Eps 1 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com.
Tangan Berbisa Karya .
Khu Lung Saduran .
Tjan ID.
DIWAKTU lohor dalam musim dingin udara gelap.
angin bertiup kencang.
Puncak gunung Thay-pek-San yang menjulang tinggi kelangit, diliputi oleh salju tebal, dari jauh bagaikan seorang tua yang rambatnya putih semuanya, berdiri tegak disamping dua belas anak bukit yang lain, tampak semakin agung dan angker.
Danau Thay-pek tie diatas gunung itu yang namanya terkenal dalam sejarah, airnya tenang, seolah-olah sebuah cermin besar, pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh ditepi danau, Sebagian Sudah diliputi oleh salju, hingga warna bunga yang merah bercampur dengan warna salju yang putih, merupakan Suatu pemanangan yang menarik dipuncak gunung Thay-pek san itu.
Ditempat itulah...
tepi danau Thay-pek tie pada empat puluh sembilan hari berselang, dengan secara tiba-tiba didalam waktu Semalam muncul sebuah gubuk.
didalam gubuk itu tampak asap mengepul, disekitar asa dupa, duduk tiga-belas orang tua.
Tiga-belas orang tua itu terdiri dari seorang wanita, dua golongan paderi, tiga orang kaum imam dan enam orang biasa.
Kecuali seorang tua berambut putih yang mengenakan jubah berwarna kuning, yang waktu itu duduk ditengah-tengah, yang uSianya kira-kira sudah seratus tahun.
yang lainnya semua berusia antara enam atau tujuh puluh tahun.
Dari keadaan dan jidat mereka yang masingmasing pada menonjol, dan dari Sikapnya yang Sangat agung dapat diduga bahwa orang-orang tua itu semua merupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam persilatan.
Mereka sehari penuh duduk diseputar pedupaan tanpa bergerak.
setiap orang hanya seorang yang mendapat giliran, yang ditugaskan untuk menambah api didalam perapian.
Ini juga berarti bahwa setiap orang, sekali duduk harus dua belas jam.
selama dua belas jam itu, tanpa makan, tanpa bicara dan tanpa bergerak.
seolah-olah patung dalam gereja.
Hari berganti malam, dan malampun berganti siang lagi.
Tiga belas orang itu duduk secara demikian, tanpa menghiraukan adanya angin yang tak henti-hentinya.
Api dalam perapian terus menyala, dan dupa terus mengepul tak putus-putusnya.
Hari itu, diwaktu lohor pada hari keempat puluh sembilan, yang ditugaskan menjaga perapian pedupaan adalah seorang paderi tua, yang sikapnya lemah-lembut Ia berjongkok dibawah perapian, Sikapnya dengan tegas menunjukkan perasaan tegang matanya ditujukan kepada pinggir perapian yang mengepulkan asap yang semula berwarna putih, hari ini telah berubah berwarna kUning "MaSih ada setengah jam lagi.
Setengah jam kemudian boleh dikeluarkan dari perapian...."
Dimikian padri tua itu berkata sendiri dengan bersemangat, kadang-kadang seolah menyadari bahwa seorang beribadat tak seharusnya menuruti emosinya.
Maka kalau mengingat akan hal itu, wajahnya menjadi serius.
mulutnya komat-kamit memuji nama Buddha, dan selanjutnya ia meneruskan tugasnya untuk memasukkan kayu-kayu kedalam perapian.
orang tua berambut putih yang duduk ditengan-tengah Sambil memejamkan mata, ketika mendengar suara pujian nama Buddha yang keluar dari mulut padri tua tadi, di Wajahnya tiba-tiba tersungging suatu Senyum yang tak dimengerti, bersamaan itu, sepasang matanya di muka perlahan-lahan dibuka, memancarkan Sinar tajam, kemudian lambat-lambat bangkit dari tempatnya.
Selanjutnya, sebelas orang tua yang duduk mengitari perapian tadi juga pada bangkit, satu sama lain Saling pandang dan tersenyum, mereka masing-masing mulai mengibas-ibaskan debu yang menempel diataS pakaiannya sendiri-sendiri.
orang tua berambut putih itu, mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, kemudian memasukan tangan ke dalam sakunya, mengeluarkar Sebuah kantong kecil hitam, setelah itu ia tersenyum dan berkata kepada orang-orang disekitarnya.
"Saudara-saudara ketUa, apakah Sekarang sudah boleh dimulai?"
Padri tua yang bertugas menjaga perapian itu memberi hormat seraya berkata .
"Sudah boleh di mulai, locianpwee"
Orang tua berambut putih itu tersenyum, tangan kanannya menenteng kantong kecil kain hitam mengawaSi semua orang sejenak lagi, lalu berkata.
"Sudah boleh dimulai, locianpwee"
"Di kantong kecil ini tersimpan dua belas biji anak kunci emas yang bentuknya berbeda-beda dan di tandai dengan huruf dari dua belas shlo, saudara-saudara ketua setiap orang hanya boleh mengambil sebuah."
Belum habis ucapannya, salah seorang dari sebelas orang itu, ialah seorang imam tua yang tubuhnya kurus kering, dengan tiba-tiba maju memberi hormat dan berkata.
"Locianpwee, pinto kira kunci emas itu seharusnya ada tiga belas buah"
Orang tua berambut putih itu menganggukkan kepala padanya, lalu berkata Sambil tersenyum hambar.
"Terima kasih saudara ketua dari partai cong-lam, batas hidupku sudah Sampai, tiada sebuah barangpun didalam dunia ini yang patut dibuat pikiran. ..."
Ia terdiam Sejenak.
matanya ditujukan kepada kantong kecil berwarna hitam, kemudian berkata pula sambil tersenyum.
"Dan sekarang, mengenai cara dan urutan untuk mengambil kunci emas itu, apakah saudara-saudara ketua mempunyai usul lain?"
Seorang tua dari golongan biasa yang sikapnya agung, mulai berkata".
"Aku siorang she song mengusulkan agar cara mengambilnya itu ditetapkan Secara bergiliran dengan pengambilan barang-barang mujarab yang di ambilnya"
Orang tua berbaju putih itu agaknya dapat menyetujui usul tersebut, ia mengangguk-anggukkan kepala dan mengawasi semua orang sejenak kemudian berkata.
"Song ciangbunjin dari golongan Thian-sia usulnya ini memang adil, tetapi entah bagaimana pikiran Saudara-Saudara yang lainnya?"
Sebelas orang ketua partay yang lainnya semua menganggukkan kepala sebagai persetujuan usul tersebut.
orang tua berambut putih itu kemudian berpaling dan berkata kepada seorang paderi wanita yang membawa sebatang tongkat berkepala naga.
"Bu ciangbunjin dari Swat-san, paling dulu mengambil sebuah lingci berwarna hijau yang usianya sudah ribuan tahun, sekarang dipersilahkan datang kemari untuk mengambil lebih dulu sebuah kunci"
Nenek itu lalu berjalan kedepan orang tua berambut putih, ia mengulurkan tangannya dan memasukkan kedalam kantong kecil, untuk mengambil sebuah kunci emas, tiada orang melihat bagaimana bentuknya kunci emas yang telah diambilnya.
Sebab kunci itu digenggamnya, ia sendiri masih belum sempat melihatnya sudah dimasukkan kedalam sakunya, setelah itu lantaS mengundurkan diri ketempat asalnya.
orang tua berambut putih itu kemudian berpaling dan berkata pada imam tua kurus kering yang wajahnya agung "Bu-hong Tojin ciangbunjin partay cong-lam mendapat giliran kedua, dipersilahkan mengambil sebuah kunci."
Imam tua itu maju menghampiri, juga mengambil sebuah kunci emas dari dalam kantong setelah dimasukkan kedalam sakunya sendiri setelah itu lantas mengundurkan diri ke tempatnya semula.
Demikian, satu persatu dengan bergiliran mengambil kunci emas dari dalam kantong kecill itu.
Ketua partai Ngo-bi, Sim-keng siangjin adalah orang ketiga yang mendapat giliran mengambil kunci emas.
Kho ciangbunjin dari partay Kiong-lay mendapat giliran ke empat.
ciangbunjin Bu-tong-pay, ceng-tiem Totiang mendapat giliran kelima...
ciangbunjin partay Lam-hay-pay mendapat giliran ke enam, ciangbunjin partay Siao-liempay, Lian-in Taisu, orang yang mendapat giliran ketujuh Suma ciangbunjin dari partay oei-San-pay mendapat giliran kedelapan-Ketua Kun-lun-pay Thian-cong Totiang mendapat giliran ke sembilan Ketua Kong-tong-pay yang kesepuluh, Ie ciangbunjin dari partai Hoa-San-pay mendapat giliran ke sebelas ....
song ciangbunjin dari partai Thian-sia-pay dapat giliran kedua belas.
orang tua yang berambut putih itu Setelah membagibagikan dua belas anak kunci emas dengan cara yang bergiliran, kantong kecilnya yang sudah kosong itu dimaSukkan kedalam perapian selanjutnya dari Sakunya ia keluarkan sebuah kotak bundar yang terdapat dua belas lubang kunci, katanya Sambil tertawa.
"Kotak ini, telah aku gunakan lima tahun lebih kotak ini kuberi nama sin-kie Giok-sap. atau kotak rahasia, Tentang rahasianya, dahulu telah aku ceritakan-sekarang aku persilahkan saudara SaUdara ketua mengeluarkan kunci masing-masing yang diambil dari dalam kantong yang kecil tadi, membUka kotak rahasia ini, supaya dipergUnakan untuk menyimpan pil obat mujarab"
Sehabis berkata demikian kotak rahasia itu diletakkan ditanah, sedangkan ia sendiri undurkan diri keluar dari gubuk.
Dua belas orang ketua partai persilatan dengan sikap serius, semua berjalan menghampiri kotak rahasia yang diletakan ditanah.
sama-sama dengan itu, maSing-maSing mengeluarkan kunci emasnya sendiri, untuk mencari lubang yang tepat dengan kuncinya.
Dengan Sangat hati-hati memasukkan kedalam lobang kunci itu.
orang tua berambut putih ketika menyaksikan dua belas orang ketua partai semua sudah memasukkan kuncinya maSing-masing kedalam lobang kunci yang tepat, lantas berjalan menghampiri dan memeriksanya sejenak, kemudian mundur dua langkah dan berkata dengan suara nyaring.
"Sekarang semua dipersilahkan mengitar kekanan setengah putaran... .Satu. dua, tiga"
"Bum "
Demikianlah terdengar suara ledakan, dua belaS orang ketua partai seolah-olah mengeluarkan asap, mereka lompat keluar dari dalam gubuk.
wajah setiap orang semua pada pucat, juga pada menarik napas, Seolah-olah baru lolos dan bahaya maut Waktu itu, kotak rahasia yang berada ditanah keadaannya Seperti mulut ular yang menganga, dalam kotak itu tampak semacam pot kecil berbentuk bundar, dan luar pot itu tampak kosong melompong, juga tak terdapat tanda-tanda yang aneh.
orang tua berambut putih itu tersenyum, ia mundur lagi dua langkah, dengan tangan kirinya melakukan suatu gerakan seperti menyedot, kotak wasiat ditanah sudah melesat kedalam tangannya.
Kotak itu diletakan diatas telapak tangannya, lalu berjalan memutari perapian, sepasang matanya memancarkan sinar berkilauan, ditujukan kepada asap yang telah menjadi warna kuning yang mengepul dari atas perapian.
Asap itu, semakin lama warnanya semakin kuning, tetapi juga pelahan-lahan semakin tipis...
Tak lama kemudian, dalam perapian itu dengan tiba-tiba timbul suara aneh, seolah-olah suara petir dari langit, tetapi juga seperti Suara binatang buas yang sedang menggeram, kalau didengar sepintas selalu, seolah-olah sedang menghadapi medan pertempuran.
orang tua berambut putih itu, menampak waktunya sudah tiba, lalu mengangkat tangan kanannya dan menyambar ketempat udara kosong.
terdegarlah suara menggelegar, tutup perapian yang terdiri dari bahan logam terbuka, dari dalam wajan diatas perapian meluncur keluar dua belaS pil berwarna kuning sebesar jempol tangan, terus meluncur ketengah udara.
orang itu mengeluarkan Siulan panjang, tangan kanannya melakukan gerakan gencar dan menyambar dua belas butir pil warna kuning, yang masih berada diudara, bagaikan tersedot oleh daya gaib, satu persatu jatuh didalam kotak rahasia, dengan Sangat rapi berjejer didalam pot yang berbentuk bundar itu.
Dua belas ketua partay persilatan, yang menyaksikan kelakuan aneh dan kepandaian luar biasa orang tua berambut putih itu, semuanya mengeluarkan Suara pujian, ada juga yang menyambut dengan tepuk tanganorang tua berambut putih itu tersenyum hambar.
tangan kanannya dari dalam sakunya mengeluarkan dua belas lembar kulit kambing selebar enam setengah dim, matanya mengawasi semua orang sejenak.
lalu berkata dengan suara lambat-lambat.
"Semua ilmu kepandaian sudah kutulis diatas kulit kambing ini, dikemudian hari saudara-saudara ketua boleh menggunakan anak kunci masing-masing untuk mendapat selembar, inilah sedikit peninggalan dari aku kepada saudara-saudara ketua yang berada disini. kuharap saudara bisa menerima dengan senang hati. Disamping itu aku mempunyai sedikit urusan hendak minta saudara ketua punya pertolongan, itulah tentang anakku sendiri, sejak ia pergi mengembara pada lima tahun berselang, hingga kini belum ada sedikitpun kabar beritanya, apabila dua belas tahun kemudian ia masih belum pulang kedaerah Tionggoan-Saudara ketua boleh menetapkan hari sendiri untuk mengambil kotak ini. Hanya setelah Saudara-Saudara mengambil pil dan kulit kambing dalam kotak ini, kotak yang kosong ini harus dilemparkan kedalam danau, disamping itu, saudara-saudara setiap orang harus mengutus seorang untuk mencari anakku itu guna membereskan soal ini. ini semua hanya soal keamanan-aku minta dengan Sangat supaya saudara Saudara ketua harus dapat melakukannya"
Sehabis berkata demikian, dua belaS kulit kambing itu dimasukkan kedalam kotak rahasia.
kemudian dengan tangan kanannya dia menekan kotak itu, dan kotak tersebut telah tertutup kembali.
Setelah itu dengan tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.
sikapnya itu tampaknya sangat gembira Sekali.
Dua-belas orang ketua partai persilatan itu semuanya menunjukkan sikap girang dan mulai pada bercakap-cakap Satu Sama lain-Begitu Suara tertawa orang tua berambut putih itu berhenti, para ketua partai yang bercakap-cakap juga menjadi tenang kembali.
Semua mata kini ditujukan kewajah orang tua itu, seolah-olah hendak menantikan pembicaraannya lagi.
Dengan muka berseri-seri dan tangan kiri membawa kotak rahasia, orang tua berambut putih itu berjalan mondar-mandir beberapa langkah, kemudian berkata lambat-lambat.
"Ini adalah suatu pertemuan besar yang tak mengandung atau berbau pertentangan danpermusuhan didalam Sejarah rimba persilatan-Disini aku ucapkan dan menyatakan hormatku yang tertinggi kepada saudarasaudara ketua sekalian, semoga saudara-saudara ketua pada dua belas tahun kemudian benar-benar bisa menciptakan suasana perdamaian. Aku juga mengharap kepada Saudara2 ketua Sekalian, Supaya selama-lamanya bisa menghargai semangat persatuan seperti ini, biarlah semangat persatuan ini bisa hidup dirimba persilatan sepanjang masa... ."
Berkata sampai disitu mendadak ia diam.
lama mendongakkan kepalanya keatas, kemudian menghadap kepada dua-belas orang ketua partay dan memberi hormat sedalam-dalamnya.
Dengan kedua tangan membawa kotak wasiatnya, ia berjalan perlahan-lahan menuju kedanau Thay-Spek-tie.
"Locianpwee, harap tunggu sebentar"
Demikian ketua partay Lam-hay-pay berseru dan keluar dari rombongannya.
berjalan kedepan orang tua berambut putih yang saat itu sudah memutar diri, ketua itu lalu memberi hormat lalu berkata dengan perasaan terharu.
"Locianpwee dengan tiba-tiba pada Saat ini mengeluarkan ucapan demikian, aku siorang she liong benar-benar merasa bingung, apakah. ..."
Ia tidak melanjutkan pertanyaannya, hanya angkat muka memandang siorang tua, sepasang matanya menunjukkan sinar tanda tanya.
Orang tua itu memandangnya sambil tersenyum, lalu berkata Sambil mengangukkan kepala.
"Apabila liong ciangbunjin mempunyai dugaan maka dugaan itu tentunya benar"
Ketua partay Lam-hay-pay itu ketika mendengar ucapan tersebut, wajahnya tampak muram katanya dengan suara pelahan dan menundukan kepala.
"Kalau begitu, perkataan yang dahulu Locianpwe pernah ucapkan, bahwa pada hari terjadinya pil itu, akan minta kepada aku siorang she liong dan lain-lainnya dua-belas orang, sekarang pil itu sudah jadi, mengapa Lo-cianpwe tak mau mengucapkan?"
Orang tua itu memejamkan matanya dan menghela napas pelahan-katanya.
"Hmm, apakah liong cianbunjin masih belum menyadari urusan yang kuminta kepada ciangbunjin sekalian?"
Wajah ketua Lam-hay-pay itu agak merah, kembali ia memberi hormat berkata.
"Aku siorang She Liong adalah seorang bodoh harap Lo-cianpwe suka memberi petunjuk"
Wajah orang tua itu menunjukkan sikap keCewa. matanya dialihkan kepada sebelas ketua partay yang lainnya, lantaS bertanya.
"Saudara-Saudara ketua, diantara Saudara-saudara Siapakah yang biSa menolong aku untuk menjawab pertanyaan ini?"
Para Ketua partay itu saling berpandangan dengan peraSaan heran, sebentar kemudian, ketua partay Siao-limpay Lian-in Taysu tiba-tiba maju dua langkah memberi hormat kepada orang tua, Sera yaberkata.
"Maksud baik locianpwee patut dipuji, pinceng bersedia melaksanakan pesan locianpwee dan akan ingat untuk selama-lamanya"
Semangat orang tua itu mendadak terbangun, mendongakkan kepala dan tertawa panjang setelah itu memutar tubuhnya, lengan tangan kanannya dikibaskan kebelakang, badannya meleset Setinggi tiga tombak.
kemudian melayang turun kepermukaan air danau Thay pek-tie.
dengan kaki menginjak permukaan air, Selangkah demi selangkah berjalan menuju ketengah-tengah danau.
Dengan kedua tangan masih memegang kotak rahasia., ia berada ditengah-tengah danau, kemudian ia memutar tubuhnya dan memberi hormat kepada dua belas orang ketua partay yang mengawasi ditepi danau, setelah itu perlahan-lahan menghilang kedalam air Tak lama kemudian, air danau itu Sudah menelan tubuh orang tua berambut putih itu, permukaan air tampak berputar-putar buih air lama baru tenang kembali.
Dua belas orang ketua partay persilatan semua pada berjalan mendekati danau, mereka mengitari danau Thaypek-tie, dengan diliputi oleh suasana kepedihan-...
Sang Waktu berlalu terus tanpa berhenti.
Hari, perlahan-lahan menjadi gelap.
Rembulan Sudah mulai muncul diatas langit.
"Ai Ia benar-benar Sudah tak muncul lagi"
"Mari kita pulang, Kho ciangbunjin"
"Tidak, aku masih hendak menunggu sebentar lagi "
"oo, kenapa ?"
Demikianlah beberapa pembicaraan dari para ketua partay yang maSih berdiri ditepi danau.
-0odwo0-Permulaan musim semi....Bulan sabit baru muncul, diatas danau Se-ouw dipropinsi Hang-ciu, pandangan sangat permai, banyakperahu berlayar dipermukaan air, banyak orang pesiar ditepi danau.
Diantara demikian banyak perahu sampan yang pesiar dipermukaan danau, beberapa antaranya juga terdapat pemuda-pemuda yang didayung oleh beberapa pendayungnya gadis-gadis Cantik, dengan diiringi oleh nyanyian-nyanyian dan musik-musik yangamat merdu...
Demikianlah kita tampak Sebuah perahu sampan berwarna hijau, yang didayung oleh seorang gadiS pendayung perahu yang berusia kira2 tujuh belas delapan belas tahunan, gadis itu berwajah cantik dan gerakannya sangat lincah.
Didalam perahu, duduk empat orang pemuda berpakaian pelajar yang sangat perlente, mereka tampaknya sedang pesiar sambii minum-minum dan menyanyi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah itu.
"Saudara Liu, mari minum kering"
"Ha-ha, saudara Liok. mabok sedikit mana boleh, jangan terlalu banyak minum"
"Yalah saudara Liok, kau tidak boleh minum terlalu banyak"
"Ha ha Saudara Su, kau paling bisa minum, bagaimana kau juga mengeluarkan perkataan demikian?"
"Itu benar, cin-laote, orang dijaman dahulu pernah berkata bahwa mabok itu mengandung enam arti. Sekarang bolehkah kalau kita juga sama-sama mabok?"
"Benar cin-laote yang berdiam dikota Hang-ciu, rentang pohon-pohon Yang-liu disekitar danau See-ouw ini seharusnya tahu banyak"
Demikianlan pembicaraannya pemuda-pemuda itu yang dilakukan dengan sangat gembira.
Pemuda yang disebut cin-laote, merupakan Salah seorang dari empat pemuda itu yang usianya paling muda, juga merupakan salah seorang yang paling pendiam.
Ia seorang pemuda yang gagah dan tampan, merupakan type seorang pemuda pelajar yang sangat ideal Pemuda she chin itu didesak oleh kawan-kawannya, bibirnya tersungging Satu senyuman, pelahan-lahan mengalihkan pandangan matanya kepada pohon-pohon Yang-liu yang terdapat disekitar tepi danau, lalu berpikir dulu, kemudian baru berkata.
"Pohon Yang-liu demikian indah, disebabkan karena bentuknya yang bagaikan seorang gadis lemah gemulai, pohon itu cocok untuk ditanam dikebun istana, rimba, taman, juga biSa menyesuaikan diri dalam keadaan atau cuaca. kala dimusim hujan maupun dimusim terang, ia cocok untuk ditanam didaerah mana Saja, saudara Liok Demikianlah anggapanku tentang pohon itu"
Seorang pemuda yang penuh berewok lalu bangkit dan tertawa terbahak-bahak dengan tangan kanan membawa poci arak, berjalan sempoyong ia menuju kepada gadis pendayung Sampan, dan katanya dengan suara nyaring.
"Pesiar dengan perahu Sampan, paling tepat menghadapi kawan cantik...
Nona kau juga minum secawan"
Gadis itu dengan sinar matanya kemalu-maluan mengucapkan terima kasih padanya, Sambil menganggukkan kepala. Kemudian menjawab "Terima kasih banyak Siangkong, hambamu tidak bisa minum araK."
Pemuda itu menggeleng gelengkan kepala tak hentihentinya, kembali berKata dengan suaranya yang keras.
"Bukan Bukan? Aku adalah mengundang kau untuk minum arak. bukanlah minta kau menenggak arak"
Dalam kearah terkejut. gadis pendayung Sampan itu mengawasi ia Sejenak. dengan tiba-tiba menunjukkan senyumnya, kemudian berkata.
"Kalian bertiga Siangkong apakah orang dari luar kota?"
Pemuda berewokan itu menganggukkan kepala, tetapi kemudian menunjukkan sikap terkejut, katanya dengan perasaan heran-"Bertiga? Kau kata kita bertiga?"
Gadis pendayung Sampan itu rupanya suka mengobrol, mendengar pertanyaan itu menundukkan kepala, dan kemudian berkaja sambil tertawa nakal.
"Ya toh? Satu Tuan yang lain aku tahu adalah penduduk kota ini"
Pemuda berewokan itu lalu berpaling dan mengawasi kepada seorang pemuda yang disebut cin-laote tadi, yang masih berada didalam perahu, kemudian berpaling lagi dan berkata kepada gadis tadi.
"Baik Kau kata kau Kenal yang mana Satu?"
Gadis pendayung Sampan itu mengerlingkan matanya, dan dengan jari tangannya menuding kepada pemuda yang gagah dan tampan yang dipanggil cin-laote tadi, dan berkata dengan kemalu-maluan.
"Siapa yang tidak tahu, dia adalah Salah satu dari empat orang Cerdik pandai daerah Kang-lam yang namanya sangat kesohor.
orang yang memberikan julukan padanya hwe-kwan Seng-ciu cin-hong, cin Siangkong "
Sehabis meng ucapkan demikian, sepasang pipinya mendadak merah, dengan perasaan kemalu-maluan ia menundukan kepala.
lantas mendayung sampannya ketengah-tengah danau.
Pemuda berewokan itu tertawa terbahak-bahak.
lalu berpaling dan berkata kepada cin-hong.
"Haa, jadi kau adalah Hwe-kwan Seng-ciu yang namanya Sangat kesohor"
Selembar wajah Cin Hong menjadi merah, matanya memandang kepada kipas yang berada ditangannya, lalu berkata sambil angkat pundak dan tertawa getir.
"saudara Liok, hati-hati jangan kecebur kedalam air"
Baru saja menutup mulut, seorang pemuda yang berada dikirinya, dengan tiba-tiba tongolkan kepalanya dari dalam perahu, berkata pada gagis pendayung Sampan dengan suara nyaring.
"Nona, tiga orang Cerdik pandai yang lainnya, apakah kau ingin kenal dengan mereka?"
Gadis pendayung Sampan menolehpun tidak. jawabnya dengan suara pelahan.
"Siang-kong jangan menggoda, untuk apa hamba ingin berkenalan dengan mereka ?"
Pemuda itu agaknya merasa kecewa, ia masuk lagi kedalam perahunya, katanya dengan wajah murung.
"Ai, jika kita berada di Kim-leng, orang yang banyak dikenal adalah aku ini "
Pemuda berewokan kembali tertawa terbahak-bahak lalu meneguk arak dalam Cawannya, Setelah itu ia berkata pula pada sigadis pendayung Sampan.
"Nona, aku hendak menanyakan sesuatu padamu, apakah nona tidak berkeberatan?"
Gadis itu tampaknya takut digoda, ia ragu-ragu sejenak. barulah menjawab dengan suara pelahan.
"Silahkan, apa yang hamba ketahui, sudah pasti akan memberitahukan kepada Siang-kong."
"Kalau begitu. tahukah kau. apakah Siang-kong ini mempunyai kawan wanita atau tidak?"
Bertanya pemuda berewokan tadi sambil tertawa-Gadis pendayung sampan itu kembali nampak bersangsi jawabnya dengan suara pelahan.
"Bagaimana hamba tahu? Barangkali belum ada."
"Mengapa pakai barangkali ?"
"Hamba hanya dengar orang kata Saja" .
"Dengar dari siapa ?"
Gadis pendayung Sampan itu melirik pada Cin Hong, jawabnya dengan sekenanya.
"Dengar orang banyak kata...."
"orang banyak? orang banyak itu Siapa-Siapa saja?"
Gadis pendayung Sampan itu agaknya sudah jengkel dihujani pertanyaan terus-menerus, maka lantas menjawab sedapat-dapatnya "Semua gadis pendayung Sampan di seluruh telaga ini berkata demikian"
Pemuda berewokan itu kembali mendongakkan kepala dan tertawa-tawa terbahak-bahak setelah diam tertawa, dengan wajah keheranan bertanya.
"Hoho, coba kau ceritakan lagi, bagaimana gadis-gadis pendayang sampan di seluruh telaga ini tahu kalau Cin Hong tidak mempunyai sahabat wanita?"
Gadis pendayung Sampan itu membalikkan tubuhnya, dengan muka Cemberut dan menggelengkan kepala ia berkata.
"Hamba tidak tahu, hanya dengar kata orang Saja... ."
Cin Siangkong kalau melihat nona-nona Wajahnya lantas merah.
Sementara itu Cin Hong yang didalam perahu yang mendengar pembicaraan mereka itu semakin lama ngelantur, buru-buru tongolkan kepala, dan berkata dengan suara keras.
"Nona, apakah kau sudah tidak mau uang lagi?"
Gadis itu berpaling padanya dan tunjukkan Senyum manis, katanya.
"Tidak apa kalau cin Siangkong tak mau memberi uang kepadaku, asal cin Siangkong hadiahkan Saja kepada hamba, kipas di tanganmu itu"
Wajah Cin Hong seketika menjadi merah, ia meraSa serba salah.
Tiga pemuda yang lainnya semua terbahakbahak.
Pendayung Sampan itu barangkali merasa bahwa ucapannya tadi ada Cacadnya, wajahnya juga menjadi merah.
Buru-buru memberi penjelasan "Maksud hamba ialah, kipas cin Siangkong itu jual saja, sedikit-dikitnya bisa laku lima puluh tail uang perak."
Cin Hong hanya keluarkan ucapan "Eeee"
Lantas masukkan lagi kepalanya kedalam, setelah itu ia tuang seCawan arak, dan ditenggaknya hingga kering Sementara itu pemuda berewokan tadi, kembali sudah berkata "Hai, Salah Satu orang Cerdik pandai dari daerah Kang-lam yang namanya sangat tersohor kalau melihat nona-nona lantaS merah mukanya, astaga Benar-benar mengherankan"
Cin Hong tak dapat kendalikan perasaannya lagi, ia lalu berbangkit dari duduknya dan bentaknya keras.
"Ngaco!! Siapapun aku tak takut, jika tak percaya dilain waktu aku unjuk keseramanku dengan Seorang nona untuk dapat kalian lihat sendiri"
Baru saja tertutup ucapannya, disebelah perahunya tibatiba terdengar suara gerakan air yang begitu keras, karena jaraknya terlalu dekat, maka ke empat orang itu semuanya pada menengok keluar.
Saat itu tampak sebuah perahu Sampan kecil dan gesit, lewat melalui samping peranu mereka, cepat meluncur ke arah So Tie.
Sampan itu didayung Seorang tua, diatas sampan berdiri gadis cantik berbaju merah bertubuh indah Meski sepintas, tetapi empat pemuda didalam sampan yang melihatnya, semua tertarik, Diantara mereka, Seorang pemuda tampan yang berpakaian biru sudah berseru kaget dan berkata.
"Eh Nona ini mengapa demikian berani?"
Pemuda yang matanya seperti mata burung itu lantas mendorong Cin Hong, katanya sambil tertawa aneh.
"cinlaote, kau tadi kata, lain waktu hendak menunjukkan keberanianmu, mengapa tidak sekarang Saja? cobalah kau kejar nona itu untuk kita lihat"
Cin Hong berpaling dan berkata Sambil mengerutkan alis.
"Tidak boleh, nona itu adalah nona rimba persilatan yang memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi"
Tiga kawannya terheran mendengar jawaban itu, dengan serentak bertanya.
"Eeee, bagaimana kau tahu?"
Cin Hong mendadak sadar, ia terlepasan omong, dalam hati ia merasa Cemas.
Waktu itu kalau ia beri penjelasan agak sulit, tetapi kalau tidak beri penjelasan, takut mereka mengejek dirinya tidak mempunyai keberanian.
Maka saat itu kembali wajahnya menjadi merah seperti terbakar.
Pemuda berewokan itu yang menyaksikan keadaan demikian, segera menggoyang-goyangkan kepala dan mengeluarkan suara ejekannya.
Cin Hong yang masih muda, dengan Sendirinya berdarah panas.
Ia tidak suka digoda terus-terusan, maka belum lagi pemuda berewokan itu menutup mulut, tangannya Sudah menekan meja, orangnya melompat keluar dari sampan-Sementara itu mulutnya berkata kepada gadis pendayung Sampan sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Nona, Cepatan dikit, lekas kejar Sampan kecil didepan itu "
Gadis pendayung Sampan itu agaknya merasa tidak tenang, ia berkata dengan menundukkan kepala.
"cin Siangkong, hamba tidak mempunyai tenaga demikian kuatnya. ..."
"Biarlah aku yang mendayung sendiri."
Demikiau Cin Hong berkata, lantas lompat ketempat gadis pendayung sampan berdiri untuk mengambil alih dayung ditangannya.
Ia mulai mendayung, gerakannya itu ternyata sangat gagah Sekali.
Perahu Sampan dengan kecepatan tiga kali lipat, meluncur mengejar perahu sampan kecil depannya.
Tiga kawannya yang berada didalam perahu dan gadis pendayung Sampan tidak menduga bahwa Cin Hong Seorang pemuda pelajar yang mempunyai kekuatan tenaga demikian besar, hingga mereka menyaksikan dengan mulut ternganga seperti patung.
Perahu sampan itu meluncur dengan Cepatnya bersamaan dengan itu, di sebelah Kira-kira jarak sepuluh tombak.
juga ada Sebuah perahu ringan yang mengejar perahu sampan gadis berbaju merah itu.
Penumpangnya ialah seorang lelaki berbaju hitam, orang itu duduk jongkok, kepalanya terbenam dalam lengan bajunya, hingga tak tampak Wajah dan usianya.
Tak berapa lama kemudian, perahu cin-hong Sudah berhasil mengejar perahu ringan yang di tumpangi oleh gadis berbaju merah.
Sehingga kedua perahu itu hampir berhimpitan.
Gadis berbaju merah diatas perahu ringan itu, melihat gelagat tak beres lalu berkata perlahan pada lelaki tua yang mendayung sampannya.
Lelaki tua itu mengangguk-angguk kepala dayung ditangannya dimasukkan lagi kedalam air telaga dan memutar perahunya demikian pesat kearah Peng-ouw ciu-gwat.
Waktu itu Cin Hong sudah bertindak sudah tentu tak mau melepaskan begitu juga memutar haluan perahunya untuk terus mengejar.
Gadis berbaju merah itu yang melihat keadaan demikian lantas menjadi marah, ia memerintahkan tukang sang dayung menghentikan perahunya.
orang tua tadi lalu berkata dengan suara keras pada Cin Hong.
"Hei, siangkong, aku hendak berhenti. Kau jangan menerobos terus "
Cin Hong ketika menyaksikan perahu didepannya itu berhenti buru-buru mengelakkan kekiri haluan perahunya, juga berhenti didekatnya.
Hingga SebUah perahu besar dan kecil itu berhenti berjajar ditengah telaga.
Sedangkan perahu ringan yang terpisah ia sepuluh tombak tadi juga seolah-olah disengaja juga lantaS berhenti.
Gadis berbaju merah itu kini dapat merasakan bahwa Cin Hong memang bermaksud untuk mengejar dirinya, Saat itu dengan muka menatap Cin Hong sejenak.
kemudian berkata sambil tertawa dingin.
"Hei, untuk apa kau mengejar nonamu?"
Dengan cara bagaimana Cin Hong dapat memberikan alaSannya? Diam-diam ia menelan ludah, karena Sudah dalam keadaan terdesak, terpaksa berlagak gila. katanya sambil angkat pundak dan tertawa.
"Nonajangan marah, aku ini hanya pesiar saja. Mana aku bermaksud mengejar kau"
Gadis itu membuka lebar sepasang matanya, katanya dengan nada suara marah.
"Sudah jelas, kau memang ada maksud mengejarku. Tapi toh masih akan menyangkal. benar-benar tidak tahu malu "
Cin Hong yang didamprat demikian, sedikitpun tidak marah.
sebaliknya bahkan ia merasa bahwa sepasang mata dari gadis itu sangat menarik, hingga dalam hati memuji tak henti-hentinya.
Tetapi setelah mendengar ucapan terakhir, yang mengatakan bahwa dirinya tidak tahu malu, sesaat itu memang meraSa bahwa perbuatannya sendiri dan juga Salah, sehingga wajahnya meraSa panas, dan hatinya menjadi gugup, ia tidak bisa menebalkan muka lagi, terpaksa menjura dan berkata dengan suara gelagapan.
"Ya, ucapan nona ini benar. Aaa... ."
Ia meraSakan bahwa kata-katanya itu kurang tepat, maka buru-buru menutupi mulutnya dengan tangannya sendiri.
Gadis berbaju merah itu yang menyaksikan keadaan demikian lantas tertawa geli.
Wajahnya tampak semakin manis, tapi sehabis tertawa ia Segera memerintahkan tukang perahunya untuk mendayung lagi.
Perahu yang ringan itu mulai meluncur lagi.
Gadis itu dengan sikap yang maSih kekanak-kanakan menggoda kepada Cin Hong.
"Kuberitahukan padamu, anak tolol, Sebaiknya kau kenal diri sedikit. Kau harus tahu bahwa kepandaian nonamu untuk menghajar adat pemuda nakal, lebih tinggi dari pada orang lain, kalau tak percaya, cobakau ikuti aku"
Cin Hong buru-buru menyoja sambil berkata.
"Ya, ya, Silahkan nona... ."
Tiga pemuda dibelakang dirinya dengan tiba-tiba pada tertawa tergelak-gelak.
Cin Hong merasa sangat mendongkol.
sifat Celengnya yang tadi sudah lenyap.
kini mendadak timbul lagi.
kembali menggerakkan dayung ditangannya mendayung perahunya untuk mengejar perahu gadis berbaju merah tadi.
Sedangkan perahu ringan yang berada di kirinya sejauh sepuluh tombak lebih, juga bergerak mengikuti gerakan Cin Hong.
Gadis berbaju merah tadi begitu melihat perahu Cin Hong mengikuti lagi, tampak Sangat marah, dengan tibatiba ia menggerakkan tubuhnya, lompat melesat keluar dari dalam perahunya.
Sepasang kakinya menjejak.
beberapa pasang kakinya menjejak beberapa kali dipermukaan seolah-olah gerakan Capung.
Lalu memutar diatas perahunya sendiri, setelah itu lompat naik lagi keatas perahunya, sepasang matanya mengawasi Cin Hong Sambil tersenyum dingin.
Dirinya seolah-olah mau berkata.
"ini adalah peringatan aku yang terakhir. Kau anak tolol ini. jlka tidak tahu diri lagi, nonamu pasti akan mengambil tindakan."
Tiga pemuda yang berada di ataS perahu Sampan, dan gadis pendayung sampan yang ada di buritan, lelaki tua yang mendayung sampan gadis berbaju merah tadi, melihat gadis berbdju merah itu bisa terbang dan berjalan di atas air, semua terkejut dan terheran-heran, sedangkan pemuda berewokan tadi tampak sudah Ketakutan maka buru-buru memanggil kepada Cin Hong.
"cin-laote, gadis itu benar benar gadis golongan sebangsa Jie In Nio, tidak boleh diganggu, tidak boleh di ganggu"
Pemuda yang matanya seperti mata burung tadi juga berkata dengan suara gugup.
"cin Laote, jangan gegabah aku tadi hanya berbicara main-main denganmu, nona itu benar-benar tak boleh di ganggu"
Gadis pendayung sampan juga menggunakan kesempatan itu mengulurkan tangannya menahan lengan Cin Hong, dengan Sikap sangat khawatir ia berkata.
"cin Siangkong, dia sungguh hebat, kau jangan mengganggu dia lagi"
Tetapi Cin Hong sedikitpun tak mau menghiraukan, ia masih tetap mendayung, sampannya meng ajar.
ia rupanya sudah mengambil keputusan untuk menyampalkan maksudnya.
Gadis berbaju merah tadi melihat tindakannya yang sudah menunjukan kepandaiannya, ternyata tak dapat menggertak Cin Hong, lalu menyerbu kedalam perahu Cin Hong.
Tetapi kemudian dengan tiba-tiba seperti mengubah maksudnya, badannya yang sudah bergerak tiba-tiba di tariknya kembali, dan menunjukkan senyumnya kepada Cin Hong Sambil menganggukan kepala.
Agaknya memuji keberanian pemuda itu, setelah itu ia membalikkan badan dan memerintahkan orang tua pendayung Sampan itu untuk mendayung Sampan ketepi danau.
Cin Hong terus mengejar, ia juga mendayung perahunya.
Perahu ringan yang terpisah tidak sepuluh tombak itu juga terus membuntuti.
"Hey, cin-laote, kita semua adalah orang-orang yang tidak bertenaga, jangan kau coba-coba main gila dengan nona itu"
"Ya, cin-laote, aku minta maaf padamu...."
"cin-laote, kita empat orang Cerdik pandai dari daerah Kang-lam, tidak mudah mendapatkan nama itu, sudahlah jangan main-main dengannya. ..."
Demikianlah tiga kawannya satu-persatu membujuknya agar supaya Cin Hong jangan melanjutkan maksudnya untuk mengejar gadis itu.
Tak lama kemudian, perahu Sampan tadi sudah menepi.
Gadis berbaju merah mengeluarkan sepotong uang perak diberikan kepada tukang perahu, lantas berpaling dan tersenyum kepada Cin Hong.
Setelah itu ia lompat melesat ketepi, dan pergi.
Cin Hong bukan tidak mengerti bahwa gadis itu ada maksud memancing ia mendarat, akan "dihajar adat."
Tetapi karena pikir masih sanggup menghadapinya, maka ia melemparkan dayung ditangannya, mengeluarkan kipas dari dalam Sakunya, dan diberikan kepada gadis pendayung Sampan-ia menggulung lengan baju panjangnya, setelah itu ia lompat meleSat Setinggi tiga tombak ketepi untuk mengejar gadis tadi.
"Ya Allah, kiranya cin-laote juga bisa terbang"
"A...a...cin-laote juga memiliki kepandaian ilmu silat... ."
Demikianlah kawan-kawannya pada terkejut dan memuji tak henti-hentinya.
Cin Hong yang pergi mengejar tampak gadis berbaju merah tadi berdiri dibawah pohon Yang-liu dengan tolak pinggang.
ia tampaknva binar-benar hendak "menghajar adat."
Kepada Cin Hong. Melihat tempat itu tidak ada orang pikiran Cin Hong mulai tenang, lalu menjura Kepadanya, Seraya berkata.
"Nona, harap nona maafkan... .aku bukan sengaja... ."
Sepasang alis gadis itu berdiri, bentaknya sambil menunjuk dengan jari tangannya.
"Hmm. Bukan sengaja? Kau mau kata, bahwa perbuatan yang mengikuti nonamu bukan satu rencana yang sudah kau rencanakan lebih dulu?"
Wajah ciu Hong kemerah-merahan, katanya dengan suara gelagapan.
"Itu... .Itu mana bisa jadi? Maksudku ialah... .ialah... ."
Gadis berbaju merah itu tidak menunggu habis ucapannya, Sudah maju selangkah dan membentak padanya.
"Ya Karena paras cantik yang menimbulkan keberanianmu"
"Bukan, bukan, aku berani bersumpah. aku sebetulnya karena dipaksa...."
Berkata Cin Hong sambil meng goyanggoyangkan tangannya.
"Hm, dipaksa? Siapa yang memaksa kau?"
Berkata gadis itu sambil tertawa dingin. Cin Hong menunjuk kebelakang dirinya, katanya sambil tertawa getir.
"Mereka, mereka selalu mentertawai aku tidak bernyali, tidak mempunyai seorang pun Sahabat wanita. ..."
"Bohong, aku tadi masih dengar mereka menasehati kau Supaya kembali, apa kau kira aku tidak mendengar?"
Cin Hong tak berdaya, maka sesaat itu karena merasa malu dan mendongkol hingga wajahnya menjadi merah, hatinya pun lantas panas katanya.
"Kalau kau tak percaya, ya Sudah. Sampai ketemu lagi "
Sehabis berkata, ia memutar tubuhnya dan hendak pergi.
"Jangan perg.i"
Demikian gadis berbaju merah itu membentak dan lantas melesat berdiri dihadapannya, dengan tiba-tiba sikapnya yang galak itu tadi lenyap. diganti dengan sikap kekanak-kanakan, katanya sambil tertawa.
"Kau kata mau pergi, lantas pergi begitu saja. Apa kau kira nonamu ini gampang kau permainkan begitu saja?"
Cin Hong menghentikan kakinya, mengangkat muka, dan bertanya dengan nada Suara dingin "Habis, kalau tidak. mau apa? Apa kau hendak membawaku kepembesar Negeri?"
Waktu ia mengucapkan perkataan itu, Sedikitpun sikapnya tidak menunjukkan Sikap main-main, sebab didalam otaknya hanya mengetahui hukum Negara, itulah yang paling ditakuti.
Gadis berbaju merah itu menunjukan tertawa gelinya, ketika ia menyadari bahwa tidak seharusnya tertawa, buruburu berkata dengan wajah masam.
"Kuberitahukan padamu, nonamu ini biaSanya hanya mau mengganggu orang, tiada orang yang berani menggangu aku. Kau terhitung seorang yang terkecualikan, oleh karena itu maka nonamu anggap adalah Sebagai barang baru"
"Kalau memang kau anggap baru, kau tidak perlu marah lagi"
"Sudah tentu aku tidak marah, tetapi kalau kau hendak pergi tidaklah demikian mudah"
"HabiS mau apa? Katakan Saja"
"Pertama. Kau berlutut dibadapanku dan menampar mukamu sendiri Sampai sepuluh kali. Kedua. Karena kau juga seperti seorang yang mengerti sedikit ilmu silat... .kalau sanggup melawan nonamu, aku nanti akan membiarkan kau pergi."
Cin Hong merasa cemas, katanya .
"Aku ingin memilih yang kedua, tetapi kepandaian ilmu silatku barang kali tak Sanggup menghadapi kau."
"Nah kalau begitu pilih Saja yang pertama itu lebih mudah dan lebih sederhana"
Berkata gadis berbaju merah Sambil tertawa bangga.
"Seorang lelaki bagaimana boleh berlutut dihadapan orang perempuan, tidak. aku tidak mau berbuat demikian"
Berkata Cin Hong dengan tegas sambil menggelengkan kepala.
"Hmm Satu laki-laki apa yang kau banggakan? Aku justru mau kau berlutut"
Berkata gadis berbaju merah dengan marah.
"Tidak. kalau kau tidak terima. kau boleh pergi mengadu kepada pembesar Negeri. Kau adukan Saja bahwa aku, Cin Hong, menggoda perempuan baik-baik "
Gadis itu tercengang ia berkata Sambil mendelikan matanya.
"Mengadu? perlu apa aku harus mengadu?"
Suruh ia mengadu, tapi ia tak mau, Cin Hong anggap bahwa gadis ini benar-benar tidak diajak bicara dengan aturan-ia menjadi marah, maka lalu maju selangkah dan menggulung lengan bajunya. Katanya.
"Baik Mari kita berkelahi Saja, siapa yang kalah jangan mengganggu lagi "
Gadis itu menerima baik tantangannya, badannya bergerak maju kedepan, tangan kanannya diputar hendak menyerang dada Cin Hong dengan kecepatan bagaikan kilat.
Wajah Cin Hong berubah, tubuh bagian atas bergerak miring kesamping seperti orang mabok.
dengan bagus sekali mengelakan serangan gadis itu.
DiSamping itu, juga berseru kaget "Aa Inilah serangan ilmu Thian San siu-ang-cie "
Mendengar seruan itu. gadis berbaju merah itu terkejut, ia menghentikan serangannya dan berkata.
"Tak disangka kau ternyata mengenal ilmu seranganku. Siapa kah Suhumu ?"
Cin Hong setelah memulai menggerakan badannya, dengan sendirinya menjadi lincah.
Begitu ditanya, oleh karena tidak ingin menjawab maka ia sengaja berlaku lucu, Sambil angkat pundaknya, ia berkata sambil tertawa.
"Apa? Apa kau ingin belajar kenal?"
Gadis berbatu merah itu marah, dari mulutnya mengeluarkan seruan, lantas maju menyerbu, tangannya bergerak menyerang arah atas dan bawah, yang dituju SaSarannya ialah bagian jalan darah Hwa Kae Un-cie.
Kelakuan Cin Hong kembali seperti orang mabok.
dengan gerakan Sempoyongan ia meniayang kekanan dan sebentar kekiri, bersamaan dengan itu tangan kirinya bergerak.
dengan gerakannya yang tidak karuan, balas menyerang pergelangan tangan gadis itu.
Kelihatannya seperti tidak menurut aturan, namun sebetulnya mengandung gerak tipu yang Cepat dan bagus sekali.
Dalam waktu sangat singkat sudah hampir mengenakan pergelangan tangan gadis itu, Wajah gadis berbaju merah itu lantas berubah, buru-buru menarik kembali serangannya dan menggeser kakinya, melompat kesamping setombak lebih dan berkata Sambil menunjuk padanya.
"Inilah gerak tipu yang dinamakan Beng-teng cap-clang Apakah suhumu itu yang dinamakan it-hu Sianseng To Lok Thian?"
Baru Saja menutup mulut, dengan tiba-tiba ditempat gelap terdengar suara orang menyahut.
"Beng-teng ciapclang ? Ha-ha ha... ."
Suara itu kedengarannya Sangat Serem, membuat berdiri bulu roma bagi orang yang mendengarkan Cin Hong dan gadis berbaju merah itu sama-sama terkejut, dan menengok kearah datangnya Suara tadi, Samar-Samar tampak ditempat sebelah kiri sejauh kira-kira tujuh delapan tombak.
ada seekor burung kalong yang besar Sekali, tetapi sudah lenyap menghilang ditempat lebat.
Kalau suara tadi terdengar pula, ternyata sudah berada Sekira setengah pal jauhnya.
Gadis berbaju merah itu tertegun sejenak.
setelah tenang kembali pikirannya, dengan perasaan terkejut ia bertanya kepada Cin Hong.
"Hei Siapa kah dia?"
"Hanya seekor kalong... ."
Menjawab Cin Hong sejenak. Gadis berbaju merah itu melompat kaget memandangnya Sejenak. dan berkata.
"Bohong, burung kalong bagaimana bisa bicara ?"
"Kalau begitu barangkali itu silUman kalong "
Gadis itu kembali terkejut, katanya marah.
"Omong kosong, apakah kau hendak menakut-nakuti aku?"
Ketika mengucapkan itu, gadis itu Seolah merasa bahwa dirinya sendiri seorang penakut maka lalu berpaling mengawasi berlalunya kalong tadi, dari hidungnya mengeluarkan suara, kemudian bertanya lagi padanva.
"Hei, benarkah kau muridnya It-hu Sianseng?"
"Siapa kah It-hu Sianseng itu?"
Cin Hong balas menanya dengan perasaan bingung.
"Gerak tipu seranganmu tadi jelas... .dari ilmu silat Beng-teng cap-clang It-hu Sianseng, apa kau kira aku tidak tahu?"
"oh, apa itu Beng-teng cap-ciang?"
Balas menanya Cin Hong yang masih berlagak gila.
"Perlu apa kau masih berlaga gila?"
Berkata gadis itu gemas.
"Gerakanmu tadi adalah gerak tipu jurus pertama yang dinamakan secawan ditangan dari ilmu silat Beng-teng cap-ciang, apa kau kira nonamu tidak mengerti?"
Cin Hong diam-diam merasa cemas, tapi ia masih ingin menjajagi pengetahuan gadis itu.
"Dan yang kedua, apa namanya?"
"Beng-teng cap-ciang adalah ilmu silat terampuh It-hu Sianseng yang pernah menggetar rimba persilatan-Sebab ia gemar minum arak. maka nama-nama gerak tipunya diambil dari itu istilah orang pertaruhan minum jurus kedua dinamakan sepasang lengan tangan kosong semua, betul tidak?"
Cin Hong semakin terkejut, tetapi dengan mendadak ia tidak ingin berbohong lagi maka ia lalu menganggukkan kepala untuk membenarkan-Katanya.
"Benar Dan yang ketiga?"
"Ketiga dinamakan Tiga tumbuh diatas batu. Batu itu kabarnya berada dibelakang bukit kuil Thian-tak-sie, besok aku justeru ingin pergi melihat"
Cin Hong merasa bahwa gadis itu sangat polos dan menyenangkan, maka lantas timbul rasa suka.
"sukakah nona ajak aku pergi bersama-sama?"
Gadis baju merah baru sadar kalau sudah terlepas omong, mukanya merah seketika, kakinya maju selangkah, katanya.
"Anak tolol, kau mau enak saja"
Cin Hong mundur selangkah, katanya sambil unjuk hormat.
"Jangan marah nona, itu tokh ucapanmu sendiri"
Gadis itu mendelikkan mata, katanya gemas.
"Sekarang jangan banyak bicara lagi, sebetulnya murid It-hu Sianseng atau bukan?"
Cin Hong tidak menjawab langsung, sebaliknya balas menanya Sambil mengerutkan alisnya.
"Heran, mengapa demikian apal benar terhadap ilmu Silat It-hu Sianseng. ..."
Gadis itu tampak sangat bangga, katanya dengan muka berseri-seri.
"Apa yang dibuat heran? Kuberi tahukan padamu, suhuku Thian San Swat San Popo justeru sedang mencari dia, kau tahu?"
Dan ilmunya meringankan tubuh gadis itu, Cin Hong memang sudah tahu kalau gadis itu adalah murid Swat-San popo dari gunung Thian-san, tetapi ketika mendengar keterangan gadis itu bahwa gurunya sedang mencari It-hu Sianseng, dalam hati terCekat.
"Perlu apa suhumu mencari suhuku?"
Demikian ia bertanya.
"Mereka memang merupakan musuh lama, masakau juga tidak tahu?"
Dalam hati Cin Hong terkejut, dan hatinya berpikir.
"Suhu memang pernah menceritakan kepandaian ilmu silat Swat-san popo, tetapi belum pernah mengatakan bahwa dengan Swat-popo ada mempunyai permusuhan. Dari kelakuansuhu diduga, sang suhu itu pasti mempnyai kesulitan yang tak dapat dijelaskan kepadanya, mungkin dengan Swat-popo ada terjalin sesuatu yang tidak biasa, dan sekarang ia sendiri telah membocorkan rahasianya dengan Cara gila2an . Bukankah ini menjadi sangat runyam? Dalam keadaan ketakutan ia telah timbul akal, dengan tiba2 ia menunjukkan kebelakang diri gadis itu, katanya dengan suara terkejut.
"Lihat itu siapa yang datang?"
GadiS itu tidak tahu kalau diakali, ketika ia menengok kebelakang, Cin Hong menggunakan kesempatan itu untuk kabur, dengan menggunakan ilmunya meringan tubuh, dari berbalik kedalam perahunya.
Ketika gadis berbaju merah itu mengetahui bahwa dirinya telah tertipu, Cin Hong sudah berada sejauh tujuh delapan tombak.
sedang menghilang kedalam gerumbulan pohon Yang-liu.
Maka ia lalu berseru memanggilnya.
"Hei Perlu apa kau lari? Berhenti Aku tak akan memukulmu, justeru ada urusan hendak menanyamu. ..."
TENGAH malam suasana sunyi senyap....
Ia menghabiskan guratannya yang terakhir dalam sebuah lukisannya, lalu meletakan pensilnya dan mundur dua langkah.
ia mengamat-amati lukisannya yang berbentuk seorang gadiS jelita.
ia pandang matanya yang jeli berCahaya, dan alisnya yang lentik, serta pipinya yang bersujen Lalu menggeleng gelengkan kepaia, seolah-olah terpesona oleh lukisannya sendiri.
Kemudian ia angkat lagi pensilnya, diSamping gambar itu, ia tuliS dengan kata-kata seperti dibawah ini.
"Kenangan dalam impian-Pertemuan ditelaga See-ouw pada musim semi, tahun... ."
Baru saja habis menulis, terdengar suara pintu dibelakangan dirinya didorong orang, seorang tua berperawakan tinggi besar dan gagah, melangkah masuk kedalam kamarnya.
orang tua itu berusia kira-kira enam puluhan, tubuhnya Tinggi besar.
alisnya tebal, matanya jeli, kepalanya memakai topi yang berbentuk persegi, pakaiannya seperti seorang hartaWan yang disebut Wan Gwe, dari sikapnya yang gagah itu tampak wajahnya yang ramah dan pengasih.
Tetapi disamping itu juga ada mengandung sedikit jenaka.
Cin Hong melihat orang tua itu masuk seCara tiba-tiba, tampak terkejut.
Buru-buru memutar diri dan menempatkan dirinya demikian rupa untuk menutupi lukisannya sendiri, setelah itu ia menganggukkan kepala pada orang tua itu seraya berkata Sambil tertawa.
"Suhu, telah malam suhu masih belum tidur?"
Orang tua itu dengan gerak lambat, duduk diatas kursi, dengan tangannya mengucek-ucek matanya sendiri, lalu berkata perlahan.
"Sudah tidur, oleh karena aku mengetahui ada orang ditengah malam buta melukis gambar, maka aku sengaja datang untuk melihat-lihat"
Muka Cin Hong menjadi merah ia terpaksa tertawa dan berkata.
"Suhu tampaknya Sangat gembira, hanya lukiSan ini tak ada apa-apanya yang patut di lihat, harap suhu beristirahat saja di kamar."
Orang tua itu seolah-olah tidak mendengarkan ucapannya, tangan kanannya mengurut-urut jenggotnya yang tipis, lalu berkata sambil tersenyum.
"IHmm, kenangkenangan dalam impian, pertemuan ditelaga See-ouw pada musim Semi tahun... .itu terjadi hari apa?"
Cin Hong tahu, sudah tak bisa mengelabui mata suhunya lagi, maka ia lalu menyingkir untuk memperlihatkan gambarnya pada suhunya, kemudian berkata sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tertawa getir.
"Pandangan suhu sungguh tajam Sekali "
Sang suhu menundukkan kepala Sambil tertawa, katanya.
"Pujian semaCam itu tidak terlalu Cerdik, orang panggil aku Wan Gwe, sedangkan kaupandang aku sebagai Wan Gu besar, benar-benar ini kurang ajar sekali"
Cin Hong tak bisa menjawab, terpaksa memandang suhunya dengan senyum getir, suhunya waktu itu memang di anggap sebagai Wan Gwe Hartawan yang terkenal di kota Hang-chiu, tapi sebetulnya adalah seorang tokoh ternama dalam rimba persilatan yang mengaSingkan diri, juga yang menjadi suhu Sejak delapan belas tahun lamanya, yang selama itu dianggap sebagai ayahnya sendiri....Selama delapan belas tahun, tiap kali ia sendiri melakukan perbuatan salah, belum pernah sang Suhu itu memarahi dengan perkata an kaSar, selalu dengan sikapnya yang ramah tamah dan jenaka, akan tetapi membuat yang merasakan tidak enak.
sehingga terkadang ia sendiri merasakan sebenarnya suhunya.
Dan mau tak mau harus merubah kesalahannya sendiri.
Dan kini orang tua yang cerdik, licin tapi patut di hormati itu kembali menggunakan Cara yang lama.
orang tua itu tak hentinya mengurut-urut jenggotnya sendiri, berkata pula seperti menggumam sendiri.
"Alisnya lentik, matanya lebar, hidungnva kecil. cantik, tapi kurang luwes. Benar-benar merupakan seorang anak perempuan yang ada harganya buat kenangan... .Sejak kapan kau melihat dia?"
Cin Hong bersangsi, tetapi akhirnya ia berkata dengan terus terang.
"Kemarin ma lam, aku dengan teman-teman Liu, Liok dan So, pergi pesiar ditelaga See-ouw."
"oo, tahukah dia bahwa kalian adalah empat orang cerdik pandai dari daerah Kang-lam?"
"Tidak, dia adalah orang dari utara"
"Kau menanyakan dirinya?"
"Juga tidak. aku. ..."
Dia tak dapat melanjutkan pembicaraannya. orang tua itu tiba-tiba tertawa geli, Sambil menyipitkan matanya berkata padanya.
"RahaSia orang pria Untuk mendapatkan teman Wanita. ialah menebalkan muka. Apa kau sudah berbuat itu ?"
"Sudah, suhu."
Menjawab Cin Hong dengan rasa malumalu.
"AChirnya ?"
"AChirnya mengeCewakan, suhu."
"Setiap perempuan, pasti menyukai yang bagus. Kau paSti belum Cukup baik memegang perananmu bermuka tebal semaCam itu."
Diam diam Cin Hong menghela nafaS, katanya Sambil tertawa.
"Suhu, Suhu lihat dia itu gadis bagaimana?. orang tua itu angkat wajah dnn memandang lukisan setengah badan dari seorang gadis manis. Tiba-tiba menunjukan sikap terkejut, katanya.
"oh, dia wanita dari kalangan rimba perSilatan ?"
"Ya, suhu, dia itu sangat hebat"
Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala dan teetawa, Mata orang tua itu terbuka lebar, katanya dengan sungguh-sungguh.
"Apa, apa kau sudah mengadu kekuatan dengannya ?"
Hati Cin Hong berdebaran, katanya sambil menundukan kepala.
"Adalah dia yang mendesak buat turun tangan, dia bilang bahwa kepandaiannya menghajar ada lelaki berandalan lebih pandai dari orang lain-.. ."
Orang tua itu mendengar ucapan itu lantas Tertawa, katanya.
"Kalau begitu, akhirnya siapa yang menang"
Cin Hong lalu menceritakan Semua apa yang telah terjadi, ia hanya tidak menceritakan halnya ada orang yang mencuri dengar ucapan mereka, dan memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan itu disebabkan karena ia masih belum mempunyai pengalaman didunia Kangouw.
orang tua itu ketika mendengar keterangan bahwa Thiansan Swat Popo mencari dirinya tampak terkejut dan hampir lompat dari tempatnya, katanya dengan Suara aneh.
"Wah Achirnya ia datang juga "
Cin Hong menyaksikan sikap suhunVa terkejut demikian rupa, dalam hati menyesal bahwa dirinya telah mendatangkan bencana, tetapi Samping itu ia juga merasa cemas.
karena ia tidak tahu benar kepandaian orang tua itu, juga tahu berapa tinggi kedudukannya dalam rimba persilatan pada dewaSa ini.
Ini juga berarti, sekalipun dengan Thian-San Swat Popo mempunyai permusuhan besar, juga tak perlu merasa tegang demikian rupa,jelaslah Sudah ini bukan disebabkan karena takut kepandaian Swat Po-po, melainkan ada faktor apakah itu?
orang tua itu agaknya juga merasa bahwa sikapnva Sendiri yang kelewatan, maka dengan cepat Sikapnya berubah Seperti biaSa, ia mondar-mandir didalam kamar, diwajahnya tersungging senyuman misteri, katanya.
"Anak. tidak perlu kaget. satu-satunya sebab ialah pada dua puluh lima tahun berselang, kita sudah pernah hidup bersamasama sepuluh tahun lamanya , kemudian, aku menghendaki dia kedapur, dia tidak mau, ia minta aku jangan minum arak, aku tidak mau, demikianlah kita terpaksa berpisahan. ..."
"oh Jadi suhu dengan Thian-San Swat Popo itu dahulu adalah suami isti."
"Ya, kalau diingat, menang itu Suatu hal yang sangat menyedihkan, oleh karena itu, maka selama tusuhumu belum pernah menyebutkan..."
"Ai, ia kata bahwa suhu berdua adalah sepasang muSuh lama, waktu itu aku kira yang dikatakan musuh itu benarbenar musuh buyutan-Sehingga aku ketakutakan setengah mati dan buru-buru kabur"
"Menyesal sekali, hal itu membuat kau Sampai ketakutan dan kehilangan kesempatan untuK belajar kenal lebih baik dengannya. Hanya Suhumu percaya, mereka guru dan muridnya. selambat-lambatnya besok pagi hari pasti akan datang mencari kemari "
"Apakah suhu suka menemui dia?"
"Mengapa tidak. sudah dua puluh lima tahun lama kita tidak bertemu muka. Dua puluh lima tahun itu buKanlah suatu waktu yang pendek "
Sehabis mengucapkan demikian, dengan tiba-tiba diluar kamar, didalam pekarangan terdengar seorang wanita yang menyambung.
"Bagiku, waktu dua puluh lima tahun itu hanya seperti segumpal awan yang terbang, seolah-olah suatu hal yang terjadi dalam waktu sekejap mata"
Orang tua itu memperdengarkan suara tawanya yang aneh, kemudian memutar tubuh dan berkata kepada wanita yang berada diluar kamarnya.
"Swat Popo, kau benar-benar datang"
"Hm "
Demikian dari luar terdengar suara orang menyahut, sesaat kemudian tampak sesosok bayangan orang sudah berada dipintu kamar, seorang perempuan tua bersama seorang gadis berpakaian merah, berjalan masuk kedalam kamar.
Perempuan tua itu usianya kira-kira enampuuh tahun, namun gerakannya masih gagah, matanya jeli, mengenakan pakaian warnaputih, dari raut mukanya, bisa diduga bahwa dimasa muda pasti merupakan seorang wantita cantik.
Usia gadis berbaju merah itu kira-kira tujuh belas tahun, potongan tubuhnya tampak Sangat ramping, karena ia mengenakan pakaian yang sopan "ketat".
Alisnya lentik, matanya lebar, mulutnya kecil, persis seperti lukisan yang dilukis oleh Cin Hong.
Cin Hong melihat perempuan tua itu merasa sangat girang, buru-buru maju menghampiri dan memberi hormat, katanya.
"Tecu Cin Hong menghadap subo... ."
Swat Po-po.
sedikitpun tidak mau menerima kehormatan itu.
Sepasang matanya yang tajam memancarkan sinar berkilauan, dengan Sikap dingin memandangnya sejenak.
lalu berpaling dan berkata kepada gadis berbaju merah disisinya.
"In-jie, apakah bocah ini kemarin malam yang mengganggu kau di telaga see-ouw?"
Biji matanya yang hitam gadis berbaju merah itu berputaran memandang Cin Hong Sejenak. lantas angkat muka mengawasi atap atas, katanya.
"Ya. suhu itulah orangnya "
Sehabis berkata demikian, matanya mengerling kearah Cin Hong, justeru pada Saat itulah ia melihat bahwa dibelakang diri pemuda itu tampak lukisan dirinya sendiri, yang berbentuk setengah badan.
Maka dengan rasa terkejut dan girang, ia berseru sambil menunjuk lukisan itu.
"ooo suhu, kau lihat ia juga sudah melukis diriku. lukisannya itu mirip sekali"
Dengan sikap dingin swat Po-po memandang lukisan itu sejenak. tiba-tiba maju menghampiri Cin Hong, bentaknya dengan bengis.
"Bocah, Siapa suruh kau melukis murid ku?"
Cin Hong tak menduga bahwa nenek yang usianya sudah lanjut itu masih demikian keraS adatnya, maka SeSaat itu ia menjadi gelisah, dengan makSud hendak minta bantuan Suhunya, tujukan pandangan matanya kepada Sang Suhu.
orang tua itu hanya tersenyum Sambil mengurut-urut jenggotnya, tiada Sepatah katapun keluar dari mUlutnya, hanya SepaSang matanya memandang pada Swat Popo, lama baru membuka mulut sambil tertawa.
"Siang-in, jangan kau limpahkan kemarahanmu kediri anak murid ku"
Ucapan "Siang-in"
Itu seolah-olah mempunyaj penguruh yang besar sekali, Swat Po-po yang dipanggil demikian, sifatnya yang tadi galak.
telah lenyap seketika.
Semangatnya seolah-olah sudah runtuh seperti seorang yang sudah kehilangan tenaga, ia mundur dan duduk diatas kursi.
Dengan sikap sedih dan mendongkol, ia bertanya.
"Setan pemabokan, apa kau Sudah tidak minum arak lagi?"
Orang tua itu juga duduk diataS kursinya, ia menghela napas dan berkata.
"Sudah lama aku tidak minum lagi, kau tidak dengar bahwa In-hu Sianseng sudah dua puluh tahunan lebih Sudah menghilang dari rimba persilatan?"
"Mengapa tidak minum, apakah kau sudah tak ada uang?"
Bertanya Swat Popo Sambii tertawa dingin.
"Bukan oleh karena minum arak. aku telah kehilangan isteri, bagaimana aku boleh minum lagi?"
Berkata orang tua itu Sambil bergeleng kepala dan menghela napas. Cin Hong yang mendengar ucapan itu dalam hatinya merasa geli. Pikirnya.
"Suhu benar-benar pandai membohong, seingatku sejak aku mengerti urusan sehingga sekarang, kulihat suhu setiap kali makan, selalu ditemani sepoci arak."
Ia selalu ingin menanya, tetapi Po-Po Sudah berkata lagi sambil tertawa dingin.
"Benarkah kau sudah membuang kebiasaanmu itu ?"
Orang tua itu terSenyum, ia berkata dengan suara pelahan, seolah-olah takut didengar orang lain.
"Untuk membuang kebiasaan seluruhnya, sesungguhnya bukan soal yang mudah, hanya tidak seperti dahulu yang demikian tak mengenal batas, terkadang hanya kalau harus menemani tamu atau kawan, suka minum sedikit saja...."
Swat Popo mendadak bangkit dari tempat duduKnya, sambil mengacungkan tinjunya ia berseru.
"Kalau begitu, membohong"
Orang tua itu buru-buru bangkit, dengan kedua tangannya digoyang-goyangkan, berkata sambil tertawa.
"Siang-in kita semua sudah menjadi tua, baru bertemu muka sudah ribut mulut, bagaimana persoalannya ini ?"
Swat Po-po dengan perasaan mendongkol duduk kembali, ia menundukan kepala tidak berkata apa-apa.
Dua orang tua itu duduk diam Saling berhadapan, It-hu Sianseng tiba-tiba menghela nafaS, ia bangkit dan berjalan mondar-mandir, mulutnya mengeluarkan pertanyaan perlahan.
"Kali ini turun dari gunung Thian-san apakah keperluan denganku?"
Swat Po-po dengan termanggu-manggu matanya ditujukan ketanah, lama sekali ia baru menjawab dengan nada suara dingin.
"Apakah kau tidak pernah dengar, diwaktu belakang ini dalam rimba persilatan terdengar desas-desus yang tidak enak?"
"Maksudmu, apakah ada orang rimba persilatan yang menertawakan kita berdua?"
Bertanya it-hu sianseng heran.
"Betul, maksudku baru datang kemari, justru hendak menanya kepadamu. Apakah kita masih perlu meneruskan Sikap yang diam Saja seperti dulu?"
It-hu Sianseng berulang-ulang berbicara, heh.
Sambil mengurut-urut jenggotnya, ia melirik kepada muridnya sendiri dan gadis berbaju merah, lantas berjalan lagi beberapa putaran, akhirnya ia berkata dengan suara keras.
"Baik apabila kau tidak menolak. mari ita rujuk kembali"
Cin Hong sangat girang, ia melihat kepada gadis berbaju merah, dalam hatinya merasa bersukur, bahwa dua orang tua ini bisa rujuk kembali.
Dengan demikian ia bisa mendapat kesempatan untuk bergaul lebih dekat dengan gadis baju merah itu.
Dengan demikian pula ia tidak perlu iri dengan kawannya, yang masing-masing sudah mempunyai sahabat perempuan semua, hanya dia sendiri yang masih belum mendapat sahabat perempuan yang cocok.
Diluar dugaannya, Swat Po-po dengan tiba-tiba menepok meja, dan membentak dengan suara keraS.
"Setan pemabokan Kau kemana dengarnya?"
Cin Hong dengan perasaan heran mengawaSi Suhunya, tampak orang tua itu masih mengurut-urut jenggotnya sambil mengerutkan alisnya.
swat Po-po tampaknya sudah marah benar-benar, wajahnya sudah pucat, katanya Sambil mengertak gigi.
"Bagus sekali Kau sedikit urusanpun tidak mau mengurus dan Sekarang ternyata Sudah menjadi Seorang manusia yang mempunyai Kedudukan baik"
It-hu Sianseng tampak sangat gelisah. agaknya maSih belum bisa memiKirkan apa Sebenarnya yang membuat marah isterinya itu, ia berkata Sambil menghela napas panjang.
"Siang-in, sebetulnya urusan spa?Jelaskanlah duduk perkaranya"
"Yang kumaksudkan ialah penjara rimba persilatan"
Orang tua itu begitu mendengar ucapan "penjara rimba persilatan,"
Sesaat sepasang matanya memancarkan sinar yang tajam. Ia menghentikan gerak kakinya, dan berkata dengan Suara berat.
"Apa katamu?"
Swat Popo tertawa dingin, katanya dengan tenang.
"Sejak pangcu golongan pengemis Sie Kwan masuk penjara seluruh rimba persilatan telah menaruh perhatiannya kepada diri kita berdua, tetapi sekarang tidak lagi, mereka mulai mengejek dan menertawakan kita bernyali kecil seperti tikus, tidak menghiraukan kesetia kawanan hanya mencari hidup untuk menyenangkan diri"
It-hu SianSeng mendengarkan ucapan itu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian mendongakkan kepala dan berpikir lama, barulah bertanya dengan suara pelahan.
"Apa hanya tinggal kita berdua Saja?"
"MaSih ada itu tetamu tidak diundang dari dunia luar, tetapi apa yang mengherankan ialah dalam rimba persilatan agaknya Semua Sudah melupakan dia...."
It-hu SianSeng menundukkan kepala untuk berpikir, dengan tiba-tiba angkat pundak, matanya menatap Swatpopo, dantanyanya sambil tertawa.
"Kalau begitu, kau pikir bagaimana?"
"Golongan Thian San meskipun bukan Salah satu partay besar yang ada nama tetapi sejak cowsu kita yang mendirikan Thian-san-pay, hingga aku sekarang, belum pernah sembunyikan muka didepan mata orang banyak."
It-hu Sianseng menganggukkan kepala dan tertawa. kemudian berkata.
"Bagus sekali. Kita berdua meskipan orangnya sudah tua, akan tetapi sifat kerasnya maSih ada, apa salahnya bersama-sama pergi kepenjara untuk duduk didalamnya, apabila dengan cara itu bisa mengubah Sifat kita yang berangasan, juga merupakan suatu hal yang baik sekali"
Cin Hong yang mendengar sejak tadi, masih belum tahu apa sebetulnya yang dikatakan penjara rimba persilatan-ia semakin dengar semakin heran, Waktu itu karena tidak dapat mengendalikan perasaan herannya, maka lantas menyela dan bertanya.
"Suhu, apakah yang dinamakan PENJARA RIMBA PERSILATAN itu?"
Gadis berbaju merah itu ketika mendengar pertanyaan itu tertawa geli, dengan tangannya sendiri menutup mulutnya, agaknya mengejek dia yang kurang pengetahuan.
Swat-popo juga menunjukkan sikap heran, memandangnya sejenak.
lalu alihkan pandangan matanya kepada It-hu Sianseng.
"selain ilmu Silat, apakah kau mengajari juga bagaimana caranya untuk menggoda anak dara?"
It-hu Sianseng menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa.
"Ya, meskipun ia sudah mempelajari seluruh kepandaian ilmu Silatku, tetapi terpisah dengan rimba persilatan jauh sekali, sedangkan asal usul dirinya sendiri.
aku juga belum memberitahukan padanya "
Cin Hong mendengar suhunya dengan tiba-tiba mengatakan asal-usul dirinya, hatinya terkejut untuk sesaat darahnya seperti bergolak.
perasaannya mulai merasa tegang.
Ia, pertanyaan itu terbenam dalam hatinya sudah sepuluh tahun lebih lamanya .
ia sendiri pernah bukansatu kalisaja menanyakan kepada suhunya, tetapi jawaban setiap kali yang dia dapatkan ialah.
"Kutemukan ditepi Sungai Ciang Tang Kang."
Biarpun ia sendiri mempunyai kesan bahwa jawaban suhunya itu membohong, tetapi ia tidak dapat menemukan bukti untuk membatah.Jikalau ada, hanya sebuah rantai emaS dan sebuah anak kunci emas yang berada dilehernya sejak masih bayi, sedangkan kunci emas itu hanya dibatangnya terdapat ukiran dengan huruf Liong, kecuali itu tidak terdapat tanda tuliSan apa-apa lagi, dengan cara bagaimana hanya dengan sebuah anak kunci Sekecil itu untuk mencari asal-usul dirinya sendiri?
Sekarang Suhunja atas kemauannya sendiri telah menyebutkan urusan yang menyangkut asal-usul dirinya, dari ucapan itu tadi, sudah merupakan suatu bukti bahwa dirinya bukanlah ditemukan ditepi sungai.
Kalau begitu, apa sebab dengan tiba-tiba Suhunya dengan tiba-tiba menyebut soal itu?
Apakah ini suatu tanda malam itu ia akan mendapat keterangan mengenai asal-usul dirinya?
Selama otaknya diliputi oleh pertanyaan-pertanyaan demikian, Swat-popo tiba-tiba memandang kearahnya, kemudian berkata kepada It-hu Sianseng.
"Hm apa yang menarik asal-usul bocah ini?"
Sikapnya yeng menghina itu tampak tegas di Wajah dan ucapannya, seolah-olah didalam dunia ini kecuali dia sendiri tidak boleh ada orang lain yang lebih hebat lagi.
Cin Hong sesaat itu mendapat kesan bahwa nenek dari Thian-san itu, sifatnya bukan saja keras berangasan, tetapi juga mau menang sendiri.
Sifatnya yang tidak mengenai aturan itu agaknya lebih-lebih daripada muridnya, maka sesaat itu ia lantaS naik pitam, namun tidak berani berlaku kasar, hanya dari mulutnya yang tercetus ucapan Seolaholah membantah pendapat.
"Kalau memang Sudah tak ada apa-apanya yang menarik, kau tidak uSah tanya lagi."
Swat-popo Sungguh tak menduga bahwa bocah itu berani membantah dirinVa, dalam keadaan marah, lantas Saja ingin menghantam, sedang matanya mendelik kepada It-hu Sianseng, mulutnya membentak dengan Suara bengis.
"Bagus sekali Kau setan pemabokan ini dengan cara bagaimana mendidik murid mu?. It-hu Sianseng sedikit pun tidak marah, ia hanya tertawa saja kepadanya, kemudian sambil menjura ia berkata.
"Aku hanya mendidik ia Supaya memiliki jiwa kesatria, kecuali itu, aku selalu membiarkan ia bebas berbuat apa saja, asal jangan berbuat jahat.. .. Kenapa, apakah kau hendak berkelahi dengan muridku?"
Swat-popo menggeram hebat, dengan tangan mendorong muridnya, mulutnya berteriak.
"In-jie, lekas Lekas kau hajar padanya"
In-jie menerima baik, ia berteriak kemulut pintu, dan menggapai kepada Cin Hong seraya berkata.
"Hei Kau keluar, mari kita berkelahi, diluar "
Cin Hong melihat uruSan menjadi runyam dalam hati sangat gelisah, untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana harus berbuat, terpaksa berdiri melongo saja.
It-hu Sianseng mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.
kemudian berkata.
"Ada perempuan menang berkelahi, bukankah itu suatu urusan yang menggembirakan.... Lekaslah keluar"
Cin Hong merasa, perkelahian itu bagaimanapun juga tidak boleh dilangsungkan, maka ia lantas berkata dihadapan Swat-popo, katanya.
"Maaf kan subo aku,... aku bukanlah sengaja."
Swat popo mana mau mengerti, tidak menunggu sampai habis ucapannya ia sudah membentak sambil mengibaskan tangannya.
"Pergi.. Siapa subomu?"
Cin Hong berulang-ulang menjura angguk-anggukkan kepala Sampai ditanah.
Namun Swat-popo masih tetap marah-marah dan menyuruhnya pergi.
Cin Hong terus berkutat tidak menghiraukan tindakan swat popo.
Tetapi nenek itu tetap tak mau menerimanya, ia tetap mengusir Cin Hong.
Cin Hong menjadi marah, ia lompat bangun dan melesat keluar dari kamar.
Diluar kamar, Cahaya rembulan terang benderang, cuaca juga terang.
bintang-bintang dilangit turut menerangi bumi....
Cin Hong tiba didalam pelataran, tampak In-jie sudah berdiri disana, sambil memiringkan kepalanya ia mengawasi dirinya seperti tertawa tetapi bukan tertawa, sikapnya seolah-olah tak mau tahu segala urusan yang terjadi.
Cin Hong sebetulnya tiada maksud mau bertempur dengannya, maka saat itu ia diam saja.
dan hanya memberi hormat kepadanya, lantas berdiri tenang, menantikan kejadian selanjutnya.
In-ji agaknya juga tak ada maksud Untuk berkelahi dengannya, melihat sepasang mata Cin Hong mengawasi dirinya tanpa berkedip.
wajahnya lantas menjadi merah.
Sambil miringkan kepalanya ia berkata.
"Mulailah, mengapa masih diam Saja?"
Cin Hong tampak wajah gadis itu menjadi merah, hatinya merasa girang, buru-buru menjura dan berkata sambil tersenyum.
"Aku datang hendak menerima tantangan. Bagaimana boleh memulai lebih dahulu?"
In-jie tercengang, Sepasang biji matanya berputaran sebentar, tiba-tiba tertawa dan berkata.
"Hitung-hitung saja aku yang memberikan hak kepadamu untuk turun tangan lebih dulu. Nah, mulailah"
Cin Hong menoleh kearah kamarnya sendiri, tidak tampak suhunya dan Suhu gadis itu mengikuti, keberaniannya lantas menjadi besar. Katanya sambil tersenyUm.
"Baik aku hanya minta kau supaya memberi tahukan namamu lebih dahulu"
Dengan sikap sombong dan bangga Sekali gadis itu menyebutkan namanya.
"Thian San Swat lie Ang. Yo In In."
Cin Hong mengangguk-angguk kepala, katanya dengan memuji.
"Swat lie Ang Yo In In-Swat lie Ang. Yo In In-Alangkah indahnya namamu ini."
Mendengar namanya dipuji oleh Cin Hong. In-jie merasa sangat gembira, sehingga melupakan bahwa kedatangannya itu hendak mengadakan pertempuran. Sambil mengejek ia bertanya.
"Kudengar kau bernama Cin Hong. Apakah itu betul?"
"Ya, harap Nona Yo sering sering memberi pelajaran"
"Aku juga dengar kabar, babwa kau juga merupakan salah seorang dari empat orang cerdik pandai didaerah Kang-lam, yang namanya sangat kesohor."
Cin Hong membungkukan badannya, dan dengan Sikap merendah, menjawab.
"Bagaimana nona Yo tahu ?"
"Soal ini saja masih perlu menanya, bagaimana kau masih mengaku seorang cerdik pandai?"
"Kemarin ditepi telaga, aku sudah kesalahan terhadapmu. Harap nona Yojangan dibuat kecil hati."
In-jie kembali mengejek. sambil tertawa lalu berkata.
"Marah-marah terhadap lelaki binal, itulah suatu perbuatan bodoh "
Sepasang matanya menatap Cin Hong dan bertanya.
"IHei, apakah kau Sering-Sering berbuat demikian ?"
Selembar wajah Cin Hong menjadi merah, ia menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Tidak. dalam seumur hidupku, itulah baru pertama kali aku berhadapan dengan wanita dan berlaku demikian berani. Aku benar-benar telah dipaksa oleh mereka."
In-jie seolah-olah tak percaya, katanya.
"Apa sebabnya mereka harus memaksa kau? Benar-benar aneh"
"Itu memang benar, mereka menertawakan aku bodoh. mereka mengatakan bahwa aku tidak mempunyai seorang pun sahabat perempuan"
Dengan tiba-tiba muka In-jie kembali menjadi merah, disamping itu ia juga merasa bahwa tidak seharusnya ia menjadl marah, maka buru-buru berkata.
"IHm... Dengan kelakuanmu seperti itu, siapapun tidak suka menjadi sahabatmu "
Cin Hong meraSa Sangat malu, katanya sambil tertawa getir.
"Ya, bersama-sama dengan mereka tiga orang cerdik pandai itu. aku sering-sering melakukan perbuatan yang aku sendiri tidak mengerti."
In-jie tertawa geli. dan Cin Hong waktu itu tidak tahu, dari mana datangnya keberanian tiba-tiba maju selangkah dan berkata.
"Aku benar-benar mengharap kau. supaya kau suka menjadi sahabatku, jikalau kau sudi besok aku boleh bawa kau untuk kubanggakan dihadapan mereka... ."
In-jie pura-pura tidak mendengar, ia alihkan pembicaraannya kelain SoaL "oo...oo...kau pandai melukis, betul tidak?"
Ditanya demikian, Cin Hong terpaksa menjawab.
"Bisa sedikit. o. iya. Tadi suhumu kata ada PENJARA RIMBA PERSILATAN. Apakah sebetulnya itu?"
In-jie segera mendapatkan bahan pembicaraan, dengan sangat gembira ia lompat-lompat, dan kemudian berkata.
"Baik. aku sekarang beritahukan urusan yang mengenai penjara rimba persilatan itu. Mari kita mencari tempat duduk lebih dahulu"
Cin Hong lalu mengantarnya kesebuah kuyel didalam taman bunga, ia kembali lari kedapur untuK mengambil teh, ia letakan didepan gadis itu, Kemudian duduk dihadapannya.
Cuaca malam itu terang, angin bertiup sepoi-sepoi, Thian-San Swatlie Ang, Yo In In dengan sikapnya seperti orang Kang ouw ulung, menceritakan situasi rimba Persilatan pada dewasa itu.
"Pertama, aku hendak menyebut beberapa nama terkemuka dari golongan hitam dan putih, yang pada suatu masa namanya Sangat menonjol. Aku menggunakan istilah suatu masa, mungkin merasa agak kabur, tetapi aku, juga tidak bisa menggunakan istilah yang tepat, sebab tokohtokoh itu ketika mendapat nama, ada yang lebih dulu dan ada yang kebelakangan-Waktu nama mereka Suram, juga mengalami proses demikian hingga aku tidak biSa menyebutnya waktunya yang tepat."
"pada sepuluh tahun berselang. didalam rimba persilatan tersiar luas nyanyian seperti ini.
"Satu pedang yaitu tamu tidak diundang, sepasang iblis bertahta diselatan dan diutara, tiga gaib si nenek Cwie Sian Pho, empat manjur menjagoi timur dan barat, lima pahlawan berdiam didalam rimba, enam berbisa dimana-mana, tujuh pendekar merantau dunia, delapan Setan mengalahkan Dunia Kang ouw."
Apa yang disebut satu pedang ialah Tamu tidak diundang dari dunia luar, yang tadi disebut oleh suhu.
orang ini kabarnya kepandaian ilmu Silatnya merupakan orang nomor satu didalam dunia rimba persilatan Tetapi tiada orang tahu Siapa nama aslinya, orang hanya tahu ia Setiap kali muncul selalu mengenakan kerudung muka kain putih, pakaiannya juga baju panjang berwarna putih, kelakuannya Sangat misteri.
namun perbuatannya selalu benar, setiap kali membunuh seorang jahat, selalu meninggalkan tulisan huruf ENG.
adalah tanda lambangnya delapan jurus pedang huruf ENG yang namanya menggemparkan rimba persilatan-Hanya sejak penguasa rumah penjara rimba persilatan muncul gelarnya sebagai orang kuat nomor Satu sudah mulai goyah, bahkan ada orang yang meramalkan, apabila ia bertanding dengan penguasa penjara rimba persilatanbarang kali tak sanggup sampai tiga puluh jurus, tentang ini biarlah tidak usah kita pedulikan...
Sekarang mari kukenalkan dulu kepada Cwie Sian Pho yang dikatakan sebagai roman orang Tiga Gaib.
cwie, yang dimaksudkan adalah Suhumu.
It-hu Sianseng, Sian ialah pangcu dari golongan pengemis, dan Pho adalah suhuku sendiri Tnian San swat Popo.
Tiga orang Gaib ini.
kepandaian ilmu silatnya terhitung Suhuku yang paling tinggi.
ini benar, aku tidak membobongi kau Sementara mengenai orang-orang yang disebut sebagai Lima Pahlawan yang katanya berdiam Didalam Rimba dan Tujuh Pendekar yang Merantau Dunia, mereka terdiri dari orang-orang para ketua dari dua belas partay, ada juga Pendekar perantauan.
mereka itu semua dari golongan kebenaran.
Say ang.
Sudah ditawan oleh Penguasa rumah penjaranya, rimba persilatan didalam rumah penjaranya, sudah tak ada harapan keluar dari penjara itu untuk Selama-lamanya , Maka nama mereka baiklah jangan disebut dulu, kalau kau masih ingin tahu, dikemudian hari aku nanti akan memberitahukan kepadamu juga.
Sekarang kukenalkan kepadamu beberapa tokoh dan golongan hitam, apa yang dinamakan sepasang Iblis Bertahta DiSelatan dan Utara yang dimaksudkan ialah Lam-khek sin-kun In Liat Hong dan Pek khek Mo-ong Yong Su Ki, dua iblis kenamaan itu yang tersebut duluan terkenal dengan perbuatan cabulnya.
Dan Yang tersebut belakangan mempunyai kebiasaan suka makan hati manusia.
Kabarnya kepandaian ilmu Silat mereka tidak dibaWah Tiga Manusia Gaib.
Tentang ini, aku percaya, hanya dua iblis itu pada lima enam tahun berselang dengan beruntun terkalahkan oleh penguasa rumah penjara Rimba persilatan.
Mereka juga ditawan didalampenjara Rimba persilatan, dan Sudah tak biSa berbuat jahat lagi untuk selama-lamanya selanjutnya mengenai EMPAT MANJUR yang menjagoi TIMUR DAN BARAT yang dimaksudkan dengan empat manjur itu ialah si naga mata satu Hu In Hui, sikura-kura leher panjang, Bwee Kap Sien dan Kielian merah Kha Go San dari gunung La-hu-san, serta siBurung Hong berekor hitam.
Pa Cat Nio Yang tersebut duluan adalah dua Saudara berlainan she, yang satu bertubuh tinggi, dan yang lain bertubuh pendek gemuk.
Dua orang itu jarang sekali meninggalkan kediamannya digunung She san tetapi jikalau mereka keluar, sudah pasti melakukan pembunuhan besar-besaran, kepala-kepala orang yang dibunuh dibawa pulang kegunung untuk membangun rumah.
Yang tersebut belakangan adalah Sepasang suami isteri, mereka suka sekali mengumpulkan barang-barang puSaka dan barang-barang aneh, asal mendengar saja ditempat mana atau siapa orangnya yang memiliki barangbarang pusaka.
mereka lantas pergi mencari dan merampasnya tanpa memilih cara, belum mau sudah jlkalau belum mendapatkannya.
Kepandaian ilmu silat empat manjur itu sesungguhnya tidak dibawah lima pahlawan, mereka semua juga Sudah dimasukkan dalam penjara rimba persilatan pada tiga empat tahun berselang.
Dan yang terakhir ialah Enam Berbisa dan Delapan Setan.
Enam belas orang itu terdiri dari berbagai macam orang.
Ada orang2 dan golongan padri, dari golongan imam.
juga dari golongan biasa, ilmu silat mereka dengan tujuh pendekar dari golongan putih terpaut tidak seberapa.
Diwaktu biasanya, Suka melakukan segala kejahatan-Tetapi kecuali Tok-sin Cai Leng Go dan Nona Setan berdua, yang lainnya semua sudah menjadi penghuni dalam penjara rimba persilatan, sehingga tak bisa melakukan kejahatan lagi.
Mereka semua jumlahnya tiga puluh enam orang, semua merupakan orang2 lihay dari golongan hitam dan putih pada beberapa puluh tahun ini.
Sudah tentu dunia rimba persilatan cukup luas, orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lebin Unggul daripada tiga puluh enam orang itu bukannya tidak ada, umpama kata Tok-siu-cay Leng Go ada satu kali ketika dikota Tiang-an telah kupukul dan copot Satu giginya, hingga ia kabur ketakutan." -Benar, aku tidak membohongi kau-Sekarang biarlah kuberitahukan, dengan Cara bagaimana aku mengalahkan dia.
Pada suatu hari...."
Cin Hong mendengar cerita tokoh-tokoh terkenal dalam rimba persilatan, kecuali suhunya sendiri.
dan tiga orang aneh, yang lainnya masih belum begitu tahu.
Waktu dengar bahwa gadis itu ternyata sudah berhasil mengalahkan satu dari tokoh-tokoh terkenal itu, dalam hati merasa geli.
MaKa ia lantas menyela.
"Nona Yo, urusan ini lain kali saja kau cerita kan lagi. Sekarang ceritakanlah dimana letaknya penjara rimba persilatan itu?"
In-jie nampaknya tidak senang, ia berkata dengan muka masam.
"Perlu apa kau tergesa-gesa, nanti aku jugaakan menceritakan kepadamu, memotong ucapan orang, benarbenar tidak tahu aturan"
"Maaf, karena aku tadi mendengar kau berkata, bahwa ada orang dari golongan putih telah tertawan dalam rumah penjara, orang dari golongan hitam juga tertawan disitu. Aku yang mendengarkan semakin lama semakin bingung, hingga aku tidak bisa sabar lagi. Kalau begitu, sekarang kau ceritakan dulu, dengan cara bagaimana Tok siu cay itu bisa kau pukul jatuh sebiji giginya, aku ingin dengar ceritamu."
In-jie berubah menjadi girang, ia mengambil cawan teh diatas meja dan diberikan kepadanya, seraya berkata.
"Hei, kau minun atau tidak?"
"Minumlah kau, jangan malu-malu"
Menjawab Cin Hong sambil mengulapkan tangannya.
In-jie minum tehnya, mengerling padanya sambil tersenyum, setelah meletakkan cangkirnya diatas meja, melanjutkan ceritanya lagi.
"Baiklah.
kau suka dengar cerita yang menyangkut rumah penjara rimba persilatan.
Sekarang aku ceritakan tentang rumah penjara itu.
Tetapi kau tak boleh dan memotong lagi, Selama kalau aku sedang bicara, aku paling tidak senang dipotong orang "
Cin Hong menerima baik perjanjian itu, ia berlaku seperti dengan sejujurnya.
"Jauh sepuluh tahun berselang, ketua-ketua dua belas partay besar rimba pesilatan... .Siao-lim, Bu-tong, Hoa San-Kun-lun, Ngo-ble, Klong-lay, Clong-lam, oey-san Swat San dan Lam-hay. dengan tiba dalam waktu sebulan telah menerima surat yang Sangat misteri, kabarnya dalam surat itu berbunyi begini. saudara ketua yang terhormat. Dua Belas buah kunci emas yang terukir dengan huruf Liong sudah kuketemukan-Harap pada nanti Tanggal Sembilan, Bulan Sembilan, supaya suka berkunjung kelembah Thiat Su Kok di GUnung Tay-pa-San untuk merundingkan persoalan mengenai kotak rahasia. PenguaSa Rumah Penjara Rimba Persilatan-pada tanggal sembilan bulan Sembilan hari itu. dua belas ketua dari dua belas partay yang menerima undangan itu semua berkunjung kegunung Tay-pa-san-"
Cin Hong yang mendengar cerita itu karena belum paham, maka kembali menyela.
"Tunggu dulu nona Yo, apakah yang dinamakan Dua belas Buah Anak Kunci Emas?
Apa pula yang dinamakan Kunci Emas yang terukir Huruf Liong?"
In-jie perdelikkan matanya dan berkata dengan nada menyesal.
"Dua belas Anak Kunci Emas, adalah anak kunci yang terbuat dari emas. Anak kunci yang terukir huruf Liong, adalah salah satu dari dua belas anak kunci itu, yang diatasnya terukir dengan huruf Liong. Hal itu saja kau juga tidak mengerti?"
Cin Hong Mengangguk-anggukkan kepala dalam hati berpikir.
"aku sendiri juga mempunyai anak kunci yang ada huruf Liongnya, ini benar-benar Sangat heran-"
Namun ia tidak tahu, anak kunci huruf Liong yang dikatakan olehnya itu, bagaimana sebetulnya? Maka kembali ia bertanya sambil tersenyum.
"Maaf, aku hendak tanya lagi. sebelas anak kunci yang lainnya apa diukir dengan huruf lain?"
"Ada. Kabarnya, dua belas anak kunci emas itu masingmasing diukir dengan huruf dari dua belas shio."
"Apakah dua belas partay rimba persilatan itu masingmasing memegang sebuah?"
"Ya."
"Untuk membuka kotak rahasia itu?"
"Ya"
"Apakah kalau kurang satu saja tak bisa dibuka?"
"Barangkali ..,.."
"Kotak rahasia itu sebetulnya kotak apa?"
"Entahlah?"
"Apa isinya?"
"Entah"
"Aai, untuk apa sebetulnya?"
"Aku benar-benar tidak tahu. Kabarnya itu adalah suatu rahasia dari dua belas partay itu setiap generasi hanya seorang ketuanya saja yang tahu. Sedangkan mereka semua tutup mulut rapat-rapat sampai matipun juga tak mau menceritakan"
"Kalau demikian halnya, kotak yang dinamakan kotak rahasia itu mungkin berisi benda pusaka yang tak ternilai harganya?"
"Itu, mungkin"
"Urusan ini sudah berapa lama tersiar dalam rimba persilatan?"
"Barangkali sudah dua puluh tahun?"
"Mengapa biSa hilang?"
"Perkaranya berbelit-belit, aku sendiri tidak tahu"
"Eng. ....."
"Baiklah. Sekarang kulanjutkan, Setelah mereka tiba digunung Tay-pa-san. telah mengemukakan bahwa lembah Thiat-siu-kok itu dalamnya kira-kira dua ratus tombak. Dilembah itu terkurung oleh dinding. Dinding itu terdapat lobang kecil-kecil yang jumlahnya ratusan buah, Seperti sarang tawon-Dibagian Selatan dan Utara atas lembah terpentang tujuh utas tambang besi sebesar tangan manusia. setiap tambang terpisah sejarak. kira-kira sepuluh tombak. bentuknya mini dengan Sebuah mandolin raksasa bersenar tujuh Dan orang yang menamakan diri penguasa rumah penjara rimpa persilatan itu berdiri ditengah-tengah tambang besi itu. Dimukanya orang itu mengenakan kerudung kain hitam, pakaiannya juga baju panjang berwarna hitam, dandanannya itu justeru merupakan kebalikan dengan dandanan tamu tidak diundang dari dunia luar. oleh karena keadaannya yang sangat aneh itu, hingga dua belas ketua dari dua belas partay itu, semua tidak bisa melihat wajah dan usianya, sehingga juga tak berani memastikan, ia itu pria ataukah wanita. Hanya, dari Suaranya yang bening dapat diduga bahwa orang itu adalah seorang muda yang berusia belum cukup tiga puluh tahun. Dua belas ketua partay itu sebelum tiba dilembah Thiat-siu-kok. semua menduga bahwa orang yang menamakan diri penguasa rumah penjara rimba persilatan itu paling-paling hendak menggunakan kunci emas berukir huruf Liong itu untuk minta sedikit bagian dan akan mengatakan apa-apa sebagai syarat. Tetapi ketika melihat keadaan lembah itu, baru tahu bahwa urusan itu tidak Sesederhana seperti apa yang mereka duga. Apa yang dinamakan perundingan, mungkin hanya merupa kan Suatu alasan Saja. Waktu itu ketika penguasa rumah penjara persilatan itu melihat dua belas ketua partay semuanya sudah datang, segera mengeluarkan anak kunci emas berukiran huruf Liong itu dari dalam Sakunya, seraya berkata.
"Kami sebetulnya tidak tertarik oleh kotak wasiat itu. Kali ini kami mengundang Tuan-tuan ketua datang kemari, maksudku hendak belajar kenal dengan kepandaian ilmu silat Tuantuan dengan secara bergiliran-tidak perduli siapa saja, asal sanggup menyambut tiga jurus pukulanku aku akan menyerahkaa anak kunci emas yang terukir huruf Liong itu. Tetapi jika tidak sanggup, maka tuan2 harus menerima masih menjadi tawanan dalam penjara rimba persilatan ini"
"Sombong benar ucapannya"
Menyela Cin Hong.
"Itulah, maka waktu itu dua belas ketua partay. semua juga merasa panas hati oleh ucapan yang sombong itu. Tetapi setelah ada orang yang bertanding dengannya, semua segera mengetahuinya bahwa tiga pukulan yang disebut syarat itu bukan saja tidak berlebih-lebihan, bahkan masih dianggap terlalu merendah,"
"Siapa kah yang melawan lebih dahulu?."
". Ketua oey San-pay Siauw CanJin "
"oh, anak kunci itu hilang didalam tangannya, Sudah seharusnya ia yang turun tangan lebih dahulu"
"Bukan ia yang menghilangkan, melainkan ketua oeysan-pay yang dahulu, ialah Thian-tu ,ojin Suma Sin-"
"oo Akhirnya bagaimana?"
Dua orang itu mulai bertanding diatas kait yang terpancang diataS lembah sedalam dua ratus tombak lebih, penguasa penjara rimba persilatan itu sebelum bertanding, sepasang kakinya bergerak dengan cepat sekali diataS tujuh utas kawat itu, kaWat besi itu lalu mengeluarkan suara irama seperti irama mendolin yang memilukan.
Kemudian, dari jarak jauh ia melancarkan pukulan kepada Siauw Can Jin.
Diluar dugaannya Siauw Can Jin yang menjadi ketua golongan oey San-pay, baru Saja menyambut satu kali dengan mudah sekali sudah terpental jatuh kedalam lembah"
"Hai-yaaa Kalau begitu, bukankah dia sudah hancur lebur?"
"Tidak. penguasa rimba persilatan itu lebih dulu sudah menyediakan sebuah jaring besar didalam lembah. ..."
"Hei, untuk apa itu ?"
"Untuk apa. sebentar kuceritakan lagi. Sekarang gilirannya ketua Thian-san-pay Si jago pedang Cu-bo-kiam KhoSu Yang yang memegang anak kunci dengan ukiran huruf tikus"
"Ia sanggup menerima pukulan ?"
"oleh karena pengalamannya yang terdahulu, maka ia lebih hati-hati, kali ini ia sanggup menerima dua kali "
"Hei Siapa kah yang menamakan dirinya penguasa rumah penjara rimba persilatan itu, kenapa demikian hebat ilmu pukulannya ?"
"Kalau mau tahu siapakah ia sebetulnya, Sesungguhnya sangat mudah sekali"
"Haaa, bagaimana?"
"Kau pergi Saja menantang dia, itu sudah cukup, Dia Selalu bersedia menyambut tantangan setiap orang yang diajukan kepadanya?"
"Apakah dia mau memberitahukan namanya kepada setiap orang penantangnya?"
"Hm, setelah dia memukul jatuh kedalam lembah kepada dua belas orang ketua partay rimba persilatan itu, ketika berita itu tersiar di kalangan Kang-ouw, tokoh-tokoh kuat dari dua belas partay dan beberapa tokoh kenamaan rimba persilatan, semua tidak percaya bahwa didalam dunia ini ada orang yang demikian hebat. Maka semua pergi berkunjung kelembah itu untuk menantang bertempur. Satu persatu dipukul jatuh kedalam lembah yang merupakan rumah penjara itu, tiada seorang pun yang bisa lolos dari tangannya, demikian-Beberapa orang rimba persilatan yang belum pergi, semua merasa jeri, hingga membatalkan maksudnya. Selama setengah tahun Selanjutnya, tiada seorangpun yang berani menantang. oleh karena melihat keadaan lembah itu menjadi sepi, maka penguasa rumah penjara itu lantas mengadaKan Suatu peraturan bersifat merangsang. .Kesatu barang siapa sanggup menerima pukulannya tiga jurus keatas, setelah terpukul jatuh kedalam rumah penjara itu, didalam rumah penjara boleh tak usah melakukan pekerjaan berat, dan tak usah dirantai kaki tangannya, makanannya setiap hari juga lebih daripada yang lainnya, Kedua, barang siapa yang sanggup menerima hingga sepuluh jurus boleh tidak usah masuk kedalam penjara, Bersamaan dengan itu juga boleh mendapat hadiah uang emas seribu tail. Tetapi masih harus melakukan pertempuran untuk kedua kalinya, dan harus sanggup menerima pukulan lima belas jurus,jika tidak, harus tetap masuk penjara. Ketiga, barang Siapa yang bertanding dengannya berkesudahan seri, terserah kepada orang itu, apa yang dikehendaki "
Cin Hong terkejut, katanya.
"Setelah diumumkan seCara peraturan baru itu apakah masih ada orang yang menantang lagi?"
"Ada, sih ada. Tetapi sembilan diantara sepuluh pada menyerah, dan malah diborgol tangannya dengan rantai, menjalani penghidupan didalam penjara dengan segala penderitaannya"
"Tadi kau kata tentang lima pahlawan, tujuh pendekar yang merantau, dan enam manusia perkasa serta delapan serta delapan setan, orang-orang itu sanggup menyambut berapa jurus ?"
"Tiada yang lebih dari tiga pukulan, hanya It-sian, sepasang iblis dan empat manjur, yang sanggup menyambut sampai lima jurus keatas, diantaranya adalah Sie Kwan yang hasilnya paling baik, dia barangkali takut makanan yang tidak enak didalam penjara itu, maka berkelahi dengan sungguh2. Sayang hingga jurus kedelapan dia sudah jatuh kebawah"
"Hingga sekarang, sudah berapa banyak orang yang tertawan dalam penjara itu?"
"Jumlahnya yang tepat aku tak tahu, barangkali ada seratus lebih"
"Ai Didalam dunia ini benarkah tiada orang yang sanggup melawan dia ?"
"Ini juga belum tentu. Suhuku dan Suhumu masih belum pergi kesana, mereka berdua kalau mau belum tentu bisa kalah "
"Sie Kwan, Salah seorang dari tiga gaib toh cuma sanggup melawan delapan jurus, sebaiknya jangan pergi saja."
"Itu tidak bisa. Sebab sekarang ini seluruh rimba persilatan Sudah mengejek dan tertawakan mereka berdua sebagai penakut. Sekarang kau masih hendak tanya apa lagi?"
"oo, tidak, hanya sedikit Saja, apakah dari belas buah anak kunci emas itu semua sudah dirampas oleh penguasa penjara rimba persilatan?"
"Tidak, Sewaktu dua belas ketua partay itu menerima surat undangan, oleh karena mereka masih belum jelas siapa sebenarnya orang yang mengaku penguaSa penjara rimba persilatan, untuk menjaga Kemungkinankemungkinan yang tidak diingini. tiada seorangpun yang membawa anak kunci emas itu."
"Sungguh aneh, ia tidak menghendaki anak kunci emas itu, mengapa perlu memenjarakan demikian banyak orang rimba persilatan?"
"Inilah yang menjadi pertanyaan orang oleh kita semua"
"Cin Hong menarik napaS panjang, ia berdiam sejenak. tiba-tiba mendapat suatu pikiran aneh. katanya sambil tertawa.
"Jikalau penguasa rumah penjara itu memperbolehkan orang pergi meninjau, aku benar-benar ingin berkunjung kesana."
"Berapa usiamu tahun ini?"
"Bagaimana dengan tiba-tiba kau menanyakan usia orang?"
"Jangan kaget, inilah suatu peraturan yang ditetapkan oleh penguasa rumah penjara rimba persilatan-pada sepuluh tahun berselang, dia mengizinkan anak-anak yang berusia Sembilan sampai delapan belas tahun pergi menengok kedalam penjara. Sembilan tahun berselang, anak berusia sepuluh sampai delapan belaS tahun yang diperbolehkan menengok sanak saudara atau orang tuanya. Delapan tahun berselang anak-anak berusia sebelas hingga delapan belas tahun, jadi setiap tahun usia ditambah Satu tahun, maka hingga tahun ini, hanya anak-anak yang berusia delapan belas tahun yang boleh pergi menengok kedalam penjara itu"
"Ini sangat kebetulan, usiaku tahun ini justru delapan belas tahun "
"Itu bagus sekali. Kau haruS lekas pergi. untuk tambah pengetahuanmu, dan nanti kalau pulang kau boleh ceritakan padaku, bagaimana keadaan dalam penjara itu?"
"Mari kita pergi bersama-sama saja?"
"Tahun ini usiaku baru enam belas tahun. Usiaku ini belum sampai usia seperti apa yang sudah ditetapkan oleh karenanya, maka tidak bisa pergi"
Menjawab In-jie sambil menggelengkan kepala.
"Peraturan yang sifatnya keras demikian apakah maksudnya?"
"Siapa tahu? Benar-benar membingungkan"
"Tidak apa, kau boleh membobongi dia, katakan saja bahwa usiamu sudah delapan belas tahun."
"Tidak boleh, penguasa penjara rimba persilatan itu ada mempunyai seorang bawahan yang berjulukan Thiat-oe Siang-su, ia ditugaskan untuk menghitung usia anak-anak yang lalu pergi menengok kedalam penjara. Tahun yang lalu ada seorang anak yang berusia lima belas tahun, ia membohong berusia tujuh belas tahun, setelah diketahui oleh Thiat-oe Sian-su, akhirnya ia telah dihukum rangKet pantatnya. ..."
"Dirangket pantatnya ?"
"Ya Orang yang bernama Thiat-oe Siang-su itu seorang yang paling tak tahu malu..."
Berkata Sampai disini, tibatiba terdengar Suara.
"He he he... ."
Dengan tiba-tiba, dari dalam kamar yang terpisah sejarak dua puluh tombak, terdengar suara tertawa dingin, suara itu sama dengan yang pernah mereka dengar ditepi telaga seeouw kemarin malam Dua orang itu terkejut.
mereka Segera merasakan ada apa-apa yang tidak beres, maka buru-buru lari keluar dari kupel dan menuju kedalam rumah.
Cin Hong masuk lebih dulu, tampak lampu didalam kamarnya masih menyala, tetapi dua orang tua itu sudah tidak tampak lagi bayangannya.
Selagi hendak balik keluar untuk mengejar, diatas meja tampak sepotong kertas, agaknya tulisannya yang sengaja ditinggalkan disitu, maka ia lalu Cepat mengambil.
Ketika ia membaCa surat itu, Yo in In juga sudah lari kesampingnya, hingga dua-dua membaCa bersama.
Surat itu bunyinya sebagai berikut.
"oleh karena kelakuan To Lok Thian dan Sie Siang In kurang baik, mengelabui mata dunia dengan pura-pura berbuat baik, ini tidak dapat dibenarkan-Maka diminta lapor diri kerumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san Sebelum tanggal lima bulan lima. Apabila lewat waktu tidak datang, akan diambil tindakan tegas. Penguasa penjara rimba persilatan-"
"Aaa, penguasa rumah penjara rimba persilatan sudah mengirim ancaman"
Dua orang itu setelah membaca surat tersebut, semua menunjukkan sikap terkejut dan Saling berpandangan sekian lama, in-jie membaca sepasang matanya yang lebar, lama baru bisa bicara.
"Ya Tuhan, penguasa penjara rimba persilatan "
Dengan alis berdiri Cin Hong berseru.
"Lekas kejar "
Ia melemparkan suratnya, kemudian lompat keluar dari dalam kamarnya.
Dengan di ikuti oleh in-jie.
Kedua-duanya lompat keatas genteng rumah, matanya ditujukan kearah datangnya suara tadi, waktu itu orang berbaju hitam yang diduga menyampaikan tadi kepada dua Suhunya, kini ternyata sudah tidak nampak lagi bayangannya.
Waktu itu Sudah hampir pagi, kota Hang-ciu masih Sepi, seolah-olah masih diliputi oleh ketenangan-In-jie tidak nampak gurunya, hatinya merasa Cemas.
Injie lebih dulu menggunakan ilmunya ringankan tubuh, bagaikan asap lompat turun dari atas genteng dan berseru.
"Hei Perlu apa kau masih berdiri bingung, lekaS kejar "
Cin Hong segera bergerak, dengan mengikuti jejaknya melayang turun kebawah.
Sebelum kakinya menginjak tanah, dipojak utara, tiba-tiba tampak sesosok bayangan hitam, sepasang lengan jubah bayangan itu bagaikan seekor burung kalong raksasa, melayang menghilang keluar pekarangan-Dalam terkejutnya, badannya yang masih berada diudaa.
lantas melakukan gerakan memutar dan mengejar Keutara Sambil berseru.
"Nona Yo. musuh ada disini, lekas kau kemari "
In-jie mendengar ucapan itu segera lompat balik ke-utara, secepat kilat mengejar sampai keluar gedung.
Dalam keadaan gelap gulita, Samar-samar tampak Sesosok bayangan hitam berada ditempat sejauh enam tombak.
sedang menggerakkan sepasang lengan jubah, hingga Saat itu mengeluarkan suara "bles blek,"
Terbang melayang Semakin menjauh.
Gerak-geriknya itu mirip sepertii burung kalong raksasa.
Sudah tentu Cin Hong tidak mau perCaya bahwa didalam dunia ini ada kalong yang demikian besarnya, maka tanpa menghentikan kakinya, ia terus mergejar.
sedangkan In-jie oleh karena kemarin malam pernah dengar dari Cin Hong yang mengatakan tentang siluman kalong, maka dalam hati lantas meraSa takut, hingga tidak berani mengejar lebih dulu.
ia hanya mengikuti dibelakang sambil bertanya.
"Hei, besar sekali kalong itu. Apakah dia Siluman kalong?"
Cin Hong meskipun baru berada bersama-sama Setengah malam, namun ia sudah tahu bahwa gadis itu bernyali kecil, maka ketika mendengar pertanyaan itu, lantas timbul pikirannya hendak menggoda. Katanya.
"THem, Barangkali benar-benar Siluman kalong yang Sudah bertapa ribuan tahun lamanya "
Wajah In-jie berubah seketika, buru-buru nenghentikan kakinya, sedang mulutnja berseru.
"Kau bohong Apakah kau hendak menakuti aku ?"
Cin Hong memperlambat larinya sambil palingkan kepalanya.
"Jangan takut, kita bekerja sama untuk menangkap dia,"
In-jie tidak berani, ia berkata sambil monyongkan mulutnya.
"Tidak. aku tidak mau menangkap kalong, rupanya seperti tikus. ..."
Ketika Cin Hong menoleh lagi, kalong itu Sudah berada sejauh sepuluh tombak lebih,maka ia lalu menggerakkan kakinya untuk mengejar, sedang mulutnja terus berseru kepada In-jie.
"Nona Yo, dia kalong atau bukan, kau ikut aku mengejar saja"
Namun In-jie masih tetap berdiri tegak, dari jauh ia berKata.
"Cin Hong. bagaimana kau tahu kalau dia bukan Siluman kalong"
Cin Hong tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Jika dia benar-benar Siluman kalong, Sejak tadi Sudan terbang kelangit."
In-jie pikir, bahwa ucapannya itu memang benar, maka ia lantas angkat kaki dan pergi mengejar lagi, tak disangka baru saja mengejar beberapa langkah, Kalong yang dikejarnya itu berada ditempat sepuluh tombak lebih dengan tiba-tiba terbang setinggi tujuh tombak lebih, dilihatnya benar-benar seperti seekor burung kalong raksasa.
Wajah In-jie pucat Seketika, ia menjerit kaget dan berhenti lagi, seraya berseru kepada Cin Hong.
"Hei, lekas kau kembali, itu adalah siluman kalong, tidak Salah lagi."
Cin Hong yang saat itu terpisah dengan kalong hanya tinggal delapan tombak. dapat melihat dengan jelas, tampak kalong itu terbang, kelihatan kakinya seperti kaki manusia yang ditekuk kebawah perutnya.Jelas itu adalah manusia yang berlaku seperti kalong, maka ia terus mengejar jangan sampai ketinggalan jauh.
Atas panggilan gadis tadi, ia menyahut dengan suara keras.
"Tidak Dia bukan siluman kalong, aku sudah melihat kakinya"
Sambil lari mengejar lagi, In-jie bertanya.
"Apa kau tidak membohongi aku? Kalau bukan siluman kalong. bagaimana bisa terbang?"
"Ha ha .... , dia sedang menggunakan ilmu berjalan ditengah udara. Apakah kau tidak melihatnya?"
Berkata Cin Hong Sambil tertawa besar.
In-jie yang memiliki ilmu meringankan tubuh terhebat dari golongan rimba persilatan sudah tentu tahu apa yang dimaksudkan dengan ilmu berjalan ditengah udara, hanya pada saat itu, oleh karena pikirannya sudah dipengaruhi oleh peraSaan takut terhadap siluman kalong Sedikit pun tidak memikirkan kalau bayangan itu adalah orang yang jadi.
Maka ia juga tak ingat lagi kepada "Ilmu berjalan ditengah udara"
Yang memang banyak dikenal oleh orangorang rimba persilatan pada saat itu, setelah mendengar keterangan Cin Hong, wajahnya jadi merah seketika.
Selagi hendak membantah.
ditempat gelap tiba-tiba terdengar suara dalam.
"Nona...kecil , ...dia....bukan... .siluman kalong ....akantetapi ....jauh lebih lihay ....dari pada, ...siluman kalong."
Dari nada suaranya itu dapat diduga bahwa orang yang mengeluarkan ucapan itu tidak ada maksud jahat, jelas pula bahwa orang yang mengucapkan perkataan itu adalah seorang tua yang tidak biSa bicara lancar.
In-jie terperanjat mendengar ucapan itu, ia menghentikan langkahnya dan berpaling ketempat gelap Seraya bertanya.
"Hei. kau Siapa?"
Disuatu gang yang gelap gulita. kira-kira beberapa tombak disebelah kirinya terdengar suara orang tua yang dalam tadi.
"Aku...siorang tua...adalah...orang, penjual...susu, tahu... ."
Dalam hati In-jie merasa curiga.
maka tidak menantikan keterangan lebih jauh, kedua kakinya lantas bergerak.
dengan kecepatan bagaikan kilat melesat ke-gang yang gelap itu, ia pasang mata mencari-cari orangnya.
tetapi dalam gang ternyata kosong melompong, Seekor kucing pun tidak nampak.
Saat itu bayangan siluman kalong kembali terbayang didalam otaknya, hingga hatinya meraSa jeri.
Iaingat diwaktu masih kanak-kanak.
pernah mendengar orang tua berkata, bahwa rambut boleh digunakan Untuk mengusir segala siluman-Maka buru-buru ia mencabut beberapa lembar rambutnya sendiri, dan dilibaskan ketengah udara, setelah itu ia memutar dirinya keluar lagi dari dalam gang, dan menuju kearah Cin Hong yang berada sejauh dua puluh tombak dari tempatnya untuk mengejar lagi, sedang mulutnya berteriak-teriak memanggil.
"IHei Cin Hong Tunggu aku"
Cin Hong yang sedang mengejar kalong itu ditengah udara. mendengar panggilan gadis itu yang mengandung perasaan takut, buru-buru menghentikan kakinya dan berpaling seraya bertanya.
"Ada urusan apa? nona Yo."
In jie buru-buru menghampirinya, ia berkata dengan napas tersengal-sengal.
"Aku telah ketemu siluman, benarbenar sangat menakutkan"
Cin Hong terperanjat, tanyanya.
"siluman? Dimana silumannya?"
Injie belum menjawab, ditempat gelap tadi tiba-tiba terdengar pula suara orang tua yang ucapkan dengan. nada tidak lancar.
"Siluman .... ada di ...sekitar ...kalian ... .ada seekor.... siluman .... rase......seekor siluman kalong merah ...delapan ekor..... siluman-. .kalong hitam... ."
Cin Hong merasa bahwa orang yang mengeluarkan ucapan itu suaranya agaknya tidak asing.
Ia mengeluarkan seruan terkejut, setelah itu ia berpaling mengawasi kearah di sekitarnya.
Tampak olehnya di tempat sekitar lima tombak darinya, entah sejak kapan telah muncul sepuluh bayangan orang yang sangat aneh Tepat dihadapannya berdiri seorang perempuan berparas CantiK, berpakaian warna perak. sikap dan paras perempuan itu sepintas lalu memberikan kesan seperti Seorang dari golongan agung.
Disebelah kanan perempaan Cantik itu berdiri Seorang lelaki tua berambut putih berpakaian jubah merah tua, wajah orang tua itu memberi Kesan pada orang seolah-olah orang dari golongan kejam dan banyak akaL orang tua itu berdiri dengan bertolak pinggang, hingga jubahnya yang lebar terbentang, tampak seperti burung yang sedang berdiri.
Di Samping itu, ada delapan orang yang berpakaian hitam, dengan bentuknya yang aneh.
delapan orang itu semua mukanya tertutup oleh kerudung kain hitam, diatas punggung mereka semua menyoreng sebilah pedang panjang.
Semua berdiri berbaris dikedua samping perempuan cantik dan orang tua berambut putih itu, karena pakaian orang-orang itu semuanya mirip dengan pakaian burung-burung yang bersayap.
didalam keadaan gelap tampaknya semakin menyeramkan.
Cin Hong dan In-jie semua belum pernah melihat bahwa dirimba persilatan pada dewasa itu ada golongan orang yang bentuknya dan dandanannya yang mirip dengan kalong.
Maka begitu berhadapan dengan orang-orang aneh itu, semua terperanjat, hingga berdiri berdampingan tidak tahu bagaimana harus berbuat.
orang tua berambut putih berjubah merah itu, dengan sepasang matanya yang berkilauan, sinar tajam, menatap wajah Cin Hong dan in-jie seCara bergiliran-Dengan tibatiba mengeluarkan cuaranya dan berkata kepada perempuan cantik disisinya.
"Touw Kwie-hui, kali ini kita agaknya terlalu membesarbesarkan urusan keciL Dua bocah ini sesungguhnya tidak terlalu berharga buat kita turun tangan sendiri"
Sepasang mata perempuan cantik yang jeli itu berputaran di Wajah Cin Hong Sejenak, dengan tiba-tiba mengeluarkan Senyumnya yang manis, setelah itu ia membuba mulutnya dan berkata dengan nada suara yang merdu.
"Golongan kita belum lama dibentuknya, dalam segala hal harus berhati-hati, apa lagi kedua bocah ini merupakan mUrid kesayangan dua tokoh kuat rimba persilatan pada dewasa ini."
Orang tua berjubah merah itu kembali perdengarkaan suara tertaWanya yang menyeramka -Setelah itu ia berkata.
"Heh, menurut pandanganku, asal mengirim tiga atau empat anak buah dari Ek-hok-tong saja juga sudah cukup, ..."
Selama dua orang itu bercakap-cakap. Cin Hong juga bertanya dengan suara perlahan kepada In-jie yang berdiri di dampingnya.
"Apa nona Yo kenal dengan orang-orang itu?"
"Tidak, aku tak kenal"
"Hei Bukankah kau banyak kenal dengan orang-orang rimba persilatan?"
"Bodoh, apa kau tadi tidak dengar mereka yang mengatakan sendiri bahwa perkumpulan mereka belum lama berdiri? Mereka adalah golongan yang berdiri belum lama di rimba persilatan-bagiamana aku bisa kenal?"
"oh, apakah mereka bukan orang bawahan penguasa rumah penjara rimba persilatan?"
"Bukan, kabarnya penguasa rumah penjara rimba persilatan itu biasanya mempunyai sepuluh pengawal yang dinamakan sepuluh Giam-lo dan sebelas anak buah dari Thiat U sianseng mereka jarang muncul di dunia Kangouw, dandanan mereka juga tidak seperti Orang-orang ini yangi tidak karuan macamnya"
"ini benar-benar aneh, encie."
"Kenapa?"
"orang yang menyampaikan surat kepada suhu bukankah juga orang yang mengenakan pakaian seperti kalong? Kalau dia bukan anak buah penguasa rumah penjara rimba persilatan, dengan cara bagaimana menyampaikan surat untuknya?".
"Ehm, tetapi mungkin orang yang menyampaikan surat itu masih ada orang lain lagi. coba kau tanya mereka"
Cin Hong menganggukkan kepala, lalu menghampiri orang tua berjubah merah. dan kemudian memberi hormat kepadanya seraya berkata.
"Bapak. kalian datang darimana? Dan ada urusan apa mengurung kami berdua?"
Orang tua berbaju merah itu barangkali baru pertama kali ini ada orang membahasakan dirinya Bapak, maka sejenak ia jadi terperanjat.
lantas berpaling pada perempuan cantik berpakaian warna perak disisinya, kemudian berkata sambil tertawa.
"To Kwie-hui, bocah ini rupanya belum mempunyai pengalaman"
Perempuan cantik itu melirik kepada Cin Hong, dengan sikapnya yang menarik, katanya.
"Inilah salah satu sebab yang membuatku hendaK menarik mereka jadi pembantuku yang penting. Aku hendak angkat mereka menduduki kedudukan Kim-thong dan Giok-lie"
Cin Hong mendapat kesan, bahwa perempuan golongan baik-baik, maka perasaan muak lantaS dengan sendirinya pasti timbul di dalam hatinya, dengan alis dikerutkan matanya menatap Wajah orang tua berjubah merah, kemudian berkata dengan sikap sungguh-sungguh.
"Bapak.
aku bicara kepadamu, apakah kau tidak dengar?"
Orang tua berjubah merah itu seolah-olah tidak dengar, kembali berkata kepada perempuan cantik disisinya sambil tertawa.
"Kau dengar sekarang ia sudah mempunyai sedikit keberanian."
Meskipun Cin Hong belum pernah berkelana didunia Kang ouw, tetapi sifatnya dan jiwanya yang di dapat dari pelajaran ilmu Silatnya, tidak kalah dengan orang2 rimba persilatan pada waktu itu, karena melihat orang tua itu sedikitpun tak pandang mata dirinya, maka lantas timbul hawa marahnya, ia berkata sambil menarik tangan In-jie.
"Nona Yo. mari kita mencari suhu"
Orang tua berjubah merah itu, tiba-tiba mendongak dan terkekeh, sambil menuding mereka berdua dan berkata.
"Hehehe... .mencari suhu? Tahukah kau kemana sekarang mereka pergi?"
Cin Hong bersikap seperti Sedang pasang telinga, dan bertanya kepada in-jie sambil melirik kepadanya.
"Nona Yo, kau dengar siapa sedang bicara?"
In-jie berputaran biji matanya, selanjutnya menunjukan sikap bingung dan menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku sedikitpun tidak pernah dengar ada orang bicara" . Cin Hong seolah-olah sedang mencari alasan, ia sangat gembira, dengan mengandeng tangan in-jie berjalan menuju kesalah seorang dari delapan orang-orang berpakaian hitam. Kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jalan Mari kita pergi mencari Suhu"
Ia tahu bahwa orang tua berjubah merah pasti tak akan membiarkan dirinya pergi, maka sikapnya itu meskipun nampaknya tidak merasa takut, namun diam-diam sudah mengerahkan kekuatan tenaganya, sebagai persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tak disangka-sangkanya, baru berjalan dua tiga langkah, mendadak tampak berkelebat sesosok bayangan orang perempuan cantik bagaikan bidadari itu sudah melayang dan berdiri di hadapannya Sambil perlihatkan senyum yang manis.
Sekali bergerak.
bisa mencapai jarak sejauh lima tombak, bukankah suatu kejadian yang mengherankan-tetapi perempuan itu bisa bergerak demikian cepat dan tanpa menimbulkan suara sedikitpun juga, suatu bukti bahwa perempuan cantik itu pasti sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga baru bisa berbuat demikian, dan pada dewasa ini dalam rimba persilatan orang yang memiliki kepandaian ilmu semacam itu jumlahnya hanya beberapa gelintir saja.
Siapakah sebetulnya perempuan cantik yang disebut To Kwie-hui atau permaisuri itu?
Dilihat dari wajahnya, usianya paling banter hanya dua puluh lima tahun, namun kepandaian ilmunya ternyata sudah demikian hebat.
Cin Hong menghentikan langkahnya dan menarik napas, ia melepaskan tangan in-jie seraya berkata.
"Nona ini dengan maksud apakah merintangi perjalanan kita ?"
Perempuan cantik itu dengan menatap wajah Cin Hong lalu berkata sambil tersenyum.
"Aku telah mendapat perintah pangCu, datang kemari untuk mengambil kalian berdua, hendak diajak pulang kemarkas, karena hendak diberi jabatan Kim Thong dan Giok Lie oleh pangCu, inilah Suatu jabatan yang tidak mudah diperoleh bagi setiap orang sekarang marilah kalian ikut kami pulang "
"Ooo..Bolehkah aku numpang tanya kepada nona? Golongan yang kalian itu sebetulnya golongan apa?"
Demikian itu Hong balaS menanya.
Mata perempuan cantik itu berputaran mengawaSi orang-orangnya yang mengenakan pakaian hitam bagaikan kalong, yang mengelilingi disekitarnya, kemudian berkata sambil tertawa.
"Golongan orang-orang kita ini jika siang hari sembunyikan diri, tetapi diwaktu malam tentu keluar, maka kita namakan golongan ini sebagai golongan kalong. Kau lihat apakah bentuk mereka itu bukankah mirip dengan kalong?"
"Siapakah pangcunya?"
"Pangcunya ialah Kim Pian Hok....Eh, bukan-Hal ini tunggu sampai kalian nanti menjadi anggota resmi golongan kalong kita barulah aku akan beritahukan kepadamu lagi."
"Apakah Pangcumu itu bukankah penguaSa rumah penjara rimba persilatan ?"
"Bukan, bukan golongan kita ini tak mempunyai sedikit perhubungan juga dengan rumah penjara rimba persilatan "
"Kalau begitu, bagaimana kalian menggunakan nama penguasa rumah penjara rimba persilatan, menyampaikan Surat kepada suhu dan Thian-san Swat Popo. Apakah maksud yang sebenarnya?"
"It-hu Sianseng dan Thian-San Swat Popo percuma saja memiliki kepandaian ilmu begitu tinggi, mereka adalah orang2 yang takut mati, mereka tidak berani pergi ke rumah penjara di GUnUng Tay-pa San untuk menantang penguasa rumah penjara rimba persilatan itu supaya lekas bebas kembali, maka barulah menggunakan akal ini untuk memanaskan hati mereka supaya berani pergi Kerumah penjara rimba persilatan."
"Aku lihat kepandaian ilmu silat nona juga sangat bagus sekali, kenapa tidak berani menantang sendiri ?"
"Aaaa...kepandaianku masih terpaut jauh sekali ?"
"Hm kau sendiri tidak berani pergi, sebaliknya menyalahkan orang lain tidak pergi. dan juga melakukan perbuatan memalsu surat orang demikian, kalau begitu, golonganmu ini bukanlah golongan orang baik-baik?"
Baru saja Cin Hong menutup mulut, In-jie segera menyambungnya.
"Benar. Tidak saja bukan golongan orang baik-baik, tetapi juga bukan wanita baik"
Diejek demikian, wanita cantik bergaun warna perak itu masih tetap tersenyum, selagi hendak menjawab, seorang berpakaian hitam yang berkerudung dimukanya tiba-tiba membentak dengan suara keras.
"Budak hina, kau terlalu berani, menghina Ta Kwie-hui dari golongan kita, apakan kau sudah bosan hidup ?"
Suara itu diucapkan dengan nada tajam melengking, hingga didengarnya sangat menusuk telinga, in-jie berseru kaget.
Ia lalu berpaling dan mengamatamati kepada orang berbaju hitam berkerudung hitam yang berbicara tadi, setelah itu ia bertanya.
"Hei, apakah kau ini bukan orang yang di namakan Tok Siu-cay Leng Go?"
Orang berbaju hitam itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sambil tertawa dingin-"Benar, hari ini apabila kau suka mengikuti kita dengan baik, permusuhan kita yang lama boleh tak usah diperhitungkan lagi."
Orang yang memiliki nama julukan Tok Siu cay itu adalah salah seorang yang paling buas dari empat manusia buaS yang pada beberapa puluh tahun berselang pernah mengaCau rimba persilatan, juga merupakan Salah seorang pengaCau kaum wanita yang paling ganaS, tentang ilmu silatnya termasuk golongan kelas satu tetapi ditilik dari pakaiannya yang di kenakannya pada saat itu, jelas hanya merupakan salah Seorang anggota yang kedudukannya rendah, dengan Cara bagaimana ia bisa berbuat demikian-Inilah yang ingin di ketahui in-jie.
Apa yang diucapkan tentang permusuhan lama yang dimaksudkan ialah dalam pertempuran dengan in-jie di kota Tiang An pada beberapa bulan berselang, ia telah terpukul rontok Satu gigi depannya.
Bagaimana in-jie sendiri, oleh karena kemenangannya yang dahulu itu, maka sedikitpun tak merasa takut padanya, sebaliknya malah mengejek dengan kata-kata yang sangat tidak enak.
"Bagus sekali, malam ini apabila kau Tok Siu-cay mau berlutut dihadapan nonamu, maka nonamu juga akan mengampUni kau sekali lagi, tak akan memukul rontok gigimu lagi"
Tok Siu-cay dahulu terpukul rontok satu giginya, sebetulnya ialah karena merasa jeri terhadap Thian San Swat popo yang waktu itu menyaksikan pertempuran tersebut.
Tetapi kali ini setelah mendengar ucapan yang bersifat mengejek dihadapan orang banyak.
ini berarti membuka rahasianya yang memilukan itu, maka saat itu ia lantas menjadi marah, dengan keluarkan suara bengis, ia menghunus pedang panjang dari atas punggungnya, kemudian hendak menyerang in-jie.
sebelum ia bertindak lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara bentakan "Tahan dulu"
Tok siu-cay terpaksa menghentikan tindakannya.
setelah ia menarik kembali serangannya lalu membalikan diri dan memberi hormat kepada wanita cantik itu, setelah itu ia balik kembali ketempatnya sendiri.
PEREMPUAN cantik itu dengan wajah berseri menggoyangkan pinggulnya yang padat,pakaiannya yang berwarna perak yang tersorot oleh sinar rembulan, memantulnya sinar berkilauan dengan langkah yang lemah gemulai ia berjalan kearah Cin Hong, lalu berhenti dihadapannya, sejarak kira-kira satu tombak, kemudian berkata dengan suaranya yang merdu .
"Saudara kecil, kepandaian ilmu pangCu kita sudah mencapai ketaraf yang tiada taranya, kalian berdua bisa mengikuti pangCu kita sebagai Kim Thong dan Giok-lie sesungguhnya merupakan suatu jodoh baik bagi kalian berdua untuk menjadi orang-orang kuat dan berpengaruh dalam rimba persilatan dikemudian hari sudah tidak menjadi soal lagi, sekarang sudah hampir terang tanah, maka kalian harus lekas mengambil keputusan mau atau tidak, cukup dengan sepatah kata."
Cin Hong memikirkan soal golongan kalong ini telah menggunakan nama penguasa rumah penjara, memancing Suhunya pergi kegunung Tay pa-san menantang bertanding, hal ini mungkin ada maksud tertentu, maka dalam hatinya ia berpikir, apabila sekarang ini bisa mengadakan perhubungan dengan mereka supaya mengetahui sedikit dulu situasi golongan itu juga sangat berguna baginya.
Saat itu ia lalu dengan muka berseri segera memberi hormat pada wanita cantik itu kemudian berkata.
"Kalau benar nona minta kami berdua masuk menjadi anggauta golonganmu, boleh kah kiranya nona memperkenalkan dan menjelaskan dulu keadaan golonganmu itu ?"
Sepasang alis wanita cantik itu dikerutkan dan bertanya.
"Kau ingin mendapat penjelasan bagian yang mana ?"
"Pertama, aku masih belum tahu pangcumu itu, pria ataukah Wanita... ."
Belum Sampai melanjutkan ucapannya orang tua berjubah merah yang berada dibelakang wanita cantik itu dengan tiba-tiba maju selangkah dan membentak dengan Suara bengis.
"Bocah ,kau sungguh kurang ajar..Apakah Kau benar-benar sudah bosan hidup?"
Cin Hong merasa bahwa ucapannya tadi tidak mengandung suatu maksud jahat atau menjelekkan nama golongan itu maka ketika dibentak demikian-ia lantas menjadi bingung, selagi hendak bertanya, tampak wanita cantik berbaju warna perak itu sudah berpaling dan berkata pada orang tua berjubah merah sambil menggoyang-kan tangannya.
"Im Hok-hwat. Saudara kecil ini tiada maksud jahat untuk menghina pangcu kita, maka kau juga tidak perlu marah ."
Cin Hong semakin bingung, ia lalu berpaling lalu berkata pada In-jie.
"Nona Yo, aku bertanya pada mereka pangcunya itu pria ataukah wanita, pertanyaan demikian, apakah didalam rimba persilatan juga termasuk satu pantangan ?"
"Apabila ucapan itu dianggap suatu pantangan maka pangcu mereka itu dengan sendirinya bukan terhitung manusia"
Berkata in-jie sambil menggelengkan kepala.
Paras perempuan cantik itu tampak berubah di wajahnya yang cantik tiba-tiba timbul nafsunya untuk membunuh.
ia maju selangkah dan berkata Sambil menunjuk in-jie.
"Budak hina. kalau kau berani mengoceh yang tidak karuan lagi. maka aku nanti akan kirim kau pulang acherat lebih dulu"
In-jie sesaat itu juga merasa bingung, ia balas bertanya dengan perasaan heran-"ini sungguh aneh, apakah pangcu kalian itu bukan manuSia ?"
Sepasang aliS Wanita cantik itu tampak berdiri, dengan penuh hawa amarah maju dua langkah, tetapi kemudian agaknya dengan tiba-tiba telah berubuh pikirannya lagi, kembali berdiri tegak. dan diwajahnya juga lantas berubah meriah dengan senyuman, kemudian menatap wajah Cin Hong dan bertanya padanya.
"Saudara kecil, kau sebetulnya mau?..."
"Tidak. binatang kalong itu suka sembunyi di tempat gelap. di waktu siang hari mereka sembunyikan diri dan mereka berani keluar hanya di waktu malam. Mereka agaknya tidak berani melihat sinar matahari. Sedangkan aku sendiri tiap hari tidak boleh tidak tidur, siang hari tidak boleh tidak melihat matahari, maka urusan ini tak usah dibicarakan lagi"
Jawab Cin Hong Sambil menggelengkan kepalanya. In-jie tertawa geli sendiri, ia berpaling mengawasi pemuda itu, diwajahnya terlintas sikap memuji, agaknya mau berkata.
"Kau anak sekolah tolol ini, ternyata dapat melucu juga"
Sebaliknya dengan perempuan cantik itu, ketika mendengar ucapan cin IHong lantas tertawa kemudian berpaling dan berkata kepada orang tua berjubah merah.
"In hok-hwat, hari sudah hampir pagi, aku lihat biarlah kita yang turun tangan sendiri, kau tangkap yang perempuan, dan akan aku tangkap yang lelaki "
Orang tua berjubah merah menerima baik perintah itu, lengan jubahnya di kibaskan tampaklah sepasang tangannya yang kurus kering dan kukunya yang panjang dan runcing, perlahan-lahan ia berjalan menghampiri kepada In-jie, setiap langkahnya meninggalkan tanda jejak kakinya.
jelas bahwa ia sedang mempertunjukkan kelihaian tenaga dalamnya yang Sudah sempurna.
Perempuan cantik berbaju warna perak juga selangkah demi selangkah berjalan menghampiri cin IHong, tetapi dari mulutnya mengeluarkan suara Cekikikan, langkahnya lemai gemulai dan luwes sekali, agaknya tersembunyi pengaruh yang sangat besar.
Cin Hong dan in-jie Sudah Siap untuk menghadapi pertempuran, dengan tiba-tiba mereka dapat merasakan bahwa suara tertawa peeempuan cantik itu kedengarannya merdu sekali, setelah itu otak mereka seperti melayanglayang seolah-olah dalam mimpi....Perempuan cantik itu ketika melihat bahwa ilmu gaibnya Sudah berhasil, lalu menghentikan langkahnya, Sambil bertolak pinggang ia melanjutkan suara tertawanya cekikikan, hingga membuat orang yang mendengarnya seolah2 melupakan dirinya sendiri.
orang tua berjubah merah juga memperdengarkan suara tawanya yang aneh, ia berjalan kedepan In-jie yang Sudah melupakan dirinya sendiri.
Ia mengulurkan tangannya yang aneh, danselagi hendak menggenggam pergelangan tangannya....Dengan tiba-tiba di suatu tempat gelap yang tak jauh dan situ, terdengar suara nyaring dari tukang penjual susu tahu.
"Susu...tahu...."
Suaranya itu diucapKan dengan terputus-putus, tetapi setiap patah ucapannya seolah-olah singa yang sedang menggaum.
Cin Hong dan In-jie dengan tiba-tiba disadarkan oleh Suara keras itu, kini mereka telah melihat bahwa orang tua berjubah merah dan perempuan cantik sudah berdiri dihadapan mata masing-masing, dalam terkejutnya. keduanya lantas bergerak dan melompat mundur beberapa kaki, tangan mereka di letakkan di depan dada masingmasing, untuk menyambuti serangan lawan-lawannya.
Akan tetapi, orang tua berjubah merah dan perempuan cantik itu tampaknya Sudah tidak bermaksud untuk turun tangan lagi.
Wajah mereka semua menunjukkan sikap keheranan.
dan matanya ditunjukKan sikap keheranan.
lalu matanya ditujukan kearah jalan raya disebelah kiri mereKa mengawasi seorang tua yang Sedang berjalan lambat sambil memikul dagangannya susu tahu.
orang tua itu usianya kira-kira sudah tujuh puluh tahun, pakaiannya menunjukkan pakaian seorang pedagang kecil biasa, dipinggangnya di ikat dengan sepotong kain putih, meskipun usianya Sudan lanjut, tetapi kondisi badannya tegap gagah, hanya wajahnya saja yang sudah penuh keriput.
Dan bawah janggotnya tumbuh jenggot yang sudah berwarna putih, dilihat dari gaya dan dandanannya memang mirip dengan seorang tua pedagang SuSu tahu.
Dengan memikul dagangannya, ia lambat-lambat berjalan kedalam lingkaran delapan orang berbaju hitam berkerudung hitam, setelah itu ia meletakkan pikulannya, mengeluarkan sebuah mangkok dan sebuah sendok.
mangkok itu dipukulnya dengan sendok.
dan mengeluarkan suara trang-trangan, setelah itu ia berpaling dan tertawa kepada orang banyak.
sedang mulutnya mengeluarkan ucapan yang terputus-putus.
"Tuan...tuan...besar, pagi...hari minum...semangkok...susu tahu...bisa membangunkan...semangat..."
Suaranya itu terputus-putus, karena ia seorang tua yang mempunyai gagap bicara. Cin Hong Setelah melihat Wajah orang tua itu lantas berseru kaget.
"Empek Ie-oe, bagaimana kau pikul dadanganmu ketempat ini?"
Orang tua itu menggelengkan kepala, lalu mengkuceskuces matanya, lama ia mengawasi Cin Hong dengan tibatiba ia berseru kaget, kemudian berkata sambil bongkokkan badan dan tertawa.
"oo.. jadi kau ini...adalah. .. cin ...caicu.. .hari ini.... kau...bangun...pagi.. .sekali. .Minumlah...Semangkok susu...tahu..."
Cin Hong takut ia terlibat dalam persengketa an itu, maka buru-buru menggoyangkan tangannya dan berkata.
"Tidak. disini bukan tempatmu untuk menjUal susu tahu, Cepat kau bawa pergi daganganmu"
Dengan rasa heran dan penuh perasaan bingung In-jie memandang orang tua itu, lalu memandang Cin Hong, kemudian menarik baju cin IHong dan bertanya padanya dengan suara pelahan.
"IHei, dia itu siapa?"
"orang-orang memanggil dia empek Ie-oe Seorang tua pedagang susu dikota Han ciu"
Menjawab Cin Hong juga dengan Suara sangat pelahan.
In-jie segera teringat tadi didalam gang kecil juga terdengar Suara orang tua yang seperti suara empek Ie-oe ini, yang mengatakan tentang Siluman kalong merah, siluman rase perak dan lainnya, kini semakin dipikir, ia semakin merasa bahwa empek Ie-oe itu adalah orang yang mengeluarkan suara didalam gang tadi, maka alisnya lalu dikerutkan dan bertanya pula.
"Apakah dia mengerti ilmu silat ?"
"Kau ini memang main-main, seorang tua yang berdagang susu tahu, dengan cara bagaimana mengerti ilmu silat?"
Menjawab Cin Hong sambil tertawa. In-jie masih penasaran ia bertanya pula.
"Kalau begitu, bagaimana kau kenal padanya?"
"Suhu Setiap hari pasti membeii susu tahunya untuk diminum, lama-kelamaan menjadi Sahabat karib, maka aku juga kenal. ..."
Berkata Cin Hong.
Tetapi baru sampai disitu buru-buru sudah berkata pada empek Ie-oe Sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Empek Ie-oe, lekaslah bawa pergi daganganmu, disini bukan tempatmu untuk berdagang"
Empek Ie-oe mengeluarkan suara jawaban "oooo..."
Berulang -ulang, tetapi ia tidak bermaksud untuk pergi.
Kembali ia mengetok-ngetok mangkoknya, dan berkata pada orang tua berjubah merah dan lain2nya.
"Tuan ..
besar....apakah..
.tidak mau .
.minum semangkok....Susu tahuku?"
Sepasang mata orang tua berjubah merah itu memankan Sinar yang buas.
Dengan mata beringas memandang pedagang tahu itu sejenak dengan tiba2 ia mendongakkan kepala dan tertawa tergelak gelak.
setelah itu ia berkata/ "He.
.hee, tak disangKa didalam rimba persilatan masih ada seorang berilmu tinggi yang memiliki ilmu singa menggeram, tetapi tak diketahui oleh orang dunla, maka perjalananku malam ini ternyata tidak percuma"
Mendengar suaranya itu Cin Hong sangat heran dan Terkejut, ia berpaling dan berkata pada In-jie yang ada didampingnya dengan suara perlahan-"Nona Yo, apa tadi kau pernah dengar Suara Singa menggeram?"
"Aku tidak tahu, aku tadi seperti sedikit bingung, dengan tiba-tiba dikejutkan oleh suara guntur..."
Menjawab In jie dengan pura-pura bingung.
Cin Hong sendiri juga seperti merasakan demikian, tetapi bagaimanapun juga ia tak perCaya bahwa empek Io-oe itu adalah seorang Tokoh rimba persilatan yang mengasingkan diri sebagai pedagang susu tahu, maka ia buru-buru menghampiri empek Ie-oe, bersamaan dengan itu.
ia juga berkata kepada orang tua berjubah merah.
"LoCianpwee, kau juga Salah mengerti, empek Ie-oe ini setiap hari berdagang SuSu tahu ditempat ini, dia tidak mengerti ilmu silat"
Orang tua berjubah merah tidak menghiraukan padanya, ia berjalan menghampiri empek Ie-oe. katanya Sambil tertawa seram.
"Kawan, aku siorang tua ini Lam Kek Sin Kun In Liat Hong, hendak membeii semangkok susu tahumu"
Ketika suara Lam Kek Sin Kun Im Liat-hong itu menggema diudara, bagaikan suara guntur gemuruh. hingga mengejutkan Cin Hong. Pemuda itu lalu berpaling mengawasi In-jie, maksudnya hendak bertanya.
"Bukankah kau pernah mengatakan bahwa sepasang iblis yang menjagoi di Selatan dan Utara, salah seorang diantaranya pada, lima enam tahun berselang Sudah disekap dalam rumah penjata rimba persilatan? Dengan cara bagaimana bari ini muncul kembali ditempat ini?"
In-jie juga merasa bingung, ia menggeleng-gelengkan kepala, suatu tanda bahwa ia sendiri juga tidak mengerti.
Empek Ie-oe itu begitu mendengar ucapan Lam Kek Sin Kun meminta semangkok susu tahu, dengan segera unjukkan senyumannya yang ramah lalu membungkukkan badannya dan membuka tutup dagangannya, ia menuangkan semangkok penuh SuSu tahU yang masih panas dan dengan kedua tangan diberikan kepadanya, seraya berkata.
"Tuan besar, kau, ...kau,... .sambutlah...sambutlah ......dengan baik......"
Lam Kek Sin Kun maju selangkah, dengan kaki pasang kuda-kuda, selagi mengululurkan tangan hendak menyambut mangkuk Susu tahUnya ketika matanya mengaWasi Susu tahunya itu, dengan tiba-tiba wajahnya berubah, badan bagian atasnya bergerak beberapa kali, kakinya mundur terhuyung-huyung mulutnya mengeluarkan suara jeritan kaget.
"Susu Pakie Susu Pakie"
Sambil berteriak demikian, sekujur badannya merasa lemas, dan pelahan-lahan rubuh kebelakang.
Wajah perempuan cantik itu berubah seketika, Ia lompat maju dan membimbing bangun Lam Kek Sin Kun, Setelah itu ia angkat muka dengan Sinar mata yang beringas menatap wajah empek Ie-oe, Setelah itu ia barkata sambil tertawa dingin-"oh Kiranya adalah kau, komandan pasukan kerajaan, Pek Hong Teng"
"Aa... ."
Demikian suara saruan kaget tercetus dari mulut Cin Hong, meskipun ia belum pernah terjun didunia Kang-ouw, tetapi ketika didengar disebutnya nama Pek Hong Teng, komando pasukan kerajaan juga berseru kaget.
dengan Sikap terkejut heran, ia memandang empek Ie-oe dihadapan matanya yang dahulu dikenalnya sebagai orang tua yang berdagang susu tahu dikota Hang-ciu selama sepuluh tahun lebih lamanya.
Hingga sekarang peristiwa pencurian besar dalam istana yang dalam buku sejarah dianggap sebagai peristiwa besar yang berlangsung pada tiga puluh tahun berselang, masih terus menjadi buah tutur orang atau rakyatjelata.
Tiga puluh tahun berselang, pada Suatu malam, waktu itu tujuh manusia buas dari gunung Bu San yang namanya terkenal sebagai tokoh kuat golongan hitam dalam rimba persilatan, dengan tiba2 menyerbu Istana Kerajaan, tujuh manusia itu membunuh mati kepala pasukan pengawal Kerajaan Si Pedang Sakti tangan satu, Giam Thay Hie, lantas merampok sejumlah besar barang-barang pusaka dalam kerajaan-Akan tetapi Selagi mereka hendak keluar dari Istana, dibagian akhir selagi hendak meloloskan diri, telah berpapasan dengan seorang pengawal yang waku itu belum ada nama, dan pengawal itu hanya dengan menggunakan selembar kain putih sebaga senjata.
hanya tujuh jurus saja, dengan seCara mudah Sudah berhasil menangkap sedan jasa-jasanya itu, maka kemudian diangkat sebagai Komandan pasukan Kerajaan dan orang gagah itu adalah Pek Hong Teng sendiri orang gagah dalam rimba persilatan itu pada tahun kedua setelah menjabat jabatan tinggi sebagai kepala Komandan Pasukan pengawal kerajaan, karena garagaranya beberapa orang rimba persilatan yang sudi gawe, telah melakukan pertandingan persahabatan dipuncak gunung Hwa-San dengan tamu tidak diundang dari dunia luar yang Waktu itu merupakan seorang kuat nomor Satu dalam rimba persilatan, pertandingan itu berlangsung terus selama lima hari, pada akhirnya dalam pertandingan ilmu meringankan tubuh hanya kalah setengah oleh tamu tidak diundang dari dunia luar.
Selanjutnya ia tidak balik kembali lagi ke Istana, bahwa sejak saat itu ia terus mengasingkan diri, tidak muncul lagi dikalangan Kang-ouw.
Tak disangka ia telah mengasingkan diri dikota Hang-ciu dan menyamar sebagai tukang penjUal susu tahu, Apa yang lebih mengherankan ialah ia telah berubah menjadi seorang tua yang bicaranya tidak lancar.
Benarkah orang tua itu adalah Pek Hong Teng yang dahulu menjadi Kepala Komanda Pasukan pengawal Kerajaan?
Meng apa terus sembunyikan diri tidak muncul didunia Kang-ouw.
Dan mengapa pula ia mendapatpenyakit yang tidak bisa lancar berbicara?
Perempuan berbaju warna perak itu tidak kenal dia, tetapi mengapa begitu mendengar Lam Kek Sim Kun berteriak susu Pekie ia lantas menyebutkan namanya Kepala Komandan pasukan Pengawal kerajaan Pek Hong Teng?
Ada hubungan apa ia dengan susu pekie.
Dan benda cair yang dinamaKan Susu pekie itu barang cair apakah sebenarnya?
Sehingga orang buaS seperti Lam Kek Sin Kun yang habis minum itu lantas lemas dan tidak bisa berdiri lagi?
Berbagai pertanyaan itu terus berputaran didalam otak Cin Hong, Sementara itu tangan empek Ie-oe Sudah mengangkat tinggi sebuah mangkok yang masih mengepulkan asap dari susa tahunya yang masih panas, sedang dari mulutnya terCetus Kata yang diucapkan dengan suara tak lancar dan terputus putus.
"Aa-ha...ha-ha..didalam kolong langit ini... orang...yang dapat mengenal diriku ....dari susu pekie...... hanya dua orang saja.... satu adalah...It Hu Sianseng...To Lok.... Thian-..dan satu lagi...ia...ha-ha... .pasti. .. ia... ."
Selama bicara dan tertawa-tawa, air susu dalam mangkok ditangannya tiba-tiba disiramkan kepada perempuan cantik berbaju warna perak itu, susu tahu itu ketika bertebaran ditengah udara telah berubah menjadi gumpalan asap putih, Sebentar saja Sudah meluas seputar tiga-empat tombak persegi.
Perempuan cantik itu agaknya sudah siap siaga begitu melihat tangan empek Ie-oe bergerak.
lantas lompat mundur Sambil menarik tangan Lam kek sin kun-Bersamaan dengan itu mulutnya mengeluarkan perintah, agar semua anak buahnya lantas mundur.
Cin Hong yang masih berdiri terheran-heran, hidungnya tiba-tiba dapat mencium bau yang sangat harum.
sesaat otaknya menjadi puyeng, sekujur tubuhnya menjadi lemas, dan akhirnya jatuh terlentang ditanah tak sadar diri.
Entah berapa lama telah berlalu, Cin Hong pelahan-lahan telah sadar lagi.
orang pertama yang dilihatnya ialah empek Ie-oe yang jongkok disamping dirinya, yang kedUa ialah In-jie yang bersama-sama ia rebah terlentang ditanah.
Ia pikir lagi apa yang telah terjadi, segera teringat semua peristiwa tadi, lantas buru-bura lompat bangun.
Empek Ie-oe juga tarus berdiri, dengan wajah berseri ia bicara sambari tertawa.
"cin Caicu, kau...kau...sudah ...sadar"
Cin Hong maju menghampiri dan memegang lengannya, katanya dengan perasaan terkejut dan girang.
"Empek Ie-oe benarkah kau ini adalah Komandan Pasukan Pengawal Kerajaan yang namanya menggemparkan rimba persilatan dahulu?"
Empek Ie-oe mencibirkan blbirnya, katanya sambil tertawa.
"Sekarang ini, jikalau aku.... meng atakan bukan....bukankah. ..berarti. ..membohong , .dihadapan .mu."
Belum habis ucapannya, In-jie juga sudah lompat bangun.
Semula ia masih agak sempoyongan, tetapi kemudian ia mengeluarkan jeritan kaget, lantas ia menarik diri cin IHong seraya bertanya.
"IHei, apakah kita tadi pernah pingsan?"
Cin Hong menganggukan kepala, melepaskan tangannya yang memegang lengan empek Ie-oe, kemudian ia bertanya.
"Empek Ie-oe, yang dinamakan susu pekie itu barang apa? Meng apa demikian lihay ?"
Empek Ie-oe mengambil pikulannya ditanah setelah itu ia menjawab sambil tertawa tergelak.
"Itu adalah racun....yang paling lihay..,.dan paling berbisa....didalam dunia...
RaCun itu...adalah.
.terbuat dari resep rahasia...suhuku"
Cin Hong tampak orang tua itu seperti hendak pergi, buru-buru ditariknya, seraya berkata.
"Kenapa, apakah kau mau pergi?"
Empek Ie-oe menyahut "Emh"
Sambil menganggukkan kepala, setelah itu ia memikul barang dagangannya sambil berkata dan tertawa.
"Benar....kau . juga..,harus ...lekas..,pergi?"
"Tidak, tidak. Ada banyak hal aku hendak minta keterangan darimu."
Berkata cin IHong Sambil menggoyangkan tangannya.
"Tidak...ada ...waktu"
Berkata Empek Ie-oe sambil menggelengkan kepala.
"Aa. .kenapa? Apakah kau masih hendak dagang susu tahumu lagi ?"
"Bukan-MakSudku,... ialah ..,hendak meng atakan-.,.. bahwa kalian-..Sudah tidak ada waktu...untuk dengar.-.lagi"
Berkata Empek Ie-oe Sambil menggelengkan kepala. Cin Hong heran, tanyanya "sebab apa kita tidak ada waktu untuk mendengar lagi ?"
Wajah berseri empek Ie-oe lenyap seketika dengan sikap serius berkata Sambil menunjuk kearah barat.
"Lekas.-.lekas. .susul suhu... kalian berdua..Jikalau suhumu. ..kembali... jangan biarkan mereka pergi...kerumah penjara rimba persilatan-..pergi menantang...penguasa rumah penjara... rimba persilatan-. Karena itu...adalah....akal muslihat dan rencana keji...orang-orang golongan kalong."
"Rencana jahat apa?"
Bertanya Cin Hong terkejut Empek Ie-oe mengerutkan sepasang alisnya. katanya dengan suara berat.
"Panjang sekali... ceritanya.... kalian-. .pergi susul...mereka dulu....dan kalau sudah kembali....nanti kita...bicarakan lagi "
Cin Hong merasakan bahwa empek Ie-oe saat itu seperti sudah berubah menjadi orang lain, tidak seperti biasanya yang ramah-tamah dan suka berCanda, tetapi ia juga merasakan bahwa persoalan ini mungkin penting sekali, waktu itu maka ia tak berani ayal lagi, Setelah memberi hormat kepadanya, lalu menarik tangan In-jie dan lari keluar kota.
Pada saat itu sudah terang tanah, mereka lari hampir sampai dibawah tembok kota, orang yang berjalan hilir mudik semakin banyak.
maka tidak dapat menggunakan ilmunya meringankan tubuh, ia lalu berunding dengan Injie.
akhirnya Cin Hong pergi kepasar kuda untuk membeli dua ekor kuda, lantas dengan kuda tunggangan mereka lari keluar dari kota.
Diwaktu petang hari itu juga , mereka sudah masuk ke kota cin ciu, ln-jie yang melakukan perjalanan sehari penuh, sudah lama perutnya merasa lapar, maka ketika masuk kedalam kota dan tampak banyak rumah makan, semakin tidak tahan laparnya, dengan Wajah yang agak murung ia berkata.
"Hei, perutku sudah lapar, mari kita pergi makan dulu"
Cin Hong sendiri juga sudah merasa lapar maka ia menerima baik permintaan gadis itu dan lompat turun dari atas kudanya.
Keduanya memaSuki rumah makan yang cukup besar, mereka naik keatas loteng.
Dan baru saja memilih tempat duduk.
dibawah loteng tiba-tiba terdengar suara orang ribut-ribut, dua orang itu lalu melongok ke bawah, tampak didepan pintu rumah makan, seorang pelayan sedang ribut mulut dalam keadaan marah terhadap seorang pengemis.
pelayan rumah makan itu memaki pengemis muda sebagai seorang yang tidak tahu diri, sedang pengemis muda itu memaki pelayan sebagai seorang yang tidak pandang mata orang.
Satu sama lain tidak mau mengalah, hingga menimbulkan kericuhan.
Usia pengemis itu kira-kira delapan belas sembilan belas tahunan, sepasang matanya gede bundar, rambutnya awutawutan, mukanya mesum, badannya mengenakan pakaian kain kasar hitam, pakaian itu juga sudah dekil dan banyak tambalan, tampaknya memang benar-benar Seorang pengemis yang biasa suka berlaku ugal-ugalan-Selagi mulutnya memaki-maki kalang kabut tiba-tiba angkat mukanya yang mesum, tangannya menunjuk Cin Hong yang melongo diatas loteng.
lantas berkata lagi kepada pelaya rumah makan.
"Kau lihat diatas loteng itu. Mereka orang itu adalah orang-orang yang kumaksudkan apa kau kira aku membohongi kau?"
Pelayan rumah makan itu juga angkat muka dan mengawasi Cin Hong, lalu bertanya dengan perasaan terheran-heran-"Tuan. apakah Tuan dan nona berdua kenal dengan pengemis ini?"
Cin Hong melihat urusan itu dengan tiba-tiba menyangkut dirinya, sesaat merasa seperti diguyur air dingin, ia lalu menjawab Sambil menggelengkan kepala.
"o tidak Aku tidak kenal dengannya"
Pelayan rumah makan itu dengan bernafsu berkata kepada Cin Hong dengan suara nyaring.
"Tuan dan Nona lihat sendiri, coba pengemis ini benar-benar kurang ajar atau tidak. Aku memberinya uang, ia tidak mau. Kuberi nasi untuk makan, ia juga tidak mau, ia bersikeras minta supaya Tuan dan Nona mengundangnya makan bersamasama. Dimana ada orang minta-minta yang demikian tak tahu diri? Benar-benar kurang ajar"
Cin Hong juga merasakan bahwa ucapan pelayan itu memang benar, maka ia lantas mulai memandang lebih lama pada pengemis muda jtu.
Wajah pengemis muda itu Sedikirpun tidak merasa malu, ia angkat lagi mukanya yang mesum, sepasang matanya yang gede dipicingkan, mulutnya mencibir, dengan sikap gagah-gagahan seolah-olah mau mengatakan.
"Kau mau lihat, lihatlah sepuasmu."
In-jie juga merasa dongkol. Sambii menarik tangan Cin Hong berkata.
"Inilah pengemis yang mencari gara-gara, nari kita turun dan hajar padanya"
Cin Hong yang tidak mempunyai kebiasaan berkelahi dengan orang, di samping itu ia juga rasa bahwa perbuatan itu agak aneh pasti ada sebabnya, maka lalu memberi hormat padanya dan berkata.
"Saudara ini Siapakah namamu?
Kau dengan kami belum Pernah kenal, ada urusan apa kau mencari aku?"
Pengemis muda itu mendongakkan kepala memandang ke angkasa, Wajahnya menunjukkan sikap sangat serius. dengan Suara lambat ia balas bertanya.
"Aku hendak bertanya padamu dulu, kau ini benarkah seorang yang disebut sebagai CayCu daerah Kang Lam yang terkenal sebagai pelukis mahir bernama Cin Hong?"
Cin Hong diam-diam terkejut, buru-burujawabnya.
"Benar, Saudara ada keperluan apa?"
Pengemis muda itu lalu mendelikkan matanya kepada pelayan rumah makan, katanya dengan sikap jumawa.
"Aku sebetulnya hendak minta tanya padamu, slapa sangka pelayan itu matanya terlalu tinggi, tak pandang orang bawahan, sampai matipun ia tidak izinkan aku naik keloteng-Kaa lihat bagaimana baiknya?"
Pelayan ramah makan itu merasa pernasaran, selagi hendak memberi penjelasan, Cin Hong Cepat goyangkan tangannya, mencegah ia membuka mulut, lalu berkata kepada pengemis muda yang mesum itu.
"Sekarang aku sudah disini. kalau saudara ingin bicara apa-apa, katakanlah saja"
Pengemis muda itu mengeluarkan Suara dari hidung, kemudian berkata sambil meraba-raba perutnya dan mengkedip-kedipkan matanya.
"Tadi aku Sudah ribut-ribut setengah harian, hingga perutku juga sudah menjadi lapar, bagaimana aku masih ada tenaga untuk bicara lagi?"
In-jie yang merasa tak sabar. lantaS menarik mundur Cin Hong, kemudian ia berkata.
"Benar saja seorang yang hendak menipu makan-Kau jangan hiraukan dia"
Dalam hati Cin Hong memeng juga mendongkol, ia telah mengambil keputusan hendak minta penjelasan lagi, maka lalu mendorong tangan In-jie dan berkata sambil tersenyum.
"Apakah Saudara Sudah lapar?"
Dengan sikap jumawa, pengemis muda itu menganggukanggukkan kepala.
seolah-olah bahwa perutnya yang lapar itu harus ditanggung oleh Cin Hong.
Cin Hong tersenyum, la mengeluarkan jari tangannya menunjuk kejauhan sebelah kanan, katanya dengan suara pelahan.
"Kalau begitu kuperkenalkan kepada saudara kesuatu tempat, dari sini kau berjalan terus setelah tiba dijalan perempatan, lalu membelok kekanan, disana ada sebuah rumah makan yang paling terkenal dikota ini, Saudara makan kenyang dulu, barulah kita nanti bicara lagi"
In-jie tidak menduga bahwa Cin Hong demikian licin, maka ketika mendengar ucapan itu dalam hati meraSa senang, lantaS tertawa Cekikikan.
Wajah pengemis muda itu lantas merah, kemudian perdengarkan suara tertawa nyayang dingin dan berkata Sambil menganggukkan kepala.
"Baik Rumah makan cianghong-kok didalam kota cing-ciu ini memang sangat terkenal dengan hidangannya yang lezat, biarlah aku makan kenyang dulu, aku nanti akan balik kembali. Hanya, aku hendak periksa dulu dalam sakuku ada uangnya atau tidak."
Setelah berkata demikian, tangannya dimasukkan kedalam sakunya dan meraba-raba Cukup lama, dengan tiba-tiba mengeluarkan sepucuk surat yang kemudian dibaCanya, kemudian berkata dengan suara girang.
"Ya Baiklah aku menggunakan surat ini untuk kutukar dengan makananku, rasanya tidak akan dia lari"
Sehabis berkata demikian, lalu masukkan suratnya kedalam Sakunya, setelah itu ia lantas berlalu.
Cin Hong yang memiliki pandangan mata sangat tajam, sampul surat itu ternyata tampak tulisan tangan suhunya, dalam hati terkejut, maka buru-buru memanggilnya Sambil menggapaikan tangannya.
"Saudara silahkan kembali"
Pengemis muda itu menghentikan langkahnya, dengan pelan berpaling, ia membereskan dulu rambutnya yang tidak karuan. kemudian berkata sambil tertawa dingin.
"Untuk apa?"
Dengan paras berseri Cin Hong berkata sambil memberi hormat.
"Silalahkan naik keatas"
Pengemis muda itu pura-pura bersikap tidak mengerti. ia bertanya.
"Untuk apa naik keatas loteng?"
"Undang kau makan"
Berkata Cin Hong sambil tertawa. PengemiS muda itu unjukkan sikap angkuh, katanya sambil menggoyangkan tangannya.
"Tidak. hidangan rumah makan ini tidak selezat hidangan rumah makan ciang-hong-kok, aku sekarang hendak makan disana saja."
Cin Hong berulang-ulang memberi hormat kepadanya, dan berkata sambil tertawa.
"Ya, ya, hanya rumah makan ciang-hong-kok itu tiap harinya penuh tamu, tiada ada tempat yang kosong. harus menunggu wakru lama sekali baru mendapat giliran. Bolehkah saudara mengalah sedikit, lain kali kalau ada waktu kita kesana lagi. saudara pikir bagaimana?"
PengemiS muda itu mungkin seorang rakusan mendengar ucapan itu diwajahnya terlintas suatu perasaan girang, ia meleletkan lidah, benar seperti menelan air liurnya sendiri.
Setelah itu jalan kembali dengan langkah pelahan-lahan.
Tetapi ketika ia berpaling dan melihat sikap In-jie seperti tidak senang, sesaat itu kembali unjukan sikapnya yang jumawa, katanya dengan suara yang nyaring.
"Tidak jadi, aku sipengemis ini Sekalipun seaorang rakus, tetapi juga tidak suka melihat sikap orang yang tak senang, maka aku tidak jadi naik keloteng."
Cin Hong diam-diam merasa Cemas, ber-ulang2 kali ia memberi isyarat dengan lirikan mata pada In-jie, minta supaya ia tertawa, In-jie terpaksa pura-pura bicara Sambil tertawa.
"Ya sudah, anggap saja seorang hebat, silahkan naik."
PengemiS muda itu kini tampak sikapnya seperti seorang yang mendapat kemenangan.
ia angkat bahunya.
dengan langkah lebar berjalan naik keloteng rumah makan itu.
Cin Hong menarik tangan In-jie, berjalan menuju ketangga, untuk menyambut kedatangannya, Setelah itu mereka berada dikanan kiri pengemis muda itu, mengajak tamu gembel itu duduk dimeja tadi.
Cin Hong menyerahi Cawan tehnya yang belum diminum pada pengemis itu dengan sikap sangat menghormat, katanya sambil tertawa.
"Saudara. silahkah minum teh dulu "
Pengemis muda itu juga tanpa sungkan2 mengambil Cawan teh itu dan diminum sampai kering. kemudian melihat kesana kemari baru berkata dengan suara heran.
"Eh, dimana pelayannya? Apa sudah mampus semua ?"
Cin Hong buru-buru menepuk tangan, memanggil pelayan-Seorang pelayan dengan terbirit-birit lalu naik keatas loteng, berkata sambil minta maaf.
"Maaf.
Tuan-tuan dan nona-nona hendak minum arak dan hidangan apa ?"
Cin Hong lalu berkata pada pengemis muda sambil tertawa.
"Saudara kau hendak makan apa dan minum arak apa?"
Pengemis muda itu dengan sikapnya yang angkuh menyebutkan beberapa nama hidangan yang lezat dan banyak sekali jumlahnya. Cin Hong segera berkata sambil mengulapkan tangannya pada pelayan.
"Dengar tidak? Lekas siapkan"
Pelayan itu menerima baik, dengan sikap curiga memandang pada pengemis muda, sejenak baru meminta diri dan turun kebawah.
In-jie melihat pelayan sudah berlalu, lantas berkata pada pengemis muda itu sambil tertawa.
"Hei, sekarang kau boleh menyerahkan surat itu pad aku?"
Pengemis muda itu berpikir dulu sejenak. lalu berkata sambil menggelengkan kepala.
"Tidak bisa. jaman sekarang ini tidak bisa dibandingkan dengan jaman dulu, aku si pengemis ini tak boleh tidak harus berlaku hati-hati nanti setelah perutku sudah kenyang barulah kukeluarkan"
In-jie berlaku pura2 tidak sabar, unjukkan senyum getir, dengan tiba-tiba seperti teringat sesuatu ia mengeluarkan suara kaget dan berpaling kepada Cin Hong "Hai, mengapa kau lupa pesan kepada pelayan?"
Cin Hong terkejut, tanyanya dengan perasaan bingung.
"Aku lupa, pesan apa?"
In-jie bangkit dan berjalan kedampingnya, lalu ber-bisik,. ditelinganya.
"Kau pegang erat-erat badannya, blarlah aku yang merampas suratnya."
Cin Hong mengerutkan alisnya, sebentar berpikir, dan akhirnya menggelengkan kepala sambil tersenyum, In-jie dengan perasaan tidak senang memandang kepadanya, kemudian berkata lagi ditelinganya.
"Dengan Cara begini kita harus selalu menuruti kehendaknya, maka kita harus berusaha menghajar adat padanya."
Cin Hong menggelengkan kepala, juga berbisik ditelinganya.
"Sudahlah, dari jauh ia mengantar surat Suhu datang kemari, dengan sesungguhnya kita juga harus mengundang dia makan sekali... ."
Pengemis muda itu ketika melihat mereka berbisik-bisik, matanya yang besar berputaran beberapa kali dengan tibatiba dari tempat duduknya, dan lantas lari menuju ketangga loteng hendak turun.
Cin Hong terperanjat, buru-buru lompat kehadapannya sambil menentang kedua tangannya untuk merintangi perjalanan pengemis itu, katanya.
"Saudara, kau hendak kemana?"
Pergemis itu masih berusaha hendak kabur, sedang mulutnya berteriak-teriak.
"Aku can Sa Ji ejika tidak kabur bukan saja tidak jadi makan, bahkan hendak mendapat kesulitan"
Bagaimanapun juga Cin Hong tidak mengijinkan dia turun kebawah, ia terus menghadang dihadapannya dan berkata dengan wajah berserk "Saudara telah salah paham, dia bukan hendak menyusahkan kau, dia hanya berkata...."
In-jie buru-buru menyambungnya.
"Aku tadi berkata padanya, bahwa kita tadi sudah lupa pesan kepada pelayan agar hidangannya di beri lombok yang pedas"
Pengemis itu menghentikan usahanya hendak kabur, lantas berpaling dan berkata kepada In-jie sambil tertawa.
"Benarkah? oh, nonaku yang baik, aku can Sa Jie barang kali karena sudah kelaparan sehingga daya pendengaranku sudah menjadi kabur."
Wajah In-jie kemerah-merahan, kemudian berkata.
"Baiklah Aku tidak akan menyulitkan kau, harap kau duduk kembali"
Tak lama kemudian pelayan Sudah naik ke ataS loteng dengan membawa hidangan yang dipesan pengemis muda itu menggulung lengan bajunya, tanpa bicara apa-apa lantas mulai menyerbu hidangan, tangan kiri memegangi Cawan arak sedang tangan kanan mengambil sepotong panggang ayam dan dimakannya sambil tertawa.
Cin Hong dan In-jie duduk dikedua sisinya mengawani dia makan-Melihat Caranya makan yang demikian rakus, In-jie yang tidak Sabar lantas tertawa geli.
Pengemis itu masih tidak menghentikan mulutnya, ia menggelengkan kepala dan mengeluarkan suara yang tidak jelas.
"Tidak Seorang lakl-laki kalau makan harus demikian-"
"Saudara, aku masih belum menanyakan namamu,"
Berkata Cin Hong sambil tertawa.
"Aku tadi sudah tanya namamu, begitupun sudah menyebutkan namaku sendiri"
Berkata pengemis muda itu. In-jie merasa geli, lalu bertanya kepadanya sambil tertawa.
"Apakah namamu itu can Sa Jie?"
Can Sa Jie mnganggukkan kepala dan berkata.
"Benar, aku kalau dibanding dengan suhumu can Sa Sian lebih suka makan, oleh karena itu maka orang-orang rimba persilatan lantas memberikan hadiah nama kepadaku can Sa Jie, sedangkan namaku yang sebenarnya sudah tidak ada orang yang mengetahui lagi, sebetulnya tak ada she dan nama, itulah yang paling baik dalam dunia ini banyak orang-orang pandai tokoh-tokoh kuat, semua tidak suka menggunakan nama aslinya kepada orang, mereka paling suka berlaku misieri.."
Cin Hong dan In-jie ketika mendengar itu semua pada terkejut, tanyanya.
"HaaaJadi kau ini murid PangCu golongan pengemiS ca-sa-sian Sle Kwan?"
Can Sa Jie mengangguk-anggukkan kepala karena saat itu ia sedang menjejalkan sepotong paha ayam sedalam mulutnya, maka tidak bisa menjawab.
"can Sa Jie, dengan Cara bagaimana kau bisa mengenali kita?"
"Suhumu telan menduga pasti bahwa kalian berdua pasti bisa mengejar kemari, maka ia pernah menceriterakan wajah dan dandanan kalian suruh aku perhatikan setiap orang disepanjang jalan-. ."
Sepasang mata In-jie berputaran, ia menarik kursinya dan mendekati pengemis itu, berkata dengan sikap ramah tamah.
"can Sa Jie, sekarang kau toh Ssdah boleh memberikan Surat itu kepada kita"
Can Sa Jie masukan tangannya kedalam saKunya, dan mengeluarkan sepucuk Surat, diberikan kepada Cin Hong, kemudian sisa paha panggang ayamnya yang masih belum habis dimakan, diletakan disamping dan menyantap hidangan yang lainnya lagi.
Cin Hong yang mendapat surat itu setelah menerima benda pusaka, dengan Cepat dibukanya, sedang In-jie juga buru-buru mendekatinya, keduanya membaCa bersamasama.
"Hong-jie. Tadi ma lam Suhumu dan Subomu setelah pergi mengejar musuh. Sebetulnya hendak kembali, tetapi kemudian berpikir antara kita. Suhu dan murid sebaiknya berpisah dulu seCara begini, dimana letak sebabnya, suhumu tidak ingin menceritakan padamu. Aku perCaya bahwa kau jaga bisa menduga sendiri. Biarpun bagaimana, kau toh sudah dewasa, apa yang Suhumu dapat berikan, juga sudah kuwariskan semua kepadamu. sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk menggembleng dirimu sendiri, juga sudah tiba waktunya bagimU untuk mengembangkan kepandaianmu sendiri Dua tahun paling akhir ini suhumu Selalu memikirkan hendak menceritakan asul-usul dirimu, tiap kali ucapan itu kalau sudah dibibir, akhirnya kubatalkan lagi, bukan lantaran malas, melainkan tidak tega bathinmu nanti akan menderita, kau tahu bahwa suhumu belum pernah mengakui bahwa penghidupan manusia itu adalah lautan kesusahan, oleh karena itu maka suhumu seumur hidupnya tak mau menerima kesusahan, juga tak Suka melihat orang lain mendapat kesusahan-...Kali ini, Jikalau bukan karena kedatangan subomu, Suhumu masih hendak tetap menebalkan muka untuk hidup terus, menebalkan muka yang suhumu maksud seharusnya merupakan pandangan orang lain terhadap Suhumu, sedangkan Suhumu selamanya belum pernah menganggap bahwa tidak pergi ke rumah perjara rimba persilatan menantang penguaSa rumah penjara rimba persilatan merupakan suatu perbuatan yarg memalukan. Kenapa? Sebab meskipun suhumu setiap hari malam Senantiasa bertekun mempelajari ilmu untuk mencari kemajuan, tetapi masih tahu benar bukanlah tanda tangan penguasa rimba persilatan-Jika pada suatu hari Suhumu biSa menyambuti serangannya tiga jurus pukulan mautnya bisa menolong keluar lima orang, tetapi suhumu tidak pergi, itulah baru merupakan Suatu hal yang memalukan Meskipun demikian, suhumu Selama itu toh masih terus berlatih sabar, inilah sesungguhnya yang sangat lucu, kalau perlu diberi keterangan hanya cukup dengan sepatah kata. itulah penghidupan Enam bulan kemudian, apalagi suhumu belum kembali ke kota Hang-ciu, kau boleh pergi menengok ke rumah penjara, waktu itu, Suhumu nanii akan menceritakan asal usul dirimu... .Akhirnya tak perduli kau dengan Yo itu cocok atau tidak, bagaimana juga kau harus baik2 menjaganya, sebab dia adalah murid satu2nya dari Subomu, juga adalah golongan keturunan dari Thian San cit-tlong Wie. -Surat ini kutulis di kota Liok Peng dan kuberikan kepada can Sa Jie untuk menyampalkan kepadamu. Lagi, ada satu hal aku lupa memberitahukan kepadamu, tadi malam setelah kita berhasil menyandak orang itu, dari sikap dan pembicaraan orang itu, suhumu merasa curiga bahwa orang itu betul atau tidak anak buahnya penguasa rumah penjara rimba persilatan-Hal itu setelah nanti kita tiba di gunung Tay-pa-San barulah akan mendapatkan buktinya, sebabnya Suhumu menyebutkan hal ini adalah untuk memperingatkan Kau, orang-orang dunia kang-ouw terlalu jahat dan berbahaya, dikemudian hari apabila kau berkelana didunia kang-ouw haruS hati-hati dan senantiasa waspada terhadap orangorang seperti itu. Terakhir ialah, ada satu hal anak kunci emas dengan tanda hUruf Liong yang tergantung di leh ermU itujangan sekali-kali kau tunjukkan kepada siapapun juga Sebab Jika kau nanti pergi menegok ke rumah penjara rimba persilatan, akan suhumu beritahukan lagi kepadamu."
Sehabis membaca, dua kepala diangkat pelahan-lahan saling berpandangan, air mata mengalir turun dikedua pipi orang muda itu....
can Sa Jie mengerlingkan matanya, tampak mereka mengucurkan air mata, semakin lama perasaannya semakin tidak enak.
Dengan tiba-tiba ia menggebrak meja dan berkata.
"Nangis? Mengapa menangis? Kepala boleh putus, darah boleh mengalir, hanya air mata jangan mengucur. Aku ingat, sewaktu suhuku tahun lalu mengambil keputusan hendak berkunjung kerumah penjara rimba persilatan untuk menantang pertempuran, sebelum berangkat suhu petnah bertanya kepadaku. can Sa Jie, suhumu mau pergi, kau menangis atau tidak? coba kalian tebak. apa jawabku?. Waktu ini aku menjawab. .Menangis apa? Aku can Sa Jie hanya bisa mengalirkan air liur, tidak bisa mengucurkan air mata. Suhu, kau mau pergi boleh pergi, tunggu aku can Sa Jie sesudah yakin boleh tidak usah memakai belengu tangan dan kaki...sesudah yakin bisa mencari makan yang baik. barulah nanti akan mengawani suhu duduk didalam rumah penjara. coba kalian lihat betapa gagah sikap itu? Betapa... ."
In-jie mendengarkannya merasa sangat muak. lantas angkat muka dan membentak padanya sambil menunjuk mukanya.
"Jangan sombong, aku hendak tanya padamu, Suhuku menyampaikan pesan padamu untukku atau tidak?"
Biji mata can Sa jie berputaran beberapa kali, kemudian menjawab sambil menggeleng kepala.
"Tidak ada "
Air mata In-jie kembali mengalir keluar, katanya dengan perasaan keCewa.
"Benarkah tidak ada?"
"Tidak, ya tidak ada, bagaimana masih ada benar atau bohong? Hm."
Berkata can Sa Jie mendongkol. In-jie naik pitam, ia bangkit dan mengambil poci arak diatas meja, lantas berkata Sambil tertawa dingin.
"Baik sekarang giliran hendak menghajar kau anak busuk ini-"
Can Sa Jie melihat poci araknya dirampas, tetapi sikapnya masih acuh tak aCuh.
Sebaliknya dengan tangan kiri ia mengambil Cawan arak dan sodorkan kepada In-jie seraya berkata sambil tertawa cengar-cengir.
"Nona muda, tolong tuangkan seCawan arak untukku."
Sepasang alis In-Jie berdiri, ia angkat poci araknya, selagi hendak digunakan untuk menyambit, tetapi kemudian dengan tiba-tiba wajahnya berubah, poci ditangannya dengan tiba-tiba diletakkan kembali, ia berdiri tertegun tidak tahu bagaimana harus berbuat.
Sebab Saat itu ditangan can Sa Jie ternyata terdapat sepucuk surat itu tampak tegas tulisan yang dialamatkan untuk In-jie.
Dengan tangan kiri masih memegangi Cawannya tanpa bergerak.
tangan can Sa Jie menggunakan sampul surat itu mengipasi dirinya, lalu dengan sikap sombongnya berkata.
"Nona muda, kau dengar atau tidak? Aku can Sa Jie minta tuangkan arak,"
In-jie sangat girang, tapi iuga malu. Ia berdiri dan berpikir sejenak terpaksa mengangkat lagi pocinya dan menuangkan araknya kedalam Cawan yang ada ditangan can Jie, lalu berkata Sambil tertawa.
"orang toh bicara main-main denganmu, sebetulnya kau adalah tamu kita, sudah seharusnya Kalau kutuangkan arak untukmu."
Can Sa Jie membuka mulutnya dan tertawa tergelak. sambil minum lalu memberikan Suratnya pada In-jie seraya berkata dan tertaWa.
"Kuberitahukan padamu, aku can Sa Jie bukan hanya itu saja, Jika kau mau main nakal Silahkan"
In-jie tidak menghiraukan, buru-buru membuka suratnya, diataS Surat itu tertulis dengan kata-kata.
"In-jie, dalam surat Supekmu yang ditujukan pada bocah itu ada banyak perkataan justru apa yang suhumu ingin sampaikan padamu. oleh karena itu suhumu juga tak perlu menulis banyak-banyak lagi. Hanya ada satu hal kulihat bocah itu walaupun orangnya dan kepandaiannya tak tercela, sayang sedikit agak nakal, kau harus hati2 terhadapnya, Jika belum tahu benar2 bahwa dia itu dapat dipercaya, kau jangan memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan sesuatu darimu, supaya kau jangan mengulangi riwayatku lagi. Ingatlah baik2... .Disamping itu kalau bocah itu hendak datang kermah penjara, kau suruh dia membawa lukisan potretmu yang dia lukis, Supaya disampaikan padaku, Sebab aku khawatir dalam hidupku ini tak akan bisa berjumpa lagi denganmu, maka aku mengharap agar gambar potretmu senantiasa berada disisiku, agar supaya setiap saat aku bisa melihat kau, untuk menghilangkan kesepianku dan menghibur perasaan rinduku. Dari Suhumu, Thian-san Swat Popo ,"
In-jie sehabis membaca surat itu, mengingat bahwa dalam hidupnya barang kali takkan bisa berjumpa lagi dengan Suhunya dan mengingat pula nasib dirinya yang mengenaskan, maka kembali ia menangis dengan sedihnya.
Cin Hong melihat In-jie menangis begitu sedih ditempat umum, sesungguhnya merasa tidak enak maka buru-buru menghiburnya.
"Nona Yo, kau jangan nangis, ucapan Saudara can Sa Jie tadi betul. Seorang lelaki kepala boleh putus, darah boleh mengalir."
Akan tetapi dengan tiba-tiba ia sadar bahwa In-jie bukanlah seorang lelaki. Maka buruburu dirubahnya.
"Kau jangan menangis, jika kau terlalu sedih bagaimana kalau nanti mendapat Sakit?"
In-jie mendengar ada orang menghiburi, menangis semakin Sedih, air matanya mengucur deraS, Suara tangiSnya yang menyedihkan itu tak mau berhenti.
Cin Hong melihat semua tamu diatas loteng itu menujukan pandangan matanya kearah dirinya, maka ia meraSa malu, diam-diam pikir bahWa sebab musababnya dari surat Swat Popo tadi maka kemudian berkata.
"Nona Yo, boleh kah kubaCa suratmu tadi?"
In-jie terperanjat, buru-buru masukkan surat itu kedalam sakunya sendiri, dan berkata sambil menggelengkan kepala.
"Tidak... .tidak... ."
"Melihat saja apa Salahnya"? Suratku toh, Kau juga boleh lihat."
Berkata Cin Hong dengan rasa heran.
can Sa Jie mengetok mangkoknya dengan sumpit, lantas berkata sambil memperdengarkan suara tertawanya yang aneh.
"Jangan lihat lagi.
aku tahu apa yang terlulis dalam Surat itu"
In-jie kembali terperanjat, ia angkat mukanya yang berlinang air mata, katanya sedih.
"Tak tahu malu kau mencuri baCa surat orang lain"
"Kau mengaco Kau pandang can Sa Jie ini orang maCam apa?"
Baca Juga: Keajaiban Negeri Es 1
Baca Juga: Pedang Gadis Yueh Jin Yong