Eps 4 Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Baca online Rahasia Peti Wasiat - Gan KL
Cersil Rahasia Peti Wasiat - Gan KL.
"Akan kuhitung tiga kali dan engkau akan jatuh pingsan. Nah, satu ... dua ... tiga!"
"Bluk", Giok-nio benar-benar roboh terkulai. Pada waktu yang tepat It-hiong sempat memegangi si nona sehingga kepalanya tidak sampai terbentur benjut, lalu direbahkannya perlahan di jok. Pada saat itulah si kusir mendadak menyingkap tabir dan melongok ke dalam, katanya dengan tertawa.
"Wah, alangkah kejamnya engkau ini, betul-betul telah kau kerjai dia."
"Terpaksa,"
Kata It-hiong.
"Biarlah dia tidur nyenyak kan lebih baik, kalau tidak mungkin dia akan ribut."
"Betul, jika dia tahu engkau tidak mengajaknya piknik ke Bokjiu-oh, pasti dia akan ribut,"
Kata si kusir dengan tertawa.
"Cuma, engkau akan menggunakan kesempatan pada kesempitan atau tidak?"
"Jangan khawatir, orang she Liong tidak nanti berbuat curang,"
Kata It-hiong.
"Sudah seharian aku mengendarai kereta, sekarang giliranmu,"
Kata kusir itu.
"Buset,"
Seru It-hiong dengan tertawa.
"Engkau ini kusir, aku penumpang, masa kusir berani menyuruh penumpang menjadi kusir bagimu? Sungguh terlalu!"
"Jangan omong kosong, lekas mengendarai kereta,"
Seru si kusir sambil menghentikan keretanya, lalu menyusup ke dalam kereta.
"Dan awas, jangan kau gerayangi dia, ada kemungkinan akan kuambil dia sebagai istri,"
Kata It-hiong.
"Ya, ya, tahu,"
Jawab si kusir.
It-hiong tertawa dan turun dari tempat duduknya, lalu naik ke bagian kusir di depan, ia tarik tali kendali dan dilarikan lagi kereta itu.
Kiranya si kusir yang mendadak berubah menjadi penumpang ini tak-lain tak-bukan adalah samaran Hou-hiap Pang Bunhiong.
Sesudah duduk di kereta, Bun-hiong menyingsingkan kaki celananya untuk memeriksa betis yang cedera dipukul Hui Giok-koan itu, dilihatnya bagian itu belum hilang bengkaknya, ia menggeleng kepala dan menghela napas, gumamnya.
"Sialan, hampir patah kakiku oleh pukulan Hui Giok-koan."
It-hiong tertawa mendengar ucapannya, katanya.
"Hanya terluka sedikit saja sudah berkeluh kesah panjang pendek, tampaknya engkau ini sudah terbiasa hidup enak."
"Sejak berkecimpung di dunia Kangouw belum pernah terluka, baru sekarang ini untuk pertama kalinya,"
Kata Bun-hiong.
"Seorang panglima perang pun ada kemungkinan gugur di garis depan, selanjutnya bila engkau berada bersamaku, pada suatu hari pasti akan menderita terlebih hebat, untuk ini harus ada persiapan mental bagimu,"
Kata It-hiong.
"Tidak perlu kau takuti aku,"
Kata Bun-hiong.
"Pengalamanku tidak kurang banyak daripadamu, kejadian apa pun pernah kulihat."
"Tapi tampaknya engkau tidak tahan sakit, bukan seorang yang sanggup menahan derita,"
Ujar It-hiong.
"Aku memang tidak kenal apa artinya derita, kalau dapat menghindari penderitaan pasti akan kuhindari, hanya orang tolol yang mau mencari susah sendiri,"
Ujar Bun-hiong dengan tertawa.
"Kau kira engkau dapat menghindar?"
Tanya It-hiong.
"Akan kuhindari sedapatnya,"
Sahut Bun-hiong.
It-hiong tertawa dan tidak menanggapi lagi.
Tidak lama kemudian cuaca pun gelap, malam sudah tiba.
Perjalanan masih terus berlangsung, dekat tengah malam barulah It-hiong menghentikan keretanya, dikeluarkannya satu ember makanan kuda yang sudah disiapkan sebelumnya, setelah kuda makan kenyang baru melanjutkan perjalanan lagi.
Seterusnya kereta tidak pernah berhenti pula, ketika fajar keesokannya tiba barulah kereta berhenti di suatu kaki bukit.
Ternyata selama sehari semalam kereta sudah menempuh perjalanan sejauh lebih empat ratus li.
Setelah kereta berhenti, It-hiong melompat turun dan berseru.
"Sudah sampai, ayolah turun!"
Bun-hiong membuka pintu kereta dan turun, ia pandang suasana di sekitarnya, katanya dan tertawa.
"Jika tidak salah pandanganku, tempat inilah kaki gunung Bok-kan-san sebelah utara."
It-hiong mengangguk, katanya dengan tertawa.
"Betul, tempat yang pernah kau jelajahi ternyata tidak sedikit."
"Apakah dia tinggal di atas gunung?"
Tanya Bun-hiong.
"Betul,"
Jawab It-hiong.
"Ia masih tidur dengan nyenyak, apakah perlu dibangunkan?"
Tanya Bun-hiong.
"Tidak perlu, sesudah bertemu dengan To Po-sit baru dia dibangunkan,"
Ujar It-hiong.
Ia lantas melepaskan kuda dari tali kendali kereta, kuda dituntunnya ke tengah sebuah sungai gunung yang cetek, dengan air sungai ia mandikan kudanya.
Warna kuda itu semula merah cokelat, akan tetapi setelah disiram air dan disikat, seketika bulu kuda berubah warna, sekarang berubah menjadi putih, warna merah cokelat tadi telah luntur seluruhnya.
Kiranya kuda inilah kuda putih Pek-liong-ki kesayangan Ithiong, demi untuk menipu Giok-nio, kemarin ia telah mewarnai kuda putih itu dengan wenter merah cokelat.
Sesudah tiba di tempat tujuan, maka warna asli kuda itu dipulihkan.
Sesudah memandikan kuda, dituntunnya kuda itu dan diserahkan kepada Bun-hiong, katanya.
"Boleh kau naiki kuda ini, kita masih harus menempuh suatu jarak cukup jauh."
Lalu bagaimana dengan si dia?"
Tanya Bun-hiong.
"Akan kugendong dia,"
Ujar It-hiong.
"Dan bagaimana kereta itu?"
Tanya Bun-hiong pula.
"Buang saja,"
Kata It-hiong.
"Kereta masih baru begini kan sayang kalau dibuang begitu saja?"
Ujar Bun-hiong dengan melengak.
"Kan lebih baik kita tarik ke dalam hutan, kelak mungkin masih dapat kita gunakan lagi."
It-hiong mengangguk.
"Boleh juga."
Ia masuk ke dalam kereta dan mengangkat keluar Giok-nio, nona itu ditaruhnya di atas tanah, lalu kereta diseret ke dalam hutan, disembunyikan di bawah pohon yang lebat dari sukar terlihat.
Lalu ia putar balik dan memondong Giok-nio dan berkata.
"Mari berangkat!"
Bun-hiong sudah pasang pelana kuda, segera ia mencemplak ke atas kuda dan ikut It-hiong mendaki gunung.
Bok-kan-san adalah cagang pegunungan Thian-bok-san, pepohonan tumbuh lebat, pemandangan indah permai, di mana-mana hanya hutan bumbu yang rimbun, suatu tempat tamasya yang terkenal.
Tentang sejarah Bok-kan-san boleh dikatakan sudah cukup tua, konon pada waktu kerajaan Go di zaman Junciu, ketika raja Go memerintahkan Kan Ciang menggembleng pedang, di pegunungan inilah Kan Ciang menempa baja.
Namun baja yang ditempa ternyata tidak mau cair, maka istri Kan Ciang yang bernama Bok Sia bertanya apa sebabnya, Kan Ciang menjawab.
"Dahulu mendiang guruku juga gagal menempa baja, akhirnya menggunakan orang perempuan sebagai tumbal dan pedang berhasil digembleng."
Setelah mendapat keterangan itu, malamnya di luar tahu sang suami Bok Sia terjun ke dalam tungku, ketika Kan Ciang mengetahui apa yang terjadi, namun Bok Sia sudah terbakar menjadi ibu.
Anehnya baja yang ditempanya lantas cair dan Kan Ciang berhasil menggembleng dua bilah pedang jantan dan betina serta diberi bernama menurut nama mereka.
Nama gunung Bok-kan ini pun lahir dari kisah tersebut.
Dengan sendirinya Bun-hiong juga tahu dongeng itu, dengan tersenyum ia tanya.
"Eh, kau percaya Kan Ciang memang pernah menggembleng pedang di sini?"
"Dengan sendirinya dongeng itu sukar dipercaya dan juga tidak ada alasan untuk dipercaya,"
Ujar It-hiong.
"Kupikir kedua pedang pusaka yang bernama Kan Ciang dan Bok Sia itu pasti ada, cuma sejarahnya sudah terlalu lama sehingga sudah lama hilang jejaknya.
"Mungkin begitu,"
Ujar It-hiong.
"Pernah kupesiar ke sini,"
Tutur Bun-hiong.
"banyak tempat tamasya di lereng gunung ini, bahwa To Po-sit memilih tempat ini sebagai tempat tirakatnya, sungguh harus diakui dia memang pintar menikmati hidupnya."
"Ya, dia tinggal di sini, di dekat suatu tempat indah yang bernama Loh-hoa-teng,"
Tutur It-hiong.
"Apakah rumah tinggalnya sebuah gubuk bambu?"
Tanya Bunhiong.
"Dari mana kau tahu?"
Melengak juga It-hiong oleh pertanyaan orang.
"Terus terang, pertengahan bulan 12 tahun yang lalu pernah kupesiar ke sini,"
Tutur Bun-hiong.
"Di dekat Loh-hoa-teng kurasakan bangunan gubuk itu sangat indah, kutaksir pemilik rumah pasti seorang cendikia, maka timbul hasratku untuk berkenalan, segera kudatangi ...."
"Akhirnya bagaimana?"
Sela It-hiong.
"Akhirnya menubruk tempat kosong, tuan rumah tidak ada di tempat, mungkin lagi keluar."
It-hiong tersenyum.
"Tidak, tuan rumahnya ada, hanya dia tidak mau menerima tamu asing seperti dirimu ini."
"Bilamana kutahu tuan rumahnya adalah Tui-beng-poan-koan To Po-sit, tidak bisa tidak akan kupaksa dia muncul menemuiku,"
Ujar Bun-hiong dengan tertawa.
"Wataknya memang nyentrik, maka jangan kau buat dia marah, sekali dia marah, akibatnya bisa runyam,"
Kata Ithiong.
"Runyam bagaimana?"
Tanya Bun-hiong.
"Kalau tidak mengomel terus-menerus selama tiga hari sedikitnya, bisa jadi selama tiga hari pula dia tidak mau bicara,"
Kata It-hiong.
"Pada waktu dia memaki orang tidak ada seorang pun mampu menyuruhnya tutup mulut. Sebaliknya ketika dia tutup mulut, juga tidak ada seorang pun sanggup menyuruhnya buka mulut."
"Wah, jika demikian, dia benar-benar makhluk tua aneh,"
Kata Bun-hiong tertawa.
"Ya, meski wataknya sangat aneh, tapi otaknya justru sangat encer,"
Kata It-hiong.
"Caranya menganalisis sesuatu urusan biasanya sangat cepat dan tepat, semuanya dapat diperhitungkannya dengan jitu."
"Engkau sangat memuja dia?"
Tanya Bun-hiong.
"Ye, bahkan aku siap sedia bekerja baginya,"
Jawab It-hiong.
"Jika engkau berkumpul sekian lama dengan dia, tentu kau pun akan takluk padanya lahir batin dan rela disuruh bekerja apa pun baginya."
Begitulah keduanya sambil berjalan seraya bicara, kira-kira dua-tiga li jauhnya, sampailah mereka di wilayah Loh-hoa-teng yang dituju.
It-hiong menjadi penunjuk jalan, ia membawa kawannya menyusuri sebuah jalan setapak yang berliku-liku, akhirnya sampai di pinggang gunung yang rindang dan sepi, lalu terlihatlah rumah gedek bambu yang dimaksud.
Rumah gubuk itu tidak besar, tapi pekarangan yang dikelilingi dengan pagar bambu cukup luas dan tertanam berbagai pepohonan bunga yang indah dan aneh, bagi siapa pun sekali pandang pasti akan timbul rasa senang dan yakin si tuan rumah pasti seorang pertapa yang terpelajar.
Setiba di depan pagar bambu, segera It-hiong berteriak.
"Liktiok Lotiang (bapak bambu hijau), adakah engkau di rumah?"
Bun-hiong heran oleh ucapan It-hiong, dengan suara lirih ia tanya.
"Kau panggil dia Lik-tiok Lotiang?"
"Ya,"
Jawab It-hiong dengan mendesis.
"Ini cuma semacam kode, supaya dia tahu akulah yang datang."
Tengah bicara, terdengar dari dalam rumah ada suara orang tua menjawab.
"Masuk saja!"
It-hiong berpaling dan berkata kepada Bun-hiong.
"Kau tunggu sebentar di luar, biar kumasuk memberitahukan padanya, bilamana dia memperbolehkan kau masuk barulah engkau masuk ke sana."
Bun-hiong mengangguk, ia turun dari kudanya dan menunggu di situ. It-hiong lantas membuka pintu pagar, baru saja melangkah masuk, tiba-tiba dari dalam rumah Tui-beng-poan-koan To Posit berseru pula.
"Yang itu juga disilakan masuk!"
Rupanya ia tahu juga ada orang asing ikut datang bersama Ithiong. Mendengar nada ucapan To Po-sit cukup ramah, It-hiong tahu hati orang lagi senang, segera ia berkata pula kepada Bunhiong.
"Beres, dia minta kau masuk, silakan ikut masuk bersamaku."
Bun-hiong lantas menambat kuda dan masuk bersama Ithiong.
Ruangan rumah bambu ini sangat sederhana, namun sangat resik, segala perabotan hampir seluruhnya terbuat dari bambu sehingga menimbulkan semacam suasana yang khas.
Tui-beng-poan-koan duduk tenang di suatu kursi bambu yang pakai sandaran.
Usianya antara 60 lebih, perawakannya kekar kuat, mukanya bulat, kedua matanya sangat besar, pada waktu tidak marah juga kelihatan seperti orang marah sehingga membuat orang gentar.
Ketika melihat It-hiong masuk dengan memondong seorang nona, di belakangnya ikut pula seorang pemuda, wajah To Posit memperlihatkan rasa heran dan kejut, tapi dia tidak bertanya, agaknya dia seorang yang tidak suka banyak bicara.
Setelah It-hiong menaruh Giok-nio pada sebuah kursi bambu yang lain, lalu ia memberi hormat kepada To Po-sit dan berkata.
"Lopothau, sudah kubawa kemari orang yang kau minta."
Tui-beng-poan-koan To Po-sit hanya bersuara perlahan, namun pandangannya menatap Bun-hiong tanpa berkedip. Bun-hiong rada kikuk, ia pun memberi hormat dan berkata.
"Cayhe Pang Bun-hiong menyampaikan salam hormat kepada To-locianpwe."
Mulut To Po-sit tampak menjengkit, jengeknya.
"Kuingat tahun yang lalu pernah kau datang kemari."
"Betul,"
Bun-hiong memberi hormat pula.
"Daya ingat Locianpwe sungguh sangat bagus, urusan yang sudah berselang beberapa bulan masih belum lupa."
To Po-sit menatapnya dengan sorot mata tajam, tanyanya kemudian.
"Untuk apa pula kau datang kemari?"
Cepat It-hiong menerangkan.
"Dia adalah sahabatku yang baru, sekali ini akulah yang mengajaknya kemari."
Tui-beng-poan-koan To Po-sit berpaling dan melotot padanya, jengeknya.
"Sahabat baru lantas kau bawa dia kemari begitu saja? Apakah kau khawatir hidupku terlalu awet dan membikin susah padamu, maka perlu dibikin mati lebih cepat?"
"Bukan begitu maksudku,"
Jawab It-hiong.
"Kutahu dia dapat dipercaya, maka kubawa dia kemari. Dia bukan lain dari Houhiap Pang Bun-hiong yang namanya terkenal di utara dan selatan."
To Po-sit tidak terpengaruh oleh nama "Hou-hiap", ia masih bersikap dingin, katanya dengan nada ketus.
"Biarpun dia setan iblis juga sama, kalau aku tidak memberi izin, tidak boleh sembarangan kau bawa orang kemari."
"Aku berani menjamin kepadamu bahwa dia pasti seorang pemuda yang baik dan pakai aturan, tidak nanti berbuat sesuatu yang merugikanmu,"
Kata It-hiong.
"Hm, kau bicara seenaknya saja, memangnya engkau ini cacing pita dalam perutnya sehingga kau tahu dia dapat dipercaya?"
Damprat To Po-sit tambah marah.
"Apa yang pernah kukatakan padamu sudah kau lupakan seluruhnya? Kenal orangnya, kenal mukanya, cara bagaimana tahu hatinya? Berdasarkan apa kau bilang dia pemuda yang baik? Berdasarkan apa pula kau berani menjamin dia pasti takkan berbuat sesuatu yang merugikan diriku?"
Makin bicara makin keras suaranya, sorot matanya juga tambah beringas serupa It-hiong hendak dicaploknya mentahmentah.
Padahal Pang Bun-hiong juga pemuda yang berwatak angkuh, tidak pernah dihina oleh siapa pun, kini melihat sikap si kakek sedemikian garangnya, ia naik pitam juga, tanpa pikir ia balas memaki.
"Dasar tua bangka, bila kau takut kubikin susah padamu, biarlah kuangkat kaki saja dari sini dan habis perkara, buat apa begitu galak?"
Mendadak To Po-sit menarik muka, ditatapnya anak muda itu dengan tajam dan mendengus dengan kereng.
"Bagus, berani kau maki aku apa!"
Rada tegang juga perasaan Bun-hiong, namun dia tetap bandel dan menjawab.
"Kumaki tua bangka padamu, mau apa?"
"Kurang ajar! Coba maki sekali lagi?"
Damprat To Po-sit. Diam-diam Bun-hiong mengumpulkan tenaga pada kedua tangan dan siap menyambut serangan orang secara mendadak, di mulut ia menjawab dengan bandel pula.
"Biarpun maki seratus kali lagi juga kuberani, tua bangka!"
Tentu saja It-hiong kelabakan, berulang ia memberi kedipan mata sebagai tanda agar lekas Bun-hiong melarikan diri.
Namun Bun-hiong tidak mau lari, sebaliknya malah memperlihatkan sikap menantang, tampaknya ia sudah bertekad akan menghadapi labrakan Tui-beng-poan-koan To Po-sit.
"Coba maki sekali lagi!"
Jengek pula si kakek.
"Tua bangka!"
Tanpa pikir Bun-hiong benar-benar memaki lagi. Sinar mata Tui-beng-poan-koan seakan-akan membara, kembali ia berteriak.
"Sekali lagi!"
Tanpa gentar Bun-hiong memaki pula.
"Tua bangka, kan sudah kukatakan, biarpun memaki lagi seratus kali juga kuberani."
Mendadak air muka Tui-beng-poan-koan yang semula beringas itu mengendur, rasa gusarnya mendadak buyar sama sekali dan berubah menjadi senyuman yang welas asih, katanya.
"Bagus, maki lagi beberapa kali juga tidak menjadi soal, cuma jangan telanjur menjadi biasa."
Bun-hiong tidak tahu mengapa sikap orang mendadak bisa berubah, seketika ia melongo bingung malah.
"Duduklah!"
Kata Tui-beng-poan-koan kemudian dengan tertawa.
"Untuk apa!"
Tanya Bun-hiong dengan melenggong. To Po-sit tersenyum, katanya.
"Selama berpuluh tahun ini tidak ada seorang pun berani memaki diriku secara berhadapan, tapi kau bocah ini justru mempunyai keberanian ini, hal ini menandakan anak muda seperti dirimu memang bakat yang dapat dipupuk, sungguh aku sangat senang."
It-hiong tertawa geli, baru sekarang perasaannya yang tegang merasa lega.
Sebaliknya Pang Bun-hiong menyengir serbasalah.
Banyak juga orang aneh yang pernah dilihatnya, tapi tidak ada seorang pun seaneh Tui-beng-poan-koan ini, dirinya telah memakinya, bukannya marah, sebaliknya dia malah menaruh kesan baik padanya, dalil macam apakah ini?
Ia masih meragukan perubahan sikap si kakek itu mungkin cuma pura-pura saja maka dia tetap waspada, katanya kemudian.
"Sungguh aku tidak mengerti maksudmu."
"Hahaha, selanjutnya engkau tentu akan paham,"
Seru Tuibeng-poan-koan dengan tergelak.
"Sekarang engkau adalah tamuku, silakan duduk!"
It-hiong cukup kenal watak si kakek she To itu, ia tahu orang sudah tidak mempunyai rasa permusuhan lagi terhadap Pang Bun-hiong, segera ia menukas dengan tertawa.
"Pang-heng, silakan duduk, urusan sudah beres!"
Bun-hiong masih ragu sejenak, akhirnya barulah ia duduk. Lalu Tui-beng-poan-koan berkata kepada Liong It-hiong.
"Pandanganmu memang tidak keliru, engkau telah mengikat seorang sahabat baik."
"Tapi kami ada janji duel yang belum terlaksana,"
Kata Ithiong dengan tertawa.
"Oo, sebab apa?"
Tanya Tui-beng-poan-koan dengan melengak.
"Soalnya kami saling tidak mau mengalah, kami sudah sepakat akan bertanding untuk menentukan siapa yang asor, tapi lantaran macam-macam urusan, sejauh ini pertarungan itu belum sempat berlangsung,"
Demikian tutur It-hiong.
"O, lantas kapan kalian hendak bertanding?"
Tanya Tui-bengpoan-koan dengan tertawa.
"Nanti padas waktu hatiku lagi kesal segera akan kulabrak dia,"
Jawab It-hiong.
"Sekarang pikiranku lagi gembira, aku tidak ingin berkelahi."
Tui-beng-poan-koan lantas berpaling ke arah Bun-hiong, katanya dengan tersenyum.
"Pernah juga kudengar nama Hou-hiap yang tenar, tak tersangka yang dimaksudkan adalah dirimu ini. Eh, siapa gurumu?"
"Kepandaianku adalah hasil latihanku dari berbagai perguruan sehingga aku tidak mempunyai guru yang resmi,"
Jawab Bunhiong.
"Aneh juga,"
Tui-beng-poan-koan menyatakan rasa herannya.
"Bahwa cuma perguruan biasa dapat mendidik anak muda seperti dirimu, sungguh suatu kejutan."
"Kubelajar sedikit kepandaian dari berbagai perguruan sanasini, lalu aku berkelana, dan mencari jago kelas tinggi untuk bertanding, dalam pertandingan itu berhasil kucuri jurus serangan lawan yang lihai, semuanya kukumpulkan, lamalama dari himpunan berbagai ilmu silat itu dapatlah kulebur dan kuciptakan semacam Kungfu tersendiri."
Tui-beng-poan-koan manggut-manggut sebagai tanda memuji, lalu ia berkata kepada It-hiong dengan tertawa.
"Berani kukatakan dia jauh lebih pintar daripadamu, It-hiong."
It-hiong mengangkat pundak, jawabnya.
"Dia memang sok pintar ...."
"Eh, kapan kalian mulai berkenalan?"
Tanya Tui-beng-poankoan.
"Wah, ceritanya agak panjang,"
Tutur It-hiong.
"Apakah engkau tidak mau memeriksa dulu nona yang kubawa ini?"
Tui-beng-poan-koan memandang Giok-nio sekejap, katanya.
"Engkau tidak salah tangkap orang, dia memang betul adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam. Apakah kau temukan dia di Lau-jun-ih di Kim-tan?"
"Tidak, kutemukan dia di Boan-wan-jun di Kim-leng,"
Sahut Ithiong.
"Cuma sebelum kutemukan dia di sana sudah lebih dulu kukenal dia di suatu tempat lain."
"Bagaimana terjadinya?"
Tanya Tui-beng-poan-koan.
It-hiong lantas mengisahkan apa yang dialaminya, dimulai sebelum dia datang di kota Kim-tan, lebih dulu dia bertemu dengan Pang Bun-hiong di pedusunan itu, kedua orang lantas bersepakat akan bertanding di bukit luar kota, di sana dirinya bertemu dengan Si Hin yang sekarat dan memberi pesan serta memberi kotak hitam kepadanya.
Kemudian sepanjang perjalanan selalu muncul orang mencegatnya dan hendak merampas kotak hitam.
Di Sian-li-bio berhasil ditolongnya Ni Beng-ai, tapi pada hari berikutnya nona itu dibawa lari oleh Intiong-yan Pokyang Thian, karena ingin menyelamatkan Ni Beng-ai, terpaksa ia menyerahkan kotak hitam itu kepada Pokyang Thian.
Akhirnya ketika pulang ke Kim leng bersama Pang Bun-hiong, di luar dugaan diketahuinya Ni Beng-ai ternyata sana dengan Giok-nio adanya, begitulah semua itu diceritakannya dengan jelas.
Habis mendengarkan kisah itu, tanpa terasa terunjuk rasa heran pada wajah To Posit, ia tanya.
"Jika demikian, jadi Oh Beng-ai berbuat begitu hanya karena dipaksa oleh Pokyang Thian dan bukannya sengaja berkomplot untuk menipumu?"
It-hiong mengangguk.
"Ya, tampaknya memang begitu, jika dia berkomplot dengan Pokyang Thian, tentu pada waktu Pokyang Thian datang ke Boan-wan-jun tidak nanti dia mau mengirim kabar kepadaku untuk datang menangkapnya, akan tetapi dia benar-benar mengirim berita kepadaku. Dari sini dapat diketahui dia memang tidak berkomplot dengan Pokyang Thian."
"Bila benar begitu, kenapa Pokyang Thian tidak mau berkomplot saja dengan perempuan lain, tapi pilihannya jatuh padanya?"
Ujar Tui-beng-poan-koan.
"Ini disebabkan Pokyang Thian adalah saudara angkat mendiang Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam,"
Tutur It-hiong.
"Ia tahu Oh Kiam-lam mempunyai adik perempuan yang terjerumus di rumah pelacuran, ia anggap dapat memikat diriku dengan kecantikan orang perempuan, maka dia memaksanya memancing diriku. Ini cuma kejadian secara kebetulan saja, tidak mungkin Pokyang Thian mengetahui aku hendak mencari Giok-nio."
Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 9 Tui-beng-poan-koan mengangguk, lalu tanya pula.
"Dan sekarang kotak hitam itu telah jatuh di tangan Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan?"
It-hiong membenarkan.
"Kau kira apa isi kotak hitam itu?"
Tanya Tui-beng-poan-koan pula.
"Entah, aku tidak tahu,"
It-hiong menggeleng. Tui-beng-poan-koan berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Pada waktu sebelum aku mengundurkan diri pernah juga kudengar di Cap-pek-pan-nia muncul sekawanan bandit, melihat gelagatnya sekarang, gembong kawanan bandit itu pasti seorang tokoh luar biasa, agaknya dia telah menggantikan kedudukan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam sebagai pimpinan dunia hitam."
"Soalnya terletak pada kotak itu apakah miliknya atau Si Hin juga merampasnya dari orang lain dan akan dibawa pulang ke Cap-pek-pan-nia?"
Ujar It-hiong.
"Dengan sendirinya Si Hin dapat merampasnya dari orang lain,"
Kata Tui-beng-poan-koan.
"Cuma, bagaimana kepandaian Si Hin menurut pendapatmu?"
"Waktu kutemukan dia keadaannya sudah kempas-kempis, cuma dinilai dari lawannya, agaknya dia bukan seorang tokoh kelas tinggi,"
Tutur It-hiong. Bekernyit kening Tui-beng-poan-koan, katanya.
"Aneh jika begitu. Padahal kalau peti hitam itu dapat menimbulkan incaran tokoh kelas tinggi seperti Miau-lolo dan lain-lain, ini menandakan isi peti pasti benda pusaka yang tak ternilai harganya. Mengapa benda sepenting itu hanya Si Hin saja yang ditugaskan merampasnya oleh pimpinannya?"
"Bisa jadi perampasan peti itu oleh Si Hin bukan atas perintah gembong iblis itu melainkan diperolehnya secara tidak sengaja,"
Tukas Bun-hiong. Tui-beng-poan-koan menggeleng.
"Tidak mungkin, jarak Cappek-pan-nia dengan Kim-tan ada ribuan li jauhnya, jika Si Hin orang dari Cap-pek-pan-nia, tanpa mendapat tugas tidak nanti dia meninggalkan pangkalannya sejauh itu."
"Soal ini untuk sementara tidak perlu kita urus,"
Ujar It-hiong.
"Jika Cianpwe menghendaki kutangkap kembali Oh Beng-ay, sekarang anak perempuan itu sudah kubawa kemari, silakan untuk diambil sesuatu tindakan."
"Tidak perlu bertindak apa-apa kepadanya, biarkan dia tinggal saja di sini,"
Kata Tui-beng-poan-koan tak acuh. It-hiong melenggong, tanyanya.
"Tapi engkau menyuruhku menawannya ke sini kan ada sebabnya?"
"Dengan sendirinya ada sebabnya,"
Jawab Tui-beng-poankoan.
"Soalnya penyakit kakiku makin lama makin berat dan hampir tidak sanggup berjalan lagi, maka kuperlu pelayan seorang perempuan."
"Hanya itu alasannya?"
Kembali It-hiong melenggong.
"Itulah salah satu alasannya,"
Ujar Tui-beng-poan-koan.
"Alasan yang lain, biarlah kuberi tahukan lain kali saja."
It-hiong tahu alasan yang lain merupakan alasan pokok, tapi orang tidak mau menjelaskan, hal ini membuatnya kecewa, katanya.
"Masa tidak dapat dijelaskan sekarang?"
"Tidak boleh,"
Sahut Tui-beng-poan-koan.
"Nanti kalau dia sudah sadar, cara bagaimana kuberi penjelasan kepadanya?"
Tanya It-hiong pula.
"Katakan engkau tidak tega menyaksikan dia terjerumus di tempat kotor itu maka menolongnya ke sini, supaya dia bisa hidup layak dan tenteram,"
Kata si kakek.
"Kemudian?"
Tanya It-hiong.
"Kemudian boleh kau tinggalkan tempat ini, pergilah merampas kembali peti hitam itu, sebab ingin kulihat sesungguhnya apa isi peti itu sehingga menjadi incaran tokoh sebanyak ini,"
Kata Tui-beng-poan-koan.
"Wah, dunia seluas ini, ke mana dapat kutemukan Hiat-pitsiucay Hui Giok-koan?"
Gumam It-hiong.
"Coba ke kamar tulisku, ambilkan kitab jejak tokoh ternama dunia persilatan yang terletak di pojok atas rak buku itu,"
Kata Tui-beng-poan-koan.
"Apakah dalam kitab itu tercatat juga seluk-beluk dan jejak Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan?"
It-hiong menegas.
"Ya, tercatat lengkap,"
Jawab si kakek. Tanpa bicara lagi It-hiong lantas menuju ke kamar tulis orang dan mengambil se
Jilid kitab yang tebal, sesudah kembali di ruangan depan, ia mulai membalik-balik halaman kitab itu.
Tidak lama dapatlah ditemukan halaman yang terdapat keterangan mengenai Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan, katanya.
"Aha, sudah kutemukan."
"Coba baca,"
Pinta Tui-beng-poan-koan. Dengan suara lantang It-hiong lantas membaca.
"Hiat-pitsiucay Hui Giok-koan, semula adalah murid Kong-tong-pay, lantaran kelakuan buruk dipecat dari perguruan. Kemudian bergabung dengan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam dan komplotannya, bercokol di Kiu-liong-san dan melakukan berbagai kejahatan. Senjata andalannya berbentuk Boankoan-pit, wataknya kejam, tamak dan licin, tapi sok intelek, suka bergaul dengan kaum cendikia, gemar makan pesut, setiap tahun pada musim semi suka berkunjung ke pantai Tengciu untuk makan daging pesut ...."
Mendengar sampai di sini Tui-beng-poan-koan lantas memberi tanda.
"Sudah, sudah, jangan baca lagi. Sekarang segera kau berangkat ke Tengciu dan pasti dapat menemukan dia."
It-hiong menaruh kitab itu di meja, katanya.
"Sekarang dia sudah mendapatkan kotak hitam itu, mungkin dia takkan pergi ke Tengciu lagi, sebab ...."
"Tidak, dia pasti ke sana,"
Potong Tui-beng-poan-koan.
"Dan kalau tidak kutemukan dia?"
Tanya It-hiong.
"Jika begitu boleh kau kembali lagi ke sini dan akan kuatur suatu akal lain bagimu, kutanggung kotak itu pasti dapat kau temukan,"
Kata si kakek.
"Kapan harus kuberangkat?"
Tanya It-hiong.
"Boleh berangkat besok pagi saja,"
Jawab Tui-beng-poankoan.
"Dan aku bagaimana?"
Tanya Bun-hiong mendadak.
"Cayhe sangat ingin berbuat sesuatu bagimu, konon ada berapa perkara lama yang aneh belum engkau pecahkan, bilamana engkau tidak menolak, sungguh aku siap bekerja bagimu."
"Boleh sih boleh,"
Ucap Tui-beng-poan-koan sambil berpikir.
"cuma urusan apa pun yang kau kerjakan bagiku selamanya aku tidak memberi imbalan, untuk ini perlu kujelaskan sebelumnya."
Bun-hiong tertawa.
"Biarpun engkau mau membayar kepadaku juga takkan kuterima. Tentu Cianpwe tahu, ayahku adalah hartawan terkemuka di kota Kim-tan, masa aku khawatir kekurangan uang? "Selain tidak kuberi imbalan, terkadang, bahkan sering kumaki-maki, apakah kau tahan dan bisa menerima?"
"Tidak menjadi soal,"
Kata Bun-hiong.
"Aku memang sangat jarang dicaci maki orang serupa Cianpwe tadi, kalau terkadang dicaci maki orang akan terasa nikmat malah."
"Hehe, dasar!"
Tui-beng-poan-koan tertawa geli.
"Ya, pada dasarnya aku ini memang berwatak begitu,"
Bunhiong angkat pundak. Setelah berpikir, Tui-beng-poan-koan mengangguk, katanya.
"Baik, lain hari akan kuberi suatu tugas bagimu. Cuma ingat, tugas ini sangat mungkin membahayakan jiwamu."
"Semakin berbahaya semakin menarik bagiku,"
Ujar Bunhiong. Tui-beng-poan-koan tersenyum, ia berpaling kepada It-hiong dan berkata.
"Nah, sekarang boleh kau bikin sadar dia, tapi jangan kau ungkat tentang dia adalah adik Oh Kiam-lam, hendaknya kalian tetap menganggap dia sebagai Giok-nio."
It-hiong mengangguk dan mengiakan, lalu ia masuk ke belakang dan mengambil semangkuk air jernih untuk menyiram muka Oh Beng-ay.
Hanya sebentar saja nona itu lantas bergerak dan siuman.
Sambil bersuara kemalasan perlahan Beng-ay membentang matanya, dengan melenggong ia pandang Tui-beng-poankoan dan Pang Bun-hiong.
Sejenak kemudian barulah pikirannya sadar benar, lalu berucap dengan bingung.
"Meng ... mengapa aku berada di sini?"
"Aku yang mengantarmu ke sini,"
Kata It-hiong dengan tersenyum. Tersembul rasa takut pada wajah Oh Beng-ay, katanya pula.
"Tempat apakah ini!"
"Bok-kan-san,"
Tutur It-hiong.
"Hah, Bok-kan-san?!"
Beng-ay menegas dengan mata terbelalak lebar.
"Betul,"
It-hiong mengangguk dengan tersenyum.
"Tempat ini jauh lebih indah untuk pesiar daripada Bok-jiu-oh."
Beng-ay berdiri, katanya dengan terkesiap.
"Kau bilang membawaku pesiar ke Bok-jiu-oh, kenapa sampai di Bok-kansan sini?"
"Seketika pendirianku berubah, yaitu karena ingin kubebaskan dirimu dari neraka dunia itu, maka kubawa engkau ke sini,"
Kata It-hiong dengan tertawa. Beng-ay termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia berteriak.
"Ah, aku ingat!"
"Ingat apa?"
Tanya It-hiong.
"Waktu di dalam kereta engkau memberi air minum padaku, kau bilang di dalam air minum terdapat obat tidur."
"Memang betul,"
Kata It-hiong.
"Hm, apa artinya perbuatanmu ini?"
Tanya Beng-ay dengan marah.
"Soalnya aku khawatir engkau tidak mau,"
Ujar It-hiong tertawa.
"Omong kosong,"
Omel Beng-ay sambil mengentak kaki.
"Lekas membawaku pulang!"
It-hiong tidak menanggapi, ia tunjuk Tui-beng-poan-koan dan berkata.
"Ini guruku, lekas memberi hormat."
Beng-ay hanya melenggong saja tanpa bergerak.
"Ayo lekas,"
Desak It-hiong. Dengan mulut menjengkit dan ogah-ogahan Beng-ay memberi hormat sekadarnya, lalu berkaok pula.
"Aku mau pulang, ayo lekas kau bawaku pulang!"
Mendadak It-hiong menariknya menuju ke suatu kamar sambil berkata.
"Marilah, boleh kita bicara di dalam kamar saja!"
"He, apa maksudmu?!"
Teriak Beng-ay sambil memberontak.
"Tidak, aku tidak mau!"
Akan tetapi It-hiong terlampau kuat baginya, betapa pun dia meronta tetap sukar melepaskan diri dari pegangan It-hiong dan akhirnya tetap diseret masuk ke kamar.
Setelah menutup pintu kamar segera It-hiong memeluknya erat-erat.
Beng-ay meronta lagi sekuatnya sambil menjerit.
"Tidak, kau mau apa? Lekas ... lekas lepaskan! Auhh ...."
Ia ingin berteriak lagi, tapi mulutnya keburu tersumbat oleh mulut It-hiong.
Kembali ia meronta lagi beberapa kali, lalu sekujur badannya lemas lunglai, berubah menjadi lunak dan pasrah.
Ciuman It-hiong membuat Beng-ay lupa daratan dan serupa mabuk, kemudian dilepaskannya dan mendesis.
"Kau bilang ingin kembali ke masyarakat baik-baik bukan?"
"Ehmm ...."
Si nona mengangguk.
"Juga pernah kau tanya padaku mau padamu atau tidak, bukan?"
"Ehmm ...."
Kembali Beng-ay bersuara samar-samar.
"Dan sekarang aku mau padamu, apa pula yang ingin kau katakan?"
"Ti ... tidak ada."
"Jika begitu harus kau tinggal di sini dengan menurut."
"Baiklah."
Melihat usahanya berhasil dengan baik, lalu It-hiong mendorong si nona agar duduk di kursi, dipesannya supaya Beng-ay istirahat sendiri di situ, lalu ditinggal keluar.
Bun-hiong tersenyum dan menegurnya.
"Sudah kau taklukkan dia?"
"Ya,"
It-hiong mengangguk.
"Hebat benar,"
Puji Bun-hiong.
"Ah, biasa,"
Ujar It-hiong. Tui-beng-poan-koan berdehem, lalu berkata dengan kereng.
"Awas, jangan kau bikin susah dia, meski dia telantar, tapi pada dasarnya dia bukan perempuan bermoral rendah."
"Ya, kutahu,"
Jawab It-hiong.
"Dia bisa menanak nasi tidak?"
Tanya Tui-beng-poan-koan pula.
"Kukira bisa,"
Jawab It-hiong.
"Jika begitu suruh dia menanak nasi, aku sudah lapar,"
Kata si kakek.
It-hiong mengiakan dengan hormat.
Besoknya Liong It-hiong meninggalkan Bok-kan-san lagi, seorang diri ia berangkat ke utara menuju Tengciu.
Pada pagi hari ketiga Pang Bun-hiong juga meninggalkan Bokkan-san dengan mengemban suatu tugas, ia menuju ke selatan.
Tugas yang diberikan Tui-beng-poan-koan kepadanya adalah menyuruh dia menyebarkan desas-desus bahwa adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam yang bernama Oh Beng-ay telah diculik oleh Kiu-bwe-hou (rase ekor sembilan) Kongsun Siau-hui, berita ini harus disebarkan merata ke daerah Kanglam.
Apa maksud tujuannya tidak dijelaskan oleh Tui-beng-poankoan.
Dan orang macam apakah Kongsun Siau-hui itu?
Pertanyaan ini juga tidak dijawab oleh Tui-beng-poan-koan, ia hanya memberi petunjuk kepada Pang Bun-hiong, bilamana ada orang memaksa dia menjelaskan di mana jejak Kiu-bwehou Kongsun Siau-hui, maka boleh mengaku bahwa Kongsun Siau-hui berdiam di atas Ma-cik-san di tepi Thay-oh.
Pang Bun-hiong tidak tahu sebab apa Tui-beng-poan-koan menyuruhnya berbuat demikian, cuma lamat-lamat dapat dirasakannya permainan menarik segera akan naik pentas.
Dengan sendirinya ia pun tahu tugas ini sangat berbahaya dan penuh risiko, namun dia tidak takut, ia memang suka menyerempet bahaya, suka bertualang, dirasakannya tindakan demikian adalah semacam kenikmatan.
Suatu hari ia sampai di kota Hauhong, dengan 80 tahil perak ia beli seekor kuda bagus, lalu melanjutkan perjalanan ke selatan provinsi Anhui.
Dua hari kemudian, untuk pertama kalinya sampailah dia di suatu kota besar, yaitu Huiciu.
Bagi kaum terpelajar, Huiciu adalah tempat ternama, sebab penduduk kota ini terkenal mahir membuat bak, yaitu batu tinta hitam.
Pang Bun-hiong adalah pemuda serbapandai, baik ilmu silat maupun kesusastraan, maka terhadap bak keluaran Huiciu juga sangat tertarik.
Setiba di kota ini, langsung ia mendatangi sebuah toko alat tulis yang paling besar dan paling terkenal, ia beli beberapa potong bak ukuran besar dan berkualitas terbaik.
Lalu menyusuri jalan raya dan bermaksud mencari sebuah restoran.
Karena tujuan perjalanan ini adalah menyiarkan berita, maka ia anggap perlu mencari sebuah restoran yang paling ramai dan biasa disinggahi tamu yang datang ke kota ini.
Setelah melintasi dua jalan raya, dilihatnya di depan ada sebuah restoran dengan merek "Cip-eng-lau" (restoran tempat berkumpulnya kaum kesatria).
Bun-hiong sangat senang, pikirnya.
"Ini dia, dari namanya saja dapat diduga restoran ini pasti tempat berkumpulnya para kesatria, biarlah kumasuk ke situ."
Segera ia menghampiri restoran itu, kuda ditambat, lalu masuk ke situ, cepat pelayan menyambutnya naik ke loteng.
Karena dekat tengah hari, restoran itu sudah hampir penuh terisi tetamu yang ingin makan siang.
Bun-hiong berhenti sejenak di ujung tangga, dipandangnya sekejap, terlihat tetamu di situ hampir seluruhnya adalah kaum saudagar, di antaranya cuma satu-dua orang saja serupa orang persilatan.
Dengan sendirinya ia rada kecewa.
Tapi sudah telanjur naik ke atas loteng, tidaklah enak hati jika segera mengundurkan diri, terpaksa ia pilih sebuah tempat duduk di samping meja seorang tamu lain yang berdandan serupa orang persilatan.
Ia memesan arak dan hidangan, kemudian ia coba melirik tamu yang duduk di meja sebelah yang mirip orang persilatan itu, dilihatnya usia orang antara 40-an, pakai ikat kepala kain hijau, perawakannya kekar, meski wajahnya tidak begitu menarik, namun kelihatan kereng dan gagah, malahan di samping meja tertaruh sebuah bungkusan panjang, isinya serupa sebilah golok.
Mau tak mau tergerak juga hatinya, ia membatin.
"Orang ini besar kemungkinan orang persilatan, harus kucari akal untuk omong-omong dengan dia."
Sedang berpikir, kebetulan pelayan membawakan minuman pendahuluan, yaitu secangkir teh panas.
Tiba-tiba Bun-hiong mendapat akal, ia angkat cangkir teh itu dengan lagak hendak minum, lalu pura-pura tangan kepanasan dan berteriak kaget, cangkir teh itu dilemparkan ke samping kaki lelaki sebelah.
"Brak,"
Cangkir pecah, teh panas juga menciprat kaki orang itu. Dengan sendirinya lelaki itu kurang senang, omelnya.
"Main gila apa?"
"O, maaf, maaf! Tehnya terlalu panas, tanganku keselomot dan tidak sanggup memegangi cangkirnya, apakah kaki Anda terkena air panas?"
Cepat Bun-hiong minta maaf.
Dengan ketus lelaki itu hanya mendengus saja, lalu menikmati hidangannya lagi, tampaknya urusan tak mau ditarik panjang setelah Bun-hiong minta maaf.
Dengan cengar-cengir Bun-hiong sengaja tanya lagi.
"Eh, apakah kaki Anda terbakar?"
Lelaki itu hanya menggeleng saja. Waktu itu pelayan datang membersihkan cangkir yang pecah, Bun-hiong lantas menggerundel.
"He, pelayan, kenapa kau beri teh sepanas itu? Kan tidak perlu menyeduh teh dengan air mendidih begitu?"
Lelaki setengah baya itu tertawa geli mendengar omelan Bunhiong itu. Segera Bun-hiong membalas dengan tertawa, katanya.
"Betul kan ucapanku? Menyeduh teh kan tidak perlu pakai air mendidih begitu? Sungguh aneh cara kerja restoran ini?"
Dengan tertawa lelaki itu menanggapi.
"Teh yang baru diseduh dengan sendirinya panas."
"Tapi seharusnya dibiarkan dingin dulu baru disajikan kepada tamu,"
Ujar Bun-hiong.
"Air mendidih begitu mana dapat diminum?!"
"Kurasakan teh tadi tidak terlalu panas,"
Kata lelaki itu.
"Ah, masa, kurasakan panas sekali,"
Ucap Bun-hiong.
"Hawa panas begini juga tidak cocok minum teh panas, biasanya aku pun tidak suka minuman panas .... Eh, saudara ini seperti sudah pernah kulihat, entah di mana?"
"Apa ya?"
Jawab lelaki setengah baya itu dengan tersenyum.
"Betul, tentu kita pernah bertemu di mana,"
Kata Bun-hiong dengan sungguh-sungguh.
"Siapakah nama Anda yang terhormat?"
"Cayhe she Thio bernama Hou,"
Jawab lelaki setengah baja itu.
"Ah, kiranya Thio-heng adanya,"
Ucap Bun-hiong sambil memberi hormat.
"Aku she Pang bernama Bun-hiong, mohon banyak memberi petunjuk."
Serentak orang itu mengangkat kepala dan menatap Bunhiong dengan tajam dan menegas.
"Namamu Pang Bunhiong?"
"Betul,"
Jawab Bun-hiong. Kembali orang itu mengawasi dia sejenak, habis itu lantas tertawa lebar dan berkata.
"Haha, namamu serupa dengan seseorang."
Bun-hiong memperlihatkan rasa tertarik, tanyanya.
"Namaku sama dengan nama siapa?"
"Sama dengan seorang pendekar muda, namanya juga Pang Bun-hiong dan berjuluk Hou-hiap,"
Tutur orang itu.
"Hahaha, apakah Thio-heng pernah melihat Hou-hiap Pang Bun-hiong?"
Tanya Bun-hiong dengan tergelak.
"Belum, belum pernah,"
Orang itu menggeleng kepala.
"Jika begitu, kan seharusnya Thio-heng menduga bukan mustahil aku adalah Hou-hiap Pang Bun-hiong sendiri?"
"Memangnya engkau Hou-hiap Pang Bun-hiong asli?"
Orang itu menegas dengan terkesiap sambil mengamat-amati Bun-hiong lagi.
"Ya, aku inilah orangnya,"
Ujar Bun-hiong dengan tertawa.
"Benar?"
Orang itu melenggong.
"Kalau palsu uang kembali,"
Kata Bun-hiong tergelak. Lekas orang itu memberi hormat dan berseru.
"Aha, selamat bertemu. Tak tersangka engkau Hou-hiap Pang Bun-hiong yang termasyhur, maaf jika aku kurang hormat."
"Terima kasih,"
Sahut Bun-hiong.
"Bila tidak keberatan, bagaimana kalau kita minum bersama satu meja?"
Ajak lelaki alias Thio Hou itu.
"Bagus sekali!"
Seru Bun-hiong dengan gembira.
Segera ia suruh pelayan memindahkan sendok dan sumpitnya ke meja Thio Hou lalu duduk di depannya.
Thio Hou menuangkan arak secawan penuh, menyusul ia pun menuang penuh cawan sendiri, katanya sambil angkat cawan.
"Mari, kuhormati Anda satu cawan!"
Bun-hiong mengucapkan terima kasih dan menghabiskan secawan arak, lalu ia berpaling dan mendesak pelayan.
"He, pelayan, lekas bawakan hidangan yang kupesan!"
"Baik, segera datang!"
Sahut pelayan.
"Mari, mari, makan dulu hidanganku ini,"
Kata Thio Hou.
"Baik, sekarang kumakan hidanganmu, sebentar engkau pun makan hidanganku,"
Ujar Bun-hiong, tanpa sungkan lagi segera ia angkat sumpit dan makan minum. Agaknya Thio Hou sangat menyukai kelugasan Bun-hiong, katanya dengan tertawa.
"Sungguh tak kusangka dapat bertemu denganmu di sini, engkau ternyata berbeda daripada Hou-hiap yang pernah kubayangkan."
"Memangnya bagaimana pribadiku menurut bayangan pikiran Thio-heng?"
Tanya Bun-hiong.
"Kupikir engkau tentu bertubuh pendek gemuk, muka penuh berewok, mata besar,"
Tutur Thio Hou.
"Begitu bayangan Thio-heng, tentu disebabkan karena julukanku memakai "Hou"
Bukan?"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Ya, memang begitulah,"
Ujar Thio Hou.
"Tapi nama Thio-heng sendiri kan juga pakai "Hou", namun tampaknya engkau toh tidak serupa harimau?"
Orang itu terbahak-bahak. Dalam pada itu pelayan sudah mengantarkan hidangan, segera kedua orang makan-minum terlebih asyik lagi dan berulang-ulang saling mengangkat cawan.
"Bilamana tidak salah penglihatanku, Thio-heng ini tentu juga orang persilatan,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Betul, sering juga kuberkecimpung di dunia Kangouw, tapi aku tetap seorang Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama atau keroco), dibandingkan Hou-hiap tentu selisih terlampau jauh."
"Ah, jangan bilang begitu. Kuyakin Thio-heng pasti cukup ternama di dunia Kangouw, justru akulah yang kurang pengalaman dan tidak kenal padamu."
"Tidak, Cayhe memang benar seorang keroco belaka, bahwa sekarang dapat berkenalan dengan Hou-hiap, sungguh sangat beruntung bagiku."
"Tampang tanya, Thio-heng ini keluaran perguruan mana?"
Tanya Bun-hiong.
"Ah, Cayhe bukan anak murid perguruan ternama, tidak perlu kukatakan, hanya bikin malu saja,"
Jawab Thio Hou.
"Wah, Thio-heng sungguh seorang yang rendah hati,"
Ujar Bun-hiong.
"Eh, di mana Thio-heng bekerja?"
"Ah, bekerja apa, paling-paling berkeluyuran kian kemari saja."
Ujar Thio Hou. Kembali Bun-hiong mengangkat cawan lagi dengan dia, lalu berkata pula dengan nada menyesal.
"Padahal, nama seorang menonjol atau tidak kan juga sama saja. Terkadang orang yang namanya terlampau menonjol malah tidak baik, seperti kata peribahasa, manusia takut ternama dan babi takut gemuk. Orang yang terlalu terkenal justru akan mati terlebih cepat."
"Ah, juga tidak pasti begitu,"
Kata Thio Hou.
"Kebanyakan begitu,"
Seru Bun-hiong dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Misalnya saja tokoh kalangan hitam, selama berpuluh tahun yang lalu, nama Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam kan cerlang-cemerlang ibarat sang surya memancarkan cahayanya di tengah langit. Kedudukannya di dunia Kangouw sungguh tidak ada bandingannya. Namun pada akhirnya dia kan juga dibunuh orang?"
Thio Hou mengangguk-angguk. Maka Bun-hiong menyambung pula.
"Yang harus disesalkan, selama masih hidup hubungan baik terpelihara, kalau sudah mati segera ditinggalkan. Sesudah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam mati, nasib adik perempuannya, Oh Beng-ay kan pantas menimbulkan simpati orang?"
"He, kenapa dengan adik perempuannya?"
Tanya Thio Hou dengan melengak.
"Sangat menyedihkan, dia terjerumus ke dunia pelacuran,"
Tutur Bun-hiong.
"Aneh juga,"
Kata Thio Hou.
"Bukankah Oh Kiam-lam juga punya beberapa saudara angkat? Mengapa mereka tidak memerhatikan adik perempuan Oh Kiam-lam dan membiarkan dia telantar?"
"Makanya tadi kubilang selama masih hidup hubungan baik manusia tetap terpelihara, bilamana orangnya sudah mati, segala sesuatu lantas berpisah dan tidak mau tahu lagi, begitulah maksudku."
"Sungguh kasihan,"
Ujar Thio Hou.
"Meski Oh Kiam-lam bukan tokoh golongan baik, paling sedikit dia juga seorang gembong kalangan hitam yang pernah jaya, tak tersangka sesudah dia mati perempuannya bisa terjerumus sejauh ini."
"Tapi masih ada lagi kemalangan lain yang lebih hebat,"
Tukas Bun-hiong.
"Oo, apakah adik perempuannya itu juga mati?"
Tanya Thio Hou. Bun-hiong menggeleng.
"Tidak, dia tidak mati, hanya dibawa lari orang."
"Siapa yang membawa lari dia?"
Tanya Thio Hou penuh minat.
"Kejadian itu kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,"
Tutur Bun-hiong.
"Hari itu kebetulan kucari kesenangan ke Boanwan-jun di kota Kim-leng, kulihat seorang menyeretnya keluar dan menculik dia dengan sebuah kereta. Sebelum berangkat penculiknya sempat meninggalkan nama, ia mengaku sebagai Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui."
"Hahh, kiranya dia?!"
Seru Thio Hou dengan air muka berubah rada pucat. Melihat sikap orang tentu tahu siapa Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui, segera ia tanya.
"Thio-heng kenal Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?"
"Tidak, tidak kenal,"
Jawab Thio Hou sambil menggeleng.
"Cuma kutahu siapa dia, yaitu seorang tokoh yang sangat ditakuti. Konon dia bermusuhan dengan Oh Kiam-lam, sekali ini dia menculik adik perempuan Oh Kiam-lam, tentu tujuannya ingin melampiaskan rasa dendamnya."
"Sesungguhnya ada permusuhan apa antara dia dengan Oh Kiam-lam?"
Tanya Bun-hiong.
"Wah, aku sendiri tidak jelas urusan ini,"
Jawab Thio Hou.
"Aku cuma tahu permusuhan antara mereka sangat mendalam, cuma ... Oh Kiam-lam kan sudah mati empat lima tahun, sebenarnya tidak pantai dia melampiaskan dendamnya terhadap nona Oh yang tidak berdosa itu. Betapa pun perbuatannya itu agak rendah dan pengecut."
"Memang,"
Kata Bun-hiong.
"Tapi persoalannya juga harus ditinjau kembali,"
Ujar Thio Hou.
"Pribadi Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui itu memang begitulah, licin, licik dan juga kejam, sedikit disakiti hatinya pasti menuntut balas. Orang yang bersalah padanya pasti akan disikatnya hingga habis-habisan."
"Entah akan diapakan nona Oh yang diculiknya itu!"
Tanya Bun-hiong.
"Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui terkenal sebagai iblis perusak orang perempuan,"
Tutur Thio Hou.
"maka dapat dipastikan nona Oh akan diperkosa sepuasnya, habis itu baru membunuhnya."
"Wah, perbuatannya itu terlampau tidak kenal perikemanusiaan,"
Ujar Bun-hiong.
"Kudengar nona Oh itu masih perawan suci bersih."
"Entah, aku tidak tahu hal ini,"
Kata Thio Hou.
"Dan entah saudara angkat Oh Kiam-lam seperti Ang-liu-soh Ban Samhian daun lain-lain mengetahui tidak kejadian ini?"
Bun-hiong berlagak tidak tahu dan bertanya.
"Ang-liu-soh Ban Sam-hian itu orang macam apa?"
"Dia terhitung saudara angkat Oh Kiam-lam yang paling lihai,"
Tutur Thio Hou.
"Apakah dia mau menolong nona Oh jika mendapat sabar tentang kejadian ini?"
Tanya Bun-hiong pula.
"Ya, hal ini memang tidak dapat dipastikan. Konon sebelum Oh Kiam-lam terbunuh, di antara sesama saudara angkat mereka sudah sering cekcok ...."
"Mengapa cekcok di antara mereka?"
Tanya Bun-hiong.
"Entah,"
Jawab Thio Hou.
"Besar kemungkinan karena pembagian rezeki yang tidak merata sehingga menimbulkan pertengkaran antara mereka sendiri. Terbunuhnya Oh Kiamlam sangat mungkin juga ...."
"Juga perbuatan saudara-saudara angkatnya?"
Sela Bunhiong.
"Ya, ini hanya dugaanku saja,"
Thio Hou mengangguk.
"Ilmu silat Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui sangat tinggi, aku merasa bukan tandingannya, kalau tidak, tentu akan kutolong nona Oh yang pantas dikasihani itu."
"Kau tahu di mana tempat tinggal Kiu-bwe-hou?"
Tanya Thio Hou. Bun-hiong mengangguk.
"Ya, tahu, waktu itu telah kubuntuti dia dan mengetahui sarangnya."
Cepat Thio Hou menegas.
"Di mana?"
"Wah, maaf, tidak dapat kukatakan,"
Bun-hiong menggeleng sambil tertawa.
"Sebab apa?"
"Soalnya aku tidak berani menyalahi dia."
"Dari mana dia tahu engkau yang menyiarkan tempat tinggalnya? Apa alangannya kau katakan kepadaku?"
"Tidak, jangan,"
Kembali Bun-hiong menggeleng.
"Bilamana sampai diketahuinya, wah, bisa banyak mendatangkan kesulitan bagiku."
"Engkau berjuluk Pendekar Harimau, kenapa engkau juga takut urusan?"
Tanya Thio Hou dengan tertawa. Bun-hiong menyengir, jawabnya.
"Di hadapan Kiu-bwe-hou, aku bukan lagi harimau tapi kucing."
"Hahaha!"
Thio Hou tergelak.
"Biarpun Kiu-bwe-hou menakutkan, tapi engkau kan pendekar ternama, seorang pendekar harus membela kebenaran dan menumpas kejahatan."
"Namun, soalnya terletak pada nona Oh itu ada harganya untuk ditolong atau tidak,"
Ujar Bun-hiong.
"Kakaknya kan terkenal bukan manusia baik-baik, nona Oh itu sendiri melacur. Kan tidak perlu aku mengambil risiko ini hanya untuk membela seorang nona dari jenis ini?"
"Boleh kau katakan tempat tinggal Kiu-bwe-hou kepadaku, aku yang akan menolong dia,"
Kata Thio Hou.
"Thio-heng yakin mampu mengalahkan Kiu-bwe-hou?"
Tanya Bun-hiong.
"Dapat kuajak beberapa kawan untuk membantu,"
Ujar Thio Hou.
"Ah, tidak. Betapa lihai kepandaian Kiu-bwe-hou kan cukup diketahui Thio-heng, tidak boleh kubikin susah padamu mengantar nyawa secara sia-sia."
"Ai, engkau ini terlampau banyak pertimbangan,"
Kata Thio Hou.
"Kan tidak harus kugebrak dengan dia, masih banyak jalan lain untuk menolong nona Oh, misalnya dapat kubawa lari dia secara diam-diam."
"Tidak, tidak mungkin, tidak semudah itu,"
Bun-hiong menggeleng.
"Asalkan aku bertindak dengan hati-hati, mungkin akan berhasil."
"Memangnya ada hubungan apa antara Thio-heng dengan Oh Kiam-lam sehingga sukarela hendak menolong Oh Beng-ay tanpa pikirkan keselamatan sendiri?"
"Tidak ada hubungan apa-apa,"
Jawab Thio Hou.
"Aku cuma merana nona Oh itu pantas dikasihani, siapa pun harus mengulurkan tangan untuk menolongnya."
"Jika tidak ada sesuatu hubungan, kukira engkau tidak perlu menyerempet bahaya,"
Ujar Bun-hiong.
"Banyak campur urusan hanya banyak menimbulkan kesulitan, marilah kita jangan banyak ikut campur urusan orang lain tapi banyak minum arak saja. Nah, mari minum lagi secawan!"
Thio Hou mengadu cawan lagi dengan dia, lalu bertanya mengenai urusan lain.
"Eh, ada keperluan apa Anda datang ke Huiciu sini?"
"Tidak ada urusan apa pun,"
Jawab Bun-hiong.
"Aku biasa melancong kian kemari, sekali ini kupesiar ke Kanglam dan kebetulan mampir ke sini."
"Ke mana lagi kota berikutnya yang akan kau tuju?"
Tanya Thio Hou.
"Hiuleng, lalu putar balik ke timur, ke Soatang, tamasya ke Liong-hou-san, kemudian mengunjungi juga Kiu-liong-san,"
Tutur Bun-hiong.
"Wah, senang benar,"
Ujar Thio Hou.
"Hidupku ada dua macam hobi,"
Kata Bun-hiong.
"Pertama adalah perempuan, kedua adalah pesiar."
"Pesiar sendirian tidak terasa kesepian?"
Tanya Thio Hou.
"Tidak,"
Jawab Bun-hiong.
"Sayang aku masih ada urusan, kalau tidak, boleh juga mengiringimu pesiar,"
Kata Thio Hou.
"Sesungguhnya aku juga gemar melancong."
"Lantas Thio-heng hendak pergi ke mana?"
Tanya Bun-hiong.
"Ada seorang teman tinggal di daerah utara, bulan yang lalu kuterima suratnya, katanya ada sebuah Piaukiok mencari tambahan tenaga, maka ingin kupergi ke sana untuk mengadu untung."
"Oo, kiranya begitu ...."
Setelah kedua orang mengobrol lagi sebentar, sesudah kenyang makan minum, Thio Hou mendahului membayar rekening, lalu meninggalkan restoran itu.
Rupanya Thio Hou juga menunggang kuda, ketika melihat mereka mau berangkat, cepat pelayan membawakan kuda mereka.
Setelah memegang tali kendali kudanya, Bun-hiong berkata kepada Thio Hou.
"Kita baru saja berkenalan dan segera membikin Thio-heng merogoh saku, sungguh tidak enak hati rasanya."
"Ah, soal kecil, buat apa dipikir,"
Ujar Thio Hou dengan lugas.
"Rasanya kita sama cocok satu dengan yang lain, semoga kita berjumpa lagi kelak,"
Ucap Bun-hiong.
"Anda adalah pendekar ternama, kalau sudi bergaul dengan kaum keroco seperti diriku, bolehlah kita bersahabat, kelak tentu akan kucari Anda bila datang ke Kim-tan."
"Aha, pasti akan kusambut dengan gembira,"
Seru Bun-hiong.
"Sampai bertemu!"
Begitulah keduanya lantas mencemplak ke atas kuda masingmasing dan mengucapkan salam perpisahan, lalu seorang menuju ke utara dan yang lain ke selatan.
Langsung Bun-hiong meninggalkan kota Huiciu dan melanjutkan perjalanan ke selatan.
Setelah mengalami penyebaran desas-desus sekali ini telah disadarinya sesuatu, yaitu bahwa sebabnya Tui-beng-poan-koan menyuruhnya menyebarkan berita tentang Oh Beng-ay diculik Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui, tujuannya adalah ingin memancing seorang untuk tampil menolong Oh Beng-ay, pada saat orang yang dimaksud itu muncul, barulah akan ditangkapnya.
Dapat diduganya pula orang yang hendak ditangkap Tui-bengpoan-koan pasti juga ada hubungan erat dengan Oh Beng-ay, kalau tidak tentu Tui-beng-poan-koan takkan menggunakan Oh Beng-ay sebagai umpan untuk memancingnya keluar.
Lantas siapakah gerangan orang yang hendak dipancingnya itu?
Sebab apa pula Tui-beng-poan-koan hendak menangkapnya?
Pang Bun-hiong tidak sanggup memecahkan berbagai pertanyaan ini, ia cuma tahu tindakan Tui-beng-poan-koan To Po-sit ini pasti tidak keliru, sebab ia sangat kagum dan hormat kepadanya, ia yakin To Po-sit, adalah orang yang berdiri di sisi "kebenaran", apa yang diaturnya itu adalah semacam gempuran terhadap yang "jahat", jika dirinya dapat ikut serta dalam usaha membongkar perkara ini rasanya sangat besar artinya.
Karena pikiran ini, ia merasa sangat gembira.
Ia larikan kudanya dengan santai, menjelang magrib barulah ia sampai di kota Yugoan, ia berputar sekeliling di dalam kota dan tidak ditemukan seorang persilatan pun, akhirnya ia mencari sebuah hotel untuk bermalam.
Esok paginya ia melanjutkan lagi perjalanan ke selatan.
Lewat tengah hari ia sampai di suatu tanah ladang yang luas, sejauh mata memandang tidak tampak sesuatu apa pun, dia berkepandaian tinggi dan bernyali besar, keadaan begitu tidak menjadi soal baginya, malahan sembari berjalan ia sambil berdendang.
Kira-kira beberapa puluh li lagi, sampailah ia di suatu hutan lebat yang kelihatan seram, hutan yang terletak di kaki gunung.
Sedang mengayun langkah dengan santai, mendadak dari dalam hutan lebat itu ada suara suitan, menyusul lantas melompat keluar dua orang lelaki kekar.
Wajah kedua lelaki kekar ini tampak bengis menakutkan, dada terbuka dan perut rada buncit, keduanya sama membawa golok mengilat, sekali pandang saja segera orang tahu mereka pasti kawanan begal.
Begitu melompat ke tengah jalan, segera mereka bersikap garang untuk menakut-nakuti, bentaknya.
"Berhenti! Ingin hidup atau minta mati? Jika ingin hidup lekas serahkan harta bendamu."
Bun-hiong menahan kudanya, jawabnya dengan tertawa.
"Eh, kedua Hohan (orang gagah) jangan marah, biarlah kuberikan semua harta yang kubawa."
Sembari bicara ia lantas menanggalkan ransel yang dibawanya terus dilemparkan kepada mereka.
Padahal isi ransel itu cuma beberapa potong baju saja dan tidak ada harta benda segala, bobotnya tidak lebih dari sepuluh kati.
Akan tetapi Bun-hiong melemparkannya dengan mengerahkan tenaga dalam, keruan hal ini membuat salah seorang lelaki itu kewalahan, begitu dia menangkap ransel itu dengan kedua tangannya, kontan ia merasakan seperti menangkap benda berbobot ribuan kati, seketika sebelah lengannya keseleo, malahan ransel itu terus menumbuk dadanya dengan keras.
"brak", tulang iga patah dua-tiga serupa digenjot oleh benda beribu kati beratnya. Belum lagi orang itu tempat menjerit tahu-tahu sudah roboh terjungkal dan tak bernyawa lagi. Keruan kawannya terperanjat dan juga ketakutan setengah mati seperti melihat setan, ia menjerit terus membalik tubuh dan kabur terbirit-birit. Dengan sendirinya Bun-hiong tidak tinggal diam, ia membentak.
"Jangan lari!"
Sebelah tangan terayun, setitik cahaya perak segera menyambar ke punggung lelaki kekar yang sedang merat itu.
Yang disambitkan Bun-hiong sekali ini adalah sepotong uang perak, namun benda kecil ini sudah tidak sanggup lagi diterima oleh lelaki kekar itu, ingin menghindar saja tidak bisa, ia pun menjerit dan roboh terguling.
Cuma ia tidak mati, lukanya juga tidak parah, namun sakitnya membuatnya meringis dan mengerang.
Bun-hiong terus melompat maju, kepala orang itu diinjaknya, ditanyainya dengan tertawa.
"Nah, apakah sekarang kau minta harta benda lagi dariku?"
"O, tidak, tidak lagi,"
Seru lelaki kekar itu.
"Ampun Tuan!"
"Kalian ini kaum begal atau anak buah kawanan bandit di atas gunung ini?"
Tanya Bun-hiong.
"Kami hanya anak buah yang melaksanakan tugas saja,"
Kata orang itu.
"Kami ditugaskan memungut biaya jalan di sini, mohon ampun!"
"Tempat apakah ini?"
Tanya Bun-hiong.
"Hoay-giok-san,"
Jawab orang itu.
"Apakah sarang kalian berada di atas gunung ini?"
Tanya Bunhiong pula.
"Betul,"
Jawab orang itu gemetar.
"Siapa pemimpin kalian?"
"Jik-hoat-kui (si setan berambut pirang) Pit Tiang-siu,"
Tutur orang itu.
"Seluruhnya ada berapa orang yang bersarang di atas gunung?"
"Cuma seratus lebih."
Bun-hiong menarik kakinya yang menginjak kepala orang itu, katanya.
"Bangun!"
Lelaki itu hanya merangkak dan tidak berani bangun, ia memohon dengan ketakutan.
"Mohon ampun, Toaya, mata hamba lamur sehingga tidak kenal kegagahan Toaya, lain kali pasti tidak berani lagi."
"Tidak kubunuhmu, boleh lekas bangun!"
Kata Bun-hiong.
Tentu saja orang itu kegirangan, cepat ia menyembah dan mengucapkan terima kasih atas pengampunan Bun-hiong, lalu merangkak bangun.
Bun-hiong menunjuk mayat orang pertama tadi, katanya.
"Lemparkan dia ke dalam hutan sana."
Dengan sendirinya orang itu tidak berani membangkang, cepat ia mengangkat jenazah kawannya dan diusung ke dalam hutan.
Sambil menuntun kudanya Bun-hiong ikut masuk ke dalam hutan.
Melihat orang mengikutinya, lelaki itu sangat takut, baru beberapa langkah ia lantas berhenti dan bertanya.
"Dilempar ... dilempar ke mana?"
"Terserah, di mana pun boleh,"
Ucap Bun-hiong.
"Asalkan agak jauh dari jalan umum, supaya baunya tidak terendus orang lalu."
Orang itu berjalan pula beberapa langkah, lalu menaruh mayat kawannya di bawah pohon, katanya dengan tergegap.
"Biarlah kutaruh, di ... di sini saja, be ... besok akan kudatang lagi dengan ... dengan membawa cangkul untuk ... untuk menggali liang kubur baginya."
"Baiklah,"
Kata Bun-hiong.
"Eh, siapa namamu, hah?"
"Hamba bernama Kiau Si,"
Jawab orang itu dengan hormat. Bun-hiong menyodorkan tali kendali kudanya dan berkata.
"Bawakan kudaku!"
Orang itu merasa bingung dan sangsi, dengan gelagapan ia tanya.
"Maksud ... maksud Toaya hendak ...."
"Bertamu ke sarang kalian di atas gunung,"
Tukas Bun-hiong dengan tertawa. Lelaki itu terperanjat.
"Hahh, masa Toaya bermaksud mengubrak-abrik Thian-eng-ceh (sarang elang langit) kami?"
"Tidak pasti,"
Ujar Bun-hiong dengan tersenyum.
"Asalkan Cecu kalian cukup ramah tamah kepadaku, dengan sendirinya takkan kuganggu. Nah, ayolah berangkat!"
Orang itu tidak berani membantah, terpaksa ia terima tali kendali kuda dan menuntunnya menuju ke atas gunung.
Bun-hiong ikut dari belakang sambil memandang kian kemari, pemandangan pegunungan ini ternyata cukup indah.
"Apakah jauh?"
Tanyanya kemudian.
"Makan waktu berapa lama?"
"Ah, tidak jauh, tidak sampai setengah jam akan tiba di atas,"
Jawab orang itu.
"Kecuali Jik-hoat-kui Pit Tiang-siu, apakah masih ada tokoh lain yang menonjol di sarang kalian?"
Tanya Bun-hiong.
"Masih ada lagi istri Cecu kami, namanya Hoa Sam-nio berjuluk Oh-bi-kui (mawar hitam) dan Jicecu (wakil pemimpin) Tok-pi-kau (kera tangan satu) Kiong Tay-goan."
"Apakah kalian sering melakukan pembegalan?"
Tanya Bunhiong pula.
"O, tidak,"
Cepat orang itu menjawab.
"hanya pada waktu kekurangan perbekalan saja barulah kami turun dari gunung untuk minta bantuan kepada penduduk di sekitar sini, pula kami selama ini tidak pernah membunuh orang."
"Hm, omong kosong,"
Jengek Bun-hiong dengan tertawa.
"Betul, hamba tidak bohong,"
Orang itu berusaha meyakinkan Bun-hiong.
"Jika kaum bandit umumnya suka bertindak kejam, Thian-eng-ceh kami justru tergolong penyamun yang memerhatikan perikemanusiaan. Kami tidak main bunuh, tidak suka membakar rumah, sebaliknya kami malah sering menolong orang miskin."
"Haha, kaum bandit suka menolong orang miskin? Wah, sungguh berita besar,"
Ucap Bun-hiong dengan tertawa ejek.
"Tapi ... tapi memang begitulah,"
Orang itu bertutur lagi.
"seperti hamba, bulan yang lalu pernah kubantu seorang nenek sengsara dengan 20 tahil perak dan ...."
"Ah, sudahlah, kalau sudah kukatakan takkan kubunuhmu tentu kutepati janjiku, tidak perlu mengoceh macam-macam urusan untuk minta belas kasihanku,"
Kata Bun-hiong.
Orang itu serupa kena ditampar mukanya, ia tidak berani nyanyap lagi.
Dengan menuntun kuda ia terus mendaki ke atas gunung, tidak lama kemudian sampailah di kaki sebuah puncak, ia tuding ke atas puncak dan berkata.
"Itu, di sana letak Thianeng-ceh kami."
"Oo, terus saja ke atas,"
Kata Bun-hiong.
Orang itu mengiakan, lalu mendahului menuju ke atas puncak melalui sebuah jalan tanjakan.
Jalan ini lebarnya cuma empat-lima kaki, satu meter lebih, melingkar dan berbelok menjulur ke atas puncak.
Pepohonan yang berbaris di kedua tepi jalan serupa pagar sehingga menambah keindahan pemandangan.
Belum seberapa jauh, mendadak lelaki itu menoleh dan bertanya.
"Mohon tanya, siapakah nama Toaya yang mulai?"
"Untuk apa kau tanya namaku?"
Jawab Bun-hiong kurang senang.
"Maklumlah, bilamana naik lagi ke atas harus melalui belasan pos penjagaan,"
Tutu orang itu.
"Kalau kita tidak memberitahukan nama, sebelum tiba di tempat penjagaan akan segera dihujani anak panah."
"Aku tidak takut dipanah,"
Ujar Bun-hiong dengan tertawa.
"Tentu saja Toaya tidak takut, tapi hamba bisa mati konyol,"
Ujar orang itu sambil menyengir.
"Bilamana mereka melihat hamba membawa kemari orang yang tidak dikenal, tentu hamba akan dipanah mati sekaligus."
"Baiklah,"
Kota Bun-hiong dengan tertawa.
"Bila ditanya mereka nanti, katakan saja Hou-hiap Pang Bun-hiong datang bertamu ke sini."
Orang itu tampak terperanjat, serunya.
"Hah, jadi Anda ini Hou-hiap yang termasyhur di dunia persilatan itu?"
Bun-hiong manggut-manggut. Orang itu menarik napas dingin, katanya.
"Pantas Anda sedemikian lihai, kiranya engkau adalah Hou-hiap Pang Bunhiong yang termasyhur."
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong dari balik hutan sana ada orang berteriak menegur.
"Hai, Kiau Si, siapa itu yang datang bersamamu?"
Hanya terdengar suaranya dan tidak kelihatan orang yang bicara, nyata penegur itu bersembunyi di suatu tempat yang tertutup rapat. Cepat Kiau Si berhenti melangkah dan menjawab.
"O, yang kubawa ini ialah Hou-hiap Pang Bun-hiong, beliau ingin bertemu dengan Cecu kita."
Pengintai yang tidak kelihatan itu bertanya pula.
"Apa maksud kedatangannya?"
"Tidak ... tidak bermaksud jahat,"
Jawab Kiau Si.
"Baiklah, boleh naik ke atas,"
Seru pengintai tersembunyi itu.
Setelah mendapat izin barulah Kiau Si berani beranjak lagi ke atas.
Selanjutnya masih melalui lagi lima pos penjaga yang tidak kelihatan, sesudah ditegur lagi baru boleh melanjutkan perjalanan, setelah melintasi pinggang puncak gunung lantas tidak ada pos jaga lagi.
"Tadi kau bilang sepanjang jalan ada belasan pos penjagaan, kenapa hanya enam pos saja yang menegurmu?"
Tanya Bunhiong.
"Ya, ini menandakan Cecu kami sudah menerima laporan, maka telah memberi perintah agar engkau diizinkan naik ke atas, sebab itulah pos jaga lain tidak perlu memeriksa dan bertanya lagi."
"O, kiranya begitu."
Dan setelah melingkar lagi beberapa kali, sampailah mereka di puncak gunung.
Puncak gunung ini sangat luas, sepanjang mata memandang terlihat di luar sarang bandit itu dilingkari pagar kayu yang tinggi, setiap kayu pagar itu panjang dan besar dan ujung atas pagar kayu itu dibuat runcing.
Bangunan pintu gerbangnya juga kelihatan kukuh dan megah, bentuknya serupa loteng benteng.
Kedua sayap pintunya terbuat dari besi dan di atas pintu bergantung sebuah pigura besar dengan tulisan "Thian-eng-ceh".
Karena pagar kayu itu sangat tinggi sehingga tidak kelihatan keadaan di balik sarang bandit itu.
Meski keadaan sarang bandit itu tidak terlihat, namun beberapa gembongnya menurut perkiraan Bun-hiong sudah muncul.
Mereka terdiri dari dua lelaki dan seorang perempuan, ketiganya berdiri berjajar di atas panggung gerbang.
Lelaki yang berdiri di tengah itu berusia mendekati 50-an, rambutnya berwarna merah kekuning-kuningan, mukanya jelek dan bengis serupa setan, jelas dia inilah kepala banditnya yang bernama Pit Tiang-siu dan berjuluk Jik-hoatkui alias setan berambut pirang.
Perempuan yang berdiri di sebelah kanannya berusia 30 tahun lebih, warna kulitnya kehitam-hitaman, kelihatan cantik manis, agaknya dia inilah istri Pit Tiang-siu yang bernama Hoa Samnio dan berjuluk Oh-bi-kui atau si mawar hitam.
Dan yang berdiri di sisi kiri adalah seorang lelaki berumur 40-an, mukanya kurus tirus, kedua matanya kecil, lengan baju kiri tampak kosong dan berkibar tertiup angin, jelas lengan kirinya buntung, tidak perlu dijelaskan lagi dia ini pasti wakil Pit Tiang-siu yang bernama Kiong Tay-goan dan berjuluk Tok-pikau alias si kera berlengan satu.
Mereka bertiga berdiri berjajar di atas panggung pintu gerbang, serupa panglima perang yang siap menghadapi pertempuran.
Kiau Si terus mendekati panggung gerbang, lalu bertekuk lutut dan menyembah, serunya.
"Lapor Cecu, inilah Hou-hiap Pang Bun-hiong, dia ... dia ...."
Sama sekali Jik-hoat-kui Pit Tiang-siu tidak menghiraukan Kiau Si, kedua matanya yang besar itu menatap Pang Bun-hiong dengan mencorong, tercetus suaranya yang aneh serupa serigala menyalak.
"Apakah benar Anda ini Hou-hiap Pang Bun-hiong?"
Suaranya melengking tajam dan menusuk telinga, sedikit pun tidak berbau suara manusia. Bun-hiong mengepal kedua tangan sebagai tanda hormat, jawabnya dengan tersenyum.
"Aku ini memang Pang Bunhiong adanya!"
Dengan sikap pongah Jik-hoat-kui Pit Tiang-siu bertanya.
"Lantas ada keperluan apa kau cari diriku?"
"Ah, tiada lain, ingin kuminta maaf kepada Pit-cecu,"
Jawab Bun-hiong dengan tersenyum.
"Minta maaf?"
Pit Tiang-siu terkekeh.
"Hehe, memangnya apa artinya?"
"Begini,"
Tutur Bun-hiong.
"Tadi waktu kulalu di kaki gunung, mendadak dua anak buah kalian muncul hendak membegalku, karena tidak kuketahui mereka adalah anak buah Pit-cecu, seranganku agak keras sedikit sehingga salah seorang di antaranya telanjur kupukul mati. Hatiku merasa tidak tenteram, maka kudatang minta maaf ke sini."
Jik-hoat-kui Pit Tiang-siu tertawa lebar sehingga kelihatan kedua baris giginya yang serupa taring, suara tertawanya juga melengking seram, katanya.
"Hehe, kukira engkau tidak perlu sungkan, ada keperluan apa hendaknya bicara terus terang saja."
"Sama sekali tidak ada maksudku hendak bermusuhan dengan Pit-cecu,"
Kata Bun-hiong pula.
"Apabila Pit-cecu dapat menerima permintaan maafku, maka bolehlah kita bersahabat, hanya begitu saja dan tidak ada lain."
Tentu saja Jik-hoat-kui tidak percaya, ia tertawa dingin.
"Hehe, baiklah, kuterima permintaan maafmu, sekarang bolehlah kau turun ke bawah gunung."
"Eh, masa Pit-cecu memandang rendah diriku sedemikian rupa?"
Tanya Bun-hiong dengan tertawa. Tersembul nafsu membunuh pada wajah Jik-hoat-kui, jengeknya.
"Hm, memangnya apa kehendakmu?"
"Bilamana Pit-cecu benar menganggap aku ini seorang sahabat, seharusnya kan menyilakan aku mampir dan duduk sebentar di tempatmu ini,"
Ujar Bun-hiong.
"Hahaha!"
Mendadak Jik-hoat-kui terbahak.
"Bicara kian kemari sekian lamanya, kiranya kedatanganmu memang bukan untuk minta maaf segala."
"Ai, rupanya Pit-cecu telah salah paham,"
Kata Bun-hiong.
"Kan sudah kukatakan, sama sekali tiada maksudku hendak bermusuhan dengan kalian, asal saja kalian tidak memandangku sebagai musuh, maka kujamin pasti takkan mengganggu sebatang rumput pun di tempat kalian ini."
"Jika begitu, untuk apa kau minta masuk ke tempatku?"
Tanya Jik-hoat-kui.
"Ada dua maksud tujuanku,"
Jawab Bun-hiong.
"Pertama, seperti sudah kukatakan, ingin kuminta maaf kepada Pit-cecu. Kedua, ingin kuganggu beberapa cawan arak kepada Pit-cecu. Bicara terus terang, sudah seharian aku menempuh perjalanan dan sama sekali belum makan apa pun, saat ini perutku lagi kelaparan."
"Dan tidak ada maksud lain?"
Jik-hoat-kui menegas sambil menatap tajam.
"Ya, sama sekali tidak ada,"
Jawab Bun-hiong.
"Kalau dusta!"
Jik-hoat-kui menegas.
"Jika begitu, anggaplah diriku ini manusia rendah yang tidak dapat dipercaya,"
Ucap Bun-hiong. Jik-hoat-kui kelihatan masih ragu, ia berpaling dan tanya sang istri, si mawar hitam Hoa Sam-nio.
"Bagaimana istriku, biarkan dia masuk atau tidak?"
Oh-bi-kui Hoa Sam-nio tertawa mengikik, jawabnya.
"Hihi, sudah tentu, kan semua orang di empat penjuru lautan ini adalah saudara, jika Pang-siauhiap sudah menyatakan tidak ada permusuhan dengan kita, sepantasnya kita memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah."
Suaranya nyaring merdu dan enak didengar, penuh daya pikat. Agaknya Jik-hoat-kui Pit Tiang-siu selalu menuruti setiap perkataan sang istri, segera ia berseru.
"Hai, anak-anak, lekas buka pintu dan menyambut tamu!"
Habis berkata mereka terus turun dari panggung.
Dengan gembira Bun-hiong lantas melangkah ke dalam tanpa gentar sedikit pun.
Jik-hoat-kui menyongsongnya dan mengucapkan "mari", lalu membalik tubuh dan mendahului menuju ke markasnya.
Kompleks perumahan sarang bandit ini seluruhnya meliputi 50-60 buah rumah, di bagian tengah ada tanah lapang yang luas, lebih ke depan lagi adalah sebuah bangunan besar serupa istana.
Sesudah Bun-hiong ikut mereka melintasi lapangan luas itu barulah terlihat jelas gedung besar itu adalah ruang pendopo markas besar sarang bandit ini.
Jik-hoat-kui bertiga menyilakan Bun-hiong masuk ke ruang pendopo, lalu saling memberi hormat dan ambil tempat duduk, segera seorang anak buah menyuguhkan air teh.
Bun-hiong bersikap gagah berani, tanpa gentar kalau-kalau di dalam teh diberi racun, sekali minum ia habiskan isi cangkir.
Oh-bi-kui Hoa Sam-nio tertawa mengikik, katanya.
"Hihi, tabah benar Pang-siauhiap ini, engkau tidak takut di dalam teh ditaruhi racun?"
"Hahaha, takut apa?"
Seru Bun-hiong dengan terbahak.
"Kutahu kalian bukanlah orang rendah yang suka meracun orang, kenapa kutakut? "Bagus, melulu berdasarkan ucapan Pang-siauhiap ini saja sudah pantas kami anggap dirimu sebagai sahabat,"
Kata Ohbi-kui dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Jik-hoat-kui dan berkata pula.
"Eh, suamiku, lekas beri perintah, suruh menyiapkan satu meja perjamuan, kita harus memberi selamat datang kepada Pang-siauhiap."
Jik-hoat-kui Pit Tiang-siu mengiakan, segera ia berteriak.
"Mana orangnya?!"
Serentak seorang anak buahnya berlari masuk dan memberi hormat.
"Hamba siap!"
"Nah, lekas sediakan satu meja perjamuan yang paling lengkap,"
Seru Jik-hoat-kui alias si setan rambut merah. Anak buahnya mengiakan dan cepat mengundurkan diri.
"Ai, Pit-cecu terlampau menghormati diriku,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Sebenarnya aku cuma ingin mengisi perut sekadarnya saja, makan seadanya sudah cukup."
"Mana boleh,"
Kata Jik-hoat-kui.
"Pang-siauhiap adalah tokoh dunia persilatan yang termasyhur, hari ini engkau sudi berkunjung ke tempat kami, inilah suatu kehormatan besar bagi Thian-eng-ceh kami, mana boleh kami sambut secara sembarangan?"
Pang Bun-hiong tertawa, lalu ia berpaling dan memberi hormat kepada Kiong Tay-goan, katanya.
"Dan yang ini tentunya Jicecu Kiong-tayhiap adanya?"
Tok-pi-kau Kiong Tay-goan, si kera berlengan satu, membalas hormat, ucapnya dengan suaranya yang aneh.
"Terima kasih, selanjutnya masih berharap Pang-siauhiap suka sering memberi petunjuk."
Selagi bicara, kedua matanya terus berkedip-kedip, lagaknya serupa benar seekor kera. Bun-hiong lantas memberi hormat pula kepada Jik-hoat-kui dan berkata.
"Secara sembrono tadi kusalah pukul mati seorang saudara kira, untuk itu kuharap Pit-cecu suka memaafkan."
"Ah, tidak menjadi soal,"
Jawab Jik-hoat-kui.
"Mereka sendiri yang buta melek, Pang-siauhiap yang termasyhur juga tidak dikenalnya, pantas juga dia mampus di tangan Pang-siauhiap."
Ia berhenti sejenak, lalu bertanya.
"Eh, hari ini Pang-siauhiap lalu di pegunungan kami ini, entah Pang-siauhiap hendak menuju ke mana?"
"O, karena iseng, maka ingin kupesiar ke daerah selatan, tempat tujuan tertentu sih tidak ada,"
Jawab Bun-hiong.
"Wah, suasana dunia persilatan di daerah selatan beberapa tahun terakhir ini agak kurang tenang,"
Ujar Jik-hoat-kui.
"O, kenapa bisa begitu?"
Tanya Bun-hiong.
"Soalnya sejak Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam dibunuh orang di luar kota Tiang-an, beberapa saudara angkatnya lantas saling bertengkar sendiri sebab masing-masing tidak mau tunduk di bawah perintah yang lain, akhirnya terpecah belah dan setiap orang menduduki suatu pangkalan sendiri-sendiri, lebih dari itu malahan mereka tetap cekcok saja mengenai daerah kekuasaannya, bahkan sering terjadi pertengkaran dengan kekerasan."
"Oo, masa sampai terjadi sejauh itu?"
Ujar Bun-hiong.
"Memang betul,"
Bata Jik-hoat-kui.
"Jarak tempat kami ini terlebih jauh daripada pangkalan mereka, maka selama ini tidak sampai terlibat dalam persengketaan mereka. Namun belum lama ini Ang-liu-soh Ban Sam-hian telah mengutus orangnya ke sini dan minta kami menggabungkan diri dan tunduk di bawah perintahnya."
"Lantas bagaimana, Pit-cecu menerima permintaannya?"
Tanya Bun-hiong.
"Ai, apa boleh buat, umpama menolak juga tidak bisa,"
Kata Jik-hoat-kui dengan menghela napas.
"Kekuatan kami seluruhnya cuma seratus jiwa letih, betapa pun bukan tandingan mereka, bila kami tolak, mungkin segera akan tertimpa malapetaka."
"Tadinya tempat kalian ini berada di bawah perintah siapa!"
Tanya Bun-hiong pula.
"Sebelum Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam terbunuh, setiap tahun kami selalu memberi upeti lima ribu tahil perak kepadanya sehingga praktiknya kami berada di bawah perlindungannya,"
Tutur Jik-hoat-kui.
"Sesudah dia mati, kami mengira sudah bebas, siapa tahu Ang-liu-soh Ban Sam-hian toh tidak mau melepaskan diri kami."
"Kabarnya pada waktu hidupnya Oh Kiam-lam membawahi 72 sarang berandal daerah selatan, sekarang ke-72 sarang berandal itu telah dibagi-bagi, di bawah pengaruh Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh."
"Betul, memang begitu. Konon kekuatan Ban Sam-hian terhitung paling besar, seorang diri menguasai 17 sarang, jika ditambah lagi Thian-eng-ceh kami akan jadilah 18 pangkalan."
"Dan bagaimana dengan saudara-saudara angkatnya yang lain?"
Tanya Bun-hiong.
"Cian-in-jiu Loh Bok-kong menguasai 13 sarang, In-tiong-yan Pokyang Thian memerintah sepuluh sarang, Kim-ci-pa Song Goan-po juga sepuluh, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan cuma menguasai sembilan tempat, sedangkan Tok-gan-bu-siang Ong Siang menduduki tujuh tempat dan si tembong Seng Ithong cuma mendapatkan lima."
"In-tiong-yan Pokyang Thian sudah terbunuh oleh Hiat-pitsiucay Hui Giok-koan, selanjutnya kesepuluh pangkalan yang dikuasainya mungkin akan jatuh ke tangan Hui Giok-koan."
Jik-hoat-kui terkejut.
"Hah, kau bilang Pokyang Thian telah dibunuh oleh Hui Giok-koan?"
"Betul,"
Bun-hiong mengangguk.
"Aneh,"
Ucap Jik-hoat-kui dengan heran.
"mengapa tidak kudengar berita ini?"
"Hal ini baru terjadi belum lama berselang, kusaksikan sendiri dengan Liong-hiap Liong It-hiong,"
Tutur Bun-hiong.
"Sesungguhnya apa yang terjadi? Mengapa saling bunuh di antara mereka?"
Tanya Jik-hoat-kui.
"Lantaran berebut sebuah kotak hitam,"
Tutur Bun-hiong.
"Apakah Pit-cecu tidak pernah dengar peristiwa mengenai kotak hitam itu?"
"Tidak pernah, kotak hitam macam apa?"
Tanya Jik-hoat-kui. Selagi Bun-hiong hendak menjelaskan, tiba-tiba datang dua anak buah memberitahukan bahwa meja perjamuan sudah siap. Segera Jik-hoat-kui berdiri dan berkata.
"Mari kita makanminum sambil melanjutkan pembicaraan."
Maka mereka berempat lantas meninggalkan ruang pendopo dan menuju ke ruang makan yang terpajang dengan indah, terlihat satu meja penuh hidangan sudah siap, di samping berdiri dua pelayan perempuan sehingga suasana serupa di rumah orang hartawan.
Kini Jik-hoat-kui sudah tidak punya rasa permusuhan lagi terhadap Pang Bun-hiong, dengan ramah ia menyilakan Bunhiong duduk di tempat paling terhormat.
Di bawah layanan kedua gadis pelayan mereka berempat lantas makan minum sambil mengobrol.
Setelah minum dua tiga cawan arak, Oh-bi-kui Hoa Sam-nio membuka pembicaraan.
"Pang-siauhiap, tadi kau bilang mereka saling berebut kotak hitam, sesungguhnya barang macam apakah kotak hitam itu?"
"Yaitu sebuah peti hitam yang terbuat dengan sangat bagus, apa isi peti itu tidak kuketahui,"
Tutur Bun-hiong.
"Persoalannya dimulai diri seorang yang bernama Si Hin ...."
Begitulah lantas diuraikannya secara ringkas sejak Liong Ithiong mendapat pesan dari Si Hin yang sekarat itu, cuma urusan yang menyangkut Oh Beng-ay tidak diceritakannya, sebab tujuannya menyebarkan isu, dengan sendirinya kejadian yang sebenarnya tidak diucapkannya.
Jik-hoat-kui terheran-heran setelah mendengar kisah itu, katanya.
"Wah, jika begitu, isi peti hitam itu pasti benda mestika yang sangat berharga, kalau tidak masakah sampai menimbulkan incaran orang sebanyak itu?"
"Ya, memang begitulah,"
Kata Bun-hiong.
"Belum lama berselang memang kudengar juga bahwa akhirakhir ini di daerah utara muncul seorang tokoh misterius, katanya hanya dalam waktu beberapa bulan saja tokoh misterius ini sudah menguasai dunia Lok-lim (rimba hijau, istilah lain bagi kaum bandit) dan jadilah dia pemimpin besar 36 sarang bandit di lima provinsi daerah utara. Cuma belum diketahui siapa tokoh misterius itu, masa bisa begitu lihai?"
"Betul, sekarang dia bercokol di Cap-pek-pan-nia,"
Tukas Bunhiong.
"Tampaknya dalam waktu tidak lama lagi semua orang akan tahu siapa gerangannya. Seorang gembong dunia Loklim yang begitu hebat tidak ada alasan menyembunyikan she dan namanya."
"Ya, betul,"
Jik-hoat-kui mengangguk.
"Apakah kotak hitam itu milik tokoh misterius itu?"
Tanya si mawar hitam Hoa Sam-nio.
"Kukira bukan, jika miliknya, mustahil sampai jatuh di dunia Kangouw?"
Ujar Bun-hiong.
"Maka menurut pendapatku, kotak itu hanya barang yang dikehendakinya, atau dengan lain perkataan, kotak itu dirampas oleh Si Hin dari tangan seseorang dan hendak diantar ke Cap-pek-pan-nia, namun di tengah jalan ia kepergok dan kotak itu hendak dirampas orang, dia tidak mampu melawannya dan terluka parah, terpaksa ia serahkan peti itu kepada Liong It-hiong dan minta dia mengantar peti itu ke Cap-pek-pan-nia."
"Dan sekarang apakah Liong-hiap benar-benar hendak mengantarkan peti itu ke Cap-pek-pan-nia?"
Tanya Jik-hoatkui.
"Betul,"
Jawab Bun-hiong.
"Cuma sekarang kotak hitam itu telah jatuh ke tangan Hiat-pit-siucay sehingga dia gagal memenuhi permintaan Si Hin."
"Ah, kupaham sekarang,"
Ucap Jik-hoat-kui tiba-tiba dengan tertawa.
"O, Pit-cecu paham apa?"
Tanya Bun-hiong dengan melengak.
"Kedatangan Pang-siauhiap ini bermaksud membantu Lionghiap menemukan kembali kotak hitam itu, begitu bukan?"
Tanya Jik-hoat-kui dengan tertawa. Bun-hiong pikir umpama menyangkal juga takkan dipercaya, maka ia mengangguk dan berkata.
"Betul, apabila Pit-cecu tahu di mana beradanya Hiat-pit-siucay, mohon suka memberitahukan padaku."
"Konon sembilan pangkalan di daerah Anhui dan Ohlam kini telah dikuasai oleh Hui Giok-koan, jika Pang-siauhiap hendak mencarinya boleh ke tempat-tempat itu, tentu akan menemukan dia."
"Dia bercokol di pegunungan mana?"
Tanya Bun-hiong.
"Aku pun tidak terlalu jelas, sangat mungkin dia berdiam di Hek-liong-ceh, sebab di antara kesembilan pangkalan yang didudukinya, Hek-liong-ceh terhitung yang terbesar."
Bun-hiong mengangguk.
"Bagus, jika begitu segera kupergi ke Hek-liong-ceh, banyak terima kasih atas petunjuk Pit-cecu."
"Ah, soal kecil,"
Ujar Jik-hoat-kui.
"Cuma kuharap jangan Pang-siauhiap bilang akulah yang memberi info ini, sebab aku tidak berani berurusan dengan dia."
"Tidak, Pit-cecu jangan khawatir,"
Kata Bun-hiong tertawa. Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 10 Jik-hoat-kui menggeleng kepala dan menghela napas, katanya.
"Sungguh tidak nyana begitu Oh-bengcu mati, beberapa saudara angkatnya lantas saling berebut kekuasaan sehingga tercerai-berai begini, sungguh menyedihkan ...."
"Apakah Pit-cecu tahu Oh Kiam-lam mati di tangan siapa?"
Tanya Bun-hiong.
"Tidak tahu,"
Jawab Jik-hoat-kui.
"Pernah juga kupikir mungkin perbuatan Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh, tapi setelah kurenungkan lagi rasanya tidak mungkin, sebab mereka bertujuh selama ini cuma akur di luar dan retak di dalam, tidak nanti mereka bergabung untuk membereskan Oh Kiam-lam. Pula tidak mungkin dilakukan oleh satu-dua orang di antara mereka, sebab Kungfu Oh Kiam-lam mahatinggi, kalau cuma satu-dua orang saja tidak mungkin dapat membunuhnya."
"Mungkinkah perbuatan tokoh misterius dari Cap-pek-pan-nia itu?"
Tanya Bun-hiong. Jik-hoat-kui mengangguk.
"Mungkin saja, cuma jika dia sudah membunuh Oh Kiam-lam, kenapa dia tidak menggantikan kedudukannya, tapi justru lari ke daerah utara untuk mencari pengaruh di sana?"
"Ya, ini memang janggal,"
Kata Bun-hiong. Ia angkat cawan bersama mereka bertiga, habis minum ia menyambung pula.
"Apakah Pit-cecu tahu Oh Kiam-lam mempunyai seorang adik perempuan, namanya Oh Beng-ay?"
"Tahu,"
Jawab Jik-hoat-kui.
"Beberapa tahun yang lalu ketika kuantar upeti ke Kiu-liong-san pernah melihatnya sekali, waktu itu dia masih anak dara kecil, entah bagaimana keadaannya sekarang!"
"Pernahkah dia belajar ilmu silat!"
Tanya Bun-hiong.
"Wah, hal ini aku kurang jelas."
Jawab Jik-hoat-kui. Bun-hiong menghela napas.
"Dia sangat kasihan, konon setelah kakaknya mati, Ban Sam-hian dan lain-lain tidak mau menerimanya dan mengusirnya pergi, karena hidupnya sengsara, terpaksa ia terjerumus ke dunia pelacuran."
"Masa begitu?"
Ucap Jik-hoat-kui dengan heran.
"Wah, Ban Sam-hias dan lain-lain juga keterlaluan, apa sulitnya memberi makan kepada seorang nona, masa tega mengusirnya segala?"
"Memang begitulah kejadiannya, dari sini pun terbukti bahwa Ban Sam-hian dan sekomplotannya itu adalah makhluk berdarah dingin."
"Sekarang nona Oh itu menjadi pelacur di mana?"
Tanya Jikhoat-kui.
"Semula tinggal di Lau-jun-ih kota Kim-tan, kemudian pindah ke Boan-wan-jun di Kim-leng, cuma beberapa-hari yang lalu dia telah diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui."
"Hah, apa katamu?"
Seru Jik-hoat-kui kaget.
"Kau bilang dia diculik Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?"
"Ya, kejadian itu kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, hari itu kebetulan kupesiar juga ke Boan-wan-jun ...."
Begitulah ia lantas menguraikan cerita yang sengaja dikarangnya itu. Jik-hoat-kui menghela napas gegetun, ucapnya.
"Ai, jelas nona Oh itu pasti akan celaka. Sayang, nona secantik itu harus jatuh ke dalam cengkeraman iblis cabul itu, sungguh tragis."
"Konon antara Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui dan Oh Kiamlam ada permusuhan yang sangat mendalam, apa betul?"
Tanya Bun-hiong.
"Betul,"
Jawab Jik-hoat-kui.
"Belasan tahun yang lalu Kongsun Siau-hui sebenarnya gembong dunia penjahat di daerah selatan, kemudian Oh Kiam-lam semakin menonjol dan keduanya bersaing, mereka telah bertarung sengit selama tiga hari tiga malam, akhirnya Oh Kiam-lam dapat mengalahkannya dan permusuhan mereka dengan sendirinya tambah dalam."
Baru sekarang Bun-hiong tahu seluk-beluk permusuhan Oh Kiam-lam dengan Kongsun Siau-hui, katanya.
"Jika begitu, Kongsun Siau-hui juga salah, kalau dia mau menuntut balas seharusnya sasarannya ialah Oh Kiam-lam, mana boleh melampiaskan dendamnya terhadap adik perempuan musuh yang sudah mati itu."
"Memang betul juga,"
Tukas Jik-hoat-kui.
"Tindakan ini jelas kurang kesatria."
"Sayang aku bukan tandingan Kongsun Siau-hui, kalau tidak pasti akan kutolong nona Oh dari cengkeraman iblis itu,"
Ujar Bun-hiong.
"Apakah Pang-siauhiap tahu tempat kediaman Kiu-bwe-hou?"
Tanya Jik-hoat-kui.
"Tahu,"
Tutur Bun-hiong.
"pada waktu nona Oh diculik, diamdiam pernah kubuntuti dia."
"Oo, di mana tempat tinggalnya?"
Tanya Jik-hoat-kui pula.
"Wah, maaf, untuk ini tidak dapat kuberi tahukan,"
Jawab Bun-hiong dengan menyesal.
"Memangnya kenapa? Jik-hoat-kui menegas dengan melengak.
"Sebab aku tidak ingin merecoki dia,"
Kata Bun-hiong.
"Hanya menyebut tempat tinggalnya kan tidak berarti merecoki dia?"
Ujar Jik-hoat-kui.
"Tidak, tidak berani kukatakan,"
Kata Bun-hiong pula.
"Sebab setelah kuberi tahukan kepada Pit-cecu, bukan mustahil engkau akan menyiarkan juga berita ini, tatkala mana tentu ada orang yang akan coba-coba menyelidiki sarang Kiu-bwehou, dan bilamana diusutnya lebih lanjut, akhirnya tentu akan ketahuan akulah yang menyiarkan tempat kediamannya itu. Maka lebih selamat tidak kukatakan saja."
Tiba-tiba Oh-bi-kui alias si mawar hitam tertawa mengikik.
"Hihi, mengapa Pang-siauhiap menjadi begini takut kepada Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?"
"Semua orang tahu dia memang tokoh yang disegani, dan Cayhe sendiri tahu bukan tandingannya, dengan sendirinya kujeri padanya,"
Bun-hiong dengan menyengir.
"Padahal menurut pendapatku, seharusnya Pang-siauhiap harus membela keadilan dari berani menyelamatkan nona Oh dari cengkeraman si rase ekor sembilan itu,"
Ujar si mawar hitam dengan tertawa. Bun-hiong menggeleng, jawabnya.
"Tidak, tidak mau, dia bukan pacarku, juga bukan sanak kadangku, buat apa aku mencari penyakit sendiri?"
Mendadak Tok-pi-kau Kiong Tay-goan, si kera berlengan satu berseru.
"Kuharap Pang-siauhiap suka memberitahukan tempat tinggal Kiu-bwe-hou, kami berjanji takkan menyiarkan bahwa berita ini berasal dari Pang-siauhiap."
Tapi Bun-hiong sengaja menggeleng-geleng kepala lagi, katanya.
"Tidak, sukar untuk menerima jaminan demikian."
"Haha, jadi Pang-siauhiap tidak percaya kepada kami bertiga?"
Tanya Tok-pi-kau Kiong Tay-goan dengan tertawa. Tiba-tiba Bun-hiong balas tanya.
"Apakah Kiong-jicecu sendiri bermaksud menolong nona Oh?"
Si kera berlengan satu Kiong Tay-goan mengangguk, katanya.
"Betul, sebab Oh Kiam-lam pernah menyelamatkan jiwaku, maka ingin kupergi menolong adik perempuannya untuk membalas budi yang kuutang padanya."
"Tidak, tidak bisa,"
Jawab Bun-hiong.
"Aku tidak boleh membikin susah Kiong-jicecu meski engkau ingin mengantar nyawa."
"Betul juga,"
Sambung Jik-hoat-kui mendadak.
"Saudaraku yang baik, kukira urusan menolong nona Oh mutlak tidak dapat dilaksanakan hanya dengan kemampuanmu. Pula nona Oh sudah sekian lama diculik oleh Kiu-bwe-hou, sangat mungkin dia sudah dibunuh oleh rase ekor sembilan yang kejam itu."
"Untuk ini kukira belum tentu,"
Tukas Bun-hiong.
"Kiu-bwe-hou adalah iblis penggemar perempuan yang terkenal, kuyakin dia takkan begitu saja membunuh nona Oh. Cuma ucapan Pitcecu juga betul, urusan ini mutlak tidak dapat dilaksanakan oleh Kiong-jicecu seorang, maka lebih baik engkau jangan ikut campur urusan ini."
Mendadak Tok-pi-kau Kiong Tay-goan berteriak.
"Mendingan aku tidak tahu urusan ini, sekali sudah tahu, betapa pun hatiku takkan tenteram jika tidak kuselamatkan nona Oh ...."
"Apakah Kiong-jicecu tahu nona Oh itu mempunyai sanak famili?"
Tanya Bun-hiong.
"Mungkin saja dia mempunyai sanak famili, cuma aku sendiri tidak tahu jelas,"
Jawab Kiong Tay-goan.
"Bila betul tentang diculiknya nona Oh oleh Kiu-bwe-hou, menurut pendapat Kiong-jicecu, siapakah kiranya orang pertama yang akan pergi menolongnya?"
Tanya Bun-hiong. Kiong Tay-goan berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Setahuku, yang berhubungan paling erat dengan nona Oh adalah Cay-keh-hujin (si nyonya kawin lagi) Lau Sam-koh, kalau dia mendengar berita diculiknya nona Oh, sangat mungkin dia orang pertama yang ingin menolong nona Oh."
"Ada hubungan apakah antara Cay-keh-hujin Lau Sam-koh dengan nona Oh?"
Tanya Bun-hiong pula. Si kera lengan satu menjawab.
"Si nyonya yang suka kawincerai itu adalah Suci (kakak perempuan seperguruan) Oh Kiam-lam, konon ada hubungan erat antara sesama saudara seperguruan mereka."
Bun-hiong manggut-manggut, pikirnya.
"Orang yang ingin ditangkap Tui-beng-poan-koan apakah mungkin ialah Cay-kehhujin Lau Sam-koh ini?"
Setelah dipikir lagi, ia merasa hal ini memang mungkin, segera ia tanya lagi.
"Apa Kiong-jicecu tahu di mana tempat tinggal Cay-keh-hujin Lau Sam-koh?"
"Entah, aku tidak tahu,"
Jawab si kera lengan satu sambil menggeleng.
"Dia sering berganti suami sehingga sukar diketahui sekarang dia tinggal di mana."
"Eh, kalau Pang-siauhiap ingin bertemu dengan Cay-keh-hujin Lau Sam-koh, rasanya dapat kuberi petunjuk suatu tempat,"
Sela si mawar hitam Hoa Sam-nio tiba-tiba.
"Aha, bagus,"
Seru Bun-hiong girang.
"Dia tinggal di mana sekarang?"
Dengan tertawa si mawar hitam bertutur.
"Dia berjuluk si nyonya suka kawin, jadi entah sudah berapa kali dia telah kawin-cerai. Setahuku, selama tiga tahun terakhir ini dia sudah berganti suami tiga kali. Tahun yang lalu suaminya adalah seorang tukang nujum bernama Thi-kau-siang-su Ih Cek-tong, paling akhir kabarnya dia akan cerai dan menikah lagi dengan Hoan-yang-tio-ong Siau It-ho, si kakek tukang mancing di danau Hoan-yang-oh. Maka kuyakin bila engkau pergi ke danau tersebut pasti dapat menemukan dia."
Pang Bun-hiong sendiri sudah sering juga mendengar cerita tentang si kakek tukang kail dari Hoan-yang-oh itu, diketahuinya sebagai seorang tokoh kelas tinggi dunia persilatan yang alim, maka cerita si mawar hitam bahwa kakek alim itu mungkin akan mengawini Lau Sam-koh, tentu saja ia heran dan ragu, tanyanya.
"Apakah benar Siau It-ho akan mengambil perempuan semacam Lau Sam-koh sebagai istri?"
Oh-bi-kui Hoa Sam-nio menjawab.
"Jika dinilai dari pribadi Siau It-ho dan cara hidupnya sehari-hari, dia memang tidak mungkin menikahi Lau Sam-koh, namun manusia pada umumnya tambah tua tambah linglung, bisa jadi kakek tukang mancing itu, juga sedang keblinger dan bukan mustahil dia benar-benar akan mengawini perempuan yang suka kawincerai itu."
"Baik,"
Kata Bun-hiong.
"dari sini ke Hoan-yang-oh jaraknya tidak terlalu jauh, biarlah segera kupergi ke sana untuk mencarinya."
Mereka terus makan-minum dan mengobrol lagi ke timur dan ke barat. Mendadak Jik-hoat-kui berkata dengan tertawa.
"Pang siauhiap, sudah lama kudengar Kungfumu lain daripada yang lain, apakah sudi memperlihatkan sejurus-dua agar menambah pengalaman kami?"
Bun-hiong tahu apa yang diminta tuan rumah itu adalah "peraturan"
Bagi seorang yang berani bertamu ke atas gunung, jika dirinya tidak memperlihatkan satu-dua jurus dan menaklukkan mereka dengan Kungfu sejati, akibatnya tentu akan sulit baginya untuk meninggalkan gunung dengan begitu saja.
Segera ia mengangguk, katanya dengan tertawa.
"Baik, aku menurut saja. Cuma apa yang kupahami hanya sedikit kepandaian tak berarti dan mungkin tidak berharga untuk dipertontonkan di depan orang banyak, untuk itu kuharap Pitcecu suka memberi petunjuk."
"Ah jangan rendah hati,"
Kata Jik-hoat-kui dengan tertawa.
"Sekarang hendak kuperlihatkan sedikit kepandaian tak berarti, habis itu akan kumainkan semacam Ginkang untuk minta petunjuk kepada kalian,"
Ucap Bun-hiong. Lalu ia berpaling dan berkata kepada seorang pelayan gadis cilik di belakangnya.
"Nona ini, silakan ke belakang dan bubutkan sebatang rumput bagi permainanku nanti."
Pelayan itu mengiakan terus melangkah pergi.
Tidak lama kemudian ia datang kembali dengan membawa sebatang rumput yang panjangnya antara tujuh dim.
Bunhiong menerimanya dengan ucapan terima kasih, lalu ia ambil sebuah mangkuk kosong yang tersedia di meja, ia berdiri, katanya dengan tertawa.
"Nah, harap kalian melihat dengan jelas, sekarang juga kupertunjukkan permainan jelek ini."
Habis berkata, ia mengerahkan tenaga pada tangan kanan, rumput yang lemas itu dibuat tegak lurus menghadap ke udara.
Dengan tenaga dalam membuat rumput yang lemas itu menjadi tegak lurus ke atas, hal ini dapat dilakukan oleh siapa pun yang mempunyai sedikit dasar Lwekang, maka Jik-hoatkui bertiga tidak merasa heran.
Menyusul Bun-hiong lantas melemparkan mangkuk kosong ke atas dan dengan gesit ia gunakan ujung rumput yang menegak itu untuk menahan pantat mangkuk, kemudian digoyangkan beberapa kali dengan perlahan, maka berputarlah mangkuk kosong itu dengan menggunakan batang rumput itu sebagai sumbu penahan.
Kepandaian ini agak istimewa, tapi juga bukan Kungfu kelas wahid, maka Jik-hoat-kui bertiga tetap tidak memperlihatkan rasa kejut dan kagum.
Bun-hiong lantas berjalan mondar-mandir di ruangan sambil membawa mangkuk kosong berputar yang disangga batang rumput itu, setelah berputar lagi sekian lama mangkuk itu, mendadak ia memasang kuda-kuda dengan kuat lalu membentak.
"Pecah!"
"Prak", tahu-tahu mangkuk kosong itu hancur berantakan serupa meledak di udara. Kejadian ini baru membuat air muka Jik-hoat-kui bertiga sama berubah. Memang tidak sulit kepandaian menyangga sebuah mangkuk kosong dengan sebatang rumput, tapi untuk menyalurkan tenaga dalam melalui batang rumput dan menghancurkan mangkuk itu, hal ini diperlukan Lwekang mendalam. Untuk ini Jik-hoat-kui bertiga merasa belum mencapai setaraf itu, sebab itulah mereka merasa kagum dan takluk kepada Pang Bunhiong. Begitulah tanpa terasa ketiga orang lantas berkeplok dan bersorak memuji.
"Ah, permainan jelek, terima kasih atas pujian kalian,"
Seru Bun-hiong dengan tertawa.
"Sekarang silakan kalian ke luar sana, biar kumainkan lagi sejurus Ginkang untuk menambah kegembiraan kalian."
Habis bicara ia lantas mendahului melangkah keluar.
Jik-hoat-kui bertiga menduga Ginkang yang akan dipertunjukkan anak muda itu pasti terlebih hebat dan lain daripada yang lain, maka beramai-ramai mereka lantas ikut ke luar.
Bun-hiong langsung menuju ke tengah lapangan, katanya.
"Nah, bolehlah di sini saja."
Segera ia meraba pinggangnya.
"sret", pedang dilolosnya. Tercengang juga Jik-hoat-kui melihat anak muda itu menghunus pedang, tanyanya.
"Pang-siauhiap, engkau bilang hendak mempertunjukkan Ginkang kenapa pakai pedang?"
Ia merasa bukan tandingan Pang Bun-hiong bilamana harus bertanding dengan dia, maka berdebar juga hatinya ketika melihat orang melolos senjata. Dengan tertawa Bun-hiong menjawab.
"Betul, memang hendak kupertunjukkan Ginkang, Ginkang yang akan kumainkan ini bernama "Tah-kiam-heng" (meluncur dengan menginjak pedang)."
Baru habis ucapannya mendadak ia putar pedangnya terus dilemparkan sekuatnya.
Seketika pedang itu berubah selarik cahaya perak dan terbang meluncur cepat ke depan.
Menyusul Bun-hiong lantas bersuit panjang, secepat terbang tubuhnya mengapung ke atas dan memburu ke arah meluncurnya pedang, kedua kaki tepat menginjak pada batang pedang dan membiarkan dirinya dibawa terbang ke depan oleh pedang meluncur itu.
Seketika Jik-hoat-kui bertiga melongo dan terbelalak serupa melihat dewa pedang turun dari langit, semuanya terkesima.
Dengan menumpang pedang meluncur itu hingga mencapai enam-tujuh tombak jauhnya barulah daya luncur pedang itu menurun dan tepat sampai di depan gerbang sana.
Kuda Bun-hiong kebetulan tertambat di situ, segera ia tangkap kembali pedangnya dan dimasukkan ke dalam sarung pedang, lalu melepas tambatan kuda terus mencemplak ke atas kudanya sambil berseru dengan tertawa.
"Pit-cecu, terima kasih banyak atas pelayananmu, kumohon diri sekarang!"
Sekali kuda berjingkrak, serentak membedal ke depan secepat terbang ....
Petang esok harinya dia sudah berada di tepi danau Hoanyang-oh.
Danau Hoan yang terhitung juga danau raksasa, luasnya cuma di bawah Thay-oh, wilayahnya meliputi belasan kabupaten, di tengah danau terdapat beberapa pulau kecil, pemandangan indah permai, danau ini pun banyak menghasilkan ikan hingga banyak kaum nelayan mengandalkan ikan danau sebagai mata pencarian.
Tempat yang dituju Bun-hiong di tepi danau itu bernama Lohsing-oh, ia tidak tahu di mana tempat tinggal si kakek tukang kail Siau It-ho, ketika dilihatnya di tepi danau berlabuh sebuah perahu nelayan dan di atas perahu ada seorang kakek sedang menjala ikan, segera ia mendekatinya dan menyapa.
Kakek itu berpaling dan bertanya.
"Saudara ini ada urusan apa?"
"Cayhe ingin mencari Hoan-yang-tio-ong Siau It-ho, Siaulocianpwe, apakah Lotiang (bapak tua) mengetahui di mana tempat tinggalnya?"
Kata Bun-hiong.
"Oo,"
Kakek itu bersuara sambil menuding ke arah utara.
"Itu, dia sedang mancing tidak jauh di tepi danau sana, yaitu kakek yang memakai sebuah caping lebar, sekali pandang saja lantas tahu."
"Terima kasih,"
Kata Bun-hiong sambil memberi hormat, lalu ia menyusur tepi danau dengan menuntun kudanya.
Tidak jauh ia berjalan, benar juga dilihatnya di tepi danau, di atas sepotong papan apung berjongkok seorang kakek yang memakai sebuah caping lebar dan sedang mancing, tapi di sampingnya ada pula duduk seorang kakek lain yang asyik mengobrol dengan dia.
Kakek kedua itu memegang sebuah buli-buli arak dan sedang membujuk si kakek tukang mancing agar mau minum, katanya.
"Ayolah, minum sedikit, takut apa?"
"Tidak, tidak boleh,"
Si kakek tukang mancing menggeleng kepala.
"Bisa celaka kalau sampai bau arak tercium olehnya."
"Haha, ini kan gampang, asalkan kau pulang agak lambat, tentu akan hilang baunya dan takkan diketahuinya,"
Ujar si kakek kedua dengan tertawa.
"Hm, mana kau tahu? Hidungnya tajam serupa hidung anjing, segala macam bau dapat diendusnya dengan tepat,"
Kata si tukang mancing.
"Ai, sungguh aku ikut penasaran bagimu,"
Ujar si kakek dengan menyesal.
"agaknya pada penjelmaan yang lalu engkau telah utang padanya, maka ...."
"Ah, semuanya gara-garaku sendiri, akulah yang linglung dan salah sasaran, ini namanya cari penyakit sendiri, tak dapat menyalahkan orang lain,"
Ujar si kakek tukang mancing.
"Kenapa tidak kau ceraikan dia saja?"
Tanya si kakek.
"Wah, tidak, tidak bisa lagi, sekarang aku sudah kecantol dia, serupa lalat melengket pada air gula, biarpun digebah juga tak mau pergi,"
Ucap si kakek tukang mancing dengan menggeleng kepala. Si kakek kedua minum lagi seceguk araknya dan berkata pula.
"Dia tidak mau pergi, boleh engkau sendiri yang angkat kaki."
"Memangnya aku bisa pergi ke mana?"
Ujar si tukang mancing dengan tersenyum getir.
"Ke mana pun jadi, nanti kalau dia sudah pergi juga barulah engkau pulang."
"Tidak, tidak bisa jadi,"
Kembali si tukang mancing menggeleng.
"Ke mana pun kupergi pasti akan ditemukan olehnya. Bilamana ingin berpisah dengan dia hanya ada suatu cara ...."
"Cara apa?"
Tanya kawannya.
"Bu ... bunuh dia,"
Ujar Si tukang mancing.
"Kau berani?"
Tanya si kakek kawannya dengan tertawa.
"Justru aku tidak berani,"
Kata si tukang mancing dengan menghela napas.
"Dirodok, selama hidupku gagah perkasa, siapa tahu sesudah tua justru kebentur pada setan iblis ini, sungguh aku tersiksa sehingga ingin mati tidak bisa, minta hidup juga sukar."
Mendadak ia seperti teringat sesuatu yang menggembirakan, seketika terkilas secercah cahaya terang pada wajahnya, dengan girang ia berkata.
"Hei, kawan, apakah engkau pernah mimpi?"
"Mimpi?"
Kawannya menegas dengan melenggong.
"Tentu saja pernah, beberapa hari yang lalu aku pun bermimpi, mimpi yang menyenangkan, mimpi menemukan sepotong emas murni, tentu saja aku sangat gembira, segera kulari pulang, siapa tahu karena terburu nafsu, kakiku kesandung dan jatuh tersungkur, seketika lantakan emas itu lenyap, karena cemasku segera kusadar dan barulah tahu sedang bermimpi."
"Haha, aku pun mendapat mimpi, tapi mimpiku jauh lebih baik daripada mimpimu,"
Tutur si kakek tukang mancing.
"Oo, mimpi bagus apa? Mimpi telah kau bunuh si dia?"
Tanya kawannya dengan tertawa.
"Bukan, kumimpi bertemu dengan seorang nona secantik bidadari, diri membujukku kabur meninggalkan dia ...."
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dari balik sepotong batu karang sana bergema suara orang meraung murka.
"Ah, bagus, tua bangka yang tidak mau mampus, berani kau mimpi segala di luar tahu nyonya besar!"
Di tengah suara teriakan murka yang menggelegar itu segera melompat keluar seorang nenek.
Usia nenek ini kurang lebih 60-an, tubuh gemuk besar, mukanya bulat, biarpun sudah tua, tapi kedua pipi berpupur tebal, bahkan alisnya dilukis hingga panjang lentik, baju yang dipakainya juga sangat bagus, cuma lantaran tidak seimbang dengan usianya sehingga tampaknya menjadi serbakonyol malah.
Ia melompat keluar sambil berjingkrak dan meraung murka serupa malaikat maut yang hendak mencaplok mangsanya, bagi orang penakut memang bisa ciut nyalinya.
Si kakek yang asyik minum arak itu ketakutan, sekali lompat ia terjun ke dalam danau dan kabur dengan menyelam ke dalam air.
Sedangkan si kakek tukang mancing hanya duduk diam saja namun tangan yang memegang alat pancing tampak bergemetar.
Dengan marah-marah si nenek mendekati kakek tukang mancing, sebelah kakinya terus menginjak di punggung si kakek sambil membentak.
"Ayo, bicara, tua bangka! Lekas bicara tua bangka yang tidak tahu malu, kenapa berani mimpi di luar tahuku dan ingin minggat dengan perempuan lain?!"
Si kakek kelihatan gugup, jawabnya.
"Ai, sabar, istriku, jangan marah dulu, lain kali ... lain kali aku takkan mimpi lagi."
Dengan bertolak pinggang si nenek menjengek.
"Hm, lekas kau bicara terus terang, bilakah engkau mimpi bergendak dengan perempuan lain?"
"O, aku ti ... tidak,"
Jawab si kakek dengan gelagapan.
"aku hanya ... bercanda saja dengan si setan air Nyo tua, kami cuma omong iseng belaka."
"Keparat! Bedebah!"
Damprat si nenek dengan alis menegak.
"Masih berani bohong? Ayo, lekas mengaku terus terang!"
Si kakek melihat Pang Bun-hiong berdiri tidak jauh di sebelah sana, ia menjadi kikuk, lekas ia memohon dengan suara lirih.
"Ah, istriku, jangan ... jangan marah dulu, bicaralah perlahan sedikit, kan malu didengar orang!"
"Hm, masa kau tahu malu segala?"
Teriak si nenek.
"Aku tidak urus malu atau tidak, pendek kata, kalau tidak bicara terus terang sekali hantam akan kumampuskan kau."
Si kakek kelihatan serbasusah, cepat ia menjawab.
"Baik, baik, akan kukatakan terus terang .... Hal itu terjadi ... terjadi pada kemarin dulu ketika aku tidur ... tidur siang ...."
"Kurang ajar! Dasar tua bangka,"
Damprat pula si nenek.
"pada waktu siang bolong selagi nyonya besar sadar dengan baik toh kau berani bermimpi main gila dengan perempuan lain, apalagi kalau waktu malam hari ketika nyonya besar sedang tidur, wah, kan tambah berani kau?"
"Aduuh, itu kan cuma mimpi saja,"
Ujar si kakek.
"Mimpi kan khayal belaka dan tidak terjadi sungguhan, buat apa istriku mesti marah-marah begini?"
Kontan si nenek mencak-mencak lagi, dampratnya.
"Keparat! Khayalan apa katamu? Bilamana siang kau berani bermimpi begitu, jelas hal itu akibat pikiranmu memang menyeleweng. Ya, kutahu, hatimu sudah berubah, nyonya besar tidak kau pikir lagi, begitu bukan?"
"O, tidak, jangan marah dulu, dengarkan ceritaku,"
Kata si kakek.
"Meski kumimpi seorang perempuan, tapi aku tidak terpikat olehnya. Dia memang membujukku agar minggat bersama dia, tapi aku menolaknya, bahkan kudamprat dia habis-habisan."
"Apa betul?"
Si nenek menegas.
"Betul, aku tidak bohong."
Jawab si kakek.
"Kumaki dia perempuan tidak tahu malu, kubilang engkau ini siluman dari mana, berani berusaha memikat diriku? Hendaknya maklum, aku dan Lau Sam-koh adalah suami-istri saling mencintai sejak dari tiga kali penjelmaan dulu, berdasarkan apa kau berani memecah belah cinta kasih kami suami-istri? Dirodok, lekas enyah dari sini, kalau tidak, sekali hantam kumampuskanmu! Dia menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit."
"Oo, apa betul?"
Tanya si nenek, tampaknya dari marah dia menjadi senang.
"Betul, pasti betul,"
Kata si kakek.
"Baik, jika begitu, biar nyonya besar mengampunimu sekali ini,"
Ujar si nenek dengan tertawa.
"Tapi lain kali bila kau berani sembarang mimpi lagi di luar tahuku, awas, bisa kubinasakanmu."
"Tidak, pasti tidak lagi,"
Ucap si kakek berulang-ulang. Tiba-tiba si nenek mengangkat keranjang ikan si kakek dan diperiksa, katanya.
"Sudah berhasil mengail berapa ekor?"
"Wah, hari ini kurang mujur, ikan sama tidak mau terpancing, hanya dapat tiga ekor saja,"
Tutur si kakek dengan menyesal. Kembali si nenek merasa kurang senang, teriaknya.
"Dasar tua bangka! Kan sudah sering kukatakan padamu, menangkap ikan harus pakai jala. Orang lain sekali jaring lantas dapat beberapa puluh, bahkan ratusan ekor, tapi engkau hanya sekali pancing satu ekor, itu pun menunggu sampai setengah harian. Huh, macam apa kerja cara begini? Kubilang, mulai besok harus kau ganti cara menangkap ikan dengan jala."
"Wah, tidak bisa,"
Jawab si kakek sambil menggoyang kepala.
"Urusan lain dapat kusanggupi, hanya urusan ini saja, biarpun kau bunuh diriku juga tak bisa kuterima. Adalah hobiku memancing ikan, aku tidak suka menjala ikan."
"Sialan, memangnya kau kira apa kerjamu?"
Damprat si nenek dengan gusar.
"Kau kira hanya untuk iseng sebagai hobi saja? Keparat, masa kau lupa kau perlu membiayai rumah tangga?"
"Biaya rumah tangga kan juga sudah cukup, asalkan setiap hari berhasil kupancing dua-tiga ekor ikan kan sudah cukup kita makan?"
Kata si kakek.
"Apa katamu? Cukup kita makan?"
Teriak si nenek melengking.
"Memangnya kebutuhan orang hidup hanya makan saja? Nyonya besar kan perlu uang untuk beli pupur, jika kuminta kau bilang tidak punya uang. Kalau kuminta uang untuk beli baju, kau jawab tidak punya duit. Padahal, coba lihat orang lain, mau apa pun pasti ada, sebaliknya engkau tidak punya apa-apa."
Sampai di sini mendadak ia menangis, sambil membuang ingus ia berseru pula.
"O, dasar nasibku memang sengsara. Padahal lelaki di dunia ini sekian banyak kenapa aku justru kawin dengan tua bangka yang pemalas dan tidak bisa cari duit ...."
Mendadak tercetus dari mulut si kakek.
"Bilamana kau anggap aku miskin, boleh saja kau kawin lagi dengan orang lain."
"Apa katamu? Coba katakan sekali lagi!"
Teriak si nenek dengan murka.
"Jahanam yang tidak punya Liangsim (perasaan bajik), sungguh sialan kawin denganmu, belum ada setengah tahun menikah aku sudah akan kau campakkan, begitu bukan? Hm, hm, tidak bisa, urusan tidak segampang itu. Mau kupergi juga boleh asalkan memenuhi syarat."
"Apa syaratmu?"
Tanya si kakek, tampaknya menjadi nekat juga.
"Duit!"
Ucap si nenek sambil tiga jarinya bergerak tanda fulus.
"Berapa kau minta?"
Tanya pula si kakek.
"Selaksa tahil,"
Kata si nenek.
"Asal kau bayar satu laksa tahil perak dan segera aku angkat kaki."
"Buset!"
Seru si kakek, habis ini ia terus jatuh telentang di atas papan apung serupa orang mati. Si nenek mengentak kaki, teriaknya.
"Ayo bangun, tidak perlu berlagak mati!"
Kakek tukang mancing itu menghela napas, katanya.
"Boleh kau pulang dulu, aku masih ingin mengail ikan, bisa jadi Tuhan Maha Pengasih kasihan padaku dan memberkahiku dapat mengail selaksa tahil perak."
"Tidak perlu lagi, ayolah ikut pulang saja, nanti kita bikin perhitungan di rumah,"
Teriak si nenek. Agaknya si kakek tidak berani pulang, ia masih terus rebah saja tak mau bangun.
"Hm, memangnya apa maksudmu ini?"
Bentak si nenek dengan mendelik.
"Ingin mati saja di sini?"
Menyaksikan semua itu, Bun-hiong merasakan bukan lagi lelucon, ia lantas mendekati mereka dan menyapa dengan hormat.
"Salam, Toanio ini."
Si nenek hanya meliriknya sekejap, jawabnya dingin.
"Kau mau apa?"
Bun-hiong mengeluarkan sepotong uang perak yang berbobot lebih sepuluh tahil, katanya.
"Baru saja kutemukan uang perak ini di sekitar sini, mungkin uang perak Toanio yang hilang?"
Dasar mata duitan, melihat uang perak itu, seketika wajah si nenek berseri, tanpa permisi uang perak itu terus disambarnya sambal berseru.
"Aha, betul, betul! Memang uangku yang baru saja hilang, aku lagi kelabakan mencarinya, ternyata ditemukan oleh Engkoh cilik ini. Ai, sungguh anak yang jujur, terima kasih ya!"
"O, jangan sungkan,"
Jawab Bun-hiong dengan tertawa. Serentak si kakek merangkak bangun dan berkata.
"Eh, nanti dulu! Kataku istriku yang baik, bilakah engkau kehilangan uang perak sejumlah itu ...."
Si nenek mengentak kaki dengan keras, bentaknya dengan gusar.
"Keparat, lebih baik kau tutup mulut. Uang perak ini memang milikku yang hilang."
Kakek itu menghela napas, katanya sambil memandang Bunhiong.
"Adik cilik, untuk urusan apa kau datang ke sini?"
"Cayhe Pang Bun-hiong,"
Tutur Bun-hiong sambil memberi hormat.
"Konon di tepi danau Hoan-yang ini berdiam seorang Bu-lim-cianpwe (angkatan tua dunia persilatan) yang bernama Hoan-yang-tio-ong Siau It-ho, maka sengaja kudatang berkunjung padanya."
Habis bicara ia menjura lagi dengan sangat hormat.
"Aku sendiri Siau It-ho adanya,"
Jawab si kakek dengan muka merah.
"Ada urusan apa adik cilik mencariku?"
Bun-hiong berlagak kegirangan, katanya.
"Aha, kiranya engkau inilah Siau-locianpwe, sungguh sangat beruntung dapat bertemu di sini."
Habis berkata kembali ia memberi hormat. Siau It-ho alias si kakek tukang mancing dari danau Hoanyang itu menghela napas, katanya.
"Aku ini bukan Bu-limcianpwe apa segala, justru orang tua yang paling tidak berguna di dunia ini ialah diriku. Bilamana adik cilik ini tidak ada urusan, silakan pulang saja."
Bun-hiong anggap tidak mendengar, ia berpaling kepada si nenek dan berkata.
"Jika demikian, Toanio ini tentulah Lau Sam-koh Lau-toanio yang termasyhur itu?"
Cay-keh-hujin Lau Sam-koh alias si nyonya suka kawin itu tertawa, jawabnya.
"Betul, aku inilah Lau Sam-koh."
"Bagus sekali,"
Bun-hiong tertawa.
"Ada sesuatu berita ingin kusampaikan kepada Lau-toanio, yaitu ... eh, kabarnya Lautoanio adalah Suci si raja cakar elang Oh Kiam-lam, betul?"
"Ya, memang begitulah,"
Sahut Lau Sam-koh.
"Tentang terbunuhnya Eng-jiau-ong, apakah Toanio sudah tahu?"
Tanya Bun-hiong.
"Tahu, dia sudah mati empat-lima tahun yang lalu,"
Ujar Sam koh dengan mengangguk.
"Mestinya aku ingin berziarah ke makamnya, tapi bilamana ingat waktu hidupnya dia terlampau kikir terhadapku, sungguh aku sangat menyesal dan urung mengunjunginya."
"Oo, apakah waktu hidupnya Eng-jiau-ong memperlakukan Toanio kurang baik?"
Tanya Bun-hiong.
"Masa tidak,"
Jawab Sam-koh.
"Dia menjadi pimpinan kalangan Lok-lim ketujuh provinsi daerah selatan, harta bendanya bertumpuk setinggi gunung, tapi pelitnya bukan main. Pernah satu kali keuanganku agak seret, kudatang padanya untuk pinjam sedikit, siapa tahu dia sama sekali tidak mau memberi pinjaman, apalagi kasih percuma. Coba, apa tidak bikin mendongkol orang?"
"Wah, jika demikian, memang betul Eng-jiau-ong agak keterlaluan, masa sama sekali tidak ingat hubungan baik antara sesama saudara seperguruan?"
Kata Bun-hiong. Tiba-tiba si kakek tukang mancing menimbrung.
"Eh, adik cilik, jangan percaya pada keterangan sepihak saja. Manusia yang tamak tentu saja dibenci oleh siapa pun, setahuku ...."
"Memangnya kenapa?!"
Bentak Lau Sam-koh mendadak dengan mendelik. Seketika Siau It-ho mengkeret, ia angkat pundak dan tidak berani bersuara lagi. Bun-hiong berdehem perlahan, katanya dengan tertawa.
"Meskipun Eng-jiau-ong kurang baik, tapi adik perempuannya si Oh Beng-ay kan tidak berdosa, betul tidak?"
"Ah, dia juga bukan nona yang baik,"
Ucap Lau Sam-koh.
"Setiap kali kudatang mencari Oh Kiam-lam, selalu dia acuh tak acuh terhadapku, jelas dia memandang rendah padaku."
Sampai di sini Bun-hiong mulai merasakan dugaan sendiri jelas meleset, nyata orang yang diincar dan hendak ditangkap Tui-beng-poan-koan bukanlah Cay-keh-hujin Lau Sam-koh ini.
Sebab Lau Sam-koh ternyata tidak mempunyai hubungan baik dengan Oh Kiam-lam dan adik perempuannya, tidak mungkin Tui-beng-poan-koan menggunakan Oh Beng-ay sebagai umpan untuk memancingnya.
Tapi mengingat jauh-jauh ia sudah datang kemari, kan juga tambah baik bilamana desas-desus disebarkan sekalian kepadanya.
Maka ia lantas berkata.
"Keadaan nona Oh itu sekarang sangat harus dikasihani, apakah Toanio tidak ingin menolongnya?"
Menjengkit mulut Lau Sam-koh, ucapnya.
"Huh, mana dia palu dikasihani? Dia menjual badan di Liu-jun-ih di Kim-tan, setiap bulan beribu tahil perak pendapatannya, hidupnya jauh lebih senang daripadaku."
"Tapi sekarang dia mengalami apes dan diculik oleh Kiu-bwehou Kongsun Siau-hui, jiwanya terancam bahaya,"
Tutur Bunhiong.
"Oo, masa dia diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?"
Melengak juga Lau Sam-koh.
"Ya, memang betul,"
Kata Bun-hiong.
"Bagus, itu namanya kualat kontan,"
Seru Sam-koh.
"Nyata Tuhan memang adil dan selalu memberi ganjaran setimpal terhadap orang yang tak berbudi."
Mendengar ucapan ini Bun-hiong tambah yakin dugaannya telah salah sasaran, tapi ia coba tanya lagi.
"Jadi Toanio sama sekali tidak mau menolongnya?"
"Hm, aku justru berharap dia lekas mampus, untuk apa kutolong dia?"
Kata Sam-koh.
"Apakah Toanio tahu dia masih mempunyai sanak keluarga lain?"
Tanya Bun-hiong.
"Tidak ada lagi, mereka kakak beradik sama sekali tidak mempunyai sanak famili, seorang saja tidak ada."
"Wah, sungguh malang ...."
Bun-hiong menghela napas perlahan.
"Pendek kata, jika kedatanganmu hanya ingin minta kutolong dia, maka jangan kau harap lagi,"
Kata Sam-koh.
Tiba-tiba teringat oleh Bun-hiong bahwa maksud dan tujuan Tui-beng-poan-koan menyuruhnya menyebarkan berita bohong tentang Oh Beng-ay diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui, jika tujuannya untuk menjebak seseorang, maka orang ini sangat mungkin ialah Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui sendiri.
Maka ia coba ganti pokok persoalan dan bertanya.
"Ingin kunumpang tanya lagi satu hal, apakah Toanio tahu di mana tempat tinggal Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?"
"Tidak tahu,"
Jawab Sam-koh. Bun-hiong lantas tanya Siau It-ho.
"Apakah Siau-locianpwe tahu?"
"Aku pun tidak tahu,"
Jawab si kakek tukang mancing.
"Sudah lama sekali Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui menghilang dari dunia persilatan, sangat sedikit orang yang tahu tempat sembunyinya."
Bun-hiong merasa tidak ada gunanya tinggal lebih lama di sini, segera ia memberi salam kepada mereka dan berkata.
"Jika demikian, biarlah Cayhe mohon diri saja."
Ia lantas mencemplak ke atas kudanya dan meneruskan perjalanan lagi yang tidak jelas tempat tujuannya ....
Selanjutnya setiap kali bertemu dengan orang persilatan selalu dia menyiarkan berita tentang diculiknya Oh Beng-ay oleh Kiubwe-hou Kongsun Siau-hui.
Tapi bisa jadi nama Kiu-bwe-hou terlampau disegani, meski ada orang menaruh simpati terhadap nasib jelek Oh Beng-ay, tapi tidak ada orang yang berani menyatakan hendak menolongnya.
Dengan sendirinya terlebih tidak ada orang yang berani mendesak Bun-hiong agar memberitahukan di mana tempat tinggal Kiu-bwe-hou.
Ia terus melanjutkan perjalanan hingga pegunungan Cui-wihong di selatan Ohlam, di sini urusannya baru ada perkembangan.
Cui-wi-hong adalah salah satu tempat tamasya yang cukup terkenal di daerah ini, waktu Bun-hiong melarikan kudanya lewat kaki gunung, tiba-tiba dilihatnya seorang setengah umur berdandan sebagai kaum budak muncul dari dalam hutan di kaki gunung.
Orang ini seperti sengaja menanti kedatangan Pang Bunhiong, ia mengadang di tengah jalan dan memberi hormat sambil menegur.
"Apakah pendatang ini Hou-hiap Pang Bunhiong adanya?"
Bun-hiong menahan lari kudanya, ditatapnya orang itu sejenak, lalu balas tanya.
"Siapakah saudara?"
"O, hamba she Siang bernama Po-hok,"
Jawab orang setengah baya itu.
"Atas perintah majikan, hamba disuruh mengundang Pang-siauhiap agar sudi mampir sebentar ke perkampungan kami."
"Siapakah majikanmu?"
Tanya Bun-hiong.
"Setelah bertemu tentu Pang-siauhiap akan tahu sendiri."
"Masa tidak dapat kau jelaskan sekarang?"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Biarpun kujelaskan sekarang juga Pang-siauhiap takkan paham urusannya,"
Ujar orang itu. Bun-hiong coba tanya lagi.
"Di mana letak perkampungan kalian?"
"Di lereng gunung ini,"
Tutur orang itu.
"Baiklah, coba tunjukkan jalannya,"
Jawab Bun-hiong tanpa sangsi.
Orang itu lantas membalik dan mendahului menuju ke lereng bukit sana.
Dengan tetap naik kuda Bun-hiong mengikuti jejak orang.
Sejak meninggalkan Bok-kan-san tempo hari belum pernah ditemuinya suatu urusan yang sekiranya menarik, maka sudah sekian lama ia merasa kecewa dan kesal, maka urusan yang ditemuinya sekarang cukup menarik baginya, tanpa pikir ia lantas ikut orang untuk menemui majikannya.
Meski ia pun menyadari kepergiannya ini ada kemungkinan akan menghadapi bahaya, tapi Bun-hiong memang seorang petualang yang suka menyerempet bahaya, semakin aneh dan berbahaya sesuatu urusan, semakin menarik untuk dikerjakannya.
Orang itu membawanya melintasi lereng bukit, sepanjang jalan tidak buka mulut lagi.
Setelah menyusuri hutan yang lebat dan melintasi tanjakan yang terjal, akhirnya mereka sampai di suatu lereng bukit yang sunyi dan indah.
Di atas lereng bukit tampak ada bangunan yang berderet-deret luas.
Perumahan itu dilingkari pepohonan yang rindang, anehnya di depan perumahan itu ada sebuah kolam yang indah dengan airnya yang tenang dan jernih serupa cermin.
Orang setengah baya ini membawa Bun-hiong masuk ke kompleks perumahan, tertampak bangunan sangat megah, serupa rumah kaum hartawan atau bangsawan.
Cuma di dalam perumahan yang megah dan luas ini suasana sunyi senyap, tidak terlihat bayangan orang kedua.
Diam-diam Bun-hiong menarik napas, pikirnya.
"Sungguh megah perumahan di sini, melihat gelagatnya pemilik perumahan ini pasti seorang tokoh luar biasa, tapi mengapa tidak kelihatan bayangan seorang pun?"
Secara naluri ia mulai waspada.
Setelah berada di tengah perumahan, tampak terlebih jelas setiap bangunan megah itu juga dipajang dengan sangat mewah, bahkan setiap perabotnya seperti sengaja dirancang secara serasi, semuanya serbabagus.
Orang itu membawa kuda Bun-hiong dan ditambat di samping sana, lalu membawanya lagi masuk ke suatu halaman dan akhirnya tiba di depan sebuah gedung berloteng yang megah.
Ruangan gedung itu terlebih mentereng, setiap alat perabotannya tergosok dengan mengilat, semuanya serbaantik dan bernilai tinggi, dapat dibayangkan tuan rumah pasti orang kaya raya yang sukar dilukiskan.
Orang tadi berhenti di ruang tamu, katanya sambil menghormat.
"Silakan Pang-siauhiap duduk dulu, hamba akan masuk melaporkan kedatanganmu."
Bun-hiong mengangguk dan duduk, ia pandang segala sesuatu yang luar biasa di dalam ruangan, dengan heran ia membatin.
"Biasanya kusangka ayahku sudah cukup kaya raya, tapi kalau dibandingkan Cengcu di sini jelas seperti si kerdil dibanding raksasa."
Dalam pada itu orang tadi telah masuk ke ruang dalam dengan menyingkap tirai. Terdengar suaranya lagi berkata di dalam.
"Lapor Hujin (nyonya), Hou-hiap Pang Bun-hiong sudah hamba undang kemari."
"Silakan dia masuk,"
Sahut seorang. Suaranya nyaring merdu. Seketika Bun-hiong melengak, pikirnya.
"Buset, sang cengcu ternyata seorang perempuan?!"
Tentu saja ia tambah bingung. Dilihatnya orang setengah baya tadi muncul kembali dan berkata kepadanya dengan tertawa.
"Majikan perempuan kami berada di ruang dalam, silakan Pang-siauhiap masuk saja."
"Dan di mana majikan lelaki kalian?"
Tanya Bun-hiong sambil berdiri.
"Di sini tidak ada majikan lelaki,"
Jawab orang tadi.
"Hah, tidak ada majikan lelaki?"
Bun-hiong menegas dengan melenggong.
"Betul,"
Orang itu tersenyum.
"Silakan masuk saja, majikan perempuan kami takkan membikin susah padamu."
Habis bicara ia memberi hormat pula, lalu tinggal pergi.
Keruan Bun-hiong kebingungan, sampai sekian lama ia berdiri di situ dengan sangsi.
Akhirnya ia mendekati pintu yang bertirai itu dan melangkah ke dalam.
Ternyata di balik pintu bertirai ini adalah sebuah kamar anak gadis yang indah, semua peralatannya terlebih mewah dan bagus, ada sebuah meja berukir bercat merah yang masih baru, kelambu warna tipis dan tergantung di kedua sisi dengan cantolan perunggu putih.
Tepian kelambu atas adalah kain bersulam bunga merah, selain itu ada lagi hiasan dua buah mainan berbentuk keranjang bunga yang tergantung di samping kelambu.
Kecuali itu, seluruh barang yang terlihat, baik meja kursi, lemari dan sebagainya, semuanya benda berukir antik yang sukar dinilai.
Di dinding bergantung lukisan kuno dan seni tulis yang bagus.
Tampaknya majikan perempuan di sini bukan saja pandai menikmati kehidupan ini, bahkan juga seorang terpelajar.
Akan tetapi nyonya rumah itu ternyata tidak terlihat di dalam kamar.
Kamar ini kosong melompong.
Bun-hiong jadi melenggong pula, ia coba tanya.
"Hei, Cayhe Pang Bun-hiong berada di sini, di manakah tuan rumahnya?"
"Aku berada di sini,"
Terdengar suara orang menjawab. Suaranya merdu sedap didengar, dan berkumandang dari balik daun pintu sebelah lain. Kembali Bun-hiong tercengang, katanya.
"Hujin ingin bertemu denganku, kenapa tidak keluar kemari saja?"
Nyonya rumah itu berteriak dari dalam.
"Silakan masuk saja ke sini, pintu tidak terkunci."
Bun-hiong merasakan sangat mungkin terdapat perangkap di sini, tapi dia memang seorang petualang yang suka menyerempet bahaya, terutama bahayanya orang perempuan, segera ia mendekat ke sana, ia coba mendorong daun pintu itu.
Dengan enteng daun pintu lantas terpentang, sekali pandang, tanpa terasa ia terperanjat.
Nyonya rumah ini ternyata sangat cantik!
Usianya baru 25-26 tahunan, rambutnya tersanggul tinggi, mukanya bulat telur dengan pipi kemerahan, alis panjang lentik, mata besar jernih, sungguh sukar dilukiskan cantiknya, siapa pun pasti akan kesengsem melihat kecantikannya.
Akan tetapi yang membuat Bun-hiong terperanjat bukan kecantikannya melainkan setengah badannya bagian atas yang telanjang itulah, setengah badannya bagian bawah terendam di dalam sebuah bak besar berwarna emas.
Rupanya nyonya rumah ini sedang mandi.
Setengah badan bagian atas tampak putih bersih serupa salju, dadanya yang bernas kelihatan samar-samar tergenang air, sungguh cantik dan memikat dan membuat orang lupa daratan.
Pang Bun-hiong sampai melongo menyaksikan adegan mendebarkan ini.
Sudah banyak perempuan yang dikenalnya, namun belum pernah melihat perempuan cantik dan sexy serupa ini.
Sungguh ia ingin menubruk ke sana tanpa peduli risiko apa pun, meski semua ini suatu perangkap juga tak diragukannya, cukup sekali saja mendapatkan si dia, mati pun dia rela.
Akan tetapi dia hanya berdiri diam saja, hanya memandangnya dengan kesima tanpa bergerak.
Perempuan itu ternyata tidak canggung-canggung, perlahan ia main air mandi di dalam bak, mulutnya yang mungil dan bibir kemerahan mengeluarkan suara mengikik nyaring, sapanya.
"Pang Bun-hiong, selamat datang!"
"Ya, selamat nona!"
Jawab Bun-hiong dengan tersenyum, tanpa terasa mukanya menjadi merah sendiri.
"Setiap hari pada waktu begini aku mesti mandi dan berdandan sehingga tak dapat meladenimu dengan baik,"
Ujar perempuan itu dengan lagak menggiurkan.
"Ah, tidak apa-apa, jangan sungkan,"
Kata Bun-hiong tertawa.
"Silakan selesaikan mandimu."
Mata si cantik yang jeli itu memantulkan cahaya terang yang memikat, katanya dengan tertawa.
"Sungguh aku merasa senang dan bahagia dapat mengundangmu ke sini."
"Ah, dapat bertemu dengan nona, sungguh bahagia dan suatu kehormatan bagiku,"
Seru Bun-hiong.
"Sudah lama kudengar nama kebesaran Hou-hiap,"
Ucap perempuan itu.
"Setelah bertemu hari ini, nyata memang tidak bernama kosong."
Bun-hiong tertawa dan menegas.
"Maksud nona mengenai urusan apa?"
"Gagah, cakap, romantis,"
Kata si perempuan.
"Haha, terima kasih atas pujian nona,"
Seru Bun-hiong tertawa.
"Tapi kalau dibandingkan nona, aku ini tidak lebih cuma seorang lelaki kasar belaka."
"Tidak, engkau memang berbeda daripada kebanyakan lelaki umumnya."
"Ah, masa?"
"Betul,"
Kata perempuan itu.
"Lelaki lain bilamana melihatku dalam keadaan begini, tentu akan berlagak gugup dan kelabakan, tapi engkau ternyata tidak."
"Hal ini memang betul,"
Jawab Bun-hiong.
"Soalnya aku memang suka memandang orang perempuan, terlebih perempuan mahacantik dan sukar dicari. Setiap kesempatan yang terbuka bagiku biasanya tidak kusia-siakan."
Perempuan itu tertawa cekikikan, katanya.
"Ranjang orang perempuan juga kuburan bagi kaum pahlawan, apakah engkau tidak takut?"
"Begitulah kata orang, tapi sejak dulu kala hingga kini, berapa banyak pahlawan yang tahan pikatan?"
Ujar Bun-hiong dengan tersenyum.
"Hah, pikiranmu ternyata cukup terbuka,"
Ucap perempuan itu.
"Eh, di tempat tidurku ada sepotong bajuku, tolong ambilkan untukku."
"Baik,"
Jawab Bun-hiong.
Ia putar balik ke depan tempat tidur dan mengambil baju yang dimaksud, padahal itu bukan baju melainkan sepotong daster terbuat dari sutra tipis warna jambon.
Ia masuk lagi ke kamar mandi, tanyanya.
"Taruh di mana?"
"Bawa sini,"
Kata perempuan itu sambil menjulurkan tangannya yang putih halus.
Bun-hiong mendekati bak emas itu dan menyodorkan baju tipis itu.
Sesudah baju diterima si dia, Bun-hiong coba menyelentik perlahan bak warna emas itu, seketika ia berseru kaget.
"Hah, ternyata emas tulen."
"Memangnya kau sangka tembaga?"
Tukas perempuan itu dengan tertawa.
"Wah, biarpun permaisuri raja juga akan iri padamu,"
Ujar Bun-hiong.
"Huh, aku justru tidak kepingin menjadi permaisuri segala,"
Mata si perempuan.
"Orang yang mau menjadi permaisuri atau selir raja sungguh harus dikasihani, dia tidak tahu di dunia ini masih banyak lelaki yang jauh lebih menyenangkan daripada raja."
"Bilamana ucapanmu ini didengar oleh raja, tentu dia akan melongo,"
Kata Bun-hiong dengan bergelak.
"Baiklah, sekarang silakan kau putar ke sana,"
Pinta perempuan itu. Bun-hiong menatap bagian dada orang sambil menjilat bibir.
"Apakah tidak perlu kubantumu?"
"Tidak perlu, aku dapat bangun sendiri, bahwa orang perlu dipegang segala, itu cuma pura-pura saja."
Tanpa bicara lagi Bun-hiong lantas membalik tubuh.
Perempuan itu berdiri dari bak mandi, diambilnya sepotong handuk di tepi bak untuk mengusap tubuhnya yang basah, lalu daster tipis itu dikenakannya, katanya kemudian.
"Baiklah, sekarang boleh menghadap ke sini."
Waktu Bun-hiong membalik tubuh lagi, tertampak tubuh si dia yang samar-samar tertutup daster tipis itu padat dan putih mulus, garis tubuhnya yang menggiurkan serta bagian tertentu yang serupa ...
sungguh membuat jantungnya berdebar keras.
Perempuan itu tertawa, katanya.
"Marilah kita duduk di kamar."
Segera ia mendahului melangkah ke kamar tidurnya dengan berlenggak-lenggok. Bun-hiong ikut ke situ, tentu saja ia terangsang, katanya.
"Sedemikian luas perumahan nona ini, tapi tidak tampak penghuni yang lain, apakah semuanya bersembunyi?"
"Tidak, jangan khawatir,"
Kata si dia.
"Di perumahan ini seluruhnya cuma ada tiga orang. Yang pertama ialah diriku, orang kedua adalah Siang Po-hok, budak yang membawamu kemari tadi, orang ketiga adalah si pelayan cilik, Jiu-goat."
Sambil bicara perempuan itu duduk di tepi pembaringan.
"Masa di sini tidak ada tuan rumah?"
Tanya Bun-hiong.
"Ada, tapi sudah mati."
"Oo, dia itu apamu?"
Perempuan itu berdiri dan menuju ke depan meja rias dan mulai menyisir rambut sambil menjawab.
"Suamiku."
"Wah, punya istri secantik ini, tapi tidak dapat menikmati hidup bahagia, sungguh kasihan,"
Kata Bun-hiong.
"Dia juga sudah cukup hidup nikmat,"
Ujar si perempuan dengan tertawa.
"Siapa namanya?"
Tanya Bun-hiong.
"Ah, sudahlah, sekarang jangan kita bicara tentang dia,"
Ujar si dia.
"Kalau begitu, marilah kita bicara dirimu saja,"
Kata Bun-hiong dengan tertawa.
"Apakah boleh kutahu she dan namamu yang harum?"
"Kau ingin tahu?"
Perempuan itu menegas.
"Diriku ini memang secantik bidadari, tapi hatiku berbisa melebihi ular dan kalajengking, maka bolehlah kau sebut diriku sebagai Coa-katbijin (si bidadari ular dan kalajengking) saja."
Bun-hiong merasa tertarik oleh keterangan orang, katanya dengan tertawa.
"Aku tidak takut pada Coa-kat-bijin, aku justru takut pada Siang Po-hok dan si pelayan Jiu-goat yang belum kulihat."
Perempuan itu alias Coa-kat-bijin tertawa.
"Jangan takut, tanpa panggilanku, tidak nanti Jiu-goat berani masuk ke sini, apalagi Siang Po-hok, dia seorang kasim (kebiri), terhadap orang perempuan dia cuma nafsu besar tenaga kurang."
"Dan ada keperluan apa engkau mengundangku ke sini?"
Tanya Bun-hiong. Coa-kat-bijin diam saja, entah tidak dengar atau sengaja tidak menjawab. Maka Bun-hiong tanya pula.
"Dari mana kau tahu aku akan lalu di sini?"
"Kudengar dari orang,"
Kata Coa-kat-bijin.
"Siapa yang bilang padamu?"
Desak Bun-hiong. Coa-kat-bijin menaruh sisirnya, lalu berpaling dan tertawa mengikik, katanya.
"Hihi, sekarang jangan tanya hal-hal demikian, mau?"
Bun-hiong menuju ke sana dan menutup pintu, lalu mendekati si dia, desisnya dengan tertawa.
"Aku tidak ingin menjadi kekasihmu selamanya, tapi kalau cuma tinggal semalam saja di sini tentu saja boleh."
Habis berkata si dia lantas dipondongnya dan dibawa ke tempat tidur ....
***** Tidak terjadi sesuatu yang menakutkan atau menyusahkan Pang Bun-hiong.
Apa yang terjadi ini sungguh suatu kejutan menyenangkan baginya.
Tapi Bun-hiong tahu, kecuali untuk menghilangkan "dahaga", pasti si dia masih mempunyai maksud tujuan tertentu.
Begitulah dengan santai ia duduk bersandar di tepi ranjang sambil minum sup sarang burung yang diantarkan Jiu-goat, ia tanya dengan tersenyum.
"Apakah engkau sering berbuat begini?"
Coa-kat-bijin menggelendot di sampingnya, jawabnya dengan mata terpejam.
"Tidak, tidak sering ...."
"Masa!"
Kata Bun-hiong.
"Betul,"
Desis si cantik.
"Soalnya lelaki yang muda dan gagah cakap kan tidak banyak."
"Masa tidak punya kenalan lama?"
"Tidak, aku tidak suka main pacar-pacaran, terlalu cemplang rasanya."
"Orang yang pernah berkenalan denganmu tidak lagi datang mencarimu?"
"Tidak, cukup sekali saja dan tidak pernah datang lagi,"
Tutur Coa-kat-bijin.
"Sebab sudah kuperingatkan mereka dilarang datang, bila datang lagi pasti kubunuh mereka, maka tidak ada yang berani kemari lagi."
"Mana tidak pernah terjadi ada yang datang pula?"
Tanya Bunhiong dengan tertawa geli.
"Ada juga."
"Oo, lantas benar kau bunuh dia?"
Si cantik meraba dada sendiri yang montok dan memikat itu, ucapnya perlahan.
"Ya, berturut-turut kubunuh tujuh orang sampai sekarang."
Diam-diam Bun-hiong merasa ngeri, tanyanya pula.
"Sebenarnya sebab apa engkau membunuh mereka?"
"Hanya ada satu sebab,"
Tutur Coa-kat-bijin alias si cantik berbisa.
"Yaitu, aku cuma suka kepada orang lelaki, tapi tidak kenal cinta."
"Wah, jika begitu, bila kudatang lagi kelak, lantas bagaimana?"
Tanya Bun-hiong.
"Sama juga,"
Ucap si cantik sambil menggigit perlahan ujung telinga anak muda itu dengan napasnya yang khas.
"Kau pun akan kubunuh terkecuali kedatanganmu nanti atas persetujuanku."
"Tapi aku takkan datang lagi,"
Ucap Bun-hiong dengan tak acuh.
"Kutahu, sudah banyak perempuan yang pernah kau kenal, bukan?"
"Ya, memang."
"Bagaimana menurut pendapatmu diriku dibandingkan perempuan lain?"
"Jauh lebih merangsang."
Si cantik tersenyum.
"Jika begitu, jadi engkau memang suka kepada perempuan yang genit dan sexy?"
"Dulu tidak suka, tapi sekarang aku mulai suka,"
Jawab Bunhiong.
"Apakah kau tahu seorang yang bernama Liong-hiap Liong It-hiong?"
"Ya, tahu, cuma sayang belum pernah bertemu dengan dia,"
Jawab Coa-kat-bijin.
"Dia sahabatku, dia yang memberitahukan padaku bahwa makin genit seorang perempuan makin menyenangkan, sekarang aku percaya."
"Wah, menurut ceritamu ini, dia pasti seorang lelaki yang sangat menarik."
"Betul, dia memang sangat menarik."
"Maukah kau ajak dia ke sini dan perkenalkan padaku?"
"Baik, bila ada kesempatan pasti akan kubawa dia ke sini."
"Bilamana dia dapat memuaskanku, sesuai kebiasaanku, akan kubayar dia. Tapi jika cuma potongannya saja sedap dipandang tapi tidak enak dimakan, sesuai peraturan pula akan kubunuh dia."
Bun-hiong berjingkat kaget, serunya.
"Hah, terhadap lelaki yang tidak dapat memuaskan seleramu tentu akan kau bunuh?"
"Betul,"
Jawab Coa-kat-bijin tertawa.
"Nah, kau takut tidak?"
Bergidik juga Bun-hiong, katanya.
"Wah, untung aku tidak membuatmu kecewa, apakah tadi aku dapat menunaikan tugas dan memenuhi kehendakmu?"
Coa-kat-bijin mengecup pipinya sekali, katanya.
"Engkau sangat tangkas, aku puas dan berterima kasih."
Bun-hiong menaruh mangkuk sarang burung, lalu merangkul pinggang si dia yang telanjang itu, digelitiknya perlahan dan bertanya dengan tertawa.
"Kapan akan kau enyahkan diriku?"
Si cantik ternyata takut geli, dipegangnya tangan Bun-hiong yang nakal itu, jawabnya dengan mengikik tawa.
"Pergilah besok."
"Jika begitu, jadi betul aku boleh tinggal satu malam di sini!"
Si cantik mengangguk.
"Ya, makanya perlu kau sayangi waktu semalam ini, sedetik berharga seribu tahil emas, betul tidak?"
"Bicara tentang nilai emas aku jadi ingin tanya padamu,"
Ucap Bun-hiong dengan tertawa.
"Mengapa suamimu sedemikian kaya raya!"
"Sebab dia seorang kepala bandit,"
Jawab Coa-kat-bijin.
"Harta warisan yang ditinggalkannya kepadaku biarpun kugunakan untuk foya-foya juga takkan habis tujuh turunan."
Tergerak hati Bun-hiong, cepat ia tanya.
"Sesungguhnya siapa suamimu!"
"Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam,"
Jawab Coa-kat-bijin. Mata Bun-hiong terbelalak.
"Aha, kiranya engkau istri Engjiau-ong Oh Kiam-lam?!"
"Aku bukan istrinya yang sah,"
Tutur Coa-kat-bijin.
"Sesungguhnya aku cuma salah seorang perempuan simpanannya saja."
Seketika terkilas semacam pikiran Bun-hiong, ia menduga sangat mungkin orang yang diincar Tui-beng-poan-koan ialah perempuan cantik berbisa ini, segera ia tanya.
"Kudengar Oh Kiam-lam sudah dibunuh orang, sesungguhnya siapakah pembunuhnya?"
"Entah, aku pun tidak tahu,"
Perlahan Coa-kat-bijin menggeleng.
"Konon dia terbunuh sehabis merampok uang pemerintah sejumlah sejuta tahil perak, kau tahu hal ini?"
Tanya Bun-hiong pula.
"Tahu,"
Jawab si cantik hambar.
"Dan satu juta tahil perak itu diberikan seluruhnya kepadamu?"
Si cantik menggeleng.
"Tidak, cuma uang yang ditinggalkannya untukku memang sangat banyak. Kau tahu dia memang seorang kaya, kutaksir kekayaannya tidak kurang dari tiga juta tahil perak."
"Dan setelah dia mati, jatuh kepada siapa kekayaannya itu?"
Tanya Bun-hiong.
"Entah, tidak diketahui ke mana perginya harta warisannya."
"Mengapa bisa begitu?"
Tanya Bun-hiong tercengang.
"Memang begitulah keadaan yang sebenarnya, tidak ada seorang pun tahu di mana beradanya harta bendanya sebanyak itu, termasuk ketujuh saudara angkatnya,"
Tutur Coa-kat-bijin tegas.
"Sungguh aneh, masa dia sengaja menyembunyikan harta kekayaannya itu?"
Ujar Bun-hiong.
"Juga mungkin dirampas oleh orang yang membunuhnya itu,"
Tukas Coa-kat-bijin.
"Apakah Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh tidak mencurigaimu?"
Si cantik tertawa.
"Jika mereka mengetahui Oh Kiam-lam mempunyai simpanan serupa diriku tentu saja mereka akan mencurigaiku dan yakin harta kekayaan Oh Kiam-lam telah diserahkan padaku."
"Sama sekali mereka tidak tahu akan dirimu?"
Heran juga Bunhiong.
"Ya, tidak tahu,"
Jawab Coa-kat-bijin.
"Setiap setengah tahun baru Oh Kiam-lam datang kemari satu kali untuk tetirah."
"Engkau memberi keterangan ini kepadaku, tidak khawatir akan kusampaikan kepada Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh?"
"Tidak, sebab kuyakin engkau takkan berbuat demikian,"
Jawab si cantik dengan tertawa.
"Betul, tak mungkin kulakukan hal ini, cuma, mengapa kau ceritakan hal-hal ini kepadaku?"
Tanya Bun-hiong pula dengan tertawa.
"Sebab ingin kubalas budi kebaikan Oh Kiam-lam terhadapku,"
Jawab Coa-kat-bijin.
"Maka ada niatku hendak menolong Oh Beng-ay."
"O, berita mengenai diculiknya Oh Beng-ay oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui juga sudah kau dengar?"
Tanya Bun-hiong. Coa-kat-bijin mengangguk.
"Ya, kudengar engkau pernah membuntuti Kiu-bwe-hou dan mengetahui tempat tinggalnya."
"Betul, kutahu sarang rase ekor sembilan itu, tapi tidak dapat kuberi tahukan padamu,"
Jawab Bun-hiong.
"O, apakah kau khawatir jiwaku akan melayang di tangan Kiubwe-hou?"
"Betul, bisa jadi engkau berkepandaian tinggi, tapi Kongsun Siau-hui adalah iblis tua yang sudah termasyhur sejak puluhan tahun lalu, engkau mutlak bukan tandingannya."
"Aku tidak perlu langsung bergebrak dengan dia, aku mempunyai cara sendiri untuk menyelamatkan nona Oh."
"Maksudmu, dengan mengorbankan kecantikanmu?"
Tanya Bun-hiong.
"Betul,"
Si cantik tertawa.
"Kudengar Kiu-bwe-hou adalah iblis penggemar orang perempuan, maka aku ingin belajar kenal dengan dia."
"Wah, tidak boleh jadi,"
Bun-hiong menggeleng kepala.
"Jika engkau berhubungan baik dengan dia, itu sama dengan setangkai bunga segar ditancapkan di atas seonggok tahi kerbau."
"Hihihi,"
Si cantik terkikik.
"Aku ini bukan bunga segar, palingpaling aku cuma setangkai bunga mawar yang berduri. Nah, mau beri tahukan padaku sarang Kiu-bwe-hou?"
"Tidak, tidak boleh,"
Berulang Bun-hiong menggeleng kepala. Mendadak dari bawah selimut Coa-kat-bijin melolos keluar sebilah belati mengilat dan mengancam di tenggorokan Bunhiong, tanyanya dengan tertawa.
"Benar tidak?"
Suara tertawanya merdu menyenangkan, tapi membuat orang mengirik juga.
Sama sekali Bun-hiong tidak menduga si cantik menyembunyikan senjata tajam di tempat tidur, seketika ia tidak sempat mengelak, keruan ia tidak bisa berkutik, dengan melotot ia menjawab.
"Wah, nanti dulu, sabar! Kasih sayang semalam sebagai suami-istri tak terlupakan selama seratus hari. Masa engkau sampai hati memperlakukan diriku cara begini?"
"Di dunia ini banyak sekali orang lelaki, berkurang dengan dirimu seorang rasanya tidak membawa kerugian apa pun bagiku,"
Sembari bicara si cantik terus mendorong sedikit belatinya, ancamnya dengan tertawa.
"Nah, mau bicara tidak?"
"Baik, baik, akan kukatakan,"
Cepat Bun-hiong menjawab, tapi mendadak sebelah tangannya meraih ke atas dan tepat mencengkeram pergelangan tangan si cantik yang memegang belati itu, ketika ia remas sekuatnya, kontan Coa-kat-bijin menjerit, belati pun jatuh ke lantai.
Menyusul tangan Bun-hiong yang lain juga mencengkeram tangan lain si cantik, bahkan tubuhnya terus ditindihkan di atas badan orang, katanya dengan tergelak.
"Haha, biar kukatakan padamu, selamanya aku tidak suka diancam orang ...."
Mereka masih dalam keadaan telanjang bulat, keruan posisi mereka sekarang menjadi serupa siluman yang sedang bergumul.
Karena urat nadi tangan tergenggam, sukar pagi Coa-kat-bijin untuk mengeluarkan tenaga, di samping gugup ia pun cemas, kontan ia mencaci maki.
"Keparat! Jahanam!"
Ebook oleh . Dewi KZ Scan book oleh . BBSC
Jilid 11
"Jika berani sembarangan memaki lagi bisa segera kupotong hidungmu!"
Bun-hiong balas mengancam dengan tertawa.
"Lepaskan!"
Teriak Coa-kat-bijin.
"Sebentar akan kulepaskan, sekarang aku ingin tahu dulu namamu, coba katakan?"
Ucap Bun-hiong.
"Mati pun takkan kukatakan padamu,"
Jawab si cantik dengan geregetan.
"Jika kau beri tahukan namamu, aku pun akan memberitahukan padamu tempat tinggal Kiu-bwe-hou, mau?"
"Untuk apa kau tanya namaku?"
Teriak si cantik dengan gusar.
"Sebab aku sangat tertarik oleh perempuan seperti dirimu ini."
Mendadak lunak pendirian si cantik, katanya.
"Baik, akan kukatakan padamu, aku bernama Wan Kiau-kiau."
"Benar hendak kau tolong nona Oh?"
Tanya Bun-hiong. Wan Kiau-kiau mengiakan.
"Terdorong oleh rasa simpatimu atau ada maksud tujuan lain?"
"Karena simpatiku, akan kubawa dia kemari untuk tinggal bersamaku."
"Baik,"
Kata Bun-hiong.
"Kiu-bwe-hou berdiam di Ma-cik-san di Thay-oh, nona Oh juga berada di sana."
Habis berucap ia lantas lepaskan tangan si nona.
"Enyah, sampai sesak napas kau tindih diriku!"
Seru Kiau-kiau dengan napas tersengal. Bun-hiong angkat tubuh, katanya dengan tertawa.
"Ingin kunasihatimu, jika benar karena simpatimu dan ingin menolong nona Oh, maka sebaiknya jangan kau pergi ke sana."
"Sebab apa?"
Tanya Kiau-kiau dengan terbelalak.
"Bagaimana pribadi Kiu-bwe-hou tentu sudah kau ketahui dengan jelas, permusuhannya dengan Oh Kiam-lam sangat mendalam, bilamana dia tahu engkau adalah bekas piaraan Oh Kiam-lam, tentu dia takkan mengampunimu."
"Aku tidak takut,"
Kata Kiau-kiau.
"Dengan parasku ini, kuyakin tiada seorang lelaki pun takkan bertekuk lutut padaku."
Bun-hiong tertawa, katanya.
"Bagaimana kalau kugantikan dirimu pergi menolongnya?"
"Hm, engkau punya keberanian itu?"
Jengek Kiau-kiau.
"Semula tidak ada, tapi sekarang ada,"
Jawab Bun-hiong.
"Mengadu jiwa demi perempuan cantik serupa dirimu kukira cukup berharga."
Kiau-kiau tertawa, tanyanya.
"Engkau bicara sesungguhnya?"
"Ya, kenapa tidak?"
Bun-hiong mengangguk dengan tersenyum.
"Baik, kita pergi bersama,"
Tukas Wan Kiau-kiau.
"Tidak, engkau tinggal saja di sini, biar kupergi sendirian."
"Tidak, betapa pun aku harus ikut pergi,"
Kata Kiau-kiau tegas.
"Jika benar kau khawatir aku akan dicelakai Kiu-bwe-hou, nanti setiba di Thay-oh biarlah kutinggal di tepi danau itu dan tidak ikut mendaki Ma-cik-san."
"Jika begitu, buat apa ikut pergi?"
Ujar Bun-hiong.
"Sesudah nona Oh kau selamatkan, kan dapat kubawa dia ke sini sehingga engkau tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh kemari."
Sesungguhnya Bun-hiong memang tidak benar bermaksud menyuruhnya tinggal di sini, maka ia lantas mengangguk setuju.
"Baik, cuma engkau harus berjanji aku masih boleh datang lagi mencarimu."
Kiau-kiau meliriknya sekejap dengan tertawa.
"Hm, tuman, ya? "Ya, habis engkau sangat memikat,"
Jawab Bun-hiong dengan cengar-cengir.
"Dari sini ke Thay-oh kira-kira makan waktu berapa lama?"
Tanya si nona.
"Bergantung cara bagaimana engkau menempuhnya, jika menunggang kuda, paling lama setengah bulan,"
Jawab Bunhiong.
"Wah, aku tidak suka menunggang kuda,"
Ujar Kiau-kiau.
"Bagaimana kalau menumpang kereta saja?"
"Jika begitu diperlukan waktu 20-an hari,"
Tutur Bun-hiong. Kiau-kiau tersenyum menggiurkan, katanya.
"Kalau begitu, selanjutnya kita akan berada bersama selama 20-an hari, keenakan bagimu, apa pula yang kau harapkan?"
Bun-hiong tertawa.
"Kapan kita akan berangkat?"
"Besok,"
Ucap si nona.
"Engkau mempunyai kereta? "Ada."
"Jika begitu, pakai keretamu, aku keluar kuda, tapi siapa yang akan menjadi kusir?"
Kata Bun-hiong.
"Siang Po-hok,"
Tukas Kiau-kiau.
"Jiu Goat akan menjaga rumah sebesar ini sendirian, engkau tidak khawatir?"
"Tidak menjadi soal, Kungfu Jiu Goat tidak lemah, kalau orang persilatan biasa saja sanggup dihadapinya,"
Ujar Kiau-kiau.
"Pula, terus terang kuberi tahukan padamu, di segenap pelosok perkampunganku ini penuh terpasang alat perangkap, orang biasa tidak dapat sembarangan masuk ke sini."
"Tadi bukankah aku sudah masuk kemari?"
Ujar Bun-hiong.
"Itu lantaran Siang Po-hok membawamu kemari, kalau tidak, sampai tua pun engkau jangan harap akan mencapai tempat tinggalku ini."
Bun-hiong tidak bicara lagi, tapi tangannya lantas beraksi pula ....
***** Esok paginya mereka benar lantas berangkat dengan menumpang kereta kuda, menuju ke utara.
Sementara itu Liong It-hiong juga sudah sampai di kota Tengciu.
Tengciu adalah kota pantai, suatu kota yang terkenal dengan makanan laut, sedangkan pesut juga salah satu hidangan lezat di kota ini, banyak orang yang berdatangan hanya khusus ingin mencicipi daging pesut.
Dengan sendirinya kedatangan Liong It-hiong ke Tengciu ini bukan untuk makan pesut melainkan karena mengusut dan hendak menangkap Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan, sebab menurut catatan dalam kitab Tui-beng-poan-koan To Po-sit mengenai tokoh-tokoh dunia persilatan, perangai Hui Giokkoan tercatat sebagai gemar makan ikan pesut, setelah berhasil membawa lari kotak hitam itu, sangat mungkin dia datang ke Tengciu untuk makan-minum sepuasnya.
Namun Tengciu juga bukan kota yang kecil, bila benar Hui Giok-koan datang ke sini, lantas di mana dia akan memondok?
Sukar bagi It-hiong untuk mencari tahu apakah Hui Giok-koan mempunyai kenalan di kota ini, sebab itulah dia cuma memperkirakan Hui Giok-koan memondok di suatu hotel di dalam kota, dan untuk menemukan dia harus didatangi dua tempat, yaitu di hotel atau di restoran.
Setelah dipikir It-hiong memutuskan akan mulai mencarinya dari hotel ke hotel.
Dari orang di pinggir jalan dapat diketahuinya bahwa di kota ini seluruhnya ada tiga buah hotel besar, yang pertama bernama In-hay-khek-can, kedua Sian-ci-lan-can dan ketiga.
Kah-pin-koh-can.
Langsung ia menuju ke In-hay-khek-can.
Tidak lama sampailah dia di depan hotel tersebut.
Melihat kedatangan tamu, cepat pelayan menyambutnya dengan tertawa, katanya sambil memberi hormat.
"Apakah Tuan tamu ingin bermalam?"
Lebih dulu It-hiong memberi tip sepotong perak receh, katanya.
"Tidak, aku ingin mencari seorang teman, entah dia tinggal di sini atau tidak?"
Karena mendapat persen, dengan senang si pelayan menjawab.
"Ya, ya, numpang tanya siapa nama teman Tuan itu? "Namanya Hui Giok-koan,"
Tutur It-hiong.
"Hui Giok-koan,"
Si pelayan mengulang nama itu sambil berpikir.
"Oo ... rasanya di tempat kami tidak terdapat tamu bernama demikian ...."
"Coba kau periksa daftar tamu di kantor,"
Pinta It-hiong. Pelayan mengiakan terus menuju ke dalam hotel untuk tanya kasir di belakang meja, lalu keluar lagi dan memberi keterangan kepada It-hiong.
"Maaf, Tuan tamu, di sini tidak terdapat tamu yang Tuan cari."
It-hiong termenung sejenak, katanya kemudian.
"Mungkin dia menggunakan nama samaran. Dia berusia antara 37-38 tahun, perawakannya agak lebih kurus sedikit daripadaku, juga lebih pendek sedikit. Wajahnya terhitung cakap, tampaknya rada menakutkan, sikapnya angkuh dan dingin."
Pelayan berpikir lagi sejenak, lalu bertanya.
"O, apakah dia selalu membawa senjata berbentuk potlot?"
"Aha, betul, betul dia, apakah dia masih tinggal di hotel kalian?"
Seru Bun-hiong dengan girang.
"Wah, sayang, dia sudah berangkat kemarin,"
Tutur si pelayan.
"O, sudah berangkat?!"
Sungguh It-hiong sangat kecewa.
"Betul, dia tinggal dua hari di sini dan baru kemarin siang berangkat."
"Apakah dia tidak menyatakan hendak menuju ke mana?"
Tanya It-hiong pula.
"Tidak, cuma sangat mungkin dia belum meninggalkan kota ini, sebab pagi kemarin dia menyuruh hampa membelikan sejumlah kado, katanya hendak mengucapkan selamat ulang tahun kepada seorang kawannya."
"Apakah dia tidak menjelaskan siapa nama kawannya?"
Tanya It-hiong cepat.
"Wah, tidak,"
Jawab si pelayan.
"Berdasarkan apa kau bilang dia belum meninggalkan kota ini?"
Tanya It-hiong.
"Sebab dia menunggang kuda, juga tidak menyewa kereta dan pergi begitu saja dengan membawa kado yang hamba belikan itu, tampaknya dia tidak siap untuk menempuh perjalanan jauh."
It-hiong manggut-manggut.
"Baik, terima kasih atas keteranganmu."
"Terima kasih kembali,"
Jawab si pelayan. It-hiong lantas naik lagi kudanya dan menyusuri jalan raya sembari berpikir.
"Kedudukan Hui Giok-koan di kalangan hitam tidak terhitung rendah, jika dia benar akan memberi selamat ulang tahun kepada seorang kawannya, orang yang dimaksud tentu tokoh yang punya nama. Biarlah kucari tahu dulu, adakah tokoh dunia persilatan terkenal di kota ini?"
Untuk mencari keterangan tokoh dunia persilatan hanya ada dua tempat, yaitu rumah perguruan silat atau perusahaan pengawalan (Piaukiok).
Begitulah It-hiong mengambil keputusan akan mencari keterangan ke tempat-tempat tersebut.
Tapi meski dia sudah melintasi beberapa jalan besar di kota ini tetap belum ditemukan sesuatu Bu-koan (perguruan silat) atau Piaukiok.
Ia turun dari kudanya dan coba tanya seorang kakek penjual kurma, dari orang tua inilah diketahuinya di kota Tengciu tidak terdapat rumah perguruan silat atau perusahaan pengawalan.
Ia coba tanya pula.
"Jika begitu, numpang tanya lagi, apakah di kota ini atau sekitarnya tidak terdapat seorang tokoh yang berilmu silat tinggi?"
"Wah, aku tidak tahu,"
Jawab si kakek sambil geleng kepala. Maksud It-hiong hendak tinggal pergi, tiba-tiba teringat lagi sesuatu, ia coba tanya pula.
"Apakah bapak tahu di daerah mana di kota ini dapat membeli ikan pesut?"
"Beli saja di rumah makan atau di pasar,"
Jawab si kakek.
"Maksudku, di mana dapat membeli pesut hidup?"
Kata Bunhiong. Orang tua menuding ke arah timur, katanya.
"Di luar kota sana ada sebuah sungai besar bernama Lau-kong-ho, di sana biasanya terjadi jual-beli pesut hidup, silakan Kongcu mencari saja ke sana."
It-hiong mengucapkan terima kasih dan segera melarikan kudanya ke gerbang timur kota.
1a menduga harapan tipis untuk dapat menemukan Hui Giokkoan, tapi mengingat sudah berada di kota ini, betapa pun harus berusaha mencari lagi.
Jika Hui Giok-koan mempunyai kegemaran makan ikan pesut, terpaksa ia mencarinya ke tempat yang biasa terdapat pesut.
Baca Juga: Imbauan Pendekar Khu Lung
Baca Juga: Neraka Hitam Khu Lung