Eps 2 Sukma Pedang - Gu Long
Baca online Sukma Pedang - Gu Long
Cersil Sukma Pedang - Gu Long.
Dia menghentakkan kaki dan melayang ke seberang.
Keempat laki-laki penggotong tandu segera menyongsongnya, Mereka saling menyerang, It Cheng Hong ternyata benar-benar cukup tangguh, Tidak sampai dua puluh jurus, keempat laki-laki itu sudah terguling roboh.
Kedua dayang itu melihat rekannya mengalami kekalahan, spontan menyerang, ilmu mereka lebih tinggi dari ke empat penggotong tandu tadi, tetapi kalau dibandingkan dengan It Cheng Hong tentu masih jauh, Meskipun memerlukan waktu yang lebih lama, akhirnya mereka terpaksa mengaku kalah juga dengan It Cheng Hong.
Dia mendekati tandu berwarna warni tersebut lalu berusaha mengulurkan tangannya lewat tirai yang tertutup.
"Kemarikan barang itu!"
Katanya.
Gerakannya memang cepat, Dia sudah dapat membayangkan tentunya orang yang berada dalam tandu, ilmunya lebih tinggi dari kedua dayangnya, Ternyata dugaannya masih kurang tepat, Siku tangannya dicengkeram oleh orang dalam tandu itu.
Suara tertawa yang merdu pun berkumandang.
Tentunya yang tertawa adalah orang dalam tandu itu, bukan It Cheng Hong.
Kwe Po Giok menatap Sun Put Ce, Rekannya tidak membalas tatapan itu.
Seakan peristiwa apapun di dunia ini tidak membuatnya tercengang.
"Coba kau tebak, manusia macam apa yang berada dalam tandu itu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Seorang perempuan,"
Sahut Sun Put Ce ringan.
"ltu sih tidak perlu kau jelaskan! Maksud saya perempuan macam apa?"
Tanya Kwe Po Giok sekali lagi. Sun Put Ce tidak menjawab, selamanya dia tidak pernah mengemukakan apa yang diketahuinya lebih dahulu daripada orang lain.
"Saya rasa pasti seorang perempuan yang jelek sekali!"
Pancing Kwe Po Giok.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Mengapa kau yakin bukan seorang perempuan cantik?"
Tanya Kwe Po Giok menatapnya heran. Sun Put Ce tidak menjawab.
"Manusia macam apa pun ada di dunia ini!"
Katanya dengan nada kesal, Dia yakin apa yang sering dikatakan kedua suheng Sun Put Ce memang benar. Pada saat itu terdengar suara perempuan dalam tandu itu....
"Apa yang ingin kau katakan?"
Pertanyaan itu sudah tentu diajukan kepada It Cheng Hong.
"Saya hanya ingin Bi jin sim,"
Jawabnya.
"Hanya ingin hatinya, tidak mau orang-nya?"
Tanya perempuan itu sekali lagi dengan suara manja.
"Selama hidupku ini aku tidak pernah mempunyai tempat tinggal yang tetap. Langit adalah atap rumahku, tanah adalah tempat tidurku, Bagaimana aku berani menyusahkan hidup seorang wanita cantik?"
Sahut It Cheng Hong.
"lt Cheng Hong.... Bila kau menginginkan Bi jin sim, tentu saja mudah sekali, tetapi kau juga harus menerima diriku,"
Kata perempuan dalam tandu itu dengan suara tegas.
"Kouwnio, seumur hidup ini aku tidak pernah berhenti bertualang, Ada Bi jin sim di tangan, hidupku akan menjadi tenang, Aku dapat berkelana ke penjuru dunia, Tetapi Bi jin harus hidup. Aku hanya takut kau akan sengsara, selamanya tidak dapat mendapatkan kebahagiaan!"
Sahut It Cheng Hong sambil menarik nafas panjang.
"lt Cheng Hong! Benarkah yang kau ucapkan adalah demi kebaikan diriku?"
Tanya perempuan dalam tandu.
"Aku berani bersumpah berat!"
Sahut It Cheng Hong.
"Sudahlah! Anggap saja aku mempercayai perkataanmu! Bukalah tirai tandu ini!"
Perintah perempuan itu.
It Cheng Hong menyingkap tirai itu sedikit Tangan seorang perempuan terulur dan menyerahkan semacam barang, sayangnya dari tempat Kwe Po Giok dan Sun Put Ce tidak dapat melihat bagaimana rupa perempuan itu.
Tapi dari sikap It Cheng Hong yang wajar-wajar saja, dapat dipastikan perempuan itu tidak seberapa jelek, Atau mungkin It Cheng Hong sendiri belum melihat wajahnya?
"Dia sudah menyerahkan Bi jin sim kepada It Cheng Hong, Mungkin dia juga sudah menyerahkan hatinya sendiri,"
Kata Kwe Po Giok. Sun Put Ce tidak memberikan tanggapan.
"Apakah kau mempunyai pandangan yang lain?"
Tanya Kwe Po Giok heran. Dia tidak mengatakan.
"betul"
Kali ini.
"Tidak,"
Sahut rekannya.
"Sebenarnya It Cheng Hong telah bersedia menerima hati wanita cantik itu, mengapa dia tidak mau menerima orangnya? Apakah Bi jin sim itu hanya semacam barang?"
Tanya Kwe Po Giok kurang mengerti.
"BetuI,"
Kata-kata itu kembali diucapkan oleh Sun Put Ce. Kwe Po Giok dengan dongkol mendelik matanya sekejap, Rupanya Sun Put Ce tidak pernah menjawab sesuatu yang tidak diyakini olehnya.
"Barang macam apa?"
Tanya bocah itu.
"Hanya pernah mendengar cerita orang, Barang itu dapat membawa kehangatan pada musim dingin, Memberi kesejukan pada musim panas, Dapat menjadi bala penangkal setan. Malam hari ketika tertidur, sering bermimpi bertemu dengan bidadari,"
Sahut Sun Put Ce. Mata Kwe Po Giok membuka dengan lebar....
"Apakah bukan ocehanmu saja?"
Tanyanya kurang percaya.
"Untuk apa saya harus mengoceh yang tidak-tidak?"
Kata Sun Put Ce tenang. Benar juga.... bila kita mendapatkan barang seperti itu, hidup kita masih akan tentram,"
Kata Kwe Po Giok.
"Tentu saja!"
Sahut Sun Put Ce dengan kepala terangguk-angguk.
"Seperti apa bentuk Bi jin sim itu?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Mungkin sebentar lagi akan terlihat...."
Sahut rekannya. It Cheng Hong mengatupkan kedua tangannya dan menjura....
"Cung Kouwnio, mengapa kau masih belum menyerahkan Bi jin sim itu?"
Tanya laki-laki itu.
Rupanya tangan yang terulur itu hanya mempermainkan It Cheng Hong.
Dia menarik kembali barang yang tergenggam tadi.
Saat ini, tangan tersebut terulur lebih panjang.
Terlihat kesepuluh jari jemari yang lentik dan halus.
Dari tangan itu orang akan membayangkan betapa cantik pemiIiknya.
Tetapi It Cheng Hong tampaknya belum dapat melihat wajah perempuan itu, sebab tidak terdengar pekikan kagum atau jeritan menakutkan.
Tangan yang lembut dan halus itu menyerahkan semacam barang ke tangan It Cheng Hong.
warnanya merah darah, Berkilauan menyolok mata.
Kali ini dia tidak mempermainkannya Iagi.
Dengan perasaan berbaur, It Cheng Hong menerima dan menatapnya dengan seksama, Alisnya yang berkerut pasti menandakan keraguannya akan kemukjizatan barang tersebut Tetapi kalau melihat sinarnya yang berkilauan, rasanya tidak usah diragukan lagi.
"It Cheng Hong.... Kau belum membuka kain cadar wajahku ini...."
Terdengar suara si perempuan dalam tandu itu berkata.
It Cheng Hong terpana sejenak, Namun dia maju juga dan mengulurkan tangannya.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce memperhatikan dengan seksama, Karena kedua orang itu ingin membuktikan dugaannya.
Tiba-tiba It Cheng Hong mengeluarkan jeritan aneh.
Kemudian tubuhnya mundur sebanyak tiga tindak.
Tangannya gemetar, mukanya berkerut-kerut.
Apakah seorang manusia bila bertemu dengan setan, akan menunjukkan penampilan seperti itu?
"Aku she Cung, dan adik Cung tao pun sangat buruk rupa.
Benarkah kau lebih memilih mati daripada menerima diriku?"
Tanya perempuan dalam tandu tersebut.
"Tidak... tidak!"
Sahut It Cheng Hong gugup.
"Lalu... mengapa tubuhmu gemetar?"
Tanya perempuan itu lagi.
"Karena engkau terlalu baik kepadaku, barang yang begini berharga, saya tidak dapat menahan getaran hati dan gembiranya perasaan!"
Sahut It Cheng Hong dengan suara kikuk.
"Dia berbohong!"
Kata Kwe Po Giok.
"Betul!"
Sahut rekannya seperti biasa.
"Sebetulnya bagaimana bentuk wajah perempuan itu?"
Tanya Kwe Po Giok penasaran.
"Kalau tidak terlalu jelek, tentunya terlalu cantik!"
Jawab Sun Put Ce.
"Mungkinkah terlalu cantik?"
Tanya Kwe Po Giok.
Sun Put Ce tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
Jika ada sesuatu yang tak segera dijawabnya, ada kemungkinan hal itu terjadi.
It Cheng Hong seperti ingin kabur, Dari sinar matanya yang jelalatan, Kwe Po Giok dan Sun Put Ce dapat menangkap isi hatinya.
"Mengapa kau tergesa-gesa ingin mendapatkan barang itu?"
Tanya perempuan dalam tandu tersebut.
"Untuk diberikan kepada seorang teman,"
Sahut It Cheng Hong, perempuan itu memperdengarkan suara tertawa beberapa kali.
"Rasanya bukan..."
Katanya.
"Mengapa aku harus mendustaimu?"
Tanya It Cheng Hong.
"Kau mempunyai banyak alasan untuk mendustai diriku, Kau tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya karena kau takut ditertawakan olehku, Terang-terangan kau memberikan barang ini untuk mencari perlindungan kepada seseorang,"
Kata perempuan tersebut.
It Cheng Hong terkesiap, wajahnya berubah hebat Tubuhnya limbung dan mundur sebanyak tiga depa.
Perempuan dalam tandu itu tiba-tiba menerjang keluar, Kali ini giliran Kwe Po Giok yang terkejut Bentuk tubuhnya masih lumayan.
Wajahnya justru mirip dengan seekor burung yang masih merah.
Ditambah dengan bulu-bulu halus berwarna putih memenuhinya, Lubang hidungnya mencuat keatas, Mulutnya lebar dan ditumbuhi dua buah taring yang menonjol keluar.
Tidak heran It Cheng Hong begitu terkejut, tetapi meskipun perempuan itu begitu buruk rupa, tidak seharusnya It Cheng Hong menggunakan segala macam dusta dan tipuan untuk mendapatkan barang itu.
Bila hanya mendengar suaranya yang merdu dan melihat tangannya yang halus, siapa pun tidak akan menyangka bahwa dia adalah seorang perempuan yang demikian jelek wajahnya.
It Cheng Hong lari terbirit-birit.
perempuan jelek itu mengejarnya, Kedua dayang tadi tetap berdiri di tempat semula menatap keadaan kedua orang itu.
Mereka tahu mengejar pun akan sia-sia saja.
"Apakah perempuan itu akan menurunkan tangan jahat kepada It Cheng Hong?"
Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menganggukkan kepalanya.
"Tapi mengapa harus It Cheng Hong? Apakah dia benar-benar menyukainya?"
Kembali bocah itu bertanya. Sekali lagi Sun Put Ce menganggukkan kepalanya.
"Sebelum perempuan itu keluar dari tandunya, kau dan aku telah melihat bentuk tangannya yang halus dan suaranya juga amat lembut Apakah kau sudah menduga bahwa wajahnya sejelek itu?"
Tanya Kwe Po Giok kembali.
Sun Put Ce menggelengkan kepalanya, Kwe Po Giok menatapnya dengan tajam, Sulit baginya untuk menyelami isi hati teman seperjalanannya itu.
Matahari tetap terik, sampai sejauh selaksa li pun tidak terlihat awan, Tengah hari telah tiba.
Di dalam ruangan keluarga Fang, masih terdapat orang-orang yang sama.
Yang pergi, sudah berangkat sejak tadi.
Yang tinggal, di usir pun masih tetap terpukau di tempatnya, Bedanya, di setiap kepala anak buah dan murid Fang Tiong Seng sekarang terlibat sehelai kain putih.
Fang Tiong Seng tetap duduk di kursi singa itu.
Lama sekali dia tidak mengeluarkan suara.
Seperti sudah menjadi mayat yang di balsem.
Tiba-tiba dia mengeluarkan pedangnya, Diamatinya pedang itu dengan seksama.
"Lahir sebagai orang Bulim. seharusnya mati dalam pertarungan Hidup tidak terasa enak, mati pun tidak susah!"
Katanya.
Suara yang keras ini menggetarkan hati setiap orang, Mereka percaya, pertarungan yang paling akbar sudah di depan pelupuk mata.
Pada saat itu, terdengar sahutan yang tidak kalah keras dari luar ruangan itu.
"Kata-kata yang bagus!"
Mata yang mengandung amarah dari Mo Put Chi semakin membelalak, Hati Hu Put Chiu semakin berdebar Matahari yang panas semakin membara.
Di ruangan yang besar dari keluarga Fang telah bertambah satu orang, Fang Tiong Seng dengan langkah lebar dan wajah berwibawa berjalan keluar dari ruangan besar itu.
Dia berdiri berhadapan dengan Toa Tek To Hun, Para anak buah dan kedua muridnya ikut keluar dan membentuk dua barisan yang rapi.
"Saudara adalah Toa Tek To Hun?"
Tanya Fang Tiong Seng.
"Betul!"
Sahut orang itu.
"Di dalam golok ada sukma, di dalam pedang pun demikian juga, Saudara telah memberikan sukma saudara pada pedang di tangan, aku pun demikian juga, Mati atau pun hidup akhir pertarungan ini, aku Fang Tiong Seng tidak akan memasukkannya di dalam hati!"
Ujar pendekar besar itu.
Toa Tek To Hun seakan tergerak hatinya mendengar ucapan tersebut, Setelah Tiong-goan kehilangan demikian banyaknya jagojago pilihan, masih ada juga yang dapat mengucapkan kata-kata seperti itu, Toa Tek To Hun tidak pernah menyangkanya.
Oleh sebab itu, dia menjura dalam-dalam terhadap Fang Tiong Seng.
"Mengapa saudara perlu melakukan adat seperti tadi?"
Tanyanya.
"Kau adalah satu-satunya pendekar sejati yang pernah kutemui di Tionggoan! Hiai pun kau akan mati atau tetap hidup, Toa Tek To Hun tetap menghormati manusia seperti dirimu!"
Katanya tegas.
"Terima kasih!"
Kata Fang Tiong Seng.
"Tidak usah sungkan!"
Sahut Toa Tek To Hun.
Laki-Iaki itu meraba pedangnya, perbuatan ini membuat perhatian orang yang hadir terpukau padanya, Tangannya mengumpulkan kekuatan.
Sinar pedang berkilauan menimbulkan suara angin yang gemuruh, perubahan gerakannya begitu menyakitkan mata.
Membuat nafas orang-orang yang sedang memperhatikan terhenti untuk sementara.
pertarungan ini adalah huatu penentuan Bila kali ini tidak dapat merebut kemenangan, para jago di Bulim juga pasti akan mengalami kekalahan yang mengenaskan.
Pedang di tangan Toa Tek To Hun digerakkan.
Hawanya memenuhi tempat itu.
Fang Tiong Seng berdiri tanpa bergerak di keningnya terdapat luka memanjang.
Pada saat itu, hati setiap orang di penuhi rasa putus asa, kecuali Toa Tek To Hun seorang tentunya.
"Bagus! jurus yang teramat cepat, pedangnya juga sama cepat!"
Kata Fang Tiong Seng dengan suara tawa yang aneh.
Darah segar mengucur dengan deras dari keningnya.
Tubuh Fang Tiong Seng bergoyang-goyang.
Dia mencoba melangkah, tapi segera terjungkal ke tanah.
Murid, anak buah dan para pelayan mengerumuninya.
Suara ratapan terdengar memenuhi ruangan tersebut Toa Tek To Hun sudah berada di depan pintu.
"Toa Tek.... jangan pergi dulu!"
Terdengar suara teriakan dari dalam ruangan.
Pedang di tangan Mo Put Chi seperti terbang menusuk dari arah belakang, Toa Tek To Hun tidak menoIeh.
langkahnya dipercepat.
Tusukan pedang itu mengenai tempat kosong.
Mo Put Chi tidak mau sudah, dia berteriak keras dan menyerang sekali lagi, Toa Tek To Hun menggeser tubuhnya sedikit.
Tubuhnya membalik.
Tangan leruIur dengan gerakan yang tidak tertangkap oleh mata, jari telunjuknya menyentil ujung pedang Mo Put Chi.
"Ting!"
Seiring dengan dentingan suara itu, pedang di tangan Mo Put Chi terlepas dan melayang jauh, Akhirnya tertancap di tengah-tengah sebatang pohon di jalanan.
Dengan tangan kosong, Mo Put Chi menyerangnya lagi, Dia seakan tidak mau mengakui kekalahan ini, Hasilnya tetap sama, Tidak seujung jari pun, dia dapat menyentuh tubuh Toa Tek To Hun.
Benar-benar suatu pemandangan yang mengharukan.
Toa Tek To Hun meneruskan langkahnya, Dia tidak melirik sekejap pun kepada Mo Put Chi.
serangannya yang bertubi-tubi hanya menguras tenaga tanpa hasil.
Akhirnya Mo Put Chi terpaksa berhenti, dia terlihat putus asa.
Airmatanya sampai mengalir tanpa henti.
"Toa Tek To Hun! Mengapa kau tidak menghunus pedang dan membunuh saja diriku ini?"
Teriaknya marah. Toa Tek To Hun menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh kepada Mo Put Chi sekejap.
"Karena kau masih belum pantas mati di bawah pedangku!"
Sahut Toa Tek To Hun.
Pada saat itu, Mo Put Chi baru sadar kesombongannya tidak berlebihan.
Bukan hanya dia yang tidak pantas, semua orang yang berada dalam ruangan dalam pun tidak ada yang pantas, Mo Put Chi dari marah berubah sedih.
Tubuhnya gemetar, air matanya bercucuran Bayangan Toa Tek To Hun makin mengecil dan akhirnya menghilang.
Semuanya terjadi begitu cepat, Meski-pun pertarungan ini sudah memenuhi pikiran setiap orang, tapi kenyataannya jauh berbeda.
Begitu cepat penyelesaiannya.
Terlalu cepat sehingga mereka seperti baru mengalami sebuah mimpi buruk, orang-orang itu hampir tidak percaya bahwa semuanya telah berlalu.
Mata Mo Put Chi beralih ke pedangnya yang tertancap di batang pohon.
Dengan langkah lebar dia mendekat dan mencabut pedang itu.
Mo Put Chi tidak ingin berpikir lebih lama lagi, dia ingin segera membunuh diri.
Perbuatan bunuh diri sebenarnya tidak sesuai dengan namanya, tetapi gurunya sendiri sudah mengalami kejadian yang mengenaskan Dia sendiri pun sudah mencoba, Untuk membalas dendam ini, sulitnya melebihi segala hal di dunia, Mati adalah sntu-satunya jalan keluar Apa salahnya mengikuti gurunya menuju alam baka?
Bukankah suhu sudah mengatakan bahwa hari ini merupakan batas waktunya yang terakhir?
Namun pada saat pedangnya sudah siap menggorok lehernya sendiri, tiba-tiba Hu Put Chiu menerjang keluar dan menahan pedang di tangannya....
Mo Put chi marah sekali, dia mendelik ke arah ji sutenya.
"Apa maksudmu menahan pedang ini?"
Bentaknya.
"Suheng, kau tidak boleh bunuh diri, karena kau memang tidak perlu mati!"
Jawab Hu Put Chiu.
"Mengapa?"
Tanya Mo Put Chi dengan mata masih membara.
"Karena suhu juga belum mati!"
Sahut Hu Put Chiu yakin.
"Aku tidak percaya!"
Kata Mo Put Chi.
"Suheng.... Mengapa kau tidak masuk saja dan membuktikannya sendiri?"
Hu Put Chiu menyarankan.
Setelah mengalami kejadian ini, tubuh siapa yang tidak mengeluarkan keringat dingin ?
Keluarga Fang menjadi kalang kabut, Anak buah dan para pelayan berlarian kesana kemari.
Mereka saling memberitahu bahwa majikan mereka tidak mati.
Dalam pertarungan kali ini, mengharapkan kemenangan seperti bermimpi di siang hari.
Oleh sebab itu, dalam pikiran para pelayan dan anak buah Fang Tiong Seng, tidak matinya majikan tersebut merupakan suatu hal besar dunia Bulim.
Harapan seorang manusia memang paling mudah berubah, pada saat pertarungan belum berlangsung, mereka mengharapkan majikannya akan meraih kemenangan sekarang pertarungan telah berlalu, harapan mereka tentu saja majikannya itu tidak mati.
Tidak matinya Fang Tiong Seng dengan "harus menang"
Sebelum pertarungan berlangsung mempunyai nilai yang sama.
Dua-duanya menggetarkan hati anak buah serta para pelayan keluarga Fang, Tidak jadi mati, masih mempunyai kesempatan untuk mengulangi kembali.
Bila ingin menebus suatu kekalahan, manusia harus dapat mencapai titik "
Tidak mati"
Terlebih dahulu.
Saat itu, Fang Tiong Seng dipapah oleh para pelayannya untuk duduk di kursi singa, Kedua matanya tertutup rapat.
Di keningnya terdapat luka memanjang.
Baginya pertarungan memang telah usai, Meskipun tidak sampai mati, rasanya baru saja ter-jaga dari sebuah impian buruk.
Mungkinkah perasaannya lebih enak mati daripada hidup?
Siapa yang dapat menyelami bagaimana perasaan hatinya saat ini?
Kedua matanya terpejam rapat, keIihatannya lemas sekali.
Atau dia sedang mengenang kembali pertarungan tadi.
Mo Put Chi dan Hu Put Chiu masuk dengan langkah berlari-lari, Mereka mengalirkan air mata, rasa kejut dan gembira tertera jelas di wajah keduanya.
Kejadian ini memang di luar dugaan.
Karena dalam hati kecil mereka, suhunya pasti akan meraih kemenangan, meskipun pernah terlintas pikiran yang buruk, tapi yang mereka bayangkan adalah seperti apa yang dialami oleh Chi Siong, Kiam Khek dan rekanrekannya.
Mereka sungguh tidak menyangka akhir pertarungan ini akan menjadi begini.
Peristiwa ini membangkitkan kembali semangat mereka.
Paling tidak, Toa Tek To Hun tidak sanggup melakukan seperti yang biasa dilakukannya.
Sekali sinar pedang berkilau, musuh rubuh dengan bermandi darah.
Mo Put Chi menghampiri suhunya....
"Apakah kau orang tua benar-benar tidak apa-apa?"
Tanyanya dengan suara pilu.
"Aku pun tidak menyangka gerakannya kali ini akan menaruh belas kasihan kepadaku...."
Sahut Fang Tiong Seng dengan wajah kelam.
"Tidak, suhu! Kau merupakan orang pertama di Tionggoan yang dihormatinya. Oleh sebab itu, gerakan pedangnya bukan menaruh rasa belas kasihan, tapi rasa hormat!"
Kata Hu Put Chiu.
"Benar, suhu! Apa yang dikatakan sute memang tidak salah, Dia terlalu menghormati suhu. sebetulnya dia telah berusaha sekuat tenaga, Namun ketika pedang itu sudah mendekat, dia tidak tega membunuh suhu, tetapi hanya melukai saja!"
Sahut Mo Put Chi. Fang Tiong Seng tidak tahu mana yang lebih benar. Dia tidak menyahut.
"Sekarang telah terbukti. Meskipun ilmu pedang Toa Tek To Hun memang lihai, tapi dia masih belum dapat mengendalikan perasaan hatinya,"
Kata Hu Put Chiu.
"Namun... bila aku yang mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya, aku tidak akan terpengaruh rasa kasihan atau pun rasa hormat. Sebab bila orang ini tidak mati, di dalam kangouw entah masih harus mengorbankan berapa banyak jiwa!"
Kata Fang Tiong Seng tegas.
Ruangan itu sunyi senyap, Akhir pertarungan ini tidak dapat dikatakan paling baik atau pun paling buruk!
"Sayang sekali...
meskipun aku berlatih lagi selama sepuluh tahun, masih tetap bukan tandingannya...."
Fang Tiong Seng menarik nafas panjang.
"Benarkah ilmu pedangnya sedemikian lihai?"
Tanya Mo Put Chi.
"Aku sudah pernah mengatakan pada saat sekarang ini, hanya ada satu orang yang dapat menahan serangan pedangnya..."
Sahut Fang Tiong Seng. -oooo0oooo-Kapal layar panca warna penghuninya setengah dewa.
"Benarkah di dunia ini ada manusia semacam itu?"
Tanya Ho Put Chiu.
"Tentu ada"
Sahut Fan Tiang Seng. Di wajah setiap orang terbersik setitik harapan.
"Apakah sang sute dan Po Giok dapat berhasil menemuinya?"
Tanya Hu Put Chiu entah kepada siapa.
"Aku berharap mereka berhasil..."
Kata Fang Tiang Seng -oooo0oooo-Bagian Lima Pinggir pantai.
Disini adalah perkampungan nelayan yang telah porak poranda.
Pemandangan seperti ini rasanya tidak akan membuat manusia kerasan.
Begitu pula Kwe Po Giok dan Sun Put ce.
Mereka juga tidak menyukai tempat itu.
Tapi nyatanya mereka telah sampai, suka atau tidak bukan persoalan lagi.
Untuk menunggu adalah persoalan lain.
Untuk menunggu layar panca warna dari kapal dewa itu, mereka hampir-hampir merasa jenuh.
Angin laut tiap hari berhembus.
Matahari menyengat.
Waktu seperti itu sungguh sulit dilalui, wajah kedua orang itu merah hangus, Kulit yang tersengat matahari menjadi terkelupas, membuat belang wajah mereka.
Di tempat seperti ini, untuk menghilangkan waktu luang, memancing adalah jalan yang terbaik, Kadang-kadang ada beberapa kapal layar yang lewat, tapi tidak satupun yang berlayar pancawarna.
"Mungkinkah di dunia ini ada layar pancawarna? Ada kapal dewa?"
Tanya Kwe Po Giok setengah putus asa. Dia masih seorang bocah cilik, kesabarannya tentu kalah jauh dengan rekannya yang lebih tua.
"Ada.... Pasti ada!"
Sahut Sun Put Ce.
"Karena Fang lopek mengatakan ada, lalu kau juga yakin pasti ada?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Tapi kita sudah beberapa hari diam di tempat ini, bayangan layar panca warna pun tidak terlihat,"
Kata Kwe Po Giok mengeluh.
"Cepat atau lambat, kita pasti berhasil menemukannya!"
Kata Sun Put Ce yakin.
"Bagaimana kalau dewa itu telah mati?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Berarti nasib kita sudah ditakdirkan menunggu sampai akhir zaman,"
Sahut Sun Put Ce seakan bila peristiwa itu benar-benar terjadi, tetap tidak akan menggoyahkan hatinya.
"Saya hanya takut, bila kita menunggu sampai saat itu, Toa Tek To Hun telah berhasil membunuh seluruh jago di Tionggoan!"
Kata Kwe Po Giok.
Sun Put Ce tidak menyahut.
Apakah Toa Tek To Hun akan membasmi seluruh jago persilatan di Tionggoan?
Dia yakin, tidak, Hatinya dikaluti bermacam-macam pikiran, Karena mereka sudah sampai di tempat ini, jalan satu-satunya hanya menunggu.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce memancing ikan kembali, Apakah memancing ikan suatu kesenangan atau penderitaan?
ini harus dilihat dari si pemancingnya sendiri.
Apakah dia memancing karena hobby atau hanya mengisi waktu?
Seperti kedua orang tersebut, mereka melakukannya untuk mengisi waktu luang, tentu saja merupakan suatu penderitaan.
Kwe Po-giok berkali-kali mengangkat pancingnya.
Umpannya telah habis dimakan namun tak ada seekor ikanpun yang terkail.
Hanya Sun Put Ce yang berhasil mendapat seekor ikan kecil sepanjang tiga cun.
Dalam anggapan hari mereka meskipun Sun Put Ce berhasil mendapatkan seekor ikan kecil, toh masih jauh lebih baik daripada dirinya yang tidak berhasil, meskipun merasa kurang senang.
"Kau senang ikan?"
Tanya bocah itu dengan wajah bersungutsungut.
"Sedikit..."
Sahut rekannya.
"Andaikata kau tidak mendapat seekor ikanpun, apakah kau tetap menyukai ikan?"
Tanya Kwe Po-giok penasaran.
"Betul."
Sahut Sun Put-ce.
"Apakah ikan menyukai manusia?"
Tanya Kwe Po Giok dengan nada mengejek.
"Paling tidak mereka menyukai umpan pada kail manusia,"
Jawab sang rekan.
"Sebetulnya ikan dapat menjadi sahabat manusia, Tapi kadang-kadang mereka bisa menjadi musuh besar, Benar atau tidak?"
Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menatapnya dalam-dalam..
"Benar!"
Sahutnya.
"Coba kau terka. Bagaimana keadaan Fang lopek sekarang?"
Tanya Kwe Po Giok berganti memandangnya. Sun Put Ce menggeleng kepala dengan lesu.
"Saya dapat melihat bahwa dirimu sangat menderita saat ini!"
Kata Kwe Po Giok.
"Apakah kau tidak?"
Sun Put Ce berbalik bertanya.
"Saya.,.? Tentu saja. Saya selalu menganggap memancing itu menyebalkan, menghabiskan waktu dengan percuma,"
Sahutnya kesal.
"Waktu luang adalah emas."
Kata Sun Put Ce datar.
Pada saat itu, Sun Put Ce mendongakkan kepalanya untuk menatap seekor burung camar, Dia menelusuri sampai ke bawah.
Diantara batu-batu karang, ada sesuatu yang lebih menarik daripada burung camar itu sendiri, Seorang gadis duduk di sebuah bebatuan Tangannya melambai-lambai ke arah Sun Put Ce.
Seumur hidupnya, Sun Put Ce tidak pernah berdekatan dengan seorang gadis, sebelumnya dia selalu mempunyai anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang telah ditentukan.
Dunia ini tidak dapat tanpa perempuan, juga tidak boleh terlalu dekat dengan makhluk tersebut, Tidak disangka, begitu keluar dari pintu perguruan, dia telah bertemu dengan dua di antara makhluk tersebut, Bwe Mei malah memberikan sebuah dompet yang harum untuknya.
Dan kejadian sekarang, mimpi pun tidak pernah dibayangkan Sejak perjumpaan mereka tempo hari, bila dia sedang menyendiri atau sedang tidur, bayangan gadis itu sering berputar di benaknya, Karena hal ini, paling tidak anggapannya terhadap seorang gadis sudah mulai berubah.
Dia tidak lagi berpikir bahwa perempuan itu makhluk yang "tidak boleh terlalu didekati", Malah dia mempunyai anggapan kalau bisa agak dekat sedikit, bukankah menyenangkan?
Gadis yang melambaikan tangannya itu tampak tidak asing.
Tapi Sun Put Ce yakin, dia bukan Bwe Mei yang memberikan dompet kepadanya, Mengapa Bwe Mei menghadiahkan dompet untuknya?
Bila pertanyaan ini diajukan kepada Sun Put Ce, tentu dia akan sulit menjawabnya.
Sama seperti mengapa Toa Tek To Hun harus membunuh para jago kelas satu di Tionggoan?
Apa yang terjadi di dunia memang sering di luar dugaan?
Kehidupan manusia ibarat sebuah panggung sandiwara ...
Tiba-tiba Sun Put Ce teringat.
Gadis itu adalah cucu Peng Chow Ceng.
Juga merupakan salah satu dari ketiga orang yang bersandiwara di hadapan mereka, Sun Put Ce kagum kepada mereka, Setidaknya sandiwara yang dijalankan telah berhasil mengelabui dia dan Kwe Po Giok.
Mengapa mereka harus menjalankan peranan seperti itu?
Apakah mereka ingin menguji dirinya dan Kwe Po Giok?
Kalau begitu, berarti sejak semula mereka telah tahu bahwa dirinya adalah anak murid Fang Tiong Seng!
Dia merasa Chow Ai Giok tidak dapat disamakan dengan Bwe Mei....
Kalau dia teringat kepada gadis itu, dia pasti harus menyimpan dengan baik dompet yang diberikan kepadanya, Dia tidak seharusnya bermain api dengan gadis lain, Namun kata-kata Ai Giok seperti "jangan menganggap bodoh seorang manusia yang berbudi", juga sering terngiang-ngiang di telinganya.
Kemudian, dia juga merasa dompet yang diberikan oleh Bwe Mei hanya sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya, pikirannya menjadi ruwet.
Dia melihat Ai Giok melambaikan tangannya sekali lagi, kemudian menyelinap di antara batu-batu karang di tepi pantai tersebut, Dia pernah mendengar orang berkata bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak pernah setengah-setengah.
Kalau tidak lebih baik dari kaum laki-laki, pasti jauh lebih jahat dari mereka, Dia tidak tahu apakah pikirannya sendiri yang melangkah terlalu jauh terhadap sikap dan tingkah laku kedua gadis itu?
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Sun Put Ce menuruni bukit karang tersebut.
Tentu saja dia masih mempunyai alasan yang lain.
Siapa tahu gadis itu dapat memberikan sedikit keterangan tentang...
Kwe Po Giok meliriknya sekilas, Dia tidak menanyakan tujuan Sun Put Ce karena dia memang tidak mengetahui kehadiran gadis itu, Kadangkala Kwe Po Giok juga tidak menyelami perasaan Sun Put Ce, meskipun kepintarannya lebih tinggi dari manusia umumnya.
Dia hanya mengira Sun Put Ce sedang mencari umpan ikan di balik batu-batu karang tersebut, Dia tahu anak rajungan dapat dijadikan umpan, LagipuIa untuk mencarinya harus menggali pasirpasir di sepanjang pesisir pantai itu.
Tidak lama kemudian, Sun Put Ce telah menghilang di balik batu karang yang besar-besar.
Chow Ai Giok duduk di atas sebuah batu yang licin dan mengkilap, Bajunya tampak sederhana, jauh berbeda dengan penampilan Bwe Mei.
Kain yang digunakan sebagai bahan baju itu amat tipis, Meskipun Ai Giok mengenakan pakaian dalam, tapi bentuk payudaranya yang menyembul tetap membuat sebuah pemandangan yang indah.
Angin laut berhembus, meniupkan segulung keharuman dari tubuh gadis itu.
Sun Put Ce berdiri dengan sikap lugu.
Ai Giok tersenyum-senyum, Dia menepuk-nepuk batu karang di sampingnya, sebagai isyarat agar Sun Put Ce duduk di sana, Sun Put Ce bagai setengah mabuk.
Baru kali ini keluar merantau, sudah menemui dua peristiwa yang mimpi pun tidak berani dibayangkan Sejak berkenalan dengan Bwe Mei, sudah berulangkali dia memikirkan rupanya sendiri.
Dilihat dari bentuk luar, dia tidak dapat menandingi It Cheng Hong, Dari kecerdasan dia pun tidak setimpal dengan Kwe Po Giok.
keningnya tidak seberapa lebar, Alis dan mata masih lumayan, Hidungnya tidak termasuk mancung, Bibirnya malah agak tebal sedikit.
Bentuk wajahnya sulit dilukiskan.
Tidak bundar, namun juga tidak dapat disebut berbentuk persegi, Juga tidak terlalu panjang, Kulitnya berwarna gelap, Manusia seperti dirinya, paling mudah dibedakan dengan orang lain.
Dia tidak habis pikir, Apa yang membuat kedua gadis itu tertarik kepadanya?
Bagaimana pun dia tidak enak menolak permintaan seorang gadis yang telah menyusulnya sejauh ribuan li.
Dia duduk di samping gadis itu.
Angin laut memang tidak terlalu kencang, namun meniup rambut-rambut kecil yang terurai di kepala Ai Giok, Sun Put Ce yakin sekali darah hangatnya mengaliri seluruh bagian tubuh.
Menimbulkan suatu perasaan yang janggal!
Pada saat itu, dia baru percaya bahwa perempuan merupakan makhluk yang telah ditentukan oleh Thian!
"Sun toako....
Kalian sungguh pandai menyenangkan diri....
Jauhjauh ke sini hanya untuk memancing,..."
Kata gadis itu.
"Betul!"
Sahutnya.
"Memang sengaja memancing ikan atau kebetulan ada urusan yang perlu ditangani? Lalu sekalian memancing?"
Tanya Chow Ai Giok.
"Mengisi waktu luang,"
Sahut Sun Put Ce.
"Saya dengar, Toa Tek To Hun juga tidak akan melepaskan suhumu, Fang Tiong Seng taihiap, Benarkah?"
Tanya gadis itu kembali.
"Benar!"
Sahutnya.
"Lalu mengapa kau bisa datang ke perkampungan nelayan ini untuk memancing?"
Tanya gadis itu dengan pandangan menyelidiki. Sun Put Ce tertawa getir tanpa menjawab.
"Sun toako.... Kau benar-benar seorang manusia yang jujur...."
Kata Ai Giok sambil menarik nafas.
"Aku... aku.,.,"
Sun Put Ce menjadi kikuk.
"Sun toako... kalau ada sesuatu yang ingin kau ucapkan, silahkan! jangan malu-malu!"
Kata gadis itu membesarkan hati laki-laki di sampingnya.
"Sebetulnya tidak ada yang ingin kukatakan Aku hanya takut membuat kau kecewa..."
Sahut Sun Put Ce dengan suara ragu.
"Saya tidak takut. sebetulnya sejak pertama kali bertemu, saya sudah... sudah...."
Kata-katanya tidak dapat dilanjutkan, dia bergeser lebih dekat dengan Sun Put Ce.
Sun Put Ce yakin, tubuh dan tulang kerangka seorang gadis tidak sama dengan seorang laki-laki.
Nafasnya agak memburu.
Hal ini pasti tidak dapat mengelabui Chow Ai Giok.
Namun apa yang dapat dilakukan olehnya tidak dapat melampaui batas lagi, perempuan selalu menghindari anggapan rendah dan kurang pendidikan dari seorang laki-laki, meskipun apa yang sanggup mereka lakukan dapat membuat para laki-laki lupa diri!
Di antara laki-laki dan perempuan ada kata-kata "jodoh", Bila tidak, kalau dinilai dari raut wajah dan ilmu silat Chow Ai Giok, mana mungkin dia takut tidak menemukan pemuda yang lebih dari Sun Put Ce!
Chow Ai Giok mengeluarkan suatu benda dari balik pakaiannya, Dia menyerahkannya ke tangan laki-laki itu.
"Benda ini sengaja saya sulam untukmu, bila kau melihatnya, seperti bertemu dengan diri saya...."
Katanya dengan wajah tersipusipu.
Sun Put Ce merasakan aliran darahnya semakin cepat.
Angin laut tidak dapat menyejukkan hatinya yang panas membara.
Karena di tangannya tergenggam sebuah dompet yang memancarkan bau harum.
Lagi-lagi sebuah dompet!
Apakah seorang gadis selalu memberikan dompet sebagai isyarat perasaannya kepada seorang laki-laki?
Kalau demikian, nilai dompet ini tidak terkira!
Kesedihan dalam hatinya, kesepian, kejenuhan selama menunggu selama beberapa hari ini segera sirna bersama dompet di tangannya dan gerakan yang ditunjukkan Chow Ai Giok, semangatnya bangkit seperti sekumpulan api yang disiram minyak.
Semakin membara!
seandainya seorang gadis saja bisa begitu terbuka pandangannya, dirinya tentu tidak boleh sekaku itu.
Tiba-tiba Sun Put Ce membentangkan kedua tangannya dan memeluk Chow Ai Giok.
Pada saat demikian, dia tambah yakin bahwa kulit dan tubuh seorang gadis berbeda sekali dengan seorang laki-laki.
perasaannya bergelora, Bagaikan sebuah perahu yang terombang-ambing di tengah lautan!
Chow Ai Giok tampak terkejut Tapi rasa terkejutnya bukan karena merasa dihina, atau pun takut.
Dia justru merasa hal itu memang yang sedang dinanti-nantikannya dan sama sekali tidak menyangka akan terlaksana!
Mungkin juga perasaan itu sama dengan perasaan laki-Iaki itu sendiri.
Tiba-tiba Sun Put Ce teringat sebuah dompet yang lain, Dompet yang satu itu lebih dahulu diterimanya.
Dia merasa perbuatannya sekarang sangat menyalahi pemilik dompet itu.
Tiba-tiba dia melepaskan rangkulannya, SebetuInya, pelukan Sun Put Ce tadi tidak terlalu ketat.
Perbuatan seperti itu semestinya kurang sopan, Dia seperti memeluknya dengan setengah hati, Tidak seharusnya memeluk, toh dia sudah memeluk, Tidak berani memeluk, dia toh memeluk dengan hati ragu, Benar-benar sulit diuraikan.
Bagi Sun Put Ce yang tidak berdekatan dengan seorang gadis, mana mengerti teori ini?
"Chow Kouwnio, maafkanlah aku!"
Katanya dengan suara lirih. Ai Giok menatapnya dengan heran.
"Mengapa harus minta maaf?"
Tanya gadis itu.
"Waktu kecil sudah mendapat didikan dari keluarga, setelah dewasa juga mendapat ajaran dari suhu, Tidak seharusnya aku melakukan perbuatan yang tidak sopan."
Katanya.
"Sun toako.... Saya tidak menyalahkan dirimu, Kalau orang lain, tentu saja tidak boleh!"
Sahut Ai Giok dengan wajah tersipu-sipu.
"Apakah Chow Kouwnio hanya datang seorang diri?"
Tanya Sun Put Ce mengalihkan pembicaraan.
"Betul!"
Sahutnya.
"Mengapa kouwnio bisa datang sendirian ke perkampungan nelayan ini?"
Tanya Sun Put Ce tidak mengerti. Wajah Chow Ai Giok menunjukkan perubahan hebat.
"Saya ingin bermain-main,"
Sahutnya dingin.
"Apakah nona pernah mendengar jejak atau keadaan Toa Tek To Hun saat ini?"
Tanya Sun Put Ce tidak memperdulikan perubahan gadis itu.
"Tidak...."
Jawab Chow Ai Giok.
"Chow Kouwnio.... Terhadap kesalahan tadi, aku harap kau mau memaafkan,"
Kata Sun Put Ce dengan perasaan tidak enak.
"Sudah saya katakan bahwa saya tidak perduli. Mengapa kau begitu pengecut?"
Sahut sang gadis.
"Bukan pengecut, tapi merasa berdosa kepada dompet ini,"
Sahutnya sambil meraba pakaian yang dikenakannya. Chow Ai Giok jadi kesal bercampur geli.
"Merasa berdosa kepada dompet itu? Bukankah saya sudah memberikannya kepadamu?"
Tanya gadis itu dengan wajah tersenyum.
"Bukan dompet yang kau berikan, tetapi dompet yang lain,"
Sahut Sun Put Ce. senyuman Ai Giok langsung sirna, matanya mendelik.
"Kau masih memiliki dompet yang lain? Darimana? Coba saya lihat!"
Serunya dengan suara keras.
Sun Put Ce benar-benar buta tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Dengan jujur dia menerangkan adanya dompet lain, bahkan dikeluarkannya dompet itu untuk diperlihatkan kepada Chow Ai Giok.
Apa salahnya memperlihatkan kepada gadis ini?
pikirnya dalam hati, Toh tidak lebih hanya sebuah dompet!
Chow Ai Giok merebut dompet itu dari tangan Sun Put Ce.
Dia memperhatikan dengan seksama, tidak sama dengan miliknya.
Yang ini malah lebih halus dan indah.
"Siapa yang memberikannya padamu?"
Tanyanya dengan nada dingin.
"Nona Bwe Mei,"
Sahut Sun Put Ce terus terang, Chow Ai Giok terpana. Mungkinkah karena dompet itu lebih bagus atau dia tidak menyangka gadis itu yang memberikannya.
"Hu li cing si siluman srigala!"
Katanya dengan nada benci.
Tangan gadis itu terangkat, Sun Put Ce tidak keburu mencegahnya lagi.
Dompet itu telah terlempar jauh ke dalam laut.
Laki-laki itu merasa agak marah, tapi sebelum dia sempat menegurnya, gadis itu sudah membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan tempat itu.
Sun Put Ce benar-benar tidak tahu hati seorang gadis sulit dimengerti.
Mereka tidak mengerti apa arti sebuah persahabatan.
Mereka hanya tahu tentang cinta.
Dompet yang dilempar oleh Chow Ai Giok masih terapung-apung, Kalau permukaan sudah basah semua, tentu dompet itu akan tenggelam Sun Put Ce tidak dapat membiarkan dompet itu tenggelam.
Kejadian ini sama dengan tidak menghargai pemberian Bwe Mei.
Gadis itu merupakan orang pertama yang memandangnya tinggi, dalam hatinya, tidak terkira rasa terima kasih atas perhatian Bwe Mei.
Tanpa sempat membuka baju lagi, dia segera terjun ke dalam laut.
"Pung!!!"
Lautan ada sebagian yang kalau dilihat tidak dalam, tapi begitu terjun baru merasakan tidak terlalu dangkal juga, Sun Put Ce hanya mengingat dompet itu, dia meraih dan menggenggamnya erat-erat.
Dia juga lupa bahwa dirinya sama sekali tidak bisa berenang.
Beberapa kali tangannya menggapai kalang kabut, lalu perlahanlahan tenggelam.
Meneguk air laut yang asin tentu saja bukan pengalaman yang menyenangkan Meskipun harus mati tenggelam, tangannya tetap tidak mau melepaskan dompet yang telah berhasil diraihnya, ingatannya pun lambat laun menghilang.
Ketika tersadar kembali, dia menemukan dirinya rebah di batu yang tadi ia duduki bersama Chow Ai Giok.
Kwe Po Giok berdiri di sampingnya.
Tubuhnya juga bawah kuyup, Sun Put Ce sudah dapat menduga apa yang telah terjadi.
Dia melihat Kwe Po Giok sedang mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat tersebut.
Apakah dia masih tetap mencari layar panca warna itu?
Sun Put Ce memaksakan dirinya untuk duduk.
"Kwe Siaute.... Terima kasih atas pertolonganmu!"
Katanya dengan suara lemah, Kwe Po Giok mengalihkan tatapannya kepada teman seperjalanannya itu.
"Sampai di sini beberapa hari, saya masih tidak tahu bahwa kau adalah seorang pengagum wanita,"
Sahutnya tenang.
"Saya..."
Sun Put Ce gugup wajahnya merah.
"Sekarang saya baru percaya kata-kata "Thao hua un"
Yang berarti rejeki didekati wanita,"
Katanya seperti kepada dirinya sendiri.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Tapi ada yang mengatakan manusia yang mendapatkan Thao hua un, justru sedang sial,"
Katanya lagi.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce kembali.
"Kalau tidak, mana mungkin kau hampir mati tenggelam?"
Kata bocah itu. Sun Put Ce tidak menyahut "Meskipun kau mendapatkan Thao hua un... tetapi kau sama sekali tidak mengerti hati kaum perempuan...."
Kata Kwe Po Giok, Sekali ini dia menarik nafas panjang.
"Aku?"
Tanya Sun Put Ce sedikit heran.
"Lidah seorang perempuan, senjata rahasia terakhir mereka,"
Kata Kwe Po Giok. Sun Put Ce segera tahu bahwa perbuatannya dengan Chow Ai Giok pasti diintip oleh bocah ini, Dia merasa kurang enak.
"Pada saat seperti sekarang, perbuatanku memang tidak patut,"
Sahut Sun Put Ce.
"Saat seperti sekarang, mencari kesenangan memang paling pantas,"
Ejek Kwe Po Giok sinis. Sun Put Ce memperhatikannya dengan tajam, Sekarang dia baru sadar, apa yang diketahui oleh Kwe Po Giok jauh melebihi usianya.
Jilid 04
"Ada suatu hal yang membuat saya kagum terhadapmu!"
Kata Kwe Po Giok, Sun Put Ce menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Keberanian dan kesetiaan terhadap sebuah dompet, saya sungguh tidak dapat melebihi dirimu,"
Ujarnya menjelaskan. Sun Put Ce menarik nafas panjang.
"Sejak usia tiga tahun sudah mendapat gelar bocah ajaib. Memang tidak terlalu ber-lebihan,"
Katanya.
"Coba kau terka, bagaimana keadaan Fang lopek sekarang?"
Tanya Kwe Po Giok tanpa memperdulikan pujian Sun Put Ce. Rekannya tidak menyahut.
"Saya juga tidak tahu bagaimana keadaannya, tapi saya yakin Toa Tek To Hun sudah pergi mencarinya,"
Kata Kwe Po Giok dengan suara sendu.
Sun Put Ce tetap tidak mengeluarkan suara.
Matahari terbit, matahari tenggelam.
Pagi atau senja, Di pegunungan atau pun di daratan.
Langkah kaki Toa Tek To Hun tetap tegar, jejak kakinya masih terlihat rapi dan teratur, Di samping jejak kaki, ada tetesan darah segar, Menitik dari ujung pedangnya.
Di padang rumput, ataupun dalam hutan belantara, sepertinya semua ada jejak kaki orang itu.
jejak kaki itu seperti mengatakan "Pedang adalah aku.
Aku adalah pedang, Aku lahir, aku datang hanya untuk kemenangan Menang, hidup.
Kalah, mati, Di dalam hidup ini tidak ada pilihan yang lain."
Di sampingnya terasa ada sebuah suara yang menyahut.
"Saya percaya kedatangan Siansing kali ini hanya untuk memenangkan semua pertarungan."
Sinar pedang berkilauan.
Suaranya bergemuruh, Kening terdapat jalur luka memanjang, Satu-satu musuh pun rubuh bermandikan darah.
Para pesilat dari Tionggoan yang tidak takut ataupun gentar, pasti dari golongan tingkat tiga atau empat.
Manusia takut ternama, babi takut menjadi gemuk, Kadangkala tidak terkenal justru membawa keberuntungan.
Biasanya manusia berusaha menjadi terkenal.
Usaha apapun berani dilakukan untuk menjadi terkenal.
Saat ini, untuk menghilangkan nama yang sudah terlanjur terkenal, sama sekali tidak mungkin.
Satu-satunya jalan hanya mencari dewa pelindung.
Hendak mencari dewa pelindung, harus pintar, serta memiliki sesuatu yang dapat dijadikan imbalan.
Oleh sebab itu, Peng Chow Ceng dan Hek Houw bersusah payah memainkan sandiwaranya, It Cheng Hong menggunakan perkawinan untuk menipu Bi jin sim.
Dunia seperti permainan catur, Benar-benar boleh dipercayai.
Di kota ini, penginapan dan rumah makan Thai Pek Ki sangat terkenak.
Dalam jarak sejauh ratusan li, siapa pun pernah mendengar nama Tai Pek Ki itu.
Usaha seperti ini, yang penting dapat menyediakan kamar yang bagus.
Dapat mencari juru masak yang bisa mengolah bermacam-macam masakan enak.
Nama pun akan melambung selamanya.
Hari ini, Thai Pek Ki mendapat kunjungan seorang pesilat, Dia menempelkan kain berwarna merah dengan tulisan dari tinta hitam di atas pintu, Huruf yang tertera adalah.
"Cu Thi Jui"
Alias Si mulut besi Cu. Pengurus rumah makan dan penginapan Thai Pek Ki kurang senang, Dia berjalan keluar dari pintu belakang dan mengetuk pintu kamar Cu Thi Jui.
"Apakah tamu yang bernama Cu Sian-sing ada di tempat?"
Tanyanya.
"Siapa di sana?"
Terdengar sahutan dari dalam.
"Saya adalah pengurus penginapan ini,"
Katanya menjelaskan Seorang laki-laki berkacak pinggang setelah pintu dibuka.
"Ada keperluan apa?"
Tanyanya.
"Apakah Cu Siansing akan membuka usaha di penginapan ini?"
Pengurus penginapan itu balik bertanya. Cu Thi Jui tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku adalah seorang perantau, Sampai di mana, membuka usaha di mana. Kalau ramai akan menetap lebih lama beberapa hari, kalau usaha sepi, tentu aku akan melepaskan merek di depan segera,"
Sahutnya.
"Cu Siansing.... Saya hanyalah seorang pengurus di sini, Yang dapat mengambil keputusan adalah majikan pemilik kami, Majikan kami itu paling tidak suka kejadian seperti ini, Lebih baik kau cepatcepat melepaskan merek di depan itu,"
Katanya.
"Apakah kau tidak percaya ramalan bintang?"
Tanya laki-laki itu.
"Tidak heran. Kau tidak percaya karena belum bertemu dengan orang keluarga Fang. Saya justru ingin membuktikan bahwa ramalan bintang benar-benar hebat!"
Katanya setelah melihat pengurus penginapan itu menggelengkan kepalanya.
"Cayhe masih tidak percaya...."
Sahut pengurus penginapan itu.
"Pengurus Liu, kau masih belum mengerti. sebetulnya ramalan bintang bukan hanya dongeng yang tersiar di luaran. Ramalan ini seperti ilmu jiwa. Dengan melihat apa yang berkecamuk dalam jiwa seseorang ditambah ilmu perjalanan bintang di atas langit, hasilnya benar-benar mengagumkan jauh sebelum jaman sekarang sudah banyak yang menggunakannya. Seperti Ko pocu liau dari dinasti Chow, awal dinasti Han ada Shi Fu, akhir dinasti Han ada Cu kian peng. Di sebelah Utara ada Hong Po Giok, Gok sik. Kai huat Chien, Masih ada lagi dari sebelah Tenggara, Ku Lien, Lai ho, pada zaman dinasti Thang ada Yan Thian Cen, Thio Kincan, Budha pengemis Kai hut Ying li, Kim liang hong dan lain-lain,"
Katanya panjang lebar. Tidak disangka-sangka, pengurus itu juga mengalami ramalan bintang ini.
"Zaman dinasti Song ada Ma I To Jin, Ceng miao ing, Fu pan dan Liu si pek,"
Sahutnya.
"Betul! Betul!"
Dinasti Goan ada Lie Kok Yong, Choa kui, dinasti Beng ada Gouw Kok Chai, Yuan ki, Li fen, Hung Peng Lu, Chen ju lan, dan yang terakhir pada zaman dinasti Ching masih ada Tan Tham Suk dan Cek Kok Fan yang menggunakannya,"
Sahut Cu Thi Jui. Tanpa dinyana, meskipun pengetahuan tentang ramalan bintang cukup dalam, dia tetap menggeleng kepalanya.
"Liu Cangkwe tidak percaya pasti ada sebabnya,"
Kata Cu Thi Jui.
"Boleh dikatakan demikian...."
Jawab Liu Cangkwe itu.
"Mungkinkah pernah ditipu dengan ramalan bintang?"
Tanya Cu Thi Jui kembali.
"Hanya kata-katanya yang omong kosong,"
Sahut pengurus penginapan itu.
"Sebagian pendeta yang mengerti ilmu meramal atau sihir di Kangouw tujuannya memang hanya mencari makan dengan menipu, tapi Liu Cangkwe tidak boleh menyamakan semuanya,"
Kata Cu Thi Jui mencoba meyakinkan pengurus penginapan tersebut "Dulu, kira-kira dua puluh tahun yang lampau, di kampung saya ada seorang bernama Sun poa sin atau Manusia setengah dewa she Sun, Ramalannya bagai ramalan dewa.
Apa yang akan terjadi kelak dapat diramalkannya dengan tepat.
Saya jadi penasaran, suatu hari, saya memintanya untuk meramal nasib saya, ternyata nama besarnya tidak sesuai dengan kenyataan,"
Jawab Liu Cangkwe menjelaskan.
"Ramalannya tidak tepat bukan?"
Tanya Cu Thi Jui menduga perkataan orang selanjutnya. Liu Cangkwe mengangguk dengan senyum mengandung ejekan.
"Dengan cara apa ia mengatakannya? Dari raut wajah, garis tangan, Pekji (tanggal dan jam kelahiran) atau dari huruf?"
Tanyanya kembali.
"Dari huruf...."
Jawab Liu Cangkwe.
"Dari huruf justru saya paling ahli,"
Kata Cu Thi Jui lagi. Liu Cangkwe menganggap muka orang ini ternyata cukup tebal, Masih berani sembarangan mengoceh.
"Waktu telah berlalu sebanyak hampir dua puluh tahun Huruf apa yang saya cabut ketika itu pun sudah saya lupa lagi..."
Kata Liu Cangkwe.
"Bagaimana kalau Liu Cangkwe masuk sebentar?"
Undang tamu itu. Pengurus penginapan itu terlihat enggan. Mungkin karena pekerjaannya masih banyak yang belum diselesaikan.
"Liu Cangkwe,.. bila cayhe salah menebak, kau tidak percaya pun belum terlambat"
Kata Cu Thi Jui mengibaskan tangannya mempersilahkan pengurus itu masuk ke dalam.
Liu Cangkwe itu terpaksa menurutinya, Si Mulut Besi Cu mengambil sebuah bumbung bambu.
Di dalamnya berisi batangbatang bambu dengan berbagai tulisan.
Dia menyerahkannya ke tangan Liu Cangkwe tadi, Laki-laki itu mengocok-ngocoknya sejenak, kemudian dia memejamkan mata dan mencabut sebatang bambu itu.
Dia membuka mata dan membaca huruf Ci pada bambu itu.
Huruf itu berarti budi.
"Apa yang ingin Liu Cangkwe tanyakan?"
Tanya Cu Thi Jui.
"lstri, rejeki, dan turunan,"
Katanya.
"Liu Cangkwe lahir dalam edaran shio apa?"
Tanyanya kembali.
"Yo (kambing)."
Sahut pengurus penginapan itu. Sejenak hening, lalu tampak si peramal Cu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Alisnya berkerut.
"Liu Cangkwe apakah ingin saya mengatakan hal yang sebenarnya?"
Tanya peramal itu.
"Tentu saja saya ingin kebenaran,"
Sahut Liu Cangkwe.
"Liu Cangkwe sudah digariskan hidup menyendiri Tidak beristri Apalagi anak, Tentu tak usah dibicarakan lagi. Mengenai rejeki, hanya sampai di sini saja, Saya melihat pekerjaan Liu Cangkwe juga tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi,"
Sahutnya sambil menghela nafas. Liu Cangkwe membelalakkan mata saking terkejut.
"Siansing dapat mengetahui darimana?"
Tanyanya dengan mata membelalak.
"Huruf Ci yang Cangkwe dapatkan, Atas adalah kambing, bawah adalah aku, Kalau memang hanya ada engkau, dengan sendirinya tidak ada orang lainnya. Juga karena huruf 'kambing"
Tadi terputus, rejeki Cangkwe juga tidak lama lagi,"
Sahutnya.
"Siansing rupanya benar-benar tepat mendapat sebutan Cu Thi Jui. Saya memang masih menyendiri sampai saat ini,"
Kata Lui Cangkwe. Cu Thi Jui tersenyum tipis.
"Liu Cangkwe,... ini barulah sebagian kecil. Cayhe masih bisa menghitung yang lainnya. Kau bekerja kepada seorang majikan, Dan majikan tersebut meskipun kekayaannya melebihi satu kota, tapi.,, aih! orangnya tidak ada di sini, saya sungkan mengatakannya,"
Katakatanya sengaja dihentikan.
"Mengapa Siansing tidak meneruskan?"
Tanya Liu Cangkwe penasaran.
"Saya tidak ingin membuka rahasia orang di hadapan orang lainnya,"
Sahut peramal tersebut.
"Baiklah! Cu Siansing tunggu sebentar Saya akan mengundang Loya kemari!"
Kata Liu Cangkwe langsung membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
Dia tidak tahu, di belakang punggungnya, Cu Thi Jui menyungingkan sebuah senyuman licik.
Kira-kira sepeminuman teh, terdengar suara dari ruangan luar.
Sebuah tandu yang mewah diturunkan Liu Cangkwe menyingkap tirai penutup.
Seorang laki-laki dengan baju perlente dan berusia kira-kira lima puluh tahunan turun dari tandu tersebut wajahnya persegi Telinganya besar, Tubuh-nya jauh lebih gemuk dan gempal dari Liu Cangkwe.
Cu Thi Jui si peramal berdiri di depan pintu kamarnya dengan gaya orang penting.
Setelah diperkenalkan ternyata pemilik penginapan tersebut bernama Oey Thian Gie.
Bukan saja kaya raya, juga amat berkuasa, Para pejabat kota itu semua mendengarkan kata-katanya.
Manusia sekaya ini tentu mempunyai pandangan yang luas.
Rakyat setempat sangat menghormatinya, tapi Cu Thi Jui tidak menganggap dirinya harus menghormati orang tersebut.
"Liu Cangkwe mengatakan bahwa ramalan Siansing seperti dewa,"
Katanya setelah memperhatikan Cu Thi Jui beberapa saat Si peramal Cu hanya tertawa-tawa saja.
"Hanya pujian kosong dari Liu Cangkwe, kalau saya benar-benar seperti dewa, untuk apa saya memasang merek di penginapan ini dan mengoceh yang bukan-bukan!"
Katanya merendah.
"Kata-kata itu masih harus dibuktikan.... Apakah Siansing bisa menguraikan arti mimpi?"
Tanya Oey Thian Gie.
"Sedikit-sedikit,"
Sahutnya tanpa menyombongkan diri.
"Liina belas tahun yang lalu, Lohu pernah pergi ke Ho sian ko bio, sebuah tempat sembahyang yang sangat termashyur, Dalam mimpi itu, seseorang memberikan sebuah semangka kepada saya, Ternyata ketika semangka di tangan, Lohu hanya melihat setengahnya. Bila Siansing menguraikan mimpi tersebut, apa artinya?"
Tanya Oey Thian Gie.
"Apa yang Oey Tangke ingin ketahui?"
Ujar Cu Thi Jui.
"Keturunan!"
Sahut pemilik penginapan itu.
"Kalau menurut hal yang umum terjadi, semangka itu mempunyai biji yang banyak, seharusnya turunan Oey Tangke juga banyak,"
Kata Cu si peramal.
"Memang begitulah kata sebagian besar yang pernah Lohu tanyakan,"
Sahut Oey Thian Gie, Cu Thi Jui berdiri, Dia menatap wajah pemilik penginapan itu dengan tajam, kepalanya menggeleng perlahan.
"Salah besar! Salah besar!"
Ujarnya. Oey Thian Giei menatap Liu Cangkwe yang berdiri di sisinya, Mata kedua orang itu sama-sama memancarkan sinar terkejut.
"Kalau Cu Siansing yang menguraikan mimpi tersebut, apa maknanya?"
Tanyanya penasaran Cu Thi Jui tidak segera menjawab Dia adalah seorang manusia yang amat cerdas.
Biasanya orang yang cerdik tidak akan menonjolkan diri dari luar, Dia menunggu sampai Oey Thian Gie terlihat tidak sabar lagi, baru menjawab...
"Oey Tangke ingin mendengarkan kata-kata yang hanya menyenangkan atau yang sebenarnya?"
"Tentu yang sebenarnya,"
Sahut Oey Thian Gie mulai kesal, Wajah Cu si peramai meskipun tersenyum atau tidak, selalu ber-penampilan seperti orang yang bodoh.
"Kalau Oey Tangke ingin saya mengatakan yang sebenarnya, baiklah! Dulu Oey Tangke datang ke Ho sian ko bio meminta mimpi tentang anak, Dalam mimpi itu terlihat seseorang memberikan sebuah semangka kepadamu. Tetapi setelah ada di tangan, tinggal setengah, Hal ini menandakan bahwa bukan turunan Oey Tangke banyak, tetapi sepi,"
Kata Cu si peramal menjelaskan.
Oey Thian Gie terkesiap, Di dunia ternyata ada orang yang begitu berani dan yakin terhadap perkataannya sendiri!
Yakin terhadap diri sendiri memang baik, Namun perkataan yang terlalu yakin seperti yang diucapkannya barusan, bisa membawa bahaya, Dengan uang dan kekuasaan Oey Thian Gie, dia bisa membeli kepalanya, Oey Thian Gie berdiri dari tempat duduknya.
Manusia semacam ini memang sedikit, Manusia yang berani bicara dengan jujur di hadapannya lebih sedikit lagi, setidaknya orang ini mempunyai keistimewaan Oey Thian Gie tiba-tiba duduk kembali, Tidak mengatakan apa-apa, berarti apa yang diramalkan oleh Cu Laothao memang tepat.
Hanya berdasarkan cerita sebuah mimpi aneh, orang ini telah dapat menebak dengan tepat, Kecuali sebelumnya dia telah mencari tahu tentang dirinya.
"Cu Siansing sudah pernah mendengar tentang saya?"
Tanyanya dengan pandangan menyelidik.
"Cayhe tidak heran dengan pertanyaan itu,"
Katanya sambil menggelengkan kepala.
"Lohu masih ingin meminta sedikit pelajaran,"
Kata Oey Thian Gie selanjutnya.
"Silahkan,"
Sahut Co laothao tanpa terlihat gentar sedikit pun.
"Saya ingin mencabut sebuah huruf"
Kata Oey Thian Gie.
"Meskipun cayhe ahli dalam bidang ini, tapi tidak dapat dikatakan selalu tepat seratus persen,"
Sahut Cu laothao.
"Cu Siansing terlalu merendahkan diri,"
Oey Thian Gie sinis. Cu laothao menyodorkan bumbung bambu di hadapan Oey Thian Gie. Dia meminta laki-laki itu mencabut sebatang, Huruf yang terlihat adalah "Ling"
Yang berarti sukma.
"Apa yang ingin Oey Tangke ketahui?"
Tanya Cu laothao.
"Selain kata sepi yang telah Siansing uraikan, kita boleh berbincang-bincang tentang istri dan rejeki,"
Kata Oey Thian Gie.
"Oey Tangke pernah menjadi pejabat pada zaman pemerintahan Chao,"
Kata Cu Thi Jui.
"Benar! Hal ini diketahui oleh hampir setiap orang dalam kota ini,"
Sahut Oey Thian Gie datar.
"Pernah menjabat yang saya maksudkan tidak sama dengan anggapan orang-orang,"
Kata Cu Thi Jui dengan berani, Wajah Oey Thian Gie tampak berubah sekejap.
"Apa arti ucapan Cu Siansing ini? Apakah saya hanya berbicara sembarangan tentang masa menjadi pejabat?"
Tanyanya dengan nada tidak senang.
"Tentu saja benar! Apakah Oey Tangke ingin mendengar katakata yang sejujurnya?"
Tanya Cu laothao tanpa memperdulikan kemarahan pemilik penginapan tersebut.
"Hanya ingin mendengar yang sebenarnya!"
Sahut Oey Thian Gie.
"Baik! Lihat huruf Ling ini. Ada tiga huruf khou berderet sejajar, Tiga huruf yang sejajar itu menunjukkan suatu masa. Di atas ada huruf yi. Di bawah terdapat huruf ca. Dapat diartikan hujan yang deras dan gunung yang kokoh. Dari huruf ini, saya dapat melihat bahwa masa jabatan Oey Tangke dulu didapatkan dengan uang dan kekuasaan. Sama sekali bukan prajurit sejati yang menunggu kenaikan pangkat dalam waktu lama dan telah berkorban banyak untuk negara,"
Katanya tenang.
Mata Oey Thian Gie merah membara.
Wajah Liu Cangkwe berubah hebat, Kedua tukang pukul yang menjaga di luar ingin segera menerjang masuk, Belum ada orang yang demikian tidak sopan terhadap majikannya.
Oey Thian Gie mengibaskan tangannya memberi isyarat kepada kedua tukang pukul itu agar jangan bertindak apa-apa.
Cu laothao tampak tenang sekali, Dia seperti tidak melihat gerakan bersiap-siap dari kedua tukang pukul tadi.
Oey Thian Gie seperti dilepas kedoknya di muka umum, Hatinya memang kurang senang, Namun bidang pekerjaan orang itu memang memerlukan kejujuran.
Dia juga tidak dapat terlalu menyalahkannya.
Yang penting, apa yang dikatakan Cu laothao memang benar, Dia menggunakan uang dan kekuasaan untuk menjabat dalam pemerintahan pamannya adalah seorang menteri, Adiknya sendiri pernah mempunyai hubungan yang dalam dengan salah seorang keluarga raja, Karena kehamilannya dan tidak dapat bersatu, dia memilih jalan pendek dengan menggantung diri.
Hal ini menyebabkan kematian dua nyawa, Keluarga raja itu menjadi tidak enak hati.
Dia tidak dapat menikahi adiknya karena suatu alasan tertentu.
"Dengan demikian, dia membalas kebaikan yang pernah diberikan adiknya, Keluarga raja itu memberikan kedudukan yang cukup tinggi kepadanya. Begitulah jabatan itu didapatkan olehnya, Hal ini tidak mungkin diketahui oleh orang luar. Keterangan ini juga yang membuat Oey Thian Gie kagum terhadap Cu laothao.
"Nama besar Siansing benar-benar mengagumkan, Tolong lihat bagaimana rejeki saya selanjutnya?"
Tanya Oey Thian Gie penasaran.
"Mungkin tidak begitu tepat...."
Sahut Cu laothao.
"Lohu mempercayai Siansing sepenuhnya,"
Sahut Oey Thian Gie. Cu laothao meminta Oey Thian Gie menyebutkan tanggal, hari serta jam kelahirannya. Dia sama sekali tidak sempat duduk, Setelah meneguk secawan teh, dia menatap laki-laki itu.
"Tangke tidak lama lagi akan mendapatkan kerugian besar"
Katanya menerangkan Oey Thian Gie tampaknya tidak terlalu merisaukan sedikit kerugian Hartanya toh banyak sekali.
"Apakah jumlahnya besar sekali?"
Tanya Oey Thian Gie. Cu Thi Jui menganggukkan kepalanya.
"Berapa besar?"
Tanya Oey Thian Gie ingin menegaskan.
"Tidak dapat terhitung."
Sahut Cu loa-thao alias Cu si peramal "Cu Siansing dapat mengatakan nilainya besar sekali, namun tidak dapat memberikan gambaran yang tepat, Atau Siansing memang ragu menyebutkannya?"
Tanya Oey Thian Gie dengan nada kurang senang.
"Cayhe hanya bisa meramal sampai di sini, Bila Oey Tangke kembali ke rumah dan memikirkan kata saya dengan seksama, mungkin Oey Tangke sendiri akan mendapatkan gambaran,"
Sahut Cu laothao.
Oey Thian Gie tidak berkata apa-apa lagi, Mungkin dia sudah mengerti maksud Cu Thi Jui atau mungkin dia menganggap manusia ini toh bukan dewa..
tidak ..tentu apa yang diramalkannya benarbenar akan terjadi.
Sebelum meninggalkan tempat itu, dia memberikan uang sebesar limapuluh perakan kepada Cu laothao, Untuk saat itu, Oey Thian Gie sudah termasuk amat royal.
Dia keluar dari ruangan tersebut Liu Cangkwe menyingkapkan tirai tandu agar majikannya masuk ke dalam Dengan suara rendah dia berbisik....
"Orang itu jelas adalah orang persilatan, kata-katanya belum tentu dapat dipercayai.
"Tidak! Apa yang dikatakannya sungguh tepat, maksud katakatanya tentang nilai yang tak terhitung adalah...."
Oey Thian Gie tidak jadi meneruskan kata-katanya.
Otomatis, Liu Cangkwe juga tidak berani banyak bertanya.
Dia hanya mengantar tandu itu sampai pekarangan depan.
Pada saat itu, Cu laothao tersenyum dengan rasa puas dan bangga.
-oooo0oooo Malam yang sangat indah, Rembulan bersinar terang, Angin tidak terlalu kencang, ini bukan saat yang tepat bagi pejalan malam untuk mengurus sesuatu.
Oey Thian Gie ragu-ragu, apakah dia harus menemui selirnya malam ini?
Bukankah maksud Cu laothao bahwa dia akan kesepian itu, berarti tidak mempunyai keturunan?
Dengan Lian Pue dan Siau sing semuanya berjumlah tujuh orang selirnya.
Masih tidak menyamakan seorang raja, namun masih dapat menyaingi menantu dan ipar raja.
Mungkinkah dari ketujuh selir itu, tidak ada seorangpun yang dapat berbuah?
Dia masih merasa kurang puas.
Maka dari itu, kalau memungkinkan dia masih ingin menambah satu, dua orang selir, Dia tidak percaya bahwa yang didapatkannya semua adalah ayam yang tidak dapat bertelur.
Begitu kembali ke rumah, dia segera mencari pengurus rumahnya dan bagian keuangan Dia menanyakan apakah ada hutang yang belum dilunasi oleh para peminjam?
Bagian keuangannya melaporkan bahwa hanya satu yang belum membayar.
jumlahnya hanya tujuh puluh tail perak saja.
Hal apa yang akan membuatnya mengalami kerugian besar?
Mungkin hanya omong kosong kaum penipu!
Tapi dua hal yang lain dikatakannya dengan tepat Oey Thian Gie berpikir sejenak, Berhatihati toh tidak ada salahnya!
Oey Thian Gie memutuskan untuk mengunjungi siau jit malam ini.
Siau jit yang dimaksudkan adalah selir nomor tujuh, namanya Kim siau lok.
Tahun ini baru berusia tujuh belas.
Tidak terhitung kurus, juga tidak termasuk gemuk, Kulit tubuhnya tidak seberapa hitam, tapi juga tidak dapat dikatakan putih, Bentuk mata dan hidungnya biasa-biasa saja.
Bentuk kakinya kecil.
Kalau melangkah seperti sempoyongan Ada semacam gaya genit yang tidak dapat dikatakan.
Dia masih mempunyai satu keistimewaan yang jarang dimiliki gadis lain, Oey Thian Gie tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun.
Oey Thian Gie juga tahu, perempuan semacam ini belum tentu dapat memberikan keturunan untuknya, Tapi dia mencari Siau lok bukan hanya untuk menyemaikan bibitnya saja.
Oey Thian Gie minum banyak sekali jalannya agak limbung.
Kim siau lok memapahnya.
Laki-laki itu ingin memeluknya, keduanya tapi malah terjatuh ke atas tempat tidur.
Biar pun dia minum seberapa banyak, asal masih tersisa sedikit kesadaran hal pertama yang akan dilakukannya adalah memeluk pinggang Kim siau lok yang ramping itu.
Gadis itu adalah keponakan luar Liu Cangkwe, Dia juga yang menjadi comblang keduanya, sebab itu pula yang membuat Liu Cangkwe dapat menjadi pengurus penginapan dan salah satu orang kepercayaan Oey Thian Gie.
Bagi seorang yang sudah setua Liu Cangkwe, dapat menjadi pengurus sebuah penginapan sudah merupakan rejeki besar, Apalagi penginapan Thai Pek Ki yang begitu besar dan terkenal.
Seorang gadis yang mempunyai pinggang ramping ditambah lagi satu keistimewaan yang lain, sudah pasti akan disayangi, Di antara ketujuh selir Oey Thian Gie, memang Kim siau lok yang paling sering di-kunjunginya.
Kim siau lok sering bersembahyang ke beberapa bio yang termashyur.
Dia sering berpikir, seandainya dia dapat melahirkan seorang anak untuk Oey Thian Gie, mana mungkin harta warisan sebanyak itu terjatuh ke tangan orang lain?
Kim siau lok tidak habis pikir, Kalau bukan takdir Oey Thian Gie sendiri yang tidak mempunyai keturunan, masa tujuh orang perempuan tidak ada satu pun yang bisa melahirkan?
Oey Thian Gie dan Kim siau lok bermesraan sejenak.
Waktu sudah hampir memasuki kentongan ketiga, selanjutnya adalah menikmati keistimewaan Kim siau lok yang satu itu.
Siau lok baru saja membuka pakaian atasnya.
Dia meniup penerangan yang berupa lilin sampai padam Tiba-tiba Oey Thian Gie teringat sesuatu, Perasaan mabuknya sirna seketika, Kecuali barang yang satu itu, apakah yang lebih baik tidak terkira nilainya?
Sekarang dia baru benar-benar mengagumi Cu laothao, Apa yang dikatakannya selalu benar dan tepat, Kalau tidak percaya kata-kata orang itu, tentu akan terjadi hal yang benar-benar menakutkan Akibatnya pun akan mengerikan!
Dalam sekejap, dia bangkit dan duduk, Dengan gerakan cepat, dia mengenakan seluruh pakaiannya, Kim siau lok terpana...
"Ada apa, Loya?"
Tanya gadis itu. Oey Thian Gie tidak menyahut Dia tidak ada waktu untuk menjelaskan segalanya, Wajah Kim siau lok terlihat sedih.
"Apakah ada perbuatan saya yang salah?"
Tanyanya dengan mata membasah.
Oey Thian Gie hanya memiringkan barang itu.
Hal yang lainnya tidak menarik perhatiannya lagi, Dengan adanya barang tersebut, dia merupakan manusia yang memiliki barang pusaka yang tidak ternilai di dunia ini.
Juga menjadi jimat agar dirinya tidak menjadi tua.
Asalkan dia dapat hidup sampai delapan puluh atau sembilan puluh tahun, dia masih bisa membuktikan bahwa dirinya masih ada kesempatan untuk mempunyai keturunan.
Bahkan jauh lebih perkasa dari anak muda usia dua puluhan, barang itu adalah pusaka tak ternilai di kolong langit Dia mengira apa yang dikatakan sebagai kerugian yang tidak terhitung adalah barang pusaka itu.
Siapa tahu anak buahnya ada yang mengincar benda pusaka tersebut?
Oey Thian Gie memutuskan untuk memindahkan benda pusaka itu dari tempat penyimpanan yang lama ke sebuah tempat yang lebih rahasia.
Untuk keamanan benda tersebut, Siau lok jadi kehilangan perhatian.
Kehilangan gadis itu, di dunia pasti masih bisa mendapatkan Siau lok yang lain.
Kehilangan Bi jin sim, di dunia ini tidak ada lagi Bi jin sim kedua.
Dia segera mencari kepala pengawalnya, Chao toa king, Di tempat penyimpanan barang pusaka dia menemukan kepala pengawal itu berjaga dengan sigap.
"Chao toa king, apa yang terjadi malam ini, sama sekali tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun!"
Perintahnya.
"Loya harap jangan khawatir!"
"Apakah ada manusia yang tangan dan kakinya kotor di gedung ini?"
Tanya Oey Thian Gie.
"Apakah maksud Loya, orang yang mengincar benda pusaka di dalam ruangan ini?"
Tanya Chao toa king lagi.
"Ini tidak perlu kau urus!"
Kata Oey Thian Gie.
"Loya... Paling tidak, enam orang anak buah saya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan Loya. Saya berani menjamin dengan kepala saya!"
Sahutnya tegas.
"Bagus! sekarang kau tunggu di pintu rahasia kedua. Siapa pun tidak boleh ada yang masuk!"
Perintahnya tegas.
"Baik, Loya!"
Sahut Chao toa king.
Oey Thian Gie membuka pintu rahasia ketiga, lalu keempat.
Kemudian dia membuka sebuah lemari besi yang kokoh, Manusia yang mempunyai tenaga besar apa pun, tidak mungkin bisa menggeser lemari besi ini.
Dari dalam lemari itu, Oey Thian Gie mengeluarkan sebuah kotak persegi.
Kotak itu tidak seberapa besar, Dengan hati-hati dan tegang dia membukanya....
Sinar berwarna kemerahan terpancar dari kotak,tersebut.
Samar-samar terlihat bentuk tubuh seorang perempuan yang tidak mengenakan sehelai benang pun.
Entah bahannya terbuat dari batu kumala jenis apa, sehingga dapat terukir demikian indah, Yang ini baru benar-benar Bi jin sim yang asli.
Keistimewaan Bi jin sim justru terletak di bentuknya yang seakan seorang wanita hidup, Lihat saja bagian kepalanya terbuat dari batu kumala hitam asli, bukan dicat atau semacamnya, demikian juga bagian alisnya, Bagaimana batu kumala dengan warna berbeda-beda dapat diukir tepat pada bagiannya masing-masing?
Di bagian mata terbagi warna hitam dan putih dengan serasi, Seluruh tubuhnya berwarna putih.
Hanya bagian jantungnya yang berbentuk hati dengan warna merah.
Suatu hasil karya yang sungguh mengagumkan.
Warna merah dari jantung merupakan batu kumala, Ada juga orang yang menyebutnya Ke hiat ang (Merah darah ayam).
Bagi toko emas atau permata, batu jenis ini tentu tidak asing lagi.
Selain harganya sangat tinggi, juga sangat sulit didapat, Batu kumala putih, hitam dan merah masih dapat ditemukan, tapi coba kita tanyakan pada toko emas atau pun permata, mungkinkah mencari sebuah batu berbentuk tubuh seorang wanita dengan paduan ketiga macam batu tersebut...?
Tentu saja tidak mungkin ada duanya lagi.
Dan siapa pula yang sanggup mengukir seorang wanita dari jenis batu yang aneh ini, sehingga terbagi jelas antara rambut alis, mata, dan jantung?
Apalagi bagian jantungnya.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, seakan terlihat ada darah yang sedang mengalir di dalamnya....
Ada satu lagi keistimewaan Bi jin sim ini.
Yaitu bila seorang lakilaki memeluknya dalam tidur selama setengah tahun, keperkasaannya akan kembali muda.
Melebihi pemuda yang sedang menginjak puber.
Tentu saja yang dimaksudkan adalah persoalan yang menyangkut hubungan antara laki-laki dan perempuan, Paling tidak, bagi Oey Thian Gie akan berguna sekali.
Oleh sebab itu, benda pusaka ini makin tinggi nilainya di mata Oey Thian Gie.
Asalkan dia masih hidup lebih panjang satu hari, tentu bisa berusaha menyemaikan bibit agar mendapatkan keturunan Lagipula tanpa mengenal kata lelah!
Dengan hati-hati Oey Thian Gie menutup kembali kotak tersebut Dia memasukkannya kedalam balik pakaiannya, Siau lok sebetulnya merupakan istri muda kesayangan Oey Thian Gie.
Melebihi siapa atau barang apa pun di dunia ini.
Tapi kalau dia bandingkan dengan Bi jin sim, tentu akan terlihat jelas perbedaannya.
Dia keluar dari ruangan penyimpanan benda pusaka itu, Dipanggilnya Chao toa king.
"Malam hari harus dijaga lebih ketat, terutama di sekitar kamar Siau lok. Harus ditambah lagi beberapa orang penjaga!"
Perintahnya.
"Baik! Hamba mengerti!"
Sahut Chao toa king.
Oey Thian Gie terus memikirkan tempat penyimpanan yang terbaik, sedangkan tempat penyimpanan benda pusaka yang berpintu empat lapis saja, dia kurang yakin, apakah masih ada tempat lain yang lebih aman.
Dalam waktu yang singkat dia tidak mendapatkan pikiran yang baik.
Asalkan tempat yang tidak terlihat olehnya, hati Oey Thian Gie tidak mungkin bisa tenang, Untuk sementara paling baik disimpan dalam tubuhnya sendiri.
Dia kembali ke kamar Kim siau lok, Gadis itu sedang bertopang dagu, wajahnya tampak kurang senang.
Sikap Loya yang dingin, baru pertama kali dia alami sejak masuk ke dalam keluarga itu, Oey Thian Gie memelukya erat-erat.
"Loya, Siau lok tidak tahu melakukan kesalahan apa,"
Katanya manja. Oey Thian Gie merasakan perbuatannya tadi memang kurang pantas, Dia memeluk Siau lok lebih erat lagi.
"Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa!"
Sahutnya mesra.
"Pasti ada. Kalau tidak, mana mungkin sikap Loya seaneh itu. Pertama dingin, kemudian hangat, lalu sekarang tidak dingin juga tidak hangat,"
Kata Siau lok dengan tampang cemberut. Oey Thian Gie mencium rambutnya yang memancarkan keharuman.
"Apa yang percaya dingin, lalu hangat, kemudian tidak dingin tidak hangat, Kau ini ada-ada saja. Aku tidak pernah bersikap dingin terhadapmu."
Kata Oey Thian Gie.
"Loya berbohong.... Hanya Siau lok yakin Loya memang boleh berbohong apa saja. Tetapi Siau lok tentu tidak boleh...."
Seseorang kalau sudah terbiasa disanjung dan dipuji tentunya akan wajar-wajar saja menanggapinya.
Bagi Oey Thian Gie, kata-kata pujian seperti itu tidak akan dimasukkannya di dalam hati.
Kekuasaan dan kebebasan adalah cara hidup yang menyenangkan.
Siau lok tidak berkata apa-apa lagi, setiap kali Oey Thian Gie memeluk pinggang gadis itu, rasanya berat untuk melepaskan lagi, Kalau bukan karena teringat akan Bi jin sim, Oey Thian Gie tidak pernah menempuh setengah perjalanan, sedangkan Siau lok maklum sekali apa yang diinginkannya bila sudah sampai taraf tertentu.
Jadi seorang gadis memang tidak mudah.
Dia harus mengerti apa yang disukai kaum laki-laki.
Dan harus menghindari apa yang tidak disukainya, Laki-laki yang menghadapi mereka dengan kadangkadang baik, kadang-kadang jahat, justru paling susah dilayani.
Siau lok sudah seperti aliran air, yang mengikuti kemana arus membawanya.
Oey Thian Gie pun tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, Pada saat seperti itu, Kim siau lok sering merasa sombong, Selir yang lain pasti tidak akan sanggup memberikan seperti dirinya, Dia yakin sekali, Dia tidak merasakan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang amat rendah, dia juga tidak sadar bahwa keistimewaannya itu bisa menarik laki-laki yang mana saja.
Oey Thian Gie sangat memaklumi perasaan seorang perempuan, karena dia sudah banyak bergaul dengan jenis yang satu ini.
Dalam waktu satu tahun, dia pasti akan pergi ke Kim Leng sekali, lalu ke Lok Yang satu kali, Peking juga.
Masih ada beberapa kota yang tidak begitu besar, Di tempattempat tersebut, dia juga mempunyai beberapa orang simpanan, Dia melakukan semua itu bukan disebabkan dirinya memang genit, tapi dia ingin merasakan berbagai jenis perempuan dari usia yang berbeda dan suku bangsa yang berlainan.
Di samping itu, dia juga mengharapkan bahwa salah satu di antaranya akan sanggup memberikan keturunan kepadanya.
Dia pernah berjanji kepada para perempuan simpanannya itu, Bila saja ada salah satu dari mereka yang sanggup melahirkan seorang anak baginya, Dia akan membuatkan sebuah rumah yang mewah juga uang emas untuk seumur hidup.
Namun, meskipun dengan imbalan yang begitu besar, setelah lewat lima tahun, hasilnya tetap sia-sia.
Oleh sebab itu, setiap kali Oey Thian Gie teringat kata-kata tukang ramal yang dulu, hatinya pasti kesal.
Dia akan berteriakteriak marah, inikah yang disebut banyak anak dan cucu?
Sebaliknya, Cu Thi Jui memang pantas dipuji, Tukang ramal ini membuat hatinya puas.
Tetapi dia juga khawatir sekali, Begini banyaknya harta, bila tidak ada keturunan, kepada siapa dia akan mewariskan semuanya?
Kim siau lok membuka bajunya sekali lagi.
"Siau lok.... Tadi kau mengatakan pertama aku bersikap dingin, lalu hangat kemudian tidak dingin tidak hangat, Apa artinya?"
Tanya Oey Thian Gie yang tiba-tiba teringat ucapan selirnya yang rada janggal "Yang sudah lewat tidak usah dibicarakan lagi."
Sahut Siau lok seraya bermaksud memadamkan penerangan di kamar itu.
"Kalau kau tidak mau mengatakan, aku akan menggelitik dirimu...."
Kata Oey Thian Gie dengan pura-pura mengulurkan tangan, Siau lok paling takut geli. Dia segera menciut ke ujung tempat tidur, Dia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang sudah terlepas tadi.
"Aduh Loya! Ampun.... Saya paling tidak kuat geli,"
Teriaknya malu-malu.
"Hayo cepat katakan!"
Ancam Oey Thian Gie tersenyum-senyum.
"Loya kan sudah tahu.,., Mengapa harus bertanya lagi?"
Kata Kim siau lok tersipu-sipu.
"Aku sama sekali tidak tahu...."
Sahut Oey Thian Gie keheranan.
"Loya pelupa sekali, Bukankah barusan kau tinggalkan kamar ini dengan tergesa-gesa, bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun?"
Kata Siau lok manja.
"ltu karena aku teringat sesuatu hal yang penting, Lalu jelaskan tentang kata hangat tadi?"
Tanya Oey Thian Gie dengan pandangan meneliti.
"Setelah Loya pergi kira-kira setengah peminuman teh, Loya kembali lagi, Begitu masuk lalu memadamkam lilin dan memeluk diri.Siau lok, kemudian.,."
Wajah Siau lok makin merah.
Oey Thian Gie terpana.
Mungkinkah Siau lok sedang bergurau dengannya?
Kaum laki-laki kadang-kadang juga harus mengeraskan hati, berlagak acuh sedikit, karena hubungan antara laki-Iaki dan perempuan tidak selamanya perang hangat saja, sewaktu-waktu juga bisa terjadi perang dingin.
"Setelah Loya mendapatkan apa yang Loya inginkan, Loya terus pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Siau lok pikir mungkin Loya sedang marah, tidak tahunya sekarang Loya kembali lagi untuk...."
Kata Siau lok dengan suara lirih.
Di dalam hati Oey Thian Gie terasa kurang enak, Bagi seorang laki-laki, lebih baik memperistri seorang perempuan dan tidak menyentuhnya sama sekali, dari pada ada laki-laki lain yang menyentuhnya.
Laki-laki seperti Oey Thian Gie juga tidak berbeda, perempuan simpanannya ada beberapa orang.
Dalam satu tahun, dia hanya sempat mengunjungi mereka satu atau dua kali.
Sisa hari sebanyak tiga ratusan itu, mereka terpaksa menderita kesepian, Oey Thian Gie masih tetap mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi perempuan-perempuan tersebut.
Laki-laki yang dikatakan oleh Siau lok, masuk ke kamar gadis itu hanya berbeda beberapa detik sejak dia keluar, Oey Thian Gie mana mungkin bisa menerima penghinaan seperti ini.
Dulu pernah terjadi peristiwa yang sama.
Salah seorang selirnya tertangkap basah sedang bermesraan dengan laki-laki lain, akhirnya mereka berdua menerima hukuman yang mengerikan!
Oey Thian Gie memandang Siau lok dengan tatapan tajam.
"Siau lok.... Tadi kau mengatakan bahwa setelah aku pergi dengan tergesa-gesa, lalu tidak sampai setengah peminuman teh aku kembali lagi?"
Tanyanya sekali lagi.
"Loya! Apa yang terjadi dengan dirimu malam ini? Apakah perbuatan yang kau lakukan tadi sudah tidak ingat lagi?"
Siau lok berbalik bertanya kepada tuannya.
"Setelah kembali, kita langsung melakukan..."
Kata-kata Oey Thian Gie sengaja dihentikan sampai di situ saja.
"Loya.... Kapan Siau lok berani menolakmu?"
Kata gadis itu semakin heran.
Oey Thian Gie merasa ada setungku api menyerang dadanya, Siau lok tidak mungkin bercanda sedemikian jauh.
Siapakah orang itu?
Yang dengan berani masuk ke kamar dan memadamkan lilin, begitu dia keluar meninggalkan tempat tersebut!
Kata-kata Siau lok memang benar, Dia tidak mungkin berani menolaknya!
Namun, laki-laki itu bukan dirinya, sedangkan Siau lok tidak dapat membedakan kelainan sedikit pun.
Bukankah hampir tidak masuk akal?
Kalau bukan Siau lok yang nafsunya terlalu besar sehingga suka mencari jajanan dari luar, pasti laki-laki itu mempunyai bentuk tubuh yang sama dengan dirinya.
Oey Thian Gie tidak percaya bahwa dalam gedung rumahnya ada laki-laki yang bentuk tubuhnya sama dengan dirinya, Siapakah maling itu?
"Siau lok, Apakah kau tidak membayangkan bahwa taki-laki yang masuk ke kamar tadi bukan aku?"
Tanyanya dengan suara bergetar karena menahan amarah, Gadis itu meliriknya sekejap.
"Loya.... Kau mempermainkan aku. Siau lok tidak mau!"
Serunya manja.
Dengan kedua tangannya Oey Thian Gie mencengkeram rambut Siau lok.
Baju yang sejak tadi dijadikan penutup dada direnggutnya Dia menghempas tubuh perempuan itu dengan keras.
Kini siau lok terkejut, tubuhnya yang lemah gemulai mana mungkin sanggup menerima bantingan sekeras itu?
Dia terjatuh ke lantai.
"Katakan! Apakah laki-laki yang tidur bersamamu tadi tubuhnya segemuk aku?"
Bentak Oey Thian Gie.
"Loya...."
Kata Siau lok dengan suara pilu.
"Katakan!"
Bentaknya lantang, Siau lok merasa terhina dan ketakutan. Dengan sendirinya, dia tidak berani tidak menjelaskan....
"BetuI, Masa gemuk atau kurus, Siau lok tidak dapat membedakannya."
Ratap gadis itu dengan airmata bercucuran.
"Kalau kau berdusta, kau akan menerima akibatnya!"
Kata Oey Thian Gie dengan suara datar.
"Loya.... Siau lok mana berani berdusta kepadamu?"
Suara Siau lok terdengar sendu.
"Kau pikir sekali lagi., Benarkah orang itu segemuk diriku?"
Tanya Oey Thian Gie masih kurang puas.
"Siau lok menganggukkan kepalanya dengan yakin. Oey Thian Gie tidak melihat ada sinar kebohongan di mata gadis itu. Terhadap perempuan semacam Siau lok, Oey Thian Gie paling mengerti. Sejak kecil dia hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, sekali berhasil mencapai kedudukan seperti sekarang, dia tidak mungkin menyia-nyiakannya. Dengan kasih sayang yang diberikannya, ditambah lagi segala macam kemewahan yang dinikmati nya saat ini, tidak mungkin Siau lok akan berani bermain api di belakangnya. Lagi pula, bila Siau lok benar-benar mencela dirinya sudah tua dan gemuk, dia tidak akan sebodoh itu mengakui perbuatannya sendiri. Dia sungguh tidak habis pikir, Bila benar-benar ada seorang maling cinta, siapa orangnya?"
"Kalau orang itu memang mempunyai bentuk tubuh yang sama dengan diriku, apakah dalam bidang yang satu itu juga seperkasa diriku?"
Tanyanya ketus. Sekali lagi Kim Siau lok menganggukkan kepalanya, Dia bahkan memaksakan diri menyunggingkan sebuah senyuman manis.
"Loya... sudah terang orang tadi adalah dirimu, mengapa kau masih bermain teka teki dengan saya?"
Oey Thian Gie marah sekali.
Dia melayangkan telapak tangannya dan menampar pipi Siau lok.
Meskipun tamparan itu tidak terlalu keras, tapi bagi perempuan selemah Siau lok cukup terasa, Dia terhempas ke atas tempat tidur.
Mata gadis itu berkunang-kunang, Hampir saja dia mengira apa yang terjadi malam ini hanyalah sebuah impian buruk, Sekarang pun dia masih belum terjaga.
"Benarkah laki-laki itu seperkasa diriku?"
Tanyanya dengan suara keras.
Siau lok menganggukkan kepalanya sekali lagi, Dalam bayangan Oey Thian Gie selalu memanjakan dirinya, mengapa hari ini berubah sedemikian rupa?
Mungkinkah tuannya ingin menguji kesetiaan dirinya?
pikirnya dalam hati.
Oey Thian Gie bagaikan api disiram minyak, rasanya dada laki-laki itu membumbung dan akan meledak segera, Di dunia ini ternyata ada laki-laki yang bentuk tubuhnya sama dengan dirinya serta mempunyai keahlian yang tidak berbeda dalam bidang yang satu itu!
Bagaimana dia sanggup menerimanya?
Sampai pada pikiran itu, Oey Thian Gie merasa sepertinya agak tidak masuk akal.
"Apakah yang kau katakan benar semua-nya?"
Tanyanya dengan suara keras. Siau lok mengangguk dengan keras. seperti seekor anak menjangan yang sedang ketakutan.
"Begitu masuk langsung memadamkan penerangan seharusnya kau sempat melihat wajahnya bukan?"
Tanya Oey Thian Gie.
"Siau lok sedang menunduk dan memikirkan tindakan Loya sebelumnya, Begitu lilin padam. Orang itu langsung memeluk diriku dengan ketat. Siau lok tidak sempat melihat wajahnya lagi...."
Sahut Kim siau lok.
"Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun?"
Tanya Oey Thian Gie kembali.
"Betul!"
Sahut Siau lok.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa orang itu adalah aku?"
Tanyanya dengan suara bengis.
"Loya.... Di dalam gedung keluarga Oey, mana ada lagi laki-laki segemuk Loya, lagi pula mana ada yang berani masuk ke kamar Siau lok?"
Kata-katanya lebih mirip pertanyaan.
Apa yang dikatakannya memang benar.
Tidak ada laki-laki dalam gedung itu segemuk dirinya dan tidak mungkin ada yang berani bermain gila dengan selirnya.
Tapi Oey Thian Gie malah menambahkan dua kali tamparan ke pipi Siau lok.
Tenaga yang dipakainya terlalu keras, Siau lok jatuh tidak sadarkan diri, nafasnya memburu seperti seekor babi.
Dengan penuh amarah dia menerjang keluar tanpa menengok lagi.
Kepala pengawal, Chao toa king mendekati dan menanyakan dengan penuh perhatian.
"Loya.... Apa yang terjadi?"
Oey Thian Gie sepatah pun tidak menyahut Dia melangkah ke kamarnya sendiri Tempat ini adalah ruang beristirahatnya bila dia tidak mengunjungi salah satu orang selirnya.
Dengan suara keras dibantingnya pintu kamar tersebut Chao toa king memijit-mijit belakang kepalanya.
Peristiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.
-oooo0oooo-Oey Thian Gie menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, Lilin pun tidak dinyalakan, kedua tangannya bertumpu kepada kepala bagian belakang, seakan ingin memusatkan pikiran pada apa yang telah terjadi.
Siapa yang mempunyai nyali sebesar itu?
Siapa yang mempunyai bentuk tubuh sama dengan dirinya?
Siapa pula yang mungkin begitu perkasa seperti dirinya?
Rasanya tidak mungkin bagi laki-laki sebayanya ada yang demikian perkasa tanpa jimat seperti Bi jin sim....
Bukan saja dalam gedungnya tidak ada laki-laki seperti itu, di dunia ini pun belum tentu ada!
Seandainya tidak ada kejadian ini atau laki-laki ini, mungkinkah Siau lok hanya mengoceh sembarangan?
Tiba-tiba di tepi ranjangnya terdapat bayangan seseorang.
Bagaimana orang ini bisa masuk ke dalam kamarnya?
Kapan dia masuk?
Oey Thian Gie hampir mengira dirinya telah bertemu dengan setan.
Setelah matanya terbiasa dalam kegelapan Oey Thian Gie dapat melihat bahwa bentuk badan orang itu persis seperti dirinya.
Biar pun lebih kurus atau lebih gemuk, dia selalu memperhatikan orang yang mempunyai bentuk badan sama dengannya.
Terutama malam ini Sekali lihat saja, dia sudah dapat memastikan bahwa mereka berdua hampir tidak mempunyai perbedaan.
"Siapa?"
Tanyanya dengan suara berat.
"Aku!"
Sahut orang yang ada dalam kamarnya itu. Suara itu terasa tidak asing di telinganya.
"Siapa aku itu?"
Tanyanya sekali lagi. Tamu yang tidak diundang itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Oey Tangke sungguh pelupa!"
Sahutnya, Oey Thian Gie terpana. Dia bangkit dan duduk dengan tegak.
"Cu Thi Jui?"
Tanyanya.
"Orang-orang memanggilku Cu lao thai-ya,"
Sahut orang itu.
"Rupanya kau yang menyamar diriku dan masuk ke kamar Siau lok,"
Katanya dengan geraham dikertakkan.
"Siau lok (kesenangan kecil) nama ini sungguh sesuai, sedikit kesenangan yang diberikan kepadaku benar-benar menyegarkan,"
Sahut Cu Thi Jui. Oey Thian Gie begitu marahnya sampai tubuhnya menggigil.
"Tahukah kau bagaimana aku akan menghukum dirimu?"
Bentaknya marah.
"Saya ingin sekali mendengarnya,"
Sahut Cu Thi Jui tenang.
"Aku akan mengikat dirimu dan menjadikan umpan buaya!"
Kata Oey Thian Gie dengan mata mendelik.
"Tidak berat! Sama sekali tidak berat! Kalau saya yang mengalami kejadian ini, tentu tidak akan seringan itu hukuman yang akan kuberikan!"
Sahutnya seperti sengaja menyulut api.
"Kau sudah menarik keuntungan dariku, masih berani datang kemari?"
Bentak Oey Thian Gie dengan kasar. Cu laothao malah menghampiri Oey Thian Gie dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kau pikir kedatangan saya hanya untuk Siau lok?"
Katanya dengan bibir tersenyum, dengan marah Oey Thian Gie merenggut baju Cu laothao.
"Aku ingin mencincang tubuhmu sampai berkeping-keping!"
Katanya.
Cu laothao mengulurkan tangannya dan menjentik tangan yang mencengkeramnya itu.
Sekejap saja tangan Oey Thian Gie sudah terlepas.
Siapakah manusia ini?
Mengapa hanya dengan sentilan ujung telunjuk saja dapat mengeluarkan tenaga demikian besar?
Oey Thian Gie tidak pernah mempercayai ilmu sihir, ia melancarkan sebuah serangan dengan telapak tangannya, namun sentilan jari Cu laothao kembali menahan serangan itu.
Oey Thian Gie menarik tangannya kembali.
"Siapakah kau sebetulnya?"
Tanyanya dengan mata menatap tajam.
"Bukankah saya sudah mengatakan bahwa orang-orang menyebut aku Cu lao thai-ya!"
Sahutnya dengan wajah tanpa menunjukkan perasaan apa-apa.
"Apakah kau bukan seorang peramal?"
Tanya Oey Thian Gie kembali. Sekali lagi Cu laothao tertawa terkekeh-kekeh.
"Dibilang iya juga boleh, dibilang bukan juga tidak apa-apa,"
Jawabnya.
"Kalau begitu, sebelumnya kau sudah menyelidiki diriku?"
Tanya Oey Thian Gie dengan wajah merah padam.
"Tidak salah!"
Sahut peramal tersebut.
"Kalau begitu kau adalah barang tiruan!"
Kata Oey Thian Gie.
"Kalau dikatakan saya adalah seorang penipu juga tidak benar Ada beberapa hal tentang dirimu yang sama sekali tidak diketahui oleh orang lain, tapi saya toh dapat mengetahuinya dengan pasti!"
Sahut Cu Thi Jui. Oey Thian Gie menganggap kata-kata itu ada benarnya.
"Manusia she Cu! Kau adalah seorang pertapa, tapi kau melakukan perbuatan tercela seperti ini. Tidakkah kau takut berbuat dosa?"
Tanya Oey Thian Gie dengan suara berwibawa.
"Saya tidak takut!"
Sahut Cu laothao kalem.
"Kau bisa meramal nasib manusia. Apakah kau tidak percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini ada hubungannya dengan Thian?"
Tanyanya sekali lagi.
"Percaya, tapi tidak seluruhnya,"
Sahut peramal tersebut, Cu lao thaiya tertawa terkekeh-kekeh.
"Ramalan bintang Tiongkok mudah sekali Hanya menurut peredaran shio dan sifat manusianya sendiri. Sampai zaman di-nasti Han, boleh dibilang semuanya penipu, Ketika memasuki dinasti Tang, Lie Si Cung baru membuktikan kebenarannya. Oleh sebab itu, dia disebut sebagai pelopor ilmu perbintangan Seterusnya memang masih ada beberapa orang yang mengikuti jejak-nya. Seperti Chen thu nan dari dinasti Song, Yu Ki Gi yang menghitung dari-tanah tempat berpijak Dari semua ini, ramalan huruf justru yang paling tepat,"
Sahut Cu Thi Jui.
Oey Thian Gie seperti telah melupakan apa yang diperbuat orang ini kepada Siau lok.
Perihal kegemukan dirinya, kadang-kadang dia sendiri sebal, tapi adakalanya dia merasa bangga.
Anak buahnya semua kurus-kurus.
Bila ada yang mengatakan dirinya gemuk, dia menganggap sebagai pujian kepada dirinya yang bermaksud menunjukkan kehidupannya yang subur.
Bila ada yang mengatakan kepalanya dan telinganya besar, dia justru marah dan tidak segan-segan menghukum orang tersebut.
Sekarang ada seorang manusia yang berbentuk tubuh sama dengan dirinya, otaknya juga sangat cerdas, Lagipula pandai menyenangkan perempuan.
Memang orang ini berdiri sebagai musuhnya, namun kalau dilihat dari nilai kaum laki-laki, rasanya tidak perlu dibesar-besarkan, dia malah ada menanam sedikit kekaguman pada orang tersebut.
"Ramalan apa lagi yang dapat disebutkan paling tepat?"
Tanyanya dengan nada suara seorang teman.
"Ramalan dari Pekji. Kita harus mengetahui tanggal, jam, hari kelahiran dengan tepat, Setiap enam puluh tahun akan menampilkan sekali shio dengan naungan bintang yang paling cemerlang, Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, tiga ratus enampuluh lima hari, Satu bulan ada tigapuluh hari, Satu hari ada duapuluh empat jam. Kalau dihitung, maka perubahan hidup manusia berdasarkan hitungan ini mempunyai duaratus limapuluh lima ribu sembilan-ratus duapuluh perubahan dalam seumur hidupnya. Memang kalau kita yang tidak mengerti akan pusing menghitungnya. Oleh sebab itu, saya sendiri sulit memper-cayainya,"
Kata Cu Thi Jui. Oey Thian Gie dibuat tujuh keliling oleh keterangannya. Dia termangu-mangu sejenak.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan tadi. Aku hanya ingin tahu apa maksudmu sebenarnya datang ke gedungku ini? Kau harus tahu, masuk mudah, keluar tentu sulit,"
Kata Oey Thian Gie. Cu laothao tersenyum lebar.
"Betul! Bagi orang biasa tentu tidak mudah masuk ke dalam gedung ini. sedangkan untuk keluar, pasti lebih sulit lagi. Sampai saat ini, apakah kau belum bisa menebak maksud kedatanganku?"
Tanya Cu Thi Jui. Oey Thian Gie merasa kesal sekali. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu!"
"Siang tadi saya sudah meramalkan bahwa dalam waktu dekat ini, kau akan mendapatkan kerugian yang besar, Dan nilainya tidak terkira pula,"
Sahut Cu laothao. Oey Thian Gie terkesiap.
"Kau ingin merebut?"
Tanyanya.
"Kalau kau ingin bekerja sama, untuk apa saya perlu tangan merebut?"
Sahut perangai tersebut.
"Orang she Cu! Sekali aku berteriak, seluruh penjaga di gedung ini akan mengeroyok dirimu!"
Katanya dengan suara datar.
"Apakah manusia yang pintar akan melakukan hal itu?"
Tanya Cu laothao lagi.
"Mengapa tidak?"
Seru Oey Thian Gie penasaran.
"Coba katakan.... Bila kau berteriak, seluruh penjaga akan segera datang ke kamar ini. Gerakan siapa yang lebih cepat? Da-tangnya mereka atau sentilan jari saya? Mari saya jelaskan kepadamu.... Setiap jari tanganku ini manfaatnya sama, Gerakan dan kecepatannya juga sama. Kekuatan yang dikeluarkannya juga sama, jangan kata daerah yang mematikan, tempat mana pun yang saya sentil akan dapat menghancurkan tulangmu, Percaya tidak?"
Kata Cu laothao tenang.
Oey Thian Gie terpaksa percaya sekarang.
Tadi saja, hanya dengan sentilan jari, orang ini dapat menahan serangannya, Tetapi, orang she Cu ini telah mengatakan nilai yang tak terhitung, Bagaimana kalau dia meminta seluruh hartanya?"
"Berapa yang kau inginkan?"
Tanya Oey Thian Gie dengan hati berdebar-debar.
"Hanya satu,"
Sahut Cu laothao. Oey Thian Gie terpana.
"Satu? Satu uang emas atau satu Siau lok?"
Tanya laki-laki itu.
Toh, Siau lok sudah didapatkannya, Lebih baik jadi dermawan dengan menyumbangkan sekalian, daripada orang ini tinggal di dalam gedungnya.
Oey Thian Gie akan mati kesal setiap menatap wajahnya.
Cu laothao mengulangi tawanya yang menyebalkan.
"Siau lok? Dia adalah milikmu. Setelah berhasil mencobanya, tentu harus dikembalikan kepadamu, Tentang uang emas, saya sendiri tidak kekurangan, Saya hanya menginginkan satu barang yang ada dalam pakaianmu sekarang!"
Katanya. Oey Thian Gie tiba-tiba mengerti siasat licik orang ini, Dia memang terkejut Tidak disangkanya orang ini pula yang akan merebut benda pusaka ini.
"Mimpi!"
Serunya dengan mata mendelik.
"Sebetulnya dalam mimpi pun saya sering ingin mendapatkan barang tersebut,"
Sahut Cu laothao tenang.
"Kau anggap kau benar-benar dapat mengambilnya?"
Tanya Oey Thian Gie gusar.
"Kau harus cepat-cepat mengeluarkannya, Bila tidak, jiwamu sendiri akan diambil oleh saya!"
Cu laothao mengucapkan kata-kata tersebut tanpa menunjukkan perasaan apa-apa pada wajahnya.
Oey Thian Gie sadar, orang ini bukan hanya sekedar menggertak Dia mulai membenci Liu Cangkwe yang mengundang setan masuk ke rumah, Dia juga membenci ke-tujuh selirnya, Kalau salah satu di antara mereka ada yang bisa memberikan keturunan untuknya, dia pasti tidak akan pergi ke Thai Pek Ki untuk menemui pembunuh ini.
Dia memeluk benda pusaka yang ada di balik pakaiannya erat-erat.
"Cu ya.... Kau adalah seorang pendekar besar dalam dunia kangouw, dan dalam soal laki-laki dan perempuan, kau juga jauh lebih perkasa dari pada saya. Kau tidak memerlukan benda ini, Terus terang saja, hanya orang yang tidak berguna seperti saya baru memerlukannya,"
Kata Oey Thian Gie dengan suara memelas.
Dia rela merendahkan dirinya sendiri untuk benda langka seperti Bi jin sim.
Cu lao thaiya tampaknya sudah tidak sabar lagi, Dengan gerakan yang cepat, ia merebut barang yang ada di balik baju Oey Thian Gie.
Saking terkejutnya, Oey Thian Gie lupa menjerit, dia berdiri terpaku sampai laki-laki itu menghilang dari kamarnya, Sejenak kemudian dia baru tersadar.
"Maling! Cepat tangkap maling!"
Teriaknya kalang kabut.
Chao toa king bergerak menuju kamar majikannya, Gerakannya itu tidak dapat dikatakan lambat Dia membangunkan Oey Thian Gie yang terjatuh lemas di tanah, Setelah itu, memburu keluar.
Apa yang terjadi selanjutnya tentu sudah dapat diterka.
Oey Thian Gie tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Chao toa king, Hal ini juga tidak dapat menyalahkan dirinya, Oey Thian Gie sudah terlalu kecewa dan putus asa.
Dia memutuskan untuk meminta para pengawal dan pejabat setempat menangkap maling tersebut.
Dia duduk dengan wajah lesu di atas tempat tidur.
Sejenak kemudian, dia seperti dikejar setan berlari ke arah kamar Siau lok.
Ketika dia masuk ke dalam kamar tanpa penerangan itu, kepalanya membentur sesuatu.
Secepat kilat dia menyalakan lilin.
wajahnya pucat seketika.
Siau lok telah menggantung diri.
Setelah gadis itu mati, dia baru terpikir bahwa dalam peristiwa ini tidak ditimpakan kesalahan kepadanya, Di dunia ini tidak ada lagi Bi jin sim kedua.
Dan juga tidak mungkin ada Siau lok kedua.
Oey Thian Gie jatuh tidak sadarkan diri untuk selamanya.
Malam sudah larut, Di tepi pantai tidak ada angin yang bertiup.
Lautan tenang, Rembulan hampir penuh, membuat pemandangan cerah, Di atas laut terdengar sedikit kepak sayap burung camar.
Sungguh suatu malam yang penuh misteri.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce menyalakan seonggok api unggun di pesisir pantai, Dalam cuaca seperti ini tentunya tidak perlu menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan, tapi untuk membakar ikan.
Kalau saja ada bumbu untuk dibubuhkan di atas ikan itu, baru kemudian membakar-nya, pasti ikan itu akan enak dimakan, sedangkan di tepi laut itu, garam saja tidak ada..
Mereka hanya membakarnya sekedar untuk mematangkan daging ikan itu, Rasanya yang tawar tentu tidak menerbitkan selera.
Tapi bagi orang yang sudah terlanjur kelaparan, bisa mengisi perut saja sudah termasuk beruntung.
Di perkampungan nelayan yang telah porak poranda seperti ini, ada uang pun tidak bisa membeli makanan.
sebagai pengisi perut, mau tidak mau, mereka hanya makan ikan bakar setiap hari.
Ikan yang basah membuat suara peletak peletuk terbakar api unggun, Setelah matang tentu akan menciut, apalagi dibuang kepala dan ekor serta tulang, Tentu daging yang tertinggal hanya sedikit, untung saja kedua orang itu mempunyai akal yang bodoh.
Mereka membakar ikan itu sampai kering sekali, Dan memakannya dengan tulang belulangnya sekaligus, Kwe Po Giok mendongakkan kepalanya menatap rembulan.
"Rasanya hari ini sudah tanggal lima belas bulan delapan."
Katanya.
"Empat belas,"
Sahut rekannya.
Laki-laki itu bertugas membakar ikan.
Kwe Po Giok hanya terima bersihnya saja, Selama beberapa hari ini, dia juga terus memancing, Tapi ikan yang didapatnya paling hebat beratnya dua ons.
ikan seperti itu saja juga sudah membuatnya girang setengah mati.
Dia loncat tinggi sekali, hampir saja tercebur ke dalam laut Setiap kali Sun Put Ce membakar satu ekor, Kwe Po Giok pun memakan ikan yang baru dipanggang itu, Kadang-kadang malah belum cukup matang sudah direbutnya.
Sampai Kwe Po Giok merasa kenyang, Sun Put Ce baru kebagian, dia tidak pernah mempersoalkan masalah ini, karena dalam hatinya dia menganggap Kwe Po Giok masih bocah cilik.
"Apakah kau tidak bisa menemani saya mengobrol lebih banyak?"
Tanya Kwe Po Giok sambil tertawa getir.
"Saya tidak bisa bicara,"
Sahut Sun Put Ce.
"Jadi kau hanya bisa makan ikan?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Makan ikan pun, masih kalah denganmu,"
Sahut Sun Put Ce. Wajah Kwe Po Giok langsung merah padam mendengarnya.
"Tidak disangka kau juga bisa menyindir,"
Katanya.
"Saya selamanya tidak pernah menyindir orang,"
Sahut teman seperjalanannya itu.
"Sebetulnya, bila kau menyindir, memarahi, saya pun tidak akan menyalahkan dirimu,"
Kata Kwe Po Giok sambil menarik nafas.
"Mengapa saya harus memarahimu?"
Tanya Sun Put Ce heran.
"Karena saya hanya bisa makan, sama sekali tidak bisa memancing ikan. Malah ikan yang besar semua saya makan, Kau hanya kebagian yang kecil,"
Kata Kwe Po Giok.
"Sebetulnya ikan yang kecil juga enak,"
Sahut Sun Put Ce sambil tersenyum. Kwe Po Giok kembali menarik nafas panjang.
"Kau ini benar-benar keterlaluan. Kalau saya menjadi dirimu, Dan kau hanya bisa makan tetapi tidak bisa memancing, pasti semua ikan ini akan saya makan sendiri,"
Katanya dengan nada kesal. Dia heran di dunia ini ada orang seperti Sun Put Ce? Pada saat itu terdengar langkah kaki seorang manusia yang berjalan di atas pasir. Dua orang sedang mendekati.
Jilid 5
"Aku juga bisa makan ikan,"
Kata salah satunya.
Orang itu mengenakan pakaian panjang berwarna merah muda, Dia mendekat ke arah Sun Put Ce.
Seekor ikan yang baru selesai dibakar, diambilnya, Dengan gaya lahap dia memakan ikan itu.
Sun Put Ce seperti tidak perduli ikan yang sudah susah payah dibakarnya diambil oleh orang tersebut, Kwe Po Giok justru kurang senang....
"Hei! itu ikan kami!"
Teriaknya.
"Milikmu adalah milikku. Asalkan aku senang, nyawamu juga akan menjadi milikku,"
Kata Hun Pao alias Jaguar merah muda.
Kwe Po Giok menatap Sun Put Ce sekilas, rekannya tetap membakar ikan.
Sejak tadi kepalanya tetap tertunduk, Jadi kedua orang itu sama sekali tidak bisa melihat wajahnya.
Apalagi mereka sudah cukup lama berada di daerah panas itu, Kulit wajah mereka sudah gelap, seandainya ada orang yang pernah bertemu dengan kedua orang itu pun, belum tentu akan mengenali lagi pada saat ini.
Kwe Po Giok tertawa nyaring.
"Toaya pasti tidak menginginkan diri saya. Tubuh ini kotor lagi pula dagingnya kesat. Tentu tidak seenak daging ikan,"
Katanya. Orang satunya lagi kebetulan adalah Hek Houw. Dia ikut tertawa.
"Bocah dusun ini tampaknya tidak begitu bodoh,"
Katanya. Hun Pao dan Hek Houw duduk di atas pasir dan memakan ikan yang telah matang, Mereka masih belum mengenali kedua orang itu.
"Mungkin ini merupakan ikan bakar yang paling tidak enak yang pernah Toaya makan selama ini,"
Ujar Hek Houw.
"Sebetulnya lumayan juga,"
Sahut Hun Pao.
"Makan ikan tanpa garam masih dapat disebut lumayan?"
Tanya Hek Houw mendengus.
"Tentu saja! Paling tidak, kau sudah terbiasa makan ikan yang enak, sekarang makan ikan yang hangus dan tawar. Kau toh bisa membedakan rasanya,"
Sahut Hun Pao kembali.
"Kalau didengar kata-kata ini seperti omong kosong, Tapi kalau dipikirkan secara seksama, terasa ada benarnya juga!"
Kata Hek Houw.
Tepat pada saat itu, angin meniup.
Membuat api unggun menarinari.
Hun Pao dan Hek Houw memperhatikan derap langkah yang mendekati.
Ternyata yang datang adalah It Cheng Hong.
Bajunya berwarna hitam pekat.
Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan, Dia berdiri di samping api unggun.
"Rupanya manusia yang datang tanpa suara pergi tanpa bayangan, Kiang Pak It Cheng Hong!"
Seru Hun Pao. It Cheng Hong tertawa nyaring.
"Dari jauh aku sudah melihat titik api. Tadinya kukira Dewa api telah muncul, tidak tahunya kedua Houw Pao Suang hao yang sedang membakar ikan!"
Serunya. It Cheng Hong juga belum mengenali Sun Put Ce dan Kwe Po Giok.
"Kau juga menerima Sin Bok Ling (Kayu perintah dewa) dan segera datang untuk menyampaikan hadiah?"
Tanya Hun Pao dengan suara rendah. It Cheng Hong tertawa dingin.
"Beberapa hari yang lalu aku sudah menerima Sin Bok Ling. Setelah melakukan beberapa kali jual beli, aku segera datang untuk mengantarkan hadiah. Houw Pao Suang Hoa tentu membawa hadiah yang nilainya tidak terkira, Jauh lebih hebat dari setan gentayangan macam diriku ini,"
Katanya menyindir. Hun Pao dan Hek Houw saling pandang sekejap. Mereka menggenggam erat-erat bungkusan di tangan masing-masing, seakan takut sekali kehilangan barang itu.
"Ketiga bajingan ini tampaknya belum mengenali identitas kita,"
Bisik Kwe Po Giok di telinga temannya.
"Betul!"
Sahut Sun Put Ce.
"Kalau menurutmu, lebih baik dikenali atau tidak?"
Tanya bocah itu.
"Tentu saja lebih baik dikenali,"
Sahut Sun Put Ce.
"Tampaknya kau memang tidak bodoh!"
Kata Kwe Po Giok.
"Terima kasih!"
Sahut Sun Put Ce.
Pada saat itu, terdengar suara batuk, nafas yang berat serta deritan rakit di laut.
Seorang laki-laki bertubuh gemuk meloncat turun, Orang ini sudah tua.
Di tempat yang sepi seperti perkampungan nelayan ini, bertemu dengan orang tua tersebut rasanya tidak sesuai, Orang tua gemuk ini memakai pakaian dari bahan belacu yang kasar.
Di seluruh bajunya terdapat banyak tambalan besar kecil berisi berbagai penganan kemilan.
Sembari jalan, tangannya tidak berhenti merogoh penganan itu dan memakannya, pada umumnya orang tua dan anak kecil berpenampilan dan berkelakuan hampir sama, di dalam sakunya terisi kue, kacang, buah kering, kuaci dan permen.
Ditambah lagi pada bambu panjang yang diletakkan di pundaknya juga terdapat banyak kantong-kantong besar dan kecil.
Orang tua ini lucu sekali, Sampai matanya juga selalu menyipit menampilkan senyum dan tawa.
Tetapi pada wajah Hek Houw, Hun Pao dan It Cheng Hong tersirat rasa kejut yang tidak terkira, Orang tua itu terus mengemil sambil sekali menarik nafas dengan susah payah.
Dia duduk di pesisir pantai.
Sun Put Ce hanya melirik orang tua itu sekilas kemudian melanjutkan membakar ikan.
Kwe Po Giok terus memandangi orang itu.
"Belum lama ini, tubuhku semakin Iemah. Baru jalan beberapa langkah saja sudah capek setengah mati, Aih! Sudah tua! Kalau ada yang lari bila melihat kedatanganku tentu aku sudah tidak sanggup mengejamya."
Orang tua itu seperti berkata kepada dirinya sendiri.
It Cheng Hong, Hun Pao, Hek Houw sebetulnya memang berniat lari.
Setelah mendengar ucapan itu malah jadi urung.
Mereka bersama-sama berjalan ke hadapan orang tua itu dan membungkuk dengan hormat.
"Boanpwe menemui Cu lao thaiya!"
Kata mereka serentak, Orang tua aneh seperti itu bisa membuat ketiga bajingan itu begitu hormat kepadanya.
Benar-benar akan menjadi berita besar kalau tersiar di luaran!
Cu lao thaiya memicingkan matanya beberapa saat.
"Orang tua yang hampir buta seperti aku ini, masih belum mengetahui bahwa kalian bertiga juga ada di sini. Mengapa kalian tidak pergi membunuh orang atau membakar api? Ada apa kalian berkumpul di sini?"
Tanya orang tua itu.
Mulutnya mengecap permen, dari sudut bibirnya mengalir air liur, perbuatannya ini akan membuat jijik orang lain, tapi bagi ketiga orang yang ada di hadapannya pasti tidak berani berpikir demikian.
Orang tua itu seperti membawa semacam wibawa yang tidak dapat ditentang, Dengan sangat hormat, mereka mundur dua langkah.
"Kami sudah menerima Sin Bok Ling, maka segera datang untuk mengantarkan hadiah!"
Sahut Hek Houw. Sun Put Ce dan Kwe Po Giok saling melirik sekilas.
"Bok lang-kun benar-benar hebat! Meski-pun sudah mengundurkan diri berpuluh tahun, kedudukan Bengcu dunia hitam masih dikuasainya. Sekali Sin Bok Ling keluar, banyak kalangan yang sengaja datang mengantarkan hadiah untuknya!"
Kata Cu lao thaiya. Dia berhenti sejenak, Matanya memicing. Makanan terus mengalir ke mulut-nya. Seperti tidak serius dalam mengucapkan kata.
"Apa yang kalian persembahkan kepadanya? BoIehkah membiarkan mata tua ini untuk terbuka sedikit?"
Tanya orang tua itu melanjutkan kata-katanya yang terhenti. Hun Pao dan Hek Houw tersentak, wajah mereka berubah hebat. Sampai It Cheng Hong pun tidak berbeda, matanya jelalatan karena panik.
"Masa lihat saja tidak boleh?"
Tanya orang ini itu tenang.
!t Cheng Hong bertiga akhirnya membuka bungkusan masingmasing.
Mata Cu lao thaiya yang sejak tadi memicing membuka seketika, Tampaknya dia sangat tertarik dengan kotak di tangan Hek Houw.
Tentu saja, terhadap kotak di tangan It Cheng Hong ia juga menunjukkan minat.
Sun Put Ce melirik ke arah sana sekilas kemudian menekuni pekerjaannya kembali, Kwe Po Giok berjalan mendekati orang-orang itu dan ikut melihat sekejap, Kemudian dia duduk kembali di samping rekannya.
"Hek Houw! Apa isi kotak panjang itu."
Tanya Cu lao thaiya kepada Hek Houw.
"Cu lao thaiya! isinya hanya sebuah jim-som gunung yang sudah tua,"
Sahutnya.
"Oh.... Jinsom tua.... berapa beratnya?"
Tanya Cu lao thaiya kembali.
"Tu... tujuh., kati setengah,"
Sahut Hek Houw dengan suara ragu.
"Tujuh kati adalah jinsom, delapan kati sudah termasuk pusaka, Sayang sekali berat jinsom ini masih kurang setengah kati."
Kata Cu lao thaiya.
"Benar juga!"
Sahut Hek Houw dengan perasaan lega Cu lao thaiya hanya melirik sekejap pada permata yang berkilauan di tangan Hun Pao. Tatapan matanya beralih pada kotak persegi di tangan It Cheng Hong.
"lt Cheng Hong taihiap! Apa isi kotakmu itu?"
Tanyanya.
"Sebetulnya juga bukan barang mustika yang langka. Hanya sebuah patung ukiran yang terbuat dari batu Ke Hiat Ang."
Sahutnya dengan hati berdebar-debar.
"Ya... memang bukan barang langka,"
Sahutnya dengan mata setengah terpejam. Ketiga orang itu cepat-cepat membungkus kembali barang persembahannya masing-masing.
"Tampaknya selera Bok lang kun makin lama makin rendah, Kalau tidak, mana mungkin memandang mata barang-barang seperti itu,"
Kata Cu lao thaiya.
Wajah It Cheng Hong dan kedua rekannya menyiratkan kekecewaan, bila menghadiahkan barang kepada seseorang tentu saja tidak harus yang termahal, tapi kalau bisa, juga jangan yang terlalu tidak dipandang, apalagi yang akan menerima hadiah itu adalah Bok lang kun!
"Aku anjurkan kepada kalian....
Lebih baik hadiah itu dikumpulkan menjadi satu.
Dan diberikan kepada Bok lang kun.
Kalau orang itu menganggap hadiah kalian kurang pantas, tentu kalian sendiri akan menerima resiko yang kurang enak,"
Kata Cu lao thaiya dengan lagak baik hati.
Kata-kata ini diucapkan dengan nada berat dan tidak bertenaga, Seperti ucapan main-main saja.
Selesai berkata, dia menyumpal mulutnya dengan sebuah gula-gula, yang berbicara memang setengah hati, tapi yang mendengarkan justru sepenuh perasaan.
Sinar mata It Cheng Hong berkilat di bawah sinar api, Dia menatap Hun Pao dan Hek Houw dengan tajam, ke-dua orang itu tampaknya mengerti sekali arti mata itu, mereka menggenggam bungkusan masing-masing dengan erat dan mundur satu depa.
Secepat kilat, It Cheng Hong menghadang jalan mundur kedua orang itu.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Tanya Hek Houw. It Cheng Hong tertawa dingin.
"Toh hadiah kalian berdua terlalu sedikit, mengapa tidak berbuat baik dengan memberikannya kepadaku agar dapat kupersembahkan kepada Bok lang kun?"
Suaranya sinis. Memang perbuatan ini yang diinginkan oleh Cu lao thaiya, Dia ingin mereka saling membunuh agar dirinya dapat meraih keuntungan.
"Apa yang kau andalkan?"
Bentak Hun Pao tak kalah garang.
It Cheng Hong tidak menyahut, Dia meraba gagang pedangnya seakan benda itulah yang akan menjadi andalannya, Hun Pao dan Ilek Houw mengeluarkan senjata mereka serentak, Hun Pao menggunakan pecut yang terbuat dari ekor macan tutul, Sedangkan Hek Houw menggunakan Cakar harimau yang terbuat dari besi.
"Kalau kau menginginkan barang kami, kau terpaksa harus melangkahi mayat kami lebih dahulu!"
Kata Hun Pao.
"Tidak separah itu!"
Sahut It Cheng Hong, dia mengeluarkan sebuah senjata terbuat dari rantai panjang dengan pedang di ujungnya.
Manusia secepat angin, pedang secepat kilat, itulah julukan yang diberikan oleh orang-orang dalam dunia kangouw untuk It Cheng Hong.
Ketiga orang itu langsung bergebrak, pecut ekor macan tutul dan cakar besi harimau menghantam kepala It Cheng Hong.
Manusia secepat angin itu ternyata tidak begitu mudah menghindari serangan tersebut, dia harus berjuang sekuat tenaga, baru dapat meloloskan diri.
Di bawah cahaya api unggun, wajah mereka tampak garang, seperti ingin memakan sesamanya.
Tanpa disangka-sangka, Kwe Po Giok berteriak dengan suara nyaring...
"Saya lihat lebih baik kalian mempersembahkan hadiah-hadiah itu kepada Cu lao thaiya saja. Daripada orang tua itu harus susah payah mencari hadiah di tempat lain!"
Bagi ketiga orang itu, saran Kwe Po Giok tentu dianggap tidak baik, tapi mereka seperti tersengat aliran listrik, Bersama-sama menghentikan gerakannya, Hek Houw tertawa terbahak-bahak.
"Lucu sekali! Lucu sekali!"
Serunya dengan lantang.
"Kami sama sekali tidak membayangkan kalau Cu lao thaiya juga datang untuk mengantarkan hadiah. Kita saling membunuh, tinggal Cu lao thaiya yang menarik keuntungan,"
Kata Hun Pao. Cu lao thaiya yang tetap duduk di atas pasir, dia menggelengkan kepala seraya menarik nafas panjang. Dia seakan tidak memperdulikan anggapan orang-orang itu.
"Aih! Kalian kan tidak mungkin memandang rendah orang tua seperti aku ini. Kalau aku sudah berani datang, toh tidak mungkin bertangan kosong."
Biar pun dia selicik apa, tapi dia sudah mengakui bahwa kedatangannya malam ini adalah untuk mengantarkan hadiah juga.
Untuk mencari kepercayaan orang-orang tersebut, dia mengeluarkan sebutir mutiara yang amat berkilauan dan berwarna ungu, setiap gerakannya akan merebut perhatian ketiga orang itu, juga Kwe Po Giok dan Sun Put Ce.
"lni adalah benda pusaka yang hampir menjadi legenda, panggilannya mutiara kristal ungu. Biar dipersembahkan kepada kaisar tua masih pantas, mana mungkin aku menginginkan barang rongsokan kalian?"
Katanya dengan wajah tersenyum.
Api unggun yang terang membuat sinar mutiara di tangan Cu lao thaiya makin berkilauan.
It Cheng Hong dan kedua rekannya saling pandang.
Dengan kedudukan Cu lao thaiya, Bila dia mau datang mengantarkan hadiah, sudah pasti merupakan benda pusaka yang tak terkira nilainya, Dan mereka ternyata menduga orang tua itu menginginkan barang antaran mereka, Kalau dibilang putar balik, semestinya setan kecil itu yang menerbitkan perkara.
Mata ketiga orang itu seperti berjanjian menoleh ke arah Kwe Po Giok.
"Mutiara kristal ungu.... Benda pusaka ini memang belum pernah kulihat,"
Kata It Cheng Hong.
"Saya bahkan belum pernah mendengarnya,"
Sahut Hek Houw. Cu lao thaiya tertawa senang.
"Kalian kemarilah! Aku orang tua ini akan membuka mata kalian,"
Katanya.
Ke tiga orang itu langsung mendekat dengan perasaan ingin tahu.
Melihat hadiah yang akan diberikan oleh orang lain toh tidak ada salahnya.
Paling tidak, mereka bisa membandingkannya dengan barang antaran mereka sendiri.
Ketika langkah kaki mereka kira-kira tinggal tiga depa di hadapan orang tua itu, tiba-tiba sekilas sinar ungu berkelebat, menghantam telak di tubuh ketiga orang itu, Menyerang orang dengan mutiara kristal ungu, siasat ini, belum pernah terpikirkan oleh It Cheng Hong dan kedua rekannya.
Lagipula kesannya terlalu angkuh.
Cu lao thaiya ternyata tidak berhenti sampai disitu saja, Tangannya dengan sigap merogoh segala macam barang dari kantongnya.
Dia menimpuk serampangan.
It Cheng Hong, Hun Pao, dan Hek Houw roboh ke tanah.
Tubuh mereka penuh dengan segala penganan kecil, Senjata rahasia yang paling aneh di dunia!
Darah mengalir dari sana sini, Makanan kecil itu telah melukai beberapa bagian tubuh mereka, Bahkan ada dua atau tiga aliran darah yang tertotok sehingga mereka bertiga tidak dapat bergerak.
Hek Houw terengah-engah.
Dia memandang Cu lao thaiya dengan perasaan tertekan.
"Kau toh sudah mempunyai mutiara kristal ungu, mengapa masih ingin merebut barang antaran kami?"
Tanya laki-laki itu gusar.
"Anak bodoh! Di dunia ini mana ada mutiara kristal ungu? Yang kau lihat tadi adalah rencengan buah anggur,"
Kata Cu lao thaiya sambil tertawa terbahak-bahak.
Apakah ini sebuah hinaan, permainan atau gurauan?
Dengan teriakan nyaring Hek Houw berusaha untuk bangkit, Tapi tenaganya hilang, It Cheng Hong dan Hun Pao tidak bergerak lagi, Tetapi mereka tampak tidak semarah Hek Houw.
"Rupanya begini cara kau mendapatkan barang antaran!"
Teriak Hek Houw dengan suara keras. Cu lao thaiya menggelengkan kepalanya dengan mengeluarkan suara berdecak.
"Bocah cilik! Siapa yang kerajinan menenteng hadiah jauh-jauh sampai di sini. Lagi pula, jaman dulu Cu kek Sian sing juga dengan cara yang sama mendapatkan selaksa anak panah dari Lang Ya,"
Kata orang tua itu. Hek Houw tidak mengeluarkan suara lagi, Di pinggir pantai hanya terdengar suara keresekan kayu bakar dalam api unggun.
"Siau houw, Siau pao, Si pak hong, kenapa pergi? Kok cuma begitu saja? Hanya merusakkan makanan dalam kantong orang tua ini!"
Kata Cu lao thaiya dengan nada mengejek.
Sun Put Ce berdiri, Dia menarik tangan Kwe Po Giok untuk meninggalkan tempat tersebut, Cu lao thaiya bangkit juga dengan wajah kemalas-malasan.
Dia merogoh barang antaran yang telah disiapkan oleh ketiga orang itu.
"Seharinya manusia pintar sama dengan seumur hidupnya orang bodoh,"
Katanya menggumam.
Kwe Po Giok mengibaskan tangan Sun Put Ce.
Dia masih belum mau pergi, Cu lao thaiya menatap kedua orang itu sekejap, Sinar matanya mengandung hinaan dan pandangan meremehkan Kwe Po Giok juga menatap ke arahnya.
Dia hanya menganggap orang itu seperti segumpal daging yang tergeletak di sana.
Cu lao thaiya dengan ramah menggapai kepada Kwe Po Giok.
"Anak baik! Kemarilah! Kong kong masih mempunyai makanan yang enak untukmu,"
Katanya dengan bibir tersenyum. Kwe Po Giok dengan nakal ikut tersenyum.
"Kau bukan kong kong! Kau adalah seekor babi!"
Katanya. Cu lao thaiya seperti belum mendengar dengan jelas, dia mengulurkan wajahnya ke depan.
"Apa yang kau katakan?"
Tanyanya berlagak pilon.
"Kau adalah seekor babi. Kau meminta orang-orang memanggilmu Cu lao thaiya, Berarti dirimu memang bukan orang tapi babi, Kata Cu dalam bahasa cina, dengan nada yang sama tetapi tulisan yang berbeda memang berarti babi,"
Sahut Kwe Po Giok dengan suara yang lebih keras. Dia memperhatikan orang tua itu dengan tatapan meneliti "Tapi kau juga tidak tampak seperti seekor babi...."
Lanjutnya. Sun Put Ce mengangkat kerah bajunya sedikit, Kwe Po Giok sengaja mengalihkan pandangannya, Dia pura-pura tidak tahu, Cu lao thaiya tertawa lebar.
"Kau lihat aku mirip apa?"
Tanyanya.
"Kau mirip dua ekor babi. sebetulnya kau malah lebih gemuk dari dua ekor babi!"
Kata Kwe Po Giok seperti sedang menaksir suatu barang.
Cu lao thaiya memicingkan matanya, wajahnya berubah beberapa kali.
Kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh.
Kalau begitu aku juga ingin memelihara dirimu agar lebih gemuk sedikit, supaya kau bisa menjadi seekor cucu babi!"
Katanya.
Sekali lihat sinar matanya, Sun Put Ce sudah dapat menduga orang tua itu mulai dipenuhi hawa membunuh, Cu lao thaiya mengeluarkan makanan kecilnya, Dia menggunakan penganan itu sebagai senjata rahasia dan ditimpukkan ke arah Kwe Po Giok dan Sun Put Ce, Kacang, buah kana dan permen adalah benda yang ringan, tetapi sekali ditimpukkan ternyata dapat mengeluarkan suara gemuruh.
Semua ini tampaknya sudah dapat diduga oleh Sun Put Ce.
Benda-benda itu juga mengandung tenaga yang kuat.
Sun Put Ce menggeserkan tubuhnya untuk menghindari senjata rahasia tersebut Dia juga kelabakan menyelamatkan Kwe Po Giok, Senjata rahasia Cu lao thaiya dalam dunia kangouw memang sangat terkenal.
Pada saat itu, Sun Put Ce sangat mengharapkan tubuhnya dapat tumbuh lebih banyak kaki dan tangan, Dia tahu bagaimana pun ia tidak sanggup menyelamatkan Kwe Po Giok Iagi.
Tetapi sama sekali tidak disangkanya bahwa bocah itu tidak selemah yang tertampak di luar.
Kedua tangannya bergerak serampangan.
Ternyata makanan yang menyerang dirinya sudah tertangkap oleh tangannya, Cu lao thaiya dan Sun Put Ce samasama terpana.
Bocah itu mengembangkan tangannya dan mengembalikan makanan itu dengan gerak kilat.
Sun Put Ce masih termangu-mangu.
Cu lao thaiya tidak sempat berpikir lebih lama.
Dia segera mengibaskan tangan menyampok jatuh senjata rahasia yang makan tuan itu.
Di dalam dunia kangouw Co lao thaiya sudah sangat terkenal.
Didalam dunia kang-ouw nama Cu lo-tahiya sudah sangat terkenal.
Belum pernah terdengar ada orang yang sanggup membuatnya begitu kelabakan.
Senjata rahasia yang dilemparkannya sendiri ternyata tidak sanggup dihindarinya.
"Seerr! Serrr!"
Hampir semuanya menembus tubuh Cu lao thaiya, Seperti Hek Houw, Hun Pao dan It Cheng Hong.
Dia juga mati dengan badan tertembus senjata rahasia antik tersebut.
Air yang beriak dekat pantai menghembuskan suara tarikan nafas panjang, Sun Put Ce justru memandang Kwe Po Giok dengan terpana, sinar matanya mengandung kecurigaan.
Seakan sulit mengerti bocah yang satu itu.
Mungkin selain perasaan terkejutnya, dia masih memikirkan hal yang lain, Kwe Po Giok membalikkan tubuh.
Dia menatap Sun Put Ce dengan pandangan lembut.
"Kau tidak menyangka bahwa aku bisa ilmu silat?"
Tanya bocah itu.
"Saya tidak menyangkal"
Sahutnya tegas dan polos.
Kwe Po Giok memandangnya dengan seksama, Sun Put Ce memang tidak berbohong, sedangkan Fang lopek saja tidak tahu bahwa dia mempunyai ilmu yang tinggi, apa lagi Sun Put Ce.
Namun pandangan Kwe Po Giok terhadap Sun Put Ce sudah banyak mengalami perubahan, Kwe Po Giok tertawa-tawa.
"Saya sudah pernah mengatakan. Sejak usia tiga tahun saya sudah mendapat sebutan bocah ajaib. Meskipun saya masih belum bisa menandingi manusia jahat itu, untuk melawan babi seperti ini saja, delapan belas ekor sekali serang pun saya tidak takut,"
Katanya tanpa niat menyombongkan diri.
"Mengapa kau harus melawan dia?"
Tanya Sun Put Ce heran.
"Pertama karena aku memang tidak menyukainya. Kedua, ketiga orang yang diadu domba tadi semuanya sudah mati tanpa kau ketahui, Ketiga, saya memang ingin mendapatkan barang-barang tersebut untuk digunakan sebagai hadiah untuk Bok lang kun!"
Kata Kwe Po Giok menjelaskan.
Sun Put Ce terkejut sekali, Dia menghampiri It Cheng, Hun Pao dan Hek Houw, Ketiga orang itu memang sudah putus nyawa.
Dia kagum sekali terhadap Kwe Po Giok tapi juga agak takut penampilannya seperti sudah melewati usianya.
Kedewasaannya membuat Sun Put Ce tidak berani membayangkan.
"Untuk apa kau harus menghadiahkan barang berharga seperti ini kepada Bok lang kun?"
Tanya Sun Put Ce.
"Orang yang dapat membuat beberapa bajingan ini menunduk sekian rupa, bukan tidak mungkin dapat juga melawan Toa Tek To Hun,"
Katanya tersenyum.
"Kau kenal dengannya?"
Tanya Sun Put Ce sekali lagi.
"Saya tidak mengenalnya. Dia juga tidak kenal saya. Tapi saya yakin dia pasti bisa mengenali bahwa hadiah-hadiah ini tidak begitu mudah didapatkan,"
Sahut bocah itu.
Sun Put Ce menatap Kwe Po Giok sambil menarik nafas panjang.
Akal budi biasanya disertai pengalaman yang banyak, Namun bagi bocah berusia belasan, dari mana datangnya pengalaman?
Dia menarik nafas sekali lagi.
"Saya selalu menganggap dirimu masih seorang bocah cilik,"
Kata Sun Put Ce.
"Sekarang?"
Tanya Kwe Po Giok.
"Sekarang saya baru sadar bahwa kau adalah siluman kecil,"
Sahutnya.
Kedua orang itu saling pandang dan tertawa lebar.
Hanya tawa Sun Put Ce yang terselip sedikit kegetiran.
Malam semakin larut, Di tepi pantai terlihat bintang memenuhi angkasa, Ombak sedang menghajar batu karang, Dia tidak perduli apa yang dikatakan orang terhadap dirinya, Bagus boleh, kejam boleh, tegar pun boleh, Toh ombak hanya segulungan air yang tidak berakal budi.
Di pesisir pantai terlihat bayangan dua orang yang sedang berjalan, perasaan hati sangat tertekan, sehingga langkah kaki di atas pasir pun dapat terdengar jelas.
"Apakah kau tahu di mana Bok lang kun sekarang?"
Tanya Sun Put Ce.
"Tidak...."
Sahut si bocah ajaib.
"Kau bisa menemukannya?"
Tanya Sun Put Ce kembali "Tidak.... Tapi asalkan tempat yang ada apinya, saya dapat melihat dengan jelas."
Kwe Po Giok menunjuk ketiga macam hadiah yang terbungkus menjadi satu. Sin bok seng hue (kayu dewa api malaikat)?"
Tanya Sun Put Ce.
Kwe Po Giok menganggukkan kepalanya.
Sun Put Ce kembali menarik nafas panjang.
Dia percaya walaupun orang pintar ataupun orang bodoh, keduanya mempunyai kelemahan masing-masing, Orang yang pintar tahu kelemahannya sendiri tapi berusaha menutupi dari pandangan orang, sedangkan orang yang bodoh, sama sekali tidak menyadari kebodohannya sendiri Memandang dari kejauhan, terlihat tujuh titik sinar api di pesisir pantai.
Kwe Po Giok berjalan di muka, Sun Put Ce mengiringi dari belakang, Mereka melangkah dengan perlahan menuju ketujuh titik sinar api tersebut Mata Kwe Po Giok bersinar bagai bintang, Mata Sun Put Ce malah seperti awan kelabu.
-oooo0oooo-Amukan ombak di laut sudah berhenti.
Tempat ini adalah daerah berpasir yang Iuas.
Ombak laut perlahan-Iahan mendorong kedepan, kemudian menarik diri kembali.
Penarikan dirinya seperti tentara yang sedang menyusun kekuatan untuk menyerang kembali, hal ini seperti juga Toa Tek To Hun.
Menyerang, membunuh, mundur, menghilang.
Menyerang kembali dan seterusnya.
Dia terus membunuh hanya karena satu hak "Tidak kalah", Tentunya kata-kata "Tidak kalah!!"
Orang itu harus ditebus dengan darah manusia.
Tidak hentinya menghunus pedang, tidak hentinya darah mengalir dan kematian.
Hanya satu yang merupakan ke-kecualian.
Fang Tiong Seng, Apakah ini merupakan satu-satunya kekecualian di antara korbankorban yang diincar Toa Tek To Hun?
Tujuh titik sinar api makin lama makin mendekat.
Di dalam hati orang-orang Bu-lim, ketujuh titik sinar api ini hampir sama dengan api setan yang sedang menari-nari di neraka.
Tujuh titik api mengelilingi berbentuk lingkaran, Di tengah-tengahnya duduk seorang laki-laki usia setengah baya, wajahnya tidak menunjukkan perasaan.
Tampaknya seperti sebuah patung kayu, atau mungkin merupakan ukiran patung dengan hasil karya yang tinggi sehingga berbentuk manusia?
Kira-kira ada puluhan orang yang berlutut di sekeliling orang tersebut, pakaian mereka aneh-aneh.
Namun kain yang dililitkan di tangan berwarna sama, Sun Put Ce dan Kwe Po Giok mendekat perlahan-lahan.
Sun Put Ce menyenggol Kwe Po Giok sedikit.
"Apakah ini yang disebut Bok lang kun?"
Tanyanya.
"Delapan bagian,"
Sahut si bocah ajaib.
"Apakah dia sanggup melawan Toa Tek To Hun?"
Tanya Sun Put Ce dengan merendahkan suaranya.
"Mungkin dia sendiri juga tidak tahu...."
Sahut Kwe Po Giok.
Para pengikut Bok lang kun mengundurkan diri satu per satu, Setiap orang meninggalkan bungkusan berisi emas permata, sinar api membuat barang-barang tersebut berkilauan, para pengikut itu melihat Sun Put Ce dan Kwe Po Giok.
Kedua orang itu membawa sebuah bungkusan yang cukup besar.
Mereka mengira Sun Put Ce dan Kwe Po Giok juga merupakan para pengikut Bok lang kun, jadi tidak ada yang menanyakan apa-apa.
Penghormatan yang begini hening dan rapi sungguh terlihat sekalipun anak buah Fang Tiong Seng juga tidak sanggup melakukannya.
Pada saat itu, dari balik batu karang muncul belasan orang.
Dilihat sekilas saja sudah dapat ditebak bahwa mereka itu adalah para bajak laut, Keheranan mereka terhadap penghormatan dan upacara yang sedang berlangsung lebih hebat dari pada Kwe Po Giok dan Sun Put Ce.
Mereka tidak pernah begitu hormat kepada seseorang, sehingga mereka agak curiga.
"Apa-apaan ini?"
Tanya orang pertama.
"Mungkin upacara sembahyang para umat agama sesat. Patung kayu itu kemungkinan besar adalah patung kayu yang disembah oleh mereka,"
Sahut orang kedua.
"Tidak perduli bagaimana hebatnya benda tersebut, Pokoknya hanya sebuah patung kayu. Buat apa orang-orang bodoh itu meninggalkan emas permata kepada sebuah patung kayu? Lebih baik buat kita saja!"
Sambung orang ketiga. Orang kedua dan ketiga segera ingin mendekati emas permata yang ditinggalkan para pengikut tadi, namun orang yang pertama mencegah mereka.
"Bagaimana kalian bisa begitu yakin bahwa itu hanyalah sebuah patung kayu?"
Katanya mengingatkan.
"Biar aku yang mencoba,"
Orang ketiga mengajukan diri, kedua rekannya menganggap perbuatannya benar.
Mereka menganggukkan kepala serentak.
Orang ketiga memungut sebuah batu kerikil yang cukup besar, Dengan sekuat tenaga dia menimpuk kepala patung kayu tersebut Batu itu jatuh tepat di atas kepalanya.
Orang itu terlihat senang sekali, Tak!
Suara detak batu tersebut terdengar jelas.
Tidak seperti menimpa ke tubuh seorang manusia, Seakan suara batu yang ditumpukkan pada batang pohon.
Sama sekali tidak bergeming.
Orang ketiga itu tertawa terbahak-bahak.
"Kalau yang kena timpukan batu itu seorang manusia, otaknya pasti sudah berceceran kemana-mana,"
Katanya sombong.
Para rekannya sangat yakin kekuatan tenaga rekan yang satu itu.
Mereka menganggap apa yang diucapkannya memang benar Serentak mereka ikut tertawa keras.
Apalagi orang ketiga itu.
Dia semakin bangga.
Hanya dengan sebutir batu, dia sanggup membuktikan bahwa dewa agama sesat itu hanya permainan orangorang bodoh.
Dia yang pertama-tama masuk ke dalam lingkaran api tersebut Tatapan mata mereka otomatis terpusat pada emas permata yang berserakan.
Tiba-tiba suara tawa mereka sedikit demi sedikit menipis dan akhirnya sirna.
Hal ini membuktikan bahwa tidak percaya setan dengan takut terhadap setan mempunyai perbedaan yang menyolok.
Mata Bok lang kun terbuka lebar, Bola matanya berputar kesana kemari, namun tubuhnya sama sekali tidak bergeming.
Para bajak laut itu tentu saja tidak percaya bahwa patung kayu itu terjaga oleh timpukan batu orang ketiga.
Namun para bajak laut itu tampaknya yakin sekali terhadap tindakannya sendiri, Kepercayaan diri dalam perut mereka terlalu banyak sehingga sulit dicerna.
"Dia bukan patung, tapi manusia,"
Kata orang pertama dengan suara lirih. Orang ketiga yang tadi menimpukkan batu tertawa keras.
"Walaupun dia adalah seorang manusia, dalam sekejap kita bisa membuatnya menjadi setan,"
Katanya takabur.
Ungkapan ini didukung oleh bajak laut yang lain.
Percaya diri adalah kelanjutan dari akal sehat, bukan terburu nafsu, Tapi bajak laut itu tidak mengerti teori ini.
Mereka menyerbu bersama-sama.
Ada yang memakai golok, ada yang memakai pedang, Ada yang dengan tangan kosong dan tendangan kaki Gerakan mereka maju bersama menghantam tubuh Bok lang kun.
Kwe Po Giok terkesiap, Dia tidak dapat menahan diri....
"Hati-hati!"
Teriaknya.
Sun Put Ce tidak bersuara, mungkin dia sudah menduga apa yang bakal terjadi...
atau mungkin juga mati hidupnya Bok lang kun sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.
Teori ini sangat gamblang.
Bila Bok lang kun mati di tangan para bajak laut ini, sudah dapat dipastikan dia tidak sanggup melawan Toa Tek To Hun.
Tapi kalau dia menang, mereka masih sempat memberikan hadiah berupa benda berharga itu kepadanya.
Kwe Po Giok dalam keadaan terkejut berteriak "Hati-hati!"
Tapi teriakan itu tidak membuat Bok lang kun waspada, dia malah memejamkan matanya kembali.
Pada saat itu juga keanehan terjadi di bawah kerubutan golok, pedang dan kaki tangan, Bok lang kun terdengar mendengus sekali.
Tidak sempat terlihat gerakan tubuhnya, namun para bajak laut itu beterbangan ke udara, Tidak perduli berapa tinggi tubuh-tubuh itu mencelat ke udara, tapi setiap tubuh yang terjatuh ke bawah, tidak ada satu pun yang bergerak lagi, mereka semua mati penasaran.
Kecuali riak air di laut dan peletakan suara kayu bakar, suasana sekitar itu hening dan sunyi Kwe Po Giok dan Sun Put Ce yang bersembunyi di balik batu karang menatap dengan mata terbelalak.
Mereka saling memandang sekejap, meskipun keadaan di tempat mereka gelap gulita sehingga tidak dapat melihat sinar mata ma sing-masing, tapi mereka sudah saling mengerti apa yang tersirat didalamnya!
Mata Bok lang kun tiba-tiba terbuka lagi..
"Keluar!"
Bentaknya. Di sekitar Bok lang kun tidak ada seorang manusia pun yang terlihat sadar, Dan dia mengatakan "keluar"
Bukan "berdiri"
Tentu yang dimaksudkan adalah kedua orang di balik batu karang tersebut.
Kwe Po Giok dan Sun Put Ce saling pandang kembali, keduanya berjalan lambat ke hadapan manusia kayu itu.
Mata Bok lang kun sedikit pun tidak mirip kayu.
Malah lebih mirip bintang yang cemerlang, Kwe Po Giok dan Sun Put Ce berdiri pada jarak satu depa di hadapannya.
"Siapa yang berteriak hati-hati tadi?"
Tanya Bok lang kun tajam.
"Saya!"
Baca Juga: Darah Ksatria Harkat Pendekar Khu Lung
Baca Juga: Pendekar Baja 10