Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 3

Eps 3 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

Kalau ditinjau menurut pikiran biasa, orang itu setelah memberikan obat pemunah padanya, tidak merawat baik-baik, sudah tentu pada saat ia sadar kembali, lalu meninggalkannya, hal demikian rasanya tidak mungkin.

Oleh karenanya, maka yang menjadi pertanyaan, siapakah orang yang memberikan pertolongan itu?

Jikalau ia benarbenar menolong, tak mungkin hanya memberikan pertolongan setengah jalan, kemudian ditinggalkan begitu saja.

Tanpa disadarinya, Lo Yu Im mengalirkan air mata, matanya yang sayu menatap wajah Touw Liong.

Lama ia berpikir, tiba-tiba berseru kaget, sambil mendekap mulutnya.

Kemudian berkata kepada diri sendiri.

"Aku benar-benar gila .... Ia telah kutotok dengan ilmu totokan gunung tunggal ...."

Ia lalu mengulurkan tangannya yang putih halus, membalikkan tubuh Touw Liong yang sedang tidur nyenyak, jari tangannya bergerak menotok beberapa bagian jalan darah di belakang punggung Touw Liong.

Touw Liong mengeluarkan suara rintihan perlahan, kemudian membalikkan badan dan membuka mata.

Mata itu agak sayu, berputaran sebentar menatap wajah Lo Yu Im yang masih menangis, kemudian memanggil dengan suara perlahan.

"Enci ...."

Lo Yu Im mengulurkan tangannya, tangan yang halus itu mengusap-usap muka Touw Liong, kemudian menjawab dengan suara lirih.

"Adik....."

Touw Liong dengan pikiran bingung melompat duduk, ia menggoyang-goyangkan kepalanya, lalu mengusap-usap jidatnya, kemudian berkata.

"Aku merasa kepalaku agak berat."

"Kecuali rasa berat kepalamu, apa kau masih merasakan ada yang tidak enak?"

Tanya Lo Yu Im dengan suara lemah lembut.

"Kaki dan tanganku merasa lemas tidak bertenaga."

"Apakah kau masih ingat kejadian tadi malam? Bagaimana kau bisa tidur di tempat ini?"

Touw Liong membuka mata memandang keadaan di sekitarnya, kemudian menjawab sambil menggelenggelengkan kepala.

"Tidak ingat lagi! Dimana aku sebetulnya berada?"

Dengan suara lemah lembut Lo Yu Im menceritakan padanya tentang kejadian tadi malam.

Touw Liong yang mendengarkan cerita itu membuka matanya dan mengerutkan jidatnya, kemudian bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Racun itu tidak ada obat pemunahnya, tapi siapa yang memberikan obat pemunah itu kepadaku?"

"Coba kau pikir lagi baik-baik."

Jilid 6 Touw Liong lama berpikir, akhirnya dapat menemukan sedikit ingatannya, maka ia lalu berkata.

"Selagi aku dalam keadaan tidak ingat, samar-samar aku dibawa pergi oleh orang, melakukan perjalanan jauh."

"Itulah aku sendiri!"

Berkata Lo Yu Im sambil menghela nafas. Touw Liong menggelng-gelengkan kepala dan berkata.

"Bukan! Meskipun waktu itu aku dalam keadaan tidak sadar, tetapi sekarang kalau kuingat-ingat kembali, aku rasanya pernah melihat orang itu sejenak, dan orang itu ternyata bukanlah kau."

Dengan perasaan tegang, Lo Yu Im memegang tangan Touw Liong, dan bertanya dengan suara perlahan.

"Orang itu rupanya .... bukan! Terus terang saja kau katakan siapa orang itu."

"Pandangan mataku saat itu sudah kabur. Aku hanya dapat mengenali orang itu adalah seorang tua yang rambutnya sudah putih dan kulitnya banyak keriputan, sedang badannya agak bongkok. Sayang waktu itu kepalaku berat sekali, hanya melihatnya sejenak, sudah tentu tidak ingat lagi."

Jawab Touw Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Seorang tua yang rambutnya sudah putih ..."

"Benar! Tadi pagi, pagi-pagi sekali, aku juga pernah ketemu dengan seorang tua. Waktu itu aku hanya melihat tegas bagian belakangnya, hanya sepintas lalu saja, lantas menghilang di antara orang banyak! Aku tidak sangka bahwa orang yang menolong aku itu adalah orang tua itu."

Lo Yu Im tidak menanya lagi, ia hanya mendapat suatu kesimpulan, orang tua itu tentunya bukan sembarangan orang.

Ia mengerti bahwa orang tua itu yang memberikan obat pemunah kepada Touw Liong.

Selanjutnya ia telah memberi pertolongan kepada Touw Liong, untuk membersihkan racun yang berada dalam tubuhnya, kemudian memberikan obat minum kepadanya, setelah itu ia memeriksa urat nadinya, hingga hatinya merasa lega.

Setelah mendapat kenyataan bahwa Touw Liong dalam keadaan baik-baik, barulah memberitahukan kepadanya hal yang lainnya.

"Adik Liong, adik seperguruanmu telah menggunakan ilmu Thian-seng-jiauw dari golongan Kiu-hoa, untuk membunuh orang ..."

Touw Liong terkejut, ia bertanya sambil membuka lebar matanya.

"Apa katamu? Kim Yan bisa menggunakan ilmu Thianseng-jiauw membunuh orang ....?"

"Ya, tadi malam aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri,"

Berkata Lo Yu Im sambil menganggukkan kepala.

Kemudian ia menceritakan apa yang disaksikannya tadi malam setelah Touw Liong dalam keadaan tidak ingat.

Touw Liong merasa tidak ingat, ia memandang Lo Yu Im sejenak, pikirannya melayang kepada adik seperguruannya.

Pelahan-lahan ia menundukkan kepala, dalam hatinya berpikir.

"Kim Yan dapat menggunakan ilmu Thian-seng-jiauw membinasakan orang, bahkan disaksikan oleh nona Lo Yu Im sendiri, kalau begitu Lie Hui Hong, tiga jago dari Kionglay, Cu-lo-kian dan lain-lainnya semua terluka di bawah tangannya ...."

Ini benar-benar suatu kejadian yang tak habis dimengerti, hal itu membuatnya tenggelam dalam lamunannya sendiri.

Selain daripada itu, orang yang menggunakan jari tangan menuliskan tanda Panji Wulung dan kata-kata di bawah jembatan, mungkin juga perbuatan Kim Yan.

Ada hubungan apakah antara Kim Yan dengan Panji Wulung?

Dua hal itu kalau dibandingkan satu sama lain, bisa menimbulkan kesan bahwa Kim Yan sudah berubah menjadi Panji Wulung.

Ini benar-benar suatu kejadian ajaib yang tak habis dimengerti.

Sementara itu Lo Yu Im telah menghibur padanya dengan suara lemah lembut.

"Sudahlah! Urusan yang sudah lalu jangan dipikirkan lagi, yang penting bagi kita sekarang ialah lekas ke kota Lam-yang untuk melakukan tugas kita."

Mereka menjumpai dua suami isteri tua itu, setelah menyatakan terima kasih kepada mereka, lalu melanjutkan perjalanannya ke kota Lam-yang.

Begitu tiba di kota tersebut, dalam kota telah terjadi dua peristiwa berdarah.

Satu, ketua partai Kiong-lay-pai tadi malam kira-kira jam empat hampir pagi telah mati terbunuh di dalam suatu rumah penginapan, luka yang paling parah dan mengakibatkan kematiannya ialah tanda luka dari ilmu serangan Thian-seng-jiauw yang terdapat di depan dadanya, di atas tanda jari tangan itu masih terdapat sebuah panji kecil berwarna hitam.

Kedua, Thian Wan-totiang dari kuil Kian-goan-koan di gunung Thai-san juga dalam waktu yang bersamaan terdapat mati di dalam kota itu, keadaan kematiannya serupa dengan ketua Kiong-lay-pai, di tempat bekas telapak jari tangan depan dadanya, ditutupi oleh sebuah panji warna hitam yang berlukiskan burung hong terbang di angkasa.

Dua peristiwa itu menggemparkan seluruh kota, dalam waktu yang sangat singkat kota Lam-yang seolah-olah diliputi oleh suasana yang mengerikan, hampir di seluruh pelosok orang ramai membicarakan peristiwa berdarah itu.

Ketika Touw Liong yang baru tiba di kota itu mendengar Panji Wulung kembali membawa dua tokoh kuat, diamdiam bergidik.

Ia telah memikirkan dirinya sendiri bahwa nanti jam tiga malam adalah batas waktu yang diberikan oleh Panji Wulung, oleh karenanya, maka sikapnya merasa tidak tenang.

Lo Yu Im yang menyaksikan keadaan demikian menganggapnya bahw racun tadi malam belum bersih, maka bertanya padanya sambil mengerutkan alis.

"Kau sudah sembuh seluruhnya atau belum?"

Touw Liong hanya mengangguk-anggukkan kepala, sebetulnya karena pikirannya kalut, sedang menghadapi banyak persoalan sulit yang mencurigakan, kecuali sudah dapat membuktikan bahwa orang yang membunuh orangorang itu adalah Panji Wulung dan adik seperguruannya sendiri, sedikitpun tidak mendapatkan tanda-tanda atau gambaran apa-apa.

Dua orang itu berjalan masuk ke sebuah toko sutera, lalu disambut oleh pelayan toko itu.

Kasir toko itu menyambut Lo Yu Im dengan sikap menghormat sekali, ia ajak mereka masuk ke ruangan dalam, di situ terdapat suatu lapangan yang sangat luas.

Lo Yu Im setiba di dalam ruangan lalu mempersilahkan Touw Liong duduk, sekarang ia telah berubah sikapnya, dengan sikap sebagai tuan rumah bertanya kepada kasir.

"Kapan Ji si-cia pergi?"

"Pagi-pagi sekali,"

Menjawab kasir itu dengan sikap sangat menghormat.

Setelah itu dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepucuk sampul surat diberikan kepada Lo Yu Im.

Lo Yu Im membacanya sebentar, kemudian surat itu dilipatnya, perasaan dukanya semakin bertambah, ia diam saja tidak berkata apa-apa.

"Mengapa enci bersedih?"

Tanya Touw Liong. Lo Yu Im memerintahkan kasir itu pergi, barulah memberitahukan kepada Touw Liong dengan suara perlahan.

"Adikku masih senang main, ia tidak pulang ke gunung Kun-lun-san."

"Ji sio-cia mungkin akan melakukan suatu pekerjaan besar, sehingga perlu mendapat pengalaman di dunia Kangouw."

"Ia masih terlalu muda, aku khawatir ia akan mengikuti jejakku."

"Ji sio-cia adalah orang gagah, Tuhan pasti akan melindungi. Dengan bekal kepandaian yang tinggi seperti dia, sudah sepantasnya kalau berkelana di kalangan Kangouw."

Selagi mereka masih berbicara, kasir tadi balik kembali dengan tindakan sempoyongan, lengannya masih membawa sebuah buntalan kain sutra berwarna merah.

Bab 15 Kain sutera itu diberikannya kepada Lo Yu Im.

Wanita itu dengan cepat membukannya, kedua matanya mengawasi kasir untuk menantikan penjelasannya dari mana asal-usulnya bungkusan kain itu dan apa yang terdapat di dalamnya.

Kasir itu setelah memberi hormat, lalu berdiri meluruskan tangannya, kemudian membungkuk dan berkata.

"Hamba tadi baru saja keluar, ada orang yang mengantarkan bungkusan kain sutera ini. Orang itu mengatakan dan suruh hamba menjelaskan kepada nona sendiri."

Wajah Lo Yu Im berubah seketika, matanya menatap Touw Liong sejenak.

Touw Liong menganggukkan kepala, memberi isyarat kepada Lo Yu Im supaya membuka bungkusan itu....

Dengan hati agak bimbang Lo Yu Im membuka bungkusan tersebut.

Tak lama kemudian bungkusan itu terbuka.

Dalamnya ternyata hanya sebuah panji hitam.

Dua orang itu dengan serentak berseru kaget.

Touw Liong masukkan tangan ke dalam sakunya sendiri, mengeluarkan panji wulung dari dalam sakunya, kemudian diberikannya kepada Lo Yu Im untuk dibandingkan dengan panji itu, ternyata serupa.

Dengan perasaan terheran-heran Lo Yu Im memandang Touw Liong kemudian berkata.

"Jadi kau sendiri juga mempunyai sebuah panji ini ..."

Touw Liong menghela napas panjang dan menganggukkan kepala,] "Sudah berapa hari?"

Tanya Lo Yu Im dengan penuh perhatian.

"Tepatnya tiga hari."

"Kau pikir bagaimana hendak menghadapi Panji Wulung ini?"

"Terserah kepada nasib, aku menantikan datangnya kejadian itu. Manusia cepat atau lambat toh akan mati juga."

"Malam ini .... Hm, aku bersamamu akan menghadapi bersama-sama. Biar bagaimana aku juga hanya hidup tiga hari lagi, lebih siang beberapa hari juga sama saja, mungkin dengan kekuatan tenaga kita berdua, kita masih dapat melewati bencana ini."

Sementara itu dalam hati Touw Liong masih diliputi oleh pertanyaan dan penasaran, ada hubungan apa antara adik seperguruannya dengan Panji Wulung? "Enci ...."

Demikian Touw Liong berkata, ternyata ia tidak menolak tawaran wanita itu.

Ia merasa bahwa wanita itu berjiwa ksatria sehingga ia diam-diam menyambut baik maksudnya.

ooooo Rembulan di musim kemarau, nampaknya bertambah terang.

Malam itu justru malam terang bulan, suasana di panggung mementil kecapi nampak sepi sunyi.

Lo Yu Im duduk memainkan jarinya di atas senar-senar alat musik itu, sedang Touw Liong sendiri sambil membelakangkan kedua tangannya, kepalanya mendongak memandang rembulan, mulutnya menyanyi.

Sudah hampir jam tiga, tetapi tampat itu masih sepi sunyi.

Lo Yu Im masih mainkan alat musiknya, sedang Touw Liong juga masih menyanyi dengan lagu-lagu sedih.

Waktu berlalu merambat, hati dua manusia itu sama-sama tegang, tetapi masih belum tampak Panji Wulung muncul.

Lo Yu Im tiba-tiba menghentikan tangannya, ia angkat kepala memandang angkasa, sedang mulutnya perdengarkan suara bentakan pelahan.

"Sahabat dari mana? Silakan kemari, jikalau tidak, jangan sesalkan aku akan berlaku kasar!"

Sebagai reaksi, dari atas pohon cemara melayang dua sosok bayangan orang.

Touw Liong agak terkejut, tetapi setelah melihat dua orang yang baru turun, wajahnya menunjukkan perasaan girang, sedang Lo Yu Im memandang dua orang itu, yang ternyata dua wanita cantik berusia tiga puluh tahunan.

Lebih dulu Touw Liong menganggukkan kepala memberi hormat kepada dua wanita cantik itu, kemudian memperkenalkan kepada Lo Yu Im.

"Enci, marilah adikmu perkenalkan, dua nona ini adalah sepasang burung Hong dari gunung Bu-san yang namanya sangat terkenal itu. Ini adalah nona, dan ini Nona Ciauw!"

Setelah memperkenalkan dua wanita gagah itu kepada Lo Yu Im, lalu memperkenalkan Lo Yu Im kepada sepasang burung Hong.

Karena tiga-tiganya sama-sama wanita, juga sama-sama keluaran dari golongan ternama, maka satu sama lain merasa sangat cocok, setelah saling menghormat, maka Lo Yu Im lalu menghormat kepada dua tamunya dan berkata.

"Enci berdua malam-malam begini telah datang berkunjung, nampaknya sangat gembira sekali, panggung mementil kecapi merupakan tempat bersejarah di kota Lanyang, dengan adanya enci berdua yang datang kemari sesungguhnya menambahkan kebanggaan tempat ini."

"Bagaimana kita mempunyai kegembiraan seperti itu? Malam ini kita hanya dengar kabar, bahwa Touw tayhiap akan mengadakan pertempuran dengan Panji Wulung, aku berdua saudara telah mendapat perintah susiok, untuk datang kemari memberi bantuan sekedarnya kepada Touw tayhiap,"

Menjawab sepasang burung Hong.

Touw Liong agak terkejut, ia tidak habis mengerti, Pek Giok Hwa yang sudah mengandung maksud hendak pentang sayap di daerah Tionggoan, dan ia sendiri sedang menghadapi ancaman dari Panji Wulung, mengapa mengutus sepasang burung Hong untuk membantu dirinya?

Karena kedatangan mereka itu dengan maksud baik, maka ia tidak boleh tidak harus menyatakan terima kasih, maka segera maju dan memberi hormat seraya berkata.

"Urusanku seorang diri telah mencapaikan nona-nona berdua, lebih dulu saya haturkan banyak-banyak terima kasih."

Dia menjura dan memberi hormat, namun tidak menanyakan bagaimana Pek Giok Hwa bisa tahu bahwa ia juga menerima Panji Wulung.

"Sekarang sudah lewat jam tiga, masih belum tampak bayangannya Panji Wulung, apakah ia akan membatalkan janjinya?"

Bertanya sepasang burung Hong.

"Membatalkan janjinya? Ha .... ha...."

Demikian terdengar suara orang berkata berbareng dengan suara ketawanya yang menyeramkan bulu roma, yang terdengar dari sebuah pohon cemara terpisah kira-kira setombak dari belakang burung Hong.

Selagi semua orang dalam keadaan terkejut, sesosok bayangan orang telah melayang turun dari pohon dan menuju ke tempat dekat panggung mementil kecapi.

Di antara berkibarnya rambut yang putih terdengar pula suara orang tua yang berkata sambil tertawa.

"Panji Wulung seratus persen tulen, apa yang dikatakan tidak akan ditarik kembali, siapa bilang aku membatalkan janji? Adalah kalian sendiri yang salah ingat harinya, perjanjian yang kuberikan kepada kalian adalah besok malam!"

"Besok malam?"

Tanya Touw Liong pada diri sendiri, tetapi ia tidak mengambil tindakan apa-apa, sedang Lo Yu Im dan sepasang burung Hong nampak terkejut dan marah, bertiga seolah-olah sudah saling berjanji, secepat kilat bergerak menuju ke depan orang itu dan membentak berbareng.

"Panji Wulung! Kalau kau masih terhitung orang, seharusnya kau meninggalkan apa-apa baru pergi!"

Tetapi Panji Wulung tidak menghiraukan kedatangan mereka, ia bergerak dan secepat kilat sudah menghilang dari depan mereka.

Setiap orang sudah menyaksikan dengan tegas bahwa Panji Wulung adalah seorang tua bongkok berambut putih dan memakai kerudung di mukanya.

Dari jauh, terdengar suara Panji Wulung yang berkata dengan nyaring.

"Bocah yang tidak tahu diri, kalian bertiga semuanya sudah pasti akan mati, malam ini biarlah kutitipkan kepala kalian di badan kalian masing-masing untuk semalam, besok pada saat seperti ini, kalian harus mengantarkan kepadaku sendiri. Supaya aku tidak perlu turun tangan."

Touw Liong selagi dalam keadaan terkejut, empat orang itu sudah menghilang, Touw Liong takut tiga wanita itu akan terpedaya oleh Panji Wulung, maka secepat kilat ia pergi menyusul sambil berseru.

"Enci bertiga, harap tunggu dulu, tidak ada gunanya kalian mengejar!!!"

Touw Liong dalam keadaan cemas lari mengejar, baru saja melompat turun, di belakang dirinya tiba-tiba terdengar orang memanggil.

"Suheng ...."

Suara itu baru masuk di telinganya, Touw Liong merasakan desiran angin, sesosok bayangan orang secepat kilat sudah melalui di samping dirinya.

Kemudian membalikkan badan dan menghadang di hadapannya.

Touw Liong merandeg, matanya menyapu, orang yang menghadang dirinya itu ternyata adalah adik seperguruannya sendiri, Kim Yan.

Keadaan Kim Yan ternyata masih tetap seperti sedia kala, hanya tiga hari saja tidak bertemu nampaknya agak kurus sedikit, sebaliknya sinar matanya nampak lebih bercahaya dan lebih tajam dari yang sudah-sudah.

Ia kegirangan dan hampir saja berteriak.

Ia maju menyongsong lalu mengulurkan tangannya menyambar tangan Kim Yan, dan berkata dengan suara bergetar.

"Sumoy, aku telah mencarimu sudah berhari-hari, hingga hatiku sangat cemas."

Mata Kim Yan nampak merah, dengan suara sedih memanggil suhengnya dan dua orang itu lantas saling berpandangan.

Ini tidak heran, karena mereka sejak kecil sudah hidup bersama-sama, hampir setiap hati mereka main-main di atas gunung Kiu-hwa-san, mereka sama-sama belajar dari satu guru, dan kali ini Kiu-hwa Lojin memerintahkan Kim Yan turun gunung, menyuruhnya menyampaikan perintah kepada suhengnya, tapi sebetulnya memberi kesempatan kepada Kim Yan supaya dapat bertemu dengan suhengnya.

Apa hendak dikata, kejadian di dalam dunia banyak halhal yang terjadi di luar dugaan manusia, beberapa hari setelah mereka bertemu, telah berpisah lagi di Ngo-liongkang, selama itu Touw Liong terus memikirkan diri adiknya itu, dengan susah payah dia mencarinya, tetapi bayangan Kim Yan tetap menghilang tak karuan jejaknya, banyak jalan yang ia lakukan untuk mencari, tapi tak ada kabar beritanya, hal mana membuat Touw Liong hampir lupa makan dan tidur.

Touw Liong berdiri menjublek bagaikan patung, pikirannya kusut, banyak perkataan tersendat dalam tenggorokannya, entah bagaimana ia harus mulai bertanya?

Dengan memandang Kim Yan yang saat itu masih mengalirkan air mata dan tersenyum getir, kemudian ia berkata.

"Sumoy! Dua hari.... Dua hari ini kemana sebetulnya kau pergi?"

Kim Yan tidak menjawab, hanya air matanya mengalir deras, ia menarik napas panjang, dan kemudian menjawab dengan ringkas.

"Aku berada di kota Lam-yang."

"Kau di kota Lam-yang?"

Bertanya Touw Liong sambil mengerutkan alisnya.

"Kalau begitu orang-orang yang binasa dan terluka di bawah ilmu Thian-seng-jiauw itu semua adalah kau...."

Kim Yan menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda pernyataan bahwa kematian orang-orang itu bukanlah akibat perbuatannya, tetapi kemudian ia memberi keterangan.

"Tadi malam adalah kekecualian, utusan memanggil nyawa, akulah yang membunuhnya."

Touw Liong sedikit bingung, ia berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak mengerti."

"Ilmu serangan Thian-seng-jiauw dari golonga kita bukanlah suatu ilmu tunggal yang orang lain tidak dapat mempelajarinya, lama pada seratus tahun berselang, di dalam kitab Thay-it Cin-keng milik gereja Siao-lim-sie, di situ terdapat tulisan tentang ilmu yang dinamakan Thay-it Seng-jiauw. Ilmu itu serupa dengan ilmu Thian-seng-jiauw golongan kita,"

Berkata Kim Yan sambil menghela napas.

"Kalau begitu, jadi ilmu Thian-seng-jiauw dengan ilmu Thay-it Seng-jiauw itu adalah serupa saja?"

Tanya Touw Liong yang mulai sadar. Kim Yan mengangguk-anggukkan kepala.

"Dewasa ini siapa yang menggunakan ilmu Thay-it Seng-jiauw untuk membinasakan orang?"

"Panji Wulung."

"Panji Wulung?"

Touw Liong merasa agak terkejut, tetapi hal itu agaknya juga sudah di dalam dugaannya, ia memikirkan soal yang lainnya, memandang Kim Yan sejenak, lalu bertanya dengan suara perlahan.

"Apakah kau sudah pernah melihat Panji Wulung?"

Kim Yan mengangguk-anggukkan kepala. Touw Liong semakin terkejut dan terheran-heran, tanyanya cemas.

"Apakah Panji Wulung paham ilmu Thay-it Sengjiauw?"

Kembali Kim Yan menganggukkan kepala.

"Panji Wulung ternyata demikian ganas, kalau ia berhasil memahami seluruh ilmu yang tertera dalam kitab itu, nampaknya rimba persilatan benar-benar akan menghadapi hari kiamat!"

Kim Yan tidak berkata apa-apa, Touw Liong tiba-tiba bertanya pula.

"Sumoy! Kepandaian dan kekuatan tenagamu sebetulnya sudah mencapai ke tingkat mana, bagi orang lain sudah tentu kurang jelas, tetapi kita yang sejak kanak-kanak berdiam di satu tempat dan bersama-sama berguru selama beberapa puluh tahun, dalam golongan Kiu-hwa, orang yang mampu menggunakan ilmu Thian-seng-jiauw untuk membunuh orang hanya suhu sendiri, sedang kau dan aku ...."

Tanpa menunggu Touw Liong habis perkataannya, Kim Yan sudah menyela.

"Tahukah suheng selama dua hari ini aku mengalami kejadian apa?"

"Ha....?!"

Touw Liong mundur selangkah, matanya menatap adiknya, kemudian melongokkan kepala dan berkata kepada diri sendiri.

"Aku tahu! Kau telah bertemu dengan Panji Wulung, nampaknya Panji Wulung ada maksud hendak membimbing kau, dalam dua hari ini kekuatan tenaga dalammu telah mendapat kemajuan sangat pesat, bukan saja kekuatan tenagamu sudah mencapai ke taraf yang sanggup menggunakan ilmu Thian-seng-jiauw untuk melukai orang, tetapi juga ilmu meringankan tubuhmu sudah jauh lebih tinggi dari suhengmu sendiri."

Ia dapat kesan demikian, karena tadi sewaktu Kim Yan menghampiri dirinya, ilmunya meringankan tubuh jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Kim Yan tidak menyanggah kata-kata Touw Liong, ia hanya menganggukkan kepala, itu berarti mengakui bahwa Panji Wulung telah membantu padanya untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya.

"Sumoy! Di kemudian hari bagaimana kau mempertanggungjawabkan kepada suhu?"

Bertanya Touw Liong dengan sedih.

Pertanyaan itu berarti memperingatkan kepada Kim Yan atas sepak terjangnya yang sudah mengkhianati perguruannya sendiri, dan malah dibimbing oleh Panji Wulung yang sangat kejam sehingga melakukan kedosaan besar terhadap perguruannya sendiri.

Dengan muka dan sikap yang sedih Kim Yan menundukkan kepala kemudian menjawab.

"Suheng.... Semua ini lantaran.... lantaran....."

Touw Liong agak marah, ia mendesak.

"Lantaran siapa?"

Dengan kedua tangannya mendekap muka, Kim Yan berkata dengan suara sedih.

"Sukakah kau jangan mendesak aku demikian rupa?"

"Ai....!"

Demikian Touw Liong menarik napas, mengertilah sudah, bahwa adik seperguruannya itu berbuat demikian sudah pasti ada sebabnya.

Tetapi apakah sebabnya itu?

Lantaran ilmu Thay-it Cin-keng?

Apakah lantaran hendak menyadarkan Panji Wulung supaya tidak mengganas orang-orang rimba persilatan....

Apakah lantaran....

Lantaran apa sebetulnya?

Touw Liong sebetulnya juga tidak jelas.

Tetapi ia masih percaya kepada sumoynya itu.

Kim Yan usianya masih terlalu muda, tetapi pandangan terhadap urusan dunia sudah seperti orang dewasa, dengan lain perkataan, ia berbuat demikian pasti ada sebabnya.

Setelah Touw Liong memikirkan itu, dengan perasaan duka ia maju selangkah, tangannya memegang tangan Kim Yan dengan suara lemah lembut ia menghiburinya.

"Sumoy, bukan suhengmu mendesakmu, sebetulnya sejak seratus tahun kita orang-orang dari golongan Kiuhwa, tidak peduli siapa asal satu kali ceburkan diri dalam kalangan Kang-ouw, haruslah menunjukkan bahwa ia adalah benar-benar seorang pendekar yang berjiwa ksatria, aku khawatir dengan perbuatanmu seperti ini, dapat menodakan nama baik perguruan kita."

Kim Yan mendongakkan kepala, hatinya seolah-olah merasa terpukul, ia menangis dengan sedih, kemudian berkata.

"Suheng, meskipun aku terdesak oleh keadaan dan dewasa ini aku harus bersama-sama dengan Panji Wulung, tetapi aku tahu bagaimana harus sayangkan diri sendiri dan membersihkan diriku sendiri, aku tidak akan membuat noda nama baik suhu kita, pendek kata, aku ada mempunyai banyak sebab, di antara banyak sebab ini, tidak ada satu yang aku mengingini untuk memiliki ilmu Thay-it Cin-keng."

Hati Touw Liong merasa lega, ia berkata sambil menganggukkan kepala.

"Kuharap sumoy masih tetap seperti sedia kala, tetap dengan maksud dan tujuan kita untuk menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan, segala sepak terjangmu jangan sampai menodakan nama baik golongan kita."

Kim Yan kembali menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Touw Liong tidak menanya lebih lanjut, dengan cara bagaimana ia dapat berkenalan dengan Panji Wulung.

Akan tetapi Kim Yan dengan ringkas membertitahukan padanya.

"Kiranya malam itu ketika Kim Yan bertempur dengan orang-orang golongan pengemis, begitu Touw Liong pergi, ia juga lantas meninggalkan musuh-musuhnya dan pergi mengejar, ia selalu mengikuti jejak Touw Liong sampai ke kota Lam-yang. Siapa tahu oleh karena Touw Liong mengejar Lie Hu San, sehingga terjadi perselisihan jalan. Kim Yan terus mengejarnya sampai ke bawah tembok kota Lam-yang, namun suhengnya yang dikejar tidak kecandak, sebaliknya telah bertemu dengan Panji Wulung, dan akhirnya dipaksa oleh Panji Wulung untuk menjadi muridnya. Selama tiga hari itu, satu-satunya hasil yang didapat dari Panji Wulung ialah dengan menggunakan ilmu tunggal Panji Wulung, ia mendapat kemajuan pesat di dalam kekuatan tenaga dalamnya. Setelah mendengar penuturan adik seperguruannya, Touw Liong menarik napas dan bertanya.

"Panji Wulung itu sebetulnya orang baik ataukan orang jahat?"

Kim Yan nampak ragu-ragu, lama baru menjawab.

"Sifatnya sebetulnya baik, tetapi segala sepak terjangnya agaknya menuruti kemauan hatinya sendiri, dalam segala hal ia selalu memainkan emosinya, kalau turun tangan ia tidak memikirkan akibatnya, maka baik ataukah jahat, saat ini masih belum dapat dinilai."

"Apa maksud dan tujuan Panji Wulung kali ini terjun ke dunia Kang-ouw lagi...?"

Kim Yan menggeleng-gelengkan kepala, tetapi ia masih mengerutkan alisnya sambil berpikir keras, akhirnya berkata perlahan-lahan.

"Ia seolah-olah mengalami penderitaan batin atau kepedihan yang selama itu terbenam dalam hatinya, kali ini terjun di dunia Kang-ouw maksudnya hanya sekedar melampiaskan dendam hatinya."

"Menilik katamu demikian, di kemudian hari entah masih berapa banyak yang akan menjadi korban atas perbuatannya?"

Berkata Touw Liong sambil menarik napas. Ia berpikir sejenak, matanya menatap Kim Yan, kemudian berkata pula.

"Dengan menurut perkataanmu ini, kau sebaliknya mengharap supaya kau bisa sering atau selalu mengikuti dirinya, agar ia tidak melakukan pembunuhan secara serampangan."

"Itulah salah satu sebab mengapa aku rela menjadi anak muridnya Panji Wulung."

"Bagaimana macamnya Panji Wulung itu?"

"Ia selalu menggunakan kain hitam untuk menutupi mukanya, tidak peduli siang hari atau malam. Meskipun aku sudah hidup bersam-sama dengannya selama tiga hari, aku belum pernah satu kalipun melihat wajah aslinya. Dari wajahnya yang putih dan tak ada tanda-tanda brewoknya dan lagi ia sering menggunakan tongkat bentuk kepala naga, Panji Wulung itu agaknya seorang nenek."

"Tongkat...?!"

Tanya Touw Liong, sesaat itu, Touw Liong teringat kejadian kemarin di waktu pagi-pagi sekali, ketika ia berada di kota Tio-yang-li, telah ditotok oleh seorang nenek dengan kepala tongkat .....

Kalau begitu orang itu tak salah lagi pasti adalah Panji Wulung.

Berpikir sampai di situ, ia bertanya pula.

"Kalau begitu sepasang burung Hong dari gunung Busan bersama Lo Yu Im yang tadi mengejar, apakah tidak akan mendapat bahaya apa-apa?"

"Tidak akan ada bahaya apa-apa, karena mereka pasti tidak akan berhasil menyandak Panji Wulung. Dua malam ini Panji Wulung tidak akan membunuh orang,"

Jawab Kim Yan sambil menggelengkan kepala. Kemudian ia memberi keterangan tambahan.

"Besok malam ia baru akan melakukan pembunuhan."

"Besok malam siapa yang akan ia bunuh? Tanya Touw Liong terkejut.

"Besok malam ia akan membunuh habis semua orang yang berada di kota ini,"

Jawab Kim Yan sambil mengerutkan alisnya. Touw Liong diam saja, lama baru terdengar suara helaan napasnya, kemudian bertanya.

"Dia sudah mengambil keputusan demikian, apakah tidak dapat dirubah?"

Kim Yan menganggukkan kepala.

"Mengapa kau tidak coba menasehati dia supaya mengurangi niatnya melakukan pembunuhan?"

Berkata Touw Liong.

"Hari ini aku telah berkata banyak untuk menasehati padanya, hampir mulutku berbusa, apa mau segala sesuatunya yang ia sudah mengambil keputusan, agak susah dirubah, pada akhirnya aku telah menggunakan akal, selagi ia pergi ke panggung mementil kecapi untuk mencari siapa orangnya yang mencatut namanya, aku ikut datang kemari, maksudku ialah hendak memberitahukan kepada orangorang yang besok malam datang ke sini, supaya besok malam jangan datang ke panggung itu, dengan demikian ia pasti akan terlepas dari bahaya maut."

Touw Liong menganggukkan kepala membenarkan pikiran adiknya, ia memikirkan satu soak lain lagi, sejenak pikirannya bekerja, kemudian baru angkat muka dan berkata.

"Aku sangsi, mungkin Panji Wulung itu ada dua."

"Mengapa suheng tahu?"

Touw Liong dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah panji kecil warna hitam, kemudian berkata.

"Panji ini sebetulnya berlatar warna hitam, tersulam dengan awan terbang di langit, tetapi di atas itu terdapat lukisan burung Hong terbang. Sedangkan panji yang tiga hari berselang yang kita terima, dasarnya meskipun sama tetapi lukisan sulaman agak berbeda, dua panji ini meskipun sama-sama merupakan benda purbakala, sudah ratusan tahun usianya, tetapi agak berbeda, mungkin pemiliknya berlainan."

Kemudian ia menceritakan bagaimana panji wulung yang diterimanya pada tiga hari berselang telah ditukar oleh orang lain. Kim Yan mengangguk-anggukkan kepala, kemudian baru berkata.

"Tentang soal ini .... memang benar, ada kemungkinan besar Panji Wulung itu ada dua, malam ini sebelum datang kemari ia pernah marah-marah dan menyatakan hendak melakukan penyelidikan, yang perlu dipecahkan, kalau ia salah ingat harinya, atau ada orang yang main gila? Karena aku ingat tiga hari berselang, ketika kita berada di kota keng-siang dan menerima Panji Wulung, terang bukan ia punya, pasti lain orang yang memberikan padamu. Aku dapat menyetujui pikiranmu, Panji Wulung itu ada dua."

"Dua....?! Apa kau juga berpikir demikian?"

Kim Yan mengangguk-anggukan kepala, selagi Touw Liong hendak menanya lagi, Kim Yan tiba-tiba matanya memandang ke depan dan berkata dengan suara perlahan.

"Ingat! Besok malam kau jangan datang kemari ....."

Belum habis ucapannya Kim Yan sudah meninggalkan suhengnya seorang diri.

"Sumoy...."

Demikian Touw Liong terkejut dan memanggilnya, dua puluh tombak jauh di depan matanya terlihat bayangan tiga sosok orang, kemudian terdengar suara Lo Yu Im.

"Adik Liong, kita di sini!"

Sementara itu bayangan Kim Yan sudah menghilang di belakang panggung mementil kecapi, Touw Liong seorang diri menarik napas, tiba-tiba ingat pesan Kim Yan.

"Besok malam jangan datang kemari ....."

Ia menyambut ketiga orang itu, kemudian bertanya kepada sepasang burung Hong.

"Bagaimana, kalian berhasil menyandaknya?"

Tiga orang itu menghela napas, mereka menjawab dengan kata-kata yang tidak ada sangkut pautnya, hanya memberi keterangan bahwa Panji Wulung terlalu cepat hingga tidak berhasil menyandak.

"Panji Wulung sudah merubah tempatnya, besok malam akan diadakan pertemuan di Tio-yang-li, harap supaya ji-wi beritahukan kepada sancu muda,"

Demikian Touw Liong berkata kepada sepasang burung Hong. Tiga orang itu melengak, memandangnya dengan terheran-heran.

"Tadi ketika nona-nona pergi dari sini, Panji Wulung telah mengutus seorang anak buahnya datang kemari untuk menyampaikan berita ini!"

Berkata sampai di situ ia memberi hormat kepada Lo Yu Im seraya berkata.

"Siaote pernah menerima baik permintaan sancu, jikalau malam ini siaote tidak mati, besok malam akan bantu tenaganya, tetapi besok malam siaote masih ada perjanjian lain dengan enci, hendak pergi ke kota Tio-yang-li untuk memenuhi janjiku."

"Besok malam kau hendak bekerja?"

Tanya Lo Yu Im sambil mengerutkan alisnya.

"Sumoy, besok malam jam tiga berjanji hendak datang kemari untuk menjumpai sioate."

BAB 16 Malam itu cuaca terang, keadaan di panggung mementil kecapi masih tetap seperti biasa.

Di luarnya nampak tenang-tenang, akan tetapi di balik suasana tenang itu diliputi oleh kabut dan nafsu pembunuhan.

Touw Liong dengan sikap yang tenang duduk di bangku panggung itu, untuk menantikan kedatangan maut.

Di luarnya Touw Liong sedikitpun tidak menunjukkan perasaan takut, akan tetapi jikalau ia ingat bahwa malam itu adalah malam yang menentukan nasibnya, mati atau hidup, kalau ia memikirkan bahwa ia sedang jaya dan muda usianya, akan tetapi harus menghadapi suatu tantangan maut yang tanpa diharapkan sama sekali, ia merasa bahwa hal itu sesungguhnya tidak ada harganya sama sekali.

Tanpa disadari pikirannya bergolak sendiri, dalam otaknya selalu dipenuhi oleh berbagai persoalan.

Sebagai laki-laki kalau memang harus mati, apa salahnya atau apa takutnya kematian?

Asal kematian itu pada tempatnya yang ada harganya, tidak perlu disesalkan!

Jikalau kematian malamini, aku dapat menggunakan nyawaku yang berharga untuk dapat ganti kepala Panji Wulung sehingga menyingkirkan bahaya dan bencana bagi sahabat-sahabat rimba persilatan di kemudian hari, maka kematianku ini sesungguhnya sangat berharga, sekalipun aku harus mati, aku juga takkan menyesal.

Jikalau malam ini aku harus diam menantikan kematian, dengan tenang menantikan munculnya Panji Wulung, lalu membiarkan ia menghina dan menertawakan aku, dan kemudian mengakhiri riwayatku, ai .....!

Kematian seperti ini sungguh tidak ada harganya, juga terlalu mengecewakan!

Malam ini meskipun aku berhasil membohongi sepasang burung Hong dari gunung Bu-san, supaya mereka jangan turut campur tangan atau terlibat dalam bahaya maut ini, akan tetapi setelah hari ini, apakah Panji Wulung tidak akan mencari mereka?

Di depan mataku masih ada banyak persoalan yang harus kuselesaikan, aku tidak boleh mati secara begini, jikalau harus mati, aku juga perlu minta korban, setidaktidaknya Panji Wulung juga harus mati di tanganku.

Memikir sampai di situ, Touw Liong mendadak berdiri dari tempat duduknya, sambil menepuk kepala sendiri ia berteriak seperti gila.

"Aku tidak boleh mati!!"

Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu merupakan suara hati yang membuatnya lupa akan dirinya sendiri, ini juga merupakan suatu jeritan hati yang keluar dari suatu perlakuan yang tidak adil, maka suara itu menggema sampai beberapa pal jauhnya.

Ia telah menyadari bahwa ia tidak seharusnya berlaku lemah, maka akhirnya dengan mendadak ia tidak melanjutkan kata-katanya.

"Mana boleh tidak mati...?!"

Di malam yang sunyi itu tiba-tiba terdngar suara orang berkata, yang dibarengi oleh suara tertawa yang nyaring, suara tertawa itu penuh rasa bangga dan kemudian disusul suara berkatanya lagi yang mengandung ejekan.

"Jikalau raja akhirat sudah menetapkan kau harus mati jam tiga malam, siapa yang berani menahannya sehingga jam lima pagi?"

Kata-kata itu diakhiri dengan munculnya sesosol bayangan orang yang memakai kerudung di mukanya, orang itu tubuhnya kurus kering, rambut di kepalanya berwarna putih, nampak berkibar-kibar tertiup angin, sorot matanya demikian tajam, dan tangannya membawa tongkat yang berlapis emas, sambil tertawa dingin berulang-ulang orang tua itu melompat ke atas panggung mementil kecapi, dengan sikapnya yang garang menunjukkan telunjuknya ke arah Touw Liong, kemudian berkata.

"Bocah!! Coba kau lihat cuaca, sekarang ini tepat jam tiga malam, kau ingin aku turun tangan sendiri, ataukah kau tahu diri dan menyerahkan kepalamu kepadaku?"

Touw Liong terkejut, setelah ia mengetahui bahwa orang itu adalah seorang perempuan tua, lalu bertanya sambil menyuja.

"Cianpwee dari golongan mana?"

"Panji Wulung, orang yang berhak menggunakan julukan itu hanya satu, tidak ada cabangnya, aku adalah pewaris panji wulung yang hidup pada seratus tahun berselang, maka kau juga boleh menyebut aku sebagai Panji Wulung saja,"

Menjawab nenek itu dengan nada kurang sabaran.

"Panji Wulung .... Panji Wulung...."

Demikian Touw Liong menyebut nama itu dengan suara perlahan. Panji Wulung agaknya merasa terhina, sambil lompatlompatan ia berkata dengan suara bengis.

"Kau mengoceh sendiri apa artinya? Apakah kau ingin aku turun tangan sendiri?"

Touw Liong mengerutkan alisnya, kemudian menjawab sambil tertawa dan menggelengkan kepala.

"Tidak perlu! Tidak perlu! Tidak perlu cianpwee turun tangan sendiri, aku hanya memikirkan ucapan cianpwee tadi, tentang panji wulung yang hanya seorang saja tidak ada cabangnya, cianpwee mengaku sebagai pewaris Panji Wulung yang hidup pada seratus tahun berselang, sayang sekarang ini ada seorang lain yang juga mengaku sebagai panji wulung. Jikalau cianpwee dapat memberi keterangan tentang ini, maka aku si bocah yang tidak berguna, juga tidak merasa sayang dengan batok kepalaku, aku rela memberikan kepadamu ....!"

Tidak menunggu sampai habis ucapan Touw Liong, Panji Wulung sudah memotong dengan suara yang tajam.

"Bocah, apa katamu?"

Touw Liong dengan tenang mengeluarkan sebuah panji warna hitam dari dalam sakunya, kemudian dikibarkan dan berkata sambil tertawa.

"Silahkan cianpwee lihat sendiri, panji ini dengan panji cianpwee yang terlukis burung hong terbang di atas awan, apakah ada perbedaannya?"

Panji Wulung dengan cepat merebut panji hitam dari tangan Touw Liong, dengan sinar mata yang tajam ia membolak-balikkan panji kecil itu untuk diperiksanya.

Sambil memeriksa, sebentar-sebentar mulutnya mengeluarkan suara ocehan yang aneh, lama sekali ia meremas-remas panji di tangannya dan bertanya dengan suara bengis.

"Anak busuk, dari mana kau dapatkan panji ini?"

"Empat hari berselang, ketika aku menginap di suatu rumah penginapan di kota Keng-siang, ketika aku mendusin di atas meja telah tertancap panji ini ...."

"Hm...!"

Demikian Panji Wulung memotong dengan nada suara dingin.

"Panji ini memang benar ada persamaan dengan panji wulungku, sama-sama merupakan benda kuni yang sudah berusia seratus tahun lebih, aku masih perlu hendak menjernihkan urusan ini...."

Touw Liong diam saja, sementara dalam hatinya terus dag-dig-dug, merasa sangat khawatir.

Dia memandang sinar matanya yang menembusi kerudung hitam itu, hatinya merasa jeri.

Ia khawatir dalam keadaan demikian panji wulung nanti akan menyerang dirinya dengan tiba-tiba, akan tetapi juga ada kemungkinan, Panji Wulung nanti akan meninggalkan padanya.

Waktu berlalu dengan keheningan luar biasa.

Touw Liong di luarnya masih menunjukkan sikap sangat tenang, ia berdiri tegak, agaknya acuh tak acuh, namun diam-diam ia sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya kepada dua tangannya untuk menantikan kejadian selanjutnya.

Apabila Panji Wulung bergrak, kedua tangan Touw Liong pasti akan menyerbu lebih dulu.

Lama sekali, Panji Wulung menarik pandangan matanya yang ditujukan ke pohon cemara, lalu dialihkan kepada Touw Liong kemudian dengan gerakan yang sangat perlahan ia mengembalikan panji kecil itu kepada Touw Liong.

Hati Touw Liong bergetaran, akhirnya ia maju beberapa langkah tangannya diulurkan untuk menyambut panji dari Panji Wulung.

Tangan kanannya diulurkan, namun tangan kiri menyalurkan seluruh tenaganya, dengan sangat hati-hati setapk demi setapak ia maju menghadapi Panji Wulung, matanya terus menatap wajah perempuan tua itu.

Kakinya terus berjalan mendekati, tetapi ketika ia tiba sejarak hampir satu kaki, tiba-tiba menghentikan kakinya, sementara dalam hatinya berpikir"

Tangan Panji Wulung memegang gagang panji, ia suruh aku yang menyambut ujung panjinya, apabila ia mengandung maksud jahat, tangannya yang memegangi panji bisa saja ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, disalurkan melalui gagang panji, dengan demikian aku nanti akan tertipu oleh akal muslihatnya!

Dalam waktu hanya sekejab saja, pikirannya telah berubah.

Panji Wulung agaknya dapat menebak apa yang dipikir oleh Touw Liong, ia menunjukkan senyum ringan, panjinya ditarik kembali, kemudian gagangnya dibalik diberikan kepada Touw Liong, dan ia memegangi bagian yang ada kainnya.

Touw Liong sebaliknya merasa tidak enak, maka lalu menggunakan dua jarinya menjepit gagang panji itu.

Di luar dugaannya Panji Wulung tidak menunjukkan gerakan apa-apa, ia membiarkan Touw Liong menjepit gagang panji.

Pada saat Touw Liong hendak memegang panji itu, dengan kecepatan luar biasa, Panji Wulung mendorongkan panji itu kepadanya, dan gagang panji yang terjepit di antara kedua jari Touw Liong meluncur, kemudian ujunga gagang itu menyentuh pergelangan tangannya, sehingga lengan tangannya dirasakan kesemutan dan kedua jarinya tak berdaya lagi, dengan demikian usahanya untuk memegang panji telah gagal.

Kejadian itu belum habis sampai di situ saja, Touw Liong merasa bahwa rasa kesemutan itu menjalar terus ke sekujur badannya, sehingga bagian darah sekujur badan merasa kejang.

Ia kini mulai merasa menyesal, juga benci sekali terhadap kelicikan dan keganasan Panji Wulung, ia mengerti bahwa dirinya sudah tertipu olehnya, sehingga terjatuh di tangannya.

Tangan kiri yang sudah disiapkan degnan seluruh kekuatan tenagam oleh karena pergelangan tangan kanan sudah tidak berdaya, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya dengan sinar matanya yang mengandung rasa gemas terus memandang Panji Wulung.

Panji Wulung nampaknya sangat bangga sekali, ia tertawa terbaha-bahak dan kemudian berkata.

"Anak busuk! Kau hanya sebutir mutiara yang tidak ada artinya, juga hendak main gila terhadapku, jauh sekali harapanmu untuk mencapai maksud!"

Sejenak ia berhenti, perlahan-lahan ia memasukkan panji itu ke dalam sakunya.

Touw Liong yang pada saat itu merasakan sekujur tubuhnya sudah merasa kejang, sehingga tidak berdaya sama sekali, ia membiarkan panji kecil hitam itu diambil oleh Panji Wulung.

Panji Wulung setelah merebut panji hitam itu, dengan nada suara dingin ia berkata.

"Dengan memandang muka adik seperguruanmu, hari ini kuberi ampun jiwamu, selain dari pada itu, dengan meminjam mulutmu, kau sampaikan pesanku kepada suhumu, katakan kepadanya bahwa adik seperguruanmu sudah berguru kepadaku, aku .... akan menjadikan ia pewaris tulen dari Panji Wulug yang akan memiliki kepandaian ilmu silat yang tidak akan ada tandingannya di dalam dunia."

Mulut Touw Liong tidak bisa mengeluarkan perkataan, namun dalam hatinya ia sangat penasaran, maka ia hanya dapat mengawasi Panji Wulung dengan penuh kebencian. Panji Wulung berkata lagi.

"Untuk selanjutnya, kau tidak akan melihat adik seperguruanmu lagi! Satu hari kelah jikalau kau benarbenar berjumpa dengannya, itu bukanlah Kim Yan lagi, mungkin raganya masih tidak berubah, tetapi pikiran dan jiwanya, seratus persen adalah pikiran dan jiwaku, waktu itu, ia sudah pasti tidak akan melepaskan kau, juga tidak akan anggap kau sebagai saudara seperguruan lagi, ha ha ha ...."

Kemudian ia hentikan tertawanya, dan melanjutkan perkataannya.

"Waktu sudah hampir pagi! Aku masih perlu hendak mencari siapa yang coba-coba menyaru menjadi diriku!"

Sehabis berkata demikian, ujung tongkatnya diketukkan ke tanah, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat badannya terbang melayang, dan sebentar kemudian sudah menghilang di dalam kegelapan.

Touw Liong masih berdiri bagaikan patung di tempatnya, ia coba mengatur pernafasannya untuk memulihkan kekuatan tenaganya.

Masih untung, tak lama kemudian kedua tangan dan kakinya perlahan-lahan dapat digerakkan, setelah itu ia berhasil mengatur kembali pernafasannya dan ternyata tidak mendapati halangan apa-apa.

Ia mengusap keringat yang membasahi dahinya, kemudian menarik nafas panjang dan berkata kepada diri sendiri.

"Panji Wulung ini benar-benar tidak boleh dipandang ringan, kepandaian ilmu silatnya sungguh sulit dijajaki."

Tak lama kemudian kentongan sudah berbunyi empat kali, Touw Liong hanya dapat menghela nafas kalau ia memikirkan bahaya yang dihadapinya pada setengah jam berselang, dalam hatinya ia merasa bergidik sendiri, dengan tindakkan lesu ia turun dari panggung mementil kecapi hendak berlalu meninggalkan tempat itu.

Dari jauh, tampak berkelebat empat sosok bayangan manusia, bayangan itu semakin lama semakin dekat dan sebentar kemudian sudah tiba di jalanan batu yang menuju ke atas panggung tempat mementil kecapi.

Touw Liong kini dapat melihat dengan tegas, siapa adanya bayangan empat orang itu, ternyata adalah Sancu muda dari Gunung Ci-phoa-san Pek Giok hwa, Sepasang Burung Hong dari Gunung Bu-san, dan satu lagi adalah LoYu Im.

Touw Liong berjalan turun menyongsong kedatangan mereka, empat wanita tadi sebetulnya menunjukkan muka murung, ketika melihat Touw Liong masih segar bugar, maka lantas bertanya dengan berbareng.

"Touw tayhiap, Panji Wulung sudah datang atau belum?"

Touw Liong menganggukkan kepala, hingga semua wanita itu menjadi terkejut. Touw Liong menceritakan apa yang telah terjadi atas dirinya, empat wanita itu menarik nafas lega. Pek Giok Hwa lalu berkata.

"Ayah tidak keburu datang, sehingga Touw tayhiap mengalami kekhawatiran seorang diri!"

Lo Yu Im juga menyesali Touw Liong, ia berkata.

"Adik! Selanjutnya apabila kau menjumpai urusan semacam ini, sebaiknya jangan kau hadapi seorang diri, ada urusan apa-apa sebaiknya kita rundingkan bersama, seperti urusan yang kau hadapi hari ini, bagi kita semua sebetulnya merupakan orang-orang yang bertanggung jawab, sedang kau telah meninggalkan kita semua dan kau hadapi dengan seorang diri, dipandang dari sudut kepahlawanan tindakanmu ini memanglah perbuatan seorang laki-laki jantan yang patut dipuji, tetapi kau telah mengabaikan kenyataan, karena Panji Wulung itu bukanlah orang kangouw biasa,"

Pek Giok Hwa juga berkata lagi.

"Hari ini kau bertiga sebaiknya berkunjung ke tempatku, kau telah membicarakan soal Panji Wulung, kemudian aku mengetahui bahwa panji wulung itu telah ditukar oleh orang lain, setelah kupikir mungkin itu adalah kau yang menukarnya."

Touw Liong angkat pundak sambil tersenyum getir, kemudian berkata.

"Sesungguhnya aku merasa malu, panji itu telah diambil kembali oleh Panji Wulung tadi!"

Touw Liong saat itu sudah merasa curiga bahwa panji yang ditukarkan dari tangan Pek Giok Hwa kemarin dan yang kini telah diambil oleh Panji Wulung adalah panji yang hari itu diberikan kepadanya di dalam rumah penginapan, tetapi entah bagaimana panji itu bisa terjatuh di tangan Pek Giok Hwa?

Pek Giok Hwa setelah minta diri pada Touw Liong, lantas berlalu meninggalkan panggung mementil kecapi.

Janji pertemuan dengan Panji Wulung sudah dilaksanakan, Kim Yan juga sudah pernah dijumpainya.

Touw Liong tahu bahwa Panji Wulung tindakannya sesuai dengan katakatanya, kemungkinan besar, selanjutnya ia tidak akan menjumpai Kim Yan lagi, sedangkan Panji Wulung sendiri oleh karena terdapatnya dua jenis panji, dan ia juga sudah mengambil panji yang tadi berada di tangannya, sudah tentu ia akan mencari tahu asal-usulnya panji itu lebih dulu, baru unjuk muka di dunia Kang-ouw lagi.

Lima orang itu setelah meninggalkan panggung mementil kecapi, masing-maing menetapkan tujuantujuannya sendiri.

Pek Giok Hwa dan Sepasang Burung Hong dari Gunung Bu-san pulang ke gunung Cit-phoa-san.

Touw Liong oleh karena adik seperguruannya sudah dirampas oleh Panji Wulung, urusan ini merupakan persoalan terlalu besar, ia tidak berani bertindak lancang sendiri, untuk mencari adik seperguruannya itu agaknya lebih sulit dari pada berjalan menuju ke langit, satu-satunya jalan baginya ialah pulang kembali ke gunung Kiu-hwa untuk memberitahukan kepada gurunya Kiu-hwa Lojin, minta advis-nya lebih lanjut.

Dan lagi ....

batu Giok merah Khun-ngo-giok kini sudah ketahuan di mana berada, pemilik aslinya yang kehilangan benda pusaka itu justru jalan bersama-sama dengannya, hal ini juga perlu dilaporkan kepada gurunya.

Kecuali itu, masih ada urusannya dengan golongan pengemis, Dewa Arak si Taiusu Gila, apa yang diucapkan olehnya itu perlu sekali diberitahukan kepada gurunya.

Dengan adanya tiga alasan itu, maka Touw Liong mengambil keputusan hendak pulang dulu ke Gunung Kiuhwa.

Ia telah memberitahukan maksudnya itu kepada Lo Yu Im.

Sudah tentu Lo Yu Im tidak pantas ikut padanya naik ke gunung Kiu-hwa, maka dua orang itu berjanji, di tahun depan pada musim kemarau akan bertemu lagi di rumah makan Gak Yiang Loo di danau Tong-teng-auw.

Lo Yu Im menggunakan kesempatan itu hendak mencari jejak adiknya dan mencari tahu dimana adanya sang kekasih dahulu yang telah meninggalkan dirinya.

Dua orang itu berpisah dengan mengucurkan air mata.

Touw Liong mengambil jalan raya yang menuju ke propinsi Yan-lan terus menuju ke gunung Kiu-hwa.

Dengan tidak besertanya Lo Yu Im, maka sekeluarnya dari kota Lam-yang, Touw Liong lalu mengeluarkan surat dari dalam sakunya yang ditinggalkan oleh si Dewa Arak Taisu Gila.

Setelah dibacanya, sekujur badannya lalu gemetaran.

Mengapa?

Sebab ia telah mengetahui suatu rahasia besar yang telah menjadi teka-teki semua orang rimba persilatan selama seratus tahun lamanya.

Tahukah pembaca siapakah orangnya yang pada seratus tahun berselang menggunakan benda panji kecil warna hitam yang kemudian disebut sebagai panji wulung sebagai tanda ancaman, lalu melakukan pembunuhan terhadap dua belas tokoh kuat pada masa itu.

Mungkin para pembaca tidak akan percaya, bahwa orang yang melakukan perbuatan sangat misteri itu adalah ayahnya Dewa Arak Taisu Gila itu sendiri, juga merupakan murid tertua dari pendekar kenamaan Liu Kiam Hiong pada masa itu.

Menurut apa yang dikatakan oleh Taisu gila dalam suratnya, ia sendiri sebetulnya adalah pewaris generasi kedua dari Panji Wulung, dan sekarang Touw Liong yang sudah diangkat menjadi murid tidak resmi olehnya, dengan sendirinya menjadi pewaris generasi ketiga dari Panji Wulung yang tulen, bagaimanakah kalau hal itu tidak mengejutkan dirinya?

Dengan lain perkataan, Touw Liong sendiri bukan saja akan menjadi pewarisnya panji wulung, juga merupakan murid keturunan keempat dari jago kenamaan Liu Kiam Hiong.

Persoalannya telah berubah demikian rupa, sesudah ribut-ribut beberapa hari lamanya, kini Touw Liong yang pertama-tama menerima panji wulung, dengan tidak diduga-duga, ia diangkat menjadi pewaris Panji Wulung sendiri!

Dengan demikian, hingga hutang darah yang dilakukan Panji Wulung pada seratus tahun berselang, kini sudah dibebankan di atas kedua pundaknya.

Di kemudian hari, apabila keturunan dari kedua belas tokoh itu hendak menagih hutang leluhurnya, mau tidak mau ia harus menerima tanggung jawabnya.

Di dalam surat itu Taisu Gila berulang-ulang menyatakan bahwa ayahnya sendiri sebetulnya tidak berdosa, maka ia suruh Touw Liong menjelajahi seluruh gunung Oey-san (yang dahulu merupakan tempat berdiamnya Panji Wulung) untuk mencari bukti dan untuk membersihkan dosa Panji Wulung tua.

Persoalan semakin meningkat demikian jauh, kini panji wulung dari dua sudah berubah menjadi tiga!

Bahkan satu di antaranya adalah dia sendiri.

Dan apa yang lebih mengherankan ialah di kemudian hari, adik seperguruannya sendiri, Kim Yan, juga akan muncul di rimba persilatan dengan menggunakan Panji Wulung lagi.

Dua Panji Wulung itu ada sangkut paut apa?

Dan dua jenis panji hitam kecil itu, kedua-duanya merupakan benda kuno yang sudah berusia lebih dari seratus tahun, buatannya yang demikian halus, menyatakan bahwa dua jenis panji wulung itu dibuat oleh tangan seorang, sedangkan panji wulung tua yang pada seratus tahun berselang melakukan pembunuhan terhadap dua belas tokoh kuat rimba persilatan, menurut surat Taisu Gila, jelas perbuatan itu dilakukan ayahnya, dengan demikian, Panji wulung yang tulen adalah ayahnya.

Taisu gila itu sendiri, mengapa bisa muncul duplikat Panji Wulung yang mengenakan kerudung muka, dan orang yang mengaku Panji Wulung itu juga memiliki panji kecil yang sudah ratusan tahun usianya?

Touw Liong benar-benar tidak habis mengerti, di dalam urusan ini sebetulnya terselip peristiwa apa?

Gunung Kiu-hwa-san, terkenal dengan pemandangan alamnya yang indak permai.

Gunung Kiu-hwa-san sebetulnya bernama Gunung Kiu Lam, oleh karena gunung itu mempunyai sembilan puncak, dan setiap puncaknya itu berbentuk bunga teratai, maka disebut "Kiu Lian"

Yang berarti "Sembilan bunga teratai".

Di jaman dahulu, pujangga dan penyair terkenal Lie Tai Pek, oleh karena tertarik dan kesengsem keindahan pemandangan gunung Kiu Lian, dianggap sebagai surga di dalam dunia, maka ia telah merubah nama gunung Kiu Lian itu menjadi Kiu-hwa.

Di sebelah barat gunung Kiuhwa, di atas puncak gunung Cui-hoa-hong ada tiga buah rumah atap, dalam rumah itu berdiam seorang tua yang wajahnya merah dan rambutnya putih.

Puncak gunung itu tingginya menjulang ke langit, di puncak gunung setiap tahun diliputi oleh salju dan kabut, bagi manusia biasa sesungguhnya sangat sulit untuk mencapai ke tempat itu, ditambah lagi dengan jalanannya yang sulit sekali, sehingga tidak mudah didatangi oleh penebang kayu atau pemburu, orang-orang yang memburu binatang buas, paling-paling cuma mencapai ke tengahnya saja, itu sudah merupakan suatu kelebihan kemahirannya orang tersebut.

Ada kalanya udara terang dan kabut tidak menutupi puncak gunungitu, orang tua yang menjadi penghuni satusatunya di atas puncak gunung itu, bisa unjukkan diri untuk menikmati pemandangan alam di bawah kakinya, maka, beberapa orang yang memiliki pandangan mata tajam, kadang-kadang dapat melihat wajah orang tua itu.

Munculnya orang tua itu dari mulut ke mulut yang tersiar luas, dan lama-lama, orang menganggap bahwa di atas gunung ada berdiam satu dewa, maka semua orang penghuni di kaki gunung Kiu-hwa menyebutnya orang tua itu sebagai dewa dari gunung Kiu-hwa.

Pada suatu hari, selagi cuaca terang, penghuni di atas puncak gunung yang dianggap penduduk di sekitar itu sebagai dewa dari gunung Kiu-hwa, kembali tampak berdiri di atas puncak gunung sambil melihat jauh di bawah kakinya.

Beberapa di antaranya ada yang mendongakkan kepalanya untuk menyaksikan, ada juga yang berlutut bersujud di hadapan kakinya.

Di bawah kaki gunung, seorang pemuda baju hijau yang menyoren pedang di punggungnya, dengan tindakannya yang mantap berjalan menuju ke puncak gunung.

Pemuda berbaju hijau itu adalah Touw Liong sendiri.

Touw Liong ketika mendaki sampai di tengah, ia mendongakkan kepala, segera tampak gurunya, lalu mengeluaran siulan nyaring dan terus mendaki ke atas gunung.

Orang itu sejenak wajahnya menunjukkan perubahan, dari jauh ia sudah memanggil dengan ucapannya "Liongji", Touw Liong yang mendengar itu, air matanya mengalir keluar sambil mendongakkan kepala Ia memanggil gurunya, kemudian kedua lengannya dipentang, dan bagaikan burung terbang terus melayang ke atas gunung.

Tak lama kemudian ia sudah melompat ke puncak gunung, ketika berada di hadapan gurunya, ia menjatuhkan diri dan berlutut di hadapannya, orang tua itu dengan penuh welas asih mengulurkan tangannya, membimbingnya bangun kemudian bertanya padanya.

"Dan, di mana adik .... adikmu?"

"Adikku ...."

Dengan gugup Touw Liong berlutut lagi, suaranya agak gemetar.

"Adikku? ..... Mungkin tidak akan naik ke gunung Kiu-hwa lagi...!"

Orang tua itu terkejut dan bertanya.

"Apakah adikmu menemukan bahaya?"

Touw Liong bersujud di hadapan gurunya, ia telah menceritakan apa yang telah terjadi atas diri adik seperguruannya.

Orang tua itu mendongakkan kepala memandang angkasa, kemudian menarik nafas panjang dan berkata dengan suara sedih.

"Bangun! Mari masuk ke rumah, nanti kita bicara lebih jauh!"

Setelah itu orang tua itu memutar tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah gubuknya.

Touw Liong mengikuti di belakangnya sambil menundukkan kepala.

Orang tua itu duduk di atas kursi, sedang Touw Liong berdiri sambil meluruskan kedua tangannya, guru dan murid itu sama-sama bungkam sehingga suasana sangat mencekam.

Orang tua itu dengan tiba-tiba bertanya sambil mengurut jenggotnya yang putih panjang.

"Muridku, suhumu dahulu mengandalkan apa sehingga menggetarkan rimba persilatan?"

"Ilmu pedang "Kiu-hwa Sim-kiam"

Yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus dan ilmu serangan tangan "Thian-sengjiauw"

Yang sangat ampuh!"

Menjawab Touw Liong dengan sikap yang sangat menghormat.

"Tahukah kau ilmu pedang Kim-hwa Sim-kiam itu, siapa yang menciptakan?"

"Suhu sendiri."

"Bukan...!"

Kata orang tua itu sambil menggelengkan kepala.

Touw Liong tercengang, dengan perasaan terheran-heran ia memandang gurunya.

Sang guru tidak memberi keterangan langsung, tetapi mengalihkan pertanyaannya kepada lain soal.

"Seratus tahun berselang golongan Thian-san-pay dengan ilmu pedang apa telah menjadi terkenal dalam rimba persilatan?"

"Ban-ling-kim-hwat Kiam-gwat, ilmu pedang yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus."

"Benar! Ilmu pedang Kiu-hwa Sim-kiam justru keluar dan tercipta menurut jurus-jurus dan gerak tipu ilmu pedang Ban-ling-kiam-gwat Kiam-gwat."

Touw Liong kembali tercengang. Sementara itu orang tua itu bertanya pula.

"Siapakah yang mendirikan golongan Kiu-hwa?"

"Suhu sendiri."

"Suhumu menjadi pewaris golongan mana?"

"Murid adalah seorang bodoh, harap suhu memberikan keterangannya."

Sang suhu menarik nafas panjang, kemudian berkata dengan suara sedih.

"Suhumu sebetulnya adalah murid golongan Thiansan..."

Touw Liong kini telah sadar, kiranya ilmu pedang golongan Kiu-hwa itu ternyata berasal dari golongan Thiansan. Orang tua itu bertanya lagi sambil menghela nafas.

"Suhumu tidak berani mewarisi kepandaian dan menggunakan nama golongan Thian-san maka telah mendirikan golongan lain yang suhumu namakan golongan kiu-hwa, di dalam hal ini sebetulnya ada mengandung suatu rahasia besar, ai ...! Sungguh panjang kalau suhumu ceritakan, sebab musababnya, boleh dikata semuanya itu sudah digariskan oleh Tuhan yang Maha Esa, anak! Kau beristirahatlah dulu, nanti biarlah suhumu menceritakan kepadamu segala sesuatu yang menyangkut golongan kita."

BAB 17 Di waktu tengah malam, selagi rembulan memancarkan sinarnya yang terang benderang, di dalam gubuk di atas puncak gunung Kiu-hwa, duduk seorang tua dan seorang muda, mereka itu adalah Kiu-hwa Lojin dan Touw Liong.

Kiu-hwa Lojin sambil meminum teh panas, matanya memandang bintang-bintang di langit, agaknya terbenam dalam kenangan-kenangan di masa yang lampau.

Lama sekali, ia mengalihkan pandangan matanya, ditatapnya Touw Liong, kemudian bertanya.

"Apakah kau masih ingat di dalam rimba persilatan pernah terjadi suatu peristiwa besar yang merupakan suatu rahasia, pada seratus tahun berselang, ada seseorang yang mendaki gunung Siauw-si-hong, orang itu berhasil membawa kabur kitab yang sudah hampir rusak dari ranggon menyimpan kitab gereja Siauw-lim-si?"

Dengan tanpa dipikir lagi Touw Liong lalu menjawab.

"Itu adalah kitab Thay-it Cin-keng, yang dibawa kabur oleh murid-murid golongan Thian-san yang bergelar Ki-sie Sim Pan ..."

Baru berkata sampai di situ, ia buru-buru menutup mulutnya, ia merasa heran mengapa gurunya menyebut persoalan yang menyangkut dengan kitab Thay-it Cin-keng itu? "Itu adalah kakek cowsumu sendiri!"

Berkata Kiu-hwa Lojin tenang. Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula.

"Kakek couwsumu itu setelah mendapatkan kitab Thayit Cin-keng lalu mendaki gunung Kiu-hwa,"

Jari tangannya menunjuk puncak gunung yang berada di ujung seberang yang malam itu diliputi oleh kabut malam, lalu berkata lagi.

"Beliau mengasingkan diri di puncak gunung itu untuk mempelajari ilmu silat yang tertera di dalam kitab tersebut."

"Suhu, kabarnya kitab itu seluruhnya ada dua belas jilid, kitab itu memuat segala ilmu kepandaian yang luar biasa, couwsu di kemudian hari pasti menjadi seorang jagoan yang all-around dalam rimba persilatan?"

Kiu-hwa Lojin menjawab sambil menggelengkan kepala.

"Tidak. Dengan menggunakan waktu hampir seumur hidupnya, hanya dapat mempelajari ilmu Thay-it Sin-jiauw saja, itu adalah ilmu Thian-seng-jiauw dari golongan kita sekarang ini."

Touw Liong baru hendak membuka mulut hendak bertanya, orang tua itu melambaikan tangannya untuk mencegah, kemudian berkata lagi.

"Aku tahu, kau hendak menanya apa sebabnya Thay-it Sin-jiauw dirubah menjadi Thian-seng-jiauw? Sebabnya sangat sederhana sekali, ilmu Thay-it Seng-jiauw adalah suatu ilmu sangat ampuh yang belum pernah digunakan dalam rimba persilatan, apabila masih tetap menggunakan nama ilmu semula, bagi orang-orang rimba persilatan yang sangat tajam otaknya, siapapun akan dapat menduga bahwa ilmu itu berasal dari kitab Thay-it Cin-keng, dan hal itu akan membawa kesulitan tidak sedikit bagi perguruan kita, maka akhirnya dirubah namanya menjadi Thian-sengjiauw."

"Dan kemudian, di manakah kitab luar biasa itu?"

"Kemudian ...."

Berkata orang tua itu sambil menghela napas.

"Dua belas

Jilid kitab itu kemungkinan besar ada hubungannya dengan Panji Wulung, sehingga menimbulkan huru-hara besar, juga menimbulkan bencana bagi rimba persilatan."

Touw Liong terkejut dan berkata kepada diri sendiri.

"Ada hubungannya dengan Panji Wulung?"

"Setelah sucouwmu meninggalkan dunia, lalu diteruskan oleh muridnya ialah yang menjadi kakek gurumu sendiri, kecuali ilmu pedang dari golongan Thian-san, masih memiliki duabelas

Jilid kitab luar biasa dan ilmu Thay-it Sin-jiauw, tetapi beliau masih merasa kurang puas dan meneruskan usahanya untuk mempelajari ilmu-ilmu yang tertera di dalamnya selama sepuluh tahun, tetapi agaknya tidak berhasil, pada suatu hari, ai .....!

Juga lantaran beliau itu seorang yang terlalu baik hati, oleh karena memikirkan bahwa kitab-kitab luar biasa itu pada akhirnya toh akan menjadi benda pusaka bagi rimba persilatan, ada beberapa pelajaran yang terlalu dalam, seharusnya dipelajari oleh seseorang yang berotak tajam dan berkepandaian tinggi hingga baru dapat dimengerti, beliau terus menuju dan berkunjung ke gunung Bu-tong, untuk mencari ketua Butong-pay pada saat itu, ialah Giok-cin-cu, kepadanya beliau mengutarakan maksudnya itu, untuk minta keterangan dari Giok-cin-cu, ai ....

tak disangka bahwa tindakannya itu telah membawa akibat buruk ...."

"Giok-cin-cu yang sebagai seorang ketua salah satu partai besar, dan memiliki kepandaian serta kecerdasan otak luar biasa, waktu itu agaknya sangat terkejut mendengar usul dari kakek gurumu, ketika kakek gurumu meninggalkan gunung Bu-tong, Giok-cin-cu lalu mengumpulkan anak murid untuk merundingkan persoalan itu, dari situ ia mengetahui bahwa kitab itu berada di gunung Kiu-hwa. Setelah ia mengumumkan hal itu, lalu memerintahkan sepuluh anak muridnya, dengan mengerahkan seluruh kekuatan golongan Bu-tong, pergi mencari ke gunung Kiu-hwa, maksudnya untuk mendapatkan kitab Thay-it Cin-keng itu."

"Kitab Thay-it Cin-keng, sebetulnya adalah kitab pusaka simpanan milik leluhur golongan Bu-tong, oleh karena pelajaran itu terlalu dalam, dan golongan Bu-tong tidak mempunyai seorang murid yang cerdas, maka hanya diturunkan kepada ketuanya seorang saja, akan tetapi ketua-ketua golongan Bu-tong meskipun sudah menggunakan seluruh kepandaian dan seluruh kepintarannya, juga hanya dapat mengerti satu dua rupa saja, ini sesungguhnya sangat sayang, maka pada akhirnya kitab pusaka itu pada segan menggunakannya, sesudah tiba di tangan ketua generasi ke delapan, kitab itu telah hilang tanpa bekas.

"Siapakah yang mencuri kitab luar biasa itu? Itu adalah salah seorang paderi dari golongan gereja Siau-limsi pada waktu itu. Sayang, paderi itu setelah mencuri kitab pusaka itu, lalu dibawanya kembali ke gereja Siau-lim-si, meskipun ia menggunakan waktu hampir seumur hidupnya, ia tidak berhasil mempelajari ilmu yang tertera di dalam kitab tersebut, dengan demikian ia menjadi sangat kecewa dan marah, hingga kitab itu akhirnya disimpan di dalam rangoon penyimpan kitab gereja tersebut, dan kemudian telah dicuri oleh cosumu. Akan tetapi kepandaian ilmu silat yang tertera dalam kitab itu, tiada satupun yang tersiar di dalam rimba persilatan."

"Oo ... pantas saja golongan Bu-tong mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari kitab pusaka itu!"

Demikian Touw Liong berkata.

"Diantara sepuluh orang anak murid golongan Bu-tong itu, ada seseorang yang licik dan banyak akal. Pada suatu hari, ia berhasil menemukan goa di mana cosumu menyimpan kitab itu, ia pikir akan mengangkangi sendiri, timbullah pikirannya yang jahat, diam-diam ia memancing sembilan saudara seperguruannya ke goa yang lain, kemudian menggunakan bahan peledak yang lebih dulu sudah disediakan, sembilan saudara seperguruannya itu telah binasa oleh akal kejinya. Kemudian, murid dari golongan Bu-tong itu pergi ke dalam goa, di mana kitab itu tersimpan, lalu kitab itu dibawanya kabur ...."

Orang tua itu berkata sampai di situ, berulang-ulang menghela nafas. Touw Liong lalu berkata.

"Murid golongan Bu-tong-pay itu sesungguhnya juga terlalu kejam."

"Akan tetapi, Tuhan itu Maha Adil, siapa yang berbuat salah, tidak akan terlepas dosanya. Murid dari Bu-tong-pay itu, setelah mendapatkan kitab itu, lalu membawa isteri dan anaknya serta dua belas

Jilid Thay-it Cin-keng, tinggal di tempat yang jauh dari Gunung Bu-tong, di sana ia juga mempelajari kitab itu sehingga sepuluh tahun lamanya, akan tetapi akhirnya ia tidak mendapat hasil apa-apa.

Dan pada waktu ia merasa kecewa, tiba-tiba di tempat persembunyiannya itu kedatangan beberapa orang kuat dari rimba persilatan, memaksa padanya supaya menyerahkan kitab tersebut."

"Siapakah orang-orang kuat dari rimba persilatan itu? Mengapa mereka berani mendesak kepada murid Bu-tongpay agar menyerahkan kitab tersebut?"

Tanya Touw Liong.

"Tokoh-tokoh rimba persilatan itu semuanya merupakan tokoh-tokoh kenamaan dari daerah Tionggoan pada masa itu, juga mungkin adalah itu dua belas tokoh rimba persilatan yang kemudian hari dibinasakan dan diambil kepalanya oleh Panji Wulung."

"Aaa....!"

Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong sehingga menjerit, kemudian bertanya kepada suhunya.

"Suhu, bagaimana selanjutnya tentang kitab itu?"

Jilid 7

"Orang jahat mendapat pembalasan jahat, orang baik mendapat pembalasan dengan baik. Tokoh-tokoh rimba persilatan itu, setelah berhasil memaksa murid golongan Bu-tong itu menyerahkan kitabnya, mereka lalu membunuh seluruh rumah tangganya, hanya seorang oroknya yang masih kecil yang terhindar dari bencana itu. Anak dari golongan Bu-tong itu, selanjutnya telah ditolong oleh anak murid Bu-tong-pay yang pergi mencari kitab tersebut, sementara tentang kitab itu sendiri, tak lama setelah terjatuh di tangan tokoh-tokoh rimba persilatan, lalu berjumpa pula dengan dua tokoh kuat sehingga kitab-kitab tersebut menjadi rebutan dan terbagi menjadi dua, masing-masing pihak mendapat enam jilid. Kitab itu dengan demikian telah terpecah belah. Oleh karena kejadian itu sudah seratus tahun lamanya, hingga orang tidak tahu, kemana adanya sekarang? Dan terjatuh ke tangan siapa?"

Touw Liong terbenam dalam lamunannya, sementara itu, Kiu-hwa Lojin berkata pula.

"Liong-ji, aku sudah bersumpah tidak akan turun gunung, akan tetapi kitab dari golongan kita yang dibuat perebutan itu, sudah seharusnya kita mencari kembali. Kau ... aku pikir jikalau aku berhasil menemukan batu giok Khun-ngo-giok, aku akan membuatkan sebuah pedang, jikalau pedang itu berhasil kubuat, dengan pedang Khunngo-giok di tanganmu dan ilmu Thian-seng-jiauw sebagai bekal tidak susah bagimu mencari dua belas kitab itu."

Kini mengertilah Touw Liong, apa sebab suhunya suruh ia mencari batu Khun-ngo-giok, maka ia semakin menaruh hormat kepada suhunya itu. Kiu-hwa Lojin berkata pula sambil menggeleng kepala.

"Sekarang aku telah membatalkan maksud itu. Batu giok itu sudah ada yang punya, bagaimana pun juga batu itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, kita tidak boleh merampas hak milik orang lain, apalagi merampas dari seorang perempuan lemah."

Pikiran Touw Liong mulai merasa terang, tiba-tiba ia ingat kepada diri adik seperguruannya, maka bertanya pula kepada suhunya.

"Persoalan yang menyangkut diri sumoy, bagaimana suhu hendak bereskan?"

Sang suhu berpikir sejenak, kemudia mengerutkan alisnya yang panjang, ia tidak segera menjawab pertanyaan muridnya, sebaliknya ia bertanya.

"Menurut apa yang kutahu, kali ini Panji wulung pernah menunjukkan berapa kepandaiannya yang istimewa?"

"Pertama, Kim sumoy yang baru berpisah dengan tecu hanya dua hari saja, sudah bisa menggunakan ilmu Thianseng-jiauw melukai orang, di sini kita dapat lihat betapa hebat kepandaian ilmu silat Panji Wulung. Kedua, sewaktu unjukkan diri di panggung mementil kecapi, kegesitan Kim sumoy sesungguh sangat mengejutkan, satu bukti betapa hebat kepandaian meringankan tubuh Panji Wulung. Dan caranya Panji Wulung membinasakan korbannya di kota Lam-yang, semuanya hanya menggunakan ilmu Thay-itsin-jiauw, kecuali itu, tecu tidak melihat ia menunjukkan lain kepandaiannya yang luar biasa."

"Aku merasa curiga bahwa dua belas

Jilid kitab itu setidak-tidaknya ada sebagian berada di tangannya, oleh karena itu maka Kim sumoymu kalau berada di sampingnya, rasanya tidak ada halangan.

Mungkin dengan demikian ia dapat mengusut di mana adanya kitab luar biasa itu.

Satu hal yang menjadi pikiran bagiku, ialah tentang adanya dua orang yang mengaku diri Panji Wulung, tidak halangan kau pergi ke gunung Oey-san seperti apa yang dikatakan oleh Taysu Gila, siapa tahu oleh karena petunjuknya itu kau nanti menemukan hal-hal yang di luar dugaanmu, dengan tanpa membuat pedang Khunngo-giok, kau nanti mungkin dapat menemukan dua belas kitab yang telah hilang itu."

"Mengenai soal Taysu Gila yang suruh teecu membersihkan golongan pengemis, bagaimana menurut pikiran suhu?"

Orang tua itu tampak berpikir sejenak, kemudian berkata.

"Kericuhan di dalam golongan pengemis, sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang tidak menguntungkan bagi rimba persilatan pada dewasa ini, jikalau kau berhasil membersihkan golongan pengemis, itu juga merupakan suatu pahala yang tidak kecil, ucapan Taysu Gila bukanlah keluar dari hati dan pikirannya, ada perkataan yang boleh didengar tetapi ada juga yang tidak usah kau hiraukan. Umpama kata, ia suruh kau membereskan golongan pengemis, kau boleh anggap itu suatu perbuatan untuk kebaikan golongan pengemis itu sendiri, juga kau boleh anggap sebagai tugas atau kewajiban sebagai orang rimba persilatan golongan baik. Dia suruh kau meninggalkan perguruanmu, bagi ia, sesungguhnya kurang pantas dan tidak seharusnya ia nyatakan. Maka kau boleh tidak usah menghiraukan, anggap saja itu sebagai perkataan mainmain."

Touw Liong menerima baik pesan suhunya, setelah menanyakan pula beberapa persoalan yang tidak penting, semula dijawab dengan jelas oleh suhunya.

Pada hari ke dua, Touw Liong minta diri kepada suhunya, lalu turun gunung dan melakukan perjalanannya menuju ke gunung Oey-san, untuk mencari tempat mengasingkan diri Liu Kiam Hiong pada masa yang lalu.

Harapan satu-satunya ialah hendak mencari rahasia Panji Wulung yang melakukan pembunuhan terhadap dua belas tokoh kuat rimba persilatan, apa sebab ia melakukan pembunuhan itu?

Dengan cara bagaimana ia melakukan pembunuhan?

Dan apa maksud dan tujuan?

Selain daripada itu, ialah hendak mencari di mana tempat disimpannya dua belas kitab Thay-it cin-keng.

ooooo Puncak tertinggi di gunung Oey-san adalah puncak Thian-tie Hong, sedangkan tempat yang berbahaya di puncak Thian-tie-hong adalah Ceng-liong-kang.

Hari itu, puncak Thian-tie-hong diliputi oleh kabut tebal, di bawah sebuah pohon cemara tampak seorang pemuda yang menyoren pedang, dengan langkah yang sangat gesit berjalan menuju ke Ceng-liong-kang.

Sambil berjalan, pemuda itu berkata kepada diri sendiri.

"Hampir seluruh pelosok gunung Oey-san ini aku sudah jelajahi, tetapi tidak menemukan apa-apa. Kabarnya pada seratus tahun berselang, Liu tayhiap telah menganut agama Budha, dia mengasingkan diri di puncak gunung Oey-san untuk mempelajari kitab golongan Budha. Jikalau di puncaknya yang tertinggi aku masih tidak menemukan bekas-bekasnya, tampaknya seperti juga dengan si dewa arak locianpwee, yang tidak ada jodoh dengan Liu tayhiap."

Di waktu biasa, jalanan yang terdapat di Ceng-liongkang ini lebarnya hanya satu kaki lebih sedikit, panjangnya ada beberapa puluh tombak, jalanan ini sangat berbahaya, di ujung jalan hanya sebidang tanah yang ada batunya aneh yang menonjol setombak lebih.

Batu itu nampak menonjol di tengah udara, sehingga merupakan puncak kecil.

Oleh karena jalanan yang berbahaya itu sangat berliku-liku dan tajam sekali, maka orang yang berjalan di atas bagaikan melalui jembatan di atas udara.

Maka orang-orang yang mendaki gunung Oey-san jarang yang berani melalui jalanan yang berbahaya itu.

Justeru karena tempatnya yang berbahaya itu, maka puncak kecil yang terdiri dari batu aneh itu, jarang didatangi oleh manusia.

Kedatangan Touw Liong hari itu, sesungguhnya tidak tepat waktunya, oleh karena tempat itu diliputi oleh kabut sangat tebal.

Ketika ia mengeluarkan ucapannya yang ditujukan kepada diri sendiri tadi, di luar dugaannya dari seberang sana, di atas puncak gunung yang menonjol itu, tiba-tiba mendapat sahutan dari suara yang sangat nyaring.

"Jikalau menghendaki ilmu dalam, batang besi harus diasah menjadi batang jarum. Segala barang di dalam dunia, tidak ada satu yang didapatkan tanpa bekerja. Kita umpamakan saja kepada keadaan kita, ada jodoh, sayang, di antara kita berdua terpisah jurang yang dalam, kita telah dipisahkan oleh Ceng-liong-kang."

Touw Liong terkejut, juga dengan suara nyaring ia bertanya.

"Bolehkah boanpwee ingin tahu nama cianpwee yang mulia?"

Suara nyaring itu kembali berkata.

"Kalau baru dengar namanya saja tidak apa-apa, hanya lebih baik kita bertemu muka dulu, nanti akan kuceritakan!"

Ceng-liong-kang telah diliputi oleh kabut tebal, hingga puncak gunung yang mencil sendirian itu seperti juga suatu gunung yang mengambang di atas awan.

Touw Liong menengadah memandang gunung di atas awan itu, lalu menarik napas.

Sementara terdengar pula suara nyaring dari seberang sana.

"Sayang kita tidak dapat melihat satu sama lain, kabut dan awan sejauh sepuluh tombak telah memisahkan kita berdua, sebetulnya dekat sekali, tetapi kini telah dipisahkan oleh Ceng-liong-kang."

Touw Liong memandang kabut yang mengambang di angkasa, pikirannya bergolak, hingga tidak menjawab pertanyaan suara itu. Suara itu kembali memperdengarkan ejekannya lagi.

"Inilah yang dinamakan jodoh, kita terpisah hanya sepuluh tombak, tapi berarti memisahkan seorang pendekar kenamaan di luar jodoh ...."

Touw Liong yang masih berdarah panas, ketika mendengar ejekan itu, alisnya lalu berdiri kemudian menjawab dengan suara nyaring.

"Harap cianpwee tunggu sebentar, boanpwee hendak kesana untuk minta sedikit keterangan."

Sehabis berkata, ia lalu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, ilmunya yang didapatkan dari Taisu gila, telah dikerahkan ke kedua tangannya, dan dua tangan itu ia sodorkan, lalu mengeluarkan hembusan angin hebat.

Hembusan angin itu telah menembus kabut tebal sehingga merupakan pancaran dan penerangan bagi pandangan matanya setapak demi setapak ia menyusuri jalanan yang diliputi oleh kabut tebal, menuju ke puncak seberang.

Jikalau ia salah meraba, atau kakinya menginjak tempat kosong dan terjatuh ke jurang dalam, habislah riwayatnya.

Dengan sangat hati-hati Touw Liong meraba-raba jalanan yang berbahaya ketika ia mencapai ke tempat yang dituju, oleh karena menggunakan tenaga terlalu banyak, hingga wajahnya pucat pasi, badannya sudah basah oleh keringat, tetapi bagaimanapun juga ia sudah berhasil mencapai tujuannya.

Ia berdiri di depan sebuah batu aneh, dengan lengan bajunya ia memesut keringat yang membasahi dahinya, setelah itu ia menarik napas panjang.

Di belakang sebuah batu besar yang bentuknya aneh itu, dengan tiba-tiba muncul seorang tua yang mukanya merah dan rambutnya putih seluruhnya.

Ditilik dari alisnya orang tua itu yang putih dan panjang, usia orang tua itu diantara tujuh puluh tahun atau delapan puluh tahun, Touw Lioang menyaksikan orang tua itu yang nampaknya berwibawa, hingga ia tahu bahwa orang tua itu pastilah seorang tokoh luar biasa yang mengasingkan diri, maka ia buru-buru memberi hormat.

Orang tua itu mengurut-urut jenggotnya yang panjang dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Jangan rendahkan diri, Touw tayhiap, kita sebetulnya adalah kenalan lama! Bagaimana kau memakai segala aturan seperti ini?"

"Kenalan lama ....?"

Berkata Touw Liong sambil mengawasi orang tua itu dengan perasaan terheran-heran, kemudian dalam hatinya berpikir.

"Kapan kita ini pernah bertemu pada sebelumnya?"

Orang tua itu melambaikan tangan padanya dan berkata.

"Di belakang batu ini ada sebuah kupel kecil, mari kita duduk di kupel itu dulu, barulah kita nanti bicara lagi!"

Ucapan orang tua itu semakin lama semakin aneh. Touw Liong mengikuti orang tua itu memutari batu besar aneh, seolah-olah bertemu dengan kawan lama, orang tua itu berkata terus sambil berjalan.

"Ingatlah kau pertemuan kita yang pertama di kota Lamyang, malam itu kau telah mengadakan penyelidikan di tempatnya sancu muda gunung Cit-phoa-san, Pek Giok Hwa, waktu itu aku kuatir kau akan mendapat kesulitan, maka aku menotok jalan darah tidurmu, panji hitam yang berada di dalam sakumu, kuambil dan kulemparkan kepada mereka sehingga mereka ketakutan dan dengan demikian tidak bertindak terhadapmu ...."

"Oh, jadi locianpweekah yang menolong diri boanpwee waktu itu?"

Berkata Touw Liong terkejut. Dengan acuh tak acuh orang tua itu berjalan menuju ke sebuah kupel kuno, setelah itu ia duduk di atas bangku, dan berkata lagi dengan seenaknya.

"Beberapa budak perempuan itu sesungguhnya juga agak congkak, ada baiknya juga diberi peringatan sedikit kepada mereka. Dan pertemuan kedua antara kita, ialah ketika kau diikat di atas sebuah pohon besar, malam itu sangat kebetulan, aku juga berada di dekat kelenteng Kui-kok-si, dan melihat Cui Hui sedang mengejar Kim Yan, tergeraklah pikiranku, dengan menggunakan akal agak licin, aku sembunyi di tempat gelap, dengan akalku itu, aku telah berhasil membingungkan Cui Hui, hingga Kim Yan terlepas dari kejarannya, dan kau juga mendapatkan obat pemunahnya."

Touw Liong lalu berlutut di hadapan orang tua itu, dengan lakunya yang sangat hormat ia menjura sampai empat kali seraya berkata.

"Budi locianpwee bagai lautan, maka terimalah hormat boanpwee yang rendah ini."

Orang tua itu juga tidak menolak, ia menerima baik ucapan Touw Liong. Setelah itu ia lalu membimbingnya bangun dan bertanya.

"Kenalkah kau dengan aku ini?"

"Boanpwee adalah seorang bodoh, hingga tidak tahu locianpwee ini sebetulnya siapa?"

Menjawab Touw Liong sambil menggelengkan kepala.

"Apakah kau belum pernah dengar suhumu menyebutkan di gunung Oey-san ada namaku si orang tua ini?"

Tiba-tiba Touw Liong ingat, siapa adanya orang tua itu, ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan menjawab dengan sikap sangat hormat.

"Boanpwee tidak tahu, kalau sin-lo yang datang kemari ...."

Orang tua itu melambaikan tangannya mencegah Touw Liong melanjurkan perkataannya.

"Sudah, sudah! Kau kembali berlaku seperti anak kecil, kau sesungguhnya terlalu banyak menggunakan peradatan, anak! Orang banyak sangat suka menyebut aku sebagai Anak Sakti dari Gunung Oey-san, kau telah menempel emas di mukaku, memanggil aku Sinlo! Baiklah! Kita sekarang bicarakan soal yang perlu saja, sebelum kau mengajukan pertanyaan kepadaku, beritahukan dulu padaku, apakah suhumu ada baik?"

"Terima kasih atas perhatian locianpwee, suhu baik-baik saja!"

"Waktuku tidak banyak, kita bertemu disini, juga terhitung jodoh, kau ada kesulitan apa, kau boleh tanyakan satu persatu, asal aku tahu aku akan beritahukan kepadamu dengan terus terang."

Touw Liong mengucapkan terima kasih lagi kepada orang tua itu, kemudian menanyakan satu persatu urusannya kepada orang tua itu.

"Sewaktu locianpwee berada di kota Keng-siang telah menerima sebuah panji warna hitam yang ternyata adalah Panji wulung, siapakah sebetulnya yang meletakkan panji itu di atas meja di dalam kamar boanpwee?"

"Itu adalah perbuatan dewa arak si Taysu Gila."

Touw Liong menggoyang-goyangkan kepala, ia tidak mengerti apa sebab Taysu gila itu meletakkan Panji Wulung untuk menakuti dirinya.

Satu-satunya alasan ialah, kecuali ia hendak menguji keberaniannya, tentunya Taysu Gila itu, yang biasa berbuat gila-gilaan, sengaja berbuat demikian untuk mempermainkan dirinya!

Kembali ia menanyakan soal yang kedua.

"Kotak yang oleh Lie Hui Pek diberikan kepada boanpwee supaya diberikan kepada Lie Hui Hong, kepala orang siapakah yang ada di dalam kotak itu?"

Anak Sakti dari Gunung Bu-san itu mengerutkan alisnya, kemudian berkata sambil mengurut jenggotnya.

"Tentang ini ...."

Ia berpikir sejenak, kemudian berkata pula.

"Sesungguhnya batok kepada orang itu benar adalah batok kepala Lie Hui Pek sendiri, sedangkan orang yang memberikan kotak kepadamu itu, adalah Lie Hui Pek tiruan."

"Dengan cara bagaimana ada orang dapat menyaru demikian sempurna? Boanpwee pernah berada bersamasama sekian lama dengan Lie HUi Pek, tindak tanduk dan omongan orang itu mirip benar, bahkan boleh dikata sama benar dengan Lie Hui Pek,"

Berkata Touw Liong terkejut.

"Ini tidak mengherankan, di dalam kitab Thay-it Cinkeng, ada se

Jilid yang menguraikan tentang ilmu menyaru.

Ilmu itu sedemikian sempurnanya, jikalau orang mempelajarinya dengan baik dan berhasil mempelajarinya, ia dapat menyaru menjadi siapa saja yang ia inginkan, bukan saja bentuk dan wajahnya mirip dengan orang itu, ucapannya dan segala tingkah lakunya juga mirip dengan orang yang ditiru.

Touw Liong terkejut, lalu menarik napas panjang, ia terbenam dalam lamunannya sendiri.

Hatinya tertarik oleh kitab Thay-it Cin-keng, hingga bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Apakah ada orang yang mendapatkan kitab ilmu menyaru itu?"

Selagi masih berpikir, Anak Sakti dari Gunung Bu-san itu balas menanya kepadanya.

"Coba kau pikir lagi, di antara orang-orang yang dahulu pernah berhubungan denganmu, siapakah yang menanam permusuhan besar yang tidak dapat didamaikan dengan kau?"

Touw Liong berpikir lama sekali, kemudian berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Di dalam segala urusan boanpwee selalu menanyakan pikiran suhu, di dalam segala hal boanpwee selalu berlaku toleran kepada orang yang boanpwee hadapi, baik kawan maupun lawan, kecuali orang itu terlalu jahat dan tidak dapat diampuni kejahatannya ...."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san menepuk tangan dan memotong ucapan Touw Liong.

"Itulah ada satu orang yang kejahatannya tidak dapat diampuni dan dia itu mempunyai permusuhan sangat dalam dengan Lie Hui Pek."

Dengan nada agak curiga, Touw Liong bertanya.

"Apakah locianpwee maksudkan Burung Hantu dari Gunung Thian-hok-san, Ko Hong?"

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala. Touw Liong tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Tidak mungkin! Waktu itu Ko Hong telah boanpwee pukul jatuh dan terjerumus ke dalam lautan api, hal itu telah boanpwee saksikan dengan mata kepala sendiri...."

Orang itu itu mengangkat tangannya mencegah Touw Liong melanjutkan kata-katanya, kemudian berkata.

"Dalam segala urusan kau jangan gampang-gampang memberi keputusan, di dalam dunia ini banyak yang 'tidak mungkin', tetapi kadang-kadang berbalik menjadi 'mungkin'. Sekarang coba kau pikir lagi, api itu datangnya sangat aneh, dan setelah terjadinya kebakaran itu, juga tidak menemukan bangkainya Ko Hong, dari sini kita dapat memastikan, bagaimana seseorang yang sudah terbakar sedikitpun tidak terdapat bangkai atau tulangnya?"

"Oo ....!"

Berseru Touw Liong, dan orang tua itu berkata pula.

"Coba kau pikir dengan masak-masak, Lie Hui Pek yang tidak membinasakan Ko Hong dengan tangan sendiri, mengapa kebencian KoHong terhadapnya demikian hebat? Tahukah kau, dimana sebabnya?"

Touw Liong berpikir lama sekali, barulah menjawab pelahan-lahan.

"Boanpwee masih ingat, malam itu, angin meniup kencang, Lie Hui Pek bersama dua sahabatnya bertempur sengit melawan Ko Hong, tetapi tidak berhasil menjatuhkannya, sedang boanpwee telah dikeroyok oleh tiga kawannya Ko Hong. Malam itu di pihak kita orangnya tidak banyak, maka boanpwee khawatir apabila pertempuran itu berlangsung lama, mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka boanpwee terpaksa menggunakan tangan kejam memaksa mundur tiga kawannya Ko Hong, kemudian membantu dan menggantikan Lie Hui Pek melawan Ko Hong. Dan mereka bertiga lalu melawan tiga kawannya Ko Hong. Setelah bertempur agak lama, mungkin tiga kawannya Ko Hong itu tidak mampu menandingi Lie Hui Pek bertiga hingga pada kabur. Waktu boanpwee menengok kepada mereka, Lie Hui Pek juga sudah kehilangan jejaknya, waktu itu boanpwee masih khawatirkan ia mendapat bahaya, di luar dugaan, perkampungan Ko-ke-chung telah terbit kebakaran, sehingga dalam waktu yang sangat singkat perkampungan itu menjadi lautan api."

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Ada sedikit tanda-tandanya, coba kau teruskan keteranganmu!"

"Kemudian Lie Hui Pek unjukkan diri lagi, ia tertawa kepada Ko Hong dan menggapaikan tangannya kepada dua kawannya, tiga orang itu lompat turun ke pekarangan, selanjutnya lantas timbul suara jeritan yang mengerikan sehingga berulang-ulang ...."

"Hmmm ....!!!"

Demikian orang itu itu memotong dan berkata.

"Sudah tidak jauh dari persoalan yang sebenarnya! Lie Hui Pek telah melakukan pembunuhan besar-besaran!"

Touw Liong lalu melanjutkan keterangannya.

"Ko Hong waktu itu tampak sangat marah, sambil menggertak gigi ia pernah berkata. 'kelak, apabila kau orang she Lie jatuh ke tanganku, akan bakar kau sampai menjadi abu .... ' Sehabis mengucapkan perkataannya itu, ia lalu menggunakan gerak tipu luar biasa, goloknya menangkis pedang boanpwee, kemudian terjun dari atas loteng!"

Ia menarik napas panjang, kemudian berkata pula.

"Oleh karena Ko Hong itu terlalu kejam dan jahat, boanpwee takut ia akan kabur. Kalau ia sampai kabur, entah berapa banyak orang rimba persilatan nanti yang akan binasa di tangannya, maka boanpwee terus mengejarnya. Entah oleh karena ia sudah bingung, atau entah kejahatannya sudah melewati takarannya, hingga ia lari terus menuju ke dalam lautan api, setelah ia mencebur di lautan api, rumah-rumah di sekitarnya telah roboh, sehingga dengan demikian Ko Hong terkubur di dalam lautan api."

Orang tua itu mendadak berkata sambil mengetukkan kakinya.

"Apa aku kata, dengar! Oleh karena usiamu masih terlalu muda, sehingga kau tertipu oleh akal muslihat Ko Hong! Ko Hong telah melarikan diri dengan meminjam tempat yang menjadi lautan api itu, mungkin ia terluka, tetapi aku dapat memastikan bahwa waktu itu ia tidak mati!"

Terkejut Touw Liong mendengar perkataan itu, sementara itu orang tua itu berkata pula sambil menghela napas.

"Yah, masih untung besar! Jikalau kau terus mengejarnya, dan ia lari lebih cepat beberapa langkah, hari ini ..... Hmmm! Keadaan waktu itu barangkali akan berubah, orang yang luka terbakar adalah kau, sedangkan Ko Hong sendiri dapat meloloskan diri tanpa dapat luka, dan Lie Hui Pek sendiri mungkin akan binasa pada waktu itu juga."

Di kalangan kang-ouw sudah tersiar luas bahwa Ko Hong telah boanpwee desak sehingga mati kebakar, kalau begitu kata itu tidak benar?"

Berkata Touw Liong sambil menggelengkan kepala.

"Tidak peduli bagaimana caranya Ko Hong menyiarkan kematiannya tetapi, sebenarnya waktu ia belum mati. Sekarang aku tanya padamu, bagaimana selanjutnya peristiwa itu?"

"Memang benar seperti apa yang locianpwee katakan, Lie Hui Pek waktu itu melakukan pembunuhan besarbesaran, ia telah membunuh habis seluruh rumah tangga Ko Hong yang berjumlah tujuh puluh dua jiwa, boanpwee tidak setuju dengan perbuatannya itu, maka setelah mengubur semua jenasah orang-orangnya Ko Hong, lantas berpisah dengannya, karena boanpwee anggap ia terlalu kejam."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san pelahan-lahan bangkit dari tempat duduknya seraya berkata.

"Benar! Lie Hui Pek telah dibunuh mati oleh Ko Hong! Ko Hong sudah hidup kembali! Mungkin sekarang oleh karena luka-luka terbakar di mukanya, maka sekarang ia perlu menyaru, dengan samaran yang baru itu ia muncul lagi di dunia Kang-ouw, mungkin ia akan menuntut balas terhadap orang-orang yang dahulu bersikap bermusuhan dengannya, dan lagi .... ia pasti hendak membinasakan kalian semua, satu persatu, maka kau seharusnya berlaku hati-hati."

"Menurut locianpwee, bagaimana seharusnya boanpwee bertindak ...??"

"Menolong orang dalam kesusahan adalah suatu perbuatan mulia yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai pendekar, hiantit seharusnya lekas pergi ke perkampungan Hui-hong-chung, untuk melihat keadaan Lie Hui Hong, jangan sampai keburu disergap oleh Ko Hong. Ai ... !! Ingatlah tujuh puluh dua jiwa! Jikalau orang mengambil tindakan membalas dendam sakit hati, apakah kau tidak lekas-lekas mengambil tindakan untuk mencegahnya. Setidak-tidaknya kau juga harus berusaha untuk memberi kabar kepada Lie Hui Hong!!"

"Tetapi di tempat ini boanpwee masih ada sedikit urusan yang masih belum diselesaikan...."

"Segala hal semua tergantung dengan jodoh, jikalau kau ada jodoh dengan Liu tayhiap, cepat atau lambat kau akan menemukan barang-barangnya, tetapi di depan matamu ada tujuh puluh dua jiwa yang menantikan pertolonganmu ...."

Ucapan tujuh puluh dua jiwa itu, bagaikan tujuh puluh dua bilah pedang tajam menusuk ulu hati Touw Liong, hingga Touw Liong alisnya berdiri dan memberi hormat kepada Anak Sakti dari Gunung Bu-san seraya berkata.

"Boanpwee menurut!"

"Sebaiknya kau lekas bertindak."

Ketika Touw Liong memutar tubuhnya untuk melihat di belakangnya kabut tebal itu sudah turun, di atas puncak Ceng-liong-kang tampak jalanannya yang sempit dan berliku-liku, ia lalu cepat melalui jalan itu turun menuju ke puncak Thian-ti-hong.

Ia tahu bahwa ucapan Anak Sakti dari Gunung Bu-san tadi bukanlah suatu perkataan yang sengaja dibuat-buat dan menakuti dirinya, bahaya yang mengancam perkampungan Hui-liong-chung memang sebetulnya merupakan suatu hal yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

Dengan tergesa-gesa ia berjalan turun gunung, ketika ia tiba di suatu tikungan, seorang tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, dengan tangan membawa tongkat berkepala naga, berdiri dengan tenang di bawah sebuah pohon cemara.

Touw Liong terkejut ketika tampak munculnya orang tua itu secara tiba-tiba, ia lambatkan langkah kakinya, matanya menatap jalanan gunung yang terhalang, kemudian berkata kepada dirinya sendiri.

"Apakah itu bukan Sim Tong locianpwee? Dimaksudkan Anak Sakti dari Gunung Busan? Bagaimana bertindak demikian cepat, dan tahu-tahu kini sudah berada di depanku?"

Itu adalah suatu kejadian luar biasa, betapapun cepatnya Anak Sakti dari Gunung Bu-san tidak mungkin dalam sekejap mata sudah berada di hadapannya dan berdiri dengan tenang.

Touw Liong merasa sangat aneh, diam-diam ia bertanya kepada diri sendiri, apakah Anak Sakti dari Gunung Bu-san itu sudah menjadi dewa sehingga dapat mengganti rupa?

Tetapi kemudian ia anggap bahwa pikiran ini tidak benar, dalam dunia ini tidak seorangpun yang bisa menjadi dewa, maka ia lalu mempercepat jalannya dan lompat menuju di mana orang tua itu berdiri.

Orang tua itu agaknya merasa ada orang yang lari menuju ke arahnya, lalu membuka matanya, setelah melihat Touw Liong lalu tersenyum lemah, sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang, ia bertanya kepada Touw Liong.

"Touw tayhiap, ada urusan apa kau berlaku demkian tergesa-gesa?"

Touw Liong tercengang, ia sampai lupa memberi hormat, berkata dengan suara terkejut.

"Bukankah locianpwee suruh boanpwee pergi ke perkampungan Hui-liong-chung?"

Kali ini, tibalah gilirannya orang tua itu terkejut, maka bertanya padanya.

"Aku suruh kau ke perkampungan Liong-ceng ....? Ada urusan apa aku suruh kau ke sana?"

Touw Liong kembali tercengang, ia dibingungkan oleh ucapan orang tua itu. Dengan perasaan tidak senang ia berkata kepada diri sendiri.

"Ada orang kata bahwa orang yang sudah terlalu tua suka menjadi pikun, terang ia tadi suruh aku ... bagaimana baru sekejap mata saja sudah mungkir sendiri?"

Touw Liong sudah melihat dengan tegas bahwa orang tua itu sebetulnya Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tadi ditemui di puncak Ceng-liong-kang, orang tadi kata-katanya demikian sungguh-sungguh, tetapi saat ini ia telah mungkir semua perkataannya, sudah tentu Touw Liong merasa tidak senang.

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Lucu sekali! Touw tayhiap, meskipun aku pernah bertemu denganmu beberapa kali, tapi antara kita barulah pertama kali ini melakukan pembicaraan, bagaimana kau kata aku pernah suruh kau ke perkampungan Hui-liongchung?"

Mata Touw Liong menatap wajah orang tua itu, kemudian berkata.

"Apakah locianpwee dari Gunung Bu-san juga ada orang yang menyamar?"

Orang tua itu terkejut dan bertanya.

"Apa katamu?!"

Touw Liong tercengang, dalam keadaan demikian, pikirannya kalut lagi.

Ada dua Anak Sakti dari Gunung Bu-san, mereka berdua rupanya serupa, tidak tahu mana yang asli dan mana yang palsu.

Yang asli sudah tentu Anak Sakti dari Gunung Bu-san sendiri, sedang yang palsu, siapakah dia?

Apakah Ko Hong yang menyamar?

Berpikir tentang Ko Hong, hatinya agak bergidik, kalau benar Ko Hong belum mati, dan ia benar-benar mengambil sikap dan tindakan pembalasan terhadap Lie Hui Pek, memang luas akibatnya.

Saat itu ia sebetulnya tidak berani memastikan siapakah di antara dua orang itu mana satu yang tulen.

Ketika ditanya oleh orang itu, ia terpaksa melayani sedapat-dapatnya, sambil menunjuk puncak gunung, ia berkata.

"Di atas puncak itu juga ada seorang tua, yang mengaku diri sebagai kau, locianpwee, muka dan sikapnya kalian berdua mirip satu sama lain, sehingga tak dapat dibedakan, mana yang satu adalah ...."

Orang tua itu mengetukkan tongkatnya di atas batu, sehingga timbul percikan api, dan berkata dengan nada suara dingin.

"Bocah, kau demikian kurang ajar, apakah di dalam matamu masih ada aku si orang tua? Di kemudian hari, aku hendak menanyakan sendiri kepada suhumu."

Touw Liong menjadi gugup, katanya dengan suara gemetaran.

"Ketahuilah cianpwee, bukanlah boanpwee sengaja menimbulkan ...."

Dengan sinar mata tajam orang tua itu berkata dengan suara bengis.

"Jalan! Bocah! Mari kita naik ke atas untuk mencari keterangan keadaan yang sebenarnya, lalu aku nanti akan membuat perhitungan denganmu."

Orang tua itu meskipun usianya sudah lanjut, namun gerakannya sangat gesit sekali, dengan cepat ia sudah berlari naik ke puncak gunung.

Touw Liong tidak berani berlaku ayal, ia mengikuti di belakangnya.

Di atas puncak Ceng-liong-kang, keadaannya masih tetap seperti biasa, sedang batu besar yang berbentuk aneh yang berada di seberang sana masih tetap berada di tengahtengah awan, namun kini satu bayangan manusiapun tidak ada.

Touw Liong berdiri di atas sebuah batu, dan berkata kepada orang tua sambil menunjuk puncak gunung di seberangnya.

"Tadi, sewaktu kabut awan sedang tebal, orang tua itu berada di seberang sana."

"Apakah ia suruh kau kesana?"

Tanya orang tua itu.

Touw Liong menganggukkan kepala dan menyahut dengan sikap menghormat.

Orang tua itu melihat di puncak gunung Ceng-liong-kang masih ada tanda-tanda basah oleh air embun, maka lalu mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Apa tadi ada halimun juga menutupi batu-batu di atas tempat ini?"

Touw Liong kembali menganggukkan kepala.

"Dengan cara bagaimana kau menyeberang ke sana?"

Touw Liong menceritakan apa yang telah terjadi dengan terus terang. Orang tua itu berkata sambil menghela napas.

"Bocah, kau bodoh sekali! Kau tidak terpeleset jatuh ke dalam jurang benar-benar suatu kejadian yang sangat ajaib, orang itu sesungguhnya terlalu pintar memancing kau."

Touw Liong tidak mengerti ucapan orang tua itu, maka memandangnya dengan sikap diam. Orang tua itu berkata pula sambil menunjuk puncak Ceng-liong-kang.

"Tidak tambah pengalaman, tidak akan tambah kepintaran. Bocah, tahukah kau bahwa kau sekarang ini berarti sudah dua kali menjadi manusia?"

Touw Liong cuma bisa menyahut ya, maka ia memandang tanah dan batu-batu di atas puncak Cengliong-kang sambil menarik napas dalam-dalam. Orang tua itu berkata pula dengan tenang.

"Di waktu biasa, orang berkepandaian seperti yang kau miliki sekarang ini, tempat ini tidak akan menyulitkan kau berjalan di atasnya, sama juga berjalan di tanah datar, akan tetapi oleh karena sangat berbahaya dan licin sekali, jikalau tertutup oleh awan atau kabut, jalan yang panjangnya sepuluh tombak dan apabila kakimu terpeleset dan jatuh ke dalam jurang, kau pasti akan hancur lebur, setidak-tidaknya tulang-tulangmu akan patah, sesungguhnya sangat berbahaya!"

Touw Liong mengeluarkan keringat dingin, ia adalah seorang pintar.

Dari sikap orang tua itu yang sangat memperhatikan keselamatannya, kini ia dapat memastikan bahwa orang tua yang di hadapannya itu ialah Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang asli, maka ia buru-buru berlutut dan menjura di hadapannya.

Ketika ia mengingat bagaimana ia dipermainkan oleh Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu, wajahnya menunjukkan sikap marah.

Orang tua itu berkata pula.

"Orang tua itu benar-benar mengharapkan supaya kau terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang, kemudian ketika ia melihatmu berhasil melalui jalanan yang berbahaya itu, mungkin ia hendak menantikan kesempatan selagi kau melangkah segera melancarkan serangan dengan tiba-tiba, supaya kau tidak keburu menolong diri sendiri, tetapi kemudian ternyata ia berpikir lain, ia tidak turun tangan, entah apa yang terkandung dalam maksudnya?"

"Boanpwee percaya, ia tidak akan dapat lolos, mungkin ia masih berada di antara tempat-tempat berbahaya di gunung ini."

"Tempat yang sangat luas dan sangat berbahaya ini, kalau kita cari tidak mudah, tetapi kita juga tidak boleh membiarkan ia seenaknya saja! Baiklah! Mari kita coba mengadakan penyelidikan!"

Dua orang itu lalu lompat melewati puncak Ceng-liongkang, mereka telah berjanji menggunakan tanda rahasia sebagai tanda perhubungan.

Touw Liong berjalan menuju ke kiri, orang tua itu menuju ke kanan, dengan demikian mereka telah mengadakan penyelidikan dengan jalan mengapit.

Mereka mencari-cari di antara gerombolan pohon dan batu-batu, Touw Liong yang berjalan menuju ke kiri, lompat di atas sebuah batu tinggi, di sana ia memandang jauh keadaan di sekitarnya, tepat pada saat itu, orang tua yang mengadakan penyelidikan dari sebelah kanan juga lompat ke atas batu, orang tua itu mengangkat tangan kanannya melambai-lambai untuk memberi tanda kepada Touw Liong.

Dua orang itu kembali melompat ke atas batu-batu besar yang terdapat di tempat itu, melanjutkan penyelidikannya.

Akhirnya dua orang yang mencari dari lain jurusan itu telah bertemu muka pula.

Mereka saling memberi tanda dengan tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala, sebagai tanda bahwa penyelidikan mereka tidak berhasil, kemudian mereka melanjutkan penyelidikannya lagi ke lain jurusan.

Tetapi, akhirnya mereka tidak berhasil juga.

Orang tua itu lebih dulu tiba di tempat penghubung dan duduk di atas batu besar menantikan kedatangan Touw Liong, setelah Touw Liong tiba di tempat tersebut orang tua itu berkata sambil menarik napas.

"Sungguh aneh! Betapapun gesitnya orang itu tidak sampai lolos dari mataku, lagi pula puncak Thian-ti-hong ini tempatnya sangat strategis dan sangat berbahaya, di situ hanya terdapat sebuah jalan, jikalau ia tidak lari dari sini, mungkin masih tidak apa. Tetapi kalau ia hendak lari, sudah tentu akan melalui jalanan Ceng-liong-kang yang menuju ke bawah."

Selagi bicara, di antara batu-batu yang terdapat di situ terdengar suara orang bernapas, kemudian di belakang gerombolan batu tampak berkelebatnya bayangan putih, seorang tua yang berambut dan berjenggot putih telah berjalan menghampiri, lebih dulu memberi tanda kepada Touw Liong seraya berkata.

"Bocah, kau dapat menemukan atau belum?"

"Ou!"

Touw Liong berseru kaget dan membuka matanya lebar-lebar, ia memandang orang tua itu sejenak, kemudian memandang kepada orang tua yang duduk di atas batu menunggu padanya.

Dua orang tua itu dandanannya sama, sikapnya juga mirip satu sama lain, begitupun kata-kata dan suara mereka, sungguh susah dibedakan mana yang asli dan mana yang palsu.

Orang tua yang duduk di atas batu tampak menggerakgerakkan alisnya yang panjang, lalu menggerakkan tongkatnya, kedua tangannya menginjak tanah, tongkatnya lalu diangkat tinggi menyerang orang tua yang baru muncul itu.

Orang tua yang baru muncul tadi, dengan cepat mengelakkan serangan tongkat lawannya kemudian mengibaskan tongkat di tangannya dan balas menyerang seraya membentak.

"Anak busuk! Kau masih belum maju, perlu ada duduk di situ?"

Oleh karena dua orang tua itu sama rupa sama dandanannya dan sama pula suaranya, siapa yang asli dan siapa yang palsu, tidak dapat dibedakan, bagaimana Touw Liong dapat turun tangan untuk membantu?

Touw Liong merasa sangat cemas, hingga ia berdiri bingung di situ, diam-diam dua orang tua itu sudah saling berhantam dengan menggunakan senjata tongkat yang sama bentuknya.

Touw Liong menyaksikan dengan seksama dua orang itu bukan saja sama dandanannya, yang menherankan baginya ialah kepandaian ilmu silat dan gerak tipu mereka juga menandakan dari satu golongan, mereka sama-sama menggunakan gerak tipu ilmu tongkat dari golongan Bu-san yang terdiri dari delapan belas jurus, dan pertempuran itu dilakukan dengan demikian sengit, sehingga tidak diketahui mana yang lebih tinggi kepandaiannya.

Touw Liong dalam keadaan cemas, dalam hatinya berpikir.

"Celaka, kali ini sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang palsu, seandainya yang palsu itu menang, apakah tidak akan menimbulkan buah tertawaan bagi rimba persilatan?"

Dalam keadaan demikian, Touw Liong benar kehilangan akal, sementara itu dua orang tua itu bertempur semakin sengit.

Lama sekali, Touw Liong tiba-tiba berseru dengan suara nyaring.

Berbareng dengan itu, orangnya juga melesat tinggi menyerbu kepada dua orang yang sedang bertempur.

Sebelum orangnya tiba, serangannya sudah keluar lebih dulu, ujung pedangnya menyontek dua tongkat yang sedang beradu.

Dua orang tua itu sama-sama terkejut, dengan mata membelalak memandang Touw Liong.

Satu diantaranya membentak padanya dengan suara keras.

"Kau anak busuk ini benar-benar kurang ajar, kau tidak mau membantu aku malah sebaliknya merintangi aku, apa maksudmu?"

Orang tua yang satu juga membentak dengan suara yang tidak kalah nyaring.

"Anak busuk! Apa kau sudah berkhianat? Mengapa kau membantu orang luar?"

Touw Liong menjura kepada dua orang tua itu seraya berkata.

"Kalian berdua, di antara satu ada yang asli dan yang palsu, maka aku harus membantu siapa? Sebelum aku dapat memastikan siapa yang tulen di antara kalian berdua, aku tidak akan membantu pihak yang mana, juga tidak akan menyinggung perasaan kepada siapapun juga."

Dua orang tua itu kembali memaki-maki, yang ditujukan kepada Touw Liong, satu di antaranya bertanya dengan suara marah.

"Anak busuk! Kau tidak memiliki kepandaian untuk membedakan siapa yang tulen dan siapa yang palsu, apakah kau lantas berdiri sebagai penonton?"

"Sudah tentu aku akan mencari mana yang tulen dan mana yang palsu di antara kalian!"

Menjawab Touw Liong dengan perasaan yang agak mendongkol. Kedua orang tua itu berkata dengan berbareng.

"Dengan cara bagaimana kau hendak membedakan?"

"Sewaktu boanpwee belum turun dari gunung Kiu-hwa, suhu pernah berkata bahwa ilmu silat Bu-san sudah mencapai ke taraf yang tidak ada taranya, kepandaian ilmu yang kini boanpwee miliki masih terpaut jauh sekali, akan tetapi suhu pernah berkata, apabila boanpwee menggunakan seluruh kekuatan tenaga untuk melawannya, meskipun tidak dapat bertahan terlalu lama, akan tetapi masih sanggup melawan setengah jam atau satu jam, maka aku hendak menguji kekuatan tenaga dalam kalian dulu, barulah aku dapat membedakan mana yang tulen dan mana yang palsu."

Dua orang tua itu semua agaknya belum dapat memahami maksud Touw Liong, satu di antaranya berkata dengan suara marah.

"Anak busuk! Mari, aku akan melayani kau lebih dulu!"

Touw Liong menerima baik, lalu menggerakkan pedangnya, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya di tangan kanan, pelahan-lahan tangan itu disodorkan.

Orang tua yang menantang tadi menunjukkan sikap dan tertawa dingin, juga perlahan-lahan menggerakkan tongkatnya.

Orang tua yang lain berdiri menonton sambil mengerutkan alisnya, ia memesan kepada Touw Liong dengan penuh perhatian.

"Hati-hati! Kekuatan tenaga dalam orang itu tidak boleh dipandang ringan ..."

Belum lagi menutup mulutnya, Touw Liong sudah mengeluarkan siulan panjang, menotok tongkat lawannya, ia tidak memberikan kesempatan kepada lawannya, untuk menggerakkan tongkatnya, sudah lompat mundur lagi tujuh tombak, lalu berdiri dengan sikap menghormat ia berkata.

"Ilmu kepandaian dan kekuatan tenaga dalam cianpwee benar-benar sudah mencapai ke tingkat tinggi sekali, terima kasih atas pelajaranmu."

Orang tua itu tampak sangat bangga, sambil menudingkan tongkatnya ia berkata.

"Bagaimana? Kau sudah berhasil menguji atau belum? Aku ini yang tulen ataukan yang palsu?"

Touw Liong menunjuk orang tua yang lain dan berkata.

"Harus tungguh dulu setelah boanpwee menguji kekuatan tenaga cianpwee itu, barulah dapat membedakan."

Bab 19 Orang tua yang lain menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Anak! Kau tidak akan dapat membedakan! Hanya dengan menguji kekuatan tenaga dalam aku dengan orang itu bagaimanapun juga lebih tinggi daripadamu."

"Perlu diuji dulu! Suhu pernah berkata bahwa ilmu Busan-sin-kang, sewaktu kita menyambut ada semacam perasaan, perasaan ini tidak dapat dirasakan oleh orang lain, hanya ilmu dari golongan kami Kiu-hwa Thian-lek yang dapat merasakan dan dapat memahami."

Orang tua yang habis bertempur padanya tadi, berkata sambil tertawa dingin.

"Bocah, kau hendak main gila bagaimana?"

Dalam waktu yang sangat singkat itu, wajah orang tua itu menunjukkan beberapa macam perubahan, semua itu telah dapat disaksikan dan tidak dapat terlepas dari pandangan mata Touw Liong.

Touw Liong mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, pelahan-lahan mengeluarkan pedangnya dan ditujukan kepada orang tua yang satu lagi.

Orang tua itu juga pelahan-lahan mengangkat tongkatnya.

Ketika pedang dantongkat saling beradu, ketika kekuatan tenaga Touw Liong disalurkan ke ujung pedangnya, dengan mendadak ia merasakan bahwa kekuatan tenaga dalam lawannya yang disalurkan di atas tongkat merasa sangat lunak, kekuatan tenaga itu menyambut kekuatan tenaganya sambil melakukan daya bertahan tidak seperti orang tua yang pertama, begitu beradu lantas buru-buru melancarkan serangan hebat!

Dalam hati Touw Liong kini mengertilah sudah, dengan cepat ia menarik kembali pedangnya, seperti juga semula, ia lompat mundur tujuh langkah dan memberi hormat kepada lawannya.

Orang tua yang pertama diuji olehnya lalu bertanya.

"Anak busuk! Siapa yang tulen dan siapa yang palsu?"

Touw Liong mengangkat pedangnya dan menodong kepada orang tua yang bicara itu, katanya.

"KAU YANG PALSU!!"

Wajah orang tua itu berubah, dengan suara bengis ia membentak.

"Anak busuk! Apakah kau sudah gila!"

Touw Liong tertawa panjang, kemudian berkata.

"Aku sedikitpun belum gila, adalah kau sendiri yang sudah kehabisan akal, sehingga menunjukkan kepalsuanmu."

"Di mana aku menunjukkan kepalsuanku?"

"Pertama, kau tidak seharusnya lebih dulu menerima ujianku, ini menunjukkan bahwa kau sedikitpun tidak ada perhatian terhadap diriku. Kedua, begitu turun tangan, engkau sudah menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya, sedikitpun tidak mempertimbangkan diriku, artinya sanggup menerima seranganmu atau tidak? Dengan demikian kau telah mengabaikan keselamataku. Dan ketiga, di waktu kau menanyakan aku mencoba main gila, sikapmu menunjukkan perasaan yang tidak menentu dan timbul banyak perubahan."

Berkata sampai disitu, ia balik menunjuk kepada orang tua yang satu dan berkata.

"Justeru menunjukkan kebalikannya denganmu, setiap gerakannya selalu memikirkan keselamatan diriku ...."

Orang tua yang ditegur oleh Tiauw Liong ini mengeluarkan suara teriakan panik, kemudian berkata.

"Anak busuk! Kau telah tertipu, aku justeru ...."

Orang tua yang satu lagi berdiri dengan tenang, tidak berkata apa-apa, ia hanya mengurut-urut jenggotnya dan mengangguk-anggukkan kepala, dengan sinar mata yang memuji memandang kepada Touw Liong.

Touw Liong mengeluarkan suara ketawa dingin, berkata kepada orang tua tadi.

"Sebelum melihat peti mati, kau tidak akan mengucurkan air mata, kalau kau benar bahwa kau adalah Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen, sekarang aku hendak tanya kepadamu, tadi kita di tengah-tengah puncak gunung ini bicara apa?"

Pertanyaan itu membuat orang tua itu tidak berdaya, ia hanya mengeluarkan perkataan "Ou ...."

Lantas tidak dapat menjawab lagi.

Orang tua itu selagi Touw Liong agak lalai, tiba-tiba tongkatnya digerakkan dan menyerang kepala Touw Liong.

Touw Liong dengan sigap sekali menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan tongkat tadi, orang tua tadi mengeluarkan serangan yang kedua dan berkata dengan marah.

"Bocah she Touw, apa kau masih belum mau menyerahkan jiwamu?"

Orang tua yang satu lagi, yang berdiri dengan tenangnya sebagai penonton, menyodorkan tongkatnya untuk menahan serangan orang tua tadi.

Touw Liong khawatir dua orang tua itu bertempur lagi, sehingga ia tidak dapat membedakan mana yang tulen dan mana yang palsu, maka buru-buru berseru.

"Locianpwee berhenti dulu! Aku masih hendak bicara!"

Dua orang tua itu masing-masing mundur setengah tombak, kedua-duanya memandang Touw Liong dan orang tua yang turun tangan lebih dulu tadi berkata dengan suara bengis.

"Bocah! Kau masih hendak bicara apa lagi?"

Touw Liong ada maksud hendak mengejek dan menimbulkan kemarahannya, maka lebih dulu ia tertawa panjang, kemudian berkata sambil menuding padanya.

"Kau inilah yang dinamakan maling berteriak maling, tentang pembicaraanku dengan Sin-lo yang dilakukan di tengah puncak bukit tadi, begitu aku bertanya kepadamu kau tidak dapat menjawab. Maksudku hanya hendak melakukan serangan fisik terhadapmu, aku hanya ingin membuktikan kau benar-benar merasa bingung atau tidak, sebetulnya yang tulen dan yang palsu ada hubungan apa, tak kuduga ketika aku menanya demikian, ternyata telah mendapatkan hasil yang tidak kuduga-duga, karena seketika itu juga kau telah menunjukkan belangmu."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu itu bergerak sambil menggedrukkan kakinya, kemudian berkata.

"Engkau ini benar-benar sangat licik, aku telah tertipu olehmu!"

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen dengan cepat lompat maju dan bertanya sambil menuding padanya.

"Kau siapa?"

"Aku? Ha ha .....! Coba kau tebak sendiri!"

"Aku tidak peduli kau siapa, tetapi dengan perbuatanmu hari ini yang begitu tidak tahu malu, berani menyamar diriku, dan toh masih tidak berani menunjukkan wajah aslimu, percuma saja kau memiliki kepandaian tinggi, aku sesungguhnya merasa turut merasa malu melihat perbuatanmu ini."

"Aku memiliki kepandaian khusus dalam soal menyaru, dahulu aku juga mempunyai ganjalan hati dengan orangorang yang menganggap dirinya dari golongan baik, sekarang aku merasa bangga dengan kepandaian ini, supaya dengan wajah dan tingkah laku kalian melakukan perbuatan jahat yang menggemparkan dunia, supaya orang tahu, bagaimana kalian ...."

Berkata Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian ia berkata pula.

"Segala perbuatanku ini juga merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi manusia, mengapa aku harus menunjukkan wajah asliku?"

Touw Liong tiba-tiba ingat sesuatu, lalu menyela dan bertanya kepadanya.

"Kaukah yang membunuh Lie Hui Pek?"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Touw Liong bertanya pula.

"Apakah kau KO HONG?"

Orang tua itu menjawab dengan nada suara dingin.

"Bukan!!! Ko Hong hanya mendapatkan beberapa kepandaian luar biasa dariku."

Touw Liong ingat bahwa Ko Hong masih belum mati, Lie Hui Pek pasti dia yang membunuh dan orang yang memberikan kotak kepadanya di kota Keng-siang juga pasti adalah dia.

Teringat akan diri Ko Hong, kebenciannya meluap, maka lalu bertanya kepadanya.

"Di mana sekarang Ko Hong berada?"

"Dia? .... Setelah memberikan kotak kepadamu di kota Keng-siang, ia kembali mengatur acara selanjutnya!"

Menjawab orang tua itu sambil tertawa mengejek.

"Acara apa?"

"Ha ha ....!! Bukan lain adalah acara yang menyangkut hutan tujuh puluh dua jiwa, hutang darah harus dibayar dengan darah."

"Apakah ia akan membuat onar di perkampungan Huiliong-chung?"

"Bukan hanya membuat onar saja, pasti akan melakukan pembunuhan, hendak menagih hutang terhadap perbuatannya di gunung Thian-bok-san."

"Peristiwa di gunung Thian-bok-san dahulu, hanya dilakukan oleh Lie Hui Pek seorang, oleh karena Lie Hui Pek sendiri sudah binasa, mengapa masih perlu merembetrembet kepada orang lain? Apalagi kepandaian Lie Hui Hong saat ini sudah musnah, perbuatan itu sebetulnya agak keterlaluan."

"Inilah yang dinamakan balas-membalas, dahulu bagaimana Lie Hui Pek perlakukan kepadanya, sekarang Ko Hong juga akan membalas perbuatannya terhadap saudaranya."

Touw Liong mendadak teringat soal lain, ia lalu bertanya.

"Ko Hong hendak menyaru menjadi siapa melakukan kejahatan di kampung Hui-liong-chung?"

"Sudah tentu menyaru menjadi kau Touw tayhiap!"

Menjawab Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu itu sambil tertawa mengejek. Touw Liong sangat marah, ia memutar tubuh dan memberi hormat kepada Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen.

"Boanpwee hendak jalan lebih dahulu, sekarang juga boanpwee akan pergi ke kampung Hui-liong-chung ...."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen mencegah seraya berkata.

"Air dari tempat jauh susah menolong api dekat, urusan di sini masih belum selesai !"

Kemudian ia bertanya sambil menunjuk kepada Anak Sakti dari gunung Bu-san yang palsu.

"Ada maksud apa kau mendaki puncak gunung ini?"

"Dua belas

Jilid kitab Thay-it Cin-keng aku hanya mendapatkan se

Jilid saja, masih ada sebelas jilid, kabarnya berada di gunung Bu-san ini.

Rahasia rimba persilatan, setiap orang berusaha untuk mendapatkan, baru merasa puas.

Kedatangan kalian berdua bukankah juga lantaran kitab itu?"

Demikian Anak Sakti dari gunung Bu-san yang palsu menjawab.

"Kedatanganku ke sini hanya bermaksud pesiar saja."

"Tetapi dia, toh, bukan cuma hendak pesiar saja!"

Berkata Anak Sakti dari gunung Bu-san yang palsu sambil menunjuk Touw Liong.

"Memang benar, kedatanganku kemari hendak mencari kitab itu,"

Demikian Touw Liong mengakui terus terang.

"Sayang! Kitab itu sudah tidak ada di gunung Bu-san!"

"Siapa yang mendapatkan kitab itu?"

"Panji Wulung !"

"Didapatkan oleh Panji Wulung?!"

Tanya Touw Liong, ketika ia teringat kepada diri nenek itu, ia agak terkejut, lalu bertanya pula.

"Apakah kau terus mengikuti kita?"

"Sejak dari kota Keng-siang, bukan saja aku mengikuti kau, tetapi juga mengintai setan tua ini,"

Jawab Anak Sakti dari gunung Bu-san yang palsu sambil menunjuk kepada yang tulen.

Touw Liong kini baru mengerti, bahwa Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang menolong padanya dua kali, perbuatan itu semua telah diketahui oleh Anak Sakti dari gunung Bu-san yang palsu ini, maka tadi ia dapat mengikuti dirinya dengan mudah sehingga tertipu olehnya.

Ia tibatiba teringat soal lain, lalu bertanya kepadanya.

"Batok kepala yang digenggam oleh Cui Hui di kuil Kuikok-si itu batok kepala siapa?"

"Maksud Cui Hui hanya ingin merebut lambang kepercayaan Naga Mas dari golongan pengemis, dengan susah payah ia berusaha mencari keterangan jejak Kim Tho, kemudian entah dengan cara bagaimana ia telah berhasil mendapat kabar, bahwa Kim Tho telah terkurung di gunung Kiam-ceng selama tiga puluh tahun oleh Siau Su Hin, dan dengan berbagai akal dia telah memancing Siau Su Hin datang ke daerah Tiong-gwan, maksudnya ialah hendak merebut tanda kepercayaan Naga Mas dari orang she Siau itu,"

Demikian Anak Sakti dari gunung Bu-san yang palsu itu memberikan keterangannya, ia berhenti sejenak kemudian berkata pula.

"Akan tetapi, akal Cui Hui itu tidak berhasil, karena Kim Tho bukanlah orang sembarangan. Meskipun Siau Su Hin sudah menawan dirinya tiga puluh tahun, sayang di mana adanya lambang kepercayaan itu Kim Tho sedikitpun tidak mau membuka rahasia, pada akhirnya, setelah Kim Tho mati karena tidak sanggup menahan pelbagai siksaan, Siau Su Hin juga tidak mendapat apa-apa. Cui Hui yang masih belum mengetahui, telah memancing dirinya datang ke daerah Tiong-gwan, sehingga akhirnya setelah orang she Siau itu dibinasakan, ia masih tidak mendapatkan apa-apa, sebaliknya ia malah kehilangan salah satu dari utusannya ...."

"Dari sini telah membuktikan bahwa manusia itu tidak boleh mengandung hati jahat ....."

Berkata Touw Liong sambil menghela napas. Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen memotong perkataannya, ia bertanya kepada Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu.

"Kau seolah-olah tahu semua tentang apa yang terjadi di kota Lam-yang."

"Ah, kau terlalu memuji! Meskipun aku tidak mengatakan, tetapi setidak-tidaknya apa yang telah kau perbuat terhadap bocah ini semua tidak terlepas dari mataku."

"Baiklah! Aku sekarang mau bertanya kepadamu beberapa soal. Jikalau kau dapat menerangkan, aku merasa takluk terhadapmu."

"Tidak ada hal yang dapat terlepas dari mataku, tanyalah sesukamu!"

"Hari itu ketika di kota Lam-yang, jelasnya di waktu lohor, adik seperguruan Touw Liong mengikuti Siau Su Hin masuk ke kuil Kui-kok-si, kemudian mengapa Siau Su Hin terkurung dalam barisan Ngo Im Cuh-un-tim dan menemukan ajalnya, sebaliknya adik seperguruan Touw Liong telah menghilang tidak ketahuan jejaknya?"

"Urusan ini terlalu panjang ceritanya. Golongan pengemis pada dewasa ini merupakan salah satu golongan besar dalam rimba persilatan. Anak murid golongan pengemis tersebar di mana-mana, siapa yang berhasil memegang kekuasaan di golongan pengemis, ini berarti ia telah berhasil menguasai dunia Kang-ouw. Kim Yan telah terjatuh di tangan Panji Wulung, sudah tentu ia mendapat perintah untuk menilik gerak-gerik Siau Su Hin, tetapi sungguh kebetulan, waktu itu ia ada lain urusan sehingga berlalu dari kampungnya. Begitu Kim Yan berlalu, lantas Siau Su Hin terjatuh di tangan Cui Hui."

"Ouu ...! Pantas Kim Yan tega dan menurunkan tangan keji, sehingga salah satu dari lima utusan Cui Hui terbinasa di tangannya."

Tiga orang itu berbicara dengan asyiknya, seolah-olah sahabat lama yang baru bertemu kembali, hingga melupakan tadi belum lama berselang mereka pernah bertempur mati-matian.

Touw Liong telah mengalihkan perhatiannya ke lain soal, ia bertanya.

"Tahukah kau di mana jejak Panji Wulung sekarang?"

"Panji Wulung ...? Aku sendiri juga sedang mencarinya!"

"Kau agaknya tahu semua apa yang sedang terjadi di dunia Kang-ouw. Di waktu belakangan ini di dunia Kangouw ada seorang pemuda yang mukanya mirip dengan aku, tetapi ia pandai memainkan kecapi dan seruling, tahukah kau siapakah orang itu?"

"Sudah tentu tahu,"

Jawab Anak Sakti dari Gunung Busan yang palsu sambil mengangguk-anggukkan kepala, kemudian dengan nada suara mengejek dia berkata pula.

"Ia mirip dengan kau! Ha .... bagaimana kau tidak berkata bahwa kau mirip dengannya? Ini sesungguhnya sangat lucu, justeru karena kau yang mirip dengan dia, maka aku dari dahulu mengikuti jejakmu."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen tercengang, ia berkata dengan tidak mengerti.

"Apakah orang itu sahabat lamamu?"

"Bukan hanya sahabat lama saja, orang itu adalah suteku ..."

"Sutemu??"

Touw Liong dengan alis berdiri.

"Apa yang dibuat heran? Patut disesalkan adalah perbuatanmu sendiri ketika pertama kali bertemu muka denganku di telaga Tong-teng-auw, kau tidak menyapa denganku, sehingga aku merasa mendongkol dan mengikuti kau sampai ke kota Keng-siang."

"Aku tidak kenal denganmu, mengapa harus menyapa?"

Demikian Touw Liong balas menanya dengan merasa geli.

Tetapi ia juga mengerti apa sebabnya Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu itu mengikuti jejaknya.

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu berpaling, berkata kepda Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen.

"Sekarang kuberitahukan pdamu, apa sebab aku menyaru dirimu! Tak lain, karena sewaktu aku berada di bawah tembok kota Lam-yang, bocah she Touw itu pernah mengucapkan perkataan kepada si taysu gila, bahwa orangorang yang dihormati oleh suhunya, kau termasuk salah satu di antaranya, maka aku lalu timbul pikiran hendak menyaru menjadi dirimu."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen ketika mendengar dari Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu bahwa orang yang paling dihargai oleh Kiu-hwa Lojin termasuk dirinya sendiri, dalam hati diam-diam merasa senang.

Touw Liong tiba-tiba teringat kepada diri Lo Yu Im, maka ia bertanya pula.

"Bagaimana watak sutemu, dan di mana sekarang berada?"

"Sejak ia mendapatkan batu Khun-ngo-giok, ia lalu bertekun mempelajari segala ilmu pedang yang ada dari pelbagai golongan, ia siap-siap hendak membuat pedang Khun-ngo-kiam."

Touw Liong menghela napas, kemudian dengan alis berdiri dan dengan tidak terduga-duga suaranya ditarik tinggi dan bertanya kepada Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu.

"Kau siapa?"

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu ini agaknya juga terkejut, hingga tanpa pikir lagi lalu menjawab.

"Aku adalah Si Kakek Seribu Muka...."

Dengan tibatiba ia sadar bahwa dirinya telah dijebak oleh Touw Liong, maka kata-kata selanjutnya tidak dilanjutkan.

"Ou.... kiranya kau manusia yang pandai merubah muka,"

Berkata Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen sambil tertawa panjang.

"Kau jangan berkata sembarangan, nama julukanku adalah Si Kakek Seribu Muka,"

Jawab Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang palsu dengan suara marah.

"O, kiranya kau pandai merubah muka?"

"Oleh karena aku pandai merubah muka, maka siapa dan manusia yang bagaimana saja, setelah kulihatnya sepintas lalu, semuanya aku bisa meniru, baik mukanya maupun gerak-geriknya serta suaranya, aku dapat meniru sehingga persis dengan orangnya sendiri."

"O, aku mengerti! Kau ternyata gurunya orang yang pandai berubah, kau bisa berubah menjadi apa lagi?"

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yangpalsu merasa bangga, tertawa cekikikan, ia hampir lupakan diri, karena dipuji-puji oleh Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen.

Anak Sakti dari Gunung Bu-san yang tulen, juga tertawa cekikikan dan bertanya kepadanya sambil tertawa.

"Kau pasti bisa merubah dirimu menjadi sesuatu?"

"Sesuatu apa?"

"Bajingan!"

Kata Anak Sakti dari Gunung Bu-san.

"Kaulah yang bajingan!"

Berkata Kakek Seribu Muka dengan suara marah. Touw Liong buru-buru menyela dan bertanya kepada Si Kakek Seribu Muka.

"Bolehkah aku minta pertolongan padamu, tolong sampaikan kepada sutemu, kalau mau mendapat kekayaan boleh saja, tetapi harus dengan jalan yang selayaknya...."

Si Kakek Seribu Muka tercengang, ia bertanya.

"Kalau bicara, jangan memutar-mutar, bicaralah terus terang!"

Touw Liong juga tidak marah, ia berkata dengan suara nyaring.

"Batu Khun-ngo-giok adalah milik partai Kun-lun, adik seperguruanmu telah menipu dan mencuri milik orang lain, bahkan perbuatannya itu membawa akibat kematiannya pemilik batu giok itu. Perbuatan itu kurang baik. Sekarang keturunan orang-orang partai Kun-lun sudah mulai terjun ke dunia Kang-ouw, untuk mencari jejak adik seperguruanmu, aku harap supaya adik seperguruanmu itu suka mengembalikan batu giok itu kepada pemiliknya yang asli."

Kakek Seribu Muka tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Sejak dahulu kala barang pusaka atau benda tajam selalu harus dimiliki oleh orang yang berhak atau bijaksana; umpama saja itu kitab Thay-it-cin-keng, kau dan aku samasama tidak ada jodoh, maka kita sama-sama tidak dapatkan."

Anak Sakti dari Gunung Bu-san berkata dengan nada suara dingin.

"Ucapannya yang memutarbalikkan persoalan ini, benarbenar sangat menggelikan; maksudmu apakah kau anggap bahwa adik seperguruanmu itu seorang yang bijaksana yang berhak memiliki barang itu?"

Kakek Seribu Muka itu tidak membantah, kepalanya diangguk-anggukkan berulang-ulang. Anak Sakti dari Gunung Bu-san berkata dengan nada suara marah.

"Kuberikan batas waktu tiga bulan, benda itu harus ia antarkan ke Gunung Kun-lun-san, jikalau tidak, jangan kau sesalkan kalau aku si orang tua sudi gawe, seumur hidup aku paling tidak bisa melihat perbuatan rendah yang suka merampas barang orang lain seperti itu."

Touw Liong juga berkata dengan tegas.

"Dalam urusan ini tidak perlu locianpwee turut turun tangan, boanpwee...."

Kakek Seribu Muka berkata sambil tertawa dingin.

"Jangan sok berlagak, kau tidak tengok dirimu sendiri, apa kau kira kau dapat mencari jejak suteku?"

Alis Touw Liong berdiri, dengan suara keras ia berkata.

"Jikalau kau berani mengatakan tempat sembunyinya, aku hendak mencari tempat itu untuk minta keterangan sendiri dari mulutnya."

"Bocah! Kau nanti jangan sesalkan orang lain! Adalah kau sendiri yang hendak mengantarkan jiwa! Baiklah! Aku boleh beritahukan padamu, tetapi ada satu syarat, setelah kuberitahukan padamu, kau tidak boleh memberitahukan kepada orang lain,"

Berkata Kakek Seribu Muka dengan nada suara dingin.

Ketika ia mengucapkan perkataannya itu, matanya melirik Anak Sakti dari Gunung Bu-san.

Anak Sakti dari Gunung Bu-san dengan sikap tidak pandang mata tertawakan padanya, kemudian berkata.

"Jangan coba jual lagak! Siapa sudi akan barang rampasan itu."

Kakek Seribu Muka berpaling memandang Touw Liong.

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kakek Seribu Muka mengangkat tongkatnya dan memberi tanda kepada Anak Sakti dari Gunung Bu-san, tetapi Anak Sakti dari Gunung Bu-san tidak menghiraukannya, ia berpaling memandang ke arah lain.

Menggunakan kesempatan itu, Kakek Seribu Muka lantas berkata.

"Bocah, perhatikan baik-baik!"

Bersamaan dengan itu, ujung tongkatnya diputar menotok ke suatu batu yang terletak tiga kaki di hadapan matanya.

Touw Liong semula mengerutkan alisnya, kemudian menggumam sendiri.

Si Kakek Seribu Muka bertanya.

"Anak! Percuma saja kau menjadi seorang pintar, tekateki muda yang kuberitahukan padamu, kau masih tidak dapat menebak, bukankah itu sangat lucu?"

"Aku mengerti! Kau maksudkan adalah Tiam...."

Berkata Touw Liong sambil mengangguk-anggukkan kepala. Anak Sakti dari Gunung Bu-san berpaling, dengan mata berputaran ia bertanya kepada Kakek Seribu Muka.

"Tiam.... apa??"

Setelah itu matanya memandang ke arah jauh, ia juga menggumam sendiri, kemudian berkata pula.

"Aku juga sudah mengerti! Kiranya adalah Tiam... Cong...."

Belum habis ucapannya, dari puncak di seberang sana, di tempat rimba di puncak gunung Thian-tu-hong, tampak berkelebat sesosok bayangan kuning, kemudian terdengar suara kata-katanya yang dibarengi dengan suara tertawanya yang nyaring.

"Kucari kemana-mana, ternyata kudapatkan secara tak terduga-duga, ha.... batu Khun-ngo-giok ternyata berada di tangan orang partai Tiam-cong-pay."

Touw Liong ketika melihat berkelebatnya bayangan kuning, mulutnya tiba-tiba mengeluarkan seruan.

"Sumoy!"

Kemudian orangnya juga bergerak, dengan dua kali lompatan saja ia melesat ke puncak Thian-tu-hong.

Bab 20 Waktu itu adalah permulaan musim dingin, di waktu pagi-pagi sekali, di tepi sungai Lok-sui, diliputi oleh kabut dan salju tebal, di permukaan sungai tampak beberapa buah perahu sampan.

Dengan tiba-tiba, sesosok bayangan kuning lari dan menuju ke sungai dalam waktu sekejap mata, sudah tiba di tepi sungai.

Sebelum orangnya tiba, suaranya sudah sampai lebih dulu, dengan suara yang sangat merdu ia memanggil sebuah perahu sampan yang terpisah kira-kira lima tombak dari tepi sungai.

"Hai! Tukang perahu, aku minta kau supaya seberangkan aku ke seberang sana, aku nanti akan berikan kau upah yang cukup!"

Kemudian orang itu mengeluarkan tangannya yang putih halus, di bawah tiupan angin dingin tangan itu melambailambai ke arah tukang perahu.

Tukang perahu yang berada di atas perahu sampannya tampak sangat terkejut, setelah menggumam sendiri, beberapa saat lamanya, barulah memberi jawaban.

"Nona, perahu kita hari ini tidak bersedia berlayar, aku hendak pulang untuk beristirahat."

Belum habis kata-katanya, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning, melayang ke tengah udara bagaikan sinar, dari tepi sungai melesat ke ats perahu orang tadi.

Tukang perahu yang sedang mendayung sampannya hanya merasakan kabur matanya, sebelum ia mengeluarkan suara jeritan, di atas perahunya sudah berdiri seorang gadis cantik berpakaian kuning.

Gadis berpakaian kuning itu dengan alis berdiri membentak kepada tukang perahu.

"Lekas dayung!"

Tepat pada saat itu, di tepi sana muncul seorang muda berbaju hijau, di atas punggungnya menyoren sebilah pedang, ketika melihat perbuatan gadis berbaju kuning tadi, ia berseru kepada tukang perahu.

"Tukang perahu, dayung kemari!"

Pada saat itu, perahu itu sudah berjalan kira-kira enam tujuh tombak jauhnya, pemuda itu nampak sangat cemas, beberapa kali kakinya digebrukkan ke atas salju yang terdapat di tepi sungai.

Tukang perahu itu memandang pedang panjang yang berada di atas punggung si pemuda nampaknya bergidik, sedang gadis berbaju kuning yang berdiri di atas buritan, pandangan matanya ditujukan ke permukaan air, kemudian memlihat kepada pemuda baju hijau yang memandang padanya dengan sinar mata dingin.

Pemuda itu kemudian berkata kepada diri sendiri.

"Ah... aku sudah salah mengejar orang."

Gadis yang berdiri di atas perahu, dengan nada suara dingin berkata.

"Sungguh sial.... pagi-pagi sekali sudah dikejar-kejar lelaki busuk yang tidak tahu malu!"

Mendengar ucapan itu, pemuda berbaju hijau itu wajahnya merah seketika, dengan berdiri termangu-mangu memandang gadis berbaju kuning yang berdiri di atas perahu.

Jilid 8 Gadis itu dengan wajah yang dingin, matanya memandang pemuda berbaju hijau, kemudian berkata kepada tukang perahu dengan suara dingin.

"Mengapa kau bingung? Lekas dayung perahumu! Apakah pedang butut seperti itu kau juga belum pernah melihat?"

"O ... Oh!"

Demikian tukang perahu itu menyahut berulang-ulang, dan dengan tergopoh-gopoh mendayung sampannya ditujukan ke tengah sungai.

Sementara itu, pemuda berbaju hijau yang berdiri di tepi sungai, matanya terus memandang perahu yang berlayar ke tengah sungai ....

Apa yang terjadi selama ini, semua merupakan rentetan kejadian aneh-aneh yang belum pernah dialami sebelumnya.

Mengingat akan itu, ia telah menggumam sendiri.

"Hanya dalam waktu lima hari, telah terjadi perubahan demikian besar, hai! Sekalipun di dalam dunia ini ada beberapa urusan yang sangat aneh dan ajaib, tetapi tidak seperti apa yang kualami! Semua itu merupakan kejadian-kejadian dan hal-hal yang sungguh aneh!"

Berkata sampai di situ, tiba-tiba alisnya berdiri, dan berkata pula.

"Tidak! Dalam urusan ini sangat mencurigakan, aku harus meneliti sampai ke dasardasarnya."

Ketika ia angkat muka, perahu sampan itu sudah hampir tiba di tepi sana, beberapa buah perahu penangkap ikan yang terdapat di permukaan sungai itu, sudah pada berlayar menuju ke lain jurusan.

Pemuda berbaju hijau itu berkata sendiri dengan suara keras.

"Mengapa aku demikian bodoh? Mengapa aku tadi tidak memikirkan untuk naik perahu sampan tadi, lagi pula perbuatan gadis berbaju kuning itu sangat mencurigakan, jelas bahwa suara yang kudengar di atas puncak gunung tadi adalah suaranya Kim Yan, begitupun dandanan dan bentuk tubuhnya tidak satu yang tidak mirip, aku mengejarnya sehingga ke bawah kaki bukit Oey-san, gerakan kakiku meskipun tidak lebih cepat daripadanya, tapi di sepanjang jalan ia masih unjukkan diri, agaknya dengan sengaja pancing aku tiba di tempat ini, tetapi sebentar kemudian mendadak menghilang, tak diduga-duga tadi pagi ia sengaja unjukkan diri lagi, dan pancing aku mengikuti sampai di sini, dengan sangat liciknya ia lebih dahulu naik keatas perahu minta diseberangkan... Sedangkan aku..."

"Urusan yang aneh-aneh di dalam dunia ini sangat banyak! Aku belum pernah melihat orang yang kukejar tiba-tiba telah berubah bentuknya, ini benar-benar suatu kejadian yang sangat aneh! Hai! Goblok! Mungkin aku kesalahan mengejar orang sehingga tertipu oleh akal muslihat sumoy yang sengaja membelokkan perhatianku kepada gadis tadi itu, dia telah memancing aku turun dari gunung Bu-san dan oleh gadis itu tadi aku dipancing menuju kemari, sedang dia sendiri ... menuju ke gunung Thiam-cong-san, untuk mengambil batu Khun-ngo-giok ..."

Pemuda itu menepuk-nepuk jidatnya sendiri, lalu terbenam dalam lamunannya.

Pemuda itu bukan lain daripada TOUW LIONG, setelah berpikir sejenak kemudian berkata pula kepada dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kemungkinan yang paling besar, ia kini sudah menuju ke gunung Tiam-cong-san, gadis berbaju kuning di atas perahu itu sudah tentu bukanlah dia! Di lain pihak, jikalau dia menggunakan akal, dengan meniru muslihat kakek seribu muka yang merubah bentuk wajahnya bagaimana?"

Ia berdiri termangu-mangu di tepi sungai, pikirannya terus bekerja.

Angin dan halimun pagi meniup mukanya, sehingga merasa dingin, tanpa disadari badannya telah menggigil.

Pada saat itu kembali ia memikirkan ke lain soal, lalu bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Mengapa Kim Yan hendak menyingkirkan diriku? Apakah di kemudian hari apabila bertemu denganku, ia bisa berubah dan pandang aku sebagai musuh?"

Ah, itu terlalu menakutkan!

Apabila benar-benar terjadi demikian?

Ia akan meruapakan suatu kejadian yang memalukan rimba persilatan, juga merupakan suatu kejadian dan peristiwa yang menggenaskan bagi perguruan.

Berpikir sampai di situ, Touw Liong bergidik sendiri.

Tanpa disadari matanya memandang ke depan, perahu yang tadi membawa gadis berbaju kuning itu dengan gerakkan yang sangat lincah lompat ke atas tepi, agaknya dengan sengaja matanya berpaling dan memandang kepada Touw Liong, kemudian baru berjalan menuju ke utara, di sana terdapat sebuah perkampungan yang terdapat banyak pohon cemara.

Dengan berdiri termangu-mangu Touw Liong memandang gadis berbaju kuning itu yang berjalan menuju keperkampungan, sedang dalam hatinya bertanya-tanya sendiri.

"Perlukah aku menyeberang sungai? Untuk melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu? Apakah ... aku perlu perhatikan Ko Hong dulu? Ia benar-benar ke perkampungan Hui-liong-chung atau tidak? Apakah aku perlu segera pergi ke gunung Tiam-cong-san untuk mengejar Kim Yan? Dalam otaknya diliputi tiga pertanyaan itu, sehingga ia tidak dapat memberi keputusan. Ia berpikir bolak-ballik, dianggapnya bahwa tiga persoalan itu semuanya harus dilakukan, juga harus secara hati-hati sekali. Dalam keadaan demikian, pertama-tama sudah tentu ia harus menyeberang sungai lebih dulu. Teringat akan usahanya untuk menyeberang sungai, matanya ditujukan ke permukaan air. Tidak jauh dari situ tertampak olahnya beberapa buah perahu penangkap ikan. Tanpa dipikirnya lebih jauh, ia lantas melayang menuju ke beberapa buah perahu. Perahu-perahu yang menepi di bawah pohon, tampak lengkap dengan dayungnya, namun perahu itu nampaknya sudah tua, di dasar perahu digenangi air sehingga mencapai ke lutut, tampaknya perahu itu benar-benar sudah tidak ada orang yang menggunakan, ditilik dari keadaannya, beberapa perahu sampan itu, jelas tidak ada pemiliknya. Touw Ling agak ragu-ragu, kemudian ia lompat ke atas sebuah perahu lalu didayungnya sendiri, dengan cepat perahu itu sudah menuju ke tepi seberang. Begitu naik ke tepi, ia terus berjalan menuju ke perkampungan itu. Tak lama kemudian, ia tiba di depan perkampungan. Di bawah naungan pohon cemara yang rindang, perkampungan itu ternyata merupakan sebuah kampung yang terang. Di depan pintu gerbang perkampungan itu ada dua buah singa-singaan yang terbuat daripada batu. Pintu yang dicat warna hitam tertutup rapat, di dalam tampak sunyi sepi. Touw Liong memeriksanya sejenak, lalu mengetuk-ngetuk pintu. Tak lama kemudian, dari dalam terdengar suara langkah kaki, kemudian pintu itu terbuka lebar. Orang yang membuka pintu adalah seorang tua berambut putih dan membawa tongkat kepala naga. Orang tua itu badannya bongkok, tiba di depan pintu matanya dibuka lebar memandang Touw liong kemudian lalu berkata.

"Kau mencari siapa?"

Pertanyaan itu membingungkan Touw Liong, bagaimana ia dapat mengatakan bahwa ia sedang mencari seorang gadis?

Setelah lama dalam keadaan bingung, orang tua itu agaknya sengaja mengejek Touw Liong, ia berkata sambil tertawa-tawa.

"Kau barangkali juga sahabat tukang minum dari Samkongcu kita!"

Touw Liong terpaksa mengiyakan sementara dalam hatinya berpikir.

Tidak kecewa ia sebagai seorang pintar, dari ucapan orang tua tadi, dia juga sudah dapat menduga bahwa Samkongcu yang disebut oleh orang tua tadi, pastilah seorang pemuda yang doyan minum dan gemar pipi licin, orang seperti itu setiap hari kerjanya hanya makan minum dan berfoya-foya dengan wanita-wanita, maka lalu berkata sambi menyoja"

"Aku sebetulnya sudah lama dengar nama besar Samkongcu, maka sengaja aku datang kemari untuk berkunjung kepadanya."

"O ..."

Berkata si orang tua sambil menganggukanggukkan kepalanya kemudian berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Menyesal sekali! Sam-kongcu kita hari ini tidak ada di rumah."

Sikap dan kata-kata orang tua itu menunjukkan perasaannya yang tidak senang, agaknya ia ingin supaya Touw Liong lekas berlalu.

"Pergi kemana?"

Bertanya Touw Liong.

"Ke kota Kai-hong."

"Sam-kongcu ini benar-benar tidak mudah diketemukan!"

Berkata Touw liong dengan menunjukkan sikap kecewa.

"Aku datang dari tempat jauh datangku tidak mudah, ternyata tidak dapat menemui Sam kongcu, apakah di dalam perkampungan ini masih ada orang lain? Aku ingin berjumpa dengannya sebentar, untuk menunjukkan hormatku."

"Tuan besar telah bekerja di kota raja, Toa kongcu kita pesiar ke Sow-ciu, Ji kongcu ... Si kongcu ... aku merasa sangat menyesal, sekarang ini hanya kaum wanita yang ada di dalam perkampungan ini, hingga kurang pantas untuk menemui tetamu seorang pria."

Kembali Touw Liong merasa kecewa, dalam keadaan demikian terpaksa, ia harus kembali, selagi hendak meninggalkan perkampungan itu, dari dalam tiba-tiba muncul seorang perempuan tua berambut putih dan berpakaian warna hijau, perempuan tua itu mengangkat tongkat di tangannya, berkata sambil menuding Touw Liong.

"Tunggu dulu!"

Touw Liong merandek, lalu berpaling mengawasi perempuan tua itu, melihat sinar mata sangat tajam dari perempuan tua itu, diam-diam ia terkejut dalam hatinya lalu timbul pikiran aneh, ia pikir.

Sepasang mata nenek ini, seperti matanya seorang gadis berusia delapan belas tahun, jikalau ia bukanlah seorang perempuan tua yang memiliki kekuatan tenaga dalam sudah sangat sempurna, sehingga bisa berbalik menjadi muda lagi, tentunya adalah gadis baju kuning tadi yang menyamar.

Touw Liong tidak tahu bagaimana harus menjawab, selagi ia mengamat-amati perempuan tua itu, lelaki tua tadi sudah mengundurkan diri dan buru-buru memanggil.

"Ngo ..."

Perempuan itu memperdengarkan suara dari hidung, mencegah orang tua itu melanjutkan kata-katanya. Hati Touw Liong tergerak, dengan cepat berkata kepada orang tua tadi.

"Toa-kongcu ... Ji-kongcu ... Sam ... Su ..."

Tadi ketika orang tua itu mengeluarkan udapan "Ngo", perempuan itu lantas mengeluarkan suara dari hidung, sehingga orang tua itu tidak berani melanjutkan katakatanya, dari sini jelaslah sudah, bahwa "Ngo"

Yang dimaksud oleh orang tua tadi, kalau bukannya Ngo Wie, pasti adalah Ngo-kow atau Ngo-kongcu.

Tetapi istilah terakhir kemungkinannya sedikit sekali, karena dengan bentuk seorang laki-laki sudah tentu ia tidak mau menyamar menjadi seorang perempuan.

Jikalau yang dimaksudkan tadi adalah Ngo Wie, mengapa ia harus mencegah?

Sebab Ngo Wie sudah tentu dimaksudkan terhadap perempuan yang sudah berusia agak lanjut.

Untuk itu jelaslah sudah bahwa Ngo itu kelanjutannya sudah tentu adalah Ngo-kow, yang berarti nona kelima, bahkan masih gadis pula.

Setelah berpikir demikian, Touw Liong tidak lantas membuka rahasianya, bahkan sambil tersebyum dan memberi hormat ia berkata.

"Nyonya ada keperluan apa?"

Perempuan tua itu membalas hormat, ia berdiri di atas undak-undakan batu; membiarkan Touw Liong berdiri di bawah undak-undakan. Dengan sikap yang agung ia bertanya.

"Ada keperluan apa? Congsu mencari Sam-kongcu kita?"

"Aku hanya ingin belajar kenal saja."

"Siapa namamu."

Touw Liong berpikir.

Nona ini jikalau gadis baju kuning tadi yang menyamar, dia pasti mengetahui siapa adanya aku, maka lebih baik aku berkata terus terang.

Setelah berpikir demikian, ia lalu menjawab sambil menghormat.

"Aku Touw Liong."

"O..."

Demikian perempuan tua itu berkata.

"Kiranya adalah Touw tayhiap yang berkunjung, silahkan. Silahkan masuk ke kediamanku ini."

Touw Liong masih agak ragu-ragu, ia tidak beerani berlaku lancing masuk ke dalam perkampungan, kemudian bertanya sambil tersenyum.

"Sam-kongcu denganmu ada hubungan apa?"

Perempuan tua itu tercengang. Ia tidak tahu bagaimana harus berbuat, dari mulutnya hanya terdengar suara.

"Ini ..."

Dan dengan terbirit-birit mengundurkan diri. Orang tua tadi menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mengejarnya dan berkata kepada perempuan tua tadi itu sambil membungkukkan badan.

"Ngo-kow-nio, tidak perlu main kucing-kucingan dengan Touw siangkong ini! Adalah kurang pantas kalau Touw siangkong masuk ke perkampungan ini?"

Waktu mengucapkan perkataan itu, orang tua itu memberi isyarat dengan matanya kepada Touw Liong.

Perempuan tua tadi lalu membuka kedok kulit manusia yang digunakan di mukanya, sehingga tampak wajahnya yang cantik molek, namun tongkat yang berada di tangannya masih tetap dipegangnya, ia menganggukkan kepala kepada Touw Liong, kemudian dengan nada suara dingin ia berkata.

"Orang she Touw, kau ini memang mencari gara-gara saja. Apakah kau masih penasaran jikalau belum dikasih pelajaran? Pagi-pagi sekali kau sudah mengikuti jejakku, dan sekarang kau masih berani datang ke tempat kediamanku!"

Ditinjau dari perbuatan Touw Liong tadi sebetulnya memang kurang pantas, untuk ia sudah merencanakan jawabannya, maka dengan tenang ia menjawab sambil memberi hormat.

"Mana aku berani? Aku ada mempunyai berapa nyali, bagaimana berani berlaku kurang sopan terhadap nona? Ada beberapa hal kadang-kadang memang sangat kebetulan, aku hanya ingin tanya saja kepada nona, asal nona menjawab dengan terus terang, aku akan segera undurkan diri dari sini."

Dengan wajah dan sikap yang masih tetap dingin, gadis itu berkata.

"Katakanlah!"

Touw Liong menarik napas, matanya menatap orang tua berambut putih tadi.

Gadis itu memberi isyarat dengan tangannya kepada orang tua, hingga orang tua itu undurkan diri.

Touw Liong bertanya dengan suara perlahan.

"Ada hubungan apa antara nona dengan adik seperguruanku Kim Yan?"

"Tidak ada hubungan apa-apa,"

Menjawab gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Mengapa di atas puncak Thian-tu-hong nona pancing aku datang kemari?"

"Orang yang unjukkan diri di puncak gunung Thian-tuhong bukanlah aku ....."

"Apakah dia itu adik seperguruanku?"

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepala, kemudian memandangnya sejenak dan berkata dengan nada suara mengejek.

"Apa yang dibuat heran? Kim Yan bergerak lebih cepat daripadamu, kalian berdua kejar-kejaran dan aku mengikuti di belakang kalian, waktu kau mengejar ia sampai di tengah bukit, lantas kehilangan jejaknya."

Muka Touw Liong merah, tetapi lekas menyadari persoalannya, maka lalu berkata.

"O....! Kalau begitu kau sudah menggunakan akal, dengan menggunakan pakaian warna kuning, selagi aku mengeja-ngejar, kau lalu pancing aku menuju ke tepi sungai?"

Gadis itu menganggukkan kepala. Touw Liong masih belum paham, maka bertanya pula sambil mengerutkan alisnya.

"Dengan maksud apa nona berbuat demikian?"

"Orang lelaki kebanyakan suka berlagak pintar, apa kau anggap melakukan perjalanan ke gunung Tiam-cong-san ada faedahnya bagimu? Apa kau kira dapat merebut batu Khun-ngo-giok? Aku sebetulnya dengan maksud baik, takut kau nanti mengantarkan jiwa di sana, maka aku pancing kau datang kemari."

Touw Liong semakin tidak mengerti, sambil mengerutkan alisnya ia berkata.

"Aku masih belum mengerti."

"Dengan terus terang kuberitahukan kepadamu, kakek seribu muka adalah suhengku, aku berbuat demikian, ke satu karena melaksanakan perintahnya, dan ke dua aku benar-benar takut kau akan pergi ke gunung Tiam-cong-san sehingga menimbulkan kericuhan, maka aku sengaja pancing kau supaya tidak pergi ke sana."

Touw Liong mengerti bahwa nona yang berdiri sebagai musuh itu setelah mengucapkan isi hatinya timbullah pertanyaan yang lain, bagaimanapun bodohnya orang itu tidak nanti akan memancing musuhnya datang ke rumahnya sendiri.

Gadis itu agaknya dapat menebak isi hati Touw Liong, maka lalu berkata sambil menunjuk ke gedungnya.

"Apa kau kira perkampungan ini adalah benar-benar kediamanku?"

Touw Liong tercengang, dan gadis itu berkata pula.

"Jikalau rumahku, bagaimana aku akan memancing serigala masuk ke dalam rumah ....."

Berkata sampai di situ, ia tertawa cekikikan, kemudian tangannya menggapai ke dalam.

Sesaat kemudian beberapa bayangan orang, dari dalam rumah muncul empat laki-laki berbaju hijau.

Gadis itu lalu berkata pula sambil menunjuk salah satu di antaranya yang terdapat tanda hitam di mukanya.

"Orang she Touw, kau tadi bukankah hendak mencari Sam-kongcu?"

Touw Liong angkat muka memandang empat laki-laki yang muncul itu satu diantaranya membawa pedang panjang, berjalan menuju dan berdiri ke samping gadis tadi. Gadis tadi melanjutkan pertanyaannya.

"Hari ini kau bisa datang kemari, tetapi tidak bisa pergi lagi. Perkampungan Pak-yong-lie adalah perkampungan hantu yang sudah terkenal. Di dalam perkampungan ini terdapat makam, yang tidak terhitung berapa banyak jumlahnya, dengan tambah makammu seorang, tidak berarti apa-apa. Sebetulnya kau juga dapat mengelakkan kematian ini. Tukang jaga pintuku yang baik hati itu pernah meminta berkali-kali padaku supaya melepaskan kau, tetapi kau sendirilah yang membandel tidak mau berlalu dari sini."

Touw Liong yang mendengar perkataan itu alisnya berdiri, dengan suara gagah ia berkata.

"Di atas sungai, di lautan, di puncak gunung, aku si orang she Touw pernah pergi tanpa kedok, aku justru tidak percaya bahwa perkampunganmu yang kau sebut perkampungan hantu ini dapat menundukkan aku. Kalau aku benar-benar bisa terkubur di sini, aku juga merasa tidak kecewa dengan perjalananku ini. Baiklah! Sekarang kau boleh bertindak!"

Setelah berkata demikian, perlahan-lahan ia menghunus pedangnya. Gadis itu berkata sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Aku tahu bahwa kau pernah menggempur barisan Cuhun-tin yang dibentuk oleh Cui Hui, sudah tentu kepandaian yang tidak berarti dari perkampungan kita ini tidak akan dapat menggertak kau, hari ini kita tidak hendak turun tangan denganmu ....."

"Apakah kau hendak dengan tangan kosong untuk memberi pelajaran padaku?"

"Tidak!"

Jawab gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Touw Liong mengangguk, gadis itu berkata pula dengan sikap yang sangat tenagng.

"Hari ini kita akan menggunakan cara lain, kita mencari beberapa rupa permainan yang baru, jangan hanya menggunakan tangan atau senjata tajam untuk saling gebuk."

Touw Liong kembali tercengang, dengan alis berdiri ia bertanya.

"Permainan baru apa yang kau maksudkan?"

Bab 21 Gadis itu berkata sambil menunjuk tempat laki-laki berbaju hijau.

"Mereka berempat adalah pelindung hukum perkampungan kita. Mereka belum pernah terjun ke dunia Kang-ouw. Tentang kepandaian dan kekuatan tenaga dalam mereka sebetulnya masih terpaut sangat jauh dengan kita lima saudara, tetapi mereka berempat masing-masing memiliki kepandaian yang sangat aneh. Kau orang she Touw, jikalau kau masih mengakui dirimu sebagai lelaki, beranikah kau bertanding satu persatu dengan mereka?"

Dengan wajah sangat gusar, Touw Liong memandang empat laki-laki berbaju hijau itu, dari bentuk danwajah mereka, ia sudah mengetahui bahwa empat orang laki-laki itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang cukup sempurna, jikalau dibandingkan dengan beberapa tokoh kuat dari rimba persilatan, mungkin berimbang kekuatannya.

Terdengar pula suara gadis tadi.

"Touw tayhiap, aku sebetulnya merasa kurang sopan, memancing kau datang kemari, tetapi tindakan itu telah kulakukan karena terpaksa. Toa-suheng kakek muka seribu dan ji-suheng, semua sudah menuju ke gunung Tiam-congsan untuk melindungi sam-suheng, sedang su-suciku juga sudah mendengar kabar, hingga dari daerah selatan menuju ke sana. Semua ini hanya oleh karena ucapanmu sendiri yang sangat sembrono, sehingga sumoymu berbalik hendak pergi ke gunung Tiam-cong, mungkin tindakan itu akan menimbulkan huru-hara besar. Dan aku, oleh karena perlu pulang dulu hendak mengambil beberapa rupa barang yang diperlukan, maka aku sengaja pancing kau datang kemari. Aku semula ingin meninggalkan kau di kota Lok-yang, tetapi aku benci sekali terhadapmu ...."

"Benci aku ....?"

Bertanya Touw Liong tidak mengerti.

"Aku benci padamu, karena ucapanmu yang tidak dipercaya. Di atas puncak gunung Thian-tu-hong kau telah membocorkan rahasia gunung Tiam-cong-san, maka aku pancing kau datang kemari, kuserahkan kau kepada mereka berempat, mereka yang akan melakukan hukuman mati terhadap dirimu."

Ucapan gadis itu seenaknya saja, dianggapnya Touw Liong sebagai anak kecil yang tidak berdaya. Dengan wajah serius gadis itu berkata pula.

"Touw tayhiap, marilah kita berbicara soal yang sebenarnya, masih ada urusan penting, tidak ada waktu untuk melayani kau, sebelum aku berlalu, aku ingin bicara denganmu, empat pelindung keluargaku, satu persatu akan melayani kau, kalau engkau berhasil melayani tiga dari antaranya, kau boleh undurkan diri dari sini, tetapi jikalau kau tidak berhasil melawan mereka, juga terpaksa kau harus serahkan nasibmu."

Touw Liong sudah marah benar-benar, ia tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Terserah kepadamu, sekalipun kau suruh mereka maju berbareng, juga tidak akan bisa apa-apa terhadap diriku."

Gadis itu juga tertawa terbahak-bahak dan kemudian berkata.

"Mendengar perkataanmu ini, aku sudah merasa lega! Baiklah! Silahkan Touw tayhiap lekas melayani mereka. Maafkan aku tidak akan turut mengantar kau pulang ke akhirat...."

Ia memandang dengan sinar mata dingin kepada Touw Liong, kemudian alihkan pandangan matanya ke keempat pelindungnya dan berkata kepada mereka.

"Saudara-saudara berempat, jangan berlaku gegabah. Di dalam rimba persilatan, Touw tayhiap bukanlah seorang yang tidak ada namanya, maka kalian harus baik-baik melawan padanya."

Empat laki-laki itu sangat menghormat kepada gadis itu, dengan berbareng mereka menerima baik pesan nonanya.

Gadis itu mengenakan kedok mukanya pula, lalu mengambil tongkatnya, dan memberi isyarat kepada Touw Liong, setelah itu ia berjalan menuju ke jalanan dalam rimba.

Ia berjalan sangat cepat sekali, sebentar saja sudah menghilang.

Touw Liong berkata sendiri.

"Gadis itu .... berparas cantik bagaikan bidadari, sayang hatinya jahat seperti ular berbisa."

Empat laki-laki itu perlahan-lahan mengembalikan pedangnya ke dalam sarungnya masing-masing, seorang di antaranya yang di mukanya ada tanda warna biru, maju selangkah dan berkata dengan wajahnya yang seram.

"Touw tayhiap hendak mengaso sebentar, ataukah ingin bertanding sekarang?"

Dengan sikap gagah Touw Liong melihat mereka sepintas lalu, kemudian menjawab dengan menggunakan kata-kata gadis tadi.

"Nonamu tadi berkata bahwa jalanan yang menuju ke akhirat sangat dingin, ia suruh aku lekas berangkat, kebaikannya itu tidak boleh kuabaikan begitu saja, sebaiknya sekarang juga aku ingin belajar kenal dengan kepandaian tuan-tuan berempat! Sebelum pertandingan dimulai, bolehkan aku bertanya dulu siapa nama tuan-tuan yang mulia?"

Seorang di antaranya yang mukanya terdapat tanda tompel, lalu menjura dan berkata sambil menuding dirinya sendiri.

"Aku yang tidak berguna ini .... bernama Kang Yauw."

Selanjutnya ia memperkenalkan kepada Touw Liong tiga laki-laki yang lainnya. Ia menunjuk kepada lelaki setengah umur bermuka merah yang berdiri di sebelah kanan.

"Saudara ini adalah pelindung ke dua dari perkampungan kita yang bernama Ouw Yan ...."

Setelah itu ia menunjuk kepada lelaki yang berdiri di sebelah kiri, yang kupingnya bagaikan kuping tikus.

"Ini adalah saudara Kay Thay Yong, yang menjabat sebagai pelindung hukum nomor tiga ...."

Terakhir, ia menunjuk lelaki yang berdiri di ujung kiri.

"Dan saudara ini adalah Hoo Lik Su, yang menjabat sebagai pelindung hukum nomor empat."

Kemudian ia berkata pula sambil ketawa.

"Kita empat orang, hanya mengerti sedikit kepandaian kasar, kalau kita pertunjukkan barang kali akan membuat tertawaan orang lain saja, oleh karena itu, maka selama ini belum pernah unjuk muka di dunia Kang-ouw. Hari ini kami merasa beruntung telah bertemu dengan Touw tayhiap, seorang berkepandaian tinggi yang sudah sangat terkenal, maka kita minta supaya Touw tayhiap tidak segansegan memberi pelajaran kepada kami. Baiknya Touw tayhiap tadi sudah menerima baik permintaan nona kami, yang hendak memberi petunjuk kepada kami empat saudara."

Touw Liong menjawab juga dengan perkataan merendah.

"Tuan Kang, kau jangan merendahkan diri, aku hanya mendapat nama kosong belaka. Sebelum pertandingan ini dimulai, bolehkah aku bertanya lebih dahulu, bagaimana pertandingan ini hendak dilakukan?"

"Aku ini seorang yang tidak berguna, sejak masih muda sekali, di dalam perguruanku aku hanya mempelajari semacam kepandaian yang dinamakan "Bunga beterbangan" ...."

"Bunga berterbangan?"

"Hanya mainan anak-anak yang tidak ada gunannya."

"Apakah Tuan Kang menggunakan senjata rahasia?"

"Tidak berarti apa-apa, biarlah aku yang melakukan sedikit pertunjukan lebih dahulu, minta petunjuk Touw tayhiap, kemudian Touw tayhiap melayani kepandaian Loji dan Lo-sam ...."

Tidak sabar mendengar terus ocehan orang she Kang ini, ia bertanya.

"Apa yang dibuat taruhan?"

"Nona kami tadi sudah meninggalkan pesan, dalam empat kali pertandingan, asal Touw tayhiap memenangkan tiga kali, kami berempat segera mengantar keluar ...."

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, siapapun dapat mengerti maksudnya ialah jikalau Touw Liong tidak dapat menangkan tiga kali pertandingan, ia harus menyerahkan jiwanya.

"Sungguh suatu pertaruhan yang hebat! Baiklah! Aku lebih dulu ingin belajar kenal dengan kepandaian tuan Kang,"

Berkata Touw Liong.

Kang Yauw menerima baik, ia masukkan tangannya ke dalam kantong, lalu mengeluarkan lima buah benda kecil berbentuk bunga yang terbuat dari baja, kakinya melompat mundur sejauh empat tombak, kemudian tangannya bergerak ke arah Touw Liong yang ingin mengundurkan diri ke lain jurusan.

"Touw tayhiap, awas! Aku si orang she Kang hendak mulai dengan pertunjukanku!"

Demikian ia berkata.

Sepasang mata Touw Liong ditujukan kepada benda baja yang macamnya seperti bunga, diam-diam ia mengakui keganasannya senjata itu.

Ia berpaling kepada tiga orang lainnya, mereka bertiga pada lompat sejauh tujuh tombak, mungkin merasa kuatir apabila serangan itu meleset akan mengenakan diri mereka.

Tiga orang itu seandainya tidak melompat demikian jauh, mungkin tidak akan menimbulkan perasaan apa-apa bagi orang lain, akan tetapi karena mereka mundur sejauh tujuh tombak lebih, hal mana segera menimbulkan kecurigaan Touw Liong, maka ia buru-buru mengerahkan ilmunya "Membuka Pintu Langit"

Siap untuk menghadapi serangan orang she Kang itu.

Ia mengerti bahwa lima buah baja berbentuk bunga di tangan orang she Kang itu, pasti merupakan benda sangat ganas.

Dalam pada itu, tangan Kang Yauw sudah bergerak, dan lima buah baja berbentuk bunga itu meluncur ke arah Touw Liong.

Serangan orang she Kang itu boleh dikata cukup kencang, tetapi tidak beda dengan serangan senjata rahasia yang biasa, dalam waktu sangat cepat sudah berada di hadapan mata Touw Liong.

Touw Liong yang sudah siap menghadapi senjata itu sejak semula, hingga saat itu ia masih belum melihat dimana keistimewaannya senjata rahasia itu.

Seketika itu pikirannya bekerja keras, karena ia merasa bahwa ada apaapa dalam benda itu yang sangat mencurigakan, kalau mau dikata bahwa benda baja berbentuk bunga itu adalah senjata rahasia biasa, tidak mungkin orang she Kang itu menjadi kesohor namanya dan dibanggakan oleh majikannya, jikalau tidak, pastilah merupakan suatu benda yang sangat berbisa, hanya pada saat itu belum waktunya untuk menunjukkan sampai dimana dahsyatnya senjata itu.

Dalam keadaan demikian terjadi perubahan.

Kesatu, benda itu akan meledak karena tertahan oleh kekuatan tenaga orang yang diserang, kedua ialah terkendali oleh orang yang melancarkan.

Dengan timbulnya dugaan itu, maka Touw Liong tidak berani menggunakan tangannya untuk menyampok senjata tersebut.

Tindakan yang diambil Touw Liong itu ternyata benar, tetapi lebih baik kalau ia dapat menyambuti senjata yang meluncur dari tangan lawannya, tetapi ketika kedua tangannya selagi hendak menyambuti benda itu, tiba-tiba terdengar suara aneh, benda yang berada di tengah-tengah dan disusul oleh lainnya dengan mendadak telah meledak.

Bersamaan dengan itu lima benda itu telah memancarkan beberapa ratus jarum halus ke empat penjuru.

Meledaknya benda baja itu menimbulkan suara peletakpeletak berkali-kali, lalu di udara seperti hujan jarum yang mengurung Touw Liong.

Touw Liong sangat terkejut, ia buru-buru lompat ke belakang sejauh lima tombak.

Untung baginya, karena ia sudah siap sebelum menghadapi kejadian itu, dan kedua senjata itu meledaknya masih sejarak tiga tombak dengannya.

Senjata rahasia itu meskipun meledak dengan tiba-tiba, tetapi Touw Liong masih dapat menyingkir dengan cepat, dan sudah keluar dari kalangan yang berbahaya.

Namun demikian, Touw Liong juga sudah terkejut, hingga mukanya pucat pasi.

Oleh karena ia tahu bahwa pertandingan hari itu bukanlah pertandingan biasa, asal ada sebuah jarum saja yang menempek di bajunya, meskipun jarum itu tidak menembus ke dalam kulitnya, itu juga sudah dihitung kalah.

Justru karena demikian maka Touw Liong sudah terlepas dari serangan itu, keringat dingin mengucur deras.

Touw Liong menggunakan lengan jubahnya untuk membasuh keringat yang membasahi dahinya.

Sementara itu Kang Yauw tampak sikapnya yang dingin, dan lalu menjura dan berkata kepada Touw Liong.

"Touw tayhiap benar-benar seorang gagah, kepandaianmu sesungguhnya jarang ada, aku Kang Yauw merasa takluk terhadapmu dan selanjutnya adalah pelindung hukum kedua dari perkampungan kita yang hendak belajar kenal dengan kepandaian Touw tayhiap."

Selagi Touw Liong belum menjawab, Ouw Yan sudah menggulung kedua lengan bajunya, tanpa bicara apa-apa dengan langkah lebar berjalan menuju ke pintu gerbang kemudian memasang kuda-kuda.

Kedua lengannya diulurkan untuk menyambar dua buah singa-singaan batu yang berada di depan pintu.

Mulutnya mengeluarkan suara bentakan, singa-singaan batu yang beratnya hampir seribu kati itu telah diangkatnya tinggi-tinggi, kemudian ia memutar di dalam pekarangan, setelah itu ia berjalan kembali di tempat asalnya.

Sementara itu dalam hati Touw Liong telah berpikir bahwa Ouw Yan tentu akan meletakkan singa-singaan batu itu ke tempatnya semula, tetapi dugaan itu meleset!

Ouw Yan tidak meletakkan singa-singaan batu itu di tempatnya semula, melainkan kembali mengeluarkan suara bentakan keras, dua tangannya yang memegang kaki singasingaan batu tadi itu terangkat dan mendorongnya sehingga singa-singaan itu terlempar jauh setinggi setengah tombak lebih.

Perbuatan itu benar-benar sangat mengejutkan, sehingga Touw Liong sendiri yang menyaksikan juga menahan nafas.

Mengangkat singa-singaan batu yang beratnya hampir seribu kati dengan dibawa berputar-putaran sekian lama, itu saja sudah cukup mengejutkan orang, apalagi setelah itu melemparkannya ke atas setinggi setengah tombak lebih, ini benar-benar merupakan suatu kekuatan tenaga yang luar biasa.

Hal itu belum pernah Touw Liong mendengar atau menyaksikannya.

Selagi ia masih mengagumi kekuatan tenaga orang itu, Ouw Yan sudah menyambuti singasingaan batu yang meluncur turun dari tengah udara, kemudian diletakkan di tempat semula.

Sehingga saat itu Ouw Yan masih tenang-tenang saja, seolah-olah tidak menggunakan tenaga, nafasnya juga tidak memburu, hingga mengagumkan perasaan Touw Liong.

Baca Juga: Pohon Kramat 3

Baca Juga: Sukma Pedang 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert