pintu gerbang itu, lantas lompat keluar seorang paderi, yang melintangkan senjatanya, mencegah majunya Touw Liong, dan paderi itu bertanya.

"Dalam kuil ini sedang melakukan upacara persembahyangan, apakah sicu sudi datang ke kuil untuk mendengarkan dan melihat upacara itu?"

Touw Liong terkejut.

Cuaca waktu itu sudah menunjukkan lewat jam satu malam, maka dalam hatinya lalu berpikir.

untuk melihat upacara sembahyang dan mendengarkan puji-pujian Budha bagaimana dengan cara memaksa seperti ini?

Apalagi dilakukan tengah malam buta seperti ini?

"Maaf, aku sedang perlu melakukan perjalanan, terpaksa tidak dapat mebagi waktu untuk menyaksikan upacara,"

Touw Liong menggelengkan kepala. Paderi itu menggelengkan kepala dan menarik nafas, setelah memuji nama Budha lalu berkata.

"Budha adalah penuh welas asih, selalu bersedia menyelamatkan manusia yang berdosa, rupanya sicu sudah ditakdirkan tidak akan terlepas dari bencana, silahkan!"

Setelah berkata demikian, paderi itu membiarkan Touw Liong melanjutkan perjalanannya.

Touw Liong tidak mengerti maksud ucapan bencana yang keluar dari mulut paderi itu.

Ia berjalan sambil mengeleng-gelengkan kepala.

Sementara dalam hatinya berpikir.

Mungkin paderi itu memaksa menarik orang yang berjalan untuk mendengarkan upacara, sehingga sengaja mengeluarkan kata-kata yang menakutkan orang.

Ia tidak hiraukan lagi kata-kata paderi itu, dengan langkah lebar melanjutkan perjalanannya.

Baru kira-kira sepuluh tombak ia berjalan, di belakang dirinya terdengar orang berseru.

"Sicu!"

Touw Liong menoleh, paderi tadi menghampiri, ia berhenti kira-kira setombak di belakang diri Touw Liong, kemudian berkata sambil merangkapkan dua tangannya.

"Sicu tunggu dulu! Kami ingin berkata sepatah dua."

Touw Liong mengerutkan alisnya, dalam hati merasa tidak senang, tetapi ia masih menahan hawa amarahnya, dan bertanya dengan suara lunak.

"Taysu ada keperluan apa? Silahkan."

"Siangcu, kami suheng dan sute berdua telah mendpat tugas untuk mengurus upacara sembahyang ini dan menjaga di perjalanan, barang siapa yang berjalan selewatnya jam satu malam, harus dirintangi ..."

Touw Liong sangat tidak senang, maka segera menanya.

"Jikalau orang tidak mau? Apakah taysu perlu memaksanya?"

"Kami akan berbuat sedapat mungkin, apabila sicu tidak sudi, itu barangkali sudah ditakdirkan tidak akan terlolos dari bencana!"

Touw Liong mendengar kata-kata itu seakan-akan ada sebabnya, maka ia bertanya lagi.

"Harap taysu memberikan penjelasannya, apakah di depan ada bahaya?"

"Sicu adalah orang yang mengerti, tindakan siaoceng ini sesungguhnya bukanlah bermaksud jahat."

"Apakah taysu keberatan memberi keterangan?"

"Budha memang welas asih, tetapi kalau sicu tetap membandel, terserah kepada sicu sendiri."

Touw Liong kembali mengerutkan alisnya, dan mengucapkan terima kasih kepada paderi itu, lalu melanjutkan perjalanannya ke selatan.

Paderi itu memandang bayangan Touw Liong, kemudian berkata dengan suara pedih.

"Mungkin itu sudah ditakdirkan!"

Bab 11 Touw Liong menyusuri jalan raya yang menuju ke selatan, ia sudah berjalan lagi sepuluh pal, kali ini ia berjalan sangat cepat, hingga dalam waktu sekejab sudah mencapai sepuluh pal jauhnya.

Di hadapan matanya terbentang sebuah rimba buah co, ia berjalan melalui rimba itu.

Sebelum memasuki rimba, dari dalam sudah terdengar suara seruan orang, lalu tampak muncul empat wanita, gagah cantik dan bertubuh langsing.

Mereka semuanya tampak cantik-cantik, setiap orang menunjukkan senyum yang menawan hati, mereka muncul dan menahan Touw Liong melanjutkan perjalanannya.

Touw Liong tercengang, ia menyoja kepada empat wanita itu seraya bertanya.

"Enci-enci ada keperluan apa?"

Salah seorang dari mereka lantas berkata sambil tertawa.

"Kami telah mendapat perintah dari majikan, di sini untuk menantikan orang-orang yang berjalan, siapa kiranya yang suka bekerja di perkampungan majikan, gajinya cukup baik dan jikalau sudah bekerja setahun penuh akan dikembalikan ke tempat asalnya, selain daripada itu kami juga akan mengirimkan orang untuk memberitahukan kepada keluarga orang yang bekerja kepada kami serta memberikan sedikit uang untuk ongkos."

Touw Liong memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, kemudian angkat muka dan bertanya.

"Di mana? Dan bekerja apa?"

"Di mana? Kau tidak perlu tanya, tentang kerjanya, sebetulnya ringan saja, hanya bantu membangun istana bagi majikan kami."

"Jikalau tidak mau?"

Tanya Touw Liong.

"Apa kau kira ada orang yang tidak tahu diri itu?"

Berkata wanita itu sambil tertawa manis.

"Tiap orang ada mempunyai urusannya sendiri-sendiri, setiap orang mempunyai maksud dan tujuan sendiri-sendiri, jikalau keberatan tidak mau menerima bagaimana?"

"Mudah sekali, tidak diundang secara baik, kita akan undang secara paksa."

"Jikalau menemukan batunya, tidak bisa dipaksa dengan keras, bagaimana?"

Demikian Touw Liong balas menanya. Wanita itu tertawa terkekeh-kekeh kemudian berkata.

"Kami tidak percaya akan ketemu batu, kami tidak percaya ada orang yang lebih kuat dari kami berempat. Tetapi andaikata benar-benar telah bertemu dengan seorang demikian, meskipun kami tidak bisa apa-apa, di situ masih ada majiakan kami."

"Siapakah majikanmu itu?"

"Coba kau tebak sendiri!"

Bukankah ini suatu jawaban yang aneh? Sekalipun dengan seorang bagaimana pintarnya, juga tidak dapat menebak, siapa majikan empat wanita itu.

"Aku kira majikanmu itu, bukanlah panji wulung!"

Berbeda tidak seberapa dengan panji wulung,"

Jawabnya wanita itu dengan sikap menggoda. Touw Liong kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Sudahlah! Kalau kalian tidak mau menerangkan, akupun tidak mau menebak sembarangan. Aku ingin pergi, tapi tidak tahu kemana harus pergi. Jikalau kau mau menerangkan lebih duku, aku suka ikut kalian untuk melihat sendiri."

"Mengapa perlu banyak bertanya? Kalau sudah tiba di tempat itu,kau toh akan tahu sendiri."

"Kapan berangkat?"

"Dalam waktu beberapa hari ini,"

Jawab wanita itu, kemudian menambah penjelasan.

"Sebab kami memerlukan tenaga seratus orang, dan sekarang hanya kurang beberapa saja!"

"Tempat tinggal kalian terpisah berapa jauh dari sini?"

"Tiga pal."

"Aku boleh ikut kalian untuk melihatnya?"

"Orang yang tampangnya seperti kau ini, jikalau majikanku senang, pasti akan memberi jabatan kau sebagai kepala atau mandor."

"Mandor?"

Berkata Touw Liong sambil tertawa terbahak-bahak kemudian berkata.

"Itu terlalu bagus! Kalau begitu enci tolong ajak aku menemui majikanmu!"

"Serahkan itu!"

Berkata wanita itu sambil menunjuk pedang di punggung Touw Liong.

Touw Liong mengerti, ia menyerahkan pedangnya kepada wanita itu.

Wanita itu lalu berpaling kepada wanita yang berbaju ungu di belakangnya, kemudian berkata dengan suara perlahan.

"Bawalah ia!"

Wanita berbaju ungu itu menganggukkan kepala, dan kemudian berkata kepada Touw Liong.

"Mari ikut aku!"

Ia memutar tubuh dan berjalan lebih dahulu, menuju ke dalam rimba, dengan diikuti oleh Touw Liong.

Di belakang rimba, terdapat jalanan kecil, di ujung jalan terdapat sebuah perkampungan, di malam yang sunyi, suasana sunyi senyap, dalam perkampungan samar-samar terdengar suara alunan dari alat musik kecapi.

Tak lama kemudian dua orang itu telah masuk ke dalam perkampungan.

Perkampungan itu tidak besar, suara kecapi yang halus terdengar semakin nyata.

Wanita berbaju ungu mengajak Touw Liong menuju ke ruangan lapis kedua.

Ketika Touw Liong mendongakkan kepala mengawasi keadaan itu, dalam hati berdebar.

Di dalam ruangan, di atas panggung, tampak sebuah meja kirakira delapan kaki lebarnya, di atasnya berjajar tujuh buah kecapi kuno, di depan meja ada sebuah perapian dupa yang terbuat dari batu giok putih, asap dupa tetap mengepul tinggi.

Seorang wanita berpakaian putih duduk bersila di belakang alat kecapi itu, sepuluh jari tangannya yang runcing sedang mementil senar kecapi.

Suara kecapi yang merdu tadi ternyata keluar dari ujung jari wanita itu.

Wanita berpakaian putih itu usianya belum lanjut, wajahnya putih dan cantik molek bagaikan bidadari.

Ia sedang asyik mementil kecapinya, agaknya sedikitpun tidak menghiraukan datangnya dua orang itu.

Seluruh perhatiannya ditujukan kepada kecapinya.

Dua pelayan perempuan yang berdiri di belakang wanita baju putih itu, memberi isyarat kepada wanita berbaju ungu dan Touw Liong yang sedang memasuki ruangan itu.

Wanita berbaju ungu itu membungkukkan badannya kepada gadis baju putih untuk memberi hormat.

Touw Liong mengarahkan pandangan matanya memperhatikan keadaan tempat itu.

Dua kamar yang berada di kedua sisi ruangan itu.

Di dalam ruangan itu tampak berduduk sejumlah orang kira-kira delapan sembilan puluh banyaknya, mereka agaknya sedang memperhatikan pada musik.

Setiap orang sedang pasang telinga dan memandang dengan penuh perhatian.

Sikap demikian itu jelas, bahwa orang-orang itu semua tenggelam dalam pengaruh irama kecapi, sehingga tiada satupun yang berani bergerak.

Mereka agaknya juga tidak tahu bahwa disitu sudah tambah dua orang.

Pandangan mata Touw Liong perlahan-lahan ditujukan ke dalam, ia telah merasa bahwa orang-orang itu terdiri dari berbagai tingkatan, di antara mereka kecuali orang-orang biasa juga terdapat lima paderi, pengemis, ketika matanya ditujukan ke tempat yang lebih jauh, ia terkejut, sehingga tanpa dirasa mengeluarkan seruan.

"Aa ..."

Di luar dugaannya bahwa suara seruan tadi ternyata sudah mempengaruhi irama kecapi.

Orang-orang yang bagaikan patung duduk di sekitarnya mendengarkan irama itu, juga terkejut, dan semua mata ditujukan kepadanya.

Apa sebabnya Touw Liong berseru?

Kiranya diantara orang-orang yang duduk itu juga terdapat anak murid golongan pengemis yang pernah bertempur dengan Kim Yan di dekat kapel Ngo-liong-kam, oleh karenanya ia menjadi terkejut.

Perasaan terkejutnya itu bukan cuma itu saja, sebab di samping anak murid golongan pengemis itu juga terdapat tiga belas anak buah golongan Kiong-lay-pay yang belum lama berselang berpisah dengannya, termasuk Ngo-liang Tojin yang kurus kering.

Hal itu sesungguhnya di luar dugaannya!

Wanita berpakaian putih yang duduk di belakang meja yang sedang mementil kecapi, juga dikejutkan oleh seruan Touw Liong tadi, wanita itu mengangkat muka dan memandang Touw Liong sejenak, wajahnya yang cantik terlintas perasaan marah, lima jarinya mementil kecapi sehingga menimbulkan suara irama yang tinggi.

Hati Touw Liong agak tergoncang, tetapi begitu melihat gelagat tidak beres, buru-buru mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya; berusaha menenangkan pikirannya.

Wanita itu mementilkan irama tinggi yang serupa, bahkan suara itu semakin lama semakin meninggi dan semakin kuat.

Dari suara yang ketiga kalinya, Touw Liong sudah tidak merasakan apa-apa, ia terus menunggu sampai wanita itu mementil habis sekali, baru menarik nafas panjang.

Ia menoleh, segera tampak olehnya wajah gadis yang cantik itu kini sudah terdapat air peluh, sedang dua pelayan yang sedang berdiri di belakang dirinya sudah jatuh pingsan di tanah, wanita berbaju ungu yang berada di sisinya juga tampak duduk bersila di tanah, orang-orang yang demikian banyak jumlahnya, keadaannya lebih menggenaskan, sebagian besar mereka sudah pingsan.

Touw Liong menghela nafas, dalam hatinya berpikir.

Ai!

Aku sebetulnya pikir hendak menolong mereka dari bencana, tak kuduga keadaannya menjadi sebaliknya, kini malah mencelakakan diri mereka.

Wanita berbaju putih yang mementil kecapi tadi, perlahan-lahan bangkit sambil membawa kecapinya, lalu menarik nafas, dan memandang Touw Liong dengan mata sayu, kemudian berkata sambil menunjuk keluar.

"Kau lekas keluar dari sini, jikalau tidak, jangan sesalkan aku bertangan kejam, sekalipun kekuatan tenaga dalammu sudah sangat sempurna, aku juga masih sanggup untuk memutuskan urat-uratmu!"

Mendengar perkataan itu wajah Touw Liong berubah, sementara hatinya, belum tentu aku mati...

ia menyapu kepada orang-orang yang berada di hadapan matanya, terutama ketika pandangan matanya terjatuh di wajah tiga belas orang-orang dari Ciong-lay-pay, lalu menarik nafas dan berpikir.

orang-orang ini tidak berdosa, jikalau benar ia harus mementil sehingga putus senar-enar kecapinya, belum tentu urat-uratku akan terputus, apakah mereka benar-benar tak kuat menahan getarannya?

Wanita berbaju putih wajah dan sikapnya dingin memandang Touw Liong.

Dari tangannya perlahan-lahan diletakkan di atas senar kecapinya menantikan jawaban Touw Liong.

Touw Liong yang sementara itu menimbang suasana di hadapan matanya, ia menimbang-nimbang pula untungruginya, kemudian ia menganggukkan kepala dan berkata.

"Baiklah! Aku akan pergi!"

Wanita berbaju putih itu perlahan-lahan menurunkan tangannya, dan sepasang matanya terus menatap wajah Touw Liong. Touw Liong menatap tangan dan menyoja kemudian berkata.

"Sudikah kiranya nona memberitahukan nama nona yang mulia?"

"Tidak perlu,"

Menjawab wanita itu sambil menggelengkan kepala.

Dalam otak Touw Liong tiba-tiba teringat kepada gadis yang kemarin malam mementil kecapi di atas panggung kecapi, gadis itu juga mengenakan pakaian serba putih.

Sejenak dia trtegun, kemudian bertanya pula.

"Apakah nona tadi malam berada di panggung mementil kecapi ..."

Wanita berbaju putih itu mengerutkan alisnya dan memotong sambil menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah pergi ke panggung pementil kecapi."

Touw Liong terbenam dalam alam pikirannya sendiri, lalu bertanya kepada diri sendiri dengan suara perlahan.

"Kalau begitu siapa? Tidak mungkin Pek Giok Hwa dapat mementil kecapi."

Wanita berbaju putih itu menyambungnya dengan suara dingin.

"Siapa yang tahu?"

Touw Liong masih berkata sendiri dengan suara yang amat perlahan.

"Kalau bukan dia... juga bukan majikan tempat ini, kalau begitu siapa orang itu?"

Ia ingat bahwa kepandaian mementil kecapi orang yang tadi malam agaknya masih di atas wanita baju putih ini.

Dia yang dimaksudkan oleh Touw Liong adalah Pek Giok Hwa.

Wanita berbaju putih itu juga menunjukkan sikap ketidaksabaran, katanya dengan nada suara dingin.

"Peduli apa dia siapa? Apa kau tidak bisa pergi ke panggung untuk melihatnya sendiri?"

Ucapan itu mengetok hati Touw Liong, ia segera memberi hormat, setelah minta diri, lalu berjalan keluar menuju ke kota Lam-yang.

Tak berapa lama ia keluar dari perkampungan itu, di tengah udara tampak tiga buah sinar biru, di tengah udara sinar biru itu mengeluarkan ledakan tiga kali, dan memancarkan tiga buah kembang api.

Kembang api yang terpencar di tengah-tengah udara dapat dilihat dari bawah tanah sejarak sepuluh pal lebih.

Touw Liong memandang sinar kembang api itu, dalam hati tidak mengerti, ia menduga kembang api itu adalah pertandaan dari perkampungan tadi, tetapi untuk sesaat itu ia tidak mengerti apa maksudnya.

Ada dua hal yang mengecewakan Touw Liong, satu ialah diketemukannya anak buah golongan pengemis yang pernah bertempur dengan Kim Yan di dalam perkampugan itu, tetapi apa mau dikata, gadis itu telah mengusir mereka pulang, sehingga ia menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu; yang kedua, ialah ia tidak menyelamatkan orang-orang itu dari bencana sehingga membiarkan mereka dipengaruhi oleh irama kecapi perempuan tadi, untuk dijadikan budaknya.

-----00000-----Di atas panggung mementil kecapi, sinar rembulan terang-benderang, keadaan masih tetap seperti sediakala.

Halaman 59 -64 ROBEK !!!!

Jilid 5 Sinar rembulan saat itu menyinari wajahnya, wajah itu memang cantik, di mata Touw Liong seolah-olah bidadari baru turun dari kahyangan.

Sepuluh jari tangan wanita itu bergerak-gerak mementil tali-tali kecapinya.

Irama kecapi merdu sekali, hingga tanpa sadar Touw Liong menyanyi perlahan.

"Kapan malam bulan terang? "Ku bertanya sambil meminum arak; tidak "ku tahu di atas langit apakah ada istana.

"ku juga tidak tahu malam ini tahun apa? Ingin kupulang naik angin, namun khawatir di atas angkasa terlalu dingin. Menari-nari sendiri, seolah-olah tidak berada dalam dunia ... Manusia punya suka dan duka, rembulan punya mata gelap ada masa terang, itu sudah diatur oleh Tuhan sejak dahulu kala. Semoga orang akan hidup abadi..."

Ketika ia bersajak sendiri sampai disitu, wanita itu sudah menangis terisak-isak, kemudian jarinya bergerak cepat dan tinggi, senar kecapi telah putus.

Irama kecapi yang merdu, telah terputus di tengahtengah jalan.

Sungguh sayang!

Wanita itu setelah memutuskan senar kecapinya, air matanya turun berlinang-linang membasahi pipinya, dengan mata sayu, memandang Touw Liong kemudian menarik nafas dan berkata.

"Iramanya masih tetap sama, namun orangnya sudah berlainan, sayang kau bukanlah dia..."

"Dia!...Siapa dia?"

Tanya Touw Liong kepada dirinya sendiri.

Selagi Touw Liong dalam keadaan terkejut, wanita itu sudah menundukkan kepala; jari tangannya gemetar, ia agaknya tidak tega melepaskan alat kecapi di tangannya, lama sekali ia baru berhenti menangis, perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya.

Dua pelayan yang berada di belakang dirinya segera menghampiri dan berkata kepadanya.

"Nona..."

Wanita itu berpaling dan mengawasi kepada dua pelayannya sejenak, kemudian berkata kepada mereka.

"Jangan campur mulut!"

Dari sikap dua pelayan itu, Touw Liong mengetahui bahwa saat itu pasti akan terjadi apa-apa, tetapi apa yang akan terjadi, ia belum dapat meramalkan.

Dalam keadaan demikian ia terpaksa siap siaga mengerahkan tenaganya.

Ia tahu bahwa wanita di hadapan matanya itu memiliki kepandaian sangat tinggi, bukanlah orang dari golongan sembarangan, jikalau dengan tiba-tiba wanita itu melakukan serangan, ia sendiri mungkin tidak keburu melayani.

Wanita itu lantas bangkit dari tempat duduknya, jarijarinya yang putih halus masih mengelus-elus kecapinya, tangannya menekan bawah kecapinya tanpa bergerak, wajahnya menunjukkan sikap serius, dan sinar matanya jelas nampak sikapnya yang marah.

Mata Touw Liong memandang sejenak kepada kecapi yang berada di tangan gadis itu, selagi dalam hatinya bertanya-tanya, kemudian dengan tiba-tiba ia berseru kaget.

"Nona..."

Namun seruannya itu masih agak terlambat, dua tangan wanita itu sudah bergerak, dan dari bawah kecapi tadi tampak mengepul asap hijau, kemudian disusul dengan berkelebatnya api dan kecapi itu pecahlah sudah.

Sebuah kecapi kuno yang sangat indah telah terbakar oleh kekuatan tenaga yang dikeluarkan oleh tangan wanita tadi.

Dengan memandang api yang membakar kecapi tadi, dari mata wanita tadi memancarkan sinar kebencian, Touw Liong menghela nafas perlahan, dan berpikir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Wanita yang cantik bagaikan bidadari ini nampaknya pernah mengalami suatu kejadian yang menyedihkan.

Dan wanita itu perdengarkan suara tarikan nafas panjang, kemudian angkat muka dan memandang Touw Liong sambil mengucurkan air mata.

Dengan suara lembut dan mengandung perasaan menyesal, ia berkata.

"Touw tayhiap! Dua hari ini aku telah salah melihat orang, aku anggap kau sebagai seorang...,"

Kata-katanya berhenti dengan mendadak, wajahnya menunjukkan sikap sedih. Apa yang Touw Liong dapat katakan? Ia hanya mengeluarkan suara perlahan.

"Nona..."

Ia semakin percaya bahwa wanita muda itu pernah mengalami penderitaan batin yang hebat. Wanita itu melanjutkan kata-katanya.

"Orang kalau tidak bersedi tidak akan mengeluarkan air mata. Jikalau aku tidak merusak kecapiku ini, barangkali aku tidak mempunyai keberanian untuk hidup terus!"

Touw Liong diam saja sedang wanita tadi menunjuk tangga batu yang berada di hadapannya, memberi isyarat kepada Touw Liong supaya duduk di situ.

Pada waktu itu kecapi yang terbakar sudah dibawa pergi oleh dua pelayan tadi.

