Ceritasilat Novel Online

Pendekar Riang 8

Eps 8 Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id.

"Beberapa buah kursi di bawah pohon sana harus diganti dengan tempat duduk baru, sekalian akar pepohonan di sekitarnya"

"Baik !"

Ong Tiong yang menyaksikan kejadian itu dari dalam jendela, tiba-tiba bertanya.

"Aku menjadi bingung sendiri, sebetulnya rumah ini rumah siapa sih.....?"

"Rumahmu !"

Ong Tiong menghela napas panjang.

"Aaaai...! Sebenarnya aku juga aku tahu kalau rumah ini rumahku, tapi sekarang aku sendiripun dibikin kebingungan sendiri"

Kwik Tay-lok menjadi tak tahan dan tertawa geli, tapi sesaat kemudian dengan kening berkerut katanya.

"Heran, kenapa Yan Jit belum juga menampakkan diri ?"

"Mungkin dia seperti juga dirimu, begitu melihat Kim Toa-say, perasaannya menjadi keder"

"Kim Toa-say toh tidak kenal dengannya, mengapa dia mesti merasa keder...?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ong Tiong, tiba-tiba ia bertanya pelan.

"Pernahkah kau memikirkan tentang satu persoalan ?"

"Persoalan apa ?"

"Cara Yan Jit melepaskan senjata rahasia boleh dibilang nomor wahid dan tentunya kepandaiannya untuk menerima senjata rahasia pun lumayan juga"

"Yaa, sudah pasti lumayan sekali."

"Lantas, kenapa ia tidak pergi mencari Kim Toa-say dan turun tangan sendiri? Kenapa kau yang diminta untuk pergi menghadapinya ?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

"Soal ini.... soal ini belum pernah kupikirkan."

"Kenapa tidak kau pikirkan !"

Kwik Tay-Iok tertawa getir.

"Karena.... karena.... asal dia suruh aku melakukan suatu perbuatan, maka aku merasa bahwa hal itu amat cengli dan semestinya kulakukan untuknya."

Ong Tiong memandang wajahnya dan menggeleng, seakan-akan seorang kakak sedang memperhatikan adiknya.

Seorang adik yang kena dibohongi orang setelah diberi gula-gula.

Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian berkata lagi.

"Jadi maksudmu, ia tak berani mencari Kim Toa-say sendiri karena ia takut Kim Toa say berhasil mengenali dirinya ?"

"Menurut pendapatmu ?"

Belum sempat Kwik Tay-lok mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar Kim Toa-say membentak dengan suara dalam.

"Siapa yang sedang kasak-kusuk di dalam rumah ? Hayo cepat keluar !"

Sekali lagi Ong Tiong memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok, akhirnya pelan-pelan dia mendorong pintu dan keluar dari ruangan.

Kalau toh Kwik Tay-lok enggan bergerak, terpaksa dia yang harus bergerak.

Kim Toa-say mendelik ke arahnya bulat-bulat, kemudian menegur.

"Apa yang sedang kau kasak-kusukkan dibalik ruangan ?"

"Aku tak perlu bersembunyi, kaupun tak usah mencampuri urusanku, mau berkasak-kusuk atau tidak, itu urusanku pribadi !"

"Siapakah kau ?"

Bentak Kim Toa-say.

"Aku adalah tuan rumah tempat ini, aku senang duduk dimana, aku bisa duduk dimana, suka membicarakan soal apa, akupun akan membicarakan soal apa."

Setelah tertawa, lanjutnya dengan hambar.

"Bila seseorang sedang berada dirumah sendiri, sekalipun dia senang melepaskan celana untuk berkentutpun, orang lain tak akan mencampurinya...."

Sebenarnya ia tidak terbiasa mengucapkan kata-kata kasar seperti itu, sekarang dia seakanakan sengaja hendak merobohkan kewibawaan dari Kim Toa-say.

Siapa tahu Kim Toa say malahan tertawa, diawasinya pemuda itu dari atas sampai ke bawah beberapa, lalu katanya sambil tertawa.

"Orang ini memang mirip orang she Ong!"

"Aku bukan mirip orang she Ong, aku memang sesungguhnya she Ong !"

"Tampaknya kaulah putera dari Ong-lotoa?"

"Ong lotoa ?"

"Ong lotoa adalah Ong Cian-sik, yaitu bapakmu !"

Ong Tiong malah menjadi tertegun dibuatnya sehabis mendengar perkataan itu.

Ong Cian-siak memang ayahnya, tentu saja dia mengetahui akan nama ayahnya.

Tapi orang lain yang mengetahui nama Ong Cian-sik tersebut justru amat jarang.

Sebagian besar orang hanya tahu kalau nama dari Ong lo-sianseng adalah Ong Ik-cay.

Orang yang mengetahui nama Ong Cian-sik tersebut, sudah barang tentu adalah sahabatsahabat karib Ong Cian-sik di masa lalu.

Sikap Ong Tiong pun segera berubah, berubah menjadi lebih sungkan, dengan nada menyelidik ia lantas bertanya.

"Kau kenal dengan ayahku ?"

Kim Toa-say tidak segera menjawab pertanyaan itu, dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan.

Pintu kamar Kwik Tay-lok berada dalam keadaan terbuka lebar.

Dengan langkah tegap Kim Toa-say maju ke depan dan masuk ke dalam kamar, kemudian langsung duduk di hadapan Kwik Tay-lok.

Terpaksa Kwik Tay-lok tertawa getir dan menyapa.

"Baik-baikkah kau ?"

"Ehmm, masih agak baikan, untung saja belum sampai dibikin mampus karena mendongkol."

Kwik Tay-lok mendehem berulang kali, kemudian tanyanya.

"Kau sedang mencariku ?"

"Mengapa aku harus datang mencarimu?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

"Kalau begitu, ada urusan apa Toa-say datang kemari ?"

"Apakah aku tak boleh datang ?"

"Boleh, tentu saja boleh,"

Sahut Kwik Tay-lok cepat-cepat sambil tertawa.

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu aku datang kemari, mungkin kau masih belum dilahirkan."

Seru Kim Toa-say ketus.

Dalam perut orang ini, seakan-akan penuh berisi mesiu yang setiap saat bisa meledak, Kwik Tay-lok tidak jeri kepadanya, cuma dia merasa agak rikuh dan keder saja.

Bagaimanapun juga, tindakan yang dilakukan oleh orang itu cukup mengagumkan, pelajaran yang diberikan pun tidak keliru.

Setelah tidak memiliki cara lain yang lebih baik untuk menghadapinya, terpaksa Kwik Tay-lok harus angkat kaki.

Siapa tahu sepasang mata Kim Toa-say justru setajam sembilu, baru saja kakinya bergerak, Kim Toa-say telah membentak keras.

"Berhenti !"

Terpaksa Kwik Tay-lok mush tertawa paksa, katanya.

"Kalau toh kedatangan bukan untuk mencariku, buat apa aku mesti tetap berada di sini?"

"Aku hendak menanyai dirimu"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Aaai.... baiklah kau boleh bertanya!"

"Malam ini kalian makan apa?"

Ternyata pertanyaan semacam itulah yang diajukan olehnya. Tak tahan Kwik Tay-lok tertawa geli, sahutnya.

"Barusan aku mengendus bau Ang-sio-bak, mungkin kita akan makan daging babi masak rebung !"

"Baik hidangkan segera, aku sudah lapar!"

Sekali lagi Kwik Tay-lok merasa tertegun. Sekarang dia sendiripun turut menjadi bingung dan tidak habis mengerti sesungguhnya siapakah tuan rumah tempat itu. Terdengar Kim Toa-say membentak lagi.

"Hei, aku suruh kau menghidangkan nasi, mengapa masih berdiri termangu-mangu disitu?"

Kwik Tay-lok segera berpaling ke arah Ong Tiong.

Ong Tiong berlagak tidak melihat apa-apa, seakan-akan apapun tidak terdengar olehnya.

Terpaksa Kwik Tay-lok harus menghela napas panjang seraya bergumam.

"Ya, memang waktunya untuk bersantap aku sendiri pun merasa laparnya setengah mati". Hidangan telah dikeluarkan, memang tak salah, sayur utamanya hari itu adalah daging babi masak bung. Kim Toa-say juga tidak sungkan-sungkan begitu hidangan disajikan, ia lantas menempati kursi utama. Ong Tiong dan Kwik Tay-lok terpaksa harus mendampinginya di kedua belah samping. Baru saja Kim Toa-say mengangkat sumpitnya, tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Mana lagi orang-orang lainnya ? Kenapa tidak turut datang untuk bersantap ?"

"Ada dua orang lagi sakit, mereka hanya bisa minum bubur."

"Bukankah masih ada yang tidak sakit ?"

Tampaknya dia mengetahui semua persoalan di situ dengan teramat jelasnya. Kwik Tay-lok menjadi sangsi sejenak, kemudian katanya sambil tertawa getir.

"Agaknya berada di dapur."

Yan Jit memang berada di dalam dapur.

Ia tak mau keluar, karena terlalu dekil, maka enggan bertemu orang.

Sekalipun ia berkata demikian, terpaksa Kwik Tay-lok hanya bisa mendengarkan saja, sebab bila ia bertanya lebih lanjut, Yan Jit segera akan mendelik.

Bila Yan Jit sudah mendelik, Kwik Tay-lok segera merasakan badannya menjadi lemas tak bertenaga.

Terdengar Kim Toa-say berseru kembali.

"Dia kan bukan seorang koki, kenapa harus bersembunyi didalam dapur....?"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Baik, aku akan pergi memanggilnya"

Siapa tahu, baru saja ia bangkit berdiri, Yan Jit dengan kepala tertunduk telah menghampirinya, rupanya ia sudah menyadap pembicaraan tersebut dari belakang pintu.

Kim Toa say memperhatikannya dari atas sampai ke bawah lalu serunya dengan lantang.

"Duduk !"

Ternyata Yan Jit benar-benar duduk dengan kepala tertunduk.... hari ini telah berubah menjadi alim sekali.

"Baik, hayo makan !"

Seru Kim Toa-say lagi.

Dengan lahapnya dia bersantap lebih dahulu, dalam waktu singkat semua hidangan di meja telah disapu sampai habis.

Kwik Tay-lok sekalian hampir tiada kesempatan sama sekali untuk menggerakkan sumpitnya...

Setelah semua hidangannya ludas, Kim Toa-say baru meletakkan sumpit dan mengawasi orang-orang yang berada di sana dengan sorot mata tajam.

Mula-mula dia mengawasi Ong Tiong, kemudian memandang Kwik Tay-lok, setelah itu dari wajah Kwik Tay-lok dialihkan ke wajah Yan Jit.

Tiba-tiba ia berseru.

"Ketika kalian mencari gara-gara kepadaku, ide ini timbul dari benak siapa?"

"Aku !"

Jawab Yan Jit dengan kepala tertunduk.."Hmm, aku sudah tahu kalau kau."

Yan Jit menundukkan kepalanya semakin rendah. Kim Toa-say segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwik Tay-lok, kemudian ujarnya.

"Kau mampu menyambut lima bidikan peluru saktiku sekaligus, kepandaian macam begitu amat jarang bisa dijumpai dalam dunia persilatan."

"Yaa, masih lumayan."

Tak tahan Kwik Tay-lok tertawa terbahak-bahak.

"Siapa yang mengajarkan kepandaian tersebut kepadamu ?"

"Aku !"

"Hmm, aku sudah tahu kalau kau !"

"Darimana kau bisa tahu?"

Tak tahan Ong Tiong bertanya.

"Bukan saja aku tahu kalau kau yang mengajarkan kepadanya, juga tahu siapa yang telah mengajarkan kepadamu."

"Oooh...?"

Tiba-tiba Kim Toa-say menarik wajahnya, kemudian berseru.

"Ketika ayahmu mewariskan kepandaian tersebut kepadamu, apa yang dia katakan kepadamu ?"

"Apapun tidak ia katakan."

"Apapun tidak ia katakan ?"

"Yaa, karena kepandaian tersebut bukan dia orang tua yang mewariskan kepadaku."

"Kau bohong !"

Hardik Kim Toa-say. Ong Tiong turut menarik muka, sahutnya dengan dingin.

"Kau boleh mendengarkan aku membicarakan berbagai persoalan, tapi tak akan pernah mendengar aku berbohong."

Kim Toa-say menatapnya lekat-lekat, lewat lama kemudian ia baru bertanya.

"Kalau bukan ayahmu yang mengajarkan kepadamu ? Lantas siapa ?"

"Aku sendiripun tidak tahu siapa."

"Masa kau tidak tahu ?"

"Tidak tahu yaa tidak tahu !"

Kim Toa-say mulai menatapnya lekat-lekat lewat lama kemudian ia baru bangkit berdiri sembari berkata.

"Ikuti aku keluar dari sini !"

Dengan langkah lebar dia berjalan menuju keluar halaman, pelan-pelan Ong Tiong mengikuti di belakangnya hari ini, dia kelihatan seperti berubah rada aneh.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, diam-diam bisiknya.

"Sekarang aku baru tahu, karena soal apakah Toa-say tersebut datang kemari"

"Oooh ?"

"Aku telah mematahkan serangan peluru berantainya, dia pasti merasa sangat tidak puas, maka dia ingin mencari orang yang mengajarkan ilmu itu kepadaku untuk mengajaknya beradu kepandaian !"

Sementara di bibirnya ia berkata demikian orang juga turut bangkit berdiri.

"Mau apa kau ?"

Yan Jit segera menegur.

"Paha Ong lotoa masih belum sembuh, aku tak dapat menyaksikan dirinya....."

"Lebih baik kau duduk saja dengan tenang"

Tukas Yan Jit dengan suara dingin.

"Kenapa ?"

"Apakah kau tak bisa melihat bahwa Ong Tiong yang sedang dicari, bukan kau ?"

"Tapi kaki Ong Tiong....."

"Yang digunakan untuk menyambut serangan peluru itu toh bukan kakinya....!"

Cahaya dimalam hari itu cukup terang. Ketika Kim Toa-say menyaksikan Ong Tiong berjalan dekat, tiba-tiba dengan kening berkerut tegurnya.

"Kakimu....?"

"Aku jarang menggunakan kakiku untuk menerima senjata rahasia, aku masih mempunyai tangan,"

Ujar Ong Tiong dingin.

"Bagus !"

Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya, dengan cepat sebuah busur emas telah siap di atas tangan.

Dengan suatu gerakan cepat Kim Toa-say menarik busurnya dan menyerang.

Dalam waktu singkat, seluruh angkasa telah dipenuhi oleh cahaya emas yang berkilauan.

Siapapun tidak melihat jelas bagaimana caranya melancarkan serangan tersebut.

Kwik Tay-lok diam-diam menarik napas dingin, katanya.

"Serangannya kali ini mengapa jauh lebih cepat daripada serangannya tempo hari ?".

"Mungkin dia tak ingin membelikan peti mati untukmu."

Sahut Yan Jit dengan hambar.

"Kalau toh ia enggan menggunakan serangan mematikan untuk menghadapi diriku, kenapa menggunakan serangan yang mematikan untuk menghadapi Ong Tiong? Apakah dia mempunyai dendam dengan Ong Tiong?"

Pertanyaan ini tak mampu dijawab, meski oleh Yan Jit pun.

Walaupun ia telah melihat kalau kedatangan Kim Toa-say kali ini pasti mempunyai suatu tujuan, namun ia tak bisa menebak tujuan apakah itu....?

Sementara Kwik Tay-lok sedang merasa kuatir buat keselamatan Ong Tiong, mendadak cahaya emas yang memenuhi seluruh angkasa itu lenyap tak berbekas.

Ong Tiong masih tetap berdiri tenang di tempat semula, tapi di tangannya memegang dua buah jaring yang sudah penuh berisikan peluru emas.

Siapapun tidak melihat jelas cara apa yang dipergunakan olehnya, bahkan pada hakekatnya tidak terlihat jelas bagaimana caranya dia turun tangan.

Sekali lagi Kwik Tay lok menghela napas panjang, gumamnya.

"Ternyata caranya melancarkan serangan tersebut jauh lebih hebat daripada diriku."

"Kepandaian semacam itu tak mungkin bisa dilatih hanya di dalam satu hari saja, apa yang kau andalkan sehingga ingin mempelajari seluruh kepandaian tersebut di dalam satu hari saja? Memangnya kau anggap bakatmu benar-benar hebat ?"

"Bagaimanapun juga, teori serta rahasia dari kepandaian tersebut telah berhasil kupahami."

"Itulah dikarenakan suhu yang memberi pelajaran tersebut cukup hebat...!"

"Tentu saja suhunya hebat."

Kata Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"tapi muridnya pun terhitung cukup hebat, kalau tidak, bukan sedari dulu-dulu sudah masuk liang kubur ?"

Yan Jit menatapnya lekat-lekat, mendadak diapun turut menghela napas panjang.

"Aai.... bila suatu ketika kau dapat merubah penyakit membualmu itu, maka aku...."

"Kau mau apa...? Apakah hendak memberitahukan rahasiamu itu kepadaku ?"

Tiba-tiba Yan Jit tidak berbicara lagi.

Mereka sudah bercakap-cakap belasan patah kata banyaknya, namun Kim Toa-say masih berdiri tegak di tengah halaman.

Ong Tiong juga berdiri tidak berkutik.

Kedua orang itu saling berhadapan mata, aku memandang dirimu dan kaupun memandang aku.

Kembali beberapa waktu sudah lewat, tiba-tiba Kim Toa-say membanting busur emas itu ke atas tanah, kemudian berlalu dari situ dengan langkah lebar dan duduk kembali ke atas kursi.

Yan Jit dan Kwik Tay-lok juga duduk di situ, duduk sambil memandang ke wajahnya.

Lewat lama kemudian, tiba-tiba Kim Toa-say baru berteriak keras.

"Mana araknya? Apakah kalian tak pernah minum arak ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Kadangkala minum, cuma jarang sekali, setiap hari paling banter hanya minum empat lima kali. Yang diminumpun tidak terlalu banyak, setiap kali paling banter hanya minum tujuh delapan kati saja."

Guci arak sudah tersedia di atas meja.

Pagi ini, tentu saja ada orang yang datang mengirim arak, mereka tidak minum karena mereka masih belum terhitung benar-benar seorang setan arak.

Sebelum mengetahui jelas maksud kedatangan Kim Toa-say, siapapun enggan minum sampai mabuk.

Tapi Kim Toa-say minum lebih dulu.

Caranya minum arak juga bergaya seorang jendral, sekali teguk semangkuk penuh arak sudah diteguk sampai habis.

Setelah dia mulai minum, Kwik Tay-lok tentu saja tak mau ketinggalan....

Kalau dilihat dari gayanya sewaktu minum arak, tampaknya cepat atau lambat suatu ketika diapun akan dipanggil orang sebagai seorang jendral...."

Kim Toa-say mengawasinya sampai pemuda itu menghabiskan tujuh delapan mangkuk arak. Tiba-tiba katanya sambil tertawa.

"Kelihatannya sekaligus kau dapat meneguk habis arak sebanyak tujuh delapan kati."

"Memangnya kau anggap aku sedang membual?"

Seru Kwik Tay-lok sambil mengerling ke arahnya.

"Kau memang tidak mirip seseorang yang jujur."

"Aku mungkin tak mirip orang jujur, tapi sesungguhnya aku adalah seseorang yang jujur."

"Bagaimana dengan teman-temanmu?"

"Mereka jauh lebih jujur ketimbang aku."

"Kau tak pernah mendengar mereka berbohong ?"

"Selamanya tak pernah"

Kim Toa-say mendelik sekejap ke arahnya, tiba-tiba berpaling ke arah Ong Tiong sambil menegur.

"Benarkah kepandaian tersebut bukan ajaran bapakmu ?"

"Bukan !"

"Siapa yang mengajarkan?"

"Sudah kukatakan aku sendiripun tidak tahu."

"Masa tidak tahu ?"

"Dia belum memberitahukan soal ini kepadaku."

"Tapi paling tidak kau toh pernah berjumpa muka dengan dirinya ?"

"Juga tidak, karena sewaktu memberi pelajaran kepadaku, dia selalu memilih waktu malam dan lagi wajahnya selalu mengenakan kain cadar hitam...."

Berkilat sepasang mata Kin Toa-say, katanya.

"Maksudmu, ada seorang manusia berkerudung yang misterius mencarimu setiap malam."

"Bukan datang mencariku, tapi setiap malam dia selalu menantikan kedatanganku di dalam hutan di pinggir kuburan sana."

"Sekalipun selagi hujan deras angin badai ia juga menunggu ?"

"Kecuali beberapa hari menjelang tahun baru, sekalipun malam itu dinginnya membekukan badan, dia tetap menantikan kedatanganku di situ."

"Dia tidak kenal dirimu, kaupun tidak tahu siapakah dia, tapi setiap hari dia selalu menantikan dirimu, tujuannya tak lebih hanya ingin mewariskan kepandaian silatnya kepadamu, bahkan dia sama sekali tidak mengharapkan balas jasa, bukan begitu ?"

"Benar !"

Kim Toa say segera tertawa dingin.

"Percayakah kau bahwa di kolong langit terdapat kejadian yang begini menguntungkannya ?"

"Seandainya orang lain menceritakannya kepadaku, mungkin aku tak akan percaya, tapi di dunia ini justru terdapat kejadian semacam itu, sekalipun aku tak mau percayapun tak bisa."

Sekali lagi Kim Toa-say mendelik ke wajahnya lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata.

"Pernahkah kau menguntil di belakangnya? Untuk melihat ia berdiam di mana ?"

"Aku pernah mencobanya, namun tidak berhasil."

"Kalau toh setiap hari dia pasti datang, sudah pasti tempat tinggalnya tak akan terlalu jauh dari sana."

"Apakah di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk yang lain ?"

"Tidak ada, di atas bukit hanya ada kami sekeluarga."

"Kenapa, kalian bisa tinggal ditempat itu?"

"Karena ayahku suka akan ketenangan."

"Kalau toh di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk lain, apakah orang berkerudung itu merangkak keluar dari dalam peti mati?"

"Mungkin saja dia berdiam di bawah bukit!"

"Pernahkah kau pergi mencarinya ?"

"Tentu saja pernah."

"Tapi kau tidak berhasil menemukan seseorang yang memiliki kepandaian silat selihai itu ?"

"Jago lihay yang sesungguhnya memang tak pernah memamerkan kepandaian silatnya di atas wajah!"

"Orang yang berdiam di bawah bukitpun tidak banyak jumlahnya, seandainya benar-benar terdapat seorang jago lihay seperti dia, paling tidak kau pasti akan mengetahui jejaknya, bukan begitu?"

"Ehmm!"

"Kau bilang setiap malam dia pasti datang untuk memberi pelajaran ilmu silat kepadamu, berarti kalau siang hari tentu tidur, bila ada seseorang yang selalu tidur siang hari, apakah orang dalam kota kecil itu tak akan menaruh perhatian? Bukankah begitu?"

"Ehmm !"

"Kalau memang demikian, mengapa kau tidak berhasil menemukannya ?"

"Mungkin saja ia memang tidak berdiam didalam kota itu"

"Kalau memang tidak berdiam di atas bukit, juga di dalam kota, dia masih bisa berdiam dimana ?"

"Seorang jago lihay yang sesungguhnya berada ditempat manapun ia dapat tidur"

"Sekalipun dia dapat tidur di dalam gua, tapi bagaimana dengan makannya? Bagaimana pun lihaynya seorang jago, toh dia butuh untuk makan ?"

"Dia toh bisa saja masuk ke kota untuk bersantap ?"

"Bila seseorang yang tiap hari selalu makan di luar, tapi tak ada orang yang tahu dimanakah dia berdiam, apakah hal ini tidak menarik perhatian orang ?"

Ong Tiong segera melotot besar ke arahnya, setengah harian kemudian dia baru berkata dengan dingin.

"Tahukah kau sejak masuk ke dalam pintu gerbang sampai sekarang, seluruhnya kau sudah mengajukan berapa banyak pertanyaan ?"

"Apakah kau menganggap pertanyaan yang kuajukan terlampau banyak ?"

"Aku cuma merasa heran, mengapa kau harus menanyakan persoalan-persoalan yang sesungguhnya sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu !"

Tiba-tiba Kim Toa-say tertawa, ia berubah menjadi lebih misterius, setelah sekaligus meneguk tiga mangkuk arak, pelan-pelan dia baru berkata.

"Ingin tahukah kau siapa gerangan manusia berkerudung itu ?"

"Tentu saja ingin sekali."

"Kalau memang ingin, kenapa kau tidak menanyakannya?"

"Karena sekalipun aku menanyakannya, belum tentu bisa menjawab pertanyaanku ini."

Pelan-pelan Kim Toa-say mengangguk, katanya.

"Benar, di dunia ini memang jarang ada orang yang mengetahui siapa gerangan dirinya itu."

"Kecuali dia sendiri, tak mungkin orang lain bisa mengetahuinya, bahkan seorangpun tak ada."

"Masih ada seorang."

"Siapa ?"

"Aku !"

Ketika mendengar jawaban tersebut, termasuk Yan Jit pun turut menjadi tertegun. Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Ong Tiong bertanya.

"Tahukah kau kalau kejadian ini telah berlangsung lama sekali ?"

"Aku tahu !"

"Tapi kau tetap mengetahui siapakah orang itu ?"

"Benar."

"Kalau toh kau tak pernah bertemu dengannya, bahkan tidak mengetahui dengan pasti kapankah peristiwa itu terjadinya, darimana kau bisa tahu siapakah orang itu?"

"Yaa, aku memang tahu dengan jelas."

Ong Tiong segera tertawa dingin.

"Percayakah kau kalau di dunia ini bisa terjadi kejadian semacam itu....?"

"Aku tak ingin percayapun tak bisa."

"Atas dasar apa kau berani mengucapkannya dengan begitu saja ?"

Kim Toa-say tidak menjawab pertanyaan itu, dia meneguk dulu tiga mangkuk arak, kemudian pelan-pelan baru bertanya.

"Tahukah kau sekaligus aku bisa membidikkan berapa banyak peluru emas...?"

"Dua puluh satu biji !"

"Tahukah kau, diantara kedua puluh satu biji peluru yang kulepaskan itu, peluru nomor berapa yang cepat dan peluru nomor berapa yang lambat, peluru nomor berapa merupakan gerak perputaran dan peluru nomor berapa saling berbenturan ?"

"Aku tidak tahu."

"Kalau hanya soal ini saja tidak kau ketahui, darimana kau bisa menahan serangan peluru berantaiku?"

Sekali lagi Ong Tiong menjadi tertegun.

"Aku menjadi tenar dengan peluru emas, hingga kini sudah hampir tiga puluh tahun lamanya"

Kata Kim Toa-say lebih jauh.

"tidak banyak jago persilatan di dunia ini yang sanggup menghindarkan diri atau menangkis seranganku tersebut, tapi secara mudah kau berhasil mengatasinya"

Setelah menghela napas, katanya lebih jauh.

"Bukan saja kau mampu untuk menerimanya, bahkan orang yang kau ajarkan pun mampu untuk menyambut serangan tersebut, pada hakekatnya kalian telah menganggap serangan peluruku itu bagaikan permainan anak kecil saja, andaikata kau yang menghadapi keadaan seperti ini, tidakkah kau merasa keheranan?"

Kembali Ong Tiong tertegun beberapa saat lamanya, sesudah termenung sejenak, ia menyahut.

"Mungkin cara yang dipergunakan kurang betul, maka ancamanmu menjadi punah tak berguna"

Tiba-tiba Kim Toa-say menggebrak meja sambil berseru.

"Tepat sekali, bukan saja caramu itu merupakan semacam cara yang paling tepat, juga terhitung sebuah cara yang paling jitu, cara semacam ini bukan hanya bisa mengatasi serangan peluru berantaiku saja, bahkan boleh dibilang merupakan tandingan dari semua serangan senjata rahasia yang ada dalam kolong langit dewasa ini."

Ong Tiong hanya mendengarkan saja, karena dia sendiripun tidak tahu sampai dimanakah kelihaian dari ilmu kepandaiannya itu. Kim Toa-say menatapnya lekat-lekat, kemudian ia bertanya lagi.

"Tahukah kau, berapa orang yang mampu menggunakan kepandaian semacam itu dalam dunia persilatan selama ini ?"

Ong Tiong segera menggeleng.

"Hanya ada seorang !"

Seru Kim Toa-say lebih jauh. Setelah menghela napas panjang, pelan-pelan lanjutnya.

"Sudah belasan tahun lamanya aku mencari orang ini."

"Mengapa kau ....kau mencari dirinya?"

"Karena selama hidup bertarung dengan orang, baru kali itu saja aku dikalahkan secara mengenaskan di tangannya !"

"Kau ingin membalas dendam ?"

"Soal ini bukan terhitung suatu pembalasan dendam."

"Lantas karena apa ?"

"Ilmu sambitan peluru biasa dipatahkan orang, itu berarti terdapat kekurangan dalam permainanku itu, tapi aku sudah memikirkannya selama belasan tahun, akan tetapi tak pernah berhasil untuk menemukan titik kelemahanku itu."

"Kalau dilihat dari kemampuannya untuk mematahkan serangan peluru emas berantaimu, aku rasa dia pasti mengetahui dimanakah terletak titik kelemahanmu itu."

"Benar."

"Kau menganggap orang berkerudung itu sudah pasti dia ?"

"Seratus persen sudah pasti dia, tak mungkin ada orang yang kedua lagi, sedang kepandaianmu dalam menyambut serangan peluru berantaiku tadi, hampir boleh dibilang persis sama sekali dengan kepandaian itu."

Sinar berharap dan perasaan gelisah segera memancar keluar dari balik mata Ong Tiong. Tapi Kwik Tay-lok jauh lebih gelisah lagi, dengan cepat dia berseru.

"Kau telah berbicara pulang pergi, sesungguhnya siapakah orang itu...?"

Kim Toa-say menatap wajah Ong Tiong lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah dia berkata.

"Orang itu adalah Ong Cian-sik, yaitu ayahmu sendiri !"

Sekalipun sewaktu Cui-mia-hu mengulurkan tangannya dari dalam kuburan untuk menangkap dirinya, paras muka Ong Tiong tak sampai menunjukkan perasaan kaget dan tercengangnya seperti itu.

Tapi Kwik Tay-lok justru jauh lebih tercengang daripada dirinya, kembali dia berseru.

"Kau maksudkan orang berkerudung itu adalah ayahnya ?"

"Tak bakal salah lagi."

"Kau bilang ayahnya bukan mengajar ilmu silat kepadanya di rumah, sebaliknya dengan mengerudungkan wajahnya menunggu kedatangannya didalam hutan dekat kuburan ?"

"Benar."

Kwik Tay-lok ingin tertawa, namun tak ada suara yang keluar, akhirnya sambil menghela napas dia berkata.

"Percayakah kau kalau di dunia ini terdapat kejadian aneh seperti itu....?"

"Peristiwa semacam ini tak bisa terhitung sebagai sesuatu kejadian yang aneh, belum bisa dianggap aneh ?"

"Semua persoalan yang masih bisa dijelaskan dengan kata-kata tak bisa dianggap sebagai suatu kejadian yang aneh."

"Bagaimana alasannya ?"

"Sebenarnya akupun tidak habis mengerti."

Kata Kim Toa-say hambar.

"tapi setelah kusaksikan tempat tinggalnya ini, aku menjadi teringat akan hal ini, apalagi menyaksikan teman-temanmu itu, membuat aku makin terpikirkan lebih jauh"

"Kalau begitu, coba kau terangkan alasanmu yang pertama."

"Ketika Ong Cian-sik masih muda dulu, ia masih mempunyai sebuah nama lain yaitu Ong Huilui, artinya sekalipun sambaran petir yang datang dari langitpun ia masih sanggup untuk menaklukkannya."

Setelah meneguk habis secawan arak, dia berkata lebih jauh.

"Sekalipun nama tersebut agak terlalu sesumbar, tapi pada usia dua puluh tiga tahun dia telah dianggap sebagai jago lihay nomor wahid dari dunia persilatan yang sanggup menghadapi ancaman senjata rahasia macam apa pun juga, kendatipun julukan itu terlampau takabur, akan tetapi orang lain tak berani berkata apa-apa."

Semua orang mendengarkan cerita itu dengan seksama, bahkan Kwik Tay-lok sendiripun tidak turut menimbrung. Kembali Kim Toa-say melanjutkan.

"Menanti usianya sudah agak menanjak, tenaganya makin matang, diapun merubah namanya menjadi Ong Cian-sik, pada waktu itu dia sudah jarang sekali melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, lewat dua tahun kemudian, tiba-tiba ia lenyap dari keramaian dunia persilatan."

Sampai di situ, Kwik Tay lok baru tak tahan untuk menimbrung.

"Mungkin hal ini disebabkan karena ia sudah jemu dengan kehidupan dunia persilatan yang penuh dengan bunuh membunuh itu, maka ia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari keramaian dunia. Kejadian semacam ini banyak terjadi di dunia sedari dulu, rasanya hal mana bukan suatu kejadian yang aneh."

Kim Toa-say menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hal mana bukan merupakan alasannya yang terutama"

Katanya.

"Ooooh....."

"Yang terutama adalah dia telah mengikat tali permusuhan dengan seorang musuh besar yang lihay sekali, dia tahu kalau kepandaiannya masih bukan tandingan orang, maka dia ambil keputusan untuk mengundurkan diri dari keramaian dunia dan hidup terpencil."

"Siapakah musuh besarnya itu ?"

Tiba-tiba Ong Tiong bertanya.

"Justru karena dia enggan untuk memberitahukan siapa nama musuh besarnya itu kepadamu, maka dia baru tidak bersedia untuk mengajarkan ilmu silat kepadamu secara terang-terangan."

"Kenapa ?"

"Sebab bila kau tahu akan masa lalunya, cepat atau lambat pasti akan mengetahui soal permusuhannya itu, jika kau tahu siapakah musuh besarnya itu, sebagai pemuda yang berdarah panas, tak bisa disangkal lagi kau pasti akan pergi mencarinya untuk membuat perhitungan."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Tapi berbicara sesungguhnya, musuh besarnya memang menakutkan sekali, bukan saja kau tak akan sanggup untuk menghadapinya, mungkin tiada seorang manusiapun dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menyambut lima puluh jurus serangannya."

Paras muka Ong Tiong sama sekali tidak berperasaan, katanya.

"Aku hanya ingin tahu siapakah sebenarnya orang itu ?"

"Tahu pada saat inipun percuma."

"Kenapa ?"

"Karena kendatipun dia sudah tiada tandingannya di dunia ini, akan tetapi masih belum mampu untuk menghadapi beberapa hal."

"Soal apa saja ?"

"Tua, sakit dan mati !"

"Ia sudah mati ?"

Paras muka Ong Tiong agak berubah. Kim Toa-say segera menghela napas panjang.

"Aaai.... dari dulu sampai sekarang, ada jago gagah darimanakah di dunia ini yang bisa menghindarkan diri dari hal tersebut."

"Tapi ia sebelumnya..."

"Setelah orangnya mati, namanya juga turut terkubur sepanjang masa di dalam tanah"

Tukas Kim Toa-say dengan cepat.

"buat apa kau mesti menanyakan lagi akan persoalan ini!"

Ia tidak membiarkan Ong Tiong buka suara dengan cepatnya menyambung lebih jauh.

"Semenjak sampai di tempat ini, orang yang bernama Ong Hui-liu pun praktis seperti orang mati, maka sekalipun berada di depan putranya sendiri, dia tak akan membicarakan soal ilmu silat"

"Ini merupakan alasan yang pertama"

Kata Kwik Tay-lok.

"Kalau dilihat dari sahabatmu dari jenis yang begini, bisa diduga kalau dikala masih kecilnya dulu Ong Tiong sudah pasti adalah seorang anak yang sangat nakal"

Walaupun Kwik Tay-lok tidak berbicara apa-apa, namun mimik wajahnya telah mewakili Ong Tiong untuk mengakui akan kebenaran dari ucapan tersebut.

"Bocah yang nakal biasanya selalu menimbulkan bencana atau kesulitan buat orang tuanya,"

Kata Kim Toa-say lebih lanjut.

"Ong Cian-sik kuatir putranya bakal menderita kerugian, diapun tak tega untuk tidak mengajarkan kepandaian silat pelindung badan kepadanya."

Ia tertawa sejenak, kemudian melanjutkan.

"Tapi bila menginginkan seorang anak yang nakal untuk baik-baik berlatih ilmu silat di rumah, hakekatnya perbuatan ini jauh lebih sulit daripada menjinakkan seekor kuda liar, maka dari itu Ong Cian-sik lantas memperagakan cara seperti itu, selain dapat merahasiakan indentitasnya di hadapan orang, diapun dapat merangsang gairah Ong Tiong untuk belajar silat.... biasanya anakanak semakin terangsang gairahnya apabila menghadap hal-hal yang di anggapnya aneh dan misterius."

"Jangankan anak-anak, sekalipun orang dewasa juga sama saja,"

Sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Di tengah kegelapan malam yang buta, dalam hutan di tepi kuburan, berhadapan dengan seorang jago lihay dunia persilatan yang berkerudung...."

Peristiwa yang begini rahasia dan misteriusnya ini, mungkin seorang kakekpun akan turut terangsang gairah belajar silat serta rasa ingin tahunya.

"Sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan akan persoalan ini?"

Kata Kim Toa-say kemudian.

"Masih ada satu hal yang tidak kupahami,"

Kata Kwik Tay-lok.

"Oooh...?"

"Darimana kau bisa tahu akan maksud hati dari empek Ong ?"

"Sebab akupun seorang manusia yang pernah menjadi ayah."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.

"Kasih sayang dan penderitaan seorang ayah terhadap putranya, hanya orang yang menjadi ayah saja yang dapat merasakannya."

Tiba-tiba Ong Tiong bangkit berdiri, kemudian menerjang keluar dari tempat itu.

Apakah dia ingin mencari suatu tempat yang tak ada orangnya dan menangis tersedu-sedu ?

Yan Jit memang sudah menundukkan kepalanya sedari tadi, sekarang Kwik Tay-lok ikut menundukkan pula kepalanya.

"Orang yang menjadi anak, kenapa tak dapat memahami perasaan kasih sayang serta pengharapan dari ayahnya setelah keadaan terlambat dan dikala menyesalpun percuma ?"

Kim Toa-say memperhatikan mereka lekat-lekat, mendadak sambil mengangkat cawan arak dia berseru.

"Apakah kalian tak pernah minum arak?"

Di dunia ini memang terdapat banyak sekali kejadian aneh dan misterius yang tampaknya sukar untuk dijelaskan selamanya.

Padahal bagaimanapun misterius dan peliknya suatu persoalan, sudah pasti ada jawabannya, seperti pula di bawah tanah pasti ada sumber air dan emas, di duniapun pasti ada keadilan dan kebenaran, diantara hubungan manusiapun pasti terdapat persahabatan dan kehangatan.

Sekalipun kau tak bisa melihatnya, tak bisa mendengarnya dan tak bisa menemukannya, tak akan kau sangkal kehadiran mereka di dunia ini !

Asal kau mau untuk mempercayainya, suatu ketika kau pasti akan berhasil untuk menjumpainya.

"Adakah manusia di dunia ini yang tak pernah mabuk?"

Jawab yang paling tepat dari pertanyaan ini adalah.

"Ada!"

Orang yang tak pernah minum arak adalah orang yang tak pernah mabuk..Asal kau minum, kau akan mabuk, bila kau minum terus tiada hentinya, tak bisa disangkal lagi kau pasti akan mabuk, itulah sebabnya Kwik Tay-lok juga menjadi mabuk.

Kepala Kim Toa-say kelihatan seperti bergoyang-goyang terus tiada hentinya.

Mendadak ia merasakan kalau Kim Toa-say sedikitpun tidak mirip seorang Toa-say, mendadak ia merasa dirinya barulah seorang jendral yang sesungguhnya, lagi pula jendral besar diantara jendral-jendral lainnya....

Kim Toa-say juga lagi memandang ke arahnya, tiba-tiba ia menegur sambil tertawa.

"Kenapa sih kepalamu bergoyang terus tiada hentinya ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh... haahh... heran amat kau ini, sudah jelas kepalamu sendiri yang sedang bergoyang tiada hentinya, masih menuduh kepala orang yang sedang bergoyang"

"Siapakah orang yang kau maksudkan ?"

"Yang dimaksudkan orang adalah aku."

"Kalau sudah jelas dirimu, mengapa pula kau katakan orang ?"

Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian menghela napas panjang, katanya.

"Tahukah kau apakah yang menjadi penyakitmu terbesar ?"

Kim Toa-say turut berpikir sebentar, kemudian balik bertanya.

"Apakah aku minum arak terlalu banyak?"

"Bukan minum arak terlalu banyak, adalah pertanyaanmu yang terlalu banyak, sehingga membuat orang hampir saja tak tahan."

Mendengar itu, Kim Toa-say segera tertawa terbahak-bahak. (Bersambung

Jilid . 24)

Jilid 24

"HAAAHHH.... haaahhh.... haaahhh.... bagus, aku tak akan bertanya, aku bilang tak akan bertanya tak akan bertanya... tapi, bolehkah kuajukan pertanyaan yang paling akhir ?"

"Tanyalah !"

"Tahukah kau, apa sebabnya aku sampai datang kemari sekarang?"

Kwik Tay-lok berpikir sebentar kemudian tertawa tergelak.

"Aku lihat kau ini benar-benar sangat aneh, masa mau apa dirinya datang kemaripun tidak diketahui oleh dirinya sendiri dan sebaliknya malah di tanyakan kepadaku, aku toh bukan ular dalam perutmu, mana aku bisa tahu ?"

Kim Toa-say seakan-akan tidak mendengar sama sekali terhadap apa yang dikatakannya itu, sinar matanya tertuju pada mangkok kosong yang berada di tangannya, sedang mukanya menunjukkan mimik wajah seperti setiap saat sudah siap akan menangis saja.

Lewat lama kemudian, pelan-pelan dia baru berkata.

"Selama berada di rumah aku telah melatih ilmu peluru berantaiku selama belasan tahun, dalam anggapanku kepandaian tersebut pasti bisa kugunakan untuk menghadapi Ong Hu-lui, siapa tahu jangankan orangnya, hanya anaknya saja tak mampu kuhadapi, aku..... aku...."

Mendadak dia melompat bangun, seolah-olah juga ingin turut menerjang keluar, mencari tempat yang tak ada orangnya dan menangis tersedu-sedu....

"Tunggu sebentar !"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok berpekik keras.

"Apa lagi yang harus kutunggu ?"

Seru Kim Toa-say dengan mata melotot besar.

"Apakah harus menunggu sampai kehilangan, muka untuk kesekian kalinya?"

Sambil menuding ke arah peluru emas yang berada di dalam mangkuk di atas meja, Kwik Taylok berseru.

"Kalau kau ingin pergi, maka lebih baik bawa serta barang-barangmu itu..."

Isi mangkuk tersebut sebenarnya adalah Ang-sio-bak, tapi sekarang dia telah mempergunakannya sebagai tempat peluru emasnya.

"Mengapa aku harus membawanya pergi?"

Seru Kim Toa say.

"Bukankah barang-barang tersebut milikmu ?"

"Siapa bilang milikku ? Kenapa tidak kau tanyakan kepada benda-benda tersebut, apakah dia she Kim ?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun. Tiba-tiba Kim Toa-say tertawa tergelak lagi, katanya lebih jauh.

"Benda-benda itu bukan Ang-sio-bak, juga bukan bakso, mau dimakan tak bisa, mau di gigit tak kuat, siapa yang menyukai benda semacam ini, dialah si cucu kura-kura ?"

"Apakah selanjutnya kau tak akan menggunakan peluru berantai lagi untuk menghadapi orang ?"

"Siapa yang memakai peluru berantai di kemudian hari, siapa pula cucu kura-kura !"

Setelah tertawa tergelak, dengan sempoyongan dia menerjang keluar dari situ, ketika tiba di depan pintu, mendadak dia berpaling sambil berseru lagi.

"Tahukah kau, apa sebabnya dahulu aku suka menggunakan peluru emas untuk menghajar orang ?"

"Tidak tahu."

"Karena emas adalah benda yang paling disukai setiap orang, bila menggunakan emas untuk memukul orang, orang lain pasti ingin menyambutnya untuk dilihat, dengan demikian mereka akan lupa untuk menghindarkan diri, untuk menyambut benda itu sudah barang tentu akan jauh lebih sulit daripada untuk menghindarinya, apalagi emas dapat membuat pandangan mata orang menjadi silau, oleh sebab itu barang siapa menggunakan emas sebagai senjata rahasianya, dia akan memperoleh keuntungan yang cukup besar didalam hal ini."

"Sekarang, mengapa kau tak akan mempergunakannya lagi ?"

Kim Toay-say berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Sebab siapa ingin mencari keuntungan, dia akan rugi, sedang rugilah baru merupakan suatu keberuntungan."

"Tampaknya kau belum lagi mabuk, ucapanmu masih terdengar jelas sekali."

Kata Kwik Taylok sambil tertawa. Kontan saja Kim Toa-say melotot besar.

"Tentu saja aku belum mabuk, siapa bilang aku sudah mabuk, siapa pula si cucu kura-kura."

Akhirnya Kim Toa-say telah pergi.

Dia memang tampak sedikitpun tidak mabuk, cuma mabuknya sudah mencapai delapan sembilan bagian saja.

Bagaimana dengan Kwik Tay-lok !

Dia sedang mengawasi peluru emas di mangkuk dengan tertegun, lama kemudian dia baru menghela napas sambil bergumam.

"Benda-benda yang berada di dunia ini memang aneh sekali, dikala kau sedang membutuhkannya, dia tak mau datang, namun dikala kau sudah tidak membutuhkannya, ia justru datang setumpuk, bayangkan saja tobat tidak ?"

Seandainya kau berdiam di suatu tempat yang terpencil. Seandainya ditengah malam buta ada orang datang mengetuk pintumu dan berkata dengan sungkan.

"Aku lelah haus, dan lagi sudah jauh dari tempat penginapan, aku ingin menginap semalam saja di sini dan minta air minum."

Maka asal kau masih terhitung manusia, tentu kau akan berkata.

"Silahkan masuk !"

Kwik Tay-lok juga terhitung seorang manusia.

Biasanya dia memang periang, suka menerima tamu, apalagi bila sedang minum arak, maka keriangannya sepuluh kali lipat lebih besar dari pada dihari-hari biasa.

Sekarang dia sedang minum arak, tidak sedikit arak yang sedang diteguknya.

Tak lama setelah Kim Toa-say pergi, dia mendengar ada orang mengetuk pintu, maka diapun berebut keluar untuk membukakan pintu.

Orang yang mengetuk pintu itu sedang berkata kepadanya dengan amat sopan.

"Aku lelah lagi haus dan lagi jauh dari rumah penginapan, bolehkah aku menginap semalam di sini dan minta air seteguk ?"

Semestinya Kwik Tay-lok akan mengucapkan.

"Silahkan masuk". Tapi justru kedua patah kata tersebut tak sanggup diutarakan keluar. Setelah berjumpa dengan orang itu, tenggorokannya seakan-akan tersumbat secara tiba-tiba, pada hakekatnya tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan. Orang yang datang mengetuk pintu adalah seorang manusia berbaju hitam.... Orang itu memakai baju serba hitam, celana hitam sepatu hitam, wajahnya juga ditutup dengan secarik kain berwarna hitam, hanya sepasang matanya yang kelihatan bersinar terang, di belakang tubuhnya juga tersoren sebilah pedang panjang. Sebilah pedang panjang yang mencapai lima depa lebih. Di depan pintu tiada cahaya lentera. Dengan tenangnya orang itu berdiri di sana seakan-akan ciptaan dari kegelapan saja. Begitu berjumpa dengan orang itu, pengaruh arak di tubuh Kwik Tay-lok segera menjadi terang tiga bagian. Apalagi setelah menyaksikan pedang yang tersoren di punggung orang itu, pengaruh arak nya semakin hilang. Hampir saja dia tak tahan untuk menjerit tertahan.

"Lamkiong Cho!"

Sesungguhnya macam apakah manusia yang bernama Lamkiong Cho tersebut, ia sama sekali belum pernah melihatnya.

Tapi orang ini sudah pasti bukan penyaruan dari Bwee Ji-ka.

Walaupun dandanannya bahkan sampai pedang yang digembolnya persis seperti dandanan Bwee Ji-ka ketika sedang munculkan diri bersama si tongkat di depan warung makannya Moay Lokong tempo hari.

Akan tetapi Kwik Tay-lok tahu dengan pasti bahwa orang ini bukan Bwee Ji-ka.

Hal ini bukannya dikarenakan dia lebih tinggi sedikit atau lebih kurus sedikit daripada Bwee Jika....

sebetulnya karena apa, Kwik Tay-lok sendiripun merasa tidak begitu jelas.

Ketika Bwee Ji-ka mengenakan baju berwarna hitam tersebut, seakan-akan membawa semacam hawa pembunuhan yang mengerikan dan mendirikan bulu roma orang.

Sebaliknya orang ini tidak memilikinya.

Dia tidak memiliki hawa pembunuhan, juga tidak memiliki hawa kehidupan, bahkan hawa apapun tidak dimilikinya, sepertinya kendatipun kau tendang tubuhnya, dia tak akan memperlihatkan reaksi apa-apa.

Tapi Kwik Tay-lok berani menjamin, entah siapa saja itu orangnya tak akan berani menyentuh seujung jari tangannyapun.

Biji matanya hitam dan jeli, tiada perbedaan khusus bila dibandingkan dengan orang-orang yang belajar ilmu silat pada umumnya.

Tapi entah apa sebabnya asal dia memandangmu sekejap maka kau akan segera merasakan sekujur badannya menjadi tak sedap.

Waktu itu dia sedang memperhatikan Kwik Tay-lok.

Kwik Tay-lokpun segera merasakan sekujur badannya menjadi tak sedap, seperti orang yang baru mendusin dari pengaruh araknya setelah mabuk kepayang sehari semalam lamanya, peluh dingin membasahi telapak tangannya kepala seperti pusing tujuh keliling sehingga kalau bisa dia ingin memenggalnya dengan pisau.

Orang berbaju hitam itu sedang memandang ke arahnya, jelas masih menantikan jawabannya, jelas masih menantikan jawabannya.

Kwik Tay-lok sendiri seakan-akan sudah menjawab pertanyaan itu.

Orang berbaju hitam itu tidak berkata apa-apa lagi, mendadak dia membalikan badan dan pelan-pelan berjalan.

Langkah kakinya persis seperti pula orang yang lain, hanya saja dia berjalan dengan luar biasa lambannya, setiap maju melangkah, dia selalu memperhatikan ujung kakinya lebih dahulu, seakan-akan kuatir kalau langkah kakinya menginjak di tempat yang kosong dan terjungkal ke dalam percobaan, tapi lagaknya mirip pula seseorang yang takut menginjak mati seekor semut.

Kalau dilihat dari caranya berjalan, mungkin sampai besok sorepun tak nanti bisa menuruni bukit tersebut.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok tak kuat menahan diri lagi, dia lantas berseru lantang.

"Tunggu sebentar !"

"Tak usah di tunggu lagi"

Jawab orang berbaju hitam itu tanpa berpaling lagi.

"Kenapa ?"

"Kalau toh tempat ini kurang leluasa, aku pun tak berani memaksanya lebih lanjut."

Selesai mengucapkan perkataan itu, dia tak lebih baru berjalan dua langkah saja. Sambil tertawa Kwik Tay-lok lantas berkata.

"Siapa bilang kalau tempat ini kurang leluasa ? Delapan ratus li disekitar tempat ini tak akan ada tempat yang suka menerima tamu seperti tempat ini, silahkan masuk, silahkan masuk !"

Orang berbaju hitam itu masih ragu-ragu, lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru berpaling.

Kwik Tay-lok kembali menunggu cukup lama, setelah itu dia baru balik kembali ke depan pintu gerbang, katanya.

"Kau menyuruh aku masuk ke dalam?"

Diapun berbicara dengan suara yang sangat lamban, penggunaan kata-katapun amat sedikit, kalau orang lain harus membutuhkan sepuluh patah kata untuk menyelesaikan serangkai perkataan, maka dia paling banter hanya menggunakan enam tujuh patah kata saja.

"Betul, silahkan masuk "

Kata Kwik Tay lok.

"Tidak menyesal ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Mengapa aku harus menyesal? jangankan kau hanya menginap semalam saja di sini, sekalipun ingin berdiam selama tiga atau lima bulanpun, kami tetap akan menyambutmu dengan segala senang hati."

Kembali keriangan dan kehangatannya muncul kembali di wajah pemuda ini.

"Terima kasih."

Akhirnya dia masuk ke dalam halaman dengan langkah pelan, sorot matanya hanya memperhatikan jalanan yang terbentang di hadapannya, tempat yang lain hampir tidak diperhatikannya sama sekali.

Yan Jit dan Ong Tiong sedang mengawasi orang itu dari balik jendela, mimik wajah kedua orang inipun sama-sama memperlihatkan rasa kaget bercampur tercengang.

Orang berbaju hitam itu berjalan menelusuri serambi panjang dan berhenti.

"Silahkan masuk untuk minum arak barang dua cawan!"

Kata Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Tidak !"

"Kau tak pernah minum arak?"

"Kadangkala minum."

"Kapan baru minum?"

"Sehabis membunuh orang."

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, segera gumamnya.

"Kalau begitu, lebih baik kau tak usah minum arak saja."

Kemudian dia sendiripun merasa geli sekali setelah membayangkan kembali perkataannya itu.

Kwik sianseng ternyata menganjurkan orang jangan minum arak, baru pertama kali ini dia berbuat demikian.

Orang berbaju hitam itu berdiri didalam serambi dan tidak bergerak lagi.

"Dibagian belakang sana terdapat kamar tamu, kalau memang tak ingin minum arak, silahkan masuk ke dalam."

Kata Kwik Tay-lok.

"Tidak usah."

"Tidak usah ?"

Seru Kwik Tay-lok lagi agak tertegun.

"tak usah apa maksudmu ?"

"Tak usah menuju ke kamar tamu."

"Masa kau ingin tidur di sini ?"

"Benar !"

Agaknya dia merasa segan untuk mengajak Kwik Tay-lok berbicara lagi, pelan-pelan dia memejamkan matanya dan bersandar di atas sebuah tiang di depan ruang serambi. Tak tahan Kwik Tay-bok berseru lagi.

"Kalau memang kau ingin tidur di sini, kenapa tidak berbaring di lantai....?"

"Tidak usah."

"Tidak usah berbaring ?"

"Benar."

"Apakah kau..... kau hendak tidur sambil berdiri?"

"Benar."

Kwik Tay-lok tak bisa berbicara lagi, kalau dilihat dari perubahan mimik wajahnya itu maka seakan-akan dia sedang menyaksikan seekor kuda yang pandai berbicara....

"Kuda tak bisa berbicara !"

"Tapi hanya kuda yang tidur berdiri."

"Apakah dia seekor kuda ?"

"Bukan."

"Menurut pendapatmu siapakah orang itu."

"Lamkiong Cho !"

Yan Jit manggut-manggut, baru pertama kali ini dia menyetujui dengan pendapat dari Kwik Tay-lok.

Orang berbaju hitam itu bersandar di atas tiang penyanggah ditengah serambi, dia seakanakan betul-betul sudah tertidur, tubuhnya seakan-akan pula tonggak kayu penyanggah tersebut, mana lurus, tegak, dingin, kaku, tanpa reaksi dan tanpa perasaan.

Kwik Tay-Iok menghela napas, katanya.

"Andaikata orang ini bukan Lamkiong Cho, di dunia ini mungkin tiada orang lain lagi yang dinamakan Lamkiong Cho."

Tiba-tiba Ong Tiong berkata.

"Entah dia itu kuda juga boleh, Lamkiong Cho juga boleh, kedua-duanya tiada sangkut paut apapun dengan kita."

"Ada !"

Kata Kwik Tay-lok.

"Hubungan apa?"

"Manusia seperti Lamkiong Cho, tak mungkin dia akan kemari, jika tanpa suatu tujuan."

"Kenapa dia tak boleh kemari?"

"Kenapa pula dia harus kemari ?"

"Setiap macam manusia, bila malam sudah tiba, ia pasti akan mencari tempat untuk tidur."

"Jadi kau menganggap dia datang untuk tidur ?"

"Sekarangpun dia sedang tidur."

"Tidur macam begini bisa dilakukannya di tempat manapun juga, mengapa ia justru datang kemari dan tidur di sini ?"

"Terlepas apakah tujuan kedatangannya, tapi yang jelas pada saat ini ia sedang tidur, maka dari itu...."

"Maka dari itu kenapa ?"

"Maka dari itu kitapun harus pergi tidur."

Inilah keputusan yang diambilnya.

Maka dari itu diapun pergi tidur.

Bila Ong Tiong sudah mengatakan akan pergi tidur, maka apapun yang kau suruh dia lakukan, tak mungkin akan dia lakukan dengan begitu saja....

Namun Kwik Tay-lok masih berdiri di depan jendela dan mengawasi orang baju hitam.

"Mengapa kau tidak pergi tidur ?"

Yan Jit segera menegur.

"Aku ingin tahu, apakah dia benar-benar bisa tidur, bisa tidur berapa lama ?"

Sambil menggigit bibir Yan Jit berseru.

"Tapi kamar ini toh kamarku, aku hendak tidur."

"Tidur saja di situ, aku toh tak akan membangunkan dirimu."

"Tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa ?"

"Bila ada orang lain didalam kamarku, aku tidak bisa tidur."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Bila kau mempunyai bini di kemudian hari, apakah kau juga akan mempersilahkan dirinya untuk tidur didalam kamar lain ?"

Paras muka Yan Jit kelihatan agak memerah, dengan mata mendelik dia membentak.

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku pasti akan mempunyai bini ?"

"Sebab di dunia ini hanya terdapat dua macam manusia yang tak akan mempunyai bini."

"Dua macam manusia apa saja ?"

"Pertama adalah hwesio dan kedua adalah seorang banci yang laki tidak laki, perempuan tidak perempuan, tentunya kau tidak termasuk kedua macam jenis manusia itu bukan?"

Yan Jit kelihatan agak merah, lalu serunya.

"Sekalipun aku akan mencari bini, juga tak akan mencari seorang lelaki busuk macam kau."

Sebenarnya dia merasa agak marah, tapi entah mengapa, sebelum ucapan itu selesai di ucapkan, paras mukanya malah sudah berubah menjadi memerah lebih dulu.

Mendadak Kwik Tay-lok menarik tangannya sambil berbisik.

"Coba kau lihat, apakah yang berada di atas dinding itu ?"

Baru saja Yan Jit akan melepaskan diri dari cekalannya, ia telah menyaksikan ada sebuah batok kepala yang menongol keluar dari balik dinding di seberang sana.

Malam sudah semakin kelam.

Iapun tidak sempat melihat jelas bagaimanakah tampang wajah orang itu, hanya terasa olehnya ada sepasang mata yang tajam dan bersinar terang sedang celingukan kesana kemari.

Untung saja di dalam ruangan tak ada lampunya, maka orang itupun tidak sempat melihat mereka.

Sesudah celingukan sekejap di sekeliling tempat itu, mendadak dia menarik kembali kepalanya.

Kwik Tay-lok segera tertawa dingin bisiknya.

"Coba kau lihat, dugaanku tak salah bukan, selain orang ini tidak mengandung maksud baik, lagi pula bukan hanya dia seorang yang datang kemari."

"Kau anggap dia datang lebih dulu ke tempat ini sebagai seorang mata-mata ?"

"Sudah pasti begitu."

Meskipun orang berbaju hitam itu masih berdiri di sana, namun tubuhnya sama sekali tak berkutik, namun Yan Jit pun tanpa terasa di bikin terpesona untuk mengawasinya.

Belum juga ada suatu gerakan apapun.

Semakin tiada suatu pergerakan, kadangkala hal mana justru merupakan suatu ancaman yang mengerikan.

Sekalipun Yan Jit benar-benar ingin tidur mungkin dia akan melupakan keinginannya itu sekarang.

Entah berapa saat kemudian, mendadak terdengar Kwik Tay-lok bergumam seorang diri.

"Heran, heran, sungguh mengherankan."

"Apanya yang mengherankan ?"

"Kenapa badanmu sama sekali tidak bau busuk ?"

Sekarang Yan Jit baru merasa kalau dia berdiri begitu dekatnya dengan Kwik Tay-lok sehingga hampir saja bersandar di dalam rangkulan Kwik Tay-lok.

Untung saja didalam kamar tiada cahaya lampu, sehingga tak terlihat bagaimanakah mimik wajahnya ketika itu.

Dengan cepat dia mundur dua langkah, kemudian katanya sambil menggigit bibir.

"Dapatkah aku tidak bau busuk ?"

"Tidak dapat"

"Kenapa ?"

"Sebab aku tidak pernah melihat kau mandi, juga tak pernah menyaksikan kau berganti pakaian, semestinya badanmu baunya busuk setengah mati"

"Takut?"

"Kentut lebih busuk lagi baunya"

Serta Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Dengan gemas Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, dia seperti ingin sekali menampar wajahnya, untung saja pada saat itu terlihat ada sesosok bayangan manusia yang berke-lebat lewat di luar dinding pekarangan de-ngan suatu gerakan yang enteng dan cepat.

Tentu saja orang itu tidak bisa melayang sedemikian cepatnya, tapi kenyataannya dia sangat enteng, sekali melompat tiga kaki bisa dilampaui, sewaktu mencapai di atas tanah, juga tidak menimbulkan suara barang sedikitpun juga.

Bukan saja badannya sangat enteng, diapun luar biasa kurus kecilnya, sehingga pada hakekatnya tidak jauh berbeda dengan perawakan tubuh seorang bocah.

Namun di atas wajahnya telah tumbuh jenggot yang cukup panjang, bahkan hampir bersatu dengan rambutnya yang awut-awutan tak karuan, sebagian besar wajahnya tertutup semua sehingga hanya kelihatan sepasang matanya yang jauh lebih licik dari pada sepasang mata rase tua.

Dia celingukan kembali di sekeliling tempat itu, akhirnya sorot mata tersebut terhenti di atas wajah manusia berbaju hitam itu.

Si orang berbaju hitam itu masih juga belum bergerak, sepasang matanya juga sama sekali tidak dipentangkan.

Mendadak kakek ceking tadi menggerakkan tangannya memberi tanda, dari luar dinding pekarangan segera melayang masuk kembali tiga sosok bayangan manusia.

Ketiga orang ini mempunyai perawakan badan yang tinggi besar, namun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak lemah, ketiga orang itu semuanya mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam gelap, ditangan masing-masingpun menggembol senjata tajam.

Orang pertama menggunakan senjata Poan-koan-pit, orang kedua menggunakan pedang berbentuk busur, sedang orang ketiga menggunakan tombak berantai panjang, sebaliknya si kakek ceking itu menggunakan sepasang senjata gelang..

Ke empat macam senjata itu merupakan senjata-senjata luar biasa yang tajam dan sukar untuk digunakan.

Biasanya orang yang bisa menggunakan senjata rahasia aneh semacam itu pasti memiliki ilmu silat yang luar biasa..

Namun orang berbaju hitam itu masih berdiri tak berkutik di situ, bahkan sedikit reaksi pun tak ada.

Sikap ke empat orang itu menjadi tegang sekali, sepasang matanya mengawasi tubuh orang berbaju hitam itu tanpa berkedip, kemudian selangkah demi selangkah dia maju mendekatinya, jelas setiap saat mereka mungkin akan melancarkan serangan mematikan yang akan merenggut selembar jiwanya.

Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Yan Jit, katanya.

"Ternyata mereka tidak berasal dari satu aliran yang sama"

Yan Jit segera manggut-manggut.

Kedua orang itu sama-sama tak berkutik ditempat persembunyiannya, sementara dalam hatinya mempunyai tekad yang sama, mereka ingin tahu bagaimana caranya ke empat orang pencoleng tersebut menghadapi si orang berbaju hitam yang misterius tersebut.

Siapa tahu pada saat itulah pintu gerbang dibuka orang.

Sebetulnya Kwik Tay-lok masih ingat dengan jelas kalau pintu gerbang itu sudah dikunci dari dalam, sekarang entah apa sebabnya ternyata bisa membuka sendiri tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Seseorang yang menggunakan jubah panjang berwarna hijau, sambil menggoyangkan kipasnya sambil berjalan masuk ke dalam.

Ia mengenakan baju yang amat mewah dan perlente, sikapnya amat santai, sikapnya persis seperti seorang kongcu yang gemar pelesiran.

Akan tetapi, ketika Kwik Tay-lok memperhatikan raut wajahnya itu, dia menjadi terperanjat sekali.

Pada hakekatnya raut wajah kongcu tersebut bukan raut wajah seorang manusia, bahkan topeng setan yang berada dalam kuil kaum Lhama di wilayah Tibet pun tak akan menakutkan seperti wajah orang ini.

Sebab raut wajah tersebut benar-benar merupakan selembar wajah yang hidup, lagi pula muka itu sama sekali tidak berperasaan.

Semacam raut wajah yang membikin orang menjadi terkesiap dan ngeri setelah melihatnya apalagi berada di tengah kegelapan malam seperti sekarang ini.

Andaikata Kwik Tay-lok tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ia tak akan percaya kalau di dunia ini terdapat seorang manusia yang memiliki raut wajah sedemikian buruk dan menakutkannya.

Sampai detik itu, ternyata ke empat orang manusia bersenjata aneh itu masih belum merasakan kehadiran seorang manusia lagi ditempat itu.

Langkah kaki dari orang berbaju hijau itu enteng sekali sehingga seakan-akan tidak menempel di atas permukaan tanah, dengan enteng sekali dia melayang ke belakang punggung orang yang bersenjata poan-koan-pit itu, lalu menjawil bahu orang itu dengan kipasnya.

Seperti seekor kelinci yang kena di panah, dengan terperanjat orang itu melejit ke udara karena kaget, kemudian berjumpalitan beberapa kali dan melayang turun disamping kakek ceking tersebut.

Sekarang mereka baru tahu kalau ada seorang manusia berbaju hijau telah muncul di tempat itu, rasa kaget bercampur ngeri dengan cepat menghiasi raut wajah mereka.

Kwik Tay-lok dan Yan Jit kembali saling berpandangan mata.

"Ternyata orang-orang itu bukan berasal dari satu aliran yang sama"

Orang-orang itu seperti lagi memerankan suatu sandiwara bisu saja, tiada seorang manusiapun yang bersuara, tapi segala sesuatunya berlangsung amat misterius dan merangsang perasaan.

Orang berbaju hijau itu masih menggoyangkan kipasnya, sedang sikap yang amat santai.

Sedang ke empat orang manusia bersenjata aneh itu kelihatan semakin menegang, senjata tajam yang mereka pegangpun digenggam semakin kencang.

Tiba-tiba orang berbaju hijau itu menggunakan kipasnya kemudian ke arah mereka lalu, menuding pula keluar pintu.

Artinya mereka dipersilahkan untuk meninggalkan tempat itu.

Ke empat orang manusia yang bersenjata aneh itu saling berpandangan sekejap, kakek itu menggertak bibirnya lalu menggelengkan kepalanya, sedangkan gelangnya dipakai untuk menuding ke arah gedung tersebut, lalu menuding pula ke arah diri sendiri.

Artinya.

"Tempat ini merupakan wilayah operasi kami, kami tak akan keluar dari sini."

Tiba-tiba manusia berbaju hijau itu tertawa.

Siapa saja tak mungkin akan bisa menyaksikan senyuman semacam ini..Siapa saja yang menyaksikan senyuman semacam itu, maka bulu kuduknya pasti berdiri semua.

Ke empat orang bersenjata aneh itu mulai menggerakkan langkah kakinya dan berdiri menjadi satu, peluh dingin membasahi seluruh tubuh mereka....

Sekali lagi orang berbaju hijau itu menuding ke arah senjata mereka seakan-akan sedang berkata.

"Lebih baik kalian maju bersama saja !"

Ke empat orang itu saling berpandangan sekali lagi seperti telah bersiap sedia untuk turun tangan, tapi pada saat itulah si orang berbaju hijau itu tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka.

Dengan mempergunakan kipasnya dia mengetuk kepala orang yang bersenjata tombak berantai itu dengan pelan.

Ketukan tersebut kelihatannya tidak terlalu keras.

Akan tetapi orang itu segera roboh terkapar di atas tanah dengan tubuh yang lemas sekali, sebuah batok kepalanya yang besar dan keras kini sudah hancur berantakan, darah dan isi benak berhamburan kemana-mana tampak mengerikan sekali dalam kegelapan malam yang mencekam.

Ketika orang itu roboh terkapar, si orang yang bersenjata pedang berbentuk busur telah melepaskan sebuah tusukan kilat ke arah dada orang berbaju hijau itu.

Serangan pedangnya itu enteng, gesit, licin, buas dan cepat.

Tapi sayang orang berbaju hijau itu bergerak jauh lebih cepat lagi.

Tahu-tahu tangannya digerakkan ke depan, kemudian terdengar "Kreek !"

Dan selanjutnya terdengar suara "Kreek !"

Sekali lagi.

"Triiing...!"

Pedang berbentuk busur itu sudah patah dan terjatuh ke tanah, sedangkan tulang pergelangan tangannya juga kena diremuk sehingga tinggal selapis kulit saja.

Sebenarnya dia masih berdiri tegak ditempat itu, akan tetapi setelah menyaksikan keadaan dari tangannya itu, mendadak ia jatuh tak sadarkan diri.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata.

Dalam pada itu kedua orang itu lainnya sudah dibikin ketakutan setengah mati sehingga paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sepasang kaki menggigil keras tiada hentinya.

Untung saja kakek itu masih sanggup untuk menahan diri, mendadak dia membungkukkan badannya di hadapan orang berbaju hijau itu, kemudian menuding ke luar pintu dengan senjata gelangnya.

Siapapun dapat melihat kalau dia sudah menyerah kalah dan bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.

Orang berbaju hijau itu segera tertawa, kemudian manggut-manggut berulang kali.

Kedua orang itu segera menggotong mayat kedua orang rekannya dan buru-buru keluar dari situ dengan langkah lebar.

Siapa tahu, baru saja mereka tiba di luar pintu, orang berbaju hijau itu sudah berkelebat ke depan dan tahu-tahu telah tiba di luar pintu.

Apa yang kemudian terjadi di luar pintu tidak sempat dilihat oleh Kwik Tay-lok, dia hanya mendengar dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan keheningan.

Menyusul kemudian ada dua macam benda yang di lempar masuk dari luar pintu, itulah sepasang senjata poan-koan-pit serta sepasang senjata gelang baja.

Tapi senjata poan-koan-pit tersebut telah patah menjadi empat bagian, sedangkan gelang baja itupun sudah melengkung tak karuan bentuknya, sehingga sama sekali tidak berbentuk gelang lagi.

Kwik Tay-Iok segera menghembuskan napas dingin, ia lantas berpaling memandang Yan Jit.

Yan Jit sendiripun menunjukkan perasaan kaget bercampur ngeri yang amat tebal.

Bukan saja orang berbaju hijau itu memiliki ilmu silat yang luar biasa lihaynya, diapun seorang gembong iblis berhati sesat yang buas keji dan tidak berperi-kemanusiaan.

Yang paling menakutkan adalah caranya membunuh orang, pada hakekatnya seperti orang lagi memotong sayur saja.

Setiap orang yang sempat menyaksikan caranya membunuh orang, tak ingin mengucurkan keringat dinginpun tak bisa.

Tapi orang berbaju hitam itu masih tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, sekalipun pembunuhan kejam sedang berlangsung di depan matanya, namun sama sekali tiada reaksi apapun darinya.

Seakan-akan kendatipun semua orang yang ada di dunia ini mati semua pun, dia tak akan memperlihatkan reaksi apapun.

Sementara itu, si orang berbaju hijau itu sudah berjalan masuk kembali ke dalam halaman dalam dengan langkah yang santai, kipasnya digoyangkan pelan-pelan, sikapnya yang begitu tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun di sana.

Bila orang yang bisa melihat kalau barusan saja dia habis membunuh empat orang sekaligus maka hal ini merupakan suatu kejadian yang aneh sekali.

Dengan sengaja tak sengaja dia melirik sekejap ke arah daun jendela dimana Kwik Tay-lok sekalian berada, namun langkahnya masih dilanjutkan langsung menuju ke hadapan orang berbaju hitam itu.

Di depan beranda terdapat beberapa sap undak-undakan batu.

Ia naik sampai undak-undakan tingkat ke dua, lalu berhenti dan mengawasi orang berbaju hitam itu tanpa berkedip.

Mendadak Kwik Tay-lok menyaksikan orang berbaju hitam itu entah sedari kapan telah membuka sepasang matanya, waktu itu diapun sedang mengawasi wajahnya.

Kedua orang itupun saling berpandangan tanpa berkedip, tampaknya memang agak aneh dan menggelikan.

Akan tetapi Kwik Tay-lok sama sekali tidak merasa geli, malahan telapak tangannya sudah basah oleh keringat.

Bukan telapak tangan saja, bahkan sekujur badannya telah bermandikan keringat dingin.

Kembali lewat beberapa saat lamanya mendadak orang berbaju hijau itu berkata.

"Barusan si burung jahat Khong Tong telah membawa saudara-saudaranya berkunjung kemari"

Inilah untuk pertama kalinya dia berbicara, ternyata bukan saja sikapnya amat santai dan romantis, nada suaranya juga kedengaran enak didengar....

Asal tidak memperhatikan raut wajahnya, tapi hanya mendengar suaranya dan melihat gayanya, dia benar-benar seorang kongcu yang amat menarik hati.

"Hm !"

Orang berbaju hitam itu mendengus.

"Aku kuatir mereka telah mengganggu impianmu yang indah, maka dari itu telah ku usir orangorang itu."

"Hmm !"

"Apakah kau sudah tahu kalau mereka akan datang kemari, maka sengaja mendahuluinya untuk menunggu kedatangan mereka di sini?"

"Mereka masih belum pantas !"

"Benar, orang-orang itu memang belum pantas untuk menyuruhmu turun tangan sendiri, tapi siapa yang sedang kau nantikan ?"

"Kui kongcu !"

Orang berbaju hijau itu segera tertawa.

"Aaah.... tak kusangka kau begitu memandang tinggi diriku, hal ini benar-benar merupakan suatu kebanggaan bagi kami."

Ternyata orang ini bernama Kongcu setan.

Kwik Tay-lok merasa nama tersebut memang cocok sekali dengan kenyataannya.

Tapi siapa pula orang berbaju hitam ini?

Apakah dia adalah Lamkiong Cho ?

Kenapa dia harus menantikan kedatangan Kui-kongcu tersebut di tempat ini ?

Terdengar si Kongcu setan berkata lagi.

"Kalau toh kau bisa menantikan kedatanganku di sini, apakah kau sudah mengetahui pula maksud kedatanganku ?"

"Hm !"

"Dulu kita pernah saling bersua, kedua belah pihak selalu teramat sungkan."

"Kau memang sungkan."

"Benar, aku tentu saja bersikap sungkan kepadamu."

Kata kongcu setan sambil tertawa.

"Tapi kau justru pernah memberi kesulitan bagiku."

"Hmm !"

"Kali ini aku berharap kita bisa berjumpa dengan sungkan dan berpisah lagi dengan sungkan."

"Hmm !"

"Aku hanya ingin mengajukan beberapa buah pertanyaan saja kepada tuan rumah di sini, kemudian segera pergi."

"Tidak boleh !"

"Hanya menanyakan dua patah kata ?"

"Tidak boleh ?"

Ternyata sikap Kui kongcu masih juga amat sungkan, katanya kemudian sambil tersenyum.

"Kenapa tidak boleh, apakah kau adalah sahabatnya tuan rumah gedung ini ?"

"Bukan."

""Tentu saja bukan."

Seru Kui-kongcu sambil tertawa.

"kau seperti juga aku, selamanya tak pernah mempunyai teman."

"Hmm !"

"Kalau toh mereka bukan temanmu, kenapa kau harus mencampuri urusan ini ?"

"Sebab aku telah mengurusinya !"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Kui kongcu, serunya kembali.

"Apakah kaupun mempunyai tujuan yang sama dengan diriku."

"Hmm !"

"Uang milik Cui-mia-hu apakah berada di sini atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, mengapa belum apa-apa kita harus ribut lebih dahulu ?"

"Enyah kau dari sini !"

"Aku tak akan enyah dari sini."

Kui kongcu masih juga tertawa.

"Kalau tidak enyah berarti mampus !"

"Siapa hidup siapa mati masih suatu tanda tanya besar, kenapa pula kau mesti turun tangan ?"

Tampaknya dia sama sekali tidak mempunyai kobaran api amarah dalam hatinya, selalu bersikap acuh tak acuh dan seenaknya sendiri.

Entah siapa pun yang memandang sikapnya itu, tak akan dijumpai sikap seorang yang siap melancarkan serangan.

Tapi Kwik Tay-lok serta Yan Jit yang berada di balik jendela sebelah sana mendadak berseru hampir bersama.

"Coba lihat, orang itu hendak turun tangan."

Betul juga, belum habis perkataan itu diucapkan, Kui-kongcu benar-benar telah melancarkan serangan.

Tapi pada saat yang bersamaan pula, orang berbaju hitam itu sudah mengangkat tangannya dan menggenggam gagang pedang di atas bahunya.

Kedua belah tangannya yang terangkat ke atas menyebabkan pertahanan tubuh bagian depannya menjadi sama sekali terbuka lebar, seperti sebuah kota benteng tanpa penjagaan yang siap menantikan serbuan pasukan musuh.

Senjata kipas milik Kui kongcu itu sebenarnya menggunakan jurus Poan-koan-pit untuk menotok jalan darah Hian-ki-hiat di atas dada lawan, tapi pada saat itulah mendadak kipas tersebut direntangkan, kemudian dengan menggeser ke samping, langsung menusuk tenggorokan dari arah bawah perut.

Perubahan semacam itu tampaknya saja seperti tiada sesuatu keistimewaan apapun, padahal diantara gerakan tersebut justru terjadi perubahan yang drastis sekali, selain arah sasaran, jurus serangan mengalami perubahan besar, malah senjata kipas yang digunakanpun seakan-akan telah berubah menjadi sejenis senjata yang lain.

Tindakan tersebut membuat serangan yang semula berupa totokan menjadi suatu sapuan kilat, serangan yang mengarah suatu tempatpun berubah menjadi suatu sapuan.

Sedemikian sempurna dan luar biasanya perubahan itu membuat pihak lawan sama sekali tidak menduganya.

Waktu itu si orang berbaju hitam itu masih bersandar di atas tonggak penyanggah, tempat itu pada dasarnya merupakan suatu sudut mati yang tak mungkin bisa dipakai untuk berkelit.

Apalagi sepasang tangannya terangkat ke atas semua sehingga pertahanan bagian depannya sama sekali terbuka, asal orang yang mengerti akan ilmu silat, sudah pasti tak akan memilih posisi seperti itu, apalagi memilih gaya pertahanan semacam itu.

Pedangnya enam depa panjangnya, dalam keadaan demikian mustahil ia sanggup untuk mencabut keseluruhannya.

Bagi orang lain, mungkin hal mana sulit untuk dilakukan sebagaimana mestinya.

Namun orang berbaju hitam itu benar-benar memiliki kelebihan yang luar biasa.

Bila seseorang sampai memilih suatu posisi yang begitu jelek serta suatu gaya serangan yang begitu jelek untuk bertarung melawan orang, bila ia bukan seorang manusia tolol, itu berarti dia mempunyai suatu cara istimewa untuk menghadapinya.

Sewaktu kipas Kui kongcu menyambar ke depan, tiba-tiba orang berbaju hitam itu memutar badannya dengan merubah posisinya berhadapan dengan tonggak penyanggah, seakan-akan dia hendak berpelukan dengan tonggak tersebut.

Walaupun serangan pertama yang amat dahsyat tersebut berhasil dihindari, tapi sekarang justru punggungnya malah sama sekali terbuka.

Cara semacam ini boleh dibilang luar biasa bodohnya.

Jangankan orang lain, bahkan Kui kongcu sendiripun dibikin tertegun oleh sikap musuhnya itu.

Sejak terjun ke arena dunia persilatan sampai sekarang, paling tidak sudah dua tiga ratus kali dia bertarung melawan orang, tentu saja diantara kawanan jago yang pernah dihadapinya terdiri dari beraneka ragam manusia, ada yang lihay, ada pula yang tidak lihay.

Tapi manusia bodoh semacam itu, boleh dibilang baru dijumpai untuk pertama kalinya.

Siapa tahu, pada saat itulah mendadak orang berbaju hitam itu mendorong tonggak kayu itu sekuat tenaga, sepasang kakinya pun bersamaan waktunya di jejakkan ke atas tonggak kayu, bagian perutnya ditarik ke belakang sementara pinggulnya menonjol ke belakang.

Secepat sambaran kilat orang itu menyusup ke belakang, seluruh badannya tiba-tiba terpatah menjadi dua bagian sehingga bagian kaki dan tangannya menjadi menempel satu sama lainnya.

Pada saat itulah cahaya pedang berkelebat lewat.

Sebilah pedang yang enam depa panjangnya itu tahu-tahu sudah diloloskan dari dalam sarungnya.

Cara meloloskan pedang semacam itu bukan cuma aneh saja, bahkan terasa luar biasa sekali.

Ketika Kui kongcu berputar badan siap melancarkan sergapan, mendadak ia menemukan ujung pedang lawan telah tertujukan di atas dadanya.

Sekujur badan orang berbaju hitam itu hampir semuanya berada di belakang pedang itu, bahkan setitik tempat kosongpun tidak ditemukan..

Suatu cara yang terbodoh secara tiba-tiba saja berubah menjadi suatu cara yang jitu dan mematikan.

Secara tiba-tiba pula Kui Kongcu menemukan bahwa ia sama sekali tidak memiliki kesempatan lagi untuk melancarkan serangan balasan.

Terpaksa dia harus mundur, badannya berkelebat dan mundur ke belakang tonggak kayu itu.

Tonggak kayu itu berbentuk bulat, sedang pedang si orang berbaju hitam itu amat panjang, tak mungkin ia akan mengitari tonggak kayu tersebut untuk mengejar dirinya.

Asal dia menempelkan badannya di belakang tonggak kayu itu, maka tak mungkin pedang si orang berbaju hitam itu dapat menusuk tubuhnya.

Dengan demikian diapun bisa menunggu kesempatan kedua untuk melancarkan serangan yang mematikan.

Itulah taktik mencari kemenangan ditengah kekalahan, suatu taktik mencari hidup di tengah kematian, biasanya taktik semacam itu luar biasa sekali hasilnya.

Kui Kongcu menempelkan badannya di atas tonggak kayu sambil menunggu orang berbaju hitam itu memutar ke hadapannya.

Akan tetapi orang berbaju hitam yang berada di ujung tonggak lain sama sekali tidak memberikan reaksi apapun juga.

Apakah dia pun sedang menunggu kesempatan ?

Diam-diam Kui kongcu menghembuskan napas lega, ia tidak takut menunggu, tidak takut mengulur waktu, pokoknya sekarang dia sudah berada pada posisi yang tak terkalahkan.

Bila orang berbaju hitam itu ingin melancarkan serangan, maka dia harus memutar satu lingkaran besar, sedangkan ia sendiri asal menempel di atas tonggak kayu dengan membuat suatu geseran kecil saja maka serangan akan bisa dihindari.

Lagi pula dalam penggunaan tenaga, selisih diantara mereka hampir mencapai tiga empat kali lipat.

Maka tak akan menunggu terlampau lama lagi, kekuatan tubuh orang berbaju hitam itu pasti akan bertambah lemah, itu berarti kesempatan baginya telah tiba.

Perhitungan tersebut sudah dia susun dengan rapi dan sangat jelas, maka dari itu dia pun merasa lega sekali.

Mendadak ia mendengar suara ketukan pelan di belakang tonggak kayu itu, seperti ada burung sedang mematuk dahan kayu.

Ia sama sekali tidak memperhatikannya dengan serius...

Tapi, pada saat itulah mendadak dia merasakan punggungnya menjadi dingin sekali.

Menanti dia merasakan keadaan yang tidak menguntungkan, tahu-tahu sebuah benda yang keras, dingin, dan kaku telah menembusi punggungnya.

Menyusul kemudian dia menyaksikan ada semacam benda yang menembusi ke luar dari depan dadanya.

Itulah ujung pedang yang bersinar hitam.

Darah segar meleleh keluar dari ujung pedang tersebut dan membasahi seluruh permukaan tanah.

Bila secara tiba-tiba kau menyaksikan ada sebuah ujung pedang menembus keluar dari dadamu, bagaimanakah perasaanmu ketika itu?

Perasaan tersebut jarang sekali ada yang bisa ikut merasakannya.

Ketika menyaksikan ujung pedang tersebut, mimik wajah Kui kongcu seakan-akan menjadi kaget bercampur tercengang, tapi seperti pula sedang menyaksikan suatu kejadian yang sangat aneh dan menarik hati.

Dengan termangu-mangu ditatapnya benda itu tak berkedip, kemudian secara tiba-tiba wajahnya berubah menjadi kaku, mengejang keras dan diliputi perasaan ngeri, mulutnya terbuka lebar seperti hendak berteriak dengan sepenuh tenaga.

Namun tiada suara yang bisa keluar lagi, secara tiba-tiba sekujur badannya menjadi dingin dan kaku.

Hampir seluruhnya menjadi beku.

Dilihat dari kejauhan sana, seperti lagi termenung sambil mengawasi ujung pedang yang menembusi dadanya.

Darah kental masih meleleh keluar tiada hentinya dari ujung pedang tersebut.

Menetesnya makin lambat, makin lama semakin lambat.

Orangnya masih tetap mempertahankan posisi semula semacam posisi yang tak dapat dilukiskan keseraman serta kengeriannya.

Yan Jit melengos ke arah lain, ia tak tega untuk memandangnya lebih jauh.

Kwik Tay-lok sendiri, walaupun sepasang matanya terbelalak lebar-lebar, padahal dia sendiripun tidak menyaksikan apa-apa.

Adegan seram yang terjadi barusan telah membuatnya menjadi tertegun dan seperti kehilangan sukma.

Dengan jelas sekali dia menyaksikan orang berbaju hitam itu menghimpun tenaganya lalu menusuk tonggak kayu itu dengan pedangnya.

Diapun menyaksikan dengan amat jelas, ujung pedang itu menembusi tonggak kayu dan tibatiba tembus sampai di depan dada Kui kongcu.

Ia benar-benar tidak percaya kalau apa yang disaksikannya itu merupakan suatu kenyataan.

Kedengarannya mungkin susah untuk dipercaya, tapi bila kau menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, maka hal mana justru sukar untuk dipercayai.

Pedang apakah itu?

Dan ilmu pedang apa pula yang dipergunakannya ?

Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

Menanti matanya dapat melihat benda lagi, ia saksikan entah sedari kapan orang berbaju hitam itu telah mencabut keluar pedangnya.

Tapi tubuh Kui kongcu masih berada di ujung pedangnya.

Waktu itu orang berbaju hitam tersebut sedang menggunakan ujung pedangnya untuk menahan mayat Kui kongcu dan pelan-pelan berjalan keluar dari sana.

Seorang manusia berbaju hitam yang tidak terlihat raut wajahnya menggembol sebilah pedang yang panjangnya enam depa.

Mata pedang tersebut bersinar hitam dan membawa sesosok mayat manusia berbaju hijau yang telah menjadi kaku.

Udara malam amat bersih, suasana dalam ruangan amat hening.

Seandainya apa yang tertera di depan mata hanya suatu lukisan belaka, maka siapa saja yang menyaksikan lukisan tersebut sudah pasti akan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Apalagi semua peristiwa tersebut bukan hanya suatu lukisan belaka.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasa kedinginan, ia ingin mencari sebuah mantel untuk menutupi badannya.

Dia hanya berharap apa yang terjadi pada malam ini tak lebih hanya suatu impian buruk belaka.

Sekarang, ia telah mendusin dari impian tersebut.

Orang berbaju hitam itu telah pergi, di dalam halaman tiada seorang manusiapun.

Masih tetap di dalam halaman yang sama dan malam yang sama pula.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya.

"Bila orang-orang yang datang berkunjung sekarang bisa mengetahui apa yang baru terjadi ditempat ini, aku akan memujinya setinggi langit...."

Tiba-tiba Ong Tiong bertanya.

"Apa sih yang telah terjadi di sini ?"

"Masa kau tidak tahu ?"

"Tidak tahu."

"Apakah tadi tak pernah terjadi sesuatu peristiwa ditempat ini....?"

"Tidak ada."

Kwik Tay-lok segera tertawa, serunya.

"Benar, apa yang sudah lewat biarkan lewat, memang tak ada bedanya antara apa yang telah terjadi dan apa yang belum terjadi"

"Tepat sekali jawabanmu itu."

"Oleh karena itu, lebih baik kau tak usah banyak memikirkannya, banyak memikirkannya malah justru akan mendatangkan banyak kesulitan buat diri sendiri"

"Lagi-lagi jawabanmu tepat sekali"

"Kali ini tidak benar!"

Tiba-tiba Yan Jit menyela.

"Karena bagaimanapun kau berusaha untuk tidak memikirkan persoalan itu, dalam hatimu pasti akan terjadi rasa masgul"

"Kemasgulan apa?"

Yan Jit menghela napas panjang.

"Aaaai.... sekarang aku belum dapat melihatnya, juga belum bisa menemukan, oleh karena itu baru tahu kalau hal ini sudah pasti merupakan suatu kemasgulan yang teramat besar. Tiba-tiba mereka serentak menutup mulutnya rapat-rapat. Karena pada waktu itu, si orang berbaju hitam itu sudah masuk kembali ke dalam halaman, menaiki undak-undakan batu dan berdiri kembali di depan tonggak kayu. Pedang yang berada dipunggungnya telah di sorenkan kembali. Tak tahan Kwik Tay-lok segera berseru.

"Aku akan pergi bertanya kepadanya !"

Tidak menanti orang lain buka suara, dia telah melompat keluar dari jendela dan menerjang ke muka...

Orang berbaju hitam itu sudah bersandar kembali di atas tonggak kayu, memejamkan matanya seperti telah tertidur kembali.

Sengaja Kwik Tay-Iok mendehem keras, mendehem sedemikian kerasnya sehingga tenggorokan tersebut benar-benar terasa agak gatal.

Saat itulah si orang berbaju hitam itu baru membuka matanya dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin.

"Tampaknya kau harus cepat-cepat pergi mencari seorang tabib untuk menyembuhkan batukmu itu"

Katanya dingin. Kwik Tay-lok tertawa paksa, katanya.

"Aku tak usah mencari tabib, sebab aku sendiripun mempunyai obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit batuk."

"Oooh....." (Bersambung

Jilid . 25)

Jilid 25

"BESAR kecil dan penyakit apapun yang ku idap biasanya akan sembuh kembali bila sudah minum arak."

"Ooooh....."

"Sekarang, apakah kau juga minum arak barang dua cawan?"

"Tidak!"

"Kenapa? Bukankah barusan kau tela... telah membunuh orang ?"

"Siapa bilang aku telah membunuh orang?"

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

"Kau tidak membunuh ?"

"Tidak!"

"Tapi barusan kau telah membunuh."

"Dia bukan orang !"

"Dia bukan orang? Lantas manusia macam apakah baru bisa dianggap sebagai orang?"

Kwik Tay-lok semakin tercengang.

"Orang yang ada di dunia ini jarang sekali."

Kembali Kwik Tay-lok tertawa.

"Bagaimana dengan aku ? Apakah akupun bisa dianggap sebagai orang ?"

"Kau menyuruh aku membunuhmu ?"

Berkilat sepasang mata Kwik Tay-lok.

"Bila kau tidak membunuhku, bagaimana mungkin bisa mendapatkan harta kekayaan dari Cuimia-hu ?"

"Di tempat ini tiada harta karunnya, di sini tak ada apa-apanya !"

"Kau tahu ?"

"Lantas mengapa kau datang kemari ?"

"Aku hanya ingin menumpang semalam saja?"

"Apakah kau bertujuan untuk membunuh manusia yang kau anggap bukan manusia itu?"

"Bukan karena soal ini!"

"Kalau begitu kau membunuhnya demi kami?"

"Juga bukan!"

"Lantas karena apa?"

Tiba-tiba ini orang berbaju hitam itu menukas dengan ketus.

"Aku ingin tidur, bila aku sedang tidur, aku paling tak suka diganggu orang."

Betul juga, pelan-pelan dia memejamkan matanya dan tidak berbicara lagi.

Kwik Tay-lok memandang wajahnya, lalu memandang pedang di atas bahunya, tiba-tiba saja ia merasa bahwa dirinya amat beruntung.

Keesokan harinya, orang berbaju hitam itu benar-benar sudah lenyap tak berbekas.

Dia tidak meninggalkan apa-apa, juga tidak membawa apa-apa, yang tertinggal hanya sebuah lubang di atas tonggak kayu.

Kwik Tay-lok memperhatikan lubang di atas tonggak kayu tersebut, kemudian katanya sambil tertawa.

"Tahukah kau apa yang sedang kupikirkan?"

Yan Jit menggeleng.

"Aku merasa diriku benar-benar mujur"

Seru pemuda itu.

"Mujur? Kenapa?"

"Sebab orang berbaju hitam yang kujumpai tempo hari bukan orang ini."

Yan Jit termenung sebentar, kemudian katanya.

"Tapi kali ini kau toh telah berjumpa dengannya."

"Kali ini akupun tidak lagi sial, dia bukan tidak menaruh niat jahat kepada kita, malah kedatangannya seperti sengaja hendak membantu kita"

"Apakah dia adalah temanmu ?"

"Bukan !"

"Anakmu ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.

"Bila aku mempunyai seorang anak semacam ini, sekalipun belum edan, paling tidak juga sudah hampir."

"Kau anggap dia benar-benar datang kemari karena tanpa sengaja, kemudian setelah membantu kita maka tanpa menimbulkan suara atau mengucapkan sepatah katapun lantas pergi meninggalkan tempat ini, bukan saja tidak menghendaki ucapan rasa terima kasih kita, bahkan arak yang kita suguhkanpun tidak di minumnya barang setegukanpun."

Sambil menggeleng dan tertawa dingin tiada hentinya, ia melanjutkan lebih jauh.

"Kau anggap di dalam dunia ini benar-benar terdapat orang yang begitu baiknya sehingga bersedia membantu kita tanpa mengharapkan balas jasa apa pun dari kita ?"

"Maksudmu, dia datang kemari dan berbuat segala sesuatunya itu karena ia masih mempunyai tujuan lain?"

"Benar !"

"Tapi apakah tujuannya itu ? Apakah kau bisa menerangkannya kepada diriku ?"

"Aku juga tak tahu"

"Oleh karena kau tidak tahu, maka kau baru beranggapan bahwa dia pasti akan membawa banyak kesulitan untuk kita ?"

"Benar !"

"Menurut pendapatmu, kapankah kesulitan-kesulitan tersebut baru akan berdatangan ?"

Yan Jit segera mengalihkan sinar matanya, memandang ke tempat kejauhan sana, lalu sahutnya.

"Justru karena kau tidak tahu kesulitan tersebut akan datang dalam bentuk apa dan kapan baru akan terjadi, maka hal itu justru merupakan kesulitan dan kerepotan yang sesungguhnya, kalau tidak, bukankah kita tak perlu berkuatir secemas ini ?"

Tiada sesuatu persoalan yang "pasti"

Dalam dunia ini.

Pada suatu persoalan yang sama, bila kau memandang dari sudut pandangan yang berbeda, kadangkala akan timbul kesimpulan yang berbeda pula.

Bila anda seorang pesiar yang tersesat di tengah gunung suatu malam, kemudian ia datang mengetuk pintu dan memohon untuk menumpang semalam saja, asal kau mempunyai rasa belas kasihan.

"sudah pasti"

Kau akan menerimanya.

Tapi seandainya yang datang adalah seorang manusia baju hitam yang berkerudung, apakah kau akan menerimanya, hal ini masih merupakan tanda tanya besar.

Sekalipun kau akan menerimanya, sudah "pasti"

Kau akan menaruh perasaan was-was kepadanya, sedikit banyak juga akan berjaga terhadap segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Tapi, bila orang berbaju hitam itu baru saja menyumbangkan tenaganya bagi kepentinganmu semalam, maka akan berbedalah keadaannya pada waktu itu?

Dengan berbedanya keadaan, otomatis cara kerjanyapun akan mengalami banyak perubahan.

Hanya tujuannya saja yang tak berbeda.

Ada sementara orang, walaupun apa saja dia lakukan, bagaimana cara melakukannya, dia pasti mempunyai suatu tujuan tertentu.

Bagaimana pula dengan Kwik Tay-lok sekalian?

Mereka adalah orang yang dengan mudah melupakan dendam sakit hati orang lain, tapi sukar untuk melupakan budi kebaikan yang diterimanya dari orang lain.

Asal kau telah melakukan kebaikan bagi mereka, maka walau berbeda dalam keadaan bagaimanapun juga, mereka pasti akan berusaha keras untuk membalas jasa baikmu itu.

Asal persoalan telah mereka janjikan, maka walau berada dalam keadaan bagaimanapun juga, mereka pasti akan berusaha untuk melaksanakan secara baik.

Sekalipun kepala pecah, badan bakal hancur, mereka tetap akan melakukannya.

Mereka pasti tak akan mencari alasan lain untuk mengesampingkan kewajiban tersebut, apalagi menebalkan muka untuk mengingkarinya.

Walaupun persoalan macam apapun yang dihadapinya, mereka sudah pasti tak akan menghindarkan diri.

Tengah malam telah tiba, kembali ada yang datang mengetuk pintu.

Suara ketukan itu amat cepat dan gencar.

Orang pertama yang mendengar suara ketukan pintu itu mungkin Yan Jit, mungkin Ong Tiong, tapi orang yang pertama-tama menyahut sambil membukakan pintu sudah pasti Kwik Tay-lok.

Ternyata yang datang masih saja si manusia baju hitam yang misterius itu.

Dia masih berdiri juga di situ bagaikan sesosok sukma gentayangan, pelan-pelan katanya.

"Aku tersesat di jalanan dan tak ada tempat berdiam, apakah aku boleh menumpang semalam saja ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Boleh, tentu saja boleh, jangankan baru semalam, sekalipun ingin berdiam selama setahun juga tak menjadi soal"

"Benar-benar tak menjadi soal?"

"Sama sekali tak menjadi soal, entah kau benar-benar tersesat atau tidak, setiap kali kau ingin datang, setiap saat pula kami akan menyambut kedatangan dengan hati gembira"

"Walaupun kau bersikap demikian, tapi yang lain...."

"Yang lain pun begitu juga"

Tukas Kwik Tay-lok cepat.

"setelah kau datang kemari, berarti kau adalah tamu kami semua"

"Tamu macam apa?"

"Bagi kami, hanya ada semacam tamu."

"Tapi tuan rumah beraneka ragam banyaknya."

"Oya ?"

"Ada semacam tuan rumah yang suka mengusir tamunya setiap saat."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Jangan kuatir, ditempat ini pasti tak akan kau jumpai tuan rumah semacam itu, asal kau sudah memasuki pintu gerbang bangunan rumah ini, kecuali kau bersedia untuk keluar sendiri, kalau tidak jangan harap ada orang lain yang akan menyuruhmu pergi dari sini."

Tiba-tiba orang berbaju hitam itu menghela napas panjang.

"Aaai.... tampaknya aku benar-benar tidak salah mengetuk pintu,"

Gumamnya.

Pelan-pelan dia berjalan masuk ke dalam melewati halaman dan naik ke atas serambi.

Gayanya sewaktu berjalan sama sekali tidak berubah, wajahnya juga tidak berubah, tapi paling tidak ada satu hal yang telah berubah....

lebih banyak perkataan yang ia utarakan.

Dalam waktu singkat, ia sudah dua tiga kali lipat berbicara lebih banyak daripada tuan rumah sendiri.

Walaupun malam sudah semakin kelam, namun masih ada cahaya lampu memancar keluar dari balik dua, tiga buah ruangan kamar.

Agaknya Lim Tay-peng sedang membaca buku.

Bagaimana dengan Yan Jit ?

Apa yang sedang ia lakukan dalam kamarnya, tak pernah diketahui orang lain, sebab dia selalu suka menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat.

Orang berbaju hitam itu memandang sekejap cahaya lampu yang memancar keluar dari balik jendela, tiba-tiba dia berkata.

"Apakah sahabatmu tinggal di depan sana?"

Kwik Tay-lok manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa.

"Aku tinggal di kamar yang paling belakang, letaknya paling dekat dengan tempat untuk bersantap."

Kamar yang paling belakang itu bukan cuma lampunya belum dipadamkan, pintu kamarpun berada dalam keadaan terbuka lebar.

Orang berbaju hitam itu berjalan masuk ke dalam, lalu berdiri di depan pintu, sampai lama sekali ia baru berkata.

"Ada semacam persoalan, walaupun tidak diucapkan kepadamu, tentunya kau sudah tahu bukan."

"Persoalan yang mana ?"

"Tiada orang yang benar-benar dapat tidur dalam posisi berdiri."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Jangankan berdiri, untuk tidur sambil dudukpun sukarnya bukan kepalang."

Sahutnya.

Menengok dari celah-celah pintu, dapat diketahui dalam ruangan itu terdapat sebuah pembaringan yang amat besar.

Memandang pembaringan tersebut, tiba-tiba orang berbaju hitam itu menghela napas panjang lagi, gumamnya.

"Tapi ada sementara persoalan yang mungkin belum kau ketahui."

"Oya ?"

"Sudah pasti kau tak akan tahu, sudah lama sekali aku belum pernah tidur pembaringan sebesar ini, dan belum pernah aku tidur nyenyak barang satu malam saja."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Tentang soal ini aku memang benar-benar tidak tahu, tapi aku tahu akan suatu persoalan yang lain,"

Katanya.

"Oya ?"

"Aku tahu, malam ini kau pasti dapat tidur di atas pembaringan tersebut, lagi pula bisa tidur dengan aman tenteram semalam suntuk."

"Sungguh ?"

Mendadak orang berbaju hitam itu berpaling.

"Tentu saja sungguh."

"Kau memperbolehkan aku untuk tidur terus sampai fajar menyingsing besok pagi ?"

Kwik Tay-lok tersenyum.

"Sekalipun hendak tidur sampai tengah hari juga tak menjadi soal, kujamin pasti tak akan ada orang yang akan datang mengganggu tidurmu itu...."

Orang berbaju hitam itu memandang ke arahnya, mencorong sinar tajam dari balik matanya, mendadak ia menjura dalam-dalam, lalu tanpa banyak berbicara lagi dia berjalan maju dengan langkah lebar, bahkan segera menutup pintu kamar.

Kemudian lampu lentera yang menerangi dalam ruangan itu pun dipadamkan pula.

Lama sekali setelah cahaya lentera itu dipadamkan, pelan-pelan Kwik Tay-lok baru membalikkan badannya dan duduk di atas undak-undakan batu di luar pintu ruangan sana.

Dalam perkampungan Hok-kui-san-ceng ini bukannya sudah tak ada kamar kosong yang lain atau pembaringan kosong lainnya lagi.

Tapi ia justru akan duduk di sana, seakan-akan telah bersiap sedia untuk menjagakan ketenangan orang berbaju hitam itu semalaman suntuk.

Malam sudah kelam, udara terasa dingin, undak-undakan batu itu turut menjadi dingin.

Tapi dia tak ambil perduli, sebab hatinya penuh dengan kehangatan.

Suara langkah kaki manusia yang lembut berkumandang dari balik serambi sana, seseorang pelan-pelan berjalan mendekat.

Ia tidak berpaling, sebab dia sudah tahu siapakah orang itu.

Yang datang sudah pasti adalah Yan Jit.

Ia mengenakan sebuah jubah panjang yang mencapai tanah, diapun turut duduk di atas undak-undakan batu itu.

Bintang bertaburan di angkasa cahaya yang redup seakan-akan bersinar terang, seakan-akan juga membawa dua titik mutiara yang mempertemukan Gou-long dan Ci-li.

Di angkasa terdapat bintang yang lebih terang daripada mereka, namun tiada yang lebih indah daripada mereka.

Sebab mereka tiada yang tanpa perasaan seperti bintang yang lain.

Sebab mereka dewa, bukan malaikat, mereka seperti manusia, pernah merasakan dan cinta kasih.

Walaupun kesusahan yang mereka alami amat banyak, walaupun jaraknya amat jauh namun cinta kasih mereka tetap terjalin sepanjang masa.

Tiba-tiba Yan Jit menghela panjang, lalu berkata.

"Sekarang, tentunya kau sudah tahu bukan?"

"Tahu apa?"

"Kesulitan.... kemarin malam kau masih tak habis mengerti, sekarang kesulitan itu telah datang kembali."

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar.

"Memberikan pembaringan sendiri untuk ditiduri tamu semalaman suntuk bukanlah suatu hal yang termasuk kesulitan."

"Apakah persoalan ini termasuk suatu kesulitan atau tidak, tergantung pula pada macam apakah tamumu itu."

"Dia adalah seorang manusia macam apa?"

"Seorang yang mempunyai kesulitan, lagi pula tak sedikit kesulitan yang dimilikinya."

"Oya ?"

"Justru karena dia sudah tahu kalau dirinya mempunyai banyak kesulitan, maka ia baru menyembunyikan diri di tempat ini."

"Oya ?"

"Justru karena pada malam ini dia hendak menyembunyikan diri di sini, maka kemarin malam ia baru membantu kita untuk melakukan semua perbuatan tersebut, seakan-akan orang yang hendak menyewa kamar, kemarin ia datang untuk memberi uang mukanya lebih dulu. Kau tak usah berlagak bodoh, padahal teori semacam ini sudah kau ketahui pula."

"Apa yang kuketahui ?"

"Kau tahu malam ini pasti ada orang yang hendak datang mencarinya, maka kau baru berjagajaga di sini, kau bersiap sedia untuk membantunya menahan serangan tersebut."

Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, setelah itu dia baru berkata pelan.

"Semalam, ketika ada orang datang kemari untuk mencari kesulitan buat kita, siapa yang telah menghadapinya ?"

"Dia !"

"Maka seandainya pada malam ini benar-benar ada orang yang akan datang mencari garagara dengannya, kenapa bukan kita juga yang mewakilinya untuk menahan kesulitan tersebut ?"

"Itu mah tergantung pada kesulitan macam apakah yang bakal kita hadapi..."

"Perduli kesulitan macam apapun toh semuanya sama saja, setelah kita menerima uang muka, sudah sewajarnya bila rumah itu kita sewakan kepadanya."

Yan Jit termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian dia baru berkata.

"Menurut pendapatmu, bagaimanakah ilmu silatnya, apabila dibandingkan dengan kepandaian silatmu ?"

"Agaknya seperti jauh lebih hebat dari pada diriku."

"Sekarang, diantara sekian banyak orang yang berada di sini, hanya kita berdua saja yang bisa turun tangan, kesulitan yang tak sanggup dia hadapi mana mungkin bisa kita hadapi ?!"

"Paling tidak kita toh dapat mencobanya."

Arti daripada "mencoba"

Baginya berarti ia sudah bersiap-siap untuk beradu jiwa.

"Seandainya dia adalah seorang penyamun, atau seorang pembunuh kejam yang berhati buas, apakah kau juga, akan membantunya untuk menghadapi kesulitan tersebut"

"Soal itu, mah merupakan dua persoalan yang berbeda."

"Dua persoalan yang berbeda bagaimana maksudmu ?"

"Mengapa orang lain datang mencarinya adalah satu persoalan, sedangkan apa sebabnya aku membantunya, untuk menghadapi kesulitan tersebut adalah persoalan yang lain pula."

"Apa sih tujuanmu yang sebenarnya ?"

"Oleh karena pada malam ini dia adalah tamuku, karena aku telah meluluskan permintaannya, maka aku akan membiarkan ia tidur dengan nyenyak semalam suntuk."

"Urusan lain kau tak akan mengurusinya?"

"Bagai manapun juga, pokoknya urusan ini saja yang akan ku urusi pada malam ini."

Yan Jit segera mendelik ke arahnya, kemudian sambil menggigit bibirnya kencang-kencang dia berseru.

"Kau.... kau sebenarnya kau ini manusia macam apa?"

"Aku adalah manusia macam begini, seharusnya sudah kau ketahui hal ini semenjak dulu"

Sekali lagi Yan Jin melotot besar ke arahnya, mendadak sambil mendepak-depakkan kakinya ke tanah dia beranjak dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tapi baru dua langkah ia telah berhenti melepaskan jubah panjang yang dikenakan itu dan menyelimutkan ke atas tubuhnya.

Sambil tertawa Kwik Tay-lok segera berkata.

"Bila kau takut aku kedinginan, lebih baik lagi jika kau carikan sebotol arak untukku"

Yan Jit menggigit bibirnya menahan diri kemudian berseru dengan gemas.

"Aku takut kau kedinginan? Aku hanya kuatir jika kau tidak mampus karena kedinginan."

Jubah itu mana lebar juga besar, entah milik siapa.

Dalam kamar Yan Jit yang selalu tertutup rapat itu, seakan-akan selalu dapat bermunculan barang-barang yang beraneka ragam.

Dulu, setiap beberapa waktu dia pasti akan melenyapkan dirinya selama beberapa hari tapi penyakit tersebut belakangan ini tampaknya sudah banyak berubah, namun Kwik Tay-lok selalu merasakan adanya kemisteriusan di jarak dari Yan Jit, dia merasa orang itu selalu menjaga suatu jarak tertentu dengan setiap orang.

Padahal untuk sahabat karib seperti mereka ini, jarak semacam itu seharusnya tak boleh dibiarkan ada.

Jubah itu sudah kuno, lagi pula sangat kotor, dimana-mana penuh dengan tambalan cuma anehnya sedikitpun tidak bau.

Hal inipun merupakan salah satu hal yang selalu diherankan oleh Kwik Tay-lok.

Yan Jit seperti tak pernah mandi, walau hanya sekalipun, tapi anehnya, ia sama sekali tidak bau.

Dan lagi walaupun badannya kotor lagi dekil, namun kamarnya selalu diatur dengan rapi dan bersih.

Kwik Tay-lok segera mengambil keputusan, besok dia pasti akan mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Sebenarnya kau ini adalah manusia seperti apa ?"

Sekarang, cahaya lentera didalam kamar Yan Jit telah padam, tapi Kwik Tay-lok tahu, sudah pasti dia tak akan benar-benar pergi tidur.

Kwik Tay-lok merapatkan jubahnya dengan tubuhnya, dalam hatinya segera timbul suatu perasaan yang amat hangat, sebab diapun tahu, bagaimanapun ketusnya setiap perkataan dari Yan Jit, tapi asal urusan itu menyangkut dirinya, Yan Jit pasti menaruh perhatian khusus kepadanya, dia pasti merasa amat menguatirkan keselamatannya.

Malam semakin hening, angin berhembus lewat menggoyangkan bubungan di sisi halaman sana.

Kwik Tay-lok ingin sekali pergi mencari sedikit arak untuk diminum, tapi pada saat itulah mendadak ia mendengar serentetan suara irama musik yang sangat aneh berkumandang datang.

Suara irama musik itu mengalun tiba seperti mengambang, pada mulanya suara itu seakanakan berasal dari sebelah timur, mendadak beralih pula ke sebelah barat.

Menyusul kemudian dari empat arah delapan penjuru seakan-akan bermunculan suara irama musik yang sangat aneh itu.

"Aaaah, sudah datang, orang yang hendak mencari gara-gara telah datang....."

Kwik Tay-lok merasa seluruh badannya menjadi panas, bahkan denyutan jantung turut berubah menjadi dua tiga kali lipat lebih cepat daripada keadaan biasa.

Manusia macam apakah yang bakal datang?

Tentu saja ia tak dapat menduganya.

Tapi ia tahu dengan pasti bahwa orang itu pasti seorang yang lihay sekali, kalau tidak mengapa orang berbaju hitam itu bisa demikian ketakutannya sehingga menyembunyikan diri.

Semakin lihay orang yang akan menampakkan diri itu, semakin merangsang pula masalahnya.

Kwik Tay-lok membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, jubah yang dikenakanpun tanpa terasa turut terlepas.

Tiba-tiba....

"Blaaammm....."

Pintu gerbang diterjang orang sampai ambrol.

Dua orang suku asing bercambang lebar, berambut keriting, bermata hijau dan berhidung betet tiba-tiba menampakkan diri di depan pintu, badannya yang setengah telanjang penuh bertato, kakinya telanjang dan di atas telinga sebelah kirinya tergantung sebuah anting-anting emas yang amat besar.

Ditangan mereka membawa sebuah permadani berwarna merah yang segera disusun dari arah pintu depan sampai ke dalam halaman, kemudian sambil berjumpalitan di udara mereka mengundurkan diri dari situ.

Selama ini mereka tidak memandang ke arah Kwik Tay-lok, mengerlingpun tidak, seakan-akan dalam halaman tersebut sama sekali tiada orang lain.

Walaupun Kwik Tay-lok sudah dibikin amat gembira sehingga keringatpun turut bercucuran, namun ia tetap berusaha untuk menahan diri.

Sebab dia tahu, pertunjukan menarik pasti masih berada di belakang.

Walaupun kemunculan dari dua orang suku asing itu amat tiba-tiba dan serba misterius, namun kedua orang itu tak lebih cuma budak-budak belian belaka, sang pemegang peranan sudah pasti belum lagi menampilkan diri.

Betul juga, dari luar pintu segera muncul dua orang manusia lain yang berjalan masuk.

Dua orang itupun merupakan perempuan asing yang berdandan aneh sekali, rambutnya yang berwarna hitam dibuat tujuh delapan puluh buah kuncir kecil, timur segumpal, barat segumpal, mengikuti bergemanya irama musik, bergoyang kesana kemari tiada hentinya.

Kedua orang gadis itu membawa keranjang besar yang penuh dengan bunga, waktu itu mereka sedang menggerakkan lengannya dan menebarkan berkuntum-kuntum bunga aneka warna itu di atas permadani berwarna merah itu.

Kedua orang gadis asing itu berwajah amat cantik, di bawah gaunnya yang pendek kelihatan sepasang kakinya yang putih bersih.

Di atas kakinya itu mengenakan sesusun gelang emas, mengikuti gerak tarian yang mereka bawakan, berbunyi "ting tang ting tang"

Tiada hentinya....

Sepasang mata Kwik Tay-lok terbelalak semakin besar lagi.

Sayang mereka tak pernah mengerling barang sekejappun ke arah pemuda itu, selesai menaburkan bunga, merekapun melejit ke udara, berjumpalitan beberapa kali dan mengundurkan diri.

"Tampak peristiwa ini selain makin lama merangsang, lagi pula makin lama makin menarik hati."

Persoalan apapun juga, bila diantaranya hadir gadis cantik yang turut ambil bagian, selamanya memang merangsang dan menawan hati.

Apalagi kalau gadis cantik yang turut mengambil bagian makin lama semakin banyak saja jumlahnya.

Empat orang gadis bergaun panjang, bersanggul tinggi dan berdandan seperti gadis keraton, muncul di situ membawa empat buah lentera yang antik dan indah.

Ke empat orang gadis itu rata-rata berwajah cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan, baru saja mereka menghentikan langkahnya, dua orang lelaki suku asing yang berkaki panjang dan bertato di tubuhnya telah melangkah masuk ke dalam halaman dengan menggotong sebuah tandu beralas tidur.

Di atas tandu beralas tidur itu berbaring seorang perempuan anggun berbaju merah, di tangannya membawa sebuah pipa tembakau yang terbuat dari perak, waktu itu ia sedang menyedot asap tembakau dalam-dalam, kemudian menyemburkan asapnya yang tebal ke udara, wajahnya segera tertutup dibalik asap yang tebal itu.

Di tangannya mengempit sebuah toya berkepala naga yang panjang sekali, disamping tandu tampak seorang gadis cebol yang sedang memijit-kakinya.

Diam-diam Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

Walaupun ia tak sempat melihat jelas muka perempuan anggun berbaju merah itu, namun kalau dilihat dari toya berkepala naga serta si gadis cebol yang sedang memijit kakinya, siapapun akan menduga kalau usianya pasti telah lanjut.

Inilah satunya hal yang amat tidak berkenan di hatinya.

Kini persoalan telah berkembang menjadi begini, semuanya terjadi dalam keadaan yang menarik hati, seandainya si pemegang peranan utama juga seorang gadis yang cantik jelita, bukankah hal ini akan menjadi sempurna....?

Untung saja Kwik Tay-lok selalu pandai menghibur diri, pikirnya.

"Bagaimanapun juga, nenek tua ini pastilah seorang pemegang peranan utama yang luar biasa, cukup dilihat dari gayanya, mungkin tidak banyak orang yang dapat memandanginya"

Oleh karena itu, masalah tersebut masih tetap menarik hatinya..Sedangkan mengenai siapakah nenek tua ini?

Kenapa dapat mengikat tali permusuhan dengan orang berbaju hitam itu?

Sesungguhnya berapa dalamkah dendam kesumat itu ?

Apakah Kwik Tay-lok dapat menahannya ?

Agaknya beberapa hal itu tak pernah ia memikirkan.

Setelah semua persoalan merupakan tanggung jawabnya, sekalipun tak sanggup ditahan juga harus ditahan, lantas apa gunanya mesti dipikirkan lagi ?

Oleh sebab itu ia tetap menahan sabar, menunggu terus, bila orang lain tidak membuka suara, diapun tidak akan membuka suara.

Lewat lama kemudian, mendadak perempuan anggun berbaju merah itu menyemburkan segulung asap tebal dari mulutnya, gulungan asap itu persis menyembur di atas wajah Kwik Taylok.

Benar-benar asap yang amat tebal.

Walaupun Kwik Tay-lok minum arak, ia tidak menghisap tembakau, kontan saja ia dibuat sesak napas sampai hampir saja air matanya jatuh bercucuran, hampir saja dia hendak mencaci maki.

Tapi, bila seseorang dapat menyemburkan asap tembakaunya selurus ini dan sejauh ini, lebih baik jika kau bersikap lebih sungkan lagi kepadanya.

Belum lagi asap tebal itu membuyar, terdengar seseorang telah berkata.

"Siapakah kau? Kenapa ditengah malam buta begini duduk seorang diri di sini?"

Suara itu nyaring lagi lembut, kedengarannya bukan suara seorang nenek, tapi juga tidak terhitung merdu, nadanya buas, galak seperti seorang opas yang sedang memeriksa seorang pencuri.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lalu tertawa getir.

"Agaknya rumah ini adalah rumahku, bukan rumahmu, kalau aku suka duduk dirumah sendiri, apa salahnya dengan dirimu ?"

Belum habis ia berkata, kembali ada semburan asap tebal yang menyambar wajahnya.

Semburan kali ini lebih tebal, membuat Kwik Tay-lok menjadi terbatuk-batuk, lagi pula wajahnya terasa bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum tajam....

Kedengaran orang itu berkata lagi.

"Aku bertanya sepatah kata kepadamu, kau harus menjawab dengan sepatah kata juga, lebih baik jangan mencoba untuk bermain setan, mengerti ?"

Kwik Tay-lok meraba wajahnya dan tertawa getir.

"Tampaknya, sekalipun aku tidak mengerti juga tak bisa."

"Lamkiong Cho ada dimana ? Cepat suruh dia menggelinding keluar !"

Bentak nyonya anggun berbaju merah itu lagi dengan suara keras. Ternyata orang berbaju hitam itu betul-betul adalah Lamkiong Cho. Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Maaf seribu kali maaf, aku tak dapat menyuruh dia menggelinding keluar."

"Kenapa ?"

"Pertama, sebab dia bukan bola, tak mungkin bisa menggelinding, kedua karena ia sudah tertidur, siapapun tak akan bisa membangunkan dirinya, sebab bila ingin berbuat demikian maka terlebih dahulu dia harus melakukan suatu hal."

"Melakukan apa!"

"Robohkan aku lebih dahulu."

"Huuuh, itu mah gampang!"

Seru nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin.

Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak sesosok bayangan manusia telah melayang keluar dari balik kabut tebal, cahaya tajam berkilauan dan tahu-tahu sudah mengancam tenggorokan Kwi Tay lok.

Gerakan yang dilakukan orang itu cepat sekali, untung saja reaksi yang dilakukan Kwik Tay-lok juga tidak terhitung lambat.

Tapi, baru saja dia menghindarkan diri dari serangan yang pertama, serangan kedua telah meluncur datang kemari, bahkan serangan yang satu jauh lebih cepat dan lebih ganas daripada serangan selanjutnya.

Menanti Kwik Tay-lok sudah menghindarkan diri dari serangan yang ke empat, dia baru melihat jelas kalau orang yang melancarkan serangan itu ternyata si gadis cebol yang memijit kaki nyonya itu tadi.

Jangan dilihat badannya cuma tiga depa dan pedang yang dipakai cuma satu depa enam tujuh inci, namun ilmu pedang yang dipergunakannya sangat ganas dan lihaynya bukan kepalang, kepandaian silatnya boleh dibilang merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan.

Sayang sekali badannya benar-benar terlampau kecil dan pedangnya juga terlampau pendek.

Mendadak Kwik Tay-lok menyambar jubah panjangnya itu kemudian melemparkannya ke depan.

Jubah itu mana panjang juga besar, seperti selapis awan hitam yang menyambar tiba-tiba saja, bila orang sekecil itu dapat meloloskan diri dari ancaman semacam ini, sesungguhnya hal mana bukan terhitung sesuatu yang gampang.

Gadis itu menjerit keras, lalu serunya dengan gemas.

"Orang dewasa menganiaya anak kecil, tak tahu malu, tak tahu malu !"

Selesai berkata, dia telah mengundurkan diri kembali ke tempat semula.... Kwik Tay-lok segera tertawa getir, ujarnya.

"Lebih baik tak punya malu daripada tak punya nyawa."

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kau berani mencampuri urusanku, tampaknya sudah bosan hidup?"

Seru nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin..Di tengah suara tertawa dinginnya yang tak sedap didengar, dua orang lelaki suku asing bercambang dan berambut keriting itu sudah munculkan diri di depan mata, mereka berdua kelihatan bagaikan dua buah pagoda besi yang tampaknya mengerikan sekali.

Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya.

"Yang kecil betul-betul terlampau kecil, yang besar benar-benar kelewat besar, bagai mana baiknya kini ?"

Tidak menunggu kedua orang itu turun tangan, tiba-tiba tubuhnya menerjang maju ke depan, lalu seperti seekor ikan leihi, tahu-tahu melejit ke samping dan menyusup ke depan tandu tersebut.

"Lebih baik kau saja yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil."

Katanya sambil tertawa.

"coba kalau kau tidak kelewat tua, persis sekali bila dijodohkan kepadaku."

"Apakah kau bilang aku terlampau tua?"

Ucap nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin.

Waktu itu, asap tebal yang menyelimuti depan wajahnya telah semakin membuyar, akhirnya Kwik Tay-lok dapat melihat paras mukanya.

Tak tahan ia lantas menjerit kaget, bagaikan bertemu dengan setan saja, selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang.

Mimpipun ia tak menyangka akan berjumpa dengan raut wajah seperti ini.

Selembar wajah yang cantik, mana muda lagi, meski ditutupi oleh selapis bedak yang tebal dan berusaha untuk berdandan sebagai orang dewasa, namun tak dapat menutupi sifat kekanakkanakan yang terpancar di atas wajahnya, seperti seorang nenek yang tak akan dapat menutupi keriput di atas wajahnya walaupun sudah menggunakan bedak yang bagaimana tebalnya.

Ternyata "si nenek"

Yang lagaknya sok, mana menghisap tembakau, suruh orang memijit kakinya lagi itu tak lain adalah seorang nona cilik yang baru berusia enam-tujuh belas tahunan.

Kwik Tay-lok betul-betul merasa terkejut sekali.

Sementara itu, nona berbaju merah itu sudah melompat bangun dari atas tandunya, lalu dengan sepasang matanya yang melotot besar mendelik ke arahnya.

Selangkah demi selangkah anak muda itu turut mundur ke belakang.

Nona berbaju merah itupun selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan, di tangannya masih memegang tongkat berkepala naga itu.

Nona cilik itu sebenarnya masih muda, cantik lagi, mengapa ia justru suka berdandan sebagai seorang nenek ?

Sepintas lalu dapat dilihat kalau usianya paling banter baru enam-tujuh belas tahunan.

Mengapa ia bisa memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna, bahkan seorang dayang ciliknya pun memiliki ilmu pedang yang begitu tingginya ?

Tentu saja dua orang lelaki suku asing itupun tak mungkin adalah seorang manusia yang gampang dihadapi.

Apa yang diandalkan nona cilik ini untuk mengendalikan orang-orang tersebut ?

Mengapa ia dapat mengikat tali permusuhan dengan Lamkiong Cho yang sudah termasyhur namanya sejak dua puluh tahun berselang?

Dengan nama besar, serta ilmu pedang yang dimiliki Lamkiong Cho, mengapa ia bisa begitu ketakutan menghadapi si nona cilik itu?

Kwik Tay-lok benar-benar tidak habis mengerti, tapi sekarang diapun tak punya waktu untuk memikirkan persoalan itu.

Meskipun sepasang mata nona berbaju merah itu indah, ketika mendelik ternyata jauh lebih mirip daripada seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.

"Aku tahu tidak?"

Tegurnya dingin.

"Tidak tahu, sama sekali tidak tahu."

"Apakah kau ingin mengawini aku?"

"Tii..... tidak ingin"

Jawaban tersebut memang jujur, siapa yang tahan untuk mengawini seorang gadis semacam ini walaupun dia bagaimana cantiknya.

"Kau masih menginginkan selembar nyawamu tidak?"

Kembali gadis berbaju merah itu mendesak.

"Masih menginginkan."

"Kalau masih menginginkan nyawamu, cepat suruhlah Lamkiong Cho menggelinding ke luar."

"Ada urusan apa kau menyuruhnya menggelinding keluar?"

"Aku menginginkan selembar jiwanya!"

"Apakah kau bertekad akan membunuhnya pada malam ini juga?"

"Benar"

"Kenapa?"

"Sebab sudah kukatakan kepadanya, bila sebelum fajar menyingsing nanti aku tak dapat membunuhnya, maka akan kuampuni selembar jiwanya."

"Jika ucapanmu harus dipegang teguh, apakah perkataan orang lain tak bisa dimasukkan hitungan pula?"

"Apa yang telah kau diucapkan?"

"Aku telah berjanji kepadanya, malam ini dia dapat tidur dengan nyenyak sampai besok pagi oleh sebab itu....."

"Oleh sebab itu kenapa?"

"Oleh sebab itu bila ingin membunuhnya maka kau harus membunuh diriku lebih dahulu!"

"Kau adalah temannya?"

"Bukan"

"Tahukah kau berapa perbuatan jahat yang dia lakukan?"

"Aku tidak tahu"

"Tapi kau bersikeras hendak beradu jiwa deminya?"

"Benar."

Nona berbaju merah itu segera tertawa dingin.

"Hmmm.... kau anggap aku tak berani membunuh orang?"

Kwik Tay-lok ikut tertawa paksa, sahutnya.

"Kau memang tampaknya belum pernah membunuh orang."

"Hmm, sejak berusia sembilan tahun aku telah mulai membunuh orang."

Kata nona berbaju merah itu dingin.

"setiap bulan paling tidak membunuh seorang, coba hitunglah sendiri sudah berapa banyak orang yang telah ku bunuh?"

"Agaknya seperti sudah ada tujuh delapan puluh orang lebih."

Ucap Kwik Tay-lok sambil menghembuskan napas dingin.

"Oleh sebab itu, sekalipun bertambah dengan kau seorangpun, bagiku tak menjadi soal."

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, sebelum ia sempat menjawab, mendadak terdengar seseorang telah menimbrung dengan suara yang dingin.

"Bila kau hendak membunuhnya, lebih baik bunuhlah aku terlebih dahulu...."

Suara itu bukan suaranya Yan Jit, melainkan Lim Tay-peng.

Malam amat hening, entah sedari kapan Lim Tay-peng telah munculkan diri dari kamarnya, paras pemuda itu kelihatan masih pucat pias seperti mayat.

"Siapa kau ?"

Bentak nona berbaju merah itu dengan sepasang mata melotot besar.

"Kau tak usah mengurusi siapakah aku, kalau toh sudah tujuh delapan puluh orang yang telah kau bunuh, bertambah aku seorang toh tak menjadi soal....."

Gadis berbaju merah itu segera tertawa dingin.

"Tidak kusangka kalau di sini terdapat banyak sekali orang yang tidak takut mati."

Serunya.

"Yaa, memang tidak sedikit"

"Kalau memang begitu, baiklah kupenuhi keinginanmu itu!"

Sambil membalikkan badannya, tongkat berkepala naga yang berada di tangannya itu menusuk ke dalam Lim Tay-peng dengan jurus Hu-hoa-hud-liu (memisah bunga menyambar pohon liu).

Yang dipergunakan untuk menyerang ternyata adalah gerakan jurus ilmu pedang.

Bukan saja merupakan ilmu pedang, lagi pula merupakan semacam ilmu pedang yang paling enteng.

Tongkat yang begitu panjang dan begitu berat, dalam permainan sepasang tangannya yang kecil dan putih itu ternyata berubah seakan-akan sedikitpun tidak berat.

Kwik Tay-lok segera membentak keras.

"Penyakitmu belum sembuh, biar aku saja yang menghadapinya!"

Tapi sayang sekalipun dia ingin turun tangan menggantikan Lim Tay-peng, namun keadaan sudah terlambat.

Gadis berbaju merah sudah melancarkan tujuh buah serangan berantai ke arah Lim Tay-peng, semua serangan dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, mana gerakannya enteng, arahnya juga tak menentu.

Seluruh tubuh Lim Tay-peng segera terkurung dibalik ilmu lapisan pedang lawan yang amat dahsyat itu.

Tampaknya kondisi badannya belum pulih kembali seperti sedia kala, maka ia tak punya kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Namun, ilmu pedang si nona berbaju merah yang demikian ketat dan dahsyatnya itu justru tak sanggup untuk menempel di tubuhnya, bahkan menjawil ujung bajunya pun tak dapat.

Mendadak terdengar suara pekikan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, tongkat panjang sembilan depa sudah menancap di atas tanah, sementara gadis berbaju merah itu bagaikan baling-baling cepatnya berputar di ujung tongkat itu dan menggulung ke tubuh Lim Taypeng dengan hebatnya.

Dengan tindakannya ini, ternyata ia telah mempergunakan tongkat tersebut sebagai pangkal dari kekuatannya, sedangkan tubuhnya di gunakan sebagai senjata, jurus-jurus serangannya dilancarkan dengan penuh perubahan yang aneh dan sakti, semuanya jauh di luar dugaan.

Lim Tay-peng bergerak ke sana ke mari dengan lincahnya, secara beruntun ia sudah mundur sejauh sembilan langkah lebih.

Mendadak gadis berbaju merah itu berpekik nyaring, tubuhnya melejit ke tengah udara tongkatnya masih menancap di tanah, tapi di tangannya telah bertambah dengan sebilah pedang pendek yang memancarkan sinar tajam.

Pedang itu sebenarnya memang disembunyikan di dalam tongkat tersebut, begitu berada di tangan, tubuh dan pedangnya segera melebur menjadi satu, kemudian orang berikut pedangnya secepat kilat menyambar ke tubuh Lim Tay-peng.

Serangannya kali ini dilakukan amat ganas, lihay dan berbahaya sekali...

Keringat dingin telah jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh Kwik Tay lok, bila dia yang menghadapi ancaman semacam itu, maka harapannya itu untuk meloloskan diri tidaklah besar.

Tapi Lim Tay-peng seakan-akan sudah hapal sekali macam perubahan dari jurus serangannya itu.

Walaupun pedang nona itu menyambar-nyambar dengan lihaynya, namun setiap kali tiba di hadapan Lim Tay-peng, tiba-tiba tubuh anak muda itu sudah berputar ke samping untuk menghindar.

Suatu ketika, mendadak Lim Tay-peng melejit ke depan lalu mencabut tongkat yang menancap di atas tanah itu.

Si nona berbaju merah itu segera berpekik nyaring, badannya melejit ke udara, kemudian setelah berjumpalitan di udara, dia membalikkan pedangnya sambil melepaskan tusukan.

Lim Tay-peng sama sekali tidak berpaling, toyanya diputar sedemikian rupa menyongsong datangnya ancaman itu.

"Cringgg....!"

Letupan bunga api berhamburan, ternyata pedang pendek itu sudah terbenam sama sekali didalam tongkat tersebut.

Nona berbaju merah segera melejit kembali ke udara, badannya berjumpalitan berulang kali, kemudian baru melayang turun ke atas tanah dan tepat di depan tandunya itu.

Dengan pandangan tertegun dan melongo dia awasi wajah Lim Tay-peng tanpa berkedip.

Kwik Tay-lok juga memandang kesemuanya itu dengan pandangan tertegun.

********************************* Halaman 53 hilang ********************************* Dia seakan-akan berubah menjadi amat emosi, bahkan kaki dan tangannya turut gemetar keras.

Lim Tay-peng ragu-ragu sebentar, akhirnya pelan-pelan dia membalikkan badannya sambil bertanya.

"Kau ingin bagaimana?"

"Aku.... aku.... aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja."

"Kalau begitu, tanya saja !"

Nona berbaju merah itu mengepal sepasang tangannya kencang-kencang, lalu berkata.

"Kau adalah....!"

"Benar!"

Tukas Lim Tay-peng tiba-tiba. Nona berbaju merah itu segera mendepak-depakkan kakinya ke atas tanah, kemudian serunya.

"Baik, kalau begitu aku ingin bertanya lagi, kenapa kau kabur pada waktu itu?"

"Aku senang."

Nona berbaju merah itu mengepal tinjunya semakin kencang, bibirnya turut memucat saking emosinya, dengan gemetar dia berseru.

"Bagian mana dari tubuhku yang tidak mencocoki hatimu ? Kenapa kau harus membuatku malu ?"

"Aku yang tak pantas mendapatkan kau, yang mendapat malu juga aku, bukan kau."

Tukas Lim Tay-peng ketus.

"Kini, kau telah kutemukan kembali, apa yang hendak kau lakukan sekarang ?"

"Aku tak akan berbuat apa-apa."

"Kau tidak bersedia untuk pulang ke rumah ?"

"Kecuali kau membunuhku, dan menggotong mayatku pulang, kalau tidak, jangan harap"

Sepasang mata nona berbaju merah itu menjadi merah padam, bibirnya berdarah karena digigit terlalu keras, serunya dengan gemas.

"Baik, kau tak usah kuatir, aku tak akan menyuruh orang untuk memaksamu pulang, tapi suatu hari, aku akan menyuruhmu berlutut di depanku sambil memohon kepadaku, ingat saja pokoknya ada suatu hari seperti itu...."

Ucapannya terakhir menjadi sesenggukan, ia seperti sudah lupa kalau kedatangan untuk mencari Lamkiong Cho, mendadak setelah mendepak-depakkan kakinya di tanah, ia melejit ke udara dan melayang keluar dari halaman tersebut.

Semua pengikutnya juga turut pergi dari sana, sekejap mata kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Yang tertinggal hanya permadani berwarna merah penuh bertaburkan bunga indah.

Malam semakin kelam, cahaya lentera semakin redup, dalam kegelapan sulit untuk menyaksikan bagaimanakah perubahan mimik wajah Lim Tay-peng.

Ada sementara persoalan memang tak leluasa untuk ditanyakan, lebih-lebih tak perlu untuk ditanyakan.

Lewat lama kemudian, Lim Tay-peng baru berpaling dan tertawa paksa kepada Kwik Tay lok, kemudian bisiknya.

"Terima kasih."

"Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu, mengapa malah kau yang berterima kasih kepadaku?"

"Sebab kau tidak bertanya kepadaku siapakah dia, juga tidak bertanya kepadaku mengapa bisa kenal dengannya."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Bila kau bersedia untuk mengatakannya, sekalipun tidak kutanyakan kau juga akan berkata sendiri, sebaliknya bila kau tak bersedia untuk mengatakannya, mengapa pula aku mesti banyak bertanya?"

Lim Tay-peng menghela napas panjang.

"Ada sementara persoalan memang paling baik kalau tidak dibicarakan lagi....."

Bisiknya.

Pelan-pelan dia membalikkan badannya dan berjalan kembali ke dalam kamarnya.

Memandang bayangan punggungnya yang kurus kering itu, timbul perasaan menyesal dalam hati kecil Kwik Tay-lok.

Ia tidak bertanya, karena ia telah menduga siapakah gadis berbaju merah itu, apa yang dia ketahui, sesungguhnya jauh lebih banyak daripada apa yang diduga Lim Tay-peng.

Ada sementara persoalan, sesungguhnya dialah yang mengelabuhi Lim Tay-peng, bukan Lim Tay-peng yang mengelabuhinya.

Misalnya saja dengan peristiwa yang dialaminya bersama Yan Jit tempo hari, dimana mereka telah berjumpa dengan ibunya Lim Tay-peng, sampai sekarang Lim Tay-peng masih belum tahu apa-apa.

Walaupun mereka berbuat demikian dengan maksud baik, namun dalam hati kecil Kwik Taylok selalu merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal dan amat tak enak rasanya.

Selama ini, belum pernah dia merahasiakan sesuatu apapun di hadapan temannya, walau disebabkan oleh alasan apapun juga.

Angin berhembus lewat, menghamburkan hancuran bunga yang berserakan di atas tanah.

Kemudian dia mendengar suara dari Yan Jit.

"Sekarang, tentu kau sudah tahu bukan, siapa gerangan gadis berbaju merah itu?"

Tanyanya.

Kwik Tay-lok mengangguk.

Tentu saja ia dapat menduga kalau nona itu adalah calon istrinya Lim Tay-peng.

Justru karena Lim Tay-peng enggan mendapatkan seorang istri macam begini, maka ia baru kabur dari rumahnya.

Yan Jit menghela napas panjang, ujarnya.

"Sampai sekarang, aku baru mengerti jelas, apa sebabnya dia kabur dari rumahnya"

Kwik Tay-lok tertawa getir.

"Aku saja tak tahan menghadapi gadis semacam itu, apalagi Siau-lim....?"

Katanya.

"Ooooh.... rupanya kaupun tak tahan juga menghadapi gadis macam begitu..?"

"Tentu saja !"

"Cantikkah wajahnya ?"

"Sekalipun cantik, apa gunanya ? Syarat utama bagi seorang lelaki untuk mencintai seorang gadis bukan atas dasar selembar wajahnya belaka."

"Lalu syarat-syarat apa pula yang menjadi dasar bagi seorang lelaki untuk memilih perempuan ?"

Tanya Yan Jit sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

"Harus dinilai dulu apakah dia halus berbudi, lemah lembut dan pintar, lalu dinilai juga apakah dia pandai melayani suaminya. Kalau tidak, sekalipun wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, apa pula gunanya ?"

Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, lalu berkata.

"Bagaimana dengan kau ? Kalau kau menyukai seorang gadis macam apa ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Gadis yang kucintai sama sekali berbeda dengan pilihan lelaki lain "

Katanya.

"Oya ?"

"Bila ada seorang gadis benar-benar bisa memahami diriku, menaruh perhatian kepadaku, sekalipun tampangnya sedikit rada jelek, atau sedikit rada galak, aku masih tetap akan mencintainya dengan sepenuh hati"

Yan Jit tertawa manis, dengan kepala tertunduk dia berjalan lewat sisinya dan menuju ke depan pot bunga di sudut pekarangan sana.

Udara yang dingin, seakan-akan berubah menjadi lebih hangat.

Bunga mawar di ujung dinding sana sedang mekar dengan indahnya, dengan lembut ia membelai bunga tersebut, sampai lama kemudian ia baru berpaling kembali.

Tiba-tiba dia menyaksikan Kwik Tay-lok masih mengawasinya dengan sorot mata tak berkedip.

Keningnya segera berkerut, lalu serunya.

"Aku toh bukan perempuan, apanya yang bagus dilihat ? Kenapa kau menatapku terus menerus ?"

"Aku.... aku merasa caramu berjalan pada hari ini sedikit agak berbeda dengan keadaan dihari-hari biasa"

"Bagaimana bedanya ?"

"Caramu melangkah hari ini seperti istimewa bagusnya, bahkan jauh lebih indah dari pada lenggangnya seorang anak gadis"

Paras muka Yan Jit seperti berubah agak memerah, tapi sengaja dia menarik muka, lalu berkata dengan dingin.

"Belakangan ini aku lihat kau seperti banyak mengalami perubahan."

"Oya ?"

"Aku lihat kau seperti mengidap suatu penyakit yang sangat aneh sekali, sebab kau selalu melakukan tingkah laku yang membingungkan pikiran orang saja, ucapan juga selalu membingungkan pikiran orang, agaknya aku harus mencarikan seorang tabib untuk memeriksakan keadaanmu itu."

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, sorot matanya segera memancarkan kemurungan dan perasaan takut, seperti ia merasa dirinya telah kejangkitan suatu penyakit menular.

Sambil tertawa, kembali Yan Jit berkata.

"Tapi kau tak usah kuatir, sebab sedikit atau banyak, setiap manusia pasti pernah kejangkitan penyakit semacam itu."

"Oya ?"

"Tahukah kau, penyakit siapa yang paling besar?"

"Tidak."

"Nona Giok itulah orang yang paling besar kejangkitan penyakit aneh."

"Nona Giok yang mana?"

"Nona Giok adalah gadis yang barusan datang kemari itu, dia she Giok bernama Giok Linglong"

"Giok Ling long?"

"Dulu, apakah kau belum pernah mendengar namanya?"

"Belum."

Yan Jit menghela napas panjang dan segera menggelengkan kepalanya berulang kali. (Bersambung ke

Jilid 26)

Jilid 26 TAMPAKNYA pengetahuanmu benar-benar amat cetek, sedikit keterangan tentang soal ini tidak dimiliki"

"Aku juga tahu kalau penyakitnya tidak kecil, tapi mengapa aku harus pernah mendengar tentang dirinya?"

"Sebab sejak berumur sembilan tahun, dia sudah merupakan orang yang ternama di dalam dunia persilatan"

"Umur sembilan kau maksudkan berumur sembilan?"

Yan Jit mengangguk.

"Dia berasal dari suatu keluarga persilatan kenamaan, lagi pula semenjak kecil sudah termasyhur sebagai seorang bocah perempuan ajaib. Konon ketika umurnya belum mencapai dua tahun, dia sudah mulai belajar ilmu pedang, umur lima tahun telah berhasil mempelajari ilmu pedang Hui-hong-hu-liu-kiam (ilmu pedang angin puyuh menggoyangkan pohon Liu) yang terdiri dari empat puluh sembilan jurus dan merupakan ilmu pedang yang paling sulit untuk dipelajari itu."

"Dia bilang sejak berumur sembilan tahun telah membunuh orang, kedengarannya apa yang dia ucapkan itu bukan cuma bualan belaka ?"

"Yaa, memang bukan hanya bualan belaka, bukan saja ia benar-benar telah membunuh orang sejak berumur sembilan tahun, bahkan orang yang dibunuhpun merupakan seorang jago pedang yang amat ternama dalam dunia persilatan pada waktu itu."

"Sejak saat itu, apakah setiap bulan dia tentu membunuh orang ?"

"Yaa, benar, diapun tidak membual."

Kwik Tay-lok tak tahan untuk tertawa tergelak.

"Aaah, masa di dunia ini terdapat begitu banyak orang yang menghantarkan diri untuk menerima kematian di tangannya?"

"Bukan orang lain yang datang menghantarkan diri, adalah dia sendiri yang pergi mencari mereka."

"Pergi kemana untuk mencarinya ?"

"Kemanapun dia pergi, asal dia dengar di suatu tempat terdapat seorang yang telah melakukan perbuatan yang pantas dibunuh, maka dia segera berangkat kesana untuk membuat perhitungan dengan orang tersebut."

"Apakah setiap kali turun tangan, dia selalu berhasil merobohkan musuhnya....?"

Tanya Kwik Tay-lok lagi.

"Sampai dimanakah kelihaian ilmu silat yang dimilikinya, aku rasa kau telah membuktikannya sendiri barusan, apalagi dia dibantu oleh dua orang lelaki suku asing dan dua orang perempuan suku asing yang semuanya merupakan jago-jago kelas satu dalam dunia persilatan, malah ke empat orang dayang pembawa lenterapun konon berilmu silat amat tinggi, bayangkan saja andaikata dia telah mendatangi rumah seseorang, apakah masih ada orang yang dapat meloloskan diri dari cengkeraman mautnya ?"

"Apakah tak ada orang yang mengurusinya...."

"Ayahnya telah meninggal dunia cukup lama, sedangkan ibunya merupakan seorang harimau betina yang paling sukar dilayani dalam dunia persilatan dewasa ini, rasa sayangnya terhadap putri tunggalnya ini boleh dibilang melebihi apapun jua, apa saja yang dia inginkan segera dipenuhi dengan segera, sekalipun orang lain berani mengusiknya, belum tentu berani mengusik ibunya."

Setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan.

"Apalagi orang yang dibunuhnya memang merupakan orang-orang yang pantas di bunuh, maka orang-orang dunia persilatan dari angkatan tua bukan saja tak seorangpun yang menegurnya malahan mereka memuji dirinya setinggi langit"

"Maka dari itu, penyakit yang diidapnya juga makin lama semakin besar?"

Sambung Kwik Taylok.

"Itulah sebabnya pada usia yang ke tiga empat belas tahunan, ia sudah merupakan manusia yang paling besar lagaknya dalam dunia persilatan, juga merupakan gadis yang berilmu paling tinggi.... orang yang dibunuhnya makin lama semakin banyak, ilmu silat yang dimilikinya juga secara otomatis makin lama semakin tinggi"

"Justru karena begitu, maka sampai-sampai manusia macam Lamkiong Cho pun tahu, bila ia sudah mulai datang mencari gara-gara maka jalan terbaik adalah menyembunyikan diri dan jangan sampai menjumpai dirinya...?"

"Tepat sekali jawabanmu itu."

"Tentunya Lamkiong Cho juga tahu kalau dia mempunyai hubungan yang akrab dengan siau-Lim, maka dia baru kabur ke tempat kita ini untuk menyembunyikan diri?"

"Kembali jawabanmu tepat sekali."

"Tapi jika Lamkiong Cho bukan seseorang yang seharusnya pantas dibunuh, diapun tak akan datang untuk mencarinya ?"

"Benar, dahulu ia tak pernah salah mencari orang."

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir.

"Oleh sebab itu yang salah, bukanlah dia melainkan aku."

"Kau juga tidak salah,"

Jawab Yan Jit. Dengan lembut dia melanjutkan.

"Ada budi harus dibalas, ucapan seorang lelaki harus dipegang teguh, itulah prinsip dari seorang pria sejati, oleh sebab itu apa yang kau lakukan itu tepat sekali, tak seorangpun yang akan menyalahkan dirimu."

"Tapi ada seorang yang akan menyalahkan diriku."

"Siapa ?"

"Aku sendiri."

Fajar sudah hampir menyingsing.

Sambil mengenakan jubah panjang itu, Kwik Tay-lok masih duduk seorang diri di sana, memandang fajar di ufuk timur pelan-pelan terbit, mendengarkan kokokan ayam di kejauhan sana.

Kemudian diapun mendengar suara pintu kamar yang dibuka orang.

Ia tidak berpaling, wajahnya pun tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Suara langkah kaki manusia yang enteng, pelan berkumandang datang, ketika tiba di belakang tubuhnya, ia berhenti.

Ia masih belum juga berpaling, hanya tanyanya dengan hambar.

"Nyenyakkah tidurmu...."

Orang berbaju hitam itu berdiri tepat di belakang tubuhnya, mengawasi tengkuknya dan menyahut.

"Selama sepuluh tahun belakangan ini, belum pernah aku tidur senyenyak dan setenang malam ini."

"Kenapa ?"

"Sebab belum pernah kujumpai seorang manusia seperti kau, menjagakan pintu kamarku semalam suntuk."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Apakah kau tak dapat tidur bila tiada orang yang menjagakan pintu kamarmu ?"

"Sekalipun ada orang yang menjaga pintu kamarku, juga belum tentu aku bisa tidur."

"Mengapa ?"

"Sebab aku tak pernah mempercayai siapapun."

"Tapi kau tampaknya seperti amat mempercayai diriku."

Tiba-tiba orang berbaju hitam tertawa.

"Agaknya kaupun seperti amat mempercayai diriku ?"

Katanya.

"Dari mana kau bisa berpendapat demikian?"

"Sebab kecuali kau, belum pernah ada orang yang membiarkan aku berdiri di belakang tubuhnya."

Ujar orang berbaju hitam itu pelan.

"Oya ?"

"Aku bukanlah seorang Kuncu, aku seringkali membunuh orang dari belakang punggungnya."

Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengangguk.

"Yaa, membunuh orang dari belakang memang merupakan sebuah cara yang paling sederhana dan gampang"

"Apalagi jika orang itu sedang mengangguk"

"Kenapa harus sewaktu mengangguk ?"

"Di belakang tengkuk setiap orang pasti terdapat suatu bagian yang paling ideal untuk umpan golok, asal kau berhasil menemukan tempat itu dan membacoknya, niscaya batok kepala korbanmu akan terkena, teori ini pasti akan dipahami oleh para algojo yang berpengalaman"

Sekali lagi Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Ehmm, teori ini memang bagus, teori ini memang sangat bagus"

Kembali orang berbaju hitam itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya lagi.

"Apakah selama ini tidak tidur ?"

"Bila aku sudah tertidur, apakah kau dapat tidur?"

Kembali orang berbaju hitam itu tertawa. Suara tertawanya tajam, lengking lagi pula pendek, seakan-akan mata pisau yang sedang diasah. Mendadak ia berjalan ke hadapan Kwik Tay-lok.

"Mengapa kau membiarkan aku berdiri di belakangmu ?"

Anak muda itu segera menegur.

"Sebab aku tak ingin menerima pancinganmu."

"Pancingan ?"

"Bila aku berdiri di belakangmu dan menyaksikan kau menganggukkan kepalamu, tanganku akan terasa menjadi gatal sekali."

"Apakah kau akan membunuh orang setiap kali tanganmu terasa menjadi gatal ?"

"Hanya satu kali tidak."

"Kapan ?"

"Barusan."

Selesai mengucapkan perkataan itu, mendadak tanpa berpaling lagi ia pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Kwik Tay-lok memandang bayangan tubuhnya, hingga dia berjalan ke luar dari pintu gerbang, kemudian secara tiba-tiba berseru.

"Tunggu sebentar !"

"Perkataan apa lagi yang hendak kau bicarakan ? Apa yang seharusnya diucapkan toh telah habis kau utarakan semua."

"Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan lagi kepadamu."

"Tanyalah !"

Pelan-pelan Kwik Tay-lok bangkit berdiri lalu sepatah demi sepatah dia menegur.

"Benarkah kau adanya Lamkiong Cho?"

Orang berbaju hitam itu tidak menjawab juga tidak berpaling, tapi Kwik Tay-lok dapat melihat kulit di atas bahunya seakan-akan menjadi kaku secara tiba-tiba.

Anginpun serasa ikut berhenti secara tiba-tiba, mendadak suasana dalam halaman itu berubah menjadi hening, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

Lewat lama sekali, Kwik Tay-Iok baru berkata.

"Bila kau tidak bersedia untuk berbicara manggutkan saja kepalamu, tapi kau tak usah kuatir, aku tidak mempunyai pengalaman untuk memenggal batok kepala orang, juga tak akan membunuh orang dari belakang tubuh orang lain."

Belum juga ada suara, tak kedengaran ada jawaban. Kembali lewat lama sekali, orang berbaju hitam itu, baru berkata .

"Sepuluh tahun belakangan ini, kau adalah orang ke tujuh yang mengajukan pertanyaan semacam itu kepadaku."

"Apakah enam orang sebelumnya telah tewas semua ?"

"Benar."

"Apakah mereka mati karena mengajukan pertanyaan itu ?"

"Setiap orang, yang berani mengajukan pertanyaan seperti ini, dia harus membayar pertanyaan itu dengan suatu pengorbanan yang amat besar, oleh karena itu, pertimbangkanlah baik-baik sebelum kau ajukan pertanyaan tersebut....!"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Aai.... sebenarnya aku memang ingin mempertimbang-kannya lebih dahulu, sayang sekali, aku telah mengajukan pertanyaan itu sekarang."

Mendadak orang berbaju hitam itu membalikkan tubuhnya, lalu dengan sorot mata setajam sembilu mengawasinya tak berkedip, bentaknya dengan suara keras.

"Andaikata aku adalah Lamkiong Cho mau apa kau ?"

"Semalam aku telah mengabulkan permintaanmu, asal kau telah melangkah masuk ke dalam pintu gerbang rumah ini, maka kau adalah tamuku, aku tak akan mencelakaimu, aku pun tak akan mengusirmu."

Kata Kwik Tay lok.

"Dan sekarang ?"

"Sekarang, perkataanku itupun masih tetap berlaku, aku hanya ingin menahanmu beberapa saat lagi."

"Menunggu sampai kapan ?"

"Tinggal di sini sampai kau menyadari bahwa apa yang telah kau lakukan dimasa lalu adalah perbuatan yang tidak benar, tinggal di sini sampai kau merasa malu, menyesal dan bertobat, nah saat itulah kau baru boleh pergi meninggalkan tempat ini."

Kelopak mata orang berbaju hitam itu seakan-akan sedang berkerut kencang, tiba-tiba dia membentak lagi.

"Bila aku tak bersedia untuk mengabulkan permintaanmu itu, pula akibatnya ?"

"Ooooh..... itu mah sederhana sekali"

Jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa lebar. Pelan-pelan dia berjalan mendekatinya, kemudian sambil tersenyum dia berkata.

"Bukan di belakang tengkukku terdapat suatu bagian yang paling gampang untuk di penggal ?"

"Setiap orang tentu memilikinya.."

"Bila kau dapat menemukan bagian tersebut di atas tengkukku, silahkan kau penggal dahulu batok kepalaku sebelum pergi meninggalkan tempat ini.."

Orang yang berbaju hitam itu segera tertawa dingin, jengeknya.

"Bagiku mah tak usah dicari lagi"

"Oooh, jadi sendiri kau telah berhasil menemukannya?"

"Tapi aku tidak turun tangan karena aku hendak membalas budi kebaikanmu semalam, tapi sekarang . ."

Mendadak tubuhnya melesat mundur ke belakang dan meluncur keluar dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Kwik Tay-lok ikut melesat pula ke depan.

Berada ditengah udara, orang berbaju hitam itu telah meloloskan pedangnya, sebilah pedang panjang tujuh depa yang memancarkan cahaya gemerlapan.

Mendadak....

"Criiiing !"

Di atas pedang yang gemerlapan itu telah bertambah dengan sebuah sarung pedang.

Sarung pedang itu diambil keluar dari bawah jubah panjang dari Kwik Tay-lok.

Orang berbaju hitam itu segera melompat mundur ke belakang, tapi dia turut mengejar ke depan, begitu orang berbaju hitam itu meloloskan pedangnya maka diapun mengeluarkan sarung pedang dari bawah jubahnya, kemudian ditusukkan ke depan persis menyongsong datangnya tusukan dari musuhnya.

Panjang pedang tujuh depa, sarung pedang itu hanya tiga depa tujuh inci persis.

Tapi, begitu pedang si orang berbaju hitam itu kena disarungkan kembali, kontan saja ia tak sanggup mengembangkan permainan pedangnya lebih jauh....

Tubuhnya masih mundur terus ke belakang, sebab ia sudah tiada cara lain untuk menghadapi situasi semacam itu selain mundur....

Sepasang tangan Kwik Tay-lok mencekal sarung itu erat-erat dan mendorongnya ke muka kuat-kuat, bila ia tidak melepaskan pedangnya, maka hanya mundur terus mengikuti gerakan dorongan tersebut.

Sebaliknya jika dia melepaskan pedangnya, berarti gagang pedang sendiri akan menghajar di atas dadanya.

Tubuhnya mundur terus ke belakang, dia berusaha untuk berganti arah sedikit ke samping kemudian mendorong ke depan, sayang hal itu tak mungkin lagi, maka pada saat ini ia telah terjepit, gerak-geriknya sudah tidak bebas lagi.

Bila Kwik Tay-lok mendesaknya maju se depa, terpaksa dia harus mundur sedepa pula.

"Blaaaamm....!"

Tubuhnya telah terdorong sehingga menumbuk di atas dinding pekarangan.

Kwik Tay-lok masih menggenggam sarung pedang itu dengan sepasang tangannya, kemudian menekan tubuh musuhnya itu keras-keras di atas dinding.

Dalam keadaan begini, ia sudah tak mungkin mundur lagi, pedangnya juga tak mungkin dilepaskan lagi, asal dia lepas tangan, gagang pedang itu akan segera menghantam dadanya keras-keras.

Situasi ketika itu begitu luar biasanya sehingga bila tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, belum tentu orang akan mempercayainya....

Kwik Tay-lok segera tertawa, tegurnya.

"Keadaan seperti ini tentunya tak pernah kau sangka bukan ?"

"Kepandaian silat macam apaan ini ?"

Seru orang berbaju hitam itu sambil menggigit bibirnya menahan diri.

"Tindakan semacam ini sama sekali tak bisa dianggap sebagai suatu kepandaian"

Jawab Kwik Tay-lok tertawa.

"sebab kecuali dipakai untuk menghadapi dirimu, cara semacam ini sama sekali tak ada manfaatnya apa-apa."

Dia seperti kuatir kau orang berbaju hitam itu tidak mengerti, maka sambungnya lebih jauh.

"Sebab di dunia ini, kecuali kau seorang, tiada orang lain yang akan mencabut pedangnya dengan cara seperti ini."

"Jadi kau secara khusus menciptakan cara tersebut untuk digunakan menghadapi diriku?"

Seru orang berbaju hitam itu dengan suara yang dingin seperti es.

"Benar sekali."

"Padahal kau memang berniat untuk menahan diriku di tempat ini ?"

"Sesungguhnya tinggal di sinipun tak ada yang jelek, paling tidak setiap hari kau dapat tidur dengan hati yang tenteram"

Sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa.

"Hmmm.....!"

"Asal kau bersedia untuk tinggal di sini, aku segera akan lepas tangan dan memberikan kebebasan untukmu."

"Hmmm...!"

"Hmmm itu apa artinya ?"

Orang berbaju hitam itu tertawa dingin.

"Sekarang, sekalipun aku tak dapat membunuhmu, tapi kaupun tak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku, asal kau mengendorkan tanganmu, aku masih mampu untuk menggerakkan pedangku guna membunuh kau."

"Ehmmm.... memang keadaan semacam itu bisa saja terjadi setiap saat.."

Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Oleh sebab itu jangan harap kau bisa mengancamku dengan cara seperti ini, sekalipun aku bersedia mengabulkan permintaanmu itu, hal mana juga akan kulakukan setelah kau lepas tangan nanti."

Kwik Tay-lok memandangnya beberapa saat, mendadak ia berkata sambil tertawa.

"Baik, boleh saja aku mempercayai dirimu untuk kali ini saja, asalkan saja kau...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, dan belum lagi dia lepas tangan, mendadak ia saksikan ada semacam benda yang menerobos keluar dari dada orang berbaju hitam itu.

Itulah sebilah ujung pedang yang tajam.

Di ujung pedang itu masih ada darah yang menetes keluar.

Ketika orang berbaju hitam itu memandang ujung pedang yang menembusi dadanya, sorot mata yang terpancar keluar persis seperti sorot mata yang diperlihatkan Kui kongcu menjelang kematiannya.

Kwik Tay-lok menjadi tertegun menyaksikan kejadian itu.

Terdengar orang berbaju hitam itu memperdengarkan suara "Grook"

Yang aneh sekali dari tenggorokannya, dia seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, namun sudah tak sanggup diutarakan lagi.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok membentak keras, dia melejit ke tengah udara dan melompat keluar dari dinding pekarangan tersebut.

Betul juga, pedang itu ditusuk masuk dari balik dinding pekarangan sebelah luar, pedang tersebut menembusi dinding dan menembusi dada orang berbaju hitam itu, hingga kini gagang pedang itu masih berada di luar dinding.

Tapi hanya ada gagang pedangnya belaka, tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Angin berhembus lewat, rumput di atas tanah perbukitan itu bergoyang kesana kemari, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Di atas gagang pedang itu terdapat secarik kain putih, kain itu sedang berkibar pula terhembus angin.

Kwik Tay-lok ingin mencabut keluar pedang tersebut, tapi segera menemukan tulisan yang tertera di atas kain putih itu.

Ketika diambil kain tadi, maka terbacalah tulisan itu berbunyi demikian.

"Mati untuk yang mencatut nama ! tertanda . Lamkiong Cho."

Noda darah di ujung pedang itu telah mengering, orang berbaju hitam itu seakan-akan sedang menundukkan kepalanya memperhatikan ujung pedang yang menembusi dadanya, seperti juga sedang termenung.

Keadaannya itu seperti keadaan Kui kongcu setelah menemui ajalnya tertembus pedang.

Yan Jit, Ong Tiong, Lim Tay-peng masih berdiri di serambi jauh di belakang sana, berdiri sambil mengawasi jenasahnya.

Ia datang secara tiba-tiba, kini mati secara tiba-tiba pula.

Tapi yang lebih aneh lagi adalah ternyata ia bukan Lamkiong Cho.

Kwik Tay-lok berdiri disampingnya, memperhatikan ujung pedang yang menembusi dadanya, seakan-akan sedang termenung pula.

Pelan-pelan Yan Jit menghampirinya, lalu menegur.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan ?"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya.

"Aku sedang berpikir, kalau toh dia bukan Lamkiong Cho, mengapa harus menerima semua hangus dari Lamkiong Cho ?"

"Hangus apa maksudmu ?"

"Bila ia bukan Lamkiong Cho yang sebenarnya, Giok Ling-long tak akan membunuh dan ia tak usah menyembunyikan diri ditempat ini, sekarang, tentu saja diapun tak usah mati di sini ?"

"Apakah kau sedang merasa sedih atas kematiannya ?"

"Ya, sedikit."

"Tapi aku justru merasa sedih untuk Lamkiong Cho."

"Mengapa ?"

"Dengan mencatut nama Lamkiong Cho, entah berapa banyak orang yang telah dibunuhnya dalam dunia persilatan, entah berapa banyak kejahatan pula yang telah dia kerjakan?, mungkin Lamkiong Cho sendiri sama sekali tidak tahu menahu akan hal ini, kau seharusnya berkata bahwa Lamkiong Cho lah yang telah menerima akibatnya dari ulah orang ini, bukan dia yang mendapat hangus dari Lamkiong Cho."

Kwik Tay-lok termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia manggut-manggut, sahutnya setelah menghela napas panjang.

"Tapi, bagaimanapun juga dia toh masih terhitung juga tamu kita, aku tak ingin melihat tamuku mati di dalam halaman rumah kita."

"Oleh sebab itu kau masih bersedih hati bagi kematiannya ?"

"Yaa, sedikit."

"Bila kau lepas tangan tadi, entah pada saat ini masih akan bersedih hati untuknya atau tidak ?"

"Bila aku lepas tangan tadi, apakah dia berkesempatan itu untuk membunuhku ?"

"Kau anggap dia tak dapat berbuat demikian"

Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya.

"Bagaimanapun kau berbicara, aku tetap merasa bahwa manusia tetap manusia, sedikit banyak manusia itu masih mempunyai rasa perikemanusiaan, walaupun kau tak melihatnya, atau dapat merabanya, tapi mau tak mau harus kau akui akan kehadirannya, kalau tidak, apalah artinya hidup sebagai manusia ?"

Yan Jit menatapnya lekat-lekat, mendadak diapun turut menghela napas panjang, katanya dengan lembut.

"Padahal akupun berharap sekali agar pandanganmu itu jauh lebih tepat daripada pandanganku..."

Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya memandang awan yang melayang jauh diangkasa sana, lama sekali dia termenung, lalu berkata lagi secara tiba-tiba.

"Sekarang, akupun berharap bisa mengetahui akan satu hal."

"Kau berharap apa ?"

"Aku hanya berharap, suatu ketika aku dapat bertemu dengan Lamkiong Cho yang sesungguhnya, melihat bagaimanakah bentuk wajah orang itu..."

Dengan mata mencorongkan sinar tajam, pelan-pelan dia melanjutkan.

"Aku rasa, ia pasti jauh lebih misterius, jauh lebih menakutkan daripada orang-orang yang pernah kujumpai sebelumnya."

Tapi apakah di dunia ini benar-benar terdapat seorang manusia yang bernama Lamkiong Cho ?

Siapapun tidak tahu, siapapun tak pernah melihatnya.

Sampai sekarang ada atau tidaknya Lamkiong Cho si manusia misterius itu dalam dunia masih tetap merupakan suatu tanda tanya besar, suatu teka-teki besar yang hingga kini belum terpecahkan....

Yaa, siapa yang tahu dia itu ada atau tidak?

Tiada seorang manusiapun yang tahu akan kabar berita Lamkiong Cho, seperti juga tak ada orang yang tahu ke mana perginya musim semi.

Tapi, musim semi akan datang kembali, sebaliknya Lamkiong Cho sama sekali tiada beritanya.

Sekarang, musim sudah hampir berlalu.

Walaupun aneka bunga dalam halaman telah mekar dengan indahnya, namun bagaimanapun indahnya bunga, tak akan bisa menahan musim semi itu untuk berlangsung lebih lama.

Lambat laun udara mulai menjadi panas.

Sekalipun luka yang diderita Ong Tiong telah sembuh, namun orangnya berubah makin malas, sepanjang hari dia hanya berbaring saja, hampir sama sekali tak bergerak.

Kecuali ketika mereka mengubur jenasah orang berbaju hitam tempo hari....

Waktu itu, walaupun sudah mendekati Ceng-beng, namun tiada hujan yang turun sepanjang hari.

Udara cerah dan sangat baik, pulang dari kuburan, seperti biasanya Ong Tiong berjalan dipaling belakang..

Ang Nio-cu tidak datang.

Walaupun luka yang dideritanya telah hampir sembuh, namun sepanjang hari dia mengurung diri dalam kamarnya....

sekarang bukan Ong Tiong yang menghindarinya, justru agaknya dialah yang berusaha menghindari Ong Tiong.

Hati perempuan memang selamanya sukar diraba ke arah mana tujuannya....

Ini masih tak aneh, yang aneh adalah belakangan ini Kwik Tay-lok juga seakan-akan selalu menghindari Yan Jit.

Yan Jit dan Lim Tay-peng berjalan di muka, sedang dia dan Ong Tiong mengikuti di belakang dengan kemalas-malasan.

Di tengah jalan, Ong Tiong mencari sebuah tempat yang rindang dan duduk, kemudian menggeliat dan menguap berulang kali.

Maka diapun turut duduk, menggeliat dan menguap berulang kali.

Ong Tiong segera tertawa, sambil memandang wajahnya, ia berkata sambil tersenyum.

"Belakangan ini tampaknya kaupun berubah menjadi lebih malas daripada diriku?"

"Siapa yang membuat peraturan kalau hanya kau seorang yang boleh menjadi malas ? Dapatkah aku lebih malas sedikit dari pada dirimu ?"

"Tidak dapat."

"Kenapa tidak dapat?"

"Sebab belakangan ini kau seharusnya lebih bersemangat daripada siapapun juga."

"Mengapa?"

"Masih ingatkah kau dengan ucapan Yan Jit yang disampaikan kepadamu tempo hari?"

"Tidak ingat, tidak ingat lagi, mengapa aku harus mengingat selalu perkataannya ?"

Seakan-akan baru saja menelan tiga butir obat peledak, kata-katanya membara seperti bahan peledak yang setiap saat bakal meledak.

Ong Tiong sama sekali tidak menggubris akan hal itu, sambil tersenyum kembali dia berkata.

"Dia bilang, diantara kita berempat, sebenarnya ia mengira kepandaian silatmu paling rendah."

"Kalian semua mempunyai guru yang baik sedang aku tidak, tentu saja kepandaianku lebih rendah."

"Tapi, semenjak kau bertarung melawan orang berbaju hitam itu, dia baru menemukan kalaupun ilmu silat yang kami miliki jauh lebih hebat daripada kepandaianmu, namun bila sungguhsungguh sampai terjadi pertarungan, mungkin semuanya bukan tandinganmu."

"Apa yang dia katakan, mungkin dia sendiripun tak akan mempercayainya....."

Ucap Kwik Tay lok dingin.

"Tapi aku percaya seratus persen, sebab pandanganku pun sama persis seperti pandangannya itu."

"Oya..."

"Sekalipun ilmu silatmu tak bisa menandingi kami, namun bila sedang bertarung melawan orang, kau bisa menghadapinya menurut situasi yang ada di depan, menaklukkan musuh terlebih dahulu dan menguasahi posisi strategis, jika di umpamakan dengan kata-kata kuno, maka kau adalah seorang manusia yang pintar dan berbakat bagus untuk melatih ilmu silat, oleh sebab itu...."

"Oleh sebab itu kita harus bertarung untuk mencobanya bukan ?"

Katanya semakin meledak-ledak, seperti ada tiga ton bahan peledak yang tertanam dalam perutnya. Namun Ong Tiong masih juga tidak ambil perduli, katanya lebih jauh sambil tersenyum.

"Oleh sebab itu kau harus menggantikan semangatmu dan melatih kepandaian silat yang kau miliki semakin giat, bila dapat menemukan guru yang baik, mungkin saja di kemudian hari akan menjadi seorang tokoh silat disegani dalam dunia persilatan"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang katanya.

"Sekarang aku tak ingin mencari guru yang paling baik, aku hanya ingin mencari seorang lebih yang baik"

"Mengapa?"

Kwik Tay-lok menggigit kuku jari tangannya keras-keras, lalu jawabnya lirih.

"Sebab... sebab aku punya penyakit"

"Kau punya penyakit? Penyakit apa?"

Tanya Ong Tiong dengan wajah agak berubah.

"Semacam penyakit yang aneh sekali"

"Tampaknya kau tak pernah membicarakan soal-soal ini denganku?"

"Sebab.... sebab aku.... aku tak dapat mengatakannya"

Wajah pemuda ini memang tampak sangat menderita sekali, sama sekali tidak mirip orang yang sedang bergurau.

Ternyata Ong Tiong juga tidak bertanya lebih lanjut.

Sebab dia tahu, semakin cepat dia mengajukan pertanyaan, semakin enggan Kwik Tay-lok membicarakannya.

Begitu ia tidak bertanya, ternyata Kwik Tay-lok malah mendesak terus, kembali dia bertanya.

"Apakah kau tidak merasakan bahwa belakangan ini aku telah berubah sama sekali?"

Ong Tiong berkerut kening lalu termenung beberapa saat lamanya, setelah itu dia baru mengangguk.

"Ehmm, agaknya memang sedikit berubah."

"Aaai.... hal itu disebabkan aku berpenyakit"

Kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas panjang. Dengan nada menyelidik Ong Tiong bertanya lagi.

"Tahukah kau dimana terletak penyakit yang kau derita itu"

"Disini !"

Kata Kwik Tay-lok sambil menuding ke hati sendiri.

"Oooh.... kalau begitu kau terkena penyakit hati ?"

Seru Ong Tiong sambil berkerut kening. Mimik wajah Kwik Tay lok semakin menunjukkan penderitaan yang lebih menghebat.

"Penyakit hatipun terdiri dari beraneka macam, menurut apa yang kuketahui, yang paling hebat adalah penyakit rindu.... apakah kau terkena penyakit rindu ?"

Kwik Tay-lok tidak menjawab, dia hanya menghela napas berulang kali. Sambil tertawa kembali Ong Tiong berkata.

"Penyakit rindu bukan suatu penyakit yang memalukan, mengapa kau enggan untuk mengutarakannya ? Siapa tahu aku masih bisa membantumu untuk menjadi mak comblang?"

Sekuat tenaga Kwik Tay-lok menggigit bibirnya kencang-kencang, lewat sekian lama kemudian tiba-tiba ia cengkeram bahu Ong Tiong dan berseru keras.

"Benarkah kau adalah teman baikku?"

"Tentu saja benar"

"Sebagai sahabat karib, apakah harus saling menutup rahasia...?"

"Aku mempunyai suatu rahasia, sudah lama rahasia ini ku simpan didalam hati, tapi bila tidak ku utarakan lagi, bisa jadi aku akan menjadi gila, tapi.... tapi bila ku utarakan keluar, aku pun takut kau mentertawakan diriku"

"Kau.... kau... jangan-jangan kau kena penyakit sypilis?"

Bisik Ong Tiang ragu-ragu.

"Tidak !"

Ong Tiong segera menghembuskan napas lega, ujarnya.

"Asal tidak kena penyakit Sypilis saja, tak menjadi soal, katakan saja berterus terang, aku tak akan mentertawakan dirimu"

Kembali Kwik Tay-lok ragu-ragu setengah harian lamanya, setelah itu dengan wajah yang murung dia berkata.

"Penyakit rindu pun tidak terdiri dari semacam saja, justru yang ku alami adalah suatu macam penyakit yang paling memalukan"

"Kenapa memalukan sekali ? Perempuan suka lelaki, lelaki suka perempuan, hal ini sudah lumrah dan semua orang juga mengalaminya, sekalipun gagal didalam bercinta juga bukan suatu kejadian yang terlalu memalukan...."

"Tapi.... tapi penyakit rindu yang ku alami ini bukan terhadap kaum perempuan"

Ong Tiong tertegun, sampai lama kemudian dia baru bertanya lagi dengan nada menyelidik.

"Apakah kau jatuh hati kepada seorang lelaki ?"

Kwik Tay-lok manggut-manggut, wajahnya meringis seperti setiap saat akan menangis. Agaknya Ong Tiong juga merasa takut sekali, sengaja dia merendahkan suaranya sambil berbisik.

"Bukan aku bukan ?"

Baca Juga: Kereta Berdarah Khu Lung

Baca Juga: Golok Kumala Hijau 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert