Eps 8 Sukma Pedang - Gu Long
Baca online Sukma Pedang - Gu Long
Cersil Sukma Pedang - Gu Long.
Kereta yang sudah tersedia itu tentu akan menjadi sarana supaya dirinya dapat dibuang ke dalam jurang setelah diikat dan ditutupi tikar rumput tersebut, sedangkan Fang Tiong Seng sendiri sudah lama mempersiapkan sebuah peti mati untuk keperluan dirinya kalau dia sudah mati.
Bahkan peti mati itu dirawat dengan baik.
Setiap tahun pasti dia akan menyuruh orang memeriksa kayunya dan memelitur sehingga mengkilap kembali.
"Aku sangat mengagumi dirimu...."
Kata Lian lian.
"Manusia semacam dirimu ternyata dapat mengelabui orang-orang dalam Bulim dan membuat mereka menuruti apa yang kau inginkan."
Fang Tiong Seng mengunjukkan sebuah senyum manis di sudut bibirnya.
"Orang yang sependapat denganmu sangat banyak,"
Sahutnya.
"Kalau kau dapat membunuhku dalam setengah jurus, Aku akan mati dengan mata terpejam,"
Kata Lian lian.
"Aku telah mengatakan bahwa aku akan menurut apa kemauanmu,"
Sahut laki-laki berdarah dingin itu. Kedua orang itu menghunus pedang masing-masing dalam waktu yang bersamaan Tiba-tiba Lian lian bertanya dengan nada penuh ejekan.
"Apakah kau pernah membayangkan kalau pada suatu hari keningmu juga akan ditembusi sebatang pedang?"
"Dulu aku pernah membayangkannya,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Siapa kira-kira orangnya?"
Tanya Lian lian.
"Toa Tek To Hun. Tapi sekarang tidak perlu dikhawatirkan lagi. Di dunia Bulim saat ini, tidak pernah akan terdengar nama itu lagi,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Aku justru menganggap bahwa saat kematianmu tidak akan lama lagi. Sayang sekali aku tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikannya,"
Sahut Lian lian ketus.
Fang Tiong Seng menarik nafas panjang, Dia seakan turut menyayangkan Lian lian yang tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan hari kematiannya.
Tiba-tiba pedang Lian lian sudah terhunus.
ilmu pedang perguruan Lamhai tidak boleh dianggap enteng, Nama perguruan mereka sudah sangat terkenal sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau.
Serangan Lian lian kali ini pasti merupakan jurus yang mematikan.
Serangan dengan jurus yaiag mematikan telah dikeluarkan, pedang Fang Tiong Seng juga ikut berkelebat.
Tampaknya dia mengeluarkan pedang belakangan masih lebih cepat sekedipan mata.
"Kehidupan"
Seseorang dapat ditentukan dalam waktu sekedipan mata itu.
"Kematian"
Seseorang juga dapat menjadi sempurna dalam sekejapan mata.
Tenggorokan Lian lian telah tertembus oleh pedang di tangan Fang Tiong Seng.
Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa kali sebelum rubuh ke tanah.
Tangan kiri Fang Tiong Seng menangkap tubuh yang hampir mencapai tanah itu.
sedangkan tangan kanannya meraih tikar rumput dan berbagai macam peralatan yang lainnya, Dia meninggalkan tempat tersebut dengan tenang.
Bagi Fang Tiong Seng, membunuh seseorang adalah pekerjaan yang mudah sekali, Semudah membalikkan telapak tangannya.
Oleh karena itu, dia tidak percaya apa yang dikatakan Lian lian tadi, Umurnya masih sangat panjang.
Dia tidak mungkin dibunuh oleh siapa pun.
Tidak ada orang lagi yang dapat menandinginya di dunia ini.
*** Hujan badai antara Siau kiong cu dan Kwe Po Giok sudah berlalu, Hal ini disebabkan karena Siau Kwe yang mau mengalah terhadapnya, Namun, tidak mudah baginya untuk menerima tanggapan orang lain yang mengira dirinya bukan Sin tong.
Oleh karena itu, Kwe Po Giok setiap hari pasti keluar rumah.
Dia ingin mengurangi beban hatinya, jangan sampai masalah tersebut menjadi penghalang antara dirinya dan Siau kiong cu.
Kentungan kesatu baru lewat Siau kiong cu sedang membasuh diri di sebuah ruangan khusus, Air yang hangat menyamankan perasaannya yang kacau belakangan ini.
Di tempat yang gelap ada sepasang mata yang sedang mengintai.
Mata itu sangat tajam, berpengalaman, dan mengetahui dengan jelas bagaimana bentuk tubuh seorang perempuan yang sempurna.
Tubuh Siau kiong cu tidak gemuk ataupun kurus, Setiap lekukannya memberi kesan keindahan.
Kulitnya bercahaya bagai sehelai sutera, Juga amat halus.
Ada satu hal lagi yang paling utama, Dia masih suci bersih bagai sebuah batu kumala.
Gadis yang suci bersih selalu mendapat rasa hormat dan kasih sayang siapa pun yang memandangnya, Meskipun seorang laki-laki yang berjiwa busuk juga akan mempunyai pendapat yang sama.
Siau kiong cu sama sekali tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang, Dia memang tidak bisa ilmu silat pendengarannya tidak cukup tajam untuk mengetahui kehadiran seseorang yang mempunyai ginkang tinggi.
Sampai dia selesai mengenakan pakaiannya, barulah sepasang mata itu menghilang di kegelapan.
Karena kematian Lian hu, Mo Put Chi jadi kehilangan keseimbangan.
Dia memang sangat menyayangi gadis itu, Dia juga seorang yang berpikiran polos, ia bukan jenis manusia yang sanggup menerima pukulan bathin yang begitu berat.
Mo Put Chi pergi ke balai desa dan mengatakan kepada petugas di sana bahwa dia yang membunuh Lian hu.
Tentu saja dia diinterogasi oleh pihak berwajib.
Belakangan dia mengatakan bahwa dia tidak membunuh Lian hu, tapi kematiannya mungkin disebabkan olehnya, Namun para petugas sudah curiga kepadanya, Dia ditahan dan dijebloskan ke dalam penjara, Tekanan bathinnya semakin kuat.
Dia telah menjadi gila.
Manusia macam Mo Put Chi, apabila menghadapi kenyataan demikian, tentu akan berakibat buruk, Tidak heran kalau dia jadi gila.
*** "Tinggal satu halangan lagi,"
Fang Tiong Seng berkata kepada dirinya sendiri.
Setelah berhasil melewati satu halangan ini, dunia Bulim akan bertekuk lutut di bawah kakinya, Tidak ada seorang pun yang sanggup menerima satu jurus serangannya lagi.
Tingkatannya sekarang sudah tidak mungkin ada yang melampaui lagi.
Janji untuk bertemu di tempat pembakaran mayat ada baiknya, Tempat ini terpencil di pelosok desa.
Tempatnya juga jauh di atas gunung, Apalagi pada saat seperti ini, orang-orang sedang terlelap dalam dunia mimpi.
Tidak mungkin ada yang mengetahui apa yang diperbuatnya, pertarungan kali ini, kedua belah pihak sama-sama tidak ingin ada yang mengetahui kalau lawannya terbunuh oleh salah satu dari mereka.
Tujuan mereka hanya membunuh, bukan untuk mencari nama, Karena lawannya akan bergabung berdua untuk bertarung dengannya.
Sekitar tujuh li dari tempat pembakaran mayat tersebut ada sebuah dermaga yang sudah tidak terpakai Di bawah dermaga ada sebuah jurang yang dalam, Sebuah sungai yang deras mengalir disana, Orang yang pandai berenang pun tidak berani memandang enteng tempat yang begitu berbahaya.
Mereka justru memilih tempat ini untuk bertarung, Masing-masing membelakangi jurang yang dalam itu.
Sebelum berangkat tadi, Fang Tiong Seng sempat memberi pesan kepada Sun Put Ce.
Apabila sampai kentungan kelima dia belum juga kembali, maka dia harus datang ke tempat itu untuk membereskan jenasahnya.
Fang Tiong Seng sama sekali tidak menjelaskan siapa Iawannya.
Bagi laki-Iaki itu, kejadian seperti ini merupakan yang pertama kalinya, Namun Sun Put Ce juga mempunyai pikiran tersendiri.
Bahkan dia memberitahukan pikirannya itu kepada Kwe Po Giok dan Siau kiong cu.
Selama ini dia sangat setia terhadap Suhunya, tetapi gilanya Mo Put Chi membuat hatinya sakit.
Ketika Fang Tiong Seng sampai di tepi dermaga tua itu, Tokku Peng dan muridnya Miao Hua Fang sudah sampai lebih dahulu, pertarungan kali ini pasti merupakan pertarungan yang paling mendebarkan.
Karena ilmu yang dimiliki Tokku Peng jauh di atas Hua can lei atau pun Seebun Cu Yap.
Apalagi dia bergabung dengan muridnya dalam menghadapi Fang Tiong Seng.
Pertarungan ini juga menentukan masa depan kedua belah pihak, Fang Tiong Seng beranggapan, kalau dia dapat memenangkan pertarungan ini, maka di dunia Bulim tidak ada tokoh yang perlu dikhawatirkan lagi.
Sedangkan Tokku Peng berpikir kalau dia memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Fang Tiong Seng, berarti dia telah menyelamatkan dunia persilatan dari ancaman bahaya orang jahat ini.
Dia juga telah membalaskan dendam tokoh-tokoh yang gugur akibat ulahnya.
Dengan demikian, bukan saja dunia Bulim akan tentram kembali, namun ia juga dapat melewatkan hidup dengan tenang, Tokku Peng sudah berusia enam puluhan.
Rambutnya telah memutih sebagian, pedang yang digunakannya lebih panjang lima cun dari pedang biasa.
Lebarnya juga melebihi kira-kira dua cun.
Muridnya Sam ta siau ya (Ada juga yang memanggilnya sam ta kongcu) yaitu Miao Hua Fang memakai senjata berupa sepasang roda dengan gerigi berwarna hitam putih.
Siapakah Fang Tiong Seng itu?
Mungkinkah dia tidak tahu seberapa hebatnya gabungan kedua guru dan murid tersebut.
"Fang Tiong Seng, tentunya kau sudah tahu alasan kami yang ingin membunuhmu,"
Kata Tokku Peng. Fang Tiong Seng tertawa terkekeh-kekeh.
"Tokku Peng.... Yang kau maksudkan kami adalah kau dan muridmu bukan?"
Tanyanya.
"Demi keselamatan kaum Bulim, tidak ada orang yang akan menyalahkan kami,"
Sahut Tokku Peng.
"Demi keselamatan kaum Bulim? Apakah alasannya sudah tepat?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Fang Tiong Seng, meskipun kau pandai bersilat lidah, tapi di dunia ini masih banyak orang yang tidak terjerat dalam tipu dayamu!"
Sahut Tokku Peng dengan suara tajam.
Fang Tiong Seng sengaja tertawa lebih keras, Seakan dia ingin menjelaskan bahwa di dunia ini tidak mungkin ada orang yang tidak terjerat dalam kepalsuannya, orang-orang yang terjerat makin banyak, mereka malah bersedia melakukannya tanpa mengetahui dirinya telah diperalat.
Apa yang dilakukannya selama ini sudah menjadi kebiasaan.
Setiap kesempatan yang terluang akan digunakannya baik-baik.
Dia tidak akan membiarkan seorang pun lepas dari cengkeramannya.
Mungkin kebiasaan itu akan menjadi sesuatu yang wajar.
Dia juga akan tertipu, Tertipu oleh dirinya sendiri justru perangkap ini yang paling susah dilepaskan dalam dunia ini.
Siapa pun jangan harap membuka perangkap yang menjerat diri sendiri.
"Apakah kau juga tertipu olehku?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Pasti kau sendiri yang menyebarkan berita bahwa Toa Tek To Hun sudah mati. Mana kenyataannya?"
Tokku Peng membalikkan pertanyaan tersebut.
"Mengapa aku harus menyiarkan berita seperti itu?"
Sahut Fang Tiong Seng tenang.
"Karena dalam berita yang tersiar, engkaulah yang membunuh Toa Tek To Hun,"
Kata Tokku Peng.
"Toa Tek To Hun memang sudah mati, Apa yang tidak benar? Tapi, aku masih belum sanggup membunuhnya,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Tipuanmu sungguh hebat. Kau sengaja berkata demikian agar orang memandang rendah padamu,"
Kata Tokku Peng. Fang Tiong Seng tertawa terkekeh-kekeh sekali lagi.
"Aku sendiri belum mempunyai pikiran sejauh itu,"
Sahutnya.
"Dalam anggapanmu, apakah Toa Tek To Hun sudah mati?"
Tanya Tokku Peng dengan mata menyelidik.
"Tentu sudah mati,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Kalau bukan kau yang membunuhnya mengapa kau bisa tahu bahwa dia sudah mati?"
Tanya Tokku Peng.
"Kabar yang tersiar memang demikian, kalau tidak, mengapa dia menghentikan rentetan pembunuhan yang dilakukannya?"
Sahut Fang Tiong Seng. Tiba-tiba Tokku Peng tertawa terbahak-bahak.
"Tampaknya kau hanya sembarangan mengoceh saja,"
Katanya. Wajah Fang Tiong Seng berubah serius.
"Apakah yang kukatakan salah?"
Tanyanya.
"Toa Tek To Hun sama sekali tidak mati,"
Sahut Tokku Peng. Mata Fang Tiong Seng terbelalak. Dia mengira telinganya salah dengar.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?"
Tanyanya.
"Karena aku melihatnya dengan mata kepala sendiri,"
Kata Tokku Peng. Sekali lagi Fang Tiong Seng terpana.
"Kapan kau melihatnya?"
Tanyanya.
"Dua hari yang lalu,"
Sahut Tokku Peng. Keterangan itu membuat hati Fang Tiong Seng tergetar. Siapa pun bisa berbohong, tetapi dia tahu, Tokku Peng tidak. Dia juga tidak mungkin bisa salah lihat.
"Fang Tiong Seng, hal ini membuktikan bahwa kedatangan Toa Tek To Hun adalah atas undanganmu,"
Kata Miao Hua Fang dingin.
"Kalau memang demikian, mengapa Toa Tek To Hun harus menghilang sekian lama?Dan mengapa dia muncul lagi sekarang? Bukankah dia akan menundukkan para jago di Tionggoan apabila dia terus membunuhi jago-jago kelas satu."
Sahut Fang Tiong Seng.
"Hal ini disebabkan oleh Kiau Bu Suang yang melihat pertarungan antara Toa Tek To Hun dengan Tang hay sin sian, Manusia sakti itu telah lama terkena Cao hue jit mo.Kepandaiannya telah punah, Toa Tek To Hun terharu melihat pengorbanannya yang besar, Dia berjanji untuk meninggalkan Tionggoan dan tidak akan membunuh lagi.Toa Tek To Hun yang muncul belakangan adalah samaran dirimu dan Kiau Bu Suang,"
Kata Miao Hua Fang. Fang Tiong Seng tidak memberikan pendapatnya, Pokok pembicaraan kembali lagi pada Toa Tek To Hun.
"Tokku Peng... Apakah kau benar-benar melihat Toa Tek To Hun?"
Tanyanya dengan hati penuh harap kalau dia salah dengar.
"Jangan samakan aku dengan dirimu yang tidak pernah mengucapkan kejujuran sama sekali,"
Sahut Tokku Peng.
"Bagaimana membuktikan kalau yang kau lihat benar-benar adalah Toa Tek To Hun?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Karena sejak membunuh Lau san chi siong sampai Chao pak seng, aku selalu mengintip dari kejauhan,"
Sahut Tokku Peng. Tiba-tiba Fang Tiong Seng tertawa terbahak-bahak.
"Aku tahu mengapa kau tertawa?"
Kata Tokku Peng sinis.
"Kau memang seharusnya mengerti,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Kau pasti akan mengatakan, mengapa aku tidak mengunjukkan diri melihat Toa Tek To Hun membunuh para jago di Tiong-goan, bukan?"
Tanya Tokku Peng tenang.
"Kau toh sudah menjelaskan sendiri, buat apa aku mengulanginya kembali?"
Kata Fang Tiong Seng.
"Untuk mengetahui kenyataan dari suatu hal, kita harus dapat menahan diri. Apalagi waktu itu aku baru saja bertempur dengan It to hun Seeto Kang dan Hok su thi Seebun Cu Yap, serta Go bun tho sehingga mendapat luka dalam. Ketika itu muridku Miao Hua Fang juga tidak ada di sisiku. Oleh sebab itu, aku tidak dapat turun tangan,"
Sahut Tokku Peng.
Paling tidak, alasannya memang tepat dan tidak dibuat-buat.
Namun, Fang Tiong Seng masih belum mengerti mengapa Toa Tek To Hun tidak mati.
Sekarang, Tokku Peng telah mengeluarkan pedang panjangnya, Miao Hua Fang juga siap dengan senjatanya yang berupa sepasang roda bergerigi hitam putih.
Fang Tiong Seng sama sekali tidak berani memandang ringan kedua guru dan murid tersebut.
Dia juga menghunus pedangnya, Pedang di tangannya telah banyak membunuh manusia, Bahkan manusia yang termasuk jago kelas satu di Bulim.
Oleh karena itu, setiap dia menghunus pedang tersebut, rasa percaya dirinya pun makin bertambah.
Terlalu sering dia membunuh orang hanya dengan setengah jurus.
Lawannya bahkan belum sempat menghunus pedang, Kekuatannya sudah sulit ditandingi apa lagi setelah dia berhasil melenyapkan Toa Tek To Hun, dia semakin yakin tidak ada orang yang sanggup mengalahkannya lagi.
Malam musim panas.
Hawa terasa pengap, Angin semakin enggan bertiup semilir.
Di kening ketiga orang itu telah terlihat peluh membasah.
Tokku Peng dan muridnya saling lirik sekilas, Pedang di tangan Tokku Peng bergerak perlahan.
Gerakan ini tidak mirip seperti orang yang sedang mengadu nyawa, Malah memberi kesan seakan seorang guru yang memberi contoh kepada murid-muridnya, Dan karena takut melukai mereka, maka tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit.
Tetapi Fang Tiong Seng tahu, gerakan itu akan berlanjut sebuah serangan yang mematikan perubahannya akan mengejutkan siapa saja yang melihat.
Dalam waktu yang sekejap, dia sadar, kecuali Toa Tek To Hun, Tokku Peng dan muridnya merupakan lawan terberat yang pernah ditemuinya.
Pedang Fang Tiong Seng juga sudah bergerak.
Deru angin yang mengiringinya memekakkan telinga, Miao Hua Fang tidak mau ketinggalan.
Dia segera melancarkan sebuah serangan, Fang Tiong Seng berhasil memecahkan jurus yang dikerahkan oleh Tokku Peng, Tanpa membuang waktu dia berkelit untuk menghindari sepasang roda yang mengancam dirinya.
Miao Hua Fang gagal melukai Fang Tiong Seng, Dia berputar sekali, kembali sepasang rodanya meluncur ke arah laki-laki itu.
Kali ini rodanya yang bergerigi hitam berhasil mengunci pedang Fang Tiong Seng.
Serangan ini merupakan jurus andalan Tokku Peng dan muridnya, Pada saat yang sama, pedang Tokku Peng dengan gerakan kilat mengincar bagian dadanya, Fang Tiong Seng tergetar.
Hal ini benar-benar di luar dugaannya, Nama besar Tokku Peng benar-benar nyata.
Bagi Fang Tiong Seng, tokoh yang nama besarnya betul-betul diperoleh dengan kepandaian sejati, lawan seperti mereka dapat terhitung oleh jari.
"Trang! Tring! Trang!!!"
Tiba-tiba pedang Fang Tiong Seng sudah terlepas dari roda di tangan Miao Hua Fang.
Entah bagaimana cara Fang Tiong Seng melepaskan pedangnya dari kurungan roda tersebut.
Dengan kecepatan yang tidak sanggup dilihat oleh mata biasa, pedangnya memutar.
Leher Miao Hua Fang sudah tersayat sebagian.
Kulit dan daging di tenggorokan itu menghambur di udara, pemandangan ini membuat Tokku Peng terkesima.
Namun, Fang Tiong Seng tidak menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Tokku Peng, Dia ingin berduel dengan orang tua itu untuk mengetahui sampai di mana perbedaan di antara mereka.
"Tokku Peng, berapa jurus?"
Tanya Fang Tiong Seng dengan nada angkuh.
Tokku Peng kecewa, putus asa, Dia tidak sanggup mengucapkan apa-apa.
Dengan mata kepala sendiri dia melihat muridnya telah berhasil mengunci pedang lawan, dia juga tidak membuang waktu dan segera menyerang.
Bagaimana kejadiannya malah bisa berakhir demikian tragis?
jurus andalannya masih belum dapat mengalahkan lawan, ilmu apa yang digunakan Fang Tiong Seng?
Sebetulnya cara Fang Tiong Seng melepaskan pedangnya dari cengkeraman roda bergerigi Miao Hua Fang bukan salah satu dari ketigabelas jurus bangau terbangnya, Dia menggunakan ilmu yang ditinggalkan oleh Tang hay sin sian.
Ia memperalat Lian lian untuk menipu Siau kiong cu agar merangkai bunga di depan perempuan itu.
Dia mengintai dari balik kegelapan, Kemudian Lian lian juga berhasil membujuk Kwe Po Giok agar menunjukkan kepadanya.
Meskipun apa yang diperlihatkan kedua muda mudi itu belum seluruhnya, namun Fang Tiong Seng adalah orang yang sudah banyak makan asam garam, Dia sudah mempelajari ilmu silat sejak kecil pengetahuan dan kecerdasannya melebihi orang lain.
Dengan caranya sendiri, dia berhasil menguraikan cukup banyak ilmu peninggalan Tang hay sin sian tersebut.
Bahkan dia menggabungkannya dengan ilmu pedangnya sendiri.
"Dari awal sampai akhir tidak mencapai empat jurus setengah,"
Gumam Tokku Peng.
"Apakah kau merasa sedih?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Bukan sedih, Tetapi sekarang aku baru menyadari bahwa selama ini aku telah membuang waktu yang berharga, Ternyata aku masih menganggap diriku sebagai tokoh nomor satu atau paling tidak nomor dua di Bulim,"
Sahut Tokku Peng.
"Sebetulnya perkiraanmu tidak terlalu salah. Meskipun kau tidak termasuk tokoh nomor satu atau pun nomor dua di Bulim, tapi perkiraanmu memang tidak meleset jauh, kau termasuk tokoh nomor tiga saat ini,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Siapa tokoh nomor dua itu?"
Tanya Tokku Peng. Manusia memang aneh, Sampai saat itu, mereka masih sempat berdiskusi siapa tokoh nomor satu, dua atau tiga.
"Mungkin seorang bocah yang baru meningkat dewasa,"
Gumam Fang Tiong Seng ragu.
"Bocah? Berapa usianya?"
Tanya Tokku Peng.
"Mungkin belum cukup dua puluh tahun,"
Sahut Fang Tiong Seng.
Tokku Peng berdiri terpaku di kegelapan malam.
Dia hampir tidak dapat percaya bahwa tokoh nomor dua di Bulim saat ini hanya seorang pemuda yang usianya belum mencapai duapuluh tahun.
"Kau juga tidak perlu merasa sedih, seorang pemuda yang masih ingusan berada di bawah deretanku, juga bukan hal yang membanggakan,"
Kata Fang Tiong Seng.
Tokku Peng sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan Fang Tiong Seng barusan.
Tatapan matanya terpusat pada luka dileher Miao Hua Fang.
Dia merasa bersalah, Karena dirinya, maka Miao Hua Fang mengalami kematian yang begitu tragis.
Tiba-tiba pedang di tangannya diarahkan ke dadanya sendiri.
*** Fang Tiong Seng menggelengkan kepala dengan tertawa getir.
"Orang seperti dirimu juga bisa memilih kematian dengan cara demikian pengecut?"
Tanyanya.
"Kematianku tidak perlu disayangkan ingin mengadu nyawa pun sia-sia saja,"
Sahut Tokku Peng.
"Tapi seorang pendekar tidak boleh mati dengan cara demikian sedangkan kau adalah seorang pendekar,"
Kata Fang Tiong Seng.
Dia memang tidak berharap jago nomor tiga itu mati dengan cara demikian.
Kesenangannya akan berkurang, Dia juga akan kehilangan sebuah ujian yang dapat menentukan seberapa tinggi ilmu yang dimilikinya sekarang.
Tokku Peng memandang alam di sekitarnya.
Rumput-rumput menghijau, Cahaya bulan bersinar, Semua itu merupakan sebuah pemandangan yang sulit dilupakan.
Kenyataannya, hidup tentu lebih senang daripada mati.
Namun, dia tahu bahwa dirinya tidak mungkin meninggalkan tempat itu dalam keadaan hidup.
"Kau pasti menginginkan kematian dengan cara itu?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Tentu!"
Sahut Tokku Peng.
"Apakah kau tidak perduli nama baik yang telah kau pupuk selama ini?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Guru dan murid bergabung masih belum dapat menandingimu mana ada lagi segala nama baik yang tersisa?"
Sahut Tokku Peng kecewa.
"Tidak tentu! Nama baik setelah orangnya mati tetap akan ada. Tinggal bagaimana keputusanmu saja?"
Kata Fang Tiong Seng. Dia benar-benar manusia licik. Untuk tujuan pribadinya, dia tega menggunakan segala macam cara dan orang itu toh akhirnya mati juga.
"Keputusanku sudah bulat!"
Sahut Tokku Peng.
"Semestinya itu bukan keputusan yang terakhir,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Fang Tiong Seng.... Kalau kau menjadi diriku, kau pasti akan menggunakan tangan dan pedang sendiri mengakhiri hidupmu,"
Sahut Tokku Peng.
"Aku tidak akan sebodoh itu!"
Kata Fang Tiong Seng.
"Meskipun kau tidak mungkin, tapi aku tetap pada keputusanku!"
Sahut Tokku Peng tegas. *** Fang Tiong Seng tertawa dingin.
"Kalau tekadmu sudah bulat, aku juga tidak memaksa. Hanya ada satu hal yang perlu kuingatkan kepadamu,"
Katanya.
"Hal apa?"
Tanya Tokku Peng.
"Kalau kau memaksa ingin bunuh diri, maka sesudahnya aku akan menyiarkan kepada teman-teman di Bulim bahwa kalian guru dan murid kalah di tanganku hanya dengan satu jurus saja,"
Sahut Fang Tiong Seng sinis.
Tokku Peng meraung keras-keras.
suaranya mirip ratapan serigala di musim dingin, Dia merasa menyesal telah menantang Fang Tiong Seng.
Tadinya dia berharap dapat menyelamatkan dunia Bulim dari cengkeraman orang jahat ini.
Thian sungguh tidak adil terhadapnya.
Harapannya yang suci di balas dengan cara sekeji ini.
Sekarang, menyesal pun sudah terlambat.
Nama baik tetap penting bagi manusia yang sudah mati.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan.
"harimau mati meninggalkan kulitnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, sedangkan manusia mati meninggalkan kehaf uman namanya? Paling tidak, Tokku Peng merasa nama baik sangat penting, Bukan hanya karena dia ingin disanjung orang, tapi apabila Fang Tiong Seng benar-benar menyebarkan berita bahwa mereka guru dan murid hanya sanggup menerima satu jurus dari orang itu, maka dunia Bulim akan gempar. Tidak mungkin ada lagi yang berani menghalangi niat jahatnya. Fang Tiong Seng tetap Fang Tiong Seng. Hanya sepatah perkataan saja sudah sanggup merubah keputusan Tokku Peng. pedangnya ditarik kembali dari dada. Dia ingin mengadu nyawa dengan manusia jahat itu. Setidaknya, dia ingin mati dengan cara yang gagah perkasa.
"Begini baru dapat disebut seorang pendekar,"
Kata Fang Tiong Seng.
Tiba-tiba, pedang di tangan Tokku Peng diangkat ke atas.
Fang Tiong Seng masih berdiri di tempatnya dengan tangan menggenggam pedang erat-erat.
Sekali melengos, serangan Tokku Peng luput.
Melihat serangannya yang pertama tidak berhasil, dia kembali menyerang tiga kali beruntun.
Pedang Fang Tiong Seng yang tadinya mengarah ke bawah, tiba-tiba menyerang ke atas, Tokku Peng seakan melihat kembang api sedang berpijar, pandangan matanya berkunang-kunang.
Angin dingin, menyelimuti dirinya.
Pada serangan ketiga dari Fang Tiong Seng, dia tidak dapat menghindar lagi, Tubuhnya masih terpaku di tempat, tapi kepalanya melayang ke udara.
Setelah lima detik kemudian, tubuhnya baru menyusul rubuh ke tanah.
Suatu pemandangan yang sangat menyeramkan terjadi Kepala Tokku Peng masih berputar di udara.
Fang Tiong Seng menyabetkan pedangnya sekali lagi Kepala itu terbelah menjadi dua sebelum berdebum ke atas tanah, jatuhnya tepat di samping tubuh itu sendiri.
Pedang di tangan Fang Tiong Seng dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.
Ternyata dengan seorang diri melawan Tokku Peng yang termasyur, dia juga hanya memerlukan dua jurus setengah, bagaimana hal ini tidak membuat kepalanya menjadi besar?
Oleh karena itu, Fang Tiong Seng mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, pula jika tidak tertawa saat ini, kapan lagi dapat merapat kebanggaan seperti ini?
Semakin lama, rasa percaya.
dirinya semakin tinggi, Meskipun orang yang dikatakan tokoh nomor dua di Bulim saat ini mengunjukkan diri, dia juga akan mempunyai rasa keyakinan yang sama.
Rasa percaya diri itu amat penting, banyak hal di dunia ini terlaksana karena keyakinan yang teguh, sedangkan para manusia yang gagal, biasanya merupakan mereka yang mempunyai kemampuan, tapi tidak percaya kepada dirinya sendiri.
Fang Tiong Seng baru saja hendak meninggalkan tempat itu.
seseorang meloncat ke dalam kancah pertarungan tersebut, Orang yang datang ternyata Kwe Po Giok, Dia juga merupakan orang yang disebut tokoh nomor dua di Bulim saat ini oleh Fang Tiong Seng.
*** "Bagus sekali!
Orang yang seharusnya tampil sudah ada di sini.
Dengan demikian, membuat pekerjaanku jauh lebih ringan,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Aku justru tidak menganggap kalau dirimu dapat disebut sebagai tokoh nomor satu di Bulim,"
Sahut Kwe Po Giok dengan nada mengejek.
Fang Tiong Seng menatap Kwe Po Giok dengan seksama, Pemuda ini adalah Sin tong.
sedangkan Sin tong tentu tidak dapat disamakan dengan orang biasa.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Kwe Po Giok.
Pada masa kecilnya, Fang Tiong Seng juga sudah mendapat panggilan Sin tong.
"Dayang Cui thian pernah mengatakan bahwa dia menitip sebuah dompet sulaman yang terbuat dari kapas kepada Siau kiong cu. Kwe Po Giok mendengus satu kali.
"Dompet sulaman apa?"
Tanyanya.
"Dompet sulaman, ya dompet sulaman,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Kalau memang dia mempunyai dompet seperti itu, dia pasti sudah mengatakannya padaku,"
Kata Kwe Po Giok.
Fang Tiong Seng mengira dayang Cui thian mungkin hanya menipu dirinya agar dapat memperpanjang waktu sehingga dia mempunyai kesempatan melarikan diri.
Untung saja saat itu dia tidak berpikir panjang dan langsung membunuhnya.
"Sebetulnya tidak perlu menitip segala macam dompet pada Siau kiong cu. Sejak semula kau sendiri sudah menunjukkan wajahmu yang sebenarnya,"
Kata Kwe Po Giok yang cerdik, Meiihat kerut di wajah Fang Tiong Seng, dia sudah dapat menduga apa isi dompet yang dimaksudkan.
"Aku?"
Tanya Fang Tiong Seng terkejut.
Sampai hari ini, dia masih yakin bahwa rahasianya ini tak banyak yang mengetahui.
Apakah bocah ini juga sedang mempermainkan dirinya?
"Toa Tek To Hun, baru pertama kali menginjak tanah Tionggoan, bagaimana dia bisa tahu siapa-siapa saja tokoh-tokoh kelas satu di negeri ini, itu bahkan tahu di mana tempat tinggal mereka.
sasarannya selalu tepat!"
Dengan demikian, terbukti bahwa ada seseorang yang menjadi petunjuk baginya, sedangkan di antara semua jago-jago yang diincarnya, tidak ada satu pun yang dapat meloloskan diri dari kematian.
Mengapa dirimu merupakan kekecualian?
Sejak dulu, aku sudah berpikir ke situ."
Sahui Kwe Po Giok.
"Sin tong"
Memang tidak dapat di samakan dengan orang biasa."
Kata Fang Tiong Seng.
"Sebetuinya bukan aku saja, Sun Put Ce juga sudah lama mengetahuinya,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Sejak semula aku sudah tahu Sun Put Ce bukan orang bodoh, Mungkin dia malah lebih pintar darimu,"
Kata Fang Tiong Seng. Kwe Po Giok tidak suka mendengar kata-kata itu. Dia tidak percaya bahwa di dunia ini ada begitu banyak Sin tong.
"Kau pernah mengutus Sun Put Ce membunuhku bukan?"
Tanyanya.
"Coba kau terka, untuk apa aku mengutusnya membunuhmu?"
"Mungkin karena kau sudah tahu kalau dia bukan tandinganku?"
Tanya Kwe Po Giok tenang.
Fang Tiong Seng tersenyum.
Pada saat orang itu tersenyum, kesan yang ditampilkan adalah seorang laki-laki setengah baya yang penuh pengertian.
Sungguh mengherankan manusia sejahat dirinya ternyata dapat tersenyum begitu lembut dan enak dipandang, Apakah manusia demikian yang disebut Serigata berbulu domba?
"Apa bedanya kalau kalian memang sudah mengerti maksud hatiku,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Sun Put Ce adalah orang baik, Berbeda dengan diri mu. Dia tahu kalau dirinya tidak sanggup membunuhku, dia juga tidak bisa membantuku Karena dia tahu, aku juga belum tentu bisa memecahkan jurus ketiga-belas bangau terbangmu. Oleh sebab itu, dia hanya mempunyai satu jalan yang harus ditempuh,"
Sahut Kwe Po Giok.
"jalan apa?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Jalan kematian,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Tapi dia kan tidak mati?"
Kata Fang Tiong Seng.
"Pada waktu itu, dia sengaja menyodorkan tenggorokannya ke arah pedangku, untung saja aku cukup sigap sehingga menariknya segera, Tapi tak urung ia terluka cukup parah juga,"
Sahut Kwe Po Giok.
"Apakah dia bermaksud menerima kematian saat itu?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"ltu merupakan jalan terbaik bagi pikirannya. Sekarang, kau juga hanya mempunyai satu pilihan,"
Kata Kwe Po Giok.
Kedua orang itu sama-sama menghunus pedangnya, pertarungan antara tokoh nomor satu dan dua di Bulim.
Bagi perasaan Fang Tiong Seng, pertarungan itu tentu berbeda dengan pertarungan yang dialami selama ini.
Dia yakin, sebelum ajal, Tang hay sin sian pasti sudah merencanakan segala sesuatu.
"Pikiranmu terlalu berbelit-belit. Tapi ada beberapa bagian yang tepat juga. Namun, ada satu hal yang kau lupa,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Apa itu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Bahwa aku bukan Sun Put Ce!"
Sahut Fang Tiong Seng ketus.
Kwe Po Giok tidak menjawab.
Dia langsung menyerang.
Hunusan pedang kedua orang itu sangat cepat, Seakan deretan nama mereka seharusnya seimbang, Tapi, kalau diperhatikan dengan seksama.
pedang Fang Tiong Seng memang lebih cepat beberapa kejapan mata dari pada-Kwe Po Giok, karena pemuda itu telah terluka.
Fang Tiong Seng berteriak nyaring, Sekali pedangnya berkelebat Baju lengan kiri Kwe Po Giok terkoyak.
Dia mundur sebanyak lima langkah.
Fang Tiong Seng tidak mau kehilangan kesempatan yang baik itu.
Dia menusuk sekali lagi.
Kwe Po Giok terpaksa meloncat mundur lagi.
Sekarang jaraknya tinggal tiga langkah dari jurang yang dalam itu.
Pada saat yang berbahaya itu, suara kibaran baju mendesir di udara.
seseorang melayang turun di dekat mereka, Kepala orang itu tertunduk ke bawah, Dia seakan segan menatap wajah orang yang di hadapannya Orang yang datang, ternyata Sun Put Ce yang Kwe Po Giok sendiri sulit menyangkal bahwa dia juga seorang Sin tong, Wajah Fang Tiong Seng berubah hebat.
"Untuk apa kau datang ke tempat ini?"
Tanyanya marah.
"Mohon jangan membunuh Siau Kwe!"
Sahut Sun Put Ce.
"Seharusnya aku yang menuruti perintahmu atau kau yang harus mendengar apa kataku?"
Tanya Fang Tiong Seng dengan mata mendelik.
"Dengan kejahatan memuaskan diri sendiri Bagaimana menghalau ombak besar di tengah lautan, Meskipun ombak itu berhasil dihalau, di belakang akan datang lagi segulung ombak yang lebih tinggi. Di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar nomor satu. Di atas gunung masih ada gunung lainnya, Teecu harap Suhu mau merenungkannya sekali lagi,"
Kata Sun Put Ce. Fang Tiong Seng tertawa dingin.
"Kalau kau mau terjun ke dalam jurang itu, baru dapat dianggap dirimu tulus, Mungkin aku akan mempertimbangkannya kembali,"
Katanya.
"Mati untuk seorang sahabat, Sun Put Ce tidak akan mengernyitkan dahi sedikit pun, Mohon Suhu tidak mengingkari janji,"
Sahut Sun Put Ce.
"Sun Put Ce, maling tua itu tidak dapat dipercaya!"
Teriak Kwe Po Giok panik.
"Kwe siaute, kau pergilah!"
Kata Sun Put Ce.
"Apakah kau mengira dia akan melepaskan diriku selamanya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"lya,"
Sahut Sun Put Ce.
"Menaruh harapan pada seorang iblis, memberi kepercayaan kepada seekor harimau yang sedang kelaparan Sun Put Ce, ternyata kau masih belum sadar siapa manusia itu,"
Kata Kwe Po Giok.
"Suhu.... Fu tam cianpwe (Nama asli Tang hay sin sian) telah cao hue jit mo, namun dia masih memiliki kemauan untuk berkorban demi dunia Bulim, jasa sebesar itu akan dikenang pendekar Tionggoan selamanya, sedangkan Kwe siaute adalah ahli waris tumpuan harapannya, Apalagi dia juga menitipkan Siau kiong cu yang sudah yatim piatu. Harap Suhu memandang muka orang tua yang sudah meninggal itu dan melepaskan Kwe siaute,"
Sun Put Ce memohon kepada Suhunya dengan wajah memelas.
Pada saat ini, rencana Fang Tiong Seng sudah hampir rampung, cita-citanya yang ingin menguasai dunia Bulim sudah tampak di depan mata.
Mana mungkin dia rela melepaskannya hanya karena permohonan murid terakhir itu.
Adat Kwe Po Giok sendiri sangat keras dan angkuh, Dia tidak akan meminta belas kasihan orang lain walaupun hal ini menyangkut hidup mati dirinya, Tadinya, dia mengira bahwa kepandaiannya sudah sanggup menandingi Fang Tiong Seng, ternyata jarak mereka masih terpaut jauh.
"Sun Put Ce, mari kita mengadu nyawa dengannya!"
Teriak Kwe Po Giok tiba-tiba.ucapannya selesai, orangnya juga langsung menyerang, Sun Put Ce tahu, saat ini Siau Kwe tidak mungkin sanggup menandingi Suhunya, seandainya dia tidak perduli, pemuda itu pasti akan mati.
Dan apabila dia turut campur, dia merasa bersalah kepada Fang Tiong Seng.
Meskipun dia mengerti Fang Tiong Seng bukan manusia baik-baik, Dia tidak dapat berpikir banyak lagi Nyawa Kwe Po Giok sedang terancam, Dia segera melayang ke udara dan membantu pemuda tersebut.
Sinar mata Fang Tiong Seng menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal, Dia ingin menyelesaikan persoalan ini dengan cepat, jangan sampai ada yang mengetahui kalau dia membunuh muridnya sendiri.
Manusia yang berambisi terlalu tinggi, mungkin otaknya juga sudah mulai tidak waras, Fang Tiong Seng segera menghentakkan kaki dan menyerang kedua orang itu.
Tusukan pedang yang tajam menikam paha Kwe Po Giok, secepat kilat ditariknya kembali pedang memutar mengarah ke Sun Put Ce, Tapi dia lebih beruntung, dia sempat berkelit.
Hatinya masih berat untuk bertarung dengan gurunya sendiri Dia hanya berharap agar Fang Tiong Seng mau mengerti dan sadar serta melepaskan Kwe Po Giok, Nasibnya sendiri tidak begitu diperdulikan.
Kwe Po Giok kembali terdesak, Sun Put Ce berusaha membantu sekuat tenaga, Fang Tiong Seng semakin gencar menusuk ke arah kedua orang itu, Mereka mengelak ke sana ke mari.
Sekali lagi Fang Tiong Seng menikam, Kwe Po Giok sudah berada di sudut jurang, Keseimbangannya goyah, Sun Put Ce mencoba menarik tangannya, Akibatnya malah semakin runyam.
Kedua-duanya jatuh tergelincir ke dalam jurang yang mempunyai aliran sungai deras.
Fang Tiong Seng menatap ke dalam jurang tersebut Dia masih menanti beberapa lama, Tapi kedua orang itu tidak terlihat timbul dari sungai Sekarang dia baru yakin.
Dunia ini tidak lama lagi akan berada di bawah cengkeraman tangannya.
Bulim memang sangat luas, Aliran partai yang ada juga amat banyak, Tapi, tidak mungkin ada seorang pun yang dapat mengalahkannya lagi.
Dia menengahkan kepala ke atas langit Suara tawanya yang terbahak-bahak menggema di sekeliling pegunungan tersebut.
-ooo0ooo-Bagian Dua puluh Tiga Siau kiong cu tidak sabar lagi menunggu.
Dia pergi menemui Bwe Mei.
Mereka memang tahu bahwa Sun Put Ce dan Kwe Po Giok pergi memenuhi janji, tapi entah di mana tempatnya, Kedua gadis itu tadinya merupakan saingan, Sekarang tidak ada permusuhan sedikit pun di antara mereka.
"Bwe Mei.... Apa yang harus kita Iakukan?"
Tanya Siau kiong cu.
Bwe Mei juga kebingungan Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tetapi, dia harus dapat menemukan jawaban bagi Siau kiong cu.
Sebetulnya, apapun yang hendak dilakukan oleh seseorang, sampai pada waktu yang sangat terdesak barulah terpikirkan.
"Siau kiong cu... Kwe siaute sangat cerdas, Sun Toako juga banyak pengalaman, mereka saling bahu membahu, rasanya tidak mungkin terjadi apa-apa."
Sahut Bwe Mei menenangkan Lu ji.
"Bwe ci, dapatkah kau menduga siapa lawan mereka?"
Tanya Siau kiong cu dengan wajah cemas. Bwe Mei menggelengkan kepalanya.
"Meskipun aku juga tidak tahu, namun melihat kemurungan Kwe Po Giok akhir-akhir ini, aku dapat membayangkan berapa tingginya ilmu yang dimiliki lawan,"
Kata Siau kiong cu selanjutnya.
"Betul, dengan gabungan kedua orang itu, berapa banyaknya tokoh di Bulim yang sanggup menandingi saat ini?"
Sahut Bwe Mei.
Tepat pada waktu itu, terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu, Bwe Mei segera membukakannya, Yang datang adalah Fang yen yang bekerja sebagai pelayan di gedung keluarga Fang Tiong Seng.
"Ada urusan apa Fang lopek berkunjung ke tempat kami?"
Tanya Bwe Mei dengan pandangan menyelidik. Di mata orang tua itu masih tersisa genangan air mata.
"Aku datang untuk memberitahukan sesuatu hal kepada Kouwnio dan Siau kiong cu,"
Katanya.
"Memberitahukan soal apa?"
"Murid perguruan Loya, Sun Put Ce dan Kwe siaute mengadakan perjanjian dengan Tokku peng dan muridnya untuk bertarung di dermaga tua di luar kota. Tokku Peng dan muridnya tewas bersama, Namun Kwe siaute dan Sun Put Ce terluka parah dan jatuh tergelincir ke dalam jurang, Sampai sekarang mayat mereka belum ditemukan,"
Kata Fang yen menjelaskan. Bwe Mei merasa seakan ada batu besar yang membentur kepalanya, tetapi Siau kiong cu hanya terkejut sesaat. Tidak lama kemudian, dia sudah tenang kembali.
"Fang lopek.... Apakah kau pergi ke tempat itu dan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri?"
Tanyanya.
"Tidak, Sun Put Ce pernah memberitahukan bahwa dia dan Kwe Po Giok akan bertarung dengan kedua guru dan murid tersebut Setelah menunggu sekian lama, aku melaporkannya kepada majikan. Loya segera berangkat ke tempat tersebut, namun tetap terlambat satu langkah,"
Sahut Fang yen dengan wajah sendu.
"Kalau memang sudah terlambat satu langkah, mengapa Loyamu bisa mengetahui bahwa Kwe Po Giok dan Sun Put Ce terluka parah jatuh tergelincir ke dalam jurang? Dia toh tidak menyaksikannya sendiri,"
Tanya Siau kiong cu yang berotak cerdik itu.
"Hal ini dapat diduga dari apa yang dilihat Loya di dermaga tua tersebut,"
Kata Fang yen.
"Apa yang dilihat Loyamu di dermaga itu?"
Tanya Siau kiong cu.
"Loya melihat mayat Tokku Peng dan muridnya ada di tepi jurang, sedangkan Sun Put Ce dan Kwe Po Giok tidak terlihat sama sekali. Loya telah mencari di sekeliling tempat itu, namun tetap tidak terlihat bayangan mereka, dengan demikian Loya menduga mereka tergelincir ke dalam jurang,"
Sahut Fang yen.
"Meskipun uraianmu cukup masuk akal, tapi belum tentu mereka sudah mati,"
Kata Siau kiong cu.
"Betul. Hamba juga berharap mereka bukan terjatuh ke dalam jurang, tapi hanya mendapat luka dan sudah meninggalkan tempat tersebut,"
Sahut Fang yen sambil menganggukkan kepalanya.
"Apakah Loyamu yang memerintahkan kau datang memberitahukan hal ini kepada kami?"
Tanya Bwe Mei dengan air mata berlinang.
"Betul, Loya berpesan, keadaan kalian sangat berbahaya. Apalagi kalau tinggal di luar tanpa ada yang menjaga, Lebih baik, untuk sementara kouwnio berdua tinggal di gedung keluarga Fang, Dengan demikian lebih aman,"
Kata pelayan tua itu.
"Terima kasih! Yang paling penting sekarang adalah mencari orang yang hilang, Fang lopek, apakah kau dapat menunjukkan jurang di mana mereka terjatuh?"
Tanya Bwe Mei dengan suara sendu.
"Tentu saja, Tapi Loya mengharap kedua kouwnio datang ke gedung keluarga Fang lebih dahulu, Soal mencari mereka, Loya akan membantu sekuat tenaga,"
Sahut Fang yen.
"Siau kiong cu, mari kita pergi bersama Fang lopek,"
Ajak Bwe Mei.
*** Orang yang dicari tidak ketemu, Bwe Mei menangis sepanjang hari.
Siau kiong cu menasehati gadis itu supaya jangan terlalu bersedih, Kalau Sun Put Ce dan Kwe Po Giok memang sudah mati, paling tidak ada mayatnya sebagai bukti.
Siau kiong cu tetap yakin kedua orang itu masih hidup.
Bwe Mei sangat kagum terhadap pendirian Siau kiong cu.
Tampaknya dia tidak begitu khawatir dengan keadaan Kwe Po Giok, Pendapat seperti itu mungkin saja, tapi tidak tentu tepat.
Bwe Mei tidak sanggup membuat pikirannya begitu terbuka seperti Siau kiong cu.
Oleh karena itu, ketika malam hari gadis itu sedang mandi, dia tidak dapat menahan diri lagi.
Dia keluar lagi mencari kedua orang tersebut Biasanya Siau kiong cu tidak menyalakan lampu sehabis mandi.
Dia takut ada yang mengintip.
Tapi kali ini tidak seperti biasanya, Dia malah menyalakan tiga buah lilin yang besar.
Keadaan dalam kamar mandi jadi terang benderang.
Bentuk tubuhnya terlihat jelas.
Sepasang mata seperti maling mengintai dari balik kegelapan Siau kiong cu tidak mengenakan apa-apa lagi, Mata itu dapat memandang dengan puas.
Mengapa Siau kiong cu merubah kebiasaan?
Apakah dia sekarang tidak takut kalau dirinya diintip?
Tengah malam Bwe Mei baru kembali Siau kiong cu sudah pulas di atas tempat tidur, Bwe Mei menggelengkan kepalanya, Dia menganggap gadis itu benar-benar masih ke kanak-kanakan.
Malam sudah larut.
Di tengah hutan sunyi sekali.
Ada sekumpulan kabut tipis yang melayang di atas tanah.
Mungkin semua orang sedang terlelap dalam alam mimpi, Hanya Fang Tiong Seng yang belum tidur, Dia sedang berlatih ilmu silat.
Kadang-kadang sambaran pedangnya menimbulkan suara menderu.
Dia mulai berhasil menyelami inti sari ilmu pedang peninggalan Tang hay sin sian, Hatinya senang sekali, dia semakin giat berlatih.
Dia tahu kalau ingin menguasa dunia kangouw, maka dia harus banyak latihan, Keyakinannya terhadap ilmu pedang Tang hay sin sian semakin dalam.
Karena sejak mempelajari ilmu pedang tersebut, tidak ada satu tokoh pun yang dapat menahan lima jurus serangannya, sedangkan Kwe Po Giok dapat bertahan sebanyak tujuh jurus.
Hal ini membuktikan bahwa ilmu pedang Tang hay sin sian memang tidak boleh diremehkan.
Pada saat itu, dari balik kabut yang tipis muncul seseorang, Fang Tiong Seng menatap dengan seksama, wajahnya berubah seketika, Orang yang baru datang ternyata Toa Tek To Hun.
Bertemu sekali lagi dengan orang yang dianggap sudah mati, sungguh menimbulkan perasaan yang tidak enak.
Dia tahu yang dilihatnya bukan hantu.
Sebab, meskipun ginkang Toa Tek To Hun sangat tinggi, namun ketika dia melayang turun dengan bantuan selembar daun, dia tetap menerbitkan sedikit suara.
"Apakah Toa Tek To Hun yang datang?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Mungkinkah yang ini juga palsu?"
Sahut Toa Tek To Hun sambil mendengus dingin.
"Rupanya kau memang tidak mati!"
Kata Fang Tiong Seng.
"Kalau aku mati, siapa yang akan membereskan dirimu?"
Sahut Toa Tek To Hun datar. Fang Tiong Seng tersenyum lebar.
"Toa Tek To Hun.... Bagaimana kau bisa hidup kembali?"
Tanyanya.
"Hal ini mempunyai kaitan yang dalam dengan ilmu ninja dari negara kami. pedangmu memang menusuk dadaku dengan tepat. Namun pada saat yang paling kritis, aku masih sempat mengeluarkan ilmu andalan kami, yaitu menutup jalan pernafasan sehingga mati untuk sementara,"
Sahut Toa Tek To Hun.
"Tapi... aku sudah menguburmu di dalam tanah?"
Fang Tiong Seng tidak begitu percaya dengan keterangan itu.
"Betul. Karena jalan pernafasan itu tertutup, Denyut nadi pun akan terhenti untuk beberapa lama, Setelah hidup kembali, aku mendobrak peti dan keluar. Selama ini aku berada di sekitar sini merawat luka. Gerak-gerikmu tidak lepas dari pengawasanku,"
Kata Toa Tek To Hun. Fang Tiong Seng menggelengkan kepala sambil menarik nafas.
"Toa Tek To Hun.... Tidak kau seharusnya datang kemari,"
Katanya.
"Tidak seharusnya datang?"
Tanya Toa Tek To Hun.
"Betul. Kalau aku menjadi dirimu lebih baik aku segera pulang ke kampung halaman,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Mengapa?"
Tanya Toa Tek To Hun.
"Dulu kau bukan tandinganku, apa lagi sekarang,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Kalau aku berani datang, berarti keyakinanku di atas tujuh bagian,"
Sahut Toa Tek To Hun.
"Bila keyakinanku tidak di atas sembilan bagian, aku tidak akan mencoba-coba,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Kau dan aku jangan disamakan, Kalau membunuh dirimu, Kemarahan di hati ini tidak bisa reda, Lagipula aku merasa bersalah kepada Tang hay sin sian locianpwe,"
Sahut Toa Tek To Hun.
"Kalau memang demikian, lebih baik kau mati saja,"
Kata Fang Tiong Seng sinis.
"Kematian bagi kita yang berkecimpung di dunia persilatan, bukan hal yang mengherankan lagi, Lagipula merupakan sebuah kewajiban untuk menunaikan bakti pada negara, Semboyan hidup kami adalah berani berkorban bagi majikan!"
Sahut Toa Tek To Hun.
"Siapa cu jin mu sekarang?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Tang hay sin sian Pu Tam Cing,"
Sahutnya.
Fang Tiong Seng sampai termangu-mangu mendengar jawaban Toa Tek To Hun.
Ternyata dia rela menjadi bawahan Tang hay sin sian, Hal ini membuatnya semakin kagum kepada almarhum Tang hay sin sian.
Hati seorang budak atau pun bawahan sangat sulit dimengerti.
Berani mati demi majikan merupakan persoalan yang patut dikagumi.
"Hari ini aku baru tahu, kau bukan manusia!"
Kata Toa Tek To Hun.
"Betul. Dan aku akan mengajakmu menjelajahi duniaku,"
Sahut manusia jahat itu.
Toa Tek To Hun menggenggam pedangnya eraterat.
Matanya menatap dingin, wajahnya tidak menampilkan perasaan gentar sedikit pun, pedang Fang Tiong Seng sejak tadi sudah terhunus.
Mereka saling menatap dengan tajam, kemudian, terlihat pedang di tangan Toa Tek To Hun berkelebat.
Saat itu, dia baru menyadari bahwa Fang Tiong Seng memang susah dicari tandingannya lagi.
perubahan gerakannya sangat mengejutkan pedang di tangan Toa Tek To Hun yang biasanya hanya menyerang sekali lalu masuk kembali ke dalam sarung tidak terlihat kali ini.
"Trang.,, trang., trang.,.!"
Tujuh kali Toa Tek To Hun menyerang berturut-turut, Dia mengerahkan seluruh kepandaiannya, Fang Tiong Seng terkejut juga melihat kenekatan orang itu.
sekarang dia baru tahu, ketika bertarung dengannya tempo hari, Toa Tek To Hun belum mengeluarkan jurus andalannya.
Rahasia kepandaian seseorang, pasti tidak akan ditonjolkan kecuali pada saat yang genting, Fang Tiong Seng berteriak nyaring.
pedangnya menyambar ke samping, kemudian membentur pedang di tangan Toa Tek To Hun.
"Trang!"
Manusia Fu sang merasa tangannya kesemutan.
Tenaganya lenyap seketika, Fang Tiong Seng menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.
Tanpa menunda lebih lama, dia menyabet sekali lagi, Leher Toa Tek To Hun tertembus oleh pedang itu.
Darah segar menyembur ke mana-mana, Tubuh Toa Tek To Hun menyusul rubuh.
Tangannya tetap menggenggam pedang erat-erat.
Sampai mati pun, dia tidak mau melepaskan pedangnya.
Kematiannya yang pertama juga terjadi di tangan manusia jahat ini.
Tapi banyak orang yang merasa gembira, karena dia merupakan manusia yang tadinya membunuhi jago-jago kelas satu di Tionggoan, sedangkan kematiannya kali ini, patut disesalkan.
Sebab, sejak dia menerima baik permintaan Tang hay sin sian, hatinya merasa terpukul, Dia berani mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak membunuh lagi.
Dia bagaikan seorang penjahat yang masuk dalam pintu Budha untuk menyucikan diri.
Sekarang, boleh dibilang kematiannya adalah demi memenuhi janji kepada Tang hay sin sian, Dia ingin membalas kebaikan manusia sakti itu.
Dia bangga mati dalam cara demikian.
Sekali lagi Bwe Mei mencari Sun Put Ce dan Kwe Po Giok yang hilang tanpa kabar berita, Dia tidak dapat disamakan dengan Siau kiong cu.
Tanpa Sun Put Ce, hidupnya kehilangan sebuah tempat menyandar, seandainya mereka sudah mati, dia tetap ingin melihat mayat mereka sebagai bukti.
Tanpa menemukan mayat kedua orang itu, dia tetap optimis.
Di dunia ini banyak orang yang hidup dalam penderitaan.
Karena apa pun yang dilakukan, pikiran mereka selalu menuju ke arah putus asa dan kecewa.
Bwe Mei menyusuri pegunungan sejauh sepuluh li.
Sampai ke ujungnya yang sempit dan berakhir buntu, Dia kembali lagi.
Dia tidak berhasil menemukan jejak apa pun dari kedua orang tersebut Baik sehelai sapu tangan atau pun sepasang sepatu, Berhari-hari dia melongok ke dalam sungai.
Apabila Sun Put Ce atau pun Kwe Po Giok mati tenggelam, tentu pada suatu hari mayat mereka akan mengapung ke atas permukaan air.
Dengan berderai air mata, dia naik kembali ke atas dermaga tua.
Ada seseorang yang sedang berlatih ilmu di dalam hutan kecil, Baru saja dia bermaksud membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu, tapi sudah terlambat Kalau saja pikirannya tidak sedang kalut sehingga perhatiannya terpecah, dia pasti masih sempat meninggalkan tempat itu tanpa diketahui orang tersebut.
Orang itu ternyata hanya mempunyai sebelah lengan juga.
Dia adalah Chow Ai Giok, Sekarang, mereka masing-masing mempunyai alasan untuk saling membenci "Kadang-kadang dunia ini sangat sem-pit,"
Kata Chow Ai Giok.
"Tepat. sebetulnya aku tidak ingin bertemu denganmu,"
Sahut Bwe Mei.
"Tampaknya sudah merupakan takdir yang kuasa,"
Kata Chow Ai Giok.
"Kau selamanya tidak mau mengoreksi diri, mengapa nasibmu bisa menjadi demikian?"
Sahut Bwe Mei.
"Meskipun aku telah kehilangan sebelah lengan, namun masih sanggup membunuhmu, percaya tidak?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Aku juga mempunyai pikiran yang sama,"
Sahut Bwe Mei.
"Kau juga sanggup membunuhku?"
Tanya Chow Ai Giok menganggap kata-kata itu lelucon terbesar yang pernah didengarnya.
"Tapi aku sama sekali tidak ingin saling membunuh, tujuanku kemari adalah untuk mencari orang,"
Sahut Bwe Mei.
"Sebetulnya aku juga tidak ingin membunuhmu, aku hanya menginginkan sebelah kakimu saja,"
Kata Chow Ai Giok.
"Mengapa kau tidak pernah menyerah?"
Tanya Bwe Mei.
"Karena apa pun yang kulakukan harus ada tambahannya,"
Kata Chow Ai Giok sinis.
"Sayang sekali kau tidak tahu bahwa kesempatan itu hampir tidak ada,"
Sahut Bwe Mei.
Tiba-tiba Chow Ai Giok menggenggam pedangnya erat-erat.
Dia menggunakan tangan kiri, Bwe Mei juga menggunakan tangan yang sama.
Siapa pun tidak ada akan saling merugikan, Bwe Mei menarik nafas panjang.
"Kalau kita harus bertarung lagi, rasanya menyedihkan juga amat lucu. Apakah kau tidak mempunyai anggapan demikian?"
Tanyanya. Pedang Chow Ai Giok menyambar Bwe Mei segera menghindar Dengan gerakan yang tidak kalah cepat, dia membalas.
"Trang!"
Kedua pedang beradu sedetik.
Chow Ai Giok menjerit, pedangnya telah terlepas dari tangan, Ternyata luka di bahunya baru saja sembuh.
Kalau menggunakan tenaga besar masih terasa sakit, Lagipula dia belum lama belajar menggunakan pedang dengan tangan kiri, Hasilnya belum sesempurna Bwe Mei.
Mana mungkin dia dapat menandinginya.
Pedang Bwe Mei menempel di lengan kirinya.
Wajah Chow Ai Giok pucat pasi, Namun dia masih bisa berteriak dengan galak....
"Mengapa tidak kau bunuh?"
"Bukan aku tidak mau membunuhmu perbuatanmu sungguh keji. Seratus kali mati pun masih belum cukup untuk menebusnya, Namun, bila melihat nasib yang dialami kau dan aku, tampaknya kita memang sependeritaan"
Kata Bwe Mei.
"Siapa yang sependeritaan denganmu?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Kau!"
Sahut Bwe Mei. Pedangnya yang tadi menempel di lengan kiri Chow Ai Giok ditariknya kembali Dia melengos kemudian meninggalkan tempat tersebut.
"Kau masih memiliki seorang laki-laki yang melindungimu sedangkan aku adalah sekuntum mawar yang telah layu,"
Kata Chow Ai Giok.
"Laki-laki yang kumiliki itu entah masih hidup atau sudah mati, Mungkin dia sendiri yang tahu,"
Sahut Bwe Mei tanpa menghentikan langkah kakinya,
Jilid 18 TAMAT Chow Ai Giok terpana, Dia menghampiri Bwe Mei dengan tergesagesa, Gadis itu mengira Chow Ai Giok masih tidak mau sudah, dia berdiri di tempatnya semula untuk bertarung kembali.
"Mengapa kau begitu panik? Aku tidak bermaksud apa-apa, Katamu tadi, Sun Toa-ko menghilang?"
Tanya Chow Ai Giok. Bwe Mei menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa menghilang?"
Tanya Chow Ai Giok penasaran.
"Kau tentunya gembira sekali,"
Sahut Bwe Mei ketus.
"Mengapa?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Banyak manusia di dunia ini yang senang melihat penderitaan orang lain. Apalagi kalau penderitaan orang itu melebihi dirinya,"
Kata Bwe Mei. Tanpa disangka, Chow Ai Giok menggelengkan kepalanya.
"Bwe Mei.,., Meskipun aku seorang manusia busuk, tapi aku tetap tidak mengharapkan kematian Sun Toako,"
Sahutnya. Bwe Mei menatap Chow Ai Giok. Pada saat itu, semua dendam dan kebencian tak setitik pun tertinggal lagi di hati mereka.
"Sebetulnya aku memang perempuan busuk, Kiau Bu Suang juga pernah berkata demikian."
Kata Chow Ai Giok acuh tak acuh. Bwe Mei memandangnya dengan termangu-mangu.
"Kau tidak percaya bukan?"
Tanya Chow Ai Giok. Bwe Mei tetap tidak bersuara.
"Semasa hidupnya, Kiau Bu Suang pernah menyatakan bahwa diriku hanya lebih bersih dari perempuan penjaja diri di rumah hiburan,"
Kata Chow Ai Giok selanjutnya.
"Dia benar-benar pernah berkata seperti itu?"
Tanya Bwe Mei dengan mata terbelalak.
"Untuk apa aku berbohong padamu?"
Sahut Chow Ai Giok.
"Dia benar-benar bukan manusia,"
Kata Bwe Mei kesal.
"Tepat, Dan laki-laki yang bukan manusia itu ternyata pernah meniduri aku sebanyak tiga kali,"
Sahut Chow Ai Giok.
Mata Bwe Mei mendelik semakin lebar.
Dia seakan ingin melihat dengan tegas, apakah Chow Ai Giok masih waras?
Apakah dia tidak terserang semacam penyakit lupa ingatan?
Bagaimana dia bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?
Chow Ai Giok tertawa lebar.
Tampaknya dia sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Apakah kau anggap diriku sangat jalang?"
Tanyanya.
"Tidak! pukulan batin yang kau terima terlalu hebat,"
Sahut Bwe Mei.
"Sebetulnya kami sama-sama jalang, Dia mempermainkan aku seperti perempuan penjaja diri, sedangkan aku menganggapnya seperti seekor ayam jantan, Pokoknya, apabila seorang perempuan sudah pernah melakukannya satu kali, dia tidak akan perduli untuk kedua atau ketiga kalinya,"
Kata Chow Ai Giok.
Bwe Mei sama sekali tidak menyahut.
Dia yakin, apabila Chow Ai Giok tidak mengalami tekanan mental seberat itu, dia pasti tidak akan mengucapkan kata-kata semacam itu.
Tiba-tiba Chow Ai Giok menarik nafas panjang lagi.
"Meskipun dia begitu keji, begitu tidak menghargai diriku, tapi setelah dia mati, aku masih sering memikirkannya."
"Manusia memang mempunyai perasaan,"
Sahut Bwe Mei.
"Sebetulnya aku sudah hamil, lalu aku memutuskan untuk menggugurkannya secepat mungkin, Tapi sekarang pendirianku sudah berubah,"
Kata Chow Ai Giok.
"Kau tidak jadi menggugurkan kandunganmu?"
Tanya Bwe Mei.
"Hm.... Mengapa harus digugurkan? Anak toh tidak bersalah. Lagipula sebagian darinya adalah milikku,"
Kata Chow Ai Giok.
"Betul, seharusnya kau memang tidak boleh menggugurkan kandunganmu, Lagipula terlalu berbahaya,"
Sahut Bwe Mei.
"Aku merasa bersalah padamu,"
Kata Chow Ai Giok.
"Mengapa kau tiba-tiba bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?"
Tanya Bwe Mei hampir tidak percaya, sifat Chow Ai Giok sangat keras.
Tidak biasanya dia mau mengakui kesalahannya terhadap seseorang.
Mungkin dia lebih baik mati daripada harus minta maaf kepada orang lain.
Hal ini membuktikan bahwa perempuan itu sudah berubah.
"Tahukah kau, entah berapa banyak musibah dan penderitaan yang telah kualami, baru membuat diriku sadar kalau selama ini aku sangat berdosa terhadap kalian?"
Katanya.
"Yang sudah berlalu tidak usah diungkit kembali. Aku harap kau akan membesarkan anak itu dengan baik-baik,"
Sahut Bwe Mei.
"Aku sangat iri kepadamu. Tapi untuk selanjutnya aku tidak akan menyusahkan dirimu lagi,"
Kata Chow Ai Giok.
"Hal apa yang membuat kau iri kepadaku?"
Tanya Bwe Mei.
"Cinta Sun Toako kepadamu sangat dalam. Dla setia, baik hati, selamanya tidak akan berpaling, Bukankah laki-laki semacam ini yang selalu didambakan kaum perempuan?"
Kata Chow Ai Giok.
"Tetapi dia menghilang, Lagipula tampaknya lebih banyak bahaya daripada selamat. Coba kau bayangkan.,., Terjatuh ke dalam jurang seperti ini, apakah masih ada harapan untuk hidup?"
Sahut Bwe Mei.
"Bwe Mei.... Aku juga membantu mencarinya,"
Kata Chow Ai Giok.
"Ai Giok.... Mengapa kau tidak tinggal bersama kami saja?"
Tanya Bwe Mei seraya menggenggam tangannya dengan lembut.
"Aku?"
Chow Ai Giok menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Tidak! Aku bukan perempuan baik-baik, Siau kiong cu pasti sebal melihatku. Sudahlah! perempuan semacam aku tidak mungkin ada yang mengasihani,"
Kata Chow Ai Giok.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kalau kau bersedia, kapan saja kau boleh datang ke tempat kami. sebetulnya nasib kita bertiga sama-sama buruk. Siau Kwe juga menghilang,"
Sahut Bwe Mei.
"Mari! Aku temani kau mencari kedua orang itu,"
Kata Chow Ai Giok.
"Aku justru merasa mereka tidak mungkin sudah mati."
"Mudah-mudahan apa yang kau katakan akan menjadi kenyataan,"
Sahut Bwe Mei pelan.
-ooo0ooo-Bagian Dua puluh Empat Siau Kwe belum mati Sun Put Ce juga sama.
Pada saat terdesak di pinggir jurang, Sun Put Ce mengulurkan tangannya untuk menolong Kwe Po Giok, Namun dia tetap tidak tega turun tangan terhadap Fang Tiong Seng.
Manusia jahat itu menyerang mereka sekali lagi, sehingga kedua-duanya jatuh tergelincir ke dalam jurang tersebut.
Sebetulnya, seratus kali mati pun, Fang Tiong Seng masih belum cukup menebus dosanya, Kalau pada saat itu Sun Put Ce jatuh seorang diri ke dalam jurang, sudah dipastikan dia akan mati.
Karena Sun Put Ce tidak bisa berenang, Untung saja ada Kwe Po Giok.
Pemuda itu menarik leher bajunya erat-erat.
Sun Put Ce diajak menyelam ke dalam air dan menyelamatkan diri dengan cara itu.
Oleh karena itu, Fang Tiong Seng menunggu sekian lama tapi ia tidak melihat mereka timbul kembali, Kwe Po Giok sengaja menimbulkan kesan seakan mereka mati tenggelam.
Setelah berenang cukup jauh, Kwe Po Giok menarik Sun Put Ce naik ke daratan untuk merawat luka.
Tentu saja, perut Sun Put Ce sudah dipenuhi air.
Dengan susah payah, baru berhasil Kwe Po Giok menyelamatkan dari kematian.
Sekarang luka mereka sudah sembuh.
Untuk membuktikan suatu persoalan, mereka terpaksa menggali pasir di tepi sungai.
Sun Put Ce terus menggali Lubang itu sudah cukup dalam, Mungkin setinggi seorang manusia dewasa, Tapi tidak berhasil menemukan apa pun.
Sun Put Ce mengusap keringatnya yang bercucuran.
"Po Giok... Apakah tempatnya tidak salah?"
Tanya Sun Put Ce.
"Tidak!"
Sahut Kwe Po Giok.
"Apakah harus menggali sampai dalam sekali?"
Tanyanya.
"Tidak, Tapi tidak terlalu dangkal juga."
"Mengapa harus demikian dalam?"
Tanya Sun Put Ce.
"Mungkin takut ada anjing yang menggali lalu memakannya,"
Sahut Kwe Po Giok tenang-tenang. Sejak tadi, memang lebih banyak Sun Put Ce yang menggali daripada dia.
"Coba kau lihat, apakah sekarang sudah cukup dalam?"
Tanya Sun Put Ce. Siau Kwe menghampiri Dia menaksir-naksir sejenak.
"Pada waktu itu, aku mengintip dari jarak kurang lebih sepuluh depa, Aku hanya mengira-ngira dalam otak,"
Sahutnya.
"Thian! persoalan ini bukan main-main. Mana boleh kau asal mengira saja?"
Sun Put Ce hampir kehabisan akal menghadapi pemuda itu.
"Pokoknya di sekitar tempat ini. Rajinlah sedikit. Coba kau gali lagi lebih lebar, Pasti akan kau temukan apa yang kuceritakan itu,"
Kata Kwe Po Giok, Dia duduk kembali di atas sebuah batu besar dan memikirkan masalahnya sendiri.
Sun Put Ce menggali kembali.
Pekerjaan seperti ini selalu menjadi bagiannya, tapi dia tetap tidak mengeluh.
"Lao Sun, coba kau tebak, bagaimana keadaan Lu ji dan Bwe Mei saat ini?"
Tanya Kwe Po Giok. Tiba-tiba Sun Put Ce berhenti menggali.
"Kau tidak membantu menggali, aku tidak perduli Tapi jangan bikin kacau pikiran orang!"
Sahut Sun Put Ce kesal.
"Sudahlah! Kau teruskan saja pekerjaan itu,"
Kata Kwe Po Giok.
"Tapi begitu kau mengungkit kedua gadis itu, aku sudah tidak mempunyai semangat untuk menggali lagi,"
Sahut Sun Put Ce.
"Mana boleh tidak menggali. Bukankah kau ingin membuktikan apakah Toa Tek To Hun benar-benar sudah mati? Apakah kau tidak ingin mengetahui apakah Fang Tiong Seng benar-benar mempunyai kemampuan membunuh orang tersebut?"
Kata Kwe Po Giok.
"Kepingin sih kepingin, tapi aku lelah sekali, apalagi tidak makan sejak semalam. Apakah kau tidak dapat menggantikan aku menggali sejenak?"
"Tahukah kau mengapa aku terus-terusan memintamu yang menggali pasir itu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Karena perutmu lebih lapar dari aku?"
"Bukan begitu, Aku menyuruh kau menggali adalah untuk kebaikanmu sendiri,"
Kata Kwe Po Giok.
"Untuk kebaikanku?"
Sun Put Ce tidak mengerti maksudnya.
"Betul. Kau tidak dapat tenang. Selalu berpikir yang tidak-tidak, Aku tidak akan seperti dirimu, Oleh sebab itu, aku menyuruhmu menggali sendiri, Aku tidak ingin otakmu terlalu banyak berpikir,"
Kata Kwe Po Giok.
"Tapi, meskipun tanganku bekerja, otakku juga terus berpikir,"
Sahut Sun Put Ce.
"Kalau memang demikian, biar aku membantumu menggali sejenak."
Kwe Po Giok tidak pernah menggali tanah, Sejak kecil, dia hanya tahu belajar membaca dan menulis, Orang tuanya bukan orang biasa, Mereka adalah keturunan pendekar Dia selalu dimanjakan, apalagi sebagai putra tunggal.
Oleh sebab itu, dia tidak pernah melakukan pekerjaan kasar semacam ini.
Sun Put Ce beristirahat sambil memperhatikan pemuda itu menggali.
Dalam hatinya dia berpikir, apabila menggali seperti cara Siau Kwe, mungkin sampai hari terang kembali juga tidak akan mendapat hasil apa-apa.
"Lao Sun, tahukah kau mengapa aku begini tenang?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Mungkin inilah perbedaan antara manusia biasa dengan Sin tong,"
Sahut Sun Put Ce.
"Bukan, Aku pernah bertengkar dengan Lu ji. Menghilangnya kita dapat dijadikan bahan untuk menguji kesetiaannya. Aku ingin tahu apakah dia mencemaskan diriku?"
Kata Kwe Po Giok.
"Memang ini sebuah kesempatan yang baik untuk mengujinya, sebetulnya apa yang jadi pokok pertengkaran kalian?"
Tanya Sun Put Ce. Tiba-tiba Kwe Po Giok menghentikan pekerjaannya.
"Nih! Kau gali sendiri,"
Katanya.
"Baik,"
Sahut Sun Put Ce. Dia mengambil sekop dari tangan Kwe Po Giok dan mulai menggali "Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Kau ini kadang-kadang pandai berpura-pura!"
Teriak Kwe Po Giok.
"Aku berpura-pura?"
Tanya Sun Put Ce kebingungan.
"Apakah kau tidak tahu, sikap Lu ji terhadapmu?"
Kwe Po Giok tersadar.
Dia tidak melanjutkan kata-katanya.
Kalau sampai dia menjelaskan berarti dia membocorkan keburukannya sendiri, Juga merendahkan derajat Sin tong, Tetapi Sun Put Ce sudah mengerti Sebenarnya dia juga sudah merasakan hal tersebut perhatian seorang gadis terhadap seorang laki-laki, pasti bukan tanpa maksud apa-apa.
"Siau Kwe, seandainya ada peristiwa seperti itu, tetap bukan kesalahanku,"
Kata Sun Put Ce.
"Kau tidak merayunya?"
Tanya Kwe Po Giok.
Dia masih tetap menganggap dirinya seorang pemuda sempurna, Apabila bukan Sun Put Ce yang merayu Siau kiong cu, gadis itu tidak akan berpaling muka, Tanpa disangka-sangka, Sun Put Ce marah sekali mendengar pertanyaan itu.
"Seorang laki-laki sejati boleh dibunuh, tapi tidak boleh dihina!"
Sekop di tangannya dibanting ke atas pasir, padahal Siau Kwe tahu dia bukan orang semacam itu.
Dia tidak berkata apa-apa lagi, Dia mendekati lubang galian tersebut.
Rasanya sudah cukup dalam, tapi tidak terlihat sedikit pun tanda-tanda mayat Toa Tek To Hun.
"Lao Sun. Tahukah kau mengapa Lu ji kesal terhadapku?"
Tanyanya. Sun Put Ce terpana.
"Mana mungkin dia kesal terhadap seorang Sin tong?"
Kwe Po Giok menarik nafas panjang, Tatapan matanya memandang jauh ke depan.
"Mungkin aku memang perlu mengoreksi diri,"
Katanya.
"Apa yang perlu dikoreksi?"
Tanya Sun Put Ce.
"Jangan sepanjang hari terus menyebut diri sendiri Sin tong!"
Sahut Kwe Po Giok sendu.
Sekali lagi Sun Put Ce terpana, jawaban Kwe Po Giok sama sekali di luar dugaannya.
Bagi Kwe Po Giok, perkataan tersebut merupakan perkataan yang paling memalukan yang pernah diakui selama hidupnya, Tapi dia tahu, Sun Put Ce tidak akan menertawakannya, Kwe Po Giok saat itu persis seperti Mo Put Chi tempo hari, Mati pun tidak mau mengakui kalau Sun Put Ce lebih pintar daripadanya.
"Siau Kwe.... Apakah harus menggali lebih dalam lagi baru dapat menemukan mayat Toa Tek To Hun?"
Sun Put Ce segera mengalihkan pokok pembicaraan.
"Buat apa menggali lagi? Orang itu sudah hidup kembali!"
Tibatiba terdengar seseorang menyahut.
Hati kedua orang itu tercekat.
Suara itu tidak asing lagi di telinga mereka, kepala mereka menoleh serentak Fang Tiong Seng berdiri dalam jarak lima langkah di tempat itu.
Sun Put Ce berdiri terpaku.
Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Dia adalah seorang murid yang setia dan berbakti justru karena terlalu jujur, sehingga tempo hari dia bermaksud mati di bawah pedang Siau Kwe.
Dan karena tidak jadi mati, dia sempat mendengar dan melihat semua tingkah laku Fang Tiong Seng yang menggidikkan hati.
Sejak itulah, kata-kata "Suhu"
Tidak sanggup diucapkan lagi olehnya, Kalau sampai ia memanggil maka perbuatan itu bertentangan dengan hati kecilnya.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce memandangnya dengan termangu-mangu, Fang Tiong Seng tidak pernah membayangkan kejadian ini, Paling tidak, dia mengira Sun Put Ce akan berlutut dihadapannya.
"Sun Put Ce!"
Teriak Fang Tiong Seng.
"Ternyata kau berani kurang ajar terhadap Insu (Guru yang berbudi)?"
Sun Put Ce sama sekali tidak bergerak, Sebetulnya, dalam hati laki-laki itu sedang berkecamuk berbagai perasaan, Dia kecewa, sedih, marah, menyesal pertemuan ini membuat dia serba salah.
Dia tidak memiliki keinginan untuk menyebut suhu lagi, namun dia juga tidak mempunyai keberanian untuk melawan.
Kwe Po Giok melihat Sun Put Ce tidak menjawab.
Dia juga tidak mengatakan apa-apa.
Dua pasang mata menatap Fang Tiong Seng dengan tajam.
Laki-laki itu balas menatap mereka, Selama ini, Fang Tiong Seng tidak menganggap mereka akan berani menatapnya dengan sinar mata demikian.
Namun malam ini, cahaya mata mereka sangat aneh, membuat perasaannya jadi tidak enak.
"Sun Put Ce!"
Bentak Fang Tiong Seng marah.
Murid bungsunya tetap tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.
Tiba-tiba Kwe Po Giok tertawa terbahak-bahak.
Fang Tiong Seng belum pernah ditertawakan seperti itu.
Apalagi nada tawa itu sungguh tidak sedap didengar, perasaannya semakin kalut "Anak haram!"
Bentak Fang Tiong Seng tanpa memperdulikan kedudukannya lagi.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Sun Put Ce adalah muridmu yang paling jujur, bukan?"
Tanya Kwe Po Giok. Fang Tiong Seng tidak menjawab Dia tahu maksud pemuda itu.
"Dia juga merupakan murid yang perangainya paling sabar. Toh dia saja tidak sanggup menahan lagi sifat binatangmu, Mengapa kau harus memanggilnya terus menerus?"
Sindir Kwe Po Giok.
"Anak haram! Menggelinding kau ke sana!"
Teriak Fang Tiong Seng sambil menunjukkan ke arah batu besar dekat sungai.
"Tidak perlu! Fang Tiong Seng, di dalam hati kami, kau hanya seorang pecundang yang licik, Kau boleh juga disebut penjual negara. Aku ingin tanya kepadamu, di mana mayat Toa Tek To Hun?"
"Kupendam di tempat lain,"
Sahut Fang Tiong Seng sambil tertawa sinis.
"Bukankah waktu itu kau kubur di tempat ini?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Tidak salah! sayangnya aku sendiri juga tertipu,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Tertipu? Orang mati masih bisa menipu?"
Tanya Kwe Po Giok kurang percaya.
"Dia belum mati. Pada waktu itu dia menggunakan semacam ilmu sihir, ilmu yang dapat menipu pandangan mata. Dia hanya pura-pura mati saja, Setelah aku meninggalkan tempat ini, dia bangun kembali dengan mendobrak peti,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Ternyata ada kejadian seperti itu. Bagaimana kau bisa tahu? Apakah kau sudah membuktikannya dengan mata kepalamu sendiri?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Tepat! Bahkan telah terjadi pembunuhan untuk kedua kalinya,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Apakah kau juga yang membunuhnya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Tidak salah!"
"Mungkinkah kali ini dia pura-pura mati lagi?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Di dunia ini tidak keberuntungan sebanyak itu,"
Sahutnya.
"Malam ini kau datang untuk membunuh kami?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Kau berkeras memakai kata "kami", Maksudmu tentu ingin memecah belah hubunganku dengan dia bukan? Apakah akan berhasil?"
Sahut Fang Tiong Seng ketus.
"Apakah kau kira kekaguman hati Lao Sun masih belum berubah?"
Tanya Kwe Po Giok tak mau mengalah.
"Put Ce.... Di depan orang luar, kehormatan kita guru dan murid harus dijaga,"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara lembut.
Sun Put Ce ingin mengucapkan sesuatu, tapi tenggorokannya seperti tercekat sesuatu sehingga tidak sanggup bicara.
Dia juga tidak tahu bagaimana harus membuka mulut di hadapan Fang Tiong Seng.
"Put Ce... ingatkah kau pada suatu musim dingin kau terjatuh ke dalam sungai. Kau kedinginan setengah mati, hampir saja nyawamu melayang karena peristiwa itu?"
Tanya Fang Tiong Seng membangkitkan kenangan lama.
"lngat,"
Sahut Sun Put Ce. Dia tidak mungkin melupakan kejadian itu.
"Masih ingatkah kau siapa yang menolongmu saat itu?"
Tanya Fang Tiong Seng tersenyum manis.
"Suhu yang menyelamatkan diriku,"
Sahut Sun Put Ce. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri di hadapan Fang Tiong Seng. Kwe Po Giok menjadi panik melihat perbuatannya.
"Lao Sun, apa yang kau hutangi sudah kau bayar lunas. Karena kau sudah dua kali hampir mati demi dirinya, Pertama, ketika kau lolos dari ancaman pedangku, Kedua, dia mendesak kau jatuh tergelincir ke dalam jurang, jangan mau dibohongi orang jahat tersebut!"
Teriaknya cemas.
Fang Tiong Seng menghunus pedangnya, Dia menyerang Kwe Po Giok bertubi-tubi.
Sun Put Ce masih berlutut di atas tanah, sikapnya bukan berarti tidak mengkhawatirkan keadaan Siau Kwe, Hal ini karena dia tidak dapat melupakan kejadian dulu sama sekali, Dia sedikit bingung.
Lagipula rasa setianya terhadap sang guru memang dalam sekali, Untuk mengubah sifat seseorang memang tidak mudah, Namun, Kwe Po Giok panik sekali, pengetahuannya akan pendirian seseorang bertambah maju.
Apa yang terlihat hampir berhasil, belum tentu benar sampai waktunya tiba.
ilmunya juga sudah jauh lebih tinggi dari sebelumnya,karena ketika dia terjatuh ke dalam jurang tempo hari, sambil merawat luka, mereka saling bertukar pikiran tentang ilmu peninggalan Tang hay sin sian, Tadinya dia mempunyai harapan dalam hati bahwa tidak lama lagi mereka akan sanggup mengalahkan Fang Tiong Seng, Siapa tahu kejadiannya dapat berakhir seperti ini.
Dia bukannya takut kalah, Tapi kalah atau menang dalam pertarungan antara dirinya dengan manusia yang satu ini akan membawa pengaruh besar bagi dunia Bu-lim.
Dia tahu Fang Tiong Seng belum sempat menyelami semua ilmu rangkaian bunga Lu ji, namun dia seorang manusia yang sangat berbakat dalam ilmu silat otaknya juga sangat cerdas.
Kwe Po Giok sendiri terpaksa mengakui dalam hati kalau Fang Tiong Seng lebih cerdas daripadanya ataupun Sun Put Ce.
Hal ini terbukti dari caranya menghadapi Sun Put Ce saat ini.
Fang Tiong Seng menyerang tiga kali berturut-turut, Kwe Po Giok terdesak mundur sebanyak tiga depa.
Fang Tiong Seng seakan tidak memberi kesempatan baginya untuk memperbaiki kedudukan, Dia menikam lagi tujuh kali, Tubuh Kwe Po Giok sudah ada luka beberapa tusukan.
Bahkan tampaknya luka itu cukup dalam.
"Sun Put Ce, kau manusia tolol! Kau anak kura-kura! Setelah aku mati nanti, dia tetap akan membunuhmu. Dia sengaja melunakkan hatimu karena dia tidak yakin dapat mengalahkan kita berdua!"
Teriak Kwe Po Giok panik.
Fang Tiong Seng tidak membiarkan dia bicara terlalu banyak, Dalam tiga serangan berikutnya, Kwe Po Giok tertusuk sekali lagi, Dia terjatuh di atas tanah.
Sun Put Ce tetap berlutut, tapi dia berusaha mencegah Fang Tiong Seng melanjutkan serangannya terhadap Kwe Po Giok.
"Suhu, harap jangan dilanjutkan lagi,"
Katanya, Pang Tiong Seng tidak menoleh, namun dia tidak berani menyerang lagi, sikapnya tenang-tenang saja. Seakan dia yakin, sampai kapan pun Sun Put Ce tidak akan berani menikamnya dari belakang.
"Put Ce, Suhu menamakan kau demikian agar kau lebih waspada bila terjun di dunia persilatan, bukan mengharap kau benar-benar tidak mempunyai akal budi,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Suhu tidak dapat berhenti membunuh?"
Tanya Sun Put Ce.
"Sun Put Ce, kejadian sudah sampai tahap seperti ini, kau masih berharap dia berubah menjadi orang baik, Harapanmu selamanya tidak akan menjadi kenyataan, mengerti?"
Sahut Kwe Po Giok tajam.
"Siau Kwe.... Aku mengerti,"
Kata Sun Put Ce.
"Kentut busuk yang kau mengerti! Kau hanya ingin dirimu menjadi orang yang paling berbakti dan setia di dunia ini, Apakah supaya namamu terkenal? Coba kau Iebarkan mata, manusia macam apa dia itu?"
Teriak Kwe Po Giok kesal. Dia hampir menangis menghadapi sikap Sun Put Ce. Kalau bisa, rasanya dia ingin membunuh laki-laki itu untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.
"Siau Kwe, biar bagaimana dia tetap Suhuku, Dia yang membesarkan diriku,"
Sahut Sun Put Ce. Kepala Kwe Po Giok rasanya mau meledak mendengar kata-kata itu.
"Aku tidak memungkiri jasanya terhadapmu Tapi apa yang dia perbuat masih belum cukup untuk menebus dosanya selama ini."
Sahutnya.
"Siau Kwe... Suhu memang punya kesalahan. Manusia mana yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali. Apalagi dia Suhuku,"
Kata Sun Put Ce berkeras. Siau Kwe pusing tujuh keliling, Dia hampir putus nafas. Dia adalah Sin tong. Dalam hal ini pandangannya lebih tepat dari Sun Put Ce, apalagi dia merupakan penonton.
"Put Ce, coba kau papah dia. Apakah lukanya parah?"
Tiba-tiba Fang Tiong Seng memberi perintah.
"Sun Put Ce, berdiri di tempat, jangan mendekat!"
Teriak Kwe Po Giok cemas, Sun Put Ce seperti orang bodoh, Dia tidak mendengar perkataan Kwe Po Giok, Fang Tiong Seng memasang wajah muram.
"Orang muda zaman sekarang tidak tahu menghormati yang tua. sebetulnya tadi Suhu tidak tega melukai dia, tapi bocah itu memang perlu diajar adat sedikit,"
Katanya. Sun Put Ce percaya penuh pada apa yang dikatakannya. Dia mendekati Siau Kwe, Tepat pada saat itu, bayangan berkelebat sinar pedangnya menyilaukan mata.
"Lao Sun, di belakang?"
Kepandaian Sun Put Ce sudah amat tinggi. Lagipula reaksinya cepat, dia segera berkelit ke samping untuk menghindar.
"Cep! Cep!"
Tak urung bagian bahunya terluka juga, Tubuhnya mencelat sejauh satu depa lebih, Dia terjatuh ke atas tanah, Pedangnya sudah tergenggam di tangan, Darah mengalir dengan deras dari lukanya, Dia menatap Fang Tiong Seng dengan terkesima.
"Sun Put Ce.... Kau benar-benar goblok! Bagaimana dapat tertipu oleh kata-kata-nya?"
Teriak Kwe Po Giok.
Pemuda itu meringis kesakitan Saking kesal, dia menghentakkan kakinya berkali-kali ke atas tanah, Dia tidak sadar, gerakannya itu membuat lukanya semakin lebar.
Sun Put Ce terkejut, kecewa, menyesal, marah, juga sedih, Semuanya membaur menjadi satu, Dia hampir tidak dapat percaya, Suhunya, Fang Tiong Seng dapat sejahat itu?
Dia benar-benar sulit menerima kenyataan tersebut.
Kepercayaan dan rasa hormat yang telah dipupuk selama berpuluh tahun hancur dalam sekejap, Memang sulit diterima!
Bagi orang lain, dia memang sangat tolol, Tapi ini merupakan kelebihannya, juga kekukuhan hatinya terhadap sesuatu.
"Suhu.... Kau benar-benar telah menjadi gila?"
Tanya Sun Put Ce.
Fang Tiong Seng berdiri dengan wajah kaku, Dia tidak menjawab.
siasatnya belum berhasil, malah melucutkan topengnya sendiri.
Dia juga menimbang dalam hati, apakah perlu membunuh Sun Put Ce?
peristiwa sudah terlanjur terjadi, Apakah masih perlu mempertimbangkannya lagi?
Tentu saja, karena dia baru sadar Sun Put Ce begitu setia kepadanya.
Rasanya sayang membunuh murid sebaik itu.
Memiliki seorang murid yang setia, lebih baik dari sepasukan kaum keroco, Sampai sekarang, Fang Tiong Seng masih percaya kepada Sun Put Ce.
Tampaknya kesetiaan murid yang satu ini sulit dicari penggantinya.
Murid yang begitu setia, lagipula berilmu demikian tinggi, bukan saja sayang apabila dibunuh, namanya pun akan jadi buruk bila tersebar di luaran bahwa seorang guru membunuh muridnya, Sebuah senyuman menghias di bibirnya.
"Put Ce, meskipun Suhu belum gila, Tapi akhir-akhir ini memang pikiran sedang kalut,"
Katanya dengan suara lembut.
"Lao Sun, jangan dengarkan ocehannya. Apakah serangannya tadi tidak cukup keji? Apakah perbuatannya masih tidak dapat membangunkan mimpimu yang indah?"
Teriak Kwe Po Giok. Bahu Sun Put Ce sakit sekali. Tapi rasa sakit dalam hatinya jauh lebih nyeri dari luka luar.
"Coba Suhu jelaskan perbuatan Suhu tadi?"
Katanya. Fang Tiong Seng menarik nafas panjang. Dia sungguh pandai bersandiwara.
"Suhu memang bersalah, Tapi sebetulnya aku tidak tega turun tangan terhadap murid yang kuasuh sejak kecil. Namun bocah itu terus mengacau, Dia bermaksud mengadu domba kita guru dan murid, Suhu sangka kau akan bekerja sama dengannya menghadapi aku,"
Sahutnya dengan suara sendu.
"Sun Put Ce, akhir-akhir ini bukan saja aku mau tidak mau harus mengakui kecerdikanmu, demikian juga Bwe Mei, Lu ji, Mo Put Chi dan manusia busuk itu. Tapi, apa yang terjadi denganmu malam ini?"
Tanya Kwe Po Giok dengan maksud memperingatkan.
"Hanya karena aku adalah muridnya, sedangkan kau bukan,"
Sahutnya.
"Justru karena aku bukan muridnya, maka aku melihat lebih jelas, Apa yang dilakukannya sekarang hanya sandiwara, jangan dengarkan lagi, Kalau tidak, kita berdua akan mati tanpa kubur,"
Kata Kwe Po Giok tajam.
Sun Put Ce tidak menyahut Dia memandang Fang Tiong Seng dengan seksama, sebaris demi sebaris masa lalu lewat di benaknya, Gurunya memang bukan manusia semacam itu.
Lalu kejadian yang ada di hadapannya sekarang, apakah suatu kenyataan atau hanya sebuah mimpi buruk?
Kalau nyata, mengapa Suhunya dapat berubah sedemikian rupa?
Fang Tiong Seng berjalan ke arah Sun Put Ce.
"Put Ce, mari kita pulang!"
Katanya lembut.
Sun Put Ce masih memandang terus.
Fang Tiong Seng merasa harus mempergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai muridnya berubah pendirian.
Sun Put Ce sendiri merasa serba salah, Meskipun bahu dan hatinya masih sakit, Dia tetap harus mengakui bahwa Fang Tiong Seng masih merupakan seorang guru yang menanam budi besar kepadanya.
Tiba-tiba, pedang di tangan Fang Tiong Seng menyerang kembali.
Dalam keterkejutan Kwe Po Giok menyambut.
Karena dia tahu, Fang Tiong Seng tidak main-main lagi, Menyerang dan diserang adalah hal yang jauh berbeda.
Orang yang berani mulai menyerang pasti mempunyai keyakinan yang besar sedangkan pihak yang diserang belum tentu, Memang Kwe Po Giok sudah bertekad, Dia tahu Fang Tiong Seng pasti tidak akan melepaskannya sampai kapan pun.
Seandainya dia hanya bermaksud mengambil hati Sun Put Ce, dia tidak akan menyusahkan Kwe Po Giok.
Tapi suatu waktu niat hatinya tetap akan dilaksanakan.
"Sret!!!"
Pinggang Kwe Po Giok tersayat cukup dalam, pemuda itu mencelat sejauh beberapa tombak Nafasnya tersengal-sengal.
Dia marah, kecewa dan kesal Mengapa Sun Put Ce mau mendengar kata-katanya?
Sampai lama dia tidak sanggup berkata apa-apa.
"Apalagi yang akan kau jelaskan kali ini?"
Tanya Sun Put Ce dengan nada berat.
"Pemuda ini terlalu licik, Suhu tidak akan melepaskannya. Bila tidak, dia akan mengajarmu berbuat jahat,"
Kata Fang Tiong Seng.
"Dengan kedudukanmu, kau boleh menyerang seorang boanpwe (Generasi muda) dengan diam-diam?"
Tanya Sun Put Ce datar.
"Ditinjau dari usia, dia memang tergolong boanpwe. Tapi dia sudah mewarisi ilmu peninggalan Tang hay sin sian yang masih lebih tua daripada aku. Dengan demikian dia tidak dapat digolongkan muda lagi!"
Kata Fang Tiong Seng.
Kwe Po Giok menatap tajam ke arah Sun Put Ce.
Dia ingin tahu apakah sampai saat ini dia masih belum sadar dari khayalannya...?
"Kalau aku ikut kau pulang, apakah kau mau berjanji tidak akan menyulitkan Siau Kwe lagi..?"
Tanya Sun Put Ce.
"Hmm..."
Fang Tiong Seng seakan berat meluluskan permintaan tersebut Dia merenung sejenak.
"Put Ce, dengan memandang dirimu, biarlah aku melepaskannya, Tapi aku harap lain kali dia jangan mencoba memecahkan hubungan kita lagi."
Akhirnya dia menyetujui.
"Siau Kwe, kau pulanglah. Aku memutuskan untuk mengikut Suhu pulang,"
Kata Sun Put Ce.
Kwe Po Giok hampir tidak percaya, seorang yang berotak cerdas seperti Sun Put Ce ternyata tetap mempercayai maling tua itu meskipun bukti sudah di depan mata, Dia kesal sekali.
Hanya matanya saja yang diarahkan kepada mereka berdua, Tidak sepatah kata pun yang diucapkannya.
"Put Ce... Mari kita berangkat,"
Kata Fang Tiong Seng.
Jaraknya dengan Sun Put Ce tinggal tiga langkah, Baru saja perkataannya selesai dia membalikkan tubuh seakan ingin meninggalkan tempat tersebut Tapi, tiba-tiba tubuhnya membalik kembali.
Gerakannya secepat kilat sinar pedangnya menyilaukan mata.
Tusukannya mengarah kepada Sun Put Ce.
Kwe Po Giok sendiri terpana.
Dia sama sekali tidak menduga kalau Fang Tiong Seng masih mengandung maksud buruk kepada muridnya.
Dia mengira hanya dirinya akan jadi sasaran.
Sun Put Ce juga tidak dapat percaya kalau gurunya sejahat itu.
Tidak percaya kalau gurunya adalah manusia berdarah dingin, Dalam kepanikan dia mencoba berkelit.
Kwe Po Giok baru tersadar.
Dia bermaksud memperingatkan, tapi sudah terlambat.
"Creppp!!! Creppp!!!"
Leher dan dada Sun Put Ce telah tertusuk oleh pedang Fang Tiong Seng.
Kalau saja dia tidak mundur selangkah, pasti urat leher dan tulang dadanya telah tersayat putus, justru karena gerakan Kwe Po Giok yang sedikit tadi, dia mengira akan diserang oleh pemuda itu, maka tenaganya jadi berkurang.
Oleh sebab itu, dia benci sekali kepada Kwe Po Giok, sedangkan pemuda itu sendiri seperti mendapat keberuntungan karena kejadian itu.
Dia hanya melirik sekilas kepada Sun Put Ce.
Tampaknya lukaluka itu tidak seberapa parah, Dia tertawa mengejek....
"Hai, murid yang berbakti, murid yang setia.... ikutlah bersamanya. Dia tentu akan mengantarmu pulang ke rumah, Asal kau tahu saja, rumah yang dimaksudkan adalah rumah yang jauh di alam sana,"
Sindirnya.
Air mata Sun Put Ce mengalir seperti sebuah sungai yang deras.
Dia tidak dapat menahan kepiluan hatinya.
Dia merasa sedih melihat kekejaman dan sifat jahat Fang Tiong Seng, Dia juga merasa malu, Akhirnya dia juga terjaga juga dari mimpi panjangnya, untuk seorang murid, kesetiaannya sulit dicari tandingannya lagi.
Bagaimana dia tidak menangis melihat tingkah Suhunya?
Bagaimana dia tidak kecewa terhadap orang yang begitu dihormatinya selama ini?
Setelah mempertimbangkan matang-matang, Dia tetap ingin membunuh Sun Put Ce.
Anak buahnya yang lain tidak ada satupun yang berilmu setinggi yang satu ini.
Dia juga sangat setia, Tapi Sun Put Ce juga merupakan anak murid yang paling jelas dengan segala perbuatan busuknya selama ini.
Meskipun dia setia, meskipun dia lebih berbakti lagi, derajatnya sebagai Suhu sudah jatuh di mata murid tersebut.
Fang Tiong Seng telah bertekad untuk membasmi semua manusia yang mengetahui rahasianya, Termasuk Sun Put Ce.
Dengan demikian, dia dapat memulai suatu kehidupan baru sebagai pendekar tanpa bandingan, Semua orang akan menaruh rasa hormat kepadanya, sedangkan kebusukannya sudah terkubur bersama orang-orang yang akan dibunuhnya.
Dia tidak dapat membiarkan hidupnya menjadi tenang karena masih tersisa orangorang yang akan membongkar perbuat annya.
"Lao Sun, apakah kau tetap akan pulang bersamanya?"
Kwe Po Giok baru sanggup membuka mulut. Sun Put Ce bangkit dari atas tanah.
"Kesabaranku sudah sampai batasnya!"
Sahutnya.
"Seharusnya sejak tadi kau membuka matamu, Kalau saja kau menurut perkataanku tentu kau tidak perlu terluka di tangannya,"
Kata Kwe Po Giok.
"Siau Kwe, mari kita mengadu nyawa dengannya,"
Ajak Sun Put Ce.
"ltu baru betul! Sayang sekali, tadinya kita mempunyai keyakinan diatas tujuh bagian Karena kau mengacaukan segalanya, sekarang aku tidak begitu yakin lagi,"
Bisik Kwe Po Giok.
"Siau Kwe, aku bersalah padamu,"
Sahut Sun Put Ce.
Mereka saling melirik sekilas, Sun Put Ce berdiri di bagian kiri, Kwe Po Giok di bagian kanan.
Mereka tampaknya telah bersiap mengadakan pertarungan.
Meskipun Fang Tiong Seng telah berhasil melukai kedua orang itu, namun sebelum benar-benar bertarung, dia tidak berani terlalu senang dahulu, Dia tidak yakin pasti akan menang.
Kalau tidak, mengapa dia harus menjalankan siasat agar kedua orang itu terluka?
"Ringkikan kuda senada dengan seruling!"
Tiba-tiba Kwe Po Giok berteriak. Dalam waktu yang sama, mereka bersiap menyerang, Tergopoh-gopoh Fang Tiong Seng mengibaskan tangannya meminta mereka bersabar sebentar.
"Tunggu dulu, ada yang ingin kukatakan !"
Teriaknya. Reaksi Sun Put Ce kali ini sangat berbeda. Tanggapannya sangat cepat. Dia sama sekali tidak ingin mendengar ocehan Fang Tiong Seng lagi.
"Kau sudah membunuh Lian hu sehingga Toa Suheng menjadi gila, Kau merayu dayang Cui thian agar membunuh ji suheng, Hu Put Chiu. Tatkala perempuan itu tidak memberikan manfaat apa-apa lagi kepadamu, kau bunuh dia. Kemudian kau semakin mengganas, keinginanmu membunuh semakin kuat, Lian lian juga telah kau bunuh, Termasuk Toa pei suthay dari Cui goat si dan kedua muridnya. Masih ada Hiat Eng, Kiau Bu Suang, Hua Can lei, Seebun Cu Yap serta Tokku Peng dan lain-lainnya. Daftar dosamu terlalu panjang bila diuraikan satu persatu!"
Katanya.
Sebelum ajal, Kiau Bu Suang masih tidak tahu siapa dia.
Dia hanya tahu dayang Cui thian sering memanggilnya si Papan gilasan.
Bahkan dia menaikkan lengan baju agar kulitnya yang masih kencang terlihat.
Hal ini membuat Kiau Bu Suang semakin tidak mengerti, padahal yang ditunjukkannya adalah lengan palsu.
Fang Tiong Seng terpana mendengar kata-kata Sun Put Ce.
Bagaimana dia bisa tahu seluruh rahasianya?
sebetulnya hal ini yang membuat Sun Put Ce tidak dapat menahan diri lagi, Tadinya dia ingin mencari alasan terbaik untuk dirinya sendiri, mengapa Fang Tiong Seng sampai melakukan semua kejahatan itu?
Mungkin dengan demikian, dia dapat memaafkan gurunya, Tapi sekarang tidak lagi, Dia sudah mengerti kalau manusia yang satu ini tidak mempunyai alasan yang masuk akal.
Dia melakukan semua perbuatan itu untuk kepentingan dirinya sendiri, Dia juga sudah tahu, Fang Tiong Seng rela melakukan apa saja untuk mencapai angan-angan.
"Kau ingin berkata apa lagi?"
Tanya Sun Put Ce.
Fang Tiong Seng mengibaskan tangannya sekali lagi.
Mungkin maksudnya tidak ada lagi yang perlu diucapkan.
Mungkin karena semua alasan yang sudah disiapkan di ujung bibir telah disindir lebih dahulu oleh Sun Put Ce.
Dia juga sudah kehilangan akal untuk menipu kedua orang itu.
"Jalan yang terbaik bagimu adalah menghabiskan nyawa sendiri!"
Kata Kwe Po Giok.
Sun Put Ce juga sependapat dengannya.
Namun apabila Fang Tiong Seng mau melakukan saran Kwe Po Giok, tentu namanya bukan Fang Tiong Seng lagi.
Dia sudah mulai menyerang.
Dia tidak tahu apa arti "Ringkikan kuda senada dengan seruling"
Yang diucapkan Kwe Po Giok.
Mungkin juga sebuah syair atau tanda yang telah disepakati kedua orang itu.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau itu adalah nama sebuah jurus ampuh peninggalan Tang hay sin sian yang diajarkan lewat rangkaian bunga Siau kiong cu.
Memang gadis itu pernah menjelaskan bahwa jurus-jurus tersebut mempunyai nama yang indah dan aneh, seperti "Bunga seruni bermekaran sepanjang tahun"
"Malam merayap"
Atau Dua pasang mata saling memandang".
sedangkan kata-kata yang diucapkan oleh Kwe Po Giok tadi tidak pernah didengarnya.
Dia tidak tahu, ketika kedua orang itu merawat luka di sebuah tempat persembunyian mereka telah mengubah semua nama-nama jurus rangkaian bunga itu.
Kedua orang itu memang sudah terluka, tapi bukan luka yang terlalu parah, serangan mereka sangat aneh, Yang satu bersifat lunak, yang satu lagi bersifat keras.
Bila gerakan yang satu lurus, maka yang lainnya miring, Kadang keras, kadang lunak.
Kadang lurus, kadang miring, pedang berkelebat di antara bayangan manusia.
Manusianya sendiri kadang-kadang berkelebat di antara pedang.
Fang Tiong Seng mulai merasakan kehebatan "Ringkikan kuda senada dengan seruling"
Mereka, Ketiga orang itu mempertahankan diri mati-matian, Kwe Po Giok dan Sun Put Ce sudah menyerang sebanyak lima belas kali.
Mereka juga sudah menerima sembilan kali serangan Fang Tiong Seng.
Tiba-tiba, tanpa perjanjian apa-apa, kedua belah pihak menghentikan serangannya.
Fang Tiong Seng perlu mempertimbang-kan sekali lagi, Sun Put Ce dan Kwe Po Giok juga perlu mempertimbangkan sekali lagi.
Fang Tiong Seng baru tahu, apabila Sun Put Ce tempo hari mengeluarkan seluruh kepandaiannya, pasti dia tidak akan terjatuh ke dalam jurang, Sun Put Ce sengaja mengalah kepadanya, sebetulnya dia memang tidak tega turun tangan terhadap Suhunya.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce saling melirik.
Mereka masih belum dapat mengukur sampai di mana tingginya ilmu silat Fang Tiong Seng, Laki-laki itu benar-benar licik.
Kalau saja lawannya seorang yang tidak berpikiran luas, tentu sudah terjerat oleh perangkap yang dipasang olehnya, Kwe Po Giok dan Sun Put Ce tidak mungkin tertipu lagi.
Oleh karena itu, Sun Put Ce berteriak....
"Tengah malam lonceng berbunyi, janji bertemu di atas kapal!"
Kata-kata "kapal"
Belum selesai diucapkan kedua orang itu sudah maju serentak, Manusia bergerak, pedang berkelebat.
Manusia di antara pedang, pedang di antara manusia, Pedang dan manusia sulit dibedakan Manusia serta pedang berpadu satu.
"Tengah malam lonceng berbunyi, janji bertemu diatas kapal". Bagi Fang Tiong Seng, ucapan itu bagai sebaris puisi yang entah digubah oleh pujangga mana. Namun akhirnya dia sadar, ucapan itu mengandung arti yang dalam. Sebab dia merasa, serangan yang dikeluarkan kedua orang itu semakin lama semakin berbahaya. Kedua orang itu berkelebat di antara terpaan angin dan sinar menyilaukan yang diterbitkan oleh pedang-pedang di tangan. Mereka menyerang tujuh belas kali berturut-turut. sedangkan Fang Tiong Seng baru membalas tigabelas kali. Dia seakan ingin menemukan titik kelemahan Sun Put Ce dan Kwe Po Giok dengan menyerang secara lambat. Karena dia tahu, ketika dia bersama Lian lian menahan Kwe Po Giok ataupun Siau kiong cu, mereka tidak mengeluarkan semua inti sari ilmu pedang yang ditinggalkan oleh Tang hay sin sian, Lagi-pula, dia tidak tahu apakah Kwe Po Giok pernah mendapat didikan langsung dari orang tua itu ketika tinggal di atas kapal. Fang Tiong Seng memang tua-tua keladi, Tebakannya hampir benar. Tapi bukan Kwe Po Giok yang mendapat didikan dari Tang hay sin sian, Yang sebenarnya adalah orang tua yang memiliki ilmu sakti itu meninggalkan amanat untuk Sun Put Ce, yaitu lewat Bok lang kun yang meletakkannya dalam peti mati yang kelak akan dipakai oleh Fang Tiong Seng apabila meninggal. Bok lang kun adalah Bengcu dari aliran hekto. Tapi dia merupakan tokoh yang berotak cerdik. Sejak pertama dia sudah curiga terhadap rencana jahat Tionggoan taihiap tersebut. Hal itu dikatakannya dalam surat yang ditujukan kepada Sun Put Ce. Selain itu, dia juga meninggalkan ilmu jurus ampuh. Rupanya sebelum memenuhi janji dengan Toa Tek To Hun, Tang hay sin sian pernah mencari Bok lang kun. Meskipun dia adalah Bengcu dari aliran hekto, tapi jiwanya masih bersikap pendekar. Dari penyelidikannya, Tang hay sin sian merasa Bok lang kun lebih dapat diandalkan apabila dibandingkan dengan dayang Cui thian. Dia juga mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan Kwe Po Giok atau Sun Put Ce. Oleh karena itu, dia mengajarkan lima buah jurus ampuh kepada Bok lang kun. Apabila keadaan tidak dapat dipertahankan lagi, dia harus segera melatih diri untuk melawan Toa Tek To Hun atau orang yang menyuruhnya, Tang hay sin sian sudah menduga bahwa ada tokoh berilmu tinggi yang mendalangi Toa Tek To Hun. Karena orang itu baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Tionggoan ini. Dia tidak mungkin tahu tokoh-tokoh kelas satu yang harus dibunuh apabila tidak ada petunjuk dari orang lain, Tang hay sin sian juga berpesan, Bok lang kun juga boleh mewariskan ilmu yang diajarkannya kepada seseorang yang dapat dipercaya. Pada saat itu, Tang hay sin sian belum begitu memperhatikan Sun Put Ce. Adalah Bok lang kun sendiri yang mengambil keputusan untuk mewariskannya kepada laki-laki itu, Sebab pada waktu itu, dia sudah membuktikan bagaimana besarnya jiwa Sun Put Ce. Sejak membaca tulisan peninggalan Bok lang kun, Sun Put Ce sudah tahu semuanya. Apalagi dengan kejadian yang bertubi-tubi-Seperti menghilangnya dayang Cui thian kemudian Lian lian. Hatinya sudah curiga kalau Fang Tiong Seng yang melakukan semua itu. Tapi pada dasarnya dia memang murid yang setia dan berbakti, tanpa menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri, dia belum percaya guru yang membesarkannya sejak kecil bisa berubah sejahat itu. Sun Put Ce telah kehilangan sebelah lengannya, Untung saja otaknya cerdas, sehingga inti sari ilmu peninggalan Tang hay sin sian dapat diselami dalam waktu tidak lama, Apalagi dengan adanya Bwe Mei sebagai penambah semangat belajar "Trang!"
Sekali lagi kedua pihak mencelat sejauh tiga langkah lalu menghentikan pertarungan. sebetulnya gerakan itu memang merupakan langkah penutup jurus "Ringkikan kuda senada dengan seruling"
Tapi Fang Tiong Seng tidak mau menunggu serangan mereka selanjutnya.
Karena hal itu berarti dia sudah kalah selangkah, Seperti orang bermain catur, siapa yang menyerang lebih dahulu pasti lebih kuat kedudukannya.
Tanpa menunda waktu lagi, pedang dan orangnya maju sekaligus.
Kali ini tampaknya Kwe Po Giok dan Sun Put Ce rada kelabakan menghadapinya.
Tigapuluh kali sabetan dilancarkan Fang Tiong Seng dengan gencar, Bahu Kwe Po Giok tertusuk satu kali.
Paha kiri Sun Put Ce juga tersayat sedikit.
"Matahari terbenam petani pulang!"
Teriak Kwe Po Giok.
Kata-kata itu juga gubahan mereka sendiri jurus yang satu ini terlebih aneh dari yang tadi.
Kedua orang itu tidak menyerang ataupun menangkis.
Mereka seperti sedang berjalan dengan lenggang lenggok, persis seperti seorang petani yang baru pulang dari sawah.
Pertarungan mereka makin lama makin menakjubkan, Gerakan yang dikeluarkannya makin lama makin aneh.
Kadang-kadang keras dilawan dengan kekerasan Suara semilir angin menderu, sinar-sinar pedang menyilaukan mata.
Kadang-kadang lembut dilawan dengan kelembutan juga, Mereka tidak seperti orang yang sedang bertarung tapi tampaknya sedang belajar menari.
Kedua belah pihak berusaha sekuat tenaga memenangkan pertarungan Karena malam ini merupakan malam penentuan Apakah Fang Tiong Seng yang akan merajai dunia Bulim atau Kwe Po Giok dan Sun Put Ce yang akan menjadi pendekar pembela negara?
Tapi satu hal yang pasti, siapa pun yang kalah, tentu tidak dapat meninggalkan tempat itu dalam keadaan hidup.
Fang Tiong Seng tidak dapat bersabar lagi, serangannya makin gencar.
pedang di tangannya seperti sedang mengamuk Siau Kwe terkena lagi dua tusukan, Sun Put Ce juga tertusuk satu kali.
Lukaluka terlihat di sekujur tubuh kedua orang itu.
Untung saja bukan luka yang terlalu dalam, apalagi ditambah dengan ketekadan dalam hati, rasa perih yang ditimbulkan oleh luka itu tidak diperdulikan lagi.
Bagaimana dengan Fang Tiong Seng?
Rupanya dia juga mengalami luka.
Belakang lehernya tampak mengucurkan darah.
Baju di bagian dadanya juga terkoyak beberapa lubang.
Namun luka di dadanya hanya goresan pedang kedua orang itu saja, sama sekali tidak menghkawatirkan.
Pertarungan tetap berlangsung.
Luka di tubuh Kwe Po Giok dan Sun Put Ce semakin cepat bertambah sedangkan luka di tubuh Fang Tiong Seng juga semakin banyak, Tampaknya kekuatan mereka seimbang.
Masih sulit menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang, Namun apa bila Fang Tiong Seng hanya melawan satu orang saja, mungkin salah satu dari kedua orang itu sudah lama tergeletak.
Tepat pada saat itu, tiga orang perempuan melangkah perlahan dari balik kabut, Yang pertama adalah Siau kiong cu.
pakaiannya sangat tipis, kerah lehernya rendah, memperlihatkan sebagian payudaranya yang ranum, Yang kedua adalah Bwe Mei.
sedangkan yang terakhir adalah Chow Ai Giok.
Pertarungan antara kedua belah pihak berhenti segera, Mereka menatap kearah ketiga perempuan yang baru datang itu.
Sun Put Ce dan Kwe Po Giok merasa hal itu di luar dugaan, Bagaimana ketiga perempuan yang tadinya saling bersaing itu dapat datang dalam satu rombongan?
Tapi melihat sikap mereka yang tidak bermusuhan, hati kedua orang itu menjadi agak tergetar, juga menambah keyakinan dalam hati mereka.
Mata Fang Tiong Seng juga terarah pada mereka, Namun pandangan matanya mengerling beberapa kali, lalu terhenti pada salah satu dari perempuan tersebut Siau kiong cu dapat merasakan, mengapa pandangan itu tertuju kepadanya.
Angin malam yang berhembus membuat gaunnya melambai-lambai.
Bagian payudaranya yang menyembul memberi pemandangan yang indah dan menarik, Dia laksana seorang dewi khayangan yang turun dari langit.
Dalam otak Fang Tiong Seng terbayang kembali tubuh telanjang yang diintipnya dalam kamar mandi, Kulit yang halus dan memerah, Bersih dan berkilauan laksana mutiara, Sinar mata Fang Tiong Seng berubah menjadi liar.
Rasanya berat menarik diri dari pemandangan yang menawan itu.
Diam-diam dia mengakui, semua kelebihan seorang perempuan ada pada diri Siau kiong cu.
Dia percaya, setiap laki-laki yang pernah memandang tubuh yang indah itu, pasti akan berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, Dia benar-benar seorang perempuan istimewa di antara perempuan yang lainnya.
"Apakah Ongsun hendak pulang?"
Teriak Kwe Po Giok.
Kata-kata itu dikutip dari salah satu syair perpisahan seorang tokoh zaman lampau.
Kwe Po Giok sengaja mengambil kata-kata itu untuk nama jurus terakhir ilmu pedang Tang hay sin sian.
Kedua orang itu bergerak serentak Meskipun di tubuh mereka terdapat banyak luka sehingga gerakan mereka menjadi kurang leluasa, namun serangan kali ini malah lebih ganas dari yang sebelumnya.
Tentu saja Fang Tiong Seng menanggapi dengan cepat Sinar pedangnya bagaikan bunga api yang berpijar, serangannya seperti seekor banteng mengamuk.
Sekarang dia baru mengeluarkan jurus andalannya, Dalam sekali serang, perut Kwe Po Giok telah tersayat dada Sun Put Ce juga tergores cukup dalam.
Kedua orang itu mencelat mundur tiga langkah, Tubuh mereka sempoyongan Belum lagi sempat menegakkan diri, Fang Tiong Seng dan pedangnya sudah hampir tiba.
Siau kiong cu menjerit kecil, tubuhnya gontai Fang Tiong Seng menengok ke arahnya.
Dia tampak terpana.
Bayangan gadis itu yang telanjang kembali berputar di-angan-angannya.
pandangan matanya terpaku, pedang di tangannya berhenti di udara.
Sekejap kemudian dia bagai tersadar.
Dia cepat-cepat menenangkan hatinya, namun sudah terlambat...
Dalam sekali kedipan mata, pedang Sun Put Ce mengarah lurus di hadapannya, Dia panik sekali, dari arah samping Kwe Po Giok juga sedang melayang ke tempatnya berdiri.
pedang yang pertama amblas ke dadanya.
pedang yang kedua menusuk bagian pinggangnya yang kanan sampai tembus ke pinggang bagian kiri.
Sebuah pemandangan yang menggidikkan hadir di hadapan mata mereka, Fang Tiong Seng tampaknya ingin tertawa terbahak-bahak, namun wajahnya hanya dapat meringis.
Darah menyembur ke mana-mana.
Mengapa dia hendak tertawa?
Apakah dia menertawakan dirinya sendiri yang terjebak oleh gerakan seorang perempuan?
Atau dia ingin menertawakan kebodohannya yang menyia-nyiakan kemenangan yang sebetulnya akan diperolehnya?
Pedang Kwe Po Giok belum ditarik keluar.
Ketiga perempuan itu menahan perasaan yang membaur didalam hati.
Mereka sudah melihat dengan jelas, sebetulnya apa yang dipelajari Sun Put Ce lebih banyak dari Kwe Po Giok, namun dia tetap memberikan kesempatan untuk membunuh Fang Tiong Seng kepadanya, pertama karena dia memang bukan orang yang suka menonjolkan diri.
Kedua, dia mungkin tidak tega turun tangan sendiri.
"Bagus....! Bagus sekali!"
Suara Fang Tiong Seng tersendatsendat, Tubuhnya lunglai.
Apakah kata-katanya mengandung maksud bahwa mereka pandai sekali mengambil kesempatan pada saat dirinya lengah?
Atau suatu pujian bahwa ilmu kedua orang itu benar-benar sangat bagus?
Mungkin tidak ada orang yang tahu maksud sebenarnya.
Sun Put Ce telah menguburkan mayat Fang Tiong Seng.
Dia masih berusaha menenangkan perasaannya juga mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang dialaminya hanya sebuah mimpi buruk.
Sampai di manakah tingginya ilmu silat Fang Tiong Seng?
Mungkin tidak ada yang pernah tahu.
sebetulnya kemenangan yang diperoleh Sun Put Ce dan Kwe Po Giok hanya kebetulan saja, Apabila pikiran orang itu tidak sedang bercabang, apakah mereka sanggup membunuhnya?
Kalau Kwe Po Giok yang ditanyakan, jawabannya pasti bisa.
Tapi kalau pertanyaan ini diajukan kepada Sun Put Ce, dia pasti berani mengakui tidak.
Kwe Po Giok mencoba bertanya kepada Lu ji, mengapa Fang Tiong Seng bisa begitu terpesona memandangnya?
Gadis itu hanya memberikan jawaban yang samar-samar.
Apakah dia sengaja menarik perhatian Fang Tiong Seng?
Apakah dia sejak lama sudah mengetahui bahwa ada orang yang mengintipnya ketika mandi?
Kalau tidak, mengapa dia sengaja menyalakan lilin besar sehingga bentuk tubuhnya dapat terlihat jelas?
jawaban ini juga tidak akan diketahui untuk selamanya, Namun, Siau kiong cu berbuat satu hal yang berada di luar dugaan Sun Put Ce, Bwe Mei, Chow Ai Giok, terlebih-lebih Kwe Po Giok, Dia mengeluarkan uang sebanyak seribu tail untuk menebus diri Siau lok yang bekerja di rumah hiburan Pek Hua lau, perkataan yang sudah diucapkannya pasti akan ditepati.
Masih ada satu persoalan yang patut dikemukakan Dia tidak ingin segera menikah dengan Kwe Po Giok, Dia ingin memastikan diri untuk beberapa lama.
Kwe Po Giok seharusnya mengerti apa yang dimaksudkan Siau kiong cu tidak ingin lagi mendengar dia membanggakan diri sebagai Sin tong.
Bagi Sun Put Ce, Fang Tiong Seng masih merupakan guru yang berbudi dia memakamkannya dengan upacara sederhana, Kwe Po Giok sudah pergi, demikian juga Siau kiong cu.
Mereka sangat membenci Fang Tiong Seng dan tidak sudi menggabungkan diri dalam upacara tersebut.
Sebetulnya Chow Ai Giok juga sama, Karena Fang Tiong Senglah yang membunuh Kiau Bu Suang, Namun dia tidak meninggalkan tempat itu.
Dia hanya berdiri di sudut dan memperhatikan Sun Put Ce dan Bwe Mei membakar kertas sembahyang Bwe Mei adalah gadis penuh pengertian.
Meskipun dia juga tidak pernah suka kepada Fang Tiong Seng, namun Sun Put Ce adalah calon suaminya.
Dia harus mengikuti apa yang dilakukannya.
Setelah upacara sederhana itu selesai, Bwe Mei menghampiri Chow Ai Giok dan duduk di sampingnya.
perempuan itu bersandar di sebatang pohon dan melamun.
"Chow cici.... Kalau kau tidak keberatan kau boleh tinggal di rumah kami, Setidaknya sampai anakmu lahir,"
Kata Bwe Mei.
"Terima kasih, Bwe moi. Aku tidak ingin merepotkan kalian. Lagipula jalan hidup kita telah terpaut demikian jauh. Aku tidak mau kejelekan diriku mempengaruhi kalian,"
Sahutnya.
"Kalau boleh aku ingin mengusulkan sesuatu,"
Kata Sun Put Ce sambil berjalan ke depan mereka, Dia sempat mendengar percakapan kedua perempuan itu.
"Apa itu, Sun Toako.,.?"
Tanya Bwe Mei.
"Aku mengerti maksud Chow kouwnio, Memang setiap manusia harus mempunyai kebebasan dalam rumah sendiri, tanpa diganggu pihak lain. Aku akan mencari sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dengan tempat tinggal kita. Dengan demikian, apabila ada apa-apa, kita bisa saling menjaga, Bagaimana pendapat Chow kouw-nio?"
Sahut Sun Put Ce. Chow Ai Giok sangat terharu, Dia pernah berbuat jahat kepada dua orang ini. Tapi bukan saja mereka sudah menghapuskan semua dendam dalam hati, bahkan bersedia menolong dirinya.
"Terserah bagaimana anggapan yang terbaik dari Sun Toako, Siau moi hanya mengikuti. Mulai sekarang kita sudah seperti saudara, Harap Sun Toako jangan memakai embel-embel kouwnio lagi di belakang namaku. Bwe moi juga boleh memanggil aku cici,"
Sahut Chow Ai Giok dengan nada lembut.
Bwe Mei saling pandang dengan Sun Put Ce.
Gadis itu merasa gembira bahwa akhirnya mereka bisa menyelesaikan persoalan yang terjadi di antara mereka dengan baik, Dia menyetujui pendapat Sun Put Ce.
"Sun Toako.... Mari kita berangkat sebentar lagi matahari akan terbit. Kita akan memulai hidup baru, Cepat laksanakan kata-katamu tadi,"
Katanya.
Mereka berjalan beriringan dengan wajah riang.
Sinar keemasan dari ufuk Timur mulai menampakkan diri.
-ooo0ooo-Bagian Dua puluh Lima Musim semi telah tiba.
Bunga-bunga berwarna warni bermekaran di mana-mana, Daunnya yang hijau melambai-lambai.Pada saat seperti ini banyak pelancong yang berdatangan dari daerah, Cuaca pada musim semi memang paling segar.
Angin bertiup semilir.
Matahari tidak terlalu terik.
pemandangan alam membuat manusia terpukau.
Di telaga See 0uw.
Perahu-perahu dengan hiasan-hiasan indah hilir mudik, Terlihat beberapa gadis penjual bunga sedang menawarkan dagangannya.
Mereka menjinjing dua buah keranjang di tangan kiri dan kanan, Kepalanya diikat dengan selendang, Ada beberapa yang memakai selendang berwarna merah muda, ada juga yang berwarna kuning jeruk dan ada pula yang memakai selendang ungu, Gaun-gaun sederhana melambai-lambai tertiup angin nakal, Sungguh suatu pemandangan yang indah.
Sejak kematian Fang Tiong Seng, dunia Bulim tenang kembali tidak ada gejolak yang meresahkan hati rakyat, Setiap jalanan ataupun gang kecil dipenuhi para penjaja dan anak-anak yang sedang bermain.
Suasana terlihat riang gembira.
Pada saat itu, seorang gadis dengan wajah cantik jelita mendekati tepian sungai.
Dia berjalan kearah sebuah perahu yang tampak kekar dan kokoh.
"Lopek.... Apakah perahumu ini disewakan..?"
Tanyanya.
Orang tua itu menoleh, Dia terkesima memandang gadis di hadapannya.
Seumur hidup ini dia sudah banyak melihat perempuan-perempuan cantik, Apalagi pada musim pesiar seperti ini.
Tapi gadis yang ada di hadapannya ini memang mempunyai kelebihan tersendiri Dia yakin gadis itu pasti bukan keturunan orang biasa.
Setidaknya kaum bangsawan atau mungkin juga turunan seorang pendekar besar.
Tapi orang tua itu merasa heran juga.
Mengapa gadis secantik itu berani berpesiar seorang diri?"
"Betul, Siocia (nona), Perahu ini memang disewakan Apakah Siocia ingin mendayung sendiri atau ditemani Lopek?"
"Terima kasih, Aku minta Lopek membawaku mengelilingi telaga ini. Cuaca sangat cerah. pemandangan pun demikian indah,"
Sahut gadis itu. Tukang perahu itu segera mengiakan, Dia melepaskan tali penambat perahu tersebut. Dibantunya gadis itu naik ke atas, Dan dia mulai mendayung.
"Apakah Siocia berasal dari sekitar tempat ini?"
Tanya tukang perahu penasaran.
"Tidak. Aku berasal dari Pak hay,"
Sahut gadis tersebut.
"Oh.... Jauh sekali... Siocia hanya seorang diri?"
Tanya si tukang perahu.
"Betul. Kebetulan aku baru saja mengunjungi seorang teman yang rumahnya tidak seberapa jauh, Karena cerita teman itu pula, maka aku tertarik dan ingin melihat keindahan telaga See Ouw ini,"
Sahut gadis itu yang ternyata Siau kiong cu adanya.
Tukang perahu itu menganggukkan kepalanya, Dalam hati dia terus bertanya-tanya.
Mengapa temannya tidak menemani dia berpesiar?
Laki-laki atau perempuan temannya itu?
Siau kiong cu mengedarkan pandangannya ke sekeliling telaga, Banyak sekali perahu-perahu di sana.
Ada juga kapal yang agak besar.
Suara tawa dan nyanyian berkumandang sampai perahu yang ditempati Siau kiong cu.
Gadis itu mendengarkan dengan seksama, Dia merasa ingat dengan lagu itu.
Bibirnya bergerak-gerak menirukan.
Suaranya merdu namun perlahan Dia terbawa keindahan lagu tersebut.
Musim chun telah tiba.
Rakyat bersorak menyambutnya.
Anak-anak memetik bunga-bunga, Yang perempuan mengambilnya untuk penghias kepala, Musim chun telah tiba.
Hati bak bunga yang bermekaran, Cinta pun mulai bersemi.
Harapan akan menjadi kenyataan....
"Apakah cinta akan menjadi kenyataan?"
Terdengar suara seseorang di sampingnya.
Siau kiong cu terkejut.
Dia menolehkan kepalanya, Hatinya tergetar melihat orang itu.
Seorang pemuda berwajah tampan dan kulit tubuh berwarna kecoklatan karena tersinar matahari.
Baju yang dikenakannya adalah pakaian yang biasa dipakai oleh kaum nelayan.
Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum kedewasaan.
Dia adalah Kwe Po Giok!
Jodohkah artinya?
Kalau tidak, mengapa mereka bisa kebetulan bertemu di telaga See Ouw ini?
Atau ada yang mengatur pertemuan itu?
Rupanya Siau kiong cu baru saja mengunjungi Sun Put Ce dan Bwe Mei yang sudah menikah, Dan entah bagaimana, setelah Siau kiong cu berlalu, Kwe Po Giok juga tiba-tiba ingin mendatangi kedua orang itu.
Dia tahu mereka akan menikah, tapi pada saatnya hampir tiba, Sun Put Ce tidak berhasil menemui mereka.
Dari pemberitahuan Sun Put Ce, Kwe Po Giok mengetahui bahwa Siau kiong cu sedang berpesiar di telaga See 0uw.
Dia segera menyusulnya.
Tukang perahu yang sedang mendayung tersenyumsenyum Rupanya mereka mengadakan perjanjian untuk bertemu di tempat.
"Apakah hatimu masih ragu ter...?"
Tanya Kwe Po Giok, Siau kiong cu menggelengkan kepalanya, Kwe Po Giok cerah seketika, .... Aku tinggal di sebuah perkampungan nelayan, Maukah kau tinggal bersama disana?"
Tanyanya.
Lagi lagi Siau kiong tersipu, Namun dia anggukkan kepalanya.
Langit makin membiru.
Suara nyanyian berkumandang.
Bungabunga memang sedang bermekaran, demikian pula hati mereka.
Kini, pikirnya dalam hati, Siau kiong cu sendiri tidak tahu harus berkata apa, wajahnya tertunduk malu, Kwe Po Giok sudah berubah.
penampilannya lebih matang dan dewasa.
Dia ingin membuktikan keraguan hatinya tempo hari.
"Apa yang kau lakukan selama ini?"
Tanyanya.
"Lu ji.... Aku mencari nafkah, Hidupku tenang sekali sekarang, Tidak ada yang membebani pikiran lagi kecuali dirimu. Tunggu dulu...."
Siau kiong cu tidak mengerti mengapa dia menghentikan katakatanya.
Ternyata Kwe Po Giok loncat ke perahu gadis itu.
Dia meminta tukang perahu membawa perahunya ke tepian telaga, Dengan demikian, dia jadi bebas berbicara dengan Siau kiong cu.
"Nah.... Kita lanjutkan kembali,"
Kata-nya.
"Bagaimana keadaanmu belakangan ini, Lu ji?"
Tanyanya dengan penuh perhatian. Siau kiong cu tersipu. Siau Kwe telah dewasa, Waktu enam bulan ternyata bisa merubah sikap seseorang.
"Aku baru saja mengunjungi Sun toako dan Bwe ci. sebelumnya aku bersembahyang di kuburan ayah,"
Sahutnya. Tamat
Baca Juga: Hong Lui Bun 12
Baca Juga: Pisau Terbang Li 6