Ceritasilat Novel Online

Tangan Berbisa 2

Eps 2 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.

Kata can Sa Jie marah.

"Jikalau tidak. dengan Cara bagaimana kau bisa mengetahul?"

Berkata In-jie dengan suara Keras.

"Aku adalah dengar dari keterangan suhumu sendiri, di waktu ia menulis Surat itu, ia pernah berunding dengan Ithu Sianseng."

Berkata can San Jie sambil tertawa.

"Sudah..Jangan bicara lagi"

Berkata In-jie dengan wajah kemerah-merahan.

"Kalau tidak menangis, aku juga tidak berkata lagi."

Kata canJie sambil tertaWa.

In-jie benar saja tak berani menangis lagi, ia mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka air matanya.

sikapnya agaknya sangat menurut perkataan can Sa Jie.

Cin Hong merasa heran, maka lalu bertanya.

"Nona Yo, apakah sebetulnya?"

In-jie hatinya Cemas ditanya demikian, kembali menjadi marah, sambil menggigit bibir berkata.

"Kau ini demikian bawel."

Dengan tanpa sebab Cin Hong di damprat demikian, terpakaa diam dan menundukkan kepalanya, dalam hatinya merasa tak senang, ia pikir gadiS ini memang Cantik, hanya adatnya suka menuruti Kemauan sendiri.

In-jie juga merasakan bahwa perbuatannya tadi agak keterlaluan, maka ia lantas mendekati Cin Hong dan berkata dengan suara pelan?

"Hei, apakah kau marah?"

"Aku akan pinjam ucapan empek Ie-oe,jikalau aku mengatakan tidak marah, bukankah itu berarti membohongi didepan matamu?"

Berkata Cin Hong sambil tertawa hambar.

Mata In-jie menjadi merah, ia menundukkan kepala, tidak berkata apa-apa lagi.

can Sa Jie bangkit dari tempat duduknya menepuk-nepuk bahu Cin Hong seraya berkata.

"Jika kau sudah mengenali keadaan dalamnya, tidak seharusnya kau marah terhadapnya"

In-jie menjadi gugup, kembali membentak dengan suara keras. can Sa Jie meleletkan lidahnya, sikapnya menunjukkan bingung, katanya dengan perlahan.

"Jangan mengucapkan perkataan demikian keras, banyak orang semua pada memandangmu"

In-jie coba melirik, benar saja semua tamu yang ada disitu, tujukan pandangan mata kepada dirinya, sambil tersenyum simpul, maka Saat itu sangatlah malu terhadap dirinya sendiri, hingga pipinya menjadi merah.

Diam-diam menarik baju Cin Hong dan berkata.

"Hei mari kita lekas pergi"

"Kau jangan terburu-buru. Kita toh masih belum makan?"

BerKata Cin Hong sambil tersenyum. In-jie terpaksa duduk kembali, namun perasaannya masih tidak enak. katanya.

"Aku sudah kenyang. Lekas jalan"

Can Sa Jie yang mendengar upapan In-jie yang hendak pergi, buru2 mengambil sumpitnya menyantap makanannya lagi dengan lahapnya, sambil makan ia bertanya.

"Kalian hendak kemana?"

"Siaote sekarang perlu lekaS pergi menyusul Suhu, dan minta Suhu Supaya pulang. sekarang aku terpakSa tidak dapat mengawani saudara lagi."

Can Sa Jie menghentikan makannya, ia bertanya dengan mata terbuka lebar.

"Bagaimana kau sebaliknya hendak menyusul mereKa dan mengajak pulang?"

Cin Hong lalu menceritakan akal mus lihat orang-orang.

golongan kalong yang menggunakan nama penguasa rumah penjara rimba persilatan, mengirim surat kepada Suhunya dan suhu In-jie, kemudian tanpa disengaja telah muncul empek Ie-oe yang memukul mundur musuh-musuh yang terdiri dari orang-orang golongan kalong.

oleh empek Ie-oe itu diceritakan bahwa orang-orang yang mena makan dirinya dari golongan kalong itu mempunyai rencana keji, dan perasaan kepada dirinya, agar supaya lekas menyusul Suhunya.

can Sa Jie terheran-heran mendengarpenuturan itu, ia berpikir sambil menggaruk-garuK kepalanya yang tidak gatal, kemudian bertanya.

"Heran, di rimba persilatan muncul partay baru yang menamakan diri partay kalong bagaimana kita orang-orang golongan pengemis tidak mengetahui hal itu?"

"Mereka berdiri belum lama, seorang tokoh golongan iblis yang ternama, ialah Lam-khek sin-kun Im Liat Hong, telah menjadi anggauta pelindung hukum mereka, dapat kita bayangkan, partay baru yang mena makan dirinya partay kalong itu, pangcunya pasti merupakan seorang yang sangat lihay."

Berkata Cin Hong Sambil menggigit bibir.

"Lam-khek sin-kun itu bukankah sudah disekap dalam rumah penjara rimba persilatan? Dengan cara bagaimana ia bisa lari keluar?"

Bertanya can Sa Jie semakin heran-"Aku tidak tahu, mungkin ia menantang bertempur kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan, karena Sudah berhasil bisa menyambut tiga jurus pukulan maut penguasa rumah penjara maka boleh keluar dari penjara.

Dan mungkin juga pang cu dari golongan kalong itu yang pergi menantang bertempur, dan kemudian menolong dia keluar.

..."

"Pada deWasa ini kecuali tamu tidak diundang dari dunia luar yang mungkin masih sanggup menyambut serangan tiga pukulan maut penguasa rumah penjara, siapa lagi yang mempunyai kekuatan dan kepandaian yang demikian tinggi?"

Berkata can Sa Jie yang merasa Curiga. In-jie yang mendengar sudah meraSa tidak sabaran, dengan menarik-narik tangan Cin Hong, ia mendesak.

"Mari lekas pergi, Suhu barangkali sudah pergi jauh sekali."

Cin Hong menganggukkan kepala dan bangkit daritempat duduknya, ia memanggil pelayan untuk memperhitungkan harga pesanan makanannya.

Disamping itu dia juga masukkan tangannya kedalam sakunya mengambil Uang.

Tetapi dengan tiba2 wajahnya berubah dan berseru.

"celaka uangku tidak Cukup,"

Cin Hong adalah salah seorang dari Su caycu, atau "Empat orang Cerdik pandai di daerah Kang-lam."

Nama cin Kongcu selain terkenal sebagai seorang cerdikpandai, juga kesohor karena lukisan-lukisannya, sehingga ia mendapat gelar "PelukiS tangan Sakti Gin Engcu di kota Hang clu namanya sangat kosonor hampir setiap orang tahu, maka setiap kali Keluar pintu, selalu tidak membawa uang banyak, kadang-kadang jika ia perlu membayar makanan atau apa saja, aSal meneken bon sudah cukup.

Tadi pagi ketika ia membeli dua ekor kuda di kota Hang Ciu, juga dibayar dengan tekenan bonnya.

Akan tetapi kini setelah berlalu dari kota Hang ciu, didalam sakunya hanya tinggal uang receh yang jumlahnya tidak cukup satu tail.

Sedangkan menurut pengalamannya hidangan sebanyak itu paling sedikit juga memerlukan uang tiga tail lebih.

In-jie ketika mendengar perkataan bahwa uang Cin Hong tidak cukup, maka matanya terbuka lebar, katanya dengan cemas.

"Sekarang bagaimana? Aku sendiri juga tidak punya uang."

Can Sa Jie mengira mereka kembali hendak permainkan dirinya. maka lantas perdelikan matanya dan berkata.

"Bagus, kalian apakah suruh aku yang membayar? Kuberitahukan kepada kalian, aku can Sa Jie tidak memiliki uang, dibadanku hanya terdapat banyak kutu busuk saja,"

Pelayan rumah makan yang melihat mereka semua tidak mempunyai uang, wajahnya lantan berubah, demikianpun sikapnya juga tampak menghina.

Cin Hong yang tertegun sejenak.

tiba-tiba teringat bahwa dirinya masih membawa sebuah kipas maka buru2 dikeluarkannya dan diberikan kepada can Sa Jie sambil tertawa.

"Saudara can Sa Jie tolong gadaikan kipas ini kerumah pegadaian-". can Sa Jie menerima kipas yang diberikan kepadanya, dilihatnya sebentar lantas bertanya Sambil mengerutkan alisnya.

"Kipas semaCam ini bisa laku digadai berapa duit?"

"Gadaikan saja tiga puluh tail sudah cukup,"

Berkata Cin Hong sambil tersenyum. sepasang mata can Sa jie terbuka lebar, katanya.

"Apa kau sudah gila?"

"Saudara can Sa, kau anggap terlalu sedikit, gadaikan empat puluh tail juga boleh."

Berkata pula cin Hoog sambil tersenyum.

can San Jie tidak tahu bahwa kipas yang dilukis oleh tangan pelukis Sakti Cin Hong itu merupakan benda yang sangat berharga dikalangan orang terpelajar, mendengar perkataan itu benar-benar sangat heran dan dianggapnya Cin Hong sudah gila, maka kipas itu dikembalikan padanya dan membentak dengan sikap marah.

"Heh Apa kau ini hendak mempermainkan aku can Sa Jie?"

Cin Hong mengeluarkan tangannya hendak menerima kembali kipasnya, tiba2 kipas itu sudah disambut oleh tangan lain, ketika ia angkat muka, didekat mejanya berdiri seorang pelajar berbaju putih yang memiliki wajah yang sangat tampan-Pelajar berbaju putih itu usianya ditaksir baru dua puluh lima tahun, sikapnya sangat luwes dan tampan, hanya sepasang matanya yang sangat jeli, melihat orang yang melihatnya mempunyai kesan bahwa pelajar itu seperti seorang perempuan yang menyamar menjadi seorang lelaki.Jikalau ia mengenakan pakaian perempuan pasti akan merupakan seorang perempuan yang Cantik jelita.

Akan tetapi dia bukanlah seorang gadis yang Cantik jelita yang menyamar menjadi lelaki.

sebab ditenggorokannya tampak ada tulang yang menonjol, meskipun agak kecil sedikit kalau dibandingkan dengan orang lelaki kebanyakan, tetapi keadaannya itu sudah cukup uatuk membuktikan bahwa dia bukanlah seorang wanita.

Cin Hong tidak tahu, dengan maksud apa pelajar berbaju putih itu merampas kipasnya, maka buru-buru memberi hormat padanya dan berKata sambil tertawa.

"Saudara, apakah artinya ini?"

Dengan suaranya yang sangat merdu Sekali. Pelajar itu berkata sambil tertawa.

"cobakau sebutkan kau hendak gadaikan berapa tail?"

Cin Hong berpikir dulu sejenak. kemudian berkata sambil tertawa.

"Aku seorang she cin tak Suka dengan Cara ini untuk penghidupanku, hari ini oleh karena seCara kebetulan aku butuh uang, jika Saudara merasa suka, dengan tiga puluh tail saja sudah cuKup,"

Pelajar berbaju putih itu tersenyam, dari dalam sakunya mengeluarkan tiga potong uang perak yang berharga tiga puluh tail, uang perak itu diletakkan diatas meja, setelah itu ia memberi hormat dan berlalu.

can Sa jie mengawasi pelajar berbaju putih itu hingga turun dari loteng, setelah itu ia mengangkat tangannya, dan kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sedang mulutnya berteriak-teriak .

"He Kejadian aneh hampir setiap tahun ada. Tetapi tahun ini tampaknya luar biasa banyaknya"

In-jie juga merasa sangat girang, ia berkata sambil menatap wajah Cin Hong.

"Hei, kipas mu itu bagaimana demikian berharga?"

Cin Hong MEMGAMBIL Sepotong uang perak diberikannya kepada pelayan rumah makan untuk minta kembalinya, dua potong yang lainnya dimasukan dalam sakunya sendiri. katanya sambil tertawa.

"Dia boleh dikata masih membeli barang murah, jikalau oleh orang lain yang makelarkan, paling sedikit juga bisa laku Sampai lima puluh tail uang perak."

"Kalau begitu berharga, lain hari kau boleh melukis banyak-banyak. biarlah kita menjadi kaya"

Berkata In-jie sambil tertawa girang.

"Maaf, aku bukanlah tukang gambar. Tidak bisa menjual gambar."

Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala. can Sa Jie yang selama itu berdiri keheranan, dengan tiba2 mengajukan pertanyaan.

"Pelajar berbaju putih tadi dengan Cara bagaimana bisa tahu kalau kau adalah pelukis Tangan Sakti?"

"Tunggu setelah kau menjadi seorang ternama, kau tak merasa heran lagi"

Berkata Cin Hong sambil tertawa mesem.

"Aku kira tidak begitu. dia agaknya tidak memperhatikan kipasmu, bahkan kau tadi perhatikan atau tidak. dia itu mirip seorang wanita, agaknya genit juga sedikit....

"Berkata can Sa Jie. Cin Hong selagi hendak mencegahnya berkata terus, dengan tiba-tiba dibelakang dirinya ada orang berkata.

"IHm. murid dari pengemis tua itu benar-benar hebat, dugaanmu itu tepat."

Suara itu sangat perlahan, tetapi didalam telinga mereka kedengarannya sangat jelas, tak dapat disangsikan lagi bahwa suara itu keluar dari mulut seorang yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang tinggi sekali.

Cin Hong berpaling.

tampak Seorang tua kurus berbaju hijau, berusia kira-kira lima puluh tahunan sedang berjalan menuju kemulut tangga, Wajah can Sa Jie berubah, pelahan-lahan bangkit dari tempat duduknya dan bertanya.

"cianpwee ini siapa?"

Orang tua berbaju hijau itu kakinya menginjak tangga loteng tanpa menoleh sedikitpun juga hanya menjawab sambil tertawa hambar.

"Hanya orang yang sedang berlalu"

Can Sa Jie memburu dan bertanya pula.

"Dengan Cara bagaimana Cianpwee bisa mengenali aku can Sa Jie?"

Orang tua itu pelahan-lahan meneruskan langkahnya turun kebawah loteng, atas pertanyaan can Sa Jie ia menjawab dengan sikap yang tetap hambar.

"Kau sendiri yang mengatakan."

Can Sa Jie lompat ketangga loteng, dari bagian atas ia mengawasi berlalunya orang tua itu, kemudian berkata dengan suara nyaring.

"Dihadapan yang benar, tidak perlu membohong. cianpwee sadah kenal suhu mengapa tak bercakap-cakap dulu sebentar baru pergi?"

"Masih perlu mengikuti orang, tak ada waktu luang"

Demikian orang lelaki berbaju hijau itu menjawab hambar tanpa menoleh.

Ketika Cin Hong dan in-jie memburu Sampai dimulut tangga, orang tua itu sudah tiba dibawah, mereka hanya melihat sikap tenang dari orang tua itu dan seCepat kilat sudah keluar pintu, gerak kakinya yang demikian gesit, hingga sedikitpun tidak diketahui oleh para tamu yang berada dibawah loteng.

can Sa Jie menggapai kepada Cin Hong berdua lebih dulu ia lari turun kebawah, lalu disusul oleh Cin Hong dan InJie.

Tetapi segera dipegat oleh pelayan rumah makan yang memberikan kembalian uang kepada mereka.

Setelah Cin Hong menerima kembali uangnya dan tiba dipintu rumah makan, orang tua berbaju hijau dan Can Sa Jie sudah tidak tampak bayangannya lagi.

Pelayan ramah makan menyerahkan dua ekor kuda milik Cin Hong berdua, Cin Hong lalu bertanya sambil menatap In-jie.

"Nona Yo, sekarang kita harus kemana?"

In-jie sementara itu telah melompat keatas punggung kuda dan menjawab.

"Mari kita sekarang lekas menyusul suhu. itulah yang terpenting"

Cin Hong pikir juga betul, maka lalu meninggalkan pesan beberapa patah kata kepada pelayan rumah makan, .keduanya keluar dari kota Cing cu, menuju keBarat. Malam bulan sabit sudah muncul dilangit.

Tetapi keadaan disepanjang jalan masih gelup, pohon-pohon ditempat jauh, dan bukit-bukit se-olah-olah makhluk aneh yang berjajar merintangi perjalanan-seram dan sunyi.

Kadang-kadang ada bebeberapa ekor kalong yang terbang rendah dan mengeluarkan suara dari sayap.

In-jie yang masih merasa takut terhadap binatang Kalong, larikan kudanya mendekaki Cin Hong, namun masih tetap menyembunyikan perasaan takutnya.

ia mulai mengajak bicara.

"Hei, rembulan malam ini tampak sangat indah, ya?"

Cin Hong angkat kepala mengawasi angkasa yang gelap gulita, baginya sedikitpun tidak ada keindahan, maka ia lalu menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

"Tidak.. cuaca buruk sekali."

In-jie merasa kurang senang, katanya sambil memonyongkan mulutnya.

"Bagaimana kau bisa berkata demikian? Lihat itu bulan sabit yang sangat indah ...."

Cin Hong masih tetap dengan pendiriannya, ia berkata sambil menggelengkan kepalanya dan In-jie sangat mendongkol, ia berseru.

"Hei, janganlah kau menyebutkan nama kalong. Apakah tidak bisa?"

Cin Hong kini baru ingat bahWa gadis itu takut kepada saloog, maka buru-buru menjawab.

"Ya, semakin merasa bahwa bulan itu benar-benar indah....."

In-jie menarik nafaS dan berkata.

"Kata suhu benar, kau ini memamg benar ada sedikit nakal"

Cin Hong terkejut, tanyanya.

"Apa, Suhumu berkata bahwa aku ini nakal?"

In jie menganggukkan kepala, wajahnya menunjukkan sikap duka.

"Hei, apakah kau percaya perkataan suhumu?"

Bertanya Cin Hong.

"Aku tidak percaya, akan tetapi. ..."

"Akan tetapi apa?"

"Akan tetapi kau benar-benar sedikit nakal."

"o Dalam hal apa aku ada sedikit nakal?"

"Umpama kata, ketika aku tadi marah kau lantas cepat berobah pendirianmu dan mengikuti pandanganku bahwa rembulan itu indah, apakah itu tidak nakal?"

"Hei Kalau aku mengatakan tidak indah, kau marah. Aku mengatakan indah, kau juga marah. HabiS bagaimana aku harus berbuat?"

"Kataku, kau ini terlalu pandai berpura-pura"

"o, kiranya begitu, kiranya kau suruh aku berpura-pura sehingga mirip benar-benar, barulah tidak dianggap nakal."

"Baiklah, apakah kau hendak berkelahi denganku?"

"Haa, tidak. ..... tidak"

"Hem, hanya satu perkataan saja kaU lantas mau ribut denganku?"

"Ya, ya, maaf saja."

"Hei, marilah kita tukar pembicaraan yang lain "

"Dalam surat suhumu telah menyebutkan anak kunci berukuran huruf Liong, benarkah kau memiliki anak kunci semacam itu?"

"Ya, hanya semula aku tidak menaruh banyak perhatian, tetapi setelah Suhu pesan demikian, aku merasa heran-"

"Kenapa?"

"Anak kunciku ini, jika bukan salah satu dari dua belas anak kunci emas milik partay oey-san yang hilang, bagaimana Suhu bisa meninggalkan pesan khusus kepadaku, supaya jangan diunjukkan dihadapan orang?"

"Hmm... .".

"Jikalau mau dikata seperti apa yang telah kau katakan, bahwa penguasa rumah penjara rimba persilatan itu pada sepuluh tahun berselang pernah dihadapan dua-belas partay, mengeluarkan sebuah anak kunci yang berukiran huruf Liong, sedangkan anak kunci ini berada dileherku sudah delapan belas tahun lamanya, bukankah ini Sangat bertentangan?"

"Emm... ."

"Bagaimana kau selalu hem... ,hem. saja bisanya?"

"Ah, aku sendiri juga tak mengerti."

"Akh "

"o, iya. Benarkah kau tak mempunyai ibu dan ayah?"

"Aku tidak tahu, suhu Selama tidak mau memberitahukan padamu... .?"

"Ya, maka sekarang kita harus cepat menyusul"

Selagi mereka memacu kudanya, dari tempat agakjauh tiba-tiba mendengar suara jeritan yang mengenaskan, suara itu ditarik panjang-panjang, ke dengarannya seperti orang yang di siksa.

Cin Hong terkejut, ia lalu menghentikan kudanya, dan bertanya sambil menatap In-jie "Kau dengar tidak.

itu suara apa?"

In-jie juga menghentikan kudanya, ia berpaling kekiri. kearah datangnya suara tadi kemudian baru berkata.

"Seperti ada orang disiksa ...."

Belum habiS ucapannya, Suara jeritan itu terdengar pula, suara itu sangat mengerikan kemudian perlahan-lahan menjadi lemah, seperti orang yang sudah mendekati ajalnya.

Cin Hong kembali dikejutkan oleh suara itu, ia segera memacu kudanya dan dilarikan kearah kiri, disamping itu ia juga berkata sambil menggapaikan tangannya kearah Injie.

"Nona Yo, mari lekas kita lihat"

In-jie juga memacu kudanya mengikuti Cin Hong, sebentar saja sudah tiba dihadapan sebuah rimba pohon cemara, tampak sesosok bayangan orang lari masuk kedalam rimba.

Dalam rimba itu terdapat sebuah jalan berliku-liku, dari dalam tampak sinar pelita.

Cin Hong dan In-iie lompat turun dari kudanya, kuda mereka ditambat dibawah pohon, setelah itu mereka lompat masuk kedalam rimba dengan melalui jalan kecil itu.

Masuk rimba kira-kira sepuluh tombak jauhnya, didalam rimba dibawah daundaun rindang tampak sebuah kelenteng yang keadaannya sudah rusak.

Kelenteng itu agaknya sudah terlantar dan hancur, tidak ada yang mengurus.

Pintu dan jendela sudah pada bobrok.

disana-sini terdapat pecahan genteng dan reruntuhan daun kering.

Keadaannya sangat mengenaskan.

Pada saat itu ditanah bagian pendopo sedang ada api menyala dari tumpukan api yang menyala itu terdapat sebatang ruyung besi yang sudah merah membara , tetapi didalam pendopo itu tak tampak bayangan seorangpun juga.

Cin Hong dan In-jie menyaksikan semua itu dari persembunyiannya, tidak terlihat apa-apa yang aneh, maka lalu keluar lagi, Selangkah semi selangkah menuju kekelenteng tersebut.

Mereka mulai menginjak anak tangga kelenteng dan mendekati pintunya, dua orang itu masing-masing melongok kedalam, dan apa yang disaksikan ke-dua2nya berseru kaget, dan angkat muka saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.

Kiranya, dalam pendopo itu, didinding sebelah kiri, saat itu sedang terbentang Suatu pemandangan yang mengerikan Seorang pemuda berusia kira-kira dua puluh tahun lebih dengan badan setelah telanjang, kedua tangan dan kakinya terpantek diatas dinding badannya berdiri terpisah dengan tanah.

Kepalanya menunduk kebagian dada, dadanya yang tegap.

dan tangan serta pahanya terdapat pecahan bekas dihajar oleh rotan, pecahan daging dan darah mengalir turun hingga dibagian bawah kakinya tampak bergumpalan darah.

Tetapi apa yang lebih mengerikan ialah didepan dadanya terdapat empat lima bagian bekas tanda luka yang sudah hangus, jelas bahwa luka itu dibakar oleh besi rujung tadi, yang sudah dibakar menjadi panas.

Cin Hong yang belum pernah terjun didunia Kong-ouw, sudah tentu belum pernah menyaksikan keadaan yang kejam dan mengerikan serupa itu, maka Sesaat menjadi termangu, hatinya berdebaran, terus berdiri tidak juga bergerak.

Barupertama kali ia menyaksikan pemandangan kejam terhadap sesama manusia Sebaliknya dengan In-jie, gadis itu malah lebih tenang, hanya sejenak setelah ia terkejut lantas mendekati Cin Hong dan berkata dengan suara pelahan.

"Heran. bagaimana tidak tampak orang yang menyiksa? "

Cin Hong yang baru saja mulai tenang lantas naik pitam, mata berputaran mencari-cari diseputaran, lalu berkata dengan suara keras.

"Ini pasti perbuatannya kawanan pembegal, mari kita lekas mencari dan menangkapnya, lalu kita serahkan kepada pembesar negeri"

Sehabis berkata demikian lantas memutar tubuh dan berjalan, in-jie buru-buru menarik tangannya dan berkata kepadanya.

"Pelajar tolol, mana ini perbuatanya kawanan pembegal? "

Cin Hong terCengang. lantas berkata pula dengan suara keras.

"Kalau bukan kawanan begal, tentunya juga berandal, sama saja. kita harus menangkap mereka"

Setelah itu ia melepaskan tangan dari gengagaman In-jie, dan lari keluar dari dalam kelenteng. in-jie buru2 menyambar pakaian belakangnya seraya berkata.

"Ini juga bukan dilakukan oleh kawanan berandal, jangan terburu nafsu dulu"

Cin Hong berpaling dan bertanya heran.

"Dengan Cara bagaimana tahu kalaU ini bukan perbuatan kawanan berandal? "

"Kawanan berandal kalau membunuh orang tanpa banyak bicara, dia membunuh saja habis perkara. Mereka tak sudi berbuat Seperti ini."

Cin Hong pikir itu memang benar, maka lantas membalikkan badandan bertanya.

"Kalau begitu, siapakah yang melakukan? "

In-jie berkata sambil menunjuk ke dalam pendopo.

"Kita masuk dan pergi melihat dulu, jika kau orang itu belum mati, kita tolong dulu, itulah yang penting"

Cin Hong anggap benar pikiran gadis itu, maka lebih dulu ia lari masuk ke dalam, ia meraba jantung pemuda itu, ternyata masih berdenyut maka katanya dengan girang.

"Masih hidup Masih hidup".

"Kalau masih hidup, haruS lekas di turunkan"

Berkata In-jie.

Cin Hong buru-buru mencabut paku yang digunakan untuk memanteK tangan dan kaki pemuda itu lalu di letakkan ditanah, pemuda itu wajahnya Cukup tampan, hanya luka didadanya yang bekas dibakar dengan ruyung panas, sudah terlalu dalam masuk kebagian dada.

Maka hatinya lantas pilu, ia berkata kepada In-jie sambil menghela nafas.

"Aaaa Barangkali sudah tak bisa di tolong lagi...."

In-jie juga berjongkok mengulurkan tangannya untuk meraba-raba jantung pemuda itu, katanya sambil mengerutkan alisnya.

"Dia sudah hampir mati, apakah kau bisa menggunakan kekuatan tenaga dalammu menyalurkan kedalam tubuhnya? "

"Suhu pernah mengajarkan aku, hanya aku belum pernah mencoba... ."

Berkata Cin Hong yang masih belum berani memastikan-"Kalau begitu lekas kau coba, aku hendak mengajukan pertanyaan kepadanya"

Cin Hong dengan cepat membimbing pemuda bernasib sial itu duduk.

sedangkan ia sendiri duduk bersila mengulurkan tangannya dan ditempelkan kebagian jalan darah Leng-tay-hiat, lalu ia pejamkan matanya untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya ketubuh pemuda yang bernasib sial itu.

Sejak masih kanak-kanak ia Sudah dididik oleh It Hu Sianseng To Lo Thian, maka kekuatan tenaga dalamnya juga sudah mencapai ketaraf yang sempurna.

Maka hari ini meskipun baru pertama kali mencobanya, tetapi ternyata sangat memuaskan.

Kira-kira seperempat jam kemudian, badan pemuda sial itu tampak bergerak-gerak.

bibirnya mengeluarkan suara rintihan.

In-jie Segera berkata dengan suara keraS disamping telinga pemuda itu.

"IHai, kau siapa? "

Pemuda itu hanya bergerak-gerak saja bibirnya beberapa kali, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

In-jie bertanya lagi beberapa kali, tetap tidak menjawab, lantaS angkat muka berkata kepada Cin Hong.

"Masih belum cukup, tambah lagi kekuatanmu"

Cin Hong menyalurkan lagi kekuatan tenaga dalamnya kedalam tubuh pemuda itu, ia berusaha sekuat tenaga unluk menolong jiwa pemuda bernasib sial itu.

Sehingga dia sendiri mengeluarkan banyak keringat.

Pemuda yang terluka itu tampak lebih baik keadaannya, matanya berkedip-kedip.

bibirnya bergerak-gerak agaknya mau bicara.

In-jie mengepal-ngepal kedua tangannya, agaknya sedang memberi semangat kepada pemuda tersebut.

Sambil meng-gerak2kan tangannya ia berseru.

"IHai, kuatkan semangatmu, beritahukan kepadaku, kau ini siapa sebenarnya? Siapakah yang menganiaya dirimu sehingga sedemikian rupa? "

Pemuda itu dengan tiba-tiba membuka matanya mukanya berkerenyit beberapa kali, bibirnya bergerakgerak. tetapi dari mulutnya hanya tercetuS kata-kata yang tidak jelas.

"Thian... Sia..."

In-jie berkata dengan perasaan terkejut.

"Ha, kau....apakah kau murid golongan Tnian-sia-pay? "

Dada pemuda itu berdenyut keras, ia mengeluarkun katakata yang terputus-putus dari mulutnya.

"Kim... Siok... Yok... ."

In-jie yang tidak dengar jelas, lantas bertanya dengan perasaan cemas.

"Kim apa? Apa kau seorang She Kim? "

Dada pemuda itu tampak berdebar semakin keras, dengan tiba-tiba sepasang matanya terbuka lebar, wajahnya menunjukkan sikap menakutkan, ia hanya dapat mengeluarkan jeritan.

"Kalong... ."

Belum habis suaranya kepalanya sudah terkulai, dan kemudian tak bisa bergerak lagi.

In-jie yang mendengar pemuda itu menyebut nama kalong.

lantas lompat terperanjat.

Selagi hendak menanyakan lagi, tampak terkulai kepalanya, lantas berseru kaget, dengan kedua tangannya ia menggoncanggoncangkan pundaknya lalu berseru.

"Hei, jangan mati dulu, aku masih hendak bertanya dahulu kepadamu. Benar-benar aku tadi masih belum jelas ucapanmu. Kau bernama Kim apa? "

Namun pemuda itu tetap tidak bergerak.

Jelas ia sudah mati.

Tentu saja ia tidak dapat hidup kembali Cin Hong dengan hati pilu menarik kembali tangannya yang memegangi punggung pemuda itu, lalu meletekkan ketanah, setelah itu kembali memejamkan matanya, untuk mengatur pernapasannya .

In-jie juga merasa terharu, berpaling dan menanya kepada Cin Hong.

"IHe., apakah kau tadi tidak dengar jelas, dia itu bernama Kim apa? "

Cin Hong sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalam terlalu banyak.

saat itu perlu harus memulihkan kembali kekuatan tenaganya maka itu tidak menjawab pertanyaannya.

Akan tetapi, kalau ia tidak menjawab sebaliknya ada orang lain yang mewakili menjawab pertanyaan In-jie.

Suara ini datangnya dari pintu kelenteng belakang dirinya, Suaranya jelas, aadalah suara dari orang setengah umur.

In-jie dengan Cepat balikan badannya, tetapi baru saja berputar setengah, dengan tiba2 diatas penglari terdengar pula suara yang sangat merdu.

"Biarlah aku saja yang memberitahukan kepada mereka"

Suara yang terdengar dar ipintu kelenteng itu jelas suaranya seorang pria.

Tetapi suara yang terdengar dari atas penglari adalah suara yang keluar dari mulut orang wanita Siapakah pria dan wanita yang muncul seCara tiba2 itu?

Yang mengejutkan Cin Hong dan In-jie adalah.

Mereka berdua sudah cukup lama berada didalam kelenteng itu, tetapi sedikit pun tak mengetahui bahwa ada seorang wanita yang tersembunyi diatas panglari.

Hal ini saja sudah merupakan suatu bukti bahwa perempuan itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan kalau perempuan itu melakukan serangan menggelap.

maka Cin Hong dan In-jie bukankah akan menjadi korban ganasnya?

Suara yang merdu tadi disusul oleh berkelebatnya bayangan putih yang turun, Seorang pemuda tampan berbaju putih sudah berada dihadapan Cin Hong dan In-jie.

Pemuda berbaju putih itu ternyata adalah pelajar berbaju putih yang membeli kipas Cin Hong dirumah makan kota cing ciu.

Pelajar berbaju putih itu jelas adalah seorang pria, tetapi dengan Cara bagaimana tiba-tiba mengeluarkan suara seorang wanita?

Dan seorang lagi yang masuk dari pintu kelenteng, dia juga seorang yang mengenakan baju putih, perbedaannya ialah.

berperawakan tegap diwajahnya ditutupi oleh kerudung kain putih, dipinggangnya tergantung sebilah pedang pusaka kuno.

dari lubang mata, tampak sinarnya yang tajam, sikap gagah lelaki berpakaian dan berkerudung putih itu membuat orang tak berani menatapnya terlalu lama.

Dua orang itu sama-sama memakai baju Putih.

Sesaat kemudian setelah bermunculan disitu, satu sama lainnya berdiri dihadapan tidak menyapa juga tidak bergerak.

Cin Hong dan In-jie tak tahu benar siapa lawan siapa kawan, maka buru-buru lompat mundur kesamping, matanya sebentar memandang orang berbaju putih yang memakai kerudung kain Putih, sebentar pula mengawasi pelajar berbaju putih yang sikapnya lemah gemulai, siapa diantara mereka sebetulnya yang melakukan perbuatan terhadap pemuda yang mengaku sebagai murid golongan Thian-sia Pay?

Mereka lebih tidak tahu, orang berbaju putih yang mengenakan kerudung muka itu orang bagaimana macamnya?

Apa sebab tidak berani menunjukkan wajah aslinya?

Yo In In yang sudah lama berkelana didunia Kang-ouw.

bagaimana pun juga telah banyak pengetahuan, maka sejenak setelah itu menenangkan pikirannya, segera diam2 menarik lengan Cin Hong dan berkata dengan suara perlahan.

"Hei, kau sudah lihat atau belum? "

Cin Hong yang pertama kali keluar dari kota Hang ciu dengan kedudukan sebagai orang rimba persilatan, hingga saat itu jalan yang dilalui belum Cukup dua ratus pal,-maka hingga saat itu apa yang dapat dilihat olehnya?

Ketika ditanya demikian, sudah tentu ia lantas menjadi bingung, jawabnya.

"Tak melihat apa-apa, apakah kau sudah melihatnya?"

In-jie tujukan matanya ke arah orang berbaju putih yang berkerudung dimukanya dengan uara agak bersemangat ucapnya.

"Dia itulah orangnya, yang aku pernah katapadamu hari situ"

Dalam hati Cin Hong terperanjat, ia bertanya kaget.

"Aa. ..apakah orang yang mempunyai gelar Tamu Tak Di Undang Dari Dunia Luar? "

In-jie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Emm, dandanannya mirip dengan tamu tak di undang dari dunia luar yang pernah tersiar di kalangan Kang-ouw, sudah pasti dia"

Pemuda pelajar berbaju putih agaknya sudah dapat menangkap pembicaraan mereka yang dilakukan dengan suara perlahan.

Dengan tiba-tiba palingkan mukanya, dan tersenyum manis terhadap Cin Hong berdua, kemudian berkata Sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukan, dia adalah barang tiruan"

Orang berbaju dan berkerudung kain putih putih yang mendengar ucapan itu lantas perdengarKan suara tertawanya, ia juga perlahan-lanan berpaling menghadapi Cin Hong berdua katanya lambat-lambat.

"Dia..... adalah Liu Kwie-hui salah seorang dari empat serangkai golongan kalong ...."

Maksudnya ia berkata demikian ialah "Mereka orang-orang golongan kalong sudah menciptakan seorang lagi tamu tidak diundang dari dunia luar yang lain, sekalipun orang itu sedikitpun tidak mengerti ilmu pedangnya delapan jurus dengan huruf Eng, tetapi asal pakaiannya sama dengan aku juga bolehlah untuk mengelabuhi mata orang"

Cin Hong yang mendengar itu meraSa terkejut heran. Pikirnya.

"Kiranya pelajar berbaju putih itu adalah seorang wanita yang menyamar, pantas matanya demikian menarik, tetapi kalau dia orang Wanita dengan Cara bagaimana lehernya ada tulangnya yang menonjol? "

Selagi masih merasa bimbang, tiba-tiba sudah terdengar suara orang yang mengenakan kerudung muka kain putih.

"Kau jangan kira karena lehernya ada tulang menonjol lantaS merasa Curiga terhadap keteranganku, tulang itu adalah barang tiruan yang digunakan dalam penyamarannya "

Cin Hong baru Sadar, setelan mengeluarkan seruan kagetnya, matanya kembali ditujukan kepada pelajar berbaju putih, dalam hati berpikir, apabila ucapan orang berbaju putih yang mengenakan kerubung itu benar, maka orarg-orang golongan kalong yang semalam muncul di kota Hang ciu, kecuali Wanita yang menamakan diri To Kwiehui dan Liu Kwie bui yang sekarang dihadapannya itu, pasti masih ada seorang Wanita lagi yang disebut oilh mereka Sebagai Ratu dan seorang lain lagi yang disebut Wanita agung.

on Pangcu dari golongan kalong itu entah orang bagaimana maCamnya?

Mereka demikian berani menggunakan sebutan-sebutan Ratu, Raja, Bangsawan dan lain-lainnya, untuk membedakan kedudukannya, apakah mereka itu tidak takut melanggar undang-undang?

Sementara itu pelajar berbaju putih ketika mendengar ucapan orang berbaju putih yang mengenakan kerudung dimukanya, sikapnya masih seperti biasa, setelah diam sejenak, ia baru berkata sambil tersenyum.

"Dengan Caramu yang membuka rahasia seCara blak-blakan ini, apakah kau ingin mendapatkan keperCayaan mereka, bahwa kau ini adalah tamu tidak diundang dari luar yang tulen? "

Sepasang mata orang berbaju putih itu mendadak beringas.

seCepat kilat maju selangkah, dengan tangan menggenggam gagang pedangnya, sikapnya tampak sangat marah.

Lui Kwie-hui dengan Cepat mundur selangkah, dengan sikapnya yang menarik sebagai seorang perempuan Cantik, berkata sambil tersenyum.

"Jangan marah dulu kau barang kali sudah tahu jelas, aku Liu Tek meskipun tak bisa memenangkan dirimu, tetapi kau juga belum tentu bisa menahan diriku"

Orang berbaju putih itu terpaksa menahan amarahnya, memperdengarkan suara tertawa dingin dan berkata.

"Kalau begitu, ajaklah aku pergi, aku hendak menjumpai orangmu yang menciptakan diri sebagai tamu tak di undang dari dunia luar itu"

Liu Kwie hui angkat pundak dan tertawa, kemudian berkata.

"Tadi siang kau menyamar sebagai orang tua berbaju hijau mengikuti jejakku, apakah lantaran urusan ini? "

"Benar"

Menjawab orang berbaju putih sambil menganggukkan kepala.

"aku tidak bisa membiarkan nama julukan Tamu tak di undang dan dunia luar tertulis dalam buku nama golongan kalian partay kalong"

"Kau semakin bicara semakin mirip dengan tamu tak diundang dari dunia luar, sebetulnya tamu tidak di undang dari dunia itu masuk menjadi anggauta kita dan menjadi anggauta pelindung hukum, itu adalah kemauannya sendiri, kau tak perlu khawatir namanya akan ternoda"

Berkata Liu Kwie hui sambil tertawa.

orang berbaju putih berkerudung muka mengeluarkan suara dari hidung, lalu maju dengan melangkahi jenazah pemuda tadi, setindak demi setindak mendekati Liu Kwiehui.

Liu Kwie-hui berdiri membelakangi dinding kelenteng berjalan memutar, ia berkata sambil tertawa.

"Jikalau kau juga bisa menggunakan ilmu pedang delapan jurus huruf Eng, aku dengan senang hati bawa kau menjumpai tamu tak di undang dari luar dunia... ."

Orang berbaju putih berkerudung muka itu dengan tibatiba menjadi marah, dengam menggeram, tangan kanannya menghunus pedang yang berkilauan, meluncur kediri Liukwie-hui kejadian itu berlangsung sangat cepat sekali hanya tampak terlihat berkelebat terang sinar pedang dan disusul berkelebatnya bayangan orang kemudian terdengar suara nyaring delapan kali dengan beruntun, tiga rupa kejadian itu hampir berlangsung dalam waktu yang bersamaan, juga hampir pada waktu yang sama telah menghilang.

Waktu Cin Hong dan In-jie pasang mata kembali.

wanita yang menyamar sebagai lelaki yang bernama Liu Kwie-hui itu kini sudah tidak tampak lagi bayangannya, hanya ditempat ia berdiri dibelakang dindingnya tadi tampak sebuah huruf "Eng"

Yang besar Sekali. dan dibawah dinding itu terdapat sepotong kain putih yang merupakan sepotong robekan kain putih dari Liu Kwie-hui. HHuruf "Eng"

Yang targores dengan ujung pedang diatas tembok itu, dalamnya kira-kira tiga dim, ditulis dengan tangan yang kuat sekali.

Cin Hong sebagai seorang pelajar yang terkenal pandai melukis, dengan sendirinya juga merupakan seorang yang pandai menulis, waktu itu ketika melihat orang berbaju putih itu bisa menggoreskan huruf Eng"

Demikian kuat dengan ujung pedang, diam-diam merasa kagum, dalam hatinya pikir, orang itu bisa menggabungkan ilmu suratnya dengan ilmu pedangnya, sehingga memiliki kepandaian tinggi, jelas dia adalah tamu yang tidak diundang dari dunia luar yang tulen.

orang berbaju putih berkerudung muka itu perlahanlahan masukan pedangnya kedalam sarungnya.

lalu berpaling kearah kiri dan berkata dengan suara berat.

"Sekarang kau barangkali suka mengajak aku untuk menjumpai tamu yang tidak diundang dari dunia luar yang menjadi anggota pelindung huhum dari partaimu? "

Cin Hong dengan Cepat berpaling, saat itu barulah melihat bahwa Liu Kwie-hui sedang berdiri tenang diatas runtuhan tembok, lengan kiri bajunya terdapat sepotong yang terobek oleh ujung pedang.

Meskipun coba bersikap setenang mungkin, namun masih belum berhasil menutupi perasaan takutnya.

Ketika mendengar ucapan orang berkerudung itu, lantas berkata dengan sikap acuh tak acuh.

"ini sesungguhnya merupakan suatu penemuan yang sangat lucu, tak disangkasangka dalam rimba persilatan masih ada orang lain yang memiliki delapan jurus ilmu pedang dengan huruf "Eng", Kalau demikian halnya, aku bersedia mengajak kau untuk menguji kebenarannya dengan tamu tidak diundang dari dunia luar yang berada didalam markasku"

Sehabis berkata demikian ia lantas berjalan menuju kepintu. orang berbaju putih yang mengenakan kerudung muka itu mengikuti dibelakangnya, lantas bertanya kepada Cin Hong Sambil mengawasi padanya.

"Apakah kau murid It Hu Sianseng? "

Cin Hong segera memberi hormat dan menjawab.

"Ya, boanpwee Cin Hong. ..."

Orang berbaju putih itu tampaknya terperanjat, ia menghentikan kaki dan berseru kaget.

"Apa? Kau bernama Cin Hong? "

Cin Hong juga merasa bhean, ia memberi hormat lagi seraya berkata.

"Bukan, boanpwee she chin, cin Sie ong, punya cin-Nama boanpwee hanya satu huruf, Hong. Hwa Hong punya Hong"

Orang berbaju putih itu kembali mengeluarkan suara "oo."

Memperhatikan Cin Hong lebih dalam, kemudian baru bejalan keluar? Sebelum meninggalkan kelenteng itu ia berkata lagi kepada Cin Hong.

"Lanjutkan usahamu untuk menyusul Suhumu supaya leKas pulang, beritahuKan kepadanya bahwa raja rase yang dahulu, kini telah muncul kembali"

Cin Hong buru-buru menyusul dan bertanya sambil memberi hormat.

"Locianpwee, siapakah orang yang dinamakan Raja Rase itu? "

Orang berbaju putih itu mengikuti jejak Liu Kwie-hui melangkah keluar, lalu menjawab.

"Sekarang tidak perlu banyak bertanya, setelah kau berhasil mencandak Suhumu, sudah tentu dia nanti akan memberitahukan padamu"

In-jie buru-buru bertanya .

"Locianpwee, masih ada seorang muda yang sudah mati, dia menyebutkan namanya seorang she Kim. Siapakah sebetulnya itu? "

Orang berbaju putih yang mengikuti jejak Liu Kwie-hui, setelah berada diluar kelenteng lantas menuju kedalam gelap gulita, suaranya dari-jauh terdengar.

"Dia adalah murid kesayangan ketua Thian-sia-pay yang sekarang, namanya Yao Kiam Eng. beberapa bulan berselang terpincuk oleh dua belas klongCu dan partay kalong, telah terjerumus kedalam pengaruh mereka. Setelah menyadari rencana keji mereka ia pikir hendak melawan, tetapi sudah tidak keburu."

Ketika suara itu tak terdengar lagi, orangnya juga sudah menghilang ditempat gelap.

Malam itu kembali diliputi oleh kesunyian, hanya suara ledakan api yang membakar kelenteng itu masih menyinari jenasah pemuda itu yang maSih menggeletak ditanah.

Keadaannya sangat menyeramkan ....

Cin Hong dan Injie saling berpandangan dengan keadaan bingung, in-jie yang lebih dulu memeCahkan kesunyian, katanya.

"orang yang mengenakan kerudung muka itu bohong"

"Lho Kenapa? "

Bertanya Cin Hong heran. In-jie mengulurkan tangannya menunjuk jenasah pemuda tadi ditanah, dan berkata.

"Pemuda tadi sebelum merutup mata jelas mengatakan orang she Kim, entah apa namanya. Tetapi orang itu tadi mengatakan namanya Yap Kiam Eng, apakah itu bukan bohong? "

"Ha a, aku ingat pemuda itu seperti mengatakan perkataan apa Kim Siok Yok, kemudian menjerit dan mengeluarkan perkataan kalong lantas mati. ..."

In-jie angkat muka mengawasi huruf "Eng"

Didinding tembok, berkata dengan perasaan bimbang.

"Kau lihat orang berkerudung muka itu betul adakah tamu tak diundang dari dun luar yang tulen atau bukan? "

"Aku lebih suka mengatakan dia yang tulen. Sebab tampaknya dia ada orang dari golongan kebenaran-"

Menjawab Cin Hong.

"Dalam rimba persilatan telah muncul dua tamu tak diundang, kali ini pasti akan terjadi keramaian"

Berkata In jie sambil tertawa. Cin Hong terkejut, berkata sambil tertawa.

"Apa kau suka menonton keramaian? "

"Em, apakah Kau sendiri tidak suka? "

"Aku kira, kesukaan semaCam ini tidak sedikit kejam... ."

"Urusan yang tidak menyangkut kita, perduli apa? "

"Ah, itu tidak baik "

Wajah Injie lantas menjadi merah, ia berdiri membelakangi Cin Hong, dan berkata.

"Pelajar tolol, apa yang tidak baik... ."

Cin Hong buru-buru membalikkan badannya dan berkata sambil menjura.

"Maaf, aku salah kata, harap kau maafkan."

In-jie tertawa, lantas memutar dirinya dan berjalan keluar dari kelenteng. Katanya.

"Jalan, kita juga sudah seharusnya pergi menyusul suhu"

"Tunggu sebentar, kita kubur dulu pemuda Yap Kiam Eng ini, kau pikir bagaimana"

"Menyusul suhu lebih penting Bagaimana kita masih akan mengurusi urusan kecil yang begitu banyak? "

Cin Hong terpaksa mengikuti gadis itu keluar dari kelenteng, dan orang itu keluar lagi ke rimba pohon Cemara, ketika berjalan ketempat mereka menambat kuda, tetapi kuda itu hanya tinggal seekor milik In-jie, seekor yang lain sudah tak tampak lagi bayangannya, tampaknya seperti sudah dicuri orang.

In-jie sangat mendongkol, katanya.

"Maling kuda Maling kuda Kalau tertangkap pasti akan kupatahkan kakinya"

"Jangan kau patahkan kakinya, serahkan kepada polisi Sudah Cukup,"

Berkata Cin Hong sambil menggelengkan kepala.

In-jie yang melihat kebiasaan Cin Hong selalu tidak lupa kepada pembesar negeri atau pengadilan, lantas mengerutkan alisnya dan berkata padanya sambil menghela napas.

"Hai, kau ini kutu buku, kiraku sudah waktunya harus dicuci otakmu"

Cin Hong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan bertanya.

"Kenapa? Apakah perkataanku salah? "

"Sudah tentu salah. Didalam rimba persilatan siapa orang yang suka berbicara soal hukum padamu? "

"Ini tidak baik, jika semua orang tak mau berbicara soal hukum bagaimana nanti jadinya? "

"Ah, aku tidak perlu berdebat denganmu lagi. Sekarang bagaimana? "

Berkata In-jie yang masih mendongkol. Cin Hong mengambil kudanya dan diberikan kepadanya, kemudian berkata.

"Naiklah kau, aku akan mengikuti dibelakangmu sambil lari juga tidak apa."

In-jie menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil tersenyum.

"Tidak. kalau mau kita sama-sama naik atau. ..."

Jantung Cin Hong berdebaran, katanya.

"Atau membuang kuda kita? "

In-jie mengeluarkan suara dari hidung, kemudian berkata dengan sinis.

"Ya, kau sungguh royal sekali"

"Kalau begitu kita tarik saja sambil lari bersama-sama, bagaimana? "

In-jie pentang lebar matanya dan berkata.

"Lari sambil menarik kuda? ini berarti suatu pekerjaan yang sangat berat."

Cin Hong menarik napas dalam-dalam, katanya.

"Kalau begitu, dimalam hari toh tidak ada orang yang melihat kita duduk bersama-sama, bagaimana? "

Muka gadis itu kembali menjadi merah, ia berpikir-pikir sebentar, lalu menghela napas dan kemudian berkata.

"Apa boleh buat terpaksa harus begitu saja"

Dengan demikian, dua orang itu lantas menunggang seekor kuda.

Cin Hong didepan, In-jie dibelakang, mereka melarikan kudanya keluar dari dalam rimba....Dalam perjalanan itu Cin Hong tiba-tiba merasa dibelakang kudanya ada hawa panas yang menghembus, ia sebetulnya tahu hawa itu adalah perbuatan in-jie yang menggoda dirinya, namun dalam hati terkejut juga , sebab pikirnya, gadis itu berani, terhadap seorang pemuda masih berani main-main demikian tanpa malu-malu.

Selagi masih berpikir demikian kembali belakang kuduknya merasa ada hawa hangat yang meniup, Kali ini diam-diam ia merasa girang, maka lalu mengangkat tangannya dan meraba belakang kuduknya, seraya berkata sambil tertawa.

"Nona Yo, apakah ini? "

"Apa? "

"Dibelakang kudukku ini dua kali merasa panas."

"Aku tidak tahu."

"Hai, ini sungguh anah... ."

"Kau Selalu mengherankan orang "

"Ya ......Haa Aku merasakan ada hawa panas lagi"

"cis"

Barangkali dari lubang hidungku yang keluar hawa"

"Begitu besar lobang hidungmu? "

"Ehm, dari dua lobang hidung mengeluarkan hawa berbareng. sudah tentu besar"

Cin Hong mendengar ucapan in-jie itu ternyata masih berbau kekanak-kanakan, maka dalam hati diam-diam merasa senang, kiranya ia hidup sampai demikian besar, meskipun belum pernah mempunyai kenalan seorang gadis, tetapi sebab sering bergaul di antara orang-orang terpelajar ternama, gadis gadis dari kalangan tinggi yang dilihatnya juga tak sedikit, namun ia selalu merasa bahWa gadis gadis itu umumnya terlalu mengekang diri, hingga tidak bisa berlaku bebas, sudah tentu tak bisa di bandingkan dengan gadis-gadis dialam bebaS, baik gerak-gerik maupun tingKah lakunya semuanya demikian wajar tanpa dibuat-buat.

"Kenapa kau tak bicara lagi"

"Hmm, kalau benar haWa yang keluar dan lubang hidung, apa lagi yang harus dibicarakan? "

"Berlagak bodoh"

"Ha. .hahahahahaa.. ."

"IHei, Cin Hong."

"Emm"

"Aku panggil kau Cin Hong, kau toh tak akan menolak bukan? "

"Sudah tentu tidak, kita sama2 tingkatan-Panggil saja nama masing2, itulah yang paling baik"

"Kalau begitu kau nanti akan memanggil aku apa? "

"Aku akan memanggilmu In-jie."

"Baik sekarang coba kau panggil"

"In-jie"

"Emm"

"in-jie"

"Emm"

"Sudah cukup? "

"Baik, tetapi apakah kau tidak anggap aku terlalu liar? "

"Tidak, kukira orang muda seharusnya memang begitu."

"Bagaimana Orang tingkatan tua? "

"orang tingkatan tua sem.anya sudah disekap dalam rumah penjara rimba persilatan. sekarang adalah kita orangorang generasi muda yang sudah tiba waktunya untuk bergerak"

"Dengan perkataanmu itu, seolah-olah suhu kita juga sudah disekap didalam penjara? "

"Tidak.. suhuku orangnya cakup mengerti."

"Suhuku juga "

"oh, tetapi bagaimana mereka bisa berpisahan? "

"Itu disebabkan karena suhumu gemar minum arak, hingga lupa daratan. Kabarnya tiap hari minum sampai mabok? "

"Masih ada sebab lagi, kudengar kabar, katanya suhumu tidak Suka kedapur? "

"Ini tak bisa menyalahkan suhu, sebab suhu memang tidak bisa menanak nasi. Kalau masak. selalu saja."

"Ha-haaa, kau sendiri bisa masak nasi atau tidak? "

"Aku bisa, dan kau sendiri gemar minum arak atau tidak? "

"Tidak.jika kadang-kadang ketemu. harus minum dalam perjamuan, hanya minum sedikit saja"

"Bohong, kemarin malam kalian empat cai-cu dari daerah Kang Lam telah minum diatas perahu sehingga mabok"

"Itulah mereka, Sedangkan aku tidak."

"Hei, Cin Hong "

"Emm "

"Apabila kita tak berhasil mencandak Suhu, lalu bagaimana? "

"Kita melatih kepandaian ilmu kita, untuk digunakan menggempur rumah penjara rimba persilatan, lalu menolong keluar mereka semua orang golongan putih "

"Waktu itu apakah aku masih berdiri satu garis denganmu? "

"coba kau katakan sendiri, bagaimana? "

"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu. Ayah ibuku semua sudah mati terbunuh."

"Aaa, Siapakah yang membunuhnya ...,? "

"Aku tidak tahu, aku telah ditolong oleh suhu dari sebuah kereta kuda yang terbalik, WaktU itu aku baru berumur dua tahun...."

"TaK dapat menemukan asal-usul musuhmu? "

"Tidak. Menurut dugaan suhu. ayah ibuku adalah kaum pedagang yang kaya raya, dan dalam perjalanannya menuju kelain kota telah dibegal oleh brandal dan kemudian dibunuh mati."

"Ai Kawanan berandal itu sesungguhnya terlalu kejam sekali"

"Kelak pada suatu hari. apabila aku dapat menemukan, aku akan bunuh mati mereka"

"Menuntut balas bagi ayah dan ibu itulah suatu kewajiban dan suatu hal yang seharusnya."

"Cin Hong "

"Em "

"Apabila kita tak dapat mencandak Suhu kau lukiskan lagi gambar potretku. Maukah kau? "

"Untuk apa? "

"Suhu yang menghendaki."

"oo, baiklah "

"Lukisanmu sungguh bagus "

"Mana? Kau terlalu memuji."

"Beritahukan kepadaku, malam itu meng apa kau melukis gambarku? "

"Tak enak ah, kalau aku katakan sebabnya."

"Tak apa, katakanlah "

"Waktu pertama kali aku melihatmu....IHai, lekas lihatlah Didepan itu bukankah ada seekor kuda? "

"Hei, iya. Betul seekor kuda"

"Apakah bukan kuda kita yang hilang itu? "

"Mari lekas kita kejar "

"Baik "

Mereka lalu melarikan kudanya, dan dalam waktu sekejap mata sudah berhasil mencandak kuda didepannya.

Begitu dilihatnya, memang betul adalah kuda mereka yang hilang itu.

Tetapi waktu itu diatas kuda ada duduk seorang pemuda berpakaian mesum, agaknya sedang menikmati pemandangan malam.

Pemuda itu tampaknya sangat tenang Sekali.

Dia, dengan wajahnya yang mesum, rambutnya yang acakacakan, bukan lain dari pada murid pangcu golongan pengemis yang tersayang, yang menyebut dirinya sendiri sebagai can Sa Jie.

Cin Hong sesangguhnya merasa diluar dugaan itu buruburu menghentikan kudanya dan memanggil2nya dengan perasaan girang.

"Saudara can Sa, kiranya kau yang mempermainkan kita."

Sepasang mata can Sa Jie yang sudah besar semakin terbuka lebar, ia berkata sambil tertaWa aneh.

"Iya Dengan uang juga tak bisa membeli permainan yang menggairahkan ini"

In-jie marah, lantas memaki-maki padanya.

"Maling kuda Tidak tahu malu"

Can Sa jie mengawasi In-jie dengan matta menyipit, katanya dengan ketawa CeCengesan.

"Kau seharusnya menambah kata kau yang baik hati dibawah kata-katamu Maling Kuda, bukankah begitu? "

Sepasang pipi In-jie menjadi merah, katanya.

"cis Turun, Aku hendak memotong pahamu"

Can Sa Jie kembali tertawa mengejek dan berkata.

"Sebaliknya biarlah tetap begini saja, aku can Sa Jie sekarang mendapat kesempatan menunggang kuda, sedangkan kalian juga jarang dapat kesempatan menunggang seekor kuda bersama-sama, bukankah begitu? "

In-jie sebetulnya memang merasa berat turun dari kudanya, maka lantas tertawa dan kemudian menepok pantat kudanya seraya berkata.

"Jalan Kita jangan berjalan bersama-sama dia" . Cin Hong menurut dan mulai memaCu kudanya lagi. cin Sa Jie mengikuti dibelakang, katanya Sambil tertawa.

"cin Bong kau sikeledai ini sebentar saja sudah terpikat olehnya"

Cin Hong lantas menjadi merah wajahnya ia berpaling dan berkata pada in-jie dengan Suara pelahan.

"Sungguh tidak enak didengarnya. Kita tunggu saja dia "

In-jie tak menurut, ia berpaling dan berkata.

"Dia paling menjemukan, suka sekali menggoda orang "

"Kau berlagak tabah, dia tidak akan menggoda lagi"

Can Sa Jie menunggang kuda seorang diri bisa lari lebih Cepat, dalam Waktu singkat Sudah berhasil menyusul Cin Hong dan in-jie, kemudian kembali berkata sambil tertawa Cengar-Cengir

"Sudah lama aku melihat dan mendengar.

Kini engkau merasa malu apa gunanya?"

In-jie membusungkan dadanya, katanya dengan sikap berani.

"Pergi kau Siapa yang malu? "

Can Sa Jie kaget. katanya heran.

"Hah, bagaimana kau berubah demikian cepat? "

In-jie angkat muka, katanya dengan sikap menantang.

"Kenapa? "

Can Sa Jie menyaksikan gadis itu sudah tak malu-malu lagi, ia merasa kurang senang, terpaksa tertawa saja sambil angkat pundak. dan kini benar-benar tidak menggoda lagi.

Cin Hong lalu berpaling kepada In-jie dan tersenyum puas, kemudian berpaling dan berkata pada Can Sa-jie.

"Saudara Can Sa-jie, bagaimana kalau kau juga jalan bersama-sama kita? "

Can Sa-jie menganggukan kepala dan balas bertanya.

"Em, senangkah kalian kalau aku ikut? "

"Mengapa tidak? "

Berkata Cin Hong.. In-jie lantas berkata.

"Kalau hendak berjalan bersamasama kau harus berlaku sedikit tahu aturan "

Can Sa Jie berkata sambil menganggukkan kepala dan tertawa.

"Ya, aku can Sa Jie tahu aturan, tidak akan merintangi ketenangan kalian"

Wajah In-jie kembali merah, Sambil menepuk pinggul Cin Hong ia berkata.

"Kau dengar apa yang diucapkan itu? "

Cin Hong hanya tertawa, lalu bertanya pada can Sa Jie.

"Saudara can Sa, orang tua berbaju hijau yang kau kejar tadi bagaimana? Kau berhasil menyandaknya atau tidak? "

"Tidak. aku menemukan suatu kejadian aneh, kemudian aku balik kemhali kerumah makan itu, baru tahu bahwa kalian sudah tak ada disana, hingga aku mengejar sampai disini. Ketika aku tiba, justeru kudengar kata-kata dari Liu KWie-hui itu yang mengatakan bahwa orang tua berbaju hijau itu adalah tamu tidak diundang dari dunia luar."

Berkata can Sa jie sambil menggelengkan kepala.

"Kau lihat orang berbaju putih dimukanya itu betul tamu tidak diundang diri dunia luar yang tulen atau bukan? "

Bertanya pula Cin Hong.

"Siapa tahu? Sekarang terpaksa panggil saja tamu yang tidak di undang dari dunia luar sudah cukup"

Menjawab cin Sa Jie sambil menggelengkan kepala kembali.

"Kau tadi mengatakan telah menemukan kejadian aneh. Apakah sebetulnya itu? "

Bertanya In-jie. can Sa Jie pura-pura berlaku misterius, katanya sambil tertawa.

"Itu adalah suatu kejadian aneh yang sangat unik "

In-jie merasa heran. mendesak dia supaya lekas menerangkan.

"coba ceritakanlah"

Can Sa Jie mengangguk-anggukkan kepala dan berkata.

"Baiklah, tetapi ada syaratnya"

"Apa syaratnya? "

Bertanya In-jie heran-"Bantu aku menolong seseorang."

Berkata can Sa Jie sungguh-sungguh. In-jie melengak. ia berpikir sebentar, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Kita hendak menyusul suhu, tak ada tempo"

Can Sa Jie buru-buru memberi penjelasan.

"Sekalipun jalan saja. Jikalau kita urus baik-baik, setengah jam juga cukup"

Cin Hong yang sejak tadi diam saja lantas berkata.

"Sebetulnya siapa yang hendak kau tolong? "

Can Sa Jie kembali unjukkan Sifatnya yang nakal, katanya sambil tertaWa.

"Kalau kau terima baik dulu permintaanku mau membantu, aku baru beritahu kepadamu."

In-jie yang terdorong oleh perasaan heran lantas berkata.

"Kau katakan dulu, orang yang hendak kau tolong itu orang baik ataukah orang jahat? "

"Jika kita turun tangan menolong dia, dia adalah orang baik, jika kita tidak turun tangan menolong dia, dia nanti akan berubah menjadi orang jahat"

Berkata can Sa Jie sambil tersenyum. Setelah mendengar keterangan itu jari tangan In-jie menowel punggung Cin Hong seraya berkata.

"Kau bagaimana."

"Aku tentunya baik, dan kau? "

Menjawab Cin Hong girang. In-jie lalu berkata kepada can Sa Jie.

"Aku juga terima baik. Sekarang katakanlah"

Can Sa Jie mengangkat tangannya membereskan rambutnya yang awut-awutan, kemudian baru berkata.

"Soalnya begini, setelah aku mengejar orang tua berbaju hijau dari rumah makan, pelajar berbaju putih dan orang tua berbaju hijau sudah taK nampak lag bayangannya. Kupikir mereka mungkin menghilang keluar kota, maka aku lantas mengejar keluar kota, tak kuduga, setelah aku melakukan perjalanan sepuluh pal lebih, tetap tak menemukan jejak mereka, selagi hendak kembali untuk mencari kalian, dengan tiba-tiba dirimba ditepi jalan kudengar suara cici-cuca? "

In-jie lantas memotong dan berkata.

"DiwaktU datang, tahu banyak burung-burung berterbangan untuk pulang kesarangnya. sudah tentu terdengar suara ribut-ribut. Apa yang dibuat heran? "

"Bukan, yang kumaksudkan ialah suara seorang wanita."

Berkata can Sa Jie. Muka in-jie menjadi merah, katanya.

"Kau gila, Siapa suruh kau membandingkan suara wanita dengan suara burung? "

Can Sa Jie menggaruk-garuk telinganya dan berkata sambil tertawa meringis.

"Aku hanya berkata Cici CaCa, tak menggambarkan wanita sebagai burung."

Cin Hong merasa geli, katanya tertawa.

"Lekas kau Ceritakan lagi"

In-jie lantas berkata.

"Sudahlah jangan ceritakan, tentunya perempuan baik-baik."

Sikap can Sa Jie dengan tiba-tiba menjadi serius, katanya dengan sungguh-sungguh.

"ini adalah suatu perampokan yang belum pernah ada dalam sejarah, bagaimana tidak boleh diceriterakan? "

Cin Hong terkejut, katanya.

"Apa katamu? "

"Waktu itu, ketika kudengar suara tersebut, dalan hati timbul Curiga. Dalam hatiku bertanya-tanya sendiri, dari mana ada demikian banyak perempuan? oleh karena tertarik oleh perasaan heran, maka diam-diam aku menyusup ke dalam rimba untuk menyaksikan, Heh Hebat benar pemandangan"

Berkata can Sa Jie sambil menghela napas. In-jie lalu bertanya dengan peraSaan Cemas.

"Ada berapa orang jumlahnya? "

Can Sa Jie mengulurkan jari tangan kanannya.

katanya sambil tertawa.

"Delapan, mereka telah duduk menjadi Sebuah lingkaran-Usiaya kira-kira tujuh belas tahun delapan belas tahunan, semuanya Cantik bagaikan bidadari.

Ada yang gemuk ada yang kurus, kita yang berada disitu seolah-olah berada dikalangan bidadari....."

"ciS, tidak beres otakmu"

Demikian in-jie nyeletuk.

Tetapi can Sa Jie tidak marah, ia masih melanjutkan Ceritanya.

"Apa yang paling mengejutkan ialah setiap orang semuanya memiliki kepandaian ilmu silat, bahkan mereka saling menyebutkan ....

Go moy, pat moy dan sebagainya, kupikir jika ada satu keluarga mempunyai delapan anak perempuan, ini tidak heran, tetapi usia mereka semuanya sebaya, inilah yang mengherankan bagiku, apakah didalam dunia ini ada orang yang sekaligus melahirkan delapan anak kembar perempuan?"

"Apakah wajah mereka satu sama lain sangatt mirip? "

Bicaranya in-jie heran-"Tidak. wajah mereka ada yang bulat ada yang bundar telur, ada pula yang seperti biji kwaCi, ada juga yang ... ."

Berkata can Sa Jie sambil menggelengkan kepala. In-jie kembali tertawa.

"Itupasti adalah saudara angkat, begini Saja kau masih tidak mengerti, benar-benar seperti katak didalam sumur"

"Waktu itu aku pikir juga begitu, tetapi dengan tiba2 kudengar satu diantaranya mengucapkan kata2 yang membuatku bergidik"

"Apa yang dikatakan? "

Bertanya In-jie agak heran.

"Dia kata. .Kita dua belas kiongcu (putri) sudah ada lima orang yang hampir menyelesaikan tugasnya. Hanya tinggal kita tujuh orang, jikalau tidak lekas2 kita menangkap seseorang, nanti Kiong (baginda raja) kalau menegornya benar2 runyam."

Kalian dengar apa maksud ucapan mereka itu? "

Tanya can Sa Jie sambil tertawa. Cin Hong berkata dengan perasaan kaget.

"Tadi orang berbaju putih yang memakai kerudung dimukanya yang mengaku diri sebagai tamu tak diundang dari dunia luar juga pernah berkata tentang dua belas putri dari golongan kalong yang diutus untuk melakukan perbuatan jahat diluaran? "

Can Sa Jie mengangguk2kan kepala dan berkata sambil tertawa.

"Benar, mereka diutus keluar untuk memancing kaum lelaki. Kalian pikir, siapakah orang yang hendak mereka pancing? Heh Kudengar salah seorang dari mereka itu lantas berseru "Akulah yang palirg sial, karena diutus pergi kegereja Siau-liem-sie, coba kalian pikir partay Siauwliem semuanya terdiri dari orang-orang berkepala gundul, mereka kalau melihat aku saja sudah memejamkan matanya memuji nama Buddha. Apa o-mitohudlah Apa siancaylah benar-benar membuat orang tidak berdaya, dan aku benar-benar sangat cemas Sekali."

Cin Hong tiba-tiba berseru kaget.

"Aii Kalau begitu mereka hendak memancing generasi mudadari dua belas partay dalam rimba persilatan? "

"Sedikitpun tidak salah. dari pembicaraan mereka aku sudah tahu, bahwa partay ciong-lam, Kiong-lay, Lam-hay, oey San dan HOa San masing-masing sudah ada seorang murid yang terpikat oleh keCantikan mereka, masih ada satu lagi juga hampir terpancing oleh mereka"

Berkata can Sa Jie.

"Apakah maksud mereka berbuat demikian? "

Bertanya Cin Hong sambil mengerutkan alisnya.

"Entahlah, tetapi apa kau tadi tidak dengar tamu tidak diundang dari dunia luar pernah berkata, bahwa itu adalah rencana keji golongan kalong? Pemuda murid ketua Thiansanpay Yap Kiam Eng.justru karena mengetahui rencana keji mereka dibunuh seCara mengenaskan"

In-jie seolah-olah takut kalau Cin Hong juga akan terpancing oleh mereka, maka tanpa disadari lantas mengulur tangannya dan memegangi pundaknya, ia bertanya dengan perasaan takut.

"Kau katakan, siapakah seorang lagi yang hendak dipancing itu."

"Dia adalah seorang angkatan muda dari partai Khong Tong Pay yang mempunyai julukan pendekar baju biru, Nia Khun juga adalah orang yang sekarang hendak kita tolong itu,"

Berkata can SanJie Sambil menghela napas.

"Bagaimana dengan dia? "

Bertanya Cin Hong Cemas.

"Dia sudah terpikat oleh cit kiongcu dari dua belas putri itu, dua orang itu sudah berjanji malam ini akan mengadakan pertemuan di-telaga cui Sin ouw dibukit Tongsan, itulah yang kudengar dari pembicaraan mereka dari rimba itu."

Berkata can Sa Jie. In-jie kedipkan matanya, tanya nya dengan perasaan bingung.

"Mereka mengadakan perjanjian, sebetulnya untuk apa? "

Can Sa Jie mendadak merasa sulit untuk menjawab, maka berkata sekenanya.

"Barangkali hendak membujuk pendekar baju biru itu. melakukan, perbuatan mesum."

Cin Hong tahu bahwa perbuatan mesum itu jikalau tidak lekas dicegah, akan membuat seorang pemuda tak dapat mengendalikan perasaannya terjerumuS kedalam comberan, maka ia lantas berkata.

"Saudara can Sa, gunung Tong San itu terpisah beberapa-jauh dari sini? "

Can Sa Jie menunjuk kedepan, kesalah satu gunung yang tampaknva tidak jauh, lantaS kerpak kudanya dan lari kedepan seraya berkata.

"Gunung didepan itulah, kita lekaS sedikit, jika tidak., nanti tidak keburu lagi"

Cin Hong juga segera memaCu kudanya mengikuti dibelakang can Sa Jie, dua kuda itu dilarikan dengan cepat.

Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di bawah kaki gunung.

Tiga orang itu lalu menambat kuda masing-masing di dalam rimba.

baru keluar dengan berjalan kaki, Selagi hendak mendaki gunung..

Tiba-tiba di bawah sinar bulan yang samar-samar, di tempat sejauh tiga tombak telah, muncul enam orang wanita yang cantiK bagaikan bidadari, setiap orang membawa sebilah belati berkilauan, mengurung tiga orang itu Ketengah-tengah mereka meskipun masing-masing pada membawa senjata tajam, akan tetapi wajah mereka semuanya cantik menariK, apa lagi mata mereka, dengan penuh daya penarik ditujukan kepada Cin Hong seorang, seolan-olah asal salah Seorang mengeluarkan perintah, lantas menari-nari.

Cin Hong diam-diam merasa merinding tetapi matanya juga merasa agak kabur, ia geser kakinya, merapat kediri can Sa Jie dan berkata dengan suara pelahan.

"Saudara can Sa, nona inikah yang pernah kau lihat?"

Can Sa Jie menganggukkan kepala, katanya dengan suara pelahan.

"Kau jangan sebut mereka nona, dengan begitu terlalu merendahkan diri sendiri"

"ooo, apakah harus berkelahi? "

Bertanya pula Cin Hong.

"Jika tidak. apakah harus mengobrol dengan mereka? "

Menjawab can Sa Jie. Alis Cin Hong di Kerutkan, ia berkata dengan rasa ragu.

"Berkelahi dengan orang perempuan, aku selalu merasa segan...."

Can Sa Jie buka lebar sepasang matanya, katanya heran.

"Ha, jadi kau tak berani berkelahi dengan orang perempuan? "

"Bukan aku tak berani, aku selalu merasa bahwa lelaki yang baik, tidak mau berkelahi dengan orang perempuan, bujuk saja mereka sudah cukup,"

BerKata Cin Hong. can Sa Jie menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Tidak. terhadap perempuan bangsa siluman Seperti ini, kalau kita berkata demikian, iiu bukan pada tempatnya, pikiran semaCam ini perlu harus segera dirubah"

Cin Hong merasa tak enak, ia hanya bisa tertawa-tawa saja, lalu mendorongnya kedepan dan berkata.

"Baiklah, kau coba bicara dulu dengan mereka, sebaiknya jangan sampai berlaku kasar, kita berunding secara baik-baik Saja....."

Can Sa Jie membereskan rambutnya yang awut-awutan, ia berjalan maju Selangkah, mengulurkan tangannya menuding enam perempuan Siluman, katanya dengan suara aneh.

"Hai, kalian enam perempuan Siluman Apa maksudnya mondar-mandir di gunung ini? Sekarang salah seorang dari kalian boleh keluar untuk menjawab pertanyaanku can Sa Jie."

Tetapi enam perempuan itu seolah-olah tidak dengar dan tidak melihat, mereka masih tetap bergoyang pinggul sambil tertawa. can Sa Jie marah sekali, bentaknya.

"Pui Kalau kau masih goyang-pinggul lagi, tuan mudamU terpaksa nanti akan menggamparmu semua"

In-jie juga merasa sebel, bentaknya sambil menuding jari tangannya.

"Sungguh tidak tahu malu Kalau kamu berani bergerak lagi, aku nanti terpaksa akan melakukan pembunuhan"

Namun enam perempuan genit itu tidak menghiraukan, mereka masih terus goyang pinggul sambil mendekati Cin Hong, sambil main mata.

Cin Hong merasakan gelagat tidak beres, maka juga lantas membuka mulut.

"IHei, kalian enam nona ini apakah maksud kalian berbuat seperti ini? "

Enam perempuan itu ketika mendengar ucapan Cin Hong, dengan serentak berhenti bergerak, seorang diantaranya yang mengenakan gaun warna merah lantas berkata Sambil tertawa geli.

"Sudahlah akhirnya ia toh buka mulut juga? "

Seorang perempuan lain yang mengenakan gaun hijau lalu menyambung.

"Hi hli, betapa indah suaranya"

Seorang lagi ikut menyela.

"Kalian lihat, wajah dia menjadi merah"

Cin Hong terperanjat, dalam hati berpikir.

"perempuanperempuan ini meng apa hanya tujukan perhatiannya kepadaku ini seorang saja, hal ini bagaimana boleh berlangsung terus? "

Maka ia lantas mundur kebelakang Can Sa Jie, dan berkata lagi.

"Saudara Can Sa, mereka kini sudah buka mulut. harap kau berunding dengan mereka, tapi, sedapat mungkin nasehati saja kepada mereka... ."

Can Sa Jie terpaksa maju setengah lagi, dengan mata melotot memandang mereka, katanya dengan suara keras.

"Kalian perempuan-perempuan Siluman ini, aku tahu salah seorang diantara kalian yang dinamakan apa itu Cit Kiongcu, pada saat ini sedang melakukan perbuatan mesum dengan Nie Khun pendekar berbaju biru ditelaga Cwie Sim Ouw, sekarang kalian lekas minggir, jikalau tidakaku akan bunuh kalian semua!"

Enam Perempuan itu semuanya angkat muka tidak memandang padanya, seolab-olah sengaja hendak membikin panas hatinya, setelah itu kembali mereka menggoyangkan pinggulnya lagi untuk memikat hati Cin Hong.

Can Sa Jie mendadak marah, dengan mengeluarkan suara geram, lantas lompat menyerbu, memukul dengan tangan kiri dan kanannya, pukulannya itu dilakukan dengan gerakan yang sangat aneh, tampaknya juga tidak merasa kasihan terhadap perempuan-perempuan yang cantik jelita itu, Enam perempuan itu agaknya sangat benci terhadapnya, setelah mengeluarkan suara bentakan, segera mengurungnya ditengah, enam bilah belati digunakan untuk menyerang dengan rapat, tampaknya sangat penasaran sekali terhadap pengemis muda yang dekil dan jelek itu.

SELURUH kepandaian ilmu silat Can Sa Jie yang didapat dari gurunya, dalam generasi muda sudah merupakan salah seorang terkuat pada dewasa itu.

Maka meskipun ia hanya dengan menggunakan sepasang tangan kosong menghadapi serangan enam orang perempuan cantik itu, masih bisa melayani dengan baik, sedikit pun tak menUnjukkan tanda-tanda akan kalah.

Akan tetapi, lama kelamaan, ia sudah mulai kewalahan.

Kiranya enam perempuan cantik itupun mempunyai didikan dari tokoh kuat, semula oleh karena mereka tidak pandang mata pada Can Sa Jie, maka mereka tidak mementingkan cara kerja sama yang rapi, setiap ingin menyerang dia hanya untuk pelampias kedongkolan masing-masing.

tapi setelah melihat bahwa serangan itu semuanya tak berhasil, barulah mereka merubah siasat pertempuran, saat itu mereka pun bekerja sama dengan rapi, mengurung Can Sa Jie ketat.

Barisan yang tampaknya dari golongan sesat itu, setiap serangan dilakukan dengan tipuan yang indah, dilihat sepintas seperti bukan sedang pertempur, tetapi bagi Can Sa Jie seolah seperti telah kemasukan setan, setiap serangannya tak mengenai sasaran, setiap hendak menyerbu keluar selalu tidak berhasil, maka ia berseru cemas.

"Hei! Mengapa kalian berdua enak-enak nonton saja? "

Cin Hong seolah-olah baru sadar, ia berpaling dan bertanya pada In-jie.

"In jie, apakah kita perlu turut campur? "

In-jie menyahut.

"Baik!"

Lantas lompat menyerbu ke dalam barisan enam perempuan cantik itu, ia yang sudah meraSa gemas, tangan dan kakinya pada bergerak, menyerang bagian pinggul perempuan-perempuan itu.

Cin Hong pun turut menyerbu, tapi ia tak berani memukul pinggul mereka, yang di tujukan hanya bagianbagian yang tidak penting, sebab ia selalu menganggap bahwa pertempuran dengan kaum wanita, sesungguhnya kurang baik.

Setelah ia dan In-jie turut bertempur, maka barisan enam perempuan cantik itu lantas menjadi kalut.

Kiranya ketika mereka melihat Cin Hong tak berani menurunkan tangan berat, mereka lantas mengurung Cin Hong sambil tertawa, hampir setiap orang ingin bertempur dengannya, bahkan ada yang busungkan dadanya, agar di serang bagian buah dadanya.

Cin Hong yang dapat sambutan demikian sudah tentu terkejut dan kalang kabut sendiri.

berulang kali mundur Sambil berseru.

"Tak boleh! Tidak ada pertempuran secara begini!"

In-jie yang menyaksikan perempuan perempuan itu bertempur dengan cara yang tak malu demikian, hatinya semakin mendongkol, hingga hampir Saja mau menangis, tetapi dengan demikian, ia juga turun tangan semakin ganas, Sambil menyerang, mulutnya terus memaki.

"Sungguh tak tahu malu! Aku nanti akan hajar mampus kalian kawanan siluman yang tak punya malu!"

Sementara itu Can Sa Jie yang sudah mendapat bala bantuan.

ia hanya tujukan sasarannya pada dua kiongcu dalam pertempuran yang berlangsung sengit tanpa disengaja jari tangannyaa menyentuh ketiak salah seorang lawannya, Kiongcu itu barangkali karena takut geli, lantas tertawa sendiri sambil menggelinjing.

Can Sa Jie tak perdulikan itu semua, menggunakan kesempatan itu telah menendang jatuh kiongcu itu, mungkin karena tendangannya yang keliwat berat, hingga kiongcu itu terguling keluar kalangan, hidungnya berdarah, ia menangis tersedu.

Can Sa Jie terperanjat, dan selanjutnya.

berkata girang.

"Hei! perempuan-perempuan ini mungkin pada takut geli. Cin Hong. kau boleh kitikin ketiak mereka!"

Cin Hong dengan seorang diri melayani tiga wanita yang selalu tak berani menyerang buah dada mereka yang ditonjolkan dengan demikian menantang, Sedang kelabakan, maka ketiKa mendengar perkataan itu ia lantas menggerakkan kedua tangannya pura-pura bersikap hendak menyerang bagian ketiak perempuan-perempuan itu, sedang mulutnya mengancam.

"Kalian lekas pergi, jikalau tidak aku nanti terpaksa akan menyerang ketiak kalian!"

Tetapi tiga perempuan itu sedikitpun tidak merasa takut, sebaliknya malah menyerbu sambil tertawa-tawa, sedang mulut mereka pada berseru.

"Baik, silahkan serang saja, hai!"

"Disini, disini, letakkanlah tanganmu disini!"

"Aku tahu, tentu kau tak berani...."

Demikianlah perempuan-perempuan cantik itu pada mengeluarkan tantangannya kepada Cin Hong.

Cin Hong ketika melihat bahwa gertakannya tidak berhasil, kembali menjadi kelabakan lantas berseru kepada Can Sa Jie.

"Saudara Can Sa, tiga perempuan ini tidak takut geli!"

Pada Saat itu Can Sa jie justru sudah berhasil merobohkan seorang lawannya lagi maka lantas pergi membantu ke fihak Cin Hong.

Berbeda dengan Cin Hong, Can Sa Jie lantas menggerakkan tangannya, dan benar saja, ditujukan kepada ketiak-ketiak mereka, katanya sambil tertawa.

"Kau memang tak berani menyerang mereka. Sekarang lihatlah, bagaimana aku menyerang mereka!"

Tiga perempuan cantik itu karena tidak suka menghadapi Can Sa Jie si pengemis muda itu terpaksa pada lari terbiritbirit.

Di lain fihak, In-jie yang bertempur seorang diri menghadapi dua orang perempuan cantik, ia yang sudah merasa gemas terhadap mereka, maka ia turun tangan tanpa kenal kasihan.

Dalam sekejap, dua orang lawannya roboh tertotok ilmu tunggalnya golongan Thian San.

Setelah ia robohkan dua orang lawannya.

lantas ia kembali kesisi Cin Hong.

Terhadap perempuan yang masih tetap membandel, ia lantas mengirimkan serangan.

Dengan demikian, diantara enam kiOngCu itu telah dua orang yang tertotok roboh, dua orang tertendang dan seorang diantaranya terluka bagian mukanya, yang kini masih duduK ditanah.

sambil menangis dengan sedihnya, tinggal dua orang lagi, bagaimana sanggup menghadapi Cin Hong dan Can Sa Jie?

Maka sambil menari-nari, mulut mereka meratap.

"Jangan berkelahi lagi, kita menyerah!"

Cin Hong buru-buru menarik kembali serangannya dan baru-buru mencegah Can Sa Jie dan In-jie;

"Berhenti! Berhenti! Mereka sudah menyerah! Can Sa Jie mendengar perkataan 'menyerah' itu, tidak mau berbuat Keterlaluan, maka segera menghentikan serangannya, dan menantikan perkembangan selanjutnya. Sedang matanya terus berputaran mengawaSi perempuanperempuan yang kini keadaannya sangat mengenaskan itu. Sebaliknya dengan In-jie, tak mau menghentikan serangannya, seolah-olah hendak menyapu bersih kawanan Siluman itu, sampai tiga kali Cin Hong mencegah, baru menghentikan serangannya dengan perasan dan masih penasaran, lalu berdiri disamping Cin Hong lagi. Dua perempuan itu dengan ketakutan berdiri Sambil menundukkan kepala, seolah-olah orang hukuman yang menantikan vonisnya. Keadaannya Sangat menyedihkan. Can Sa Jie mengeluarkan dua kali suara batuk-batuk, dengan tiba-tiba menuding kiongcu yang masih menangis duduk ditanah itu, bentaknya dengan suara bengis.

"Bangun! Jangan berlagak lagi!"

Dua perempuan itu tak mau bangun. Seorang diantaranya, ialah yang terluka dihidungnya bahkan menangis semakin keras, katanya.

"Siapa yang berpurapura? Kau telah melukai hidungku, bagaimana aku ada muka untuk menemui orang lagi? "

Can Sa Jie terperanjat, perlahan-lahan berpaling mengawasi Cin Hong seraya berkata;

"Heh, perempuanperempuan ini hendak main gila denganku!"

Cin Hong juga unjukkan senyuman getir katanya sambil mengangkat bahu.

"Aku sudah merasakan bahwa kita memang tak seharusnya untuk berkelahi dengan kaum Wanita, itu SeSungguhnya Sangat tidak enak buntutnya... ."

In jie yang masih penasaran, lantas membentak sambil menuding kepada perempuan yangterluka itu;

"Bangun, kalau berani main gila lagi ku-nanti hajar sampai mampus!"

Dua perempuan itu ketakutan, terpaksa menurut dan bangun berdiri, setelah itu mereka mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka air matanya masing-masing, Can Sa Jie Sangat terperanjat dan kedip-kedipkan matanya, kemudian berkata Sambil tertaWa dan mengacungkan ibu jarinya kepada In Jie.

"Ternyata kau yang lebih ditakuti! Sekarang biarlah kau yang bertanya pada mereka!"

In-jie tersenyum, sambil bertolak pinggang ia bertanya kepada kaum perempuan cantik itu.

"Sekarang aku hendak bertanya kepada kalian, adakah kalian ini yang dinamakan dua belaS perempuan siluman dari golongan kalong? "

Perempuan-perempuan itu terdiam, Seorang diantaranya yang bergaun hijau lantas menjawab sambil melirik Cin Hong;

"Siapa yarg berkata demikian? Kita adalah dua belas kiongcu!"

In-jie marah, katanya dengan suara keras "Tidak tahu malu. Kalau kau berani mengucapkan perkataan yang bukan-bukan lagi, nanti aku robek mulutmu!"

Kiongcu itu benar saja tak berani membuka mulut lagi, ia menundukkan kepala dengan perasaan takut, In-jie merasa puas, ia kembali bertanya;

"Aku hendak bertanya lagi, Siapakah pangcu dari golongan kalian yang menamakan diri golongan kalong itu? Berapakah jumlah anggota golongan kalong itu? Dengan maksud apa kalian diutus keluar untuk memikat generasi muda dari dua belas partay? Semuanya ini kau harus jawab dengan sejujurjujurnya! Jikalau tidak, terpaksa aku nanti akan mengambil tindakan tegas!"

Perempuan-perempuan itu ada menunjukan sikap ketakutan, mereka saling berpandangan dan tak seorang pun yang berani membuka mulut untuk menjawab. In-jie dengan alis berdiri bertanya pula.

"Lekas jawab, jikalau tidak menjawab, aku nanti terpaksa akan menghajar mampuS kalian semua!"

Perempuan perempuan itu pada menundukan kepala dan tidak bersuara, sesaat kemudian, kiongcu yang bergaun hijau itu dengan wajah sejih berkata.

"Kau bunuh saja kami semua, sebab urusan ini, kami semua tak berani menerangkan.."

In-jie tidak menduga bahwa mereka ternyata tidak takut mati, maka sesaat ia tertegun, selagi memikirkan bagaimana untuk menggertak mereka lagi, sebab jika tidak benar-benar dibuktikan ancamannya, bukankah akan hilang kewibawaannya?

Dalam murkanya, selagi hendak turun tangan dengan tiba-tiba tangan kirinya digenggam oleh seseorang.

Dan ketika ia berpaling, tampak Cin Hong berkata padanya sambil tersenyum.

"In-jie, kau mau apa? "

Dari sinar mata Cin Hong, In-jie segera dapat memahami maksudnya, maka Wajahnya menjadi merah seketika, ia berkata sambil menundukan kepalanya.

"Aku, aku rasanya terlalu galak bukan? "

Cin Hong menganggukan kepala dan berkata sambil tersenyum.

"Tidak apalah, sekarang biar aku saja yang menanyakan pada mereka."

Sehabis berkata demikian maju selangkah menghampiri wanita-wanita itu, lalu berkata sambil menyoja;

"Nonanona, sekarang bagaimana keadaan ditelaga Cui-sin-oaw diatas gunung ini? "

Wanita-wanita cantik itu melihat Cin Hong, turun tangan sendiri untuk bertanya pada mereka, semuanya menunjukan sikap bersemangat atas pertanyaan tadi telah dijawab oleh wanita yang luka pada hidungnya;

"Mereka sedang mandi ditelaga, sungguh sekali!"

Cin Hong terperanjat, ia bertanya dengan suara kaget.

"Ha! Mandi? "

Wanita bergaun merah itu dengan sikapnya yang dibikinbikin, berkata sambil tertawa cekikikan;

"Ya, Sungguh permainan didalam air yang sangat mengasyikkan!"

Wajah Cin Hong menjadi merah, sedang hatinya berdebaran. Ia berpaling dan berkata kepada Can Sa Jie.

"Saudara Can Sa, sekarang bagaimana baiknya."

Can Sa Jie diam-diam bergidik, ia menjawab sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Benarkah keterangannya itu? Alangkah memalukan perbuatan itu!"

Kiongcu bergaun hijau lantas menyela.

"Siapa yang bilang tidak benar? Mereka mandi dalam keadaan telanjang bulat...."

In-jie yang mendengar itu wajahnya menjadi merah, ia berseru kaget, lantas membentak dengan suara keras.

"Tidak tahu malu! Kalian semua enyahlah dari sini!"

Perempuan-perempuan itu seolah-olah mendapat pengampunan besar, Sambil menyambar dua orang kawannya yang menggeletak ditanah, secepat kilat pada bergerak untuk melarikan diri.

Cin Hong mengawasi berlalunya perempuan-perempuan cantik itu sampai tak tampak lagi, lalu berpaling dan bertanya kepada Can Sa Jie.

"Saudara Can Sa, kau pikir bagaimana kita harus bertindak? "

Can Sa Jie melirik In-jie, lalu berkata sambil angkat bahu;

"Kupikir sebaiknya kita naik keatas gunung untuk menyaksikan sendiri. Pribahasa ada kata. 'Kalau mau menolong orang, menolonglah dengan sunggnh-sungguh'... ."

In-jie mendadak angkat muka dan berkata dengan suara nyaring;

"Aku tak mau pergi!"

"Kau tidak mau pergi, kalaU begitu kau diam disini saja menunggu kita sampai pulang kembali."

Berkata Can Sa Jie. In jie berpaling mengawasi Cin Hong, lalu bertanya dengan perasaan khawatir.

"Cin Hong apakah, kau hendak pergi juga? "

Cin Hong belum lagi menjawab dengan tiba-tiba Can Sa Jie melangkah mendekati padanya sampai berbisik-bisik;

"Cin Hong, kau sudah pernah melihat perempuan mandi? "

Hati Cin Hong berdebaran, ia menjawab dengan suara pelahan.

"Urasan seperti itu bagaimana kita biSa melihat? "

"Kalau begitu marilah kita pergi untuk menambah pengetahuan,!"

Berkata Can Sa Jie perlahan. Cin Hong terperanjat, katanya;

"Tidak, itu suatu perbuatan rendah!"

"Rendah apa? Kita toh hendak menolong orang. Kita tak akan merasa malu pada diri sendiri."

Berkata Can Sa Jie sambil tertawa ringan. In-jie yang menyaksikan mereka bercakap-cakap dengan suara perlahan, timbul perasaannya, seolah-olah diasingkan. Maka lantas berkata sambil bermuka muram;

"Hei, kalian kasak-kusuk sedang membicarakan soal apa? "

Can Sa Jie tertawa padanya, dan berkata.

"Tidak apaapa, aku sedang berunding dengan dia, nanti Setelah aku mendaki gunung dan mendekati telaga, apa bila tak ada kejadian mesum, aku akan memberi kode kepadanya supaya dia mau membantuku... ."

In-jie menganggukkan kepala dan berkata dengan girang.

"Akalmu ini boleh juga , dengan demikian aku juga berani pergi."

Can Sa Jie menjadi gugup, katanya Sambil menggoyanggoyangkan tangan.

"Tidak sebaik kau disini menunggu kita dan melihat kuda kita, Supaya jangan Sampai di curi oleh maling kuda!"

"Kecuali kau, dari mana datangnva maling kuda? Kau takut aku pergi, aku justeru hendak pergi!"

Berkata In-jie.

Cin Hong biar bagaimana selalu beranggapan, apapun alasannya, mengintai perempuan mandi adalah Suatu perbuatan yang tidak pantas.

Disamping itu ia juga merasa bahwa kebohongan Can Sa Jie itu boleh juga , maka lantas tertaWa dan berkata kepadanya.

"Saudara Can Sa, aku setuju dengan akalmu itu. Sekarang mari kita bersama-sama pergi naik keatas gunung!"

Can Sa Jie kecewa, katanya Sambil menggelengkan kepala.

"Hai, tidak kusangka It Hu Sianseng sudah mendidik murid yang tak mempunyai keberanian seperti kau ini, Sudahlah!"

Sehabis mengucapkan demikian, kakinya bergerak, lOmpat keatas gunung. Gerakannya itu seperti gerakan monyet yang luar biasa cepatnya. Cin Hong lalu berpaling dan berkata kepada In-jie;

"Injie, mari jalan!"

Mereka telah mendaki gunung Tong San.

tapi taK tahu dimana telaga itu berada, maka terpaksa mencari-cari kesana kemari, dan akhirnya tiba disebUah rimba, berjalan dalam rimba itu kira2 baru beberapa tombak.

dengan tibatiba terdengar suara perempuan tertawa-tawa dan suara air yang terdayung oleh dayung Sampan.

Tiga orang itu ketika mendengar Suara itu lantas berhenti, Can Sa jie yang berjalan didepan lalu berpaling dan berkata kepada Cin Hong sambil tertawa.

"Ini pastilah tempatnya, mari kita bersama-sama kesana, bagaimana? "

In-jie buru-buru menarik Cin Hong Seraya berkata.

"Kalau hendak pergi, pergilah sendiri Perlu apa harus mencari kawan? "

"Aneh, dia ini sebetulnya pernah apa denganmu? Mengapa selalu kau pegang erat2 saja? "

Bertanya Can Sa Jie Sambil mengerling dan tenawa mengejek kepada In-jie. In-jie merasa malu dan gusar, dengan tiba-tiba mendorong Cin Hong kearah Can Sa Jie katanya dengan suara dingin.

"Siapa yang memegang erat-erat kepadanya, Kau sendiri yang tidak memiliki keberanian sudah saja jangan pergi kesana!"

Cin Hong tidak berani pergi, buru-buru memutar kebelakang diri In-jie, ia menyoja kepada Can Sa Jie seraya berkata.

"Saudara Can Sa, Sebaiknya kau bertindak menurut usulmu tadi. Kau pergi melihat dulu asal tak ada pertunjunkkan mesum, barulah kau memberi kode kepadaku, kemudian kita baru pergi kesana,"

Can Sa Jie merasa kewalahan, ia berkata sambil menghela napas.

"Baiklah, aku tahu kau keledai ini sudah tercancang olehnya."

In-jie marah, berkata Sambil melototkan matanya.

"Kau jangan mengoceh yang bukan-bukan. Kau berani menghina diriku? "

Can San Jie gelagapan ia memutar tubuh hendak pergi, Cin Hong buru-buru menahannya dan bertanya.

"Saudara Can Sa, kau nanti hendak menggunakan cara apa untuk memberitahukan pada kita? "

Can Sa Jie miringkan kepalanya, berkata sambil tertawa bangga.

"Kepandaianku untuk menggunakan Suara meniru berbagai binatang dalam rimba persilatan tak ada seorang pun yang sanggup menandingi, sebentar jikalau kalian mendengar suara burung sri, kalian pergi saja!"

"Hm, mulutmu seperti kodok. kalau kau meniru suara kodok barangkali lebih kena!"

Kata In-jie sambil tertawa dingin.

Can Sa Jie sedikitpun tidak marah, ia hanya mengejek padanya, setelah itu ia memutar rubuhnya dan melangkah kedalam rimba, sebentar saja sudah menghilang kedalam tempat gelap.

Cin Hong dan In-jie mencari sebuah pohon, mereka duduk berdampingan dibawah pohon besar.

Mungkin dalam Otak orang itu semua Sudah terbayang Sepasang muda mudi yang Sedang berkecimpungan didalam air telaga dengan telanjang bulat, olen karenanya mereka samasama menjadi merah wajahnya, agaknya meraSa malu.

"Cin Hong."

Terdengar suara dari mulut In-jie.

"Ehm..!"

"Can Sa Jie itu bukan orang baik, ia selalu mengatakan bahwa aku selalu mengiKat dirimu, apakah artinya itu? "

"Dia Sifatnya memang suka main-main, kau jangan meladeni Saja, juga jangan marah."

"Mungkin besok pagi, kita jangan berjalan bersama dia'"

"Tidak, tiga orang gaib dalam rimba persilatan Cut, Sian dan Bo, hubungan mereka baik sekali. Maka kita bertiga harus menjadi sahabat baik."

"Aku tidak mau, suhuku paling benci kepada Can Sa Sian."

"Oo, kenapa? "

"Suhuku berkata, bahwa Can Sa Sian itu iuga suka menggoda orang. Kalau berbicara selalu tidak memberi muka kepada orang."

"Orang yang berani bicara terus terang, hatinya pasti baik."

"Kentut!"

"Aa....Itu ucapan tidak bagus!"

"Dasar pelajar tolol!"

"Eh, mengapa kau selalu memaki aku? "

"Kau memang mirip dengan pelajar tolol'"

"Jika kau mengatakan aku tidak mirip dengan orang rimba persiiatan, aku suka menjadi orang rimba persilatan? "

"Ini bukan soal suka atau tidak Suka."

"O, ya Kau adalah caicu dari daerah Kang Lam Kau sudah pernah pergi kekota raja untuk ujian atau belum? "

"Sudah, tetapi tidak lulus."

"Ha-ha! Apakah itu masih terhitung seorang caicu? "

"Sudah tentu masih. Sebab kalau aku tak luluS itu sebabnya bukan lantaran kepandaian ilmu suratku tidak seburuk orang lain"

"Kalau begitu apa Sebabnya? "

"Kepala ujian itu, lama Sudah lama mengetahui bahwa daerah Kang-lam ada seorang Caicu yang bernama Cin Hong, ialah aku sendiri. Sebelum ujian dimulai, dia meminta agar aku memberi sogokan kepadanya. Tapi permintaannya itu tak kuhiraukan, sehinggi akhirnya aku tak diluluskan."

"Dasar pembesar anjing. Mengapa tidak kau bunuh saja? "

"Itu apa perlunya? Bagamana pun juga . aku toh tidak suka menjabat pangkat, waktu aku pergi menempuh ujian. hanya hendak main-main saja."

"Mengapa kau tak suka menjabat pangkat? "

"Orang yang menjabat pembesar negeri harus pandai menjilat. Tetapi aku tak bisa, karena itulah aku tak mau."

"Emm, aku juga tak Suka kaWin dengan orang yang menjadi pembesar negeri, kalau aku menjadi isteri Orang berpangkat, jika pergi kemana-mana harus naik tandu, sungguh menjijikkan, karena tidak bisa bebas...."

"Haaa... Kau berbicara soal kaWin? "

"Tadi kelepasan omOng... ."

Ia benar-benar kelepasan omong, oleh karenanya maka ia merasa malu sendiri, buru-buru menyembunyikan kepala dikedua lututnya sendiri.

Cin Hong khawatir ia nanti marah karena merasa malu, maka meniup dibelakang punggung seraya bertanya sambil tartawa.

"In-jie, angkatlah mukamu!"

In-jie menundukkan kepalanya semakin dalam tidak berani bersuara. Cin Hong meniup lagi sambil berkata dan tertawa.

"Angkatlah mukamu, SUdahlah, aku tidak akan mentertawai kau lagi!"

In-jie menggeleng-gelengkan kepala, masih tetap tidak berani membuka suara.

Cin Hong sanggup mengendalikan perasaannya, punggung yang putih meletak itu diciumnya pelahan, oleh karenanya In-jie lalu lompat terkejut, kemudian berkata.

"Bagus, dugaan suhu ternyata benar!"

Cin Hong juga buru-buru bangkit. dengan wajah merah dan hati berdebaran penuh penyesalan, menjura dalam2 kepadanya, lalu berkata.

"In-jie, aku menyesal, harap kau Sudi memaafkan!"

Sepasang pipi In-jie merah merekah bagaikan buah-apel. matanya yang hitam jeli berputaran, dengan tiba-tiba ia angkat muka, lalu berkata padanya sambil tertawa mengejek.

"Hm. aku tahu, kau tentu akan berbuat demikian!"

Baru saja menutup mulut, dari dalam rimba tiba-tiba terdengar suara bentakan dan makian.

Setelah itu disusul dengan Suara burung nuri yang sangat indah.

Semangat Cin Hong terbangun, katanyi dengan girarg.

"Ah, kode Saudara Can Sa sudah terdengar. Mari kita lekas pergi!"

In-jie sebaliknya miringkan kepala, Seperti Orang sedang menggunakan daya mendengarkannya dengan penuh curiga ia terkata.

"Benarkah itu suafa burung yang dia tiru? Kenapa demikian indah? "

Cin Hong tersenyum, ia melompat maju menarik tangannya, dan masUk Kedalam rimba.

Melalui perjalanan kira2 tiga puluh tOmbak, dihadapan matanya tiba-tiba terbentang Suatu pemandangan yang aneh..

Telaga Cui-sim-ouw yang letaknya diatas gunung, luasnya hanya tiga empat tOmbak persegi, diSekitar telaga terdapat tumbuhan pepohonan Yang-liu yang sangat rindang, Sinar bulan purnama yang menyinari permukaan air telaga memberikan suatu pemandangan alam yang sangat indah.

Tetapi malam itu tidak sedikitpun tak tampak keindahannya.

Mengapa?

sebab pada waktu itu sepasang tangan Can Sa Jie sedang membawa Segumpal pakaian wanita, lari sepanjang tepi telaga sambil perdengarkan suara tawanya yang aneh.

Sedang dibelakangnya tampak mengejar seorang muda berusia tiga-puluh tahunan dengan menenteng pedang.

Pemuda itu berwajah tampan dan gagah, namun pakaiannya sudah tak beres lagi, Sambil mengejar mulutnya terus berkaok-kaok tidak henti-hentinya!

"Anak busuk.

tinggalkan pakaian itu!

Apakah artinya ini?

...

Disuatu tempat yang demikian indah telah terjadi kejadian semacam itu, sesunggnhnya merupakan suatu perbuatan yang keterlaluan!

Akan tetapi yang lebih-lebih ialah orang yang berada didalam air telaga itu.

Dia Cit-kongcu, Salah Seorang dari dua-belas kiongcukiongccu golongan kalong, Saat itu sedang mandi berendam didalam air telaga.

oleh karena air telaga itu sangat bening, maka sekujur tubuhnya yang putih, serta bentuk badan yang indah dan padat tampak nyata Sekali, pahanya sedang bergerak-gerak didalam air.

Pemandangan itu sesungguhnya sangat menarik untuk mata anak-anak muda.

Cit kiOngcu hanya kepalanya yang tampak berada diatas air, matanya terus mengikuti pemuda yang sedang mengejar Can Sa Jie, Waktu itu wajahnya nampak sangat pucat, sekilas menunjukkan kecemasannya.

Can Sa Jie ketika menampak kedatangan Cin Hong dan In-jie, lantas berseru dengan sikap kegirangan;

"Hei, Cin Hong. kau lihat tidak? Sungguh tak disangka bahwa tubuh Wanita itu demikian indah, benar-benar seperti dugaanku semula!"

In-jie tidak menduga masih harus menyaksikan suatu pemandangan yang menyebalkan itu, ia merasa cemas dan mendongkol sekali, buru2 maju menghalang dihadapan Cin Hong, kemudian berkata dengan nada suara marah.

"Can Sa Jie, apakah kau mau mampus? Siapa suruh memberikan kode demikian cepat? "

Can Sa Jie lari menghampiri sambil membawa pakaian perempuan itu, katanya Sambil tertawa aneh.

"Sedikitpun tidak terlalu cepat, kalau tidak pertunjukkan yang berlangSung sebelum kau tiba. Itulah justru yang baguS sekali!"

Pemuda yang mengejar dibelakangnya ketika melihat anak busuk itu.

kembali kedatangan dua orang pembantu, tampaknya terkejut sekali, buru-buru menghentikan langkahnya, sepasang matanya dengan perasaan takut dan terkejut memandang dua orang yang baru datang dengan bergiliran.

Tiba-tiba mengangkat pedangnya sambil menunjuk Can Sa Jie, dan membentak dengan suara bengis.

"Hei! Kau merusak kesenangan orang. Apakah kau tidak takut dirundung miskin tiga turunan? "

Can Sa Jie lari kedepan Cin Hong berdua kemudian memutar dibelakangnya, lantas berhenti, barulah berkata sambil tertawa.

"Aku Cin Sa Jie memang sudah miskin. Kemiskinan tidak berarti bagiku!"

Pemuda itu tahu bahwa dalam keadaan demikian ia tak boleh menggunakan kekasaran, maka sikapnya lantas berubah lunak, katanya setengah memohon.

"Baiklah. kalian hendak minta berapa? "

Can Sa Jie mengalihkan pakaian perempuan itu ke tangan kirinya, ajung jari tangan kanannya diacungkan, lalu berkata sambil tertawa.

"Tidak banyak, seribu tail sudah cukup!"

Pemuda itu agak marah, katanya.

"Dalam badanku sekarang ini mana ada begitu banyak uang? Kau jangan minta tarlalu banyak!-"

Can Si Jie angkat kepala dan tertawa terbabak kemudian berkata sambil mengacungkan lima jari tangannya.

"Kalau begitu, potong lima puluh persen. Lima ratus tail saja!"

"Balk, tetapi sekarang ini aku benar-benar tidak punya begitu banyak uang ... ."

Berkata pemuda itu sambil mengerutkan alisnya.

"Sekarang kau membawa berapa banyak? "

Bertanya Can Sa Jie Sambil tersenyum. Pemuda itu melirik kepada kekasihnya yang ada didalam telaga sejenak, kemudian berkata sambil menundukkan kepala.

"Aku membuat surat perjanjian juga boleh hanya disini tidak ada alat tulis dan kertas, bagaimana? "

Berkata pemuda itu girang. Can Sa Jie mengeluarkan sehelai kertas, digulungnya dan kemudian dilemparkan kepada pemuda itu seraya berkata .

"Kau boleh menggunakan kertas ini, tentang tidak adanya alat tulis, kau boleh gigit jari sendiri, dengan darah dari jarimu kau boleh gunakan untuk menulis diatas kertas ini!"

Pemuda tadi menyambut gulungan kertas yang dilemparkan kepadanya, lalu berkata agak sedikit keberatan.

"Dengan menggigit jariku sendiri, bukankah berubah menjadi darah? "

"Benar, kau sekarang harus membuat surat darah."

Berkata Can Su Jie dingin, Cin Hong anggap bahwa terlalu memeras Orang sesungguhnya tidak seharusnya, maka ia lalu berkata.

"Saudara Can-Sa, kau tidak boleh berbuat demikian, perbuatan itu terlalu rendah!"

Can Sa Jie berpaling dan tertawa, kemudian berkata.

"Jangan cemas, ucapanku masih belum habis!"

Kemudian ia berpaling dan bertanya pula kepada pemuda tadi;

"Bagaimana? Sejak jaman dahalu banyak sekali contohnya orang yang menulis surat berdarah, dengan keadaanmu seperti ini, menulisi surat darah sedikitpun tidak merasa keterlaluan!"

Pemuda itu berpaling mengawasi kekasihnya yang berada didalam danau, kekasih itu menutup tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, sedang mulutnya meratap.

"Kekasih aku merasa sangat malu sekali, lekaslah kau tulis dan berikan padanya? "

Can Sa Jie tertaWa tergelak kemudian berteriak.

"Hoi! perempuan siluman seperti kau ini masih mempunyai perasaan malu? "

Pemuda itu sangat marah hingga alisnya apada berdiri, ia berteriak dan berkata dengan sambil mendelikan matanya.

"Bocah busuk, kalau kau berani menghina lagi, aku nantt akan adu jiwa denganmu!"

Can Sa Jie angkat wajahnya yang kotor, dan berkata sambil tertawa dingin.

"Kau masih bukan tandinganku, kalau kau ingin adu jiwa silahkan maju saja!"

Pemuda itu sangat penasaran, sesaat itu hawa amarahnya meluap, selagi hendak menyerbu dengan pedangnya, kekasihnya yang telanjang bulat didalam air itu telah menjerit dan berkata sambil menangis.

"Kekasihku, aku mohon padamu jangan marah pada mereka...."

Pemuda itu ketika mendengar ratapan kekasihnya lalu membatalkan maksudnya hendak menyerbu Can Sa Jie.

ia menundukan kepala menghela napas, pedangnya ditekan ditanah lalu membuka kertas gulungan tadi, dan mengigit ujung jari tangannya sendiri, dengan darahnya yang menetes keluar menulis surat perjanjian diatas kertas itu, Pada saat.

Can Sa Jie tiba-tiba berkata sambil mengulapkan tangannya.

"Tunggu dulu, bagaimana kau hendak tulis? "

Pemuda itu angkat kepalanya, dan berkata sambil tertawa menyeringai.

"Sudah tentu akan kutulis bahwa aku pinjam kepadamu empat ratus tail uang Perak, esok akan kukembalikan padamu!"

"Tidak kau harus menulis menurut maksudku. aku berkata sepatah, kau menulisnya!"

Berkata Can Sa Jie sambil menggelengkan kepala dan tertawa. Pemuda itu dengan mengendalikan hawa amarahnya, mulutnya membentak.

"Apa katamu? "

Can Sa Jie mendongakan kepala dan tertawa ter-bahak2, lalu berkata.

"Kau harus menulis begini; 'Aku pendekar berbaju biru Nie Khun..."

Pemuda itu terperanjat, ia mundur dua langkah, katanya sambil membuka lebar matanya.

"Ya Tuhan! Bagaimana kau mengetahui? "

Can Sa Jie tersenyum, katanya.

"Kau, saudara adalah seorang tokoh kuat partai Khong-tong-pay. dalam rimba persilatan mempunyai ssdiklt nama baik, aku Can Sa Jie sudah lama ingin berkenalan denganmu!"

Pendekar berbaju biru Nie Khun, selembar wajahnya menjadi merah seperti kepiting direbus, ia berkata sambil menundukan kepala.

"Kita bicarakan dulu mengenai syarat2nya, kalian selanjutnya tidak boleh menyiarkan kejadian malam ini...."' Can Sa Jie tidak lagi menunjukan sikapnya yang main2, katanya dengan sangguh2.

"Jangan chawatir, aku Can Sa Jie selamanya menghormati orang yang tahu malu!"

Nie Khun menulis nama sendiri diatas kertas itu, lalu bertanya;

"Bagaimana selanjutnya? "

"Selanjutnya; 'Telah kesalahan mengadakan hubungan dengan siluman wanita ketujuh dari dua-belas siluman perempuan golongan Kalong... ."

Wajah Nie Khun berubah seketika, tananya dengan kaget.

"Apa katamu? "

Can San Jie sepatah demi sepatah mengulangi perkataannya itu tadi, dan pendekar baju biru Nie Khun dalam keadaan setengah terkejut dan setengah ragu, gumamnya.

"Golongan Kalong? ... Golongan Kalong? Dalam rimba persilatan aku belum dengar ada nama golongan itu..."

Sang kekasih yang merendam di dalam danau, ketika mendengar pembicaraan mereka Wajahnya berubah seketika, mulutnya berseru;

"Kekasihku, jangan dengar ucapannya yang tak keruan, aku adalah perempuan dari golongan baik-baik!"

Can Sa Jie mengeluarkan suara dari hidung lalu berkata sambil tertawa dingin.

"Kawan-kawanmu Tujuh siluman perempuan yang sembunyi di bawah gunung, Seluruhnya sudah tertangkap, kau Siluman ini mengapa masih berani membantah!"

Mendengar ucapan itu, Wajah perempuan itu kembali berubah, tanpa memperdulikan tubuhnya sendiri yang telanjang bulat, mulutnya berseru dengan perasaan ketakutan.

"Tidak.... tidak ....tidak...."

Nie Khun mengawasinya dengan sinar mata kasihan, kemudian berpaling dan berkata kepada Can Sa Jie.

"Aku tak mengerti apa yang kau katakan, dia bernama Thia Ay Leng, tinggal di San-se, ayahnya seorang piauwsu yang sudah mengundurkan diri... ."

Can Sa Jie mengulapkan tangannya untuk mencegah pemuda itu melanjutkan kata-katanya, ia berkata dan tertawa dingin.

"Jika kau mau bukti, sekarangpun aku bisa mengeluarkan. Tetapi terhadap aku Can Sa Jie, namaku ini kau tidak seharusnya masih menanggung perasaan curiga!"

Nie Khun yang sejak semula hingga sekarang belum pernah perhatikan Can Sa Jie dari golongan mana, sebab hatinya risau, pertemuan malam itu dengan kekasihnya telah dipergoki Olehnya, maka dalam keadaan cemas dan jengkel seperti itu, ia telah melupakan segalanya.

Kini setelah mendengar Can Sa Jie menyebut nama sendiri, barulah merasa kaget, serunya.

"Ah! Kalau begitu kaU murid Pengemis dari golongan pengemis? "

Can Sa Jie menganggukkan kepala, sikapnya tampak sangat bangga.

KiranVa Pangcu atau pemimpin golOngan pengemis, ialah Can Sa-Sian Sie Koan, kecuali penyakitnya yang rakus, dalam rimba persilatan terkenal sebagai pengemis gaib yang dihormati dan dijunjung tinggi orang banyak, siapa pun tahu bahwa dia itu adalah Seorang rakus yang tak pernah kenal puas, akan tetapi perbuatan dan tindakannya cukup teladan bagi Orang-orang rimba persilatan.

Dan muridnya itu juga memiliki sifat yang sama dengan gurunya, orang-orang asal mendengar disebutnya nama sepasang Can Sa atau sepasang orang rakuS dari golongan pengemis, tiada yang tidak mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda pujian, pujian itu sampai dimana tingginya, kalau bagi yang tua ialah sang guru sudah tentu bukan soal apa-apa, tapi si muridnya, Sudah tentu dalam usia yang demikian muda sudah mendapat nama demikian baik, perasaan girang itu tampak diwajahnya, sebab dia toh masih Seorang anak muda yang usianya masih belasan tahun!

Nie Khun memperhatikan wajahnya dan keadaan bentuknya, dalam hati tak berani tidak mempercayainya tetapi kalau ia melihat lagi kekasihnya di dalam danau yang dikenalnya belum sampai tiga hari, juga merasa berat untuk meninggalkan.

Ia sungguh tak menyangka kekaSih itu memiliki keberanian demikian, tetapi dia demikian cantiknya, demikian menarik kelakuannya, apakah yang tak baik di dirinya?

Alisnya dikerutkan demikian rupa, dan mulutnya berkemak-Kemik sendiri.

"Aku tidak perduli golongan Kalong atau apa, aku hanya tahu ia padaku tak permintaan apa... ."

Mata Can Sa Jie yang tadi menutup, kini terbukaa lebar, katanya tertawa dingin.

"Kenalkah kau dengan Yap Kiam In orang golongan Thian-shia-pay? "

Nie Khun terkejut, ia berkata Sambil menganggukkan kepala.

"Pernah kenal ia sepintas, kenapa? "

"Ia Seperti juga dengan kau, Sudah terpikat oleh salah seorang dari dua belas siluman perempuan golongan kalong!"

"Kalau Sudah terpiKat lalu bagaimana? "

"Mati!"

Demikian In-jie menyelak. Wajah Nie Khun berubah, ia alihkan pandangan matanya kearah In Jie dan bertanya dengan perasaan terkejut dan heran.

"Sebabnya? "

"Sebab dia sudah mengetahui rencana besar tetapi busuk dari golongan Kalong!"

Menjawab In-jie sambil tertawa dingin.

"Bolehkah kiranya aku hendak mengetahui penjelasannya? "

Bertanya Nie Khun sambil mengerutkan alisnya. In Jie menunjuk perempuan dalam danau itu, katanya dengan sikap memandang rendah;

"Ini boleh tanyakan padanya sendiri, kita juga tak tahu!"

Nie Khun berpaling pada perempuan yang berada dalam danau, dengan peraSaaa kasihan dan curiga bertanya padanya;

"Ay Leng, benarkah kau sedang menipu aku? "

Perempuan itu berenang menuiu ketepi seberang, tetapi tak berani naik, kedua tangannya menetupi tubuhnya yang telanjang, sepasang kakinya dikempit menjadi satu, katanya sambil menangis dan gemetaran.

"Tidak, Nie Khun aku tak membohong atau menipu kau, kau lekaS menulis Surat perjanjianmu kepada mereka, aku mohon kepadamu..."

Nie Khun rupanya masih merasa berat dan kasihan kepada perempuan itu, ia telah mengambil keputusan tidak akan menanya lebih jauh, segera menggunaken darah dari jari tangannya menulis diataS kertas kata-kata Seperti diucapkan Oleh Can Sa Jie.

"Can Sa Siohiap, sekarang apa yang aku harus tulis selanjutnya? "

Can Sa Jie berdiam lama sambil tertawa dingin. akhirnya ia menggelengkan kepala dan menjawab.

"Tidak, sudah tak periu ditulis lagi!"

Nie Khun menjadi gugup, ia maju selangkah dan berkata dengan suara cemas.

"Seorang laki-laki harus patuh dengan ucapannya yang diucapkan, kita tadi sudah berbicara dengan matang, apa kau hendak mengingkari sendiri? "

Can Si Jie meletakkan pakaian perempuan itu ditepi danau, kemudian berpaling kearah Cin Hong dan In-jie lalu berkata sambil tertawa.

"Sekarang aku Can Sa Jie benarbenar telah kena kebesarannya ucapan yang berkata 'Rela mati dibawah bunga', menjadi setan juga setan romantis. Jangan, hitung-hitung kita terlalu sudi gawe!"

Cin Hong sejak keluar dari rimba terus memejamkan matanya tak berani melihat, kini ketika mendengar bahwa pendekar berbaju biru Nie Khun sudah kelelap benar-benar dalam lautan asmara, lalu sambil memejamkan matanya menyoja memberi hormat kepadanya seraya berkata.

"Nie Taihiap harap kau suka dengar ucapan ku yang renddh ini.. .."

Can Sa Jie berteriak, memotong ucapannya.

"Sudahlah, orang toh lebih penting memeluk pinggang nOnanya yang manis, siapa sudi dengan ocehanmu? "

Cia Hong terperanjat, ia mengulurkan tangannya untuk meraba-raba sambil memejam matanya, kemudian berkata.

"Baik, kalau mau jalan, tetapi sukalah kau bimbing aku? "

In-jie tertawa geli, ia ulurkan tangannya untuk menarik tangan pemuda itu seolah-olah menariK tangan seorang buta berjalan menuju ke dalam rimba, katanya sambil ketawa cekikikan-"Sudahlah sekarang boleh membuka mata."

Cin Hong membuka matanya, apa mau pandangan matanya begitu melihat dalam rimba tiba-tiba berseru kaget, buru-buru balik menarik tangan In-jie dan lOmpat mundur dua tiga tOmbak!

Apakah yang dilihatnya?

Apakah melihat orang musuh yang sangat tangguh?

Seorang tua berjubab merah, dengan wajahnya yang menyeramkan dan rambutnya yang putih yang terurai dikedua bahunya yang bukan lain ialah Lam kek Sian kun Im Liat Hong, yang tadi malam dijatuhkan oleh susu tahunya yang dinamakan Pek-lee-Ciang oleh empek Ie-Oe dikota Han chiu muncul dari dalam rimba dan berjalan lambat-lambat menghampiri Cin Horg bertiga, sinar matanya yang buas memandangi mereka bertiga, kemudian mulutnya berkata Sambil tertawa mengejek.

"Kamu tiga bocah yang masih bau pupur bawang ini, tenyata berani meruSak uSaha besar golongan kita maka itu, aku siorang tua malam ini terpaksa mengirim kamu keakherat untuk menitis lagi!"

Can Sa Jie yang belum pernah melihat dia, karena melihat sikap Can Hong dan In-jie berdua ketakutan mundur, mengertilah sudah bahwa orang tua itu pasti bukan orang sembarangan, maka ia buru-buru mundur beberapa langkah sambil mempersiapkan diri, disamping itu ia bertanya kepada Cin Hong.

"Cin Hong, siapakah tua bangka ini? "

"Dia adalah Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong yang terkenal dengan julukannya sepasang iblis menjagoi daerah selatan dan utara, dan sekarang menjadi anggota pelindung hukum dalam golongan kalong!"

Menjawab Cin Hong.

"Ayo! iblis tua ini kita tidak boleh pandang ringan!"

Berteriak Can Sa Jie kaget.

"Kupikir juga begitu, dan kau pikir sekarang bagaimana? "

Berkata Cin Hong. Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong terus berjalan kearah mereka sambil menggulung lengan bajunya, sementara mulutnya berkata sambil tertawa.

"Bagaimana? Kecuali kamu suka menyerah kepada golongan kita merjadi Kim thong dan Giok-lie, selain ini, hanya tinggal satu jalan, dan jalan itu ialah kematian!"

Can Sa Jie mengedip-ngedipkan matanya dan bertanya.

"Apakah Can Sa Jie juga akan diangkat menjadi salah satu dari Kim thong itu? "

"Pui! kau bagaimana bisa diangkat menjadi Kim-thong? untuk menjadi tukang buang air kotoran dua belas KiOngcu kita boleh juga!"

Menjawab Lam kek Sin-kun Im Liat Hong Sambil tertawa.

Can Sa Jte yang belum pernah dihina demikian rupa dalam matanya, tidak memikirkan lagi tinggi kepandaian lawannya yang masih jauh lebih tinggi dari padanVa sendiri sambil mengeluarkan suara siulan aneh, badannya lantas lompat menyerbu Lam-kek Sin-kun.

Cin Hong terperanjat, ia berseru dengan suara cemas.

"Can Sa Jie, jangan!"

Namun seruan itu sudah terlambat pada waktu Can Sa Jie bergerak menyerbu Lam-kek Sin-kun, dan tiba sejarak dua kaki didepan orang tua itu, ditengah udara tiba-tiba terdengar suatu siulan panjang, kemudian tampak berkelebat sesosok bayangan hitam yang besar melayang turun dari tengah udara.

Sebelum Cin Hong dan lain2nya melihat tegas, sudah terdengar suara seruan tertahan kemudian disusul melesetnja sesosok bayangan orang, kiranya Can Sa Jie yang telah dahalu menyerbu kepada Lan-kek Sin-kun, pada saat itu Seolah-olah terdorong oleh kekuatan tenaga balik sehingga badannya melesat balik setinggi dua-tiga tombak, hampir saja kecebur kedalam telaga!

Dua yang lainnya.,...

Lam-kek Sinkun dengan orang yang muncul dengan tiba.

...

mereka dengan gerakannya yang sangat cepat, setelah mengadu kekuatan tenaga.

masing-masing juga mundur beberapa kaki, kini satu sama lain berdiri berhadapan.

Orang yang muncul secara tiba-tiba itu usianya kurang lebih tujuh-puluh tahun, wajah persegi, telinganya lebar, perawakannya tegap mengenakan pakaian kain kasar berwarna hitam, dipinggangnya diikat dengan ikat pingang kain putih, dandanan itu mirip dengan seorang pedagang desa, dia bukan lain dari pada empek penjual susu tahu dikota Hang-ciu yang terkenal dengan sebutannya empek Ie-oe, juga yang dahulu pernah menjabat komandan pasukan tentara istana, Pek Hong Teng.

Cin Hong setelah melihat tegas siapa adanya orang itu, bukan kepalang girangnya, dan lalu memanggilnya.

"Empek Ie-oe kau juga datang!"

Empek Ie-oe sepasang matanya memandang Lam-kek Sin-kun, mulutnya menjawab dengan nada suaranya yang terputus-putus.

"Tetapi jangan kira...aku Si tua bangka ini sebagai tepekong penolong... .aku orang tua ini... hanya bisa melindungi kalian.....sampai disini saja ..kalian lekas..... pergi mengejar suhumu!"

Cin Hong terkejut berbareng merasa girang mendengar berita tentang Suhunya, maka lalu bertanya.

"Ah! kiranya kau terus mengikuti dibelakang kita? "

"Eem. lekas...lekas pergi!"

Menjawab empek Ie-oe sambil menganggukkan kepala. Lam-kek Sin-kun maju selangkah menghampiri empek Ie-oe. Wajahnya yang menyeramkan tampak berkerinyat, katanya sambil tertawa dingin.

"Pek Hong Teng, kau Si tua Bangka ini malam ini aku hendak belajar kenal lagi dengan obat berbisamu Pek-lee-ciang... ."

"Jangan khwatir,. aku si tua bangka ... .dalam keadaan... satu lawan satu belum pernah menggunakan Pek-leeciang. ...."

Berkata empek Ie-oe Sambil tertawa menyeringai. Setelah itu, ia berpaling dan berkata pula kepada Cin Hong.

"LekaS pergi, kalaU terlambat ....sudah tak keburu ketemu dengan suhu kamu lagi!"

Cin Hong berbalik hendak mengajak Can Sa-jie turun gunung bersama-sama, tiba-tiba menampak pendekar berbaju biru Nie Khun sedang menyerahkan pakaian perempuan kekasihnVayang berada ditepi telaga, perempuan itu setelah menerima pakaiannya, lalu terjun kedalam telaga Cui Sim-Ouw dengan terbirit-birit lari kedalam rimba, tubuhnya yang telanjang bulat tampak putih halus bagaikan Salju.

Cin Hong yang belum pernah melihat wanita tidak memakai pakaian juga belum pernah memikirkan tubuh wanita itu ternyata demikian menarik, sehingga saat itu hatinya berdebaran keras, memandangnya dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar.

In-jie mendorOng padanya sambil menegor.

"Jalan, mengapa berdiri bingung? "

Cin Hong yang didorong tampak terkejut, segera teringat kepada pelajaran orang-orang tua dahulu yang merupakan pepatah yang berbunyi.

"Yang tidak Sopan jangan dilihat", wajahnya merah Seketika, ia buru-buru menggapai dan memanggil Can-Sa-jie .

"Saudara Can Sa, mari kita lekas pergi,"

Can-sa-jie yang tadi didorong mundur oleh kekuatan tenaga dalam empek Ie-oe, dalam hati merasa tidak enak, tetapi ia juga tahu bahwa empek Ie-oe berbuat demikian karena khawatir ia terluka ditangan Lam-kek Sin Kun, meskipun ia terpental sejauh demikian sunggguh tak enak tetapi karena orang tua itu bermaksud baik bagaimana juga tidak harus marah.

Kini ketika mendengar Cin Hong panggil dirinya diajak pergi terpaksa menganggukkan kepala dan berjalan menuju dalam rimba.

Cin Hong memberi hormat kepada empek Ie-oe, sambil menarik tangan In-jie hendak berlalu tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berpaling dan bertanya pula pada, empek Ieoe.

"Locianpwe, urusan yang terjadi didalam kelenteng rusak tadi, locianpwe sudah lihat atau tidak? "

"Sudah, kalian lekaslah jalan!"

Menjawab empek Ie-oe.

"Sebab.....sebab aku juga sama dengan kau yang tidak dapat membuktikan ketulenannya"

Menjawab empek Ie-oe sambil tertawa keciL Cin Hong merasa kecewa, ia geser kakinya hendak berjalan, dengan tiba2 teringat pula sesuatu, maka lalu bertanya lagi.

"MaSih ada lagi, apa sebab golongan kalong mengutus dua belas orang Kiongcunya berupa dua belas siluman perempuan Cantik itu pergi memikat anggota muda dari dua belas partay? "

"Hal ini... hal ini aku sedang ....mempelajarinya... jika kau anggap mengejar Suhumu....itu tak penting, boleh tinggal dan...mempelajari soal ini bersamaku"

Berkata empek Ie-oe sambil menghela napas.

Muka Cin Hong kembali merah, tak berani banyak bicara lagi, buru-buru menarik tangan In-jie masuk ke dalam rimba dan terus turun ke bawah gunung....

Tiga orang itu dengan dua ekor kuda meneruskan perjalannya siang malam, mereka melalui propinsi Ho-lam, Im-lam, dan terus masuk kepropinsi San-she.

sepanjang jalan tak melihat It-hu Sianseng dan Tnian-san Soat Popo, juga tak ketemu lagi orang-orang golongan Kalong yang menunggu....

Di waktu petang pada hari ke enam, tiga orang itu tiba di distrik cie-yang, yang letaknya terpisah sejarak kira-kira seratus pal dari gunung Tay-pa-san, oleh karena selama enam hari itu belum pernah istirahat, maka ketiganya sudah latih sekali, mereka lalu mengambil keputusan untuk menginap satu malam, di waktu pagi hari baru meneruskan perjalanannya kegunung Tay-pa-san untuk menyelidiki rumah penjara rimba persilatan.

Cin Hong dan In-jie menginap dipenginapan Hong-hocan di dalam kota, sedang can Sa Jie pergi mencari orang golongan pengemis yang berada di kota itu.

Cin Hong dan In-jie menginap dipenginapan, sebabis dahar malam, In-jie minta Cin Hong pergi ke kota untuk membeli alat menggambar guna melukis gambarnya, sebab mereka sudah mengejar sampai dipropinsi San-she, masih belum berhasil menyandak Suhu mereka, ia sudah tahu tidak akan ketemu Suhunya Selamanya.

Hati cin IHong juga merasa Sedih, atas permintaan in-jie ia lantas berkata Sambil tertawa.

"Baik. mari kita samasama kekota untuk beli alat lukis."

"Tidak.aku tidak ingin keluar pintu"jawab in-jie sambil menggelengkan kepala. Jawaban itu agaknya diluar dugaan Cin Hong, maka lalu bertanya dengan perasaan heran.

"Kenapa? "

Wajah In-jie mendadak merah, katanya.

"Tak apa-apa, aku hanya tidak ingin keluar"

Cin Hong berpikir, kemudian berkata sambil tersenyum.

"Seharusnya kau tidak takut berjalan bersama-sama denganku, bukan? "

Ia-jie mendorong ia keluar kamar, berkata sambil menggigit bibir.

"Keluar, keluar, begini kau memaksa orang, apa tidak malu "

Cin Hong diam-diam berpikir bahwa kelakuan yang tidak seperti biasanya itu pasti ada sebabnya, tetapi ia tak dapat memikirkan dimana letak Sebab musababnya, maka terpaksa menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa, kemudian pergi sendiri, Disalah sebuah toko ia membeli alat-alat tulis yang diperlukan, selagi hendak membayar harganya, tiba-tiba tampak seorang laki-laki berewokan berpakaian ringkas warna hijau, dengan langkah lebar berjalan masuk ketoko tersebut, dan tiba di toko lantas berkata nyaring.

"Tuan Tahukah tuan di kota ini siapa pelukis yang paling baik? "

Pemilik toko itu mengerutkan kening, ia menghampiri dan bertanya.

"Apakah tuan hendak mengundang pelukis untuk menggambar? "

Laki-laki berewokan itu duduk di kursi, dan berucap kasar.

"Benar, tetapi harus bisa melukis bagus sekali, baru diterima"

"Ahli lukis apa? "

Tanya pemilik toko sambil senyum.

"Melukis gambar orang, bahkan orang yang dapat melukis orangnya dengan gambaran ya dipikir dengan otak"

"Berdasarkan atas pikiran? "

Bertanya pemilik toko heran.

"Tidak, maksudku ialah ada orang yang berdiri di sampingnya untuk memerintahkan orang itu, jadi pelukis itu harus melukis sambil memperhatikan bentuk orang yang dilukiskan oleh petunjuknya dan lukisan itu haruS mirip benar-benar baru sudah"

"oh, kiranya di suruh menggambar tawanan yang melarikan diri"

Laki-laki berewokan itu menggoyangkan tangannya dan berkata.

"Bukan, bukan untuk mencari tawanan yang kabur"

"KalaU begitu apakah suruh melukis orang yang sudah mati? "

"Dengan terus terang aku sendiripun tidak tahu siapa yang akan di lukis, aku hanya diperintah untuk mencari seorang pelukis, hal lainnya aku tidak dapat menjelaskan"

Berkata laki-laki berewokan itu sambil menggelengkan kepala, dan tertawa. Pimilik toko itu mengangguk-anggukkan kepala sambil berpikir.

"Bagaimana upahnya? "

"ASal bisa melukis dengan baik, untuk tiga ratus atau lima ratus tail tidak jadi soal"

Pemilik toko itu terkejut, ia bertanya dengan perasaan tegang.

"Benarkah? Kemana harus pergi melukis? "

"Digunung Tay pa-san"

Berkata laki2 berewokan itu sambil unjukan tertawanya mengandung misteri.

Waktu itu Cin Hong yang baru membayar harganya dan pikir hendak keluar, begitu dengar disebutnya nama gunUng Tay-pa-san, hatinya lantas tergerak.

tmaka diamdiam ia tetap berdiri untuk mendengarkan perCakapan mereka selanjutnya.

"Wah, terlalu jauh"

"Tidak jauh, hanya perjalanan Seratus paal lebih, dalam waktu dua jam sudah sampai"

"Dua jam? Menunggang kuda juga tidak bisa begitu Cepat."

"Menunggang kuda sudah tentu tidak bisa, tetapi, kalau aku yang lari sambil menggendong dia, itulah baru bisa mencapai perjalanan jauh itu dalam waktu dua jam"

"Ah"

"Kau tuan bukanlah orang rimba persilatan, sudah tentu kau tidak kenal aku sikaki terbang Gu Khay, hal ini tidak dapat menyalahkan kau"

"Ah, kau tuan ini seharusnya bukan... ."

"Eem, jikalau aku ini kawanan berandal juga tidak sampai merampok kepada seorang pelukis miskin"

"Yah, yah"

"oh, ya, aku sudah bicara denganmu sekian lama, kau masih belum memberitahukan kepadaku dimana pelukis itu? "

"Iya iya. dengan terus-terang, anakku yang nomor dua itu didalam kota ini merupakan seorang pelukis yang terbaik"

"Itulah yang paling baik, dimana anakmu itu sekarang? "

"Didalam rumah, hanya tempatnya terlalu jauh, aku merasa khawatir."

"Baiklah, aku tabu kalian orang-orang kau pedagang kalau tidak diberikan sedikit uang lebih dahulu tentunya tidak gampang-gampang menerima baik permintaan orang. ..."

Lelaki berewokan itu dari dalam Sakunya mengeluarkan sepotong uang perak seberat sepuluh tail, diberikan kepada pemilik toko itu, kemudian berkata.

"Lekas lekas minta anakmu itu keluar"

Pemilik toko itu menyambut uangnya dengan kedua tangan, berulang-ulang mengucapkan jawabannya, iya sambil tersenyum-senyum kemudian berpaling dan berkata kepada Cin Hong masih berdiri disitu

"Tuan muda, apaKah tuan masih hendak beli apa-apa?"

Pertanyaan itu merupakan suatu pengusiran halus, Sebab dibelakang pertanyaan itu ada mengandung maksud, apa bila tidak akan membeli barang lagi, boleh lekas pergi, sebab ia juga khawatir nanti pemuda itu akan mencuri barang-barangnya, Cin Hong juga merasa tak ada perlunya untuk berdiam disitu lagi terpaksa lantas keluar.

Ketika itu ia melangkah keluar dari toko itu, telinganya dapat menangkap suara lakilaki berewokan yang diucapKan Kepada diri sendiri "Heh Bocah ini Sungguh tampan"

Cin Hong menghentikan kakinya, berpaling dan berkata kepadanya sambil tertawa.

"Berewok Saudara itulah baru boleh dikata hebat "

Lelaki berewokan itu bargkit dari tempat duduknya, berkata dengan perasaan terkejut dan terheran-heran.

"Heran, telingamu ternyata demikian tajam pendengarannya"

Cin Hong lalu membalikkan dirinya, dan berkata sambil tersenyum.

"Kau saudara, tidak tahu aku ini siapa sudah tentu kau heran "

Wajah laki-laki berewokan itu berubah seketika katanya sambil tertawa dingin.

"Aku sikaki terbang Gu Khay mungkinkah sudah salah mata? Kiranya kau juga orang dari golongan rimba persilatan, siapakah namamu? "

"Namaku Cin Hong."

Menjawab Cin Hong Sambil memberi hormat dan bersenyum. Alis yang tebal laki-laki berewokan itu di kerutkan, kemudian berkata.

"Aku belum pernah dengar nama ini, bagaimana? Apakah ingin main-main? "

"Saudara salah paham, kita bertemu dijalanan, tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa harus berkelahi? "

Berkata Cin Hong sambil tersenyum. Lakl-laki berewokan itu mengedip2kan matanya, dan duduk kembali dikursi. katanya sambil mengulapkan tangannya.

"Tidak mau berkelahi silahkan keluar saja, dengan terus terang aku sendiri juga tidak ada waktu terluang"

Cin Hong tertawa-tawa, seCara iseng-iseng ia bertanya.

"Saudara datang dari gunung Tay-pa-san, tahukah disana ada rumah penjara yang terkenal sebagai rumah penjara rimba perSilatan? "

Wajah laki-laki berewokan itu kembali berubah, kedua kalinya ia bangkit diri tempat duduknya berkata sambil membuka matanya .

"Tahu lalu mau apa? "

Dari sikap lelaki berewokan itu, Cin Hong tahu bahwa lelaki itu mungkin orang dari rumah penjara rimba persilatan digunung Tay pa-san itu, Saat itu ia berusaha menenangkan pikirannya sendiri, katanya sambil tertawa.

"Tidak apa-apa, besok aku pikir akan kesana untuk berkunjung."

Lelaki berewokan itu dengan perasaan bingung dan terheran-heran mengamat-amati Cin Hong sejenak kemudian bertanya.

"Menengok siapa? "

"Menengok It-hu Sianseng To Lok Thian dan Thian-san Soat Popo Sie Siang In..."

Lelaki berewokan itu mengeluarkan suara terkejut, bibirnya tiba-tiba tersungging satu senyuman, katanya.

"Mereka berdua kemarin sore baru masuk kerumah penjara, besok pagi kau sudah akan pergi menengok, apa sudah tidak bisa sabar lagi?"

Cin Hong mendengar bahWa suhunya dan Subonya benar sudah berada dalam rumah penjara rimba persilatan, dalam hatinya merasa pilu sehingga air matanya tidak tertahan lagi sudah mengalir keluar, sedang mulutnya bertanya dengan suara gemetaran.

"Benarkah? Dapat menyambut berapa pukulan? "

"It-hu Sianseng berhasil menyambut sembilan pukulan sedang Swat Popo hanya berhasil menyambar pukulan, mereka masing-masing sudah dipenjarakan dalam kamar penjara Liang nomor tujuh dan delapan"

Menjawab lakilaki berewokan sambil tertawa terbahak-bahak. Hati Cin Hong merasa seperti diiris-iris. dengan hati pilu ia bertanya pula.

"MaSih ada lagi? "

"Hanya itu Saja, masih ada apa lagi? "

Berkata lelaki berewokan itu.

Cin Hong tiba-tiba membalikan badannya lari keluar, dalam waktu singkat sudah kembali kerumah penginapan, begitu tiba lantas lari masuk kamar In-jie seraya berseru memanggil.

"In-jie In-jie "

In-jie yang sedang menulis surat melihat sikap tergesagesa Cin Hong, Sampai terkejut, katanya dengan suara mengomel.

"Setan ada urusan apa demikian tergesa-gesa? "

Cin Hong meletakan alat-alat tulisnya di-atas meja, kemudian ia duduk diatas kursi dengan sikap lunglai, Setelah itu ia baru berkata sambil menghela napas.

"Habislah, suhu kita berdua benar-benar sudah dipenjarakan didalam rimba persilatan"

In-jie juga merasa sedih ketika mendengar keterangan itu, air matanya mengalir keluar, lalu bertanya.

"Benarkah? Bagaimana kau tahu? "

Cin Hong lalu menceritakan pertemuannya dengan anak buah pemimpin rumah penjara rimba persilatan, yang datang kekota untuk mencari seorang pelukis, pada akhirnya ia berkata sambil menghela napas-"Selama itu aku sedang berpikir, dalam perjalanan kita yang tidak berhasil mencandak suhu, mungkin sudah kesalahan jalan atau mendahului mereka, tetapi sekarang pikiran itu ternyata keliru". In Jie sementara itu masih menangiS, seketika mendengar ucapan itu berkata sambil menyeka air matanya.

"Aku sudah lama menduga akan terjadinya hal seperti ini, masih untung semua sudah sanggup menyambut pukulan dari batas yang ditetapkan ialah tiga pukulan mautnya, bahkan lebih dari itu... ."

Cin Hong bangkit dari tempat duduknya, terkata dengan suara guSar.

"Dapat menyambut pukulan mautnya tiga kali keataS mau apa lagi? Bahkan serupa Saja masih tetap masuk kedalam penjara? "

In jie menundukkan kepala dan menghela napaS, kemudian berkata .

"Setidak-tidaknya tidak perlu diborgol kaki tangannya, juga tidak perlu bekerja berat tidak perlu pula makan nasi kasar dan Sayur kering..."

Cin Hong kembali duduk dikursinya, Sepasang matanya memandang kelangit-langit, lama berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba lompat bangun dan berkata.

"Sudahlah. Mari kulukis gambarmu"

In-jie seolah-olah takut Cin Hong mendekati dirinya, buru-buru mengulurkan tangannya dan mendorong padanya, sedang mulutnya berkata.

"Tunggu sebentar, tunggu aku habis menulis surat baru melukis"

Cin Hong baru sadar, lalu berkata .

"Kiranya kau tadi tidak mau keluar bersama-sama, perlunya hanya hendak menulis surat, apakah kau tulis untuk suhumu? "

In-jie mengangguk-anggukkan kepala, dengan kedua tangannya ia menutupi surat yang terletak diatas meja, wajahnya menunjukkan perasaan malu dan takut.

Cin Hong berjalan mendekati selangkah.

menundukkan kepala untuk melihat surat seraya bertanya.

"Tulis surat saja mengapa takut dilihat orang demikian rupa? "

In-jie Cemas, dengan kakinya ia menendang kaki Cin Hong seraya berkata.

"Pergi Kau ini bagaimana Sih...." --ooo OOOOO ooo--Hari kedua pagi-pagi, mereka dengan ter-gesa2 meninggalkan rumah penginapan dan keluar kota sambil menunggang kuda. can Sa Jie lebih dahulu sudah menunggU diluar pintu kota. tangan Kiri pemuda pengemis itu memondong setengah guci arak besar, seding tangan kanan membawa dua buah paha rusa yang sudah dimasak matang dengan dibungkus oleh kertas, seolah-olah hendak pergi keluar pesiar diluar kota dengan makanannya itu. Cin Hong terheran-heran, tanyanya.

"Saudara can Sa Jie, kau membawa barang-barang itu apa perlunya? "

"Tidak apa-apa, hanya minta tolong padamu supaya kau bawa dan berikan kepada suhuku yang doyan makan itu"

Menjawab can Sa Jie sambil tertawa. Cin Hong berpaling dan bertanya kepada In-jie.

"Apakah orang yang menengok kerumah penjara itu boleh membawa barang-barang masuk kedalam? "

"Boleh, kau lihat aku sampai lupa membeli sedikit barang untuk suhuku"

Berkata In-jie Sambil menganggukkan kepala.

"Kalau memang boleh membawa barang kita boleh kembali kekota untuk membeli sedikit"

Berkata Cin Hong girang.

"Suhu kalian berdua masih belum pasti sudah berada didalam rumah penjara itu belum sebaiknya lain kali saja kau baru bawa,"

Menyelak can Sa Jie. Mata In-jie menjadi merah, katanya dengan suara sedih.

"Mengapa tidak. dua hari berselang sudah masuk penjara"

Can Sa Jie yang mendengar ucapan itu terkaget, Cin Hong lalu menceritakan semua apa yang terjadi tadi malam, dan can Sa Jie yang mendengar itu merasa terkejut tetapi juga girang, katanya.

"Bagus sekali Dengan demikian maka suhu juga sudah mendapat kawan untuk diajak beromong-omong"

In-jie sangat marah, ia menghampiri dan menyerang can Sa Jie sambil memaki.

"Anak busuk. kau rupanya tidak mengerti artinya sedih"

Can Sa Jie lompat mundur, katanya sambil tertawa Cekikikan.

"Habis kau suruh aku bagaimana? Biar bagaimana hal itu toh sudah tidak dapat dihindarkan lagi"

Biji matanya berputaran mengaWaSi Cin Hong kemudian berkata pula Sambil tertawa.

"Sebetulnya kau juga tak perlu sedih, mereka bertiga yang merupakan tiga manusia gaib setiap orang masih ada kesempatan tiga kali untuk menantang pertandingan, aku perCaya mereka Cepat atau lambat toh sanggup menyambut sampai sepuluh pukulan, sekalipun tidak bisa, didalam rimba persilatan juga masih ada kita tiga manusia kecil gaib, bukankah kau masih ingat pepatah berkata anak meneruskan usaha ayahnya, murid meneruskan cita-cita gurunya ... ."

In-jie tidak menghiraukan kepadanya, ia berpaling dan berkata kepada cin Honng.

"Bagaimana, apakah kita masih perlu kembali kekota untuk membeli barang-barang? "

Cin Hong tiba-tiba ingat bahwa uang dalam sakunya tinggal tidak seberapa, setelah berpikir sejenak lalu berkata.

"Aku pikir Suhu kita berdua Baru saja masuk penjara, barangkali juga tidak tergesa-gesa memerlukan barang makanan, lain kali kalau pergi menengok lagi baru kita bawa juga tidak halangan ...,."

"Lain kali? Tahukah kau bahwa rumah penjara itu dalam waktu Satu tahun baru boleh menengok satu kali? "

Berkata In-jie dengan suara nyaring. Cin Hong merasa sedikit bingung, katanya sambil tertawa keciL.

"Kuberitahukan kepadamu juga tidak halangan, aku baru saja ingat, dalam Sakuku hanya tinggal uang reCeh yang jumlahnya tidak Cukup tujuh tail perak. bagaimana bisa membeli barang-barang? "

"oh, can Sa Jie, bolehkah kau pinjamkan beberapa tail Saja? "

Berkata in-jie Sambil mengulurkan tangannya kepada can Sa Jie. can Sa Jie nampak gelagapan katanya.

"Jangan mainmain, aku pengemis miskin bagaimana ada uang? Barangbarang yang kubawa Semua adalah Saudara-Saudara golongan pengemis Cabang kota ini yang mengumpulkan seCara gotong-royong"

In-jie terpakia menghela napaS, lebih dahulu mengeprak kudanya dilarikan kebarat, Cin Hong kemudian juga meniru, sedangkan can-sa jie sambil memandang poci arak dibungkusan paha rusa lari mengikuti dibelakang mereka, mulutnya berteriak-teriak.

"Hai, bantu aku bawa serupa barang.. .."

Menjelang tengah hari, tiga orang itu sudah mulai masuk daerah pegunungan Tay Pa San-Diatas jalan pegunungan yang berliku-liku itu mereka jalan tidak berapa lama, akhirnya menikung sebuah gunung yang sangat tinggi.

dari situ sudah tampak diantara gunung-gunung yang menjulang tinggi itu, berdiri sebuah bangunan dinding tembok dan rumah-rumah berloteng yang luas dan tinggi sekali.

Bangunan itu dilihat darijauh, merupakan sebuah bangunan dan megah tetapi juga misteri yang seram.

Diatas pintu loteng terdapat sebuah papan yang ditulis oleh huruf emas.

Huruf-huruf itu berbunyi.

"Bagian Pertama Rumah Penjara Rimba Persilatan-"

Dikedua sisi pintu, diatas dua tiang batu juga dipasang sepasang papan yang ditulis dengan huruf-huruf yang mengandung arti sangat baik. Huruf-hurup itu berbunyi.

"orang-orang Qaib dan orang-orang Pandai Seluruh Dunia Persilatan semua Menjadi Tamu Dalam Rumah Penjara, jago-jago dan Ksatria-Satria Rimba Persilatan Menjadi Tawanan untuk Selama-lamanya ."

Huruf-huruf emas itu dibaWah Sinar matahari memancarkan sinarnya yang berkilauan, kalau dipandang dari jauh seperti sedang terbakar.

orang yang membacanya dengan sendirinya timbul perasaan tegang.

Tiga orang itu.

tiba dibawah pintu benteng dikedua samping jalanan menampak pula dua potong papan merk.

dibagian depan papan merk itu ditulis dengan kata-kata.

"Pemberitahuan Kepada orang-orang Yang Hendak Menantang." -Dipapan bagian Delakang tertulis dengan kata-kata. Pemberitahuan Bagi orang-orang Yang ingin Menengok Keluarga"

Pengumuman dalam papan pertama itu berbunyi demikian.

-SATU.

Penguasa rumah penjara rimba Persilatan ini setiap waktu menerima segala tantangan pertandingan, barang siapa yang yakin mempunyai kepandaian cukup, baik pria mau pun wanita, tua atau muda, semua boleh mendaftarkan nama, dan setelah itu nanti diadakan pertandingan di atas tujuh senar yang terpancang diatas lembah kunci besi.

-DUA.

Barang siapa yang dapat mengimbangi atau berakhir seri dalam pertandingan itu dengan penguasa rumah penjara ini, akan mendapat kesempatan untuk mengajukan segala permintaan apa yang dikehendaki olehnya.

-TIGA Barang siapa yang sanggup menerima tiga kali puKulan maut penguasa rumah penjara boleh melanjutkan pertandingannya, barang siapa yang dapat melanjutkan pertandingan hingga sanggup bertahan sepuluh jurus keatas tidak usah masuk penjara, disamping itu juga akan mendapat hadiah uang mas sebanyak Seribu tail atau boleh menolong keluar lima orang dari dalam penjara menurut pilihannya sendiri, tapi dalam pertandingan selanjutnya harus sanggup bertahan sampai lima belas jurus, jikalau tidak, masih tetap harus masuk kedalam penjara, dan kehilangan haknya untuk menantang lagi.

-EMPAT.

Barang siapa yang Sanggup bertahan tiga jurus keatas Sepuluh jurus kebawah, masih diharuskan masuk kedalam penjara untuk ditawan, hanya dalam rumah penjara boleh tak usah memakai borgol dan bekerja berat, makan setiap harinya juga lebih baik dari tawanan biasa, bahkan masih mendapat kesempatan untuk menantang lagi tiga kali.

-LIMA.

Barang siapa yang tidak sanggup menyambut tiga pakulan maut penguasa rumah penjara ini, diharuskan masuk penjara, menjadi pelayan, juga harus mengenakan borgol dan bekerja berat, setiap hari hanya diberi makan yang berupa beraS kasar dan Sayur kering, juga hanya diberikan kesempatan satu kali saja untuk menantang lagi, apabila sanggnp menyambut tiga kali pukulan keatas, boleh dipindahkan kekamar penjara yang disebut kamar penjara Liong.

-ENAM.

Ketentuan-ketentuan di atas harus ditaati oleh penantang dan semua tawanan, jiKa tidak.

penguasa rumah penjara ini tidak akan menjamin keselamatan jiwanya.

Sedang di atas papan yang kedua berisi pengumaman seperti di bawah ini.

Mengingat tradisi kekeluargaan yang kuat dari bangsa kita, penguasa rumah penjara ini memberi kesempatan bagi keluarga orang yang dipenjarakan untuk datang menengok, denga nperaturan-peraturan seperti dibawah ini.

-SATU.

Tahun pertama bagi keluarga orang yang dipenjarakan-hanya anak-anaknya atau anak keluarganya yang berusia tiga belas tahun yang boleh datang Derkunjung atau menengok yang lainnya tak dapat diterima.

-DUA.

Sanak keluarga yang datang menengok harus meninggalkan senjata yang dibawa juga harus memberitahukan nama dan umurnya yang sebenarnya kepada petugas yang di namakan Thiat-u Siangsu untuk di cek.

apabila terdapat kebohongan, akan mendapat hukuman rangket sebagai peringatan--TIGA.

Keluarga-keluarga yang datang menjenguk setiap tahun hanya di beri kesempatan satu Kali, Setiap kali Waktunya hanya satu jam.

-EMPAT.

Keluarga-keluarga yang datang menengok boleh membawa surat-surat dari keluarga atau Sedikit barang-barang makanan, tapi harus diperiksa lebih dahulu, isi urat apabila terdapat tulisan-tulisan yang tidak baik bagi rumah pejjara ini, dapat ditahan.

-LIMA.

Dalam pertemuan antara tawanan dengan keluarganya, tidak boleh ribut-ribut, atau menangis, barang siapa yang melanggar segera di usir keluar.

-ENAM.

Ketentuan-ketentuan diatas haruS di taati benar oleh yang berkepentingan, jika tidak akan segera di usir keluar dan akan dihukum menurut pelanggaran yang dilakukan-SehabiS membaca huruf pengumuman itu Cin Hong bertiga saling berpandangan, dalam hati masing-masing timbul perasaan tak enak.

Munculnya satu kelompok manusia yang membangun tempat bernama Rumah Penjara Rimba Persilatan ini, sudah merupakan suatu hal yang Sangat aneh dalam riwayat di rimba persilatan-dan Selagi peraturan dan katetapan yang diadakan olehnya juga demikian ganjil, benar-benar merupakan suatu kejadian ajaib dalam sejarah rimba periilatan-Selagi mereka dalam keadaan bingung, dalam pintu penjara tampak keluar seorang lelaki setengah umur kurus kering yang mengenakan jubah warna kuning.

Ia berdiri diatas tiang batu sambil mengawasi sikap tiga pemuda itu, di wajahnya tidak menunjukkan sikap apa-apa, tanyanya dengan nada suara dingini

"Hee, kalian tiga bocah ini datang kesini ada keperluan apa?"

Cin Hong lompat turun dari atas kudanya, memberi hormat kepada orang itu seraya berkata.

"Kedatangan kita kemari, maksudnya ialah hendak menengok keluarga didalam penjara, apkah tuan yang menjabat pangkat sebagai Thiat-oeSiansu? "

Lelaki berjubah kuning itu menganggukkan kepala, ia kembali bertanya dengan nada suara dingin.

"Kalian bertiga akan menengok semuanya? "

Cin Hong berpaling mengawasi can Sa Jie dan In-jie sejenak kemudian berkata sambil menggelengkan kepala.

"Tidak. usia mereka tidak sesuai dengan peraturan kalian disini."

Thiat-oe Siansu mengeluarkan Suara hem, lalu memutar tubuhnya berjalan kedalam pintu sambil berkata.

"Baik, kau masuk dulu untuk mengurus soal pendaftaran lebah dahulu"

Begitu masuk kedalam pintu batu itu dibalik pintu itu tampak Sebuah meja, diatas meja tampak lengkap dengan kertas dan alat-alat tulisnya, kecuali itu ada sebuah Sangkar burung yang terbuat dari besi berbentuk bulat, didalam sangkar itu ada seekor burung abu-abu, burung itu ketika melihat Cin Hong datang, lantas terbang dalam Sangkarnya sambil mengeluarkan suaranya dan memiringkan kepalanya untuk mengamat-amati Cin Hong.

Thiat-oe Siansu duduk disebuah kursi dibelakang meja, kini mulai menggulung lengan bajunya, membuka-buka buku pendaftaran, lantas mengangkat pena atau alat tulis dari buku yang diletakkan diatas batu gosokannya, kemudian membuka sepasang matanya yang berCahaya, lalu bertanya lambat-lambat.

"Namamu? "

"Cin Hong."

Menjawab Cin Hong perlahan-Thiat-oe Siansu menganggukkan kepala, tetapi tidak mencatat nama pemuda itu, sebaliknya ia angkat muka dan bertanya lagi.

"Tanggal lahir? "

Cin Hong tercengang, jawabnya dengan Cemas.

"Hal ini bagaimana aku tahu? "

Thiat-oe Siangsu mengerutkan alisnya, tanyanya dengan suara keras.

"Goblok!! Apakah ayah bundamu tidak pernah memberitahukan kepadamu? "

"Ai, aku ini sejak masih keCil sekali sudah dipelihara oleh suhu hingga dewasa, sama sekaii tidak tahu siapakah ayah bundaku sendiri"

Menjawab Cin Hong gugup, Thiat-oe siangsu miringkan kepalanya yang kurus, matanya dikedip-kedipkan, katanya dengan perasaan heran.

"Kalau demikian halnya, bagaimana kau bisa tahu kalau kau sekarang berusia delapan belas tahun? "

Cin Hong saat itu teringat kepada riwayat diri sendiri yang hingga saat itu masih merupakan suatu teka-teki baginya, dalam hatinya merasa sedih, katanya sambil menundukan kepala.

"Menurut keterangan suhu itu, tahun usiaku seharusnya sudah delapan belas tahun, tidak bisa salah lagi."

Thiat-oe Siangsu meletakkan alat tulisnya, tubuh bagian atas menyender kekursi, sedang tangannya mengurut-urut kumis diatas bibirnja sambil berkata.

"Tidak ada tanggal lahirnya, bagaimana aku dapat menghitungnya? "

Cin Hong Cemas ia berkata sambil menjura.

"Tahun ini dengan sebenarnya usiaku delapan belas tahun, harap tuan suka perCaya keteranganku ini "

Thiat-oe Siangsu manggeleng-gelengkan kepala kemudian memejamkan matanya sebagai jawaban bahwa dengan tidak adanya tanggal kelahiran, sesungguhrya ia tidak dapat membantu.

Diluar dugaannya baru saja ia memejamkan mata, burung keCil yang berada didalam sangkar itu dengan tibatiba beterbangan dan berbunyi.

"GincU, GlncU ... ."

Yang berarti Uaang perak.

uang perak.

Cin Hong terperanjat dan mengeluarkan seruan dari mulutnya, ia buru-buru mengeluarkan uang reCehan dari dalam sakunya, dengan sikap sangat menghormat diberikan kepada Thiat-oe Siangsu seraya berkata.

"Siangsu, sedikit uang ini harap siangsu gunakan Untuk minum teh "

Thiat-oe siangsu membuka matanya dengan cepat dipejamkan kembali, katanya sambil tertawa dingin.

"Hm, apa kau kira aku ini belum pernah lihat uang receh ini? "

Muka Cin Hong menjadi merah, katanya dengan Suara gelagapan.

"Maaf, dalam Sakuku hanya ada beberapa keping uang recehan ini saja, harap tuan suka memaafkan."

Thiat-oe Siangsu menggeleng-gelengkan kepalanya, memejamkan matanya kembali dan tidak mau menghiraukan Ucapan Cin Hong.

Cin Hong lantas naik pitam, dalam keadaan marah, ia menyambar alat tulis yang ada diatas meja, alat itu dikeprakan sehingga menimbulkan suara nyaring, kemudian membentak sambil membusungkan dada.

"Pui? Kau berani main korupsi? "

Thiat-oe Siangsu yang tidak menduga dapat perlakuan demikian, sesaat menjadi kaget, sepasang matanya melotot. lalu bangKit dari tempat duduknya dan membentak sambil menuding dengan jari tangannja.

"Bocah, kau berani melawan aku, benar-benar kurang ajar"

Cin Hong memang mempunyai sifat yang suka marah2, ciri itu mungkin disebabkaa karena sejak kecil ia tidak mendapat cinta kasih dari ibunya, tetapi sesudah marah ia segera menyadari kesalahannya, maka ia setelah ditegor demikian ia buru-buru menjura untuk memberi hormat, dan berkata dengan sikap gugup.

"Maaf, maaf, aku tidak dapat mengendalikan emosiku sendiri. hal ini sesungguhnya tidak seharusnya."

Thian-oe siansu mengibaskan lengan bajunya, katanya dengan suara keras.

"Pergi Pergi, kau bocah ini tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh rumah penjara."

Cin Hong terkejut. ia menjura lagi seraya berkata.

"Tidak tidak. harap Siansu jangan marah tunggu aku nanti akan berdamai dulu dengan dua kawanku, mungkin mereka ada membawa barang, yang agak berharga"

Sehabis berkata demikian, ia berpaling dan berjalan keluar dari pintu batu itu. can Sa Jie dan In-jie begitu melihat ia keluar kedua-duanya lantas menyongsong serta bertanya.

"Bagaimana kau ribut dengan dia? "

Dengan suara perlahan Cin Hong menceritakan sebabsebabnya, kemudian berkata dengan suara gemas.

"Anjing itu ternyata berani menggunakan kedudukannya untuk memeras, benar-benar kurang ajar, Sekarang kalian pikir bagaimana?"

Can-sa jie mengangkat tangannya dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, katanya sambil tertawa kecut.

"Burung goak didunia benar-benar sama hitamnya, tidak diduga rumah penjara kedaannya juga sama dengan kantor pemerintahan, jikalau tidak ada uang tidak ada uang tidak bisa masuk"

Sementara itu In-jie juga berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Habis bagaimana? Aku sesungguhnya membawa uang... ."

Can-sa-jie mengangguk kepalanya semakin keras, katanya.

"Aku juga dibadanku yang ada hanya kutu busuk saja"

Cin Hong mengeluarkan suara helaan panjang, kemudian berkaka.

"Aku juga tidak ada barang yang berharga."

Cin Hong dalam keadaan tak berdaya, tanpa disadari ketika tangannya meraba-raba kepada lehernya Sendiri, telah menyentuh kunci emas yang terikat dengan kunci huruf Liong yang terbuat dari emas murni, Sesaat ia merasa girang dan berkata sambil lompat-lompat.

"Ya, aku hampir lupa. barang ini kukira boleh diberikan kepadanya"

Setelah mengucap demikian, dengan cepat mengeluarkan rantai emasnya, dan membuka anak kunci yang berukiran huruf Liong itu, anak kunci itu dimasukkan kedalam sakunya, disimpan baik-baik.

can Sa Jie mengira kunci emas itu merupakan barang perhiasan semula ia terkejut, kemudian ia menggoda sambil tertawa.

"orang lakl-laki kok lehernya dikalungi rantai emas segala, apa tidak takut ditertawai kawan-kawan? "

In-jie mendelikan matanya memandang sebentar, lalu berkata.

"Mengapa orang laki-laki tidak boleh memakai rantai emas? Kalau ini benar-benar seperti anak dari gunung saja.. ."

Cin Hong yang tiada maksud untuk memberi keterangan juga tidak perlu menjelaskan kepada mereka, dengan membawa rantai dan anak kunci emas itu ia masuk kembali kedalam pintu.

Thiat-oe Siangsu ketika melihat ia datang lagipura-pura menegornya.

"cis Perlu apa kau masuk lagi? "

Cin Hong buru-buru mengeluarkan kunci emasnya dengan kedua tangannya ia berikan pada laki-laki itu, katanya sambil membongkukkan badan-"Siangsu kau terlalu capai, Sedikit barang perhiasan ini tidak ada artinya apa-apa, harap Siangsu suka terima dengan senang hati "

Thiat-oe Siangsu menerima rantai emas, di-timang2nya sebentar kemudian berkata sambil tersenyum.

"Ingat. ini adalah kau sendiri yang memberikan kepadaku dengan suka rela, bukannya aku yang meminta kepadamu"

Cin Hong mengatakan ucapan ya, berulang-ulang maka Thiat-oe Siangsu itu lantas menerima pemberian itu, ia mengangkat lagi alat tulisnya dan menulis kan nama Cin Hong diataS buku pendaftaran berikut dengan usianya, kemudian bertanya.

"Kau hendak menengok siapa?"

"Hendak menengok Suhuku it-hu Siangseng dan Suhuku Thian-san Soat Popo, sekalian mengantarkan sedikit barang maka nan untuk can sa-sian, pemimpia golongan pengemis...."

Thiat-oe Siangsu membuka matanya lebar-lebar. kemudian bekata.

"Jadi sekaligus kau hendak menengok tiga orang? "

Cin Hong takut tidak diperbolehkan, maka buru-buru menjawab.

"Ya, dalam pengumuman itu toh tak ada ketetapan yang melarang orang dalam waktu bersamaan menengok lebih dari satu orang "

"Sudah tentu, tetapi ini hanya tidak baik bagi kau sendiri"

Berkata Thiat-oe Siansu sambil tertawa. Cin Hong berdiri bingung, sementara itu Thiat-oe Siangsu sudah memberi penjelasan sambil tertawa.

"Dalam pengumuman itu bukankah sudah ditulis dengan suatu ketentuan bahwa orang yang menengok keluarganya didalam penjara hanya diberi batas waktu satu jam saja. Banyak anak-anak yang menengok keluarga pada mengeluh. karena batas waktu itu terlalu singkat, dan sekarang kau dalam waktu yang singkat itu sekaligus hendak menengok tiga orang apakah itu bukan berarti Sangat singkat sekali waktumu untuK berkumpul dengan mereka? "

Cin Hong mendengar keterangan itu lalu memprotes.

"Aku hendak menengok tiga orang, seharusnya diberi waktu tiga jam itulah baru adil"

"Tidak, tentang ini aku sudah pernah pinta keterangan dari penguasa rumah penjara ini, tetapi tidak diperbolehkan."

Menjawab Thiat-oe Siangsu. Cin Hong tidak berdaya, terpaksa menganggukkan kepala dan berkata.

"Baiklah, satu jam juga boleh"

Thiat-oe Siangsu lalu menuliskan nama-nama orang yang hendak ditengok diatas buku pendaftaran, kemudian berkata.

"Sekarang barang yang hendak dibawa masuk itu berikan kepadaku dahulu untuk diperiksa kecuali uang, barang makanan dan surat-surat. dibadanmu tidak boleh membawa barang apa lagi, kalau di ketemukan bisa dibeslah"

Cin Hong terima baik, ia keluar lagi, untuk memberikan anak kunci emas itu kepada In-jie agar disimpannya, kemudian dari tangan Can Sa-jie menerima arak dan paha binatang rusa yang hendak diberikan kepada suhunya.

selagi hendak masuk kedalam lagi, tiba-tiba berhenti dan berpaling serta berkata kepada in-jie.

"In-jie, surat tadi malam yang kau hendak berikan kepadaku itu akan diperiksa dahulu, apakah tidak menjadi halangan?"

Sepasang pipi In-jie tampak merah, ia sangsi sejenak. tiba-tiba. berkata sambii tertawa.

"ia boleh lihat, tetapi kau tidak"

Cin Hong terima baik, dengan membawa barang hidangan dan surat tadi masuk lagi kedalam pintu, diletakkan di meja Thiat-oe Siangsu lalu mengeluarkan kembali surat In-jie yang akan disampaikan kepada suhunya, kemudian berkata.

"Barang-barang semua ada disini, periksa dahulu"

Thiat-oe Siansu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Cin Hong untuk menggeledah badannya, kemudian memeriksa barang-barang dan pada akhirnya barulah membuka surat In-jie akan di bacanya, mungkin karena membaca di bagian yang di anggapnya lucu dengan tiba-tiba ia dongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak Cin Hong tak tahu apa yang ditulis oleh In-jie dalam Suratnya, ia merasa heran, maka lalu bertanya dengan suara perlahan.

"Numpang tanya pada Siansu apakah yang tulis olehnya dalam surat itu? "

Thiat-oe Siangsu sementara itu sudah melipat kembali surat dan dimasukkan kedalam amplopnya, surat itu diberikan kepada Cin Hong, dan menjawab sambil tertawa.

"Apa yang dikatakan olehnya itu memang benar....aku boleh lihat, tetapi kau tidak boleh baca"

Cin Hong merasa seperti juga oleh In-jie, ia menghela napas dan berkata sambil tertawa kecut.

"Kalau begitu, Semua sudah boleh kubawa? "

Thiat-oe Siansu menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian mengulurkan tangan menunjuk orang yang berada dibelakang dirinya seraya berkata.

"Semua selesai, Sekarang orang ini akan bawa kau pergi menengok kedalam penjara"

Cin Hong berpaling, kiranya entah sejak kapan di belakang dirinya sudah berdiri seorang lelaki berpakaian ringkas warna hijau, dengan wajah dan sikap dingin, orang itu mengajak Cin Hong jalan, Dengan tetap hormat Cin Hong mengangukkan kepala kepadanya sambil tertawa, kemudian membawa guci arak dan bungkusan paha rusa, setelah itu ia berpaling dan berkata dengan Suara nyaring kepada dua kawannya diluar tembok.

"Saudara can Sa, In-jie kalian harus tunggu aku"

"Baik, kalau sudah tiba waktunya kau belum keluar, kita nanti akan menyerbu."

Jawab In-jie dengan suara nyaring juga , Cin Hong yang Sebetulnya sudah mengikuti penjaga penjara tadi berjalan, mendengar ucapan In-jie buru-buru berhenti dan berpaling sambil berseru.

"Tidak akan terjadi hal seperti itu, kau jangan bertindak lancang"

"Anak tolol, maksudku ialah memberi peringatan kepada mereka lebih dahulu... ."

Menjawab in-jie juga dengan suara nyaring.

Cin Hong mengikuti Sipir penjara berjalan keluar dari pintu batu, dengan mengikuti jalan yang agak rata berjalan menuju ke gunung.

Berjalan kira-kira Setengah pal, jalan itu mulai menyempit, kedua sisi jalan terdapat gunung-gunung menjulang tinggi, disamping itu juga terdapat sungai dengan airnya yang jernih mengalir turun, diatas gunung penuh dengan pohon cemara dan daunnya yang rindang, di beberapa bagian ditepi jalan terdapat banyak tanaman bunga, pohon-pohon yang indah, juga air mancur, Suatu pemandangan alam yang sangat indah.

Cin Hong meskipun dalam hatinya seperti sedih oleh berbagai perasaan, tetapi dengan beradanya ditempat yang mempunyai pemandangan alam sangat indah itu, ia juga seperti terbenam dalam keindahan itu, sehingga tanpa disadari, mulutnya Sudah melagukan sajak-sajak.

Sipir penjara yang berjalan mengira Cin Hong itu mempunyai penyakit gila, ia merandek dan berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Hei, jikalau kau mempunyai penyakit tidak boleh masuk"

Cin Hong terkejut, buru-buru menyahut sambil tertawa.

"Tuan, aku tidak pernah mempunyai penyakit gila "

"Jikalau tidak, mengapa kau berteriak-teriak bernyanyi nyanyi seperti orang gila? "

"Aku sedang nyanyikan sajak indah, bagaimana kau kata seperti orang gila? "

Sipir penjara itu mengeluarkan ludah mulutnya, lantas berjalan lagi sambil berkata.

"Setiap anak-anak anggauta keluarga yang datang menengok keluarganya, kebanyakan pada bermuka sedih dan ada juga yang menangis, tetapi kau sebaliknya tampak gembira bahkan bisa nyanyi segala, bukankah itu berarti gila? "

Cin Hong yang tetap mengikuti dibelakangnya, menjawab sambil tersenyum.

"Tuan tidak tahu, ada orang yang Sedih mengeluarkan air matanya, membasahi pipinya. ada juga yang air matanya mengalir kedalam perut. Inilah orang yang dina makan berduka mempunyai cara sendirisendiri"

Sipir penjara itu barang kali tidak sudi berdebat dengan anak sekolah itu, maka ia tidak menjawab lagi.

ia mempercepat langkah kakinya.

setelah melalui jembatan yang melintang ditengah jalan, tak lama kemudian tibalah disuatu tempat dibawah kaki gunung yang menjulang tinggi kelangit.

Ditempat itu tidak terdapat banyak tumbuhan hijau, seluruh gunung terdiri dari batu-batu cadas yang tajamtajam, sedang dibagian perut gunung tampak sebuah batu yang licin sekali.

diatas batu yang sangat besar itu diukir dengan huruf-huruf penjara Rimba Persilatan, setiap huruf sebesar setombak persegi, sehingga setiap orang yang melihatnya timbul pertanyaan dalam hati masing-masing, diatas gunung dipermukaan batu yang sangat besar itu bagaimana orang dapat mengukirkan huruf diatasnya?

ini benar2 merupakan suatu kepandaian yang tidak dapat dipikir.

Dibagian bawah, terdapat anak tangga yang juga terbuat dari batu, disana terdapat dua buah pintu besi, pintu besi sebelah kanan diatas terdapat ukiran dengan buruf LIONG atau NAGA dan kepala NAGA, diatas pintu sebelah kiri diukir dengan sebuah kepala Ular, tidak perlu dijelaskan lagi, orang sudah tahu bahwa inilah kamar penjara naga dan ular.

Rumah Penjara yang menggetarkan rimba persilatan itu, dibangun diperut gunung yang menjulang tinggi, asal membuka dua pintu yang keadaannya menyeramkan itu, dengan dirinya orang bisa terus masuk kedalam lembah yang dinamakan lembah Kunci besi itu, juga boleh menyusuri setiap kamar penjara yang terdapat disepanjang dinding lembah itu, didalam kamar-kamar ltulah kini disekap tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang ratusan jumlahya, bahkan diwaktu belakangan ini muncul penghuni kamarkamar penjara itu terdapat orang-orang yang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatan, mereka itu ialah tiga dari golongan yang dinamakan cui atau pemabokan, Sian atau dewa dan Po atau nenek.

Tetapi puncak gunung itu tinggi sekali, orang-orang yang datang menantang entah dengan Cara bagaimana baru bisa mendaki dan tiba ditempat yang penting dengan tujuh senar itu?

Cin Hong selagi masih terbenam dalam pertanyaannya sendiri, sementara kakinya sudah mengikuti sipir penjara itu mendaki tangga batu, berjalan tiba didepan pintu besi kamar penjara Naga.

disitulah ia melihat disamping kanan pintu besi ada dipasang sebuah papan pengumuman yang terdapat tulisan yang berbunyi.

"Setiap orang Yang Datang Menantang Boleh Naik Kepuncak Melalui Pintu Ini"

Ketika ia menengok keatas mengikuti tempat yang ditunjuk dengan tanda ujung panah, disitu terdapat jalan kecil yang beriiku-liku.

Jika naik kepuncak gunung, jalan itu tidak terdapat tikungan, oleh karena didekat situ ada batu yang melintang, maka harus mendekati tempat itu baru dapat melihat dengan tegas.

Dibawah pintu besi kamar naga itu, waktu itu dikanan kirinya masing-masing berdiri seorang laki-laki berpakaian ringkaS yang masing-masing membawa senjata tombak panjang, ketika mereka melihat sipir penjara datang dengan membawa Cin Hong, dengan tiba-tiba merintangkan tombak ditangan masing-masing, untuk merintangi perjalanan mereka, sedang mulutnya.

"Keluarkan dahulu tanda untuk menengok kedalam penjara "

Cin Hong terkejut, ia berpaling dan bertanya kepada sipir penjara yang mengajak masuk.

"Tuan, apakah yang dinamakan tanda untuk datang menengok ini? "

Sipir penjara itu tersenyum simpul dan menjawab.

"Tadi apakah Thiat-oe Siangsu tidak memberikan kau selembar kartu untuk tanda menengok? Harus ada kartu itu untuk diserahkan kepada Tuan ini baru boleh masuk melalui pintu besi ini "

Cin Hong Cemas, ia berseru.

"Siansu tadi tidak memberikan atau apa-apa Aku belum pernah lihat kartu yang kau maksudkan itu "

"Habis sekarang bagaimana? Tidak mempunyai kartu bagaimana bisa masuk? "

Berkata sipir penjara Sambil tertawa dingin. Cin Hong merasa tidak senang, ia berkata dengan sesalannya.

"Kalau begitu mengapa kau tadi tak memperingatkan aku untuk membawa kartu itu? "

"Hal ini bagaimana kau bisa salahkan aku, ku kira dia sudah memberikan kepadamu."

Menjawab sipir penjara itu marah.

"sekarang bagaimana? Bolehkah kiranya kalian memberi kelonggaran Satu kali saja? "

"Aku lihat Sebaiknya balik lagi untuk minta kepada Thiat-oe Siangsu"

Betkata sipir penjara sambil menyipitkan matanya dan tertawa yang mengandung materi.

Cin Hong meletakkan barang-barang yang dibawanya ditangga batu, lalu memutar tubuh hendak keluar balik lagi, baru saja melangka kaki tiba-tiba terdengar ucapan sipir penjara itu tadi.

"Masih ada satu hal, kau boleh minta pelajaran lagi kepada barung dalam sangkar itu"

Cin Hong lantas sadar.

buru-buru meraba lagi, tangannya dimasukan kedalam saku, harta benda apa yang terdiri dari uang recehan yang Tidak cukup Satu tahil dikeluarkan semua, dengan Kedua tangan ia serahkan kepada dua laki-laki yang menjaga pintu, lalu berkata Sambil menundukkan badan dan tertawa.

"Tuan tentunya sudah terlalu lelah. sedikit uang ini bukan berarti apa, boleh kah sekedar untuk minum teh saja, dilain hari kalau aku datang lagi tentu ku-akan ucapkan banyak-banyak terima kasih, tuan pikir bagaimana? "

Dua penjaga pintu itu, sepasang matanya mengawasi uang perak ditangannya, tetapi tidak berani menerima, Cin Hong mengira mereka anggap terlalu sedikit jumlahnya, maka ia berkata dengan perasaan khawatir.

"TUan-tuan haraf dimaafkan saja, kedatanganku tadi karena tergesa-gesa, juga tidak mengetahui aturan disini, maka tidak membawa uang lebih banyak..."

Sipir penjara yang dibelakang dirinya lalu berkata sambil tertawa.

"Jangan banyak bicara lagi bagi saja uang menjadi dua"

Cin Hong mengeluarkan suara buru-buru membagi dua uang recehan didalam tangannya, setelah ditimbangtimbangnya rata, katanya sambil tertawa.

"Maaf. maaf, Sesungguhnya terlalu tergesa-gesa"

Dua penjaga tadi menerima baik pemberian itu, orang yang berdiri disebelah kiri, tampaknya agak tegang.

dengan mata terbuka lebar ia memandang Cin Hong, kemudian berkata dengan ucapannya yang mengandung ancaman "Uang perak ini kita terima, akan tetapi jikalau kau berani mengadu kita yang minta, nanti kalau kau keluar aku akan ambil jiwamu"

Cin Hong buru-buru menjawab.

"Ya, ya, aku mengerti. Tuan-tuan tak usah khawatir."

Dua penjaga itu lalu menanyakan nama siapa keluarganya yang hendak ditengoki.

satu diantaranya lantas berjalan mendekati pintu tangannya diulurkan untuk menarik pintu tersebut.

pintu itu memperdengarkan suara nyaring, selanjutnya dari atas pintu, tampak Sepasang mata dari kepala naga itu berputaran dua kali, Sebentar kemudian dengan mengelak seperti dikorek oleh orang dari dalam, telah menghilang lalu diganti dengan sepasang mata manusia, setelah itu terdengar suara pertanyaan yang nyaring.

"Siapa yang datang berkunjung?"

Dua penjaga pintu semuanya berlutut diatas anak tangga, dan memberi laporan dengan suara ketakutan.

"Hunjuk beritahu pada Tay Giam ong, disini ada seorang pemuda bernama Cin Hong yang datang hendak menengoK tiga tawanan cui, Sian dan Po "

Cin Hong yang mendengar mereka menyambut orang itu Tay Giam-ong, segera teringat pada In-jie yang penah mengatakan bahwa penguaSa dari penjara itu ada mempunyai sepuluh anak buah yang disebut sebagai Sepuluh Giam Lo ong yang ditugaskan untuk memeriksa setiap orang yang datang berkunjung.

Kalau itu benar, pemeriksaan itu bukanlah suatu hal yang ruwet, tapi bagaimanapun ruwetnya juga tidak apa, Sebab didalam badannya sudah tidak memiliki apa2 lagi, jikalau mereka hendak minta uang semir, ia juga tidak tahu bagaimana nanti harus bertindak?

Selama berpikir, pintu itu tiba-tiba terbuka yang agak aneh pintu itu bukan terpisah kedua tetapi menjeblak dengan sendirinya, dari situ kelihatan jelas tampak sebuah goa yang luas tapi gelap.

di dalamnya tampak Sebuah tangga yang menanjak keatas, kemudian membelok kekanan bagian perut gunung, keadaannya seolah-olah di dalam neraka yang menyeramkan.

orang yang dipanggil Tay-giam-ong tadi saat itu juga berdiri didepan pintu dengan sikapnya yang galak Sekali.

Dia adalah seorang tua bermuka hitam alisnya tebal matanya besar, kepalanya memakai topi yang pinggirnya ada benang emas, pakaiannya jubah berwarna merah, pinggangnya diikat dengan ikat pinggang yang lebar, sepatunya tinggi, dandanannya itu mirip raja akherat seperti apa yang sering dilukiskan didalam gambar, sayang dia bukanlah Giam-lo-ong atau raja akherat yang benar, makin dipandangnya sangat lucu Cin Hong yang masih sangat muda, tidak kenal selatan, melihat dandanannya yang sangat lucu itu lantas tertawa geli.

orang yang disebut Tay-giam ong itu dengan tiba-tiba marah, sepasang matanya terbuka lebar, mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras.

"Bocah kau berani tertawa?"

Cin Bong terkejut, buru-buru menjura dan berkata.

"Maaf, aku tertawa tanpa disadari, harap Tay-giam-ong suka memaafkan-"

Tay-giam-ong mengeluarkan suara dari hidung, hawa amarahnya masih belum reda, maka berkata dengan nada marah-marah.

"Banyak anak-anak yang datang menengok dipenjara, kalau melihat aku semuanya pada gemetaran, hanya kau bocah ini yang berani tertawa, kalau kau masih tertawa lagi, aku nanti akan sekap kau disini?"

Berulang-ulang Cin Hong minta maaf, kemudian mengambil guci arak dan bungkusanpa rusanya yang diletakkan ditangga, ia berjalan menghampiri dan berkata sambil memberi hormat.

"Tay-giam-ong, bolehkah kiranya sekarang aku masuk?"

Tay-giam ong hanya menyahut 'hem', begitu saja lantas memutar tubuhnya yang beSar, mendaki tangga batu, dengan diikuti oleh Cin Hong.

Tangga batu itu dalam langkah dua-puluh langkah telah membelok.

Baca Juga: Lentera Maut Khu Lung

Baca Juga: Anggrek Tengah Malam Khu Lung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert