Ceritasilat Novel Online

Panji Wulung 1

Eps 1 Panji Wulung - Opa

Baca online Panji Wulung - Opa

Cersil Panji Wulung - Opa.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com. Panji Wulung Saduran . OPA

Jilid 1 Angin meniup, Panji Wulung berkibar di angkasa.

Megah, angker, lambang keagungan sepanjang masa.

Berkuasa, berpengaruh, untuk seluruh jagat raya.

Di dalam rimba persilatan, akulah Rajanya ....!

Sajak Panji Wulung ini, pada seratus tahun berselang telah tersiar luas dialam rimba persilatan.

Tiada seorangpun tahu siapa yang menulis dan siapa orang pertama yang menyiarkan sajak itu.

Orang hanya merasa karena sifatnya yang gagah dalam sajak itu, sehingga banyak orang rimba persilatan senang menyanyikan sajak itu.

Apakah arti Panji Wulung ?

Oleh karena waktunya sudah lama, tiada seorangpun yang dapat menjelaskan.

Orang hanya tahu sewaktu nyanyian itu tersiar di dalam rimba persilatan, ada terjadi suatu peristiwa menggemparkan, dimana duabelas tokoh rimba persilatan kenamaan untuk masa itu dalam waktu setahun kedapatan mati terbunuh dalam keadaan sangat mengerikan.

Siapa pembunuhnya ?

Juga tak seorangpun yang pernah melihat.

Mungkin hanya sang korban sendiri yang tahu.

Tetapi apalah gunanya, yang mati toch sudah mati, sekalipun mereka betul-betul ingat wajah pembunuhnya, apalah gunanya kalau jiwa mereka sendiri tak dapat mereka selamatkan.

Dapatkah mereka hidup kembali untuk menceritakan halnya kepada orang lain ?

Tentu tidak !

Adapun cara kematian dan keadaan sebelum maut merenggut nyawa keduabelas tokoh tersebut adalah serupa belaka.

Pertama-tama mereka terlebih dahulu telah menerima bingkisan berupa panji kecil berukuran lima dim warna hitam, dan pada hari ketiganya sesudah menerima panji itu batok kepala si korban pisah dari tubuhnya !

Cuma dalam jangka waktu beberapa hari batok kepala yang lenyap itu kalau tidak muncul dirumah kerabat terdekat sang korban, tentulah akan "berkunjung"

Kesuatu tempat pertemuan orang-orang rimba persilatan, sekalipun jauhnya ribuan pal dari tempat kejadian.

Kejadian aneh ini benar-benar merupakan peristiwa luar biasa, tidaklah heran kalau menggemparkan rimba persilatan.

Tetapi keanehan bukan cuma sampai disitu saja, batok kepala yang diantar ke tempat sejauh ribuan pal itu, meskipun sudah lewat beberapa puluh hari, sedikitpun tidak rusak atau membusuk, keadaannya masih tetap seperti di waktu hidup, tiada seorangpun tahu apa sebabnya.

Peristiwa itu, pada masa itu benar-benar sangat menggelisahkan orang-orang rimba persilatan daerah Tiong goan, hampir semua orang anggap panji kecil tidak berarti itu sebagai benda maut, maka semua menyebut pembunuh yang ganas itu sebagai PANJI WULUNG.

Panji Wulung penyabut nyawa itu, dimana ia muncul, selalu membawa kematian jiwa manusia, maka sejak terjadinya peristiwa itu, siapapun tidak berani lagi menyanyikan sajak Panji Wulung itu, oleh karena semua orang menganggapnya bahwa sajak itu sebagai lagu kematian.

Sejak Panji Wulung meminta korban orang yang pertama, mulai saat itulah dimana panji itu muncul, atau orang yang membicarakannya, semua pada ketakutan setengah mati.

Kejadian yang menggemparkan, yang ditimbulkan oleh Panji Wulung itu, setelah minta korban jiwa duabelas tokoh rimba persilatan, kemudian telah menghilang secara mendadak.

Sepuluh tahun !

Duapuluh tahun !

Limapuluh tahun ..........

telah berlalu, selama itu tiada terdengar lagi ancaman dengan munculnya Panji Wulung.

Masih hidup atau sudah mati ?

Mengapa Panji Wulung mendadak menghilang ?

Ini menjadi pertanyaan dalam hati setiap orang.

Selama hampir seratus tahun menjadi suatu teka-teki yang tidak terpecahkan.

Selama seratus tahun ini, orang-orang kuat rimba persilatan yang sudah mendapat nama, setiap kali menyebut kejadian yang ditimbulkan oleh Panji Wulung, masih merasa jeri dan bergidik.

Tak disangka pada suatu hari setelah seratus tahun kemudian, Panji kecil hitam penyabut nyawa itu, dengan tiba-tiba muncul di kalangan kang-ouw lagi.

Munculnya panji kecil itu bagaikan halilintar di siang hari bolong, semua orang khawatir, karena dengan munculnya panji itu, dalam rimba persilatan akan gempar lagi.

Orang yang pertama-tama menerima panji maut itu, adalah seorang jago muda yang baru timbul dan mulai nanjak namanya, jago muda itu dikenal sebagai pendekar yang kenamaan Touw Liong.

Usia Touw Liong, baru kira-kira duapuluh tahun, dua tahun yang lalu ceburkan diri dalam dunia kang-ouw, lantas menggabungkan diri dengan golongan kebenaran dan turut ambil bagian dalam pertempuran membasmi orang jahat nomor satu dari golongan hitam, si burung hantu Koo Hong.

Dalam pertempuran hebat antara golongan putih dan golongan hitam ini, Koo Hong terluka di ujung pedang Touw Liong, dan terjatuh dalam gua berapi.

Selanjutnya tidak terdengar lagi kabar beritanya tentang penjahat itu, entah masih hidup atau sudah mati, tetapi orang-orang rimba persilatan semua menganggap bahwa Koo Hong sudah mati.

Sejak hilangnya Koo Hong, kejahatan yang ditimbulkan oleh orang-orang golongan hitam mulai sirep, dan nama Touw Liong mulai menanjak, sehingga mendapat gelar sebagai pendekar nomor satu dan selanjutnya, kemana saja dia sampai, orang-orang rimba persilatan, baik dari daerah Selatan maupun dari daerah Utara, semua memperlakukannya sebagai tamu terhormat.

Dalam rimba persilatan, orang hanya tahu ia memiliki kepandaian ilmu silat yang tidak dapat ditaksir betapa tingginya, orang tidak tahu ia dari golongan mana.

Selama itu masih merupakan tanda tanya bagi setiap orang, sudah tentu jikalau ia sendiri tidak mau menerangkan, siapapun tidak berani menanya.

Selama dua tahun itu, ia sudah menjelajah hampir seluruh daerah Selatan dan Utara, dimana Touw Liong berada, segala peristiwa kecil atau besar dalam rimba persilatan, asal ia campur tangan semua beres.

Touw Tayhiap !

Touw Tayhiap !

Sebutan itu hampir menjadi buah bibir setiap orang rimba persilatan, semua orang rimba persilatan memandangnya sebagai bintang muda yang cemerlang.

Waktu dua tahun, dengan cepat telah berlalu, musim semi tiba lagi.

Hari itu, di atas loteng rumah makan Gakyang-lauw, orang sedang ramai untuk bersantap tengah hari, di mulut tangga mendadak muncul seorang muda berpakaian ringkas dan menjoren pedang di punggungnya, pemuda itu usianya tidak lebih dari duapuluh tahun.

Pemuda itu bukan saja tampak seperti seorang gagah perkasa, tetapi juga tampan wajahnya, maka begitu muncul lalu menarik banyak perhatian orang.

Pemuda itu celingukkan matanya, agaknya sedang mencari seseorang, setelah itu mengerutkan alisnya, menghela napas pelahan dan menggeleng-gelengkan kepala, agaknya merasa kecewa.

Selagi hendak memutar tubuh dan turun tangga, tiba-tiba ada seseorang yang turun dari atas loteng, menyentuh bahunya dan berkata dengan suara perlahan .

"Nona ! Orang yang kau cari, lolap tahu, mengapa kau tidak menanyakan kepadaku ?"

Pemuda itu mukanya marah seketika, berpaling mengawasi orang yang berkata kepadanya.

Orang itu ternyata seorang imam berpakaian rombeng dan mesum, rambutnya awut-awutan, pinggangnya tergantung sebuah buli-buli merah, dengan jalannya sempoyongan turun ke bawah.

Pemuda itu nampak ragu-ragu, sebentar kemudian menyusulnya.

Dengan jalan berputar-putaran menyusuri tepi telaga Tong-ting-ouw, tibalah di sebuah kupel yang dibangun di permukaan air di tepi telaga.

Imam miskin itu melangkah masuk ke dalam kupel, dengan kedua tangannya ia mengangkat buli-bulinya dan minum isi araknya, minum setengah, sisanya yang masih di dalam mulut disemburkan sehingga seperti hujan gerimis, semburan arak itu sudah tentu membasahi juga pemuda tadi yang mengikutinya.

Pemuda itu mengerutkan alisnya, tetapi ia tetap menahan sabar.

Imam miskin itu seolah-olah tidak menghiraukan keadaan orang lain, ia pentang lebar mulutnya dan menarik napas panjang, kemudian memesut bibirnya yang basah karena arak lalu menggumam sendiri .

"Arak bagus ! Arak bagus ! Arak Tong-ting-jun sungguh tidak kecewa, namanya terkenal sebagai arak yang baik !"

Pemuda itu tadi berhenti diluar kupel, setelah bersangsi sejenak, akhirnya ia maju menghampiri dan memberi hormat seraya berkata ."

"Mengapa taysu tahu aku sedang mencari .........."

"Hmm .....! Hmm !"

Demikian suara itu keluar dari mulut Imam tadi, yang lalu angkat muka dan menggoyanggoyangkan kepalanya, kemudian mendelikkan matanya dan berkata .

"Aku bukan cacing dalam perutmu, bagaimana aku tahu kau mau cari siapa?"

Pemuda itu melengek, sedangkan imam tua itu sudah menggantungkan lagi buli-bulinya dipinggangnya.

Kemudian berlalu meninggalkan pemuda itu begitu saja, ketika ia berlalu kembali menyentuh tubuh pemuda itu dan sebentar kemudian sudah menghilang.

Sebelum menghilang dari depan pemuda itu, imam itu tiba-tiba mengacungkan jari tangannya menunjuk sebuah sampan yang sedang didayung diatas telaga seraya berkata .

"Mencari lelaki tidak susah, diatas sampan itu toch banyak laki-laki muda yang semuanya bagus-bagus !"

Pemuda itu selagi hendak marah, tetapi ketika menundukkan kepala, lama tidak dapat mengangkatnya lagi.

Ketika ia angkat mukanya lagi, imam tua itu sudah tidak tampak batang hidungnya.

Sementara itu di dekat kupel itu tampak sebuah sampan sedang menepi, di atas sampan itu berdiri seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan.

Pemuda itu berseru kaget, dan mulutnya tercetus perkataan .

"Suheng."

Kemudian melompat melesat ke dalam sampan.

Pemuda di atas sampan itu agaknya terkejut mendengar suara tadi, tetapi setelah mengetahui siapa orangnya yang menghampirinya, bukan kepalang girangnya, maka segera menyongsongnya sambil berseru perlahan.

"Sumoy!"

Pemuda tadi segera memeluk pemuda baju sastrawan, matanya mendadak merah dan berkata dengan suara hampir seperti menangis.

"Suheng ! Dengan susah payah aku mencarimu !"

"Sumoy .........."

Berkata pemuda pakaian sastrawan itu kaget, seolah-olah dikejutkan oleh perbuatan pemuda itu tadi yang memeluk dirinya.

Pemuda tadi juga seolah-olah baru sadar, ia melepaskan pelukannya dan mundur tiga langkah, dengan muka merah menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara sangat perlahan.

"Suheng."

Ucapan suheng itu sudah cukup untuk mengutarakan cinta kasihnya yang selama itu terbenam dalam kalbunya.

Hening sekian lama, kedua-duanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, lama sekali pemuda berpakaian sastrawan tadi baru bertanya.

"Apakah suhu baik-baik saja ?"

"Suhu baik-baik saja !"

Jawab pemuda tadi.

"Sumoy, kali ini kau turun gunung dengan membawa tugas suhu untuk mencari pengalaman, atau sengaja mencari aku ?"

"Suhu perintahkan aku turun gunung untuk mencari Suheng ..........!"

"Ada urusan apa ?"

Sang sumoy itu memandang keadaan sekitarnya sejenak, kemudian berkata dengan suara perlahan.

"Suhu perintahkan suheng supaya lekas pergi ke kota Keng-siang, sebab ..... batu giok merah khun-ngo berada disana, jikalau suheng sudah dapat menemukan batu giok itu, lekas suheng bawa pulang kegunung Kiu-hoa-san, suhu sudah menantikan barang itu untuk membuat pedangnya."

Pemuda berpakaian sastrawan itu tertawa terbahakbahak, kemudian dengan suara perlahan ia menyanyikan syair Suma Siang Su yang memuji keindahan batu giok itu.

Hampir semua orang rimba persilatan tahu bahwa batu giok merah yang bernama Khun-ngo-giok itu dapat digunakan sebagai pembuat pedang Khun-ngo-kiam.

Pedang Khun-ngo-kiam adalah pedang dari segala rajanya pedang, dengan pedang Khun-ngo-kiam ditangan, semua pedang yang ada didalam dunia sudah tidak ada artinya lagi, maka dengan suara berulang-ulang pemuda itu menyebut nama pedang Khun-ngo-kiam.

"Kapan suheng berangkat ?"

Tanya sang Sumoy.

"Sekarang juga !"

Jawabnya tanpa berpikir.

"Baik ! Mari kita berangkat."

Kata sumoy perlahan.

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan dengan sampannya.

Pemuda berpakaian sastrawan itu tadi bukan lain dari pada pendekar kita yang kenamaan Touw Liong, sedang gadis yang menyaru laki-laki tadi adalah Sumoynya yang bernama Kim Yan.

Kedua suheng dan sumoy itu sejak masih kanak-kanak hidup bersama-sama dibawah asuhan seorang guru silat.

Maka hubungan mereka seperti saudara kandung.

Perjalanan itu dilakukan dengan perahu sampan, dalam waktu lima hari sudah tiba ke kota King-siang.

Begitu tiba di dalam kota mereka mencari tempat penginapan lebih dahulu, kemudian pergi menyerepi benda yang dicari.

Hari pertama berada di kota itu, mereka berputar-putaran di dalam dan diluar kota, juga pergi makan minum di rumah makan, tetapi tidak mendapat dengar kabar apa-apa, sebaliknya di dalam kota itu ia menemukan orang-orang rimba persilatan dari berbagai tempat yang jumlahnya tidak sedikit.

Touw Liong tahu bahwa berita tentang munculnya batu giok berwarna merah itu benar-benar sudah mengejutkan rimba persilatan, maka munculnya banyak orang rimba persilatan kenamaan di kota itu, sudah tentu karena tertarik oleh berita itu.

Hari pertama itu dilewatkan dengan selamat tak ada kejadian apa-apa.

Hari kedua masih pagi-pagi sekali, ketika Touw Liong membuka mata, telah melihat daun jendela ada tanda-tanda, seolah-olah di waktu malam pernah dibuka dan kemudian ditutupnya lagi, maka diam-diam terkejut dan buru-buru buka matanya, memeriksa keadaan dalam kamar, dan apa yang dilihatnya, saat itu membuatnya melengek.

Diatas meja, tertancap sebuah panji kecil berwarna hitam dengan gagang batu giok berwarna ungu, berukuran kirakira lima dim.

"Panji Wulung ..........!"

Touw Liong berseru kaget.

Seruan itu segera terdengar oleh Kim Yan yang berada di kamar sebelah.

Dengan terbirit-birit Kim Yan lari masuk ke kamar suhengnya.

Begitu melihat panji yang tertancap di atas meja, ia juga terkejut hingga lama tidak bersuara .....

Ini bukan berarti bahwa mereka takut, sesungguhnya karena nama Panji Wulung itu ternyata besar pengaruhnya, peristiwa yang ditimbulkan olehnya juga pernah menakutkan orang-orang rimba persilatan, dengan lain perkataan, barang siapa yang menerima Panji Wulung hanya tinggal hidup tiga hari lagi, ini juga berarti Touw Liong dalam waktu tiga hari harus mati, tidak ada waktu lagi untuk mengadakan kompromi.

Maka siapa orang yang menerimanya tidak terkejut ???

Suheng dan sumoy itu setelah saling berpandangan sejenak, Touw Liong mendadak tertawa terbahak-bahak.

Hal ini sesungguhnya mengejutkan Kim Yan, maka buruburu menanyanya .

"Mengapa suheng ketawa ?"

"Harimau, meskipun sudah mati ! Tetapi kulitnya dan sisa wibawanya masih cukup mengejutkan orang !"

Jawab Touw Liong sambil menunjuk panji di atas meja. Kim Yan mengerti maksud suhengnya, namun ia menggelengkan kepalanya tidak setuju pendapat suhengnya, katanya dengan suara duka .

"Panji Wulung adalah seorang tokoh tingkatan tua pada seratus tahun berselang, tetapi kini telah muncul secara mendadak, sudah tentu bukan tidak ada sebabnya. Mungkinkah orang ini adalah Panji Wulung yang pada seratus tahun berselang membunuh duabelas tokoh terkuat rimba persilatan ? Ataukah murid keturunan Panji Wulung ? Lagi pula dengan secara sangat misterius tadi malam ia dapat menancapkan panji ini diatas meja, tanpa diketahui atau didengar oleh suheng, suatu bukti bahwa orang ini memang memiliki kepandaian yang tidak boleh kita pandang ringan."

"Perkataanmu ini memang banyak benarnya, orang ini bukan seorang dari golongan sembarangan. Manusia yang bisa hidup sampai seratus dua atau tigapuluh tahun, bukanlah tidak mungkin. Tetapi suhu kita adalah seorang sempurna dalam segala-galanya, aku dan denganmu yang menjadi muridnya bagaimana boleh merendahkan derajatnya ? Tentang panji ini, menurut pikiran suhengku ..........!"

Berkata sampai di situ ia menunjuk sebuah lubang sebesar uang yang terdapat di daun jendela, kemudian melanjutkan kata-katanya .

"Aku mengakui bahwa kepandaian orang itu memang cukup tinggi, ia pasti menggunakan kesempatan selagi aku tidur pulas, dari lobang itu ia meluncurkan sebuah benda kecil, untuk menyerang jalan darahku lebih dulu. Kemudian dengan tenang mendorong daun jendela dan menancapkan panji ini di atas meja !"

"Suheng benar, aku juga merasa agak malu, mengapa tadi malam tidurku demikian pulas, sehingga tidak dengar suara sedikitpun juga ?"

Touw Liong memeriksa keadaan tempat tidurnya, dari lantai menemukan sebutir beras. Kim Yan lalu berkata sambil menganggukkan kepala .

"Dugaan suheng ternyata jitu sekali, apa yang terjadi persis seperti apa yang suheng katakan. Dan sekarang suheng hendak berbuat apa ?"

Dengan alis berdiri Touw Liong mencabut panji hitam yang menancap diatas meja, lalu dipegangnya dan dipandangnya sambil berpikir lama, kemudian angkat kepala dan berkata dengan gagah .

"Kalau ini memang merupakan sesuatu bencana, bagaimanapun juga kita tidak dapat menyingkir. Ia sudah datang mencari aku, sudah tentu harus kita hadapi. Untuk menjaga dan mempertahankan nama baik suhu, aku terpaksa hendak menempur Panji Wulung !"

"Terjadinya kejadian ini mengapa demikian kebetulan ? Kita harus menghadapi Panji Wulung, juga perlu mencari batu giok merah yang dibutuhkan oleh suhu !"

"Sumoy ! Segala perkara dalam dunia ini tidak ada yang didapatkan dengan secara mudah, segala sesuatunya harus melalui proses perjuangan dan keuletan. Bagaimanapun sulitnya hal yang kita hadapi sekarang ini, asal kita menghadapi dengan hati-hati, tidak usah khawatir urusan ini tidak dapat kita selesaikan. Dan tentang batu giok merah itu, kita doakan saja, dengan usaha kita, kita akan mencarinya sungguh-sungguh. Aku percaya Tuhan tidak akan mengecewakan orang yang bertekad sungguhsungguh."

Kim Yan menganggukkan kepala dan kemudian ke kamarnya.

Pagi itu dilewatkan oleh dua saudara seperguruan itu tanpa kegembiraan.

Setelah santapan pagi, dan selagi hendak keluar untuk mencari batu giok merah, mendadak mendengar suara pelayan penginapan.

"Tuan Touw, ada tamu mencari Tuan !"

Belum lagi sirep suara pelayan tadi, dari luar terdengar suara batuk-batuk, kemudian disusul oleh suara katakatanya yang diiringi oleh suara tertawanya.

"Satu tahun lebih kita berpisah, selama itu aku selalu memikirkan dirimu !"

Mendengar suara orang itu, Touw Liong buru-buru keluar menyambut.

Orang baru datang itu ternyata adalah seorang tua.

Rambut dan janggutnya putih, memakai pakaian warna biru, mukanya berwarna sawo mateng, tubuhnya kurus kering, tetapi matanya bersinar tajam.

Gerakan orang tua itu ternyata masih gesit, dengan cepat ia menghampiri Touw Liong dan memberi hormat, setelah berkata-kata sejenak, Touw Liong mempersilahkan masuk kedalam kamar.

Orang tua itu dengan sangat hati-hati meletakkan bungkusannya di atas meja.

Touw Liong setelah mempersilahkan tamunya duduk, lalu bertanya.

"Demikian pagi bapak Hui Pek berkunjung, entah ada keperluan apa ?"

Orang tua itu membalas hormat seraya berkata.

"Touw tayhiap terlalu merendah ! Kedatanganku ini sebetulnya hendak menghaturkan terimakasih atas bantuan tayhiap, yang pada tahun lalu telah menyingkirkan musuh besarku si Burung hantu Koo Hong, waktu itu jikalau tayhiap tidak turun tangan, bagaimana penjahat itu bisa dibasmi dengan mudah ? Tadi malam aku dengar dari sahabatku bahwa tayhiap berada di kota ini, maka kuperlukan datang untuk menghaturkan terima kasihku."

"Bapak terlalu baik terhadap diriku ! Atas kedatangan bapak sesungguhnya aku merasa tidak enak sekali ! Aku sebetulnya tidak memiliki kepandaian apa-apa, pengetahuanku juga sangat sedikit, dalam hal ini masih perlu minta bimbingan bapak."

Orang tua itu setelah ngobrol sejenak lalu minta diri, ketika ia hendak berlalu, sekali lagi ia memberi hormat dan berkata dengan sungguh-sungguh.

"Touw tayhiap masih sangat muda, tapi sudah memiliki kepandaian sangat tinggi. Dengan perbuatanmu yang banyak membantu orang yang lemah dan menyingkirkan orang-orang jahat, maka selama dua tahun ini, sahabatsahabat rimba persilatan yang pernah menerima budimu, semua pada memujinya. Dewasa ini aku sedang menghadapi kesulitan, mengingat tayhiap, maka aku minta pertolonganmu."

Touw Liong yang memang berjiwa ksatria dan suka menolong orang dalam kesusahan maka setelah mendengar perkataan itu lalu menjawab.

"Kalau ada keperluan bapak ceritakan saja, asal aku dapat lakukan aku pasti sediakan tenaga untuk membantumu !"

"Kalau begitu, aku Lie Hui Pek lebih dulu mengucapkan terima kasih padamu."

Orang tua itu adalah orang yang bersama-sama Touw Liong membasmi si burung hantu Koo Hong pada beberapa tahun berselang.

Ia adalah Dji-tjhung-tju dari perkampungan Hui-liongtjhung yang namanya sangat terkenal di daerah utara.

"Aku telah mengadakan perjanjian untuk melakukan pertempuran mati-matian dengan seseorang, waktunya ialah nanti lohor. Kotak ini kurang baik kubawa-bawa, maka aku hendak minta tolong tayhiap sampaikan kepada saudaraku Lie Hui Hong di kampung Hui-liong-tjhung di kota Dji-wie."

Berkata Lie Hui Pek.

"Oo, ini urusan kecil. Bapak jangan khawatir, aku pasti akan lakukan. Yang penting justru pertempuran yang akan bapak lakukan nanti lohor. Perlukah kiranya dengan bantuan tenagaku ?"

"Budimu, kuhaturkan terima kasih. Pertempuran ini meskipun merupakan pertempuran mati-hidup, tapi aku yakin masih sanggup menghadapi, maka tidak berani mengganggu tayhiap, hanya tentang kotak ini kuminta tayhiap suka menyelamatkan."

Touw Liong mendadak mengerutkan keningnya, dalam otaknya teringat sesuatu, ia hendak menyatakan, tapi perkataannya sudah hampir keluar dari bibirnya, mendadak ditelannya kembali.

Lie Hui Pek agaknya mengetahui perubahan itu, perlahan-lahan ia bangkit dan minta diri.

Touw Liong akhirnya tidak jadi tanya, diantarkan Lie Hui Pek keluar pekarangan, tiba-tiba ia ingat sesuatu, lalu menanya kepada Lie Hui Pek sambil menunjuk kotak yang di atas meja .

"Bapak ! dalam kotak ini terisi .........."

Lie Hui Pek ketika melihat dalam pekarangan itu tidak ada orang lalu menjawab dengan suara perlahan .

"Kotak itu berisi benda pusaka yang kudapatkan."

Touw Liong terkejut, dengan perasaan terheran-heran ia memandang Lie Hui Pek. Sekilas lintas, dalam otaknya teringat sebuah benda pusaka .......... batu giok merah Khunngo-giok ! "Benda pusaka apa ?"

Tanya Touw Liong lirih.

"Batu Giok Khun-ngo-giok !"

Jawab Lie Hui Pek sambil mendekati Touw Liong.

"Khun-ngo-giok ?"

Tanya Touw Liong kaget.

Apa yang diduga ternyata benar, maka sesaat itu Touw Liong berdiri termangu-mangu bagaikan patung.

Kemudian ia teringat kepada tugasnya sendiri yang datang ke kota itu.

Ia masih dalam keadaan tertegun, Lie Hui Pek sudah berlalu meninggalkannya.

Touw Liong sebetulnya ingin menceritakan urusan sendiri yang telah menerima panji hitam.

Tetapi karena mengingat Lie Hui Pek hendak melakukan pertempuran mati-matian, maka akhirnya ia batalkan maksudnya.

Benarbenar tidak diduganya bahwa barang besar itu telah diantarkan kedalam kamarnya melalui tangan Lie Hui Pek.

BAB Lie Hui Pek sudah pergi !!

Sejak kapan ia meninggalkan rumah penginapan itu, Touw Liong sendiri juga tidak tahu.

Saat-saat itu pikirannya kusut.

"Suheng !"

Demikian dia dengar suara Kim Yan.

Touw Liong seolah-olah baru sadar dari mimpinya, ia berpaling dan tampak Kim Yan baru melangkah keluar dari kamarnya, maka buru-buru menghampiri dan berkata dengan suara perlahan.

"Sumoy, kau kemari !"

Tampak sikap suhengnya menunjukkan perubahan aneh, Kim Yan tidak berkata apa-apa, diam-diam mengikuti Touw Liong ke kamar.

Touw Liong menunjuk bungkusan di atas meja, Kim Yan mengangguk pelahan dan berkata .

"Pembicaraan kalian sudah kudengar semuanya !"

Selanjutnya dengan nada penyesalan ia berkata pula.

"Suheng, urusan kita sendiri sudah cukup memusingkan kepala, mengapa kau masih terima baik permintaan orang mengantarkan kotak ini kekota Dji-swie ?"

"Aku ada mempunyai perhitungan sendiri, maksudku menerima baik permintaannya hanya ingin menyingkir dari kau .........."

"Suheng hendak menyingkir dari sampingku ?"

Tanya Kim Yan heran.

"Suhu suruh kau datang menyampaikan perintah kepadaku, bukan suruh kau membantu aku bersama-sama mencari barang-barang pusaka itu, maka dengan sendirinya kau boleh berlalu dari sini. Lagi pula Panji Wulung tadi malam sudah muncul di sini, aku tidak ingin kau terlibat dalam urusan ini, maka aku pikir hendak menggunakan kesempatan ini. Kotak ini biarlah kau yang mengantarkannya ke kota Dji-swie, supaya kau tidak ikut terlibat dalam pertikaian ini !"

"Oooh .....! jadi inilah alasanmu untuk menyingkirkan aku ?"

Tanya Kim Yan dengan nada tidak senang. Touw Liong mengangguk. Kim Yan mendadak membanting-banting kakinya dan berkata dengan nada suara marah.

"Aku tidak mau pergi !"

Touw Liong menarik napas panjang, ia duduk diatas kursi dan berkata sambil menggelengkan kepala.

"Sekarang ini, kemanapun aku sudah tidak perlu pergi lagi !"

Kim Yan terkejut, mendelikkan matanya dan balas menanya.

"Kenapa ?"

"Tahukah kau apa isinya kotak itu ?"

Berkata Touw Liong sambil menunjuk pada bungkusan di atas meja. Kim Yan memalingkan kepalanya kelobang jendela dan berkata dengan nada suara dingin.

"Peduli apa dengan kotak itu !"

Touw Liong bangkit dan menghampirinya lalu bisik-bisik didekat telinganya. Kim Yan mendadak tampak girang, ia alihkan pandangan matanya keatas meja dan bertanya.

"Apakah itu benar ?"

Touw Liong menganggukkan kepala.

"Aaah ..........! Bagus sekali."

Berkata Kim Yan kegirangan.

"Inilah yang dinamakan dengan susah payah dicari-cari, diketemukannya dengan mudah sekali ! Suheng ! Jalan !"

Ia benar-benar sudah menarik tangan Touw Liong hendak keluar kamar.

"K e m a n a ?"

Tanya Touw Liong sambil mengerutkan alisnya.

"Pulang ke gunung Kiu-hoa-san menyerahkan mandat, lalu minta persen kepada suhu !"

Jawab Kim Yan sambil mengerlingkan matanya.

"Sabar .....! Sumoy ! Jangan terburu nafsu, urusan tidak semudah itu."

Berkata Touw Liong sambil menghela napas. Kim Yan terkejut dan bertanya .

"Masih ada kesulitan apa lagi ?"

"Kepingin harta benda orang lain, inilah bukan perbuatan orang baik. Apa lagi suheng mu sekarang ini sudah mendapat sedikit nama di kalangan kang-ouw, diminta pertolongan orang, itu berarti orang percaya kepada diriku, maka aku juga harus melakukan dengan sungguhsungguh."

"Suheng sesungguhnya juga terlalu jujur ! Apakah makanan yang sudah berada di mulutmu benar-benar kau hendak serahkan pada orang lain ?"

"Ini bukan berarti hendak menyerahkan kepada orang lain begitu saja, melainkan memenuhi kewajiban terhadap sahabat. Menurut aturan kotak ini kita harus antarkan ke kota Dji-swie."

Kim Yan tidak dapat merobah pendirian suhengnya, terpaksa menganggukkan kepala, tetapi ia masih majukan pertanyaan .

"Bagaimana kita harus mempertanggungjawabkankepada suhu ?"

Touw Liong berpikir sejenak, baru berkata .

"Suhu seorang bijaksana, pasti dapat memahami kedudukan suhengmu, aku jakin suhu pasti juga akan membenarkan tindakanku ini. Tidak mungkin akan menyalahkan kau dan aku."

"Namun demikian, tetapi kita sebagai murid, seharusnya turut pikul kesusahan suhu, sekarang ini dalam menghadapi usahanya membuat pedang, suhu hanya membutuhkan batu giok ini, dengan cara bagaimana kita tega hati mengecewakan pengharapannya ?"

Touw Liong nampak berpikir, lama baru menjawab .

"Sejak dahulu kala barang pusaka hanya dimiliki oleh orang-orang yang bijaksana, menurut peraturan, batu giok ini kecuali suhu, dalam rimba persilatan dewasa ini, siapapun tiada orang yang tepat memiliki barang ini. Akan tetapi, apa mau dikata, barang pusaka ini sekarang sudah ada pemiliknya, kau denganku meskipun berusaha hendak mendapatkannya, juga tidak baik kalau merampas milik orang. Sejak dahulu kala barang-barang pusaka atau senjata tajam sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, siapa yang harus memilikinya. Batu giok ini kalau benar adalah suhu yang harus memilikinya, aku yakin tidak lama kemudian barang ini pasti akan terjatuh di tangan suhu."

"Hal-hal didalam dunia banyak sekali terjadi perubahan, sekarang ini batu giok ini menjadi milik Lie Hui Pek, tetapi di kemudian hari ada terjadi perubahan apa, kita jangan pikirkan, hanya lihat saja apa yang akan terjadi."

Kim Yan dapat menerima pendapat suhengnya, maka pelan-pelan menganggukkan kepala.

"Urusan jangan ditunda lagi, mari kita segera berangkat !"

Berkata Touw Liong.

"Kemana ?"

"Ke kampung Hui-liong-chung di kota Ji-swie !"

"Bagaimana dengan batas waktu tiga hari yang biasa ditetapkan oleh Panji Wulung ?"

"Dia tidak menantang kita secara terang-terangan. Peduli apa dengannya dua hari atau tiga hari ? Kita masih dapat menggunakan waktu untuk pergi ke kota Ji-swie, sekalipun Panji Wulung dapat mengejar, apakah Lie Hui Hong akan berpeluk tangan, tidak membantu kita ?"

Berkata Touw Liong tanpa pikir.

Kim Yan menganggukkan kepala memuji keberanian suhengnya, keduanya lalu menghampiri meja.

Kim Yan membuka bungkusan, kotak dalam bungkusan itu ternyata terbuat dari kayu pilihan yang terukir rapi dan dilak rapat.

Kim Yan agaknya tidak mau melepaskan kotak indah dalam tangannya, memandangnya sekian lama.

Barang itu hanya dapat dipandang, tetapi tidak dapat dimiliki, hal ini dia mengerti.

Meskipun barang dalam kotak itu adalah barang yang sedang dicari, tetapi sayang barang itu bukan milik mereka.

Dua saudara itu memandang kotak itu sambil menarik nafas, kemudian dibawa menuju ke kota Ji-swie.

Dengan perasaan berat dua saudara seperguruan itu melakukan perjalanan dengan melalui jalan air, setelah menyeberang sungai Han-swie tiba di kota Hoan-shia.

Kemudian dengan melalui jalan raya kota Lam yang, terus menuju ke kota Ji-swie.

Di waktu lohor, sebelum matahari terbenam, sebuah kota sudah berada di hadapan mata mereka.

"Suheng, kota apa itu ?"

Tanya Kim Yan sambil menunjuk kota itu.

"Kota Lam yang,"

Jawab yang ditanya.

"Melakukan perjalanan satu hari baru sampai di kota Lam yang, kapan kita baru bisa tiba di kota Ji-swie ? Barangkali sebelum tiba di kota yang kita tuju, batas waktu tiga hari yang ditetapkan oleh Panji Wulung sudah lewat. Apabila kotak ini belum sampai di Ji-swie, Lie Hui Hong juga tidak dapat membantu kita."

"Kita berusaha sedapat mungkin, berhasil atau tidak terserah kepada kemauan Yang Maha Kuasa. Biar bagaimana masih ada waktu dua setengah hari, ancaman Panji Wulung sudah tentu kita tak boleh pandang remeh, tetapi kotak ini, bagaimanapun juga kita harus sampaikan ke kota Ji-swie sebelum batas waktunya habis."

Dua orang itu bicara sembari berjalan, sedikitpun tak mau membuang waktu.

Tanpa dirasa, mereka telah tiba didepan satu perkampungan kecil yang terdapat banyak bukit-bukit kecil dan tanaman pohon.

Touw Liong mengangkat kepala, memandang perkampungan yang indah itu, lalu berkata sambil menunjuk ke kampung itu.

"Sumoy ! Tahukah kau ini perkampungan apa ?"

Kim Yan menggelengkan kepala.

"Aku ingat sesuatu."

Berkata Touw Liong pelahan, lalu mendongakkan kepala sambil mengawasi burung-burung yang berterbangan di angkasa.

Pikirannya tenggelam dalam lamunan.

Tanpa disadari tangannya meraba-raba gagang pedangnya dan berkata pada sumoynya .

"Di dalam daerah sepuluh pal persegi perkampungan ini tidak boleh menggunakan pedang."

"Apakah perkampungan ini bekas kediaman Tju Kat Liang siangsing di jaman Sam Kok dahulu ?"

Tanya Kim Yan terkejut.

"Benar."

"Sudah beberapa ratus tahun kebiasaan itu menjadi semacam tradisi orang-orang rimba persilatan yang menjunjung tinggi kepribadian Khong Bing, tokoh kenamaan pada jaman Sam Kok. Oleh ketua gereja Siauw Liem Sie, Ci-sian Siansu, yang pada seratus tahun berselang berhasil merebut lambang kebesaran tujuh naga dan berhasil menjadi pemimpin rimba persilatan, telah mengeluarkan pengumuman kepada rimba persilatan. Orang-orang rimba persilatan yang melalui tempat ini yang hingga sekarang masih tetap dikenal sebagai tempat yang bernama Ngo-liong-kang, di dekat kota Lam-yang ini, dilarang keras menggunakan senjata tajam, sebagai tanda penghormatan. Maka sejak itu selama seratus tahun ini setiap orang rimba persilatan yang melalui perkampungan ini selalu tetap mentaati peraturan ini. Tidak seorangpun yang melanggar."

"Kita tidak perlu menggunakan senjata,"

Berkata Kim Yan sambil tertawa.

"Hati manusia siapa yang tahu, urusan did alam dunia sukar dikata, sekarang ini kita tengah membawa barang pusaka yang sangat berharga, siapa tahu kalau barang itu menarik perhatian orang. Seandainya ada orang yang hendak menggunakan tempat ini sebagai tempat perlindungan lalu merampas barang itu, saat itu sekalipun kita membawa dua bilah pedang, tetapi juga tak dapat menggunakannya."

"Lalu bagaimana ?"

"Dalam segala hal kita harus hati-hati, ingat baik-baik, dan dalam keadaan bagaimanapun juga kita tak boleh menggunakan pedang, sebab hal ini akan mempengaruhi nama baik suhu kita."

"Kapan kita baru boleh menggunakan pedang ?"

"Setelah melalui kupel Cap-lie Tiang-ting,"

Kim Yan menganggukkan kepala, matanya memandang tumbuhan pohon-pohon di kedua sisinya. Kemudian berkata dengan suara jeri .

"Aku sebetulnya sangat girang dapat menemukan suheng, semula aku pikir, setelah kita menyelesaikan tugas kita, suheng akan bawa aku pesiar ketelaga Tong-ting-ouw, siapa tahu di tengah jalan mendadak muncul setan bedebah Panji Wulung, sehingga membuat hati kita merasa risau."

Mendengar sumoynya menyebut-nyebut Panji Wulung, Touw Liong teringat lagi batas waktu yang tinggal dua hari.

Rupa-rupa pikiran timbul dalam hati, ia tak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya tiga hari kemudian.

Ia buruburu menghiburi sumoynya.

"Jangan kau sebut-sebut urusan Panji Wulung itu lagi ! Toch masih ada waktu dua setengah hari, aku tak percaya dengan mengandel kepandaian dan kekuatan kita berdua, tak sanggup melawan iblis itu. Kau jangan khawatir, nanti setelah kita menyelesaikan tugas kita ini, kita berdua melakukan perjalanan seluruh negeri."

Mendengar janji suhengnya, Kim Yan nampak girang.

"Benarkah ?"

Demikian ia menegaskan.

Touw Liong menganggukkan kepala, suatu senyuman tersungging di bibirnya.

Dua orang itu setelah melalui Ngo-liong-kang, dengan menyusuri jalan yang penuh pohon merah, terus berjalan menuju ke kota Lam-yang.

Dalam perjalanan itu, mereka sangat hati-hati dan selalu siap siaga.

Keduanya tidak berbicara sepatah katapun juga.

Di luar dugaan Touw Liong ketika sudah hampir tiba ke kupel Cap-lie Tiang-ting, ternyata tidak tampak bayangan seorangpun jua.

Kim Yan memperlambat langkahnya, mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus keringatnya.

Dengan nada penyesalan dan sambil tertawa kering berkata kepada suhengnya .

"Suheng, banyak orang kata bahwa kaum pria itu mempunyai perasaan tajam! menghadapi urusan kecil saja ....., perasaannya lantas tegang !"

Mendengar perkataan itu, wajah Touw Liong tampak merah.

Ia tidak menjawab, sebaliknya juga memperlambat langkahnya.

Matanya ditujukan kearah kupel yang terletak sejarak kira-kira tujuhbelas atau delapanbelas tombak dihadapan matanya, sikapnya ini menunjukkan bahwa ia seolah-olah melihat apa-apa.

Kim Yan terkejut juga, maka matanya ditujukan ke arah pandangan mata suhengnya.

Sesaat kemudian, mendadak ia berseru kaget.

Dalam kupel itu ternyata sudah terdapat banyak orang, oleh karena terpisah agak jauh, bagaimana dandanan orang itu masih sulit dikenali.

Tetapi apa yang tampak tegas dan dimengerti, jalah dalam tangan orang itu semua memegang senjata.

Touw Liong dengan tangan menggenggam gagang pedangnya dan sambil menarik tangan Kim Yan, berjalan menuju ke kupel itu dengan langkah lebar.

Kupel yang dibangun di tengah jalan itu cukup luas, setiap orang atau kuda atau kendaraan kereta yang berjalan melalui jalan itu, semua harus melewati kupel itu.

Ketika Touw Liong dan Kim Yan tiba di depan kupel, tampak olehnya seorang lelaki berusia lanjut yang bentuk wajahnya tidak sedap dipandang dan rambut serta jenggotnya sudah putih semua berdiri di tengah-tengah kupel.

Dua tangan orang tua itu nampak kosong, wajahnya yang tidak sedap dipandang kelihatan seram.

Sepasang matanya seperti burung hantu, dengan tajam memandang dua anak muda yang sedang berjalan menuju ke kupel itu.

Di kedua sisi orang tua itu berdiri enam orang dari golongan pengemis yang masing-masing membawa senjata bambu, usia mereka semua sudah empatpuluhan keatas.

Karena tujuh orang itu berdiri berbaris di tengah-tengah kupel, ini juga berarti merintangi perjalanan Touw Liong.

Terpisah kira-kira setengah tombak di depan kupel, Touw Liong menghentikan langkahnya.

Ia menjura memberi hormat kepada orang tua itu seraya berkata.

"Tolong bapak memberi sedikit jalan, supaya aku dapat melanjutkan perjalananku !"

Sikap menghormat Touw Liong dibalas oleh orang tua itu dengan sikap dingin dan tertawa ejekan. Dengan acuh tak acuh ia menjawab.

"Kukira orang she Touw itu ada seorang berkepala tiga dan berlengan enam, tetapi ternyata hanya begitu saja !"

Kim Yan segera naik pitam, dengan tangan menggenggam gagang pedang ia menanya dengan nada marah.

"Hanya begitu bagaimana ?"

"Hanya satu bocah yang masih berbau air tetek !"

Jawaban itu bukan saja membangkitkan kemarahan Kim Yan, sedangkan Touw Liong yang cukup sabar juga lantas marah. Ia lalu membentak dengan suara keras.

"Tutup mulut ! Sahabat ....., siapakah namamu ? Kau denganku tidak ada permusuhan apa-apa ....., mengapa kau merintangi perjalananku dan memaki orang seenak udelmu ?"

Sepasang mata orang tua itu melirik kepada enam orang golongan pengemis yang berdiri dikedua sisinya dan berkata dengan nada suara dingin.

"Nama tayhiap telah menggemparkan orang-orang golongan putih dan golongan hitam, masa tidak kenal siapa aku si orang tua ini ?"

Touw Liong memandang enam orang dari golongan pengemis yang masing-masing memegang senjata bambu itu, mendadak angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata .

"Oooh .....! Kiranya Lie Pang-tju dari golongan pengemis dari daerah Utara!"

Selanjutnya ia menjura lagi dan bertanya.

"Lie Pang-tju ada keperluan apa?"

Dengan sikap sangat jumawa orang tua itu menguruturut jenggotnya yang panjang dan menjawab dengan tenang.

"Tidak apa-apa, hanya satu soal kecil! Aku si orang tua hanya minta tayhiap suka pandang mukaku, harap ....., bungkusan yang kau bawa itu ....."

Sebelum Touw Liong menjawab, telah didahului oleh suara bentakan Kim Yan.

"Tutup mulut ....., anjing !"

Suara itu dibarengi oleh berkelebatnya sinar pedang.

Dalam tangan Kim Yan sudah terhunus pedang panjang dengan sikap menantang.

Orang tua itu tegas nampak terkejut, setelah mundur selangkah mulutnya berseru .

"Kiu-hua-sin .....!"

Setelah itu jubahnya dikibaskan, enam orang golongan pengemis segera bergerak mengepung Touw Liong dan Kim Yan.

Touw Liong memberi isyarat kepada sumoynya, Kim Yan lalu masukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dan berkata dengan suara mendongkol .

"Mengapa aku tak boleh menggunakan pedang ? Tempat ini bukankah Tjap-lie Tiang-ting ?"

Kemudian ia menunjuk enam orang golongan pengemis dan berkata pula .

"Mereka .....!"

Mendadak ia ingat bahwa senjata dalam orang-orang golongan pengemis itu hanya merupakan bambu yang mereka namakan pentungan untuk menguji anjing.

Di dalam kolong langit ini, di manapun mereka berada, sekalipun didalam istana menghadap raja, bambu itu selalu tidak ketinggalan di tangannya.

Orang tua berjubah itu lalu berkata sambil tertawa dingin .

"Kau tidak terkecuali ! Sesudah melewati kupel ini kau baru boleh menggunakan pedang. Tapi dalam kupel ini, sebaliknya kau patuhi aturan ini ! Tetapi jikalau kau tak mengindahkan peraturan dan menjaga nama baik pedang Kiu-hwa Sin-kianmu, silahkan !"

Kemudian ia bertanya kepada Touw Liong sambil menunjuk Kim Yan.

"Saudara ini .....!"

"Ia adalah suteku Kim Yan."

Dengan nada menggoda orang tua itu berkata .

"Kok namanya mirip nama seorang gadis !"

Wajah Kim Yan menjadi merah dan berkata dengan nada suara geram .

"Bangsat tua, kau juga beritahukan namamu."

"Lie Hu San."

"Lie Hu San, bagus sekali perbuatanmu. Kau sudah melakukan pekerjaan sebagai pembegal. Melakukan perbuatan yang sangat memalukan golonganmu ! Tahukah kau bahwa nama baik tiga dewa dari golongan pengemis telah kau cemoohkan dengan perbuatanmu ini?"

"Batu Khin-ngo-giok merupakan benda pusaka tidak ternilai didalam dunia. Barang itu harus dimiliki oleh seorang yang bijaksana. Aku yang melanjutkan usaha tiga orang kakek moyang kita dari golongan pengemis. Sudah sepantasnya mendapatkan barang itu untuk dibuat pedang dan memperluas pengaruh kita. Aku yakin bahwa kakek kita, Tiga dewa, tentu akan memuji tindakanku. Bagaimana mencemoohkan muka mereka ?"

Touw Liong yang sementara itu mendapat pikiran lain lalu berkata sambil tertawa .

"Memang benar ! dalam bungkusan ini adalah batu Khingo-giok. Tapi barang ini bukan milikmu. Jika Pangcu menghendaki tidaklah susah, tunggu saja aku nanti serahkan kepada pemiliknya. Pangcu boleh minta sendiri padanya !"

"Siapa yang punya ?"

Tanya Lie Hu San.

"Lie Hui Hong."

"Apa Lie Hui Hong pantas memiliki benda ini ?"

"Pantas atau tidak, itu bukan urusanku. Tapi memang benar bahwa benda ini adalah miliknya."

Lie Hu San nampak berpikir, kemudian berkata .

"Baik .....! Aku nanti minta kepada Lie Hui Hong !"

"Pangcu adalah seorang yang mengerti, tidak kecewa menjadi pemimpin golongan pengemis."

Demikian Touw Liong berkata dengan pujiannya.

Dalam hati Lie Hu San merasa senang, maka sikapnya juga tidak begitu galak lagi.

Perlahan-lahan ia angkat muka memandang awan diatas angkasa, lama ia berpikir, kemudian dengan tiba-tiba tertawa dingin dan berkata sambil menggelengkan kepala .

"Aku tak mau tertipu, di dalam dunia ini mana ada manusia demikian bodoh, yang tak tertarik oleh benda berharga ? Kau jangan coba main gila di hadapanku ! Jangan banyak bicara ! Kalian berdua jika bisa lolos dari tangan golongan kita ini, aku si orang she Lie akan jamin kalian keluar dari sini dan selanjutnya aku akan cari Lie Hui Hong sendiri. Tapi jika kalian tidak bisa lolos, sebaiknya lekas kau serahkan barang itu supaya kita samasama baik !"

Untuk kedua kalinya ia mengebutkan jubahnya sebagai tanda perintah kepada anak buahnya.

Dengan serta merta enam anak buahnya bergerak lagi mengepung dua pemuda itu.

Bab Touw Liong memberi isyarat dengan mata kepada Kim Yan, keduanya lalu bergerak memukul mundur enam orang golongan pengemis kemudian berkata sambil tertawa dingin .

"Mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah orang banyak, dan menggunakan tempat terlarang sebagai pelindung, orang she Lie apakah kau masih mengaku sebagai seorang gagah ? Jika kau masih terhitung salah seorang gagah rimba persilatan, keluarlah dari sini mari kita bertempur secara jantan, baik dibagian sini atau bagian sana kupel ini. Kalau aku menggunakan pedang untuk menghadapimu, aku bukan seorang laki-laki !"

Ilmu pedang Kiu-hwa Sin-kiam dari golongan Kiu-hwasan, memang merupakan salah satu ilmu pedang yang sudah terkenal di dalam rimba persilatan.

Selama seratus tahun ini, ilmu pedang itu dipandang sebagai ilmu pedang yang sudah tak ada tandingannya.

Guru Touw Liong, Kuihwa Lodjin, tigapuluh tahun berselang dengan sebilah pedang berhasil mengalahkan sepuluh jago pedang yang mengepung dirinya, sehingga mendapat gelar sebagai jago pedang tanpa lawan.

Orang-orang yang tingkatannyalebih tua darinya pada waktu itu seperti tiga dewa dari golongan pengemis sampai berkunjung kegunung Kiu-hwa-san untuk mengadakan pertandingan persahabatan dalam ilmu pedang.

Tetapi sejak hari itu, empat orang itu semua mengasingkan diri, tidak muncul lagi di dalam kalangan Kang-ouw, hingga dalam rimba persilatan lantas timbul desas-desus bahwa mereka semua sudah binasa dalam pertandingan itu.

Touw Liong yang turun gunung baru dua tahun, tapi kepandaian dan sepak terjangnya sudah menggemparkan rimba persilatan.

Ia bukan hanya mengandalkan ilmu pedangnya yang luar biasa mengalahkan musuh-musuhnya, tetapi juga dengan perbuatannya yang bijaksana untuk menundukkan lawan-lawannya.

Walaupun namanya sudah terkenal, tapi ia belum pernah memberitahukan kepada siapapun juga tentang asal-usul dirinya, maka orang-orang rimba persilatan tiada seorangpun tahu bahwa ia dari golongan Kiu-hwa-san.

Malam itu jika bukan Kim Yan yang menghunus pedangnya tanpa disadari, sekalipun Lie Hui San yang terkenal licin cerdik dan banyak pengetahuan juga tidak mengetahui asal-usul jago muda itu.

Maka setelah mendengar perkataan Touw Liong yang tak akan menggunakan pedang, dalam hati Lie Hui San lalu timbul suatu akal lain.

Dengan cepat memerintahkan enam orang anak buahnya undurkan diri, kemudian ia sendiri melompat turun dalam medan pertempuran.

Enam anak buahnya undurkan diri, tapi mereka tetap mengambil sikap mengurung melindungi pemimpinnya.

Kim Yan juga undurkan diri dan siap untuk membantu suhengnya.

Sambil tertawa dingin Lie Hui San berkata .

"Orang she Touw marilah mulai!"

Sehabis berkata pemimpin golongan pengemis itu lalu melontarkan serangan lebih dulu.

Touw Liong tak berkata apa-apa, ia rangkapkan kedua tangannya, kemudian dipentang, tangan kanan menggunakan gerak tipu serangan menggeput rembulan dari dasar laut, dan tangan kiri menggunakan gerak tipu serangan kuda terbang diangkasa menyambut serangan Lie Hui San.

Ilmu silat dengan tangan kosong Lie Hui San yang dinamakan gerak tipu serangan naga dan harimau, dalam rimba persilatan juga sangat terkenal, serangan pembukaannya yang nampak biasa saja, tapi sesungguhnya mengandung banyak perubahan gerak tipu serangan.

Maka ketika serangannya tiba ditengah jalan, dengan tiba-tiba dirubah menjadi setengah memutar, sedang tangan yang lain meluncur keluar, lima jari tangannya dipentang bagaikan kuku naga terus mengancam jalan darah Touw Liong, dan tangan yang melakukan serangan duluan kini mengancam batok kepala Touw Liong.

Ancaman itu demikian hebat karena tangannya itu bergerak demikian cepat seolah-olah hendak menerkam bagian mata, hidung, tenggorokkan dan kemudian menurun kebagian dada.

Kim Yan yang menyaksikan serangan itu diam-diam juga terkejut.

Jikalau bukan Touw Liong yang menghadapinya, barangkali sudah roboh atau setidaktidaknya sudah berhasil kena serangan aneh itu.

Touw Liong yang menyambut serangan musuhnya dengan gerak tipu serangan ilmu pedang Kiu-hwa Sin-kiam yang sudah dirubah menjadi gerakan tangan kosong sudah tentu tidak mudah diperdayai oleh serangan Lie Hui San.

Tangan dua pihak lalu saling beradu dan masing-masing mundur tiga langkah.

"Bocah .....! kau benar-benar memiliki kepandaian yang berarti, ilmu silat Kiu-hwasan memang bukan nama kosong belaka. Sekarang coba kau sambuti seranganku lagi !"

Berkata Lie Hui San sambil tertawa dingin.

Dua tangan Lie Hui San lalu disilangkan satu sama lain, kemudian mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, dan setelah itu dua tangan itu pelahan-lahan mendorong kuat.

Touw Liong dengan tajam memperhatikan setiap perubahan dari gerakkan lawannya, ketika lawannya mendorongkan tangannya, ia juga mengikuti dengan gerakan serupa.

Seperti juga serangan yang pertama, kali ini ketika serangan Lie Hui San sampai di tengah-tengah juga diputar kembali, kedua tangan melakukan serangan dengan dua macam gerak tipu, sedang dua kakinya juga bergerak dengan serentak melakukan serangan dengan tendangan kaki kanan.

Touw Liong sebagai murid golongan seorang ternama, sudah tentu tidak mudah dikibuli oleh segala tipu dayanya orang tua itu.

Ketika menyaksikan perubahan gerakkan Lie Hui San, ia sudah mengerti apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Gerak tipunya sendiri juga lantas dirubah, ia berdiri teguh dengan kaki kiri, kaki kanannya diangkat mengelakkan tendangan Lie Hui San, sedang dua tangannya digunakan untuk menyambut serangan dari dua tangan lawannya.

Dengan demikian untuk kedua kalinya kekuatan tangan dua lawan itu kembali saling beradu dan untuk kedua kalinya masing-masing terdorong mundur tiga langkah lagi.

Lie Hui San pentang lebar matanya, agaknya dikejutkan oleh kepandaian dan kekuatan anak muda itu, maka matanya terus menatap wajah Touw Liong.

Ia tak tahu bahwa tigapuluh tahun berselang, guru Lie Hui San, ialah salah satu dari tiga dewa golongan pengemis yang bergelar Kim Tho Siseng berjari sembilan, pernah menggunakan ilmu silat tangan kosong itu bertanding tiga hari tiga malam lamanya dengan Kiu-hwa Lo-jin yang kemudian berakhir seri.

Sejak terjadinya pertandingan itu, Kiu-hwa Lo-jin sangat mengagumi ilmu silat serangan naga dan harimau itu.

Maka diam-diam ia mempelajarinya dengan baik tipu serangan itu, dan merubah ilmu pedangnya sendiri menjadi gerak tipu serangan tangan kosong.

Setelah dipelajarinya selama sepuluh tahun lebih, ia telah berhasil menemukan beberapa gerak tipu yang dapat mengalahkan serangan naga dan harimau.

Kiu-hwa Lo-jin takut Touw Liong yang berkelana di dunia Kang-ouw nanti dirugikan oleh serangan ilmu silat itu, maka beberapa macam gerak tipu yang ditemukan olehnya, semua sudah diturunkan kepada muridnya.

Benar-benar tak disangka bahwa Lie Hui San yang mempelajari gerak tipu ilmu silat itu selama beberapa puluh tahun, bahkan sudah dapat warisan gurunya, malam itu telah ketemu batunya.

Jika ia tak menyerang, ia benar-benar tak tahu bahwa pemuda itu seolah-olah dapat memahami setiap gerak tipunya, karena setiap kali ia menyerang, lawannya yang masih muda dengan tenang menyambutnya dan dengan mudah sekali berhasil memunahkan serangan sendiri yang demikian hebat.

Maka kini ia tak berani berlaku sombong lagi.

Dengan sangat hati-hati sekali mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang didapatkan dari suhunya.

Ia menyerang Touw Liong demikian hebat dan ganas.

Tetapi setiap serangan itu disambut atau dielakkan oleh Touw Liong dengan mudah, sedikitpun tak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk menghasilkan serangannya.

Pertempuran itu telah berlangsung demikian seru dan hebat, tujuh orang yang berada diluar garis, mata masingmasing ditujukan pada jalannya pertempuran, seolah-olah sudah lupa pada dirinya sendiri.

Sejak pertempuran dimulai, mata Kin Yan terus ditujukan pada suhengnya.

Semula ia sangat kuwatir keselamatan suhengnya yang belum biasa menghadapi lawannya dengan tangan kosong, tapi kemudian hatinya mulai tenang dan akhirnya yakin benar bahwa suhengnya itu meskipun tak dapat menangkan Lie Hui San, setidaktidaknya tak akan kalah.

Setelah menyaksikan pertempuran seru itu berlangsung demikian lama, dalam hatinya berpikir .

"Jika pertempuran ini berlangsung terus dengan cara begini, entah kapan baru bisa berakhir ? Suheng yang sudah melakukan perjalanan seharian, bagaimana sanggup bertahan lama ?"

Ia diam-diam juga terkejut ketika menampak jidat Touw Liong sudah mulai keluar keringat, maka diam-diam juga mencari jalan keluar.

Kini matanya ditujukan kepada enam orang golongan pengemis yang berdiri bagaikan patung, seolah-olah kesima menyaksikan jalannya pertempuran.

Ia lalu tundukkan kepala dan berpikir, sesaat kemudian mendadak ia lompat melesat melalui medan pertempuran, cepat bagaikan kilat ia lompat ke atas kupel.

Disana ia berdiri tegak dan berkata dengan suara keras .

"Hai .....! kepala golongan pengemis ! Kau sudah tertipu ! Tuan mudamu setelah berada di luar kupel ini, pedang akan bergerak leluasa menabas kutung kepala kalian !"

Enam orang dari golongan pengemis, setelah mendengar suara itu seolah-olah baru sadar dari mimpinya.

Mereka buru-buru mengejar sambil menggerakkan senjata masingmasing.

Tapi enam orang itu baru saja tiba di atas kupel, Kim Yan sudah melayang turun melalui kupel dan berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus menanti kedatangan enam lawannya.

Enam orang golongan pengemis nampaknya sangat penasaran, dengan berbareng mereka melompat turun dan mengepung Kim Yan di tengah-tengah.

Kim Yan tertawa nyaring, pedangnya mulai bergerak melancarkan serangan.

Enam orang yang diserang demikian hebat terpaksa mundur.

Tetapi mereka juga bukan orang-orang sembarangan, begitu mundur sudah maju lagi dan melakukan serangan dengan senjata masing-masing.

Pertempuran satu lawan enam itu terjadi ditengah jalan di luar kupel, merupakan suatu pertempuran sengit dan hebat.

Touw Liong yang sangat cerdik ketika melihat sumoynya sudah keluar dari kupel, tergeraklah hatinya.

Dengan suatu gerak tipu yang terampuh ia berhasil mendesak mundur Lie Hui San, kemudian juga hendak keluar dari kupel.

Lie Hui San menduga pasti tindakan Touw Liong itu, dengan cepat memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, melancarkan serangan dua kali ke tempat bagian pintu masuk kupel itu, sambil mulutnya berseru .

"K e n a !!!"

Serangannya yang dilancarkan dengan tenaga penuh, apabila benar-benar mengenakan diri Touw Liong, sekalipun tidak mati ....., setidak-tidaknya juga akan terluka parah.

Tetapi serangan itu mengenakan bagian bawah kaki Touw Liong yang baru saja menginjak di atas kupel.

Touw Liong yang kakinya belum berdiri tegak, sudah tentu tak dapat merubah posisinya.

Ia terpaksa gertak gigi dan pasang kuda-kuda sambil balikkan dua tangannya hendak menyambut serangan musuhnya.

Namun sebelum kekuatan dua pihak beradu, Lie Hui San melompat mundur dua tombak jauhnya, baru berhasil pertahankan kedudukannya.

Touw Liong heran.

Dengan cepat menarik tangannya, kemudian dengan cekatan lompat melalui kupel dan setelah berada di tanah ia segera mendongakkan kepala dan berkata sambil menjura keatas kupel .

"Orang pandai dari mana yang memberi bantuan ! Disini Touw Liong mengucapkan banyak-banyak terima kasih !"

Setelah itu ia benar-benar membongkokkan badan memberi hormat ke arah kupel.

Suara orang tertawa terbahak-bahak terdengar nyaring.

Di atas kupel tampak berdiri seorang tua berjenggot panjang, berpakaian jubah warna ungu, orang tua itu kemudian melayang turun dan membalas hormat pada Touw Liong seraya berkata .

"Touw tayhiap jangan berlaku merendah, Lie Hui Hong datang menyambut padamu agak terlambat. Harap tayhiap maafkan !"

Orang tua itu ternyata adalah Lie Hui Hong, chungcu dari Hui-liong-chung. Bukan kepalang terkejutnya Touw Liong menampak kedatangan chungcu itu. Buru-buru berkata .

"Gerakkan tangan chungcu yang sangat ampuh sudah lama kukagumi !"

Dua orang itu selagi melakukan pembicaraan, Lie Hui San sudah maju menghampiri dan berkata dengan nada suara dingin .

"Lie Hui Hong ! Aku justru hendak mencarimu !"

Ketua golongan pengemis itu sesungguhnya tak kenal aturan, karena begitu membuka mulut, tangannya sudah bergerak melancarkan dua kali serangan.

Namun Lie Hui Hong yang juga merupakan salah seorang jago dari utara, tak mudah dijatuhkan begitu saja.

Ia juga mengeluarkan serangannya dengan dua tangan menyambut serangan Lie Hu San.

Touw Liong lantas teringat pada bungkusan kotaknya, ia buru-buru turunkan dari punggungnya dan dilemparkan kepada Lie Hui Hong seraya berkata .

"Chungcu terimalah ini ! Bungkusan ini adalah adikmu yang minta aku bawa ke kota Dji-swie untuk diserahkan padamu."

Setelah melemparkan kotaknya Touw Liong mengangkat tangannya menyambut serangan Lie Hu San. Lie Hui Hong yang meyambuti kotak itu, sesaat nampak terkejut. Di lain pihak, Lie Hu San berkata padanya .

"Itu adalah batu giok Khun-ngu-giok."

Lie Hui Hong segera melompat menyingkir menaruh bungkusannya di atas punggungnya. Kemudian berkata sambil tertawa terbahak-bahak .

"Terima kasih atas bantuan Touw tayhiap, aku hendak berjalan lebih dahulu!"

Setelah berkata demikian, dengan beberapa kali gerakkan Lie Hui Hong sudah menghilang di tempat gelap.

Hanya suara tertawanya yang masih terdengar, ia lalu berjalan menuju ke kota Khai Hong.

Perbuatan Lie Hui Hong itu sesungguhnya di luar dugaan Touw Liong.

Sesaat itu ia segera mengerutkan alisnya dan menyambuti serangan Lie Hu San.

Otaknya berpikir keras.

Ia sungguh tak menyangka bahwa Lie Hui Hong itu adalah manusia rendah yang tak kenal budi, kalau begitu nama yang didapatkan itu hanya nama kosong belaka, tidak sesuai dengan perbuatannya.

Oleh karena pikirannya bekerja, maka gerakkan tangannya juga agak lambat.

Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Lie Hu San, dengan satu gerakkan dia berhasil memukul mundur Touw Liong, kemudian lompat melesat pergi mengejar Lie Hui Hong.

Hati Touw Liong tergeruk, setelah berpikir sejenak mulutnya berkata .

"Lie Hui Hong demikian tak berbudi ..... benda pusaka itu mau tak mau pasti akan terjatuh di tangan orang lain !"

Ia lalu berpaling pada sumoynya, telah dapat kenyataan bahwa Kim Yan sudah cukup untuk menghadapi enam lawannya, maka lalu berkata kepadanya .

"Sumoy, hati-hati menghadapi musuhmu, aku hendak pergi dulu dan menunggu kau di kota Lam Yang !"

Setelah itu kakinya lalu bergerak mengejar Lie Hui Hong.

Lari kira-kira lima puluh pal, samar-samar baru melihat bayangan Lie Hu San yang berjalan menuju ke kiri, ke suatu tempat yang terdapat rimba lebat.

Touw Liong tahu, ia sedang mengejar Lie Hui Hong, maka Lie Hui Hong pasti lari menuju ke dalam rimba itu.

Ia juga buru-buru mengejarnya.

Rimba itu gelap dan tampaknya seram.

Lie Hu San lari di atas jalan kecil yang terdapat di dalam rimba itu, sedang di belakang diikuti oleh Touw Liong.

Tidak lama setelah memasuki rimba itu, tampak sebuah lapangan kosong yang luas.

Di tengah belakang lapangan kosong itu terdapat sebuah kuil besar yang dikurung oleh dinding tembok warna merah.

Di bawah sinar bintang dilangit, di atas pintu gerbang tampak terpancang sebuah papan berwarna hitam yang tertulis dengan huruf warna emas.

Huruf itu berbunyi .

LING IN SIAN SU.

Sementara itu bayangan Lie Hu San sudah menghilang.

Pada saat itu malam sudah larut, rembulan nampak terang, sedang dalam kuil itu keadaannya gelap gulita.

Dengan melompat dinding tembok Touw Liong dapat memasuki kepekarangan kuil tua.

Kemudian melompat keatas genting untuk mengadakan pemeriksaan ke dalam ruangan kuil.

Dari jauh tampak olehnya sesosok bayangan manusia, juga sedang berjalan indap-indap di atas genting kuil.

Bayangan orang itu dikenali olehnya sebagai bayangan Lie Hu San.

Dari sikapnya Touw Liong dapat menduga bahwa ketua golongan pengemis itu telah menemukan apa-apa, maka lalu diikutinya secara diam-diam memasuki kedalam pendapa.

Di belakang pendapa terdapat sebuah ruangan indah, di situ terdapat banyak pohon-pohon bunga.

Kamar-kamar sekitar ruangan itu masih tampak sinar terang, sedangkan Lie Hu San saat itu sudah melompat melesat ke atas pohon.

Touw Liong bersangsi sejenak, kemudian melayang turun kedalam ruangan di tempat yang agak gelap, lalu dengan sangat hati-hati sekali masuk ke belakang ruangan.

Ia berusaha sembunyikan diri di belakang jendela, setelah memandang pada sekitarnya dan ternyata tidak ada tandatanda mencurigakan, barulah menonjolkan kepala kedaun jendela.

Melirik ke dalam lubang daun jendela, menengok keadaan dalamnya.

Dari situ ia nampak dalam kamar yang penuh asap dupa, ada sebuah ranjang kayu, di tengah ranjang itu duduk bersila seorang paderi tua yang wajahnya aneh, sedang di hadapannya tampak berlutut seorang tua bermuka sawo matang.

Di tangan orang tua itu memegangi sebuah kotak terukir indah, ternyata adalah kotak yang ia pernah bawa-bawa dengan melalui perjalanan jauh untuk disampaikan kepada Lie Hui Hong.

Di dalam kamar itu tak ada orang ketiga dan paderi tua itu agaknya sedang bersemedi.

Orang tua bermuka sawo mateng itu, bukan lain daripada Lie Hui Hong.

Ia berlutut di depan ranjang dengan tak bersuara.

Lama sekali, Paderi tua itu baru membuka matanya.

Dengan sinar mata yang tajam menatap wajah Lie Hui Hong dan bertanya padanya dengan nada suara heran.

"Ada urusan apa tengah malam buta kau datang kemari ?"

"Teecu mohon belas kasihan susiok, supaya sudi menolong teecu membuatkan sebilah pedang !"

Menjawab Lie Hui Hong sambil memberi hormat.

"Membuat pedang semacam apa ?"

"Khun-ngo-kiam."

"Khun-ngo-kiam ?"

Tanya paderi tua itu kaget, Kemudian berkata pula sambil tersenyum.

"Kau ini sedang mimpi atau melamun ? Sejak dahulu kala hanya ada sebilah golok Khun-ngo-to ! Kabarnya golok itu dibuat dari bahan batu giok Khun-ngo-giok yang terdapat di lautan barat."

"Susiok .....! berkata Lie Hui Hong sambil menunjuk kotak indah.

"Di dalam kotak ini berisi batu Khun-ngo-giok !"

"Ahhh ..........!"

Demikian suara seruan keluar dari mulut paderi tua, dengan kedua tangan gemetar matanya mengawasi kotak di tangan Lie Hui Hong dan bertanya pula.

"Batu Khun-ngo-giok ?"

"Benar."

Dengan kedua tangannya ia menyerahkan kotak itu kepada paderi tua dan paderi tua itu setelah menerima kotak dari tangan Lie Hui Hong, dengan jari tangannya ia membuka lak yang menutup rapat kotak itu.

Setelah kotak itu terbuka dari mulutnya mengeluarkan suara seruan kaget dan tangannya gemetar wajahnya pucat.

Lie Hui Hong tidak berani berdiri untuk menyaksikan, ia tidak tahu bagaimana macamnya batu Khun-ngo-giok itu.

Selagi hatinya dalam keadaan gelisah, paderi tua itu mendadak membentak marah padanya dengan suara keras.

"Terkutuk kau .....!"

Dengan wajah marah paderi tua itu melemparkan kotak itu dari tangannya sehingga hancur berantakan di tanah.

Sebuah batok kepala manusia menggelinding keluar dari dalam kotak.

Ketika Lie Hui Hong menyaksikan batok kepala itu, bukan kepalang terkejutnya.

Sesaat kemudian ia berseru dengan suara sedih.

"Jite ! Kau .....!"

Ia lalu maju dan menubruk batok kepala yang menggelinding agak jauh kemudian berkata pula dengan suara sedih.

"Hui Pek .....! kematianmu sangat menggenaskan .....! Aaahhh ..........!"

Batok kepala itu memang benar batok kepala Lie Hui Pek yang masih seperti dalam keadaan hidup karena sudah dibalsem.

Touw Liong yang mengintai dari luar jendela telah menyaksikan semua kejadian aneh itu, maka tak lama kemudian ia lantas memutar tubuhnnya dan berlari ke arah barat.

Bukankah ini suatu kejadian aneh yang luar biasa ?

Batok kepala itu masih tampak nyata sebagai batok kepala Lie Hui Pek yang pada dua tahun berselang pernah bertempur bahu membahu melawan penjahat dari gunung Tiam Hok San.

Burung hantu Ko Hong, pada sehari berselang pernah menjumpai dirinya di kota Sam Lang menyerahkan kotak itu kepadanya ?

Dalam waktu setengah hari!

Hanya setengah hari saja sehingga kotak itu diberikan kepada Lie Hui Hong, dan selama itu belum pernah terpisah dari tangannya, bagaimana mungkin kotak yang dikatakan oleh Lie Hui Pek berisi batu giok Khun-ngo-giok, bisa berubah berisi batok kepala manusia yang ternyata batok kepala Lie Hui Pek sendiri?

Bagaimanakah itu mungkin dan secara bagaimana hal itu bisa terjadi ?

Pertanyaan serupa itu terus berputaran dalam otak Touw Liong.

Dengan pikiran bimbang dan perasaan bingung, Touw Liong meninggalkan kuil tua.

Sepanjang jalan ia seperti seorang bingung tak habis memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Terjadinya kejadian yang sangat aneh itu, tak perlu dikata lagi.

Yang dikhawatirkan Touw Liong pada saat itu ialah Lie Hui Hong pasti akan menduga dirinya yang telah membunuh saudaranya itu.

Dan selanjutnya ia pasti anggap dirinya sebagai musuh nomor satu.

Dengan demikian berarti tanpa sebab dan tanpa salah ia akan dimusuhi orang.

Siapakah pembunuhnya Lie Hui Pek?

Mengapa melakukan pembunuhan secara demikian?

Mungkinkah Panji Wulung ?

Tapi dengan nama besar Panji Wulung, tak perlu melakukan pembunuhan secara demikian pengecut.

Mungkinkah si burung hantu Ko Hong?

Tapi Ko Hong sudah terjerumus ke dalam gua api yang mungkin sudah terbakar mati.

Kalau begitu, siapa?

Apakah motifnya?

Sepanjang jalan Touw Liong terus berpikir keras, ia melupakan bahwa Lie Hu San tadi masih tertinggal di kuil tua, ia juga tak perdulikan bagaimana sikap paderi tua dan Lie Hui Hong selanjutnya.

Dengan mengerahkan ilmunya lari pesat ia terus menuju ke kupel Cap-lie Tiang-ting di Ngo-liong-kang.

Selayaknya Touw Liong harus tetap berada di dalam kuil untuk memberi penjelasan, tapi ia pikir dalam keadaan seperti itu sekalipun dengan alasan apapun juga, tak mungkin dapat diterima oleh Lie Hui Hong dan paman gurunya.

Bahkan apabila Touw Liong unjuk diri, sudah pasti akan ditanya oleh Lie Hui Hong dan paman gurunya, hal mana pasti akan menimbulkan pertikaian hebat.

Sedangkan batas waktu Panji Wulung hanya tinggal dua hari, dan selama dua hari itu ia harus menyelesaikan dua tugas.

Tugas pertama ialah mencari batu giok Khun-ngogiok, dan tugas kedua ialah menyelidiki peristiwa kepala Lie Hui Pek ini.

Maka ia tidak unjuk diri.

Karena hal itu terjadinya dikota Siang-yang, maka ia terpaksa kembali ke kupel untuk mencari Kim Yan dan kemudian bersamasama dengannya kembali ke kota Siang-yang untuk mengadakan penyelidikan.

Mendadak ia teringat kembali kepada batu giok pusaka berwarna merah itu.

Suatu pikiran timbul dalam otaknya .

"Apakah tak mungkin batu itu masih berada dikota Siangyang ? Sedangkan ia sendiri telah tertipu oleh tipu daya orang lain, supaya ia dan adik seperguruannya berlalu dari kota itu, dengan demikian bagi orang-orang yang berusaha mencari batu giok itu kurang dua orang lawan tangguh. Bagaimanapun juga, ini merupakan suatu peristiwa misteri dan persoalan rumit baginya."

Ketika ia tiba di kupel, keadaan di situ ternyata sudah sepi-sunyi, Kim Yan dan enam orang dari golongan pengemis yang tadi sedang bertempur sengit ternyata sudah tak tampak bayangannya lagi.

Touw Liong terkejut, ia bertanya-tanya pada diri sendiri .

"Kemana ia pergi?"

Mendadak ia ingat bahwa sebelum meninggalkan adik seperguruannya itu, ia pernah memberitahukan kepadanya bahwa ia hendak menunggu kedatangannya di kota Lamyang.

Tapi kini ia baru sadar bahwa kota Lam-yang yang demikian luas, sedang ia sendiri tak menjelaskan alamat yang terang.

Bagaimana adik itu dapat mencarinya ?

Ia telah sesalkan dirinya sendiri, dengan perasaan apa boleh buat ia terpaksa lari kembali ke kota Lam-yang.

PANJI WULUNG

Jilid 2 Kota Lam-yang menjadi terkenal bukan saja karena dikota itu pernah muncul seorang ahli peperangan terbesar Cu Kat Liang di jaman Sam Kok, tetapi juga karena keistimewaan arak dan hidangan rumah makan Cu Kat Ting di dalam kota itu sehingga namanya hampir dikenal oleh semua orang di dalam negeri.

Rumah makan Cu Kat Ting itu dibangun dengan bangunannya yang luas dan megah bagaikan istana.

Setiap malam, alat-alat musik dan suara nyanyian mengalun untuk bantu memeriahkan rumah makan itu.

Hari itu, seperti biasa, ketika hari baru mulai gelap, keadaan dalam rumah makan itu sudah tampak ramai.

Di salah sebuah bangunan indah yang dibangun di tengah danau buatan, tampak duduk seorang pemuda tampan berwajah murung dan minum seorang diri.

Matanya pemuda itu menyapu keadaan sekelilingnya dan memperhatikan setiap tamu yang keluar masuk di rumah makan itu.

Tampaknya ia sedang mencari seseorang.

Dengan tiba-tiba dari luar terdengar suara orang mementil alat musik yang dinamakan pipe, seorang lelaki pertengahan umur bertubuh tinggi besar telah muncul dengan alat pipe di depan dadanya, kemudian berjalan menghampiri kearah pemuda tampan itu.

Lelaki itu nampaknya bertenaga besar dan memiliki kepandaian cukup berarti.

Jalanan yang ia injak, entah disengaja atau tidak, terdapat tanda bekas sepatunya yang melesak di atas batu yang sedang diinjak.

Pemuda tadi agak terkejut ketika menyaksikan sikap aneh laki-laki itu, sebelum mengerti benar apa maksud dengan kelakuan laki-laki itu, tampak laki-laki itu memberi hormat padanya dan bertanya dengan sikap hormat pula .

"Apakah tuan ini Touw tayhiap yang bergelar Kiu-hwa Sinkiam ?"

Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya dan balas menanya dengan terheran-heran .

"Siapa yang memberikan gelar ini kepadaku ?"

"Sancu kami."

"Siapakah sancumu itu ?"

"Aku yang rendah tak berani menyebut nama majikan, nanti kalau tayhiap sudah melihatnya tentu tahu sendiri."

Pemuda itu sejenak nampak ragu-ragu, tapi kemudian ia berkata sambil memberi hormat.

"Benar ....., aku memang Touw Liong, ada urusan apa Tuan mencariku ?"

Kemudian ia mempersilahkan tamunya itu masuk ke kupel. Laki-laki itu menjura dan berkata.

"Aku tak pantas mengganggu kesenangan Tuan, aku diutuskan oleh sancu muda, minta Touw tayhiap malam ini jam tiga menjelang pagi supaya datang ke kelenteng Bu-louw untuk berunding sesuatu, aku pikir Touw tayhiap tentunya tak akan menolak."

Touw Liong semakin heran mendengar perkataan itu maka buru-buru bertanya.

"Ada keperluan apa sancumu hendak menemui aku?"

"Hanya kagum atas nama besar tayhiap dan ingin bertemu muka saja."

Touw Liong berpikir sejenak dan akhirnya menerima baik undangan itu.

Laki-laki tinggi besar itu memberi hormat kemudian minta diri.

Touw Liong yang telah menyaksikan kekuatan tenaga orang itu, diam-diam berpikir.

"Anak buahnya saja sudah bertenaga demikian kuat maka majikannya pasti seorang hebat. Siapakah sancu mudanya yang dimaksudkan itu ?"

Tertarik oleh perasaan ingin tahu, Touw Liong buruburu membayar uang makannya dan lantas meninggalkan rumah makan itu.

Keluar dari rumah makan, ia masih sempat menyaksikan bayangan laki-laki tinggi besar tadi yang jalan di jalan raya.

Touw Liong tidak berani berlaku ayal lagi, ia segera mengerahkan ilmunya meringankan tubuh mengejar lakilaki itu.

Tiga pal keluar dari kota, laki-laki tinggi besar tadi dengan mengambil jalan kecil berjalan menuju kesebuah rimba buah Co.

Melalui rimba buah Co yang luasnya kira-kira lima ha, tampak sebuah perkampungan luas dan megah.

Laki-laki tadi berjalan menuju ke pintu gerbang perkampungan itu dan mengetuknya, tak lama kemudian pintu itu terbuka, dan laki-laki itu dengan cepat sudah menghilang ke dalam.

Touw Liong diam-diam memperhatikan keadaan tempat itu, kemudian dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh sudah berada di bawah tembok dan selanjutnya melesat keatasnya, dengan hanya dua kali gerakkan saja ia juga melesat ke suatu bangunan rumah yang berada di paling belakang, yang masih tampak menyala sinar lampu.

Tiba di pekarangan rumah itu ia segera lompat melesat ke atas sebuah pohon.

Dengan sembunyikan diri di atas pohon rindang ia dapat tujukan matanya ke dalam ruangan.

Dan apakah yang dilihatnya ?

Ternyata di dalam ruangan yang luas itu penerangan tampak terang benderang.

Di tengah ruangan terdapat lima buah kursi yang dilapis emas, sebuah kursi yang berada di tengah tampak lebih tinggi daripada empat yang lainnya.

Dan di atas kursi itulah tampak olehnya duduk seorang gadis cantik jelita berusia kurang lebih duapuluh tahun yang menjoren pedang di punggungnya.

Dua buah kursi sebelah kanannya duduk dua wanita berusia tigapuluh tahunan, meskipun usia mereka sudah mendekati pertengahan umur, akan tetapi kecantikan mereka masih nampak nyata.

Dua wanita ini berpakaian seragam warna perak dan membawa pedang.

Dua buah kursi di sebelah kirinya duduk dekat gadis itu ternyata adalah laki-laki besar yang datang mengundangnya tadi, sedang yang duduk di paling ujung kiri sesungguhnya di luar dugaan Touw Liong, karena orang itu bukan lain daripada ketua golongan pengemis Lie Hu San.

Dengan kedudukan Lie Hu San di dalam rimba persilatan, di samping gadis itu hanya merupakan orang yang tingkatannya paling rendah di antara lainnya, kalau begitu entah bagaimana kedudukan laki-laki tinggi besar itu ?

Sementara mengenai diri gadis cantik berpakaian warna ungu yang duduk di kursi kebesaran itu, lebih sukar diduga apa kedudukannya dan berapa tinggi kepandaiannya ?

Di dalam suasana demikian, satu hal yang menggirangkan baginya, ialah tentang kehilangan jejak adik seperguruannya di Kupel Ca-li Tiang-ting, dengan diketemukannya Lie Hu San di tempat itu, mungkin ia dapat dimintakan keterangannya.

Maka dengan adanya Lie Hu San di tempat itu, bagi Touw Liong merupakan suatu titik tolak dalam usahanya mencari adik seperguruannya.

Namun demikian, di dalam keadaan seperti itu perasaan terkejutnya Touw Liong jauh lebih banyak daripada perasaan girangnya, sehingga ia bersembunyi di atas pohon mengintai ke dalam ruangan itu sedikitpun tak berani bergerak, bahkan bernapaspun juga tidak berani.

Suasana dalam ruangan itu sangat sunyi, gadis itu dengan sikapnya yang agung tetapi dengan suaranya yang merdu dan bibir tersungging senyuman, tanya kepada lakilaki tinggi besar di sampingnya .

"Soa kokcu, coba kau ceritakan padaku apa yang kau lihat dan dengar malam ini !"

Laki-laki tinggi besar itu, bangkit dari tempat duduknya dan menjawab sambil memberi hormat .

"Siao Sancu, hamba membawa tugas masuk ke dalam kota untuk mencari jejak Touw Liong, telah berhasil menemukannya di Kupel Cu Kat Ting."

"Kau sudah bicara dengannya ?"

Tanya gadis itu.

"Sudah."

"Kalau begitu kau sudah mengenali dengan pasti bahwa orang itu adalah Touw Liong ?"

Laki-laki tinggi besar itu nampak berpikir sejenak kemudian berkata dengan tegas .

"Benar, Touw Liong."

Kemudian ia memberi tambahan keterangan . Dandanan dan sikap bahasanya orang itu, persis seperti yang digambarkan oleh Lie Pangcu."

"Hemm .....! Hemm .....!"

Gadis itu mendadak mendongakkan kepala dan memandang ke atas pohon, di mana Touw Liong sembunyikan diri, hingga membuat Touw Liong terkejut.

Kemudian gadis itu bertanya pula kepada laki-laki tinggi besar itu.

"Dan tindakan terakhir yang Soa Kokcu ambil ..........?"

Laki-laki tinggi besar itu buru-buru menyambungnya .

"Hamba telah minta kepadanya supaya malam ini jam tiga datang ke kelenteng untuk bertemu muka, dan memberitahukan padanya serta menyampaikan undangan Siao Sancu."

Wajah gadis itu menunjukkan tanda girang, dengan nada memuji ia berkata .

"Apa yang kau lakukan itu, benar ! Silahkan duduk !"

Laki-laki tinggi besar itu duduk lagi di tempatnya, dan gadis cantik itu dengan wajah berseri-seri bertanya kepada Lie Hu San .

"Apakah Lie Pangcu tahu benar bahwa batu Khun-ngo-giok terjatuh di tangan Touw Liong ?"

Lie Hu San dengan cepat bangkit dari tempat duduknya dan menjawab sambil memberi hormat .

"Aku si orang tua yang rendah telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Lie Hui Hong memberikan kotak indah kepada paman gurunya, kotak itu kemudian dibuka dan sang paman menunjukkan sikap terkejut, lalu melemparkannya ke tanah. Dari dalam kotak itu menggelinding keluar batok kepala manusia. Bagi orang yang mengerti tidak sulit untuk dapat menebaknya bahwa batu giok pusaka di dalam kotak, kalau tidak ditukar oleh Touw Liong dengan kepala Lie Hui Pek, bagaimana bisa berubah menjadi kepalanya Lie Hui Pek ?"

Gadis itu agaknya terbenam dalam alam pikirannya sendiri, lama sekali ia baru berkata dengan nada suara setengah percaya setengah tidak .

"Menurut pikiran sehat, orang she Touw itu di dalam rimba persilatan sudah mempunyai nama, seharusnya ia pupuk dengan baik, tidak nanti melakukan perbuatan yang hina seperti itu .........."

Lie Hui San membongkokkan badan memberi hormat dan memotong ucapan gadis itu.

"Sudah terang bahwa orang she Touw itu merasa takut karena perbuatannya. Ia pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri semua kejadian itu, jikalau bukan perbuatannya, mengapa waktu itu ia tak segera unjukkan diri ! Memberi penjelasan kepada Lie Hui Hong ?"

"Apakah Touw Liong sewaktu itu juga ada ?"

Tanya gadis itu dengan sikap serius.

"Aku si orang tua telah menyaksikan sendiri bagaimana ia mengikuti jejakku lompat masuk ke dalam kelenteng tua itu."

"Kalau begitu, Touw Liong hanya nama kosong belaka !"

Berkata gadis itu sambil menghela napas panjang.

"Sebetulnya, ayah sedang merencanakan dalam waktu setengah tahun ini hendak pentang pengaruhnya di daerah Tiong-goan, maka telah perintahkan aku memasuki daerah Tiong-goan lebuh dulu. Untuk mengadakan kontak dengan orang-orang ternama di daerah ini. Di antara barisan namanama orang terkemuka, ternyata adalah orang she Touw ini yang berada di paling depan, maka orang pertama yang aku hubungi seharusnya adalah dia."

Dari nada suara gadis itu menunjukkan betapa kecewa perasaannya terhadap Touw Liong.

Dan Touw Liong sendiri yang mendengarkan di atas pohon, juga menarik napas.

Ia menarik napas bukan karena anggapan gadis itu yang telah goyah terhadap dirinya, melainkan menyesalkan dirinya sendiri mengapa tidak unjukkan diri untuk membersihkan dosanya kepada Lie Hui Hong !

Lima orang di dalam ruangan itu, hampir semuanya orang-orang berkepandaian sangat tinggi.

Dengan sendirinya helaan napas Touw Liong tadi sudah didengar oleh mereka.

Gadis cantik itu yang lebih dulu bangkit dari tempat duduknya, ia memberi isyarat dengan mata kepada dua wanita cantik di sisinya dan sebentar kemudian dua wanita itu dengan kecepatan bagaikan kilat sudah lompat melesat ke atas pohon.

Tepat pada saat dua wanita bergerak melesat ke atas pohon, sesosok benda hitam melesat dari atas pohon menuju ke tempat gadis cantik itu.

Bersamaan dengan itu sesosok bayangan manusia melesat keluar ke atas pohon dan lari ke atas genteng rumah depan.

Dengan sangat cekatan gadis itu menyambar benda hitam yang menyambar kearahnya, ketika dilihatnya, sesaat itu menjadi terkejut dan berseru .

"Panji Wulung !"

Sesaat suasana dalam ruangan itu menjadi panik, mata semua orang terbuka lebar ditujukan kepada Panji kecil di tangan gadis cantik itu.

Sementara itu dua wanita yang bergerak ke atas pohon, ketika mendengar jeritan gadis itu tadi, terpaksa melesat turun ke dalam ruangan lagi dan ketika mata mereka tertuju kepada panji di tangan gadis itu, kedua-duanya mengeluarkan suara jeritan tertahan.

Sedang gerakkan bayangan manusia yang meluncur dari atas pohon tadi demikian cepat bergeraknya, hingga sebentar saja sudah menghilang.

Siapakah orangnya yang menyambitkan panji wulung?

Dan siapakah bayangan manusia itu tadi?

Siapapun akan menduga, bahwa bayangan manusia yang melesat dan menghilang tadi adalah Touw Liong, sedangkan panji wulung yang disambitkan ke dalam tangan gadis itu pasti adalah Panji Wulung yang berada dalam saku Touw Liong, semua orang pasti mengira Touw Liong dalam keadaan terdesak telah menyambitkan Panji Wulungnya ke gadis itu, untuk mencegah lima orang itu bergerak dan supaya ia sendiri dapat loloskan diri.

Tapi jikalau pembaca juga menduga demikian, itu tidak benar !

Apa yang terjadi sebetulnya bukanlah demikian.

Panji Wulung yang disambitkan ke arah gadis itu memang benar Panji Wulung yang berada di dalam saku Touw Liong, akan tetapi yang menyambitkan bukanlah ia sendiri, melainkan orang lain yang diam-diam menyambitkannya, dan bayangan manusia yang bergerak menghilang tadi memang Touw Liong adanya.

Bedanya adalah Touw Liong saat itu berada dalam keadaan tak sadarkan diri dan dibawa kabur keluar dari halaman gedung itu oleh orang lain.

Jadi diatas pohon besar itu ada dua orang, kecuali Touw Liong masih ada orang lain yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada Touw Liong sendiri.

Siapakah orang itu .....?

*** Malam itu cuaca terang benderang, rembulan menyinari alam jagat.

Di depan sebuah kuburan itu diluar kota Lamyang, Touw Liong duduk menyender di atas batu nisan dalam keadaan seperti orang tidur tetapi bukan tidur.

Ketika dari dalam kota terdengar dua kali suara bunyi kentongan, Touw Liong mendusin, ia buru-buru kucek matanya, dengan perasaan terheran-heran memandang keadaan sekitarnya, ketika mengetahui bahwa dirinya sendiri pada saat itu berada di tengah kuburan, bukan kepalang terkejutnya.

Ia segera lompat bangun dan buruburu berjalan keluar dengan pikiran bingung.

Ia berjalan sambil berpikir, samar-samar ia masih ingat apa yang disaksikannya di dalam rumah misteri itu.

Ketika ia baru menarik napas perlahan, jalan darah belakang kepalanya merasa dingin.

Kemudian hilang ingatannya, dalam keadaan setengah sadar setengah tidak telinganya mendengar suara desiran angin, agaknya dibawa kabur oleh orang ..........

Tak lama kemudian, suara angin tidak terdengar lagi.

Ia merasa seperti dirinya diletakkan di tanah, dan kemudian tak tahu lagi apa yang terjadi.

Sehingga mendusin, ia masih belum tahu apa sebetulnya terjadi atas dirinya.

Keadaan itu jelas menggambarkan bahwa dirinya yang mengintai di perkampungan misteri itu sedang dalam keadaan bahaya, lalu ditolong oleh orang berkepandaian tinggi secara diam-diam.

Ia memikirkan kembali semua pengalamannya.

Pagi-pagi sekali ketika baru bangun tidur telah menemukan panji wulung diatas meja kamar tidurnya, kemudian Lie Hui Pek muncul dan menyerahkan bungkusan berisi kotak kepadanya.

Selanjutnya bertempur dengan Lie Hu San di kupel Tja-li Tiang-ting.

Setelah itu menyaksikan kejadian yang mengejutkan di dalam kelenteng tua, lalu Kim Yan hilang jejaknya dan kedatangan lelaki tinggi besar secara mendadak yang menyampaikan undangan kepadanya ..........

Pengalamannya yang hanya satu hari itu, ternyata merupakan pengalaman yang sangat aneh.

Tanpa disadari olehnya, sudah tiba di bawah kaki benteng kota.

Ia lalu mendongakkan kepala mengawasi rembulan di langit, kemudian lompat melesat ke atas tembok kota.

Di atas tembok kota ia memandang ke bawah, gentenggenteng rumah di dalam kota terbentang di depan matanya.

Ia menghela napas panjang dan berkata kepada dirinya sendiri .

"Di dalam kota yang demikian luas, kemana aku harus mencarinya ?"

"Cari siapa ?"

Demikianlah suara teguran terdengar dari sebelah kanannya sejauh kira-kira lima tombak.

Touw Liong bukanlah seorang berkepandaian biasa, tetapi bagaimana di dalam malam yang sepi sunyi, tak mengetahui atau mendengar suaranya.

Di dekat dirinya ada orang .....?

Tidaklah heran kalau saat itu ia menjadi sangat terkejut, maka buru-buru palingkan kepalanya ke kanan, namun di atas tembok benteng itu ternyata tak tampak bayangan seorangpun juga.

Touw Liong diam-diam merasa bergidik.

"Ha ..... ha ......"

Demikian suara itu terdengar pula di belakangnya. Suara itu masih tetap suara yang semula, setelah suara tertawanya itu lalu disusul oleh suara kata-kata yang mengandung ejekan .

"Aku si orang tua berada disini ! Kemana kau cari ?"

Touw Liong segera lompat ke tempat itu, namun tempat itu kosong melompong, tak terdapat bayangan seorangpun juga.

"Kau ini manusia ataukah setan ?"

Demikian tanya Touw Liong dengan nada marah.

"Puiii .....!"

Demikian suara itu terdengar dari luar tembok kota, kemudian disusul oleh kata-katanya.

"Kau sendiri yang melihat setan, aku si orang tua dengan enak duduk di sini. Mengapa kau tanya manusia atau setan ?"

Walaupun orang itu berkata demikian, tapi Touw Liong hanya dengar suaranya, tak kelihatan orangnya.

Hanya bau arak yang menyerang hidungnya dengan dibarengi oleh bau daging.

Kini Touw Liong telah mendapat kepastian bahwa suara itu adalah suara manusia.

Ia lalu tongolkan kepalanya keluar tembok.

Apa yang dilihatnya, hampir saja semangatnya terbang.

Pantas ia tak dapat menemukan orang yang dicari, ternyata di luar tembok di tempat yang kosong terpancang seutas tambang dan diujung bawah dari tambang itu tampak bergelantungan seorang paderi tua yang kulitnya sudah banyak keriputan dan berpakaian yang sudah banyak tambalan.

Tangan kiri paderi itu memegangi buli-buli arak, sedang tangan kanan memegangi sepotong paha daging anjing.

Paderi itu makan daging sambil minum arak, nampaknya asyik sekali.

Sambil mendongakkan kepala, paderi tua itu berkata kepada Touw Liong .

"Bocah, mari kemari .....! Kau juga minum arakku ini !"

Dan benar saja paderi tua itu mengacungkan buli-bulinya kepada Touw Liong.

"Losuhu .....! ini bukan urusan main-main, tambang itu ..........!"

Berkata Touw Liong sambil menggelengkan kepala dan ketawa getir. Belum habis ucapannya, tambang itu mendadak putus, hingga paderi tua yang bergantungan itu jatuh ke bawah.

"Tolong .....! tolong .....! Jiwaku akan melayang .....!"

Demikian paderi itu berteriak-teriak.

Reaksi Touw Liong sangat cepat, dengan satu gerakkan ia lompat turun, kemudian tangannya menyambar tambang yang mengikat pinggang paderi tua itu.

Celaka !

Usaha Touw Liong itu tak berhasil, hingga paderi tua itu jatuh ke tanah dalam keadaan duduk.

Tapi sungguh aneh, meskipun ia terjatuh dari atas tembok, namun kedua tangannya yang masing-masing memegangi buli-buli arak dan paha anjing, masih tetap dalam keadaan serupa, tak ada satu yang terlepas dari tangannya.

Bahkan begitu jatuh duduk, ia masih melanjutkan makan minumnya, seolah-olah tak terjadi apaapa.

Touw Liong yang sudah ketakutan setengah mati, begitu kakinya menginjak tanah buru-buru bertanya .

"Apakah Losuhu tak apa-apa ?"

Sebelum ditanya paderi tua itu tidak menunjukkan sikap apa-apa, tapi setelah ditanya, mendadak menjerit kesakitan.

Touw Liong terkejut, ia buru-buru bimbing padanya, mengharap supaya dapat memberi pertolongan, tapi meskipun ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, paderi tua itu sedikitpun tak tergeser dari tempat duduknya.

Hati Touw Liong segera tergerak, ia buru-buru mundur tiga langkah dan berkata sambil memberi hormat .

"Boanpwee mempunyai mata tapi tak kenal orang, entah siapakah Locianpwee ini ?"

"Kau jangan terburu-buru menanyakan padaku, aku hendak menanya dulu padamu. Benarkah kau ini muridnya Kiu-hwa Lojin ?"

Berkata paderi tua itu sambil makan dan minum. Touw Liong bersangsi sejenak, akhirnya menjawab.

"Benar."

"Kau bocah ini masih tak tahu siapa adanya aku si paderi tua ini, itu masih tidak apa. Yang benar kau lebih baik tanya padaku, pernah melihat orang yang kau cari ada atau tidak ?"

Berkata paderi itu dengan menyipitkan matanya. Touw Liong terkejut dan paderi tua itu meneruskan katakatanya .

"Kau bocah, sekarang ini bukan saja sedang mencari orang, bahkan hendak mencari sebuah barang."

Touw Liong kembali terkejut. Paderi tua itu bertanya pula .

"Hari ini hari baik, dan kau telah mengadakan perjanjian mati-hidup dengan orang .....! Betul tidak ?"

Tiga pertanyaan itu semua merupakan persoalan yang menjadi pertanyaan dalam hati Touw Liong, maka tidaklah heran kalau Touw Liong saat itu merasa sangat girang, buru-buru ia maju dan berlutut dihadapannya seraya berkata .

"Boanpwee seorang bodoh, harap Locianpwee berikan petunjuknya!"

Paderi tua itu bimbing bangun Touw Liong dan berkata sambil tertawa .

"Bangun ! Ada beberapa soal aku hendak tanya padamu. Aku ingin lihat bagaimana peruntunganmu."

Touw Liong menurut, dia berdiri di sampingnya sambil meluruskan dua tangannya. Paderi tua itu lalu bertanya ;

"Siapa-siapa orangnya yang paling dikagumi oleh suhumu ?"

"Tiga Dewa dari golongan pengemis, Anak sakti dari gunung Bu-san, Seruling perak dari gunung Kun-lun-san, Tujuh jago dari gunung Bu-tong .........! Jawab Touw Liong tanpa ragu-ragu. Paderi tua itu mengangguk-anggukkan kepala, suatu tanda bahwa ia membenarkan jawababn pemuda itu. Setelah berdiam sejenak ia bertanya pula .

"Kau tadi berkata tiga Dewa dari golongan pengemis, siapakah mereka itu ?"

"Dewa emas, Kim Tho yang bergelar sastrawan sembilan jari; Dewa batu Giok Ko Peng yang bergelar manusia murni di daerah tiga sungai dan satu lagi Dewa arak .....!"

Jawab Touw Liong.

Tiba-tiba ia ingat dan tanpa dirasa memandang si paderi tua miskin itu.

Sesaat kemudian ia tercekat tak dapat melanjutkan kata-katanya.

Paderi miskin itu nampaknya sangat girang, ia berkata sambil menunjuk hidungnya sendiri ;

"Teruskan .....! Aku bukan tiga dewa."

"Ketiga ialah Dewa arak Taysu gila."

"Bocah ! Apa yang kau katakan semuanya benar ! Sekarang aku hendak menanya lagi. Mereka bertiga masingmasing memiliki kepandaian istimewa apa ?"

"Dewa batu Giok memiliki ilmu kepandaian menotok bagian jalan darah dengan senjatanya yang berupa seperti alat tulis. Ilmunya ini dalam rimba persilatan tak ada tandingannya."

"Akan tetapi masih belum seampuh dengan gerak tipu serangan suhumu yang dinamakan Thian-sing-jiauw."

"Serangan tangan kosong Dewa emas yang dinamakan serangan pertarungan Naga dan Harimau, merupakan suatu ilmu serangan tangan kosong yang tak ada keduanya."

"Tetapi hanya berimbang dengan gerak tipu serangan Kiu-hua Sim-kiam dari suhumu. Belum terhitung suatu ilmu yang tak ada keduanya."

"Ilmu dari Dewa arak si Taysu gila yang dinamakan membuka pintu langit, menjagoi seluruh rimba persilatan dan pernah membuat sepuluh jago pedang tak bisa berkutik."

Paderi tua itu kembali berkata sambil menggelengkan kepala ;

"Tetapi kalau ketemu dengan Kiu-hwa Lojin, terpaksa harus mundur jauh-jauh."

Paderi tua itu memuji tinggi kepandaian Kiu-hwa Lojin, tetapi Touw Liong sedikitpun tak memperlihatkan sifat congkak, ia masih tetap berdiri dengan sikapnya yang sangat menghormat.

Paderi tua itu setelah berpikir sejenak baru bertanya pula ;

"Tahukah kau asal-usul tiga Dewa itu ?"

"Boanpwee masih terlalu muda, juga sangat bodoh, hingga tidak mengetahui semuanya."

"Baik !"

Berkata paderi tua itu, lalu menggantungkan buli-buli arak kepinggangnya, dan dilemparkannya sisa daging anjing di tangannya. Kemudian berkata dengan sungguh-sungguh;

"Sekarang dengarlah aku akan menceritakan suatu kisah."

Ia menunjuk dua buah batu besar yang berada setombak lebih ditempatnya.

Ia suruh Touw Liong duduk.

Touw Liong menurut, lalu bersama paderi tua berjalan menghampirinya dan duduk bersama-sama.

Setelah duduk, paderi tua baru melanjutkan ceritanya.

"Kim Tho adalah seorang pelajar miskin yang pernah menempuh ujian sampai sembilan kali, tapi selalu gagal. Ko Peng adalah seorang imam tulen yang suka mengembara. Sedang si paderi gila adalah seorang paderi pemabokan yang tak mempunyai selembar pakaian. Makan dan tempat tinggal seenaknya saja, di mana saja ia dapat makan dan dapat minum."

"Beliau bertiga mungkin tak sesuai bakat-bakat mereka dengan keadaan masa itu."

"Memang nasib mereka sangat buruk, pengalamanpengalaman hidup yang menyedihkan tiga orang itu, telah menjadikan mereka berkecimpungan di dunia kang-ouw. Oleh karena mereka itu mengalami nasib bersama, hingga satu sama lain menjadi kawan baik. Sering mengembara bersama-sama, akan tetapi mereka memiliki kepandaian istimewa sendiri-sendiri." *** Bab Touw Liong mendadak marah, ia berkata ;

"Menurut kabar yang tersiar di dunia kang-ouw, golongan pengemis yang hingga sekarang masih sangat berpengaruh di dunia rimba persilatan adalah mereka yang mendirikan. Dengan maksud dan tujuan apa mereka membentuk golongan pengemis ?"

Paderi tua itu mendadak menarik napas panjang, lama baru menjawab.

"Seorang besar sekalipun hidup dalam masa yang tak sesuai dengan kebesarannya dan tidak dapat membuat harum namanya, tetapi juga tidak sampai membuatnya terjerumus ke dalam lumpur kehinaan yang membuat buruk namanya. Manusia hidup dalam dunia, yang penting adalah menetapkan garis hidupnya di atas jalan yang benar, membangun usaha besar yang berguna bagi sesama manusia. Mereka bertiga dalam hidupnya penuh pengalaman pahit getir, sehingga dapat memahami segala ketidak adilan didalam dunia ....."

"Dalam soal apakah yang dianggap tidak adil itu ?"

"Manusia kebanyakan menghina orang yang miskin dan suka dengan kekayaan. Tak peduli bagaimana kelakuan orang itu, sekalipun seorang penjahat besar atau perempuan hina-dina, asal orang itu memiliki harta kekayaan berlimpah-limpah, dimanapun saja mereka dihormati. Apabila kau terlunta-lunta dijalanan, sekalipun kau seorang bersih dan jujur, juga tak seorangpun yang menghargaimu."

"Benar !"

Kata Touw Liong.

"Walaupun orang dari golongan pengemis, asal ia masih menjunjung tinggi kepribadiannya sendiri, jujur dan tidak serakah harta milik orang lain, bagaimana bisa dianggap sebagai orang golongan rendah ? Kita umpamakan saja, dahulu ada seorang pengemis bernama Ngo Hoan yang menuntut hidup dengan jalan minta-minta sambil meniup seruling, namun karena tingkah lakunya yang jujur dan perbuatannya yang suka membela keadilan yang luhur, kalau kita pandang ia sebagai orang dari golongan kelas satu rasanya tidak berlebih-lebihan."

"Bocah .....! Pendapatmu sama denganku. Kita berdua boleh terhitung orang-orang yang sepaham dan sehaluan !"

Berkata paderi miskin itu sambil mengacungkan ibu jarinya, Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

"Tiga Dewa itu kemudian berusaha mengumpulkan kaum jembel seluruh dunia untuk membentuk persatuan golongan pengemis. Dalam rapat itu telah diangkat dengan suara terbanyak bagi Kim Tho sebagai ketua, Ko Peng dan si Taysu gila sebagai sesepuh, selanjutnya dalam rimba persilatan orang menjunjung mereka sebagai tiga Dewa dari golongan pengemis. Kalau seorang raja ada mempunyai cap kerajaan, kau jangan pandang rendah pada golongan pengemis. Tiga Dewa itu masing-masing juga memiliki sebuah tanda kebesaran. Kim Tho memiliki cap sebagai ketua yang berupa ukiran Naga Mas, Ko Peng memiliki tanda kebesaran berupa batu Giok berbentuk binatang kiling, dan si taysu gila memiliki tanda yang berbentuk harimau putih. Tiga buah cap kebesaran yang semuanya terbuat dari bahan batu Giok ini terbagi dalam tiga warna, masing-masing kuning, hijau dan putih."

Touw Liong teringat pada Lie Hu San, maka segera memotong penuturan paderi tua itu dan bertanya ;

"Tanda apa yang dimiliki oleh ketua golongan pengemis sekarang ?"

"T i d a k a d a ! Tetapi ia memang benar adalah ketua golongan pengemis."

Touw Liong tak mengerti jawaban itu, berkata pula sambil mengerutkan keningnya ;

"Aneh ! Sebagai ketua bagaimana tidak memiliki tanda cap kebesaran ?"

"Hal ini panjang ceritanya, harus dimulai dari semula .....!"

Berkata paderi tua itu sambil menghela napas.

"Tigapuluh tahun berselang ....., tiga Dewa yang bermaksud hendak meninggikan derajat dan nama baik golongan pengemis. Akan tetapi dalam usaha besar bagi rimba persilatan harus dapat menundukkan atau setidaktidaknya menggerakkan hati orang-orang gagah dalam rimba persilatan. Dalam rimba persilatan pada masa itu, sebetulnya memang tak ada seorangpun yang sanggup melawan tiga Dewa itu. Hanya suhumu yang selama itu belum pernah mengutarakan sikapnya merupakan salah seorang yang terkecuali!"

"Suhu memang tak suka berebut pengaruh dengan orang lain ....."

"Itu tidak benar !"

Memotong paderi tua dan kemudian berkata ;

"Kalau tidak suka berebut pengaruh dengan orang luar....., mengapa ia memerintahkan padamu mencari batu Khun-ngo-giok sampai ke daerah ini ?"

Touw Liong terkejut, ia buru-buru membela suhunya ;

"Pengaruh kejahatan semakin luas, sebelum hujan harus kita sedia payung, maka suhu mau tidak mau terpaksa mengadakan persiapan lebih dulu."

Paderi miskin itu berkata sambil menganggukkan kepala ;

"Benar juga ! Baiklah ....., sekarang kita bicara soal yang perlu ! Tiga Dewa melakukan perjalanan ke gunung Kiuhoasan, untuk mengadakan pertandingan persahabatan tiga kali dengan suhumu. Kepandaian suhumu benar-benar sudah melampaui batas kemampuan manusia biasa. Dalam tiga pertandingan itu, tiga Dewa akhirnya ditundukkan oleh kebesaran jiwanya."

"Menurut kata suhu, dalam pertandingan itu berakhir seri !"

"Ia memang memiliki kepandaian lebih tinggi setingkat daripada kita. Dalam setiap kali pertandingan sebetulnya ia dapat merebut kemenangan, tetapi ia tak mau berbuat demikian dan mengakhiri pertandingan dalam keadaan seri. Maka kukata ia seorang berjiwa besar !"

"Dan kemudian ?"

"Di hadapan suhumu, Kim Tho telah mengumumkan bahwa tiga Dewa akan mengasingkan diri, selanjutnya tak akan mengurus urusan golongan pengemis lagi. Setelah turun dari gunung Kiu-hoa-san, orang tidak mengetahui jejak tiga Dewa itu."

"Aiii .....!! Mengapa harus begitu ? Suhu benar-benar selanjutnya juga mengasingkan diri, tak mau mencampuri urusan dunia lagi. Tidak penting bagi tiga Dewa, tak mau mengurus urusannya, sayang golongan pengemis telah terpecah belah menjadi dua golongan."

"Lie Hu San adalah murid Kim Tho yang saat itu sebagai ketua golongan pengemis, tapi Kim Tho tidak menyerahkan tanda kebesarannya kepadanya, sewaktu ia naik gunung Kiu-hoa-san, ia masih merangkap jabatannya sebagai ketua dan pemimpin selama sepuluh tahun. Sehingga duapuluh tahun berselang, ia baru benar-benar meletakkan jabatannya. Beberapa tahun kemudian, Lie Hu San melakukan tindakan yang tidak patut, sehingga menimbulkan perasaan tak puas bagi orang-orang golongan pengemis yang masih menjunjung tinggi kepribadiannya. Mereka lalu bangkit dan mengadakan perlawanan, kemudian mengangkat Kang Haow, murid kepala Ko Peng sebagai ketua golongan pengemis bagian selatan."

"Apakah Kang Haow juga tak memiliki tanda kebesaran sebagai ketua ?"

"Tidak ada ....., tapi dia memiliki tanda kebesaran batu Giok yang berbentuk binatang kilin milik Ko Peng yang diwariskan kepadanya."

Touw Liong tercengang, ia bertanya ;

"Kenapa Kim Locianpwee tidak wariskan tanda kebesaran ketuanya kepada Lie Hu San ?"

"Lie Hu San kelakuannya tidak baik, bagaimana suhunya dapat meninggalkan tanda cap itu kepadanya ?"

Touw Liong berkata sendiri sambil mengerutkan alis.

"Tidak baik golongan pengemis menjadi terpecah belah demikian, dalam rimba persilatan yang memang sudah banyak urusan. Jikalau dalam golongan pengemis terjadi pertikaian sendiri, entah bagaimana keadaan selanjutnya ?"

"Memang benar ! Dewasa ini hanya ada suatu jalan yang dapat kita tempuh untuk menghentikan golongan pengemis."

"Jalan apa ?"

"Pergi mencari Kim Tho, minta ia mengeluarkan tanda kebesarannya."

"Kim Pangcu tidak menentu jejaknya. Orang tidak tahu dimana sekarang ia berada?"

"Sejak turun gunung Kiu-hoa-san, tiga Dewa itu masingmasing melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Siapapun tak tahu dimana mereka berada ?"

Touw Liong berpikir lama, kemudian baru berkata ;

"Seandainya kita dapat menemukan tanda kebesaran berupa naga mas itu .........."

Paderi tua itu mendadak menyela ;

"Pikiran kita berdua ternyata sama, hingga cara berpikirnya juga serupa. Kau .........."

Touw Liong tak mengerti, ia angkat muka memandang paderi tua itu.

Paderi tua itu mendadak merogoh sakunya, dari dalam saku itu mengeluarkan sebuah batu giok warna putih.

Touw Liong yang menampak batu Giok itu lantas berseru ;

"Tanda kebesaran harimau putih ?"

"Benar ! Ini adalah tanda kebesaran harimau putih."

Paderi tua itu membenarkan sambil menganggukkan kepala. Touw Liong bangkit perlahan-lahan dan bertanya dengan perasaan terheran-heran ; Locianpwee adalah ..........!"

"Dewa arak."

Sekujur badan Touw Liong dirasakan menggigil ....., ia bertanya pula dengan perasaan terkejut ;

"Tetapi tadi locianpwee ..........! toh tidak mengakui ?"

"Jikalau aku tak menyangkal, kau pasti sudah mempunyai gambaran tentang diriku, hingga aku tak dapat keterangan terus terang dari mulutmu !"

"Kalau begitu boanpwee telah tertipu oleh locianpwee !"

"Masih muda ....., sekali-kali tertipu toh tidak apa-apa. Hitung-hitung sebagai pengalaman. Tahukah kau di dalam golongan pengemis ada suatu peraturan ..... Orang luar yang mencuri dengar rahasia golongan pengemis harus di hukum mati !"

"Tetapi boanpwee tidak mencuri dengar, adalah cianpwee sendiri yang menceritakan. Bagaimana bisa menimpahkan dosa kepada orang lain .....?"

Taysu gila itu diam. Setelah berpikir sejenak lalu berkata ;

"Kita jangan urusi urusan itu lagi, bagaimanapun juga kau sudah mengetahui rahasia golongan kita. Jikalau tidak dihukum mati ini berbahaya. Tetapi kalau kau tidak ingin mati, masih ada suatu jalan."

"Jalan apa ?"

"Masuk menjadi anggota kita !"

"Boanpwee adalah seorang laki-laki jantan, sebagai murid golongan Kiu-hwa yang terkenal sebagai golongan kebenaran ....., bagaimana dapat meninggalkan dan menghianati perguruannya, berbalik menjadi anggauta golongan pengemis ?"

"Siapa tidak tahu aku paderi miskin seorang gila ? Hari ini aku akan melakukan perbuatan gila-gilaan .....! Kau .....bocah ....., harus menjadi penghianat perguruanmu ....., itu sudah pasti ! Sekarang ini kau hanya mempunyai satu jalan, kecuali kau menerima tanda kebesaranku ....., Harimau Putih ini, yang kau gunakan untuk mencari tanda kebesaran untuk ketua golongan pengemis dan kemudian melakukan pembersihan golongan pengemis itu. Selain itu ....., sudah tidak ada jalan lain lagi kecuali jalan kematian !"

Touw Liong tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata;

"Locianpwee terlalu memaksa, sehingga menyulitkan kedudukan orang ! Akan tetapi sebagai satu laki-laki, tidak akan ditundukkan oleh kekerasan, tidak akan berubah pendiriannya oleh pengaruh harta kekayaan. Kalau memang harus hidup akan tetap hidup, kalau harus mati biarlah mati, asal tidak membuat malu sebagai manusia. Kematian apalah artinya !"

"Bocah ! Kau terlalu keras kepala. Baiklah !! Aku akan segera mengirim kau ke akhirat."

Touw Liong tiba-tiba ingat sesuatu, ia berkata dengan suara keras.

"Boanpwee masih ingin memberi keterangan !"

"Katakan lekas !"

"Urusan dalam golongan pengemis, mengapa cianpwee tak mau mengurus sendiri, sebaliknya memaksa boanpwee yang membereskan ?"

"Dahulu di gunung Kiu-hoa-san aku pernah mengucapkan janji, tak akan mencampuri urusan dunia lagi ! Bagaimana aku dapat melanggar janjiku sendiri?"

"Perbuatan cianpwee memaksa boanpwee untuk mencarikan tanda kebesaran ketua golongan cianpwee, bukankah berarti melanggar peraturan golongan cianpwee sendiri ?"

Paderi gila itu mendadak membentak dengan suara keras.

"Bocah ! Apa kau sudah gila ? Mengapa kau berani mengatakan yang bukan-bukan terhadap diriku ? Apa kau mau mencari mampus ?"

Setelah itu mendadak tangannya diangkat, lengan jubahnya yang rombeng berkibaran menyambar Touw Liong.

Touw Liong sebagai seorang muda keluaran dari perguruan ternama, sudah tentu tidak mandah dibuat bulanbulanan oleh jubah paderi gila itu.

Dengan satu gerakkan lincah ia mengelakkan kebutan itu.

Sedang mulutnya berkata.

"Boanpwee seharusnya akan mengalah sampai tiga kali menghadapi locianpwee ....."

"Tetapi aku paderi gila tak sudi menerima budimu ini. Awas !"

Dengan badan masih tak bergerak, paderi itu menggunakan lima jari tangannya, mengeluarkan hembusan angin yang disentil oleh jari tangannya.

Touw Liong yang belum sempat tancap kaki, sudah tak keburu mengelakkan serangan itu, maka akhirnya terpukul jatuh oleh paderi tua.

Sementara itu, paderi gila itu maju menyerbu bagaikan kilat cepatnya, kemudian tangannya menyerang sambil berseru.

"Bocah, kau tak dapat diampuni !"

Serangan itu benar-benar mengenakan dengan telak ke atas kepala Touw Liong, hingga Touw Liong jatuh pingsan seketika itu juga.

Dengan tangan masih diletakkan diatas kepala Touw Liong, paderi gila itu kemudian duduk bersila di hadapannya sambil memejamkan mata dan menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya.

Sang waktu telah berlalu, wajah paderi tua itu perlahanlahan berubah, dari merah menjadi kuning dan dari kuning kemudian menjadi pucat pasi .....

Peluh mulai membasahi jidatnya, napasnya mulai memburu, tangannya diletakkan di atas kepala Tou Liong seperti sudah kehilangan kekuatannya, perlahan-lahan jatuh kebahu Touw Liong.

Sebentar kemudian ia membuka matanya yang sayu lalu menarik napas dengan wajah penuh belas kasih menatap wajah Touw Liong yang merah dan berkata padanya dengan tidak bertenaga.

"Bocah, aku pilih kau untuk melakukan tugas bagiku, ilmuku kekuatan tenaga dalam -Membuka pintu langit -sudah kusalurkan ke dalam tubuhmu, harap kau melatihnya sendiri baik-baik. Kau harus mengerti bahwa aku memilih kau untuk memikul tugas ini, sesungguhnya sudah kupikir masak-masak, seyogyanya, aku yang masih ada sedikit ganjelan hati dengan suhumu, tidak seharusnya memilih kau. Tetapi justru lantaran ini, pula karena kau merupakan seorang luar biasa pada dewasa ini, sedang suhumu itu mungkin anggap dirinya sebagai orang luar biasa pada masa ini, maka aku sengaja memberikan tugas berat ini kepadamu, supaya ia membuka mata menyaksikan muridnya tersayang, meninggalkan perguruannya dan kemudian menjadi ketua golongan pengemis generasi kedua."

Ia menghela napas, kemudian berkata pula.

"Dengan sebetulnya, mengenai persoalan yang tidak enak terhadap suhumu, itu adalah soal lain. Sebab utama yang mendorong aku bertindak demikian ialah karena aku pandang sifat kepribadianmu yang kuanggap dapat diberikan tugas berat ! Aiii .....! Usiaku sudah lanjut, tak lama lagi aku harus pulang menghadap kepada Tuhan. Akan tetapi, urusan didalam golongan pengemis aku harus bereskan lebih dahulu. Harta kekayaan peninggalan ayahku dulu, dan dendam sakit hati ayah juga perlu aku menuntut balas. Aku sudah menjadi anak yang tak berbakti, sudah hidup hampir seratus tahun tidak berhasil menunaikan tugasku, terpaksa aku angkat kau sebagai murid tak resmi untuk melakukan beberapa tugas yang tak dapat kuselesaikan ini !"

Berkata sampai disitu, paderi gila itu dari dalam sakunya mengeluarkan sepucuk sampul surat dan tanda kebesaran harimau putih, lalu dimasukkan ke dalam tangan Touw Liong.

Perlahan-lahan ia bangkit, setelah memandang keadaan cuaca sejenak, lalu menundukkan kepala dan berkata lagi kepada Touw Liong.

"Selamat tinggal Touw Liong ! Semua pengharapan suhumu terletak diatas pundakmu !"

Dengan perasaan agak berat paderi gila itu menatap wajah Touw Liong sekian lama, barulah berlalu.

Ia berjalan demikian pesat, sebentar kemudian bayangannya sudah ditelan oleh kegelapan.

Ketika sinar matahari pagi menyinari bumi, Touw Liong telah siuman dan duduk untuk mengatur pernapasannya.

Apa yang dilakukan oleh paderi gila terhadap dirinya, ia tidak tahu sama sekali.

Hakekatnya saat itu ia sudah berada dalam keadaan yang seolah-olah sudah melupakan dirinya sendiri.

Dalam keadaan demikian, dari sebuah rimba, beberapa tombak jauhnya dari tempat itu, muncul beberapa bayangan hitam.

Dengan cepat sudah tiba dihadapan Touw Liong.

Seorang berpakaian jubah warna hitam, mukanya tertutup oleh kain hitam, hingga hanya tampak sinar matanya saja yang terdapat dari dua lobang bagian mata.

Sinar tajam dan menyeramkan itu ditujukan kepada Touw Liong.

Ketika pandangan mata itu tertuju kepada batu giok berbentuk harimau putih, sekujur badannya gemetar.

Dengan nada suara terkejut berkata kepada diri sendiri ;

"Benda ini sudah tigapuluh tahun tidak nampak ! Tak disangka terjatuh di tangan bocah ini !"

Orang itu membungkukkan badannya mengambil tanda kebesaran dari tangan Touw Liong.

Kemudian buru-buru dimasukkan kedalam sakunya sendiri, setelah itu mengeluarkan suara tertawa dingin, tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi, dengan sinar matanya yang bengis berkata ;

"Bocah, kau harus kuhabiskan nyawamu !"

Ketika tangannya bergerak baru setengah jalan mendadak ditariknya kembali, lalu berkata pula dengan dirinya sambil menggelengkan kepala ;

"Mengapa aku harus berlaku tergesa-gesa, bagaimanapun juga nyawa bocah ini toh tinggal nanti malam saja. Tunggu setelah ia memberitahukan tempat tersimpannya batu Khun-ngo-giok, asal dihadapan sancu muda aku berikan keterangan dengan ditambahi bumbu seperlunya, sancu muda tidak akan melepaskan begitu saja ....."

Dari perkataan orang itu jelas ia sudah bermaksud hendak menimbulkan onar buat Touw Liong.

Orang itu semakin lama berpikir semakin membenarkan anggapannya, maka juga semakin bangga akan kecerdikkannya.

Ia mendongakkan kepala memandang cuaca pagi, kemudian berkata dengan suara perlahan ;

"Sudah pagi ....."

"Sudah pagi mau berbuat apa ?"

Demikian suatu pertanyaan dengan suara dingin terdengar di belakang dirinya.

Orang berkerudung itu buru-buru berpaling, seketika itu bukan kepalang terkejutnya !

Setombak lebih di belakang dirinya, berdiri seorang tua bermuka sawo matang, berjenggot putih, mengenakan jubah warna ungu.

"Kukira siapa .....! Kiranya Lichungtju !"

Demikian orang berkerudung itu berkata sambil tertawa dingin. Orang yang berada di belakang dirinya itu memang benar adalah Lie Hui Hong, chungtju dari perkampungan Hut-liong-chung.

"Kau tak perlu memakai kerudung untuk menutupi mukamu, sekalipun kau sudah dibakar menjadi abu, aku masih dapat mengenali dirimu."

Berkata Lie Hui Hong dengan nada suara dingin.

"Tahukah kau, siapa aku ini ?"

"Lie Hu San."

Orang berkerudung itu membuka kerudungnya dan balas bertanya dengan nada suara gusar ;

"Antara kita berdua bagaikan air sungai dengan air sumur, yang satu sama lain tidak saling mengganggu. Kau, Lie Hu San menuntut hidup dengan caramu sendiri, aku juga hidup dengan caraku sendiri. Urusan bocah she Touw ini yang sembunyikan batu Khun-ngo-giok milik saudaraku, masih merupakan soal kecil. Tetapi perbuatannya yang membunuh saudaraku itu adalah suatu perkara berat, maka dendam sakit hati ini tidak boleh tidak kuharus menuntut balas !"

Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar menghampiri Touw Liong, tangannya bergerak hendak melakukan serangan. Lie Hu San menggelengkan kepalanya menahan tangan Lie Hui Hong seraya berkata ;

"Aku hendak bicara sebentar !"

Lie Hui Hong menarik kembali tangannya dan bertanya dengan suara marah ;

"Lie Hu San ! Berani kau berbuat demikian terhadap aku ?"

Dengan tertawa mengejek, Lie Hu San berkata sambil menggelengkan kepala ;

"Bukan .....! Bukan ! chungtju jangan salah paham ! Didalam kupel Tja-lie-tjiang-ting, maksudmu dan maksudku ada bersama, keadaan sekarang berlainan. Maksud kedatangan chungtju adalah hendak membalas sakit hati adikmu, sedang maksudku adalah terhadap batu giok itu."

"Perhitungan pangcu salah, saudaraku telah korbankan jiwa lantaran batu giok itu. Bagaimana aku bisa melepaskan begitu saja ?"

"Benar .....! Benar .....! Ucapan chungtju memang benar. Tetapi aku sekarang hendak tanya kepadamu, jikalau kau dengan seranganmu tadi membuat jiwa bocah ini melayang, namun masih belum mendapatkan hasil apa-apa, bukankah sia-sia saja usaha kita ? Sementara itu dimana adanya batu giok, chungtju sendiri juga masih belum tahu."

Lie Hui Hong tercengang. Dengan tenang Lie Hu San berkata pula ;

"Aku juga tidak menyalahkan thungtju, bocah ini sesungguhnya juga agak keterlaluan sedikit. Kematian djie-chungtju sesungguhnya amat menggenaskan."

"Menurut pikiranmu, bagaimana kita harus berbuat ?"

"Menurut pendapatku, kita jangan bunuh dulu padanya. Kita berikan sedikit hajaran padanya. Kita boleh bunuh setelah dia menerangkan simpanan batu giok itu. Kemudian, kita masing-masing mengadu kepandaian sendiri-sendiri, siapa yang kuat berarti akan memiliki barang itu, dan siapa yang memiliki kepandaian akan mendapatkan batu giok itu, dialah yang harus menguasai dunia rimba persilatan dikemudian hari."

"Perhitunganmu memang cukup cerdik, kau hendak mengerahkan semua kekuatan golongan pengemis untuk bertanding ?"

"Sama .....! sama .....! Perkampungan Hui-liong-chung di daerah utara juga merupakan suatu kekuatan cukup besar, apalagi di belakang chung-tju masih ada susiokmu yang menunjang."

Dua orang itu berpaling, Touw Liong ternyata sudah tak tampak mata hidungnya lagi !

Bukan kepalang terkejutnya dua orang itu.

Lama mereka saling berpandangan, akhirnya Lie Hui Hong berkata sambil menarik napas ;

"Aku, Lie Hui Hong yang setiap hari kerjaku menangkap burung, tidak kusangka hari ini telah dipatok mataku oleh burung !"

Lie Hui San tiba-tiba keluarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata ;

"chungtju jangan bingung ! Aku tahu kemana perginya bocah itu."

"Kemana dia pergi ?"

"chungtju, ikutlah aku !"

Sehabis berkata, Lie Hu San lari menuju ke selatan.

Lie Hui Hong dalam keadaan demikian, sekalipun pikirannya risau, terpaksa mengikuti jejak Lie Hu San.

*** Malam itu rembulan terang, di tanah lapang depan sebuah klenteng yang berada di tengah rimba, tampak berdiri berbaris dua laki-laki dan tiga wanita.

Dipandang dari jauh, lima orang itu agaknya sangat gembira, mereka berbincang-bincang dan bersenda gurau, akan tetapi jikalau diteliti agaknya tidak demikian.

Ternyata dua laki-laki itu sedang bertengkar, hanya pertengkaran mereka agak sopan hingga suaranyapun tak keras !

Jauh dari lapangan itu, diatas jalan batu, tampak dua orang tua.

Yang satu bermuka sawo matang berpakaian jubah ungu, yang lain berpakaian jubah warna hijau, sepasang matanya memancarkan sinar tajam.

Orang tua yang tersebut belakangan mendadak berhenti, berkata kepada orang tua berwajah sawo matang sambil menunjuk ke lapangan.

"chungtju ! Kau lihat atau tidak, orang yang berdiri membelakangi kita itu bukankah bocah she Touw yang kita cari itu ?"

Orang tua berjubah ini segera menghentikan langkahnya, setelah menarik napas panjang, baru berkata ;

"Ya .....! Benar ! Pandangan matamu sungguh tajam. Bocah itu juga gesit sekali, dalam waktu sangat singkat sudah tiba di sini !"

Dua orang itu tak usah dikata, adalah Lie Hui Hong dan Lie Hu San. Lie Hui Hong menunjuk tiga wanita dan satu laki-laki di hadapan Touw Liong seraya bertanya ;

"Laki-laki dan perempuan yang bicara dengan bocah itu ....., Siapakah ? Ada hubungan apa dengan bocah she Touw ?"

"Mereka .....? Hmm .....! Marilah aku ajar kenal chungtju dengan beberapa orang kuat."

Ia tak menunggu jawaban Lie Hui Hong, lebih dulu berjalan menuju ke lapangan itu.

Lie Hui Hong tak berdaya, dengan otak penuh tanda tanya ia mengikuti jejak Lie Hui San.

Ketika Lie Hui Hong dan Lie Hui San masuk dalam lapangan, dua laki-laki dan tiga wanita itu semua berpaling ke arah mereka.

Touw Liong menyongsong kedatangan Lie Hui Hong, sebelum orang she Lie itu membuka mulut, ia sudah berkata lebih dahulu.

"chungtju tak perlu turut mencampuri urusan ini, kesalahan paham antara aku dengan chungtju, nanti aku akan berkunjung kekediamanmu untuk memberi penjelasan."

Lie Hui Hong nampak marah, sementara itu Lie Hui San yang mendapat kesempatan baik segera berkata ;

"Dalam urusan ini chungtju jangan tergesa-gesa, kau toch tak akan takut bocah ini akan lari bukan ? Siaute akan jamin pada chungtju bahwa maksudmu hendak membinasakan bocah ini, malam ini pasti terkabul. Mari .....! Kuperkenalkan lebih dulu kepada beberapa orang kuat !"

Ia memberi hormat pada gadis berbaju ungu yang berhadapan dengan Touw Liong, lalu memperkenalkan Lie Hui Hong kepada gadis itu.

"Ini adalah saudara Lie Hui Hong, chungtju dari perkampungan Hui-liong-chung."

Kemudian ia berkata kepada Lie Hui Hong sambil menunjuk gadis itu ;

"Dan ..... Nona ini adalah nona Pek Giok Hwa, sancu muda dari gunung Pek-lo-san."

Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Lie Hui San kembali memperkenalkan tamunya kepada laki-laki tinggi besar ;

"Saudara ini adalah Kokcu dari Siao-thian-kok digunung Tjit-phoa-san, saudara Soa Lie."

Lie Hui San mengerutkan alisnya, sementara dalam hatinya berpikir ;

"Semua hanya merupakan beberapa orang yang tidak dikenal namanya, apa itu gunung Tjitphoa-san ? Sedikitpun belum pernah dengar ada orang kuat."

Meski dalam hati berpikir demikian, akan tetapi ia adalah seorang kang-ouw kawakan, menampak sikap Lie Hui San demikian menghormat terhadap gadis itu.

Ia segera dapat menduga bahwa gadis itu bukan orang sembarangan, maka ia juga tak berani berlaku ayal.

Ia berkata ;

"Sudah lama kudengar nama nona yang besar !"

Lalu, Lie Hui San memperkenalkan Lie Hui Hong kepada kedua wanita cantik yang hampir setengah umur. Lie Hui San berkata kepada kedua wanita sambil menunjuk Lie Hui Hong ;

"Saudara ini adalah chungtju dari Huiliong-chung yang tadi sudah memperkenalkan kepada nona Pek."

Kemudian berkata kepada Lie Hui Hong ;

"Dua nona ini pasti sudah tak asing lagi bagi chungtju, nona-nona ini adalah sepasang burung Hong dari gunung Biu-san ....."

Dua wanita cantik itu memberi salam pada Lie Hui Hong. Bukan kepalang terkejutnya Lie Hui Hong ketika mendengar disebutnya nama dua wanita cantik itu, ia buruburu memberi hormat seraya berkata ;

"Sudah lama kudengar nama nona berdua, selama itu aku merasa menyesal tidak mendapat kesempatan berkenalan, maka pertemuan kita hari ini, aku anggap sebagai suatu kehormatan yang besar bagi diriku."

Sementara itu, Touw Liong yang mendengarkan pembicaraan itu, dalam hatinya berpikir ;

"Sepasang burung Hong dari gunung Bu-san .....! Apakah mereka itu bukan orang yang sering disebut oleh suhu sebagai muridnya Anak sakti dari gunung Bu-san !"

Setelah diperkenalkan dengan dua wanita cantik dari gunung Bu-san, pandangan Lie Hui Hong terhadap gadis cantik berpakaian ungu itu mulai berubah, pikirnya ;

"Orang-orang kuat seperti sepasang burung Hong ini, juga menyediakan diri sebagai pembantunya, kalau begitu anak perempuan ini tampaknya bukan dari golongan sembarangan, mungkin keturunan dari orang ternama."

Gadis berbaju ungu itu dengan wajah murung memberi hormat kepada Lie Hui Hong seraya berkata ;

"Nasib yang dialami oleh Lie chungtju, siaolie turut merasa berduka, harap Lie chungtju jangan terlalu bersedih."

Lie Hui Hong tak menjawab, dengan mata marah menatap wajah Touw Liong. Touw Liong memberi hormat padanya, tetapi tidak digubris. Pek Giok Hwa melanjutkan kata-katanya ;

"chungtju, urusan ini sangat ruwet, tadi setelah kudengar keterangan dari Touw tayhiap, aku agak curiga. Dengan kedudukannya yang namanya demikian kesohor sebagai pendekar kenamaan, rasanya tak mungkin berbuat demikian, untuk merusak nama baiknya sendiri."

Kata-kata gadis itu ternyata hendak membela Touw Liong. Lie Hui Hong sudah tentu merasa kurang senang, maka segera membantah ;

"Nona jangan dengar keterangan sepihak dari bocah itu saja, bukti sudah nyata tak dapat disangkal lagi. Dalam urusan ini, kecuali dengan istilah melakukan pembunuhan dengan maksud merebut kekayaannya, rasanya sudah tak ada kata-kata untuk menjelaskan, maka kata-kata itu merupakan kata-kata yang berlebihan."

Lie Hu San diam-diam merasa cemas, sementara salah satu dari dua wanita cantik itu, memandang Lie Hui Hong sambil tersenyum, kemudian berkata ;

"chungtju jangan marah, urusan ini jika benar seperti apa yang chungtju katakan, perbuatan Touw tayhiap itu, malam ini sudah tentu takkan terlepas dari hukumannya. Bagaimanapun juga akan membiarkan chungtju menuntut balas kematian adik chungtju dengan sepuasnya. Akan tetapi, segala urusan dalam dunia ini semuanya tak boleh terlepas dari aturan, pribasa bilang . -Orang yang bersangkutan selamanya tidak mengetahui keadaan sendiri, tetapi bagi orang yang menyaksikan selalu mengerti.-Jikalau benar Touw tayhiap melakukan perbuatan seperti apa yang chungtju tuduhkan, ia sudah merampas batu Khun-ngo-giok, dan kemudian membunuh adikmu, rasanya tidak perlu ia menempuh bahaya lagi, dengan melakukan perjalanan sejauh itu untuk mengantarkan batok kepala adikmu keperkampungan Huiliongchung. Mengapa ia tak mencari tempat yang aman, untuk membuat pedang Khun-ngokiam?"

Lie Hu San merasa khawatir usahanya menghasut takkan berhasil, maka dengan cepat lantas menjawab ;

"Orang-orang jaman sekarang, pikirannya tidak seperti orang-orang di jaman dulu ! Jaman ini berlaku kata-kata yang menanggapi. Generasi muda sangat menakutkan. Siapa dapat menduga permainan apa yang dilakukan oleh orang she Touw ini ? Maka tayhiap sebaiknya jangan mencoba hendak menutupi dosanya dengan kata-kata yang manis."

Perkataan generasi muda sangat menakutkan yang diucapkan oleh Lie Hu San bagi Touw Liong sudah sangat menusuk, tetapi Pek Giok Hwa yang turut mendengarkan juga merasa tidak senang.

Mukanya menunjukkan sedikit perubahan, segera ia mengeluarkan suara menggumam.

Lie Hui San agaknya telah melihat perubahan itu, ia buru-buru menundukkan kepalanya.

Pek Giok Hwa lalu berkata kepada Lie Hui Hong ;

"Nama besar chungtju sudah terkenal di daerah Tionggoan, maka dalam segala hal supaya bertindak dengan jiwa besar. Dalam urusan ini, sukalah kiranya chungtju memandang muka siaolie, sudahlah sampai di sini saja !"

Lie Hui Hong masih penasaran, tapi ketika menyaksikan perubahan muka Pek Giok Hwa, dalam hati merasa terkejut.

Ia baru tahu bahwa ucapannya tadi telah menyinggung perasaan gadis itu.

Kini gadis itu nampaknya sudah bertekad hendak membela Touw Liong, dan katakatanya juga demikian tegas, maka hal ini membuat dirinya menjadi serba salah.

Sebagai seorang yang mempunyai kedudukan baik, sudah tentu Lie Hui Hong tak mau mundur begitu saja.

Ketika mendengar perkataan gadis itu segera balas menanya.

"Malsud nona memang baik, lebih dulu kuucapkan terima kasih, tetapi .....! bagaimana dengan kematian adikku ? Tentang kepala adikku itu, bagaimanapun juga orang she Touw itu harus mempertanggung jawabkan !"

Lie Hu San buru-buru memberi isyarat dengan pandangan mata kepadanya, untuk mencegah supaya Lie Hui Hong jangan meneruskan kata-katanya.

Sayang peringatan itu agak terlambat, Pek Giok Hwa sudah berkata dengan wajah pucat.

"Jikalau Li-chungtju tak mau dengar usulku tadi, siaolie masih ada suatu cara yang mungkin akan memuaskan bagi kedua pihak."

"Coba nona terangkan !"

Berkata Lie Hui Hong sambil memberi hormat.

"Cara yang kuusulkan ini merupakan dua rupa jalan yang bersifat extrem, sedikitpun takkan memberi keluangan untuk berdamai lagi .....!"

Berkata Pek Giok Hwa tegas. Ia berdiam sejenak, matanya yang jeli memandang muka orang-orang disekitarnya, kemudian berkata kepada salah satu dari dua wanita cantik dari gunung Bu-san ;

"Na Lo ! Kau beritahukan kepada mereka !"

Na Lo membungkukkan badan memberi hormat, kemudian berkata ;

"Sutit menerima baik perintah susiok."

Perkataan "susiok"

Yang keluar dari wanita cantik itu benar-benar sangat mengejutkan Lie Hui Hong dan Touw Liong.

Harus diketahui bahwa Anak sakti dari gunung Busan, tingkat dan kedudukannya hampir setaraf dengan tiga Dewa dari golongan pengemis.

Wanita cantik itu adalah anak murid tokoh kuat dari gunung Busan itu.

Sesungguhnya sangat mengherankan bahwa seorang gadis yang usianya belum duapuluh tahun sudah menyebut nama dua wanita cantik yang usianya lebih tua itu begitu saja.

Tinggi tingkatnya gadis itu sesungguhnya di luar dugaan Lie Hui Hong dan Touw Liong.

Sementara itu Na Lo setelah mendapat perintah dari susioknya berjalan menghampiri Lie Hui Hong dan berdiri di hadapannya sekitar tiga langkah kemudian berkata sambil tersenyum manis ;

"Maksud susiok kami ialah, pertama, kesalahan terhadap adik chungtju, Touw tayhiap tidak dapat mengelakkan tanggung jawabnya. Berikanlah waktu tiga tahun padanya. Dalam waktu tiga tahun ini, Touw tayhiap harus menyerahkan pembunuh yang sebenarnya kepada Lie chungtju, untuk membersihkan dosanya sendiri!"

Touw Liong masih belum menyatakan pikirannya, Lie Hui Hong sudah majukan pertanyaan ;

"Bagaimana andaikata dalam waktu tiga tahun ia tak dapat menemukan pembunuh yang sebenarnya ?"

"Touw tayhiap toh bukan seorang sembarangan, sudah tentu ia akan memberikan keadilan kepadamu !"

Jawab Na Lo sambil tersenyum.

"Aku orang she Touw, apabila dalam waktu tiga tahun tidak dapat menyerahkan pembunuh yang sebenarnya, tidak bisa lain, aku akan datang sendiri ke perkampungan Huiliong-chung untuk menyerahkan batok kepalaku dibuat sembahyang di hadapan arwah sahabatmu !"

Berkata Touw Liong sambil tertawa terbahak-bahak.

Ucapan yang sangat gagah itu, sudah tentu mendapat pujian bagi siapa yang mendengarnya.

Tetapi lie Hui Hong masih belum puas, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala, kemudian bertanya lagi kepada Na Lo ;

"Bagaimana dengan cara kedua yang nona bilang ?"

Na Lo merasa tidak senang, dengan nada suara dingin dia berkata ;

"Cara yang kedua ini sebaliknya juga belum tentu chungtju dapat menerima baik !"

Dengan wajah merah padam Lie Hui Hong berkata dengan suara keras ;

"Mana bisa ! Aku ..... Lie Hui Hong meskipun tidak memiliki kepandaian apa-apa , tetapi perkampungan Hui-liong-chung di dalam rimba persilatan juga tidak merupakan suatu tempat yang tidak dikenal. Katakan saja, sekalipun harus terjun kedalam api atau kedalam air, jikalau aku orang she Lie akan mengerutkan alis bukanlah seorang laki-laki !"

"chungtju memang orang gagah, kata-katamu cukup berarti. Baiklah kau dengar baik-baik !"

Berkata Na Lo sambil tertawa. Ia memandang kepada Lie Hui Hong dan Touw Liong. Kemudian baru berkata lagi ;

"Tuan-tuan berdua sekarang harus melakukan pertandingan di tempat ini, masing-masing harus berusaha mengalahkan lawannya dengan kepandaian ilmu silat yang ada. Siapa yang kuat dialah yang benar, dan orang yang kalah harus mengaku kesalahannya serta menanggung segala risikonya !"

Berkata sampai disitu ia tertawa nyaring, kemudian berkata pula ;

"Aku percaya Lie chungtju tidak berani terima usul ini, sebab Touw tayhiap memang berada dipihak yang benar, dan kedua, namanya yang kesohor hampir seluruh jagat sudah menjadi bukti betapa tinggi kepandaiannya, rasanya bukan soal mudah kalau chungtju ingin mengalahkan Touw tayhiap!"

Begitu mendengar kata-kata Na Lo itu, bukan main marahnya Lie Hui Hong.

Seketika ia menggeram hingga jenggotnya pada bergerak.

Dengan cepat menghunus golok masnya dan berkata sambil menunding Touw Liong ;

"Baik .....! kita mulai !"

"Sabar dulu .....!"

Berkata Na Lo mencegah kemarahan Lie Hui Hong, kemudian berkata perlahan ;

"Kata-kataku tadi belum habis, harap chungtju jangan bertindak dulu."

Lie Hui Hong terpaksa menunda serangannya. Sementara itu Na Lo berkata pula ;

"Kita orang-orang dari gunung Tjit-phoa-san ada mempunyai suatu kebiasaan. Sesuatu pertikaian yang kita bereskan, jika kesudahannya harus dilakukan dengan suatu pertandingan ilmu silat. Setelah pertandingan itu berakhir, bagi orang yang kalah, menurut peraturan pihak kita, yang selalu membela pihak yang lemah, maka kita harus memberikan perlindungannya. Dan bagi pihak yang menang, jikalau tidak dapat mengalahkan pihaknya orang yang berlaku sebagai pelindung, jangan harap dapat bertindak terhadap lawannya yang sudah kalah."

Lie Hui Hong merasa lega, ia bertanya ;

"Seandainya aku yang menang, apakah harus bertanding lagi dengan nona, barulah dapat membunuh bocah itu ?"

Ucapan chungtju hanya setengah yang benar, jikalau hari ini chungtju dapat mengalahkan Touw tayhiap, bukan saja masih harus mengalahkan aku, tetapi juga .....!"

Ia berpaling mengawasi Pek Giok Hwa dan berkata lagi ;

"Masih harus dapat mengalahkan susiokku !"

Tanpa merasa Touw Liong alihkan pandangan matanya kepada Pek Giok Hwa yang cantik bagaikan bidadari, tetapi sesaat itu sikapnya sangat dingin. Sementara dalam hati berpikir .

"Batas waktu bagi Panji Wulung masih dua hari, hidup-matiku masih belum kuketahui, malam ini untuk mengalahkan Lie Hui Hong saja sudah bukan perkara mudah, jikalau dikalahkan oleh Lie Hui Hong dan aku harus dilindungi oleh kaum wanita, ini sesungguhnya sangat memalukan sekali. Daripada hidup mendapat malu ....., lebih baik mati saja ! Mati di tangan Lie Hui Hong atau mati ditangan wanita itu ..........!"

Selagi pikirannya masih bekerja, Lie Hui Hong sudah mengajukan pertanyaan pula ;

"Jikalau aku kalah ditangannya orang yang mendamaikan, bagaimana akibatnya ?"

"Mudah sekali .....! Masuk menjadi anggauta golongan gunung Tjit-phoa-san!"

Lie hui Hong berpikir sejenak, lalu bertanya pula ;

"Bagaimana kalau aku tak suka menjadi anggauta gunung Tjit-phoa-san ?"

"chungtju seorang pintar, tidak susah untuk menduga bagaimana akibatnya!"

Berkata Na Lo sambil tertawa.

"Baiklah ! Hari ini bagaimanapun juga jika kalau tidak hidup, ialah mati. Sekarang saja harap nona mencarikan seorang wasit bagi kita."

Sehabis berkata, Lie Hui Hong hunus goloknya, lalu pasang kuda-kuda.

Sedangkan Touw Liong juga hendak menghunus pedangnya, tetapi mendadak berpikir lain.

Pedangnya tidak jadi dihunus, ia berkata dengan hambar ;

"Dengan sepasang tangan kosong aku hendak menyambut ilmu golok Lie chungtju yang telah menggetarkan daerah utara !"

Pek Giok Hwa agaknya dapat menebak apa yang dipikir dalam hati Touw Liong. Dengan suara perlahan dia berkata kepada wanita cantik disampingnya ;

"Ciauw kun, kau dapat lihat maksud Touw Liong atau tidak ? Orang yang berjiwa ksatria, ia tidak suka apabila ia kalah dalam pertandingan dengan Lie Hui Hong lalu minta perlindungan kepada kita kaum wanita. Namun ia juga tak suka setelah menangkan lawannya lalu bertanding dengan pihak kita lagi. Rupanya ia sudah tahu malam ini ia sudah yakin tak dapat mengalahkan pihak kita, itulah maka sengaja dengan tangan kosong melawan ilmu golok emas Lie Hui Hong yang telah kesohor .....! Orang itu sudah bertekad hendak bertempur sampai mati !"

Ciauw Kun menganggukkan kepala membenarkan pikiran gadis itu. Pek Giok Hwa memberikan pesan kepada Ciauw Kun ;

"Kau waspada sedikit, jika perlu lekas kau turun tangan menolong jiwanya. Orang ini dikemudian hari besar sekali gunanya."

Lie Hui Hong yang saat itu sudah mulai bergerak, telah menunjukkan keahliannya mainkan golok emasnya yang berkilauan, terus menyerang bertubi-tubi kepada Touw Liong.

Touw Liong sambil tertawa nyaring menguji ilmu golok lawannya, kemudian tangan kanannya didorong maju, tangan kiri membuat satu lingkaran, dengan menggunakan gerak tipu dari ilmu pedangnya Kiu-hoa Sin-kiam yang diubah menjadi serangan tangan menyambut serangan golok Lie Hui Hong.

Dari kedua tangannya itu menghembuskan angin dingin sangat hebat.

Dengan tiba-tiba golok ditangan Lie Hui Hong terpental dan terlepas dari pegangannya.

Golok itu terbang kedalam rimba sejauh lima tombak dari tempat mereka bertarung, ujungnya nancap disebuah pohon sedalam setengah dim, sedang gagang goloknya masih bergerak-gerak.

Sedang Lie Hui Hong sendiri, setelah goloknya terlepas dari tangannya, orangnya juga terpental mundur terhuyunghuyung sehingga setombak lebih, namun masih belum berhasil mempertahankan dirinya, hingga akhirnya jatuh terlentang.

Kejadian itu mengejutkan semua orang, paling terkejut adalah Touw Liong sendiri.

Ia sungguh tidak mengerti bahwa serangan itu demikian hebat, hanya dengan satu gebrakan sudah berhasil melumpuhkan lawannya dengan demikian hebat ..........!

Hanya dengan satu gebrakan sudah berhasil melumpuhkan lawannya dengan demikian menyedihkan !!..

Lie Hui San buru-buru menghampiri dan menolong bangun Lie Hui Hong.

Dengan mata merah membara Lie Hui Hong memandang Touw Liong sejenak, kemudian berkata kepada Pek Giok Hwa ;

"Kebaikan nona, dilain waktu aku orang she Lie pasti akan membalasnya, dalam urusan hari ini, aku hanya dapat menyesalkan kepandaianku sendiri yang kurang tinggi ! Sekarang aku hendak minta diri."

Tanpa menunggu reaksi gadis itu, dengan langkah lebar Lie Hui Hong berjalan menuju ke dalam rimba, hendak mengambil goloknya dan kemudian meninggalkan tempat itu.

Lie Hui San buru-buru mencegah, ucapnya ;

"Jangan .....!"

Baru keluar dari mulutnya, mendadak tampak berkelebatnya sesosok bayangan manusia. Dan di hadapan Lie Hui Hong pada saat itu sudah berdiri Soa Li yang tubuhnya tinggi besar bagaikan menara.

"Kok-cu mau apa ?"

Tanya Lie Hui Hong yang masih marah.

"Sebelumnya toh sudah dijelaskan, chungtju setelah undurkan diri dari pertempuran tadi, harus menerima perlindungan dari orang-orang golongan kita. Sebagai seorang laki-laki seharusnya tidak boleh mengingkari janji. Kukira chungtju tentunya bukan seorang rendah yang suka mengingkari janji begitu saja."

Berkata Soa Li sambil memberi hormat. Lie Hui Hong menarik napas panjang, lalu membatalkan maksudnya. Kemudian berkata ;

"Baiklah .....! Hari ini apabila kalian dapat membalaskan bocah she Touw itu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akan bersedia menyerahkan jiwa ragaku kepada Tjit-hoasan!"

Dengan menundukkan kepala dan sikap murung, Lie Hui Hong terpaksa balik kembali ke lapangan.

Sementara itu Na Lo telah memberi hormat kepada Pek Giok Hwa, kemudian menghampiri Touw Liong yang saat itu masih berdiri bingung.

Ia berkata dengan suara lembut ;

"Touw tayhiap ....., mari kita mulai !"

Touw Liong tersenyum getir, berkata sambil menggelengkan kepala ;

"Kepandaian nona Na bagaikan malaikat dari langit ....., Touw Liong hanya seorang manusia biasa ....., Bagaimana berani melawan malaikat ?"

"Touw tayhiap jangan berlaku merendah, hari ini aku sudah mengerti, tidak sampai sepuluh jurus pasti akan kalah di tanganmu !"

Berkata Na Lo sambil tertawa manis, kemudian menghunus pedang panjangnya hendak melawan Touw Liong. Ia sedikitpun tidak berani berlaku gegabah.

Jilid 3 Lie Hui San diam-diam mendekati Lie Hui Hong, dengan suara perlahan ia bertanya.

"Hanya dalam waktu dua jam saja, bagaimana kepandaian dan kekuatan tenaga bocah ini sudah mendapat kemajuan demikian pesat ? Benar-benar suatu kejadian ajaib !"

Lie Hui Hong tidak menjawab, dengan sinar matanya yang masih mengandung kemarahan, menatap pedang Na Lo.

Dalam hatinya pada waktu itu benar-benar mengharap kepada wanita cantik itu agar berhasil membinasakan musuhnya.

Sementara itu Touw Liong telah berkata sambil menyoja.

"Hari ini jikalau Na Lihiap memang akan memberi pelajaran kepadaku, aku orang she Touw tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa bersedia melayani Na Lihiap beberapa jurus. Hanya mengharap agar Lihiap suka berlaku sedikit murah hati."

Setelah itu ia juga menghunus pedangnya, setelah mempersilahkan lawannya, ia berdiri sambil pasang kudakuda menantikan gerakkan lawannya.

Na Lo melayang kesamping, dengan suatu gerakan yang manis pedangnya menyerang Touw Liong, sementara mulutnya mengeluarkan kata-kata.

"Touw tayhiap, sambutlah seranganku ini !"

Serangan Na Lo yang dimulai dengan gerakan sangat manis, disusul dengan gerakan gencar dan rapat, semua serangan ditujukan kepada jalan darah sekujur tubuh Touw Liong, sedangkan tangan yang lain dengan disengaja atau tidak membuat suatu gerakkan tanda rahasia!

Touw Liong yang menghadapi serangan gencar dari Na Lo, tidak memperhatikan sedikitpun juga, sebaliknya ia merasa tertarik oleh gerakan tangan yang dilakukan sebagai tanda rahasia oleh wanita cantik itu.

Touw Liong belum keburu melancarkan serangannya sudah memutar tangan dan mundur tiga tombak, kemudian sambil mengundurkan diri dan menarik kembali pedangnya ia berkata.

"Kepandaian nona Na terlalu tinggi bagiku. Aku orang she Touw merasa sangat kagum."

Dengan kata-katanya itu dimaksudkan ia hendak menyerah kalah, hal ini sangat membingungkan Lie Hui Hong dan Lie Hui San.

Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Touw Liong demikian tidak tahu malu, tidak berani menyambut serangan wanita itu, dan belum-belum sudah menyerah kalah, agaknya ingin buru-buru minta perlindungannya.

"Touw tayhiap jangan berlaku merendah, kuucapkan terimaksih atas kebaikanmu, untuk selanjutnya kita satu sama lain akan merupakan orang-orang sendiri. Mari lekas menemui susiokku."

Berkata Na Lo sambil tertawa.

Kemudian ia mempersilahkan Touw Liong menemui Pek Giok Hwa.

Touw Liong menengadah, matanya memandang awanawan yang bergerak di angkasa.

Ia berpikir sejenak, kemudian berkata sambil memberi hormat.

"Maksud baik nona Na kuucapkan banyak-banyak terima kasih. Aku orang she Touw, meskipun menyerah kalah di tanganmu, tetapi aku tiada maksud untuk menerima syarat menjadi anggotamu. Sebaiknya aku minta nona supaya suka memberi keterangan tentang tanda-tanda yang nona tadi berikan dengan gerakan tangan."

Belum lagi Na Lo membuka mulut mencegah, Touw Liong melanjutkan kata-katanya. Lie Hui San yang berdiri di samping, melihat ada kesempatan baik, lalu mencela sambil tertawa dingin.

"Bocah she Touw, maksudmu apakah kau tidak suka menjadi golongan Cit-phoa-san?"

Touw Liong menganggukkan kepala dan menjawab dengan gagah.

"Aku adalah seorang golongan dari perguruan ternama, bagaimana boleh berbuat yang menodakan nama baik perguruan sendiri?"

"Boleh saja kau berpikir demikian, tetapi suasana hari ini tidak mengijinkan kau berpikir menurut sesukamu. Kalau kau demikian tidak tahu diri, asal sancu muda mau, jiwamu akan melayang,"

Berkata Lie Hui San dingin.

"Seorang laki-laki tidak akan takut mati. Yang penting ialah, kematian itu memang seharusnya atau tidak? Apakah hari ini aku harus mati atau tidak, ini adalah soal lain."

Bab Dengan gerak langkah kaki yang lemah gemulai, Pek Giok Hwa maju beberapa langkah sambil mengibaskan lengan bajunya, sehingga Lie Hui San buru-buru mundur dan berdiri di samping sambil meluruskan dua tangannya.

Pek Giok Hwa mengerling kepada Touw Liong, kemudian berkata dengan suara lirih.

"Semangat seorang laki-laki gagah, memang tidak mudah dipatahkan. Sikap dan jiwa ksatria Touw tayhiap, siaolie sangat kagum. Pada dewasa ini siaolie sesungguhnya sedang dalam kesulitan, apalagi tayhiap sudi ulur tangan memberi bantuan, budi tayhiap ini tak akan kulupakan untuk selama-lamanya."

Touw Liong mengalihkan pandangan mata kearah Na Lo, seolah-olah hendak menjajaki pikiran jago betina dari gunung Bu-san itu.

Tetapi Na Lo hanya menganggukkan kepalanya, tidak membuka suara, hingga betapapun pintarnya Touw Liong, juga tidak mengerti maksud dari kata-kata gadis cantik itu.

"Nona ada keperluan apa?"

Demikian akhirnya ia bertanya. Pek Giok Hwa mengawasi orang-orang di sekitarnya sejenak, kemudian berkata.

"Mari , Touw tayhiap ikut aku sebentar!"

Baru habis ucapannya, gadis itu sudah bergerak dan sebentar sudah keluar dari dalam rimba.

Di luar rimba, terdapat sebuah sungai melintang, di situ terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan dari satu tepi ke tepi yang lain.

Pek Giok Hwa yang keluar dari dalam rimba, tiba di atas jembatan, kemudian disusul oleh Touw Liong.

Pek Giok Hwa menyambut kedatangannya dengan sikap manis dan lemah lembut.

Touw Liong memberi hormat dan berkata kepadanya.

"Nona ada keperluan apa ? Harap berkata terus terang."

Pek Giok Hwa menghela napas pelahan, dan berkata sambil menundukkan kepalanya.

"Tadi, selagi melakukan pertempuran, Na Lo telah menggerakkan tangan sebagai tanda, dan Touw tayhiap lantas menghentikan serangan, sehingga mengingatkan aku kepada beberapa soal penting!"

"Soal apa?"

Tanya Touw Liong. Pek Giok Hwa menatap tajam wajah Touw Liong, kemudian dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah panji kecil berwarna hitam.

"Panji Wulung !"

Demikian Touw Liong berseru pelahan.

Sesaat itu, ia lantas mengerti tanda-tanda yang diberikan Na Lo tadi.

Ternyata adalah mengenai Panji Wulung itu.

Tanpa disadari Touw Liong mundur dua langkah, kemudian bertanya sambil menunjuk panji di tangan Pek Giok Hwa.

"Apakah nona ada hubungan dengan Panji Wulung?"

"Sedikitpun tidak ada sangkut pautnya ,"

Jawab Pek Giok Hwa sambil gelengkan kepalanya.

"Darimana nona dapatkan panji itu?"

"Panji wulung telah mencari aku, ini berarti jiwaku hanya tinggal tiga hari saja!"

"Ooouw .....!"

Berulang-ulang Touw Liong menarik napas, mendadak teringat pada dirinya sendiri yang juga menerima panji serupa itu, dan baginya batas waktu itu sudah dilewati satu hari !

Bagaimana perubahan dalam waktu dua hari yang akan datang?

Hidupkah?

Matikah?

Masih belum dapat diduga.

Dan kini gadis di hadapan matanya itu juga menerima nasib yang serupa dengannya, menerima panji yang hendak mencabut nyawanya.

Dari sikap dan pembicaraannya, gadis itu sedikit banyak menunjukkan perasaan khawatir, hingga timbullah perasaan simpati terhadapnya.

"Sungguh tidak kusangka! Mengapa nona menerima panji yang berarti mencabut nyawa itu?"

Pek Giok Hwa menengadah memandang keadaan di tempat yang jauh, lalu berkata dengan suara gagah.

"Touw tayhiap! Ketahuilah olehmu bahwa ayahku sedang mencari kesempatan hendak melakukan suatu gerakan yang akan menggemparkan daerah Tiong-goan. Dengan adanya panji wulung ini, cita-cita ayah mungkin akan terwujud semua!"

Kata-kata itu dimaksudkan, asal ayahnya melakukan pertandingan dengan panji wulung, hal itu sudah pasti akan menggemparkan dan membuat namanya menjadi terkenal.

Touw Liong yang mendengarkan dengan tenang, dalam hati berpikir.

"Orang yang pertama menerima panji wulung adalah aku, dan kedua adalah kau. Kau tidak tahu aku masih mempunyai waktu berapa hari lagi? Dan dikemudian hari, apakah aku masih dapat menyaksikan penghidupanmu selanjutnya atau tidak?"

Pek Giok Hwa tiba-tiba mengepal tangannya, hampir tampak berdiri, berkata dengan sikap gagah.

"Tiga hari! Masih ada waktu tiga hari! Ayah pasti keburu sampai ke kota Lam-yang, untuk menghadapi padanya."

Ia berdiam sejenak, kemudian berpaling dan berkata lagi.

"Touw tayhiap keluaran dari golongan Kiu-hoa-san, ilmu pedang Kiu-hoa Sim-kiam yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus gerakan, sudah beberapa puluh tahun lamanya namanya sangat kesohor di dalam rimba persilatan. Kini Pek Giok Hwa ingin majukan sedikit permintaan ....."

Touw Liong yang menyaksikan gadis itu diam, tidak melanjutkan perkataannya, lalu berkata;

"Nona hendak berkata apa, katakanlah terus terang."

Pek Giok Hwa tertawa hambar, ia membereskan rambutnya yang kusut. Perlahan berpaling, lalu keatas memandang awan diangkasa dan berkata dengan suara perlahan ;

"Sebelumnya aku pernah dengar bahwa kau, Touw tayhiap dengan Lie Hui Hong merupakan orangorang terkuat yang sama-sama menjagoi di daerah selatan dan utara. Tetapi tadi aku melihat kau hanya dalam segebrakan saja sudah berhasil mengalahkan Lie Hui Hong. Kejadian itu membuatku segera merubah pandanganku terhadap dirimu. Dalam hal kekuatan tenaga, sepasang burung Hong dari gunung Busan paling-paling berimbang dengan kau, bahkan mungkin kau masih lebih tinggi setingkat dari mereka. Maka Touw tayhiap sekarang ini sudah merupakan tokoh terkuat di daerah Tionggoan, maka siaoli pikir ....."

Kata-katanya mendadak berhenti, kepalanya berpaling memandang Touw Liong sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya ;

"Dalam batas waktu tiga hari, apabila ayah berhasil mengalahkan Panji Wulung, kau akan merupakan orang yang menjadi saksi. Apabila tidak beruntung .........., ayah kalah ditangannya !"

Ucapan Pek Giok Hwa mendadak terputus lagi. Dari sinar matanya menunjukkan sikap memohon ! "Aaahh !"

Demikian Touw Liong menarik napas panjang, sedang hatinya berpikir ;

"Sayang, aku sendiri bagaikan patung menyeberang sungai yang tidak dapat menjamin keutuhan diriku sendiri !"

Meskipun dalam hatinya berpikir demikian, tetapi ketika matanya beradu dengan sinar mata Pek Giok Hwa, hati itu lantas menjadi lemah. Katanya sambil anggukkan kepala ;

"Apabila aku masih bisa hidup tiga hari lagi, dan dapat melakukan sesuatu yang menggembirakan nona, aku merasa sangat beruntung. Sayang .....! aku sayangkan tidak bisa hidup tiga hari lagi !"

Pek Giok Hwa kerutkan alisnya dan berkata dengan sedih; Touw tayhiap, kau ibarat matahari diwaktu tengah hari, yang sedang panasnya, tidak seharusnya kau berpikir demikian."

Touw Liong teringat dirinya sendiri yang juga mempunyai sehelai panji hitam itu, maka matanya terus menatap panji ditangan Pek Giok Hwa.

Beberapa kali ia pikir hendak beritahukan Pek Giok Hwa dengan terus terang, tetapi kemudian pikir lagi, bahwa saat itu belum perlu diberitahukan kepada siapapun juga.

Maka akhirnya maksud itu ditahan saja.

Suatu pikiran yang tidak ingin minta bantuan seorang wanita timbul dalam otaknya.

Maka ia hanya menjawab dengan hambar;

"Orang-orang yang berkecimpungan dikalangan Kangouw, memang selalu menghadapi bahaya. Perkara hidup dan mati, siapapun tidak dapat menduga sebelumnya. Selama beberapa hari ini telah terjadi tidak sedikit perkara yang aneh-aneh luar biasa. Setiap jam, setiap menit aku merasa mondar-mandir di tepi garis antara hidup dengan mati, maka aku tidak dapat memastikan aku masih dapat hidup dalam tempo tiga hari itu atau tidak."

"Oou .....!"

Berkata Pek Giok Hwa sambil tersenyum.

"Touw tayhiap jangan berpikir demikian. Nanti pada waktu tengah malam, tiga hari kemudian, tolong Touw tayhiap datang ke panggung memetik kecapi di kota Lam-yang."

Touw Liong terima baik permintaan itu sambil anggukkan kepala.

Pek Giok Hwa ucapkan terima kasih, tak lama kemudian ia minta diri dan berlalu meninggalkan Touw Liong.

Dengan perasaan mendelu Touw Liong mengawasi berlalunya Pek Giok Hwa, kemudian berkata pada diri sendiri sambil tarik napas ;

"Panji Wulung .....! Panji Wulung ! Sekarang sudah ada dua orang yang menerima ! Aku masih ada waktu dua hari. Jikalau aku masih hidup, dua hari kemudian di panggung memetik kecapi itu tidak akan bahaya apa-apa lagi. Tetapi soalnya, dalam dua hari ini, aku masih bisa hidup atau tidak!"

Kembali ia teringat panji wulung di dalam sakunya, lalu masukkan tangannya ke dalam sakunya, bukan kepalang terkejutnya, sebab panji kecil dalam sakunya telah lenyap tanpa bekas.

Sebagai gantinya, dari dalam sakunya telah menemukan sepucuk sampul.

Sungguh aneh !

Panji yang tersimpan baik-baik di dalam saku, mengapa mendadak terbang !

Bukankah ini suatu kejadian ajaib ?

Untuk sesaat, pikirannya telah melayang .

Mungkinkah panji itu telah diambil kembali oleh panji wulung ?

Keringat dingin membasahi sekujur badan Touw Liong.

Samar-samar ia teringat waktu ia berada di dalam perkampungan yang misterius, belakang kepalanya ditotok orang, kemudian hilang ingatannya.

Semakin berpikir, pikirannya semakin sedih hingga badannya mengigil.

Ia menarik napas panjang, dan berkata kepada diri sendiri .

"Nampaknya batas tiga hari itu, aku tidak akan dapat menepati janjinya lagi!"

Ia memeriksa sampulnya, tapi hanya merupakan sebuah sampul surat, yang lebih besar sedikit daripada sampul biasa, terbuat dari kulit ..ampi yang putih, di muka sampul terlukis sebuah buli-buli arak, di samping buli-buli terdapat sebaris tulisan yang mirip cakar ayam, tulisan itu berbunyi.

"Tiga hari kemudian batu boleh dibuka". Touw Liong tahu sampul itu siapa yang meninggalkan, maka di masukkannya lagi ke dalam sakunya, dan menggumam sendiri.

"Tiga hari! Hm! Tiga hari mana aku masih ada kesempatan untuk membuka sampul ini? Tiga hari kemudian aku barangkali sudah menjadi bangkai!"

Ia sebetulnya malas untuk memikirkan segala urusan yang akan terjadi pada tiga hari kemudian, dua hari yang berada di depan matanya, ada beberapa hal yang dianggapnya lebih penting dari segala-galanya, waktu dua hari yang akan datang masih memerlukan untuk menyelesaikan beberapa persoalan besar.

Pertama ialah mencari adik seperguruannya, ialah Kim Yan, kedua mencari batu Khun-ngo-giok dan terakhir ialah mencari pembunuh Lie Hui Pek yang sebenarnya.

Namun tiga soal ini tidak karuan pangkal pokoknya, tiga-tiganya semua penting, entah manna yang harus diselesaikan lebih dahulu?

Ia pejamkan mata untuk berpikir, tiba-tiba ia teringat adik seperguruannya, lalu teringat pada diri Lie Hu San.

Kemudian berpikir.

"Hendak mencari sumoy, asal tanya kepada Lie Hu San rasanya sudah cukup."

Setelah mengabil keputusan, dengan mengikuti tempat bekas yang dilalui oleh Pek Giok Hwa, ia lari pergi ke kelenteng tua di dalam rimba.

Tiba di kelenteng tua di dalam rimba itu, tempat itu ternyata sudah sunyi senyap.

Pek Giok Hwa dan Sepasang Burung Hong dari Gunung Bu-san, ternyata sudah tidak tampak lagi bayangannya.

Dengan sendirinya Lie Hu San dan Lie Hui Hong juga tidak ada.

Touw Liong lalu tujukan pikirannya pada tempat yang disebut oleh Pek Giok Hwa, panggung tempat mementil kecapi.

Ia anggap orang-orang itu sudah pergi menuju ke tempat tersebut.

Touw Liong tujukan langkahnya menuju ke tempat tersebut tanpa mengaso.

Tempat yang dinamakan panggung mementil kecapi itu hanya merupakan suatu gubuk kecil, di puncak bukit.

Di situ terdapat beberapa pohon cemara, di jaman dahulu, seorang negarawan dan ahli perang Cu-kat Liang, sebelum ketemu dengan Lao Pi, kaisar Negara Siok di jaman Sam Kok, setiap malam terang bulan, sering datang ke tempat itu untuk mementil kecapi dengan mengajak kedua pelayannya.

Kemudian setelah Cu-kat Liang turun gunung membantu Lao Pi dalam urusan negeri, sehingga tempat itu sudah tidak terdengar suara kecapinya lagi.

Sudah ratusan tahun tempat itu menjadi tempat peninggalan jaman kuno yang bersejarah di dalam kota Lam-jang, tempatnya masih tetap seperti sediakala, sayang Cu-kat Liang tidak datang ke tempat itu lagi, sudah tidak ada orang lagi yang mementil kecapi di tempat itu.

Ketika Touw Liong tiba di bawah gubuk tersebut ia telah menangkap suara kecapi yang menarik perhatiannya, maka ketika berada pada jarak kira-kira dua puluh tombak jauhnya, di tempat itu, ia sudah menghentikan langkahnya, lalu tujukan pandangan matanya ke puncak bukit.

Di waktu malam yang sunyi, angin meniup berdesir, bayangan pohon cemara tampak bergoyang-goyang menawan hati.

Memamng benar di panggung atau mirip dengan sebuah kupel tampak sesosok bayangan orang menghadapi sebuah alat tabuhan musik yang sedang dipentilnya, mengeluarkan suaranya yang merdu.

Akan tetapi bagaimanakan macamnya orang itu?

Berapa usianya?

Oleh karena terpisah agak jauh, ia tidak dapat melihat dengan tegas.

Hanya ada satu hal yang dapat dimengerti oleh Touw Liong, kekuatan tenaga dalam orang itu sangat tinggi sekali, tiap kali jarinya mementil, hati Touw Liong terasa bergetar.

Suatu perasaan tertarik ingin tahu telah mendorong padanya berjalan maju, setiap kali melangkah lebih dekat lantas merasakan suara yang lebih kuat, suatu kekuatan yang tak terlukis, seolah-olah kekuatan yang menghimpit badannya, sehingga ia seolah-olah tak dapat bernapas.

Sebagai seorang muda yang keras kepala, Touw Liong setapak demi setapak maju mendekati panggung tempat mementil kecapi itu, tanpa gentar.

Suara kecapi itu sangat merdu, iramanya rapat seolaholah air terjun dari atas gunung, irama itu mengalun ke udara yang tinggi.

Dengan menahan napas Touw Liong berjalan semakin mendekat, samara-samar ia dapat lihat bahwa orang yang mementil di bawah pohon cemara itu rambutnya panjang terurai sampai ke dua pundaknya, dari pakaiannya yang berwarna putih, tegas orang itu adalah seorang wanita.

Dilihat dari samping, yang mementuil kecapi itu parasnya sangat cantik, sedang potongan kukunya sangat indah, usianya juga belum tua.

Sesaat itu Touw Liong mendadak teringat dirinya seseorang, pikirannya mulai tegang.

Baru hendak membuka mulut untuk memanggil, irama kecapi yang merdu tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya, irama itu sangat menggetarkan, seolah-olah ada benda tajam yang mengilik.

Buru-buru ia duduk bersila, memejamkan matanya untuk mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, guna memberi perlawanan.

Orang yang mementil kecapi itu seolah-olah tidak menghiraukan kedatangan Touw Liong, yang hendak menghampiri dirinya, perhatiannya seolah-olah tetap ditujukan kepada alat musik itu, dengan tenang melanjutkan tangannya yang mementil kecapi hinga hampir satu jam, kemudian baru bangkit, matanya memandang Touw Liong sejenak, lalu berkata .

"Manusia tidak tahu diri, perlu apa kau masih mengejar aku? Asal aku mau mengorbankan kecapiku dengan memutuskan senar kecapiku ini, kau sekalipun tidak akan mati, setidak-tidaknya juga akan bercacad seumur hidup."

Sehabis berkata demikian, wanita itu menarik napas panjang, kemudian berlalu.

Sungguh aneh, setiap irama yang keluar dari kecapi itu, terus menyusup ke bagian jalan darah seluruh tubuhnya,seolah-olah diketok oleh palu keras, terus mengetok dalam hatinya.

Dalam keadaan demikian, mau tidak mau Touw Liong terpaksa mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya lebih dulu.

Satu jam sudah berlalu, seluruh jalan darah Touw Liong yang pernah digetarkan oleh irama kecapi tadi, membuatnya hampir kehilangan tenaga dan pikiran, sehingga ia duduk nglimprak tanpa bergerak.

Kapan orang yang mementil kecapi itu berlalu?

Tidak diketahui olehnya.

Ketika ia siuman kembali, matahri pagi sudah unjuk diri di sela-sela pohon, ia seolah-olah baru sadar dari mimpi, sekarang badannya dirasa segar, seolah-olah tidak peranah mengalami penderitaan hebat.

Ia lompat bangun, matanya memandang ke tempat yang berada kira-kira sepuluh tombak di hadapan matanya, tetapi tempat itu ternyata sudah kosong, hanya pohon-pohon yang masih tetap.

Ia menarik napas dalam, menggumam sendiri.

"Pek Giok Hwa? Apakah dia memiliki kekuatan tenaga dalam demikian tinggi? Ini benar-benar suatu hal yang tak habis kupikirkan!"

Ia tidak dapat memikirkan lagi, lalu berkata sedih sambil menghela napas panjang.

"Hampir satu hari sudah lewat lagi! Masih tinggal satu hari lagi, hari itu akan menetapkan nasibku selanjutnya, entah masih bisa hidup atau tidak?"

Ia membersihkan debu-debu di atas badannya, kemudian memutar tubuhnya dan lalu hendak tujukan langkahnya ke kota Lam-jang, pikirannya mendadak timbul perasaan berat meninggalkan tempat itu, ia sangat tertarik pada tempat yang bekas dipakai mementil kecapi tadi malam, sehingga timbul pikiran hendak memeriksa dengan teliti.

Kemudian ia menujukan langkahnya ke atas kupel.

Jaraknya terpisah hanya sepuluh tombak, sebentar saja sudah tercapai.

Begitu Touw Liong tiba di tempat itu, pandangan matanya tertuju kepada meja batu, beberapa saat ia berdiri terpaku.

Di atas meja terdapat selembar saputangan berwarna ungu, hati Touw Liong ingin melihat saputangan itu, bau harum segera menusuk hidungnya, tatkala saputangan itu dibukanya dan diperiksanya, ternyata hanya saputangan kira-kira lima kaki persegi, benda itu lalu digenggamnya, matanya ditujukan ke puncak gunung sebelah timur, pikirannya melayang, ia mengira bahwa barang itu telah tertinggal oleh Pek Giok Hwa karena terlalu tergesa-gesa.

Ia masukkan saputangan itu ke dalam sakunya lantas berlalu dari tempat itu.

Sepanjang jalan, otak Touw Liong menjadi butek, ia masih memikirkan batas waktu tiga hari yang telah ditetapkan oleh panji wulung, hari itu rasanya lebih cepat akan tiba, tetapi urusannya yang dihadapi ternyata begitu banyak, dan setiap urusan dianggapnya semuanya penting.

Entah mana yang harus diselesaikan lebih dulu.

Pikiran Touw Liong meskipun sangat kalut, tetapi langkahnya semakin cepat, tanpa dirasa sudah berjalan sepuluh pal lebih, saat itu sudah tiba dihadapan sebuah kuil tua, dan di atas pintu kuil itu masih terdapat papan merk yang sudah lapuk, samar-samar tampak tulisannya .

Tiauw Yang Kwan, sebagai tanda nama kuil tersebut.

Di jalan umum menuju kuil itu tampak berdiri seorang imam yang usianya kira-kira lima puluh tahun, tatkala berhadapan dengan Touw Liong iama itu bertanya dengan suara dingin .

"Apakah sicu seorang she Touw?"

Touw Liong melengek, buru-buru mengganggukkan kepala dan menjawab .

"Benar, aku adalah seorang she Touw, totiang ada urusan apa?"

Imam itu tertawa dingin, kemudian berkata .

"Sicu, mari ikut pinto masuk ke dalam, pinto hendak ajak sicu melihat dua sahabat."

Sehabis berkata imam itu memutar tubuh berjalan menuju ke kuil.

Dengan otak penuh tanda tanya, Touw Liong mengikuti imam itu masuk ke dalam kuil.

Kuil itu hanya ada mempunyai dua ruangan, yang pertama dinding temboknya sebagian besar sudah rusak, ruang kedua tiang-tiangnya sudah pada patah, nampaknya sudah hampir rubuh.

Touw Liong mengikuti imam itu memasuki ruangan kedua, di sebelah kanan ruangan itu terdapat sebuah kamar, begitu kakinya melangkah masuk ke ruangan itu, sudah disambut oleh dua paderi kecil yang berusia kira-kira dua belas tahun, paderi kecil itu menyambut kedatangannya dengan wajah murung dan air mata berlinang-linang.

Paderi kecil itu memberi hormat kepada imam dengan membahasakannya susiok, kemudian lantas menangis tersedu sedan.

Imam tadi memerintahkan dua imam kecil itu minggir, kemudian berkata padanya.

"Mengapa menangis? Ada dendam sakit hati bukankah harus berusaha untuk membalas, sekarang tokoh utama dalam peristiwa itu sudah datang, mengapa kalian takut tidak dapat menuntut balas?"

Touw Liong yang mendengarkan pembicaraan mereka hatinya tergerak, ia sudah mulai sedikit mengerti titik persoalannya, dari perkataan imam tadi ia telah mengetahui bahwa di dalam kuil itu sudah terjadi pembunuhan jiwa, bahkan yang dituduh sebagai pembunuhnya justru dirinya sendiri.

Ia lalu berpikir hendak minta penjelasan kepada imam itu, ketika ia angkat muka, tertampak olehnya di atas balaibalai kayu di dalam kamar, rebah membujur dua sosok bangkai manusia.

Sementara itu imam tadi juga sudah melangkah masuk ke dalam kamar, dengan menekan perasaan sedihnya, imam itu menunjuk kedua sosok bangkai manusia itu dengan sinar mata gusar memandang Touw Liong yang baru melangkah masuk ke kamar, kemudian berkata padanya dengan mada suara dingin.

"Touw tayhiap, silahkan periksa sendiri dengan teliti, mereka berdua mati karena serangan tangan terampuh dari golongan Kiu-hoa-pay atau bukan?"

Alis Touw Liong nampak bergerak-gerak, matanya mengikuti petunjuk imam tadi, dua bangkai manusia yang membujur di atas balai-balai itu, yang sebelah kiri adalah seorang imam bermuka bulat berambut panjang, dia dalah salah seorang tokoh kuat di dalam rimba persilatan, salah satu dari tiga jago golongan Kiong-lay-pay, It Yang Tojin, yang membujur sebelah kanan adalah seorang laki-laki pertengahan umur bermuka merah mengerikan, setelah melihat Touw liong segera mengenali orang itu adalah murid kepala Kian-goan Tojin dari Gunung Thay-san.

Di dalam kalangan kang-ouw, laki-laki itu dikenal dengan nama julukannya Cu-bo-kiam, tapi nama yang sebenarnya adalah The Hiong.

Nama It-Yang Tojin sudah cukup terkenal dan Cu-bokiam itu juga merupakan salah satu tokoh terkemuka dari golongan Thay-san, Touw Liong ingat orang itu biasanya kalau bertempur menggunakan dua rupa senjata, tangan kanan memegang sebilah pedang panjang, sedang tangan kiri pedang pendek kira-kira satu kaki, dua pedang itu dinamakan Cu-bo-kiam, hebatnya kedua pedang yang berukuran panjang dan pendek itu, dalam rimba persilatan orang yang mampu menyebut dan melayani pedangnya dalam sepuluh jurus, tidak banyak jumlahnya.

Ilmu silat The Hiong termasuk dari golongan keras, di dalam rimba persilatan namanya cukup terkenal, adal orang menyebut namanya Tu-bo-kiam, tiada seorang pun yang mengerutkan alisnya.

Touw Liong menghampiri dua orang yang sudah menjadi bangkai itu, dengan teliti memeriksa seba-sebab yang menyebabkan kematiannya.

Badan dua orang itu, sedikitpun tidak terdapat tanda luka.

Selagi ia merasa heran, imam tadi sudah maju selangkah dan memiringkan kepalanya membuka baju It-Jang Tojin di depan dada It-Jang Tojin, kini telah tertampak nyata tanda telapak jari tangan yang sudah menjadi biru.

Begitu melihat tanda bekas telapakan jari itu, bukan kepalang terkejutnya Touw Liong, sehingga tanpa disadari sudah mundur selangkah.

Imam tadi kembali membuka baju Cu-bo-kiam, di atas dada jago dari Gunung Thay-san itu juga terdapat tanda yang serupa.

"Touw tayhiap, kau sudah periksa dengan jelas atau belum? Rasanya toh tidak salah, bukan? Betulkah mereka terluka dan mati dibawah serangan tangan ilmu tunggal golongan Kiu-hoa-san yang dinamakan Thian-seng-jiauw?"

Bab Touw Liong melengak, ia cuma bisa anggukkan kepala dan menjawab.

"Benar! Itu adalah bekas serangan Thian-seng-jiauw golongan kita."

"Touw tayhiap turun tangan demikian berat sehingga menewaskan jiwa dua orang, seharusnya tahu apa akibatnya?"

"Perkara serangan dengan ilmu Thian-seng-jiauw yang sudah melukai orang ini, aku orang she Touw tidak menyangkal, akan tetapi, aku dapat memberitahukan ini secara terus terang, orang ini bukan aku yang membunuhnya."

"Aha ..."

Demikian imam itu memperdengarkan suara tertawa dingin kemudian berkata.

"Sute ku ini, tadi malam masih minta diri dariku dengan baik, tetapi hari ini pagi-pagi sekali sudah terkapar menjadi bangkai bersama Cu-bo-kiam di depan pintu kuil ini, sedangkan tokoh rimba persilatan yang termasuk golongan kuat yang tadi malam berada di kota Lam-Yang, hanya kau Touw tayhiap seorang saja, bagaimana kau mengatakan tidak melakukan perbuatan itu?"

Didesak demikian rupa, dalam hati Touw Liong terus berpikir .

Baca Juga: Tengkorak Maut 13

Baca Juga: Tiga Maha Besar 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert