Ceritasilat Novel Online

Pendekar Riang 9

Eps 9 Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id

Baca online Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id

Cersil Pendekar Riang - Khu Lung Tjan Id.

Kwik Tay-lok memandang wajahnya lekat-lekat, dia tak tahu ingin menangis ataukah ingin tertawa, terpaksa sambil menarik wajahnya ia menjawab cepat.

"Penyakitku belum sampai separah ini."

Agaknya Ong Tiong segera menghembuskan napas lega, katanya kemudian sambil tertawa.

"Asal bukan aku, itu mah tak menjadi soal."

Mendadak dia merendahkan lagi suaranya sambil bertanya.

"Apakah Siau-lim ?"

"Sudah bertemu setan tampaknya kau ini"

Ong Tiong kembali berkerut kening dan berpikir beberapa saat lamanya, tapi tak lama kemudian katanya sambil tertawa.

"Aaaah... mengerti aku sekarang, bukankah kau mencintai Yan Jit....?"

Kali ini Kwik Tay-lok tidak berbicara lagi, ia membungkam dalam seribu bahasa. Dengan senyuman dikulum kembali Ong Tiong berkata.

"Padahal sudah lama aku mengetahui akan hal ini, kau selalu suka berkumpul dengannya."

Sambil bermuram durja Kwik Tay-lok berkata lagi.

"Dulu aku masih belum merasakan sesuatu yang tak beres, aku masih mengira hal mana mungkin disebabkan kami adalah sahabat karib tapi kemudian.... kemudian...."

"Kemudian bagaimana?"

Tanya Ong Tiong sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

"Kemudian.... kemudian aku merasakan sesuatu yang tak beres."

"Dimana ketidak beresannya ?"

"Aku tak dapat menerangkan dimanakah letak ketidak beresan tersebut, pokoknya asal aku berada bersamanya, perasaanku akan menjadi lain daripada yang lain."

"Bagaimana lain daripada yang lain itu?"

Tampaknya ia betul-betul hendak mengorek semua persoalan sampai sejelas-jelasnya sama sekali, tak mau mengendor dengan begitu saja.

"Lain daripada yang lain, yaa lain dari pada yang lain, pokoknya.... pokoknya tidak sama seperti keadaan biasa."

Sekalipun sudah dikatakan namun kenyataannya sama juga seperti tidak berkata apa-apa.

Tampaknya Ong Tiong seperti mau meledak rasa gelinya, tapi untung saja ia masih dapat menahan diri, ujarnya kemudian dengan wajah serius.

"Padahal kejadian seperti inipun bukan termasuk suatu kejadian yang memalukan."

"Tidak memalukan ?"

Teriak Kwik Tay-lok.

"kalau lelaki semacam aku ternyata menyukai lelaki juga, apa namanya ? itu namanya Homoseks, mengerti ? Apakah Homoseks tidak memalukan....."

"Toh di dunia ini bukan kau seorang yang mengidap penyakit seperti ini? Bahkan sang Kaisar pun, ada kalanya merasakan juga tubuh lelaki, apa salahnya kalau rakyatpun mengikuti jejaknya? Aku lihat, lebih baik lanjutkan saja hubunganmu dengannya...."

Kwik Tay-lok segera mencak-mencak seperti orang yang kebakaran jenggot, dengan mata melotot teriaknya amat gusar.

"Ternyata kau bukan sahabatku, aku telah salah menilai dirimu."

Sambil membalikkan badannya ia siap berlalu dari situ. Tapi Ong Tiong segera menariknya kembali seraya berkata.

"Eeeh.... jangan marah dulu, jangan marah dulu, aku tak lebih hanya ingin mencoba dirimu saja, sesungguhnya akupun sudah melihatnya bahwa Yan Jit manusia tersebut sedikit kurang beres"

"Bagaimana kurang beresnya?"

Tanya Kwik Tay-lok tertegun. Ong Tiong harus bersusah payah menahan diri agar jangan sampai meledak rasa gelinya, sambil menarik muka dia berkata.

"Apakah kau tidak melihat orang ini rada sedikit berhawa sesat."

"Hawa sesat ? Hawa sesat apa?"

"Walaupun kita sudah sekian lama menjadi sahabat karib, namun dia selalu waspada seperti terhadap maling saja, bila mendadak tidur, ia selalu menutup semua pintu, semua jendela yang ada rapat-rapat, bukan begitu?"

"Betul !"

"Setiap kali dia keluar rumah, kepergiannya selalu dilakukan secara diam-diam, seakan-akan kuatir bila kita akan menguntilnya, begitu....?"

"Betul."

"Dia selalu tak pernah mandi, tapi tubuhnya tak pernah berbau busuk, walaupun pakaian yang dikenakan dekil dan penuh berlubang, namun kamarnya jauh lebih bersih daripada kamar siapapun.... coba kau bilang, berdasarkan beberapa masalah ini bukankah dia tampak amat sesat rasanya...?"

Paras muka Kwik Tay-Iok segera berubah menjadi pucat pias, dengan agak ragu-ragu katanya.

"Maksudmu, apakah dia...."

"Aku tidak berkata apa-apa, juga tidak mengatakan kalau dia adalah anggota Mo-kau"

Mendadak dia berbatuk-batuk keras, sebab kalau tidak dibatukkan lagi, bisa jadi suara tertawanya akan meledak-ledak.

Paras muka Kwik Tay-lok berubah semakin pucat pias lagi, bibirnya menjadi gemetar keras, terdengar ia bergumam tiada hentinya.

"Orang Mo-kau.... orang Mo-kau ?"

Ong Tiong harus berbatuk sekian lama sebelum akhirnya berhasil meredakan rasa geli dalam hatinya, kembali dia berkata.

"Aku hanya pernah mendengar orang bercerita, katanya dalam Mo-kau terdapat beberapa pasang suami istri yang sangat aneh."

"Bagaimana anehnya ?"

"Beberapa pasang suami istri itu, sang suami adalah laki-laki, sang istripun laki-laki."

Bagaikan terkena bidikan panah yang telak mengenai ulu hatinya, Kwik Tay-Iok segera melompat bangun dari atas tanahnya, kemudian sambil memegang bahu Ong Tiong kencangkencang, pintanya dengan wajah hampir menangis.

"Kau.... kau harus... membantuku.... kau.... kau harus membantuku."

"Bagaimana membantunya ?"

"Kau harus membantuku untuk bercekcok hebat dengan diriku."

"Bercekcok ? Bagaimana cekcoknya"

"Terserah bagaimanapun cekcoknya, pokoknya aku minta kita bercekcok hebat, semakin hebat semakin baik."

"Kenapa harus bercekcok ?"

"Sebab setelah bercekcok aku bisa kabur lari sini untuk mengambil langkah seribu !"

Paras muka Ong Tiang agak berubah, tampaknya dia merasa gurauannya sudah terlampau berlebihan, maka setelah lewat sesaat lamanya dia baru berkata sambil tertawa paksa.

"Sesungguhnya kau tak perlu pergi, sebab sebenarnya dia...."

Dia seperti hendak mengungkapkan rahasia tersebut, tapi Kwik Tay-lok segera menukas katakatanya.

"Padahal akupun bukan benar-benar akan minggat, aku hanya akan meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu saja"

"Kemudian?"

"Kemudian akan menunggunya di bawah bukit sana, asal dia sudah pergi maka secara diamdiam aku akan menguntilnya, akan kulihat dia pergi kemana dan berjumpa dengan siapa saja"

Setelah menghela napas panjang, ia melanjutkan.

"Bagaimanapun juga, aku harus menyelidiki dirinya sampai jelas, aku ingin tahu sebenarnya ia mempunyai rahasia apa?"

Ong Tiong termenung sebentar, kemudian katanya.

"Mengapa kau tidak menunggu saja di rumah?"

"Sebab bila aku akan menguntilnya dengan begitu saja, niscaya jejakku akan diketahui olehnya"

"Apakah kau hendak merubah wajahmu setibanya di bawah bukit sana ?"

"Kau mengerti ilmu menyaru muka ?"

"Tidak, tapi aku mempunyai cara sendiri."

Sambil miringkan kepalanya Ong Tiong mempertimbang-kan hal tersebut beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia berkata.

"Kalau toh kau telah bertekad untuk berbuat demikian, baiklah kau lakukan saja, cuma...."

"Cuma bagaimana ?"

"Bila kita hendak bercekcok, maka cekcok itu harus dilangsungkan seperti yang sesungguhnya, kalau tidak, tentu dia tak akan percaya."

"Betul."

"Oleh karena itu kita harus menunggu kesempatan, kita tak boleh bercekcok tanpa sebab musabab yang kuat."

"Tapi, kita harus menunggu sampai kapan?"

Ong Tiong segera tertawa, katanya.

"Walaupun aku tidak terlalu suka bercekcok dengan orang, namun bukan suatu pekerjaan yang sulit untuk mencari kesempatan guna bercekcok."

"Kenapa ?"

"Sebab kau memang seringkali mengucapkan kata-kata yang tak bisa diterima oleh manusia biasa."

Kwik Tay-lok turut tertawa, katanya.

"Bila Yan Jit berada di sini, sekarang juga aku dapat bercekcok dengan dirimu."

"Kini, aku hanya menguatirkan satu persoalan."

"Apa yang kau kuatirkan ?"

"Aku hanya kuatir bila ia membantumu untuk bercekcok denganku, kemudian sehabis bercekcok pergi bersamamu."

Kwik Tay-lok mengerdipkan matanya berulang kali, katanya kemudian.

"Kau tak usah menguatirkan tentang persoalan ini."

"Oya ?"

"Kalau toh aku dapat bercekcok dengan dirimu, apakah tidak bisa bercekcok pula dengan dirinya?"

"Tentu saja dapat"

Jawab Ong Tiong sambil tertawa.

"ada kalanya, perkataanmu bisa menggemaskan orang sekota, siapapun yang bercekcok denganmu, aku pasti tak akan merasa keheranan"

Belum habis berkata dari Kwik Tay-lok itu, mendadak terdengar jeritan kaget berkumandang dari balik hutan di sebelah depan sana. Seorang gadis sedang berteriak-teriak dengan suara yang lantang.

"Tolong.... tolong...."

Bila seorang lelaki mendengar seorang gadis meneriakkan kata "tolong", kebanyakan mereka segera akan memburu ke tempat kejadian dan memberikan pertolongannya.

Sekalipun ia tidak berniat sungguh-sungguh untuk memberi pertolongan, paling tidak juga akan mendekatinya mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.

Dalam kehidupan seorang pria, sedikit banyak ia tentu akan mengkhayalkan untuk menjadi seorang pahlawan yang menolong gadis cantik, hanya sayangnya kesempatan itu jarang terjadi.

Kini, kesempatan itu sudah tiba, sudah barang tentu Kwik Tay-lok takkan melepaskannya dengan begitu saja.

Tidak menanti Ong Tiong melakukan suatu gerakan, Kwik Tay-lok telah melompat bangun dan menyerbu ke arah mana berasalnya suara teriakan tersebut....

Sayang dia seakan-akan datang terlambat selangkah.

Baru saja dia melompat bangun, tampaklah sesosok bayangan manusia telah menerjang masuk ke dalam hutan.

Gadis yang meneriakkan minta tolong, kebanyakan tak akan berparas jelek, tapi gadis secantik orang yang berteriak minta tolong sekarang, tidak banyak jumlahnya.

Gadis itu tidak begitu tua, paling banter usianya baru tujuh delapan belas tahunan, rambutnya dikepang dua dan kelihatan lincah serta polos....

Di tangannya membawa sebuah keranjang bunga, wajah yang berbentuk kwaci telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, ia sedang berlarian mengitari sebuah pohon.

Seorang lelaki berkumis yang bertubuh kekar, dengan membawa senyuman menyeringai mengejarnya dari belakang.

Ia tidak mengejar terlalu cepat, sebab ia tahu gadis itu sudah merupakan hidangan lezat di depan mata, jangan harap dara tersebut dapat meloloskan diri lagi dari cengkeramannya.

Tentu saja mimpipun ia tak menyangka kalau dari tengah jalan bisa muncul seorang Thia Kaukim.

Untung saja Thia Kau-kim yang munculkan diri tak lebih hanya seorang pemuda yang masih ingusan paling banter umurnya sebaya dengan nona tersebut.

Maka sebelum Lim Tay-peng buka suara, ia telah membentak lebih dahulu dengan suara menggelegar.

"Kau si anakan kelinci, siapa yang suruh kau datang kemari? Bila sampai menggagalkan urusan baik locu, hati-hati kupenggal batok kepala anjingmu itu."

"Urusan baik apa ?"

Tegur Lim Tay-peng dengan wajah dingin.

"Apa yang hendak locu lakukan, memangnya kau si bangsat cilik tak dapat melihatnya sendiri ?"

Sementara itu si nona telah menyembunyikan diri di belakang Lim Tay-peng, dengan napas tersengkal-sengkal dan suara gemetar katanya.

"Dia bukan orang baik, dia.... dia hendak menganiaya aku."

"Tak usah kuatir,"

Ucap Lim Tay-peng hambar.

"sekarang, tak ada orang yang berani menganiaya dirimu lagi."

"Hmmm.... anak monyet, tampaknya kau hendak mencampuri urusanku?"

Bentak lelaki itu dengan gusar.

"Agaknya memang begitu !"

Dengan gusar lelaki itu membentak keras, bagaikan harimau lapar yang siap menerkam domba, dengan garangnya ia terjang diri Lim Tay-peng.

Sayang sekali musuh yang dihadapinya Lim Tay-peng telah berhasil menghajarnya sampai menggelinding ke tanah, kemudian ditendangnya tubuh lelaki itu seperti lagi menyepak anjing saja.

Kejut dan gusar lelaki itu dibuatnya, kontan saja dia mencaci maki kalang kabut, tampaknya ia sedang bersiap-siap untuk merangkak bangun dan menerkam lagi dengan garang.

Siapa tahu seseorang telah mencengkeram bajunya dari belakang, kemudian mengangkat tubuhnya ke udara.

Bukan saja orang itu mempunyai tenaga yang besar, perawakan tubuhnya juga tidak lebih pendek daripada dirinya sekalipun hanya dicengkeram dengan tangan sebelah, ternyata ia tak sanggup untuk memberikan perlawanan lagi...

Kedatangan Kwik Tay-lok tepat pada waktunya, sambil mencengkeram orang itu menuju ke depan Lim Tay-peng, katanya sambil tersenyum.

"Menurut pendapatmu, bagaimana kita harus memberi pelajaran kepada bangsat ini?"

Ia membentak.

"Lebih baik kita menanyakan pendapat dari nona ini saja,"

Kata Lim Tay-peng cepat-cepat.

Waktu itu, belum hilang rasa kaget si nona, tubuhnya malah masih gemetar keras.

Kwik Tay-lok segera menghampiri nona itu, kemudian setelah mengerdipkan matanya ia berkata.

"Orang ini berani menganiaya dirimu, bagaimana kalau kita jagal dia, kemudian diberikan kepada anjing ?"

Nona cilik itu menjerit kaget, hampir saja ia jatuh pingsan, tubuhnya segera roboh ke dalam pelukan Lim Tay-peng. Kwik Tay lok tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.... haaahhh.... haaahhh jangan takut nona manis, aku hanya bergurau saja, manusia busuk macam dia jangan toh manusia, anjing liarpun enggan mengendus badannya yang busuk itu."

Kemudian sambil mengulapkan tangannya.

"Enyah kau dari sini, lebih cepat lebih baik, lebih jauh lebih baik, jangan sampai kena kami bekuk lagi !"

Sekalipun tak usah diperingatkan, lelaki itu sudah melarikan diri terbirit-birit, diam-diam ia menyumpahi orang tua sendiri, kenapa dilahirkan dengan dua kaki saja.

Sepeninggal lelaki tadi, si nona kecil itu baru menghembuskan napas lega, dengan wajah merah karena jengah ia bangkit berdiri, lalu sambil menjura katanya.

"Terima kasih atas bantuan siangkong, kalau tidak.... kalau tidak....."

Matanya kembali menjadi merah, kata-kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan lagi, seakanakan kalau bisa dia ingin memeluk sepasang kaki Lim Tay-peng dan menyatakan betapa meluapnya rasa terima kasih yang berkobar didalam dadanya.

Paras muka Lim Tay peng juga berubah menjadi merah padam.

Melihat itu, Kwik Tay lok segera berseru sambil tertawa.

"Yang menolong kau toh bukan cuma kongcu ini seorang, aku juga turut ambil bagian, mengapa kau tidak berterima kasih kepadaku?"

Paras muka nona cilik itu berubah semakin merah padam ia semakin tak tahu apa yang harus dilakukan. Untung saja Yan Jit datang tepat pada waktunya, sambil melotot ke arah Kwik Tay-lok tegurnya.

"Orang sudah menderita, kau hendak menganiaya dirinya lagi...."

Ia segera menarik bangun nona cilik itu, kemudian katanya lagi.

"Orang inipun tadi punya penyakit, kau tak usah menggubris dirinya...."

"Te... terima kasih."

Nona cilik itu menundukkan kepalanya semakin rendah.

"Kau seorang anak dara, mengapa mendatangi tempat yang tak ada orangnya seperti tempat ini ?"

Nona cilik itu menundukkan kepalanya semakin rendah, sahutnya agak tergagap.

"Aku adalah seorang penjual bunga, ia bilang di suatu tempat ada orang yang hendak memborong semua bunga yang kumiliki, maka.... maka akupun mengikutinya datang ke mari."

"Yan Jit menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Lelaki di dunia ini lebih banyak yang jahat daripada yang baik, lain kali kau mesti bersikap lebih berhati-hati lagi."

Mendadak Lim Tay-peng bertanya.

"Berapa sih harganya sekeranjang bunga?"

"Tiga.... tiga....."

"Baik, kuberi kau tiga tahil perak, kuborong semua sekeranjang bungamu itu."

Nona menjual bunga itu mendongakkan kepalanya menatap wajahnya, dibalik sinar matanya yang lembut terpencar rasa terima kasih yang meluap.

Dengan wajah merah padam karena jengah, buru-buru Lim Tay-peng melengos ke arah lain, seakan-akan ia tak berani bertatapan mata dengan dara tersebut.

Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Lim Tay-peng, lalu memandang pula ke arah si dara penjual bunga itu, tiba-tiba ia bertanya.

"Nona cilik, siapa namamu ?"

Dara penjual bunga itu seperti merasa takut sekali, begitu ia membuka suara, nona itu mundur dua langkah dengan ketakutan.

"Apakah kau tinggal di bawah bukit sana? Apakah barusan pindah ke mari? Dulu mengapa aku tak pernah melihat dirimu ?"

Tanya Kwik Tay-lok lebih lanjut. Dengan wajah merah padam jengah, dara penjual bunga itu menundukkan kepalanya rendahrendah, sambil menggigit bibir, ia membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Hei, kenapa hanya membungkam saja ? Apakah kau mendadak menjadi bisu ?"

Kwik Tay-lok tertawa terkekeh.

Dara penjual bunga itu seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan berlalu dari sana.

Tampak sepasang kepangnya bergoyang-goyang di belakang punggungnya, setelah berlari agak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan mengerling sekejap ke arah Lim Tay-peng, kemudian mengambil keluar semua bunga dari keranjangnya dan diletakkan di atas tanah.

"Bunga ini semuanya untukmu"

Dia berkata. (Bersambung ke

Jilid 27)

Jilid 27 BELUM lagi ucapannya selesai diucapkan, wajahnya semakin memerah, larinya semakin cepat, seakan-akan takut kalau sampai dikejar orang.

"Kecil amat nyali nona cilik ini,"

Kata Kwik Tay-lok kemudian sambil tertawa.

"Melihat tampangmu yang buas dan seram, gadis yang bernyali besarpun akan ketakutan juga dibuatnya,"

Sela Yan Jit dingin.

"Aku toh tak lebih hanya bertanya beberapa patah kata kepadanya, apa salahnya kalau bertanya melulu?"

"Apa pula urusannya nama orang, tinggal dimana dengan urusanmu? Kenapa kau mesti banyak bertanya?"

"Aku toh bukan bertanya untuk diriku sendiri,"

Jawab Kwik Tay-lok tertawa.

"Lantas kau bertanya untuk siapa?"

Kwik Tay-lok menunjuk ke arah Lim Tay-peng dengan ujung bibirnya, lalu berkata sambil tertawa.

"Apakah kau belum melihat bagaimanakah tampang dari kongcu kita yang romantis itu?"

Lim Tay-peng seakan-akan tidak mendengar apa yang dia katakan, sepasang matanya masih menatap ke arah mana bayangan tubuh nona cilik itu melenyapkan diri, ia tampak seperti agak terpesona dibuatnya.

Musim semi belum pergi jauh, angin yang berhembus di pagi hari itu masih membawa udara yang segar.

Kwik Tay-lok membuka pintu dan menarik napas panjang-panjang, angin sejukpun segera berhembus lewat menerpa tubuhnya.

Setiap hari pasti dialah yang bangun paling awal, sebab dia merasa bertiduran di atas ranjang dalam udara segar seperti itu hanyalah suatu pekerjaan yang menghambur-hamburkan waktu.

Tapi hari ini, ketika ia membuka pintu dan melangkah keluar halaman, tiba-tiba dijumpainya Lim Tay-peng sudah berdiri di tengah halaman.

Ia sedang berdiri termangu-mangu di tengah halaman.

Kwik Tay-lok segera mendehem pelan, tapi ia tidak mendengar, Kwik Tay-lok mengetuk tiang pagar, diapun tidak mendengar.

Sepasang matanya hanya menatap bunga mawar di sudut halaman saja, entah apa yang sedang dipikirkan ?

Pelan-pelan Kwik Tay-lok berjalan menghampirinya, kemudian secara tiba-tiba berseru keras.

"Selamat pagi !"

Akhirnya Lim Tay-peng mendengar juga, tapi iapun tampak seperti amat terperanjat, ketika berpaling dan melihat orang itu adalah Kwik Tay-lok, ia baru tertawa paksa.

"Selamat pagi !"

Sahutnya. Kwik Tay-lok menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian berkata.

"Kalau kulihat matamu yang merah, tampaknya semalam tidak nyenyak tidurmu?"

"Ehhmmm....."

"Tampaknya kau seperti mempunyai rahasia hati, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan ?"

"Aku sedang berpikir.... agaknya musim semi telah berlalu."

"Yaa betul, musim semi telah berlalu, agaknya baru kemarin berlalunya"

Sahut Kwik Tay-lok sambil manggut-manggut.

"Baru kemarin berlalunya ?"

Kwik Tay-lok segera tersenyum.

"Masa kau tidak tahu ?"

Serunya.

"ketika si nona cilik lari pergi kemarin, musim semi telah lari pula mengikutinya"

Kontan saja paras muka Lim Tay-peng berubah menjadi merah padam. Sengaja Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya.

"Heran, kemana perginya musim semi ? Siapa yang tahu....? Bila ada orang yang tahu ke mana perginya musim semi, apa salahnya kalau dicari kembali ?"

"Dapatkah kau kurangi beberapa patah katamu yang tak beraturan itu?"

Pinta Lim Tay-peng dengan paras muka merah padam. Kembali Kwik Tay-lok tertawa.

"Masa aku telah salah berbicara? Apakah kau tak ingin menahan musim semi itu beberapa waktu lamanya?"

"Aku...."

Mendadak ia membungkam, sebab pada saat itulah tiba-tiba berkumandang suara nyanyian dari kejauhan sana.

"Nona cilik bangun di pagi hari. Membawa keranjang bunga, menuju ke pekan. Melewati jalan besar, menelusuri lorong kecil. Bunga, bunga, teriaknya. Meski bunga indah, meski bunga harum. Bagaimana bila tak ada yang beli, Menenteng keranjang, berkantung kosong. Pulang bertemu ayah dan bunda."

Nyanyian itu manis, indah dan agak bernada pedih, bukan cuma Lim Tay-peng yang dibikin terperana, Kwik Tay-lok pun ikut terpesona dibuatnya.

Lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang, gumamnya.

"Tampaknya musim semi belum pergi jauh, buktinya sekarang ia telah balik kembali."

Tiba-tiba di dorongnya Lim Tay-peng ke teras, kemudian ujarnya sambil tertawa.

"Kenapa belum beranjak keluar? Buat apa berdiri termangu-mangu saja di situ?"

"Keluar mau apa?"

Tanya Lim Tay-peng dengan wajah memerah karena amat jengah. Kwik Tay-lok segera mengerdipkan matanya berulang kali.

"Kemarin, orang toh sudah menghadiahkan begitu banyak bunga untukmu, paling tidak hari ini kau harus merasakan terima kasih itu."

Lim Tay-peng masih ragu-ragu, tapi akhirnya di bawah dorongan Kwik Tay-lok, ia keluar juga dari pintu.

Kabut telah buyar, sang surya memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad.

Seorang nona cilik yang membawa keranjang bunga sedang pelan-pelan berjalan mendekat, cahaya matahari telah memancarkan sinarnya menerangi seluruh angkasa.

Ketika ia mendongakkan kepalanya dan tiba-tiba melihat wajah Lim Tay-peng, sinar matahari seakan-akan memancar semua di atas wajahnya.

Mungkin juga masih ada separuhnya menyinari wajah Lim Tay-peng.

Kwik Tay lok memandang sekejap ke arahnya lalu memandang pula ke arah nona cilik itu, diam-diam ia mengundurkan diri dari situ, menutup pintu dan membiarkan mereka tetap berada di luar pintu.

Hembusan angin musim semi yang lembut, seakan-akan kerlingan mata sang kekasih.

Kwik Tay-lok tersenyum, ia merasa girang sekali, sambil bergendong tangan pelan-pelan ia berjalan mundar mandir ditengah halaman.

Sebenarnya ia tidak bermaksud mencari Yan Jit, tapi mendongakkan kepalanya, tiba-tiba dijumpainya ia telah berada di depan kamarnya Yan Jit.

Cahaya musim semi begitu indah, mengapa tidak membiarkan teman yang lainpun ikut merasakannya?

Akhirnya Kwik Tay-lok mengulurkan tangan dan pelan-pelan mengetuk pintu.

Tiada jawaban dari dalam ruangan.

Ia mengetuk lebih keras lagi, namun belum juga ada suara sahutnya.

Masa tidur Yan Jit bagaikan mayat saja?

Kwik Tay-lok segera berteriak keras-keras.

"Hei, matahari sudah berada ditengah kepala kita, masa kau belum juga bangun?"

Suasana dibalik pintu masih tetap hening, tak ada suara barang sedikitpun juga. Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran suara orang berbicara, itulah suara Ong Tiong.

"Dia tidak ada di halaman belakang, juga tidak berada di dapur"

Demikian ucapnya.

Paras muka Kwik Tay-lok agak berubah, tak tahan lagi ia segera mendorong pintu keras-keras.

Pintu itu memang tidak dikunci, begitu didorong pintupun terbuka lebar....

Tapi bersama dengan terbukanya pintu, cahaya musim semi di halaman tadipun seakan-akan turut terdorong keluar.

Dalam kamar itu tak ada orang.

Pembaringan masih teratur rapi, seperti bersih dan licin, jelas semalam tidak diguna-kan, kecuali itu di sana nampak barang apapun jua.

Bukan saja Yan Jit tak ada dalam kamar segala sesuatu benda miliknya juga ikut lenyap tak berbekas.

Kwik Tay-lok berdiri tertegun di sana, kaki dan tangannya segera berubah menjadi dingin seperti es.

Ong Tiong mengerutkan pula dahinya, lalu bergumam.

"Tampaknya dia sudah pergi sejak kemarin malam!"

"Ehem...."

"Kali ini, mengapa dia pergi dengan membawa serta segenap benda miliknya? Kenapa ia pergi tanpa pamit atau meninggalkan pesan barang sepatah katapun juga ?"

Tiba-tiba Kwik Tay-lok membalikkan badannya dan mencengkeram bahu Ong Tiong kencangkencang, serunya.

"Semalam, kau tidak mengatakan apa-apa kepadanya bukan ?"

"Menurut pendapatmu apa yang kuberitahukan kepadanya ?"

"Maksudku semua perkataan yang kuucapkan kepadamu itu!"

"Kau anggap aku adalah manusia macam apa ?"

"Kau benar-benar tidak mengucapkan apa-apa"

Ong Tiong menghela napas panjang, lanjutnya.

"Sekarang, kitapun tak usah cekcok lagi, kalau tidak, cukup dengan perkataan itupun aku bisa mengajakmu cekcok hebat."

Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat lamanya, kemudian dia menghela napas panjang dan pelan-pelan melepaskan cengkeramannya. Sambil tertawa paksa Ong Tiong berkata lagi.

"Padahal kau tak usah cemas, dulu ia pernah kabur selama banyak waktu, tapi kemudian bukankah dia telah balik kembali?"

Kwik Tay-lok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa getir.

"Bukankah barusan kau juga berkata, kali ini berbeda?"

"Tapi dia sama sekali tak punya alasan untuk pergi tanpa pamit."

Kwik Tay-lok menundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya kemudian.

"Mungkin.... mungkin dia seperti aku juga merasa gelagat semakin tidak beres maka.... maka dia merasa lebih baik angkat kaki dari sini..."

"Padahal kalian seharusnya tidak melakukan suatu kesalahan apa-apa,"

Ucap Ong Tiong agak sangsi.

"Masih belum?"

Kata Kwik Tay-Iok sambil tertawa getir.

"Padahal dia.... dia...."

"Dia kenapa ?"

Ong Tiong memandangnya dengan ragu, lewat beberapa saat kemudian tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya berulang kali..

"Aahhh, tidak apa-apa...."

Tidak menanti ucapan tersebut diselesaikan, ia telah membalikkan badan dan berlalu dari sana.

"Kau hendak ke mana?"

Tegur Kwik Tay-lok.

"Mencari barang secawan arak."

Sesungguhnya Ong Tiong juga merupakan seseorang yang tak dapat menyimpan rahasia dalam hatinya, dia hanya merasa, ada sementara persoalan yang lebih baik jangan dibicarakan saja.

Karena ia merasa, ada sementara persoalan lebih baik tidak diketahui oleh Kwik Tay-lok, sebab bila ia mengetahui terlalu banyak, hal mana justru akan mendatangkan kemurungan baginya.

Sayang dia tak tahu kalau hal itu sama saja mendatangkan kemurungan baginya.

Sekarang musim semi baru benar-benar telah pergi jauh.

Ke mana perginya musim semi?

Tak pernah ada orang yang tahu.

Nona cilik bangun di pagi hari...

Membawa keranjang bunga, menuju ke pekan.

Melewati jalan besar, menelurusi lorong kecil...

Nyanyian yang merdu itu hampir dapat di dengar setiap hari bila fajar baru menyingsing.

Asal mendengar suara nyanyian tersebut, Lim Tay-peng segera merasa musim seminya telah tiba.

Tapi, musim semi bagi Kwik Tay-lok tak pernah kembali lagi.

Yan Jit seakan-akan pergi bersama berlalunya angin sepoi, pergi untuk tak kembali lagi, tiada kabar beritanya, tidak nampak pula bayangan tubuhnya.

"Dia telah kemana? Mengapa sepatah katapun tidak ditinggalkan ?"

Kwik Tay-lok bertekat hendak menemukan alasannya. Maka diapun berangkat meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, dia hanya meninggalkan sepatah kata.

"Sebelum menemukan dirinya, aku tak akan pulang kembali !"

Gelak tertawa dalam perkampungan Hok-kui-san-ceng semakin berkurang, walaupun udara makin hari semakin panas, namun dalam perasaan Ong Tiong, tempat itu hari bertambah hari semakin dingin.

Tiada kabar berita dari Kwik Tay-lok, tiada kabar berita dari Yan Jit, juga tiada kabar berita dari musim semi.

Yang ada hanya suara nyanyian merdu yang tiap fajar dapat terdengar dengan indahnya.

Selain itu, satu-satunya yang membuat hati orang menjadi girang dan lega adalah makin sembuhnya luka yang diderita Ang Nio cu.

Suatu hari, dia dan Lim Tay-peng menemani Ong Tiong berdiri di bawah wuwungan rumah.

Langit sebenarnya bersih dan cerah, tapi secara tiba-tiba awan hitam menyelimuti seluruh angkasa.

Menyusul kemudian, petir menyambar-nyambar dan geledek menggelegar membelah angkasa, hujan turun dengan derasnya.

Air hujan turun membasahi seluruh jagad, bunga di sudut halaman sana berguguran tertimpa air, entah mengalir sampai ke sana.

Memandang air hujan yang membasahi atap rumah, tiba-tiba Ong Tiong menghela napas panjang, gumamnya.

"Musim semi benar-benar telah pergi.... aaaai, entah sampai kapan ia akan kembali lagi ?"

Ang Nio-cu segera menghibur dengan suara lembut.

"Walaupun sekarang ia telah pergi, tapi dengan cepatnya dia pasti akan kembali lagi."

"Benar,"

Sambung Lim Tay-peng.

"bagaimanapun jauhnya musim semi itu berlalu, suatu ketika dia pasti akan kembali lagi."

"Pasti ?"

"Ya, pasti."

Lim Tay-peng mengangguk.

Ong Tiong menatap wajahnya pelan-pelan memandang-nya lama sekali, kemudian ia menggelengkan kepalanya dam menghela napas panjang, untuk beberapa saat lamanya menjadi hening.

Tiada orang yang berbicara lagi, tiada orang yang memecahkan keheningan di sana.

Yang terdengar hanya suara hujan yang membasahi jagad.

Petir menyambar-nyambar, geledek membelah bumi, hujan turun dengan amat derasnya.

Seluruh tubuh Kwik Tay-lok telah basah kuyup tertimpa air hujan, akhirnya ia mendusin.

Ketika ia mendusin, baru diketahui kalau tubuhnya sedang berbaring di sudut dinding rumah di atas tanah berlumpur, sedang mengenai apa sebabnya ia bisa tertidur di sini, berapa lama ia telah berada di situ, pemuda itu sama sekali tidak tahu.

Dia masih ingat, semalam dia mengikuti saudara-saudara dari kota timur bermain judi di rumah perjudian milik lotoa di kota barat, berjudi sampai ludes seluruh uang milik bandar.

Kemudian lotoa dari kota timur pun menyelenggarakan pesta kemenangan dirumah pelacuran milik Siau Tang-kwe, dua tiga puluh orang saudara secara bergilir menghormatinya dengan secawan arak.

Bahkan di hadapan orang banyak, lotoa dari kota timur telah menepuk dada sambil menyatakan asal dia dapat menghajar remuk perkumpulan di kota barat itu, untuk selanjutnya daerah sebelah barat kota itu akan menjadi miliknya, kemudian kedua orang itupun agaknya menyembah di depan meja sembahyang dan mengangkat saudara.

Kejadian selanjutnya sudah tidak diingat lagi olehnya dengan jelas, agaknya Siau mi-tho adik perempuan Siau tang-kwe membimbingnya pulang, baru saja akan melepaskan sepatunya dan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba ia menolak, kemudian dia hendak pergi, pergi mencari Yan Jit.

Siau mi-tho ingin menariknya, malahan perempuan itu kena ditampar olehnya.

Kemudian diapun menemukan dirinya berbaring di sana, diantara kejadian terakhir sampai apa yang dialaminya sekarang, sama sekali sudah tidak teringat lagi.

Atau tegasnya saja, selama setengah bulan lebih ini, dia sendiripun tidak jelas penghidupan macam apakah yang dialaminya.

Sebenarnya dia keluar rumah hendak mencari Yan Jit, tapi dunia begini luas, dia harus pergi kemana untuk menemukannya ?

Maka diapun tinggal di situ setibanya di kota ini, setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukan, berjudi, main perempuan....

Suatu hari setelah mabuk hebat, ia telah bentrok dengan lotoa dari kota timur, tapi akibat dari pertarungan itu, ternyata mereka malah menjadi bersahabat.

Waktu itu lotoa dari kota timur sedang ditekan terus oleh perkumpulan di kota barat sehingga tak dapat bernapas, Kwik Tay-lok segera menepuk dada sambil memberi jaminan bahwa ia sanggup membalaskan dendam.

Maka diapun bergaul dengan saudara dari kota timur, setiap hari kerjanya hanya minum arak, berjudi, berkelahi, mencari perempuan, tiap hari berteriak sambil tertawa tergelak, kehidupannya tiap hari dilewatkan dengan riang gembira.

Tapi mengapa setiap kali setelah mabuk, ia selalu pergi seorang diri, bila sadar kembali keesokan harinya, kalau bukan terkapar di tengah jalan, tentu berbaring dalam pecomberan.

Bila seseorang ingin menyiksa orang lain, mungkin hal ini agak susah, tapi bila ingin menyiksa diri, hal mana gampangnya bukan kepalang.

Apakah ia memang sengaja sedang menyiksa diri ?

Hujan yang turun hari ini deras sekali, ketika air hujan menimpa di atas tubuhnya, terasa bagaikan ditimpuk oleh batu.

Kwik Tay-lok meronta dan berusaha keras untuk bangun berdiri, kepalanya terasa sakit sekali bagaikan mau merekah, lidahnya kaku bagaikan sudah tumbuh cendawannya.

Penghidupan semacam ini benarkah suatu penghidupan yang berarti....?

Ia enggan untuk memikirkannya.

Persoalan apapun enggan dia pikirkan, paling baik lagi bila segera ada arak dan minum lagi, paling baik lagi bila setiap hari tak pernah ada saat yang sadar.

Sambil menengadah dia membuka mulutnya menghirup air hujan, walaupun air hujan banyak dan rapat, berapa banyakkah yang dapat masuk ke dalam mulutnya ?

Bukankah banyak kejadian di dunia inipun sama halnya dengan kejadian tersebut ?

Sesuatu yang dengan jelas dapat diperoleh, justru kenyataannya tak bisa didapat.

Kau ingin marah, menderita, menumbukkan kepala sendiri ke atas dinding, tapi apalah artinya penyiksaan terhadap diri sendiri ?

Kwik Tay-lok berusaha membusungkan dadanya, dalam dadanya, ulu hatinya seakan-akan terdapat jarum yang sedang menembusinya.

Persoalan yang jelas tak ingin dipikirkan mengapa justru selalu muncul didalam benaknya?

Petir menyambar membelah angkasa, kemudian terdengarlah suara gemuruh yang menggelegar.

Sambil menggigit bibir dia berjalan dengan langkah lebar, belum lagi dua langkah, tiba-tiba ia menyaksikan sebuah pintu kecil di hadapannya sana dibuka orang.

Seorang dayang cilik berbaju hijau berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah payung, ia sedang memandang ke arahnya sambil tertawa, ketika tertawa, tampak sepasang lesung pipinya yang dalam.

Bila ada seorang nona cilik yang begitu manis tertawa kepadamu, bagaimana pun juga, setiap lelaki pasti akan manfaatkan kesempatan ini untuk mendekatinya.

Tapi sekarang Kwik Tay-lok sudah tidak mempunyai gairah untuk berbuat demikian, gairahnya sekarang boleh dibilang sudah hancur musnah tak karuan tujuannya lagi.

Siapa tahu nona cilik itu segera maju menyongsong kedatangannya, kemudian sambil tertawa manis katanya.

"Aku bernama Sim-Sim!"

Belum lagi orang lain berbicara, kata pertama yang diucapkan ternyata adalah memperkenalkan nama sendiri, kejadian seperti ini jarang sekali dijumpai.

Kwik Tay-lok memandangnya beberapa kejap, kemudian pelan-pelan mengangguk.

"Sim-sim, bagus.... bagus sekali namamu,"

Katanya.

Tidak sampai habis ucapan tersebut diutarakan, dia hendak melanjutkan kembali perjalanannya.

Siapa tahu Sim-sim lama sekali tidak bermaksud untuk melepaskan dirinya dengan begitu saja, kembali ujarnya sambil tertawa.

"Aku kenal dengan dirimu!"

Sekarang Kwik Tay-lok baru merasa agak keheranan, sambil membalikkan badannya dia menegur.

"Kau kenal dengan aku?"

"Bukankah kau adalah toa-sauya dari keluarga Kwik?"

Ucap Sim-sim sambil mengedipkan matanya. Kwik Tay-lok bertambah heran lagi, tak tahan dia lantas bertanya.

"Dulu kau pernah berjumpa denganku di mana?"

"Belum pernah"

"Lantas darimana kau bisa kenal diriku?"

Sim-sim segera tertawa.

"Asal kau tanyakan persoalan ini kepada siocia kami, maka segala sesuatunya akan menjadi terang"

"Siapa pula nona kalian?"

"Setelah bertemu dengannya nanti, kau akan segera tahu"

"Sekarang dia berada dimana?"

Sim-sim segera tertawa.

"Ikuti saja aku, segala persoalan kau akan mengetahui dengan sendirinya...."

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk lewat pintu kecil itu, kemudian sambil berpaling kembali dan menggape ke arah Kwik Tay-lok, katanya.

"Marilah !"

Kwik Tay-lok tidak berkata apa-apa lagi, dengan langkah lebar dia segera berjalan masuk ke dalam, kini rasa ingin tahunya telah terpancing keluar, sekalipun kau suruh dia tidak masukpun, belum tentu permintaanmu itu akan dikabulkan.

Dibalik pintu terdapat sebuah halaman kecil, bunga aneka warna yang ditimpa air hujan tampak amat mengenaskan sekali.

Di bawah atap rumah tergantung tiga buah sangkar burung, si burung nuri sedang berkicau dengan merdunya, seakan-akan sedang menegur majikannya yang tidak terlalu memperhatikan dirinya, sebaliknya membawa orang lain masuk ke dalam rumah.

Sim-sim berjalan melewati serambi rumah, kemudian dengan jari tangannya yang kecil dia menyentil sangkar itu pelan, serunya dengan mata mendelik.

"Setan cilik, ribut amat kau, hari ini siocia ada tamu, bila kalian ribut lagi, jangan salahkan kalau dia tak akan menggubris kalian lagi."

Kemudian sambil berpaling ke arah Kwik Tay-lok, ujarnya lebih lanjut sambil tertawa.

"Coba kau lihat, belum lagi kau masuk, mereka telah cemburu lebih dulu....."

Terpaksa Kwik Tay-lok ikut tertawa.

Sekarang, selain rasa ingin tahunya yang berkobar, ia mempunyai pula suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, seakan-akan suatu perasaan manis yang mempesonakan hati.

Tapi apa gerangan yang telah terjadi?

Ia masih berada dalam keadaan tanda tanya besar, sedikit bayanganpun tak dapat meraba.

"Jangan-jangan aku ketimpa rejeki ?"

Cuma, walaupun dayangnya cakep, bukan berarti nonanya pasti cantik jelita.

Bila nonanya jelek bagai kuntilanak, lantas bagaimana ?

Di atas pintu terdapat sebuah tirai bambu yang tipis, tentu saja tirai tersebut baru diganti setelah musim panas tiba.

Tak seorang manusiapun yang berada dibalik pintu, Sim-sim menyingkap tirai itu dan berkata sambil tersenyum.

"Silahkan duduk didalam, aku akan segera mengundang kedatangan siocia kami."

Dibalik tirai bambu sana adalah sebuah ruang tamu yang mungil tapi indah, di atas lantai tampak permadani indah dari Persia.

Melihat keindahan permadani tersebut, tanpa terasa Kwik Tay-lok membersihkan lumpur pada alas sepatunya lebih dulu sebelum melangkah masuk ke dalam.

"Tuan rumah semacam ini, mengapa mengundang kedatangan seorang tamu macam diriku ?"

Tentu saja hal ini disebabkan ada maksud-maksud tertentu.

Tapi apakah maksud-maksud tertentunya itu?

Kwik Tay-lok memperhatikan diri sendiri dari atas sampai ke bawah, lima tahil perakpun tak laku rasanya....

Sambil tertawa getir akhirnya dia mencari sebuah kursi yang paling nyaman dan paling bersih untuk duduk.

Di atas meja terdapat poci teh, air tehnya baru saja dibuat.

Di atas beberapa buah piring kecil terdapat makanan kecil teman milik teh.

Kwik Tay-lok memenuhi secawan air teh dan sambil minum sambil makan hidangan kecil yang tersedia, seakan-akan dia adalah tamu lama dari tempat itu, sama sekali tak perlu sungkansungkan.

Kemudian, iapun mendengar suara "Ting tang, ting tang"

Yang nyaring, Sim-sim telah muncul kembali sambil membimbing nonanya.

Kwik Tay-lok hanya mendongakkan kepalanya memandang sekejap, sepasang matanya segera terbelalak lebar.

Kwik sianseng bukan seorang bocah muda yang belum pernah bertemu perempuan, tapi gadis secantik itu betul-betul amat jarang di jumpai dalam dunia saat ini.

Yaa, kalau bukan perempuan secantik itu, mana pantas berdiam ditempat semegah ini?

Dalam mulut Kwik Tay-lok masih menggigit sepotong kueh, ia lupa menelannya dan lupa menariknya keluar, sehingga tampang wajahnya itu kelihatan lucu sekali.

Entah sedari kapan, nona itupun telah duduk, tepat duduk di hadapan mukanya, selembar wajahnya yang cantik kelihatan bersemu merah, entah bedak entah malu, sepasang biji matanya yang jeli sedang memandang ke arahnya dengan sorot mata yang lembut.

Kwik Tay-lok mulai merasa duduknya menjadi tak tenang, dia ingin buka suara untuk berbicara, siapa tahu karena kurang berhati-hati, makanan yang ada di mulutnya menyumbat tenggorokan....

Sim-sim segera tertawa cekikikan karena geli, begitu tertawanya dimulai, ia tertawa terpingkalpingkal tiada hentinya sampai harus memegangi perutnya yang sakit.

Si nona itu segera melotot ke arahnya, seolah-olah menegurnya mengapa harus tertawa, namun dia sendiripun tak tahan turut tertawa terpingkal-pingkal.

Kwik Tay-lok memandang mereka berdua dengan termangu, tapi secara tiba-tiba dia ikut tertawa pula.

Suara tertawanya jauh lebih keras daripada siapapun juga, asal kau mendengar suara tertawa itu, maka akan kau rasakan sesungguhnya kalau dialah Kwik Tay-lok yang sebetulnya.

Bagaimana seriusnya suasana, bagaimanapun rikuhnya keadaan, asal Kwik Tay-lok sudah tertawa, maka suasananya segera akan mengendor kembali...

Si nona yang tersipu kemalumaluan itu akhirnya buka suara juga, suaranya amat lembut dan halus, selembut wajahnya.

"Walaupun tempat ini tak bagus, tapi setelah Kwik toaya sampai di sini, rasanya kau pun tak perlu sungkan-sungkan lagi....."

Katanya.

"Menurut pendapatmu, apakah aku mirip orang yang sungkan-sungkan?"

Tukas Kwik Tay lok sambil tertawa.

"Tidak mirip!"

Nona itu tersenyum. Sim-sim juga tertawa, tambahnya.

"Air teh itu baru saja nona pesan dari bukit Bu-oh-san di propinsi Im-lam, silahkan Kwik toaya meneguk beberapa cawan, agar pengaruh arak tubuhnya toaya pun bisa berkurang"

"Air tehnya sih lumayan, tapi kaulah yang keliru"

"Dimana letak kesalahanku ?"

Tanya Sim-sim tertegun.

"Bagaimanapun baiknya mutu air teh, tak ada yang bisa dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak."

"Lantas apa yang bisa dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak?"

"Arak !"

"Kalau minum arak lagi, bukankah kau akan bertambah mabuk ?"

Seru Sim-sim sambil tertawa.

"Lagi-lagi kau keliru, hanya arak yang dapat dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak, itulah yang dinamakan Huan-bun-ciu (arak pengembali pengaruh sukma)."

"Sungguh ?"

Seru Sim-sim sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

"Cara ini telah kupelajari selama puluhan tahun lamanya, aku rasa tak bakal salah lagi."

Si nona turut tertawa katanya.

"Kalau memang begitu, mengapa tidak kau siapkan arak untuk Kwik Toaya..?"

Arak telah dihidangkan, araknya arak wangi.

Tentu saja sayur yang dihidangkanpun merupakan sayur yang lezat dan mewah.

Kwik Tay-lok mulai minum dengan lahapnya, ia benar-benar menganggap nona itu seperti teman lamanya saja.

Ternyata si nona pun bisa meneguk dua cawan arak, sepasang pipinya telah memerah karena pengaruh arak, tapi hal mana justru menambah kecantikan wajahnya.

Kwik Tay-lok memperhatikannya, dengan sorot mata yang tajam, bahkan sampai arakpun lupa untuk diteguk.

Si nona cepat-cepat menundukkan kepalanya kemudian berbisik dengan lirih.

"Kwik toaya, silahkan meneguk tiga cawan lagi, aku akan menemanimu meneguk secawan lagi."

Tiga cawan arak dalam waktu singkat telah masuk ke perut, tiba-tiba Kwik Tay-lok berkata.

"Ada beberapa persoalan ingin kuberitahukan kepadamu."

"Katakan."

"Pertama, aku tidak bernama Kwik Toaya, teman-temanku menyebut diriku sebagai Siau-Kwik tapi lambat laun aku makin menua, maka sekarang aku telah menjadi lo-kwik (kwik tua)!"

"Ada sementara orang yang selamanya seperti tak pernah menjadi tua,"

Ucap si nona sambil tersenyum.

"Ada pula sementara orang yang selamanya tak bisa menjadi toaya."

Setelah meneguk dua cawan arak, ia baru melanjutkan.

"Aku tak lebih hanya seorang yang miskin, tak punya apa-apa, lagi pula dekil dan bau, sebaliknya kau adalah nona yang anggun, lagi pula tidak kenal dengan diriku, mengapa kau mengundang diriku untuk minum arak bersama?"

Si nona mengerlingkan matanya yang jeli, lalu menjawab.

"Kita sama-sama orang perantauan, bila berjodoh, mengapa harus berkenalan lebih dulu?"

"Nona kami she Sui bernama Loan-kim, sekarang kalian telah saling mengenal bukan,"

Timbrung Sim-sim dari samping.

"Sui Loan-kim, suatu nama yang amat bagus, pantas untuk menghabiskan tiga cawan arak"

Kwik Tay-lok bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Terima kasih"

Sahut Sui Loan-kim sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. Kwik Tay-lok meneguk habis isi cawannya, lalu menatapnya lekat-lekat, lewat lama kemudian ia baru berkata lagi.

"Ususku berbentuk lurus, apa yang hendak kuucapkan tak pernah kusimpan didalam hati, aku harap kau suka memakluminya."

"Aku telah melihatnya, kau memang seorang lelaki sejati yang polos, dan jujur."

"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada orang yang telah menganiaya dirimu, sehingga kau berharap aku bisa melampiaskan rasa mangkelmu ?"

"Nona kami tak pernah keluar rumah, mana mungkin ada orang yang menganiaya dirinya ?"

Sela Sim-sim.

"Apakah kau telah menjumpai suatu masalah yang pelik sehingga meminta bantuanku untuk pergi menyelesaikannya ?"

"Juga tidak."

"Kini aku telah datang, akupun telah minum arak kalian, persoalan apapun asal kalian mengutarakannya, aku pasti akan berusaha keras untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya"

"Asal kau mempunyai maksud sebaik itu, akupun sudah merasa puas sekali...."

Kata Sui Loankim lembut.

"Kau benar-benar tiada persoalan hendak memohon bantuanku?"

Seru Kwik Tay-lok kemudian dengan mata melotot.

"Benar-benar tak ada!"

"Lantas apa sebabnya kau bersikap begitu baik terhadap seorang telur busuk rudin yang kotor mana bau lagi ini?"

Sui Loan-kim mendongakkan kepalanya memandang pemuda itu, sorot matanya amat lembut dan halus..Berapa orangkah yang tak akan terkesima oleh tatapan matanya yang begitu lembut dan mempesona hati ?

Sim-sim memandang ke arah Kwik Tay-lok, lalu memandang nonanya, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.

"Ada sepatah kata entah Kwik toaya pernah mendengarnya atau tidak...?"

"Katakanlah!"

"Kaisar orang gagah, gadis cantikpun menyukai lelaki sejati!"

Paras muka Sui Loan-kim semakin merah, karena jengah, serunya dengan merdu.

"Setan cilik, berani mengaco belo lagi, jangan salahkan kalau kurobek bibirmu itu,"

"Akupun seorang manusia yang berusus lurus, apa yang berada dalam hatiku tak pernah kurahasiakan terus."

Ucap Sim-sim tertawa.

Dengan wajah memerah Sui Loan-kim bangkit berdiri, seakan-akan siap mencubitnya.

Sambil tertawa cekikikan Sim-sim lari ke luar dari ruangan, ketika sampai di luar sana, ia tak lupa untuk menutupkan pintu untuk mereka.

Sui Loan-kim berdiri di situ dengan kepala tertunduk, tak tahan lagi ia melirik beberapa kejap ke arah Kwik Tay-lok.

Kwik Tay-lok masih menatapnya lekat-lekat.

Paras muka gadis itu semakin memerah, merah seperti matahari senja yang hampir tenggelam dibalik bukit.

Mabuk, dalam keadaan seperti ini dan suasana seperti ini, orang yang tidak mabukpun akan menjadi mabuk.

Tiba-tiba Kwik Tay-lok menggenggam tangan Sui Loan kim erat-erat.

Tangannya dingin seperti es, tapi wajahnya panas menyengat bagaikan bara api.

Kwik Tay-lok baru akan menariknya, belum lagi ditarik ia sudah menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

Musim panas ada di luar jendela, tapi suasana hangat menyelimuti dalam ruangan.

Suasana nyaman begitu tebal menyelimuti ruangan, sehingga sukar rasanya untuk dicairkan.

Walaupun ada sementara orang tidak saling mengenal, tapi asal berjumpa ibaratnya besi sembrani yang bertemu besi, dengan cepat mereka akan menempel satu sama lainnya.

Sui Loan-kim menempel lekat-lekat di atas tubuh Kwik Tay-lok, kulit tubuhnya halus, lembut, putih dan hangat.

Pinggangnya begitu ramping sehingga sekali rangkul dapat mencapai seluruhnya.

Sambil merangkul pinggangnya Kwik Tay-lok menghela napas panjang, tiba-tiba gumamnya.

"Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak mengerti"

"Ada sementara persoalan memang sukar dijelaskan, sukar dipahami orang lain"

Sahut Sui Loan-kim lembut.

"Dahulu kau tak pernah bersua denganku, juga tak tahu manusia macam apakah diriku ini, mengapa kau bersikap demikian kepadaku"

"Walaupun aku belum pernah bersua denganmu, tapi sudah lama kuketahui manusia macam apakah dirimu itu."

"Oooh....?"

Sui Loan-kim menempelkan tubuhnya makin rapat di atas badannya, kemudian melanjutkan.

"Beberapa hari terakhir ini, setiap orang dalam kota ini telah tahu kalau dari tempat jauh sana telah datang seorang hohan yang tidak takut langit tidak takut bumi."

"Hohan ?"

Kwik Tay-lok tertawa getir.

"kau tahu, apa artinya sebenarnya dari Hohan?"

"Aku siap mendengarkan penjelasanmu."

"Kadangkala Hohan artinya seorang gelandangan yang tak punya pekerjaan dan tiap hari kerjanya hanya berkelahi dan bersenang-senang."

Sui Loan-kim segera tersenyum.

"Aku tak ambil perduli"

Serunya.

"bagiku, pokoknya hohan tetap Hohan. ."

Kwik Tay-lok segera tertawa lebar, dibelainya pinggang yang ramping itu dengan lemah lembut, kemudian bisiknya sambil tertawa.

"Kau benar-benar seorang perempuan yang aneh"

"Itulah sebabnya aku menyukai lelaki aneh semacam kau !"

Belum habis perkataan itu diutarakan, pipinya sudah menjadi merah padam lebih dulu. Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, kemudian berkata.

"Dulu, aku tak pernah menyangka bakal bertemu dengan seorang perempuan seperti kau, lebih-lebih tak kusangka kalau bisa berada bersama samamu !"

Paras muka Sui Loan-kim berubah semakin merah, bisiknya lembut.

"Asal kau bersedia, akupun bersedia menemanimu sepanjang masa...."

Kembali Kwik Tay-lok menatapnya lama sekali, mendadak ia menghela napas panjang, sambil membalikkan tubuhnya ia membelalakkan matanya lebar-lebar dan menatap atap rumah dengan termangu.

"Kau sedang menghela napas ?"

Tegur Sui Loan-kim.

"Tidak."

"Kau sedang memikirkan rahasia hatimu?"

"Juga tidak."

Sui Loan-kim turut membalikkan tubuhnya dan menindih di atas dadanya, kemudian sambil membelai wajahnya dengan lembut, ia berkata halus.

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, bersediakah kau berada bersamaku sepanjang masa ?"

Kwik Tay-lok termenung, termenung sampai lama sekali, lalu sepatah demi sepatah sahutnya.

"Tidak bersedia !"

Tangan Sui Loan-kim yang lembut tiba-tiba menjadi kaku, serunya perlahan.

"Kau tidak bersedia ?"

"Bukannya tidak bersedia, tapi tak dapat."

"Tak dapat ? Mengapa tak dapat ?"

Pelan-pelan Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya.

"Apa maksudmu menggelengkan kepala ? Tidak suka kepadaku?"

Seru Sui Loan kim lagi. Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, katanya.

"Bila ada lelaki yang tidak menyukai perempuan cantik semacam kau, sudah pasti orang itu berpenyakit, tapi..."

"Tapi apa?"

Kwik Tay-lok tertawa getir.

"Tapi sayang aku memang berpenyakit !"

Sahutnya. Sui Loan-kim menatapnya, dibalik sorot matanya yang jeli penuh pancaran sinar kaget dan tercengang.

"Aku adalah seorang lelaki, sudah lama tak pernah mendekati perempuan, sedang kau adalah seorang perempuan yang sangat cantik, lagi pula sangat baik kepadaku, tempat ini hangat dan syahdu, mana ada arak, ada hidangan lezat, ada perempuan cantik yang menemani, dalam keadaan seperti ini siapa bilang hatiku tidak tertarik ? Oleh sebab itu...."

"Oleh sebab itu kau menghendaki aku ?"

Kata Sui Loan-kim sambil menggigit bibir. Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Tapi diantara kita tak pernah terlintas perasaan cinta yang sesungguhnya."

Ia berkata aku.... aku...."

"Kenapa kau ? Apakah dalam hatimu hanya memikirkan orang lain?"

Tanya Sui Loan-kim. Kwik Tay-lok manggut-manggut.

"Kau benar-benar mempunyai perasaan cinta kepadanya ?"

Gadis itu kembali bertanya. Kwik Tay-lok manggut-manggut, mendadak ia menggelengkan kepalanya pula.

"Hei, sebenarnya kau sungguh-sungguh mempunyai perasaan kepadanya atau tidak?"

Seru sang nona. Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Aku sendiripun tak tahu perasaan macam apakah itu, aku benar-benar tidak tahu."

Katanya.

"Setiap kali aku tak berjumpa dengannya, tiap saat tiap detik aku selalu membayangkan dirinya. Meski kau cantik, lemah lembut dan penuh gairah hidup, walaupun aku juga sangat menyukaimu, tapi hatiku, rasanya tak mungkin bisa diisi oleh siapapun selain dia seorang...."

"Oleh sebab itu kau masih akan pergi mencarinya ?"

Sambung Sui Loan-kim cepat.

"Ya, harus mencari sampai ketemu."

"Oleh karena itu kau hendak pergi ?"

Kwik Tay-lok memejamkan matanya dan manggut-manggut.

Sui Loan-kim menatapnya lekat-lekat, tiada perasaan menggerutu, tiada perasaan benci atau penasaran, malah sebaliknya ia seperti merasa terharu oleh ketulusan cinta pemuda itu.

Lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya dengan sedih.

"Bila di dunia ini terdapat seorang pria yang dapat bersikap baik kepadaku macam kau, aku.... sekalipun aku harus mati juga rela rasanya..."

"Cepat lambat kau pasti akan menemukan orang semacam itu"

Hibur Kwik Tay-lok dengan lembut. Tapi Sui Loan-kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaai... tak akan kutemukan selamanya!"

"Mengapa?"

Sui Loam-kim termenung pula beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata lagi.

"Kau seorang yang amat baik, belum pernah kujumpai orang sebaik kau, oleh sebab itu akupun bersedia untuk berbicara terus terang dengan dirimu."

Kwik Tay-lok tidak memberi komentar apa-apa, dia hanya mendengarkan saja.

"Tahukah kau perempuan macam apakah diriku?"

Ujur Sui Loan-kim lagi.

"Kau she Sui bernama Sui Loan-kim, seorang nona yang anggun dan kaya raya, lagi pula cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dan lemah lembut amat mempesona hati."

"Kau keliru besar, aku bukan seorang nona anggun yang kaya raya, aku tak lebih hanya seorang.... hanya seorang...."

Ia menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu menghela napas panjang, lanjutnya.

"Aku tak lebih hanya seorang pelacur."

"Seorang pelacur?"

Hampir saja Kwik Tay-lok melompat bangun dari atas pembaringan, teriaknya keras-keras.

"tidak mungkin, kau tidak mungkin seorang pelacur!"

Sui Loan-kim tertawa pedih, katanya.

"Aku memang seorang perempuan penghibur. Bukan saja begitu, lagi pula aku adalah seorang pelacur kenamaan yang paling mahal harganya di kota ini, kalau bukan pangeran muda atau anak hartawan, jangan harap bisa menjadi tamuku."

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, tertegun sampai lama sekali, kemudian gumamnya.

"Tapi aku bukan seorang pangeran, bukan pula anak hartawan yang kaya raya, lagi pula sepeser uangpun tidak punya."

Tiba-tiba Sui Loan-kim melompat bangun, membuka rak dari toaletnya dan mengambil ke luar sebutir mutiara kemudian ia berkata.

"Walaupun kau tidak memiliki uang sepeserpun namun sudah ada orang yang membayarkan ongkos tersebut bagimu."

"Siapa ?"

Kwik Tay-lok terkejut.

"Mungkin dia adalah seorang temanmu."

"Apakah dia adalah lotoa dari kota timur?"

"Ia masih belum pantas untuk berkunjung ke rumahku."

Kata Sui Loan kim hambar.

"Lantas siapa orang itu ?"

"Seorang yang belum pernah kujumpai sebelumnya."

"Macam apakah orang itu ?"

"Seorang yang berwajah bopeng !"

"Berwajah bopeng ?"

Seru Kwik Tay-lok dengan wajah tertegun.

"diantara teman-temanku tak seorangpun yang berwajah bopeng."

"Tapi mutiara ini benar-benar diberikan kepadaku untuk membayar ongkos-ongkosmu."

Saking terkejutnya Kwik Tay-lok sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Ia suruh aku baik-baik melayani dirimu, apa saja yang kau minta harus kuberikan kepadamu."

Kata Sui Loan-kim lagi.

"Oleh sebab itu, kau....."

Tidak membiarkan dia berkata lebih jauh kembali Sui Loan kim menukas.

"Tapi diapun telah menduga, kemungkinan besar kau enggan untuk tinggal di sini."

"Oooohh...."

"Menanti kau enggan untuk tinggal di sini dia baru menyuruh aku memberitahukan satu hal kepadamu !"

"Soal apa ?"

"Suatu persoalan yang aneh sekali."

Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan.

"Beberapa bulan berselang, mendadak di tempat ini kedatangan seorang tamu yang aneh sekali, seperti kau, ia memakai baju yang kotor dan penuh berlubang, sebenarnya aku ingin mengusirnya pergi?"

"Kemudian ?"

"Tapi begitu masuk kemari, dia lantas meletakkan seratus tahil emas di atas meja."

"Maka kaupun mengijinkan dia untuk tinggal di sini ?"

Pancaran sinar mata murung dan sedih memancar keluar dari balik sorot mata Sui Loan-kim, katanya hambar.

"Aku memang seorang perempuan yang melakukan pekerjaan seperti ini, bagiku hanya emas yang kukenal, orangnya tidak."

"Aku mengerti,"

Kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas.

"tapi.... tapi kau tidak mirip perempuan semacam itu."

Mendadak Sui Loan-kim mengalihkan sorot matanya ke arah lain, seakan-akan tak ingin menyaksikan mimik wajah dari Kwik Tay-lok lagi. Lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru melanjutkan.

"Sebenarnya di dunia ini memang banyak terdapat anak orang kaya yang gemar menyaru seperti tampang tersebut, tujuannya hanya ingin mencari kesenangan belaka, kejadian semacam itu bukan suatu yang aneh lagi..."

"Lantas bagaimana anehnya ?"

"Anehnya walaupun sudah mengeluarkan uang sebesar seratus tahil emas, ternyata ia sama sekali tidak menyentuhku, ia tak lebih hanya mandi di sini kemudian mengganti dengan sebuah pakaianku dan pergi."

"Mengganti bajunya dengan bajumu...."

Sui Loan-kim manggut-manggut.

"Sebenarnya dia itu laki atau perempuan?"

Seru Kwik Tay-lok lebih lanjut.

"Ketika datang, sebenarnya dia adalah seorang laki-laki, tapi setelah mengenakan bajuku, pada hakekatnya dia jauh lebih cantik daripada diriku sendiri"

Setelah tertawa getir, dia melanjutkan.

"Terus terang saja, walaupun aku pernah menyaksikan bermacam-macam manusia aneh, bahkan ada diantaranya yang suka menyuruh aku mencambuknya dengan pecut, atau menginjak tubuhnya dengan kaki, namun manusia semacam itu benar-benar belum pernah kujumpai, malah sampai akhirnya aku tak dapat membedakan sebenarnya dia itu seorang laki-laki ataukah seorang perempuan."

Sekali lagi Kwik Tay-lok tertegun, namun sinar matanya tiba-tiba menjadi terang. Agaknya secara lamat-lamat dia telah menduga siapa gerangan orang yang dimaksudkan.

"Semua persoalan itu baru kubicarakan sampai sekarang, sebab si bopeng itu berulang kali memberi pesan kepadaku agar tidak menceritakan kejadian ini bila kau bersedia menetap di sini...."

"Tahukah kau siapakah nama dari manusia aneh tersebut?"

Tanya Kwik Tay-lok kemudian. Agaknya dia merasa tegang sekali sehingga tangannya sampai turut gemetar keras.

"Dia sama sekali tidak menyebutkan namanya, dia hanya memberitahu kepadaku bahwa dia she Yan, Yan dari tulisan Yan cu (burung walet)"

Mendadak Kwik Tay-lok melompat bangun kemudian mencengkeram bahunya kencangkencang, serunya keras-keras.

"Tahukan kau sekarang dia berada dimana?"

"Tidak!"

Kwik Tay-lok mundur dua langkah ke belakang, agaknya untuk berdiripun sudah tak mampu, akhirnya dia jatuh terduduk ke atas pembaringan.

"Tapi belakangan ini, dia telah datang kemari sekali lagi."

Kata Sui Loan-kim. Bagaikan terkena anak panah, sekali lagi Kwik Tay-lok bangkit berdiri, teriaknya keras-keras.

"Belakangan ini ? Kapan maksudmu ?"

"Belasan hari berselang."

Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan lebih jauh.

"Ketika datang kemari kali ini, tampangnya kelihatan seperti diliputi banyak persoalan, dia minum arak banyak sekali ditempat ini tapi keesokan harinya dia telah pergi lagi setelah mengenakan sebuah pakaian milikku."

Sikap Kwik Tay-lok semakin tegang, serunya lagi.

"Tahukah kau dia telah pergi ke mana ?"

"Tidak !"

Tampaknya Kwik Tay-lok segera akan roboh kembali ke atas lantai... untung saja Sui Loan-kim menyambung kembali kata-katanya dengan cepat.

"Tapi ketika sedang mabuk, dia telah mengucapkan banyak sekali persoalan, katanya setelah kembali ke rumah kali ini, dia tak bisa keluar rumah lagi untuk selamanya, akupun selamanya tak akan bertemu lagi dengannya."

"Apakah kau... kau tidak bertanya kepadanya, dia tinggal dimana?"

Sui Loan-kim tertawa, sahutnya.

"Sebenarnya akupun hanya bertanya sekenanya saja, sama sekali tak kusangka ternyata dia telah memberitahukannya kepadaku."

Dari balik sorot mata Kwik Tay-lok segera terpancar keluar pengharapan yang amat tebal, cepat-cepat serunya.

"Tapi dia telah memberitahukan kepadamu bukan ?"

Sui Loan-kim manggut-manggut.

"Dia bilang dia berdiam di kota Ki-lam-hu, malah katanya pemandangan alam dari telaga Taybeng-ou amat indah, bahkan telaga See-ou pun kalah indahnya, dia suruh aku berpesiar kesana bila ada kesempatan."

Tiba-tiba Kwik Tay-lok roboh kembali, seakan-akan orang yang telah beberapa hari beberapa malam melakukan perjalanan jauh dengan susah payah tapi akhirnya tujuan tersebut dapat dicapai.

Sekalipun dia roboh kembali, namun hatinya merasa girang dan amat berbahagia.

Sui Loan-kim memandang ke arahnya, dengan sorot mata kasihan dan sayang, katanya pelan.

"Diakah yang kau cari ?"

Kwik Tay-lok segera manggut.

"Tahukah dia kalau kau sangat mencintai dirinya ?"

Kembali perempuan itu bertanya.

Kwik Tay-lok manggut-manggut, tapi kemudian kembali menggelengkan kepalanya berulang kali, hati perempuan siapa yang tahu ?

Sekali lagi Sui Loan-kim menghela napas panjang, katanya dengan sedih.

"Kenapa dia pergi meninggalkan dirimu? Coba kalau aku, sekalipun diusir dengan menggunakan cambukpun belum tentu aku akan pergi."

"Dia bukan kau..... diapun seorang yang sangat aneh,"

Gumam Kwik Tay-lok.

"selama ini, aku sendiripun belum dapat memahami perasaannya....."

"Dia bukan aku, maka dia baru pergi.", ucap Sui Loan-kim dengan nada yang sedih.

"hanya perempuan semacam aku inilah baru akan mengerti bahwa di dunia ini tidak terdapat benda lain yang jauh lebih berharga dari pada cinta yang tulus dan murni."

Setelah menghela napas, kembali dia melanjutkan.

"Bila seorang perempuan tidak mengerti bagaimana caranya menyayangi cinta yang murni, maka dia pasti akan menyesal sepanjang masa."

Sekali lagi Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia bertanya.

"Menurut penglihatanmu sebenarnya dia itu seorang perempuan atau bukan ?"

"Masa sampai saat inipun kau masih belum tahu."

Sambil membaringkan diri di atas pembaringan, Kwik Tay-lok menghembuskan napas panjang gumamnya.

"Untung saja sekarang aku baru tahu akan suatu hal."

"Soal apa ?"

Sambil tersenyum pelan-pelan Kwik Tay-lok menjawab.

"Aku ternyata tidak berpenyakit, aku sama sekali tidak berpenyakit, aku tidak lebih hanya seorang buta belaka." *** Senja telah menjelang tiba. Sang surya di sore hari itu masih memancarkan sinarnya menembusi jendela, menyoroti pakaian yang baru saja dikenakan Kwik Tay-lok, dia seakan-akan seperti berubah menjadi seorang yang lain, berubah menjadi lebih keren, lebih gagah dan lebih sadar. Memandang wajahnya yang tampan, sambil menggigit bibir Sui Loan kim berkata.

"Sekarang juga kau akan berangkatnya?"

Kwik Tay lok segera tertawa.

"Terus terang saja, pada hakekatnya aku ingin punya sayap dan segera terbang kesana"

Sui Loan kim menundukkan kepalanya, kembali sorot matanya memancarkan rasa sedih dan murung.

Kwik Tay-lok menatap wajahnya, lambat laun senyumnya menjadi makin hambar, sorot matanya pun memancarkan perasaan kasihan, iba, tak tahan dia menepuk bahunya sambil berkata dengan lembut.

"Kau seorang anak perempuan yang sangat baik, suatu hari kelak...."

"Suatu hari kelak akupun pasti akan menemukan seorang lelaki macam dirimu bukan?"

Tukas Sui Loan-kim sambil tertawa pedih.

"Tepat sekali jawabanmu."

Jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa paksa. Sui Loan-kim juga tertawa paksa, katanya.

"Bila telah bersua dengan nona Yan nanti, jangan lupa sampaikan salamku kepadanya"

"Aku pasti akan mengingatnya selalu."

"Beritahu kepadanya, bila kemudian hari ada kesempatan, aku pasti akan pergi ke telaga Taybeng-ou untuk menengok kalian."

"Siapa tahu kami akan datang menengok dirimu lebih dulu."

Seru Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Sekalipun dia sedang tertawa, tapi entah mengapa hatinya terasa amat pedih.

Ia benar-benar merasa tak tega untuk tinggal di sana lebih jauh, dia tak tega menyaksikan sepasang matanya itu, mendadak dia berpaling dan memandang sorot mata-hari sore di luar jendela, gumamnya.

"Sekarang langit belum menjadi gelap, aku masih sempat untuk melanjutkan perjalanan." (Bersambung ke

Jilid 28)

Jilid 28

"BETUL,"

Sahut Sui Loan-kim sambil menundukkan kepala.

"lebih baik kau cepat-cepat berangkat, siapa tahu diapun sedang menantikan kedatanganmu...?"

Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut diurungkan.

Diapun berlalu dari sana dengan begitu saja.

Kalau tidak pergi, dia bisa apa ?

Jauh lebih baik kalau cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Mendadak Sui Loan-kim berseru.

"Tunggu sebentar !"

Pelan-pelan Kwik Tay-lok membalikan badannya.

"Kau....."

Sui Loan-kim tidak membiarkan dia menyelesaikan perkataannya itu, dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah kocek yang terbuat dari kain merah dan dia diangsurkan kepadanya.

"Kuberikan benda ini untukmu"

Katanya lembut.

"harap kau sampaikan kepada nona Yan, katakan.... katakan kalau benda ini merupakan hadiahku untuk perkawinan kalian."

"Benda apakah ini ?"

Dia menerimanya dan dilihat dan pertanyaan tersebutpun tidak dilanjutkan lebih jauh.

la dapat merasakan mutiara dalam kocek yang bulat dan bersinar terang itu.

Sui Loan-kim telah membalikkan badannya memandang matahari keluar jendela, katanya kemudian dengan hambar.

"Sekarang, kau sudah boleh pergi dari sini."

Kwik Tay-lok memegang kocek itu kencang, apakah hatinya seperti juga mutiara dalam kocek itu, telah berada didalam genggamannya....

Ia tidak berpaling lagi.

Pemuda itupun tidak berkata sepatah katapun.

Ada sementara perkataan memang tidak seharusnya diutarakan secara terus terang.

Sama-sama orang perantauan, sekalipun bersua mengapa harus saling berkenalan ?

Atau mungkin hanya orang yang sama-sama perantauan saja yang dapat memahami perasaan tersebut dan suasana seperti itu ?

Walaupun suasana seperti itu terasa mengenaskan dan memedihkan hati, namun berapa banyak keindahan yang sebenarnya tercakup didalamnya ?

Menelusuri tepi telaga, pelan-pelan Kwik Tay-lok berjalan ke depan, bagaikan gelandangan saja, dia berjalan kesana-kemari tanpa suatu tujuan tertentu.

Setelah mendengar kabar tentang Yan Jit, dia ingin bisa cepat-cepat terbang ke kota Kilam, seakan-akan asal tiba di kota tersebut, Yan Jit akan segera ditemukan.

Setelah tiba di kota Ki-lam, ia baru tahu kalau jalan pikirannya terlalu kekanak-kanakan.

Kota Ki-lam-hu tak kecil seperti dalam bayangannya, paling tidak ada beribu-ribu buah keluarga yang tinggal di sana dengan jumlah penduduk mencapai beberapa ribu laksa jiwa.

Untuk mencari Yan Jit ditempat sebesar ini dan orang sebanyak itu, hakekatnya keadaan tersebut ibaratnya mencari jarum di dasar samudra.

Terpaksa tiap hari dia hanya luntang-lantung kesana-kemari tanpa tujuan, dia hanya berharap suatu ketika nasibnya bisa mujur dan berjumpa dengan Yan Jit.

Tapi, dia sendiripun tahu, harapan tersebut meski terlalu tipis, tapi dari sekian harapan yang tipis, harapan inilah yang rasanya paling bisa diandalkan.

Sekarang, sampai beberapa banyak jumlah pepohonan di tepi telagapun hampir bisa disebutkan olehnya di luar kepala.

Di bawah pohon liu di depan sana, bersandar sebuah perahu kecil, nona cilik pendayung perahu itu sudah ia kenal cukup lama, dari kejauhan sana ia telah memberikan sekulum senyuman kepadanya, senyuman yang cerah bagaikan sinar sang surya.

Demi memperoleh sekulum senyuman yang manis ini, mau tak mau Kwik Tay-lok harus membeli beberapa buah biji teratainya.

Biji teratai rasanya getir, persis seperti perasaan Kwik Tay-lok saat itu.

Kalau orang lain dengan uang dua rence hanya bisa mendapat enam biji, maka Kwik Tay lok bisa memperoleh tujuh delapan biji.

Si nona cilik yang menggunakan topi lebar dan bertelanjang kaki itu seakan-akan menaruh maksud tertentu terhadap Kwik Tay-lok, asal pemuda itu datang ia pasti memberi dua biji lebih banyak, bahkan kadang kala memberikan pula sebatang ubi manis untuknya.

Bila kejadian ini berlangsung di masa lalu besar kemungkinan Kwik Tay-lok sudah naik ke atas perahunya, mendayung perahu itu ke tengah telaga dan menciumi pipinya yang mungil serta meraba kakinya yang putih dan halus itu....

Tapi sekarang, Kwik Tay-lok betul-betul tidak mempunyai gairah untuk berbuat demikian.

Sudah cukup banyak kemurungan dan persoalan yang membebani benaknya.

Karena itu, setelah menerima biji teratai ia telah bersiap-siap untuk pergi, siapa tahu nona cilik kembali menggape ke arahnya sambil berbisik lirih.

"Kemarilah, aku hendak berbicara sesuatu denganmu."

Kwik Tay-lok benar-benar tak ingin mencari kesulitan lagi bagi diri sendiri, tapi dia pun tak tega untuk menampik maksud baik si nona cilik tersebut.

Diam-diam ia menghela napas panjang dan siap sedia menunjukkan tampang seorang engkoh besar, bila nona cilik itu bermaksud untuk mengajaknya mengadakan pertemuan, dia pasti akan baik-baik memberi pelajaran kepadanya dan memberitahukan kepadanya kalau lelaki yang ada di dunia ini tak ada yang baik.

Untung saja bertemu dengannya, kalau tidak niscaya dia akan tertipu.

Berpikir sampai di situ, merasa dirinya bagaikan seorang Nabi yang suci.

Sayang Thian justru tidak memberi kesempatan semacam itu kepadanya, tidak membiarkan dia menjadi seorang Nabi yang suci.

Sambil menginjak perahu si nona, dia sengaja menarik wajahnya sambil menegur.

"Ada perkataan apakah yang hendak kau sampaikan padaku?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata si nona kecil itu, bisiknya dengan suara lirih.

"Apakah kau adalah seorang pembesar besar yang sedang menyamar untuk menyaksikan kehidupan anak kecil?"

Kwik Tay lok tertegun, beberapa saat kemudian ia tertawa geli karena tak tahan, sahutnya.

"Dari kepala sampai ke kaki, bagian manakah dari tubuhku yang mirip tampang seorang pembesar?"

"Jadi bukan?"

"Bukan saja tidak, bahkan bila bertemu dengan pembesar badanku lantas menjadi gemetar"

Ucap Kwik Tay-lok sambil tertawa. Nona itu tampak lebih gembira dan bersemangat, sambil merendahkan suaranya kembali ia berkata.

"Kalau begitu, kau pastilah seorang perampok ulung."

"Juga bukan,"

Sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa getir.

"untuk modal menjadi seorang perampok saja aku tak punya."

"Kau benar-benar bukan?"

Nona itu melotot semakin besar.

"Mengapa aku mesti membohongimu?"

Nona cilik itu menghela napas panjang, jelas merasa kecewa sekali, sehingga untuk mengucapkan sepatah katapun menjadi enggan.

Ternyata ia tertarik kepada Kwik Tay-lok tak lain karena mengira Kwik Tay-lok adalah seorang perampok.

Dalam pandangan kaum dara, perampok adakalanya mendatangkan suatu daya tarik yang sangat besar.

Sekarang Kwik Tay-lok baru tahu, rupanya nona cilik ini bukan sungguh-sungguh ada minat dengannya.

Dengan demikian maka diapun tak usah kuatir menemui banyak kesulitan lagi, malah seharusnya mereka bergembira.

Tapi entah mengapa, dia malahan justru merasa agak kecewa, juga tidak terima, tidak tahan segera tanyanya.

"Dari hal manakah kau mengatakan aku mirip seorang perampok ?"

Sikap nona cilik itu menjadi dingin dan sangat hambar, sahutnya ogah-ogahan.

"Sebab selama dua hari belakangan ini, aku selalu menyaksikan ada seseorang menguntil di belakangmu"

"Oooh.... macam apakah orang itu ?"

"Adakalanya orang itu menyaru sebagai penjual makanan, ada kalanya menyaru sebagai pengemis, tapi dia mau menyaru menjadi apapun jangan harap bisa mengelabui diriku."

"Mengapa ?"

Nona cilik itu segera menunjukkan sikapnya yang amat bangga sekali, sahutnya sambil tertawa.

"Sebab dalam sekilas pandangan saja aku dapat mengenali tampang wajahnya itu."

"Apakah wajahnya mempunyai suatu ciri atau keistimewaan yang berbeda dengan orang lain ?"

Nona cilik itu manggut-manggut.

"Ya, dia adalah seorang lelaki bermuka bopeng."

Hampir saja Kwik Tay-lok hendak melompat ke udara saking kagetnya, bahkan darah yang mengalir didalam tubuhnyapun turut mengalir dengan lebih cepat.

Nona cilik itu memandang ke arahnya, kemudian dengan sinar mata penuh pengharapan katanya.

"Apakah dia memang lagi menguntilmu? Apakah kau kenal dengan dirinya....?"

Kwik Tay-lok segera mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian sambil sengaja merendahkan suaranya ia berbisik.

"Aku boleh saja berkata jujur kepadamu, tapi kau tak boleh memberitahukannya kepada orang lain."

"Aku bersumpah tak akan berkata kepada orang lain."

Ucap nona cilik itu dengan cepat.

"Kalau tidak, biar di kemudian hari akupun menjadi seorang perempuan berwajah bopeng."

"Baik, aku akan memberitahukan kepadamu,"

Bisik Kwik Tay-lok.

"lelaki bopeng itu adalah seorang opas kenamaan, dia memang benar-benar sedang menguntil diriku."

Nona cilik itu kembali bergairah, serunya dengan wajah berseri.

"Mengapa dia... dia menguntilmu ?"

"Sebab aku memang seorang perampok ulung."

Bisik Kwik Tay-lok lirih.

"orang lain menyebutku sebagai perampok yang terbang di angkasa, baru saja kulakukan tujuh puluh delapan macam kasus perampokan di ibukota, itulah sebabnya aku kabur kemari untuk menghindarkan diri."

Saking gembiranya sekujur badan nona itu gemetar keras, sambil menggigit bibir serunya.

"Apakah kau..... kau juga seorang Jay-hoa-cat (Penjahat pemetik bunga ?"

Tak tahan Kwik Tay-lok segera tertawa geli, sambil mengedipkan matanya berulang kali, ia balik bertanya.

"Menurut dugaanmu, aku mirip tidak ?"

Paras muka nona cilik itu segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, sambil menggigit bibir katanya.

"Sekalipun kau seorang Jay-hoa-cat, aku juga tidak takut, aku tidak takut diperkosa."

Sepasang kakinya seperti menjadi lemas sehingga untuk berdiripun tak sanggup, hampir saja dia akan tercebur ke dalam air telaga bila Kwik Tay-lok tidak cepat-cepat menyambar tubuhnya.

Kwik Tay-lok segera tertawa terbahak-bahak, sambil meraba pipinya yang putih dan halus itu katanya.

"Kau tak usah kuatir, sekalipun aku hendak mencarimu, hal inipun baru akan kulakukan dua tiga tahun lagi, bila kau sudah lebih menanjak dewasa, sekarang kau tak lebih hanya.... aku... aku seorang bocah cilik belaka, haaahh... haaah..... haaaahh....."

Diiringi gelak tertawa yang amat keras, ia lantas melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Nona cilik itu memandang ke arahnya dengan wajah tertegun, sampai lama sekali ia ber diri termangu-mangu....

Entah disengaja atau tidak, tangannya pelan-pelan meraba dada sendiri yang masih datar bagaikan lapangan itu, tanpa terasa wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

Dia hanya bisa berdiri melongo saja menyaksikan pemuda itu berlalu dari sana, makin lama semakin menjauh dan akhirnya lenyap di ujung tikungan jalan sana.

Diam-diam Kwik Tay-lok tertawa geli di dalam hati, ia tahu malam nanti nona cilik itu pasti tak dapat tidur nyenyak.

Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakainya, Ia tak lebih hanya ingin menambah bumbu atau kejadian aneka warna lainnya dalam kehidupan si nona cilik itu, agar setelah menikah dan mempunyai anak besok, dalam hatinya masih mempunyai kesan lama yang setiap kali bila teringat maka jantungnya kembali akan terasa berdebar.

Berapa banyaknya gadis di dunia ini yang dapat bertemu dengan mata kepala sendiri dengan seorang Jay-hoa-cat.

Angin berhembus lewat menggoyangkan pohon liu, mengakibatkan buih dan gelombang kecil di batas permukaan telaga.

Kwik Tay-lok masih berjalan ke depan dengan langkah yang amat lamban, sambil mengunyah biji teratai, ia membawakan sebuah lagu bersenandung.

Setelah melalui suatu jarak perjalanan yang cukup jauh, secara tiba-tiba ia baru berpaling.

Dengan cepat ia menemukan seorang pengemis yang membawa sebuah mangkuk gumpil, lagi pula wajahnya betul-betul bopeng.

Begitu ia berpaling, si bopeng itu segera menyembunyikan diri di belakang pohon.

Taktik penguntilan yang dimiliki orang bermuka bopeng itu tidak terhitung sangat lihay, andaikata sikap Kwik Tay-lok dalam dua hari belakangan ini acuh tak acuh dan pikirannya memikirkan yang bukan-bukan, seharusnya hal mana sudah dirasakan olehnya.

Benarkah manusia bermuka bopeng ini adalah orang bopeng yang dimaksudkan oleh Sui Loan-kim itu ?

Seperti tidak disengaja saja Kwik Tay-lok membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah manusia berwajah bopeng itu, pelan sekali langkahnya....

Ia berniat melompat ke depan dan menangkapnya jika sudah berada dekat dengan orang itu.

Siapa tahu manusia bopeng itu cukup waspada, dengan cepat dia membalikkan badan dan melarikan diri.

Tatkala Kwik Tay-lok mempercepat langkahnya, ternyata dia kabur semakin cepat lagi.

Di tengah hari bolong seperti ini, apalagi begitu banyak orang kurang leluasa baginya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya guna melakukan pengejaran tersebut.

Terpaksa Kwik Tay-lok harus memperbesar langkahnya mengejar dari belakang.

Sebenarnya dia yang menguntil Kwik Tay-lok, tapi sekarang justru sebaliknya Kwik Tay-lok yang menguntil di belakangnya.

Ketika si nona cilik di atas perahu melihat mereka saling kejar-mengejar dengan langkah cepat, dengan wajah terkejut dan keheranan ia memandangi mereka berdua tanpa berkedip.

Ia benar-benar tidak habis mengerti, kenapa bukan si opas yang menangkap penyamun sebaliknya penyamun yang mengejar sang opas?

Baginya, persoalan yang ada di dunia ini masih banyak persoalan yang tak dipahami olehnya, maka dia selalu merasa amat kesal.

Menanti usianya sudah meningkat dan lebih banyak persoalan yang dipahami olehnya, ia baru mengerti ternyata lebih enak dulu sewaktu belum tahu urusan daripada sekarang.

Permulaan musim panas merupakan saat yang paling ideal untuk berpesiar di tepi telaga.

Tempat yang banyak pelancongnya biasanya pasti banyak pula pengemis....

sebab biasanya orang yang sedang berpesiar lebih bermurah hati, terutama bila disampingnya didampingi seorang gadis yang cantik jelita.

Oleh sebab itu di sekeliling tempat itu banyak terdapat pengemis, di timur ada pengemis, di barat ada pengemis, bahkan di sela-sela manusia yang berpesiarpun banyak pengemis.

Orang bermuka bopeng itu menerobos ke sana-kemari diantara kerumunan orang banyak, beberapa kali hampir saja Kwik Tay-lok ketinggalan sampai jauh sekali.

Untung saja Kwik Tay-lok mempunyai nasib yang cukup mujur, setiap kali bila keadaan sudah mencapai pada saat yang kritis, dia selalu secara kebetulan dapat menemukan wajah yang bopeng itu.

Orang dengan wajah yang istimewa biasanya memang lebih gampang dikuntil daripada tidak.

Sampai akhirnya, orang bermuka bopeng itu merasa ia makin terdesak hebat sehingga akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan wilayah telaga sana menuju ke tempat yang makin sedikit orangnya.

Agaknya dia ingin memancing Kwik Tay lok menuju ke tempat sepi, kemudian baik-baik memberi pelajaran kepadanya.

Kwik Tay-lok sama sekali tidak gentar, bukan saja tak ambil perduli, malahan dia mengejar semakin getol lagi.

Dia memang berniat untuk mencari suatu tempat yang tiada orangnya untuk menangkap orang itu dan ditanyai sampai jelas apakah dia kenal dengan Yan Jit, serta apakah dia tahu tentang jejak Yan Jit.

Dari si tongkat, Kwik Tay-lok memang telah mempelajari beberapa kepandaian yang memaksa orang untuk berbicara jujur.

Sebenarnya dia mengira dengan cepat orang bermuka bopeng itu akan berhasil disusulnya.

Siapa tahu bukan saja orang berwajah bopeng itu dapat berlari cepat, kekuatan tubuhnya juga bagus sekali, seakan-akan dia tidak pernah merasa lelah, malah semakin lama larinya semakin cepat.

Kwik Tay-lok merasa mulai tak tahan lagi, apalagi kehidupannya selama beberapa hari belakangan ini amat memeras kekuatannya dia merasa bagaikan orang yang telah lanjut usianya.

Tak tahan dia lantas berteriak keras.

"Hei, jangan lari, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari kesulitanmu, aku hanya ingin menanyakan beberapa persoalan saja"

Sebenarnya si bopeng itu tidak lari secara sungguhan, namun setelah mendengar perkataan itu, dia malahan lari semakin cepat lagi.

Pengemis memang biasa lari di jalan karena dikejar orang atau dikejar anjing, sehingga peristiwa semacam itu sesungguhnya bukan suatu kejadian yang aneh.

Tapi seorang yang memakai pakaian yang perlente ternyata berlarian di jalanan gara-gara mengejar seorang pengemis, adegan semacam ini terasa aneh sekali.

Dia tahu sudah ada orang yang mulai memperhatikan dirinya, malah diantaranya seperti terdapat dua orang opas.

Mereka memang sesungguhnya bertugas untuk memeriksa dan menjaga keamanan di situ, diantaranya tampak sedang melangkah maju siap menghalangi Kwik Tay-lok untuk ditanya.

Asal jalan pergi Kwik Tay-lok terhadang maka si bopeng itu pasti akan melenyapkan diri.

Padahal orang itu adalah satu-satunya titik terang yang dijumpainya, ia tak dapat melepaskannya dengan begitu saja.

Sepasang biji matanya segera diputar, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, sambil menuding ke arah si bopeng yang berlarian di depan, teriaknya keras-keras.

"Pengemis itu adalah seorang pencuri, siapa yang dapat membantuku untuk membekuknya, kuberi hadiah dua puluh tahil perak."

Teriakannya yang terakhir itu sungguh manjur sekali, tidak menunggu ucapan selesai diutarakan, dua orang opas itu telah membalikkan badan dan mengejar si bopeng tersebut.

Malah banyak pula diantara para pelancong yang turut berteriak-teriak sambil melakukan pengejaran.

Tampak si bopeng itu amat gelisah, mendadak ia melompat ke udara melewati atas kepala lima enam orang dan melompat naik ke atas wuwungan rumah di depan sana.

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sempurna sekali, boleh dibilang merupakan jago kelas satu di dunia persilatan.

Peristiwa ini semakin menggemparkan suasana, teriakan-teriakan berkumandang dari sana sini.

"Tampaknya orang ini selain seorang pencuri, diapun seorang perampok ulung, jangan biarkan ia kabur.... tangkap sampai dapat tangkap sampai dapat !"

Walaupun yang berteriak banyak, namun yang bisa menyusul ke atas atap rumah tak seorangpun.

Dua orang opas itupun hanya bisa berdiri di bawah rumah sambil mengawasi dengan gelisah.

Bagaimanapun ilmu meringankan tubuh memang tak dapat dipelajari oleh setiap orang, apalagi ilmu meringankan tubuh seperti apa yang dimiliki si bopeng, diantara sepuluh laksa orang paling banter hanya ada satu dua orang saja yang memilikinya.

Untung saja Kwik Tay-lok adalah satu diantara dua orang yang menguasahi kepandaian itu.

Dia telah melompat naik ke atas atap rumah, sambil melanjutkan pengejarannya dengan suara lantang dia berseru.

"Aku adalah seorang petugas keamanan dari ibu kota yang khusus datang kemari untuk membekuk penjahat ini, harap enghiong hohan yang ada di tempat ini sudi membantu usahaku ini."

Diapun tahu bagaimanapun gagah seorang enghiong hohan yang berada di sana, mustahil sudi mencampuri urusan yang tidak diketahui ujung pangkalnya ini.

la berteriak demikian tak lebih hanya ingin membuat pikiran dan perasaan orang bermuka bopeng ini semakin kalut.

Sebab dia benar-benar tidak memiliki keyakinan untuk bisa menyusul si bopeng itu, betul ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya luar biasa, namun kesempatan untuk melatihnya tidak banyak, baik soal taktik maupun soal pengalaman, dia masih kalah setingkat dibandingkan dengan manusia bermuka bopeng itu.

Betul juga, oleh teriakan-teriakan yang lantang itu, manusia bermuka bopeng tersebut makin bingung dan cemas.

Bagaimanapun juga, berlarian di atas atap rumah orang di bawah sinar matahari yang cerah merupakan suatu kejadian yang amat menyolok, maka akhirnya kembali ia dipaksa melompat turun ke bawah.

Dibawah sana terbentang sebuah lorong yang tidak terhitung luas, dalam lorong itu paling banter hanya terdapat enam tujuh keluarga.

Ketika Kwik Tay-lok mengejar sampai di situ, kebetulan sekali ia menyaksikan ada sesosok bayangan manusia yang menyelinap masuk ke dalam pintu gerbang sebuah gedung rumah.

Pintu gerbang gedung itu dibuka lebar-lebar.

Tidak banyak rumah rakyat pada jaman itu dalam keadaan terbuka lebar sepanjang hari.

Tampaknya gedung itu memang mempunyai hubungan yang erat dengan manusia berwajah bopeng itu, atau si bopeng itu mungkin memang berdiam....

Kwik Tay-lok sama sekali tidak ambil perduli akan hal tersebut, dengan cepat dia turut menyerbu masuk ke dalam.

Di halaman rumah tiada orang, tapi ruang tamu di depan sana terdengar ada orang sedang berkata sambil tertawa.

"Tak heran kalau orang lain selalu berkata, diantara sepuluh orang manusia bopeng sembilan diantaranya berwatak aneh kau betul-betul seorang siluman yang aneh"

Kwik Tay-lok merasa girang sekali setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia memburu ke depan sambil berpikir.

"Kali ini kau tak bakal bisa kabur lagi..."

Siapa tahu dalam ruang tamu itu tidak terdapat seorang manusia bopengpun, yang ada hanya seorang lelaki dan seorang perempuan yang tampaknya merupakan seorang suami-isteri, yang perempuan putih dan gemuk, wajahnya cantik, sebaliknya yang lelaki bermuka kuning, pinggangnyapun tidak lurus.

Bila seorang lelaki jelek bisa mendapatkan seorang isteri yang cantik, ada kalanya hal itu bukan terhitung suatu kemujuran.

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan ada seorang lelaki asing menyerbu masuk ke dalam ruangan mereka, suami isteri berdua itu kelihatannya amat terperanjat.

Tampaknya sang suami bernyali jauh lebih kecil daripada nyali istrinya, karena ketakutan hampir saja dia terjatuh ke atas tubuh istrinya, dengan tergagap dia berseru.

"Si......siapa kau? Mau.... mau apa kau datang kemari ?"

"Aku datang untuk mencari orang"

Jawab Kwik Tay-lok.

"Sii.... siapa yang kau cari?"

"Aku mencari si bopeng, dimanakah si bopeng yang barusan kau sebutkan itu?"

Sepasang biji mata si istri yang jeli, semenjak tadi memang sudah mengerling terus ke arahnya, mendadak ia bangkit berdiri, kemudian sahutnya dengan cepat.

"Akulah si bopeng yang ia maksudkan tadi, apakah kau datang untuk mencari diriku?"

Betul juga, di ujung hidungnya memang terdapat beberapa titik burik yang berwarna putih.

Kwik Tay-lok menjadi tertegun.

Sang istri masih mengerling ke arahnya dengan ekor matanya yang jeli, kemudian dengan senyum tak senyum dia berkata lagi.

"Apakah kau datang mencari diriku karena mengagumi namaku? Sayang kau sudah datang terlambat, kini aku telah menikah dengan orang dan tidak menerima tamu lagi."

Bukan saja Kwik Tay-lok dibuat tertegun, bahkan sedikit dibuat menangis tak bisa tertawapun sungkan.

Padahal seharusnya hal ini sudah dapat diketahuinya sedari tadi, mana ada perempuan dari keluarga baik-baik yang memperhatikan lelaki lain dengan cara semacam ini?

Yang menjadi suami segera unjuk gigi, sambil melompat ke depan teriaknya keras-keras.

"Sudah kau dengar belum? Sekarang ia sudah menjadi biniku, siapapun jangan harap bisa mengusiknya lagi. Hmm, kenapa kau tidak segera enyah dari sini ?"

Ternyata Kwik Tay-lok harus tertawa getir, tapi tak tahan kembali dia bertanya.

"Apakah tiada orang lain yang masuk ke mari tadi ?"

Sekali lagi sang isteri mengerling sekejap ke arahnya dan berkata sambil tertawa.

"Sekalipun di kota ini masih terdapat setan segagah seperti kau, juga tak ada yang bernyali besar seperti kau. Siapa yang berani mendatangi rumah orang lain untuk mencari bini orang ?"

Ternyata ia telah menuduh Kwik Tay-lok sebagai manusia yang berusaha untuk merampas isteri orang. Yang menjadi suaminya bertambah naik darah, sambil menuding hidung Kwik Tay-lok teriaknya keras-keras.

"Kenapa belum juga keluar dari sini?"

"Apalagi yang sedang kau rencanakan ditempat ini? Hati-hati kalau kepalanku menghancurkan batok kepalamu."

Mendengar perkataan tersebut, Kwik Tay lok segera tertawa geli.

Tangannya kelihatan seperti cakar ayam, untuk membunuh lalatpun belum tentu bisa, ternyata dia ingin memukul orang.

Kwik Tay-lok segera menepuk bahunya dan berkata sambil tertawa.

"Jangan kuatir, tiada orang yang bakal merampas dirimu, tapi tubuhmu sendiri juga bukan didapat dari mencuri, lebih baik jagalah diri baik-baik, dalam melakukan pekerjaan apapun lebih baik jangan terlalu memeras tenaga."

Ia tidak membiarkan orang itu buka suara lagi, sambil membalikkan badan pemuda itu segera beranjak pergi.

Padahal dia sendiripun tahu kelak pekerjaan ini sedikit agak kurang cocok untuk di utarakan sebab dihari biasa dia tak mengutarakan perkataan semacam itu.

Tapi, bila dalam hati sendiripun sedang mangkel, kadangkala timbul pula ingatan untuk membuat orang lainpun turut menjadi sengsara.

Dengan jelas ia menyaksikan si bopeng itu masuk kesana, mengapa secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas?

Apakah begitu masuk ke rumah dia lantas menerobos masuk ke dalam tanah?

Tentu saja sepasang suami istri ini telah bersekongkol dengan si bopeng, mereka sengaja bermain sandiwara untuk mengoceh dirinya.

Sayang walaupun ia mengetahui hal itu dengan jelas, namun tak dapat membongkarnya dengan begitu saja, apalagi berada di rumah orang lain disiang hari bolong seperti ini, bagaimana juga dia yang rugi sendiri.

Bila mengharuskan memaksa orang lain untuk mengajaknya melakukan penggeledahan dalam rumah, rasanya ini tak mungkin bisa dia lakukan.

Apakah si bopeng itu pasti telah menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri, sekalipun dicari belum tentu bisa menemukannya.

Pikir punya pikir Kwik Tay-lok merasa makin lama hatinya makin risau dan pusing.

"Coba kalau berganti Ong Tiong, tak nanti si bopeng itu bisa kabur dari cengkeramannya pada hari ini"

Ia bertekad akan mencari tempat dulu untuk bersantap sampai kenyang guna menghibur hati sendiri, kemudian setelah malam menjelang tiba nanti baru akan melakukan penyelidikan disekitar tempat itu hingga persoalan menjadi tuntas.

Matahari sudah hampir tenggelam dibalik gunung, sekalipun minum arak mulai sekarang rasanya juga tak bisa dianggap terlampau awal.

Rumah makan terbesar di kota itu di sebut Hwee-peng-lo, bebek panggang dan ikan leihi masak saos buatan mereka merupakan hidangan yang paling termasyhur, apalagi untuk teman minum arak.

Kwik Tay-lok mencari sebuah meja dekat jendela dan memesan semeja sayur...

Sebelum berangkat tempo hari, lotoa dari kota timur telah memberi sejumlah ongkos jalan yang terhitung cukup besar jumlahnya.

Memang orang gagah dari dunia persilatan selamanya setia kawan, royal terhadap teman.

Biasanya bila ada beberapa cawan arak sudah masuk ke perut, perasaan Kwik Tay-lok akan mulai cerah kembali.

Tapi dua hari belakangan ini, arak yang masuk ke dalam perutnya merasa getir, lagi pula gampang memabukkan.

Apalagi bila malam masih ada urusan, ia tak berani minum banyak, sebaliknya memperbanyak makan sayur.

Makin jelek perasaannya makin banyak yang dimakan, mungkin bila Yan Jit belum juga ditemukan, bisa jadi dia akan menjadi gemuk seperti seekor babi.

Setelah matahari turun gunung, tamu dalam rumah makan makin banyak.

Pelbagai ragam manusia berduyun-duyun mendatangi rumah makan itu, diantaranya terdapat pula para perantara rumah pelacuran yang menjajakan dagangannya kepada para tamu.

Maka dari balik penyekat di samping ruangan utama rumah makan itupun berkumandang suara tetabuhan, suara nyanyian merdu, suara gurauan, suara cawan saling beradu diiringi teriakan girang, gelak tertawa nyaring, ramai sekali suasananya.

Namun bagi Kwik Tay-lok, dia seolah-olah duduk dalam dunia yang lain, walaupun perbuatan semacam itu sesungguhnya merupakan perbuatan yang paling menarik perhatiannya, tapi sekarang, kesemuanya itu terasa sama sekali tak ada artinya lagi.

Tanpa Yan Jit di sini, ibarat sayur tanpa garam, sama sekali hambar rasanya.

Ia menghela napas dan pelan-pelan memenuhi cawan arak sendiri, mendadak ia saksikan ada lima-enam orang nona cilik yang cantik-cantik sedang mengerumuni seorang lelaki berbaju perlente yang naik ke atas loteng sambil tertawa terbahak-bahak.

Jangankan pelayan rumah makan itu, bahkan Kwik Tay-lok sendiripun dapat menduga kalau lelaki perlente yang besar lagaknya ini pastilah seorang yang royal dan kaya raya.

Tak tahan ia memandangnya beberapa kejap lebih lama, tapi begitu memandang orang itu, hampir saja teko arak yang berada di tangannya terjatuh ke tanah.

Ternyata tamu perlente yang kaya raya itu adalah seorang berwajah bopeng, malahan dia tak lain adalah yang dijumpainya sebagai peminta-minta di tepi telaga tadi.

Sore tadi masih seorang peminta-minta, malamnya telah menjadi seorang cukong, perubahan ini benar-benar sangat menyolok sekali.

Tapi, bagaimanapun ia berubah sendiri, sekalipun ia berubah menjadi abu, dalam sekilas pandangan saja Kwik Tay-lok dapat mengenalinya kembali....

Ya, siapa yang suruh mukanya terdapat begitu banyak bopeng yang menyolok.

Kwik Tay lok hanya memandang dua kejap lalu segera melengos untuk memandang papan nama di luar jendela sana.

Kali ini dia bertekad untuk menahan diri dan tidak melakukan segala sesuatu tindakan secara gegabah.

Sekarang, bila dia menghampirinya, mencengkeram si bopeng itu dan bertanya apa sebabnya dia menghadiahkan mutiara kepada Sui Loan-kim, kemudian bertanya apakah ia tahu akan jejak Yan Jit, orang lain pasti akan menyangka dia adalah seorang yang sinting.

Tentu saja si bopeng itu dapat menjawab tidak tahu, bahkan bisa jadi akan mencuci tangannya bersih-bersih.

Kini si bopeng sudah masuk ke ruang utama.

Nona-nona kecil yang datang bersamanyapun jelas bukan gadis dari keluarga baik, belum lama mereka duduk, dari balik ruang sana sudah bergema panggilan-panggilan yang mesrah dan mendirikan bulu roma.

Anehnya, justru di dunia ini seolah-olah terdapat banyak sekali lelaki yang suka akan panggilan-panggilan seperti itu.

Berbicara terus terang, sesungguhnya Kwik Tay-lok juga senang sekali dengan gaya kehidupan seperti itu, tapi entah mengapa, bulu kuduknya pada bangun berdiri setelah mendengar perkataan itu kini.

Seseorang apakah akan terjadi perubahan lantaran cinta, kunci salahnya bukan terletak pada dia itu laki-laki, atau perempuan, sebaliknya lantaran tulus atau tidakkah cinta mereka, dalam atau tidak cinta mereka berdua.

Suasana di atas loteng rumah makan itu ramai sekali.

Kembali Kwik Tay-lok memesan sepoci arak, menambah beberapa macam sayur dan menyiapkan diri untuk melangsungkan pertarungan jarak panjang, sekalipun si bopeng akan berada di situ sampai pagi, diapun akan menunggu sampai pagi pula.

Siapa tahu, dengan cepat si bopeng telah berjalan keluar dalam keadaan mabuk hebat, dibimbing oleh seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahunan, ia bertanya kepada, sang pelayan dimana tempat untuk cuci tangan....

Ternyata ia terlalu banyak minum arak, sekarang lagi mencari sebuah jalan keluar.

Kwik Tay-lok masih tetap bersabar untuk menyaksikan dia turun lagi dari loteng, namun setelah di tunggu-tunggu setengah harian lamanya belum nampak juga ia naik lagi ke atas loteng.

"Jangan-jangan dia telah mengetahui kalau aku berada di sini, maka menggunakan alasan hendak membuang air kecil, ia telah meloloskan diri dari sini?"

Akhirnya Kwik Tay-lok tak kuasa menahan diri lagi, ia bersiap untuk melakukan pengejaran.

Tapi pada saat itulah, mendadak ekor matanya menangkap seseorang sedang berjalan di seberang jalan sana dengan kepala tertunduk, ternyata dia adalah si bopeng.

Betul juga, rupanya dia hendak memanfaatkan kesempatan baik itu untuk melarikan diri.

Kwik Tay-lok menjadi sangat gelisah, tanpa berpikir panjang lagi, ia melompat keluar lewat daun jendela.

Para tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu menjadi gempar, mereka mengira ada orang hendak bunuh diri dengan menceburkan diri dari atas loteng.

Si bopeng itu berpaling dan mengerling sekejap ke arahnya, kemudian tubuhnya menyelinap ke depan dan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam sebuah warung penjual bahan makanan yang berada di depan sana.

Di depan pintu warung tadi tertumpuk berkarung-karung gandum, berkeranjang-keranjang beras serta bahan makanan lainnya, selain itu tampak juga seorang bocah nakal yang masih ingusan bermain "Cian-cu"

Di depan pintu warung.

Menanti Kwik Tay-lok menyusul kesana, bayangan tubuh dari si bopeng itu sudah lenyap tak berbekas.

Waktu itu para pelayan warung dan sang kasir sedang bermain catur dengan asyiknya.

Kalau dilihat dari sikap mereka yang begitu santai, mustahil orang-orang itu menyaksikan ada orang yang baru saja memasuki warung mereka.

Jangan kedua orang inipun telah bersekongkol dengan si bopeng dan sengaja bermain sandiwara untuk diperlihatkan kepada Kwik Tay-lok ?

Tapi kali ini Kwik Tay-lok lebih waspada lagi, ia sama sekali tidak masuk untuk bertanya kepada orang itu, sebaliknya bersembunyi di samping warung dan menggape ke arah bocah yang masih ingusan itu.

Sambil mengeluarkan beberapa biji mata uang, katanya sambil tertawa.

"Aku ingin bertanya kepadamu, asal kau bersedia menjawab dengan jujur, uang ini kuberikan semua kepadamu untuk membeli gula-gula."

Bocah cilik itu dengan tangan sebelah memegang mainan, tangan lain menyeka ingus, sepasang matanya memperhatikan uang ditangan pemuda itu tanpa berkedip.

Baik itu orang dewasa maupun anak kecil tidak ada berapa orang yang tidak menyukai uang.

"Sudah kau dengar dengan jelas ?"

Ucap Kwik Tay-lok.

"asal kau bersedia untuk bicara dengan jujur, maka uang ini menjadi milikmu semua."

Dengan cepat bocah itu menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Aku selalu berbicara dengan jujur"

Katanya.

"Ayah memberitahukan kepadaku, bila anak kecil suka berbohong, nanti lidahnya akan menjadi busuk dan bau."

Kwik Tay-lok segera menepuk-nepuk kepalanya sambil tertawa, sahutnya dengan cepat.

"Betul, anak yang berterus terang barulah anak baik. Apakah warung penjual bahan makanan ini adalah milikmu ?"

Bocah itu segera mengangguk.

"Betul, kami menyimpan beras yang sangat banyak, sekalipun dimakan selama seratus tahun pun tak akan habis."

"Bukankah di rumahmu juga terdapat seorang bopeng ?"

Bocah itu mengerdipkan matanya berulang kali seperti merasa amat keheranan, lalu serunya.

"Dari mana kau bisa tahu ?"

Kwik Tay-lok segera tertawa, untuk membohongi seorang bocah yang jujur tampaknya memang bukan suatu pekerjaan yang sulit.

Tapi menyuruh seorang dewasa membohongi seorang anak, bagaimanapun juga merupakan suatu perbuatan yang memalukan.

Oleh karena itu dia merasa amat rikuh sendiri, maka setelah menyerahkan uang tadi ke tangan si bocah, dia baru berkata sambil tertawa.

"Aku belum pernah menyaksikan seorang yang berwajah bopeng, bersediakah kau untuk mengajakku pergi untuk menjumpainya ?"

Bocah itupun tertawa, katanya.

"Tentu saja dapat, belum lama berselang dia masuk ke mari, tak lama kemudian dia pasti akan keluar."

"Ia pasti akan keluar ?"

Bocah itu manggut-manggut, sambil memutar biji matanya tiba-tiba ia tertawa, katanya.

"Sekarang dia sudah keluar."

Tangannya memegang uang itu kencang-kencang, sebaliknya melemparkan mainannya ke tanah, setelah itu ia maju ke depan dan menarik tangan seorang bopeng yang baru ke luar dari ruangan.

Dia tak lebih hanya seorang bocah berusia tujuh delapan tahun yang bermuka bopeng.

Sekali lagi Kwik Tay-lok tertegun, tampaknya ia dibuat menangis tak bisa tertawapun tak dapat.

Bocah itu tertawa amat girang, katanya.

"Dia bernama Siau-sam-cu, yang masih terhitung adikku, sejak kecil mukanya sudah bopeng, dalam keluarga kami hanya terdapat seorang manusia bermuka bopeng saja."

Kwik Tay-lok menjadi tertegun, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan badan dan berlalu dari sana. Terdengar bocah itu sedang berbisik sambil tertawa.

"Siau-sam-cu, bila setiap orang yang ingin menyaksikan wajahmu pada memberi uang kepadaku, dengan segera kita akan menjadi kaya, lain kali kaupun tak usah kuatir tidak memperoleh istri yang cantik lagi, asal kita sudah mempunyai banyak uang, sekalipun mukamu bopeng juga sama saja ada orang yang akan mengawini dirimu ?"

Kwik Tay-lok merasa yaa mendongkol yaa geli, sekalipun ingin tertawa namun tiada suara yang bisa keluar dari dalam mulutnya.

Dia tahu, bocah-bocah itu pasti telah menganggap sebagai telur busuk yang paling tolol.

Sebab jalan pikirannya tidak selisih jauh bila dibandingkan dengan jalan pikiran bocah itu.

Ketika dia berpaling, tampaknya si pelayan dari rumah makan Hwee-peng-koan tersebut dengan senyum tak senyum sedang memperhatikan dirinya.

"Rekening Kek-koan tadi adalah tiga tahil enam hun, bisa itik panggang yang belum habis dimakan boleh dibungkus dan dibawa pulang,"

Katanya cepat.

Sudah barang tentu, sikap seorang pelayan rumah makan terhadap tamu yang kabur lewat jendela tak mungkin akan baik.

Waktu itu, Kwik Tay-lok sama sekali sudah tak punya kemarahan lagi, sambil menyerahkan uang tersebut kepadanya, tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Kenalkah kau dengan si manusia bermuka bopeng yang besar lagaknya itu....?"

Setelah pelayan itu menerima uangnya dan menimang-nimang sebentar, sambil tertawa segera sahutnya.

"Walaupun hamba tidak kenal dengan si bopeng itu, tapi beberapa orang nona yang menemaninya hamba kenal, sekarang juga hamba bisa pesankan orang-orang itu untuk menghibur toaya"

"Aku hendak mencari si bopeng itu, apakah sebelum ini kau belum pernah melihatnya!"

Pelayan itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, jelas dia merasa sangat keheranan.

"Jangan-jangan orang ini mengidap penyakit aneh."

Demikian pikirnya.

"Nona cakep dia tidak mau, sebaliknya si bopeng yang dicari."

Waktu itu, Kwik Tay-lok sama sekali sudah tak bersemangat lagi untuk banyak berbicara dengannya, dia tahu sekalipun mencari keterangan dari nona-nona penghibur itupun belum tentu ia dapat memperoleh keterangan yang diinginkan.

Tampaknya si manusia bopeng itu benar-benar adalah seorang manusia aneh.

Sudah jelas dia sedang berusaha untuk menghindarkan diri dari Kwik Tay-lok, tapi justru dia selalu munculkan diri pula di hadapan Kwik Tay-lok, kalau dibilang ia bukan sengaja berbuat demikian, mungkinkah di dunia ini benar-benar terdapat kejadian yang begini kebetulan?

Bukti menunjukkan bahwa pemilik toko penjual bahan makan dengan suami isteri berdua tadi mempunyai hubungan yang erat dengan dirinya, dari sini dapat diketahui bahwa ia sudah cukup lama tinggal dalam kota ini.

Tapi herannya, mengapa orang lain tak pernah berjumpa dengan dirinya ?

Tanpa sebab tanpa musabab dia telah membayar sebutir mutiara kepada Sui Loan-kim demi Kwik Tay-lok, sudah barang tentu mustahil kalau dia sama sekali tidak mempunyai tujuan tertentu.

Tapi apakah tujuannya yang sesungguhnya?

Kenapa dia harus melakukan perbuatanperbuatan yang mencengang-kan?

Sekalipun kau menghancurkan kepala Kwik Tay-lok, belum tentu ia bisa menemukan sebab musababnya..Hampir saja ia putus asa dan bermaksud untuk melepaskan perhatiannya terhadap orang ini.

Siapa tahu, pada saat itulah si nona cilik yang memayang si bopeng turun dari loteng tadi telah membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Kwik Tay-lok, lalu dengan genit melemparkan beberapa kerlingan mata ke arahnya.

Pelayan rumah makan memandang sekejap ke arahnya, kemudian memandang pula ke arah Kwik Tay-lok, setelah itu dia membuat muka setan dan segera kabur dari sana.

Orang yang melakukan pekerjaan semacam ini memang jarang yang tak tahu diri, mereka selalu pandai melihat gelagat serta menyesuaikan diri.

Dalam pada itu, si nona cilik itu telah berjalan ke hadapan Kwik Tay lok, kemudian setelah tertawa manis katanya.

"Aku pikir, kau pastilah toa sauya dari keluarga Kwik bukan ?"

Kwik Tay-lok manggut-manggut, sambil memandang ke arahnya dengan mata melotot, dia berseru.

"Apakah si bopeng itu yang memberitahukan namaku kepadamu ?"

Nona cilik itupun segera manggut-manggut, sahutnya sambil tersenyum.

"Aku bernama Bwe Lan, tinggal dalam rumah pelacuran Liu-cun-wan, di kemudian hari masih berharap Kwik sauya suka memperhatikan diriku."

"Asal kau bisa membantuku untuk menemukan si bopeng tersebut, setiap hari aku akan berkunjung ke kamarku."

"Sungguh?"

Seru Bwe Lan sambil mengerdipkan matanya.

"Hanya telur busuk anak kura-kura saja yang tidak memegang teguh perkataannya."

Kembali Bwe Lan tertawa, tertawanya semakin manis.

"Aku datang mencari Kwik sauya, karena si toaya bopeng memang ada pesan yang menyuruhku untuk menyampaikan kepada sauya"

"Apa yang dia katakan?"

"Ia bilang kentongan ketiga malam nanti dia akan menantikan kedatanganmu di kui Liong-ongbio di sebelah timur telaga Tay-beng ou, dia bilang pula..."

"Dia masih bilang apa lagi ?"

Tanya Kwik Tay-lok dengan cemas. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya Bwe Lan berkata.

"Ia masih bilang, bila kau tak-punya keberanian untuk pergi kesanapun tak jadi soal"

Tiba-tiba ia tersenyum, sahutnya.

"Sekarang Kwik sauya sudah dapat menemukan dirinya, tapi ingat apa yang Kwik sauya katakan harus dipegang teguh.... kalau seorang lelaki menjadi telur busuk, oh, pasti tak sedap rasanya."

Akhirnya perempuan yang berdandan sebagai siluman cilik itu telah pergi meninggalkan tempat itu.

Sebelum pergi dia tak lupa meninggalkan alamat rumah pelacuran Liu-cun-kwan kepada Kwik Tay-lok.

Sekarang Kwik Tay-lok baru sadar, lagi-lagi dia telah salah berbicara....

kenapa ia tak dapat menahan diri beberapa waktu lagi, menunggu siluman itu menyampaikan pesan dulu dari si bopeng ?

Kenapa dia selalu mendatangkan pelbagai kesulitan bagi diri sendiri tanpa disadari sama sekali ?

Tapi si orang bermuka bopeng itu jauh lebih membingungkan lagi..

Sudah jelas dia sedang berusaha untuk menghindari Kwik Tay-lok, tapi sekarang ia justru mengajak Kwik Tay-lok untuk bertemu.

Apakah hal inipun merupakan suatu rencana busuk untuk menjebaknya?

Apakah dia telah mempersiapkan jebakan disekitar kuil Liong-ong-bio dan menunggu Kwik Tay-lok masuk jebakan?

Walaupun dia seperti banyak mengetahui persoalan tentang Kwik Tay-lok, namun sebelum itu Kwik Tay-lok hampir tak pernah bertemu dengan orang ini, sudah barang tentu diantara merekapun tak bisa dibilang ada dendam atau budi.

Ia telah membuang banyak pikiran, banyak tenaga dan menghamburkan begitu banyak uang sebenarnya apakah maksud serta tujuannya?

Sambil menghela napas panjang, Kwik Tay-lok bergumam.

"Diantara sepuluh orang manusia bermuka bopeng, sembilan diantaranya berwatak aneh, tampaknya ucapan ini sedikitpun tak salah"

Kuil raja naga.

Tampaknya, di setiap tempat yang ada airnya pasti terdapat sebuah kuil raja naga.

Liong ong bio memang seperti kuil dewa tanah, ibaratnya telinga bagi orang tuli, hanya suatu tempat tujuan belaka, di sana tiada tempat untuk pasang hio, juga tiada tosu atau hwesio.

Demikian pula dengan Liong-ong bio.

Kwik Tay-lok datang dengan menunggang kereta keledai, sebab dia tidak kenal jalan, lagi pula ingin mengirit tenaga sehingga bisa memiliki kekuatan yang tangguh untuk menghadapi si orang bermuka bopeng itu.

Si kakek kusir kereta adalah seorang kakek yang rambutnya telah beruban semua.

Sebenarnya Kwik Tay lok tidak ingin naik kereta, apa mau dikata setelah malam tiba kereta yang lain enggan mendatangi kuil Liong ong bio yang letaknya terpencil.

Jalannya menuju ke tempat itu memang bukan suatu jalanan yang baik untuk dilewati apalagi bila malam tiba, tiada lampu yang menerangi tempat itu, keadaan gelap gulita dan sangat mengerikan.

Kakek si kusir kereta itu mengantuk sepanjang jalan, tiba di sana mendadak ia menarik tali les keledainya dan berkata seraya berpaling.

"Bila berjalan lebih ke depan, kau akan tiba di kuil Liong-ong-bio, lebih baik berjalanlah sendiri kesana."

Tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya.

"Kenapa kau tidak mengantar aku sampai ke depan pintu ?"

Tiba-tiba kakek bungkuk itu tertawa.

"Sebab aku masih ingin hidup barang dua tahun lagi."

Malam amat hening, senyumannya itu kelihatan agak menyeramkan bagi orang yang memandangnya. Dengan kening berkerut Kwik Tay-lok segera menegur.

"Memangnya setelah kau mengantar aku sampai di sini, maka kau tak bisa hidup lebih lanjut?"

Kakek bungkuk itu tertawa semakin misterius, katanya hambar.

"Setiap orang yang tiba di sini malam ini mungkin akan sulit untuk pulang dalam keadaan hidup, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan kesana..."

"Setiap orang boleh berkunjung ke kuil liong-ong-bio, kenapa aku tak boleh kesana?"

"Sebab malam ini jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya."

Jawab kakek bungkuk itu sambil tertawa seram.

"Bagaimana bedanya?"

Tiba-tiba kakek bungkuk itu tidak berbicara lagi, sepasang matanya dengan melotot besar sedang memandang ke belakang punggung Kwik Tay-lok, seakan-akan ia melihat ada setan yang muncul secara tiba-tiba.

Tanpa terasa Kwik Tay-lok merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, tidak tahan diapun turut berpaling ke belakang.

Malam itu sangat hening dan tak tampak seorang manusiapun, pohon liu yang bergoyang terhembus angin, dalam kegelapan malam mirip sesosok iblis yang sedang mementangkan cakarnya.

Sekalipun demikian, bukan berarti bayangan itu benar benar-mirip dengan iblis yang mementangkan cakar, sehingga tidak banyak yang dibuat ketakutan.

Kwik Tay-lok segera tertawa geli, katanya.

"Kau boleh menghantar aku ke situ dengan hati tenang, asal kau mati, aku...."

Mendadak ia menghentikan ucapannya secara tiba-tiba.

Sebab ketika dia memalingkan kepalanya, ternyata si kakek bungkuk itu sudah lenyap tak berbekas.

Di kejauhan sanapun hanya kegelapan yang nampak, bukan saja tidak nampak bayangan manusia, sekalipun benar-benar ada setan juga sama saja tak terlihat.

Kenapa kakek bungkuk itu lenyap secara tiba-tiba?

Apakah dia telah dilarikan oleh setan bengis yang bersembunyi di balik kegelapan?

Segulung angin berhembus lewat, tak tahan Kwik Tay-lok bergidik dan bersin berulang kali gumamnya kemudian.

"Baik, kau tak mau pergi, biar aku sendiri yang menjalankan kereta ini ke sana."

Bila seseorang berada dalam kegelapan seorang diri, sekalipun hanya mendengar perkataan sendiri, paling tidak nyalinya akan lebih besar sedikit.

Dia melompat naik ke atas tempat duduk kusir, mengambil cambuk dan melarikan keledai itu.

Siapa tahu seakan-akan ke empat buah kaki keledai itu sudah memantek di atas tanah saja, sampai matipun ia tak mau maju barang selangkahpun jua.

Apakah keledai itu sudah menduga firasat jelek, yang menunjukkan kalau di depan sana benar-benar terdapat iblis buas yang siap menerkam mangsanya.

Di tempat seperti ini, dalam suasana seperti ini, jangankan setan bengis bisa makan orang, orangpun bisa makan orang.

Padahal Kwik Tay-lok adalah orang asing yang tak punya sanak keluarga di sana, sekali pun dilahap orang sampai habispun tiada tempat untuk mengadukan peristiwa itu, malah jenasahpun entah dikubur dimana.

Bila orang lain yang harus menghadapi keadaan seperti ini, cara yang terbaik adalah membalikkan badan dan mengambil langkah seribu, kalau bukan mencari tempat untuk minum barang dua cawan arak tentulah mencari pembaringan dan tidur yang nyenyak.

Sayang sekali, justru Kwik Tay lok memiliki watak seperti keledai, bila kau menginginkan dia mundur maka dia justru maju ke depan.

Sekalipun di depan sana terdapat sarang naga gua harimau, diapun akan mencoba untuk menembusinya.

"Kalau toh kau enggan berjalan ke muka, aku juga punya kaki, memangnya aku tak bisa berjalan sendiri ?"

Dengan cepat dia melompat turun dari atas kereta dan maju ke muka dengan langkah lebar.

"Benarkah kuil Liong-ong-bio terletak di depan sana ?"

Pertanyaan itu masih merupakan sebuah tanda tanya besar, ia tidak tahu juga tidak melihat bayangan rumah.

Di depan sana hanya tanah luas kosong tiada sesuatu yang terlihat, bila orang hendak melakukan pertemuan, sudah pasti mereka tak akan melakukannya ditempat seperti ini.

Kecuali dia memang memiliki rencana busuk yang takut diketahui orang lain.

Sambil membungkukkan dada dan tertawa dingin Kwik Tay-lok maju ke depan, tiba-tiba ia mendengar serentetan suara yang sedang mengeluh sedih.

Baru saja dia membalikkan kepalanya, tampak keledai itu sedang meringkik keras, seakanakan bertemu dengan setan saja, entah sejak kapan dia telah membalikkan tubuhnya dan kabur menuju ke arah dimana ia datang tadi.

Kwik Tay lok segera tertawa dingin, gumamnya.

"Aku toh bukan keledai, kau bisa membuatnya takut, bukan berarti kau bisa membuat akupun menjadi takut."

Tapi, menunggu dia berpaling, toh hatinya dibuat terperanjat juga.

Dari balik kegelapan sana, entah sejak kapan telah bertambah dengan sebuah lentera di tambah bayangan sesosok manusia.

Ternyata lentera itu berwarna hijau, cahaya lampu yang berwarna hijau menyoroti tubuh dan kaki orang itu namun tidak berhasil menyoroti wajahnya.

Di atas kepalanya mengenakan sebuah topi lebar yang besar dan luas, topi itu dikenakan rendah-rendah sehingga hampir saja menutupi seluruh wajahnya.

Tapi sekarang, Kwik Tay-lok sudah melihat kalau orang itu bukan si orang berwajah bopeng.

Sebab orang ini hanya punya sebuah kaki....

kaki kirinya terpapas kutung sebatas lutut dan diganti dengan sebuah kaki kayu.

Walaupun demikian, ketika datang tadi ternyata sama sekali tidak menimbulkan suara apaapa.

Dia berdiri dikejauhan sana, tangan yang satu memegang lentera sedangkan tangan yang lain membawa sebuah tongkat berwarna hitam, entah terbuat dari kayu ataukah terbuat dari besi.

Walaupun dia hanya mempunyai sebuah kaki, tapi berdiri di situ dengan tenang dan tegap bagaikan sebuah bukit Thay-san.

Di tengah malam buta yang sepi dan tiada sesosok bayangan manusiapun, tiba-tiba muncul seorang manusia seperti itu, siapapun pasti akan merasa terkejut sekali setelah melihatnya.

Tapi bukan saja Kwik Tay-lok dapat menenangkan hatinya dengan cepat, malahan dia bisa manggut-manggut pula ke arah orang itu sambil tersenyum lebar.

Asal orang lain belum sempat mencelakai kepada siapapun, dia akan tetap bersikap bersahabat.

Ternyata si orang berkaki tunggal itupun manggut-manggut kepadanya.

Kwik Tay lok segera memperkenalkan diri, katanya.

"Aku she Kwik bernama Kwik Tay-lok, Tay yang berarti besar, lok yang berarti jalan artinya si orang she Kwik yang berjalan besar."

"Aku toh tak ingin mengetahui siapa namamu"

Ucap si orang berkaki tunggal dingin. Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Tapi kita dapat bersua muka ditempat seperti ini, berarti kita masih mempunyai jodoh"

Ucapnya.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku bertemu denganmu hanya karena kebetulan saja?"

"Memangnya bukan?" (Bersambung ke

Jilid 29)

Jilid 29

"BUKAN !"

"Memangnya kau khusus datang kemari untuk mencari aku?"

"Benar."

"Ada urusan apa mencari aku ?"

"Suruh kau pulang."

"Pulang ? Pulang ke mana?"

"Dari mana kau datang, kesana pula kau pergi !"

Kwik Tay-lok segera mengerdipkan matanya berulang kali, katanya.

"Apakah kau tidak menginginkan aku pergi ke kuil Liong-ong-bio ?"

"Benar !"

"Kenapa ?"

"Sebab tempat itu bukan tempat yang baik, barang siapa berani kesana pasti akan tertimpa bencana."

Kwik Tay-lok segera tertawa.

"Terima kasih banyak atas petunjukmu, cuma saja kita tak pernah saling kenal, kenapa kau menaruh perhatian yang begitu serius kepadaku ?"

"Jadi kau bersikap keras hendak pergi ?"

"Benar !"

"Baik, robohkan aku lebih dulu, kemudian melangkahlah dari atas badanku...."

Kwik Tay-lok menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.

"Oh.... rupanya kau memang sengaja mencari aku untuk diajak berkelahi...."

Orang berkaki tunggal itu tidak berbicara lagi, mendadak dia mengayunkan tangannya, lampu lentera yang berada di tangannya itu segera meluncur ke tengah udara dan persis menancap di atas sebatang pohon itu yang berada di tepi jalan.

Kwik Tay-lok segera berseru tertahan, katanya.

"Benar-benar suatu kepandaian yang sangat lihay, dengan mengandalkan kepandaian tersebut, belum tentu aku dapat mengalahkan dirimu"

"Bila kau ingin kembali sekarang, masih belum terlambat."

Kembali Kwik Tay-lok tertawa, katanya.

"Justru karena aku belum tentu bisa merobohkan kau maka aku baru akan menghajarmu, bila aku sudah mempunyai keyakinan untuk menang, apa menariknya suatu pertarungan ?"

Pelan-pelan orang berkaki tunggal itu mengangguk, katanya.

"Baik, kau memang punya keberanian, aku tak pernah membunuh orang yang mempunyai keberanian, paling banter cuma sepasang kakinya saja yang akan ku penggal."

"Akupun paling banter hanya bisa mengutungi sebuah kakimu saja, karena kau hanya memiliki sebuah kaki belaka"

Jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa.

Sebenarnya dia bukan seorang yang menyindir orang, sebetulnya dia tak ingin mengucapkan kata-kata yang mencemooh orang lain.

Tapi sekarang ia telah menemukan si bopeng, si bungkuk dan si orang berkaki tunggal ini sebetulnya merupakan suatu komplotan yang telah mempersiapkan jebakan untuk memancingnya masuk perangkap.

Sekarang dia sudah hampir terjatuh, tapi perangkap apakah itu, hingga kini masih belum diketahui.

Dalam pertarungan ini, musuh berada dalam kegelapan sedang ia berada ditempat yang terang, musuh lebih banyak jumlahnya dari pada ia seorang, bagaimanapun juga, sebenarnya hal yang mana merupakan sesuatu yang sama sekali tak adil.

Kesempatan buat Kwik Tay-lok memang tidak banyak, sekalipun ia sengaja mengucapkan beberapa kata untuk mencemooh dan membangkitkan kemarahan lawan hal tersebut sebenarnya patut dimaafkan.

Paling tidak ia telah memaafkan dirinya sendiri.

Betul juga orang berkaki tunggal itu menjadi naik pitam, sambil membentak keras tongkat pendek di tangannya diayunkan ke tubuh Kwik Tay-lok dengan membawa desingan angin tajam.

Tongkat pendek itu paling banter tiga empat depa panjangnya, jaraknya dengan Kwik Tay-lok pun paling banter hanya dua-tiga kaki.

Tapi begitu tangannya diayunkan, tahu-tahu tongkat pendek itu telah tiba di hadapan Kwik Tay-lok.

Serangan toyanya itu benar-benar dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Waktu itu Kwik Tay-lok sama sekali tak bersenjata, pada hakekatnya tak mungkin baginya untuk menangkis atau menahan serangan tersebut, terpaksa ia berkelit ke samping.

Tapi orang berkaki tunggal itu telah melancarkan serangkaian serangan berantai yang bertubitubi, jurus yang satu lebih cepat dari yang lain, sekalipun Kwik Tay-lok tidak melihat asal dari ilmu toyanya itu, namun dia tahu ilmu toya yang dipergunakan oleh musuhnya ini pasti mempunyai asal usul yang besar.

Diantara sekian banyak jago lihay dalam dunia persilatan, hanya dua macam orang yang menggunakan toya pendek, pertama adalah pengemis sedangkan yang lain adalah hwesio.

Kalau pengemis kebanyakan tergabung dalam perkumpulan Kay-pang, toya pendek yang mereka pergunakan biasanya dinamakan toya Ta-kau-pang, konon nama ini mulanya berasal dari seorang pangcu she Cia, tapi bagaimanakah cerita yang sebenarnya, mungkin tiada seorang yang pernah melakukan penyelidikan secara serius.

Itulah sebabnya ilmu toya yang mereka pergunakan disebut ilmu Ta-kau-pang-hoat atau ilmu toya penggebuk anjing, selain hebat perubahannya juga rumit jurus serangannya, tidak banyak orang di dunia ini yang benar-benar bisa mempelajari ilmu toya seperti ini..

Jurus serangan yang digunakan orang berkaki tunggal itu bersifat keras dan ganas, diantara perubahan jurusnya tidak terdapat perubahan yang terlalu bagus.

Betul Kwik Tay-lok kurang berpengalaman dalam dunia persilatan, namun soal ilmu Ta kau pang hoat sedikit banyak pernah juga mendengar orang lain membicarakannya.

Sekarang, ia telah melihat bahwa ilmu toya yang dipergunakan orang berkaki tunggal itu bukan ilmu Ta-kau-pang-hoat, kalau toh bukan ilmu Ta-kau-pang-hoat, berarti pula dia bukan anggota Kay-pang.

Kwik Tay-lok memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.

"Aku sudah tahu siapakah dirimu, kau jangan harap bisa mengelabuhi diriku."

Mendadak permainan toya pendek orang berkaki tunggal itu makin melamban, sementara kulit badannya seakan-akan berubah menjadi kaku.

Kenapa dia nampak terkejut setelah mendengar ucapan itu?

Apakah dia sendiripun mempunyai suatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?

Atau kuatir bila diketahui jejaknya oleh orang lain....?

Begitu gerakan tangan dari orang berkaki tunggal itu melambat, gerak serangan dari Kwik Taylok menjadi bertambah cepat.

Sepasang kepalannya dilancarkan menderu-deru bagaikan deruan angin kencang, dia menerobos ke dalam titik kelemahan orang itu membuat permainan toyanya sama sekali tak dapat dikembangkan lagi.

Pertarungan antara jago-jago lihay ibaratnya dua orang ahli catur yang sedang berhadapan, asal selangkah membuat kesalahan bisa jadi seluruh permainannya akan buyar.

Tiba-tiba saja Kwik Tay-lok melancarkan tiga buah serangan berantai yang ditujukan ke dada dan lambung orang berkaki tunggal itu, namun menanti orang berkaki tunggal itu menangkis jurus serangannya, tiba-tiba dia berganti gerakan dengan mengayunkan tangannya menghantam topi lebar yang dikenakan orang berkaki tunggal itu.

Bila dia ingin menghantam kepala orang berkaki tunggal itu, sudah barang tentu hal mana sukar untuk dilakukan.

Tapi topi anyaman bambu itu lebar dan besar, apalagi dikala pertarungan sedang berlangsung, siapapun tak akan berpikir untuk melindungi topi lebar yang dikenakannya itu.

Begitu topi lebar tersebut terjatuh, maka tampaklah selembar wajah orang berkaki tunggal itu, dia berwajah pucat dengan kepala yang gundul bersih, di atas keningnya terdapat dua belas buah bekas tusukan dupa yang menandakan dirinya sebagai seorang pendeta.

Dengan cepat Kwik Tay-lok berjumpalitan dan mundur sejauh tujuh depa lebih, kemudian serunya dengan suara lantang.

"Dugaanku ternyata tidak meleset, kau memang benar-benar seorang hwesio gundul !"

Paras muka orang berkaki tunggal itu berubah makin mengenaskan, tiba-tiba ia mendepakkan kakinya berulang kali, toya pendeknya segera melesat ke depan dan menghantam lampu lentera yang berada di atas ranting pohon liu itu.

Seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi gelap gulita.

Bayangan tubuh orang berkaki tunggal itu berkelebat lewat, tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Kwik Tay lok yang menyaksikan kejadian itu menjadi agak keheranan, pikirnya.

"Heran, menjadi seorang pendeta toh bukan suatu perbuatan yang takut diketahui orang lain, sekalipun diketahui orang juga bukan suatu hal yang luar biasa, mengapa ia justru tampak kaget bercampur gugup, bahkan jauh lebih tegang daripada buronan yang berhasil dikenali kembali oleh opas ?"

Kwik Tay-lok benar-benar tidak habis mengerti.

Tapi sekarang kesulitan yang dihadapinya sudah cukup banyak, tentu saja ia sudah tidak mempunyai kesempatan dan hasrat untuk memikirkan persoalan orang lain lagi.

Sesudah tiada orang yang menghalangi jalan perginya, maka diapun melanjutkan perjalanannya ke depan.

Jalan, jalan terus ke depan, mendadak ia saksikan di depan sana terdapat suatu tempat yang memancarkan cahaya lentera.

Di bawah sorotan cahaya lentera, tampaklah sebuah kuil yang amat kecil sekali bentuknya.

Ia sampai juga akhirnya di kuil Liong-ong-bio.

Walaupun sudah sampai di kuil Liong-ong bio, tapi siapakah yang memasang lampu dalam kuil itu?

Kenapa secara tiba-tiba ia menyulut begitu banyak lampu dalam ruang kuil itu ?

Si kakek bungkuk, si hwesio berkaki tunggal ditambah si manusia muka bopeng, bukan saja cara kerja ketiga orang ini amat misterius, asal-usulnya juga sukar ditebak.

Kalau dilihat ilmu silat yang mereka miliki, sudah pasti orang itu merupakan jago kelas satu di dunia persilatan.

Tapi justru ia belum pernah mendengar tentang mereka, seakan-akan ke tiga orang itu sama sekali tak punya nama.

Dalam kuil itu di sulut tujuh buah lentera, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Kalau toh orang itu menyulut lampu, kalau toh meminta Kwik Tay-lok mencarinya kesana, kenapa ia sendiri pergi meninggalkan tempat itu.....

Kwik Tay-lok celingukan kesana kemari seperti seorang pelancong saja, santai sekali gerak geriknya.

Padahal rasa tegang yang menyelimuti hatinya benar-benar tak terlukiskan dengan kata.

Manusia bermuka bopeng itu dapat berbuat demikian kepadanya, sudah barang tentu bukan lantaran cuma bermain-main saja.

Siapapun tak akan membuang banyak pikiran dan menghamburkan banyak uang hanya bermaksud untuk bergurau saja.

Sekarang Kwik Tay-lok tinggal menunggu dia menampakkan diri dan menyebutkan asalusulnya dan mengutarakan maksud serta tujuannya.

Sudah pasti detik-detik itu merupakan saat yang paling berbahaya dan paling mengerikan.

Siapa tahu kalau pada saat itulah merupakan detik-detik yang akan menentukan mati hidup Kwik Tay-Lok?

Menanti memang merupakan suatu kejadian yang paling menyiksa, apalagi ia tidak tahu apa yang sedang dinantikan olehnya.

Baru saja Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lentera di atas meja telah padam.

Padahal di sana tak ada angin, tapi anehnya kenapa lentera yang sedang bersinar terang bisa padam dengan sendirinya ?

Kwik-Tay-lok mengerutkan dahinya rapat-rapat dan berjalan menghampirinya untuk memeriksa dengan seksama, dengan cepat ia menemukan kalau sebab padamnya lentera itu tak lain karena minyak dalam lentera itu telah mengering..

Walaupun lentera itu padam sendiri, tapi di bawah meja seakan-akan ada semacam benda yang sedang bergerak tiada hentinya dan gemetar tiada hentinya, Kwik Tay-lok segera mundur tiga langkah ke belakang, kemudian, dengan suara dalam, bentaknya.

"Siapa di situ ?"

Tiada jawaban, namun benda yang ada di bawah meja itu gemetar semakin keras, sehingga tirai di belakang meja pun turut bergelombang keras.

Tiba-tiba Kwik Tay lok menerjang ke muka dan menyingkap kain tirai tersebut.

Tapi dengan cepat ia menjadi tertegun.

Ditempat yang begini gelap, ditempat sepi dan terpencil seperti ini...

ternyata di bawah meja sembahyang yang sudah kuno dari kuil Liong-ong-bio yang misterius, terdapat seorang nona yang berusia enam atau tujuh belas tahun yang cantik jelita.

Gara-gara untuk sampai di situ, entah berapa banyak manusia aneh dan kejadian aneh yang telah dijumpai Kwik Tay-lok, bahkan hampir saja dia pertaruhkan selembar jiwanya.

Andaikata di bawah meja itu tersembunyi suatu jebakan yang bagaimanapun bahaya dan mengerikannya, dia pasti tak akan merasa keheranan.

Tapi, mimpipun dia tak mengira kalau orang yang dijumpainya ternyata adalah seorang nona cilik.

Nona itu tampak begitu kecil dan ramping, begitu mengenaskan, pakaian yang dikenakan amat tipis dan minim.

Sekujur tubuhnya gemetar keras, entah karena kedinginan atau karena ketakutan.

Menyaksikan kemunculan Kwik Tay-lok dia gemetar makin keras lagi, sepasang tangannya melindungi dada sendiri dan menyusutkan tubuhnya menjadi satu, sepasang matanya yang jeli memancarkan sinar kaget, takut dan mohon kasihan, dengan susah payah dia mengucapkan beberapa patah kata.

"Kumohon kepadamu, ampunilah aku...?"

Kwik Tay-lok masih berdiri tertegun di sana, entah lewat berapa lama kemudian dia baru bisa berbicara lagi.

"Siapa kau? Kenapa datang ke tempat ini?"

Nona cilik itu pucat pias seperti mayat karena ketakutan, katanya dengan suara gemetar.

"Kumohon kepadamu.... ampunilah aku..."

Jelas nona itu dibikin ketakutan setengah mati sehingga sukmapun serasa melayang meninggalkan raganya, kecuali dua kata tadi, dia sudah tak dapat mengucapkan kata-kata lain.

Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

"Kau tak usah memohon kepadaku, aku bukan datang kemari bukan untuk mencelakai dirimu."

Nona cilik itu segera melotot ke arahnya, lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru sadar kembali, ujarnya.

"Apakah kau... kau bukan orang itu?"

"Siapa maksudmu ?"

"Orang yang membelenggu aku di sini ?"

"Tentu saja bukan."

Jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa getir.

"Masa siapa yang membelenggu dirimu ditempat inipun tidak kau ketahui ?"

"Aku.... aku sama sekali tidak melihat wajahnya."

Sahut nona kecil itu sambil menggigit bibir.

"Lantas, bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Sepasang mata nona kecil itu berubah menjadi merah, seakan-akan tiap saat kemungkinan besar akan menangis. Buru-buru Kwik Tay-lok berkata lagi.

"Aku toh sudah bilang, tak nanti akan kuusik dirimu, maka sekarang kaupun tidak usah takut lagi, ada persoalan, dibicarakan pelan-pelan juga tak menjadi soal."

Kalau dia tidak berusaha untuk menghibur masih mendingan, begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja nona cilik itu menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

Kwik Tay-lok menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Bila ingin membuat nona cilik yang berusia enam atau tujuh belas tahun menangis tersedusedu, setiap apapun bisa melakukannya dengan segera.

Tapi bila menyuruh dia jangan menangis, maka hal ini hanya bisa dilakukan oleh lelaki yang berpengalaman saja.

Dalam bidang ini, pengalaman dari Kwik Tay-lok tidak termasuk matang.

Oleh sebab itu dia hanya bisa mengawasinya dari samping dengan wajah termangu-mangu.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya nona itu menghentikan juga isak tangisnya.

Kwik Tay lok segera menghembuskan napas lega, katanya dengan suara yang lembut.

"Masa kau sendiripun tak tahu bagaimana ceritanya sehingga kau bisa sampai di sini?"

Nona cilik itu mash menutupi wajahnya rapat-rapat, katanya kemudian dengan lirih.

"Aku telah tertidur nyenyak, ketika mendusin, secara tiba-tiba tahu-tahu aku telah berada di sini !"

"Setelah kau sadar kembali, apakah di tempat ini tiada orang lain ?"

"Bukan saja tak ada orang, bahkan setitik cahaya lenterapun tak ada...."

"Jadi kau yang telah memasang semua lampu di sini ?"

"Tempat ini mana gelap, dinginnya setengah mati, aku benar-benar sangat takut, untung saja di atas meja kutemukan batu api...."

Di atas meja dekat lentera, memang benar-benar terdapat batu api.

"Oleh karena itu, kaupun menyulut semua lampu yang berada di sini?"

Tanya Kwik Tay-lok. Nona cilik itu manggut-manggut. Akhirnya Kwik Tay-lok berhasil juga memahami akan satu hal, tapi tak tahan dia bertanya lagi.

"Tadi, di sini kan tak ada seorang manusia pun, kenapa kau tidak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri?"

Sebenarnya aku memang ingin melarikan diri, tapi baru melangkah keluar dari pintu kulihat suasana di luar sana gelap dan dingin, aku.. aku... selangkah pun aku tak berani melangkah keluar !"

Sampai kini, tubuhnya masih gemetar keras, namun ucapannya toh bisa juga didengar dengan jelas.

Seorang gadis pingitan yang belum pernah keluar rumah, tiba-tiba menemukan tubuhnya berada dalam sebuah kuil bobrok setelah sadar dari tidurnya, belum menjadi gila pun karena ketakutan sudah termasuk suatu kejadian yang aneh.

Kwik Tay-lok memperhatikan wajahnya dengan sorot mata yang penuh kasih sayang.

Walaupun tangannya masih menutupi wajahnya, namun matanya sedang diam-diam mengintip wajah Kwik Tay-lok lewat celah-celah jari tangannya.

Tampaknya Kwik Tay-lok tidak mirip dengan tampang seorang manusia yang jahat....

bukan cuma tidak mirip, dia memang bukan.

Sebenarnya dia ingin membimbing gadis itu bangun dari kolong meja, tapi baru saja tangannya dijulurkan, dengan cepat dia telah menariknya kembali.

Sekalipun wajahnya tampak lemah lembut namun kematangan tubuhnya ternyata cukup menggiurkan hati orang.

Pakaian yang dikenakan sebenarnya memang amat minim sekali hingga tampaknya mengenaskan.

Apalagi tangannya digunakan untuk menutupi wajah sendiri, sudah barang tentu dia tak dapat menutupi bagian tubuh lainnya lagi.

Cahaya lampu masih bersinar dengan amat jelas.

Bukan saja Kwik Tay-lok tak berani mengulurkan tangannya, memandang sekejap ke arahnyapun tak berani.

Pada saat itulah, lentera yang lain tiba-tiba menjadi padam.

Lentera yang ketiga padam lebih cepat lagi, agaknya minyak yang ada dalam lentera tersebut sudah habis semua.

Dalam waktu singkat, tujuh buah lentera sudah padam semua.

Nona cilik itu menjerit kaget, kemudian menubruk ke dalam pelukan Kwik Tay-lok.

Dalam kegelapan, tiba-tiba si nona cantik yang berbaju minim itu menubruk ke dalam pelukan Kwik Tay-lok, kejadian ini segera membuat deburan jantungnya dua kali lipat lebih cepat.

Dengan cepat dia memperingatkan kepada diri sendiri.

"Kau adalah manusia, bukan binatang, jangan sekali kau memancing dalam air keruh, jangan sekali-kali kau lakukan perbuatan itu...."

"Bukan cuma tak boleh dilakukan, untuk dipikirkan saja tak boleh, kalau tidak bukan saja kau akan malu terhadap diri sendiri, juga malu terhadap Yan Jit!"

Dalam hatinya dia berusaha keras untuk memperingatkan diri sendiri, sambil selalu pula mengendalikan diri, tapi banyak bagian tubuh seorang manusia yang tak mungkin bisa dikendalikan semua dengan sebaik-baiknya.

Salah satu diantaranya adalah hidung.

Bau harum gadis perawan yang aneh dan khas serta bau harum rambut yang terhembus lewat, mengikuti dengusan napasnya menerobos masuk ke dalam hatinya.

Ini ditambah pula dengan tubuh yang lembut, halus dan hangat yang berada dalam pelukannya apa lagi di ruangan yang gelap gulita seperti itu, betul-betul mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali.

Jangan manfaatkan kesempatan di kamar gelap, ucapan ini kedengarannya memang amat sederhana, namun dalam kenyataannya hanya orang yang pernah mengalami keadaan seperti itu saja yang mengetahui bahwa keadaan tersebut sebetulnya tidak mudah.

Kwik Tay-lok bukan seorang nabi, bukan seorang dewa, kalau dibilang dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan ini boleh dibilang bohong.

Tapi ada suatu ada kekuatan yang jauh lebih besar lagi yang membuat dia mampu untuk mengendalikan diri.

Kekuatan tersebut bukan ajaran agama adat atau kesopanan, juga bukan lain-lainnya, melainkan rasa cintanya yang tebal dan mendalam terhadap Yan-Jit..

Dia sama sekali tidak mendorong tubuh nona cilik itu.

Dia tidak tega berbuat demikian.

Nona cilik itu melingkar didalam pelukannya, seperti seekor burung dara yang baru saja mendapat kekagetan yang hebat, kemudian menemukan suatu tempat yang aman.

Dengan halus Kwik Tay-lok merangkul bahunya, lalu berkata dengan suara lembut.

"Kau tak usah takut, mari ku antar kau pulang ke rumah."

"Sungguh ?"

"Tentu saja sungguh, bahkan sekarang juga aku mau mengantar kau pulang."

"Tapi... ditengah malam buta begini kau datang kemari sudah pasti ada urusan penting yang hendak dikerjakan, mana boleh kau kesampingkan persoalanmu dan malahan hendak mengantarku pulang!"

Diam-diam Kwik Tay-lok menghela napas panjang.

Bukan suatu yang gampang baginya untuk mencapai tempat tersebut, bila ia disuruh berlalu dengan begitu saja, sebetulnya dia merasa sangat tidak rela.

Siapa tahu kalau si orang bermuka bopeng itu akan datang, setiap waktu, siapa tahu kalau setiap saat dia bakal memperoleh kabar berita dari Yan Jit.

Tapi sekarang, tampaknya dia sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi.

Ditepuknya bahu nona cilik itu, kemudian ujarnya.

"Sekarang fajar sudah hampir menyingsing bila orang tuamu mengetahui kalau kau lenyap, hati mereka sudah pasti akan sangat cemas. Bila orang lain tahu kalau semalaman kau tidak pulang, entah berapa banyak kata iseng yang bakal mereka lontarkan, sekarang usiamu masih kecil, mungkin belum kau ketahui sampai dimanakah mengerikannya kata-kata iseng tersebut, tapi aku tahu dengan jelas."

Kata-kata iseng macam begitu selain dapat merusak nama baik seseorang, bahkan akan menghancurkan pula seluruh kehidupannya.

Berpikir sampai di sini, Kwik Tay-lok semakin bulatkan tekadnya, dengan cepat dia berseru.

"Oleh sebab itu, sekarang juga aku harus menghantarkanmu pulang ke rumah...."

Mendadak nona cilik itu memeluknya erat-erat, sampai lewat lama kemudian, dia baru berbisik lembut.

"Kau sungguh baik sekali, belum pernah kujumpai orang sebaik dirimu itu !"

"Rumahku berada didalam gang kecil di depan sana, belok ke kanan rumah ketiga, di depan pintu yang tumbuh pohon liunya itu."

Gang itu amat tenang dan sepi... Sinar terang baru saja muncul di ufuk sebelah timur dan menyinari embun yang berada di atas ubin hijau. Kwik Tay-lok berbisik lembut.

"Mereka pasti belum tahu kalau kau telah lenyap, dapatkah kau menyusup masuk ke dalam tanpa sepengetahuan mereka ?"

Nona cilik itu manggut-manggut.

"Aku bisa masuk lewat pintu belakang, kamarku beradu di sebelah sana...."

Katanya.

"Lebih baik kau tidur di kamar lain saja, lebih baik lagi jika mencari seorang pembantu setengah umur untuk menemani kau tidur."

Setelah berpikir sebentar, dia menambahkan.

"Dua malam berikutnya bisa saja aku menengokmu dari sekitar tempat ini, siapa tahu akupun bisa membantumu untuk menyelidiki siapa gerangan orang yang telah melarikan dirimu itu."

Sinar mata hari fajar yang memancar dari ufuk timur, sudah menyinari butiran keringat-keringat di atas wajahnya, butiran keringat itu berkilat seperti butiran mutiara.

Di atas wajahnyapun seakan-akan tampak cahaya berkilauan.

Nona cilik itu mendongakkan kepalanya memperhatikan wajahnya, tiba-tiba ia berkata.

"Kenapa kau tidak bertanya siapa namaku? Apakah kau sudah tak akan datang lagi untuk menengok diriku?"

Kwik Tay-lok tertawa paksa, sahutnya dengan lembut.

"Aku hanya seorang gelandangan, lagi pula seorang yang sangat berbahaya, bila kau sampai melakukan hubungan denganku, sudah pasti banyak orang yang akan membicarakan kita berdua."

"Aku tidak takut"

Seru nona cilik itu cepat.

"Tapi aku takut."

"Apa yang ditakuti?"

Seru si nona sambil mengedipkan matanya berulang kali. Kwik Tay-lok tidak menjawab, kembali dia menepuk bahunya sembari berkata.

"Selanjutnya kau bakal tahu apa yang sesungguhnya kutakuti, sekarang cepat-cepatlah kembali ke kamarmu dan tidur baik-baik, paling baik lagi bila kau dapat melupakan kejadian yang kau alami pada hari ini."

Nona cilik itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, lewat lama kemudian dia baru berkata lembut.

"Setelah keluar dari gang ini, paling baik kalau kau berbelok ke kanan saja."

"Mengapa !"

Nona cilik itu tidak menjawab pertanyaannya, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum.

"Kau benar-benar seorang yang baik, orang baik selamanya tak pernah kesepian."

Fajar telah menyingsing.

Fajar dipermulaan musim panas terasa amat segar, tapi ketika angin berhembus lewat, maka terasa hawa dingin yang mencekam.

Tapi perasaan Kwik Tay-lok terasa hangat dan nyaman.

Sebab dia tahu bahwa dirinya sama sekali tidak merugikan orang lain, tidak merugikan sahabat-sahabat yang baik kepadanya, juga tidak merugikan diri sendiri.

Siapapun itu orangnya, bila ia dapat berbuat demikian pula, maka hal tersebut boleh dibilang tidak gampang.

Dia mendongakkan kepalanya sambil melemaskan pinggang, kemudian menghembuskan napas panjang.

"Hari ini benar-benar hari yang panjang"

Setiap kejadian yang dialaminya hari ini, hampir boleh dibilang semuanya merupakan peristiwa yang sama sekali di luar dugaan.

Si manusia bermuka bopeng yang misterius, si kakek bungkuk yang tiba-tiba lenyap dibalik kegelapan, si hwesio berkaki tunggal yang berilmu tinggi dan mempunyai asal usul yang misterius, serta si nona kecil yang menyenangkan tapi mengenaskan itu.

Kehadiran serta kemunculan orang-orang itu, boleh dibilang semuanya jauh di luar dugaannya.

Diapun telah mengalami banyak mara bahaya, menerima banyak kemangkelan dan rasa mendongkol, namun tak setitik beritapun tentang Yan Jit yang berhasil diperolehnya.

Namun dia sudah mendapatkan suatu hasil yang lumayan.

Sekalipun dia tidak mengharapkan balas jasa dari orang lain terhadap perbuatannya yang telah dilakukannya, namun hatinya terasa begitu hangat dan gembira.

Orang baik selamanya tak akan kesepian, orang yang berbuat kebajikan akan selalu memperoleh rejeki.

"Setelah keluar dari gang ini, lebih baik kau belok ke kanan."

Kwik Tay-lok tidak mengerti kenapa dia diminta untuk berbuat demikian, tapi dia toh belok juga ke sebelah kanan.

Dengan cepat dia menemukan sebuah kejadian yang aneh sekali.

Fajar telah menyingsing.

Kabut pagi baru saja menguap dan menyelimuti sebuah jalanan yang berbatu.

Jalan itu amat sempit.

Kwik Tay-Iok berjalan maju menuju ke lorong itu dan belok ke kanan, dengan cepat ia menemukan sebuah gedung yang terasa amat dikenal olehnya.

Artinya dia pernah berkunjung ke gedung itu.

Tapi dalam kota tersebut hampir boleh dibilang tidak seorang manusiapun yang dikenal, apalagi gedung rumah kediaman yang pernah dikenal olehnya..

Tapi, dengan cepat ia menjadi teringat kembali, rupanya gedung itu tak lain adalah gedung yang diterobosinya ketika sedang mengejar si manusia muka bopeng pagi tadi.

Sekarang, didalam gedung itu sudah tidak nampak cahaya lentera lagi.

Sang suami yang kurus berwajah kuning itu apakah sedang melakukan pekerjaan yang membuatnya menjadi kurus dan berwajah kekuning-kuningan itu?

Sebenarnya Kwik Tay-lok memang berniat untuk melakukan penggeledahan dalam gedung itu bila malam telah tiba dan mencoba untuk memeriksa apakah si bopeng akan muncul di situ.

Tapi sekarang niat tersebut harus diurungkan.

Dia maju lagi ke depan, kemudian berbelok kesana.

Jalanan dalam lorong itu beralaskan batu hijau yang diatur sangat rapi, kelihatannya jauh lebih bersih dan rapi daripada gang-gang yang lainnya.

Sekarang fajar telah menyingsing, ternyata dalam gang tersebut masih ada beberapa buah lampu yang dipasang.

Ketika ia membaca tulisan yang berada diantara dua buah lentera, sepasang matanya segera bersinar terang.

"Liu-hiang-wan."

Ternyata tempat tinggal nona Bwe Lan letaknya juga berada didalam lorong tersebut.

Cuma sayang saat ini bukan saat yang paling tepat untuk mencari kesenangan, mungkin saja lengan nona Bwe Lan yang halus masih menjadi alas kepala orang lain.

Sekalipun Kwik Tay-lok adalah seorang lelaki yang suka bermain perempuan, tentu saja dia enggan merusak suasana kegembiraan orang lain dalam keadaan seperti ini.

Tapi dalam hati kecilnya seakan-akan telah timbul suatu perasaan yang istimewa, seakanakan seorang penyair yang tiba-tiba tertarik oleh sepatah kata dalam syairnya.

Dia berjalan lebih cepat lagi, lalu berbelok pula ke sebelah kanan.

Tempat itu berada di tepi jalan raya, setelah menelusuri jalanan itu sejauh beberapa puluh langkah, dia telah tiba di toko penjual bahan makanan tersebut, juga menyaksikan papan nama Hwee-peng-to yang berada di seberang jalannya.

Di tepi jalan terdapat beberapa buah bangku yang terbuat dari batu, Kwik Tay-lok duduk diatasnya dan termenung.

Seandainya tempat tinggal dari nona kecil itu disebut sebagai deretan pertama.

Kemudian tempat tinggal sepasang suami istri itu dianggap deretan yang kedua.

Deretan rumah dari sarang pelacuran Liu-hiang-wan disebut deretan ke tiga.

Selanjutnya warung penjual bahan makanan itu sudah pasti merupakan deretan ke empat.

Ke empat deret rumah itu sudah pasti semuanya mempunyai hubungan yang erat dengan si manusia bermuka bopeng itu.

Seandainya si manusia yang bermuka bopeng itu tidak menyuruhnya ke kuil Liong-ong bio, mana mungkin bisa berjumpa dengan nona cilik itu?

Peristiwa ini sebetulnya hanya satu kebetulan?

Ataukah memang sengaja diatur demikian?

Kenapa nona cilik itu meminta kepadanya lebih baik belok ke kanan setelah keluar dari gang tersebut?

Mungkin karena dia mengetahui suatu rahasia yang tidak leluasa untuk diutarakan maka dia baru memberi petunjuk kepadanya?

Benarkah ia sengaja bersembunyi di bawah meja, sengaja berbuat sesuatu agar jejak di ketahui oleh Kwik Tay-lok?

Apakah semua ini peristiwa ini merupakan suatu rencana yang sengaja diatur oleh si bopeng...

Dia berbuat kesemuanya itu Sebetulnya karena apa dan apa pula tujuannya?

Kwik Tay-lok segera bangkit berdiri dan sekali lagi berjalan menelusuri semua jalanan yang baru saja dilewatinya.

Ternyata ke empat baris rumah itu tak lebih membentuk suatu posisi segi empat.

Di jalanan kota manapun juga, rumah yang berada pada deretan depan pasti akan saling menempel dan bertolak belakang dengan deretan rumah yang ada di belakangnya.

Tapi kenyataannya sekarang, deretan rumah pertama dengan rumah deretan ketiga sama sekali tidak saling bersinggungan, malahan diantara kedua deret bangunan itu terdapat suatu jarak yang cukup lebar.

Demikian pula keadaannya dengan deretan rumah kedua dengan ke empat, diantaranya terdapat suatu jarak yang amat lebar.

Atau dengan perkataan lain, ditengah-tengah lingkaran rumah yang dikelilingi ke empat deret rumah itu pasti terdapat sebuah tanah kosong yang cukup luas.

Mendadak Kwik Tay-lok merasakan jantungnya berdebar amat keras.

"Ke empat deret rumah itu sengaja dibangun macam ini, apakah dibalik kesemuanya itu tidak terdapat sesuatu alasan yang tertentu ?"

Untuk memperoleh jawaban, hanya ada satu macam cara yang bisa dilakukan.

Kwik Tay-lok segera melejit ke udara dan melayang naik ke atas atap rumah toko penjual bahan makanan itu..

Bagian depan gedung penjual bahan makanan itu merupakan toko, di belakangnya terdapat sebuah halaman.

Di kedua belah sisi halaman merupakan deretan kamar, agaknya tempat tidur pemilik toko itu, sedang dibagian belakang adalah gudang tempat menimbun barang.

Ke belakang lagi sana, sebenarnya tidak seharusnya ada rumah lainnya, sebab menurut keadaan pada umumnya, tempat itu merupakan bagian dari bangunan rumah pendeta lain.

Kini Kwik Tay-lok sudah berada di atas rumah bangunan terakhir dari toko penjual bahan makanan itu, benar juga, dia segera menemukan ditengah+tengah antara ke empat deret bangunan rumah yang berbentuk segi empat itu, betul-betul masih terdapat gedung lain.

Ke empat deret bangunan rumah yang berada di empat penjurunya seakan-akan merupakan dinding pekarangan yang di empat penjuru serta mengelilingi gedung tadi, itulah sebabnya gedung itu tidak mempunyai jalan lewat juga tidak memiliki pintu gerbang.

Dikolong langit, mana ada orang yang membangun rumahnya dalam keadaan seperti ini ?

Bila gedung ditengah tersebut dilewati maka kita akan sampai ditempat tinggal sepasang suami istri itu, yakni bangunan rumah yang berada pada deretan kedua.

Bilamana tidak diperhatikan dengan seksama, siapapun akan mengira kalau rumah tersebut berhubungan langsung dengan rumah lain, sekalipun ada orang yang berjalan malam lewat di sana, merekapun tak akan menemukan keanehan dari rumah ini.

Tapi sekarang, Kwik Tay -lok telah menemukannya.

Jangan-jangan pemilik rumah itu adalah si burik?

Untuk membangun rumahnya ditempat semacam ini, tentu saja banyak tenaga yang di butuhkan dan banyak uang yang dihamburkan, tapi apakah tujuannya ?

Jangan-jangan dia seperti juga si hwesio berkaki tunggal, mempunyai rahasia yang tak boleh diketahui orang lain?

Ataukah karena dia lagi menghindarkan diri dari pengejaran musuhmusuhnya yang tangguh, maka terpaksa ia membangun sebuah rumah yang tersembunyi sekali letaknya.

Gedung itu memang terletak paling tersembunyi, belum pernah ia jumpai bangunan yang tersembunyi seperti ini, akan tetapi...

mengapa pula mereka biarkan Kwik Tay-lok menemukan rahasia ini tanpa sengaja?

Kalau ia tidak membocorkan sendiri jejaknya, sudah pasti Kwik Tay-lok tak akan menemukan tempat ini.

Berpikir pulang pergi, Kwik Tay-lok merasa makin dipikir persoalan ini bukan saja semakin aneh dan penuh kemisteriusan, lagi pula ruwet sekali...

Hanya ada satu cara saja untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Yakni melompat turun ke bawah.

Diantara gudang bahan makanan dan gudang tersebut dipisahkan oleh sebuah dinding pekarangan yang tinggi, dibalik pekarangan terdapat sebuah kebun bunga yang sempit dan memanjang.

Sekarang bunga-bunga mekar, akan tetapi di fajar itu menyiarkan bau harum yang semerbak.

Setelah melewati kebun sempit yang memanjang, sampailah dia di sebuah serambi yang panjang, cahaya sang surya di fajar itu menyoroti lantai rumah yang bersih tanpa debu.

Suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

Bahkan angin pun tak dapat berhembus sampai ke situ.

Semua kemurungan, budi dendam, kegembiraan, kesedihan, kemarahan dalam alam dunia seakan-akan sama sekali terpisah dari tempat itu.

Hanya manusia yang berperasaan tenang bagaikan air saja yang dapat berdiam di sini, baru pantas untuk mendiami tempat ini.

Manusia burik itu bukan manusia semacam itu, jangan-jangan Kwik Tay-lok salah melihat?

Salah berpikir?

Hampir saja dia tak tahan untuk mundur kembali dari sana.

Tapi pada saat itulah, dia menyaksikan seseorang berjalan keluar dari ujung serambi itu.

Dia adalah seorang gadis yang cantik jelita, mengenakan baju berwarna putih, tidak memakai bedak, kakinya hanya berkaos putih tanpa sepatu, seakan-akan kuatir kalau langkah kakinya akan mengganggu keheningan ditempat itu.

Dia membawa sebuah bokor porselen dan berjalan menelusuri serambi panjang itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Seandainya ia tidak-berpaling secara tiba-tiba dan mengerling sekejap ke arah Kwik Tay lok, hampir saja Kwik Tay-lok tidak mengenalinya kembali.

Ternyata gadis yang halus, berdandan sederhana dan lemah lembut ini tak lain adalah nona Bwee Lan yang dijumpainya dengan dandanan seperti siluman beberapa waktu berselang.

Dia hanya berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, walaupun dengan jelas menjumpai kehadiran Kwik Tay-lok di sana, tapi seakan-akan pula tidak melihatnya, kembali kepalanya tertunduk, pula dengan tenangnya melanjutkan perjalanan ke depan.

Hampir saja Kwik Tay-lok berteriak hendak memanggilnya.

Tapi untung saja hal ini segera diurungkan, sebab ia tak berani berteriak-teriak di tempat ini, kuatir kalau sampai mengganggu ketenangan di sana.

Dia hanya berdiri tertegun di situ sambil mengawasi tak berkedip.

Bwee Lan telah mendorong sebuah pintu dan berjalan masuk, ia tidak berbicara ataupun menimbulkan suara apa-apa.

Gedung itu masih tetap sepi, tidak kedengaran suara, tiada pula sesuatu gerakan apa-apa.

Tempat ini sudah jelas merupakan tempat terlarang yang tidak memperkenankan orang lain untuk memasukinya, dengan jelas Kwik Tay-lok berdiri tegak di sana, tapi justru tak ada orang yang memperdulikannya, seakan-akan di tempat ia sedang berdiri itu tiada kehadiran dirinya, atau seakan-akan dirinya bukan dianggap sebagai manusia.

Sesungguhnya siapakah yang berdiam dalam gedung itu ?

Apa pula maksud dan tujuan mereka terhadap dirinya?

Kwik Tay-lok termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya, mendadak ia maju ke depan lalu menelusuri serambi tersebut dengan langkah lebar.

Perduli manusia kek, setan kek yang menghuni dalam gedung itu, pokoknya dia harus memeriksanya sendiri.

Tapi baru selangkah dia maju, cepat-cepat kakinya ditarik kembali.

Ia telah melihat lumpur di atas kakinya.

Permukaan lantai pada serambi ruangan itu bersih dan berkilat seperti cermin, bila harus diinjak dengan kaki berlumpur seperti itu bukan saja ia merasa tak tega, bahkan merasa agak rikuh.

Cepat-cepat sepatunya yang penuh lumpur itu dilepas, kaos kakinya masih bersih, meski agak bau, ia tidak memperdulikan persoalan-persoalan semacam itu.

Maka diapun melanjutkan perjalanan ke depan, mendorong pintu ruangan tersebut.

Ternyata ruangan itu kosong melompong apapun tak ada di sana, tiada pembaringan, tiada meja kursi, tiada perabotan yang lain, juga tak ada debu barang sedikitpun.

Di atas tanah tampak rumput kering yang amat tebal, di atas rumput kering itu diberi sebuah seprai berwarna putih, seorang sedang berbaring di sana.

Ruang itu penuh dengan bau obat, rupanya orang itu sudah mendapat penyakit yang parah..

Kwik Tay-lok sama sekali tidak melihat paras mukanya, sebab nampak seorang gadis berbaju putih yang berambut panjang sedang berlutut di sisinya dan pelan-pelan menyeduh obat ditangan Bwee Lan dan menyuapi orang itu.

Kwik Tay-lok juga tak berhasil melihat wajah gadis itu, sebab dia berada dalam posisi membelakanginya.

Hanya Bwee Lan yang sedang berdiri menghadap ke arahnya, bahkan walaupun dengan jelas ia menyaksikan pemuda itu mendorong pintu dan berjalan masuk, tapi mimik wajahnya justru tidak menampilkan perubahan apa-apa, seolah-olah dia tidak menganggap dirinya sebagai manusia hidup.

Kwik Tay-lok merasakan jantungnya berdebar keras, kalau boleh dia ingin menyerbu ke dalam, menarik rambutnya dan bertanya kepadanya apakah matanya berada di atas kepala?

Tapi suasana dalam gedung itu benar-benar teramat hening, sedemikian heningnya seperti berada di kuil yang suci saja membuat orang tak berani sembarangan bertingkah di sana.

Hampir saja Kwik Tay-lok tidak tahan untuk mengundurkan diri kembali dari sana.

Orang yang hendak dicarinya tidak berada di sana apalagi suasana semacam itu paling mendatangkan perasaan tak enak baginya.

Siapa tahu, pada saat itulah si nona berbaju putih yang berambut panjang itu telah berseru dengan suara dalam.

"Cepat masuk, tutup pintu rapat-rapat, jangan biarkan angin berhembus ke dalam."

Kalau didengar dari nada ucapan tersebut seakan-akan ia sudah tahu akan kehadiran Kwik Tay-lok sebagai keluarganya sendiri, dia pun seakan-akan telah menganggap Kwik Tay-lok sebagai keluarganya sendiri.

Hampir saja Kwik Tay-lok merasakan jantungnya berhenti berdetak..

Bagaimana tidak?

Sudah jelas suara itu adalah suara dari Yan Jit.

Tak ada orang yang bisa membayangkan betapa besarnya keinginan pemuda itu untuk memandang wajahnya.

Mungkinkah gadis berbaju putih berambut panjang yang berada di hadapannya sekarang adalah Yan Jit?

Pintu telah ditutup rapat-rapat.

Tapi Kwik Tay-lok masih berdiri mematung di sana, matanya terbelalak lebar-lebar, ia sedang mengawasi gadis berbaju putih itu tanpa berkedip.

Apa yang bisa dilihat olehnya hanya bayangan punggungnya.

Bayangan punggungnya langsing dan kurus, rambutnya hitam pekat dan terurai di sepanjang bahunya.

Kwik Tay-lok menggenggam tangannya kencang-kencang, mulutnya terasa mengering, jantungnya melompat-lompat seperti akan melompat keluar dari rongga dadanya.

Dia ingin sekali menerjang ke depan, menarik bahunya agar dia memalingkan kepalanya.

Namun ia tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa berdiri mematung di situ.

Sebab dia tak berani, tak berani mengganggu ketenangan tempat itu, tak berani menodai kesucian tempat tersebut, lebih-lebih lagi tak berani mengusik dia.

Akhirnya si sakit itu telah menghabiskan obat dalam mangkuk dan berbaring kembali.

Sekarang Kwik Tay-lok sudah dapat menyaksikan rambutnya yang telah memutih itu, namun belum sempat menyaksikan raut wajahnya.

Dia masih berlutut di sisinya, pelan-pelan meletakkan mangkuk ke tanah, menarikkan selimut dan menutupi badannya, jelas terlihat betapa kasih sayang dan hormatnya gadis tersebut terhadap si sakit.

Seandainya Kwik Tay-lok tidak melihat kalau rambutnya telah memutih semua, sudah pasti dia akan merasa cemburu sekali.

Siapakah kakek itu ?

Mengapa gadis itu begitu sayang dan penuh perhatian kepadanya?

Terdengar kakek itu terbatuk-batuk, setelah itu tiba-tiba bertanya.

"Apakah dia telah datang ?"

Gadis berbaju putih itu manggut-manggut.

"Suruh dia kemari"

Kata kakek itu lagi.

Walaupun suaranya parau dan lemah akan tetapi membawa kewibawaan yang besar sekali, membuat orang terasa tak berani membantahnya.

Pelan-pelan akhirnya gadis berbaju putih itu berpaling juga.

Akhirnya Kwik Tay-lok dapat melihat raut wajahnya.

Pada detik itu juga, dia merasa semua benda yang berada didalam jagad ini seakan-akan telah terhenti dan musnah.

Pada detik itu juga, dia merasa di alam semesta yang lebar ini seolah-olah hanya terdapat mereka berdua, dua pasang mata.

"Yan Jit.... Yan Jit...."

Kwik Tay-lok berpekik dalam hatinya, sementara air matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

Teriakan itu tanpa suara, tapi gadis itu seakan-akan dapat mendengarnya dan hanya dia pula yang dapat mendengarnya.

Butiran air mata telah membasahi pula sepasang mata dara itu.

Setelah melalui suatu penderitaan yang berat, akhirnya ia berhasil menemukan kembali gadis itu.

Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin air matanya tidak bercucuran ?

Darimana kau bisa tahu air mata kesedihan?

Ataukah air mata kegembiraan ?

Tapi akhirnya dia menahan lelehan air matanya.

Kecuali gadis itu, dia tak ingin orang lain turut menyaksikan air matanya bercucuran.

Tapi ia tak tahan untuk tidak melihat wajahnya lagi.

Wajah gadis itu sudah bukan wajah yang tiga bagian membawa kelincahan, serta tiga bagian membawa kebinalan lagi.

Raut wajahnya sekarang hanya tinggal pancaran rasa cinta yang sejati.

Wajahnya sekarang sudah bukan wajah yang meski kotor namun gagah, segar dan penuh dengan kegembiraan lagi.

Baca Juga: Gelang Perasa 3

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert