Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 5

Eps 5 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

"Memang benar, ilmu menyamar Jie chungcu sudah cukup baik, hanya masih kurang sempurna. Dengan sebetulnya, di dalam kolong langit ini Touw tayhiap hanya satu orang saja. Chungcu boleh mengelabui mata orangorang biasa, tetapi begitu berhadapan dengan orang yang sebenarnya barangkali kau tidak dapat menyembunyikan dirimu sendiri lagi."

Jie chungcu tampak marah, dengan nada suara dingin ia membantah ucapan Lo Yu Im.

"Nona terlalu pandang tinggi diriku! Aku di mana ada memiliki kepandaian dan kegagahan seperti Touw tayhiap, sehingga berani menyamar sebagai dirinya? Jikalau Nona mau percaya, Sam chungcu dari perkampungan kami memang benar mirip sekali dengan Touw tayhiap, karena golongan kami ini terkenal di rimba persilatan dengan ilmu menyamar, maka di waktu biasa sedikit banyak harus melakukan latihan, supaya di antara persaudaraan sendiri bisa saling mengoreksi. Ini bukanlah soal yang tidak perlu direcoki. Sungguh tak nyana hari ini telah membuat tertawaan Nona. Baik juga, hari ini dalam golongan kami akan mengadakan suatu pertemuan besar, banyak tokohtokoh kuat di rimba persilatan akan datang kemari. Oleh karena Nona sudah kenal denganku, sudah tentu juga dapat mengenali dan membedakan siapa di antara beberapa persaudaraan kami? Jikalau Nona ingin bertemu dengan suheng sesungguhnya tiada sulit. Marilah ikut aku!"

Tanpa menantikan jawaban Lo Yu Im, Jie chungcu sudah berjalan lebih dulu menuju ke jalanan kuburan, dan setelah itu balik keluar.

Touw Liong memberi isyarat dengan pandangan mata kepada Lo Yu Im, kemudian keduanya lantas mengikuti pemuda itu.

Jie chungcu terus berjalan ke tempat masuk ke kuburan kuno, lalu berdiri di bawah batu kuburan, setelah itu ia berpaling kepada orang yang mengikutinya seraya berkata.

"Aku akan berjalan lebih dahulu, harap kalian berdua ikut di belakangku."

Sehabis berkata, tempat di mana Jie chungcu berdiri tibatiba lantas amblas, di situ terdapat sebuah lubang dalam selebar setombak lebih, dan Jie chungcu yang tadi berdiri di atasnya, dalam waktu sekejap saja sudah berada di jalan tanah di dalam lubang itu.

Lo Yu Im dan Touw Liong melongok ke dalam jalanan ke dalam kuburan itu kira-kira sedalam tiga tombak sudah buntu.

Di lain jurusan, terdapat sebuah jalanan di bawah tanah selebar satu tombak.

Jie chungcu yang berada di situ menggapai ke atas, kemudian meneruskan perjalanannya di bawah tanah itu.

Jalanan itu kemudian pelahan-lahan mendaki ke atas lagi, dan lubang tadi tertutup lagi seperti biasa.

Touw Liong menganggukkan kepala dan berkata kepada Lo Yu Im.

"Enci, di dalam itu sekalipun merupakan gua harimau, hari ini kita juga harus memasuki!"

Setelah berkata demikian ia berjalan ke arah pemuda tadi.

Jilid 11 Lo Yu im bersangsi sejenak, akhirnya juga mengikuti jejak Touw Liong.

"Adik Liong! Golongan Pak-bong sudah menunjukkan jalan rahasia ini, dapat diduga bahwa mereka agaknya sudah yakin bahwa kuburan kuno ini merupakan sarang mereka."

Jalanan di bawah tanah itu ternyata panjang sekali, namun di jalanan yang panjang dan gelap itu terdapat banyak lampu obor.

Tampak oleh mereka Jiet-chungcu berdiri di jalanan situ menyambut kedatangan dua orang kemudian berkata dengan sombongnya.

"Ini adalah tempat pertemuan. Apabila ada urusan penting yang harus diadakan perundingan, selamanya kami mengadakan perundingan di tempat ini."

Dua orang itu menganggukkan kepala sambil mengikuti Jie-chungcu berjalan ke dalam. Jie-chungcu yang berada di depan, tiba-tiba berpaling dan berkata kepada Touw Liong berdua.

"Dalam hati kalian berdua mungkin akan menganggap bahwa jalanan ini menuju ke dalam kuburan kuno itu, bukan? Sebetulnya tidaklah begitu, kami hanya menggunakan kuburan kuno itu sebagai kedok, dan jalanan ini menuju ke tempat ruang pertemuan."

Touw Liong tercengang; ia berpaling memandang Lo Yu Im, tetapi Lo Yu Im diam saja, sikapnya nampak serius, jelas bahwa apa yang dipikir dalam hatinya waktu itu tidak dapat diduga oleh siapapun juga.

Setelah keluar dari jalanan di bawah tanah pemandangan lantas berubah.

Di sini terbentang suatu lembah yang banyak terdapat pohon dan tanaman bunga, kecuali itu juga terdapat banyak burung-burung yang waktu itu sedang menyanyi dengan riang gembira.

Dalam lembah yang indah pemandangannya itu terdapat sebuah air terjun yang turun dari atas setinggi sepuluh tombak lebih.

Touw Liong memeriksa keadaan di situ, lembah itu seolah-olah terputus hubungannya dengan dunia luar.

Golongan Pak-bong yang memilih tempat itu sebagai markas besarnya, boleh dikata mempunyai pandangan yang luar biasa.

Di bagian dalam lembah tersebut, terdapat beberapa buah bangunan berupa gedung-gedung.

Jie-chungcu lalu berkata sambil menunjuk bangunan itu.

"Kami sering mengadakan pertemuan di sini, saudara berdua silahkan masuk ke dalam! Setelah melalui rimba dan memasuki perkampungan, lalu berjalan menuju ke bangunan tersebut. Bangunan itu merupakan gedung tingkat tiga, nampaknya sangat indah dan megah. Dalam bangunan yang megah itu terdapat delapan buah kamar, di tengahtengah terdapat jalanan yang dialasi dengan batu hijau, di jalanan di tengah-tengah itu terdapat kolam bunga teratai yang menambah keindahan bangunan tersebut. Di bagian bawah bangunan itu, kanan kirinya terdapat dua baris kursi berlapis emas. Di bagian timur terdapat lima buah kursi, kecuali kursi kedua yang masih kosong, yang lainnya sudah ada orangnya yang duduk. Kursi pertama diduduki oleh Kakek Seribu Muka yang dahulu pernah bertemu dengan Touw Liong di gunung Bu-san; tiga kursi yang lainnya diduduki oleh orang-orang yang sangat aneh bentuknya. Orangorang itu mengenakan kopiah warna hijau, sungguh heran, orang-orang itu juga seperti Touw Liong wajahnya. Di belakang lima orang itu ada berdiri empat pelindung hukum golongan Pak-bong. Di bagian barat terdapat enam buah kursi. Kursi pertama diduduki oleh Pek Thian Hiong, selanjutnya adalah Anak Sakti dari gunung Bu-san, di bawahnya terdapat kursi yang kosong, dan yang terakhir adalah dua perempuan cantik setengah umur, yang berpakaian warna putih perak, mereka adalah Sepasang Burung Hong dari gunung Bu-san yang dikabarkan telah menghilang. Touw Liong dan Lo Yu Im begitu menginjak di jalanan di dalam ruangan gedung itu, matanya lantas ditujukan kepada pemuda tampan yang di kopiahnya terdapat sebuah tanda bunga Bwee, ketika matanya melirik kepada pemuda lainnya yang juga mengenakan kopiah hijau, seketika itu nampak murung, dan orang itu juga tampak terperanjat. Touw Liong lantas maju dan memberi hormat kepada Pek Thian Hiong dan Anak Sakti dari gunung Bu-san, sementara itu si Kakek Muka Seribu lantas bangkit dari tempat duduknya dan mengangguk kepada Touw Liong, setelah itu ia mempersilahkan Touw Liong duduk di samping Anak Sakti dari gunung Bu-san, sedang Jiechungcu duduk di bagian timur, Lo Yu Im juga duduk berendeng dengan Sepasang Burung Hong dari gunung Busan. Anak Sakti dari gunung Bu-san tampak terkejut ketika bertemu dengan Touw Liong, terutama ketika menyaksikan Touw Liong dalam keadaan demikian, dalam matanya penuh tanda tanya, kemudian dia bertanya.

"Mengapa kau juga datang kemari bocah, kau benarbenar tidak tahu bahwa tempat ini sangat berbahaya sekali?"

Dalam hati Touw Liong juga merasa heran, mengapa Anak Sakti dari gunung Bu-san bisa berada di situ; tetapi wajahnya tetap tenang dengan sikapnya yang luar biasa tenangnya matanya menyapu orang-orang di sekitarnya.

Setelah orang-orang di kedua pihak pada duduk, Kakek Seribu Muka perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya, lalu memberi hormat kepada orang-orang di bagian barat, kemudian berkata.

"Kami sesungguhnya merasa beruntung, hari ini telah mendapat kunjungan dari beberapa tokoh kuat dari rimba persilatan, aku si orang tua sesungguhnya merasa sangat berterima kasih ..."

Berkata sampai di situ, ia berdiam sejenak, lalu mengurut-urut jenggotnya yang putih panjang setelah itu ia tertawa bergelak-gelak dan melanjutkan perkataannya.

"Ditilik dari keadaan rimba persilatan dewasa ini, tokoh kuat yang dapat menduduki tempat terhormat sesungguhnya jumlahnya sedikit sekali."

Belum habis katakatanya, Pek Thian Hiong sudah tertawa dingin, begitupun Anak Sakti dari Gunung Bu-san juga memperdengarkan suaranya dari hidung.

Kakek Seribu Muka tidak menghiraukan ejekan mereka berdua, ia tetap melanjutkan ucapannya.

"Hari ini tokoh-tokoh kuat yang demikian banyak telah datang berkunjung kemari. Maaf kami tidak dapat menyediakan apa-apa untuk menyuguh kalian, hanya sedikit arak tawar saja, harap jangan dibuat tertawaan!!"

Setelah itu ia lalu memanggil orang-orangnya untuk menyediakan minuman.

Tak lama kemudian, dari belakang ruangan muncul empat lai-laki bertubuh tegap, yang datang membawa barang minuman dan hidangan.

Pihak tuan rumah dan pihak tamu masing-masing mengambil bagian sendiri-sendiri.

Touw Liong yang barangkali sudah terlalu letih dan perutnya merasa lapar, di bawah anjuran Kakek Seribu Muka, ia juga minum sampai menghabiskan tiga cawan arak.

Setelah minum, Kakek Seribu Muka perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya pula, sebelum membuka mulut ia tertawa lebih dulu, selagi hendak membuka mulut untuk mengeluarkan perkataannya, sudah didahului oleh Pek Thian Hiong yang bertanya.

"Ketua kalian mengapa tidak mau unjuk muka?"

"Ketua kami kini sedang bertapa, sehingga tidak dapat menyambut sendiri kedatangan tuan-tuan."

"Hmm ...!!"

Pek Thian Hiong perdengarkan suara mendengus.

"Tiga Garuda dari golongan Pak-bong, kiranya hanya begitu saja menyambut kedatangan tetamu, sesungguhnya sangat membikin malu orang."

"Tiga Garuda dari Pak-bong?"

Dari golongan tetamu selain Anak Sakti dari gunung Bu-san saling berpandangan, karena merasa terheran-heran.

Nama Tiga Garuda dari Pak-bong itu terlalu besar!

Lima puluh tahun berselang, pernah menggemparkan seluruh rimba persilatan, kalau dihitung waktunya mereka terjuan di kalangan rimba persilatan, masih jauh lebih tua daripada Tiga Dewa dari golongan pengemis.

Tiga Garuda itu jika ada yang masih hidup, usianya barangkali sudah ada seratus tahun!

Lima puluh tahun berselang, di dalam rimba persilatan tersiar omongan bahwa golongan Pak-bong telah berbentrok dengan golongan Bu-tong, lantaran berebut benda pusaka.

Tiga Garuda itu melakukan pertempuran mati-matian denga tujuh jago dari Bu-tong.

Akhirnya, Tiga Garuda itu hancur lebur, sedang di pihak Bu-tong kematian lima jagonya.

Sejak hari itu, golongan Pak-bong lantas terhapus namanya dari dalam rimba persilatan.

Dan kini lima puluh tahun kemudian, ternyata masih ada orang dari Tiga Garuda yang masih hidup, apakah itu tidak mengherankan?

Touw Liong tidak dapat mengendalikan perasaan herannya, ia lalu berbangkit dan bertanya kepada Pek Thian Hiong sambil memberi hormat.

"Menurut apa yang Pek sancu tahu, di antara tiga locianpwee dari golongan Pak-bong siapakah di antaranya yang masih sehat?"

Pek Thian Hiong menunjuk Kake Seribu Muka dan berkata.

"Sudah tentu suhunya."

Touw Liong hanya memikir-mikir jawaban itu, tidak menanya lagi.

Kakek Seribu Muka dengan tiba-tiba menepok jidatnya sendiri, ia diam-diam memaki dirinya seorang bodoh, kiranya ia juga mengerti sudah terjebak oleh akal muslihatnya Pek Thian Hiong.

Ia sendiri yang agak lalai, tanpa sadar sudah keseleo lidah, dan mengucapkan hal ikhwal suhunya.

"Orang kata bahwa jahe itu semakin tua semakin pedas, tampaknya sedikitpun tidak salah. Dengan akal Pek sancu tadi, benar-benar membuatku terpedaya. Sekarang aku hendak tanya kepada sancu, suhuku sebetulnya termasuk orang yang keberapa di antara Tiga Garuda itu"

Kakek Seribu Muka bertanya sambil tertawa dingin.

Pertanyaan itu membuat Pek Thian Hiong bungkam, muka nampak merah padam, saat itu ia tidak bisa menjawab.

Kakek Seribu Muka nampak sangat bangga, ia menunjuk kepada beberapa pemuda berpakaian hijau dan berkata dengan bangganya.

"Jangan kata suhu, sekali pun beberapa sute dan sumoyku ini, sancu barangkali juga tidak dapat membedakan, mana satu yang pria, mana yang wanita?"

Kata-kata itu kembali telah menyulitkan Pek Thian Hiong, jago tua itu menggertak gigi, kemudian berkata dengan nada suara dingin.

"Aku orang she Pek justru lantaran mereka sehingga mau datang kemari! Hari ini aku bagaimana tidak akan mencari keterangan yang sejelas-jelasnya? Aku hendak menemukan siapa orangnya yang membikin onar di danau Thian-tie?"

Touw Liong perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya, ia menuoja kepada Pek Thian Hiong, kemudian berkata.

"Sancu sabar dulu, aku yang rendah akan mewakilimu."

Pek Thian Hiong terpaksa menahan hawa amarahnya, ia perlahan-lahan kembali ke tempat duduknya. Touw Liong menunjuk kepada orang yang berada di sebelah kiri Kakek Seribu Muka kemudian berkata.

"Itu adalah Ngo Ko..."

Kakek Seribu Muka terkejut, semua orang lantas tujukan pandangan matanya ke arah pemuda itu, namun tidak dapat melihat apa perbedaan, antara orang yang disebut Ngo Ko itu dengan tiga pemuda berpakaian hijau yang lainnya.

Ciauw Kun, salah satu dari Sepasang Burung Hong juga menarik tangan Lo Yu Im dan bertanya dengan suara perlahan.

"Nona Lo, bagaimana Touw tayhiap dapat mengenali bahwa orang itu adalah seorang nona lain?"

Lo Yu Im memberi isyarat dengan mulutnya, kemudian berbisik-bisik di telinganya.

"Di atas kopiahnya terdapat sebuah tanda bunga Bwee warna putih."

"O!"

Demikianlah Sepasang Burung Hong berseru dan mengawasi tiga pemuda berbaju hijau di sisi Kakek Seribu Muka. Dengan beruntun Touw Liong menyebutkan pula namanama.

"Sie-kow!"

"Jie Chung-cu!"

"Sam Chung-cu! Pelajar Seribu Muka!"

Sie-kow yang disebut oleh Touw Liong tadi, di atas kopiahnya terdapat tanda bungan warna kuning, sedangkan Sam Chung-cu Pelajar Seribu Muka, tandanya adalah bunga warna biru.

Bab 29 Kakek Seribu Muka dengan wajah dan nada suara dingin berkata.

"Sungguh hebat pandangan matamu! Touw tayhiap, hari ini jikalu daku dapat menyebutkan suhuku, mana satu dari tiga sesepuh golongan Pak-bong, maka aku si orang tua baru merasa takluk benar-benar padamu!"

Touw Liong kali ni benar-benar merasa sulit untuk memberi jawabannya, tetapi tidak kecewa ia menjadi murid golongan Kiu-hwa, ia putar otak mengingat-ingat kembali para jago dan tokoh-tokoh terkuat rimba persilatan pada lima puluh tahun berselang, seperti apa yang diberitahukan oleh suhunya.

Pada lima puluh tahun berselang, Tiga Garuda dari golongan Pak-bong, atau yang disebut Pak-bong Sam-eng, Garuda Sakti atau Sin-eng yang usianya paling tinggi, seandai orang ini masih hidup, usianya sudah tentu lebih dari seratus tiga puluh tahun.

Tetapi umur manusia jarang yang mencapai setinggi itu, apalagi Tiga Garuda itu sudah pernah bertempur hebat dengan tujuh pahlawan dari golongan Bu-tong, dalam pertempuran hebat itu kedua belah pihak sudah tentu ada yang jatuh korba, mereka kalau tidak mati tentunya terluka parah.

Dengan usia setinggi itu jika terluka parah, rasanya tidak mungkin kalau bisa hidup sampai hari ini.

Maka Garuda Sakti atau Sin-eng itu rasanya sudah tiada, hal ini barangkali tidak perlu diragukan.

Orang kedua ialah Giok-eng atau Garuda Batu Giok, Giok-eng adalah seorang wanita, jika ia masih hidup, usianya juga sudah mencapai ratusan tahun.

Orang-orang rimba persilatan yang bisa hidup sampai seratus tahun lebih, bukan tidak ada, tetapi soalnya ialah Kakek Seribu Muka itu merupakan murid kepala, menurut peraturan rimba persilatan, seorang tokoh kaum wanita, tak mungkin menerima seorang pria sebagai murid kepala.

Oleh karena itu Giok-eng juga tidak mungkin menjadi gurunya si Kakek Seribu Muka, juga tak mungkin tokoh wanita itu masih hidup di dalam dunia.

Tinggal yang ketiga, orang yang ketiga itu gelarnya Huieng, atau Garuda Terbang, hanya Hui-eng lah yang mempunyai kemungkinan besar untuk menjadi guru Kakek Seribu Muka.

Hui-eng di dalam rimba barisan Tiga Garuda, usianya termasuk yang paling muda, sekarang seandainya masih hidup, umurnya belum mencapai seratus tahun.

Pada lima puluh tahun berselang, ia justru mencapai usia yang sedang kuat-kuatnya, jika mendapat luka pada pertempuran hebat dengan golongan Bu-tong waktu itu, juga agak mudah merawat atau menyembuhkan luka-lukanya.

Ditilik lagi dari golongan orang-orang Pak-bong yang ada sekarang ini, setiap orang memiliki kepandaian ilmu meringankan tubuh yang sangat mahir, maka kemungkinan besar bahwa orang itu yang kini masih hidup di dalam dunia.

Setelah mengadakan analisa demikian, Touw Liong lalu dapat memastikan bahwa diri Kakek itu pastilah Hui-eng, maka ia lalu menjawab dengan suara lantang.

"Gurumu dan yang merangkap ketua golonganmu adalah Hui-eng locianpwee."

Wajah Kakek Seribu Muka berubah seketika, matanya menatap Touw Liong, sedang Pek Thian Hiong pada saat itu dengan tiba-tiba bangkit dan mendahului bertanya.

"Siapakah yang melakukan perbuatan yang bersifat mengacau di atas danau Siauw-hian-te?"

Orang-orang dari Ji-chungcu ke bawah, dan empat pemuda berbaju hijau semua pada bangkit dari tempat duduknya masing-masing.

"Yang mengantar kepala manusia, inilah orangnya?"

Berkata si Kakek Seribu Muka sambil menunjuk Ngo-kow, kemudian berkata pula sambil menunjuk Sam-chungcu.

"Dialah yang meninggalkan tulisan di atas salju."

Setelah itu ia menunjuk kepada Sie-kauw.

"Yang memancing kau meninggalkan puncak Thian-tubeng adalah dia."

"Bagus! Bagus! Mereka berempat semua ada bagian,"

Berkata Pek Thian Hiong sambil tertawa dingin.

Maksud kedatangannya mencari empat orang itu, ialah hendak minta pertanggungan jawab mereka atas perbuatannya itu.

Sementara itu Sam-chungcu tertawa nyaring, lalu menjura memberi hormat dan kemudian berkata.

"Orangnya akulah yang membunuh, kalau Sammenghendaki apa-apa, carilah kepada aku seorang."

Pek Thian Hiong mengendalikan hawa amarahnya, bertanya.

"Membunuh orang, ada alasannya untuk membunuh, kenapa kau membunuh tokoh-tokoh rimba persilatan yang kuundang untuk menghadiri pertemuan di atas gunung Thian-tu-hong?"

Pelajar Seribu Muka wajahnya berubah.

Ia menarik nafas panjang, sementara itu Touw Liong dan Lo Yu Im sama-sama pasang mata untuk memperhatikan tindakan selanjutnya.

Pelajar Seribu Muka itu setelah menarik nafas panjang, tidak menjawab pertanyaan Pek Thian Hiong, sebaliknya ia balas menanya.

"Aku numpang tanya kepada Sancu, di dalam dunia ini permusuhan yang menyangkut soal apa yang dipandang paling besar?"

"Musuh yang membunuh ayah atau merampas istri,"

Menjawab Pek Thian Hiong dengan suara lantang.

"Sebelas orang itu semua ada tersangkut permusuhan besar denganku, karena mereka telah membunuh ayah bundaku. Untuk menuntut balas dendam, kalau aku membunuh mereka, apakah itu suatu perbuatan yang tidak lebih daripada pantas?"

Berkata Pelajar Seribu Muka denga suara yang penuh emosi. Pek Thian Hiong mengangguk-anggukan kepala dan mengacungkan ibu jarinya, setelah itu ia berkata.

"Harus! Itu suatu perbuatan yang patut dipuji!"

Tetapi setelah berkata demikian ia balas menanya.

"Apakah kau sudah memikirkan tempatnya untuk membunuh orang itu?"

"Untuk menuntut balas dendam ayah bundaku, aku tak bisa memikirkan terlalu banyak!"

Berkata Pelajar Seribu Muka dengan sikap yang masih marah.

Touw Liong juga tertarik oleh penuturan Pelajar Seribu Muka itu, diam-diam ia menggertak gigi, kalau benar bahwa Pelajar Seribu muka itu adalah saudara kandungnya sendiri, maka dendam sakit hati itu ia juga turut memikul kewajiban untuk menuntut.

Mungkin terdorong oleh pikiran semacam itu, ia lantas bangkit dan berkata kepada Pek Thian Hiong sambil menjura.

"Sebagai anak, yang menuntut balas dendam bagi orang tuanya, ini merupakan suatu perbuatan yang sudah seharusnya. Sekalipun dalam caranya melakukan pembunuhan itu Sam-chungcu mungkin ada yang kurang tepat, tetapi Sancu juga harus mengingat notifnya perbuatan itu, sudilah kiranya memaafkan padanya."

Pek Thian Hiong sesungguhnya tidak menduga, Touw Liong dengan tiba-tiba membela orang yang sebagai lawannya, sesaat itu ia merasa sangat mendongkol, ia mendelikkan mata kepada Touw Liong lalu berkata.

"Baiklah! Kalau Touw tayhiap demikian simpati terhadapnya, silakhkan Touw tayhiap tolong menanyakan kepadanya, sebelas buah panji hitam itu siapa yang mengambil? Aku Pek Thian Hiong tidak mau harus menanggung jawab dalam hal ini, asal dia mau menyerahkan panji hitam itu, segalanya kita boleh pikirkan lagi."

Touw Liong memasukkan tangannya ke dalam sakunya, mengeluarkan dua belas buah panji hitam, dengan sikap serius ia berkata.

"Panji itu adalah milikku, seharusnya aku yang mengambil kembali."

Begitu panji hitam itu muncul semua orang pada terkejut. Wajah Pek Thian Hiong berubah seketika, katanya dengan nada suara aneh.

"Kiranya Touw tayhiap dengan dia merupakan orang satu golongan dan sudah bersama-sama menghadapi aku si orang tua."

Touw Liong membantah sambil menunjuk panji hitam.

"Harap sancu jangan salah paham, panji itu adalah Dewa Arak dari golongan pengemis yang menunjuk aku sebagai pewarisnya, tetapi entah cara bagaimana bisa terjatuh di tangan Sam chungcu."

Sam chungcu mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berkata.

"Benar! Benar! Dewa Arak itu kiranya sudah salah mengira aku sebagai Touw Tayhiap hari itu..."

Ia lalu terbenam dalam kenangannya pada kejadian di masa yang lampau.

Hal ini terjadi pada setahun berselang, puncak gunung Thian-tu-hong diliputi oleh salju sangat tebal, Pelajar Seribu Muka waktu itu justru mendaki gunung untuk mencari jejak musuhnya.

Dengan tiba-tiba suara seorang tua telah terdengar di telinganya.

"Bocah!"

Pelajar Seribu Muka saat itu merasa terkejut, ia berpaling, orang yang memanggilnya itu ternyata adalah Dewa Arak si Taysu Gila dari golongan pengemis.

Pelajar Seribu Muka buru-buru menghampiri dan mengunjuk hormat, dengan sangat hati-hati ia menanyakan keselamatannya.

Dewa Arak itu tidak banyak berkata, pertama-tama ia sudah mencetuskan kata-katanya yang mengandung sifat sesalan.

"Kau bocah ini sungguh tidak ada gunanya!"

Pelajar Seribu Muka yang dikatakan demikian, sudah tentu tidak mengerti apa maksudnya. Di dalam keadaan bingung, Dewa Arak menunjuk ke salah satu tempat seraya berkata.

"Bocah, barang yang kau kehendaki sudah kuketemukan! Dengan bakat seperti kau, kalau kau menggunakan waktu dua bulan untuk berlatih dengan tekun tidak susah bagimu untuk mendapat kedudukan tinggi di dalam rimba persilatan. Ingat! Jangan lupa apa yang kau mau lakukan, juga jangan lupa bahwa mulai saat ini kau sudah merupakan pewaris panji wulung yang tulen!"

Setelah menyerahkan panji hitamnya dan mengeluarkan kata-kata itu, Dewa Arak lantas berlalu meninggalkan Pelajar Seribu Muka berdiri termangu-mangu sendiri.

Pelajar Seribu Muka yang masih berdiri termenung memikirkan tindakan Dewa Arak dan mengawasi berlalunya orang tua itu, samara-samar terdengar suara Dewa Arak yang berkata demikian.

"Touw Liong, Touw Liong! Kau harus berlaku baik-baik! Jikalau kau melanggar ucapanku, Tuhan tidak akan melindungi dirimu."

Pelajar Seribu Muka saat itu mengerutkan alisnya dan menggaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal, ia juga merasa geli karena melihat kelakuan Dewa Arak yang merupakan orang gila itu.

Pelajar Seribu Muka saat itu hanya ganda tertawa saja, perkataan Dewa Arak itu dianggapnya sebagai perkataan seorang sinting, selanjutnya ia turun dari gunung itu.

Berjalan belum jauh, baru mendapat pikiran bahwa tindakannya tadi keliru, sebab Dewa Arak itu meskipun orangnya seperti orang sinting dan suka memain, tetapi selamanya ia bicara ada batasnya, main-main tinggal mainmain, tetapi urusan yang benar ia tidak mau dianggap sebagai main-mainan.

Lagi pula apa yang dikatakan tentang diri Touw Liong tadi, orang itu waktu itu ada sedikit nama baik di dalam rimba persilatan.

Semakin dipikir semakin kuat dugaannya, Pelajar Seribu Muka buru-buru memutar balik dan mendaki lagi ke puncak gunung Thian-tu-hong.

Setelah melalui puncak Ceng-liong-kang ia berjalan menuju ke tempat yang tertinggi.

Puncak tertinggi Ceng-liong-kang tertutup oleh lapisan kabut, di atas meja batu dalam kupel kuno segi delapan terdapat selembar kertas.

Kertas itu terdapat tulisan tangan yang kata-katanya sebagai sajak, tetapi bukan sajak .

"MENENGADAH MEMANDANG ANGKASA BEBAS, MENUNDUK MELIHAT AWAN BERGUMPALAN, HAWA BARANG WASIAT MEMANCAR DI PUNCAK CENG-LIONG-KANG, PANJI WULUNG MUNCUL LAGI DI DUNIA PERSILATAN."

Pelajar Seribu Muka sebagai seorang yang sangat cerdik, lalu memikirkan tulisan itu, diam-diam berkata kepada dirinya sendiri.

Apakah yang dimaksudkan barang wasiat itu ada di bawah ini?

Ia lalu menengok ke bawah, benar saja, puncak Cengliong-kang diliputi oleh awan bergumpalan.

Di antara gumpalan awan itu, tertampak puncak-puncak gunung yang menjulang dengan jalan-jalannya yang licin dan berbahaya, di tempat semacam itu, paling-paling hanya ada batu-batu cadas dan tebing-tebing yang curam, mana ada tempat untuk sembunyikan barang-barang wasiat?

Untuk membuktikan bunyi surat itu ia mencari pohon rotan untuk merambat turun, rotan itu diikat kepada kupel diluncurkan ke bawah sepuluh tombak lebih ia meluncur mengikuti rotan yang diikat, benar saja menemukan sebuah gua rahasia.

Pelajar Seribu Muka memasuki gua itu, dengan sangat mudah sekali ia mendapatkan kitab peninggalan jago pedang kenamaan Hui-thian Giok-liong Liu Kiam Hong, bersama sebuah sampul yang sangat tebal, barang itu diletakkan di sebuah kotak yang berisi sebelas panji hitam.

Pelajar Seribu Muka membuka kitab yang ditulis dengan tangan, sesaat itu ia terkejut sehingga mulutnya ternganga, seolah-olah menemukan barang pusaka yang tidak ternilai harganya.

Kiranya kitab itu memuat ilmu-ilmu silat simpanan dari golongan Siauw-liem-sie, ilmu silat itu terdiri dari tiga ilmu terampuh, masing-masing adalah Thay-lo Sin-kong Siau-kang, Thay-lo Sin-kong-ciu dan Thay-lo kimkong-kiam.

Kotak yang berisi sebelas panji hitam itu membuat ia semakin terkejut, sedangkan sampul yang tebal itu juga membuat ia repot, sebab di atas sampul itu jelas tertulis dengan kata.

"Ditinggalkan kepada Panji Wulung generasi ketiga."

Dari kata-kata yang ditinggalkan oleh Dewa Arak, ia dapat mengetahui bahwa surat itu seharusnya menjadi untuk Touw Liong.

Pelajar Seribu Muka yang masih merupakan ksatria berjiwa besar, diam-diam telah mengambil keputusan, dalam sampul itu tidak peduli isinya barang wasiat atau bukan, juga akan diberikan kepada Touw Liong.

Tiga rupa barang itu lantas dimasukkan ke dalam sakunya, ia lantas naik dengan menggunakan rotan yang diikat kepada kupel tadi.

Pada saat ia tiba di atas, kebetulan ia telah berjumpa dengan toa-suhengnya ialah Kakek Seribu Muka, ia lalu menceritakan semua pengalamannya, dan toa-suheng ini yang biasanya sangat cinta kepadanya, setelah mendengar sutenya mendapat pengalaman gaib seperti itu, benar-benar sangat girang.

Dua orang itu lalu mempelajari urusan itu, karena puncak Thian-tu-hong itu letaknya sangat terpencil dan jarang didatangi oleh manusia, maka sutenya itu lalu balik lagi ke dalam gua, bersembunyi untuk melatih ilmunya sedang si Kakek Seribu Muka, ialah toa-suhengnya menunggu di atas untuk melindungi.

Hanya dalam waktu dua bulan saja, Pelajar Seribu Muka sudah berhasil mempelajari ilmunya dan kebetulan lagi ilmu itu segera dapat digunakan.

Digunakan untuk apa?

Kesatu, karena musuh Pelajar Seribu Muka terlalu kuat, dua, dapat menggunakan kesempatan dalam pertemuan besar di danau Siao-thian-tie di puncak gunung Lu-san untuk membangun kembali kekuatan golongan Pak-bong.

Setelah berunding masak-masak, dua orang itu bersemedi di atas puncak Ceng-liong-kang, sungguh kebetulan, pada saat itu Touw Liong juga mendaki ke puncak Thian-tu-hong, apa mau kedatangannya terlambat semalam, hingga didahului oleh Pelajar Seribu Muka.

Kakek Seribu Muka yang takut akan terjadi hal-hal di luar dugaannya, ia sudah ingin membinasakan Touw Liong atau disingkirkan dari situ.

Ia sengaja dengan secara misteri memberitahukan bahwa Pelajar Seribu Muka sudah pergi ke gunung Tiam-cong-san.

Sewaktu Touw Liong meninggalkan puncak gunung Thian-hu-tong, Anak Sakti dari gunung Bu-san masih berkutet dengan Kakek Seribu Muka.

Kakek Seribu Muka tidak berdaya, hingga pancing padanya ke lembah rahasia gunung Pak-bong-san dan akhirnya ditawan di situ.

Orang selanjutnya yang turut tertawan adalah Sepasang Burung Hong dari gunung Bu-san yang turut mengejar Anak Sakti dari Gunung Bu-san.

Ilmu-ilmu dari golongan Siauw-lim-sie yang dipelajari oleh Pelajar Seribu Muka, oleh karena ia sudah mempunyai dasar yang cukup kuat, kedua, karena cara-caranya yang tertulis dalam kitab itu, setelah dirubah lagi oleh Liu Kiam Hiong, hingga lebih mudah daripada yang dimuat dalam pelajaran aslinya.

Ditambah lagi dengan Pelajar Seribu Muka yang masih jejaka murni, dalam dua bulan itu ia sudah berhasil.

Dengan bekal itulah maka ia dapat melakukan perbuatan yang menggemparkan seluruh rimba persilatan.......

Pelajar Seribu Muka setelah menceritakan semua pengalamannya, ia memasukkan tangannya ke dalam sakunya, untuk mengambil sampul itu.

Selagi hendak dikeluarkan, mendadak pikirannya menjadi berubah, hingga dimasukkan kembali.

Ia menunjuk Panji Hitam di tangan Touw Liong, katanya.

"Barangkali oleh karena wajah kita dua orang yang mirip satu sama lain hingga Dewa Arak sudah salah anggap aku sebagai dirimu, dan memberikan padaku sebelas buah panji."

"Oo!"

Demikian Touw Liong berkata sambil mengerutkan alisnya. Sementara itu Pek Thian Hiong sudah berkata sambil tertawa.

"Baiklah! Karena urusan ini sudah jelas duduk perkaranya, maka aku si orang tua hanya mempunyai sedikit permintaan kepada kalian, aku hanya tidak tahu selagi ketua kalian tidak ada di sini, apakah kiranya Toachungcu dapat memutuskan?"

Kakek Seribu Muka bangkit memberi hormat dan berkata sambil tertawa.

"Aku bersedia untuk mendengarkan permintaanmu."

"Undangan untuk mengadakan pertemuan di danau Thian-tie, adalah aku si orang tua yang membuat, tokohtokoh rimba persilatan karena terjadinya perbuatan itu hampir semuanya memandang diri aku si orang she Pek, tidak peduli berapa besar permusuhan di antara mereka, untuk sementara dapat ditangguhkan dulu. Jadi selama pertemuan itu berlangsung, tidak akan dibicarakan. Sedangkan kalian ternyata tidak memberi muka kepadaku, di malam hari pertemuan besar itu telah melakukan pembunuhan kejam, yang membunuh orang-orang dari sepuluh golongan."

"Ucapan sancu mengenai sepuluh orang ini tidak benar, seharusnya sebelas orang,"

Berkata Kakek Seribu Muka dengan sikap agak mengejek untuk membatalkan keterangan Pek Thian Hiong. Pek Thian Hiong agak marah, dengan mengikuti katakata Kakek Seribu Muka, ia melanjutkan perkataannya.

"Satu orang lagi dengan golonganmu ada permusuhan apa lagi?"

Tanpa banyak pikir, Kakek Seribu Muka menjawab.

"Orang itu hebat asal-usulnya...."

Dengan sangat bangga ia tertawa kemudian melanjutkan ucapannya.

"Orang itu adalah murid kepala dari Ngo-gak Sin-kun, sebab tua bangka itu dahulu dengan suhu mempunyai sedikit ganjalan sakit hati, maka dengan menggunakan kesempatan pertemuan di danau Thian-tie itu, kita memberikan sedikit peringatan kepada Ngo-gak Sin-kun."

"Ngo-gak Sin-kun?"

"Ya."

Pek Thian Hiong dan Touw Liong sama-sama terkejut dan hampir mengeluarkan seruan kaget.

Anak Sakti dari gunung Bu-san dan Lo Yu Im semakin menaruh perhatian, mereka saling berpandangan dengan mata terbuka lebar.

Saat itu, Touw Liong segera teringat keterangan orangorang rimba persilatan yang diceritakan oleh suhunya dahulu, guru itu pernah mengatakan bahwa Ngo-gak Sinkun orang yang terlalu membela anak muridnya, orang itu tergolong di tengah-tengah antara golongan baik dan golongan sesat, ia bertindak hanya menurut kesukaan hatinya, tidak memperhitungkan baik buruknya atau untung ruginya, lakukan dulu, bicara belakang, begitulah sifatnya.

Julukannya Ngo-gak Sin-kun itu juga didapatkan karena orangnya sangat berangasan dan terlalu menuruti hawa nafsunya sendiri.

Seluruh daerah Ngo-gak hampir tiada orang yang tidak kenal kebuasan orang itu, sehingga tempat itu sangat tidak tenang.

Kemudian, sahabat-sahabat rimba persilatan lalu memberikan julukan kepadanya sebagai Ngo-gak Sin-kun atau Malaikat dari daerah Ngogak.

Dia ingat kejadian itu kira-kira pada empat-lima puluh tahun berselang.

Sudah beberapa puluh tahun lamanya, tidak pernah dengar nama orang tua itu masih hidup atau sudah mati, tetapi kini dengan tiba-tiba muncul kembali, bukankah itu sangat mengejutkan?

Ia teringat kepada kepala manusia yang tidak ada yang mengakui di atas danau Thian-tie, dalam hatinya timbul pertanyaan sendiri .

Apakah kepala itu kepalanya murid Ngo-gak Sin-kun?

Sementara itu Kakek Seribu Muka sudah berkata lagi.

"Dalam rimba persilatan memang banyak urusan, Ngogak Sin-kun sudah muncul lagi dan Pek Sancu juga ingin menjagoi rimba persilatan, tetapi maksud Pek sancu yang ingin memperbesar pengaruhnya di daerah Tionggoan barangkali akan menggunakan banyak tenaga."

"Golongan Pak-bong-pay juga tidak akan enak-enak saja, kalian sudah membunuh murid kepalanya,"

Berkata Pek Thian Hiong sambil tertawa dingin. Kakek Seribu Muka mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Itu memang benar, orang adalah kita yang membunuh, sayang dalam rimba persilatan tiada orang yang tahu. Orang hanya memperhatikan apa ditinggalkan di atas salju, mereka pasti mengatakan bahwa orang itu dibunuh oleh Panji Wulung!"

"Perbuatan seorang ksatria seharusnya sesuai dengan namanya. Tetapi perbuatan kalian orang-orang dari golongan Pak-bong yang demikian rendah dan tidak tahu malu, sudah mengalihkan kesalahannya kepada orang lain, apakah itu perbuatan seorang ksatria? Namun demikian kau juga jangan lupa, bahwa hari ini orang-orang yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya ada orang dari Cit-phoa-san, Bu-san, Kiu-hwa dan Kun-lun, kita orangorang dari empat golongan ada satu saja yang usil mulut sudah cukup membuat kalian mendapat banyak kesulitan."

Kakek Seribu Muka tertawa terbahak-bahak, setelah merasa puas tertawa ia baru berkata.

"Memang sebetulnya, pada dewasa ini siapapun yang berani mengganggu Panji Wulung atau Ngo-gak Sin-kun si tua bangka manusia aneh itu, pasti akan mengalami kesulitan darinya. Tetapi harap sancu jangan lupa bahwa hari ini tuan adalah tetamu dari gedung rahasia kami ini, seperti peribahasa kata . TETAMU HARUS MENURUT KEHENDAK TUAN RUMAH. Tinggal atau perginya tuan-tuan tergantung pada sikapku terhadap tamunya. Jika aku merasa senang untuk melayani tuan lebih lama berdiam di sini untuk beberapa hari atau beberapa tahun, bahkan .... dengan cara bagaiamana tuan-tuan masih ada waktu untuk menceritakan hal ini kepada orang lain."

Pek Thian Hiong dan Touw Liong sangat marah, begitupun yang lain-lainnya. Kakek Seribu Muka berkata pula sambil menunjuk Pelajar Seribu Muka.

"Menurut aturan, dialah yang seharusnya menjadi pewaris yang sebenarnya dari Panji Wulung!"

Touw Liong agak mendongkol, sedangkan sancu dari Cit-phoa-san yang mendengar ucapan itu tidak dapat lagi kendalikan hawa amarahnya, katanya dengan suara gusar.

"Dalam dunia bagaimana ada begini banyak Panji Wulung? Apakah kalian hendak menggunakan nama Panji Wulung sebagai penunjang golongan Pak-bong-pay? Kalau benar kau beranggapan demikian, anggapanmu itu keliru sekali! Tampaknya hari ini kau memang sengaja hendak menahan kami ada di sini."

"Pangcu seorang pintar, kalau kau hendak berkata demikian juga boleh,"

Berkata Kakek Seribu Muka dengan nada suara dingin.

Pek Thian Hiong yang sudah marah sekali dengan tibatiba mengebutkan jubahnya, papan meja di hadapannya tiba-tiba terangkat tinggi, terus meluncur ke meja depan, orang-orang yang berada di meja tamu agaknya sudah mengerti maksud Pek Thian Hiong, maka masing-masing pada bangkit untuk menyingkir.

Muka meja yang lebarnya kira-kira delapan kaki dengan tenang meluncur, sedang arak-arak di atas meja tiada satu yang tumpah, demikianpun barang hidangan yang berada di dalam mangkuk, muka meja itu berputaran ke udara dan melayang turun ke bawah.

Jikalau dibiarkan meja itu turun, sudah tentu akan menimpa orang-orang yang duduk di meja perjamuan di bagian tuan rumah, selain daripada itu juga akan menghilangkan muka orang-orang dari Pak-bong-pay.

Selagi muka meja itu berputar dan melayang turun, kakek Seribu Muka berseru dengan kata-katanya.

"Ilmu Tay-it-cin-kang yang sangat hebat."

Sementara itu Pelajar Seribu Muka dengan tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, ia tidak menunggu sampai muka meja itu turun sudah pentang lima jarinya, dengan suatu gerak menahan turunya meja itu.

Sungguh aneh, lima jari tangan Pelajar Seribu Muka itu terpisah dengan muka meja kira-kira lima kaki, dan muka meja itu dengan tiba-tiba berhenti.

Keadaan demikian, muka meja itu seolah-olah tertahan oleh kekuatan tenaga dalam Pelajar Seribu Muka yang tidak berwujud.

Setelah itu Pelajar Seribu Muka berseru.

"Naik!"

Lima jari tangannya mendorong ke atas dan kemudian membentak pula.

"Kembali!"

Muka meja itu seolah-olah menurut perintahnya benarbenar berputar dan kembali ke tempat asalnya. Perbuatan itu sesungguhnya di luar dugaan Pek Thian Hiong, sesaat itu ia lalu berseru.

"Ilmu jari tangan Kim-kong Sian-kang benar-benar hebat!"

Setelah itu ia mengibaskan lagi jubahnya untuk menyambut muka meja yang sedang melayang turun, tidak ampun lagi, muka meja itu terdampar setinggi dua tombak dan jatuh di tempat sejauh lima tombak.

Touw Liong yang mendengar disebutnya ilmu Kim-kong Sian-kang, tertarik hatinya, tetapi ia hanya mengeluarkan seruan tertahan.

"Ooo!"

Wajah Pek Thian Hiong menunjukkan perasaan terkejutnya, ia memandang Pelajar Seribu Muka dan berkata kepada diri sendiri dengan suara perlahan.

"Pantas orang golongan Pak-bong-pay berani berlaku demikian congkak, kiranya bocah ini sudah berhasil mempelajari ilmu terampuh dari golongan Siauw-lim-si!"

Kakek Seribu Muka berkata sambil tertawa dingin.

"Suteku hanya berhasil mempelajari ilmu Tay-lo-siankang dan Tay-lo Kim-kong-ci, tetapi suhu yang mempelajari ilmu Sian-kangnya kini sudah berhasil seluruhnya, seratus delapan jurus Tay-lo Kim-kong-kiam juga dipelajarinya sudah hampir selesai. Orang she Pek, kita orang-orang golongan Pak-bong jikalau belum seyakin-yakinnya, bagaimana berani bermusuhan dengan Panji Wulung? Berani bertentangan dengan Pek-sancu dan berani mengadu ilmu dengan Ngo-gak Sin-kun tua bangka itu?"

"O! Jadi yang diandalkan oleh kalian orang-orang golongan Pak-bong adalah ilmu simpanan dari Siauw-limpay! He hehe! Aku si orang she Pek kalau begitu ingin belajar kenal dengan kepandaian kalian,"

Berkata Pek Thian Hiong dengan gagah.

"Kalau begitu, kau Pek-sancu tentunya juga mempunyai ilmu simpanan yang belum pernah dikeluarkan?"

"Tidak ada apa-apa, hanya tiga

Jilid dari kitab Thay-it Cin-keng."

"Thay-it Cin-keng?"

Demikian orang banyak bertanya kaget.

"Semua ilmu simpanan dari rimba persilatan hampir muncul pada saat yang bersamaan, benar-benar merupakan suatu masa yang sangat besar. Kedatangan Pek-sancu hari ini sangat kebetulan sekali, karena kebetulan suhu yang sedang bertapa sudah hampir habis waktunya, Pek-sancu yakin memiliki kepandaian ilmu yang tiada taranya, ini justru dapat digunakan untuk belajar kenal dengan kepandaian suhum siapa yang lebih kuat, apalagi ... He he..!"

Si Kakek Seribu Muka ada maksud hendak membakar hati Pek Thian Hiong, maka ia berkata lagi sambil tertawa mengejek.

"Apa yang Pek-sancu dapatkan hanya sebagian dari ilmu yang tidak lengkap, bagaimana dapat digunakan untuk mengadu kepandaian dengan ilmu simpanan dari golongan Pak-bong?"

Kata-kata itu sesungguhnya sangat menyinggung perasaan, Pek Thian Hiong yang mendengar itu karena sangat marahnya sehingga tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Siapa akan menang? Siapa akan kalah? Sebentar akan dapat ketentuan! Aku orang she Pek kalau hari ini mendapat kekalahan ..."

Karena tidak berhasil mengendalikan hawa amarahnya, ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Sementara Kakek Seribu Muka yang kandung maksud hendak mendesak dia mengeluarkan kepandaiannya, lalu bertanya.

"Seandainya tidak beruntung sancu yang kalah, bagaimana?"

Touw Liong yang melihat gelagat demikian, diam-diam berkata sendiri sambil menghela napas.

"Celaka!"

BAB 30 Pek Thian Hiong mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, selanjutnya baru berkata.

"Aku akan mengasingkan diri, namaku ini akan kukubur selama-lamanya!"

"Ucapan sancu terlalu berat! Aku si orang tua sebaliknya mempunyai sedikit usul! Berkata Kakek Seribu Muka sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

"Usul apa?"

"Kita harus merasa beruntung hidup di jaman ini, kita sedang menghadapi dunia Kang-ouw yang kacau balau, mengapa kita tidak bersama-sama melakukan pekerjaan besar?"

"Maksudmu, apakah jikalau aku Pek Thian Hiong sudah kalah, harus mendengar perintah-perintahmu orang Pakbong-pay?"

"Tidak! Tidak! Tidak! Kita sama-sama melakukan pekerjaan besar dengan bahu-membahu."

Pek Thian Hiong mengerutkan alisnya, katanya dengan nada suara dingin.

"Tidak perlu banyak bicara, sebaiknya kau cari dulu suhumu untuk bertanding dengan kita nanti kita boleh bicarakan lagi."

Kakek Seribu Muka kembali unjukkan ketawa iblisnya, sambil berpaling kepada Pelajar Seribu Muka ia berkata.

"Kalau sancu hendak menemui suhu itu sangat mudah, menurut kebiasaan orang yang ingin bertemu dengan suhu, lebih dulu harus disambut oleh kita suheng dan sute."

Pelajar Seribu Muka bangkit dan menghampiri Pek Thian Hiong. Ia menjura memberi hormat, kemudian berkata.

"Sancu, silahkan!"

"Baik juga! Aku akan menandingi kau lebih dulu untuk menemui tokoh-tokoh rimba persilatan dan membereskan peristiwa berdarah di danau Siao-thian-tie, setelah itu baru mencari gurumu untuk minta keadilan."

Berkata Pek Thian Hiong sambil tertawa dingin.

Lo Yu Im mengerutkan alisnya, diam-diam mengeluh sendiri.

Sedangkan Touw Liong sikapnya semakin merasa tidak tenang, perasaannya pada waktu itu sesungguhnya sangat aneh, meskipun ia sudah tahu benar bahwa hari itu kalau ingin bisa keluar dari tempat rahasia golongan Pakbong hanya tergantung dengan kemenangan Pek Thian Hiong dalam pertempuran itu.

Tetapi sebaliknya juga khawatirkan kalau-kalau Pelajar Seribu Muka itu kalah.

Karena hal itu menyangkut dengan beberapa persoalan besar dengan dirinya sendiri, beberapa hal harus mendapat jawaban dari Pelajar Seribu Muka itu.

Umpama kata, apakah benar pemuda itu adalah saudara kandungnya sendiri?

Dan dari mana panji hitam peninggalan panji wulung itu?

Dari mana pula tiga ilmu simpanan yang semula menjadi milik Siao-lim-pay itu.

Sementara itu Pek Thian Hiong sudah keluar dari meja perjamuan dengan langkah lebar.

Ia keluar dari perkampungan dan lompat ke dalam sebuah rimba.

Pelajar Seribu Muka mengikuti jejaknya dengan langkah lebar pula.

Touw Liong di bawah perlindungan Lo Yu Im ikut masuk ke dalam rimba buah tho, mereka berdua selalu berdiri di samping Anak Sakti dari gunung Bu-san, sedangkan orang-orang dari kedua pihak membuat lingkaran merupakan pagar lapangan pertempuran.

Pek Thian Hiong perlahan-lahan mengulurkan jari tangannya, ia memusatkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Hembusan angin yang keluar dari jari tangannya dapat mencapai tujuan dua tombak lebih, dan hembusan angin itu menyentuh sebuah pohon besar.

Sungguh aneh, bunga-bunga di atas pohon itu pada rontok dan daun-daunnya bergoyang-goyang.

Pek Thian Hiong yang lebih dahulu menunjukkan kehebatan ilmu tenaga dalamnya.

Dia telah membuktikan bahwa ilmunya itu benar-beanr sudah mahir sekali.

Begitu ia menunjukkan kepandaiannya, seorang berkepandaian tinggi seperti Anak Sakti dari gunung Bu-san juga merasa kagum.

Sementara itu Touw Liong juga mengangguk-anggukkan kepala dan berkata dengan pujiannya.

"Pek Thian Hiong benar-benar seorang yang tak boleh dipandang ringan!"

Sementara Pelajar Seribu Muka sendiri juga memberi pujian hebatnya ilmu Thay-it-cin-kang itu, setelah itu ia menjura memberi hormat dan berkata.

"Coba lihat aku!"

Baru saja menutup mulut, ia memutar tubuhnya dan mengacungkan jarinya, dari situ hembusana angin yang meluncur keluar dari jari tangannya menyapu keluar, dan mengenai pohon yang tadi bekas dibuat percobaan oleh Pek Thian Hiong.

Pohon yang terletak sejarak dua tombak lebih itu juga tampak bergoyang-goyang dan kembangnya pada rontok.

Kekuatan dari kedua pihak itu tampaknya sangat berimbang.

Pek Thian Hiong setelah menyaksikan kepandaian Pelajar Seribu Muka juga memberikan pujiannya.

Setelah itu, kedua tangannya dirangkapkan bersikap seperti hendak menggunakan ilmu dari golongan Thay-kek, tetapi yang dimainkan adalah ilmu tangan kosong dari Thay-it Sin-ciang.

Sementara Pek Thian Hiong mainkan ilmunya Thay-it Sin-ciang, semua orang yang ada di situ pada berseru riuh.

Saat itu Pelajar Seribu Muka menunjukkan sikapnya yang serius.

Kekuatan tenaga dalam dipusatkan pada kedua tangannya, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Gerakan pembukaannya sangat istimewa, telapakan tangan kiri menunjuk ke atas, dan tangan kanan menunjuk ke bawah.

Pek Thian Hiong menyaksikan gerakan pembukaan lawannya, juga mengerutkan alisnya yang panjang, dalam sikap terheran-heran ia berkata.

"Nampaknya sungguh hebat ilmu Kim-kong-sinciangmu."

Gerakan pembukaan yang ditunjukkan Pelajar Seribu Muka adalah gerakan dari ilmu Pek-pow Sin-koan atau ilmu silat tangan kosong seratus langkah, yang termasuk ilmu simpanan dari golongan Siao-lim-pay, kemudian ditambah lagi empat jurus gerak tipu dari ilmu Kim-kongkiam, dan oleh jago pedang kenamaan Liu Kiam Hiong dipelajari lagi beberapa puluh tahun lamanya lalu menjadi dua puluh empat jurus, ilmu-ilmu itu ditulis dalam kitab Kim-kong-ciang.

Kim-kong-cian meskipun gerakannya sudah mengalami banyak perubahan, tetapi gerakan pembukaannya itu tetap tidak berubah.

Touw Liong sebelum ilmu kepandaiannya dimusnahkan, sudah termasuk orang kuat golongan kelas satu, terhadap segala ilmu kepandaian dari berbagai golongan, sudah banyak yang ia tahu, dengan dilanjutkannya gerakan pembukaan dua orang itu, ia juga merasa terkejut.

Pek Thian Hiong yang membuka serangan itu baru dilancarkannya setengah jalan, lalu menggulung memutar jadi gerak tipu dari golongan paderi.

Sesaat kemudian kedua tangannya dari terbuka menjadi dirapatkan, di tengah lapangan itu dalam waktu sekejap sudah merasa tergoncang oleh hembusan kekuatan tenaga dalam yang keluar dari putaran tangan Pek Thian Hiong tadi.

Touw Liong baru saja mengeluh, Pek Thian Hiong sudah melancarkan serangannya yang sangat hebat.

Pelajar Seribu Muka yang sudah siap, begitu tampak lawannya menggunakan gerak tipunya sangat ampuh, ia tidak berani berlaku gegabah.

Sepasang tangannya diputar dengan beruntun untuk menyambut serangan lawannya.

Tidak ampun lagi, kedua kekuatan dari kedua pihak saling beradu sehingga menimbulkan suara gemuruh, sedangkan dua orang yang mengadu kekuatan itu, dua-duanya terhuyung-huyung hampir jatuh.

Pek Thian Hiong mundur terhuyung-huyung dua langkah, rambut dan kumisnya pada berdiri, buru-buru mengempos napasnya, hingga berhasil berdiri tegak, tidak sampai jatuh.

Sedangkan pihak Pelajar Seribu Muka juga terhuyunghuyung dan terpaksa mundur sampai beberapa langkah.

Dari mulutnya mengeluarkan suara menggumam.

Dalam pertandingan babak pertama itu, jelas bahwa kekuatan Pek Thian Hiong masih di atas Pelajar Seribu Muka.

Lo Yu Im yang menyaksikan kejadian itu, wajahnya berubah seketika, ia buru-buru bergerak ke samping Pelajar Seribu Muka.

Sementara itu Pelajar Seribu Muka terdengar suara batuk-batuk dan mengeluarkan segumpal darah segar.

Namun ia tidak merintih atau mengeluh, hanya memutar diri dan lari menuju ke goa, dengan diikuti oleh Lo Yu Im.

Pek Thian Hiong yang melihat itu lalu berkata kepada Anak Sakti dari gunung Bu-san.

"Jangan lepaskan dia pergi! Lekas tangkap!"

Anak Sakti dari gunung Bu-san menerima baik permintaan itu, dengan membawa tongkatnya ia mengejar Pelajar Seribu Muka.

Baru saja ia berjalan kira-kira lima tombak, sudah ditahan oleh serangan tongkat dari depan.

Anak Sakti dari gunung Bu-san merandek, orang yang menahan dirinya tadi justru adalah Kakek Seribu Muka yang pernah pancing dirinya dari puncak gunung Thian-tuhong ke tempat itu, dan akhirnya ditawannya beberapa bulan lamanya.

Sudah tentu ia lantas menjadi marah, tongkatnya digerakkan untuk balas menyerang.

Keduanya lalu saling gempur, pertempuran berlangsung sengit sekali.

Sepasang Burung Hong dari gunung Oey-san dan Jie chungcu Sie-kow, Ngo-kow juga sudah mulai bertempur menjadi dua rombongan.

Orang-orang dari kedua pihak kini tinggal Touw Liong dan empat pelindung hukum golongan Pak-bong yang tidak turut berkelahi, tetapi sekalipun tidak bertempur, mereka saling berpandangan dengan mata beringas.

Touw Liong hanya dapat menyaksikan berlalunya Lo Yu Im yang mengikuti Pelajar Seribu Muka menuju ke goa, ia memikirkan banyak soal, hendak mengejar untuk menanyakan penjelasannya, terutama mengenai diri Pelajar Seribu Muka itu, betul saudara kandungnya atau bukan.

Terdorong oleh pikiran itu, Touw Liong tidak menghiraukan lagi keadaannya, ia mempercepat langkahnya sedapat mungkin untuk menyusul ke dalam goa kuno.

Sementara itu empat pelindung hukum golongan Pakbong, karena tidak ada ijin dari Toa-chungcu, maka tetap berdiri di tempatnya tidak berani meninggalkan.

Dengan demikian ia hanya dapat mengawasi berlalunya Touw Liong dengan mata terbuka lebar.

Touw Liong yang sudah musnah kepandaian ilmu silatnya, sudah tentu dengan susah payah ia melakukan perjalanan itu.

Untung ia masih dapat mencapai ke tempat tujuannya.

Begitu tiba di dalam goa, obornya sudah padam, hingga keadaan dalam goa gelap gulita.

Oleh karena sudah tidak mempunyai kepandaian lagi, sudah tentu pandangan matanya tidak beda dengan orang biasa, berada di dalam goa yang gelap gulita seperti itu, barangbarang yang hanya sejark satu-dua kaki saja semua tidak dapat dilihatnya.

Terpaksa ia berjalan maju sambil meraba-raba dinding goa, entah berapa jauh ia sudah melakukan perjalanan dengan cara demikian, dengan tiba-tiba di sebelah kirinya rasa hembusan angin yang meniup kencang.

Meskipun kepandaian ilmu silatnya sudah musnah, tetapi daya pendengarannya masih cukup baik.

Ia dapat membedakan bahwa hembusan angin tadi timbul dari seorang berkepandaian tinggi yang sedang mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

Maka ia lalu berjalan menuju ke samping kirinya dari mana angin tadi mendesir.

Diamdiam ia merasa heran, hingga tanpa disadari sudah menarik napas panjang.

Dalam hatinya bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah perlu ia bersuara untuk memanggil?

Tarikan napasnya tadi agaknya menarik perhatian orang yang sedang mengerahkna ilmunya meringankan tubuh, dan selanjutnya hembusan angin itu berhenti di sampingnya.

Touw Liong agak bingung, dengan sendirinya mengangkat kedua tangannya untuk berjaga-jaga.

Mungkin karena gerakan tangannya itu yang menunjukkan ilmu silat golongannya, maka suara seorang tua dengan terheran-heran berseru.

"Haa,"

Selanjutnya lantas bertanya.

"Anak, apakah kau bukan Kie-jie?"

Jelas orang yang bertanya kepadanya itu adalah seorang tua.

"Siapakah Kie-ji itu?"

Demikian Touw Liong bertanyatanya kepada diri sendiri, tetapi ia menggeleng-gelengkan kepala untuk menunjukkan bahwa ia bukanlah orang yang disebut Kie-ji oleh orang tua tadi.

Orang tua itu bertanya pula.

"Kau toh murid golongan Kiu-hwa?"

Mungkin orang tua itu sudah mengetahui asal-usul Touw Liong dari gerakan tangannya tadi. Touw Liong menganggukkan kepala dan kemudian berkata sambil menghormat.

"Boanpwee Touw Liong."

"Wajahmu ini memang asalnya begitu, ataukah sedang menyamar?"

"Wajah boanpwee sudah begini sejak dilahirkan,"

Menjawab Touw Liong dengan tetap hormat. Orang tua itu berpikir sejenak, kemudian bertanya pula.

"Kenalkah kau dengan Kang Kie?"

"Kang Kie?"

Touw Liong menggelengkan kepala. Orang tua itu diam sejenak, kemudian bertanya pula dengan suara perlahan.

"Bagaimana kau bisa kesasar masuk ke dalam goa ini?"

"Boanpwee mengejar engko, sehingga kesasar jalan."

Orang tua itu menganggukkan kepala dan berkata kepada dirinya sendiri.

"Tidak salah lagi! Tentunya dia!"

Kemudian ia menarik tangan Touw Liong dan berkata dengan ramah-tamah.

"Mari ikut aku!"

Touw Liong yang digandeng tangannya oleh orang tua itu, ia merasa seperti hanya berputar-putar di dalam goa, di bawa ke sebuah kamar batu.

Di dalam kamar batu itu tampak sinar yang remangremang, namun dapat membedakan dan dapat melihat benda-benda yang ada di situ, ia dongakkan kepalanya, di atas kepalanya ternyata terdapat lubang yang menuju ke angkasa, dari lubang-lubang itulah sinar dan udara menerobos masuk ke dalam kamar batu itu.

Touw Liong pasang mata, kini ia dapat kenyataan bahwa orang tua itu keadaannya sangat aneh, mukanya merah, matanya menonjol, ia mengenakan pakaian jubah panjang berwarna kuning, jenggot dan kumisnya putih meletak, orang tua itu usianya barangkali sekitar seratus tahunan.

Kamar itu hanya seluas lima tombak, kecuali sebuah tempat tidur batu, tidak terdapat apa-apa lagi.

Orang tua itu menunjuk tempat tidur batu itu, memerintahkan Touw Liong duduk.

Ia mengamat-amati diri Touw Liong dari atas sampai ke bawah, dan mengangguk-anggukkan kepala, setelah itu ia berkata secara blak-blakan.

"Aku si orang tua, dalam seumur hidupku ini paling gemar dan paling bangga mendapat murid seperti Kang Kie yang mempunyai bakat dari golongan orang kelas satu. Dengan memandang muka Kie-ji, kita meskipun baru bertemu muka juga terhitung ada jodoh, maka aku bersedia memberikan kau sesuatu sebagai hadiah perkenalan."

Dari sinar mata orang tua itu Touw Liong dapat mengetahui bahwa orang tua itu memiliki ilmu kekuatan tenaga dalam yang sudah tak ada taranya, dengan kediamannya yang sangat dirahasiakan dari golongan Pakbong ini, maka secepat kilat ia telah teringat kepada diri seseorang.

Ia segera berlutut di hadapan orang tua itu dan berkata dengan sungguh-sungguh.

"Jikalau mata boanpwee tidak salah lihat, cianpwee ini tentunya adalah salah seorang dari tiga sesepuh golongan dari golongan Pak-bong yang dahulu namanya pernah menggemparkan rimba persilatan..."

Orang tua itu berkata dengan terus terang.

"Aku si orang tua Hui Eng."

Touw Liong tidak begitu terkejut mendengar nama itu, karena ia sudah menduga siapa adanya orang tua itu.

Dalam hatinya tiba-tiba timbul suatu pikiran ....

ialah untuk memulihkan kepandaian ilmu silatnya.

Orang tua itu menganggukkan kepala dan mendekat lagi.

"Lekas jawab! Apa yang kau kehendaki?"

Touw Liong menghela napas, bibirnya bergerak-gerak hendak mengatakan sesuatu, tetapi beberapa kali membatalkan maksudnya, tetapi akhirnya berkata juga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sudah! Perguruan boanpwee dan locianpwee tidak ada perhubungan, urusan ini sebaiknya boanpwe tidak sebutkan saja!"

Orang tua itu agaknya tertarik oleh ucapan Touw Liong, maka ia bertanya pula.

"Coba kau katakan! Tidak perduli soal apa, asal aku sanggup, kau boleh sebutkan, tiada yang tak akan kulaksanakan."

"Touw Liong masih tetap menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.

"Jika boanpwee sebutkan rasanya agak keterlaluan, biarlah tidak usah saja."

Orang tua itu agaknya sudah tidak sabaran, katanya dengan suara agak keras.

"Kau bocah ini tidak ada gunanya, bicara saja gelagapan, sedikitpun tidak berlaku terus terang, lekas kau katakan!"

Kata-kata orang tua itu rupanya sangat berpengaruh, Touw Liong sejenak merasa ragu-ragu, akhirnya ia berkata juga sambil menghela napas.

"Kepandaian ilmu silat boanpwee sekarang ini telah dimusnahkan oleh orang, boanpwee hanya pikir...."

Wajah orang tua itu sedikit berubah, ia bertanya dengan suara terkejut.

"Apa kau ingin aku memulihkan kepandaian ilmu silatmu?"

Touw Liong menganggukkan kepala.

"Inilah merupakan suatu pekerjaan besar yang sangat memboroskan kekuatan tenaga dalam, sedikitnya harus menggunakan setengah dari kekuatan tenaga dalamku. Apalagi masih memerlukan waktu dua belas jam lamanya."

"Maka itu boanpwee tadi sudah menganggp bahwa permintaan boanpwee ini agak keterlaluan,"

Berkata Touw Liong sambil tertawa getir. Ia perlahan-lahan menundukkan kepalanya, seolah-olah semua harapannya sudah kosong. Alis yang panjang dari Hui Eng bergerak-gerak, kemudian berkata.

"Aku si orang tua seumur hidupku belum pernah melanggar hati nuraniku. Aku tadi sudah berjanji akan menerima permintaanmu, maka aku harus melaksanakannya. Apalagi urusan ini dapat kulakukan dengan kekuatan tenagaku sendiri. Barangkali inilah yang oleh kaum golongan Buddha disebut jodoh! Kau tidak datang lebih pagi atau lebih lambat, pada saat aku habis waktu pertapaanku kau menerjang masuk!"

Touw Liong hanya bisa tergugu, ia sebetulnya ingin memberitahukan kepada orang tua itu apa yang terjadi di markas Pak-bong-san, tetapi ia juga khawatir apabila Hui Eng keluar, Pek Thian Hiong dan lain-lainnya pasti akan binasa di tangannya semua.

Ia mempertimbangkan baik-baik suasananya.

Pelajar Seribu Muka meskipun terluka, tetapi ada Lo Yu Im yang mengikuti dan mungkin bisa melindunginya, jadi tidak sampai terjadi bahaya bagi dirinya.

Sementara mengenai orang yang masih di dalam rimba buah Tho, kekuatan dan kepandaian Kakek Seribu Muka berimbang dengan Anak Sakti dari Gunung Bu-san, sedangkan Sepasang Burung Hong dapat mengimbangi orang yang lainnya.

Pek Thian Hiong meskipun sudah terluka, tetapi jikalau empat pelindung hukum Golongan Pak-bong mau turun tangan, Pek Thian Hiong rasanya masih sanggup menghadapi.

Maka dari itu keadaan di dalam rimba buah Tho untuk sementara mungkin masih bisa dipertahankan dalam keadaan berimbang, sedangkan ia sendiri justru dapat menggunakan kesempatan itu untuk menahan Hui Eng supaya jangan keluar dari tempat pertanyaannya di goa.

Setelah Touw Liong mengambil keputusan demikian, maka ia berlutut di tanah seraya berkata.

"Jika locianpwee sudi memberikan pertolongan, budi ini seumur hidupku tidak akan kulupakan."

"Dalam soal bakat, kau dengan Kie-jie hampir tidak berbeda jauh, tetapi dalam soal kepandaian kau sebagai murid dari golongan Kiu-hwa di kemudian hari mungkin bisa lebih tinggi daripadanya. Mengenai soal budi aku tak mengharap pembalasanmu, hanya di kemudian hari saja, terhdap orang-orang golonganku, aku harap supaya kau mengingat tindakanku yag sudah memulihkan kepandaianmu ini, kalau dapat disudahi, sudahilah saja, dengan demikian tidak akan mengecewakan jerih payahku ini."

Touw Liong terima baik permintaan itu.

Orang tua itu lalu menarik bangun Touw Liong, suruh dia duduk di atas pembaringan batu, pada saat itu sinar matahari menerobos masuk lewat lubang-lubang di atas kepalanya.

Orang tua itu berkata sendiri dengan suara pelahan.

"Tengah hari, darah dan pikiran sedang mengalir ke atas, inilah waktu yang sangat tepat untuk membangkitkan hawa murnimu."

Touw Liong duduk bersila mengatur pernapasannya.

Orang tua itu mengeluarkan sebuah botol yang terbuat dari bahan tanah liat, lalu mengeluarkan dua buah pil warna merah.

Sebutir dimasukkan ke dalam mulut Touw Liong, dan suruh ia menelannya.

Sebutir lagi dimasukkan ke dalam mulutnya sendiri.

Setelah itu ia menyedot napasnya, kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan kepada jari tangannya.

Jari itu bergerak di bagian jalan darah di dada Touw Liong, untuk memeriksa keadaan luka pemuda itu.

Ia terus menyusuri sekujur badan Touw Liong, kemudian berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Cara memutuskan urat nadi seperti ini merupakan salah satu cara yang paling ganas di dalam dunia. Jikalau itu dilakukan terhadap orang lain, barangkali sudah binasa! Kau boleh dikata masih panjang umurmu."

Touw Liong mengerti, bahwa Hui Eng bertapa ialah untuk mempelajari ilmu Tay-lo-kim-kong-kiam.

Untuk mempelajari ilmu pedang yang tertinggi itu harus memiliki dasar kekuatan tenaga dalam yang sempurna sekali, dengan lain perkataan, ia sekarang sudah paham betul tentang ilmu Tay-lo-kim-kong-sian-kang, kekuatan tenaga dalamnya sudah pasti sangat sempurna.

Touw Liong yang mendapat bantuannya untuk memulihkan kekuatan dan kepandaiannya sesungguhnya merupakan suatu hal yang tak terduga-duga, yang sangat menguntungkan baginya.

Sebab, di dalam dunia pada waktu itu kecuali ilmu dari Tay-lo-kim-kong-sin-kang, hanya ilmu dari Thay-it Cinkeng yang rasanya dapat mengimbangi.

Sedangkan dua macam ilmu yang tak ada taranya itu, jikalau harus digunakan untuk memulihkan kekuatan tenaga dan kepandaian seseorang, tidak mungkin kalau pada dirinya sendiri tidak memiliki kekuatan tenaga dalam yang cukup sempurna.

Jika kekuatan tenaga dalamnya masih belum sempurna dan digunakan untuk memulihkan kekuatan orang lain, bukan saja tidak bisa menyembuhkan luka-lukanya, bahkan membawa bencana bagi dirinya sendiri.

Seringan-ringannya akan terluka parah, dan seberat-beratnya akan binasa seketika itu juga.

Maka bagi orang yang melatih ilmu silat tidak boleh sembarangan memulihkan kekuatan tenaga orang lain.

Mari sekarang kita balik kepada Hui Eng yang mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk memulihkan kekuatan Touw Liong.

Dalam enam jam yang pertama, mulai tengah hari hingga malam hari sudah berhasil menyembuhkan lukaluka di dalam urat nadi Touw Liong.

Dari malam hari sampai tengah malam ia memusatkan ilmu sinkangnya sepenuh tenaga, dimasukkan ke jalan darah Leng-in-hiat Touw Liong supaya kekuatan tenaga Touw Liong pulih kembali, sementara itu Touw Liong juga menggunakan ilmu dari golongannya untuk membantu melekaskan hasilnya.

Dengan usaha Hui Eng dan dibantu oleh usahanya sendiri, dalam waktu enam jam, Touw Liong dari seorang biasa telah berubah menjadi seorang kuat dari golongan kelas satu.

Ini bukanlah suatu pekerjaan gampang, boleh dikata suatu usaha gaib.

Hari pertama dilewatkan dengan cepat.

Hari kedua ketika sinar matahari menyusup masuk melalui lubang di atas goa, kembali sudah waktunya tengah hari.

Keringat di jidatnya Hui Eng sebesar kacang kedele bertetes-tetes membasahi mukanya, wajahnya yang merah perlahanlahan berubah menjadi pucat, sepasang tangannya yang kurus kering perlahan-lahan merosot turun dari punggung Touw Liong.

Ia mengawasi wajah Touw Liong yang sudah mulai segar.

Hatinya merasa puas, hingga unjukkan senyumnya.

Setelah itu ia menarik napas panjang, dan buru-buru memejamkan sepasang matanya untuk mengatur pernapasannya sendiri.

Touw Liong yang duduk di atas pembaringan batu, juga sedang memusatkan semua pikirannya untuk memulihkan kepandaiannya sendiri.

Suasana dalam goa itu sepi sunyi, seandainya ada jarum jatuh di atas tanah dapat didengar dengan nyata.

Sang waktu sedetik-sedetik berlalu tanpa dirasa, kira-kira dua jam kemudian dua orang yang tadi duduk di atas pembaringan batu itu masih tampak belum ada gerakannya apa-apa.

Dengan tiba-tiba, dalam kamar batu dalam goa itu terdengar suara.

Itu adalah suara langkah kaki yang sangat halus, jika tidak diperhatikan benar-benar, hampir tidak kedengaran.

Suara itu dari jauh semakin dekat, dan perlahan-lahan mendekati kamar tadi.

Tepat pada saat itu Touw Liong membuka lebar matanya, saat itu ia hampir menjadi silau oleh sinar matahari yang masuk melalui lubang.

Ia memandang kepada orang tua yang sedang duduk di depannya sambil mengatur pernapasannya.

Dari wajahnya menunjukkan rasa bersyukurnya.

Pada saat itu ia telah mengerti bahwa kekuatan tenaga dan kepandaiannya sudah pulih kembali.

Sungguh tak dapat dibayangkan, betapa girang perasaannya pada waktu itu.

Sinar matanya bergerak-gerak berputaran ditujukan ke luar kamar.

Pada saat itu matanya tertumbuk pada suatu pemandangan yang sangat mengerikan hingga badannya bergidik.

Di luar kamar sejarak kira-kira lima tombak, berdiri seorang tua berbadan bongkok, wajahnya keriputan, rambutnya yang panjang putih bagaikan perak terurai di kedua bahunya, namun orang itu sepasang matanya memancarkan sinar sangat tajam.

Dengan sepasang tangan kosong ia berjalan masuk ke dalam kamar.

Dari sinar matanya yang demikian tajam, Touw Liong dapat menduga bahwa kekuatan tenaga dalam orang tua itu pasti tidak di bawah Hui Eng sendiri.

Entah kawan atau lawan, saat itu ia masih belum dapat menentukan.

Sedang orang tua berambut panjang itu pelahan-lahan berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Begitu tiba di ambang pintu lantas berhenti.

Kepada Touw Liong ia membuka mulutnya dan memperdengarkan suara tawanya yang aneh.

Suara tertawanya itu telah mengejutkan Hui Eng yang sedang mengatur pernapasannya.

Hui Eng membuka lebar sepasang matanya, berputaran ke wajah orang tua berambut panjang itu, setelah itu ia membentak dengan nada dingin.

"Kukira siapa, kiranya sahabat lama yang datang berkunjung."

Orang tua berambut panjang itu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Selamat bertemu! Kita masih tetap dengan cara yang lama, seperti juga pertandingan di atas gunung Thay-san pada enam puluh tahun berselang, dengan satu pukulan, menentukan siapa yang menang siapa yang kalah."

"Satu pukulan!"

Demikianlah Touw Liong berkata kepada diri sendiri sambil mengerutkan alisnya. Ia lalu maju menghampiri orang tua itu, setelah itu ia menganngkat tangan memberi hormat seraya berkata.

"Boanpwee tidak tahu diri, ingin menyambut serangan cianpwee."

"Kau..."

Orang tua berambut panjang itu mendelikkan matanya, menatap wajah Touw Liong sejenak, kemudian dengan skap menghina berkata kepada Hui Eng.

"Apakah dia boleh?"

Hui Eng tertawa dan menganggukkan kepala, kemudian berkata.

"Anak ini jika sudah mencapai usia seperti aku sekarang ini, kita berdua semuanya bukan tandingannya."

Jawaban itu sangat cerdik, maksudnya ialah Touw Liong saat itu masih bukan tandingan orang tua berambut panjang. Orang tua berambut panjang itu mengacungkan jarinya, dan berkata dengan pujiannya.

"Bocah ini ada harapan, baiklah! Aku berjanji akan bertanding satu jurus dengannya, tetapi aku jamin tidak akan melukainya. Melukai seujung rambutpun tidak."

Hui Eng pegang kencang ucapannya, ia berkata.

"Apa itu perjanjianmu?" 'Ya!"

Kemudian orang tua itu tiba-tiba mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Bocah ini pernah apa dengan kau?"

"Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa,"

Jawab Hui Eng sambil menggeleng-gelengkan kepala. Orang tua berambut panjang itu agaknya terheran-heran, ia berpaling dan bertanya kepada Touw Liong.

"Kau anak murid dari golongan mana?"

"Kiu-hwa,"

Jawab Touw Liong dengan sikap menghormat. Orang tua berambut panjang itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Tuhan benar-benar memberi kesempatan kepadaku. Orang yang kucari-cari di mana-mana ternyata didapatkannya secara tak terduga-duga, aku justru hendak mencari Kiu-hwa Lojin untuk memperhitungkan dendaman lama kita."

Tpuw Liong tercengang, ia bertanya dengan sikap tetap menghormat.

"Cianpwee dari golongan mana?"

Bab 31 Si orang tua berambut panjang itu balas menanya.

"Apakah kau pernah dengar nama Ngo-gak Sin-kun?"

Touw Liong yang sudah pernah dengar nama itu hanya menganggukkan kepala dan katanya.

"O, kiranya adalah Ngo-gak locianpwee."

"Bocah! Tadi kau kata bersedia menyambuti seranganku satu kali, itulah bagus! Dahulu waktu aku mendaki Gunung Bu-tong-san, suhumu telah membantu kawanan hidung kerbau itu. Antara aku dengannya juga pernah mengadu kekuatan satu kali pukulan. Tak disangka enam puluh tahun kemudian kau telah mewakili dia menjadi setan penasaran, ini sesungguhnya suatu hal yang sudah sepantasnya."

Jilid 12 Dari nada dan kata-katanya, Ngo-gak Sin-kun seolaholah sudah memastikan bahwa Touw Liong hari itu pasti mati, tidak boleh tidak. Sementara itu Hui Eng berkata dengan nada suara dalam.

"Iblis tua, bagaimana, kata-katamu tadi, apakah tidak berlaku lagi? Toh kau sudah berjanji tidak akan melukai seujung rambutnya, bagaimana kau yang sudah demikian lanjut, kata-katamu masih belum dapat dipercaya?"

"Baiklah!"

Demikian Ngo-gak Sin-kun berkata.

"Tetapi hari ini terkecualian, biarlah hari ini aku tidak akan ambil jiwanya, tetapi di lain waktu jikalau bertemu lagi tidak akan dapat lagi mengampuni dirinya."

Setelah mendengar janjinya itu, Hui Eng lantas berkata sambil mengibaskan lengan jubahnya.

"Mari jalan!"

Ngo-gak Sin-kun membalikkan badan dan keluar dari dalam goa, Hui Eng mengikuti dengan diiringi oleh Touw Liong.

Di luar goa, keadaan di rimba buah Tho masih sama, gedung-gedung di dekat rimba itu yang semula nampak megah, diganti dengan runtuhan puing, sedang asap masih belum padam.

Hui Eng menjerit dan menyerbu.

Touw Liong terperanjat, ia bertanya kepada Ngo-gak Sin-kun sambil menunjuk ke gedung itu.

"Apakah itu cianpwee yang bakar?"

Ngo-gak Sin-kun menganggukkan kepala dan menjawab dengan sombongnya.

"Membunuh orang, membakar rumah, itu tak berarti apa-apa! Kau jangan merasa heran."

"Berapa orang yang mati terbakar?"

Bertanya Touw Liong sambil menggertak gigi.

"Waktu aku membakar bangunan itu, satu setanpun tidak tertampak!"

Berkata Ngo-gak Sin-kun sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Hati Touw Liong merasa lega, tetapi ia tak habis mengerti, Anak Sakti dari Gunung Bu-san dan Sepasang Burung Hong yang tadi bertempur sengit entah kemana perginya, dan lagi Pek Thian Hiong dan orang-orangnya bagaimana meloloskan diri?

Selagi masih memikirkan kejadian itu, Hui Eng sudah balik kembali, dengan sepasang matanya yang beringas, ia menatap wajah Ngo-gak Sin-kun, kemudian ia mendekati Touw Liong dan berkata kepadanya.

"Touw Liong, lekas kau layani dia sejurus saja, aku akan menunggu untuk memperhitungkan perbuatannya dan kejahatan itu."

Touw Liong merasa heran, kenapa Hui Eng berlaku demikian sabar, sambil berpikir, ia geser kakinya menghampiri Ngo-gak Sin-kun.

Ngo-gak Sim-kun berulang-ulang memperdengarkan suara tertawa dinginnya, dengan sikapnya yang sangat jumawa menantikan serangan Touw Liong.

Touw Liong mengempos semangatnya kekuatan tenaganya dikerahkan kepada kedua tangannya sambil mengeluarkan perkataan "maaf"

Ia mulai memasang kudakudanya. Hui Eng kembali berjalan ke sampingnya, dan berpesan dengan suara perlahan.

"Hati-hati! Ngo-gak Sin-kun tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa!"

Pesan itu mengandung arti, suruh ia jangan berlaku merendah, harus menyerang dengan sepenuh tenaga.

Touw Liong terima baik.

Selagi Ngo-gak Sin-kun masih tertawa mengejek, Touw Liong pelahan-lahan sudah mendorong tangannya.

Hui Eng menggunakan kesempatan itu minggir lima langkah.

Kekuatan tenaganya dipusatkan kepada kedua tangannya, ia berlaku seperti hendak melindungi Touw Liong.

Sepasang telapak tangan Touw Liong dirapatkan, ilmunya sian-kang yang dinamakan "membuka pintu langit"

Terforsir penuh, dengan suatu gerakan "anak kecil menyembah patung batu", sepasang tangannya dirangkapkan, tiba-tiba dipentang dan dengan kekuatan tenaganya yang sangat hebat menerang Ngo-gak Sin-kun.

Ngo-gak Sin-kun sudah tentu tidak tinggal diam, ia menyambuti serangan tersebut, ketika dua kekuatan itu saling beradu, Touw Liong terpental mundir tiga langkah!

Ngo-gak Sin-kun tertawa terbahak-bahak, selagi ia merasa sangat bangga, Hui Eng menggunakan kesempatan itu menyerang dengan hebatnya.

Serangan itu dilakukan dengan sepenuh tenaga meskipun kekuatan tenaganya agak berkurang karena habis digunakan memulihkan kekuatan tenaga Touw Liong, tetapi sisa tenaganya itu ditumplek seluruhnya, dapat dibayangkan betap hebat serangannya itu!

Ngo-gak Sin-kun yang lebih dahulu menyombongkan dirinya dan agak lalai kepada keadaannya sendiri, ketika serangan Hui Eng tiba ia baru mulai sadar.

Tetapi serangannya itu sudah menyentuh tubuhnya, ia hendak merubah gerakannya untuk menyambuti serangan itu sudah terlambat.

Jalan satu-satunya hanya mengelak atau lari.

Untuk lari sudah tidak mudah lagi, sebab kepandaian ilmu meringankan tubuh Hui Eng masih jauh di atasnya, begitu serangannya diluncurkan, bagaikan bayangan terus mengikuti jejak Ngo-gak Sin-kun, kemana saja Ngo-gak Sinkun lari, serangannya itu masih tetap ditujukan ke belakang dirinya.

Ngo-gak Sin-kun menggertek gigi, ia mengeluarkan seruan tertahan, terpaksa menyambut serangan hebat yang dilancarkan oleh Hui Eng.

Walaupun demikian, Ngo-gak Sin-kun masih tidak mau menerima mentah-mentah begitu saja, selagi ia tidak bisa melarikan diri dan terpaksa menerima gebukan itu, sepasang tangannya dengan tergesa-gesa menggunakan kekuatan tenaganya yang masih ada diluncurkan kepada Hui Eng.

Pada saat Ngo-gak Sin-kun mengeluarkan seruan tertahan, Hui Deng sendiri juga kena serangan balasan Ngogak Sin-kun, hingga mundur terhuyung-huyung sampai lima langkah baru bisa injakkan kaki.

Ngo-gak Sin-kun dengan mata merah mengawasi Hui Eng tanpa berkata sepatahpun juga, buru-buru memutar tubuhnya dan lari meninggalkan rimba buah Tho hingga dalam sekejap mata sudah menghilang di balik bukit.

Terjadinya perubahan itu terlalu besar sekali, Touw Liong tahu bahwa Ngo-gak Sin-kun terluka parah, ia juga mengerti perasaan Hui Eng pada hari ini, jika ia tidak menggunakan akal dan cara menyerang secara tidak jujur itu, Ngo-gak Sin-kun hari itu pasti akan mendapat kemenangan.

Hui Eng yang sudah kurang kekuatan tenaganya, pasti akan mengalmi nasib sangat buruk, bagaimanapun juga Ngo-gak Sin-kun pasti akan membinasakan dirinya.

Pada saat itu Touw Liong baru merasakan dadanya mulai merasa sesak, matanya berkunang-kunang, dan kemudian jatuh rubuh di tanah, tidak ingat orang lagi.

-O -Ketika siuman kembali, telah kedapatan dirinya sedang berada di dalam kamar batu itu lagi.

Ia rebah terlentang di atas pembaringan batu, matahari masuk ke dalam lewat lubang gua di atasnya, dalam hati Touw Liong mengerti, saat itu satu hari sudah berlalu.

Ia mengenangkan kembali apa yang telah terjadi, ia masih ingat dirinya terluka dan jatuh pingsan, ia buru-buru menggerakkan kaki dan tangannya, kini ia dapat kenyataan bahwa keadaannya sendiri masih segar bugar, tidak ada perasaan sakit, maka seketika itu juga ia lantas melompat bangun.

Dan apa yang disaksikannya?

Seketika itu ia hampir menjerit.

Di bawah tanah, di hadapan pembaringan, Hui Eng sedang duduk bersila sambil menundukkan kepala, wajahnya pucat pasi, Touw Liong buru-buru lompat turun dan menghampirinya, ia mengulurkan tangannya untuk meraba hidung Hui Eng, buru-buru ditariknya kembali, dan seketika itu matanya merah, butiran air mata mengalir turun, dan setelah itu ia jatuh berlutut di hadapan Hui Eng.

Touw Liong mengerti, apabila Hui Eng tidak menggunakan tenaganya untuk memulihkan kepandaiannya, dalam pertempuran dengan Ngo-gak Sinkun, masih belum diketahui siapa yang akan menang atau kalah.

Touw Liong juga mengerti bahwa Hui Eng pasti terluka parah sekali, tetapi masih membawa dirinya ke dalam gua dan memberikan obat untuknya, bahkan mungkin juga masih menyembuhkan lukanya.

Ia tidak berani memikir lagi, Hui Eng agaknya agak tinggi hati dan berbuat menuruti kesukaan hatinya, tetapi terhadap dirinya boleh dihitung sangat sayang.

Touw Liong seorang yang berperasaan dalam, ia teringat kembali bagaimana kebaikan Hui Eng terhadap dirinya, sehingga sesaat itu perasaan sedih tidak terkendalikan lagi, ia menangis dan menjatuhkan diri di tanah seperti anak kecil.

Bagaimana juga manusia yang sudah mati tidak bisa hidup kembali.

Touw Liong setelah merasa puas menangis, akhirnya tenang kembali.

Begitu membuka mata terlihat di hadapan dirinya terdapat segumpal darah.

Dengan darah itu, jari tangan Hui Eng menulis huruf-huruf yang bermaksud.

BUNUH NGO.

Ngo, agaknya sudah menggunakan tenaga terlalu banyak, tidak dapat digunakan lagi.

Ngo, yang dimaksudkan sudah tentu adalah Ngo-gak Sin-kun.

Dalam pesan terakhir ini, maksudnya minta Touw Liong membunuh Ngo-gak Sin-kun untuk membalas dendam sakit hatinya.

Ini memang logis.

Touw Liong dengan hati sedih diam-diam bersumpah di hadapan jenasah Hui Eng.

"Locianpwee, tenanglah di dalam surga! Boanpwee pasti akan menggunakan batok kepala Ngo-gak Sin-kun untuk berziarah di hadapan makam locianpwee."

Ia memandang keadaan sekitar goa itu sebagai kenangkenangan sebelum meninggalkan tempat tersebut.

Pada saat itu ia baru tahu bahwa di bagian dinding kiri kamar itu terdapat sebuah lemari dinding setinggi tiga kaki, lebar setengah kaki.

Touw Liong menganggukkan kepala, dalam hati mengerti, bahwa dalam lemari itu pasti tersimpan barangbarang berharga peninggalan Hui Eng, tetapi sekarang telah terbuka.

Jikalau bukan dibuka oleh orang luar, tentu dibuka sendiri oleh Hui Eng sebelum menutup mata.

Ia lalu berjalan menghampiri, setelah diperiksanya saat itu ia berdiri terpaku di hadapan lemari.

Di dalam lemari itu terdapat sebilah pedang tanpa sarung, namun memancarkan sinarnya yang berkilauan.

Di depan pedang panjang itu terdapat empat

Jilid kitab.

Jilid pertama ternyata adalah kitab ilmu Thay-it sin-kang, dan yang menjadi idam-idaman tiap orang dalam rimba persilatan.

Jilid kedua masih merupakan bagian dari kitab Thay-it cin-keng, tetapi memuat ilmu mengganti rupa.

Jilid ketiga adalah ilmu silat yang ditulis sendiri oleh Hui Eng, yang dinamakan Hui Eng pat-sek atau Delapan Gerakan Garuda Terbang.

Dalam kitab itu ditulis tentang ilmunya yang membuat ia menjagoi seluruh dunia.

Ilmu itu adalah ilmunya meringankan tubuh.

Jilid keempat masih merupakan ilmu simpanan Siaoliem-pay, dalam

Jilid itu ditulis tulisan-tulisan yang mengenai ilmu silat Taylo Sin-kong-lok yang ditulis oleh jago pedang Liu Kiam-liong. Touw Liong memeriksa satu persatu dari empat

Jilid kitab itu, semuanya merupakan pelajaran-pelajaran ilmu silat yang menjagoi rimba persilatan pada dewasa itu, salah satu saja jikalau muncul dalam rimba persilatan, sudah cukup menimbulkan kegemparan bagi rimba persilatan.

Touw Liong bukanlah seorang yang tamak meskipun dalam tangannya menggenggam empat

Jilid kitab rahasia ilmu silat tertinggi, tetapi ia sedikitpun tidak tertarik untuk memiliki.

Ia mengawasi buku ajaib itu, untuk mempelajari maksud Hui Eng membuka lemari itu.

Sudah tentu maksud dan tujuan Hui Eng membuka lemari itu adalah ditujukan kepada dirinya, maksudnya ialah memberitahukan padanya bahwa di dalam itu tersimpan empat

Jilid kitab rahasia, tetapi ia tidak memperhatikan pesan-pesan mengenai empat

Jilid kitab itu, dengan demikian, Touw Liong menjadi serba salah, ia tidak tahu betul maksud Hui Eng yang sebenarnya, bagaimana sebetulnya terhadap empat

Jilid kitab tertinggi itu? Tidak kecewa Touw Liong menjadi seorang cerdik dan berbakat pada masa itu. Ia telah masukkan buku itu ke dalam sakunya, terhadapa empat

Jilid kitab itu telah mengambil suatu keputusan.

Ia tahu bahwa Dewa Arak Taysu Gila adalah murid generasi ketiga dari jago pedang Liu Kiam Hiong, sedang ia sendiri seharusnya murid generasi ke empat.

Tentang kitab Taylo Sin-kang ia sendiri berhak untuk menerimanya, sedangkan ilmu Delapan Gerakan Garuda Terbang, di kemudian hari apabila bertemu anak murid golongan Pakbong, ia akan memberikan kepadanya.

Thay-it Cin-keng, kitab itu sudah seratus tahun lamanya menimbulkan permusuhan beruntun-runtun, sebetulnya menjadi hak milik siapa?

Masih merupakan suatu soal yang sangat pelik.

Menurut sejarah, kitab ini paling dahulu merupakan milik dari Bu-tong, kemudian terjatuh ke tangan orang Siao-lim-pay, pada akhirnya diambil oleh orang golongan Thian-san, sehingga menjadi milik golongan Thian-san.

Oleh karena Kiu-hwa termasuk pecahan dari golongan Thian-san, maka golongan Kiu-hwa juga berhak memiliki kitab itu.

Namun demikian, ia tidak berani menetapkan untuk siapa, diam-diam ia telah mengambil keputusan, di kemudian hari apabila ia pulang ke gunung Kiu-hwa, ia akan berikan kepada suhunya Kiu-hwa Lojin, biarlah diputuskan oleh Kiu-hwa Lojin sendiri.

Touw Liong setelah menyimpan empat

Jilid bukunya, lalu mengambil pedang panjang dari dalam lemari.

Melihat gagang pedangnya, sesaat itu ia tertegun.

Apakah sebetulnya pedang itu?

Di gagang pedang itu ternyata diukir dengan tulisan dua huruf.

KHUN-NGO.

Begitu melihat dua huruf itu, ia sudah hampir menjerit karena terkejut.

Ia sungguh tak menduga bahwa pedang itu adalah pedang yang terbuat dari batu giok Khun-ngo-giok.

Dengan pedang pusaka yang tajam di tangan boleh malang melintang di seluruh jagat.

Banyak jago-jago dan pendekar-pendekar sejak dahulu kala, berhasilnya untuk meningkatkan kedudukannya, tiada satu yang tidak mengandalkan pedang tajam di tangannya.

Touw Liong kalau memikirkan pedang itu adalah pedang sakti yang membuat perhatian semua orang rimba persilatan, dalam hati merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Hui Eng.

Untuk mencoba ketajaman pedang itu, ia segera gunakan untuk memapas batu di goa itu.

Batu itu lantas terbelah, bagaikan pisau memotong tahu.

Touw Liong tanpa sadar sudah berseru memuji ketajaman pedang itu, maka saat itu juga ia lantas bertindak dengan menggunakan pedangnya untuk memotong batu, batu itu dibuat sebuah peti mati untuk mengubur jenasah Hui Eng.

Setelah meletakkan peti mati yang terbuat dari batu itu, di dalam gua tersebut, ia lantas tutup pintu gua, setelah itu ia meninggalkan tempat tersebut.

Begitu keluar dari gua, ia mencari pohon rotan, dengan rotan yang panjang itu ia gunakan untuk turun ke bawah gunung.

Ketika ia tiba di kota Lak-yang ia buatkan sarungnya dengan kulit ular untuk pedangnya yang luar biasa itu, selanjutnya dengan membawa pedang itu ia mendaki ke gunung Kiu-hwa.

Touw Liong langsung menuju ke puncak tertinggi gunung Kiu-hwa-san, di mana ada berdiam suhunya Kiuhwa Lojin.

Akan tetapi sebegitu jauh ia mendaki gunung, bayangan suhunya tiada tertampak olehnya, hingga dalam hatinya berdebaran.

Buru-buru ia mempercepat langkahnya memasuki daerah pohon cemara, ia lalu pasang mata, gubuk kediaman suhunya masih tetap, begitu pula keadaan di sekitarnya.

Firasat tidak baik timbul dalam hati Touw Liong, segera masuk ke dalam gubuk sambil memanggilmanggil suhunya.

Tetapi gubuk itu sepi sunyi, tiada terdengar suara sahutan orang.

Lama sekali dan berulangulang ia memanggil suhunya, tiada terdapat jawaban sama sekali.

Ia lalu memeriksa keadaan dalam rumah dan dalam kamar, dan gubuk itu ternyata kosong melompong, seolaholah sudah lama tidak ada orang yang mendiami.

Firasat buruk kembali terlintas dalam otaknya, Touw Liong buru-buru memeriksa bagian dalam, namun di situ juga tidak mendapatkan suhunya; hanya keadaan barangbarang nampak morat-marit tidak karuan.

Ia lalu berkata kepada diri sendiri.

"Mungkin suhu ada urusan perlu turun gunung, atau pergi ke bagian dalam untuk memetik daun obat.... Tiba-tiba ia ingat bahwa dugaan itu tidak benar, Kiu-hwa Lojin seumur hidupnya pegang teguh janjinya sendiri, ia kata bahwa seumur hidupnya tidak akan turun gunung lagi, ucapan itu sudah pasti akan ditaati selama hidupnya tidak akan dirubah setengah jalan. Maka itu tidak mungkin kalau gurunya turun gunung. Lagi pula kalau mau dikata pergi mencari daun obat, agaknya juga tidak mungkin, sebab kalau pergi mencari daun obat sudah tentu membawa keranjang-keranjang atau alat-alat yang diperlukan, sedangkan alat-alat itu masih terdapat di atas dinding. Oleh karena itu suhunya juga tidak mungkin pergi untuk memetik daun obat. Berpikir demikian, dengan cepat Touw Liong membalikkan dirinya dan keluar dari gubuk. Di belakang gubuk terdapat sebuah gundukkan tanah, itu merupakan satu makam yang belum lama, di situ terdapat sebuah batu nisan. Di atas batu nisan itu ditulis suatu katakata. MAKAM KIU-HWA LOJIN, sedangkan di bawahnya ditulis dengan kata-kata. KANG KIE DARI GOLONGAN PAK-BONG. Dua baris huruf yang sangat singkat itu, seolah-olah geledek yang menyambar di kepala Touw Liong, hingga seketika itu ia lantas rubuh di hadapan makam sambil berlutut dan menangis tersedu-sedu. Suara tangisan itu sangat memilukan hati, semakin lama suaranya semakin hampir tidak kedengaran, suaranya semakin hampir tidak kedengaran, suaranya juga sudah mulai serak. Pada akhirnya oleh karena terlalu sedih hingga ia jatuh pingsan di depan makam. Hanya dalam waktu yang sangat singkat setengah bulan saja, ia telah mengalami kematian dua orang tua yang menyedihkan hatinya. Entah berapa lama di dalam keadaan demikian, ketika ia sadar kembali dan merangkak bangun dari depan kuburan, ia mulai memikirkan dan hendak mengusut sebab-sebab kematian suhunya. Ia tahu bahwa orang yang mengetahui sebab kematian suhunya mungkin hanya Kang Kie seorang.

"Kang Kie!"

Demikian ia berkata kepada diri sendiri.

Kang Kie adalah anak muridnya Hui Eng.

Sudah tentu merupakan salah seorang murid dari golongan Pak-bong.

Dia itu mungkin adalah pemuda yang mempunyai nama julukan Pelajar Seribu Muka yang wajahnya mirip dengan ia sendiri, juga yang dianggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri.

Dia!

Sekarang kemana dia pergi?

Mungkin karena sewaktu bertanding dengan Pek Thian Hiong di markas Pak-bong-san, ia terluka oleh serangan Pek Thian Hiong, sehingga luka parah.

Ketika itu ia lari ke dalam goa, maksudnya tentu hendak minta kepada Hui Eng menyembuhkan lukanya, tetapi karena jalanan ke goa kuno itu banyak liku-likunya, mungkin dia kesalahan ingat tujuannya, sehingga keluar lagi dari goa.

Ada kemungkinan juga, dia jatuh pingsan lagi di luar goa dan dapat ditolong oleh Lo Yu im yang mengikuti jejaknya.

Mungkin dari situ ia dibawa ke gunung Kiu-hwa, dan setelah tiba di gunung Kiu-hwa terjadi perubahan, hingga ia membuatkan suhunya batu nisan di atas kuburannya....

Semakin dipikir, dianggap bahwa pikirannya itu benar.

Ia tahu bahwa saat itu kalau ia hendak menyelidiki sebab kematian suhunya, satu-satunya jalan ialah pergi mencari Kang Kie.

Tetapi kemana Kang Kie pergi?

Kemungkinan yang paling besar ialah dibawa pulang ke gunung Kun-lun-san oleh Lo Yu Im.

Untuk melakukan perjalanan ke gunung Kun-lun, bagi Lo Yu Im sudah tentu bukan soal apa-apa.

Tetapi apakah sebab sebetulnya yang menyebabkan kematian suhunya?

Andaikata ketemu dengan musuh besar misalnya, siapakah musuh besar itu?

Sebab dalam rimba persilatan dewasa ini, kalau dihitung-hitung orang yang kekuatannya dapat mengimbangi kekuatan Kiu-hwa Lojin dapat dihitung dengan jari.

Kecuali Panji Wulung yang merupakan diri nenek tua yang berkerudung itu, Ngo-gak Sin-kun dan Pek Thian Hiong, yang lain-lainnya tidak mungkin dapat menandingi kepandaian suhunya.

Sekalipun ketemu dengan musuh lamanya, tetapi menghadapi Kiu-hwa Lojin boleh dikata hampir tidak berdaya sama sekali.

Karena mengingat bahwa musuhnya yang dapat membinasakan suhunya sudah psti merupakan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa, maka ia telah mengambil keputusan bahwa mulai saat itu ia akan berdiam di dalam gunung Kiu-hwa tiga bulan lamanya untuk menunggui makam suhunya, selama tiga bulan itu ia akan mempelajari beberapa ilmunya yang baru ditemukan.

--Waktu tiga bulan dengan cepat sudah dilalui.

Touw Liong setiap hari di waktu siang dengan tekun mempelajari pelajaran-pelajaran dalam kitab dan di waktu malam ia bersemedi untuk memperkuat kekuatan rohaninya.

Selama tiga bulan itu ia sudah berhasil mempelajari ilmunya yang tidak ada taranya ialah Thay-it-sing-kang.

Tay-it-cin-kang digabung dengan ilmunya dahulu, ilmu Membuka Pintu Langit, membuat Touw Liong merupakan seorang yang hampir sukar dicari tandingannya.

Meskipun waktu mempelajari ilmu itu sangat singkat, tetapi sudah cukup baginya untuk mengimbangi kekuatan orang-orang yang terkuat dalam rimba persilatan pada dewasa itu.

Kini ia perlu turun gunung.

Dengan perasaan berat ia meninggalkan tempat yang pernah didiami sejak masih kanak-kanak.

Cinta, sayang dan perasaan terhadap Kiuhwa Lojin hampir seperti ayahnya sendiri.

Sebabnya ialah sejak masih anak-anak ia dipungut dan dibesarkan oleh Kiuhwa Lojin, perhubungan semacam itu sudah merupakan perhubungan antara ayah dengan anak.

Setelah meninggalkan gunung Kiu-hwa, tujuannya yang pertama sudah tentu menuju ke gunung Kun-lun-san.

Di sana ia hendak mencari jejak Kang Kie.

Lima hari kemudian, ia harus melewati kembali tembok kota Keng-siang.

Touw Liong tiba-tiba teringat beberapa soal....

Kesatu, dari pelbagai petunjuk yang didapatkan, Kang Kie kemungkinan besar adalah saudara sekandung sendiri, menurut ucapannya dengan Pek Thian Hiong ketika berada di markas Pak-bong-pay, Kang Kie pernah melakukan pembunuhan terhadap sebelas orang kuat, tap perbuatannya itu semata-mata hanya menuntut balas.

Jikalau Kang Kie itu adalah saudara sekandungnya sendiri, maka Bu-tongpay dengan sendirinya juga merupakan musuh besarnya.

Kedua, Thay-it-cin-keng semula memang menjadi milik Bu-tong, sudah seharusnya kalau ia pergi ke Bu-tong-san untuk menjernihkan persoalan itu.

Ketiga, orang dari golongan Bu-tong-pay apakah tidak ada kemungkinan lantaran salah satu sebab pergi menyerang suhunya Kiu-hwa Lojin?

Begitu mengingat persoalannya dengan Bu-tong-pay, maka ia lalu merubah tujuannya semula, kini ia menuju ke gunung Bu-tong.

Kota Siang-yang meskipun masih terpisah jauh dengan Bu-tong-san tapi bagi orang-orang berkepandaian sangat tinggi seperti Touw Liong, jarak seperti itu bukan soal apaapa.

Ia hanya menggunakan waktu perjalanan satu hari sudah tiba di gunung Bu-tong.

Hari kedua, ketika tengah hari, udara cerah, Touw Liong dengan membawa pedang Khun-ngo-kiamnya yang merupakan pedang pusaka tidak ada taranya dalam rimba persilatan, tiba di kuil Cin-bu-tian di kaki gunung Bu-tongsan.

Dari dalam kuil itu lompat keluar delapan imam yang usianya sudah pada setengah umur.

Imam itu masing-masing menyoren sebilah pedang panjang yang sangat menyolok.

Delapan imam itu dengan delapan bilah pedangnya lantas mengurung Touw Liong, satu di antaranya lantas menegurnya dengan suara geram.

"Apakah sicu tidak tahu aturan gunung ini, hingga kau berani masuk dengan kekerasan?"

Touw Liong menyapu delapan imam itu sejenak, tampak delapan imam itu semuanya menunjukkan sikap galak dan keren, tidak seperti orang-orang dari golongan Budha, maka dalam hati agak mendongkol, dengan suara dingin bertanya.

"Peraturan apa?"

Delapan imam itu juga tak menjawab, hanya memainkan pedangnya, hingga pedang itu menimbulkan angin hebat dan sinar yang berkilauan, memang benar tampangnya sangat menakutkan.

Apalagi di bawah sinar matahari, sinar pedang itu berkilauan menusuk mata.

Touw Liong membiarkan delapan imam itu memainkan pedangnya di hadapan matanya, sedikitpun tidak bergerak.

Satu di antaranya yang usianya agak tua, dengan nada suara mengejek berkata.

"Percuma saja kau membawa-bawa pedang, sedangkan peraturan golongan kita yang turun-temurun selama seratus tahun kau belum mengerti. Jadi apa perlunya kau masih berani mendaki gunung Bu-tong?"

Imam itu berhenti sejenak, kemudian berkata kepada seorang imam yang berada di sampingnya.

"Turunkan pedangnya."

Imam itu menerima baik perintah itu, kemudian dengan satu tangan menenteng pedang, tangan yang lain hendak menurunkan pedang dari punggung Touw Liong.

Sebagai orang keturunan golongan Kiu-hwa, bagaimana ia tidak tahu peraturan gunung Bu-tong-san?

Golongan Butong-san pada dua tiga ratus tahun berselang karena kepandaiannya yang paling tinggi telah menjagoi rimba persilatan.

Dalam suatu pertandingan besar antara orangorang dari pelbagai golongan, Bu-tong-pay berhasil merebut juara dan mendapat tanda kepercayaan yang disebut Citliong-leng.

Selanjutnya orang-orang rimba persilatan untuk menghormat kepada Beng-cu, maka mulai saat itu bagi setiap orang yang hendak mendaki gunung Bu-tong-san, begitu tiba di kuil bawah bukit Bu-tong harus menurunkan pedangnya.

Lama kelamaan, ketentuan itu dianggap suatu peraturan bagi Bu-tong-pay, maka di bagian masuk di kuil itu, di atas sebuah batu besar ditulis kata-kata dengan huruf besar, yang maksudnya ialah TEMPAT UNTUK MENANGGALKAN PEDANG, suatu pemberitahuan bagi orang-orang rimba persilatan, supaya di situ menanggalkan pedangnya, barulah boleh mendaki gunung.

Tetapi Touw Liong yang hari itu mendaki gunung Butong-san ada sedikit kecualian, sebabnya ialah jikalau benar Bu-tong-san ada menjadi musuhnya karena membunuh ayahnya, maka menurunkan pedang terhadap musuh, itu bukanlah seharusnya.

Bagaimana nanti jika ketemu suhunya di alam baka?

Sebab lain dan yang lebih penting ialah pedang yang dibawa Touw Liong adalah sebilah pedang luar biasa yang dibuat incaran oleh orang-orang rimba persilatan, maka diam-diam ia sudah mengambil keputusan, pedang itu tak akan sembarangan ditunjukkan di depan mata orang, kecuali jika ketemu dengan musuh besar atau musuh tangguh, jika tidak, ia tak akan menggunakan pedang pusaka itu secara sembarangan.

Ketika orang itu hendak mengulurkan tangannya untuk menurunkan pedangnya, Touw Liong lantas berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

"Tunggu dulu sahabat?"

Tangan imam yang diulurkan itu terkatung di tengah udara, dan ia balas bertanya sambil tertawa dingin.

"Apakah sicu hendak menurunkan sendiri?"

Touw Liong mengangguk dan berkata.

"Sudah tentu! Sudah tentu! Bagaimana aku berani merepotkan totiang?"

Meskipun mulutnya mengatakan hendak menurunkan sendiri, tetapi ia sedikitpun tidak bergerak, sehingga imam itu menjadi naik darah, dan berseru padanya.

"Mengapa kau tidak turunkan?"

"Sudah tentu akan kuturunkan! Aku hanya menunggu seseorang, apabila orang tiba, aku akan menurunkan sendiri, dengan kedua tanganku aku akan serahkan kepada dia,"

Berkata Touw Liong yang masih tetap tertawa. Imam yang usianya lebih tua berkata dengan suara dingin.

"Sicu tunggu siapa?"

"Ciangbunjin kalian!"

Jawab Touw Liong dengan sungguh-sungguh.

"Ciangbunjin kami?"

Berkata imam yang usianya lebih tua itu sambil menatap Touw Liong. Setelah itu ia tertawa terbahak-bahak dan berkata pula.

"Sombong benar perkataanmu!"

Bab 32 Imam itu kembali tertawa terbahak-bahak kemudian bertanya pula.

"Ada hubungan apa Ciangbunjin kami dengan kau?"

"Tidak ada,"

Jawab Touw Liong.

"Apakah sahabat lama?"

"Bukan."

Imam itu sudah tak dapat mengendalikan hawa amarahnya, kata-katanya juga diucapkan dengan nada suara keras.

"Kalau begitu kedatanganmu ini sengaja mencari onar! Hm! Dengan orang seperti cecongormu ini juga ada muka untuk bertemu dengan Ciangbunjin kami?"

"Haa..."

Touw Liong yang sudah marah memperdengarkan suara tertawanya.

Tertawa itu sungguh hebat, hingga delapan imam yang tadi memandang rendah dirinya ketika mndengar suara ketawa Touw Liong pada berubah wajahnya.

Semula para imam itu mengeluarkan keringat di jidatnya, gigi mereka pada bergeretakkan, agaknya sedang menderita sangat hebat, dan pada akhirnya, mereka sudah tidak sanggup bertahan lagi, sehingga pada lari serabutan mendekap telinga dan kepalanya.

Mereka lari jauh-jauh bersembunyi ke dalam kuil, dan tidak berani unjuk muka lagi.

Imam yang tadi sikapnya sangat galak-galak, kini satupun tidak berani berkutik.

Touw Liong yang sesungguhnya sudah marah, bahkan kemarahannya itu merupakan kemarahannya yang paling besar selama ia berkelana di dunia Kang-ouw, semua itu disebabkan karena makian para imam tadi yang sungguh sangat menyinggung perasaannya.

Touw Liong berbuat demikian, bukanlah hendak menunjukkan kehebatan tenaga dalamnya, maka sesudah merasa puas, dengan langkah lebar ia melalui batu tanda pemberitahuan itu, dengan melalui jalan di atas gunung, langsung menuju ke markas Bu-tong-pay.

Ia berjalan belum berapa langkah, kuil di bawah bukit tadi, memperdengarkan suara tanda bahaya yang sangat riuh, suara itu disusul satu demi satu sehingga menggema di seluruh gunung.

Touw Liong berpaling, menengok kuil di bawah bukit tadi, ia bahkan tertawa merasa bangga.

Katanya.

"Kalian ini sebetulnya mencari penyakit sendiri, berlaku demikian congkak?"

Suara tanda bahaya di kaki gunung baru berhenti, dari kuil di puncak gunung terdengar suara genta, genta itu menggema di tengah udara sekian lama.

Suara genta semacam itu, dalam sejarah Bu-tong-pay jarang sekali dibunyikan.

Touw Liong tahu bahwa suara genta itu sangat aneh, dan di luar kebiasaan, tetapi keadaan sudah menjadi demikian rupa ia juga tak menghiraukan lagi.

Genta tua itu berbunyi sembilan kali, dan sembilan lagi dengan beruntun sembilan kali sembilan.

Di atas Bu-tongsan, dalam waktu sekejap seolah-olah kedatangan musuh besar.

Para imam dari atas sampai ke bawah diliputi oleh nafsu pembunuhan.

Touw Liong dengan langkah lebar, dan membusungkan dada berjalan tiba di perut gunung, ia berhenti di hadapan sebuah kuil yang tidak terhitung kecil.

Dari jauh Touw Liong sebetulnya sudah melihat gelagat tidak beres, tetapi ia lihat bahwa di pintu kuil itu terpancang papan merek yang ditulis HIAN THIAN TIAN, di lapangan yang berada di bagian depan, berdiri banyak orang.

Orang-orang itu semuanya terdiri dari para imam, di tangan masing-masing membawa pedang panjang yang berkilauan.

Usia para imam itu ada yang tua juga ada yang muda, jubah mereka terdiri dari berbagai warna, ada yang hitam ada yang hijau, kuning, dan merah.

Imam yang berjubah warna merah hanya seorang saja, begitu juga yang berjubah warna kuning juga seorang saja.

Touw Liong begitu melihat imam berjubah warna kuning itu, buru-buru menurunkan pedangnya dan diserahkan dengan kedua tangan.

Para imam yang berdiri berbaris di kedua samping, meskipun jumlahnya ratusan jiwa, tetapi mereka menjadi kalut.

Imam berjubah merah yang berdiri di tengah-tengah, sedangkan di samping kiri imam berjubah merah itu seorang imam tua berjenggot putih berjubah kuning, tangan imam itu memegang kebutan.

Meskipun usianya sudah lanjut tetapi nampaknya masih sangat gagah dan sikapnya masih sangat agung!

Dari bawah imam berjubah kuning, berturut-turut ada berdiri imam berjubah hijau, hitam dan coklat.

Para imam itu pada berdiri dengan sikap tenang, hanya mata mereka memandang Touw Liong tanpa berkedip.

Sesaat ketika Touw Liong menginjakkan kakinya di tengah lapangan, di antara banyak imam tua itu, imam berjubah merah itu tampak sangat marah, dengan nada suara dingin ia berkata.

"Sicu orang dari mana? Bagaimana berani memandang rendah kepada golongan kami, dan berani mendaki gunung dengan membawa pedang?"

Imam yang berbicara itu mulutnya tajam, usianya sudah enampuluh tahun ke atas, sinar matanya tajam.

Dengan sinar matanya yang tajam itu memandang Touw Liong dari atas sampai ke bawah.

Baik sikap maupun nada suara imam itu nampaknya sangat sombong, hingga Touw Liong yang mendengarkan merasa tidak senang.

Meskipun dalam hati Touw Liong merasa tidak senang, tetapi sebagai murid golongan partay ternama, harus pegang teguh peraturan.

Ia tidak buru-buru menjawab, sebaliknya dengan tergesa-gesa berjalan ke hadapan rombongan banyak orang itu, dan lantas berhenti sejarak lima tombak, dengan kedua tangannya menyongsong pedang, ia membungkukkan dirinya ke hadapan imam berjubah merah, kemudian berkata.

"Ketua golongan Kiu-hwa generasi kedua, TOUW LIONG, atas kelancangan yang mendaki gunung Bu-tong, harap supaya ciangbunjin memaafkan sebesar-besarnya."

"Ciangbunjin golongan Kiu-hwa generasi kedua...?"

Demikian imam berjubah merah balas bertanya sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian ia berkata pula.

"Siapa yang mengangkat kau?"

Pertanyaan imam itu bagaikan pedang tajam menusuk ulu hati Touw Liong, sehingga membangkitkan kemarahannya.

Saat itu darahnya dirasakan bergolak hampir saja meledak.

Kemarahan Touw Liong sudah sampai di puncaknya, kalau ia memikirkan sakit hati suhunya, memikirkan suhunya pada empatpuluh tahun berselang, oleh karena perbuatan Ngo-gak Sin-kun yang menimbulkan huru-hara di gunung Bu-tong, dan ia harus turun tangan untuk membela keutuhan Bu-tong-pay, dalam pertempuran itu ia berhasil mengusir Ngo-gak Sin-kun.

Imam berjubah merah itu adalah ketua golongan Bu-tong yang sekarang, gelarnya It-tiem totiang.

Touw Liong marah kepada It-tiem, karena perkataan It-tiem yang menyakitkan hati dan menyinggung perasaan.

Menurut aturan, setelah Touw Liong mengatakan dirinya sebagai ketua generasi kedua dari golongan Kiu-hwa, ia seharusnya sudah mengerti kalau Kiu-hwa Lojin sudah mangkat.

Ittiem dengan kedudukannya sebagai ciangbunjin, atau ketua golongan Bu-tong-pay, seharusnya ia mengenal budi dan kebaikan orang, seharusnya ia menghibur beberapa patah kata kepada Touw Liong.

Tak disangka ia bukan saja tidak menghibur, malah mengejek dan memaki Touw Liong, apakah itu tidak membangkitkan kemarahan Touw Liong?

Touw Liong yang sudah marah, selagi hendak bertindak, tiba-tiba melihat imam tua berbaju kuning itu maju selangkah dan memberi hormat kepada ciangbunjinnya seraya berkata dengan suara perlahan.

"Hamba ada sepatah dua patah kata hendak menanya kepada lotayhiap."

Touw Liong terpaksa menahan sabar, matanya dialihkan kepada imam tua berjubah kuning.

Kata-kata yang keluar dari mulut imam tua berjubah kuning tadi, seolah-olah sangat berwibawa, maka imam berjubah merah itu buru-buru menjawab sambil membungkukkan badan.

"Susiok, silahkan."

Imam tua berjubah kuning itu lalu berpaling dan memberi hormat kepada Touw Liong, setelah itu ia berbicara dengan nada suara sedih.

"Touw tayhiap! Bagaimana? Apakah suhumu sudah mangkat?"

Mendengar pertanyaan itu, mata Touw Liong berkacakaca, ia maju beberapa langkah menghampiri imam tua itu, kemudian jatuhkan diri berlutut di hadapannya, dan menjawab dengan nada suara sedih.

"Boanpwee seorang murid yang tidak berbakti, ketika urusan boanpwee melakukan perjalanan ke gunung Pakbong-san, suhu telah mangkat hingga tidak dapat menyaksikan dan mengurus sendiri jenasah suhu."

"Oh?"

Demikian imam tua berjubah kuning mengeluh, lalu mendongakkan kepala memandang awan-awan di langit, setelah itu ia menarik napas panjang, dan terkenang kembali pada kejadian di masa yang lampau.

Empat puluh tahun berselang, waktu itu Ngo-gak Sin-kun setelah melakukan pembakaran penyimpanan kitab di gereja Siaolim-sie, lalu mengirim utusan ke Bu-tong-san untuk mengirim surat tantangan.

Waktu itu, oleh karena kekuatan Bu-tong-pay sudah banyak berkurang, sebab dalam pertempuran perebutan kitab Thay-it-cim-keng dengan Tiga Garuda dari golongan Pak-bong, banyak dari tujuh pahlawannya yang terluka atau meninggal dunia, hanya tinggal ciangbunjinnya Giok-ceng-cu dan lima sutenya Thian-hian-cu yang lukanya waktu itu masih belum sembuh, maka di dalam keadaan demikian, Bu-tong-pay terpaksa mengirim orang dengan membawa surat ketua Giok-ceng-cu ke gunung Kiu-hwa.

Kiu-hwa Lojin setelah menerima surat itu buru-buru pergi ke gunung Bu-tong.

Apa mau, ketika Kiu-hwa Lojin tiba di gunung Bu-tong, Ngo-gak Sin-kun sudah mengobrakabrik sedemikian rupa kuil Bu-tong-san.

Kuil yang merupakan markas besar Bu-tong-pay sudah terbakar musnah, masih untung dalam peristiwa itu tak ada korban manusia.

Begitu Kiu-hwa Lojin tiba, Ngo-gak Sin-kun sangat marah, sementara itu Giok-cin-cu yang berhadapan sendiri dengan Ngo-gak Sin-kun, baru dua jurus sudah dikalahkan.

Kiu-hwa Lojin segera turun tangan, ia menerangkan kepada Ngo-gak Sin-kun bahwa ia sanggup menyambuti serangan lima jurus dari Ngo-gak.

Apabila Ngo-gak yang menang, ia boleh berbuat sesuka hatinya, tetapi apabila kalah, ia harus berlalu dari situ, dan selanjutnya tak boleh lagi mengganggu partay Bu-tong.

Dalam pertandingan itu Kiu-hwa Lojin menggunakan ilmunya yang terampuh Kiu-hwa sin-kiam.

Dengan ilmunya itu ia dapat menyambuti serangan Ngo-gak Sinkun yang orang lain tidak sanggup menyambuti.

Selesai pertandingan, Kiu-hwa Lojin sudah merasa letih sekali, jika pertandingan dilangsungkan, dia pasti akan kalah.

Oleh karena sudah ditetapkan di muka, maka Ngogak Sin-kun terpaksa berlalu sambil menggertek gigi.

Dengan demikian, Bu-tong-san juga terjamin keselamatannya.

Bu-tong-pay karena merasa menanggung budi besar kepada Kiu-hwa Lojin, maka menghadiahkan Kiu-hwa Lojin suatu kehormatan yang tertinggi.

Setiap anak murid Kiu-hwa Lojin, di kemudian hari apabila mendaki gunung Bu-tong boleh langsung menuju ke pendopo Sam-ceng-tian dengan membawa pedang, tidak terikat peraturan yang harus menanggalkan pedang sebelum mendaki gunung.

Orang-orang rimba persilatan yang mendapat kehormatan seperti itu jumlahnya tidak banyak, waktu itu hanya dua orang saja, kecuali Kiu-hwa Lojin, yang lain adalah ketua dari Siau-lim-pay.

Dan imam tua berjubah kuning itu justru Thian-hiang-cu yang pada empat puluh tahun berselang pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika Ngo-gak Sinkun menguasai pendopo Sam-ceng-tiam.

Teringat jasa Kiu-hwa Lojin yang berhasil menyelamatkan Bu-tong-pay dari malapetaka, imam tua berbaju kuning itu mengucurkan air mata.

Dengan hati sedih ia membangunkan Touw Liong.

"Susiok!"

Demikian It-tiem maju menghampiri, memanggilnya dengan nada suara tidak senang.

"Ciangbunjin ada keperluan apa?"

Bertanya Thian-hiancu sambil berpaling.

"Tit-jie ada suatu permintaan yang kurang patut, bocah she Touw ini...."

Thian-hian-cu mengulurkan tangannya, melarang Ciangbunjin itu melanjutkan kata-katanya. Ia berkata sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Sebagai murid, harus melanjutkan tugas gurunya, begitu pun jasa-jasanya. Touw tayhiap sudah menjadi ciangbunjin generasi kedua golongan Kiu-hwa, ia berhak mendaki gunung dengan membawa pedang."

Kata-kata Thian-hian-cu ini jelas membela kedudukan Touw Liong. It-tiem totiang menunjukkan sikap kurang senang. Ia membantah ucapan Thian-hian-cu, katanya.

"Sepuluh partay dalam rimba persilatan belum pernah dengar ada golongan Kiu-hwa termasuk di dalamnya, maka orang she Touw ini belum boleh terhitung sebagai ciangbunjin. Ia secara lancang mendaki gunung membawa pedang, bagaimanapun juga kita tidak boleh tinggal diam."

Thian-hian-cu terpaksa diam.

Jelas bahwa ucapan tadi membuat tidak senang kepada sutitnya yang kini menjabat ketua golongan Bu-tong.

Karena ia mengingat bahwa It-tim meskipun tingkatannya sebagai sutit, kemenakan dalam seperguruan, tetapi karena kedudukannya sebagai ketua, maka ia tidak berani membantah.

Ia buru-buru menundukkan kepala dan berdiri tegak kemudian ia balik kembali ke rombongannya.

It Tiem melihat susioknya sudah menyerah wajahnya menunjukkan perasaan bangga.

Ia perdengarkan suara tertawa dingin kepada Touw Liong, kemudian berkata.

"Bawa kemari! Serahkan pedangmu! Kemudian, hmmm! Dengan memandang muka gurumu, kuperintahkan kau segera meninggalkan gunung ini."

Meskipun Touw Liong bersifat baik, tetapi karena kelakuan It Tiem yang kurang ajar terhadap suhunya dan tidak mengenal budi orang, maka saat itu hawa amarahnya lantas timbul.

Ia mendongakkan kepala dan mengeluarkan siulan panjang, dengan satu tangan menggenggam gagang pedang, dan satu tangan menggenggam sarungnya, ia hendak menghunus keluar pedang pusakanya.

It Tiem seolah-olah tidak sadar, ia miringkan kepala, sesaat kemudian delapan imam berbaju hijau berputaran dengan pedangnya dan maju mengurung Touw Liong.

Suasana menjadi gawat, Touw Liong sudah tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, dengan tiba-tiba melihat jenggot perak dari Thian-hian-cu, hingga hatinya lemas kembali.

Ia menarik napas panjang sementara dalam hatinya berpikir.

Apakah aku boleh menempatkan kedudukan yang menyulitkan bagi imam tua ini?

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, katanya perlahan-lahan.

"Semua orang dari rimba persilatan tahu bahwa Kiu-hwa masih merupakan sedarah daging dengan golongan Thiansan, dan kini golongan Thian-san sudah mulai rontok, sehingga kedudukannya diteruskan oleh Kiu-hwa, ini memang sudah selayaknya dalam rimba persilatan. Sewaktu suhu masih ada, baik ilmu kepandaiannya maupun kepribadiannya, semua berada di atas sepuluh partay. Oleh karena suhu tiada maksud untuk menjagoi di dunia Kangouw, maka suhu jarang sekali menyampuri urusan dunia Kang-ouw, hal ini merupakan suatu kenyataan. Kalau mau dikatakan bahwa Kiu-hwa tidak termasuk salah satu partay, kalau begitu aku numpang tanya kepada totiang, ilmu pedang Kiu-hwa kiam-hwat dari golongan kami, itu keluaran dari golongan mana?"

It Tiem totiang tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Semua orang rimba persilatan, siapa yang tidak tahu bahwa ilmu pedang Kiu-hwa kiam-hwat gurumu berasal dari ilmu pedang Bwan-leng-kim-kwat-kiam-hwat dari golongan Thian-san!"

"Apakah Thian-san termasuk dalam sepuluh partay yang totiang maksudkan?"

Bertanya Touw Liong.

Pertanyaan itu telah membuat It Tiem diam tidak sanggup menjawab.

Ini disebabkan karena golongan Thiansan pada seratus tahun berselang sudah terhitung salah satu partay besar dalam rimba persilatan.

"Totiang ternyata seorang yang kurang pengetahuan, pantas! Pantas! Semua orang rimba persilatan tahu, kami golongan Kiu-hwa, sebaliknya totiang berpendirian lain, dan tidak kenal, ini benar-benar sangat mengherankan orang,"

Berkata Touw Liong sambil tertawa.

Kata-kata Touw Liong itu sangat pedas, maka It-tiem sesaat itu mendapat malu besar.

Dalam murkanya maka ia berlaku nekad, ia berkata sambil tertawa dingin berulangulang.

"Sekalipun kalian orang-orang golongan Kiu-hwa, dalam rimba persilatan mendapat satu kedudukan, kau orang she Touw kalau menjabat sebagai ketuanya, sudahkah kau memberitahukan kepada rimba persilatan?"

Touw Liong mengertilah, bahwa imam itu memang sengaja mencari onar.

Ia juga tak mau meladeni orang semacam itu.

Kenyataannya ketika Kiu-hwa Lojin wafat, Touw Liong justru berada di gunung Pak-bong.

Dari tempat yang begitu jauh, sedangkan kematian suhunya saja masih belum tahu, bagaimana harus memberitahukan kepada dunia rimba persilatan?

"Touw Liong kali ini mendaki gunung Bu-tong justru hendak memberitahukan kepada semua partay dan golongan rimba persilatan, dan mengabarkan mangkatnya suhu kepada totiang sekalian.

Kenyataannya memang begitu, aku tidak suka banyak membantah, terserah bagaimana anggapan totiang.

Bagaimanapun juga pedang di atas punggungku ini, jika aku tak suka menyerahkan, apakah totiang hendak...?"

It-tiem perlihatkan tertawa iblisnya, ia memotong perkataan Touw Liong.

"Pada dewasa ini, kecuali bintang di atas langit yang kita tak bisa mengambil, jangankan hanya sebilah pedang di atas punggung sicu, sekalipun batok kepala sicu, pinto yakin juga bisa mengambilnya."

Betapapun sabarnya Touw Liong, juga tidak sanggup menerima kata-kata It-tiem yang keterlaluan itu, maka sesaat itu lantas naik darah, ia berseru.

"Bagus!"

Dengan suara nyaring kemudian berkata.

"Aku orang she Touw ingin tahu apa yang Totiang bisa perbuat terhadapku?"

Ia berdiri di tempatnya dengan sikap gagah, sedikitpun tidak bergerak.

Sepasang mata It-tiem memancarkan sinarnya yang tajam dan dingin, terus berputaran pedang di atas punggung Touw Liong.

Dengan tiba-tiba ia mengebut-ngebutkan lengan jubahnya, delapan imam berbaju hijau segera bergerak untuk kembali ke tempatnya.

It-tiem melambaikan tangannya, seorang kacung berbaju hijau muncul dari rombongan imam, dengan sepasang tangan ia menyerahkan sebuah pedang kuno kepada It-tiem sambil berlutut.

It-tiem dengan tangan memegang pedang, kemudian perintahkan kacung itu kembali.

Sambil membawa pedangnya, It-tiem menunjuk sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi ke langit, kemudian berkata.

"Di atas puncak gunung itu, ada makam suhu. Hari ini apakah kau da hak mendaki gunung dengan membawa pedang, apakah kau bisa undurkan diri dalam keadaan utuh? Biarlah arwah suhu yang menjadi saksi, kalau kau bisa mengalahkan aku, aku tak bisa berkata apa-apa, karena itu aadalah maksud suhu, It-tiem terpaksa menyerah, tetapi jikalau aku yang menang, tidak bisa lain, dengan menurut peraturan kami sejak seratus tahun, aku minta kau Touw tayhiap meninggalkan pedangmu."

Touw Liong menerima baik perjanjian itu.

It-tiem lalu mengibaskan tangannya, rombongan imam itu pada bubaran hanya tinggal imam tua berbaju kuning yang masih berdiri di tempatnya tidak bergerak.

Touw Liong berjalan menghampiri, memberi hormat kepada imam tua itu seraya berkata.

"Harap locianpwe pinjamkan pedang locianpwee untuk boanpwee pakai!"

Thian-hian-cu menyerahkan pedangnya kepada Touw Liong sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Bocah ini seorang yang jujur, tidak kalah dengan gurunya. Dalam suasana begini sekalipun dihina demikian rupa, ia masih tidak lekas menggunakan pedang pusakanya sendiri untuk menghadapi lawan...."

Pedang pusaka Khun-ngo-kiam di punggung Touw Liong adalah pedang pusaka luar biasa.

Sebagai pedang pusaka sudah tentu ada tanda-tandanya, sedikit saja keluar dari sarungnya, menimbulkan sinar berkilauan, meskipun bagi orang lain dianggapnya biasa saja, tetapi bagi seorang ahli pedang kenamaan seperti Thian Yan Cu, segera dapat mengenali barang pusaka itu.

Selagi Thian Yan Cu masih memikiri pemuda itu, It-tiem dan Touw Liong sudah bergerak meninggalkan kuil, lari menuju ke puncak gunung tertinggi.

Maka imam tua itu hanya dapat mengawasi berlalunya dua orant itu sambil menghela napas.

--Di atas puncak gunung yang ditunjuk oleh It-tiem tadi diliputi oleh kabut tebal.

Puncak gunung yang menjulang tinggi ke langit, keadaannya sangat berbahaya.

Puncak itu tidak begitu luas, hanya kira-kira tiga bau saja.

Di bagian utara terdapat sebuah makam, di atas batu nisannya tertulis dengan beberapa huruf, yang menunjukkan bahwa makam itu adalah makam Giok Ceng Cu, ketua generasi kedua belas dari partay Bu-tong-pay.

Di kedua sisi makam itu terdapat dua buah bangunan batu.

Di sebelah selatan ada kira-kira sepuluh lebih pohon cemara.

Tempat itu keadaannya rindang, di bawahnya tumbuh rumput tebal.

Sedang di hadapan makam itu terdapat sebidang tanah rumput yang cuup luas.

It-tiem yang lebih dahulu tiba di puncak gunung itu, begitu tiba lalu langsung menuju ke depan makam.

Tindakannya disusul oleh Touw Liong, maka keduanya lalu berlutut ke hadapan makam.

Setelah selesai sembahyang, It-tiem melompat bangun dengan membawa pedangnya.

Tanpa berkata apa-apa, ia sudah mulai membuka serangannya dengan satu gerak tipu yang belum pernah dilihat oleh Touw Liong.

Touw Liong sangat terperanjat, sehingga mengeluarkan seruan di mulutnya.

It-tiem berkata sambil tertawa mengejek.

"Orang she Touw! Sebaiknya kau mengunakan pedangmu sendiri, sebab ilmu pedangku ini tak ada duanya di dalam dunia. Begitu kumainkan, kau barangkali tidak dapat mempertahankan kepalamu sendiri."

Kata-kata It-tiem itu seolah-olah sudah memastikan bahwa Touw Liong pasti akan mati di bawah serangan pedangnya.

Touw Liong yang beradat tinggi hati dan keras kepala, ketika mendengar ucapan jumawa It-tiem tadi, ia malah tidak mau menggunakan pedang pusakanya sendiri, sebab jikalau ia berbuat demikian, sekalipun menang juga akan menjadi tertawaan lawannya, dikatakannya kemenangan itu karena mengandalkan senjatanya yang tajam.

Selain daripada itu, hingga saat itu ia masih belum tahu benar perangai dan kelakuan It-tiem, setidak-tidaknya It-tiem masih belum merupakan seorang yang terlalu jahat dan tidak boleh diampuni dosanya.

Maka ia tidak mau menggunakan pedang saktinya untuk menghadapi lawannya.

Touw Liong dengan pedang di tangan, setelah mengetahui lawannya sudah siap, iapun menyiapkan diri dengan gerakan pembukaan dari golongan Kiu-hwa.

Setelah itu ia mempersilahkan It-tiem melakukan serangan lebih dahulu.

It-tiem memperlihatan ketawa iblisnya, sepatah katapun tidak menjawab, dengan tangan kiri menuding Touw Liong, dan pedang di tangan kanan secepat kilat sudah menyerang Touw Liong.

Serangannya itu dilihat sepintas lalu hanya merupakan suatu gerakan biasa saja, sebetulnya di dalamnya mengandung banyak sekali perubahan, dari satu gerakan bisa berubah menjadi tiga, tiga berubah lagi menjadi sembilang, dan demikian seterusnya.

Seolah-olah meluncurnya air sungai, hingga membuat Touw Liong terdesak dan terpaksa mundur berulang-ulang, dengan pedangnya ia berusaha menutup dan melindungi diri sendiri, dengan demikian ia hanya berusaha dulu untuk memperkuat kedudukannya, sedikitpun tidak memperoleh kesempatan untuk melakukan serangan pembalasan.

Dengan tiba-tiba Touw Liong teringat gerak tipu yang digunakan oleh It-tiem itu bukanlah gerak tipu ilmu pedang dari golongan Bu-tong.

Ia mulai menganalisa setiap gerakan yang dilancarkan oleh It-tiem dari beberapa ahli pedang kenamaan dalam rimba persilatan.

Ilmu pedang seganas dan sekejam itu hanya terdapat dalam kitab Thay-it Cin-keng.

Hanya ilmu pedang itulah yang dapat disamakan dengan ilmu pedang yang digunakan oleh It-tiem.

Setelah mengetahui benar dari mana asal-usul ilmu pedang itu, maka ia lantas berseru.

"Thay-it Sin-kiam!"

It-tiem merasa sangat bangga mendengar disebutnya ilmu pedang itu, maka ia terbahak-bahak dan kemudian berkata.

"Tepat, Thay-it Sin-kiam, dalam rimba persilatan pada dewasa ini, merupakan ilmu pedang yang tidak ada taranya, hanya satu-satunya dan tak ada duanya."

Touw Liong karena dalam babak pertama itu sudah meleset perhitungannya, maka ia terdesak mundur dan tidak dapat membalas sama sekali tapi setelah mengetahui dari mana asal-usul ilmu pedang itu, ia buru-buru menggunakan ilmunya Thay-it Sin-kang kepada lengan tangan kanannya, lalu disalurkan ke ujung pedangnya dan dengan sangat hati-hati sekali ia menggunakan ilmu pedang perguruannya ialah ilmu pedang Kiu-hwa Kiam-hoat, untuk membendung serangan ganas lawannya.

Dalam hal ilmu silat, sedikit saja selisih, bisa menunjukkan perbedaan yang sangat besar.

Memang benar, Touw Liong sudah pernah mempelajari ilmu Thay-it Sin-kang, tetapi ilmu pedang Kiu-hwa kiam-hoat yang digunakan kalau dibanding dengan ilmu pedang Thay-it Sin-kiam, yang tersebut belakangan ini lebih unggul, baik keganasannya atau keistimewaannya.

Apalagi It-tiem yang sudah mempelajari bertahun-tahun, ia telah memainkan dengan baik sekali.

Betapapun hebatnya ilmu pedang yang digunakan Touw Liong, juga masih berbeda jauh.

Masih untung, ilmunya Thay-it Sin-kang sudah mempunyai latihan yang cukup sempurna, hingga untuk sementara ia masih sanggup menahan serangan It-tiem.

It-tiem setelah melakukan serangan yang hebat, ia telah mengetahui bahwa ilmu pedangnya yang luar biasa itu merupakan ilmu pedang tertinggi dalam rimba persilatan, maka seketika itu semangatnya lantas terbangun.

Katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bocah, apakah kau kuajak datang ke sini ini benarbenar untuk menghadap ke makam suhu untuk menentukan, hari ini kau akan meninggalkan pedang atau akan mengundurkan diri dalam keadaan utuh?"

Touw Liong diam saja tidak menjawab. It-tiem berkata pula.

"Ilmu pedangku ini telah kulatih dengan susah payah selama duapuluh tahun, barulah kulatih sempurna dengan secara diam-diam. Aku pernah bercita-cita, setelah ilmu pedangku ini berhasil, aku akan menggunakan kepala orang-orang yang pertama-tama menghadapi ilmu pedangku untuk menyembahyangi pedangku. Oleh karena itu, hari ini kau sudah ditentukan harus mati, sudah tak ada harapan untuk bisa hidup lagi. Kau jangan timbul pikiran bisa turun gunung dalam keadaan hidup."

Selama berbicara itu, ia sudah melancarkan serangannya lagi sampai lima jurus.

Touw Liong sudah tentu tidak berani berlaku gegabah, seluruh perhatiannya dipusatkan untuk menggunakan pedangnya guna memunahkan serangan lawannya.

Tetapi dia sekarang juga mengerti, bahwa It-tiem adalah seorang yang berjiwa kerdil.

Imam itu berhati licik, merupakan seorang yang sangat berbahaya.

Dengan secara diam-diam mempelajari ilmu pedang Thay-it Sin-kiam selama dua puluh tahun, di sini sudah dapat dilihat bahwa ilmu pedang yang termuat dalam kitab itu pada duapuluh tahun berselang sudah berada dalam tangannya, tetapi ia telah sembnyikan tanpa memberitahukan kepada kawankawannya bahkan kepada ciangbunjinnya waktu itu, dan suhunya sendiri Giok-ceng-cu juga tidak diberitahu, apalagi Thian-hian-cu sudah tentu semakin tidak tahu.

Apabila hal itu diketahui oleh mereka berdua sudah tentu It-tiem tak perlu mempelajari dengan secara diam-diam.

Touw Liong mengerti, bagaimana sifat It-tiem.

Oleh karena sudah mengetahui perangai imam itu, maka ia diamdiam mawas diri dan bertekad hendak menjatuhkan lawannya itu.

Baru saja ia mengambil keputusan demikian, It-tiem sudah berkata lagi sambil ketawa dingin.

"Jika aku menjadi kau, sudah tentu akan menggunakan pedang saktimu utuk melawan, perlu apa kau harus menyiksa dirimu sendiri?"

"Jika aku menggunakan pedang pusakaku ini, aku takut akan merusakkan pedangmu, dan totiang akan mengatakan bahwa aku tidak tahu diri."

"Mana! Betapapun tidak gunanya pinto, juga tak akan mengatakan kau kalau aku tidak sanggup menyambuti beberapa jurus ilmu pedang golongan Kiu-hwa yang tidak berarti itu. Jikalau kau tak percaya, boleh coba saja!"

Berkata It-tiem sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Baiklah!"

Berkata Touw Liong.

"Daripada menolak, sebaiknya kuiringi saja kehendakmu!"

Sehabis berkata, dengan pedangnya ia menutup jalan pedang lawannya, sedang tangan kirinya melancarkan serangan tenaga dalam yang sangat hebat, sehingga mendesak It-tiem mundur sampai tiga langkah.

Secepat kilat pedang di tangan kanan dipindahkan ke tangan kiri, dan tangan kanannya dengan cepat pula menghunus pedang pusakanya sendiri.

Sesaat pada waktu pedang Khun-ngo-kiamnya itu terhunus keluar, pedang itu memancarkan sinar yang berkilauan, dan pada saat itulah dalam tangan Touw Liong tampak pedang pusakanya yang buat pertama kali hendak dipergunakan.

"Sungguh hebat pedangmu ini!"

Demikian It-tiem memberikan pujiannya.

Dengan sebetulnya It-tiem menyuruh Touw Liong mengeluarkan pedang pusakanya, maksudnya ialah hendak melihat pedang apa yang dibawa oleh Touw Liong itu?

Kini setelah ia mengetahui pedang pusaka yang luar biasa itu, maka semakin bernafsu untuk menjatuhkan lawannya, agar dapat mengambil alih senjata Touw Liong yang tidak ada taranya itu.

Ia tahu bahwa ilmu pedang yang digunakan oleh Touw Liong merupakan ilmu pedang biasa dalam matanya, karena ia menganggap ilmu pedangnya sendiri sudah mencapai ke taraf yang tak ada taranya, maka ia tidak menghiraukan pedang apa yang digunakan oleh lawannya, oleh karenanya ia masih tak begitu khawatir untuk menghadapi pedang pusaka itu.

Bab 33 Setelah pedang dalam genggamannya tangannya, semangat Touw Liong berkobar lagi.

Sambil mengeluarkan siulan panjang, ia memutar pedangnya hingga menimbulkan hembusan angin dan percikan api, kemudian ia berkata dengan suara nyaring.

"Harap berlaku hati-hati, pedangku ini adalah pedang sakti yang dapat memapas segala besi bagaikan tanah, kuharap kau suka berhati-hati menjaga pedangmu!"

"Pedang pusaka perlu diimbangi dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, barulah sempurna dan tampak hebatnya. Meskipun kau memiliki pedang sakti di tangan, tapi aku menganggapmu sebagai memegang pedang yang terbuat dari besi rongsokan saja. Kau boleh mengeluarkan serangan sesuka hatimu, jangan kau simpan kepandaianmu, semua ilmu pedang golongan Kiu-hwa boleh kau keluarkan seluruhnya,"

Berkata It-tiem dengan nada suara dingin, juga mengandung hinaan dan memandang rendah kepada Touw Liong.

Touw Liong yang mendengar ucapan sombong imam itu, lantas naik darah, hingga sekujur badannya gemetaran.

Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan, pedang di tangan kirinya dilemparkan sejauh tujuh tombak lebih.

Tepat pada saat itu pedang It-tiem sudah menekan dirinya.

Ia lalu menggerakkan pedang pusakanya untuk menangkis serangan pedang lawannya yang sangat ganas.

Tangkisannya itu menimbulkan suara "sreeeg".

Percikan api semburat di sekitarnya, dan dua orang itu masingmasing mundur selangkah.

Dalam tangan It-tiem hanya menggenggam pedang yang sudah kutung.

Pedang pusaka di tangan Touw Liong meskipun tidak mendapat kerusakan apa-apa, tetapi lengan bajunya telah robek, sebagian bajunya terdapat banyak lubang oleh serangan pedang luar biasa dari It-tiem tadi.

Itu masih belum cukup, di beberapa bagian tangan Touw Liong sudah mengeluarkan darah, ini suatu bukti bahwa ia juga mendapat sedikit luka.

Touw Liong menghela napas, masukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya.

Di lain pihak, It-tiem setelah lompat mundur ia berdiri terpaku tidak bisa mengeluarkan suara.

Dalam pertempuran hebat itu kedua-duanya telah terluka.

It-tiem lebih unggul dalam ilmu pedangnya yang luar biasa, tetapi pedang di tangannya telah terbabat putung oleh pedang pusaka di tangan Touw Liong, maka sudah dihitung kalah.

Sebaliknya dengan Touw Liong, kekuatan tenaga dalamnya cukup sempurna, ditambah dengan pedang pusakanya yang tiada taranya, meskipun berhasil membabat putung pedang lawannya, tetapi ia sendiri robek lengan bajunya, bahkan mendapat sedikit luka, bagaimana kalau ia tidak merasa gentar?

Lama dalam keheningan, akhirnya It-tiem membuka mulut sambil tetap berdiri termangu-mangu.

"Pertandingan kita hari ini, hitung seri saja, di lain waktu apabila ada jodoh kita boleh melakukan pertandingan lagi, sekarang pergilah kau!"

Apa Touw Liong bisa kata?

Hanya mengucapkan apa yang perlu, setelah itu ia menghampiri pedang Thian-hiancu yang dilemparkan dan kini menancap di sebuah pohon cemara, setelah itu ia turun dari puncak gunung.

Kedatangannya itu disambut oleh Thian-hian-cu yang menunggu di bawah puncak.

Touw Liong mengembalikan pedangnya kepada imam tua itu.

Thian-hian-cu menghiburi padanya beberapa patah kata, setelah itu Touw Liong minta diri dan berlalu meninggalkan gunung Bu-tong.

Waktu itu ia berjalan menuju ke belakang gunung.

Ia juga tidak tahu kemana harus pergi, hatinya seolaholah dibebani oleh besi berat, ia sendiri juga tak tahu, perasaan itu suatu perasaan sedih atau apa?

Dengan menurut langkah kakinya, ia berjalan terus, dan tanpa disadari ia sudah tiba di sebuah kupel.

Selagi hendak masuk ke dalam kupel untuk beristirahat sebentar, di belakang dirinya seperti ada hembusan angin.

Dengan cepat ia berpaling, saat itu baru tahu bahwa ada orang telah melompat masuk ke dalam kupel itu.

Orang itu adalah ketua Bu-tong-pay It-tiem totiang, di belakangnya diikuti oleh delapan imam berpakaian hijau.

Pada saat itu di tangan It-tiem membawa pedang Ceng-kong-kiam.

Dalam hati Touw Liong terkejut, tetapi ia sudah mengerti apa artinya itu.

Sampai di situ, ia baru menyesali dirinya sendiri, tidak seharusnya kukuh dengan pendiriannya.

Ia sebetulnya mendapatkan beberapa

Jilid kitab mukzizat, namun tidak mau mempelajarinya, dan sekarang setelah berjumpa dengan musuh yang lebih tangguh dari dirinya sendiri, lalu tidak berdaya sama sekali.

Sementara itu terdengar suara desiran angin, delapan imam berbaju hijau dengan pedang terhunus mengurung Touw Liong di tengah-tengah.

Kali ini Touw Liong sangat berhati-hati, begitu delapan imam itu mengurung dirinya, ia lantas menghunus pedang pusakanya.

Waktu itu meskipun dalam hatinya terkejut, namun sikapnya masih tenang-tenang saja, sedikitpun tidak menunjukkan kegugupannya, sebaliknya dengan delapan orang imam berbaju hijau itu, sikap mereka nampak sangat tegang.

It-tiem yang berada di luar kurungan, berkata dengan sikap menghina.

"Orang she Touw! Apa kau kira kau boleh berkeluyuran seenakmu di atas gunung Bu-tong dengan membawa pedang?"

"Kau mau apa?"

Bertanya Touw Liong dengan sikap gagah.

"Tinggalkan pedang pusakamu itu, kita akan melepaskan kau pergi,"

Berkata It-tiem sambil menunjuk pedang Khunngo-kiam di tangan Touw Liong.

"Jika aku berkata tidak?"

Demikian Touw Liong balas bertanya dengan suara bengis.

"Akan kita bunuh kau dalam sejarak lima langkah,"

Berkata It-tiem sepatah demi sepatah. Touw Liong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Bagi seorang laki-laki tidak perlu takut mati, kalau kau hendak berbuat demikian, berbuatlah!"

It-tiem berpikir sejenak, tiba-tiba membuka matanya dan berkata sambil menunjuk delapan imam berbaju hijau.

"Orang she Touw, tahukah kau apa namanya barisan pedang ini?"

"Dalam rimba persilatan siapakah yang tidak tahu barisan pedang Pat-kwa-kiam-tin dari golongan Bu-tongpay?"

It-tiem tertawa dan mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berkata.

"Luas pengetahuanmu. Hanya, barisan pedangku ini bukan hanya melulu barisan pedang Pat-kwa-tin yang sederhana, di sampingnya masih ada nama lain lagi!"

"Apalagi, coba kau sebutkan!"

"Ditambah dengan pinto, menjadi sembilan bilah pedang...."

"Tidak perlu kau berputar-putaran, ditambah dengan kau siapa tidak tahu, golongan Bu-tong sudah lama memiliki barisan pedang yang dinamakan Kiu-kiong-pat-kwa-tin yang dahulu pernah menggemparkan rimba persilatan?"

It-tiem menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Bukan! Bukan! Barisan pedang Kiu-kiong-pat-kwa-tin sudah ketinggalan jaman, sebab sekarang sudah tidak sesuai lagi."

Touw Liong tercengang, sementara itu It-tiem berkata pula dengan bangganya.

"Barisan pedangku ini adalah barisan Pat-kwa bercampur Kiu-kiong, di luarnya ditambah Thay-it Sinkiam, yang mempunyai perubahan tak ada habisnya. Di dalamnya ada su-chio, di luarnya ngo-heng; dari kiu-kiong membentang menjadi pat-kwa; di depan adalah sam-cay, di belakang adalah liok-hap; tetapi dengan sebetul-betulnya barisan-barisan pedang ini seharusnya dinamakan kiu-pengthay-it-tin."

Dalam hati Touw Liong bergidik, kalau mendengar nama-nama yang disebutkan itu, barisan pedang ini sesungguhnya memang hebat.

It-tiem yang menampak Touw Liong diam berpikir, lalu berkata pula sambil tertawa.

"Orang she Touw, pinto tak akan berbuat keterlaluan, asal kau mau meninggalkan pedangmu, pinto yang bertujuan welas asih kepada sesama manusia akan memberi kau suatu jalan hidup."

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Boleh! Tidak susah kau menghendaki pedang tetapi harus tanya dia dulu, mau apa tidak mengikuti kau?"

It-tiem tertawa terbahak-bahak, kemudian mengacungkan pedang panjangnya, dalam sekejap imam berbaju hijau masing-masing mengacungkan pedangnya berputar mengitari Touw Liong.

Gerakan delapan imam itu semakin lama semakin cepat, semakin memutar semakin gesit.

Sebentar-sebentar pedangnya diangkat tinggi, sebentar-sebentar disodorkan.

Touw Liong yang terkurung di tengah-tengah yang menyaksikan perbuatan itu matanya menjadi kabur.

It-tiem yang bertindak sebagai komando dan berdiri di luar, dengan tiba-tiba mengacungkan lagi pedang di tangannya, dua di antara delapan imam yang lari berputaran itu dengan tiba-tiba melangkah kakinya ke kanan, tangannya digerakkan, masing-masing menikam depan dan belakang diri Touw Liong.

Tikaman itu baru setengah jalan, dengan mendadak ditariknya kembali.

Touw Liong nampak gerakan itu hanya gerakan pancingan saja, maka ia tetap berdiri di tempatnya, sedikitpun tidak bergerak.

Barisan pedang itu berputar seperti semula, ketika itu untuk kedua kali mengangkat pedangnya barisan pedang itu mendadak berubah.

Bagian depan, belakang, kiri dan kanan, dalam waktu yang bersamaan, empat bilah pedang ditujukan ke empat bagian jalan darah terpenting anggota badan Touw Liong.

Empat bilah pedang yang lainnya, dengan satu gerakan yang sama, memotong Touw Liong dari tiga jalan.

Namun gerakan itu masih merupakan pancingan saja, serangan yang dilancarkan setengah jalan sudah ditariknya kembali.

Tetapi Touw Liong yang diserang dari empat penjuru saat itu sudah mengeluarkan keringat dingin, sebab di bawah keadaan demikian, betapapun hebat kekuatan tenaga orang, betapapun tajam senjata di tangannya, bagaimanapun dengan dua tangan tidak sanggup melayani empat orang.

Seandainya delapan imam itu menyerang sungguh-sungguh dengan serentak, maka bagi Touw Liong merupakan suatu tanda tanya, ia harus mengelakkan dari empat pedang yang pertama ataukah menangkis serangan pedang yang belakangan?

Di samping itu juga masih ada Ittiem yang berlaku sebagai komando yang tetap mengawasi gerak-geriknya.

Empat bilah pedang yang menyerang bagian atasnya, tidak peduli mana satu asal mengenai sasarannya, oleh karena empat bagian jalan darah yang diincar itu merupakan jalan darah terpenting, maka jikalau terkena sudah pasti binasa.

Empat bilah pedang yang dilancarkan ke bagian bawahnya meskipun tidak sampai membahayakan jiwanya, tetapi empat anggota kaki dan tangan merupakan modal bagi manusia untuk bergerak dan bertindak, apabila kedua tangan atau kedua kakinya terluka bukankah seperti juga sudah mati?

Delapan imam itu seolah-olah sudah pernah dilatih dengan keras oleh It-tiem, setidak-tidaknya, latihan itu juga sudah mencapai delapan atau sepuluh tahun.

Dan imamimam itu terdiri dari imam-imam pilihan dari anak buah Bu-tong-pay.

Touw Liong dengan seksama memperhatikan keadaan barisan itu.

Satu-satunya jalan baginya untuk melepaskan diri hanya di suatu bagian yang dinamakan Pintu Langit.

Tetapi di bagian itu It-tiem berdiri sebagai palang pintu, dan maksudnya ialah untuk mengawasi Touw Liong jangan sampai lolos dari bagian itu.

Oleh karena itu hanya satu-satunya jalan untuk keluar, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Touw Liong.

Ia tidak menantikan sampai barisan pedang itu bergerak lagi, lalu mendahului bertindak, pedang panjangnya diputar, ilmunya Thay-it sin-kang dipusatkan ke ujung pedangnya, hingga barisan pedang itu digempur oleh hembusan kekuatan tenaga dalamnya.

Delapan imam berbaju hijau itu pada berubah wajahnya, sedang It-tiem yang bertindak sebagai komando, mengacungkan pedangnya dua kali.

Touw Liong memperdengarkan suara siulan nyaring, kedua kakinya menjejak ke tanah, dan badannya melesat tinggi ke tengah udara.

It-tiem sudah menduga tindakan Touw Liong itu, maka begitu Touw Liong bergerak, ia sudah bertindak lebih dahulu, badannya melesat naik dengan gerakan miring, sebelum tiba orangnya, pedangnya digerakkan lebih dahulu untuk menyerang dan mencegat jalan mundurnya Touw Liong.

Sesaat kemudian terdengar suara benturan senjata tajam, pedang di tangan It-tiem sedikitpun tidak terluka, hal ini sesungguhnya di luar dugaan Touw Liong.

Masih untung bagi Touw Liong, karena kekuatan tenaga dalamnya masih lebih tinggi setingkat dari lawannya, sehingga It-tiem terpental mundur dan jatuh kembali ke tanah.

Bagi Touw Liong sendiri juga tak mendapatkan hasil apa-apa, meskipun ia berhasil mendorong mundur lawannya, tetapi ia sendiri juga mendapat beberapa tusukan di lengan bajunya, hingga di beberapa bagian terdapat banyak lubang.

Touw Liong yang sudah berhasil mendorong mundur lawannya, tidak berani ayal lagi, sekali lagi ia memperdengarkan suaranya yang nyaring, dengan suatu gerakan miring ia meluncur ke suatu jalan kecil, yang terletak di sebelah kiri kupel.

Begitu kaki menginjak tanah, ia melesat lagi, hanya tiga kali lompatan orangnya sudah berada sejauh sepuluh tombak.

It-tiem ketika menyaksikan hal itu, tidak bisa berbuat lain, hanya menghunjamkan kakinya di tanah sambil menghela napas, setelah itu ia mengacungkan lagi pedangnya dan memerintahkan anak buahnya untuk kembali mengejar.

Jilid 13 Sembilan sosok bayangan orang bergerak dengan serentak untuk mengejar Touw Liong.

Touw Liong terus kabur tanpa memilih tujuan dengan dikejar oleh sembilan orang imam.

Dalam waktu sekejap mata, ia sudah kabur sejauh beberapa puluh pal, sedangkan di belakangnya, sembilan imam itu masih mengejarnya.

Saat itu kedua pihak hanya terpisah tiga puluh tombak lebih.

Touw Liong yang terus lari tanpa memilih jalan, di bawah suatu tempat dimana terhalang oleh sebuah sungai selebar delapan tombak lebih, Touw Liong terpaksa merandak dan menghela napas.

Ketika ia berpaling, sembilan imam yang mengejar dirinya itu terpisah dengan dirinya semakin lama semakin dekat.

Ia mengetahui bahwa perjalanannya sudah terputus, maka ia mendongakkan kepala dan menyebut nama Tuhan!

Di hadapannya terhalang oleh sungai lebar, di belakangnya ada musuh mengejar, kini ia seolah berada di tepi maut.

Sungai itu airnya dalam, dengan kepandaian Touw Liong pada saat itu, ia mungkin masih dapat menyeberangi dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh.

Sekalipun ia belum dapat mencapai ke taraf yang bisa menginjak air sungai, setidak-tidaknya ia dapat menggunakan ranting kayu kering atau sejenisnya untuk injakan kakinya.

Apa mau, air sungai itu mengalirnya terlalu deras, hingga Touw Liong hanya dapat mengawasi air sungai yang deras itu sambil menghela napas.

Dalam keadaan demikian, ia terpaksa putar otak untuk mencari akal, tidak jauh dari tempanya berdiri, ada sebuah pohon tua yang sudah tak ada daunnya, dalam girangnya, ia segera lompat menghampiri pohon itu dan memotongnya.

Pohon tua itu lantas rubuh , untuk kedua kali ia menggunakan pedangnya memotong pohon kering itu sekira tiga kaki panjangnya, ia angkat pohon itu dan dilemparkan ke tengah sungai.

Potongan pohon itu mengambang di atas sungai.

Touw Liong secepat kilat lompat melesat dan kakinya menginjak ke potongan pohon tadi, beberapa kali ia bergerak lagi, dengan demikian ia berhasil menyeberang ke tepi.

Begitu tiba di seberang, ia baru merasa lega, tetapi ketika ia berpaling, celaka!

It-tiem juga sedang menggunakan cara yang sama untuk menyeberangi sungai.

Touw Liong yang menyaksikan itu wajahnya berubah seketika, ia sesalkan perbuatannya sendiri tadi yang agak gegabah, jikalau ia tadi melemparkan semua potongan pohon itu ke dalam sungai, sudah tentu tidak dapat digunakan oleh It-tiem.

Kini ia terpaksa mengawasi It-tiem dan delapan anak buahnya melemparkan potongan pohon ke dalam sungai dan hendak digunakan untuk menyeberang.

Pada saat itu suatu pikiran aneh timbul dalam otaknya, seandainya ia menggunakan kesempatan itu ia lantas sambut It-tiem dengan tikaman pedang, dan paksa padanya untuk terjun ke dalam sungai, bukankah Bu-tong-san akan menjadi aman?

Ia kira pikiran itu cukup baik, tetapi ketika ia hendak menyergap It-tiem dengan pedang terhunus, tiba-tiba menggelengkan kepala dan kembali berpikir lain.

Tindakan semacam ini bukanlah perbuatan seorang ksatria.

Akhirnya ia tidak laksanakan pikirannya tadi, sebab perbuatan itu sangat memalukan dirinya sendiri.

Ia hanya berdiri tegak di tepi sungai untuk menantikan datangnya musuhnya.

Sesaat kemudian It-tiem sudah lompat ke tepi sungai.

Dengan pedang Ceng-hong-kiam di tangan ia terus menyergap Touw Liong.

Touw Liong masih berdiri tegak tidak memberikan reaksi apa-apa, matanya hanya ditujukan kepada delapan anak buah It-tiem yang sedang berusaha menyeberang.

It-tiem pada saat itu juga berpaling mengawasi anak buahnya yang berusaha hendak menyeberang.

Tetapi delapan imam berbaju hijau itu agaknya tidak berdaya, jelas bahwa kepandaian mereka belum setinggi itu, mereka tidak berdaya untuk menyeberangi sungai yang airnya mengalir deras.

It-tiem perlahan-lahan menghampiri Touw Liong, katanya dengan suara perlahan.

"Kau bocah, kembali sudah kehilangan suatu kesempatan baik!"

Touw Liong tahu bahwa yang dimaksudkan oleh ucapannya itu ialah tadi ia tidak mau menggunakan kesempatan selagi ia lompat naik ke tepi sungai diserangnya dengan secara mendadak.

Tetapi ia tidak berkata apa-apa hanya mengangkat pundaknya, kemudian balas bertanya.

"Delapan pembantumu itu tidak bisa menyeberang kemari, apa kau tidak bersedia membantu mereka?"

It-tiem menggelengkan kepala dan berkata.

"Dengan seorang diri, pinto menghadapi kau sudah lebih dari cukup, dengan adanya mereka di sini sebaliknya malah membuat aku repot."

"Bagaimana urusan kita dibereskannya?"

"Pedangku ini dilihat sepintas lalu seperti pedang Cenghong-kiam, tetapi pedang ini adalah pedang pusaka simpanan golongan Bu-tong-pay, sebab pedangn ini adalah peninggalan suhu, tidak gampang-gampang digunakan, maka kusimpan di dalam lemari, dan hari ini pinto keluarkan untuk menghadapi kau! Ha ha! Apakah kau sudah pernah dengar bahwa Bu-tong-pay mempunyai dua bilah pedang kuno yang dinamakan Ang-hui-kiam?"

"Ang-hui-kiam!"

Mengulang Touw Liong terkejut.

Pedang kuno Ang-hui-kiam ini memang benar pernah memberikan banyak jasa bagi Bu-tong-pay dalam beberapa kali mengadakan pertandingan pedang dahulu.

Kepandaian ilmu pedang orang-orang Bu-tong-pay telah menundukkan lawan-lawannya, pedang kuno ini mempunyai andil yang tidak sedikit.

Dan kini, pedang pusaka itu berada di tangan It-tiem, diimbangi pula dengan ilmu pedangnya Thay-it-sin-kiam, dalam rimba persilatan pada dewasa ini, barangkali tiada satupun yang sanggup menandingi.

Seandainya mau dikata ada ilmu pedang yang dapat mengimbangi ilmu pedang Thay-it-sin-kiam, barangkali hanya ilmu pedang dari golongan Buddha yang dinamakan Tay-lo-kim-kong-kiam.

Ilmu pedang Thay-it-sin-kiam unggul dalam gerakannya yang lincah gesit dan aneh, sedangkan Tay-lo-kim-kongkiam unggul dalam beratnya dan mantapnya.

Kedua macam ilmu pedang itu sangat berlainan, tetapi semuanya merupakan ilmu pedang yang tertinggi dalam rimba persilatan pada masa itu.

Touw Liong terpaksa memperhitungkan kekuatannya sendiri, kalau ditinjau dari ketajaman, pedang Khun-ngokiam sudah tentu lebih tajam daripada pedang Ang-huikiam, tetapi selisihnya tidak jauh.

Dalam hal ilmu pedangnya, ilmu pedangnya sendiri dari golongan Kiu-hwa, masih jauh jika dibandingkan dengan ilmu pedang Thay-it-sin-kiam.

Tetapi Touw Liong unggul dalam kekuatan tenaga dalamnya.

"Pertandingan kita hari ini siapa yang kalah dan siapa yang menang masih belum dapat ditentukan,"

Berkata Touw Liong sambil menganggukkan kepala.

"Rasanya sudah dapat dipastikan!"

Berkata It-tiem sambil tertawa iblis.

"Maksudmu, apa kau sudah yakin benar bahwa pedangmu dapat menangkan pedang Khun-ngo-kiamku?"

It-tiem tertawa mengejek sambil menganggukkan kepala.

"Kalau begitu mari kita coba,"

Berkata Touw Liong marah.

It-tiem tidak menyahut, ia sudah mulai siap untuk melakukan pertempuran.

Touw Liong juga memutar pedangnya dan memasang kuda-kuda.

Kedua belah pihak sudah siap, dan pertandingan itu sudah dimulai.

Dengan tiba-tiba, dari seberang bukit terdengar suara siulan nyaring.

Suara siulan itu belum lenyap, dari balik bukit muncul dua orang gadis cantik berbaju hijau.

It-tiem mengerutkan alisnya, perlahan-lahan menyimpan kembali pedangnya.

Matanya ditujukan kepada dua gadis berbaju hijau yang sedang muncul.

Touw Liong juga menyimpan pedangnya, pandangan matanya ditujukan ke arah dua gadis tadi.

Ketika pandangan matanya tertuju kepada salah seorang gadis yang berbaju hijau itu, sesaat ia seperti tertegun dan menghela napas pelahan.

It-tiem lalau bertanya sambil mengerutkan alisnya.

"Apakah kau kenal dengan mereka?"

Touw Liong menganggukkan kepala, kemudian ia menambahkan keterangan.

"Gadis yang berjalan di sebelah kanan itu adalah adik seperguruanku."

"Adik seperguruanmu?"

Bertanya It-tiem kaget, lalu ia menunjuk kepada gadis yang berjalan di sebelah kiri dan bertanya pula.

"Dan yang sebelah kiri itu?"

Touw Liong mengerutkan alisnya, dengan nada bertanya-tanya, ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Gadis itu mirip dengan Enci Lo. Tetapi usianya lebih muda. Seharusnya dia itu adalah adiknya."

It-tiem sudah tidak sabar, bertanya dengan nada suara bengis.

"Siapakah sebenarnya gadis itu?"

"Sepasang dara Kun-lun-san bagian barat ....."

Ia hanya secara sembarangan saja menyebut kedua gadis itu dengan kata-kata Siang-kiauw atau Sepasang Dara.

"Giok Kiauw, ataukan Lian Kiauw?"

Kiranya sepasang dara dari keluarga Lo, yang satu ialah Lo Yu Im yang dalam keluarganya disebut Giok Kiauw, dan adiknya adalah Lo Bi Im dengan sebutannya Lian Kiauw.

Dahulu ketua Bu-tong-pay Giok-ceng-cu pernah mengajak It-tiem mengajukan pertanyaan seperti tadi.

"Giok Kiauw,"

Jawab Touw Liong sekenanya. Ia sendiri sebenarnya juga tidak tahu, siapa yang disebut Giok Kiauw dan siapa yang bernama Lian Kiauw? It-tiem mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Giok Kiauw adatnya ramah dan lemah lembut, tetapi Lian Kiauw agak binal dan agak aneh sifatnya."

Sementara itu dua orang gadis berbaju hijau itu sudah menghampiri. Touw Liong lantas maju menyambut gadis yang di sebelah kanan, seraya berkata.

"Sumoy!"

Beberapa bulan tidak bertemu, Kim Yan tampaknya sudah agak kurus.

Sedangkan Lo Bi Im yang di sisinya sedikitpun tidak menunjukkan sikap apa-apa.

Wajah dan sikap Kim Yan saat itu tampak dingin sekali, ia berjalan menghampiri Touw Liong.

Touw Liong ketika mengingat ucapan yang pernah dikatakan oleh nenek berkerudung muka yang mengaku Panji Wulung, diamdiam bergidik sendiri.

Mata Touw Liong hampir mengeluarkan air mata, tetapi ia berusaha mengendalikannya, maka ia berkata dengan suara sedih.

"Suhu sudah wafat!"

Di luar dugaannya, jawaban Kim Yan ternyata demikian dingin.

"Aku tahu."

"Dengan cara bagaimana suhu menemui kematiannya?"

Bertanya Touw Liong.

"Siapa tahu?"

Demikian jawab Kim Yan dengan tetap dingin. Touw Liong agak marah, katanya dengan nada tidak senang.

"Kalau begitu, untuk apa kau datang?"

Kim Yan sedikitpun tidak marah, ia masih dengan sikap dan nada suaranya yang dingin menjawab.

"Untuk mencari kau!"

Touw Liong merasa heran, tanyanya.

"Ada perlu apa mencari aku?"

"Hendak pinjam pedang Khun-ngo-kiammu untuk menuntut balas dendam bagi suhu."

Touw Liong memberikan pedangnya, tapi sekujur badannya gemetar.

"Tahukah kau, siapa musuh kita?"

Demikian Touw Liong menanya.

"Siapa tahu?"

Jawab Kim Yan sambil menggelengkan kepala dan menyambuti pedang Khun-ngo-kiam dari tangan Touw Liong.

Touw Liong agaknya merasa kecewa, sementara itu Kim Yan memeriksa dengan teliti pedang di tangannya, sesaat kemudian ia menggelengkan kepala dan berkata.

"Pedang ini kurang bagus." .Pedang sakti yang tidak pernah ada di dalam dunia ini masih kurang bagus?"

Tanya Lo Bie In heran. Pandangan mata Kim Yan ditujukan kepada pedang kuno di tangan It-tiem, katanya sambil menunjuk pedang tersebut.

"Itulah baru pedang bagus."

It-tiem mundur selangkah, mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Kim Yan tidak berkata apa-apa lagi, dengan pedangnya Khun-ngo-kiam menuding It-tiem seraya berkata.

"Bawa kemari!"

Bab 34

"Tidak susah nona ingin mendapatkan pedangku ini, tetapi kau harus mempertunjukkan sedikit kepandaianmu lebih dulu,"

Jawab It-tim sambil tertawa mengejek.

"Sudah tentu!"

Kata Kim Yan.

"aku sudah menaksir barang dalam tanganmu, ibarat orang hendak merampas buah dari tangan monyet, jikalau tidak memiliki kepandaian benar-benar, bagaimana dapat merampasnya?"

Sementara itu, pedang di tangannya menunjuk ke bawah dan membuat gerakan lingkaran, kemudian dengan satu gerakan sangat lambat gagangnya menekan ke bawah, ujung pedang lalu menunjuk ke atas.

Kaki kanannya berpijak di tanah dan kaki kirinya diangkat, bagaikan ayam jago yang berdiri dengan sebelah kaki.

Sedang jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya dikatupkan, menunjuk ke pedang kuno Ang-hui-kiam.

Toue Liong melihat gelagat tidak beres, dari sikap Kim Yan, benar-benar seperti aksinya orang yang hendak merampas buah tho dari tangan monyet, sang sumoy ini agaknya benar-benar sudah akan merampas pedang kuno itu dari tangan It-tim.

Ia takut sang sumoy itu belum tahu kepandaian It-tim hingga bertindak secara gegabah, ada kemungkinan merugikan diri sendiri.

Kalau pedang Khun-ngo-giok sampai terjatuh di tangan musuh, lebih runyam lagi akibatnya.

Tetapi di bawah keadaan demikian, ia sendiri tidak berdaya mencegah tindakan Kim Yan, tidak sanggup melarang perbuatannya.

Dalam keadaan cemas, terpaksa menasehatinya dengan suara lemah lembut.

"Sumoy awas! It-tim totiang sudah berhasil mempelajari ilmu pedang Thay-it-sin-kiam dari kitab Thay-it-cin-keng."

Dengan maksud baik ia memperingatkan sumoynya, tetapi Kim Yan tidak menerima baik maksud itu, bahkan perdelikkan matanya dan berkata.

"Aku tahu. Dia bisa mempelajari ilmu pedang Thay-itsin-kiam, apakah aku tidak bisa?"

It-tim yang mendengar ucapan itu, agaknya tidak percaya. Ia menggelengkan kepala dan berkata.

"Mustahil, kitab Thay-it-cin-keng meskipun cuma dua belas jilid, tetapi yang memuat pelajaran ilmu pedang hanya sejilid. Siapapun tahu bahwa ilmu pedang Thay-it-sin-kiam terdiri dari tujuh puluh dua gerak tipu, sedangkan gerak tipu ini sudah kudapatkan sejak dua puluh tahun berselang. Kau kata bahwa kau juga pernah mempelajari, bukankah itu merupakan suatu lelucon besar?"

"Kalau kau tidak percaya, boleh coba sendiri,"

Berkata Kim Yan. It-tim benar-benar tidak percaya, sambil meletakletakkan pedangnya dalam pelukan ia berkata dengan suara lantang.

"Gerak pertama. Memeluk Thay-kek ...."

Kim Yan segera menyambut dengan nyanyian.

"Gerak kedua. Kek terbagi menjadi delapan Gie."

Dengan tiba-tiba It-tim menarik kembali gerakannya, matanya berputaran, memandang Kim Yan dari atas sampai ke bawah. Ia benar-benar tidak percaya! Kembali menyebutkan gerak tipu dengan suara nyaring.

"Gie dilebur menjadi Sam-ceng."

Kim Yan tersenyum, sambungnya.

"Ceng membersihkan jagat."

It-tim tidak berani melanjutkan, matanya yang seperti mata maling, berputaran memandang Kim Yan, tetapi bagaimanapun juga ia tidak mendapatkan keadaan yang aneh pada diri gadis itu.

Maka hatinya lantas merasa lega, katanya sambil mempersiapkan pedangnya.

"Kita tidak perlu mengadu mulut lagi, mari bertanding dengan pedang, siapa yang lebih unggul!"

Kejadian itu sangat mengherankan, tetapi jelaslah sudah bahwa Kim Yan benar-benar memang sudah pernah mempelajari ilmu pedang Thay-it-sin-kiam.

Hati Touw Liong yang semula berdebaran, kini mulai lega.

Ia mengerti, Kim Yan yang mendapat didikan langsung dari Panji Wulung wanita, tentunya tidak berbeda jauh sifatnya dengan gurunya.

Selagi memikirkan diri adik seperguruannya itu, sudah terdengar suara jawaban dari mulut Kim Yan.

"Terserah!"

Mendengar jawaban itu, It-tim mulai membuka serangannya.

Kim Yan agaknya sudah siap, ketika It-tim melakukan serangan, tubuhnya bergerak, mendadak menghilang dari depan mata lawannya.

Kelincahan dan kecepatannya bergerak, sesungguhnya sangat mengherankan, sehingga Touw Liong sendiri yang sudah termasuk seorang tokoh kuat pada masa itu, juga tidak tahu ilmu apa yang digunakan oleh adik seperguruannya itu.

Bagi It-tim sendiri, yang dengan mendadak kehilangan jejak lawannya, bukan kepalang terkejutnya.

Buru-buru memutar kaki dan menarik kembali serangannya, dan ketika ia berpaling, sesaat menjadi kesima, karena lawannya tadi sudah berdiri di belakang dirinya sambil memondong pedang dalam pelukannya tanpa bergerak sedikitpun juga.

Seandainya gadis itu mau bertindak, barangkali ia sudah terluka di tangannya.

Memikirkan itu, keringat dingin lantas mengucur keluar membasahi sekujur badannya.

"Nonamu tetap menghendaki pedangmu itu, lebih baik kau serahkan saja, atau kalau kau tidak mau, biar aku nanti yang turun tangan sendiri?"

Berkata Kim Yan dengan nada suaranya yang masih tetap dingin.

Wajah It-tim sebentar merah sebentar pucat.

Ia berdiri terpaku di tempatnya, tidak bisa membuka mulut.

Ia tahu hari itu ia menemukan lawan yang justeru mengerti juga ilmu pedangnya.

Tetapi sebagai ketua dari salah satu partai besar, bagaimana harus menyerahkan pedangnya begitu saja kepada orang lain?

Apalagi, selama hidupnya ia selalu menyombongkan kepandaiannya sendiri, dianggapnya bahwa ilmu pedangnya yang dinamakan Thay-it-sin-kiam itu sudah tidak ada orang lain yang mengerti.

Matanya berputaran, satu akal licik terlintas dalam otaknya, maka lalu berkata.

"Tidak susah nona ingin mendapatkan pedang pinto ini, jikalau nona berani menyambuti serangan pinto sampai sepuluh jurus, tetapi dalam sepuluh jurus ini, nona tidak boleh melakukan gerakan atau serangan pembalasan. Sepuluh jurus sudah habis, pinto nanti akan menyerahkan pedang pusaka ini dalam tangan nona."

"Kau berani pegang betul janjimu ini?"

Bertanya Kim Yan dengan suara bengis.

"Pasti!"

Kim Yan menganggukkan kepala, katanya.

"Nah, kau boleh mulai!"

It-tim yang sudah memiliki kepandaian dan kekuatan sangat tinggi, apalagi harus menjaga nama baiknya, maka buru-buru memusatkan pikiran dan kekuatan tenaganya, dari tujuh puluh dua jurus gerak tipu dalam ilmu pedangnya, ia memilih gerakan-gerakan yang paling ganas, digunakan untuk menyerang lawannya.

Sepuluh jurus serangan It-tim dengan cepat sudah habis, tidak peduli bagaimana ganas dan hebat serangannya, selalu dapat dielakkan dengan baik oleh Kim Yan.

Dari semula hingga akhir, tidak peduli menggunakan gerak tipu apa, tetapi serangan It-tim itu seolah-olah sudah diketahui lebih dulu oleh Kim Yan, maka dapat dielakkannya dengan sangat baik.

Selesai sepuluh jurus, dua-duanya lompat mundur.

Dengan wajah dingin Kim Yan mengulurkan tangannya minta pedang dari tangan It-tim, katanya.

"Serahkan pedangmu!"

Tetapi It-tim nampaknya masih keberatanm enggan menyerahkan. Katanya.

"Sayang! Sayang! Barang pusaka simpanan Bu-tong secepat kilat sudah pindah tangan!"

Ucapan itu diulanginya beberapa kali, kemudian dengan tiba-tiba alisnya berdiri, dengan nada suara dingin ia berkata pula.

"Nona, kalau kau menginginkan pedang ini, harap kau ikut pinto ke puncak gunung Bu-tong, nanti setelah pinto melakukan upacara sembahyang kepada arwah para ketua golongan Bu-tong yang terdahulu, barulah kuakan serahkan kepadamu."

"Jangan kau mengimpi! Hari ini, biar bagaimana kau tak akan lolos dari tangan nonamu, sebaiknya kau serahkan secara baik pedang itu kepadaku!"

Berkata Kim Yan dengan nada suara dingin. It-tim terkejut, matanya melirik ke arah tepi seberang, dengan tiba-tiba lompat melesat, sementara mulutnya berkata.

"Tidak susah untuk mendapatkan pedang ini, ikutlah aku!"

Sehabis mengucapkan demikian, pedang di tangannya dilemparkan ke tengah-tengah sungai.

Bersamaan dengan itu, badannya bergerak dengan cepat lompat ke tengah sungai.

Saat itu, di permukaan air sungai tampak mengambang sepotong kayu sepanjang tiga kaki.

Touw Liong waktu itu baru tahu bahwa kayu yang mengambang di permukaan air itu ternyata dilemparkan oleh delapan anggota golongan Bu-tong yang mengenakan pakaian warna hijau.

Terjadinya perubahan yang tak diduga-duga itu, sesungguhnya mengejutkan padanya, maka ia segera berseru.

"Tunggu dulu!"

Setelah itu ia juga bergerak melesat ke arah sungai.

Tujuannya itu sudah tentu hendak mengejar dan menyergap It-tim, di luar dugaannya selagi badannya bergerak, tiba-tiba terdengar suara Kim Yan, lantas tampak berkelebat bayangan merah, suatu kekuatan tenaga yang cukup hebat melayang ke arahnya.

Touw Liong tahu benda apa yang melayang ke dirinya itu, maka ia segera menyambutinya, bersamaan dengan itu ia juga meluncur turun lagi ke tanah, dan berada di tempat semula lagi.

Benda yang disambut tadi adalah pedangnya Khun-ngokiam yang disambitkan oleh Kim Yan.

Kini ia sudah berada lagi di tepi sungai, dan pandangan matanya ditujukan pada bayangan tadi.

Saat itu bayangan merah tadi melayang ke tengah-tengah sungai.

It-tim yang mengenakan jubah warna hijau, yang tadi bergerak lebih dahulu, sebaliknya kini berada di belakang bayangan merah.

Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong, sesaat kemudian, bayangan merah itu sudah menginjak kayu yang mengambang di permukaan air, tangannya mencabut pedang yang menancap di atas kayu itu, dengan tangannya yang lain ia balik menyambut bayangan It-tim yang tiba belakangan.

Serangan Kim Yan mengenakan dengan tepat hingga Ittim terpukul dan jatuh di dalam sungai.

Gerakan Kim Yan itu sungguh hebat, setelah jatuh It-tim ke dalam sungai, sepasang kakinya menginjak kayu yang mengambang di permukaan air, dan ketika ia bergerak untuk kedua kalinya sudah melesat ke tepi seberang.

Ketika badannya masih berada di tengah udara, pedangnya sudah bergerak mendahului, dimana sinar pedang itu berkelebatan, di situ darah pada berhamburan.

Delapan imam berbaju hijau semua terluka di ujung pedangnya dalam keadaan kutung tangan dan kaki.

Kim Yan mengeluarkan suara siulan panjang, tanpa menoleh lantas bergerak menuju ke puncak gunung Butong.

"Celaka! Kali ini ia naik ke gunung Bu-tong dalam keadaan marah, markas besar Bu-tong barangkali akan mengalami nasib buruk!"

Berkata Touw Liong sambil menggebrukkan kakinya. Pada saat itu, suara yang merdu dan halus terdengar di samping telinganya.

"Touw tayhiap, mari kita kejar ....."

Touw Liong waktu itu baru sadar, bahwa di sampingnya masih ada Lo Bi Im.

Ia menerima baik permintaan Lo Bi In, lalu mencari sepotong kayu, dua orang itu dengan sepotong kayu menyeberangi sungai.

Oleh karena merasa kasihan kepada delapan imam yang terkutung kaki dan tangannya, Touw Liong menotok jalan darah mereka untuk menghentikan mengalirnya darah, barulah melanjutkan perjalanannya naik ke atas gunung.

Dalam perjalanan Touw Liong merasa sangsi terhadap ilmu pedang Thay-it-sin-kiam adik seperguruannya, maka ia bertanya kepada Lo Bi In.

"Nona, dengan sumoy sudah bergaul banyak hari, tentunya mengetahui sedikit hal-hal yang mengenai diri sumoyku itu, aku merasa sedikit kurang mengerti mengenai kepandaian ilmu silatnya, sebab di dalam dunia rimba persilatan, kitab yang memuat pelajaran pedang Thay-it-sinkiam hanya ada se

Jilid saja, kalau kudengar dari keterangan It-tim, jelas bahwa kitab ilmu pedang itu pada dua puluh tahun berselang sudah terjatuh di tangannya, dengan cara bagaimana sumoyku juga mengerti ilmu pedang itu?"

Lo Bi In tertawa geli sambil menutup mulutnya sendiri, katanya.

"Touw tayhiap salah lihat, sumoymu sama sekali tidak mengerti ilmu pedang itu."

"Tidak mengerti? ...."

Mengulang Touw Liong terheranheran, kemudian balas bertanya.

"Nona kata bahwa sumoyku tidak mengerti ilmu pedang itu, mengapa terhadap ilmu pedang Thay-it-sin-kiam ia bisa menghapalkan demikian lancar?"

Lo Bi In kembali tertawa dan berkata.

"Meskipun dia tak paham ilmu pedang itu, tetapi terhadap hapalannya tujuh puluh dua gerakan ilmu pedang itu sudah hapal betul."

Touw Liong menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.

"Aku masih belum mengerti, kalau mau dikata bahwa sumoyku tidak mengerti ilmu pedang itu, akan tetapi tadi ketika ia menggunakan pedangnya memunahkan sepuluh kali serangan It-tim, mengapa demikian sempurna?"

"Memang, apa yang Touw tayhiap katakan ini, sedikitpun tidak salah, sumoymu betul-betul tidak mengerti ilmu pedang itu, tetapi dia pernah belajar delapan gerak tipu yang khusus untuk memunahkan serangan ilmu pedang itu."

"Ow!"

"Aku tidak tahu, apakah Touw tayhiap tadi ada ambil perhatian atau tidak, ketika sumoymu menyambuti sepuluh kali serangan dari It-tim, hanya menyambut tetapi tidak balas menyerang? Sedangkan ilmu pedang yang digunakan untuk memunahkan serangan It-tim bukanlah jurus-jurus dari ilmu pedang Thay-it-sin-kiam!"

"Aku mengerti, ia telah menggunakan berulang-ulang delapan gerakan gerak tipu yang dia pelajari itu."

Lo Bi In menganggukkan kepala. Touw Liong bertanya pula.

"Tahukah nona di dalam rimba persilatan ada seorang bernama Kang Kie?"

Lo Bi In mengerutkan alisnya dan berpikir sejenak, kemudian menjawab sambil menggelengkan kepala.

"Aku tidak kenal, juga belum pernah dengar orang menyebutkan nama itu."

"Apakah pada waktu belakangan ini nona pernah melihat encimu?"

Lo Bi In menggelengkan kepala, tiba-tiba ia balas menanya.

"Kang Kie itu orang bagaimana?"

"Sahabat encimu!"

"Manusia tidak berbudi itu selain mencuri hati enci juga menimpa benda pusaka warisan kami,"

Berkata Lo Bi In sambil menggertek gigi.

"Maksud nona apakah tentang batu Khun-ngo-giok?"

Lo Bi In mengiakan. Dari atas punggungnya Touw Liong menurunkan pedang Khun-ngo-kiam seraya berkata.

Baca Juga: Pendekar Riang 7

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert