Ceritasilat Novel Online

Sukma Pedang 6

Eps 6 Sukma Pedang - Gu Long

Baca online Sukma Pedang - Gu Long

Cersil Sukma Pedang - Gu Long.

"Khek kuan... Apakah tidak terlalu pagi?"

Tanyanya dengan mata mengantuk.

"Siauji (pelayan) apakah ada seorang tamu perempuan yang sedang menanti orang?"

Kwe Po Giok langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.

"Tamu perempuan?"

Pelayan itu tampaknya tidak sabar.

"Mana ada tamu perempuan yang datang sepagi ini?"

"Mungkin dia ada di atas loteng sehingga kau tidak mengetahuinya,"

Kata Kwe Po Giok.

"Khek kuan... Siaute dari tadi tidur di atas, kalau ada tamu perempuan yang sedang menanti kedatangan seseorang, masa siaute tidak tahu?"

Sahut pelayan itu.

Perasaan Kwe Po Giok menjadi tidak enak, Meskipun dia seorang sin tong, namun pengalaman dunia kangouw masih terlalu cetek, sedangkan seseorang yang selalu membanggakan dirinya sin tong justru lebih mudah diancam bahaya, Tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan lari.

Bahkan lari dengan kekuatan pemih, Dia ingin segera kembali ke rumah See Kong Bo Hun.

Karena dia baru sadar bahwa dirinya baru pertama kali berkenalan dengan Lian lian, Namun dia sudah bersedia bekerja sama dengannya, pandangannya terhadap perempuan itu tertutup oleh penampilannya yang anggun.

Percaya terhadap seseorang harus jelas latar belakangnya dan tujuannya dan curiga terhadap seseorang pun harus dengan bukti yang kuat dan kenyataan, Kwe Po Giok baru sadar bahwa kata-kata tersebut sama sekali tidak salah.

Namun manusia terlahir memang banyak peraturannya, Kadangkadang kita merasa terkungkung oleh segala macam adat istiadat ataupun pandangan yang kolot dari orang yang lebih tua.

Meskipun nasehat mereka biasanya tepat.

Tidak boleh menilai seseorang dari pandangan sendiri jangan mendengar kata-kata orang sebelum membuktikannya sendiri jangan membiarkan persoalan kecil menjadi besar, jangan mudah terpengaruh oleh penampilan luar seseorang, Apakah kesadaran Kwe Po Giok saat ini masih belum terlambat?

Kalau kita terlalu menuruti nasehat di atas, apakah benar-benar tidak ada bahaya lagi yang mengancam kita?

Hanya Thian yang bisa menjawab teka teki ini!

Jarak tigapuluh li ditempuh lebih cepat dua kali lipat dari biasanya.

Pada saat seperti ini, seharusnya Siau kiong cu sudah terjaga dari tidur.

Setelah membasuh muka, dia akan menantinya untuk sarapan pagi di ruangan tengah.

Sampai para pelayan membersihkan semua piring mangkok, mereka masih betah mengobrol terus, Setelah cukup puas, baru mereka menuju ke ruang belakang untuk meneruskan pelajaran pedang dari rangkaian bunga.

Karena hati Kwe Po Giok sedang tegang, dia tidak ingat lagi untuk masuk dari pintu depan.

Dia melompati tembok pekarangan yang tinggi dan melesat ke dalam ruangan tengah di mana mereka bertemu setiap pagi.

Di dalam ruangan itu tidak ada orang.

Di dalam rumah pun tidak terlihat bayangan Siau kiong cu.

Dia segera bertanya pada para pelayan, namun mereka semua menjawab tidak tahu.

Dia menuju ke ruang dapur.

Seorang juru masak mengatakan bahwa tadi sebelum hari terang ada seorang perempuan yang datang dan mengajak Siau kiong cu pergi, Mereka meloncati tembok depan lalu tidak terlihat lagi.

Mendengar bahwa seorang perempuan yang mengajak Siau kiong cu meloncati tembok dan pergi dari situ, Kwe Po Giok segera dapat menduga siapa orangnya, karena setidaknya dia adalah seorang sih tong.

Dia segera menanyakan arah yang diambil kedua orang itu dan menyusul secepatnya.

Siau kiong cu adalah in jin (penolong) nya.

juga tempat mencurahkan perhatian, Namun dia masih belum berhasil menyandak kedua orang itu.

Tentu saja, mungkin perempuan itu adalah dayang Cui thian atau Chow Ai Giok.

Tetapi kalau dipikir secara mendalam tentang pertanyaan Lian lian mengenai ilmu silat yang dimiliki Siau kiong cu, rasanya tidak diragukan lagi siapa yang membawanya pergi.

Ketika Siau kiong cu masih berada di sampingnya, Kwe Po Giok tidak pernah berpikir macam-macam, Toh, akhirnya mereka akan menjadi suami istri.

Gadis itu tidak akan terjatuh dalam pelukan lakilaki lain.

Setelah kehilangannya, dia baru merasakan bahwa hidupnya tidak sempurna lagi.

Bagaikan ada sesuatu yang penting hilang dari dirinya.

Sebelumnya, Siau kiong cu akan mengingatkan kalau bajunya sudah harus diganti, kaos kakinya sudah harus dicuci, dan kapan waktunya untuk pergi tidur.

sekarang gadis itu telah tiada di sampingnya.

Kehidupannya semakin kacau melebihi sebelum dia bertemu dengan Siau kiong cu.

-oooo0oooo-Bagian Tujuh belas Di ruangan besar keluarga Fang.

Fang Tiong Seng duduk di depan pintu, Mo Put Chi dan Sun Put Ce berdiri di kedua sisinya, Langit mendung, namun udara terasa pengap.

Seakan sebentar lagi akan turun hujan.

Dan hati setiap orang pun diselimuti awan gelap.

"Apakah kalian pernah melihat dayang Cui thian akhir-akhir ini?"

Tanya Fang Tiong Seng.

"Tidak!"

Sahut kedua muridnya serentak.

"Apa yang harus kalian lakukan bila bertemu dengan dia?"

Tanya Fang Tiong Seng dengan pandangan menyelidik.

"Desak sampai mati!"

Sahut Mo Put Chi dengan suara nyaring.

"Put Ce. Bagaimana dengan engkau?"

Tanya Fang Tiong Seng kembali.

"Pertama, bujuk dia agar pulang kemari. Kalau dia menolak, teecu akan berusaha untuk meringkusnya. Kalau gagal juga baru desak sampai mati,"

Sahut Sun Put Ce. Fang Tiong Seng menganggukkan kepalanya. Wajah Mo Put Chi merah padam, bukan karena suhu membedakannya atau sengaja memandang rendah kepadanya.

"Apa yang kalian lakukan bila bertemu dengan Kwe Po Giok ataupun Siau kiong cu?"

Tanya Fang Tiong Seng. Kali ini Mo Put Chi tidak berani menjawab.

"Harap suhu memberi perintah,"

Sahut Sun Put Ce.

"Selekasnya melaporkan kepada Suhu,"

Kata Fang Tiong Seng.

"Masih ada beberapa orang yang diinginkan suhu...."

Sahut Sun Put Ce.

"Misalnya Kiau Bu Suang dan Lian lian."

"Orang-orang ini benar-benar tidak tahu diri, Kalau bukan melupakan budi besar, tentu sok jago, Mereka masih berani berkecimpung di kangouw seperti seorang tokoh terkemuka,"

Kata Mo Put Chi.

Sun Put Ce memberi isyarat dengan kerlingan mata agar dia jangan bicara terus, namun Mo Put Chi tidak memperhatikan.

Fang Tiong Seng tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Sun Put Ce tahu bahwa bila gurunya tidak menunjukkan perasaan apa-apa bukan berarti otaknya tidak sedang memikir.

"Put Ce!"

Panggil Fang Tiong Seng.

"Teecu ada di sini,"

Sahutnya.

"Di atas kapal dewa.... Bukankah kau tinggal bersama Kwe Po Giok?"

Tanya Fang Tiong Seng.

"Tidak...."

Sahut Sun Put Ce.

"Mengapa tidak tinggal bersama?"

Tanya Fang Tiong Seng kembali.

"Karena Siau kiong cu menganggapnya sebagai tamu kehormatan, dia diberi sebuah kabin yang mewah. Teecu tinggal bersama para pelayan,"

Sahut Sun Put Ce.

"Oleh karena itu, apa yang dibicarakan oleh Tang hay sin sian kepadanya sama sekali tidak kau ketahui?"

Tanya Fang Tiong Seng.

"Betul,"

Sahut Sun Put Ce tenang.

"Apa yang dibicarakan Siau kiong cu dengannya juga tidak kau dengar?"

Tanya Tionggoan taihiap itu kembali.

"Betul,"

Sahut Sun Put Ce. Fang Tiong Seng terdiam untuk beberapa saat, Kemudian terlihat dia menarik nafas panjang. wajahnya berubah kelam.

"Panca warna mempunyai kelebihan, Namun, tetap tidak membuktikan bahwa hitam dan putih tidak mempunyai kelebihan,"

Katanya.

Mo Put Chi tidak mengerti.

Sun Put Ce seperti mengerti, seperti juga tidak, Siapa pun tidak dapat menebak isi hatinya.

Dia percaya, hanya orang yang telah kehilangan harga diri baru dapat mengucapkan kata-kata seperti itu.

Chow Ai Giok tidak berhasil menyandak Bwe Mei malam itu, namun dia berhasil mengejar dayang Cui thian.

Dayang Cui thian sadar bahwa keadaan dirinya tidak berbeda dengan Cu pat kai (siluman babi) yang sedang bercermin, luar dalam pun tidak mirip dengan seorang manusia.

Siau kiong cu tidak mungkin memaafkan dia, pasti menganggapnya sebagai musuh besar.

Fang Tiong Seng lebih-lebih tidak akan memaafkan dirinya, karena dia tidak setia terhadap laki-laki itu, sedangkan Kiau Bu Suang juga tidak akan benar-benar memaafkan dirinya, Sebab, meskipun dia turun tangan membantunya, namun kentara sekali bahwa dia sedang bersandiwara.

Manusia selicik dirinya pun, akan mendapat hari naas seperti sekarang, Namun, kebenciannya terhadap tindak tanduk Chow Ai Giok sudah merasuk ke dalam tulang sumsum, Dia tidak tahu siapa yang memerintah Chow Ai Giok untuk memancingnya ke tempat itu.

Tetapi dia sadar bahwa itu adalah suatu siasat yang keji, Di satu pihak, orang itu ingin membuktikan bahwa dia ada hubungan dengan Kiau Bu Suang, dan di satu pihak lagi, orang itu ingin Fang Tiong Seng dikeroyok oleh beberapa jago sekaligus.

Seperti ingin mengandalkan kekuatan beberapa orang untuk membasmi Fang Tiong Seng.

Tentu saja sejak semula dia sudah tahu bahwa manusia bertopeng yang pertama adalah Fang Tiong Seng, Meskipun dia tidak tahu pasti sampai di mana tingginya ilmu Fang Tiong Seng, namun dia yakin dengan mengandalkan Kiau Bu Suang dan Lian lian saja, masih bukan tandingannya.

"Chow Kouwnio, kau sedang mengejar diriku?"

Tanya dayang Cui thian.

"Bukan.,, aku bukan mengejar dirimu,"

Sahut Chow Ai Giok.

"Kau sedang mengejar Bwe Mei?"

Tanya dayang Cui thian kembali.

"Betul,"

Sahut Chow Ai Giok.

"Tampaknya kita berjodoh,"

Kata dayang Cui thian.

"Berjodoh?"

Tanya Chow Ai Giok kebingungan.

"Betul. Kalau tidak, bagaimana kau bisa mengundang aku menonton pertunjukkan sebagus itu? Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"

Bentak dayang Cui thian.

"Aku mempunyai kesulitan tersendiri untuk mengatakannya,"

Sahut Chow Ai Giok.

"Perempuan murahan! Apakah kau tidak merasa kalau tindakanmu itu keterlaluan?"

Tanya dayang Cui thian dengan mata mendelik. Chow Ai Giok tertawa dingin.

"Dayang Cui thian! Kalau aku berani mengundangmu berarti aku tidak takut kepadamu!"

Bentaknya.

Dayang Cui thian benar-benar merasa kalau tahun itu dia sangat sial, Sampai seorang budak cilik saja berani menginjak ke atas kepalanya, Dia memperhatikan Chow Ai Giok dengan seksama.

Cucu perempuan Hiat Eng memang tidak boleh dipandang ringan, Hanya saja dia mempunyai keinginan untuk menguji, Tentu saja sebelum menguji, lebih baik membujuknya terlebih dahulu.

"Budak cilik.... Aku tahu kau adalah cucu perempuan Hiat Eng,"

Katanya.

"Apakah kau kira aku ini palsu?"

Tanya Chow Ai Giok sinis.

"Tentu saja tidak. Namun bukankah Hiat Eng juga rubuh di tangan orang lain?"

Sindir dayang Cui thian.

"Aku akan mencari pembunuhnya."

Sahut Chow Ai Giok.

"Kalau aku tahu siapa pembunuhnya dan membantumu membalaskan dendam. Apakah kau mau bekerja sama denganku?"

Tanya dayang Cui thian.

"Bekerja sama bagaimana?"

Chow Ai Giok balik bertanya.

"Mengail di air keruh,"

Sahut dayang Cui thian.

"Apakah kau tahu siapa pembunuhnya?"

Tanya Chow Ai Giok kurang percaya.

"Aku sama sekali tidak berbohong,"

Sahut dayang Cui thian.

"Boleh dipertimbangkan. Siapa pembunuhnya?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Tempat ini bukan daerah yang tepat untuk berbicara, Mari, kita cari tempat lain yang lebih sesuai,"

Sahut dayang Cui thian.

"Bagaimana aku tahu kalau kau tidak bermaksud buruk?"

Tanya Chow Ai Giok dengan pandangan menyelidik.

"Budak cilik.,. keadaanmu sekarang sudah terancam bahaya, Orang yang memperalatmu telah berhasil menjalankan rencananya, Apakah dia akan membiarkan kau hidup terus? jangan kata orang lain, manusia bertopeng itu saja tidak akan melepaskan dirimu!"

Kata dayang Cui thian.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Kalau apa yang kuketahui tidak melebihimu, apakah aku bisa berkecimpung dalam dunia kangouw sampai saat ini?"

Tanya dayang Cui thian sinis.

"Tampaknya kau mengenal manusia bertopeng yang pertama itu,"

Kata Chow Ai Giok.

"Tentu saja,"

Sahut dayang Cui thian.

"Rasanya dia merupakan orang yang ilmunya paling tinggi di antara ketiga manusia bertopeng tadi,"

Kata Chow Ai Giok sambil mengingat-ingat.

"Jalan! Budak, kita bekerja sama menghindari bahaya yang mengancam diri kita, lagipula kita bisa mencari akal membalaskan dendammu,"

Sahut dayang Cui thian.

Chow Ai Giok tidak begitu memperhatikan kata-kata dayang Cui thian, Dia diam saja ketika ditarik oleh perempuan itu.

otaknya dipenuhi bayangan siapa yang membunuh kakeknya.

-oooo0oooo-Kiau Bu Suang sedang minum seorang diri.

Minum arak tanpa batas paling mudah mabuk.

Dia sudah mabuk kira-kira tujuh bagian Hal ini disebabkan karena tiba-tiba dia merasa dirinya bukan tokoh yang cukup penting, Bayangannya tentang jaman keemasannya yang hampir tiba terasa begitu menggelikan.

Manusia dalam keadaan seperti dirinya, hanya akan menimbulkan dua macam reaksi.

Yang pertama adalah memaki-maki dirinya sendiri, yang kedua tentu menertawakan.

Dan tertawa itu penuh mengandung cemoohan ataupun hinaan.

Kiau Bu Suang tidak tertawa terbahak-bahak.

Dia hanya terkekehkekeh, Dia meludahi bayangannya sendiri di atas tanah, Pada saat itu, tampak sebuah bayangan berdiri di depan pintu, Meskipun mabuk, kesadarannya masih ada.

"Siapa?"

Bentaknya.

"Aku, Bu Suang!"

Sahut sebuah suara yang lembut. Dalam keadaan terpukul seperti saat itu, dapat mendengar suara yang demikian merdu, rasanya tekanan hatinya lebih ringan sebagian "Apakah Lian toa moicu?"

Tanya Kiau Bu Suang.

"Betul."

Dia duduk di hadapan laki-laki itu, Aroma harum yang segar segera menerpa hidung Kiau Bu Suan..

"Lian toa moicu, aku merasa bersalah terhadapmu,"

Kata Kiau Bu Suang.

"Bersalah terhadap diriku? Mengapa?"

Tanya Lian lian dengan mata mengerling genit.

"Aku mengacaukan persoalan,"

Sahut Kiau Bu Suang sendu.

"Apa yang terjadi?"

Tanya Lian lian seakan tidak mengerti.

"Dayang Cui thian adalah seorang pengkhianat. Chow Ai Giok pembawa sial, perempuan semuanya hanya membawa kesialan!"

Teriak Kiau Bu Suang. Lian lian tertawa sendu.

"Apakah aku juga termasuk?"

Tanyanya.

"Tidak... tidak! Lian toa moicu, Aku bicara tanpa berpikir lagi. Kau merupakan orang satu-satunya yang dapat kupercayai, Bagaimana kalau kita minum secawan,"

Ajak Kiau Bu Suang. Lian lian tidak menunjukkan kemarahan.

"Aku memang ingin minum sepuasnya denganmu,"

Sahut perempuan itu. Selesai berkata, dia lalu mengangkat kendi arak dan menuang untuk dirinya sendiri lebih dahulu. Kemudian dia mengambil cawan dari tangan Kiau Bu Suang dan mengisinya juga.

"Mari.... Kita keringkan cawan ini,"

Ajaknya.

Dia meminum arak di cawannya sampai kering, Kiau Bu Suang mengikuti tindakannya.

Seumur hidupnya, Kiau Bu Suang paling gemar bercinta dengan kaum perempuan meskipun dirinya telah kena dikhianati berkali-kali, tapi dia masih tidak jera juga.

Persis seperti seekor tikus yang pelupa, Yang diingatnya hanya di mana ada makanan saja, sedangkan perangkap yang dipasang untuk menjebaknya sama sekali tidak dihiraukan.

"Lian toa moicu. Andaikan aku dapat bersamamu selamanya, Aku berjanji untuk mendengarkan setiap perkataanmu...."

Kata Kiau Bu Suang dengan nada bergetar.

"Benarkah kau begitu menyukaiku?"

Tanya Lian lian.

"Me... mengapa? Apakah sampai saat ini kau masih belum percaya?"

Kiau Bu Suang tampaknya takut kehilangan sekali lagi. Lian lian mengangkat cawannya tinggi-tinggi.

"Mari... keringkan arak ini!"

Katanya.

Entah berapa cawan arak telah masuk ke dalam perut Kiau Bu Suang, Memang kekuatannya minum arak tidak seberapa hebat sekarang dia sudah rebah di atas meja.

Tawa Lian lian sungguh memikat.

Selama ini, dia paling yakin dengan tawanya sendiri, Tiada seorang laki-laki pun yang sanggup menolaknya, Kiau Bu Suang saat ini tidak ada harganya sama sekali, Meskipun dia pernah membunuh Bok lang kun dan Hong be, bahkan pernah menggetarkan dunia kangouw untuk sesaat Namun seorang enghiong harus dihadapi dengan cara yang meyakinkan.

Dia berjalan ke hadapan Kiau Bu Suang.

Dia bermaksud membawanya pergi.

Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat, di hadapannya telah berdiri seseorang.

Orang yang datang ternyata adalah Mo Put Chi.

"Apa yang kau inginkan?"

Tanya Lian lian.

"Kau sendiri? Apa yang ingin kau lakukan?"

Mo Put Chi bertanya.

"Apa yang ingin kulakukan, bukankah telah kau saksikan sendiri?"

Sahut Lian lian.

"Apa yang ingin kau lakukan, sama dengan yang ingin kulakukan,"

Kata Mo Put Chi.

"Kau menginginkan Kiau Bu Suang?"

Tanya Lian lian heran.

"Tepat!"

Sahut Mo Put Chi.

"Sayang sekali... aku juga menginginkan dia,"

Kata Lian lian tersenyum.

"Siapa yang bisa membawa dia, hanya dapat dibuktikan dengan kepandaian,"

Sahut Mo Put Chi.

"Tranggg!!!"

Pedangnya dihunus, Lian lian tertawa melihat sikap laki-laki itu.

"Tidak heran suhumu tidak menyukaimu,"

Katanya.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Kalau Sun Put Ce yang mendengar perkataan itu, pasti ia sudah dapat menebak hubungan mereka.

"Tidak sulit untuk menduganya,"

Kata Lian lian.

"Apakah kau mengenal suhuku?"

Tanya Mo Put Chi. Lian lian tersenyum tanpa menjawab. Mo Put Chi mengulurkan pedangnya. Serrr!!! Serangan itu cukup mengejutkan. Lian lian berkelit ke kiri.

"Mengapa kau menyerang tanpa aturan?"

Tanyanya.

"Aku, Mo Put Chi selamanya memang begitu, Apakah aku harus merasa sungkan terhadapmu?"

Bentak Mo Put Chi.

Lian lian sama sekali tidak menghunus pedangnya, Dia bertarung dengan setengah hati.

Mo Put Chi menyerangnya berkali-kali.

Namun tidak sekali pun sasarannya mengenai tubuh Lian lian.

Tiba-tiba Lian lian menghunus pedang-nya, Gerakannya sungguh cepat.

Mo Put Chi tidak sempat menghindar Dia langsung rubuh ke tanah, Lian lian segera mengangkat tubuh Kiau Bu Suang.

Dia melesat melalui jendela, Kiau Bu Suang sama sekali bukan mabuk.

Dia yang menaruh obat bius di arak laki-laki tersebut.

-oooo0oooo Ketika Mo Put Chi tersadar Dia berada di atas tempat tidur, Sun Put Ce berdiri di sampingnya, terhadap sutenya ini, dia tidak berani memandang rendah lagi.

"Sute.... Apa yang terjadi?"

Tanyanya.

"Aku baru ingin bertanya pada Suheng, Mengapa bisa tertotok jalan darah daa rebah di atas tanah?"

Mo Put Chi segera teringat kembali Dia menarik nafas panjang.

"Suheng menarik nafas lagi,"

Kata Sun Put Ce.

"Setiap kali melihat engkau, aku pasti menarik nafas,"

Sahut Mo Put Chi.

"Siaute selalu membuat Suheng marah,"

Kata Sun Put Ce sedih.

"Tidak... tidak! Bukan begitu persoalannya,"

Kata Mo Put Chi sambil mengibaskan tangannya.

"Lalu apa?"

Tanya Sun Put Ce.

"Setiap melihat engkau, aku selalu teringat kejadian dulu ketika bersama-sama Ji sute memandang rendah dirimu, Mengapa kita dulu tidak membersihkan mata sendiri?"

Sahut Mo Put Chi sendu.

"Suheng.... Maukah kalau tidak berkata begitu lagi? Aku benarbenar tidak pandai mengambil hati kalian,"

Kata Sun Put Ce salah tingkah.

"Tetapi... kau memang sangat pintar,"

Sahut Mo Put Chi.

"Suheng.... sebetulnya apa yang telah terjadi?"

Tanya Sun Put Ce mengalihkan pembicaraan ke pokok semula.

Mo Put Chi menceritakan semua yang dialaminya barusan, lama sekali Sun Put Ce tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Mo Put Chi menatapnya dengan bola mata tertuju lurus, Dia benar-benar ingin meraba isi hati Sun Put Ce.

Dia ingin belajar dari sutenya itu.

Sebab, orang yang dipuji sang Suhu, tentu tidak salah lagi.

"Suheng.,., Mari kita pulang,"

Kata Sun Put Ce akhirnya.

"Sute.... otakmu lebih tajam dariku, Coba kau pikirkan, mengapa Lian lian ingin membawa Kiau Bu Suang? Kemana tujuannya?"

Tanya Mo Put Chi.

"Aku juga tidak tahu,"

Sahut Sun Put Ce.

"Sute, orang yang pintar paling suka menyebutkan kata-kata itu. Orang yang bodoh juga paling membencinya, Kau pasti tahu,"

Kata Mo Put Chi yakin. Sebetulnya Sun Put Ce sudah mempunyai dugaan sebanyak sembilan bagian, Namun ada beberapa persoalan yang tidak leluasa dikatakannya kepada sang suheng.

"Sute.... Kepulangan kita kali ini, pasti akan mendapat dampratan lagi,"

Kata Mo Put Chi yang melihat sutenya diam saja.

"Suheng... kali ini mungkin tidak,"

Sahut Sun Put Ce.

"Benar-benar tidak?"

Tanya Mo Put Chi dengan mata terbelalak.

Sun Put Ce menganggukkan kepalanya dengan yakin.

Fang Tiong Seng yang mendapat 1aporan, ternyata tidak memarahi mereka, Mo Put Chi semakin kagum terhadap Sun Put Ce.

Dia seakan ingin berteriak karena terlalu senang, Dia menganggap dirinya tidak pantas menjadi suheng Sun Put Ce.

-oooo0oooo-Sun Put Ce dan Mo Put Chi kembali minum arak bersama-sama di sebuah rumah makan, Sekarang, asalkan kedua orang itu keluar bersama, selamanya Sun Put Ce tidak dibiarkan mengeluarkan uang, Mo Put Chi menganggap bahwa dengan mentraktir sutenya, hatinya terasa bangga juga.

Kedua orang itu minum sembari melongokkan kepala keluar jendela melihat pemandangan dijalanan, Lampu-lampu mulai dinyalakan, Suasana menjadi ramai.

Siang hari panas, malam hari udara sejuk.

Pedagang-pedagang kecil entah datang dari mana, tahu-tahu sudah bermunculan.

"Sute.... Apakah kau pernah tidur bersama seorang perempuan?"

Tanya Mo Put Chi tanpa juntrungan.

Tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu, Sun Put Ce menjadi termangu-mangu, juga hanya Mo Put Chi yang dapat mengeluarkan pertanyaan semacam itu.

Namun Sun Put Ce tidak menyalahkan dia.

Hati orang ini terbuka dan lugu, Dia tidak suka berbelit-belit Apa salahnya kalau dia mengajukan pertanyaan seperti itu?

Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu, kau bukan sejenis manusia yang gampang tergelincir dalam nafsu,"

Kata Mo Put Chi. Sun Put Ce tertawa kecil.

"Sute. Apakah kau bisa meramal? Hari itu kau mengatakan bahwa kita tidak akan mendapat makian sesampai di rumah, ternyata apa yang kau katakan benar-benar terjadi,"

Kata Mo Put Chi kembali.

Sun Put Ce tetap tertawa tanpa menjawab pertanyaan itu.

Mo Put Chi juga tidak marah meskipun tidak mendapat sahutan dari sutenya, sekarang ini, rasa hormat kepada Sun Put Ce sudah melebihi terhadap suhunya, Pada saat itu, Mo Put Chi tiba-tiba menunjuk ke jalanan.

"Sute, coba kau tebak. Orang itu laki-laki atau perempuan?"

Tanyanya.

"Yang mana?"

"Itu... yang mengenakan pakaian ungu dengan stelan celana panjang, Tata rambutnya tidak dapat menjelaskan dirinya perempuan atau laki-laki. Tangannya dimasukkan ke dalam saku pula,"

Kata Mo Put Chi menunjuk sekali lagi Perhatian Sun Put Ce terpaku pada orang itu seketika, Sampai bayangan orang itu tidak terlihat lagi, Sun Put Ce langsung berdiri dan menghambur ke bawah.

Mo Put Chi tidak mau lepas dari pandangan Sun Put Ce, dia juga tidak membiarkan sutenya terlepas dari pandangannya.

Dia melempar mangkok nasi di tangannya dan ikut menghambur ke bawah.

Sun Put Ce tidak berani memastikan siapa orang itu, dia lebihlebih tidak berani menguatkan dugaannya.

Tetapi karena telah sekian lama tidak bertemu, Sun Put Ce tetap mengharapkan kalau orang itu adalah Bwe Mei.

Namun orang yang dikejarnya tidak kelihatan lagi.

Sun Put Ce panik sekali, Dia yakin, seandainya orang itu adalah Bwe Mei, pasti belum melihat dirinya.

Orang itu pasti juga belum terlalu jauh, Dia berbelok ke sebuah gang kecil, tiba-tiba telinganya menangkap suara senandung seseorang.

Siapa pun yang mendengarnya segera akan menangkap kata-katanya dengan jelas.

"Khe lim suat... yau thun chau.... Mu yang pak hai pi,., (Haus minum salju, lapar makan rumput, gembala domba di tepi lautan utara)."

Syair lagunya memang menyedihkan, orang yang menyanyikan lagu ini pasti sedang dilanda duka yang mendalam, Lang-kah kaki Sun Put Ce terhenti.

Pasti rumah yang satu ini, nomor tiga dari ujung gang.

Di sana terdapat sebuah pendopo kecil.

Suara senandung itu berkumandang dari sana.

Lagipula, meskipun telah berlalu berapa tahun, dia tetap akan mengenal suara ini, suara Bwe Mei!

Sekarang, dia sudah berdiri di muka pendopo kecil tersebut.

Orang yang menyenandungkan lagu itu sudah berhenti Dia duduk di hadapan sebuah lampu tinggi.

Dia menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Air mata menetes membasahi pipinya.

Lengan baju sebelah kanannya berkibaran, Bagaikan telah kehilangan sebelah tangan, Kenyataannya memang demikian, Dandanannya dibuat seperti seorang laki-laki.

Sekumpulan rasa pilu yang susah diuraikan memenuhi perasaannya, Sun Put Ce, ingin memanggil namanya, namun seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya, seseorang yang telah mengalami segala kegetiran, yang merasa kehilangan kepercayaan terhadap kehidupan ini, namun mau tidak mau harus tetap melanjutkan kehidupan, pasti bisa menyanyikan lagu sesedih itu.

Mengalirkan air mata sederas itu.

Cia tang si wi liau ho co....

Ai ho ciu put nen put cia tang si....

(Makan sesuatu untuk melanjutkan hidup, mau hidup tidak dapat tidak makan apa-apa).

Sun Put Ce adalah seorang laki-laki keras hati, Hal ini tidak dapat diragukan lagi, Dia tidak ingat berapa kali dia pernah mengalirkan air mata selama hidupnya.

Bahkan ketika Ji suhengnya meninggal, dia juga tidak menangis.

Karena dalam hati, dia telah bersumpah untuk membalaskan dendamnya.

Namun, keadaan seperti malam ini, bukan persoalan menyangkut balas dendam.

Dia merasa air mata telah memenuhi kelopaknya, tidak dapat tidak harus dikeluarkan.

Dia melangkah setindak demi setindak menghampiri punggungnya, Sun Put Ce tahu, ketika gadis itu membalikkan tubuh dan mendapatkan dirinya, perasaannya pasti akan hancur.

Tangan Sun Put Ce dengan lembut menyentuh pundaknya.

Tibatiba Bwe Mei menghambur ke depan sejauh dua langkah.

Kehidupan seakan menjadi beban hatinya, Sebelum kematian menjelang, dia tetap harus waspada terhadap segala kemungkinan Karena dirinya masih suci bersih, Sedang-kan seorang laki-laki hidung belang, tidak pernah perduli apakah perempuan yang hendak dinodainya cacat atau tidak!

"Bwe Mei...

Bwe Mei....

Mengapa kau..."

Kata-kata selanjutnya bagai tersekat di tenggorokan.

Bwe Mei telah melihatnya.

Semua kebencian, kekesalan, kepedihan dan perasaan terharu begitu melihat orang yang dikasihinya berbaur menjadi satu, Dia mendekap muka dengan kedua telapak tangannya dan menangis pilu.

Dia mengira orang yang kehilangan sebelah tangannya laksana seekor makhluk aneh, Dia mengira, deraian air mata Sun Put Ce adalah karena melihat keanehan dirinya, Meskipun rasa kasihan yang ada dalam dada laki-laki itu, dia tetap tidak mau menerimanya.

"Jangan... kau pergi.... Aku tidak ingin melihatmu... aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun!"

Teriaknya pilu.

Sebagian tetesan lilin telah terjatuh ke tanah, Rumah itu kacau balau keadaannya.

pakaian Bwe Mei pun kotor sekali, Seorang manusia yang sempurna, hanya karena kehilangan sebelah lengannya, tidak akan memperdulikan segalanya lagi.

pakaian kotor atau bersih, sama sekali tidak menjadi perhatiannya lagi.

"Bwe Mei... katakan! Bwe Mei... berkatalah.... Aku tidak akan menertawakan dirimu. Aku tidak akan, Kalau kau tidak mengatakannya kepadaku, tahukah bagaimana pilunya hati ini?"

Teriak Sun Put Ce.

Dia merangkul gadis itu.

Pertama-tama, Bwe Mei meronta, namun akhirnya menyelusup ke dalam dada Sun Put Ce dan menangis menggerung-gerung.

Menangis adalah obat yang paling manjur untuk me legakan hati.

Bwe Mei menceritakan semua musibah yang dialaminya, Sun Put Ce tidak berkata apa-apa.

Memang dia kurang dapat memahami perasaan seorang perempuan Dendam otomatis harus dibalas, tapi yang paling penting adalah menguatkan hati Bwe Mei agar dapat tabah menghadapi masa depannya.

Jilid . 13

"Jangan bersedih, Bwe Mei, Kehilangan sebelah lengan bukan berarti dunia sudah kiamat. Kau harus berani menghadapi kenyataan untuk maju terus dalam hidup,"

Kata Sun Put Ce menghiburnya.

"Kau tidak usah mengucapkan kata-kata yang menyenangkan hati. Paling tidak, aku tidak bisa menggunakan tangan sendiri untuk membalas dendam lagi,"

Sahut Bwe Mei.

"Tidak bisa?"

Tanya Sun Put Ce.

"Apakah kau mempunyai kesanggupan?"

Bwe Mei balik bertanya kepadanya.

"Bwe Mei..,. Kalau aku hanya memiliki sebuah lengan, maka aku akan berlatih keras dengan tangan kiri. Sebelum berhasil, aku tidak akan berhenti,"

Sahut Sun Put Ce.

"Tidak! Kau berdusta! Kau membohongiku! Melatih dengan tangan kiri, lebih susah daripada melatih dari awal,"

Kata Bwe Mei.

"Tidak, Bwe Mei. Mulai awal berarti sama sekali belum pernah belajar ilmu silat Kekuatan atau pun pengetahuan masih seperti selembar kertas putih, sedangkan kehilangan sebuah lengan, hanya berarti kau tidak dapat menggunakan tangan kanan lagi, sedangkan tenaga dalam atau pun pengetahuan yang telah kau pupuk selama ini belum hilang. Kalau kau mulai berlatih dengan tangan kiri, kau hanya perlu memindahkan ilmu yang biasa kau pakai di tangan kanan ke tangan lainnya, Asal kau berlatih dengan sungguh-sungguh, aku yakin kehebatannya akan melebihi tangan kanan,"

Sahut Sun Put Ce menjelaskan.

"Aku tidak percaya,"

Kata Bwe Mei.

"Kau pasti percaya... karena di Bulim, jago yang menggunakan tangan kiri tidak banyak. Sekali ada, selama ini belum terdengar ada yang dapat menandinginya, seperti para pendekar kita dari zaman lampau. Yang menggunakan tangan kiri selalu lebih menonjol dari yang menggunakan tangan kanan,"

Sahut Sun Put Ce.

Bwe Mei tetap menggelengkan kepalanya.

Rasa percaya dirinya benar-benar sudah amblas, Sun Put Ce menghapus air matanya.

Tidak henti-hentinya dia menghibur dan membujuk.

Dia bahkan menjanjikan, bahwa dalam waktu tiga bulan dia akan merubah Bwe Mei menjadi seorang Kochiu berilmu tinggi.

Malah lebih hebat dari sebelum tangan kanannya terkutung.

"Tiga bulan?"

Tanya Bwe Mei kurang percaya.

"Betul! Mungkin tidak sampai tiga bulan,"

Sahut Sun Put Ce.

"Sekarang saja kau sendiri tidak termasuk jago kelas satu,"

Kata Bwe Mei sinis.

"Betul. Sekarang aku memang belum termasuk jago kelas satu, Tapi kalau aku berlatih bersama-sama denganmu. Tidak lama kemudian, aku akan berubah menjadi seorang kiam khek yang amat lihai,"

Sahut Sun Put Ce yakin.

"Aku tetap tidak percaya. Kau hanya bermaksud menghibur hatiku. Agar makhluk aneh seperti aku ini tidak putus asa dan mengambil jalan pendek,"

Kata Bwe Mei.

"Kau tidak akan bunuh diri,"

Sahut Sun Put Ce.

"Mengapa kau begitu yakin?"

Tanya Bwe Mei.

"Bila kau sudah mendengar apa yang akan kukatakan, kau pasti tidak akan mengambil jalan pendek lagi,"

Sun Put Ce membisikkan beberapa patah perkataan di telinga gadis itu. Bwe Mei memandangnya dengan heran, Pada saat itu, sinar harapan mulai terbit di bola matanya.

"Bok lang kun yang memberikannya kepadamu?"

Tanyanya.

"Betul,"

Sahut Sun Put Ce.

"Diletakkan dalam peti mati?"

Tanya Bwe Mei kembali.

"Betul. Tadinya aku tidak ingin menggunakannya, Namun aku merasa bahaya dalam dunia BuIim makin membengkak Lebih mengerikan daripada zaman Toa Tek To Hun mengadakan pembunuhan beruntun, Apalagi melihat nasibmu yang begini malang, Aku telah mengambil keputusan,"

Sahut Sun Put Ce.

Bwe Mei menarik nafas panjang.

Dia memeluk Sun Put Ce eraterat.

Sun Put Ce akhirnya mengeluarkan sebuah bumbung bambu dari balik pakaiannya.

Bambu itu licin dan berkilauan Seperti sudah diolesi minyak untuk mengkilapkan, Di bagian tengah bumbung bambu itu terukir huruf-huruf kecil seperti butiran beras.

Pertama-tama, mereka menggunakan waktu setengah hari untuk mendalami sim hoat yang tertera di bambu tersebut.

Kemudian Sun Put Ce menganjurkan agar Bwe Mei berlatih sampai tiga hari berturut-turut mengikuti ajaran sim hoat itu.

Hal itu dimaksudkan agar Iweekang yang pernah dilatih Bwe Mei berangsur-angsur hilang dan digantikan dengan sim hoat yang baru.

Untuk mempelajari ilmu ini, konsentrasi harus penuh, Dengan demikian, Sun Put Ce harus keluar pintu untuk membelikan segala macam keperluan mereka sehari-hari.

Seperti makanan, kayu bakar, pakaian dan lain-lainnya.

Dia juga menasehati Bwe Mei agar jangan keluar rumah kalau tidak ada keperluan penting.

"Sun toako.... Kapan baru aku bisa menandingi Chow Ai Giok kalau tiba-tiba bertemu dengannya?"

Tanya Bwe Mei. Sun Put Ce merenung sejenak.

"Paling tidak, memerlukan waktu satu setengah bulan,"

Sahutnya.

"Satu setengah bulan benar-benar tidak usah takut lagi kepadanya?"

Tanya Bwe Mei dengan wajah penuh harapan, Tadinya Sun Put Ce mengira gadis itu akan merasa terlalu lama.

"Asalkan kau mau berlatih dengan keras dan tanpa mengenal lelah. Dalam waktu satu setengah bulan saja, dia tidak bisa berbuat semena-mena lagi terhadapmu,"

Sahut Sun Put Ce membesarkan hati gadis itu.

Daerah sekitar Cui goat si kering kerontang.

Keadaan itu sangat berbeda dengan biara-biara Iainnya.

Keadaan sepi dan gersang seperti itu menunjukkan ketidak amanan.

Banyak perampok ataupun begal yang menghuninya, Namun, tampaknya Cui goat si tidak memperdulikan hal ini.

Di sekeliling biara ini terdapat beberapa batang pohon, Daundaunnya berguguran Di depan kejauhan ada sebuah gunung, Pemandangannya tidak dapat dikatakan indah, Di tempat ini biasanya hanya ada tiga orang, Yang pertama adalah kepala biara, Toa pei su thay.

Dan yang dua lagi adalah murid agamanya, Liau cing dan Liau yuan.

Mereka adalah dua orang nikouw yang masih muda belia.

Sejak kedatangan Lian lian, biara itu jadi agak ramai, Dua nikouw muda itu setiap hari menuntut pelajaran ilmu silat dari Lian lian, Ternyata Lian lian adalah adik seperguruan Toa pei su thay.

Tempat mengurung diri atau bertapa Toa pei su thay saat ini jadi tempat menyekap Siau kiong cu.

Ruangan itu berada di bawah tanah, Sekali terkurung di dalam, ko chiu yang berilmu setinggi apa pun, jangan harap dapat membobolnya.

Toa pei su thay tadinya tidak begitu menyetujui tindakan Lian lian, tapi karena sumoynya sangat keras kepala, akhirnya dia tidak dapat berbuat apa-apa juga.

Toa pei su thay tidak begitu mengetahui urusan sumoinya sedangkan Lian lian juga tidak banyak bercerita, Pada saat itu, kembali Lian lian membujuk Siau kiong cu.

Dia membawa serangkum bunga, gunting, vas kembang dan sebagainya.

"Siau kiong cu, asalkan kau bersedia bekerja sama. Dalam jangka waktu setengah bulan, aku pasti melepaskanmu,"

Kata perempuan itu.

"Aku memang sedang bekerja sama denganmu,"

Sahut Siau kiong cu.

"Kalau begitu, rangkailah bunga agar aku dapat memperhatikan,"

Kata Lian lian.

"Bukankah aku sudah merangkai beberapa pot untukmu?"

Tanya Siau kong cu.

"Hm.,., Apakah kau kira aku sama sekali tidak mengerti cara merangkai bunga?"

Kata Lian lian sinis.

"Apakah caraku merangkai bunga tidak benar? itu adalah cara yang paling sering digunakan kaum bangsawan,"

Sahut Siau kiong cu.

"Kurang ajar! Kau terang-terangan sudah tahu apa yang ku inginkan?"

Bentak Lian lian kesal.

"Apa yang kau inginkan? Mengapa kau tidak mengatakannya terus terang?"

Tanya Siau kiong cu seakan tidak mengerti.

"Dalam rangkaian bungamu, terselip kiam sut dan kiam gi paling tinggi dari Tang hay sin sian. Apa kau kira aku tidak tahu?"

Desak Lian lian.

"Siapa yang mengatakan?"

Tanya Siau kiong cu.

"Kau jangan berpura-pura lagi. Kalau tidak, bagaimana bocah yang ilmunya cetek seperti Kwe Po Giok dalam waktu singkat bisa menjadi seorang jago kelas satu, Aku malah yakin kalau dia belum mempelajari seluruhnya,"

Kata Lian lian.

"Tidak masuk akal!"

Sahut Siau kiong cu.

"Apa? Kau masih mau meneruskan sandiwaramu?"

Bentak Lian lian.

"Kenyataannya memang tidak demikian, kau mengharap apa dariku?"

Tanya Siau kiong cu seraya menarik nafas panjang. Wajah Lian lian berubah hebat.

""Aku percaya tulangmu tidak seberapa keras, jangan sampai kau menyesal,"

Katanya dingin. Siau kiong cu memejamkan matanya.

"Lian toaci,.,, Tadinya aku mengira kau seorang yang bijaksana,"

Sahutnya.

"Aku beritahukan kepadamu, apa yang kulakukan adalah demi kebaikan kaum Bu-lim,"

Kata Lian lian.

"Kalau benar demikian, kita boleh bicara terus terang, Mengapa harus menahanku seperti ini?"

Tanya Siau kiong cu.

"Apakah ada gunanya kalau aku bicara terus terang?"

Kata Lian lian dengan nada ketus.

Siau kiong cu memejamkan matanya kembali Dia tidak menjawab kata-kata Lian lian.

-oooo0oooo-Tengah malam....

Lian lian datang kembali, Tadinya Siau kiong cu mengira kalau dia telah salah melihat Karena Lian lian memakai pakaian laki-Iaki, bahkan gayanya seperti seorang pemuda hidung belang, Kalau dalam keadaan biasa, Siau kiong cu pasti akan tertawa terbahakbahak.

Namun sinar mata Lian lian saat ini menunjukkan niat busuk.

"Siau kiong cu, selain caramu merangkai bunga, aku juga suka terhadap dirimu."

Kata perempuan berpakaian pria itu.

"Suka apa?"

Tanya Siau kiong cu tidak mengerti. Lian lian mengedipkan matanya "Percaya atau tidak, terserah. Aku selalu suka gadis-gadis muda seperti dirimu, ketimbang orang laki-Iaki,"

Serunya.

"Banyak perempuan yang mempunyai perasaan sama, Mereka senang dengan gadis remaja karena cantik dan mempesona,"

Sahut Siau kiong cu.

"Siau kiong cu kau agaknya tidak mengerti maksudku."

Sakut Lian-lian.

"Apa yang kau maksudkan?"

Tanya Siau kiong cu bingung.

"Aku senang memeluk gadis remaja kalau tidur,"

Kata Lian lian sambil mengerling genit.

"Ternyata kau bukan perempuan baik-baik!"

Sahut Siau kiong cu marah.

"Tubuh gadis remaja akan menghangatkan kalau tidur bersama pada musim dingin sedangkan dalam musim panas, terasa menyegarkan Apa yang tidak baik?"

Kata Lian lian.

"Kau seorang perempuan yang tidak tahu malu,"

Sahut Siau kiong cu sambil mendelikkan matanya. Lian lian tertawa terkekeh kekeh.

"Perempuan yang tidak tahu malu selalu melakukan perbuatan yang memalukan juga, Oleh sebab itu, kau harus menurut perintahku/"

Katanya. Siau kiong cu terkejut.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Tanyanya.

"Memperkosa dirimu!"

Sahut Lian lian tersenyum.

"Puih! perempuan rendah! Sungguh tidak sangka kalau kau dapat mengeluarkan kata-kata semacam itu,"

Kata Siau kiong cu seraya meludah ke tanah.

"Bukan hanya mengeluarkan kata-kata-nya saja, Aku bahkan dapat membuktikannya,"

Sahut Lian lian, Tiba-tiba dia mengangkat tubuh Siau kiong cu dan masuk ke dalam ruangan batu.

Siau kiong cu meronta-ronta, namun bagaimana pun tenaganya tidak dapat menaklukkan Lian lian, Akhir-nya dia terkulai lemas.

Lian lian menyeringai lebar, Dia merobek baju Siau kiong cu satu persatu, Gadis itu memandang dengan mata terbelalak Dia hampir semaput.

Tubuhnya telah telanjang, Kemudian Lian lian melepaskan pakaiannya sendiri, Dalam waktu sekejap saja dia juga tidak mengenakan sehelai benang pun.

Siau kiong cu terkejut Dia takut sekali, Sebelum seseorang melakukan sebuah perbuatan, bagaimana dapat meyakinkan diri kalau dia itu orang jahat atau orang baik?

Dada Lian lian diikat dengan sehelai selendang, Mungkin agar payudaranya jangan terlalu menyembul, dengan demikian kesan kelaki-lakiannya akan berkurang, Apa yang terlebih mengerikan, adalah bagian bawah tubuhnya, Ternyata dia mempunyai alat kelamin seperti seorang laki-laki.

Siau kiong cu belum pernah melihat pemandangan seperti itu, Dia mendongakkan kepalanya ke atas.

"Asalkan manusia, pasti masih mempunyai perasaan kemanusiaan Lian lian, di manakah, perasaan manusiawimu?"

Teriaknya marah.

"Siau kiong cu! Aku beritahukan kepadamu Asal tulangmu cukup keras, aku masih mempunyai beberapa cara yang lebih kejam lagi,"

Kata Lian Uan. Air mata Siau kiong cu tidak terbendung lagi.

"Manusia jahat! Apakah kau seorang laki-laki atau perempuan?"

Tentu saja Lian lian adalah perempuan. Hanya benda yang bergelantung di bagian bawah tubuhnya terlihat begitu persis seperti yang asli, Lian lian tertawa terbahak-bahak melihat keadaan gadis itu.

"Aku lebih banyak hormon laki-laki daripada perempuannya, Bagaimana? Apakah kau mau mengabulkan permintaanku?"

Tanyanya. Siau kiong cu menggelengkan kepala keras-keras.

"Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau maksudkan,"

Dia menganggap kematiannya bukan apa-apa.

sedangkan ilmu peninggalan Tang hay sin sian tidak boleh terjatuh ke tangan perempuan jahat ini.

Kalau siluman ini telah berhasil menguasai ilmu tersebut, bukan saja dia tidak mungkin membalaskan dendam ayahnya, bahkan akan menyebar racun bagi kaum Bulim.

Lian lian berniat memeluknya.

Tangannya sudah terulur.

"Jangan mendekat Kalau kau maju setindak lagi, aku akan bunuh diri!"

Teriak Siau kiong cu.

Lian lian tidak jadi merangkul Dia takut kalau Siau kiong cu benarbenar nekat dan bunuh diri, Bukankah kesibukannya beberapa hari ini akan menjadi sia-sia saja?

Tepat pada saat itu, di luar pintu ruang bawah tanah tersebut, berkumandang suara Toa pei su thay.

"Sumoi.... Tempat ini adalah rumah ibadat kaum Budha."

"Suci.... Aku tidak melakukan apa-apa,"

Sahut Lian lian.

"Kau memang belum melakukan apa-apa. Kalau sampai terjadi, kau tidak punya muka lagi menghadap pintu Budha di akherat nanti,"

Kata Toa pei su thay.

"Suci... aku hanya menakut-nakuti dirinya saja,"

Sahut Lian lian.

"Sumoi.... Barang siapa yang membiarkan dirinya berkecimpung dalam kemaksiatan tidak akan pernah mengangkat diri lagi, apa yang jelas merupakan dosa, lebih baik jangan dimulai. Harap Sumoi pikir tiga kali!"

Kata Toa pei su thay.

Kepala biara itu sudah pergi.

Kata-katanya yang mengandung arti dalam benar-benar sebuah nasehat yang baik, Namun bagi telinga Lian lian, kata-kata itu terasa tidak enak didengar, Meskipun dia tidak membantah, namun dari cibiran bibirnya dapat terlihat ejekan.

Nasehat yang diberikan Toa pei su thay malah dianggap sebagai penyulut api dendam.

Untuk sementara dia melepaskan diri Siau kiong cu.

Dia mengenakan pakaiannya kembali.

-oooo0oooo-Pohon Hu yang tumbuh di belakang Cui goat si mengandung misteri, Angin malam berhembus menggoyangkan batang-batang pohon itu.

pemandangan malam hari lebih menarik dari siang hari, Lian lian datang ke tengah rimba tersebut.

Ada seseorang yang sedang menantinya di tempat itu.

Hati orang paling susah diraba, Kata-kata itu memang tepat, Menipu dengan kecantikan wajah, terlebih menyeramkan.

Bagaimana watak Lian lian sebetulnya?

Dia sendiri tidak mengerti dirinya sendiri, Kalau saja semua rencananya diketahui Toa pei su thay, dia pasti akan terkejut setengah mati.

Bahkan akan mengamuk!

"Bagaimana?"

Tanya laki-laki yang sedang menunggu itu. Lian lian mengibaskan tangannya.

"Bocah ini sungguh sulit ditundukkan,"

Katanya.

"Dia tidak mau mengatakannya?"

Tanya laki-laki itu kembali.

"Seharusnya kau bisa menemukan akal yang lain,"

Lanjut laki-laki itu setelah melihat Lian lian menganggukkan kepalanya. Sebetulnya Lian lian hampir kehabisan akal, Namun dia tidak dapat mengakuinya dihadapan laki-laki ini.

"Nanti kucoba lagi dengan cara yang lain,"

Katanya.

"Benar-benar telah menyusahkan diri-mu,"

Kata laki-laki itu.

Dia memegang tangan Lian lian.

perempuan itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan laki-laki tersebut.

Lian lian adalah sekuntum mawar yang berduri, Siapa yang dapat membuat dirinya demikian patuh?

Mengapa laki-laki ini sanggup menundukkannya?

Laki-laki ini sama sekali tidak tampan juga tidak muda.

Hubungan mereka juga tidak mungkin dekat sekali Namun apa yang terlihat di depan mata saat ini, membuktikan bahwa laki-laki ini memang sanggup menguasainya.

Orang yang sanggup menguasai perempuan itu belum tentu merupakan orang yang harus memenuhi syarat tertentu.

Mungkin dia mempunyai kelebihan yang lain.

"Mengapa harus memperhatikan cara merangkai bunganya?"

Tanya Lian lian.

"Karena ilmu silat peninggalan Tang hay sin sian akan menyempurnakan rencana kita,"

Sahut laki-laki itu.

"Apakah alasannya hanya itu?"

Tanya Lian lian.

"Apakah alasan ini masih tidak cukup?"

Laki-laki itu balik bertanya.

"Bagaimana kalau dia lebih memilih mati dari pada menjelaskannya?"

Lanjut Lian lian.

"Apakah kau anggap dia akan begitu kukuh?"

Tanya laki-laki tersebut.

"Dia memang seorang gadis yang keras kepala,"

Sahut Lian lian.

"Aku rasa kemampuanmu bukan begitu saja. Di dunia ini masih banyak hal yang lebih mengerikan daripada mati,"

Kata laki-laki itu kembali.

"Aku tahu maksudmu Tapi suciku sangat tidak menyukai permainan semacam ini,"

Sahut Lian lian.

"Aku bisa membujuknya,"

Kata laki-laki itu.

"Membujuknya?"

Lian lian seperti kurang percaya.

"Tentu saja, Dengan cara tersendiri membujuknya."

Kedua orang itu saling menatap dan tertawa.

Laki-laki itu menggendong Lian lian dan masuk ke dalam hutan, Sinar mata kedua orang itu telah menyiratkan sesuatu yang dalam.

Chow Ai Giok benar-benar tinggal di Yat lai khek can.

Hari belum terang, Dia masih tenggelam dalam alam mimpi.

Sebuah tangan yang besar membangunkannya, Dia hampir berteriak Tangan orang itu membekap mulutnya.

"Jangan teriak. Aku yang datang,"

Kata suara itu.

Biar siapa pun, asalkan tidak turun tangan terhadapnya, pasti bukan orang luar.

Yang datang ternyata adalah Kiau Bu Suang, Apakah orang ini termasuk musuhnya?

seseorang bila ingin mencari keyakinan untuk diri sendiri, sebetulnya mudah sekali, Kita bisa memandang orang yang baru kita kenal sebagai musuh asalkan mencari kesalahan setitik saja.

Begitu pun seorang sahabat Kita dapat menganggap orang yang baru kita kenal sebagai sahabat asalkan dapat menemukan kelebihannya kepada kita.

Laki-laki itu telah mempermainkannya.

Bahkan pernah mengeluarkan kata-kata bahwa hubungan mereka tidak ada untuk kedua kalinya, Perkataan itu benar-benar menusuk perasaannya.

"Ada apa? Berubah pendapat?"

Tanya Chow Ai Giok ketus.

"Apa maksud perkataanmu itu?"

Tanya Kiau Bu Suang. Bukankah kau tidak mempunyai kegairahan untuk mengulanginya kembali?"

Chow Ai Giok mencibirkan bibirnya. Kiau Bu Suang mengangkat bahunya dan tertawa, Seakan ingin meredakan pertanyaan tentang kenyataan yang pernah diucapkannya.

"Jantung hatiku.... Kau rupanya tidak mempunyai selera humor sama sekali?"

Kata Kiau Bu Suang, hari itu dia dipancing oleh Lian lian, Kali ini dia ingin menguji perempuan ini. Sengaja mengikutinya dan mencari tahu tempat tinggalnya.

"Apakah kau hanya bergurau?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Kalau kau menganggap perkataanku serius, bukankah aneh sekali?"

Sahut Kiau Bu Suang, Dia yakin perbuatan Chow Ai Giok juga disetir oleh Lian lian, Sekarang dia baru sadar bahwa perempuan memang tidak boleh dipercaya seratus persen.

"Selera humormu rasanya sangat berbeda dengan orang lain,"

Kata Chow Ai Giok.

"Coba kau pikir baik-baik, Perempuan secantik dirimu, laki-laki mana yang akan mengucapkan kata-kata hinaan dengan serius?"

Sahut Kiau Bu Suang, Laki-laki yang tidak pandai mengeluarkan kata-kata pujian bagi seorang wanita, barulah termasuk orang yang bodoh, Tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, asalkan mulut mau mengucapkan kata-kata yang manis, Akibatnya tentu menyenangkan Chow Ai Giok terpaksa percaya, ia tidak menyangsikan kecantikannya sendiri, meskipun dia mengakui masih kalah sedikit dibandingkan Bwe Mei.

"Untuk apa kau datang ke tempat ini?"

Tanyanya.

"Aku...."

Kiau Bu Suang tertawa-tawa.

"Apakah perlu dijelaskan lagi?"

Katanya.

Dia ingin mengulangi untuk kedua kalinya.

Dia mengingkari katakatanya sendiri, Kenyataannya, modal Kiau Bu Suang memang tidak rendah.

Baik bentuk wajahnya, penampilannya, atau pun ilmu silat yang dimilikinya, sudah termasuk pria idaman, Dan dia tidak segan-segan menggunakan kelebihan dirinya untuk menutupi kekurangannya.

Chow Ai Giok menyukai Sun Put Ce, namun dia sadar dirinya tidak berharga lagi.

perempuan semacam dirinya memang hanya pantas bersanding dengan laki-laki seperti Kiau Bu Suang, juga boleh dikatakan, apabila dirinya dapat bersanding dengan Kiau Bu Suang juga sudah termasuk lumayan.

Oleh sebab itu, mereka mengulangi lagi perbuatan itu untuk kedua kalinya, Orang yang mengucapkan kata-kata seperti itu, tidak perduli untuk menelan kembali ucapan yang telah dikeluarkannya, Perempuan yang telah pernah dipermainkan lebih-lebih tidak perduli lagi kalau dirinya dipandang hina.

Mereka seakan hanya memenuhi kebutuhan masing-masing.

Kiau Bu Suang kembali mengenakan pakaiannya begitu turun dari tempat tidur.

"Mengapa kau tidak bisa berlaku lebih lembut? Mengapa kau selalu tergesa-gesa?"

Tanya Chow Ai Giok. Kiau Bu Suang tidak menyahut.

"Apakah kau tidak mendengar perkataanku?"

Tanya Chow Ai Giok dengan nada kurang senang.

"Tentu aku sudah mendengar dengan jelas,"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Lalu... mengapa kau tidak menjawab?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lebih dahulu,"

Kata Kiau Bu Suang.

"Pertanyaan apa?"

Tanya Chow Ai Giok, Hatinya merasa tegang.

"Mengapa kau menyuruh aku mencari Bwe Mei?"

Dia benar-benar tidak dapat menjawab, Meskipun dengan huruf yang bagaimana rumitnya, dia tetap tidak dapat berterus terang.

"Terus terang saja, aku juga bukan manusia baik-baik. Tapi mengenai kelicikan dan kekejaman, aku masih kalah denganmu,"

Kata Kiau Bu Suang.

"Aku kejam?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Tidak salah, Pertama-tama, kau mengutungi lengannya, Kemudian kau memancing aku agar menodai dirinya, Bila ada cara yang lebih kejam, aku yakin kau tidak akan segan mengeluarkannya,"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Tepat!"

Kata Chow Ai Giok.

"Mengapa kau melakukan semua itu?"

Tanya Kiau Bu Suang.

"Aku benci kepadanya,"

Sahut Chow Ai Giok dengan mata membara.

"Aku percaya... aku tidak akan mempunyai gairah untuk ketiga kalinya. Oleh sebab itu, kita tidak perlu mengucapkan sampai jumpa,"

Kata Kiau Bu Suang sinis. Wajah Chow Ai Giok merah padam.

"Rupanya kau hanya ingin menyalurkan hasrat Karena tidak ada perempuan lain, maka kau mencari diriku!"

Teriak Chow Ai Giok kesal "Tebakanmu kali ini sungguh tepat!"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Kau bukan manusia, Aku tidak akan melepaskan dirimu!"

Teriak Chow Ai Giok kalap.

"Silahkan mencari akal yang baik. Aku beritahukan kepadamu, Setidaknya kau masih lebih bersih daripada perempuan yang melacurkan diri,"

Kata Kiau Bu Suang. Kemarahan Chow Ai Giok tidak dapat dibendung lagi.

"Pergi! Enyah! Kau binatang berkedok manusia!"

Kiau Bu Suang sudah melangkah keluar. Namun dia membalikkan tubuh dan tersenyum.

"Masih ada satu hal lagi yang rasanya perlu kujelaskan kepadamu,"

Katanya. Chow Ai Giok mengatupkan gerahamnya. Matanya seakan hampir keluar karena mendelik.

"Biasanya tubuh kaum perempuan halus dan lembut, Tetapi tubuhmu sama sekali tidak ada rasanya. Aih! Toh, semuanya sudah terjadi, Paling-paling hanya bisa menyesalkan diri."

Chow Ai Giok rasanya ingin memakan daging Kiau Bu Suang mentah-mentah, Namun dia sadar, kepandaiannya sekarang masih bukan tandingan laki-laki iblis ini.

Sebelumnya, dia tidak pernah merasa bahwa kulit tubuhnya kasar.

Dia mengulurkan tangan untuk meraba, Ternyata memang seperti apa yang dikatakan Kiau Bu Suang.

Dia memang bukan tandingan Bwe Mei.

Dia bagaikan seporsi sayuran yang tidak enak, Orang yang memakannya hanya karena perut lapar.

Sama sekali tidak ada selera.

Kalau saja perut orang itu sudah kenyang, tentu makanan itu tidak tertelan, Namun masih ada satu hal yang membuat kemarahannya makin tidak tertahankan, yaitu kata-katanya yang terakhir Setidaknya, dia masih lebih bersih dari perempuan yang melacurkan diri.

"Kurang ajar kau! Kiau Bu Suang! Bila suatu hari nanti aku tidak berhasil membunuhmu aku tidak akan mengaku she Chow lagi!"

Teriaknya.

Di sekitar villa banyak pohon buah li.

Malam mulai menjelang, hujan pun turun.

Rintiknya menerpa pohon buah li.

pintu juga tertutup rapat, Dalam ruangan yang besar, Fang Tiong Seng sedang mengasah otak.

Keadaan sudah berubah demikian jauh, Bagaimana dia harus menyelesaikan persoalannya?

Dia yakin, orang yang mengetahui identitas dirinya, mungkin lebih dari dua atau tiga orang.

Sebuah bayangan melintas.

Di depan pintu sudah berdiri seseorang.

"Tiong Seng.... Aku datang untuk mengakui kesalahan."

"Kau...? Lekas masuk!"

Undangnya. Dayang Cui thian masuk dengan langkah gemulai, Terhadap Fang Tiong Seng, dia mempunyai pengertian yang terbatas, Orang ini hatinya keras."

Tidak mudah membujuknya.

Namun dia yakin, Fang Tiong Seng tidak mungkin mencari perempuan lain yang melebihi dirinya, Kesetiaan adalah hal yang paling penting bagi seorang prajurit Anak buah yang melakukan kesalahan memang harus menerima hukuman.

Kalau kesalahannya tidak berat, mungkin dia masih mempunyai kesempatan, Bila kesalahannya berat, hanya kematian yang dapat menebusnya.

Tentang hal ini, dayang Cui thian jelas sekali.

Dia sudah banyak pengalaman dengan kaum laki-laki.

Mungkin kelebihannya dapat menebus kesalahannya kali ini.

"Tiong Seng,.,, Aku. mempunyai kesulitan yang susah di jelaskan,"

Katanya.

"Aku percaya,"

Sahut Fang Tiong Seng.

"Sungguh! Kiau Bu Suang adalah teman baikku semasa muda. Kami bertemu lagi di tempat ini, Dia menempel terus padaku,"

Kata dayang Cui thian.

"Lihat.... Aku toh tidak menyalahkan dirimu,"

Sahut Fang Tiong Seng.

"Kau benar-benar sama sekali tidak menyalahkan aku?"

Tanya dayang Cui thian dengan mata terbelalak. Fang Tiong Seng tersenyum.

"Manusia bukan dewa, mana mungkin tiada kesalahan? jangan kata hubungan kita sudah demikian jauh, hanya berdasarkan kelebihan pada dirimu saja, kau suruh aku cari di mana lagi dayang Cui thian kedua?"

Sahut Fang Tiong Seng.

Ucapan apa pun tidak semerdu yang satu ini.

Dayang Cui thian mengembangkan senyum.

Memang, kalau Fang Tiong Seng masih ingin merasakan kelebihannya, tentu akan memaafkan dirinya, Kalau tidak, dia tentu akan dibunuhnya.

"Tiong Seng, aku sungguh kagum kepadamu!"

Dia duduk di hadapan cermin, sebelum datang ke tempat ini, dia telah menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk berbenah diri, Dia juga memakai bermacam-macam perhiasan.

"Mengapa kagum?"

Tanya Fang Tiong Seng.

"Sampai aku sendiri, saat sekarang baru mengerti seluruh rencanamu,"

Sahut dayang Cui thian. Fang Tiong, Seng tertawa.

"Kau mengundang Toa Tek To Hun datang ke Tionggoan. Semua jago-jago yang mungkin akan menentangmu dibasminya. Kau kemudian memperalat diriku sebagai mata-mata Tang hay sin sian, Setelah itu kau mengadu domba kedua orang itu. Mereka pasti akan terluka bersama, Semua orang ini sudah disingkirkan kau tinggal memunguti hasilnya,"

Sahut dayang Cui thian melanjutkan. Fang Tiong Seng menganggukkan kepala. Dia seakan mengakui semuanya. Sinar matanya bagai ingin menembus bahan tipis di sela paha dayang Cui thian.

"Saat ini, kau sudah jadi orang terkuat di Tionggoan. Aku pun terpaksa harus mengambil hatimu,"

Lanjut perempuan itu.

"Ucapan apa itu?"

Kata Fang Tiong Seng.

"Hari ini aku dapat mencapai kedudukan seperti ini, semuanya berkat jasamu juga."

Dayang Cui thian melepaskan pakaiannya yang terakhir, Seperti seekor domba, dia merebahkan diri di haribaan laki-laki tersebut Fang Tiong Seng meraba sekujur tubuhnya.

"Memiliki perempuan jalang seperti dirimu, apa lagi yang kuharapkan?"

Katanya.

Dayang Cui thian tidak marah.

Dia malah tertawa terkekeh-kekeh, sebetulnya dia tidak boleh tidak percaya kepada dirinya sendiri.

Beberapa hari belakangan ini, dia masih terus dicekam ketakutan.

Dia hilir mudik di jalanan, Tepat seperti apa yang dikatakan Fang Tiong Seng, Memiliki perempuan jalang seperti kau, boleh dibilang semuanya sudah terpenuhi Apa yang diharapkan lagi.

Pada saat ini, hatinya sudah tenang.

Dia seakan sudah menduduki tahta Bulim Bengcu hujin, Tiba-tiba tangan Fang Tiong Seng terulur, jarinya sudah menotok tiga jalan darah terpenting di bagian atas tubuhnya.

Bayangan Bulim Bengcu hujin amblas seketika.

Perempuan di kolong langit ini tidak kalah banyak dengan kaum laki-laki.

juga hanya orang yang tidak banyak bergaul dengan kaum perempuan baru merasa sayang.

Hanya orang yang tidak pernah merasakan seorang perempuan baru terpesona sampai hilang akal sehatnya.

"Tiong Seng, apakah kau juga tega membunuh perempuan seperti aku?"

Tanya dayang Cui thian dengan suara tersekat "Tentu saja aku tidak tega membunuhi mu. Tapi bagaimana pun kau tetap harus mati,"

Sahut Fang Tiong Seng.

"Mengapa?"

Tanya dayang Cui thian dengan nada pilu.

"Karena kau tidak setia terhadapku Coba bayangkan, seandainya Kiau Bu Suang menghianatimu dan mencari perempuan lain, apakah kau akan datang untuk mengakui kesalahan?"

Kata Fang Tiong Seng sinis.

"Apakah kau benar-benar hendak membunuh aku?"

Tanya dayang Cui thian.

"Dengan alasan apa kau anggap aku sudah bergurau?"

"Perempuan di dunia ini memang banyak, tapi di mana lagi kau akan menemukan dayang Cui thian kedua?"

"Aku lebih baik kehilangan dayang Cui thian. Dan manusia she Fang ini tidak pernah kekurangan perempuan, Lagipula dalam hal melayani kaum perempuan, aku memang ahlinya."

Kata Fang Tiong Seng menyombongkan diri.

"Namun... mudahkah mencari seorang perempuan sejalang dayang Cui thian?"

Tanya perempuan itu mengembangkan harapannya sendiri Semoga Fang Tiong Seng berubah pikiran.

"Kau terlalu membanggakan diri, Aku beritahukan kepadamu. Perempuan yang aku miliki sekarang, kejalangannya seratus kali lipat melebihimu,"

Kata Fang Tiong Seng.

"Siapa dia?"

Seakan siapa orangnya lebih penting dari keselamatan nyawanya.

"Bukankah kau terlalu berlebihan?"

Sahut Fang Tiong Seng sambil tertawa dingin. Dayang Cui thian mencibirkan bibirnya.

"Kalau kau sampai membunuh diriku. Berarti kau melakukan dua kesalahan, Aku lebih mengerti dirimu dari siapa pun. Oleh karena itu, aku telah menulis semua tentang dirimu dan kumasukkan dalam sebuah sulaman kapas. Benda itu telah kuserahkan kepada Siau kiong cu. Dia adalah seorang gadis yang cerdik, Kalau aku tidak mati, dia tidak akan membuka bungkusan kapas itu. Begitu mendengar kematianku, dia segera akan mengetahui semua rencana busuk-mu,"

Katanya.

"Baiknya saat ini dia sama sekali tidak tahu kalau kau akan mati, Lagipula, aku yakin tidak ada orang ketiga yang tahu,"

Sahut Fang Tiong Seng tertawa lebar.

Dayang Cui thian tidak merasakan kehebatan dirinya lagi, Dia memang paling mengerti jiwa Fang Tiong Seng, Orang yang paling berjasa baginya pun, tetap tidak akan lolos dari akhir demikian, Cara ini sama juga membungkam mulut orang yang tidak dibutuhkan lagi.

Fang Tiong Seng menarik nafas panjang.

"Terus terang saja, bahwa perempuan yang kumiliki sekarang tidak mempunyai banyak kelebihan, bermain cinta denganmu memang suatu hal yang menyenangkan juga. Namun, untuk menjaga keselamatan diriku, juga untuk membalaskan dendam bagi Hu Put Chiu, aku harus membunuh dirimu. Setelah kau mati, kau tidak usah khawatir Aku akan memakamkan dirimu secara layak agar arwahmu dapat tenang di alam baka,"

Kata Fang Tiong Seng.

Kata-katanya itu membuktikan bahwa sejak semula memang dia sudah tahu kalau pembunuh Hu Put Chiu adalah dayang Cui thian, Apakah atas perintahnya?

Hanya kedua orang itu yang tahu!"

Tangan Fang Tiong Seng melingkar di leher perempuan itu.

Cekikannya dipererat, Mata dayang Cui thian membelalak, Tidak lama kemudian, hanya bagian putihnya saja yang terlihat.

-oooo0oooo-Bagian Delapan belas Di sekitar Cui goat si ada tanah perkebunan, Di sana ditanam berbagai macam sayur-sayuran.

Semua itu untuk memenuhi kebutuhan makanan Toa pei su thay dan kedua muridnya.

Siang hari udara terlalu menyengat, mereka selalu bekerja di malam hari, seperti mencabuti rumput-rumput kering atau sayuran yang layu, juga menyirami agar tumbuh subur.

Toa pei su thay bertugas mencabuti rumput dan memetik sayuran, kedua nikouw mengambil air dan menyiram tanaman tersebut Suara byur...

byur...

dari gentong kayu yang disiram ke arah tanaman menambah semangat mereka.

Sesosok bayangan panjang terlihat seorang manusia menembus hutan berjalan ke arah mereka, Di kaki pegunungan ada kabut tipis.

Kira-kira jarak langkah orang itu tinggal tiga depaan, kedua nikouw itu menjerit kecil.

Orang yang datang merupakan seorang manusia bertopeng.

pakaiannya longgar berwarna hitam Di bagian pinggang terselip sebatang pedang panjang berbentuk aneh.

Topengnya berwarna putih, memancarkan kepucatan dan mengembangkan senyum Wajah seperti itu, meskipun tersenyum tetap terasa mengerikan.

Manusia bertopeng ini berhenti kira-kira lima langkah dari Toa pei su thay dan kedua muridnya, Toa pei su thay adalah jut ke lang (orang pertapaan), Meskipun dirinya belum mencapai kesempurnaan, namun dia percaya sekali akan nasib manusia yang telah ditentukan oleh Thian, Sedikit banyaknya dia sudah mempunyai dugaan akan maksud kedatangan manusia bertopeng itu, tetapi dia tidak takut "Apa yang sicu inginkan?"

Tanyanya sopan. Manusia bertopeng menunjuk ke arah Toa pei su thay, Maksudnya menginginkan kepala biara tersebut.

"Dapatkah sicu kemukakan alasannya?"

Tanya Toa pei su thay kembali.

"Tidak perlu!"

Sahut manusia bortopeng itu. Toa pei su thay mendongakkan kepala menatap langit Dia menarik nafas panjang.

"Pinni mencari makan sendiri, Tidak ada hutang piutang dengan orang lain, Kalau sicu memang tetap ingin membunuh, pinni menyerahkan nyawa. Namun ada satu permintaan yang pinni harap dikabulkan,"

Kata Toa pei su thay. Manusia bertopeng itu menggoyangkan tangannya dengan keras.

"Tidak dapat dikabulkan? persoalan apa pun tidak dapat dikabulkan?"

Tanya Toa pei su thay.

"Karena aku sudah dapat menerka apa permintaanmu,"

Sahut manusia bertopeng.

"Apa yang kau ketahui?"

Tanya Toa pei su thay.

"Kau ingin meminta pengampunan untuk kedua nikouw tersebut,"

Sahut manusia bertopeng dengan nada datar.

Toa pei su thay terpana, Orang ini cukup kejam dan telengas, Cara kerjanya juga tidak kepalang tanggung, Hok sue bo meng, yu jin ci co (Rejeki dan sial tiada pintunya, semua itu berada di tangan manusia sendiri Apakah semua sudah merupakan takdir kedua muridnya?

Mereka tidak pernah melakukan kejahatan, namun hidup mereka harus berakhir tragis, Apakah hal ini dapat disebut keadilan?

Toa pei su thay tidak habis pikir.

Selama hidupnya, dia tidak merasa ada musuh seperti manusia bertopeng ini.

Dia memperhatikan sosok tubuh orang itu dengan seksama, Orang itu tidak memandang ke arah-nya, dia sedang menatap penuh perhatian ke arah Cui goat si.

Tiba-tiba mata Toa pei su thay juga melihat kelebatan bayangan seseorang.

Dia segera mengetahui bahwa itu adalah sumoinya, Lian lian, Dalam seketika, Toa pei su thay telah menyadari apa yang terjadi.

"Sungguh tidak disangka! Sungguh-sungguh tidak tersangka!"

Katanya.

"Apa yang tidak tersangka?"

Tanya manusia bertopeng itu.

"Ternyata anda adalah kawan segolongan dengan Lian lian sumoi. Pantas saja,"

Sahut Toa pei su thay.

"Apakah itu bukan perkiraanmu saja?"

Tanya manusia bertopeng itu dengan nada dingin.

"Rasanya aku masih percaya dengan ketajaman mata tua ini,"

Kata Toa pei su thay. Manusia bertopeng itu tertawa terbahak-bahak.

"Kedatangan Toa Tek To Hun ke Tiong-goan telah menimbulkan bencana, Para jago kelas satu tiada yang muncul menghadapi kebenaran. Malah manusia kelas dua yang menjadi korban, Mereka menjadi setan oleh pedang manusia Fu sang itu. Sicu sudah terang bukan Toa Tek To Hun, tapi sicu menyamar sebagai dia. Entah dengan maksud apa?"

Tanya Toa pei su thay.

"Keluarkan senjatamu!"

Bentak manusia bertopeng itu.

Toa pei su thay tidak bertanya 1agi.

Dia segera mengeluarkan pedangnya, Kedua orang nikouw itu juga mengikuti tindakannya.

Toa pei su thay tidak menghalangi mereka, Karena dia tahu lawan tidak akan melepaskan kedua orang gadis itu.

Lebih baik menghadapinya bersama.

Dia melirik kedua muridnya sekilas, Ketiga pedang menyerang serentak.

Kecepatannya bagai sambaran petir.

"Trang! Trang! Trang!"

Pedang kedua nikouw itu melayang ke udara, Di kening mereka terlihat guratan luka memanjang, Darah segar memancar deras.

Tubuh mereka belum rubuh ke tanah.

Toa pei su thay mencoba menyerang kembali.

Pedang aneh di tangan manusia bertopeng itu berkelebat, senjata Toa pei su thay melayang jauh.

Sinar keemasan bercampur merah memenuhi angkasa, Kepala Toa pei su thay terpenggal dan menggelinding ke tanah, Pedang aneh manusia bertopeng itu telah masuk kembali ke dalam sarungnya.

Jumlah keseluruhannya tidak sampai dua jurus, Tiga orang perempuan suci ternyata meninggalkan nyawa dengan keadaan yang patut dikasihani.

Sebuah bayangan hinggap di dekat manusia bertopeng, orang itu adalah Lian lian.

Dia hanya melirik sekejap ke arah Toa pei su thay dan kedua orang sumoinya, Sama sekali tidak ada kesan marah di matanya, Dia hanya mengucapkan sepatah kata.

"Bersihkan tempat ini!"

Tidak lama kemudian, ketiga perempuan itu sudah terpendam di dalam tahah.

Tidak ada batu nisan, apalagi upacara penyembahyangan, setengah kentungan sebelumnya, mereka masih mencabuti rumput-rumput kering dan memetik sayuran dengan riang gembira.

Suara siraman air pada tumbuh-tumbuhan telah sirna, seperti sirnanya nyawa mereka.

-oooo0oooo-Di ruang bawah tanah yang tertutup rapat, manusia bertopeng berdiri di depan pintunya, Siau kiong cu telah dilepas pakaiannya sehingga tidak mengenakan sehelai benangpun, Lian lian juga hampir sama, payudaranya diikat kencang, menunjukkan kesan seperti seorang laki-laki.

Dia menari dengan gaya merangsang, Gerakannya seperti laki-laki dan perempuan yang sedang bercinta, Untuk menundukkan musuh, cara yang paling efektif adalah kelemahannya, sedangkan kelemahan kaum manusia sebagian besar justru pada nafsu birahinya.

Lian lian tentu saja bukan seorang laki-laki.

Juga bukan banci.

Kalau dia memang jenis manusia yang setengah laki-laki dan setengah perempuan, manusia bertopeng itu pasti tidak akan menyukainya, Dia hanya ingin menggertak Siau kiong cu.

Entah dari mana dia mendapatkan alat kelamin palsu milik laki-laki itu.

Bagi Siau kiong cu sendiri, dalam keadaan kalut dan bingung seperti sekarang, mana mungkin dia menaruh perhatian atas tarian Lian lian?

Lian lian ternyata memang lebih keji dan sadis dari Kiau Bu Suang.

Sejak berhubungan dengan manusia bertopeng itu, kejalangannya semakin menjadi-jadi.

Pada saat ini, dia bukan saja memperlihatkan gerakan yang merangsang namun dia juga memperdengarkan rintihan-rintihan yang menggidikkan hati seorang gadis suci Dia tidak percaya kalau Siau kiong cu tidak akan terpengaruh.

sayangnya Siau kiong cu memang masih terlalu polos, Karena tingkah Lian lian terlalu genit, dia menganggap gadis itu tidak tahu malu.

Boleh juga dikatakan bahwa Siau kiong cu sama sekali tidak menganggapnya sebagai manusia, Dia seperti seekor binatang yang sedang mengendusendus liar.

Kalau memang Siau kiong cu tidak menganggapnya sebagai manusia, mana mungkin tariannya akan mempengaruhi gadis tersebut Oleh sebab itu, Lian lian menari sampai peluh membasahi seluruh tubuhnya, Badannya terasa pegal dan linu.

Dia menoleh ke arah gadis itu, wajahnya berubah hebat.

Semua susah payahnya ternyata sia-sia saja.

Karena merasa dirinya tidak berhasil, terpaksa Lian lian mengundurkan diri.

Di ruangan dalam, dia duduk berhadapan dengan manusia bertopeng itu.

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga,"

Kata Lian lian putus asa.

"Jangan cepat putus asa. Kau boleh memikirkan cara yang lain,"

Kata manusia bertopeng.

"Kalau kau memang mempunyai akal yang bagus, mengapa tidak kau kemukakan sekarang?"

Tanya Lian lian.

"Kau adalah seorang perempuan cerdik. Mengapa tidak berpikir sedikit jauh?"

Sahut manusia bertopeng.

"Pikir apa lagi?"

Tanya Lian lian kesal.

"Bukankah Siau kiong cu seorang anak yang berbakti?"

Kata manusia bertopeng.

"Tidak salah!"

Sahut Lian lian.

"Pikirlah dari huruf bakti tadi,"

Kata manusia bertopeng. Lian lian terpana sejenak, kemudian matanya bersinar terang.

"Aku mengerti apa yang kau maksudkan!"

Teriaknya senang.

"Benar-benar sudah mengerti?"

Tanya manusia bertopeng.

"Apakah maksudmu hendak menggali...."

Tanya Lian lian penuh rahasia.

"Betul!"

Tukas manusia bertopeng tersebut.

"Siapa bilang kau tidak cerdik? Dalam sekejap saja, kau sudah mengerti,"

Kata manusia jahat itu tertawa terbahak-bahak .

Lian lian senang sekali Siapa pun yang memujinya, tiada arti, Asal manusia yang satu ini mau membuka mulut memujinya, dia baru merasa pekerjaannya tidak sia-sia.

Hal ini disebabkan karena dia selamanya tidak pernah mengagumi orang, Orang satu-satunya yang dikagumi di dunia ini hanya manusia di hadapannya ini.

"Bagaimana cara mengaturnya?"

Tanya perempuan itu.

"Aku akan memberitahukannya kepadamu, tapi bagaimana pun harus kau yang tampil. Suatu hal yang perlu kau ingat, Di saat yang diperlukan, kau harus berani bertindak keji, Hanya dengan kekejian, baru dapat membuat orang segan dan putus asa,"

Sahut manusia bertopeng itu.

Sun Put Ce dan Mo Put Chi tiap hari keluar untuk mencari orang.

Perintah guru sama sekali tidak boleh dibantah, Mereka ingin mencari Kiau Bu Suang dan Kwe Po Giok, Juga dayang Cui thian, Tentu saja kedua orang itu tidak tahu bahwa untuk mencari dayang Cui thian harus menempuh perjalanan ke alam baka terlebih dahulu.

Sun Put Ce sangat berbakti terhadap suhengnya, Dia memang sangat setia terhadap siapa pun.

Namun pertemuannya dengan Bwe Mei tempo hari, tidak diceritakannya terhadap sang suheng, Dia berhasil menghindar dari Mo Put Chi hari itu, dia takut sang suheng akan melaporkannya kepada suhu.

Bukan karena Mo Put Chi jahat, justru karena dia terlalu jujur.

"la telah keluar dengan suhengnya akhir-akhir ini, yang selalu menuruti apa yang dikatakannya, Mo Put Chi sangat kagum terhadapnya, Apa yang diucapkannya selalu benar. Oleh karena itu, Sun Put Ce selalu menyarankan mereka berpencar mencari orang yang diinginkan guru mereka. Juga hanya dengan cara demikian, dia dapat melepaskan diri dari suhengnya dan menengok Bwe Mei. Hari ini senja belum menjelang, mereka keluar dari gedung keluarga suhunya lalu berpencar Mereka berjanji akan berjumpa di Hong Lai Chun Ciulau malam harinya, Sun Put Ce membeli makanan kesukaan Bwe Mei. Setelah yakin bahwa dirinya tidak diikuti, dia segera menyelinap ke tempat Bwe Mei. Gadis itu seperti sedang dirundung kesedihan Seorang gadis remaja yang cantik jelita tapi tidak mau berhias sedikit pun, pasti sedang dilanda kesedihan. Apalagi dia tahu bahwa Sun Put Ce akan datang hari ini.

"A mei.... Mengapa kau bersedih lagi?"

Tanya Sun Put Ce.

"Tidak,"

Sahut Bwe Mei.

"Kalau kau membohongi diriku, aku tidak apa-apa. Tapi jangan membohongi dirimu sendiri,"

Kata Sun Put Ce.

"Sun Toako.... Lebih baik kau jangan datang lagi."

"Mengapa? Apakah kau sebal melihat aku?"

Tanya Sun Put Ce. Bwe Mei menggelengkan kepalanya.

"Katakan,., apa sebabnya?"

Desak Sun Put Ce.

"Sun Toako.... Di dunia ini tidak mungkin ada laki-laki yang menyukai gadis bertangan kutung,"

Kata Bwe Mei.

"Apakah diriku juga termasuk?"

Tanya Sun Put Ce.

"Sun Toako, aku tidak berkata begitu, Tapi setiap manusia pasti menyukai benda yang utuh, Sebuah kendi yang kehilangan bibirnya atau cangkir yang kehilangan pegangannya tentu tidak sedap dilihat,"

Kata Bwe Mei.

"Tidak tentu juga. Mengapa manusia membuat cangkir dengan telinga berlubang? Bukankah cacat itu malah menambah keindahannya?"

Sahut Sun Put Ce dengan maksud membesarkan hati Bwe Mei.

"Sun Toako, kecacatan dan keindahan memang tidak mungkin terpadu satu,"

Kata Bwe Mei dengan wajah murung.

"Bwe Mei.... percayalah kau bahwa di dunia ini ada cinta kasih,"

Tanya Sun Put Ce.

"Perasaan seperti itu bukan cinta, tapi kasihan,"

Sahut Bwe Mei.

"Betul! Tapi tahukah kau bahwa perasaan kasihan itu selalu lebih dalam dari cinta, Apa yang ada dalam hatiku bukan hanya kasihan semata, tapi cinta kasih yang sejati,"

Sahut Sun Put Ce.

Bwe Mei tidak bersuara, Sun Put Ce dapat merasakan penderitaan seorang gadis yang kehilangan sebelah lengannya, Dia membantunya membasuh muka, menyisir rambut lalu mengganti pakaian.

Melihat kesungguhan Sun Put Ce, hati Bwe Mei agak terbuka sedikit.

Mereka kembali melatih ilmu bersama.

"Apa yang kurang dimengerti mereka pecahkan berdua, Sampai gelap datang, mereka baru berhenti. Mereka masak sendiri dan makan, Di hadapan mereka juga terdapat arak yang harum.

"Sun Toako, kau mengajarkan aku memakai tangan kiri, seakan tangan kananmu tidak ada gunanya lagi,"

Kata Bwe Mei.

"Tidak, Meskipun aku mengajarkan kau memakai tangan kiri, bukan berarti aku tidak memperdulikan tangan kananku lagi. Aku ingin kau menyempurnakan pelajaranmu sendiri, jangan berpikir tentang diriku,"

Sahut Sun Put Ce.

"Kau memang selalu baik terhadapku Namun aku rasanya tidak bisa memenuhi keinginanmu,"

Kata Bwe Mei.

"Tidak,... Dasar ilmu silat itu berasal dari lubuk hati kita sendiri,"

Sahut Sun Put Ce meyakinkannya.

Sejak kehilangan Siau kiong cu, Kwe Po Giok seperti manusia yang kehilangan sukma.

Tidak usah dikatakan tentang budi yang ditanam oleh Tang hay sin sian, hubungannya dengan gadis itu sendiri sudah sangat memberatkan hatinya, Tanpa Siau kiong cu, dirinya benar-benar tidak sanggup hidup lebih lama.

Dia mencari Lian lian kemana-mana.

Siapa yang mengira kalau perempuan itu ada di Cui goat si yang letaknya sejauh berpuluhpuluh li?

Meskipun dia adalah seorang sin tong, namun dia tetap manusia biasa, bukan dewa.

Dia mencaci dirinya sendiri Mengapa demikian kekanak-kanakan sehingga dapat mempercayai perempuan seperti itu?

Dia sudah mencari ke pelosok desa sekitar tempat itu.

Kehidupannya mulai kacau.

Tampangnya semakin lusuh, Sin tong ternyata bisa mabuk juga.

Arak dan ayam panggang Hong lai chun ciulau memang sangat terkenal Hampir setiap hari ia merenung di tempat itu.

Sun Put Ce dan Mo Put Chi keluar lagi hari ini.

Mereka berpencar Dia menuju Hong lai chun karena Bwe Mei suka makan ayam panggang, Di tempat itu, dia bertemu dengan Kwe Po Giok.

Namun Sin tong itu tidak bertampang manusia lagi, Rambutnya acak-acakan.

Bajunya kotor.

Raut wajahnya pucat, dan mulai mabuk.

Sun Put Ce merasa gembira dapat bertemu dengannya di tempat ini.

Tapi perubahannya mengejutkan laki-laki itu.

Sebelumnya, Kwe Po Giok paling suka kebersihan pakaiannya selalu necis dan rapi, Entah sejak kapan dia berubah demikian drastis.

"Siau Kwe...."

Tegur Sun Put Ce sambil duduk di hadapannya.

"Kemanakah kau selama ini?"

Kwe Po Giok juga senang melihat Sun Put Ce. Dia mengangkat cawannya.

"Mari.... Kita keringkan isi cawan ini,"

Ajaknya. Sun Put Ce menahan cawan yang sudah menempel di bibir pemuda itu.

"Siau Kwe.... jangan lupa, Kau adalah Sin tong!"

Katanya.

"Sin,., Sin tong?"

Tanya Kwe Po Giok bingung.

"Bukankah pada usia tiga tahun, orang-orang memanggilmu Sin tong?"

Tanya Sun Put Ce.

"Betul! Tapi seorang Sin tong tetap merupakan manusia biasa. Seorang istri pun tidak sanggup dipertahankan,"

Kata Kwe Po Giok sedih.

"Apa yang kau maksudkan?"

Tanya Sun Put Ce tidak mengerti.

"lstriku hilang."

"Siau Kiong Cu?"

Tanya Sun Put Ce terkejut.

"Sini... kemarikan arak itu. Aku ingin minum sampai puas. Siau kiong cu aku menghormatimu secawan!"

Seru Kwe Po Giok.

Dia mengeringkan arak di tangannya, Diisinya kembali cawan tersebut Dia menoleh ke arah Sun Put Ce.

Matanya mulai berkunang-kunang, Dia mengira, Sun Put Ce yang di hadapannya adalah Siau kiong cu.

Sun Put Ce tidak memperdulikan ajakannya.

"Kapan Siau kiong cu menghilang?"

Tanyanya.

"Be.... belum lama,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Bagaimana dia bisa menghilang?"

Tanya Sun Put Ce kembali "Lian lian....

Perempuan itu adalah seorang penipu, Dia menculik Siau kiong cu, Sun Put Ce....

Coba katakan....

Mungkinkah Lian lian itu seorang germo?

Mungkinkah dia menjual Siau kiong cu ke rumah hiburan?"

Tanya Kwe Po Giok cemas.

"Rasanya tidak mungkin, Siau Kwe.... Coba kau ceritakan kejadiannya dari awal,"

Sahut Sun Put Ce.

Siau Kwe menjelaskan kejadian yang dialaminya tempo hari.

Baru separuh ceritanya berlangsung, dia sudah tidak dapat menguasai diri 1agi.

Dia tertelungkup di atas meja dalam keadaan mabuk.

Sun Put Ce terpaksa mengangkatnya ke tempat tinggal Bwe Mei.

Sungguh tidak di sangka, Chow Ai Giok yang selalu kelantang kelinting di jalanan, dapat menggigitnya dari belakang, Meskipun gadis itu tahu bahwa dirinya tidak berharga lagi, namun dia tetap tidak suka melihat kelanjutan hubungan Sun Put Ce dan Bwe Mei.

Kemesraan kedua orang itu membuat hati Chow Ai Giok semakin panas.

Hatinya memang sempit, perasaannya dipenuhi dendam yang dalam.

Dia tidak sanggup membalas kematian kakeknya, maka seluruh kebencian dalam hatinya ditumpahkan kepada Bwe Mei dan Sun Put Ce.

Kedua orang itu masak sendiri dan makan.

Mereka bersama gurau.

Cawan-cawan saling beradu.

Lirikan mata menyiratkan kemesraan dan kasih sayang, Apalagi Sun Put Ce, terlihat jelas bahwa dia sangat mencintai Bwe Mei, berkali-kali dia menyendokkan makanan kesukaan gadis itu, bahkan adakalanya dia menyuapi Bwe Mei, pemandangan seperti ini makin membuat kebencian di hati Chow Ai Giok memuncak.

Dia merasa Sun Put Ce seakan sengaja memperlihatkan kemesraan itu di hadapannya.

Kiau Bu Suang pernah dua kali berhubungan badan dengannya, namun dia tidak memperlihatkan kegairahan untuk ketiga kalinya.

Bagi seorang perempuan, perbuatannya terasa sangat menyakitkan.

Saat ini, dia menganggap semua musibah yang dialaminya adalah hasil kedua orang, Bwe Mei dan Sun Put Ce.

Dia benci sekali, dia marah, seperti nyaris gila memikirkan semua itu.

Tadinya, dia hanya ingin melihat sekarang dia harus turun tangan, dia tidak ingin dirinya dianggap remeh oleh orang lain.

Meskipun dia bukan tandingan Kiau Bu Suang, tapi untuk menghadapi Sun Put Ce saja, dirinya masih ada keyakinan Setidaknya, dia adalah sumoi Bok Lang Kun.

Ilmu silatnya adalah hasil ajaran Hiat Eng.

Apa yang digunakannya pernah menjadi kebanggaan kakeknya itu, Dia segera menghunus pedang dan menyerbu ke dalam.

Ketika itu, Sun Put Ce dan Bwe Mei sedang duduk di muka jendela dan minum arak dengan gembira.

Mereka sama sekali tidak menyangka adanya kejadian seperti ini.

Kelebatan pedang segera terlihat serangan itu dahsyat sekali, Apalagi senjata kedua orang itu memang tidak ada di tangan.

Biar pun ada, tetap tidak sempat menangkis.

Demi keselamatan Bwe Mei, Sun Put Ce tidak dapat berpikir panjang lagi.

Dia mengangkat tangan kanannya untuk menangkis pedang tersebut Sun Put Ce tampaknya tidak terlalu menyayangi tangan kanannya, boleh dikatakan, kalau dia tidak menangkis dengan tangan kanah, Bwe Mei terpaksa menerima kematian di bawah serangan Chow Ai Giok.

Sun Put Ce hanya tahu bahwa Chow Ai Giok sangat membenci Bwe Mei.

Dia pasti sangat menginginkan kematian Bwe Mei, tapi dia sama sekali tidak mengira kalau gadis itu juga ingin membunuhnya.

"Sreettt!!!"

Suara itu terdengar jelas.

Sebuah tangan melayang ke angkasa, jatuh tepat di atas mangkok sayur dan cawan arak di atas meja.

Baik Bwe Mei ataupun Sun Put Ce sama-sama terpana, Pedang sudah diletakkan di atas meja.

Chow Ai Giok tertawa terbahakbahak, sebetulnya tadi dia ingin membunuh Sun Put Ce.

Sekarang dia melihat mereka terkejut Wajah mereka pucat seperti selembar kertas putih, Dia menatap kutungan tangan Sun Put Ce di atas meja.

Bahu laki-laki itu masih terlihat gemetar Mungkin karena menahan sakit Oleh karena itu, Chow Ai Giok merubah keputusannya, Lebih baik membiarkan rasa putus asa mencekam hati mereka, bukankah demikian lebih baik?

Membunuh seseorang untuk melampiaskan kebencian dalam hati memang dapat melegakan perasaan, Tapi semua itu hanya kesenangan sekejap saja.

Kalau hanya membiarkan mereka hidup dalam kecacatan, maka perasaan senang ini akan berlanjut se1amanya.

Cara membunuh orang memang banyak, tapi cara yang dilakukan oleh Chow Ai Giok sekarang ini boleh dibilang paling keji.

Bwe Mei tertunduk sedih, Sun Put Ce merobek lengan bajunya untuk mengikat luka yang masih mengucurkan darah, Dia menatap tajam ke arah Chow Ai Giok.

"Mengapa kau tidak sekalian membunuh diriku saja?"

Tanyanya sepatah-sepatah.

"Benda yang retak toh masih jauh lebih baik dari pada yang hancur berantakan,"

Jawab Chow Ai Giok sambil memperdengarkan suara tawanya yang merdu.

"Kapan-kapan kalau hatiku sedang bergembira, aku masih ingin mengutungkan sebelah kaki kalian."

Dia membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.

Suara tawanya yang lebih tajam dari pisau masih berkumandang.

-oooo0oooo-Obat luka sisa Bwe Mei masih ada.

De-ngan tangan gemetar, dia memborehkan obat tersebut kepada Sun Put Ce.

Untuk merawat luka tanpa diganggu, mereka terpaksa pindah rumah lagi, Ketika pindah rumah, Kwe Po Giok tiba-tiba pergi tanpa mengucapkan apa-apa, Tempat tinggal mereka sekarang sangat terpencil dan sepi.

Tempat yang tenang untuk merawat luka, pemilik rumah adalah kawan baik Sun Put Ce.

Pada saat ini, Sun Put Ce bersandar di atas tempat tidur, wajahnya masih terlihat pucat Bwe Mei duduk di sampingnya, Dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Tidak lama lagi aku pasti sudah sembuh, jangan kau khawatirkan diriku,"

Kata Sun Put Ce melihat kemurungan gadis itu. Bwe Mei tidak bersuara. Sun Put Ce menepuk-nepuk bahunya.

"Tenang.... Hal ini tidak akan berpengaruh terhadap latihan kita,"

Kata Sun Put Ce kembali. Tiba-tiba Bwe Mei mendongakkan kepala. wajahnya kaku dan dingin.

"Tampaknya kau sudah mempunyai rencana sejak semula,"

Ujar gadis itu.

"Rencana apa?"

Tanya Sun Put Ce.

"Kehilangan sebuah lengan,"

Sahut Bwe Mei. Sun Put Ce terpana.

"Apakah kau mengira bahwa aku sudah tahu kalau Chow Ai Giok akan mencari kita?"

Tanya Sun Put Ce.

"Bukan begitu. Namun dalam benakmu, kau sudah mempunyai suatu niat,"

Kata Bwe Mei.

"Niat apa?"

Tanya Sun Put Ce. Sekali lagi Bwe Mei terdiam.

"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak, Kehilangan lengan ini sama sekali di luar perkiraan, Gerakan yang aku lakukan terlalu mendadak, Kalau saja lengan ini tidak kutung, mungkin kita berdua harus menerima kematian,"

Lanjut Sun Put Ce.

"Tidak! Beberapa hari sebelumnya kau berlatih bersama-sama aku. Pada saat itu kau sengaja mengikat lengan kananmu, Kau mengatakan bahwa berlatih dengan orang yang menggunakan tangan kiri, lebih baik mengikuti dengan tangan kiri pula, Hasilnya akan lebih mengejutkan,"

Kata Bwe Mei.

"Kau..."

Sun Put Ce tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

"Aku tahu, ketika itu kau sudah mengambil keputusan, Untuk menghibur diriku, dan agar aku tidak terlalu merasa rendah diri, kau rela mengorbankan lengan kananmu kalau perlu, Kau ingin kita sama-sama merasakan penderitaan ini,"

Kata Bwe Mei.

"Tidak, A Mei... itu hanya perkiraanmu saja,"

Sahut Sun Put Ce.

"Sun Toako.... Untuk apa kau melakukan semua ini?"

Desak Bwe Mei.

"A Mei.... Sama sekali tidak ada maksud demikian,"

Sahut Sun Put Ce. Jilid. 14 Dua pasang mata bertemu. Bwe Mei tahu, persoalannya tentu tepat seperti apa yang diduganya, Tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sun Put Ce.

"Sun Toako, aku berhutang terlalu banyak kepadamu Seumur hidup ini, bagaimana aku harus membalasnya?"

Kata gadis itu sambil menangis tersedu-sedu.

"A Mei.... Tidak usah membalas, apalagi menyimpannya sebagai beban di hati, Asal kau tidak meninggalkan aku, dan aku boleh sering-sering melihatmu, berarti semua yang kulakukan tidak siasia,"

Sahut Sun Put Ce sambil balas merangkulnya dengan ketat.

"Toako.... Apakah kau akan meninggalkan aku?"

Bwe Mei membalikkan pertanyaannya.

"Mengapa aku harus meninggalkan dirimu?"

"Mungkin pada suatu hari kau akan bertemu dengan seorang perempuan, ia tidak cacat sama sekali.,."

Sun Put Ce membekap mulutnya, Kedua orang itu berangkulan dengan erat, Mereka belum pernah saling mendekap sedemikian ketat dalam keadaan sadar, Hal ini adalah untuk pertama kalinya.

"Sejak hari ini, keadaan kita sama. Dalam segala kesulitan, kita harus bahu mem-bahu menghadapinya, Bukankah hal ini baik sekali?"

Kata Sun Put Ce.

"Sun Toako, kalau kita meminta dua kali bayaran dari Chow Ai Giok atas apa yang diperbuatnya, dia akan menjadi seorang cacat yang tidak mempunyai kaki dan tangan, Tentu orang akan menganggapnya sebagai makhluk aneh,"

Sahut Bwe Mei.

"A Mei... Aku mengijinkan kau membalas dendam. Tapi ingat, kita bukan manusia keji seperti dirinya, Kita tidak boleh membalas seperti apa yang dilakukannya terhadap kita,"

Kata Sun Put Ce menasehati "Toako, kalau aku tidak membuntungi sebelah kaki dan tangannya, rasa sakit di hati ini tidak akan hilang selamanya,"

Sa-hut Bwe Mei.

"Dendam memang harus dibalas, tapi...."

Dia tidak melanjutkan kembali.

"Toako, aku tidak dapat menahan diri,"

Sahut Bwe Mei.

"Jangan begitu, Aku menjadi marah nanti"

Sahut Sun Put Ce.

"Toako, kau kehilangan lengan demi diriku. Bagaimana hatiku takkan perih?"

Tanya Bwe Mei.

"A Mei.... Kalau kau berkata begitu, dirimu sendiri pernah kehilangan sebelah lengan demi aku,"

Kata Sun Put Ce.

"Tidak, Toako, Bukan begitu kejadiannya,"

Sahut Bwe Mei.

"Mengapa bukan? Ketika dia melukaimu hari itu, apakah tidak ada hubungannya denganku?"

Tanya Sun Put Ce.

"Tidak, Toako, Tidak,"

Bwe Mei menggelengkan kepalanya berkalikali. Kedua orang itu berpelukan kembali, Lama sekali mereka berdiam diri.

"Toako.... Kalau semua urusan sudah selesai, apakah kau akan mengawini aku?"

Tanya Bwe Mei.

"Aku tidak sabar lagi untuk segera mengawini dirimu,"

Sahut Sun Put Ce.

"A Mei.... Coba kau berlatih lagi agar kulihat,"

Lanjutnya.

-oo-Malam sudah larut.

Angin bertiup kencang, Sebuah penerangan melambai-lambai karena hembusan angin tersebut Burung hantu tidak hentinya meratap.

Kuburan itu sudah digali.

Di dalamnya tampak sebuah peti bermutu tinggi, Di batu nisan terbaca deretan huruf -Makam pendekar segala jaman Tang hay sin sian.

Siapa yang mengggali kuburan itu?

Tang hay sin sian sudah mati.

Fang Tiong Seng yang menguburkannya.

Di sekitar kuburan sunyi senyap, Tidak terlihat seorang manusia pun.

Hanya sebuah lentera yang redup.

Tampaknya sinar penerangan itu sudah amat redup.

Setiap saat angin yang kencang akan memadamkannya.

Di samping batu nisan terdapat beberapa macam bunga dan gunting serta berbagai peralatan lainnya.

Tiba-tiba dari arah kiri kuburan-kuburan tua itu berjalan dua orang manusia, Keduanya adalah kaum perempuan, Yang seorang ialah It ki bwe Lian lian dan yang satunya lagi sudah pasti Siau kiong cu Lu ji.

Kecantikan Siau kiong cu sudah mulai pudar, Dia tampak kurus.

Matanya tidak memancarkan sinar terang, Dalam usianya yang masih demikian muda, sudah mengalami berbagai kejadian.

Dia telah kehilangan ayah yang dikasihinya, sekarang harus berpisah lagi dengan kekasihnya.

Asal dia tahu pemuda itu baik-baik saja, mungkin hatinya akan lebih tenang, Namun dia sudah lama tidak menerima kabarnya.

Pernah tersirat dalam benaknya untuk bunuh diri, Namun setiap kali ilmu merangkai bunga peninggalan ayahnya teringat, dia tidak dapat meneruskan niatnya lagi.

ilmu yang berhasil dipelajari Kwe Po Giok belum sempurna, nasib kaum Bulim terletak di tangannya.

Dia tidak dapat menyia-nyiakan pengorbanan ayahnya, oleh sebab itu, dia terpaksa menahan semua penderitaan dan melanjutkan hidup.

Siau kiong cu dibawa ke samping makam Tang hay sin sian, Dia menatap dengan sedih.

"Bukankah ini makam ayahku?"

Tanyanya sendu.

"Betul! Malam ini aku ingin kau melihat wajah ayahmu sekali lagi untuk terakhir kalinya,"

Kata Lian lian. Tubuh Siau Kiong Cu bergetar.

"Apa maksudmu? Apakah kau ingin membunuhku?"

Tanyanya.

"Membunuhmu?"

Lian lian tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa sebetulnya yang hendak kau lakukan?"

Tanya Siau Kiong Cu cemas.

"Bukankah aku ingin kau melihat wajah Ling cun (ayahmu) untuk yang terakhir kalinya?"

"Aku sudah melihat wajah ayahku ketika hendak dimakamkan Kau manusia keji yang tidak segan melakukan segala macam perbuatan terkutuk!"

Sahut Siau Kiong Cu dengan wajah merah padam.

"Dengarkan baik-baik. ini peringatanku untuk terakhir kalinya, Semua yang kau perlukan telah disediakan Bunga, pot kembang, gunting dan lain-lain. Aku ingin kau menunjukkan rangkaian bunga peninggalan Tang hay sin sian sekali atau dua kali. Kali ini jangan main-main!"

Bentak Iian Iian.

"Aku memang tidak mengerti apa yang kau maksudkan!"

Sahut Siau Kiong Cu"

"Plok! Plok!"

Pipi Siau Kiong cu ditampar kiri kanan Gadis itu terjatuh di atas tanah.

Dua bekas telapak tangan tertera jelas di pipinya, Memang cukup keji.

Seakan yang ditampar bukan pipi yang halus dan lembut.

Baru pertama kali Siau Kiong Cu merasakan tamparan, hatinya mulai mengenali sifat manusia yang banyak macam ragamnya.

"Kau pikir aku sedang bercanda?"

Umpatan yang kotor lantas keluar dari bibir Lian lian.

Siau Kiong Cu sekali lagi terpana, perempuan ini tampaknya adalah seorang yang mengenyam pendidikan tinggi, Ternyata dia begitu tidak tahu malu, Mana ada perempuan yang mengeluarkan kata-kata sekotor itu?

Sejak zaman dahulu kala, perempuan yang dapat mengucapkan perkataan seperti itu hanya mereka yang bekerja sebagai penghibur kaum laki-laki.

Sedangkan pernah ada dua orang terkenal yang membunuh orang karena mengucapkan kata-kata tersebut di hadapan mereka.

Lian lian menuding kepala Siau Kiong Cu.

"Budak hina... Dengarkan baik-baik. Kalau kau berani sepatah kata.

"tidak"

Lagi, maka aku akan segera melemparkan tubuh yang ada dalam peti mati ini ke bawah gunung agar menjadi pengisi perut serigala yang kelaparan sedangkan dirimu akan kujual ke rumah hiburan!"

Bentaknya.

Selama hidupnya, Siau Kiong Cu menetap di Pak hay (Lautan utara).

Dia tidak pernah melihat perempuan sejahat ini.

Setiap tahun ada perampok-perampok besar yang mengantarkan hadiah sebagai upeti kepadanya, semuanya bersikap sopan dan hormat perempuan yang begini keji sungguh mengejutkannya.

Lian lian bukan hanya menggertak, begitu perkataannya selesai, dia segera mencari sebuah alat pertukangan dan membuka penutup peti tersebut.

"Krek! Krek!"

Suara peti itu terasa menyayat hati Siau Kiong Cu.

Dia menghampiri peti mati ayahnya.

Tubuh orang tua itu sudah mulai membusuk.

Orang yang sudah meninggal pun tidak dapat tenang.

Siau Kiong Cu merasa sedih sekaligus marah.

"Kau... kau terhitung manusia atau bina-tang? Manusia yang sudah meninggal pun tidak kau biarkan tenang!"

Jerit gadis itu.

"Aku tanya sekali lagi, Kalau kau masih menolak bekerja sama, uhu akan membuang peti mati dan isinya ke bawah gunung!"

Bentak Lian lian.

Perempuan ini menunjukkan sifatnya yang keji, tanpa perasaan dan berdarah dingin.

Tangannya terulur untuk merenggut peti mati tersebut Diangkatnya peti itu ke atas.

Dia seakan sudah siap melemparkannya ke bawah gunung, jangan kata perempuan ini betul-betul akan menjualnya ke rumah hiburan, biarpun hanya peti mati itu saja yang dilemparnya ke bawah gunung, bagaimana mungkin Siau Kiong Cu sampai hati membiarkannya?

Karena terlalu sedih gadis itu sampai jatuh pingsan.

Ketika tersadar, hal pertama yang dilihatnya adalah peti mati ayahnya.

Sebelah tangan Lian lian masih menahan peti mati tersebut, Asalkan kepalanya digelengkan dia segera akan melemparkannya ke bawah.

Luas gunung itu tidak sampai lima puluh depa saja.

Dengan ilmu yang dimiliki Lian lian, tentu tidak sulit untuk menyeretnya ke tepi jurang.

Apalagi dengan kekejaman hatinya, dia tentu bukan hanya sekedar menggertak.

Siau Kiong Cu merenung sejenak, Akhirnya dia mengambil keputusan.

"Baiklah... aku akan mengabulkan permintaanmu,"

Katanya.

"Aku ingin seluruhnya, jangan sampai ada yang tertinggal!"

Siau Kiong Cu menangis pilu.

"Peristiwa sudah menjadi seperti ini, mana mungkin aku merahasiakan apa-apa lagi. Aku hanya berharap agar kau memakamkan ayahku dengan baik. Semuanya harus seperti semula,"

Kata Siau Kiong Cu.

"Tenangkan hatimu, Asal kau tidak berbuat yang bukan-bukan,"

Sahut Lian lian.

Siau Kiong Cu mendeprok di atas tanah.

Dia mulai merangkai bunga.

Lian lian berdiri di belakang memperhatikan Dia ingin tahu apakah kali ini gadis itu mempermainkannya kembali atau tidak, Setiap kali Siau Kiong Cu merangkai sekuntum bunga, dia memerintahkan anak buah yang baru muncul menirukan sejurus, Kalau gerakan mereka salah, dia akan meminta Siau Kiong Cu untuk mengulanginya kembali.

Dan bila dirinya sudah merasa puas, dia akan mencatatnya di atas selembar kertas, Secara diam-diam Lian lian juga mengingat dalam hati.

Sampai kentungan keempat lebih, Lian lian mengatakan bahwa apa yang diperlihatkan hari itu sudah cukup, Setelah kembali ke rumah, baru melanjutkan lagi.

Pada saat itu juga dia memerintahkan anak buahnya menutup kembali peti mati Tang hay sin sian dan menguburkannya kembali.

Setelah itu, dia mengajak Siau Kiong Cu kembali ke Cui goat si.

Siau Kiong Cu bukan orang yang tidak waspada, Setiap manusia yang menghadapi bahaya, pasti akan mencari akal untuk melindungi dirinya sendiri, Dia harus berusaha mengulur waktu.

Asal dia dapat memperpanjang satu hari berarti kesempatan untuk hidup pun bertambah satu hari.

Dia mengetahui dengan jelas bahwa Lian lian tidak akan menyiarkannya hidup kalau seluruh ilmu yang tersimpan dalam rangkaian bunga telah selesai dipelajari Apalagi setelah mereka kembali ke Cui goat si.

Dia tidak melihat kepala biara dan kedua nikouw.

Dia menanyakan hal tersebut kepada Lian Han.

jawaban perempuan itu tidak menunjukkan suatu yang berarti, dia semakin bertekad untuk melindungi dirinya sendiri.

Dia berharap Kwe Po Giok dapat menemukan tempat itu dan menyelamatkannya, Dia ingin menurunkan warisan ayahnya kepada pemuda tersebut, agar dapat menyingkirkan bahaya bagi kaum Bulim.

Lian lian tidak begitu mengerti cara merangkai bunga.

Yang ditakutinya adalah kalau Siau Kiong Cu menyembunyikan beberapa titik yang penting.

Karena cara merangkai bunga memang banyak alirannya, Setiap aliran mengandung perubahan tersendiri Asalkan apa yang dijelaskan Siau Kiong Cu masuk akal, mereka terpaksa mempercayainya.

Gadis itu menjelaskan dengan terperinci setiap rangkaian yang dibuat olehnya, Bagaimana cara menggunting, merekat dan memasang di dalam pot bunga?

Lian lian memperhatikan dengan seksama.

Tidak terdapat kesan bahwa gadis itu sedang menipunya, namun hatinya masih tetap curiga.

Pada hakekatnya, Siau Kiong Cu memang tidak merahasiakan terlalu banyak.

Tapi ada satu hal yang tidak diketahui oleh Lian lian, Yaitu merangkai bunga bukan hanya memerlukan kecerdasan, melainkan harus ada rasa bersatu antara pengetahuan dengan kepintaran orangnya sendiri.

Siau Kiong Cu tidak merasa perlu menjelaskan hal tersebut.

Nama setiap jenis rangkaian bunga juga sangat berpengaruh dalam mendalami ilmu yang satu ini.

Misalnya jenis rangkaian yang diberi nama "Hutan belantara nan menghijau"

Ada lagi yang diberi nama "Mata sebening salju"

Dan "gadis remaja".

Semua itu harus diresapi artinya secara mendalam dengan demikian orang baru dapat mempelajari ilmu pedang tersebut dengan sempurna.

Satu hal yang dapat dipastikan oleh Siau kiong cu, seorang manusia bila dijejali bermacam-macam pengetahuan dalam waktu singkat, malah akan menjadi semakin sulit untuk dimengerti Dengan cara demikian, waktu yang diperlukan pun semakin banyak.

Dari diri Lian lian, dia sudah mempelajari banyak hal termasuk kelicikan manusia, perempuan ini seperti sebuah cermin, pantulannya telah memperlihatkan banyak segi kekurangan Dalam kata lain, dia tidak mungkin akan mudah tertipu lagi.

-oooo0oooo-Akhir-akhir ini Fang Tiong Seng sibuk berlatih ilmu silat, terutama ilmu pedang, Dia selalu berlatih di malam hari.

Dia pernah mengatakan, meski dirinya tidak mati di bawah pedang Toa Tek To Hun, tapi hal itu tetap merupakan sesuatu yang memalukan.

Malam ini, guru dan kedua muridnya duduk bersama meminum arak.

Peristiwa seperti ini sudah lama tidak terjadi.

"Kabar berita Toa Tek To Hun tidak terdengar lagi. Apakah mungkin dia sudah kembali ke Fu sang?"

Gumam Fang Tiong Seng.

"Dia belum membunuh seluruh ko chiu di Tionggoan,"

Mo Put Chi menanggapi.

"Meskipun belum membunuh semuanya, tapi hampir sama dengan mati semuanya,"

Sahut Sun Put Ce.

"Sute pasti mempunyai pandangan yang tinggi,"

Kata Mo Put Chi.

"Suhu ada di sini, mana mungkin aku berani sembarang berkata,"

Sahut Sun Put Ce.

"Suhu dulu terlalu memandang rendah dirimu, Kalau ada sesuatu yang terpikir olehmu, mengapa tidak mengatakannya saja? Kita guru dan murid juga sudah lama tidak berbincang-bincang,"

Kata Fang Tiong Seng.

"Teecu tidak pandai bicara,"

Sahut Sun Put Ce.

"Orang yang mengaku dirinya tidak pandai berbicara, biasanya adalah orang yang hanya mengucapkan kata-kata yang masuk akal saja. Sudahlah.... Kau katakan saja apa yang terkandung di hatimu,"

Kata Fang Tiong Seng.

"Jago dalam dunia Bulim memang banyak, tapi sejak melihat bahaya yang besar, mereka malah menyembunyikan diri, Hal ini sama saja dengan tidak adanya jago di Tionggoan, Para pendekar ini sebelumnya begitu mementingkan nama besar. Sekarang mereka malah bersembunyi agar dirinya selamat, Buat apa Tionggoan mempunyai pendekar yang begitu pengecut dan hanya mementingkan diri sendiri? Sejak Toa Tek To Hun menghilang akhirakhir ini, mereka baru berebutan keluar untuk merajai kaum Bulim,"

Sahut Sun Put Ce.

"Bagus!"

Seru Fang Tiong Seng sambil mengacungkan jempolnya.

"Selama ini kata-katamu tidak pernah ditanggapi, semua ini adalah kesalahan Suhu semata."

"Teecu memang bodoh,"

Sahut Sun Put Ce.

"Sute... Kwe Po Giok adalah teman baikmu, mengapa dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun? Sungguh tidak mengenal budi,"

Kata Mo Put Chi.

"Kalau dikatakan teman baik, rasanya tidak juga. Mungkin dia ada kesulitan yang tidak dapat diutarakan,"

Sahut Sun Put Ce. Dia bukan tidak mau mengakui Kwe Po Giok sebagai teman dekatnya, namun dia takut hal ini akan berakibat buruk bagi pemuda tersebut.

"Apa yang disebut teman baik adalah orang yang tidak perduli jarak jauh tapi tetap datang bila kita memerlukannya, orang yang mempercayai kita seperti dia mempercayai dirinya sendiri. Juga orang yang tidak mementingkan keselamatan dirinya sendiri asal dapat menolong kita dari bahaya. Orang yang demikian baru dapat disebut teman baik,"

Kata Fang Tiong Seng. Mo Put Chi kagum sekali mendengar ucapan suhunya, Sun Put Ce duduk mematung. Dia tidak berkata apa-apa.

"Aku yakin kalau Siau kiong cu, Kwe Po Giok dan dayang Cui thian mempunyai jalinan yang erat, Mungkin ketiga orang itu sedang berada di tempat yang sama,"

Kata Mo Put Chi.

"Kemungkinan besar, sejak Tang hay sin sian mengorbankan diri untuk kepentingan kaum Bulim, Siau kiong cu dan dayang Cui thian pasti sangat sedih, Mungkin mereka berjalan bersama ke suatu tempat dengan harapan akan menemukan seorangjago berilmu tinggi supaya dapat membantu mereka membalas dendam."

Tukas Fang Tiong Seng.

"Apa yang diterka Suhu pasti benar. Mungkin Kwe Po Giok juga ikut dengan kedua orang itu,"

Sahut Mo Put Chi.

"Siapa?"

Bentak Fang Tiong Seng tiba-tiba.

Suaranya belum hilang, orangnya sudah menghambur lewat jendela.

Sun Put Ce dan Mo Put Chi juga ikut menyerbu keluar, namun bayangan suhunya sudah tidak kelihatan Mereka memencar diri untuk mencari, namun tidak bertemu juga.

Sun Put Ce kembali ke tempat tinggalnya, Di dalam ruangan terdengar sebuah suara yang rendah.

"Lao Sun...."

Hati Sun Put Ce terkejut Bayangan yang dilihat suhunya ternyata adalah pemuda ini. Dia masuk ke tengah ruangan, Kwe Po Giok berdiri di tempat itu.

"Siau Kwe... mengapa kau pergi tanpa mengucapkan apa-apa?"

Tanyanya, Kwe Po Giok masih tetap seperti tempo hari. pakaiannya lusuh, wajahnya murung.

"Lao Sun.... Aku lelah sekali,"

Katanya.

"Apakah kau belum berhasil menemukan Siau kiong cu?"

Tanya Sun Put Ce. Kwe Po Giok menggelengkan kepalanya.

"Mungkinkah dia ada di dalam gedung ini?"

Tanya Kwe Po Giok kembali. Sun Put Ce terpana.

"Mengapa kau bisa mempunyai pikiran demikian?"

"Fang Tiong Seng sudah mulai kacau, Hal aneh apa pun dapat dilakukan olehnya,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Apakah kau yang menyembunyikan diri di balik jendela dalam ruangan tengah tadi?"

Tanya Sun Put Ce.

"Tidak salah,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Kau tidak ingin bertemu dengan Suhu?"

Tanya Sun Put Ce kembali.

"Kau pasti mengerti alasannya,"

Sahut Kwe Po Giok sambil menggelengkan kepalanya.

Bagaimana mungkin Sun Put Ce tidak mengerti?

Tempo hari dia mendapat perintah suhunya untuk membunuh Kwe Po Giok, justru karena rasa kasihan pemuda itu, maka dirinya tidak mati, Hal ini juga merupakan alasan mengapa Kwe Po Giok berani menemuinya hari ini.

"Apakah dayang Cui thian ada di tempat ini?"

Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Apa? Apakah dia juga menghilang?"

Tanya Kwe Po Giok terkejut. Sun Put Ce merenung sekian lama.

"Kau harus lebih berhati-hati,"

Katanya.

"Aku tahu, namun aku curiga mungkin Siau kiong cu ada di tangannya,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Untuk sementara ini, aku berani menjamin tidak,"

Kata Sun Put Ce.

"Kalau kau begitu yakin, apa yang dapat kukatakan lagi?"

Sahut Kwe Po Giok.

"Apakah Toa Tek To Hun sudah pergi?"

Tanya Sun Put Ce dengan suara rendah.

"Sudah,"

Sahut Kwe Po Giok. Raut wajahnya terasa aneh.

"Pulang ke Fu sang?"

Tanya Sun Put Ce. Kwe Po Giok menggelengkan kepalanya.

"Siau Kwe.... Tampaknya pikiranmu sedang kalut,"

Kata Sun Put Ce.

"Karena Lu ji, pikiranku memang ada sedikit kacau,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Rentetan pembunuhan yang dilakukan oleh Toa Tek To Hun sudah berhenti semestinya dia sudah kembali ke negara asalnya,"

Kata Sun Put Ce.

"Tidak,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Tidak? Kalau begitu mengapa dia tidak membunuh para jago kaum Bulim lagi?"

Tanya Sun Put Ce bingung.

"Apakah kau berharap kalau dia melanjutkan pembunuhan tersebut?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Tentu saja tidak! Tapi dia tidak mempunyai alasan untuk berhenti membunuh, sedangkan para jago di Tionggoan masih demikian banyak, Kecuali kalau dia telah bertemu dengan seorang jago yang benar-benar berilmu tinggi dan dirinya terluka parah atau dibunuh,"

Sahut Sun Put Ce.

"Tidak salah! Dia memang telah mati!"

Kata Kwe Po Giok. Hati Sun Put Ce tergetar Dia terkejut sekali mendengar berita ini. Namun dia senang juga bahwa akhirnya ada yang sanggup membunuh manusia berdarah dingin itu..

"Bagus sekali! Ternyata ada pendekar Tionggoan yang dapat membalaskan hinaan ini,"

Sahutnya. Kwe Po Giok justru memperlihatkan wajah murung, Dia sama sekali tidak senang mendengar peristiwa ini.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia sudah mati?"

Tanya Sun Put Ce.

"Karena aku melihatnya dengan mata kepala sendiri,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Siapakah pendekar yang berjiwa mulia ini?"

Tanya Sun Put Ce. Kwe Po Giok menggelengkan kepalanya, Dia diam seribu bahasa.

"Mengapa? Apakah kau juga tidak mengetahui siapa ko chiu ini?"

Tanya Sun Put Ce heran.

"Bukan! Biarpun kulitnya dikelupas dan yang tinggal hanya tulangnya, aku tetap dapat mengenali orang ini,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Orang seperti dirimu sangat aneh. Mungkin setiap Sin tong pasti mempunyai keanehan,"

Kata Sun Put Ce.

"Kalau dijelaskan, hal ini sangat memilukan. Lao Sun, sangat tidak aman kalau meninggalkan Bwe Mei di luaran,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Kami sudah pindah ke tempat lain. Rasanya tidak mungkin terjadi apa-apa,"

Kata Sun Put Ce.

"Kalau kalian tidak keberatan, aku bisa mengajarkan ilmu pedang peninggalan Tang hay sin sian,"

Sahut Kwe Po Giok. Suara langkah kaki terdengar oleh kedua orang itu. Sun Put Ce mengisyaratkan agar dia menyembunyikan diri. Ternyata Mo Put Chi yang masuk ke dalam ruangan.

"Sute.... Apakah kau berhasil mencari orang itu?"

Tanyanya.

"Tidak, Suheng.... Di mana Suhu?"

"Mungkin mengejar sampai luar dusun,"

Sahut Mo Put Chi.

"Lebih baik Suheng ke depan dulu untuk mempersiapkan makan malam. Nanti siaute menyusul,"

Kata Sun Put Ce.

"Kalau orang itu bukan Toa Tek To Hun, dia pasti juga merupakan tokoh yang berilmu tinggi,"

Sahut Mo Put Chi. Begitu perkataannya selesai, dia segera melangkah keluar dari ruangan itu.

"Siau Kwe.... Kau sekarang sudah termasuk jago yang disegani dalam dunia kangouw,"

Kata Sun Put-Ce.

Dia tidak mendengar jawaban pemuda itu, begitu dia membalikkan tubuh, ternyata Kwe Po Giok sudah tidak ada di tempat itu lagi.

Sun Put Ce berdiri dengan terpaku, Hatinya tidak dapat tenang, banyak sekali persoalan yang berkecamuk di benaknya.

siapakah yang membunuh Toa Tek To Hun?

Siapa yang memiliki ilmu setinggi itu?

sedangkan Siau Kwe menyaksikan dengan mata kepala sendiri kalau manusia Fu sang itu memang sudah mati.

Meskipun bagaimana, hal ini tetap suatu masalah yang menyenangkan Tetapi mengapa ketika Siau Kwe mengatakan hal itu, wajahnya sama sekali tidak menampilkan kegembiraan?

-oooo0oooo Bagian Sembilan belas Bok lang kun mempunyai pandangan tersendiri terhadap Sun Put Ce.

Oleh sebab itu, Sun Put Ce sangat menghormatinya.

Kalau tidak, bagaimana Bok lang kun akan memberitahukan rahasia yang disimpannya dalam peti mati?

Rahasia yang dikemukakan orang sebelum ajalnya, tentu merupakan sesuatu yang rahasia dan menggemparkan.

sedangkan orang yang dipercayakan rahasia tersebut, pasti merupakan orang kepercayaan si mati.

Apa yang dilakukan orang sebelum ajal menjemputnya, bukan suatu yang harus dikhawatirkan lagi, Bok lang kun mempunyai keahlian dalam menilai seseorang Dia dapat melihat kalau Sun Put Ce adalah seorang yang dapat diandalkan dan dipercaya.

Dia juga seorang manusia yang memegang janji, justru karena pandangan Bok lang kun terhadapnya, dia juga tidak ingin membalas perbuatan Chow Ai Giok dengan tindakan yang sama.

Namun gadis itu justru hidup dalam kebencian Dia menggunakan perasaan dendamnya untuk melanjutkan hidup yang nista itu.

Kali ini dia datang lagi mencari Sun Put Ce dan Bwe Mei.

Sebelum berhasil membalas dendam atas kematian kakeknya, dia tetap akan melampiaskan kekesalan hatinya terhadap kedua orang itu.

Namun dia menubruk tempat yang kosong, Bwe Mei sudah dipindahkan ke tempat lain oleh Sun Put Ce.

Dini hari kentungan ketiga, Chow Ai Giok masih berada di atas tempat tidur.

Dia tidak memejamkan mata sepanjang malam Karena hatinya digelayuti macam-macam persoalan Seorang tabib di dalam.kota menyatakan bahwa dirinya telah hamil.

Seorang gadis yang belum menikah hamil, apalagi dia membenci laki-laki yang menebarkan benih di rahimnya, maka hatinya sedih sekaIi.

Dia memikirkan sesuatu yang menakutkan.

Bagaimana mungkin seorang gadis seperti dirinya membawa perut besar di hadapan orang?

Bagaimana dia dapat menyembunyikan diri selama berbulan bulan?

Sinar matahari mulai terbit, cahayanya cukup menusuk mata.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, Hal ini sama sekali di luar dugaannya.

Ternyata yang datang Kiau Bu Suang lagi.

Apakah dia masih mempunyai gairah?

Banyak sekali laki-laki di dunia ini yang menganggap dirinya terlalu tinggi, Mereka merasa sedikit sekali perempuan yang pantas mendampingi mereka seumur hidup.

Apakah Kiau Bu Suang termasuk laki-laki jenis demikian?

Sebetulnya Kiau Bu Suang cukup lumayan Di dunia Bulim aman sekarang, bila hendak mencari laki-laki seperti dirinya sudah sangat sulit.

Chow Ai Giok tetap rebah di atas tempat tidur.

Wajahnya tidak menampilkan perasaan apa pun, Namun dalam hatinya, dia sedang gelisah.

"Hm.... Bukankah kau sudah tidak bergairah lagi? Laki-laki busuk! Aku lihat kau tidak dapat hidup tanpa diriku,"

Katanya sinis. Apakah Kiau Bu Suang persis seperti apa yang diduganya? Lakilaki itu menunjukkan sebuah senyuman manis.

"Aku tahu kau pernah mencari seorang tabib di kota."

Chow Ai Giok terpana, Kalau dia sama sekali tidak memperhatikannya, buat apa dia mencari tahu apa yang dilakukannya selama ini? Dalam hati Chow Ai Giok timbul sebuah perasaan haru.

"Ada apa kalau memang aku melakukannya?"

Tanyanya ketus.

"Aku juga tahu kalau dirimu sudah hamil,"

Sahut Kiau Bu Suang.

Banyak laki-laki dan perempuan yang takut mendengar kata "hamil, kalau sudah melakukan perbuatan mesum di luar pernikahan, Apakah hamil dapat mempengaruhi kesenangan mereka dalam melakukan hal tersebut?

Apakah karena ingin melarikan diri dari tanggung jawab, maka kehamilan akan membuat persoalan lebih cepat selesai dan ceritanya akan bubar begitu saja?

Orang muda yang baru menikah, tentu akan senang begitu mengetahui kalau dirinya sudah mempunyai keturunan.

Tapi hal ini tentu saja tidak berlaku bagi orang yang melakukannya untuk kesenangan saja.

"Kalau benar, ada apa?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Keterangan ini adalah hal yang menggembirakan Kiau Bu Suang punya keturunan, berarti kau juga mempunyai tempat bersandar,"

Kata laki-laki itu.

"Mungkin bagimu menggembirakan, tapi tidak bagi diriku,"

Sahut Chow Ai Giok.

"Ai Giok, perempuan memang ditakdirkan untuk melahirkan anak,"

Kata Kiau Bu Suang.

"Betul, perempuan memang harus melahirkan namun tidak boleh melahirkan seekor anjing,"

Sahut Chow Ai Giok sinis. Kiau Bu Suang terpana.

"Ucapan apa itu?"

Tanyanya.

"Coba kau tanya pada dirimu sendiri, apakah dirimu melebihi seekor anjing?"

Teriak Chow Ai Giok.

"Apa? Dalam hatimu kau anggap aku begitu rendah?"

Tanya Kiau Bu Suang seakan tidak mempercayai pendengarannya.

"Kau anggap apa dirimu itu, Apakah kau seorang pendekar sejati?"

Tanya Chow Ai Giok sambil mencibirkan bibirnya.

"Aku memang bukan seorang pendekar sejati, Aku hanya seorang manusia biasa. Tidak heran bukan kalau seorang manusia bisa melakukan sedikit kesalahan?"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Bukankah kau sama sekali tidak mempunyai kegairahan untuk kedua kalinya?"

Tanya Chow Ai Giok. Kiau Bu Suang menepuk keningnya sendiri.

"Thian! Antara laki-laki dan perempuan perlu sedikit gelombang, Kalau kehidupan kita datar saja, tentu tidak berarti lagi. Kalau habis bertengkar, kita pasti akan lebih mesra dari semula kalau sudah rujuk kembali Mengapa hatimu begitu picik? Sama sekali tidak mempunyai selera humor?"

Sahutnya.

"Enyah! jangan harap menyentuhku lagi!"

Bentak Chow Ai Giok. Kiau Bu Suang malah duduk ditepi tempat tidurnya.

"Ai Giok... Aku telah mengundang seorang Lo ma (pembantu tua) untuk menemanimu Kau harus menjaga kesehatanmu agar bayi kita dapat terlahir dalam keadaan sehat,"

Katanya. Chow Ai Giok tertawa dingin.

"Kau hanya menginginkan bayinya saja bukan? Aku tidak ingin melahirkannya!"

Teriaknya.

"Tidak ingin melahirkannya?"

Tanya Kiau Bu Suang terkejut.

"Betul! Aku akan menggugurkannya!"

Sahut Chow Ai Giok. Wajah Kiau Bu Suang berubah.

"Menggugurkannya? Ternyata kau dapat mengucapkan kata-kata "menggugurkan"

Dengan demikian mudah!"

Sahut laki-laki itu dengan mata mengandung amarah.

"Menggugurkan kandungan dengan bantuan seorang tabib yang pandai, rasanya bukan suatu persoalan yang mengherankan,"

Kata Chow Ai Giok.

"Meskipun dilakukan oleh seorang tabib yang terkenal, juga tetap ada kemungkinan terjadinya pendarahan!"

Sahut Kiau Bu Suang.

Seorang perempuan yang belum pernah melahirkan seorang anak, tetap akan tahu adanya rasa sakit saat melahirkan bayi, namun semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa.

Tetapi kata-kata "pendarahan"

Membuat hati Chow Ai Giok bergidik. Dia takut membayangkan hal tersebut.

"Meskipun harus mati, aku tetap tidak ingin melahirkan anakmu!"

Katanya.

"Mengapa?"

Tanya Kiau Bu Suang tidak habis mengerti.

"Karena kau bukan manusia, Kau tidak mempunyai perasaan!"

Sahut Chow Ai Giok.

"Aku tidak mempunyai perasaan? Kuberitahukan kepadamu, tiada sedetik pun aku tidak memikirkanmu,"

Kata Kiau Bu Suang.

"Kau tidak usah terlalu banyak berbual di sini!"

Sahut Chow Ai Giok.

"Ai Giok, kau tidak mempercayaiku, Hatiku sangat sedih mengetahuinya, Untuk masa depan kita, aku tidak akan menghambur-hamburkan uang lagi, Malah aku sudah mulai menabung, Kelak kita akan membangun sebuah rumah mungil di atas pegunungan dan meninggalkan dunia ramai untuk selamanya,"

Kata Kiau Bu Suang.

Tidak ada perempuan hamil yang tidak mengharapkan kehidupan demikian, Setiap perempuan hamil pasti berpikir untuk mempunyai tempat tinggal yang tetap.

Tiba-tiba dia merasa bahwa dengan mempunyai seorang suami seperti Kiau Bu Suang sudah lumayan juga.

Entah berapa banyak perempuan di dunia Bulim ini yang mengharapkan jadi istrinya?

"Apakah kau benar-benar ingin membina rumah tangga?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Bagaimana tidak menikah kalau memang sudah punya anak?"

Sahut Kiau Bu Suang.

Di wajah Chow Ai Giok tampil perasaan bahwa dia rela melakukan apa pun yang diminta oleh Kiau Bu Suang, Laki-laki itu pun segera menanggalkan pakaiannya.

-oooo0oooo-Sekali lagi hujan dan badai berlalu, Chow Ai Giok tampaknya letih sekali.

"Apakah kali ini akan sama seperti dahulu?"

Tanyanya. Kiau Bu Suang tidak bersuara. Dia turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya kembali, kepuasan yang sempat tersirat di wajah Chow Ai Giok hilang seketika.

"Apakah kau tidak akan mengulanginya untuk keempat kali?"

Tanyanya.

"Omongan apa itu? Sampai seratus kali pun masih ada gairah!"

Tidak tersangka akan begitu banyak kesempatan yang ada. Chow Ai Giok terpana sesaat.

"Tahukah kau siapa yang membunuh kakekku?"

Tanyanya.

"Bukan aku kan?"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Aku tahu bukan kau!"

Bentak Chow Ai Giok.

"Kau tidak akan sanggup melakukannya."

Kiau Bu Suang sudah selesai berpakaian. Tampaknya dia hendak meninggalkan tempat itu.

"Kau akan berlalu begitu saja?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Kalau bukan berlalu dengan cara begini, apakah ada lagi cara yang lain?"

Sahut Kiau Bu Suang.

Tiba-tiba Chow Ai Giok lompat dari tempat tidur.

Dengan tidak memperdulikan tubuhnya yang telanjang, dia menyambar pedang dan menyerang Kiau Bu Suang.

Kiau Bu Suang tetap adalah Kiau Bu Suang, Sekali mengelit, dia sudah ada di sebelah kanan perempuan itu.

Tangannya terulur untuk merebut pedang di tangan Chow Ai Giok, sekaligus mendorongnya terjatuh ke atas tempat tidur.

Chow Ai Giok tahu bahwa Kiau Bu Suang masih ada kegairahan untuk keempat kalinya.

Kalau tidak, dia tentu sudah dibunuh oleh laki-laki itu dengan mudah.

"Benarkah kau menginginkan anak ini?"

Tanyanya.

"Siapa yang tidak menginginkan darah dagingnya sendiri?"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Apakah kau lebih mementingkan anak daripadaku?"

Tanya Chow Ai Giok kembali.

"Ada beberapa hal yang perlu kau pikirkan sendiri,"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Apa maksudmu?"

Tanya Chow Ai Giok.

"Maksudku? Kalau aku mengatakan bahwa aku lebih mementingkan dirimu daripada anakku, apakah kau akan percaya?"

Sahut Kiau Bu Suang.

"Tidak!"

Kata Chow Ai Giok.

"Mengapa?"

"Karena anak ini masih mempunyai setengah darah dalam tubuhmu, sedangkan darahku tentu kuperoleh dari ayah ibuku sendiri,"

Sahut Chow Ai Giok.

"Kalau kau dapat menjelaskannya dengan demikian terperinci untuk apa kau bertanya lagi padaku?"

Begitu perkataannya selesai, dia segera meninggalkan tempat itu.

Chow Ai Giok menggebrak tempat tidur dengan marah.

Namun dia bertanya juga kepada dirinya sendiri, seandainya Kiau Bu Suang datang kembali dan memohon untuk keempat kalinya.

Apa yang harus dia lakukan?

Siau kiong cu merangkai bunga setiap hari.

Hal itu sudah merupakan kebiasaannya sekarang.

Tentu saja dia melakukannya dengan terpaksa, Dia terus menerus menunjukkan rangkaian bunga yang beraneka ragam.

Malam itu dia baru saja menyelesaikan tugasnya.

"Dapatkah kau mengatakan kepada saya di mana Kwe Po Giok sekarang?"

Tanyanya.

"Dia baik-baik saja,"

Sahut Lian lian.

"Di mana dia sekarang?"

Tanya Siau kiong cu sekali lagi.

"Pokoknya dia dalam keadaan baik-baik. Kalau kau ingin bertemu dengannya, maka kau harus lebih rajin lagi menunjukkan semua cara merangkai bunga yang kau kuasai,"

Kata Lian lian.

"Aku sama sekali tidak menyembunyikan apa-apa,"

Sahut Siau kiong cu.

"Kau pasti menyembunyikan sedikit,"

Kata Lian lian.

"Mengapa kau tetap tidak mempercayaiku?"

Tanya Siau kiong cu.

"Karena kalau aku menjadi dirimu, aku tetap akan menyembunyikan sedikit,"

Kata Lian lian. Siau kiong cu terpana, Sedikit reaksi yang ditunjukkannya barusan, sudah diketahui oleh Lian 1ian.

"Seandainya tidak dapat memaksamu mengemukakan seluruhnya, aku hanya mempunyai dua buah jalan,"

Kata Lian lian.

"Dua jalan apa?"

Tanya Siau kiong cu.

"Jalan pertama adalah melepaskan dirimu. Jalan kedua tentunya membunuhmu."

Sahut Lian lian. Siau kiong cu menarik nafas panjang.

"Melepaskan atau membunuh diriku tidak banyak bedanya,"

Katanya.

"Bagaimana bisa tidak banyak bedanya?"

Tanya Lian lian.

"Karena hidup pun aku tidak merasa ba-hagia,"

Sahut Siau kiong cu.

"Aku ingin melepaskan dirimu,"

Kata Lian lian. Sekali lagi Siau kiong cu terpana. Namun dia tetap mengira kalau Lian lian hanya menghibur dirinya saja.

"Kau pasti tidak menyangka kalau aku ingin melepaskan dirimu,"

Kata Lian lian.

"Aku memang kurang percaya,"

Sahut Siau kiong cu.

"Sebetulnya hal ini tidak perlu diherankan,"

Kata Lian lian.

"Mengapa kau tiba-tiba berubah baik?"

Tanya Siau kiong cu.

"Karena dia mempunyai maksud tertentu terhadapmu,"

Kata Lian lian.

"Siapa dia?"

Tanya Siau kiong cu.

"Orang yang bekerja sama denganku, sekaligus kekasih,"

Sahut Lian lian dingin.

"Mengapa dia harus mempunyai niat tertentu terhadapku?"

Tanya Siau kiong cu tidak mengerti.

"Matanya yang memberitahukan kepadaku. Mata seseorang adalah alat pembuka rahasia. Bila seseorang laki-Iaki menyukai seorang perempuan atau seorang perempuan menyukai seorang laki-laki. Bagaimana pun tidak bisa ditipu dari sinar matanya,"

Kata Lian lian.

"Apa yang kau katakan mungkin benar,"

Kata Siau kiong cu.

"Sekarang juga aku akan melepaskan dirimu."

"Sekarang?"

Tanya Siau kiong cu seakan salah dengar. Lian lian menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Kau boleh pergi kemana saja, Aku tidak ambil perduli,"

Katanya, Hati Siau kiong cu tergetar "Kalau kau memang benar-benar tulus, mungkin kelak aku akan mengajarkan sisa rangkaian bunga tersebut,"

Sahutnya.

"Terima kasih, sebetulnya aku sudah tidak terlalu mementingkan persoalan itu lagi. Siau kiong cu, mengingat perbuatanku sebelumnya, aku sungguh merasa malu,"

Kata Lian lian datar.

"Kau?"

Tanya Siau kiong cu hampir tidak mempercayai pendengarannya.

"Aku hanya mendengar kata-kata orang itu. Aku terlalu menurut kepadanya,"

Sahut Lian lian.

"Dalam hal ini kau tidak dapat menyalahkan dirimu, Kau juga diperalat olehnya,"

Kata Siau kiong cu.

"Mengapa kau hendak melepaskan diriku? Bagaimana kalau dia sampai mengetahuinya?"

Tanya Siau kiong cu.

"Paling-paling aku dibunuh olehnya,"

Sahut Lian lian.

"Kau dapat meninggalkannya jauh-jauh,"

Kata Siau kiong cu.

"Jangan kau perdulikan diriku. Pergilah segera, Kau harus berhatihati,"

Sahut Lian lian dengan sedih.

"Lian ci, tampaknya kau sebetulnya seorang yang baik, Kalau aku sudah bertemu dengan Kwe Po Giok, aku tentu tidak akan melupakan budimu ini,"

Kata Siau kiong cu. Air mata Lian lian mengalir dengan deras.

"Siau kiong cu, bila kau bertemu dengan aku kelak, harap jangan menyebut kata budi. Aku tidak dapat menerima penghormatanmu yang demikian tinggi,"

Sahutnya.

"Tidak, Lian ci! seseorang bila benar-benar menyadari kesalahannya dimasa lalu, Thian pun akan memaafkan Baik-baiklah menjaga diri, Aku pergi...."

Kata Siau kiong cu.

Lian lian mengantarkannya sampai sejauh lima li dari Cui goat si.

Sebelum berpisah, Lian lian masih memberikan beberapa stel pakaian dan uang sebanyak lima puluh tail.

Siau kiong cu seperti memasuki sebuah dunia yang lain.

Keberuntungan ataupun musibah kaum manusia memang susah diduga.

Apa yang tidak pernah terbayangkan ternyata dapat terjadi.

Gadis itu mungkin tersesat.

Rupanya dia telah sampai di daerah pegunungan.

Di sebelah kanan ada sebuah air terjun yang deras, Juga banyak tumbuhan yang lebat.

Dia memasuki hutan kecil di dekat air terjun.

Kira-kira sepeminuman teh, sebuah bayangan terlihat berkelebat di sekitar tempat itu.

Gerakannya cepat dan penuh rahasia.

Orang itu tidak melihat Siau kiong cu keluar kembali, Padahal dia tahu kalau di balik hutan kecil itu justru merupakan sumber air terjun, Lagipula keadaan di dalam sana sangat gelap.

Orang yang ahli dalam bidang perairan pun tidak berani memandang enteng tempat itu.

Lalu ke mana perginya Siau kiong cu?

"Kemana Siau kiong cu?

Apakah dia dapat terbang?"

Gumam bayangan yang ternyata seorang laki-laki itu seorang diri.

"Di dunia ini tentu tidak ada manusia yang dapat terbang, Meskipun Tang hay sin sian sendiri semasa hidupnya juga tidak bisa terbang, Namun kenyataannya Siau kiong cu benar-benar menghilang dari tempat itu. Kwe Po Giok kembali meminum arak bahkan arak yang di minumnya sangat keras. Arak itu tidak murni, lagipula memakai berbagai macam bahan campuran, Oleh sebab itu harganya pun sangat murah, Sebab Kwe Po Giok sudah jatuh miskin. Untung saja dia sangat cepat menyesuaikan diri. Ketika banyak uang, dia menikmati segala macam kemewahan Arak yang dipilihnya adalah arak mahal. Sekarang dirinya sedang melarat, maka dia terpaksa mengikuti keadaan isi sakunya. Siau kiong cu sudah lama menghilang, sukmanya juga ikut melayang bersama gadis itu. Pada saat ini, matahari mulai terbenam. sinarnya juga mulai memudar. Rumah makan itu maIah menjadi ramai, tiba-tiba, seorang gadis cilik masuk kedalam ruangan. Dia meletakkan secarik kertas kecil di atas mejanya, Tadinya Kwe Po Giok mengira bahwa yang diletakkan adalah bon minuman Setelah lewat sekejap, dia baru memperhatikan dengan seksama. Tulisan yang tertera di kertas itu rasanya tidak asing lagi.

"Pada kentungan kedua malam ini, harap datang ke daerah Kwan tong. Kita bertemu di Coa kok (Lembah ular) Lu ji". Mata Kwe Po Giok terbelalak. Hampir saja dia berteriak kegirangan. Hatinya terlalu bersemangat suaranya bagai tercekat di tenggorokan. Rasanya dia ingin tertawa terbahak-bahak untuk menghilangkan kemurungannya selama ini. Namun dia tidak berteriak ataupun meloncat-loncat. Dia hanya menempelkan kertas tersebut di keningnya, Matanya terpejam seakan yang melekat di pipinya saat ini adalah Lu ji. Kerinduan selama satu bulan telah membuat hatinya tersiksa, Kalau saja dia tidak merasa malu kepada dirinya sendiri, mungkin dia akan menangis sampai keluar air mata darah. Hanya selembar kertas dari Lu ji saja sudah dapat membuat perasaannya lebih lega. Dia memperhatikan tulisan itu sekali lagi, Dia yakin pandangannya memang tidak salah, itu memang tulisan Lu ji.

"Siau ji (pelayan)!"

Caranya memanggil pelayan sudah jauh lebih sopan. Seorang pelayan mendekatinya.

"Apa yang Khek kuan perintahkan?"

Tanyanya.

"Antarkan makanan dan arak yang paling enak. Hari ini Tuan muda mu ingin minum sampai puas,"

Katanya.

Pelayan itu terpana sejenak, Karena selama ini dia hanya minum arak murahan dan memesan sayuran saja, Pelayan itu mempunyai mata yang tajam.

Dia tahu tamu mana yang mempunyai banyak uang.

Dan tamu mana yang merupakan orang berpangkat.

Sekali lirik saja dia sudah mengetahuinya.

Semua itu berkat pengalamannya.

Pepatah mengatakan "uang dapat membeli segalanya", memang benar.

Asal kantong banyak uang, jalan pun dada akan dibusungkan sebaliknya kalau kantong kempes, bicara apa pun orang tidak akan perduli, pelayan itu mencatat pesanan Kwe Po Giok, namun matanya terus memperhatikan pemuda itu.

Bagaimana kalau sudah makan dia kabur?

Tidak berapa lama pesanan Kwe Po Giok sudah datang, Dia makan perlahan-lahan, dia ingin menunda waktu sampai kentungan satu lewat baru pergi, namun waktu tampaknya lebih lambat dari biasa, Detik demi detik serasa bertahun-tahun.

"Aku bisa berjalan dengan santai. Sambil menikmati pemandangan sekitar tempat itu. Yang penting sebelum kentungan kedua aku harus sampai di sana,"

Pikirnya dalam hati.

Dia memanggil pelayan untuk menghitung jumlah makannya.

Semuanya empat tail tujuh ci.

sedangkan jumlah uang di kantongnya tidak lebih dari dua tail setengah.

Dia merogoh-rogoh kantongnya dengan harapan akan menemukan uang yang kurang, tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan segenggam uang perak di atas meja.

"Siau ji.... Biar aku yang bayar,"

Kata orang itu. Kwe Po Giok menolehkan kepalanya, Temyata Sun Put Ce yang datang. Pemuda itu tertawa getir.

"Kalau kau tidak datang, entah apa jadinya?"

"Katakan pada Ciang kui di sini untuk memasukkan bonmu atas namaku,"

Kata Sun Put Ce.

"Aku sama sekali tidak terpikir ke situ,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

Tanya Sun Put Ce.

"Aku bisa lari."

Sahut Kwe Po-Giok.

"Sekali-sekali makan gratis kan tidak apa-apa."

"Kau bisa berbuat seperti itu?"

Kwe Po Giok menganggukkan kepalanya.

"Karena aku tidak mungkin bertele-tele dengan mereka, Waktuku tinggal sedikit,"

Katanya.

"Untuk apa kau tergesa-gesa?"

Tanya Sun Put Ce.

"Aku ingin menemui Luji!"

Sahut Kwe Po Giok.

Sun Put Ge ikut bergembira, Begitulah kalau seorang sahabat, Dia tentu akan ikut merasakan, bila kita sedang bergembira atau pun sedang bersedih, Meskipun hal itu tidak ada hubungan dengan dirinya, Persoalannya sendiri sudah cukup banyak, namun pikirannya tetap tidak dapat lepas dari Kwe Po Giok.

"Bagaimana? Kau sudah menemukan-nya?"

Tanyanya dengan suara rendah.

"Malam ini baru ketemu,"

Sahut Kwe Po Giok.

"Selamat. Tapi aku sarankan kau jangan berkeliaran di sekitar rumah ini lebih lama,"

Kata Sun Put Ce.

"Aku tahu, Terima kasih, Lao Sun."

Dia menepuk pundak Sun Put Ce berkali-kali, Kemudian meninggalkan rumah makan itu dengan tergesa-gesa, Sun Put Ce memandang pemuda itu sampai bayangannya menghilang di kegelapan.

"Siau Kwe sudah dewasa,"

Gumamnya seorang diri.

Seorang dapat tumbuh dewasa dalam waktu sesingkat itu padahal beberapa bulan sebelumnya dia masih seorang bocah cilik, Kedewasaan seseorang bukan dinilai dari usianya, tinggi pendeknya ataupun gemuk kurusnya, Tapi dinilai dari akal budinya.

Kira-kira kentungan kedua, Fang Tiong Seng kembali berlatih ilmu silat di taman belakang, Akhir-akhir ini dia selalu berlatih di tempat dan pada waktu yang sama karena pada saat seperti itu semua orang sedang pulas dalam tidurnya.

Tentu tidak ada yang akan mengetahui apa yang sedang diperbuatnya.

Melatih diri untuk memperdalam ilmu apa salahnya?

Namun dia tidak mau ada yang mengetahuinya.

Tiba-tiba, pedangnya ditarik kembali.

"Siapa?"

Bentaknya sambil menghambur ke sebelah kiri.

Sekali sentak, tubuhnya melesat sampai sepuluh depa.

Angin dingin bertiup, Tidak terlihat sesuatu pun.

Dia adalah seorang yang banyak pengalaman, reaksinya sungguh cepat.

Dia yakin tadi ada seseorang yang mengintainya.

Dan ia juga tahu kalau orang tadi mempunyai ginkang dan kesigapan kelas satu.

Bersamaan dengan reaksinya ketika mengetahui orang itu sudah kabur, Lagipula dia percaya orang itu bukan perempuan.

Sekali lagi dia memeriksa di sekitar hutan kecil itu.

Dia tidak melanjutkan latihannya, Terhadap orang yang mengintai tadi dia merasa sedikit curiga.

Dia kembali ke taman belakang sambil mengasah otak.

Siapa orang itu?

Dia harus dapat memikirkan siapa orang itu, seandainya otaknya harus pecah, dia juga harus terpikir Setelah masuk kembali ke dalam rumah, dia masih menyempatkan diri berdiri di luar kamar Sun Put Ce dan Mo Put Chi karena kedua orang ini membuat hatinya tidak tenang, Terutama yang pertama, Orang di dunia ini yang dapat menimbulkan rasa tidak tenang di hatinya hanya sedikit.

Siau Kwe menunggu di Coa kok sampai kentungan kedua.

Sebentar dia bersandar di sebuah batu besar, sebentar kemudian dia berdiri dan berjalan hilir mudik, sebentar lagi dia berdiri mematung serta menatap ke atas langit.

Dia tampak gelisah, akhir-akhir ini pikirannya kalut, Siau kiong cu tidak bisa ilmu silat, di mana dia berada selama ini?

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 6

Baca Juga: Gelang Perasa 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert