Eps 4 Sukma Pedang - Gu Long
Baca online Sukma Pedang - Gu Long
Cersil Sukma Pedang - Gu Long.
"Makmu kurang ajar! Baik! Kita lihat pedang siapa yang lebih tajam!"
Teriaknya dengan suara keras.
"Trang!!!"
Pedang sayap camar salju berkilau Hong Be telah dihunus, Rambutnya yang berwarna pirang dan acak-acakan disertai wajah yang panjang, dan suara tertawanya yang meringkik, membuat Hong Be persis seperti seekor kuda.
Sungguh sebuah gelar yang tepat!
Manusia bertopeng hitam itu tetap menggenggam pedang hitam berikut sarungnya dengan tangan kanan.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa manusia tersebut menghunus pedang dengan tangan kirinya.
Dia adalah seorang kidal, Kecuali orang yang baru menginjakkan kaki untuk pertama kali ke tanah Tionggoan, mestinya banyak orang yang mengenal siapa pendekar yang biasa bertangan kidal.
Sedikit hembusan angin gunung, bertiup semilir menggidikkan hati orang yang berada di sekitar tempat itu.
"Mengapa kau belum menghunus pedangmu?"
Tanya Hong Be dengan suara tajam.
Manusia bertopeng masih berdiri terpaku Bok lang kun dan Sun Put Ce diam-diam menarik nafas, Dari sikapnya, mereka dapat menebak bahwa Hong Be belum pernah bertemu dengan Toa Tek To Hun.
Orang itu ingin menyamar sebagai pembunuh bayaran tersebut, tentu tindakannya juga dibuat semirip mungkin.Toa Tek To Hun tidak pernah menghunus pedang sebelum langsung menyerang.
Dan sudah pasti sekali pedang terhunus, dalam sekelebatan musuhnya roboh ketanah!
Sun Put Ce memandang sepasang kaki manusia bertopeng dengan seksama, sedangkan Bok lang kun memperhatikan tangan kiri dan pedangnya.
Sulit dikatakan apa maksud pandangan kedua orang itu, Namun bagaimana pun mereka yakin bahwa manusia bertopeng inilah yang datang ke pegunungan sebelah Barat untuk menyaksikan pertarungan antara Toa Tek To Hun dan Tang hay sin sian.
Hong Be juga dapat merasakan hawa pembunuhan yang terpancar dari diri manusia bertopeng itu.
Dia tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Secepat kilat pedangnya disapu ke depan.
Pedang di tangan manusia bertopeng itu juga berkelebat, Gerakannya memang mirip dengan Toa Tek To Hun, tapi Sun Put Ce dan Bok lang kun masih bisa melihat dengan jelas.
Serangannya memang cukup cepat, paling tidak itulah anggapan Hong Be.
Dia mencoba menangkis serangan manusia bertopeng itu, tapi dalam sedetik saja dia menyadari dirinya kurang cepat.
Dalam keadaan seperti ini, dia dapat menilai serangan dirinya masih belum bisa mengenai manusia bertopeng itu, sedangkan serangan dari orang tersebut sudah dekat dan tidak bisa ditahan olehnya, Dia berusaha keras untuk menggeser tubuhnya sedikit ke samping, Namun hal itu juga masih kurang cepat dilakukannya "Ceeeeppp!"
Lengan kirinya telah tertembus oleh pedang lawan.
Pada saat itu Hong Be sama sekali tidak gila, Dia sadar sepenuhnya, Dia mengeluarkan serangannya yang paling ganas.
Selama berkecimpung di dunia Bulim, dia hanya pernah menggunakan jurus tersebut satu kali, yaitu ketika menghadapi lima orang musuh tangguh.
"Trang! Trang!"
Dua kali suara itu terdengar, serangannya yang paling ampuh pun tetap dapat dihindari manusia bertopeng itu.
Dia sadar dirinya masih belum dapat menandingi orang tersebut Sekali pedang di tangan kiri manusia bertopeng berkelebat Pedang sayap camar salju berkilauan milik Hong Be terpelanting.
"Ting!"
Melayang jauh dan terjatuh ke tanah.
Di saat menjelang kematiannya, Hong Be mengamuk kalang kabut, Dia meninju dan menyerang dengan telapak tangannya secara serampangan, namun hasilnya tetap sia-sia.
Dia menangis menggerung, ratapannya mirip seekor kuda yang disembelih.
Darah segera muncrat dari keningnya, orangnya pun rubuh ke tanah.
Sun Put Ce dan Bok lang kun sama-sama berpikir, kalau manusia bertopeng itu memang bukan bermaksud mencelakai Toa Tek To Hun, mengapa gerakannya dilakukan persis seperti orang itu?
Lagipula mengapa dia tidak mau mengakuinya?
"Keluar!"
Bentak manusia bertopeng itu. Bok lang kun menatap Sun Put Ce sejenak.
"Cepat pergi!"
Serunya.
"Kau tidak bisa berbuat apa-apa,"
Kata Bok lang kun.
"Dua tetap lebih baik daripada satu!"
Sahut Sun Put Ce keras kepala.
"Dua juga masih bukan tandingannya,"
Kata Bok lang kun sambil menarik nafas panjang.
"Kalau sudah tahu dua saja masih tidak bisa mengalahkannya, kau suruh aku lari sendiri?"
Tanya Sun Put Ce dengan suara sinis.
"Aku masih bisa mengimbangi sesaat, Kau lari dan cari pertolongan,"
Kata Bok lang kun.
"Gerakanmu lebih cepat daripada saya. Kau yang lari mencari pertolongan,"
Sahut Sun Put Ce berkeras.
"Kau benar-benar tidak mengerti soal mati hidup, Apakah kau sudah bosan hidup lebih lama lagi?"
Bentak Bok lang kun.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce ngotot.
"Mengapa?"
Tanya Bok lang kun. Sun Put Ce tidak menyahut.
"Kau harus menjelaskan dulu kepadaku!"
Kata Bok lang kun kembali.
"Bencana besar!"
Sahut Sun Put Ce.
"Aku tidak mengerti, Kau jangan mengoceh yang tidak-tidak!"
Kata Bok lang kun. Terdengar suara manusia bertopeng itu mendengus.
"Bok lang kun! Apakah kau merasa jeri?"
Tanya manusia bertopeng itu tajam tanpa menoleh.
Jilid 8
"Kalau kau sendiri tidak merasa takut, mengapa topengmu tidak dilepaskan?"
Sindir Bok lang kun.
"Jika kau bisa mengalahkan pedang di tanganku, tentu kau akan melihat wajah ini dengan jelas!"
Sahut manusia bertopeng itu. Bok lang kun keluar dari persembunyiannya.
"Sun Put Ce! Lekas lari!"
Dia masih sempat menoleh kepada rekannya.
"Tidak!"
Sahut Sun Put Ce tegas. Kata "tidak"
Nya jelas-jelas sulit dirubah menjadi "iya", Persis seperti kata "iya"
Nya yang juga sulit dirubah menjadi "Tidak".
"Kalau kau ingin mengetahui sebuah rahasia besar, maka kau harus cepat pergi dan mengintip ke dalam rumah kayu kecil,"
Bisik Bok lang kun. Sun Put Ce terpana mendengar ucapan rekannya.
"Rumah kayu kecil yang mana?"
Tanyanya heran.
"Rumah kayu kecil yang membuat kita membalikkan tubuh pun sulit,"
Sahut Bok lang kun.
Wajah Sun Put Ce berubah.
Kata-kata ini kalau diucapkan kepada orang lain tentu akan bingung.
Hanya Sun Put Ce yang mengerti.
Di dunia ini mana ada rumah kecil yang untuk membalikkan tubuh saja sulit?
Tetapi Sun Put Ce mengerti bahwa kata-kata ini adalah sebuah ungkapan, Pada saat itu, Bok lang kun sudah berjalan mendekati manusia bertopeng itu.
"Kau harus cepat-cepat pulang. Bila tidak, rahasia itu tidak akan kau ketahui untuk selamanya,"
Katanya sambil tidak henti melangkahkan kaki.
"Rahasia apa?"
Tanya Sun Put Ce mengiring di belakangnya.
"Rahasia mengapa Toa Tek To Hun harus membunuh jago-jago di Tionggoan!"
Kata Bok lang kun dengan mata mendelik.
Hati Sun Put Ce bergetar.
Kata-kata ini mungkin juga sebuah tipuan agar Sun Put Ce mau meninggalkan tempat itu.
Bok lang kun tidak ingin dia membuang nyawa secara sia-sia.
Sun Put Ce tentu tidak menganggap penting nyawa sendiri.
Tetapi dia juga tahu Bok lang kun tidak ingin ada orang yang lain ikut dalam pertarungan tersebut, bila tidak konsentrasinya bisa terpecah.
Bok lang kun menatap Hong Be.
Dia menatap tubuh yang mulai kaku itu, yang merupakan jago kelas satu, tidak disangka bisa menemui ajal di Tionggoan dalam tiga jurus saja.
Hanya dengan tiga jurus bisa membunuh Hong Be, manusia bertopeng ini memang cukup pantas menyaru sebagai Toa Tek To Hun.
Tatapan mata Bok langkun beralih kepada manusia bertopeng yang masih berdiri tegak membelakanginya.
Kini dia telah berbalik menghadapinya.
Dua pasang mata bertemu.
Diam-diam dia dapat menebak siapa manusia bertopeng di hadapannya, mengapa dulu dia tidak pernah mendengar orang ini menggunakan tangan kiri?
seseorang yang sudah terbiasa menggunakan tangan kanan, bila ingin merubah menjadi tangan kiri, tentu harus belajar dari awal.
Sebelum mulai melatih diri, tentu tidak menjadi persoalan, seperti seorang yang menggunakan sumpit.
Bila sejak pertama dia belum pernah meng-gunakannya, maka dimulai dari tangan kiri atau kanan sama saja.
Lain halnya dengan orang yang sudah terbiasa, bahkan akan lebih sulit daripada orang yang sama sekali belum bisa.
Dengan melihat gerakan manusia bertopeng tersebut ketika membunuh Hong Be, hatinya sudah mempunyai perhitungan Tang hay sin sian yang dihormatinya telah mati, dan mati sebagai pengorbanan bagi kaum Bulim, Bok lang kun seketika sadar bahwa kematian pendekar sakti tersebut merupakan intrik dari manusia bertopeng ini.
Namun dia tidak dapat menjelaskannya kepada Sun Put Ce.
Manusia berdarah dingin di hadapannya tentu tidak akan melepaskan orang itu bila dia menyebut rahasianya sekarang, Tapi dia percaya dengan kecerdasan Sun Put Ce, cepat lambat dia juga bisa mengetahui semuanya.
"Bila kau tidak pergi ke rumah kayu kecil itu untuk melihat rahasia besar, maka kau akan menyesal seumur hidup!"
Kata Bok lang kun dengan tegas, Dia merasa orang yang tangannya berlumuran darah seperti dirinya barulah patut mati.
"Saya pergi!"
Sahut Sun Put Ce. kata-kata ini seakan bukan keluar dari mulutnya. Dia membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
"Tidak boleh pergi!"
Bentak manusia bertopeng.
Sun Put Ce bukan saja tidak berhenti, malah dia mempercepat larinya, Manusia bertopeng ingin menahan dirinya, sebab orang itu sudah mengetahui bahwa yang membunuh Hong Be bukan Toa Tek To Hun.
Rahasia ini tidak boleh bocor.
Tapi Bok lang kun menghadang di depannya.
"Setelah membereskan dirimu, aku masih bisa mengejarnya!"
Kata manusia bertopeng itu sambil tertawa dingin.
"Kalau kau memang tidak bermaksud jahat terhadap Toa Tek To Hun, siapa yang ingin kau celakai sebenarnya?"
Tanya Bok lang kun mengalihkan perhatiannya.
"Kau sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui rahasia ini!"
Sahut manusia bertopeng itu sinis.
"Meskipun kau dapat mengalahkan Hong Be dalam tiga jurus, aku masih mempunyai keyakinan dapat menahan seranganmu sebanyak sepuluh jurus!"
Kata Bok lang kun.
"Tidak mungkin sebanyak itu!"
Sahut manusia bertopeng dengan nada yakin.
"Kaum Bulim sedang dilanda kekacauan, Kau mempunyai ilmu yang begini tinggi, mengapa tidak mau membantu membasmi Toa Tek To Hun, malah menyamar sebagai dirinya, Bukankah bila kau berhasil mengalahkan manusia berdarah dingin itu, namamu akan melambung. Apa pun yang kau inginkan pasti akan kau dapatkan. Kekuasaanmu pun tidak kepalang tanggung, Kaum Bulim pasti sepakat mengangkat dirimu sebagai Bulim bengcu, Sekali pancing dapat dua ekor ikan besar,"
Kata Bok lang kun menyayangkan pendirian manusia bertopeng itu.
"Kau kira dengan mengulur waktu, aku tidak dapat mengejar bocah itu? pikiranmu terlalu dangkal!"
Kata si manusia bertopeng sambil mendengus, Bok lang kun segera menghunus pedangnya.
"Dalam hal ini saja kau tidak dapat menandingi Toa Tek To Hun!"
"Apa maksudmu?"
Tanya manusia bertopeng itu berang.
Toa Tek To Hun memang ganas kalau sudah turun tangan, tapi dia tidak pernah merendahkan derajatnya sendiri, Lebih-lebih dia tidak akan pernah menyembunyikan kepala menyurutkan ekor.
Dan yang paling penting, bila sekali gerakannya tidak dapat membunuh sang musuh, dia tidak akan mencarinya kembali,"
Kata Bok lang kun.
"Yang kau maksud pasti Fang Tiong Seng!"
Sahut manusia bertopeng.
"Betul!"
Kata Bok lang kun.
Manusia bertopeng itu mengeluarkan suara tawa yang datar.
Dia tidak mengatakan apa-apa.
Tangannya yang menggenggam sarung pedang semakin erat, Tangan Bok lang kun juga menggenggam pedangnya kencang-kencang, Kalau tangan lawannya bergerak, dia juga sudah siap membalas serangan.
Orang seperti dia tidak begitu takut menghadapi kematian, apalagi dia memang sudah mengakui kalau kedua tangannya penuh lumuran darah.
Orang yang tidak takut mati, biasanya kematian justru tidak begitu berani mendekatinya.
Kematian sebetulnya agak mirip dengan halilintar.
suaranya menakutkan, tapi bahaya yang sebenarnya justru tindakan yang menyusul di balik gemuruh tersebut, Bok lang kun memperhatikan tangan kiri lawan dengan penuh perhatian.
Sinar pedang manusia bertopeng itu berkelebat, pedang di tangan Bok lang kun juga bergerak.
Kedua orang itu seakan ingin menggunakan kecepatan untuk menundukkan lawannya, sayangnya Bok lang kun masih kalah dua detik.
Tetapi kecepatannya sudah jauh melebihi Hong Be.
Pedang di tangan manusia bertopeng bergerak tiga kali berturutturut.
Bok lang kun kelabakan menghadapinya.
Pada saat genting itu, Bok lang kun dapat melihat gerakan yang dikeluarkan lawannya agak mirip gaya lukisan Tiongkok, Juga mirip rangkaian bunga pada setiap perubahannya.
Maknanya sangat dalam seharusnya bukan digunakan untuk membunuh orang, Dari pandangannya ini, sudah dapat dibuktikan bahwa ilmunya jauh melebihi Hong Be.
Tapi biar bagaimana pun Bok lang kun berusaha melawan, tetap masih bukan tandingan manusia bertopeng tersebut.
Juga tidak bisa melebihi banyaknya jurus yang dikatakan tadi.
Sinar pedang berkelebat tujuh kali, Pada jurus kedelapan, dia menggeram, keningnya terdapat jalur memanjang.
Darah pun mengalir dengan deras.
Pedang di tangan manusia bertopeng telah masuk kembali ke dalam sarungnya, Tubuh Bok lang kun sempoyongan.
Tanpa harus menunggu lebih lama lagi, dia rubuh di samping tubuh Hong Be.
Manusia bertopeng memandang dua mayat yang terbujur di hadapannya.
Dia mendongakkan wajah dan tertawa terbahak-bahak Kecuali Toa Tek To Hun, tidak!
Orang itu sudah tidak masuk dalam hitungan.
Di dalam dunia sekarang ini, dia sudah ada tandingannya lagi, Umur Toa Tek To Hun tidak mungkin lebih lama dari dirinya, Tibatiba sebuah suara yang merdu berkumandang dari dalam hutan.
"Bagaimana kalau dengan delapan jurus tadi kau melawan Toa Tek To Hun?"
Pertama-tama manusia bertopeng itu agak terperanjat Setelah merenung sebentar, dia menolehkan kepalanya.
"Rupanya...."
Kata-katanya tidak jadi diteruskan.
Orang yang datang juga mengenakan sebuah topeng, Wajah setiap orang yang paling mudah dikenali adalah mata dan bentuk hidungnya.
Kedua orang ini menggunakan penutup yang hanya terlihat kedua buah bola mata dan bentuk bibir.
Dengan demikian, kalau bukan orang yang saling mengenal dengan akrab, tidak mudah menebak wajah siapa yang tertutup di balik topeng tersebut.
Sun Put Ce yang bermaksud pergi melihat rumah kayu kecil, membatalkan niatnya dan kembali lagi setelah setengah perjalanan Dia merasa nada suara perempuan bertopeng itu tidak asing, namun pada saat itu ia belum berhasil mengetahui siapa orangnya.
Kata-kata yang belum sempat diselesaikan oleh laki-laki bertopeng itu telah ditukas oleh lawan jenisnya.
"Toa Tek To Hun belum pernah menggunakan tangan kiri!"
Katanya, Laki-laki bertopeng itu tidak menjawab.
"Bagaimana membandingkan setengah jurus dengan delapan jurus?"
Lanjut perempuan itu. Laki-laki bertopeng itu hanya mendengus sebagai jawaban.
"Kau belum bisa mencapai tingkatannya sudah merasa begitu bangga,"
Sindir perempuan itu kembali.
"Aku hanya bermaksud mengadu ilmu, salahnya sendiri bila belum dapat menandingi diriku!"
Sahut laki-laki bertopeng itu agak ketus.
"Dalam delapan jurus bisa membunuh Bok lang kun, memang sudah terhitung luar biasa, Namun orang yang akan kau hadapi mungkin jauh lebih menakutkan daripada Toa Tek To Hun,"
Kata perempuan tersebut.
"Bagaimana kau bisa menduga bahwa ilmu orang itu lebih tinggi dari pada Toa Tek To Hun?"
Tanya si laki-laki bertopeng.
"Kalau ilmunya lebih rendah, apakah dia pantas mengundang Toa Tek To Hun datang ke Tionggoan? Rasanya pembunuh bayaran ini bukan membunuh untuk imbalannya saja,"
Sahut perempuan bertopeng.
Tubuh laki-laki bertopeng tampak bergetar sedikit.
Hati Sun Put Ce semakin tertekan.
Dia menundukkan wajahnya dengan pilu, Ketika kepalanya didongakkan kembali Kedua manusia bertopeng itu telah meninggalkan tempat tersebut dengan mengambil arah yang berlawanan.
Sun Put Ce sadar ilmunya tidak mungkin dapat mengejar kedua orang tersebut, dia melangkah perlahan menuju mayat Bok lang kun.
Laki-laki itu adalah bekas Bulim bengcu dari Hek to.
Tetapi dalam pandangan Sun Put Ce saat itu, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebengisan.
Di dunia ini banyak manusia yang dianggap orang suci, namun penampilannya terlalu menakutkan Ada juga manusia yang rupanya buruk, namun sedap dipandang.
Oleh karena itu, ada orang yang buruk rupa tapi menyenangkan ada lagi manusia yang penampilannya baik, namun dibenci oleh banyak kalangan.
-oooo0oooo-Bwe Mei adalah seorang gadis yang polos.
Namun dia bijaksana dan cerdas, Manusia yang cerdas dapat mengetahui segala hal, Manusia yang bijaksana dapat menilai seseorang, Dia kembali ke rumah kayu dengan hati-hati.
Setiap kali dia datang ke rumah itu, dia pasti meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang lain yang mengikutinya.
Ketika masuk ke dalam rumah, dia juga sangat memperhatikan keadaan ruangan dalam.
Dia akan meneliti dengan seksama kalaukalau ada musuh yang mengincar kekasihnya, lagipula dia selalu merasa banyak laki-laki itu tidak tulus mencintainya.
Hal ini sudah lama dicurigainya, Namun bagaimana pun, dia tidak dapat menghilangkan kecurigaannya itu.
Dia berjalan menuju ke dalam kamar.
Ketika langkah kakinya bergerak sampai di luar jendela, dia mendengar suara yang aneh berkumandang dari dalam.
Dia mengurungkan maksudnya masuk ke kamar, dia mempertajam pendengarannya, Suara-suara yang terdengar itu pasti akan segera dimengerti oleh orang yang sudah menginjak dewasa.
Desahan nafas yang memburu, cekikikan tawa yang genit.
Biarpun Bwe Mei adalah seorang gadis suci, dia juga segera bisa menangkap apa yang tengah terjadi di dalam kamar tersebut.
Di dalam dunia ini memang banyak hal yang perlu dibuktikan dengan mata kepala sendiri, tidak boleh sembarangan dengar dari pihak ketiga saja.
Bwe Mei merasa keringat dingin mengalir dari kening dan kedua belah tangannya.
Kemudian hatinya terasa panas membara.
Mungkinkah seorang yang terkena Cao hue jit mo bisa melakukan hal itu?
Meskipun seorang yang belum punya pengalaman, juga tentu akan tahu orang lumpuh tidak akan sanggup melakukannya!
Pikirannya yang polos ingin sekali mengetahui apakah dengan sekali gerakan pedang dia dapat membunuh kedua orang yang tidak tahu malu itu?
Suara semilir angin yang meniup dedaunan seakan tenggelam oleh kecabulan laki-laki dan perempuan dalam kamar tersebut.
Suara deruan nafas dan deritan tempat tidur membuat Bwe Mei seakan meledak Suara itu adalah suara wajar, yang sering terdengar oleh kita, Apalagi bagi orang yang sudah berumah tangga.
Tapi bagi pendengaran Bwe Mei, suara itu lebih menakutkan daripada geledek yang menggelegar.
Sampai sekian lamanya dia berdiri mematung di luar jendela itu.
bukan ingin menikmati suara yang menyebalkan, tapi sibuk memikirkan cara untuk mengenyahkan kedua orang tersebut, Hatinya ragu.
Bila dugaannya tidak meleset, laki-laki itu selama ini telah mendustainya, dia pasti pura-pura lumpuh, Dan apabila keampuhannya hanya palsu, tiga orang Bwe Mei pun tidak akan sanggup melawannya, Belum lagi perempuan yang belum diketahui siapa olehnya.
Mungkin dia juga mempunyai ilmu yang cukup tinggi, Bukankah dengan menunjukkan diri sama artinya dengan membuang nyawa secara percuma.,.?
Kemudian suara dalam kamar itu lenyap, Suasana hening seketika, hanya desahan keletihan yang sayup-sayup masuk ke dalam telinganya.
"Apakah tua bangka itu masih bisa melakukannya?"
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat tidak asing baginya.
"Tubuh kurus seperti papan gilasan, Bila musim dingin hanya berkerumung selimut,"
Jawab yang perempuan.
Bwe Mei mengkertakkan giginya, Dia berusaha menahan perasaan hatinya yang tidak karuan, Ternyata dirinya telah dikelabui orang begitu lama.
Dia benci sekali kepada laki-laki itu.
Dia juga memandang rendah yang perempuan.
Di samping itu, Bwe Mei juga menyesali dirinya sendiri.
Meskipun sampai saat ini, dirinya belum ternoda oleh orang tersebut.
"Laki-laki harus gagah, perempuan harus genit. Kata-kata ini memang tidak salah. Tua bangka itu telah kesemsem dengan dirimu,"
Kata laki-laki dalam kamar itu.
"Kata-kata ini jangan terlalu cepat di-ucapkan!"
Sahut yang perempuan.
"Mengapa?"
Tanya sang lelaki.
"Aku selalu merasa kalau tua bangka itu agak menakutkan,"
Kata yang perempuan menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Menakutkan?"
Tanyanya heran.
"Betul! Kepalsuannya terlalu menakutkan."
Sahut yang perempuan.
"Kalau menurut pendapatmu, bagaimana aku dapat mengalahkan dirinya?"
Tanya yang laki-laki.
"Kecuali kalau kau dapat membunuh Bok lang kun dalam satu jurus. Baru kau bisa menghadapinya, ilmunya jauh lebih tinggi dari orang itu,"
Sahut yang perempuan. Tentu saja perbandingan delapan jurus dengan satu jurus sangat jauh, kata-kata memang mudah diucapkan, melaksanakannya yang sulit.
"Hanya aku yang bisa mewujudkan impianmu itu,"
Kata perempuan itu kembali dengan nada suara yang manja. Semangat laki-laki itu seperti bangkit kembali.
"Betul! Hanya kau yang bisa!"
Serunya gembira.
"Bagaimana kau menyampaikan rasa terima kasihmu?"
Tanya yang perempuan.
"Pokoknya aku akan selalu melayani dengan cara yang paling kau sukai,"
Sahut laki-laki dalam kamar itu, Mendengar perkataan itu, tanpa sadar Bwe Mei mendengus dingin, Biarpun suara itu ringan sekali, tetap tidak dapat luput dari pendengaran kedua orang itu.
Kecuali bila mereka sedang berada pada puncaknya kenikmatan hubungan gelap yang mereka lakukan.
"Siapa di luar?"
Bentak laki-laki di dalam kamar itu dengan nada tajam.
Bwe Mei sadar, jangan kata dua-duanya, satu saja dia belum dapat menandingi ia tidak ingin mengunjukkan diri, dengan sekuat tenaga dia berlari.
Paling tidak orang itu memerlukan sedikit waktu untuk berpakaian, namun ternyata dugaannya salah.
Baru dia berlari beberapa langkah, sudah terdengar susulan dari arah belakang, Rupanya orang itu sejak tadi sudah merapihkan dirinya, Dia menolehkan kepala memandang, Terlihat bayangan seorang laki-laki dengan pakaian hitam, Di pundaknya tersampir secarik kain berwarna hitam, Dari kejauhan tampaknya seperti seekor kelelawar besar.
Ingin sekali dia menghentikan langkah kaki dan membunuh penghianat itu.
Namun kesadarannya dengan cepat mengisiki hatinya.
Dia tidak boleh mengikuti kemauannya yang tidak mungkin tercapai Bila dirinya mati di tangan orang ini, maka untuk selamanya arwahnya tidak akan dapat tenang.
Tadinya dia pernah mendekati Sun Put Ce.
Malahan dia memberikan sebuah dompet untuknya, laki-laki itu adalah orang yang serius, dia begitu setia terhadapnya hanya karena dia telah memberikan sebuah dompet yang tidak berharga.
Mana mungkin dia terpikir kalau gadis itu hanya memperalatnya?
Dia justru benar-benar mencintai laki-laki bajingan ini, Terpikir olehnya bahwa Toa Tek To Hun pasti akan mencari kekasihnya itu.
Bwe Mei mencari seribu akal untuk menyelamatkan kekasihnya.
Dia tahu kalau Kwe Po Giok dan Sun Put Ce mendapat tugas untuk mencari Tanghay sin sian, Dia juga percaya di dalam Bulim saat ini, hanya pendekar sakti itu yang dapat menandingi Toa Tek To Hun.
Demi laki-laki ini, dia rela menipu perasaan Sun Put Ce.
Dengan harapan, bila suatu hari Toa Tek To Hun mencari kekasihnya, kedua orang itu bisa membujuk Tang hay sin sian melindunginya, Akibatnya malah di luar dugaan.Tang hay sin sian pun belum dapat menandingi iblis Fu sang itu.
Jarak antara kedua orang itu semakin mendekat Manusia bertopeng itu berteriak dengan suara ramah.
"Rupanya Siau Mei! Mengapa harus lari?"
Hampir saja Bwe Mei tertipu oleh suara yang lembut itu.
Untung saja, pikirannya bergerak cepat.
Dia sudah mendengar percakapan kedua orang di dalam kamar, tentu saja dia juga tahu apa yang mereka lakukan.
Cao hue jit mo!
Sungguh sebuah tipuan yang berhasil!
Dirinya dibohongi begitu lama tanpa sadar.
Pernah juga Bwe Mei merasakan tatapan laki-laki itu yang seperti ingin menelan dirinya.
Namun dahulu dia sering berpikir bahwa semua itu hanya karena kekasihnya ingin cepat-cepat memiliki dirinya.
Sekarang dia merasa bersyukur dirinya tetap dapat mempertahankan kesucian .
Dengan membawa bermacam pikiran, Bwe Mei lari semakin cepat, namun jarak keduanya tetap semakin dekat.
Rasanya tidak lama lagi dirinya pasti akan tersusul.
Dia sadar sepenuhnya, bila ia sampai terkejar bukan saja nyawanya akan melayang, kesuciannya juga akan ternoda, Ketika jarak antara keduanya kira-kira tinggal lima depa, sekonyongkonyong Bwe Mei berubah haluan.
Dia membelok ke dalam hutan.
Di antara pohon-pohon yang lebat dia menyelinap ke kanan dan ke kiri.
Dia melihat ada sesosok mayat yang tergeletak, namun Bwe Mei tidak terlalu mengambil perhatian, Tentu saja dia tidak tahu bahwa tadinya malah ada dua sosok mayat yang tergeletak, Yang satunya adalah jenazah Bok lang kun yang telah diambil oleh Sun Put Ce.
Jarak antara keduanya semakin lama semakin menjauh.
Mengejar orang dalam hutan tentu yang mendapat kesulitan bagi pihak pengejar, Dengan cerdik Bwe Mei berlari serampangan, Dia berbelok-belok tak tentu arah, Tubuhnya telah basah oleh keringat Nafasnya tersengal-sengal.
Banyak orang mengatakan bahwa manusia lebih baik tidak kenal huruf daripada tidak mengenal manusia itu sendiri.
Bwe Mei hampir kehilangan kesucian dan nyawa karena tidak mengenal jiwa laki-laki itu secara mendalam.
Wajahnya sudah pucat pasi, matanya terasa berkunang-kunang, Belum lagi perasaan takut yang mencekam, hanya untuk sementara dia dapat bertahan dari kejaran laki-laki itu, sebentar lagi dia pasti akan tersusul Bwe Mei tidak berani membayangkan akibatnya.
Hari ini, dia sudah menyadari sepenuhnya jiwa orang itu.
Tentu dia tidak akan melepaskan dirinya begitu saja setelah rahasianya terbongkar.
Tiba-tiba Bwe Mei melihat seseorang yang sedang melangkah di jalan setapak dalam hutan itu, sendirian berjalan di dalam hutan, lagipula langkah kakinya begitu cepat, namun tidak memperdengarkan sedikit suara pun.
Dia berlari kencang melewati orang itu.
Matanya sempat melihat bentuk sepatunya yang aneh, dan jejak kakinya yang teratur Memangnya apa yang harus diherankan kalau jejak kakinya teratur?
Hatinya tergetar, pikirannya melintas.
Berapa orang di dunia ini yang sanggup bertanding dengan orang yang langkah kakinya teratur ini?
"Berhenti!"
Teriak orang itu.
Bwe Mei memang sudah hampir kehabisan nafas, Dia tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh laki-laki ini, Kalau dia bukan orang yang diduganya dan ternyata orang lain yang juga bermaksud jahat, sudah dapat dipastikan nyawanya akan melayang malam ini.
Dia berlari lagi beberapa puluh langkah baru berhenti.
Tubuhnva sempoyongan, Dia hanya dapat menerima nasib saja.
Yang tidak disangka olehnya adalah kejadian berikutnya.
Ternyata bukan dirinya yang disuruh berhenti, tetapi pengejarnya, sekarang dia baru dapat melihat dengan jelas.
Laki-laki itu memang mengenakan sepasang sepatu yang aneh, Di tangannya tergenggam sebatang pedang yang tinggal separuh, Meskipun pedang itu telah buntung, panjangnya masih ada kira-kira ukuran dua buah penggaris.
Mata Bwe Mei bersinar terang, Bukankah ini Toa Tek To Hun?
Belum pernah dia begitu senang melihat laki-laki yang selama ini dibencinya itu.
Memang hanya Toa Tek To Hun yang dapat berjalan dengan langkah yang begitu teratur, Dan memang hanya orang negara Fu sang yang memakai sepatu yang begitu aneh.
Hatinya semakin tenang.
Laki-laki bertopeng itu rupanya dalam sekali pandang saja sudah dapat menebak siapa orang yang menyuruhnya berhenti tadi.
Dia terkejut sekali, pembunuhan yang beruntun oleh orang ini telah menggetarkan seluruh Tionggoan.
Meskipun manusia bertopeng ini menyamar sebagai Toa Tek To Hun, tapi tujuannya bukanlah dia.
Meski-pun orang yang dituju olehnya lebih tinggi kedudukannya, namun dia sama sekali tidak berani memandang rendah Toa Tek To Hun.
Penjelasannya sangat gamblang.
Sampai saat ini, hanya dirinya yang pernah menyaksikan pertarungan antara Toa Tek To Hun dengan Tang hay sin sian dengan mata kepala sendiri.
Dia tentu mengerti bahwa dirinya masih bukan tandingan manusia Fu sang itu.
Hanya dirinya pula yang tahu bahwa Tang hay sin sian bukan takut atau ilmunya kalah tinggi dengan Toa Tek To Hun, hanya karena dirinya telah cacat serta mengalami Cao hue jit mo.
Dia sendirilah yang takut kepada Toa Tek To Hun.
Kalau tidak, buat apa dia menyebarkan berita bohong bahwa dirinya telah lumpuh karena penyakit yang sama, Dia pernah bersembunyi di balik pohon dekat tempat itu dan menyaksikan bagaimana Toa Tek To Hun menghunuskan pedangnya.
Kecepatannya melebihi makhluk hidup apapun yang pernah dikenalnya, gerakannya itu malah sulit disamai oleh ko chiu dari daerah mana pun.
Pokoknya si manusia bertopeng itu masih belum berani bertarung dengan Toa Tek To Hun saat ini.
Manusia bertopeng itu mempunyai pendapatnya sendiri, Asalkan dia mendapat kesempatan untuk bersama-sama perempuan tadi melakukan suatu hal tujuh atau delapan kali lagi, dia pasti sudah berhasil menyamakan dirinya dengan Toa Tek To Hun.
Pada saat itu, meskipun Toa Tek To Hun tidak ingin bertarung dengannya, dia juga tidak akan melepaskan orang itu begitu saja.
"Siapa kau?"
Tanya Toa Tek To Hun dengan suara berat.
"Aku hanya seorang Bu beng siau cut (prajurit tak ternama)!"
Sahut manusia bertopeng cengar cengir. Toa Tek To Hun tertawa dingin.
"Mengapa pedangmu bisa sama dengan milikku?"
Tanyanya sedikit heran.
"Kalau aku bukan Bu beng siau cut, buat apa aku meniru pedangmu?"
Sahutnya. Toa Tek To Hun menganggap alasannya cukup tepat Hanya seorang manusia berjiwa kerdil yang mau meniru orang lain untuk memuaskan dirinya sendiri "Mengapa kau harus mengenakan topeng?"
Tanyanya kembali "Karena aku tidak mirip denganmu.
Aku juga tidak mempunyai sepatu yang aneh seperti punyamu.
Lagipula aku juga tidak sanggup meniru langkah kakimu yang teratur Oleh karena itulah, aku memakai to-peng,"
Sahutnya.
Toa Tek To Hun tersenyum tipis.
ini merupakan senyumnya yang pertama sejak menginjakkan kaki di tanah Tionggoan.
Sebetulnya manusia bertopeng itu sedang menjalankan siasat untuk menyelamatkan dirinya saja, Tapi anggapan Toa Tek To Hun, meskipun orang itu menyamar sebagai dirinya, namun ada lucunya juga.
Manusia yang tidak suka dirinya dipuji memang terlalu sedikit Bwe Mei tahu kalau manusia bertopeng itu sedang berdusta.
"Tidak! Toa Tek To Hun! Dia sengaja memuji-muji dirimu, sebetulnya dia sedang menyamar buat mencelakakan engkau!"
Teriaknya dengan suara keras. Toa Tek To Hun menoleh ke arah gadis itu.
"Mengapa dia harus mencelakakan diriku?"
Tanyanya.
"Karena... karena...."
Dia benar-benar tidak dapat mengatakan alasannya.
Manusia bertopeng itu mundur sebanyak lima depa, ketika Toa Tek To Hun menolehkan kepala kepadanya, dia sudah berada dalam jarak belasan depa.
Karena merasa sudah kepalang tanggung, dia malah berlari terbirit-birit Bila Toa Tek To Hun merasa perlu mengejarnya, apakah akan berhasil?
Hanya dirinya sendiri yang tahu.
Di pegunungan sebelah Barat tempo hari, dia sudah berjanji kepada Tanghay sin sian bahwa ia tidak akan membunuhi para jago di Tionggoan lagi, Dia adalah seorang laki-laki sejati janjinya lebih berat daripada segala hal di dunia, Hanya manusia bertopeng itu saja yang melupakan hal ini.
Apa bila dia belum berjanji kepada Tang hay sin sian, apakah manusia bertopeng itu sanggup meloloskan diri?
Toa Tek To Hun mengibaskan tangannya .
"Pulanglah! Manusia itu belum terhitung seberapa jahat!"
Katanya.
Bwe Mei ingin membantah, tapi Toa Tek To Hun telah pergi dengan langkah lebar.
Dia hanya dapat memandangnya sampai jauh.
Mayat Bok lang kun diletakkan di atas lantai, Sun Put Ce baru saja melaporkan semua pengalamannya, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa tentang rumah kayu kecil.
Air mata Fang Tiong Seng mengalir bagai anak sungai.
"Meskipun Bok lang kun tadinya adalah seorang Bulim bengcu aliran Hek to, tapi sejak kedatangan Toa Tek To Hun, tanpa mengenal lelah dan rasa rendah dia mencari segenap bantuan. Dan sekarang biar pun tahu dirinya bukan tandingan orang itu, dia tetap melawannya. Sungguh harus disanjung dan dihormati!"
Katanya dengan nada pilu. Dayang Cui thian memperlihatkan wajah kesal.
"Entah Toa Tek To Hun kapan baru meu berhenti membunuh?"
Serunya.
"Bok lang kun bukan mati di bawah pedang Toa Tek To Hun!"
Kata Sun Put Ce. ucapannya mengejutkan setiap orang yang hadir.
"Sam sute, kau tidak boleh sembarangan mengoceh di hadapan suhu!"
Seru Ho Put Chi dengan suara teguran.
"Saya mana berani...."
"Pada zaman ini, siapa yang sanggup membunuh Bok lang kun dalam satu jurus, Apalagi tepat di keningnya,"
Kata Mo Put Chi kembali.
"Perkataan saya belum selesai...."
Sahut Sun Put Ce.
"Sam sute, kalau aku adalah dirimu, maka aku akan mengatakannya sekaligus,"
Ujar Hu Put Chiu menyarankan.
"lya, Ji suheng!"
Sahut Sun Put Ce dengan nada hormat.
"Mengapa kau masih tidak mau cepat-cepat mengatakannya? Kalau Bok lang kun bukan mati di bawah pedang Toa Tek To Hun, siapa yang sanggup membunuhnya?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Seorang manusia yang mengenakan topeng!"
Sahut Sun Put Ce menjelaskan.
"Manusia bertopeng?"
Tanya Pang Tiong Seng seakan salah dengar.
"Betul! Dia juga menggunakan sebatang pedang panjang yang aneh. Rasanya ingin meniru Toa Tek To Hun!"
Kata Sun Put Ce selanjutnya.
"Omong kosong! Kalau dilihat dari bekas luka di kening Bok lang kun, ilmu silatnya masih ketinggalan jauh, Bok lang kun pasti mati dalam lima jurus lebih,"
Fang Tiong Seng mengemukakan pendapatnya.
"Benar!"
Sahut Sun Put Ce.
"Berapa jurus?"
Tanya Fang Tiong Seng kembali.
"Delapan jurus!"
Sahut Sun Put Ce.
"Dengan delapan jurus membunuh Bok lang kun memang belum termasuk hebat."
Kata Hu Put Chiu. Fang Tiong Seng mendengus mendengarnya.
"Kau kira siapa Bok lang kun ini? Bisa dengan delapan jurus membunuhnya sudah jarang ada orang yang dapat melakukannya"
Katanya ketus.
"Apa yang dikatakan oleh Fang Taihiap memang benar, Tapi kalau digantikan dengan Toa Tek To Hun, entah berapa jurus yang akan digunakannya?"
Tanya dayang Cui thian. Fang Tiong Seng menggelengkan kepala.
"Kalau Fang taihiap saja tidak bisa menduganya, maka di dunia ini tidak mungkin ada yang tahu lagi,"
Kata dayang Cui thian sambil menarik nafas.
"Bagaimana bentuk badan orang itu? Suaranya kira-kira berasal dari daerah mana?"
Tanya Fang Tiong Seng pada anak muridnya.
"Badannya tinggi Nada suaranya yang sulit ditebak,"
Kata Sun Put Ce setelah mengingat-ingat sejenak.
"Apakah orang itu tidak mempunyai keistimewaan sama sekali?"
Tanya Fang Tiong Seng mendongkol.
"Ada!"
Sahut Sun Put Ce.
"Aiya! Mengapa kau harus selalu menunggu orang bertanya dulu baru menjawab?"
Tegur Hu Put Chiu.
"Orang itu menggunakan tangan kiri ketika menghunus pedang,"
Kata Sun Put Ce menerangkan. Tidak ada satu orang pun yang tidak tersentak.
"Fang Cianpwe pasti tahu siapa yang menggunakan tangan kiri untuk menghunus pedang di dunia Bulim?"
Tanya dayang Gui thian. Fang Tiong Seng mengerutkan alisnya dan berpikir sekian lama, Tubuhnya yang kurus semakin ciut kelihatannya.
"Kurang ajar! Aku juga tidak terpikir ada orang seperti itu!"
Serunya.
"Mungkinkah Toa Tek To Hun sendiri?"
Tanya Hu Put Chiu.
"Toa Tek To Hun sudah membunuh tiga puluh orang sejak kedatangannya di tanah Tionggoan, Selama ini dia tidak pernah mengenakan topeng penutup muka, Mengapa sampai sekarang dia baru mengenakannya? Dasar kau ini tidak tahu arti susah!"
Bentak Mo Put Chi.
"Tentu!"
Sahut Hu Put Chiu.
"Apalagi orang ini menggunakan tangan kiri untuk menghunus pedang, sedangkan Toa Tek To Hun menggunakan tangan kanan,"
Lanjut Mo Put Chi. Ruangan itu hening beberapa saat.
"Siapkan semua keperluan untuk pemakaman Bok lang kun!"
Kata Fang Tiong Seng memecahkan kesunyian. Semua anak murid dan para pelayan segera menurut perintah tersebut. -oooo0oooo-Ucapan "rumah kayu kecil"
Hanya diketahui oleh Sun Put Ce dan Bok lang kun.
Waktu itu mereka sedang beristirahat di bawah sebatang pohon, Kedua orang itu bercakap-cakap sambil bercanda.
Bok lang kun mengatakan siapa pun pada suatu hari akan terbaring dalam sebuah rumah kayu kecil, Rumah itu begitu kecilnya sehingga untuk membalikkan tubuh saja sulit, Tentu saja keadaannya tidak menyenangkan.
Namun saatnya untuk berbaring di dalam rumah kayu kecil, rasanya tidak berapa lama lagi.
Rumah kayu kecil yang dimaksudkannya adalah sebuah peti mati.
Sekarang Bok lang kun benar-benar sudah meninggal, tetapi di dalam hati Sun Put Ce, dia seperti masih hidup saja.
Kata-kata yang diucapkan Bok lang kun menjelang kematiannya, tak akan pernah dilupakan oleh Sun Put Ce.
Dia menganggap perkataannya ketika itu hanya supaya dirinya mau terpancing meninggalkan tempat tersebut Agar nyawanya tidak hilang percuma.
Setelah dipikirkan dengan seksama, dia merasa kata-kata itu mengandung arti yang dalam, Benar-benar ada rahasia yang terkandung di dalamnya.
Saat ini di rumah keluarga Fang ada dua rumah kayu kecil, Di dalamnya terbaring dua sosok mayat.
Yang satu adalah tubuh Tanghay sin sian, Yang satunya lagi tentunya tubuh Bok lang kun.
Di dalam kedua peti mati itu pasti tidak ada rahasia apa-apa.
Karena dia sendiri turun tangan membantu memandikan tubuh Tang hay sin sian dan Bok lang kun.
Dia juga melihat ketika kedua mayat itu dimasukkan ke dalam peti mati tersebut.
Dia tidak meninggalkan kedua peti mati itu sampai semuanya selesai Sun Put Ce terus memikirkan perkataan Bok lang kun.
Mungkinkah dia hanya menipunya?
Rasanya tidak mungkin!
Tibatiba ingatan Sun Put Ce melayang ke rumah kayu kecil yang satu lagi.
Peti mati suhu-nya, Setiap keluarga berada pasti dari jauh sebelumnya sudah mempersiapkan segala sesuatu supaya ketika kematiannya tiba tidak perlu repot-repot lagi.
Begitu pula Fang Tiong Seng, Waktu usianya menginjak empat puluh tahun, dia telah menyuruh anggota keluarganya membeli sebuah peti mati dari bahan yang paling bagus.
Peti mati itu disimpan di dalam gudang.
Setiap sebulan sekali, pasti ada salah satu pelayannya yang membersihkan dan merawatnya agar tetap dalam keadaan baik.
Dia berpikir berulang kali.
Ketika malam hari mendapat giliran tugas jaga, dia mencari kesempatan selagi semua orang sibuk dan menyelinap ke dalam gudang penyimpanan peti mati tersebut Bok lang kun mengatakan bahwa di dalam rumah kayu kecil ada rahasia besar.
Sun Put Ce menjadi penasaran Lebih baik dia mengintip sekejap.
Bila tidak, dia pasti tidak akan bisa pulas sepanjang malam.
Peti mati itu mengeluarkan suara deritan ketika dibuka oleh Sun Put Ce.
Untung saja tidak ada satu orangpun yang memperhatikannya, Di dalamnya terdapat secarik kertas.
Di atasnya terdapat tulisan-tulisan.
Sun Put Ce mengambil kertas itu dan membacanya, Dia tidak terlalu terkejut, sebab setiap hal yang ditulis di atas kertas itu memang sebagian besar telah diduganya, Apakah ini berarti ada kaitan dengan kecacatannya selama ini?
Tiba-tiba ada langkah kaki halus terdengar olehnya, Sun Put Ce bergerak cepat, dia meremas kertas di tangannya dan ditelannya ke dalam perut.
Pintu gudang itu terbuka, Di dalamnya tidak ada penerangan.
Hanya terlihat bayangan yang samar-samar dan peti mati yang telah terbuka.
Tidak ada waktu untuk menutupnya kembali.
"Siapa yang berani main gila di Jin gi sancung?"
Bentak orang yang baru masuk itu, ucapannya selesai, pedangnya menyerang.
Begitu cepat dan telengas, Tadinya Sun Put Ce masih belum mengenali suaranya, tapi begitu melihat serangan yang dikeluarkan dia langsung mengetahui siapa orang yang masuk ini.
Dia melompat mundur dua langkah.
"Saya!"
Sahutnya.
"Apakah Sam sute?"
Tanya orang itu sambil menarik kembali serangannya yang kedua.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Mengapa Sam sute bisa berada di gudang ini?"
Tanya Hu Put Chiu.
"Ketika meronda di depan gudang ini, rasanya terdengar suara yang mencurigakan Seperti suara peti mati dibuka oleh seseorang,"
Kata Sun Put Ce mengemukakan alasannya, Hu Put Chiu menyalakan sebatang korek api. Dia menyinari peti mati milik Fang Tiong Seng.
"Sam sute! Siapa orangnya yang berani memegang peti mati suhu?"
Tanya Hu Put Chiu dengan nada heran.
"Saya juga tidak tahu"
Sahut Sun Put Ce.
"Apakah ketika kau masuk tadi, peti mati ini sudah terbuka?"
Tanyanya kembali.
"Betul!"
Sahut adik seperguruannya.
"Giliran kau bertugas, justru terjadi peristiwa ini,"
Gerutu Hu Put Chiu.
"Siauwte memang kurang teliti,"
Sahut Sun Put Ce dengan wajah tertunduk.
"Apakah kita perlu melaporkan hal ini kepada suhu?"
Tanya Hu Put Chiu.
"Saya rasa lebih baik tidak usah,"
Sun Put Ce menyarankan.
"Mengapa?"
Tanya Hu Put Chiu kembali.
"Toh peti mati tidak mengalami kerusakan apa-apa. Buat apa banyak urusan?"
Sahut Sun Put Ce.
-oooo0oooo Sun Put Ce sudah selesai bertugas, Dia digantikan oleh orang lain, Begitu masuk kamar dan mengganti pakaian, dia langsung merebahkan diri di tempat tidur, Musim semi belum berlalu, Hatinya masih tetap tertekan.
Seluruh tubuhnya berkeringat Setiap tulisan di atas kertas menari-nari dalam otaknya, tubuhnya pasti akan basah oleh keringat dingin.
Seumur hidupnya, Sun Put Ce tidak pernah setakut ini.
Dia bisa menghapal seluruh tulisan dalam kertas tersebut Setiap hurufnya bagaikan sebilah bambu runcing, yang dengan tepat menghunjam jantungnya.
Tetapi dia tetap tidak dapat menerima nasehat yang diberikan oleh Bok lang kun karena orang itu belum sepenuhnya mengerti jiwanya, Dia tidak mengingkari bahwa maksud Bok lang kun baik, Terkadang maksud baik pun sulit di laksanakan Air mata Sun Put Ce bercucuran bagai hujan deras.
-oooo0oooo-Entah berapa lama telah berlalu, Tiba-tiba dia mendengar suara halus dari ruangan luar, Tadinya Sun Put Ce mengira tentu salah satu suhengnya sedang meronda, tetapi sekejap kemudian, suara itu sudah berada di depan kamarnya.
Sun Put Ce terperanjat.
Dia tahu suara itu pasti bukan langkah kaki suhengnya tetapi orang luar "Siapa yang berada di luar?"
Bisik Sun Put Ce "Apakah Sun toako?"
Orang yang di luar balik bertanya dengan suara lirih, Sun Put Ce terpana.
"Kau adalah Bwe kouwnio?"
Tanyanya.
Orang itu melangkah ke dalam kamarnya.
Tubuhnya memancarkan keharuman, Sun Put Ce duduk di atas tempat tidur.
Dia memandang dengan wajah termangu-mangu.
Kemudian dia bangun dengan maksud ingin menyalakan lilin.
Tapi gadis itu menghalanginya.
"Jangan!"
"Kalau sampai ada yang lihat, mereka akan menganggap kita..."
Kata Sun Put Ce.
"Asal hati kita lurus, tidak usah takut diejek orang."
Sahut Bwe Mei.
"Betul!"
Kata Sun Put Ce sependapat.
"Dulu aku bersalah terhadapmu,"
Bwe Mei benar-benar merasa menyesal.
"Kau selalu baik terhadapku...."
Kata Sun Put Ce polos, Dia adalah seorang manusia yang tidak banyak mengenal kelicikan dari manusia.
"Kau tidak tahu...."
Sahut Bwe Mei.
"Saya tahu.. Saya sangat berterima kasih kepadamu,"
Kata Sun Put Ce. Bwe Mei menarik nafas panjang.
"Kalau kau berkata demikian, perasaanku semakin tak enak,"
Katanya.
Tiba-tiba Sun Put Ce menggenggam tangan gadis itu.
Sampai saat ini, asalkan dia dapat sering-sering memegang tangan yang halus ini, dia rela mengorbankan jiwanya, Seorang yang selalu menghargai apa yang dicintainya, maka rasa ego dalam dirinya makin berkurang.
"Kalau perlu, aku rela mati untukmu,"
Katanya dengan wajah sendu.
Bwe Mei makin terharu, dia percaya penuh dengan setiap kata atau kalimat yang diucapkan laki-laki ini.
Sayangnya, cinta kasih sucinya justru dipersembahkan kepada seorang penipu.
Kalau saja cintanya yang sejati dipersembahkan kepada Iaki-laki yang satu ini, bukankah akan baik sekali?
Dengan lembut Bwe Mei menggeser tubuhnya.
"Aku tidak pantas bagimu,"
Katanya lirih.
"Tidak!"
Sahut Sun Put Ce.
"Dulu aku mempunyai seorang teman,"
Bwe Mei bermaksud menjelaskan.
"Aku juga pernah berkenalan dengan seorang nona bernama Chow Ai Giok,"
Sahut Sun Put Ce tidak mau kalah.
"Aku tahu.... Dia juga memberimu sebuah dompet,"
Kata Bwe Mei.
"Saya tidak tahu dompet mana yang mengisyaratkan cinta sejati?"
Tanya Sun Put Ce.
"Mungkin yang diberikan Chow Ai Giok,"
Kata Bwe Mei dengan wajah tertunduk. Sun Put Ce agak terpana.
"Mengapa bukan milikmu?"
Tanyanya heran.
"Karena aku hanya bermaksud memperalat dirimu,"
Kata Bwe Mei terus terang. Sun Put Ce tidak bersuara.
"Andaikata kau membenci aku, kau tetap tidak akan kusalahkan,"
Kata gadis itu selanjutnya.
"Mengapa saya harus membencimu?"
Tanya Sun Put Ce.
"Bukankah aku sudah katakan barusan bahwa aku memberikan dompet kepadamu hanya untuk memperalat dirimu?"
Sahut Bwe Mei.
"Memperalat saya? Apa gunanya?"
Tanya Sun Put Ce.
"Pertama, kau adalah murid Fang Tiong Seng. Kedua, ketika itu kalian hendak pergi mencari Tang hay sin sian, tentu ada manfaatnya, Kau tentu tahu, setiap orang Bulim yang mempunyai nama pasti akan mencari seorang pelindung yang kuat untuk melindungi dirinya dari ancaman Toa Tek To Hun!"
Kata Bwe Mei menjelaskan.
"Apa salahnya berbuat begitu?"
Tanya Sun Put Ce dengan nada wajar.
"Kau tidak membenci diriku?"
Bwe Mei balik bertanya kepadanya.
"Mengapa harus benci karena suatu persoalan kecil?"
Kata Sun Put Ce.
"Karena waktu itu aku tidak sungguh-sungguh menyukaimu, aku hanya ingin menarik keuntungan saja,"
Sahut Bwe Mei dengan perasaan malu.
"Seseorang jika masih bisa diperalat oleh orang lain, berarti dirinya termasuk cukup berharga,"
Kata Sun Put Ce. Bwe Mei menyandarkan dirinya di bahu Sun Put Ce.
"Kau memang seorang manusia yang berbudi,"
Katanya. Sun Put Ce merasa hatinya berdebar, karena tindakan Bwe Mei itu.
"Jangan cepat mengambil dugaan tentang seseorang, mungkin saya sering menjengkelkan dirimu,"
Sahutnya kemudian "Apa yang kau maksud dengan menjengkelkan?"
Tanya Bwe Mei,.
"Saya tidak pandai berbicara, saudara seperguruanku sendiri sering mengejek saya. Mereka mengatakan rasanya aneh mengapa di dunia ini ada makhluk seperti saya ini,"
Kata Sun Put Ce. Bwe Mei mengibaskan rambutnya harum yang terpancar membuat tubuh Sun Put Ce menggigil.
"Orang yang tidak bisa bicara malah kalau mengeluarkan mengeluarkan ucapan selalu yang bermutu,"
Sahut Bwe Mei lembut Sun Put Ce menggelengkan kepalanya mendengar hal itu.
"Mengapa kau menggelengkan kepala?"
Tanya Bwe mei.
"Benar atau tidaknya kata-katamu saya tidak tahu, namun kenyataannya kedua suheng saya sering mengatakan bahwa di dunia ini rupanya masih ada seorang manusia seperti dirimu,"
Sahut Sun Put Ce sambil menarik nafas berkali-kali.
"Apakah mereka sering mengejekmu seperti itu?"
Tanya Bwe Mei dengan perhatian besar..
"lya!"
Sahut Sun Put Ce.
"Merekalah yang pantas disebut orang buta!"
Kata Bwe Mei. keras.
"Tadi kau mengatakan bahwa kau hanya memperalat diri saya?"
Tanya Sun Put Ce mengalihkan pembicaraan.
"lya! Aku melakukannya demi seorang bajingan. Akibatnya, aku sendiri yang hampir celaka,"
Kata Bwe Mei.
"Orang yang bisa membuatmu begitu setia, tentunya adalah seorang laki-laki sejati."
Sahut Sun Put Ce. Bwe Mei malah tertawa tergelak-gelak, nadanya mengandung ejekan.
"Dia adalah seekor anjing budukan yang tidak berharga!"
Katanya.
"Biarpun turunan anjing, tapi masih bisa mendapatkan perhatianmu yang begitu besar, dia masih terhitung hebat,"
Sahut Sun Put Ce.
Bwe Mei tidak suka mendengar perkataan itu, ucapan demikian kebanyakan keluar dari mulut kaum laki-laki.
Oleh karena itu, Bwe Mei merasa, bahwa setiap laki-laki pasti akan membela kaumnya sendiri, meskipun orang itu adalah manusia terjahat di dunia.
Dia memang sedang bersandar di bahu Sun Put Ce.
Tiba-tiba tangannya terulur dengan cepat.
Nadi Mei fu dan Thian cong laki-laki itu sudah tertotok, Nadi Thian cong terletak di sebelah bawah ketiak sedangkan nadi Mei fu terletak di bagian atas pusar.
Bila kedua nadi ini tertotok, maka bagian tubuh sebelah bawah akan lumpuh seketika.
Tubuh akan terasa lemas.
Tangan saja sulit digerakkan.
Bagian kepala masih bisa menoleh atau bicara, Meskipun Bwe Mei telah menotok kedua nadi pentingnya, dia masih tidak bersuara.
"Kau sungguh menakutkan!"
Kata gadis itu.
"Saya?"
Tanya Sun Put Ce dengan suara tenang.
"Ketenanganmu agak mengerikan,"
Sahut Bwe Mei sambil tertawa dingin, Sun Put Ce hanya menghela nafas.
"Mengapa kau malah menarik nafas?"
Tanya gadis itu kembali Sun Put Ce menggelengkan kepalanya lagi.
"Selamanya kau tidak akan mengerti perasaan saya,"
Sahut lakilaki tersebut.
"Apakah karena nadimu tertotok sehingga kau tidak dapat menggerakkan tubuh selama setengah hari maka kau menarik nafas?"
Tanya Bwe Mei. Sun Put Ce tetap menggelengkan kepala. Bwe Mei bangkit dari tempat tidur, Dia menatap Sun Put Ce dengan pandangan dingin.
"Tampaknya kau lebih menakutkan dari orang itu!"
Katanya.
"Siapa?"
Tanya Sun Put Ce.
"Cap sa tai po Kiau Bu Suang!"
Sahut Bwe Mei.
"Nama orang itu sangat terkenal, kalau saja dia mau menampilkan diri, kemungkinan besar dia sanggup melawan Toa Tek To Hun,"
Kata Sun Put Ce. Bwe Mei tertawa terbahak-bahak Sun Put Ce terpana.
"Saya sudah mengatakan bahwa saya memang tidak pandai berbicara,"
Katanya.
"Orang yang penampilannya tidak pandai bicara, justru biasanya merupakan orang yang cerdas,"
Sahut Bwe Mei.
"Aku tidak mengerti...."
Kata Sun Put Ce.
"Banyak bicara, otak berkurang,"
Sahut Bwe Mei.
"Akh.... Baru pertama kali saya mendengar kata-kata yang demikian dalam maknanya, Akan saya ingat selamanya,"
Kata Sun Put Ce sambil mendesah. Bwe Mei memperhatikannya sampai lama sekali.
"Kalau kau bukan orang yang paling baik di dunia ini, pasti kau orang yang paling jahat,"
Katanya.
"Orang seperti saya ini, mana berani mengaku diri sendiri orang baik?"
Sun Put Ce menggelengkan kepala. Bwe Mei tersenyum tipis mendengarkan ucapan itu.
"Sekarang kau terancam bahaya akan terbunuh olehku, mengapa sedikit pun kau tidak tampak khawatir?"
Tanyanya. Sun Put Ce memejamkan matanya, Dia, menarik nafas berkalikali.
"Kau tidak mengerti...."
Sahutnya.
"Aku memang tidak mengerti, kalau bukan otakku ada masalah, tentunya dirimu itu yang patut dianggap makhluk aneh,"
Kata gadis itu. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Bwe kouwnio, setiap orang pasti harus mati, bila waktunya sudah tiba, ditolak pun tidak mungkin."
Sahutnya.
"Kau anggap sekarang adalah waktu kematianmu?"
Tanya Bwe Mei. Sun Put Ce menganggukkan kepalanya..
"Mengapa?"
Tanya Bwe Mei heran.
"Sejak duIu, dalam mimpi pun tidak pernah saya bayangkan kalau saya akan mati di tangan gadis yang paling saya kagumi,"
Sahut lakilaki itu. Bwe Mei tampak kurang percaya mendengar kata-kata tersebut.
"Kau sudah tahu bahwa demi Cap sa tai po, aku telah memperalat dirimu. Apakah kau masih mengagumi diriku?"
Tanyanya. Sun Put Ce menganggukkan kepala dengan yakin.
"Apakah maksudmu, kau telah menyukaiku sejak pertemuan pertama?"
Tanya Bwe Mei kembali Dia seakan ingin meminta penegasan dari Sun Put Ce.
Dia hampir tidak percaya kalau di dunia ini ada laki-laki sebaik orang ini.
Dan ternyata Sun Put Ce tetap menganggukkan kepala.
"Harap jangan memakai kata "suka"
Jawabnya.
"Mengapa?"
Tanya Bwe Mei semakin tidak mengerti.
"Meskipun saya mengagumimu, tapi selama ini saya selalu merasa tidak cukup berharga untuk menyukaimu,"
Sahut Sun Put Ce dengan mata tetap terpejam. Bwe Mei merasa terharu sekali mendengar perkataan Sun Put Ce itu.
"Mengapa kau selalu merendahkan dirimu sendiri?"
Tanyanya.
"Saya mengagumimu karena kebaikanmu melebihi apa yang kupikirkan, oleh sebab itu saya tidak berani menggunakan kata "suka", Tentang rasa rendah diri, sulit dijelaskan dalam waktu yang singkat,"
Kata Sun Put Ce.
"Apakah kau tetap menyukaiku?"
Tanya Bwe Mei dengan pandangan mata menyelidik.
"Apa yang kau maksud dengan kata "tetap"?"
Sun Put Ce tampaknya tidak mengerti.
"Seorang gadis yang pernah dipermainkan oleh seorang laki-laki, meskipun belum sempat ternoda, sering dianggap rendah oleh lakilaki lain,"
Sahutnya dengan suara sendu.
"Saya bukan laki-laki seperti itu,"
Kata Sun Put Ce.
"Apakah kau termasuk laki-laki yang merasa sayang mencampakkan seorang gadis hanya karena dia masih sedap dipandang?"
Tanya Bwe Mei. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana caranya membuktikan bahwa kau bukan laki-laki seperti yang aku katakan?"
Tanya Bwe Mei penasaran.
"Apa yang harus dibuktikan?"
Sun Put Ce membuka matanya dan menarik nafas panjang, Benar kata kedua suhengnya, bahwa makhluk yang paling sulit dimengerti di dunia ini adalah perempuan.
"Bukankah kau memandang tinggi setiap gadis yang mendekati dirimu?"
Tanya Bwe Mei.
"Saya hanya memandang tinggi gadis yang saya kagumi,"
Sahut Sun Put Ce.
"Bagaimana kalau yang mendekatimu, seorang gadis yang tidak kau sukai?"
Tanya-nya.
"Setiap gadis pasti mempunyai sikap pembawaan masing-masing, mengapa saya harus merasa suka atau tidak?"
Sahut Sun Put Ce.
Bwe Mei merogoh dua buah-dompet dari saku bajunya, Yang satu adalah miliknya, Yang satunya lagi merupakan pemberian orang lain.
Dompet itu masih rapi dan memancarkan keharuman.
Berbeda dengan pemberiannya yang sudah tampak lusuh dan tidak harum lagi.
Hanya dua macam perempuan di dunia ini.
Putih dan belang, Yang dimaksud putih, tentu saja adalah seorang gadis yang bijaksana, tidak cepat cemburu buta, Dan yang belang, pasti marah dulu baru mencari kebenarannya.
Sun Put Ce sendiri belum berani memastikan Bwe Mei termasuk jenis yang mana?
Tiba-tiba Bwe Mei merasa benci melihat dompet itu.
Dia meremasnya berulang-ulang sehingga lusuh, Masih kurang puas dia rasanya, dilemparkannya dompet tersebut ke lantai dan diinjakinjaknya sampai kotor dan bau.
"Siapa yang memberikan dompet ini untukmu?"
Sebuah pertanyaan yang sebetulnya sudah diketahuinya sejak lama. Namun Sun Put Ce merasa sedih melihat kemarahannya, Dia tetap menjawab dengan sopan.
"Chow Ai Giok, cucu perempuan Pang Chow Ceng."
"Kau menyukainya?"
Tanya Bwe Mei dengan mata mendelik, Sun Put Ce menganggukkan kepalanya, dengan sikap seperti biasa.
"Mungkin dia ada di sekitar tempat ini."
Sahutnya. Akibat ucapan ini memang tak diduganya, Mata Bwe mengeluarkan sinar pembunuhan.
"Coba kau katakan sekali lagi!"
Ancamnya.
"Kalau kau belum mendengar jelas, saya akan mengulanginya sekali lagi,"
Sahut Sun Put Ce tenang.
"Apakah kau hanya menyukainya dan tidak menyukai diriku?"
Tanya Bwe Mei dengan pandangan mata membara, Sun Put Ce hanyalah tertawa getir, Mengapa perempuan selalu tidak henti bertanya?"
"Saya menyukainya, tapi saya mengagumi dirimu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Aku tidak perlu segala macam rasa kagum. Mengapa kau tidak pernah bisa mengerti perasaan seorang gadis?"
Tanya Bwe Mei dengan nada kesal.
"Saya juga tidak tahu,"
Sahut laki-laki.
"Kalau kau masih berani menyukainya, aku akan membunuhmu!"
Kata Bwe Mei dengan suara ketus.
"Saya rasa hanya ada dua macam orang yang paling menakutkan di dunia ini,"
Sahut Sun Put Ce sambil menarik nafas.
"Dua macam orang yang bagaimana?"
Tanya Bwe Mei.
"Yang pertama adalah orang yang membunuh tanpa berkedip, seperti Toa Tek To Hun. Yang kedua, adalah perempuan,"
Sahut Sun Put Ce dengan suara sendu, Bwe Mei sampai termangu-mangu dibuatnya.
"Benarkah perempuan demikian menakutkan?"
Tanyanya.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Coba jelaskan dengan terperinci,"
Kata gadis itu.
"Dompet yang kau berikan untukku tidak harum lagi karena terjatuh dalam air, bukan?"
"Tidak salah! Hal ini membuktikan kalau kau menyimpan pemberiannya dengan baik. Sedang pemberianku justru kau abaikan,"
Kata Bwe Mei sedih. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu.... Dompet pemberianmu, dilemparkan oleh Chow Ai Giok ke laut. Untuk mengambilnya, hampir saja..."
Kata-katanya tidak dapat dilanjutkan lagi.
"Mengapa tidak mengatakan sampai selesai?"
Tanya gadis itu penasaran.
"Lebih baik tidak usah diteruskan, belum tentu kau akan percaya,"
Sahut Sun Put Ce.
"Kalau kau belum mengatakan, bagaimana bisa yakin aku tidak akan percaya?"
Tanya Bwe Mei. Sun Put Ce kembali menarik nafas, Dia bukan jenis orang yang suka membanggakan diri.
"Saya terjun ke laut untuk mengambilnya. Karena saya tidak dapat berenang, hampir saja mati tenggelam,"
Akhirnya terpaksa dia menerangkan.
"Siapa yang menolong dirimu?"
Tanya Bwe Mei mulai serius.
"Teman seperjalanan saya, Kwe Po Giok,"
Sahut Sun Put Ce. Bwe Mei tampak tercengang, Dia tidak menyangka akhir cerita itu demikian adanya.
"Mengapa bukan gadis Chow Ai Giok itu?"
Tanyanya.
"Setelah melempar dompetmu ke laut, dia pergi tanpa menoleh lagi,"
Sahut Sun Put Ce.
Bwe Mei meraba pipi Sun Put Ce dengan telapak tangannya yang halus, Sun Put Ce merasa gadis itu tadi seperti sekuntum mawar yang penuh berduri, sekarang malah berubah menjadi sekuntum melati yang lembut dan harum.
Bwe Mei mengelus-ngelus Sun Put Ce dengan penuh perasaan, Sinar matanya yang sendu seakan ingin menembus hati Sun Put Ce.
Laki-laki itu tidak tahu harus tertawa atau menangis, Perempuan juga merupakan makluk yang paling mudah berubah, Tiba-tiba saja totokannya sudah terlepas.
Seorang yang sama sekali tidak pandai berenang, tetapi berani terjun ke laut demi sebuah dompet, dari sini sudah dapat dibayangkan betapa dalam cinta kasihnya terhadap pemilik dompet tersebut.
Bwe Mei jatuh dalam pelukan Sun Put Ce.
Dia sadar bila kejadian tadi dialami oleh Cap sa taipo Kiau Bu Suang, pasti ceritanya akan jauh berbeda, Laki-laki itu pasti tidak akan mengorbankan diri demi seorang gadis.
Dia lebih menyayangi jiwanya sendiri.
Bila seorang gadis menunjukkan kelembutannya yang paling dalam, berarti seluruh perhatiannya teIah diserahkan kepada lakilaki itu.
Namun manusia seperti Sun Put Ce tidak mengerti perasaan ini.
"Saya berjanji akan mengubah perasaan kagum turun menjadi perasaan suka,"
Katanya.
"Kau salah! Membuat perasaan kagum bertambah menjadi perasaan suka", sahut Bwe Mei sambil tersenyum manis, Mendengar perkataan nona itu, hati Sun Put Ce jadi berdebar-debar, tanpa sadar ia bergerak dan memeluk gadis itu erat-erat.
"Mengapa Kiau Bu Suang tidak mencari ? Toa Tek To Hun?"
Tanya laki-laki itu mengalihkan pembicaraan "Karena dia mengalami Cao hue jit mo,"
Sahut Bwe Mei.
"Sayang sekali...."
Kata Sun Put Ce dengan nada mengeluh. Bwe Mei memperdengarkan tertawa dingin.
"Apa yang harus disayangkan? Dia adalah seorang laki-laki tidak bertulang, Tidak berbeda dengan para ko chiu yang menyembunyikan diri karena takut dicari oleh Toa Tek To Hun, juga hampir sama dengan si tua Peng Chow Ceng,"
Sahut Bwe Mei.
"Tapi dia kan terkena Cao hue jit mo, seharusnya bisa dimaafkan,"
Kata Sun Put Ce.
"Apakah laki-laki yang terkena Cao hue jit mo, bisa berhubungan dengan seorang perempuan di tempat tidur?"
Tanya Bwe Mei ketus, Sun Put Ce termangu-mangu sejenak dibuatnya.
"Rasanya tidak mungkin...."
Sahutnya.
"Dari hal ini saja sudah terbukti bahwa kau adalah laki-laki yang masih polos sekali,"
Kata Bwe Mei tersenyum manis.
"Apakah Cap sa tai po menghianati dirimu?"
Tanya Sun Put Ce.
"Dia bersama seorang perempuan di dalam rumahnya, Dari suarasuara yang terdengar aku bisa mengambil kesimpulan apa yang sedang mereka lakukan ini bukan didengar dari mulut orang lain. Aku sendiri yang memergoki perbuatannya,"
Kata Bwe Mei kesal.
"Apakah di dunia ini ada perempuan lain yang lebih menarik darimu?"
Tanya Sun Put Ce seperti kurang percaya.
"Menarik atau tidak, hanya pandangan manusianya masingmasing,". kata Bwe Mei.
"Siapa perempuan itu?"
Tanya Sun Put Ce.
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya mendengar suara pembicaraan mereka,"
Bwe Mei menjelaskan.
"Apa saja yang mereka bicarakan?"
Tanya Sun Put Ce kembali.
"Mereka membicarakan seorang laki-laki yang rasanya sudah cukup berumur Laki-laki itu adalah gendak perempuan itu. Dia menggambarkan keadaan orang tua itu yang katanya seperti papan gilasan, Dia juga mengatakan bahwa gendaknya itu sangat menakutkan Terlalu dibuat-buat lagaknya. Dia juga berjanji akan merubah Cap sa tai po menjadi seorang yang paling berkuasa di dunia persilatan,"
Kata Bwe Mei setelah berpikir sejenak.
"Bagaimana merubahnya?"
Tanya Sun Put Ce semakin tertarik.
"Dari delapan jurus yang digunakannya untuk membunuh Bok lang kun menjadi satu jurus, Dengan demikian dia baru dapat menandingi Toa Tek To Hun,"
Kata gadis itu. Hati Sun Put Ce bergetar.
"Dia adalah manusia bertopeng,"
Katanya dengan nada terkejut.
"Manusia bertopeng yang mana?"
Tanya Bwe Mei tidak mengerti.
"Manusia bertopeng yang membunuh Raja tinju Hong Be dari luar perbatasan di hutan tempo hari,"
Sahut Sun Put Ce menerangkan.
"Apakah seorang laki-laki berambut pirang, berjenggot dan bentuk wajahnya panjang? Aku melihatnya ketika melarikan diri lewat hutan,"
Kata Bwe Mei.
"Tepat! Dia juga membunuh Bok lang kun di tempat itu. Mayat Bok lang kun sudah saya bawa pulang untuk diurus!"
Sahut Sun Put Ce. Dia tidak menyangka kalau manusia bertopeng itu adalah Cap sa tai po Kiau Bu Suang yang termasyhur.
"Rupanya dia yang mengenakan topeng untuk membunuh para jago kaum Bulim, Aku malah kena ditipu oleh kepura-puraannya terkena Cau hue jit mo. Entah maksud apa yang terkandung di balik semua ini?"
Suara Bwe Mei terdengar sinis sekali.
Jilid 9
"Pertama, dia ingin kaum Bulim semua mendengar tentang musibah yang menimpa dirinya, Dengan demikian Toa Tek To Hun akan menganggap diri orang itu tidak pantas mati di tangannya. Kedua, secara diam-diam dia menyamar dengan mengenakan topeng, dengan maksud menguji ilmu silatnya sendiri. Pasti tidak akan ada orang yang menduga manusia bertopeng itu adalah Kiau Bu Suang,"
Kata Sun Put Ce mengeluarkan pendapatnya.
"Kau sama sekali tidak bodoh!"
Bwe Mei memandangnya dengan seksama.
"Kau merupakan orang kedua yang mengatakan saya tidak bodoh,"
Sahut Sun Put Ce. Bwe Mei segan menanyakan siapa orang yang pertama.
"Kalau menurutmu.... Siapa yang lebih menakutkan? Kiau Bu Suang atau perempuan itu?"
Tanya Bwe Mei.
"Perempuan yang mana?"
Sun Put Ce kadang-kadang memang mirip orang tolol.
"Perempuan yang berhubungan dengan Kiau Bu Suang!"
Bwe Mei menerangkan.
"0h... tentu perempuan itu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Aku kemari karena dikejar oleh Kiau Bu Suang,"
Kata Bwe Mei.
"Kiau Bu Suang tidak berhasil mengejar dirimu?"
Tanya Sun Put Ce kurang percaya.
"Kalau bukan karena seorang dewa penolong yang muncul tibatiba. Mungkin aku sudah mati saat ini,"
Kata Bwe Mei.
"Siapa dewa penolong itu?"
Tanya Sun Put Ce penasaran.
"Kau tentu tidak akan menyangka siapa orangnya.... Dia adalah Toa Tek To Hun!"
Kata Bwe Mei sambil tersenyum-senyum. Benar saja dugaan gadis itu, Mata Sun Put Ce sampai membelalak! "Toa Tek To Hun masih ada di sekitar tempat ini?"
Tanyanya.
"Tidak salah! Begitu melihat Toa Tek To Hun, tulang Kiau Bu Suang menjadi lemas seketika,"
Sahut Bwe Mei.
"Manusia sepertinya tentu tidak mengherankan lagi, Dia pasti ketakutan bukan?"
Tanya Sun Put Ce. Bwe Mei menceritakan semua kejadiannya dari awal hingga akhir, Sun Put Ce mendengarkan dengan seksama, Sampai cerita itu selesai, dia masih termangu-mangu.
"Aku harus bagaimana? Kiau Bu Suang ingin membunuhku perempuan itu juga pasti tidak akan melepaskan diriku, Aku yakin perempuan itu tinggal di tempat yang tidak terlalu jauh,"
Kata Bwe Mei selanjutnya.
"Saya juga percaya. Begini saja, untuk sementara kau boleh tinggal di penginapan kecil di ujung jalan, Saya akan mengunjungimu kapan saja. Bila tidak penting se-kali, lebih baik jangan keluar,"
Kata Sun Put Ce menyarankan sebuah jalan keluar untuknya.
-ooo0ooo-Di meja perabuan, terdapat bermacam-macam kue dan buahbuahan.
Juga ada dua pot bunga sedap malam di kiri dan kanan ujung meja.
Asap hio mengepul tinggi.
Fang Tiong Seng menyalakan hio dan berlutut di depan meja perabuan Tang hay sin sian, Anak murid mengikuti jejaknya di belakang.
Tidak ada satu pun yang bersuara.
Suasana hening mencekam, Hati setiap orang bagai tersayat sembilu, Setelah selesai bersembahyang, Pang Tiong Seng menuangkan tiga cawan arak di atas meja.
Dia bangkit dan berdiri di samping peti jenasah.
Kepalanya tertunduk.
"Tionggoan kembali kehilangan seorang pendekar besar...."
Kemudian dia menuju ke peti mati sebelahnya yang berisi mayat Bok Lang kun.
"Juga kekurangan seorang laki-laki sejati,"
Suaranya sendu.
"Tapi masih ada suhu...."
Tukas Mo Put Chi yang sangat memuja sang guru.
"Meskipun aku berhasil luput dari kematian, dan tetap akan berusaha membalaskan dendam bagi para jago kita, namun dibandingkan dengan Tang hay sin sian dan Bok lang kun, aku masih tidak pantas disebut pendekar,"
Sahutnya dengan mata basah.
"Suhu tidak boleh menyesali diri, Asal suhu bisa selamat dari kematian, tentu bisa mengumpulkan para sahabat supaya ber-samasama mengusir Toa Tek To Hun atau membasminya!"
Kata Hu Put Chiu membesarkan hati Fang Tiong Seng. Laki-laki itu menghela nafas berkali-kali.
"Memang saya berhasil selamat, tapi saya tetap akan mencoba melawan Toa Tek To Hun. Kalau sampai kalah lagi untuk kedua kalinya, aku sudah tidak mempunyai keberanian untuk mengunjukkan muka di Bulim,"
Sahut Fang Tiong Seng.
"Tayhiap tidak boleh putus asa. Pepatah mengatakan, asal hayat masih dikandung badan, untuk membalas dendam duapuluh tahun juga belum terlambat,"
Kata dayang Cui thian dengan air mata berlinang. Fang Tiong Seng tidak menyahut lagi. Bagi seorang pendekar, kadang-kadang kehidupan malah lebih menyedihkan daripada kematian.
"Suhu! Orang yang membunuh It Cheng Hong, Kao Kie, Hong Be, Bok lang kun pasti Toa Tek To Hun!"
Ujar Mo Put Chi. Fang Tiong Seng menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan!"
"Saat ini siapa yang bisa membunuh beberapa orang ini, terutama Hong Be dan Bok lang kun?"
Tanya Hu Put Chiu.
"Tentu saja ada manusia demikian. Tapi apa maksudnya itulah yang sulit ditebak!"
Kata Fang Tiong Seng.
Malam musim semi.
Hujan turun rintik-rintik, Cuaca demikian paling cocok untuk orang yang bercinta, Tentunya sang kekasih pun akan menyambut gembira.
Tempat ini berada di luar kota, Di daerah yang agak terpencil ada sebuah bangunan indah.
Majikan pemilik gedung ini merupakan seorang yang suka kemewahan, dapat dibuktikan dari bentuk bangunan dan isinya.
Dia tidak sayang mengeluarkan uang banyak untuk mendirikan gedung yang mempunyai ciri tersendiri ini.
Di dalamnya terdapat sebuah ruang bawah tanah, Ada dua buah kamar besar yang isinya kebanyakan barang-barang langka.
Gedung ini dibangun untuk seorang perempuan simpanannya, Tentunya ruang bawah tanah itu hanya diketahui oleh orang tersebut, Mereka mengadakan pertemuan di tempat yang tidak diketahui oleh orang lain.
Dari luar yang tertampak adalah sebuah gedung milik seorang hartawan, Ada beberapa pelayan yang bekerja di rumah itu.
Mereka juga sudah diperintahkan oleh sang majikan untuk menutup mulut.
Siapa pun yang masuk ke dalam gedung itu, pasti akan terpesona, warna dinding dan permadani yang terhampar didominasi oleh semaraknya merah jambu dan hijau muda membuat orang yang berada dalam ruang besar tersebut serasa sejuk dan damai.
Laksana sehelai selimut di musim salju.
Siapa saja yang sudah masuk di dalamnya, tentu enggan keluar.
Di atas kamar dalam ruangan bawah tanah, terdapat dua buah gelas kristal, isinya berupa anggur merah, Ada dua orang manusia yang sedang duduk di masing-masing sisi meja tersebut.
Yang seorang adalah laki-laki berusia kurang lebih limapuluh tahun.
Tubuh bagian atas telanjang, Tulang-tulangnya bertonjolan, Dadanya rata seperti sebuah papan gilasan.
Seorang laki-laki setengah baya lagipula berbadan kurus kerempeng ternyata ditemani seorang perempuan berusia kira-kira duapuluh enam tahun.
Cantik, menawan, dan dewasa.
Laki-laki ini pasti bukan orang biasa.
Apakah kekayaannya yang menarik bagi perempuan tersebut?
Perempuan itu hampir telanjang, Selain selembar kain penutup bagian bawah, bagian atasnya hanya terdapat selembar selendang yang hanya dikaitkan di 1eher.
Warna selendang itu juga merah jambu dengan sulaman emas di sudutnya.
Tubuh yang halus dan putih itu membuat sang laki-laki terpesona.
Tangannya yang berjari lentik mengangkat gelas kristal dengan gaya memikat.
"Loya.... Mari kuhaturkan segelas anggur merah untukmu."
Suaranya pun begitu merdu.
Minum anggur adalah soal kedua, sinar mata yang penuh gairah malah merupakan hal pertama dan pasti bisa membuat laki-laki itu mabuk, anggur belum masuk lewat tenggorokan namun dada sudah mulai terbakar.
Tangannya yang kasar dan berkeriput mengangkat gelasnya dan meminum seteguk, jarinya bergetar mengiringi anggur merah dalam gelas yang menari-nari.
Deburannya bagaikan darah yang muncrat dari sebuah luka besar.
"Semestinya aku yang menghaturkan segelas anggur untukmu,"
Kata laki-laki bertubuh papan gilasan itu.
"Mengapa?"
Tanya yang perempuan.
"Bila urusan besar ini bisa berhasil, jasamu tidak boleh dianggap kecil,"
Kata orang tua itu. Yang perempuan mengerlingkan matanya dengan gaya genit.
"Loya.... Mengapa harus demikian sungkan terhadapku?"
Katanya.
"Bukan begitu, Kau memang orangku, Tapi bila digantikan dengan orang lain, belum tentu dapat menutup rahasia serapat ini. Jasamu memang cukup besar bagiku,"
Sahut si papan gilasan.
"Loya... aku belum berani terlalu yakin. Karena Toa Tek To Hun masih ada di Tiong-goan,"
Kata yang perempuan. Orang tua itu tersenyum tipis.
"Kekalahannya tinggal menunggu waktu saja,"
Sahutnya.
"Loya,... Apakah kau yakin sepenuhnya?"
Tanya perempuan itu.
Orang tua bertubuh kerempeng tertawa terbahak-bahak, dia suka menggunakan tawanya yang menyeringai ataupun terbahak-bahak sebagai ungkapan hati bila yakin akan sesuatu, sayang sekali, banyak orang yang tidak terlalu memperhatikannya.
Banyak orang yang merendahkan kehebatan dirinya, sampai Toa Tek To Hun pun tidak memandang sebelah mata kepadanya.
Manusia yang menganggap dirinya rendah terlalu banyak, Bahkan termasuk orang-orang kepercayaannya.
Benarkah demikian?
Atau mungkin hanya perasaannya sendiri yang terlalu banyak curiga...?
Namun bukan semua orang menganggapnya rendah, Paling tidak ada dua orang yang menjunjungnya setinggi langit.
Dan ada beberapa orang lagi yang tahu kehebatannya, sedangkan jumlah yang tidak banyak ini, justru merupakan manusia bermata tajam.
Gelas kedua orang itu telah kosong, Empat buah bola mata saling memandang.
"Kedua gelas kristal ini hanya boleh mengisi anggur hari ini. sedangkan anggur besok dan waktu tidak boleh diisi di dalam gelas ini bukan?"
Tanya si orang tua.
"Betul, Loya!"
Sahut yang perempuan "Anggur kelak harus diisi di gelas lain!"
Kata laki-laki itu kembali.
Ucapan mereka membingungkan, mungkin hanya kedua orang itu yang mengerti artinya yang dalam.
tiba-tiba gelas di tangan laki-laki itu diremas hingga pecah berantakan.
Pecahan kacanya berserakan di lantai.
Setelah itu, dia mengambil gelas di tangan perempuannya, dia melakukan hal yang sama.
Mungkin dalam hatinya dia ingin membuktikan bahwa kekayaannya sekarang bukan apa-apa.
Mereka masih bisa menguasai dunia yang luas ini.
Oleh sebab itu, setiap pekerjaan harus mereka lakukan dengan penuh perasaan, termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan.
"Malam ini kita harus menggunakan gerakan untuk mengeluarkan apa yang terkandung dalam hati kita, Seperti pepatah yang mengatakan "malam panjang harus dinikmati selagi mungkin."
Kata laki-laki tersebut Dia mengulurkan tangan dan mengajak perempuan tersebut naik ke atas tempat tidur Mata perempuan itu mengerling kenes, Gairahnya terlihat meluap.
"Siau moi hanya menuruti apa kata Loya,"
Sahutnya manja.
Dia rebah di atas tempat tidur dengan sprei warna merah jambu, Dia membiarkan laki-laki itu melucuti seluruh pakaiannya yang tersisa, Keduanya saling berdekapan, Mata perempuan itu terpejam.
sekarang yang laki-laki tidak dapat melihat apa yang tersirat di dalamnya.
Dia hanya tahu bahwa perempuan itu tetap mengikuti gerakan tubuhnya, Saling berirama.
Akhirnya kedua tubuh telanjang itu bersatu, dalam segala kecabulan dan kemaksiatan!
-oooo0oooo-Hujan musim semi turun rintik-rintik.
Hawa dingin mulai menyelinap.
Di sebuah jalan panjang di ujung kota terlihat dua orang mendatangi dari arah yang berlawanan.
Di sebelah Utara adalah seorang laki-laki yang masih muda, sedangkan dari arah Selatan, adalah seorang perempuan.
Suara hujan menggigiikan perasaan yang sudah terasa mencekam.
Tiupan angin membawa segumpalan kabut pembunuhan.
Ketika kedua orang itu sudah agak dekat, laki-laki muda itu mengangkat tangannya untuk menyapa.
Namun, dalam sekejap saja dia sudah merasa ada yang tidak beres, Sinar mata perempuan itu buas sekali, Seakan ingin melumatkan seluruh tubuhnya.
Bagi Hu Put Chiu, tidak ada yang perlu disusahkan di dunia ini.
Dia tidak percaya kalau perempuan itu bersungguhsungguh.
Mengapa perempuan ini ingin membunuhnya?
Mereka tidak pernah terlibat dendam pribadi atau sebagainya.
"Tampaknya kau ingin membunuhku?"
Tanya Hu Put Cbm. Perempuan itu menganggukkan kepalanya.
"Betul!"
"Mengapa?"
Tanya Hu Put Chiu dengan senyum mengembang.
"Kau tidak usah tahu alasannya!"
Sahut perempuan tersebut dengan ketus.
Hu Put Chiu melebarkan bibir dan tertawa bebas, Meskipun besok langit akan runtuh, dia tetap akan mati dengan membawa senyum.
Biarpun ada orang yang berkata kepadanya bahwa besok adalah hari kematiannya, dia tetap akan makan dan minum sepuasnya.
Tampaknya ia tidak memperdulikan meskipun perempuan itu terlalu serius.
"Kau merupakan tamu dalam keluarga Fang, Suhu juga amat baik terhadapmu, malah membantu pemakaman Tang hay sin sian besok, Dia bahkan telah mengundang Siau kiong cu kemari. Apalagi yang kurang?"
Tanya Hu Put Chiu.
"Segala sesuatunya sudah cukup, Tidak ada yang kurang!"
Sahut perempuan itu.
"Harus ada alasannya bukan?"
Tanya Hu Put Chiu.
"Tidak selalu harus!"
Sahut perempuan itu kembali. Hu Put Chiu tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha.,.! Benar-benar mengherankan"
Katanya.
Perempuan itu bergerak cepat, Hu Put Chiu baru merasa ada titik hujan yang membasahi wajahnya ketika tendangan perempuan itu telah tepat mengenai ulu hatinya.
Gerakan apa yang begitu cepat?
Selain tiga belas jurus sayap bangau dari perguruan Fang Tiong Seng, Hu Put Chiu tidak percaya ada ilmu lain yang lebih cepat, memang para murid Fang Tiong Seng sangat yakin bahwa ilmu sayap bangau yang berjumlah tiga belas jurus itu adalah ilmu tersakti di dunia.
Oleh sebab itu, Hu Put Chiu yang bisa bertahan sebanyak lima jurus, malah sudah terkena dua kali tendangan lagi dalam satu setengah jurus saja.
Tubuhnya mencelat ke udara, Namun bibirnya masih mengembangkan senyum.
"Ternyata kau benar-benar ingin membunuhku!"
Teriaknya riang. Tendangan ketiga dari perempuan itu seakan merupakan jawaban bagi pertanyaan Hu Put Chiu. Punggg!!! Sekali lagi Hu Put Chiu terlempar. Tenggorokannya mengeluarkan suara "krok-krok"
Dua kali.
Mungkin dia masih ingin mengucapkan sesuatu, namun tenaganya untuk berbicara saja sudah tidak ada.
Dari hal itu terbukti bahwa Hu Put Chiu telah terluka dalam dengan parah.
Darah mengalir dari sudut bibirnya, Laki-laki itu bagaikan bermimpi meski ajal sudah di depan mata.
Tidak berapa lama kemudian, kepalanya terkulai, nyawanya pun melayang, tampaknya mirip seekor ayam yang baru disembelih.
Tanpa menoleh ke arah korbannya sekalipun, perempuan itu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat tersebut.
Lantai ruangan besar keluarga Fang ada sesosok mayat, sejak mengalami kekalahan dan berhasil selamat melawan Toa Tek To Hun tempo hari, ruangan ini telah kedatangan tiga mayat.
Tubuh Hu Put Chiu terbujur kaku, mulai saat ini dia benar-benar tidak usah mengenal kata kesedihan lagi.
Fang Tiong Seng menatap dengan airmata berlinang.
"Sejak kedatangan Toa Tek To Hun di tanah Tionggoan, ada orang yang menggunakan kesempatan ini untuk memancing di air keruh, Kita harus membalaskan dendam Ji sute!"
Kata Mo Put Chi sambil mengepalkan tinju. Suaranya berkumandang di seluruh ruangan, Wajah setiap orang terlihat kelam.
"lni bukan saja memancing di air keruh. Tapi sudah menghina sampai di pintu rumah!"
Kata dayang Cui thian dengan mata membara.
"Sam sute!"
Teriak Mo Put Chi.
"Siaute di sini!"
Sahut Sun Put Ce dari arah samping.
"Mari kita cari pembunuh itu!"
Serunya gusar.
"Pembunuh tidak akan menanti di tempat semula setelah tujuannya berhasil,"
Jawab Sun Put Ce dengan wajah tak kalah sedih.
"Apakah kita harus menunggu sampai dia datang untuk mengaku dosa?"
Tanya Mo Put Chi dengan wajah merah padam.
"Tidak!"
Sahut sam sutenya.
"Apanya yang tidak? Kalau bicara harus lebih jelas!"
Bentak Mo Put Chi dengan nada dingin.
"Siaute rasa, meskipun pembunuh itu sudah pergi, tapi dia tetap tidak akan bersembunyi untuk selamanya,"
Kata Sun Put Ce.
"Omong kosong!"
Teriak Mo Put Chi marah.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce dengan kepala tertunduk.
"Mengapa di dunia ini masih ada manusia macam dirimu?"
Kata Mo Put Chi mengulangi kebiasaannya.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce. Mo Put Chi kesal sekali, Tubuhnya gemetar Dia membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
"Put Chi, mau ke mana kau?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Teecu harus mencari pembunuh itu sampai ketemu!"
Sahut Mo Put Chi. Fang Tiong Seng menarik nafas panjang.
"Orang yang membunuh Put Chiu, mungkin merupakan orang yang membunuh Hong Be dan Bok lang kun juga. Kalau kau tidak dapat menemukannya, berarti nasibmu masih baik. Bila kau berhasil bertemu dengannya, sama saja dengan membuang nyawa secara percuma, Bok lang kun dan Hong Be saja bukan tandingannya, apakah ilmumu lebih tinggi dari kedua orang itu?"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara kereng.
"Teecu rela mati!"
Sahut Mo Put Chi se-dih.
"Ada pepatah yang mengatakan "ilmu silat harus dipelajari seiring dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan mengajarkan kita untuk berakal budi. Berbuat sesuatu tidak boleh hanya berdasarkan keinginan hati. Harus menimbang untung rugi! Put Chi, kau benarbenar lebih tidak berakal dari Put Ce,"
Kata Fang Tiong Seng. Dia menoleh kepada murid terakhirnya itu.
"Kau bahkan harus banyak belajar darinya!"
Fang Tiong Seng melanjutkan kata-katanya, Mo Put Chi hampir menganggap perkataan gurunya bermaksud menyakiti hatinya.
Belajar dengan siapa pun tidak akan menjadi persoalan, Hanya belajar dengan Sun Put Ce yang tidak boleh, Dia ikut menatap adik seperguruannya itu.
Sun Put Ce menundukkan kepalanya, Dia seakan dapat merasakan tatapan Mo Put Chi yang tajam itu, Oleh karena itu, Mo Put Chi merasakan kesedihan yang tidak terucapkan, Mengapa suhu menganjurkan agar dia belajar pada Sun Put Ce?
Apakah rentetan pembunuhan yang dilakukan Toa Tek To Hun telah membuat para jago di Tionggoan mengalami kegoncangan?
sehingga pikiran mereka menjadi kacau dan mengoceh yang bukan-bukan.
Bila tidak, bagaimana suhu bisa menjadikan Sun Put Ce sebagai teladan?
Manusia yang ketolol-tololan seperti Sun Put Ce apakah dapat menjadi panutan dalam dunia Bulim saat ini?
Tiba-tiba Mo Put Chi berlutut di depan Fang Tiong Seng dan menyembah sekali, Kemudian dia menghambur ke depan pintu.
"Mo Sau hiap! Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya dayang Cui thian dengan suara lembut.
"Tikus saja meski kecil berani mengendap-endap mencari makanan, Semut rela tinggal di tempat gelap, Aku, Mo Put Chi, biarpun tidak berguna, tetap tidak dapat berdiam diri melihat nasib Bulim yang semakin tenggelam!"
Katanya sepatah-patah.
"Dunia Bulim memang sedang berada dalam ambang kemerosotan. Orang asing merajalela di tanah kita. Kita sebagai orang yang mempelajari ilmu silat, mana mungkin mendiamkannya begitu saja? Namun semua persoalan harus diselesaikan dengan kepala dingin, jangan terpengaruh emosi sesaat."
Sahut dayang Cui thian memberi nasehat. Mo Put Chi memandang Fang Tiong Seng, Dia tahu dirinya telah berbuat kurang sopan di depan suhunya, Dia langsung menjatuhkan diri berlutut.
"Tidak boleh keras kepala dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri, Tadi aku mengatakan bahwa kau masih belum bisa menandingi Put Ce. Apakah kau sudah memikirkannya dengan matang?"
Kata Fang Tiong Seng dengan nada penuh wibawa.
"Teecu masih belum paham...."
Sahut Mo Put Chi dengan kepala tertunduk.
"Kalau sudah paham baru temui aku lagi!"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara dingin.
"Teecu sangat bodoh, Mungkin untuk selamanya juga tidak akan mengerti,"
Sahut Mo Put Chi.
"Kalau hal ini saja kau tidak dapat paham, berarti kau tidak pantas menjadi muridku!"
Kata Fang Tiong Seng. Mo Put Chi benar-benar tidak dapat mengakui keunggulan Sun Put Ce. Dia tidak percaya manusia yang hanya bisa mengatakan betul dan tidak itu, dapat menjadi teladan baginya.
"Mati adalah hal yang mudah, Namun bila kita ingin mati dengan membawa kecemerlangan bagi nama kita sendiri, hal itu lebih sulit daripada apa pun di dunia, Yang kumaksud dengan mati dengan kecemerlangan adalah kematian yang patut dihargai. Bukan asal mati saja. Siapa pun sanggup melakukannya!"
Kata Fang Tiong Seng tetap dengan wajah kaku dan dingin.
"Teecu memang bebal!"
Sahut Mo Put Chi.
"Bebal tidak menjadi persoalan, Yang disayangkan mengapa sampai saat ini kau baru merasa dirimu bebal?"
Kata Fang Tiong Seng kembali.
"Mohon Insu (guru yang berjasa) memberi pelajaran untuk teecu,"
Sahut Mo Put Chi dengan suara pilu.
"Pergilah berlutut di depan jenazah Tanghay sin sian dan Bok lang kun. Mungkin pikiranmu akan terbuka!"
Perintah sang guru.
"Baik!"
Sahut Mo Put Chi seraya meninggalkan ruangan itu. Sampai saat ini, Mo Put Chi tetap tidak dapat menerima perkataan suhunya yang satu ini.
"Kau harus belajar dari Sun Put Ce!"
Manusia yang dalam keadaan emosi dan kehilangan akal sehatnya mau menerima keunggulan orang lain, Bagi Mo Put Chi, bukan saja Sun Put Ce tidak pantas dijadikan teladan, namun orang itu merupakan manusia terbodoh yang pernah dijumpainya.
sedangkan gurunya malah menganjurkan agar dia banyak belajar dari orang itu.
Dia tidak akan mengalah terhadap adik seperguruannya, Kalau tidak, namanya harus dirubah dan tidak patut disebut Put Chi (tidak kenal kalah) lagi.
Baru saja dia masuk ke dalam kamar tempat mayat Tanghay sin sian disemayamkan dia menjatuhkan diri dan berlutut.
Di sampingnya terlihat bayangan seseorang.
Dia menolehkan kepalanya, Wajahnya merah padam melihat adik seperguruannya ikut berlutut di sisi kirinya, Api kemarahan serasa memenuhi dadanya.
Sun Put Ce menyongsongkan tubuh ke dekat nya.
"Toa suheng.... Ada orang yang membunuh habis kita saudara seperguruan"
Bisik Sun Put Ce.
Mo Put Chi ingin sekali tahu siapa orangnya yang ingin membunuh habis saudara seperguruan mereka, Namun sebagai Toa suheng, apalagi selama ini dia selalu menganggap rendah Sun Put Ce, merasa malu untuk menanyakannya.
Paling tidak, hal ini akan membuktikan bahwa pengetahuan adik seperguruannya memang lebih tinggi daripadanya, Kewibawaannya sebagai Toa suheng lenyap seketika di dalam ruangan besar tadi.
Dia menatap Sun Put Ce dengan penuh kebencian Kadang-kadang peluapan hati dengan pukulan bisa meredakan hawa amarah.
Tangannya sudah terangkat ke atas, ketika dia mendengar suara lirih orang melangkah, rupanya pelayan tua Fang Yen.
Kebetulan itu membuat Sun Put Ce terlepas dari umbaran hawa amarah Mo Put Chi.
Bila saja pelayan itu tidak datang tepat pada waktunya, dapat dibayangkan penderitaan yang akan diterima oleh Sun Put Ce.
Fang Tiong Seng yang berada dalam ruangan besar telah memerintahkan anak buahnya untuk membawa mayat Hu Put Chiu ke kamar lain untuk dibersihkan Dia menoleh kepada dayang Cui thian....
"Siapa yang membakar api menyiram minyak?"
Tanyanya. Dayang Cui thian merenung sejenak.
"Saat ini, para jago Bulim sudah pada menyembunyikan kepala, Siapa yang bisa melakukannya?"
Dia berbalik bertanya.
"Siapa yang bisa membunuh Bok lang kun dan Hong Be?"
Fang Tiong Seng tidak habis pikir.
"lt to hun (segumpal awan), Seeto Kiang dan It ki bwe (Sekuntum bunga bwe). Lian lian, dua-duanya mempunyai kemungkinan Tentu saja, Cap sa tai po Kiau Bu Suang juga mempunyai kemungkinan kalau dia belum terserang Cao hue jit mo,"
Kata dayang Cui thian mengeluarkan pendapatnya. Wajah Fang Tiong Seng berubah hebat.
"Apakah Lian lian masih hidup dalam dunia ini?"
Tanyanya.
"Apakah pernah terdengar berita kalau dia sudah tiada?"
Kembali perempuan itu membalikkan pertanyaannya.
Fang Tiong Seng menggelengkan kepalanya.
Kedua orang ini memang mempunyai ilmu yang cukup tinggi untuk membunuh Hong Be dan Bok lang kun.
Namun kedua orang ini rasanya tidak mungkin sengaja datang ke Tionggoan untuk membunuh orang.
Tadinya hanya ada satu Toa Tek To Hun yang datang ke Tionggoan untuk membunuh para ko chiu.
persoalannya gamblang sekali.
Sekarang tiba-tiba terdapat banyak perubahan yang membuat kepalanya semakin pusing dan seakan hampir pecah berantakan.
Di tempat ini ada lagi sebuah rumah kayu yang lain.
Kiau Bu Suang sedang menikmati araknya sendirian Karena rumah kecilnya dulu sudah konangan, dia tidak dapat tidak harus berganti tempat, Setidaknya, Bwe Mei sudah mengetahui rumah itu.
Dan dia juga sudah tahu bahwa Kiau Bu Suang yang menyandang gelar Cap sa tai po sama sekali tidak menderita Cao hue jit mo.
Oleh karena itu, dia harus menemukan Bwe Mei dan membunuhnya.
Dia menyesal sekali mengapa tidak sejak dulu dia mencari akal untuk mendapatkan kesucian gadis itu?
padahal dia yakin, dengan cinta kasih Bwe Mei yang dalam terhadapnya, gadis itu rela berbuat apa pun asalkan hatinya senang.
Sekarang,., bahkan bayangannya pun dia tidak menemukan.
Sekumpulan burung di hutan, tentu jauh lebih baik seekor burung pilihan, apalagi kecantikannya melebihi yang satu itu.
Meskipun dia hanya bermaksud memperalatnya untuk sementara, Sekarang Bwe Mei sudah mengetahui penghianatannya, Kalau dinilai dari adatnya yang keras kepala, dia tidak akan memaafkan Kiau Bu Suang, Dia yakin sekali jalan yang terbaik memang hanya dengan membunuhnya, Tapi di mana dia sekarang?
Arak hangat dalam cawan telah kering, Rembulan menutupi wajahnya sebagian dengan tersipu-sipu.
Sebuah bayangan berdiri tegak di depan pintu, Kiau Bu Suang sama sekali belum mabuk, Dua cawan arak tidak mungkin membuatnya mabuk, Namun orang itu sudah berdiri di depan pintunya,, dirinya masih belum sadar juga.
Hatinya bergetar.
Hal ini membuktikan bahwa dirinya masih sering terpengaruh oleh suasana hati dan pikiran kacau, bila orang yang dihadapinya kelak adalah Toa Tek To Hun atau orang lain yang ilmunya lebih tinggi, panca indera keenamnya belum cukup cepat tanggap, Kiau Bu Suang meraba pedang panjang di atas meja.
"Siapa?"
Bentaknya.
"lt ki bwe!"
Sahut bayangan luar tadi.
Pertama-tama Kiau Bu Suang terpana mendengar nama itu, kemudian reaksinya adalah terkejut.
Apakah bayangan itu tidak berdusta?
It ki bwe sudah terkenal sejak lima belas tahun yang silam.
Dia adalah seorang pendekar wanita yang bernama besar dan cukup kejam di dunia Bulim.
Dia juga mendapat sebutan Raja tinju wanita, Dalam kalangan para pendekar wanita saat ini, tiada satu pun yang ilmu silatnya dapat menandingi yang satu ini.
"Sudah lama aku mendengar nama besar Lian toa moicu, Selama ini tidak ada jodoh untuk bertemu, Kalau hari ini sudah ber-kunjung, mengapa tidak masuk dan menemani Kiau Bu Suang mabuk bersama?"
Undang Cap sa tai po.
"Kiau Bu Suang! Setahu saya, meskipun kau menyembunyikan diri berpura-pura terserang penyakit, namun secara diam-diam kau sering keluyuran di luar untuk mengadu ilmu dengan para jago, Tentunya kau mempunyai maksud tertentu!"
Kata Lian lian. Hati Kiau Bu Suang kembali bergetar, Di dunia ini benar-benar tidak ada rahasia yang tertutup rapat.
"Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk ternama. Apa salahnya?"
Jawab Kiau Bu Suang menyembunyikan perasaan hatinya.
"Betul!"
Kata-katanya selesai, orangnya pun masuk.
Kiau Bu Suang hanya pernah mendengar nama besar It ki bwe.
orangnya bagaimana, dia sama sekali belum tahu.
Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa wanita yang sudah berusia di atas tiga puluh tahun ini masih begitu menawan dan menarik.
Seorang perempuan bila ingin mengangkat nama besar dalam dunia Bulim, selain ilmu silat yang tinggi, penampilan luar juga teramat penting.
Cara berpakaiannya seperti seorang gadis desa.
Dia mengenakan stelan celana panjang berwarna ungu.
sepatunya bersulam indah, warnanya sesuai dengan pakaiannya.
Di pinggangnya yang ramping terikat sehelai selendang warna putih, Di dalamnya terselip sebatang pedang panjang.
Setiap bergerak, bentuk tubuhnya melenggok dengan lemah gemulai, Mempesonakan siapa saja yang memandangnya, Bila dia tidak menyebut nama besarnya, pasti orang akan menduga dia masih seorang gadis remaja.
Ditambah lagi dengan bentuk payudaranya yang seakan menantang dan sepasang kaki yang panjang serta padat.
Semua syarat untuk disebut wanita cantik sudah terpenuhi olehnya, Dia melangkah masuk dengan gaya yang memikat.
"Bagaimana kau memanggilku tadi?"
Tanyanya dengan suara merdu merayu. Kiau Bu Suang segera bangkit dan menjura dengan hormat.
"Lian toa moicu!"
Panggilnya sekali lagi.
"Berapa usiamu sekarang?"
Tanya Lian lian.
Kiau Bu Suang mengira-ngira dalam hati.
Usia perempuan ini pasti hampir sebaya dengan dirinya, Malah mungkin lebih tua satu atau dua tahun, Dia sangat memahami perasaan seorang wanita.
Bila di depan seorang perempuan ia mengaku usianya lebih tua sedikit, bukan saja akan mendapat penghormatan, namun sudah pasti dapat meraih simpati.
"Cayhe baru saja melewati ulang tahun ketigapuluh lima, Saya rasa Lian toa moicu tidak mungkin lebih dari tiga puluh usianya,"
Jawab Kiau Bu Suang.
Dia menambah usianya sendiri tiga tahun lebih tua.
Lian lian tersenyum-senyum, Dia tidak menjawab pertanyaan itu.
Kiau Bu Suang mengajaknya duduk, Dituangkannya secawan arak dan disodorkannya ke hadapan It ki bwe.
"Malam panjang, lingkungan sepi, sungguh sulit menahan keinginan hati untuk menenggak secawan arak, Terima kasih untuk kunjungan Lian toa moicu,"
Katanya seramah mungkin.
"Jangan sungkan!"
Sahut Lian lian.
"Aku memberikan hormat dengan secawan arak,"
Kata Kiau Bu Suang.
"Aku sudah berhenti minum,"
Sahut Lian lian.
"Apakah ada alasan tertentu?"
Tanya Kiau Bu Suang dengan nada penuh perhatian.
"Hanya karena arak sering membuat orang salah tindak,"
Sahut Lian lian sambil tersenyum manis.
"Kalau Lian toa moicu kurang percaya pada cayhe, lebih baik jangan memaksakan diri,"
Kata Kiau Bu Suang dengan mimik agak kecewa.
"Kalau tidak percaya, aku tidak akan datang malam ini!"
Sahut Lian lian.
"Betul! Aku ingin mendengar maksud kunjungan Lian toa moicu malam ini,"
Kata Kiau Bu Suang menimpali.
"Aku ingin memperingatkan satu hal kepadamu, Namun kau belum tentu akan percaya!"
Sahut Lian lian.
"Jika aku belum tentu akan percaya, buat apa Lian toa moicu mengatakannya!"
Kata Kiau Bu Suang dengan nada sewajar mungkin.
Lian lian tersenyum manis sekali, Membuat siapa pun yang memandangnya akan yakin bahwa hatinya juga begitu manis dan baik seperti senyumannya.
Bila seseorang tidak dapat berbuat demikian, sekali bertemu dengan orang yang berpengalaman tawanya akan menjadi menakutkan.
"Bila memikirkan kepentingan kaum Bu-lim, menerima sedikit hinaan toh tidak menjadi persoalan,"
Kata Lian lian.
"Terima kasih, Cayhe mengerti sekali perasaan Lian toa moicu,"
Sahut Kiau Bu Suang.
"Lebih baik kita saling berterus terang,"
Kata Lian lian selanjutnya.
"Dengar-dengar kekasihmu mempunyai hubungan dengan sebilah papan gilasan.,,."
Kata Lian lian.
Kiau Bu Suang merasa susah untuk tidak mengakui, karena lawan telah yakin baru berani bertanya, dia pasti sudah menyelidiki persoalan dirinya dengan seksama.
Kata-kata sebilah papan gilasan sungguh tidak sedap didengar.
Apalagi bila mengatakan kekasih Kiau Bu Suang bermesraan dengan orang yang jauh lebih tua dan bertubuh seperti papan gilasan, Sungguh merendahkan derajatnya saja!
Namun, bila kekasihnya bergendakan dengan seorang kantong nasi, yang hidupnya hanya bergendakan dengan perempuan saja, apakah perasaannya akan lebih nyaman?
"Kau tidak berani mengakuinya?"
Desak Lian lian setelah sekian lama tidak mendapat jawaban.
"Aku belum mengatakan apa-apa bukan?"
Kiau Bu Suang membalikkan perkataan dengan cerdik.
"Kalau begitu... berarti kau telah mengakuinya?"
Kata Lian lian.
"Bolehkah aku tahu maksud Lian toa moicu menaruh perhatian pada persoalan ini?"
Tanya Kiau Bu Suang. Dia mengisi cawan araknya sampai penuh, Dengan sekali teguk dikeringkannya sekaligus.
"Demi rencana besar keselamatan Bu-lim,"
Jawab Lian lian.
"Seekor ular berkepala dua dan menclok di sana sini bisa ada hubungannya dengan keselamatan Bulim?"
Tanya Kiau Bu Suang kurang percaya. Sikap kenes Lian lian lenyap seketika, Dia memandang laki-laki itu dengan tatapan menusuk.
"Tentu bisa! Kau toh tahu dari mana asalnya, juga kau pasti tahu perintah apa yang harus dituruti olehnya dengan berada di samping papan gilasan itu,"
Kata Lian lian. Kiau Bu Suang tidak bersuara. Keadaan mereka seperti dua orang buta. Sebelum melihat jelas tujuan lawannya, mereka merasa lebih baik banyak mendengar, kurang bicara.
"Toa Tek To Hun pasti akan kembali ke Fu sang. Badai yang ditimbulkan olehnya telah berlalu,"
Kata Lian lian selanjutnya.
"Apakah maksud Lian toa moicu bahwa akan datang lagi badai yang lebih dahsyat dari yang ditimbulkan oleh Toa Tek To Hun?"
Tanya Kiau Bu Suang dengan pandangan menyelidik.
Lian lian menganggukkan kepalanya.
Untuk sesaat rumah kecil itu menjadi sunyi.
Kiau Bu Suang tidak mengucapkan apa-apa.
Lian lian juga tidak bersuara, Keduanya beranggapan lebih baik mendengarkan pihak lainnya lebih dulu, Akhirnya Kiau Bu Suang terpaksa mengalah.
"Siapa pemegang peran utama dalam badai dahsyat yang akan timbul kali ini?"
Tanyanya.
"Bagaimana kalau kukatakan pemegang peran utama adalah kekasihmu dan papan gilasannya?"
Tanya Lian lian ingin melihat reaksi Kiau Bu Suang. Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.
"Tidak mungkin!"
Katanya.
"Apa yang kau maksud dengan tidak mungkin? Apakah gabungan kedua orang itu tidak bisa menerbitkan badai dahsyat bagi Bulim? Atau mereka sama sekali tidak mungkin bekerja sama?"
Tanya Lian lian.
"Aku tahu jelas keadaan kedua orang itu. Mereka tidak mungkin bekerja sama,"
Sahut Kiau Bu Suang yakin. Lian lian mengangkat bahunya.
"Tapi aku ingin memberitahukan bahwa kedua orang ini terlibat dalam asmara yang membara,"
Ejek perempuan itu.
"Maksudmu mereka berkasihan?"
Tanya Kiau Bu Suang dengan perasaan tidak tenang.
"Justru karena kau menganggap dia seperti sebilah papan gilasan dan umurnya sudah tua, maka kau tidak percaya kalau dia masih sanggup membuat seorang perempuan bergairah!"
Kiau Bu Suang seperti disadarkan kembali, hubungan antara laki-Iaki dan perempuan tidak dapat dinilai dari usia keduanya, juga tidak boleh diukur dari bentuk tubuhnya.
Keperkasaan seorang tua malah kadang-kadang lebih menakjubkan, tentu mereka tidak akan mengatakannya kepada orang lain dengan terus terang, apalagi hubungan mereka tidak resmi.
Kiau Bu Suang hanya tidak tahu bagian mana dari orang tua itu yang melebihinya?
pikirannya segera terpusat pada kekayaan, karena harta memang merupakan senjata yang paling ampuh untuk menarik perhatian seorang perempuan.
"Lian toamoicu.... Mengapa tidak mengatakan secara terus terang maksud kedatangan kau kali ini?"
Desak Kiau Bu Suang yang pikirannya mulai kacau. Lian lian menganggukkan kepalanya, Dia mengerling penuh arti.
"Kalau kau dan aku bekerja sama, tentu akan meredakan badai dahsyat yang akan mereka timbulkan,"
Katanya.
Kiau Bu Suang sama sekali tidak menyangka kedatangannya untuk bekerja sama, Kalau dinilai dari daya tarik, Lian lian penuh pesona, Jauh melebihi kekasihnya itu, Hanya usianya yang lebih tua sedikit tapi bagi Kiau Bu Suang, hal itu sama sekali bukan persoalan.
Dalam ilmu silat, dia merasa kekasihnya juga tidak mungkin lebih unggul dari Lian lian.
Namun selama ini, kekasihnya terus berada di samping seorang pendekar besar.
Apakah ilmunya telah maju pesat?
Kiau Bu Suang belum dapat menerkanya, Oleh sebab itu, dia menatap langit luas dengan perasaan meluap.
Paling tidak, bertambah seorang kekasih adalah hal yang menyenangkan.
Lian lian seperti dapat menduga isi hati-nya.
"Kalau kau memang berniat bekerja sama, kau harus melakukannya dengan tulus. Sepasang kaki tidak boleh menginjak dua buah perahu, seorang laki-laki tidak boleh mempunyai dua orang kekasih!"
Katanya.
"Lian toa moicu.... Dari jauh kau datang untuk bekerja sama denganku. Hal ini membuktikan pandanganmu tentu menganggapku istimewa. Bagaimana mungkin aku berani melakukan hal yang tidaktidak?"
Sahut Kiau Bu Suang dengan nada merayu.
"Meskipun kekasihmu menipu si tua bangka dengan cinta palsu, namun biar bagaimana pun perasaanmu terhadapnya akan terganggu pula..."
Kata Lian lian.
Kiau Bu Suang terpaksa menganggukkan kepalanya.
Dia merasa tidak boleh terlalu banyak berdusta dengan perempuan yang satu ini, Dia adalah orang yang sangat cerdik, kebohongannya pasti akan terlihat.
"Aku beritahukan kepadamu, Dalam hati kekasihmu itu ada harapan bahwa hanya bekerja sama dengan si papan gilasan baru bisa menggetarkan dunia persilatan Bila usahanya telah berhasil, dia akan mencari akal mengenyahkan si tua. Setelah itu, dia akan mencari jalan lain lagi untuk membasmi dirimu, Dia akan menikmati segala kesenangan dan kekuasaan seorang diri!"
Kata Lian lian menjelaskan.
"Bagaimana kau begitu yakin?"
Tanya Kiau Bu Suang kurang percaya.
"Karena rahasiamu sudah bocor. Caramu mengadu ilmu juga terlalu kasar. Kau bisa memukul rumput mengejutkan ular,"
Kata Lian lian.
Kiau Bu Suang merasa dirinya ditelanjangi oleh Lian lian, setiap gerak-geriknya selama ini dapat diketahui dengan jelas.
Hal ini makin membuktikan dugaannya bahwa perempuan itu telah mengadakan penyelidikan sejak lama.
Bukan hanya persoalannya saja yang dapat diketahui oleh perempuan itu, bahkan urusan kekasihnya pun sama juga.
Rasanya pendapat Lian lian tentang kekasihnya memang tidak berlebihan Setelah usahanya berhasil, dia pasti akan dicampakkan.
"Lian toa moicu.... Cayhe tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih atas pemberitahuanmu,"
Kata Kiau Bu Suang, Dia berdiri dan menjura dalam-dalam kepada perempuan itu.
"Sebagai rekan kerja sama, kau tidak perlu mengucapkan terima kasih. Aku mengatakannya, juga untuk kebaikan kita ber-dua. Namun ada satu hal yang harus kau ingat, bila kau bertemu dengan kekasihmu itu, kau tidak boleh menunjukkan kecurigaanmu, Malah kau harus pandai bersandiwara agar rahasianya dapat kau ketahui. Tentu termasuk rahasia si papan gilasan itu", kata Lian lian menasehati.
"Aku akan melakukannya dengan baik,"
Sahut Kiau Bu Suang. Lian lian mengangguk dan tersenyum manis.
"Bu Suang! Tuangkan secawan arak lagi,"
Katanya sambil mengeringkan cawan yang berada di hadapannya.
Laki-laki itu cepat-cepat memenuhi cawannya kembali Lian lian mengangkat cawan tersebut dan dibenturkannya ke cawan di tangan Kiau Bu Suang, Mereka seperti menggunakan arak itu sebagai tanda untuk bekerja sama.
Desiran angin di musim semi menyemarakkan suasana dalam rumah itu.
Kiau Bu Suang sering menganggap bahwa penyelesaian sebuah persoalan besar sangat berhubungan dengan seorang yang sedang menjalin kasih.
Kedua-duanya ingin penyelesaian yang tuntas, dan tentunya tidak boleh diabaikan setengah jalan.
Karena ingin memperalat perempuan yang satunya lagi, maka dia rela mencampakkan Bwe Mei.
Tiba-tiba dia menggenggam tangan Lian lian, Dia hampir tidak percaya bahwa pada suatu hari dia bisa menggenggam tangan ini.
Padahal tangan ini merupakan tangan yang paling indah, paling halus dan otomatis paling lihai.
Dia percaya, kecuali dirinya, mungkin tidak ada laki-laki kedua yang bisa menggenggam tangan itu tanpa penolakan dari pemiliknya.
Kiau Bu Suang merasakan kedudukannya yang menjadi lebih tinggi setingkat Atau selama ini memang dia sendiri terlalu merendahkan kemampuannya?
Bila tidak, mana mungkin perempuan sehebat It ki bwe akan membiarkan tangannya disentuh...?
Dan terhadap pemilik tangan yang sudah mengangkat derajatnya, dia merasa berhutang budi, Tentu saja untuk mendapatkan bagian yang lainnya tidak akan menjadi masalah.
Kalau membandingkan Lian lian dengan kekasihnya yang lama, rasanya perbedaan mereka terlalu banyak, Sudah pasti perempuan ini yang akan meraih kemenangan bila dibandingkan satu persatu.
Dan dia yakin Lian lian tidak akan berhubungan dengan dua orang laki-laki sekaligus, meskipun kekasihnya yang lama melakukan semua demi rencana mereka, sedangkan bagi laki-laki seperti Kiau Bu Suang, rencana yang telah diatur adalah persoalan yang lain, biar bagaimana pun, mendengar perempuan milik sendiri menjalin asmara dengan laki-laki lain bahkan sampai pada tahap tempat tidur, tentu tidak menyenangkan sebetulnya Kiau Bu Suang bukan tidak tahu adanya kemungkinan itu.
Namun cara Lian lian memberitahukannya tadi membuat perasaannya sedikit marah.
Dari nada suara perempuan itu ia seakan ingin menekankan bahwa kekasih lamanya menikmati apa yang terjadi di tempat tidur bersama sebilah papan gilasan tersebut.
Lian lian menggeser tubuhnya sedikit Tangan laki-laki itu dipindahkannya.
Dia berdiri dan menatap dengan pandangan tajam.
"Jangan lupa!"
Katanya.
"Aku mana berani lupa? Kapan kau akan datang lagi?"
Tanya Kiau Bu Suang..
"Bila ada keperluan di mana aku harus datang, aku pasti sudah berada di sini,"
Sahut Lian lian datar.
Tanpa mengatakan apa-apa, Kiau Bu Suang memandangi kepergiannya....
Bayangannya sudah berlalu, selama ini dia tidak pernah merasa pesimis, Sejak mendengar perkataan Lian lian tadi, perasaan yang belum pernah timbul menjadi ada seketika.
Derajatnya memang terasa agak tinggi dari sebelumnya, namun apakah dengan derajat yang lebih tinggi saja, semuanya akan tercapai?
Dia tidak tahu.
Matanya menerawang menembus kegelapan malam, Apakah perasaan menggenggam tangan perempuan itu dan memeluk bagian lainnya sama?
Kiau Bu Suang tersenyum samarsamar.
Jauh dari keramaian...
ditemani lampu yang redup, dalam sebuah kedai kecil terlihat dua orang manusia...
seorang tua, seorang lagi muda.
Yang tua terlihat sudah renta.
sedangkan yang muda, di bawah cahaya lampu yang redup terlihat masih remaja.
Mata orang tua itu agak terpicing, seperti silau terhadap sinar lampu.
Tapi kalau mata itu terbuka, ternyata lebih berbahaya dari sinar lampunya sendiri, Mereka adalah Peng Chow Ceng dan Chow Ai Giok, kakek serta cucu.
"Yaya.... Tampaknya rentetan pembunuhan Toa Tek To Hun telah berhenti,"
Kata cucunya.
"Hong Be dan adik seperguruanmu, Bok lang kun telah mati. Mereka menjadi setan penasaran, Dan yang membunuh ternyata bukan Toa Tek To Hun. Apa bedanya antara berhenti atau tidak?"
Sahut Peng Chow Ceng.
"Siapakah orang itu?"
Tanya Chow Ai Giok.
Peng Chow Ceng tertawa-tawa.
Tampangnya bahkan lebih jelek dari anak kecil yang sedang merengek, Chow Ai Giok tentu tidak akan bertanya lagi.
Setiap sang kakek memperdengarkan tawa semacam ini, pasti dia tidak akan banyak bicara lagi, Suasana dalam rumah sunyi sekali Peng Chow Ceng berjalan mondar mandir.
Kemudian dia menuju ke pintu.
"Aku pergi sebentar. Kau jangan meninggalkan rumah ini,"
Kata orang tua itu memecahkan keheningan.
Chow Ai Giok tidak menjawab, bila kakeknya memerintahkan agar dirinya jangan keluar, dia pasti tidak berani kemana-mana.
Tetapi meskipun dia tidak keluar dari kedai itu, dia dapat hilir mudik di dalamnya.
Dia melangkah menuju sebuah rumah kecil di belakang kedai tersebut.
Belum lagi tangannya mendorong pintu tersebut, suara di dalam sudah terdengar.
"Siapa?"
"Aku,"
Sahutnya.
Dia mendorong pintu dan masuk ke dalang, ternyata kedai itu merupakan sebuah penginapan kecil Di dalamnya terdapat beberapa buah kamar yang dibagi dalam beberapa bagian, Chow Ai Giok dan kakeknya menempati bagian depan.
Dan tempat yang ditujunya sekarang merupakan bagian belakang.
Lampu penerangan dalam kamar itu juga redup.
Lampu itu dipadu dengan kamar yang kecil sungguh serasi Bagi orang yang tidak mempunyai uang banyak, segera dapat mengetahui bahwa hanya dengan satu buah uang perakan, kita sudah dapat menginap semalaman.
Di atas tempat tidur duduk seorang nona, wajahnya lebih cantik dari Chow Ai Giok, Dia memperhatikan nona tersebut dengan seksama, Bila seorang yang berotak cerdas, bertemu dengan seorang pintar lainnya, pasti masih ada perasaan saling kagum.
Namun bila seorang gadis bertemu dengan gadis lainnya yang juga sangat cantik, perasaan yang ada adalah iri, tetapi bila dua orang gadis berwajah buruk bertemu, mereka segera akan menjadi sahabat karib.
"Rupanya engkau, bangsa siluman!"
Kata gadis di atas tempat tidur. Chow Ai Giok tertawa dingin.
"Bwe Mei, tampaknya dewa keberuntungan makin enggan mendekatimu!"
Katanya.
"Aku?"
Tanya Bwe Mei tidak mengerti.
"Ternyata engkau juga memilih penginapan kecil ini,"
Kata Chow Ai Giok ketus.
"Kalau memang keberuntunganku makin jauh, lalu apa urusanmu?"
Tanya Bwe Mei dengan nada ketus pula.
"Dua orang perempuan boleh berusaha bersama, boleh membuka toko bersama, Tapi belum pernah aku dengar kalau dua orang perempuan mempunyai seorang suami yang sama,"
Kata Chow Ai Giok kembali.
"Memang kenyataan ini jarang ada,"
Sahut Bwe Mei yang kini justru tersenyum-senyum.
"Oleh sebab itu, aku ingin membunuhmu!"
Kata Chow Ai Giok.
"Bila kau benar-benar ingin membunuhku... tetap akan kuucapkan terima kasih kepadamu!"
Sahut Bwe Mei tenang. Chow Ai Giok agak terpana, Sekejap kemudian dia tertawa dingin.
"Meskipun kau mengatakannya tanpa menunjukkan kekhawatiran, tekadku untuk membunuhmu tetap tidak akan berubah!"
Kata Chow Ai Giok dengan nada yang lebih tajam. Bwe Mei menghela nafas.
"Semakin kau ingin membunuhku, hati ini juga semakin senang. Mana mungkin kau bisa mengerti persoalan ini?"
Sahutnya.
"Aku memang tidak mengerti, Tapi aku tahu kau pasti mendapat pukulan batin sehingga segan untuk hidup lebih lama lagi."
Kata Chow Ai Giok dengan nada sinis.
"Memang hidupku sedang terancam bahaya, namun ada seorang laki-laki yang baik sekali terhadapku. Kalau kau mengatakan hidupku sudah membosankan, maka kau salah besar,"
Sahut Bwe Mei. Chow Ai Giok mendengus.
"Siapa laki-laki itu?"
Tanyanya dengan nada penasaran sekali.
"Siapa lagi kalau bukan dia!"
Sahut Bwe Mei datar.
Rasa terkejut tersirat di wajah Chow Ai Giok, Dia boleh mengingkari bahwa perempuan mana pun tidak akan lebih cantik daripada dirinya, Namun di hadapan Bwe Mei dia tidak dapat tidak harus mengakui kecantikan perempuan ini.
"Kalau kau tidak melempar dompet pemberianku ke dalam laut, mana aku tahu dia begitu setia?"
Kata Bwe Mei seperti kepada dirinya sendiri. Biasanya kaum perempuan tidak menganggap perkataan seperti itu lebih tajam dari sebilah pisau.
"Aku tidak percaya kalau dompet itu masih bisa memancarkan keharuman setelah terjatuh ke dalam laut!"
Kata Chow Ai Giok dengan bibir mencibir.
"Ada semacam keharuman yang tidak dapat tercium oleh hidung, Harus menciumnya dengan hati yang paling dalam,"
Sahut Bwe Mei tenang tapi terasa menusuk pendengaran Chow Ai Giok.
"Jangan bangga dulu! Biar mati pun aku tetap tidak akan mempercayai kata-kata-mu!"
Kata Chow Ai Giok ketus.
"Membuat orang semacam kau mengerti persoalan ini, rasanya lebih sulit dari pada meminta seekor unta menusukkan benang ke lubang jarum, Coba kau tebak bagaimana kelanjutannya?"
Tanya Bwe Mei.
"Tidak usah ditebak lagi. Dompetmu pasti sudah tenggelam ke dasar lautan,"
Sahut Chow Ai Giok dingin, Dia mengira Bwe Mei hanya ingin memanaskan hatinya. Bwe Mei tertawa terkekeh-kekeh.
"Bila dia tidak terjun ke dalam laut, apalagi dia memang tidak bisa berenang dan hampir mati tenggelam, Bagaimana aku bisa tahu perasaan hatinya kepadaku?"
Katanya. Mata Chow A Giok membelalak.
"Dia benar-benar terjun ke laut hanya untuk mengambil dompetmu?"
Tanyanya dengan nada kurang percaya.
"Tentu benar! Bila tidak, mana mungkin dia hampir mati tenggelam?"
Sahut Bwe Mei dengan sebuah senyuman manis.
"Lebih baik dia mati tenggelam saja!"
Kata Chow Ai Giok kesal.
"Tapi Kwe Po Giok malah menolongnya,"
Sahut Bwe Mei.
"Jangan senang dulu, Dia mati aku tetap ingin menikammu sekali Dia hidup, juga sama."
Kata Chow Ai Giok dengan mata membara.
Begitu kata-katanya selesai, pedangnya benar-benar menikam ke depan.
Bwe Mei meloncat bangun dari tempat tidur, pedangnya belum dihunus, serangan Chow Ai Giok telah luput dari sasaran.
Mereka seakan tidak sadar bahwa selama ini mereka sama-sama menyembunyikan kepandaian masing-masing.
Saat ini mereka merasa tidak merasa perlu menyembunyikan kepandaian lagi, semua ilmu yang telah dipelajari segera dikeluarkan.
Mereka saling menyerang dengan telengas, pertarungan mereka bahkan lebih hebat daripada membalaskan dendam bagi kematian seorang ayah.
Chow Ai Giok merubah gerakannya menyerang dua kali, Bwe Mei tidak kalah, Dia juga mengganti jurus yang lain untuk mengelak dari dua serangan gadis tersebut, kemudian dia memutar badannya dan menghantam ke depan, serangan itu juga luput Chow Ai Giok tampak terkejut.
"Ternyata kau bukan seorang Bubeng siau cut!"
Katanya.
"Sama! Sama!"
Sahut Bwe Mei sambil menghindar dari serangan lawannya.
"Sayangnya kau tidak pernah mengetahui asal usulku, kecuali aku mengatakannya kepadamu!"
Teriak Chow Ai Giok menyombongkan diri. Bwe Mei tertawa terkekeh-kekeh, Dia tidak mau kalah dalam berdebat.
"Kalau kau bisa mengetahui asal usulku, kau baru terhitung hebat!"
Katanya.
"Biarpun aku mengatakannya kepadamu aku tidak takut Kau toh tidak dapat meninggalkan tempat ini hidup-hidup!"
Bentak Chow Ai Giok.
"Mungkin!"
Jawab Bwe Mei.
"Dengarkan baik-baik. Kakekku adalah susiok dari Bok lang kun. Orang itu saja ilmunya sudah jarang ada tandingannya. Dapatkah kau bayangkan sampai di mana tingkat kepandaian yaya?"
Kata Chow Ai Giok.
Ucapan ini rupanya cukup menimbulkan guntur dalam hati Bwe Mei.
Bukan hanya dia yang tidak menyangka, bahkan semua para jago Pek To di Bulim juga tidak akan mengira kalau Peng Chow Ceng adalah Elang salju Chow Sek ki.
Nama Elang salju sangat terkenal di luar perbatasan, malahan sampai ke wilayah Barat.
Tetapi belum pernah terdengar kabar bahwa orang ini datang ke daerah Tionggoan.
Rasa terkejut Bwe Mei ditahan sebisa mungkin, Dia berlagak wajar.
"Nama Elang salju memang cukup terkenal, tapi toh hanya nama kosong saja!"
Katanya.
"Apa maksudmu?"
Tanya Chow Ai Giok dengan suara dingin.
"Kemungkinan besar dia sudah terlalu tua untuk menjadi seorang pendekar. Buktinya kematian keponakannya, Bok lang kun, di tangan manusia bertopeng yang menyamar sebagai Toa Tek To Hun didiamkannya saja, Mengapa dia tidak berani menunjukkan diri dan membalaskan dendam Bok lang kun?"
Kata Bwe Mei sambil mencibir bibir.
"Apa yang kau katakan? Bok lang kun mati di tangan orang yang menyamar sebagai Toa Tek To Hun?"
Tanya Chow Ai Giok terkesiap.
Bwe Mei baru sadar bahwa dirinya telah kelepasan bicara, Hal seperti ini lebih baik jangan cepat-cepat disebarluaskan, Orang itu akan semakin tidak mengampuni dirinya.
Namun setelah direnungi kembali, mungkin dia dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengadu domba kedua pihak.
Bukankah dirinya yang akan mendapat keuntungan...?
Chow Ai Giok bertanya kepada Bwe Mei.
Namun tangannya tidak berhenti menyerang.
pedangnya berkelebat ke kiri dan kanan, Dalam gerakannya banyak terdapat perubahan-perubahan yang aneh.
Bwe Mei tidak pernah melihat serangan seperti itu sebelumnya penerangan sudah padam.
Kamar itu kecil pula.
Ruang gerak semakin sempit.
"Katakan dengan jelas! Siapa yang menyamar sebagai Toa Tek To Hun lalu membunuh Bok lang kun?"
Bentak Chow Ai Giok. Bwe Mei menggeser tubuh untuk menghindari serangan lawannya.
"Cap sa tai po Kiau Bu Suang!"
Jawabnya.
Chow Ai Giok terkejut.
Nama orang ini memang sangat terkenal Tetapi mengapa Kiau Bu Suang ingin membunuh Bok lang kun?
Dia tahu bahwa orang ini memang mungkin bisa membunuh adik seperguruannya itu.
Umur Bok lang kun memang jauh lebih tinggi dari Chow Ai Giok, Namun kakeknya adalah susiok Bok lang kun, sedangkan dirinya sendiri adalah murid sang kakek, jadi kalau ditilik dari silsilah tersebut Kedudukannya lebih tinggi setingkat dari Bok lang kun.
Dia menyebutnya Sute.
Dia tidak berhenti menyerang, namun otaknya juga terus berpikir Apakah Kiau Bu Suang mempunyai niat tertentu dengan membunuh Bok lang kun?
Apakah dia ingin merebut kedudukan Hek to Bulim bengcu?
Lalu mengapa sampai saat ini belum terdengar orang itu memproklamirkan diri?
Persoalan tentu tidak semudah itu.
Para jago golongan Hek to yang ilmunya lebih tinggi dari Kiau Bu Suang masih banyak, mereka semua cukup pantas diangkat jadi Hek to Bulim bengcu, Lagipula bila Kiau Bu Suang benar-benar berani mengangkat dirinya sendiri, tentu dia harus memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh perbuatannya itu!
Satu hal lagi yang penting adalah mereka semua sedang merasa takut karena adanya Toa Tek To Hun...
Kiau Bu Suang juga rasanya tidak akan setolol itu merebut kedudukan Bulim beng-cu pada saat ini?
Chow Ai Giok makin mendesak Bwe Mei.
"Katakan! Mengapa Kiau Bu Suang harus membunuh Bok lang kun?"
Tanyanya.
"Mengadu ilmu!"
Jawab Bwe Mei sambil menghindarkan diri. Dia sudah hampir tidak mampu mengembalikan serangan, Dia terlihat kelabakan.
"Aku tidak percaya!"
Bentak Chow Ai Giok.
"Aku memang tidak mengharapkan kau akan percaya!"
Sahut Bwe Mei tak mau kalah.
"Mengapa dia harus mencari Bok lang kun untuk mengadu ilmu? Bukankah orang lain masih banyak?"
Tanya Chow Ai Giok makin penasaran.
"Tanya saja kepada Kiau Bu Suang,"
Sahut Bwe Mei. Dia sendiri juga tidak tahu kejadian yang sebenarnya, Bagaimana dia dapat mengatakan maksud orang itu? "Kau pasti tahu tempat tinggal Kiau Bu Suang!"
Kata Chow Ai Giok.
"Tahu sedikit.... Tapi aku lebih suka menjawab pertanyaan orang yang sopan,"
Sahut Bwe Mei.
"Orang she Bwe. Hari ini saat apesmu tiba. Sebentar nanti aku akdn menyeretmu ke hadapan Yaya, aku tidak takut kalau kau berkeras tidak mau mengatakannya."
Kata Chow Ai Giok dengan suara dingin.
Dia menggunakan gerakan yang aneh dan cepat.
Bwe Mei percaya bahwa gadis ini benar-benar adalah cucu Elang salju, Cara turun tangannya cukup membuktikan hal tersebut.
Bila keadaannya begini terus, rasanya belum sampai tigapuluh jurus dia akan rubuh di tangan gadis itu.
Bwe Mei tertawa dingin.
"Sebagai jago yang ilmunya sangat tinggi manusia seperti Elang salju rasanya sudah tidak banyak, sementara bangsa kita di bunuh habis-habisan oleh pembunuh bayaran dari Fu sang, ternyata dia tidak berbeda dengan para pengecut lainnya. Malah mengganti nama menjadi Peng Chow Ceng.... He he he.... Aku yakin dia juga tidak berani mengadapi Toa Tek To Hun gadungan!"
Katanya dengan maksud menyindir.
Chow Ai Giok tidak menjawab.
Tampaknya dia ingin merubuhkan Bwe Mei dalam lima jurus lagi, Bwe Mei memandang sekitar kamar itu.
Dia berusaha mencari jalan untuk keluar ke ruangan depan.
Chow Ai Giok menghalanginya.
Menghadang di depan pintu agar dia tidak dapat meloloskan diri.
Akhirnya Chow Ai Giok mengganti gaya serangannya, jurus yang dikeluarkan malah lebih dahsyat dan aneh dari yang sebelumnya, Dia menikam secara kilat ke arah dada Bwe Mei.
"Sayang sekali laki-laki yang mau mengorbankan nyawa untuk dompetmu itu tidak datang untuk menolongmu!"
Teriaknya sinis.
"Kalau kau bisa membunuhku, bibir ini tetap akan tersenyum menjelang kematian, Betapa manis membayangkan biar harus mati, tapi ada seorang laki-laki yang akan mengenang kita untuk selamanya,"
Sindir Bwe Mei kembali.
"Dan kalau kau sudah mati, aku akan tertawa tergelak-gelak sebagai pengganti buah-buahan dan hio wangi!"
Sahut Chow Ai Giok tak mau kalah.
Saat itu dia berdiri membelakangi pintu kamar.
Tiba-tiba ada sebuah bayangan hitam membuka pintu dan berdiri tegak.
Kalau saja reaksi Chow Ai Giok agak lambat, pasti dia sudah mengalami kerugian besar.
Begitu tahu orang itu menyerangnya, dia segera menggeser tubuh dan membiarkan Bwe Mei.
Sebetulnya gadis itu pula yang lebih dulu melihat bayangan manusia di belakang Chow Ai Giok, Ketika tubuh lawannya menggeser dan perhatiannya terbagi, Dia segera menerobos ke arah ruangan depan dan meloncat sejauh tiga depa.
Tepat pada saat itu, Chow Ai Giok berdiri berhadapan dengan manusia bertopeng itu.
Bwe Mei tidak mau kehilangan kesempatan "Chow Ai Giok....
Dia adalah Cap sa tai po Kiau Bu Suang!"
Teriaknya memberitahukan, secepat kilat tubuhnya melesat dan lari meninggalkan tempat tersebut.
Kiau Bu Suang sengaja keluar untuk mencari Bwe Mei.
Dia tahu gadis itu tidak akan dapat dibujuknya, jalan terbaik adalah membunuhnya.
Ketika dia lewat di penginapan tersebut, dia mendengar suara pertengkaran dua orang gadis.
Dia segera mengenali suara salah satu gadis itu adalah Bwe Mei.
Dia menganggap dirinya sedang dikejar keberuntungan Pertama tanpa diduga, It ki bwe mengajaknya kerja sama.
Kedua, tidak perlu terlalu susah, dia berhasil menemukan Bwe Mei.
Dia yakin kesempatan yang diusahakan oleh manusia cerdas lebih banyak daripada kebetulan saja.
Dia harus berhasil menangkap Bwe Mei.
Yang tidak tersangka justru gadis itu juga sangat cerdik, Dia berteriak dan gadis yang lain segera menghalanginya.
Kesempatan baik itu lalu digunakan Bwe Mei untuk kabur.
Jilid .
10 Chow Ai Giok menyerang satu kali, Dari cara manusia bertopeng itu mengelakkan diri, dia langsung dapat mengetahui kebenaran kata-kata Bwe Mei.
Orang ini memang mempunyai kesanggupan untuk membunuh Bok lang kun.
Tadinya Kiau Bu Suang menganggap, meskipun Bwe Mei sudah berteriak, dia pasti masih sanggup membunuh dulu gadis yang satu ini baru mengejar Bwe Mei.
Tidak tahunya dia mendapat kesulitan untuk menghadapi satu saja.
Kiau Bu Suang merasa terkejut sekaligus marah, Siapa orangnya yang dapat menggembleng gadis kecil ini sampai begini lihai?
Namun Kiau Bu Suang dapat membunuh Bok lang kun dalam delapan jurus saja.
ilmunya juga bukan sembarangan.
Meskipun kakek gadis itu menggembleng lebih dalam lagi, dia tetap masih bukan tandingan Kiau Bu Suang.
Dia ingin sekali mengetahui asal usul gadis ini.
Apalagi dia ingin cepat-cepat mengejar Bwe Mei.
Akhirnya Kiau Bu Suang merasa yang terakhir lebih penting, pedangnya yang aneh berkelebat dua kali, Chow Ai Giok sibuk menghindari diri, secepat kilat manusia bertopeng itu meloncat ke atas tembok dan menghilang.
Kedua orang ini memang belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Namun Chow Ai Giok percaya kalau dia memang benar Cap sa tai po Kiau Bu Suang.
Malam yang mencekam.
Angin bertiup kencang, Ombak bergulung tinggi, Titik air memercik, Di atas atau pun di tepi laut terlihat air bergelombang.
Di jalanan setapak pesisir pantai ada manusia yang sedang berjalan.
Bekas tapak kakinya terlihat jelas, begitu teratur dan rapi.
Tidak ada selisih sedikit pun pada setiap jaraknya, Orang yang tidak berlatih dengan keras, mana mungkin akan menghasilkan jejak seperti itu?
Tepat pada saat itu, di kegelapan muncul sebuah titik terang, cahayanya menari-nari karena hembusan angin, lagi-lagi sebuah lampu kristal yang indah....
Di samping lampu kristal tersebut ada sebuah kendi emas, dua buah cawan yang juga terbuat dari emas dan serenceng mutiara.
Toa Tek To Hun berjalan ke arah batu karang.
Thi Bian Jin juga menyambut dari balik bebatuan itu.
Topeng besi yang dikenakannya masih memperlihatkan sekulum senyum.
Toa Tek To Hun berdiri di hadapannya dan memperhatikan dengan mata tajam.
Mata Thi Bian Jin juga menelusuri seluruh tubuh Toa Tek To Hun.
Dari atas kepala sampai pada pedangnya yang telah kutung lalu kembali memandang wajahnya yang kaku tanpa perasaan.
"Siansing sudah mau pergi?"
Tanya Thi Bian Jin.
"Aku sebetulnya tidak boleh datang."
Sahut Toa Tek To Hun dingin. Waktu datang angin kencang, laut menghempas. Waktu berangkat pun tidak berbeda. Namun perasaan hati waktu datang dan berangkat justru berbeda jauh.
"Kalau tidak semestinya datang, semestinya tidak boleh pergi juga!"
Kata Thi Bian Jin dengan nada yang tak kalah dingin. Angin bergemuruh Ombak mengamuk.
"Apakah kau ingin menahan aku?"
Tanya Toa Tek To Hun dengan suara datar. Thi Bian Jin memperdengarkan suara seringai yang menyeramkan.
"Di kolong langit, hanya kau yang tahu siapa aku. Hanya kau yang tahu siapa yang mengundang kedatanganmu di tanah Tionggoan, Apakah aku harus meninggalkan sebuah mulut hidup untuk menyiarkan berita ini?"
Tanyanya.
Tiba-tiba Toa Tek To Hun tertawa tergelak-gelak.
Suara tawanya sangat menusuk telinga, Suara angin dan ombak terhapus oleh suara tawanya.
Dalam ingatannya, tidak ada orang yang pernah berkata begitu terhadapnya, Pasti tidak ada yang berani.
"Kau berani menahanku?"
Tanya Toa Tek To Hun.
"Aku sudah menduga bahwa kau akan mengira aku tidak berani. Hal ini disebabkan oleh karena kau menganggap rendah diriku, Setiap orang di dunia ini juga menganggap rendah derajatku!"
Kata manusia bertopeng besi itu.
Siapa pun tidak ingin dirinya dianggap rendah.
Namun kadang kala penghinaan yang kita harapkan justru tidak mudah didapat, Dihina orang sebetulnya merupakan cambuk untuk meraih kemajuan.
Bila kesempatan sudah tiba, pedang akan terhunus dan mengejutkan seisi dunia.
"Sebetulnya kau ingin mengadu domba antara diriku dan Tang hay sin sian, agar kami sama terluka, Dengan demikian kau tinggal meraih hasilnya. Sayangnya...", kata Toa Tek To Hun dengan nada mengejek.
"Siapa sangka dia sudah Cao hue jit mo sehingga dirimu tidak mendapat kerugian apa-apa,"
Lanjut Thi Bian Jin. Tiba-tiba manusia bertopeng besi itu mengeluarkan kutungan pedang Toa Tek To Hun. Dia mengibas-ngibaskannya ke udara. selamanya ada pepatah yang mengatakan.
"bila pedang ada, orangnya pun ada. Pedang putus, orangnya pun mati", Kata-kata ini terasa kebenarannya oleh Thi Bian Jin. Paling tidak begitulah tanggapannya tentang keadaan Toa Tek To Hun sekarang.
"Semua ini sudah dalam dugaanku sebelumnya."
Kata Toa Tek To Hun sepatah demi sepatah.
"Sayangnya, meskipun kau tidak mengalami apa-apa tapi pedangmu toh sudah putus!"
Sahut Thi Bian Jin.
Dia mengambil cawan yang terbuat dari emas dan diisi dengan arak, warnanya yang merah tampak seperti darah di bawah cahaya lampu kristal.
Semakin menggidikkan siapa pun yang memandangnya, Disodorkannya secawan ke arah Toa Tek To Hun.
"Apa pun yang akan terjadi, aku tetap ingin memberi hormat dengan secawan arak,"
Katanya. Toa Tek To Hun tertawa dingin.
"Aku pernah mengatakan bahwa aku tidak minum arak. Tionggoan Bulim tak akan habis begitu saja. Masih banyak jago yang tersisa, Apakah kau sudah memikirkan resikonya kelak?"
Tanya lakilaki berpakaian hitam itu sinis. Thi Bian Jin tidak menyahut Dia mengeringkan arak di tangannya.
"Apalagi di Tionggoan ada pendekar besar seperti Tang hay sin sian!"
Lanjut Toa TekToHun.
"Sayangnya dia sudah mati. Orang mati kan tidak mungkin hidup kembali!"
Kata Thi Bian Jin dengan perasaan bangga.
"Daerah Tionggoan luas sekali, Penduduknya pun banyak, Orang seperti Tang hay sin sian pasti mempunyai ahli waris yang dapat diandalkan. Mungkin hanya saatnya yang belum tepat untuk mengunjukkan diri,"
Sahut Toa Tek To Hun yakin.
Sekali lagi Thi Bian Jin tertawa tergelak-gelak, karena dia sudah memperhitungkan dengan matang, Begitu Tang hay sin sian mati, maka di dunia Bulim tidak ada orang yang dapat menandinginya lagi, Biar pun orang sakti itu mempunyai murid namun menunggu sampai muridnya berhasil melatih diri sampai taraf cukup tinggi, kepandaiannya sendiri sudah mencapai kesempurnaan.
Yang diharapkan justru keadaan seperti ini, Zaman yang sudah lewat boleh ada seribu pendekar kelas satu, namun zaman yang akan datang dunia hanya berada di bawah kuasanya seorang, Sekarang dia sudah mendapatkannya, maka dia harus menjaganya dengan baik.
Toa Tek To Hun sudah mencabut pedang kutung yang terselip di pinggangnya, Urat berwarna kehijauan mulai bertonjolan di tangan, Angin masih bertiup kencang, ombak menggulung semakin tinggi.
"Dengan kutungan pedang ini, aku masih sanggup membunuhmu!"
Katanya dengan suara berat.
"Kau salah! Kau menganggap diriku terlalu rendah. Sama halnya dengan orang-orang di Bulim yang menganggapku tiada, Kalian akan menyesal!"
Sahutnya.
Thi Bian Jin keluar dari balik batu karang.
Tiba-tiba Toa Tek To Hun menyerang dengan pedangnya, sinarnya yang berkilauan bagai cahaya bintang di langit.
Pada saat yang bersamaan Thi Bian Jin juga menghunus pedangnya.
Gerakan pedang bagaikan seekor ular yang mengamuk.
Gerakannya cepat dan aneh, perubahannya tidak tersangka, Dalam dua kali gerakan saja, Toa Tek To Hun sudah tertusuk oleh pedang itu tepat di jantung, Kenyataannya, memang orang-orang sudah menganggap rendah dirinya, Namun sabetan pedang Toa Tek To Hun juga sudah sampai di topeng manusia keji tersebut.
Tubuh Toa Tek To Hun limbung.
Sebelah tangan memegang pedang, sebelahnya lagi mendekap dada.
Dia memperhatikan manusia bertopeng besi itu.
Topeng itu terbelah tepat di tengahtengah.
Persis seperti buah semangka yang dibacok pisau, Rekahannya membuka, Sebuah wajah tersembul dari balik topeng tersebut.
Wajah ini telah menerima entah berapa banyak pujian dan sanjungan dari kaum Bulim.
Wajah yang selalu terlihat berwibawa dan bijaksana.
Wajah Fang Tiong Seng!
Kelak wajah ini akan membawa banyak kemalangan bagi dunia persilatan khususnya daerah Tionggoan.
Toa Tek To Hun terhuyung-huyung.
Dia masih mencoba bertahan sekuat tenaga, Darah menyembur dari lukanya di dada.
Tubuhnya pun rubuh ke tanah, Angin masih bertiup, Ombak menghantam batu karang, Suasana hening seketika.
-ooo0ooo-Bagian Empat Belas Malam musim semi, hujan masih turun rintik-rintik, Di jalan kecil yang sama, tidak terlihat seorang pun.
Tidak berapa lama kemudian, terlihat bayangan seorang laki-laki sedang berjalan menuju arah selatan.
Kepalanya tertunduk, entah apa yang menggelayuti pikirannya.
Mo Put Chi selalu melangkah dengan gaya seperti itu.
Langkah yang tergesa-gesa, pikiran terus berkecamuk.
Meskipun tidak ada urusan penting yang harus dikerjakannya, dia tetap berjalan dengan langkah lebar.
Beberapa hari ini dia telah menelusuri kota kecil tersebut, setiap gang pun tidak diabaikan olehnya, Dia ingin mencari pembunuh sutenya tersebut.
"Put Chi.... Kau benar-benar tidak dapat menyamai Put Ce. Kau harus belajar banyak darinya!"
Kata-kata itu terngiang di telinganya setiap saat.
Hatinya masih belum paham, namun dia memastikan dirinya tidak akan belajar dari Sun Put Ce.
Dia mengangkat kepalanya dan menatap ke kejauhan, Tiba-tiba dia melihat seseorang berdiri tegak di tengah jalan, Seakan memang sengaja menantinya dan menghadangnya di tempat itu.
Orang itu mengenakan sebuah topeng, Di kepalanya terikat secarik kain berwarna hijau pupus.
Dengan demikian, sulit baginya untuk menebak apakah laki-laki atau perempuan yang menghadang di tengah jalan tersebut.
Bahkan tua atau muda pun tidak dapat diterkanya.
Tidak ada satu orang pun yang boleh menghadang jalannya, Karena dia adalah Mo Put Chi.
Manusia yang tidak kenal kata kalah, Dan disebabkan oleh kemunculan orang aneh itu pula, hatinya terbersit sedikit harapan.
"Kau yang membunuh Suteku?"
Tanyanya dengan mata menatap tajam.
Orang itu tidak menjawab, kalau bukan angin malam menghembusi lengan bajunya dan menerbitkan suara berdesir, dia tentu akan menganggapnya sebagai sebuah patung.
Kekesalan di hati Mo Put Chi memang sudah penuh, dia merasa orang ini memang merupakan sasaran yang tepat sebagai wadah penampungan kemarahannya.
"Aku bertanya sekali lagi.... Bila kau tetap tidak menjawab, berarti kau telah mengakuinya? Apakah kau pembunuh Hu Put Chiu?"
Tanyanya garang. Manusia bertopeng itu bagai terpaku di tempat itu, Di benak Mo Put Chi terngiang kembali kata-kata gurunya.
"Kau memang tidak dapat menandingi Sun Put Ce... kau harus belajar banyak darinya... kau harus belajar banyak darinya."
Baca Juga: Golok Bulan Sabit 6
Baca Juga: Anak Berandalan 7