Ceritasilat Novel Online

Sukma Pedang 1

Eps 1 Sukma Pedang - Gu Long

Baca online Sukma Pedang - Gu Long

Cersil Sukma Pedang - Gu Long.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.cc/.

Sukma Pedang Karya Gu Long (Khu Lung) Dengan Judul Asli .

Huan Hua Xi Jian Lu Atau Judul Baratnya .

Sword Bathed in Flowers / Spirit of the Sword NB .

Ternyata cerita ini sama dengan cerita Misteri Kapal Layar Panca Warna, tetapi lain penterjemahnya, jadi inti cerita keduaduanya sama, tetapi beda gaya dan alur cerita.

Jilid 01.

Adakah manusia di dunia ini yang belum pernah melihat laut?

Tetapi ada berapa gelintir manusia yang pernah melihat lautan sedang mengganas, ombaknya menggulung tinggi, suaranya menggetarkan jantung?

Kabut menebal...

menghalangi pandanganku, ini adalah sebuah pemandangan yang jarang terjadi, badai mengamuk, menghembuskan angin yang bergulung-gulung.

Dalam cuaca yang begitu mengerikan, mungkinkah ada benda yang dapat mengapung di atas lautan?

Nyatanya...

memang ada.

Ombak yang menerpa tinggi tidak sanggup merobohkannya, tubuh orang yang satu ini berdiri tegak, seakan sebuah batu karang besar yang disandarkan pada tembok yang kokoh.

Mungkinkah yang terlihat ini seorang manusia?

Kadang-kadang bila melihat kejanggalan seperti ini, kalau anda mengatakan bahwa itu pasti hantu...

orang yang percaya mungkin akan lebih banyak.

Apa yang terpampang di hadapan kita sekarang memang demikian adanya.

Orang ini berjalan selangkah demi selangkah menuju tepi pantai.

Ombak yang tinggi menghempas bagian kepalanya dari belakang.

Namun langkah kakinya masih tetap tegar!

Orang ini mengenakan pakaian serba hitam.

Rambutnya yang panjang meriap-riap menutupi sebagian wajah dan menjuntai di bahunya, Di tangannya tergenggam sebatang pedang yang berwarna hitam pekat.

Awal bulan empat...

angin laut selalu bertiup kencang, Dia tidak memperdulikannya, tangannya menggenggam pedang itu erat-erat Membuat siapa pun yakin, seandainya ombak dapat menggulungnya, pedang itu akan tetap menempel di tangannya dan tangannya pun tidak akan lepas dari pedang itu.

Di antara pasir yang menebar di pesisir pantai, terdapat banyak jejak kaki.

Dan jarak antara jejak kaki yang satu dengan yang lainnya persis sama.

Setelah menempuh pesisir pantai yang panjang, di ujung jalan adalah sebuah pelabuhan, jejak kaki orang berbaju hitam yang sangat teratur itu terus memanjang sampai pelabuhan tersebut, jejak kaki itu terlihat samar-samar, tapi mengapa langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun?

Ada orang yang mengatakan bahwa setan atau pun hantu tidak bisa meninggalkan jejak.

Tapi berjalan di atas pasir tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, apakah ada manusia yang sanggup melakukannya?

Bila kita bertemu dengan orang yang suka berdebat, entah persoalan ini akan diributkan sampai berapa lama baru ada jawaban yang pasti....

Sebuah rumah di dekat pelabuhan telah menyalakan penerangan Sebuah lampu yang terbuat dari kristal menghias di atas sebuah meja pualam yang berbentuk aneh, membuat suasana dalam ruangan itu terasa menyeramkan.

Di samping lampu terdapat setumpuk uang emas dan sekotak mutiara, Hek I Jin duduk di meja itu.

Orang ini tampaknya sangat tegar, angin yang mengganas di tengah lautan saja tidak dapat merubuhkannya.

Bila orang itu berdiri, tubuhnya bagaikan sebatang tiang baja yang ditanam dalam-dalam di bawah tanah.

Apa pun tidak menggerakkan tubuh itu....

Pada saat itu, ada seorang manusia yang mendatangi dari balik pelabuhan, Kemunculannya yang tiba-tiba itu tetap tidak membuat Hek I Jin bergeming, sepertinya kedatangan orang ini sudah dapat diduga olehnya.

Bagaimana manusia yang sedang melangkahkan kaki, bila kaki kiri sudah diayunkan ke depan maka tidak dapat tidak, kaki yang kanan harus menyusul dari belakang.

Manusia yang tiba-tiba muncul itu tampaknya lebih tinggi kurus dari yang pertama.

Di bawah cahaya lampu, wajah orang itu sungguh tidak sedap dipandang, namun bibirnya justru sedang mengembangkan sebuah senyuman.

Dan kalau diperhatikan dengan seksama, wajah yang memperlihatkan senyuman yang kaku itu ternyata hanya sebuah topeng.

Suara ombak yang menggelegar terdengar jelas, menerpa batubatu karang yang ada di pesisir pantai Cahaya lampu menari-nari, Manusianyapun tidak berbeda dengan hantu.

Pada saat seperti ini, bila ada orang ketiga yang melihat mereka, siapa yang dapat memastikan bahwa mereka adalah manusia atau hantu...?

Thi Bian Jin mengatupkan kedua telapak tangannya dan diangkat ke atas serta menjura...

"Apakah Toa Tek Siansing?"

Tanya Thi Bian Jin.

"Benar!"

Wajah Toa Tek Siansing itu tetap kaku dan menjawab dengan lantang.

"Sepuluh tahun tidak berjumpa.... Badai kali ini begitu ganas, Kapal-kapal yang berlayar dihancurkannya sampai berkeping-keping, Saya mengira semua penumpang kapal telah mati tenggelam ke dasar lautan, sepanjang perjalanan saya kemari, saya melihat tiangtiang anjungan di pelabuhan patah dan ambruk. Para nelayan pun tidak ada yang terlihat batang hidungnya. Tidak disangka Toa Tek Siansing tetap bisa sampai di sini untuk memenuhi janji."

"Saya bukan manusia. Saya hanya sebuah sukma yang berkelana antara dunia manusia dan alam kematian. Juga bukan sukma manusia, tetapi sukma pedang!"

Katanya dengan suara dingin.

Suaranya begitu berat dan kaku.

Benar-benar tidak mengesankan setengah manusia pun.

Thi Bian Jin memperhatikan Toa Tek dengan seksama, Dari atas kepala dan terhenti di tangan yang menggenggam pedang hitam itu.

Tangan itu tidak berbeda dengan tangan-tangan biasa yang dapat kita temui pada setiap orang.

Tapi tangan yang satu ini menggenggam pedang dengan begitu kencang seakan pedang itu memang tumbuh di tangannya dan tak bisa dilepaskan lagi.

Terhadap apa yang disebut tangan, Thi Bian Jin sangat memandang tinggi.

Tangan yang dimiliki seorang ahli bisa berarti segalanya, Karena alat untuk membunuh orang memang pedang, tapi kehebatan tanganlah yang dapat menggerakkan pedang tersebut.

"Di tempat asalmu ada sebuah pepatah.

"Sebatang pedang Toa Tek, menyapu seluruh Fu Sang."

"Memang bukanlah nama kosong, Kedatangan saya kemari kali ini adalah untuk menyewa pedang di tanganmu itu, Maksudnya agar kau membasmi seluruh ahli dari Tionggoan."

Kata Thi Bian Jin, Tangannya menunjuk ke arah tumpukan uang dan mutiara di atas meja.

"Semua benda-benda ini hanya sebagai rasa hormat saya kepada Toa Tek Siansing, Setelah usaha kita berhasil kekayaan serta kedudukan yang terhormat akan kita rasakan bersama."

Lanjutnya. Toa Tek memperlihatkan sebuah senyuman yang aneh.

"Kau kira aku mau datang untuk semua ini?"

Tanyanya, Tangan kirinya tiba-tiba mengibas, mutiara-mutiara yang ada di atas meja beterbangan di udara, pedang di tangan kanannya berkelebat.

"Seeeeet! sett!"

Di bawah sinar lampu kristal itu, terlihat cahaya yang menyilaukan mata.

Mutiara-mutiara itu jatuh kembali ke atas meja, ternyata telah menjadi dua seluruhnya dan yang mengagumkan adalah belahan mutiara itu rapi sekali, seakan dipotong dengan cara mengukur jarak satu per satu.

Lagipula, mutiara itu baru terbelah setelah jatuh di atas meja.

Gemuruh suara ombak masih terdengar dengan jelas, seandainya kita dapat menutup suara gemuruh itu, suasana di pelabuhan yang telah hancur ini akan menjadi hening seketika.

Mata Thi Bian Jin bersinar sekilas.

Sinar kagum.

"Jadi... apa maksudmu memenuhi undangan ini?"

"Hanya untuk.... Menang!"

Jawab Toa Tek.

"Menang?"

Thi Bian Jin jadi heran dibuatnya.

"Tidak salah! Pedang adalah aku! Aku adalah pedang! Makna sebatang pedang adalah kemenangan! Kelahiranku, kedatanganku, justru untuk kemenangan itu! Menang hidup. Kalah, mati! Tidak ada pilihan yang lain!"

Suaranya tegas sekaIi. Thi Bian Jin tertawa senang.

"Saya percaya kedatangan Toa Tek Sian-sing kali ini dengan perhitungan yang matang, Menyerang harus kena, bertarung harus menang."

"Siapa lawan saya yang pertama?"

Tanya Toa Tek tanpa memperdulikan kata-kata Thi Bian Jin yang bernada pujian itu.

"Saya rasa Tuan sudah mengatur hari-harinya, Lawan pertama anda adalah Chi Siong Kiam Khek dari biara Chi Siong di Lau San...."

Kata Thi Bian Jin menjelaskan.

Sebetulnya bagi Toa Tek, segala macam biara, kuil atau pun partai persilatan, tidak membawa arti khusus.

Fu Sang, tempat asalnya sendiri, semua yang disebutkan tadi dalam waktu sekejap sudah hilang dari ingatannya.

Dia hanya mengharapkan kemenangan.

Kecuali kemenangan, wajah dan mimik orang-orang yang telah dibunuhnya selama ini pun tidak pernah diingatnya.

Hatinya hanya mengingat sepatah kata, kemenangan!

Hal lainnya tidak akan diperdulikannya.

Kalau kita mau mengatakan dengan melihat kenyataan pada dirinya, hidupnya bagaikan sebuah perjudian.

Dan orang yang berjudi tentu selalu mengharapkan kemenangan bukan kekalahan.

Dalam bayangan Thi Bian Jin saat itu, terlihat sudah raut muka Chi Siong Kiam Khek.

Keangkerannya, penampilannya yang penuh wibawa dan tentu saja pintu gerbang biara itu sendiri yang selalu tertutup rapat dan kokoh.

Thi Bian Jin paling tidak suka melihat wajahnya yang selalu ditampilkan sesombong mungkin, bahkan lonceng besar yang berbunyi setiap ada bahaya pun dibencinya.

Oleh sebab itu, Thi Bian Jin sekali lagi menatap pedang hitam yang tergenggam di tangan laki-laki yang ada di hadapannya, tangan dan pedang itu akan membereskan biara Chi Siong dan kewibawaannya, Termasuk lonceng yang menyebalkan itu.

Kebencian adalah sebuah perangkap yang aneh, tapi banyak orang yang tidak menyadari bahwa yang paling sering terperangkap justru diri sendiri bukan orang lain!

Gunung Thai San, tidak terlalu tinggi, pepatah yang mengatakan!

Mendaki puncak Thai San, maka dunia akan terlihat kecil sebetulnya agak berlebihan.

Tapi ketegarannya dan nama besar yang disandangnya selama ini telah menutupi sebagian kekurangannya.

Biara Chi Siong terletak di dekat Go Toa Fu Siong, yang berarti lima tempat terkenal di sekitar Thai San yang mempunyai nama Fu Siong.

Banyak perguruan besar ataupun biara di Bu Lim yang mendengar namanya saja, orang sudah menggidik.

Tiga hurup besar "Biara Chi Siong"

Terpancang di atas pintu, Dengan dasar hitam dan tulisan tinta emas.

Pintu besar itu seperti biasa, selalu tertutup rapat, Cahaya sinar matahari membuat tulisan emas di atas pintu itu berkilauan.

Pada saat itu, sepasang mata yang mengandung sinar tajam memperhatikan huruf di atas pintu itu.

Orang ini masuk dari pintu besar di depan yang bertiang pualam Langkah kakinya begitu kuat dan jaraknya pun tetap.

persis seperti yang terlihat di pesisir pantai tempo hari.

Toa Tek To Hun tidak memandang sebelah mata terhadap pintu besar yang ada di hadapannya, baginya yang tersirat di pelupuk mata hanya kelebatan pedangnya dan darah yang akan mengalir.

Dia tidak pernah membayangkan bagaimana jalannya pertarungan yang sudah di depan mata, dia mempunyai kepercayaan yang tidak dapat diuraikan terhadap dirinya sendiri, paling-paling yang akan didapatinya hanya "kematian".

Tentu saja kematian orang lain, bukan dirinya, Sudah banyak sekali kejadian seperti ini yang dialaminya, Kelebatan pedang lalu mengalir darah dari kening, lawannya rubuh ke tanah dan mati.

Meskipun hal seperti itu sudah dialaminya berulang-ulang, namun dia tidak pernah memandang ringan seorang musuh, sebab dalam hatinya dia tahu bahwa memandang rendah kepandaian seseorang adalah peristiwa yang paling mudah membuat diri kita mengalami kekalahan.

Mungkin pengertian inilah yang membuat diri Toa Tek To Hun belum pernah mengalami kekalahan selama ini.

"Tang... Tang... Tang..."

Suara lonceng yang dibayangkan oleh Thi Bian Jin pun berbunyi nyaring, Toa Tek To Hun bagaikan tidak mendengar lonceng tanda bahaya itu.

Dia tetap melangkah dengan pasti dan yakin.

Baginya hanya satu kata "menang"

Yang harus diperhatikan!

Dia melangkah lagi, Sampai di depan pintu besar itu, kakinya terhenti.

Tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia akan mengetuk rantai bundar berkepala singa di pintu itu.

Bahkan terpikir pun tidak, Dengan cepat dia menghantam pintu itu.

"Braakkk!!!"

Dia sudah tiba di dalam pelataran.

Di pintu yang tadi dilaluinya terlihat cetakan sesosok tubuh manusia.

Rapi seperti baru saja diukir Dan yang menakjubkan adalah di bagian pinggir cetakan sosok tubuh manusia itu tidak terlihat sedikit pun keretakan.

Hal ini bukan hanya dilakukan di biara Chi Siong saja, Di manapun juga dia tidak mempunyai kebiasaan mengetuk pintu, dia bukan sedang memamerkan kekuatannya, tapi sedang memupuk rasa percaya diri di hatinya.

Rasa percaya diri seorang manusia bukan selamanya menyala begitu saja, terkadang seperti sebuah tungku api yang memerlukan tambahan kayu dan minyak.

Tempat Toa Tek To Hun berdiri saat ini adalah ruang pertemuan biara itu, matahari dengan terik menyoroti atap rumah, pohon cemara dan juga tubuh manusianya sendiri, beberapa puluh orang tosu berdiri dengan rapi berbentuk dua barisan.

Toa Tek To Hun dan Chi Siong Kiam Khek berdiri berhadapan Toa Tek To Hun tidak pernah memperhatikan bagian lain dari tubuh lawannya, yang menjadi pusat perhatiannya hanya mata, karena sepasang mata manusia paling mudah membocorkan rahasia hatinya.

Walaupun seseorang pandai sekali menyembunyikan perasaan hatinya, tetapi akan terlihat jelas oleh orang yang mempunyai pengalaman dalam hal ini karena mata digerakkan oleh perasaan hati.

Perasaan tergerak, sinar mata pun berkelebat Kadang-kadang untuk menunjukkan kepura-puraan pun tidak sempat lagi.

Pandangan mata Chi Siong Kiam Khek menelusuri sosok tubuh yang ada di hadapannya, kemudian terhenti di tangan Toa Tek To Hun yang menggenggam pedang hitam itu.

Sebuah tangan yang kokoh dan memancarkan kekuatan.

Seorang pembunuh bayaran bukan saja memerlukan hati yang keji dan mantap, tapi juga memerlukan tangan yang bisa mendukung kepandaian ilmunya.

Selama ini, Chi Siong Kiam Khek belum pernah menemukan kelemahan ilmu pedangnya, sayangnya bila seseorang harus mencari kelemahan dirinya sendiri, sama seperti mencari sebatang jarum di tumpukan jerami, selamanya manusia selalu menganggap diri sendiri sudah cukup sempurna.

Dia hanya pernah kalah satu jurus selama hidupnya.

Dan orang itu adalah seorang tokoh besar yang selamanya hidup di lautan.

Ruangan yang begitu besar dan orang yang demikian banyak, ternyata tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Sejak mengalami kekalahan melawan jago dari lautan itu, Chi Siong Kiam Khek segera pulang dan menutup diri.

Dia mengira kalau dia bisa merubah sedikit lagi jurus yang dimilikinya dan menunjukkan perubahan yang tidak disangka oleh lawan, kelak tentu ada kesempatan untuk menebus kekalahan itu.

Satu hal yang tidak disadari olehnya, Bila dia dapat melatih diri untuk mencapai kemajuan, apakah orang lain tidak dapat melakukan hal yang sama?

"Apakah anda yang disebut Lau San Chi Siong?"

Tanya Toa Tek To Hun.

"Betul!"

Jawabnya mantap.

"Kalau betul, kau harus mati!"

Perasaan Chi Siong Kiam Khek sulit dijelaskan.

Dengan pengalaman selama berpuluh tahun, hatinya sudah tidak mudah dibuat terkejut lagi.

Tapi bila kematiannya harus ditentukan oleh orang lain, mau tidak mau Chi Siong Kiam Khek terkejut juga mendengar sesumbar orang yang satu ini.

"Aku harus mati?"

Suaranya terasa dingin sekali.

Terdengar suara tertawa anak buahnya yang menganggap perkataan Toa Tek To Hun tidak masuk akal dan lucu sekali.

Dalam hati mereka, menganggap laki-laki yang ada di dalam ruangan itu sungguh tidak tahu diri.

Padahal kematiannya sendiri sudah di depan mata.

Anak buah Chi Siong Kiam Khek hanya tahu bahwa Koan-cu mereka belum pernah terkalahkan selama ini dan seorang laki-laki yang sama sekali tidak terkenal, berani mengatakan bahwa guru atau pun majikan mereka akan mati di bawah pedangnya.

"Betul sekali!"

Jawab Toa Tek To Hun dengan yakin.

Chi Siong Kiam Khek adalah seorang manusia yang mempunyai banyak pergaulan, dia juga pernah melukai orang ataupun membunuhnya.

Dia mengerti sekali bagaimana penampilan seseorang sebelum melukai atau membunuh musuhnya, Semakin tenang pembawaan seseorang sebelum melakukan pembunuhan semakin banyak kemungkinan menang yang akan diraihnya.

Apa yang terlihat pada diri Toa Tek To Hun persis seperti yang digambarkan olehnya, memang ketenangan dan keyakinan merupakan kunci keberhasilan seorang pembunuh bayaran.

"Mengapa kau ingin membunuh aku?"

Tanya Chi Siong Kiam Khek dengan datar.

"Hanya satu alasan, yaitu ingin menguji ketajaman pedang ini!"

Jawab Toa Tek To Hun sambil mengacungkan pedangnya.

Melihat cara bicara lawan di hadapannya, Chi Siong Kiam Khek dapat merasakan bahwa Toa Tek To Hun sama sekali tidak ragu kalau-kalau ia akan mengalami kekalahan.

Anak murid Chi Siong Kiam Khek tidak senang mendengar nada bicaranya yang congkak.

Mereka segera mengambil posisi mengurung, Chi Siong Kiam Khek melambaikan tangannya, memberi tanda agar mereka tidak boleh bertindak apa-apa, meskipun dia tahu bahwa lawan yang berani datang menemuinya tentu mempunyai pegangan tapi siasat seperti itu sudah lama diketahuinya.

Siasat menggertak supaya lawannya ciut dulu nyalinya, tentang hal ini tentu saja Chi Siong Kiam Khek jauh lebih memahami dari anak muridnya.

"Bersiap-siaplah!"

Kata Toa Tek To Hun.

Pedang digenggam dicabut dari sarungnya, lalu dihunus dan akhirnya masuk kembali ke dalam sarung, Gerakan ini sudah biasa, tetapi dapat menimbulkan kesan antara ada dan tiada.

Sinar pedang menyilaukan...

Chi Siong Kiam Khek juga sudah menghunus pedangnya.

Tidak ada yang mengatakan bahwa gerakan pedang laki-laki itu belum cukup cepat, paling tidak bagi anak muridnya, Tapi, meskipun jarak antara kelambatan dan kecepatan hanya sedikit sekali, reaksi yang ditimbulkan justru besar sekali perbedaannya.

Di antara kedua belah alis mata Chi Siong Kiam Khek ada garis luka yang memanjang.

Darah segar memercik dengan deras dan tubuhnya pun jatuh ke tanah.

Bagi anak muridnya, Toa Tek To Hun malah belum terlihat menghunuskan pedangnya, orang yang dapat melihat dia menghunuskan pedangnya dan mengayunkan ke arah musuh dan memasukkan kembali ke sarungnya, sudah terhitung memiliki kemampuan luar biasa.

Anak murid Chi Siong Kiam Khek gempar seketika.

sepertinya sekarang mereka baru sadar bahwa ketiga kata "Kau harus mati"

Yang diucapkan Toa Tek To Hun bukan main-main.

Juga baru sadar bahwa Koan cu mereka benar-benar sudah mati.

Tapi sembilan dari sepuluh anak murid biara itu yakin kalau koan cu mereka mati bukan karena ketinggian ilmu pedang Toa Tek To Hun, tapi dengan semacam ilmu sihir.

Suara hunusan pedang dan golok memekakkan telinga.

Mereka segera mengurung Toa Tek To Hun dan bersiap-siap menyerangnya.

"Kalian masih belum pantas membuat aku menghunus pedang ini. Mundur!"

Bentakan itu sangat berwibawa.

Anak murid Chi Siong Kiam Khek selamanya tidak pernah mendengar perintah orang lain.

Tapi apa yang diucapkan oleh Toa Tek To Hun bukanlah perintah, namun seperti semacam mantera pengampunan.

Mereka tidak bergerak, Hati mereka merasa malu.

Pedang di tangan guru mereka masih tergenggam erat-erat, tetapi manusianya sendiri sudah mati, Dan dari matanya yang membelalak dapat dipastikan bahwa sebelum kematian menjemputnya, dia terkejut sekali.

Chi Siong Kiam Khek adalah seorang yang mempunyai nama besar di Bulim.

Dalam satu jurus roboh bermandikan darah, peristiwa ini kalau sampai tersebar di luaran, entah apa akibatnya?

Bila saja dia yang sudah memperhatikan keyakinan Toa Tek To Hun, tidak terlalu menganggap dirinya sendiri tinggi, mungkin dia juga tidak akan mengalami kekalahan yang begini mengenaskan.

"Ingat baik-baik.... Aku bernama Toa Tek To Hun!"

Kata-kata itu diucapkan sepatah demi sepatah seakan ingin orang-orang yang mengelilinginya dapat mendengar dengan jelas, setelah itu dia membalikkan tubuh dan melangkah keluar.

Perjalanannya kali ini telah menunaikan tugasnya dengan baik.

Segala kesedihan, kemarahan, kekesalan hatinya telah ditumpahkan pada diri Chi Siong Kiam Khek.

Seorang pembunuh bayaran tidak pernah memikirkan bagaimana dan apa yang terjadi setelah lawannya dibunuh, juga tidak memikirkan bagaimana perasaan para keluarga yang ditinggalkannya, pelajaran pertama yang harus diketahui oleh seorang pembunuh bayaran ialah bagaimana menahan perasaan hati dan mencapai kemenangan.

Karena bila dirinya tidak berhasil memenangkan pertandingan maka hanya matilah jalan keluar baginya, bukan hanya seorang pembunuh bayaran saja yang harus mengetahui peraturan ini, juga sebagian besar jago-jago Bulim harus memahaminya.

Langkah kaki Toa Tek To Hun di atas batuan hijau di sepanjang jalan keluar gedung itu masih tercetak rapi.

Butiran debu yang dihasilkan pijakan kakinya ikut beterbangan menyertai kegelisahan di hatinya.

Apa yang membuat dia tertarik untuk melakukan tugas bagi Thi Bian Jin, bukanlah imbalannya, Tapi sebuah kata "menang".

Bukan pula mutiara-mutiara yang telah dibuatnya menjadi dua bagian, yang dikhawatirkan olehnya justru apabila tidak ada lagi lawan yang sesuai untuk bertanding melawannya.

Tidak ada lagi kemenangan yang dapat memuaskan hatinya, Karena kemenangan yang ingin diraihnya adalah kemenangan yang cukup berarti, yaitu dengan lawan yang cukup pantas untuk mati di bawah pedangnya.

Bagaikan seorang pemain sandiwara di atas panggung, bila mereka sudah terlalu banyak memainkan peranannya, yang dibutuhkan bukan lagi imbalan yang akan diperoleh tapi tepuk tangan yang gemuruh.

Dia selalu percaya bahwa kepastian untuk dirinya sendiri jauh lebih penting dari kepastian orang lain, Toa Tek To Hun memandang lekat-lekat pedang yang tergenggam di tangannya, Pedang itu juga mempunyai kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Pedang adalah dirinya.

Dan dirinya adalah pedang itu.

Mereka telah lama menyatu.

Pedang yang selalu menang dan tak pernah mengenal kata "kalah", Bagaimana mungkin pedang seperti ini tidak mempunyai kepercayaan diri yang besar?

Dari arah belakang, sayup-sayup terdengar tangisan yang pilu, Dia selamanya tidak pernah terharu mendengar suara seperti itu.

Dia yakin bahwa pencipta alam semesta ini selalu demikian, dia menghadapi orang yang tertawa dengan tertawa dan menghadapi orang yang menangis dengan tangisan.

Dia tertawa dengan nada suara yang aneh ketika mengangkat kepala untuk melihat tiga tulisan berhuruf emas di atas pintu itu.

Seorang pembunuh juga mempunyai rasa bangga.

Apalagi dapat membunuh lawannya di kandang orang itu sendiri.

-ooo0ooo-Lu Chi adalah nama daerah yang sekarang dikenal dengan nama Shan Tiang, Di antara rimba pohon Su terdapat telaga Wei San.

Hui Sian Ceng terletak di tengah telaga ini.

Pat Sian Kiam tinggal di dalamnya, Hui Sian Ceng atau perkampungan Hui Sian dan pemiliknya Pat Sian Kiam alias si Pedang Delapan Dewa sangat terkenal di Bulim.

Namanya masih di atas Chi Siong Kiam Khek, tempat tinggalnya pun jauh lebih luas.

Hari ini cerah dan sejuk.

Dalam udara seperti itu, orang-orang yang tinggal di dalam Hui Sian Ceng tidak akan menduga akan datangnya awan kelabu.

Toa Tek To Hun selalu berjalan dengan penuh keyakinan dan tenaga yang kuat, keyakinan dan tenaga kaki yang kuat bila melangkah, akan menunjukkan bagaimana tingginya ilmu orang yang mempunyainya.

Pintu gerbang Hui Sian Ceng sudah terlihat olehnya, Bibir Toa Tek To Hun mengulum senyum tipis, pikirannya melayang ke Thi Bian Jin yang mengatakan bahwa lawannya yang kedua adalah Ceng Cu atau pemilik perkampungan dari Hui Sian Ceng, Pat Sian Kiam Lie Ceng Hong.

Pintu gerbang yang satu ini juga tertutup rapat.

Dalam hati Toa Tek To Hun sadar, bila dirinya mengalami kekalahan pasti dia akan menerima kematian, Tapi selamanya dia tidak mencemaskan dirinya akan mengalami kekalahan dan otomatis kematian pun tidak pernah terbayangkan olehnya.

Yang pasti dia yakin, manusia tidak ada yang dapat hidup setelah nyawa meninggalkannya.

Toa Tek To Hun percaya kalau saat ini Pat Sian Kiam masih belum mendengar tentang kematian Chi Siong Kiam Khek, Andaikata dia sudah mendengar pun, pasti tidak akan menyangka kalau orang itu dapat mati dalam keadaan yang memalukan.

Orang-orang di Biara Chi Siong juga tidak mungkin menyebarkan berita bahwa Koan Cu mereka mati dalam satu jurus saja.

Manusia hidup memerlukan nama baik, manusia yang sudah mati pun mementingkan hal itu.

Toa Tek To Hun melangkah mendekati pintu gerbang.

Dan sekejap kemudian pintu besar itu telah membuka cetakan sesosok tubuh manusia.

Bagi Lie Ceng Hong, orang yang datang ke perkampungannya untuk mengadu ilmu ataupun memohon menjadi anak muridnya adalah hal yang tidak mengherankan lagi.

Peristiwa ini sudah terjadi sebanyak tujuh kali dan semuanya meninggalkan tempat ini dengan kepala ditundukkan.

Usia orangorang ini hampir sebaya dengan Toa Tek To Hun.

Semuanya tidak lebih dari tiga puluh lima tahun.

Lie Ceng Hong tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengalahkan orang-orang itu.

Tidak lebih dari lima belas jurus.

Oleh sebab itu, Lie Ceng Hong tidak begitu mengambil hati tamu yang datang tanpa diundang ini.

Mereka berdiri berhadapan.

Dalam benaknya Lie Ceng Hong selalu tidak habis mengerti.

Apakah orang-orang ini kekurangan pekerjaan sehingga nyawa dan nama baik pun tidak diperdulikan lagi?

"Siapa nama besar tuan ini?"

Tanya Lie Ceng Hong tanpa memandang sebelah mata.

"Toa Tek To Hun!"

Jawab yang ditanya. Mendengar nada yang pasti dan yakin itu, kening Lie Ceng Hong agak berkerut.

"Ada urusan apa kau mencariku?"

Tanyanya.

"Aku menginginkan kematianmu!"

Jawab Toa Tek To Hun dengan tegas.

Lie Ceng Hong tertawa datar, Kata-kata ini sungguh asing di telinganya.

Bahkan seumur hidupnya, baru pertama kali inilah dia mendengar ada orang yang mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya.

Tentu saja Lie Ceng Hong mengerti, dirinya tidak boleh kalah gertak dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini.

"Anak ingusan dari mana yang berani membuka mulut besar di hadapanku?"

"Lihat saja kenyataannya!"

Jawab Toa Tek To Hun dengan suara yang tidak kalah kerasnya.

Sinar pedang membuat ruangan itu tiba-tiba menjadi dingin, Belum lagi laki-laki itu sempat mencernakan jawaban yang diberikan oleh Toa Tek To Hun, dirinya sudah limbung dan roboh ke tanah.

Di bagian dahinya terlihat garis memanjang.

Darah mengucur seperti air sungai, Kata "cepat"

Apa pun di dunia ini tidak dapat melukiskan apa yang telah terjadi.

"Kecepatan"

Merupakan pokok terpenting dalam ilmu silat.

Bila tidak dapat melaksanakannya maka hal lain pun tidak perlu diungkapkan lagi, Anak murid Lie Ceng Hong memandang dengan terpana.

Untuk sesaat mereka lupa menghunus pedang dan membalaskan kematian Ceng Cu itu.

Bayangan hitam dengan rambut panjang yang terurai melintas di hadapan orang-orang itu.

Mereka tersadar seketika, Langkah Toa Tek To Hun sudah mencapai pintu gerbang, Tidak ada orang yang mencoba menghalanginya, Hanya terdengar suara panik dan ramai membicarakan dirinya...

"ltu pasti ilmu siluman, Bukan ilmu pedang sejati!"

Kata-kata itulah yang tertangkap oleh telinganya dan kata-kata itu juga yang sering didengarnya ketika ia masih berada di tanah asalnya yaitu Fu Sang alias Jepang.

Dalam hatinya ia merasa kecewa, Rupanya para Ko Chiu di Tionggoan hanya begini saja, Benar-benar nama yang menyesatkan orang, Mungkin bila orang-orang ini tidak mempunyai nama demikian besar, dia pun tidak akan menerima permintaan Thi Bian Jin untuk membunuh mereka.

-ooo0ooo-Bagian Dua Hari ini berbeda dengan hari kemarin, Angin bertiup dengan kencang, Hujan turun dengan deras.

Hari yang sungguh tepat untuk membunuh seseorang "Gelang Berantai"

Chao Hui Peng adalah seorang jago Bulim di Tionggoan.

Namanya lebih tinggi setingkat lagi di atas Chi Siong Kiam Khek maupun Pat Sian Kiam Lie Ceng Hong.

puluhan tahun belakangan ini, di Bulim ada sebuah nyanyian yang mengatakan "Gelang Berantai dikeluarkan, enam iblis disapu bersih."

Nyanyian itu bermaknakan kejadian dua puluh tahun yang silam.

Ketika itu dia mencari enam orang iblis yang sangat jahat dan menggemparkan dunia persilatan, meski pun dirinya mengalami luka yang tidak ringan, namun enam orang iblis itu pun terbasmi di bawah pedangnya.

Sejak itulah Gelang Berantai Chao Hui Peng menjadi terkenal Tidak ada orang yang berani mencari perkara dengannya.

Di telinga Toa Tek To Hun kembali terngiang kata-kata yang diucapkan oleh Thi Bian Jin.

"Lawan ketiga adalah Gelang Berantai Chao Hui Peng.... Chao Hui Peng... Chao Hui Peng...."

Di tempat kediaman Chao Hui Peng juga ada sebuah lonceng besar, Bila terjadi suatu urusan besar, maka lonceng itu akan berbunyi.

Sekarang, semua anak murid, keluarga, maupun para pelayan sedang berkumpul di ruang depan.

Lonceng sudah dibunyikan sebanyak dua belas kali sebagai tanda bahwa seluruh anggota keluarga itu harus berkumpul.

Toa Tek To Hun dan Chao Hui Peng sudah berdiri berhadapan Laki-laki itu berusia kira-kira lima puluh tahun.

Banyaknya pengalaman menghadapi pertempuran membuat laki-laki ini tidak berani menganggap enteng semua lawannya.

Matanya memperhatikan Toa Tek To Hun dari atas kepala dan berhenti di tangan yang menggenggam pedang itu.

Tangan dan pedang inikah yang telah membunuh Chi Siong Kiam Khek dan Pat Siam Kiam Lie Ceng Hong?

Tangan yang istimewa dipadukan dengan pedang yang juga istimewa barulah dapat menyebabkan peristiwa yang dalam sekejap menggegerkan rimba persilatan itu.

Manusia bagaimanakah yang sedang berdiri di hadapannya sekarang?

Mungkin pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan selembar nyawa.

"Aku sudah mengetahui bahwa di dunia persilatan muncul seorang sepertimu!"

Katanya memulai pembicaraan.

"Aku mengucapkan selamat bagi dirimu, karena yang lainnya mati tanpa mendengar nama lawannya!"

Kata Toa Tek To Hun dengan wajah kaku.

"Oh ya?"

Tanya Chao Hui Peng.

"Betul, Dengan demikian kau dapat mati dengan mata meram"

"Sombong betul!"

Kata Chao Hui Peng tajam.

"Sombong itu perlu asal pada tempatnya, Dan aku memang pantas menyandang kesombongan ini!"

"Apakah Chi Siong Kiam Khek dan Lie Ceng Hong berdua mati di tanganmu?"

"Benar."

Jawab Toa Tek To Hun tanpa menampilkan perasaan apa-apa.

"Berapa jurus yang kau perlukan untuk merobohkan mereka?"

Tanya Chao Hui Peng penasaran "Lebih baik tidak usah disebutkan karena kau tidak mungkin percaya...."

Jawaban itu membuat Chao Hui Peng tambah penasaran "Coba katakan"

"Boleh dikatakan hanya setengah jurus...."

Jawabnya tenang.

"Kau mengoceh yang bukan-bukan!"

Bentaknya marah.

Chao Hui Peng telah membuat kesalahan besar.

Dalam suatu pertarungan besar.

Hal yang paling utama adalah harus dapat menahan emosi.

Lagipula seorang yang tidak mempercayai bahwa dengan hanya mempergunakan setengah jurus dapat membunuh orang, belum pantas disebut Ko Chiu, menandakan ilmunya belum cukup tinggi dan pengetahuannya dangkal seseorang yang belum mengetahui bahwa dalam setengah jurus dapat membunuh, bagaimana mungkin dapat menahan serangan setengah jurus itu?

Tangan Toa Tek To Hun menggenggam pedangnya erat-erat, Chao Hui Peng belum memperhatikannya.

otaknya masih dipenuhi kata-kata setengah jurus tadi, sungguh mati dia tidak percaya jika hanya dalam setengah jurus dapat merobohkan lawan.

Tentu yang dimaksudkan adalah seorang Ko Chiu melawan seorang Ko Chiu juga.

Mungkin jago yang berasal dari tengah lautan itu pun tidak dapat melakukannya.

Toa Tek To Hun selamanya belum pernah menjelaskan hal ini kepada lawannya, juga tidak memaksa mereka untuk percaya.

Kenyataan dapat membuktikannya sendiri....

Gerakan pedang yang tidak tampak telah menembus dahinya.

Begitu melihat sinar yang menyilaukan, Chao Hui Peng segera bermaksud menghindar, belum sempat hal itu dilakukannya, rasa dingin telah sampai di antara kedua alis matanya.

Pada saat itu, otaknya masih sempat mengingat dua patah kata "setengah jurus".

Orangnya rubuh ketanah, Gelang Berantai bergelindingan jatuh.

-ooo0ooo-Hujan tanpa angin Awal musim panas.

Toa Tek To Hun menyusuri gang kecil.

Walau pun jalan besar atau gang sempit, langkah kakinya tetap teratur jarak jejak yang ditinggalkannya tetap sama, Kelihatanya mudah tapi untuk melaksanakannya tidak semudah orang yang hanya melihat.

Tanpa latihan yang tekun dan keras, siapa pun jangan harap dapat melakukannya.

Air hujan membasahi rambutnya yang panjang, juga baju dan seluruh tubuhnya.

Dia merasakan kesejukan disertai rasa puas yang dalam, otaknya sekali lagi mengingat ucapan Thi Bian Jin...

"Lawan keempat adalah Golok Emas Pheng Hou. Lawan kelima adalah Telapak Besi Lim Peng. Lawan keenam adalah It Kuan Pit, nama sejenis senjata yang bentuknya berupa pinsil yang terbuat dari baja, Cung Tao. Lawan ketujuh adalah Peluru Pengejar Sukma Cin Tiong...."

Golok Emas Pheng Hou juga sudah dirubuhkan olehnya, tidak mungkin terjadi hal yang tidak diinginkannya, Toa Tek To Hun selalu penuh keyakinan, yang pasti pedang dihunuskan dan lalu dikembalikan ke dalam sarungnya.

Dia tidak pernah mencoba menghapuskan sisa darah lawannya, Karena kecepatannya, maka darah yang tersisa pun hampir tidak ada.

Wajah Thi Bian Jin terus melintas di benaknya, Sejumlah Ko Chiu yang tergores oleh pedangnya juga melintas terus.

Dari Telapak Besi Lim Peng sampai Peluru pengejar Sukma Cin tiong, Apa yang membuat dirinya kurang puas adalah waktu yang diperlukannya untuk membunuh orang-orang itu terlalu singkat justru waktu untuk merenungi diri sendiri terlalu panjang.

Satu persatu lawannya roboh.

Di dalam Bulim pun tersiar katakata "Manusia ombak dari Fu Sang, merobohkan lawan setengah jurus"

Dan masih banyak lainnya lagi yang kurang meyakinkan.

Cin Thiong yang terakhir pun mengalami hal yang tidak berbeda.

Langkah kaki di tanah teratur dan bergetar.

Beribu kali pertarungan yang telah dialaminya, semua lawannya roboh dengan luka memanjang di kening, tidak pernah di tempat yang lain.

Apakah dia tidak akan berhenti membunuh?

Tentu saja tidak, Thi Bian Jin tidak akan meminta Toa Tek To Hun membunuh orangorang yang tidak berharga, Dan ada berapa orangkah manusia di dunia ini yang pantas mati di bawah pedangnya?

Para pendekar di Bulim merasa diri mereka sedang terancam bahaya besar, namun ternyata tidak ada yang mempunyai pikiran untuk bergabung dan melawannya.

Kalau dipikir-pikir memang nama besar sering menyesatkan manusia.

Para keluarga pendekar yang mati di tangannya juga tidak mau mengumpulkan kekuatan untuk membalas dendam kepadanya.

Sejak menjadi pembunuh bayaran, tidak ada manusia yang bergaul ataupun bercakap-cakap dengannya, Dia selalu sendiri, kesepian, kesal dan kadang-kadang benci terhadap dirinya sendiri.

Namun hidup ini terus dilaluinya, Toa Tek To Hun tidak pernah berpikir untuk berganti profesi.

Tentunya hendak mengganti profesi pun tidak mungkin berhasil.

Manusia dari segala macam kalangan, bila hendak mengganti suatu pekerjaan yang telah ditekuninya sekian lama, delapan di antara sepuluhnya tidak akan berhasil.

Ratarata mereka kembali menggeluti pekerjaan semula.

-ooo0ooo-Malam berkabut di sebuah kuburan umum, Angin bertiup menggoyangkan ilalang yang tinggi.

Suara jangkrik dan burung hantu bersahutan laksana sebuah nyanyian yang memilukan.

Di tengah pekuburan itu terdapat sebuah tanah kosong, dengan langkahnya yang teratur Toa Tek To Hun menyusuri tanah kosong itu.

Kecuali gemerisik langkah kakinya, suara jangkrik dan burung hantu, kesunyian terasa mendirikan bulu roma.

Tiba-tiba di kuburan yang penuh dengan kabut dan kesepian yang mencekam itu, muncul setitik sinar, Toa Tek To Hun seakan mengenal sekali sinar terang itu.

Kesunyian malam, kabut dan tanah kosong, sungguh merupakan tempat yang tepat untuk pertemuan para setan dan iblis.

Tapi dia selamanya tidak pernah merasa takut terhadap keadaan ini.

Dia adalah seorang ahli perubahan manusia menjadi setan, Mungkin bila setan yang bertemu dengannya, mereka juga akan mundur tiga langkah.

Masih lampu kristal yang sama.

Toa Tek To Hun berjalan mengikuti titik terang itu, Sampai di depannya, dia berhenti.

Di samping lampu kristal yang diletakkan dekat kuburan, terdapat setumpuk uang kertas dan batangan emas.

Dia berdiri di depan batu nisan, Thi Bian Jin keluar dari balik kuburan tersebut.

Dia menjura dalam-dalam, seakan orang yang ada di hadapannya adalah kaisar kerajaan besar, Toa Tek To Hun tidak menanggapinya, Dia berdiri tegak tak bergeming.

"Dalam tiga bulan ini tuan sudah memenangkan tujuh belas kali pertarungan. Dalam dunia Kangouw sudah ada tujuh belas orang Ko chiu mati di bawah pedang Sian-sing dan nama Toa Tek To Hun telah menggetarkan dunia persilatan. Benar-benar suatu berita yang patut dirayakan...."

Kata Thi Bian Jin tertawa senang.

Toa Tek To Hun sama sekali tidak berminat untuk ikut tertawa, Thi Bian Jin mengeluarkan sebuah guci emas dan cangkir yang terbuat dari emas juga.

Dia menuangkan arak ke dalam cangkir tersebut.

"Saya ingin menghormati tiga cawan arak untuk Siansing!"

Katanya.

"Saya tidak minum arak!"

Jawabnya dengan nada dingin.

"Sama sekali tidak pernah?"

Tanya Thi Bian Jin heran. Mungkinkah ada laki-laki yang tidak minum arak di dunia ini? "Pedang hanya minum darah, tidak minum arak, Aku adalah pedang, pedang adalah aku!"

Ujarnya tegas.

Thi Bian Jin seakan sudah menduga akan mendapat jawaban ini.

Dia meneguk cawan di tangannya sampai kering, mungkin dia ingin minum arak itu tidak terdapat apa-apa, atau hanya ingin mengobarkan perasaan puas dalam hatinya.

Meskipun yang membunuh para pendekar itu bukan dirinya, tetapi menang atau kalah mempunyai sangkutan yang dalam dan berarti baginya.

Dapat dikatakan bahwa dia sama sekali bukan mengkhawatirkan mati hidup Toa Tek To Hun, melainkan usahanya sendiri apakah dapat berjalan lancar sesuai rencana.

"Pertarungan Siansing besok adalah sebuah pertarungan yang menentukan. Lawan Siansing merupakan seorang jago besar, Namanya Tionggoan taihiap Fang Tiong Seng, jurus Telapak Bangau, Pedang Sayap Bangau, serta tiga belas perubahan Bangau Terbang disebut sebagai Bu Lim Sam Kiat atau Tiga jago dunia persilatan, jurus-jurus itu bila dikeluarkan seperti tiga orang yang memainkannya. Dalam dua puluh tahun terakhir ini, enam puluh lebih pertandingan telah dilakukannya. Belum pernah sekalipun Tionggoan taihiap atau Pendekar besar dari Tionggoan Fang Tiong Seng mengalami kekalahan,"

Kata Thi Bian Jin menjelaskan.

"Kali ini dia harus kalah!"

Ujar Toa Tek To Hun tanpa memperlihatkan mimik yang berubah.

"Siansing lebih baik berhati-hati...."

Thi Bian Jin menasehatinya.

"Tidak perduli siapa pun lawan saya, selamanya saya selalu berhati-hati, Anda tidak perlu khawatir Karena saya hanya boleh menang, tidak boleh kalah,"

Ujar Toa Tek To Hun. Thi Bian Jin menarik nafas panjang.

"Siapa pun yang dapat meyakinkan diri seperti Siansing, tidak akan pernah mengalami kekalahan lagi."

Toa Tek To Hun tidak menanggapinya.

Kebanyakan para cukong yang menyewa akan mengucapkan kata-kata itu.

Paling tidak, dirinya harus mempertahankan hidup baru dapat selalu mendengar ucapan ini.

Andaikata dia mati, cukong itu akan tetap hidup.

Tanpa nyawa, waktu masih terus berputar Toa Tek To Hun meraba pedangnya dengan penuh kasih sayang.

Mungkin di dunia ini hanya pedang itu yang mengerti perasaannya.

Tidak perduli siang hari atau pun tengah malam, di musim salju atau pun musim panas, pedang itu tidak pernah berpisah dengan dirinya.

Hubungan batin antara Toa Tek To Hun dan pedangnya bukanlah sesuatu yang dapat dijelaskan dengan kata-kata, hanya perasaan yang dapat mengungkapkannya.

Apalagi bila sedang menghadapi sebuah pertarungan, hubungan dirinya dengan pedang itu bagaikan seorang manusia dengan nyawanya.

Pedang itu memberikan kepercayaan diri yang besar sekali, dan juga memberikan kekuatan yang tidak tertandingi.

Meskipun selama ini dia terus mendapat tawaran dan pekerjaan dari para cukong untuk membunuh seseorang, tapi di dunia ini orang yang paling dipandang hina olehnya justru adalah para cukong ini.

Baginya, mereka adalah sebangsa manusia pengecut yang hanya berani membunuh orang dengan kekuasaan dan uang, tidak pernah berani menghadapi sendiri musuh-musuhnya.

Bahkan identitas merekapun ditutupi sedemikian rupa, sehingga Toa Tek To Hun tidak pernah mengetahui siapa diri cukong-cukong itu sebenarnya, namun dia memang tidak ingin mengetahuinya, yang penting baginya adalah lawan yang pantas, dan kemenangan.

Thi Bian Jin menuangkan arak lagi dalam cangkir emas itu.

"Saya ingin menghormat Siansing dengan arak ini untuk mengucapkan semoga sukses!"

Kata Thi Bian Jin.

"Kata-kata yang sudah penah diucapkan, tidak ingin saya ulangi berkali-kali,"

Ujarnya tanpa perasaan Toa Tek To Hun pun meninggalkan Thi Bian Jin yang masih terlongong-longong dengan cawan arak di tangan...

-ooo0ooo-Musim kemarau mulai menjelang, malam terasa panas.

Bintangbintang memenuhi cakrawala, beberapa ekor kunang-kunang menari-nari.

Rumah keluarga Fang adalah sebuah bangunan besar model kuno, tanahnya luas sekali.

Fang Tiong Seng sehari-harinya terkenal sangat ramah dan mudah bergaul.

Orangnya bijaksana, tidak segan menolong siapa saja.

Namanya bukan hanya berkumandang di dunia persilatan bahkan di dusun-dusun kecil pun, banyak rakyat yang menghormatinya.

Manusia semacam ini juga dapat diincar bahaya kekalahan?

Berapakah manusia ini yang tidak takut akan kematian?

Katakata.

"Melihat kematian seperti pulang ke rumah", hanyalah berlaku untuk orang yang sudah ditakdirkan harus mati dan selama hidupnya segala macam telah tercukupi. Saat ini ruangan besar dalam rumah Fang Tiong Seng terang sekali, lilin-Iilin yang besar dan lampu minyak bertebaran di seluruh ruangan itu. Fang Tiong Seng berwajah persegi, Telinganya besar, penampilannya berwibawa, Setiap orang yang meIihatnya dapat merasakan kepercayaan dirinya yang tebal dan kehormatan yang dimilikinya. Dia duduk tegak di sebuah bangku besar berbentuk singa dan terbuat dari batu pualam, Tapi dari pakaiannya, ia membawa kesan sederhana. Kata sederhana itu sama sekali tidak merendahkan derajat dan kewibawaannya. Usia empat puluh delapan tahun adalah masa paling gemilang bagi seorang pendekar besar, juga masa di mana ilmunya sudah terlatih dengan matang. Orang seperti ini, mestinya bahagia sekali, Nyatanya dia memang bahagia, paling tidak dalam hati kecilnya, karena masa depan dan usahanya menunjukkan kecerahan. Namun saat ini, dia tidak terlihat bahagia, Murid-muridnya, Mo Put Chi alias Mo yang tak kenal kalah dan Hu Put Chiu atau Hu yang tak pernah sedih berdiri di sisi kiri kanannya. Putra sahabat lainnya, Kwe Po Giok berdiri di sebelah kiri depan, pemuda itu mengenakan pakaian berkabung, puluhan pengawal berbaris di kedua sisi. Di dalam ruangan sunyi sekali sehingga percikan lilin pun dapat terdengar dengan jelas. Tangan kiri Kang Tiong Seng menggeng-"menjatuhkan para ko chiu? Mungkin ini merupakan peristiwa yang paling menggetarkan, menggidikkan, menakutkan di dunia persilatan selama ini! siapakah manusia ini? Pedang apa yang digunakannya? Dari perguruan mana asalnya? Seorang manusia tidak mungkin langsung menjadi seorang ahli pedang tanpa ada yang mendidik? Selama bertahun-tahun, baru kali ini para murid dan anak perguruannya melihat Fang Tiong Seng begitu bingung dan tertekan,ingin rasanya mereka berbagi duka dengan sang guru, meskipun tubuh harus hancur dan tulang belulang harus berantakan. Wajah Fang Tiong Seng menoleh ke arah Hu Put Chiu.

"Kau sering bergerak di dunia Bulim. Kawan-kawanmu paling banyak, Apakah dulu kau pernah mendengar nama orang ini?"

Tanyanya.

"Sampai saat ini, orang-orang di dunia kangouw tidak ada yang tahu dari perguruan mana dia berasal. Bahkan jurus yang digunakannya pun tidak di kenal. Hanya mereka tahu bahwa orang ini berasal dari Fu sang. Dia ingin membunuh seluruh ko chiu di Tionggoan!"

Jawab Hu Put Chiu.

"Bila demikian, cepat atau lambat dia pasti akan mencari aku!"

Kata Fang Tiong Seng dengan nada dingin.

"Pada waktu itu, berarti kematiannya pun tiba!"

Tukas Mo Put Chi.

Orang yang satu ini sesuai sekali dengan namanya, Mo yang tidak kenal kalah.

Dia paling membanggakan gurunya, Tidak pernah menganggap tinggi kekuatan luar, sifatnya tidak pernah mau mengalah, Dia tidak percaya Toa Tek To Hun bisa mempunyai tiga kepala dan sembilan nyawa.

Fang Tiong Seng bergumam sendiri, Dia terlihat seperti merenungkan sesuatu.

"Put Ce belum kembali juga?"

Tiba-tiba dia bertanya.

"Belum. Sam sute (adik seperguruan nomor tiga) kan sudah tidak usah diherankan. Dalam mengerjakan urusan apa pun, selalu lebih lambat setindak dari orang lain,"

Sahut Hu Put Chiu tertawa.

Di dalam perguruan Fang Tiong Seng, Sun Put Ce terdaftar sebagai murid ketiga, Selamanya selalu lamban, Andaikata rumahnya sendiri sudah terbakar pun, belum tentu panik.

Dia menganggap waktu seperti orang yang makan kuaci, harus dinikmati sungguh-sungguh.

Sebelum memakannya harus dikupas dulu kulitnya, tidak boleh ditelan begitu saja.

Sifat ini tentu berbeda jauh dengan kedua abang seperguruannya, Mo Put Chi dan Hu Put Chiu.

Manusia yang berkecimpung di dunia persilatan sudah pasti tahu sifat dan julukan ketiga murid Fang Tiong Seng ini.

"Aku ingin beristirahat. Laporkan bila Sun Put Ce sudah kembali!"

Kata Fang Tiong Seng.

Malam sudah larut, jalanan diselimuti oleh kabut tipis.

Sun Put Ce berjalan sendirian tanpa tergesa-gesa.

Waktu baginya tidak akan pernah habis.

Dia selalu menganggap pekerjaan di dunia tidak akan pernah selesai.

Cepat atau lambat bukan menjadi masalah, Hari ini tugas yang satu beres, besok pasti ada tugas lain yang datang.

Di jalanan tidak ada seorang manusiapun.

Paling tidak dengan jalan selambat ini, dia tidak akan membentur orang lain, Dan orang lain pun tidak bisa membenturnya, Adakah manusia yang lebih lambat darinya di dunia ini?

Bukankah di hadapannya sekarang ada satu?

Orang itu menyongsong dari depan, Begitu lambatnya sampai seperti sama sekali tidak bergerak, kalau diperhatikan sekali lagi dengan seksama, bayangan samar-samar di depan itu memang tidak bergerak, dia berdiri tegak di tengah jalan.

Sun Put Ce melangkah maju dengan perlahan sekarang dia dapat melihat orang yang berdiri di bawah sebatang pohon besar itu.

Rambutnya panjang dan pakaiannya hitam semua, tangannya menggenggam sebatang pedang berbentuk aneh.

Wajah orang itu kaku dan pucat, seperti seorang manusia yang tidak mempunyai darah.

Sun Put Ce merasa bulu kuduknya berdiri Tetapi dia tetap tidak menganggap langkah kakinya yang lambat itu membuatnya bertemu dengan orang tersebut.

Bila jalannya cepat, dia juga tetap akan bertemu dengannya.

"Apakah kau murid Fang Tiong Seng?"

Tanya laki-laki berpakaian hitam itu.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce sambil mengangguk lemah.

Kepalan tangan yang menggenggam pedang aneh itu memperlihatkan otot hijau, Meskipun Sun Put Ce selalu lamban, tapi bukan berarti dia tidak mempunyai naluri, Sejak tadi dia sudah bersiap-siap.

Sinar pedang berkelebat, dalam waktu beberapa detik masuk kembali ke dalam sarung, Sun Put Ce terkesiap, Dia hanya tahu bahwa pedang itu sudah masuk kembali ke dalam sarungnya, terkejut pun sudah terlambat.

Dia mencoba merasakan keadaan dirinya sendiri, namun tidak terasa kelainan pada tenggorokan, dada, ataupun keningnya, Biasanya tempat-tempat yang disebutkan tadi merupakan sasaran yang empuk bagi seorang ahli pedang.

Ternyata dirinya belum mengalami sesuatu, sungguh cepat!

Orang itu seperti belum menghunus pedangnya sama sekali Dari atas pohon terdengar suara gemeretak.

Sebatang ranting jatuh ke atas tanah, Sekarang Sun Put Ce baru yakin orang itu telah menghunuskan pedangnya barusan.

Andaikata pedang itu ditujukan ke arah tenggorokan, kening ataupun dada, Sun Put Ce percaya dirinya sudah terkapar bermandikan darah.

"Pungut!"

Perintah manusia berpakaian hitam itu.

"Apa?"

Tanya Sun Put Ce kebingungan.

"Ranting pohon!"

Katanya dengan nada dingin.

Sun Put Ce terpana sejenak, kemudian dia menekuk pinggangnya dan memungut ranting pohon tadi, ingin sekali rasanya dia tertawa, orang ini benar-benar aneh, orang macam apa pun ada di dunia ini.

Dia sendiri sudah termasuk jenis yang langka, para suhengnya suka menggodanya.

"Orang macam apa pun ada di dunia ini, tidak nyana masih ada lagi orang seperti dirinya."

Sun Put Ce tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengar ejekan itu.

Paling tidak saat ini dia mempunyai seorang kenalan yang sama-sama langka.

Ranting pohon itu masih digenggam dalam tangannya, dia tidak mengerti maksud manusia berpakaian hitam itu.

Dia berdiri menatap ke arahnya sambil menunggu.

"Bawa pulang dan tunjukkan pada Fang Tiong Seng, Besok tengah hari aku akan menjumpainya!"

Kata-kata yang diucapkan oleh orang itu seperti sebuah perintah.

Sebetulnya Sun Put Ce tidak ingin menuruti perintah itu.

Kalau para suhengnya melihat dia membawa pulang ranting tersebut, mereka pasti akan menggelengkan kepala dan mengatakan "Orang macam apa pun ada di dunia ini!"

Tapi nyatanya Sun Put Ce menganggukkan kepalanya. Manusia berpakaian hitam itu meninggalkan tempat itu dengan langkah limbung.

"Orang macam apa pun ada di dunia ini."

Gumam Sun Put Ce.

Dia memperhatikan ranting pohon itu sejenak, kemudian dibuangnya sembarangan.

Langkah kakinya baru mencapai tujuh, delapan tindak, tiba-tiba dia berhenti, meskipun di dunia ini orang macam pun ada, tapi yang persis dengan orang itu tentunya tidak ada.

Mungkinkah orang ini yang namanya menggetarkan rimba persilatan?

Rasanya dia tidak salah menduga, Apalagi setelah Sun Put Ce mengatakan nama gurunya, dia tetap akan datang besok tengah hari, Apakah ranting pohon ini dijadikan sebagai kartu namanya?

Sun Put Ce membalikkan tubuhnya dan memungut kembali ranting pohon tersebut.

Dia menyimpan ranting itu hati-hati di balik bajunya.

Baru beberapa langkah kakinya berjalan, dia mendengar suara jeritan seorang gadis.

Walaupun suara itu berkumandang dari arah depannya, dia tetap melangkah dengan tenang dan penuh perasaan.

Di balik kabut terlihat bayangan samar tiga orang, Setelah jaraknya mendekat dia melihat seorang laki-laki yang masih terhitung muda dan mengenakan pakaian berwarna warni mencengkeram seorang gadis.

Dari bentuk tubuh dan wajah gadis itu, Sun Put Ce segera dapat mengetahui bahwa usianya masih muda sekali, Sekali lihat saja, orang akan mempunyai pikiran tentang kemungkinan yang paling gampang terjadi antara seorang pria dan gadis.

Rupanya ketiga laki-laki itu adalah satu komplotan.

Gadis itu seorang diri, pakaiannya terbuat dari bahan yang mahal, Permata berkilauan dari seluruh tubuhnya, Pasti anak gadis keluarga berada, Demi kehormatan dan harta bendanya, gadis itu rupanya tidak mau menyerah begitu saja.

Gadis itu ternyata sudah tidak sadarkan diri lagi.

Sun Put Ce paling benci melihat kejadian seperti ini.

"Apa yang kalian perbuat?"

Teriaknya lantang.

Tentu saja kalau bukan bermaksud memperkosa gadis itu, harta benda di seluruh tubuhnya yang menjadi sasaran mereka, pertanyaan itu seakan menampilkan kebodohannya sendiri!

Pemuda yang memakai baju warna warni itu menatap orang yang menghadang di depannya dengan pandangan meremehkan "Siapa kau?"

Tanyanya sinis.

"Sun Put Ce!"

"Dari perguruan mana?"

Tanya pemuda itu sekali lagi.

Sun Put Ce membalas tatapan pemuda itu dengan mata penuh hawa amarah.

Sudah terang sedang melakukan perbuatan buruk, masih berani menanyakan perguruannya!

"Kau tidak berani menjawab bukan?

Aku sudah mengira bahwa kau bukan orang baik-baik,"

Sambung pemuda itu. Sun Put Ce terpana, mereka yang melakukan kejahatan malah dirinya yang dikira bukan orang baik-baik! "Apakah hubunganmu dengan gadis ini?"

Dia balik bertanya. Kedua rekan pemuda itu saling pandang dan tertawa, Sun Put Ce merasa jengah, Apakah ia telah mengucapkan kata yang salah lagi?"

"Dia adalah isteri saya!"

Jawab pemuda itu dengan suara keras. Sun Put Ce tidak bisa tidak berpikir, manusia macam apa pun ada di dunia ini, Dia selalu turut campur urusan orang lain.

"lsteri? Kok begini?"

Katanya kikuk.

"Jangan turut campur urusan rumah tangga saya...."

Jawab pemuda itu.

"Kau mengatakan bahwa dia adalah isterimu.... Apa buktinya?"

Kata Sun Put Ce untuk menutupi rasa malunya.

"Dari perguruan mana kau ini?"

Pemuda itu menanyakan sekali lagi.

"Murid ketiga Tionggoan taihiap!"

Jawabnya terus tenang. Pemuda itu terpana sejenak, sekarang dia merasa orang yang ada di hadapannya ini cukup pantas untuk turut campur dalam urusannya.

"0h... Sun Taihiap.... Kau tidak mengerti...."

"Tentu saja aku tidak mengerti!"

Tukas Sun Put Ce. Pemuda itu menghela nafas panjang.

"Aih.... Gadis ini sebetulnya berasal dari keluarga miskin, Saya melihat wajahnya cukup cantik, maka mengambilnya sebagai isteri, Siapa sangka setelah derajatnya terangkat dia mencela saya segala macam...."

Kata pemuda itu dengan menunjukkan wajah sendu.

"Mencela apa saja?"

Tanya Sun Put Ce penasaran.

"Pertama-tama dia mengatakan bahwa bekas luka di tubuhku terlalu banyak,"

Jawab pemuda itu semakin sendu.

"Apakah kau merupakan orang yang terjun di dunia Bulim?"

Tanya Sun Put Ce.

"Betul! Orang yang terjun dalam dunia Bulim pasti tidak dapat menghindarkan diri dari perkelahian. Tentu saja bekas luka di tubuhku banyak, Dia malah mengatakan sebal melihatnya,"

Jawab pemuda yang cerdik itu. Sekali pandang saja, dia sudah dapat melihat kalau Sun Put Ce adalah seorang manusia yang polos.

"Apalagi yang dicelanya?"

Tanya Sun Put Ce dengan kepala manggut-manggut.

"Dia masih mencela badan saya mengeluarkan semacam hawa yang tidak sedap,"

Kata pemuda itu, Sun Put Ce tidak memperhatikan kedua rekan pemuda tersebut yang sedang menahan tawa.

"Apakah kau jarang mandi?"

Tanyanya Iugu.

"Bukan... bukan! Hanya sedikit bau badan,"

Jawabnya.

"Aih.... Dia juga tidak dapat disalahkan. Bau badan memang menyebalkan,"

Kata Sun Put Ce sambil menarik nafas.

"Tapi... karena hal ini, dia mencari seorang kekasih gelap yang tubuhnya memancarkan keharuman."

Pemuda tersebut seperti menikmati tanya jawab ini.

"Di mana-mana juga hanya terdengar tubuh anak gadis yang memancarkan keharuman, mana ada laki-laki yang tubuhnya harum?"

Tanya Sun Put Ce heran.

"Aih... Sun Taihiap... kau tidak mengerti Pemuda itu kerjanya di pemandian umum. Setiap hari menggosokkan badan dan kaki orang dengan sabun wangi. Manusia seperti ini setiap hari berendam di dalam air. Coba Sun Taihiap bayangkan, orang yang setiap hari terkena hawa sabun wangi seperti itu, masa tidak wangi. Bahkan sedikit daki pun tidak ada. Oleh sebab itu perempuan jalang ini langsung terpikat olehnya."

Kata pemuda itu dengan wajah mengenaskan.

"Hm.... Benar juga...."

Jawab Sun Put Ce setelah merenung sejenak.

"Andaikata dia minggat bersama laki-laki itu, saya sih tidak keberatan. Toh tidak ada ruginya bagi kita orang laki, Tapi setidaknya dia harus meninggalkan semua perhiasan hasil jerih payah saya bertahun-tahun. Nilainya mencapai laksaan tail!"

Pemuda itu mengeluh.

"Dari mana kau mempunyai uang sebanyak itu?"

Tanya Sun Put Ce heran.

"Kakek saya adalah bekas menteri kerajaan Ayah pun berdagang kecil-kecilan, Namun kami sangat hemat, setiap sen kami kumpulkan sehingga sekarang dapat hidup berkecukupan,"

Sahut pemuda itu.

"Kalau begitu tadi kau mencengkeramnya demikian keras, untuk mengambil kembali harta bendamu yang ada padanya?"

Tanya Sun Put Ce polos.

"Betul! Dia tidak mau mengembalikan!"

Kata pemuda itu bersungut-sungut.

"Barang adalah miiikmu. seharusnya dikembalikan kepadamu lagi...."

Ujar Sun Put Ce manggut-manggut.

Pemuda berpakaian warna warni itu memerintahkan kedua rekannya untuk melepaskan mutiara dan semua perhiasan yang melekat di tubuh perempuan itu, mereka melakukannya dengan cepat.

"Sun Taihiap... perempuan ini akan saya bawa pulang.,."

Katanya.

"Apakah kau masih menganggapnya sebagai isteri?"

Tanya Sun Put Ce serius.

"Rasanya tidak lagi...."

Jawab pemuda itu setelah berpikir beberapa detik.

"Kalau tidak lagi, buat apa kau membawanya pulang? Benar-benar manusia macam apa juga ada di dunia ini... biarkan saja dia pergi...."

Kata Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Terimakasih, Sun taihiap..."

Pemuda itu menjura dalam-dalam.

Dia segera mengajak kedua rekannya untuk meninggalkan tempat itu.

Namun mereka tidak pergi terlalu jauh.

Dari balik sebuah dinding rumah, mereka berhenti dan mengintip apa yang akan dilakukan oleh orang itu.

Kedua rekannya tersenyum terus.

Sun Put Ce tahu kalau gadis itu tertotok jalan darahnya, Dia segera melepaskan totokan di bagian tengkuknya, tapi rupanya jadi orang baik memang susah.

Ketika baru sadar, gadis itu menatap ke arah Sun Put Ce, Dan tanpa diduga-duga, dia melayangkan tangannya menampar pipi Sun Put Ce dengan keras.

"Kouwnio mengapa kau membalas air susu dengan air tuba?"

Tanyanya heran.

Jilid 02 Kalau melakukan pekerjaan lain dapat sambil bersantap tentu tidak sama dengan menggerakkan tangan memukul orang, Gadis itu cantik sekali, Dia memperhatikan Sun Put Ce dengan seksama.

Sekarang dia baru sadar bahwa laki-laki ini bukan orang-orang yang menghadangnya tadi, Tangannya yang masih terangkat ke atas segera diturunkan.

Dia melihat ke arah dirinya sendiri, Seluruh perhiasan di tubuhnya sudah lenyap, Kemarahan mulai naik ke kepalanya lagi.

"Ada hubungan apa kau dengan ketiga orang tadi?"

Tanya gadis itu dengan mata mendelik. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Kenal pun tidak!"

Katanya.

"Lalu siapa kau?"

Tanya gadis cantik itu lagi.

"Hanya orang yang kebetulan lewat,"

Jawabnya kalem.

"Omong kosong!"

Bentak gadis itu.

"Hei.... Mengapa kau mengatakan aku omong kosong?"

Tanya Sun Put Ce penasaran.

"Tentu kau yang melepaskan semua perhiasanku!"

Seru gadis itu dengan wajah me-rah padam.

"Kouwnio jangan menuduh sembarangan. perhiasanmu itu dilepaskan oleh suamimu sendiri, Bila kau memang sudah tidak menyukainya dan jatuh cinta kepada pemuda yang bekerja menggosok badan di permandian umum itu, ya sudah... Buat apa meributkan perhiasan yang tidak seberapa itu?"

Kata Sun Put Ce dengan nada menasehati.

"Kentut!"

Bentak gadis itu marah. Watak Sun Put Ce sangat sopan dan lagi pula polos.

"Mana boleh seorang gadis mengucapkan kata-kata kotor seperti itu?"

Tegurnya.

"BoIeh saja kalau terhadap seorang kutu busuk seperti engkau!"

Seru gadis itu lantang.

"Apakah aku salah bicara lagi?"

Tanya Sun Put Ce sambil mengerutkan keningnya.

"Tentu salah! Aku masih suci, mana bisa punya suami? Bukankah itu suatu bukti bahwa kau ngaco belo saja?"

Teriak gadis itu kesal. Sun Put Ce terpana sejenak, Kemudian dia tertawa lebar.

"Kouwnio.... Sudah terang kau berbuat salah, mengakulah!"

Katanya.

Gadis itu merasa dirinya dipermainkan Dia makin percaya bahwa laki laki di hadapannya ini sekelompotan dengan orang-orang yang merampas perhiasannya.

Sambil berteriak, dia melancarkan dua buah serangan sekaligus.

Sun Put Ce kalau melakukan pekerjaan memang lambat Tapi kalau menghadapi serangan ternyata cepat sekali, Dia menggeser dua langkah ke samping.

serangan gadis itu pun luput.

"Hmmm, Pantas saja berani merampok di tengah jalan umum. rupanya punya sedikit kepandaian...."

Ejek gadis itu.

Dia mengeluarkan sebuah pecut panjang dari lilitan pinggangnya, Bersiap-siap untuk melancarkan serangan lagi.

Sun Put Ce memperhatikan gadis itu dengan seksama, Wajahnya sungguh cantik, Cara berpakaiannya juga terlihat dari keluarga berada dan berpendidikan, Mengapa bisa jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kerjanya menggosok badan orang?

Benar-benar orang macam apa pun ada di dunia ini.

Hmmm....

Wanita yang cantik belum tentu bijaksana dan baik hati, Tapi wanita yang bijaksana dan baik hati sudah pasti akan tampak cantik, Gadis di hadapannya ini entah termasuk yang depan atau yang belakang.,.?

pikirnya dalam hati.

"Tunggu dulu! Apakah pemuda yang berpakaian warna warni berwajah putih dan cukup tampan itu bukan suami Kouwnio?"

Tanya Sun Put Ce menegaskan sekali lagi. Gadis ini merenung sejenak. sepertinya dia tidak ingat lagi tampang orang-orang tadi.

"Tadi ketika saya lewat di jalan ini, saya mendengar suara teriakan.."

Sun Put Ce menceritakan kejadian yang ditemuinya barusan. Gadis itu terperanjat,...

"Jadi dia?"

"Siapa orang itu?"

Tanya Sun Put Ce.

"Kau tidak tahu?"

Gadis itu berbalik tanya. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Tentu kau juga tidak tahu siapa aku?"

Tanyanya dengan alis berkerut Sekali lagi Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Hal apa saja yang kau ketahui?"

Tanya gadis itu sambil menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Apa yang aku ketahui memang tidak banyak, Tapi orang dan apa saja yang aku ketahui, belum tentu kau juga tahu...."

Kata-katanya membingungkan. Tapi tampaknya gadis itu mengerti apa yang dimaksudkan oleh Sun Put Ce.

"Saya tidak percaya...."

Sahutnya.

"Apakah kau tahu asal usul ranting pohon ini?"

Tanyanya sambil mengeluarkan ranting yang disimpan di balik bajunya. Gadis itu memperhatikan sekejap.

"Bukankah ranting itu diambil dari pohon yang besar itu?"

Tanya gadis itu sambil menunjuk pohon besar yang ditebas oleh laki-laki berpakaian hitam tadi.

"Tahukah kau, mengapa saya membawa ranting ini?"

Tanya Sun Put Ce kembali.

"Segala macam manusia ada di,dunia ini. Aih.... Andaikaia kau mau membawa batu besar pun, siapa yang perduli?"

Katanya sambil menggelengkan kepala. Wajah Sun Put Ce menjadi cerah mendengar kata-kata itu.

"Apa yang dikatakan Kouwnio memang benar.. Dan tahukah engkau dari perguruan mana saya berasal?"

"Kalau dilihat dari tingkah lakumu, pasti bukan berasal dari perguruan yang terkemuka...."

Sahut gadis itu dengan nada mengejek.

"Suhu memang bukan manusia paling hebat di kolong langit Tapi juga tidak dapat dikatakan bahwa namanya tidak terkenal sama sekali...."

Kata Sun Put Ce tersenyum. Gadis itu ikut tertawa, Orang ini tampaknya cantik juga...

"Lalu.. siapakah suhumu itu? Dan siapa pula namamu?"

Tanyanya.

"Nama saya... Sun Put Ce. Murid terbungsu dari Tionggoan taihiap Pang Tiong Seng..."

Jawabnya menjelaskan. Mata gadis itu membesar. Kalau bukan terkejut, mana mungkin dia membelalakkan matanya sebesar itu.

"Nama saya Bwe Mei.,."

Katanya.

"0h... rupanya Bwe Kouwnio.... Apakah laki-laki tadi benar-benar bukan suamimu?"

Kata Sun Put Ce setelah menjura dengan sopan.

"Tentu saja bukan! Kau terlalu jujur, Mau saja ditipu mereka!"

Katanya.

"Ditipu?"

Tanya Sun Put Ce terkesiap.

"Dengan susah payah kepergok olehnya. Melihat kedatanganmu mereka sengaja mengarang sebuah cerita dan mengatakan bahwa aku adalah isterinya,"

Kata Bwe Mei kesal.

"Aih.... Segala macam manusia ada di dunia ini.... Orang-orang itu sungguh licik, Mereka bisa saja mengarang sebuah cerita yang begitu meyakinkan Bwe Kouwnio.... Saya masih ada urusan lain, Maaf, saya ingin mohon diri...."

Katanya, Lalu dia membalikkan tubuh untuk meninggalkan tempat itu.

"Tunggu dulu! Sun taihiap saya belum mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu tadi...."

Ucapnya sambil menjura dengan penuh hormat.

"Tidak apa-apa.... Tapi ada seorang gadis cantik seperti kau mengucapkan terima kasih, membuat saya merasa bangga...."

Katakatanya tidak beraturan lagi. Gadis itu tersenyum, jarang ada manusia sepolos ini di dunia....

"Sun Put Ce.... Saya ingin memberikan sebuah tanda mata...."

Katanya sambil menyodorkan sesuatu ke tangan laki-laki itu.

Sun Put Ce menerimanya, Dia membuka telapak tangan dan melihat apa yang diberikan gadis itu.

Rupanya sebuah dompet kecil yang memancarkan keharuman.

"Terima kasih atas hadiah Kwe Kouwnio.,."

Ujarnya.

-oooo0oooo-Bagian Tiga Malam baru hujan...

Tidak besar juga tidak terlalu kecil Kalau hujan seperti ini turun terus, orang-orang tentu akan kesal juga.

Di ruangan keluarga Fang, tetap terang seperti sebelumnya.

Meskipun ruangan itu terang benderang, wajah Fang Tiong Seng justru diselimuti awan gelap, Dia duduk di kursi singa tersebut.

Mo Put Chi, Hu Put Chi, Sun Put Ce dan yang lainnya berdiri di sebelah kiri Kwe Po Giok berdiri di sebelah dengan pakaian berkabung, Ruangan besar itu sunyi senyap.

hujan menerpa atap rumah menimbulkan suara sendu.

Di tangan Fang Tiong Seng tergenggam sebatang ranting pohon, Sun Put Ce kembali dan menyodorkan sebatang ranting pohon kepadanya, Kedua suhengnya belum mengatakan "Manusia macam apa pun ada di dunia ini", Sun Put Ce merasa keadaan itu berbeda dengan biasanya.

Sebatang ranting pohon, Setiap orang menatapnya dengan seksama, seperti ranting itu bisa berubah menjadi emas setiap saat Benar-benar tidak masuk akal!

pikiran ini tentu saja hanya ada di benak para pengawal yang ilmunya masih rendah.

Bagi ketiga murid Fang Tiong Seng, mereka tahu ranting menyiratkan sebuah makna penting bagi suhunya.

"Sam sute... bagaimana tampang orang yang memberikan ranting pohon itu?"

Tanva Hu Put Chi.

"Orang yang aneh...."

Sahut Sun Put Ce.

"Bagaimana anehnya?"

Tanya Hu Put Chiu penasaran.

"Pokoknya aneh sekali...."

Sun Put Ce mencoba menggambarkan dengan gerakan tangan tapi tidak berhasil.

"Nada bicaramu selalu membuat orang kesal!"

Kata Hu Put Chiu.

"Put Chiu, jangan kau salahkan sute-mu...."

Kata Fang Tiong Seng sambil menatap kedua muridnya bergantian.

"Suhu.... Pekerjaan apa yang dapat diselesaikan olehnya?"

Gerutu Hu Put Chi, (Maksudnya "Manusia ada yang tinggi dan ada yang pendek), Nilai seseorang tidak dapat dilihat dari ucapannya saja...."

Kata sang guru.

"Suhu... teecu tidak mengerti,"

Kata Hu Put Chiu dengan wajah tertunduk.

"Tentu saja kau tidak mengerti, semua orang yang ada di ruangan ini juga belum tentu ada sepuluh persen yang mengerti."

Kata Fang Tiong Seng. Orang-orang yang ada dalam ruangan itu saling pandang, Semuanya memancarkan sinar mata kebingungan.

"Nilai seorang manusia hanya dapat terlihat bila dia sudah kehilangan segalanya,"

Katanya kemudian.

Kalau sudah kehilangan segalanya, mana ada yang tersisa lagi?

Kwe Po Giok menganggukkan kepalanya berkali-kali.

Tampaknva hanya dia seorang yang mengerti.

Sungguh-sungguh merupakan seorang anak yang berotak cerdas!

Fang Tiong Seng menatap ranting pohon itu sekali lagi.

"Sungguh jurus yang hebat! Kecepatan pedangnya sulit diuraikan dengan kata-kata! Pantas saja dalam waktu tiga bulan dia sanggup membunuh tujuh belas jago dari Tionggoan!"

Ujarnya sambil menghela nafas, wajah orang-orang di kiri kanannya berubah.

"Apakah dia adalah Toa Tek To Hun?"

Tanya beberapa orang serentak.

"Pasti!"

Jawab Fang Tiong Seng yakin.

"Kalau begitu besok tengah hari adalah waktu kematiannya!"

Seru Mo Put Chi dengan suara lantang.

"Bukan waktu kematiannya, tapi waktu kematianmu!"

Sahut Fang Tiong Seng. Mo Put Chi terpana, Sebagian besar orang yang ada di sana ikut terkejut.

"Aku?"

Tanya Mo Put Chi tidak mengerti.

"Kau sudah mengikuti aku sekian lama. Aku paling tahu sifatmu!"

Kata Fang Tiong Seng menganggukkan kepalanya.

"Mo Put Chi mati pun tidak mau mengalah. Aku saja tahu...."

Sambung Kwe Po Giok, Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu semua menoleh ke arahnya, Bocah ini selalu dapat berpikir melebihi orang lainnya, Fang Tiong Seng juga menatap kepadanya.

"Aku ingin bertanya.... bila aku mati di bawah pedang seseorang, apa yang akan dilakukan olehnya?"

Tanya laki-laki itu menunjuk ke arah Mo Put Chi.

"Dia pasti akan mengadu nyawa dengan orang tersebut. Tapi kalau Fang lopek saja bukan tandingan orang itu, apalagi Mo toako...."

Jawab Kwe Po Giok dengan suara berat Dia menarik nafas panjang. Fang Tiong Seng menganggukkan kepalanya dengan puas, Sungguh seorang bocah yang cerdas, wajahnya pun menjadi kelam seketika.

"Oleh sebab itu, besok adalah hari kematiannya!"

Kata laki-laki itu. Mo Put Chi tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Se-akan apa yang didengarnya tadi sama sekali tidak berarti.

"Hanya dengan melihat ranting pohon itu saja, Fang lopek sudah dapat memastikan diri bukan tandingannya?"

Tanya Kwe Po Giok penasaran. Fang Tiong Seng meraba ujung ranting itu.

"Jika kau melihat cara potong daging seorang juru masak, kau akan segera tahu, apakah dia seorang koki yang hebat atau tidak, iya kan?"

Sahutnya, Fang Tiong Seng mengulurkan tangan dan membelai-belai kepala bocah itu, Tampak sekali dia sangat menyayanginya.

Anak buah Fang Tiong Seng tidak mengerti apa hubungan cara potong daging seorang juru masak dengan ranting pohon yang ditebas Toa Tek To Hun.

"Saya mengerti, walaupun Toa Tek To Hun hanya menebas sebatang ranting pohon, tapi dari cara dan bentuk ranting itu sendiri, kau orang tua sudah dapat menafsirkan berapa hebatnya jurus yang digunakan dan kecepatan gerakan pedangnya!"

Sahut Kwe Po Giok, Pedang apakah yang demikian mengerikan? Benar-benar tidak dapat dibayangkan! Fang Tiong Seng seakan terkejut mendengar jawaban Kwe Po Giok.

"Bagaimana kau bisa mengerti sedemikian dalam?"

Tanyanya heran. Wajah Kwe Po Giok menampilkan rona merah. Dia tersipu-sipu.

"Sejak usia tiga tahun, saya mendapat sebutan Bocah Ajaib,"

Ujarnya dengan kepala tertunduk, Kwe Po Giok segera menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Fang Tiong Seng.

ia membenturkan kepalanya di atas lantai tanpa berhenti.

Langkahnya itu membuat orang-orang yang hadir disana terpana, Hanya ada satu orang yang mempunyai pikiran!

"Manusia macam apa pun ada di dunia ini", Apakah orang yang disebut sebagai manusia jenius, bocah ajaib adalah seperti siluman yang menjelma menjadi manusia?

"Kwe Po Giok!

Kau...."

Fang Tiong Seng ikut terkesiap.

"Saya tahu. Apa yang dikatakan Fang lopek tidak mungkin bohong, Fang lopek mengakui bukan tandingan Toa Tek To Hun juga pasti benar, seharusnya saya tetap tinggal disini dan mengadu nyawa bersama lopek. Tapi dendam sedalam lautan masih belum terbalas, Saya mohon lopek mengerti dan menyebutkan sebuah jalan keluar yang baik untuk anak!"

Katanya sambil terus membenturkan kepala ke lantai. Jidatnya sudah biru dan bahkan mulai mengeluarkan darah. Tapi bocah yang keras kepala ini tetap tidak mau berhenti.

"Kau ingin aku mengatakan, siapa yang dapat mengalahkan Toa Tek To Hun saat ini?"

Tanya Fang Tiong Seng sambil menarik nafas dalam-dalam. Kwe Po Giok terus membenturkan kepalanya.

"Ayah mati dengan cara demikian mengenaskan. Saya harus membalaskan dendam dia orang tua!"

Katanya dengan air mata bercucuran.

Setiap orang yang hadir dalam ruangan itu turut terharu.

Sebagian besar ikut menitikkan air mata.

Fang Tiong Seng dengan hati tertekan mengangkatnya bangun, Mo Put Chi memukul tinjunya ke telapak tangan yang satunya, Suara keras memekakkan telinga orang-orang yang ada dalam ruangan itu.

"Peristiwa ini bukan hanya mengakibatkan dendam pribadi saja. juga menentukan kelanjutan nasib dunia persilatan, jika tidak ada orang yang sanggup menghentikan, entah masih berapa banyak korban yang akan jatuh,"

Kata Fang Tiong Seng dengan suara berat.

"Mengapa kita tidak menghindarinya untuk sementara? Kita bisa secara diam-diam mengumpulkan para pendekar untuk bersatu menghadapinya!"

Kata Hu Put Chiu memberikan usul.

Mo Put Chi ingin sekali berteriak setuju.

Sebagian besar orangorang yang mendengarnya juga sependapat.

Menghadapi orang yang begitu lihai, tidak hanya dapat dilakukan dengan pedang saja.

Kadang-kadang perlu menggunakan akal juga!

"Toa Tek To Hun menghadapi musuh-musuhnya secara terang, Dia menggunakan ilmu sejati.

Memang tindakannya agak telengas, namun tidak menyalahi peraturan Bulim.

Bagaimana kita boleh mengeroyoknya?

Aku, Fang Tiong Seng tidak akan melakukan perbuatan yang begitu memalukan!"

Katanya.

Kepala Hu Put Chiu tertunduk malu.

Mo Put Chi juga menahan ucapan yang akan keluar dari bibirnya tadi, orang-orang yang hadir di sana juga ikut terdiam mendengar kata-kata tersebut.

Akhirnya Mo Put Chi tidak dapat menahan diri lagi.

"Apakah di dunia yang luas ini tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya?"

Teriaknya dengan suara tidak puas.

Pertanyaan ini memang sudah sejak tadi ditahan oleh setiap orang.

Fang Tiong Seng memandang sekali lagi pada ranting di tangannya, Dia menarik nafas panjang, wajahnya berkerut-kerut, seakan sedang mengertak.

"Munkin ada satu orang.... Hanya satu orang itu...."

Jawabnya terpatah-patah.

Mata orang-orang yang hadir bersinar penuh harapan, Di dunia ini masih ada manusia yang satu itu?

Yang masih dapat membuat hati setiap orang berdebar-debar?

Balas dendam memang perlu, Jago Fu sang itu sudah terlalu merajalela.

Paling tidak harus dibuktikan kepadanya bahwa Tionggoan juga masih memiliki jago yang dapat diandalkan!

Hal ini mungkin lebih penting dari sekedar dendam pribadi.

"Siapakah orang ini? Di mana tinggalnya?"

Tanya Kwe Po Giok beruntun.

"Dia pernah berkelana sampai ke sembilan negara, tapi lebih suka meninggalkan dunia ramai dan menjadi dewa!"

Sahut Fang Tiong Seng.

"Yang lopek katakan itu dewa atau manusia?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Dia dapat disebut dewa manusia bagi dunia kita, Juga merupakan dewa dari segala pedang!"

Kata Fang Tiong Seng menjelaskan.

"Apakah lopek tahu di mana tinggalnya?"

Tanya Kwe Po Giok masih kurang puas.

"Di atas Tang hay (Laut Timur) di tengah lautan luas, Ada sebuah kapal dewa. Layar yang berkembang merupakan sehelai kain pancawarna, Setiap tahun pada bulan Tiong chiu (Bulan delapan tanggalan cina) dia selalu berada di sebuah perkampungan nelayan dan beristirahat di sana,"

Jawab Fang Tiong Seng, Dia berjalan menuju jendela, Bintang-bintang memenuhi angkasa.

Malam yang indah.

Orang-orang yang hadir tidak dapat menahan diri untuk ikut melongok sekejap, Bulan segera akan membulat, Mereka memikirkan manusia setengah dewa yang tinggal di atas lautan, Mengembangkan layar dan berkeliling ke seluruh penjuru dunia, Betapa menyenangkan hidup seperti itu!

"Tiong chiu sudah dekat.

Orang itu pasti akan mengunjungi perkampungan nelayan tersebut Sayangnya, meskipun kalian dapat menemukan beliau, belum tentu dapat mengundangnya datang...."

Kata Fang Tiong Seng sambil menarik nafas.

"Mengapa?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Sebab dia sudah dua puluh tahun lebih mengasingkan diri dan tidak turut campur urusan duniawi, Di Bulim sekarang sudah tidak ada jago yang pantas menjadi lawannya lagi,"

Kata Fang Tiong Seng.

"Masih ada satu... ya, paling tidak masih ada satu jago...."

Tukas Kwe Po Giok. Anak murid dan para pengawal Fang Tiong Seng terpana, Memang benar masih ada satu orang yang menjadi lawannya saat ini.

"Tidak salah! walaupun kalian tidak berhasil mengundangnya datang, tapi ada semacam barang yang akan membuatnya terpaksa datang..."

Ujar Fang Tiong Seng.

"Barang apa?"

Tanya Kwe Po Giok segera.

"Ya! Barang apa yang dapat mengundang dewa lautan itu? Setidaknya anak murid Fang Tiong Seng sudah tahu bahwa yang disebut dewa tersebut adalah seorang manusia juga! "Ranting pohon ini!"

Kata Fang Tiong Seng berwibawa.

Mata Mo Put Chi diam-diam menyimpan rasa kurang puas, Hu Put Chiu kebingungan Sun Put Ce seperti biasa, berdiri acuh tak acuh.

Mungkin mereka sedang berpikir, mengapa begitu banyaknya jago di Tionggoan ini masih tidak sebanding dengan sebatang ranting pohon untuk mengundang dewa lautan itu?

Fang Tiong Seng memandang ke arah Sun Put Ce...

"Bawalah ranting pohon ini, ajak Po ji besertamu, Tunjukkan kepada dewa itu, Dia pasti berada di lautan Timur, di sebuah perkampungan nelayan pertengahan Tiong chiu ini!"

Perintahnya.

"Baik!"

Sahut Sun Put Ce.

"Kau harus berhasil menemukan kapal dengan layar pancawarna tersebut. Ranting pohon ini harus kau serahkan langsung ke tangan Dewa laut Timur,"

Kata Fang Tiong Seng selanjutnya.

"Baik!"

"Kalian berangkatlah sekarang juga!"

"Baik,"

Sahut Sun Put Ce.

Dia berlutut di hadapan Fang Tiong Seng, Kepalanya ditundukkan dengan penuh hormat.

Demikian juga kepada Mo Put Chi dan Hu Put Chi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menarik tangan Kwe Po Giok dan meninggalkan tempat itu.

Orang-orang yang hadir mengantarnya dengan pandangan mata, Tidak ada yang mengucapkan kata-kata apa pun.

sebetulnya pada saat dan detik seperti ini, tidak ada lagi yang harus dikatakan.

Tidak berhasil menemukan Dewa laut Timur, kembali pun tidak ada gunanya, sedangkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan dewa itu terlalu tipis!

Dalam hati Mo Put Chi dan Hu Put Chiu merasa tindakan gurunya memerintahkan Sun Put Ce mengundang tokoh pendekar seperti itu, sungguh tidak masuk akal!

Manusia berotak kayu seperti Sun Put Ce, apakah mungkin bisa mengundang datang Dewa laut Timur itu atau memintanya turun tangan dalam membasmi Toa Tek To Hun?

Tapi kedua orang itu yakin, dengan berbuat demikian, gurunya pasti sudah mempunyai pikiran yang matang.

Bulan tidak lama purnama, Pang Tiong Seng menatap langit sambil menarik nafas panjang.

"Malam panjang sebentar lagi berganti, orang yang sudah harus meninggalkan tempat ini, sekarang juga sudah boleh pergi. Besok tengah hari, ruangan ini akan menjadi sebuah tempat kematian!"

Katanya.

Kata-kata yang diucapkan oleh Pang Tiong Seng, pasti bukan gurauan, tetapi Mo Put Chi masih penuh semangat.

Hu Put Chiu masih tetap riang seperti sediakala, bagi mereka keluarga Fang tetap adalah keluarga Fang, tidak dapat disamakan dengan keluarga lain!

Embun menetes di dedaunan, pagi hari mulai menjelang.

Di dalam pandangan orang yang meninggalkan teman-teman dan keluarganya, titik embun itu bagaikan air mata yang jatuh, Sun Put Ce dan Kwe Po Giok sedang menempuh perjalanan.

Gunung yang mereka lalui tidak begitu terjal.

Tetapi Sun Put Ce ketinggalan jauh di belakang Kwe Po Giok, Kelambatannya memang sudah terkenal Sama sekali bukan karena tidak mau berdekatan atau pun sengaja menghindari Po Giok.

Bocah itu terpaksa berhenti beberapa kali untuk menunggunya.

"Di dalam dunia kangouw sering orang mengatakan ketiga murid Pang Tiong Seng, Mo Put Chi selamanya tidak pernah kenal katakata kalah, Hu Put Chiu cerdas, setia lagi periang, Hanya Sun Put Ce yang sungguh-sungguh Put Ce alias tak berakal dan tidak berguna,"

Kata Kwe Po Giok dengan kepala menggeleng.

"Betul!"

Jawab Sun Put Ce. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

"Fang lopek pasti tahu. Mo Toako dan Hu jiko tentu tidak mau kalau disuruh pergi, mereka memilih mati atau hidup bersama dengannya,"

Kata Kwe Po Giok lagi.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Dan mengapa kau mau disuruh melaksanakan tugas ini?"

Tanya Kwe Po Giok.

Wajah Sun Put Ce terlihat aneh, Dia tidak berkata apa-apa, Apakah ada alasan yang tidak ingin dikemukakan olehnya atau tidak ada jawaban yang pantas?

"Apakah cara jalanmu selamanya selambat ini?"

Tanya Kwe Po Giok mengalihkan persoalan yang tadi.

"Betul!"

Sahutnya lagi.

"Apakah selain kata "betul"

Tidak ada yang dapat kau katakan lagi?"

Tanya Kwe Po Giok kesal.

"Kadang-kadang bisa juga sepatah atau dua patah..,."

Jawabnya.

"Coba katakan! sembarangan kata apapun boleh!"

Ujar Kwe Po Giok penasaran.

"Jalan perlahan masih lebih baik daripada tidak dapat sampai untuk selamanya, sejak dulu bahaya yang paling besar bagi manusia adalah kematian, terkadang kehidupan malah lebih mengerikan dari pada kematian!"

Beberapa patah terlepas dari mulutnya juga. Kwe Po Giok memperhatikan Sun Put Ce, kemudian dia menarik nafas panjang.

"Satu, dua patah perkataanmu benar juga. Memang masuk akal!"

Katanya, Wajah Sun Put Ce tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa.

Mereka sudah sampai di atas pegunungan, padang rumput dan hutan kecil di bawah terlihat jelas.

Tampak bayangan orang-orang yang sedang berkelahi di depan hutan pohon siong itu.

Mungkin juga, kelima atau enam orang itu sedang berlatih kungfu.

Tidak ada suara beradunya pedang atau pun teriakan-teriakan.

"Apakah kau melihat beberapa orang didepan hutan itu?"

Tanya Kwe Po Giok.

"lya!"

Sahut Sun Put Ce.

"Mana yang kau anggap lebih penting, melihat orang-orang itu atau meneruskan perjalanan?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Dua-duanya penting!"

Sahut Sun Put Ce.

"Ngaco!"

Teriak Kwe Po Giok kesal.

Sun Put Ce tidak menyahut Kwe Po Giok segera lari menuruni gunung, Hutan itu tidak terlalu rimbun, jarak antara pohon yang satu dengan yang lainnya agak berjauhan, Dari arah sini dapat menembus ujung sebelah sana, Daun-daun pohon siong memenuhi tanah, Menebarkan semacam bau yang menyegarkan.

Keenam orang itu sedang saling gebrak, mereka terbagi dua kelompok.

Empat orang yang sebelah dalam berasal dari satu kelompok dan yang sebelah luar merupakan seorang tua dan yang satunya masih sangat muda.

Empat orang yang pertama bertubuh tinggi besar, kulitnya hitam Tiga di antaranya beralis tebal dan berwajah garang, Sekali lihat saja, sudah kentara bukan orang baik-baik.

Yang terakhir lebih sedap dipandang, yang tua berusia kira-kira enam puluhan ke atas.

Seluruh rambutnya berwarna putih, Waktu telah membuat wajahnya menjadi keriput.

Kepalanya besar, dadanya rata, punggungnya bungkuk, seperti orang yang waktu kecilnya kekurangan vitamin D.

Semacam penyakit kelainan dalam kandungan, Tampangnya mengharukan Setiap kali melancarkan serangan ataupun berkelit nafasnya terengah-engah, Pakaiannya berwarna putih atas bawah.

juga ada duapuluh atau tigapuluh tambalan di seluruh pakaiannya itu.

Yang muda merupakan seorang anak gadis berusia kurang lebih tujuh belas atau delapan belas tahun.

Mungkin juga karena rambutnya yang dikepang dua sehingga usianya terlalu lebih muda dari sebenarnya.

Wajahnya berbentuk bulat telur dengan rona merah jambu di kedua pipinya.

Dia mengenakan pakaian berwarna ungu yang sudah usang.

Juga penuh dengan tambalan, pakaiannya yang sudah rombeng dan soI patunya yang telah ternganga di bagian depan, sedikit pun tidak mengurangi keayuannya.

Kedua orang yang satu tua dan satu muda ini menghadapi empat laki-laki tinggi besar.

Benar-benar tidak seimbang!

Dua kelompok manusia ini bertarung dengan sengit Tampaknya bukan soal balas dendam.

Tidak dapat diterka alasan perkelahian tersebut Mungkin juga sedang mengadu ilmu..,.

"Keempat orang itu pasti bukan manusia baik-baik.,.."

Kata Kwe Po Giok.

"Delapan puluh bagian...."

Sahut Sun Put Ce.

"Tujuan mereka pasti bukan merampok,"

Kata Kwe Po Giok kembali.

"Pasti untuk mendapatkan gadis itu,"

Sahut Sun Put Ce.

"Maksudmu mereka mempunyai niat busuk terhadap gadis cilik itu?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Delapan puluh bagian,"

Sahut Sun Put Ce. Kwe Po Giok menatapnya sekejap.

"Kau selalu mengatakan delapan puluh bagian, Mengapa tidak tujuh puluh atau sembilan puluh?"

Tanyanya.

"Mungkin juga,"

Sahut Sun Put Ce.

"lni terang-terangan yang kuat menindas yang lemah, Sebagai murid perguruan Fang Tiong Seng, tentu kau tidak akan membiarkan kejadian ini terlihat olehmu..."

Kata Kwe Po Giok.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Mengapa kau masih belum turun tangan?"

Desak Kwe Po Giok.

Sun Put Ce melihat ke medan pertarungan itu.

Si orang tua nafasnya makin tersengal, Suaranya sampai terdengar jelas, Kaki dan tangannya sibuk menghindari serangan Sebentar lagi pasti akan mengalami kekalahan.

Gadis itu tidak berbeda jauh, Dia selalu menghindari lawan dengan cara berkelit kesana kemari, Tidak berani keras lawan keras.

Rasanya dia juga hanya dapat mempertahankan diri tidak begitu lama lagi.

Laki-laki yang tingggi besar dan temannya yang berwajah hitam pekat mempunyai ilmu yang jauh lebih tinggi dari kedua rekan yang lainnya, Orang-orang ini badannya besar, tapi bukan besar-besar goblok, Jurus-jurusnya kejam dan telengas, Cara bertarungnya juga mantap, Pasti bukan kaum keroco.

"Kau tidak berani turun tangan?"

Tanya Kwe Po Giok tidak sabar.

"Bukan!"

Sahut Sun Put Ce.

"Kalau memang mau turun tangan, cepat sedikit, Bagaimana kalau kedua orang itu terluka di tangan orang-orang kasar tersebut?"

Desak Kwe Po Giok kesal.

"Kemungkinan tidak,"

Sahut Sun Put Ce tenang.

"Kemungkinan tidak? Apa yang kau katakan cuma "mungkin"

Saja kan?"

Kata Kwe Po Giok keki.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Sebetulnya kau mau mengurus atau tidak?"

Tanya Kwe Po Giok tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Mau!"

Dia berjalan maju beberapa langkah. Tangannya diacungkan, Namun sikapnya santai saja.

"Hei! Bisakah kalian berhenti sejenak?"

Serunya.

Kedua orang yang disebut lebih lihai itu lebih dulu menghentikan pertarungan.

Yang lainnya ikut mundur tiga langkah, Orang tua dan gadis muda itu memandang dengan curiga, mereka mengatur nafasnya yang memburu.

"Ada urusan apa?"

Tanya laki-laki berwajah hitam pekat.

"Mengapa kalian berenam berkelahi?"

Tanya Sun Put Ce.

Orang tua itu nafasnya tetap tersengaI-sengal, Si gadis menatapnya tapi tidak mengatakan apa-apa.

Laki-Iaki yang ilmunya tinggi itu melihat baik orang tua maupun gadis itu tidak menyahut, Dia maju ke depan .

"Kami sedang berlatih, Orang tua itu adalah supek kami. Yang gadis adalah sumoi kami. Mengapa kau harus turut campur urusan kami?"

Katanya. Kwe Po Giok terpana, Sun Put Ce tetap tidak memperlihatkan perasaan apa-apa.

"Lopek.... Saya tidak percaya apa yang dikatakannya, Ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Kata Kwe Po Giok dengan sopan. Orang tua itu seperti sedang berpikir juga seperti sedang mengatur nafasnya yang memburu, dia tidak mengatakan apa-apa.

"Cici ini, coba kau yang jelaskan, Apakah keempat perampok ini menghina kalian?"

Tanya Kwe Po Giok tidak kenal menyerah. Si gadis merenung sejenak, Laki-laki yang berwajah hitam itu menatapnya dengan tajam, Seakan ingin mendengar apa jawaban gadis itu.

"Tidak ada apa-apa...."

Sahutnya lirih. Orang yang tinggi besar itu tertawa lebar "Aku lihat kalian berdua kasak-kusuk sejak tadi, Tentu kalian sendiri yang tidak bermaksud baik,"

Katanya sinis.

"Nama saya Sun Put Ce, murid ketiga dari Tionggoan taihiap Fang Tiong Seng,"

Kata Sun Put Ce memperkenalkan diri, Tentu saja orang-orang itu pernah mendengar nama Tionggoan taihiap Fang Tiong Seng, Mereka juga tahu nama murid-muridnya. sikapnya berubah agak lunak.

"Fang taihiap bukan orang luar, Kejadian ini hanyalah salah paham. Benar-benar salah paham."

Kata orang itu.

"Dalam penglihatan saya sama sekali bukan salah paham!"

Kata Kwe Po Giok ketus.

"Bagaimana kau tahu bukan salah paham?"

Tanya orang itu.

"Saya melihat orang tua dan cici ini berada di bawah tekanan kalian, Mereka tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya,"

Kata Kwe Po Giok.

"Hal ini tidak benar Andaikata mereka benar-benar takut kepada kami, sekarang di hadapan murid Fang taihiap seharusnya mereka mengaku dengan jujur,"

Jawab orang itu. Kwe Po Giok tetap merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, namun dia tidak dapat menjelaskan nya. ia memandang ke arah Sun Put Ce.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanyanya.

"Tidak tahu!"

Sahut Sun Put Ce. Lak-laki yang berwajah hitam menghampiri sang kakek.

"Supek, mari kita mulai Iagi...."

Katanya, Selesai berkata dia sudah menyerang dengan jurus Sungai Bergelombang, Orang tua itu membalas dengan jurus Burung Hong Menganggukkan Kepala, Ketiga laki-laki yang lain mengerubuti gadis muda itu kembali.

"Apakah keadaan ini mirip dengan pertarungan antara supek dan sutit?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Tidak mirip!"

Sahut Sun Put Ce.

"Mirip apa?"

Desak Kwe Po Giok.

"Mungkin mirip...."

"Dapatkah kau tidak memakai kata "mungkin"

Lagi?"

Potong Kwe Po Giok kesal.

"Seperti peristiwa Couw yi dan ()oy Kai,"

Kata Sun PutCe. Otak Kwe Po Giok berputar sejenak.

"Maksudmu yang satu memang ingin memukul dan yang lainnya rela dipukul?"

Kata bocah cerdas itu.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Kau tampaknya tidak bodoh, hanya agak kurang luwes sedikit,"

Kata Kwe Po Giok setelah memperhatikannya dengan seksama. Sun Put Ce tidak menjawab, Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum getir.

"Menurutmu, apa yang harus kita Iaku-kan?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Kau saja yang mengatakannya."

Sahut Sun Put Ce.

"Tampaknya, kau sama sekali tidak mempunyai pendapat?"

Kata bocah itu kembali.

"Kadang-kadang ada juga...."

Sahut Sun Put Ce kalem.

"Kau lihat, saya akan menghentikan mereka, Kemudian meminta yang keempat orang pergi ke bagian kiri dan kakek serta gadis cilik itu menuju sebelah kanan, Bagaimana pendapatmu?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Bagus sekali,"

Sahut Sun Put Ce.

"Dengan demikian, berarti kau mengerti apa yang saya maksudkan?"

Tanyanya kembali.

"Mengerti sedikit,"

Sahut Sun Put Ce tetap tanpa menunjukkan perasaan apa-apa.

Kwe Po Giok dengan gaya tidak sabar mengulapkan tangannya, Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis menghadapi sikap Sun Put Ce.

Tiba-tiba dia berteriak dengan suara lantang....

"Cuwi harap berhenti!"

Orang yang tinggi besar dan berwajah hitam pekat itu agaknya kepala rombongan mereka, Dia yang pertama-tama menghentikan pertarungan tersebut, Dipandangnya Kwe Po Giok dengan tatapan tajam.

"Apa yang saudara cilik ini inginkan?"

Tanyanya.

"Kalian tidak tampak seperti kenalan lama. Apalagi sedang berlatih ilmu antara supek dan sutit,"

Katanya. Mata orang itu seperti hampir keluar.

"Saudara cilik, kami hanya menghormati Fang taihiap, Keseganan kami tidak sama sekali bukan berarti kami takut pada kalian,"

Katanya.

"Jadi... apa lagi yang hendak kau lakukan?"

Lanjut rekannya yang lain.

"Saya tahu,., saya hanya bermaksud baik, Sama sekali tidak berterima kasih, malah menyalahkan!"

Ujar Kwe-Po Giok.

"Maksud baik apa?"

Tanya laki-laki berwajah hitam itu.

"Sun toako itu nama aslinya Sun Put Ce, Kalian tentu tahu, namanya itu. benar-benar sesuai dengan namanya. Arti Put Ce adalah tidak berakal, atau dapat dikatakan tidak senang melihat yang tidak adil. Dia paling benci melihat pertarungan. Apa pun alasannya, Apalagi melihat kalian melihat dua orang kakek dan gadis muda melawan empat orang laki-laki tinggi besar seperti kalian, Dia pasti akan menghentikan pertarungan ini. Bila tidak, kalian terpaksa harus berusaha mengalahkannya, baru dia merasa puas,"

Kata Kwe Po Giok sambil menunjuk ke arah Sun Put Ce yang berdiri di kejauhan.

Laki-laki berwajah hitam itu seperti merenung sejenak, Dia meragukan kekuatan mereka berempat dapat melawan murid dari Tionggoan taihiap yang termasyur, mukanya terlihat bingung.

"Lalu bagaimana pendapat saudara kecil?"

Dia balik bertanya kepada Kwe Po Giok.

"Sikap Sun toako ini sudah menjadi adat-nya sejak kecil Urusan apa pun yang ingin tangani, pasti harus selesai baru mau sudah. Menurut pendapat saya, lebih baik kalian berpisah diri untuk sementara. Kau dan rombonganmu mengambil jalan sebelah kiri dan kedua orang kakek dan gadis itu mengambil arah sebelah kanan, Bukankah ini jalan terbaik?"

Kata Kwe Po Giok memberikan sarannya.

"Baiklah, Memandang wajah Fang tai-hiap, looce mengalah untuk kali ini. Supek! Sumoi! Sutit saat ini sudah terlalu sabar.,."

Kata lakilaki itu.

Kemudian dia menggapai tangan kepada ketiga rekannya dan mengajak mereka meninggalkan tempat tersebut Orang tua dan gadis itu juga tidak menengok ke arah Sun Put Ce atau Kwe Po Giok barang sekejap, Mereka melangkah ke arah yang berlawanan.

Kwe Po Giok dan Sun Put Ce berdiri termangu.

"Tahukah kau apa yang sebetulnya terjadi di antara mereka?"

Tanya si bocah.

"Tidak jelas!"

Sahut yang lebih tua.

"Benarkah kedua orang tua dan muda tadi begitu miskin sampai pakaian pun penuh dengan tambalan-tambaIan...?"

Kata Kwe Po Giok.

"Tidak!"

Sahut Sun Put Ce seperti biasanya.

"Bagaimana kau bisa mengatakan mereka tidak miskin? Baju mereka begitu rombeng, di kantong yang tergantung di pundak ada dua buah mangkok kotor, di dalamnya masih tersisa setengah butir bakpao jagung!"

Tanya Kwe Po Giok dengan mata terbuka lebar. Sun Put Ge tidak mengeluarkan suara.

"Tampang mereka tidak seperti orang miskin, Wajah orang tua itu terang dan berwarna merah. Apalagi gadis itu. wajahnya cantik, Tangannya halus, Mereka menyamar sebagai orang miskin tentu mempunyai alasan tersendiri,"

Kata Kwe Po Giok seperti menerangkan kepada dirinya sendiri.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce tanpa diminta.

"Apakah kau dapat menduga alasan mereka menyamar menjadi orang miskin?"

Tanya bocah itu.

"Tidak!"

Jawabnya. Kwe Po Giok mendengus, Dengan kesal dia melangkahkan kakinya. Sun Put Ce mengikuti dengan langkah perlahan-Iahan. jarak mereka mulai berjauhan. Kwe Po Giok berhenti di depan menunggunya.

"Kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengatakan sebab musabab perkelahian tadi, Di dalam peristiwa ini pasti ada suatu rahasia,"

Katanya.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Ada sebuah cara untuk mengetahui rahasia tersebut...."

Kata Kwe Po Giok setelah teman seperjalanannya sudah berendeng di sebelah.

"Betul!"

Sahut si manusia lambat itu. Mata Kwe Po Giok bersinar terang.

"Kau juga tahu caranya?"

"Tidak! Kau yang tahu,"

Sahut Sun Put Ce. Kwe Po Giok benar-benar kesal.

"Caranya ialah mengikuti kakek dan gadis tadi. Dengan demikian kita bisa menyelidiki urusan ini,"

Katanya menjelaskan.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce. Kwe Po Giok mendelikkan matanya.

"Bagaimana Fang lopek bisa menyerahkan urusan ini...."

Katakatanya terhenti Dia tidak tega menyakiti hati teman seperjalanannya itu. Sun Put Ce tertawa getir.

"Saya rasa keempat orang kasar tadi pasti telah berputar arah dan mengejar mereka,"

Kata Kwe Po Giok kembali pada pokok persoalan.

"Betul!"

Tidak usah dikatakan lagi siapa yang mengucapkan katakata itu.

"Apakah kau dapat menduga arah mana yang diambil sang kakek dan gadis muda itu?"

Tanya si bocah lagi.

"Arah Utara,"

Jawaban Sun Put Ce kali ini benar-benar di luar kebiasaannya.

"Tentu saja, Saya menyuruh mereka berpencar Yang satu ke arah Barat, yang satu lagi ke arah Timur. sedangkan kita datang dari arah Utara. Pasti kita tidak akan kembali ke Utara dan tujuan kita adalah ke Selatan, Orang tua dan gadis itu tidak mungkin mengikuti keempat orang tadi mengambil arah Timur, arah mereka sudah pasti Utara!"

Kata Kwe Po Giok.

"Kau benar-benar cerdas!"

Kata-kata ini membuat Kwe Po Giok terpana.

"Dan kau juga sudah menampakkan kemajuan. Paling tidak, katakatamu sudah lebih dari satu, dua patah,"

Katanya.

Sun Put Ce tertawa getir sekali lagi.

Kedua orang itu segera berganti arah dan mengejar sejauh empat li, ternyata dugaan Kwe Po Giok memang tidak salah, Keenam orang itu telah berbaku hantam kembali.

Orang yang berwajah hitam itu sedang tertawa terbahak-bahak.

"Kedua manusia bego itu mengira dirinya pintar, Sekarang tentu sudah berada sejauh sepuluh li dari sini. Kalau barang tidak juga diserahkan, kalian akan mengalami akhir yang menggenaskan...!"

Teriaknya.

"Hek Houw! Untuk apa kalian yang menginginkan barang ini?"

Tanya gadis muda itu. Laki-laki yang dipanggil Hek Houw alias si Macan hitam itu menggeram.

"Untuk apa? Sejak pembunuh bayaran itu datang ke Tionggoan, tujuh belas pertarungan telah dimenangkan olehnya. Berarti tujuh belas kochiu telah tewas di tangan-nya. Nama Hek Houw bukan tidak terkenal Siapa tahu dalam daftarnya, namaku juga ikut tercantum!"

Serunya.

"Kau hanya takut namamu tercantum dalam daftar orang yang harus dibunuh olehnya, Apakah kau tidak memikirkan bahwa orang lain juga mempunyai rasa takut yang sama?"

Gadis ini tidak mau kalah.

"Pokoknya kalian sudah terpegok oleh loocu, Bagaimana pun barang itu harus diserahkan!"

Kata Hek Houw.

"Serahkan barang apa?"

Tanya gadis itu seperti tidak mengerti.

"Barang apakah yang kalian kawal sekarang ini? Apakah kalian benar-benar tidak tahu? Sungguh membuat orang tertawa geli!"

Hek Houw memperlihatkan tawanya yang lebih mirip seringai seekor harimau.

"Hek Houw! Kau jangan terkena siasat "sekali lempar batu, dua ekor burung terkena","

Kata orang tua itu.

"Maling tua! Kau jangan pura-pura Iagi, barang itu ada di saku cucumu. Pepatah mengatakan "Nyawa lebih penting dari harta benda sedangkan yang disimpan oleh cucumu itu hanya sebatang jinsom berusia tiga ribu tahun, Ukurannya seperti sebatang lobak besar, Sudah berbentuk!"

Kala Hek Houw.

Orang tua dan cucunya itu tidak dapat lagi berkata apa-apa.

Sun Put Ce dan Kwe Po Giok saling pandang sekejap.

Rupanya kedua orang kakek dan cucu itu mempunyai usaha pengawalan barang rahasia.

Mereka menyamar sebagai orang miskin untuk menghindari perampokan, Di dunia ini ada jinsom sebesar itu.

Kwe Po Giok dan Sun Put Ce bahkan belum pernah mendengarnya.

"Chow Ceng si penyakitan! Barang itu tidak senilai dengan dua lembar nyawa. Serahkanlah kepadaku!"

Bentak Hek Houw.

Peng Chow Ceng alias Chow Ceng si penyakitan adalah seorang piauwsu terkenal.

Untuk mengawal yang langka ini, dia rela mengorbankan jenggotnya yang panjang, Tujuannya tentu saja agar tak dikenali orang, penyamaran mereka sebagai pengemis ternyata tidak dapat mengelabui Hek Houw.

"Bila jinsom ini sampai hilang, dua lembar nyawa pun tidak sanggup menggantikan!"

Sahut Peng Chow Ceng.

"Paling tidak, kalian bisa bersembunyi di tempat yang aman, Bila aku tidak lama lagi akan mengalami nasib yang sama dengan ketujuh belas orang jago itu,"

Kata Hek Houw.

"Kau kira setelah menerima hadiah ini, (Pembunuh bayaran dari Fu sang) itu tidak akan membunuhmu lagi?"

Tanya Peng Chow Ceng sambil tertawa dingin.

"Tidak! Jinsom itu bukan untuk dihadiahkan kepadanya,"

Jawab Hek Houw.

"Jadi kepada siapa hendak engkau hadiahkan barang yang begitu berharga?"

Tanya si gadis muda.

"Urusan sudah jadi begini, Dibicarakan juga tidak apa, Tentu saja akan aku hadiahkan kepada seorang yang sanggup melawan Toa Tek To Hun!"

Jawabnya seraya menarik nafas.

"Siapa orang tersebut?"

Tanya Peng Chow Ceng.

"Aih.... Berat aku mengatakannya...."

Sahutnya kembali.

"Bila di dunia benar-benar ada seorang seperti yang kau katakan dan orang itu adalah manusia yang matanya terbuka lebar melihat barang berharga, aku dapat memastikan bahwa dia masih bukan tandingan Toa Tek To Hun!"

Kata Peng Chow Ceng sinis.

"Tidak! Tidak! Bukan diberikan kepada orang tersebut, tapi diberikan kepada orang yang berada di sampingnya, Maling tua! sebetulnya kau sayang barang atau sayang nyawa?"

Tanya Hek Houw menegaskan. Orang tua dan gadis itu tidak menyahut, wajah mereka diselimuti hawa pembunuhan. Pada saat itu, Kwe Po Giok menoleh ke arah Sun Put Ce.

"Apakah kau pernah mendengar ada jinsom sebesar itu di dunia ini?"

Tanya bocah cerdas itu.

"Tidak pernah!"

Sahut Sun Put Ce.

"Ternyata Hek Houw ingin merampas jinsom untuk menyelamatkan nyawanya."

Kata Kwe Po Giok.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce seperti biasanya.

"Menurut pendapatmu, pihak mana yang harus kita bela?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Terserah!"

Sahut rekannya.

"Urusan sebesar ini mana boleh terserah?"

Kata Kwe Po Giok. Karena kedua-dua pihak sama-sama patut dikasihani."

Jawab Sun Put Ce.

"Coba kau jelaskan!"

Pinta si bocah.

"Kedua kakek dan cucu itu mencari makan dengan usaha pengawalan, barang itu tidak boleh sampai hilang, mereka tidak akan sanggup menggantinya. Demi menyelamatkan selembar nyawanya, Hek Houw terpaksa harus mendapatkan jinsom itu. Keadaan seperti ini sungguh mengenaskan!"

Jawab Sun Put Ce jauh melebihi dua patah seperti biasanya. Sun Put Ce, saya sungguh kagum kepadamu!"

Kata Kwe Po Giok polos.

"Apa yang kau kagumi?"

Tanya Sun Put Ce heran.

"Rasa adil dalam dirimu, Tidak pernah berat sebelah, Suatu ilmu yang tidak sia-sia,"

Kata Kwe Po Giok mengacungkan jempol nya. Sun Put Ce menggelengkan kepala dan tertawa getir, Saat itu keadaan si kakek dan cucunya sudah semakin berbahaya.

"Kita harus segera turun tangan,"

Kata Kwe Po Giok. Sun Put Ce tidak memberi tanggapan.

"Mengapa? Kau takut?"

Tanya Kwe Po Giok.

Sun Put Ce menganggukkan kepala, Hal ini di luar dugaan Kwe Po Giok.

Meskipun Sun Put Ce merupakan murid yang paling tidak berguna di antara ketiga orang murid Fang Tiong Seng, namun dalam hatinya, ia tidak menyangka laki-laki itu begitu pengecut.

"Apa yang kau takuti?"

Tanyanya tidak puas.

"Takut salah ikut campur,"

Jawabnya.

"0h.... Begitu rupanya,"

Ujar Kwe Po Giok lega.

"Betul!"

"Kalau kita sudah terlanjur mengerjakan sesuatu, kita tidak boleh setengah-setengah,"

Kata Kwe Po Giok membesarkan hatinya.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Apa lagi yang kau takuti?"

Desak Kwe Po Giok, Sun Put Ce malah merenung.

"Kita toh sudah terlanjur turut campur, jangan ada kepala tiada buntut, Kakek dan cucunya itu kasihan sekali!"

Kata Kwe Po Giok yang merasa simpati kepada kedua orang itu.

"Betul! Manusia yang patut dikasihani di dunia ini memang banyak!"

Sahut Sun Put Ce.

"Berhenti!"

Teriak Kwe Po Giok setelah maju beberapa langkah.

"Lagi-lagi dua manusia yang tidak tahu mati hidup!"

Kata Hek Houw geram setelah melihat siapa yang berteriak.

"Hek Houw! Toa Tek To Hun belum tentu akan membunuhmu. Hal ini masih harus dilihat apakah kau pantas mati di bawah pedangnya, Tapi bila kau tetap akan menyulitkan kakek dan cucunya itu, Sun tai-hiap akan membunuhmu saat ini juga!"

Kata Kwe Po Giok dengan maksud menciutkan nyali laki-laki itu. Hek Houw malah tertawa terbahak-bahak.

"Dia?"

Tangannya menunjuk ke arah Sun Put Ce.

"Kenapa? Kau tidak percaya?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Tentu saja loocu tidak percaya, Aku beritahukan kepadamu... Siapa yang turun tangan pun, aku tidak perduli, Walaupun Fang taihiap sama juga...."

Serunya berang. Kwe Po Giok menoleh kepada Sun Put Ce.

"Sun toako, cepat turun tangan!"

Katanya. Sun Put Ce tidak bergerak, Kwe Po Giok mendekatinya dan mendorong punggung-nya. Sun Put Ce menyurut mundur.

"Sun toako, nama baik Fang taihiap tidak boleh jatuh di tanganmu!"

Katanya. Sekali lagi dia mendorong dengan keras, Kali ini rekannya tidak maju atau pun mundur, Dia berdiri tidak bergeming, Kwe Po Giok kesal sekali.

"Manusia macam apapun ada di dunia ini!"

Teriaknya sambil menghentakkan kaki.

Hek Houw memperhatikan keadaan mereka.

Murid Fang taihiap tidak mungkin sebodoh itu, diceritakan sampai pagi pun dia tidak akan percaya, Secepat kilat dia mengangkat telapak tangannya dan menghantam ke depan!

"Cepat balas serangannya!"

Teriak Kwe Po Giok gugup.

Serangan telapak tangan Hek Houw ini sangat telengas dan cepat, dan Sun Put Ce seakan tidak bermaksud menghindarinya.

Atau mungkin juga hatinya sedang ragu.

ingin menghindar tapi toh tidak sempat menghindar Iagi.

Hek Houw senang sekali, Benar-henar pantas dihajar, pikirnya dalam hati.

berani menyaru sebagai anak murid Fang Tiong Seng!

Hek Houw hanya pernah mendengar nama ketiga murid pendekar besar itu, sedangkan bagaimana rupa dan tampangnya, dia sama sekali tidak tahu.

Tenaga di telapak tangan ditambah lagi sebanyak dua bagian.

Dengan sepenuh tenaga ia meng-hantamkan tangannya ke depan "Bumm!"

Suara yang menggelegar mengejutkan setiap orang, Pundak Suh Put Ce terpukul telak!

Bibir Hek Houw sudah siap-siap tersenyum Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi lebih jelek daripada orang yang sedang menangis.

Dia mana tahu ilmu Kim Ceng ka, semacam ilmu yang dapat membalikkan tenaga orang, sudah terlatih dalam diri Sun Put Ce dengan matang, Apalagi serangan yang dilancarkan olehnya tadi ditambah lagi dua bagian.

jumlah seluruhnya menjadi sepuluh bagian.

ilmu yang dipelajari Sun Put Ce mempunyai suatu keistimewaan yaitu bila orang menyerangnya dengan tenaga sebesar sepuluh bagian, maka tenaga yang membalik akan bertambah menjadi lima belas bagian.

Dapat dibayangkan berapa besar tenaga yang berbalik menghantam Hek Houw, Laki-laki itu meringis kesakitan Dari ujung bibirnya terlihat darah mengalir Tentu saja Hek Houw sudah terkena luka pada bagian dalam tubuhnya.

Dia sampai terhenyak mundur lima langkah.

Anak buahnya menggeram dengan suara keras.

Seakan siap-siap melancarkan serangan.

Kwe Po Giok tidak memperdulikan laki-laki kasar itu.

Dia tahu, bila seseorang benar-benar ingin menyerang, tentu tidak perlu berteriak Teriakan itu pasti hanya gertakan belaka, Dugaan bocah cerdas itu ternyata benar....

Hek Houw mengulapkan tangannya.

"Mundur! Loocu toh bukan benar-benar sedang bertarung dengan Sun taihiap!"

Kata laki-laki, itu sekedar untuk menutupi rasa malunya.

Sekarang dia percaya Sun Put Ce adalah murid Fang taihiap, bila laki-laki itu memang ingin membunuhnya, tentu semudah membalikkan telapak tangan.

Anak buahnya terpana, Dengan rasa bersyukur mereka menuruti perintah majikannya dan mundur teratur.

"Lopek dan cici ini boleh mundur sekarang!"

Kata Kwe Po Giok kepada kakek serta cucunya.

"Terima kasih atas bantuan saudara!"

Kata Peng Chow Ceng sambil menjura, Dia menarik tangan gadis itu dan segera melangkah pergi.

"Karena Sun taihiap telah turun tangan dalam urusan ini, loocu terpaksa memberi muka!"

Kata Hek Houw.

"Kalau Hek taihiap memang mau memberi muka, mengapa tidak sejak tadi saja?"

Ujar Kwe Po Giok.

"Saya memang memerlukan jinsom tersebut. Tapi urusan sudah jadi begini, mau bilang apalagi... Sampai jumpa!"

Kata Hek Houw, Dia menjura kepada kedua orang itu dan mengibaskan tangan kepada anak buahnya untuk meninggalkan tempat tersebut. Arah yang dipilihnya tentu berlawanan dengan kakek dan cucunya tadi.

"Sun toako, menurutmu apakah Hek Houw akan menyudahi urusan ini?"

Tanya Kwe Po Giok setelah tempat itu kosong.

"Pasti!"

Sahut Sun Put Ce.

"Mengapa kau dapat seyakin itu?"

Tanya si bocah kembali.

"Karena ia memang jenis orang seperti itu!"

Katanya.

"Maksudmu, Hek Houw tidak akan mencari kakek Peng Cihow Ceng dan cucunya lagi?"

Tanya Kwe Po Giok. Bibirnya tersenyum, Dia ingin melihat tanggapan Sun Put Ce. Teman seperjalanannya hanya mengangkat bahu.

"Saya lihat kau bukan orang yang bodoh,"

Kata Kwe Po Giok sambil menganggukkan kepala.

"Tapi saya juga bukan termasuk orang yang pintar,"

Sahut Sun Put Ce.

"Justru di sinilah titik kepinteranmu. Biasanya orang yang menganggap dirinya tidak pintar, pasti juga bukan orang yang termasuk bodoh,"

Kata Kwe Po Giok kembali.

Sun Put Ce tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Mereka berjalan dari arah Selatan kemudian membelok ke arah Tenggara, Sampai kira-kira tujuh atau delapanpuluh li, mereka duduk dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang rimbun.

Kwe Po Giok mengeluarkan perbekalan dari balik baju-nya.

Mereka duduk menikmati makanan kering itu.

Tiba-tiba, sebuah suara yang tidak asing berkumandang.

"Chow toako.... Aku rasa kita tidak mungkin termasuk dalam daftar,"

Kata orang yang pertama. Sebetulnya, selain Toa Tek To Hun, siapa yang berani memastikan dirinya termasuk dalam daftar?"

Sahut orang kedua.

"Paling tidak, Fang Tiong Seng pasti termasuk dalam daftar orang penting baginya. Tapi ternyata sampai sekarang...."

Kata orang yang pertama tadi lagi.

"Hanya waktunya saja yang belum sampai, Toa Tek To Hun mungkin melepaskan siapa saja, tapi tidak mungkin mencoret namanya dari daftar."

Sahut lagi orang yang kedua.

"Betul juga kata-katamu! Chow toako, menurutmu, apakah ada orang yang lebih bodoh dari Sun Put Ce di dunia ini?"

Tanya orang yang pertama.

"Hek Houw! Tidak boleh mengejek bodoh kepada manusia yang berbudi!"

Terdengar sahutan seorang gadis.

Sun Put Ce melirik Kwe Po Giok sekilas, Dalam hatinya terasa ada kehangatan, Meskipun selama ini, dia tidak perduli orang-orang selalu mengatakan dirinya bodoh!

seorang manusia yang sudah sering diejek bodoh, tidak akan merasa sakit hati lagi, Tentu berbeda dengan orang yang menganggap dirinya pandai.

Kwe Po Giok membalas tatapan Sun Put Ce.

Dia ikut merasa bangga mendengar perkataan sang gadis, Paling tidak, dia menganggap Sun Put Ce terlalu rendah diri, Ternyata gadis itu bermata tajam juga.

Dia memperhatikan rekannya dengan seksama, Tentunya ada alasan lainnya Iagi.

Orang yang selalu dikira berotak kayu ini ternyata sekali keluar rumah, sudah bertemu dengan Bwe Mei yang menghadiahkannya sebuah dompet, Sekarang gadis yang satu ini juga mempunyai pandangan tersendiri terhadapnya.

Bukankah tidak dapat dikatakan bahwa gadis-gadis ini manusia yang buta?

Mungkin juga Sun Put Ce seperti sebuah berlian yang belum diasah, Hanya orang yang ahli baru dapat melihat nilainya.

Tapi dalam hati Kwe Po Giok merasa tertekan, sebelumnya dia tidak akan menyangka kakek dan gadis itu adalah serombongan dengan Hek Houw.

sandiwara yang mereka lakukan terlalu meyakinkan Hek Houw juga memerankan dengan bagus.

Benarbenar tampak seperti orang yang suka menindas.

Pada saat itu, terdengar suara Peng Chow Ceng kembali.

"Apa yang dikatakan Ai Giok memang ada benarnya, Fang Tiong Seng pasti tidak akan memilih seorang yang bodoh dan tidak bisa apa-apa mengurus persoalan sebesar ini!"

Sun Put Ce seketika merasa hormat kepada Peng Chow Ceng, Bukan karena orang tua itu mengatakan dirinya tidak bodoh. Tetapi pujiannya kepada sang guru.

"Apakah kita harus memberi pelajaran kepada ketiga orang itu?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Mengapa harus memberi pelajaran kepada mereka?"

Sun Put Ce tidak mengerti.

"Mereka kan mempermainkan kita tanpa perasaan?"

Kata Kwe Po Giok kesal.

"Mungkin bagi perasaan kita terasa dipermainkan tapi mereka tidak menganggap demikian,"

Kata Sun Put Ce.

"Apakah mereka sedang melindungi dirinya sendiri?"

Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Sungguh tidak dinyana, Kau memang manusia berbudi seperti yang dikatakan oleh gadis itu,"

Kwe Po Giok menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sun Put Ce tertawa-tawa.

Mereka tidak jadi memberi pelajaran kepada ketiga orang tersebut Diri mereka dipermainkan hanya karena rasa takut mereka yang menuntut untuk mencari tahu, terlalu menyalahkan orang memang tidak baik!

-oooo0oooo-Bagian Empat Matahari bersinar dengan terik.

ini adalah hawa yang membuat orang-orang mengeluh tak tertahankan.

Di rumah keluarga Fang, jendela besar-besar berjumlah tiga buah telah dipentang dengan lebar, Rasa panas masih tetap tidak terhalau.

Pada waktu ini pepatah hati yang tenang akan terasa menyejukkan benar-be-nar terbukti, namun hati siapa yang sanggup tenang saat itu?

Tengah hari sudah semakin dekat Fang Tiong Seng duduk di kursi singa.

Wajahnya kelam.

Bibir Mo Put Chi semakin berkerut.

Dia benar-benar tidak sanggup menerima keangkeran nama Toa Tek To Hun.

Hari ini dia akan mendapatkan kesempatan untuk menyaksikannya sendiri, Fang Tiong Seng mengatakan padanya bahwa waktunya sudah sampai.

Dia tetap menganggap suhu sedang memberikan pelajaran kepadanya, karena mengharapkan dirinya tidak demikian keras kepala.

Hu Put Chiu berdiri di sebelah kiri Fang Tiong Seng, sedangkan Mo Put Chi di sebelah kanan.

Seluruh anak buah dan para pengawal berlutut dengan membuat dua baris berjajar.

Di pundak mereka terdapat sebuah buntalan dan pada masing-masing tangan tergenggam beberapa keping uang emas.

Meskipun matahari bersinar dengan terik, di dalam atau pun luar ruangan terasa kabut yang tebal.

"Kalian telah mengikuti aku selama bertahun-tahun. Namun di dunia ini tidak ada pesta yang tidak usai. Kalian pergilah!"

Katanya dengan wajah sendu.

Para anak buah dan pengawal membenturkan kepala ke lantai sebanyak tiga kali, Dengan air mata yang bercucuran, mereka mengundurkan diri, peristiwa ini bisa terjadi dalam keluarga Fang, siapa pun tidak akan menyangkal Tetapi masih ada sebagian orang yang tetap berdiri di tempatnya.

"Mengapa kalian belum pergi juga?"

Tanya Fang Tiong Seng heran.

Sebetulnya, Fang Tiong Seng sendiri tidak mempunyai kepastian diri, Kedua muridnya pun tidak berbeda.

Namun para pekerja di rumah Fang Tiong Seng masih tetap tidak ingin meninggalkan tempat itu.

Apakah mereka ingin menyerahkan nyawa secara percuma?

Seorang pelayan berusia lanjut maju ke depan, Dia menjura ke arah majikannya.

"Kami adalah orang-orang yang tidak mempunyai keluarga, Kami semua rela bertarung mati-matian dengan manusia jahat itu!"

Katanya tegas.

"Bertarung mati-matian ? Apakah kalian bisa bertarung melawanmu? Kalian hanya mengantarkan nyawa!"

Kata "Fang Tiong Seng dengan suara keras.

Kemarau memang telah tiba.

Namun dalam ruangan itu terasa ada awan yang tebal dan gelap, Airmata orang-orang yang hadir dalam ruangan itu berkilauan diterpa matahari, bagaikan sebatang pedang panjang yang bersinar ketika dihunus.

"Meskipun sudah pasti tidak dapat hidup, kami rela mati bersama Tuan!"

Kata pelayan tua tadi mewakili teman-temannya.

Fang Tiong Seng bangkit dari kursinya.

Mereka menatap orangorang itu dengan tajam, Mereka semua sudah berlutut di hadapannya, Kemarahan di wajahnya telah sirna.

Tiba-tiba Fang Tiong Seng tertawa terbahak-bahak.

Kadang-kadang sebuah suara tawa lebih menyakitkan dari ratap tangis.

"Tidak disangka aku, Fang Tiong Seng, masih mempunyai demikian banyak teman, Pada waktu biasa, mungkin aku sering kasar terhadap kalian, Hari ini, terimalah hormat saya!"

Katanya sambil menekuk kaki dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan para anak buahnya.

Jilid 03 Mo Put Chi dan Hu Put Chiu juga menjatuhkan diri seketika, Seluruh ruangan itu tidak ada yang tidak berlutut. Airmata dan suara ratap tangis memecahkan keheningan.

"Ambil pedangku!"

Teriak Fang Tiong Seng dengan gagah, Suara ini menggetarkan hati setiap orang, Mo Put Chi pun semakin yakin tidak akan kalah, Hu Put Chiu semakin riang, Anak buah Fang Tiong Seng tidak menangis lagi.

Seakan mereka yakin, asalkan pedang majikannya sudah tergenggam di tangan, tidak ada urusan yang tidak dapat diselesaikan.

Tidak ada musuh yang tidak dapat dikalahkan Mereka berdiri serentak dengan gagah.

-oooo0oooo-Hawa terasa menyengat.

Di mana-mana sama, tidak terkecuali di pegunungan.

Tidak ada angin yang bertiup, Tumbuh-tumbuhan terpaku tidak bergerak, Hanya langkah kaki Kwe Po Giok dan Sun Put Ce yang tidak henti bergerak.

Dalam pertengahan Tiong Chiu, mereka harus sampai di perkampungan nelayan daerah laut Timur, Walaupun waktunya sudah tidak lama lagi, tetapi mereka tidak mau tergesa-gesa.

Meskipun langkah kaki menuju arah Timur Laut, hati mereka tetap berada di tempat asal mereka datang.

"Sekarang sudah tengah hari,"

Kata Kwe Po Giok dengan mata memandang jauh.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Sekarang manusia jahat itu pasti sudah sampai di Jin Gi Tong, ruangan dalam keluarga Fang yang berarti ruangan adil bijak-sana,"

Kata bocah itu kembali.

"Betul!"

Kata Sun Put Ce. Siapa pun tidak ingin memandang mata teman seperjalanannya, Tetapi meskipun mereka tidak saling memandang, mereka tahu bagaimana perasaan hati masing-masing.

"Pedang, telapak tangan dan senjata rahasia lopek sangat terkenal, Mungkinkah dari ketiga ilmu itu tidak ada satu pun yang sanggup mengalahkan Toa Tek To Hun?"

Kwe Po Giok sulit untuk menerima kenyataan ini.

Sun Put Ce tidak menyahut Dia membalikkan tubuh ke arah Tenggara dan berlutut.

Laki-laki itu menyembah sebanyak tiga kali.

-oooo0oooo-Langkah kaki terus menuju timur laut, namun hati tetap beralih ke arah Tenggara, lama sekali kedua orang itu tidak berkata apa-apa.

Memang tidak ada uraian yang dapat menjelaskan perasaan hati mereka.

Kwe Po Giok benar-benar tidak tahan lagi, Dalam hal berdiam diri, dia masih bukan tandingan Sun Put Ce.

"Coba kau bayangkan.,., Bagaimana keadaan Jin Gi Tong sekarang?"

Tanyanya, Sun Put Ce menyahut.

"Kau tidak memikirkan atau sama sekali tidak berani berpikir?"

Lagi-lagi Kwe Po Giok.

"Pikiran manusia paling sulit dikendalikan bukan?"

Sahut Sun Put Ce.

"Tidak salah! Banyak para pertapa yang mensucikan dirinya mengalami kegagalan karena tidak sanggup mengendalikan pikirannya!"

Kata Kwe Po Giok seraya menarik nafas. Sun Put Ce tidak memberikan tanggapan.

"Mereka tidak dapat tidak memikirkan kejadian yang telah mereka alami selama hidup!"

Kata Kwe Po Giok.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Maka dari itu, dalam buku sejarah Toa Chiu Yin Guan Bun ada sebuah pepatah! Setiap tanaman pasti berakar! Tahukah kau artinya tanaman di sini?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Kalau kau sudah tahu, buat apa bertanya?"

Kata Sun Put Ce.

"Mengapa engkau tidak tolong menjelaskan?"

Tanya Kwe Po Giok.

"Maksudnya kenangan dan pikiran!"

Sahut Sun Put Ce terpaksa.

"Kalau ada yang berani mengatakan Sun Put Ce tidak berakal, lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan hal itu,"

Kata Kwe Po Giok. Sun Put Ce hanya melirik sekilas tanpa menjawab.

"Tahukah engkau mengapa saya berkata demikian?"-tanya Kwe Po Giok.

"Tentu ada alasanmu sendiri!"

Sahut Sun Put Ce kalem.

"Omonganmu kadang-kadang seperti mengoceh sembarangan, sebetulnya tidak!"

Kata Kwe Po Giok dengan wajah serius.

Sun Put Ce meneruskan langkah dengan perlahan, Dari jauh terlihat sebuah sungai.

Sebuah perahu kecil sedang berlayar di tengah sungai itu.

Tiga orang dengan pedang di tangan sedang berdebat.

"Lautan tak terbatas, seperti hawa amarah dalam diri manusia, Manusia di kalangan BuIim seperti tidak tahu apa artinya kebaikan. Mereka menjadi suka saling membunuh,"

Kata Kwe Po Giok sambil tertawa dingin.

"Benar juga!"

Sahut Sun Put Ce.

"Apakah kita harus menyeberangi sungai itu juga?"

Tanya Kwe Po Giok kepada teman seperjalanannya.

"Bila tidak, kita terpaksa memutar cukup jauh!"

Sahut Sun Put Ce.

Lebar sungai itu kira-kira tiga puluh meter, Jago yang mempunyai kepandaian setinggi apa pun, tidak mungkin dapat melayang ke seberang, Mau tidak mau, mereka harus naik perahu.

Perahu kecil itu paling-paling panjangnya dua setengah meter, Lebarnya tidak mencapai satu meter, Di dalamnya terisi empat orang.

Yang satu adalah tukang perahu, Kakinya besar dan tampak tidak kokoh, usianya sekitar empat puluh lima tahunan.

Tangannya besar dan berotot, Bambu hijau yang tergenggam di kanan kiri bergerak cepat, Seperti seekor capung besar yang sedang beterbangan Ketiga orang lainnya, yang satu tua dengan rambut yang sudah berwarna putih, Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh, Hidungnya merah, alisnya panjang.

Satunya lagi, hampir sebaya dengan si tukang perahu, Bajunya perlente, wajahnya tenang, dengan sebuah pedang di tangan.

Yang paling muda usianya sekitar tiga puluhan Tampangnya terpelajar Juga menggenggam sebatang pedang, Bahkan pedang yang bagus, Ketiga orang itu sedang bertarung.

Bila yang tua menyerang yang paling muda, laki-laki setengah umur itu akan membantu yang muda.

Dan kalau yang muda membalas serangan yang tua, yang setengah baya itu juga akan beralih membantu yang tua.

Pertarungan seperti ini membuat orang yang melihatnya bingung, Mereka yang sendiri meskipun tahu masalahnya, juga tidak dapat berpikir bagaimana cara menyelesaikan urusan tersebut!

Tukang perahu duduk di ujung dan memperhatikan pertarungan ketiga orang itu.

Air yang memercik memenuhi perahu pun tidak diperdulikannya.

Kwe Po Giok dan Sun Put Ce duduk di sebuah rumah kayu yang digunakan untuk tempat meneduh dan memperhatikan jalannya pertarungan itu Tukang perahu membuka topi kerudungnya.

Ternyata dia adalah seorang perempuan.

"Apa yang sebetulnya kalian pertengkarkan? Apakah kalian tidak jadi menyeberangi sungai?"

Tanyanya kesal.

"Toaso.... di antara kami, hanya satu orang yang boleh menyeberangi sungai ini."

Kata orang yang paling muda.

"Mengapa? Apakah kedua orang yang lainnya tidak jadi menyeberang!"

Tanya tukang perahu itu heran.

"Bukan! Mereka akan dijadikan umpan ikan!"

Sahut orang yang paling muda itu.

Tukang perahu itu tidak bersuara lagi.

Sebetulnya siapa yang akan menjadi umpan ikan, saat ini masih terlalu pagi dibicarakan.

Orang yang tertua itu jelas dari Go Bi pay, ilmu mengapung di atas airnya telah menunjukkan identitas dirinya, Juga sangat lihai.

Kepandaiannya di darat mungkin tidak berapa hebat.

Terlihat dari caranya mengelit serangan laki-laki setengah baya itu, tetapi meskipun sinar pedangnya berkilauan, sekali berbentur dengan pedang pusaka di tangan orang yang paling muda pasti akan menyebabkan pedang lawan bergetar.

"Kalau dinilai dari umur, aku yang paling tua. Mestinya aku yang menyeberang dan menerima barang,"

Kata si orang tua. Laki-laki setengah baya tadi tertawa dingin.

"Umur tua apa gunanya? Manusia yang mati di pedang Toa Tek To Hun semuanya berusia limapuluh ke atas!"

Katanya dengan nada mengejek.

"Oey Kek Bun, Yap Thian! Kalian masih belum pantas untuk menerima barang itu, Di antara kita bertiga, mungkin hanya aku It Cheng Hong yang paling pantas, Kalian terjunlah ke dalam sungai. Aku tidak tega membunuh kalian!"

Kata si orang muda.

Rupanya orang tua itu adalah Pak Hay Ok Hi alias si Nelayan buas dari laut Utara, Oey Kek Bun.

Dan laki-laki setengah baya itu adalah Bong San To Mo atau iblis pedang dari Bong San.

pertarungan mereka kali ini, lagi-lagi untuk menghindari diri dari keganasan Toa Tek To Hun.

Hanya karena kedatangan pembunuh bayaran dari Fu Sang tersebut, jago-jago Bulim jadi gempar dan ketakutan.

Nama It Cheng Hong memang terkenal, tapi kalau dibandingkan dengan Cheng Song dan Lie Cheng Hong masih kalah satu tingkat, Apakah setelah membunuh para jago kelas satu, Toa Tek To Hun juga akan membasmi para jago kelas dua?

Tidak ada seorang pun yang tahu!

Kwe Po Giok dan Sun Put Ce memandang ke arah jembatan penyeberangan Di sana terhenti sebuah tandu dengan warna-warna yang menyolok, Selain empat orang laki-laki bertubuh tegap sebagai penggotong tandu, masih ada dua gadis muda dengan pakaian semarak berdiri di kiri kanan tandu tersebut.

"Apalagi itu?"

Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya.

"Pertengkaran mereka tampaknya ada hubungan dengan tandu berwarna warni itu,"

Kata Kwe Po Giok.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

"Mungkin orang atau barang yang ada dalam tandu tersebut,"

Kata Kwe Po Giok.

"Betul!"

"Kalau kita berebut untuk menyeberangi sungai lebih dahulu, mungkin kita yang akan mendapatkan orang atau barang dalam tandu itu!"

Kata-kata Kwe Po Giok seperti penjelasan juga seperti pertanyaan.

"Buat apa harus berbuat seperti kata-mu?"

Tanya Sun Put Ce.

"Kalau barang yang dapat membuat orang puas dan senang?"

Kata Kwe Po Giok memancing reaksi rekannya.

"Tidak ada bedanya!"

Sahut Sun Put Ce tegas.

"Sama?"

Tanya Kwe Po Giok heran melihat keteguhan manusia yang satu ini. Sun Put Ce mengangguk yakin.

"Apakah kau tahu siapa atau barang apa ! yang ada dalam tandu itu?"

Tanya Kwe Po Giok. Sun Put Ce menggelengkan kepalanya kali ini.

"Penyakit lamamu kambuh lagi! Kalau kau tidak tahu siapa atau barang apa yang ada dalam tandu itu, mengapa kau mengatakan tidak ada bedanya?"

Tanya Kwe Po Giok penasaran. Sun Put Ce tetap tidak menjawab.

"Coba kau jelaskan!"

Desak Kwe Po Giok.

"Karena di dunia ini tidak ada barang yang tidak berharga, Hanya tergantung dari sudut mana kita melihatnya!"

Akhirnya Sun Put Ce menjelaskan.

"Perkataan itu memang benar Namun apakah ketiga orang itu juga tidak tahu pernyataan ini?"

Kata Kwe Po Giok.

"Betul!"

Sahut Sun Put Ce.

Kwe Po Giok jadi malas meneruskan perdebatan yang tidak ada penyelesaiannya itu.

Pada saat yang sama, laki-laki muda itu telah mengelit dari serangan orang tua tersebut Kakinya dengan gerakan cepat menendang ke arah orang berusia setengah baya.

Tendangan itu bukan main kerasnya, tepat pada perut Bong San to mo.

"Pung!"

Suara benda berat terjatuh ke dalam air terdengar jelas, Tidak terlihat Bong San to mo muncul lagi ke permukaan, orang tua itu seakan sadar bukan tandingan It Cheng Hong, tanpa menunggu diserang lagi, dia terjun ke dalam sungai.

It Cheng Hong menyarungkan pedangnya dan tertawa terbahakbahak.

Pada saat itu, dia semakin yakin, bahwa dalam daftar hitam Toa Tek To Hun pasti tertera namanya.

Bila dia adalah pembunuh bayaran itu, dan mengetahui sekarang ada seorang manusia seperti It Cheng Hong, dia juga tidak akan melepaskannya!

Suara tawanya terdengar aneh, Dia sedang menertawai dirinya yang dapat mengalahkan dua jago kelas dua dunia persilatan Dengan demkian dirinya naik satu tingkat menjadi jago kelas satu.

Namun dia juga berduka karena pasti tidak akan terlepas dari manusia jahat dari Fu Sang itu, Dalam tawanya tersirat nada suka dan duka.

"Tukang perahu! Cepat kendalikan perahu menuju jembatan penyeberangan!"

Perintahnya sambil tertawa terus, Dia baru sadar, akibat pertarungan tadi, perahu sudah tergeser makin menjauh.

Dia tidak menyangka sepasang bambu hijau di tangan tukang perahu itu secepat kilat hampir menghantam punggungnya, Dengan ketangkasan yang tak kalah cepat, It Cheng Hong berkelit.

Dia tertawa keras, It Cheng Hong menghentakkan kaki ke landasan perahu, tangannya memegang badan perahu sebagai tumpangan, Dengan sekali loncat, dia sudah sampai di ujungnya.

Serangan yang gagal, membuat tukang perahu itu terkejut It Cheng Hong benar-benar berarti sehembusan angin.

Paling tidak, kecepatannya sama.

Dia sadar kega-galannya akan berekor panjang, Tanpa berpikir dua kali lagi, perempuan setengah baya itu terjun ke dalam sungai.

Sekali lagi It Cheng Hong tertawa nyaring, nadanya terdengar penuh keangkuhan.

Seakan dia sudah merajai rimba persilatan Toa Tek To Hun terlupakan untuk sementara.

Dia mengambil dayung bambu hijau yang tertinggal oleh perempuan tadi.

It Cheng Hong lalu mengayuh dengan kencang dan sekuat tenaga, Tapi perahu tersebut tidak meluncur bahkan membuat sebuah lingkaran It Cheng Hong mencoba sekali lagi.

Namun yang terjadi tetap sama, Suatu hal yang memang belum pernah dilakukan, kalau dilihat terasa mudah.

Tapi tidak demikian bila kita mencobanya sendiri.

Tadi It Cheng Hong melihat perempuan tukang perahu itu mendayung dengan mudah, seperti tidak mengeluarkan tenaga sama sekali.

Dicobanya berulang-ulang, tapi hasilnya tetap sama.

Perahu itu sudah mirip sebuah komedi putar, Terus membuat lingkaranlingkaran Wajah It Cheng hong merah padam karena kesal Dia mengangkat dayung itu dan mencoba sampai lima enam kali.

Tentu saja bagi orang yang mengerti caranya, melakukan hal seperti itu mudah sekali, Dengan marah, It Cheng Hong mematahkan dayung bambu tersebut menjadi dua bagian Dengan demikian, bila dia ingin menyeberangi sungai, rasanya harus meminta kemurahan hati Thian yang di atas untuk menghempaskan angin kencang!

Pada musim panas seperti ini, darimana datangnya angin?

Pada saat itu juga, dua orang manusia melayang ke atas perahu itu.

It Cheng Hong menolehkan kepala untuk melihat Tentu saja dia tidak mengenal Sun Put Ce dan Kwe Po Giok.

Ternyata tanpa diduga Sun Put Ce telah mencengkeram leher baju Kwe Po Giok dan membawanya melayang ke atas perahu tersebut It Cheng Hong marah sekali, Dia mengeluarkan pedangnya dan bersiap-siap menyerang kedua orang itu.

"Kurang ajar! Kalian ingin mencari keuntungan dariku?"

Bentaknya. Sun Put Ce bergeser ke samping, Dia mengibas-ngibas tangannya dengan repot.

"Saudara jangan salah paham!"

Katanya.

"Apa yang salah paham? Kalian pasti ingin menarik keuntungan dariku!"

Sahut It Cheng Hong menatap tajam.

"Siapa yang ingin menarik keuntungan darimu? Apakah kau bisa menyeberangi sungai ini?"

Tanya Sun Put Ce.

"Bisa atau tidak, apa urusannya dengan-mu?"

Bentak It Cheng Hong.

"Kalau kau tidak dapat menyeberangi sungai ini, mana mungkin urusanmu bisa terselesaikan?"

Tanya Sun Put Ce tenang.

Kwe Po Giok yakin kali ini It Cheng Hong tidak akan berani mengatakan urusanku selesai atau tidak, apa urusannya denganmu?

Ternyata dugaannya memang tidak ke-1iru.

Menyeberangi sungai rasanya sangat penting bagi It Cheng Hong, Apakah di dalam tandu yang ada di jembatan penyeberangan sana ada seorang gadis secantik bidadari?

persoalan ini mungkin hanya It Cheng Hong yang dapat menjawab, Mungkin juga dia sendiri kurang jelas!

Hal yang paling sulit diterima di dunia ini adalah ketidak tahuan....

"Byar, Byur!"

Suara air yang terpukul oleh dayung menyegarkan hati It Cheng Hong, Sun Put Ce mendayung dengan cepat, Sebentar saja sudah jauh ke tengah.

"Loheng, mengapa tidak sejak tadi kau mengatakan bahwa kau menguasai ilmu yang satu ini?"

Tanya It Cheng Hong dengan senyum lebar. Sun Put Ce tidak menjawab, Bibirnya menyungging senyuman yang tipis.

"Siapa nama besar loheng? Melihat gerakanmu melayang ke perahu sambil mencengkeram bocah ini, rasanya lumayan juga, Meskipun masih kalah sedikit dari aku!"

Katanya dengan suara bangga. Sun Put Ce tetap tersenyum saja tanpa menjawab.

"lt Cheng Hong taihiap! Hari ini adalah pesta kemenanganmu bukan?"

Kata Kwe Po Giok dengan nada mengejek.

"Siapa yang menyuruh anak kecil seperti kau ikut bicara?"

Bentak It Cheng Hong.

"Kalau dilihat dari keindahan tandu ,di seberang itu, isinya tentu seorang pengantin yang cantik jelita...."

Kwe Po Giok seperti berkata pada dirinya sendiri. It Cheng Hong tidak menjawab, Dia hanya memandang tandu itu dengan tatapan mata yang tajam, Wajahnya berubah-ubah.

"Aneh sekali... Kalau mendengar pembicaraan kalian bertiga tadi. Rasanya kalian sedang memperebutkan orang atau barang dalam tandu itu. Tetapi tampaknya kau...."

Kata-kata Kwe Po Giok terhenti It Cheng Hong mendelikkan matanya dengan garang.

"Dasar! Kalau tidak bicara bisa mati? Kalau berani mengucapkan sepatah kata lagi. Loocu akan menebas kepalamu!"

Teriak It Cheng Hong kesal.

"Kalau dilihat dari tandunya saja, sudah begitu mewah!"

Kata Sun Put Ce.

"Tentu saja,"

Sahut It Cheng Hong tidak berani membentak Sun Put Ce karena dia masih membutuhkan orang itu.

"Keluarga pengantin ini pasti kaya raya...."

Kata Sun Put Ce kembali.

It Cheng Hong diam tidak menyahut.

Pada saat itu, perahu sudah hampir mendekat dengan jembatan penyeberangan tersebut It Cheng Hong tampaknya tidak sabar lagi.

Baca Juga: Golok Halilintar 6

Baca Juga: Pendekar Cacad 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert