Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 4

Eps 4 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

"Touw tayhiap, aku si orang she Ouw, hanya main-main saja, sekarang aku ingin menyaksikan bagaimana Touw tayhiap menggunakan tenaganya untuk melakukan perbuatanku terhadap singa-singaan batu itu."

Ouw Yan yang mengangkat singa-singaan batu, lalu berputar-putaran dan kemudian dilemparkan ke tengah udara, semua itu dilakukan dengan sangat baik, dan seperti sudah berlatih bertahun-tahun.

Dalam hati, Touw Liong diam-diam berpikir, untuk mengangkat singa-singaan batu itu saja sudah cukup berat baginya, apalagi hendak melemparkan ke atas setinggi setengah tombak, apabila kurang tepat, singa-singaan batu itu salah-salah bisa menindih atau mengenai kepalanya sendiri, bukankah itu sangat berbahaya?

Tetapi dalam keadaan demikian, Touw Liong tidak ada pilihan lain, ia terpaksa pasang kuda-kuda mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, kepada dua lengannya, kemudian dua tangannya memegang kaki depan singasingaan batu, mulutnya lalu mengeluarkan suara bentakan, singa-singaan batu itu terangkat naik melalui kepalanya.

Setelah itu ia melangkah lagi ke dalam pekarangan dan berputar-putaran sambil mengangkat singa batu seperti apa yang dilakukan oleh Ouw Yan.

Kang Yauw telah menyaksikan semua itu dengan mata tanpa berkedip.

Touw Liong setelah melakukan gerakan putaran lalu kembali ke tempat semula, ia berdiri sejenak, kemudia kedua lengannya bergerak, dan singa-singaan tadi itu terlepas dari tangannya dan mumbul ke atas.

Touw Liong yang melakukan itu dengan sikap tenang, singa-singaan batu itu terlempar satu tombak lebih di tengah udara, sehingga Kang Yang yang menyaksikan itu juga merasa kagum.

Singa-singaan batu itu setelah berada di tengah udara tampak berputaran lalu menurun lagi.

Touw Liong yang sudah siap, dengan cepat menyambutnya, kemudian meletakkannya kembali di tempatnya semula.

Setelah itu ia kibas-kibaskan kedua tangannya sambil menarik nafas lega.

Empat pelindung hukum perkampungan itu semua nampaknya sangat kagum akan kekuatan tenaga Touw Liong, hingga tak satupun yang perhatikan keadaan Touw Liong pada waktu itu, yang mukanya sudah mulai pucat pasi.

Karena saat itu Touw Liong sudah memforsir kekuatan tenaganya, sehingga sangat kuatir akan terkalah dalam permainannya.

Semua tidak tahu bahwa Touw Liong sewaktu melemparkan singa-singaan batu tadi ke tengah udara, singa-singaan itu nampak berputar-putaran di tengah udara, bagi Touw Liong ini merupakan suatu kegagalan, karena ia tidak berhasil mengimbangi tenaganya dengan beratnya singa itu, maka wajahnya pucat seketika, tetapi di mata empat pelindung hukum itu, lain lagi anggapannya, mereka menganggap bahwa Touw Liong telah mempermainkan singa-singaan batu itu.

Berputar-putarnya singat tadi di tengah udara itu bahkan mengagumkan mereka.

Kang Yauw memberi pujian berulang-ulang, lama sekali baru membuka suara.

"Touw tayhiap benar-benar bukan hanya nama kosong belaka, kita empat orang sesungguhnya amat kagum. Dan bagaimana pertandingan ketiga ini ....?"

Mata Kang Yauw berputaran, ia memandang sejauh satu pal lebih, di sana terdapat air sungai Lok Sui yang tenang, kemudian dengan secara tiba-tiba ia perdengarkan suara tertawa dingin dan berkata.

"Pelindung hukum nomor tiga pekampungan kita hendak minta pelajaran meringankan tubuh di atas air sungai Lok Sui."

"Meringankan tubuh di atas air?? ....."

Bertanya Touw Liong, agaknya tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

Ia sesungguhnya tidak menduga, karena ilmu kepandaian menginjak di atas air sungai hanya mendengar saja di kalangan rimba persilatan, ia belum pernah menyaksikan sendiri ilmu meringankan tubuh yang sungguh tidak ada taranya itu.

Ia benar-benar tidak menduga bahwa kepandaian itu dimiliki oleh seorang yang tugasnya hanya menjabat pelindung hukum di dalam suatu perkampungan yang tidak pernah dikenali ini.

Meskipun saat itu dalam hatinya agak kurang percaya, sehingga ia harus memandang orang itu dari atas ke bawah, ia ingin menyaksikan ada apa yang agak istimewa di badan orang itu karena kepandaian seamcam itu bukanlah setiap orang dapat mempelajarinya.

Jikalau bukan seorang yang berbakat luar biasa, dan mengumpulkan tenaganya kepada suatu pusat, sebab meringankan tubuhnya sedemkian rupa tidak mungkin dapat menginjakkan kaki di atas air.

Sementara itu Kang Yauw sudah menjawab dengan suara nyaring.

"Benar!! Menginjak air dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, pelindung hukum kita yang ketiga ini mintaTouw tayhiap bertanding dengan ilmu itu."

Sungai Lo Sui itu lebarnya kira-kira duapuluh tombak.

Touw liong mengerti bagaimanapun juga ia tidak bisa menyeberanginya, maka ia lalu menarik nafas.

Kang Yauw tertawa bangga kemudian berkata dengan tenang.

"Touw tayhiap, kita akan menunggu di sana!"

Empat orang itu berjalan menuju ke tepi sungai Lok-sui, Touw Liong terdiam sejenak, dengan keadaan terpaksa ia juga berjalan menuju ke sungai itu.

Perasaannya saat itu sungguh tidak enak sekali, apalagi kalau mengingat bahwa kepandaian empat orang itu satu lebih tinggi daripada yang lainnya, tanpa disadari ia berjalan terus mendekati sungai itu.

Sejenak Touw Liong terkejut, kemudian dengan tiba-tiba otaknya timbul suatu pikiran yang aneh, ia lalu memetik sepotong ranting pohon yang panjang sejengkal tangan, lalu dimasukkan ke dalam lengan bajunya.

Hawa udara dingin, namun permukaan air sungai Loksui tenang-tenang saja, pelindung hukum nomor tiga dari perkampungan Pak-bong-san sudah lama berdiri di tepi sungai, sepasang matanya memandang ke permukaan air, sedikitpun tidak bergerak.

Wajah orang itu menunjukkan sikapnya yang licik, terhadap permainannya sendiri yang hendak menyeberangi sungai dengan jarak dua puluh tombak itu, agaknya ia sudah yakin benar dapat melakukannya dengan baik.

Sebaliknya dengan Touw liong yang berdiri terpisah dengannya sejauh enam tombak, saat itu Touw Liong tampak ragu-ragu, ia merasa sangsi atas kepandaiannya untuk menyeberangi sungai itu.

Kang Yauw yang berdiri di tengah-tengah antara dua orang itu, dengan nada suara mengejek berkata.

"Dalam pertandingan ini, akan dimulai oleh pelindung hukum kita yang ketiga lebih dahulu, kemudian akan disusul oleh Touw tayhiap."

Touw Liong memandang arah sungai Lok-sui yang lebar itu, kemudian berkata dengan suara perlahan.

"Dengan kepandaian kalian orang-orang dari kelas dua ini, rasanya siapapun tidak mempunyai kemampuan untuk menyeberangi sungai itu!"

Baru saja menutup mulut, pelindung hukum nomor tiga itu sudah melesat dan melompat sejauh tiga tombak, satu kakinya menginjak permukaan air sungai yang terpisah tiga tombak dari tepi, dengan gaya yang sangat ringan, kakinya menginjak ke permukaan air, kemudian melesat lagi juga sejauh tiga tombak.

Touw Liong yang menyaksikan itu benar-benar telah merasa terkejut!

Alisnya berdiri.

Selagi tiga orang yang lainnya tidak perhatikan gerakannya, ia telah dapat patahkan menjadi beberapa potong kayu yang berada di dalam lengan bajunya, ia lemparkan sebatang ke permukaan air sungai sejauh empat tombak, dan sepotong lagi dilemparkan sejauh delapan tombak.

Sementara itu pelindung hukum nomor tiga tadi, dengan beberapa lompatan berulang-ulang, kini sudah tiba di tepi seberang.

Saat itu dalam otak Touw Liong penuh rasa curiga, mengingat perbuatan sendiri yang telah melemparkan dua potong ranting kayu di permukaan air, sehingga dalam hatinya timbul perasaan.

apakah ia tidak main gila juga?

Setelah itu, ia lantas lompat melesat sejauh empat tombak, satu kakinya tepat menginjak potongan ranting kayu yang berada di permukaan air.

Kemudian ia melompat lagi, pada saat ia hampir menginjak kepada suatu ranting yang lainnya, ia sudah melemparkan sepotong lagi ke permukaan air sejauh empat tombak.

Hanya lima kali loncatan ia sudah berhasil menyeberangi sungai itu.

Empat pelindung hukum perkampungan yang menyaksikan itu, semuanya tercengang dan terheran-heran, mereka benar-benar tidak percaya bahwa di dalam dunia ini ada orang yang mampu menyeberangi sungai tanpa memakai perahu, lebih-lebih tidak percaya kepandaian ilmu Touw Liong dalam meringankan tubuh sudah mencapai kepada taraf yang tidak ada tandingannya.

Dua ranting kayu yang pertama yang dilemparkan oleh Touw Liong, di luar tahunya pelindung hukum perkampungan itu tidak diketahui oleh empat pelindung hukum dan potonganpotongannya selanjutnya yang dilemparkan oleh karena telah terpisah sudah jauh, sudah tentu lebih-lebih tidak diketahui oleh mereka, apalagi potongan yang dilemparkan oleh Touw Liong itu tidak besar, maka dengan mudah mengelabuhi mata empat pelindung itu.

Sebaliknya dengan Touw Liong, karena dipengaruhi oleh perbuatannya sendiri, maka ia memperhatikan tiap gerakan pelindung hukum ketiga tadi, di permukaan air itu tidak mendapatkan tanda-tanda yang mencurigakan sehingga dianggapnya pelindung hukum ketiga itu benar-benar seperti berjalan di atas air, dan tidak main gila.

Touw Liong setelah tiba di tepi seberang, ia berpaling memandang kepada tiga orang yang sedang berdiri tertegun, kemudian ia memberi hormat kepada pelindung hukum ketiga yang juga berada di satu tepi dengannya, kemudian ia berkata.

"Sekarang tuan pelindung hukum keempat, masih ingin melakukan pertandingan apa?"

Di luar dugaan Touw Liong, pelindung hukum ketiga itu memberi hormat kepadanya, seraya berkata.

"Aku yang rendah, disini mewakili saudara-saudara kami dari perkampungan ini, hendak mengantar Touw tayhiap berlalu dari sini."

Mata Touw Liong ditujukan ke permukaan air sungai, dari tempat yang agak jauh, tampak beberapa batangan kayu kecil mengambang di atas air, selain daripada itu tidak tampak apa-apa lagi.

Jelas bahwa pelindung hukum ketiga tadi tidak seperti dirnya sendiri yang menggunakan batang kayu kecil untuk injakan kakinya, hanya dalam hati Touw Liong benar-benar masih tidak mau percaya bahwa pelindung hukum itu dapat menyeberangi sungai selebar dua puluh tombak itu tapa menggunakan benda buat injakan kaki.

Dengan penuh pertanyaan dalam otaknya, ia tidak berani berlalu dengan segera, sebaliknya balas bertanya kepada pelindung hukum ketiga itu.

"Bagaimana dengan kepandaian ilmu pelindung hukum keempat ...?"

Pelindung hukum ketiga menjawab sambil menunjuk ke sungai bagian bawah.

"Tempat itu dalamnya kira-kira sepuluh tombak di bawah sungai itu airnya dingin sekali, namun pelindung hukum kita yang keempat dapat menyelam di dalam air itu selama tiga jam."

Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong mendengar keterangan itu, ia diam-diam merasa bersyukur, karena seandainya tadi ia harus melakukan empat pertandingan, di dalam pertandingan keempat ini, ia pasti akan kalah, sebabnya ialah Touw Liong sedikitpun tidak pandai berenang.

Ia mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Di kemudian hari apabila ada jodoh, aku pasti hendak belajar kenal dengan kepandaian di bawah air saudaramu itu!"

Berlalu dari sungai Lok-sui, pikiran Touw Liong masih seperti diganduli oleh barang berat, ia masih merasa penasaran, maka ketika berjalan lima pal jauhnya, ia kembali ke sungai Lok-sui.

Tiba di tepi sungai yang tadi pernah diseberangi permukaan air ternyata masih tenang, tetapi empat pelindung hukum itu sudah tidak tampak bayangannya.

Touw Liong berjalan ke tempat yang tadi bekas diinjak pelindung hukum ketiga, lalu melongok ke permukaan air, air sungai itu tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan, hingga dalam hatinya berpikir.

Benarkah ia memiliki ilmu meringankan tubuh setinggi itu?

Pada saat itu dari bagian atas tampak sebuah sampan di dayung menuju ke tengah sungai, Touw Liong acungkan tangannya, dan tukang perahu itu menepi, setelah itu ia lompat melesat ke atas sampan, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepotong uang, kemudian diberikan kepada tukang perahu, sambil menunjuk ke tepi seberang.

Tukang perahu itu mengerti, ia lalu mendayung perahunya dengan mengambil jalan bekas dilalui oleh pelindung hukum ketiga tadi.

Sepanjang penyeberangan itu, Touw Liong menundukkan kepala memperhatikan keadaan air sungai, di dalam air itu tiba-tiba menemukan sesuatu benda yang aneh.

Kira-kira tiga kaki di dalam air, setiap sejarak tiga tombak, di situ pasti terdapat sepotong bambu.

Touw Liong segera sadar, kiranya pelindung hukum ketiga tadi menyeberangi sungai dengan menginjak bambu yang sudah diletakkan lebih dahulu ke dalam sungai itu.

Bambu-bambu itu semua rata dengan permukaan air, tetapi setelah diinjak dengan kaki pelindung hukum tadi, bambu itu melesak ke dalam, sehingga amblas tiga kaki dari permukaan air.

Touw Liong memberi tanda kepada tukang perahu, minta ia mencabut sebatang.

Tukang perahu mendayung sampannya kira-kira tiga tombak di tepi sungai, di tempat yang agak dangkal ia mencabut sebatang bambu sepanjang lima kaki, dan diberikan kepada Touw Liong.

Touw Liong dengan membawa bambu itu melompat naik ke atas tepi kemudian lari menuju ke perkampungan.

Sebentar kemudian, ketika ia tiba di pintu gerbang perkampungan itu, lalu mengambil selembat daun bambu yang agak lebar, di atasnya ditulis beberapa patah kata.

KEPANDAIAN GOLONGAN PAK BONG SAN HANYA BEGITU SAJA; KUPERINGATKAN KEPADA KO HONG, JANGAN GEGABAH MENIMBULKAN ONAR DI PERKAMPUNGAN WIE LIONG CEN.

Sehabis menulis, ia mengetok pintu perkampungan itu.

Orang yang membuka pintu itu masih tetap orang tua yang semula dijumpai oleh Touw Liong.

Orang tua itu dengan perasaan terheran-heran memandang Touw Liong, kemudian bertanya.

"Mengapa siangkong kembali?"

Touw Liong menggapai kepada orang tua itu, lalu memberikan bambu dan daun bambu yang telah ditulisnya tadi seraya berkata.

"Tolong bapak sampaikan kepada tuan Kang, suruh ia berusaha memberitahukan kepada Ko Hong, jikalau berani menimbulkan onar di perkampungan Hui-liong-chung, aku si orang she Touw nanti akan minta pertanggungan jawab kepada tuan Kang."

Kakek tua itu menyambuti bambu dan daun bambu, setelah itu Touw Liong mengucapkan terima kasih kepadanya dan berjalan balik menuju ke tepi sungai. Dengan alis berdiri, ia berkata kepada diri sendiri.

"Sebaiknya aku segera berangkat ke gunung Tiam-congsan."

Bab 22 Dari kota Lok Yang, Touw Liong mengambil jalan menuju ke kota Lam-yang, setelah melalui kota King-siang, kemudian lalu membelok menuju ke barat.

Sepanjang jalan, hampir tidak ada waktu untuk beristirahat, tetapi ia masih tidak berhasil mengejar gadis baju kuning dari perkampungan Pak-bong-san.

Hari itu cuaca cerah, perahu besar yang ditumpangi Touw Liong melalui tiga selat di bawah kaki bukit Bu-san, lalu tiba di pelabuhan Hong-ciat.

Hong-ciat merupakan satu kota pelabuhan yang cukup besar, di kota itu terdapat manusia berbagai golongan dan berbagai tingkat, tukang perahu berkata, bahwa perahunya harus berhenti di pelabuhan itu untuk menunggu muatan barang, kira-kira satu hari lagi baru bisa diberangkatkan.

Penumpang dalam perahu itu tidak banyak kira-kira sepuluh orang lebih, karena masih ada waktu satu hari, siapapun tidak mau berdiam di dalam perahu, maka masing-masing naik ke darat dan memasuki kota pelabuhan untuk pesiar.

Touw Liong juga terdapat di antara orang-orang itu; mulai masuk ke dalam kota.

Di sebelah barat bagian kota yang dekat sungai ada sebuah rumah minum yang bernama Sam-gi-yan, rumah minum itu kabarnya merupakan satusatunya rumah minum arak yang sangat terkenal di daerah itu.

Rumah minum itu bukan saja terkenal dengan araknya, tetapi terkenal pula dengan masakannya, Touw Liong tidak gemar minuman arak, tetapi oleh karena rumah minum itu merupakan suatu rumah minum yang terkenal, maka ia tidak mau lewatkan kesempatan begitu saja.

Masuk di dalam rumah minum itu, ia mencari tempat duduk yang dekat dengan permukaan sungai, di sebelah tempat duduknya dua laki-laki sedang bercakap-cakap dengan suara perlahan, tetapi yang satunya lagi suaranya bukan saja keras, tapi juga agak serak.

Dua orang itu semua membicarakan orang-orang di jaman Sam-Kok, katanya Kwan Kong yang segagah itu oleh karena terkepung di gunung Lu-san sehingga hatinya merasa cemas dan kemudian jatuh sakit di kota Hong-ciat bahkan mati di tempat itu.

Tapi kemudian orang yang suaranya serak tadi tiba-tiba berkata.

"Kota Hong-ciat merupakan kota bersejarah, di sini pernah ditanam jenasah Lao Pie, raja dari jaman Sam-Kok, aku heran, mengapa sancu kita tidak memilih tempat di kota ini untuk pertemuan besar, sebaliknya memilih tempat gunung Lusan?"

Touw Liong yang mendengar perkataan "sancu"

Hatinya tergerak.

Ia berpaling mengawasi kepada dua orang yang sedang asyik berbicara itu.

Dua laki-laki yang sedang asyik bicara tadi, dari wajah mereka menunjukkan sudah mulai agak mabuk, terutama orang yang suaranya serak dan kasar tadi otot-ototnya pada menonjol dan bergerak-gerak sehingga tampak sikapnya yang sangat lucu.

Kawannya yang bermuka merah terdengar berkata.

"Danau Siao-thianti di gunung Lu-san merupakan suatu tempat yang mempunyai pemandangan alam sangat indah, sudah tentu sancu kita memilih tempat itu untuk mengadakan pertemuan."

Sang kawan yang suaranya serak itu berkata.

"Kita orang-orang Sucwan memiliki gunung Ngo-li-san yang puncaknya sangat terkenal juga indahnya, rasanya tidak kalah dengan danau Siao-thian-ti."

Kawannya yang bermuka merah itu agaknya tidak mau bertengkar dengan kawannya, maka mengalihkan permbicaraannya ke lain soal, ia berkata dengan suara pelahan.

"Apakah benar, sancu kalian kali ini mengirim surat undangan? Kabarnya sangat luas sekali, hampir setiap orang yang terkenal dalam rimba persilatan tidak ada satu yang tidak diundang?"

Kawannya yang bersuara serak tadi mukanya celingukan, kemudian berkata dengan suara yang agak pelahan.

"Belum dapat dikatakan luas, umpama kata, Kiuhwa Lojin dari gunung Kiu-hwa-san, tidak dapat undangan."

Touw Liong yang mendengar perkataan ini, sikapnya berubah seketika, namun ia berusaha untuk mengendalikan perasaannya.

Karena ia tahu, bahwa Kiu-hwa Lojin di dalam rimba persilatan merupakan seorang yang sangat terkenal tinggi kedudukannya ia sungguh tidak menyangka bahwa ada orang yang hendak mengadakan pertemuan besar, sudah mengeluarkan suatu undangan, tetapi tidak mengundang suhunya.

Berapa kali ia ingin berdiri untuk menanyakan keterangan kepada orang itu, tetapi akhirnya ia kembalikan dirinya untuk bersabar.

Orang yang bermuka merah itu dengan suara berbisikbisik bertanya pada kawannya.

"Kenapa?"

Sang kawan yang suaranya serak tadi menunjukkan tertawanya yang misteri, kemudian berkata.

"Tidak apaapa, hanya karena Kiu-hwa Lojin pada tiga puluh tahun berselang pernah mengeluarkan perkataan bahwa ia tidak akan terjun ke dunia Kang-ouw lagi ...."

Touw Liong menarik napas lega, lelaki bermuka merah agaknya tidak setuju atas perkataan kawannya tadi, maka ia memotong dan berkata.

"Kiu-hwa juga merupakan suatu partai besar dan ternama, pertemuan besar semacam ini, meskipun Kiu-hwa Lojin tidak bisa datang sendiri, setidaktidaknya juga harus mengirim anak buahnya untuk hadir, sancumu agaknya tidak pantas kalau mengabaikan hak-hak mereka itu."

Touw Liong sementara itu bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Pertemuan apakah yang akan diadakan oleh sancu itu?"

Sementara itu terdengar pula suaranya orang yang suaranya serak tadi.

"Sudah tentu, sudah tentu sancu kita mencari jalan untuk memperbaikinya, sekalipun undangannya tidak disampaikan langsung kepada Kiu-hwa Lojin, tetapi kepada anak muridnya juga diberikan sebuah undangan!"

Kawannya yang bermuka merah menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berkata.

"Tindakan ini agaknya kurang tepat, juga agak aneh, aku sesungguhnya tidak setuju."

Kawannya yang bersuara serak tadi berkata.

"Justru karena surat undangan itu yang menyulitkan diriku, di dunia yang sangat luas ini kemana aku harus mencarinya?"

"Mencari siapa??"

Demikian kawannya yang bermuka merah tadi bertanya.

"Mencari muridnya yang bernama Touw Liong."

Touw Liong yang mendengar kata-kata orang itu, karena tadi merasa terhina, sehingga agak marah, dari mulutnya mengeluarkan suara gerutuan.

Dua laki-laki yang bercakap-cakap tadi ketika mendengar suara gerutuan Touw Liong lantas berhenti bicara, dengan serentak berpaling memandang kepada Touw Liong.

Touw Liong mengerti, bahwa pada tempat dan saat seperti itu, ia tidak boleh bertengkar dengan dua orang itu, karena ia masih perlu mendengar percakapan selanjutnya dua orang itu, dan selain daripada itu, karena pembicaraan dua orang itu dilakukan sangat pelahan dan hanya dari lakilaki yang suaranya serak itu yang bisa didengar olehnya, ia mengharap dari mulut orang itu dapat keterangan lebih jauh, maka ia tetap berlaku sabar.

Sebelum dua orang tadi memandang ke arahnya, ia buruburu alihkan pandangannya keluar jendela.

Dua laki-laki tadi ketika melihat sikap Touw Liong yang agaknya tidak menghiraukan pembicaraan mereka, lalu melanjutkan percakapannya.

Orang yang bermuka merah itu berkata.

"laote! Biarlah saja kalau tidak menemukan orang she Touw itu, kau antarkan saja undangannya ke gunung Kiu-hwa ...."

Orang yang suaranya serak itu menjawab dengan tegas.

"Tidak bisa! Itu tidak boleh! Sancu muda kita telah memberi pesan wanti-wanti minta aku sampaikan sendiri kepada orang she Touw itu."

"Oo ....!"

Demikian sang kawan yang bermuka merah itu menyahut sambil mengangguk-anggukkan kepala, agaknya merasa simpati terhadap tindakan kawannya.

Sementara itu wajah Touw Liong berkali-kali berubah, tangannya memegang cawan arak, namun otaknya bekerja, ia sedang memikirkan dengan jalan bagaimana untuk mengambil surat undangan dari orang itu.

Ia tidak suka mengagungkan dirinya, juga tidak suka merampas dengan menggunakan kekerasan, ia pun tidak mau mencuri secara menggelap, satu-satunya cara ialah mengambil dengan terus-terang, namun dengan memakai akal, tetapi pakai apa?

Bagaimana supaya dapat mengambilnya tanpa disadari oleh orang lain, juga janga sampai orang itu mengetahui kalau ia yang mengambil.

Pada saat itu, ia sudah menduga pasti bahwa sancu yang dimaksudkan oleh orang yang suaranya serak dan keras itu pasti adalah sancu dari gunung Cit-phoa-san, Pek Thian Hiong.

Ia tujukan pandangan matanya ke permukaan air sungai, mengawasi bergulungnya ombak air sungai, tiba-tiba alisnya berdiri, dalam otaknya menemukan suatu akal, sambil menepuk-nepuk jidatnya sendiri ia berkata.

"Orang itu tadi mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar, seharusnya diberikan sedikit hajaran."

Ini bukan menunjukkan Touw Liong berjiwa sempit, sebetulnya nama Touw Liong yang sudah dikenal di seluruh rimba persilatan, tidak seharusnya orang itu menggunakan kata-kata yang tidak sopan terhadapnya.

Ia alihkan pandangan matanya kepada dua laki-laki tadi, yang saat itu masih bercakap-cakap dengan asyiknya, tampaknya, dalam waktu singkat tidak akan berlalu dari tempat itu, maka ia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke meja kasir.

Touw Liong minta disediakan kertas dan alat tulis, kemudian menulis di atas kertas.

"Undangan sudah kuterima, kata-katamu tadi kurang sopan, seharusnya kuberi peringatan. Kepada sancu muda, Tertanda, Touw Liong"

Setelah menulis sampulnya, ia masukkan surat itu ke dalam sampul itu, lalu ditutup rapat-rapat, di muka sampul dialamatkan kepada Sancu Muda dari gunung Cit-phoasan, sedang di bawahnya ditulis namanya sendiri.

Sehabis melakukan pekerjaannya itu, ia masukkan surat ke dalam sakunya, lalu kembali lagi ke tempat duduknya semula, dan dengan seenaknya minum lagi araknya.

Sementara itu, matanya sebentar-sebentar memandang ke arah dua laki-laki di dekat mejanya, kini tampak olehnya muka dua orang itu tambah merah, saat itu sudah tidak memperbincangkan urusan surat undangan itu lagi, sebaliknya mereka membicarakan persoalan rimba persilatan.

Touw Liong anggap saatnya sudah tiba, dengan tenang ia bangkit lagi, lalu menjura kepada lelaki yang suaranya serak dan kasar, seraya berkata.

"Apakah saudara berasal dari Propinsi Sucoan?"

Lelaki yang ditegur itu tampak tercengang, kemudian menjawab.

"Benar, saudara ada keperluan apa?"

"Aku telah mengganggu kesenangan saudara berdua, lebih dulu minta maaf sebesar-besarnya, aku hendak minta keterangan tentang suatu tempat, harap saudara ...."

"Tidak apa, asal aku tahu, aku pasti akan memberitahu kepadamu, katakanlah segera."

Touw Liong membungkukkan badan mengucapkan terima kasih lagi, akhirnya berkata pula.

"Aku hendak numpang tanya. Kemana jalannya yang menuju ke gunung Cit-phoa-san?"

"Gunung Cit-phoa-san?"

Berkata laki-laki itu, matanya berputaran mengawasi Touw Liong, kemudian ia balas bertanya dengan perasaan terheran-heran.

"Saudara hendak mencari siapa di gunung Cit-phoasan?"

"Siaote hanya membawa tugas untuk mengantarkan surat ke gunung Cit-phoa-san."

Laki-laki itu semakin terkejut, ia bertanya pula.

"Saudara datang dari mana?"

"Dari gunung Kiu-hwa-san."

"Gunung Kiu-hwa-san?"

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala. Lelaki itu pelahan-lahan bangkit dari tempat duduknya, dengan sikap baik, balik bertanya.

"Saudara mendapat perintah dari siapa?"

"Dari seorang pendekar yang namanya sangat terkenal pada dewasa ini ...."

"Apakah pendekar itu Touw tayhiap?"

Touw Liong kembali mengangguk-anggukkan kepala. Napas laki-laki itu mendadak sesak, lalu bertanya dengan suara gemetaran.

"Surat itu ditujukan kepada siapa?"

Touw Liong memandang kanan kirinya sejenak, dengan pura-pura berlaku misterius telunjuk jari tangan kanannya menuding.

Lelaki itu memandang sekilas sampul yang berada di tangan Touw Liong, ia lalu membacanya dengan suara pelahan.

"Sancu muda?"

"Ya...."

Menjawab Touw Liong dengan pelahan.

"Saudara bicara harus hati-hati sedikit."

"Ha ...."

Tertawa laki-laki itu, matanya dibuka lebar dan berkata pula.

"Kedatangan saudara sangat kebetulan, bolehkah aku bertanya, saudara ada hubungan apa dengan Touw tayhiap?"

"Saudara seperguruan,"

Menjawab Touw Liong dengan suara pelahan.

"Ai ...!!"

Berseru laki-laki itu sambil menyoja.

"Boleh aku numpang tanya nama saudara yang mulia?"

"Kim Yan!"

Menjawab Touw Liong dengan menggunakan nama adik seperguruannya.

"Kim Yan .... Oh! Benar! Menurut keterangan sancu muda, murid golongan Kiu-hwa ada salah satu yang bernama Kim Yan."

Kembali lelaki itu memandang Touw Liong dari atas sampai ke bawah, kemudian mengulurkan tangan sambil berkata pula.

"Saudara Kim, bolehkah aku lihat sebentar surat itu?"

"Tidak boleh! Suheng telah pesan berwanti-wanti, jikalau tidak bertemu sendiri dengan sancu muda, surat ini harus kubawa kembali,"

Menjawab Touw Liong sambil mengeleng-gelengkan kepala.

"Begitu penting?"

Tanya lelaki itu sambil mengerutkan alisnya.

Touw Liong kembali mengangguk-anggukkan kepala.

Lelaki itu celingukan mengawasi keadaan di sekitarnya, tampak olehnya di salah satu ruangan keadaannya agak sepi, di situ tidak terdapat seorangpun juga, maka lalu memberi hormat kepada Touw Liong seraya berkata.

"Kim tayhiap, aku ada urusan penting hendak minta pertolonganmu, sudikah kiranya saudara membuang sedikit waktu untuk bicara denganku?"

Touw Liong nampak sangsi sejenak, akhirnya ia menganggukkan kepala, lelaki itu lalu memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu ke ruangan yang kosong itu.

Touw Liong mengikuti di belakangnya dengan berjalan lambat.

Kawan lelaki itu yang bermuka merah menganggukanggukkan kepala sambil berkata kepada diri sendiri.

"Mereka berdua sungguh kebetulan, masing-masing menemukan apa yang dicari. Tampaknya urusan itu nanti akan berjalan lancar!"

Sebentar kemudian, dua orang itu melakukan pembicaraan serius di ruangan kosong itu, masing-masing masukkan tangannya ke dalam saku, lalu mengeluarkan sepucuk sampul, kemudian dua orang itu kembali lagi ke tempat duduk masing-masing.

Lelaki yang suaranya serak itu nampaknya sangat gembira, ia berjalan menuju ke kasir membayar uang, setelah itu berjalan keluar dengan diikuti oleh kawannya yang bermuka merah.

Setelah dua laki-laki itu tadi berlalu, Touw Liong mengeluarkan surat undangan yang diberikan oleh lelaki tadi, karena saat itu keadaan agak sepi, ia lalu membaca surat undangan, sehabis membaca alisnya lantas berdiri.

Kiranya dalam surat undangan itu telah ditulis demikian.

"Diberitahukan dengan hormat, bahwa orang yang menamakan diri Panji Wulung itu, sebetulnya bukan seorang yang sifatnya gaib, melainkan seorang yang sangat kejam dan jahat; perbuatannya pada seratus tahun berselang, mengacau di beberapa daerah Tiong-goan, dan perbuatannya yang membinasakan dua belas tokoh rimba persilatan, sehingga saat ini masih merupakan suatu perbuatan terkutuk yang tidak dapat diampuni oleh siapapun juga. Dan kini seratus tahun kemudian, ia telah muncul lagi, maksudnya hendak menyebarkan bencana dalam rimba persilatan. Aku Thian Hiong sungguh beruntung, merupakan orang pertama-tama yang dijadikan sasaran. Anakku Giok Hwa, ketika pesiar di kota Keng-siang, telah menerima sebuah panji wulung, tetapi perbuatan Panji Wulung itu yang tidak berani berlaku terang-terangan, entah apa yang dimaksud olehnya? Kemudian aku dengar bahwa tiga jago dari partai Kiong-lay-pay, tokoh-tokoh dari gunung Thay-san dan perkampungan Hui-liong-chung, masing-masing telah binasa dan terluka di bawah tangan Panji Wulung. Jikalau perbuatan itu dibiarkan begitu ... halaman 59 -62 R O B E K !!! dua kakinya seolah-olah tidak menginjak tanah, dengan cepat sekali sudah berada di hadapan Touw Liong.

"Aaa...."

Demikian seruan yang tercetus dari mulut Panji Wulung, kemudian berkata pula dengan nada suara dingin.

"Manusia di mana saja selalu bertemu. Anak busuk, kali ini kita kembali bertemu di sini! Hari ini aku ingin lihat dengan apa kau hendak mengelabui diriku lagi!"

Setelah berkata demikian, ia menghampiri Touw Liong semakin dekat.

Alis Touw Liong berdiri, entah apa sebabnya dengan mendadak dalam pikirannya timbul perasaan hormat dan halus terhadap Panji Wulung.

Touw Liong membungkukkan badan memberi hormat, mulutnya berkata.

"Ya, manusia memang dimana saja selalu bisa bertemu. Apakah selama ini locianpwee baik-baik saja?"

Panji Wulung ternyata tidak mau menerima hormatnya, ia berkata dengan nada suara dingin.

"Aku si orang tua masih bisa makan enak, masih bisa tidur nyenyak, mengapa tidak baik?"

Touw Liong merasa kecele, tetapi ia tidak marah, bahkan masih membungkukkan badan memberi hormat seraya berkata.

"Ada keperluan apa cianpwee berkunjung ke gunung Busan ini?"

"Ada dua urusan. Pertama, aku hendak mencari setan tua dari Gunung Bu-san untuk membuat perhitungan dengannya, dan kedua, hendak mencari kau untuk menanyakan sesuatu hal,"

Jawab Panji Wulung dengan nada suara dingin.

"Mencari aku?"

Bertanya Touw Liong terkejut, sementara dalam hatinya berpikir.

"ada urusan apa mencari aku?"

"Benar! Aku hendak mencari kau!"

Biji mata Touw Liong berputaran, pikirannya bekerja keras, sementara itu Panji Wulung tiba-tiba perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata pula.

"Panji Wulung ada dua, bahkan orang yang berani terang-terangan mengaku sebagai Panji Wulung itu adalah kamu sendiri!"

Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong sehingga saat itu ia berdiri tertegun.

Jilid 9 Dengan nada suara dingin Panji Wulung berkata sepatah demi sepatah.

"Dalam kolong langit ini hanya ada satu Panji Wulung, itulah aku sendiri, aku tidak mengijinkan adanya orang kedua yang mengaku-aku sebagai Panji Wulung. Tetapi hari ini aku tidak akan ngurusi soal ini, aku tidak peduli kau betul ataukah tidak keturunan Panji Wulung yang satu itu, hari ini kau harus mati."

Ucapan Panji Wulung itu sebetulnya sangat jumawa, hingga Touw Liong yang mendengarkan lantas naik pitam, ia bertanya.

"Dari siapa cianpwee dengar bahwa aku adalah muridnya Panji Wulung?"

"Setan tua dari gunung Bu-san."

"Anak sakti dari gunung Bu-san?"

Panji Wulung menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Touw Liong. Touw Liong lalu berpikir.

"Tentang diriku yang menjadi keturunan Panji Wulung, hanya suhu yang tahu, Anak Sakti dari gunung Bu-san di dalam rimba persilatan mempunyai kedudukan baik dan nama harum, sudah tentu tidak suka melakukan perbuatan yang bersifat mengadu domba atau mencuri dengar rahasia orang lain."

"Oo..."

Demikian Touw Liong berseru dan tiba-tiba ingat diri seseorang. Panji Wulung miringkan kepalanya dan bertanya.

"Anak busuk, mengapa kau masih berlagak?"

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala, seolah-olah berkata kepada diri sendiri, juga seperti memberitahukan kepada Panji Wulung, katanya.

"Aku teringat dirinya seseorang!"

"Siapa?"

"Kakek Seribu Muka, caranya ia menyamar menjadi Anak Sakti dari gunung Bu-san sesungguhnya sulit dibedakan, mana yang tulen dan mana yang palsu, orang tua itu menyiarkan perkataan yang bukan-bukan di luaran, maka aku hendak berkata bahwa cianpwee sudah kesalahan mencari orang."

Panji Wulung mengeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Aku tidak peduli itu semua, juga tidak peduli, siapa yang kata, aku hanya ingin tanya kau, kau mau mengaku sebagai keturunan Panji Wulung yang lain itu atau tidak?"

Touw Liong mengerti, bahwa jikalau ia berkata terus terang pasti akan dibunuh oleh nenek itu, tetapi ia masih berkata secara terus terang, katanya sambil menganggukanggukkan kepalanya.

"Boanpwee sesungguhnya adalah murid Panji Wulung yang cianpwee maksudkan."

Panji Wulung mendadak terbenam dalam lamunannya, tidak mengambil tindakan dengan segera, sebaliknya berkata dengan suara dingin.

"Bocah, kau mempunyai bukti apa, yang dapat membuktikan bahwa kau adalah murid keturunan Panji Wulung?"

Touw Liong tercengang, mata Panji Wulung mendadak memancarkan sinar yang buas, lalu berkata dengan nada suara tetap dingin.

"Muridnya Panji Wulung, memiliki dua belas panji kecil warna hitam, jikalau kau tidak dapat mengeluarkan panjipanji itu, itu berarti kau hanya mengaku-aku saja."

Beberapa kali Touw Liong hendak mengeluarkan surat dari dalam sakunya yang ditinggalkan si Dewa Arak Taysu Gila, untuk membuktikan bahwa dirinya adalah pewaris Panji Wulung, akan tetapi ia batalkan maksud itu, dan berkata sambil tertawa getir.

"Boanpwee kini justru sedang mencari dua belas panji itu."

"Akal busuk, jikalau kau bukan karena butek pikiranmu, tentunya otakmu sudah miring. Siapa saja kau boleh menyaru, hanya Panji Wulung tidak. Apa kiramu boleh kau tiru begitu saja? Baiklah! Hari ini aku tidak akan berlaku kejam terhadapmu, aku akan memberi kau suatu kematian yang paling baik."

Setelah berkata demikian ia benar-benar terus mengangkat tongkatnya, perlahan-lahan disodorkan, langsung mengarah jalan darah di bagian dada Touw Liong.

Sebelum ujung tongkat tiba kepada sasarannya, dari situ menghembuskan hawa dingin, yang menyusup ke dalam kulit daging dan bagian jalan darah, sehingga sekujur badan Touw Liong dirasakan dingin.

Di dalam keadaan demikian, jika ia ingin lari, sudah tentu percuma saja, satusatunya jalan hanya menantikan kematian sambil memejamkan matanya.

Henbusan hawa dingin yang keluar dari ujung tongkat Panji Wulung semakin lama semakin hebat, tampaknya, asal tangan Panji Wulung bergerak, Touw Liong segara akan binasa.

Akan tetapi tongkat itu masih tetap dalam keadaan demikian, hanya kekuatan tenaganya perlahanlahan ditambah semakin hebat.

Hati Touw Liong merasa sangat cemas, akan tetapi sikap dan wajahnya masih tetap biasa, tidak menunjukkan rasa takut selagi menghadapi bahaya maut.

"Bocah!"

Berkata Panji Wulung dengan nada agak lunak, dengan tiba-tiba tongkatnya ditarik kembali.

Touw Liong agak terkejut, ketika ia membuka mata, sikap bengis Panji Wulung ternyata telah lenyap seketika, ujung tongkat berhenti di tempat sejarak setengah kaki di hadapan dadanya.

Touw Liong tidak tahu, mengpa Panji Wulung tidak membunuh dirinya, sementara itu Panji Wulung sudah berkata lambat-lambat.

"Tentang bakat, keberanian dan kecerdasanmu, memang benar seperti apa yang dikatakan oleh adik seperguruanmu, merupakan suatu bakat yang luar biasa selama seratus tahun ini. Oleh karena itu, aku ingin menjadikan kau orang sempurna. Bocah, kau ..."

Biji mata Touw Liong berputaran, ia tidak mengerti apa maksudnya Panji Wulung. Sementara itu Panji Wulung sudah berkata lagi.

"Aku akan manjadikan kau Panji Wulung yang sebenarbenarnya."

"Budi kebaikan cianpwee, boanpwee mengucapkan terima kasih, akan tetapi..."

Berkata Touw Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bocah! Apa kau hendak mengatkan bahwa kau adalah Panji Wulung yang sebenarnya? Betul tidak?"

Demikian Panji Wulung memotong ucapan Touw Liong sambil memperdengarkan suara tertawanya yang bengis dan aneh. Touw Liong tidak berkata apa-apa, hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Heh! Heh!"

Demikian Panji Wulung mengeluarkan suara dua kali dari hidung, sinar matanya yang buas tampak berkobar, biji matanya berputar-putaran, dua tangannya nampak gemetar, tetapi ia tidak mengambil tindakan apa.

Menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras memikirkan suatu persoalan yang memusingkan kepalanya itu.

Touw Liong tak menunjukkan sikap apa-apa, ia hanya menantikan terjadinya perubahan selanjutnya.

Dengan tiba-tiba Panji Wulung memperdengarkan suara tertawanya yang menyeramka, kemudian berkata dengan nada suara dingin.

"Aku berikan kesempatan padamu untuk hidup terus, aku ingin melihat dengan cara bagaimana kau hendak bersaing denganku?"

Touw Liong seolah-olah mendapatkan keampunan besar, baru saja ia menarik nafas lega, ujung tongkat Panji Wulung sudah disodorkan lagi kepadanya, tempat yang menjadi sasaran masih tetap jalan darah di bagian dadanya.

Perbuatan Panji Wulung itu sesungguhnya di luar dugaannya, wajahnya berubah seketika, perasaan khawatir akan datangnya bahaya maut sesaat telah memenuhi otaknya.

Namun demikian ia masih berdiri tegak tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya, ia sangat menyesalkan ucapan panji Wulung yang tidak dapat dipercaya, maka ia menarik nafas panjang.

Sementara itu Panji Wulung sudah berkata dengan suara dingin.

"Mengapa kau menghela nafas? Jangan kau membikin malu orang saja! Kalau muridnya Panji Wulung seperti kau ini yang tidak mempunyai nyali, bukankah akan membikin malu nama baik suhumu yang dipupuk sejak seratus tahun berselang?"

Selama bicara, ujung tongkat berhenti di hadapan dada Touw Liong sekira satu dim, hawa dingin menghembus keluar dari ujung tongkatnya, pelahan-lahan menyusup melalui jalan darah Hian-kie-hiat Touw Liong.

Mempertahankan hidupnya adalah kodrat pembawaan setiap manusia, Touw Liong adalah manusia biasa, sudah tentu tidak terlepas dari kodrat itu.

Maka sesaat itu, ia telah mengerahkan ilmunya "membuka pintu langi"

Untuk menutup depan dadanya, hembusan angin yang keluar dari ujung tongkat Panji Wulung seperti kebentur dengan kekuatan tenaga, hingga ia mengeluarkan suara tertawa dingin, dengan tiba-tiba ia memperhebat serangannya, hembusan angin telah dapat menembus pertahanan kekuatan tenaga dalam Touw Liong, terus menyusup ke dalam tubuhnya.

Wajah Touw Liong pucat pasi, badannya jatuh terguling di tanah tanpa bisa bergerak.

Dengan sikap bangga Panji Wulung menarik kembali tongkatnya, mulutnya mengeluarkan suaru siulan kemenangan, kemudian badannya bergerak menghilang ke balik bukit.

Angin gunung meniup kencang, awan putih menggumpal di tengah udara, keadaan dan cuaca di puncak Sin-lie-hong tampak tenang, sedang Touw Liong yang rebah menggeletak di tanah, tidak diketahui masih hidup atau mati.

Ia membiarkan dirinya ditiup oleh angin gunung yang dingin, sedikitpun tidak bergerak.

OOOOO Ketika Touw Liong sadar kembali, ia telah mendapatkan dirinya rebah di sebuah tempat tidur yang hangat.

Ketika matanya memandang keluar jendela, tampak salju turun bagaikan kapas, suara angin gunung menderu-deru, apa yang dilihat hanya putihnya salju yang menutupi seluruh jagad, ia tidak tahu berada di mana.

Ia merasakan sekujur badannya ngilu dan lemas, kepalanya berat, bergerak saja merasa susah.

Ia memandang langitan dalam kamar, dengan perasaan banyak tanda tanya, ia mengenangkan kembali semua kejadian sehingga yang terakhir, ia masih ingat seperti ia telah dirobohkan oleh serangan tongkat Panji Wulung dan akhirnya apa yang terjadi selanjutnya, ia tidak tahu semuanya.

Suatu perasaan takut timbul dalam otaknya, lalu bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Apakah aku terluka parah dalam badanku?"

Dengan tumbuhnya kekuatiran itu, ia buru-buru mengerahkan kekuatan tenaganya untuk memeriksa keadaan diri sendiri.

Dua kali ia coba dengan usahanya itu, tetapi semuanya gagal.

Ia kini telah mengetahui bahwa dirinya sendiri sudah tidak memiliki tenaga, dengan tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, air matanya berlinang-linang memandang turunnya salju dari luar jendela, kemudian berkata kepada diri sendiri.

"Aku.... aku.... ai! Aku telah hilang semua kekuatan dan kepandaian ilmu silatku!"

Bagi orang yang melatih ilmu silat, jikalau ilmu silatnya dimusnahkan, keadaannya tidak beda sebagai manusia biasa, apakah artinya?

Kalau ia berpikir ke bagian yang menyedihkan, perasaan sedihnya tidak dapat dikendalikan lagi, sehingga air matanya bercucuran membasahi bantalnya.

Lama sekali, di luar kamar riba-tiba terdengar suara kaki orang yang sangat pelahan.

Touw Liong terkejut, buruburu menghapus air matanya.

Ketika matanya berpaling ke pintu kamar, pintu kamar itu didorong dengan pelahan, dan orang yang muncul di hadapannya ternyata adalah Lo Yu Im.

Bagaikan bertemu dengan keluarganya sendiri Touw Liong lantas berseru.

"Enci!!"

Air matanya mengucur lagi dengan derasnya, sehingga tidak dapat mengeluarkan katakata lagi.

Keadaan Lo Yu Im masih tetap seperti dahulu kala, hanya agak kurus sedikit.

Dengan suara lemah lembut gadis itu menyahut, air matanya juga mengalir keluar.

Ia mengeluarkan perkataan.

"Adik Liong!"

Kemudian dengan cepat berjalan menuju ke tempat tidur Touw Liong dan berkata dengan suara lemah lembut.

"Adik Liong! Kuhaturkan selamat kepadamu, kau kini sudah sembuh kembali!"

Berkata sampai di situ, gadis itu menundukkan kepala, air matanya mengalir semakin deras.

"Sudah sembuh...? Benarkah aku sudah sembuh...?"

Bertanya Touw Liong sambil menghela napas.

"Orang yang sudah kehilangan kepandaian ilmu silat, apa artinya aku hidup?"

Lo Yu Im juga tidak tahu bagaimana harus menghiburi pemuda itu, maka ia berdiri diam saja. Touw Liong berkata pula dengan nada suara sedih.

"Ilmu untuk memusnahkan kepandaian ilmu silat orang adalah ilmu tunggal Panji Wulung yang terampuh."

Lo Yu Im sedikitpun tidak merasa heran, ia seolah-olah sudah memeriksa dan mengetahui luka-luka Touw Liong, yang disebabkan oleh serangan siapa.

Dalam keadaan demikian, mau tak mau ia terpaksa hanya dapat menghiburi saja.

"Adik Liong, keadaanmu lemah benar, bagaimanapun juga kita harus berusaha memikirkan suatu cara yang sebaik-baiknya!"

"Berusaha mencari daya upaya?"

Berkata Touw Liong sambil menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala, kemudian ia alihkan kepada pertanyaan lain soal.

"Ini tempat apa?"

"Kan-ling, dahulu bernama King-ciu."

"Oo...! Masih jauhkah berpisah dengan Gunung Lusan?"

"Aku sudah melihat surat undanganmu, kita dari golongan Kun-lun-pay juga mendapat sebuah, tetapi aku perlu harus merawat dan menjaga kau, maka aku sudah mengambil keputusan tidak akan turut hadir dalam pertemuan itu."

"Tidak! Kita harus pergi,"

Kata Touw Liong tegas.

"Sekarang ini hari apa?"

Bertanya Touw Liong selanjutnya.

"Tanggal empat belas bulan dua belas, terpisah dengan hari pertemuan itu kira-kira masih setengah bulan,"

Jawab Lo Yu Im.

"Aa...! Kalau begitu aku sudah setengah bulan berada dalam keadaan sakit seperti ini!"

"Benar! Setengah bulan. Bagaimana cepat berlalunya sang waktu? Waktu itu aku mendaki gunung Bu-san untuk mencari itu orang yang meninggalkan diriku, hari itu di waktu senja, aku telah menemukan kau rebah menggeletak di puncak gunung Sin-lie-hong, maka aku lalu menolongmu dan bawa kau turun dari gunung."

Touw Liong berusaha hendak bangun, untuk mengucapkan terima kasih kepada Lo Yu Im. Ia agaknya mengingat sesuatu, maka berkata dengan suara pelahan.

"Enci, aku akan beritahukan padamu, suatu berita baik!"

"Tentang sahabat encimu itu...?"

Muka Lo Yu Im mendadak menjadi merah, dengan agak kemaluan ia tersenyum, matanya menatap Touw Liong, agaknya menantikan keterangan selanjutnya.

"Dia adalah murid golongan Pak-bong nomor tiga, yang berjulukan 'Pelajar Seribu Muka'. Nama julukan Siauwsiang-seng-chiu yang dahulu pernah enci sebutkan itu adalah sebuah julukan samarannya."

Demikian Touw Liong melanjutkan keterangannya.

"Dan, di mana orangnya?"

"Sejak ia mendapatkan batu Khun-ngo-giok, lantas sembunyikan diri di gunung Tiam-cong-san, hendak membuat pedang Khun-ngo-kiam."

"Gunung Tiam-cong-san?"

Tanya Lo Yum Im dengan nada marah. Touw Liong mengganggukkan kepala dan berkata.

"Dengannya aku juga mengadakan perjanjian, setengah bulan lagi aku hendak mendaki gunung Tiam-cong-san. Sayang, tenagaku mungkin tidak mengijinkan kemauanku."

Lo Yu Im menghela napas pelahan. Ia tidak tahu, bagaimana harus menghiburi Touw Liong, maka cuma berkata.

"Adik Liong, asal kau mau pergi, encimu bersedia mengawani kau."

"Tidak!"

Berkata Touw Liong sambil menggelenggelengkan kepala.

"Mungkin aku akan membatalkan janjiku, dan tindakan itu kuambil bukan lantaran karena ilmu kepandaianku yang sudah dimusnahkan, melainkan lantaran enci...."

"Kita pergi untuk Khun-ngo-giok, bukan untuk keperluan pribadiku,"

Berkata Lo Yu Im dengan kemalumaluan.

"Enci ternyata sudah salah paham, siaote sedikitpun tidak ada maksud untuk menertawakan enci, maksud siaotee yang sebenarnya ialah dengan seorang diri enci ke gunung Tiam-cong-san sudah cukup untuk minta kembali batu Khun-ngo-giok, tetapi jika berjalan bersama-sama dengan siaote, barangkali malah akan menjadi perintang bagi usaha enci."

Mendengar keterangan itu Lo Yu Im baru paham, ia mengangguk-anggukkan kepala.

Dua orang itu setelah bercakap-cakap agak lama, Lo Yu Im lalu keluar dari kamarnya, supaya Touw Liong bisa beristirahat dengan tenang.

Mereka berdiam di suatu rumah penginapan besar, maka Touw Liong setelah agak sembuh, tiga hari lagi mereka lalu siap-siap hendak mendaki gunung Lu-san.

Oleh karena seluruh kepandaian ilmu silat Touw Liong sudah dimusnahkan dan untuk keselamatannya, Lo Yu Im mempersiapkan sebuah pakaian kulit, terpaksa harus menyaru sebagai seorang tua yang berusia lima puluh lebih, sedangkan ia sendiri menyaru menjadi seorang muda tampan.

Touw Liong setelah musnah kepandaian ilmu silatnya, keadaannya tidak beda seperti orang biasa, ditambah lagi karena gunung Lu-san itu sangat tinggi dan dingin sekali, apalagi Lo Yu Im sebagai seorang gadis yang belum bersuami, dengan sendirinya merasa kurang pantas untuk menggandeng padanya.

Maka selama beberapa hari melakukan perjalanan mendaki gunung itu, baru tiba di kuil Thian-ti-si.

Waktu itu tepat malaman tahun baru, esok hari justru hari pertemuan besar.

Akan tetapi di kuil Thian-ti-si kecuali beberapa anggota yang diutus oleh golongan Citphoa-san yang berlaku sebagai tuan rumah, orang-orang atau tokoh-tokoh rimba persilatan yang datang pada hari itu jumlahnya sedikit sekali.

Orang-orang utusan dari Cit-phoa-san yang mempersiapkan tempat pertemuan itu, jumlahnya tidak sedikit, mereka berlalu-lalang dan keluar-masuk ke dalam kuil.

Satu di antaranya terdapat Shoa Lie, Kokcu dari Lembah Siau-tian-kok, di samping itu masih ada seorang tua yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

Touw Liong sengaja tidak mau menyapa Shoa Lie, dengan sendirinya Shoa Lie juga tidak mengenali Touw Liong lagi.

Malam itu, hawa di gunung itu meskipun luar biasa dinginnya, tetapi langit terang dan angin tidak meniup, sehingga pemandangan di gunung Lu-san nampak sangat indah.

Ketika kentongan berbunyi tiga kali, entah dari mana datangnya kegembiraan Touw Liong, ia mengajak Lo Yu Im berjalan-jalan ke danau Thian-ti.

Lo Yu Im yang tidak tega menolak permintaannya, lalu menerima baik, hingga kedua berjalan keluar dengan melalui jalanan yang penuh salju.

Tibalah ke jembatan yang terdapat di belakang kuil Thian-ti-si, mereka mendongakkan kepala memandang puncak gunung yang menjulang ke langit, dan lengan Lo Yu Im membimbing Touw Liong mendaki ke atas puncak gunung.

Di tengah-tengah puncak gunung terdapat seuah danau luasnya lima pal.

Danau itu biasa disebut danau Siauwthian-ti.

Malam itu airnya sudah beku dan tertutup oleh salju yang amat tebal.

Touw Liong di bawah bimbingan Lo Yu im berjalan di atas danau Siauw-thian-ti sambil menikmati pemandangan alam yang indah.

Suasana sangat sunyi, di bawah sinar terang bintangbintang di langit, air danau yang sudah beku seolah-olah sebuah cermin yang terbentang di tanah.

Touw Liong mengepalkan tangannya dan berkata pelahan.

"Besok, siapapun tidak akan dapat menduga bahwa tempat sepi sunyi ini akan menjadi pertemuan besar tokohtokoh persilatan dari pelbagai tempat, mungkin akan terjadi suatu pertempuran sengit."

Lo Yu Im diam saja, ia menarik Touw Liong, melompat sembunyi ke belakang pohon cemara.

Dengan suara pelahan ia mencegah Touw Liong mengeluarkan suara.

Touw Liong dapat melihat perubahan sikap Lo Yu Im yang aneh.

Ia mengerti, perubahan itu pasti ada sebab, maka ia buru-buru mengikutinya dan memperhatikan keadaan sekitarnya.

Di lain ujung danau Thian-ti, tampak berkelebatnya sesosok bayangan manusia.

Bayangan itu adalah seorang tua berbaju kelabu.

Orang tua itu celingukan memandang keadaan sekitarnya, kemudian dengan langkah pelahanlahan berjalan menuju ke sebuah kupel yang terdapat di bagian timur danau itu.

Touw Liong dengan jari tangannya menulis beberapa perkataan di telapak tangannya dan menunjukkan kepada Lo Yu Im.

Kata-kata itu berbunyi.

"Siapa?? Apakah enci kenal dengannya?"

Lo Yu Im menggeleng-gelengkan kepala.

Dua orang itu terpaksa berdiam menahan napas, mata mereka ditujukan kepada orang tua yang berada di dalam kupel itu.

Orang tua itu berjalan mondar-mandir, tiba-tiba mendongakkan kepala, seolah-olah menantikan kedatangan seseorang.

Tak lama kemudian, di bawah danau Thian-ti terdengar suara siulan pelahan.

Setelah suara siulan itu berhenti, dari situ tampak seorang tua lagi, dengan tegak berjalan menuju ke kupel tadi.

Touw Liong kembali mengajukan pertanyaan dengan isyarat.

"Siapa lagi?"

Lo Yu Im menggeleng-gelengkan kepala, tetapi kemudian ia menuliskan beberapa kata di atas telapak tangannya dengan jarinya.

"Kau diam di sini, jangan kemana-mana. Aku hendak pergi memeriksa sebentar."

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala.

Lo Yu Im bergerak, lantas menghilang dari depan mata Touw Liong.

Sesaat kemudian, Lo Yu Im balik kembali ke tempat Touw Liong.

Touw Liong yang sudah tidak sabar lagi, mengajukan pertanyaannya.

"Siapa?"

Lo Yu Im menjelaskan di telapak tangannya, nama. Lie Hu San dan Cui Hui. Alis Touw Liong berdiri, juga dengan menggunakan tulisan di tangan, ia menulis.

"Entah apa maksudnya mereka datang kemari?"

Lo Yu Im lalu berbisik-bisik di telinganya.

"Entah dari mana Lie Hu San mendapatkan lambang kepercayaan batu giok si Dewa Arak, dia hendak mengumumkan maksudnya akan mempersatukan golongan pengemis daerah selatan dengan golongannya sendiri. Cui Hui juga akan menggunakan kesempatan itu mendirikan partainya yang dinamakan partai Kiu-im-pay. Mereka berdua sedang berunding, bagaimana satu sama lain harus bekerja sama."

Touw Liong tercengang, dalam otaknya segera terbayang lambang batu giok golongan pengemis, sementara dalam hatinya berkata sendiri.

"Lambang batu giok itu adalah milik Taysu Gila, bagaimana bisa berada di dalam tangannya?"

Selama itu Lo Yu Im tiba-tiba terkejut.

Touw Liong buru-buru angkat muka memandang ke depan.

Dua orang tua yang berada di dalam kupel itu ternyata sudah lompat melesat ke atas pohon cemara yang terdapat di belakang kupel.

Baru saja mereka sembunyikan diri, di permukaan danau Thian-ti dari jurusan yang baru dilalui oleh Lie Hu San berdua, tampak seorang sasterawan berwajah cakap tampan.

Di punggung sasterawan itu menggendong sebuah kantongan besar.

Ia berjalan di atas danau Thian-ti.

Matanya celingukan memandang keadaan di sekitarnya, kemudian dengan lambat menuju ke tengah-tengah danau.

Munculnya sasterawan itu, membuat sekujur badan Touw Liong gemetaran, demikian pun dengan Lo Yu Im.

Dengan perasaan yang meluap-luap, Touw Liong mengulurkan jari tangannya menunjuk ke danau Thian-ti.

Lo Yu Im buru-buru mencegahnya, menggelengkan kepala mencegah Touw Liong mengeluarkan suara, kemudian berbisik-bisik di telinganya.

"Jangan bergerak! Lihat saja apa yang dilakukan olehnya!"

Touw Liong menulis kata-kata.

"Enci, lekas, minta batu Khun-ngo-giok daripadanya!"

Lo Yu Im menunjuk tempat sembunyinya Lie Hu San dan Cui Hui, kemudian berkata dengan suara berbisik-bisik.

"Jangan sembrono! Di sana masih ada dua iblis yang mengintai. Sebaiknya kita jangan bertindak apa-apa, lihat saja apa yang dilakukan oleh mereka!"

Orang-orang yang muncul secara mendadak pada malam itu, dilihat dari luarnya, sasterawan muda tampan dan cakap itu, rupanya mirip benar dengan Touw Liong, seolaholah saudara kembar.

Tetapi Lo Yu Im dan Touw Liong yang sembunyi di belakang pohon, mereka mengerti bahwa pemuda itu adalah Si Pelajar Seribu Muka yang sedang membuat pedang Khun-ngo-giok di atas gunung Tiamcong-san.

Apa yang membuat terkejut Touw Liong adalah gerak-gerik dan segala-galanya mirip benar dengan dirinya sendiri.

Pelajar Seribu Muka itu seolah-olah menganggap bahwa dirinya berada di tempat yang tidak ada orangnya.

Ia berjalan menuju ke tengah-tengah danau, setelah tiba di tengah danau, ia menurunkan kantongan besar yang berada di atas punggungnya, lalu dibukanya dan mengeluarkan isinya.

Apa yng dikeluarkan dari dalam kantongan itu, ternyata adalah sebuah kepala manusia yang masih berlumuran darah.

Kepala itu diletakkan di permukaan danau, kemudian berkata kepada diri sendiri.

"Liao Hwan, kalian orang-orang dari golongan Siao-limpay selalu mengagungkan diri sebagai pemimpin golongan rimba persilatan, baiklah! Sekarang aku letakkan kepalamu di tempat terdepan...."

Kemudian ia mengeluarkan lagi dua buah kepala manusia dan berkata lirih sambil ketawa besar.

"Kepala murid pemimpin Bu-tong-pay seharusnya menduduki tempat ke dua...."

Lo Yu Im dan Touw Liong dua-duanya terkejut dan terheran-heran, karena paderi Liao Hwan dari gereja Siaolim-si bukan seorang sembarangan, dia adalah paderi kepala dalam bagian Lo Han Tong, kecuali ketua gereja Siao-limsi, ia merupakan salah seorang yang menduduki kedudukan ke satu dalam hirarki paderi Siao-lim-si.

Dan Hian Cing Cu, murid kepala ketua partai Bu-tong, juga merupakan seorang yang bakal menduduki jabatan ketua partai Butong-pay di kemudian hari, dengan sendirinya juga bukan seorang sembarangan.

Dengan beruntun Pelajar Seribu Muka mengeluarkan sebelas buah batok kepala manusia, dengan sangat rapi dijejer berbaris di tengah-tengah danau Thian-ti yang sudah membeku itu, kemudian ia berkata beberapa patah dengan suara sangat pelahan kepada orang-orang yang hanya tinggal kepalanya itu, setelah itu dia mengeluarkan suara tertawa nyaring.

Lalu, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebelas buah panji warna hitam sebesar kirakira setengah kaki, setiap kepala ditancap sebuah panji.

Selesai melakukan pekerjaannya itu, kembali ia ketawa nyaring, setelah itu ia lantas berlalu dengan perasaan puas.

Touw Liong tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia berkata dengan suara pelahan dan gemetaran.

"Panji Wulung! Itu adalah sebelas buah panji wulung yang lainnya."

Bab 24 Touw Liong mengeluarkan perkataan itu bukan karena ia terkejut melihat kepala-kepala manusia itu, atau melihat Pelajar Seribu Muka yang mukanya mirip dengan dirinya sendiri, melainkan terkejut karena telah melihat itu sebelas buah panji wulung yang sedang dicari-carinya, di luar dugaannya sebelas panji itu berada di tangan Pelajar Seribu Muka.

Lo Yu Im tahu, apa sebabnya ia terkejut sehingga berseru, maka ia tidak mencegah.

Tetapi wajahnya dengan tiba-tiba menunjukkan sikap terkejut, matanya ditujukan ke atas pohon cemara belakang kupel.

Dua orang yang sembunyikan diri di atas pohon itu tidak tampak ada gerakan apa-apa.

Selagi Touw Liong mendekati Lo Yu Im hendak mengatakan apa-apa, matanya telah melihat Lo Yu Im memberi isyarat dengan mulutnya, maka ia buru-buru membatalkan maksudnya.

Dari belakang kupel, telah muncul seorang aneh berpakaian jubah warna putih.

Orang itu tongolkan kepalanya memandang keadaan di sekitarnya sebentar.

Ketika menampak tidak ada apa-apa yang mencurigakan, barulah tangannya menggapai ke belakang pohon cemara, setelah itu baru tampak Lie Hu San muncul.

Orang aneh berjubah putih tadi, bukan lain daripada Cui Hui.

Keduanya kini berdiri di tangga kupel, tidak berani mengawasi sebelas buah kepala manusia dan sebelas buah panji hitam.

Lie Hu San mengerutkan alisnya, dari situ ia menjura ke tempat sembunyi Lo Yu Im dan Touw Liong berdua, seraya berkata.

"Di seberang sana masih ada sahabat siapa? Sudikah kiranya keluar untuk bertemu denganku?"

Alis Lo Yu Im bergerak-gerak beberapa kali, ia berkata dengan suara pelahan kepada Touw Liong.

"Adik Liong, kau jangan kemana-mana, aku hendak keluar untuk menghadapi mereka!"

Touw Liong mengerti bahwa persoalan telah menjadi gawat, sedang ia sendiri sudah musnah seluruh kepandaiannya, maka ia terpaksa menganggukkan kepala, membiarkan Lo Yu Im pergi menghadapi dua orang itu.

Lo Yu Im dengan tindakan kakinya yang luwes semampai, berjalan ke tempat di mana ada berjejeran sebelas kepala manusia.

Ia berlaku seolah-olah seperti orang yang tidak tahu, berkata ke arah kupel.

"Sahabat dari mana tadi yang memanggil aku? Di sini aku menunggu kedatanganmu."

Saat itu ia mengenakan pakaian laki-laki, maka mau tak mau suaranya harus dibesarkan seperti suara laki-laki.

Cui Hui memberi isyarat dengan mata kepada Lie Hu San, keduanya lalu lompat melesat ke tengah-tengah danau, mereka mengamat-amati Lo Yu Im sejenak, ketika melihat Lo Yu Im menghadap sebelas kepala manusia yang masih berlumuran darah, dan sebelas buah panji warna hitam yang dikenalnya sebagai tanda maut, namun sedikitpun tidak menunjukkan sikap terkejut atau takut, sehingga mengherankan mereka.

Keduanya saling memberi isyarat dengan pandangan mata, mereka mengerti bahwa pemuda itu bukanlah seorang sembarang.

Lie Hu San yang lebih licik, lalu menjura memberi hormat dan bertanya.

"Bolehkah aku si orang tua menanyakan nama saudara yang mulia?"

"Lo Hie Siu,"

Jawabnya Lo Yu Im singkat. Lie Hu San lalu memperkenalkan dirinya sendiri.

"Aku si orang tua adalah Lie Hu San...."

"Oh, kiranya adalah pangcu dari daerah golongan pengemis daerah utara yang namanya sangat kesohor. Kita orang rasanya pernah bertemu muka di rumah sancu muda di luar kota Lam-yang,"

Menjawab Lo Yu Im sambil membalas hormat.

Lie Hu San terkejut, karena urusan dirinya yang sudah masuk menjadi anggota Cit-phoa-san, di kalangan Kangouw, jarang sekali orang mengetahui, tetapi pemuda di hadapan matanya yang usianya ditaksir belum ada dua puluh tahun bukan saja mengetahui dirinya adalah pangcu dari golongan pengemis daerah utara, bahkan mengejek dirinya sebagai ketua golongan pengemis, namun sudi mengabdi kepada orang lain, bukan hanya itu saja ia bahkan dapat menunjukkan tempatnya di mana ia pernah melihat dengan mata kepala sendiri.

Akan tetapi, walau pun ia memutar otak, bagaimanapun juga tidak bisa ingat lagi, di mana ia pernah bertemu muka dengan pemuda di hadapan matanya itu.

Semakin berpikir, semakin bimbang perasaannya!

Dalam keadaan sangat mendongkol ia perkenalkan Cui Hui kepada pemuda itu.

"Saudara ini adalah...."

Belum sampai menyebutkan namanya, Lo Yu Im sudah memotong dan berkata.

"Tidak salah lagi, tuan ini adalah calon ketua partai Kiuim-pay yang akan dibentuk. Kita agaknya pernah...."

Cui Hui dengan sikapnya yang dingin menggerutu sendiri, matanya memandang Lo Yu Im dengan sikap menghina, dengan tenang menantikan keterangan Lo Yu Im lebih lanjut.

Lo Yu Im tanpa tedeng aling-aling melanjutkan ucapannya.

"Ya, benar! Kita pernah bertemu muka, juga di kota Lam-yang, di dalam kuil, entah apa nmanya, waktu itu di tangan tuan ada membawa batok kepala Siauw Su In, betul tidak?"

Ucapan itu agaknya tidak mengejutkan Cui Hui, yang membuat heran padanya adalah pemuda itu ternyata dapat menyebutkan nama orang yang kepalanya berada di tangannya.

Dengan demikian, orang she Cui ini juga tidak berani memandang rendah kepada Lo Yu Im lagi.

Padahal, dua peristiwa itu, satu pernah disaksikan sendiri oleh Lo Yu Im, sedang yang lainnya pernah mendengar dari mulut Touw Liong.

Maka sekarang setelah ia terangkan dua persoalan itu, boleh dikata tepat pada tempatnya.

Maka sesaat itu muka Lie Hu San sebentar pucat, putih, sebentar biru, muka itu dilihatnya sangat tidak enak sekali, sedang apa yang dikandung dalam hatinya, hanya ia sendiri yang mengerti.

Ia sesungguhnya merasa malu terhadap diri sendiri, karena pemuda itu dalam usia yang begitu muda sudah dapat mengenali dirinya sendiri dan apa yang dilakukan olehnya, sedang ia sendiri yang merupakan orang Kang-ouw kawakan, sedikitpun tidak mengetahui siapa adanya pemuda itu.

Namun sebagai seorang Kangouw kawakan, ia tidak kehabisan akal, sesaat itu ia lantas robah sikapnya demikian ramah, ia berkata sambil memberi hormat.

"O, kiranya adalah Lo tayhiap!"

Dalam hati Lo Yu Im merasa geli, sementara itu Lie Hu San dengan mukanya yang licik, tangannya menunjuk kepala manusia dan panji hitam di permukaan danau, seraya bertanya.

"Saudara banyak pengetahuan, aku si orang tua sesungguhnya merasa sangat kagum. Apakah saudara tahu, siapakah yang melakukan pembunuhan terhadap sebelas orang ini?"

Mata Lo Yu Im menyapu sebelas kepala manusia itu, kemudian berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Dengan sebetulnya Tuan-tuan berdua dalam hati juga sudah tahu siapa orangnya yang melakukan perbuatan itu, mengapa masih pura-pura tanya kepadaku...? Sudah tentu, aku sendiri juga menduga dia yang melakukan...."

"Siapa?"

Bertanya Lie Hu San.

"Orang yang Tuan-tuan berduga duga bukankah Touwtayhiap Touw Liong?"

Cui Hui balas menanya dengan alis berdiri.

"Apakah yang saudara duga bukanlah dia?"

Lo Yu Im nampak berpikir sejenak, setelah itu baru berkata sambil mengangkat pundak.

"Semula aku juga mencurigai dia, tetapi setelah mengingat keadaan Touw-tayhiap yang mengalami suatu kejadian yang mengenaskan, tidak mungkin ia dapat melakukan perbuatan itu. Lagipula, waktu dan perangai dia di waktu yang lalu, juga tak mungkin ia melakukan perbuatan yang serendah itu, karena perbuatan itu berarti menentang secara terang-terangan terhadap sepuluh partai besar di rimba persilatan."

"Dalam hal ini saudara sudah salah melihat orang! Lain dengan mata kita berdua, yang tidak bisa salah lagi. Menurut apa yang tersiar dalam rimba persilatan, bocah itu karena disukai oleh susiokku, telah diberi petunjuk olehnya pergi ke gunung Bu-san mengambil barang-barang peninggalan Liu-tayhiap pada zaman dahulu, termasuk dua belas buah panji hitam. Oleh karena itu, maka perbuatan itu sudah pasti dia yang melakukan,"

Berkata Lie Hu San sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lo Yu Im tidak mau membantah, ia hanya angkat pundak dan menunjukkan sikap yang sangat misteri. Ia hanya berkata dengan sikap seenaknya.

"Besok pagi, urusan ini sudah pasti akan terbuka sendiri, siapa sebetulnya yang melakukan."

Berkata sampai di situ, ia sengaja mendongakkan kepala memandang keadaan cuaca, kemudian berkata kepada diri sendiri.

"Sudah hampir subuh!"

Cui Hui juga mendongakkan kepala mengawasi bintang di langit, kemudian memberi isyarat dengan mata kepada Lie Hu San, seraya berkata.

"Mari kita jalan!"

Lie Hu San minta diri kepada Lo Yu Im, kemudian meninggalkan padanya bersama-sama Cui Hui.

Setelah dua orang itu berlalu dari hadapan matanya, Lo Yu Im mengambili sebelas panji hitam yang ditancapkan di dekat sebelas kepala manusia itu, kemudian dengan menggunakan jari tangan, ia menulis dua baris tulisan di atas air danau yang sudah membeku, setelah itu ia berjalan kembali ke tempat persembunyian Touw Liong.

Sementara itu Touw Liong yang sudah menunggu dengan perasaan tidak tenang, telah menyambut kedatangannya dengan perasaan agak heran.

"Enci mengambil panji itu, apakah tidak takut...?"

Dengan cepat Lo Yu Im memotong ucapannya dan berkata.

"Takut apa? Apa kau masih takut ada orang lain yang meneropong perbuatanku? Sebelas panji ini seharusnya adalah milikmu!"

Sehabis berkata demikian, ia menyerahkan panji itu kepadanya, minta ia yang menyimpan.

Touw Liong menerima baik pemberian itu.

Setelah diperiksanya satu persatu, benar saja itu adalah panji yang ia sedang cari, tetapi ia masih belum dapat memahami perbuatan Lo Yu Im itu, maka bertanya pula.

"Apabila Pelajar Seribu Muka itu besok datang dan menanyakan tentang panji itu, siapa yang akan menyambut kedatangannya, atau menjawab pertanyaannya?"

"Engkau jangan kuatir! Besok dia pasti tidak akan datang!"

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa! Itu hanya pikiranku saja, di waktu ini. Ia ibarat seekor burung yang sayapnya belum tumbuh cukup banyak, ia pasti tidak akan berani menghadapi Panji Wulung yang satu lagi. Maka malam ini ia berbuat demikian untuk menggertak kepada Panji Wulung itu."

"Maksud Enci apakah meskipun ia sudah mendapatka sebelas panji hitam ini, akan tetapi ia masih belum memiliki kepandaian dari Panji Wulung yang asli?"

Lo Yu Im mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban. Touw Liong bertanya pula.

"Seandainya Panji Wulung yang satu lagi, ialah perempuan tua yang memakai kerudung muka itu besok datang kemari mencari keterangan tentang sebelas buah panji ini, apakah di danau ini tidak akan terjadi keonaran besar?"

"Aku sudah merencanakan suatu rencana yang sangat baik, dengan meminjam senjata orang lain untuk melakukan pembunuhan, tentang sebelas panji ini sudah tentu ada orang lain nanti yang akan maju mewakili dirimu."

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala, sebagai tanda tidak dapat menyetujui rencana Lo Yu Im. Ia berkata.

"Membunuh orang dengan meminjam senjata orang lain, perbuatan itu kurang bagus. Siaote...."

Lo Yu Im menatap wajah Touw Liong sejenak, lalu memotong perkataannya.

"Sungguh tak kusangka kau masih memiliki pikiran dan berhati baik demikian rupa, akan tetapi kebaikanmu itu merupakan suatu kesalahan, karena itu berarti kau merasa simpati dan kasihan kepada orang-orang jahat dalam rimba persilatan!"

Touw Liong mengerti bahwa urusan malam itu, Lo Yu Im hendak timpahkan dosanya kepada Cui Hui dan Lie Hu San berdua, maka dalam hati merasa kurang enak.

Dalam anggapannya, perbuatan semacam itu, agaknya bukanlah suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang yang berjiwa jantan.

Namun demikian, perasaan itu ia tidak unjukkan di mukanya.

Lo Yu Im agak tidak sabar, ia menarik napas pelahan, kemudian berkata.

"Aku bukanlah tidak tahu bahwa perbuatannya kurang jujur, akan tetapi orang-orang semacam Lie Hu San dan Cui Hui, adalah orang-orang yang berhati tamak dan jahat. Lie Hu San yang hendak menggunakan pertemuan besok pagi untuk mencapai maksudnya yang hendak menelan pengaruh golongan pengemis daerah selatan. Sedangkan Cui Hui orang yang sejahat dan sekejam itu bagaimanapun juga kita tidak akan membiarkan barisannya Ngo-im-cuihun-tin yang sangat ganas itu nanti membuat bencana besar bagi rimba persilatan. Aku memang ada pikiran hendak meminjam tangan Panji Wulung untuk mencegah atau menyingkirkan bahaya besar bagi sahabat-sahabat kita di rimba persilatan. Jikalau kau anggap perbuatanku ini agak keterlaluan, maka aku nanti akan menghapus tulisan-tulisan yang kutulis di atas salju itu."

Touw Liong berpikir sejenak, akhirnya ia mengambil keputusan tidak akan merintangi maksud gadis itu, maka ia lalu tertawa dan menganggukkan kepala kemudian berkata.

"Baiklah, manusia jahat semacam itu, siapa pun yang membunuh sama juga, hanya...."

Ia miringkan kepala untuk berpikir, sementara itu Lo Yu Im menatap wajahnya, menunggu kata-kata selanjutnya. Touw Liong tersenyum, dan berkata lambat-lambat.

"Lie Hu San meskipun jahat, juga tak sejahat sampai demikian rupa sehingga kita perlu meminjam tangan Panji Wulung untuk menyingkirkannya, karena dengan demikian barangkali akan menimbulkan kericuhan di dalam golongan pengemis sendiri."

Lo Yu Im tahu bahwa Touw Liong memperhatikan keselamatan golongan pengemis, maka ia segera tertawa dan berkata.

"Aku bukan seorang yang tidak mengerti persahabatan. Orang yang kusingkirkan dengan meminjam tangan Panji Wulung, hanya Cui Hui seorang, tentang Lie Hu San aku tahu, karena ada hubungan dengan tugasmu, maka kubiarkan saja supaya di kemudian hari kau saja yang memperhitungkan dosanya."

Touw Liong merasa puas dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Keduanya lalu berjalan lagi menuju ke gereja Thian-tie-sie.

Mereka mencari sebuah gua untuk melewatkan malam itu.

Waktu mereka sadar, ternyata sudah hampir subuh.

Setelah bangun, mereka makan sedikit makanan kering.

Lo Yu Im kini tidak mengenakan pakaian yang dikenakan kemarin hari.

Ia menyamar menjadi seorang kacung, selangkah demi selangkah mengikuti jejak Touw Liong dan berjalan menuju ke danau Thian-tie lagi.

Pagi hari, suasana cerah.

Tak lama berselang, sekitar danau itu sudah dipenuhi oleh banyak manusia dari pelbagai golongan.

Mereka mengenakan pakaian ruparupa, namun masing-masing pada membawa senjata yang berlainan jenis-jenisnya.

Di antara para pendatang ada yang menunjukkan wajah marah, ada pula yang bisik-bisik, entah apa yang dibicarakan.

Ketika Touw Liong dan Lo Yu Im tiba di tempat itu, di kupel sudah terdengar suara genta.

Waktu itu masih kurang tiga perempat menunjukkan jam satu tengah hari.

Danau Thian-tie yang luasnya kirakira lima bau, di tengah-tengahnya masih berbaris sebelas kepala manusia, tetapi di permukaan danau itu tidak ada seorangpun manusia yang hidup.

Touw Liong dengan sikapnya yang acuh tak acuh, selangkah demi selangkah berjalan menuju ke kupel.

Ketika ia tiba di depan kupel, genta sudah berbunyi dua kali.

Touw Liong monyongkan mulutnya ke arah salah seorang yang berada di belakang kupel, dan tangannya menyentuh Lo Yu Im.

Lo Yu Im segera tujukan pandangan matanya ke arah pandangan mata Touw Liong sambil bertanya dengan suara pelahan.

"Itu siapa?"

Karena ia telah menampak seorang pemuda tampan berpakaian hitam yang berusia belum cukup dua puluh tahun, dengan kedua tangannya dibalikkan ke belakang berjalan mondar-mandir sambil mengerutkan alisnya.

Di belakang pemuda itu diikuti oleh Lie Hu San, berbicara dengan suara pelahan dengan pemuda itu, agaknya sedang melaporkan apa-apa.

Lo Yu Im tahu bahwa Touw Liong minta dirinya untuk memperhatikan pemuda tampan itu, tetapi gadis itu setelah memandangnya beberapa kali, lalu angkat pundak dan bertanya kepada Touw Liong lagi.

"Siapakah pemuda itu?"

Touw Liong mengulurkan tangannya dan mengguratgurat di telapak tangan dengan tiga huruf PEK GIOK HWA. Lo Yu Im terkejut mengetahui nama itu, menulis pertanyaan.

"Dulu bukankah kau mengatakan bahwa Pek Giok Hwa itu adalah seorang wanita?"

Touw Liong anggukkan kepalanya, ia juga menulis perkataan.

"Seperti juga dengan keadaanmu, seorang wanita yang menyamar sebagai pria."

Beberapa ratus pasang mata, saat itu ditujukan ke arah kupel.

Pek Giok Hwa dengan wajah cemas mendongakkan kepala memandang gunung Swat Hong yang tinggi menjulang ke langit, lalu menghela napas pelahan dan berjalan mondar-mandir di dalam kupel.

Dalam kupel itu, seorang tua bermuka hitam yang kakinya tinggal satu, dengan tangan membawa tongkat, dan seorang tua lain yang berwajah merah dan berpakaian jubah warna kuning, kedua-duanya sikapnya agak murung.

Mereka berjalan menuju ke bawah, menghampiri orang banyak.

Usia dua orang tua itu semuanya di sekitar tujuh puluh tahun.

Dari sikap dua orang tua itu, mereka agaknya tidak sanggup menjelaskan apa yang sedang dihadapi oleh mereka.

Keduanya berjalan turun dari kupel dan terus menuju ke tengah-tengah danau.

Pek Giok Hwa mengikuti di belakang orang tua itu, sementara itu orang tua berkaki satu sambil berjalan bertanya kepada Pek Giok Hwa dengan suara keras.

"Giok Hwa, kau kata bahwa ayahmu tadi malam telah mengejar Panji Wulung naik ke puncak Thian-ti-hong, siapakah yang menyaksikan?"

"Lie Hu San telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri,"

Jawab Pek Giok Hwa dengan sikap menghormat.

"Ouw...!"

Dua orang tua itu bersama Pek Giok Hwa berjalan menuju ke tengah-tengah danau.

Ketika berada di tempat di mana ada berbaris sebelas kepala manusia, lalu berhenti dan mengangkat tangan memberi hormat kepada orangorang di sekitar danau, sementera itu orang tua berkaki satu tadi angkat bicara dengan suara nyaring.

"Tuan-tuan tentunya semua sudah tahu bahwa jenasah sebelas orang yang kepalanya di sini ini telah dibunuh oleh Panji Wulung...."

Ketika orang tua itu baru bicara sampai di situ, dari empat penjuru terdengar suara gemuruh. Alis Lo Yu Im berdiri, ia menunjukkan sikap terkejut, kemudian berkata kepada dirinya sendiri.

"Bagaimana ia tahu bahwa orang-orang itu telah dibunuh oleh Panji Wulung?"

Ia merasa heran karena tadi malam ketika ia turun tangan mengambil panji hitam yang ditancapkan di sisi kepala sebelas orang itu, di atas permukaan air danau yang sudah membeku menjadi salju itu telah ditulis dengan katakata.

Siapa yang ingin tahu pembunuhnya, tanya saja kepada Cui Hui dari Kiu Im, tiada yang tahu kecuali Touw Liong.

Di situ juga sudah dinyatakan dengan jelas, bahwa orang yang melakukan pembunuhan itu adalah Cui Hui.

Jikalau Panji Wulung melihat tulisan itu, pasti akan marah besar dan akan mencari Cui Hui untuk membuat perhitungan, bahkan mungkin akan ditanyakan bagaimana ia dengan lancang mengambil panji hitam itu.

Di samping dirinya terdengar suara kata-kata yang diucapkan dengan nada suara dingin.

"Kawan, mengapa kau tidak melihat dulu apa yang tertulis di tengah danau itu?"

Lo Yu Im lalu tujukan pandangannya ke tengah-tengah danau, dan orang yang berkata tadi adalah seorang laki-laki yang berusia sekitar empat puluh tahun.

Lo Yu Im agak marah, ia juga berkata dengan nada suara dingin.

"Aku tidak melihat tulisan itu, apakah Tuan pernah melihatnya?"

Laki-laki muka merah itu angkat pundak, dan berkata acuh tak acuh.

"Aku datang lebih pagi, bukan saja sudah menyaksikan tulisan itu, bahkan aku sudah memeriksanya satu persatu sebelas kepala manusia itu."

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula dengan nada keras dan mengacungkan ibu jarinya.

"Tulisan itu ditulis dengan ilmu jari tangan Kim-kong-ci. Salju di permukaan danau ini sifatnya keras bagaikan baja, apalagi di waktu musim dingin seperti ini, tetapi orang itu menggunakan jari tangannya di atas salju yang keras hingga sedalam kira-kira setengah dim. Dapat diduga bahwa kekuatan tenaga dalam orang itu sudah sempurna."

Lo Yu Im diam-diam merasa girang ada orang yang memuji kekuatannya, sementara itu Touw Liong bertanya kepada laki-laki itu.

"Apakah saudara tahu, siapakah yang menulis huruf itu?"

"Sudah tentu Pek Thian Hiong sendiri,"

Menjawab lakilaki itu sambil tertawa.

"Pek Thian Hiong?"

Bertanya Lo Yu Im yang menunjukkan sikap terkejut.

"Bagaimana saudara tahu?"

Tanya Touw Liong.

"Sahabat, apakah kau tidak melihat apa yang ditulisnya di atas salju itu?"

Touw Liong menunjukkan sikap terkejut. Ia tahu bahwa urusan ini agak rumit, maka ia berkata sambil menggelenggelengkan kepala.

"Oleh karena kedatanganku agak terlambat, benar-benar tidak tahu apa yang ditulis oleh Pek Sancu. Sudikah kiranya saudara menceritakan kepadaku?"

"Pek Sancu menulis sepuluh kata-kata...."

Lo Yu Im terperanjat dalam hati ketika mendengar perkataan itu. Selagi hendak menanya, laki-laki bermuka merah itu sudah berkata lagi.

"Tulisan itu berbunyi. Orang yang melakukan pembunuhan ialah Panji Wulung, sedang yang mencabut panjinya adalah Pak Thian Hiong...."

Wajah Lo Yu Im dan Touw Liong berubah seketika, mereka saling berpandangan, dan laki-laki muka merah itu memperdengarkan suara ketawa dingin.

Touw Liong buruburu mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu mengarahkan pandangan matanya kepada orang tua berkaki satu.

Orang tua berkaki satu itu ketika melihat sikap orang banyak, segera memperdengarkan suara batuk-batuknya yang keras, sehingga menimbulkan suara di dalam telinga masing-masing.

Sebentar kemudian suara gemuruh itu sirap kembali.

Orang tua berkaki satu itu ketika menyaksikan usahanya untuk menenangkan suasana tadi telah berhasil, kini ratusan pasang mata itu ditujukan kepadanya.

Ia lalu menyapu semua wajah orang-orang sejenak, dan tongkat di tangannya dilemparkan di atas salju.

Tongkat yang dilemparkan itu hampir setengahnya nancap di permukaan salju itu hingga semua orang yang menyaksikannya pada kagum atas kekuatan tenaga dalamnya orang tua itu.

Orang tua itu kembali mengangkat tangan dan memberi hormat kepada orang-orang di sekitarnya, kemudian berkata.

"Aku si orang tua adalah Lo Thian Piu. Jabatanku adalah wakil sancu dari Cit-phoa-san. Sancu kini sedang mengejar Panji Wulung, hingga saat ini belum kembali. Urusan di danau ini semua adalah menjadi tanggung jawabku."

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula sambil menunjuk dua baris kata-kata di permukaan danau tadi.

"Tuan-tuan tentu sudah menyaksikan tulisan yang ditinggalkan oleh sancu di permukaan danau ini. Orangorang atau tokoh-tokoh kuat dari rimba persilatan yang kepalanya kini berada di sini, semuanya telah dibunuh oleh Panji Wulung, sedangkan sancu kita yang setia kawan yang senantiasa membela kebenaran, telah mengambil sebelas buah panji kecil hitam yang ditinggalkan oleh Panji Wulung. Dan mengenai hutang darah Panji Wulung kepada sebelas tokoh rimba persilatan ini, telah dioper tanggung jawabnya oleh golongan Cit-phoa-san yang hendak membuat perhitungan dengan Panji Wulung. Siaotee yakin, belum sampai sore nanti, sancu kita barangkali sudah berhasil menangkap hidup-hidup diri Panji Wulung. Siaote harap Tuan-tuan yang kini berada di sini supaya nanti malam jam tiga tepat, kiranya suka membuang waktu untuk datang ke sini lagi, untuk membicarakan bagaimana untuk mengambil tindakan terhadap Panji Wulung."

Dari suara dan sikap orang tua itu menunjukkan bagaimana jumawanya, sehingga Touw Liong yang mendengarkan tampak mengerutkan alisnya, dan di dalam hatinya sendiri berkata.

"Ditilik dari kekuatan tenaga dan kepandaiannya, orang ini memang benar bukan dari golongan sembarangan, tetapi sikapnya yang sangat jumawa ini dan agaknya sedikitpun tidak memiliki kesadaran atas keadaan orang lain, bukan saja menjemukan, tetapi juga tidak mungkin dapat melakukan pekerjaan besar. Entah siapa adanya orang tua itu?"

Pada saat itu Lo Yu Im memandang kepadanya, hingga dua mata saling beradu.

Dua pemuda itu agaknya mempunyai pandangan yang sama, hingga keduanya saling menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sementara itu terdengar pula suara Lo Thian Piu.

"Di antara Tuan-tuan, siapa yang ingin mengutarakan pikiran?"

Dari sebelah timur di antara rombongan orang-orang itu terdengar suara seorang yang mengenakan jubah putih berkata.

"Siaote ingin mengutarakan sedikit pikiran...."

Touw Liong terkejut ketika mendengar perkataan itu, karena orang itu adalah Cui Hui sendiri. Sementara itu Cui Hui sudah melanjutkan kata-katanya dengan sikap tenang.

"Siaote tidak setuju dengan pendapat Hu Sancu."

"Saudara siapa?"

Demikian Lo Thian Piu bertanya dengan sikap tidak senang.

"Aku yang rendah, adalah Cui Hui,"

Menjawab Cui Hui sambil membongkokkan badan.

"Aku kira siapa, ternyata adalah ketua golongan Kiu-impay yang akan datang,"

Berkata Lo Thian Piu dengan sikap menghina. Cui Hui merasa tidak senang hingga wajahnya saat itu semakin pucat pasi bagaikan mayat.

"Saudara ada pikiran apa?"

Bertanya Lo Thian Piu dengan nada suara dingin.

Cui Hui sebelum menjawab telah tertawa lebih dahulu.

Ia mendongakkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak, hingga suara tertawanya itu menggema di udara dan menusuk telinga tiap orang.

Ia sengaja menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya, sehingga semua orang dikejutkan oleh sikapnya orang itu.

Begitupun dengan Touw Liong yang saat itu sudah hilang kekuatan dan kepandaiannya, sehingga wajahnya menjadi pucat pasi dan keringat dingin mengucur keluar.

Buru-buru ia menggunakan kedua tangan untuk menutup telinganya.

Lama sekali, suara tertawa Cui Hui itu baru sirap, mata orang aneh itu menyapu kepada orang-orang di seputarnya sejenak, kemudian berkata dengan suara berat.

"Tuan-tuan jangan salah paham, orang yang melakukan pembunuhan terhadap sebelas tokoh kuat ini, bukanlah orang seperti apa yang dikatakan oleh Lo sancu tadi, yang dibunuh oleh Panji Wulung."

Bab 25 Lo Thian Piu sangat marah mendengar perkataan Cui Hui tadi. Dengan suaranya yang menggelegar ia berkata.

"Coba kau sebutkan, siapa yang melakukan pembunuhan itu?"

Seperti juga tadi Cui Hui sebelum menjawab telah tertawa lebih dulu, kemudian menunjuk kepada Lie Hu San yang berada di belakang Lo Thian Piu, dan berkata.

"Jikalau tuan ingin tahu keadaan yang sebenarnya, tanyalah kepada Lie pangcu!"

Semua mata lalu ditujukan kepada Lie Hu San. Lo Thian Piu dengan sikapnya yang masih marah bertanya kepada Lie Hu San.

"Lie pangcu! Siapakah yang melakukan perbuatan itu?"

Lie Hu San maju selangkah, dan menjawab sambil membungkukkan badan.

"Hu sancu, kepala dari sebelas tokoh kuat ini adalah...."

Ia memandang kepada orang-orang di sekitarnya, kemudian berkata lagi dengan suara nyaring.

"Touw Liong yang membunuh dan meletakkan di sini."

"Touw Liong!"

"Touw Liong!"

"Touw tayhiap!"

"Touw Liong murid dari Kiu-hwa!"

Demikian terdengar suara riuh dari empat penjuru.

Semua orang yang berada di situ agaknya dikejutkan oleh keterangan Lie Hu San tadi.

Seorang pendekar kenamaan seperti Touw Liong yang saat itu sedang mendapat nama baik, dapatkah melakukan perbuatan rendah yang menimbulkan amarah semua orang rimba persilatan seperti itu, benar-benar suatu perbuatan yang tidak habis dimengerti.

Sementara itu Touw Liong sendiri yang dalam samaran, ketika mendengar perkataan itu sekujur badannya gemetaran.

Ia memandang kepada Lo Yu Im dan memberi isyarat kepadanya, maksud Lo Yu Im supaya ia berlaku sabar untuk menantikan perubahan selanjutnya.

Lo Thian Piu berpaling kepada Lie Hu San dan menggapai kepadanya.

Lie Hu San lalu berjalan dengan sikap menghormat ke depan Lo Thian Piu.

"Lie pangcu, apakah kata-katamu ini semua benar?"

Lie Hu San bersangsi sejenak, kemudian menjawab dengan suara agak gelagapan.

"Menurut pikiran biasa, urusan yang ditinggalkan oleh sancu itu tentunya tidak bisa salah, akan tetapi... tadi malam yang sebenarnya kami telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

Lie Hu San ketika mengucapkan kata-kata itu hatinya merasa tidak tenang.

"Siapa yang kau lihat?"

Bertanya Lo Thian Piu dengan suara keras. Lie Hu San menunjuk kepada sebelas kepala manusia dan mengucapkan perkataan.

"Touw Liong".

"Ouw...! Touw Liong!"

Demikian terdengar suara riuh pula dari empat penjuru.

Semua agaknya merasa sayang dan terheran-heran atas perbuatan Touw Liong.

Lo Thian Piu maju selangkah dan bertanya kepada Lie Hu San dengan suara pelahan.

"Lie pangcu, tahukah kau apa dosanya bagi orang yang memberi laporan palsu?"

"Hukuman mati!"

Jawab Lie Hu San tegas.

Oleh karena jawaban yang tegas itu, mau tak mau Lo Thian Piu harus percaya.

Orang tua itu memijat kepada jidatnya sendiri dan agaknya sedang berpikir keras.

Ia tidak habis mengerti sebab musababnya, karena urusan yang sedang dihadapi itu, sebetulnya membingungkan perasaannya.

Suasana di danau Thian-tie penuh ketegangan.

Dengan keterangan Lie Hu San itu, tak ubahnya seperti mengumumkan Touw Liong sebagai pembunuh, yang juga berarti menjadi musuh besarnya 10 partai besar.

Terdengarlah banyak orang berseru.

"Lo Sancu, kau tadi pernah kata bahwa hutang darah sebelas korban itu menjadi tanggung jawabmu, bahwa kaulah yang akan membereskan. Sekarang sudah diketahui siapa pembunuhnya, harap supaya kau segera mengambil tindakan."

Saat itu Touw Liong gemetaran, ia berpikir.

"Aku yang selama hidupku tidak pernah melakukan sesuatu kejahatan, bagaimana harus menanggung dosa sebesar itu?"

Lo Thian Piu tiba-tiba angkat muka, dan mengacungkan tongkatnya, hingga suara riuh di lapangan lantas sirap kembali. Orang tua itu berkata dengan suara lantang.

"Baiklah! Aku sangat menghargai pikiran Tuan-tuan. Sekarang aku minta supaya Tuan-tuan dari pelbagai golongan yang ada bersangkutan dengan para korban itu agar lebih dulu mengenali kepala mereka masing-masing dan menguburkannya seperti biasa, setelah itu aku akan minta izin kepada sancu untuk membawa semua anak buah golongan Cit-phoa-san pergi ke gunung Kiu-hwa-san mencari Kiu-hwa Lojin guna membereskan persoalan ini."

Menurut kebiasaan dalam rimba persilatan apabila seorang murid dari sesuatu golongan menimbulkan huruhara di luaran dan menyangkut nama baik perguruannya, perbuatannya itu adalah suatu perbuatan dan suatu kejahatan yang sangat besar sekali.

Oleh karena ucapan Kiu-hwa Lojin pada tiga puluh tahun berselang yang telah memberikan janji kepada Tiga Dewa dari golongan pengemis bahwa ia tidak akan terjun ke dunia Kang-ouw lagi, kini harus menghadapi peristiwa berdarah yang menyangkut diri orang-orang dari sepuluh partai besar, tampakya golongan Cit-phoa-san pasti akan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, dengan alasan hendak menuntut balas para korban, mungkin akan menyapu bersih kekuatan dari golongan Kiu-hwa.

Touw Liong berpikir bolak-balik, ia anggap bahwa bencana yang akan menimpa golongan Kiu-hwa timbul atas dirinya, bagaimanapun juga ia tidak boleh sampai hal itu membuat perguruannya mendapat nama buruk.

Ia mengepal-ngepal kedua tangannya.

Selagi hendak keluar untuk memberi keterangan, ternyata sudah ditarik oleh Lo Yu Im, dan minta ia jangan berlaku gegabah.

Touw Liong agaknya merasa tidak senang atas sikap Lo Yu Im itu.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar pula suara orang dari tengah-tengah danau.

"Pek Giok Hwa lebih dulu minta maaf kepada locianpwe."

Orang tua itu mengerutkan alisnya seraya berkata.

"Sudahlah! Kau ingin bicara apa? Katakanlah!"

Pek Giok Hwa memutar tubuhnya dan memberi hormat kepada para hadirin di seputar telaga, kemudian berkata dengan suara lantang.

"Touw tayhiap seorang pendekar kenamaan, bagaimana dapat melakukan perbuatan terkutuk semacam itu? Apakah ia tidak syang kepada dirinya dan nama baiknya sendiri...?"

Ucapan gadis itu jelas sangat berlainan dengan pikiran Lo Thian Piu, juga berarti sudah menolak keputusannya.

Lo Thian Piu merasa kehilangan muka, dengan wajah agak merah ia memotong perkataan Pek Giok Hwa.

"Hian-tit, karena sancu tidak di sini, urusan ini seharusnya akulah yang bertanggung jawab. Ucapanmu tadi berarti membela Touw Liong, apakah menganggap bahwa tindakan yang kuambil itu keliru?"

Pek Giok Hwa buru-buru minta maaf seraya berkata.

"Mana tit-jie berani! Ketahuilah olehmu ji-siok, tit-jie tidak mintakan ampun buat Touw Liong, juga tidak mempunyai keberanian begitu besar menentang keputusan jisiok."

Lo Thian Piu tercengang, ia bertanya.

"Kalau begitu, apa maksudmu?"

"Ditilik dari tulisan tangan yang ada di atas salju, jelas merupakan tulisan ayah. Kalau ayah sudah memastikan bahwa pembunuh sebelas orang itu adalah Panji Wulung, tit-jie percaya bahwa anggapan ayah itu pasti mempunyai dasar yang kuat."

"Hal ini...."

Lo Thian Piu hanya berkata demikian saja, tidak dapat melanjutkan lagi.

Orang tua berbaju kuning yang selama itu diam saja ketika menyaksikan terjadi pertentangan pikiran antara orang-orang sendiri, buru-buru menyela ucapan orang tua berkaki satu.

"Jieko, ucapan Hwa-jie juga ada benarnya, tetapi kedudukan jieko pada saat ini juga harus bersikap demikian. Menurut pikiranku, kedatangan Touw Liong ialah atas undangan Hwa-jie, maka urusan ini harus diselesaikan sendiri oleh Hwa-jie, barulah kita nanti menyampaikan kepada sepuluh partai besar."

Lo Thian Piu sejenak tampak berpikir, kemudian menganggukkan kepala, jelas bahwa ia sudah menerima baik usul kawannya.

Touw Liong sangat berterima kasih kepada Pek Giok Hwa.

Tapi Cui Hui yang bermaksud hendak mengadu domba Lo Thian Piu lantas berkata sambil tertawa dingin.

"Tulisan di atas salju itu bukan hanya Pek sancu seorang yang dapat menulisnya. Dalam rimba persilatan dewasa ini orang yang memiliki kepandaian menulis tulisan di atas benda keras dengan jari tangan, jumlahnya banyak sekali."

Lo Thian Piu yang masih mendongkol, lantas berkata dengan suara keras.

"Tutup mulut!"

Kemudian bertanya dengan nada suara dingin.

"Coba sebutkan, siapa-siapa yang memiliki ilmu kepandaian itu?"

"Tidak perlu jauh-jauh, menurut apa yang aku tahu, pada dewasa ini di samping sancumu sendiri, masih ada Touw Liong sendiri, Panji Wulung dan lain-lainnya, semuanya memiliki kepandaian semacam itu."

Lo Thian Piu seolah-olah ingat sesuatu, ia berpaling mengawasi tulisan di atas salju, kemudian bertanya.

"Maksudmu, apakah orang she Touw itu setelah mengantar sebelas kepala manusia itu dengan menggunakan nama Panji Wulung, lalu meninggalkan tulisan yang ditulis dengan jari tangan di atas salju, melimpahkan dosanya kepada Panji Wulung, supaya sepuluh partai besar rimba persilatan anggap Panji Wulung sebagai musuh besar mereka? Dan Panji Wulung yang tidak bersalah, sudah tentu akan marah dengan demikian akan terjadi pembunuhan besar-besaran dalam rimba persilatan?"

Cui Hui menyahut sambil menepuk pahanya sendiri.

"Tepat! Ini adalah rencana bagus, yang dinamakan membunuh orang dengan meminjam senjata orang lain...."

"Sungguh kejam!"

"Suatu rencana keji yang terkutuk!"

Demikian terdengar suara caci maki dari para hadirin.

Touw Liong tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia membuka kedoknya dan pakaian samarannya, kemudian tertawa tergelak-gelak dan berkata dengan suara nyaring.

"Orang she Touw ada di sini, apakah Tuan-tuan sekalian mau dengar keteranganku?"

Semua orang terkejut, suasana menjadi sunyi.

Semua mata ditujukan kepadanya, dan Touw Liong yang sudah balik dalam keadaan asalnya, di bawah pandangan mata orang banyak, berjalan menuju ke danau.

Orang banyak pada terheran-heran, mereka saling bertanya.

"Mengapa suaranya tidak bertenaga? Suara itu mirip dengan suara orang biasa, mana mirip dengan orang yang meiliki kepandaian tinggi?"

Lo Yu Im tidak merintangi perbuatan Touw Liong, bahkan mengikuti di belakangnya memberi perlindungan.

Touw Liong terus berjalan menuju ke tengah danau.

Ia memberi hormat kepada orang tua berkaki satu, kemudian menyoja kepada Pek Giok Hwa setelah itu baru memberi hormat kepada semua orang yang berada di sekitarnya, seraya berkata.

"Tuan-tuan tadi telah memperbincangkan diriku mengenai pembunuhan sebelas orang yang kepalanya berada di sini, hal ini aku orang she Touw tidak akan memberi penjelasan. Jikalau Tuan-tuan akan tetap menganggap aku sebagai pembunuhnya, aku bersedia menerima hukuman. Tetapi jikalau Tuan-tuan tidak mencurigai diriku melakukan perbuatan itu, aku minta dengan hormat supaya Tuan-tuan suka menunggu sampai kembalinya Pek sancu, supaya mendapat keterangan, akan kita lihat bersama-sama siapakah pembunuh yang sebetulnya?"

Semua orang yang ada di situ pada terkejut, tiada satupun yang buka suara. Pek Giok Hwa tiba-tiba mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Saudara Touw... kau agaknya sudah kehilangan semua kekuatan dan kepandaianmu...!"

Touw Liong tertawa menyeringai, kemudian menjawab.

"Memang benar! Semua kepandaian dan kekuatan tenagaku kini telah musnah."

Mendengar jawaban itu, orang-orang yang pada berdiri di sekitar telaga, kembali memperdengarkan suara kasakkusuk, semua mata juga ditujukan kepadanya, agaknya sangat menyayangkan kepandaian dan ilmu silatnya yag dimiliki dahulu.

Pek Giok Hwa dengan penuh perhatian bertanya.

"Kepandaian dimusnahkan oleh siapa?"

"Panji Wulung...."

"Panji Wulung??"

"Panji Wulung??"

Demikian dari empat penjuru terdengar suara ribut.

Lo Yu Im dalam hatinya berkata sendiri.

Ditilik dari kekuatan tenaga orang tua ini, memang benar, bukanlah orang dari golongan sembarangan.

Kemudian ia melangkah maju dan bertanya kepada Lie Hu San.

"Lie pangcu, kau lihat biar jelas, apa dia mirip dengan seorang berkepandaian tinggi yang dapat membunuh sebelas orang itu?"

Bukan kepalang terkejutnya Lie Hu San, ditanya demikian ia tidak dapat menjawab. Matanya berputaran ke atas diri Touw Liong, untuk sesaat mulutnya bungkam. Hanya dalam hatinya berpikir.

"Tadi malam jelas kulihat adalah bocah ini, mengapa bisa berubah dengan mendadak? Jikalau benar kekuatan dan kepandaiannya lenyap seluruhnya, bukankah ini suatu kejadian yang sangat aneh? Pek Giok Hwa yang merasa benci kepada Cui Hui tidak mau membiarkan begitu saja. Dengan nada suara mengejek, ia berkata.

"Tuan Cui barangkali sudah ingin lekas-lekas menduduki kursi ketua partainya yang hendak dibentuk, sehingga perlu mengarang cerita yang bukan-bukan untuk menarik perhatian orang. Dengan Lie pangcu sengaja mengarang berita yang menggemparkan, supaya orang tahu bahwa dia adalah seorang tokoh hebat."

Cui Hui dengan suara marah membantah.

"Dalam peristiwa ini ada beberapa hal yang sangat mencurigakan, percaya atau tidak terserah kepadamu. Tadi malam orang yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri memang betul adalah pemuda she Touw itu."

Sementara itu Lo Thian Piu dengan sikap dingin menyemprot Lie Hu San.

"Lie pangcu, kau tadi sudah mengatakan sendiri, jikalau memberikan laporan palsu, kau harus menerima dosanya, golongan kita yang baru didirikan harus memegang keras semua aturan dalam golongan sendiri, sekarang apa katamu?"

"Penasaran!"

Demikian Lie Hu San berteriak dengan suara nyaring.

"Bagaimana yang kau maksudkan dengan penasaran?"

"Tanya kepada Panji Wulung, siapakah pembunuhnya?"

"Sayang Panji Wulung kini tidak ada di sini."

Lo Thian Piu tiba-tiba menutup mulutnya, buru-buru memasang telinga, karena dari jauh di bawah bukit tiba-tiba terdengar suara nyanyian Panji Wulung yang menusuk telinga.

Semula, hanya beberapa orang saja yang memperhatikan, tetapi lambat laun tidak sedikit orang yang mencurahkan perhatiannya.

Ketika mendengar suara nyanyian itu makin lama makin menggema, sehingga Touw Liong yang sudah seperti orang biasa juga dapat mendengarnya.

Sungguh cepat gerakan orang itu!

Begitu suara nyanyian berhenti, lalu berkelebat bayangan orang.

Seorang perempuan tua berambut putih yang mengenakan kerudung muka kain hitam, di bawah semua mata yang menyaksikan dengan terheran-heran, telah muncul di permukaan danau.

Perempuan itu begitu menginjakkan kakinya di atas permukaan danau, lalu dikebut-kebutkan lengan jubahnya, dan sesaat itu di permukaan danau tampak bayangannya seolah-olah bergerak-gerak bagaikan naga.

Kibasan lengan jubah itu menimbulkan angin di seputar danau, sehingga menimbulkan hawa dingin.

Semua orang yang ada di situ wajahnya berubah seketika, mereka buruburu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Sesaat kemudian, perempuan tua berkerudung itu berdiri tegak di tengah danau, dengan suara yang nyaring dan lantang, bertanya kepada para hadirin yang saat itu masih menunjukkan sikap terheran-heran.

"Kalian semua sudah melihat dengan tegas atau belum, siapakah adanya aku si nenek ini?"

Semua orang yang ada di situ pada tercengang dan terheran-heran, tiada satupun yang berani membuka mulut.

Di antara mereka meskipun ada yang merasa jeri mendengar nyanyian itu, akan tetapi tiada satupun yang berani menyebutkan namanya, mereka khawatir akan mendatangkan bencana kematian.

Tokoh-tokoh kuat rimba persilatan yang jumlahnya ratusan orang, saat itu semua diliputi oleh perasaan takut, hingga tidak seorangpun yang berani membuka suara.

Jilid 10 Perempuan tua itu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian mengulurkan tangannya, dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah panji kecil warna hitam, panji itu dikibarkan di hadapan Pek Giok Hwa, kemudian disambitkan ke permukaan danau, batangnya menancap sedalam dua dim, lalu berkata sambil menunjuk panji kecil itu.

"Apakah mata kalian semua sudah buta, hingga tidak mengenali siapa adanya orang yang memiliki panji kecil ini??"

"Panji Wulung !!!"

Demikian terdengar suara nyaring dari empat penjuru, akan tetapi mereka semua hanya dapat mengeluarkan ucapan itu saja, selanjutnya tidak berani bersuara lagi.

Panji Wulung mendongakkan kepala dan mengeluarkan suara tertawanya yang aneh, suara tertawa itu menggema di udara sehingga menusuk telinga setiap orang, sedangkan Touw Liong yang saat iu sudah seperti manusia biasa tidak sanggup mendengar/menerima goncangan itu, sehingga menutup telinga dengan kedua tangannya.

Ketika suara itu sirap, Panji Wulung lalu berkata sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Manusia di mana saja senantiasa bertemu. Bocah, hari ini kita kembali berjumpa di sini, apakah kau juga ingin mencampuri persoalan ini?"

Touw Liong diam saja, hanya dengan sikap marah memandang kepada Panji Wulung.

Panji Wulung tidak menghiraukan keadaan Touw Liong, pelahan-lahan menggeser kakinya berjalan mendekati Pek Giok Hwa yang berdiri tegak, kemudian berhenti sejarak satu tombak di hadapannya.

Orang tua berkaki satu dengan menggunakan dua jari tangannya, hendak mencabut panji yang menancap di permukaan danau, bersama orang tua berbaju kuning berjaln ke samping Pek Giok Hwa, mereka siap melindungi gadis itu.

Pek Giok Hwa dengan alis berdiri dan dengan suara lantang bertanya kepada Panji Wulung.

"Panji Wulung, kau mau apa?"

Perempuan tua itu menjawab sambil tertawa dingin.

"Aku tidak akan berbuat apa-apa. Ayahmu hendak menjagoi rimba persilatan, hingga mengambil sebelas buah panji hitam itu. Aku mengiringi kehendak ayahmu, biarlah ia dapat mencapai maksudnya. Sekarang kuberikan yang sebuah ini lagi kepadamu, supaya cukup menjadi dua belas buah."

Suara itu penuh misteri juga penuh ancaman.

Maksudnya ialah hari itu Pek Giok Hwa sudah pasti akan dibinasakan, dan Pek Thian Hiong bukan saja akan mendapatkan sebuah panji kecil warna hitam itu, tetapi juga akan mendapatkan puterinya yang sudah menjadi mayat.

Touw Liong mengerti, asal Panji Wulung bergerak, hari itu Pek Giok Hwa sudah pasti akan binasa di tangannya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, juga tidak mengerti mengapa sebabnya, ia agaknya merasa berterima kasih atas ucapan gadis tadi yang telah membela dirinya, maka tanpa memikirkan keadaannya sendiri, dengan cepat ia mencoba mencabut gagang panji hitam yang menancap di atas salju.

Perbuatan Touw Liong itu tak ubahnya seperti bercanda dengan maut, hingga mengejutkan semua orang yang ada di situ.

Perempuan tua itu yang menyaksikan Touw Liong dengan wajah dan sikap tenang mencabut panji yang berada di tangannya, sebaliknya malah tercengang.

Dalam terkejutnya ia mengeluarkan suara pelahan, dari sinar matanya yang tajam, ia terus menatap Touw Liong dan berkata.

"Bocah, apakah kau sudah bosan hidup?"

Ia hanya bertanya demikian, tetapi tidak mengambil tindakan apa-apa.

Beberapa ratus tokoh rimba persilatan satu persatu berdiri.

Bagaikan patung mereka berdiri, agaknya tidak seorang pun yang berani memikirkan tentang nasib Touw Liong.

Touw Liong dengan tenang memandang semua orang di sekitarnya, kemudian alihkan pandangan matanya kepada perempuan tua itu, setelah itu ia baru berkata lambatlambat.

"Hari ini adalah hari pertemuan semua tokoh rimba persilatan, untuk membuka pertemuan besar di tempat ini, kita sebagai orang-orang rimba persilatan, bagaimanapun juga harus mengindahkan peraturan. Mengenai soal kepandaian ilmu silat, orang-orang yang berada di sini, tiada satupun yang dapat mengimbangi kepandaianmu. Oleh karena itu, maka kau sudah dapat menjagoi dan boleh berbuat sesukamu! Tetapi orang di jaman dahulu ada meninggalkan suatu pepatah yang sangat berharga. Seseorang jikalau mengandalkan kegagahan dan kekerasan, sudah pasti akan mendatangkan bencana kepada diri sendiri. Maka itu, manusia harus dapat menaklukkan sesama manusia dengan kebijaksanaan dan budi pekerti. Dahuu ketika di gunung Bu-san di puncak gunung Sin-lihong, kau dengan mudah telah memusnahkan semua kepandaian ilmu silatku, hari ini jikalau kau hendak mengambil kepalaku, juga lebih mudah daripada mengambil barang dari dalam sakumu sendiri, sebetulnya tidak berarti apa-apa. Tetapi kita lebih dahulu harus berbicara tentang aturan, supaya semua orang yang ada di sini mendengar dan menyaksikan untuk melihat siapa yang benar dan yang salah?"

Perempuan itu terkejut, ia berkata sambil tertawa dingin.

"Hari ini kau berani turun tangan mencabut panji yang kulemparkan di atas danau ini, itu sudah berarti kau melanggar peraturan dalam rimba persilatan, apa salah kalau aku mengatakan bahwa kau sudah bosan hidup?"

Touw Liong tertawa terbahak-bahak, ia mengibarkan panji yang berada di tangannya seraya berkata.

"Sungguh hebat! Tetapi aku tidak tahu kata-katamu ini apakah memang tidak tahu dengan sejujurnya, ataukah pura-pura tidak tahu?"

Kembali perempuan tua itu dikejutkan oleh pertanyaan itu. Touw Liong mengawasi panji kecil di tangannya, lalu berkata dengan suara nyaring.

"Panji kecil ini sebetulnya adalah milikku, tetapi dirampas orang dan ditukar gagangnya. Sekarang barang ini telah kembali kepada pemiliknya, coba Tuan-tuan pikir, aku yang salah ataukah orang yang merampas milikku itu yang bersalah?"

Perempuan tua itu bungkam tak dapat menjawab.

Ia kini berada di kedudukan yang serbasalah, hingga tak tahu bagaimana harus berbuat.

Touw Liong semakin besar nyalinya.

Ia menunjuk sebelas kepala yang baris berjejer di permukaan danau Thian-tie, dan kemudian bertanya.

"Apakah kau yang melakukan pembunuhan kepada orang-orang ini?"

Perempuan tua itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengetukkan tongkatnya dan berkata dengan suara marah.

"Siapa yang menggunakan namaku melakukan pembunuhan secara serampangan ini? Aku Panji Wulung akan menangkapnya! Hem! Akan kurobek-robek kulitnya, biarlah ia merasakan betapa hebat hajaranku."

Touw Liong mengerutkan alisnya, dan bertanya pula kepadanya.

"Apakah kau sudah pernah bertemu muka dengan Pek Sancu?"

Perempuan tua itu menggelengkan kepala, hingga menimbulkan perasaan curiga Touw Liong. Ia berkata kepada diri sendiri.

"Kalau begitu, siapakah yang usil menuliskan sebarisan huruf ini?"

Mata perempuan tua itu berputaran, dan bertanya kepada Touw Liong dengan suara bengis.

"Anak busuk! Siapa yang mencabut sebelas panji kecil hitam itu?"

"Itu adalah aku sendiri!"

Jawab Touw Liong sambil menyoja.

"Aaa!!"

Demikian dari para hadirin terdengar suara seruan sangat riuh. Perempuan itu bertanya pula.

"Siapa yang mengantarkan kepala orang-orang ini kemari?"

Touw Liong bersangsi sejenak, kemudian menjawab dengan tegas.

"Wajah orang itu mirip benar dengan wajahku."

"Aaa..."

Demikian dari empat penjuru terdengar suara seruan terkejut.

"Kau?"

Bertanya perempuan tua itu sambil menuding Touw Liong dengan tongkatnya.

"Bukan aku!"

Menjawab Touw Liong sambil menggelengkan kepala.

"Semua kekuatan tenaga dan kepandaianmu sudah kumusnahkan dengan ilmu tunggalku. Di kolong langit ini, kecuali Hui-thian Giok-liong Liu cianpwee hidup lagi, seumur hidupmu ini habislah pamormu. Aku dapat menduga dengan pasti, bahwa kau tidak memiliki kekuatan tenaga seperti itu untuk melakukan pembunuhan terhadap sebelas orang itu. Anak busuk, katakanlah lekas! Siapa orangnya itu?"

"Wajah orang itu mirip dengan wajahku, nama julukannya adalah Pelajar Seribu Muka...."

"Pelajar Seribu Muka??"

Demikian perempuan tua itu berkata seperti menjerit, kemudian tampak berkelebat bayangannya.

Sesaat kemudian perempuan tua itu sudah menghilang dari hadapan mata Touw Liong dan hadapan mata orang banyak.

Bab 26 Panji Wulung sudah menghilang dari depan mata orang banyak, namun semua tokoh rimba persilatan yang berada di situ semua sudah dapat menyaksikan bagaimana macamnya orang yang menamakan diri Panji Wulung itu!

Siapapun boleh merasa beruntung bahwa batok kepala mereka masih utuh dan masih tetap di atas badannya.

Ketika para tokoh rimba persilatan itu hendak meninggalkan tempat itu, semua masih berkesan sangat dalam terhadap sikap Touw Liong yang begitu berani menghadapi orang ganas seperti Panji Wulung, hingga mereka memandangnya dengan rasa hormat terhadap pemuda itu yang kini sudah musnah kepandaian dan kekuatan tenaganya.

Tiada suatu perjamuan yang tidak akan berakhir.

Demikian dengan pertemuan para tokoh ini, semua tokoh rimba persilatan kini telah tiba saatnya untuk bubaran.

Golongan Cit-phoa-san merasa kehilangan muka, terutama orang tua berkaki satu dan orang tua berbaju kuning yang hari itu bertindak mewakili tuan rumah.

Ketika berhadapan dengan Panji Wulung agaknya bernapaspun tidak berani.

Oleh karena itu, mereka dengan diam-diam turut menghilang di antara orang banyak.

Selagi Pek Giok Hwa hendak meninggalkan tempat pertemuan itu, lebih dulu ia memandang Touw Liong dengan perasaan bersyukur.

Orang-orang dari golongan sepuluh partai besar masingmasing membawa pulang kepala manusia dari golongannya sendiri-sendiri, siapapun tidak berani membicarakan soal menuntut balas.

Di tengah-tengah danau Thian-tie yang sudah membeku, kini hanya tinggal sebuah kepala manusia yang penuh berewok, tiada seorang pun yang merawat, sehingga semua orang sudah berlalu habis, kepala orang itu tidak ada yang mengakui.

Touw Liong yang sementara itu masih belum pergi, bertanya kepada Lo Yu Im sambil menunjuk kepada kepala orang itu.

"Apakah enci tahu, orang itu dari golongan mana?"

Tetapi Lo Yu Im hanya angkat pundak sebagai jawaban bahwa ia tidak tahu. Touw Ling mengerutkan alisnya sambil berpikir, kemudian berkata.

"Orang ini pasti salah seorang tokoh kuat dalam rimba persilatan pada dewasa ini."

"Tetapi siapakah orang itu?"

Demikian dua orang itu bertanya-tanya dalam hati masing-masing.

Sebab di antara tokoh kuat dalam rimba persilatan yang mereka kenal, belum pernah melihat orang itu, juga belum pernah dengar ada orang mengatakan tentang diri orang itu.

Keadaan danau Thian-tie kini sudah sunyi kembali, hanya tinggal sebuah kepala itu, dan Touw Liong bersama Lo Yu Im berdua yang menghadapi kepala itu, merasa serbasalah.

Jikalau mereka tinggalkan begitu saja, rasanya tidak enak, tetapi jikalau mau mengurusinya, tetapi cara bagaimana mengurusi orang yang belum dikenalnya?

Dua orang itu berunding sebentar, lalu mengambil kepala manusia itu, untuk sementara oleh Lo Yu Im kepala itu dibawa dan disimpan ke dalam pagoda yang terdapat di puncak gunung Thian-ti-hong.

Touw Liong lalu berusaha untuk menghapus tulisan-tulisan yang terdapat di atas danau yang telah membeku itu, sehingga keadaannya pulih seperti biasa.

Pertemuan besar itu, oleh karena tidak hadirnya Pek Thian Hiong sehingga menjadi gagal, golongan Cit-phoasan mau tak mau harus kembali ke tempat asalnya, dan Lie Hu San kini telah menghilang dari rimba persilatan.

Dauau Thian-tie kini kembali seperti sediakala, sunyi senyap.

Touw Liong meskipun sudah kehilangan seluruh kepandaiannya, tetapi oleh karena tindakannya yang berani dalam pertemuan besar itu, telah menunjukkan jiwa jantannya, hingga namanya semakin kesohor.

Kemanakah sebetulnya Pek Thian Hiong pergi?

Mengapa hingga saat itu ia belum unjuk muka?

Tiga wakil ketuanya ialah orang tua berkaki satu, orang tua berbaju kuning dan Pek Giok Hwa, semuanya menjadi bingung.

Diam-diam mereka mengirim anak buahnya untuk mencari jejak ketuanya.

Sementara itu di rimba persilatan terjadi suatu keheranan, karena yang hilang bukan hanya Pek Thian Hiong saja.

Di samping ia masih ada Anak Sakti dari gunung Bu-san dan Sepasang Burung Hong, yang juga dikabarkan sudah hilang.

Sementara itu Touw Liong dan Lo Yu Im yang merupakan orang terakhir meninggalkan danau Thian-tie, kini hendak melanjutkan perjalanannya ke gunung Oey-san, setelah itu lalu ke perkampungan Pak-bong-san, hendak mencari tahu tentang segala keganjilan yang terjadi di danau Thian-tie.

Selagi mereka turun gunung, di suatu jalanan sempit telah berpapasan dengan Cui Hui dan semua pengikutnya.

Cui Hui lalu berkata.

"Bocah, hari ini kau telah menggagalkan usahaku, bahkan membuat aku kehilangan muka. Sekarang semua anak buahku ada di sini, kau harus tinggalkan batok kepalamu!"

Lo Yu Im menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata kepada Cui Hui.

"Menggunakan kesempatan selagi orang dalam keadaan terjepit lalu main keroyok dengan mengandalkan jumlah orang yang banyak, adakah itu suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang calon ketua satu partai seperti dirimu itu? Jikalau kau berani, mari kita bertempur satu lawan satu, baik dengan senjata atau dengan tangan kosong, aku seorang she Lo bersedia mengiringi kehendakmu."

"Baik! Baik! Baik! Aku si orang she Cui mendapat keberuntungan untuk melayani nona bermain-main sejenak, juga merupakan suatu kehormatan bagiku,"

Berkata Cui Hui sambil tertawa cengar-cengir.

"Orang she Cui, kau tak perlu banyak bicara, jikalau kau berani jawablah dengan tegas supaya nonamu dapat mengambil jiwamu."

"Baiklah! Aku ada maksud hendak bertanding dengan ilmu serulingmu yang sudah menggemparkan rimba persilatan itu."

Lo Yu Im tahu bahwa orang she Cui itu sengaja hendak menghina dirinya dengan kata-kata yang mesum, tetapi ketika ia menyaksikan keadaan Touw Liong, dalam hatinya merasa sedih.

Ia tidak menjawab perkataan Cui Hui, dari dalam sakunya mengeluarkan seruling batu gioknya lalu berkata sambil menganggukkan kepala.

"Aku ingin belajar kenal lebih dahulu dengan kepandaianmu!"

Touw Liong memberi pesan kepada Lo Yu Im dengan suara pelahan.

"Enci, berlakulah hati-hati. Cui Hui itu sifatnya sangat kejam dan ganas sekali."

Lo Yu Im menganggukkan kepala.

Tiba-tiba ia ingat bahwa dengan seorang diri ia harus menghadapi Cui Hui, siapakah yang melindungi Touw Liong?

Sikap itu telah dilihat oleh Cui Hui, maka lalu memerintahkan kepada empat pengawalnya.

"Pergi! Kalian baik-baik menjaga keselamatan Touw tayhiap!"

Para pengikutnya menurut, mereka segera mengurung ketat Touw Liong dan Lo Yu Im dengan senjata terhunus.

Lo Yu Im memperdengarkan suara tertawa dingin, lalu menggerakkan serulingnya, dari situ menghembuskan angin dingin hingga para pengikut Cui Hui terdesak mundur.

"Apakah kalian hendak main keroyok?"

Tanya Lo Yu Im marah.

"Satu jiwa diganti dengan satu jiwa. Adik seperguruan dia ketika berada di gereja Kwi-lok-si, telah membinasakan seorang pengawalku. Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa hutang jiwa adik seperguruannya, harus dibayar oleh jiwa abang seperguruannya, itu adalah suatu hal yang sangat adil,"

Berkata Cui Hui dengan nada suara dingin.

Touw Liong yang selama itu diam saja, sebetulnya tidak senang mendengar kata-kata Cui Hui yang banyak tingkah.

Beberapa kali ia ingin mendamprat, tetapi oleh karena mengingat diri sendiri dalam keadaan sangat berbahaya, maka sebisa-bisa ingin mengendalikan perasaannya.

Kini, oleh karena Cui Hui telah mengeluarkan kata-kata bahwa dirinya hendak dibuat korban untuk mengganti kematian pengawalnya, dalam hati merasa gusar.

Jikalau bukan karena ilmu kepandaiannya sendiri musnah, hari itu pasti akan dihajarnya orang itu habis-habisan....

Ketika mendengar Cui Hui mengusik-usik nama adik seperguruannya Kim Yan, seketika itu ia lalu naik pitam, maka segera membentaknya.

"Keparat! Kepala tuan mudamu bukan terhitung apaapa. Jikalau kau menghendaki, asal kau miliki cukup kepandaian, kau boleh ambil. Tuan mudamu setapakpun tidak akan mundur."

Kata-kata itu bukan saja menherankan Cui Hui, tapi juga mengejutkan Lo Yu Im.

Touw Liong pelahan-lahan mengeluarkan panji kecil warna hitam dari dalam sakunya, lalu dikibaskan di hadapan Cui Hui seraya berkata.

"Dengan panjiku ini, kau sudah tentu tidak akan berani mengganggu seujung rambut Tuan mudamu."

Ucapan itu membuat Cui Hui tercengang hingga berdiri terpaku di tempatnya. Matanya terbuka lebar menatap panji kecil di tangan Touw Liong, kemudian bertanya.

"Kenapa?"

"Tadi malam aku berani mengambil sebelas buah panji kecil itu dan hari ini kembali dihadapan perempuan tua yang mengaku Panji Wulung, aku telah mengambil panjinya, bagaimana kau tidak pikir dulu, kalau Tuan mudamu sudah berani turun tangan mengambil panji, sudah tentu memiliki cukup kepandaian untuk mencabut kumis harimau...."

Dengan beberapa patah kata itu benar-benar telah membuat Cui Hui tidak berkutik. Touw Liong berkata pula sambil tertawa dingin.

"Dengan sejujurnya aku berkata kepadamu, orang yang tadi malam mengantarkan sebelas buah kepala manusia ke danau Thian-tie itu, wajahnya mirip sekali dengan wajahku, coba kau katakan siapakah dia itu?"

Cui Hui mengerutkan alisnya dan berkata.

"Siapa dia?"

"Dia juga Panji Wulung."

"Panji Wulung?"

Touw Liong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Benar! Dia bukan saja merupakan muridnya Panji Wulung, bahkan denganku masih terhitung saudara. Dia adalah kakak sekandungku. Jikalau tidak, mana aku berani mengambil panji itu."

"Saudara tuamu?"

Bertanya Cui Hui terkejut. Lo Yu Im mengerutkan alisnya, sementara pikirannya bekerja, ia berkata sendiri dengan suara pelahan.

"Kalian mungkin saudara kembar, mungkin dia benarbenar adalah saudara tuamu."

Touw Liong sebenarnya hanya mengaku-aku saja, karena terpaksa dengan keadaannya sendiri yang harus mengaku dirinya sebagai saudara orang yang mirip dengannya untuk mengundurkan musuh kuat itu, siapa sangka, bahwa kata-katanya itu telah menimbulkan kecurigaan Lo Yu Im, dengan tiba-tiba ia tertawa kecil dengan menuruti nada Touw Liong ia bertanya kepada Cui Hui.

"Apakah kau yakin dapat menangkan dia?"

Dia yang dimaksudkan oleh Lo Yu Im adalah saudara tua yang disebutkan oleh Touw Liong tadi.

"Hal ini..."

Cui Hui bersangsi sejenak akhirnya menarik kembali empat pengawalnya. Lo Yu Im berkata pula sambil tertawa dingin.

"Kalau begitu kematian salah seorang pengawalmu, kau sudah tidak perlu menuntut balas lagi."

"Mengapa?"

Tanya Cui Hui agak marah.

"Tidak apa-apa, kepandaian ilmu silat Kim Yan sekarang, sudah jauh lebih tinggi daripadamu. Dia sudah mendapat didikan langsung dari perempuan tua yang tadi unjuk diri di danau Thian-tie, kalau kau hendak menghadapinya, bukankah itu berarti mencari mati sendiri? Lagi pula hari ini jikalau kau berani mengganggu seujung rambutnya Touw Liong saja, apa kau kira Kim Yan mau melepaskan kau begitu saja?"

Cui Hui berpikir lama tanpa menjawab.

Ia terbenam dalam kenangannya pada masa yang telah lalu....

Tiga bulan telah berselang, di dalam kuil Kui-kok-si, Touw Liong telah terkena racunnya dalam barisan Ngo-im Cui-hun-tin.

Kim Yan dengan menggunakan ilmunya Thay-it Sin-jiauw telah membinasakan salah seorang pengawalnya, ia sendiri penasaran mengejarnya, di dalam sebuah rimba, ia berputar-putaran mengejar Kim Yan, tetapi Kim Yan akhirnya tokh dapat menghilang dari hadapan matanya.

Kemudian ia mengejar-ngejar terus, sehingga tiba di bawah sebuah pohon tua, di belakang pohon itu dengan tiba-tiba tampak sebuah tangan yang aneh, dengan mudah tangan itu mengetok kepalanya sendiri, sehingga saat itu kepalanya puyeng dan jatuh pingsan.

Ketika ia siuman kembali, obat pemunah racun dalam sakunya sudah hilang, kini kalau ia pikir kembali ia masih merasa jeri.

Seandainya tangan aneh itu menghendaki jiwanya, bukankah ia sekarang sudah tidak bisa hidup lagi?

Cui Hui semakin berpikir, tengkuknya semakin bergidik sendiri, dan sekarang kalau ia teringat pula kejadian itu, Kim Yan benar-benar merupakan seorang yang tidak mudah dihadapi, mau tak mau pada saat itu ia terpaksa harus urungkan maksudnya untuk menangkap atau menganiaya Touw Liong.

Lo Yu Im menyaksikan semua perubahan itu, dengan tangan memegang serulingnya, ia menarik tangan Touw Liong dan berjalan dengan langkah lebar, keluar dari rimba itu.

Berlalunya dua orang itu disaksikan oleh Cui Hui dengan termangu-mangu, ia terpaksa membiarkan mereka berlalu tanpa diganggu.

Setelah keluar dari rimba itu, mereka meneruskan perjalanannya tanpa berhenti.

Lo Yu Im khawatir Touw Liong tidak tahan lagi, maka ia mencari suatu tempat untuk beristirahat, sambil daharan dan minum.

Rumah minum yang disinggahi, saat itu tamunya sedikit sekali, kecuali seorang tua berambut putih yang duduk sambil mengantuk sudah tak tampak lain orang lagi.

Lo Yu Im berkata kepada Touw Liong.

"Murid Kakek Seribu Muka itu adalah saudara tuamu, apakah itu benar?"

Dengan sangat bangga Touw Liong menjawab sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Siaote hanya bicara sekenanya saja.... Untuk menggertak Cui Hui, harap enci jangan anggap benarbenar."

"Adik Liong! Aku mempunyai perasaan orang itu mungkin benar-benar adalah saudara sekandungmu."

"Siaote tidak mempunyai kakak dan adik. Hal itu tidaklah mungkin."

"Aku merasa, meskipun dia menggunakan nama julukan Pelajar Seribu Muka, tetapi sejak aku mengenali dia, sehingga tadi malam ia unjuk muka di danau Thian-tie, aku telah melihat mukanya sedikitpun tidak ada perubahan apaapa. Dengan lain perkataan, ia sedikitpun tidak menggunakan ilmunya untuk menyamar. Di dalam dunia ini memang tidak sedikit jumlahnya orang yang mirip mukanya satu dengan yang lain, tetapi tidak bisa sampai mirip demikian rupa, sehingga bentuk tubuhnya, tinggi pendeknya, gemuk kurusnya, mirip betul satu sama lain. Selain daripada itu, mata, telinga, mulut dan hidung, persis denganmu. Kalian berdua jikalau bukan sepasang saudara kembar, bagaimana bisa begitu rupa?"

Kata-kata itu menggerakkan hati Touw Liong sehingga saat itu ia juga terbenam dalam lamunannya tidak bisa menjawab lagi.

Ia mulai memikirkan riwayat dirinya sendiri.

Tentang dirinya, ia sedikitpun tidak tahu, hanya mendengar-dengar kata dari suhunya bahwa ia sejak masih kecil sekali telah ditinggal oleh ayah-bundanya, dengan seorang diri ia hidup, oleh karena suhunya dengan ayahnya yang sudah wafat itu dahulu mempunyai hubungan akrab, maka sejak kanak-kanak ia sudah dipungut dan dibesarkan hingga dewasa, selain daripada itu ia sudah tidak tahu apaapa lagi.

Setelah mendengar kata-kata Lo Yu Im tadi, mulailah ia memikirkan tentang asal-usul dirinya sendiri.

Ia teringat pada dirinya sendiri yang dliputi oleh banyak persoalan misteri, mungkin tidak sesederhana seperti apa yang didengarnya dahulu.

Di dalamnya mungkin masih terkandung rahasia apa-apa, mungkin juga suhunya belum jelas benar menerangkan tentang dirinya.

Karena mengingat asal-usul dirinya, maka ketika mendengar perkataan Lo Yu Im, hatinya lalu tergerak.

Ia teringat kepada pemuda yang wajahnya mirip benar dengan dirinya, tetapi berhati jahat bagaikan ular berbisa, mau tak mau timbullah perasaan sedih, karena jikalau benar pemuda itu adalah saudara kandungnya sendiri, atas perbuatannya yang kejam melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa, bukankah itu akan merupakan suatu halangan besar baginya untuk hubungan persaudaraan di kemudian hari?

Berpikir sampai di situ, Touw Liong mendadak angkat muka.

Sambil menatap Lo Yu Im ia berkata.

"Enci, antarlah aku ke gunung Kiu-hoa."

"Ke gunung Kiu-hoa?"

Bertanya Lo Yu Im pelan.

"Aku hendak pulang dan menanyakan kepada suhu. Aku hendak menanyakan tentang riwayat diriku, sebetulnya aku ini masih mempunyai saudara lain atau tidak?"

Lo Yu Im setuju, tetapi ia berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Di musim dingin seperti ini barangkali kau tidak tahan melalui perjalanan jauh dan hawa dingin itu. Aku khawatirkan keadaan badanmu...."

"Aku kira takkan menjadi halangan. Enci, marilah kita berangkat!"

Berkata Touw Liong sambil tertawa.

Dua orang itu lalu berjalan keluar dari rumah minum, mereka mencari tandu, di bawah angin keras mereka melanjutkan perjalanannya, dan esok hari sudah tiba di kota Sang-ciu.

Ketika mereka meninggalkan rumah minum tadi, orang tua berambut putih yang tadi duduk sambil mengantuk, tiba-tiba berdiri dan kucek-kucek matanya, setelah itu ia berjalan keluar.

Dengan memandang tandu yang ditumpangi oleh Touw Liong dan Lo Yu Im dengan perasaan heran ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Benarkah ia adalah adikku?"

Orang tua itu membeli sebatang tongkat, dari jauh mengikuti jejak dua orang tadi. Sambil berjalan, ia masih bertanya-tanya kepada diri sendiri.

"Dendam sakit hatiku sudah terbalas. Aku justru perlu mencari Lo Yu Im dan mengharap supaya bisa didapat ketentuan hidupku. Akan tetapi menurut desasdesus di kalangan Kang-ouw, Lo Yu Im dan Touw Liong berdua hubungannya sangat baik sekali. Aku perlu mengadakan penyelidikan, jikalau antara mereka berdua terjadi hubungan pribadi, bagaimana aku dapat membiarkan mereka turun dari gunung Bu-san? Jikalau mau dikata aku dengan bocah itu masih merupakan saudara sekandung, dari mana asal-usulnya?"

Siapakah gerangan adanya orang tua itu?

Dia tak lain tak bukan adalah Pelajar Seribu Muka.

Dendam sakit hati apa yang ia maksudkan?

Dan siapakah musuh besarnya?

Pada bulan dua cuaca di gunung Kiu-hwa seperti sewaktu musim semi.

Pemandangan di gunung itu sangat indah.

Gunung Kiu-hoa memang benar-benar seperti taman Firdaus.

Touw Liong di bawah bimbingan Lo Yu Im telah berhasil mendaki puncak gunung Kiu-hoa.

Sebelum orangnya tiba di tengah gunung, sudah terdengar suara hembusan pukulan telapak tangan.

Touw Liong dengan alis berdiri berkata.

"Enci, celaka! Ada orang yang mengganggu suhu. Kini suhu sedang bertempur dengan orang itu...."

Lo Yu Im sendiri sebetulnya sudah sejak tadi mendengar suara itu, karena ia khawatir Touw Liong merasa cemas, maka ia tidak buka suara.

Kini setelah Touw Liong berkata demikian, ia tidak dapat berlaku pura-pura bodoh lagi.

Dengan pelahan ia menarik tangan Touw Liong dan berkata.

"Adik, mari aku bawa kau naik ke atas."

Dengan cepat ia sudah naik ke atas gunung, sehingga sesaat kemudian sudah menghilang di dalam kabut awan.

Di belakang mereka seorang imam setengah umur dengan menggendong buli-buli arak warna merah mengikuti mereka naik ke atas.

Imam setengah tua itu berusia sekitar empat puluh tahun, gerak badannya gesit sekali.

Suara beradunya pukulan tangan terdengar semakin nyaring.

Suara beradunya pedang juga semakin nyata.

Touw Liong kini sudah musnah kepandaian ilmu silatnya.

Walaupun demikian ia pernah merupakan salah satu jago dalam rimba persilatan.

Maka ketika mendengar suara pertandingan itu ia segera dapat mengenali bahwa pertandingan itu dilakukan oleh dua orang kuat yang memiliki kepandaian sudah sempurna.

Suara pedang itu adalah suara pedang Kiu-hwa Sin-kiam dari gurunya, dan suara pukulan tangan kosong yang sangat hebat akan tetapi ia masih tidak dapat menduga siapakah adanya orang itu.

Dari suaranya ia dapat membedakan bahwa pertempuran itu sudah sampai di puncak.

Dalam hati Touw Liong merasa cemas, ia minta kepada Lo Yu Im supaya lekas-lekas tiba di tempat itu.

Tak lama kemudian, dua orang itu sudah tiba di gubuk Kiu-hoa Lojin.

Di atas tanah kosong yang terdapat di depan rumah gubuk itu, benar saja ada dua orang tua yang sedang melakukan pertempuran mati-matian.

Touw Liong yang menyaksikan pertempuran itu merasa sangat cemas.

Orang tua yang menggunakan pedang, jidatnya sudah penuh keringat, gerak-geraknya mulai kalem, napasnya mulai memburu, tampaknya dalam tiga atau lima jurus sudah akan kalah.

Sedang lawannya yang menggunakan tangan kosong, juga seorang tua yang wajahnya putih.

Ia menggunakan pukulan dan gerak tipu yang sangat aneh.

Gerak tipu serangan itu merupakan serangan-serangan yang jarang disaksikan oleh Touw Liong.

Touw Liong tidak berani membuka suara, ia takut mengalutkan pikiran gurunya.

Tetapi jikalau ia tinggal diam saja, juga tidak baik.

Gurunya dalam keadaan bahaya, maka dengan cemas ia bertanya kepada Lo Yu Im.

"Apakah Enci kenal dengan orang itu?"

Lo Yu Im menggelengkan kepala sambil mengerutkan alis.

"Enci..."

Berkata Touw Liong dengan suara pelahan, tetapi ia urungkan kata-kata selanjutnya.

Ia sebetulnya ingin minta Lo Yu Im membantu gurunya, tetapi kata-kata itu ditariknya kembali.

Sebabnya, ia mendadak teringat kedudukan gurunya.

Sekalipun ia mati di tengah lapangan, juga tidak boleh menodakan nama baik gurunya, yang perlu minta bantuan orang lain.

Lo Yu Im yang sangat pintar, agaknya mengerti maksud Touw Liong, maka ia memberi isyarat dengan pandangan mata kepada Touw Liong kemudian mengangkat seruling batu gioknya.

Seruling itu lalu ditiupnya dan mengeluarkan suara yang mengalun tinggi.

Setelah ia ia lantas bergerak dengan cepat menyerbu dua orang yang sedang bertempur sengit itu.

Sebelum orangnya tiba, suaranya sudah sampai lebih dulu.

"Harap berhenti dulu!"

Jangan pandang Lo Yu Im hanya sebagai seorang gadis yang usianya baru sekitar dua puluh tahun.

Kekuatan tenaga dalamnya sesungguhnya dapat disejajarkan dengan Kiu-hoa Lojin.

Kini gerakannya menggunakan tenaga penuh, ditambah tenaga dalam yang telah dikerahkan kepada ujung seruling, maka ketika menempel di tangan orang tua bertangan kosong yang sedang menangkis pedang Kiu-hoa Lojin sambil menotok, jadi urunglah serangannya.

Karena jikalau ia meneruskan serangannya, meskipun Kiuhoa Lojin akan mati di bawah tangannya, tetapi ia sendiri juga akan terluka atau mati di ujung seruling Lo Yu Im.

Orang tua itu terpaksa menarik kembali serangannya sambil memutar tangannya, ia mengelakkan serangan seruling Lo Yu Im.

Kiu-hoa Lojin terpaksa menurunkan pedangnya, ia menahan hawa amarahnya, berdiri tegak tidak membuka suara.

Hanya napasnya saja yang masih terdengar memburu.

Touw Liong segera memburu dan berteriak "suhu"

Kemudian ia menubruk suhunya yang masih berdiri.

Dengan tiba-tiba di medan pertempuran itu sudah tambah seorang imam tua yang menggendong buli-buli arak warna merah tadi.

Imam tua itu pelahan-lahan mengulurkan sebelah tangannya.

Tangan itu ditempelkan ke bagian jalan darah Beng-bun-hiat di badan Kiu-hoa Lojin, dan memberi isyarat kepada Touw Liong supaya menyingkir.

Touw Liong undurkan diri, ia tidak habis mengerti apa sebabnya ia merasa lega, dan membiarkan imam tua itu menempelkan tangannya di jalan darah Beng-bun-hiat suhunya.

Setelah itu Touw Liong kembali mendekati suhunya dan duduk bersila di tanah.

Bab 27 Tidak dikenalnya imam tua itu, tetapi imam tua itu agaknya seperti kenal dengannya.

Touw Liong memandangnya dengan perasaan terima kasih dan imam itu membalasnya dengan suatu senyuman.

Touw Liong lalu berpaling menatap Lo Yu Im.

Lo Yu Im yang sementara itu sedang menyambuti serangan orang tua lawannya Kiu-hoa Lojin, saat itu nampak mulai repot.

Ia terpaksa berkelit kesana-kemari untuk menyingkirkan serangan orang tua itu.

Orang tua itu sambil menyerang bertanya kepada Lo Yu Im.

"Bocah itu apakah murid Kiu-hoa Lojin yang bernama Touw Liong?"

Lo Yu Im nampak sangat marah, ia tidak menghiraukan pertanyaan orang tua itu, sebaliknya ia malah balas menanya.

"Katakan dulu, kau ini siapa?"

"Aku..."

Orang tua itu berkata sambil mengeluarkan dua jari tangannya.

"Aku adalah tuan rumah yang kali ini mengadakan pertemuan besar di gunung Bu-san."

Dengan cepat Lo Yu Im menarik serangannya dan mundur kembali, kemudian ia memberi hormat seraya berkata.

"Kiranya adalah Pek sancu! Atas kelakuanku yang kurang ajar tadi, aku minta maaf kepada Sancu."

Sikap dan budi bahasa Lo Yu Im telah menggerakkan hati orang tua itu.

Muka merah orang tua itu tampak sebentar pucat, sebentar merah, ia juga menarik kembali serangannya dan memandang Lo Yu Im dengan terheranheran.

Lo Yu Im memperkenalkan dirinya sendiri.

"Siaoli bernama Lo Yu Im."

Sehabis berkata ia kembali memberi hormat. Orang tua itu bertanya.

"Nona dengan Lo lo-enghiong dari Kun-lun-san bagian barat masih pernah apa?"

Mata Lo Yu Im mendadak merah, kemudian ia menjawab dengan suara sedih.

"Beliau adalah ayahku."

"Pantaslah gerak tipu Nona tadi memang mirip dengan gerakan ayahmu, itu...!"

Pek Thian Hiong menunjukkan sikap terkejut, sambil menunjuk Lo Yu Im ia bertanya dengan heran.

"Mengapa kau menangis?"

"Ayah telah wafat, bagaimana siaoli tidak sedih...?"

Berkata Lo Yu Im dengan air mata mengalir berlinanglinang.

Berkata sampai di situ ia sudah tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena sudah menangis demikian sedih.

Semula Lo Yu Im sebelumnya hendak menggunakan perkataan tandas memperkenalkan dirinya untuk membuat Pek Thian Hiong kabur, siapa sangka bahwa pertanyaan orang tua tersebut malah berbalik telah menimbulkan perasaan sedihnya, sehingga ia sendiri kini diliputi oleh perasaan duka.

Pek Thian Hiong agaknya merasa simpati kepada Lo Yu Im, maka ia berkata sambil menghela napas.

"Lo loenghiong dalam seumur hidupnya pernah mendapat nama harum, aku si orang tua merasa sangat kagum, tak kusangka ia telah berangkat lebih dahulu, sesungguhnya merupakan suatu kesedihan bagiku!"

Lo Yu Im mendengar kata-kata orang tua itu merasa semakin sedih hingga ia menangis seperti anak kecil. Pek Thian Hiong menghiburi padanya dengan suara pelahan.

"Nona, harap kau jangan terlalu sedih! Sebagai manusia tidak luput dari kematian, sampai pada batas waktunya ia harus pulang ke hadirat Tuhan, itu sudah menjadi kodrat semua manusia. Dengan sejujurnya, aku si orang tua juga turut merasa bersyukur kepada Lo Lo-enghiong yang sudah mendapat tempat dengan baik di sisi Tuhan, sedangkan aku sendiri masih belum tahu bagaimana nanti akhirnya!"

Lo Yu Im yang mendengar kata-kata Pek Thian Hiong buru-buru mengalihkan pembicaraannya ke lain soal, ia bertanya.

"Dalam pertemuan besar di gunung Bu-san kali ini siaolie tidak melihat sancu hadir. Kabarnya sancu sedang mengejar Panji Wulung! Tidak tahu apa sebabnya sancu bisa mengejar sehingga tiba di gunung Kiu-hoa ini dan bertempur dengan Kiu-ho Locianpwee?"

Pek Thian Hiong pendelikkan matanya memandang Touw Liong sejenak, kemudian berkata sambil menghela napas.

"Sungguh panjang ceritanya...."

Sejenak ia berhenti, lalu bertanya.

"Di mana Nona telah bertemu dengan Touw Liong?"

"Aaa...! Kejadian itu sudah satu bulan berselang! Siaoli yang kebetulan mendaki gunung Bu-san untuk mencari orang, di atas bukit gunung Sin-li-hong telah ketemu Touw Liong dalam keadaan tidak ingat diri dan rebah menggeletak di puncak gunung."

Pek Thian Hiong dengan sikap tidak percaya bertanya kepada Lo Yu Im sambil menuding Touw Liong.

"Bagaimana ia bisa rebah menggeletak di sana?"

"Ia telah ditotok jalan darahnya oleh Panji Wulung dengan menggunakan ilmu tunggalnya sehingga seluruh kepandaian ilmu silatnya dimusnahkan."

Pek Thian Hiong tercengang dan bertanya dengan heran.

"Panji Wulung yang mana?"

"Aa! Panji Wulung kini ternyata banyak sekali. Menurut apa yang siaoli tahu, sudah ada tiga."

Pek Thian Hiong terkejut dan bertanya.

"Tiga??"

"Benar, satu adalah seorang perempuan tua yang mengenakan kerudung muka. Kedua adalah seorang muda berusia belum cukup dua puluh tahun yang wajahnya mirip dengan Touw tayhiap...."

"Aaaa!!"

Berseru Pek Thian Hiong dengan mata terbuka lebar.

"Wajahnya mirip dengan dia? Bagaimana dalam dunia ada orang yang mukanya mirip satu sama lain...?"

Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala dan dengan sikap tidak percaya berkata pula.

"Tidak mungkin, ouw! Coba kau katakan lagi, bagaimana kejadian selanjutnya?"

"Siaoli telah menolong dia membawa turun dari puncak gunung Sin-li-hong. Oleh karena kita berdua sama-sama mempunyai surat undangan dari sancu, maka kami berdua lalu melanjutkan perjalanan ke gunung Bu-san untuk menghadiri pertemuan itu."

"Malam hari sebelum pertemuan dibuka, dan pada hari dibukanya pertemuan itu, apakah kalian ada bersamasama?"

"Sebab kepandaian ilmu silatnya sudah musnah, siaoli khawatir akan terjadi bahaya atas dirinya, maka siaoli setapakpun tidak berani meninggalkan dia,"

Jawab Lo Yu Im sambil menunjuk Touw Liong.

"Ooo...!"

Berseru Pek Thian Hiong sambil menengadah mengawasi awan-awan di atas langit.

Pada saat itu, kejadian yang telah lalu telah terbayang kembali ke hadapan matanya, dari mulutnya telah mengeluarkan katakata yang sangat pelahan.

"Sungguh suatu kejadian yang sangat aneh...."

Kiranya pada malam itu, pemuda yang mukanya mirip dengan Touw Liong yang mengantarkan sebelas buah kepala manusia di danau Thian-tie, setelah berlalu, pemuda itu mengeluarkan siulan panjang yang menggema di udara.

Suara siulan itu telah mengejutkan Pek Thian Hiong yang saat itu sedang mendaki gunung.

Sewaktu Pek Thian Hiong tiba di puncak gunung Thiantie, ia sudah lihat di danau Thian-tie telah berbaris sebelas buah kepala manusia.

Saat itu ia lalu naik pitam, matanya memandang keadaan di sekitarnya.

Di puncak gunung Thian-tie tertampak olehnya seorang pemuda berbaju hijau, maka segera ditegurnya.

"Apakah orang-orang itu kau yang membunuhnya?"

"Ya, akulah yang membunuhnya,"

Menjawab pemuda berbaju hijau itu dengan suara lantang dan sikap sombong.

Hawa amarah Pek Thian Hiong tak dapat dikendalikan lagi, dengan mata melotot dan kumis berdiri, ia segera lompat dan memburu pemuda itu.

Pemuda itu melarikan diri, dan Pek Thian Hiong terus mengejarnya sehingga keluar dari daerah gunung Bu-san.

Ia mengejar sampai melalui sungai Tiang-kang dan memutari gunung Bu-san, barulah tiba di gunung Kiu-hoa.

Pek Thian Hiong telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa pemuda berbaju hijau itu mendaki gunung Kiu-hoa, maka ia mencari Kiu-hoa Lojin untuk menanyakan diri pemuda itu.

Sudah tentu Kiu-hoa lojin yang tak tahu apa-apa terus menyangkal, dengan demikian dua orang tua itu lalu bertempur.

Lo Yu Im dan Touw Liong yang mendengarkan cerita Pek Thian Hiong, merasa terheran-heran, sedang imam tua yang menggendong buli-buli arak merah itu terus tersenyum dan tidak berbicara apa-apa.

Lo Yu Im berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sancu ternyata sudah dipermainkan oleh orang!"

Pek Thian Hiong menarik napas panjang. Lo Yu Im dengan tiba-tiba teringat sesuatu lalu bertanya kepada Pek Thian Hiong.

"Yang menulis di permukaan danau Thian-tie dengan ilmu jari tangan Kim-kong-ci, apakah itu sancu sendiri?"

Pek Thian Hiong terperanjat, ia menyangkal. Katanya.

"Ada hal demikian? Siapakah yang telah main gila?"

Touw Liong yang merasa tidak senang atas kecerobohan Pek Thian Hiong maka lalu berkata.

"Sancu sudah dipermainkan orang, ternyata tidak diperiksa lebih dahulu, lantas mendaki gunung Kiu-hoa dan menimbulkan onar di sini. Sekarang luka suhu tidak ringan, tindakan sancu yang sangat gegabah ini barangkali nanti akan merupakan suatu penyesalan."

"Maksudku hanya hendak menemukan orang itu, jikalau urusan itu sudah jelas, sekalipun aku harus meminta maaf atau menanggung dosa kepada suhumu, bagaimanapun juga aku pasti akan memberi keadilan kepada suhumu,"

Berkata Pek Thian Hiong. Setelah berdiam sejenak ia bertanya kepada Touw Liong.

"Apakah Touw tayhiap tahu, siapakah orangnya yang mempermainkan diriku itu?"

Touw Liong berpikir sejenak, akhirnya berkata sambil angkat muka.

"Jikalau dugaan boanpwe tidak keliru, sancu sudah tertipu akal muslihat orang lain!"

"Bagaimana Touw tayhiap bisa berkata demikian?"

"Orang itu mungkin tidak menyamar diriku melainkan kami satu sama lain memang benar mirip. Dia paham ilmu menyamar, suhengnya dan sumoynya semua paham akan ilmu itu. Menurut apa yang boanpwee tahu, mungkin mereka suheng, sute, dan sumoy berempat atau berlima semua sudah naik ke gunung Bu-san. Tokoh-tokoh yang menjadi korban di tangan mereka itu, mungkin dibunuh oleh mereka secara bergiliran, kemudian oleh salah seorang diantarkan ke danau Thian-tie, dan seorang lagi unjuk diri untuk memancing sancu supaya meninggalkan gunung Busan, dan yang lainnya menggunakan jari tangan meninggalkan kata-kata di permukaan danau. Orang yang menulis di permukaan danau itu mungkin melihat gelagat di gunung itu, sedang orang yang sancu kejar itu adalah orang yang menyamar, mereka mungkin dari golongan satu perguruan, dengan berganti-ganti memancing sancu berputar-putaran sehingga tiba di gunung Bu-san dan mendaki ke gunung Kiu-hoa, maksudnya ialah supaya sancu datang kemari untuk diadu domba dengan suhu...."

"Ooo!!"

Berseru Pek Thian Hiong sambil melompat.

"Sungguh jahat orang-orang itu, baru sekarang aku mengerti apa maksudnya mereka memancing aku datang kemari! Kesatu, mereka ingin supaya aku dengan suhumu saling baku hantam, sehingga kedua-duanya hancur. Kedua, jikalau akal mereka tidak berhasil setidak-tidaknya juga membuat kita dua golongan menanam bibit permusuhan sehingga akan menjadi suatu bencana di kemudian hari, dengan demikian, mereka dapat mengeduk keuntungan dari pihak kita."

Touw Liong memuji dengan mengangguk-anggukkan kepala.

"Uraian sancu ini memang tepat, persoalannya mungkin demikian."

Pek Thian Hiong tiba-tiba ingat kepada imam yang berusaha menyadarkan Kiu-hoa Lojin, maka segera bertanya kepada Touw Liong.

"Imam itu siapa?"

Touw Liong berpaling, tiba-tiba berseru, karena tiba-tiba imam itu kini sudah tidak tampak lagi batang hidungnya, entah sejak kapan ia berlalu dari samping suhunya, ketika ia menengok keada gurunya, napas sang guru sudah mulai teratur, nampaknya sudah sembuh luka-lukanya.

Touw Liong benar-benar terheran-heran.

Imam itu berbaik hati dan menanam budi terhadap dirinya sendiri, sementara itu ia masih belum mengetahui siapakah orangnya, terpaksa ia mengerutkan alisnya kemudian menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Boanpwee juga tidak tahu siapa adanya imam itu!"

Pek Thian Hiong terkejut demikian pun Lo Yu Im.

Pek Thian Hiong setelah melihat keadaan di sekitarnya sebentar, lalu memberi hormat dan berpamitan kepada semua orang, kemudian ia turun gunung untuk mengejar imam itu.

Touw Liong yang masih terkejut dan terheran-heran, buru-buru bertanya kepada Lo Yu Im.

"Coba enci lihat, Pek-sancu telah mengejar imam itu, apakah dia tidak akan mendapat kesulitan?"

Lo Yu Im menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Legakan hatimu! Orang itu dapat mengelabui aku dan Pek Thian Hiong, dia dapat menghilang dari depan kita juga tanpa diketahui oleh kita semua, jika bukan Panji Wulung yang tulen tidak mungkin dia mempunyai kepandaian seperti itu."

Touw Liong buru-buru menghampiri suhunya.

Karena Kiu-hoa Lojin saat itu sedang mengatur pernapasannya, maka tidak berani mengganggu, maka bersama Lo Yu Im menjaga keselamatan orang tua itu dan tidak berani bicara lagi.

Setengah jam telah berlalu, Kiu-hoa Lojin pelahan-lahan telah siuman kembali.

Touw Liong lalu memberi hormat dan menanyakan keselamatannya, demikian pula dengan Lo Yu Im.

Keadaan Kiu-hoa Lojin meskipun tidak menjadikan halangan tetai karena serangan jari tangan Pek Thian Hiong tadi, sehingga bagian dalamnya terluka parah, maka meskipun orangnya tidak apa-apa, tetapi kesehatannya masih lemah.

Touw Liong dan Lo Yu Im lalu membimbing Kiu-hoa Lojin masuk ke dalam gubuknya untuk beristirahat.

Touw Liong senantiasa menjaga di samping suhunya, tidak berani meninggalkan setapakpun juga.

Untuk sementara Lo Yu Im berdiam di gubuk itu untuk melindungi Kiu-hoa Lojin dan muridnya.

Malam itu, selagi Kiu-hoa Lojin sedang melakukan latihannya akan memulihkan tenaganya, di depan gubuk tiba-tiba terdengar suara jatuhnya daun.

Touw Liong sedikitpun tidak dengar, tetapi Lo Yu Im yang memiliki pendengaran sangat tajam segera lompat keluar melalui lobang jendela.

Di pekarangan depan gubuk, berdiri seorang imam setengah tua yang masih membawa buli-buli arak berwarna merah.

Lo Yu Im yang melihat imam itu sudah tentu merasa heran.

Ia telah mendapat kenyataan bahwa imam itu adalah imam yang tadi siang telah menyembuhkan luka Kiu-hoa Lojin.

Maka buru-buru menegurnya.

"Totiang ada keperluan apa?"

"O... tidak! Aku ada sedikit urusan, perlu segera pulang ke Pak..."

Buru-buru ia menutup mulut, seolah-olah kesalahan omong. Lo Yu Im membuka matanya, bibirnya bergerak-gerak, dan kemudian bertanya.

"Totiang bukankah hendak pulang ke Pak-bong?"

Imam itu hanya tertawa menyeringai kemudian menjawab.

"Dugaan Nona tepat sekali!"

Lo Yu Im bertanya pula.

"Apakah totiang bukan merasa khawatir Pek Thian Hiong akan menimbulkan onar?"

Imam itu menganggukkan kepala.

"Kau bukankah Pelajar Seribu Muka?"

"Aku..."

Imam itu nampak gelagapan. Tangan Lo Yu Im mendadak bergerak, begitupun serulingnya. Sambil kertak gigi ia berkata pula dengan suara gusar.

"Kau binatang yang tidak mempunyai perasaan, kembalikan batu Khun-ngo-giok-ku!"

Imam itu mengebutkan jubahnya, dengan cepat kakinya digeser mundur ke belakang, kemudian dengan satu lompatan membalik, ia sudah loncat turun ke bawah gunung.

Lo Yu Im coba mengejar, ia khawatir, imam itu akan jatuh mampus, sehingga berseru kaget....

"Ha...!"

Demikian dari bawah terdengar suara orang tertawa dan kemudian disusul oleh kata-katanya yang lantang.

"Adik Im! Aku sedikitpun tidak akan melupakan dirimu, selama setengah bulan ini aku juga selalu berada di sampingmu...."

Suara itu kedengarannya semakin lama semakin jauh, namun masih tegas terdengar di telinga Lo Yu Im, dari jauh masih terdengar suara Pelajar Seribu Muka...

"di dalam terang bulan, di atas bukit Thian-tu-hong, tolong kau antarkan Touw Liong kepadaku, aku hendak memberikan kepadanya sebuah barang."

Lo Yu Im berdiri terpaku, dengan termangu-magu ia memandang ke tempat di mana si Pelajar Seribu Muka tadi menghilang, hatinya seperti diiris-iris, ia tidak mengerti entah itu tanda girang atau tanda sedih.

Bagaimanapun juga ia kini telah mengetahui bahwa Pelajar Seribu Muka masih mencintai dirinya.

Ia mengawasi bintang-bintang di langit, kemudian mendongak dan bertanya kepada langit.

"Apakah aku juga masih cinta padanya?"

"Sudah tentu! Sudah tentu Nona masih cinta padanya!"

Dari belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara jawaban yang sangat lemah.

Lo Yu Im tahu, siapakah orangnya yang berada di belakang dirinya.

Ia merasa malu sendiri, sehingga ia menundukkan kepalanya.

Satu tangan yang penuh welas-asih telah diletakkan di pundaknya kemudian terdengar suara Kiu-hoa Lojin.

"Kuhaturkan selamat kepada Nona. Nona sudah menemukan orang yang kau cari!"

Lo Yu Im memutar tubuhnya dan menubruk ke dalam pelukan Kiu-hoa Lojin, kemudian menangis tersedu-sedan.

Kiu-hoa Lojin dengan tangan membawa tongkat rotan berjalan menuju ke sebuah batu besar di bawah pohon cemara, lalu mempersilahkan Lo Yu Im duduk di sisinya, kemudian bertanya padanya.

"Nona, siapakah Pelajar Seribu Muka itu?"

Lo Yu Im menundukkan kepala tidak menjawab. Kiu-hoa Lojin berkata pula sambil tersenyum.

"Liong-jie waktu itu balik kembali ke gunung Kiu-hoa, ia pernah menceritakan urusan batu Khun-ngo-giok merah yang tercuri orang. Tadi dengan diam-diam aku menilik keadaan Pelajar Seribu Muka itu, aku telah mendapat perasaan bahwa dia adalah seorang jujur dan berhati baik, dia mencuri barang pusaka nona barangkali karena terpaksa oleh sebab kesulitan yang menimpa dirinya sendiri. Dalam hal ini rasanya boleh memaafkan perbuatannya, yang terpenting adalah cintanya terhadap nona betul dengan sejujurnya ataukah tidak? Dan lagi tentang sifat dan pribadinya...."

"Wajahnya mirip dengan adik Liong seperti juga pinang dibelah dua,"

Menjawab Lo Yu Im sambil angkat muka.

"Ouw!"

Berkata Kiu-hoa Lojin sambil tertawa terbahakbahak.

"Kalau begitu, arak kegirangan ini sudah pasti aku akan menghirupnya!"

Lo Yu Im menekap mukanya dengan kedua tangan, merasa malu mendengar ucapan orang tua itu. Lama sekali ia baru bertanya dengan perasaan kemalumaluan.

"Locianpwee, boanpwee ada sedikit urusan, tidak tahu apakah boleh kiranya kalau boanpwee tanyakan kepada locianpwee?"

"Nona katakan saja!"

"Boanpwee merasa sangsi bahwa adik Liong itu mungkin saudara kembar dengan Pelajar Seribu Muka!"

"Ooo...!!"

Muka Kiu-hoa Lojin yang kurus nampak berkeringat, matanya menatap Lo Yu Im.

Selanjutnya Lo Yu Im lalu menceritakan apa yang pernah disaksikannya, sehingga ia berani menduga bahwa pemuda itu adalah saudara kembar.

Orang tua itu terbenam dalam lamunannya, sehingga lama tidak berkata apa-apa.

Lo Yu Im bertanya pula dengan suara pelahan.

"Bolehkah locianpwee menceritakan apa yang locianpwee ketahui tentang diri adik Liong?"

Dengan sikap serius orang tua itu berkata sambil menggelengkan kepala.

"Touw Liong mempunyai saudara atau tidak, aku sendiri sebenarnya tidak tahu. Sebenarnya riwayat dirinya memang sangat mengenaskan. Dia adalah anak piatu yang diserahkan kepadaku oleh sahabatku. Di masa hidup, sahabatku hanya mengatakan bahwa keadaannya menyedihkan, akan tetapi sebab musababnya, karena tidak inginkan Touw Liong setelah dewasa nanti terlibat dalam dendaman sakit hati balas membalas yang tidak ada berhentinya, maka sahabatku itu tutup mulut rapat-rapat, tidak mau memberitahukan siapa adanya musuh besar Touw Liong. Apa mau orang yang menolong diri Touw Liong dan membawanya kepadaku itu, setelah mengantarkan Touw Liong di gunung Kiu-hoa, lantas tidak ada kabar beritanya lagi sehingga sekarang!"

Lo Yu Im menghela napas mendengar keterangan orang tua itu. Kiu-hoa Lojin berkata pula sambil menepuk pundaknya.

"Jikalau Nona mempunyai pandangan demikian, rasanya tidaklah halangan kalau Nona pergi ke Pak-bongsan untuk bertanya, mungkin Pelajar Seribu Muka mengetahui sejelas-jelasnya. Aku sendiri sesungguhnya merasa sangsi bahwa Pelajar Seribu Muka yang mempunyai sifat baik, rasanya tidaklah mungkin dapat melakukan kejahatan demikian rupa. Mungkin di dalamnya masih ada sebab musabab lain yang tak diketahui oleh orang luar, mungkin juga orang-orang yang kali ini dibinasakan dan kepalanya diletakkan di danau Thian-tie, adalah orangorang yang menjadi musuh besarnya."

Lo Yu Im mengangguk-anggukkan kepalanya.

Esok harinya, Lo Yu Im bersama Touw Liong pamit kepada Kiu-hoa Lojin untuk turun gunung dan melakukan perjalanan ke Pak-bong-san mereka dengan wajah dan dandanan seperti aslinya, mengambil jalan yang menuju ke kota Lok-yang.

Kota itu dahulu pernah dikunjungi oleh Touw Liong, maka dengan tanpa halangan ia tiba di kota Lok-yang, kedua-duanya juga pernah kunjungi sungai Lok-sui, tempat itu merupakan tempat yang tidak asing lagi bagi mereka.

Dari jauh memandang ke arah perkampungan Pak-bongsan, di sana tampak mengepul asap.

Sementara itu, air di sungai Lok-sui masih tetap seperti sediakala.

Touw Liong menunjuk sebuah rimba yang berada di bawah kaki bukit Pak-bong-san, dan berkata kepada Lo Yu Im.

"Itu adalah tempat terpenting bagi perkampungan Pakbong-san!"

Lo Yu Im memandang ke arah yang ditunjuk olehnya, di antara tumbuhan menghijau tampak berdiri bangunan tembok merah, perkampungan Pak-bong-san nampaknya agak lain daripada yang lain.

Kedua orang itu selagi memandang ke arah situ, di belakang mereka terdengar derap kaki kuda yang menimbulkan debu bergulung-gulung.

Di atas kuda, seorang tua berjenggot putih dan berbaju hijau dengan sikapnya yang gagah memandang ke arah Perkampungan Pak-bong-san dari seberang sungai Lok-sui.

Touw Liong lalu berkata dengan suara pelahan.

"Pek Sancu!"

Lo Yu Im memberi isyarat kepada Touw Liong supaya jangan bersuara, lalu memutar tubuh dan pura-pura menikmati pemandangan alam sungai Lok-sui, hingga dengan demikian tidak menghiraukan orang tua itu.

Untung, tempat mereka berdiri terpisah sejauh kira-kira beberapa puluh tombak dengan Pek Thian Hiong.

Kuda Pek Thian Hiong tiba di tepi sungai Lok-sui, mata orang tua itu mengawasi beberapa perahu layar yang berlayar di permukaan sungai dengan tergesa-gesa menambat kudanya di sebuah pohon besar, lalu menarik napas, kemudian lompat melesat ke pertengahan sungai, selanjutnya dengan beberapa kali loncatan sudah tiba di tepi seberang.

Touw Liong terkejut menyaksikan ilmu menginjak air orang tua itu.

Demikianpun dengan Lo Yu Im juga memandangnya dengan mulut ternganga.

Dua orang itu telah memandang Pek Thian Hiong yang pelahan-lahan menghilang ke jalan di dalam rimba.

Lo Yu Im menarik tangan Touw Liong dan berkata kepadanya.

"Adik Liong! Mari kita lekas mencari perahu untuk menyeberang sungai."

Bab 28 Oleh karena saat itu air sungai sedang pasang maka tidak mudah bagi perahu layar menyeberangi sungai itu.

Beberapa perahu yang digapai oleh Touw Liong hampir tidak satupun yang sanggup menepi sampai tempatnya.

Touw Liong sangat cemas, sehingga harus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lo Yu Im berkata sambil mengetukkan kakinya.

"Tadi seharusnya kau panggil Pek Thian Hiong supaya bersama-sama menyeberang sungai, sekarang kalau kita mengejar barangkali sudah tidak dapat menyaksikan permainan-permainan seru lagi!"

Lo Yu Im mengerutkan alisnya, otaknya bekerja, ia mendapatkan satu akal, lalu menunjuk kuda yang tertambat di bawah pohon, dan berkata kepada Touw Liong.

"Kita masih dapat berbuat baik terhadap Pek Thian Hiong. Marilah kita bawa sama-sama kuda Pek Thian Hiong kesana, kau pikir baik atau tidak?"

Touw Liong tidak mengerti maksud gadis itu maka ia memandangnya dengan pandangan mata penuh tanda tanya.

Sebetulnya Touw Liong adalah seorang cerdik, oleh karena kepandaian ilmu silatnya sudah musnah sehingga kecerdikannya juga banyak berkurang, untuk sesaat itu ia tidak dapat mengerti gadis itu.

Lo Yu Im memperingatkan kepadanya seraya berkata.

"Di jaman Song dahulu, ada satu kisah tentang kudakudaan tanah yang menyeberangkan Raja negara Song, mengapa kau juga tidak dapat memikirkan kisah itu, coba naik di atas kuda menyeberang sungai Lok-sui, supaya meninggalkan suatu cerita bagi generasi di kemudian hari."

Touw Liong seolah-olah baru sadar, ia berkata sambil menepok jidatnya sendiri.

"Ya, mengapa aku demikian bodoh! Kuda toh juga bisa berenang di dalam air!"

Tetapi kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata pula.

"Di dalam air tidak sama dengan di darat. Seekor kuda tidak dapat ditumpangi dengan dua orang, lalu bagaimana?"

Lo Yu Im memetik sebatang ranting pohon.

Touw Liong lantas sadar, ia teringat dahulu ia pernah menggunakan ranting kayu untuk menyeberangi sungai itu, maka keduanya lalu saling berpandangan dan tertawa.

Touw Liong membuka tali kuda dan naik di atasnya, kuda itu dengan tangkasnya melompat ke dalam air dan lalu menyeberang ke tepi seberang.

Sedangkan Lo Yu Im sendiri dengan menggunakan potongan ranting pohon yang ia petik digunakan untuk menyeberang sungai.

Tak lama kemudian dua orang itu sudah menyeberang ke tepi sana.

Kasihan kuda tunggangan Touw Liong, sekujur badannya telah basah kuyub dengan air sungai, sedangkan bagian bawah dari pakaian Touw Liong sendiri juga basah pula.

Lo Yu Im mengulurkan tangannya dan menepuk badan kuda, kemudian berkata.

"Marilah kita bersama-sama menaiki kuda ini masuk ke dalam perkampungan."

Kuda itu dengan gesit sekali lalu menuju ke dalam rimba.

Dalam waktu sekejap mata saja, dua orang itu sudah tiba di perkampungan di mana dulu Touw Liong pernah datang, tetapi saat itu pintu gerbang telah tertutup rapat, hanya di batu undakan depan pintu sudah berdiri seorang tua berambut putih yang dahulu pernah Touw Liong hadapi sebagai penjaga pintu.

Orang tua itu tampaknya sangat cemas menyongsong kedatangan Touw Liong, kemudian berkata sambil menggoyang-goyangkan dua tangannya.

"Siangkong, kenapa hari ini kau datang lagi? Untuk menyaksikan keramaian?"

Touw Liong tercengang, ia memberi hormat kepada orang tua itu seraya berkata.

"Kakek, apakah di dalam terjadi suatu kejadian yang menggemparkan?"

Orang tua itu mendongak dan mengulurkan tangannya menunjuk berada perkampungan Pak-bong-san, kemudian berkata dengan suara pelahan.

"Chungcu kami hari ini telah memasang jaring hendak menangkap pangcu dari Cit-phoa-san entah namanya siapa, kedengarannya seperti Kao Thian Hiong!"

Kao di sini diartikan oleh orang tua penjaga pintu itu sebagai anjing dan hiong olehnya dimaksud beruang.

Lo Yu Im yang mendengar keterangan itu merasa geli, sedang Touw Liong merasa orang tua itu meskipun berhati baik, tetapi terhadap dirinya terlalu berlebih-lebihan, maka ia lantas menyoja memberi hormat seraya berkata.

"Kakek, aku sangat berterima kasih kepadamu. Aku tahu, orang itu bernama Pek Thian Hiong."

Sehabis berkata demikian ia lalu memacu kudanya ditujukan ke perkampungan Pak-bong-san.

"Siangkong, tunggu dulu, aku masih ada pembicaraan sangat penting!"

Orang tua itu berlari-lari memanggil Touw Liong, kemudian menggapai padanya dan berkata dengan suara yang sangat pelahan sekali.

"Ada soal penting, aku ingin bicarakan padamu."

Touw Liong melompat turun dari atas kudanya, dan mendekatkan telinganya ke mulut orang tua itu.

Orang tua itu berbisik-bisik di telinga Touw Liong.

Touw Liong yang mendengarkan hanya mengerutkan alisnya, kemudian memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kepada orang tua itu, kemudian ia lompat lagi ke atas kuda dan meneruskan lagi perjalanannya mendaki gunung.

Lo Yu Im buru-buru mengejarnya.

Di sepanjang jalan itu, Touw Liong hanya mengeluarkan beberapa patah kata.

"Golongan Cit-phoa-san dan Pak-bong-san hari ini akan melakukan pertempuran besar di makam Raja Siang Ong di jaman dahulu, golongan Pat-moy sudah memasang jaring hendak memancing Pek Thian Hiong ke perangkapnya."

Lo Yu Im melihat Touw Liong hanya memberi keterangan hanya demikian saja, sudah mengetahui bahwa urusan itu sangat gawat.

Ia juga tahu bahwa pemuda itu tidak akan bicara lebih banyak, karena takut membocorkan rahasia.

Jalanan yang menuju ke atas gunung itu tidak rata, setelah melalui tumpukan-tumpukan tanah bekas kuburan, dan mengitari bekas kuburan kuno, keduanya lalu mendaki ke tengah gunung, di situ terdapat banyak pohon cemara.

Sebuah jalanan yang kelihatannya rata, tetapi sebetulnya sudah dipenuhi oleh tumbuhan rumput, dengan kedua sisinya penuh dengan bangunan tiang batu, tampak membujur di tengah-tengah rimba.

Setelah memutar tempat yang penuh tumbuhan pohon rindang di dalamnya terdapat sebuah makam kuno yang bentuknya aneh.

Di hadapan makam itu ada sebuah batu nisan setinggi satu tombak lebih.

Di atas batu nisan itu tertulis dengan huruf-huruf besar yang berbunyi.

MAKAM RAJA SIANG ONG.

Touw Liong tiba-tiba teringat kisah yang mengenai diri raja jaman kuno itu.

Dahulu raja itu kabarnya telah menemui seorang bidadari di puncak gunung Sin-li-hong, tak ia sangka bahwa raja itu yang dahulu didewa-dewakan kini telah bersemayam di tempat ini.

Touw Liong agak terkejut, ia lalu menghentikan kudanya, kemudian berkata sambil menunjuk nisan kuburan.

"Enci, kau lihat batu nisan ini ada sedikit aneh atau tidak?"

"Sebuah batu nisan kuno, ada apanya yang mengherankan?"

Menjawab Lo Yu Im sambil tertawa geli.

Siang Ong dari kerajaan Cho sudah kira-kira 2000 tahun lamanya wafat, coba enci pikir, batu nisan makam yang usianya sudah 2000 tahun, apalagi setelah kehujanan kepanasan sepanjang masa, meskipun tulisan itu masih tetap utuh, akan tetapi tulisan huruf-huruf di atas batu nisan tentunya sudah lama lapuk atau hancur.

Tetapi tidak demikian dengan tulisan ini, huruf-huruf di atas batu ini nampaknya masih nyata, seolah-olah diperbarui oleh tangan orang lagi."

Lo Yu Im berpikir sejenak, kemudian berkata.

"Benar! Batu nisan itu sudah tua umurnya, tetapi tulisan di atas batu masih tetap baru, seolah-olah batu itu pernah didirikan lagi oleh orang jaman sekarang."

"Dalam urusan ini tentunya ada mengandung rahasia. Jika kita tilik dari sejarah, Negara Cho seharusnya terletak di daerah In-bong dahulu. Setelah Siang Ong wafat, seharusnya dikubur di daerah In-bong, tidaklah mungkin makam Raja Siang Ong bisa lari ke daerah Tiong-goan."

Dua orang itu kini mulai waspada.

Touw Liong melompat turun dari atas kuda, berjalan dengan pelahan, mendekati Lo Yu Im, ia berbisik-bisik di telinganya mengucapkan beberapa patah kata.

Lo Yu Im tampak berdiri alisnya matanya memandang keadaan di sekitarnya, tetapi kuburan tua itu tampak sunyi senyap, sedikitpun tidak terdengar suara apa-apa.

Bukan saja demikian, anak buah golongan Pak-bong dan Pek Thian Hiong juga tidak tampak bayangannya.

Touw Liong adalah murid dari golongan Kiu-hoa, meskipun kepandaiannya sudah musnah, tetapi pengalamannya sudah cukup banyak.

Ia mengerti sesaat sebelum topan tiba, sudah tentu tampak tenang-tenang.

Setelah berpikir sejenak, ia lalu mendapatkan suatu akal, tangannya menepuk pantat kudanya, hingga kuda itu mulai mengeluarkan suaranya yang keras.

Kuda itu kemudian lompat-lompat dan lari keluar dari tanah kuburan.

Suara kuda dan derap kaki larinya telah menggema di udara yang sunyi itu.

Sesaat kemudian di belakang tiang batu sebelah kiri muncul seorang muda berwajah tampan.

Pemuda itu begitu melihat Touw Liong lebih dulu mengeluarkan suara jeritan kaget.

Touw Liong begitu berhadapan dengan pemuda itu, sesaat juga tampak tercengang.

Pemuda itu seolah-olah jelmaan Touw Liong.

Bentuk dan perwakan serta rupanya mirip sekali dengannya.

Begitupun pakaiannya berwarna hijau juga sama dengan pakaian yang dipakai oleh Touw Liong.

Satu-satunya bagian yang berbeda, ialah pada ikat kepala warna hijau pemuda tampan itu terdapat sebuah tanda bunga Bwee sebesar bunga yang asli.

Tanda bunga itu jikalau tidak diperhatikan dengan betul, rasanya tidak akan tertampak.

Touw Liong yang dikejutkan oleh munculnya pemuda itu, terus memandangnya dan mengamat-amati padanya, sedangkan pemuda itu juga menatap Touw Liong dengan sinar matanya yang berkilauan.

Lo Yu Im begitu melihat pemuda yang baru muncul itu semula sekujur badannya bergetar, kemudian setelah matanya tertumbuh pada tanda bunga Bwee yang terletak di atas kopiah pemuda itu, pelahan-lahan ia menarik napas, perasaannya yang tegang juga mulai reda.

Ia tertawa dan berkata kepada pemuda itu.

"Harap Jie chungcu sampaikan kepada Kakek Seribu Muka. Katakan bahwa Touw Liong dari gunung Kiu-hoasan ingin bertemu."

Kata-katanya itu meskipun diucapkan dengan tenang, tapi tegas. Pemuda tampan itu menunjukkan sikap keheranheranan. Ia buru-buru memberi hormat dan balas bertanya.

"Bagaimana Nona mengetahui bahwa aku adalah Jie chungcu? Apakah...?"

Pemuda itu lalu memandang Touw Liong dengan mulut bungkam.

Baca Juga: Pendekar Riang 8

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert