Eps 7 Sukma Pedang - Gu Long
Baca online Sukma Pedang - Gu Long
Cersil Sukma Pedang - Gu Long.
Mungkinkah dia seperti keadaannya saat ini?
Rasa gairah untuk hidup telah hilang sehingga lupa membasuh diri dan mencuci rambut?
Dia tidak dapat menduga dengan pasti, namun satu hal yang dia tahu, Siau kiong cu sangat cantik, tidak mungkin Lian lian bisa mencelakai dirinya.
"Perempuan."
Hampir saja Kwe Po Giok melambaikan tangannya.
perempuan memang betul!
Tapi tidak mirip Lu ji.
Cara jalan Lu ji sangat indah, Apa pun yang dilakukannya, sikapnya selalu lemah gemulai penampilannya sangat anggun, perempuan yang menghampirinya tidak menunjukkan sikap demikian.
Ternyata Lian lian, Kwe Po Giok kecewa, Tapi Siau kiong cu berada dalam genggaman Lian lian, lagipula huruf yang tertera di atas kertas tadi adalah tulisannya, pasti Siau kiong cu berada di sekitar tempat itu.
"Di mana Siau kiong cu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Mengapa begitu tergesa-gesa?"
Sahut Lian lian sambil tersenyum manis.
"Di mana dia sebetulnya?"
Tanya Kwe Po Giok cemas.
"Sudah mati,"
Sahut Lian lian.
"Kau... kau katakan dia sudah mati?"
Wajah Kwe Po Giok pucat seketika.
"Mengapa? Apakah dia tidak bisa mati? Adakah manusia yang tidak bisa mati di dunia ini?"
Sindir Lian lian.
"Apakah kau yang membunuhnya?"
Tanya Kwe Po Giok, tangannya segera menggenggam pedang yang terselip di ikat pinggang.
Dia belum pernah memegang pedang dengan tangan yang begitu kuat.
Matanya juga belum pernah memancar sedemikian dingin dan menusuk.
"Memang aku yang membuatnya pergi, tapi siapa yang membunuhnya aku tidak tahu. Bukankah sama saja?"
Sahut Lian lian.
"Sret!!!"
Pedang Kwe Po Giok sudah terhunus. Siau kiong cu sudah mati. Hal ini sama saja dengan kiamatnya dunia.
"Kau boleh membunuh siapa pun, asal bukan dirinya!"
Kata pemuda itu sepatah-patah.
"Egois sekali!"
Sindir Lian lian.
"Tidak! Siau kiong cu terlalu baik budi, Dia dibunuh, di mana keadilan Thian?"
Pedang di tangannya ditusukkan ke depan, Lian lian terpaksa mundur satu langkah.
Kepandaian Lian lian sangat tinggi, Kiau Bu Suangpun tidak berani memandang rendah dirinya, Hal ini adalah kenyataan, tapi hati perempuan itu tercekat melihat serangan Kwe Po Giok.
Dia sendiri belum terlalu mendalami ilmu pedang yang dilihat dari rangkaian bunga Siau kiong cu, dia lebih-lebih tidak ingin bertarung dengan Kwe Po Giok.
Dia sadar dirinya masih bukan tandingan pemuda itu, Namun ilmu silat Lian lian sendiri memang sudah cukup matang, Kwe Po Giok menyerang sebanyak lima kali, dia hanya berhasil membuat Lian I lian mundur sebanyak tiga langkah.
Kwe Po Giok tidak puas melihat hasil serangannya, Tapi Lian lian lain Iagi.
Melihat kepandaiannya sekarang, pa!ing-pa-ling dia baru terhitung jago kelas tiga atau bisa jadi empat Karena pandangan setiap orang selalu membandingkan dengan yang nomor satu.
Kalau bisa malah melebihi yang nomor satu, Bisa mengalahkan yang pertama berarti memenangkan diri sendiri pula.
Tiba-tiba Kwe Po Giok merubah gerakannya.
Dia menyerang sebanyak tiga kali, serangannya yang pertama telah membuat lengan baju Lian lian koyak sebagian, serangan kedua membuat Lian lian meloncat sejauh lima tindak.
Dia tahu dirinya tidak sanggup bertahan lagi, Kalau dia berani menerima serangan ketiga, paling tidak dirinya akan terluka parah atau mati."
"Tunggu sebentar!"
Teriak Lian lian.
"Kwe Po Giok! Ada satu hal yang ingin kukatakan kepadamu."
"Cepat katakan!"
Bentak Kwe Po Giok.
"Apakah kau mengira bahwa Siau kiong cu sangat menyukaimu?"
"Jangan mengoceh sembarangan!"
"Bukan mengoceh sembarangan Kalau menurut penglihatanku, rasanya pemuda dambaan Siau kiong cu bukan dirimu!"
Kata Lian lian.
"Bukan aku?"
Kwe Po Giok tertawa dingin.
"Kami mungkin merupakan pasangan paling ideal di dunia ini. Siapa pun jangan harap memecahkan kami."
Lian lian menggelengkan kepalanya seraya menampilkan sekulum senyumab getir.
"Semua ini hanya kesalahan dalam menduga. Kau harus tahu, antara laki-laki dan perempuan paling sering terjadi kesalah pahaman seperti ini,"
Katanya.
"Kau jangan harap dapat mengadu domba kami!"
Sahut Kwe Po Giok.
Lian lian tahu ilmu pedang Tang hay sin sian sangat tinggi, Kwe Po Giok belum berhasil menguasai seluruhnya, namun kepandaiannya sudah begitu hebat, Hal ini membuat Lian lian semakin kagum dan harus mendapatkan seluruhnya, Bersamaan dengan serangan ketiga Kwe Po Giok, dia menghindar lagi sejauh tiga depa.
Tiba-tiba pemuda itu merasa kakinya anjlok, Hatinya terkejut Kejadiannya begitu cepat, begitu dirinya sadar, dia segera meloncat ke atas, namun tidak keburu lagi, Rupanya tempat yang dipijak oleh Kwe Po Giok adalah sebuah perangkap.
Di tempat itu ada sebuah lubang yang tidak begitu dalam, Ternyata Lian lian sudah menyediakan sebuah jaring untuk menjerat pemuda itu, Maka dia menghindar terus sampai Kwe Po Giok tidak menyangka dan menginjak perangkapnya, jaring itu segera terangkat dan mengurung pemuda itu.
Kwe Po Giok tidak sempat lagi mengangkat pedangnya untuk memutuskan jaring tersebut Dia tidak melihat Lian lian menarik jaring itu.
Dengan demikian, dia yakin di luar lembah Coa kok itu ada seorang begundal perempuan itu yang melaksanakan tugas tersebut Dengan pandainya Lian lian mengalihkan perhatian Kwe Po Giok sehingga ia tidak menyadari bahaya yang mengincar.
Cara itu sebenarnya sangat sederhana, dan biasa dilakukan terhadap binatang buas.
Ternyata Kwe Po Giok yang sejak berusia tiga tahun sudah mendapat sebutan Sin tong berhasil ditipunya.
itulah sebabnya, banyak orang yang mengatakan bahwa semakin cerdasnya seseorang semakin dia menganggap remeh persoalan di hadapannya.
Ada kalanya menipu seorang yang cerdas malah lebih mudah dari pada menipu orang bodoh.
Siau kiong cu tentu saja tidak lenyap begitu saja.
Karena dia takut dirinya diikuti Lian lian dan rekannya, maka dia menggunakan air terjun tersebut sebagai tempat persembunyian.
Orang yang bagaimana pintar pun pasti ada lengahnya, Mereka berhasil ditipu oleh Siau kiong cu.
Kedua orang itu mana tahu, Kwe Po Giok memang seorang Sin tong sejak usia tiga tahun.
Tapi Siau kiong cu sampat saat ini adalah seorang yang berbakat.
Orang yang kecilnya adalah Sin tong, setelah dewasa belum tentu berguna kalau sudah dewasa, Siau kiong cu merasa dirinya tidak mempercayai Lian lian.
Dia memang sangat cerdas, Setelah dirinya berhasil dikelabui satu kali, tentu dia tidak akan membiarkan dirinya terpedaya sebanyak dua kali, Sejak kecil ia hidup di Pak hay, bagaimana mungkin dirinya tidak mengenal sifat air walaupun itu sebuah air terjun yang deras?
Sekarang, dia merubah dirinya dengan pandangan seorang pemuda, Dia berjalan-jalan di dalam kota.
Meskipun dia bertemu dengan Lian lian atau kaki tangannya, belum tentu mereka mengenali Siau kiong cu.
Alisnya dikerengkan, kulit wajahnya agak berkerut Di bawah dagunya terpasang sebuah jenggot yang lebat.
Di atas bibirnya terlihat segaris kumis tipis.
Dia melakukan semua ini bukan hanya untuk menghindari Lian dan kaki tangannya, tapi dalam hatinya ada sebuah rencana besar.
Dia harus memastikannya secepat mungkin, rencananya boleh di bilang terbalik dari sifat aslinya, tetapi dia tidak merasa merugikan atau menguntungkan siapa pun.
Cara merias dirinya sangat hebat, Dulu dia sering memainkan peran sandiwara di atas kapal ayahnya, Tang hay sin sian sendiri yang memberi pengarahan kepada Siau kiong cu.
Tujuan Tang hay sin sian tentu bukan untuk main-main.
Siau kiong cu tidak bisa ilmu silat.
Dia harus mempelajari sesuatu agar dapat terhindar dari bahaya bila berkelana di Bu lim.
Saat itu, dia sedang duduk di sebuah rumah makan.
Dari arah luar datang dua orang laki-laki.
Mata Siau kiong cu menyipit, tapi hatinya berdebar-debar tidak menentu.
Yang jalan di depan adalah Mo Put Chi, sedangkan yang mengiringi di belakang tentu saja Sun Put Ce.
Kedua orang itu memang langganan rumah makan tersebut apalagi mereka sangat royal dalam memberikan persenan, seorang pelayan segera menampilkan senyuman lebar dan menyambut mereka, Sun Put Ce dibawa ke meja di sebelah kiri Siau kiong cu.
"Sute.... Hari ini kita jangan makan ayam panggang,"
Kata Mo Put Chi.
"Suheng ingin makan apa, Siaute mengiringi saja,"
Sahut Sun Put Ce.
"Apakah kau suka makan daging babi hutan dan kijang?"
Tanya Mo Put Chi.
"Boleh juga. Tapi tidak terlalu suka,"
Sahut Sun Put Ce.
"Hari ini aku yang traktir, Sute pilih saja beberapa macam sayur yang lain,"
Kata Mo Put Chi.
"Suheng.... secukupnya saja, Tidak usah terlalu boros,"
Sahut Sun Put Ce tersenyum.
"Tentu, jangan karena aku yang membayar lalu tidak memikirkan isi kantongku,"
Kata Mo Put Chi membalas senyuman sutenya.
"Sute... Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan mencari seorang gadis untukku?"
Mo Put Chi lebih tua tiga tahun dari pada Sun Put Ce, tapi mengungkit persoalan tersebut, mukanya masih merah padam. Sun Put Ce tidak mengira suhengnya akan mengungkit masalah tersebut.
"Siaute memang pernah berjanji,"
Sahutnya.
"Apakah sulit menemukan seorang gadis yang sesuai dengan diriku?"
Tanya Mo Put Chi. Sun Put Ce berpikir sesaat "Ada seorang nona... tapi entah Suheng menyukainya tidak?"
Katanya.
"Siapa?"
Tanya Mo Put Chi dengan mata bercahaya.
"Lian lian,"
Sahut Sun Put Ce.
"Nama ini pernah kudengar, namun orangnya belum sempat bertemu,"
Kata Sun Put Ce.
"Tuh!"
Sahut Sun Put Ce mendongakkan kepalanya seraya menunjuk. Di sebelah kanan dekat jendela duduk seseorang yang tampaknya seperti pelajar.
"Bukankah itu seorang laki-laki?"
Tanya Mo Put Chi keheranan.
"Palsu, Dia adalah It ki bwe Lian lian,"
Sahut Sun Put Ce.
"Sute.... Bukankah kau sengaja bergurau denganku? Lian lian sudah lama terkenal namanya, lagipula usianya pasti lebih besar tiga atau empat tahun, hal ini tidak mungkin berhasil,"
Kata Mo Put Chi sambil menggelengkan kepalanya.
Jilid 15
"Yang siaute maksudkan adalah adiknya, It pian hun Lian hu,"
Sahut Sutenya.
"Siapa pula Lian hu itu?"
Tanya Mo Put Chi semakin kebingungan "Adik Lian-lian, Usianya sekitar duapuluh lima atau duapuluh empat tahun, Sama cantiknya dengan sang cici,"
Sahut Sun Put Ce.
"Boleh... boleh! Di mana dia sekarang?"
Tanya Mo Put Chi.
"ltu! pelajar muda tadi,"
Sahut Sun Put Ce sambil menunjuk sekali lagi ke arah laki-laki yang duduk di sebelah kanan.
"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa dia adalah Lian-lian?"
Tanya Mo Put Chi semakin heran.
"Tadi aku hampir menyangka dia adalah Lian lian. Suheng.... Mendekati seorang perempuan diperlukan keberanian Bagaimana kalau mencoba mendekatinya?"
Sun Put Ce menyarankan.
Untuk kebenaran, Mo Put Chi bisa menganggap kematian seperti pulang ke rumah sendiri.
Mendekati seorang perempuan dia belum pernah mencoba, hatinya merasa sedikit tegang.
perempuan harus lemah lembut, lakilaki harus sekeras baja.
Seorang laki-laki yang tidak pernah gentar menghadapi apa pun ternyata tidak bisa membuka suara kalau menghadapi perempuan.
"Suheng.... Seorang guru hanya mendidik sampai ilmumu cukup. Orang tua hanya membesarkan sampai kau bisa berdiri di kaki sendiri. Siapa pun tidak membantumu dalam masalah ini, apalagi membimbing dirimu sampai menjelang masuk kamar pengantin"
Kata Sun Put Ce. Mo Put Chi meremas-remas jari tangannya dengan gelisah.
"Sute.... Bagaimana kalau dia menghina aku di depan umum? Haruskah diletakkan di mana wajahku ini?"
Tanyanya cemas.
"Lian lian mungkin bisa berbuat begitu, tapi Lian hu tidak,"
Sahut Sutenya.
"Bagaimana kalau pendapatmu salah kali ini?"
Tanya Mo Put Chi ragu.
"Ada siaute di sini, tentu aku akan membelamu,"
Sahut Sun Put Ce.
Mo Put Chi bangkit dari tempat duduknya.
Dia mengusap rambut kepalanya berkali-kali, ditariknya pakaiannya agar terlihat rapi, Lalu dia berjalan ke sebelah JuMoan.
Pertama-tama, Lian hu agak heran melihat dirinya, namun tidak berapa lama kemudian, dia seperti mulai menanggapi Mo Put Chi, Murid perguruan Fang Tiong Seng pasti mempunyai kelebihan yang dapat diandalkan.
Mungkin Lian hu bisa bercakap-cakap dan berbicara dengannya karena alasan yang satu itu juga.
Benang Mo Put Chi sudah tersambung, berkali-kali dia melirik ke arah Sun Put Ce seakan ingin mengatakan "Sute, kau boleh juga."
Sun Put Ce meminta pelayan memesankan beberapa macam masakan dan sekendi arak wangi, setelah itu dia menyuruh pelayan tersebut mengantarkannya ke meja Lian hu.
Dia membayar semua pesanan itu dan pergi.
Lu ji juga segera membayar makanannya dan mengikuti dari belakang, Cinta kasih seorang perempuan dan Iaki-laki memang aneh, Kadang-kadang ada yang mengemukakan secara terus terang, tapi tidak kurang banyak yang menyembunyikannya dalam lubuk hati, Bahkan ada orang yang tidak menyadari bahwa dirinya mencintai seseorang.
Sekali menyadari, ternyata perasaan tersebut sudah sangat mendalam.
Sun Put Ce datang ke tempat Bwe Mei.
Gadis itu sendiri yang membukakan pintu, Luji juga sudah melihat Bwe Mei.
sebelumnya dia pernah melihat gadis itu satu kali.
Sekarang yang dilihatnya adalah Bwe Mei yang telah kehilangan sebelah lengan.
Di antara mereka tidak terdapat budi atau pun dendam, Tapi pada waktu ini, Siau kiong cu merasa sebuah perasaan janggal dalam hatinya.
"Bwe Mei... Hari ini aku membawakan makan kesukaanmu, Ada bakcang tausa, bakso goreng, sio may, kacang kedelai rebus, sop ayam campur sui kiau (sejenis pangsit berisi udang dan bangkuang yang dicincang), ada...."
"Sudah.... Masuk dulu!"
Bwe Mei menarik tangan Sun Put Ce.
"Blang!"
Pintu rumah itu tertutup rapat.
Pintu itu juga menutup pandangan Siau kiong cu.
Hatinya terasa kosong melompong, Namun, Lu ji adalah seorang gadis yang sabar.
Tindak tanduknya selalu lemah lembut.
Orang yang sabar biasanya juga merupakan orang yang percaya diri, Dia terpaku sejenak, dari dalam rumah sayup-sayup terdengar suara tawa.
Mungkin orang akan berpikir, mayat Tang hay sin sian masih hangat, tidak seharusnya dia memikirkan hal yang lain, Kenyataannya dia memang menempatkan pembalasan dendam pada urutan pertama, Persoalan pribadinya malah ditempatkan di belakang, Siau kiong cu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat Bwe Mei.
Lian lian terpaksa mempercayai kata-kata Kwe Po Giok.
Meskipun dia pernah dipermainkan oleh Siau kiong cu.
Lian lian duduk di hadapan pemuda itu.
Mereka berada di ruang bawah tanah Cui goat si.
Tubuh pemuda itu tertotok sehingga tidak dapat bergerak, Dia hanya dapat membuka mulut dan bercakap-cakap.
"Asal kau tidak nakal dan menuruti perkataanku, aku akan segera melepaskan dirimu,"
Kata Lian lian seperti terhadap seorang anak kecil.
"Bukankah sekarang aku tidak nakal?"
Tanya Kwe Po Giok.
"lni masih belum cukup, Aku ingin kau bekerja sama denganku,"
Kata Lian lian.
"Masih belum cukup? Aku duduk di sini dalam keadaan tertotok, persis seperti sebuah patung. Kau masih mengatakan aku nakal dan tidak mau bekerja sama?"
Tanya Kwe Po Giok dengan mata mendelik. Lian lian tersenyum manis.
"lnti sari ilmu pedang Tang hay sin sian ada di dalam rangkaian bunga Siau kiong cu. Berapa banyak yang telah kau pelajari?"
Tanyanya.
Kwe Po Giok tahu, dia tidak mungkin tidak mengakuinya sama sekali, Tapi dia harus hati-hati menjawab pertanyaan ini.
Kalau dia mengatakan bahwa dirinya belum berhasil mempelajari seluruhnya, mereka pasti akan mencari Lu ji, lalu mencelakainya.
Mereka pasti akan mencari akal untuk mengorek keterangan dari gadis itu.
Mungkin bila dia mengatakan bahwa dia telah menguasai seluruhnya barulah mereka akan melepaskan Siau kiong cu.
Kenyataannya, dia memang belum mempelajari semua, Karena masih ada beberapa bagian yang belum dimengerti olehnya.
Oleh karena itu, Siau kiong cu sering merasa Kwe Po Giok terlalu membesar-besarkan dirinya sebagai Sin tong.
"Aku sudah mempelajari seluruhnya,"
Kata Kwe Po Giok.
"Kau berbohong,"
Sahut Lian lian.
"Mengapa harus berbohong?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Anak muda biasanya suka membual,"
Kata Lian lian.
"Aku tidak membual. Kenyataannya, aku memang sudah mempelajari keseluruhan ilmu itu, sayangnya tenaga dalamku belum cukup tinggi, hanya lima bagian dari kepandaian Tang hay sin sian,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Hanya lima bagian? Enam bagian pun belum sampai?"
Tanya Lian Han kurang percaya.
"Paling banyak lima bagian setengah,"
Sahut Kwe Po Giok. Lian lian tidak tahu apakah dia harus mempercayai keterangan Kwe Po Giok. Dia tahu Siau kiong cu merahasiakan tidak sedikit ilmu tersebut.
"Kalau begitu, tolong tunjukkan semua yang kau ketahui Tidak boleh merahasiakannya,"
Kata Lian lian.
"Bagaimana kau tahu kalau aku merahasiakannya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Karena Siau kiong cu pernah memberitahukan dan merangkai bunga di hadapan-ku,"
Kata Lian lian.
"Dia pernah di sini?"
Tanya Kwe Po Giok terkejut.
"Dia juga menetap di sini selama beberapa hari. Untung saja dia mau bekerja sama sehingga aku melepaskannya,"
Kata Lian lian.
"Kau mau melepaskannya?"
Tanya Kwe Po Giok kurang percaya.
"Apakah kau kira aku telah membunu-nya?"
"Bagaimana aku dapat berpikir lain?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Untung saja tidak lama lagi kau bisa bertemu dengannya,"
Kata Lian lian.
"Di alam baka?"
Sindir Kwe Po Giok.
"Aku tidak keberatan memberitahukan satu hal lagi kepadamu, Percaya atau tidak terserah! Aku melepaskan dirinya bukan tanpa sebab, Orang yang bekerja sama denganku mempunyai perhatian besar terhadapnya. Kau tentu mengerti sendiri, Siau kiong cu adalah seorang gadis yang secantik bidadari,"
Kata Lian lian.
"Tidak salah, Siapa begundalmu itu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Aku hanya dapat mengatakan kalau dia pasti bukan perempuan,"
Kata Lian lian.
"Aku adalah kekasihnya, Tidak usah memikirkan keselamatan Siau kiong cu, hanya memandang lirikan matanya terhadap Siau kiong cu, hatiku sudah tidak tahan, LagipuIa aku tidak dapat menyaksikan Siau kiong cu ternoda di tangannya, Andaikan untuk kepentinganku sendiri, aku juga harus mencegahnya, Oleh sebab itu, aku melepaskan Siau kiong cu. Aku mengantarkannya sampai perbatasan Dengan mata kepala sendiri aku melihat dia masuk ke dalam hutan kecil selanjutnya dia menghilang, Bagaimana nasibnya aku tidak tahu,"
Kata Lian lian sambil menghela nafas.
"Bagaimana dia bisa menghilang?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Aku takut dia dimakan oleh serigala, maka aku mencarinya ke mana-mana, Kenyataannya aku telah menjelajahi seluruh tempat itu tapi tidak dapat menemukannya,"
Kata Lian lian.
"Mungkinkah dia benar-benar dimakan serigala atau terjatuh ke dalam air terjun yang deras lalu mati tenggelam?"
Tanya Kwe Po Giok cemas.Lian lian tertawa.
"Bocah... kau sungguh cerdik,"
Katanya.
"Aku sejak kecil dipanggil Sin tong, bagaimana tidak cerdik?"
Sahut Kwe Po Giok.
"Terang-terangan kau sudah tahu kalau di tempat itu ada air terjun, Dan di bawahnya terdapat sebuah sungai yang deras,"
Kata Lian lian.
"Betul, sedangkan orang yang ahli saja tidak berani memandang ringan air terjun tersebut,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Bocah, Siau kiong cu dibesarkan di Pak hay. Setiap hari bermain dengan lautan, mungkinkah dia seperti seekor anak bebek yang baru lahir?"
Kata Lian lian.
"Ternyata kau juga tidak bodoh, Boleh bertanding dengan Sin tong,"
"Apakah kau sekarang masih menganggap Siau kiong cu telah mati?"
Tanya Lian lian.
"Lalu, apa yang harus kupikirkan?"
Sahut Kwe Po Giok.
"Lebih baik kau menunjukkan ilmu pedang rangkaian bunga supaya aku dapat menyaksikannya dengan teliti,"
Kata Lian lian.
"Bagaimana aku dapat menunjukkan ilmu itu dalam keadaan seperti ini?"
Tanya Kwe Po Giok. Lian lian menotok kembali tiga buah jalan darahnya, Saat itu Kwe Po Giok bisa berdiri dan bergerak, Namun dia tidak mempunyai tenaga untuk melancarkan serangan.
"Kau sungguh licik,"
Katanya.
"Kalau hal begini saja dapat dianggap licik, apalagi tokoh zaman dulu seperti Tio Lang, Hang Sing dan Cu Kek Liang, Mereka semua terhitung manusia licik nomor satu, Namun tidak ada orang yang berani menganggap mereka licik di depan umum,"
Sahut Lian lian.
"lt ki bwe Lian lian adalah salah satu dari sekian banyaknya ko chiu di Bulim. Mengapa kau mau diperintah oleh orang lain?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Dalam hal ini kau belum mengerti ilmu silat dan pelajaran lainnya tidak jauh berbeda. Hanya saja pengetahuan lainnya lebih mudah dipelajari dan banyak gurunya. Kau sendiri mempelajari ilmu silat Tang hay sin sian, bukankah atas perintah orang lain juga?"
Sahut Lian lian.
"Hal itu tidak dapat disamakan,"
Kata Kwe Po Giok.
"Apa bedanya?"
Tanya Lian lian.
"Aku melakukannya dengan senang hati, karena semua itu menyangkut kepentingan orang banyak,"
Kata Kwe Po Giok.
"Aku melepaskan Siau kiong cu karena hal ini juga, Apakah kau juga tidak dapat berbuat hal yang sama? Menunjukkan ilmu untuk kepentingan Siau kiong cu?"
Tanya Lian lian.
Akhirnya Kwe Po Giok menganggukkan kepalanya juga.
Masa keemasan Kiau Bu Suang belum menjelang.
Dia sadar, bukan saja dia tidak akan berhasil menguasai dunia persilatan tapi dia juga tidak dapat menetap lebih lama lagi di tempat ini.
Dia hanya ingin tahu, apakah Toa Tek To Hun juga sudah pulang ke negaranya?
Sejak mengetahui bahwa Lian lian memperalat dirinya dan dayang Cui thian, dia mulai membenci kaum wanita, Dia ingin membalas perbuatan mereka, Chow Ai Giok adalah tujuan pertamanya.
Kiau Bu Suang kembali minum arak.
setiap kali dia ingin datang ke tempat Chpw Ai Giok, dia harus minum arak dulu, Mungkin kalau sudah sedikit mabuk baru menemui seorang perempuan, perasaannya akan dapat melihat kelebihan perempuan tersebut Kekurangannya pun tidak begitu terlihat jelas lagi.
Dia sama sekali bukan jenis laki-laki yang menginginkan seorang anak, Tapi dia harus berkata demikian, Hanya dengan mengucapkan kata-kata itu, Chow Ai Giok baru percaya kepadanya.
Chow Ai Giok mau menyerahkan diri secara suka rela juga karena menganggapnya benar-benar menginginkan seorang anak, Sebetulnya, sebelum dia menemukan perempuan yang melebihi Chow Ai Giok, dia terpaksa harus menerimanya.
Persis seperti apa yang dikatakannya tempo hari.
Setidaknya Chow Ai Giok masih lebih bersih dari pelacur di rumah hiburan.
Huruf cina satu per satu berlainan semuanya tergantung dari cara orang yang menulisnya, Ada yang dapat menulis dengan indah dan adapula yang seperti cakar ayam.
Namun ada juga orang yang dapat menuliskannya dengan tajam.
Huruf demi huruf berdiri tegak lurus dengan ujung yang runcing, Begitu runcingnya sehingga dapat melukai seseorang.
Kiau Bu Suang adalah sebilah pedang, bahkan pedang yang telah dilumuri racun jahat.
Menghilangkan dayang Cui thian, dia sudah dapat menebak apa yang menyebabkannya, Dia juga sudah dapat menerka apa sebabnya Lian lian memperalat dirinya.
Dia cuma belum berani memastikan betul tidaknya saja.
Tiga kendi arak telah diminumnya, rasanya sudah cukup untuk pergi ke tempat Chow Ai Giok, Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat di depan pintu telah berdiri seorang manusia yang mengenakan topeng.
Orang ini pernah dilihatnya satu kali, Topeng yang dikenakannya berwarna putih kepucatan, ada seulas senyum yang tersungging di sudut bibir.Penampilannya dingin dan kaku.
Bajunya berwarna hitam dan longgar.
Di pinggangnya terselip sebatang pedang.Kalau dikatakan orang ini adalah Toa Tek To Hun, kekuatannya memang hampir seimbang, Tapi dia percaya kalau orang ini bukan Toa Tek To Hun.
Pada saat sekarang, orang yang berani berlagak di hadapannya memang masih ada beberapa.
Misalnya Co san Tuan chang (Pembelah usus gunung Co) Hua Can Lei.
Hun bang (lmpian awan) ada seorang tokoh yang disebut Hok su thi (Mayat hidup) Seebun Cu Yap.
Ada lagi salah satu dari ketiga Siauya dari Hulam, Miao Hua Fang serta Suhunya Tok ku peng.
Nama-nama yang disebut tadi adalah orang berilmu lebih tinggi dari dirinya.Namun tokoh-tokoh tersebut tampaknya sudah menyucikan diri dan meninggalkan dunia ramai.
Mereka tidak perduli dengan kehadiran Toa Tek Tok Hun di Tionggoan.
Kiau Bu Suang menggenggam pedangnya yang terletak di atas meja erat-erat.
Dia melihat pedang lawannya persis seperti pedangnya sendiri.
Meski pun pedang yang sama, namun terselip di pinggang manusia bertopeng itu tampaknya jadi jauh berbeda, Hawa pembunuhan yang tersirat pada orang tersebut jauh lebih tebal.
"Apakah kau datang untuk membunuhku?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Kau sungguh pandai menebak,"
Sahut manusia bertopeng itu.
"Bagaimana kau tahu bukan aku yang akhirnya membunuhmu?"
Tanya Kiau Bu Suang sembari tertawa dingin.
"Kalau kau sanggup melakukannya, kau tentu tidak menunggu sampai sekarang,"
Sahut manusia bertopeng.
"Mengapa kau sendiri menunggu sampai sekarang baru mau membunuhku?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Karena sekarang sudah mencapai titik persoalannya,"
Sahut manusia bertopeng.
"Titik persoalan?"
Tanya Kiau Bu Suang tidak mengerti.
"Tidak salah!"
Sahut manusia bertopeng sambil mendengus.
"Sekarang perananmu telah selesai. Kau sama sekali tidak ada manfaatnya lagi untuk diperalat."
"Peranan apa yang kumainkan?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Pembunuh suruhan!"
Sahut manusia bertopeng.
"Aku sama sekali tidak pernah disuruh untuk membunuh seseorang,"
Sahut Kiau Bu Suang.
"Kalau kami menyuruhmu membunuh seseorang, hal itu tidak dapat disebut hebat. justru kau mewakilkan kami membunuh beberapa orang lawan tanpa kau sadari. Misalnya Hong be, Bok lang kun dan lain-lain."
Kata manusia bertopeng.
"Aku tahu siapa dirimu?"
Kata Kiau Bu Suang.
"Pendapatku justru berlawanan. Kau belum tentu tahu siapa aku,"
Sahut manusia bertopeng.
"Kau adalah sebilah papan gilasan?"
Kata Kiau Bu Suang dingin.
"Apakah kau tahu kalau dayang Cui thian memanggilmu demikian di belakang punggungmu?"
"Se sa pang (papan gilasan)?"
Tanya manusia bertopeng itu.
"Apakah kau juga mengetahui hal ini?"
Kiau Bu Suang tampak terpana.
"Coba kau bayangkan. Hal apa yang tidak kuketahui di dunia ini!"
Sahut manusia bertopeng.
"Apakah kau tahu di mana Toa Tek To Hun sekarang?"
Tanya Kiau Bu Suang memancing.
"Masih ada di Tionggoan,"
Sahut manusia bertopeng.
"Bagaimana membuktikan bahwa dirimu bukan Se sa pang?"
Tanya Kiau Bu Suang kembali.
Manusia bertopeng itu menarik lengan bajunya, Sebuah tangan yang bersih dan tanpa kerutan sedikit pun tersembul di balik lengan baju tersebut Uratnya belum ada yang menonjol.
Ternyata dia memang bukan Se sa pang.
Tiba-tiba manusia bertopeng itu mengeluarkan pedangnya, sinarnya yang berkilauan membawa segulung hawa dingin.
Kiau Bu Suang juga mengangkat pedangnya, pedang itu tidak mengeluarkan cahaya.
Tapi hatinya justru merasa dingin.
Kedua orang itu berdiri berhadapan.
Kiau Bu Suang merasa manusia bertopeng itu sedang memperhatikan lilin di atas meja, Dia menunggu kira-kira sepeminuman teh lagi, namun manusia bertopeng itu tetap tidak bergerak.
Kiau Bu Suang mulai tidak sabar Tetapi dia tidak ingin memulai menyerang, Dia tetap berharap kalau lawannya akan gentar sendiri dan mengundurkan diri.
Kira-kira sepeminuman teh telah lewat kembali, Kiau Bu Suang merasa kesal.
Dia seperti sedang dipermainkan.
"Apa yang kau tunggu? Mungkinkah ada...."
Kata-katanya belum selesai terucap, sinar pedang sudah menyambar Mungkin juga karena dia sedang kesal sehingga perhatiannya terpecah, pedangnya belum sempat diangkat untuk menyerang, namun sudah terkulai kembali ke ba-wah.
Di keningnya tampak guratan luka memanjang, Matanya tetap terbelalak ke arah depan, Pedang di tangan manusia bertopeng telah masuk kembali ke dalam sarung, orangnya sudah melayang pergi.
Rumah yang ditinggali Kiau Bu Suang adalah rumah sewaan, Tiga hari kemudian, pemilik rumah itu datang untuk membetulkan atap rumah, Penyewanya tidak kembali lagi, Dia sudah mendengar kabar bahwa laki-laki itu terbunuh di bawah pedang Toa Tek To Hun.
Karena hanya ada sebuah luka panjang di kening.
Tidak ada orang yang sanggup membunuh Kiau Bu Suang dengan cara demikian kecuali Toa Tek To Hun.
Lalu masih ada beberapa korban lain yang keningnya juga mempunyai guratan panjang namun di bagian tubuh yang juga terdapat luka, apakah mereka juga dibunuh oleh Toa Tek To Hun?
Atau ada orang lain lagi?
-ooo0ooo-Bab Dua puluh Beberapa hari ini, Chow Ai Giok pasti menyempatkan diri berdandan.
Meskipun hanya untuk bayi dalam perut, Kiau Bu Suang tetap akan datang menemuinya.
Oleh karena itu, dalam sehari dia bisa berkaca sampai puluhan kali.
Dia menganggap bila memasang senyuman manis dalam menghadapi seorang laki-laki pasti ada faedahnya juga.
Hal ini disebabkan karena ia telah berpikir berulang kali, Dia memastikan dirinya untuk menikah dengan Kiau Bu Suang.
Tetapi, biarpun dia merias secantik mungkin bahkan berkaca berpuluh kali untuk meyakinkan bahwa dirinya sudah tidak ada kekurangan, Kiau Bu Suang tetap tidak muncul.
"Bedebah! Benar-benar sudah tiada kegairahan untuk keempat kalinya!"
Maki Chow Ai Giok dalam hati.
Dia tidak betah berdiam di rumah, oleh sebab itu dia pergi ke Hong lai chun dan minum sendiri.
Hari belum begitu sore, tamu masih tidak banyak yang berkunjung.
Hanya ada seorang laki-laki muda yang duduk di meja sebelah kiri.
Di punggungnya tergantung senjata yang berbentuk aneh.
Dia juga sudah minum arak, senjatanya adalah sepasang roda dengan gerigi di dalamnya, Bahkan gerigi tersebut juga aneh.
Berwarna hitam dan putih selang-seling.
Chow Ai Giok sejak kecil diasuh oleh Hiat Eng.
Dia sering diajak berkelana ke berbagai tempat.
Tokoh-tokoh persilatan yang diketahuinya juga amat banyak karena bila ada waktu senggang, Hiat Eng sering menceritakan kepadanya.
Dia yakin kalau laki-laki tersebut adalah salah satu dari ketiga siauya dari Hu lam, Hek pai suang lun (Sepasang roda hitam putih) Miao Hua Fang yang amat terkenal.
Dia juga tahu meskipun usia laki-laki itu sudah di atas tigapuluh tahun tapi masih terlihat muda.
Miao Hua Fang melihat Chow Ai Giok sedang memperhatikannya.
Dia juga melirik beberapa kali.
"Bukankah nona ini cucu perempuan dari Hiat Eng Cian pwe?"
Tanyanya.
"Betul. Kongcu tentunya Hek pai suang lun Miao Hua Fang taihiap,"
Sahut Chow Ai Giok.
"Aku tidak berani menerima penghormatan setinggi itu. Cayhe memang Miao Hua Fang adanya."
"Miao taihiap sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, apakah pernah mendengar nama Cap sa tai po Kiau Bu Suang?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Pernah,"
Sahut Miao Hua Fang.
"Apakah Miao taihiap mengenalnya?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Kami pernah berjumpa beberapa kali,"
Sahut Miao Hua Fang.
"Apakah Miao taihiap bertemu dengannya akhir-akhir ini?"
Tanya Chow Ai Giok kembali. Miao Hua Fang mengernyitkan alis matanya.
"Apa hubungan Chow Kouwnio dengan Kiau Bu Suang?"
Tanyanya."
"Teman,"
Sahut Chow Ai Giok. Miao Hua Fang tertawa dingin.
"Mengapa Chow kouwnio tidak mengenakan pakaian berkabung?"
Sindirnya.
"Mengapa?"
Tanya Chow Ai Giok. Miao Hua Fang bangkit dari tempat duduknya dan meletakkan mangkok makan di atas meja.
"Karena dia sudah mati."
Begitu kata-katanya selesai, dia langsung menuju ke pintu dan pergi.
Kiau Bu Suang sudah mati?
Kalau bukan lelucon paling besar yang pernah didengarnya, pasti Miao Hua Fang mempunyai dendam pribadi dengan Kiau Bu Suang.
Dia sengaja mengesalkan hati Chow Ai Giok.
"Hari ini nasibku sedang sial, bertemu dengan seorang telur busuk,"
Makinya dengan penuh kebencian.
Namun hal ini patut dicurigai Miao Hua Fang bukan orang jahat, Kalau bukan dia yang turun tangan sendiri membunuh Kiau Bu Suang, pasti dia tidak akan mengatakan hal itu.
Setidaknya, Chow Ai Giok merasa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadap Miao Hua Fang.
Meskipun Chow Ai Giok sendiri sering menyumpahi Kiau Bu Suang, tetapi itu karena kelakuan laki-laki itu yang menghinanya secara terang-terangan, ia sering memaki Kiau Bu Suang agar cepat masuk neraka.
Namun mendengar kematiannya sekarang, dia merasa hatinya tertekan seolah ada sesuatu yang hilang.
"Kalau Kiau Bu Suang benar-benar sudah mati, bukankah anak dalam perut ini tidak mempunyai ayah lagi? Kemungkinan besar Miao Hua Fang membenci Kiau Bu Suang sehingga dia mengoceh yang tidak-tidak,"
Pikirnya dalam hati. Kata-kata "sudah mati"
Terasa menyelimuti batinnya, Kalau benar sudah mati, pasti tidak mungkin bisa hidup kembali.
Tak ada sesuatu pun yang ditinggalkan oleh Kiau Bu Suang, hanya janin dalam rahim yang akan menimbulkan noda.
Bukankah hal ini membuat dirinya susah?
Kiau Bu Suang pernah mengejek bahwa kulit tubuhnya kasar, dia sendiri telah mengakui.
Kalau kenyataannya dia sudah mati, apa yang dapat dilakukannya lagi?
Dia adalah seorang laki-laki bersifat jahat.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan "Orang baik pendek umur, orang jahat hidup ribuan tahun, Pepatah ini sungguh tidak tepat di-gambarkan pada diri Kiau Bu Suang kalau benar dia sudah mati, karena dia bukan orang baik.
Pada saat itu, ada dua orang laki-laki setengah baya masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Yang pertama adalah Bong san to mo Yap Thian, yang kedua adalah Pak hay ok hi Oey Gi Bun.
Kedua orang ini pernah bertarung dengan It Cheng Hong di atas perahu tempo hari.
Mereka berebutan siapa dulu yang menyeberangi sungai, Oey Gi Bun meletakkan senjatanya di atas meja.
"Yap heng.... Apakah tidak aneh, Cap sa tai po Kiau Bu Suang kalau dikatakan juga masih lebih tinggi ilmunya dari kita berdua, bagaimana dia dapat dibunuh oleh Toa Tek To Hun?"
Tanyanya.
"Oey heng, memang luka di kening mirip dengan guratan Toa Tek To Hun, tapi ada yang mengatakan bahwa yang melakukannya belum tentu orang itu,"
Sahut Yap Thian.
Chow Ai Giok merasa kepalanya diguyur oleh seember air dingin.
Hatinya tergetar, tanpa dapat ditahan lagi dia pingsan, untung saja dia tengkurap di atas mejanya sendiri, orang lain tidak mengetahui apa yang terjadi.
Ketika tersadar, Oey gi Bun dan Yap Thian masih menikmati hidangan sambil bercakap-cakap.
"Oey heng, baik siapa pun yang membunuh Kiau Bu Suang, tapi dia dapat melakukannya dalam sekali serangan, berarti ilmu silat orang itu memang tinggi sekali,"
Kata Yap Thian.
"Tentu saja, Kita tidak boleh berdiam di sini terlalu lama lagi, Lebih baik cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan pergi jauh,"
Sahut Oey gi Bun.
"Oey heng, ada beberapa patah kata yang ingin siaute ucapkan, jangan sampai tersebar di luaran mereka akan memalukan derajat kita."
Kata Yap Thian.
"Maksud Yap heng...."
"Kalau kita cukup berharga masuk dalam daftar hitam Toa Tek To Hun, apakah sekarang kita masih sempat duduk di sini dan menikmati hidangan? Tentunya nyawa kita sudah melayang sejak dulu kalau dia menginginkannya,"
Kata rekannya.
"Kepandaian kita memang tidak dapat menandingi orang-orang tersebut, kita juga harus berani mengakuinya, Tapi tempo hari Kiau Bu Suang menyembunyikan diri ketika Toa Tek To Hun melakukan pembunuhan besar-besaran, dia menyebarkan berita bahwa dirinya cao hue jit mo sehingga sebagian tubuhnya lumpuh. Manusia seperti dia seharusnya tidak berharga dibunuh, tapi toh terjadi juga. Siapa yang bisa tahu kalau kita akan mengalami nasib yang sama? Mungkin saja tokoh kelas satu di Tionggoan tinggal segelintir, Toa Tek To Hun sengaja membunuh tokoh kelas rendah untuk memancing keluarnya tokoh-tokoh tersebut,"
Sahut Oey Gi Bun.
"Sebetulnya, siaute memang tidak berpikir demikian jauh,"
Kata Yap Thian. Chow Ai Giok membanting mangkok dan sumpitnya. Dia menghambur ke arah kedua orang itu.
"Kiau Bu Suang mati di mana?"
Tanyanya. Oey Gi Bun dan Yap Thian terpana.
"Siapa nona?"
Tanya Yap Thian.
"Pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan siapa diriku,"
Kata Chow Ai Giok tajam.
Bagi Chow Ai Giok, Kiau Bu Suang adalah seseorang yang begitu jahat terhadapnya dan meninggalkan segudang kesulitan dan kesengsaraan yang tiada akhir, sebetulnya dia tidak usah memperdulikan mati hidupnya Kiau Bu Suang.
Oey Gi Bun dan Yap Thian melihat sikapnya yang amat tidak ramah, Mereka saling lirik sekilas.
Keduanya sepakat untuk tidak memperdulikan Chow Ai Giok.
Mereka melanjutkan makan dan minumnya.
Chow Ai Giok hampir gila saat itu.
seluruh manusia di dunia ini mengacuhkannya.
Kedua orang itu juga sama.
Dia mengulurkan tangan untuk menarik leher baju Yap Thian.
"Kau tidak mempunyai hak untuk tidak menjawab pertanyaanku!"
Bentaknya.
Kali ini Yap Thian sudah memandang perempuan itu.
Dikiranya perempuan itu hanya duduk dan tidak memperdulikan dia sudah terlepas dari segalanya, Kalau saja dia tahu Chow Ai Giok adalah cucu Hiat Eng, dia pasti akan berpikir dua kali sebelum menyakiti hatinya.
Leher baju Yap Thian dicengkeram dengan erat, sekali hentak tubuh laki-laki itu sudah melayang keluar, Menyusul Oey Gi Bun yang mendapat giliran, Kedua orang ini hanya tergolong tokoh nomor empat dalam dunia persilatan, bagaimana mungkin mereka bisa menandingi Chow Ai Giok?
Yap Thian tampak kelabakan, dia berusaha menghindarkan diri, namun tubuhnya belum sempat bergerak, leher bajunya sudah kena ditarik oleh perempuan tersebut.
Sebelum menyadari apa yang terjadi, bagian pinggangnya terasa sakit, Dia sudah kena tendangan Chow Ai Giok.
Dia sempat melirik sekilas ke senjatanya yang tergeletak di atas meja, namun sekarang ternyata sudah pindah ke tangan lawan.
Oey Gi Bun dan Yap Thian terkejut setengah mati.
Mereka seakan tidak mengetahui kekuatan diri sendiri dan perempuan di hadapan mereka sekarang telah menunjukkannya.
"Tempat kematian Kiau Bu Siang tidak berapa jauh, kami akan mengantar kau ke sana,"
Kata Yap Thian tergopoh-gopoh.
"Cepat unjuk jalan!"
Teriak Chow Ai Giok, Dia melempar kembali senjata yang tadi tergeletak di atas meja ke arah Oey Gi Bun.
Ketiga orang itu keluar dari rumah makan beriringan Mereka sempat mendengar suara pelayan yang berkata kepada majikan nya.
"Kedua laki-laki itu tampaknya sangat berguna."
"Kouwnio pasti keturunan tokoh terkemuka,"
Kata Oey Gi Bun sembari melangkah. Chow Ai Giok tertawa dingin.
"Kakekku adalah Hiat Eng,"
Sahutnya.
"Ternyata memang keturunan terkemuka. Bukankah Hiat Eng yang dibunuh oleh seorang tokoh tak dikenal?"
Tanya Oey Gi Bun.
Pikiran Chow Ai Giok sedang kalut, Dia tidak mendengar jelas perkataan laki-laki itu.
Mereka membawanya ke sebuah kayu di mana Kiau Bu Suang tinggal sebelumnya.
Ternyata mayat laki-laki itu telah dibawa ke sana.
Pada saat itu banyak penduduk sekitar yang sedang berkumpul juga ada kepala desa, Mereka sedang memeriksa mayat Kiau Bu Suang.Chow Ai Giok mendorong kerumunan orang-orang itu, Dia juga sudah melihat tubuh Kiau Bu Suang.
Keningnya terdapat luka memanjang, Kira-kira dua cun dalamnya, Bagian tubuh yang lain tidak ada luka sedikit pun.
penduduk desa dan lurahnya memang sedang kebingungan mencari sanak keluarga Kiau Bu Suang untuk menyerahkan mayatnya.
Mereka segera menatap perempuan yang baru datang itu.
Chow Ai Giok tertawa seperti orang kesurupan, Puh!
Dia meludah ke tanah, Matanya memandang mayat Kiau Bu Suang dengan mendelik.
"Setan pendek umur, Ternyata kau benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk keempat kalinya..."
Padahal pada saat itu Chow Ai Giok bukannya membenci Kiau Bu Suang, ia merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri dan menyesalkan kemalangan nasibnya.
Oleh sebab itu, dia menumpahkan segala kekecewaan dan kemarahannya pada mayat laki-laki itu.
Kenyataannya, dari sekian laki-laki yang pernah dikenalnya, hanya Kiau Bu Suang yang mempunyai hubungan paling erat dengannya, Biarpun selama ini ia hanya mengucapkan kata-kata manis palsu terhadapnya, namun dia toh sudah melakukan tiga kali perbuatan terlarang dengannya.
Kakeknya sudah mati, laki-laki busuk itu juga sudah mati, Yang tertinggal hanya benih dalam perutnya, Dia merasa Thian memperlakukannya dengan kejam, Tiba-tiba dia berjalan menghampiri mayat tersebut dan mengangkatnya, Dia bermaksud meninggalkan tempat itu.
Kepala desa setempat merasa curiga melihat sikapnya.
"Apa hubungan kouwnio dengan almarhum?"
Tanyanya.
"Untuk apa kau menanyakan hal tersebut?"
"Aku adalah kepala desa di sini, sekarang sudah terjadi suatu pembunuhan, kami toh harus menyelidikinya sampai jelas,"
Sahut kepala desa itu.
"Aku bukan pembunuhnya. Kalian seharusnya mencari pembunuh yang sebenarnya,"
Kata Chow Ai Giok.
"Tapi tampaknya mempunyai hubungan garis yang erat dengan laki-laki ini,"
Sahut kepala desa.
"Kalau memang benar, apa yang ingin kau lakukan?"
Tanya Chow Ai Giok dingin.
"Kami hanya mengharapkan kouwnio mau datang ke balai desa sebentar,"
Kata laki-laki setengah baya itu.
"Biarpun kau menjemputku dengan tandu mewah, aku juga tidak mau ke balai desa!"
Sahut Chow Ai Giok tajam.
"Kalau kouwnio tidak mau ke sana, bukankah kami semakin curiga terhadap diri kouwnio?"
Kata kepala desa tersebut. Mata Chow Ai Giok merah membara.
"Enyah!"
Bentaknya, Empat lima laki-laki penduduk setempat segera mengurungnya.
Di tangan mereka tergenggam berbagai senjata, Ada pentungan besi, golok bahkan ada juga yang membawa kampak, Dengan pundak memanggul Kiau Bu Suang, Chow Ai Giok menggunakan sepasang kakinya untuk menyapu orang-orang tersebut.
Mereka tidak sempat melihat gerakan perempuan itu, tahu-tahu tubuh masing-masing sudah terlempar keluar.
Begitu mereka mengangkat kepalanya, Chow Ai Giok sudah melayang jauh.
Kira-kira lima enam li Chow Ai Giok berlari Dia memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar.
Di situ dia menghentikan langkah kakinya dan melemparkan tubuh Kiau Bu Suang ke atas tanah.
"Manusia she Kiau... kau memang pantas mati, Tidak ada yang akan membalaskan kematian, sedangkan kematian kakekku pun tidak ingin kubalas lagi,"
Gumamnya seorang diri.
Chow Ai Giok duduk di atas tanah untuk meredakan nafasnya yang tersengal-sengal, Matanya melirik sekilas ke arah mayat yang tergeletak di sampingnya.
Bayangan kemesraan Kiau Bu Suang bermain di benaknya.
Hal ini tidak membuat dia mengasihani Kiau Bu Suang, malah membuatnya semakin membencinya, Paling tidak, dia tahu kalau laki-laki ini mempunyai hubungan yang luar biasa dengan dayang Cui thian.
Dan dia juga tertarik dengan Bwe Mei.
Mungkin di luar pengetahuannya masih ada segudang perempuan lain.
Laki-laki busuk seperti ini kenyataannya adalah ayah dari janin dalam rahimnya, penguasa alam sungguh tidak adil terhadap dirinya, Kalau saja dia menolak untuk melakukan yang kedua atau ketiga kalinya, mungkinkah benih ini akan tumbuh dalam perutnya?
Namun apakah memang semuanya kesalahan penguasa alam saja?
Apakah dirinya sendiri tidak mengambil bagian dalam musibah ini?
Setiap kali teringat kata-kata Kiau Bu Suang setelah bermesraan dengannya, hati kecilnya semakin benci, Sekali lagi dia meludah, Kali ini tepat di wajah mayat itu.
Setelah itu meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh lagi.
Tadinya dia membawa mayat Kiau Bu Suang dengan niat memakamkannya dengan baik, sekarang dia tidak perduli lagi.
Lakilaki ini telah menghancurkan hidupnya.
Biar mayatnya menjadi umpan binatang buas.
Dia bertekad untuk mencari tabib yang terkenal untuk menggugurkan kandungannya.
-ooo0ooo-Pek hua lau (gedung bunga putih) adalah sebuah rumah hiburan yang sangat terkenal di kota ini.
perempuan penghibur yang menghuni di dalamnya tidak kurang dari tigapuluh lima orang, Tapi yang benar-benar cantik dapat terhitung dengan jari.
Namun ada pepatah yang mengatakan.
"Ka hua bo ya hua hiong (Bunga peliharaan tidak seharum bunga jalanan)"
Tampaknya memang benar.
Kecuali orang yang sudah berumah tangga juga berpikir demikian, yang bujangan juga dapat menyalurkan kesepian hati.
Bedanya, kalau yang bujangan berani datang secara terangterangan, sedangkan yang sudah menikah mengambil jalan belakang, Soalnya mereka takut bertemu dengan salah seorang kenalan, Seandainya berita itu tersiar di luaran, bukankah akan mendapat palang pintu dari sang istri dan mendapat dampratan dari mertua..?
Lentera-lentera baru dipasang ketika dari arah pintu berjalan masuk seorang laki-laki yang masih cukup muda, Hanya jenggot dan kumisnya yang tipis membuat tampangnya lebih tua dari usia sebenarnya.
Seorang penyambut tamu segera menghampirinya.
"Apakah Siauya sudah mempunyai kenalan di sini?"
Sapanya.
"Belum,"
Sahut pemuda itu.
"Kalau tidak keberatan, Siaute boleh memperkenalkan seorang untuk Siauya, jamin Siauya senang dan puas,"
Kata penyambut tamu tersebut. Orang yang bekerja dalam bidang ini, paling pandai mengambil hati, Dia juga pandai merayu para tamu agar tertarik dengan perempuan yang ada di tempat hiburannya.
"Siau jui bisa diajak bercakap-cakap tentang apa saja. Orangnya riang dan cerdas. Biasa disebut Khui sim ko oleh para tamu yang datang, (Khui sim ko artinya buah gembira), yang dimaksudkan adalah sifatnya yang periang dan dapat menggembirakan hati siapa saja, Siau hun agak montok, dia diberi gelar Man cheng hui yang berarti Seluruh ranjang terbang, kata-kata yang menggidikkan bagi orang yang sopan dan tidak pernah menginjak tempat seperti itu.Ada lagi satu gadis yang cantik dan menawan, namanya Siau mo tho. .ih! sebelumnya siaute perlu mengingatkan begitu menariknya perempuan ini sehingga bisa membuat kaum pria mati gemas,"
Kata penyambut tamu itu mempromosikan dagangannya.
"Siapa bunga yang tercantik di Kui lau (rumah hiburan) ini?"
Tanya pemuda beralis tebal itu.
"Rupanya Siauya sudah sangat berpengalaman tidak mau memakan daun layu, hanya mau yang segar. Ada... ada. Kalau sudah melihat, Siauya baru membuktikan bahwa siaute tidak berdusta, Mari.... siauya ikut siaute ke dalam,"
Kata penyambut tamu tersebut. Sampai di belakang gedung itu, si penyambut tamu melongok ke dalam sekejap. Dia menunjuk ke arah sebuah kamar yang tertutup rapat.
"Gadis yang siaute katakan sedang menemani tamu,"
Katanya menerangkan kepada pemuda tersebut, namun wajahnya menampilkan senyum berarti ketika tamu itu menyelipkan uang sebanyak duapuluh tail di tangannya.
Di kota sekecil ini, mau mendapatkan tamu yang begitu royal sungguh sulit ditemukan.
Seorang perempuan tua yang bertindak sebagai comblang keluar dari ruangan dalam dengan diiringi dua orang budak.
Di belakang mereka ada seorang gadis yang melangkah dengan gemulai dan wajah tersipu-sipu, Meskipun bukan seorang perempuan yang cantik sekali, tapi memang sudah termasuk lumayan, Paling tidak, terlihat bahwa perempuan itu pernah mengenyam beberapa tahun pendidikan.
Kalau tidak, bagaimana mungkin menjadi bunga di rumah hiburan ini?
"Siauya...
perempuan ini adalah salah seorang yang terlaris di sini, ia sangat pandai menghibur bahkan bisa bernyanyi dengan menari sekaligus.
jangan sampai siauya mengecewakannya,"
Kata mak comblang itu.
"Rupanya kembang di rumah hiburan ini,"
Sahut tamu tersebut.
"Apakah Khek kuan hendak bermalam atau mau khui pua?"
Di daerah Utara mereka memakai istilah khui pua (membuka piring) yang artinya hanya sekali pakai saja dan tidak menginap.
juga boleh menemani bercakap-cakap dan menyanyi untuk menghibur sang tamu dihitung dari lamanya waktu.
"Aku sedang kesal. Lebih baik menemani aku bercakap-cakap saja lebih dahulu, nanti baru kita rundingkan lagi kalau sudah cocok,"
Sahut tamu itu.
Betapa sebuah pengalaman yang mendelu arkan?
pemuda beralis tebal itu ternyata Siau kiong cu adanya, Maksud hati manusia sungguh sulit diduga, Dia menyamar sebagai seorang laki-laki dan berkunjung ke tempat hiburan seperti ini, tentunya dengan maksud yang tidak mudah diraba.
Dia tidak seperti Chow Ai Giok yang dalam kekecewaan melakukan hal yang merugikan diri sendiri.
Bahkan perempuan itu mungkin hampir tidak percaya apa yang dilakukannya, Di dalam hati Lu ji, sejak dilepaskan oleh Lian lian sudah mempunyai rencana tertentu, Hanya saja, saat ini rencananya baru dapat dilaksanakan Kembang rumah hiburan itu bernama Siau lok.
Tubuhnya tidak seperti para perempuan penghibur yang lain, Kebanyakan tubuh mereka sudah gembur dan kendor.
Yang satu ini masih kencang dan menawan, Seperti seorang gadis keluarga baik-baik.Pada umumnya, tulang dan tubuh seorang perempuan tidak boleh terlalu enteng tetapi juga tidak boleh terlalu berat, Kalau dibayangkan sungguh sulit menjadi perempuan di masa itu, Semua yang dilakukan oleh perempuan pada zaman itu ada peraturannya.
Begini tidak, begitu tidak boleh.
"Apakah kongcu bukan penduduk setempat?"
Tanya Siau lok.
"Bukan."
Sahut Siau kiong cu.
"Dan kongcu juga datang untuk tidur dengan seorang perempuan hanya sebagai alasannya saja bukan?"
Tanya Siau lok kembali.
"Apa maksudmu?"
"Karena kau satu jenis dengan aku,"
Sahut Siau lok sambil tertawa terkekeh-kekeh.Siau kiong cu tersipu malu.
"Rupanya kau sudah tahu kalau aku seorang gadis yang menyamar,"
Katanya.
"Perempuan memang tidak ada setitik pun mirip dengan laki-laki. Kita kan sesama perempuan, tentu lebih mudah mengenali,"
Sahut Siau lok.
"Pandanganmu sungguh tajam. Coba kau terka, perempuan macam apa aku ini?"
Tanya Lu ji.
"Kau tentunya gadis kaum bangsawan atau paling tidak keluarga terkemuka, pasti tidak sama dengan kami yang berleburan debu,"
Sahut Siau lok.
"Begitu yakin?"
Tanya Lu ji tersenyum "Kami sudah melihat berbagai macam manusia di dunia ini, Apalagi kami memang terlahir dalam keluarga tidak mampu dan kekurangan.
Kami paling kagum melihat putri bangsawan atau keluarga kerajaan.
Kami sering memperhatikan segala tindak tanduk dan kelakuan mereka, Kalau bisa, kami ingin menirunya semirip mungkin.
Kadang-kadang, para cici di sini suka mengejek.Kata mereka "Toh sama-sama perempuan, apa yang harus disombongkan?"
Sebetulnya, biar bagaimana pun tidak dapat di-samakan. Seorang perempuan yang berlumur debu seperti kami kalau melangkah di tengah jalan, siapapun akan mengenali,"
Kata Siau lok.
"Aku lihat cici ini juga bukan dari keluarga sembarangan pasti pernah mengenyam sekolah yang cukup lama,"
Kata Siau kiong cu.
Perempuan penghibur itu tiba-tiba menarik nafas panjang.Perempuan yang pekerjaannya menghibur laki-laki paling pandai mengarang cerita bohong.
pertama untuk menutupi rasa rendah diri mereka, kedua supaya tamu yang mendengar merasa kasihan kepada mereka, Tetapi, Siau kiong cu tahu kalau Siau lok tidak berbohong.Orang tuanya sudah sejak lama meninggal siok-siok (paman) nya merampas harta benda keluarga mereka, Tidak lama kemudian Piauko (kakak misan) nya yang pengangguran dengan sembunyi-sembunyi menjualnya ke sebuah rumah hiburan.
"Moaycu, kau datang ke tempat seperti ini dengan maksud apa?"
Tanya Siau lok.
"Cici, aku ingin memohon nasihatmu,"
Sahut Lu ji.
"Bagaimana aku berani memberi nasihat untukmu?"
Tanya Siau lok.
"Cici,tidak usah rendah diri, Sudah berapa lama cici berada di tempat ini?"
"Tiga tahun lebih, tapi aku belum pernah menjajakan diri, Palingpaling hanya menemani minum dan bersyair, Pada mulanya aku hampir saja membunuh diri karena peristiwa ini,"
Sahut Siau lok.
"Aku percaya, Cici, mohon tanya, bagaimana baru bisa mencengkeram hati seorang laki-laki?"
Tanya Siau kiong cu.Rupanya itulah maksud kedatangannya.
Perempuan penghibur itu seakan sedang diujinya, Laki-laki terdiri dari banyak jenis, Hubungan antara laki-laki perempuan juga bermacam-macam.Siau lok tertawa merdu.
"Rupanya maksud Moi moi datang kemari untuk urusan ini?"
Lu ji menganggukkan kepalanya dengan wajah merah padam.
"Moi moi seharusnya menerangkan lebih jelas, Lagipula aku kurang berpengalaman dalam hal yang satu ini,"
Kata Siau lok sambil tersenyum.
"Cici terlalu sungkan,"
Siau kiong cu lalu menceritakan semua pengalaman yang dialaminya.
Bagaimana dia bertemu dengan Kwe Po Giok.
Juga ketika ayahnya yang tercinta mati dibunuh oleh seorang musuh sampai dia tertawan di tangan Lian lian.
Sebetulnya dia tidak mempunyai janji apa-apa dengan Kwe Po Giok, almarhum ayahnya juga tidak meminta mereka mengikat diri, Namun dia tahu, di dalam hati orang tua itu merasa bahwa kedua remaja itu saling tertarik, juga menganggap mereka pasangan yang serasi.
Akhir-akhir ini dia sering merenung kisah asmaranya dengan pemuda itu.
Apalagi ketika dirinya dikurung di ruangan bawah tanah oleh Lian-lian.
Dia memang mempunyai banyak waktu untuk berpikir.
Dia merasa Kwe Po Giok terlalu membanggakan dirinya sebagai Sin tong.
Dia sering mengucapkan kata-kata itu di hadapannya, Nada suaranya membawa kesan sombong.
sebetulnya sebuah pujian seharusnya keluar dari mulut orang lain bukan dari mulut sendiri.
Siau kiong cu juga merasa, entah benar tidak Kwe Po Giok sudah dipanggil Sin tong sejak usia tiga tahun, tapi apa yang dilihatnya sekarang sama sekali jauh dari kenyataan.
Karena dia sudah menunjukkan seluruh kiam sut dari rangkaian bunga, bahkan dia mengulangi berkali-kali, tetapi yang paling sederhana saja sulit dicernanya.
Sebaliknya, dia merasa Sun Put Ge diam-diam menyimpan pengertian yang dalam, rendah diri, hatinya lembut, daya tangkapnya akan suatu pelajaran sungguh mengejutkan.
Secara sembunyi-sembunyi, dia pernah melihat Sun Put Ce dan Bwe Mei mendiskusikan ilmu peninggalan Tang hay sin sian, Pengertiannya sudah hampir mencapai ayahnya, hanya prakteknya yang belum lancar.
sedangkan Kwe Po Giok yang mendapat bimbingan langsung belum mencapai taraf tersebut.
Kebanyakan, kaum perempuan lebih menyukai laki-laki yang penampilannya biasa-biasa saja, namun menyimpan kecerdasan di dalam, Bukan tong kosong yang hanya nyaring bunyinya, Tentu saja, perempuan juga tidak akan menyukai laki-laki yang benarbenar bodoh.
Sun Put Ce benar-benar merupakan teladan bagi kaum laki-laki yang bijaksana, Dia sebetulnya cocok sebagai pemimpin dunia, Hanya saja dia terlalu rendah diri, perhatiannya besar terhadap siapa saja, ia lebih menitik beratkan budi daripada dendam.
Oleh karena itu, meskipun dia tidak termasuk laki-laki berwajah tampan seperti Kwe Po Giok ataupun Kiau Bu Suang, tapi perempuan yang menggandrunginya lebih banyak dari kedua orang yang disebut pertama.
Dan yang paling penting bukan itu saja, dia mempunyai rasa hormat yang tinggi kepada orang yang lebih tua, kepada orang yang berusia sebaya dan terlebih-lebih besarnya rasa setia kepada kekasih hati.
Untuk kebenaran, dia tidak ragu-ragu menelan semua kepahitan, mengorbankan diri sendiri, lagi pula tidak terburu-buru mengambil keputusan seperti Mo Put Chi.
Laki-laki semacam dia seperti sepotong batu kumala yang belum digosok.
Lambat laun orang akan mengetahui bahwa dia adalah sesuatu yang berharga, Namun Siau kiong cu toh mengetahuinya lebih dini, Bukan dia saja, juga Bwe Mei dan Chow Ai Giok.
Sayangnya, dia terlambat satu langkah dari Bwe Mei.
Tetapi dia memiliki rasa percaya diri yang tebal.
Baik status diri, kecantikan dan kecerdasan otaknya.
Dia percaya sekali kepada dirinya sendiri.
Dia tidak menganggap dirinya bersalah apabila mengejar laki-laki yang diingininya selama laki-laki itu belum mengikat janji ataupun terikat secara resmi, Karena bila hal itu berhasil, dia bukan hanya memenuhi kepuasan hatinya sendiri, tetapi juga membuat laki-laki itu menjadi seorang yang berilmu tinggi, sehingga dapat membalaskan sakit hati para jago Tionggoan yang telah gugur..Siau lok sudah mendengar kisah cinta kasih antara Sun Put Ce dan Bwe Mei yang berliku-liku, wajahnya terlihat murung, Hatinya merasa apa yang diharapkan Siau kiong cu terlalu berat untuk dapat terlaksana.
"Moi moi. Kalau aku menjadi dirimu. Aku pasti tidak akan meneruskan niat ini,"
Katanya.
"Cici. Nyatanya kau memang bukan aku,"
Sahut Lu ji.
"Tetapi... kalau kau memang bertekad meneruskan niat ini, mungkin memang ada hasilnya, namun Moi moi harus menyadari, menyakiti orang lain kadang-kadang sama juga dengan menyakiti diri sendiri. Paling tidak, akibatnya akan seperti itu,"
Kata Siau lok sambil menarik nafas panjang. Perempuan itu memang bukan seperti perempuan penghibur lainnya.
"Cici, urusan yang lain kau tidak usah terlalu pusingkan, engkau hanya perlu memberitahukan kepadaku bagaimana caranya mendapatkan laki-laki itu,"
Sahut Siau kiong cu.
"Bunuh saja Bwe kouwnio itu,"
Kata Siau lok.
"Bagaimana kau bisa memberikan nasehat sejahat itu?"
Tanya Siau kiong cu.
"Apakah kau kira bila tidak membunuh Bwe kouwnio itu, kau akan mendapatkan laki-lakinya?"
Kata Siau lok.
"Aku justru mengharap nasehat yang tidak mencelakai gadis tersebut,"
Sahut Siau kiong cu.
"Aih...."
Siau lok menarik nafas kembali "Sebetulnya kau bunuh atau tidak, sama saja. Setelah laki-laki itu direbut olehmu, apakah Bwe kouwnio bisa hidup lebih lama?"
Tanyanya.
"lni yang kau maksudkan membunuhnya?"
"Jika kau memecahkan hubungan kedua orang itu, dan pada akhirnya kau sendiri juga tidak mendapatkan apa-apa. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Tanya Siau lok. Kepala Siau kiong cu tertunduk mendengar ucapan tersebut.
"Moi moi aku bermaksud baik. Kau jangan salah sangka, Laki-laki di dunia ini sangat banyak, memaksakan diri untuk mendapatkan yang satu itu hanya akan membuat diri Moi moi menderita,"
Kata Siau lok menasehati.
"Apakah perempuan macam dirimu juga ada perasaan?"
Tanya Siau kiong cu dengan suara ketus, Tatapan matanya tajam sekali.
Dia sendiri tidak pernah menyangka kalau dirinya dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Ketika dia meninggalkan rumah hiburan tersebut, Siau lok sama sekali tidak marah kepadanya, Dia malah berpesan kepadanya.
Apabila seorang perempuan ingin menguasai hati seorang laki-laki, menguasai dalam arti selamanya.
Hanya satu kata yang perlu di ingat.
"kejujuran". Tanpa kejujuran, dia tidak mungkin akan memperolehnya. Mereka berpisah di depan pintu kamar. Siau kiong cu berjanji, kalau urusannya dapat terselesaikan dengan sempurna, dia akan kembali lagi untuk menebus Siau lok agar terlepas dari lembah nista tersebut. -ooo0ooo-Fang Tiong Seng kembali berlatih ilmu pedang. Setelah berhasil membunuh Toa Tek To Hun, hatinya semakin tidak tenang, Dia merasa bahaya di sekitar dirinya semakin menebal. Sikap manusia di mana-mana sama saja. Ketika hati mereka ingin melakukan sesuatu, mereka akan melakukannya tanpa berpikir akibat yang timbul.Seakan bila semua sudah terlaksana maka hati pun akan puas, Kenyataannya tidak semua yang demikian, Kadangkadang kekecewaan yang timbul malah lebih besar dari sebelumnya. Sebetulnya, makin tinggi kedudukan seseorang, beban yang dipikulnyapun semakin berat. Malah adakalanya pikiran semakin banyak sehingga menjatuhkan diri sendiri.Bila seseorang memandang ke atas dari tempat yang rendah, hal itu sering menimbulkan perasaan pusing, karena tidak terbiasa, Tapi apabila memandang ke atas dari tempat yang cukup tinggi, maka tidak akan menimbulkan akibat apa-apa. Artinya, manusia lebih baik menurut apa yang sewajarnya harus dialami, jangan memaksa diri untuk suatu yang mustahil. Pada kentungan kedua lewat sedikit, Fang Tiong Seng baru mulai berlatih ilmu silatnya, Tiba-tiba ada seorang yang melayang datang dengan selembar daun kering sebagai alas. Suara yang diterbitkan dari luncurannya memekakkan telinga, Fang Tiong Seng memperhatikan orang tersebut.
"Cayhe rasanya tidak mengenal..."
"Aku mengenalmu sudah cukup,"
Sahut orang yang baru datang itu. Orang itu berwajah persegi matanya sipit. penampilannya seperti orang yang sedang murung hatinya.
"Tempat ini adalah taman bagian belakang dari Jin gi san cuang,"
Kata Fang Tiong Seng mengingatkan.
"Jin Gi san cuang adalah kekayaan alam Bulim, Tidak dapat dikatakan milikmu seorang,"
Sahut orang itu. Fang Tiong Seng tertawa.
"Cayhe ingin tahu maksud perkataan saudara,"
Katanya.
"Fang Tiong Seng.... selamanya menutupi kejahatan dengan berlagak mulia. Setiap perbuatan busukmu dilakukan dengan rapi. Setiap tahun kau pasti pergi ke tempat yang jauh. Dan kalau kembali pasti saku terisi penuh, Apa yang kau lakukan kau anggap tidak ada yang tahu. Kau merampok, membakar rumah orang, Kejahatan yang kau lakukan sungguh tidak sedikit, harta yang kau dapatkan seluruhnya dari cara tidak benar, Apakah kau berani mengatakan Jin Gi san cuang ini dibangun dengan harta pribadimu?"
Tanya orang tersebut.
"Rupanya kau adalah seorang yang penuh perhatian,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Tidak perlu memujiku terlalu tinggi. Manusia she hua ini juga bukan orang baik-baik. Oleh sebab itu, aku dapat mengetahui dasarmu,"
Kata orang itu sambil tertawa lebar.
"Rupanya Co san tuan chang Huan can lei, Hua taihiap!"
Seru Fang Tiong Seng ikut memperlihatkan senyumnya.
"Fang Tiong Seng. Apa yang kukatakan tidak salah bukan?"
Tanya Hua can lei. Fang Tiong Seng tersenyum semakin lebar.
"Ada keperluan apa hua taihiap berkunjung?"
Tanyanya.
"Aku terdesak uang sebesar lima laksa tail. Aku harap kau dapat menyumbangnya untukku,"
Sahut Hua can lei.
"Boleh... jumlah kecil,"
Kata Fang Tiong Seng.
Hua can lei seumur hidupnya pernah mengalami tujuh kali kemalangan, Pertama ketika usianya tujuh tahun, Dia kehilangan ibunya, Sepuluh tahun, kehilangan ayahnya, Tigapuluh tahun, kehilangan istri.
Usia tigapuluh dua sampai tigapuluh enam anaknya yang empat orang mati berturut-turut, Oleh karena itu, nama aslinya yang Hua Cuan Fang diganti menjadi Hua can lei (Hua mengalirkan airmata) panggilan Co san tuan chang (pembelah usus dari gunung Co) disebabkan hal itu juga.
"Sejak Toa Tek To Hun datang ke Tionggoan dan membunuh sebagian besar jago kelas satu, Hanya kau seorang yang selamat dari serangannya. Aku sudah menduga kalau ada udang di balik batu,"
Sahut Hua can lei.
"Aku bersedia mendengar keterangan selanjutnya,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Pernah terdengar berita bahwa kedatangan Toa Tek To Hun adalah atas undanganmu. Kau ingin meminjam tangannya untuk melenyapkan sebagian besar jago yang mungkin akan menggoyahkan kedudukanmu,"
Sahut Hua can lei.
"Semakin bicara semakin kacau, Lalu kemana perginya Toa Tek To Hun sekarang? Mengapa dia bisa melepaskan jago kelas satu seperti Hua heng?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Karena cayhe tidak berada di Tionggoan,"
Sahut Hua can lei.
"Setahuku.... Asalkan orang yang namanya tertera dalam daftar Toa Tek To Hun, meskipun tidak berada di Tionggoan, tetap akan dicarinya sampai ketemu, Kecuali satu hal,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Kecuali satu hal apa?"
Tanya Hua can lei.
"Menyebarkan berita bahwa dirinya sudah mati atau mengarang cerita palsu seperti Kiau Bu Suang yang mengatakan dirinya Coa hue jit mo. Toa Tek To Hun tidak membunuh orang yang demikian,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Apakah cayhe menyebarkan berita bahwa cayhe cao hue jit mo?"
Tanya Hua can lei.
"Meskipun tidak menyiarkan berita seperti itu. Namun Hua heng menyembunyikan diri ke tempat yang susah dicapai Toa Tek To Hun tidak berhasil menemukan Hua heng,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Maksudmu, Aku sengaja menyembunyikan diri?"
Tanya Hua can lei.
"Aku merasa berat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, cayhe merasa kagum terhadap beberapa jago yang berani menghadapi Toa Tek To Hun, meskipun mereka harus mengorbankan diri,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Sayangnya cayhe terlambat satu langkah,"
Kata Hua can lei sambil tersenyum sinis.
"Apa maksud perkataan Hua heng itu?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Kalau Toa Tek To Hun masih ada di Tionggoan, cayhe mau bertarung dengannya,"
Sahut Hua can lei. Fang Tiong Seng tertawa dingin.
"Kalau Hua heng bersedia, boleh bertanding denganku saja,"
Katanya.
"Toa Tek To Hun pernah mengalahkanmu,"
Sahut Hua can 1ei.
"Justru karena dia pernah mengalahkan aku, maka aku mengajukan pertandingan ini, seandainya Hua heng bisa mengalahkan aku, baru pantas menantang Toa Tek To Hun,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Manusia she Hua bersedia menerima,"
Sahutnya.
Kedua orang itu berdiri berhadapan, pedang masing-masing telah tergenggam di tangan, Kalau diurut dari tingkatan, nama Hua can lei masih berada di atas Fang Tiong Seng.
Namun Fang Tiong Seng adalah satu-satunya lawan yang dapat lolos dari ancaman pedang Toa Tek To Hun.
Ketika mata mereka bertemu, pedang masing-masing juga dihunus dalam waktu yang bersamaan.
Sinar-sinar berpijaran bagai bunga api.
Kedua orang itu saling menyerang sebanyak lima kali, namun lima kali serangan itu berbaur menjadi satu.
Pada serangan keenam, salah satu pedang tersebut telah masuk kembali ke dalam sarungnya.
Kelebatan cahaya dari pedang telah sirna.
Pedang telah disimpan kembali, Orang yang pedangnya belum ditarik kembali menatap lawannya dengan hati kecut.
Kedua tangannya terkulai ke bawah.
Darah mengucur deras dari kening.
Kedua matanya terbelalak, seakan tidak mempercayai apa yang dialaminya.
Apa yang dialirkan oleh Hua can lei bukan air mata lagi, namun darah segar.
Ada sekelumit manusia yang berlatih pedang separuh hidupnya, namun ketika bertarung dengan lawan, toh dia hanya menyerang seadanya.
Tanpa sempat memilih tempat kematian bagi lawannya itu.
Ketika Toa Tek To Hun merajalela, dia menyembunyikan diri, Setelah jejak orang itu tidak menentu, entah dia muncul dari mana.
Satu hal lagi yang tidak dapat dimaafkan dia sudah tahu kalau kedatangan Toa Tek To Hun adalah atas undangan Fang Tiong Seng.
Toh, dia masih berani memeras Fang Tiong Seng sebanyak lima laksa tail, Lima laksa tail memang kecil bagi Fang Tiong Seng, Namun, bagi orang semacam dia, pasti tidak akan mengeluarkan uang dalam keadaan seperti itu.
Sebelumnya, Hua can lei seharusnya sudah memikirkan hal itu.
Fang Tiong Seng bukan orang yang suka diancam, jika dia memintanya secara baik-baik, mungkin akhir ceritanya tidak akan seperti ini.
Tetapi, orang yang sudah mati kan tidak bisa hidup kembali?
Jilid 16 Bagian Dua Puluh Satu Sun Put Ce setiap hari berkumpul bersama Bwe Mei.
Dia mereka berlatih tanpa mengenal lelah, Hubungan mereka pun semakin dalam.Sedangkan Mo Put Chi juga berubah menjadi orang baru setelah berkenalan dengan Lian hu.
Bila dulu dia hanya makan dua mangkok nasi sehari tiga kali, sekarang bertambah menjadi empat mangkok, wajahnya selalu dipenuhi senyuman, Dia tampaknya jauh lebih riang daripada ketika Hu Put Chiu masih hidup.
Sun Put Ce mengingatkannya agar memberitahu Lian hu supaya hubungan mereka jangan dilaporkan kepada sang suci, Lian hu mengatakan bahwa saat ini dia masih belum ingin bertemu dengan Lian-lian.
Dia juga memberitahu Mo Put Chi maksud kedatangannya.
Rupanya dia menerima perintah dari suhunya untuk menyelidiki tindak tanduk Lian lian, Mereka berasal dari perguruan Lam hai (Lautan Selatan).
Mo Put Chi semakin kagum terhadap sutenya.
Kalau bukan Sun Put Ce yang membuka jalan, mungkin seumur hidupnya dia tidak pernah mempunyai keberanian untuk mendekati seorang perempuan.
Hari ini Mo Put Chi dan Sun Put Ce keluar rumah.
Tidak lama kemudian mereka berpencar diri, Tanpa disangka-sangka, Sun Put Ce bertemu dengan Siau kiong cu.
Dia mengira pertemuan itu hanya kebetulan saja.
Siapa tahu, dalam hal ini perempuan paling pandai memainkan peran perangkap tikus, Tentu saja laki-laki yang menjadi tikusnya, Meskipun perangkap itu adalah sebuah benda mati, tapi tikusnya adalah makhluk hidup.
"Siau kiong cu, kau sudah terlepas dari cengkeraman Lian lian?"
Tanya Sun Put Ce dengan nada gembira.
"Betul, Sun Toako,"
Sahut Lu ji.
"Apakah kau sudah bertemu dengan Siau Kwe?"
Tanya Sun Put Ce kembali.
"Tidak, Apakah kau sendiri pernah bertemu dengannya?"
Gadis itu membalikkan pertanyaan Sun Put Ce.
"Beberapa hari yang lalu, Bukankah dia menerima surat darimu dan berjanji untuk bertemu denganmu di Coa kok?"
Tanya Sun Put Ce. Siau kiong cu terpana.
"Tidak pernah ada kejadian seperti itu. Aku tidak pernah menulis surat kepadanya,"
Sahutnya.
"Celaka! Kwe Po Giok pasti ditipu oleh Lian lian, Siau kiong cu.... Bagaimana kau dapat terlepas dari tangannya?"
Tanya Sun Put Ce.
"Dia meminta aku mengajarkan Kiam sut rangkaian bunga. Terang-terangan dia tahu bahwa aku tidak mungkin menjelaskan semuanya,"
Kata Siau kiong cu.
"Tentu saja,"
Sahut Sun Put Ce.
"Betul, Dia menggunakan kebaikan palsu untuk melunakkan hatiku. Tentunya dengan harapan aku akan tergerak dan menjelaskan semuanya. Dia juga mengarang sebuah cerita bohong bahwa orang yang bekerja sama dengannya menaruh perhatian terhadapku, dengan demikian dia takut kalau diriku akan ternoda dan untuk menunjukkan kebaikan hatinya, dia melepaskan diriku,"
Kata Siau kiong cu.
"Dia benar-benar melepaskan dirimu?"
Tanya Sun Put Ce.
"Betul Tapi, aku tahu dia tentu mengikutiku secara diam-diam,"
Kata Siau kiong cu.
"Lalu bagaimana kau terlepas dari kuntitannya, padahal kau tidak bisa ilmu silat?"
Tanya Sun Put Ce.
"Meskipun aku tidak bisa ilmu silat, namun aku paham sekali sifat air. Dia tentu tidak menduganya,"
Kata Siau kiong cu.
"Kau melarikan diri lewat jalan air?"
Tanya Sun Put Ce. Suaranya seakan kagum sekali.
"Di daerah pegunungan itu ada sebuah air terjun yang deras, Mereka tentu tidak mengira kalau aku akan mengambil jalan yang berbahaya itu,"
Kata Siau kiong cu menjelaskan.
"Hal ini sebetulnya tidak mengherankan Kau dibesarkan di tengah lautan, tentu paham sekali ilmu dalam air. Siau kiong cu.... Di mana kau tinggal sekarang?"
Tanya Sun Put Ce.
"Aku juga tidak tahu harus tinggal di mana,"
Sahut Siau kiong cu.
"Siau kiong cu kalau tidak keberatan Untuk sementara boleh tinggal dengan Bwe kouwnio, Kalian bisa saling melindungi. Bukankah tidak ada hal lain yang lebih bagus lagi?"
Kata Sun Put Ce.
"Sun Toako.... Aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku ingin menyewa sebuah rumah sendiri,"
Sahut Siau kiong cu.
"Baiklah, Aku akan mencari secepat mungkin,"
Kata Sun Put Ce.
Sun Put Ce memang banyak mengenal penduduk kota itu, Dia sangat pandai bergaul penduduk setempat sangat menyukainya, Tidak lama kemudian dia sudah berhasil mencari sebuah pondokan untuk gadis itu.
Siau kiong cu langsung pindah hari itu juga.
"Sun Toako.... Setelah kejadian ini, aku ingin mewariskan semua ilmu peninggalan ayah kepada orang yang sesuai,"
Katanya.
"Memang sudah seharusnya begitu,"
Sahut Sun Put Ce menyetujui.
"Aku merasa Sun Toako merupakan pilihan yang tepat,"
Kata Siau kiong cu kembali.
"Aku? Tidak.... Tidak bisa,"
Sahut Sun Put Ce gugup.
"Betul. Tidak ada orang yang lebih sesuai daripada Sun Toako,"
Kata Siau kiong cu tegas. Sun Put Ce termangu-mangu.
"Mengapa Siau kiong cu tahu kalau aku sanggup mempelajari ilmu itu?"
Tanyanya.
"Aku tahu. Kau pernah menyaksikan aku merangkai bunga beberapa kali, Daya tangkapmu sungguh cepat, Dalam waktu yang hanya beberapa kali saja kau sudah mengerti maknanya yang dalam,"
Sahut Siau kiong cu.
"Tetapi, Siau Kwe adalah Sin tong. Yang dipelajarinya lebih banyak dari aku. Dia baru...."
Siau kiong cu menggelengkan kepala menukas perkataan Sun Put Ce.
"Aku sudah mengajarkan semua ilmu pedang rangkaian bunga itu kepadanya, tapi yang paling sederhana pun tidak bisa diterimanya dengan cepat,"
Katanya.
"Mengapa?"
Tanya Sun Put Ce.
"Mungkin karena dia terlalu membanggakan dirinya sendiri,"
Sahut Siau kiong cu. Sun Put Ce terpana. Ternyata ada juga hal yang tidak dapat dipelajari oleh Sin tong. Tadinya dia mengira tidak ada hal yang tidak dapat dilakukan oleh Sin tong.
"Karena aku takut ada orang jahat yang mengincar diriku, lebih baik aku cepat-cepat mewariskannya kepada orang yang pantas menerimanya,"
Kata Siau kiong cu selanjutnya, Sun Put Ce berusaha menolak.
"Siau kiong cu.... Aku rasa tidak ada orang yang lebih sesuai daripada Siau Kwe,"
Sahutnya.
"Tetapi saat ini, entah dia ada di mana. sedangkan waktu tidak memungkinkan lagi untuk menunda,"
Kata Siau kiong cu. Sun Put Ce tiba-tiba merasa, bahwa keselamatan dan keadaan Kwe Po Giok sekarang tidak terlalu menjadi perhatian Siau kiong cu. Dia benar-benar tidak mengetahui apa alasannya.
"Siau kiong cu.... Kalau kau masih ingin meminum arak, aku rasanya tidak sanggup lagi, Harap maafkan,"
Katanya. Siau kiong cu tidak memperdulikan kata-kata itu.
"Sebelum ayahku pergi, dia pernah mengatakan kepadaku, Sun Toako merupakan orang yang dapat diandalkan Mungkin beliau sudah menyiratkan bahwa dirinya tidak melarang bila aku meninggalkan ilmu pedang ini kepadamu. sayangnya ayah tidak sempat mengenalmu lebih lama,"
Sahut Siau kiong cu.
"Siau kiong cu.... Aku tetap menganggap Siau Kwe lebih pantas menerimanya,"
Kata Sun Put Ce berkeras.
"Sun Toako,... Apakah kau menganggap Kiam hoat ayah tidak cukup tinggi?"
Tanya Siau kiong cu.
"Tidak.... Tentu tidak!"
Sahut Sun Put Ce gelagapan.
"Nah.... Apa yang kau tunggu lagi? Tidakkah kau lihat bahaya yang semakin mengancam Bulim sekarang?"
Kata Siau kiong cu. Sun Put Ce tidak sanggup memberi jawaban.
"Baik. Kita mulai sekarang, Aku harap Sun Toako datang setiap hari, Aku akan merangkai bunga di depan Toako, Tentu Siau Kwe, aku harap Sun Toako juga membantu mencarinya,"
Kata Siau kiong cu kembali "Ketika dikurung oleh Lian lian tempo hari, apakah Siau kiong cu masih mengingat di mana tempatnya?"
Tanya Sun Put Ce.
"Tampaknya seperti sebuah biara,"
Sahut Siau kiong cu. Sun Put Ce merenung sesaat.
"Mungkinkah Cui goat si?"
Tanyanya.
"Kemungkinan besar betul, Tadinya ada Toa pei su thay dan dua orang nikouw yang menetap di sana. Toa pei su thay adalah kepala biara tersebut Namun belakangan, mereka tidak terlihat lagi. Aku selalu merasa bahwa keadaan mereka lebih banyak bahaya dari pada selamatnya,"
Sahut Siau kiong cu.
Sebetulnya, yang paling dikhawatirkan Siau kiong cu memang masalah ilmu pedang ayahnya yang belum mendapatkan ahli waris yang sesuai.
***** Yang dipelajari oleh Sun Put Ce dan Bwe Mei memang ilmu pedang peninggalan Tang hay sin sian.
Tapi dia tidak memberitahukan kepada Siau kiong cu.
Siau kiong cu merangkai sejambangan bunga untuk diperlihatkan kepada Sun Put Ce.
Dengan cepat laki-laki itu dapat memahaminya, Tetapi pikirannya terus tertuju kepada Bwe Mei.
Dia menjelaskan apa yang dipahaminya dengan tergesa-gesa, Tentu saja Siau kiong cu mengerti isi hatinya.
Gadis itu pernah memamerkan keindahan tubuhnya agar dilihat oleh Kwe Po Giok.
Mengapa sekarang dia berubah haluan?
Bukankah dia dapat dianggap gadis yang begitu mudah berubah hatinya dan tidak setia?
Sebetulnya, Siau kiong cu juga dapat dikatakan seorang Sin tong.
Dia dapat merasakan kalau Kwe Po Giok dapat terpincut oleh kecantikan dan kegenitan Lian lian, pandangannya terhadap perempuan itu tempo hari, menyiratkan gairah dan harapan.
Kwe Po Giok tidak pernah memandangnya dengan tatapan seperti itu, Dia mengatakan bahwa dirinya tidak memandang dengan tatapan seperti itu karena menghormatinya, Tapi Siau kiong cu tidak menganggap demikian.
Pengetahuan dan usianya tidak dapat di-samakan, Dia tahu, biar bagaimana pun rasa hormat seseorang terhadap kekasih-nya, namun hubungan antara laki-laki dan perempuan memang tidak terlepas dari gairah dan nafsu.
Sebaliknya, dia merasa dirinya mempunyai kekurangan sehingga perasaan Kwe Po Giok kepadanya menjadi tidak menggebu-gebu.
Dapat juga dikatakan bahwa antara laki-laki dan laki-laki lainnya bisa ada persahabatan tapi antara laki-laki dan perempuan tidak mungkin, Yang ada hanya rasa cinta atau benci.
Dan itu berarti kalau hubungan antara laki-laki dan perempuan sudah mencapai taraf tertentu, pasti akan terjalin hubungan batin yang dalam.
Meskipun Sin tong, pada saat kedewasaannya sudah sampai, pasti akan mempunyai keinginan dan kebutuhan yang sama.
Sun Put Ce menceritakan kejadian itu kepada Bwe Mei.
"Siau kiong cu ingin mewariskan ilmu pedang peninggalan Tang hay sin sian kepadamu, hal ini membuktikan bahwa dia sudah mengenal sifatmu benar-benar,"
Kata Bwe Mei datar.
"Bwe Mei.... Kata-katamu ini seakan lebih membela dirinya,"
Sahut Sun Put Ce.
"Apakah ucapanku salah?"
Tanya Bwe Mei.
"Apakah aku terhitung seorang pendekar?"
"Kalau kau tidak berjiwa pendekar, mungkinkah pilihan Bok lang kun jatuh pada dirimu?"
Tanya Bwe Mei.
"Bwe Mei.... jangan terlalu besar hati,"
Sahut Sun Put Ce.
"Bagaimana mungkin? Hanya saja, mendengar nada suaramu, rasanya rasa kepercayaan Siau kiong cu terhadap Kwe Po Giok sudah hilang sebagian,"
Kata Bwe Mei.
"Siau Kwe juga tidak dapat disalahkan. Usianya masih terlalu muda. Perasaan ingin main-mainnya masih kuat. Dia belum cukup serius menangani sesuatu hal,"
Sahut Sun Put Ce.
"Mungkin ini juga penyebab Siau kiong cu tidak yakin terhadap dirinya, Apalagi Lian lian justru berhasil menculik Siau kiong cu lewat tangannya,"
Kata Bwe Mei.
"Apakah kau anggap hanya karena hal ini maka Siau kiong cu kehilangan kepercayaan kepada Siau Kwe?"
Tanya Sun Put Ce. Bwe Mei tersenyum-senyum.
"Mungkin kepercayaannya, beralih kepadamu,"
Sahutnya.
"Bwe Mei.... Kau terlalu curiga,"
Kata Sun Put Ce.
"Aku hanya bergurau, Siapa suruh kau menanggapi secara serius?"
Sahut Bwe Mei.
Bwe Mei masuk ke dapur untuk mempersiapkan makanan, Sun Put Ce tahu, meskipun gadis itu menyangkal tapi dalam hatinya memang ada sedikit kecurigaan.
Sun Put Ce mengajarkan apa yang dipelajarinya dari Siau kiong cu kepada Bwe Mei.
Lian lian ternyata jauh lebih jalang dari dayang Cui thian, Perempuan seperti dia, persis seperti para gundikdi Istana Raja, Biarpun laki-laki macam apa yang berhasil digaetnya, tentu akan diajaknya berbuat mesum.
Yang penting laki-laki.
Baik tua ataupun muda.
Sejak bertemu Kwe Po Giok untuk pertama kalinya.
Dia sudah merasa kalau pemuda itu sudah cukup dewasa, Dia tahu, perempuan yang diinginkan Kwe Po Giok bukan sejenis Siau kiong cu yang lemah lembut.
Dia menginginkan seorang perempuan yang dapat membuat hatinya berdebar-debar, yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri dan membuat hatinya tegang.
Kwe Po Giok telah terjatuh dalam pelukan Lian lian, Begundalnya sendiri sudah dapat melihat dengan jelas.
"Asalkan kau berhasil memancing ilmu pedang Tang hay sin sian dari dirinya, aku tidak melarang kau mempergunakan siasat apa pun,"
Katanya.
Lian lian mana mungkin tidak mengerti apa maksudnya?
Oleh sebab itu, Lian lian hari ini mengajak Kwe Po Giok minum arak berdua, Dia sengaja mengenakan pakaian yang tembus pandang.
Yang terlihat jelas justru bagian dada dan sela-sela pahanya.
Apa yang paling senang dinikmati pemuda itu memang bagian tersebut Lian lian merasa bangga terhadap dirinya.
Dia yakin Kwe Po Giok sudah berada dalam cengkeramannya "Kwe siaute....
Aku tahu kau sangat menyukaiku,"
Katanya.
"Tidak salah,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Sebetulnya aku juga tertarik padamu,"
Kata Lian lian.
"Sayang sekali usia kita terpaut jauh,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Usia tidak menjadi soal. Di dunia ini banyak sekali laki-laki tua beristri muda. Begitu juga sebaliknya, Yang penting sama-sama suka,"
Kata Lian lian sambil tersenyum manis. Dia sengaja meliuk-liukkan pinggangnya dengan gaya memikat. Tampaknya dia ingin membuat Kwe Po Giok kesem-sem.
"Kau tidak takut dia akan cemburu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Dia siapa?"
Tanya Lian lian pura-pura tidak mengerti.
"Siapa lagi kalau bukan laki-lakimu,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Dia tidak berhak cemburu. Dia juga tidak berani mengatur kemauanku,"
Kata Lian lian.
"Kau bebas sekali,"
Hati Kwe Po Giok tergerak.
Api yang dikobarkan perempuan ini memang jauh lebih panas dari Siau kiong cu.
Kwe Po Giok ingin sekali mencobanya, Kenyataannya jarang sekali ada laki-laki yang sanggup menolak gairah yang dibangkitkan oleh Lian lian.
"Kau ingin bukan? Maka dari itu kau harus jujur terhadap cici,"
Kata Lian lian.
"Tentu, Apa yang ingin aku lakukan pasti akan segera dilakukan dengan baik,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kalau kau memberitahukan seluruh ilmu pedang peninggalan Tang hay sin sian, aku tentu tidak akan mengecewakan dirimu. Kapan saja kau menginginkannya, aku akan memberikan pada waktu itu juga,"
Kata Lian lian.
"Memberikan pada waktu itu juga?"
Tanya Kwe Po Giok yang tampaknya tertarik dengan tawaran tersebut.
"Tentu, Karena aku juga menyukaimu,"
Kata Lian lian.
"Di mana sebetulnya Siau kiong cu sekarang?"
Dia tetap tidak dapat melupakan Siau kiong cu.
"Sudah kulepaskan Benar-benar sudah kulepaskan,"
Sahut Lian lian.
"Baiklah, Aku percaya kata-katamu. Bila kau ingin mempelajari ilmu pedang peninggalan Tang hay sin sian, maka kau harus mempelajari sim hoatnya terlebih dahulu,"
Kata Kwe Po Giok.
"Sim hoat?"
Tanya Lian lian.
"Betul, Tanpa mempelajari sim hoatnya, untuk selamanya kau jangan harap dapat berlatih ilmu pedang tersebut,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kau akan mengajarkan sim hoatnya terlebih dahulu?"
Tanya Lian lian.
"Betul, Aku akan membacakan sebaris rahasianya, Kau coba-coba duduk sekitar satu kentungan, Kau lihat sendiri bagaimana reaksinya,"
Kata Kwe Po Giok dengan wajah serius.
"Kau sungguh-sungguh bisa mengajari aku?"
Tanya Lian lian. Kwe Po Giok menyapu tubuh Lian lian dengan sikap penuh gairah.
"Bukankah semua ini demi mendapatkan dirimu yang cantik?"
Sahutnya.
Lian lian tertawa dengan gaya mengundang, Dapat membuat seorang anak muda terbangkit birahinya, dia merasa sangat bangga, perempuan memang perempuan, Tapi daya tariknya berlainan, Kecerdasan otaknya juga tidak sama, Seperti juga seorang perempuan yang cantik, Ada yang dapat memanfaatkan kelebihannya, ada yang tidak berani.
Kwe Po Giok memberitahukan sekelumit rahasia sim hoat tersebut, Lian lian segera duduk bersila dan mengikuti ajarannya, Kwe Po Giok sendiri juga duduk bersila, Hanya saja tujuan mereka berbeda, Lian lian sedang memusatkan pikirannya mempelajari sim hoat Tang hay sin sian, sedangkan Kwe Po Giok sedang berusaha melepaskan totokan jalan darahnya.Sebab dia selalu yakin dirinya adalah Sin tong.
Dia memang tertarik dengan kegenitan perempuan itu, namun menyelamatkan diri lebih penting dari segalanya.
Kira-kira sepeminuman teh kemudian, dia telah berhasil melancarkan kembali jalan darah yang tertotok, Dia membuka mata dan memandang Lian lian, perempuan itu memang mempesona, Sampai sekarang, dia belum pernah bertemu dengan seorang perempuan yang mempunyai daya tarik demikian hebat perempuan yang dapat membuat seorang laki-laki enggan mengedipkan matanya.
Tanpa dapat menahan diri, dia mengulurkan tangan untuk menjamah.
Tiba-tiba dia terperanjat karena pada waktu yang bersamaan, Lian lian juga membuka matanya.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Tanyanya.
"Aku hanya ingin meraba,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Mengapa harus meraba?"
Tanya Lian lian.
"Aku hanya ingin membuktikan, apakah perasaan dalam khayalan dan kenyataan itu sama rasanya?"
Kata Kwe Po Giok.
"Siau Kwe.... Ternyata kau memang Sin tong."
"Sejak usia tiga tahun, orang sudah tahu kalau aku Sin tong,"
Sahut Kwe Po Giok tersenyum.
"Tetapi, Sin tong di dunia ini mungkin bukan hanya satu dua saja,"
Kata Lian lian.
"Apakah dirimu juga termasuk salah satu di antaranya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Meskipun aku tidak termasuk, namun aku mengerti sekali jiwa Sin tong,"
Kata Lian lian, Tiba-tiba dia mengulurkan tangan untuk menampar salah satu jalan darah penting di bagian dada Kwe Po Giok, Mungkin dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu sudah dapat mengeluarkan tenaga.
Dia terkejut sekali ketika telapak tangannya disambut oleh pemuda tersebut.
Pada saat yang sama, mereka bangkit.
"Blang!!!"
Pertemuan antara kedua telapak itu belum dapat memastikan kepandaian siapa yang lebih tinggi Karena di pihak Lian lian, memang tidak sungguh-sungguh ingin melukai Kwe Po Giok, sedangkan pemuda itu tidak menyangka adanya serangan tersebut.
Namun pada serangan kedua dan ketiga, Lian lian terdesak mundur sebanyak lima langkah.
Semuanya telah usai, impiannya seakan melayang jauh, Dia segera menarik diri.
Bukan Lian lian tidak berani bertanding kembali tapi dia juga merasa lebih baik mundur teratur.
Dia terpaksa melihat Kwe Po Giok menghilang dari hadapannya.
Dia menyalahkan dirinya sendiri.
Kalau saja dia tetap memejamkan mata dan membiarkan Kwe Po Giok menjamahnya.
Mungkin pemuda itu akan menunduk sepenuhnya.
Namun hal itu juga tidak berani dipastikan.
Karena Kwe Po Giok adalah seorang Sin tong sedangkan dirinya bukan.
Sun Put Ce merangkul sekumpulan bunga.
Dia memang tidak pandai merangkai bunga, namun dia amat menyukainya.
Siau kiong cu sering meminta dia membawa pulang bunga-bunga segar.
Dia sudah mempelajari cukup banyak dari rangkaian bunga Siau kiong cu.
Gadis itu pernah menyatakan bahwa daya tangkapnya lebih cepat dari Kwe Po Giok.
Sun Put Ce tidak tahu apakah dia menyukai Siau kiong cu.
Tapi dia tahu pasti dirinya sangat menghormati gadis itu.
Namun dia merasa perhatian dan kasih sayang Siau kiong cu terhadapnya semakin mendalami Dia sering memaksa Sun Put Ce melepaskan balutan luka di tangannya dan membersihkannya sendiri.
Kadang kala dia juga memasakkan makanan yang enak-enak.
Dan satu persoalan lagi yang membuat hatinya tidak tenang, Antara hitam dan putih bola mata Siau kiong cu, dia melihat secercah sinar yang tidak dimengertinya, Siau kiong cu sering mencuri pandang terhadapnya.
Sun Put Ce memang belum terlalu lama berdekatan dengan perempuan, namun pengetahuannya tentang lawan jenis itu sudah cukup mendalam.
Hatinya merasa tertekan Dia merasa dirinya turut bersalah kalau membiarkan perasaan itu tumbuh.
Meskipun tanpa maksud demikian pada mulanya.
Dengan serangkum bunga di tangan, dia mengetuk pintu rumah Siau kiong cu.
Gadis itu cepat-cepat membukakan dan menerima rangkuman bunga tersebut.
"Toako..."
Dia memanggil dengan suara merdu.
Tanpa sepengetahuan kedua orang itu, ada sepasang mata yang memandang dengan terbelalak.
Mata itu seperti sebuah koin besarnya, Mereka sudah masuk ke dalam.
Kwe Po Giok keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri pintu rumah itu.
Siau kiong cu yang dikenalnya sudah jauh berubah, Dulu dia pasti akan menundukkan kepala kalau dipandang oleh seorang laki-laki.
Mengapa dia menjadi demikian berani dan terbuka?
Kwe Po Giok merasa Siau kiong cu semakin lincah dan gairah hidupnya juga terlihat jelas.
Apa sebabnya?
Kwe Po Giok takut memikirkan dugaannya sendiri.
Dia menganggap Sun Put Ce bukan sahabat yang jujur, Oleh karena itu, dia belum mau mengunjukkan dirinya.
Dia melihat Siau kiong cu merangkai bunga di hadapan Sun Put Ce.
Dia juga melihat gadis itu membersihkan lukanya.
Kwe Po Giok yang mengintip dari balik kegelapan, semakin belingsatan, Hatinya gemas.
Semakin kesal hatinya, semakin tidak mau dia bertemu dengan Siau kiong cu.
Chow Ai Giok mondar mandir setiap hari.
Seekor anjing gila sudah cukup menakutkan.
Tampaknya dia lebih menakutkan daripada seekor anjing gila.
Sejak Kiau Bu Siang terbunuh, dia sudah berusaha menemui beberapa tabib terkenal Namun setiap tabib yang ditemuinya selalu mengatakan bahwa kandungannya sudah cukup besar sehingga berbahaya apabila digugurkan, pikirannya semakin kalut.
Dia membenci kaum laki-laki.
Dengan sendirinya, dia juga membenci benih dalam perutnya, Dia tidak sanggup meredakan kemarahan di hatinya.
Oleh sebab itu, di mana-mana dia menimbulkan bencana.
Hari ini, dia melihat Kwe Po Giok sedang mengetuk sebuah rumah penduduk di pinggiran kota, Dari dalam terdengar sahutan.
"Apakah Kwe Po Giok yang memanggil?"
"Betul,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kwe Siaute ada urusan apa?"
Tanya suara dari dalam rumah itu.
"Bwe kouwnio, Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu,"
Kata Kwe Po Giok kembali.
"Hal mengenai apa?"
Tanya suara dalam rumah itu sekali lagi.
"Mengenai Sun Toako dan Lu ji,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Masuklah!"
Hanya sekejap pintu itu terbuka lalu menutup kembali Mendengar nada suaranya saja, Chow Ai Giok sudah tahu kalau orang yang ada di dalam rumah tersebut adalah Bwe Mei.
Dia sama sekali tidak menyangka rumah penduduk yang dilewatinya setiap hari merupakan tempat tinggal gadis itu.
Pada saat itu, Kwe Po Giok sedang bercakap-cakap dengan Bwe Mei sambil minum teh, Dia tahu kalau dengan cara kekerasan, gadis itu pasti tidak akan mengatakan apa-apa.
"Bwe ci... mengapa sebelah tanganmu dapat terkutung?"
Tanyanya.
"Jangan diungkit kembali Siapa lagi kalau bukan Chow Ai Giok, perempuan busuk itu!"
Sahut Bwe Mei.
"Tidak tersangka.... Baru satu bulan berpisah ternyata sudah demikian banyak kemalangan yang terjadi,"
Kata Kwe Po Giok.
"Kemalangan apa lagi?"
Tanya Bwe Mei heran.
"Misalnya, aku pernah terjatuh kedalam cengkeraman Lian lian, sebelumnya Siau kiong cu juga mengalami hal yang sama,"
Kata Kwe Po Giok.
"Betul. Untung kalian mendapat kesempatan untuk meloloskan diri,"
Sahut Bwe Mei.
"Bwe ci... mengapa Lu ji tidak tinggal bersamasama denganmu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Dia takut mengganggu aku. Mungkin juga takut dirinya terganggu,"
Sahut Bwe Mei.
"Tahukah kau kalau Sun Toako ke tempatnya setiap hari?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Tahu,"
Sahut Bwe Mei.
"Tampaknya dia tidak takut terganggu oleh Sun Toako,"
Kata Kwe Po Giok sambil tersenyum sinis. Saat itu juga, Bwe Mei langsung dapat menebak maksud kedatangan pemuda tersebut.
"Kwe siaute,.,, Aku mempercayai mereka."
"Paling tidak, aku juga mempercayai Lu i ji,"
Sahut Kwe Po Giok. Mendengar kata-kata itu, dalam hati Bwe Mei timbul perasaan untuk membesarkan hati Sun Put Ce.
"Sebetulnya Siau kiong cu yang memaksa dia ke sana, Dia ingin menunjukkan intisari ilmu pedang dari rangkaian bunganya,"
Kata gadis itu.
"Kalau begitu, berarti Lu ji yang mencoba memikatnya,"
Tanya Kwe Po Giok.
"Kata-kata "memikat"
Rasanya terlalu kasar,"
Kata Bwe Mei "Kalau tidak menggunakan kata-kata itu, bagaimana menjelaskan ucapanmu tadi?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Rupanya sejak terlepas dari cengkeraman Lian lian, kau belum sempat bertemu dengannya,"
Kata Bwe Mei.
"Betul. Aku justru melihat Sun Toako merangkul sekumpulan bunga ke tempatnya. Sikap kedua orang itu lebih panas dari api,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Siau Kwe.... Tidak boleh terlalu banyak curiga, Aku percaya penuh kepada Sun Toa-ko. Terhadap Siau kiong cu pun sama,"
Kata Bwe Mei.
"Karena yang pertama adalah laki sejati sedangkan yang satunya dari keluarga baik-baik?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Boleh dikatakan demikian,"
Sahut Bwe Mei.
"Siau Kwe.... jangan menduga yang bukan-bukan, Lekas kembali dan temui Siau kiong cu."
"Bagaimana kalau kau yang menjadi diriku saat ini?"
Tanya Kwe Po Giok yang ingin mengetahui apa tindakan Bwe Mei.
"Kalau aku menjadi engkau, maka aku akan segera menemuinya dan menanyakan sampai persoalan ini jelas,"
Katanya.
"Coba kau tebak. Bagaimana Lu ji memanggil Sun Put Ce?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Kalau bukan Sun Toako, tentunya Toako saja,"
Sahut Bwe Mei "Betul. Cuma panggilan itu terdengar amat manis,"
Kata Kwe Po Giok.
Bwe Mei tertawa-tawa, Dia juga tidak berani memastikan kalau di antara kedua orang itu tidak ada hubungan pribadi perkembangan mereka terlalu cepat rasanya.
Tapi, demi keselamatan umum, Bwe Mei tetap menganjurkan Sun Put Ce menemui Siau kiong cu.
Untuk itu, Bwe Mei harus membujuknya berkali-kali.
Kalau saja sikap Bwe Mei seperti Kwe Po Giok, mungkin persoalannya akan berlainan.
Bwe Mei membujuk Kwe Po Giok pulang ke tempat Siau kiong cu.
Namun hatinya sendiri menjadi gelisah.
"Mungkinkah Sun Toako akan jatuh cinta kepada Siau kiong cu? Mengapa gadis itu bisa berubah hatinya? Sun Toako tidak mungkin mengandung maksud lain terhadap gadis itu,"
Katanya dalam hati.
Pertanyaan-pertanyaan itu mengelilingi benaknya sepanjang hari Tepat pada saat itu, Chow Ai Giok muncul dari depan pintu, Mata kedua orang itu merah membara, sekali lihat saja, Bwe Mei sudah dapat menduga maksud kedatangan Chow Ai Giok.
Karena dia baru kehilangan sebuah lengan.
Dia masih mempunyai sebuah tangan lainnya dan sepasang kaki, Dia pernah mengatakan kalau hatinya sedang gembira, mungkin dia akan datang lagi untuk meminta bagian tubuhnya yang lain.
"Kau sudah berubah,"
Kata Bwe Mei.
"Berubah sekali."
"Apanya yang berubah?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Paling tidak, matamu sudah berubah,"
Kata Bwe Mei dingin.
"Mata?"
Tanya Chow Ai Giok tidak mengerti.
"Matamu seperti mata seekor binatang buas,"
Sahut Bwe Mei.
"Kau memang mempunyai lidah yang tajam. Kedatanganku adalah mengambil sebelah kakimu,"
Kata Chow Ai Giok. Bwe Mei mengertakkan giginya.
"Apakah kau tidak menyadari satu hal?"
Tanyanya.
"Hal apa?"
Tanya perempuan itu bingung.
"Bagaimana kau harus melindungi sebelah kaki atau tanganmu,"
Sahut Bwe Mei ketus.
Tawa Chow Ai Giok seperti lolongan srigala, Orang yang hatinya jahat, Bukan hanya terlihat dari penampilan tapi suaranya juga menyiratkan sifat sejahat hatinya.
Bwe Mei sudah meraih pedangnya, Dia pernah bertanya kepada Sun Put Ce, Apa bila dia mempelajari kiam hoat peninggalan Tang hay sin sian, berapa lama waktu yang diperlukannya untuk dapat menandingi Chow Ai Giok.
Sun Put Ce mengatakan bahwa kemungkinan dalam satu bulan setengah saja, dia sudah tidak usah takut akan dikalahkan oleh perempuan itu, tetapi sekarang waktu yang diberikan oleh Sun Put Ce belum sampai.
Kalau tidak salah dia baru belajar selama satu bulan lewat tiga hari, Api kebencian membara di hatinya, Bwe Mei belum yakin dengan kemampuannya sendiri Tampaknya Chow Ai Giok justru terbalik, ia seperti sudah melihat kemenangan yang akan diraihnya.
"Bwe Mei.... Ternyata nasibmu jauh lebih malang daripadaku,"
Kata Chow Ai Giok.
"Aku memang tidak pernah menyatakan bahwa nasibku baik,"
Sahut Bwe Mei.
"Kekasihmu telah terjatuh dalam pelukan perempuan lain,"
Kata Chow Ai Giok.
"Kalau memang benar, rasanya bukan sesuatu yang mengherankan,"
Sahut Bwe Mei.
"Tampaknya jiwamu sangat besar,"
Kata Chow Ai Giok.
"Terlahir sebagai perempuan, rasanya sudah lumrah mengalami hal demikian. Tapi engkau,.,."
"Apa dengan aku?"
Tanya Chow Ai Giok dengan pandangan menusuk.
"Kiau Bu Suang sudah mati. Bayi itu akan terlahir tanpa ayah. Kalau kabar yang kuterima tidak salah, kau pernah mencari berbagai tabib untuk menggugurkannya bukan?"
Sindir Bwe Mei.
Chow Ai Giok tidak menyangka kalau lawannya dapat mengetahui peristiwa busuk yang dialaminya.
Apalagi soal menggugurkan kandungan, Keburukan sendiri pasti takut diketahui orang lain, Chow Ai Giok menghunus pedangnya perlahan-lahan.
Dia sengaja menggunakan jempolnya meraba ujung pedang tersebut seakan ingin membuktikan ketajaman senjatanya.
"Kaki sebelah mana yang ingin kau pertahankan untuk sementara?"
Tanyanya ketus.
"Sebentar lagi kau merasakan keluguan dan kekanak-kanakan dirimu sendiri,"
Sahut Bwe Mei sambil tertawa dingin.
"Perempuan maling! Kalau aku mengatakan bahwa kakimu hanya akan tersisa berapa cun, maka yang akan terjadi tentu ! seperti yang aku katakan, Aku berani bertaruh untuk hal itu!"
Bentak Chow Ai Giok, Laksana seorang penjagal binatang, Mereka sudah memenggal leher binatang itu setiap hari.
Maka jarak antara kepala leher pasti sama seperti sebelumnya.
Ketika baru sampai tadi, dia sempat mendengar Bwe Mei memanggilnya sebagai perempuan busuk.
Hatinya sudah panas sekali.
Sejak kematian Kiau Bu Suang tempo hari, Dia mengakui harga dirinya telah tiada.
Bwe Mei tidak ingin berdebat lagi dengan Chow Ai Giok, Kalau pertarungan ini tidak dapat dimenangkan olehnya, sama saja dirinya tinggal menunggu kematian, Matanya tentu tidak dapat terpejam apabila dia mati di tangan perempuan ini.
Dengan penuh keyakinan, Chow Ai Giok menyerang satu kali, Dia mengira bahwa dengan ilmu yang dimilikinya, dia dapat mendesak Bwe Mei dalam satu jurus, jurus kedua dikeluarkan, niatnya tentu akan terlaksana.
Tapi, kenyataannya ternyata jauh di luar dugaan, pedang Bwe Mei lebih dulu mengancam tempat yang berbahaya, Chow Ai Giok harus memikirkan cara menghindarkan diri supaya dia tidak celaka oleh serangan tersebut.
Kalau dia berkeras hendak mengambil sebelah kaki Bwe Mei.
Dia pasti harus menebusnya dengan selembar nyawa.
Chow Ai Giok terkejut sekaligus marah.
Dia berseru lantang, Tubuhnya melejit mundur.
Seperti seekor serigala yang tertusuk panah, Dia meraung keras, seakan ingin menelan Bwe Mei hiduphidup.
Mata-nya memandang dengan tatapan menusuk, Giginya dikertakkan.
"Bagaimana mungkin? Baru belum lama aku mengutungkan lengannya, Sungguh-sungguh tidak masuk akal,"
Gumamnya seorang diri.
Bwe Mei tidak menjawab.
serangannya telah membawa hasil, Rasa percaya dirinya semakin menebal.
Perasaan ingin membalas dendam memenuhi hatinya, Sinar matanya menyapu bagian tubuh lawan yang diincar.
Bagian kakinya.
Dia belum pernah menggenggam pedang seerat itu selama hidupnya.
Karena dia tahu, Chow Ai Giok kali ini pasti akan menyerangnya dengan jurus maut ajaran Hiat Eng.
Bwe Mei juga tidak bodoh.
Dia tahu lawannya memang benarbenar ingin mencelakainya.
Chow Ai Giok berteriak sekali lagi, serangannya memang amat berbahaya.
cahayanya bagaikan sambaran petir yang menyilaukan mata.
Bwe Mei terpaksa mengelit, Rasa percaya dirinya belum terpupuk penuh, Kalau saja dia menyambut serangan itu dengan keyakinan yang tebal, tentu akibatnya tidak sama.
"Trang!!!"
Pedang di tangan Bwe Mei melayang, Tetapi dia menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak boleh kalah.
perubahan jurus yang dikeluarkannya belum sempurna, sedangkan pedang di tangan Chow Ai Giok sudah di depan mata.
Rasa percaya diri Bwe Mei seakan sedang diuji, Dia belum sempat mengelak.
"Bret!!!"
Lengan bajunya sudah terkoyak.
Disusul datangnya sebuah serangan yang tidak kalah dahsyat Bwe Mei menggelinding di tanah.
Dia mencoba mengelak dengan cara berputar Chow Ai Giok memastikan dirinya untuk mendapatkan sebelah kaki Bwe Mei.
sedangkan gadis itu tahu, kalau dia kalah kali ini berarti mati, Kehilangan sebelah kaki juga lebih baik mati.
Keadaannya benarbenar terdesak, Chow Ai Giok tertawa sinis.
Dia berpikir dalam hati.
Kalau tidak cukup menyerang tiga kali, dia akan menyerang sepuluh kali, Pokoknya sampai berhasil mengutungi sebelah kaki Bwe Mei.
ingin kulihat kau dapat bertahan berapa lama!
Asalkan dia tidak memberi kesempatan untuk gadis itu berdiri dan kabur dari tempat tersebut, dapat dipastikan bahwa sebelah kaki Bwe Mei akan menjadi miliknya, Bwe Mei juga mempunyai pendapat yang sama.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara dengan nada berat.
"Kejam... tidak berperasaan!"
Suara yang terdengar adalah suara seorang perempuan Chow Ai Giok menolehkan kepalanya, Sebelum dia sempat membentak suara itu terdengar kembali.
"Chi fang... Chan cao!"
Chi fang artinya aliran air di kolam, sedangkan Chan cao adalah panggilan untuk sejenis bunga yang hanya tumbuh di musim semi daerah utara.
Bunga-bunga yang sering ditemui di sekitar daerah itu palingpaling Mei kui (mawar) Yek lai hiang (bunga sedap malam) Jit thau hue (bunga matahari sedangkan bunga yang disebut tadi hanya suatu kiasan, Yang mana menjelaskan bahwa kehidupan jangan disia-siakan.
Dalam keadaan yang bagaimana bahaya pun harus berusaha menyelamatkan diri Chow Ai Giok mengira ada orang yang datang mengacau, Tidak demikian dengan Bwe Mei.
Dia mengerti arti kiasan tersebut.
Dalam keadaan terdesak di mana pedang Chow Ai Giok hampir mengenai tumitnya, dia segera merubah gerakan, Pedang yang tadi melayang sudah ada di tangannya kembali hahkan dia berhasil menghindarkan diri dari serangan Chow Ai Giok.
Semua ini tentu di luar dugaan perempuan itu.
Sekarang giliran Bwe Mei yang memegang peranan, Dia menyerang Chow Ai Giok dengan gaya yang bagus.
Perlu diketahui,dalam ilmu silat bukan hanya diperlukan kecepatan, tapi juga ketetapan mencapai sasaran, Cepat saja tidak sulit Tapi memadukan kecepatan dan ketetapan yang susah dipelajari.
Serangan itu benar-benar di luar jangkauan pikiran Chow Ai Giok.
"Sret!!!"
Dia tidak dapat menghindar lagi.
Sebuah tangan mencelat ke udara, Dalam keadaan terdesak dapat menyelamatkan diri sendiri bahkan dapat melukai lawannya, sungguh terasa mustahil Bwe Mei hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Di mana dia saat ini?
Kapan hal ini terjadi?
Dia bagaikan berada dalam alam mimpi, Mungkinkah ilmu pedangnya bisa mencapai kekuatan sehebat itu?
Lengan sebelah kanan Chow Ai Giok telah terlepas dari persendiannya.
ia berdiri mematung dengan tubuh gemetar, wajahnya menunjukkan rasa terkejut penderitaan yang dialami oleh Sun Put Ce dan Bwe Mei ternyata dialaminya sendiri sekarang.
Pada saat itu, dia hanya merasakan bahwa bagian tubuh sebelah kanannya menjadi ringan, Darahpun belum mengalir Dia merasa marah, juga penasaran, Karena dia tidak mengerti kata-kata "Chi fang dan Chan cao"
Yang terucap dari mulut orang yang baru datang itu.
Sekarang Bwe Mei berbalik dari pecundang menjadi pemenang, Dia merasa apa yang dialami olehnya dan Sun Put Ce harus diberi bunga.
Paling tidak, dia masih ingin mengutungi sebelah kaki Chow Ai Giok.
Karena perempuan itu sendiri yang memulai semua kekejaman ini.
Sekali pedang terhunus, Terdengar seseorang berseru....
"Bwe ci, dia akan mati...."
Apakah karena dia tahu kalau Chow Ai Giok sama saja sudah mati apabila kehilangan sebelah kaki lagi sehingga dia tidak tega atau kalau mati dengan begitu mudah maka rasa kepuasan hanya bersikap sementara?
Bwe Mei menarik kembali pedangnya dengan wajah kaku, Karena sedikit itulah maka paha sebelah kiri Chow Ai Giok tertusuk juga.
Luka itu cukup dalam, Yang berteriak ternyata Siau kiong cu.
Kwe Po Giok belum menemuinya.
Dia datang juga dengan maksud tertentu.
Dia ingin mendengar bagaimana penyambutan Bwe Mei terhadapnya.
Siapa sangka malah peristiwa ini yang dialaminya.
Dia mengagumi Sun Put Ce.
Dia menyukai sikapnya yang rendah diri, sederhana dan menghormati siapa saja, Laki-laki itu selamanya tidak pernah memamerkan sampai di mana tinggi ilmu silat yang dimilikinya.
Juga tidak sok pahlawan pandangan ini sama dengan pandangan Bwe Mei.
Gadis itu sendiri merasa sedikit cemburu terhadap Siau kiong cu, tapi dia tidak pernah menusukkannya secara terangterangan.
Siau kiong cu tentunya tahu mengapa Chow Ai Giok ingin membunuh gadis itu.
Pasti karena Sun Put Ce juga.
sedangkan dia sendiri menyukai Sun Put Ce.
semestinya dia senang karena ada orang lain yang melenyapkan satu saingan untuknya, Namun....
Pada dasarnya Siau kiong cu memang orang yang baik hati, Dia tidak dapat menerima keuntungan dengan cara demikian.
"Siau kiong cu! Dia terlalu kejam. Dia memperlakukan kami dengan cara yang keji,"
Kata Bwe Mei.
"Masalah harus diperkecil, jangan malah dibesarkan Sebelah lengan telah dibayar dengan sebelah lengan pula, Sudahlah.... Apakah Chow kouwnio mempunyai obat luka?"
Tanyanya sambil menoleh ke arah perempuan itu.
Tubuh Chow Ai Giok masih gemetar.
Dia melirik sekilas ke arah Siau kiong cu.
Tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun, dia membalikkan tubuh dan pergi dengan membawa pandangan benci.
Di atas tanah terlihat kutungan lengan perempuan itu.
Hati mereka jadi tergetar.
Bwe Mei merasa sakit hatinya masih belum lenyap, Namun dia berlutut di hadapan Siau kiong cu.
"Kalau hari ini Siau kiong cu tidak kebetulan datang dan memberi tahu rahasia ilmu pedang tersebut. Aku, Bwe Mei pasti sudah tergeletak dengan sebelah kaki,"
Katanya. Siau kiong cu tergopoh-gopoh membimbingnya bangun Dia menarik nafas.
"Bwe-ci.... sebetulnya aku kemari dengan maksud tertentu. Sungguh memalukan bila dikatakan,"
Sahutnya.
"Siau kiong cu mempunyai maksud apa?"
Tanya Bwe Mei. Siau kiong cu menggelengkan kepalanya, Cinta kasih bisa membutakan segalanya, Malam ini dia sudah melihat kenyataan tersebut.
"Siau moi hampir saja melakukan kesalahan,"
Katanya. Bwe Mei tentu mengerti apa yang dimaksudkan Tapi dia purapura tidak tahu, Siau kiong cu membantunya membalut luka di lengan.
"Sun Toako jujur, setia, rendah diri, lagi-pula kepintarannya melebihi orang lain, perempuan mana yang tidak memuji laki-laki seperti itu?"
Katanya. Bwe Mei tetap tidak mengatakan apa-apa.
"Laki-laki sejati memang tidak akan menarik keuntungan dari orang lain dengan cara yang licik, Mulai hari ini, aku tetap akan mengajarkan ilmu silat rangkaian bunga kepadanya, tapi api dalam hati ini pasti akan dipadamkan"
Kata Siau kiong cu selanjutnya. Bwe Mei merasa kagum terhadap gadis itu.
"Apakah Siau kiong cu sudah bertemu dengan Siau Kwe?"
Tanyanya.
"Maksudmu Kwe Po Giok?"
"Betul. Dia sudah terlepas dari cengkeraman Lian lian,"
Kata Bwe Mei.
"Kapan terjadinya hal itu?"
Tanya Siau kiong cu.
"Dua hari yang lalu,"
Sahut Bwe Mei. Siau kiong cu tertawa getir.
"Tampaknya dia sedang cemburu,"
Katanya.
"Kalau Siau kiong cu bersedia, aku akan menjelaskan kepada Siau Kwe. Orang yang cerdas dan baik hati seperti Siau kiong cu tentu akan dimengerti olehnya,"
Sahut Bwe Mei. Siau kiong cu tampaknya tidak memperhatikan apa yang dikatakan gadis itu. Dia berdiri sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
"Apakah Siau kiong cu sungguh-sungguh menyukai Sun Toako?"
Tanya Bwe Mei mengalihkan pembicaraan Siau kiong cu terpana, Dia sama sekali tidak siap menerima pertanyaan seperti itu.
"Bwe ci.... Mengapa kau tiba-tiba mengajukan pertanyaan tersebut?"
Tanyanya rikuh.
"Kau adalah in jinku (penolong). Apa yang tidak dapat kita bahas bersama?"
Sahut Bwe Mei. Siau kiong cu selalu terlihat lemah gemulai dan lemah lembut, Tapi sebetulnya dia hanya lembut di luar namun keras di dalam.
"Bwe ci ingin menggunakan Sun Toako sebagai balas jasa, Kau anggap apa Sun Toako itu? Dan kau anggap apa diriku ini?"
Tanyanya dengan nada berwibawa.
Hubungan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan tidak dapat diperjual belikan.
Juga bukan suatu sarana untuk diperalat Siau kiong cu sangat anggun, Biar dilihat dari sudut mana pun.
Dia juga sangat cerdas, Mendengar perkataan Bwe Mei tadi dia sudah dapat menerka tujuannya.
Dia tidak akan berbuat seperti Chow Ai Giok yang seakan mengemis cinta kasih Kiau Bu Suang, Sampai kapan pun tidak akan, Namun, dia juga tidak mudah melepaskan kesempatan yang terlihat di depan mata, Pada saat itu, terdengar ketukan di pintu.
"Bwe ci.... jangan katakan kalau aku ada di sini, Harap berikan satu kesempatan padaku agar dapat memadamkan perasaan di hati, Kalau tidak, kita akan sama-sama terluka,"
Katanya memperingatkan "Maksud Siau kiong cu...."
"Aku juga menyukai Sun Toako, Celaka tidak?"
Sahutnya.
"Perasaan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan paling sulit diraba. Kalau memang Siau kiong cu menyukainya, aku rasa tidak ada salahnya,"
Sahut Bwe Mei di luar dugaan Siau kiong cu.
"Tidak ada salahnya?"
Tanya Siau kiong cu heran.
"Betul. itu hanya keberuntungan seorang laki-laki sejati,"
Sahut Bwe Mei tersenyum Siau kiong cu tidak menjawab.
Dia mencari tempat untuk menyembunyikan diri, Bwe Mei segera bangkit dan membuka pintu, Sun Put Ce melangkah masuk ke alam.
Hidungnya diciutkan beberapa kali.
"Bwe Mei... Biar aku tebak.,., Pasti tim daging sapi bukan?"
Tanyanya.
"Betul,"
Sahut Bwe Mei.
"Bwe Mei.... Akhir-akhir ini aku sering merasa seakan sudah berumah tangga. Kadang-kadang banyak urusan yang belum selesai tapi rasanya sudah ingin cepat-cepat pulang ke rumah untuk menengok istri tersayang, Walaupun kita masih suci bersih,"
Kata Sun Put Ce.
"Bagaimana kau tahu kalau aku pasti akan menikah denganmu?"
Tanya Bwe Mei.
"Bagaimana aku bisa mengira kalau kau tidak mau menjadi istriku?"
Sun Put Ce mengembalikan pertanyaan Bwe Mei.
"Sun Toako... percayakah kau kalau di dunia ini masih ada perempuan lain yang lebih kau cintai dan lebih mencintai dirimu?"
Tanya Bwe Mei. Sun Put Ce terpana.
"Siapa?"
Tanyanya.
"Kau rasa ada tidak?"
Tanya Bwe Mei kembali "Tidak ada,"
Sahut Sun Put Ce yakin.
"Kalau Siau kiong cu menyukaimu. Apakah kau akan menikahinya?"
Tanya Bwe Mei.
"Tidak."
Nada suara Sun Put Ce tidak terdengar dibuat-buat. Bwe Mei mengira dia sedang berdusta.
"Tidak?"
Tanyanya kurang percaya.
"Aku menghormati Siau kiong cu. Aku juga berterima kasih kepadanya. Tapi bagaimana pun aku tidak dapat menyuntingnya,"
Kata Sun Put Ce tegas.
"Mengapa?"
Tanya Bwe Mei.
"Tidak dapat, ya, tidak dapat Tidak harus ada alasannya bukan?"
Sahut Sun Put Ce. Bwe Mei tidak menyangka kalau hati Sun Put Ce demikian teguh. Dia merasa kagum sekali. Namun dia tahu hati Siau kiong cu pasti terluka.
"Siau kiong cu ada di sini,"
Katanya. Sun Put Ce mengira Bwe Mei sedang bergurau.
"Biarpun dia ada di sini, aku juga tetap akan berkata seperti tadi,"
Sahutnya sambil tersenyum-senyum.
Tepat pada saat itu, Siau kiong cu sedang keluar dari pintu belakang, Dia sempat mendengar ucapan Sun Put Ce.
Dia adalah seorang gadis yang polos, Berakal sehat dan tahu diri.
Dia akan menentukan pilihannya, tapi tidak akan memaksa kehendaknya, Dia sudah pergi.
Sekarang dia harus menanti Kwe Po Giok, Dia sangat mengagumi Sun Put Ce namun dia tidak ingin bersedih karena penolakannya, Andaikata dia tidak jadi menikah dengan Kwe Po Giok pun, dia tetap akan menjelaskan segalanya.
Sepanjang jalan dia merenung, Dia memikirkan cara yang terbaik untuk mengatasi masalahnya dengan Siau Kwe.
Dia bukan tidak tertarik kepada pemuda itu lagi.
Namun dia ingin sifatnya yang suka menyombongkan diri itu dirubah.
Sampai di rumah pikiran tersebut masih menghantuinya.
**** Fang Tiong Seng duduk di bagian kepala meja makan, Mo Put Chi dan Sun Put Ce menemani duduk di sebelah kiri dan kanan, Nasi dan berbagai macam masakan telah terhidang di atas meja, Semuanya dapat menerbitkan selera.
Tapi Fang Tiong Seng belum menggerakkan sumpitnya, Dengan sendirinya Mo Put Chi dan Sun Put Ce tidak berani mendahului Suasana di ruangan itu terasa kaku.
Seperti ada sebuah bom yang siap untuk meledak.
Mo Put Chi bukan jenis orang yang sabar.
"Suhu tampaknya sedang marah kepada seseorang?"
Tanyanya.
"Betul! Kau!"
Sahut Fang Tiong Seng. Matanya mendelik dan telunjuknya diarahkan kepada Mo Put Chi. Sun Put Ce dan Mo Put Chi sama-sama terkejut.
"Kalau teecu memang melakukan kesalahan, silahkan Suhu memberi hukuman,"
Kata Mo Put Chi.
"Tidak perlu aku yang menghukummu, perbuatan yang bodoh! Sebentar lagi ada petugas yang mencarimu,"
Sahut Fang Tiong Seng sinis.
"Petugas?"
Mo Put Chi semakin tercenung.
"Biarpun betapa bodohnya, teecu juga tidak akan melanggar kesalahan yang berakibat demikian."
"Kurang ajar! Kejadian sudah terlanjur begini masih berusaha menghindar. Coba kau tanya.... Siapa yang membunuh It ki bwe Lian-lian?"
Tanya Fang Tiong Seng dengan suara bengis.
"lt ki bwe Lian lian sudah mati?"
Sampai Sun Put Ce sendiri rasanya tidak percaya.
"Suhu.... Kapan terjadinya?"
Siapa yang membunuh Lian-lian?"
Fang Tiong Seng mendelik sekali lagi ke arah Mo Put Chi.
"Tanya dia!"
Bentaknya. Mo Put Chi segera menjatuhkan diri di hadapan Fang Tiong Seng.
"Suhu.... Teecu juga tidak tahu apa-apa. Teecu tidak membunuh Lian-lian,"
Katanya.
"Ada orang yang melihat kalian selalu keluar masuk berpasangan. Bahkan menyewa sebuah rumah kecil di luar desa, Akhir-akhir ini kalian sering kuperintahkan untuk mencari orang, Aku masih mengira kalian melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, ternyata tenggelam dalam lembah asmara sehingga kasmaran!"
Fang Tiong Seng berkata dengan suara tinggi. Sun Put Ce memandang ke arah Mo Put Chi. suhengnya tampak semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Suhunya.
"Suhu.... seandainya teecu memang berniat membunuh Lian lian, rasanya teecu masih bukan tandingannya,"
Sahut Mo Put Chi. Sun Put Ce juga mempunyai pendapat yang sama. Dia tahu tentunya telah terjadi salah pengertian Mo Put Chi juga sudah mulai mengerti. Suhu telah menganggap Lian hu sebagai Lian-Lian.
"Suhu.... Teecu hanya mengenal Lian hu. Sama sekali tidak mengenal Lian lian,"
Kata Mo Put Chi.
"Lian hu? Siapa Lian hu itu?"
Tanya Fang Tiong Seng heran.
"Lian hu adalah moi-moinya Lian lian, Usia mereka berbeda hanya tiga tahun, Wajah mereka sangat mirip,"
Sahut Mo Put Chi menjelaskan.
Wajah Fang Tiong Seng berubah hebat, Meskipun dia berusaha sewajar mungkin, namun dia tetap tidak dapat mengelabui mata Sun Put Ce yang tajam.
Tapi, dia adalah orang yang cerdik, Dia tidak memperlihatkan bahwa tingkah laku Suhunya telah menerbitkan kecurigaan dalam hati.
"Apakah Suhu salah mengira Lian hu adalah Lian-lian?"
Tanyanya. Fang Tiong Seng tidak menjawab.
"Apakah ada orang yang membunuh Lian hu?"
Suara Mo Put Chi bagaikan tercekat di tenggorokan.
"Tidak salah, Kepala desa sudah mengutus beberapa orang untuk memeriksa mayat. perempuan itu terbunuh dalam satu jurus,"
Sahut Fang Tiong Seng.
Mo Put Chi adalah orang yang lugu, Bila dia sudah mencintai seseorang, maka dia akan mencintainya sampai akhir hayat.
Kejadian ini terlalu mendadak sekali Mo Put Chi tidak dapat menerimanya.
Tiba-tiba dia bangkit lalu berteriak seperti seekor harimau ngamuk.
"Lian hu!!!"
Dia menghambur keluar dari ruangan makan. Kakinya belum sempat menginjak ruangan tengah, Fang Tiong Seng terdengar berteriak.
"Kembali!"
Suaranya sangat berwibawa, Mo Put Chi sangat penurut. Meskipun dia tidak melangkah kembali ke dalam, tapi kakinya terpaku di tempatnya.
"Kau hendak ke mana?"
Bentak Fang Tiong Seng.
"Suhu.... Aku ingin melihat Lian hu. Aku juga ingin mencari pembunuh itu,"
Sahutnya. Fang Tiong Seng menarik nafas panjang.
"Meskipun peraturan dalam perguruan aku, Fang Tiong Seng, amat ketat, Tapi aku tidak pernah melarang muridku bergaul dengan perempuan. Put Chi.... Benarkah kau tidak membunuh Lian hu?"
Tanyanya.
"Teecu amat menyayanginya, Selama ini teecu masih merasa tidak cukup memberikan kasih sayang kepadanya, Mana mungkin teecu bisa membunuhnya?"
Sahut Mo Put Chi dengan mata merah.
"Pada saat ini, petugas sedang memeriksa keadaan mayat Lian hu. Lebih baik kau jangan pergi, Mereka mungkin akan mencurigai dirimu,"
Kata Fang Tiong Seng dengan nada memperingatkan.
"Tidak, Suhu,... Bagaimana pun teecu harus pergi..."
Sahut Mo Put Chi.
Sejak masuk dalam perguruan Fang Tiong Seng, mungkin ini adalah untuk pertama kalinya dia membantah kata-kata sang Suhu, Fang Tiong Seng tampaknya tidak marah, Hal ini juga merupakan keistimewaan.
Sesuatu yang luar biasa banyak terjadi hari ini, Di dalam pandangan Sun Put Ce, keistimewaan itu seperti berubah menjadi sesuatu yang wajar.
Karena, apabila kita menggabungkan sesuatu yang istimewa dan biasa maka setiap benda atau pun setiap hal akan terasa sempurna.
"Put Ce.... Coba kau tebak, Siapa yang dapat membunuh Lian hu?"
Tanya Fang Tiong Seng. Sun Put Ce merenung sejenak.
"Suhu... Lian lian dan saudaranya tidak cocok, Mungkinkah dia yang membunuh Lian hu?"
"Dia? Cici membunuh adiknya sendiri?"
Tanya Fang Tiong Seng seakan terkejut mendengar perkiraan Sun Put Ci "Suhu.,., Andaikata Lian lian tahu adiknya ada hubungan dengan suheng.
Lian lian tentu tahu kalau adiknya akan sulit diajak bekerja sama, Bukan tidak mungkin dia yang membunuh Lian hu.
Tentu saja tidak sengaja.
Bisa jadi di antara mereka terjadi pertengkaran, karena khilaf Lian lian lupa diri dan membunuh adiknya,"
Sahut Sun Put Ce. Fang Tiong Seng mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya.,., Mungkin juga. Put Chi.... Dalam hal ini bukannya Suhu tidak menaruh perasaan iba pada dirimu, tapi kau tetap tidak boleh kesana,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Suhu.... Teecu hanya melihat dari kejauhan,"
Begitu ucapannya selesai, dia langsung melangkahkan kaki dan keluar dari ruangan tersebut.
Fang Tiong Seng terdiam sekian lama, Tampaknya ada pikiran yang menggelayuti benaknya, Namun dia tidak mencegah Mo Put Chi lagi.
"Put Ce.... Kau lihat.... Sebagai murid terbesar perguruan Suhu, tindakan suhengmu begitu tidak sopan,"
Katanya. Bola mata merah, Ada butiran airmata yang menggenang di sana.
"Suheng hanya pergi meninjau. Mungkin ada sesuatu yang dapat menyimpulkan siapa pembunuh Lian hu. Apalagi yang mati adalah kekasihnya,"
Sahut Sun Put Ce seraya menarik nafas panjang.
-ooo0ooo-Langit hitam, angin bertiup kencang.
Di dalam kuil tua tidak terlihat sinar lampu, Kalau ada, tentu orang ini tidak akan berdiam di sana.
Di atas meja sembahyang rebah seseorang, Apabila orang umum melihatnya, tentu tidak akan menduga kalau itu adalah seorang manusia.
Kentungan ketiga belum sampai, tapi sudah hampir, Di luar kuil berdiri sesosok bayangan, Orang yang rebah di atas sembahyang sama sekali tidak bergerak.
"Untuk apa kau menjanjikan cayhe bertemu di tempat ini?"
Tanya orang yang baru datang.
"Ketika datang, aku bersama-sama dengan Hua can lei. Dia mengatakan ingin mencari dirimu, Apakah kau sudah bertemu dengannya?"
Tanya orang yang rebah di atas meja sembahyang itu.
"Belum."
"Kurang asem! Aku sudah menduga kau akan berkata demikian."
Sahut orang yang rebah di atas meja sembahyang.
"Sifat Hok su thi Seebun Cu Yap selamanya tidak berubah,"
Kata orang yang baru datang sambil mendengus.
Orang yang rebah di atas meja sembahyang itu ternyata Hok su thi (Si mayat hidup dari Hun bang), Seebun Cu Yap adanya, Ketika masih muda, dia pernah tertusuk panah beracun dari suku liar di Lam hong.
Wajah sebelah kirinya rusak berat.
Sampai sekarang tidak dapat disembuhkan.
Yang paling aneh justru bentuk kepalanya, sebelah kiri masih tersisa rambut seperti bulu jagung, Yang sebelah kanan botak sama sekali, Dengan wajah seperti ini, tidak heran kalau dia mendapat gelar Hok su thi.
Seebun Cu Yap dan Hua can lei memang tidak mengetahui kedatangan Toa Tek To Hun yang menimbulkan badai di Tionggoan.
Ketika mereka tahu, jejak orang itu tidak terdengar lagi.
Tetapi mereka mempunyai dugaan bahwa kedatangan Toa Tek To Hun tentu ada hubungannya dengan Fang Tiong Seng.
Karena dia adalah satu-satunya manusia yang luput dari kematian.
"Manusia she Fang.... Kau sudah membunuh Hua can lei, mengapa masih tidak berani mengakui?"
Tanya Seebun Cu Yap.
"Bukannya tidak berani. Karena membunuh dia sama sekali bukan sesuatu yang patut dibanggakan."
Sahut Fang Tiong Seng.
"Manusia she Fang. Berapa besar keyakinanmu untuk mengalahkan aku?"
Tanya Seebun Cu Yap kembali.
"Sepuluh bagian,"
Sahut Fang Tiong Seng yakin.
"Kalau begitu, Toa Tek To Hun pasti mati dalam tanganmu?"
Tanya Seebun Cu Yap.
"Tidak perlu banyak omong, Aku ingin berkenalan dengan Han hong ciangmu,"
Kata Fang Tiong Seng.
Begitu ucapannya habis, Han hong ciang telah sampai di depan mata.
Orang ini tidak mau kehilangan kesempatan baik.
Caranya yang licik memang cocok dengan Fang Tiong Seng.
Jago kelas satu ini sama sekali tidak menduga dirinya akan langsung diserang.
Sedikit kerepotan dia mengelit, Han hong ciang mulai memperlihatkan pengaruhnya, ilmu itu adalah sejenis ilmu yang mengerahkan tenaga dalam namun hawa yang terpancar dingin sekali Han hong ciang (Telapak angin dingin) adalah ilmu andalan Seebun Cu Yap.
Meskipun Fang Tiong Seng berusaha keras untuk menghindarkan diri tetapi bahu kirinya masih sempat tersambar.
Dia tahu dirinya sudah terkena Han hong ciang, Dia tidak khawatir, karena dengan tenaga dalamnya yang tinggi, dia dapat mengeluarkan racun dingin tersebut dengan mudah.
Fang Tiong Seng memang tetap Fang Tiong Seng adanya, Dia tidak gugup sama sekali.
Pedangnya dengan cepat meluncur.
Tidak dapat diuraikan sampai di mana kecepatan atau pun perubahan gerakannya, Seebun Cu Yap tergetar melihat serangan tersebut, Dia segera mengeluarkan golok bajanya, semuanya serba cepat, Rasanya sulit membedakan siapa yang lebih cepat dan siapa yang lebih lambat, Sampai di mana kecepatannya?
Sampai di mana kelambatannya?
Hanya terdengar suara Cep!
Disusul dengan pedang yang masuk kembali ke dalam sarung.
Di antara kedua mata Seebun Cu Yap terdapat luka memanjang.
Darah memancur dengan deras, Dia masih berteriak sekali sebelum rubuh ke tanah.
Angin di ketinggian mengeluarkan hembusan yang keras, Deru suaranya dapat terdengar sampai kejauhan.
Kegelapan makin kelam menyelimuti padang rumput yang menjadi saksi bisu.
Ketika Fang Tiong Seng keluar dari kuil itu, ada sepasang mata dari balik patung dewa Kwang kong yang menatap tajam.
Dia memperhatikan Fang Tiong Seng yang menghilang di kegelapan malam.
Tidak lama kemudian, orang itu keluar dari tempat persembunyiannya, Dia berdiri di samping tubuh Seebun Cu Yap yang mulai kaku.
Matanya tidak berkedip melihat ke arah luka yang mematikan laki-laki itu.
Siapa pun tidak menyangka kalau dia adalah Toa Tek Tok Hun!
-----------------------------------Halaman 59 2/d 63 Hilang -----------------------------------
Jilid 17 Bagian Dua puluh Dua Malam beriring hujan.
Ada angin yang berhembus.
Di dalam rumah juga ada segelombang badai menerjang.
Lilin merah melambai-lambai.
Manusianya sendiri sudah mulai mabuk.
Setiap kali dia meminum arak bersama laki-laki ini, sebentar lagi tentu akan terjadi hujan badai, Dia mengangkat cawannya tinggitinggi.
Sinar matanya mengikuti cahaya lilin yang tertiup angin.
"Mari kita keringkan cawan ini,"
Katanya. Laki-laki itu mengangkat cawan serta mendongakkan kepala dan meminum arak tersebut sampai kering, Kemudian dia meremas cawan di tangannya sampai hancur.
"Ada apa?"
Tanya perempuan itu terkejut.
"lni adalah cawan terakhir yang kita pakai,"
Sahut laki-laki tersebut.
"Mengapa?"
"Karena kita akan mengisi arak besok dengan cawan yang lain,"
Lian lian tertawa merdu.
"Tiong Seng, dalam hal apa pun, kau tetap berbeda dengan orang biasa,"
Katanya.
"Kalau sama, maka aku Fang Tiong Seng tidak akan hidup sampai hari ini,"
Sahut laki-laki yang ternyata Fang Tiong Seng adanya.
"Rencanamu akan terwujud tidak lama lagi,"
Kata Lian lian.
"Tinggal satu tokoh lagi yang harus kulenyapkan, maka tidak akan lagi duri yang menusuk mata ini,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Siapa?"
Tanya Lian lian.
"Tokku Peng dan muridnya, salah satu di antara sam sauya, yaitu Miao Hua Fang!"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Bukankah mereka terdiri dari dua orang? Mengapa kau tadi berkata satu?"
Tanya Lian lian bingung.
"Aku tahu mereka akan bergandengan tangan menghadapiku Maka aku menganggap lawan tersebut hanya satu,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Krek!!!"
Lian lian juga meremas cawan di tangannya sampai remuk.
"Betul, Arak yang akan kita minum besok harus diisi dengan cawan baru!"
Serunya.
Fang Tiong Seng menatapnya dengan pandangan dingin.
Dalam keadaan seperti biasa, dia akan menyeret Lian lian ke atas tempat tidur.
Pada mulanya, Lian lian mengira daya tariknya telah menyentuh hati kecil laki-laki itu.
Tiba-tiba dia sadar, sinar matanya mengandung maksud tertentu, sinar mata demikian bukan semacam gairah untuk mengajaknya naik ke tempat tidur.
Lian lian melihat hawa panas yang berbeda dalam sinar mata tersebut.
"Tiong Seng... Sinar matamu bagai sebatang pedang, bahkan pedang yang sudah terhunus dari sarungnya,"
Kata perempuan itu.
"Lian lian.... Kerja sama kita telah berakhir,"
Sahut Fang Tiong Seng, Wajah Lian lian berubah pucat "Kerja sama? Apakah termasuk cinta kasih kita?"
Tanyanya.
"Betul, Setiap kali aku bekerja sama dengan seorang perempuan, aku tidak pernah menambahkan hubungan cinta kasih ke dalamnya, Terhadap engkau juga demikian, begitu juga dayang Cui thian atau perempuan-perempuan yang lainnya,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Masih ada perempuan-perempuan lain?"
Tanya Lian lian.
"Pertanyaan bodoh! Laki-laki yang bercita-cita tinggi, tidak mungkin hanya memiliki beberapa orang perempuan saja,"
Sahut Fang Tiong Seng sinis.
"Apakah besok akan ada perempuan lain yang jauh lebih cantik daripada aku dalam pelukanmu?"
Tanya Lian lian.
"Tidak salah!"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Siapa?"
Perempuan seperti mereka ternyata sama saja, Rupanya siapa orang yang menggantikan kedudukan mereka jauh lebih penting dari selembar nyawa sendiri.
Fang Tiong Seng tersenyum sekilas, Meskipun senyuman itu sangat tipis, namun Lian lian sudah dapat melihat keyakinannya yang besar.
"Yang ini adalah seorang gadis, Bahkan seorang gadis yang cantiknya bagaikan bidadari,"
Sahutnya.
"Siapa orangnya?"
Tanya Lian lian sekali lagi.
"Lian-lian... Tidakkah kau menganggap bahwa pertanyaanmu hanya sia-sia belaka?"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Apakah kau akan membunuh diriku?"
Tanya Lian lian.
"Aku masih berharap kalau bukan aku yang harus turun tangan. Aku tetap tidak tega melakukannya,"
Kata Fang Tiong Seng. Lian-lian tertawa dingin.
"Kau adalah seorang manusia berdarah dingin. Apakah kata-kata "tidak tega bisa masuk dalam kamusmu?"
Tanyanya.
"Ada satu hal yang ingin kuberitahukan kepada dirimu, seandainya kau ingin memanggilku manusia berdarah dingin, masih belum terlambat,"
Kata Fang Tiong Seng tersenyum lembut.
"Tentang apa?"
Tanya Lian-lian.
"Maaf... Tadinya aku mengira telah membunuhmu,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Apa maksudmu?"
Tanya Lian-lian.
"Aku telah membunuh Lian hu,"
Sahut Fang Tiong Seng tenang.
Mata Lian lian terbelalak Dia menatap tajam ke arah laki-laki setengah baya yang mempunyai wajah welas asih dan lemah lembut itu.
Dia mulai menderita, Hal ini disebabkan oleh penyesalan "Seandainya dia membuka mata agar dapat melihat dengan tajam,"
"Seandainya sejak dini dia tahu kalau adiknya telah datang. Apakah musibah ini tetap akan terjadi?"
Akibat perbuatannya yang tercela maka adiknya mati terbunuh. Biarpun ia mati sebanyak seratus kali juga belum dapat menebus dosanya yang setumpuk.
"Namun ada satu hal yang perlu kujelaskan Pada waktu itu aku mengira dia adalah dirimu,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Tampaknya kau tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memperkenalkan diri,"
Sahut Lian lian sinis.
"Bukan begitu.... Dia sendiri yang tidak segera menjelaskan siapa dia sebetulnya, Tampaknya dia ingin menyamar dirimu agar aku bicara sejujurnya,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Rasanya kau juga tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela diri?"
Tanya Lian-lian.
"Tidak! Aku pasti akan memberimu kesempatan Selama bertahuntahun, tidak sedikit kesenangan yang telah kau berikan kepadaku, Aku tentu akan memberi kebebasan kepadamu untuk memilih jalan melepaskan diri dari tempat ini,"
Kata Fang Tiong Seng.
Dia dapat mengucapkan semua itu dengan wajar, Memang tidak sama dengan orang yang biasa, Dia tidak perduli bagaimana tanggapan lawan terhadapnya, Karena dia tidak perduli segala macam adat istiadat atau pun etika dalam kehidupan manusia, Dia hanya tahu satu hal!
Di dunia ini yang kuat akan menindas lawannya yang lemah.
Semua persoalan di dunia ini ada di dalam tangan manusia itu sendiri, Tidak ada Thian atau Tuhan yang mengaturnya, Baginya, segala bentuk kepercayaan di dunia ini hanya ada dalam benak orang bodoh.
*** Lian lian telah mengenakan baju luarnya.
Dia juga mengambil pedangnya yang tergeletak di samping tempat tidur.
"Aku ingin bertarung denganmu,"
Katanya.
"Aku telah mengatakan bahwa aku akan memberimu kesempatan Selama ini, aku selalu menurut apa katamu, bukan?"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara lembut.
Ini adalah gaya kehidupan Fang Tiong Seng, Selama dia menampilkan wajah yang lembut dan penuh perhatian kepada sesamanya, Kalau dia sampai menunjukkan kemarahan, berarti lawan bicaranya telah berbuat suatu kesalahan.
Kedua orang itu keluar dari halaman depan.
Lian lian menatap setumpuk rumput yang luas.
Bentuknya seperti sebuah tikar, Dan di sampingnya ada segulung tali, Selain itu ada sebuah salib dan kereta kecil yang terbuat dari besi lengkap dengan paculnya.
Orang yang usianya masih muda rasanya tidak pernah memikirkan soal kematian, sedangkan orang yang sudah berusia lanjut saja enggan mengungkat soal ajal yang akan menjemput mereka segera.
Kematian terlalu jauh untuk dijangkau oleh pikiran biasa.
Meskipun setiap orang tahu bahwa di dunia ini akan ada kematian, tapi orang hidup tidak mau repot memikirkannya.
"Kematian"
Juga merupakan suatu penyakit yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun.
Namun Lian lian telah merasakan hawa kematian yang menggigilkan.
Dia seakan tidak dapat percaya, bahwa pada saat dirinya sudah mati, sebuah peti mati pun dia tidak dapatkan, Yang ada hanya setumpukan rumput yang akan menutupi tubuhnya yang tersalib.
Dia sudah dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Fang Tiong Seng terhadap dirinya apabila dia sudah mati.
Baca Juga: Pendekar Binal 7
Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 3