Eps 3 Sukma Pedang - Gu Long
Baca online Sukma Pedang - Gu Long
Cersil Sukma Pedang - Gu Long.
Sahut Kwe Po Giok.
"Kau tahu siapa aku?"
Tanya manusia kayu itu kembali.
"Kau adalah Bok lang kun!"
Sahut bocah tersebut tenang.
"Apakah kau juga tahu siapa Bok lang kun itu?"
Tanyanya.
"Saya tidak begitu jelas, saya hanya tahu bahwa Bok lang kun rasanya adalah seorang perampok besar yang membunuh orang tanpa mengedipkan niatanya,"
Sahut Kwe Po Giok.
Sun Put Ce hampir mengeIuh.
Anak ini terlalu berani!
Bok lang kun justru tertawa terbahak-bahak.
wajahnya tidak menunjukkan suatu perasaan.
Tawa keras semacam ini hanya dapat mendirikan bulu roma orang yang mendengarnya.
"Betul! Bok lang kun adalah seorang perampok besar yang membunuh orang tanpa mengedipkan matanya...."
Tawanya terhenti seketika, Dia menatap Kwe Po Giok tajam. Sejenak kemudian dia terlihat menarik nafas.
"Perampok besar seperti aku ini kalau mati, entah berapa banyak yang merayakannya, mengapa kau justru mengkhawatirkan keselamatanku?"
Tanya Bok lang kun dengan pandangan menyelidik. Tidak ada nada marah dalam suaranya, hal ini membuktikan bahwa Bok lang kun tidak dapat disamakan dengan manusia biasa.
"Karena saya merasa bagaimana pun perampok besar macam kau lebih baik daripada maling kecil yang tidak tahu malu itu!"
Sahut Kwe Po Giok tenang, ungkapan itu rasanya tidak berbeda jauh, Bok lang kun menatap Kwe Po Giok sekali lagi.
Dia juga melihat bungkusan di tangan bocah itu.
Untuk sekian lama dia tidak mengucapkan apaapa.
Sun Put Ce diam-diam mengumpulkan tenaga, Setiap waktu siap menghunuskan pedangnya.
"Kau juga datang untuk mengantarkan hadiah?"
Tanya Bok lang kun.
"Tadinya bukan, Sekarang iya!"
Sahut Kwe Po Giok.
"Kenapa?"
Tanya Bok lang kun agak heran.
"Karena namamu ternyata tidak kosong,"
Sahut Kwe Po Giok. Tenang sekali ia bicara.
"Kalau namaku memang tidak kosong, apakah sangat berarti untukmu?"
Tanya manusia kayu itu sembari tersenyum tipis. Kwe Po Giok menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja berarti.... Saya ingin meminta kau membunuh seseorang,"
Sahutnya.
"Bunuh siapa?"
Tanya Bok lang kun dengan alis berkerut.
"Sebetulnya dia tidak termasuk jenis manusia, dia adalah seekor binatang buas, Namanya Toa Tek To Hun!"
Sahut Kwe Po Giok dengan tampang marah. Bok lang kun memejamkan matanya, dia tak mengucapkan apa-apa lagi. Kwe Po Giok dan Sun Put Ce saling pandang sejenak.
"Apakah kau juga tahu orang ini? Kau juga takut kepadanya?"
Tanya Kwe Po Giok penasaran, Bok lang kun tetap tidak menjawab.
Sebetulnya pertanyaan yang sia-sia, sudah lama Bok lang kun tahu bahwa sekarang di dunia persilatan daerah Tionggoan sedang diguncangkan oleh nama Toa Tek To Hun.
Orang-orang yang dapat disebut jago kelas satu, tidak ada satu pun yang tidak khawatir dirinya akan menjadi incaran iblis sakti itu.
Setelah lewat sekian lama, Bok lang kun membuka matanya kembali.
Dia menyingkap baju untuk memperlihatkan baju dalamnya, Di antara perut sampai ke dada ada sebuah luka yang memanjang, Bekas luka itu tampaknya cukup dalam, Di bawah cahaya api unggun, bekas luka itu memancarkan warna keunguan.
Tentunya memberi kesan kekalahan atau kebanggaan bagi pemiliknya....
juga membuktikan bahwa orang yang dapat membuat luka seperti itu di tubuhnya bukan semacam manusia yang dapat ditemukan di mana saja.
"Tiga tahun yang lalu, aku pernah kalah di tangan seseorang, Juga karena belas kasihannya, aku masih bisa hidup sampai hari ini,"
Kata Bok lang kun dengan suara pilu.
Siapa pun tidak menyangka kalau manusia yang dari luar terlihat seperti sebuah patung kayu juga mempunyai perasaan.
Hanya saja, ada berapa orang yang mendapat kesempatan melihat keadaan seperti ini?
"Siapa orang itu?"
Tanya Kwe Po Giok dengan perasaan ingin tahu.
"Fang Tiong Seng taihiap!"
Sahut Bok lang kun.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce sama-sama terkejut, mungkinkah setelah rasa terkejut itu hilang, yang tersisa adalah kekecewaan tanpa batas?
"Namun, satu jurus pedang saja dari Toa Tek To Hun, Fang Taihiap tidak dapat menerimanya, apalagi diriku!
Aku mengeluarkan Sin Bok Ling justru untuk mengumpulkan berbagai macam hadiah yang nilainya tinggi.
Aku ingin meminta bantuan seorang pendekar tiada bandingan untuk turun tangan menghadapinya, Di dunia ini sekarang hanya ada satu orang yang dapat menghentikan perbuatan Toa Tek To Hun!"
Katanya menjelaskan.
Kwe Po Giok menarik nafas panjang, Sun Put Ce tetap tidak menunjukkan perasaan hatinya, manusia yang tidak pernah menunjukkan perasaan hatinya, mungkin juga merupakan manusia yang paling tertekan.
"Saya tahu siapa yang kau maksudkan justru karena kami tidak berhasil menemukannya, barulah kami mencari dirimu,"
Ujar Kwe Po Giok.
"Dia adalah dewa di atas lautan,"
Kata Bok lang kun.
"Apakah dewa juga menginginkan hadiah?"
Tanya Kwe Po Giok kurang percaya.
"Dewa tentu tidak memerlukannya, tapi untuk menemui dewa tersebut, kita harus menyediakan berbagai hadiah yang nilainya tidak terkira, karena hanya ada satu orang yang dapat membawa kita menemuinya, sedangkan orang itu adalah manusia yang mempunyai hobby mengumpulkan emas, permata dan benda-benda pusaka,"
Kata Bok lang kun menjelaskan "Siapa lagi orang yang satu ini?"
Tanya Kwe Po Giok segera.
"lkut aku!"
Kata Bok lang kun seraya berdiri.
-oooo0oooo Embun menetes di pagi hari.
Lautan tetap sepi.
Ombak di lautan beriak, Para nelayan di perkampungan itu belum ada yang terjaga.
Meskipun dusun ini porak poranda.
Meskipun rumah-rumah yang terbuat dari atap rumbai hampir rubuh, namun pada cuaca pagi yang begini sejuk, terasa ada juga keindahannya!
Mungkinkah di perkampungan nelayan yang begini melarat, akan ada seorang tokoh penting yang mau berdiam menetap?
Bok lang kun berjalan di depan, Kwe Po Giok mengikuti langkah kakinya, Sun Put Ce seperti biasanya tertinggal jauh di belakang Mereka berhenti di sebuah rumah kayu yang sudah reot, Rumah sejelek ini, masih tetap kalah dibandingkan dengan kandang anjing para hartawan.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce seperti sudah menjadi tingkah yang rutin saling memandang.
"Orang yang ingin kau ajak kami temui, tinggal di rumah ini?"
Tanya Kwe Po Giok kurang percaya. Bok lang kun tidak menjawab Dia hanya menganggukkan kepalanya. Pada saat itu, mau tidak mau, Kwe Po Giok dan Sun Put Ce agak mencurigai maksud Bok lang kun.
"Orang kepercayaan dewa mengapa bisa tinggal di tempat seperti ini?"
Tanya Kwe Po Giok.
Bok lang kun tetap tidak menyahut, dia mendorong pintu kayu tersebut.
Rumah sereot ini, rasanya akan rubuh kalau tertiup angin sedikit saja, Apa yang terdapat di dalamnya hampir bisa ditebak oleh Sun Put Ce dan Kwe Po Giok!
Di dunia ini ternyata banyak hal yang ada di luar dugaan manusia, Begitu pintu rumah reot itu terdorong, mata Kwe Po Giok dan Sun Put Ce terbelalak, mereka tidak meragukan Bok lang kun lagi.
Mereka malah meragukan pandangan mata mereka sendiri!
Mereka juga mulai mengagumi Bok lang kun....
Begitu pintu reot itu terbuka, terlihat jelas perbedaan antara dua dunia, di dalamnya terlihat banyak barang antik dan benda pusaka berserakan semuanya merupakan barang-barang yang belum pernah dilihat oleh Kwe Po Giok dan Sun Put Ce seumur hidupnya!
Dekorasi dan perabotannya juga mewah sekali, Kwe Po Giok yakin di istana raja pun belum tentu sebagus ini.
Mereka berdua bagaikan sedang berada dalam alam mimpi dan sampai saat itu masih belum terjaga.
Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah bangku besar seperti tempat tidur.
Emas permata berserakan seperti sampah, Di atasnya duduk seorang gadis berusia lima belas atau enam belas tahun.
Rambutnya panjang dengan poni di depannya.
Dia memakai gaun berwarna putih, wajahnya cantik sekali.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan setengah baya.
Wajahnya juga sangat manis.
Pada saat itu, siapa pun akan mengira dirinya telah bertemu dengan bidadari.
Hanya dewi yang bisa membangun sebuah rumah yang dari luar begitu jelek dan dalamnya melebihi istana, Apalagi dibangunnya pada sebuah perkampungan nelayan yang miskin serta porak poranda.
Juga hanya dewi yang bisa memiliki begitu banyak harta benda dan barang pusaka.
Kwe Po Giok menatap ke sekeliling ruangan itu, hatinya amat gembira.
Bok Iang kun berdiri dengan berpangku tangan, Sun Put Ce berdiri paling belakang, orangnya tidak bergerak, tapi bola matanya jelalatan.
Gadis berbaju putih yang duduk di atas hamparan emas permata itu adalah orang yang disebut Siau kiong cu.
walaupun dia entah putri dari mana, tapi setiap orang memandangnya akan percaya, bahwa hanya seorang putri saja yang bisa terlihat demikian anggun, cantik dan menawan.
Perempuan setengah baya yang berdiri di sampingnya merupakan pelayan yang selalu melayaninya, panggilannya adalah dayang Cui thian.
Bagi Kwe Po Giok, orang yang jelek selalu masih ada sedikit kelebihannya.
Entah pada alis, mata atau bentuk tubuh, sedangkan orang yang cantik juga pasti mempunyai kekurangannya.
Namun Siau kiong cu bagaikan seorang manusia tanpa cacat.
Biarpun dilihat dari sudut mana, tetap sedap dipandang, Sedangkan kelebihannya juga tidak mungkin ada pada diri gadis lain.
Dalam hati Kwe Po Giok tidak hentinya berseru, Thian!
Bagaimana di dunia ini ada gadis yang demikian sempuma!
Hanya melihat tampang gadis secantik ini, orang yang berhadapan dengannya tentu harus berdiri dengan hormat.
Seorang tokoh seperti Bok lang kun saja sudah sejak tadi menunjukkan sikap hormatnya.
"Siapa orang ini?"
Tanya Siau kiong cu dengan mata melirik ke arah Bok lang kun.
"Seorang perampok!"
Sahut dayang Cui thian.
"Perampok kecil atau perampok besar?"
Tanya gadis cantik itu sekali Iagi.
"Perampok besar,"
Sahut dayang Cui thian.
Tiba-tiba Siau kiong cu itu tertawa keras.
Suara tawa memang adalah musik termerdu di dunia.
Tawa dari Siau kiong cu bisa membuat tubuh orang yang mendengarnya menggigil.
Tidak perduli siapa pun.
Yang mendengar suara tawanya akan merasa hatinya berdebar-debar, perasaan yang meluap karena gembira, Orang akan merasakan banyak sekali hal di dunia yang dapat membuat kita bergembira, Meninggalkan kesan yang paling dalam.
"Barang yang diantar seorang perampok besar, tentu jauh lebih berharga daripada yang diantar oleh perampok tua, perampok menengah ataupun perampok kecil. Cepat buka! Biar aku bisa melihatnya!"
Seru Siau kiong cu dengan bibir tetap tersenyum.
Bok lang kun yang pertama-tama maju ke depan, Hadiah yang diantarkannya sudah dapat dibayangkan betapa tinggi nilainya.
Ada berpuluh batu mata kucing yang besar, Ada serenceng mutiara hitam berbentuk segitiga.
Mungkin dari laksaan butir mutiara pun belum tentu dapat menemukan satu seperti yang dibawa Bok lang kun.
Masih ada lagi lima butir berlian sebesar tinju.
Semuanya merupakan barang-barang yang sulit didapat, bahkan ada orang yang malah belum pernah mendengarnya.
Dari arah belakang, Sun Put Ce maju kedepan dan membuka bungkusannya.
Kalau dibandingkan dengan Bok lang kun memang tidak seberapa, Tapi ada satu benda yang mungkin bisa membuat Siau kiong cu itu tersenyum, Paling tidak, begitu menurut pikiran Kwe Po Giok.
Siapa tahu, senyum di bibir Siau kiong cu malah sirna, Matanya mendelik lebar.
"Lempar keluar! Semuanya lempar keluar!"
Teriaknya sambil mengibaskan tangan Siapa pun tidak menyangka akan perubahan yang terjadi ini?
Kwe Po Giok sampai berpikir mungkin Siau kiong cu mengidap semacam penyakit angin-anginan, Kadang-kadang adatnya baik, kadang-kadang suka marah-marah!
"Siau kiong cu....
Yang dilempar keluar barangnya atau orangnya?"
Terdengar suara dayang Cui thian bertanya.
"Semuanya lempar keluar! Barang-barang yang diantarnya semua merupakan sampah, Aku tidak suka!"
Bentaknya nyaring, Katakatanya sungguh membuat orang curiga, Barang-barang sebagus ini masih tidak suka?
Jadi barang apa yang disukainya?
Perintah Siau kiong cu sama sekali tidak boleh dibantah, Dayang Cui thian mengulapkan tangannya, seorang laki-Iaki bertubuh tinggi besar keluar dari ruangan dalam.
Dia mengangkat tubuh Bok lang kun.
Dengan kedudukan dan kekuasaan manusia seperti Bok lang kun, ternyata ia tetap tidak berani mengadakan perlawanan "Siau kiong cu....
Bolehkah menunda sebentar?"
Tiba-tiba Sun Put Ce membuka suara. Mereka berdiri berbaris, Bok lang kun paling depan, menyusul Sun Put Ce dan Kwe Po Giok berdiri di belakang pundaknya.
"Siapa kau?"
Tanya Siau kiong cu.
"Saya juga datang mengantarkan hadiah,"
Sahut Sun Put Ce.
"Hadiahmu sudah Siau kiong cu lihat tadi,"
Kata gadis cantik itu.
"Tapi ada satu hadiah yang tidak diperhatikan secara seksama oleh Siau kiong cu, juga tentunya belum tahu keistimewaannya,"
Sahut Sun Put Ce.
"Barang aneh yang kau hadiahkan kepadaku?"
Tanya Siau kiong cu ingin tahu, Bagaimana pun dia masih seorang gadis cilik yang cepat tergugah hatinya oleh pancingan Sun Put Ce cepat meraih Bi jin sim.
"Benda pusaka ini memberi kehangatan pada musim dingin Juga bisa memberi kesejukan pada musim panas, Satu lagi keisti-**********************************
Jilid 5 Hal 50/51 Hilang ********************************** "Benda itu mempunyai keistimewaan kami mendengarnya dari Cu lao thaiya, Dan orang itu mendengarnya dari pemilik aslinya."
Katakatanya semakin membingungkan.
"Siapa pula Cu lao thaiya itu?"
Tanya Siau kiong cu kepada dayangnya. Rupanya perempuan setengah baya itu mempunyai pengetahuan yang luas, Dia merupakan bagian informasi juga bagi gadis cilik tersebut.
"Cu lao thaiya adalah panggilan seorang perampok ulung,"
Jawabnya.
"Kalau memang milik seorang perampok ulung, bagaimana bisa terjatuh di tanganmu?"
Tanya Siau kiong cu lagi.
"Perampok ulung itu menggunakan makanan kecilnya sebagai senjata rahasia. Saya menggunakan makanan itu juga sebagai senjata makan tuan baginya, Dia sudah mati,"
Kata Kwe Po Giok menjelaskan. Dengan mata terbuka lebar Siau kiong cu menatap ke arahnya.
"Aku masih mengira kau tidak bisa ilmu silat,"
Katanya.
"Sebetulnya apa yang saya bisa juga tidak banyak,"
Sahut Kwe Po Giok tersenyum.
"Kau kira dengan memberikan Bi Jin sim, rekanmu itu bisa menggerakkan hatiku,"
Seru Siau kiong cu sambil tertawa dingin. Kwe Po Giok menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Kalau hatimu begitu mudah tergerak, berarti kau masih belum terhitung seorang putri,"
Sahutnya.
"Siapa namamu?"
Tanya Siau kiong cu.
"Kwe Po Giok!"
"Apakah barang yang kau bawa jauh lebih berharga dari mereka?"
Tanya Siau kiong cu sekali lagi.
"Betul!"
Sahut bocah itu.
"Barang apa?"
Tanya Siau kiong cu penasaran. Kwe Po Giok mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Dia menggoyang-goyangkan sebatang ranting pohon.
"lni!"
Jawabnya. Siau kiong cu terpana.
"Bukankah itu sebatang ranting pohon?"
Tanyanya.
"Betul! Siapa pun akan tahu kalau ini adalah sebatang ranting pohon,"
Sahut Kwe -**********************************
Jilid 5 Hal 54/55 Hilang ********************************** akan terjadi di balik tawa tersebut, mungkin akan membawa kematian baginya!
Malaikat elmaut melangkah setindak demi setindak mendekatinya.
Manusia hanya tahu bahwa dunia ini adalah milik kehidupan.
Kadang-kadang tidak terpikir bahwa dunia juga merupakan tempat kematian.
Di dunia yang lain baru ada kehidupan yang abadi.
Apa yang diketahui oleh kaum manusia memang tidak banyak....
"Lucu.... Lucu sekali! Mimpi pun aku tidak pernah menyangka kalau ada orang yang akan memberiku sebatang ranting pohon,"
Katanya sambil tertawa terus. Dayang Cui thian dan laki-laki tinggi besar itu ber-siaga, Siap menerima perintah dari Siau kiong cu.
"Saya berani mengatakan apa yang kau lihat sekarang sama sekali bukan mimpi,"
Sahut Kwe Po Giok. Tawa Siau kiong cu tiba-tiba terhenti.
"Apakah kau ingin bermimpi?"
Tanyanya.
"Kadangkala saya ingin sekali bermimpi, tapi ingin bermimpi pun tidak begitu mudah,"
Sahut Kwe Po Giok sambil menarik nafas.
"Di tempat ini mudah sekali!"
Kata Siau kiong cu dengan nada aneh. Kwe Po Giok termangu-mangu.
"Kau bisa membuat orang bermimpi?"
Tanyanya heran, Siau kiong cu tidak langsung menyahut Dia mengambil sebuah cawan yang terbuat dari emas. Dituangkannya isi sebuah guci yang indah.
"Minum ini kau akan segera bermimpi!"
Katanya, Kwe Po Giok menatapnya tajam.
"Kenapa? Bukankah kau ingin bermimpi?"
Tanya Siau kiong cu.
"lya!"
Sahut bocah itu.
"Kau tidak berani meminum arak ini?"
Tanya Siau kiong cu kembali.
"Berani!"
Sahut Kwe Po Giok, Dia menghampiri ke depan dan menerima cawan arak tersebut "Apa yang akan saya impikan?"
Tanya bocah itu selanjutnya.
"Mungkin sebuah mimpi yang indah, mungkin juga sebuah mimpi yang dapat membuat orang mati terkejut,"
Sahut Siau kiong cu tenang.
Kwe Po Giok tidak menoleh ke arah Sun Put Ce.
Juga tidak berpikir panjang lagi, dia meneguk isi cawan itu sampai kering.
Kwe Po Giok mengembalikan cawan itu ke tangan Siau kiong cu.
Dia menatapnya dengan mata tidak berkedip, lambat laun, pandangannya mulai berputar.
Gadis yang ada di hadapannya terlihat semakin cantik, Emas permata yang bertaburan semakin berkilauan Warna-warni yang tertangkap oleh pandangan matanya semakin indah.
Dalam keadaan seperti itu, orang akan merasa bahagia sekali, Apa yang terlihat merupakan pemandangan yang tidak mungkin ditangkap oleh orang yang sadar Semua kesedihan dan kesengsaraan lenyap, Yang ada hanya pelangi beraneka warna, Sayangnya, dalam sekejap Kwe Po Giok sudah jatuh tidak sadarkan diri!
Matahari bersinar di atas kepala, Tidak terlihat awan berkumpul Langit dan laut bagai tak berbatas.
Laut mempunyai ratusan perubahan Kalau laut dibandingkan dengan seorang perempuan, rasanya perbedaan mereka tidak begitu banyak, Ketika airnya beriak perlahan, gayanya seperti lembutnya seorang ibu.
Ketika ombaknya menggulung ganas, tampaknya seperti seorang gadis genit yang sedang menari-nari, Suasana laut seperti hari ini, malah seperti hati seorang gadis yang sulit ditebak, Menatap jauh ke tengah lautan, ada sebuah kapal yang terlihat Jauh, jauh sekali ada layar pancawarna yang sedang bergerak, bila diperhatikan lebih mirip sebuah lukisan indah yang tergantung di ruangan yang besar...
-oooo0oooo-Di permukaan laut Awan putih bergumpal, angin yang berhembus mengembangkan layar pancawarna.
Ombak maju mundur.
Badan kapal sedikit terhempas, bagaikan alunan sebuah ayunan yang dapat membuat manusia pulas dalam mimpi.
Tempat ini merupakan kabin yang mewah.
Orang yang berada di dalam tidak akan merasa dirinya duduk dalam sebuah kabin kapaL Lebih pantas disebut sebuah ruangan yang besar.
Di dalam kabin yang mewah ini ada sebuah tempat tidur besar.
Di atasnya ada seseorang yang baru terjaga dari mimpi indah, mungkin dia merupakan pemuda pertama yang dapat menikmati kemewahan, keharuman dan kenyamanan tempat tidur besar itu.
Dia seakan masih setengah sadar, rasanya mata masih berkunang-kunang, tubuhnya sempoyongan.
Dibilang mimpi tapi bukan, dibilang kenyataan juga tidak tepat.
Tapi ia sama sekali tidak bermimpi jangan kata mimpi indah, mimpi buruk juga tidak, sekarang matanya baru terbuka lebar.
Dia merasakan seperti sedang bermimpi, karena apa yang terlihat olehnya terlalu indah, terlalu mewah!
Dia percaya, bukan hanya dirinya, siapa pun di dunia ini belum pernah melihat kamar seindah dan semewah ini!
Dia terpana sekian lama, kemudian dia baru menyadari bahwa di ujung tempat tidur duduk seorang perempuan setengah baya.
Kwe Po Giok bangun dan duduk dengan tegak.
Dia memandang perempuan itu.
"Siapa kau?"
Tanyanya.
"Saya hanyalah seorang dayang,"
Sahut perempuan itu. Kwe Po Giok terpana sejenak.
"Orang seusiamu ada yang jadi dayang?"
Tanyanya heran. Perempuan setengah baya itu tersenyum-senyum.
"Perampok saja ada besar kecil. Dayang juga sama. Kau adalah seorang perampok kecil, saya adalah seorang dayang besar,"
Sahutnya.
"Ternyata kau cukup menyenangkan,"
Kata Kwe Po Giok.
"Kau juga menyenangkan,"
Timpal perempuan setengah baya tersebut.
"Saya?"
Kwe Po Giok tampak bingung.
"Betul! Hanya seseorang yang mempunyai selera humor yang tinggi, baru bisa menghadiahkan sebatang ranting pohon kepada Siau kiong cu kami."
"Kalau bicara tentang ranting pohon itu sendiri, sama sekali bukan hal yang menyenangkan,"
Kata Kwe Po Giok menghela nafas.
"Saya justru menganggapnya cukup menyenangkan,"
Sahut dayang tersebut.
"Tempat apa ini?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Coba kau tebak...."
Sahut dayang setengah baya itu.
"Rasanya di atas kapal...."
Kata Kwe Po Giok setelah menatap sekelilingnya sekejap.
"Tidak salah! Apa yang kau impikan tadi?"
Tanya dayang itu.
"Kalau benar-benar mimpi, rasanya tidak,"
Sahut Kwe Po Giok sembari menggelengkan kepala.
Pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang ringan mendekati, begitu ringan dan lembut, sehingga Kwe Po Giok segera dapat menduga yang datang adalah seorang gadis.
"Sedangkan orang yang tidak ingin bermimpi bahkan terus dihantui macam-macam mimpi,"
Terdengar sahutan dari luar, Tentunya suara seorang gadis pula, karena begitu merdu di telinga.
Kwe Po Giok langsung mengenali suara itu adalah milik Siau kiong cu.
Dia yakin, meskipun sudah lewat berapa lama atau di tempat mana saja, dia tetap akan mengenali suara gadis itu.
Dia juga yakin, orang yang sering mendengar suara ini, akan selalu gembira dan berusia panjang.
Tiba-tiba kabin itu bergoyang keras, sampai lukisan yang terpancang di dinding ikut terayun ke kanan dan kiri, tiang kayu mengeluarkan bunyi berderak-derak, Kwe Po Giok terkejut.
"Apakah ini yang disebut kapal dewa? Apakah saya sekarang berada di atas kapal dewa?"
Dia bergumam seorang diri.
Guncangan terhenti.
Sebuah wajah yang sangat menawan muncul dari balik pintu kabin tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Siau kiong cu?
Rambut juga panjang, gaun yang panjang, bentuk mata dan alisnya yang panjang, dipadu dengan warna kulit yang putih bersih.
Mana ada keindahan yang melebihi keindahan yang satu ini?
Apalagi di atas kapal dewa ini, Siapa yang berani mengatakan bahwa dia bukan seorang bidadari yang turun dari khayangan?
Jilid 6 Kwe Po Giok ingin turun dari tempat tidur, Tangan Siau kiong cu memberi isyarat jangan.
Pemuda itu merasakan kakinya masih lemas.
Perempuan setengah baya yang mengaku dirinya dayang, ternyata adalah Cui thian, Dia berdiri dan membungkuk dengan hormat kepada Siau kiong cu.
Dia juga merupakan pengasuh sang puteri sejak kecil.
"Aku masih ingin memberitahukan satu persoalan yang mungkin dalam mimpi pun tak pernah terbayangkan olehmu,"
Kata Siau kiong cu.
"Apa?"
Tanya Kwe Po Giok ingin tahu.
"Ayahku juga ingin bertemu denganmu. Dia menganggap ranting pohon yang kau bawa adalah sebuah mainan yang cukup menyenangkan,"
Katanya menjelaskan.
Akhirnya langkah pertama harapan Kwe Po Giok tercapai juga, Karena itu, Kwe Po Giok harus merasa berterima kasih kepada Siau kiong cu, Juga harus merasa berterima kasih kepada Bok lang kun, Tanpa adanya kedua orang ini, dia tidak mungkin bertemu dengan sang dewa.
"Siau kiong cu.... Apakah kau menyukai Bi jin sim yang kami bawa?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Aku memberikannya kepada ayah. Benar barang yang mempunyai keistimewaan atau tidak, masih harus dibuktikan,"
Sahut Siau kiong cu.
"Kau sendiri tidak menyukainya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Tidak!"
Sahut Siau kiong cu tegas.
"Mengapa? Bukankah benda itu sangat indah?"
Tanya Kwe Po Giok tidak mengerti.
"Memang indah! Tapi aku tetap tidak menyukainya, Karena usiaku baru tujuh belas tahun, Kalau aku menyimpannya, aku takut berbalik muda. Bukankah aku bisa kembali menjadi bayi?"
Sahutnya.
Ketiga orang itu tertawa berderai.
Matahari yang terik menyusup ke dalam ruangan itu.
Di dalam kabin juga banyak emas permata, sinarnya menyilaukan warna warni yang terpancar bagai sebuah pelangi, Tempat ini memang pantas disebut tempat tinggal para dewa.
Bagi orang yang belum pernah melihat istana kaisar, pasti akan merasa tempat ini khayangan, Kabin yang mewah ini bukan kabin yang ditempatinya tadi.
Yang satu ini bahkan lebih indah dan mewah, Dari jendela dapat terlihat langit yang cerah.
Awan putih menggumpal permukaan laut kadang tenang, kadang beriak.
Menimbulkan semacam gelora di hati.
Jaman dulu orang yang mengatakan "Di laut Timur ada gunung dewa, di mana jalan pintas menuju surga berada", Kapal dewa ini pasti merupakan transportasi untuk menuju ke tempat tinggal para dewa.
Di sudut kabin ada sebuah tempat tidur yang besar, Di atasnya bersandar seorang laki-Iaki berusia kira-kira empatpuluhan, yang pasti tidak sampai lima puluh.
pakaiannya mirip kaisar atau mungkin pakaian dewa pun seperti itu?
Karena orang biasa tidak mungkin memakai pakaian dengan bahan sutera seperti itu.
Apalagi mahkota yang ada di kepalanya, Semua jenis batu permata mahal yang ada di dunia ini bertaburan memenuhinya.
Orang ini berwibawa sekali.
Orang yang memandangnya sekali, pasti ingin memandang lagi untuk kedua kali, dan tentunya tidak berani menghindari tatapan matanya yang tajam, Siapa pun yang memandangnya, pasti akan merasa rendah diri.
Meski-pun orang tidak tahu bahwa dia adalah Dewa lautan Timur, tapi dengan sekali pandang, ia pasti akan percaya bahwa dia adalah dewa di antara manusia.
Kwe Po Giok masuk ke dalam kabin tersebut Sekali lihat, dia sudah tahu bahwa orang itu sedang menggenggam sebatang ranting pohon.
Siapa pun tidak akan menyangka, segala macam emas permata dan benda pusaka tidak dapat menggerakkan hati dewa itu, tapi sebatang ranting pohon ternyata berhasil menggerakkannya.
Tang hai sin sian sedang menatap ranting pohon itu dengan pikiran melayang.
Kwe Po Giok menoleh ke arah Siau kiong-cu.
Tatapan mata gadis mengisyaratkan agar dia jangan bersuara, Dia dan dayang Cui thian berdiri terpaku di samping tempat tidur besar tersebut.
Suasana dalam kabin hening dan senyap, Suara hempasan ombak dan deru angin yang mengibarkan layar panca warna terdengar jelas.
Tiba-tiba....
Tang hai sin sian menarik nafas pendek, Selain Kwe Po Giok, Siau kiong cu, dayang Cui thian, masih ada beberapa pengawal di dalam kabin tersebut.
Tidak ada satu orang pun yang dapat menebak mengapa Tang hai sin sian menarik nafas.
Mungkin hanya Kwe Po Giok yang dapat menduga sedikit, dia tahu....
asalkan seorang yang mempunyai ilmu tinggi, dengan melihat bentuk yang rata dan cara tertebasnya ranting pohon itu, pasti akan menarik nafas.
Tarikan nafas ini juga merupakan ungkapan berbagai perasaan.
Di antara berbagai macam perasaan itu, siapa yang tahu bila terselip rasa kagum, hormat atau ngeri?
Meskipun Kwe Po Giok sendiri juga akan mempunyai perasaan bermacam-macam.
Mungkin jumlahnya bisa mencapai delapan atau sepuluh macam....
Ranting itu juga menyiratkan "makna pedang"
"Tidak disangka dalam dunia saat ini, bisa muncul lagi seorang manusia yang begini aneh,"
Kata Tang hai sin sian seperti kepada dirinya sendiri, Kwe Po Giok tidak dapat menahan perasaannya, Dia tidak memperdulikan isyarat mata yang diberikan Siau kiong cu.
"Dia bukan manusia aneh, tapi seorang manusia jahat. Seorang manusia yang maha jahat!"
Serunya kesal.
Siau kiong cu mendelik ke arahnya, Kwe Po Giok pura-pura tidak melihat, dia benar-benar sudah tidak dapat menahan dirinya lagi, Apalagi harus mendengar pujian kepada manusia jahat itu?
Bukankah kedatangannya sia-sia saja kalau Tang hai sin sian hanya sekedar mengucapkan kata pujian kepada orang tersebut?
Siau kiong cu tampak marah, Dia menyalahkan Kwe Po Giok yang tidak mendengar kata.
Dayang Cui thian malah tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
Tidak disangka, Tang hai sin sian menatap ke arah Kwe Po Giok.
"Orang ini bukan manusia jahat!"
Kata-katanya makin membuat bocah itu terkejut "Bagaimana kau bisa tahu kalau dia bukan manusia jahat?"
Tanya Kwe Po Giok dengan nada protes.
Siau kiong cu rasanya ingin membentak bocah itu.
Dayang Cui thian tetap tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
Rasanya para penghuni kapal itu memang mempunyai perbedaan dengan manusia biasa, Tang hai sin sian tidak menunjukkan sikap kurang senang...
"Karena orang ini pasti mengerahkan segala jerih payah untuk mencapai taraf setinggi ini. Dia pasti juga menghamburkan semua waktunya untuk melatih diri. Mana mungkin ada kesempatan untuk berbuat jahat?"
Katanya wajar.
"Tapi dia suka membunuh orang!"
Kata Kwe Po Giok kurang puas. Siau kiong cu sudah mengangkat tangan-nya. Dayang Cui thian menggeser tubuhnya mendekati gadis cantik itu. Dia berbisik dengan suara rendah.
"Siau kiong cu buat apa mencari kesulitan sendiri.... Bocah itu cerdiknya setengah mati...."
"Apa yang kau maksudkan?"
Tanya Siau kiong cu seraya menurunkan tangannya.
"Kau masih dapat melihat kenyataan ini? Biar dia berteriak sekeras apa, Cu jin tidak menunjukkan sikap amarah sedikit pun,"
Sahut Dayang Cui thian.
"Kenapa?"
Tanya Siau kiong cu bingung.
"Karena dia berteriak bukan dengan maksud kurang ajar. Dia terlalu sedih dan mencari keadilan untuk kaum Bulim sehingga tidak dapat menguasai dirinya lagi,"
Sahut dayang tersebut.
"Mengapa aku tidak memikirkan hal ini?"
Tanya Siau kiong cu seperti kepada dirinya sendiri.
"Pedang memang tidak mempunyai perasaan, dia menyebut dirinya sendiri To Hun. Bagaimana mungkin dia bisa mempunyai perasaan?"
Terdengar sahutan dari bibir Tang hai sin sian.
"Hutang nyawa dibayar dengan nyawa! Apakah kata-kata ini tidak berlaku lagi?"
Teriak Kwe Po Giok kesal.
"Betul! Hutang nyawa dibayar dengan nyawa. Cara membunuhnya memang sudah agak kelewatan, Harus ada orang yang menghentikannya!"
Kata Tang hai sin sian sambil menarik nafas panjang.
"Dalam Tionggoan, siapa lagi yang dapat menghentikannya?"
Tanya Kwe Po Giok yang emosinya mulai bisa dikendalikan Tang hai sin sian tertawa getir.
Siapa pun tidak ada yang mengerti arti tawa itu.
Apakah mengungkapkan kekesalan hatinya atau kebanggaan dirinya?
Namun, sedikit banyaknya dari tawa ini terdengar kesan yang sendu, ini juga mengartikan bahwa Tang hai sin sian tetap adalah seorang manusia yang kebetulan berilmu tinggi, bukan dewa!
Pertanyaan Kwe Po Giok memang membuat Tang hai sin sian tertawa getir, namun membuat Siau kiong cu marah besar.
Katakata bocah itu terang-terangan merupakan sebuah sindiran, sindiran yang terlalu polos dan kekanak-kanakan.
Dayang Cui thian tetap tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
Mungkin juga karena usianya lebih tua, sehingga perasaan percaya kepada majikannya lebih dalam.
Dia masih dapat menahan diri untuk mengikuti apa yang terjadi di hadapannya.
"Kenyataannya, pada jaman sekarang ini sulit mencari seseorang yang dapat menghentikannya...."
Terdengar suara Tang hai sin sian berkata.
"Kecuali dewa...."
Sahut Kwe Po Giok.
"Di dunia ini mana ada dewa?"
Tang hai sin sian sekali lagi tertawa getir, Kali ini dia malah menggelengkan kepalanya berulangulang.
"Cianpwe merupakan dewa yang serba bisa dalam hati kecil orang-orang Bulim,"
Kata Kwe Po Giok.
"Aku bukan dewa,"
Sahutnya lirih.
"Kau adalah dewa!"
Seru Kwe Po Giok tidak mau sudah.
"Kwe Po Giok! Kau jangan terlalu mendesak ayahku!"
Seru Siau kiong cu tidak dapat menahan kekesalannya lagi, Tang hai sin sian mengibaskan tangannya.
"Asalkan desakan itu mengandung maksud yang terpuji Aku sama sekali tidak membenci manusia keras kepala seperti dirinya!"
Kata laki-laki yang disebut manusia dewa itu.
"Kalau cianpwe tidak segera turun tangan, berarti membiarkan kejahatan mera-jalela, Pada saat seperti ini, siapa lagi yang sanggup menghentikannya?"
Kata Kwe Po Giok. Tang hai sin sian turun dari tempat tidur dan memperhatikannya, Sampai lama ia baru berkata lamat-1amat....
"Tentu aku harus tampil untuk menghentikannya!"
Nada ucapannya sangat berwibawa, juga mengandung suatu kekuatan.
Siapa yang mendengarnya akan ikut merasa kepiluannya, Juga membuat orang terharu, Kwe Po Giok segera menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.
"Terima kasih, Cianpwe!"
Serunya.
Dia hanya seorang bocah berusia enam belasan, Tekadnya sudah bulat Sebelum berhasil dia tidak mungkin akan berhenti.
Bisa mengundang Tang hai sin sian adalah harapannya yang terbesar Dia seperti sudah mendapatkan seorang dewa pelindung.
Kalau diucapkan lebih kasar lagi, dia seperti sudah dapat menentukan hari kematian Toa Tek To Hun.
Tang hai sin sian tampak merenung, dia seperti sedang berpikir keras....
"Cepat atau lambat, Toa Tek To Hun pasti akan mencariku Mengapa bukan aku saja yang mencarinya lebih dahulu?"
Gumamnya seorang diri.
Di atas sulaman di tepi tempat tidur terdapat sebatang pedang pendek, Tang hai sin sian mengambilnya.
Dia membuat guratan panjang dari bekas potongan ranting pohon ke arah bawah, mungkin hanya Kwe Po Giok yang melihat gerakan tersebut.
Mengetahui cara kerja lawan yang semakin cepat dan tepat, merupakan suatu kunci rahasia, Lebih baik mendahuluinya sebelum dia bersiap diri.
Dalam menghadapi persoalan ini sama sekali tidak boleh berpikir terlalu jauh, yang diperlukan adalah ketenangan dan keberanian belaka.
Tang hai sin sian menyerahkan batang ranting itu kepada dayang Cui thian, wanita itu melihat sekejap, kemudian diserahkan kembali kepada pemiliknya sekarang, yaitu Siau kiong cu.
"Bok lang kun selama berpuluh tahun malang melintang di rimba hijau, Sun Put Ce adalah murid perguruan terkemuka, Mereka adalah orang yang tidak dapat dipandang ringan dalam aliran hek pai (Hitam putih), Dengan dua orang ini sebagai penunjuk jalan, pasti Tok Tek Siansing dapat ditemukan,"
Kata Tang hai sin sian.
"Betul!"
Sahut dayang Cui thian sependapat.
"Kau pergilah! Setelah bertemu dengan Tok Tek Siansing, berikan ranting pohon itu kepadanya, janjikan pertemuan pada hari Chong yang. Tempatnya adalah Jin gi tong, Pada waktunya aku akan sampai di sana untuk menentukan tinggi rendah antara dia dan aku,"
Kata Tang hai sin sian selanjutnya.
"Baik!"
Sahut dayang Cui thian, rupanya itu yang menyebabkan dia menggores ranting pohon tadi, sebagai undangan kembali untuk Toa Tek To Hun. Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu baru mengerti semuanya.
"Bagaimana dengan diri saya?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Kau tetap di sini!"
Sahut Tang hai sin sian.
"Mengapa aku harus tinggal di sini?"
Tanya Kwe Po Giok kurang puas.
"Karena ayahku meminta kau tetap di sini, maka kau harus menetap, Aku saja tidak berani membangkang perintahnya, Apakah kau berani?"
Tanya Siau kiong cu kesal.
Kwe Po Giok tertawa getir.
-oooo0oooo-Matahari bersinar dengan terik.
Di pegunungan tidak ada angin yang berhembus, panasnya terasa menyengat, tumbuhan tandus dan layu, tanah merekah karena tersengat matahari terus menerus.
ini merupakan musim kemarau yang cukup panjang.
Siapa yang dapat menggerakkan kaki dengan ringan dalam cuaca seperti ini?
Di daerah pegunungan ini?
jejak kaki yang tertinggal rapi dan teratur, jarak juga selalu sama, Cara jalan orang ini tidak pernah berubah.
Seperti juga cara membunuh korban yang terpilih.
Kilatan pedang, roboh bermandikan darah.
Selalu tidak berbeda!
Langkah kaki ini menyusuri daerah Tionggoan.
Para jago Bulim di Tionggoan juga terus bertambah banyak yang menjadi korban.
Saat ini, Toa Tek To Hun kembali menyusuri pegunungan.
Langkah kakinya teratur, antara jejak yang satu dengan yang satunya seperti diukur dengan tepat.
Mungkin kalau jarak kaki itu mengalami perubahan, ucapan "tidak kalah"
Nya juga harus diubah, prinsip dan disiplinnyalah yang membuat kemenangannya terus bertahan.
Seperti sebuah jam dinding, hanya dengan ketepatannya, waktu baru bisa terus berlalu.
Toa Tek To Hun tetap berjalan sendiri, satu-satunya teman bagi manusia ini hanya pedangnya, sekitarnya hanya terlihat bukit yang gersang.
Langkahnya berhenti di tepi sebuah batu besar, tangan perlahan diturunkan dan meraba pedang.
Seorang yang berilmu tinggi kalau tidak mempunyai pendengaran yang tajam, atau indera keenam, tentu saja belum dapat disebut ko chiu.
Tepat pada saat itu, di balik bukit melangkah keluar tiga orang, Mereka adalah Bok lang kun, dayang Cui thian dan Sun Put Ce.
Ketiga orang ini kalau bergabung menjadi satu, rasanya di dunia ini sulit dicari tandingannya.
Tapi kedatangan mereka bukan untuk bertanding.
"Teecu Cui thian, Menerima perintah dari Cu jin, sengaja mengantarkan semacam benda, Harap Toa Tek siansing periksa,"
Kata dayang tersebut dengan nada hormat.
Dia menyodorkan ranting pohon ke tangan Toa Tek To Hun.
Lakilaki itu menerimanya, matanya menatap ke arah ketiga orang yang menghadangnya itu.
Setiap kali bertemu dengan seseorang, dia pasti akan memperhatikan sinar matanya terlebih dahulu, Apalagi bila orang yang dilihatnya adalah seorang musuh, Kemudian pandangannya baru beralih pada ranting pohon di tangannya.
Dia dapat mengenali bekas tebasannya sendiri, Dia melihat sebuah guratan yang lain, wajahnya seketika menunjukkan perasaan, semacam rasa terkejut.
Sinar pedang berkelebat, pohon yang berada dekat dirinya tertebas sebagian, Dia seakan sedang mengumbar kemarahannya pada pohon tersebut.
Dayang Cui thian terkesiap, bila tebasan pedang tadi ditujukan kepada dirinya, pasti saat ini dia sudah roboh bermandikan darah, sebuah gerakan yang begitu cepat sehingga hampir tidak terlihat Cui thian sampai tidak tahu kapan Toa Tek To Hun menyarungkan pedangnya kembali.
Tadinya dia masih belum seberapa jelas siapa manusia yang menggemparkan dunia Bu-Iim ini.
Sekarang dia sudah mengerti sepenuhnya.
Juga mengerti mengapa Kwe Po Giok sampai perlu mengundang majikannya turun tangan, seandainya dia dan dua rekannya bergabung, juga tetap akan mati penasaran dalam waktu sekejap.
Cui thian yakin pendapatnya tidak salah, tentu saja dia juga tidak mempunyai keberanian untuk mencoba!
Toa Tek To Hun dengan mata yang masih membayangkan rasa terkejut menatap ranting pohon itu sekali lagi.
"Siapakah Cu jinmu?"
Tanyanya dengan suara agak bergetar.
"Majikan teecu juga adalah pemilik kapal dewa dengan layar pancawarna,"
Sahut Cui thian. Wajah Toa Tek To Hun berubah beberapa kali, dia seperti sudah dapat menduga sebelumnya. Lagipula di dunia ini yang dapat menguraikan "makna pedang"
Pada ranting tersebut ada berapa orang jumlahnya? "Apakah ada pesan lain yang ingin disampaikan olehnya?"
Tanya Toa Tek To Hun kembali "Hari Chong yang, Jin gi tong, Cu jin mengajak Siansing mengadakan pertarungan mati hidup,"
Sahut dayang Cui thian.
Tiba-tiba Toa Tek To Hun tertawa tergelak-gelak.
Tertawa memang banyak ragamnya.
Tawa orang ini merontok daun-daun kering pada tumbuhan sekitar tempat itu.
Dia belajar ilmu silat sejak kecil, keinginannya untuk menang selalu kuat.
Dia juga berlatih dengan keras, bila bukan seorang yang ilmu sudah mencapai taraf tertinggi tentu tidak dapat menggetarkan daun-daun sampai rontok seperti yang dilakukannya!
Bok lang kun dan dayang Cui thian sudah termasuk golongan pesilat kelas satu di daerah Tionggoan, mereka saja harus menahan setengah mati agar suara tawa Toa Tek To Hun tidak memutuskan urat jantung mereka, Apalagi Sun Put Ce.
Keringat besar kecil sudah memenuhi seluruh bagian tubuhnya.
"Tidak disangka bahwa aku, Toa Tek To Hun masih bisa menemui lawan yang setanding...."
Katanya sambil tertawa dingin, Tatapan matanya menusuk, Suara tawanya juga terhenti "Berikan jawaban pada majikanmu bahwa aku Toa Tek To Hun akan datang pada waktunya."
"Cu Jin sudah tahu Siansing pasti akan datang, Tidak perlu teecu melaporkan lagi...."
Sahut dayang Cui thian.
"Bagus!"
Kata Toa Tek ToHun, Dia menatap ketiga orang itu bergantian Sinar matanya menunjukkan bahwa dia tidak sekedar menatap tapi mengandung maksud tertentu, padahal cuaca hari itu sangat panas, tapi di bawah pandangan mata Toa Tek To Hun, Sun Put Ce, Bok lang kun serta dayang Cui thian merasakan hati mereka dingin.
"Sam wi adalah jago-jago kelas satu dari daerah Tionggoan, Kalau bergabung melawan aku belum tentu tidak bisa mencapai kemenangan, mengapa kita tidak mencoba?"
Kata Toa Tek To Hun.
Ketiga orang itu tahu, di dalam dunia ini, segala macam hal boleh dicoba, segala macam orang boleh diuji, Hanya satu, Toa Tek To Hun yang tidak boleh.
Dayang Cui thian memperlihatkan sebuah senyuman manis.
"Teecu hanyalah pengantar berita,"
Sahutnya sopan.
"Tetapi wajah kedua orang itu memancarkan hawa pembunuhan Hanya ada niat membunuh baru bisa memancarkan hawa pembunuhan seperti itu,"
Katanya menunjuk Sun Put Ce dan Bok lang kun.
Tangannya meraba pedang, urat nadi berwarna hijau menonjol dari balik kulit, setiap kali dia memegang pedang, setiap orang selalu merasakan bahwa tangan itu memang tumbuh di samping pedangnya, selamanya tidak terpisah.
Bok lang kun bukan orang bodoh.
Fang Tiong Seng bisa melukai perutnya dalam berapa gebrakan saja, sedangkan Fang Tiong Seng sendiri dalam sejurus terluka oleh Toa Tek To Hun.
perbedaan ini sudah terlihat nyata, Wajah Bok lang kun pucat seketika.
Wajah Sun Put Ce juga berubah, kedua-duanya sama mundur beberapa langkah, Tangan menggenggam pada pedang masingmasing.
Iklim seakan tiba-tiba berubah menjadi musim salju, Di sekitar dedaunan melambai-lambai.
Hawa pembunuhan memenuhi udara.
"Kami memang ingin sekali membunuhmu. Para jago Bulim di Tionggoan saat ini, siapa yang tidak ingin membunuh dirimu?"
Tibatiba Sun Put Ce membuka suara.
Toa Tek To Hun melangkah mendekati dengan tatapan mata yang menusuk, Sun Put Ce tidak mundur lagi.
Dia berdiri terpaku, Bukan karena dia tidak sombong atau berlagak jago, justru karena dia menyadari sampai di mana ilmu silatnya, maka laripun tidak ada gunanya kalau memang Toa Tek To Hun menginginkan kematiannya.
Dia juga tidak dapat melupakan perasaan tertekan sesama saudara seperguruannya.
Untuk anak murid Fang Tiong Seng, semuanya bisa tetap percaya diri meskipun harapan sudah tiada, Pada saat itu, yang dikagumi oleh Bok lang kun dan dayang Cui thian bukan Toa Tek To Hun, tapi rasa setia kawan dan keteguhan Sun Put Ce.
Apakah dia benar benar Put Ce (tidak berakal)?
Mungkin pandangan setiap orang berbeda.
Sun Put Ce hanya telah menyadari apa yang terjadi saat ini.
Meskipun terhina, dia tidak dapat menghapus takdir hidupnya.
Tentu saja, Bok lang kun akan membantunya bila Sun Put Ce diserang oleh musuh besar itu.
Tanpa dinyana, Toa Tek To Hun tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Kata-kata yang bagus!"
Katanya.
Tangannya yang berurat hijau telah terlepas dari gagang pedang, Hanya dalam sekejap saja, matahari kembali terasa menyengat Iklim kembali menjadi kemarau, hawa panas seakan ingin membakar hangus setiap manusia.
Toa Tek To Hun membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
Langkah kakinya yang teratur terus melintas di benak ketiga orang tersebut seperti ingin memberikan kesan yang dalam kepada mereka, sampai lama sekali mereka baru berhenti memandang, Dayang Cui thian melirik Sun Put Ce sekilas, kemudian dia menarik nafas, Bok lang kun tidak berkata apa-apa.
Dia hanya menepuk bahu Sun Put Ce berkali-kali.
Walaupun Bok lang kun tidak mengucapkan sepatah kata pun, tepukan pada bahu itu sudah menyiratkan betapa dalam terima kasihnya kepada Sun Put Ce.
Dayang Cui thian merasa dadanya sudah jauh lebih lapang.
"Manusia itu sungguh mengerikan! Aku sama sekali belum pernah melihat manusia yang begitu mengerikan, Kalau bukan karena perkataan Sun samko tadi, mungkin kita semua harus menerima kematian di tempat ini,"
Kata Cui thian.
"Saya tidak pintar bicara."
Sahut Sun Put Ce datar.
"Namun kau sudah mengucapkan sepatah kata yang amat berguna,"
Lanjut Cui thian.
"Dan kau juga tidak takut mati!"
Tukas Bok lang kun.
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Hanya menyungging sebuah tawa yang getir.
Kalau dia masih berbicara, Dia bukanlah Sun Put Ce!
Matahari yang tenggelam berwarna merah.
Malam belum inenjeIang.
Manusia paling merindukan saat seperti ini.
Karena segala kegiatan terhenti pada saat senja hari.
Waktu pun seperti melambat Manusia akan merasa terkejut kalau waktu yang ditentukan semakin mendekat Tidak dapat ditangkap juga tidak dapat ditahan.
Cui thian keluar dari penginapan.
Dia merasa tertekan, dan rasa dalam hatinya tidak dapat dikatakan kepada siapa pun.
Manusia yang ada dijalan tiba-tiba menjadi banyak.
Siang hari panas sekali.
Senja hari seperti ini, panas telah menyurut, namun ada semacam kehangatan yang tetap tidak dapat sirna dari hati Sun Put Ce.
Di hadapannya ada sebuah bayangan yang tidak asing.
Pinggang yang ramping, kaki yang panjang, bentuk rambut yang tinggi.
Diperhatikan sejenak, sudah dapat diterka siapa orangnya, Sinar mata Sun Put Ce yang redup menyinar seketika, semua kesusahan selama ini seperti menguap ke udara.
Tanpa sadar dia mengikuti terus.
Sun Put Ce bukanlah seorang laki-laki yang suka main perempuan, Hanya saja, saat ini hatinya sedang tertekan.
Dia melihat orang itu berhenti di depan sebuah pintu.
Dia mendorongnya, Pintu itu seakan hanya dirapatkan saja.
Rupanya dia tinggal di kota kecil ini.
Sun Put Ce berjalan sambil berpikir, gadis itu menolehkan kepalanya dan tersenyum.
Pintu masih belum ditutup, Laksana sebuah mata kail yang tidak berwujud, Sun Put Ce terpancing masuk kedalam, sebetulnya hal itu dilakukannya karena dia memang mengenal gadis itu.
Bahkan dia memberikan sebuah dompet kepadanya.
Dompet memang bukan sebuah benda yang amat "berharga, tapi bisa menyiratkan sebuah makna yang dalam.
Dia masuk melalui pintu tersebut, dari dalam berkumandang sebuah suara yang merdu.
"ToIong rapatkan pintunya!"
Dalam keadaan tertekan seperti sekarang, dapat mendengar suara yang satu ini, benar-benar menyejukkan hati, bagi seorang perempuan, ilmu yang satu ini meskipun digunakan laksaan kali masih tetap ada khasiatnya.
Sun Put Ce merapatkan pintu, dia masuk ke ruangan tengah yang diapit oleh dua ruangan lagi di kiri kanannya.
Kedua ruangan itu gelap gulita, seperti orang yang ada di hadapannya, penuh misteri.
Mungkin juga ingin membuat kesan yang agak romantis, Sun Put Ce berdiri di depan ruangan tengah itu.
"Mengapa belum masuk juga?"
Tanya gadis itu.
Sun Put Ce menganggap kalau dia masuk ke dalam ruangan itu adalah hal yang wajar, kalau dia tidak mau masuk barulah bisa dianggap tidak menghargainya.
Perabotan yang terdapat dalam ruangan sangat sederhana, sekali lihat saja sudah dapat menduga bahwa rumah itu merupakan tempat menetap sementara.
Tetapi di atas meja sudah tersedia empat macam sayuran yang tidak terlalu menerbitkan selera, juga ada sebotol arak yang baik.
Di dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah tempat tidur, sebuah meja dan dua buah kursi.
Sun Put Ce adalah seorang laki-laki yang jarang minum arak, dia dapat mencium perbedaan antara arak yang murah dengan arak yang baik, ada hubungannya dengan kekuatan minum kedua suhengnya.
Bwe Mei tertawa datar, dia mengisi dua buah cawan dengan arak yang telah tersedia.
"Pertemuan antara manusia, bisa dikatakan mengandalkan perjodohan juga,"
Katanya.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Kita harus bisa menyayanginya,"
Kata Bwe Mei kembali "Betul!"
Sahut sang pria. Gadis itu mengangkat cawannya.
"Aku ingin memberi hormat padamu dengan secawan arak!"
Katanya.
"Terima kasih,"
Sahut Sun Put Ce juga ikut mengangkat cawan yang satu lagi.
Kedua orang itu mengeringkan cawannya sekaligus, Sun Put Ce belum pernah minum arak bersama seorang gadis, oleh karena itu, meskipun arak rasanya pahit, tetapi begitu sampai di perut terasa manis.
Bwe Mei mengisi kembali cawan tersebut Sun Put Ce sangat menyukai tangan-nya.
Jari-jarinya panjang dan indah.
Tidak terlihat sebuah urat pun yang menonjol.
Bercahaya bagaikan batu kumala, Sebetulnya, dia juga tidak menemukan bagian yang kurang pada diri gadis itu.
Sun Put Ce mengangkat kembali cawannya.
"Sekarang giliran saya yang memberi hormat dengan arak ini,"
Katanya. Bwe Mei meneguk cawannya sampai kering.
"Mengapa harus menghormati saya dengan secawan arak?"
Tanya gadis itu.
"Dompet itu memberikan rasa tenteram di hati saya,"
Sahut Sun Put Ce. Bwe Mei memang cantik, seorang gadis asalkan mencukupi kata "Mei"
Yang berniat na indah saja, biar pun ada sedikit kekurangan juga tidak akan terasa lagi.
Apa-lagi Bwe Mei tidak mempunyai kekurangan sedikit pun.
Gadis yang begini sempurna bisa menaksir dirinya?
Sun Put Ce selalu tidak habis pikir.
"Apakah dompet itu masih ada?"
Tanya Bwe Mei.
"Masih,"
Sahut Sun Put Ce seraya mengeluarkan dompet tersebut untuk diperlihatkan sebagai bukti Bwe Mei menerima dompet itu dan menelitinya sejenak, Kemudian dia mengembalikannya kepada Sun Put Ce.
"Sulit dipercayai Kau masih tetap menyimpannya, Namun... karena basah oleh air, baunya yang harum telah hilang,"
Kata gadis itu.
"Basah karena terjatuh ke laut. Maaf!"
Kata Sun Put Ce. Dia tidak menjelaskan bahwa bukan dompet itu saja yang basah. Orangnya saja hampir tenggelam.
"Kau tidak usah meminta maaf, sikapmu terhadapku masih lumayan,"
Ujar Bwe Mei seraya tersenyum manis. Sun Put Ce terpana....
"Mengapa kau bisa tahu?"
Tanyanya heran.
"Dari keadaan dompet ini, saya sudah bisa menduga. Oleh sebab itu, yang berterima kasih semestinya aku..."
Sahutnya dengan wajah tertunduk.
Bagaimana perasaan tidak akan senang kalau ada seorang gadis cantik yang mengucapkan terima kasih?
Rasa terima kasihnya mungkin karena pertolongannya tempo hari Meskipun ucapan terima kasih Bwe Mei berdasarkan hal itu, hati Sun Put Ce tetap bergetar Orang yang sedang bergembira paling mudah mabuk, Orang yang sangat tertekan juga paling mudah mabuk, Dia memang sedang bergembira.
Tetapi kalau bayangan Toa Tek To Hun, Suhu, Kwe Po Giok dan lainnya melintas lagi di benak, rasa gembira akan sirna seketika.
ia sudah lupa telah minum berapa banyak.
Tapi dia yakin, selama hidupnya dia belum pernah minum sebanyak ini.
Oleh sebab itu, Sun Put Ce pun mabuk...
Ketika dia tersadar dengan mata masih berkunang, Sun Put Ce mendapatkan dirinya rebah di atas tempat tidur, pikirannya masih belum pulih seluruhnya.
Dia hanya tahu dirinya sama sekali tidak berpakaian.
Sebuah wajah yang tidak asing dengan senyuman yang dapat membuat aliran darahnya meluap berputar di depan mata.
perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang siap meledak dalam dirinya.
Karena ketika dia bergerak sedikit, badannya menyentuh kulit halus, Membuat dia mempunyai pikiran bahwa tulang belulangnya pasti akan putus berantakan Sun Put Ce sudah tahu siapa yang berada di sampingnya.
Dia tidak berani bergerak lagi.
Hanya degup jantungnya yang berdebar-debar terdengar jelas, Tetapi biarpun dia tidak berani bergerak, lawannya justru bergera.
Sebuah kaki yang halus dan hangat menopang di atas dengkulnya, Dengan cepatnya pasti terjadi reaksi.
Sun Put Ce percaya, gadis yang ada di sampingnya juga telanjang bulat.
Dia adalah seorang laki-laki berusia dua puluh delapan tahun Dia masih belum tahu, apakah orang lain pernah mengalami hal yang sama?
Apakah dalam keadaan seperti ini ada laki-laki yang dapat menolak?
Dan andaikata dia tidak menolak tapi membiarkan semuanya terjadi, apa akibatnya kelak?
Rasanya setiap orang dalam saat seperti ini akan teringat harga dirinya, nama besar perguruannya, kehormatan lawan jenisnya dan bagaimana menyelesaikan akibat yang akan terjadi.
Namun, sebagian besar justru akan melakukan lebih dahulu baru berpikir.
Banyak sekali hal di dunia ini kalau baru pertama kali melakukannya akan terasa ngeri.
Umpamanya, tubuh telanjang yang saling bersentuhan, bau keringat yang dapat tercium, disertai keharuman dari bagian lain seperti rambut tubuh lawan jenisnya, Kegugupan yang tidak dapat digam-barkan dengan jelas.
Namun Sun Put Ce adalah laki-laki sebenarnya, Dia juga mempunyai kebutuhan yang sama dengan orang lain, yang paling mengerikan justru dalam seumur hidupnya dia belum pernah melihat perempuan telanjang, Sun Put Ce sulit mengendalikan dirinya.
Tubuhnya bergetar dalam kobaran api nafsu birahi, sebuah tangan yang lembut kembali menempel di bagian perutnya.
Badai yang dibawa sepasang tangan ini terlalu dahsyat, Sun Put Ce hampir tidak sadarkan diri.
"Apakah kau tidak menyayangi kesalahan pertemuan yang kebetulan ini?"
Tiba-tiba gadis itu bertanya, Sun Put Ce merasakan sukmanya terpanggil kembali oleh suara yang merdu itu.
"Sayang..."
Sahutnya lirih, dia berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya yang masih memburu.
"Tapi saya ingin tahu kesalahan siapa ini?"
Tanya Sun Put Ce.
"Apakah kesalahanku?"
Tanya gadis itu.
"Maksudmu saya yang bersalah?"
Tanya Sun Put Ce kembali.
"Arak aku yang sediakan, kau juga mabuk karena aku meloloh dirimu secara kelewatan. Aku tidak menyalahkan dirimu kalau kau mengatakan aku yang bersalah,"
Kata Bwe Mei.
Dia membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Sun Put Ce.
Dua gumpal bukit yang ranum menempel di dadanya, Sebuah pengalaman yang sulit dilukiskan!
Dia melihat sinar matanya yang bergairah, memperlihatkan dengan jelas keinginan dalam hatinya.
Sun Put Ce hampir tidak tahan melihat sinar mata seperti itu, dia memeluk Bwe Mei erat-erat.
Orang yang baru pertama kali mengalaminya, bagaimana dapat melukiskan perasaan yang berkecamuk pada saat itu.,.?
Khayalan dan kenyataan yang dialami diri sendiri tentu jauh berbeda.
Setiap laki-laki yang menginjak usia dewasa, pasti ingin merasakan gairah yang ditimbulkan bila memeluk seorang perempuan cantik.
Siapa pun tidak akan dapat menggenggam perasaan yang sebenarnya.
Apalagi di saat ada seorang perempuan cantik yang benar-benar berada dalam pelukannya, pasti perasaan ingin tahu bagaimana perasan hatinya saat itu hilang lenyap bersama gelora yang bergelombang.
Sun Put Ce sendiri rasanya mulai mengerti namun tak kuasa menerangkannya, sedangkan Bwe Mei menunjukkan sikap jinakjinak merpati.
Mungkin sikap antara mau dan malunya malah membuat laki-laki itu tambah penasaran.
Pada hakekatnya, sebelum melanjutkan, dia harus memikirkan setiap kemungkinan.
Namun sulitnya adalah mengendalikan perasan yang berkecamuk dalam dada itu.
Di depan matanya tampak kulit yang halus dan mata yang memancarkan gairah mengundang, Bagaimana Sun Put Ce sanggup menahan diri?
Dia mengkertakkan gigi sekuatnya.
Meskipun tubuh Bwe Mei mulai melakukan gerakan.
Biarpun berapa banyak pahlawan yang jatuh dalam sedetik ini, Sun Put Ce tiba-tiba diingatkan oleh sebuah nama....
Fang Tiong Seng!
Kemudian bayangan yang lain pun berputaran Wajah Mo Put Chi, wajah Hu Put Chi, wajah Kwe Po Giok...!
Tentu saja dia juga teringat dirinya sendiri, dia adalah Sun Put Ce.
Seorang manusia yang tidak boleh dianggap tidak berakal sama sekali, Dia mendorong tubuh yang halus dan hangat itu sekerasnya, hampir saja Bwe Mei terbanting dari tempat tidur.
Sun Put Ce bangkit dari ranjang, dia meraih pakaiannya segera, Perubahan seperti ini, meskipun laksaan kali peristiwa yang sama, mungkin tidak lebih dari tiga orang yang sanggup melakukannya, Tapi...
Sun Put Ce ternyata bisa!
Perubahan yang langka itu, ternyata dialami juga oleh Bwe Mei.
Hal pertama yang dirasakannya adalah terhina dan dipandang rendah.
Namun dalam sekejap, pikirannya sadar, Dia tidak dapat menyalahkan Sun Put Ce, malah harus berterima kasih kepadanya, Dia tidak seharusnya marah, bahkan harus menaruh hormat kepadanya.
Bwe Mei menarik nafas panjang.
"Anak murid Fang Tiong Seng memang berbeda dengan umum,"
Katanya.
"Bwe kouwnio.... Apa sebetulnya yang telah terjadi?"
Tanya Sun Put Ce seperti baru terjaga dari sebuah mimpi yang menyeramkan.
"Apalagi kalau bukan takaran minummu yang kelewat rendah,"
Kata Bwe Mei seraya mengembangkan sebuah senyuman.
"Sebetulnya saya memang tidak kuat minum Apakah kita sudah...?"
Kata-katanya tidak dapat dilanjutkan karena jengah.
"Belum...."
Sahut Bwe Mei.
"Saya minta maaf...."
Kata Sun Put Ce.
"Aku tidak menyalahkan dirimu,"
Sahut Bwe Mei cepat.
"Mengapa kau tidak menyalahkan diriku?"
Tanya Sun Put Ce.
"Karena kau tidak termasuk laki-laki yang jahat,"
Sahut Bwe Mei.
"Lihat perempuan langsung bergairah, apakah saya termasuk orang baik?"
Tanya Sun Put Ce tidak mengerti.
"Laki-Iaki yang dapat menghentikan tindakan pada saat seperti ini, mana boleh dianggap bukan orang baik-baik?"
Sahut Bwe Mei dengan wajah tersipu.
Sun Put Ce sendiri tidak mengerti, bagaimana dirinya dapat terlepas dari jerat yang begitu ketat?
Matanya beralih pada tempat tidur.
Tangan yang halus dan pundak yang terbuka masih menyembul dari balik selimut.
Kekuatan apakah yang menyadarkan dirinya tadi?
Sekarang, kembali sinar mata yang penuh gairah menatapnya, Ditambah lagi gerakan kepala yang menawan ketika mengibaskan rambutnya.
Sun Put Ce tahu, dia harus segera meninggalkan tempat ini.
Bila tidak, dia sendiri juga tidak yakin akan dapat melepaskan diri sekali lagi.
-oooo0oooo-Malam, di keremangan pegunungan terlihat kunang-kunang beterbangan.
Sebuah jalan kecil memanjang dari bawah bukit menembus hutan siong.
Di atas jalan kecil itu ada sebuah tandu bergerak.
Tandu itu tidak seberapa besar, tetapi yang menggotongnya justru empat orang laki-laki bertubuh kekar, Tadinya terdengar suara percakapan dari dalam tandu itu.
Namun sejak masuk ke dalam hutan siong, suara percakapan sudah tidak terdengar lagi, dengan demikian, berarti dalam tandu itu berisi dua orang.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam yang panjang hinggap di atas tandu tersebut, Seperti seekor kelelawar yang besar, orang ini mengenakan topeng.
Seluruh tubuhnya hitam pekat, hanya sepasang mata yang terlihat dari lobang penutup mukanya.
Dia tertawa dingin, Dengan satu kali injakan, atap tandu itu amblas ke dalam, Terdengar suara berderak, Sepasang laki-laki dan perempuan loncat keluar, Yang perempuan sangat cantik, yang laki-laki tinggi kurus.
Tampangnya juga cukup bagus.
Kedua orang ini duduk di dalam tandu yang sama.
Dari sini sudah dapat terlihat jelas, betapa akrabnya hubungan sepasang laki-laki dan perempuan itu.
Ketika menghambur keluar dari tandu, kedua orang itu melayangkan sebuah pukulan serentak.
Maksudnya agar manusia yang mengganggu acara itu dapat terhalau segera, Siapa sangka, manusia bertopeng itu sudah dapat menduga akan adanya serangan ini, dia langsung meloncat mundur sebanyak tiga depa.
Sinar rembulan menembusi hutan siong dan bersinar di muka manusia bertopeng tersebut, MenimbuIkan bintik-bintik seperti orang yang terkena penyakit cacar.
laki-laki dan perempuan yang menghambur dari dalam tandu itu berdiri berkacak pinggang.
Wajahnya menampilkan sinar amarah.
"Siapa kau?"
Teriak yang laki-laki.
"Orang yang ingin mengadu ilmu!"
Sahut si manusia bertopeng.
Sepasang laki-laki dan perempuan itu, baru memperhatikan bahwa manusia bertopeng itu menggenggam sebatang pedang yang agak mirip golok.
Bentuk tubuh pedang itu pipih dan tidak lebar Namun di ujungnya ada sedikit lekukan seperti golok.
"Kalau kau ingin mengadu ilmu... tentunya kau sudah mencari keterangan siapa kami ini?"
Tanya laki-laki tinggi kurus itu.
"Tanpa mengetahui identitas dirimu, mengadu ilmu apa gunanya? Kau adalah Kiang Pak It Cheng Hong, Dia adalah perempuan yang menyaru menjadi buruk rupa untuk menguji dirimu, Kao kie...."
Kata manusia bertopeng tadi sambil tertawa dingin. It Cheng Hong tertawa terbahak-bahak.
"Siapa pun tahu, Kiang Pak It Cheng Hong sudah mati di tangan Cu lao thaiya di pinggir pantai lautan Timur."
Serunya. Manusia bertopeng itu ikut tertawa terbahak-bahak.
"Permainan seperti itu mungkin masih bisa mengelabui orang lain, tapi tidak bisa lepas dari mataku!"
Katanya.
"lt Cheng Hong tidak mati? Atau sudah mati hidup kembali?"
Tanya Kao Kie dengan gaya seakan benar-benar tidak tahu.
"Karena kehadiran Toa Tek To Hun telah menimbulkan badai dalam dunia persilatan daerah Tionggoan, banyak jago kelas satu dan dua yang hatinya berkebit-kebit. Mereka terus gelisah kapan dirinya yang akan menjadi korban selanjutnya, Nah.... siluman manusia yang cerdik menemukan akal bagus. Dia meminjam tangan Cu lao thaiya dan pura-pura mati Manusia yang sudah mati toh tidak berharga lagi bagi Toa Tek To Hun...!"
Sahut manusia bertopeng itu.
It Cheng Hong dan Kao Kie saling lirik sekilas, ternyata di dunia ini susah menutupi hal yang sebenarnya.
Mereka terus menganggap bahwa kejadian ini tidak ada pihak ketiga yang tahu.
Rupanya Kao Kie adalah perempuan berwajah buruk yang memberikan Bi jin sim kepada It Cheng Hong, Dia sengaja menyamar untuk menguji hati laki-laki itu, It Cheng Hong tentu saja tidak menyukai perempuan berwajah buruk, tetapi dia memerlukan benda pusaka itu.
Dia ingin merebutnya.
Biarpun si perempuan tampil dengan wajah aslinya, tetap saja It Cheng Hong bermaksud merebut benda pusaka tersebut.
Kao Kie sangat menyukai It Cheng Hong, Tentu sulit untuk menjelaskan alasannya.
Percintaan antara laki-laki dan perempuan memang sulit diuraikan dengan kata-kata, lagipula cinta yang dapat dijelaskan pasti nilainya terbatas, Kao Kie mengikuti lt Cheng Hong sampai pesisir di lautan Timur, dia melihat laki-laki itu pura-pura mati.
Setelah semua orang sudah meninggalkan tempat itu, baru dia bangun kembali, It Cheng Hong menghargai kesetiaannya, mereka berdua meninggalkan laut Timur, Dia melihat laki-laki itu pura-pura mati.
Setelah semua orang sudah meninggalkan tempat itu, baru dia bangun kembali.
It Cheng Hong menghargai kesetiannya, mereka berdua meningalkan lautan timur.
Kemudian merencanakan untuk menetap di Si Pak, duIu mereka takut tidak terkenal, sekarang malah merasakan menjadi orang terkenal itu sangat menakutkan.
"Siapa kau sebenarnya?"
Tanya It Cheng hong "Kau tidak perlu tahu!"
Sahut manusia bertopeng itu.
"Mengapa?"
Tanya Kao Kie gantian.
"Kau setelah bertanding denganku, tahu atau tidak tahu, tiada artinya lagi bagi kalian,"
Sahut manusia bertopeng.
"Sombong benar!"
Bentak It Cheng Hong "Cu lau thaiya saja masih bukan tandingannya.
Hanya karena dia ingin menghindari Toa Tek To Hun, baru terpaksa pura-pura kalah dan mati di tangan orang tua itu.
Namun setelah mengetahui indentitas diri mereka, toh masih berani mencarinya untuk bertanding, dapat dibuktikan bahwa manusia bertopeng itu juga bukan orang biasa.
Senjata keduanya sudah ditangan.
Para pemikul tandu mundur ke samping.
Melihat kenyataan saat sekarang, orang yang berani menggunakan kata-kata mengadu ilmu melawan mereka, mungkin tidak ada lagi, kecuali Toa tek To Hun.
Tetapi mereka belum pernah mendengar Toa Tek To Hun menggunakan topeng penutup muka.
Meskipun manusia ber topeng ini bukan Toa Tek To Hun, tapi pedang yang digunakannya justru sama dengan orang itu.
Bentuknya panjang pipih, warnanya hitam mengkilap.
Pedang It Cheng Hong dan Kao Kie sudah terhunus.
Manusia bertopeng itu meraba pedangnya dengan tangan kiri.
Mereka berdua langsung dapat menerka bahwa dia adalah seorang manusia kidal.
Mereka tidak dapat melihat wajah dan mimik muka manusia bertopeng itu.
Tapi dari caranya meraba pedang, It Cheng Hong dan kao Kie segera dapat merasakan hawa pembunuhan yang tebal.
Daun-daun pohon saling melambai-lambai seakan setanpun menyambut siapa saja yang akan tergeletak hari ini.
Pikiran It Cheng Hong dan Kao Kie terus berputar.
Mereka tidak dapat menebak siapa orang di Bulim yang menggunakan kata-kata "mengadu ilmu"
Untuk mengajak para jago bertanding.
It Cheng Hong turun tangan lebih dahulu, Kao Kie pun tidak ketinggalan terlalu lama.
Sinar pedang berkelebat menutupi manusia bertopeng, keadaan ini membuat kedua orang itu makin percaya diri, Selain Toa Tek To Hun atau Tang hai sin sian, siapa yang sanggup melawan kedua orang itu sekaligus?
Entah sejak kapan, pedang manusia bertopeng juga telah dihunuskan, sinarnya berkelebat menembus kilatan pedang kedua orang itu, cara bertempurnya mirip dengan Toa Tek To Hun.
"Tang! Tang! Ting! Ting!"
Terdengar suara beradunya pedang, bukan pedang kedua orang itu melayang, juga belum terlihat ada bekas luka memanjang di kening mereka, Mungkinkah manusia bertopeng ini Toa Tek To Hun?
Rasanya tidak mungkin, Tapi mungkin saja kalau sejak kedatangannya ke daerah Tionggoan.
Dia belum bertanding dengan dua orang jago kelas satu sekaligus, Dan malam ini adalah kejadian untuk pertama kalinya bahwa dia tidak dapat membunuh lawan dalam kurang dari satu jurus!
Kedua orang itu meloloskan diri dari serangan manusia bertopeng, mereka meloncat mundur sebanyak lima depa.
Setelah saling pandang sejenak, kemudian mulai menyerang Iagi.
Manusia bertopeng itu sudah pasti bukan Toa Tek To Hun.
Langkah kakinya kurang teratur, hawa pembunuhan yang dipancarkan oleh pedangnya juga kurang tebal.
Pedangnya mengeluarkan sinar "Ting!
Tang!"
Dua kali dentingan suara, Bagian perut dan dada pakaian It Cheng Hong dan Kao Kie terkoyak, Bahkan ada luka memanjang pada perut It Cheng Hong, meskipun tidak terlalu parah, darah segar mengalir dengan deras.
Kao Kie terpana, Wajah It Cheng Hong sepucat pedangnya sendiri.
Manusia bertopeng itu bukan Toa Tek To Hun.
Tetapi jurus yang digunakan dan pedangnya justru sama dengan orang itu.
Apakah manusia bertopeng ini masih mempunyai hubungan dengan Toa Tek To Hun?
Apakah ada manusia lain yang sanggup melukai kedua jago kelas satu itu dalam jurus kedua selain Toa Tek To Hun sendiri?
It Cheng Hong dan Kao Kie tidak habis pikir Tapi mereka menganggap, manusia bertopeng ini memang pantas mengajak mereka bertanding.
ilmu gabungan kedua orang itu jauh lebih tinggi dari Chao Hui Feng, Chi Siong Kiam Kek ataupun Lie Cheng Hong.
Di bawah ancaman kematian, It Cheng Hong dan Kao Kie menggunakan tenaga sepenuhnya.
Mereka berusaha keras, serangan yang dilancarkan kedua orang itu bukan main hebatnya, lt Cheng Hong dan Kao Kie tentu saja tidak ingin mati konyol begitu saja.
Pedang manusia bertopeng berkelebat berapa kali, mereka tidak sempat menghitungnya lagi, mereka hanya tahu....
setiap kali pedang itu berkelebat, waktu kematian pun semakin dekat.
Sinar rembulan menyinari wajah mereka yang menyeramkan, Sinar mata mereka lebih menyiratkan sinar terkejut, mereka sadar sulit untuk meloloskan diri dari pertarungan ini.
Sekali pedang menyambar kemudian masuk kembali ke dalam sarung, Tubuh It Cheng Hong dan Kao Kie terhuyung-huyung.
Mereka bertahan sekuatnya, tangan masih ingin digerakkan untuk balas menyerang, namun dalam waktu lima detik keduanya rubuh di tanah.
Nafas masih belum berhenti.
Darah segar mengalir dari kening.
"Bagaimana jurus ilmu silatku menurut kalian?"
Tanya manusia bertopeng dengan nada menyindir. Kao Kie memandangnya dengan mata terbelalak.
"Kau adalah Cap..!"
Kata-katanya tidak sempat di teruskan, Tubuhnya kaku bersama tubuh It Cheng Hong yang jalan selangkah lebih cepat daripadanya.
Manusia bertopeng itu menarik nafas panjang, pedangnya menyambar ke kanan dan kiri, Keempat laki-laki pemikul tandu rubuh dengan tubuh mandi darah.
"Tujuh jurus setengah!"
Kata manusia bertopeng itu.
Entah katakata tujuh jurus setengah itu membawa kesenangan atau kepiluan dalam hatinya.
Dengan tujuh jurus setengah dapat membunuh It Cheng Hong dan Kao Kie sudah termasuk manusia langka, Namun Toa Tek To Hun belum pernah menggunakan lebih dari tiga per empat jurus...!
Rembulan bersinar menerangi atap rumbia dan rumah bambu.
Dahan dan pohon bunga melambai tertiup angin.
Bwe Mei mendorong pintu bambu, langkahnya diperlahankan agar tidak menerbitkan suara bising.
Bayangan tubuhnya merupakan bayangan terindah di antara bunga-bunga yang ada di sekitar tempat itu.
"Siapa?"
Terdengar suara yang berat berkumandang dari dalam rumah itu.
"Memangnya siapa lagi?"
Sahut Bwe Mei.
"Kreekk!"
Suara deritan pintu mengiringi tubuh gemulai gadis itu masuk ke dalam, Di atas tempat tidur terbaring seorang Iaki-laki.
Usianya belum terlalu tinggi Sekitar tiga puluhan, mungkin karena bersandar di tempat tidur, jadi kelihatannya lebih tua dari umur semestinya.
Di dalam rumah tercium bau obat-obatan.
Di samping tempat tidur ada dua buah kayu penopang kaki, Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki yang bersandar di tempat tidur itu tidak bisa jalan tanpa bantuan alat tersebut.
"Ada kemajuan?"
Tanya Bwe Mei. Dia sama sekali tidak menyalakan penerangan. Laki-laki di atas tempat tidur itu menarik nafas.
"Pernahkah kau mendengar kalau penyakit seperti ini cepat sembuh?"
Dia balik bertanya kepada Bwe Mei.
"Untuk orang yang mengalami Cao hue jit mo (Salah melatih ilmu silat sehingga darah mengalir secara terbalik, malah ada "pembuluh nadi yang putus dan menjadi lumpuh total), kau tidak termasuk parah sekali...."
Kata Bwe Mei.
"Meskipun tidak terlalu parah, tapi seumur hidup ini juga jangan harap bisa mengembalikan keadaan semula,"
Kata laki-laki itu sembari menghela nafas.
"Aku paling tidak suka mendengar nada pesimis seperti itu!"
Kata Bwe Mei. Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku Cap sa thai po, Kiau Bu Suang juga tidak ingin mengucapkannya,"
Sahutnya dengan wajah sendu. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Dari arah gunung berkumandang ratapan burung hantu, Setelah sekian lama, dia memandang ke arah Bwe Mei.
"Mengapa tidak duduk?"
Undangnya. Bwe Mei tidak bergerak, Dia tetap berdiri di samping tempat tidur.
"Apakah kau sudah memberitahukan beberapa teman baik saya..?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Memberitahukan soal apa?"
Bwe Mei mencibirkan bibirnya.
"Bahwa aku sudah menjadi manusia cacat,"
Sahut Kiau Bu Suang.
"Kau pernah mengatakan, bahwa selain aku, kau tak ingin bertemu dengan siapa pun!"
Kata Bwe Mei dengan nada dingin.
"Aku memang pernah berkata begitu,"
Kiau Bu Suang mengakuinya.
"Apakah kau mengharapkan mereka datang menjengukmu?"
Tanya Bwe Mei cepat-cepat. Kiau Bu Suang menggelengkan kepaIanya.
"Tidak! Tidak! Teman yang bagaimana baik pun, tetap tidak kuharapkan kedatangannya, Aku tidak ingin penderitaanku ikut mereka rasakan, Tetapi mereka harus tahu bahwa aku, Kiau Bu Suang sudah tercoret namanya dari Bulim,"
Kata laki-laki di atas tempat tidur itu.
"Apa perlu?"
Tanya Bwe Mei.
"Kau pasti mengerti, kalau aku diam-diam meninggalkan dunia kangouw tanpa ada kabar berita, mungkin kawan-kawan baikku akan menduga bahwa aku sudah tiada di dunia ini,"
Sahut Kiau Bu Suang.
"Aku pernah bertemu dengan dua orang kawan baikmu, mereka sangat ingin tahu di mana kau berada, tapi aku tidak mengatakannya, Aku hanya menceritakan sedikit tentang keadaan dirimu saat ini. Mereka tampaknya khawatir,"
Kata Bwe Mei. Suasana dalam rumah bambu itu hening kembali, mereka seakan tenggelam dalam pikiran masing-masing...
"Apakah ada peristiwa besar yang terjadi di Bulim akhir-akhir ini?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Tentu saja ada! Tetapi walaupun-peristiwa besar apa atau bagaimana, semua pasti ada hubungannya dengan Toa Tek To Hun,"
Sahut Bwe Mei. Kiau Bu Suang menegakkan tubuhnya, dia mengambil sebuah cawan di meja samping, dan menuang air putih untuk dirinya sendiri.
"Peristiwa besar apa?"
Tanyanya kemudian.
"Toa Tek To Hun tidak henti menghunus pedang!"
Kata Bwe Mei. Kiau Bu Suang tidak bersuara.
"Jumlah korbannya sudah dua puluh sembilan orang!"
Kata Bwe Mei selanjutnya. Cangkir di tangan Kiau Bu Suang bergetar hebat, isinya tumpah dan membasahi baju Bwe Mei.
"Maaf!"
Kata Kiau Bu Suang dengan tangan menopang pada meja seakan ingin berusaha berdiri. Bwe Mei membimbingnya bersandar kembali, dia mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk mengusap bajunya yang basah.
"Mengapa kau masih selalu sungkan terhadapku?"
Tanya Bwe Mei.
Hubungan mereka memang sudah akrab sekali, kalau bicara dengan nada yang lebih kasar, hanya belum melewati malam pengantin saja.
Sejak Kiau Bu Suang mengatakan dirinya mengalami Cao hue, dia sibuk mencari obat dan tabib terkemuka untuk mengobatinya, sementara itu, dia juga tidak henti mencari jejak Toa Tek To Hun.
Nama Cap sa tai po memang amat terkenal, bahkan jauh lebih terkenal daripada Tionggoan taihiap Fang Tiong Seng, Di dalam daftar nama korban yang diincar Toa Tek To Hun, tidak mungkin namanya tidak tertera.
Jika Toa Tek To Hun hendak mencarinya, pasti dia sudah datang dari kemarin-kemarin, Kalau sampai hari ini bayangannya pun belum tampak, kemungkinan besar Toa Tek To Hun sudah mendapat kabar tentang penyakit Cao hue yang diderita Kiau Bu Suang.
Kalau dilihat dari keadaan sekarang, penyakit yang diidap oleh Kiau Bu Suang termasuk rejeki atau bencana?
"Masih ada peristiwa besar apa lagi?"
Tanya laki-laki itu.
"Aku sudah mengatakan, bahwa peristiwa sebesar apa pun, pasti ada hubungannya dengan Toa Tek To Hun,"
Kata Bwe Mei. Kiau Bu Suang tentu percaya keterangan ini, Toa Tek To Hun adalah segulungan badai Dan ia adalah badai terbesar yang pernah melanda kaum Bulim di Tionggoan.
"Kau tentu kenal It Cheng Hong dan Kao Kie?"
Bwe Mei melontarkan pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu dijawab lagi.
"Tentu! Yang satu terkenal dengan ginkangnya. Yang satu lagi terkenal dengan jurus pedangnya, di antara kedua orang itu, semuanya patut dijadikan sasaran oleh Toa Tek To Hun,"
Kata Kiau Bu Suang.
"Keduanya sudah tewas!"
Ujar Bwe Mei datar.
"Mati bersama?"
Tanya Kiau Bu Suang.
"Ya! Bahkan dengan luka panjang di kening,"
Bwe Mei menjelaskan.
"Prangg!!!"
Cangkir di tangan Kiau Bu Suang terlepas, pecahan kacanya berantakan kemana-mana.
"Apa yang terjadi dengan dirimu hari ini?"
Tanya Bwe Mei heran, Kiau Bu Suang sendiri juga tidak mengerti.
"Cao hue tidak bedanya dengan terserang angin jahat. Sejak kena penyakit yang satu ini, tanganku sering kesemutan dan kebal, Lebihlebih tangan di sebelah kiri. Tadi aku lupa memindahkan cangkir dari tangan kanan ke tangan kiri, sedangkan tangan ini gemetar terus,"
Kata Kiau Bu Suang seakan memberi penjelasan kepada gadis itu.
Bwe Mei memunguti pecahan kaca dalam kegelapan, mata Kiau Bu Siang memancar aneh, tetapi Bwe Mei sama sekali tidak melihatnya.
Keheningan kembali menyelimuti rumah tersebut, Di luar terdengar angin berhembus, Bayangan sinar rembulan menari-nari lewat jendela.
"Selama kedatangannya di daerah Tiong-goan, baru kali ini aku mendengar Toa Tek To Hun menghadapi dua orang sekaligus,"
Kata Kiau Bu Suang.
"Betul, Namun kali ini dia memerlukan lebih dari satu jurus untuk membunuh It Cheng Hong dan Kao Kie,"
Kata Bwe Mei.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya Kiau Bu Suang heran.
"Karena di tubuh kedua orang itu, ada luka yang lain,"
Sahut Bwe Mei. Kiau Bu Suang memejamkan matanya.
"Bagi Toa Tek To Hun, ini pasti merupakan kekecualian,"
Kata Kiau Bu Suang.
"Siapa pun yang melihat mayat kedua orang itu, pasti akan mempunyai pendapat,"
Kata Bwe Mei sambil tertawa getir.
"Pendapat mereka belum tentu masuk akal..."
Sahut Kiau Bu Suang.
"Mengapa?"
Tanya Bwe Mei menatap laki-laki itu tajam. Mata Kiau Bu Suang tetap terpejam.
"Kau mungkin bisa mengeluarkan pendapat tentang siapa saja, Tapi terhadap Toa Tek To Hun, pendapatmu belum tentu tepat,"
Katanya.
"Menurut apa yang dilihat oleh beberapa orang jago kelas dua, kalau ditilik dari keadaan mayat kedua orang itu, orang yang membunuh mereka pasti memerlukan sedikitnya di atas lima jurus baru dapat merobohkan kedua orang itu. Hal ini juga ramai dipergunjingkan, orang-orang yang bermata tajam dan mempunyai ilmu cukup tinggi rata-rata yakin bahwa yang membunuh kedua orang itu bukan Toa Tek To Hun,"
Kata Bwe Mei menjelaskan kembali. Kiau Bu Suang membuka matanya dan menatap gadis itu.
"Amei.... Bagaimana pendapatmu sendiri?"
Tanyanya.
"Orang ini pasti bukan Toa Tek To Hun!"
Sahutnya yakin.
"Kenapa?"
Tanya Kiau Bu Suang dengan pandangan menyelidik.
"Jejak kaki Toa Tek To Hun selalu rapi dan teratur selamanya begitu, disini tempat terlihat dari bekas pertarungan antara pembunuh itu dengan It Cheng Hong dan Kao Kie, jejak yang tertinggal ternyata acak-acakan. Berarti orang tersebut bukan Toa Tek To Hun,"
Kata Bwe Mei mengeluarkan pendapatnya.
"Hanya itu teorimu?"
Tanya Kiau Bu Suang kurang percaya.
"Toa Tek To Hun sudah membunuh hampir tiga puluh orang. Belum pernah ada luka lain di depan,"
Kata Bwe Mei.
"Apalagi?"
"Luka di kening It Cheng Hong dan Kao Kie juga tidak mirip sekali dengan bekas luka yang selalu ditinggalkan Toa Tek To Hun,"
Kata gadis itu melanjutkan penjelasan tentang apa yang terpikir olehnya.
"Di mana letak perbedaannya?"
Tanya Kiau Bu Suang, Angin kencang berhembus, Meninggalkan kegigilan di tubuh, nada suara Kiau Bu Suang juga terdengar sendu.
"Bukankah aku pernah mengatakan perihal ranting pohon yang diberikan kepada Fang Tiong Seng taihiap oleh Toa Tek To Hun?"
Bwe Mei mengingatkan kembali.
"Iya. Aku ingat kau pernah menceritakannya,"
Sahut Kiau Bu Suang.
"Gerakan pedang Toa Tek To Hun selalu mengandung "makna pedang", sedangkan dalam gerakan pedang pembunuh itu tidak ada. Ada hal lain yang mungkin penting,"
Kata Bwe Mei.
"Apa?"
"Dari bekas luka kedua orang itu, dapat terlihat mereka mati dalam waktu yang tidak bersamaan, Berarti gerakan pedang yang membunuh mereka tidak dilancarkan sekaligus. Kalau Toa Tek To Hun yang melakukannya, aku yakin hal ini tidak mungkin terjadi!"
Kata Bwe Mei yakin.
Kiau Bu Suang termangu-mangu sejenak, -"ltu juga belum pasti!
Tulang perempuan dan laki-laki memang berlainan Kau tidak bisa memastikan sesuatu dari mayat kedua orang itu saja.
Umpamanya, mayat yang mati tenggelam, Kalau perempuan pasti menjadi pucat seperti kertas.
Dan laki-laki justru menjadi kehitaman warna mukanya,"
Sahut Kiau Bu Suang tidak sependapat.
Bwe Mei tidak percaya teori ini.
Malah dia membenci pendapat Kiau Bu Suang itu.
Memang setiap orang selalu berkeras tentang pendapatnya masing-masing, dan tidak suka kalau pendapatnya tidak diterima oleh si lawan bicara.
"Apakah kau bertemu dengan Sun Put Ce?"
Tiba-tiba Kiau Bu Suang bertanya, Bwe Mei menganggukkan kepalanya.
"Aku juga melihat Bok lang kun dan dayang Cui thian, mereka memberikan ranting pohon kepada Toa Tek To Hun. Setelah itu mereka mencari penginapan untuk membahasnya,"
Kata Bwe Mei.
"Bagaimana pendapatmu tentang dayang Cui thian itu?"
Tanya Kiau Bu Suang. Bwe Mei merenung sejenak, dia merasa sedikit aneh.
"Mengapa kau bisa menanyakan tentang perempuan itu?"
Bwe Mei berbalik bertanya pada laki-laki yang bersandar di atas tempat tidur, Wajah Kiau Bu Suang tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
"Tidak.... Aku hanya sekedar ingin tahu,"
Katanya, Bwe Mei berpikir lagi beberapa detik.
"Tampaknya dia sangat setia terhadap Tang hai sin sian,"
Sahut gadis itu.
"Dia akan setia terhadap siapa saja yang menjadi majikannya,"
Tukas Kiau Bu Suang.
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Tanya Bwe Mei bingung, Kiau Bu Suang hanya menggelengkan kepalanya.
"Sebetulnya juga tidak ada maksud apa-apa,"
Sahutnya.
Perasaan Bwe Mei terhadap laki-laki itu memang dalam, tapi pengertian tentang isi hatinya justru tidak terlalu dalam.
Dia hanya merasakan bahwa Kiau Bu Suang agak aneh malam ini.
-oooo0oooo-Malam....
Kapal dewa layar pancawarna tetap bergerak melaju, karena tubuh kapal itu sangat besar, ombak yang sedang-sedang saja tidak akan begitu terasa.
Pada saat itu, lampu-lampu di kapal Tang hai sin sian bersinar terang.
Dari kabin dapat terdengar suara deburan ombak, Suara layar berkepak-kepak, suara kapal melaju berdesir, di dalam kabin justru tidak terdengar suara sedikit pun.
Tang hai sin sian duduk di atas tempat tidurnya yang indah, wajahnya kelam, ia sedang merenung.
Bahkan sudah merenung sejak tadi.
Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Andaikata ada yang dapat mengetahui apa yang sedang terpikir olehnya, orang itu pasti akan terkejut setengah mati...
Jilid 7 Biarpun wajahnya kelam atau bergembira.
penampilannya tetap mirip seorang dewa!
Dia berdiri dari tempat tidurnya, Dari dalam lemari dia mengeluarkan sebuah kotak besar.
Ketika kotak itu di buka, dia menatap isinya dengan tarikan nafas berulang kali, Di dalam kotak itu terdapat sebilah pedang.
Sebilah pedang yang indah sekali.
Menatap pedang yang pernah menjadi senjatanya malang melintang di Bulim selama puluhan tahun, perasaannya menjadi bersemangat.
Dia bagaikan melihat teman baiknya atau pelayannya yang paling setia.
Pedang mendapat kebanggaan dari tuannya, dari orang mendapat nama dari pedang.
Dia pernah menganggap pedang itu sebagai nyawanya.
Dalam bahaya yang bagaimana besar pun, pedang itu seperti dewa penolong baginya.
Setiap kali menghadapi suatu pertarungan asalkan pedang itu tergenggam di tangan, dia akan percaya diri sepenuhnya.
Sekarang, rasa percaya diri bangkit kem-bali, Dia merasa gagah sekali, Sreet!!
Suara hunusan pedang terdengar.
Kilau-kemilau terpancar Ruangan kabin itu bagai diseimuti sinar keperakan.
Tiba-tiba suara keras berdentang, Pedang itu terjatuh ke lantai, Dalam perasaannya, suara berdentang itu lebih mirip sebuah keluhan, tentunya keluhan dari pedang tersebut.
Dia memandang pedang yang terjatuh dengan gaya termangumangu.
Wajahnya yang kelam berubah jadi pilu, Siapa yang dapat mengetahui perasaan hatinya saat ini?
Mungkin hanya satu orang di dunia ini yang bisa mengetahuinya.
Tapi orang itu bukan Siau kiong cu yang teramat disayanginya, Lebih tidak mungkin lagi kalau orang itu adalah Kwe Po Giok.
-oooo0oooo-Kapal dewa itu sangat besar, Mungkin hanya sebuah kapal besar biasa.
Kapal itu terlihat mengapung di atas lautan tanpa batas, Hidup manusia pun tidak berarti banyak.
Maka dari itu, orang yang sudah berlayar berbulan-bulan, biasanya akan mencari kesenangan dengan cara gila-gilaan.
Ada yang mengatakan para pelaut adalah kuda binal yang sukar dikendalikan Oleh sebab itu, di atas kapal perlu berbuat sesuatu untuk mengurangi kesenjangan.
Harus ada sesuatu yang dilakukan sebagai hiburan Siau kiong cu senang menghias bunga, Mungkin ini merupakan jalan terbaik untuk mengusir kesepian dan kekesalan di atas kapal.
Namun bagi orang yang tidak mempunyai jiwa sabar dan tekun, pekerjaan menghias serta merangkai bunga merupakan pekerjaan yang hanya membuang waktu dengan sia-sia.
Mungkin pekerjaan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh kaum perempuan.
Setiap kali Siau kiong cu merangkai bunga, para dayang pun segan memperhatikan di sampingnya, karena Siau kiong cu bisa merangkai bunga selama dua jam.
Para dayang menertawakan keluguannya, para pengawal menertawakan keisengannya, sebetulnya bila mereka tidak menertawakan dirinya lugu atau iseng, mereka tentunya bukanlah dayang dan para pengawal.
Apa sebabnya?
Karena mereka pasti tidak tahu maksud Siau kiong cu di balik merangkai bunga tersebut!
Mungkin hanya ada satu orang yang mengerti yaitu dayang Cui thian.
Dia sering diam-diam memperhatikan Siau kiong cu merangkai bunga, Akhirnya rangkaian bunga itu selesai juga.
Dia menolehkan kepalanya.
Tertampak olehnya Kwe Po Giok sedang memperhatikan dengan gaya terpesona.
Pemuda itu seakan bukan memperhatikan saja, otaknya juga ikut berpikir.
Oleh karena itu, para dayang dan pengawal sering menertawakan dirinya di belakang, ia dianggap terlalu lemah lembut seperti seorang perempuan.
Apalagi mempunyai kesenangan terhadap rangkaian bunga, Mereka juga tidak dapat disalahkan orang-orang yang kedudukannya hanya dayang dan para pengawal tentu tidak mengerti mengapa Kwe Po Giok bisa menyenangi pekerjaan seorang perempuan itu!
Siau kiong cu memperdengarkan suara yang merdu, Tiba-tiba, bunga yang telah dirangkai dengan indah, ditumpahkannya kembali Dia mulai merangkai sekali lagi Kwe Po Giok sama sekali tidak bertanya mengapa dia harus mengulangi sekali lagi rangkaian bunga tersebut.
Dia hanya memperhatikan dengan seksama dan penuh perhatian Tidak ada kesan tidak sabar atau kesal di wajahnya.
Apakah karena Siau kiong cu terlalu cantik?
Apakah gadis yang sedang merangkai bunga merupakan pemandangan yang menawan?
Kalau jawabannya iya, maka Siau kiong cu tidak akan menganggap dirinya istimewa.
Tiba-tiba Siau kiong cu tertawa kembali dengan suara yang lebih keras.
"Ternyata kau memang cukup cerdas Ayah menyuruh kau memperhatikan aku merangkai bunga, kau pun memperhatikan dengan seksama dan bahkan tak pernah mengeluh, malahan sudah beberapa malam berturut-turut,"
Kata gadis itu.
"Saya masih mempunyai kesabaran memperhatikan beberapa malam lagi. Sayangnya hari Chong Yang sudah semakin dekat,"
Sahut Kwe Po Giok. Dalam kabin terjadi keheningan Di luar jendela, laut dan langit bagai berpadu.
"Berapa lama lagi hari Chong Yang tiba?"
Tanya Siau kiong cu.
"Paling banyak tiga atau empat hari lagi,"
Sahut bocah cerdas itu. Alis mata Siau kiong cu bergerak.
"Kalau begitu mengapa ayahku belum memerintahkan kapal ini berbalik haluan?"
Tanya gadis itu seperti kepada dirinya sendiri. Kwe Po Giok terpana.
"Apakah tujuan kapal ini sekarang bukan ke arah pelabuhan Tionggoan?"
Dia malah balik bertanya, Siau kiong cu menggelengkan kepalanya.
"Bukan!"
Sahutnya.
Apakah masih ada berita yang mengejutkan lagi bagi Kwe Po Giok?
sebenarnya dia memang terkejut, bahkan pada saat itu juga dia menghambur keluar, Siau kiong cu mengikuti di belakangnya.
Matahari menyorot ke dalam kabin.
Tempat tidur yang indah kuat bergerak seiring deburan ombak.
Tempat ini adalah kabin Tang hay sin sian.
Semua perabotan masih pada tempatnya.
Pedang panjang yang indah juga masih tergeletak di dalam kotak, Tang hay sin sian malah tidak ada lagi dalam kabin itu.
Seorang dayang sedang menyapu, Seorang pelayan tua sedang merapikan barang-barang yang berserakan.
Siau kiong cu menerobos masuk, Bagi gadis tersebut, ini bukan kebiasaannya, Dia menarik tangan pelayan tua yang sedang merapikan kamar itu.
Siau kiong cu tidak pernah sekasar ini sebelumnya, Pelayan itu tampak tercengang.
"Siocia!"
Panggilnya dengan gugup.
"Mana ayahku?"
Tanya gadis itu. wajahnya kelihatan cemas.
"Loya sudah berangkat dengan perahu kecil,"
Sahut pelayan itu takut-takut.
"Mengapa kau tidak melaporkan sejak tadi?"
Tanya Siau kiong cu dengan wajah menunjukkan kemarahan "Cu jin yang memerintahkan, Cu jin tidak ingin kalian menyaksikan pertarungan berdarah itu,"
Sahut pelayan tua itu menjelaskan "Kepergiannya adalah untuk memenuhi janji, tapi mengapa pedangnya malah ditinggalkan?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Lweekang (tenaga dalam) dan Kiam sut (Jurus pedang) Cu jin sudah sempurna, walaupun hanya sekuntum bunga atau pun selembar daun, sudah dapat dijadikan senjata untuk melukai orang. Untuk apa perlu membawa pedang?"
Sahut pelayan tua itu tersenyum.
Siau kiong cu tidak mengeluarkan suara, Kwe Po Giok memperhatikan pelayan tua dengan tenang, sinar matanya seakan ingin menembusi tubuh pelayan tua tersebut pelayan tua itu mengelakkan diri dari tatapan Kwe Po Giok.
Dia mengambil pedang yang tergeletak di atas meja dan dihaturkannya kepada pemuda itu, Kwe Po Giok tidak menerimanya, Mungkin karena dia merupakan bocah ajaib.
Pelayan tua itu menghaturkan pedang Tang hay sin sian kepadanya, bukan kepada Siau kiong cu.
Hal ini terasa janggal baginya.
Mungkin karena dirinya bocah ajaib itulah, dia dapat merasakan kejanggalan melebihi orang lain.
Dia tetap belum menerima pedang itu, Dia hanya menatap tajam Selain suara sapu yang digerakkan dayang cilik itu, di dalam kabin masih terdapat hawa panas yang tidak dapat dimengerti.
Hawa ini juga bukan sembarangan orang dapat merasakannya, Seperti halnya bila sinar matahari tidak dapat menembusi kamar ini lagi, maka kabin ini akan lembab selamanya.
"Dia orang tua masih meninggalkan pesan apa?"
Tanya Siau kiong cu memecahkan kesunyian.
"Cu jin berpesan agar siocia merangkai bunga setiap hari untuk ditunjukkan kepada Kwe kongcu, sampai dia merasa bosan, baru boleh berhenti,"
Kata pelayan tua itu tersenyum.
Tangis dan tawa itu hampir sama, ada yang sejati dan ada yang berpura-pura.
Ada yang keras dan ada yang lirih, kenyataan ini hanya dapat dilihat oleh orang yang berotak cerdas.
Apakah tawa atau tangis yang sejati?
Apakah tawa kesedihan atau tangis kegembiraan?Kwe Po Giok sudah dikenal sebagai bocah ajaib pada usia tiga tahun, Tangannya tiba-tiba terulur, dia merenggut kerah baju pelayan tua itu.
Siau kiong cu terkejut.
Dayang cilik yang sedang menyapu pun, sampai menghentikan gerakkannya, Tentu saja pelayan tua itu pun ikut terkesiap, Dalam hatinya bahkan terselip rasa hormat.
"Katakan atau tidak!"
Bentak Kwe Po Giok. Pelayan tua itu berusaha setenang mungkin.
"Apa yang Kwe kongcu minta hamba jelaskan?"
Dia seakan tidak mengerti maksud bocah cerdas itu.
"Biarpun ilmu Cianpwe sudah mencapai taraf kesempurnaan tapi lawannya kali ini juga merupakan makhluk ajaib, Dia sudah memenangkan pertarungan hampir sebanyak tigapuluh kali, Cianpwe seharusnya lebih berhati-hati menghadapinya, Di balik peristiwa ini pasti ada suatu misteri,"
Kata Kwe Po Giok.
"Misteri apa?"
Tanya pelayan tua itu sambil tertawa getir.
"Rahasia ini hanya engkau yang tahu. Bila kau tidak mau mengatakannya, maka aku akan membunuhmu, Setelah itu aku akan menerima kematianku sendiri dengan membenturkan kepala ke dinding kabin ini!"
Kata Kwe Po Giok dengan wajah serius.
Siau kiong cu dengan sendirinya sudah dapat membayangkan bila semua itu benar-benar terjadi, pelayan tua itu memandang terkesiap.
Wajah yang semula tenang berubah pucat seperti selembar kertas.
Tiba-tiba dia menangis tersengguk-sengguk.
Tangisan pelayan tua itu menyiratkan arti yang dalam, dari wajah yang tersenyum lalu berubah begitu pilu, tentu menjelaskan bahwa apa yang bakal terjadi adalah suatu tragedi.
Oleh sebab itu, Siau kiong cu pun ikut mengalirkan airmata.
Rembulan bersinar penuh, membuat ruangan di rumah keluarga Fang terang benderang, Namun, di wajah setiap orang ada segumpalan kabut.
Cemas, tegang, namun tidak ada satu pun yang membuka suara, Seakan semua pembicaraan telah selesai dan tidak tersisa lagi, pembicaraan mengenai apa pun saat ini akan terdengar seperti bualan atau omong kosong.
Selain Fang Tiong Seng yang berhasil menghindar dari maut, masih ada Mo Put Chi, Sun Put Ce, Bok lang kun, dan dayang Cui thian, masih ada lagi beberapa pengikut setia yang tetap berada di dalam ruangan Jin gie tong.
Hati mereka sangat tertekan, bagaikan seorang dokter ahli dan pada saat itu ada pasien tergeletak parah di hadapan mereka, namun tiada daya untuk membantu.
Mungkin begitulah perasaan orang-orang yang hadir di tempat itu.
Ada juga sebagian orang yang bahkan belum pernah merasakan keadaan demikian selama hidupnya.
Namun, di antara mereka paling tidak ada dua orang yang masih menyimpan setitik harapan.
Harapan bagaikan matahari, di kala kita berdiri berhadapan dengannya, bayangan kita malah berada di belakang, Biarpun kita telah kehilangan segala sesuatu, tetapi tetap masih tersisa sedikit harapan dalam hati.
Siapakah salah satu di antara kedua orang yang menyimpan segaris harapan itu?
Orang itu semestinya adalah Bok lang kun, Tiba-tiba Fang Tiong Seng berdiri dari kursi singanya.
"Sudah datang!"
Teriak pendekar besar tersebut, pada saat yang bersamaan sebuah suara yang dingin menyahut dari arah luar.
"Mana orangnya?"
Siapa lagi kalau bukan Toa Tek To Hun.
Kalah menangnya pertarungan kali ini, sama juga dengan mati hidupnya para pendekar kaum Bulim di Tionggoan, juga merupakan pertarungan ketinggian ilmu antara Fu sang dan Tionggoan.
Menurut pandangan orang-orang yang selalu mengikuti tindaktanduk dan kejadian besar dalam dunia Bulim, paling tidak mereka menganggap Fang Tiong Seng sendiri sudah mempunyai persiapan yang cukup matang.
Hal ini bukan karena Fang Tiong Seng pernah luput dari kematian, tetapi disebabkan oleh keinginan untuk membalas kekalahan.
Dayang Cui thian maju untuk memberi hormat.
"Cu jin sudah sejak tadi menunggu di pegunungan sebelah Barat di luar perkampungan,"
Katanya memberi penjelasan Dia mengatakan hal itu kepada Toa Tek To Hun, tapi pandangannya justru menatap Fang Tiong Seng. Toa TekTo Hun membalikkan tubuhnya.
"Aku berangkat sekarang juga!"
Kata-katanya belum selesai, orangnya malah sudah berada di pekarangan.
Suara langkah kakinya sama sekali tidak terdengar, namun jejak langkahnya yang rapi meninggalkan kesan yang dalam bagi setiap orang yang hadir dalam ruangan itu.
Ruangan itu sunyi senyap, Seluruh harapan bertumpu di pegunungan sebelah Barat, orang-orang yang hadir masih tetap berdiam di Jin gie tong, tapi hati mereka sudah terbawa langkah Toa Tek To Hun ke pegunungan sebelah Barat.
Setelah begitu lama tidak ada yang bersuara, akhirnya Fang Tiong Seng menarik nafas panjang.
"Mengapa dia tidak mengijinkan kita pergi untuk melihat pertarungan tersebut? Bagaimana hati kita tidak menjadi tegang kalau hasilnya tidak diketahui oleh mata kepala sendiri?"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara pilu.
"Karena dia membunuh bukan untuk dipamerkan,"
Sahut dayang Cui thian.
Fang Tiong Seng menganggukkan kepala tanda mengerti.
Air muka dan maksud yang tersirat dari dayang Cui thian, hanya seorang yang paham secara keseluruhan.
Fajar baru mulai menampakkan diri, di daerah pegunungan sebelah Barat, Rembulan sudah lama tenggelam.
Daun dan rerumputan dipenuhi embun yang berkilauan.
Sebelum hari menjadi terang, kegelapan tidak akan bertahan lama.
Namun, bagi Tang hay sin sian, penantiannya bagai seumur hidup.
Dalam keadaan biasa, orang mungkin akan menikmati udara yang baru berganti itu, hawa yang sejuk tentu akan menyamankan hati.
Tetapi dalam keadaan gelisah seperti saat itu, siapakah yang sanggup menikmati keindahan gunung yang menghijau, air yang mengalir jernih?
Ini merupakan pertarungan hidup atau mati.
pertarungan yang tidak dapat dihindarinya, oleh karena itu, dia terpaksa menunggu dengan sabar, Bahkan matanya hampir tidak pernah berkedip, Saat itu, ada seseorang yang mendaki ke atas gunung....
Tang hay sin sian hanya melirik sekilas, Langkah kaki yang berirama dan teratur, musuh besar telah datang memenuhi janji.
Mereka berhadapan kira-kira dalam jarak lima langkah, Dalam sinar mata keduanya telah tersirat rasa hormat dan pengertian yang dalam.
"Beberapa hari yang lalu aku telah menerima "makna pedang"
Pada ranting pohon Siong, Hari ini Toa Tek mendapat kesempatan bertarung dengan Siansing, merupakan kebanggaan bagiku, Meskipun siapa yang mati atau hidup, Dalam hidup Toa Tek ini tidak akan pernah menyesal,"
Kata laki-laki berpakaian hitam itu.
"Aku hanya berharap Siansing bisa mengabulkan sebuah permintaanku,"
Kata Tang hay sin sian dengan wajah berwibawa.
"Silahkan kemukakan!"
Sahut Toa Tek To Hun tidak kalah serius. Di mataTang hay sin sian ada tekad yang kuat dan semacam perintah yang tak dapat ditolak.
"Pertarungan kita hari ini, baik siapa yang menang ataupun siapa yang kalah, aku harap Siansing berjanji bila berhasil hidup, harus meninggalkan Tionggoan untuk selamanya!"
Kata Tang hay sin sian.
Laki-laki setengah baya ini benar-benar seorang yang berbudi, Dalam menghadapi bahaya yang demikian besar, dia tetap mementingkan manusia sebangsanya, Sifat orang yang satu ini, bahkan lebih terhormat dari Fang Tiong Seng di mata musuhnya.
Bagi seorang pahlawan, kematian toh hanya terjadi satu kali.
Toa Tek To Hun merasakan hatinya bergetar, manusia disegani bukan kegalakannya, tapi karena wibawa yang dipancarkannya.
"Dapat mengadakan pertarungan dengan Siansing, berarti keinginanku sudah terpenuhi, bila Toa Tek berhasil meraih kemenangan dan tetap hidup, aku berjanji akan kembali ke Fu sang dan tidak akan menginjakkan kaki lagi ke daerah Tionggoan untuk selamanya!"
Jawab sang lawan dengan nada sungguh-sungguh.
"Terima kasih atas janjimu tadi, Darah sudah tumpah terlalu banyak, Aku tidak ingin ada darah kaumku yang mengalir lagi!"
Kata Tang hay sin sian dengan sinar mata hormat.
Tangan Toa Tek To Hun meraba gagang pedang, Caranya menggenggam pedang, membuat orang yang melihatnya yakin, meskipun pedang dipatahkan atau tangan yang dibuntungkan, keduanya tetap tidak terpisahkan.
Oleh karena itu, pedang semacam ini memang hanya pantas dipadukan dengan tangan seperti milik Toa Tek To Hun.
Tang hay sin sian tidak bergerak.
"Silahkan keluarkan pedang!"
Kata Toa Tek To Hun.
"Pedang sudah terhunus sejak tadi!"
Jawab Tang hay sin sian.
Dia mengulurkan tangan kanan yang disembunyikan di belakang.
Sebuah pedang pendek tergenggam di jarinya, sinar yang dipancarkan oleh pedang pendek itu sangat menyolok mata.
Pedang ini juga mendapat sebutan Ciang tiong kiam yang berarti pedang dalam genggaman.
Toa Tek To Hun tampak terpana.
"ltu pedang yang hendak kau gunakan untuk bertarung dengan aku?"
Tanyanya dengan perasaan kurang percaya. Pedangnya sendiri panjang sekali, hampir dua puluh kali lipat dari pedang yang tergenggam di tangan lawannya.
"Panjang bukan merupakan kepastian untuk memenangkan yang pendek, Ada belum pasti memenangkan yang tiada,"
Kata Tang hay sin sian. Toa Tek To Hun merenung sejenak.
"Betul!"
Sahutnya kemudian.
"Siansing bisa mengerti maksudku ini, berarti Siansing maklum bahwa aku melawan Siansing dengan pedang pendek ini bukan berarti meremehkan ilmu Siansing, Harap jangan tersinggung!"
Kata Tang hay sin sian. Toa Tek To Hun kembali merasa hatinya bergetar. Dengan wajah kereng dia menatap lawannya.
"Aku mengerti!"
Kedua orang saling berhadapan.
Matahari mulai bersinar, hati justru semakin kelam...
Di atas laut matahari pun telah naik tinggi.
Sinar pagi menyebar, pandangan terasa silau, Namun siapa yang ingin memandang lautan yang indah di pagi hari?
Kapal dewa masih terus bergerak di atas lautan biru.
Di dalam kabin masih terlihat lampu penerangan bersinar.
Siau kiong cu, Kwe Po Giok dan pelayan tua masih ada di dalam kabin milik Tang hay sin sian.
Mereka telah berdiam diri begitu lama.
Di atas kapal tidak terlihat lagi keceriaan dan senyuman manis seperti biasanya.
Keheningan, ketegangan, kecemasan seakan menyelimuti kapal dan isinya.
Pelayan tua duduk terhenyak dengan air mata bercucuran, berkali-kali terlihat dia menguruti dada untuk melegakan perasaannya.
Tapi mungkinkah?
"Beberapa hari Kongcu memaksa saya bicara, tapi mati pun saya tidak mau mengatakan apa-apa.
Namun sekarang, tanpa diminta saya tetap akan membicarakannya,"
Kata orang tua itu dengan wajah pilu. Kwe Po Giok menatapnya dengan pandangan tak percaya.
"Mengapa kau harus mengatakannya sekarang?"
Tanya bocah itu. Pelayan tua menatap matahari yang baru terbit, Tiada keindahan yang dapat dirasakan olehnya.
"Karena hari ini adalah hari Chong Yang,"
Sahutnya tanpa menoIeh.
"Sebetulnya Thia ada rahasia apa?"
Tanya Siau kiong cu khawatir Kerutan di wajah pelayan tua itu seperti bertambah banyak dan dalam hanya jangka waktu dua hari saja. Kesedihannya tidak dapat ditutupi lagi.
"llmu pedang yang Cu jin latih sangat dalam. Dia berusaha mencapai taraf kesempurnaan, salahnya dia terlalu memaksa diri, Dua tahun yang lalu, Cu jin mengalami Cao hue jit mo. Tenaga dalam yang dilatihnya selama empat puluh tahun lebih musnah begitu saja, Saat ini, pedang panjang yang ditinggalkan itu tidak sanggup dihunusnya lagi. Setiap kali dia mencobanya, setiap kali pedang itu terjatuh ke lantai,"
Kata pelayan tua itu sambil sekali-sekali menghapus airmata yang berderai.
Tiada hal yang lebih mengejutkan lagi bagi Kwe Po Giok dan Siau kiong cu.
Meskipun sejak semula sudah ada firasat buruk, mereka tetap tidak menyangka begini kejadian yang sebenarnya, Seorang yang sudah kehilangan tenaga dalam yang dilatihnya selama empatpuluh tahun, pergi menghadapi Toa Tek To Hun seorang diri, akibatnya apa sama sekali tidak berani dibayangkan oleh kedua orang itu.
Tubuh Siau kiong cu yang kecil bergetar.
Kwe Po Giok secara diam-diam mengatupkan rahang, tangannya terkepal kencang.
Sinar mata mereka terpaku pada pedang panjang yang telah membuat Tang hay sin sian terkenal.
Pedang ditinggal, orangnya sudah pergi.
Benar-benar bermaksud meninggalkan nama yang telah dipupuk selama puluhan tahun.
"Meskipun demikian, Cu jin tetap ingin menemui Toa Tek To Hun. Sebab hanya dia yang dapat meredakan ambisi di hati orang itu, Biarpun dia tidak mencari Toa Tek To Hun, orang itu pasti akan mencarinya, Cu jin lebih rela mati daripada dilihat orang sebagai seorang jompo yang tidak bisa apa-apa lagi,"
Sahut pelayan tua dengan wajah semakin kelam.
Toa Tek To Hun tiba-tiba menghunus pedangnya, Sejak dulu dia selalu menghunus pedang dengan hati yakin dan kecepatan penuh, Baginya, kalah berarti mati.
Cahaya yang terpancar dari pedang terpadu dengan sinar keperakan dari matahari.
Laksana hujan cahaya yang deras, tapi akibatnya sama sekali tidak sama dengan bayangan Toa Tek To Hun.
Pedangnya sudah masuk kembali ke dalam sarung.
Menghadapi Tang hay sin sian bahkan jauh lebih mudah daripada menghadapi ketiga puluh korbannya yang lain.
Benar-benar di luar dugaannya, Tang hai sin sian belum mencabut pedang pendeknya, Ciang tiong kiam masih terlilit dalam sarungnya.
Rupanya guratan kesedihan yang terpancar dari sinar matanya karena dia sudah tahu bahwa hari ini pasti akan menghadapi kematian, Wajah Toa Tek To Hun pucat bagai sinar matahari yang bersinar.
"Kau adalah manusia yang telah cacat. Mengapa kau tetap ingin menghadapi aku? Mengapa kau tidak mengatakannya sejak semula?"
Tanya Toa Tek To Hun pilu. Tang hay sin sian tertawa getir.
"Dapat bertemu langsung dengan dirimu,"
Merupakan suatu hal yang patut dibanggakan, karena sejak semula aku yakin kau bukan orang jahat, Lagipula, demi keselamatan bangsaku, mati pun aku rela. Bagaimana aku harus mengatakannya kepadamu?"
Selesai berkata, tubuh Tang hay sin sian rubuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.
Orang yang bijaksana tentu mengerti bahwa kematian hanyalah tidur panjang, Tanghay sin sian pasti mengerti Di wajahnya masih tersungging sebuah senyuman kepuasan.
Toa Tek To Hun bagaikan sebuah patung, Dia berdiri terpaku di samping mayat Tang hay sin sian.
Lama sekali...
bayangan tubuhnya yang dibuat oleh sang matahari makin menciut, Tiba-tiba dia tertawa seperti orang gila.
Sembari tertawa, matanya tidak henti menatap pedang panjang di tangannya.
Pedang yang telah memberikan sekian banyak kemenangan.
Dia telah lama berteman dengan pedangnya itu, tapi selama ini dia belum pernah merasa benci kepada pedangnya seperti hari ini.
Toa Tek To Hun meraung keras.
"Takk!!!"
Pedang itu telah terputus menjadi dua bagian pedang panjang dengan sejarah ratusan kemenangan Dilemparkannya pedang itu ke tanah, matanya sama sekali tidak menoleh lagi sekejap pun.
Dia berlutut di hadapan jenazah Tanghay sin sian, orang yang berbudi Iuhur, pasti akan melakukan hal yang sama, Manusia yang sudah mencapai kepuasan dan rela berkorban seperti Tanghay sin sian, mungkin tidak ada duanya lagi di dunia ini.
Selama ini Toa Tek To Hun selalu merasa dirinya adalah seorang pendekar besar, seorang pahlawan bagi negaranya, Hari ini, matanya telah terbuka, dia tidak lebih dari seorang pembunuh bayaran yang berdarah dingin.
Dia menyembah jenazah Tang hay sin sian sebanyak tiga kali Wajahnya terbayang awan kelabu.
"Kau tidak usah khawatir, meskipun aku bukan seorang pendekar besar seperti dirimu, tapi setidaknya Toa Tek To Hun adalah seorang laki-laki sejati permintaan terakhirmu akan kukabulkan. Aku akan meninggalkan Tionggoan dan tidak akan kembali untuk selamanya!"
Ucapnya dengan suara lirih namun mengandung kepastian yang dalam. Senyum di wajah Tang hay sin sian seakan makin mengembang.
"Tidak akan kembali untuk selamanya! Tidak akan kembali untuk selamanya!"
Kumandang kata-kata Toa Tek To Hun terus terdengar sampai bayangan tubuhnya menghilang.
Di pegunungan sebelah Barat, Keadaan cuaca tetap sama.
Hanya bertambah sedikit sejuk dengan adanya angin yang berhembus.
Bayangan Toa Tek To Hun sudah tidak terlihat.
Tang hay sin sian masih rebah di tanah dengan luka memanjang di keningnya.
Darah segar memercik di mana-mana, pada saat itu, ada sebuah bayangan berkelebat.
Sebuah topeng menutupi wajahnya.
pakaiannya berwarna hitam.
Di bahunya tergantung sebuah bungkusan yang panjang, mungkin isinya adalah sebatang pedang.
Dia menghampiri tubuh Tang hay sin sian, Tangannya meraba ke bagian jantung, tiba-tiba sebuah tawa yang ringan terdengar dari bibirnya.
Apakah dia menertawakan nama kosong Tang hay sin sian?
Mungkin jawabannya hanya dia sendiri yang tahu, Ketika matanya menangkap kutungan pedang hitam milik Toa Tek To Hun, dia tertawa sekali lagi.
Kali ini secara terang ia menunjukkan kepuasan hatinya karena dia merupakan orang satu-satunya yang menonton pertarungan tersebut justru karena dia telah melihat semuanya, mendengar seluruhnya, dia baru dapat tertawa dengan senang.
Dia tahu, masa kecemerlangannya telah tiba.
Menggantikan kedudukan Tang hay sin sian yang dianggap dewa kaum manusia itu, Sebelum meninggalkan tempat itu, dia memandang sekali lagi pada tubuh Tang hay sin sian yang telah kaku, tentu saja Toa Tek To Hun harus tetap menjadi kambing hitamnya.
Kematian seorang pendekar besar, tentu tidak sama dengan nama keroco.
Di daerah pegunungan bagian Barat, datang lagi dua orang yang lain, mereka seperti tidak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri, terlebih-lebih Bok lang kun.
Masih lumayan Sun Put Ce.
Setelah terkejut sekejap, dia tidak bersuara lagi, tetapi, meskipun mulutnya tidak mengucapkan sepatah kata pun, di dalam pikirannya mungkin sedang berkecamuk rasa gelisah.
"Kau percaya?"
Tanya Bok lang kun. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tahu, kau tidak mungkin percaya dengan penglihatan kita,"
Kata Bok lang kun selanjutnya. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya sekali lagi. Bok lang kun kebingungan melihat tingkahnya.
"Sebetulnya kau percaya atau tidak?"
Tanyanya.
"Percaya,"
Sahut Sun Put Ce. Bok lang kun menarik nafas.
"Sun lao te, kata-katamu seakan membuatku pusing tujuh keliling,"
Katanya.
"Aku memang tidak bisa bicara,"
Sahut Sun Put Ce.
"Tapi kau kan bisa berpikir,"
Kata Bok lang kun dengan nada kurang puas. Sun Put Ce tidak memberikan jawaban, Bok lang kun mengedarkan matanya ke sekeliling tubuh Tang hay sin sian .
"Aku mempunyai satu pendapat, bila dia menggunakan pedang panjang yang membuatnya terkenal, pasti akhirnya tidak akan menjadi seperti ini, bukan..."
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce. Bok lang kun merenung sejenak.
"Tetapi... mengapa dia tidak menggunakan pedang panjangnya? Apakah dia terlalu meremehkan lawannya?"
Pertanyaan laki-laki itu seperti ditujukan untuk dirinya sendiri Sun Put Ce diam kembali.
"Betapa harus disayangkan bila seorang pendekar besar pada zamannya harus mengalami kematian di tangan seorang asing yang datang dari Fu sang, Tampaknya malah tidak lebih dari sepuluh jurus mereka bergebrak,"
Kata Bok lang kun sambil menenangkan perasaannya yang masih goncang. Sun Put Ce menatap jejak kaki yang melingkar di sekitar mayat Tang hay sin sian dengan pandangan terpesona.
"Tampaknya kau mempunyai pendapat tersendiri mengenai sepuluh jurus yang kukatakan tadi?"
Tanya Bok lang kun setelah ikut melirik sekilas. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau juga percaya bahwa Tang hay sin sian mati dalam sepuluh jurus?"
Tanya Bok lang kun kembali Sekali lagi laki-laki itu menggelengkan kepalanya, Bok lang kun merasa sedikit kesal.
Dia tidak tahu dirinya bukan orang pertama yang mempunyai perasaan demikian terhadap Sun Put Ce.
"Kelihatannya kau mempunyai kebiasaan menggeleng-gelengkan kepala!"
Katanya menyindir.
"Tidak!"
Sahut rekannya.
"Kalau kau tidak percaya Tang hay sin sian mati dalam sepuluh jurus, Coba katakan pendapatmu, dalam berapa jurus dia rubuh?"
Tanya Bok lang kun makin kesal. Sun Put Ce merenung sejenak, Kemudian dia menarik nafas panjang.
"Setengah jurus!"
Akhirnya dia menjawab juga.
Bok lang kun terkejut sekali, Matanya hampir keluar karena mendelik Dia sangat menghormati Tang hay sin sian.
Meskipun dia tidak seperti orang lain yang menganggap orang itu seperti dewa.
Karena dia tahu, hanya orang bodoh yang latah terhadap ka-takata orang lain, sedangkan orang yang cerdik akan mempunyai tanggapannya sendiri Bok lang kun mencibirkan bibirnya.
"Apakah kau tidak melihat jejak kaki di tanah itu?"
Tanyanya dengan suara dingin, Sun Put Ce justru menganggukkan kepalanya.
"Justru saya sudah melihat jelas jejak kaki di tanah baru berani memberikan kesimpulan!"
Katanya tegas.
"Kalau kau memang sudah lihat, bagaimana kau bisa mengatakan tidak percaya? jejak kaki yang banyak itu terang-terangan sudah menandakan bahwa kedua orang itu pernah bergebrakan paling tidak sebanyak sepuluh jurus,"
Kata Bok lang kun. Sun Put Ce tidak bersuara lagi.
"Penyakitmu yang kalau bicara suka setengah-setengah ini benarbenar bisa membuat orang muntah darah karena kesal!"
Bentak Bok lang kun.
"Saya tahu,"
Sahut Sun Put Ce tenang.
"Kalau tahu justru harus dirubah!"
Kata Bok lang kun dengan nada lebih lunak.
"Baik!"
Sahut Sun Put Ce kembali.
"Kalau dilihat dari jejak kaki yang tertinggal kedua orang itu pasti pernah bergebrak sebanyak sepuluh jurus. Bagaimana pendapatmu?"
Tanya Bok lang kun.
"Saya sudah memberikan pendapat tadi,"
Sahut Sun Put Ce dengan wajah tidak menunjukkan perasaan.
"Tetap yakin setengah jurus?"
Tanya Bok lang kun dengan mata terbelalak.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce serius.
"Berdasarkan apa?"
Tanya Bok lang kun kurang puas. Sun Put Ce tidak pernah marah, persoalan apa pun dihadapinya dengan kepala dingin. Seakan waktu yang tersisa baginya selalu lebih banyak dari orang lain.
"Jejak kaki!"
Katanya. Bok lang kun merasakan dadanya hampir meledak.
"Apakah kau masih belum melihat dengan jelas jejak kaki di tanah. jejak yang begitu banyak sudah dapat dipastikan hasil gebrakan kedua orang itu!"
Teriaknya marah.
"Tidak! Masih ada jejak kaki orang ke-tiga,"
Sahut Sun Put Ce setenang biasanya. Bok lang kun terpana, Dia segera memeriksa sekali lagi jejak kaki di tanah itu. Lama sekali dia termenung, kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah rekannya.
"Sun Laote, aku merasa kau sangat pintar,"
Katanya seraya menghela nafas.
"Terima kasih,"
Jawab Sun Put Ce.
"Tapi agak menakutkan,"
Lanjut Bok lang kun.
"Saya menakutkan?"
Baru kali Sun Put Ce merasa heran.
"Tidak salah! Dari sikapmu yang hanya melihat tapi tidak bicara. Kau menyimpan dugaanmu dalam hati. Kalau melihat kelambananmu bila sedang melakukan sesuatu, sungguh merupakan suatu kebalikan,"
Kata Bok lang kun.
"Ada orang yang mengatakan, orang yang cerewet seperti sebuah kapal yang bocor. Manusia sejenis ini selalu dijauhi teman,"
Sahut Sun Put Ce. Bok lang kun terpana, Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak disangka hari ini aku menambah pengalaman!"
Katanya. Sun Put Ce menatap tubuh Tang hay sin sian yang terbujur kaku.
"Bagaimana kalau kau katakan tentang jejak kaki tiga orang yang berbeda itu?"
Tanya Bok lang kun.
"Kalau pendapat saya salah, harap jangan ditertawakan,"
Sahut Sun Put Ce.
"Mana mungkin..."
Kata Bok lang kun.
"Di antara ketiga jejak kaki itu, ada seorang yang memakai sepatu yang depannya berbentuk lebar. Semacam sandal jepit dengan tali di atasnya, itu adalah jejak kaki Toa Tek To Hun,"
Ujar Sun Put Ce menjelaskan.
"Betul! Sepatu macam itu disebut Cui can cu. Hanya orang negara Fu sang yang memakainya!"
Kata Bok lang kun sependapat.
"Jejak kaki kedua ada tercetak huruf "Hok", itu pasti sepatu Tang hay sin sian, Kalau kau tidak yakin, coba kau buka sepatu itu dari kakinya dan cocokkan,"
Kata Sun Put Ce.
"Tidak usah! Aku mempercayai kata-katamu,"
Sahut Bok lang kun.
"Jejak kaki orang ketiga lebih panjang, Mungkin panjangnya ada kira-kira sejempol,"
Lanjut Sun Put Ce menjelaskan Bok lang kun memperhatikan sekejap.
"Benar.... Kemungkinan besar orang ini bertubuh tinggi dan berperawakan tegap, Mungkinkah orang itu adalah teman yang dibawa oleh Toa Tek To Hun? Tapi setahuku, orang ini kemana-mana selalu sendirian,"
Kata Bok lang kun tak habis pikir.
"Tentu saja Toa Tek To Hun selalu bergerak sendirian dan orang seperti Tang hay sin sian juga tidak mungkin mengajak teman Lagipula, orang yang mempunyai kaki besar, belum tentu perawakannya juga pasti tinggi besar. Seperti orang yang bertubuh pendek, juga ada sebagian yang mempunyai kaki dan tangan yang besar,"
Sahut Sun Put Ce.
Bok lang kun merenung sejenak, Memang dia tidak dapat membantah kebenaran kata-kata Sun Put Ce, sebetulnya banyak orang yang berperawakan tinggi besar, tapi bentuk kaki dan tangannya justru kecil-kecil.
Dan ada lagi orang yang kerdil, tapi telapak tangan dan kakinya malah besar Dia menatap ke arah Sun Put Ce.
Orang ini selalu mempunyai pendapat yang masuk akal.
Pandangan Sun Put Ce mengarah ke perkampungan keluarga Fang di kejauhan, Di dalam hati keduanya berkecamuk perasaan yang berbeda.
Tentu saja, hanya mereka yang mengetahuinya.
"Orang yang memberikan nama Put Ce padamu, barulah dapat disebut orang yang matanya belum terbuka,"
Kata Bok lang kun.
Sun Put Ce tidak mengeluarkan suara.
Bok lang kun juga belum dapat mengerti orang itu sepenuhnya, karena Sun Put Ce tidak pernah memperdulikan penilaian orang terhadap dirinya.
Meskipun menerima caci maki atau pun pujian, dia tidak pernah menunjukkan reaksi apa-apa.
Sun Put Ce adalah seorang laki-laki yang istimewa.
Panas terasa membara.
Di ruangan besar keluarga Fang hawa terasa menyengat, meskipun tiga buah jendela yang besar-besar terbuka lebar.
Luka di kening Fang Tiong Seng semakin jelas.
Dia duduk di atas kursi singanya.
Sun Put Ce dan Bok lang kun baru kembali Bok lang kun adalah seorang tamu, Dia duduk di kursi yang telah disediakan.
Mo Put Chi dan Hu Put Ciu duduk kiri kanan Fang Tiong Seng, Sun Put Ce berdiri di hadapannya dan melaporkan apa yang telah dilihatnya tadi.
Dayang Cui thian duduk di sisi Bok lang kun.
Air mata masih menitik terus.
Kekecewaan dan kesedihan memenuhi hati setiap orang yang hadir, tidak ada satu pun yang menemukan cara terbaik untuk memulai pembicaraan supaya suasana tidak begitu mencekam.
Hanya isak tangis dayang Cui thian yang seakan menjadi musik pengantar kepiluan hati mereka, rasanya dia ingin mengungkapkan kekesalan dan kesedihan hatinya.
"Cu jin adalah manusia yang sakti, toh masih bisa dikalahkan oleh Toa Tek To Hun. Oleh karena itu aku yakin, Toa Tek To Hun tidak mungkin melawannya sendirian, jejak kaki orang ketiga itu pasti merupakan bukti bahwa dia membawa seorang pendam-ping,"
Kata Cui thian dengan tersendat-sendat.
Setiap orang sependapat dengan pandangan dayang Cui thian, Hanya Sun Put Ce dan Bok lang kun yang tidak setuju, Tetapi pada saat itu mereka tidak mengatakan apa-apa karena takut melukai hati dayang Cui thian.
"Toa Tek To Hun pasti merasa agak jeri mendengar nama besar Tang hay sin sian, jadi dia mengajak seorang pembantu untuk bersama-sama menghadapinya. Kita juga mempunyai banyak jago yang ternama, mengapa kita tidak mengajak mereka bergabung agar Toa Tek To Hun dapat dibasmi?"
Kata Hu Put Chiu mengeluarkan pendapatnya.
Ruangan menjadi hening seketika, setiap orang sibuk dengan pikiran masing-masing, Fang Tiong Seng bangkit dari kursinya.
wajahnya kusut, Terlihat jelas bahwa hatinya sedang dalam keadaan tertekan.
"Di Tionggoan pasti ada seorang jago yang dapat mengatasi Toa Tek To Hun!"
Katanya dengan nada sendu.
"Pasti ada!"
Sahut Mo Put Chi lantang, Fang Tiong Seng menarik nafas panjang, Terlihat bayangan kekecewaan di wajahnya.
"Orang seperti Tang hay sin sian yang begitu tinggi ilmunya, ternyata hanya menggunakan sebatang pedang pendek melawan Toa Tek To Hun. Meskipun orang tua itu menemui ajalnya, tapi dapat dikatakan sulit mencari tandingannya lagi,"
Kata pendekar besar tersebut.
"Cayhe rasa Tang hay sin sian tidak menggunakan pedang panjang pasti ada alasan tertentu,"
Kata Bok lang kun mengeluarkan pendapatnya, perkataan ini membuat perhatian semua orang terarah kepadanya. Teori yang tampak gamblang ini ternyata tidak ada yang terpikirkan sejak tadi.
"Perkataan Bok lang kun taihiap ada benarnya, Tetapi pendek pedang belum tentu tidak dapat mengalahkan pedang panjang, Hal ini mengandung arti yang dalam, Maksudnya yang penting bukan senjatanya tapi orang yang menggunakannya, Bila ilmu orang itu cukup tinggi maka senjata apa pun digunakannya tidak lagi menjadi persoalan Tang hay sin sian tidak menggunakan pedang panjangnya memang mempunyai banyak alasan yang dapat kita kemukakan. Mungkin dia merasa ilmunya sudah mencapai taraf kesempurnaan sehingga untuk melawan seorang Toa Tek To Hun saja tidak perlu menggunakan pedang yang membuatnya terkenal itu,"
Kata Fang Tiong Seng mengambil kesimpulan "Apa yang suhu katakan memang benar, Tanghay sin sian terlalu yakin dengan ilmunya sendiri Siapa tahu dia akan mengalami kejadian seperti ini,"
Sahut Hu Put Chiu.
"Tampaknya kaum Bulim yang ilmunya tinggi memang banyak, tapi siapa yang dapat setepat suhu dalam mengambil tindakan?"
Kata Mo Put Chi.
Wajah Bok lang kun memerah.
Dia tidak suka nada bicara seperti itu.
Namun dia tidak membantah sementara itu, dayang Cui thian seperti tidak mendengarkan perkataan manusia di sekitarnya, Dia tenggelam dalam kesedihannya sendiri.
Terhadap kata-kata apa yang baru saja didengarnya, meskipun dirinya sangat menghormati Tang hay sin sian dan kurang menyukai Fang Tiong Seng, alasan untuk membantah memang tidak ada.
Penjelasannya sangat sederhana.
Maksud kedua orang tadi, meskipun Fang Tiong Seng mengalami kekalahan dari Toa Tek To Hun, tapi dia tetap hidup segar bugar sampai saat ini, Tang hay sin sian juga kalah, meskipun namanya lebih terkenal dari Fang Tiong Seng, tapi dia tidak berhasil luput dari kematian Fang Tiong Seng juga merasa kata-kata muridnya agak keterlaluan.
Dia mendelikkan mata lebar-lebar kepada kedua orang tersebut.
"Aku yang menjadi guru kalian sudah mengalami kekalahan, meskipun masih tetap hidup, tidak ada satu pun yang patut dijadikan kebanggaan! Tang hay sin sian memang mati, tapi kemungkinan besar Toa Tek To Hun membawa begundalnya untuk mengeroyok orang sakti tersebut,"
Katanya dengan nada dingin.
Bok lang kun serta merta menganggukkan kepala berkali-kali.
Fang Tiong Seng memang bukan jago biasa, Dia adalah seorang pendekar yang terkenal berbudi dan bijaksana, Dia dapat tetap hidup sampai sekarang, sudah merupakan rejeki besar bagi kaum Bulim.
"Siapkan segala keperluan penguburan bagi Tang hay sin sian!"
Perintahnya.
Para murid dan anak buahnya serentak mengiakan Kesibukan pun terlihat di rumah itu.
-oooo0oooo-Rumah makan ini mempunyai nama yang cukup terkenal di kota tersebut, Bok lang kun tidak pernah melewatkan setiap penginapan atau pun restoran yang ternama, dia merasa kehidupan seorang manusia harus dinikmati sebaik mungkin.
Kalau manusia memang tidak dapat hidup tanpa makan atau pun minum, mengapa selagi masih ada kesempatan tidak digunakan secara baik-baik?
Rumah makan yang mempunyai nama memang banyak, Namun belum tentu semua bisa memasak hidangan yang terkenal dari setiap daerah, Mereka mempunyai keistimewaan masing-masing.
Kecuali di kota raja.
Semua yang kita inginkan dapat ditemui di sana.
Barang siapa yang sudah terbiasa keluar masuk restoran, pasti akan mampu mengenali dan membedakan cita rasa setiap masakan yang disajikan.
Hati Bok lang kun sedang tertekan, dia duduk di restoran kelas satu dalam kota.
Dipilihnya tempat duduk yang menghadap ke pintu masuk, Dia minum dan makan sendirian, mungkin suasana hati yang sedang galau mempengaruhi seleranya, Dia merasa semua yang tersaji di hadapannya tawar dan tidak enak.
Tiba-tiba tampak Sun Put Ce masuk dari pintu.
Bok lang kun melambai-lambaikan tangannya.
Sun Put Ce entah sedang memperhatikan apa, dia tidak melihat gapaian tangan Bok lang kun Laki-laki itu menduga tentu ada yang menarik perhatian Sun Put Ce, bila tidak, tak mungkin wajahnya begitu kebingungan Mungkin telah terjadi sesuatu yang di luar dugaannya.
Entah apa sebabnya, Bok lang kun kurang menyukai murid perguruan Fang Tiong Seng, Hanya terhadap Sun Put Ce, pandangannya agak lain.
Dia tidak dapat mengemukakan alasan yang tepat.
Mungkin dia menyukai Sun Put Ce karena orang itu tidak banyak bicara, bukankah ada pepatah yang mengatakan, daripada banyak bicara lebih baik diam, sedikit bicara asal yang penting saja.
Dari sini dapat dibuktikan bahwa untuk berbicara saja bukan hal yang mudah dilakukan.
Bok lang kun melemparkan sebuah uang perak dan mengikuti langkah Sun Put Ce yang baru saja meninggalkan restoran itu.
Mungkin dia sedang mencari seseorang tapi tidak dapat menemukannya lalu berganti arah, Bok lang kun merasa penasaran, Tidak biasanya Sun Put Ce bertingkah seaneh itu.
Dia mempercepat langkahnya, Sun Put Ce sudah sampai di tikungan jalan, Dalam perguruan Fang Tiong Seng, Sun Put Ce adalah murid yang tidak menonjol.
Namun Bok lang kun percaya, justru orang itu yang paling cerdas.
Dengan kecepatan langkahnya, dalam sekejap ia sudah dapat menyusul Sun Put Ce.
Matahari mulai tenggelam.
Di atas langit tampak warna-warna bercahaya.
Pemandangan di luar perkampungan pada saat matahari tenggelam, mempunyai keindahan tersendiri Bok lang kun ingin melambaikan tangannya dan memanggil Sun Put Ce.
Rasanya tidak baik menganggap Sun Put Ce seorang yang tidak berakal.
Dia enggan mengacaukan maksud yang terkandung dalam hati rekannya itu.
Tanpa disangka-sangka, laki-Iaki itu membalikkan tubuhnya dan mengisyaratkan dengan tangan agar dia mendekat dengan diamdiam.
Bok lang kun semakin kagum terhadap orang itu.
Kalau bicara tentang ilmu silat, Sun Put Ce masih jauh dibandingkan dengan dirinya.
Tapi reaksinya terhadap keadaan sekelilingnya ternyata lebih cepat daripada Bok lang kun.
Pada umumnya, seseorang yang mempunyai naluri yang kuat, Bila reaksinya kurang cepat, berilmu tinggi pun tiada gunanya.
Bok lang kun sudah sampai di sampingnya.
Dia mengulurkan badan mendekati ke arah telinga rekannya itu.
"Apa yang kau temukan?"
Bisiknya, Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Tanya Bok lang kun semakin heran.
Mata Sun Put Ce memandang jauh ke depan, Seperti seekor elang yang mengincar seekor kelinci Bok lang kun tidak saja mengagumi Sun Put Ce.
Dia juga menganggap dia rada aneh, dulu Bok lang kun adalah seorang Bulim bengcu dari aliran hitam.
Setelah Toa Tek To Hun datang ke Tionggoan untuk meraja-lela, dia percaya mereknya terpaksa harus diturunkan.
Tetapi dia ingin sekali dapat bertemu sekali dengan orang itu dan mengadu ilmu.
Tentu saja dengan maksud berbagai pengalaman supaya bisa menjajaki sampai mana tingginya ilmu Toa Tek To Hun.
Dengan demikian, kemungkinan besar dia bisa mencari titik kelemahan orang itu.
Namun selamanya Toa Tek To Hun tidak pernah bermain-main, Bila orang itu tidak menahan serangannya, terpaksa ia harus mengorbankan diri.
"Saya melihat seseorang yang membawa pedang panjang,"
Kata Sun Put Ce memecahkan keheningan.
"Apakah kau kira setiap orang yang membawa pedang panjang pasti Toa Tek To Hun?"
Tanya Bok lang kun.
"Saya juga melihat sepasang kaki,"
Sahut Sun Put Ce. Bok lang kun ingin tertawa, Bila kaki yang dilihat Sun Put Ce tidak memakai rantai emas, tentu merupakan sepasang kaki yang bentuknya aneh sehingga menarik perhatiannya.
"Sepasang kaki yang bagaimana?"
Tanya Bok lang kun tersenyumsenyum. Mata Sun Put Ce kembali memandang ke arah kejauhan di depannya.
"Semestinya merupakan salah satu dari kaki yang meninggalkan jejak di pegunungan sebelah Barat,"
Gumam laki-Iaki yang dianggap aneh itu. Bok lang kun terpana, Dia memperhatikan Sun Put Ce sekian lama. Dia merasa selain cerdas, dia juga termasuk makhluk ajaib.
"Meskipun mata saya salah lihat, Dan kau menganggapnya saya seperti makhluk ajaib, saya juga tidak akan perduli,"
Kata Sun Put Ce. Bok lang kun hampir tertawa terbahak-bahak. Rekannya ini seakan bisa membaca pikirannya saja, Dia semakin kagum terhadap laki-laki itu.
"Tahukah kau? Meskipun kau adalah makhluk ajaib, tapi kau cukup menyenangkan,"
Kata Bok lang kun.
"Apakah kau tidak merasa bahwa dirimu sudah banyak berubah?"
Tanya Sun Put Ce.
"Rasa rendah diri paling mudah merubah watak seseorang,"
Sahut Bok lang kun sambil menarik nafas.
"Mengapa kau harus merasa rendah diri?"
Tanya Sun Put Ce. Bok lang kun menundukkan kepalanya, Wajahnya terlihat sendu.
"Aku adalah seorang Bulim bengcu, meskipun dari hek to. Tapi ketika seorang pembunuh bayaran dari Fu sang membunuhi para jago di Tionggoan, aku malah menyembunyikan diri,"
Sahut laki-laki itu sambil menghela nafas sedih. Sun Put Ce ikut menarik nafas.
"Aku tahu kau memandang rendah diriku. Memang kenyataannya orang yang rendah diri adalah orang yang merasa dirinya rendah,"
Kata Bok lang kun.
"Saya tidak mempunyai maksud demikian."
Sahut Sun Put Ce.
"Apa yang kau maksudkan memang sulit diterka,"
Kata Bok lang kun kembali "Kau salah!"
Sahut Sun Put Ce.
"Sejak semula memang aku telah berbuat kesalahan, Aku sebetulnya tidak boleh menjadi seorang kepala perampok, Lebih-lebih tidak pantas menjadi seorang Bulim beng-cu!"
Kata Bok lang kun.
"Sebetulnya di dalam dunia Bulim masih ada orang yang lebih menggemaskan darimu,"
Sahut Sun Put Ce.
"Siapa?"
Tanya Bok lang kun tidak mengerti.
"Orang yang menghianati kaumnya sendiri,"
Sahut Sun Put Ce. Bok lang kun terkejut.
"Siapa yang mengkhianati kaumnya sendiri?"
Tanyanya.
Sun Put Ce tidak menjawab, Mimik wajahnya aneh sekali, kecuali dirinya sendiri, siapa pun tidak ada yang dapat menebak perasaan hatinya, Dia berlari ke arah depan.
Bok lang kun mengikuti di belakangnya.
Bok lang kun menganggap bila Sun Put Ce diangkat menjadi Bulim bengcu, tentu akan jauh lebih terkenal dari pada dirinya, Dunia Bulim akan mengalami perubahan yang dahsyat.
Setelah berlari kurang lebih dua li, mereka menangkap suara pembicaraan dan tertawa yang terkekeh-kekeh dari dua orang, Sun Put Ce memberi isyarat dengan gerakan tangan, Bok lang kun benar-benar terpana.
ia memang tidak dapat melebihi Sun Put Ce.
Kedua orang itu menyelinap ke dalam hutan.
Di dalamnya terdapat banyak pohon besar berusia ribuan tahun, jumlahnya banyak sekali.
Mereka bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang terlindung dari pandangan kedua orang itu.
Bok lang kun menatap ke depan, matanya hampir melonjak keluar, Sun Put Ce tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa.
Di hadapan mereka ada dua orang laki-laki, Salah seorang di antaranya sangat terkenal.
Dia adalah Raja tinju dari Mo Pak.
Gelarnya Hong Be (Kuda gila), Bok lang kun hanya pernah bertemu dengan orang itu satu kali, namun dia tak akan lupa untuk selamanya.
Tidak ada satu orang pun yang tahu nama aslinya, Mungkin karena gelar Hong Be terlalu besar sehingga nama aslinya tidak pernah diingatnya lagi.
Yang satunya lagi merupakan seorang manusia yang mengenakan sebuah topeng hitam, yang terlihat hanya kedua bola mata dan bibirnya saja.
Seluruh pakaiannya juga berwarna hitam, Di tangannya tergenggam sebuah pedang dengan bentuk aneh.
"Pedangmu memang mirip Toa Tek To Hun. Tapi penampilanmu justru seratus persen barang lokal,"
Kata Hong Be dengan nada sinis. Manusia bertopeng itu mendengus dingin.
"Mengapa kau mengikuti Tuan besarmu sampai ke tempat ini?"
Tanya Hong Be setelah tidak mendengar jawaban dari orang tersebut.
"Mengadu ilmu!"
Sahut manusia bertopeng itu ketus. Hong Be tertawa tergelak-gelak, Kemudian dia menatap seluruh tubuh manusia bertopeng itu dari atas kepala sampai ke kaki.
"Apakah tawamu sudah selesai?"
Tanya manusia bertopeng itu kembali.
"Kau ingin meniru Toa Tek To Hun. Mengail di air keruh?"
Kata Hong Be dengan nada sindiran, Manusia bertopeng malah tertawa terkekeh-kekeh. Dia tidak menjawab perkataan Hong Be.
"Meskipun kau ingin meniru Toa Tek To Hun, tapi masih ada satu hal yang tidak dapat ditiru olehmu!"
Kata Hong Be.
"Apa itu?"
Tanya manusia bertopeng itu dengan nada tajam.
"Sesuatu yang tidak pernah berubah, Langkah kakinya yang teratur,"
Kata Hong Be tersenyum sinis. Manusia bertopeng tampaknya terpaksa mengakui kelemahannya ini.
"Hanya dengan melihat gerakan dan suaramu, aku bisa menduga kau tentunya seorang jago kelas satu dalam dunia Bulim, Namun aku tidak mengerti mengapa kau harus menyamar sebagai Toa Tek To Hun?"
Tanya Hong Be.
"Untuk selamanya kau tidak akan mengerti"
Sahut manusia bertopeng.
"Paling tidak aku mengerti satu hal,"
Kata Hong Be.
"Apa yang kau mengerti?"
Tanya manusia bertopeng sambil menatap tajam pada lawan bicaranya.
"Kau ingin mencelakai Toa Tek To Hun.... Kau bermaksud menimpakan seluruh kesalahan ini atas dirinya!"
Kata Hong Be dengan nada yakin. Manusia bertopeng itu kembali mendengus dingin.
"Sayangnya terkaanmu hanya benar separuh,"
Sahut manusia bertopeng itu.
"Yang separuh lagi?"
Tanya Hong Be penasaran.
"Aku memang bermaksud menimpakan kesalahan kepada seseorang, tapi bukan Toa Tek To Hun!"
Kata lawan bicaranya. Hong Be termangu-mangu sejenak.
"Makmu bau! Sudah terang-terangan kau ingin mencelakakan Toa Tek To Hun! pedang yang kau gunakan mirip dengan pedangnya. Sejak dulu di Tionggoan belum pernah tersiar berita ada seorang jago yang menggunakan pedang seperti itu,"
Sahut Hong Be merasa dirinya didustai.
"Bicara dengan manusia yang tidak berpendidikan memang susah. Kau toh tidak akan mengerti. Untungnya aku datang dengan maksud mengadu ilmu, bukan mengadu mulut!"
Seru manusia bertopeng itu tak sabar lagi. Hong Be marah sekali Wajahnya merah padam.
Baca Juga: Harimau Kemala Putih 3
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 10