Wanita itu juga turun dari tempat duduknya, dan duduk di tangga lain yang berhadapan dengan Touw Liong.

Gadis itu menunjukkan sebuah senyum, tetapi masih tidak dapat menutupi perasaan dukanya.

Sementara itu Touw Liong tidak tahu bagaimana harus menghiburi wanita yang baru dikenal dan tidak diketahui namanya itu, ia merasa tidak tenang, namun terhadap wanita yang sangat misterius itu, timbullah perasan simpatinya yang sangat besar, tetapi karena wanita itu tidak mau menerangkan asal-usul dirinya, maka ia sendiri juga tidak berani menanya.

Wanita itu lebih dulu memberi hormat kepada Touw Liong kemudian berkata.

"Tadi malam aku hampir saja melakukan suatu kesalahan besar, untung kesalahan itu tidak sampai terjadi."

Touw Liong memaksakan diri untuk tertawa, ia mendengarkan dengan tenang, menanti apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

Wanita itu perlahan-lahan menundukkan kepala, dengan sikap kemalu-maluan dan suara agak serak melanjutkan perkataannya.

"Tadi malam, tatkala pertama kali aku melihatmu, aku telah berpikir hendak membunuhmu. Waktu itu, aku pernah mengerahkan ilmuku membunuh dengan irama kecapi, atau setidak-tidaknya membuatmu menjadi seorang cacad atau terputus urat-urat nadimu."

"Ya...!"

Demikian Touw Liong berseru dengan mata terbelalak. Wanita itu perlahan-lahan angkat muka, di wajahnya menunjukkan sikap penyesalan, dengan tenang ia berkata lagi.

"Di luar dugaanku, kau Touw tayhiap ternyata memiliki tenaga dalam demikian tinggi, semakin keras aku berusaha untuk menotok jalan darahmu, semakin sempurna kekuatan tenaga dalammu, dengan lain perkataan, semakin aku menggunakan tenaga, semakin besar faedahnya bagimu. Pada akhirnya... aku sebetulnya terlalu benci padamu, sehingga tidak dapat menahan kemarahan, aku pernah berpikir hendak mengadu untung denganmu, dengan seluruh kekuatan tenaga dalamku kepada satu senar, untuk memutuskan urat nadimu..."

"Nona..."

Touw Liong memotong perkataan wanita itu, lalu ia bertanya.

"Aku denganmu tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa nona hendak membunuh aku?"

Wanita itu menunjukkan senyum mesra. Dengan menahan perasaan sedihnya ia berkata.

"Aku dengan Touw tayhiap memang benar tidak ada permusuhan apa-apa, aku bukannya ingin membunuhmu, melainkan..."

Wanita itu tidak dapat melanjutkan katakatanya, air matanya mengalir deras, hingga lama ia dalam keadaan demikian, kemudian ia menekan perasaannya sendiri untuk melanjutkan keterangannya.

"Sebab kau terlalu mirip dengan seseorang. Orang itu justru yang kubenci. tiada satu saat aku tidak memikirkan untuk membunuhnya."

Touw Liong baru sadar.

Ia merasa beruntung bahwa wanita itu tidak melanjutkan usahanya.

Jikalau tidak, mungkin saat itu ia sudah tidak bisa hidup lagi.

Berpikir sampai di situ, ia lalu bertanya kepadanya.

"Orang itu dengan nona ada hubugan apa? Mengapa nona demikian benci padanya?"

Setelah mengajukan pertanyaannya, dia baru menyesal, tidak seharusnya ia bertanya demikian. Di luar dugaannya, sikap wanita itu masih tetap tenang.

"Orang itu pernah menghadiahkan kecapi yang kubakar tadi, bahkan sering sekali kita berduaan mementil kecapi di malam terang bulan."

Touw Liong mengerutkan alisnya, dengan nada tanya ia berkata.

"Oo.... jadi orang itu adalah kawan dalam satu hobi dan kawan karib ...."

Kembali di luar dugaan Touw Liong, wanita itu tersenyum, seolah-olah terbenam kembali dalam kenangan manis yang pernah dialaminya di masa lampau. Dengan wajah berseri-seri ia berkata.

"Ia bukan saja kawanku sesama hobi, juga merupakan sahabat paling karib,"

Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan nada dingin, tetapi setelah itu wajahnya nampak bersedih.

Kesedihan itu tampak nyata di wajahnya.

Touw Liong tak dapat menebak apa yang terkandung dalam hati wanita cantik itu, karena sebentar nampak sedih sebentar nampak girang hingga sulit untuk ditebak.

"Orang itu kalau benar adalah sahabat karibmu, mengapa nona demikian benci padanya?"

Demikian ia bertanya.

"Orang itu memang benar adalah sahabat karibku, bahkan pernah mencuri hatiku, tetapi juga membawa kabur sebuah benda pusaka keluargaku, dan paling akhir .... Akh! Terlalu menggenaskan! Ayah telah mati oleh karena perbuatannya itu."

Dengan sedih ia lalu menangis. Touw Liong merasa simpati terhadap wanita yang tidak beruntung itu. Ia bertanya sambil menghela nafas perlahan.

"Barang pusaka apa yang telah dibawa pergi, mengapa ayahmu demikian sakit hati? Dengan kepandaian seperti nona, apakah nona khawatir tidak dapat meminta kembali?"

Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala memesut air matanya, dengan suara sedih hanya dapat mengeluarkan kata-kata.

"Luka di hati susah timbul, kebencian susah dihapus."

Touw Liong meskipun mengerti perasaan wanita itu, tetapi ia tidak tahu bahwa persoalannya ternyata tidaklah sesederhana itu. Selagi hendak menanya lagi, wanita itu meneruskan perkataannya.

"Semua itu adalah salahku sendiri. Pertama aku tidak seharusnya diam-diam mencintai orang itu; kedua, aku tidak seharusnya diam-diam membawanya pulang; ketiga, lebih-lebih tidak seharusnya oleh karena cinta padanya, lalu memberitahukannya tentang barang pusaka dalam rumah tanggaku...."

Touw Liong yang mendengarkan keterangan itu menjadi terperanjat. Ia bertanya pula.

"Benda pusaka apa sebetulnya ...?"

"Batu Khun-ngo-giok,"

Jawab wanita itu sambil tersenyum masam. Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong. Kemudian ia bertanya pula.

"Siapakah orang itu?"

Wanita itu kembali unjukkan senyum masam, lalu berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ia sangat pandai memainkan kecapi. Ia menyebut dirinya sebagai Sie-siang Sian-jin. Nama sebetulnya belum pernah aku dengar ia menyebutkan. Ai ....! Aku sangat menyesal, aku sangat menyesali diriku sendiri yang masih terlalu muda, hingga perasaanku mudah tergoncang. Sekarang kalau kupikir kembali, aku sangat menyesal atas kebodohanku sendiri, sampai pun nama orang itu sendiri juga tidak tahu. Apa yang lebih gila ialah aku telah menyerahkan jiwa dan hatiku kepadanya."

"Kalau begitu nona telah tertipu olehnya. Orang itu mengandung maksud jahat, ia mendekati nona, maksudnya ialah untuk mendapatkan batu Khun-ngo-giok."

Wanita itu diam saja. Lama sekali Touw Liong baru bertanya.

"Nona tadi masih belum memberi keterangan mengapa tidak mencari orang itu, untuk minta kembali barang pusaka keluargamu?"

"Memang benar aku seharusnya mencari dia, bukan saja hendak minta kembali barang yang dibawa, tetapi juga hendak membawa batok kepalanya untuk disembahyangkan di hadapan arwah ayah, akan tetapi ...."

Berkata gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, tetapi akhirnya ia tidak dapat menahan sedihnya hingga tidak dapat meneruskan perkataannya.

Touw Liong menatap wajah wanita itu, sedang wanita itu meneruskan kata-katanya sambil menggigit bibir.

"Aku tahu bahwa musuh yang paling besar adalah musuh daripada ayah, tetapi aku tidak boleh menjilat kembali ludahku sendiri, untuk mengingkari janjjku!"

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala, sambungnya dengan suara perlahan.

"Oleh karenanya maka nona memaafkan padanya dan tidak menuntutnya."

"Aku pernah mencinta padanya demikian rupa, juga pernah bersumpah sehidup semati sekalipun dunia kiamat hatiku ini tidak akan lumer. Coba katakanlah bagaimana aku harus berbuat?"

Dengan kedua tangannya wanita itu mendekap wajahnya, menangis dengan sedih.

Touw Liong meskipun usianya sudah hampir dua puluh tahun, tetapi terhadapat soal asmara, sedikitpun belum mempunyai pengalaman, maka ditanya demikian, sekalipun ia sangat cerdik, juga tidak berdaya, sehingga saat itu tidak dapat menjawab, hanya mondar-mandir sambil mengepal tangannya.

Dengan tiba-tiba ia balas menanya.

"Kedatangan nona kali ini ke kota Lam-yang apakah hanya untuk keperluan hendak mencari tenaga, ataukah ada maksud lain?"

Wanita itu lama berdiam, kemudian baru menjawab.

"Mencari tenaga hanya merupakan suatu alibi saja, sebab ayah sudah tiada. Di masa hidup memang ayah hendak membangun sebuah istana yang megah, tetapi urusan ini kini boleh dilanjutkan, tetapi juga boleh tidak. Dalam hatiku sebenarnya masih tetap ingin ....! Dengan terus terang, sebetulnya aku tidak takut Touw tayhiap akan tertawakan aku. Saat ini pikiranku sebetulnya sangat bertentangan sendiri. Di satu pihak aku ingin mendapatkan benda pusaka itu untuk menuntut balas terhadap kematian ayah, tetapi di lain pihak aku juga ingin melihat orang yang pernah kucintai itu."

Dari pembicaraan wanita itu, Touw Liong samar-samar dapat meraba-raba bahwa wanita itu bukanlah dari golongan sembarangan.

Sejak itu ia masih berusaha mencari-cari, tetapi ia masih tidak menemukan suatu gambaran entah dari golongan mana wanita itu.

"Sudikah kiranya nona memberitahukan nama nona yang mulia, dan kediaman nona ....?"

Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya juga. Wanita itu menunjukkan sikap seperti berpikir, lama baru menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Namaku tidak ada artinya, kusebutkan hanya akan menodai Touw tayhiap saja, untuk sementara harap tayhiap jangan tanya dulu, di kemudian hari pasti akan mengetahui sendiri."

Touw Liong tahu bahwa wanita itu dalam penderitaan batin, maka tidak berani menanyakan lebih dahulu. Dengan tiba-tiba ia teringat soal yang lain, maka kemudian bertanya.

"Tadi malam nona salah anggap, anggap aku sebagai sahabat karibmu, kemudian dengan cara bagaimana nona tahu kalau aku bukan sahabat karibmu itu? Dan lagi orangorang yang tadi di dalam kampung ini, di mana sekarang mereka?"

"Tadi malam, hingga setengah jam di muka, aku yang memang benar anggap tayhiap sebagai orang yang kusebut tadi, baru setelah kembali ke kampung ini, aku dengar bahwa orang itu adalah kau Touw tayhiap, aku lalu menanyakan rupa dan dandananmu, baru mengerti bahwa wajahmu mirip sekali dengan lelaki yang pernah mencintai diriku dan kemudian meninggalkan aku."

Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkata pula.

"Dengan laki-laki itu aku kenal betul, setiap hari hampir kami tidak berpisah. Kami merantau dan pesiar kemanamana, ketika aku pesiar ke daerah telaga Ngo-auw, justru kau melakukan pertempuran hebat membasmi penjahat di gunung Tian-hok-san, dengan demikian aku telah menduga pasti bahwa kau bukanlah lelaki yang meninggalkan aku itu. Maka ketika adikku tadi mengatakan tentang dirimu, aku jadi mengerti bahwa tadi malam aku hampir kesalahan membunuh seorang baik!"

Kini Touw Liong mengertilah bahwa satu jam di muka wanita berbaju putih yang memainkan kecapi di ruangan tadi adalah adik dari wanita ini.

Ketika ia mengingat kepada gadis itu, Touw Liong teringat pula kepada soal lain, ia ingin mencari keterangan tentang adik seperguruannya dari golongan pengemis yang juga berada di antara orang-orang itu, tetapi sekarang sudah tidak kelihatan bayangannya.

Ia berpikir sejenak kemudian bertanya.

"Bolehkah kiranya kalau aku minta nona bawa aku bertemu dengan orang-orang itu tadi, maksudku hanya ingin mencari salah seorang di antara mereka untuk membereskan persoalan kami."

"Aku sudah kehilangan kepercayaanku sendiri, kepada lelaki yang meninggalkan aku itu juga sudah merasa takut, aku pikir tidak ingin menemukan dia lagi. Tentang niatku untuk membangun istana kini juga dibatalkan. Tentang orang-orang yang kami pekerjakan tadi, aku sudah suruh adikku mengirim kembali ke kota Lam-yang, kemudian membebaskan mereka."

Touw Liong segera ingat harus kembali ke kota Lamyang, maka ia lantas minta diri hendak berlalu dari tempat tersebut.

Wanita itu bangkit dari tempat duduknya, mencegah Touw Liong dan berkata dengan suara perlahan.

"Touw tayhiap bolehkah sabar dulu!"

"Nona masih ada keperluan apa?"

"Tidak apa-apa, hanya ingin ...."

Lama ia berdiam, beberapa kali bibirnya tergerak, tetapi tiada sepatah kata keluar dari mulutnya. Akhirnya Touw Liong berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Nona ingin berkata apa? Katakanlah terus terang."

Wanita itu kembali menarik nafas dan berkata dengan suara sedih.

"Aku ada sedikit permintaan yang barangkali kurang patut. Aku hanya ingin minta belas kasihanmu supaya sudi menolong aku seorang yang bernasib malang ini. Aku harap supaya Touw tayhiap jangan salah paham bahwa permintaanku ini akan merepotkan dirimu."

"Aii .... apakah nona sudah merubah pendirianmu, hendak ...."

Wanita itu menganggukkan kepala dan berkata terus terang.

"Aku benar-benar sudah merubah pendirianku. Pertama aku hendak minta kembali benda pusaka keluargaku itu. Kedua, aku hendak mencari lelaki yang meninggalkan aku, untuk kuminta keterangan sebenarnya."

Touw Liong mendongakkan kepala memandang bintangbintang di langit. Ia menarik napas dalam-dalam, tiada menjawab. Wanita itu berkata sendiri dengan suara duka.

"Aku tahu bahwa permintaanku ini agak keterlaluan! Mungkin akan mengganggu kebebasan tayhiap!"

"Tidak!!"

Demikian Touw Liong buru-buru memberikan keterangan sambil menggoyangkan kepalanya.

"Enci jangan salah paham, aku ......"

Mendadak ia sadar bahwa tidak seharusnya ia berlaku demikian.

Dengan menggunakan sebutan enci terhadap seorang gadis yang masih asing baginya, agaknya kurang pantas.

Tetapi sebutan enci yang dikeluarkan tanpa disengaja tadi, agaknya telah mengharukan hati wanita tadi, sehingga air matanya mulai bercucuran, kemudian ia berkata dengan suara lemah lembut.

"Adik, kau terima permintaanku??"

Hati Touw Liong sangat cemas, sehingga mukanya merah membara, tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.

Lama sekali ia baru menganggukkan kepala sambil menarik napas panjang.

Sebetulnya, saat itu pikirannya terlalu risau.

Persoalan yang menimpa dirinya telah membuat ia hampir tak dapat menguasai diri sendiri, terutama soal ancaman dari Panji Wulung yang dihadapinya tinggal waktu satu hari ini saja, di samping itu masih ada soal batu Khun-ngo-giok yang oleh suhunya ditugaskan untuk mencarinya.

Kini soalnya sudah jelas, bahwa pemilik yang tulen dari batu itu kini berada di hadapan matanya, sedangkan suhunya sendiri telah memerintahkan dan memberi tugas dirinya untuk mencari dan mengantarkan benda itu ke gunung Kiu-hwa, apa mau pemiliknya justru minta ia bersama-sama untuk mencari batu itu; apabila ia berhasil menemukan kembali batu itu,bagaimana ia harus berbuat?

Merampaskah?

Atau menyaksikan sambil berpeluk tangan?

Soal ini serba sulit baginya.

Jikalau ia turun tangan dan merampas, dengan sendirinya merupakan suatu perbuatan yang tidak patut terhadap wanita ini, tetapi jikalau ia tidak turun tangan di kemudian hari bagaimana harus mempertanggungjawabkan tugasnya kepada suhunya?

Dengan perasaan sangat girang, wanita itu menghampiri Touw Liong, dengan menatap wajah Touw Liong demikian rupa.

"Encimu ini adalah seorang yang bernama Lo Yu Im .... dari gunung Kun-lun-san bagian barat."

Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong ketika mendengar nama wanita itu.

"Kalau begitu Kakek Seruling Perak, Lo-locianpwe itu adalah enci punya ...."

"Ayahku,"

Demikian Lo Yu Im memotong.

"Hai. Kiranya enci adalah keturunan dari seorang yang berkepandaian sangat tinggi. Ayahmu adalah seorang yang bijaksana, sayang sekarang sudah tiada."

Kakek Seruling Perak itu berdiam di gunung Kun-lunsan bagian barat, belum pernah menginjak daerah Tionggoan, maka orang-orang rimba persilatan daerah Tionggoan yang pernah melihat si Kakek Seruling Perak itu jumlahnya sedikit sekali.

Empat tahun berselang, Kiu-hwa Lojin pernah berkunjung ke gunung Kun-lun-san untuk mencari obat.

Di situ ia berjumpa dengan Kakek Seruling Perak, bahkan pernah mengadakan pertandingan sehingga seratus jurus lebih.

Oleh karena satu sama lain tidak menanam permusuhan, pertandingan itu hanya merupakan pertandingan persahabatan, maka akhirnya satu sama lain saling menghormat dan saling mengagumi.

Sayang sejak mereka berpisah, mereka tidak pernah berjumpa lagi.

Ketika masih di gunung Kiu-hwa-san, suhunya pernah memberitahukan kepada Touw Liong tentang diri Kakek Seruling Perak itu.

"Dalam usianya yang sudah lanjut, ayah telah meninggal karena hilangnya batu Khun-ngo-giok. Coba kau katakan bagaimana aku ada muka untuk kembali ke gunung Kunlun-san?"

Berkata Lo Yu Im sambil menghapus air matanya. Touw Liong sebetulnya merasa sangat simpati terhadap Lo Yu Im, maka ia menghiburnya.

"Enci seharusnya mencari kembali batu itu."

"Di dalam dunia yang luas seperti ini , di mana aku akan mencari?"

"Siaote masih ada sedikit keperluan yang perlu dibereskan lebih dulu, maka kini siaote hendak pergi ke kota Lam-yang. Tiga hari kemudian, apabila siaote masih hidup, sioate bersedia mengawani enci berkelana ke dunia Kang-ouw, untuk mencari batumu yang hilang itu. Dan tentang sahabat karibmu dulu itu perlu juga harus mencarinya untuk menanyakan penjelasannya, mungkin ia mempunyai kesulitan sendiri, yang tidak boleh tidak harus berbuat demikian."

"Mengapa adik mengeluarkan kata-kata yang mengandung firasat tidak baik itu? Apakah dalam waktu tiga hari itu kau mendapat ancaman bahaya?"

Bibir Touw Liong bergerak-gerak, tetapi tidak sebuah perkataan keluar dari mulutnya. Akhirnya, ia hanya menjawab sambil menggelengkan kepala.

"Urusan dalam dunia banyak hal-hal yang tak dapat diduga, aku berpikir begitu saja."

Jawabannya itu agaknya kurang memuaskan.

Lo Yu Im yang berpikiran cerdas, segera dapat menduga bahwa ucapan yang keluar dari mulutnya itu tadi bukan keluar dari hati yang sebenarnya, namun ia tidak berani menanya lebih lanjut.

Dengan kesampingkan urusannya ia menanya persoalan lain.

"Apakah adik mengharap dapat menemukan sumoymu?"

Touw Liong menganggukkan kepala. Lo Yu Im menghampiri selangkah lagi berbisik-bisik di telinganya. Touw Liong segera menunjukkan sikap girang. Dengan muka berseri-seri ia berkata.

"Jalan! Mari enci lekas bawa aku ke sana!"

Sehabis berkata ia berjalan lebih dahulu menuju ke luar.

Bab 13 Sinar rembulan masih terang benderang menyinari bumi, malam semakin larut ....

Di atas jalan raya yang menuju ke kota Lam-yang, di dalam larut malam itu tampak dua bayangan manusia lari bagaikan terbang, dalam waktu sekejab saja sudah melalui jalanan beberapa pal.

Dandan dua orang itu berlainan.

Orang yang mengenakan pakaian sastrawan adalah Touw Liong, yang mengenakan gaun putih adalh wanita dari perkampungan misteri Lo Yu Im.

Usia mereka meskipun masih sangat muda, tetapi samasama memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna.

Lo Yu Im berjalan di muka.

Gaunnya berkibar-kibar tertiup angin, geraknya ringan sekali.

Ia lari seolah-olah tidak menginjak tanah.

Selagi berjalan, tidak jauh di hadapan mereka tampak sebuah kelenteng tua yang tertutup oleh pohon-pohon dari dalam rimba.

Lo Yu Im lantas merandek, lalu bertanya kepada Touw Liong sambil menunjuk ke arah kelenteng itu.

"Di dalam kelenteng itu ...."

Pada waktu angin malam meniup-niup kencang, pohonpohon memperdengarkan suara keresekan, namun suasana sepi-sunyi.

Dari dalam kelenteng tua itu samar-samar tampak sinar pelita.

Di dalam malam sesunyi itu, sinar itu kalau dipandang dari jauh nampak sangat nyata.

"Terima kasih atas petunjuk enci. Jikalau aku berhasil menemukan orang yang berada di dalam kelenteng itu, tidak tahu bagaimana aku harus menyatakan terima kasihku terhadapmu."

Dua orang itu mendekati kelenteng tersebut, lalu sembunyikan diri dan memandang dari arah jauh.

Di depan kelenteng ternyata terpancang dua buah pelita.

Dari sinar lampu itu tampak singat batu yang berada di hadapan pintu kelenteng.

Tumbuhan rumput yang berada di depan kelenteng nampak setinggi sampai batas lutut.

Pemandangan itu menambah suramnya kelenteng tua yang sudah hampir rusak keadaannya.

Di dalam kelenteng keadaan sunyi-sepi tidak terdengar suara apa-apa.

Di atas pintu kelenteng tersebut, huruf-huruf itu berbunyi "KWI KOK SI".

Touw Liong lalu berpaling dan bertanya kepada Lo Yu Im.

"Apakah enci tidak merasakan bahwa dalam hal ini agak mencurigakan? Ditinjau dari keadaannya yang sudah rusak, kelenteng itu agaknya tidak ada orang yang mengurus, tetapi mengapa ada pelitanya? Nama kelenteng itu saja sudah cukup menyeramkan, apalagi pintunya ditutup begitu saja yang nampaknya setengah terbuka, sesungguhnya sangat mencurigakan, entah apa sebabnya?"

"Tidak bisa salah. Aku tadi telah melihat dengan mata kepala sendiri, ada dua orang masuk ke dalam. Yang perempuan umurnya kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun, mengenakan pakaian berwarna kuning. Dia bukankah adik seperguruanmu yang kau sebutkan tadi? Sedangkan waktu itu hari hampir gelap, tetapi perempuan itu pernah berpaling dan memandangku sejenak. Wajahnya yang cantik manis, sekalipun menjadi abu, aku masih dapat ingat dan dapat mengenali, dia justru sumoymu yang kau pernah gambarkan kepadaku tadi."

"Dan seorang yang lain itu siapa?"

Tanya Touw Liong.

"Aku hanya melihat bayangannya saja. Dari samping tampak merupakan seorang tua yang badannya lemah berambut putih. Tangannya membawa tongkat. Rambutnya yang putih mencapai dada, badannya kurus kering."

"Bagaimana sumoyku bisa berjalan dengan seorang tua ...?"

"Kau jangan perdulikan itu semua. Mari kita masuk melihat sendiri. Bukankah segera akan mengerti?"

Touw Liong menganggukkan kepala membenarkan pikiran Lo Yu Im.

Keduanya lalu berjalan masuk ke dalam kelenteng.

Begitu kaki mereka menginjak tangga batu, di situ terdapat tulisan-tulisan yang digurat dengan jari tangan.

Tulisan-tulisan itu berbunyi "SILAHKAN MASUK".

Keduanya yang menyaksikan itu bukan kepalang terkejutnya.

Mereka saling berpandangan.

Touw Liong balikkan tangannya memegang gagang pedang yang berada di atas punggungnya, kemudian maju lebih dulu dan berkata kepada Lo Yu Im.

"Enci, mari ikut aku!"

Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, Touw Liong mendorong pintu hingga pintu itu terbuka.

Ia lalu menyapu keadaan di dalam kelenteng, tampak gelap-gulita dan sepi-sunyi.

Ia terus melangkah masuk ke ruangan kedua.

Matanya tertuju ke dalam pendopo.

Tanpa disadari keduanya segera menjerit kaget, juga lantas merandek.

Pendopo yang luasnya kira-kira delapan tombak, keadaannya seram, di bawah sinar rembulan, lima manusia aneh berbadan kurus kering, dengan wajah yang pucat pasi dan pakaiannya putih begitupun topinya, hingga keadaan mereka mirip lima buah tengkorak, dengan tidak bergerak duduk bersila di dalam ruangan itu.

Jikalau bukan mata mereka memancarkan sinar, suatu tanda bahwa mereka itu orang hidup, sepintas lalu mereka anggap bahwa lima orang itu adalah tengkorak-tengkorak manusia.

Lima manusia aneh yang masing-masing memegang tongkat tanpa bergerak meskipun mata mereka ditujukan kepada dua orang itu tetapi seolah-olah tidak menghiraukan kedatangan mereka.

Touw Liong yang berdiri tertegun, tangannya mendadak ditarik oleh Lo Yu Im yang saat itu menjerit dan kemudian menubruk dirinya.

Sikapnya itu seolah-olah dikejutkan oleh kejadian yang mendadak, sehingga tanpa disadarinya sudah menubruk.

Reaksi Touw Liong cepat sekali.

Dengan sikap melintang di hadapan Lo Yu Im, matanya jelilitan mencaricari.

Apa yang dilihatnya, bulu romanya dirasakan berdiri.

Sekalipun ia seorang pemuda pemberani, tetapi tidak urung juga bergidik.

Di salah satu sudut dalam ruangan itu, entah sejak kapan, muncul seorang tinggi besar berpakaian putih dan bertopi tinggi berwarna putih bagaikan hantu yang muncul dengan mendadak.

Di belakang hantu itu ada berbaris lima buah peti mati.

Hantu itu badannya bongkok, tangan kirinya membawa tongkat, di atas telapakan tangan kanan terletak sebuah kepala manusia yang darahnya masih mengetel.

Kepala manusia itu rambut dan jenggotnya sudah putih seluruhnya.

Pemandangan itu sangat menyeramkan.

Touw Liong segera memahami mengapa Lo Yu Im tadi berteriak kaget.

Kepala manusia itu, justru kepala orang tua yang tadi dilihatnya oleh Lo Yu Im yang bersama-sama Kim Yan berjalan masuk ke dalam kelenteng itu.

Oleh karena orang tua itu kini telah terbinasa dengan sendirinya Kim Yan juga berada dalam bahaya.

Dari situ Touw Liong dapat menarik kesimpulan, bahwa adik seperguruannya itu kini mungkin sedang menghadapi bahaya besar.

Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan adiknya, maka dengan cepat maju dan membentak dengan suara keras.

"Berhenti!"

Suara bentakan itu bagaikan geledek.

Di luar dugaan Touw Liong, hantu itu lantas berhenti.

Sinar matanya yang tajam memandang dirinya.

Kepala di dalam tangannya digerak-gerakkan sebentar sehingga hampir menggelinding ke tanah.

Touw Liong bertanya pula sambil menunjuk kepala di tangan hantu itu.

"Kepala siapa?"

"Kurang ajar! Ini kepala siapa, tidak perlu kau tahu. Kukatakan juga tidak akan tahu."

"Siapa punya?"

Touw Liong saat itu benar-benar mengkhawatirkan keselamatan Kim Yan.

Oleh karena orang yang kepalanya kini berada di tangan hantu itu semasa hidupnya pernah bersama-sama Kim Yan memasuki kelenteng Kwi-kok-si, sudah tentu ia hendak menanyakan penjelasan.

Hantu itu memperdengarkan suara tertawa panjang.

Kepala di tangannya digoleng-golengkan sebentar dengan suara bangga dant tajam ia berkata.

"Kepala ini, kalau kusebutkan barang kali kau belum tentu tahu, oleh karena orang ini sungguh besar pengaruhnya. Bocah! Apakah kau pernah dengar namanya Tiga Dewa dari golongan pengemis atau belum ?"

Touw Liong terperanjat, pikirannya segera melayang kepada Kim Tho Si-sing. Tanpa menunggu habis perkataan hantu itu, ia membentak dengan suara keras.

"Tiga dewa yang mana yang kau maksudkan?"

"Jangan keburu nafsu! Dia bukan Tiga Dewa."

Touw Liong menarik napas lega. Dia memesut keringat, tetapi dia masih belum mau melepaskan begitu saja. Tanyanya pula dengan suara bengis.

"Kepala ini ada hubungannya dengan Tiga Dewa ....?"

"Sudah tentu ada ....."

Touw Liong sudah hampir naik pitam, tetapi hantu itu masih bersikap tenang melanjutkan perkataannya.

"Orang ini di masa hidupnya bersahabat sangat akrab dengan Kim Tho selama tiga puluh tahun dan orang itu hampir berada bersama-sama tidak pernah berpisah."

Jantung Touw Liong berdebar keras.

Saat itu ia teringat tugasnya sendiri yang diberikan oleh Si Dewa Arak untuk mencari Kim Tho, menyelidiki lanbang Naga Mas, supaya membersihkan keadaan dalam golongan pengemis.

Orang yang kepalanya kini berada di tangan hantu itu kalau benar di masa hidupnya pernah bersama-sama dengan Kim Tho, rasanya tidak susah kalau dirinya untuk mencari tahu di mana jejak Kim Tho sekarang.

Selama Touw Liong bicara dengan hantu itu, lima orang berpakaian putih yang bentuknya bagaikan tengkorak, entah sejak kapan, sudah berjalan menghampiri.

Dengan tongkat di tangan masing-masing mereka telah mengurung Touw Liong dan hantu itu.

Pada saat itu Touw Liong sedang berpikir.

Orang itu meskipun semasa hidup pernah bersama-sama dengan Kim Tho selama tiga puluh tahun, tetapi sekarang sudah mati, bagaimana dapat diminta keterangan?

Oleh karenanya, maka pikiran yang tadi terlintas di otakny sesaat itu lantas gugur lagi.

"Orang itu hidupnya masih pernah apa dengan Kim locianpwe?"

Demikian ia mengalihkan pertanyaannya ke lain soal. Di luar dugaannya, jawaban hantu itu demikian.

"Selama tiga puluh tahun Kim Tho mengasingkan diri, bukanlah karena hendak memperdalam kepandaiannya, sebetulnya ialah dipaksa oleh orang ini. Selama tiga puluh tahun, hidup Kim Tho penuh penderitaan lahir dan batin dan akhirnya binasa! Karena mengingat persahabatanku dahulu dengan Kim Tho maka malam ini kucari manusia ini dan kubunuh, sekalian ....."

Touw Liong teringat pula lambang Naga Mas golongan pengemis. Dalam keadaan cemas, maka ia lalu bertanya.

"Bagaimana lambang Naga Mas milik Kim pangcu?"

"kedatanganku itu juga ingin menyelidiki lambang mas itu. Di luar dugaanku Kim Tho berlaku sangat cerdik. Ia menderita sudah tiga puluh tahun, bukan saja tidak mewariskan kepandaiannya kepada orang ini, juga lambang masnya itu kemana disembunyikannya, tiada seorang pun yang mengetahui."

Touw Liong teringat pula kepada adik seperguruannya. Ia bertanya sambil menunjuk kepada kepala orang tua itu.

"Di mana adanya seorang gadis yang berjalan bersamasama orang tua yang sudah mati itu?"

"Gadis ....?"

Demikian hantu itu balas menanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kali ini Touw Liong menjadi cemas. Ia memberi keterangan.

"Seorang gadis berusia kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun memakai pakaian warna kuning ...."

Namun hantu itu tetap menyangkal, katanya.

"Aku sama sekali tidak pernah melihat gadis yang kau lukiskan itu ...."

Sementara itu Lo Yu Im yang sejak tadi diam saja, ketika mendengar jawaban hantu itu yang menyangkal terusterusan lantas naik pitam. Dengan sikap dingin ia berkata.

"Di waktu mahgrib tadi aku pernah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, gadis itu berjalan bersama-sama dengan orang yang sekarang kepalanya dalam tanganmu itu. Bagaimana kau kata tidak melihat?"

"Aku sudah kata tidak melihat, cukup,"

Berkata hantu itu dengan suara tinggi. Touw Liong mulai marah lagi. Ia berkata sambil menudingkan jari tangannya.

"Kau siapa? Bolehkah menyebutkan namamu?"

"Aku adalah malaikat dari akhirat, Cui Hui."

Kemudian ia menunjuk lima orang aneh berpakaian putih.

"Mereka berlima adalah lima utusanku. Pakaian mereka dan bentuk mereka serta usianya hampir tidak dapat dibedakan, bagi orang lain sudah tentu tidak tahu, hanya aku seorang yang dapat membedakan nama dan julukan mereka."

Touw Liong mengawasi lima orang bagaikan bangkai hidup itu. Memang bentuk mereka mirip satu sama lain, sehingga sulit dibedakannya. Hantu itu berkata pula sambil menunjuk lima utusannya satu persatu.

"Ini adalah utusan mengejar nyawa ...."

"Ini adalah utusan menangkap nyawa ...."

"Ini adalah utusan membetot nyawa ...."

"Ini adalah utusan mencengkeram nyawa ...."

"Ini adalah utusan menggiring nyawa ...."

Alis Touw Liong berdiri.

Kepalanya mendongak memandang bintang di langit, lalu menarik napas panjang sambil berpikir .

Dalam rimba persilatan pada dewasa ini, belum pernah ada tokoh kuat yang bentuk dan sikapnya aneh seperti orang-orang ini.

Andai kata mereka baru muncul ...

juga belum tentu memiliki kepandaian tinggi.

Akhirnyaia menggeleng-gelengkan kepala, membantah keterangan hantu itu.

"Di dalam rimba persilatan aku belum pernah dengar nama orang yang memiliki julukan seperti kau ini. Entah dari golongan mana kalian?"

"Di dalam rimba persilatan setiap orang boleh membentuk atau mendirikan partai baru. Apakah kau kira aku tidak dapat?"

"Mendirikan golongan atau partai memang boleh, tetapi toh harus mengadakan pengumuman kepada orang-orang rimba persilatan, bahkan harus memiliki kepandaian yang benar-benar, lagi pula segala sepak terjang dan perbuatannya harus sesuai dengan tujuannya. Seorang yang memiliki pribadi seperti kau ini, apa kau kira dapat mendirikan golongan untuk kau mencari nama di rimba persilatan?"

Oleh karena kesannya terhadap hantu itu buruk sekali, maka ia sengaja menggunakan kata-kata tajam untuk menjeleki dirinya.

"Aku justru hendak mengumumkan kepada rimba persilatan untuk mendirikan golongan kita."

"Kau hendak mendirikan golongan apa?"

"Kiu-kiu-pay."

"Apa artinya istilah Kiu Kiu ini?"

"Kiu Kiu adalah suatu nama yang paling seram, maka aku menggunakan Kiu Kiu."

"Enak saja kau bicara. Sayang perbuatanmu sangat kejam, ini tidak sesuai dengan perbuatan orang dari golongan baik-baik, maka aku tidak setuju."

"Bocah, kau terlalu sombong!"

Demikian Cui Hui marah.

Dengan suara keras ia membentak, sedang tongkat di tangannya lalu diangkat.

Lima utusannya yang berada di sekitarnya lalu perdengarkan suara masing-masing yang bagaikan suara hantu.

Tongkat di tangan mereka diputar, hingga sesaat itu timbul hawa dingin yang meresap tulang.

Touw Liong dengan suara perlahan berkata kepada Lo Yu Im.

"Enci harap berlaku hati-hati!"

Setelah itu tangannya bergerak mengeluarkan hembusan angin ribut memukul mundur lima tongkat dari lima utusan tadi.

Lima tongkat itu sudah terpencar, tetapi kemudian rapat lagi.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan menghembuskan angin dingin menyambar dan menggulung dua orang muda tadi.

Lo Yu Im merasakan dingin di seluruh badannya, maka lalu memesan kepada Touw Liong dengan suara perlahan.

"Adik Liong, berlakulah hati-hati! Ilmu mereka adalah ilmu barisan Ngo-im-cun-hin-ping, yang sudah menghilang dari rimba persilatan sejak seratus tahun!"

Touw Liong terkejut.

Sesaat itu dalam otaknya terlintas suatu gambaran.

Itu adalah ketika ia baru turun dari gunung.

Pada waktu itu suhunya pernah pesan wanti-wanti padanya, ia harus berlaku hati-hati kalau di kemudian hari menghadapi ilmu ganas yang sudah menghilang dari rimba persilatan itu.

Jikalau bertemu dengan orang yang menggunakan ilmu itu, harus dihadapinya dengan tenang dan hati-hati sekali.

Apabila tidak demikian, akibatnya sangat menggenaskan, sebab barisan Ngo-im-cun-hin-ping itu, hanya dengan menggunakan lima buah senjata, di luarnya senjata itu hanya semacam tongkat, tetapi sebetulnya adalah semacam benda seperti seruling yang mempunyai sembilan lubang.

Apabila diputar, dari sembilan lubang itu mengeluarkan sembilan suara untuk mencekam hati lawannya.

Sekalipun orang yang memiliki ketenangan cukup tinggi, tetapi bila hatinya tergoncang, segera terkurung dalam barisan itu, sehingga semangat dan kekuatan tenaga menjadi buyar, setelah tenaganya habis, orangnya pasti binasa.

Sekalipun dalam rimba persilatan ada semacam ilmu yang dinamakan dari lima suara, juga belum tentu dapat menundukkannya.

Keganasan lainnya ialah tongkat itu, besar sekali gunanya di dalam barisan itu.

Apabila tongkat itu mengejar lawannya yang tidak mengerti apa-apa saat itu juga pasti melayang jiwanya.

Sebab dalam setiap lubang dari senjata itu, telah disembunyikan obat beracun yang ganas sekali.

Racun itu kecuali racun mabuk yang tidak ada obat pemunahnya, juga ada racun yang mencabut nyawa lawannya seketika itu juga.

Jikalau orang yang terkurung dalam barisan itu adalah orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali, dan senjata sembilan suara itu tidak berdaya terhadapnya, maka lima orang itu lantas mengeluarkan racun dari dalam senjatanya, lima jenis racun yang berbedabeda telah tercampur menjadi satu, dan digunakan dengan berbareng, dengan demikian hingga membuat tidak berdaya bagi lawannya.

Lo Yu Im yang lebih dulu menyadari adanya ancaman bahaya, maka segera memperingatkan kepada Touw Liong.

Dalam terkejutnya Touw Liong buru-buru mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya.

Di samping itu juga menggerakkan tangannya untuk menghadapi lawannya yang ganas itu.

Sementara itu si malaikat akhirat mendongakkan kepala tertawa terbahak-bahak, dan kemudian berkata.

"Memang betul! Barisanku ini adalah barisan yang sudah seratus tahun menghilang dari rimba persilatan. Meskipun kalian dapat mengenali, tetapi sayang namamu sudah tercatat dalam buku kematian! A .... kalian berdua hanya merupakan orang-orang yang tidak ternama, bagaimana kalau dibandingkan dengan orang yang sekarang kepalanya di dalam tanganku ini? Dia hanya dapat melawan sepuluh jurus saja dalam barisanku ini, lantas bersedia menyerahkan kepalanya."

Kemudian ia bertanya sambil menunjuk kepala di tangannya.

"Tahukah kalian siapa orang ini? Ia .... huh! Ia adalah orang .... yang namanya menggetarkan seluruh rimba persilatan ...."

Hantu itu selagi hendak menyebutkan nama orang yang kepalanya berada di dalam tangannya, tak disangka ketika matanya mengawasi keadaan dalam barisan, dengan mendadak maksudnya dibatalkan, kemudian berteriak.

"Celaka!"

Tongkat di tangannya diangkat tinggi-tinggi di tengah udara ia membuat satu lingkaran, dengan sikapnya yang aneh matanya menatap dua pemuda yang terkurung dalam barisan.

Ternyata ia telah melihat gelagat tidak baik.

Ia sendiri terus bicara, sedang dua orang yang terkurung dalam barisan ternyata memiliki ilmu tenaga dalam yang luar biasa tingginya.

Mereka ternyata sudah berhasil menutup dan melindungi diri masing-masing.

Sesaat kemudian, lima senjata itu memperdengarkan sembilan suara.

Suara itu bagaikan suara hantu di waktu malam, kedengarannya sangat menyeramkan.

Tetapi dua orang yang terkurung dalam barisan, seolaholah bagaikan sedang bersemedi, empat tangan bergerakgerak mengikuti suara tadi, namun hati mereka sedikitpun tidak tergoncang dan tidak terganggu oleh suara seram itu.

Cui Hui yang melihat sembilan suara itu tidak berhasil menjatuhkan lawannya, untuk kedua kalinya ia menganggkat tinggi tongkatnya, dan lima tongkat dari lima utusan lalu merubah gerakannya dengan mengikuti perubahan gerakan, sembilan suara juga berubah.

Setelah mengeluarkan suara yang lebih menyeramkan, di atas tongkat, kini perlahan-lahan menghembuskan asap warna-warni.

Begitu asap itu timbul, bau harum menyerang hidung, bau itu terus berputar-putaran dan mengurung diri Touw Liong.

Pelajaran ilmu membuka pukulannya yang diwariskan oleh taysu gila, apa mau baru diwariskan delapan puluh persen saja, justru perbedaan dua puluh persen ini, apalagi ditambah dengan suara hantu yang sesungguhnya terlalu ganas, maka suara itu dapat menyusup ke dalam telinga Touw Liong, sehingga hatinya mulai terguncang.

Lo Yu Im yang mengkhawatirkan Touw Liong saat itu matanya melirik ke arahnya, ia telah mendapat kenyataan bahwa kedua tangan Touw Liong bergerak-gerak menolak racun, tetapi asap warna-warni yang mengitari dirinya terus mengurung rapat, hingga Touw Liong agaknya kepayahan, keringatnya sudah mengucur deras, jelas bahwa ia agak berat menghadapi serangan itu.

Saat itu Touw Liong sedang menghadapi tiga macam tekanan.

Satu ialah lima buah tongkat yang luar biasa itu, ia harus hati-hati jangan sampai tersentuh, dua ialah dari sembilan jenis suara yang mengacaukan pikirannya, juga memerlukan ilmu kekuatan tenaga dalam yang tinggi untuk melawannya, dan tiga ialah asap racun warna-warni itu, memerlukan menggunakan seluruh kekuatan tenaganya untuk menghadapinya.

Dengan badan yang terdiri dari darah dan daging, juga bukan penjelmaan dari Kim Tho, tiga tekanan itu, tiada satu yang tidak memaksa ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, demikian juga menghamburkan tenaga tidak sedikit.

Lo Yu Im yang menyaksikan bahaya yang sudah mengancam lalu mengeluarkan seruling batu gioknya yang hanya lima dim panjangnnya, ia letakkan itu di bibirnya, sesaat kemudian suara mengalun keluar dari seruling, dan sembilan suara yang keluar dari lima tongkat tadi telah lenyap bagaikan asap tertiup angin.

Tiga macam tekanan yang yang menekan Touw Liong, kini telah hilang satu.

Touw Liong segera merasakan ringan, buru-buru memusatkan kekuatan tenaganya untuk mematahkan racun asap yang warna-warni itu.

Untuk sementara, ia masih dapat bertahan.

Lo Yu Im dengan irama serulingnya telah memunahkan suara dari lima tongkat tadi, tetapi Touw Liong kecuali mempertahankan diri sendiri, kedua kekuatan dari tangannya juga sudah cukup untuk menahan serangan lima tongkat tadi.

Sayang keadaan itu tidak bisa bertahan lama, asap warna hijau nampak semakin tebal, asap itu bagaikan tumbuh mata, hanya berpusat dan menyerang Touw Liong seorang.

Dalam pertarungan hebat itu Touw Liong mendadak merasakan tenaganya kewalahan.

Ia menarik napas panjang, asap beracun yang mengitari sekujur dirinya mendadak berubah bagaikan dua buah anak panah menuju ke hidung Touw Liong.

"Adik!"

Demikian Lo Yu Im berseru, tetapi Touw Liong yang agaknya sudah terancam dengan asap itu, sehingga pikirannya mulai butek.

Saat itu mendadak terbuka lebar matanya, dengan mata seperti orang mabuk arak, sementara itu mulutnya menunjukkan tertawa geli.

Sikap itu berbeda dengan biasanya, setelah mulutnya menyahut enci, dua tangan yang seharusnya melakukan serangan, tiba-tiba ditarik kembali dan kedua tangan itu terus merangkul tubuh Lo Yu Im.

Lo Yu Im ketakutan setengah mati, dengan satu tangan memegang serulingnya, lain tangan mendorong dengan perlahan.

Di luar dugaan, dorongan yang perlahan itu telah membuat Touw Liong terjatuh di tanah.

Terjadinya perubahan itu sangat mengejutkan Lo Yu Im, untuk sesaat itu dalam pikirannya telah terbayang suatu ancaman; mungkin hari itu ia bersama Touw Liong akan mati di bawah serangan hantu itu.

Berpikir sampai di situ, air mata meleleh turun, sambil menggertek gigi, ia menatap wajah Cui Hui yang saat itu menyaksikan sambil tertawa dingin, ia menggunakan tangan kanannya untuk melawan, sedang tangan kiri tetap memegang serulingnya, untuk memunahkan serangan dari suara hantu.

Touw Liong sejak jatuh di tanah, lima tongkat itu seolaholah tidak menghiraukannya lagi, kini digerakkan dan terus menekan Lo Yu Im.

Touw Liong benar-benar sudah berada dalam keadaan sangat bahaya, dari dua matanya memancarkan sinar mata aneh, sedang mulutnya menunjukkan tertawa aneh memandang Lo Yu Im.

Lo Yu Im bergidik, diam-diam ia mengeluh.

"Ya, Tuhan! Hari ini jikalau ia tidak dapat pertahankan dirinya, dan merintangi aku untuk menghadapi lawan, terpaksa aku harus mati bersamanya...."

Belum lenyap pikirannya, Cui Hui tiba-tiba mengangkat tongkatnya sambil mengeluarkan suara pekikan aneh. Kemudian dengan nada suara dingin berkata kepada lima utusannya.

"Kalian mengaso dulu, siap-siap menonton pertunjukan yang mengasyikkan, nanti setelah pertunjukan mereka selesai, baru dibereskan."

Lima utusan tadi segera menarik kembali masing-masing tongkatnya, lalu lompat mundur setengah tombak, hanya mata mereka tetap ditujukan kepada Touw Liong dan Lo Yu Im.

Touw Liong masih tetap tertawa cengar-cengir sendiri, kedua tangannya bergerak-gerak ke atas dan ke bawah, kelakuannya seperti seorang kemasukan setan, untuk kedua kalinya ia hendak menerkam Lo Yu Im.

Lo Yu Im yang menyaksikan perubahan itu dengan suara pedih ia berkata.

"Adik ....!"

Ketika Touw Liong menerkam, ia mengelakkan diri, kemudian jari tangannya bergerak sambil mengucurkan air mata, dengan perlahan menepuk pinggan Touw Liong.

Touw Liong lantas jatuh tengkurap, dengan hati pedih Lo Yu Im menanggapi tubuh Touw Liong yang hendak jatuh tengkurap, kemudian berkata sambil mengucurkan air mata.

"Adik! Bukannya encimu tega hati untuk menurunkan tangan keji, tetapi kalau encimu tidak bertindak demikian, niscaya hari ini kita ...."

Cui Hui yang menyaksikan kejadian itu lalu berkata dengan suara bengis.

"Hai, tangkap dua orang ini; untuk selanjutnya setan tua dari gunung Kiu-hwa-san dan Kakek Seruling Perak dari gunung Kun-lun-san tentu akan mengabdi kepada diriku,"

Kemudian dengan suara bangga tertawa terbahak-bahak, lalu melanjutkan perintahnya.

"Mengapa tidak lekas turun tangan?"

Lima utusan dengan serentak mengerahkan tongkatnya, dan mereka perdengarkan suara pekikan panjang, dengan tongkat yang menghembuskan angin dingin mereka menyerbu Lo Yu Im.

Lo Yu Im yang satu tangan masih memondong tubuh Touw Liong, terpaksa dengan satu tangan membunyikan serulingnya untuk menahan majunya lima utusan itu.

Ia harus menggunakan seluruh kekuatan tenaganya, maka untuk sementara ia masih dapat menahan majunya lima utusan itu.

Cui Hui kembali mengeluarkan suara teriakannya yang aneh, dengan beruntun ia menganggkat tinggi tongkatnya, lima utusan itu lalu mengeluarkan suara masing-masing bagaikan suara setan, lalu memutar tongkatnya dan menyerbu lagi.

Lo Yu Im mengerti bahwa serangan lima utusan kali ini pasti hebat sekali, ia juga mengerti bagaimana kesudahannya pertempuran ini, rasa sedih timbul dalam kalbunya; maka dengan diam-diam ia mengeluh.

Namun demikian, ia tidak menyerah mentah-mentah begitu saja, dengan senajta seruling yang luar biasa, ia menyerang lima utusan secara nekad.

Sesaat sebelum mereka mengadu kekuatan, tiba-tiba terjadi suatu perubahan besar, salah satu utusan yang berada paling depan, tiba-tiba jatuh rubuh di tanah, tongkat di tangannya terlepas dari pegangannya.

Apa yang lebih mengherankan, utusan itu tidak mengeluarkan sedikit suarapun juga dari mulutnya, begitu jatuh di tanah, lantas binasa.

Perubahan secara tiba-tiba itu, juga mengejutkan Cui Hui, malaikat itu dengan gusarnya mengeluarkan suara jengkelnya, kemudian lompat melesat ke samping utusan yang binasa, untuk memeriksa sebab-sebab kematiannya.

Empat utusan lainnya juga terheran-heran, mereka masing-masing mundur setombak, dengan mata mendelik menyaksikan kawannya yang sudah menjadi bangkai.

Lo Yu Im sendiri, juga tidak kalah herannya, ia berdiri tertegun di tengah lapangan sambil memondong tubuh Touw Liong, untuk melarikan diri.

Kejadian itu, hanya dalam waktu sesingkat saja, Cui Hui yang berdiri sebagai penonton sudah tentu mengetahui dari mana datangnya serangan, maka cepat ia mendongak kepala, matanya menatap ke atas genteng, kemudian membentak dengan suara keras.

"Bangsat kecil kau berani sekali! Kau sudah berani menggunakan ilmu Thian-seng-jiauw untuk membinasakan anak buahku, mengapa tidak kemari untuk unjuk diri."

Setelah itu, ia lompat melesat, hingga sebentar kemudian orangnya sudah berada di atas genteng.

Bab 14 Lo Yu Im yang berdiri tertegun, begitu mendengar disebutnya ilmu Thian-seng-jiauw hatinya terkejut, dengan cepat mukanya ditujukan ke atas genteng.

Di dalam keadaan samar-samar, tampak olehnya berkelebatnya bayangan kuning yang berlari menghilang ke dalam kegelapan.

Sementara itu suara teriakan makin Cui Hui semakin lama semakin jauh, dan perlahan-lahan menghilang.

Lo Yu Im alihkan pandangan matanya kepada Touw Liong yang sudah melupakan dirinya sendiri, dengan penuh tanda tanya ia bertanya kepada diri sendiri.

"Apakah adik seperguruanmu itu memiliki kekuatan tenaga dalam demikian hebat, yang dapat menggunakan ilmu Thian-sengjiauw untuk membinasakan orang?"

Jelaslah sudah bahwa bayangan kuning yang berkelebat di atas genteng tadi, ialah gadis berbaju kuning yang pernah dilihatnya pada waktu senja tadi, dan juga merupakan gadis yang disebut adik seperguruannya oleh Touw Liong.

Lo Yu Im tidak habis mengerti, gadis yang usianya masih demikian muda belia, bagaimana memiliki kekuatan tenaga dalam demikian hebat?

Ia sudah sembunyikan diri di atas genteng, mengapa tidak lekas turun tangan menolong Touw Liong?

Dan terus menunggu hingga Touw Liong terluka baru turun tangan?

Selain daripada itu, manusia yang berada di tangan Cui Hui merupakan orang yang pernah berjalan bersama-sama dengannya, mengapa orang itu bisa mati di tangan Cui Hui sedangkan ia sendiri selamat?

Masih ada satu hal yang menjadi suatu pertanyaan, dengan maksud apa dia datang ke kuil tua ini?

Berbagai pertanyaan mengaduk dalam otaknya, tetapi apa yang dihadapi olehnya pada saat itu, merupakan suatu tanda tanya yang lebih besar lagi!

Sementara itu empat utusan yang kini masih berada di dalam kuil itu, meskipun Cui Hui sudah berlalu, mereka masih berdiri di situ, mata mereka terus menatap wajah Lo Yu Im, agaknya tidak mau melepaskan diri wanita.

Namun mereka tidak menggerakkan senjatanya untuk melakukan serangan, juga tak menggeserkan kakinya untuk mengepung wanita itu, sikap itu seolah-olah menunjukkan sikap mereka hendak membiarkan Lo Yu Im mengambil tindakan sendiri.

Lo Yu Im tidak mengerti, ia menatap empat utusan itu sejenak, kemudian timbullah suatu pikiran dalam otaknya, sambil melintangkan seruling di dadanya ia memondong Touw Liong, kemudian melompat keluar kuil.

Empat utusan itu benar saja masih berdiri tegak bagaikan patung, sedikitpun tidak bergerak dari tempat masingmasing.

Lo Yu Im tidak akan melewatkan kesempatan untuk melarikan diri ini; dengan memondong tubuh Touw Liong ia kabur dari kuil Kiu-kok-si.

Dalam waktu sekejab dia sudah berjalan sepuluh pal lebih, baru berhenti dan memandang keadaan di sekitarnya.

Ia menarik napas panjang, lalu menundukkan kepala menatap wajah Touw Liong, tanpa dirasa air matanya mengalir turun, dengan suara sedih ia berkata kepada diri sendiri.

"Racun yang tidak ada pemunahnya, apa mau dalam keadaan cemas, aku sudah menotok jalan darah bagian tulangnya, ini seperti juga menambah parah keadaannya, sekalipun aku berhasil merampas tubuhnya dari mulut harimau, tapi juga belum berarti sudah menolong jiwanya .... Ai, sungguh sayang! Sayang, dalam usia yang masih begini muda dan seorang yang begini gagah harus mati secara mengecewakan.!"

Sangat sedih memikirkan Touw Liong yang sedang menghadapi bahaya maut, dengan air mata berlinang-linang matanya terus menatap Touw Liong, seolah-olah hendak memandangnya sepuas-puasnya.

Ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata dengan suara sedih.

"Aku dapat membuka totokanmu, tetapi aku tidak sanggup membersihkan racun dari dalam tubuhmu! Sebab .... katanya racun semacam ini, di dalam dunia ini tidak ada obat yang dapat memunahkan ...."

Lo Yu Im tenggelam dalam lamunannya sendiri, sesaat kemudian, mendadak terbuka pikirannya, lalu berkata dengan girang.

"Oh .... ada!"

Dengan semangat bernyala-nyala ia bertanya kepada diri sendiri.

"Cui Hui, tadi bukankah pernah berkata hendak menangkap kita berdua, supaya golongan Kiu-hwa dan Kun-lun bisa berada di bawah pengaruhnya, suatu bukti bahwa ia pasti mempunyai obat pemunahnya, jikalau tidak mengapa ia berani menggunakan ilmu itu untuk memeras dua golongan tersebut? Racun tadi digunakan oleh Cui Hui, dengan sendirinya Cui Hui mempunyai obat pemunahnya. Ia mencari sebuah pohon besar yang rindang daunnya, lalu melompat di atasnya, meletakkan tubuh Touw Liong di atas pohon, kemudian memboloskan ikat pinggangnya untuk mengikat tubuh Touw Liong supaya jangan jatuh, setelah itu ia berkata dengan suara sedih.

"Adik, kau tunggulah dengan sabar! Encimu sekalipun harus berkorban di bawah senjata Cui Hui juga akan paksa ia mengeluarkan obat pemunahnya."

Setelah itu ia lompat turun dari pohon, dengan mengikuti jalan yang tadi dilalui, ia kembali ke kuil Kuikok-si.

Tiba di depan kuil, keadaan masih tetap tidak berubah, bedanya hanya saat itu rembulan agak gelap.

Kesunyian kuil Kui-kok-si sangat mencekam hati.

Ia melangkah kaki ke ruangan satu dan kedua, seluruhnya sunyi-sepi, kecuali empat buah peti mati yang membujur, satu bayangan satupun tidak tertampak.

Pertempuran tadi yang terjadi di tempat itu belum lama berselang, sedikitpun tak ada tanda-tandanya.

Begitu pula dengan empat utusannya Cui Hui sekarang satupun tidak tampak bayangannya, sedangkan bangkainya satu utusan yang tadi menggeletak di tengah ruangan, sekarang juga sudah lenyap.

Dengan demikian, untuk mendapatkan obat pemunah itu, kini merupakan suatu persoalan lagi.

Jikalau empat utusan tadi masih ada, mungkin masih dapat diminta lagi keterangannya, dan tidak susah untuk mencari jejak Cui Hui.

Tetapi sekarang mereka sudah tidak ada semua, jejak Cui Hui sendiri sudah tentu tidak mudah dicari, dengan demikian obat pemunah juga tidak mungkin didapatkan.

Lo Yu Im menarik napas, ia mencari-cari seluruh kuil, namun tidak berhasil menemukan tanda apa-apa.

Dengan perasaan sangat kecewa ia bertindak keluar dan lari balik ke tempat di mana Touw Liong tadi diletakkan.

Dengan hati cemas dan tergesa-gesa ia kembali ke bawah pohon besar tadi, ketika ia mendongakkan kepalanya, bukan kepalang terkejutnya ia.

Touw Liong yang tadi diikat dengan baik di atas pohon, kini ternyata sudah lenyap.

Menyaksikan kejadian aneh itu, ia tidak bisa berbuat lain, hanya berdiri tertegun bagaikan patung, pikirannya kalut, ia tidak tahu bagaimana dan kemana harus mencari?

Apakah Touw Liong mendapat bahaya lagi?

Apakah Touw Liong dibawa kabur dan sudah ditolong orang?

Siapakah yang menolong?

Kim Yan kah?

Atau suhunya ....?

Ataukah mungkin itu perbuatan Cui hui yang membawanya ke gunung Kiu-hwa?

Atau mungkin juga ketemu musuh lain yang lebih kuat, kecuali dengan musuh lain, tidak peduli ia ditolong ataukah dibawa kabur oleh Cui hui, ia masih ada harapan hidup.

Hanya untuk sesaat itu ia tak dapat mengatakan apa sebabnya.

Lo Yu Im benar-benar mengharap bahwa orang yang membawa kabur Touw Liong itu adalah adik seperguruannya, seandai ia benar-benar ditemukan oleh Cui Hui, sedikit masih banyak ada harapan hidup jiwanya.

Ia tidak dapat memikirkan siapa orangnya yang membawa kabur Touw Liong?

Ia berdiri di bawah pohon itu dari jam empat sampai menjelang pagi, barulah dengan pikiran kusut meninggalkan tempat itu.

Dengan tingkah yang lesu LoYu Im berjalan di pagi hari itu menuju ke kota Tio-yang-li.

Tiba di kota itu, perutnya merasa lapar.

Ia mencari-cari suatu rumah makan, kebetulan ia dapat menemukan sebuah kedai yang menjual susu kedele, di situ ada dua orang tua berambut putih sedang repot memasak susunya, orang tua yang usianya sudah enam puluh tahun lebih itu, badannya bongkok, siapapun dapat menduga bahwa dua orang tua itu suami isteri, dari wajah mereka yang sudah penuh keriputan, orang dapat menduga bahwa dalam hidup mereka, telah mengalami banyak kesulitan hidupnya.

Seorang laki-laki setengah umur, juga tampak berdiri di kedai itu, ia minta disediakan semangkok besar susu kedele sambil omong-omong dengan orang tua itu.

Lo Yu Im berjalan menghampiri, laki-laki setengah umur itu berpaling, dan dengan perasaan terkejut menatapnya sejenak, ia tidak berani memandang terlalu lama, cepat memalingkan mukanya, dan mengalihkan pandangan matanya ke susu kedelenya yang masih panas.

Lo Yu Im dengan langkah lebar maju menghampiri, lebih dulu menyapa kepada dua orang tua suami isteri tadi.

Dua orang tua mengangkat muka dan memandangnya sejenak, biji mata perempuan itu berputaran, kemudian dikucek-kucek matanya, bibirnya bergerak-gerak, agaknya terheran-heran hingga kipas yang berada di tangannya hampir terlepas, dengan sikap terheran-heran, ia bertanya kepada Lo Yu Im.

"O, begini pagi kau ....!"

Kemudian ia berhenti dan merubah nada suaranya.

"Apakah hatimu berduka?"

Lo Yu Im melengak, menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab dengan suara tidak tetap.

"Tidak apa-apa ...."

Dengan tiba-tiba ia teringat kepada dirinya dan diri Touw Liong, ingin mengeluarkan saputangan memesut air matanya.

Perempuan tadi menarik napas dalam-dalam, sambil meneruskan pekerjaannya ia berkata kepada diri sendiri.

"Sang waktu berlalu dengan cepat, itu terjadi pada beberapa puluh tahun berselang. Waktu itu aku masih semuda seperti kau sekarang ini, ai ....! Juga seperti kau banguna pagi-pagi dan tidur tengah malam. Semua ini hanya untuk penghidupan ...."

Untuk kedua kalinya ia menghentikan kata-katanya, matanya kembali menatap Lo Yu Im agaknya hendak menegasi wanita itu, ia telah mendapat kenyataan bahwa wanita itu tidak mirip dengan seorang yang sedang repot mencari penghidupan, maka kemudian bertanya padanya.

"Ada urusan apa yang tidak menyenangkan hatimu, nak?"

Sang suami yang sedang repot memasak susunya, ketika mendengar si isteri itu bertanya demikian, lantas menyetopnya sambil mengedipkan mata.

"Tua bangka tidak tahu diri, kau mau tahu saja urusan orang lain!"

Sang isteri sangat takut kepada suaminya maka lantas berdiam dan menundukkan kepala. Lo Yu Im merasa tidak enak, sambil tersenyum getir ia memberi hormat kepada si lelaki tua seraya berkata.

"Kakek jangan salahkan nenek ini, apa yang ia katakan sedikitpun tidak salah, aku ...."

Lelaki tua itu kedip-kedipkan matanya, bertanya dengan suara lemah lembut.

"Kau sebenarnya kenapa?"

Mata Lo Yu Im merah, ia menundukkan kepala, dengan suara sedih menjawab.

"Tidak apa-apa, hanya karena tadi malam aku kesasar jalan, sehingga adik lelakiku telah hilang!"

Dengan keterangan itu, maksudnya supaya tidak menimbulkan rasa curiga kepada lelaki tua itu. Nenek itu mendadak angkat muka dan bertanya.

"Adikmu itu berapa usianya?"

"Dua puluh tahun."

Kini sang suami nampak agak tegang, segera bertanya.

"Dua puluh tahun?"

Lo Yu Im mengangguk-anggukkan kepala. Nenek tadi berkata pula sambil menunjuk sebuah jendela di sebuah rumah di belakang dirinya.

"Tadi pagi-pagi sekali, ketika kita bangun, aku telah tampak seorang muda dengan keadaan sangat letih jatuh rubuh di tengah jalan, mungkin karena kedinginan, bibirnya tampak biru, coba nona masuk ke sana, lihatlah sendiri ...."

Lo Yu Im merasa bimbang, bibirnya bergerak-gerak, kemudian berkata dengan suara gelagapan.

"Tentang ini ...."

Pada saat seperti itu, ia benar-benar mengharap bahwa orang yang di dalam rumah itu adalah Touw Liong tetapi bagaimana ia mau percaya begitu saja bahwa pemuda yang dikatakan oleh nenek itu adalah Touw Liong?

Kakek itu tertawa dan kemudian berkata.

"Nona! Pemuda itu, agh .... rupanya mirip seperti habis melakukan perjalanan jauh, nampaknya ia sangat letih, juga seperti habis sakit .... Kita justru tidak mempunyai anak, oleh karena itu kita berikan pertolongan kepadanya, dan suruh ia beristirahat di belakang, orang susah seperti bangsa kita, tidak bisa berbuat banyak. Dia serupa keadaannya denganmu, pakaiannya bersih dan rapi, di punggungnya masih ada sebilah pedang ...."

Mata Lo Yu Im terbuka lebar, ia buru-buru menghaturkan terima kasih kepada lelaki tua itu, seraya berkata.

"Tolong kakek ajak aku kesana untuk melihat."

Si nenek tanpa menunggu perintah suaminya, meninggalkan pekerjaannya, dan berkata kepada Lo Yu Im.

"Mari nona ikut aku!"

Dengan jalannya yang sudah tidak cepat, ia berjalan ke rumah yang ditunjuk tadi dengan diikuti oleh Lo Yu Im.

Di belakang rumah itu, terdapat sebuah kamar, di ruangan sempit di atas balai-balai , rebah menggeletak seorang pemuda yang wajahnya pucat pasi, pemuda itu agaknya sedang tidur nyenyak.

"Adik ....."

Demikian Lo Yu Im berseru sambil menubruk pemuda yang masih tidur di atas balai-balai.

Si nenek tadi menyaksikan sambil mengucurkan air mata, kemudian meninggalkan mereka berduaan.

Sambil mengerutkan alisnya, Lo Yu Im mengusap-usap jidat pemuda itu, ia menarik napas, dengan tangan memegang tangan pemuda tadi, pikirannya bekerja keras.

Pemuda itu bukan lain memang adalah Touw Liong, saat itu sedang tidur nyenyak, Lo Yu Im tidak bangunkan, tetapi ia sedikitpun tidak berdaya.

Sang waktu telah berlalu dengan pesat, perlahan-lahan matahari mulai naik tinggi, di luar terdengar suara orang yang banyak berbelanja, tak lama kemudian nenek tadi datang kembali sambil membawa sedikit makanan pagi.

Lo Yu Im memikirkan kejadian aneh yang dialami tadi malam, mana ada pikiran untuk makan-makan?

Maka hanya minum setengah cawan susu kedele.

Dalam hatinya ada beberapa pertanyaan yang tidak terpecahkan.

Menurut aturan, Touw Liong setelah terkena racun, telah hilang semua ingatannya, dalam keadaan demikian, tidak mungkin ia dapat memutuskan ikatannya dan turun dari atas pohon, serta melakukan perjalanan beberapa pal jauhnya, kecuali ada orang yang memberi obat pemunah padanya.

Tetapi siapakah orangnya yang memberi obat itu?

Ini merupakan suatu teka-teki yang tak dapat dipecahkan sendiri.

Baca Juga: Lembah Nirmala 9

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert