Eps 5 Sukma Pedang - Gu Long
Baca online Sukma Pedang - Gu Long
Cersil Sukma Pedang - Gu Long.
Api kemarahan terasa membara di dada-nya.
Pedangnya dikeluarkan dari sarung, Orang dan pedang bersatu, Luncuran pedangnya mengarah ke leher orang tersebut....
Mo Put Chi adalah murid tertua Fang Tiong Seng, ilmunya paling tinggi selama ini.
Oleh sebab itu, dia sangat yakin terhadap dirinya sendiri, Namun ketika serangannya sudah dekat sekali, entah dengan gerakan apa orang itu dapat mundur dua langkah dan luput dari serangan.
Tampaknya seperti hanya salah pengertian Orang itu tetap berdiri di tengah jalan tanpa bergerak, Rasa tak kenal kalahnya tetap membara.
Namun perasaan yakin terhadap ilmunya sendiri lenyap entah kemana.
Sekali lagi menyerang ke depan, ternyata orang itu membalas.
Pedang yang digunakan oleh orang itu aneh sekali, Bentuknya tidak terlalu panjang juga tidak terlalu pendek, Kalau dibandingkan dengan pedang biasa, rasanya terlalu pendek, Tapi kalau dibandingkan dengan pisau pendek, rasanya justru terlalu panjang, Gerakan dan serangan pedang pendek itu juga aneh sekali, Belum sampai lima jurus, pedang Mo Put Chi telah terhempas ke tanah.
Pada saat itu, keyakinan diri Mo Put Chi entah terbang ke mana.
Dia merasa putus asa dan sedih, Kemasyhuran nama perguruannya telah tercoreng di tangannya.
Namun dia tidak akan bunuh diri karena persoalan ini.
Dia ingin mengambil pedangnya yang terlempar dan bertarung kembali, Pedang di tangan manusia bertopeng ini berkelebat mengarah tenggorokkannya.
Mo Put Chi menghindarkan diri dengan susah payah.
Tiba-tiba gerakan orang itu merandek sejenak Dengan cepat, dia menggunakan kesempatan untuk meloncat mundur.
Ternyata ada orang lain yang menyerang manusia bertopeng ini dari belakang, Dapat dikatakan bahwa nyawa Mo Put Chi juga diselamatkan oleh orang tersebut.
Bila tidak, tenggorokkannya pasti sudah tertembus.
Orang yang datang itu keluar dari sebelah kiri taman rumah penduduk.
Ternyata dia adalah Sun Put Ce.
Meskipun adik seperguruannya datang tepat pada waktunya, Mo Put Chi tidak merasa perlu berterima kasih kepadanya, Dia masih mendongkol oleh ucapan Fang Tiong Seng yang memintanya banyak belajar dari Sun Put Ce.
Susah mengungkapkan perasaan hatinya saat itu.
Dia tidak bisa melaksanakan hal yang dalam mimpi pun tidak pernah terbayangkan olehnya, Belajar dari Sun Put Ce.
Manusia bertopeng itu membalikkan tubuh dan menyerang Sun Put Ce.
serangannya selain cepat juga keji, Namun Sun Put Ce mengelak serangan itu dengan gaya jauh lebih mudah dari abang seperguruannya.
Mo Put Chi makin tidak senang, dia juga ikut menusuk sekali, Manusia bertopeng itu menggeser ke samping untuk menghindarkan diri, penampilannya terlihat lebih kelabakan dari sebelumnya Apakah disebabkan oleh kedatangan Sun Put Ce yang membuyarkan konsentrasinya...?
Setelah melihat kejadian ini, hati Mo Put Chi masih kurang senang juga.
Bahkan semakin kecut dan tertekan.
Namun Sun Put Ce tampaknya tidak tahu perasaannya, Dia tetap menyongsong setiap bahaya serangan manusia bertopeng tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri.
Yang penting baginya hanyalah keselamatan Mo Put Chi.
Dia tidak sadar bahwa perbuatannya itulah yang membuat abang seperguruannya semakin kesal, Dalam anggapannya, Sun Put Ce hanya bermaksud mengambil hati.
Kadang-kadang manusia memang aneh, Mem-benci seseorang tapi tanpa ada alasan tertentu Mungkin juga sekedar rasa iri dan merasa dibedakan oleh sang suhu, Atau mungkin karena perhatian musuhnya sekarang lebih tertarik pada Sun Put Ce?
Sebetulnya Sun Put Ce juga merasa agak gentar, kalau bukan beberapa jurusnya yang aneh dapat menahan serangan manusia bertopeng, mungkin dia hanya bisa menerima lima enam jurus saja.
ilmunya yang baru membuat rasa percaya dirinya tumbuh.
Dia semakin gencar melawan musuh itu, Ternyata Mo Put Chi tidak mau ketinggalan Meskipun dalam hati dia membenci Sun Put Ce, namun dia tetap tidak dapat membiarkan sam sutenya melawan manusia bertopeng itu seorang diri.
Tampaknya sasaran manusia bertopeng itu beralih pada Sun Put Ce.
Dia menyerang murid bungsu Fang Tiong Seng terlebih dahulu, kemudian baru menyerang kembali ke arah Mo Put Chi.
Tidak banyak bicara tentu berbeda dengan menganggap rendah, Mo Put Chi mengira diamnya Sun Put Ce berarti merendahkan derajatnya, Tiba-tiba dia menghentikan serangannya.
Musuhnya tentu saja kesenangan Nanti masih ada waktu untuk mengurus yang satunya, Dia berturut-turut menyerang sebanyak tujuh kali, Tujuh buah serangan itu belum pernah dilihat Mo Put Chi seumur hidupnya, Dia merandek sejenak, Hatinya cepat mengambil keputusan, jiwa Sun Put Ce sedang terancam.
Secepat kilat dia memburu ke dalam pertarungan yang sedang berlangsung sengit, Dia membantu Sun Put Ce menghindarkan diri dari serangan yang ganas itu.
Namun baru saja tubuhnya bergerak, serangan ke delapan dari manusia bertopeng itu telah menghunjam bahu Sun Put Ce.
Mo Put Chi merasa sedikit menyesal, Bagaimana pun orang itu adalah adik seperguruannya, Dia meraung dengan suara keras, Pedang di tangannya menghunjam ke depan Serangan ini bukan main lihainya, Tidak disangka, lawannya tidak merasa kerepotan Dengan mudah dia berhasil memutar badannya dan membalas dengan sebuah tusukan pula.
Nasib Mo Put Chi tidak sebaik manusia bertopeng itu.
Uhhh!
Terdengar keluhan dari mulutnya, begitu terasa ada hawa dingin di bagian bawah tubuhnya, dia cepat melirik sekilas, Paha kanannya telah berlubang, Darah segar mengucur dengan deras.
Sun Put Ce panik sekali.
Dia mempertahankan rasa sakit di bahunya, Dengan sekali loncat, dia mendorong Mo Put Chi.
"Suheng! Cepat lari! Biar siaute yang menghadapinya!"
Teriaknya.
Rasa benci dalam hati Mo Put Chi langsung tersapu oleh kata-kata Sun Put Ce itu.
Dia baru sadar bahwa adik seperguruannya benarbenar menyayanginya.
Bukan hanya sekedar mengambil hati saja.
Sun Put Ce bagaikan berubah menjadi Toa suhengnya.
Paha kanannya terus mengalirkan darah.
Bagaimana dia dapat bertarung lagi?
"Suheng!
Cepat pulang dan mencari bala bantuan!
Siaute masih mengimbangi untuk sesaat!"
Teriak Sun Put Ce dengan tangan terus menyerang, Terlihat sekali dia mulai kewalahan. Mo Put Chi menggertakkan gigi. Dia menyerang lagi dengan kaki terpincang-pincang.
"Apakah aku cuma bisa memanggil bala bantuan?"
Bentaknya keras-keras.
Manusia bertopeng itu mempunyai keyakinan bahwa dia dapat membunuh kedua orang itu dalam lima atau paling banyak tujuh jurus.
Namun perhatiannya malah terpusat kepada Sun Put Ce.
Serangan yang dilancarkan semuanya mematikan.
Sudah jelas dia ingin membunuh yang muda dulu baru yang besar.
Sampai musuh pun memandang hina kepadanya, Mo Put Chi tidak dapat menahan diri lagi, Dia menyerang dan mengelak dengan air mata bercucuran, Keadaan mereka sudah sangat terdesak, Tiba-tiba sebuah suara tepukan tangan berkumandang dari ujung jalan.
"Yang tua menghina yang muda, Terhitung manusia macam apa? Coba kuperhatikan baik-baik. Tentu aku bisa mengenali dirimu!"
Kata orang itu.
Yang berbicara ternyata Bwe Mei, Kiau Bu Suang tidak berhasil menyandak dirinya.
Dia tidak tinggal di penginapan kecil itu lagi.
Dia pindah ke rumah seorang penduduk, namun dia belum memberitahukan Sun Put Ce.
Tidak tahunya kata-kata Bwe Mei membawa akibat lain, Bukan berhenti, tapi malah manusia bertopeng itu bahkan menyerang tiga kali lebih hebat Serangan pertama mengenai paha kanan Mo Put Chi, Di pahanya sudah terlihat dua buah lubang luka yang cukup dalam.
Serangan kedua juga mengenai Mo Put Chi, tapi di bagian punggungnya, Dan serangan ketiga mengenai bagian bawah ketiak Sun Put Ce.
setelah itu, secepat kilat dia menghilang dari arena tersebut.
Mata Sun Put Ce jelalatan, Bwe Mei yang tadi tertepuk tangan dan berbicara di ujung jalan juga sudah tidak terlihat lagi.
"Bwe kouwnio... Bwe kouwnio!"
Teriak Sun Put Ce. Tidak ada jawaban, Mungkin Bwe Mei sudah pergi jauh. Dia mengalihkan pandangan ke arah Mo Put Chi, Abang seperguruannya itu telah mendeprok di tanah.
"Suheng! Apakah kau tidak apa-apa?"
Tanyanya khawatir.
"Omong kosong! Kau tidak lihat keadaanku?"
Bentak Mo Put Chi.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Kau mengenal nona tadi?"
Tanya Mo Put Chi denga nada dingin.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
Tidak senang apa gunanya?
Toh di dunia ini ternyata ada seorang gadis yang begitu cantik memperhatikannya, malah mengusir musuh mereka!
"Dia hanya mengucapkan beberapa patah kata, musuh tangguh itu lalu pergi.
Apa sebenarnya yang terjadi?"
Tanya Mo Put Chi dengan nada yang sama.
"Tidak tahu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Usia manusia bertopeng itu tidak terlalu tinggi. Mungkin sekitar tiga puluhan, Di Tionggoan ternyata ada jago yang begitu lihai?"
Mo Put Chi seperti berkata kepada dirinya sendiri.
"Dia adalah seorang perempuan!"
Sahut Sun Put Ce.
"Perempuan? Tampaknya dalam hal ini, kau juga lebih berpengalaman dari pada aku!"
Kata Mo Put Chi dengan suara keras.
"Tidak mungkin!"
Sahut Sun Put Ce dengan wajah tertunduk.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia adalah seorang perempuan?"
Tanya Mo Put Chi penasaran.
"Pertama, ketika jarak kita agak dekat dengannya, Tubuhnya memancarkan harum pupur, Kedua, tenggorokkannya tidak menonjol,"
Sahut Sun Put Ce tenang. Mo Put Chi terpana, Sejenak kemudian dia menarik nafas.
"Sute.... Tampaknya segala macam apa pun aku tetap tidak bisa menandingimu"
Katanya.
"Suheng! Kau telah kehilangan darah banyak. Biar Siaute memapahmu kembali ke rumah,"
Sahut Sun Put Ce mengalihkan persoalan.
Membiarkan Sun Put Ce memapahnya pulang, sama dengan mengakui keunggulan adik seperguruanya itu.
Padahal dia sendiri juga banyak kehilangan darah, Sun Put Ce memaksakan diri memapah Mo Put Chi.
Dia berjalan dengan langkah cepat, Berbeda dengan kebiasaannya.
Dia menahan rasa sakit dari luka yang cukup dalam, Begitu sampai di depan pekarangan keluarga Fang, Sun Put Ce jatuh tidak sadarkan diri.
Mo Put Chi merasa menyesal Kalau mengingat perkataan "di dunia ini segala macam manusia ada, herannya yang macam dirimu juga ada", dia jadi merasa malu.
Namun mereka sadar bahwa apa yang terjadi di balik semua ini merupakan sebuah penderitaan yang masih panjang....
-ooo0ooo-Sinar mata Fang Tiong Seng tajam menusuk semuanya sudah ada dalam dugaan Mo Put Chi.
Pandangan suhunya terhadap Sun Put Ce lebih tinggi, tapi dia tidak begitu kesal lagi, pandangannya sendiri juga sudah banyak berubah.
Perasaan terima kasihnya telah berubah menjadi rasa kagum dan hormat.
Bahkan perasaan yang tadinya hanya ditujukan kepada Fang Tiong Seng malah berkurang.
Idola dalam hati sebetulnya susah diubah, kecuali ada kejadian yang luar biasa, sesuatu yang tulus dan ikhlas dapat menjadi idola yang konkrit.
Sebetulnya bukan Mo Put Chi saja yang merasa kekagumannya kepada Fang Tiong Seng berkurang, Dalam hati Sun Put Ce juga mulai terbit perasaan itu.
Mereka belum tahu apa sebenarnya yang terjadi Namun jauh dalam lubuk hati mereka, dapat merasakan perubahan sikap Fang Tiong Seng akhir-akhir ini.
Hati Sun Put Ce jauh lebih tertekan daripada Mo Put Chi.
Mungkin karena otaknya lebih cerdas, Dia dapat menangkap suatu kejadian dari segi yang berlainan.
Kedua orang itu diberikan satu kamar bersama untuk merawat luka.
Dulu...
tapi hal ini tidak mungkin terjadi lagi, bila Mo Put Chi sekamar dengan Sun Put Ce, Hut Pu Chi pasti akan menertawakannya, sekarang Hut Put Chi sudah tiada.
Mo Put Chi memandang lampu penerangan dengan termangu-mangu.
Sun Put Ce memandangnya dengan terpesona, Ketika abang seperguruan itu menolehkan kepalanya, dia mendapatkan sinar mata Mo Put Chi yang terarah kepadanya.
"Sute... kau sedang memperhatikan aku?"
Tanyanya.
"Oh! Ti... tidak!"
Sahut Sun Put Ce gugup.
"Kau berbohong!"
Kata Mo Put Chi.
"Suheng... aku tidak berbohong, Aku hanya sedang berpikir,"
Sahut Sun Put Ce.
"Apa yang kau pikirkan?"
Tanya Mo Put Chi.
"Mengingat sebuah peristiwa yang malang"
Sahut Sun Put Ce dengan wajah tertunduk.
"Peristiwa malang apa?"
Tanya Mo Put Chi tidak mengerti "Suheng.... Harap maafkan Siaute, karena aku tidak dapat mengatakannya,"
Sahut Sun Put Ce pilu.
"Mengapa kau tidak dapat memberitahukan kepadaku?"
Tanya Mo Put Chi kurang puas.
"Aku benar-benar tidak dapat mengatakannya,"
Sahut Sun Put Ce.
"Omong kosong!"
Bentak Mo Put Chi.
Biar pun hanya omong kosong, Sun Put Ce tetap tidak dapat mengatakannya.
Karena dia tahu, Toa suhengnya jauh lebih kolot pikirannya, Dia sadar sudah merubah pendirian seseorang, Mo Put Chi mendengus satu kali, sikapnya itu tidak mengherankan Sun Put Ce lagi.
"Kenapa? Apakah kau menganggap dirimu benar-benar murid suhu yang paling cerdas?"
Tanya Mo Put Chi.
"Mengapa Suheng bisa mempunyai pikiran seperti itu?"
Sun Put Ce menarik nafas.
"Bukankah suhu mengatakan bahwa dirimu lebih baik daripada aku?"
Suara Mo Put Chi makin tidak sedap didengar.
"Suhu mengatakan itu hanya agar dirimu makin bersemangat untuk belajar,"
Sahut Sun Put Ce lirih.
"Belajar darimu bukan?"
Sindir Mo Put Chi kembali "Betul!"
Sahut Sun Put Ce terpaksa.
"Apakah kau merasa dirimu bisa menjadi guruku?"
Tanya Mo Put Chi sinis.
"Suheng.... Untuk kata "sabar"
Kau benar-benar harus banyak belajar,"
Sahut Sun Put Ce. Mo Put Chi tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi. -ooo0ooo-Dia bukan orang yang tidak mempunyai otak, Bila tidak, tadi dia pasti mengamuk. Untuk kata "sabar"
Memang dia akui dirinya bukan tandingan Sun Put Ce.
Sebelumnya dia memang tidak mengira Sun Put Ce sedang bersabar.
Dia menganggap sutenya tidak mempunyai kemampuan Otak udang!
Sekarang dia baru mengerti Bahkan mengerti dengan jelas.
itulah semacam ilmu yang hebat.
ilmu "sabar"
Mo Put Chi menarik nafas.
"Sute... dalam hal ini aku benar-benar bukan tandinganmu,"
Katanya.
"Suheng.... Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna."
Sahut Sun Put Ce.
"Tidak salah! Namun bila kita bisa mencapai taraf hampir sempurna, sudah boleh dibilang hebat. itulah dirimu!"
Kata Mo Put Chi sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Suheng... kau masih belum mengerti diriku,"
Sahut Sun Put Ce.
"Saat ini aku mengerti dirimu jauh dari sebelumnya,"
Kata Mo Put Chi yakin.
"Aku?"
Tanya Sun Put Ce heran.
"Betul! Kau sebetulnya mempunyai banyak kelebihan,"
Kata Mo Put Chi.
"Suheng... kata-katamu membuat siaute malu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Kalau kau tidak malu maka kau bukan Sun Put Ce. Sampai suhu pun memuji-muji dirimu,"
Kata Mo Put Chi tersenyum.
"Apa kelebihanku?"
Tanya Sun Put Ce tersipu.
"Pokoknya banyak, sampai kaum perempuan pun menyukai dirimu,"
Kata Mo Put Chi.
Sun Put Ce terpana.
Dia merasa mendengar nada yang bersemangat ketika suhengnya mengatakan soal perempuan.
Kalau hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu, dia tentu tidak bisa mengerti perasaan yang ditampilkan Mo Put Chi saat ini.
Sejak berdekatan dengan Chow Ai Giok dan Bwe Mei, perasaannya terhadap perempuan sudah lebih jelas, Dia sudah dapat mengerti jiwa seorang perempuan, Meskipun dia belum mengetahui bagaimana laki-laki dan perempuan melakukan hubungan yang mendalam.
Namun daya tarik yang ditimbulkan oleh seorang perempuan kurang lebih dia tahu sedikit Setidaknya sekarang dia mengerti, mengapa bila kaum laki-laki berbicara soal perempuan, suaranya pasti lebih bersemangat perasaannya lebih peka, dan tangannya juga akan gemetar!
"Suheng...
sebetulnya itu tidak terhitung apa-apa,"
Kata Sun Put Ce.
"Tidak,., tidak! ini juga boleh dibilang sebuah ilmu pengetahuan,"
Sahut Mo Put Chi.
"Suheng... bila kau menyukai seorang perempuan, kau akan berani mendekatkan diri,"
Kata Sun Put Ce menjelaskan.
"Mendekatkan diri? Bagaimana caranya?"
Tanya Mo Put Chi yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali.
"Sering-sering mengajak berbincang dan bertemu,"
Kata Sun Put Ce sok tahu. sebetulnya dia sendiri tidak tahu apakah perkataannya itu benar? Dia hanya ingin banyak mengobrol dengan suhengnya saja.
"Apa yang harus kita bicarakan?"
Tanya Mo Put Chi mulai tertarik. Tiba-tiba sebuah suara menyahut dari luar.
"Perempuan bagaikan api setan dalam neraka. Bila kau mendekatinya, maka dia tidak akan melepaskan dirimu. Kecuali sampai dirimu hangus terbakar!"
Ternyata yang berbicara adalah pelayan tua Fang Yen.
Katakatanya ada benarnya juga.
Namun toa suheng tidak mungkin mengerti.
Malam sudah larut.
Angin kencang terus menghembus, Hujan turun deras, Chow Sek Ki dan cucunya, Chow Ai Giok sedang berbincang-bincang.
"Yaya.... siapakah sebenarnya yang membunuh Bok lang kun dan Hong Be?"
Terdengar suara Chow Ai Giok bertanya.
"Mestinya bukan Toa Tek To Hun,"
Sahut Chow Sek Ki setelah merenung sejenak.
"Siapa yang bisa membunuh Hong Be?"
Tanya Chow Ai Giok kembali.
"Banyak orang yang memiliki kemungkinan itu,"
Sahut sang kakek.
"Bukan Toa Tek To Hun?"
Tanya Chow Ai Giok kurang puas. Chow Sek Ki menggelengkan kepalanya.
"Yaya... apa yang kita tunggu di sini?"
Tanya Chow Ai Giok kembali.
"Aku ingin mencari orang yang menyamar sebagai Toa Tek To Hun!"
Kata kakek itu tegas dan optimis.
"Apa yang akan Yaya lakukan kalau sudah ketemu dengannya?"
Tanya sang cucu itu penasaran.
Chow Sek Ki tidak menjawab, Dia terlihat merenung sambil memandang keluar jendela, Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat Di dalam ruangan itu sudah bertambah satu orang.
Kakek Chow Ai Giok tampak terkejut.
"Rupanya kau...!"
Sinar pedang berpijar, Secepat kilat sudah kembali ke sarungnya, Sekali serangan hasilnya sudah terlihat.
Chow Sek Ki tidak mau kalah set.
Dia juga sudah menghunus pedangnya.
Elang salju bukan orang biasa, Dia adalah susiok dari Bok lang kun.
"Srettt!!!"
Sekali lagi pedang orang itu dikeluarkan.
Serangan pertamanya yang dikira berhasil ternyata gagal.
Dia hanya sempat melukai dada Chow Sek Ki.
Serangan keduanya lebih dahysat daripada yang pertama.
Kembali dada Elang salju tertusuk, Serangan ketiga laksana kilat Chow Sek Ki tidak sempat menghindari lagi.
Dia berdiri mematung, Rasa dingin menyelinap di jan-tung, Tubuh Chow Sek Ki limbung.
"Bukk!!!"
Tanpa sempat ditahan oleh cucunya, dia rubuh di tanah. Nafasnya putus seketika! "Tang!!!"
Pedangnya terlepas dari tangan.
Di keningnya terlihat jalur luka memanjang, darah segar berhamburan ke seluruh tubuhnya.
Chow Ai Giok bagaikan bermimpi buruk, Tiga kali serangan, jumlahnya tidak mencapai satu setengah jurus, Bahkan kematian Bok lang kun membutuhkan jurus lebih banyak.
Di dunia Bulim saat ini, siapa yang sanggup membunuh si Elang salju hanya dengan menggunakan satu setengah jurus?
Kecuali Toa Tek To Hun siapa lagi?
Manusia bertopeng tadi pasti Toa Tek To Hun.
Chow Ai Giok menyesal tadi tidak sempat turun tangan membantu kakeknya menghadapi lawan, sebetulnya dia bukannya takut, hanya kemunculan manusia bertopeng, berambut panjang dan berpakaian hitam itu terlalu tiba-tiba.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang itu adalah Toa Tek To Hun.
Lagipula, dia tidak perlu terlalu khawatir, karena kakeknya adalah Elang salju yang ilmunya tinggi.
justru karena pikiran itulah, dia sekarang menyesal seumur hidup.
Dan saat ini, pembunuh itu telah melarikan diri Pasti Toa Tek To Hun!
Pasti dia!
Orang lain tentu tidak sanggup membunuh kakeknya.
Chow Ai Giok berlutut di samping jenazah kakeknya terpaku.
Bagaimana kalau orang itu bukan Toa Tek To Hun?
Bukankah akhirakhir ini telah terjadi serentetan pembunuhan?
Dan semua itu bukan hasil karya Toa Tek To Hun.
Bila benar kejadiannya seperti itu, berarti masa pembunuhan Toa Tek To Hun sudah berlalu.
Lantas siapa orang yang satu ini?
sayangnya dia tadi duduk membelakangi orang berpakaian hitam itu, sehingga dia tidak dapat melihat jelas bentuk tubuhnya dan sinar matanya, namun kalau saja dia melihat dengan jelas, apakah orang itu akan membiarkannya hidup sampai sekarang?
Elang salju mati dalam satu setengah jurus, Bagaimana kalau berita ini tersebar di luaran?
Reaksi apa yang akan timbul?
Biarpun orang itu adalah Toa Tek To Hun, Chow Ai Giok tetap mengharapkan kakeknya bisa bertahan sebanyak tiga puluh jurus.
Tapi apa bedanya kalau kakeknya tetap mati.
Mulai sekarang dia akan hidup seorang diri.
Dihapusnya airmata yang membasahi pipi, Tinjunya dikepalkan.
"Aku harus membalaskan dendam Yaya!"
Sumpahnya, Dia menatap langit, Dia berdoa dalam hati. Tangisnya semakin pilu, Dia meraung dengan suara keras.
"Toa Tek To Hun! Dengan cara apa pun aku harus membasmi dirimu!"
Tiba-tiba, sebuah suara yang dingin terdengar bertanya kepadanya.
"Apakah Toa Tek To Hun ada di sini tadi?"
Chow Ai Giok membalikkan tubuh, Lagi-lagi seorang laki-laki berambut panjang.
Berpakaian hitam dan mengenakan topeng.
Orang itu berdiri kira-kira tiga depa di be-lakangnya, Kalau manusia berpakaian hitam ini bermaksud buruk, tentunya Chow Ai Giok telah tergeletak tanpa nyawa.
Tadinya gadis itu marah sekali, Dia mengira pembunuh kakeknya datang kembali, setelah diperhatikan dengan seksama, dia yakin yang ini bukan manusia bertopeng tadi.
Tubuhnya tinggi besar, punggungnya lurus, dari tangan yang tersembul dan bagian leher, Chow Ai Giok mengira-ngira.
Usia orang ini tidak mungkin lebih dari empat-puluh.
sedangkan pembunuh tadi, punggungnya agak bungkuk, tubuhnya kurus.
Dia mengingat-ngingat kejadian sebelumnya.
Rasanya tangan pembunuh tadi sempat terlihat olehnya.
Tangan yang kasar dan berkeriput Hal ini membuktikan bahwa orang tadi usianya jauh lebih tua dari yang satu ini.
Manusia bertopeng yang ada di hadapannya sekarang, Chow Ai Giok pernah bertemu satu kali, Yaitu pada waktu dia bertarung sengit dengan Bwe Mei.
Orang ini muncul dan membuat gadis itu melarikan diri, Chow Ai Giok percaya, orang yang satu ini masih kalah lihai dengan yang tadi.
Dia yakin, biar pun orang ini berilmu tinggi, namun dalam sepuluh jurus saja belum tentu bisa membunuh kakeknya.
"Siapa kau?"
Tanya Chow Ai Giok dengan nada berat.
"Siapa yang membunuh kakekmu?"
Orang itu balik bertanya.
"Toa Tek To Hun!"
Sahut Chow Ai Giok. Manusia bertopeng itu tampaknya terpana.
"Apakah kau pernah bertemu dengan Toa Tek To Hun?"
Tanyanya kembali.
"Pernah atau tidak, apa urusanya denganmu?"
Bentak Chow Ai Giok kesal.
"Toa Tek To Hun menggunakan sebatang pedang kutung."
Kata si manusia bertopeng.
"Mengapa dia harus menggunakan pedang kutung?"
Tanya Chow Ai Giok heran.
"Kalau tidak menggunakan pedang kutung, berarti orang itu bukan Toa Tek To Hun!"
Sahut manusia bertopeng itu kembali.
"Mengapa?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Setelah membunuh Tang hay sin sian, Toa Tek To Hun mematahkan pedangnya sendiri, Dia bersumpah sejak itu tidak akan membunuh pendekar Tionggoan lagi!"
Kata manusia bertopeng itu menjelaskan.
Chow Ai Giok sekarang yakin bahwa pembunuh kakeknya bukan Toa Tek To Hun.
Bukan saja pedang orang itu tidak kutung, lagipula usianya tidak mungkin di bawah empat puluh tahun, Namun, biar bagaimana pun dia tidak dapat mengatakan"
Bahwa pembunuh kakeknya bukan Toa Tek To Hun.
Sebab bila kejadian ini tersebar di luaran, nama besar Elang salju akan kandas seketika, Kalau mati di tangan Toa Tek To Hun, seharusnya masih bisa dimaklumi Bukankan Tanghay sin sian yang dikatakan manusia setengah dewa saja mati di bawah pedang orang tersebut...?
sedangkan di kening Fang Tiong Seng saja masih ada kenang-kenangan yang ditinggalkan olehnya!
"Orang itu adalah Toa Tek To Hun!"
Kata Chow Ai Giok kemudian.
Orang yang mati pun memerlukan nama baik, Apalagi kakeknya adalah Elang salju, Mungkin ada satu hal lagi yang penting, Mati di tangan orang asing tidak menanggung malu, tapi mati di tangan sesama pendekar Tionggoan terasa mengenaskan.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau orang itu pasti Toa Tek To Hun?"
Tanya manusia bertopeng itu.
"Karena dia membawa pedang kutung."
Sahut Chow Ai Giok.
"Berapa jurus yang digunakannya untuk membunuh kakekmu?"
Tanya manusia bertopeng itu kembali.
"Tiga belas jurus!"
Sahut Chow Ai Giok. Manusia bertopeng itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Toa Tek palsu!"
Katanya.
"Tidak... Yang asli!"
Sahut Chow Ai Giok berkeras kepala.
"Pasti palsu!"
Sahut manusia bertopeng itu tak kurang yakinnya.
"Mengapa kau begitu pasti kalau Toa Tek To Hun ini palsu?"
Tanya Chow Ai Giok kesal.
"Karena Toa Tek To Hun tidak pernah menyerang lebih dari satu kali, Bila lawannya tidak mati, dia pasti akan meninggalkannya begitu saja, Fang Tiong Seng adalah bukti nyata,"
Kata manusia bertopeng itu.
"Mungkin saja kebiasaannya sudah dirubah,"
Sahut Chow Ai Giok berkeras konyol.
"Apa yang disebut kebiasaan adalah sesuatu yang tidak mungkin dirubah,"
Kata manusia bertopeng itu sambil tertawa dingin.
"Apa pun di dunia ini bisa berubah setiap saat Coba aku bertanya pada mu. Apakah setiap hari dulunya kau juga mengenakan topeng?"
Chow Ai Giok memang banyak akal.
"Ini..."
"Kalau dulu tidak pernah mengenakan topeng, mengapa sekarang justru mengenakan?"
Tanya Chow Ai Giok setengah mendesak.
"Kenyataan memaksa aku berbuat demikian,"
Sahut manusia bertopeng itu akhirnya.
"Apa yang dimaksudkan dengan kenyataan yang memaksakan? Orang yang tidak pernah mengenakan topeng, tentu selamanya juga tidak perlu mengenakannya, Ternyata kau sekarang mengenakannya, ini berarti bahwa kebiasaanmu telah berubah!"
Sahut Chow Ai Giok ketus. Manusia bertopeng itu mengangkat bahunya.
"Apakah kau melihat dengan mata kepala sendiri ketika Toa Tek To Hun membunuh kakekmu?"
Tanyanya.
"Tidak salah!"
Sahut Chow Ai Giok.
"Jurus yang digunakannya berjumlah tiga belas?"
Tanya manusia bertopeng itu kembali. Tampaknya dia masih kurang yakin.
"Benar!"
Sahut gadis itu.
"Biarpun jumlahnya kurang separuh, dalam tujuh jurus dapat membunuh kakekmu juga sudah terhitung lumayan,"
Kata manusia bertopeng itu.
"Apanya yang lumayan?"
Tiga belas jurus. Sedikit pun tidak kurang!"
Sahut Chow Ai Giok.
"Karena di tubuh Chow Sek Ki terdapat banyak luka, Hal ini membuktikan bahwa pembunuh itu bukan Toa Tek To Hun, tapi orang lain,"
Kata manusia bertopeng.
"Tidak! Dia adalah Toa Tek To Hun! Dia memerlukan jurus yang banyak karena lawannya adalah Elang saiju!"
Sahut Chow Ai Giok dengan nada ketus.
Manusia bertopeng itu memperhatikan bekas luka di tubuh Cho Sek Ki dengan seksama, Dia tertawa-tawa tapi tidak sepatah kata pun diucapkannya sebagai bantahan, Dia adalah seorang ahli silat, Dia dapat melihat bekas luka di tubuh Chow Sek Ki bukan menggunakan pedang kutung, tapi pedang yang masih utuh.
Bekas luka yang ditinggalkan oleh pedang kutung dan pedang utuh tentu berlainan.
"Baiklah! Kita tidak usah mendebatkan pepesan kosong ini. Kalau kau berniat membalas dendam, hanya aku yang dapat membantumu!"
Kata manusia bertopeng itu.
"Apakah kau benar-benar sanggup membantuku?"
Tanya Chow Ai Giok kurang yakin.
"Apakah kau mengira aku tidak sanggup?"
Manusia bertopeng itu memandang Chow Ai Giok dengan tajam.
"Kakekku saja tidak sanggup melawannya. Aku rasa hanya sedikit orang yang sanggup!"
Kata Chow Ai Giok sambil menarik nafas panjang.
"Kalau aku memang tidak sanggup, apakah aku masih fcisa hidup sampai hari ini?"
Tanya manusia bertopeng itu.
"Kalau ilmumu memang demikian tinggi, mengapa kau harus menutup wajahmu?"
Chow Ai Giok ingin keyakinan.
"Kakekmu sendiri seorang jago kelas tinggi, Mengapa dia harus mengubah nama menjadi Peng Chow Ceng?"
Tanya manusia bertopeng itu lagi.
Wajah gadis itu merah padam.
Melihat itu, manusia bertopeng jadi tertawa terbahak-bahak.
Dia merasa menang dalam perdebatan tersebut.
Tentu saja Chow Ai Giok tahu alasan kakeknya mengganti nama.
Dulu mereka pura-pura menyamar menjadi pengawal barang rahasia, Tampang kakeknya dibuat ketolol-tololan.
Semua itu tentu untuk menghindarkan diri dari ancaman kematian.
Badai besar yang ditimbulkan oleh Toa Tek To Hun begitu dahsyat Setiap insan yang mempunyai nama besar di Bulim, mau tidak mau harus menyembunyikan identitasnya agar selamat dari incaran manusia Fu sang itu.
Tidak ada seorang pun yang berani menyombongkan diri sebagai pendekar kelas satu, Orang yang namanya makin terkenal malah menyamar sebagai Bubeng siau cut.
Tapi mati pun, Chow Ai Giok menyangkal kakeknya adalah seorang pengecut yang takut mati.
"Yaya mengganti nama karena mengawal sebuah barang rahasia!"
Teriak Chow Ai Giok.
"Chow kouwnio.... ikut aku!"
Kata manusia bertopeng itu tiba-tiba.
"Mengapa?"
"Karena hanya aku yang dapat melindungimu dan membalaskan dendam kakekmu!"
Sahut manusia bertopeng itu.
"Tidak perlu!"
"Kau harus ikut denganku!"
"Mengapa?"
Tanya Chow Ai Giok kurang senang.
"Karena kau sudah tahu identitasku!"
Sahut manusia bertopeng itu. Dia teringat hari itu Bwe Mei pernah menyebutkan namanya di depan gadis ini. Pasti dia tidak begitu bodoh atau pikun sehingga melupakannya.
"Kau ingin menggunakan kekerasan?"
Bentak Chow Ai Giok.
"Untuk kebahagiaanmu, Menggunakan kekerasan pun harus aku lakukan,"
Sahut manusia bertopeng .
"Kalau kau memaksakan keinginanmu, aku akan bunuh diri!"
Kata Chow Ai Giok.
"Bila kau sampai melakukannya, hal ini menandakan kebodohanmu!"
Sahut manusia bertopeng itu.
"Kalau kau pintar, seharusnya sudah boleh pergi sejak tadi,"
Kata Chow Ai Giok sambil mencibirkan bibirnya.
"Angkatlah jenazah kakekmu, kemudian ikut aku!"
Perintah si manusia bertopeng.
"Tidak!"
Teriak Chow Ai Giok.
Tiba-tiba manusia bertopeng itu menyerbu ke arahnya, Chow Ai Giok tahu dirinya tidak sempat menghunuskan pedangnya lagi.
Namun dia masih yakin dengan pukulan tangan kosongnya, Dia mengira bila dirinya dapat bertahan sebanyak sepuluh jurus, pasti ada kesempatan untuk kabur.
Tapi dalam satu jurus saja, dirinya sudah tertotok, Sekejap kemudian, dia mendapatkan dirinya sudah berada dalam pelukan manusia bertopeng itu.
Dia ingin mati, namun teringat akan dendam sang kakek yang belum terbalas, Dia memang belum mati.
Baginya kematian adalah hal yang sulit.
Mendung memenuhi langit.
Chow Ai Giok berdiri di depan kuburan kakeknya, Air matanya bercucuran.
Kepalanya ditengadahkan ke atas.
Dia berdoa dalam hati.
Dengan cara apa pun, aku harus membalas dendam bagi Yaya.
Manusia bertopeng berjongkok di samping membakar kertas sembahyang, sekarang topengnya sudah dilepas, Chow Ai Giok tidak begitu sebal melihatnya.
Namun hatinya masih belum tahu siapa sebetulnya orang ini.
Kalau membandingkan Sun Put Ce dengan laki-laki ini, tentu saja Sun Put Ce tidak dapat menandingi ketampanannya.
Namun...
manusia seperti Sun Put Ce memang aneh, Makin dipandang, makin menawan.
Makin diperhatikan makin menarik, Makin dinilai makin terasa adanya jiwa seorang laki-laki sejati.
Di dunia ini memang sudah jarang ada laki-laki yang sejati, Chow Ai Giok menghela nafas.
Akhimya laki-laki yang sebelumnya mengenakan topeng itu mengajaknya menyembah sebanyak tiga kali, Tindakannya membuat Chow Ai Giok terharu.
Orang yang menghormati kakeknya sama dengan menghormati dirinya juga.
Akhirnya dia memang menepati kata-katanya sendiri, Dengan cara apa pun dia tetap ingin membalaskan dendam bagi kakeknya.
Cara apa pun ditempuh...
dia menepatinya.
Karena laki-laki itu memang hanya ingin dia mengikutinya dengan satu cara.
Dia berbagi tempat tidur dengan laki-laki tersebut, Hubungan mereka sudah amat akrab.
Laki-laki itu mengaku bernama Pa lun.
Berasal dari wilayah Barat.
Oleh karena itu, namanya tidak dikenal oleh orang Tionggoan.
Laki-laki itu juga meyakinkan bahwa dirinya sanggup membunuh Toa Tek To Hun, Hujan badai kehidupan manusia sudah berlalu, Dia laksana sekuntum bunga yang baru saja tertimpa badai.
Demi Yaya, dia merasa harus berkorban.
"Pa lun.... Mungkin Yaya bukan dibunuh oleh Toa Tek To Hun...."
Kata Chow Ai Giok berterus terang, Bagaimana laki-laki itu harus membalaskan dendamnya kalau si pembunuh siapa orangnya masih belum ketahuan.
"Bukan?"
Tanya laki-laki itu. Chow Ai Giok menggelengkan kepalanya.
"Bukankah kau mengatakan bahwa orang itu berambut panjang, mengenakan pakaian hitam dan menggenggam sebuah pedang kutung?"
Tanya laki-laki itu kembali.
"Memang berambut panjang dan berpakaian hitam, tapi pedangnya tidak kutung,"
Sahut gadis itu.
"Senjatanya adalah pedang panjang?"
Tanya laki-laki tersebut.
"Betul!"
Sahut Chow Ai Giok. Laki-laki itu merenung sejenak.
"Berapakah usianya menurut perkiraanmu?"
Tanyanya kembali.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak berhadapan dengannya,"
Sahut Chow Ai Giok.
"Apakah kau tidak melihat ciri-cirinya yang lain?"
Tanya Pa lun.
"Ada, Tangannya berkeriput. Lagipula tampak bintik-bintik coklat seperti ketuaan. Badannya kurus sekali!"
Sahut Chow Ai Giok. Wajah Palun berubah hebat.
"Papan gilasan!"
Serunya.
"Papan gilasan? Apa artinya?"
Tanya Chow Ai Giok kebingungan "Maksudku... mungkin orang yang membunuhnya adalah seseorang yang mempunyai bentuk tubuh seperti sebuah papan gilasan!"
Sahut Palun menutupi hal yang sebenarnya.
"Siapa orang itu?"
Tanya Chow Ai Giok penasaran.
"Biar kuselidiki dulu sampai jelas, Kelak akan kuberitahukan kepadamu,"
Sahut Pa-Iun.
Laki-laki itu lalu turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa.
Sebelum dan sesudah melakukan hubungan tentu lain ceritanya.
Ada orang yang mengatakan bahwa kebanyakan laki-laki seperti itu.
Tapi Chow Ai Giok tidak mengerti.
"Pa lun.... Apakah kau akan pergi?"
Ta-nyanya.
"Betul!"
Sahut laki-laki itu.
"Seharusnya kau lebih sering menemaniku,"
Kata Chow Ai Giok.
"Aku mempunyai banyak urusan penting, Tidak dapat menemanimu sepanjang hari."
Kata-kata ini memang sebenarnya, namun tidak enak di dengar.
"Pa lun.... Apakah kau memang tidak bisa membalaskan dendam Yaya?"
Tanya Chow Ai Giok dengan hati pilu.
"Aku tidak dapat memastikan, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga,"
Sahut Palun, jawabannya makin lama makin tidak sopan perasaan Chow Ai Giok makin tersayat.
"Pa lun.... Kau tahu perasaanku sedang sedih, Mestinya kau agak lembut sedikit,"
Katanya. Laki-laki itu mendengus sekali.
"Aku sudah cukup lembut Kalau kau menganggap masih kurang juga, silahkan mencari laki-laki lain!"
Bentaknya dengan suara keras. Wajah Chow Ai Giok berubah hebat.
"Pa lun.... Apakah ucapan ini bagi seorang manusia?"
Serunya.
"Kau memang tidak usah menganggapku sebagai seorang manusia!"
Sahut laki-laki itu sinis.
"Apa yang kau katakan?"
Teriak Chow Ai Giok marah.
"Terhadap perempuan yang lain, aku mungkin masih mempunyai selera sebanyak dua atau tiga kali. Tapi terhadap perempuan seperti dirimu, aku hanya ingin mencoba satu kali saja!"
Sahut Palun mengejek.
Chow Ai Giok bagai sebuah bom yang siap meledak kapan saja, Laki-laki ini memang bukan manusia!
Biarpun dia memilih dengan mata tertutup, rasanya nasibnya tidak akan begitu sial bertemu dengan laki-laki seperti ini.
Apakah ini merupakan hukum karma baginya?
Chow Ai Giok meng-hempaskan diri di tempat tidur Dia tidak ingat lagi rasa sakit di bagian bawah perutnya.
Dia hanya dapat meratapi nasibnya yang malang!
Seandainya dia tidak terburu nafsu untuk mempercayai laki-laki ini, tentu dirinya juga tidak akan terhina seperti sekarang.
Chow Ai Giok menatap laki-laki itu dengan sorot mata penuh kebencian Dia juga membenci dirinya sendiri.
Apakah di dunia ini ada perempuan yang lebih rendah dari dirinya?
Apakah ada perempuan lain yang mudah menyerahkan kesuciannya hanya karena beberapa patah kata manis dan janji muluk seorang laki-laki?
Sekarang dia baru sadar, laki-laki ini memang hanya pantas disebut binatang Bahkan binatang yang paling nista, Benci apa gunanya?
semuanya toh tidak mungkin kembali lagi.
Pada saat itu, dia telah belajar sesuatu yang berharga, Dia harus "sabar", Dia harus membalaskan dendam bagi kakeknya, Dia juga ingin membayar kembali perbuatan laki-laki ini.
"Pa lun.... Kau hendak kemana?"
Tanyanya lembut.
"Apakah kau ingin mengatur diriku?"
Tanya laki-laki itu kembali dengan nada ketus.
"Paling tidak, kau boleh memberitahukan kepadaku bila kau masih ingin kembali,"
Kata Chow Ai Giok dengan sebuah senyum terpaksa.
Tiba-tiba Palun tertawa terbahak-bahak, Suaranya mengandung nada kebanggaan terhadap dirinya sendiri, Chow Ai Giok sadar sekali.
Laki-laki ini telah mempermainkannya, Dirinya masih dibiarkan hidup termasuk sebuah keberuntungan.
Suara tawanya belum sirap, orangnya sudah melangkah keluar.
"Namamu pasti bukan Palun,"
Kata Chow Ai Giok lirih, Laki-laki itu tidak menyahut Namun yakin Palun mendengar ucapannya.
Di tengah ruangan keluarga Fang.
Meja perabuan penuh dengan bunga-bunga dan buah-buahan.
Dua lilin putih menghias di bagian kiri dan kanan, Di bagian tengah ada gambar wajah Tang hay sin sian.
Di depan gambar ada sebuah papan nama, Di dalam ruangan terlihat Fang Tiong Seng, Siau kiong cu, Sun Put Ce, Mo Put Chi, Kwe Po Giok, dayang Cui thian dan beberapa pelayan.
Kwe Po Giok, Siau kiong cu, dan dayang Cui thian mengenakan pakaian berkabung, Semuanya mengalirkan airmata, Tiba-tiba Siau kiong cu membalikkan tubuh dan berlutut di hadapan Kwe Po Giok.
"Seumur hidupku, aku belum pernah berlutut di hadapan orang lain, Tetapi hari ini aku harus memberi hormat dengan menyembah kepada Fang taihiap, tentunya atas jerih payah karena telah mengurus jenazah ayahku dengan baik,"
Katanya.
Tradisi memang demikian Siapa bilang Siau kiong cu tidak mengerti kehormatan?
Memang dia belum pernah menyembah kepada orang lain dalam seumur hidupnya, Fang Tiong Seng menghela nafas panjang.
"Toa Tek To Hun telah meninggalkan Tionggoan atas permintaan ayahmu, Kematiannya membawa manfaat besar bagi Bu-lim. Sayangnya, aku tidak cukup dapat diandalkan. Dendam ayahmu belum bisa terbalas. Sekarang, aku hanya dapat berbuat sedikit kebaikan dalam menangani para jago yang telah meninggal demi bangsa dan negaranya,"
Kata laki-laki itu.
Kecuali Sun Put Ce dan Kwe Po Giok berdua, wajah semua orang berubah, Kalau kenyataan ilmunya tidak bisa menandingi musuh, apa boleh buat?
Dapat mengorbankan diri bagi kepentingan kaum Bulim, Fang Tiong Seng sudah dianggap hebat.
-ooo0ooo-Di sebuah villa, Malam hari.
Asap yang keluar dari pipa cangklong menambah romantisnya suasana.
Dua orang manusia duduk berhadapan.
Tubuh bagian atas teIanjang, Dua cawan terletak di hadapan masing-masing.
Seorang masih terhitung muda.
Yang satunya lagi sudah terhitung tua.
Udara di dalam kamar panas membara, Bagaikan sebuah ruangan kecil yang berisi dua puluhan orang, Bagian atas tubuh perempuan itu tetap tersampir sehelai selendang yang tidak terikat.
Kulitnya putih halus.
Matanya sayu, seperti selembar undangan bagi yang laki-laki.
"Bukankah Toa Tek To Hun sudah pergi? Mengapa Elang salju bisa mati dalam keadaan yang berbeda dengan korbannya yang lain?"
Tanya perempuan itu.
"Siapa yang bisa membuktikan kepergiannya?"
Sahut laki-laki bertubuh papan gilasan itu.
"Benar juga."
"Kita masih belum tahu kebenarannya,"
Kata si papan gilasan.
"Kalau kau sempat bertarung lagi dengan Toa Tek To Hun, berapa besar keyakinanmu untuk meraih kemenangan?"
Tanya sang perempuan. Si papan gilasan tertawa keras. Nadanya mengandung keangkuhan.
"Aku tahu kau pasti yakin dengan dirimu sendiri,"
Kata si perempuan itu. Si papan gilasan menggelengkan kepala, perempuan yang sepintar dirinya tidak banyak, namun terkadang dia merasa masih belum memahami isi hati laki-laki itu sepenuhnya.
"Mengapa kau menggelengkan kepalamu?"
Tanyanya.
"Karena tidak ada satu orang pun yang dapat mengalahkan Toa Tek To Hun,"
Sahut si papan gilasan.
"Kau juga tidak sanggup?"
Tanya perempuan itu dengan nada kurang percaya.
"Tentu!"
Sahutnya.
"Lalu.... Mengapa kau tertawa tadi?"
Bibir perempuan itu cemberut, membuat papan gilasan itu bertambah senang.
"Sebab pertanyaanmu lucu sekali, bukankah kau menanyakan berapa besar keyakinanku?"
Sahutnya.
"Ternyata kau juga belum ada kesanggupan,"
Kata perempuan itu sambil menarik nafas.
perempuan itu tampaknya sedikit kecewa, Si papan gilasan justru ingin melihat mimik kekecewaannya.
Namun dia tetap melayani laki-laki itu dengan penuh gairah.
Asalkan menghadapi seorang laki-laki dengan penuh gairah, maka kau pasti akan menjadi kesayangannya.
Malam semakin larut.
Gelora cinta telah berlalu.
Perempuan itu menghapus keringat yang membasahi keningnya.
"Bagaimana kalau Toa Tek To Hun tidak jadi meninggalkan Tionggoan?"
Tanyanya.
"Pasti ada orang yang akan mengusirnya."
Kata si papan gilasan sambil turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaian.
"Siapa yang sanggup mengusirnya?"
"Semestinya seorang tokoh yang di luar dugaan siapa pun."
Dia tidak bertanya lagi, Dia tahu, banyak bertanya pun tiada gunanya.
"Kau tidur saja di sini, Aku harus pulang dulu,"
Kata si papan gilasan.
Perempuan itu menganggukkan kepalanya berulang kali, begitu laki-iaki bertubuh papan gilasan itu pergi, dia segera turun dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya.
Tidak lama kemudian, tampak dia juga meninggalkan tempat tersebut.
-ooo0ooo-Si papan gilasan berjalan melewati lorong panjang yang sepi.
sembilan di antara sepuluh rumah yang ada di tempat itu tertutup pintunya, Hanya lampu penerangan penjual susu kacang yang masih bersinar.
Ada beberapa orang yang sedang menikmati minuman hangat tersebut.
Dengan langkah yakin si papan gilasan masuk ke dalam, Sinar matanya terpaku kepada seorang perempuan berusia tiga puluhan perempuan yang cantik menawan, Perempuan itu juga sedang memandang kearahnya, namun dia langsung menundukkan wajahnya, Si papan gilasan mempunyai perasaan.
"asalkan masih hidup, di mana pun dapat bertemu". Dunia memang luas, tetapi terkadang bisa menciut sehingga untuk berjalan saja seolah akan bertabrakan dengan hidung sendiri, Dia duduk di hadapan perempuan itu.
"Lian lian... sudah lama tidak bertemu, Bagaimana kabarmu?"
Tanyanya dengan suara lembut.
"Lumayan,"
Jawab Lian lian acuh tak acuh.
"Dulu akulah yang menyia-nyiakan dirimu,"
Kata si papan gilasan.
"Mungkin takdir yang telah menentukan,"
Sahut Lian lian kembali.
"Tidak! Aku pulang terburu-buru. Tidak sempat berpamit lagi denganmu. Aih! Siapa sangka sekali berpisah lebih dari sepuluh tahun."
Kata si papan gilasan sambil menarik nafas panjang.."Meskipun saat itu aku sangat kesal, tapi akhirnya aku dapat berpikir dengan hati-lapang,"
Sahut Lian lian.
"Aku benar-benar tidak dapat menandingimu. Lian lian,., aku tidak menyangka kau akan datang ke Tionggoan, Mengapa tidak membiarkan aku menunjukkan rasa persahabatan sebagai tuan rumah yang baik?"
Tanya laki-laki tersebut Tampaknya dia dibuat terpesona oleh perempuan itu.
"Masa lalu seperti gumpalan asap, buat apa dikenang kembali?"
Sahut Lian lian.
"Orang-orang kebanyakan sedang menyembunyikan diri, kau malah datang ke daerah ini,"
Kata si papan gilasan.
"Aku pernah mendengar bahwa Toa Tek To Hun juga tidak melepaskan dirimu,"
Ujar perempuan itu. Si papan gilasan menunjuk bekas luka di keningnya. Dia menarik nafas panjang.
"Orang yang berhasil lolos dari serangan Toa Tek To Hun, hanya engkau seorang,"
Kata Lian lian selanjutnya.
"Mungkin merupakan sebuah hinaan bagiku."
"Tidak, Tiong Seng! Setiap orang juga berharap selamat, hanya saja nasib mereka tidak sebaik dirimu,"
Sahut Lian lian.
Laki-laki yang dipanggil si papan gilasan adalah Fang Tiong Seng.
Dari bentuk tubuhnya yang kurus sudah dapat diterka, perempuan yang bermesraan dengannya tadi di ruang bawah tanah sebuah villa, tentu saja dayang Cui thian.
Fang Tiong Seng sudah banyak mendengar ucapan seperti yang dikatakan Lian lian barusan.
Tapi, karena yang mengucapkannya Lian lian, maka bagi Fang Tiong Seng, artinya jadi berbeda, Ternyata Lian lian semakin menawan dibandingkan dulu.
Benar-benar di luar dugaannya.
Jika dulu ia merenungkan baik-baik, tidak mungkin dia pergi tanpa pamit, sekarang dia merasa agak menyesal karena dulu telah menyia-nyiakannya.
Namun, pertemuannya kembali dengan Lian lian jauh lebih baik daripada yang terbayangkan olehnya, Semua seperti telah direncanakan dengan matang.
Kalau dibandingkan dengan perempuan yang bermesraan dengannya tadi, dia merasa hanya sekedar penghibur hati saja.
Kecantikannya jauh di bawah lian lian.
Boleh juga dibilang bahwa Lian lian Iebih feminin.
"A lian... aku masih bujangan,"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara lirih.
Bujangan hanya menunjukkan bahwa dia belum pernah secara resmi mengawini seorang perempuan, namun tidak membuktikan bahwa dia tidak pernah berhubungan dengan wanita.
Lian lian tersenyum-senyum.
Cara senyumnya membuat Fang Tiong Seng kurang tenang.
Karena pengalamannya luas sekali, senyum apa pun dapat dilihat olehnya dalam arti makna senyum itu sendiri.
"Tidak pernah ada perempuan dalam hidupmu?"
Tanya Lian lian sambil lalu.
"Perempuan...?"
"Betul!"
"Perempuan apa yang kau maksudkan?"
Tanya Fang Tiong Seng.."Tentu saja perempuan yang mendekati dirimu atau perempuan yang didekati olehmu"
Sahut Lian lian.
Jilid.
11 Fang Tiong Seng merasa serba salah, kalau dia tidak mengakui, kemungkinan besar malah akan menerima reaksi yang kurang menyenangkan.
Dia menarik nafas panjang.
Dia merasa bila menarik nafas pada saat mendesak adalah sebuah siasat untuk berdusta.
"Apakah aku salah bicara?"
Tanya Lian lian santai.
"Tidak... aku memang berhubungan dengan seorang perempuan,"
Kata Fang Tiong Seng dengan wajah tertekan penampilannya saat ini dengan penampilannya ketika di ruangan bawah tanah tadi, berbeda sekali. Bagaikan dua orang lain saja.
"Seorang perempuan yang rela menjual nyawanya demi diriku, Dia patut dikasihani Terhadapku dia sangat setia,"
Lanjutnya. Wajah Lian lian seperti menahan tawa.
"Apakah sungguh-sungguh setia?"
Tanyanya.
"Maksudmu... dia tidak pantas setia terhadapku?"
"Pantas..."
Sahut Lian lian.
"Lalu.... Apanya yang salah?"
Tanya Fang Tiong Seng. Dia merasa Lian lian menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apakah kau merasa bahwa dia benar-benar begitu setia terhadapmu?"
Kata perempuan itu dengan nada mengejek. Alis Fang Tiong Seng berkerut.
"Apakah kau mengenalnya?"
Tanya laki-laki bertubuh kurus tersebut.
"Bukankah dia dayang Cui thian?"
Kata Lian lian sambil menunduk dan menikmati susu kacangnya, Fang Tiong Seng terpana.
Dia merasa bersyukur mengaku dirinya memang mempunyai seorang perempuan simpanan.
Ternyata Lian lian selama ini menyelidiki dirinya dengan seksama.
"Betul! Dia adalah dayang Cui thian,"
Sahutnya.
"Dia memang seorang perempuan yang penampilan luarnya lumayan,"
Kata Lian lian tersenyum manis.
"Apa maksudmu dengan penampilan luar? Apakah isi hatinya tidak sama dengan yang terlihat dari luar?"
Tanya Fang Tiong Seng penasaran.
"Tampaknya aku tidak boleh memberitahukan hal ini kepadamu,"
Sahut Lian lian.
"Hal apa?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Aku harus pergi. Kadang-kadang banyak pertanyaan yang harus kau cari sendiri jawabannya,"
Kata Lian lian sambil bangun dari kursinya. Fang Tiong Seng memegang tangannya.
"A Iian... hari ini bisa bertemu, berarti antara kita memang ada jodoh,"
Katanya lirih.
"lni hanya kebetulan, Tidak ada hubungannya dengan jodoh!"
Sahut Lian lian.
"Tidak... aku ingin sekali mendengar hal yang tadi kau katakan,"
Kata Fang Tiong Seng dengan mata memohon, Alis mata Lian lian berkerut.
"Aku benar-benar menyesal,"
Sahutnya.
"Menyesal karena apa?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Karena telah kelepasan bicara, padahal urusan ini tidak ada gunanya dengan diriku,"
Sahut Lian lian sambil menghela nafas.
"Kau salah kalau berkata seperti itu. Memandang kebaikan kita pada masa dulu, kau malah harus memberitahukannya kepadaku,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Dia bergendakan dengan laki-laki lain,"
Sahut Lian lian dengan nada terpaksa.
"Siapa?"
Tanya Fang Tiong Seng hampir tidak percaya, Karena dayang Cui thian adalah sebuah biji catur penting yang di tempatkannya di samping Tang hai sin sian.
Selama beberapa tahun ini dia sangat setia terhadapnya.
Sebelumnya, dia tidak pernah mencurigai dayang Cui thian.
Namun...
ada beberapa hal yang dia sendiri tutupi dari perempuan itu.
"Akhir-akhir ini ada seseorang yang menyamar sebagai Toa Tek To Hun. Apakah kau sudah pernah mendengar berita ini?"
Tanya Lian lian.
"Pernah...."
Sahut Fang Tiong Seng.
"Dialah laki-laki itu,"
Kata Lian lian.
"Siapa dia?"
Tanya Fang Tiong Seng terperanjat.
"Cap sa tai po Kiau Bu Suang,"
Sahut Lian lian sepatah demi sepatah. Fang Tiong Seng termangu-mangu, Namun dia percaya penuh. Hanya Kiau Bu Suang yang sanggup membunuh Bok lang kun dan Hong Be.
"Kalau begitu..."
Kata Fang Tiong Seng.
"Berita tentang dirinya yang Cao hue jit mo dan lumpuh total palsu?"
"Tentu.... Bila tidak, siapa yang dapat membunuh Elang salju?"
Sahut Lian lian.
"Dia juga?"
Suaranya terdengar aneh ketika menanyakan hal ini.
Lian lian menganggukkan kepalanya.
Fang Tiong Seng tiba-tiba merasakan sungguh tidak enak mengenakan topi hijau bak seorang laki-laki yang mengetahui istrinya menyeleweng, Dia hampir tidak berani membayangkan manusia seperti dirinya masih bisa mengenakan topi hijau.
Lian lian mungkin mengerti juga perasaannya, Laki-laki memang selalu egois, Dia tidak suka mengenakan topi hijau, namun perbuatan mereka sendiri di luaran entah menimbulkan berapa banyak penderitaan bagi sang istri.
"Kau tidak percaya?"
Tanya Lian lian dengan suara datar.
"Sebelum menyaksikan dengan mata kepala sendiri, aku tidak begitu mudah percayai sahut Fang Tiong Seng. Lian lian menarik nafas panjang.
"Mengapa kau menarik nafas?"
Tanya Fang Tiong Seng tidak mengerti.
"Karena aku menganggap bahwa menjadi seorang manusia itu tidak mudah. Menjadi manusia yang baik dan jujur lebih sulit lagi,"
Sahut Lian lian.
"Maksudmu...."
"Aku hidup sampai usia di atas tiga puluh tahun, Baru kali ini aku membeberkan keburukan orang lain,"
Sahut Lian lian.
"A lian... bila kau tidak mengatakannya, apakah hatimu bisa tenang?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Kata-kata yang sudah terucapkan toh tidak mungkin bisa ditarik kembali,"
Sahut Lian lian.
"Kau harus membuktikannya kepadaku,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Tentu, Tapi kau juga harus berjanji, dalam keadaan apa pun, kau tidak boleh mengatakan bahwa aku yang memberitahukan kepadamu,"
Sahut Lian lian.
"Aku menjamin dengan harga diriku!"
Kata Fang Tiong Seng.
Lian lian bangkit dari duduknya, Fang Tiong Seng juga mengikuti perbuatannya, Dia belum pernah mendengar kata-kata orang, Apalagi mengenai simpanannya.
Namun sekarang, dia tidak mau berpikir lebih jauh lagi, yang penting melihat dengan mata kepala sendiri.
Tapi ada satu hal yang membingungkannya.
Dayang Cui thian berada di vilanya.
Apakah Kiau Bu Suang berani menemuinya di tempat itu?
Dia mengikuti Lian lian keluar dari kota tersebut, namun ketika mendekati villa-nya, perempuan itu berganti arah, Fang Tiong Seng akhirnya mengerti bahwa tempat pertemuan kedua orang itu bukan di kandangnya sendiri.
Setelah melewati lima enam li, mereka sampai di sebuah dusun kecil.
"Apakah kau ingin membunuhnya saat ini juga atau menyelidiki dulu dengan sek-sama?"
Tanya Lian lian.
"Aku belum dapat memastikannya,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Aku tidak ke sana, Kau pergi sendiri Tempatnya di belakang taman itu. Rumah yang terbuat dari bambu,"
Katanya.
Fang Tiong Seng yakin bahwa Lian lian tidak akan mendustainya, Namun hubungan mereka dulu pernah mengalami kegoncangan, Bagi perempuan tertentu, hal ini bisa menjadi alasan untuk membalas dendam.
Dengan ginkangnya yang tinggi, dia naik ke atas atap, seharusnya tidak akan diketahui oleh penghuni rumah tersebut Di dalamnya tidak ada penerangan Terdengar suara orang bercakap-cakap.
Bagi orang yang berpengalaman nada pembicaraan seperti itu, pasti setelah mengadakan hubungan intim, Sisa nafas yang tersengal-sengal masih ada.
"Si papan gilasan ada gerakan apa?"
Tanya yang laki-laki.
"Rasa curiganya sangat tebal, kita tidak boleh tergesa-gesa,"
Sahut si perempuan.
"Apakah dia yang membunuh Elang salju?"
Tanya laki-laki itu kembali.
"Delapan bagian. Coba kau pikir dengan seksama, Mengandalkan ilmu silat para jago Bulim saat ini, selain engkau dan dia, siapa lagi yang dapat membunuh Elang salju?"
Sahut perempuan itu.
"Betul!"
Kata laki-laki tersebut.
"Bukankah Elang salju mempunyai seorang cucu perempuan? Mungkin dia tahu siapa yang membunuh kakeknya?"
Tanya perempuan itu.
"Kalau dia tahu, tidak mungkin dia dibiarkan hidup,"
Kata laki-laki tersebut.
Fang Tiong Seng merasa darahnya naik ke atas kepala.
Dia sudah percaya kata-kata Lian lian sepenuhnya, Namuh dia tidak menyerbu masuk ke rumah itu, Dia merasa terlalu enak bagi kedua orang itu menerima kematian yang begitu mudah.
Dia ingin sebuah cara yang lain, Perlahan-lahan dia mundur dari tempat pengintaiannya, Dia menganggukkan kepala pada Lian lian.
-ooo0ooo-Bagian Lima Belas Matahari bersinar dengan terik, Di daerah pegunungan juga tidak terdengar kicauan burung.
Kwe Po Giok di depan.
Sun Put Ce di belakang.
Kedua orang itu melangkah di jalanan setapak daerah pegunungan.
Di dekat pohon yang lebat, Kwe Po Giok menghentikan langkahnya.
"Memang sudah waktunya beristirahat"
Kata Sun Put Ce. Kwe Po Giok tidak menjawab. Dia memandang rekannya lekatlekat.
"Meskipun kita belum lama berkenalan, tapi hubungan kita cukup akrab, Apalagi setelah mengalami suka duka bersama,"
Sun Put Ce melanjutkan kata-katanya.
"Tidak salah, Oleh sebab itu, aku hanya ingin kau yang mengantarkan kepergianku"
Sahut Kwe Po Giok. Sun Put Ce tidak menjawab.
"Sun Put Ce.... Aku sudah cukup mengerti jiwamu,"
Kata Kwe Po Giok selanjutnya.
"Iya... aku tahu,"
Sahut rekannya.
"Aku juga tahu bahwa Fang Tiong Seng yang meminta engkau mengantarkan aku."
Kata Kwe Po Giok sambil tersenyum getir.
"Kau benar-benar tahu?"
Tanya Sun Put Ce dengan mata terbelalak.
"Tentu! Sejak usia tiga tahun, saya sudah mendapat sebutan bocah ajaib!"
Sahut Kwe Po Giok. Wajah Sun Put Ce berubah kelam.
"Ada baiknya juga kalau kau tahu, Akhir-nya kau toh akan tahu juga,"
Katanya dengan bibir gemetar.
"Fang Tiong Seng memerintahkan kau membunuh saya bukan?"
Tanya Kwe Po Giok yang sebetulnya sudah yakin. Sun Put Ce menganggukkan kepalanya, Air mata bercucuran membasahi pipi.
"Mengapa kau harus menangis?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Perintar itu tidak boleh dibantah, Orang yang tak patut dibunuh juga harus kubunuh, Hal ini adalah alasan yang tepat untuk mengelurkan airmata. Engkau dan aku adalah teman sependeritaan Bagaimana aku tidak berduka menerima kenyataan ini?"
Sahut Sun Put Ce.
"Mendengar ucapan ini, rasanya mati pun aku rela,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Siaute.... Maafkan aku!"
"Sejak semula aku sudah memaafkan dirimu.... Tahukah kau, mengapa FangTiong Senjt menyuruh engkau membunuh aku?"
Tanyai Kwe Po Giok.
"Mungkin karena kau menyimpan beberapa rahasia."
Sahut Sun Put Ce.
"Rahasia apa?"
Tanya Kwe Po Giok dengan alis dikerutkan.
"Untuk apa kau menguji diriku? Bukan-kah sejak usia tiga tahun kau sudah mendapat sebutan bocah ajaib?"
Sahut Sun Put Ce dengan nada getir.
"Kalau Fang Tiong Seng seorang penjahat, apakah kau tetap akan melaksanakan perintahnya?"
Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menganggukkan kepala dengan terpaksa.
"Bukankah berarti kau tidak membedakan lagi mana putih dan mana hitam?"
Tanya Kwe Po Giok dengan mata menusuk.
"Dia adalah suhuku, apalagi dia mengasuhku sejak kecil,"
Jawab Sun Put Ce.
"Hanya untuk membalas budi, kau rela berbuat kejahatan?"
Teriak Kwe Po Giok dengan suara keras.
"Setia dan budi tidak dapat dipisahkan Harap siaute bersiap-siap."
Sahut Sun Put Ce dengan nada sedih.
"Pulanglah segera!"
Kata Kwe Po Giok.
"Pulang?"
"BetuI! Katakan bahwa aku tidak sanggup melawanmu kemudian melarikan diri."
Kata Kwe Po Giok menyarankan.
"Dia tidak akan percaya."
Sahut Sun Put Ce sambil menggelengkan kepala.
"Mengapa kau selamanya tidak bisa ber-ubah? Selalu menurut meskipun diinjak-injak!"
Bentak Kwe Po Giok sinis.
"Aku memang selalu begitu,"
Sahut Sun Put Ce.
Tiba-tiba Kwe Po Giok menghunus pedangnya.
Sun Put Ce juga menghunus pedang panjangnya, Dia malah langsung menyerang, serangannya mengandung jurus perguruan Tang hay sin sian.
Sama sekali tidak dapat dianggap enteng, Namun Sun Put Ce mengelakkan diri dengan mudah.
Sun Put Ce terpana sejenak.
"Bagus sekali!"
Serunya.
"Seranganmu luput Niatmu masih belum berhasil Mengapa kau mengatakan bagus?"
Tanya Kwe Po Giok heran.
"Kewajiban tetap harus dilaksanakan Kalau tidak bisa membunuhmu, bukankah malah lebih baik?"
Sahut Sun Put Ce.
"Kalau aku yang ingin membunuhmu?"
Tanya Kwe Po Giok dengan nada sedih.
"Kau ingin membunuhku?"
Sun Put Ce tampak terpana.
"Kau anggap aku tidak sanggup?"
Tanya Kwe Po Giok ketus. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Bukan! sekarang aku percaya kau sudah memiliki kemampuan itu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Tahukah kau mengapa aku ingin membunuhmu?"
Tanya Kwe Po Giok kembali.
"Karena aku ingin membunuhmu!"
Sahut Sun Put Ce tenang.
"Tidak salah! Bila aku tidak membunuhmu kau tetap akan membunuhku,"
Kata Kwe Po Giok dengan nada pilu.
"Bagaimana kalau aku tidak jadi membunuhmu?"
Tanya Sun Put Ce.
"Kau tidak mungkin membatalkan niat-mu!"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kau memang pintar sekali. Aku sudah mendapat perintah suhu. Apa pun tidak dapat merubah keputusanku,"
Kata Sun Put Ce.
"Bagaimana kalau aku tidak membalas?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Sama juga!"
Kata Sun Put Ce.
Tiba-tiba pedangnya berkelebat itulah salah satu dari tiga belas jurus andalan Fang Tiong Seng, Tiga belas jurus sayap bangau!
Kwe Po Giok mundur dua langkah.
Tam-paknya bukan tidak sanggup melawan, Sun Put Ce menyerang beberapa kali berturutturut.
Untuk melaksanakan perintah suhu, dia terpaksa menahan kepiluan di dada.
Meskipun berat, dia tetap harus melaksanakan kewajibannya.
Kwe Po Giok mundur terus.
Tangannya memutar pedang untuk menangkis serangan lawannya, Bila diperhatikan dengan seksama, jurus yang digunakannya mirip orang yang sedang merangkai bunga.
Merangkai bunga banyak jenisnya, Setiap jenisnya menunjukkan pandangan yang berbeda-beda.
Seperti ilmu pedang atau ilmu golok dari berbagai aliran yang tidak sama.
Gerakan yang berbeda juga menimbulkan kekuatan yang berbeda pula.
Ingatan Kwe Po Giok sangat tajam, Setiap perubahan yang dilihatnya akan teringat selamanya, Gerakannya bagai bunga-bunga yang bermekaran di musim semi, Sun Put Ce berteriak nyaring, Dia mengeluarkan sebuah jurus ampuh dari ajaran Fang Tiong Seng, namun Kwe Po Giok berhasil memecahkannya.
Dia sendiri agak terkejut melihat kenyataan tersebut.
Kekuatan apa yang membuat dirinya maju sepesat ini?
Rangkaian bunga benar-benar bisa digunakan untuk melawan ilmu pedang?
Rasanya tidak masuk akal, Hal ini memang perlu dimaklumi Meskipun dia sudah banyak belajar.
Tapi selama ini dia boleh dibilang tidak mempunyai kesempatan untuk menggunakan ilmunya.
Tiba-tiba Kwe Po Giok melesat ke udara.
Tubuhnya memutar seperti sebuah kitiran angin.
Ketika turun, tubuhnya meluncur, Tangan yang tergenggam di tangan terulur lurus, Mengarah tenggorokan Sun Put Ce....
Sebetulnya Sun Put Ce juga sempat melihat Siau kiong cu merangkai bunga ketika berada di atas kapal Tang hai sin sian, Dia juga sempat belajar sedikit ingatannya juga sangat tajam.
Namun orang yang benar-benar mengerti dirinya sangat sedikit Lagipula yang dilihat olehnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Kwe Po Giok.
"Aku sudah memecahkan ketiga belas jurus sayap bangaumu,"
Kata Kwe Po Giok dengan suara dingin. Ternyata ada senyuman tersungging di bibir Sun Put Ce.
"Bagus sekali! Cara pemecahan yang sangat bagus!"
Katanya nyaring, Mereka bagaikan dua orang sahabat yang sedang berlatih Tidak tampak keseriusan sama sekali.
"Kau bilang cara pemecahannya bagus?"
Tanya Kwe Po Giok mengira dirinya salah dengar.
"lya! Bagus sekali!"
Sahut Sun Put Ce dengan nada yakin.
Kwe Po Giok tiba-tiba menyerang dengan tenaga penuh.
Sun Put Ce juga memperlihatkan reaksi yang cepat Dia menggeser tubuh sejauh tiga depa.
Namun dia terlambat beberapa detik.
pedang Kwe Po Giok telah menyayat tenggorokannya.
Darah segar menyembur Tubuh Sun Put Ce rubuh ke tanah.
Kwe Po Giok terpana.
"Mengapa kau tidak menghindar? Aku yakin kau masih sanggup melakukannya,"
Kata pemuda itu sedih, Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Tidak.... Aku memang bukan tandinganmu lagi. Dan aku tahu kau tidak akan tega membunuhku...."
"Tentu tidak... Aku hanya ingin kau membawa sedikit bekas luka kembali ke rumah Fang Tiong Seng,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku...."
Sun Put Ce jatuh tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, Sun Put Ce memicingkan mata menatap sekitarnya. Kwe Po Giok sudah tidak terlihat lagi. Namun di sampingnya berlutut seorang lain.
"Kau sudah bangun.... Akhirnya nyawamu berhasil dipungut kembali,"
Kata Bwe Mei dengan nada lega.
Sun Put Ce bagai baru terjaga dari sebuah mimpi buruk, Meskipun hanya sebuah mimpi buruk, Sun Put Ce menganggap bahwa di dalam dunia lebih banyak penderitaan dari pada kebahagiaan.
Tapi biar bagaimana hidup lebih baik dari pada mati.
Paling tidak, dia dapat bersama gadis cantik ini sekarang, Mungkin juga untuk selamanya.
Ternyata Kwe Po Giok tetap tidak membunuhnya, Dia mengeluarkan tangan untuk meraba tenggorokan Entah siapa yang sudah membalutnya dengan obat Apakah Kwe Po Giok menganggap dirinya sudah mati?
Atau sengaja melepaskannya?
Hal ini belum dapat dijelaskan saat ini.
"Bwe Kouwnio.... Kau yang menyelamatkan nyawaku?"
Tanya Sun Put Ce.
"Bila Kwe Po Giok benar-benar ingin membunuhmu, aku pasti juga tidak sanggup menyelamatkan,"
Sahut Bwe Mei.
"Menurut perkiraan Bwe Kouwnio, Kwe Po Giok memang tidak bermaksud membunuh aku?"
Tanya Sun Put Ce ingin penjelasan yang lebih lengkap.
"Tentu saja! Mungkin juga dia mengira bahwa kau tidak akan tertolong lagi,"
Sahut Bwe Mei.
"Bagaimana pun, kau adalah penolongku,"
Kata Sun Put Ce.
"Sun toako.... Kita tidak usah membicarakan hal ini,"
Pinta gadis itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku pasti bersedia menemani,"
Kata Sun Put Ce.
"Aduh! Sekarang saat apa?"
"Ditilik dari sinar matahari Rasanya hari belum begitu siang,"
Sahutnya.
"Maksudku.... waktu dan detik ini kita tidak perlu meributkan segala pepesan kosong, lebih baik kita cari sebuah tempat untuk merawat luka,"
Kata Bwe Mei sambil tertawa getir.
"Baik...."
Sun Put Ce merasa bahwa setiap perempuan pasti memiliki jiwa keibuan.
ini merupakan hukum alam, Tidak heran kalau suhengnya merasa iri.
Dia memang tidak memiliki kelebihan, tapi banyak perempuan yang menaruh perhatian kepadanya.
Lilin merah besar memancarkan sinar membara, Dua orang manusia duduk berhadapan.
Di bawah cahaya, sang wanita terlihat semakin cantik, apalagi dia adalah seorang wanita yang sudah matang dan banyak pengalaman.
Di dalam dada Kiau Bu Suang ada setungku api, persis seperti api yang keluar dari lilin merah, Dayang Cui thian memang tidak dapat melebihi Lian lian, Chow Ai Giok juga tidak dapat menandinginya, Chow Ai Giok hanya menang remaja saja, Gadis memang selalu memikat.
"Lian toa moicu, Aku sudah melaksanakan apa yang kau pinta,"
Kata Kiau Bu Suang.
Dengan kedudukan Kiau Bu Suang, sebetulnya tidak ada orang yang dapat membuatnya bicara dengan nada selembut itu.
Meskipun seorang laki-laki bisa malang melintang di dunia persilatan, tapi seorang perempuan selalu menemukan jalan untuk menundukkannya.
Wajah Lian lian sangat kaku, justru kekakuannya yang membuat Kiau Bu Suang agak segan, Bila dia sering tertawa-tawa maka seorang laki-laki akan menganggapnya gampangan.
Dia mempunyai kepandaian untuk memancing seorang laki-laki.
Umpan apa pun yang diikatkan pada kailnya, seekor ikan besar akan terpancing.
Dia menganggap laki-laki mudah dikendalikan, lagipula ia mempunyai naluri alami dalam menangani seorang laki-laki.
Dan wajah kaku memang lebih mujarab dari tawa senyum.
Lian lian meliriknya sekilas, Meskipun wajahnya kaku namun sinar matanya justru mengandung gairah.
Kiau Bu Suang hampir tidak dapat menahan diri.
Tapi dia sadar, perempuan yang satu ini tidak dapat disamakan dengan dayang Cui thian dan Chow Ai Giok, perempuan lain tentu mudah diajak ke atas tempat tidur, Lian lian merupakan kekecualian.
Dia mempunyai wibawa yang mana laki-laki tidak akan berani bertindak kurang sopan.
"Apa yang telah kau lakukan?"
Tanya Lian lian dengan suara dingin.
"Dayang Cui thian sudah kukuasai, dia akan melaporkan setiap tindak tanduk orang itu,"
Kata Kiau Bu Siang menjelaskan.
"Apa sudah terlihat hasilnya?"
Tanya Lian lian kembali.
"Paling tidak, si papan gilasan sudah terpikat olehnya,"
Jawab Kiau Bu Suang.
"Terpikat?"
Tanya Lian lian memperdengarkan tawa sinis.
"Tentu! Dayang Cui thian mempunyai keistimewaan yang dapat membuat kaum laki-laki terlena,"
Sahut Kiau Bu Suang yakin.
"Kau kira dia benar-benar bisa menguasainya?"
Kata Lian lian memancing rasa penasaran Kiau Bu Suang.
"Apakah menurut Lian toa moicu, dia tidak akan sanggup?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Doakan saja dia sanggup.... Apakah ada hasil lainnya?"
Kata Lian lian dengan jawaban mengambang.
"Gerakan pihak sana tidak akan lolos dari perempuan itu,"
Sahut Kiau Bu Suang yakin.
"Apakah dia berhasil memancing siapa yang membunuh Hiat Eng (Elang salju)?"
Tanya Lian lian kembali.
"Saya rasa semuanya tinggal menunggu waktu saja,"
Sahut Kiau Bu Suang. Tampang laki-laki itu terlihat agak aneh sewaktu mendengar pertanyaan tersebut, seolah ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Baiklah kalau begitu, Kita boleh memberi dia sedikit waktu lagi,"
Kata Lian lian setelah merenung sejenak.
"Ada urusan apa lagi?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Selidiki sampai jelas apakah Toa Tek To Hun sudah meninggalkan Tionggoan?"
Kata Lian lian.
"BetuL., betul! persoalan ini perlu diselidiki sampai jelas,"
Sahut Kiau Bu Suang, Dia menuangkan arak ke dalam cawan Lian lian.
"Lian toa moicu.... Harap kau tidak membuat aku kecewa, juga jangan membuat aku terlalu berharap kosong,"
Lanjutnya.
Sinar mata Lian Han bagaikan tungku yang membara, Tatapan Kiau Bu Suang terpaku kepadanya.
Cahaya yang terpancar dari mata mereka bagaikan sepasang lilin yang menyala di dalam kamar tersebut Kiau Bu Suang mengulurkan tangan untuk menggenggam jari-jarinya yang lentik dan halus.
Bentuk tangan itu sangat mempesona.
Tidak terlihat sedikit pun urat yang menonjol.
Warna kulitnya seputih batu kumala.
KesepuIuh jarinya lentik-lentik, Namun Lian lian menariknya kembali.
"Usahalah lebih giat. Aku tidak akan mengecewakan dirimu,"
Katanya.
Diambilnya pedang panjang yang tergeletak di meja.
Sekali lagi dia menoleh dan tersenyum kepada Kiau Bu Suang, Hati laki-laki itu laksana terbang di angkasa.
Dalam ruangan keluarga Fang.
Menjelang siang matahari baru terbit, karena hujan turun terus menerus selama setengah hari.
Mo Put Chi masuk dan membungkukkan tubuhnya dengan hormat.
"Suhu... Teecu sudah mencari kemana-mana, Namun bayangan Sam sute tetap tidak kelihatan,"
Katanya melaporkan. Fang Tiong Seng tidak menoleh, dia tetap sibuk mengguntingi tangkai bunga yang telah layu.
"Apakah kau melihat Kwe Po Giok?"
Tanyanya.
"Teecu juga tidak melihatnya, Suhu,"
Sahut Mo Put Chi.
"Siau kiong cu?"
Tanya Fang Tiong Seng kembali.
"Tidak juga. Teecu rasa mungkin dia bersama-sama Kwe Po Giok,"
Sahut Mo Put Chi.
Fang Tiong Seng tidak bersuara, Hanya suara gerakan gunting yang menimbulkan bunyi cep!
cep!
Berkali-kali.
pokoknya rantingranting yang kering dan segala macam yang tidak bermanfaat harus dibuang.
"Suhu... Mengapa tidak menanya kepada Cui A ie (bibi)? Mungkin dia tahu jejak Kwe Po Giok dan Siau kiong cu,"
Kata Mo Put Chi menyarankan.
"Suhu menyuruhmu mencari Sun Put Ce. Mengenai orang lain, Suhu bisa urus sendiri,"
Sahut Fang Tiong Seng tetap menekuni pekerjaannya.
"Baik!"
"Put Chi.... Coba kau pikir baik-baik.... Kemana kira-kira perginya Sun Put Ce?"
Tanya Fang Tiong Seng. Mo Put Chi menggelengkan kepalanya.
"Teecu tidak tahu, Sun sute orangnya bijaksana. Mestinya tidak akan mengalami apa-apa. Hanya...."
Kata-katanya terhenti Dia raguragu melanjutkan apa yang terlintas di benaknya.
"Apakah ada hal yang sulit kau jelaskan kepada Suhu?"
Tanya Fang Tiong Seng dengan mata menatap tajam.
"Bukan... bukan! Teecu dengar sute mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan dua orang gadis,"
Sahut Mo Put Chi gugup.
"Gadis?"
Fang Tiong Seng merasa ucapan itu benar-benar di luar dugaannya.
"Tidak heran kalau Suhu tidak tahu, sebetulnya siapapun tidak mengira kalau Sun sute berwatak mata bongsang,"
Kata Me Put Chi.
"Berdekatan dengan gadis saja, belum dapat disebut mata bongsang,"
Sahut Fang Tiong Seng ketus.
"Betul, Suhu. Cuma teecu kira tidak pulangnya sam sute, mungkin ada kaitannya dengan salah seorang gadis tersebut,"
Kata Mo Put Chi.
"Cari terus, Terutama jejak Kwe Po Giok dan Siau kiong cu!"
Perintah Fang Tiong Seng sambil melanjutkan pekerjaannya kembali "Baik!"
Sahut Mo Put Chi.
Dia membalikkan tubuh dan keluar dari taman itu.
Sun Put Ce dan Bwe Mei menyewa rumah penduduk yang mempunyai tiga kamar kecil.
Setelah beberapa hari tinggal di desa tersebut perasaan rasanya lain sekali, Hujan terus turun membuat pemandangan semakin indah, Rumput menghijau, Gunung dengan selimut kabut menjulang, pikirannya jauh lebih tenang.
Malam hari hanya terdengar suara jangkrik dan kodok.
Sun Put Ce tiba-tiba merasa kehidupan yang selama ini dijalaninya amat tawar, Dunia Bulim penuh dengan kelicikan dan tipu muslihat.
Keadilan tidak dijunjung tinggi lagi, Manusia lebih kejam dari binatang, Mereka tidak segan memangsa sesamanya, Dia ingin sekali meninggalkan keramaian untuk selamanya dan dapat hidup berdampingan dengan Bwe Mei.
Kedua orang itu duduk berhadapan di meja makan, Di atasnya terdapat sepiring tahu.
Bwe Mei sedang memetiki sayuran, Dia menatap leher Sun Put Ce sekejap.
"Apakah sudah terasa lebih baik?"
Tanyanya.
"Saya tidak mengharapkan luka ini cepat sembuh,"
Sahut Sun Put Ce. Namun dia tetap menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tidak mengharapkan cepat sembuh?"
Tanya Bwe Mei heran.
"Betul. Karena setelah sembuh, saya harus pergi,"
Kata Sun Put Ce dengan wajah murung.
"Mengapa kau harus pergi?"
Tanya Bwe Mei.
"Kalau pikiran saya bisa terlepas dari segalanya, Hari itu juga tidak perlu memenuhi perintah untuk membunuh Kwe Po Giok,"
Sahut Sun Put Ce.
"Sekarang berubah haluan pun masih belum terlambat,"
Kata Bwe Mei.
"Apakah kau kira saya bisa mengkhianati Suhu?"
Tanya Sun Put Ce.
"Mengkhianati orang jahat sama artinya dengan memulai hidup baru,"
Sahut Bwe Mei sambil menghela nafas.
Sun Put Ce tidak sanggup berkhianat, namun bukan berarti dia tidak menerima sama sekali nasehat Bwe Mei.
Gadis itu sedang memandanginya.
Sinar matanya memancarkan kasih sayang yang dalam.
"Kalau kau mau berjanji untuk tidak kembali lagi ke tempat suhumu, sekarang juga aku akan mempersembahkan segalanya untukmu,"
Kata Bwe Mei.
Dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sun Put Ce.
Laki-laki itu hampir pingsan, Setiap orang pasti berharap memeluk kekasih hati.
Melakukan sesuatu yang sering terbayang di alam mimpi.
Begitu pula Sun Put Ce, Dalam keadaan tertentu, kebutuhannya akan perempuan melebihi kebutuhan mengisi perut atau menghilangkan rasa dahaga.
Pada saat itu, mungkin dia rela mengorbankan segalanya asal keinginan hatinya terpenuhi.
Hal ini sebetulnya mudah sekali didapatkan.
Asalkan dia berjanji untuk tidak kembali lagi pada suhunya, dia akan memperoleh apa yang terbayang dalam mimpinya segera.
Dalam hati kecilnya, Sun Put Ce sadar, apa yang diperintahkan kepadanya bukan perbuatan seorang laki-laki sejati.
Namun, dia melaksanakan perintah tersebut dengan hati ikhlas, Budi suhu yang telah membesarkannya selalu terbayang di pelupuk mata.
"Pek sang hau wi sin" (Segala kebaktian harus diutamakan) pepatah itu tidak dapat terlepas dari sanubarinya. Payudara Bwe Mei lembut seperti kapas, namun membawa kehangatan musim panas, dia bahkan memeluk Sun Put Ce eraterat, Harum keringat yang mengalir serta aroma bedak menerpa hidungnya. Dalam seumur hidupnya, baru pertama kali ia begitu dekat dengan seorang perempuan. Dengan penuh gairah dia membalas pelukan Bwe Mei dan menciuminya dengan penuh nafsu. Kedua orang itu bagai terekat menjadi satu. Untuk sementara yang ada hanya degupan jantung dan nafas yang memburu. Bwe Mei juga belum pernah diperlakukan demikian mesra oleh seorang laki-laki. Beginikah rasanya berdekatan dengan laki-laki? perempuan yang berpikir demikian, pasti sedang dilanda oleh asmara. Bagaimanakah laki-laki itu? Dia sendiri belum dapat menjawab dengan pasti. Sun Put Ce merangkulnya, wajah keduanya saling menempel. Gesekan-gesekan tersebut membawa perasaan tersendiri dalam jiwa mereka. Dalam hati Sun Put Ce hanya ada satu perasaan, ternyata seorang gadis bisa membawa kenikmatan sebesar ini! Tentu saja, bukan semua perempuan bisa memberikan kenikmatan demikian. Dia menggendong Bwe Mei dan meletakkannya di tempat tidur. Senja sudah merayap, melepas segaris sinar merah yang menerobos melalui jendela, cahayanya menerangi wajah gadis itu. Rona merah di pipinya membuat wajah itu semakin mempesona. Pandangan mata Sun Put Ce sudah tersihir oleh pakaiannya yang mulai terbuka sebagian. Namun tangannya masih belum mulai meraba karena perintah suhunya masih terus terngiang di telinga....
"Kau harus melaksanakan dengan sebaik-baiknya, Aku menyuruhmu melakukannya, harus lebih handal dari toa suhengmu sendiri."
Tiba-tiba Sun Put Ce membalikkan tubuh dan keluar dari rumah itu.
Tadinya Bwe Mei mengira Sun Put Ce akan menutup pintu.
Hari masih belum gelap.
Tentunya semua jendela atau pintu harus terkunci rapat, Meskipun pikirannya ruwet, namun menyandarkan hidup kepada laki-laki seperti ini, tentu akan tenang selamanya.
Untuk mencegah Sun Put Ce kembali ke samping orang jahat itu, dia rela mempersembahkan benda yang paling berharga bagi seorang gadis.
Tetapi setelah menunggu sekian lama, dia tetap tidak mendengar sedikit pun gerakannya.
"Apakah dia tiba-tiba berubah pikiran dan kembali ke samping suhunya lagi?"
Tanya Bwe Mei dalam hati.
Dia tidak menemukan alasan lain yang lebih tepat, keadaan dalam rumah itu sunyi senyap, Di dalam ruangan tidak terdapat seorang pun, hanya tinggal dia seorang diri, Tiba-tiba hatinya merasa terpukul, Dia merasa dihina dan dianggap rendah, Bwe Mei bangkit dan duduk tegak, airmatanya bercucuran.
Pada saat itu, dari arah luar berkumandang suara tawa yang mengandung ejekan.
Kemudian disusul bayangan seseorang yang menerobos masuk.
Rasa malu Bwe Mei sudah pada puncaknya, Orang yang datang ternyata Chow Ai Giok, Bwe Mei yakin dia sudah melihat semua yang terjadi dari tempat persembunyiannya.
Tidak salah!
Kalau Sun Put Ce tidak segera tersadar dan meninggalkan tempat itu, keduanya pasti sudah mati di atas tempat tidur.
Chow Ai Giok sudah berpengalaman, dia tentu saja mengerti bagaimana perasaan Bwe Mei saat itu.
"Sengaja menyerahkan diri pun tidak di terima,"
Ejeknya sambil mencibirkan bibir. Bwe Mei juga berpikir begitu, Dia tetap tidak menemukan alasan penolakan Sun Put Ce terhadap dirinya. Oleh sebab itu dia menjadi benci.
"Apa urusannya denganmu?"
Bentaknya kepada Chow Ai Giok.
"Kalau bukan Sun Put Ce orangnya jujur, reaksinya cepat, tentu kau pikir segala tipu dayamu yang tidak tahu malu itu sudah sanggup menjeratnya,"
Sahut gadis itu.
"Aku tahu dia seorang laki-laki yang baik, namun aku cuma memaksa dirinya untuk berbakti saja,"
Kata Bwe Mei sendu.
"He... he... he...."
Chow Ai Giok tertawa terkekeh-kekeh. Bwe Mei bangkit dari tempat tidur, Dia menepi ke sudut di mana pedangnya tergantung.
"Ambil saja pedangmu itu,"
Sindir Chow Ai Giok yang dapat menangkap maksudnya.
"Chow Ai Giok! Aku menganggap kau ini kurang pekerjaan!"
Kata Bwe Mei.
"Kurang kerjaan?"
Tanya gadis itu seraya melebarkan senyumnya.
"Tidak salah! Kakek sendiri terbunuh, bukannya berusaha mencari siapa pembunuhnya, malah merepotkan urusan orang lain,"
Kata Bwe Mei.
Chow Ai Giok dipermainkan oleh Kiau Bu Suang, semuanya adalah kebodohan dirinya sendiri.
Dia tidak dapat menyalahkan orang lain, Tapi di mana pun manusia dalam dunia memiliki sifat yang sama.
Mereka pasti tidak ingin menunjukkan kebodohannya sendiri Apalagi menyalahkan diri sendiri Oleh sebab itu, dia membenci setiap orang, baik laki-laki ataupun perempuan.
Hanya satu yang terkecuali, yaitu Sun Put Ce.
Dia tahu, Sun Put Ce bukan tidak meneruskan niatnya karena dia.
Namun dalam hatinya dia tetap kagum terhadap laki-laki yang satu ini.
Di dunia ini kebanyakan kaum laki-laki bersifat sama, Lebih baik jangan memulai, bila sudah terlanjur membuka jalan, jangan harap dapat dihentikan Kecuali Sun Put Ce!
Dia tidak tahu mengapa laki-laki yang satu ini sangat ber-beda?
Apakah dia orang yang benar-benar tolol?
Sehingga makanan yang sudah terhidang di depan mata pun dapat dicampakkannya?
Paling tidak, perempuan yang bisa mengerti dan laki-laki yang tahu diri selalu dikagumi orang!
Chow Ai Giok semakin membenci Bwe Mei.
"Setelah urusan ini selesai, baru mencari sang pembunuh pun belum terlambat,"
Katanya tenang.
"Aku bisa menduga siapa pembunuhnya, namun aku tidak akan mengatakannya kepadamu,"
Sahut Bwe Mei.
"Kau pasti akan memberitahukannya kepadaku!"
Kata Chow Ai Giok sambil mengeluarkan pedang.
"Tidak akan!"
Sahut Bwe Mei kukuh.
"Harus! Karena pedang ini akan membuatmu bicara!"
Kata Chow Ai Giok dengan mata membara.
"Pedangku juga akan melarang aku bicara,"
Sahut Bwe Mei.
"Mari kita buktikan. Ucapan siapa yang akan menjadi kenyataan Bwe Mei.... Hari ini kau tidak bisa lolos lagi. Dan nasibmu-pun akan berubah!"
Kata Chow Ai Giok.
Bwe Mei tidak ingin bersilat lidah dengannya, Dia langsung menyerang, Tentu saja dia bukan lawan Chow Ai Giok, Dia hanya mencari akal untuk melarikan diri.
Namun hati Chow Ai Giok telah dipenuhi rasa benci, dan kebencian ini bagai ditumpahkan kepada diri Bwe Mei seluruhnya.
Dia adalah turunan Hiat Eng.
Keganasan dan pengalamannya tidak dapat menandingi Bok lang kun.
Namun ada beberapa jurus yang Bok lang kun sendiri belum sempat mempelajarinya.
Berkali-kali Bwe Mei bermaksud menerobos pintu dan melarikan diri, Namun Chow Ai Giok tidak memberinya kesempatan Dia mengeluarkan seluruh kepandaian menahan serangan gadis itu sebanyak tiga puluh delapan jurus.
Bahaya kematian mendekatinya setindak demi setindak.
Dia dapat melihat hawa pembunuhan dari sinar mata Chow Ai Giok, Tiba-tiba gadis itu merubah gerakannya, Dia mengeluarkan sebuah jurus yang aneh, serangannya terlalu cepat.
Bwe Mei terkesiap, Dia percaya tidak sanggup mempertahankan diri, Dengan panik diangkatnya pedang untuk menangkis.
Tidak dinyana, pedangnya belum mengenai tubuh lawannya, malah pedang Chow Ai Giok sudah bergeser ke samping dan menebasnya.
"Creepp!!!"
Sepotong benda melayang bersamaan dengan suara mengerikan itu.
Pada saat rasa terkejutnya belum sirna, Bwe Mei merasakan lengan kanannya lebih ringan dari biasa.
Dia menundukkan kepala untuk melihat benda yang terlempar tadi ternyata adalah kutungan lengan kanannya.
Bwe Mei menjerit histeris...
Kutungan tangan itu masih menggenggam pedang erat-erat, Di dunia ini ternyata masih ada hal yang lebih mengerikan daripada kematian, Siapa yang tidak ngeri melihat anggota tubuhnya sendiri melayang jatuh ke tanah?
Bwe Mei mengeluarkan sehelai sapu tangan dan menyumbat luka bekas kutungan lengannya itu.
Dia bermaksud mundur dan lari.
Tiba-tiba Chow Ai Giok melemparkan sebotol obat ke tangannya.
"Untukmu!"
Katanya. Tekanan bathin Bwe Mei tidak terkira lagi, Wajahnya pucat tanpa darah setitik pun.
"Apa lagi yang kau inginkan?"
Teriaknya.
"Aku memberi obat untukmu!"
Sahut Chow Ai Giok tenang.
"Kau memberi obat untukku?"
Tanya Bwe Mei seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Mengapa tidak?"
Sahut Chow Ai Giok.
"Mengapa kau tidak membunuh aku?"
Tanya Bwe Mei dengan pandangan sayu.
"Mengapa aku harus membunuhmu?"
Chow Ai Giok balik bertanya.
"Alasan apa yang membuat kau tidak membunuhku?"
Bwe Mei kembali bertanya.
"Karena aku hanya ingin melihat dirimu cacat. Bukan melihat dirimu mati,"
Sahut Chow Ai Giok sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau...!"
Tubuh Bwe Mei terhuyung-huyung, Dalam keadaan demikian mendengar perkataan Chow Ai Giok, ia seperti ada ribuan jarum yang menusuki jantungnya.
"Cukup kejam! Cukup kejam!"
Serunya. Chow Ai Giok tertawa terbahak-bahak, Dia seakan menikmati tontonan yang segar, penderitaan Bwe Mei membuat perasaannya gembira, Tidak terlintas sedikit rasa kasihan pun di benaknya.
"Di dunia ini masih banyak orang yang lebih kejam dariku!"
Katanya sinis. Kata-katanya mungkin benar, namun perempuan sekejam dirinya pasti tidak banyak.
"lngat! Kalau kau masih ingin hidup, obat ini harus lekas dipakai Sehari borehkan sebanyak tiga kali, Kalau tidak, darahmu akan mengalir terus dan mati!"
Kata gadis itu selanjutnya.
"Kau takut aku akan mati?"
Tanya Bwe Mei.
"Tepat! Tapi untuk selamanya kau tidak akan menemukan jawabannya."
Kata gadis itu.
Dia membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat tersebut, Bwe Mei segera mem-borehkan obat di atas lukanya, Dia termasuk gadis pemberani.
Kalau hal ini terjadi pada diri orang lain, tentu sudah jatuh pingsan sejak tadi.
Namun dia tidak hentinya bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah dia lebih baik mati?
Kalau ingin mati, tidak perlu menghentikan darah yang mengalir, Kalau ingin hidup, harus secepatnya memakai obat itu.
Chow Ai Giok ingin dirinya terus hidup agar dipandang hina oleh orang lain, dengan demikian perasaannya baru dapat bergembira, Di dunia ini ternyata ada manusia macam dirinya, Mereka membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain.
Manusia semacam ini biasanya bersifat jahat, selamanya susah dirubah, Atau kalau tidak, mereka pernah mengalami hal yang terlalu menyakitkan sehingga ingin melihat semua orang di dunia ikut menderita seperti halnya mereka sendiri.
Manusia semacam ini sudah tidak waras, mereka rela melakukan apa saja asal dapat membuat orang lain lebih menderita daripada mereka.
Apa yang dilakukan Kiau Bu Suang terhadapnya meninggalkan kepedihan yang dalam.
Dia ingin membalas sepuasnya.
Seorang perempuan paling tidak sanggup menerima penghinaan seperti itu.
Hanya kesuciannya yang diinginkan Setelah itu, tidak ada kedua kalinya!
-ooo0ooo Sun Put Ce berlutut di bawah kaki Fang Tiong Seng.
Dia melaporkan semua pengalamannya.
Tempat ini adalah ruang rahasia, hanya mereka berdua yang ada dalam ruangan tersebut Fang Tiong Seng terkejut sekali, Pokoknya, asal mendengar ada seseorang yang berilmu tinggi, hatinya akan terkesiap.
Di dunia ini tidak boleh ada orang yang dapat menandinginya.
"Kau mengatakan bahwa Kwe Po Giok sangat lihai?"
Tanyanya sekali lagi, Dia berharap pendengarannya salah tadi.
"Paling tidak, teecu bukan tandingannya,"
Sahut Sun Put Ce.
"Siapa orangnya yang sanggup membuat ilmunya setinggi itu dalam waktu demikian singkat?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Tidak ada orang yang sanggup, Suhu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Jangan berkata yang bukan-bukan!"
Bentak Fang Tiong Seng.
"Suhu.... Pertama kali ia datang kemari, ilmunya sudah tidak dapat dipandang rendah"
Kata Sun Put Ce.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya Fang Tiong Seng dengan pandangan menyelidik "Teecu pergi bersamanya ke lautan Timur untuk mencari Tang hay sin sian, Dia pernah menimpuk Cu lao thaiya dengan makanan kecilnya sendiri sampai mati,"
Sahut Sun Put Ce menjelaskan.
Dia menceritakan kembali kejadian yang dialaminya bersama Kwe Po Giok di pesisir pantai tempo hari, Fang Tiong Seng tiba-tiba seperti berubah menjadi sebuah patung kayu, Dia berdiri tegak tanpa bergeming sedikit pun.
Sejak dulu Sun Put Ce sudah tahu, kalau suhunya tidak berbicara dan mematung, berarti otaknya sedang bekerja.
Juga sedang membuat rencana, Dan rencananya tentu menyangkut kematian seseorang.
"Tentunya kau dapat melihat, jurus apa yang digunakannya?"
Tanya Fang Tiong Seng kemudian.
Sun Put Ce adalah seorang yang mempunyai akal tinggi, paling tidak, dia jauh lebih cerdas dari Toa suheng dan Ji suhengnya, Kalau berganti dengan kedua orang itu, mereka pasti akan mengatakan seluruh hal yang diketahuinya kepada suhu tersebut.
Tetapi dia juga tidak berbohong sama sekali, pikirannya kalut, Kalau dia mengatakan bahwa ilmu Kwe Po Giok berasal dari rangkaian bunga, tentu suhunya akan mengejar bocah itu sampai dapat, Mungkin Siau kiong cu juga tidak terlepas dari bahaya.
"Jurus yang digunakannya sangat aneh."
Akhirnya Sun Put Ce menjawab.
"Tidak dapat menebak dari perguruan mana?"
Tanya Fang Tiong Seng. Sun Put Ce tidak lupa budi suhu yang telah membesarkannya. Keadaannya saat ini adalah karena terpaksa, Iya...."
Sahutnya.
"Ketika di atas kapal, apakah dia pernah belajar ilmu silat dari Tang hay sin sian?"
Tanya Fang Tiong Seng kembali.
"Teecu yakin tidak pernah,"
Sahut Sun Put Ce. Dia memang tidak berbohong, Kwe Po Giok memang tidak pernah belajar langsung dari Tang hay sin sian. Fang Tiong Seng merenung sejenak.
"Bagaimana kungfunya Siau kiong cu?"
Tanyanya.
"Setahu teecu, Siau kiong cu tidak bisa ilmu silat,"
Sahut Sun Put Ce.
"Tidak bisa?"
Fang Tiong Seng menghentikan pertanyaannya, Dia menatap Sun Put Ce dengan pandangan menyelidiki seakan ingin melihat kejujuran dari sinar matanya itu.
Fang Tiong Seng tentu saja tidak percaya.
Biarpun dia tahu, Sun Put Ce tidak suka berdusta, sebetulnya Sun Put Ce sendiri tidak tahu apakah Siau kiong cu bisa ilmu silat?
Namun dia hanya mendugaduga saja dalam menjawab pertanyaan suhunya.
Dia hanya pernah melihat gadis itu merang-kai bunga dan sama sekali belum pernah melihatnya melatih silat, Dia berani menjawab seperti itu juga ada alasannya, Dia sering melihat para pelayan mengangkat kan benda-benda yang agak berat untuk Siau kiong cu.
Kelihatannya gadis itu memang bertubuh lemah.
"Benar-benar tidak bisa? Sedikit pun tidak?"
Tanya Fang Tiong Seng sekali lagi.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce kepalang tanggung.
"Mustahil!"
Kata Fang Tiong Seng, Dia berhenti sejenak untuk memperhatikan reaksi murid bungsunya.
"Segala yang kuperintahkan kepadamu, sama sekali tidak boleh diceritakan kepada orang lain, mengerti?"
Lanjutnya.
"Baik!"
Sahut Sun Put Ce.
"Termasuk suhengmu!"
Kata Fang Tiong Seng lagi.
"Baik!" -ooo0ooo-Di tepi telaga ada sebuah gedung yang mewah. Tanahnya tidak terlalu luas, namun bentuk bangunannya sangat istimewa. Orang yang ahli dalam hal bangunan, tentu akan mengetahui bahwa pemiliknya pasti bukan dari kalangan biasa. Sebuah jembatan yang panjang dibuat untuk mencapai sebuah tempat peristirahatan di tengah telaga, Atapnya berbentuk pagoda, dengan empat tiang yang besar-besar sebagai penyangga, Di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja marmer dengan beberapa buah kursi batu kumala. Di sekelilingnya terbuka, Di musim semi orang dapat menatap keindahan telaga dan mendengar rintik hujan yang merdu. pada musim dingin terlihat gumpalan salju dan menikmati cahaya rembulan, Pokoknya, setiap saat tempat itu memang tepat untuk digunakan sebagai pelipur hati. Pemilik gedung dan tempat peristirahatan itu bernama See Kong Be Hun. Orang ini bisa ilmu silat, bahkan ilmunya cukup tinggi namun dia tidak pernah berkelana di dunia Bulim, itulah sebabnya jarang orang-orang dunia kangouw yang mengenal orang ini. sedangkan Kwe Po Giok dan Siau kiong cu malah tinggal di tempat ini. Ternyata See Kong Bo Hun adalah Susiok Kwe Po Giok. Istri See Kong Bo Hun sudah meninggal Dia tidak mempunyai keturunan Kecuali lima orang pelayan yang mengurus gedung itu, tidak ada keluarga lainnya lagi, Kedatangan Kwe Po Giok dan Siau kiong cu meramaikan suasana rumah, membuat See Kong Bo Hun senang bukan kepalang. Mereka disediakan kamar tidur yang paling besar. Dia juga berpesan, bila pasangan itu menikah, jangan tinggal di tempat lain melainkan menetap di gedungnya saja. Telaga itu memang tidak terlalu besar, namun cukup luas juga. jelas telaga itu bukan telaga alam, tapi buatan, Namun hasil karya orang yang membuatnya perlu diberi acungan jempol. Pada jaman itu mungkin orang yang dapat membuat telaga buatan seindah itu dapat dihitung dengan jari. Pada musim panas pun angin tetap berhembus membawa kesejukan, Tempat ini memang cocok untuk memadu kasih, Pada saat ini, Kwe Po Giok dan Siau kiong cu sedang duduk berhadapan Mereka duduk di ruangan besar dengan sebuah kolam kecil yang dikelilingi tumbuh-tumbuhan. Bentuknya seperti taman. Dengan rumput-rumput yang tebal, namun ruangan ini tidak terbuka seluruhnya sebagaimana taman-taman biasa. Usia Siau kiong cu sudah tujuh belas, dan Kwe Po Giok masuk delapan belas tahun, Namun keduanya masih kekanak-kanakan, Tetapi daya minum orang dewasa pun tidak akan sekuat kedua remaja tersebut. Wajah Siau kiong cu memburat kemerahan di pipi, membuat kecantikannya semakin nyata.
"Po Giok.... Mengapa kau ingin membunuh Sun Put Ce?"
Tanya gadis itu.
"Karena dia terlalu setia terhadap Fang Tiong Seng,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Setia terhadap guru apa apa salahnya "
Tanya Siau kiong cu.
"Saya juga mempunyai pikiran yang sama...."
Kata Kwe Po Giok.
"Lalu mengapa kau ingin membunuhnya?"
Tanya Siau kiong cu tidak habis mengerti akan sikap kekasihnya itu.
"Dia yang ingin membunuh saya, sedangkan saya belum berhasil membunuhnya,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Dia tidak mati?"
Tanya Siau kiong cu terkejut.
"Betul.... seharusnya dia belum mati,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Apakah kau tidak sampai hati turun tangan terhadapnya?"
Tanya Siau kiong cu.
"Dia adalah orang baik, Juga sangat berbakat. Sayang sekali pendiriannya terlalu kukuh, apa pun sukar merubah niat dalam hatinya,"
Kwe Po Giok menjelaskan. Siau kiong cu menarik nafas panjang.
"Dapat memandang debu seperti permata, dia juga mempunyai kesulitan tersendiri yang tidak dapat diutarakan, Untuk apa kau terlalu menyusahkan dirinya?"
Sahut Siau kiong cu.
"Bagaimana kau dapat menganggap hal ini tidak terlalu menyusahkannya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Yang kau maksudkan adalah tidak beraninya Sun Put Ce mengkhianati suhunya, bukan? Bagaimana kalau kau yang mengganti dirinya saat ini?"
Siau kiong cu balik bertanya. Tiba-tiba wajah Kwe Po Giok menjadi kelam. Dia merenung sekian lama.
"Lu ji.... pertanyaanmu bagus sekali, mungkin mata manusia diciptakan lebih baik untuk memandang orang daripada diri sendiri Manusia biasanya memang hanya bisa menyalahkan orang lain, sedangkan diri sendiri selalu benar,"
Sahutnya kemudian. Nama Siau kiong cu adalah Lulu, Kwe Po Giok memanggilnya Lu ji (Anak Lu),"
Sebagaimana Tang hay sin sian selalu "memanggilnya.
"Akhirnya kau memaklumi Sun Put Ce juga,"
Kata gadis tersebut Kwe Po Giok menganggukkan kepalanya.
"Entah bagaimana caranya dia melaporkan kejadian tersebut kepada suhunya?"
"Bukankah kau mengatakan bahwa dia sangat cerdas?"
Tanya Siau kiong cu.
"Aku memang pernah berkata demikian,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kalau begitu, dia pasti bisa mengemukakan alasan yang tepat,"
Kata Lu ji. Dia berhenti sejenak.
"Fang Tiong Seng mempunyai seorang simpanan. Tahukah kau siapa orangnya?"
Wajah Kwe Po Giok berubah semakin kelam.
"Luji.... sebaiknya kau tidak usah menanyakan hal tersebut,"
Katanya.
"Caramu ini bukankah membuat aku semakin penasaran?"
Tanya Siau kiong cu.
"Keringkan cawan,"
Kata Kwe Po Giok berusaha mengalihkan percakapan.
"Tidak.... Sebelum kau mengatakan siapa orangnya, aku tidak mau minum,"
Sahut Siau kiong cu keras kepala.
"Orang itu adalah dayang Cui thian,"
Kata Kwe Po Giok akhirnya. Cawan di tangan Siau kiong cu terlepas.
"Trang!!!"
Suaranya memekakkan telinga, pecahan cawan itu berserakan kemana-mana.
isinya juga tumpah, sebagian bahkan membasahi pakaiannya sendiri.
Tiba-tiba Siau kiong cu berdiri dan mencengkeram tangan Kwe Po Giok.
"Po Giok.... Katakan.... Apakah dia menjadi mata-mata di samping ayahku selama ini?"
Tanyanya. Kwe Po Giok tidak sanggup menatap mata gadis itu, dia hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Coba kau katakan... apakah ayahku cao hue jit rao, ada hubungannya dengan dayang Cui thian?"
Tanya Siau kiong cu dengan mata semakin membara. Sekali ini Kwe Po Giok menggelengkan kepalanya.
"Maksudmu, tidak ada hubungannya?"
Tanya Siau kiong cu kurang percaya.
"Tidak.... Aku tidak tahu,"
Sahut Kwe Po Giok. Air mata Siau kiong cu bercucuran "Po Giok, salahkah bila aku menganggap dayang Cui thian sebagai musuh besar nomor dua?"
Tanyanya.
"Tidak...."
Sahut Kwe Po Giok, Pada saat itu, sebuah bayangan meloncat ke tepi kolam, Kwe Po Giok terperanjat Orang-orang Bulim tidak mungkin mengetahui mereka berada di tempat ini.
Untuk melindungi Siau kiong cu, Kwe Po Giok segera menarik lengan gadis itu dan menyerang orang yang baru datang.
Serangan ini sedikitnya mengandung lwekang sebanyak tujuh bagian, orang-orang Buiim saat ini yang bisa menerima serangan itu tidak banyak, Namun orang yang baru datang itu dengan mudah mengelit ke samping, tangannya dikibas-kibaskan.
"Jangan salah paham!"
Katanya.
Ketika kedua remaja itu menatap tamu yang baru datang, mereka mengira mungkin benar-benar telah terjadi salah paham, Bisa jadi orang ini adalah tamu pemilik rumah, perempuan ini berusia tiga puluhan, mungkin kurang sedikit.
Cantik, mempunyai daya tarik tersendiri Laki-laki mana pun yang menatapnya pasti akan tergerak .
Kwee Po Giok merangkapkan kedua kepalannya, Dia menjura hormat.
"Kouwnio adalah...."
"Namaku Lian lian,"
Sahut perempuan itu.
"Apakah Kouwnio yang mendapat julukan It ki bwe?"
Tanya Kwe Po Giok dengan mata terbelalak.
"Betul!"
Sahut Lian lian. Kwe Po Giok pernah mendengar nama It ki bwe, namun belum pernah melihat orangnya. Dia sama sekali tidak menyangka orang yang bernama besar itu ternyata masih demikian belia.
"Apakah Kouwnio mengenal pemilik gedung ini?"
Tanyanya.
"Tidak, Aku sengaja datang untuk menemui kalian berdua,"
Kata Lian lian.
"Lian cici menemui kami untuk keperluan apa?"
Tanya Lu ji.
"Siapa Fang Tiong Seng, aku rasa tidak perlu dijelaskan lagi. Sekarang sayapnya terbentang semakin lebar. Kita tidak boleh menganggap remeh, Untuk membasmi orang ini, harus kerja sama yang kompak,"
Sahut Lian lian.
"Betul! Tidak boleh terulang kembali kejadian seperti Toa Tek To Hun. Para jago kaum Buiim bukannya bersatu, malah menyembunyikan diri masing-masing,"
Sambung Lu ji.
"Apa yang dikatakan Siau kiong cu memang tepat! Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!"
Kata Lian lian. Dia menoleh ke arah Kwe Po Giok.
"Bagaimana pendapat Kwe siaute tentang hal ini?"
Tanyanya. Kwe Po Giok adalah seorang sin tong (Anak ajaib), Tentu saja dia mempunyai pikiran tersendiri Apalagi dia pernah mendengar tentang masa lalu Lian lian.
"Siaute bersedia mendengar Lian cici lebih dahulu,"
Sahutnya.
"Kepintaran Kwe siaute melebihi orang biasa, Bila kita bekerja sama, tentu tidak sulit membasmi musuh besar ini,"
Kata Lian lian.
"Apakah Lian kouwnio tahu rahasia tentang Fang Tiong Seng?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Kemungkinan besar, kedatangan Toa Tek To Hun adalah atas undangannya,"
Sahut Lian Han, Kwe Po Giok tidak menggeleng atau menganggukkan kepalanya.
"Tentunya dengan maksud meminjam tangan menyembelih ayam,"
Lanjut perempuan itu. Hal ini bukan rahasia lagi bagi Kwe Po Giok.
"Mengapa Kwe siaute diam saja? Apakah terkaanku salah?"
Tanya Lian lian.
"Mungkin benar... Hanya saja Lian kouwnio tampaknya juga kurang yakin,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Aku masih mengetahui satu hal lain,"
Kata Lian Iian kemudian.
"Hal apa?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Aku juga tahu siapa yang membunuh Bok lang kun, Hong be dan Hiat Eng,"
Sahut Lian Iian.
"Orang yang membunuh Bok lang kun dan Hong be adalah Kiau Bu Suang, Dan siapa yang membunuh Hiat Eng belum jelas, Menurut Chow Ai Giok, orang itu dandanannya persis Toa Tek To Hun,"
Kata Kwe Po Giok mendahuluinya.
"Apakah dia benar-benar Toa Tek To Hun?"
Tanya Lian lian.
"Bukan,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Mengapa kau bisa tahu kalau bukan Toa Tek To Hun?"
Tanya Lian lian kembali.
"Berdasarkan akal sehat,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kwe siaute... apakah kau ada minat bekerja sama denganku?"
Tanya Lian Iian.
"Tentu saja ada. silahkan Kouwnio menjelaskan lebih terperinci,"
Sahut Kwe Po Giok tenang.
"Besok malam pada kentungan ketiga, aku akan mengajak Kwe siaute menemui dua orang, Setelah itu baru kita rundingkan bagaimana cara kerja sama kita, Apakah Kwe siaute setuju?"
Sahut Lian lian.
"Siapa yang ingin ditemui?"
Tanya Kwe Po Giok penasaran Lian lian tersenyum manis.
"Rahasia besar tidak boleh dibicarakan Besok malam Kwe siaute akan tahu dengan sendirinya,"
Sahutnya. Lian lian sudah pergi, Di tempat itu kembali tinggal dua orang remaja tersebut Tiba-tiba Siau kiong cu menjawil lengan kekasihnya.
"Po Giok.... Menurutmu Lian lian cantik tidak?"
Tanyanya.
"Cantik,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Menurutmu... apanya yang cantik?"
Tanya Siau kiong cu kembali. Kwe Po Giok mencoba mengingat-ingat.
"Semuanya cantik,"
Sahutnya kemudian.
Kwe Po Giok berbicara apa adanya, Dia menjawab pertanyaan Siau kiong cu menurut kenyataan yang dilihatnya.
Namun dia lupa, seharusnya tidak boleh memuji kecantikan seorang perempuan di depan perempuan lainnya.
Hal ini malah akan merunyamkan suasana.
Siau kiong cu tersenyum-senyum.
Mimik wajahnya tampak aneh.
"Apakah raut wajahku tidak dapat menandinginya?"
Tanya gadis itu.
"Tidak... kau lebih cantik,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Apakah bentuk tubuhku yang tidak dapat menandinginya?"
Tanya Siau kiong cu tidak mau sudah.
"Juga tidak,"
Sahut Kwe Po Giok. Wajah Siau kiong cu berubah kelam.
"Po Giok.... Kau toh belum pernah melihat bentuk tubuhku, Bagaimana kau bisa tahu kalau aku dapat menandinginya?"
Tanya gadis itu.
"lni hanya dugaan sepintas lalu saja,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Hal seperti ini tidak boleh main duga saja. Harus membandingkan dengan jelas,"
Kata Siau kiong cu.
"Bandingkan dengan jelas? Bagaimana caranya?"
Tanya Kwe Po Giok keheranan.
Siau kiong cu tidak menjawab, Fuhhh!!!
Lilin di atas meja ditiupnya, Di sekitar kolam gelap gulita, Namun sedikit cahaya rembulan yang menerobos masih dapat membuat mata memandang dengan samar-samar.
Hati Kwe Po Giok berdebar-debar, Dia melihat Siau kiong cu sedang melepaskan bajunya, Dia tidak habis pikir, Siau kiong cu adalah seorang gadis yang polos, mengapa dia sanggup melakukan hal seperti ini?
Namun matanya memang tidak salah lihat.
Siau kiong cu jelasjelas sedang melepaskan bajunya.
Bahkan satu persatu dengan gaya memikat, Akhirnya hanya tertinggal tubuh telanjang tanpa sehelai benang pun.
"Lu... Lu ji.... Apa... apa yang kau lakukan?"
Tanya Kwe Po Giok gugup. Siau kiong cu membalikkan tubuhnya.
"Untuk pertama kalinya aku merasa cemburu kepada seorang perempuan sedangkan tampaknya kau sangat menyukai nya. Terus terang saja... kalau aku seorang laki-laki, aku juga pasti akan tertarik kepadanya,"
Kata Siau kiong cu.
"Lu ji.... jangan berkata sembarangan!"
Sahut Kwe Po Giok.
"Aku tidak sembarangan berkata, Aku benar-benar memperhatikan persoalan ini. Aku hanya ingin tahu... Apakah aku benar-benar lebih bagus dari dia atau tidak dapat menandingi dirinya?"
Kata Siau kiong cu dengan nada polos.
"Lu ji,... Kau tentunya melebihi dia!"
Sahut Kwe Po Giok.
"Tidak tentu, Po Giok. Sinar matamu ketika memandangnya... ada beberapa hal yang tadinya tidak begitu kuperhatikan Aku ingat... kau belum pernah menatapku seperti itu!"
Kata Siau kiong cu.
Jilid.
12 Sinar rembulan yang redup, menerobos masuk melalui jendela, Tubuh Siau kiong cu yang berkulit halus makin kentara, pinggangnya yang ramping, payudaranya yang ranum, sepasang pahanya yang mempesona dan gayanya yang lemah gemulai, adalah kenyataan yang terpampang di depan mata.
Tanpa sadar Kwe Po Giok menghampirinya.
Dia memeluk gadis itu dengan segenap cinta kasih, selamanya dia tidak pernah menyangka kalau Lu jinya ternyata mempunyai keberanian sebesar itu.
Mungkin juga Siau kiong cu percaya bahwa Kwe Po Giok hanya menikmati tanpa maksud merusak, namun tubuhnya sedang bergetar jantungnya berdebar-debar, Terbukti berapa besar keberanian yang dikeluarkannya untuk melakukan hal tersebut, untuk memamerkan tubuhnya yang tiada cacat, dia terpaksa melakukannya.
Untuk meyakinkan laki-laki itu dan membuktikan modalnya tinggi, dia berbuat suatu hal yang bahkan dirinya sendiri pun tidak pernah membayangkan selama ini.
"Po Giok.... Katakanlah terus terang.... Apakah aku tidak dapat menandingi perempuan itu?"
Tanya Siau kiong cu dengan nada sendu.
"Tidak... tidak.... Kau jauh lebih bagus dari dia!"
Sahut Kwe Po Giok gugup.
"Lalu mengapa kau menatapnya dengan sinar mata yang tidak pernah kau tujukan kepadaku?"
Tanya Siau kiong cu kembali. Tiba-tiba Kwe Po Giok mengibaskan tangannya dan menghela nafas.
"Mengapa kau menarik nafas? Apakah dia memang lebih bagus daripadaku?"
Tanya Siau kiong cu.
"Bukan.... Sinar mata seperti itu hanya di tujukan kepada perempuan yang menimbulkan keinginan buruk seorang laki-laki, Sinar mata seperti itu dapat ditujukan kepada siapa saja, kecuali dirimu, Pandangan seperti itu sangat tidak sopan untuk gadis sebaik engkau,"
Sahut Kwe Po Giok. Wajah Siau kiong cu tampak tersipu-sipu. *******************************
Jilid 12 Hal 5/6 Hilang ******************************* manis kepada Kiau Bu Suang, Laki-laki itu juga tertawa, Ada pepatah yang mengatakan It hue sin, liong hue suk (Pertama kali asing, kedua kali tentu semakin akrab), Pe-patah itu rasanya memang benar.
"Ai Giok.... Sudah lama tidak berjumpa. Apakah kau sering memikirkan diriku?"
Tanya Kiau Bu Suang, Tentunya hanya laki-laki seperti Kiau Bu Suang yang dapat mengucapkan kata-kata seperti itu..
"Memikirkan dirimu?"
"Mungkinkah tidak pernah memikir-kan?"
Tanya Kiau Bu Suang lagi.
"Pikir sih pikir juga... namun ada orang lain yang lebih memikirkan dirimu daripada aku,"
Sahut Chow Ai Giok.
"Siapa?"
"Bwe Mei,"
Kata Chow Ai Giok menjelaskan.
"Dia memikirkan diriku?"
Kiau Bu Suang seperti kurang percaya.
"Paling tidak.,, kau sering memikirkannya bukan?"
Kiau Bu Suang tersenyum penuh rahasia.
"Boleh juga dikatakan demikian,"
Sahutnya.
"Maukah kau menemuinya?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Mau,"
Sahut Kiau Bu Suang.
"Malam ini pada kentungan keempat, dia ada di tempat ini."
Dia menjulurkan tubuh dan membisiki Kiau Bu Suang tempat tinggal Bwe Mei.
Kiau Bu Suang tahu bahwa Chow Ai Giok mempunyai maksud tertentu dengan memberitahukan alamat gadis itu, tapi dia memang ingin menemui Bwe Mei.
"Chow Ai Giok.... Apa maksudmu? Bolehkah kau katakan kepadaku?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"lngin mengambil hatimu.... perempuan kan berharap menikah dengan seorang laki-laki yang sesuai dengan dambaan hatinya,"
Kata Chow Ai Giok.
"Begitu sederhana persoalannya?"
Tanya Kiau Bu Suang dengan pandangan menyelidik.
"Betul! hanya begitu saja,"
Sahut Chow Ai Giok.
"Katakan kepadaku.... Kau tinggal di mana? Biar aku bisa mengunjungimu untuk membuka kembali kenangan lama,"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Penginapan Lian Gi,"
Sahut gadis itu.
Kiau Bu Suang meninggalkan tempat itu dengan senyum lebar Meskipun orang mengatakan bahwa perempuan sering membuat sial, namun dia tetap tidak menghiraukan kata-kata itu.
-oooo0oooo-Dayang Cui thian tinggal di sebuah kamar pribadi dalam keluarga Fang, Tanpa ijinnya, siapa pun tidak boleh masuk ke dalam kamar tersebut Kecuali Fang Tiong Seng tentunya.
Saat ini dia baru saja memadamkan penerangan dengan niat naik ke atas tempat tidur.
Sebuah bayangan melesat dan berhenti di muka jendelanya.
"Siapa?"
Tanyanya. Di luar jendela terdengar sahutan dengan suara rendah.
"Dayang Cui thian... apakah kau menyambut tamu tidak diundang ini?"
Dayang Cui thian membuka pintu, Penerangan tidak dinyalakan, namun wajah orang yang datang dapat terlihat jelas.
"Kau adalah cucu perempuan Hiat Eng, Chow Ai Giok bukan?"
Tanyanya.
"Tepat!"
Sahut tamu tersebut. Dayang Cui thian bermaksud menyalakan penerangan dalam kamarnya, tapi Chow Ai Giok segera mencegah.
"Kedatangan Chow siaumoi malam ini mungkin ada yang ingin dikatakan?"
Katanya.
"Betul... Dengar-dengar Cui A ie adalah orang kepercayaan Tang hay sin sian, Siau-moi sudah lama kagum,"
Sahut Chow Ai Giok.
"Aku tidak berani menerima,"
Kata Dayang Cui thian.
"Menurut apa yang berhasil kucuri dengar, Kiau Bu Suang ada janji dengan Bwe Mei malam ini,"
Ucap Chow Ai Giok selanjutnya. Dayang Cui thian langsung dapat mengetahui bahwa gadis ini tidak sepolos penampilannya.
"Chow siaumoi.... Kau sengaja datang untuk memberitahukan kabar ini?"
Tanyanya.
"Kiau Bu Suang membunuh kakekku, menyamar sebagai Toa Tek To Hun. Cui A ie pasti tidak akan duduk dan menonton saja. Tentu juga ingin membantu Bulim membasmi orang ini,"
Kata Chow Ai Giok. Dayang Cui thian beranggapan bahwa gadis ini bukan saja berakal banyak, namun pandai mengambil hati orang.
"Mengapa kau memilih aku? Bukankah masih banyak jago lain yang dapat kau pin-takan bantuannya?"
Tanyanya.
"Aku rasa karena sesama perempuan, maka kita akan lebih mudah berunding,"
Sahut Chow Ai Giok.
"Apakah kau tidak sanggup menandingi Kiau Bu Suang?"
Tanya dayang Cui thian.
"Sedang kakek saja bukan saja tandingannya, bukankah pertanyaan Cui A ie terlalu berlebihan?"
Sahut Chow Ai Giok.
"Baik! Terlahir sebagai orang kangouw, tentu harus mengurus kejadian dalam kangouw, Chow siaumoi, mari kita berangkat!"
Kata dayang Cui thian.
Dayang Cui thian berpikir...
Meskipun kau budak kecil mempunyai akal busuk sebanyak apa, masa bisa menandingi kelicikan dirinya?
Dia sudah lama berada di samping Tang hay sin sian sebagai matamata, sedangkan orang sakti itu saja tidak bisa membongkar rahasianya, apa lagi anak kecil seperti Chow Ai Giok, Lagi pula dia terus berada di dekat gadis itu, mana mungkin dia berbuat kejahatan terhadapnya?
-oooo0oooo-Maksud Kiau Bu Suang juga tidak mungkin demikian sederhana, Dia tahu Chow Ai Giok sangat membenci Bwe Mei.
Dia pasti ingin meminjam golok membunuh orang atau paling tidak mempunyai maksud jahat lainnya.
Kata lain dari dunia kangouw adalah pengalaman.
Bayangan Kiau Bu Suang melesat, sekejap kemudian dia sudah berada di luar rumpunan bambu.
Dia sudah melihat orang yang berada dalam rumah itu, tubuhnya begitu kurus kering.
Sejak kehilangan sebelah lengannya, Bwe Mei memendam segala kesedihan di hati, ia berusaha mempertahankan hidup.
Beberapa kali dia hampir bunuh diri, namun hatinya tidak puas.
Kalau membalas dendam ini, dia harus hidup, Betapa sengsaranya pun!
Namun dia juga sadar, dengan keadaan dirinya sekarang, balas dendam bahkan lebih susah daripada mencari sebatang jarum di tengah lautan.
Tentu saja, dia bisa meminta orang lain membalaskan dendamnya.
Misalnya.
Sun Put Ce.
Bwe Mei yakin laki-laki ini akan menyanggupinya, Tetapi dia tidak ingin menyusahkan laki-laki ini, Oleh sebab itu, dia hidup dalam ke putusasaan dari penderitaan yang dalam.
Kiau Bu Suang menyerbu masuk, Bwe Mei terkejut setengah mati.
Laki-laki itu baru melihat lengan Bwe Mei yang tinggal satu, Dia juga ikut terkejut Karena Kiau Bu Suang tidak dapat membayangkan siapa orangnya yang begitu kejam, mengutungi lengan kanan Bwe Mei?
Di dunia ini memang banyak orang yang kekurangan pekerjaan mencari gara-gara terhadap sesamanya.
Namun bagi gadis secantik Bwe Mei, siapa yang tega turun tangan sesadis itu?
Kiau Bu Suang kurang percaya jadinya, Dia mengira Bwe Mei pura-pura cacat supaya kaum laki-laki menjadi kasihan terhadapnya, terutama Kiau Bu Suang.
Satu hal lagi yang umum dalam dunia kangouw adalah rasa curiga yang besar.
Tidak mudah mempercayai keadaan seseorang begitu saja.
Bukankah Kiau Bu Suang pernah melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan dirinya dari kekejaman Toa Tek To Hun?
Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya dan mencengkeram, Lengan kanan itu kosong.
Tidak ada kemungkinan kalau tangan kanan itu di selipkan di belakang, Dia bahkan dapat meraba tonjolan bekas sisa kutungan lengan tersebut.
Hati kedua orang itu sama-sama tergetar.
Terutama Bwe Mei, dia takut setelah cacat bahkan dirinya akan ternoda, Kiau Bu Suang hanya mencengkeram sejenak, kemudian mundur, Dirinya sendiri yang melepaskan cengkeram tersebut.
Orang yang selama ini merupakan idola sempurna baginya, telah menjadi cacat, Dia seakan bertanya kepada dirinya sendiri apakah masih ada daya tarik yang tersisa dari gadis ini?
Kiau Bu Suang menunjukkan mimik penuh perhatian "Siapa yang melakukannya?"
Tanyanya.
"Kau tidak perlu mencemaskan diriku,"
Sahut Bwe Mei ketus.
"Apakah Chow Ai Giok?"
Dia memang seorang bajingan tua, sedikit banyaknya dia sudah mempunyai gambaran tentang orang yang sanggup melakukannya. Bwe Mei tidak menyahut.
"Aku sudah mengerti... Chow Ai Giok pasti yang mengutungi lengan kananmu, Cuma aku tidak tahu apa alasannya"
Kata Kiau Bu Suang.
"Kau tidak usah tahu alasannya!"
Sahut Bwe Mei.
"Aku harap kau mengatakannya kepadaku,"
Kata Kiau Bu Suang.
"Mengapa aku harus memberitahukan kepadamu?"
Tanya Bwe Mei sinis.
"Karena kedatanganku malam ini, adalah hasil pemberitahuannya,"
Sahut Kiau Bu Suang.
Bwe Mei menatapnya dengan sinar mata menusuk.
Pada saat ini, dia baru sadar bahwa hati manusia mengandung racun, Chow Ai Giok marah kepadanya karena dirinya akrab dengan Sun Put Ce, Dia ingin melihat dirinya menderita, Pertama-tama mengutungi lengan kanannya, kemudian memancing Kiau Bu Suang datang untuk menodainya.
Dia tidak ingin dirinya mati dengan mudah.
Apakah hati manusia terbuat dari darah dan daging?
Sungguh tindakannya membuat orang tidak percayai Bwe Mei tiba-tiba mempunyai niat dalam hatinya.
"Betul! Chow Ai Giok yang mengutungi lengan ini,"
Katanya.
"Ternyata memang dia.... Mengapa?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Siapa yang tahu? Mungkin karena rasa cemas,"
Sahut Bwe Mei.
"Cemas tentang apa?"
Tanya Kiau Bu Suang kembali.
"Dia takut kalau orang yang paling dicintainya direbut olehku, Maka dia sengaja membuat diriku cacat,"
Sahut Bwe Mei.
Yang dimaksud tentu saja Sun Put Ce.
Namun Kiau Bu Suang salah pengertian Dia mengira Chow Ai Giok memperebutkan dirinya.
Dia cemburu melihat Bwe Mei yang lebih cantik, perempuan selalu mengharapkan kaum laki-laki mencemburui diri mereka, kaum lakilaki pun mempunyai harapan yang sama.
Tanpa cemburu, tidak dapat membuktikan cinta kasih dan harga diri sendiri.
"Dia benar-benar tidak tahu diri,"
Gumam Kiau Bu Suang. Bwe Mei tidak menyahut, juga tidak berniat menjelaskan lebih terperinci.
"Aku beritahu kepadamu.... Yang aku suka adalah dirimu bukan dia,"
Kata Kiau Bu Suang.
"Mengapa kau harus mengatakannya kepadaku?"
Tanya Bwe Mei datar.
"Karena apa yang aku katakan adalah hal yang sebenarnya,"
Kata Kiau Bu Suang. Kemudian suaranya di rendahkan "Dia menyodorkan pun aku tidak sudi."
Biasanya, kaum laki-laki yang dapat mengatakan hal seperti itu adalah orang yang benar-benar rendah dan tidak tahu malu, Seperti semangkuk air yang jernih, dasarnya dapat terlihat jelas.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin di luar jendela.
Kata-kata terakhirnya sempat didengar oleh dayang Cui thian dan Chow Ai Giok.
Kedatangan mereka sungguh tepat, Mereka mempunyai alasan masing-masing untuk tertawa dingin, hubungan dayang Cui thian dan Kiau Bu Suang sangat dalam.
Dengan segala macam permainan yang melenakan, Kiau Bu Suang membuat perempuan itu bertekuk lutut.
Dayang Cui thian ternyata salah kaprah, Selama ini, dia menganggap bahwa Kiau Bu Suang telah mendapatkan segala macam kenikmatan dari dirinya, mungkin di usirpun tetap tidak akan meninggalkannya.
Setelah mengetahui bahwa kenyataannya sama sekali jauh dari anggapannya, dia berbalik menjadi marah.
Chow Ai Giok berbeda.
Dia juga marah.
Namun kekecewaannya dan rasa malunya lebih membuat dirinya marah, Seorang perempuan yang hanya ingin dinikmati satu kali, bahkan gairah untuk kedua kali pun tidak ada lagi.
Bagaimana perasaannya tidak akan terpukul?
seseorang yang dianggap kaum laki-laki begitu tidak menarik sampai gairah untuk kedua kali pun tidak ada, apa lagi bagi seorang gadis yang baru pertama kali melakukannya, benar-benar merupakan suatu hinaan yang tidak ada bandingannya.
Harga dirinya amblas seketika!
Kedua orang itu tidak dapat menahan diri lagi, Mereka menyerbu masuk ke dalam.
Mereka menganggap dengan bergandengan tangan, mungkin mereka bisa mengalahkan Kiau Bu Suang, Mana mereka tahu bahwa pemeran utama malam itu bukan diri mereka?
Di atas panggung, meskipun hanya seorang figuran, ada orang yang tetap merasa dirinya patut berbangga....
"Kiau Bu Suang.... Kau benar-benar telur busuk!"
Teriak dayang Cui thian sambil menunjuk hidung laki-laki itu.
Di bandingkan dengan kedua gadis itu, usianya lebih tinggi kurang lebih sepuluh tahun.
sedangkan raut wajahnya, tidak dapat menandingi kecantikan Bwe Mei.
Kiau Bu Suang yang melihat kedatangan dayang Cui thian, ikut terkesiap, Dia tentu tidak menyangka, kehadiran orang-orang ini adalah hasil pekerjaan seorang sutradara di belakang layar dan orang ini tentu saja bukan Chow Ai Giok.
"Mengapa kau bisa datang kemari?"
Tanya Kiau Bu Suang heran.
"Aku tidak seharusnya datang?"
Teriak dayang Cui thian kalap.
"Aku mengacaukan rencana baikmu, bukan?"
"Mari.... Kita pulang... nanti akan kujelaskan,"
Kata Kiau Bu Suang.
Kiau Bu Suang tidak suka melihat kekalapan dayang Cui thian, tapi perempuan itu masih ada harganya untuk diperalat.
Namun dayang Cui thian sudah berubah haluan.
Malam ini dia baru menyadari, Kiau Bu Suang bukan hanya pernah berhubungan dengan Chow Ai Giok, dia juga ingin mendapatkan Bwe Mei.
"Pulang? Siapa yang mau pulang denganmu? Tahukah siapa dirimu itu?"
Bentak dayang Cui thian.
Kiau Bu Suang benar-benar panas, Dia selalu mengira perempuan-perempuannya pasti menuruti segala kemauannya.
Sejak melihat pertandingan antara Toa Tek To Hun dengan Tang hay sin sian, dia menganggap bahwa zaman keemasannya sudah di depan mata.
Sejak saat ini, dunia Bulim sudah berada di bawah genggamannya.
Dia hanya perlu mengenyahkan satu tokoh lagi.
sedangkan untuk mengenyahkan orang ini, dia memerlukan kerja sama yang baik dengan dayang Cui thian, Sekarang dia baru sadar, bahwa semua rencananya masih terlalu pagi untuk berhasil Hubungannya dengan dayang Cui thian bukan berdasarkan cinta kasih namun saling memperalat.
Chow Ai Giok dan dayang Cui thian saling melirik.
Keduanya mengeluarkan senjata masing-masing, Dayang Cui thian menggunakan sepasang trisula pendek, Chow Ai Giok menggunakan pedang.
Tiba-tiba pedang Kiau Bu Suang berkelebat Kedua perempuan itu terpaksa mundur selangkah, apalagi ruangan itu sangat sempit, membuat gerakan mereka semakin tidak leluasa.
Lengan kanan Bwe Mei baru saja terkutung, Di hadapannya sekarang ada musuh yang membuatnya cacat, namun dia tidak mempunyai kemampuan untuk membalaskan dendamnya, Dia merasa sedih dan tertekan, Dia menyelinap dari pintu belakang berjalan seraya mengucurkan air mata.
Kerja sama antara dayang Cui thian dan Chow Ai Giok tidak dapat dipandang remeh, Tetapi Cap sa tai po Kiau Bu Suang berilmu tinggi, Apalagi dia menyerang dengan tangan kiri Berlainan dengan umumnya.
Menghindari serangan tangan kiri lebih sulit dari tangan kanan, Sebab boleh dikatakan semua aliran ilmu silat diciptakan sesuai dengan kebiasaan, yaitu menahan serangan orang yang menggunakan tangan kanan.
Kedua perempuan itu mulai kelabakan jangan dikira dia memang gemetar kalau bertemu dengan Toa Tek To Hun, namun untuk menghadapi jago kelas dua sebanyak dua tiga orang saja, dia masih tidak menganggap.
Chow Ai Giok hanya mendapat perintah orang Iain.
Dia telah berhasil mengundang dayang Cui thian datang ke tempat ini.
Tugasnya sudah selesai.
Oleh karena itu, dia melancarkan serangan beberapa kali berturut-turut.
Kemudian membalikkan tubuh dan melesat keluar melalui pintu belakang.
Dayang Cui thian terperanjat seketika, meskipun dia pernah mendapat sedikit pengetahuan dari rangkaian bunga Siau kiong cu, tapi apa yang dipelajarinya terlalu sedikit, mungkin apa yang di dapat oleh Sun Put Ce lebih banyak dari padanya.
Dia berhasil menghindar dari serangan Kiau Bu Suang satu kali.
Ketika serangan kedua da-tang, Dirinya benar-benar terdesak dalam bahaya....
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, di dalam ruangan itu telah bertambah satu orang lagi, Tamu yang baru datang berpakaian hijau longgar, mukanya mengenakan sebuah topeng.
Rambutnya panjang mencapai bahu, Kalau bukan bentuk topengnya yang aneh, dandanannya persis seperti Kiau Bu Suang, Dia juga menggunakan pedang panjang berbentuk melengkung di ujungnya.
Tidak usah diragukan lagi, orang ini juga menyamar sebagai Toa Tek To Hun.
Sekali pedangnya digerakkan, Kiau Bu Suang terpaksa mundur beberapa langkah, hati laki-laki itu bergetar Orang yang dapat membuat tubuhnya gemetar tidak banyak, kecuali Toa Tek To Hun, hanya orang yang satu ini.
Manusia bertopeng ini kembali melancarkan sebuah serangan yang aneh, Kiau Bu Suang dibuat mundur dua langkah lagi.
Dalam hatinya dia tahu, kekuatan Toa Tek To Hun juga tidak melebihi orang ini.
Mungkin masih kalah satu tingkat darinya.
Tiba-tiba Kiau Bu Suang berpikir untuk melarikan diri, Belum lama tadi, dia masih berpikir untuk tidak membiarkan dayang Cui thian terlepas dari tangannya, Sekarang dia harus mengasah otak mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri.
Dayang Cui thian seakan tahu siapa manusia bertopeng yang baru datang ini.
Dia berdiri dengan tubuh gemetar sikapnya seperti serba salah, Dia yakin orang ini sudah mengetahui hubungannya dengan Kiau Bu Suang.
Hatinya segera memutuskan, Dia harus tetap berpihak kepada manusia bertopeng ini.
Namun dia harus membungkam mulut Kiau Bu Suang, satu-satunya cara hanyalah dengan membunuhnya.
Dengan demikian dia bisa mengatur sebuah sandiwara yang mungkin bisa diterima oleh manusia bertopeng ini.
Oleh sebab itu, dia ikut menyerang manusia bertopeng tersebut.
Serangan ini dilakukan hanya untuk ditunjukkan kepada orang lain seakan dia tidak mengetahui siapa manusia bertopeng tersebut Namun tampaknya meskipun di serang oleh dua orang yang berilmu tinggi, manusia bertopeng itu tetap tenang menanggapinya, Kiau Bu Suang semakin menyerang, semakin menggigil hatinya, Boleh dikatakan, jago yang begini lihai saja tidak berani menunjukkan muka melawan Toa Tek To Hun, dia Kiau Bu Suang sudah beranganangan terlalu tinggi.
"Creeppp!!!"
Bahu Kiau Bu Suang tertusuk oleh pedang lawannya, luka itu mengucurkan darah dan koyak cukup lebar.
Dengan serampangan Kiau Bu Suang mengibaskan pedangnya, dengan demikian dia berhasil mundur menuju ruangan belakang.
Namun manusia bertopeng itu segera menyusul Kiau Bu Suang tampaknya sulit melepaskan diri.
Karena baik ilmu silat maupun ginkang manusia bertopeng itu jauh melebihinya, Rasanya sebelum zaman keemasan Kiau Bu Suang sempat dimulai, sudah harus berakhir dengan tragis.
Kiau Bu Suang tidak dapat menandingi kekuatan manusia bertopeng tersebut, dayang Cui thian membantunya dengan menyerang beberapa kali, Trisulanya memutar ke kiri dan kanan, Pada saat itu, kembali seorang manusia bertopeng lainnya memasuki arena pertarungan Dia meloncat dari atap rumah, pakaiannya berwarna hitam, juga longgar seperti manusia bertopeng pertama.
Tangannya juga menggenggam sebatang pedang berbentuk aneh seperti Kiau Bu Suang dan manusia bertopeng yang satunya.
Topeng yang digunakannya juga persis.
Kiau Bu Suang terpana, Dia melihat orang yang baru datang menyerang manusia bertopeng yang pertama.
Serangannya biasa saja, tidak tampak perubahan yang hebat, namun manusia bertopeng itu kalang kabut menerimanya.
Bahkan langkahnya sampai mundur beberapa tindak.
Terbukti, meskipun gaya serangan orang yang baru datang itu biasa saja, namun kekuatan yang terkandung di dalamnya justru mengerikan.
Kedua manusia bertopeng itu berdiri terpaku sesaat, Mungkin mereka sedang menilai kekuatan masing-masing lawan, Kiau Bu Suang berubah menjadi penonton, Dia mengetahui bahwa manusia bertopeng yang pertama adalah seorang laki-laki berusia lanjut sedangkan yang datang belakangan adalah seorang pemuda.
Hal ini dapat dijelaskan dari tangan yang tersembul di balik lengan baju.
Kiau Bu Suang makin meragukan zaman keemasannya yang terbayang di depan mata.
Manusia bertopeng yang masih demikian muda saja berani menyamar sebagai Toa Tek To Hun.
Mana ada kesempatan lagi bagi dirinya untuk menguasai Bulim?
Kedua menusia bertopeng itu kembali saling menyerang, Kelihatannya kekuatan mereka berimbang, Kiau Bu Suang tidak perduli siapa manusia bertopeng yang baru datang itu.
Pokoknya dia menganggapnya sebagai teman karena telah membantu dirinya menghadapi manusia bertopeng yang pertama.
Dia juga segera turun tangan menyerang manusia bertopeng pertama, serangan ini sama artinya dengan seorang menghadapi dua manusia berilmu tinggi, Kerja sama antara Kiau Bu Suang dengan manusia bertopeng yang datang belakangan tidak dapat dianggap enteng.
"Tranggg!!!"
Pedang Kiau Bu Suang kembali terpental, kekuatan kedua manusia bertopeng tetap seimbang.
Dayang Cui thian saat ini sudah tidak menyerang lagi.
Dia seperti ingin menyaksikan siapa yang lebih unggul di antara mereka, Mungkin juga dia ingin tahu siapa manusia bertopeng yang datang belakangan ini.
Kiau Bu Suang melihat manusia bertopeng yang datang belakangan masih tidak mau menghentikan pertarungan, dia segera menyerang kembali sebanyak tiga kali, Manusia bertopeng yang pertama tampaknya tidak menerima dengan kekerasan.
Dia melesat ke kiri untuk menghindari serangan yang bertubi-tubi itu.
Pada saat itu, kembali ada seorang manusia bertopeng lagi yang memanjat tembok dan masuk dalam arena pertempuran tersebut, Dari ginkangnya ketika melayang turun saja, sudah terbukti bahwa manusia bertopeng itu ilmunya tidak di bawah Kiau Bu Suang, sedangkan manusia bertopeng yang kedua menyerang lagi bersamasama Kiau Bu Suang, pertarungan itu jadi kacau.
Manusia bertopeng yang pertama seakan tahu bahwa orang yang baru datang juga ingin berhadapan dengan dirinya, Dia segera melancarkan beberapa kali serangan ke kanan dan kiri, Setelah itu, secara tiba-tiba dia berkelebat di balik punggung Kiau Bu Suang dan menikam sekali.
Untung saja tikaman itu tidak terlalu dalam, namun ketika semua orang memperhatikan manusia bertopeng yang pertama telah melesat ke atas tembok dan melarikan diri.
Manusia bertopeng yang kedua segera mengejar ke atas tembok, kedua orang itu saling bergebrak kembali, Setelah lewat lima jurus, manusia bertopeng yang kedua agak terdesak sehingga meloncat turun.
Manusia bertopeng yang ketiga segera meloncat ke atas tembok, Namun manusia bertopeng yang pertama sudah melesat sejauh duapuluh depa, Dayang Cui thian tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Dia juga mengacir dari ruangan depan.
Sebab baik manusia bertopeng yang kedua ataupun yang ketiga, keduanya masih belum dapat dilawannya.
Chow Ai Giok pada saat ini baru mengetahui kalau Bwe Mei sudah tidak ada di tempat itu, Karena berpikir ada kemungkinan gadis itu belum pergi terlalu jauh, Dia segera melesat dan menyusul.
Hanya Chow Ai Giok yang tahu, pembunuh kakeknya adalah manusia bertopeng yang pertama, Karena dia pernah melihat jelas bentuk punggung orang tersebut Dia juga tahu kalau manusia bertopeng yang datang belakangan adalah seorang perempuan, sedangkan manusia bertopeng kedua, dia masih belum dapat menerkanya.
Kiau Bu Suang juga tidak berani berdiam di tempat itu, Dia segera melesat dan pergi, hanya tinggal kedua manusia bertopeng yang saling menganggukkan kepala, Mereka meninggalkan rumah itu bersama-sama.
Sesampai di luar pedesaan barulah keduanya menghentikan langkah.
Yang laki-laki adalah Kwe Po Giok.
sedangkan yang perempuan tentunya Lian lian, Lian lian yang mengumpulkan para jago untuk menghadapi manusia bertopeng yang pertama, sedangkan kedatangan Kwe Po Giok adalah untuk mengukur sampai di mana kungfunya.
Dia tidak mengandalkan orang banyak untuk mengeroyok manusia bertopeng yang pertama, jalan pikirannya berbeda dengan Lian lian.
Tadinya Lian lian bermaksud memakai tenaga Kiau Bu Suang, Kwe Po Giok dan dirinya sendiri untuk membasmi manusia bertopeng tersebut Ternyata orang itu benar-benar licik.
"Kwe siaute.... Maling ini sungguh banyak akal,"
Katanya.
"Tidak salah, Kalau dia tidak banyak akal, kau juga tidak akan mencari diriku untuk bekerja sama,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kiam hoat Kwe siaute ternyata sangat tinggi, Tidak kalah dengan manusia bertopeng itu,"
Kata Lian lian dengan maksud memancing.
"Kau pandang diriku terlalu tinggi, Di-bandingkan dengan maling tua itu, aku masih kalah setingkat,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Benar-benar masih kalah setingkat?"
Tanya Lian lian dengan pandangan menyelidik.
"Ada bedak masa tidak dipupurkan ke muka sendiri?"
Sahut Kwe Po Giok.
"lnti sari pedang Kwe siaute, aku dengar berasal dari Tang hay sin sian. Apakah benar?"
Tanya Lian lian kembali.
"Tidak salah!"
Sahut Kwe Po Giok.
"llmu pedang Siau kiong cu pasti tidak di bawahmu,"
Kata Lian lian.
"Dia tidak bisa ilmu silat,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kau terlalu merendahkan diri,"
Kata Lian lian tidak percaya.
"Dia benar-benar tidak bisa ilmu silat, Untuk apa menutupi di depan orang sendiri?"
Sahut Kwe Po Giok serius.
"Siaute.... Harap menunggu aku di luar kota, dekat rumah makan Thiang siang lau, Kita rundingkan cara membasmi maling tua itu,"
Kata Lian lian. Alis mata Kwe Po Giok berkerut "Mengapa toaci tidak bersama-sama ke rumah See Kong Bo Hun saja?"
Tanyanya.
"Aku tidak boleh menyita waktumu terlalu banyak, Lebih baik siaute segera menuju Thian siang lau dan menungguku Aku harus menyelesaikan sedikit urusan baru kesana,"
Sahut Lian lian. Kwe Po Giok pergi ke Thian siang lau, Karena hari belum terang, rumah makan itu masih belum buka, Dia mengetuk sampai lama, Seorang pelayan menyembuhkan kepala sambil berbangkis.
Baca Juga: Kait Perpisahan Gu Long
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 8